Pedang Naga Hitam Jilid 16

Cu Sian menuding ke arah Han Sin yang masih duduk di jaga oleh beberapa orang anak buah itu.

“Ah, tentu saja kami setuju. Pemuda itu kami tangkap karena kami mencurigai dia sebagai mata-mata Kwi-to-pang. Akan tetapi kalau dia itu sahabat mu berarti diapun orang sendiri dan sekarangpun dia boleh bebas...!“

Mendengar ini, Cu Sian lalu menghampiri Han Sin dan dengan sikap menertawakan dia berkata, “Nah, Sin-ko, sekarang engkau bebas dan boleh pergi kemana kau suka. Akan tetapi kenapa engkau berada di sini sehingga di curigai dan di tangkap...?“

Han Sin tersenyum. Dari sikapnya, tahulah dia bahwa sahabatnya itu hendak mengatakan bahwa tanpa sahabatnya itu, tentu dia akan celaka! “Terima kasih, Sian-te. Aku hanya kebetulan saja berada di sini, tidak bermaksud apa-apa. Akan tetapi aku di curigai dan di tangkap...!“

“Hemmm, memang begitulah keadaannya. Dimana-mana terdapat bahaya mengancam. Kalau tidak pandai-pandai menjaga diri, bisa bertemu bahaya dan celaka...“

“Aku akan menjaga diri baik-baik, Sian-te. Nah, aku pergi saja sekarang...“ Han Sin bangkit berdiri.

“Apakah engkau tidak mau menanti saja sampai aku membereskan urusanku ini kemudian kita melakukan perjalanan bersama...?“ Cu Sian mendesak lagi.

“Tidak, terima kasih, Sian-te. Aku tidak mau merepotkanmu...“ jawab Han Sin dan segera dia meninggalkan tempat itu.

Cu Sian kelihatan kecewa sekali, akan tetapi diapun tidak memaksa dan hanya memandang sahabatnya itu pergi sampai lenyap di balik pohon-pohon. Hek-mo-ko dan kawan-kawannya memandang heran. Bagaimana seorang pemuda yang lihai seperti Cu Sian dapat bersahabat dengan pemuda tolol seperti Cian Han Sin? Hek-mo-ko yang melihat Cu Sian masih termenung memandang ke arah lenyapnya pemuda tawanan tadi, segera berkata,

“Cu-sicu, apakah yang akan kita lakukan sekarang?“

Cu Sian seperti baru sadar dari lamunannya. “Kita menanti sampai matahari condong ke barat. Aku akan menjadi pelopor dan jalan di depan. Kalian menikuti aku sambil bersembunyi, jangan terlalu dekat. Semua rintangan dalam perjalanan itu akan kuhadapi sendiri. Baru kalau perlu aku akan memberi isyarat dan kalian boleh maju membantu. Kalau tidak ada isyarat, kalian diam saja dan biarkan aku sendiri mangatasi rintangan. Setelah tiba di perkemahan orang-orang Kwi-to-pang, aku akan masuk dan menemui para pimpinannya. Kalian mengepung sambil bersembunyi dan kalau aku sudah memberi isyarat dengan terbakarnya sesuatu di sana, kalian boleh menyerbu masuk. Aku akan membikin kacau di sana sehingga orang-orang kwi-to-pang yang sedang panik oleh pengacauanku tidak mempunyai banyak kesempatan untuk membela diri ketika kalian menyerbu..."

Tiga orang pimpinan itu mengangguk-angguk. Suatu rencana yang amat berani dan amat membahayakan keselamatan pemuda itu, akan tetapi karena yang merencanakan Cu Sian, merekapun hanya mengangguk setuju.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan) adalah perkumpulan perampok dan bajak sungai yang merajalela di sepanjang lembah Huang-ho sejak puluhan tahun yang lalu. Yang menjadi ketuanya adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi besar. Mukanya penuh brewok dan bernama Ban Koan, seperti juga para ketua dahulu yang menurunkan kedudukan itu dari guru ke murid.

Ban Koan juga seorang yang ahli dalam ilmu silat golok besar dan diapun memakai julukan Sin-to-kwi (Setan Golok Sakti). Dia mewarisi kedudukan ketua dari gurunya yang ketika hidupnya juga merupakan seorang datuk yang lihai ilmu silatnya. Gurunya itu berjuluk Sin-to-kwi-ong (Raja Setan Golok Sakti).

Munculnya perkumpulan Huang-ho Kwi-pang di lembah Huang-ho bagian utara itu tentu saja di anggap sebagai pihak yang hendak merebut wilayah kekuasaan kwi-to-pang. Beberapa kali terjadi bentrokan antara anak-anak buah mereka. Maka para pimpinan masing-masing lalu mengajukan tantangan untuk memperebutkan wilayah yang subur bagi mereka itu. Banyak rombongan pedagang berlalu lalang, baik melalui darat maupun melalui sungai sehingga keadaan mereka yang berkuasa di daerah itu menjadi makmur dengan adanya pembayaran pajak yang mereka kenakan pada para saudagar yang lewat.

Demikianlah, pada hari itu Ban Koan muncul sendiri memimpin anak buahnya. Berbeda dengan dahulu, di waktu gurunya menjadi ketua, anak buah Kwi-to-pang sampai berjumlah dua ratus orang, kini anak buahnya hanya sekitar lima puluh orang saja. Hal ini adalah keadaan pemerintahan yang kuat setelah berdirinya Kerajaan Sui yang di pimpin oleh Kaisar Yang Cien.

Kaisar pertama Kerajaan Sui ini berusaha benar-benar untuk membasmi gerombolan penjahat, dan ketika pasukan pemerintah datang menyerbu, banyak anak buah Kwi-t o-pang yang tewas dan banyak pula yang ketakutan dan mengundurkan diri. Yang masih bertahan hanyalah Ban Koan dan para pengikutnya berjumlah lima puluh orang.

Pada hari yang di tentukan, kedua pihak sudah saling mendekati dan Kwi-to-pang membuat perkemahan di tepi sungai, sedangkan pihak Huang-ho kwi-pang membuat pertahanan di dalam hutan. Sin-to-kwi Ban Koan menjadi marah sekali ketika dua orang penyelidiknya tewas keracunan. Biarpun anak buahnya yang dia sembunyikan sebagai barisan pendam telah berhasil membunuh empat orang anak buah musuh, akan tetapi tetap saja dia merasa jerih untuk menyerbu setelah diketahuinya bahwa tempat pertahanan musuh itu disebari racun yang amat berbahaya.

Dalam memimpin Kwi-to-pang, Ban Koan dibantu oleh adiknya sendiri yang bernama Ban Ki dan berjuluk Siang-to-kwi (Sepasang Golok setan). Ban Ki juga seperguruan dengan kakaknya, hanya bedanya kalau Ban Koan bersenjatakan sebatang golok yang besar dan berat, Ban Ki terkenal dengan senjatanya sepasang golok yang tipis dan ringan. Pada hari itu, setelah kematian dua orang anggotanya, Ban Koan dan Ban Ki hanya menunggu saja gerakan musuh. Mereka sudah memasang perangkap berupa anak panah yang menghadang di perjalanan mereka ke perkemahan mereka secara sembunyi.

Setelah matahari naik tinggi dan mulai condong ke barat, muncullah Cu Sian mendekati tempat pertahanan Kwi-to-pang. Dia berjalan seenaknya dengan lenggang dan langkah panjang seolah dia sedang berjalan-jalan di dalam hutan itu. Tiba-tiba dari balik semak belukar berlompatan empat orang yang memegang sebatang golok besar. Empat orang itu bergerak cepat dan sudah mengepung Cu Sian.

“Berhenti!“ bentak seorang di antara mereka. “Siapa engkau dan mau apa berkeliaran di sini?“

Cu Sian bersikap tenang saja. “Apakah kalian anggota Kwi-to-pang? Aku ingin bertemu dengan ketua kalian!“

“Dia tentu mata-mata Huang-ho Kwi-pang!” teriak orang kedua. “Tangkap saja dia!“

Empat orang itu sudah menodongkan golok mereka. “Hayo engkau menyerah, atau kami menggunakan kekerasan!"

Cu Sian tersenyum mengejek. “Aku ingin bertemu dengan ketua Kwi-to-pang! Aku tidak sudi menyerah kepada kalian dan kalau hendak menggunakan kekerasan, ingin aku melihat apa yang dapat kau lakukan kepadaku!“

“Keparat! Serang!“ teriak orang pertama dan empat batang golok sudah menyambar ke arah tubuh Cu Sian dan empat penjuru.

Akan tetapi empat orang itu hanya melihat bayangan berkelebat dan serangan mereka luput. Cu Sian yang mempergunakan gin-kangnya melompat dan menghindar, kini tertawa dan empat orang itu cepat memutar tubuh mereka. Ternyata pemuda berpakaian seperti pengemis itu telah berada diluar kepungan dan melintangkan tongkat bambunya di depan dada sambil tertawa-tawa.

Empat orang itu menjadi marah dan penasaran. Kembali mereka maju menyerang dengan golok besar mereka. Nampak sinar berkelebat ketika empat batang golok itu menyambar-nyambar. Akan tetapi dengan tenang Cu Sian menggerakkkan tongkat bambunya, mengelak dan menangkis, kemudian dengan gerakannya yang cepat tongkat bambunya menotok empat kali dan empat orang itupun berseru kaget ketika golok mereka terlepas dari tangan mereka yang mendadak menjadi lumpuh!

Maklum bahwa pemuda itu terlalu lihai bagi mereka berempat, mereka lalu berlompatan dan berlari menuju kelompok mereka. Cu Sian tertawa dan melanjutkan langkahnya menuju ke perkemahan Kwi-to-pang. Akan tetapi tiba-tiba saja dari depan kanan kiri menyambar beberapa batang anak panah yang agaknya dilepas secara sembunyi oleh orang-orang yang berada dibalik batang pohon dan semak-semak. Empat batang anak panah itu dapat di elakkan dengan mudah oleh Cu Sian. Akan tetapi kembali anak panah menyambar.

Cu Sian menjadi marah dan dengan tongkatnya yang di putar di bagian tubuhnya dia menangkis dan empat batang anak panah itu dapat di runtuhkan. Kemudian dia melompat cepat ke arah belakang semak-semak dan melihat empat orang melarikan diri. Kiranya empat orang itu bertugas menyerang pelanggar tempat itu dengan anak panah dan melihat betapa serangan mereka sia-sia, mereka menjadi jerih dan cepat pergi dari tempat persembunyian itu.

Gerombolan yang di pimpin Hek-mo-ko dan kawan-kawannya, yang berindap-indap mengikuti Cu Sian, tentu saja melihat semua peristiwa itu dan mereka merasa gembira sekali menyaksikan betapa dengan amat mudahnya Cu Sian mengatasi itu. Diam-diam mereka terus mnegikuti Cu Sian dari jauh.

Cu Sian terus melangkah maju menghampiri tempat pertahanan Kwi-to-pang. Tempat itu di kelilingi pohon bambu dan begitu dia mendekati pohon bambu, dari balik bambu itu berloncatan banyak orang dan tahu-tahu dia sudah di kepung oleh puluhan orang!

Cu Sian berdiri dengan tenang dan memandang ke sekeliling. Akhirnya dia melihat munculnya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih. Laki-laki ini tinggi besar bermuka penuh brewok dan tangannya memegang sebatang golok besar. Jantung Cu Sian berdebar tegang melihat orang ini. Agaknya inilah orangnya yang dimaksudkan oleh para piau-su itu. Orang yang menjadi kepala perampok Kwi-to-pang, orang yang telah membunuh ayahnya.

Di sebelah laki-laki yang bukan lain adalah Sin-to-kwi Ban Koan itu, berdiri adiknya, Ban Ki adalah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang bertubuh jangkung kurus, mukanya yang kurus itu berbentuk meruncung seperti muka tikus, dan sepasang matanya bersinar kejam.

“Orang muda, siapakah engkau dan mau apa engkau mencari ketua Kwi-to-pang?” bentak Ban Koan dengan suara mengguntur.

“Namaku Cu Sian dan aku memang sengaja datang untuk bertemu dengan ketua Kwi-to-pang. Apakah engkau yang menjadi ketua Kwi-to-pang...?”

Ban Koan memandang penuh perhatian. Tadi dia mendapat laporan bahwa seorang pemuda remaja hendak bertemu dengannya dan pemuda itu lihai bukan main, telah mengalahkan empat orang penjaga dan bahkan mampu menghindarkan diri dari serangan anak panah. Dia merasa heran. Pemuda ini masih remaja dan ternyata hanya seorang pengemis. Tentu bukan pengemis sembarangan, pikir Ban Koan. Dia menahan kemarahannya.

“Hemmm, benar akulah Sin-to-kwi Ban Koan, ketua Kwi-to-pang dan ini adalah wakilku, juga adikku bernama Ban Ki dan berjuluk Siang-to-kwi...“

Mendengar ini, Cu Sian hampir tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Akan tetapi dia ingin mendapatkan kepastian. “Ban-pangcu aku mendengar bahwa Kwi-to-pang berkuasa di daerah ini, di sepanjang Lembah Huang-ho selama puluhan tahun. Benarkah itu...?”

“Tidak salah. Kwi-to-pang menguasai wilayah ini sejak puluhan tahun yang lalu sampai sekarang...“ jawab Ban Koan dengan bangga. Karena dia menduga bahwa pengemis muda ini mungkin ada hubungan dengan Huang-ho Kwi-pang, maka dia menjawab untuk menjelaskan bahwa Kwi-to-pang-lah yang berkuasa di situ sejak lama dan Huang-ho Kwi-pang merupakan pihak yang melanggar batas kekuasaanya.

“Dan benarkah bahwa Kwi-to-pang merupakan perkumpulan perampok yang ganas dan jahat, bukan hanya suka merampok, akan tetapi juga tidak segan untuk membunuhi korbannya.. ?”

“ha-ha-ha-ha!“ Sin-to-kwi Ban Koan tertawa bergelak sehingga perutnya yang besar terguncang. Melihat ketua mereka menertawakan pertanyaan itu, para anak buahnya juga tertawa sehingga ramailah keadaan di tempat itu.

“Kami yang berkuasa di wilayah ini, maka siapa saja yang lewat disini, harus tunduk akan peraturan kami. Mereka harus menyerahkan sebagian dari milik mereka kepada kami dan kalau mereka menolak dan melawan, tentu saja kami bunuh...!“

Sepasang mata Cu Sian berkilat. Tidak salah lagi, tentu orang ini yang telah menewaskan ayahnya. “Ban-pangcu, karena mendengar itulah aku datang mencarimu. Engkau kejam dan jahat, sudah merampok, membunuh pula. Aku datang untuk menantangmu bertanding, hendak kulihat sampai dimana kehebatan golok setan mu...!“

Sin-to-kwi Ban Koan membelalakan sepasang matanya yang sudah lebar itu, kemudian dia tertawa lagi, terbahak-bahak. Ha-ha-ha-ha! Engkau...? Anak kecil jembel kelaparan ini menantangku? Ha-ha-ha-ha!“

“Twa-ko, untuk membunuh bocah gila ini, tidak perlu engkau turun tangan sendiri. Cukup sepasang golokku saja yang akan mencincang tubuhnya sampai hancur!“ kata Ban Ki sambil mencabut sepasang golok tipis itu dan mengamangkannya.

