Pusaka Gua Siluman Jilid 16, karya Kho Ping Hoo - LEE ING tadinya marah sekali ketika ditampar. Baiknya ia telah memiliki sinkang yang luar biasa di dalam tubuhnya, berkat latihan-latihannya menurut petunjuk coretan-coretan Bu-beng Sin kun di dalam Gua Siluman.

Ketika tadi tamparan Lui Siu Nio nio menyambar, ia mengerahkan tenaga dalam melindungi pipinya sehingga tidak sampai terluka, biarpun ia masih merasakan pedasnya bekas tangan lawan tangguh ini. Akan tetapi ketika ia melihat ketua Hoa-lian-pai ini mencabut senjata aneh dan tidak terus menyerang, kemarahannyapun lenyap.
Lee Ing seorang gadis yang gembira dan perasa, ia dapat mengetahui bahwa wanita di depannya ini tidak jahat dan masih sungkan melawannya. "Sudah kukatakan tadi bahwa aku yang muda sudah sepatutnya mengalah sedikit kepadamu. Kalau kau berkeras hendak berkelahi, majulah, aku tidak takut akan senjatamu yang bagus itu."
"Kau sendiri yang minta, jangan bilang aku terlalu menghina yang muda!" kata Lui Siu Nio-nio, sekarang ia sama sekali tidak berani memandang rendah kepada gadis muda itu.
Ia menggerakkan tangan kanannya dan Hoa-lian Sin-kiam itu tergetar, kembang dan dua langkai daunnya bergerak-gerak seperti setangkai bunga teratai tertiup angin dan daun-daun lebar di kanan kirinya bergerak seperti diraba ombak. Kemudian senjata aneh ini meluncur ke depan dan sekaligus, kembang dan daun-daun itu menyerang ke arah tujuh jalan darah di tubuh Lee Ing secara bertubi-tubi dan cepat sekali.
"Hebat...!" Lee Ing berseru memuji dan terpaksa ia mengeluarkan langkah-langkah aneh yang ia pelajart dari dalam Gua Siluman. Tiba-tiba tubuhnya seperti orang mabok terhuyung-huyung atau seperti orang gila menari-nari tidak karuan akan tetapi... ternyata semua serangan Hoa-lian-Sin-kiam di tangan Lui Siu Nio nio dapat dielakkan dan sedikitpun tidak menyentuh ujung bajunya!
"Aneh sekali ilmu silatmu....!" Lui Siu Nio-nio tak tertahan lagi berseru setengah memuji setengah ragu-ragu karena melihat gerakan-gerakan nya, apa yang diperlihatkan oleh Lee Ing itu sukar disebut ilmu silat, begitu kacau tidak karuan sampai tubuhnya sendiri terhuyung-huyung. Namun semua serangannya gagal!
Ia masih tidak percaya dan mengirim lagi gelombang serangan dengan senjatanya itu sampai tujuh kali beruntun. Setiap serangan mempunyai tujuh tikaman, maka gelombang ini berarti empat puluh sembilan jurus mengurung tubuh Lee Ing dari semua jurusan seakan-akan ia dikeroyok oleh belasan orang lawan yang berpedang lihai.
Hebat bukan main ilmu silat yang dimainkan oleh Lui Siu Nio nio ini. la telah mengeluarkan Ilmu Pedang Hoa-lian-sin Kiam-hoat yang paling tinggi karena penasaran tak dapat mengalahkan gadis itu. Jarang ada orang sanggup menghadapi gelombang serangan ini.
Lagi-lagi Lee Ing mengeluarkan langkah-langkahnya yang luar biasa. Gadis ini terhuyung-huyung seperti mau jatuh, bahkan kadang-kadang terjengkang atau terdorong ke kanan kiri sampai tubuhnya hampir rebah di tengah, kedua lututnya membuat gerakan pletat-pletot tidak karuan, kadang-kadang kakinya meloncat loncat seperti bocah menari kegirangan, kadang kadang berjongkok dengan kedua kakinya bergerak maju mundur. Semua ini ia selingi seruan-seruan kecil seperti, "aduh! lihai sekali! aya!" dengan suara yang nyaring berpengaruh.
Kali ini benar-benar Lui Siu Nio nio terheran-heran. Selama hidupnya belum pernah ia mengalami hal seperti ini. Sudah ratusan kali ia berhadapan dengan lawan, di antaranya banyak-pula yang tangguh-tangguh, akan tetapi ia harus akui bahwa belum pernah ia melihat lawan seperti gadis muda ini. Gerakan-gerakan mengelak seperti lakunya seorang badut atau seorang gila ini saja sudah aneh sekali karena selalu dapat mengelak serangan Hoa-lian Sin-kiam.
Akan tetapi yang lebih aneh lagi, setiap kali daun atau bunga Hoa-lian Sin-kiam itu berhasil mendekati tubuh Lee Ing dan hampir melukainya, dengan seruan "aya!" atau "aduuhh!" itu saja, senjatanya seperti tertolak mundur dan tidak berhasil melukai lawan yang muda dan aneh ini!
Lui Siu Nio-nio teringat akan cerita ayahnya dahulu, bahwa di barat terdapat semacam ilmu yang mendekati ilmu sihir, yaitu bentakan-bentakan yang mengandung tenaga tersembunyi. Pernah juga ia menjumpai tokoh-tokoh yang pandai Ilmu Sai-cu-ho-kang (Auman Singa), bahkan ia sendiri sudah mempelajari dan menyalurkan tenaga melalui Iweekang yang mengisi bunyi alat tetabuhan khimnya.
Akan tetapi suara-suara semua ini hanya mengandung getaran yang mempengaruhi semangat dan debaran jantung lawan saja, tidak mendatangkan tenaga tersembunyi yang dapat menangkis senjata seperti yang dilakukan oleh gadis ini.
Mungkinkah gadis semuda ini sudah memiliki ilmu tinggi itu? Karena makin khawatir dan penasaran kalau-kalau ia takkan mampu menangkan gadis ini, Lui Siu Nio-nio cepat menggerakkan tangan dan tahu-tahu alat tetabuhan khim yang berada di punggung telah berada di tangan kanannya, sedangkan senjata Hoa-lian Sin-kiam sudah pindah ke tangan kirinya.
Senjata khim ini jangan sekali-kali dipandang ringan dan jangan dikira hanya merupakan alat tetabuhan belaka. Sebetulnya khim ini merupakan senjata istimewa dari Lui Siu Nio-nio, maka ke manapun ia pergi, selalu ia bawa. Malah kalau dibandingkan dengan pedangnya Hoa-lian Sin-kiam yang aneh, senjata khimnya ini lebih lihai lagi.Hal ini terasa oleh Lee Ing ketika khim itu menyambar ke arahnya. Hebat bukan main hawa pukulan yang mendahului senjata luar biasa ini. Lee Ing maklum dari sambaran hawa pukulan ini bahwa senjata ini di tangan lawannya merupakan senjata hebat yang berbahaya dan selalu mendatangkan pukulan maut.
Gadis ini mulai menjadi marah. Sudah terang ia mengalah sejak tadi, bahkan empat puluh sembilan jurus lawannya hanya ia elakkan dan tangkis saja tanpa balas menyerang. Mengapa ketua Hoa-lian-pai ini tak tahu diri malah mengeluarkan senjata khim yang ampuh dan berbahaya?
Akan tetapi ia tak dapat berpikir-pikir lagi karena harus mencurahkan perhatiannya kepada senjata lawan. Khim itu sekarang bergerak mengurung dirinya dan mengeluarkan bunyi aneh sekali, mengaung-ngaung seperti ada ribuan ekor lebah terbang mengelilinginya!
la merasa anak telinganya sakit, hatinya ngeres dan kepalanya pening mendengar suara ini, suara yang sebetulnya ditimbulkan oleh angin yang meniup senar-senar khim sehingga mengeluarkan suara aneh itu ditambah dengan tenaga khikang yang dikeluarkan oleh Lui Siu Nio-nio!
Hemm, orang ini harus diberi tahu rasa, pikir Lee Ing. Tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring dan panjang mengerikan, bukan seperti suara manusia. Inilah pengerahan khikang yang amat tinggi, yang ia pelajari di dalam Gua Siluman, dan ilmu ini disebut "Jeritan Si Gila".
