Pedang Naga Hitam Jilid 22

Pengalaman ini membuat kepala perampok merasa jerih. Anak buahnya juga belum muncul dan dia merasa tidak akan mampu menandingi pemuda remaja yang amat lihai itu. Kalau dilanjutkan, tentu dia akan celaka. Apalagi di situ masih ada pemuda lain yang belum turun tangan. Karena itu, begitu dia dapat meloncat bangun, dia langsung membalikkan diri dan lari meninggalkan tempat itu secepatnya.

Hailun bertepuk tangan dengan gembira. “Heiii, monyet hitam pengecut! Jangan lari kau...!“ Ia berteriak dan melihat kegembiraan gadis itu, Cu Sian juga menjadi gembira.

“Nona, apa engkau ingin aku menangkap monyet itu?” Cu Sian bertanya sambil tertawa.

“Benar, sobat yang gagah perkasa. Kejar dan tangkaplah monyet hitam itu, seret dia ke sini agar aku sendiri dapat memberi hukuman kepadanya!” teriak Hailun dengan gembira.

Akan tetapi sebelum Cu Sian bergerak untuk mengejar lawannya, Han Sin berkata, “Sian-te, lawan yang sudah kalah dan melarikan diri tidak perlu dikejar lagi...“

Cu Sian memandang kepada Han Sin dengan alis berkerut, akan tetapi melihat pandang mata Han Sin, dia teringat bahwa dia sudah berjanji akan menaati kata-kata sahabatnya itu. Maka diapun lalu tersenyum dan menoleh kepada Hailun sambil mengembangkan kedua lengannya dan mengangkat pundak.

“Sayang, adik yang manis, kakakku ini melarang aku mengejar monyet hitam itu...“

Hailun melangkah maju dan tanpa ragu atau malu lagi dara mongol ini memegang tangan kanan Cu Sian dengan kedua tangannya, sepasang matanya menatap penuh kagum wajah pemuda itu dan ia berkata, “Ah, engkau hebat sekali. Engkau adalah pahlawanku yang gagah perkasa! Kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, sobat...“

Cu Sian tersenyum dan berkata dengan lagak bangga. “Ah, melawan monyet hitam itu tidak ada artinya, nona manis. Biar ada selusin monyet seperti dia. Kalau berani mengganggu sehelai rambut mu, tentu akan kubasmi semua...!“

Han Sin tertegun menyaksikan lagak Cu Sian ini. Memang biasanya pemuda itu lincah gembira dan jenaka, bahkan ugal-ugalan, akan tetapi sekali ini lagaknya demikian sombong dan takabur! Ah, jangan-jangan sahabatnya ini memang seorang pemuda mata keranjang! Maka, untuk menghentikan Cu Sian yang menjual lagak itu dia berkata dengan sikap sopan sambil memandang kepada Loana.

“Nona berdua, apa yang telah terjadi dengan kalian...? Mengapa pula kalian melakukan perjalanan melalui hutan yang liar ini? Kalian dari manakah dan hendak menuju kemana...?“

Loana segera menjawab, “Kami berdua adalah kakak beradik. Kami adalah puteri kepala suku Yakka Mongol yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Shan-si, di kawal oleh paman kami dan seregu prajurit. Akan tetapi setibanya di tempat ini, rombongan kami dihadang dan di serang oleh segerombolan perampok tadi dan kami berdua ditawan kepalanya dan di bawa lari sampai ke sini, Untung kami di tolong oleh sobat berdua. Untuk itu kami berdua menghaturkan banyak terima kasih...“

Han Sin memandang kagum. Dua orang gadis mongol ini dapat bicara dalam bahasa Han yang cukup baik. ini menandakan bahwa mereka terdidik dengan baik.

“Siapakah nama sobat berdua yang gagah perkasa?” Tiba-tiba Hailun bertanya sambil memandang kepada Cu Sian.

Cu Sian tertawa. “Ha ha, mestinya kalian berdua yang lebih dulu memperkenalkan nama kalian kepada kami...!“

Hailun juga tersenyum. “Namaku Hailun dan ini adalah kakak saya bernama Loana. Ayah kami adalah kepala suku Yakka bernama Tarsukai...“

Han Sin gembira sekali mendengar bahwa dua orang gadis itu adalah puteri-puteri kepala suku Yakka. Dia teringat akan nasihat Li Si Bin agar dia melakukan penyelidikan tentang kematian ayahnya itu di antara orang-orang Yakka yang dahulu ikut bertempur melawan pasukan ayahnya. Mungkin ayah gadis-gadis ini akan dapat memberi banyak keterangan kepadanya!

“Ah, kebetulan sekali! kami juga sedang melakukan perjalanan ke utara untuk mengunjungi kepala suku Yakka Mongol! Perkenalkanlah, nona. Aku bernama Cian Han Sin dan ini adalah sahabat baikku bernama Cu Sian...“

Pada ssat itu, terdengar suara gaduh banyak orang dan juga suara derap kaki kuda. Dua orang gadis itu nampak gelisah dan mereka mendekati penolong mereka. Tanpa di sengaja Loana mendekati Han Sin dan Hailun mendekati Cu Sian, bahkan memegang lengan pemuda itu. Dua orang pemuda itupun membalikkan tubuh menghadapi orang-orang yang baru datang untuk melakukan perlawanan.

Akan tetapi yang muncul itu adalah orang-orang Mongol yang mengawal kedua orang gadis itu. Temugu yang tinggi besar itu segera meloncat dari atas kudanya dan sikapnya mengancam ketika dia melihat dua orang keponakannya berada di situ bersama dua orang pemuda Han yang tidak mereka kenal. Belasan orang mongol yang datang berjalan kaki dan ada pula yang berkuda, segera mengepung dengan sikap mengancam.

“Dua orang muda yang bosan hidup! Bebaskan dua orang nona kami sebelum kami menggunakan kekerasan dan membunuh kalian!” bentak Temugu yang sudah siap dengan pedang bengkok di tangannya.

Hailun segera berkata dengan suara nyaring. “Paman Temugu, jangan ngawur! Dua orang pemuda ini justeru yang menolong kami dari tangan perampok!”

Temugu membelalakkan matanya, akan tetapi karena sudah menjadi watak Hailun yang suka main-main, maka dia memandang kepada Loana seperti minta penjelasan. Loana menghadapinya dan berkata,

“Memang benar Paman Temugu. Mereka ini bernama Cian Han Sin dan Cu Sian. Dua orang pemuda yang baru saja membebaskan kami dari tangan kepala perampok...“

Mendengar penjelasan Loana ini , Temugu tidak ragu lagi dan dia cepat memberi hormat dengan mengangguk kemudian menjulurkan tangan mengajak dua orang pemuda itu bersalaman. “Ah, maafkan kami yang tidak tahu. Kami berterima kasih sekali kepada dua orang sobat baik. Ketua kami tentu akan menerima kalian sebagai tamu-tamu agung dan akan mengucapkan terima kasihnya...“

Sebelum Han Sin dan Cu Sian menjawab, Loana sudah berkata lagi, “Memang mereka berdua ingin mengunjungi tempat kita dan bertemu dengan ayah, paman...“

Hailun menyambung. “Baiknya begini saja, paman Temugu. Paman dan para pengawal melanjutkan perjalanan ke Shan-si dan menyerahkan barang-barang hadiah dari ayah, sedangkan kami berdua akan kembali saja bersama saudara Cian Han Sin dan Cu Sian...“

Mendengar usul Hailun itu, Temugu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala tidak setuju. “Hailun, bagaimana kalian pulang sendiri? Kami yang bertanggung jawab atas keselamatan kalian. Kalau terjadi apa-apa dengan kalian bagaimana kami akan mempertanggung-jawabkannya...?”

“Ah, paman! Dengan dikawal dua orang penolong kami ini kami akan sampai di rumah dengan selamat. Jangan pandang ringan mereka berdua, paman, Pengawalan mereka berdua jauh lebih aman dibandingkan pengawalan kalian yang tujuh belas orang banyaknya itu...!”

Temugu tetap tidak setuju, akan tetapi Loana berkata dengan suaranya yang halus namun meyakinkan. “Ucapan adik Hailun tidak berlebihan, paman Temugu. Buktinya tadi, dengan pengawalan paman sekalian, tetap saja kami di tawan penjahat. Kalau tidak ada dua orang penolong ini, entah bagaimana jadinya dengan kami. Pula, setelah mengalami peristiwa tadi, kami berdua sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Biarkan kami berdua pulang bersama dua orang pemuda ini yang hendak berkunjung kepada ayah...“

Temugu tidak dapat membantah lagi. Juga kini dia mengenal bahwa pemuda yang berkelebat cepat membantu mereka melawan gerombolan adalah pemuda yang tinggi tegap dengan pakaian sederhana ini. Memang hanya sekelebatan saja dia melihat bayangan yang merobohkan banyak anggota perampok tadi, akan tetapi dia ingat benar bahwa bayangan itu mengikat rambutnya dengan pita kuning.

Temugu menginginkan kepastian dari dua orang pemuda yang sama sekali asing itu. “Sobat muda berdua, apakah benar-benar kalian berdua berani mempertanggungjawabkan keselamatan dua orang keponakan kami ini dan mengantar mereka sampai ke tempat tinggal kami...?” Temugu memandang tajam kepada Han Sin dan Cu Sian.

Han Sin segera menjawab. “Paman yang baik, sesungguhnyalah bahwa aku dan sahabat ku ini hendak pergi mengunjungi Kapala Suku Yakka Mongol untuk suatu keperluan penting. Kami sama sekali tidak mengajak kedua orang nona ini untuk pergi bersama kami...“

Mendengar ini, Loana berkata, “Sobat Cian Han Sin. Memang kalian tidak mengajak kami berdua, akan tetapi setelah terjadi peristiwa ini kami berdua kakak beradik ingin pulang saja. Dan mendengar bahwa sobat Cian Han Sin dan Cu Sian hendak mengunjungi ayah kami, maka hal itu kebetulan sekali. Kita dapat melakukan perjalanan bersama...“

“Kakak Loana berkata benar!” sambung Hailun. “Perjalanan dari sini menuju ke perkampungan kita aman, tidak akan ada yang berani mengganggu kami. Bahkan tanpa pengawalan sama sekalipun kami berdua berani melakukan perjalanan pulang. Kami berdua bukanlah gadis-gadis lemah dan cengeng, Karena kebetulan dua orang pemuda ini hendak berkunjung ke tempat tinggal kami, apa salahnya kalau kami berdua melakukan perjalanan dengan mereka...?”

Cu Sian merasa tidak enak kalau diam saja. “Sudahlah, biarkan dua orang nona ini melakukan perjalanan pulang bersama kami berdua. Tentang keselamatan mereka berdua, jangan khawatir. Kalau terjadi gangguan dan halangan, akulah yang akan melindungi mereka dengan taruhan nyawa!” Ucapan ini terdengar gagah sekali.

Mendengar ini, Hailun mendekati Cu Sian dan gadis ini berkata kepada pamannya. “Paman dengar itu? Dengan pengawalan sobat Cu Sian ini aku akan merasa lebih aman daripada dikawal pasukan pengawal kita...!”

Wajah Temugu berubah kemerahan dan sambil mengerutkan alisnya dia berkata, “Semua pengawal ini menjadi saksi, bahwa pemisahan diri kami ini adalah kehendak kalian berdua sendiri. Kalau sampai terjadi sesuatu, jangan persalahkan kami...!”

Han Sin merasa tidak enak sekali. Diapun tidak ingin mengajak kedua gadis itu. Adalah mereka berdua itu yang menghendakinya sendiri. Kalau dia merasa setuju mereka berdua ikut dan melakukan perjalanan bersama dia dan Cu Sian, hal itu adalah karena dengan adanya dua orang gadis itu tentu akan lebih memudahkan dia mencari keterangan tentang kematian ayahnya di perkampungan Yakka itu.

“Aku mempunyai usul yang kiranya dapat kalian terima. Bagaimana kalau para pengawal ini di bagi dua? Sebagian melanjutkan perjalanan ke Shan-si dan yang sebagian lagi tetap mengawal kedua orang nona pulang ke utara bersama kami...“

Usul Han Sin ini di terima dengan suara bulat. Temugu lalu membagi pasukan pengawalnya. Delapan orang di tugaskan untuk mengawal dua orang keponakannya sedangkan selebihnya ikut dengan dia ke Shan-si. Dan dua ekor kuda diberikan kepada Han Sin dan Cu Sian. Dua rombongan ini lalu berpisah dan Han Sin bersama Cu sian dan dua orang gadis itu di kawal delapan orang, menunggang kuda menuju ke utara.

********************

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 22 karya kho ping hoo

Seperti kehidupan para nenek moyang mereka, Suku Yakka Mongol hidup sebagai suku perantau, hanya menetap untuk sementara di daerah yang mereka anggap subur dan menguntungkan. Apabila daerah itu sudah tidak menguntungkan lagi. Mereka memboyong seluruh keluarga mereka, pindah ke daerah baru yang lebih baik.

Karena itulah, di setiap daerah yang mereka pilih sebagai tempat tinggal sementara, mereka tidak pernah atau jarang sekali membangun rumah tinggal yang tetap. Mereka lebih suka mendirikan kemah-kemah yang mudah di bongkar pasang.

Pada waktu itu, suku Yakka Mongol itu bertempat tinggal di daerah yang subur, di antara Sungai Kerulon dan Sungai Ono. Bukit-bukit di sekitar tempat itu penuh dengan hutan lebat. Di sebuah yang lembah yang penuh dengan padang rumput, mereka mendirikan kemah-kemah mereka.