“Aha, engkau tikus kurus tidak perlu ikut campur!“ kata Cu Sian. “Aku menantang Sin-to-kwi Ban Koan, kalau dia berani menandingiku barulah dia pantas menjadi kepala rampok. Akan tetapi kalau dia pengecut dan tidak berani, mengakulah saja dan aku akan menghadapi engkau tikus kurus ini...!“

Bukan main marahnya Ban Ki dimaki tikus kurus oleh seorang pengemis muda! Dia sudah memutar dua goloknya, akan tetapi kakaknya membentak. “Mundurlah! Bocah bermulut lancang ini memang yang sudah bosan hidup. Biar aku sendiri yang membunuhnya...!“

Setelah berkata demikian, Ban Koan meloncat ke depan. Agaknya dia memandang rendah kepada lawannya, maka dia tidak mencabut goloknya melainkan menyerang dengan pukulan tangannya yang besar ke arah muka Cu Sian. Akan tetapi dengan mudah saja Cu Sian mengelak dengan menundukkan kepalanya sehingga pukulan itu lewat di atas kepalanya. Pemuda itu melangkah ke depan dan tangannya menghantam perut lawan.

Ban Koan terkejut melihat kelincahan lawan. Cepat tangan kirinya menangkis dan terpaksa dia melangkah ke belakang dan ketika melihat pemuda itu menusukkan dua jari tangannya ke arah matanya, dia mengerahkan tenaga untuk menangkis. Dia mengharapkan tangkisan yang kuat itu akan mematahkan tulang lengan lawan, atau sedikitnya mendatangkan rasa nyeri.

“Duukkk..!“ Keduanya terdorong ke belakang dan kembali Ban Koan terkejut. Pemuda jembel itu ternyata memiliki tenaga yang kuat, dapat menandingi tenaganya! Dengan kemarahan yang mulai mendidih, dia menendang dengan kaki kirinya yang panjang dan kokoh. Namun Cu Sian dengan mudah mengelak dan tiba-tiba dia sudah menusukkan tongkat bambunya menotok ke arah pinggang lawan.

“Aahhh...!“ Ban Koan terpaksa melempar tubuh kebelakang sehingga dia terjengkang, akan tetapi tubuh yang tinggi besar itu ternyata dapat bergerak gesit juga dan dia sudah berjungkir balik sekali ke belakang.

Kini Ban Koan tidak berani memandang ringan dan dia tahu bahwa lawannya memang lihai sekali. Baru beberapa gebrakan saja tahulah dia bahwa dalam hal kecepatan gerakan, dan hal ini membahayakn dirinya. Juga dia tidak dapat mengharapkan tenaganya karena pemuda itupun memiliki tenaga yang kuat. Maka cepat dia menggerakkan tangan dan dia sudah memegang sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya!

Cu Sian yang merasa yakin dia berhadapan dengan pembunuh ayahnya. Sejak tadi sudah merasa seolah hatinya terbakar oleh dendam dan kebencian. Akan tetapi dia tidak mau membiarkan kemarahannya menguasainya. Dia tetap tenang dan maklum bahwa lawannya adalah seorang yang berbahaya, apalagi kalau sudah memegang goloknya. Kiranya tidak percuma orang itu berjuluk Sin-to-kwi (Setan Golok Sakti). Dia tetap tenang dan waspada. Dia yakin akan mampu menandingi musuh besar ini. Walaupun musuh besar ini telah mengalahkan dan membunuh ayahnya, akan tetapi dia merasa yakin bahwa sekarang tingkat kepandaiannya sudah jauh melampaui tingkat ayahnya dahulu.

“Siinggg...“ Golok besar itu mengeluarkan bunyi mendesing ketika Ban Koan mengayunnya dalam bacokan dahsyat ke arah leher Cu Sian. Cu Sian menekuk kedua kakinya merendahkan tubuh sehingga golok itu menyambar di atas kepalanya dan kesempatan itu dia pergunakan untuk menyerang dada lawan dengan totokan. Ban Koan terkejut dan cepat tangan kirinya bergerak menangkis tongkat lalu melompat mundur.

Setelah terhindar dari totokan berbahaya itu, Ban Koan kembali menyerang. Goloknya bergerak cepat, golok yangbesar dan berat itu seolah benda ringan sekali di tangannya. Golok itu lenyap bentuknya dan menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan membuat tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung walet sehingga sukar sekali di serang. Juga serangan balasan Cu Sian tidak kalah hebatnya karena pemuda itu menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darah yang mematikan.

Pertandingan itu sungguh menegangkan. Golok di tangan Ban Koan itu berbahaya sekali, akan tetapi Cu Sian ternyata mampu menandinginya dengan kecepatan gerakannya. Mereka saling serang dan tubuh mereka berkelebatan ke sana sini. Sampai lima puluh jurus lebih belum juga ada yang roboh walaupun perlahan-lahan Cu Sian mulai dapat mendesak lawannya.

Melihat kakaknya tidak mampu mengalahkan pemuda itu bahkan terdesak, Ban Ki menjadi penasaran dan marah. Bagi dia dan kakaknya, mereka tidak mengenal sifat kegagahan yang pantang melakukan pengeroyokan. Ban Ki berseru keras dan meloncat memasuki gelanggang perkelahian itu dengan sepasang goloknya. Tanpa peringatan lagi dia sudah menyerang Cu Sian dengan ganasnya.

Cu Sian mengelak dengan cepat ketika sepasang golok itu menyambar ke arah tubuhnya. “Pengecut!“ bentaknya.

Namun kakak beradik itu tidak peduli dan segera mengeroyoknya. Bahkan anak buah Kwi-to-pang mulai mengepung dan mengancam dengan golok mereka untuk mengeroyok Cu Sian.

Cu Sian terkejut sekali. Dia telah masuk perangkap, telah di kepung dan tidak mungkin meloloskan diri dari pengepungan puluhan orang itu. Mulailah dia merasa menyesal, karena dorongan dendam kebencian, dia lupa bahwa di berada di tengah-tengah gerombolan yang berbahaya. Saking marahnya berhadapan dengan pembunuh ayahnya dia langsung menantang. Padahal, seharusnya dia mencari kesempatan dulu untuk memberi isyarat kepada Huang-ho Kwi-pang yang saat itu tentu menanti-nanti isyaratnya.

Kini dia telah terkepung, tidak sempat lagi memberi isyarat dan dia lalu nekat mengamuk, tubuhnya berkelebatan ke sana sini menghadapi pengeroyokan kakak beradik itu. Akan tetapi dia terdesak hebat karena dua orang lawannya adalah orang-orang yang ahli bermain golok. Beberapa kali nyaris tubuhnya terbacok golok.

Cu Sian memaklumi keadaan bahaya ini, akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar untuk meloloskan diri, dia lalu mengamuk dan membela diri sekuat mungkin. Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Cu Sian itu, tiba-tiba nampak sinar dan asap di susul teriakan banyak orang,

“Kebakaran! Kebakaran...!“

Dan sebagian dari anak buah Kwi-to-pang berlarian untuk memadamkan sebuah tenda yang terbakar. Cu Sian merasa terheran-heran. Mestinya dia yang membuat api sebagai isyarat kepada orang-orang Huang-ho Kwi-pang! Akan tetapi siapapun penyebab kebakaran, hal itu menguntungkan bagi Cu Sian dan diapun mengamuk sehingga kedua orang lawan yang mengeroyoknya mundur. Apalagi Ban Koan dan Ban Ki juga terheran-heran melihat adanya kebakaran.

Selagi mereka meragu, terdengar sorak sorai dan puluhan orang Huang-ho Kwi-pang datang menyerbu. Terjadilah pertempuran yang hebat. Hek-mo-ko Coa Gu ketua Huang-ho Kwi-pang segera membantu Cu Sian yang di keroyok dua. Kini Cu Sian hanya melawan Ban Koan seorang, sedangkan Hek-mo-ko bertanding melawan Ban Ki Gu Ma It dan Su Ciong Kun, dua orang ketua yang lain dari Huang-ho Kwi-pang memimpin anak buah mereka menyerang orang-orang Kwi-to-pang. Terjadilah pertempuran mati-matian.

Karena orang-orang Huang-ho Kwi-pang lebih banyak, mereka di pimpin oleh dua orang ketua itu, maka pihak Kwi-to-pang menjadi terdesak hebat. Sementara itu Cu Sian mendesak lawannya dengan sengit dan akhirnya, tongkat bambunya berhasil menotok dada Ban Koan. Sin-to-kwi Ban Koan berseru keras dan roboh terjengkang dan sebelum dia sempat membela diri, Cu Sian sudah mengirim dua kali totokan pada leher dan dadanya dan tewaslah Ban Koan tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

Pertandingan antara Ban Ki dan Hek-mo-ko juga berlangsung sengit dan berimbang. Akan tetapi, ketika Ban Ki melihat kakaknya roboh dan tewas, permainan sepasang goloknya menjadi kacau dan kesempatan ini dipergunakan oleh Hek-mo-ko untuk menusukkan tongkat bajanya ke arah ulu hati Ban Ki. Siang-to-kwi Ban Ki terjengkang dan tewas karena tongkat baja itu telah menembus baju dan kulit dadanya.

Melihat robohnya dua orang pimpinan mereka, sisa anak buah kwi-to-pang menjadi panik dan mereka lalu melarikan diri cerai berai. Hanya belasan orang saja di antara mereka yang dapat lolos. Selebihnya tewas dalam pertempuran itu. Hek-mo-ko Coa Gu, Gu Ma It dan Su Ciong kun bergembira bukan main karena kemenangan itu berarti bahwa kini merekalah yang menjadi penguasa tunggal di daerah lembah Huang-ho!

Para anak buah Huang-ho Kwi-pang juga bersorak gembiara atas kemenangan itu. Cu Sian masih berdiri termenung memandangi mayat Ban Koan ketua Kwi-to-pang. Hatinya merasa terharu bahwa akhirnya dia mampu membalas kematian ayah ibunya, bahkan berhasil pula membantu Huang-ho Kwi-pang untuk membasmi gerombolan Kwi-to-pang yang dahulu merampok ayahnya. Dia masih termenung ketika Hek-mo-ko dan dua orang adiknya menghampiri dan mereka bertiga memberi hormat kepadanya. Hek-mo-ko berkata dengan gembira,

“Bantuan Cu-sicu sungguh tak ternilai harganya bagi kami...“

Seperti orang dalam mimpi karena masih termenung, Cu Sian berkata. “Aku tidak membantu siapa-siapa, aku hanya ingin membalas kematian ayah ibuku...“

“Biarpun demikian, tanpa bantuan Cu-sicu, akan sukarlah bagi kami untuk memperoleh kemenangan. Kini kami telah menang dan mulai saat ini, yang menguasai Lembah Huang-ho di daerah ini adalah kami Huang-ho Kwi-pang...!“ kata Hek-mo-ko lantang sehingga terdengar oleh semua anak buahnya.

Mendadak terdengar suara yang lebih lantang lagi, suara yang bergema sampai jauh dan yang menggetarkan hutan itu. “Siapa bilang Huang-ho Kwi-pang yang berkuasa! Masih ada aku di sini...!“

Semua orang terkejut dan menoleh. Entah dari mana dat angnya tiba-tiba saja di situ telah berdiri seorang kakek yang menyeramkan. Kakek itu usianya paling sedikit enam puluh tahun. Tubuhnya masih tegak dan tinggi besar, kepalanya botak dan ukuran kepala itu besar sekali. Rambut kepalanya hanya tumbuh dibagian bawah dari belakang telinga sampai ke tengkuk dan rambut ini tebal dan hitam sekali.

Tubuhnya yang tinggi besar itu mengenakan pakaian dari bulu beruang di bagian luarnya. Sedangkan celana dan bajunya dari kain sutera. Tangannya memegang sebatang tongkat berkepala naga dan berwarna hitam mulus. Sepatunya dari kulit binatang. Penampilan kakek ini nampak lucu akan tetapi juga menyeramkan. Mendengar ucapan kakek itu, tentu saja tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang menjadi marah sekali.

“Haiiii...! Apa maksudmu dengan kata-kata tadi...?“ bentak Hek-mo-ko.

“Siapa engkau, manusia lancang mulut!“ bentak pula Su Ciong Kun dengan marah.

“He-he-he-he, kalian seperti tikus-tikus selokan hendak berlagak harimau! Kata-kataku sudah jelas. Tidak ada yang berkuasa di lembah Huang-ho kecuali aku. Mulai hari ini, akulah yang berkuasa dan siapa pun baru berhak hidup di sini setelah memperoleh ijin dariku...“

“Manusia sombong! Mengakulah siapa engkau sebelum kami membinasakan kamu!” kini Gu Ma It yang berteriak marah.

“He-he-he! Namaku Ma Giok, akan tetapi mulai sekarang akulah datuk utara dan julukanku Pak-te-ong (Raja Bumi Utara)!“

Tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu saling pandang dan mereka tidak mengenal nama ini di antara tokoh-tokoh kang-ouw. Maka mereka memandang rendah.

“Ma Giok, bersiaplah untuk mampus...!“ bentak Su Ciong Kun dan dia sudah menyabitkan sebatang pisau yang sudah di rendam racun. Jangankan terkena dengan tepat, baru tergores sedikit saja oleh senjata rahasia ini sudah cukup untuk merenggut nyawa orang!

Akan tetapi kakek botak itu hanya mengibaskan lengan bajunya dan pisau itu mencelat ke samping dan lenyap ke dalam semak-semak. “Ha-ha-ha, tikus-tikus tidak tahu diri. Apakah kalian masih mempunyai permainan lain lagi...?”

Hek-mo-ko tentu saja tidak rela melihat ada orang hendak merebut kekuasaan mereka begitu saja. Dia sudah menggerakkan tongkat bajanya dan berseru kepada dua orang adiknya. “Serang...!“

Ini merupakan aba-aba bagi kedua orang itu untuk menyerbu dan tanpa banyak cakap lagi Gu Ma It menggerakkan pedangnya dan Su Ciong Kun menggerakkan rantai bajanya.

Cu Sian menyingkir dan menjauh sambil tersenyum mengejek. Dia muak melihat sikap tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang itu yang tanpa malu-malu lagi melakukan pengeroyokan kepada seseorang yang belum mereka kenal dan ketahui bagaimana tingkat kepandaiannya. Dia tidak ingin mencampuri urusan itu, akan tetapi diapun tertarik dan ingin menonton pertandingan itu. Dia melihat disebelah kirinya terdapat sebatang pohon dan diapun meloncat ke atas cabang pohon itu dan duduk seenaknya.

Hek-mo-ko Coa Gu, Su Ciong Kun dan Gu Ma It sudah maju menerjang kakek botak itu. Tongkat baja Hek-mo-ko menyambar ke arah kepala botak itu, pedang di tangan Gu Ma It menusuk ke arah dada, sedangkan rantai baja Su Ciong Kun menyambar ke arah pinggang! Hebat sekali serangan tiga orang secara berbarengan itu dan agaknya kakek gundul itu tidak akan mampu menghindarkan diri lagi. Akan tetapi Cu Sian yang menonton dari atas, terbelalak melihat kakek botak yang bernama Pak-te-ong Ma Giok itu sama sekali tidak bergerak dari tempat dia berdiri.

“Duukkk...!“

Kepala botak licin itu terpukul tongkat baja Hek-mo-ko, akan tetapi kepala itu tidak apa-apa bahkan tongkat itu telah di sambar tangan kiri Pak-te-ong dan di rampasnya. Ketika pedang menusuk ke arah dadanya, dia menancapkan tongkatnya sendiri ke atas tanah dan tangan kanannya mengangkap pedang itu begitu saja dan sekali tarik, pedang itupun dirampasnya.

Rantai baja itu mengenai pinggang dan melibatnya, akan tetapi sekali kakinya menendang, Su Ciong Kun terlempar dan rantai baja itu tetap melibat pinggang Pak-te-ong. Kembali kedua kakinya itu menyambar bergantian dan Hek-mo-ko terlempar kebelakang sedangkan Gu Ma It juga terpelanting...!

Pedang Naga Hitam Jilid 15

AKAN tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian Han Sin. Ada dua bayangan orang yang menyusup-nyusup di antara semak belukar dan batang-batang pohon. Kalau dia tidak melihat dengan penuh perhatian, tentu bayangan itu akan lolos dari penglihatannya. Demikian cepat gerakan mereka.