Mendengar suara ini lemah seluruh urat syaraf dan kaku rasanya semua buku tulang Lui Siu Nio-nio. Selagi ia mengerahkan seluruh Iweekangnya untuk melawan pengaruh yang mengejutkan ini, tiba-tiba tangan Lee Ing bergerak menampar ke arah khim dengan kekuatan yang tak pernah terbayangkan oleh Lui Siu Nio-nio.
"Traaaaangggg!" Suara keras ini disusul oleh suara putusnya senar-senar khim dan Lui Siu Nio-nio terhuyung mundur. Ketika wanita yang amat kaget dan heran ini memandang, ternyata bahwa alat tetabuhan khim yang disayangnya itu telah putus semua senarnya! Benar-benar hebat sekali tamparan Lee Ing tadi dan Lui Siu Nio-nio menjadi pucat.
Kini ia mengakui bahwa ternyata gadis ini kepandaiannya luar biasa sekali dan ia tidak akan dapat melawannya. Sampai lama saking herannya ia menjadi bengong, berdiri tak bergerak seperti patung memegangi khimnya yang sudah rusak.
"Kau terlalu mendesakku, terpaksa diberi tahu rasa sedikit. Kuharap saja kau bisa merobah niatmu mencari ayah, karena selain fihak muridmu yang salah juga tak mungkin kau dapat menangkan ayah."
Sebelum sempat menjawab. Lui Siu Nio-nio melihat gadis itu berkelebat pergi dan lenyap dari situ dengan gerakan yang sukar dipercaya cepatnya. Ia hanya bisa menarik napas dan menggendong lagi khimnya yang sudah rusak senarnya, berkali-kali menarik napas panjang lagi sambil berkata seorang diri.
"Dunia sudah berobah banyak. Ada bocah berkepandaian sehebat itu sampai aku tidak tahu. Kalau tidak karena Lee Nio, setelah pertemuanku dengan Can-suheng dan kekalahanku dari bocah ini, tentu aku lebih baik bersembunyi di Ta-pie-san." Kembali ia menarik napas panjang dan berlalu dari situ dengan langkah perlahan, kepala tunduk, kening berkerut, sikap seorang wanita yang kecewa, putus asa, dan sudah mulai tua.
Adapun Lee Ing yang pergi meninggalkan tempat itu, tentu akan langsung menyusui ayahnya ke Peking utara kalau saja ia tidak teringat bahwa akan diadakan pibu antara fihak Tiong-gi-pai dan fihak Auwyang-taijin, dan ia tahu bahwa dalam pibu itu tentu Siok Ho akan maju menjadi jago. Ia tidak tega meninggalkan pemuda itu menjadi jago menghadapi orang-orangnya Auwyang-taijin yang ia tahu banyak yang lihai dan keji.
Kalau saja tidak ada pemuda ini, kiranya Lee Ing sudah pergi menyusul ayahnya. Akan tetapi bayangan Siok Ho selalu tak terlupakan olehnya, dan ia benar-benar merasa khawatir kalau pemuda itu akan mendapat celaka dalam pibu. Maka ia menunda kepergiannya mencari ayahnya untuk menonton pibu itu lebih dulu. Cinta telah mencengkeram hati Lee Ing. Cinta pertama yang penuh keanehan bagi Lee Ing, karena gadis itu sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya, yaitu dengan perasaan hatinya.
Ia tidak mengerti apakah ia mencinta pemuda Siok Ho yang tampan, peramah dan gagah itu. Hanya ia tahu bahwa bayangan pemuda itu tak pernah lenyap dari ingatannya, bahwa setiap kali ia mengenangnya mukanya terasa panas karena malu dan jengah, dan berbareng hatinya merasa bungah dan berdebar aneh. Akan tetapi yang sudah jelas baginya, hatinya tidak merelakan pemuda itu terancam bahaya!
Lian-bu-kwan adalah sebuah gedung megah yang sengaja didirikan oleh Menteri Auwyang Peng dan tentu saja mendapat persetujuan kaisar yang memang suka akan kegagahan dan ilmu silat. Tadinya Auwyang Peng mendirikan gedung megah ini dengan alasan untuk memajukan ilmu silat dan memelihara perkembangan ilmu menjaga diri nasional ini.
Akan tetapi akhirnya gedung itu ternyata dipergunakan untuk markas para kaki tangannya, yang dikumpulkan dengan maksud mengganyang semua musuh-musuh durna itu, di antaranya Tiong-gi-pai. Di gedung inilah diadakan pertemuan-pertemuan, perundingan dan latihan-latihan. Di gedung ini pula para musuh diundang untuk diajak pibu, dan entah sudah berapa banyak musuh yang tewas dalam pibu di gedung ini.
Oleh karena biarpun dari luar kelihatan mentereng dan megah, di sebelah dalamnya Lian-bu-kwan ini nampak serem dan angker, seperti rumah-rumah jagal. Gedung itu terdiri dari empat buah kamar yang mengurung sebuah ruangan kosong yang amat luas. Di tengah ruangan ini terdapat sebuah panggung yang biasa dipergunakan untuk adu kepandaian silat, tingginya hanya satu meter.
Di sekeliling panggung ini disediakan bangku-bangku untuk tempat duduk para penonton atau rombongan-rombongan dari kedua fihak. Pilar-pilar yang terdapat di ruangan itu diukir indah, ukiran liong (naga) dan hiasan lain yang terdapat hanyalah lampu-lampu gantung dan tirai-tirai sutera. Di pojok disediakan sebuah rak tempat menaruh senjata di mana terdapat delapan belas macam senjata dalam jumlah yang cukup banyak.
Pada hari itu, pagi-pagi sekali Lian-bu-kwan sudah penuh orang. Kaki tangan Auwyang-taijin sudah sibuk mengatur segala sesuatu untuk keperluan pibu. Bangku-bangku sudah dibersihkan dan berturut-turut datang jago-jago dari kota raja seperti Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek. Manimoko, Yokuto, dan beberapa orang panglima komandan pengawal.
Paling akhir datanglah Menteri Auwyang Peng sendiri, dikawal oleh puteranya, Auwyang Tek yang berjalan dengan penuh lagak, dan Tok-ong Kai Song Cinjin hwesio Tibet yang merupakan orang nomor satu dalam barisan jago-jago yang dipergunakan Auwyang Peng.
Mereka lalu mengambil tempat duduk di sebelah kanan panggung luitai, di baris depan duduk Auwyang-taijin sendiri bersama Kai Song Cinjin, Auwyang Tek, dan Toat-beng-pian Mo Hun, di belakang Mo Hun duduk Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, dua orang jago Jepang dan para panglima lain.
Tak lama kemudian datanglah rombongan Tiong-gi-pai yang terdiri dari Kwee Cun Gan, Kwee Tiong, Pek Mao Lojin. Itn-yang Thian-cu, Liem Han Sin, Liem Hoan, ayah Han Sin, dan beberapa orang anggauta Tiong-gi-pai. Juga kelihatan Oei Siok Ho yang berjalan dengan langkah tenang dan wajahnya yang tampan sekali itu berseri-seri. Juga Kwee Tiong yang berjalan di sebelah pamannya, nampak gagah dan ganteng.
Han Sin juga sudah banyak sembuh setelah diobati oleh "dewi bulan‟ dan sekarang ikut datang dengan penuh semangat. Pemuda yang gagah ini tidak menjadi jerih, malah ia bersedia untuk berpibu sekali lagi melawan Auwyang Tek untuk mengadakan pertandingan revance (ulangan)!
Dengan adanya tiga orang pemuda yang ganteng dan gagah ini, rombongan Tiong-gi-pai nampak bersemangat dan hati Kwee Cun Gan menjadi besar. Apa lagi di situ terdapat Pek Mao Lojin dan (Im-yang Thian-cu yang tadinya tidak mau ambil perduli, kiranya menjadi tidak tega juga membiarkan muridnya pergi lagi ke sarang musuh yang berbahaya.
Oleh karena di situ terdapat Auwyang-taijin yang bagaimanapun juga adalah seorang menteri, pembesar tinggi yang diangkat oleh kaisar, Kwee Cun Gan dan yang lain-lain memberi hormat selayaknya. Hanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, hanya mengangguk saja kepada pembesar itu.