Rumah atau kemah mereka itu terbuat dari bulu binatang kempa yang di tangkupkan pada rangka dari kayu. Dibagian paling atas terdapat sebuah lubang untuk mengeluarkan asap. Dinding kemah itu di kapur dan dihiasi dengan lukisan-lukisan. Kemah yang paling besar dan mewah tentu saja menjadi tempat tinggal kepala suku mereka, yaitu Tarsukai. Kemah seperti ini, di dalam bahasa mereka di sebut Yurt. Bentuknya agak bundar dan bentuk ini menyebabkan angin yang meniup kuat -kuat akan melewatinya tanpa menimbulkan bahaya tumbang atau runtuh.

Di dalam perkampungan suku Yakka itu, perkemahan milik Tarsukai berada di tengah-tengan, terdiri dari beberapa buah Yurt yang mengelilingi yurt yang terbesar. Para isterinya tinggal bersama anak-anak mereka dalam sebuah yurt. Sebuah yurt untuk seorang isteri dan anak-anaknya.

Ketika Han Sin dan Cu Sian tiba di perkampungan itu, mereka di sambut oleh orang-orang Yakka dengan heran dan juga gembira. Apalagi ketika mereka mendengar dari para pengawal bahwa dua orang itu adalah pendekar-pendekar yang telah menyelamatkan dua orang nona mereka dari tangan kepala perampok, semua orang memandang kepada dua orang pemuda itu dengan takjub. Di dampingi oleh Loana dan Hailun, kedua orang pemuda itu dipersilahkan memasuki kemah yang terbesar, yang menjadi tempat tinggal dan juga tempat pertemuan dari Tarsukai.

Dengan kikuk dan juga terheran-heran, Han Sin dan Cu Sian memasuki kemah itu dan mengamati keadaan di dalam kemah. Kemah itu besar dan luas sekali dan di situlah tersimpan milik keluarga Tarsukai, kepala klan (suku) Yakka mongol itu. Ada permadani yang tebal dan indah berasal dari Bhokhara atau Kabul, yang di bawa oleh para pedagang dari barat. Ada pula peti-peti besar berisi pakaian dari sutera yang mereka peroleh dari tukar menukar barang dengan pedagang-pedagang bangsa Arab. Ada pula barang-barang dari perak ukir-ukiran.

Di sudut terdapat sebauh rak penuh dengan senjata yang sebagian tergant ung pada dinding kemah, pedang-pedang dari Turki. lembing-lembing, kotak-kotak busur dari gading dan bambu, anak-anak panah dari berbagai jenis terhias bulu-bulu indah dan perisai-perisai dari kulit yang di cat beraneka corak dan warna.

Han Sin dan Cu Sian merasa asing sekali, seolah masuk ke dalam dunia yang lain sama sekali. Juga suasana di situ bebas namun mengandung suasana yang menyeramkan, seolah-olah semua seramah-tamahan itu dalam sekejab dapat berubah menjadi kebengisan. Didalam yurt besar itu, seperti juga dalam yurt-yurt lainnya, terdapat perapian yang menghangatkan hawa dalam kemah itu.

Seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun duduk di atas sebuah kursi berukir dengan sikap gagah. Kedua kakinya terpentang lebar, kepalanya juga tegak. Pakaiannya berbeda dengan pakaian orang orang Yakka lainnya, karena dia memakai jubah dari bulu. Pria ini bersikap seperti seekor burung rajawali yang bertengger di puncak pohon, gagah dan berwibawa.

Loana dan Hailun segera lari kedepan menyalami ayah mereka dan mencium tangan ayah mereka. Tarsukai yang tadinya berwajah seperti topeng itu tiba-tiba saja nampak tampan ketika tersenyum dan matanya bersinar-sinar, mulutnya kelihatan ramah sekali. Dia merangkul Loana dengan tangan kanan dan Hailun dengan tangan kiri.

“Hemm, anak-anakku yang nakal. Apa yang kudengar dari pelaporan para pengawal tadi? Kalian tidak melanjutkan perjalanan ke Shan-si akan tetapi di tengah perjalanan lalu menghentikan perjalanan dan pulang? Dan laporan itu mengatakan bahwa kalian ditawan perampok? Bagaimana sebetulnya, apa yang terjadi...?“

Hailun terkekeh dan mengelus tangan ayahnya. “Ah, ayah menghujani kami dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebelum kami bercerita, ayah, lebih dulu perkenalkanlah, dua orang pemuda itu adalah penolong-penolong kami. Ini Cian Han S in dan yang itu Cu Sian..."

Tarsukai menoleh dan memandang kepada dua orang pemuda yang masih berdiri di depannya. Sejenak dia memandang penuh perhatian dan selidik, kemudian dia mengangguk. Han Sin dan Cu Sian segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada yang di balas oleh Tarsukai dengan membungkuk. Kemudian kepala suku itu bangkit berdiri dan nampaklah bentuk tubuhnya yang kokoh kuat, tinggi dan berotot.

“Kalian telah menolong kedua orang puteri kami? Kalau begitu, duduklah. Kalian adalah sahabat-sahabat kami dan menjadi tamu-tamu kehormatan kami!” Tarsukai mempersilahkan kedua orang muda itu duduk di atas bangku pendek, sedangkan dua orang puterinya duduk bersimpuh di atas permadani.

“Terima kasih...“ kata Han Sin yang di turut oleh Cu Sian. Mereka duduk di depan kepala suku itu.

“Nah, anak-anakku, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi!” kata Tarsukai.

“Ayah, kami melakukan perjalanan ke selatan dengan lancar. Bahkan kami berdua sempat singgah di tempat-tempat yang indah, bertamasya di danau-danau. Akan tetapi ketika kami tiba di perbatasan, di dalam hutan, tiba-tiba muncul sekelompok kijang. Aku dan adik Hailun tertarik dan kami berdua mengejar kijang-kijang itu sambil melepaskan anak panah...“

“Anak panah kami mengena, ayah...“ sambung Hailun. "Akan tet api kijang-kijang itu masih dapat berlari memasuki hutan dan kami terus mengejar...“

“Dan tiba-tiba muncul segerombolan orang jahat itu!” kata Loana. “Kepala perampok itu lalu menyerang aku dan Hailun, tiba-tiba saja kami berdua tidak mampu bergerak dan dia lalu memanggul kami dan membawa kami pergi memasuki hutan...“

“Hemmm, apa kerjaannya paman kalian Temugu? Apa dia tidak melindungi kalian?” Tanya Tarsukai dengan nada marah.

“Paman dan para pengawal melakukan pengejaran kepada kami berdua akan tetapi mereka sibuk melawan serangan anak buah gerombolan perampok, ayah...“ kata Loana. “Akan tetapi untunglah kami di tolong oleh dua orang sahabat yang gagah perkasa ini...“

“Ayah, hebat sekali kepandaian Cu Sian ini!” kata Hailun sambil menunjuk kearah pemuda itu. “Dia muncul dan menyerang kepala perampok yang menyeramkan itu. Hanya dengan sebatang tongkat dia menghadapi kepala perampok yang bersenjata golok besar dan akhirnya monyet hitam itu melarikan diri. Kalau tidak ada Cu Sian ini, entah apa jadinya dengan kami...“

Tarsukai mengangguk-angguk sambil memandang kepada Han Sin dan Cu Sian, terutama sekali kepada Cu Sian. Diam-diam kepala suku ini kagum akan tetapi juga meragukan cerita kedua puterinya. Pemuda-pemuda yang penampilannya tidak mengesankan itu, nampaknya hanya pemuda-pemuda pelajar yang lemah lembut, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang laki-laki yang jantan dan kuat...?

Akan tetapi, karena bukan hanya dua orang puterinya yang bercerita, akan tetapi juga para pengawal melapor kepadanya akan kelihaian dua orang pemuda itu, maka diapun percaya walaupun tidak yakin benar karena tidak menyaksikan sendiri. Untuk menyatakan terima kasihnya, Tarsukai lalu mengadakan pesta untuk menyambut dan menghormati dua orang tamu agungnya.

Dua orang pemuda itu tentu saja merasa gembira akan penyambutan yang sedemikian ramah dan baiknya. Mereka mendapatkan sebuah kemah sendiri untuk mereka berdua tinggal. di dalam kemah yang tidak berapa besar namun lengkap itu, Han Sin dan Cu Sian beristirahat setelah mereka ikut hadir dalam pesta untuk menyambut mereka dan makan minum sampai kenyang.

Di dalam kemah itu hanya terdapat sebuah tempat tidur yang hanya merupakan sebuah kasur bulu yang terletak di atas permadani. kasur ini kurang lebih satu setengah meter lebarnya dan melihat ini, Cu Sian mengerutkan alisnya dan berkata,

“Sin-ko, malam nanti aku akan tidur di atas permadani saja dan engkau boleh tidur di atas kasur...“

“Ah, Sian-te. Kasur ini cukup besar untuk kita berdua...!“ bantah Han Sin.

“Sudah sering kukatakan padamu, Sin-ko. Aku tidak biasa tidur sekamar dengan orang lain dan kalau hal itu dipaksakan, semalam suntuk aku takkan dapat tidur! Apalagi satu tempat tidur! Sudahlah, kalau engkau memaksa, aku malah akan tidur di luar saja!”

Melihat Cu Sian ngambek, Han Sin tersenyum. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu, Sian-te. Engkau boleh tidur di atas kasur itu seorang diri dan aku yang tidur di permadani...“

“Tidak, kau yang di kasur...!”

“Aihh, Sian-te. Seorang kakak harus mengalah kepada adiknya, bukan...? Hanya aku merasa heran, bagaimana kelak kalau engkau sudah beristeri? Apakah engkaupun akan tidur berpisah tempat tidur dan berpisah kamar...?”

“Aku tidak akan beristri!” kata Cu Sian tegas.

Han Sin tertawa dan menggoda. “Wah, jangan sombong engkau, Sian-te. Kalau engkau takabur, kelak engkau akan malu sendiri. Aku tahu bahwa sekarangpun sudah ada bidadari yang siap melepaskan anak panah asmaranya kepada hatimu...!”

“Jangan mengacau, Sin-ko!”

“Aih, apa kau kira aku tidak tahu...? Apakah engkau hanya pura-pura tidak melihat dan tidak tahu? Aku melihat puteri Hailun yang cantik jelita itu telah jungkir balik jatuh cinta kepadamu, Sian-te...“

Cu Sian cemberut. “Hemm, jangan menggoda, Sin-ko. Apakah kau kira aku tidak tahu betapa Loana memandangmu dengan sepasang mata redup memancarkan cinta? gadis itu mencintaimu, Sin-ko...“

Han Sin menghela napas panjang dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Ah, Sian-te. Akupun tahu akan hal itu dan aku merasa kasihan sekali padanya. Ia seorang gadis yang baik hati dan memenuhi semua syarat untuk dapat menjadi seorang istri yang amat baik. Sayang sekali, aku belum berpikir tentang perjodohan, bahkan tugasku disinipun belum sempat kulakukan. Aku akan menanti saat yang baik untuk minta keterangan dari paman Tarsukai. Akan tetapi aku harus berhati-hati. Dia kelihatan seorang laki-laki yang keras hati dan mendiang ayahku dahulu pernah menjadi musuhnya dalam pertempuran. Aku khawatir dia akan marah dan membenciku kalau aku berterus terang bahwa aku adalah putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu...“

“Hal itu dapat dilakukan kalau sudah terbuka kesempatan bagi kita, Sin-ko. Agaknya dia belum percaya benar kepada kita. Akan tetapi. kau katakan tadi bahwa Loana memenuhi semua syarat untuk menjadi seorang isteri yang baik. Ah, agaknya engkau seorang filsuf yang mengenal benar watak-watak seorang wanita. Sin-ko, katakanlah kepadaku, bagaimana agar dapat memenuhi syarat menjadi seorang isteri yang baik itu? Agar kelak aku dapat memilih yang benar...“

Han Sin memandang seperti orang melamun, pandang matanya kosong dan jauh. Dia membayangkan wajah dan watak ibunya! “Seorang isteri yang baik pertama-tama tentu saja yang memiliki kecantikan yang wajar dan aseli, tidak polesan…"

“Hemmm, ya, Sin-ko?“ Cu Sian mendesak.

“Kecantikan seperti itu adalah khas kecantikan wanita, cantik lahir bathin, tanpa cacat…”

“Seperti Loana itu?”

“Ya, seperti itulah, akan tetapi aku belum yakin benar akan kecantikan bathin Loana...“

“Lalu, bagaimana lagi...?”

“Ia harus mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raganya, setia sampai mati…“

“Hemmm, begitukah? Lalu apa lagi...?”

"Macam kesukaran, berani menghadapi bahaya apapun demi membela suaminya karena di dalam lubuk hatinya hanya ada bayangan suaminya, tidak ada bayangan pria lain…“

“Begitukah? Lalu bagaimana lagi?”

“Ia harus melayani segala keperluan hidup suaminya, selalu siap untuk menyenangkan dan menghibur hati suaminya, ikut bergembira ria kalau suaminya sedang senang dan menghibur kalau suaminya sedang susah. Ia harus menaati semua kehendak suaminya dan…“

Tiba-tiba Cu Sian yang sejak tadi sudah merasa jengkel dengan penggambaran Han Sin, tidak dapat menahan lagi hatinya dan meledaklah kejengkelannya. “…Dan engkau boleh menikah dengan wanita bayangan itu, dewi pujaan yang hanya hidup dalam mimpi! Engkau boleh menikah dengan wanita roh halus atau siluman itu, karena wanita macam itu tidak berdarah daging, dan tidak dapat hidup di dunia ini, wanita macam itu hanya makan harumnya bunga dan asap hio, sebangsa setan kuntilanak...!”

