Si Bayangan Iblis Jilid 07

“APA engkau hendak menjual cincin? Tidak, aku tidak butuh cincin!”

Karena kata-kata ini diucapkan dengan cukup lantang dan Sui In memandang ke arah kedua tangan yang berada di tepi mejanya, si kepala besar itu terkejut dan mukanya berubah merah sekali, apa lagi karena terdengar suara ketawa temannya yang kurus, bahkan ada pula suara ketawa dari meja lain, entah siapa.

“Heh-heh, Ji-toako, engkau disangka penjual cincin di pasar, ha-ha!”

Pemuda she Ji itu merasa malu, akan tetapi dia mengira bahwa wanita cantik di depannya itu tidak sengaja menghinanya, apa lagi kini dia sudah berada dekat sekali dengan wanita itu, dan ternyata wanita itu jauh lebih cantik dari pada ketika dilihatnya dari jauh tadi. Juga ketika bicara, bibir yang menggairahkan itu bergerak-gerak manis sekali. Maka, biarpun merasa malu, pemuda berkepala besar itu tidak dapat marah kepada seorang wanita secantik itu.

“Toanio, aku bukan penjual cincin. Semua ini bukan barang dagangan, melainkan milikku pribadi. Ketahuilah, aku pemuda keluarga Ji, merupakan seorang pemuda yang paling kaya raya, paling royal dan tidak ada duanya di kota Tung-cu...“

“Aku tidak mengenalmu. Pergilah dan biarkan aku sendiri,” Sui In berkata.

Pemuda itu masih menyeringai. “Heh-heh, moi-moi (adik) yang manis, harap jangan menjual mahal seperti itu. Marilah, aku sendiri yang mengundangmu untuk duduk makan minum dengan kami semeja. Ataukah aku yang menemanimu di sini? Hei, pelayan, cepat hidangkan arak baru dan semua masakan lezat yang ada di rumah makanmu ini!”

Dia lalu duduk begitu saja dan berkata kepada Sui In. “Moi-moi, kalau perlu, rumah makan ini bisa kubeli untukmu, heh-heh!”

Sui In mengerutkan alisnya. Orang ini semakin kurang ajar, pikirnya, tidak lagi menghargainya dengan sebutan Toanio (nyonya), melainkan berani menyebut moi-moi yang manis, seolah-olah ia telah menjadi kekasihnya saja! Akan tetapi, karena tidak ingin ribut-ribut, ia masih menahan kesabarannya.

“Hemm, sekali lagi kukatakan. Aku tidak mempunyai urusan denganmu, aku tidak suka nenerima undanganmu, tidak suka makan minum bersamamu dan tidak suka engkau makan minum di mejaku ini. Pergilah dan jangan aku kehilangan kesabaranku!”

Kalimat terakhir sudah bernada keras, dan tanpa disengaja Sui In melihat pula pemuda yang berpakaian serba putih itu tersenyum sedikit. Juga tiga orang setengah tua yang duduk di sudut belakang kini memandang ke arah mejanya dengan penuh perhatian. Gemaslah rasa hati Sui In. Ulah pemuda kepala besar ini tentu saja telah menarik perhatian orang, dan ia menduga bahwa tentu mereka semua yang berada di rumah makan itu telah memperhatikan dirinya.

Sudah kepalang tanggung sekarang, tidak perlu lagi ia menjaga jangan sampai ada keributan. Akan tetapi ia tetap menuangkan lagi semangkok kecil air teh harum yang masih panas mengepul itu dan meniupinya perlahan untuk mendinginkannya sebelum diminumnya sedikit demi sedikit.

Si kepala besar itu sungguh tak tahu diri. Dia adalah seorang pemuda kaya raya, dan putera pejabat yang sejak kecilnya telah di manja orang tuanya dan para hamba sahayanya, sejak kecil apapun yang dikehendakinya terlaksana. Oleh karena itu, setelah dewasa, diapun menjadi berandalan dan ingin dimanjakan siapapun juga. Dia tidak mengenal takut karena selalu bergelimang kekayaan dan kekuasaan yang membuat semua orang takut kepadanya. Mendengar ucapan Sui In, dia mengerutkan alisnya.

“Apa? Engkau berani menolak ajakanku? Nona manis, jangan sombong engkau! Kalau perlu, aku mampu membeli dirimu, aku mampu membeli seratus orang perempuan seperti engkau...”

Sui In marah sekali mendengar ucapan itu dan sebelum kalimat terakhir itu habis diucapkan, ia sudah membentak, “Pergilah!” Tangan yang memegang mangkok kecil berisi air teh panas itu bergerak dan air dari dalam mangkok menyiram ke arah muka pemuda kepala besar.

“Ouhhhhh...!” Bagi orang yang pernah disiram mukanya dengan air panas baru akan tahu betapa nyerinya ketika air teh yang masih panas itu mengenai mata, hidung dan mulut pemuda kepala besar itu. Selagi dia bangkit dan mengeluarkan teriakan kesakitan, tiba-tiba kaki Sui In di bawah kolong meja bergerak, menendang.

“Desss...!” Perut itu tertendang dan si pemuda berkepala besar terlempar jauh! Bahkan, tubuhnya melewati meja kosong dan meluncur ke arah meja di mana duduk pemuda berpakaian serba putih yang makan minum seorang diri pula.

Melihat betapa hidangan di atas mejanya terancam hancur berantakan, tiba-tiba tubuh pemuda berpakaian putih itu sudah meloncat bangun dan dengan sigapnya dia menjulurkan kedua tangan, menyambar tubuh yang melayang itu dan sekali dia melontarkan, tubuh pemuda kepala besar itu berbelok arah melayang ke arah mejanya sendiri.

“Brakkkkk...!” Meja itupun runtuh dan semua masakan tumpah dan berantakan ketika meja itu tertimpa tubuh si kepala besar.

“Aduhh... auhhh, aduhhhh...!” Si kepala besar mengaduh-aduh, juga si kurus yang menjadi temannya mengaduh dan menyumpah-nyumpah karena muka dan pakaiannya juga berlepotan kuah masakan. Akan tetapi dua orang teman mereka yang lain sudah dapat berloncatan menghindar dengan gerakan cepat sehingga tidak sampai ikut tertimpa atau tersiram kuah masakan!

Tiga orang setengah tua yang sejak tadi melihat, kini saling pandang. Akan tetapi Sui In sudah duduk kembali menuangkan air teh dalam mangkoknya, minum air teh panas seperti tidak terjadi sesuatu. Juga pemuda berpakaian putih tadi nampak masih duduk sambil makan minum, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu! Padahal, menyambar tubuh yang melayang lalu melontarkan kembali ke arah yang lain membutuhkan kecekatan tangan dan juga tenaga besar.

Apa yang diperlihatkan oleh pemuda berpakaian putih itu sesungguhnya bukan apa-apa baginya. Seperti permainan kanak-kanak saja karena dia tentu saja dapat melakukan hal-hal yang jauh lebih sukar dari pada sekedar melemparkan tubuh si kepala besar tadi. Pemuda itu, walau nampaknya lemah seperti seorang terpelajar, seorang kongcu (tuan muda), atau seorang siu-cai (sarjana), sebetulnya adalah seorang yang memiliki nama besar dan kalaupun wajahnya jarang muncul di dunia persilatan dan orang tidak mengenalnya, namun namanya sudah terkenal di empat penjuru.

Hampir semua orang di dunia persilatan pernah mendengar namanya yang besar, yaitu nama julukannya. Dia dijuluki orang Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) atau disingkat Pek-liong (Si Naga Putih) saja karena ke manapun dia pergi, dia selalu berpakaian putih, dan sepak terjangnya seperti seekor naga sakti!

Si Naga Putih atau Pendekar Naga Putih ini bernama Tan Cin Hay, berusia dua puluh tujuh tahun. Wajahnya yang tampan sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang pria yang gemblengan, lebih pantas kalau dia menjadi seorang terpelajar. Sikap dan gerak geriknya juga lembut, tubuhnya sedang saja dan otot-otot yang kuat itu tersembunyi di balik pakaian sehingga tidak nampak dari luar. Pakaiannya yang serba putih amat bersih.

Satu-satunya yang membayangkan bahwa dia seorang pria jantan yang kadang berwatak keras adalah dagunya yang berlekuk, dan matanya yang kadang mencorong. Biarpun namanya terkenal sekali di dunia persilatan, namun kalau tidak perlu, jarang dia keluar ke dunia kang-ouw. Dia hidup menyendiri di dusun Pat-kwa-bun tak jauh dari Telaga See-ouw, di dalam sebuah rumah gedung yang megah dan indah. Dari rumahnya ini saja dapat diketahui bahwa pendekar yang hidup menyendiri itu adalah seorang yang kaya raya.

Dan memang benar demikian. Bersama Hek-liong-li Lie Kim Cu, Pek-liong-eng Tan Cin Hay pernah mendapatkan harta karun yang amat besar, tak ternilai besarnya. Mereka membagi dua dan dengan bagian harta karun itu, Pendekar Naga Putih menjadi orang yang kaya raya. Dia seorang duda. Isterinya yang tercinta tewas di tangan penjahat, dan sejak itu, dia tidak pernah mau menikah lagi walaupun kalau dia mau banyak gadis yang akan merasa bangga dan berbahagia menjadi isterinya. Dia tampan, gagah, berkepandaian tinggi, kaya raya!

Jangankan wanita yang belum dikenalnya, bahkan wanita yang pernah bergaul dekat dengannya, yang pernah berenang di lautan asmara bersamanya, tak pernah ada yang berhasil mengikatnya sebagai suami. Tidak, dia tidak mau terikat dalam pernikahan dengan seorang wanita, walaupun dia tidak menolak untuk bercinta dengan seorang wanita yang menarik hatinya, yang bebas, dan yang tahu bahwa dia tidak akan mau menikahinya.

Dia pantang mempergunakan kekayaan dan ketampanannya untuk menjatuhkan hati wanita, pantang untuk menjanjikan pernikahan lalu menipunya. Dia hanya mau mendekati wanita yang sudah tahu bahwa dia tidak mau terikat, dan kalaupun mereka berdua bercinta, hal itu dilakukan karena mereka saling merasa suka.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay maklum bahwa di dunia persilatan, banyak tokoh pendekar yang mencela sikapnya terhadap wanita itu. Banyak pendekar dan tokoh-tokoh kang-ouw yang menganggapnya sebagai seorang yang mata keranjang, seorang perayu wanita dan tukang merusak wanita, seorang petualang cinta yang amat berbahaya bagi setiap orang wanita!

Namun, dia tidak memperdulikan anggapan orang. Dia sudah meneliti diri sendiri dan tidak menemukan watak seperti yang dikatakan orang terhadap dirinya. Tidak, dia tidak akan pernah memaksa seorang wanita untuk bercinta dengannya, baik memaksa dengan kekerasan atau memikatnya dengan kekayaannya, kepandaiannya atau ketampanannya. Dia tidak pernah jatuh cinta dalam arti seperti cintanya terhadap mendiang isterinya dahulu.

Dia tidak pernah ingin memperisteri seorang wanita. Dan hubungannya dengan seorang wanita terjadi karena mereka saling mengagumi, saling tertarik, dengan penuh kesadaran bahwa hubungan itu tidak akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dia tidak pernah menipu! Bahkan tidak jarang dia menjauhkan diri sebelum terjadi hubungan cinta kalau seorang gadis atau seorang janda benar jatuh cinta dan menginginkan menjadi isterinya.

Kini empat orang muda itu menjadi marah bukan main. Pemuda berkepala besar dan pemuda kurus yang berpakaian mewah itu adalah dua orang yang merasa diri mereka sebagai kongcu-kongcu (tuan muda) yang harus ditaati semua perintah mereka. Mereka itu putera-putera orang kaya raya yang sejak kecil dimanja dan dituruti semua permintaan mereka.

Dua orang kawan mereka adalah tukang pukul mereka yang hidup bagaikan lintah, menempel kepada dua orang muda kaya itu. Ke manapun mereka berdua yang sakunya penuh uang itu pergi, tentu ada saja pemuda-pemuda tukang pukul yang mengikuti mereka sebagai pengawal dan juga sebagai pembonceng berbelanja apa saja.

“Hajar perempuan itu!” bentak si kepala besar yang masih mengaduh-aduh karena mukanya kini seperti udang direbus, kemerahan terkena kuah dan air teh panas. Dia menuding ke arah Cu Sui In dengan mata melotot lebar.

“Ia harus mencium kaki kami untuk minta ampun!” kata pula si kurus yang juga terkena percikan kuah dan kini dia sibuk membersihkan pakaiannya yang kotor dan basah.

Dua orang tukang pukul itu menghampiri Cu Sui In dengan sikap mengancam. Sui In sudah selesai makan atau memang ia sudah kehilangan seleranya, maka ia bangkit dari duduknya dan menggapai pelayan karena ia ingin membayar harga makanan dan minumannya lalu pergi dari situ secepatnya.

Seorang pelayan bergegas datang menghampirinya, akan tetapi dua orang tukang pukul itu mendorongnya sehingga terpelanting. “Pergi kau!” bentak seorang di antara dua tukang pukul itu, yang berjenggot kambing.

Orang kedua, yang matanya juling, berkata kepada Sui In dengan nada memerintah. “Bocah sombong, hayo cepat berlutut mohon ampun kepada kedua orang kongcu kami, atau engkau ingin aku memaksamu berlutut?” Dia menghampiri dengan sikap mengancam.

“Berlutut dan cium kaki kedua kongcu kami!” bentak pula si jenggot kambing.

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali dan sinar mata yang jeli itu kini mencorong, tanda bahwa Sui In marah bukan main mendengar ucapan yang nadanya menghina itu. “Aku tidak ingin mencari perkara, akan tetapi kalau kalian tidak cepat pergi dari sini dan menutup mulut kalian yang kotor, terpaksa kalian akan kuhajar!” katanya, lembut namun mengandung ancaman.

“Heiiiittt!” Si mata juling segera memasang kuda-kuda, kedua kaki terpentang, kedua lutut ditekuk dan pinggulnya menonjol ke belakang, kedua lengan menyilang di depan dada, dengan tangan membentuk cakar. Lagaknya yang digagah-gagahkan itu lucu sekali.

“Hyatttt...!” Si jenggot kambing juga memasang kuda-kuda, lebih gagah lagi, dengan kaki kiri diangkat dan lutut ditekuk sehingga kaki kiri menempel di samping lutut kanan sedangkan kaki kanan berjungkit, tangan kiri di depan pusar dan tangan kanan diangkat tinggi menuding langit! Seolah-olah dia hendak memainkan ilmu silat yang amat luar biasa tingginya, setinggi langit. Akan tetapi karena dia tidak dapat bertahan lama dengan sebelah kaki berjungkit, maka kaki kanan diturunkan dan kini dia membentuk kuda-kuda dengan kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang, kedua tangan terkepal di pinggang, siap untuk menerjang!

Melihat lagak mereka, Sui In tersenyum mengejek dan menepiskan tangannya seperti orang mengusir lalat. “Sudahlah, kalian badut-badut menjemukan, aku mau pergi!” Ia lalu melangkah dan sama sekali tidak memperdulikan kedua orang yang memasang kuda-kuda dan siap menyerangnya itu.

Melihat betapa gadis itu tidak takut menghadapi kuda-kuda mereka yang gagah, dua orang tukang pukul itu marah dan ketika gadis itu lewat di antara mereka, keduanya seperti berlomba lalu menubruk maju, berlumba untuk merangkul gadis itu. Si jenggot kambing merangkul leher, dan temannya si mata juling merangkul pinggang Sui In membiarkan sampai serangan mereka itu datang dekat, lalu tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat cepat ke depan. Dua orang yang sudah yakin akan berhasil menubruk dan merangkul itu, girang sekali.