Sebaliknya, karena maklum bahwa orang-orang Tiong-gi-pai ini mendapat kepercayaan dan sokongan Raja Muda Yung Lo di utara. Menteri Auwyang juga memperlihatkan sikap agung, balas mengangguk dan dengan tangannya mempersilahkan mereka mengambil tempat duduk di deretan bangku sebelah kiri panggung luitai.
Auwyang Tek yang menjadi juru bahasa rombongannya, segera berdiri dan melompat ke atas panggung menghadapi Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya lalu berkata, suaranya nyaring, nadanya sombong,
"Kwee Cun Gan, bagus sekali kau sudah memenuhi undangan kami dan agaknya kau telah mendatangkan rombonganmu yang lengkap! Fihak Tiong-gi-pai selama ini tiada hentinya mengadakan permusuhan dengan kami orang-orang pemerintah. Hanya karena mengingat bahwa kalian termasuk orang-orang kang-ouw yang tidak saja mendapat simpati dari kaisar sendiri yang suka kepada orang-orang gagah.
"Akan tetapi juga boleh dibilang segolongan dengan kawan-kawan kami, maka selama ini kami hanya melayani pertandingan pibu kecil-kecilan saja. Tidak nyana sekali fihak Tiong-gi-pai menganggap kami sebagai musuh dan sifat pibu lenyap menjadi permusuhan.
"Oleh karena itu, agar permusuhan ini tidak berkepanjangan dan berlarut-larut, menurut kehendak ayahku menteri yang mulia, hari ini diadakan pibu terakhir yang merupakan keputusan siapa yang dinyatakan menang dan siapa kalah. Harap kalian menentukan berapa kali pertandingan diadakan dan yang lebih banyak menderita kekalahan dinyatakan kalah dan harus tunduk dan memenuhi permintaan yang menang."
Kwee Cim Gan berdiri dari bangkunya dan berkata, suaranya lantang dan tegas, "Sebelum kami menerima usul ini, harap jelaskan dulu seandainya fihak kami kalah bagaimana dan kalau fihakmu yang kalah lalu bagaimana?"
Auwyang Tek mengangkat hidungnya dengan lagak sombong. "Kami adalah orang-orang pemerintah yang mengerti aturan, tentu saja untuk itu diadakan peraturan sesuai dengan keadilan. Karena kalian kami anggap membikin rusuh, maka kalau kalian kalah, kalian harus pergi dari kota raja dan jangan menginjakkan kaki lagi di sini, jangan memperlihatkan diri lagi.
"Karena kami lalu akan menangkap kalian secara resmi sebagai pemberontak-pemberontak. Sebaliknya kalau kalian yang menang, kalian boleh tinggal di kota raja dan kami takkan menganggap kalian sebagai musuh, malah kalau kalian suka, kami bersedia memberi kesempatan kepada kalian mencari kedudukan sebagai hamba pemerintah."
"Aduh, semua orang kota memang pandai sekali bicara," terdengar Im-yang Thian-Cu mengeluh. Kakek ini yang biasanya tidak suka bicara, merasa pening mendengarkan begitu banyak kata-kata.
Biarpun bernada sombong, kata-kata Auwyang Tek itu memang cukup baik dan dapat diterima. Agaknya Menteri Auwyang memang bersikap hati-hati dan kali ini berusaha mengalahkan fihak Tiong-gi-pai untuk dapat mengusir mereka dari kota raja tanpa banyak menyinggung perasaan, yaitu dalam sebuah pibu vang disertai taruhan. Bagi Kwee Cun Gau tidak ada pilihan lain kecuali menerima usul atau taruhan ini.
"Boleh, dan pertandingan hendak diatur bagaimana?" tanyanya.
"Diatur seorang lawan seorang, berapa orang jagomu boleh kau ajukan, asal jumlahnya ganjil, jangan genap. Boleh tiga atau lima atau tujuh," jawab Auwyang Tek yang mengandalkan banyak kawan.
Kwee Cun Can lalu menoleh kepada kawan-kawannya. Sudah terang bahwa Kwee Tiong, Oei Siok Ho dan Liem Han Sin mengajukan diri, dan di situ masih ada Pek Mao Lojin yang sambil tertawa menyanggupi menjadi seorang calon, akan tetapi ketika Kwee Cun Gan hendak minta bantuan lm-yang Thian-cu, ia menjadi ragu-ragu. Han Sin maklum akan perasaan ketua Tiong-gi-pai ini karena memang semua orang sudah tahu akan watak suhunya yang aneh, maka ia cepat menghampiri gurunya dan berkata perlahan,
"Suhu harap suka memperkuat kedudukan kita, hitung-hitung untuk membela teecu dan terutama sekali membela kebenaran."
Im-yang Thian-cu cemberut dan menarik napas panjang. "Di sana ada Kai Song Cinjin, siapa yang kuat melawannya? Biarpun kita maju semua, tidak mungkin bisa mengalahkan Tok-ong."
"Suhu, tentang itu jangan khawatir. Pibu diadakan seorang lawan seorang, biarlah kita memakai siasat. Jika mereka mengajukan jago-jagonya dulu, nanti kalau Kai Song Cinjin yang keluar, teecu yang akan maju melawannya!"
Semua orang kaget, juga lm-yang Thian-cu menatap wajah muridnya dengan heran. Han Sin lalu berbisik-bisik sambil tersenyum, "Apa suhu lupa akan siasat Sun Pin ketika menghadapi Ban Koan?"
Mendengar ini, lm-yang Thian-cu mengangguk dan semua orang menyatakan kekagumannya atas kecerdikan, terutama keberanian pemuda itu. Sun Pin dan Ban Koan adalah dua orang tokoh yang dalam cerita kuno diceritakan sebagai dua orang tokoh yang bermusuhan, masing-masing memimpin barisan. Sun Pin terkenal sebagai tokoh budiman dan cerdik bukan main, adapun Ban Koan biar cerdik, mempunyai hati jahat.
Yang dimaksud oleh Liem Han Sin tentang siasat Sun Pin adalah ketika Sun Pin memberi nasihat kepada seorang raja yang bertaruhan mengadu lomba kuda-kudanya. Demikian siasat Sun Pin. "Lawanlah kuda terbaik lawan dengan kuda nomor tiga, kuda lawan yang nomor dua dengan kuda terbaik, dan kuda lawan nomor tiga dengan kuda, nomor dua kita. Dengan demikian kita akan kalah sekali menang dua kali."
Demikian pula Han Sin hendak menjalankan siasat ini. Karena Tok-ong Kai Song Cinjin sudah terang tidak ada lawannya, biar dia saja mengorbankan diri menghadapi hwesio itu dan kalah, akan tetapi dengan demikian ia memberi kesempatan gurunya dan Pek Mao Lojin untuk mencari kemenangan dari lawan-lawan yang lain. Setelah bermufakat dengan kawan-kawannya, Kwee Cun Gan lalu berkata kepada Auwyang Tek,
"Kami mempunyai lima orang jago dan biarlah pibu ini diatur seorang lawan seorang sampai lima kali. Yang mendapat kemenangan sampai tiga kali berarti menang!"
Auwyang Tek tertawa girang. "Bagus, kita siapkan jago masing-masing!" Pemuda ini sudah merasa pasti akan menang, karena di fihaknya ada Tok-ong Kai Song Cinjin, ada Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan dua orang jago Jepang. Takut apa? Pasti menang.
"Karena kami adalah sebagai tamu, harap tuan rumah segera mengajukan jagonya yang pertama!" Kwee Cun Gan menantang, mulai menjalankan siasatnya. yaitu hendak melihat lebih dulu jago mana yang diajukan oleh lawan agar dapat mengimbanginya.
Dari fihak Auwyang Tek muncul seorang pendek gemuk dan kepalanya gundul bundar, jubahnya gedombyangan seperti jubah pendeta. Inilah Yokuto yang sudah diberi isyarat oleh Tok-ong Kai Song Cinjin untuk maju. Juga fihak Auwyang Tek ini biarpun yang menjadi juru bicara Auwyang Tek, namun dalam pibu yang mengatur adalah Tok-ong sendiri.