“Ehhh...? dan kenapa engkau marah-marah, Sian-te?”

“Tentu saja aku marah karena engkau adalah seorang laki-laki yang tolol, sombong dan tak tahu diri! Huh, aku muak, belum pernah aku bertemu orang sepertimu. Mual perut ku melihat mu Sin-ko!” Cu Sian lalu keluar dari kemah itu dengan muka merah dan marahnya.

Han Sin tertegun bingung. Dia masih duduk bersila dalam kemah itu, di atas permadani. Terheran-heran melihat sikap Cu Sian. Kenapa pemuda itu marah-marah kepadanya? Padahal dia hanya mememuji kecantikan Loana. Loana…? Ah, apakah Cu Sian mencinta Loana sehingga timbul cemburu di hatinya di kala dia memuji-muji gadis itu?

Perlahan-lahan dia melangkah keluar kemah. Dia melihat Cu Sian berdiri di depan serumpun bunga. Dia menghampiri sampai dekat. “Sian-te, maafkanlah aku...“

Cu Sian memutar tubuhnya menghadapinya. Mulutnya masih cemberut, akan tetapi pandang matanya tidak semarah tadi. “Apa yang harus di maafkan...?” dia bertanya dan matanya memandang nakal...

Pedang Naga Hitam Jilid 21

Li Si Bin mengangguk-angguk. “Peristiwa itu telah terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu maka aku sendiri tidak dapat menceritakan apa-apa. Ketika itu usiaku masih kecil, tidak jauh bedanya denganmu, saudara Cian. Sebaiknya kalau engkau bertanya kepada ayahku...“

“Memang demikianlah maksud saya, kong-cu. Menurut ibu, Gubernur Li dahulu juga teman seperjuangan ayah dan karena dia bertugas di sini, sangat boleh jadi ayahmu itu akan dapat memberi keterangan yang lebih jelas...“

“Memang benar perkiraanmu itu, saudara Cian. Marilah kalian ikut denganku menghadap ayah...“

Kembali dua orang muda itu mengikuti Li Si Bin memasuki gedung besar itu dan akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan yang penuh kitab, agaknya ruangan baca dan Gubernur Li berada di ruangan itu. Han Sin memandang penuh perhatian. Gubernur itu seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun berwajah tenang dan penyabar, berbeda dengan wajah puteranya yang penuh semangat.

“Ayah, coba ayah terka siapa yang ku bawa menghadap ayah ini...!“ kata Li Si Bin.

Gubernur Li memandang kepada Han Sin dan Cu Sian, alisnya berkerut dan dia menggeleng kepalanya.

“Ayah, saudara ini adalah Cian Han Sin, putera dari mendiang Panglima Besar Cian Kauw Cu...!”

Sepasang alis berkerut itu terangkat, sepasang mata itu berseri. Han Sin yang diperkenalkan cepat memberi hormat, di turut pula oleh Cu Sian.

“Ah, begitukah?” kata Gubernur itu sambil mengamati Han Sin dari kepala sampai ke kaki.

Cu Sian yang tidak diperkenalkan merasa dikesampingkan, segera memperkenalkan dirinya sendiri. “Dan saya bernama Cu Sian, sahabat dan pengawal dari Kakak Cian Han Sin...“

Gubernur itu memandang Cu Sian sejenak dengan heran, lalu menggerakkan tangan mempersilahkan mereka duduk. “Aih, betapa cepatnya waktu berlalu. Bagaimana kabarnya dengan keadaan ibumu yang gagah perkasa itu, Han Sin...?”

“Terima kasih, tai-jin, keadaan ibu saya baik-baik saja, “jawab Han Sin dengan sikap hormat. “Dan mohon tai-jin suka memaafkan kalau kunjungan saya ini mengganggu kesibukan tai-jin...“

“Ah, tidak mengapa. Apakah keperluanmu datang menemuiku? Apa yang dapat kami Bantu untuk putera sahabat baik kami, Cian-ciangkun...?”

“Saya mohon keterangan tai-jin tentang kematian mendiang ayah saya ketika memimpin pasukan di daerah Shansi ini. Ibu menyuruh saya untuk menhgadap tai-jin dan mohon keterangan dari tai-jin...“

“Apakah ibumu belum mendapat pelaporan tentang kematian ayahmu...?”

“Sudah tai-jin. Akan tetapi laporan resmi itu hanya mengatakan bahwa ayah gugur dalam pertempuran. Desas-desus di kalangan pasukan mengatakan bahwa kematian ayah tidak wajar, terkena anak panah yang datangnya dari belakang. Ibu mencurigai dan menyuruh saya mohon penjelasan dari tai-jin...“

Gubernur Li menghela napas panjang. “Peristiwa itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Kenapa ibumu baru menyelidikinya sekarang...?”

“Agaknya ibu menanti sampai saya dewasa sehingga dapat melakukan penyelidikannya sekarang...?”

“Akan tetapi peristiwa itu telah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Apa yang kau kehendaki… aahhh, aku mengerti, agaknya engkau hendak menyelidiki siapa pembunuh ayahmu dan hendak membalas dendam...?” Tanya Gubernur Li.

“Bukan itu sebenarnya yang penting bagi saudara Han Sin, ayah. Dahulu, mendiang Cian-ciangkun memiliki sebatang pedang pusaka yang di sebut Hek-Liong-kiam. Nah ketika dia gugur, pedang pusaka itu lenyap di curi orang. Saudara Han Sin ingin menyelidiki siapa pencuri pedang itu ayah, agar dia dapat merampasnya kembali,” kata Li Si Bin menjelaskan. “Dan, dengan menyelidiki siapa pembunuh ayahnya, dia mengharapkan akan dapat menemukan kembali pedang pusaka itu...“

Gubernur Li mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. “Hemmm, begitukah...?”

“Benar, tai-jin dan saya mohon petunjuk tai-jin mengingat bahwa mendiang ayah adalah sahabat tai-jin, mungkin tai-jin mengetahui tentang peristiwa itu...“

Gubernur Li mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Pada waktu itu kami juga menerima laporan dari Panglima Lui yang menjadi pembantu mendiang Panglima Cian, yang melaporkan bahwa Panglima Cian telah tewas dalam pertempuran. Kami juga mendengar desas-desus itu bahwa Panglima Cian tewas karena terkena anak panah di punggungnya. Akan tetapi pada waktu itu kami tidak menaruh curiga. Sedangkan tentang pedang pusaka milik Panglima Cian, kami tidak pernah mendengarnya. Sayang sekali, Han Sin, kami tidak dapat banyak membantu dalam hal ini. Apalagi terjadinya sudah sepuluh tahun yang lalu...“

Biarpun hatinya kecewa, Han Sin tidak memperlihatkannya. Dia lalu berpamit dari Gubernur Li. Han Sin dan Cu Sian mengundurkan diri dan di antar oleh Li Si Bin sampai keluar gedung.

”Sayang sekali bahwa ayah tidak dapat memberi keterangan tentang kematian ayahmu dan pedang pusaka itu, saudara Han Sin. Akupun merasa prihatin dan ikut memikirkan hal itu. Dan menurut pendapat ku, ada beberapa macam cara bagimu untuk dapat menyelidiki siapa pembunuh ayahmu itu...“

“Ah, Li kong-cu, saya akan berterima kasih sekali kalau engkau suka memberi petunjuk kepada saya...“ kata Han Sin.

“Tolonglah, Li kong-cu!” Cu Sian juga memohon. “Sin-ko sudah jauh-jauh dari selatan pergi ke sini, kasihan kalau dia tidak mendapatkan petujunk...“

Li Si Bin tersenyum dan memandang Cu Sian dengan kagum. “Aku kagum kepadamu, saudara Cu Sian. Engkau seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali, juga ternyata merupakan seorang sahabat yang setia dan baik. Begini, saudara Han Sin, setelah engkau tiba disini, sebaiknya kalau engkau melakukan penyelidikan di tempat dimana dahulu terjadi pertempuran yang mengorbankan nyawa ayahmu itu. Banyak suku-suku mongol berada di daerah utara itu, akan tetapi pada saat ini, yang menguasai daerah itu adalah suku Yakka. Mereka juga ikut bertempur melawan pasukan pasukan Sui pada waktu itu, siapa tahu dari mereka engkau bias memperoleh keterangan. Sekarang suku Yakka itu bersikap baik dan tidak pernah mengganggu, bahkan terdapat jalur yang menghubungkan para pedagang yang menuju ke sana. Aku tahu bahwa para pimpinan suku Yakka yang tua-tua semua mengenal nama mendiang ayahmu dan mengangguminya..."

"Akan saya perhatikan nasihat Li kong-cu ini. Apakah masih terdapat petunjuk lain...?”

“Masih ada dua cara, sepanjang yang ku dengar, mendiang Panglima Cian kauw cu adalah seorang yang memperoleh kedudukan tertinggi dalam pasukan, menjadi sahabat mendiang Kaisar Yang Chien dan merupakan tangan kanan beliau. Hal ini mungkin saja menimbulkan iri hati kepada para tokoh perjuangan lainnnya sehingga sangat boleh jadi ayahmu itu terbunuh oleh usaha perebutan kedudukan. Maka engkau dapat melakukan penyelidikan di antara para panglima dan perwira kerajaan. Dan Kenyataan kedua adalah bahwa sewaktu muda, menurut yang ku dengar, ayahmu adalah seorang pendekar kang-ouw. Dengan sendirinya ayahmu tentu mempunyai banyak musuh dari kalangan sesat, maka dapat juga engkau melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw. nah, hanya itulah yang dapat ku Bantu...“

Han Sin merasa kagum dan senang sekali. Sungguh seorang pemuda yang bijaksana sekali Li Si Bin ini, memiliki pandangan yang tajam dan tepat. Dia cepat mengangkat kedua tangannya memberi hormat. “Sungguh tepat semua nasihat kong-cu. Saya tentu akan melaksanakan semua petunjuk itu!”

“Ahh, Saudara Han Sin terlalu memuji. Aku akan ikut merasa gembira kalau engkau dapat menemukan siapa pembunuh ayahmu yang curang itu dan mendapat kan kembali pedang pusaka ayahmu...“

“Li Kong-cu sungguh seorang yang amat cerdas dan bijaksana. Sekarang aku baru mengerti mengapa rakyat Shansi menyangjung-nyanjungmu...“ kata Cu Sian.

Dua orang pemuda itu lalu berpamit dan mereka meninggalkan kota Taigoan menuju ke utara. Set elah melihat sepak terjang Cu Sian ketika bertanding melawan pemuda bernama Bong Sek Toan itu, Han Sin lebih percaya bahwa Cu Sian memiliki kepandaian yang cukup untuk menjaga dan melindungi diri. Dia tidak merasa khawatir lagi dan mereka melakukan perjalanan ke utara dengan gembira. Tidak mungkin bagi Han Sin untuk tidak terbawa gembira melakukan perjalanan bersama Cu Sian yang selalu lincah dan riang itu.

********************

Cerita silat serial sepasang naga lembah iblis episode pedang naga hitam jilid 21 karya kho ping hoo

Jalan yang di lalui para pedagang yang membawa barang dagangan dari dan ke daerah utara ada dua jalur. Kalau para pedagang itu membawa dagangan ke utara, mereka melalui jalan darat yang melalui bukit-bukit. Akan tetapi kalau mereka membawa dagangan dari utara, mereka lebih suka mempergunakan jalan air Sungai Huang-ho yang mengalir ke selatan.

Baik jalan melalui darat maupun melalui sungai, sama saja resikonya. Kadang muncul perampok atau bajak sungai yang mengganggu para pedagang itu. Maka, biasanya rombongan pedagang itu membayar piauw-su (pengawal barang) untuk melindungi mereka dari gangguan penjahat. Tentu saja terdapat semacam permusuhan di antara para piauw-su dan para penjahat itu. Akan tetapi akhir-akhir ini mereka menempuh jalan damai. Para gerombolan itu tidak lagi mengganggu rombongan para pedagang asal saja mereka di beri imbalan sebagai “pajak jalanan“.

Para piauw-su tentu saja lebih suka kehilangan sebagian dari penghasilan mereka untuk diberikan kepada penjahat -penjahat itu daripada mereka harus bertempur. Demikian pula para penjahat itu, lebih baik menerima imbalan dari mereka yang lewat. Pertempuran hanya akan merugikan kedua pihak, ada yang luka-luka, bahkan tidak jarang ada kematian di antara mereka.

Pada suatu pagi yang cerah serombongan orang menunggang kuda melewati jalan yang sunyi itu. Mereka terdiri dari belasan orang yang dari pakaiannya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang suku Yakka Mongol. rata-rata bertubuh ramping kokoh menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kuat yang biasa bergerak atau bekerja keras.

Yang menunggang kuda terdepan adalah dua orang gadis berusia tujuh belas dan dua puluh tahun. Mereka berpakaian indah, baju dan topi dari bulu dan wajah mereka cantik sekali. Akan tetapi dilihat dari sikap mereka menunggang kuda, dapat diket ahui bahwa dua orang gadis ini juga sudah biasa menunggang kuda dan bertubuh kuat.