“Bressss...!” Mereka mengaduh karena mereka ternyata saling tubruk dan saling rangkul, bahkan kepala mereka saling bertemu dengan kerasnya. Terdengar suara tertawa bergelak dan yang tertawa ini adalah Pek-liong yang tak dapat menahan kegelian hatinya melihat lagak dua orang itu, dan diapun girang dan kagum melihat kecekatan gadis manis itu.

“Keparat kau!” bentak si jenggot kambing sambil mencabut goloknya.

“Perempuan hina!” bentak pula si mata juling dan diapun mencabut goloknya.

Akan tetapi, Sui In tetap tenang, tidak mengeluarkan senjatanya karena dara ini sudah dapat mengukur bahwa dua orang lawannya itu lebih mengandalkan kenekatan dari pada kepandaian. Mereka itu seperti dua buah tong kosong yang berbunyi nyaring. Dengan teriakan-teriakan menyeramkan, ke dua orang itu kini menggerakkan golok mereka dan menerjang ke arah Sui In, bukan hanya untuk menakut-nakuti, melainkan benar-benar menyerang!

Namun, Sui In dengan mudahnya berloncatan mengelak. Dua orang itu mengamuk terus, mengejar ke manapun Sui In meloncat sehingga golok mereka menyambar-nyambar dan merobohkan beberapa buah kursi yang menjadi patah-patah. Melihat ini, pemilik rumah makan itu menjadi panik. Bisa hancur semua perabotnya!

“Sudah! Sudah... harap jangan berkelahi di sini...!” Berulang-ulang dia berteriak.

Melihat ini, Sui In merasa kasihan, maka ketika dua batang golok itu menyambar, tubuhnya merendah dan kedua lengannya berkembang, tangannya sudah menotok ke arah siku dua orang penyerangnya. Golok itu terlepas dan pada detik berikutnya, kaki kanan gadis itu terangkat dan dua kali bergerak menendang ke arah perut dua orang lawannya.

Kaki itu menendang dengan gerakan cepat dan indah, dua kali bergerak tanpa turun dulu. Nampaknya tendangan itu tanpa tenaga, akan tetapi, begitu mengenai perut si jenggot kambing dan si mata juling, keduanya berteriak kesakitan, dan terjengkang lalu mengaduh-aduh sambil mengelus perut mereka yang mendadak terasa mulas dan nyeri sekali!

Kini Sui In melangkah ke arah meja dua orang pemuda kaya itu, tanpa memperdulikan, lagi dua orang bekas lawan yang mengaduh-aduh. Matanya yang jeli itu menatap wajah kedua orang pemuda hartawan itu dengan sinar mencorong.

Dua orang pemuda itu berdiri menggigil ketakutan melihat betapa dua orang tukang pukul mereka roboh tak berdaya. Apa lagi melihat sinar mata gadis itu, mereka ketakutan dan kedua kaki mereka menggigil, dan ketika Sui In tiba di depan mereka, tak dapat ditahan lagi celana mereka menjadi basah! Melihat ini, Sui In merasa jijik. Tangan kirinya bergerak, dua kali ke arah muka mereka.

“Plok! Plok!” Tubuh dua orang pemuda hartawan itu terpelanting dan ketika mereka bangkit duduk sambil memegangi pipi yang membengkak dan mulut berdarah karena beberapa buah gigi mereka rontok, gadis itu sudah membayar harga makanan tanpa bicara lagi, dan melangkah pergi.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay kagum bukan main. Gadis hebat, pikirnya dan dia merasa puas. Kalau lebih banyak wanita seperti gadis berpakaian hijau itu, tentu berkuranglah laki-laki iseng yang suka mengganggu wanita dengan cara yang kurang sopan. Diapun mengenal gerakan wanita itu ketika tadi menghadapi serangan dua batang golok, cara mengelak, kemudian tendangan beruntun itu.

Gerakan gadis itu mempunyai ciri khas yang datang dari sumber partai persilatan Kun-lun-pai. Gadis itu tentu seorang murid Kun-lun-pai, pikirnya. Murid yang sudah jadi, sudah matang menurut dugaannya. Tentu saja ini hanya dugaan karena untuk menentukan tingkat gadis itu, dia harus melihat gadis itu bersilat berkelahi sungguh-sungguh, terutama menggunakan ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedangnya.

Sambil tersenyum dia melihat betapa empat orang pemuda itu merangkak-rangkak, membayar harga makanan, bahkan membayar pula kerugian yang timbul karena kerusakan meja kursi dan pecahnya mangkok piring akibat perkelahian tadi. Kemudian mereka pergi dari situ, si kepala besar tidak malu-malu menangis dan mengaduh-aduh karena pipinya bengkak dan banyak giginya sebelah kanan rontok!

Akan tetapi, Cin Hay yang sudah hampir melupakan lagi gadis berpakaian hijau yang lihai dan menarik itu, dan hendak melanjutkan makan minumnya, tiba-tiba tertarik melihat sikap tiga orang pria-pria setengah tua yang tadi dia lihat makan pula di meja lain. Dari sikap mereka, diapun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa bertualang di dunia persilatan. Akan tetapi tadi dia tidak memperhatikan mereka.

Baru sekarang dia menaruh perhatian ketika melihat betapa tiga orang itu bicara bisik- bisik dan kadang menoleh ke luar setelah gadis berpakaian hijau tadi meninggalkan rumah makan itu. Alisnya berkerut. Jelas bahwa mereka itu bukan orang-orang lemah, terutama sekali orang yang berusia limapuluh tahun dan rambutnya sudah berwarna putih semua itu.

Pernah dia mendengar akan seorang tokoh sesat yang rambutnya sudah putih semua dan terkenal ahli bermain pedang, julukannya Pek-mau-kwi (Setan Rambut Putih). Inikah orangnya? Diapun memperhatikan dua orang yang lain. Yang seorang berperut gendut, mukanya ramah akan tetapi matanya bersinar kejam. Orang kedua kurus pendek dengan wajah bengis. Tak lama kemudian, tiga orang ini bangkit dari meja dan membayar harga makanan, lalu bergegas mereka keluar.

Cin Hay melirik ke arah meja mereka. Mereka itu belum selesai makan, akan tetapi mengapa tergesa-gesa pergi? Dan mereka tadi jelas membicarakan si nona baju hijau! Timbul kecurigaannya dan diapun segera membayar harga makanan lalu melangkah keluar. Di luar masih terdapat beberapa orang yang tadi tertarik melihat keributan yang terjadi dalam rumah makan dan mereka itu kini sedang membicarakan gadis baju hijau dengan kagum.

Cin Hay masih sempat melihat mengepulnya debu bekas kaki tiga ekor kuda itu menuju ke utara, maka diapun berjalan dengan langkah lebar menuju ke utara. Setelah keluar dari dusun Kim-tang, sebagai seorang yang tinggal di daerah Telaga See-ouw, tentu saja dia mengenal baik daerah ini dan melihat betapa masih nampak debu bekas kaki kuda mengepul di depan, tahulah dia bahwa tiga orang penunggang kuda itu menuju ke bukit hutan cemara.

Dia tahu bahwa hutan itu sunyi dan jarang dikunjungi orang karena selain di sana tidak terdapat binatang buruan, juga banyak bagian yang berbatu-batu dan tidak mendatangkan hasil apapun kecuali kayu pohon cemara. Diapun segera mengerahkan tenaga berlari cepat setelah tiba di jalan yang sunyi, membayangi tiga orang penunggang kuda itu.

Kini dia sudah kehilangan tiga orang penunggang kuda karena mereka sudah memasuki hutan di kaki bukit. Cin Hay yang merasa curiga, terus membayangi, bahkan mempercepat larinya untuk menyusul karena kalau sudah tiba di hutan, dia dapat membayangi dari jarak yang lebih dekat tanpa mereka ketahui.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 07 karya kho ping hoo

Sementara itu, Sui In setelah meninggalkan rumah makan, segera melanjutkan perjalanannya. Ia ingin mengunjungi susioknya (paman gurunya) yang bertapa di Bukit Cemara itu. Susioknya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai, dan ia percaya bahwa kalau susioknya membantu, akan lebih mudah baginya untuk mencari Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) sampai dapat dan membalas dendam atas kematian suaminya, juga menghentikan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja selama ini.

Ketika Sui In tiba di luar dusun, iapun menggunakan ilmu berlari cepat menuju ke bukit Cemara. Setelah hampir tiba di kaki bukit, ia merasakan sesuatu yang tidak wajar, yang membuatnya menengok dan iapun melihat tiga orang penunggang kuda membalapkan kuda mereka. Ia tidak tahu siapa mereka, akan tetapi menduga bahwa tentu mereka itu orang-orang yang hendak membalaskan kekalahan empat orang pemuda kurang ajar yang dihajarnya di rumah makan tadi.

Maka iapun mempercepat larinya dan tibalah ia di hutan cemara yang mulai dari kaki bukit. Akan tetapi, tiga orang penunggang kuda itu terus mengejar memasuki hutan. Ia menjadi penasaran sekali. Tentu saja ia tidak takut menghadapi mereka, dan kalau mereka itu hendak membela empat orang pemuda kurang ajar tadi, ia akan menghajar mereka pula! Maka, setelah tiba di tempat terbuka, ia berhenti untuk mengaso dan melihat siapa mereka yang melakukan pengejaran itu.

Tiga orang penunggang kuda itu berlompatan turun dari atas kuda mereka ketika melihat bahwa gadis yang mereka kejar sudah berdiri menanti di atas lapangan terbuka, dengan sikap yang gagah dan menantang! Tiga orang penunggang kuda itu sesungguhnya bukanlah tukang-tukang pukul biasa yang hendak membela empat orang pemuda tadi seperti yang disangka oleh Sui In. Sama sekali bukan!

Mereka adalah tiga orang setengah tua yang tadi makan pula di rumah makan dan mereka melihat pula ketika Sui In menghajar para pemuda kurang ajar itu. Justeru gerakan gadis itulah yang menarik perhatian mereka dan yang membuat mereka melakukan pengejaran. Gerakan ilmu silat Sui In ketika menghadapi para pemuda jahat tadi mereka kenal sebagal ilmu silat Kun-lun-pai. Gadis itu murid Kun-lun-pai dan karenanya harus mati di tangan mereka! Atau lebih tepat lagi harus mati di tangan laki-laki berambut putih itu, karena yang dua orang lainnya hanyalah merupakan para pembantunya.

Siapakah mereka bertiga itu? Dugaan Pek-liong tadi memang tidak keliru. Pria berusia lima puluhan tahun yang rambutnya sudah putih semua itu adalah Ciong Hu, berjuluk Pek-mau-kwi (Setan Rambut Putih), seorang tokoh sesat kenamaan. Pek-mau-kwi Ciong Hu ini terkenal lihai dengan ilmu pedangnya, dan diapun terkenal jahat dan kejam. Dia tidak pantang melakukan kejahatan apapun asal perbuatan itu menghasilkan keuntungan baginya.

Adapun dua orang temannya juga bukan orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh sesat yang namanya ditakuti orang karena selain kejam, merekapun lihai sekali. Terutama mereka yang suka mengarungi Sungai Huang-ho dengan perahu, tentu akan mengenal nama mereka.

Mereka adalah dua orang kakak beradik yang suka membajak di sepanjang Sungai Kuning, maka nama julukan merekapun Huang-ho Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Kuning). Yang berperut gendut dengan wajah cerah akan tetapi sinar matanya kejam berusia empatpuluh lima tahun dan bernama Can Kai, sedangkan yang kurus pendek berwajah bengis adalah adiknya bernama Can Kui berusia empatpuluh tiga tahun.

Melihat cara tiga orang itu berlompatan dari atas punggung kuda, Sui In terkejut juga. Ia tahu bahwa tiga orang ini tidak boleh dipandang ringan, tidak seperti dua orang tukang pukul muda yang dihajarnya di rumah makan tadi, maka iapun bersikap waspada. Ia mulai meragukan sangkaannya setelah mengetahui mereka sebagai tiga orang yang tadi ia lihat makan di restoran itu pula.

Kalau mereka ini membela empat orang pemuda yang dihajarnya tadi, tentu mereka sudah bergerak tadi di sana, pikir Sui In. Tidak, mereka mengejarnya tentu karena alasan lain. Akan tetapi ia bersikap tenang saja ketika berdiri berhadapan dengan mereka bertiga. Melihat mereka bertiga itu hanya memandang kepadanya dengan penuh perhatian, sedangkan si perut gendut menyeringai dengan sikap ceriwis. Sui In lalu menegur.

“Mau apa kalian bertiga mengejarku?”

Pek-mau-kwi Ciong Hu menggerakkan tangannya. “Nona, benarkah dugaan kami bahwa engkau seorang murid Kun-lun-pai?”

Sui In mengerutkan alisnya. “Kalau benar, mengapa?”

Akan tetapi pria berambut putih itu tidak memperdulikan Sui In melontarkan balas tanya penuh tantangan itu. “Dan engkau hendak berkunjung ke pondok Giam Sun?”

Sui In merasa tidak perlu merahasiakan kunjungannya lagi karena agaknya mereka sudah mengenal susioknya. “Memang aku akan berkunjung ke tempat pertapaan Giam Susiok. Kalian siapakah?”

Akan tetapi tiga orang itu sudah tertawa bergelak. “Hemm, engkau murid keponakan Giam Sun?” kini Can Kai si gendut tertawa. “Bagus sekali, kalau begitu engkau harus turut dengan aku!”

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi Can Kai sudah menubruk ke depan. Biarpun perutnya gendut ternyata dia dapat bergerak dengan cepat sekali. Sui In cepat mengelak dan ketika lengan kanan si gendut itu masih berusaha meraihnya, ia menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Plakk!” Can Kai mengeluarkan seruan kaget karena lengannya yang tertangkis itu terpental keras, tanda bahwa gadis itu memiliki sin-kang yang cukup kuat.

“A Kai, jangan main-main. Cepat selesaikan ia, kita tidak mempunyai banyak waktu!” tiba-tiba Pek-mau-kwi Ciong Hu berseru dan mendengar ini, si gendut sudah mencabut pedangnya, lalu tanpa banyak cakap lagi diapun sudah langsung menerjang dengan ganas. Akan tetapi, melihat lawan menggunakan senjata, Sui In juga, sudah cepat menghunus pedang dan kini ia menangkis dengan gerakan kilat.

“Tranggg...!” Begitu kedua pedang bertemu dan tangkisan itu membuat pedang Can Kai terpental, pedang di tangan Sui In sudah meluncur dengan gerakan lingkaran yang amat cepat, menyambar dari samping membabat ke arah leher Can Kai!

Si gendut ini terkejut dan cepat melempar tubuh ke belakang, lalu berjungkir balik sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Wajahnya berubah agak pucat karena nyaris lehernya putus! Dia menjadi marah dan sudah menerjang lagi dengan dahsyat, sama sekali tidak berani memandang rendah lagi.

Sui In juga segera memainkan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat indah dan kuat. Pedang di tangannya itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dari gulungan sinar itu, yang selalu menahan setiap serangan lawan, seringkali mencuat sinar yang merupakan serangan balasan yang cepat dan berbahaya bagi lawan.

Dalam waktu dua puluh jurus saja, Can Kai sudah terdesak hebat dan setiap lima kali serangan lawan dia hanya mampu membalas satu kali saja! Tentu saja dia mundur terus dan berputar-putar dan jelas bahwa kalau dilanjutkan, tak lama lagi dia pasti akan roboh menjadi makanan pedang di tangan gadis Kun-lun-pai yang lihai itu!