Seperti halnya fihak Tiong-gi-pai, tokoh besar ini tentu saja memiliki pengalaman dan siasat yang licin, lapun tidak mau mengajukan Mo Hun atau Kui Ek, melainkan mengajukan seorang jago Jepang yang tentu saja kepandaiannya tak dapat ditaksir oleh fihak lawan dan dapat membikin lawan menjadi ragu-ragu.
Memang tepat perhitungan Kai Song Cinjin. Majunya jago Jepang ini membingungkan Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya dan merusak siasat mereka. Mereka dapat menduga dari siang-siang bahwa urutan kepandaian fihak lawan adalah pertama Tok-ong sendiri, ke dua Mo Hun, ke tiga Kui Ek dan selanjutnya Auwyang Tek dan lain jago.
Akan tetapi sekarang yang maju seorang jago asing yang rupanya seperti katak gemuk, demikianpun ketika jago Jepang ini berdiri di panggung sambil merendahkan tubuh seperti kodok hendak meloncat! Sukar untuk menilai sampai di mana kepandaian jago lawan ini dan siapa kiranya yang tepat untuk diajukan. Kalau mengajukan Pek Mao Lojin atau Im-yang Thian-cu, bagaimana kalau fihak lawan ini makanan empuk? Berarti terkena siasat lawan!
Kwee Tiong melangkah maju di depan pamannya. "Biarlah aku yang melayaninya," katanya tenang.
Karena masih ragu-ragu, Kwee Cun Gan menganggukkan kepala, sukar baginya untuk memilih lain orang. "Majulah dan hati-hati, agaknya dia memiliki kepandaian istimewa."
Kwee Tiong menggerakkan kedua kakinya dan dengan ringan sekali ia melompat ke atas panggung Gerakannya sederhana, namun ginkangnya membuktikan bahwa pemuda ini memiliki kepandaian tinggi. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara sedikitpun ketika ia berada di depan dan memasang kuda-kuda, merangkap kedua tangan ke depan dada dan berkata,
"Aku Kwee Tiong mendapat kehormatan untuk menemani lo-enghiong main-main. Tidak tahu siapakah nama besar lo-enghiong?"
Yokuto tertawa, giginya yang hitam dan kecil-kecil itu kelihatan sekilat di tengah mukanya yang bulat seperti bola. Ia mengangguk-angguk sambil membongkok dalam, matanya sipit hampir tertutup. "Orang muda yang gagah... aku hwesio miskin Yokuto."
Mendengar suara yang asing ini dan mendengar nama Yokuto, tahulah Kwee Tiong dan semua orang yang berada di situ bahwa jago kate ini adalah seorang Jepang. Diam-diam Kwee Tiong menjadi gemas sekali. Sudah terang orang-orang Jepang banyak yang menjadi bajak dan mengganggu rakyat di pantai timur, bagaimana Auwyang Peng sudi mempergunakan tenaga orang Jepang?
Sudah jamaknya orang memandang rendah kepada bangsa yang memusuhi negara dan bangsanya, apa lagi seorang muda seperti Kwee Tiong. Melihat hwesio Jepang yang menyeringai sungkan-sungkan itu, Kwee Tiong memandang rendah segera ia membentak,
"Bangsa bajak lihat seranganku!" Dengan cepat pemuda ini melangkah maju dan mengirim pukulan keras ke arah dada lawan.
Biarpun tubuhnya besar bundar, ternyata hwe-Sio Jepang ini memiliki gerakan yang lincah sekali. Menghadapi serangan itu, dengan tenang namun cepat kakinya menggeser ke samping, tubuhnya meliuk ke bawah dan mengelak dengan mudah dan gerakannya itu amat aneh, asing bagi Kwee Tiong. Dan hebatnya, Yokuto dengan kontan membalas serangan lawan dengan cepat, kedua tangannya bertubi-tubi memukul ke depan dengan jari-jari tangan terbuka.
Tangannya dipergunakan sebagai pedang atau golok, membabat dan menusuk, dan melihat jari tangan yang kaku keras itu, Kwee Tiong dengan hati kecut dapat menduga bahwa lawannya tentu memiliki tenaga terlatih semacam Tiat-see-jiu (Tangan Bubuk Besi). Setiap serangan selalu diikuti dengan teriakan-teriakan "haait! yaaah!" dan Kwee Tiong maklum betapa berbahayanya pukulan tangan miring ini.
Namun, betapa keras dan cegatnya serangan berantai dari Yokuto, dengan mudah murid Pek Mao Lojin dapat mengelaknya. Pada suatu saat yang tepat, Kwee Tiong sengaja menangkis dengan jari tangan dimiringkan pula, mengadu lengan untuk mengukur sampai di mana kekuatan lawan.
"Plak! Plak!" Hampir berbareng dua serangan tangan kanan kiri sampai akan tetapi keduanya dapat disampok oleh Kwee Tiong sehingga kedua lengan mereka saling bertemu. Akibatnya, Yokuto terhuyung mundur karena terdorong dan kesakitan, sedangkan Kwee Tiong juga melangkah mundur karena terdorong dan merasa kedua lengannya sakit dan ngilu. Tahulah ia bahwa kalaupun ia menang tenaga, kemenangan itu tidak ada artinya atau boleh dibilang hampir sama seimbang.
Pada saat keduanya mundur, Kwee Cun Gan melompat ke pinggir panggung dan menggunakan isyarat dengan tangannya diangkat ke atas dan mulutnya berseru, "Harap yang pibu berhenti dulu!"
Auwyang Tek mengerutkan kening. Biarpun belum dapat dilihat siapa yang akan menang dalam pibu pertama ini, namun sikap Kwee Cun Gan mencurigakan.. "Kwee Cun Gan, kau mau apa menghentikan pibu?" tanyanya tak senang.
"Sebelum pibu dilanjutkan, aku perlu mengetahui dulu sampai di mana batas pibu ini? Dalam keadaan bagaimanakah dianggap kalah?"
Kwee Cun Gan bertindak tepat sekali. Ia tadi melihat bahwa biarpun ilmu kepandaian keponakannya amat tinggi, namun ternyata lawannya, orang jepang itu, juga lihai, la khawatir kalau-kalau fihak Auwyang Tek hendak mempergunakan siasat keji, yaitu membasmi semua orang Tiong-gi-pai. Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi orang muda seperti Kwee Tiong yang masih panjang cerita, masih belum kenyang hidup di dunia, sayang kalau sampai tewas.
Auwyang Tek tertawa mengejek, "Ha-ha-ha, Kwee Cun Gan. Masa begitu saja kau masih bertanya lagi? Kalau orang sudah memasuki pibu, apa artinya darah mengalir dan nyawa melayang?"
"Betul katamu, akan tetapi harus diingat bahwa pibu ini sekedar hendak menentukan siapa yang menang siapa kalah dan di samping itu ada pertaruhannya. Kalau sifatnya mau bunuh-membunuh, mengapa kau tadi bicara lunak dan menginginkan habisnya permusuhan?" Kwee Cun Gan balas mengejek.
Auwyang Tek menengok ke arah Tok-ong Kai Song Cinjin, akan tetapi hwesio itu diam saja. Auwyang-taijin menggerakkan tangan ke arah puteranya. Auwyang Tek menghampiri dan pembesar itu berbisik sesuatu.
"Kwee Cun Gan, kalau menurut kehendakmu bagaimana?" tanya pemuda itu setelah mendengar bisikan ayahnya.
"Siapa yang terlempar ke bawah panggung, dia yang kalah. Tentu saja kalau terlempar sampai mati atau tewas di atas panggung, itu bukan soal. Hanya siapa yang sudah terlempar ke bawah panggung, dianggap kalah dan yang menang tidak sekali-kali boleh menyerang terus untuk membunuh."
Auwyang-taijin mengangguk-angguk dan Auwyang Tek menjawab, "Baik, kami terima usulmu itu. Memang biasanya dalam pibu demikian aturannya. Mengapa kau mengajukan usul yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua?"