Hal ini tidaklah aneh karena para wanita yakka juga biasa melakukan pekerjaan kasar, rata-rata pandai berburu binatang mempergunakan anak panah, tombak maupun pedang bengkok model Turki. Dua orang gadis itu adalah kakak beradik, puteri ketua suku Yakka.

Ayah mereka adalah kepala suku Yakka yang terkenal karena kuat dan pandai memimpin sukunya, bernama Tar-sukai. Adapun dua orang puterinya itu, yang pertama bernama Loana, berusia dua puluh tahun, sedangkan yang kedua bernama Hailun, berusia tujuh belas tahun.

Suku Yakka menguasai daerah yang luas dan subur. Mereka berpusat di lembah antara sungai Kerulon dan Sungai Onon yang amat subur. Bukit-bukit di sini di tumbuhi hutan yang lebat, penuh binatang perburuan. Air yang berasal dari salju di gunung-gunung berlimpah, tak pernah kering. Daerah ini selalu menjadi perebutan antara suku-suku di utara, akan tetapi akhirnya dikuasai oleh suku Yakka yang terkenal gagah berani dan mempunyai pasukan yang cukup besar jumlahnya. Bahkan suku Yakka ini mengembangkan kekuasaan mereka sampai ke selatan, ke perbatasan propinsi Shan-si.

Mula-mula memang terjadi pertempuran besar-besaran diantara suku Yakka dan pasukan Sui, akan tetapi akhir-akhir ini, setelah Gubernur Li mengambil seorang wanita Turki sebagai istrinya, keadaan berubah. Gubernur Li mengambil sikap bersahabat dengan semua suku bangsa Turki dan yakka. Bahkan dibukalah hubungan dagang dengan suku-suku bangsa di utara itu.

Pada suatu hari, Tar sukai, kepala suku Yakka, berhasil mengumpulkan banyak bulu biruang yang di dapatkan oleh para pemburu dan juga banyak batu permata yang khas. Maka, diapun memilih bulu terbaik dan batu-batu yang langka, lalu bermaksud mengirim barang berharga itu sebagai hadiah kepada Gubernur Li. Mendengar bahwa ada rombongan hendak pergi ke selatan, dua orang puterinya merengek menyatakan ingin pergi bersama rombongan.

Tar sukai amat menyayang kedua orang puterinya ini, maka diapun tidak tega menolak. Demikianlah, kedua orang puterinya itu bahkan ditugaskan mewakilinya mengahturkan bingkisan itu kepada Gubernur Li. Mereka dikawal oleh tujuh belas orang perwira jagoan dari Suku Yakka, melakukan perjalanan ke selatan yang cukup jauh dan akan memakan waktu beberapa pekan dengan menunggang kuda.

Bukan main gembiranya hati Loana dan Hailun melakukan perjalanan itu. Bagi mereka, perjalanan itu bukan sekedar membawa tugas mengantar barang bingkisan, melainkan terutama sekali merupakan pesiar yang menggembirakan. Bahkan kalau mereka melewati sebuah hutan yang banyak binatangnya. Mereka berdua melakukan perburuan. Kalau melewati telaga, dua orang kakak beradik itu memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti dan mereka lalu berpesiar di telaga.

Tujuh belas orang jagoan pengawal itu selalu tunduk dan memenuhi kehendak Loana dan Hailun. mereka semua maklum betapa sayangnya pemimpin mereka kepada dua orang puterinya ini. Apalagi yang memimpin para pengawal itu adalah Temugu, adik kandung Tarsukai sendiri, atau paman dari kedua orang gadis itu. Temugu juga amat sayang dan memanjakan kedua orang keponakannya itu.

Loana berwatak lembut dan agak pendiam, berbeda dengan adiknya, Hailun yang wataknya riang dan lincah jenaka. Banyak sekali orang muda bangsa Mongol yang tergila-gila kepada dua orang gadis ini dan banyak putera kepala suku lain yang mengajukan pinangan, akan tetapi tidak satupun pinangan di terima oleh Tarsukai. Bukan berarti bahwa Tarsukai tidak ingin kedua puterinya memperoleh jodoh, akan tetapi semua pinangan di tolak keras oleh kedua orang puterinya itu.

Karena ini pula maka ketika kedua orang puterinya hendak mewakilinya menyerahkan hadiah kepada Gubernur Li di Shansi, dia mengijinkan dengan harapan mudah-mudahan kedua orang puterinya itu akan menemukan jodoh yang seimbang dan baik di Shansi. Gubernur Li di Shansi mempunyai banyak putera dan di sana terdapat pula panglima-panglima muda yang gagah perkasa. Siapa tahu Loana dan Hailun akan bertemu jodoh mereka.

Pada pagi hari yang cerah itu, rombongan orang suku Yakka Mongol itu tibalah di daerah pegunungan yang menjadi perbatasan dengan daerah Shansi. Dua orang gadis yang menunggang kuda paling depan itu tiba-tiba melihat sekelompok kijang melarikan diri memasuki hutan. Bukan main gembira hati mereka dan dengan anak panah siap di tangan mereka membalapkan kuda mereka mengejar ke dalam hutan.

Melihat ini, Temugu berteriak. “Heiii, Loana, Hailun, tunggu! Kembalilah...!“

Dia sudah banyak mendengar tentang gerombolan-gerombolan perampok yang bermarkas di dalam hutan lebat. Akan tetapi dua orang gadis yang sedang gembira itu terus membalapkan kuda mereka.

“Heiii, tunggu kami…!“ Temugu berteriak dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melakukan pengejaran ke dalam hutan.

Tujuh belas orang itu lalu melarikan kuda mereka memasuki hutan lebat itu. Akan tetapi dua orang gadis itu sudah jauh meninggalkan mereka sehingga mereka terpaksa harus mencari-cari jejak kuda dua orang gadis itu.

Sambil membalapkan kuda mereka, Loana dan Hailun melepaskan anak panah berulang kali. Mereka tidak mampu mendekati kijang-kijang itu yang larinya pesat bukan main.

“Panahku mengena...!“ teriak Hailun.

“Panahku juga!“ kata Loana.

Akan tetapi karena jaraknya jauh anak panah mereka tidak dapat merobohkan kijang-kijang yang terlalu cepat larinya itu. Mereka mengejar secepatnya sehingga meninggalkan rombongan pengawal mereka.

Selagi kedua orang gadis Mongol itu membalapkan kuda, tiba-tiba kuda mereka meringkik kaget dan ketakutan ketika dari balik pohon dan semak berloncatan belasan orang dari sikapnya mereka yang kasar dapat di duga bahwa mereka adalah orang-orang jahat. Lima belas orang itu di pimpin oleh seorang yang usianya sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan wajah penuh brewok dan kulit mukanya hitam.

Melihat dua orang gadis yang cantik manis itu, si kepala perampok tertawa bergelak. “Biar aku sendiri yang menangkap mereka, kalian hadang pasukan berkuda itu, bunuh mereka dan rampas kuda dan barang-barang mereka...!“ teriaknya dan bagaikan seekor orang utan besar, dia sudah meloncat dan menerkam kearah Loana yang duduk di atas kuda berusaha menenangkan kudanya.

Terkaman itu demikian hebat sehingga tubuh Loana terseret turun dari atas kuda. Sebelum ia sempat bangkit berdiri, tubuhnya sudah menjadi lemas dan lumpuh karena di totok oleh kepala perampok itu. melihat ini Hailun menjadi marah dan ia sempat melepaskan anak panah kearah kepala perampok itu. Akan tetapi kepala perampok itu ternyata lihai sekali. Anak panah itu dapat di tangkisnya dengan tangan sehingga melesat jauh dan sebelum Hailun dapat memanah lagi, kakinya telah di tangkap dan di tarik turun dari atas kuda.

Sebagai seorang gadis Mongol yang sejak kecil mempelajari ilmu bela diri, ia melawan. akan tetapi kepala perampok itu jauh lebih kuat dan lebih cepat. Dia lihai sekali dan sebelum Hailun dapat berbuat banyak, iapun sudah roboh terkulai oleh totokan kepala perampok brewok itu.

“Ha-ha-ha-ha! hari ini beruntung sekali aku, mendapatkan dua orang nona yang cantik jelita! Ha-ha-ha...“ sambil tertawa-tawa dia lalu memanggul tubuh kedua orang gadis itu dan di kedua pundaknya dan membawa mereka menyusup hutan belukar menuju ke kelompok bangunan dari kayu dan bambu yang menjadi sarang gerombolan perampok itu.

Sementara itu, secara kebetulan Han Sin dan Cu Sian tiba pula di jalan yang melalui hutan itu dalam perjalanan mereka ke utara. Mereka berjalan santai sambil bercakap-cakap.

“Eh, Sin-ko. Engkau belum menceritakan bagaimana engkau dapat menduga bahwa Bong Sek Toan itu mempunyai hubungan dengan nama Toat Beng Giam-Ong. Aku pernah mendengar dari para pamanku bahwa Toat-beng Giam-Ong adalah seorang datuk yang dahulu menjadi Kok-su Kerajaan Toba...“

"Dari ibuku aku mengenal ilmu silat Lo-han-kun dan orang she Bong itu ketika melawanmu menggunakan ilmu pedang Lo-hai kiam-hoat. Maka aku dapat menduga demikian...“

“Dan dugaanmu itu ternyata tepat. Buktinya, ketika dia dikenal sebagai orang yang ada hubungannya dengan bekas Kok-su Kerajaan Toba itu, dia terus melarikan diri...“

“Ssssttt, Sian-te. Ada suara rebut-ribut dari dalam hutan itu...?“ Han Sin menunjuk ke arah kiri darimana terdengar suara pertempuran.

Cu Sian juga mendengar itu dan cepat dia meloncat dan berlari memasuki hutan, di ikuti oleh Han Sin. Tak lama mereka berlari dan mereka melihat ada dua kelompok orang yang berkelahi. Yang sekelompok adalah orang-orang Mongol dan yang kedua adalah orang-orang yang melihat pakaiannya tentu orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, mungkin perampok. Orang-orang Mongol itu berlompatan turun dari kuda mereka dan terjadilah pertempuran yang hebat.

Han Sin melihat seorang laki-laki tinggi besar memanggul tubuh dua orang wanita muda. “Sian-te, gadis-gadis itu di culik...!”

Cu Sian menengok dan ketika dia melihat seorang laki-laki tinggi besar melarikan dua orang gadis yang di panggulnya, dia lalu berkata. “Sin-ko, biar aku menolong mereka...!“ Dan diapun sudah berlari cepat melakukan pengejaran terhadap pria tinggi besar yang melarikan dua orang gadis mongol itu.

Han Sin membiarkan saja Cu Sian yang melakukan pengejaran karena dia yakin bahwa sahabatnya itu tentu akan mampu menolong dua orang gadis itu. Dia sendiri lalu menghampiri tempat pertempuran dan memperhatikan. Tidak lama dia meragu harus membantu siapa karena dia segera mendengar seruan orang-orang kasar itu.

“Bunuh dan rampas kuda mereka...!”

Dari teriakan-teriakan ini tahulah dia bahwa orang-orang kasar itu tentu segerombolan perampok yang menyerang segerombolan orang mongol ini. Dan dua orang gadis tadi pun gadis mongol. Dia tidak ragu lagi harus membantu siapa.

“Perampok jahat...!“ serunya dan dia pun sudah terjun ke dalam gelanggang pertempuran itu. Walaupun Han Sin hanya bertangan kosong, namun setiap orang perampok yang menyerangnya, tentu senjata mereka terpental dan orangnya terjengkang oleh tamparan tangan mau pun tendangan kaki Han Sin.

Masuknya Han Sin yang membantu orang-orang mongol itu membuat gerombolan perampok menjadi panik. Sebentar saja Han Sin telah merobohkan tujuh orang perampok. Walaupun dia tidak melukai berat para perampok itu dan mereka dapat bangkit kembali namun mereka telah jerih dan larilah mereka cerai berai di kejar oleh orang-orang mongol.

Melihat bahwa para perampok telah melarikan diri, Han Sin lalu berkelebat cepat melakukan pengejaran kearah larinya perampok yang menculik dua orang gadis dan sedang di kejar oleh Cu Sian. Dia khawatir kalau-kalau Cu Sian terjebak atau menghadapi ancaman bahaya.

Sementara itu, sebentar saja Cu Sian sudah berhasil menyusul kepala perampok yang melarikan dua orang gadis Mongol. Loana dan Hailun yang tertotok tidak mampu bergerak, t lidak dapat meronta, akan tetapi mereka berseru marah.

“Lepaskan aku...!“ seru Loana

“Lepaskan kami, kau anjing bedebah busuk...!“ Hailun memaki.

Akan tetapi kepala perampok itu hanya tertawa-tawa, seolah seruan marah dan makian kedua gadis itu terdengar nyanyian merdu bagi telinganya.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang pemuda tampan telah berdiri menghadang di depan kepala perampok itu. Pemuda itu adalah Cu Sian. Dia membawa sepotong tongkat kayu dari ranting pohon dan menudingkan tongkat itu ke arah muka si kepala perampok.

“He, monyet muka hitam! Berani engkau menculik dua orang gadis ini...? Hayo engkau bebaskan mereka kalau tidak ingin ku tusuk hidungmu yang besar dan jelek itu sampai hancur dengan tongkat ini...!” Dengan sikap mengejek Cu Sian menudingkan tongkatnya ke arah hidung kepala perampok itu.