Melihat kakaknya terdesak, Can Kui sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi diapun sudah terjun membantu kakaknya. Ilmu pedang Can Kui tidak banyak berbeda dengan kakaknya, maka kini Sui In dikeroyok dua dan kalau tadi Sui In dapat mendesak lawan, kini ia harus berhati-hati karena setelah dikeroyok, tentu saja keadaan menjadi berubah! Wanita perkasa ini memutar pedangnya melindungi diri, akan tetapi kini serangan dua orang itu lebih cepat dan lebih sering dibandingkan serangan balasan yang dapat ia lakukan.

Pek-mau-kwi Ciong Hu menjadi tidak sabar. Tak disangkanya bahwa wanita ini demikian lihainya sehingga dikeroyok oleh dua orang pembantunya pun agaknya mereka tidak akan mudah memperoleh kemenangan, “Hemm, perempuan yang sombong, terimalah kematianmu!” bentaknya dan diapun sudah mencabut pedangnya. Begitu pedangnya dicabut, nampak sinar berkilauan, tanda bahwa pedangnya itu adalah sebuah senjata yang baik dan juga tajam sekali.

Pedang itu meluncur dan merupakan segulung sinar terang menyerang ke arah Sui In yang sudah dikeroyok oleh dua orang, Sepasang Harimau Sungai Kuning itu. Cepat dan kuat sekali serangan itu sehingga Sui In menjadi terkejut bukan main karena pada saat itu ia sedang didesak oleh dua orang pengeroyoknya. Pada saat yang amat berbahaya bagi Sui In, tiba-tiba nampak sinar putih meluncur dari samping.

“Cringggg...! Ahhhh...!” Pek-mau-kwi Ciong Hu mengeluarkan seruan kaget dan cepat memeriksa pedangnya yang hampir saja terlepas dari pegangannya ketika tadi tertangkis oleh sinar putih itu.

Dia merasa lega bahwa pedangnya tidak rusak, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia mengangkat muka memandang kepada seorang pria muda yang berdiri di situ sambil tersenyum. Seorang pria muda berpakaian serba putih, pakaian sederhana saja dan tentu dia tidak akan menduga bahwa pemuda itu seorang ahli silat yang lihai kalau saja dia tidak melihat pedang yang bersinar putih dan yang telah membuat pedangnya terpental tadi.

“Pek-liong-eng...!” serunya dengan mata terbelalak.

Tan Cin Hay tersenyum, “Dan engkau tentu Pek-mau-kwi Ciong Hu!”

“Pek-liong-eng, selama ini di antara kita tidak pernah ada permusuhan dan jalan kita selalu bersimpang. Harap engkau tidak mencampuri urusan pribadiku!” kata Pek-mau kwi Ciong Hu, sementara itu, dua orang kakak beradik Can itu masih berkelahi mengeroyok Sui In.

“Pek-mau-kwi, memang jalan kita tidak pernah bertabrakan, akan tetapi sekali ini, secara pengecut sekali kau mengeroyok seorang wanita murid Kun-lun-pai dengan dua orang kawanmu. Hal ini tentu saja tidak dapat kubiarkan saja. Aku paling benci melihat laki-laki yang curang dan pengecut!”

“Pek-liong-eng, orang lain boleh takut kepada nama besarmu, akan tetapi aku tidak! Mampuslah!” Pek-mau-kwi Ciong Hu sudah menyerang dengan pedangnya. Serangannya memang hebat dan dia adalah seorang ahli pedang yang sukar dicari tandingnya. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan Si Naga Putih!

Sebelum dia menjadi rekan setia dari Hek-liong-li, dia sudah merupakan seorang pendekar yang berilmu tinggi, mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari mendiang Pek I Lojin. Apa lagi setelah dia memiliki pedang pusaka Pek-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Putih), dan bersama Hek-liong-li dia menciptakan ilmu pedang Sin-liong Kiam-sut, maka ilmu pedangnya dahsyat bukan main. Begitu dia menggerakkan pedang pusakanya, lenyaplah bentuk pedang itu dan yang nampak hanya sinar putih bergulung-gulung yang menimbulkan bunyi berdesing-desing dan angin menyambar-nyambar dahsyat, bagaikan seekor naga bermain-main di angkasa.

Pek-mau-kwi merasa terkejut bukan main. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu pedangnya, memainkan jurus-jurus pilihan, namun tetap saja sinar pedangnya terkurung dan terhimpit oleh sinar pedang lawannya. Masih untung baginya bahwa diam-diam Pek-liong mengkhawatirkan keselamatan gadis Kun-lun-pai itu sehingga perhatian Pek-liong terpecah, sebagian untuk menjaga kalau-kalau wanita perkasa itu terancam babaya. Hal ini memberi kesempatan kepada Pek-mau-kwi untuk meloncat jauh ke belakang.

“Kita pergi...!” teriaknya kepada dua orang pembantunya.

Sebetulnya, Can Kai dan Can Kui sudah mulai menghimpit lawannya. Wanita perkasa itu hanya mampu menangkis dan melindungi tubuhnya saja dan kalau dilanjutkan, ia pasti akan roboh. Akan tetapi, mendengar seruan Pek-mau-kwi, mereka terkejut. Tadipun mereka sudah cemas mendengar pemimpin mereka menyebut nama Pek-liong-eng. Maka, tanpa banyak pikir lagi, keduanya sudah berloncatan meninggalkan Sui In dan di lain saat, mereka bertiga sudah membalapkan kuda meninggalkan tempat itu.

Pek-liong tidak mengejar, juga Sui In tidak mencoba untuk mengejar. Mereka berdiri saling pandang sejenak, pandang mata yang mengandung kekaguman. Kemudian, Sui In yang teringat bahwa baru saja ia dibebaskan dari ancaman maut, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil berkata,

“Terima kasih atas pertolongan yang diberikan sehingga aku lolos dari ancaman maut di tangan mereka.”

Pek-liong-eng Tan Cin Hay tersenyum dan membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tangan depan dada, “Tidak perlu berterima kasih, nona. Sudah sepatutnya kalau kita saling membantu apabila menghadapi ganguan orang-orang jahat.”

“Aku... aku bukan seorang nona...” Sui In tersipu mendengar ia dipanggil “siocia” (nona). Usianya sudah dua puluh enam tahun dan ia seorang janda!

Pek-liong masih tersenyum dan kembali mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat, “Ah, maafkan aku, nyonya...”

Sui In masih tersipu akan tetapi iapun tersenyum, dan menggeleng kepalanya. “Akupun bukan seorang nyonya...”

“Ehhh...?” Kini Pek-liong terbelalak bingung. Bukan nona dan bukan nyonya, apakah ia banci...?

“Aku seorang janda...” Sui In cepat menjelaskan.

“Ah, begitu...?”

Keduanya terdiam. Agaknya pengakuan dirinya sebagai seorang janda itu membuat suasana menjadi canggung. Akan tetapi akhirnya Sui In dapat menguasai hatinya. Ia tahu bahwa pria di depannya itu menjadi rikuh maka tidak berani sembarangan bicara dan harus ia yang lebih dahulu bicara. Ia mengangkat muka. Kebetulan Pek-liong juga sedang memandang kepadanya sehingga dua pasang mata bertemu, bertaut sebentar lalu Sui In yang membuang pandang mata ke samping sambil memerah muka di luar kesadarannya.

“Jadi... engkau ini yang dijuluki Pek-liong-eng itu? Namamu sudah terkenal sampai ke kota raja...”

“Ah, hanya nama kosong saja, tidak pantas untuk disohorkan,” kata Pek-liong merendah.

“Bukan nama kosong. Baru saja aku menyaksikan sendiri betapa hebatnya ilmu pedangmu, tai-hiap (pendekar besar). Aku sudah mendengar pula nama Pek-mau-kwi yang kabarnya amat lihai dan ilmu pedangnya amat berbahaya, namun dalam beberapa gebrakan saja, melawanmu, dia telah melarikan diri. Sungguh engkau memiliki kesaktian hebat, tai-hiap.”

“Wah, engkau membikin aku dua kali malu dan bingung. Engkau tidak mau disebut nona, juga tidak mau disebut nyonya, akan tetapi sebaliknya engkau menyebut aku tai-hiap! Ini tidak adil namanya. Karena malu dan canggung, aku rasanya ingin lari saja. Kalau kita ingin melanjutkan perkenalan ini sebaiknya engkau menyebut aku toako saja. Usiaku sudah dua puluh tujuh tahun, tentu jauh lebih tua darimu, maka sudah sepatutnya kalau engkau menyebut toako (kakak) kepadaku.”

Sui In tersenyum. Hatinya girang bukan main. Dahulu ia sudah mengagumi nama besar Pek-liong-eng. Tadi ketika bertemu di restoran, iapun diam-diam kagum melihat pria ini karena tampan dan jantan, kemudian ia semakin kagum melihat ilmu kepandaian dan sepak terjangnya. Dan kini, bukan saja ia berhadapan dan berkenalan dengan pendekar itu, bahkan ia diperbolehkan menyebut toako! Ia semakin kagum. Pria ini selain tampan dan gagah, jantan, berkepandaian tinggi, juga ternyata sopan dan amat ramah dan jujur!

“Baiklah, toako, akan tetapi engkaupun jangan menyebut aku nona atau nyonya, melainkan siauw-moi (adik perernpuan). Usiaku sudah dua puluh enam tahun, setahun lebih muda darimu.”

“Ah, tidak mungkin!”

“Apanya, yang tidak mungkin, toako?”

“Mana mungkin usiamu sudah dua puluh enam tahun? Engkau kelihatan tidak lebih dari dua puluh tahun!” kata Pek-liong dengan sikap sungguh-sungguh sehingga wanita itu tersenyum bangga, maklum bahwa pendekar itu tidak sekedar merayu.

“Sungguh, toako. Eh, kita ini sudah saling menyebut toako dan siauw-moi, akan tetapi belum mengetahui nama masing-masing! Aku hanya pernah mendengar julukanmu, belum mengetahui namamu. Aku bernama Cu Sui In, toako.”

“Cu Sui In nama yang bagus. Namaku sendiri Tan Cin Hay, In-moi (adik In). Nah, kita telah berkenalan dan menjadi sahabat. Maukah engkau menceritakan kepadaku mengapa tiga orang itu tadi berusaha mati-matian untuk membunuhmu?”

Sui In menggeleng kepala. “Aku sendiri pun tidak tahu mengapa mereka memusuhi aku, toako. Mereka tadi mengejarku, setelah tiba di sini mereka hanya bertanya apakah aku murid Kun-lun-pai. Setelah aku membenarkan, mereka segera menyerangku dan berusaha sungguh-sungguh untuk membunuhku. Merekapun agaknya mengenal susiokku Giam Sun yang bertapa di puncak bukit ini.”

“Susiokmu? Seorang tokoh Kun-lun-pai bertapa di bukit ini? Heran sekali, mengapa aku tidak pernah mendengar akan hal itu? Padahal, aku tinggal tidak jauh sekali dari sini.”

“Giam Susiok (Paman Guru Giam) memang bertapa mengasingkan diri dari dunia ramai, maka dia seperti orang bersembunyi dan tidak ada yang tahu. Aneh sekali bagaimana tiga orang itu mengetahuinya dan... ah, jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan susiok...!” Wajah manis itu nampak khawatir sekali. “Aku harus cepat melihat keadaannya!”

Setelah berkata demikian, Sui In yang mengkhawatirkan paman gurunya segera berlari mendaki bukit. Pek-liong juga tertarik sekali mendengar bahwa paman guru gadis itu bertapa di situ, maka diapun mengikuti di belakang gadis itu tanpa bicara lagi...

Si Bayangan Iblis Jilid 06

KOMANDAN jaga itu menceritakan betapa semalam, ketika sebagian anak buahnya berjaga dan meronda dan sebagian lagi mengaso di gardu, tiba-tiba mereka yang berada di luar gardu berjatuhan tanpa mengeluarkan suara. Ketika para penjaga lainnya keluar, mereka disambut oleh bayangan yang berkelebatan dan merekapun roboh satu demi satu.

“Saya sendiri ketika itu sedang berada di belakang. Mendengar suara berisik di depan, saya segera berlari keluar dan sempat melihat anak buah saya terakhir roboh dan berkelebatnya bayangan...”

“Seperti apa bayangan itu?” tanya Cian Hui.

Wajah komandan jaga itu semakin pucat dan dengan gelisah dia mengerling ke arah Liong-li, Hatinya diliputi keraguan melihat adanya seorang nenek yang tidak dikenalnya di situ, ikut mendengarkan percakapan yang memalukan itu.

“Hayo katakan. Ini bibiku sendiri, tidak perlu kau sungkan!” kata pula Cian Hui. “Seperti apa bayangan itu?”

“Dia dia tinggi besar, bertanduk Si Bayangan Iblis...” suaranya gemetar.

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Saya mencabut pedang dan menyerang keluar, mengejar Si Bayangan Iblis dengan nekat. Akan tetapi, tiba-tiba saja pedang saya terlepas dan mata saya menjadi gelap. Tahu-tahu pagi tadi saya siuman seperti yang lain, seperti baru bangun tidur saja.”

Liong-li yang ikut mendengarkan dapat memaklumi peristiwa itu. Si Bayangan Iblis memang lihai bukan main dan memiliki keringanan tubuh dan kegesitan yang luar biasa. Para penjaga itu adalah perajurit-perajurit biasa, bukan pasukan khusus, maka tentu saja dengan mudah dapat dirobohkan Si Bayangan Iblis tanpa mereka mampu mengenalnya. Kalau pasukan khusus yang terdiri dari perajurit-perajurit pilihan tentu akan lain lagi halnya, setidaknya para perajurit pasukan khusus tentu akan dapat melakukan perlawanan dan lebih banyak kemungkinan mereka akan dapat mengenal bayangan itu.

Agaknya Cian Hui juga berpendapat demikian, maka setelah dia melirik ke arah Liong-li yang nampak tidak tertarik, dia lalu berkata, “Sudahlah, engkau boleh pergi. Aku tidak akan melaporkan ke atasan, akan tetapi mulai sekarang, kalau terjadi hal-hal mencurigakan di pintu gerbang, engkau harus cepat melaporkannya kepadaku atau menyampaikan kepada pembantuku Teng Gun.”

Komandan jaga itu nampak girang mendengar ini. Bagaikan seekor ayam makan padi, kepalanya mengangguk-angguk dan diapun berpamit lalu pergi dari situ dengan hati lega.

“Bagaimana pendapatmu, Li-hiap?” setelah mereka hanya berdua saja, Cian Hui bertanya.

Liong-li mengerutkan alisnya. “Jelas bahwa Si Bayangan Iblis bukan hanya satu orang saja dan pembunuhan-pembunuhan misterius itu tentulah didalangi orang pandai yang mempunyai banyak anak buah! Dan mengingat bahwa mereka itu mampu bergerak leluasa dam menghilang penuh rahasia, aku semakin condong menduga bahwa mereka tentu bersembunyi di dalam istana, atau setidaknya, pemimpinnya berada di dalam istana. Bagaimana Ciang-kun, tentang rencana kita agar aku dapat diseludupkan ke istana?”

“Beres, Li-hiap! Sore hari ini juga engkau dapat dibawa ke istana. Sudah kuhubungi para pejabat di istana yang kukenal baik. Aku menceritakan bahwa engkau keponakanku dari dusun yang ingin sekali menjadi dayang, dan akhirnya kepala Thai-kam (laki-laki kebiri) yang mengepalai para dayang, yaitu Bong Thai-kam, dapat menerimamu. Ketika dia menanyakan namamu, aku mengatakan bahwa engkan she Kim bernama Siauw Hwa, akan tetapi sejak kecil biasa disebut Akim.”

“Bagus sekali nama itu, Ciang-kun!” Liong-li memuji.