"Dalam segala hal lebih baik dijanji dulu dan orang-orang yang merasa diri gagah biasanya tidak mau melanggar janji," jawab Kwee Cun Gan dengan suara dingin menyindir, membuat Auwyang Tek menjadi merah. Kwee Cun Gan lalu melompat turun, kembali ke tempat duduknya.
Sementara itu, Kwee Tiong sudah mencabut senjatanya, yaitu sepasang pedang. Memang oleh Pek Mao Lojin pemuda ini diberi pelajaran ilmu siang-kiam yang lihai. Kwee Tiong sengaja mencabut pedangnya karena ia melihat gurunya berkedip kepadanya dan memandang ke arah punggungnya, tanda bahwa gurunya menghendaki ia mempergunakan senjata.
"Yokuto, keluarkan senjatamu, mari kita main-main dengan pedang," tantang Kwee Tiong yang tentu saja tidak mau bersikap curang dan mempersilahkan lawannya mengambil senjata.
"He-he-he, kiranya orang muda juga pandai main pedang? Aku sih selamanya mengandalkan sepuluh jari tangan dan dua kaki, akan tetapi kalau kau ingin main-main dengan senjata tajam, boleh kita coba-coba." Tubuhnya yang gemuk pendek itu menoleh, ke arah Manimoko yang melemparkan sebuah pedang kepada kawannya itu. Pedang ini berbeda dengan pedang yang dipegang oleh Kwee Tiong, jauh lebih panjang dan lebih besar, bahkan tidak lurus melainkan agak bengkok.
"Pedangku lebih panjang dan besar, akan tetapi hanya sebatang, sedangkan pedangmu yang kecil ada dua batang, jadi sudah adil. Mulailah, orang muda!" kata Yokuto sambil memegang pedang itu dengan cara yang lucu, yaitu dipegang dengan kedua tangannya!
Kwee Tiong melihat ujung pedang lawan yang dilonjorkan ke depan itu bergerak-gerak menjadi beberapa buah, tanda bahwa pegangan lawannya kuat dan menggelar penuh tenaga dalam. Ia lalu mendahului dengan serangannya, menusuk sambil menggeser kaki ke kanan sehingga tusukannya ¡tu masuk dari samping.
"Heeeiitt!" Yokuto berteriak dan pedangnya melayang ke kiri, menangkis pedang lawan dengan kuat sekali. Akan tetapi Kwee Tiong tidak mau mengadu senjatanya yang kecil. Cepat ia menarik kembali pedangnya dan pedang kirinya kini menyambar dengan babatan ke arah pinggang.
Hebatnya, pedang Yokuto yang tadi diayun untuk menangkis, dengan gerakan melayang dan memutar sudah muncul dari kiri melalui belakang kepala dan dapat menangkis pedang kiri Kwee Tiong dengan baiknya. Pemuda itu kaget karena hampir saja pedangnya terlepas. Demikian berat dan kuat pedang lawan itu.
Ia mulai berlaku hati-hati sekali, lalu mempergunakan ginkangnya untuk mengurung lawan dengan sinar pedangnya. Ilmu pedangnya memang hebat dan ia mempergunakan dua buah pedang yang jauh lebih kecil dan ringan dari pada pedang lawan, maka tentu saja gerakannya jauh lebih cepat.
Bagi para penonton yang kurang pandai ilmu silat tinggi, tentu kagum sekali melihat tubuh pemuda itu lenyap digelung sinar pedangnya sendiri dan kelihatan dua gulung sinar pedangnya menyerang dan mengurung Yokuto yang menjadi mandi keringat!
"Permainan pedang bagus!" berkali-kali Yokuto berseru memuji. Ia terpaksa harus memutar-mutar pedangnya yang besar dan berat untuk melindungi dirinya dari ancaman sepasang pedang lawan. Akan tetapi, hal ini membuat ia lelah sekali, bermandi keringat dan tak dapat membalas serangan lawan.
Seluruh tubuhnya sudah basah kuyup, akan tetapi ia benar boleh dipuji karena sudah lima puluh jurus lamanya dikurung, tetap saja sepasang pedang Kwee Tiong belum dapat menembus pertahanannya yang kuat. Terang sudah bahwa dalam ilmu pedang, jago Jepang itu tidak nempil melawan Kwee Tiong, murid Pek Mao Lojin yang lihai itu.
Yokuto sendiri maklum bahwa kalau dilanjutkan pertempuran pedang ini, ia pasti akan kalah. Demikian pula kawan-kawannya sudah menjadi gelisah. Tok-ong Kai Song Cinjin mengerutkah kening sedangkan Auwyang Tek membanting-banting kakinya. Oleh karena tahu bahwa bertanding pedang ia takkan menang, Yokuto lalu mempergunakan siasat yang nekat.
Ketika sepasang pedang lawannya yang muda datang menyambar, yaitu yang kiri menusuk dada dan yang kanan menabas leher, ia cepat menerjang pedang yang menusuk dada itu dengan tangkisan yang amat kuat. Ini ia lakukan dengan tangan kanan saja yang memegang pedang, sedangkan tangan kiri ia pergunakan untuk menyambar pedang yang membacok lehernya sambil merendahkan tubuh mengelak.
"Traanggg...!" Sabetan pedang besar itu hebat bukan main dan seluruh tenaga Yokuto dikerahkan, berbeda dengan Kwee Tiong yang membagi tenaga di antara kedua lengannya. Tidak heran apa bila pedang kiri pemuda itu tak dapat dipertahankan lagi, terlepas dari pegangan dan meluncur ke bawah panggung. Akan tetapi, pedang kanannya terus menyabet dan biarpun Yokuto sudah mengelak tetap saja pedang itu mengenai pundak, menyerempet dan melukai kulit daging.
Biarpun luka ini tidak berbahaya, namun cukup hebat sehingga Yokuto juga melepaskan pedang besarnya. Akan tetapi, orang Jepang ini hebat sekali. Cepat tangannya menyambar ke depan dan di lain saat ia sudah menangkap tangan Kwee Tiong untuk merampas pedang.
Dalam pergulatan berebut sebatang pedang ini, keduanya mengerahkan tenaga dan... pedang itu terlepas jatuh. Kwee Tiong mengirim pukulan ke depan. Yokuto mengelak ke samping. Saat ini dipergunakan oleh Kwee Tiong untuk mengambil pedangnya yang tinggal sebatang itu, akan tetapi ia didahului oleh Yokuto yang menggunakan kaki menyepak pedang itu ke bawah panggung.
Dengan demikian sekarang semua pedang telah hilang dan dua orang jago ini saling berhadapan dengan tangan kosong lagi! Darah mengalir dari pundak Yokuto, membasahi jubahnya bercampur dengan keringat. Juga Kwee Tiong nampak lelah, mukanya sudah basah oleh keringat.
Dari fihak Tiong-gi-pai terdengar tepuk tangan gembira ketika tadi Kwee Tiong berhasil melukai pundak Yokuto. Akan tetapi oleh karena Yokuto tidak roboh dan masih berada di atas panggung, pula masih mengadakan perlawanan maka belum boleh dianggap dia kalah. Jago Jepang ini marah sekali, mukanya yang bundar menjadi pucat kehijauan dan matanya yang sipit mengeluarkan sinar berapi, penuh dendam.
Akan tetapi pada saat itu Kwee Tiong sudah datang lagi mendesak dengan serangan hebat. Pukulan-pukulan keras dan cepat dilakukan pemuda ini bertubi-tubi dengan kedua tangan untuk mendesak lawannya yang sudah terluka pundaknya. Yokuto mencoba untuk mengelak dan menangkis, namun sebuah pukulan mengenai pangkal lengannya, membuat ia terlempar ke sudut panggung. Kembali fihak Tiong-gi-pai bersorak. Akan tetapi Yokuto ternyata kuat sekali.
Ia berdiri lagi dan dengan terhuyung-huyung maju menerjang lawannya. Mukanya menjadi mengerikan karena dari mulutnya mengalir darah, tanda bahwa pukulan tadi telah mendatangkan luka hebat di sebelah dalam. Karena ia belum roboh atau menyerah atau terlempar ke bawah panggung, ia masih belum dapat dianggap kalah. Rupanya Yokuto sudah nekat betul.