Kalau pengintai yang masih di atas pohon itu melihat, tentu akan dikiranya gerakan seekor dua ekor binatang saja. Akan tetapi Han Sin merasa yakin bahwa itu adalah gerakan dua orang yang datang dari tempat berkumpulnya kelompok Golok Setan itu menuju ke sini.

Han Sin merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Tidak salah lagi, agaknya golok setan mengirim dua orang penyelidik dan dua orang itu pasti akan melanggar garis yang sudah di sebarin racun. Ingin dia memberitahu mereka, memperingatkan mereka agar jangan sampai melanggar garis beracun itu, akan tetapi bagaimana caranya?

Pula, dia belum tahu benar siapa yang jahat di antara kedua kelompok orang yang agaknya bermusuhan itu, maka tidak adillah kalau dia memihak salah satu kelompok. Maka, diapun diam saja dan mengikuti dua bayangan itu dengan perasaan ngeri. Setelah dekat dengan tempat itu, dua bayangan itu tidak nampak lagi dan gerakannya tidak dapat diikuti lagi. Agaknya mereka maju dengan hati-hati sekali.

Tak lama kemudian Han Sin yang sudah siap melihat orang keracunan, tetap saja terkejut ketika tiba-tiba terdengar jerit an dua orang yang mengerikan. Di sebelah lapangan utara lapangan rumput itu. Orang-orang yang berada dilapangan rumput itupun mendengarnya dan mereka kelihatan girang sekali.

“Ha-ha-ha, tentu dua ekor anjing pengintai mereka yang terkena racun. Seret mereka ke sini...!“

Dua orang anggota kelompok itu bangkit dan mereka menuju ke utara dari mana suara tadi terdengar. Dua orang itu mengenakan sarung tangan hitam untuk melindungi tangan mereka dari racun. Tak lama kemudian mereka sudah menyeret tubuh dua orang yang sudah menjadi mayat!

Sungguh luar biasa sekali racun hitam itu. Mula-mula yang terkena hanya tangan dua orang penyelidik itu, akan tetapi warna hitam itu lalu menjalar ke seluruh tubuh sampai ke mukanya yang menjadi hitam seperti hangus!

Diam-diam Han Sin bergidik. Dia sudah mendengar banyak dari gurunya. Hek liong ong, tentang kekejaman yang banyak terjadi di dunia persilatan, terutama di antara golongan sesat dan baru sekarang dia menyaksikan sendiri.

“Ha-ha-ha, Gerombolan Golok Setan akan tahu rasa sekarang! Kalian berempat, bawa dua mayat itu dan lemparkan ke dekat tempat mereka!“ perintah si tinggi besar muka hitam.

“Baik, twa-pangcu!“

Empat orang yang di tunjuk bangkit berdiri dan mereka inipun menggunakan sarung tangan hitam. Mereka lalu menggotong dua mayat itu, dua orang menggotong satu mayat dan membawa mereka keluar dari lapangan rumput, menuju ke utara untuk mengirim dua buah mayat itu kepada pihak musuh.

Han Sin mengikuti perjalanan empat orang yang menggotong dua buah mayat itu, akan tetapi, baru sampai pada pertengahan jalan, mendadak muncul orang bersenjata golok besar dan mereka itu segera menyerang empat orang yang menggotong dua mayat tadi. Empat orang itu melepaskan mayat dan mencabut pedang mereka, dan terjadilah perkelahian empat lawan lima orang bergolok.

Akan tetapi karena empat orang tadi menggot ong dua mayat, mereka kalah cepat dan ketika golok-golok itu berkelebat an membentuk gulungan sinar menyilaukan mata, dalam waktu belasan jurus saja empat orang itu berturut-turut telah terpelanting roboh, kemudian lima orang itu menghujamkan goloknya ke tubuh mereka sampai tubuh empat orang itu terbelah-belah!

Han Sin menyeringai seperti orang menahan sakit. Dia bergidik. Kiranya orang-orang Golok Setan itu tidak kalah kejamnya dibandingkan orang-orang yang berada dibaw ah pohon ini. Agaknya orang yang mengintai dari atas pohon melihat pula kejadian itu. Maka dia cepat turun memberi laporan kepada para pimpinan.

“Twa-pangcu, celaka besar! Empat orang kita yang mengantar dua mayat itu di hadang di tengah perjalaan oleh lima orang musuh dan mereka semua terbunuh...!“

“Ahhhh...!“ Ketua yang tinggi besar itu mukanya menjadi semakin hitam dan die mengepal tinjunya. “Keparat! Kita kehilangan empat orang sedangkan mereka hanya kehilangan dua orang! Kita harus membuat pembalasan!”

Ketua pertama dari kelompok itu bernama Coa Gu dan berjuluk Hek-mo-ko. Untuk daerah lembah Huang-ho ini sudah terkenal sebagai seorang datuk diantara para perampok dan bajak sungai. Gerombolan yang dipimpinnya itu di beri nama Huang-ho-kwi-pang (Perkumpulan Iblis Sungai Kuning)!

Orang tinggi besar bermuka hitam ini bersenjatakan sebatang tongkat baja yang hitam pula. Karena muka dan tongkatnya yang hitam itulah maka dia dijuluki Hek-mo-ko (Iblis Hitam). Orang kedua, yang tinggi besar bermuka brewok bernama Gu Ma It dan dia menjadi ji-pangcu (Ketua kedua). Usianya lima puluh tahun, lima tahun lebih muda dari Hek-mo-ko dan Gu Ma It ini terkenal karena tenaganya besar seperti tenaga gajah dan diapun pandai bermain pedang.

Adapun orang ketiga yang menjadi sam-pangcu (ketua ketiga) bernama Su Ciong Kun, berusia empat puluh lima tahun. Orang ketiga ini tinggi namun kurus dan mukanya menyeramkan sekali karena muka itu seperti tengkorak terbungkus kulit. Orang ketiga dari Huang-ho Kwi-pang ini ditakuti karena dia seorang ahli menggunakan racun dan senjat anya berupa rantai baja juga lihai sekali.

Pusat Huang ho Kwi-pang berada di lembah Huang-ho, sedangkan anggota mereka berjumlah kurang lebih lima puluh orang. Akan tetapi yang kini di ajak untuk menyerbu musuh hanya tiga puluh orang. Mendengar twa-pangcu yang sudah marah itu bermaksud hendak menyerbu musuh, sam-pangcu segera berkata,

“Twa-suheng, kurasa tidak menguntungkan kalau kita langsung menyerbu mereka. Mereka lebih menguasai medan karena ini merupakan daerah mereka. Kalau kita menyerang mereka, kita dapat terjebak. Biarkan mereka yang menyerang kita sehingga kita yang menjebak mereka dengan racun..."

Gu Ma It yang tadi hanya mendengarkan saja kini berkata, “Apa yang diucapkan sam-sute memang benar. Mereka yang menguasai daerah ini tentu lebih paham akan keadaan disini dan kalau tidak berhati-hati kita dapat terjebak. Tempat kita ini terbuka dan tidak dapat mereka menjebak kita, dan andaikata mereka menyerang kita, kita dapat mempertahankan diri dengan baik dan menghancurkan mereka...“

“Hemmm...!“ Hek-mo-ko menggeram.

“Kita telah kehilangan empat orang. Di bandingkan dengan mereka yang kehilangan dua orang, kita masih rugi besar. Ternyata mereka telah memasang barisan pendam diantara kita dan mereka...“

“Karena itulah harus berhati-hati dan menanti gerakan mereka...“ kata Su Ciong Kun si muka tengkorak yang agaknya cerdik.

“Ahhh, akan tetapi hal seperti itu menunjukkan bahwa kita takut kepada mereka...“ Hek-mo-ko tetap penasaran.

Han Sin merasa sudah cukup lama mengintai dari atas pohon. Dia turun dari pohon itu, mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan mereka. Gurunya pernah menasehatinya agar dia tidak mencampuri urusan orang-orang kang-auw karena diantara mereka kalau terjadi permusuhan, biasanya saling memperebutkan kekuasaan atau harta benda, juga mungkin karena dendam mendendam. Akan tetapi baru saja dia turun dari atas pohon, tiba-tiba muncul sepuluh orang yang mengepungnya dan menodongkan senjata-senjata tajam kepadanya.

Han Sin bersikap tenang saja, walaupun dia agak terkejut karena tidak menyangka bahwa dia telah diketahui. Karena sejak tadi berada di atas pohon dan perhatiannya di tunjukkan kepada semua kejadian yang jauh dari pohon, dia tidak mendengar atau melihat apa yang terjadi di bawah pohon itu.

Kiranya mereka itu adalah sepuluh orang dari Huang-ho Kwi-pang yang tadi tidak dilihatnya dilapangan rumput dan mereka itu memang disebar untuk menyelidiki keadaan sekitar tempat itu! Ketika seorang dari mereka melihat Han Sin di atas pohon, dia lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan pohon itu pun sudah di kepung. “Ah, kalian ini mau apa?“ tanya Han Sin dengan sikap tenang.

“Engkau mata-mata Kwi-to-pang!“ bentak seorang diantara para pengepung itu.

Han Sin tertawa. “ha-ha-ha, apa yang kalian maksudkan? Aku tidak mengerti segala macam Kwi-to-pang atau Perkumpulan setan manapun..."

“Engkau hendak melawan?” seorang menodongkan pedangnya.

Han Sin memang tidak ingin bermusuhan dengan mereka. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan menggeleng kepala. “Ah, tidak! Siapa mau melawan?“

“Kalau begitu menyerahlah. Engkau harus kubawa menghadap pimpinan kami!“

“Boleh! Aku memang tidak mempunyai kesalahan apapun...“ Han Sin lalu di todong dan di giring memasuki lapangan.

Tentu saja semua orang memandang penuh perhatian ketika seorang pemuda di giring masuk lapangan rumput oleh sepuluh orang anggota Huang Ho Kwi pang itu. Han Sin dipaksa duduk di atas rumput menghadap tiga orang ketua itu dan seorang di antara penawannya berkata,

“Lapor, pangcu. Kami mendapatkan orang ini melakukan pengintaian di atas pohon!“

Hek mo ko memandang kepada Han Sin penuh selidik, dari kepala sampai ke kaki, dan dia membentak, “Engkau mata-mata Kwi-to-pang yang mengintai kami?”

Han Sin menggeleng kepalanya. “Sama sekali bukan!“

“Haiii! Dia ini penunggang kuda yang kita susul di perjalanan tadi!“ seru Su Ciong Kun.

“Benar!“ jawab Han Sin. “Memang tadi kalian menyusul dan melewati aku!"

“Apa maksudnya engkau berada di sini dan mengintai dari atas pohon? Jawab yang betul atau kami akan membunuhmu...“ bentak Hek-mo-ko.

“Aku sedang melakukan perjalanan menuju ke Tai-goan. Karena daerah ini amat sepi dan aku merasa kesepian, ketika kalian melewati aku tadi, aku bermaksud untuk menyusul agar dapat melakukan perjalanan ini bersama kalian dan tidak kesepian. Akan tetapi kalian berhenti di hutan ini dan akupun berhenti agak jauh dari sini menanti kalian berangkat lagi. Karena lama kalian tidak berangkat, aku lalu naik ke pohon untuk melihat apa yang terjadi...“

“Dan apa yang kau lihat?” bentak Hek-mo-ko, mulai percaya kepada keterangan Han Sin karena dia agaknya dapat membedakan antara orang yang menjadi anggota gerombolan penjahat atau rakyat biasa.

“Aku melihat bahwa kalian bersiap-siap untuk bertempur dengan gerombolan yang di sana itu...“ Han Sin menuding ke utara. “Aku melihat pula dua orang dari mereka mati keracunan dan empat orang dari kalian terbunuh...“

Gu Ma It yang berewokan berkata. “Twa-suheng, untuk apa banyak bicara dengan orang ini? Mata-mata atau bukan, bunuh saja agar tidak merepotkan...“

“Jangan, jangan bunuh aku. Apa untungnya kalian membunuhku? Dan aku bersumpah tidak ada sangkut pautnya dengan gerombolan yang di sana itu. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun...“ kata Han Sin sungguh-sungguh, bukan karena takut melainkan karena dia tidak ingin bermusuhan dengan gerombolan ini.

“Hemmm, bocah ini bukan anggota gerombolan biasa...“ kata Hek-mo-ko. “Mungkin dia berguna bagi kita. Sebaiknya kita tahan saja dia. Jaga dia baik -baik jangan sampai meloloskan diri. Dan kau, orang muda, awas kau. Sekali engkau berusaha melarikan diri engkau akan kami bunuh...!“

Akan tet api Han Sin sudah tidak begitu memperhatikan lagi soal lain karena saat itu perhatiannya tertarik ke sebelah kiri, ke arah sebatang pohon besar. Di atas cabang pohon itu dia melihat seorang berjongkok nongkrong di atas cabang sambil cengar-cengir, dan orang ini bukan lain adalah Cu Sian, si pengemis remaja!

Tentu saja Han Sin merasa khawatir bukan main. Orang-orang ini adalah orang-orang kasar yang biasa melakukan kekerasan dan agaknya mereka ini lihai, terutama sekali tiga orang pimpinan itu. Dan sekarang Cu Sian muncul! Dan apa lagi yang akan diperbuat oleh pemuda remaja yang nakal itu kalau tidak membuat ulah dan kekacauan...?

“Ha-ha-ha! Huang-ho Kwi-pang yang memiliki tiga orang pemimpin dan kelihatan kuat ini, ternyata hanya kulitnya saja yang nampak kokoh, padahal disebelah dalam keropos dan rapuh, jerih menghadapi Kwi-to-pang!“

Semua orang terkejut dan menengok ke arah suara itu dan baru sekarang mereka melihat pengemis muda itu duduk nongkrong di atas cabang pohon. Diam-diam tiga orang pimpinan Huang-ho Kwi-pang terkejut. Bagaimana bocah jembel itu dapat tiba-tiba berada di pohon yang begitu dekat dengan mereka tanpa mereka ketahui sama sekali?

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Mereka bertiga adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tingkat tinggi, di tambah tiga puluh orang anggota yang bersikap waspada, namun tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui adanya pengemis muda itu. Padahal dia berada di pohon yang paling dekat dengan lapangan rumput itu. Sedangkan Han Sin yang berada di pohon yang lebih jauh saja dapat diketahui dan di tangkap.

Akan tetapi mendengar ucapan pemuda remaja itu yang mengejek, Kwi-to-pang yang dikatakannya rapuh, tiga orang pimpinan itu menjadi marah dan merasa di hina. Su Ciong Kun, pemimpin nomor tiga yang tubuhnya tinggi kurus mukanya seperti tengkorak itu membentak nyaring.

“Heii, bocah gila! Berani engkau menghina kami...?“

Dengan kaki yang tadinya berjongkok itu kini di turunkan dan di goyang-goyang, Cu Sian tersenyum dan berkata, Eh, muka tengkorak, siapa menghina? Aku tadi bilang apa?”

"Bahwa kami keropos dan rapuh di sebelah dalam!“ kata Su Ciong Kun dengan marah.

“Ha-ha-ha, bukankah sekarang engkau sendiri yang mengatakan bahwa kalian keropos dan rapuh? Bukan aku yang berkata, melainkan engkau sendiri!“

Su Ciong Kun merasa dipermainkan. Dia menjadi semakin marah dan mengamangkan tinju ke arah pengemis muda itu. “Bocah setan, turunlah engkau, kalau tidak, akan ku seret kau!“

“Wah, tidak usah repot-repot! Tidak perlu engkau membantuku turun, aku dapat turun sendiri...“ Berkata demikian, Cu Sian lalu melompat turun dari atas cabang pohon ke atas tanah.