“Ah, aku hanya ingat bahwa namamu memakai huruf Kim (emas), maka kupergunakan nama itu yang juga bisa dipakai sebagai nama keturunan. Sudah kupersiapkan perlengkapan yang harus kau bawa sebagai seorang gadis dusun, dan sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai gadis dusun yang tidak terlalu cantik akan tetapi juga jangan terlalu buruk.”

“Kenapa begitu, ciang-kun?” Liong-li menatap wajah perwira itu sambil tersenyum. “Bagaimana kalau aku membiarkan wajahku yang aseli?”

“Wah, jangan! Berbahaya kalau begitu. Baru sehari saja di sana tentu para pangeran akan saling memperebutkanmu, engkau pantas menjadi seorang puteri!”

“Ih, engkau memuji atau merayu, ciang-kun?”

“Boleh kau anggap kedua-duanya. Akan tetapi aku bicara serius. Di istana penuh dengan pangeran-pangeran mata keranjang, dan aku mendengar di sana penuh dengan hubungan-hubungan gelap dan kotor karena para pangeran itu tidak malu atau segan untuk mengganggu selir dan dayang ayah mereka.”

“Hemmm...” Liong-li mengangguk-ngangguk. Hal inipun tidak aneh baginya karena sudah banyak mendengar akan kehidupan kotor di balik gemerlapnya kedudukan tinggi dan penuh kehormatan itu.

“Oleh karena itulah maka amat berbahaya kalau engkau kelihatan terlalu cantik di istana, Li-hiap. Bukan saja niatmu melakukan penyelidikan akan menemui banyak rintangan, juga dirimu sendiri menjadi pusat perhatian dan akan datang gangguan yang akan menyulitkan keadaan dirimu. Sebaliknya, kalau penyamaranmu itu kelihatan terlalu jelek, juga akan mencurigakan, karena bagaimana mungkin seorang gadis yang buruk rupa dapat diterima sebagai dayang?”

“Tidak terlalu cantik akan tetapi tidak terlalu buruk, hemmm, memang sukar sekali, akan tetapi aku tahu apa yang kau maksudkan, Ciang-kun. Jangan khawatir, aku tidak akan nampak terlalu buruk, akan tetapi setiap orang pria di istana kalau bertemu dengan aku, sudah pasti tidak akan tertarik.”

“Harap engkau jangan khawatir, Li-hiap. Aku yang telah menerima bantuanmu, tentu tidak akan membiarkan engkau begitu saja. Syukur kalau penyelidikanmu berhasil dan rahasia pembunuhan itu dapat dipecahkan. Andaikata engkau menemui kesulitan di istana dan tidak ada jalan keluar lagi, akulah yang akan menghadap kaisar sendiri, dan aku yang akan bertanggung jawab, akan kuceritakan semua kepada kaisar sebab kehadiranmu di istana dan aku yakin, mengingat akan jasa-jasaku, kaisar akan suka memenuhi permohonanku untuk mengampuni dan membebaskanmu.”

Terharu juga hati Liong-li mendengar janji ini. Ia tahu bahwa ucapan itu bukan sekedar janji kosong. Orang segagah Cian Hui ini tentu tidak akan mundur dari tanggung jawab. Akan tetapi ia tidak menghendaki tugas ini gagal seperti itu.

“Kalau aku menemui kesulitan, tidak perlu engkau menghadap kaisar, Cian Ciang-kun, akan tetapi sampaikan saja suratku ini kepada rekanku.”

“Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)?” Cian Ciang-kun segera menduga.

Liong-li tidak merasa heran. Memang dunia kang-ouw sudah mengetahui belaka bahwa Hek-liong-li dan Pek-liong-eng adalah dua sekawan yang tak terpisahkan, apa lagi kalau menghadapi lawan tangguh dan bahaya besar.

“Benar, apakah engkau sudah tahu di mana harus mencari dan menemuinya, Ciang-kun?”

Cian Ciang-kun mengangguk. Sebagai seorang penyelidik terkenal di kota raja, tentu saja dia sudah menyelidiki di mana alamat pendekar luar biasa yang menjadi rekan dari Hek-liong-li itu. “Dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-Ouw di Hang-kouw?”

Liong-li mengangguk kagum. Orang ini memang pantas menjadi seorang penyelidik besar yang terkenal di kota raja. Ia menyerahkan sesampul surat yang sudah ia persiapkan kepada perwira itu. “Hanya kalau engkau mendengar bahwa aku menghadapi kesulitan dan terancam bahaya saja kau serahkan surat ini kepadanya. Kalau tidak, harap jangan engkau mengganggu ketenteramannya, Cian Ciang-kun!”

Siang hari itu, Liong-li beristirahat dan tidur untuk memulihkan kembali tenaganya dan menghilangkan lelahnya. Ia menghadapi pekerjaan besar dan berbahaya dan ia harus memiliki tubuh yang sehat dan pikiran yang jernih kalau masuk ke dalam istana sore nanti.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 06 karya kho ping hoo

Dusun Kim-tang merupakan dusun terakhir di sepanjang jalan panjang menuju ke Telaga See-ouw dan karena semua pelancong yang menuju ke Telaga See-ouw yang indah itu harus melewati dusun ini, maka dusun menjadi ramai dan penghuninya semakin banyak. Mereka membuka kedai-kedai minuman dan makanan, bahkan ada pula yang membuka rumah penginapan sederhana. Kalau ada pelancong kemalaman di tengah perjalanan, tentu mereka akan merasa senang sekali mendapatkan rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan di dalam dusun ini.

Karena dusun itu seringkali dikunjungi pelancong-pelancong dari kota yang hendak pesiar ke Telaga See-ouw, maka para penghuni dusun itu sudah biasa melihat orang-orang kota yang berpakaian mewah, melihat pria-pria tampan, dan wanita-wanita cantik. Itulah sebabnya, ketika seorang wanita yang amat menarik memasuki sebuah rumah makan di dusun itu pada suatu sore.

Tidak ada yang merasa heran, walaupun hampir setiap orang pria yang melihat wanita ini, otomatis mengangkat muka dan sepasang mata mereka mengeluarkan sinar penuh kagum. Seorang wanita yang cantik manis dengan tubuh yang penuh lekuk lengkung yang matang menggairahkan! Seorang wanita yang membuat setiap orang pria yang berpapasan dengannya tak dapat menahan diri untuk tidak menoleh dan memandang sekali lagi penuh kagum.

Wanita itu memasuki rumah makan dengan langkah perlahan dan lenggang yang gontai, tanda bahwa ia lelah. Namun lenggang yang seenaknya itu bahkan membuat pinggulnya menari-nari dengan indahnya, tidak dibuat-buat, dan pinggang yang ramping itu seperti batang pohon yang-liu tertiup angin ribut sehingga meliuk-liuk ke kanan kiri dengan lenturnya!

Usianya sekitar dua puluh enam tahun. Wajahnya manis dan jelita, terutama sekali yang indah dan penuh daya tarik adalah mata dan mulutnya. Mata itu demikian jeli dan kocak, dengan kerling-kerling yang amat tajam. Mata yang sipit namun lebar itu agaknya dapat melihat ke semua arah tanpa menggerakkan leher. Bulu matanya yang lebat melindungi mata itu sehingga ke mana arah lirikannya tidak begitu menyidik.

Dan mulutnya! Melihat mulut itu saja, bagi seorang pria yang panas, sudah merupakan suatu penglihatan yang menantang dan mendebarkan, seolah-olah mulut itu menantang untuk dicinta dan dicium. Sepasang bibir yang penuh dan lembut, dengan garis bibir melengkung seperti gendewa dipentang, kulit bibir tipis dan kemerahan selalu nampak kebasah-basahan, segar seperti buah masak dan lekuk-lekuk tipis membayang di kanan kiri mulut. Deretan gigi putih kadang-kadang mengintai dari balik belahan bibir kalau ia bicara. Bukan main!

Akan tetapi, ada sesuatu pada wanita itu yang membuat para pria yang memandang kagum, tidak berani sembarangan memperlihatkan kekaguman mereka secara kurang ajar atau tidak sopan. Wanita itu mengenakan pakaian serba hijau yang ketat, yang membuat keindahan bentuk tubuhnya nampak nyata, dengan lekuk lengkung sempurna di tempat-tempat tertentu.

Dan di punggungnya, selain tergendong sebuah buntalan pakaian dari kain kuning, juga nampak gagang sepasang pedang yang disatukan! Dan sikap tenang itu, di samping sepasang pedangnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang bukan saja cantik jelita, akan tetapi juga tidak boleh dibuat sembarangan. Seorang wanita kang-ouw!

Dugaan itu tidak keliru. Wanita ini bukan lain adalah wanita yang pernah dibicarakan oleh Cian Hui kepada Hek-liong-li. Ia adalah Cu Sui In, keponakan dari isteri CiokTai-jin di kota raja. Cu Sui In memang benar murid Kun-lun-pai, yang boleh dibilang sudah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dari Kun-lun-pai.

Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa wanita ini sejak berusia lima tahun, telah digembleng oleh seorang di antara pimpinan Kun-lun-pai. Sampai berusia duapuluh tahun, selama limabelas tahun ia belajar ilmu-ilmu yang tinggi dan ditambah pula dengan bakatnya, maka setelah dewasa iapun menjadi seorang pendekar wanita Kun-lun-pai.

Selain lihai ilmu silat tangan kosongnya, dan pandai memainkan delapanbelas macam senjata, Sui In memiliki keistimewaan dalam ilmu pedang pasangan dan iapun menerima hadiah sepasang pedang yang amat baik dari para pimpinan Kun-lun-pai ketika ia meninggalkan perguruan Kun-lun-pai yang terkenal itu.

Setelah meninggalkan perguruan, iapun diajak oleh bibinya ke kota raja. Bibinya menjadi isteri Pembantu Menteri Pajak, Ciok Tai-jin, dan tentu saja sebagai seorang gadis yang amat cantik, sebentar saja pinangan datang bagaikan hujan. Akhirnya, mengingat usianya yang sudah duapuluh tahun, dan dalam keadaan yatim piatu, dia tidak menolak ketika bibinya dan pamannya memilihkan jodoh untuknya.

Jodohnya itu seorang terpelajar yang sudah lulus ujian negara dan telah diangkat menjadi seorang pejabat yang memiliki masa depan yang amat baik. Dia seorang pemuda she Cia dan tentu saja pilihan seorang pejabat tinggi yang jujur seperti Ciok Tai-jin, pemuda Cia inipun seorang pejabat yang jujur dan aetia. Dan memang benar pilihan Ciok Tai-jin, dalam waktu lima tahun saja, kedudukan, suami Sui In meningkat tinggi karena dia dipercaya oleh kaisar dan merupakan seorang pejabat yang amat baik.

Karena suaminya seorang yang lembut dan baik, maka setelah menjadi isteri Cia, Sui In mencintai suaminya dengan sepenuh hatinya. Hanya sayang, setelah menikah selama lima tahun, mereka tidak dikurniai putera. Dan hal inilah agaknya yang menciptakan kerenggangan, dalam hubungan suami isteri itu. Cia Tai-jin, yang masih muda itu, baru berusia tigapuluhan tahun, mula-mula mengambil seorang selir dengan alasan agar mendapatkan keturunan. Akan tetapi dari seorang, lalu bertambah sampai belasan orang!

Sui In merasa terpukul dan tersiksa batinnya mulailah terdapat kerenggangan dalam hubungan di antara mereka. Sui In kecewa. Kecewa karena tidak mempunyai anak, kemudian kecewa karena ia kehilangan suaminya pula, kehilangan cintanya yang membuat hatinya merasa hambar dan akhirnya iapun tidak lagi mempunyai gairah cinta kepada suaminya kecuali hanya sebagai seorang wanita yang harus bersikap manis kepada seorang pria yang telah menjadi suaminya.

Hubungan di antara mereka hanya tinggal hubungan kewajiban belaka, tanpa kasih sayang lagi. Kemudian, terjadilah malapetaka itu! Suaminya terbunuh, menjadi korban dari Kwi-eng-cu Si Bayangan Iblis yang sedang mengamuk dan melakukan serangkaian pembunuhan di kota raja! Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi Sui In yang mendapatkan dirinya menjadi seorang janda tanpa anak!

Kalau saja suaminya tidak mempunyai banyak selir, kalau hubungan di antara mereka masih seperti dahulu, belum tentu suaminya akan terbunuh penjahat! Ia tentu akan mampu melindungi suaminya. Akan tetapi suaminya mati terbunuh ketika tidur bersama seorang di antara selir-selirnya, terbunuh bersama selirnya pula. Dan iapun tidak dapat berbuat sesuatu!

Memang ada juga perasaan marah dan ia sudah berusaha untuk mencari pembunuh suaminya. Namun, seperti juga usaha semua orang yang bertugas mencari pembunuh itu, usahanya gagal dan ia tidak pernah mampu menemukan Si Bayangan Iblis walaupun pernah ia menggagalkan usaha Si Bayangan Iblis untuk membunuh pamannya, yaitu Ciok Tai-jin!

Ketika itu, iapun hanya melihat berkelebatnya bayangan yang menyeramkan itu. Ia mengejar, namun tidak berhasil menemukannya. Dan sejak itu, setelah tahu bahwa pamannya juga terancam, Sui In selalu berjaga-jaga dan ia mendapatkan sebuah kamar berdampingan dengan kamar paman dan bibinya. Rasa kecewa, duka dan marah membuat Sui In tidak enak makan tidak nyenyak tidur. Kalau saja ia mempunyai anak, maka ditinggal mati suaminya ini tentu tidak begitu hebat. Kini ia hidup menjanda, baru berusia dua puluh enam tahun, namun tidak mungkin menikah lagi!

Pada jaman itu, bagi seorang janda, apa lagi janda seorang pejabat tinggi, tentu saja merupakan hal yang memalukan dan merendahkan kalau ia menikah lagi! Setiap orang janda dipaksa oleh lingkungan dan keadaan dan kesusilaan untuk tinggal menjanda selama hidup!

Dan ia baru berusia dua puluh enam tahun, cantik manis dan bagaikan setangkai bunga sedang semerbak harum, sedang mekar-mekarnya membuat para kumbang mabok kepayang. Ia merasa seperti seekor burung dalam sangkar emas yang sempit. Ia ingin terbang, ingin bebas di udara. Akan tetapi, pamannya perlu dijaga dan dilindungi keselamatannya! Pamannya orang yang amat baik hati dan ia telah berhutang banyak budi kepada pamannya.

Dan memang Ciok Tai-jin seorang yang bijaksana. Pembesar ini cukup waspada dan dia tahu benar betapa keponakan isterinya yang kini menjadi janda setiap hari termenung dan tenggelam dalam duka, maka pada suatu malam, dia dan isterinya mengajak janda muda ini bicara dari hati ke hati.

“Sui In,” kata Ciok Tai-jin. “Sudah beberapa bulan sejak suamimu meninggal dunia, engkau pindah ke rumah kami dan engkau menjaga keselamatanku, terutama di waktu malam. Akan tetapi kami melihat engkau tenggelam dalam duka dan engkau jelas kelihatan tidak betah tinggal di sini. Engkau jarang makan dan setiap malam menjaga keamanan, hanya tidur sebentar di waktu siang. Sui In, katakanlah, apa yang kaukehendaki! Jangan sampai kami orang-orang tua yang menjadi penghalang kebahagiaanmu, kami tahu betapa nasibmu gelap dipenuhi duka, dan kami tidak ingin menambah beban penderitaan batin yang kau pikul dengan memaksamu bertugas seperti ini.”