Biarpun ia sudah terhuyung-huyung, akan tetapi sambil mengeluarkan pekik yang mengerikan, bukan seperti suara manusia lagi, tubuhnya menubruk maju dengan serangan hebat ke arah Kwee Tiong. Pemuda ini menggeser kaki ke samping dan membalas dengan puku)an tangan kanan.
Yokuto menggerakkan tangan dan menangkap tangan Kwee Tiong secara istimewa. Pemuda itu kaget, mencoba menarik tangannya, akan tetapi tidak dapat. Pegangan Yokuto itu luar biasa sekali dan dalam ilmu yang menyerupai Sin-na-jiu ini orang Jepang itu ternyata lihai sekali. Pegangannya kuat dan sukar dilepaskan lagi. Kwee Tiong memukul lagi, kembali tangan kirinya kena dipegang!
Dengan kaget Kwee Tiong mengirim tendangan sampai dua kali yang mengenai lambung lawan biarpun tidak amat telak, namun cukup membuat Yokuto mengaduh kesakitan. Pegangannya masih tetap kuat dan tiba-tiba sekali dengan gerakan aneh Yokuto berhasil mengangkat tubuh Kwee Tiong ke atas dan sekali lempar tubuh Kwee Tiong melayang ke luar panggung dan jatuh di bawah.
Kwee Tiong mempergunakan ginkangnya berpoksai sehingga jatuhnya berdiri. Dengan gemas dan marah ia melompat lagi ke atas panggung untuk menghadapi lawannya, akan tetapi Auwyang Tek sudah berada di situ dan bertolak pinggang sambil menyindir.
"Kau sudah kalah dan menjadi pecundang, mau apa masuk panggung lagi?"
"Siapa kalah? Aku tidak merasa kalah!" Kwee Tiong membentak marah sambil memandang kepada Yokuto yang berdiri di sudut dengan muka pucat dan lemas tubuhnya, sedangkan mulut dan hidungnya mengucurkan darah.
"Jahanam, melawan macammu pun aku masih berani, bagaimana dibilang kalah?" Kwee Tiong menerjang maju dan menyerang Auwyang Tek yang cepat menangkisnya.
"Tiong-ji, tahan!" Tiba-tiba Kwee Cun Gan berteriak dari bawah panggung. Terpaksa Kwee Tiong menahan serangannya dan menoleh kepada pamannya itu. "Turunlah, kau memang kalah oleh lawan," kata Kwee Cun Gan.
Kwee Tiong tadi memang sudah mendengar akan syarat-syarat pertandingan dan dia bukan seorang yang hendak berlaku curang. Akan tetapi oleh karena menurut kenyataan, lawannya menderita luka-luka berat sedangkan dia sendiri belum terluka, tentu saja ia merasa amat penasaran kalau dinyatakan kalah hanya karena lawannya kebetulan memiliki ilmu tangkap dan ilmu gulat aneh sehingga ia dapat dilempar ke bawah panggung.
Ia menengok ke arah Pek Mao Lojin, akan tetapi orang tua inipun mengangguk-angguk kepadanya. Kwee Tiong merasa kecewa sekali. Wajahnya menjadi merah sekali ketika ia melompat turun dengan tubuh lemas. Tepuk tangan dan sorak gemuruh kini terdengar di fihak Auwyang Tek menyambut kemenangan pertama. Yokuto yang sudah payah itu dibimbing turun dari gelanggang.
"Pihakmu sudah kalah satu kali, Kwee Cun Gan!" kata Auwyang Tek gembira.
"Masih ada empat kali lagi. Majukan jagomu, Auwyang Tek," jawab Kwee Cun Gan tenang.
Jago ke dua dari fihak Auwyang Tek adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek! Tokoh ini melompat ke atas panggung dengan mulut menyeringai dan mukanya yang seperti muka burung itu memandang ke kanan kiri dengan lagak sombong. Tongkatnya yang terkenal berada di tangan, karena tongkat ini memang tidak pernah terpisah dari tangannya.
"Aku, orang she Kui ingin main-main sebentar dengan orang Tiong-gi-pai. Siapa suka temani aku?" katanya memandang ke arah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya.
Im-Yang Thian Cu berdiri dari bangkunya, la memang sudah mengambil keputusan untuk membela muridnya yang telah terluka hebat. Tentu saja ia merasa malu kalau harus menghadapi seorang muda seperti Auwyang Tek, dan ia merasa berat kalau harus menghadapi Tok-ong, guru Auwyang Tek. Sekarang melihat Kui Ek maju, ia cepat berdiri karena sudah lama ia mendengar akan kejahatan orang ini dan ingin ia mencoba lihainya tongkat burung itu.
"Muka burung, pintolah lawanmu!" katanya dan tubuhnya melayang ke atas panggung.
Melihat tosu kurus tinggi yang mukanya muram memegang kipas dan alat tulis ini, Kui Ek memperlebar senyumnya untuk menutupi hatinya yang menjadi agak jerih. "Eh-eh-eh, kiranya Im-Yang Thian-Cu si tosu cengeng! Bagus sekali kalau kau yang mengawaniku, cocok.... cocok...!"
Memang di dunia kang-ouw, Im-Yan Thian-Cu dijuluki tosu cengeng, karena mukanya selalu muram seperti orang mau menangis. Mendengar ucapan ini, Im-Yang Thiian-Cu yang tidak suka banyak cakap lalu menggerakkan pit-nya di tangan kanan untuk menotok dada lawan. Kui Ek tentu saja tidak berani memandang ringan kepada senjata pendek ini, cepat ia mengelak dan tongkatnya bergerak menyapu.
Di lain saat, terjadilah pertandingan yang amat seru dan menarik antara dua orang tokoh besar ini, membuat kagum kepada mereka yang menyaksikannya. Dipandang sepintas lalu, agaknya Kui Ek lebih kuat dan untung dengan senjatanya yang panjang dan berat, serangannya ganas dan cepat sekali. Akan tetapi bagi mata ahli tidak demikian keadaannya. Biarpun lm-Yang Thian-Cu hanya memegang sepasang senjata yang pendek dan ringan yaitu sebuah kipas dan sebuah pit, namun dua senjatanya ini hebat sekali.
Tongkat lawannya dapat ditahan oleh kipas, bahkan senjata pit selalu mencari sasaran di antara jalan darah dli tubuh lawan. Kui Ek berusaha melebarkan jarak antara mereka dan mengajak bertempur dalam jarak jauh agar ia dapat menyerang dengan ujung tongkatnya yang panjang tanpa dapat didekati lawan. Akan tetapi Im-Yang Thian-Cu mana mau membiarkan dirinya diakali? Tokoh ini mendesak dan merangsek terus mengajak lawan bertempur jarak dekat.
Oleh karena usaha kedua fihak ini, sekarang kelihatan seakan-akan Kui Ek berusaha menjauh kan diri, sebaliknya lm-Yang Thian-Cu mendekat, sehingga Kui Ek seperti terdesak terus oleh lawannya. Pertempuran yang dilakukan oleh dua orang ahli ilmu silat tinggi memang sukar diramalkan siapa akan kalah siapa pula yang akan menang. Setiap serangan tentu merupakan tangan maut yang amat berbahaya.
Biarpun sudah terdesak, seorang ahli silat tinggi dapat menewaskan pendesaknya dengan sekali pukul saja. Oleh karena itu, sukar pula meramalkan siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan seru antara Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan Im-Yang Thian-Cu ini.
Tingkat mereka hampir seimbang, hanya dalam tenaga Iweekang agaknya Im-Yang Thian-Cu lebih matang. Pertempuran ini sungguh hebat. Seratus jurus telah lewat tanpa ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dan keduanya masih kelihatan segar dan sungguh-sungguh dalam usaha mereka mencari kemenangan.
Hanya untung bagi Im-Yang Thian-Cu, bahwa selama berpuluh tahun ia hidup sebagai seorang yang menjauhkan segala nafsu keduniawian, tubuhnya bersih hatinya jernih, maka daya tahannya juga lebih kuat dari pada Kui Ek yang menjadi hamba nafsu dan pengejar kesenangan sesat. Gerakan tongkat burung makin menjadi lemah sedangkan gerakan kipas dan pit makin kuat saja.