Kepala perampok itu adalah orang yang terbiasa di taati oleh anak buahnya dan selama ini belum pernah ada orang berani menentang kehendaknya. Maka, kini melihat seorang pemuda remaja berani memaki dan menghinanya, tentu saja dia menjadi marah bukan main. Di turunkannya dua orang gadis itu ke bawah sebatang pohon dan dia meloncat dengan sigapnya ke depan Cu Sian sambil membelalakan matanya, sikapnya penuh ancaman. Sepasang mata kepala perampok itu terbuka sedemikian lebarnya seolah-olah dia hendak menelan pemuda remaja yang berani menentangnya itu dengan matanya.

“Hemmm…!“ Ia menggeram seperti seekor biruang marah. “Tikus kecil, engkau sudah bosan hidup...!"

Akan tetapi Cu Sian malah tertawa. “Ha-ha-ha, monyet muka hitam. Aku tidak bosan hidup. Aku akan hidup seribu tahun lagi untuk melaksanakan tugas hidupku, yaitu membasmi monyet-monyet jahat seperti engkau inilah...!”

Pada saat itu, han Sin tiba di tempat itu. “Sian-te, berhati-hatilah...“ katanya.

Cu Sian menoleh dan tersenyum melihat Han Sin sudah menyusul ke situ. “Ahhh, jangan khawatir, Sin-ko. Kalau hanya monyet hitam seperti ini, biar ada selusin pun aku tidak akan kalah...!”

Mendengar ucapan pemuda remaja itu, kepala perampok tadi menjadi semakin marah. Apalagi telah muncul seorang pemuda lain. Dia merasa terganggu sekali dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerkam kepada Cu Sian seperti seekor harimau menerkam seekor domba, Namun Cu Sian mengelak cepat dan terkaman itupun mengenai tempat kosong. Dia menjadi semakin marah dan melakukan penyerangan secara bertubi-tubi, akan tetapi semua serangan dapat di elakkan dengan mudah oleh Cu Sian.

Melihat bahwa kepala perampok itu hanya meiliki tenaga besar saja akan tetapi gerakannya terlalu lamban bagi Cu Sian. Han Sin tidak merasa khawatir lagi dan dia segera menghampiri dua orang gadis Mongol yang masih rebah tak mampu bergerak. Dia menggerakkan tangan dengan cepat sehingga tidak nampak oleh dua orang gadis itu, akan tetapi dia telah menotok mereka dan tiba-t iba saja Loana dan Hailun dapat menggerakkan kaki tangan mereka.

Loana dan hailun segera bangkit berdiri. Kedua orang gadis itu memandang kearah Cu Sian yang sedang bertanding melawan kepala perampok itu dan keduanya nampak gelisah karena kapala perampok itu menyerang bertubi-tubi sambil mengeluarkan suara geraman seperti seekor binatang buas. Dia nampak buah dan menyeramkan sekali.

“Harap nona berdua tidak khawatir, adikku Cu Sian tidak akan kalah melawan kepala perampok itu...“ kata Han Sin menenangkan mereka. Kedua orang gadis itu menoleh dah mengetahui bahwa pemuda inipun bukan orang jahat melainkan kakak dari pemuda yang telah menolong mereka, mereka lalu mendekati seolah hendak minta perlindungan.

Loana berkata kepada Han Sin dengan suara memohon, “Sobat yang baik, kenapa engkau tidak cepat membantu adikmu menghadapi orang jahat itu...?”

Han Sin memandangi kedua orang gadis itu sejak tadi dan dia merasa kagum sekali. Loana memiliki wajah yang bulat telur, cantik manis sekali. Sepasang matanya seperti mata rajawali, demikian tajam namun lembut dan ketika bicara timbul lesung pipi di sebelah kiri. Sikapnya halus dan ketika bertanya kepadanya, suaranya merdu dan lembut dan ketika bicara timbul lesung pipi di sebelah kiri. Sikapnya halus dan ketika bertanya kepadanya, suaranya merdu dan lembut. Gadis kedua yang lebih muda, memiliki bentuk wajah yang bulat, hidungnya mancung dan mulutnya merupakan daya tarik paling kuat. Mulut itu manis menggairahkan.

“Jangan kalian khawatir, adikku tidak akan kalah dan seorang laki-laki sejati tidak akan bersikap curang melakukan pengeroyokkan...“ jawab Han Sin.

Dan mendengar jawaban ini Loana menjadi kagum. Jaw aban itu menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan seorang pendekar yang gagah perkasa. Kalau adiknya saja sudah demikian gagah. kakaknya ini tentu lebih hebat pula pikirnya. Akan tetapi, melihat Han Sin dan Hailun memandang ke arah perkelahian itu penuh perhatian, Loana lalu memandang pula.

Kepala perampok itu menjadi semakin beringas ketika beberapa kali tubrukannya dan serangannya hanya mengenai tempat kosong. Dia mengerahkan tenaganya dan menerjang kembali dengan kedua lengan di buka seperti seekor beruang menyerang calon mangsanya sambil mengeluarkan teriakan keras.

“Haiiittttt…!“ Kedua tangan itu membuat gerakan memeluk. Cu Sian cepat menghindarkan diri dan langkah ke samping belakang, lalu kakinya mencuat dengan tendangan yang cepat seperti kilat menyambar.

“Dukkk… aaggghh…! Kaki bersepatu itu kecil saja akan tetapi karena sambarannya cepat dan mengenai lambung, raksasa muka hitam itu terjengkang dan mengaduh. Ketika dia merangkak bangun, dia memegangi perutnya yang seketika terasa mulas. Kini kemarahannya memuncak dan dia tidak lagi berani memandang rendah pemuda remaja itu. Tangannya meraih ke punggung dan dia sudah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.

Melihat ini, Loana dan Hailun menjadi ngeri dan khawatir sekali, apalagi melihat kepala perampok itu tanpa peringatan lagi sudah mengayun goloknya menyerang. Golok menyambar ke arah leher Cu Sian. Loana sudah memejamkan matanya dan Hailun mengepal tinjunya. Akan tetapi dengan cepat dan ringan sekali tubuh Cu Sian sudah mengelak ke belakang dan golok itu membacok angin.

“Curang! Pengecut! Biar aku membantunya...!“ terdengar Hailun berteriak dan gadis mongol yang licah ini sudah mencabut sebatang pisau belati bengkok dari balik ikat pinggangnya. Agaknya ia akan nekat maju mengeroyok kepala perampok itu, akan tetapi Han Sin cepat mencegahnya.

“Jangan, nona. Adikku tidak akan kalah. Kalau engkau membantunya, engkau malah akan membikin dia repot melindungimu. Lihatlah, dia tidak akan kalah...“

“Tapi dia di serang dengan senjata oleh pengecut curang itu...!“ Hailun membantah dan masih hendak nekat menyerbu.

“Hailun, sobat ini benar. Jangan mencampuri, engkau akan terancam bahaya. Dia tidak akan kalah. Lihatlah...!”

Hailun memandang dan iapun bernapas lega, Kiranya Cu Sian sudah memegang sebatang tongkat yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan kini dengan tongkatnya itu dia melawan kepala perampok yang memegang golok.

“Ha-ha-ha, monyet hitam. Golokmu penyembelih ayam itu tidak menakutkan aku...!” Cu Sian mengejek dan begitu dia memutar tongkatnya, lawan yang tinggi besar itu baginya demikian aneh, tongkat seolah berubah menjadi belasan banyaknya, menyerang dari segenap penjuru.

Dia mencoba untuk melindungi tubuhnya dengan putaran goloknya, namun tetap saja tongkat itu dapat menyelinap di antara gulungan sinar goloknya dan dua kali tubuhnya berkenalan dengan tongkat itu. Pertama kali, kepalanya di ketuk sedemikian kerasnya sampai timbul benjolan sebesar telur ayam di dahinya, dan kedua kali, dadanya tertotok ujung tongkat yang membuat dia terjengkang dan dadanya terasa sesak bernapas...

Pedang Naga Hitam Jilid 20

Sementara itu, Cu Sian sibuk bertanya kepada seorang penonton yang berdiri di sebelahnya tentang peraturan ujian ilmu silat itu.

“Yang kalah sebelum dua puluh lima jurus dinyatakan gagal dan harus di terima sebagai prajurit kelas satu. Yang dapat melampaui dua puluh lima jurus akan tetapi tidak sampai empat puluh jurus akan di angkat menjadi seorang perwira, yang mampu bertahan sampai empat puluh jurus akan tetapi tidak melampaui lima puluh jurus menjadi perwira yang lebih tinggi kedudukannya, akan tetapi yang mampu bertahan sampai lima puluh jurus lebih, diberi kedudukan perwira yang paling tinggi. Akan tetapi selama dua tahun ini, tidak ada peserta yang mampu bertahan sampai lebih dari lima puluh jurus melawan Li Kong-cu...“

Cu Sian mengangguk-angguk dan kembali melihat ke atas panggung. Dia kagum sekali melihat gerakan Li Si Bin. Jelas bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang hebat, akan tetapi putera gubernur itu membatasi tenaga dan kecepatannya. Agaknya dia memberi kelonggaran kepada lawannya karena menurut perhitungan Cu Sian, kalau Li kong-cu itu menghendaki, dalam sepuluh jurus saja peserta pendek itu akan terjungkal!

Dugaan Cu sian memang benar, Li Kong-cu memberi kelonggaran, akan tetapi tidak lebih dari dua puluh empat jurus. Pada jurus ke dua puluh empat, tiba-tiba saja peserta pendek itu terkulai roboh, cepat Li Kong-cu menjulurkan tangan kanannya, memegang tangan orang itu dan mengangkatnya bangun. Dia tersenyum ramah ketika berkata,

“sayang engkau gagal. Akan tetapi dengan bekal tenaga dan kepandaianmu, kalau engkau mau masuk menjadi prajurit kelas satu, dalam waktu singkat engkau tentu akan memperoleh kenaikan pangkat asal engkau suka berlatih dengan baik..."

Peserta pendek itu memberi hormat. Dia tidak nampak terpukul perasaannya karena dikalahkan Li Kong-cu, bahkan sikap Li Kong-cu yang demikian ramah dan baik, membuat dia menjawab dengan suara tegas,

“saya mau menjadi prajurit, kong-cu, dengan harapan mendapat petunjuk kong-cu untuk memperoleh kemajuan...“

Peserta pertama mundur di gantikan peserta kedua yang seperti juga peserta pertama, memilih bertanding dengan tangan kosong. Akan tetapi, tidak seperti peserta pertama, peserta kedua yang bertubuh jangkung kurus ini ternyata memiliki sin-kang yang cukup kuat dan juga ilmu silatnya tangguh sekali.

Cu Sian yang memperhatikan gerakan Li Kong-cu, mendapat kenyataan bahwa pemuda bangsawan itu menambah takaran tenaga dan kecepatannya, namun sampai lewat dua puluh lima jurus si jangkung itu masih bertahan dan akhirnya dia tertotok lemas dalam jurus ke tiga puluh. Dia lulus sebagai perwira pertama dan juga seperti perserta pertama dia di kalahkan tanpa menderita luka dan Li Kong-cu bersikap bersahabat dengannya. Maka, peserta ini pun tidak menderita malu dan dia lalu mengundurkan diri setelah mengucapkan terima kasih.

Peserta ke tiga adalah seorang pemuda berusia hampir tiga puluh tahun, berkumis dan perawakannya sedang saja, namun dari gerak geriknya jelas nampak oleh Cu Sian bahwa peserta ke tiga ini lebih lihai dari pada dua peserta terdahulu. Dugaannya tepat karena setelah mereka bergebrak, pertandingan kini berjalan dengan ramai dan seru. Peserta ke tiga dapat mengimbangi gerakan Li Kong-cu sehingga penonton memandang dengan gembira dan dengan hati tegang.

Akan kalahkah jago mereka, yaitu Li Kong-cu...? Akan tetapi Cu Sian dengan kagum dapat menilai gerakan mereka berdua dan dia tahu bahwa Li Kong-cu tidak akan dapat di kalahkan orang itu. Perhitungannya memang tepat. Peserta ketiga ini memang lihai dan mampu bertahan sampai lima puluh jurus! Akan tetapi tetap saja dia harus mengakui ke unggulan Li Kong-cu karena dalam jurus ke lima puluh lima, dia pun terpelanting jatuh.

Walaupun dia tidak menderita luka, tetap saja kejatuhannya sudah menunjukkan bahwa dia memang kalah. Li kong-cu nampak gembira sekali. Dia mengangkat bangun peserta itu dan memberinya kedudukan perwira menengah, tidak seperti dua orang peserta terdahulu yang mendapatkan kedudukan perwira rendah.

Kini peserta ke empat yang maju. Cu Sian yang tidak senang melihat pemuda tinggi besar yang di anggapnya sombong itu memandang dengan mata bersinar-sinar. Dia melihat betapa pemuda tinggi besar itu menghadapi Li Kong-cu dengan lagak yang angkuh, tidak mau tunduk.

Li Si Bin hanya tersenyum melihat lagak pemuda tinggi besar itu dan setelah mereka berdua mengangkat kedua tangan depan dada sebagai salam, Li Si Bin bertanya, “sobat, engkau memilih ujian silat dengan senjata apa...?”

Berbeda dengan tiga orang peserta yang memilih di uji ilmu silat tangan kosong, pemuda tinggi besar itu menjawab lantang. “Setiap orang pendekar sejati tidak akan pernah melepaskan pedangnya, demikian pula seorang panglima harus pandai menggunakan berbagai macam senjata. Aku memilih pedang untuk bertanding ilmu...“ Setelah berkata demikian, si tinggi besar itu menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggung dan... “sing…!“ dia telah memegang sebatang pedang yang berkilauan.