Ditanya demikian, Sui In menangis. Bibinya merangkulnya dan setelah dapat mengatur pernapasannya yang penuh duka, Sui In lalu memberi homat kepada paman dan bibinya. “Sebetulnya, sudah lama saya ingin bicara, akan tetapi saya takut kalau dianggap sebagai orang yang kejam dan tidak mengenal budi. Paman terancam penjahat, bagaimana mungkin saya meninggalkan paman? Ah, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan atau saya perbuat. Kalau saja saya dapat mengetahui siapa si laknat Kwi-eng-cu itu! Tentu akan saya tantang untuk mengadu nyawa!”

“Sui In, katakan saja apa sebenarnya yang kau kehendaki. Mengenai diriku dan keselamatanku, tidak perlu kau pikirkan benar. Kalau perlu, aku dapat minta bantuan panglima untuk mengirim beberapa orang jagoan agar menjadi pengawal pribadiku. Katakanlah, apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Paman, saya ingin mencari pembunuh suamiku itu sampai dapat, agar saya dapat membalas kematian suamiku!” kata Sui In penuh semangat.

“Bukankah selama ini engkau sudah berusaha mencarinya? Bahkan bukan hanya engkau yang mencarinya. Pemerintah juga mencari dan aku mendengar bahwa Cian Ciang-kun sendiri yang turun tangan untuk mencari dan membongkar rahasia Si Bayangan Iblis.”

“Akan tetapi sampai kini tidak ada hasilnya, paman. Si Bayangan Iblis itu terlalu lihai dan agaknya saya harus mencari bantuan.”

“Bantuan siapa, Sui In?”

“Saya mempunyai seorang susiok (paman guru) yang pandai, paman, dan dia kini kabarnya bertapa di bukit sunyi dekat Telaga See-ouw. Saya ingin mencari dia dan minta bantuannya. Dengan bantuannya, tentu saya akan dapat menemukan Si Bayangan Iblis yang mengacau di kota raja itu.”

Ciok Tai-jin mengangguk-angguk dan meraba-raba jenggotnya. “Hemm, pikiran yang bagus, Sui In. Kenapa engkau tidak mencarinya?”

“Itulah paman, yang menjadi pemikiranku. Aku tahu bahwa paman juga terancam Si Bayangan Iblis, maka saya tidak berani meninggalkan paman. Saya harus selalu melindungi paman dari serangannya.”

“Engkau benar sekali, Sui In keponakanku yang baik, kalau bukan engkau yang melindungi keselamatan pamanmu, habis siapa lagi yang dapat kami percaya?” kata bibinya yang merasa khawatir sekali akan keselamatan suaminya.

“Ah, engkau ini hanya mementingkan diri sendiri saja!” tegur Ciok Tai-jin kepada isterinya, lalu memandang keponakannya. “Sui In, mengenai diriku, jangan khawatir. Aku akan mengundang beberapa orang jagoan untuk melindungiku. Kalau kau pikir, dengau bantuan susiokmu itu engkau akan dapat menangkap Si Bayangan Iblis, pergilah mencarinya. Apakah engkau memerlukan pasukan untuk menemanimu?”

Bukan main girang dan lega rasa hati Sui In. “Tidak perlu, paman. Saya dapat pergi sendiri saja. Kalau sudah bertemu susiok, saya akan mengajaknya ke sini, paman. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari saya, maka dengan bantuannya, tentu kami akan dapat meringkus Si Bayangan Iblis dan kematian suami saya dapat terbalas.”

Demikianlah, dengan bekal pakaian, uang dan membawa sepasang pedangnya Sui In meninggalkan rumah gedung pamannya dan melakukan perjalanan ke See-ouw. Ia tidak tahu bahwa beberapa hari setelah ia pergi, rumah gedung Pamannya diserbu Si Bayangan Iblis dan seperti telah kita ketahui, serbuan itu gagal berkat kehadiran Liong-li. Andaikata tidak ada Liong-li, walaupun di situ terdapat beberapa orang jagoan pengawal yang diundang Ciok Tai-jin sebagai pengganti Sui In, tentu keselamatan Wakil Menteri Pajak itu terancam bahaya maut.

Sui In yang melakukan perjalanan, pada suatu sore tiba di dusun Kim-tang dan karena sehari itu ia melakukan perjalanan cukup jauh tanpa berhenti, bahkan tidak makan siang, perutnya terasa lapar dan iapun memasuki sebuah rumah makan di dusun yang ramai itu. Biarpun ia tahu betapa banyak pasang mata pria melemparkan pandangan kagum kepadanya, Sui In yang sudah terbiasa akan hal itu, tidak perduli lalu menghampiri meja kosong yang ditunjukkan seorang pelayan yang menyambutnya.

“Toanio hendak memesan apakah? Makanan? Minuman?” tanya pelayan muda itu dan pandang matanya yang menatap wajah tamu itupun penuh dengan kekaguman.

“Aku lapar dan ingin makan. Beri nasi putih dan masakan apakah yang paling lezat dan terkenal di rumah makan ini?” Sui In sehari tidak makan dan ia ingin makan enak.

Pelayan itu segara menjawab tanpa dipikir lagi karena pertanyaan seperti itu seringkali dia dengar dari para pelancong yang datang dari kota. “Masakan kami yang paling lezat dan terkenal adalah Ikan Lee dimasak jahe, nona. Ikan Lee dari Telaga See-ouw aseli, gemuk dan semua tulangnya dibersihkan. Juga masakan kami Udang Saus tomat amat sedap. Sup ayam jamur kami juga enak.”

“Cukup sudah. Beri aku masakan tiga macam itu, nasi putih dan air teh.”

“Arak, toanio (nyonya)?”

“Tidak, atau... kalau ada anggur merah yang tidak begitu keras boleh juga beri sebotol kecil saja.”

Pelayan itu mundur dan Sui In termenung. Ketika ia menjadi pengantin baru, pernah suaminya mengajaknya pesiar ke Telaga See-ouw. Rumah makan ini belum ada, akan tetapi suaminya juga menyuruh beli masakan-masakan yang lezat dan mereka makan di perahu. Pedih rasa hati Sui In. Betapa lamanya sudah peristiwa yang mesra itu lewat, hanya tinggal kenangan. Jauh sebelum suaminya meninggal dunia, kemesraan itu sudah lenyap tak berbekas lagi. Tidak, ia tidak menyalahkan suaminya, hanya menyalahkan nasib dirinya. Andaikata ia dikurniai putera, tentu suaminya tidak mau menengok wanita lain dan kemesraan itu dapat dipertahankan.

Sudah, ia tidak mau lagi mengenangkan semua itu. Dan baru setelah suaminya tewas, ia menemukan dirinya sendiri. Ketika menikah dengan suaminya itu, tidak ada rasa cinta dalam batinnya. Itu masalahnya cintanya adalah cinta yang ia paksakan, untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang isteri. Dan suaminya memang seorang yang bijaksana. Banyak sudah budi diterimanya dari suaminya, bahkan kini sebagian besar harta peninggalan suaminya diberikan kepadanya. Ia menjadi seorang janda yang muda dan kaya.

Hartanya itu ia titipkan kepada pamannya, Pembantu Menteri Pajak. Dan pihak mertuanya juga mau membebaskannya, tidak mengikatnya, karena memang ia tidak mempunyai anak dari keluarga Cia. Mereka itu amat baik kepadanya. Ia berhutang budi kepada keluarga Cia. Karena itu, ia baru mencari pembunuh suaminya dan membalas dendam itu!

Tak lama kemudian, lamunannya membuyar ketika pelayan datang membawakan masakan yang dipesannya. Masih mengepul panas tiga macam masakan itu dihidangkan di depannya, berikut nasi putih, air teh dan sebotol anggur merah. Hidungnya kembang kempis. Masakan itu mengepulkan uap yang sedap, juga anggur merah itu ketika dibuka tutupnya, menghamburkan bau yang harum dan lezat. Perutnya segera berkeruyuk menghadapi tantangan itu.

Sui In makan seorang diri. Pelayan tadi tidak membual. Masakan ikan Lee dengan jahe itu sedap bukan main. Daging ikannya lunak dan sama sekali tidak ada tulangnya. Gurih bukan main, dan cocok dimakan dengan bumbu penyedap kecap manis. Nasi putihnya juga hangat dan harum. Ketika ia mencoba masakan lain, ia girang dan kagum. Udang saus tomat itupun enak. Udangnya sebesar jari kaki, dagingnya putih kemerahan dan terasa manis, dan tidak berbau amis. Juga ikan Lee itu tidak berbau amis. Pandai memang tukang masaknya. Dan sup ayam dengan jamur itupun sedap dan segar. Kuahnya enak sekali.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, biarpun sedang tenggelam dalam kenikmatan dan kelezatan makan, tetap saja Sui In tidak pernah lengah dan baik telinganya, maupun kerling matanya, tidak pernah melepaskan perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Oleh karena itu, iapun tahu ketika ada tiga orang tamu baru saja masuk dan duduk di meja sudut kiri dalam, hanya terpisah lima meja saja dari tempat duduknya.

Dengan kerling mata ke kiri, ia melihat bahwa tiga orang itu adalah laki-laki yang berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, ketiganya berpakaian mewah namun masih jelas dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan. Yang seorang, paling tua berusia lima puluhan tahun, bertubuh jangkung dan rambutnya sudah putih semua walaupun mukanya masih nampak muda. Senyumnya anggun dan sikapnya berwibawa, sinar matanya tajam dan memerintah. Di punggungnya nampak gagang sebatang pedang.

Dua orang kawannya bersikap sebagai orang bawahan, usia mereka kurang lebih empatpuluh sampai empatpuluh lima tahun. Seorang di antara mereka bertubuh gendut dan mukanya dipenuhi tawa, cerah dan lucu, akan tetapi matanya menyinarkan kekejaman. Orang kedua pendek kurus condong ke arah cebol, akan tetapi mukanya bengis. Dua orang inipun membawa pedang yang tergantung di punggung.

“Heii, pelayan! Bawa arak seguci besar! Cepaaatt!!” terdengar si gendut berteriak.

Pelayan berlari-lari mendatangi dan pria jangkung itu dengan suara lembut namun tegas dan galak, memesan masakan. Sui In tidak mau memperhatikan lagi karena si gendut itu terang-terangan memandangnya dengan sikap kurang ajar. Apalagi pada saat itu, perhatiannya tertarik oleh seorang tamu baru yang memasuki ruangan itu. Seorang pria yang bukan main! Pria itu usianya kurang lebih duapuluh tujuh tahun.

Tubuhnya sedang saja, namun tegak dan gagah. Wajahnya tampan dan jantan, wajah yang agaknya sudah digembleng kekerasan hidup. Namun pakaiannya yang terbuat dari sutera putih-putih itu berpotongan pakaian seorang pelajar atau sasterawan. Pakaian itulah yang membayangkan kelembutan seorang siu-cai (sarjana), namun lekuk di dagunya membayangkan kejantanan yang kuat.

Biarpun hanya memandang sepintas lalu, diam-diam Sui In kagum. Rasa kewanitaannya tersentuh. Seorang pria yang jantan dan penuh daya tarik, pikirnya. Akan tetapi perasaan itupun hanya lewat saja, karena ia bukanlah seorang wanita yang mudah terguncang ketampanan seorang pria. Akan tetapi ia masih sempat melihat betapa pria itupun ketika duduk di mejanya, hanya terpisah dua meja dari tempatnya, menatap kepadanya dan diam-diam ia terkejut. Tatapan mata itu sungguh luar biasa.

Sepasang mata yang mencorong penuh wibawa, akan tetapi karena mulutnya tersenyum, maka wajah itu nampak lembut. Orang muda itu tentu seorang sarjana yang lembut dan pintar, pikir Sui In, akan tetapi tentu saja lemah. Seperti mendiang suaminya. Akan tetapi suaminya memang lemah sekali, bahkan lembut seperti wanita.

Pria di depannya ini jantan, walaupun hanya seorang sasterawan atau seorang terpelajar. Tidak membawa senjata, juga tidak nampak bayangan kekerasan. Bahkan pakaiannya yang serba putih, itu nampak bersih sekali. Sungguh jauh bedanya dengan tiga orang pria yang pertama itu, penuh kekerasan.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa dari meja di sudut kanan. Di sana sejak tadi memang ada empat orang laki-laki muda sedang makan minum dan kini agaknya mereka sudah mabok-mabokan. Sui In tadipun sudah melihat mereka. Empat orang pemuda dari kota, mungkin putera-putera orang kaya atau orang berpangkat. Usia mereka antara duapuluh sampai duapuluh empat tahun dan lagak mereka menjemukan. Jelas bahwa mereka adalah orang-orang muda yang royal, tidak pandai cari uang akan tetapi pandai menghamburkannya.

Tadi pun mereka memandang ke arah Sui In dengan sinar mata mengandung kekurangajaran, akan tetapi Sui In tidak memperdulikan mereka, bahkan selanjutnya tidak pernah melirik ke arah meja mereka karena ia tahu bahwa pemuda-pemuda hidung belang seperti itu, sekali dilirik tentu akan menjadi semakin berani dan semakin kurang ajar. Ia tentu saja tidak takut kepada mereka, akan tetapi iapun tidak ingin memancing keributan.

“Ha-ha-ha, setiap orang dapat saja membawa pedang, untuk perhiasan!”

“Ha-ha, atau mungkin juga untuk lagak saja, untuk menakut-nakuti!”

Empat orang pemuda itu tertawa-tawa lagi. Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar, terang-terangan kini memandang kepada Sui In dan bicaranya kini lebih berani. “Ia makan minum seorang diri saja, sayang seorang secantik itu. Biar kuajaknya ia makan minum bersama kita.”

“Huh, kau takkan berani! Ia tentu sudah bersuami,” kata seorang temannya yang kurus.

“Apa? Aku tidak berani mengajak seorang wanita? Hemm, biar ia gadis atau isteri orang, kalau Ji-kongcu (tuan muda Ji) yang mengajaknya, pasti ia mau! Ha-ha-ha, kalian lihat saja!”

Si kepala besar ini bangkit berdiri ditertawai oleh si kurus yang berpakaian mewah. Dua orang kawan lain yang berpakaian seperti orang-orang ahli silat hanya tersenyum-senyum saja. Agaknya mereka ini hanya pengikut dan memang mereka adalah tukang-tukang pukul pemuda she Ji itu.

Pada saat itu, Sui In sudah selesai makan dan ia merasa lega bahwa gangguan itu datang setelah ia selesai makan, karena kalau tidak tentu akan mengganggu selera makannya. Ia merasa kenyang dan puas. Ikan Lee itu memang lezat sekali, dan jahe itu membuat perutnya terasa hangat, apa lagi ditambah anggur merah.

Ia tahu bahwa gangguan datang karena percakapan yang terang-terangan dan tidak lirih itu jelas ditujukan kepadanya. Di rumah makan itu, hanya ia seoranglah wanita yang makan sendirian. Ada pula beberapa orang wanita akan tetapi mereka makan dengan keluarga mereka dan kebetulan wanita yang masih muda hanya ia seorang. Siapa lagi kalau bukan ia yang mereka maksudkan?

Iapun tidak merasa heran ketika pemuda berpakaian mewah yang kepalanya besar itu dengan jalan terhuyung karena setengah mabok, menghampiri mejanya. Ia pura-pura tidak tahu, bersikap tenang saja sambil menghirup teh panas yang harum dari mangkok teh yang kecil. Akan tetapi karena kebetulan duduknya menghadap ke arah meja di mana duduk pemuda berpakaian putih, untuk pertama kalinya sejak ia melihat pemuda ini masuk, ia memandang dan pada saat itu, si pemuda berpakaian putih juga sedang memandang ke arah mejanya.