“Ke sinilah engkau untuk mempertanggung jawabkan ucapanmu tadi atau kami akan menggunakan kekerasan!“ kata pula Su Ciong Kun yang melihat pengemis muda itu masih berada di luar lingkaran yang telah di sebari racun itu.

“Baik, aku akan ke situ. Kau kira aku takut menghadapi kalian semua?” Dan dengan sikap gagah diapun melangkah maju.

“Sian-te...! Berhenti jangan maju lagi! Tempat itu telah di sebari racun berbahaya!“ Han Sin berteriak memperingatkan.

Akan tetapi pemuda remaja itu tidak mundur, bahkan terus sambil tersenyum, “Orang-orang Kwi-t o-pang boleh jadi takut racun yang disebar di sini, akan tetapi aku tidak...!“

Dan dengan kedua tangannya, dia menguak semak-semak belukar yang menghalangi jalannya. Han Sin terbelalak penuh kekhawatiran dan orang-orang Huang-jo Kwi-pang sudah tersenyum-senyum karena mereka yakin bahwa pemuda yang kurang ajar itu tentu akan roboh tewas. Mereka itu kecelik karena ternyata Cu Sian dapat lewat dengan selamat. Walaupun kedua tangannya tersentuh daun-daun yang di sebari racun, akan tetapi agaknya dia tidak merasakan apa-apa! Dengan langkah lebar setelah memasuki lapangan rumput, ia menghampiri para pimpinan Huang-ho Kwi-pang!

Tentu saja kini bukan hanya Han Sin yang terheran-heran. Tiga orang ketua Huang-ho Kwi-pang juga terheran-heran. Akan tetapi kalau Han Sin merasa heran bercampur girang. Sebaliknya tiga orang pemimpin Huang-ho Kwi-pang itu merasa heran dan terkejut bukan main. Bagaimana mungkin ada orang yang menyentuh daun-daun yang disebari racun itu tanpa keracunan?

Pengemis itu masih masih begitu muda, mungkinkah dapat memiliki kesaktian sehingga dapat menolak daya racun itu? Akan tetapi setelah Cu Sian tiba dihadapan mereka, barulah semua orang tahu mengapa pemuda remaja itu tidak keracunan. Ternyata kedua tangannya itu memakai sepasang sarung tangan yang tipis dan warnanya sama dengan kulitnya sehingga sepintas lalu dia seperti tidak memakai sarung tangan.

Su Ciong Kun, orang ketiga dari tiga orang ketua Huang-ho Kwi-pang itu semakin heran ketika tiba-tiba Cu Sian membungkuk, mengambil tanah dan menggosok-gosok kedua tangan yang bersarung itu dengan tanah. Bagaimana bocah itu tahu bahwa penawar racun itu adalah tanah? Setelah di gosok-gosok dengan tanah, maka racun yang menempel pada sarung tangan itu akan punah kekuatannya. Dengan gerakan yang tenang seperti orang memandang rendah, Cu Sian berkata,

“Huh, segala macam racun tikus dipergunakan untuk menjebak orang!“ Ia lalu melepaskan sepasang sarung tangan itu dan memasukkannya ke dalam saku baju hitamnya yang longgar. Juga dia hanya melirik satu kali ke arah Han Sin dan selanjutnya tidak mengacuhkannya.

Hek-mo-ko melangkah maju menghadapi pemuda pengemis itu. Melihat pemuda itu berani melewati garis yang disebari racun tanpa keracunan, dan pemuda itu bahkan berani menghadapi mereka dengan sikap yang demikian tenang, dia bersikap hati-hati karena dapat menduga bahwa pemuda itu tentu bukan orang sembarang saja.

“Hei, orang muda! Siapakah engkau dan apa maksudmu datang ke sini memandang rendah kepada kami...!“

“Aku she Cu bernama Sian. Aku sama sekali tidak memandang rendah kepada kalian. Akan tetapi aku memiliki kebiasaan untuk mengatakan apa adanya. Kalian merasa jerih kepada orang-orang Kwi-to-pang di sana itu, siapa yang tidak tahu? Kalau kalian hanya bersembunyi di sini berlindung kepada pagar racun, lalu kapan kalian dapat menghancurkan Kwi-to-pang...?”

“Hemmm, kalau menurut pendapat mu bagaimana yang seharusnya kami lakukan?” Hek-mo-ko bertanya.

“Ha-ha-ha, aku siap membantu Huang-ho Kwi-pang, dengan satu syarat, yaitu kalian harus menaati semua perintah dan petunjukku. Bagaimana...? Aku tanggung kalian akan dapat membasmi Kwi-to-pang dan menguasai daerah lembah Huang-ho...“

Tiga orang pimpinan gerombolan itu saling pandang dan mengerutkan alisnya. Menaati perintah seorang pengemis muda...? Tentu saja mereka tidak dapat menyetujinya, apalagi mereka belum melihat sampai dimana kelihaian pemuda itu.

“Bocah sombong!” teriak Cu siong Kun sambil meloloskan rantai bajanya. Rantai dari baja itu sepanjang satu setengah meter, besar dan berat. “ Kau anggap engkau ini siapakah berani berlagak sombong untuk memerintah kami...? Coba ingin kulihat apakah engkau mampu menandingi rantai bajaku ini...!“ Setelah berkata demikian Su Ciong Kun mengayun dan memutar-mutar rantai bajanya.

“Wirrr... wirrrrr...!“ Rantai baja itu mengeluarkan bunyi mendesir ketika menyambar ke arah kepala Cu Sian.

Han Sin terkejut dan khawatir melihat serangan yang hebat itu dan diam-diam dia sudah siap siaga untuk menolong sekiranya pemuda remaja itu terancam bahaya. Akan tetapi dengan gerakan ringan saja, Cu Sian telah dapat mengelak dan menghindarkan diri dari sambaran rantai baja itu. Akan tetapi Su Ciong kun memang lihai.

Rantai baja yang luput menyambar kepala itu sudah membalik dan sekali ini menyambar ke arah pinggang Cu Sian. Pemuda remaja ini menggerakkan tongkat bambunya menangkis. Tangkisan dari samping itu hanya membuat sambaran rantai itu menyimpang dan secepat kilat tongkat itu sudah di gerakkan menusuk kearah siku kanan Su Ciong Kun.

“Tuk-tuk!“ Dua kali ujung tongkat menotok dan terdengar Su Ciong Kun mengeluh dan rantai di tangannya terlepas. Dia melompat ke belakang dengan mata terbelalak.

Melihat ini, Gu Ma It menerjang maju dan pedangnya sudah menyambar ke arah leher Cu Sian. Cepat bukan main sambaran pedang itu dan terdengar bunyi berdesing saking kuatnya tenaga yang menggerakkan pedang.

“Siinggg... Takkkk!“ Pedang itu terpukul dari samping oleh tongkat bambu sehingga menyeleweng dan tidak mengenai sasaran. Sebaliknya, Cu Sian sudah membalas dengan tusukan tongkatnya ke arah jalan darah di tubuh lawan.

Akan tetapi Gu Ma It dapat mengelak dan menangkis dengan pedangnya. Sebetulnya, tingkat kepandaian Gu Ma It tidak berselisih jauh dengan tingkat kepandaian Su Ciong Kun. Kalau tadi dalam beberapa gebrakan saja Su Ciong Kun dapat dikalahkan oleh Cu Sian, hal ini adalah karena Su Ciong Kun memandang rendah kepada pemuda remaja itu. Berbeda dengan Gu Ma It yang sudah melihat adiknya kalah dan sudah maklum bahwa pemuda pengemis itu lihai sekali maka dia berhati-hati dan tidak memandang rendah.

Kini Gu Ma It memutar pedangnya. Dan melakukan serangan bertubi. Namun gerakan Cu Sian amat lincahnya. Tubuhnya berkelebat seperti seekor burung walet saja. Juga pemuda remaja itu memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat yang di warisinya dari kakeknya.

Selagi dua orang ini saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba Hek-mo-ko berseru keras. “Tahan senjata! Hentikan perkelahian!“ Dan dia sudah melompat ke depan dan tongkat bajanya menghadang di antara kedua orang yang sedang bertanding itu sehingga keduanya melompat ke belakang.

“Twa-suheng, aku belum kalah...“ Gu Ma It membantah suhengnya.

"Ji-sute, biar aku sendiri yang menghadapi sobat muda ini...!“ kata Hek-mo-ko yang kemudian menghadapi Cu Sian sambil berkata dengan suara mengandung keheranan. “sobat, aku ingin sekali merasakan hebatnya ilmu tongkatmu!“

“Majulah“ tantang Cu Sian. “Aku tidak mencari permusuhan dengan kalian. Akan tetapi bukan berarti aku takut. Setiap tantangan akan kulayani...!”

Para anggota Huang-ho Kwi-pang memandang dengan penuh perhatian. Tidak mereka sangka sama sekali bahwa pengemis muda itu sedemikian lihainya. Bukan saja mengalahkan Su Ciong Kun dengan mudah dan dapat menandingi Gu Ma It, bahkan kini berani menyambut tantangan Hek-mo-ko!

Han Sin juga menonton dengan hati tegang. Akan tetapi kini dia tidak begitu khawatir lagi karena ternyata Cu Sian bukan hanya berlagak, melainkan benar-benar memiliki kelihaian. Apalagi dia dapat mengetahui dari sikap dan kata-kata Hek-mo-ko bahwa orang pertama dari pimpinan Huang-ho Kwi-pang ini tidak marah, melainkan heran terhadap Cu Sian.

“Sobat muda, sambut serangan tongkat ku!“ dia membentak dan mulai membuka serangannya dengan gerakan tongkat ke depan, ujung tongkat tergetar menjadi banyak dan meluncur ke arah dada pemuda remaja itu.

Akan tetapi Cu Sian dengan sigap menyambut serangan itu dengan lompatan ke kiri dan memutar tongkatnya menangkis, kemudian diapun membalas dengan totokan tongkatnya ke arah lutut lawan. Hek-mo-ko melompat ke kanan untuk menghindar serangan balasan itu. Kemudian tongkat bajanya yang berat dan panjang sudah membuat gerakan melingkar untuk menyapu kedua kaki Cu Sian!

“Bagus!“ Cu Sian berseru dan meloncat tinggi sehingga sapuan tongkat baja itu tidak mengenai kakinya. Dari atas dia menggerakkan tongkat bambunya menotok ke arah ubun-ubun kepala Hek-mo-ko. Serangan ini amat berbahaya bagi lawan dan Hek-mo-ko agaknya mengerti akan hebatnya serangan ini. Dia berseru nyaring dan menggerser kakinya sehingga tubuhnya mengelak ke belakang dan serangan Cu Sian itu luput.

Mereka saling serang dengan serunya dan yang terheran-heran kini adalah Han Sin yang mengikuti setiap gerakan mereka. Penglihatan Han Sin yang tajam dan terlatih itu dapat menangkap persamaan jurus-jurus kedua orang itu! Biarpun gerakan jurus-jurus kakek tinggi besar bermuka hitam itu mempunyai perkembangan yang berbeda, namun pada dasarnya kedua orang itu memainkan ilmu tongkat yang sama!

Akan tetapi jelas kelihatan olehnya bahwa kalau Hek-mo-ko memiliki tenaga yang lebih kuat, Cu Sian memiliki ginkang yang lebih sempurna sehingga pemuda pengemis itu selalu dapat menghindarkan diri dengan cekatan, dan serangan-serangan balasannya membuat kakek itu kewalahan.

Agaknya Hek-mo-ko juga maklum akan persamaan ilmu tongkat itu, maka dia menangkis tongkat bambu yang menusuk ke arah matanya lalu melompat ke belakang sambil berseru nyaring. “ Tahan senjata...!“

Cu Sian menghentikan serangannya dan pemuda inipun memandang lawannya dengan heran dan alis berkerut.

“Sobat muda, darimana engkau mempelajari Ta-houw-tung (Tongkat pemukul harimau)...?“ Hek-mo-ko bertanya sambil melintangkan tongkatnya ke depan dada.

“Hemmm, engkau seorang perampok dari mana engkau mencuri Ta-houw -tung ilmu tongkat keluarga kami...?” Cu Sian juga menegur dan melintangkan tongkat bambunya di depan dada, gerakannya persis sama dengan gerakan tongkat Hek-mo-ko.

Mendengar pemuda ini menyebut ilmu tongkat Ta-houw-tung sebagai ilmu tongkat keluarganya, Hek-mo-ko makin terheran dan mengamati wajah Cu Sian penuh perhatian. Kemudian dia berkata dengan penuh penasaran. “Aku Hek-mo-ko tidak mencuri ilmu tongkat. Ilmu ini sudah kupelajari sejak aku muda, menjadi murid dan tokoh Hek I Kaipang di cabang utara...“

“Aha, aku tahu sekarang siapa engkau!“ kata Cu Sian sambil tersenyum. “Engkau tentulah paman Coa Gu yang dahulu menjadi wakil ketua Hek I Kaipang cabang utara lalu dikeluarkan karena karena melanggar peraturan!“

Hek-mo-ko tertegun mendengar ini karena dia memang bernama Coa Gu. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu dia masih menduduki jabatan wakil ketua dari Hek I Kaipang. Karena dia melakukan pelanggaran, maka oleh Ketua Hek I Kaipang pusat di Tiang-an dia dikeluarkan dari Perkumpulan pengemis. Setelah mengingat-ingat, diapun menghela napas dan berkata,

“Orang muda, aku sekarangpun dapat menduga siapa engkau. Engkau bernama Cu Sian. Nama margamu sama dengan guruku yang dahulu terkenal dengan sebutan Cu Lokai, ketua pusat Hek I Kaipang di Tiang-an. Aku teringat bahwa guruku itu mempunyai seorang putera bernama Cu Kak yang tidak setuju dengan penghidupan sebagai pengemis. Cu Kak bahkan keluar, menjauhkan diri dari Hek I Kaipang. Tentu engkau ini putera dari Cu Kak, bukan?“

“Tepat sekali, Paman Coa Gu!“ kata Cu Sian.

“Bagus...!“ Hek-mo-ko Coa Gu menoleh dan berkata kepada dua orang saudaranya. “Ternyata orang muda ini adalah keluarga sendiri. Dan dia telah datang, tentu untuk membantu kami membinasakan Kwi-to-pang!“

“Tidak, Paman Coa Gu. Aku tidak membantu kalian dalam permusuhan kalian dengan Kwi-to-pang. Aku memang mempunyai permusuhan pribadi dengan Kwi-to-pang. Kwi-to-pang dan ketuanya telah membunuh ayahku dan menyebabkan kematian Ibuku. Aku harus membasmi mereka dan kebetulan kalian juga memusuhi mereka. Kita dapat bekerjasama...“

“Bagus, kita dapat bekerjasama kalau begitu...“

“Akan tetapi kalau paman dan anak buah paman hanya bersembunyi saja di sini, bagaimana kita dapat menghancurkan Kwi-to-pang?”

“Lalu apa yang harus kita lakukan...? Mereka telah mengatur persiapan di sana dan kita tidak tahu perangkap apa yang mereka pasang untuk menghadapi kita...“

“Harus ada seseorang yang pergi ke sana, menemui mereka dan mempelajari keadaan dan kedudukan mereka...“ kata Cu Sian.

“Akan tetapi hal itu berbahaya sekali!“ seru Hek-mo-ko. “Mereka telah memasang baris pendam di mana-mana. Bahkan empat orang anggota kami yang mengirim dua mayat anak buah mereka terhadang di dalam perjalanan dan semua tewas...“

“Aku tahu dan aku sendiri melihatnya tadi. Akan tetapi kalau aku yang pergi ke sana, jangan harap mereka akan dapat menangkap aku!“

Ucapan yang sombong ini membuat Han Sin mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia tidak mau mencampuri urusan mereka, maka diapun diam saja dan hanya mendengarkan.