Para penonton memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang, akan tetapi Li Si Bin masih tersenyum dengan tenang. Sementara itu Cu Sian sudah tidak mampu menahan kemarahannya melihat sikap congkak itu. Dia tahu bahwa Li Si Bin adalah seorang yang bijaksana. Ketika mengalahkan tiga orang lawannya tadi saja sudah menunjukkan bahwa dia seorang yang rendah hati dan baik budi.

Kini melihat si congkak itu mencabut pedang yang berkilauan, dia merasa khawatir akan keselamatan putera gubernur itu. Tanpa dapat di cegah Han Sin yang sama sekali tidak menduganya, Cu Sian sudah melompat memasuki batas tali, kemudian dengan mengerahkan ginkangnya dia melompat tinggi dan membuat poksai (salto) sampai tiga kali baru turun ke atas panggung dengan ringan sekali. Tentu saja perbuatannya itu mengejutkan semua orang, dan Li Si Bin sendiri memandang dengan heran.

“Siapakah engkau dan apa artinya engkau naik ke atas panggung ini...?” tanya Li Si Bin sambil memandang tajam, suaranya penuh wibawa. Sementara itu Han Sin terkejut sekali karena dia dapat menduga bahwa sahabatnya itu tentu akan menimbulkan keributan. Akan tetapi sudah terlambat dan dia tidak dapat berbuat lain kecuali menonton dengan hati tegang dan khawatir.

Cu Sian mengangkat kedua tangan kedepan dada untuk memberi hormat kepada putera gubernur itu lalu berkata, “Maafkan aku, kong-cu. Karena kulihat kong-cu sudah melayani bertanding sampai tiga kali berturut-turut, maka perkenankanlah aku untuk mewakili kongcu dalam pertandingan ini. Dengan melihat jalannya pertandingan antara orang sombong ini dan aku, tentu kong-cu sudah dapat menilai apakah dia pantas di terima ataukah tidak...“

Li Si Bin menjadi tertarik sekali. Belum pernah dia melihat seorang pemuda remaja yang tampan dan halus seperti ini memperlihatkan keberanian yang luar biasa. Dia ingin sekali melihat bagaimana lihainya pemuda ini, maka sambil tersenyum dia menoleh kepada peserta ke empat yang tinggi besar itu.

“Tentu saja aku tidak keberatan dan pertandingan itu tentu akan menarik sekali dan menambah semaraknya ujian ini. Akan tetapi entah bagaimana dengan pendapat peserta keempat ini...“

Pemuda tinggi besar itu mengerutkan alisnya karena dia tidak mengenal Cu Sian, lalu menjawab ucapan Li Si Bin, dia berkata dengan lantang. “Li Kong-cu, saya tidak takut menghadapi siapapun juga, akan tetapi yang berhak naik ke panggung adalah mereka yang lulus ujian yang telah di tetapkan. Karena itu, saya ingin melihat apakah bocah ini mampu melakukan syarat yang telah di tentukan. Kalau dia dapat melakukan itu semua dengan baik, baru dia ada harganya untuk menguji ilmu silat saya. Kalau tidak, sebaiknya kong-cu melemparkan bocah pengacau ini keluar panggung...“

Li Si Bin menoleh kepada Cu Sian sambil tersenyum.

“Apa sih sukarnya melakukan itu semua...? Aku dapat memenuhi persyaratan itu jauh lebih baik daripada yang dia lakukan tadi...!“

Mendengar ini, Li Si Bin lalu berkata, "Baiklah, sekarang ditetapkan begini. Saudara ini akan memenuhi semua persyaratan, yaitu ujian tenaga dan ketangkasan, kemudian kalau dia lulus, kalian berdua akan saling menguji ilmu silat. Bagaimana, apakah kalian berdua setuju...?”

Pemuda tinggi besar itu menjawab hampir berbareng dengan jawaban Cu Sian. “Aku setuju...!”

Li Si Bin lalu meninggalkan panggung dan duduk di kursinya, sedangkan pemuda tinggi besar itu berkata mengejek, “Bocah pengacau, sekarang perlihatkan kemampuanmu, hendak kulihat apakah kemampuan tenaga dan kecekatanmu sama besarnya dengan mulut mu...!“ Setelah berkata demikian, diapun mundur dan berdiri di sudut panggung sambil bertolak pinggang dan mulutnya tersenyum mengejek.

Cu Sian kini menghadapi penonton dan tersenyum geli ketika dari situ dia melihat wajah Han Sin yang kerut merut dan matanya melotot kepadanya. “Saudara sekalian, saudara yang menjadi saksi apakah saya dapat lulus lebih baik daripada manusia sombong ini ataukah tidak. Pertama, melompat ke panggung. Tadi sudah kulakukan dan semua orang telah menyaksikannya. Sekarang akan kulakukan ujian kedua, memanah dengan busur itu. Silahkan kalian semua melihat...!“

Dengan langkah gagah Cu Sian menghampiri meja dan mengambil busur yang besar dan berat itu. Para penonton melihat betapa pemuda remaja yang bertubuh kecil dan gerak geriknya halus itu mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk mengangkat busur itu! Pemuda tinggi besar itu tertawa terkekeh melihat ini dan para penonton juga mengerutkan alis karena kecewa. Bagaimana mungkin pemuda itu mampu memanah orang jerami yang jauh itu dengan busur yang demikian beratnya...? Mengangkat busur itu saja dia harus menggunakan kedua tangannya!

Semua penonton memandang dengan hati tegang dan suasana menjadi hening sekali. Ketika Cu Sian menahan busur dengan tangan kirinya lalu mengambil tiga batang anak panah, memasang tiga batang anak panah itu kepada busurnya, semua orang mulai terbelalak. Cu Sian lalu memasang kuda-kuda, mengangkat kaki kiri tinggi lalu dilangkahkan ke depan lebar-lebar, membentuk pasangan kaki menunggang kuda, kemudian dia mementangtali busur sepenuhnya.

“Kena...!“ serunya sambil melepas anak panah. Tiga batang anak panah itu menyambar ke depan secepat kilat dan menancap di orangan jerami itu, tepat mengenai leher, dada dan pusar!

“Ahhhh…!“ Penonton berseru dan meledaklah sorak sorai dan tepuk tangan mereka. Kiranya ketika mengangkat busur dengan kedua tangannya, Cu Sian hanya berpura-pura saja. Dan tentu hebat dan menganggumkan. Li Si Bin sendiri sampai bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan mata bersinar-sinar. Bukan main pemuda remaja itu pikirnya. Melepas tiga batang anak panah dengan sekali luncuran merupakan ilmu memanah tingkat tinggi! Di daerah Shansi ini mungkin hanya dia seorang yang mampu melakukannya!

Han Sin yang tadinya marah dan gelisah melihat ulah sahabatnya itu, juga merasa amat kagum. Tak di sangkanya bahwa Cu Sian memiliki ilmu memanah yang demikian hebat dan melihat semua orang bersorak dan bertepuk tangan, tak dapat di tahannya lagi diapun ikut-ikutan bertepuk tangan!

Kegaduhan penonton itu tiba-tiba berhenti dan suasana menjadi sunyi kembali ketika semua orang melihat pemuda remaja itu kini menghampiri singa batu yang berada di sudut panggung. Cu Sian mengangkat singa batu itu dengan sebelah tangan saja, lalu melontarkan ke atas, tinggi dan menerimanya kembali lalu melontarkan kembali lagi sampai lima kali. yang hebat, pada lemparan terakhir, ketika singa batu itu meluncur turun, bukan di sambut dengan tangannya melainkan dengan kepalanya!

Dengan menggunakan tenaga lembut, kepala itu menempel singa batu dari samping lalu membuat gerakan melengkung kebawah lalu ke kiri sehingga daya luncur singa batu itu dapat di salurkan ke atas dan hilang. Beberapa saat lamanya singa batu itu tertahan di atas kepala Cu Sian, baru di ambil oleh kedua tangan dan di turunkan di atas panggung.

Sorak sorai menyambut demonstrasi yang luar biasa ini dan tanpa di ucapkan dengan suara, semua orang juga sudah tahu bahwa apa yang diperlihatkan pemuda remaja ini jauh lebih hebat daripada apa yang tadi dipamerkan pemuda tinggi besar.

Cu Sian tersenyum, mengangguk kepada penonton di empat penjuru lalu tiba-tiba tubuhnya melayang turun dan tahu-tahu dia sudah berada di atas punggung kuda, di atas mana telah tersedia anak panah dan busurnya. Cu Sian menggebrak kuda itu sehingga kuda berlari congklang menuju ke orang jerami. Dalam jarak lima puluh kaki, tiba-tiba Cu Sian melompat dan berdiri di atas punggung kuda yang berlari itu, dan anak panahnya dengan tepat menancap di dada orang jerami!

Kembali penonton menyambut dengan gembira. Cu Sian lalu melompat lagi ke atas panggung dan menghadapi si pemuda tinggi besar sambil tersenyum-senyum. “Nah, semua persyaratan telah ku penuhi, bukan...? sekarang kita harus saling menguji ilmu silat dan aku ingin sekali melihat apakah ilmu silat mu setingkat dengan kesombonganmu...!“

Pemuda tinggi besar itu berseru, “Bagus! Keluarkan senjatamu aku akan menggunakan pedangku ini...!" Pemuda itu kembali mencabut pedang yang tadi sudah di simpannya kembali.

“Hemmm, aku menghadapimu tidak perlu aku mengggunakan senjata yang tajam dan runcing. Cukup sebatang tongkat saja. Eh, Sin-ko, tolong carikan sebatang tongkat untukku...!“ Dia berteriak ke arah Han Sin.

Pemuda itu bersungut-sungut. Ulah Cu Sian mendat ngkan kekhawatiran dalam hati Han Sin, kalau-kalau ulah itu akan menggagalkan niatnya bertemu dengan gubernur Li dan minta keterangan tentang ayahnya. Akan tetapi sebelum dia menanggapi permintaan Cu Sian, seorang perwira atas perintah Li Si Bin sudah naik ke panggung dan menyerahkan sebatang toya. Toya itu merupakan senjata tongkat yang terbuat daripada besi.

“Terima kasih, ciangkun. Aku hanya membutuhkan sebatang tongkat bambu atau kayu saja, yaitu t ongkat pemukul anjing. Kalau menggunakan toya ini, anjing yang ku pukul bisa mati...!“

Tentu saja ucapan ini merupakan ejekan dan sekaligus makian terhadap pemuda tinggi besar yang di anggapnya sebagai anjing yang layak di pukul! Para penonton merasakan hal ini dan mereka semua tertawa. Seorang penonton kebetulan melihat sebatang bambu di bawah lalu di ambilnya bambu itu dan di lemparkannya ke atas panggung.

Cu Sian menyambut bambu itu dan memutarnya dengan tangan kanan, menghadapi pemuda tinggi besar sambil berkata, “Nah, inilah senjataku...!“

Sebelum mereka bergerak saling serang, Li Si Bin berseru dari bawah panggung, suaranya terdengar gembira karena peristiwa ini sungguh belum pernah terjadi dan membuat penyelenggaraan ujian pemilihan perwira yang menjadi meriah. “Kedua orang saudara yang hendak bertanding, di minta memperkenalkan diri masing-masing...!”

Cu Sian segera menyambut seruan ini dengan suara lantang sambil melintangkan tongkat bambunya di depan dada. “Aku bernama Cu Sian dari Tiang-an...!”

“Saya bernama Bong Sek Toan, dari Nan-king...!“ pemuda tinggi besar itu berseru pula dengan suaranya yang mengguntur dari Tiang-an dan Nan-king, suasana menjadi semakin ramai karena para penonton mengerti bahwa dua orang muda itu datang dari luar daerah Shansi.

“Sekarang kalian mulailah...“ seru Li Si Bin, “akan tetapi ingat bahwa pertandingan ini hanya untuk menguji kepandaian silat, bukan perkelahian...!“

Cu Sian tersenyum memandang lawannya lalu berkata, “Orang she Bong, sudah siapkah engkau untuk di pukul dengan tongkatku...!“

Sejak tadi pemuda tinggi besar bernama Bong Sek Toan itu sudah merasa panas hatinya dan marah bukan main. Dia merasa dipandang rendah dan dipermainkan pemuda remaja itu. Akan tetapi agaknya diapun maklum bahwa pemuda remaja yang ugal-ugalan itu merupakan seorang lawan tangguh, dapat dilihat dari cara dia memperlihatkan tenaga dan kecepatannya tadi.

“Sambut pedangku ini...!“ katanya dan menyerang dengan dahsyat sekali. Bagaimanapun juga dia merasa lebih untung karena dia memegang sebatang pedang sedangkan lawannya hanya memegang sebatang tongkat bambu.

Akan tetapi dengan gerakan yang gesit sekali Cu Sian dapat mengelak dan diapun menggerakkan tongkatnya menotok kearah pinggang lawan. Bong Sek Toan cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga, bermaksud untuk mematahkan tongkat itu, akan tetapi tongkat itu hanya terpental dan sama sekali tidak menjadi rusak oleh pedang yang tajam itu.

Segera terjadi serang menyerang yang amat seru. Biarpun kalah untung dalam hal senjata, namun Cu Sian dapat mengimbangi lawannya dengan kecepatan gerakannya. Tubuhnya berkelebat diantara sinar pedang dan ujung tongkat bambunya menotok ke tempat berbahaya sehingga Bong Sek Toan tidak mampu mendesak lawannya itu.