Alis yang tebal hitam dari pemuda berpakaian putih itu sedikit berkerut ketika dia melihat si kepala besar mendekati meja Sui In sambil cengar cengir. Akan tetapi, hanya sebentar saja pandang mata mereka saling bertemu karena keduanya segera mengalihkan pandang mata.

Sui In harus memperhatikan pemuda mewah yang kini sudah bediri dekat mejanya, bahkan kedua tangannya diletakkan di tepi mejanya, dengan jari-jari direntangkan seolah-olah hendak memamerkan cincin yang. memenuhi semua jari kedua tangannya, kecuali, ibu jarinya...!

Si Bayangan Iblis Jilid 05

SEPASANG mata perwira itu terbelalak. “Be... benarkah itu, li-hiap? Benarkah kata-katamu itu? Aduh, kalau saja engkau suka dan mau, ah, kalau saja engkau dapat hidup di rumahku ini sebagai teman hidupku selamanya, sebagai isteriku, akan sempurnalah hidup ini!”

“Huh, melantur kau, Ciang-kun! Aku tidak mau terikat menjadi isteri siapapun, kalau menjadi teman baik sekali mungkin... akan tetapi sudahlah, kelak saja kita bicara tentang urusan pribadi. Kita menghadapi tugas penting yang harus kita selesaikan. Nah, sekarang engkau harus mencarikan jalan bagiku agar aku dapat menyelundup ke dalam istana sebagai seorang gadis dusun yang menjadi seorang dayang, pelayan atau apa saja, Ciang-kun.”

Cian Hui menarik napas panjang. Hatinya dipenuhi harapan muluk! Kalau saja wanita ini dapat menjadi isterinya! Liong-li telah, berterus terang mengatakan bahwa ia kagum dan suka kepadanya, dan suka pula menjadi teman baiknya. Seorang wanita yang bukan main! Hebat!

“Baiklah, li-hiap. Aku akan menghubungi sahabatku yang boleh dipercaya dan yang bertugas di dalam istana agar engkau dapat diselundupkan di sana. Hal itu mungkin akan makan waktu dua-tiga hari dan sementara itu, harap engkau suka tinggal dulu di sini. Selama aku pergi, anggaplah ini rumahmu sendiri, li-hiap. Tiga orang pelayanku akan kupesan agar mereka mentaati semua perintahmu.”

“Tidak perlu sungkan, Ciang-kun. Asal aku mendapatkan sebuah kamar di sini sudahlah cukup dan tiga orang pelayanmu bahkan jangan mendatangi kamarku kalau tidak kupanggil. Kalau aku membutuhkan sesuatu, aku akan memanggil seorang di antara mereka. Akupun tidak bisa tinggal diam saja. Selagi engkau mencari hubungan dengan orang dalam istana itu, akupun akan menggunakan waktu dua tiga hari ini untuk melakukan penyelidikan, terutama di waktu malam, dengan jalan meronda. Siapa tahu aku akan dapat bertemu dengan Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)!”

Cian Hui mengangguk-angguk. “Baiklah, Li-hiap, akan tetapi harap engkau berhati-hati karena menurut berita yang kuperoleh, Si Bayangan Iblis itu lihai bukan main dan dapat bergerak seperti iblis saking cepatnya.”

Malam hari itu, setelah cuaca gelap sesosok bayangan hitam berkelebat di atas wuwungan rumah gedung tempat tinggal Cian Ciang-kun. Tiga orang pelayan perwira itu sama sekali tidak melihat bayangan itu, tidak tahu bahwa bayangan itu adalah bayangan “nenek” yang menjadi tamu tuan mereka.

Memang Liong-li tidak ingin ada orang melihatnya ketika ia mulai melakukan penyelidikan di kota raja. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan sengaja menutup mukanya dengan saputangan hitam, hanya nampak sepasang matanya saja yang jeli mencorong tajam. Rambutnya juga ditutup kain hitam, bahkan pedang pusaka Hek-liong-kiam yang biasanya tidak pernah berpisah darinya, pada saat itupun tidak dibawanya dan disembunyikan di suatu tempat yang aman.

Hal ini menunjukkan bahwa Liong-li tidak ingin ada orang mengetahui bahwa si topeng hitam itu adalah Hek-liong-li! Hal ini penting sekali. Ia akan menyelundup ke dalam istana dan biarpun ia menyelundup sambil menyamar, akan tetapi siapa tahu pihak lawan bermata tajam dan lihai. Pendeknya, jangan sampai lawan mengetahui bahwa yang kini sedang bergerak di kota raja membantu Cian Ciang-kun adalah Hek-liong-li. Bergerak secara rahasia begini ia akan dapat merasa lebih leluasa.

Setelah berhasil keluar dari rumah besar itu, tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menembus kegelapan malam dan kalau tidak kebetulan ada orang lain yang berada di dekatnya, tentu tidak akan nampak jelas bayangan hitam yang berkelebatan itu. Dan mungkin saja ia yang akan dikira tokoh yang biasa diberi sebutan Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) karena memang gerakannya itu seperti beterbangan saja saking cepatnya. Dan iapun tidak melalui jalan yang ramai, melainkan menyelinap dan menyusup di balik pohon dan rumah, kadang-kadang kalau terpaksa melalui bagian yang ramai ia melompat ke atas wuwungan rumah dan berloncatan dari genteng rumah yang satu ke rumah yang lain.

Demikianlah, semalam itu Liong-li melakukan perondaan. Ia melihat betapa banyaknya orang yang berkeliaran secara rahasia, maka iapun kagum melihat cara Cian Ciang-kun bekerja. Tidak salah lagi, orang-orang yang berkeliaran dan berjaga-jaga di segala tempat itu, tentulah anak buah yang disebar oleh Cian Ciang-kun!

Ia telah mendekati pula tembok pagar istana yang dijaga ketat. Alangkah kuatnya penjagaan di sana dan seekor burungpun kalau terbang lewat akan ketahuan penjaga, apa lagi seorang manusia. Agaknya, tidak akan mungkin kalau ia harus memasuki kompleks istana di balik pagar itu tanpa diketahui penjaga. Ia hanya mengelilingi kompleks istana itu dari luar pagar tembok. Hal inipun harus ia lakukan dengan hati-hati sekali karena di luar pagar tembokpun penjagaan amat ketatnya.

Tidak ada terjadi sesuatu yang menarik malam itu. Kecuali memergoki beberapa orang yang mencurigakan dan ketika ia bayangi ternyata mereka itu hanyalah maling-maling biasa yang mencari korban di malam itu, dan yang ia biarkan saja karena tidak ada hubungannya dengan tugasnya, ia tidak melihat sesuatu yang dapat dihubungkan dengan Kwi-eng-cu. Dengan hati agak kecewa dan penasaran, menjelang pagi Liong-li kembali ke rumah Cian Ciang-kun dan memasuki kamarnya tanpa diketahui tiga orang pelayan. Iapun tidak tahu apakah Cian Hui sudah berada di dalam kamarnya.

Pada siang harinya Liong-li keluar dari dalam kamarnya. Ia telah mandi dan makan sarapan pagi yang ia minta dari seorang pelayan wanita. Mendengar suaranya, Cian Ciang-kun segera datang menemuinya. Perwira itupun kelihatan lelah seperti orang yang kurang tidur. Begitu bertemu, Cian Hui mempersilakan Liong-li duduk dan mereka bercakap-cakap di ruangan dalam setelah pelayan menghidangkan minuman dan mengundurkan diri tanpa diperintah.

“Bagaimana hasil penyelidikanmu semalam, li-hiap?”

Liong-li mengangkat muka, sepasang mata yang tajam di balik penyamaran wajah nenek keriput itu menatap wajah Cian Hui penuh selidik. “Engkau tahu bahwa aku semalam meninggalkan kamarku, Ciang-kun?”

Cian Hui tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Sebelum engkau pergi, aku telah lebih dahulu meninggalkan rumah, dan tiga orang pelayanku sama sekali tidak melihat engkau pergi. Akan tetapi, ada seorang di antara orang-orangku yang bertugas jaga dan meronda malam tadi, melihat berkelebatnya bayangan hitam. Dia melapor kepadaku dan akupun menduga bahwa bayangan itu tentu engkau.”

“Kenapa aku? Bukankah mungkin bayangan itu adalah Si Bayangan Iblis?”

“Sudah kuceritakan kepadamu, li-hiap, bahwa Si Bayangan Iblis itu merupakan bayangan yang menakutkan tinggi besar dan juga di kepalanya ada dua tanduk! Akan tetapi, pembantuku yang melapor tadi mengatakan hahwa bayangan hitam itu hanya berkelebat cepat, akan tetapi jelas kepalanya tidak bertanduk dan juga tubuhnya ramping. Karena engkau kemarin sudah memberitahu kepadaku bahwa malam ini engkau hendak melakukan penyelidikan, maka tentu saja mudah bagiku untuk mengambil kesimpulan bahwa engkaulah bayangan itu. Tidak benarkah dugaanku, li-hiap?”

Liong-li mengangguk. “Aku melihat orang-orangmu itu, Cian Ciang-kun. Suatu usaha penjagaan yang cukup ketat dan baik. Akan tetapi aku melihat betapa di sekeliling tembok istana tidak terdapat orangmu yang berjaga melakukan pengamatan, Ciang-kun.”

Cian Hui menarik napas panjang dengan wajah kesal. “Tadinya memang ada kutaruh orang-orang di sekeliling istana, li-hiap. Akan tetapi hanya satu malam saja karena pada kesokan harinya aku ditegur oleh panglima pasukan keamanan yang bertugas untuk menjaga bagian luar istana. Pengamatan orang-orangku itu membuatnya tersinggung, seolah-olah aku tidak percaya kepada pasukan yang dipimpinnya. Terpaksa aku menghentikan penjagaan di sekeliling istana, li-hiap.”

“Hemm, sungguh sulit sekali kalau keadaannya seperti itu. Biarpun tidak mungkin orang keluar masuk melompati pagar tembok istana tanpa diketahui penjaga, namun sangat besar kemungkinannya di beberapa tempat terdapat pintu rahasia dari mana orang dapat keluar masuk. Dan kalau benar terdapat pintu rahasia, maka seorang yang memiliki gerakan cepat dapat keluar masuk tanpa diketahui penjaga yang berjaga di atas tembok pagar itu. Semalam aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Akan tetapi malam ini aku akan melakukan penyelidikan lagi. Dan bagaimana dengan hasil yang kau dapatkan, Ciang-kun?”

“Sudah kuhubungi dan sahabatku itu sedang mengusahakan agar engkau dapat diselundupkan masuk sebagai seorang dayang baru, li-hiap. Dia harus lebih dulu menghubungi kepala Thai-kam dan beberapa orang pejabat yang berwenang mengurus hal itu. Paling cepat lusa baru engkau akan dapat memasuki istana.”

“Bagus, kalau begitu masih ada dua malam lagi untuk melakukan perondaan. Siapa tahu akan menemukan sesuatu. Sekarang aku minta agar engkau suka memperkenalkan nama dan keadaan orang-orang penting di dalam istana, juga aku ingin mengetahui orang-orang di luar istana yang sekiranya terancam bahaya pembunuhan Kwi-eng-cu, yaitu orang-orang yang dekat dengan kaisar. Siapa tahu, sewaktu aku meronda, orang-orang ini didatangi pembunuh.”

Dengan senang hati Cian Ciang-kun memperkenalkan nama para pejabat tinggi di dalam istana, dari Kaisar, Permaisuri, Putera Mahkota yang masih kecil, kepala Thai-kam yang ada beberapa orang komandan-komandan pasukan pengawal luar dan dalam istana, dan sebagainya lagi. Juga Cian Ciang-kun memceritakan kepada Liong-li tentang kekuasaan Permaisuri atas diri Kaisar, betapa Permaisuri itu yang sekarang memegang kendali pemerintahan, walaupun yang menandatangani semua keputusan masih kaisar. Juga perwira ini dengan hati-hati menceritakan desas-desus yang didengarnya tentang penyelewengan-penyelewengan gelap yang dilakukan permaisuri.

Liong-li mendengarkan semua itu dengan tenang dan tidak merasa heran. Sudah lama ia mengetahui akan kehidupan para wanita di dalam istana seorang kaisar yang memiliki puluhan, bahkan sampai ratusan orang wanita yang melayaninya. Tidak mengherankan kalau seorang permaisuri sampai melakukan penyelewengan gelap. Suaminya, sang kaisar melakukan penyelewengan secara berterang, bukan dengan hanya seorang dua orang wanita, bahkan dengan puluhan atau ratusan orang!

Betapapun juga, desas-desus itu dapat pula dicatat sebagai sesuatu yang penting karena siapa tahu, hal itu ada pula hubungannya dengan pembunuhan-pembunuhan misterius itu. Ia mencatat pula para pangeran dan puteri kaisar yang tinggal di dalam istana, wajah mereka, usia mereka, nama mereka. Ia harus menghafal semua itu karena ternyata jumlah nama yang harus dikenal dan dihafalnya, terdapat puluhan orang!

Sudah dapat ia bayangkan, betapa akan sukarnya menyelidiki orang sebanyak itu di dalam kompleks istana yang terjaga ketat. Akan tetapi ia tidak merasa khawatir. Ia tidak akan mencari, melainkan akan memaksa dan memancing Si Bayangan Iblis untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan memperkenalkan diri kepadanya!

Seperti malam pertama, pada malam kedua Liong-li melakukan perondaan, dan sekali ini tempat-tempat yang ia kunjungi sudah tertentu, yaitu tempat tinggal para pejabat tinggi yang oleh Cian Ciang-kun dianggap mungkin sekali didatangi Si Bayangan Iblis. Akan tetapi, malam itupun sunyi saja, dan agaknya Si Bayangan Iblis menghentikan pembunuhan-pembunuhan misterius itu untuk sementara. Apakah si Bayangan Iblis sudah tahu bahwa ada seorang wanita sakti sedang berkeliaran melacak jejaknya?

Namun, Hek-liong-li bukan seorang yang mudah putus asa. Pada malam ketiga, kembali ia melakukan perondaan. Tengah malam telah tiba ketika bayangannya berkelebat di dekat rumah gedung tempat tinggal Ciok Tai-jin, seorang pembantu Menteri bagian Pemungutan Pajak, seorang pejabat tinggi yang menurut keterangan Cian Ciang-kun, amatlah setia dan jujur, dan karena adanya Ciok Tai-jin inilah maka rakyat tidak dikenakan pajak semena-mena, juga yang berpenghasilan besar tidak mampu mengelak dari kewajiban membayar pajak.

Mereka yang bekerja di bawah Ciok Tai-jin, tidak ada yang berani menyelewengkan uang pajak, atau menerima suapan dari pedagang besar agar pajaknya diperkecil, atau menekan rakyat yang tak berdaya dengan gertakan-gertakan mengandalkan kedudukan dan kekuasaan mereka. Penyelewengan para pejabat dapat dilaksanakan dengan lancar dan baik, segala bentuk penyelewengan atau korupsi dapat dibasmi kalau dimulai dari atas!

Kalau Sang Kaisar jujur dan bersih, tidak korupsi, sudah pasti Kaisar mampu dan berani untuk bertindak tegas dan keras terhadap para Menteri yang berani melakukan korupsi. Kalau Menterinya sudah tidak korupsi, tentu dia akan berani melakukan tindakan tegas terhadap para pejabat tinggi kepala daerah yang membantunya. Dan demikian seterusnya, kalau atasannya bersih, dia berani bertindak terhadap bawahannya sehinggga sampai di kalangan yang paling bawah tidak akan berani melakukan penyelewengan karena atasannya yang bersih selalu bersikap tegas.