“Hek-mo-ko nampak girang bukan main. “Bagus! Kalau engkau sendiri yang mau pergi menyelidiki, kita pasti berhasil dan menang...“

“Akan tetapi aku baru mau membantu kalian kalau dua syarat ku dipenuhi. Pertama kalian baru boleh menyerbu kalau sudah kuberi isyarat. Dan kedua, sebelum aku pergi menyelidik keadaan musuh, pemuda yang kalian tawan itu harus di bebaskan lebih dulu. Dia adalah seorang sahabatku...“

Pedang Naga Hitam Jilid 14

Han Sin menyimpan buntalan pakaiannya ke dalam kamarnya dan Cu Sian juga melakukan hal yang sama. Kemudian mereka ke luar kembali dan duduk di ruangan depan kamar mereka, dimana disediakan beberapa buah bangku dan meja.

“Kau tadi bilang aku aneh, nah, apanya yang aneh, Sin-ko...?“ tanya Cu Sian. Mereka dapat bercakap-cakap dengan leluasa karena ruangan itu terpisah dari para tamu lainnya.

“Engkau berkeras minta sebuah kamar sendiri dan tidak mau menginap dalam kamarku. Bukankah itu terlalu royal dan aneh...?“

Cu Sian tertawa dan wajahnya nampak tampan sekali ketika dia tertawa. “Heh-heh, apa anehnya itu? Sejak kecil aku terbiasa tidur sendiri. Kalau ada temannya, aku pasti tidak akan dapat tidur pulas sepanjang malam...“

“Masih ada hal yang lebih aneh lagi yang membuat aku dapat menduga siapa engkau sebenarnya, Sian-te...“

“Ehh...? Benarkah? Apa saja keanehan itu...?“

Kini Han Sin yang mengamati wajah Cu Sian penuh selidik dan dia berkata. “Aku berani menduga engkau tentulah seorang pemuda remaja yang kaya raya dan pandai ilmu silat. Engkau tentu sedang merantau dan menyamar sebagai seorang pengemis untuk mencari pengalaman. Nah, benarkah dugaanku ini...?“

Cu Sian yang tadinya mendengarkan dengan serius itu kini tertawa lagi. “he-he-he, apa alasannya engkau menduga seperti itu, Sin-ko...?“

“Mudah saja! Cara bicara mu menunjukkan bahwa engkau seorang yang berpendidikan tinggi. Engkau mengenakan pakaian pengemis akan tetapi tidak mengemis, bahkan membawa banyak uang dan sikapmu juga royal sekali, tanda bahwa engkau seorang hartawan. Dan ketika di kuil Hwa-li-pang terjadi perkelahian, engkau muncul dan berkelahi melawan nenek gila yang sakti, ini membuktikan bahwa engkau pandai silat, juga ketika engkau melempar pelayan tadi keluar rumah makan. Nah, benarkah dugaanku itu...?”

Cu Sian menghela napas panjang, “Aihhh, begitu menonjol dan canggungkah penyamaranku ini...?“

Han Sin menggeleng kepala. “Tidak Sian-te. Melihat sepintas lalu saja, penyamaranmu memang sudah baik sekali dan tak seorangpun menyangsikan bahwa engkau seorang pengemis. Akan tetapi kalau sudah bergaul dengan mu, maka akan nampaklah kejanggalan-kejanggalan itu. Sikapmu sungguh bukan seperti pengemis, melainkan sebagai seorang pendekar muda yang kaya raya...!“

“Aduh mak, celaka aku! Bertemu dengammu sama saja dengan kena batunya. Selama beberapa bulan menyamar ini, baru sekarang rahasiaku terbuka. Maka sesungguhnyalah, aku bukan seorang pengemis akan tetapi aku bersahabat dengan seorang pengemis, bahkan aku keturunan pemimpin perkumpulan pengemis...“

“Akan tetapi kenapa engkau menyamar sebagai pengemis...?”

“Sudah tentu agar aku tentu leluasa dan aman melakukan perjalanan. Kalau aku melakukan perjalanan sebagai seorang kong-cu, tentu akan mengalami banyak gangguan dari para perampok dan pencuri. Engkau benar, aku memang sedang merantau mencari pengalaman dan penyamaran ini kulakukan agar perjalananku aman...“

“Sian-te, engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian silat tinggi, kenapa takut akan gangguan orang...? Sedangkan aku yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa saja berani melakukan perjalanan tanpa penyamaran, apalagi engkau...“

Cu Sian tersenyum dan menundingkan telunjuknya ke arah muka Han Sin. “Jangan mengira bahwa engkau seorang yang pandai menebak keadaan orang lain, akan tetapi akupun dapat menggambarkan siapa adanya engkau...“

“Benarkah...?”

“Hemmm, aku tahu bahwa engkau seorang yang berpendidikan, dapat di duga dari caramu bicara dan pandanganmu yang cerdik dan luas kalau bicara. Engkau seorang yang baik budi, akan tetapi agaknya engkau tidak pandai ilmu silat, atau andaikata dapat tentu tidak beberapa tinggi. Buktinya engkau dapat dikuasai oleh keluarga gila itu. Tentu kecerdikanmu, dapat kulihat bahwa beradanya engkau dan keluarga gila itu di Hwa-li-pang. Tentu engkau yang membujuk mereka agar pernikahan dilakukan di Hwa-li-pang maka keluarga gila itu mati-matian meminjam tempat di Hwa-li-pang. Tentu kau maksudkan agar orang-orang Hwa-li-pang dapat menolongmu. Benarkah...?“

Han Sin mengangguk-angguk dan memang dia kagum sekali. Pemuda remaja ini selain lincah jenaka juga amat cerdik seperti kancil.

“Lalu apa lagi? Dugaanmu yang sudah itu tepat sekali...“

“Hemmm, engkau pasti bukan seorang pemuda yang kaya. Engkau memesan makanan yang murah di rumah makan tadi dan buntalan pakaianmu yang ringan tentu tidak mengandung banyak uang. Dan seorang diri engkau melakukan perjalanan ke utara padahal di utara bukan tempat untuk berpesiar. Tentu engkau mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanan ini...“

“Engkau hebat, Sian-te...“

“Ada satu lagi. Aku berani menduga bahwa engkau adalah seorang putera bangsawan walaupun tidak kaya...“

“Ehhh...?“ Han Sin benar-benar terkejut sekali. Bagaimana engkau menduga begitu...?”

“Sikapmu ketika mencegah si tinggi besar di rumah makan tadi agar tidak menyerangku. Sikap demikian penuh wibawa dan ini biasanya hanya dimiliki oleh keluarga bangsawan tinggi. Jangan-jangan engkau ini seorang pangeran yang menyamar...?“

“Ngacau...! Han Sin tertawa, akan tetapi diam-diam dia harus berhati-hati terhadap seorang yang demikian cerdiknya. “Aku bukan pangeran bukan putera bangsawan, melainkan anak seorang ibu yang telah janda sejak aku berusia sepuluh tahun...“

“Heeiii... nanti dulu! Engkau bermarga Cian, bukan? Hemmm, engkau ditinggal mati ayahmu sejak berusia sepuluh tahun dan usiamu sekarang ku taksir dua puluh tahun. Sepuluh tahun yang lalu engkau ditinggal mati ayahmu dan engkau she Cian! Padahal, sepuluh tahun yang lalu, kematian Cian-Tai-Ciangkun, Sin-ko, engkau putera mendiang Panglima Besar Cian Kauw, bukan...?“

Wajah Han Sin berubah dan dia bangkit dari tempat duduknya. Tebakan yang tepat itu sama sekali tidak pernah disangkanya dan dia memandang kepada Cu Sian dengan tajam, sepasang matanya mencorong dan sikapnya penuh kewaspadaan.

Cu Sian juga bangkit dan menggerakkan tangan menghibur Han Sin. “Jangan takut, Sin-ko. Aku tanggung bahwa tidak akan ada orang lain dapat menduga bahwa engkau putera Panglima Besar Cian Kauw, Walaupun andaikata ada yang tanya sekalipun tidak apa-apa. Kalau aku dapat menduga siapa engkau, hal itu adalah karena kakekku adalah sahabat baik dari Cian-ciangkun. Kakek ku pernah menjadi temen seperjuangan ayahmu, maka aku sudah mendengar akan semua riwayat dan keadaan Cian-ciangkun dari mendiang ayahku. Kalau aku tidak mengetahui keadaannya, tentu aku tidak akan dapat menduga bahwa engkau puteranya...“

Han Sin sudah dapat menenangkan hatinya dan dia duduk kembali. Sejenak dia memandang kepada Cu Sian lalu mengangkat telunjuknya ke arah muka Cu Sian. “Hemmm... anak nakal. Jangan engkau terlalu bangga dan menyombongkan dirimu. Akupun dapat menduga siapa engkau ini...“

“Eh...? Benarkah? Nah, katakan siapa aku ini..?“ Cu Sian menantang.

“Engkau tentu cucu dari Ketua Hek-I-Kaipang di Tiang-an...“

Kini Cu Sian yang meloncat dari tempat duduknya dan memandang kepada Han Sin dengam mata terbelalak. “Lohhh, bagaimana engkau bisa menduga begitu...?”

“Apa sukarnya? Engkau tadi pernah mengatakan bahwa engkau keturunan pemimpin pengemis. Dalam penyamaranmu, engkau mengenakan pakaian pengemis warna hitam. Mengapa warna hitam dan bukan warna lain? Dan engkau bermarga Cu. Maka mudah saja di duga, aku sudah mendengar dari ayah ibuku siapa-siapa tokoh kang-ouw yang menjadi temen seperjuangan ayah. Diantaranya adalah Cu Lo-kai, ketua dari Hek-I-Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Nah, coba menyangkal kalau bisa...!“ Han Sin tersenyum penuh kemenangan melihat pengemis muda itu nampak gugup.

“Dan... engkau mendengar tentang ayah ibuku...?“

Han Sin menggeleng kepalanya. “Tidak Ayah dan ibu tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Hek I Kaipang dan para pengurusnya setelah Kerajaan Sui berdiri. Jadi, tentu saja aku tidak tahu apapun tentang orang tuamu...“

Wajah itu berseri kembali. “Dugaanmu memang tepat. Hemmm, alangkah pintarnya engkau, sin-ko...“

“Tidak lebih pintar darimu, Sian-te...“

“Nah, sekarang kita telah mengenal dengan baik keadaan diri masing-masing. Agaknya persahabatan antara ayahmu dan kakekku menjadi jembatan persahabatan kita...“

“Akan tetapi, aku hanya seorang pemuda biasa, tidak sepandai engkau dalam ilmu membela diri...“ kata Han Sin, memancing apakah pemuda remaja itupun dapat menduga bahwa dia memiliki ilmu silat tinggi. Ternyata Cu Sian tidak dapat menduganya.

“Jangan khawatir, Sin-ko. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik...? Akulah yang akan membela dan melindungimu dan jangan engkau takut, aku tidak menyombongkan diriku apabila kukatakan bahwa tongkat ku ini cukup kuat untuk melindungi kita berdua...“ kata Cu Sian sambil mengangkat tongkatnya yang tadi diletakkan di atas meja.

Han Sin tersenyum. “Wahh, lega hatiku sekarang, mempunyai seorang sahabat seperti engkau, Sian-te. Setelah kita menjadi sahabat, tentu engkau tidak berkeberatan untuk memberitahu kepadaku kemana engkau hendak pergi dan apa yang kau cari sampai engkau tiba di sini, jauh dari Tiang-an, tempat tinggalmu...“

Mendadak wajah yang berseri itu menjadi muram. Beberapa kali Cu Sian menghela napas panjang, kemudian berkata, “sebetulnya kalau bukan kepadamu, aku tidak pernah menceritakan keadaan ku, sin-ko. Entah mengapa m, kepadamu aku seketika percaya sepenuhnya. Mungkin karena mengetahui bahwa engkau putera mendiang Cian-ciangkun. Akan tetapi setelah engkau mendengar cerita tentang diriku, kuharap engkau pun akan menceritakan keadaanmu dan kemana engkau hendak pergi...“

“Baik, aku tidak akan menyimpan rahasia, Sian-te...“

Cu Sian memandang ke kanan kiri, ke arah pintu-pintu depan belakang rumah itu yang terbuka. Tidak nampak seorangpun manusia dan dia segera mulai dengan ceritanya. “Kakekku hanya mempunyai seorang putera, yaitu ayahku. Akan tetapi sejak mudanya, ayahku yang bernama Cu Kak tidak mau mengikuti jejak kakek, tidak mau menjadi pengemis bahkan tidak mau melanjutkan pimpinan Hek I Kaipang. Ayah telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian kakek dan kepandaian itu menjadi modal bagi ayah untuk membuka piauw-kok (perusahaan pengiriman barang). Ayah menjadi piauw-su (pengawal kiriman barang) yang disegani dan dapat membuat perusahaannya menjadi terkenal dan besar. Setelah kakek meninggal dunia, Hek I Kaipang diserahkan kepada para murid lain untuk memimpinnya...“

“Aku tidak dapat menyalahkan ayahmu. Karena bagaimanapun juga, menjadi pengemis menimbulkan kesan kurang baik bagi seseorang, apalagi kalau dia masih muda dan kuat...“

“Akan tetapi kakek sendiri tak pernah mengemis, kakek hanya mengumpulkan para pengemis, dalam satu wadah agar mereka tidak melakukan perbuatan jahat...“

“Aku mengerti, Sian-te. Lanjutkanlah...“

“Kakekku meninggal dunia ketika aku baru berusia sepuluh tahun, terjadilah malapetaka itu. Mula-mula sebuah kiriman barang berharga yang dilindungi perusahaan ayah menuju jauh ke utara di rampok di tengah perjalanan. Para piauw-su pembantu ayah berusaha melawan, akan tetapi banyak diantara mereka tewas dan sisanya melarikan diri pulang dan melapor kepada ayah. Ayah menjadi marah. Barang kiriman yang hilang itu amat berharga dan tidak mungkin ayah dapat menggantinya. Maka ayah sendiri lalu pergi ke utara dimana terjadi perampokan itu. Perampokan itu terjadi di lembah Huang-ho dan barang kiriman itu seharusnya di bawa ke Po-touw...“

“Dengan siapa ayahmu pergi...?”

“Ayah pergi bersama para pembantunya, yaitu para piauw-su yang dapat melarikan diri dari para perampok itu. Setelah tiba di tempat itu, ayah dan para pembantunya diserang oleh gerombolan perampok itu dan dalam pertempuran ini ayah tewas. Para piauw-su dapat melarikan jenazah ayah pulang. Ibu terkejut dan sedih sekali sehingga setelah semua barang milik kita di jual untuk mengganti barang yang di rampok, ibu jatuh sakit dan akhirnya setahun setelah ayah tewas, ibu juga meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri di dunia ini...“

“Aduh kasihan sekali engkau, Sian-te. Masih muda sekali telah di tinggal kedua orang tuamu...“ kata Han Sin terharu.

“Ketika itu aku baru berusia sebelas tahun, aku tetapi aku sudah mengerti keadaan. Aku bertanya kepada para piauw-su siapa yang membunuh ayah. Mereka mengatakan bahwa perampok itu memakai nama Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan) dan yang membunuh ayahku adalah ketua perkumpulan itu, seorang laki-laki tinggi besar yang brewok dan memegang sebatang golok besar. Aku lalu belajar silat dari para paman guruku, yaitu para murid kakek di Hek I Kaipang. Setelah semua ilmu dapat ku kuasai, aku lalu pergi merantau untuk menambah pengalamanku dan mencari musuh besar yang membunuh ayah ibuku...“

“Ibumu? Bukankah ibumu meninggal dunia karena sakit...?”