Saling serang sudah berlangsung tiga puluh jurus lebih dan belum ada diantara mereka mereka yang terdesak. Tiba-tiba Bong Sek Toan mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya berputar menyambar-nyambar kearah tubuh bagian atas dari lawannya. Hebat bukan main serangan ini, bagaikan gelombang samudera yang menerjang kearah Cu Sian.

Pemuda remaja inipun terkejut dan maklum akan hebatnya serangan pedang, maka diapun bergulingan di atas papan panggung sehingga pedang itu menyambar-nyambar di atas tubuhnya. Dari bawah, tongkat Cu Sian mengirim serangan balasan ke arah kaki dan perut. Dengan perlawanan seperti ini, terpaksa Bong Sek Toan mengubah lagi gerakan pedangnya. Diam-diam dia terkejut sekali. Ternyata tongkat bambu yang di pandang rendah itu menrupakan senjata istimewa di tangan lawannya.

Sebaliknya, Cu Sian juga terkejut. Tak disangkanya bahwa lawannya yang di anggap sombong itu ternyata tangguh bukan main. Keduanya mengeluarkan seluruh kemampuan dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga pertandingan itu berlangsung seru, bukan lagi merupakan pertandingan menguji ilmu, melainkan perkelahian yang sungguh-sungguh untuk merobohkan lawan. Jurus-jurus terampuh dari mereka dikeluarkan.

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Penonton menahan napas menyaksikan pertandingan yang amat seru itu. Li Si Bin sendiripun sampai bangkit dari kursinya. Dia merasa girang dan juga khawatir. Girang karena dia merasa mendapatkan dua orang calon perwira yang akan menjadi pembantu-pembantu yang boleh diandalkan. Akan tetapi khawatir karena pertandingan itu menjadi sungguh-sungguh menjadi perkelahian untuk saling bunuh!

Yang merasa amat kaget dan heran adalan Cian Han Sin. Ketika Bong Sek Toan mengeluarkan ilmu pedang mendesak Cu Sian dengan jurus yang seperti gelombang, dia segera mengenal ilmu pedang itu. Bahkan semua gerakan ilmu silat Bong Sek Toan itu tidak asing baginya karena bersumber pada ilmu silat Lo-hai-kun! Padahal ilmu silat Lo-hai-kun (Silat Pengacau Lautan) adalah ilmu ibunya yang pernah diajarkan kepadanya. Berarti masih ada hubungan antara orang bernama Bong Sek Toan ini dengan ibunya.

“Haiiiittt...!“ Tongkat di tangan Cu Sian bergerak seperti ular dan mematuk–matuk ke arah kedua mata lawan. Bong Sek Toan terkejut dan dia harus berlompatan ke belakang untuk menghindarkan matanya dari bahaya.

“Yaahhhhh...!“ Dia membentak dan pedangnya menyambar dengan sapuan ke arah kedua kaki Cu Sian. Pemuda remaja itu meloncat tinggi sehingga pedang itu lewat di bawah kakinya, kemudian tubuhnya berjungkir balik dan menukik sambil menusukkan tongkatnya kearah ubun-ubun lawan.

“Hiaatttt… traanggg…!“ Pedang itu menangkis tongkat dan keduanya melompat mundur setelah pertemuan antara tongkat dan pedang itu membuat Bong Sek Toan terhuyung dan Cu Sian juga melayang turun hampir terjatuh. Akan tetapi setelah keduanya melompat mundur, kini mereka sudah siap lagi untuk saling serang.

Pertandingan sudah berlangsung tujuh puluh jurus lebih dan Han Sin yang merasa khawatir kalau-kalau kedua orang itu celaka, padahal Bong Sek Toan itu masih mempunyai hubungan dengan ibunya. Maka diapun memasuki lapangan yang di lingkari tali dan berlari menuju ke panggung.

Pada saat itu, Li Si Bin juga mengangap bahwa pertandingan itu sudah lebih dari cukup dan kedua orang itu dapat di terima sebagai perwira maka diapun melompat ke atas panggung. Pada saat itu, kedua orang itu sudah mulai menyerang lagi. Ketika Li Si Bin melompat dan tiba di antara keduanya, dengan sendirinya dialah yang menjadi sasaran tongkat dan pedang!

Akan tetapi dengan tenang Li Si Bin menangkap tongkat dan menangkis pedang dari samping sehingga pedang terpental dan Cu Sian tidak mampu menarik lepas tongkatnya! Dari gerakan melerai ini saja sudah dapat diketahui bahwa ilmu kepandaian Li Si Bin memang hebat dan lebih tinggi tingkatnya dibandingkan kedua orang yang sedang bertanding itu.

“Cukup, kalian sudah cukup bertanding...!“ kata Li Si Bin sambil tersenyum ramah.

“Akan tetapi aku belum kalah...!“ kata Cu Sian penasaran.

“Sian-te! Turunlah dan jangan bertanding lagi atau aku akan marah kepadamu...!“ terdengar teriakan Han Sin dari bawah panggung.

Bong Sek Toan juga menoleh dan memandang kepada Han Sin. Melihat pemuda ini, dia teringat. Tadi dia sudah berpikir siapakah pemuda remaja yang bertanding dengannya itu. Dia merasa sudah pernah bertemu. Setelah kini melihat Han Sin, maka diapun teringat bahwa lawannya bukan lain adalah pengemis muda yang kurang ajar itu.

“Ah, kiranya engkau jembel itu...!“ bentaknya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Cu Sian.

Cu Sian membelalakan matanya dengan marah. “Dan engkau anjing sombong itu...!“ dia balas memaki. “Mari kita lanjutkan pert andingan sampai seorang diantara kita roboh tak bernyawa...!“

“Sudahlah, harap ji-wi (anda berdua) bersabar. Pertandingan ini hanya untuk ujian bukan berkelahi...!“ kata Li Si Bin.

Bong Sek Toan yang juga sudah marah sekali memandang kepada Cu Sian dengan mata mendelik. Pada saat itu, Han Sin dari bawah panggung berseru.

“Saudara Bong Sek Toan, engkau ada hubungan apakah dengan mendiang Toat-beng Giam-ong...?” Han Sin bertanya demikian karena melihat ilmu pedang Lo-hai Kiam-Sut tadi dan menduga bahwa pemuda itu tentu ada hubungan dengan mendiang Toat-beng Giam-ong, guru dari ibunya.

Bong Sek Toan terkejut bukan main, wajahnya berubah kemerahan dan dia memberi hormat kepada Li Si Bin, berkata, “Kong-cu, sebaiknya saya pergi saja...!“ Dan dia melompat turun dari panggung, setelah tiba di bawah dia memandang kepada Cu Sian sambil berseru, “Bocah setan, lain kali aku aku tidak memberi ampun lagi kepadamu...!“ Setelah berkata demikian dia meloncat jauh dan lenyap di antara penonton yang banyak itu.

Melihat ini, Li Si Bin menjadi heran dan menyesal karena pemuda tinggi besar itu dapat menjadi perwira yang tangguh. Dia lalu menghadapi Cu Sian dan berkata, “Biarlah, kalau dia tidak ingin menjadi perwira, kamipun tidak akan memaksanya. Dengan mendapatkan engkau sebagai perwira, kami sudah cukup puas, saudara Cu Sian...“

“Tapi… Tapi… Aku sama sekali tidak ingin menjadi perwira, kong-cu...“

Li Si Bin mengerutkan alisnya dan merasa dipermainkan. “Apa artinya semua ini...? tanyanya dengan suara tidak senang.

Pada saat itu Han Sin yang berada di bawah panggung segera berkata dengan suara lembut dan penuh hormat. “Kami mohon agar Li-Kongcu suka memberi kesempatan kepada kami untuk menceritakan semua ini, tanpa di dengar banyak orang...“

Li Si Bin menjadi semakin heran dan penasaran. Akan tetapi melihat sikap Han Sin yang penuh hormat itu dan sikap Cu Sian yang seperti orang kebingungan, diapun tersenyum. “Baiklah, mari jiwi ikut bersamaku...“

Li Si Bin lalu melangkah pergi menuju gedung di depan lapangan itu. Cu Sian mengikutinya dan Han Sin mengambil jalan mengitari panggung dan mengikuti pula. Dia melirik kearah Cu Sian yang juga sedang melirik kepadanya. Han Sin melihat Cu Sian cengar cengir sehingga mau tidak mau hatinya yang sedang mendongkol itu agak mencair.

“Kau jangan buka mulut sembarangan, biar aku saja yang bicara...“ kata Han Sin lirih dan singkat.

“Baiklah, Sin-ko. Aku menaati perintahmu...!“ jawaban itu demikian di buat-buat untuk melucu sehingga Han Sin terpaksa tersenyum gemas.

Setelah memerintahkan para pembantunya untuk membubarkan ujian itu dan menampung para calon yang lulus, Li Si Bin mengajak kedua orang muda itu memasuki sebuah ruangan di bagian samping gedung besar itu. Ruangan itu cukup luas dan hanya terisi kursi– kursi dan meja, agaknya ruangan pertemuan atau ruangan rapat.

Setelah mempersilahkan kedua orang tamunya duduk, Li Si Bin segera berkata, “Nah, sekarang kalian ceritakan sebetulnya apa artinya saudara Cu Sian ingin naik ke panggung kalau bukan untuk mengikuti ujian sebagai calon perwira...“

Pandanga matanya mencorong penuh selidik. Diam-diam Cu Sian merasa ngeri juga. Pandang mata pemuda bangsawan ini sungguh penuh wibawa. Han Sin menoleh kepada sahabatnya dengan pandang mata memperingatkan agar Cu Sian tidak sembarangan bicara. Dia khawatir sekali Cu Sian bicara seenaknya, akan terjadi keributan pula.

“Sebelumnya kami mohon maaf sebesarnya kepada kong-cu bahwa tanpa disengaja kami telah merepotkan kong-cu dan mengacaukan ujian tadi. saya bernama Cian Han Sin dan adik Cu Sian ini adalah sahabat saya. Sebetulnya kedatangan kami ke Shan-si ini sama sekali tidak mempunyai maksud untuk ujian perwira. Akan tetapi, dalam perjalanan kami ke sini, kami pernah bertemu dengan pemuda bernama Bong Sek Toan tadi dan dia bersikap kasar terhadap Sian-te. Inilah sebabnya mengapa Sian-te, ketika melihat Bong Sek Toan tadi berlagak di atas panggung, lalu nekat naik untuk menandinginya. Jadi yang mendorong dia naik ke panggung semata-mata karena ingin menandingi Bong Sek Toan. Untuk itu, sekali lagi kami mohon maaf kepada kong-cu..."

Li Si Bin mengangguk-anggukkan kepalanya. Biarpun dia seorang putera bangsawan, akan tetapi dia mengetahui akan watak para pendekar yang kadang aneh. Dia memang tidak suka akan sikap Cu Sian yang ugal-ugalan itu, akan tetapi mendengar ucapan Han Sin dan melihat sikap pemuda ini merasa suka dan tertarik.

“Hemmm, begitukah...? Kami amat mengagumi ilmu kepandaian saudara Cu, akan tetapi engkau tentu memiliki ilmu yang lebih lihai lagi...“

“Ah, saya tidak dapat dibandingkan dengan Sian-te, kong-cu...“

"Sin-ko adalah seorang ahli sastra yang lemah dan sayalah yang menjadi pengawal yang melindunginya, kong-cu...“ kata Cu Sian tanpa dapat di cegah lagi oleh Han Sin.

Li Si Bin mengangguk-angguk, akan tetapi pandang matanya meragukan kebenarannya ucapan Cu Sian tadi. “Karena ayah kami menjadi kepala daerah di Shan-si, sudah sepatutnya kalau aku bertanya kepada kalian apa maksud kunjungan kalian ke Shan-si...?”

“Terus terang saja Li Kong-cu, yang mempunyai kepentingan di sini adalah saya sedangkan Sian-te ini hanya mengawal dan menemani saya. Saya bermaksud untuk mencari keterangan tentang tewasnya mendiang ayah saya dalam pertempuran di daerah Shan-si...“

Li Si Bin memandang tajam. “Hemmm, siapakah ayahmu...?”

“Kong-cu, kakak Cian Han Sin ini adalah putera mendiang Panglima besar Cian Kauw Cu...“

“Ahhhh…!!” Li Si Bin bengkit berdiri. “Panglima besar Cian Kauw Cu yang telah berjasa besar dalam mendirikan Kerajaan Sui itu...? Teman seperjuangan mendiang Kaisar Yang Chien...?”

Karena sudah di dahului Cu Sian, terpaksa Han Sin bangkit berdiri dan mengangguk. “Mendiang Panglima Cian Kauw Cu adalah ayah saya, kong-cu...“

“Ah, senang sekali dapat berkenalan denganmu, saudara Cian...!“ kata Li Si in sambil mengangkat kedua tangan depan dada yang cepat di balas oleh Han Sin. “Silahkan duduk dan ceritakan apa yang kau kehendaki. Apa yang hendak kau tanyakan kepada ayah...?”