Sebaliknya, biar ditindak dengan keras bagaimanapun juga terhadap seorang pejabat, kalau dia melihat atasannya juga menyeleweng, tentu akan sukar membuat dia jera atau sadar. Juga atasan yang menyeleweng tidak akan berani menegur bawahannya yang menyeleweng. Bagaikan seorang bapak dalam sebuah keluarga, dialah yang harus lebih dulu membersihkan diri baru dia akan dapat menegur anak-anaknya kalau mereka itu menyeleweng dan tegurannya itu akan ditaati.

Kalau si ayah penjudi, betapa mungkin dia melarang anak-anaknya agar tidak berjudi? Dia baru dapat melarang, menegur, bahkan menghukum anak-anaknya yang berjudi kalau dia sendiri tidak berjudi. Bukankah demikian kenyataannya? Sekali lagi, pemberantasan korupsi baru akan berhasil dengan gemilang kalau pembersihan dilakukan dari atas, terus menekan ke bawah!


Demikian pula halnya dengan Ciok Tai-jin, Pembantu Menteri Pajak itu. Dia seorang pejabat tinggi yang bersih dan jujur lagi setia. Bahkan saking jujurnya, namanya terkenal sebagai seorang di antara pejabat teladan atasannya sendiri, Sang Menteri Pajak akhirnya juga terseret ke arah yang baik karena atasan ini merasa malu hati terhadap pembantu atau wakilnya!

Dan Ciok Tai-jin ini merupakan seorang di antara mereka yang disebut oleh Cian Hui, yaitu mereka yang mungkin sekali menjadi incaran Kwi-eng-cu atau Si Bayangan Iblis karena dia adalah seorang yang setia kepada Kaisar dan penentang segala bentuk penyelewengan sehingga dia amat dihormat dan dipercaya oleh kaisar.

Liong-li sudah merasa kesal karena malam ini adalah malam terakhir kalau besok pagi ia dapat diselundupkan ke istana, dan ia belum pernah melihat sesuatu yang mencurigakan. Akan sia-sialah ia membuang waktu, tenaga dan berkorban tidak tidur selama tiga malam selama ini?

Ia bersembunyi di balik sebatang pohon yang tumbuh di kebun belakang rumah besar itu setelah tadi ia melakukan pemeriksaan di seluruh permukaan atap rumah itu tanpa berjumpa dengan sesuatu yang mencurigakan. Ia juga melihat beberapa orang petugas jaga di gardu jaga pekarangan depan, dan melihat pula beberapa bayangan orang kadang-kadang lewat di jalan depan rumah.

Ia menduga bahwa tentu bayangan-bayangan itu adalah anak buah Cian Ciang-kun. Akan tetapi apa artinya semua penjaga dan juga anak buah Cian Ciang-kun itu kalau benar ada seorang pembunuh yang berilmu tinggi datang? Takkan ada yang dapat melihatnya kalau pembunuh itu mempergunakan ilmunya. Buktinya, ia sendiri dapat memasuki kebun, bahkan melakukan penyelidikan ke atas atap tanpa ada yang mengetahuinya. Andaikata ia si pembunuh misterius itu, alangkah akan mudahnya menyelinap masuk dan mencari Ciok Tai-jin untuk dibunuhnya!

Tubuhnya juga mulai merasa lelah, karena terbawa kesalnya hati tidak mendapatkan hasil apapun dalam penyelidikannya. Selagi ia ragu-ragu apakah tidak akan ditinggalkannya saja dan dihentikannya penyelidikannya malam itu, tiba-tiba ia terbelalak dan seluruh syaraf di tubuhnya menegang, jantung berdebar tegang dan iapun siap siaga.

Ada bayangan berkelebat dan bayangan ini jelas bukan bayangan anak buah Cian Ciang-kun, karena bayangan itu berkelebat melompati pagar tembok dan kini bayangan itu menyelinap di sebelah dalam kebun, bersembunyi di balik batang pohon! Agaknya setelah meloncati pagar tembok, bayangan itu cepat bersembunyi untuk melihat apakah keadaan di dalam pagar tembok itu aman.

Liong-li tidak berani bergerak sedikitpun agar orang itu tidak curiga. Tadi bayangan itu berkelebat cepat sekali seperti seekor burung saja ketika melayang dan melewati pagar tembok. Demikian cepatnya sehingga yang dilihatnya hanya bayangan saja dan ia tidak tahu bagaimana bentuknya, tidak tahu apakah bayangan itu memiliki tanduk ataukah tidak!

Tak lama kemudian, ia melihat lagi bayangan itu berkelebat, kini sudah dekat sekali dengan rumah gedung Ciok Tai-jin. Liong-li terkejut bukan main. Bayangan itu memang pantas disebut Bayangan Iblis karena tanpa diketahuinya, tahu-tahu bayangan itu telah menyusup dan telah dekat dengan rumah, dan kini bayangan itu berdiri dekat sinar lampu gantung di sudut rumah sehingga nampak bayangannya yang tinggi besar dan jantungnya berdebar tegang ketika ia melihat dua benda hitam mencuat dari kepala bayangan itu. Bayangan itu bertanduk!

“Kwi-eng-cu (Bayangan iblis)...!” serunya dalam hati dan Liong-li cepat menyusup dan mendekat. Pada saat bayangan itu melayang naik ke atas wuwungan rumah, tubuh Liong-li juga melayang dan menyusul dengan cepat sekali karena iapun mengerahkan seluruh tenaga gin-kang sehingga tubuhnya seperti seekor naga hitam menerjang awan. Kini si Bayangan Iblis yang terkejut nampaknya ketika tiba-tiba ada bayangan lain berkelebat dan seorang berpakaian serba hitam berkedok hitam yang bertubuh ramping telah berdiri di depannya!

Liong-li juga memperhatikan orang itu. Memang tinggi akan tetapi tidak begitu besar, dan “tanduk” itu sesungguhnya bukan tanduk, melainkan kedok yang bagian atas kepalanya meruncing ke atas kanan kiri sehingga kalau dilihat dari jauh atau hanya sekelebatan saja memang mirip tanduk. Akan tetapi, Liong-li tidak sempat mengamati dengan jelas, bahkan tidak sempat bertanya karena tiba-tiba saja, tanpa mengeluarkan suara, si Bayangan Iblis itu telah menerjangnya dengan gerakan yang luar biasa cepatnya!

“Hemmm...!” Liong-li melempar tubuh ke samping sambil berjungkir balik. Tentu jarang ada yang mampu menghindarkan diri dari hantaman tangan kiri disusul totokan tangan kanan tadi, pikirnya.

Si Bayangan Iblis sendiri agaknya juga terkejut dan heran. Memang jarang sekali dia bertemu orang yang mampu menyelamatkan diri dari serangannya tadi. Biasanya dia tidak mau bekerja setengah-setengah, sekali serang tentu lawan roboh dan tewas, maka dia selalu mempergunakan jurus pilihan dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, sekali ini dia kecelik karena orang berkedok hitam ini mampu menghindarkan diri, bahkan kini dari samping, lawannya membalas dengan serangan kaki. Kaki itu mencuat dalam bentuk tendangan yang mengarah lambungnya!

“Wuuuuttt...!” Tendangan Liong-li luput! Hal inipun memperingatkan Liong-li bahwa ia berhadapan dengan lawan yang tangguh sekali. Tendangannya tadi merupakan serangan yang dahsyat dan amat diandalkan, namun lawannya mampu mengelak dengan mudah!

“Huhh!” Suara ini keluar dari balik kedok lawannya, suara yang seperti mengejek atau mendengus, keluar dari hidung, kemudian orang itupun menyerang kalang kabut dan Liong-li semakin kagum. Bukan main hebatnya serangan lawannya, setiap gerakan tangannya mengandung tenaga yang amat dahsyat dan kuat, dan kecepatannya pun mengagumkan.

Di samping itu, gerakan silatnya juga aneh sehingga ia tidak mampu mengenalnya. Untuk mengukur tenaga lawan, ketika lengan kanan lawan itu menyambar dengan cengkeraman ke arah kepalanya, Liong-li menyambut dengan lengan kanan pula sambil miringkan tubuh dan mengerahkan seluruh tenaganya.

“Dessss...!!” Hebat bukan main akibat pertemuan dua buah lengan yang dipenuhi sin-kang (tenaga sakti) yang sudah mencapai tingkat tinggi itu. Tubuh Liong-li terpental dan ia harus mempergunakan kelincahannya, melakukan pok-sai (salto) sampai lima kali baru kakinya turun ke atas genteng dengan ringan. Adapun lawannya terdorong mundur dan kakinya terjeblos ke dalam genteng yang jebol!

Sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih kuat, akan tetapi kini Liong-li sudah siap lagi karena orang itu sudah meloncat dan menyerangnya lagi, dan terjadilah perkelahian yang amat hebat di atas wuwungan rumah itu. Melihat betapa lawan sangat marah dan bersemangat melakukan penyerangan, Liong-li bersikap tenang, lalu ia mainkan langkah-langkah ajaib Liu-seng-pouw. Tubuhnya bergerak-gerak, kedua kakinya membuat langkah-langkah aneh, namun tubuhnya dapat menyelinap di antara kedua tangan dan kaki lawan yang menyambar-nyambar dengan ganasnya!

Keributan di atas genteng ini, apa lagi ketika kaki Kwi-eng-cu (si Bayangan Iblis) tadi terjeblos ke dalam genteng, tentu saja terdengar oleh para penjaga yang segera berlarian dan mereka itu memasang obor. Bahkan ada beberapa orang anak buah Cian Ciang-kun yang kebetulan meronda lewat, segera berdatangan dan tiga orang sudah meloncat naik ke atas genteng dengan senjata di tangan. Sejak melihat sinar-sinar obor, Kwi-eng-cu nampak gugup dan tiba-tiba dia mengeluarkan seruan marah ketika melihat tiga orang berloncatan naik ke atas genteng.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 05 karya kho ping hoo

Tiba-tiba tangan kanan kirinya bergerak dan Liong-li cepat mengelak sambil mengebutkan ujung lengan bajunya ketika melihat sinar-sinar hitam kecil menyambar. Ia terhindar dari sambaran benda-benda yang merupakan senjata rahasia itu, akan tetapi tiga orang yang berlompatan naik berteriak kesakitan dan merekapun roboh di atas genting. Liong-li meloncat dan melakukan pengejaran ketika Kwi-eng-cu melompat jauh dari atas wuwungan itu.

Terjadi kejar-mengejar di atas wuwungan, akan tetapi si Bayangan Iblis itu sudah melompat turun dan lenyap di antara pohon-pohon di dalam kebun. Liong-li juga melompat turun. Ia masih sempat melihat orang yang dikejarnya itu melompati pagar tembok, maka diapun cepat lari mengejar dan melompati pagar tembok, tidak perduli kepada para penjaga keamanan yang melihat mereka dan berteriak-teriak mengejar dengan obor di tangan kiri dan golok di tangan kanan. Sayang malam itu gelap sehingga ketika dia tiba di luar pagar tembok rumah Ciok Tai-jin, ia kehilangan jejak. Akan tetapi, ia melihat sesosok bayangan lari di depan.

“Hemm, hendak lari ke mana kau?”' teriaknya dan iapun mengejar sambil mengerahkan tenaga. Dan sekali ini ia berhasil menyusul bayangan itu dan tiba-tiba, Bayangan itupun membalik dan menusukkan pedangnya ke arah dada Liong-li!

“Hemm...!” Liong-li mengelak dengan mudah saja dan iapun membalas dengan tendangan kakinya. Lawannya menarik pedang dan miringkan tubuh, lalu pedang di tangannya itu menyambar turun untuk memapaki kaki Long-li yang menendang. Liong-li tersenyum mengejek, menarik kakinya dan kini tangan kirinya menyambar ke arah pelipis lawan, sedangkan tangan kanannya menotok ke arah siku kanan yang menonjol ke samping! Gerakannya cepat sekali dan lawannya mengeluarkan seruan kaget lalu melompat be belakang.

“Hemmmm...!” Liong-li berseru juga dengan heran lalu kakinya menyambar dahsyat. Orang itu mengelak lagi, akan tetapi pinggangnya masih kena dicium pinggir sepatu Liong-li sehingga dia terhuyung, lalu dia membalikkan, tubuhnya dan lari!

“Ehhh?” Liong-li merasa semakin heran. Orang berkedok dan berpakaian hitam ini serupa benar dengan yang ditempurnya di wuwungan rumah tadi, akan tetapi ia merasakan dengan jelas bahwa tingkat kepandaian orang pertama tadi jauh lebih tinggi dari pada kepandaian orang berpedang ini, walaupun yang kedua inipun merupakan lawan tangguh! Ia merasa curiga sekali dan menduga bahwa agaknya ada dua orang Kwi-eng-cu!

“Hemm, hendak lari ke mana kau?” teriaknya dan iapun melakukan pengejaran.

Kota raja sudah sunyi sekali karena malam sudah amat larut, sudah jauh lewat tengah malam. Hanya orang mabok saja yang masih berkeliaran di jalan raya, akan tetapi karena mereka itu mabok, tentu saja melihat dua orang lari berkejaran mereka tidak mengambil pusing. Aku harus tahu di mana sarangnya, pikir Liong-li. Akan tetapi, orang itu tidak lari ke arah istana seperti yang disangkanya, bahkan yang diharapkannya, melainkan lari ke arah selatan menjauhi istana! Pintu gerbang selatan memang tidak jauh dari situ.

Biar dia lari dari pintu gerbang, pikir Liong-li. Menurut Cian Ciang-kun, pada waktu itu, pintu-pintu gerbang kotaraja di jaga ketat, maka kalau si bayangan hitam itu lari ke situ, tentu akan ketahuan dan tidak mungkin dia dapat melarikan diri keluar pintu gerbang. Akan tetapi, ia menahan seruan kagetnya ketika melihat orang yang dikejarnya itu terus saja berlari menghampiri pintu gerbang, dan setelah tiba di pintu yang tertutup itu, tubuhnya meloncat ke atas dan tidak ada seorang pun penjaga yang mencegah perbuatannya atau yang kelihatan menghadang atau berteriak menegur!

Tentu saja Liong-li tidak memperdulikan keadaan itu dan terus mengejar dengan melompat ke atas pintu gerbang pula, melalui bangunan gardu seperti yang dilakukan orang yang dikejarnya. Setelah tiba di luar pintu gerbang, ia terus mengejar karena melihat si Bayangan Iblis itu lari ke arah kiri. Akan tetapi, yang dikejarnya itu lenyap di balik sebatang pohon besar. Untung banyak bintang kini bermunculan di langit yang telah ditanggalkan awan sehingga biarpun remang-remang cuaca tidaklah terlalu gelap.

Ketika ia tiba di dekat pohon, tiba-tiba ada angin menyambar dari kanan. Ia mengelak dan membalas serangan orang itu. Kiranya si Bayangan Iblis telah menyerangnya dengan pedangnya. Tendangannya membuat lawannya menarik pedang yang kini diangkat tinggi dan dibacokkan ke arahnya. Akan tetapi tanpa menggerakkan kakinya, dengan tendangan berantai, Liong-li “memasuki” dada yang terbuka itu.

“Desss!” Perut orang itu bertemu dengan tumitnya dan orang itupun terjengkang. Dia bergulingan dan menggerakkan tangan kiri. Liong-li yang mengejar, terpaksa mengelak untuk menghindarkan diri dari sambaran senjata rahasia sehingga orang itu memperoleh kesempatan untuk lari lagi.

“Jangan lari kau!” bentak Liong-li akan tetapi lawan telah menghilang di balik batang pohon di depan. Ketika ia mengejar, tiba-tiba ada lagi serangan dari kiri. Ini tidak mungkin orang yang lari tadi, pikirnya heran, apa lagi ketika serangan itu jauh lebih dahsyat dari pada orang tadi, walaupun bayangan itu masih sama gesitnya, dan juga berpedang.