“Betul, akan tetapi kalau tidak gara-gara orang yang membunuh ayahku, tentu ibu tidak meninggal karena kesedihannya. Dalam perjalananku mencari musuhku itulah aku bertemu dengan engkau, Sin-ko...“

“Ah, hidupmu seolah bert juan untuk membalas dendam...“

“Apa lagi yang dapat kulakukan...? Aku harus membalas dendam kematian orang tuaku, hanya itu yang dapat kulakukan untuk membalas budi mereka kepadaku...“

“Kalau engkau menjadi seorang pendekar pembasmi kejahatan yang membela kebenaran dan keadilan, berarti engkau sudah mengangkat dan mengharumkan nama ayah ibumu...“

“Sudahlah, tidak perlu kita perdebatkan hal itu. Sekarang aku menagih janji. Engkau berjanji akan menceritakan riwayat mu sampai kesini...“

Han Sin menghela napas panjang. Riwayat ku tidak lebih baik daripada riwayat mu, Sian-te. Engkau sudah mendengar bahwa ayah tewas dalam suatu pertempuran yang terjadi di sebelah utara Sian-si, ketika memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan di sana. Kalau ayah meninggal dunia karena bertempur, hal itu adalah wajar saja. Seorang Panglima gugur dalam pertempuran merupakan hal wajar dan kami tidak akan merasa penasaran. Akan tetapi, ayah tewas karena pengkhianatan...“

“Ehhh? Siapa yang mengkhianatinya...?“

“Itulah yang menjadi rahasia. Tidak ada yang tahu siapa yang membunuh ayah ketika terjadi pertempuran itu...“

“Kalau begitu l, bagaimana engkau tahu bahwa dia di khianati dan bukan tewas oleh pihak musuh?”

“Ayah tewas karena terkena anak panah yang datangnya dari belakang. Anak panah itu mengenai punggungnya. Dan lebih daripada itu, Pedang pusaka ayah, Hek liong Kiam juga lenyap. Setelah ayah meninggal, ibu mengajakku pindah ke dusun...“

“Dan sekarang engkau sampai di sini, hendak kemanakah...?”

“Ibu menyuruh aku untuk mencari pedang pusaka milik ayah yang hilang itu...“

“Aih, dengan sedikit kepandaian silat yang kau miliki, bagaimana engkau akan dapat menemukan atau merampasnya kembali...? Mungkin pedang pusaka itu diambil oleh pembunuh ayahmu...!“

“Kalau begitu, bagaimanapun akan ku hadapi...“

“Engkau bisa celaka... akan tetapi jangan takut, Sin-ko. Aku akan membantumu menghadapi pembunuh ayahmu dan pencuri pedang pusaka itu!”

“Akan tetapi engkau sendiri mempunyai tugas yang penting dan aku tidak berani mengganggumu dengan urusanku, Sian-te...“

“Begitukah sikap seorang sahabat...!“ kata Cu Sian dengan alis berkerut.

Han Sin merasa tidak enak sekali. Dalam mencari pedang dan pembunuh ayahnya, mungkin dia akan menghadapi musuh-musuh yang lihai. Kalau Cu Sian bersama dengannya, maka pemuda remaja ini dapat terancam bahaya. Dia tidak menghendaki hal itu terjadi. Pula, tidak pantas kalau pemuda itu sampai membahayakan diri sendiri hanya untuk membantunya dalam urusan pribadi.

"Sungguh, aku menyesal sekali terpaksa harus menolak bantuanmu, Sian-te. Aku tidak ingin mengganggumu. Lebih baik engkau selesaikan urusanmu sendiri dan aku akan mencoba untuk mencari pedang pusaka ayahku itu seorang diri pula...“

Cu Sian bangkit berdiri, wajahnya berubah merah. “Apa...? Engkau menolak uluran tanganku...? Sin-ko, engkau terlalu memandang rendah padaku! Apa kau kira aku tidak akan mampu mendapatkan Hek liong kiam itu untukmu...?”

“Bukan begitu, Sian-te, akan tetapi...“

“Akan tetapi apa...?“

“Aku tidak mau merepotkanmu, pula kalau sampai terjadi apa-apa denganmu karena engkau membantuku, aku akan merasa menyesal selama hidupku. Terima kasih banyak atas kebaikanmu dan pembelaanmu, akan tetapi sungguh menyesal sekali, aku harus menolaknya...“

“Bagus!" Cu Sian bangkit berdiri dan menggebrak meja. “Engkau sungguh seorang sahabat yang tidak mengenal arti kesetian...!“

“Maafkan aku, Sian-te. Akan tetapi aku sungguh tidak ingin melihat engkau celaka. Engkau masih begini muda...“

“Cukup! Kau anggap aku anak kecil, ya? Kalau tidak ada anak kecil ini, belum tentu engkau dapat meloloskan diri dari keluarga gila itu, tahukah engkau? Akulah orangnya yang memancing agar engkau dapat meloloskan diri...!“

“Ahhh, terima kasih banyak, Sian-te. Engkau memang hebat...“

“Tidak perlu memuji, pendeknya mau atau tidakkah kau kalau kubantu engkau mencari pedang pusaka itu...?“

“Terpaksa aku menolaknya, Sian-te. Ini dapat berbahaya sekali untukmu dan...“

“Sudahlah, engkau memang keras kepala! Kalau engkau kelak menghadapi ancaman musuh yang tangguh, baru engkau menyesal mengapa tidak menerima tawaranku. Sudah, aku mau tidur...!“ dan pemuda remaja itu membanting-banting kaki lalu memasuki kamarnya, menutupkan daun pintu kamar keras-keras.

Han Sin masih duduk termangu. Dia suka sekali kepada Cu Sian. Akan tetapi pemuda itu masih seperti kanak-kanak. Bagaimana dia boleh mengajak kanak-kanak menghadapi bahaya dalam mencari pedang Hek liong kiam...? Kalau dia sendiri gagal bahkan sampai tewas dalam usahanya ini, dia tidak akan menyesal. Akan tetapi kalau sampai Cu Sian tewas dalam membantunya, dia tentu akan merasa menyesal bukan main.

Akhirnya dia menghela napas dan memasuki kamarnya sendiri. Dia merasa kecewa dan menyesal bahwa persahabatannya dengan pemuda remaja itu akan berakhir begini. Akhirnya Han Sin dapat juga tidur pulas.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Pada keesokan harinya, suara ayam jantan berkokok nyaring di luar jendela kamarnya. Han Sin turun dari pembaringannya dan membuka daun jendela itu. Pekarangan samping itu di tumbuhi pohon-pohon dan kembang. Suasana pagi itu indah sekali dan hawanya sejuk segar memasuki kamarnya.

Tiba-tiba dia teringat kepada Cu Sian yang berada di kamar sebelah. Dia menjulurkan kepala keluar jendela untuk memandang ke arah jendela kamar sebelah. Daun jendela itu masih tertutup. Agaknya sahabat barunya itu masih tidur. Dia berharap mudah-mudahan Cu Sian tidak marah lagi dan mereka akan dapat saling berpisah sebagai dua orang sahabat!

Han Sin termenung sambil memandang keluar dimana burung-burung beterbangan dan berloncatan dari dahan ke dahan. Dimana kupu-kupu beterbangan di sekitar bunga-bunga. Pagi yang cerah, hari yang indah. Alangkah akan gembiranya kalau pada pagi seindah itu dia melakukan perjalanan dengan Cu Sian, sahabatnya yang riang gembira dan lincah jenaka itu. Akan tetapi dia segera menggeleng kepalanya. Tidak. Dia mempunyai tugas yang berat dan berbahaya. Siapa tahu apa yang akan dihadapinya di utara nanti. Tidak boleh dia membawa Cu Sian, pemuda remaja itu memasuki bahaya pula.

Han Sin yang sadar dari lamunannya lalu pergi membersihkan diri di kamar mandi yang letaknya di belakang rumah penginapan itu, kemudian setelah bertukar dengan pakaian bersih dia menghampiri kamar Cu Sian. Diketuknya pintu kamar itu beberapa kali, lalu dia menanti. Akan tetapi tidak ada jawaban, tidak ada suara dari dalam kamar itu. Daun pintu kamar itu tetap tertutup, tidak dibuka dari dalam.

Dia mengetuk lagi dan memanggil, “Tok... tok... tok! Sian-te, bangunlah, hari telah siang...!“

Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Ketika dia mengetuk-ngetuk kembali, muncul seorang pelayan yang kemarin melayaninya.

“Percuma diketuk karena kamar itu kosong kong-cu...“ katanya.

“Eh...? Kosong...? Bukankah kamar ini yang ditempati sahabatku itu...?”

“Kong-cu maksudkan pemuda pengemis itu...?”

Han Sin mengangguk, “Ya, bukankah dia bermalam di kamar ini...?”

“Ya, benar. Akan tetapi tadi pagi-pagi sekali, sebelum ayam berkokok, dia telah pergi meninggalkan kamar ini dan dia telah membayar sewa kedua kamar. Bahkan dia telah membayar harga makan pagi yang akan dihidangkan kepada kong-cu pagi ini. Apakah kong-cu tidak tahu bahwa dia telah pergi..?“ pelayan itu memandang heran.

Dan sadarlah Han Sin bahwa sebagai seorang sahabat baik mestinya dia tahu akan keberangkatan temannya itu. “Oh ya... aku lupa...“ Katanya dan ketika dia menghadapi hidangan sarapan pagi yang royal. Dia termenung dan hatinya terharu. Cu Sian telah membuktikan ucapannya, meninggalkan dia yang tidak mau menerima sahabat itu melakukan perjalanan bersama, menolak bantuan yang di tawarkan Cu Sian. Dia tahu bahwa pemuda remaja itu marah kepadanya sehingga pagi-pagi telah berangkat lebih dulu. Akan tetapi bagaimanapun marahnya, Cu Sian telah membelikan sarapan pagi yang royal untuknya...!

Setelah makan pagi, Han Sin juga meninggalkan rumah penginapan itu. Sewa kamarnya juga sudah dibayar oleh Cu Sian! Ketika melangkah kaki keluar dari pekarangan rumah penginapan itu, hatinya terasa kosong dan sepi. Dia benar-benar merasa kehilangan sahabatnya yang biasanya menggembirakan suasananya itu. Hari yang cerah itu serasa mendung. Ketika tiba di pintu pagar halaman depan, seorang laki-laki setengah tua bangkit berdiri sambil sambil menuntun seekor kuda dan menyapa Han Sin.

“Apakah kong-cu yang bernama Cian-kongcu...?”

Han Sin memandang penuh perhatian dan tidak merasa kenal dengan orang ini. "Benar, paman. Ada apakah...?“

“Saya adalah seorang penjual kuda, kong-cu. Dan Saya ingin menyerahkan kuda ini kepada kong-cu...“

“Apa...? Mengapa...?“ Han Sin bertanya bingung.

“Inilah kuda yang di beli oleh seorang sahabat kong-cu untuk diserahkan kepada kong-cu pagi ini. Terimalah, kong-cu...“ Orang itu menyerahkan kendali kuda yang dipegangnya kepada Han Sin.

Han Sin mengerti bahwa kekmbali ini tentu perbuatan Cu Sian, maka terpaksa dia menerima kuda itu. Sahabatnya itu memang seorang yang royal sekali! Kalau dia di tawari kuda, tentu akan di tolaknya. Akan tetapi karena kuda itu sudah di beli dan sudah diberikan kepadanya dan dia tidak dapat mengembalikannya kepada Cu Sian, terpaksa dia melompat ke atas punggung kuda dan melarikan kuda itu menuju pintu gerbang sebelah utara dari kota Pey-yang.

Begitu keluar dari kota kegembiraan hati Han Sin muncul kembali. Ia melupakan dua wajah yang selalu membayanginya, yaitu wajah Kim Lan dan wajah Cu Sian. Pemandangan di depan amat indahnya. Bukit-bukit yang tak terhitung banyaknya menghadang di depannya.

Orang-orang telah membuat jalan raya menuju utara dan melalui jalan inilah para rombongan pedagang melakukan perjalanan. Barang yang dikirimkan ke daerah utara juga melalui jalan ini. Jalan ini berada di lembah sungai Kuning, naik turun bukit dan mengitari jurang dan puncak. Jalan mulai sepi dan Han Sin membedal kudanya. Kuda itu ternyata seekor kuda yang kuat dan baik. Pandai juga Cu Sian memilih kuda, pikirnya.

Perjalanan Han Sin mulai melalui daerah yang berbahaya bagi para pejalan yang lewat. Keadaan sekeliling sejauh puluhan mil sunyi dan jarang ada perumahan penduduk. Ketika jalan menanjak ke sebuah bukit, pemandangan amat lah indahnya. Han Sin memperlambat jalannya kuda, membiarkannya jalan, tidak berlari lagi.

Selain untuk mencegah kudanya terlalu kelelahan, juga dia ingin menikmati pemadangan yang amat indah itu. Kebesaran alam terbentang luas di depannya dan menghadapi pemandangan alam yang luas dan megah dan indah ini, Han Sin merasa betapa kecil dirinya. Kecil tidak berarti...!

Di depan kakinya, dibawah, nampak Sungai Huang-ho mengalir, lebar dan panjang . Beberapa buah perahu nampak berada di sungai itu. Sebagian latar belakangnya, jauh di seberang sungai terdapat jajaran bukti yang tiada putusnya, lenyap di ujungnya dalam warna biru keabuan.

Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda mendatangi dari belakang. Dia lalu minggirkan kudanya agar tidak menghadang mereka yang akan lewat. Tak lama kemudian, serombongan orang berkuda lewat situ. Tadinya Han Sin mengira bahwa mereka tentulah para saudagar atau piau-su yang mengawal barang kiriman. Akan tetapi tidak ada kereta di antara mereka.

Semua orang laki-laki berjumlah tiga puluhan orang menunggang kuda dan melihat sikap dan pakaian mereka yang serba ringkas, mudah di duga bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kuat dan pandai ilmu silat. Wajah mereka pun kelihatan bengis. Terutama yang berada di depan dan agaknya menjadi pemimpin mereka.

Ada tiga orang laki-laki berusia antara empat puluh sampai enam puluh tahun berada di depan dan mereka bertiga ini kelihatan menyeramkan. Ketika mereka lewat, Han Sin sudah melompat turun dari atas punggung kudanya dan memegang kendali kuda dekat mulut kuda agar kudanya tidak kaget dan ketakutan melihat rombongan banyak orang itu. Dan dia mendengar teriakan orang yang berada di depan.

“Mari kawan-kawan, cepatan sedikit. Gerombolan Golok Setan tentu sudah berada di balik bukit ini...!”

Mereka melarikan kuda lebih cepat lagi memasuki sebuah hutan di depan. Mendengar di sebutnya Golok Setan, Han Sin tertarik sekali. Teringatlah dia akan cerita Cu Sian. Bukannya ayah Cu Sian juga terbunuh oleh gerombolan perampok yang di sebut Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan)? Karena ingin sekali tahu apa yang akan di lakukan orang-orang itu dengan gerombolan Golok Setan, Han Sin segera meloncat ke atas punggung kudanya dan membayangi mereka dari jauh.

Setelah tiba di tengah hutan yang berada di lereng bukit, Han Sin melihat mereka itu sudah berhenti di situ. Di situ terdapat sebuah lapangan rumput yang luas dan orang-orang itu sudah turun dari kuda dan bergerombol di lapangan rumput. Han Sin menghentikan kudanya. Menambatkan kudanya pada sebat ang pohon dan berindap-indap dia mendekati tempat itu untuk mengintai.

Dia melihat tiga orang pemimpin yang menyeramkan itu duduk di atas rumput dan anak buahnya duduk menghadap mereka. Akan tetapi Han Sin melihat bahwa jumlah mereka banyak berkurang. Sedikitnya tentu berkurang sepuluh orang. Dia menyusup semakin dekat untuk mendengarkan percakapan mereka.