Pada suatu saat Kui Ek mendapat kesempatan, tongkatnya menyambar ganas dan keras sekali. Im-Yang Thian-Cu sudah memperhitungkan bahwa tanpa spekulasi ia sukar memperoleh kemenangan dari lawan yang ulet dan tangguh ini. Melihat tongkat menyambar dengan pengerahan tenaga sekuatnya itu. Im-yang Thian-Cu mengangkat kipasnya menerima pukulan itu.
"Brakkk!" Kipasnya pecah, akan tetapi berhasil "menangkap" tongkat itu di antara tulang-tulang kipas sehingga tidak mudah ditarik kembali. Saat inilah yang dinanti oleh Im-Yang Thian-Cu karena secepat kilat pit-nya menyambar ke depan, digunakan sebagai senjata rahasia yang disambitkan ke arah jalan darah di pundak lawan.
"Takk!" Tepat sekait pit itu menghantam jalan darah dan memang oleh Im-Yang Thian-Cu disambitkan dengan tenaga menotok maka pit itu tidak terlalu keras hingga tidak menembus daging, akan tetapi cukup kuat untuk menotok jalan darah!
Kui Ek mengeluh, tongkatnya terlepas dari tangan dan tubuhnya sempoyongan. Im-Yang Thian-Cu maklum bahwa seorang lawan setangguh Kui Ek, tentu tidak akan lama terpengaruh oleh totokan tadi yang membuat semua urat seperti kejang, dan tentu akan dapat mengatasi dirinya lagi.
Maka ia tidak mau membuang waktu, sekali tendang tubuh Ma-thouw Koai-tung Kui Ek terlempar ke arah rombongan lawan dan tentu akan menimpa Auwyang-Taijin kalau saja Auwyang Tek tidak lekas-lekas maju ke depan dan menyambar tubuh itu.
"Satu-satu...!" terdengar teriakan dan sorak-sorai rombongan Tiong-gi-pai untuk menyatakan kegembiraan mereka bahwa keadaan kini menjadi satu-satu.
"Tai! Tar! Tar!" Pecut kelabang Toat-beng-pian Mo Hun berbunyi nyaring ketika kakek iblis ini naik ke atas panggung atas perintah Tok-ong Kai Song Cinjin.
Sementara itu Im Yang Thian-Cu sudah turun dari panggung, disambut oleh Kwee Cun Can dan yang lain dengan wajah berseri. Melihat munculnya manusia iblis pemakan otak manusia itu, kening Im Yang Thian-Cu berkerut, dan ia kelihatan menyesal sekali.
"Sayang aku sudah maju menghadapi Kui Ek. Kalau boleh aku ingin sekali melawan manusia siluman ini," katanya seperti kepada diri sendiri.
"Ha-ha ha, Im Yang Thian-Cu, jangan begitu tamak kau! Mana boleh diborong sendiri?" kata Pek Mau Lojin yang sudah berdiri dari bangkunya dan berkata kepada Kwee Cun Gan, "Kwee-enghiong, kali ini biarkan lohu Si Botak mempergunakan kesempatan ini menawarkan isi kepala botakku kepada pemakan otak itu."
Tentu saja Kwee Cun Gan setuju, karena memang selain Pek Mao Lojin, siapa lagi yang sanggup melawan Mo Hun? la mengangguk dan mengharapkan kemenangan bagi jago tua itu. Dengan lenggang dan lagak seorang pelawak, Pek Mao Lojin menaiki panggung, la tidak berkata apa-apa, begitu tiba di depan Mo Hun, ia menurunkan guci araknya dari atas punggung dan minum arak itu, dituangkan ke dalam mulut begitu saja dan kelihatan amat enaknya.
Setelah ia menggelogok arak dan membiarkan Mo Hun memandangnya dengan tidak sabaran, ia baru menurunkan gucinya lagi, mengusap bibir dengan lengan baju. memandang kepada Mo Hun lalu berkata, menyodorkan guci araknya. "Kau tukang makan otak perlu banyak minum arak untuk mencegah keracunan. Kau mau minum arak?"
Mo Hun mendongkol, merasa dipermainkan tiba-tiba tangan kirinya menyampok guci arak yang diangsurkan Akan tetapi kakek botak itu sudah menariknya kembali sehingga tamparan atau sampokan Mo Hun itu hanya mengenai angin.
"Waah, kau benar-benar tamak sekali. Mau minta ya minta, masa ingin ambil semua dengan guci-gucinya? Nih, kalau kau sudah terlalu haus, minumlah!" Sambil berkata demikian, kakek botak yang lucu dan lihai sekali itu melakukan gerakan memencet gucinya dan arak memancur keluar dari mullut guci ke arah muka Mo Hun!
Tentu saja Mo Hun cepat mengelak, akan tetapi ke manapun juga ia pergi, pancuran arak itu mengejarnya terus sampai kepalanya akhirnya kecipratan arak. Pemandangan yang lucu ini disambut gelak oleh banyak orang, terutama oleh fihak Tiong-gi-pai.
"Tar! Tar! Tar!" Pian kelabang di tangan Mo Hun menyambar-nyambar dengan ganasnya ke arah kepala Pek Mao Lojin, menyatakan betapa marahnya Mo Hun yang sudah dipermainkan orang. Bau amis menyambar-nyambar dan diam-diam Pek Mao Lojin terkejut, cepat ia melangkah mundur sambil mengayun guci araknya ke kanan kiri untuk menangkis.
"Lihai sekali senjata mautmu.....!" katanya sambil mengeluarkan sebuah guci lain lagi, dipegang di tangan kiri.
Dua buah guci arak yang beraada di tangan Pek Mao Lojin itu bukanlah guci biasa. Guci itu terbuat daripada logam istimewa, berukirkan gambar naga dan guci ini dahulu berada di dalam gudang pusaka Kaisar Jengis Khan di jaman Dinasti Goan berkuasa.
Ketika Jengis Khan memimpin pasukannya kebarat, di dunia barat ia mendapatkan banyak sekali barang rampasan yang ameh-aneh dan sepasang guci ini adalah di antara pusaka-pusaka rampasan itu.
Setelah melihat indah dan kuatnya guci, Jengis Khan lalu menyuruh tukang ukir menghias guci ini dengan gambar naga, kemudian sepasang guci ini menjadi tempat arak di waktu kaisar besar ini makan.
Setelah melalui jalan berliku-liku, akhirnya sepasang guci Ini terjatuh ke dalam tangan Pek Mao Lojin dan tidak hanya menjadi tempat arak, malah oleh kakek botak ini disulap menjadi sepasang senjata yang ampuh! Logam guci itu amat kuat, tidak rusak oleh senjata tajam yang manapun juga.
Mo Hun yang sudah bangkit kemarahannya, terus menggerakkan piannya yang mengerikan, tidak memberi kesempatan kepada lawan, menyerang terus dengan cepat dan kuat. Piannya yang berbentuk kelabang itu menyambar-nyambar menimbulkan angin dan bunyi keras dan celakalah kalau sampai kepala yang botak itu terkena pukulan, pian!
Akan tetapi Pek Mao Lojin lihai sekali. Sambil berloncatan ke sana ke mari dan menangkis dengan sepasang guci araknya, semua pukulan pian dapat ia hindarkan. Dihujani pukulan itu, kakek botak ini masih sempat mengejek dan menggoda lawannya.
"He, siluman kelabang! Apa kau sudah mengilar untuk makan otakku? Otakku lebih enak dari pada otak lain, lebih matang, gurih dan manis. Akan tetapi tidak gampang mengambilnya, harus ditukar dengan kepalamu yang buruk itu!"
Digoda begini, makin naik darah Mo Hun, membuat mukanya merah sekali. Ia membabat kaki Pek Mao Lojin, akan tetapi kakek ini melompat ke atas sambil tertawa-tawa, kemudian ia menggerakkan guci araknya balas menyerang. Ketika gucinya bergerak menyambar, terdengar bunyi "ngguuunggg...!" yang ditimbulkan oleh angin yang memasuki mulut guci.
Mo Hun yang melihat serangan ini dengan senyum mengejek lalu menggerakkan piannya. sengaja menangkis dan menghantamkan senjata itu sekuatnya ke arah guci lawan.