Demikian cepat dan dahsyatnya serangan ini sehingga Liong-li terkejut, nyaris pundaknya terbabat pedang. Untung ia masih sempat menggunakan langkah ajaib Liu-seng-pouw sehingga biarpun terhuyung, ia mampu menghindarkan diri dari serangan bertubi-tubi itu. Kemudian, di dalam keremangan cuaca, ia melihat sebatang ranting pohon di bawah pohon di mana mereka berkelahi. Ketika pedang membabat dan berputaran untuk menutup semua jalan keluar, Liong-li menggunakan tubuhnya dan menyambar ranting itu. Sambil meloncat, ujung rantingnya menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang.

“Auhh!” Orang itu tidak menyangka sama sekali akan kelihaian Liong-li dalam menggunakan senjata yang hanya berupa sebatang ranting itu! Tentu saja Liong-li lihai bukan main memainkan ranting karena selain ilmu pedang, juga ia telah mewarisi ilmu silat tongkat dari suhunya, yaitu Huang-ho Kui-bo yang merupakan tokoh sakti yang terkenal dengan ilmu tongkatnya! Bahkan ilmu pedangnya juga bersumber dari ilmu memainkan tongkat ini!

Namun orang itu ternyata lihai juga. Biar pun pergelangan tangan kanannya tertotok ujung ranting, sehingga pedangnya terlepas, namun pedang itu dapat disambar oleh tangan kirinya dan iapun memutar pedangnya dengan marah. Liong-li terpaksa melangkah mundur menghindarkan sambaran pedang. Akan tetapi pada saat itu, lawannya melompat jauh ke belakang lalu melarikan diri memasuki sebuah hutan kecil.

Liong-li adalah seorang wanita yang selain sakti, juga cerdik bukan main. Melihat lawannya melompat ke dalam hutan yang gelap, ia tidak mau mengejar. Apa lagi ia tadi merasa dilawan oleh tiga orang yang berlainan, walaupun mereka semua mengenakan pakaian dan kedok yang sama, dan ketiganya lihai dan memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat.

Ia tidak mau masuk perangkap lawan. Selain itu, iapun tidak mau menanti sampai hari menjadi terang karena ia sendiripun melakukan penyamaran dan tidak ingin dikenal orang. Maka, iapun cepat memutar tubuhdan lari secepatnya menuju ke pintu gerbang. Ia harus menyelidiki para penjaga pintu gerbang, kenapa mereka itu sama sekali tidak menegur dan tidak menghalangi ketika ia berkejaran dengan Si Bayangan Iblis keluar dari Kota raja melalui pintu gerbang tadi. Apakah para penjaga itu termasuk sekutu Si Bayangan Iblis?

Setelah Liong-li memasuki gardu penjagaan dan melihat belasan orang perajurit penjaga pintu gerbang itu, barulah ia tahu mengapa Si Bayangan Iblis mampu keluar dari pintu gerbang tanpa terganggu para penjaga. Kiranya para penjaga itu semua dalam keadaan pingsan tertotok!

Makin yakinlah hatinya bahwa Si Bayangan Iblis itu bukan hanya satu orang saja! Yang bertempur dengannya tadi saja ia taksir tiga orang yang berlainan, dan mungkin lebih banyak lagi melihat bahwa ada pula yang menotok para penjaga sampai pingsan. Ia tidak menyadarkan para penjaga. Biarlah, ini bagian Cian Ciang-kun untuk menyelidiki dan menanyai mereka. Iapun terus saja memasuki kota dan menuju ke rumah Cian Ciang-kun.

Akan tetapi ketika ia melewati rumah itu, perasaannya yang peka itu memberi isyarat kepadanya dan kecerdikannya pun bekerja. Tidak, pikirnya, ia tidak boleh memasuki rumah Cian Ciang-kun! Siapa tahu kalau ada pihak lawan yang membayanginya. Kalau ia tadi mampu membayangi lawan, kini berbalik mungkin sekali lawan membayanginya sejak di luar kota tadi!

Kalau benar demikian, tentu mereka akan mengetahui bahwa ia tinggal di rumah Cian Ciang-kun sehingga akan terbongkarlah rahasianya! Dan hal ini berbahaya sekali! Tidak, ia harus dapat menghilangkan jejaknya sebagai si kedok hitam yang jelas menentang pembunuh misterius yang berjuluk Kwi-eng-cu itu. Tanpa ragu dan tanpa menengok sedikitpun ke arah rumah Cian Ciang-kun maupun ke belakang, Liong-li terus saja bergerak menuju ke sebuah kuil! Tidak ada tempat yang lebih baik untuk menghilangkan jejaknya kecuali di kuil besar itu.

Pada masa itu, agama Buddha sedang berkembang dengan baiknya dan diterima oleh keluarga kaisar, maka kuil yang berada di kota raja amat besar. Banyak dikunjungi tamu, bahkan ada pula tamu-tamu yang sengaja bermalam di kuil itu. Juga di situ penuh dengan hwesio yang beribadat dan saleh. Selama tiga hari ini, Liong-li sudah berkeliling kota dalam penyelidikannya, dan iapun tidak melewatkan kuil ini. Sudah dikunjunginya beberapa kali sebagai seorang nenek, namun tidak ada yang mencurigakan di kuil itu.

Penyelidikannya membuat ia tahu akan keadaan kuil itu, maka tanpa ragu lagi ia menyelinap masuk ke dalam ruangan depan kuil yang sunyi karena baik para tamu maupun para pendeta sudah beristirahat. Hanya meja sembahyang masih nampak ada lilin bernyala dan asap sisa hio masih memenuhi ruangan. Ketika memasuki ruangan itu, Liong-li diam-diam melepas pakaian hitamnya, kemudian menyelinap ke tempat yang gelap dan cepat sekali ia merobah penyamarannya.

Lima menit kemudian, ketika ia keluar dari tempat gelap, ia telah menjadi seorang nenek keriputan yang membawa buntalan dan berjalan agak bongkok, yang masuk ke ruangan di mana para tamu yang ingin memohon sesuatu di kuil itu bermalam. Iapun mencampurkan diri dengan para tamu perempuan yang masih tidur dalam ruangan kosong yang luas itu, tidur malang melintang dan iapun merebahkan diri memeluk buntalannya yang sesungguhnya berisi pakaian dan kedok hitamnya tadi. Ia menanti sambil berpura-pura tidur.

Tak lama kemudian ia mendengar gerakan kaki di luar ruangan, lalu sebuah kepala muncul di balik jendela. Sepasang mata yang tajam menyapu ruangan itu. Kepala seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, bermuka persegi dan bermata tajam sekali. Ia melihat orang itu memiringkan kepala dan iapun tahu bahwa orang itu sedang melakukan penyelidikan dengan pendengarannya yang tajam terlatih. Maka iapun mengatur pernapasannya, seperti orang tidur nyenyak.

Tak lama kemudian, kepala itupun menghilang. Akan tetapi ia masih belum mau bergerak. Ia harus berhati-hati. Mungkin lawan yang membayanginya sedang mencari-cari di seluruh kuil karena ia memang tadi menghilang ke dalam kuil. Benar saja dugaannya. Tak lama kemudian, kembali kepala itu muncul dan mengamati seluruh ruangan, seluruh perempuan yang tidur, seperti hendak memilih siapa di antara mereka itu orang yang dicarinya. Dan Liong-li tetap saja tidak bergerak, bahkan ia mengeluarkan suara mendengkur lirih!

Hatinya tersenyum geli, akan tetapi juga memuji diri sendiri akan ketelitiannya. Terdengar kepala di jendela itu menghela napas, agaknya kecewa karena kehilangan orang yang dibayanginya. Setelah mengamati semua orang selama hampir seperempat jam lamanya, akhirnya kepala itupun menghilang dan Liong-li mendengar langkah kaki meninggalkan tempat itu. Jelas bahwa orang itu tidak ada nafsu lagi untuk menyelidiki, buktinya langkahnya berat dan acuh.

Setelah terdengar ayam berkokok dan beberapa orang di antara para tamu wanita itu, ada yang terbangun. Liong-li juga bangun dan berlagak seperti orang yang baru bangun tidur, membereskan rambutnya yang awut-awutan lalu bangkit meninggalkan ruangan itu. Sikap dan penampilannya demikian wajar sehingga tidak mencurigakan siapapun.

Siapa yang akan mencurigai seorang nenek tua yang mungkin mintakan ramalan untuk dirinya, atau mungkin juga memintakan obat untuk cucunya yang sakit, di kuil itu? Dengan terbongkok-bongkok Liong-li yang kini sudah berubah menjadi seorang nenek keriputan itu meninggalkan kuil, terseok-seok dengan muka tunduk berputar-putar dulu untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak dibayangi orang, baru ia melewati gedung Cian Ciang-kun dan memasuki pekarangan.

Tiga orang pelayan itu memandang heran. Mereka tahu bahwa majikan mereka mempunyai seorang tamu, akan tetapi setahu mereka, nenek tua yang menjadi tamu itu tidak pernah meninggalkan kamarnya. Bagaimana sekarang tahu-tahu telah datang dari luar? Untung bahwa Cian Ciang-kun yang sejak pagi menanti dengan gelisah, segera menyambutnya.

“Aih, bibi, sepagi ini engkau sudah berjalan-jalan?” tegurnya dan diapun segera membimbing “bibinya” yang dari dusun itu dan diajaknya masuk.

Tiga orang pelayan itu menggeleng-geleng kepala setelah majikan mereka menggandeng nenek itu masuk. Mereka tahu bahwa majikan mereka adalah seorang yang baik budi, akan tetapi belum pernah mereka melihat majikan mereka mempunyai seorang bibi dari dusun yang sudah tua dan yang agaknya amat dihormati dan disayang oleh majikan mereka. Akan tetapi, tentu saja urusan keluarga itu tidak menarik perhatian mereka.

“Wah, engkau sungguh membuat aku menjadi gelisah bukan main, Li-hiap. Apa saja yang kaudapatkan semalam sehingga engkau sampai pulang terlambat dan sudah menyamar lagi sebagai seorang nenek?” Cian Ciang-kun yang cerdik segera dapat menduga bahwa tentu pendekar wanita itu telah menemukan sesuatu.

Liong-li lalu menceritakan apa yang telah dialaminya semalam, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Cian Ciang-kun. Ketika Liong-li bercerita tentang para penjaga pintu gerbang selatan yang pingsan tertotok semua, dia cepat bertepuk tangan dan seorang pelayan pria muncul di ambang pintu.

“Cepat kau pergi keluar dan undang Teng Ciang-kun ke sini. Cepat!”

Pelayan itu berlari keluar dan tak lama kemudian dia sudah kembali bersama seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Dia adalah Teng Ciang-kun, seorang perwira yang setia membantu Cian Ciang-kun dan tinggalnya pun di bangunan kecil sebelah depan rumah Cian Ciang-kun yang menjadi atasannya.

Teng Ciang-kun memberi hormat tanpa memperdulikan nenek tua yang duduk di situ. Dia adalah seorang petugas yang setia dan amat baik, melaksanakan segala tugas yang diperintahkan atasannya dengan taat dan tidak pernah ingin tahu akan urusan pribadi atasannya. Maka diapun acuh saja melihat hadirnya seorang nenek di situ, hal yang sebenarnya tidak wajar dan tidak seperti biasa.

“Teng Gun, cepat engkau pergi ke pintu, gerbang selatan dan selidiki kepada semua perajurit yang bertugas jaga semalam, apa yang terjadi dengan mereka. Atau lebih baik lagi engkau bawa saja komandan jaganya ke sini, katakan bahwa aku mempunyai kepentingan dengan dia. Sekarang juga!”

Teng Gun atau Teng Ciang-kun memberi hormat lalu pergi. Terdengar suara derap kaki kuda, tanda bahwa dia berkuda agar dapat melaksanakan tugas itu dengan cepat. Sambil menanti kembalinya Teng Ciang-kun, Cian Hui melanjutkan percakapannya dengan Liong-li.

“Jelaslah sekarang bahwa Si Bayangan Iblis bukan hanya satu orang saja, Ciang-kun. Yang berkelahi dengan aku sedikitnya ada tiga orang Kwi-eng-cu yang berlainan. Hal ini dapat kukenal dari tingkat kepandaian mereka. Sungguh berbahaya sekali, mereka itu semua amat lihai, terutama orang pertama yang kuhadang di atas genteng rumah Ciok Tai-jin. Terlambat sedikit saja, Si Bayangan Iblis itu tentu sudah masuk dan berhasil membunuh Ciok Tai-jin.”

“Hemm, belum tentu, Li-hiap. Ketahuilah bahwa di dalam rumah wakil Menteri Pajak itu terdapat seorang jagoan yang amat lihai, seorang murid dari orang sakti di Kun-lun-san. Kabarnya jagoan itu murid Kun-lun-pai yang amat tangguh. Karena adanya jagoan itulah maka akupun tidak melakukan penjagaan ketat di dekat rumah Ciok Tai-jin, seperti di rumah para pejabat tinggi lain yang kuanggap mungkin akan diserang oleh Kwi-eng-cu.”

“Hemm, bagus kalau begitu. Dia seorang pengawal pribadi pembesar itu?” tanya Liong-li tertarik.

“Bukan pengawal, melainkan masih anggauta keluarga. Ia adalah keponakan wanita isteri pembesar itu.”

“Hemm, seorang wanita?”

“Ia seorang wanita yang masih muda dan cantik, sebaya dengan engkau, li-hiap. Kalau orang melihatnya, tentu tidak akan menyangka bahwa ia adalah seorang murid Kun-lun-pai yang gemblengan dan lihai sekali. Namanya Sui In dan ia terkenal sekali. Aku sendiri belum pernah melihat kehebatan ilmu silatnya, namun dari kawan-kawan, aku dapat mengukur bahwa tingkat kepandaiannya tentu jauh melebihi tingkatku.”

“Wahh...!” Liong-li berseru kagum. “Tentu hebat sekali wanita itu, dan kalau usianya sebaya denganku, tentu ia telah bersuami...”

“Memang pernah bersuami, akan tetapi kini ia menjadi janda tanpa anak, karena suaminya menjadi seorang di antara korban-korban pertama pembunuhan Si Bayangan Iblis...“

“Ahhh...!” Liong-li termenung.

“Memang kasihan sekali wanita muda itu. Akan tetapi sudahlah, memang sudah nasibnya dan bukan hanya suaminya saja yang menjadi korban.”

Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki dua ekor kuda dan tak lama kemudian muncullah Teng Ciang-kun dan seorang komandan jaga yang nampaknya berwajah kusut dan agak pucat, sinar matanya memandang ketakutan. Ketika bertemu dengan Cian Hui, dia segera memberi hormat sambil menekuk lutut kanannya dan suaranya terdengar penuh permohonan.

“Mohon kebijaksanaan Ciang-kun agar peristiwa itu tidak dilaporkan kepada panglima. Sungguh mati kami tujuh belas orang sama sekali tidak berdaya menghadapi bayangan yang bergerak demikian cepatnya, dan tahu-tahu kami sudah kehilangan kesadaran dan tidak tahu apa yang telah terjadi. Baru pagi tadi kami sadar dan seperti baru bangun dari tidur saja. Semua peristiwa itu bagaikan mimpi saja, akan tetapi ketika kami saling bercakap-cakap, tahulah kami bahwa peristiwa itu bukan mimpi dan kami ketakutan, tidak berani melapor ke atasan karena kami takut dituduh lengah.”

“Hemm, coba ceritakan dengan sejelasnya, apa yang telah terjadi, baru akan kupertimbangkan apakah kalian patut dilaporkan ataukah tidak,” kata Cian Hui dengan suara tegas...