“Kalian bertiga, A-cun, A-tek, dan A-ban, selidiki mereka dari puncak pohon dan seorang kabarkan kepada kami, yang dua orang tetap berjaga di atas secara bergantian...“ ucapan dengan suara yang parau ini keluar dari seorang pemimpin yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam.

Tiga orang anak buah bangkit dan meninggalkan lapangan rumput itu, kemudian mereka berloncatan ke pohon-pohon terbesar untuk melakukan pengintaian. Tak lama kemudian seorang di antara mereka melompat turun. Gerakan tiga orang anak buah ini cukup ringan dan cepat sehingga Han Sin maklum bahwa rombongan orang ini merupakan rombongan yang kuat sekali.

“Lapor, Twa-pang-cu (Ketua Pertama), mereka sudah di depan, kurang lebih dua mil dari sini. Jumlah mereka sekitar dua puluh!“

“Hemmm, sekali ini kita akan menghancurkan dan membasmi mereka! Sam-sute, cepat kau pasang dan sebarkan bubuk racun hitam itu seperti seperti yang telah kita rencanakan semula...!“

Yang disebut sam-sute (adik seperguruan ke tiga) itu adalah seorang diantara tiga pemimpin itu. Orang ini bertubuh tinggi, namun tidak sebesar orang pertama, hanya mukanya menyeramkan karena penuh dengan brewok yang menutupi sebagian besar mukanya. Dia mengambil sebuah bungkusan dari saku bajunya dan terlihat dia menaburkan bubuk hitam pada garis setengah lingkaran yang menghadap ke arah utara.

Hanya bagian selatan yang tidak disebari racun dan bagian selatan ini agaknya yang menjadi pintu bagi mereka. Jarak garis yang di sebari racun itu kurang lebih seratus meter dari tempat mereka duduk, yaitu di tepi lapangan rumput. Dan yang disebari racun bukanlah tanahnya, melainkan dedaunan dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di situ.

Setiap orang yang akan masuk kelapangan rumput itu dari semua arah, kecuali dari arah selatan, tentu akan semak dan rumput yang sudah mengandung racun itu dan setiap orang tentu akan menguak semak itu dengan tangannya agar dapat lewat sehingga tangan itu tentu akan terkena racun.

Han Sin yang melihat ini mengerutkan alis. Cara yang diambil orang-orang itu memang keji sekali. Akan tetapi karena diapun ingin sekali mengetahui mengetahui apa yang dilihat oleh pengintai tadi, diam-diam dia mundur, mencari pohon yang tinggi lalu melompat naik ke atas pohon.

Ketika dia mengintai ke arah utara, dia pun dapat melihat serombongan orang berada sekitar dua puluh orang lebih dan kadang-kadang nampak berkilatnya golok yang tertimpa sinar matahari. Agaknya itulah yang dimaksudkan orang-orang ini sebagai Gerombolan Golok Setan...

Pedang Naga Hitam Jilid 13

Liu Si yang menjawab, “Kalau kami ingat, tentu tidak akan bertanya kepada pang-cu. Kami tidak ingat apa-apa lagi, seolah baru sadar dari tidur...“

“Kalau begitu, saya hendak menceritakan apa yang telah terjadi di sini, akan tetapi saya harap sam-wi tidak akan menjadi tersinggung...“

Tiga orang itu memandang kepada Pak Mau To Kouw dengan mata bersinar penuh harapan. Justru mereka hendak mengetahui apa yang terjadi sewaktu mereka seperti orang-orang gila itu.

“Ceritakanlah, pang-cu. Kami berjanji tidak akan tersinggung, bahkan berterima kasih sekali...!“ kata Kui Mo.

Melihat sikap mereka, Pek Mau To Kouw tidak ragu-ragu lagi untuk bercerita. Beberapa hari yang lalu, sam-wi sudah datang ke tempat kami ini, akan tetapi keadaan sam-wi tidak seperti sekarang, Sam-wi mengenakan pakaian kembang-kembang, rambut sam-wi awut-awutan dan sikap sam-wi menakutkan...“ Pekl Mau To kouw berhenti dan mengamati wajah mereka bertiga.

“Penampilan kami menunjukkan bahwa kami bertiga berada dalam keadaan gila, bukan? Hal itu telah kami ketahui, pang-cu. Harap lanjutkan cerita pang-cu karena kami sama sekali tidak ingat lagi bahwa kami pernah datang ke tempat ini...“ kata Kui Mo.

Pek Mau To kouw mengangguk. “Sam-wi bertiga datang ke sini tidak hanya bertiga, akan tetapi bersama seorang pemuda yang menjadi tawanan sam-wi...“

“Eehhh...??? kami menawan seorang pemuda...?” seru Liu Si terheran-heran.

“Dan apa maksud kami datang ke sini?“ tanya Kui Mo.

“Sebelumnya harap sam-wi maafkan kalau saya berkata terus terang menceritakan keadaan yang sebenarnya terjadi. Sam-wi memaksa kami untuk meminjamkan tempat kami di sini untuk merayakan pernikahan dan mengundang orang-orang kang-ouw untuk menghadiri pesta pernikahan itu...“

“Pernikahan...? Pernikahan siapa, pang-cu...?" kini Kui Ji yang sejak tadi hanya mendengarkan, bertanya heran.

Pek Mau Tokouw tersenyum memandang gadis cantik itu. “Ayah ibumu akan menikahkan engkau dengan pemuda tawanan itu nona...“

“Ahhh...!“ Tiga orang itu berseru dan muka si gadis menjadi merah sekali.

“Lalu bagaimana, pang-cu, cepat ceritakan...!“ seru Liu Si tidak sabar.

“Permintaan yang aneh itu tentu saja kami tolak, akan tetapi sam-wi memaksa sehingga terjadi perkelahian dan kami tidak mampu menandingi kelihaian sam-wi. Terpaksa kami menyerah dan sam-wi lalu tinggal di sini, mengunakan tiga buah kamar. Satu untuk Kui-sicu dan isterinya, kedua untuk nona, dan ketiga, yang berada di tengah untuk pemuda tawanan itu. Kami terpaksa menuruti semua permintaan sam-wi..."

Ayah ibu dan anak itu saling pandang dengan terkejut dan heran. Mereka sama sekali tidak ingat lagi akan semua itu. “Tapi... apakah kami dalam keadaan gila itu melakukan pembunuhan atau lain kejahatan lagi, pang-cu...? Tanya Kui Mo dan suaranya mengandung kekhawatiran.

Pek Mau To Kouw menggeleng kepalanya. “Sama sekali tidak. Justeru karena sam-wi merobohkan kami tanpa melukai, kami yakin bahwa sam-wi bukan orang-orang jahat, hanya sedang terganggu pikirannya. Peristiwa perkelahian itu di saksikan oleh para tamu yang sedang berkunjung ke kuil kami dan di antara mereka terdapat seorang gadis berpakaian serba putih. Gadis inilah yang mengatur siasat untuk membebaskan pemuda itu dari tawanan sam-wi dan ketika melaksanakan usaha itu ia dibantu oleh seorang pengemis muda. Mereka berdua berhasil membebaskan pemuda itu dari pengawasan sam-wi dan agaknya karena melihat pemuda yang akan dinikahkan itu tidak ada lagi, sam-wi lalu pergi dari sini tanpa pamit lagi. Nah, demikianlah peristiwa itu dan sekarang, tiga hari kemudian, sam-wi muncul dalam keadaan yang berbeda sama sekali. Sungguh membuat kami merasa heran bukan main akan tetapi juga bersyukur bahwa sam-wi telah dapat sembuh dari penyakit itu...“

“Gadis baju putih...?” Tiga orang itu berseru dan kembali saling pandang.

“Tentu ia yang menulis surat itu...“ kata Kui Mo. “Pang-cu apakah gadis berpakaian putih itu seorang ahli pengobatan...?"

“Kami rasa begitu karena ia mengatakan bahwa pemuda tawanan itu keracunan dan ia hendak mengobatinya. Menurut nona itu, pemuda yang sam-wi tawan itu keracunan yang membuat pemuda itu menjadi lemah dan tidak dapat meloloskan diri...“

“Dan pengemis muda...?“ tanya Kui Ji. “Apakah yang dia lakukan untuk membantu pemuda itu lolos...?”

"Dia agaknya pandai ilmu silat. Dialah yang memancing agar sam-wi keluar menandinginya sehingga gadis baju putih itu mendapatkan kesempatan untuk membawa pemuda itu melarikan diri..."

Tiga orang itu saling pandang dan tentu saja merasa terpukul sekali. Sama sekali tidak mereka ingat lagi betapa dalam keadaan gila itu mereka hendak memaksa seorang pemuda untuk menjadi suami Kui Ji.

“Pang-cu, siapakah nama gadis berpakaian putih itu dan dimana tempat tinggalnya...? Kami harus bertemu dengannya dan menghaturkan terima kasih kami...“ kata Kui Mo.

“Ia hanya memberitahu bahwa namanya Kim Lan, akan tetapi kami tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Ia bukan orang daerah sini, dan hanya kebetulan lewat. Setelah berhasil meloloskan pemuda itu diapun segera pergi dengan tiba-tiba sehingga saya sendiripun merasa menyesal tidak mengenalnya lebih baik.

“Dan pemuda yang menjadi... tawanan kami itu... siapa pula namanya dan dimana tinggalnya...?“ tanya Liu Si.

Pek Mau To Kouw menggeleng kepala. “Maaf, kami tidak tahu dan tidak sempat bicara dengan dia...“

“Siapa pula pengemis muda itu, pang-cu...? Siapa namanya dan dimana dia...?“ Kui Ji bertanya. “Kalau kami dapat menemukan dia, mungkin dia dapat menjelaskan dimana adanya gadis berpakaian putih itu...“

Pek Mau To-kouw juga menggeleng kepalanya. “Kami tidak pernah dapat berkenalan dengan dia. Tadinya kami juga mengira bahwa dia seorang pengemis biasa yang masih amat muda. Baru kami tahu bahwa dia lihai ketika dia membantu usaha membebaskan pemuda tawanan itu...“

Tentu saja tiga orang itu menjadi kecewa sekali. Mereka hanya dapat mengetahui bahwa nama penolong mereka adalah Kim Lan, akan tetapi kemana mereka harus mencarinya? Kui Mo menghela napas panjang. Ketua Hwa-li-pang itu telah memberikan keterangan yang sudah cukup jelas yang membuka tabir yang menyelimuti ingatan mereka. Dia merasa menyesal sekali bahwa dia sekeluarga telah melakukan hal-hal yang tidak pantas selama mereka keracunan jamur darah.

“Pang-cu, kami sekeluarga mohon maaf sebesarnya bahwa kami telah membikin kacau di Hwa-li-pang...“ katanya sambil bangkit berdiri dan memberi hormat, di ikuti isteri dan anaknya.

Ketua Hwa-li-pang itu cepat bangkit dan membalas penghormat an mereka. “Aih, sam-wi sama sekali tidak bersalah. Semua itu sam-wi lakukan di luar penghormatan mereka..."

Kui Mo bertiga lalu berpamit. Mereka di antar oleh Pek Mau To Kouw sendiri sampai diluar pagar daerah Hwa-li-pang. Setelah para tamu itu pergi, baru Pek Mau To Kouw memanggil para pembantunya dan menceritakan perihal keluarga Kui yang tadinya gila akan tetapi kini telah sehat kembali itu. Ia memberitahukan bahwa keluarga Kui adalah keluarga yang baik dan agar kalau para anak buahnya bertemu mereka, bersikap hormat. Kini Pek Mau To Kouw merasa lebih menyesal lagi mengapa ia tidak sempat berkenalan lebih lanjut dengan Kim Lan dan menanyakan tempat tinggalnya.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Han Sin melakukan perjalanan menuju ke utara. Setelah berpisah dari Kim Lan, entah mengapa dia merasa kehilangan semangat dan ketika melanjutkan perjalanan meninggalkan rumah keluarga gila itu dia melangkah perlahan. Tidak menggunakan ilmu berlari cepat. Dia merasa kehilangan dan merasa betapa sepinya hidup ini.

Merasa sebatang kara di dunia ini dan timbullah rasa rindu kepada ibunya. Akan tetapi dia menekan perasaan hatinya yang ingin pulang. Tidak, ia belum menunaikan tugasnya. Bagaimana dia dapat pulang tanpa membawa pedang pusaka milik ayahnya dan tanpa berhasil membalas kematian ayahnya...?

Akan tetapi, pemandangan indah yang nampak ketika dia menuruni pegunungan Hwa-san menghibur hatinya. Nampak pemandangan di bawah gunung amatlah indahnya. Sawah ladang terhampar luas di bawah dan genteng rumah-rumah dusun berkelompok di sana sini kelihatan kemerahan. Wataknya yang memang periang itu segera timbul kembali dan dia sudah melupakan kerisauan hatinya. Dunia terbentang luas di depan kakinya. Langkahnya masih akan melintasi perjalanan jauh, banyak pengalaman hidup yang akan dihadapinya, mengapa dia harus bermurung-murung...?

Ho Beng Hwesio seringkali memberi nasihat agar dia menghadapi kenyataan hidup ini dengan wajar dan bebas dari kekhawatiran.

“Manusia sejak dilahirkan sudah menghadapi berbagai tantangan. Kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari tantangan-tantangan itu. Contohnya diriku ini, makin melarikan diri dari tantangan, semakin banyak rasa khawatir timbul. Tantangan tidak harus dihadapi dengan rasa khawatir, melainkan harus di hadapi dengan berani. Tantangan harus di anggap sebagai suatu kewajaran dalam hidup dan kita harus menghadapinya dengan gembira dan mengatasi setiap tantangan yang datang...“

Benar apa yang di ucapkan gurunya itu. Biarpun dia tidak mengerti mengapa Ho Beng Hwesio yang dahulunya berjuluk Hek Liong Ong itu menyembunyikan diri menjadi Hwesio, namun jelas bahwa gurunya itu tidak berani menghadapi kenyataan. Dia dapat membayangkan bet apa dalam persembunyiannya itu Hek Liong Ong tentu merasa menderita sekali hatinya selalu ketakut an dan akhirnya benar saja, seorang diant ara musuh-musuhnya dapat menemukan dirinya dan membunuhnya!

Akan tetapi menurut keterangan ibunya, Ho Beng Hw esio ketika masih berjuluk Hek Liong Ong adalah seorang datuk sesat yang berhati keras dan kejam, yang mudah membunuh manusia tanpa berkedip mata. Akibatnya dia banyak dimusihi orang-orang yang mendendam kepadanya.

Dan diapun menaati pesan ibunya agar dia tidak mendendam kepada pembunuh ayahnya. Ngo-heng-thian-cu hanya membalas dendam kepada Hek liong ong. Kalau kini dia memusuhi Ngo heng thian cu, maka dendam mendendam itu tidak akan ada habisnya. Kematian Hek liong ong merupakan akibat daripada perbuatannya yang lalu.

Berbeda dengan kematian ayahnya. Ayahnya mati secara penasaran, agaknya dikhianati seorang karena di bunuh dari belakang selagi bertempur melawan musuh. Dan terutama pedang itu, Hek-liong-kiam, harus dia temukan. Dengan hati yang kembali gembira Han Sin melanjutkan perjalanannya, kini dia menggunakan ilmu lari cepat dan sebentar saja sudah tiba dibawah gunung.

********************

Ketika Yang Chien berhasil mendirikan Kerajaan Sui dan memerintah dengan bijaksana, keadaan dalam negeri dapat menjadi aman dan tentram. Kejahatan ditentang keras oleh pemerintah dan pasukan dikerahkan untuk membasmi gerombolan-gerombolan penjahat. Karena ini, keadaan menjadi tenteram dan penjahat-penjahat tidak berani terlalu menonjolkan diri melakukan kejahatan.

