Cerita silat Mandarin non serial, Pusaka Gua Siluman karya Kho Ping Hoo - SEJAUH mata memandang ke utara dari Pegunungan Ala-san, yang tampak hanyalah pasir belaka, pasir yang kadang-kadang diam mati tak bergerak sama sekali. Akan tetapi ada kalanya pasir itu bergerak hidup, berombak seperti air laut mengalun.
Inilah padang pasir Go-bi yang luasnya sukar diukur, yang panasnya sudah banyak mematikan para penyeberang yang kurang pengalaman dan yang terkenal sebagai lautan pasir karena memang kadang-kadang apabila angin bertiup, berombak, bergulung-gulung persis lautan, hanya bukan air yang dipermainkan oleh angin, melainkan pasir, pasir halus dan bersih.
Kalau orang sengaja berjaga di tepi laut pasir ini dan memperhatikan, kiranya belum tentu sebulan sekali ia melihat manusia di daerah ini. Apa lagi semenjak pemerintah Goan-tiauw, yaitu kerajaan dari Bangsa Mongol, sudah roboh dan orang-orang Mongol sudah dihalau kembali ke tempat asal mereka, daerah ini jarang dilalui orang.
Akan tetapi pada pagi hari itu, dari arah utara kelihatan dua titik kehitaman yang bergerak ke selatan perlahan-lahan. Setelah dua titik ini makin mendekati perbatasan atau pesisir laut pasir, ternyata bahwa mereka itu adalah dua orang yang menunggang onta yang berbulu kecoklatan.
Orang pertama adalah seorang kakek gundul yang berwajah keren gagah berpengaruh. Pakaian dan kepalanya yang gundul itu seperti keadaan seorang hwesio (pendeta Buddha), akan tetapi sikapnya yang keren dan gagang pedang yang tersembul di balik punggungnya menandakan bahwa dia seorang ahli silat atau yang lebih terkenal dengan sebutan orang kang-ouw.
Orang ke dua adalah seorang nona muda seorang dara remaja berusia paling banyak lima belas tahun, cantik manis dengan sepasang mata yang berseri dan berapi-api. Mata dan bibirnya jelas membayangkan bahwa dia gadis periang yang memandang dunia ini dengan hati lapang, tabah dan penuh semangat kegembiraan. Seperti juga kakek gundul itu, gadis ini membekal pedang yang tergantung di pinggang kirinya.
Hal ini memang tidak mengherankan karena pada waktu itu, pada masa peralihan dari Kerajaan Goan-tiauw yang hancur terganti oleh Kerajaan Beng di mana-mana tidak aman dan orang selalu melakukan perjalanan dengan membawa senjata untuk membela diri. Akan tetapi, melihat cara gadis cilik itu duduk di atas ontanya, mudah saja diduga bahwa seperti kakek itu, gadis inipun memiliki kepandaian ilmu silat....