"Traanggg....!" Guci dan pian bertemu keras sekali, akibatnya Mo Hun tergetar telapak tangannya dan melangkah mundur satu tindak, sedangkan dari guci arak itu muncrat sedikit araknya ke atas yang cepat diterima oleh kakek botak itu dengan mulutnya.
"Heh-heh, sayang kalau arak baik dihambur-hamburkan...." katanya tertawa-tawa, lalu maju lagi menyerang makin hebat!
Pertandingan dilanjutkan lebih seru, dan pertandingan ini biarpun tidak sehebat dan seramai pertandingan antara Im-Yang Thiain-Cu dan Kui Ek tadi, namun amat menarik karena aneh dan lucunya. Kalau tadi, pertandingan antara Im-Yang Thian-Cu dan Kui Ek dilakukan dengan sengit, dengan penuh semangat dan kesungguhan hati, adalah sekarang Mo Hun menghadapi lawan yang bertempur sambil tertawa-tawa dan mengejek.
Nampaknya Pek Mao Lojin tidak bertanding dengan sungguh-sungguh. Ini hanya kelihatannya saja, karena sesungguhnya kakek botak ini sudah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk dapat mengimbangi Toat-being-pian Mo Hun yang lihai dan amat ganas gerakan senjatanya itu.
Seperti juga dengan pertandingan tadi, tingkat kepandaian dua orang tokoh inipun seimbang dan amat sukarlah bagi masing-masing fihak untuk dapat merobohkan lawan cepat-cepat. Mo Hun amat penasaran. Masa ia tidak dapat mengalahkan kakek botak yang tertawa-tawa, dan senjatanya hanya sepasang guci arak ini? Ia mendesak terus, penuh semangat dan marah sampai lubang hidungnya kembang kempis dan seakan-akan keluar uap putih dari lubang hidungnya itu.
Sebaliknya, Pek Mao Lojin mengganda ketawa saja sambil kadang-kadang menggoda mempermainkan. Semua ini kelihatannya seakan-akan Pek Mao Lojin memandang rendah dan tidak berkelahi sungguh, padahal kakek botak ini sudah "ngepiah" (berusaha keras) betul! Dia cuma menang batin dalam pertandingan ilmu silat dicampur pertandingan urat syaraf ini. Mo Hun makin lama makin panas dan penasaran sampai menjadi setengah nekat gerakannya. Dan inilah kemenangan Pek Mao Lojin.
Melihat lawannya sudah marah sekali, ia mulai menjalankan siasat dan mengejek, "Eh, setan pemakan otak! Apa kau suddh bosan otak manusia maka tidak segera merobohkan aku? Kalau begitu ganti saja doyananmu itu dengan otak anjing, lebih mudah carinya. Tinggal tangkap anjing tetangga dan kau sembelih!" Kakek botak itu tertawa bergelak sambil melompat ke samping untuk mengelak sambaran pian yang makip ganas itu.
Ejekan itu membuat hati Mo Hun makin panas dan ia sama sekali tidak sadar bahwa memang kakek botak itu hendak membuat ia menjadi marah sekali. Sebab kemarahan mengurangi kewaspadaan. Pek Mao Lojin setelah menghadapi Mo Hun selama lima puluh jurus lebih, maklum bahwa kalau dia hendak mengalahkan siluman itu, sedikitnya ia membutuhkan dua tiga ratus jurus, inipun belum dapat dipastikan karena memang permainan pian dari Mo Hun luar biasa kuatnya.
Oleh karena itu ia hendak mencari kemenangan mempergunakan akal dan sengaja ia "mengobori" terus biar hati lawan makin panas. Benar saja, Mo Hun makin panas dan makin hebat serangan piannya. Akan tetapi, kehebatan ini hanya kelihatannya saja, padahal kalau dilihat oleh seorang ahli, makin hebat makin ngawurlah serangan-serangannya, lebih banyak menurutkan nafsu marah dari pada menurutkan jalannya ilmu silat.
Pada saat yang telah diperhitungkan masak-masak, ketika pian menyambar, Pek Mao Lojin menerima pian itu dengan guci kiri yang diputar sehingga ujung pian melihat leher guci. Mo Hun girang sekali dan mengerahkan tenaga menarik untuk merampas guci itu.
Akan tetapi guci kanan Pek Mao Lojin sudah menyusul dan menjepit pian itu. Kemudian, selagi Mo Hun berkutetan hendak menarik kembali piannya yang melibat dan terjepit, Lek Mao Lojin tertawa dan menyemburkan arak dari mulutnya secara bertubi-tubi ke arah muka lawannya!
Di "hujani" arak dari mulut Pek Mao Lojin, Mo Hun menjadi repot sekali. Untuk melompat menghindari semburan arak, piannya masih terjepit. Untuk menerima begitu saja, berarti ia menerima hinaan ditambah rasa celekat-celekit pada mukanya seperti ditusuki jarum. Terpaksa ia melangkah mundur sambil membetot piannya.
Pek Mao Lojin menurutkan lawannya dan melangkah maju dua tindak menahan lagi, menyerang dengan semburan arak, lalu maju lagi. Akhirnya tanpa disadari Mo Hun sudah sampai di pojok dan di pinggir panggung, tidak ada jalan mundur lagi!
Mo Hun melihat hal ini akan tetapi sudah terlambat, karena tiba-tiba Pek Mao Lojin menghentikan godaannya dan mengirim serangan serentak sambil melepaskan jepitan pian, menyerang dengan guci araknya yang dipukulkan dari kanan kiri lalu digerakkan dari atas dan bawah!
Empat penjuru tempat mengelak sudah ditutup, jalan satu-satunya hanya melompat mundur! Apa boleh buat, dari pada kepalanya remuk dihantam guci, terpaksa Mo Hun melompat mundur! Turun dari panggung!
"Ha-ha-ha, tak kusangka pemakan otak manusia masih mempunyai hati murah, mau mengalah terhadapku. Terima kasih, terima kasih!" Sambil berkata demikian, Pek Mao Lojin turun dari panggung disambut oleh para anggauta Tiong-gi-pai dengan sorak sorai.
"Dua satu untuk kemenangan kita!" orang-orang Tiong-gi-pai bersorak gembira.
Mo Hun yang melompat turun dari panggung memandang ke arah fihak Tiong-gi-pai dengan mata melotot. Ingin sekali ia mengamuk dan menyerang orang-orang itu. akan tetapi Tok-ong memberi isyarat kepadanya supaya mundur. Kemudian Tok-ong kai Song Cinjin sendiri melompat ke atas panggung dan berkata, suaranya besar berpengaruh,
"Sungguh tidak pinceng nyana orang Tiong-gi-pai, terutama tua bangka seperti Pek Mao Lojin, tidak malu menggunakan akal yang curang untuk memperoleh kemenangan."
"Lho, curang bagaimana? Pemakan otak anjing itu melompat turun dari panggung dan menurut perjanjian itu berarti kalah, apa yang curang?" kata Pek Mao Lojin tertawa tawa.
"Aku belum kalah, botak jahat! Lihat aku masih segar belum terluka, aku melompat turun karena kena kau tipu. Siapa bilang aku kalah?" Mo Hun dari tempat duduknya membentak dengan mata merah.
"Ha-ha-ha, dasar di situ yang licik. Apa kalian tidak ingat bagaimana tadi Kwee Tiong tidak terluka, malah bajak pendek itu yang empas-empis mau mampus. Akan tetapi karena Kwee Tiong kena diakali dengan terpaksa turun dari panggung, tetap saja dianggap kalah. Kemenanganku sekali ini hanya membalas kekalahan pertama tadi, siapa yang curang dan siapa yang tidak?"
Tok-ong Kai Song Cinjin tak dapat berkata apa-apa lagi. Sukarlah untuk berbantahan dengan Pek Mao Lojin yang pandai bicara, dan memang sudah ditentukan sebelumnya bahwa siapa meninggalkan panggung dinyatakan kalah, maka Mo Hun tidak bisa lain harus dianggap kalah juga.
Dengan demikian fihaknya telah menderita kekalahan dua kali. Sekali lagi kalah berarti keseluruhannya akan dianggap kalah. Oleh karena itu Tok-ong maju sendiri untuk menentukan kemenangan dan menebus kekalahan tadi...