Akan tetapi, ketika Yang Chien meninggal dunia dan kekuasaan di pegang oleh puteranya Kaisar Yang Ti, pengaruh yang tadinya ditimbulkan oleh kebijaksanaan Kaisar Yang Chien itu mulai menipis, gerombolan penjahat mulai berani bermunculan melakukan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka. Perampokan-perampokan mulai terjadi lagi ditempat-tempat sunyi dimana tidak ada pasukan pemerintah.

Perjalanan Han Sin tidak menemui rintangan. Pada suatu hari tibalah dia Kota Pei-yang, sebuah kota dekat Sungai Kuning yang mengalir dari utara menuju ke selatan. Karena letaknya dekat sungai itulah yang membuat Pei-yang menjadi kota yang penting. Kota ini menjadi pelabuhan perahu-perahu yang memuat barang-barang dari utara. Para pedagang dari utara membawa barang dagangan mereka dengan perahu. Dan pulangnya para pedagang itu membawa barang-barang dari selatan ke utara melalui darat.

Maka ramailah Pei-yang dengan adanya banyak pedagang yang lewat di kota itu dan bermalam di situ. Dengan sendirinya, kebutuhan para pedagang itu mendorong orang untuk membuka rumah makan dan rumah penginapan. Bahkan banyak rumah penginapan yang merangkap menjadi rumah makan pula. Selain itu, banyak pula toko-toko di buka orang, menjual bermacam-macam dagangan dari utara dan selatan.

Han Sin berputar-putar di kota itu dan karena hari telah mulai senja, dia mengambil keputusan untuk bermalam di kota Pei-yang. Dia memilih sebuah rumah makan merangkap rumah penginapan yang kelihatan bersih dan memasukinya. Seorang pelayan menyambutnya dengan ramah.

“Selamat sore, kong-cu. Kong-cu hendak makan ataukah hendak bermalam...?“

Han Sin tersenyum mendengar dirinya di sebut kong-cu. Padahal pakaiannya hanya sederhana saja. Apa yang menyebabkan pelayan ini memanggilnya kong-cu (tuan muda)? Mungkin hanya basa basi saja. “Selamat sore. Aku membutuhkan keduanya. Ya makan ya bermalam. Masih ada kamar yang bersih...?“

“Ada, kong-cu. Kamar kami semua bersih. Mari silahkan kong-cu. Saya antarkan ke kamar kong-cu...“

“Nanti saja, aku ingin makan lebih dulu...“ kata Han Sin dan pelayan itu segera mempersilahkan duduk di tempat yang kosong. Han Sin duduk di atas bangku menghadapi meja kosong dan dia mulai memandang ke sekeliling. Rumah makan itu cukup besar. Tidak kurang dari tiga puluh meja berada di situ dan pada waktu itu, separuh dari jumlah meja di duduki para tamu.

Tiba-t iba perhatian Han Sin tertarik kepada seorang yang baru memasuki rumah makan itu dari luar. Segera ia mengenal orang ini, pengemis muda yang pernah di lihatnya di kuil Hwa-li-pang. Ketika Pek Mau To-kouw bertanding melawan Kui Mo dan terdesak, pengemis muda itu seperti bersajak namun isi kata-katanya adalah petunjuk bagi Pek Mau To-kouw untuk memecahkan rahasia ilmu silat Kui Mo yang aneh. Kemudian Liu Si menyerang pengemis muda itu yang ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dan kini tiba-tiba pengemis muda itu memasuki rumah makan dengan muka cengar-cengir, jelas sekali terbayang kenakalan pada wajah yang bercoreng hitam itu, wajah itu kelihatan kumal dan buruk. Akan tetapi sepasang matanya mencorong seperti mata naga! Diam-diam Han Sin memperhatikan pemuda itu. Seperti dulu ketika dilihatnya di kuil, pengemis muda itu mengenakan pakaian tambal-tambalan berwarna hitam dan dia membawa sebatang tongkat bambu sebesar ibu jari kaki.

Melihat seorang pengemis muda memasuki rumah makan itu, seorang pelayan segera menghampirinya dan menegur. “Hei, bung! Kalau mengemis di luar saja, jangan memasuki rumah makan...!“

Pengemis muda itu mengerutkan alisnya. “Huh, siapa yang mengemis? Aku datang bukan untuk mengemis, melainkan untuk membeli makanan dan menginap. Beri aku sebuah kamar yang paling baik...“

“Jangan main-main kau! Hayo cepat keluar...!“ Pelayan itu kembali membentak.

“Engkau yang main-main...! Aku hendak makan, kenapa di suruh keluar...?”

“Engkau seorang jembel begini bagaimana bisa membayar harga makanan...? Masakan di sini mahal harganya...!"

“Eh, menghina ya? Jangankan membeli makanan di sini, untuk membeli kepalamu aku sanggup membayarnya...!“ pengemis itu mengambil sebuah kantung dari saku bajunya dan membuka kantung itu di depan pelayan. Isinya penuh potongan emas dan perak.

Pelayan itu terbelalak. “Engkau tentu seorang pencuri atau perampok! Pendeknya engkau tidak boleh masuk restoran ini, engkau akan membikin para langganan kami menjadi jijik melihat mu...!“

“Kenapa jijik? Karena pakaianku buruk? Ketahuilah, mereka yang berpakaian bersih dan bagus itu banyak sekali yang benar-benar menjijikan karena kelakuan mereka...“

“Sudahlah, jangan banyak cerewet. Pergi dari sini atau ku seret kau...!“ pelayan yang bertubuh tinggi besar itu mengancam. Akan tetapi pengemis yang masih muda dan tubuhnya kecil itu tidak kelihatan takut mendengar ancaman itu.

“Hemmmm ingin sekali aku melihat bagaimana engkau akan menyeret aku...“ tantangnya.

“Keparat, kulempar kau keluar...!“ pelayan itu berseru dan tangannya mencengkram punggung baju pengemis itu dan hendak melemparkannya keluar.

Akan tetapi terjadilah keanehan bagi para tamu yang tertarik mendengar pertengkaran itu. Ketika pelayan itu hendak menyeret dan melemparkan pengemis itu keluar, tiba-tiba pelayan itu mengeluh di susul dengan tubuhnya yang tinggi besar itu terlempar sampai keluar dari rumah makan...!

Pengemis itu tersenyum mengejek. “Ingin kulihat siapa yang tidak membolehkan aku makan di sini...!“

Han Sin tadi dapat melihat betapa pengemis itu menotok tubuh si pelayan lalu mendorongnya sampai terlempar keluar. Gerakannya tadi sedemikian cepatnya sehingga para tamu yang berada di situ tidak dapat melihatnya. Han Sin kagum, akan tetapi juga tidak senang melihat sikap pengemis itu ugal-ugalan. Sikap seperti itu dapat mengundang banyak kesulitan bagi dirinya sendiri.

“Aku yang tidak boleh...!“ tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari arah kiri.

Semua orang menengok dan memandang. Ternyata yang membentak ini adalah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, usianya sekitar dua puluh tiga tahun. Pakaian pemuda ini mentereng dan lagaknya seperti seorang pemuda bangsawan atau hartawan dengan potongan pakaian seperti seorang ahli silat serba ringkas dan gagah. Wajahnya memang gagah, rambutnya hitam tebal, alisnya hitam dan sepasang matanya lebar bersinar garang, hidung mancung besar dan mulutnya juga lebar. Wajahnya jantan dan gagah. Pengemis muda itu juga menengok dan ketika melihat siapa yang tadi membentaknya, dia bertolak pinggang dan membusungkan dada!

“Hemmm, ada sangkut paut apa kau dengan aku yang hendak makan di rumah makan ini? Apa pedulimu kalau aku makan di sini...?“ katanya dengan suara ketus.

“Kalian para pengemis tidak layak makan di sini. Menghilangkan selera makanku. Hemmm, pengemis adalah orang-orang malas, sudah sepatutnya dibasmi habis dari permukaan bumi...!“ kata pemuda tinggi besar itu garang.

“Wah, kau menghina orang ya...? Kami para pengemis minta belas kasihan orang dengan suka rela, tidak memaksa. Bahkan kami menggerakkan hati nurani manusia untuk beramal, ingat akan kekurangan orang lain. Tidak seperti engkau. Mungkin engkau putera hartawan dan hartawan biasanya memeras keringat orang yang tidak mampu atau mungkin engkau putera bangsawan dan para bangsawan biasanya melakukan korupsi. Pengemis lebih baik daripada hartawan atau bangsawan!“ Ternyata pengemis muda itu pandai sekali bicara, bicaranya cepat dan lancar, nyerocos seperti burung kakaktua.

“Engkau memang jembel cilik yang perlu dihajar...!“ Pemuda tinggi besar itu sudah mengepal tinju.

“Engkau yang perlu di hajar...! Aku seujung rambutpun tidak takut kepadamu...! Karena tinggi besar engkau berlagak jagoan ya?“ Pengemis itu berteriak marah dan mengamangkan tinju tangan kirinya yang kecil.

Melihat sikap pemuda tinggi besar yang agaknyabukan orang sembarangan itu, Han Sin khawatir akan nasib pengemis muda itu. Biarpun meiliki sedikit kepandaian, kalau bertemu lawan tangguh tentu akan celaka. Maka dia cepat bengkit dari tempat duduknya dan menghampiri pemuda tinggi besar itu lalu memberi hormat.

“Sobat, harap maafkan dia yang masih amat muda. Biarlah dia makan bersamaku dan aku yang tanggung bahwa dia akan membayar harga makanannya...!“

Pemilik rumah makan yang di ikuti oleh beberapa orang pelayan juga mohon kepada pemuda tinggi besar itu agar jangan berkelahi di rumah makan mereka. Sementara itu Han Sin mendekati si pengemis dan berkata,

“Sobat, bukankah kita sudah pernah saling jumpa? Aku mengundangmu untuk makan semeja denganku, harap engkau tidak menolak dan menghindarkan keributan dalam rumah makan ini...“

Pengemis itu memandang kepada Han Sin, memperhatikannya dari kepala sampai kaki seperti orang menilai, lalu mengangguk, “Hemmm, baiklah. Setelah kejadian yang menjengkelkan ini, aku memang perlu seorang teman yang baik...!“

Dengan langkah dan lagak gagah pengemis itu lalu mengikuti Han Sin menuju ke meja, melempar pandang ke kanan kiri seolah hendak menantang siapa yang akan berani mencegahnya. Han Sin dan pengemis itu duduk berhadapan dan Han Sin segera meneriaki pelayan agar menambah minuman dan makanan. Dia menuangkan arak ke dalam cawan pengemis itu.

“Silahkan minum untuk mengucapkan selamat atas perjumpaan ini...“ kata Han Sin.

Pengemis itu tersenyum dan mereka minum secawan arak. Pengemis itu tanpa malu-malu lagi lalu makan minum dan nampaknya ia lahap sekali. Akan tetapi Han Sin yang memperhatikan melihat kenyataan bahwa pengemis itu hanya makan sedikit. Belum menghabiskan nasi semangkok dia sudah berhenti.

“Kenapa makanmu sedikit sekali...? Makanlah lagi dan tambah nasinya...“

“Ah, tidak. Aku takut menjadi gemuk kalau makan terlalu banyak...“ jawabnya. Tentu saja Han Sin tertegun heran. Mana ada pengemis tidak mau makan banyak karena takut gemuk...?

“Sekarang aku ingat!“ pengemis itu berseru. “Bukankah engaku pengantin pria itu?”

Wajah Han Sin berubah merah, akan tetapi diapun tersenyum dan menjawab. “Maksudmu pengantin paksaan? Benar, kita pernah bertemu di kuil Hwa-li-pang...“

“Wah, kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Aku memang ingin bertanya mengapa pesta pernikahan itu tidak jadi dilangsungkan? Aku sudah menanti-nanti untuk mendapatkan bagian arak dan kue pengantin, ternyata tidak jadi ada pesta pernikahan! Apa yang terjadi?“ Pengemis itu berpura-pura, karena di luar pengetahuan Han Sin. Dirinya memegang peran penting dalam penggagalan pernikahan itu.

Dengan suara bisik-bisik agar tidak terdengar orang lain, Han Sin menjawab, “Aku dapat melarikan diri dari mereka...“

“Ih, kenapa lari? Bukankah senang akan dinikahkan dengan nona yang cantik itu?"

“Kau maksudkan yang gila itu? Mereka semua itu gila, akan tetapi aku tidak berdaya. Mereka lihai sekali. Akan tetapi untung aku dapat meloloskan diri dari tangan mereka berkat bantuan seorang gadis yang bernama Kim Lan. Hebat bukan main nona Kim Lan itu!“ Han Sin memuji dengan penuh kagum.

“Maksudmu nona yang berpakaian serba putih itu? Ya, ia memang cantik sekali..."

“Bukan hanya cantik jelita seperti bidadari, akan tetapi ilmunya juga hebat. Ketika aku di tawan keluarga gila, aku diberi racun dalam keadaan keracunan itu aku tidak dapat melarikan diri. Akan tetapi nona Kim itu dapat menyeludup masuk kamarku dan aku di obatinya sampai sembuh. Kemudian ia merencanakan agar aku dapat melarikan diri. Bukankah ia hebat sekali?“

Pengemis itu mengangguk-angguk dan mengacungkan ibu jarinya. “Namanya Kim Lan? Hemmm, kalau aku bertemu dengannya akan kuceritakan padanya betapa engkau memuji-muji setengah mati...“

Karena sudah lama mereka selesai makan, seorang pelayan menghampiri untuk menmbersihkan meja mereka dan membawa pergi perabot makan. Akan tetapi kedua orang itu masih bercakap-cakap terus. Mereka merasa akrab sekali dan diam-diam Han Sin merasa heran mengapa dia begitu suka dengan pemuda pengemis ini. Rasanya seolah-olah mereka sudah bersahabat lama sekali.

“Dan engkau sendiri, siapakah namamu?“ tanya Han Sin.

Pengemis itu mengangkat muka memandang dan sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang amat tajam. Han Sin dapat menduga bahwa pengemis muda yang memiliki sepasang mata setajam itu pastilah bukan orang biasa.

“Engkau belum memperkenalkan namamu sendiri, bagaimana menanyakan nama orang lain...?“ jawabnya.

“Ahh, aku lupa...“ kata Han Sin sambil tersenyum. “Baiklah namaku Cian Han Sin, dan engkau...?“

“Aku bermarga Cu dan namaku Sian...“

Pada saat itu, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dan pelayan itu bertanya kepada Han Sin, “Kalau kong-cu ingin memilih kamar, silahkan ikut saya...“

“Ah, ya baiklah..." Han Sin bangkit berdiri dan membayar harga makanan.

“Aku juga minta sebuah kamar...“ kata pengemis muda bernama Cu Sian itu kepada si pelayan.

“Adik Cu Sian, marilah kau menginap dikamarku saja. Kita pakai kamar itu untuk kita berdua...“

“Tidak, terima kasih. Aku ingin menyewa kamar sendiri...!“ kemudia berkata mengancam kepada pelayan itu. “Jangan menolakku! Aku akan membayar, berapaun sew anya...!“

Han Sin dapat menduga bahwa watak pengemis ini memang liar dan ugal-ugalan, maka diapun mengangguk kepada pelayan itu dan berkata, “penuhi saja permint aan sahabat ku ini..."

“Baik, baik, mari silahkan mengikuti saya...“

Mereka terus masuk ke bangunan di belakang rumah makan itu. Ternyata bangunan itu merupakan bangunan susun dan mempunyai banyak kamar. Mereka mendapatkan dua buah kamar yang berdampingan dan setelah pelayan itu pergi meninggalkan mereka, barulah Han Sin bertanya kepada pengemis itu.

“Sian-te (adik Sian), engkau ini aneh sekali...“

“Apanya yang aneh, Sin-ko (Kakak Sin)?“ Sepasang mata Cu Sian mengamati wajah Han Sin dengan tajam penuh selidik...