Han Sin duduk kembali. “Menurut keterangan ibuku, mendiang ayah tewas dalam pertempuran di daerah Shan-si ini, gugur ketika terkena anak panah musuh. Akan tetapi ibu mendengar desas-desus di kalangan prajurit pasukan yang dipimpin ayah bahwa anak panah itu mengenai punggung ayah, yang berarti bahwa anak panah itu dilepaskan dari belakang. Tidak mungkin pihak musuh melepaskan anak panah dari belakangnya. Maka saya ingin menyelidiki, apa yang sebenarnya terjadi dengan kematian ayah itu...“

“Hemmm, maksudmu engkau hendak mencari pembunuhnya untuk membalas dendam kematian ayahmu...?“ Tanya Li Si Bin.

“Sama sekali tidak, kong-cu...“ Han Sin kagum kepada pemuda bangsawan itu dan menaruh kepercayaan sepenuhnya. “Sebetulnya saya ingin mencari pedang pusaka Hek-liong-kiam milik ayah yang lenyap ketika ayah gugur. Kalau saya dapat menemukan siapa yang membunuh ayah, agaknya saya dapat menemukan siapa pencuri Hek-Liong-Kiam...“

Pedang Naga Hitam Jilid 19

“Kalau aku tidak merasa dibuat susah dan merasa tidak merepotkan, bagaimana...? Kalau aku dengan suka rela ingin membantumu mencari pusaka itu sampai engkau mendapatkannya, bagaimana...? Apakah engkau juga masih menolakku...?“

Han Sin menghela napas. Memang lebih baik membiarkan pemuda remaja itu bersama dia agar dia dapat melindunginya kalau ada marabahaya. “Tentu saja tidak, Sian-te. Aku akan berterima kasih sekali, akan tetapi…“

“Akan tetapi apa...?“

“Ku harap engkau tidak melakukan penyamaran lagi...“

Cu Sian menatap wajah Han Sin penuh selidik, seolah hendak menjenguk isi hati pemuda itu. “Apa maksudmu, Sin-ko...?“ akhirnya dia bertanya.

“Engkau bukan seorang pengemis, mengapa menyamar sebagai seorang pengemis...? Lebih baik memakai pakaian biasa saja, tidak usah berpakaian pengemis...“

Cu Sian mengerutkan alisnya. “Akan tetapi itu perlu untuk menyembunyikan keadaan asliku. Eh Sin-ko, apakah engkau merasa jijik dan malu bersahabat dengan seorang yang berpakaian seperti pengemis...?”

“Sama sekali tidak, Sian-te. Akan tetapi justeru dengan penyamaranmu ini, engkau menarik perhatian banyak orang. Coba pikir dengan baik, bukankah orang-orang akan tertarik melihat kita bersahabat dan melakukan perjalanan bersama karena keadaan kita yang berbeda...? Kalau engkau berpakaian biasa seperti aku, tentu tidak akan menarik perhatian orang. memang benar kalau engkau melakukan perjalanan seorang diri, mungkin saja engkau tidak akan menarik perhatian orang...“

“Hemm, benar juga pendapat mu, Sin-ko. baiklah, aku akan menanggalkan penyamaranku dan berpakaian seperti orang biasa...“ Cu Sian akhirnya mengalah.

Han Sin tersenyum senang. “Kalau begitu mari kita menyusuri sungai ini ke utara sampai kita tiba di sebuah kota dimana kita dapat membeli pakaian untukmu. aku juga membawa bekal pakaian, akan tetapi terntu terlalu besar kalau kau pakai...“

“Tidak perlu repot-repot, Sin-ko. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Kau tunggu sebentar...!“ pemuda remaja itu lalu berlari dan lenyap di balik semak belukar dalam hutan di tepi pantai sungai itu.

Han Sin mengikutinya dengan pandang heran. Kalau Cu Sian sudah mempersiapkan segalanya, juga pakaian biasa, hal itu berarti bahwa memang pemuda remaja itu sudah bermaksud untuk menanggalkan penyamarannya. Dia tersenyum duduk lagi di atas batu, kini tidak memancing lagi hanya memandangi air yang mengalir tiada putusnya itu, menghayutkan segala macam benda dipermukaannya. Han Sin termenung. Pikirannya seolah ikut hanyut bersama air, sampai jauh. Kehidupan seperti mengalir air sungai itu. Mengalir terus, bergerak terus sampai berakhir di samudera.

“Sin-ko, dengan melamun seperti itu mana bisa engkau memperoleh ikan...?”

Teguran dengan suara nyaring ini mengejutkan Han Sin dan menyeretnya kembali kepada kenyataan. Dia segera menoleh dan memandang pemuda remaja yang berdiri di depannya dan dia terpesona! Demikian tampan dan eloknya pemuda remaja itu, seperti seorang pangeran dalam dongeng, walaupun pakaiannya hanya sederhana.

“Eh, Sin-ko! Apakah ada yang tidak benar dengan pakaianku...?” Cu ian mengamati pakaiannya dan tidak menemukan sesuatu yang aneh.

“Sian-te… hamper aku tidak mengenalmu! Engkau begitu! Engkau begitu tampan, engkau seperti… seorang putera bangsawan tinggi. Eh, Sian-te, engkau tentu seorang pengeran atau putera bangsawan tinggi...!“

Cu Sian tersenyum dan Han Sin semakin kagum. Bukan main tampannya pemuda ini kalau tersenyum, pikirnya.

“He-he, Sin-ko. Engkau mimpi! Sudah kau ketahui bahwa aku cucu seorang ketua pengemis. Kalaupun aku pangeran, barangkali pangeran pengemis, putera dari raja pengemis, ha-ha-ha...“

Han Sin juga tertawa, dan dia menjadi tenang kembali. Hilang sudah pesona yang tadi sempat membuatnya tertegun. “Ah, Sian-te, kalau saja aku ini seorang wanita, tentu aku sudah jatuh hati kepadamu...!“

Cu Sian juga tertawa geli, “Dan aku akan melarikan diri, seperti engkau ketika melarikan diri dari keluarga gila yang hendak memaksamu kawin...“

“Uhhh! Kau anggap aku sama dengan gadis gila itu...?”

“Biarpun tidak gila, engkau jauh lebih tua dariku. Sudahlah, simpan saja pujian itu untuk lain kali. Sekarang katakan bagaimana pendapat mu setelah aku mengenakan pakaian biasa...? Engkau tidak keberatan lagi melakukan perjalanan bersamaku...?”

“Aku tidak pernah merasa keberatan, Sian-te. Hanya canggung kalau engkau menyamar sebagai pengemis. Kalau seperti ini, aku tidak ragu lagi, bahkan bangga mengaku engkau sebagai adik ku...“

“Sebagai adik, atau sebagai pengawalmu, Sin-ko...?”

“Pengawal...?“ Han Sin memandang wajah tampan itu penuh selidik.

“Ya, pengawal. Tanpa pengawalanku, engkau tentu akan menghadapi banyak bahaya dalam perjalanan. Akan tetapi dengan adanya aku di dekat mu, jangan khawatir, Sin-ko. Aku yang akan membasmi semua halangan yang akan mencelakaimu...“ kata Cu Sian dengan sikap gagah.

Han Sin tersenyum. “Benar sekali, Sian-te. Engkau ku anggap adikku, juga pengawal dan pelindungku. Akan tetapi aku pesan agar engkau tidak terlalu keras hati sehingga dimana-mana engkau menghadapi keributan dan perkelahian seperti yang terjadi dalam rumah makan itu...“

Cu Sian berdiri di depan Han Sin dan mengangguk sampai dalam seperti sikap seorang hamba terhadap majikannya. “Baik, Sin-ko. Akan kulaksanakan perintahmu...“

Mau tidak mau Han Sin tertawa melihat sikap pemuda remaja itu. Hatinya merasa senang sekali. Cu Sian bagaikan sinar matahari yang membuat dunia nampak cerah dan indah. Sejak berpisah dari pemuda itu, hatinya selalu merasa tidak enak dan khawatir kalau-kalau sahabt muda ini akan terancam bahaya karena wataknya yang nakal dan terlalu berani.

Maka diam-diam dia selalu membayanginya sehingga dia berhasil melindunginya ketika pemuda remaja itu terancam oleh Pak-te-ong. Setelah itu, dia sengaja menghadangnya, sambil memancing ikan dan menyanyikan sajak tadi. Kini, dia tidak perlu merasa khawatir lagi. Dengan melakukan perjalanan bersama, diam-diam dia dapat melindungi Cu Sian.

“Nah, sekarang sebelum kita melanjutkan perjalanan, aku ingin mengetahui kemana kita akan pergi, sin-ko...?“

“Seperti telah kuceritakan kepadamu, Sian-te, aku hendak mencari pedang pusaka ayahku yang hilang ketika ayah memimpin pasukan di Shan-si utara. Karena aku tidak tahu persis dimana pertempuran itu terjadi ketika itu, maka aku harus mencari keterangan di Tai-goan. Peristiwa itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka untuk menyelidikinya hanya para pejabat tinggi di Tai-goan saja yang dapat memberi keterangan...“

”Jadi kita pergi ke Tai-goan sekarang...? Hayo kita berangkat Sin-ko...!“ kata Cu Sian penuh semangat.

“Ah, engkau kelihatan amat bergembira, Sian-te. Ada apakah...?“

“Bagaimana hatiku tidak akan bergembira dapat melakukan perjalanan bersamamu, Sin-ko...? Tadinya aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu. Untuk melakukan perjalanan berbahaya ini orang harus membekali dirinya dengan ilmu silat tinggi. Engkau yang tidak memiliki itu, tentu setiap saat terancam bahaya. akan tetapi sekarang aku tidak khawatir lagi. Engkau dekat dengan aku yang selalu dapat melindungimu..."

Han Sin tersenyum. Sungguh terdapat persamaan dalam hati mereka. Dia pun selalu mengkhawatirkan keselamatan pemuda remaja itu.

Tiba-tiba mereka melihat sebuah perahu meluncur di atas air sungai, tidak terlalu jauh dari tepi sehingga mereka dapat melihatnya dengan jelas. Seorang pria muda mendayung perahu itu, seorang diri saja, akan tetapi perahu itu dapat meluncur cepat melawan arus.

“Hemmm, dapat mendayung perahu melawan arus secepat itu menunjukkan bahwa orang itu memiliki tenaga yang kuat sekali...“ kata Han Sin. “Dia tentu seorang yang berkepandaian tinggi...“

Cu Sian memandang penuh perhatian. Orang yang mendayung itu seorang pemuda yang gagah, bertubuh tinggi besar dan kekar, kulit mukanya agak hitam, hidungnya besar, matanya lebar dan mulutnya juga lebar. Dipunggungnya tergantung sebatang pedang bersarung indah.

“Dia tentu bukan orang baik-baik...“ kata Cu Sian lirih, kemudian dia bangkit berdiri dari atas batu yang di dudukinya. “Ah, aku ingat sekarang! Dia adalah pemuda sombong yang menghinaku di rumah makan tempo hari...“

Han Sin memperhatikan dan kini diapun teringat. Pemuda yang pernah ribut mulut dengan Cu Sian di rumah makan, yang mengatakan bahwa sepantasnya semua pengemis di basmi itu! Kini makin yakinlah dia bahwa pemuda tinggi besar itu tentu seorang yang berkepandaian tinggi.

“Heiii…!“ Cu Sian berteriak kearah penunggang perahu itu, akan tetapi Han Sin menarik lengannya.

“Sssttt, Sian-te. Biarkan dia berlalu, jangan mencari keributan di sini...!“ tegurnya.

“Akan tetapi si sombong itu…!“

“Sudahlah, perjalanan kita masih jauh, untuk apa mencari gara-gara...? Dan ingat akan janjimu, katanya engkau akan menaati semua perintahku...“

Cu Sian yang tadinya masih penasaran, kini tersenyum mengangguk. “Baiklah, Sin-ko. Maafkan aku...“

“Nah, begitu baru namanya adik yang baik...“ kata Han Sin senang dan tersenyum.

“Dan pengawal yang taat...!“ sambung Cu Sian.

Ke duanya tertawa lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke ke kota Taigoan yang dari situ terletak di Timur laut.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Episode Pedang Naga Hitam Karya Kho Ping Hoo

Pada waktu itu, propinsi Shan-si merupakan daerah perbatasan paling utara dari Kerajaan Sui. Di sebelah utara Shan-si adalah daerah luas dan menjadi perebutan antara bangsa dan suku yang hidupnya mengembara tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Mereka adalah bangsa dan suku Tar-tar, Mongol, Merkit, Karait, Naiman dan Ugur serta masih banyak lagi suku-suku bangsa yang kecil. Para suku bangsa dari utara inilah yang oleh Kerajaan Sui di anggap sebagai ancaman dari utara sehingga di sepanjang perbatasan itu di bangun benteng pertahanan yang kokoh.

Propinsi Shan-si di pimpin oleh seorang gubernur atau kepala daerah yang telah memegang kedudukan itu sejak Kaisar Yang Chien masih hidup. Gubernur itu bernama Li Goan. Dia mempunyai lima orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Akan tetapi yang paling di sayangnya justeru puteranya yang dilahirkan oleh seorang selirnya, yaitu Puteri seorang kepala suku bangsa Turki. Puteranya itu bernama Li Si Bin dan memang putera inilah yang paling menonjol di antara saudara-saudaranya.

Keadaan di utara selama ini tenang saja. Hal ini berkat hubungan baik antara Gubernur Li Goan dengan suku-suku bangsa di utara, terutama sekali dengan suku bangsa Turki yang di pimpin oleh keluarga isterinya, karena masih ada hubungan keluarga inilah maka banga Turki menghentikan gerakannya yang mengganggu keamanan perbatasan utara. Juga dengan suku-suku lain, Gubernur Li Goan mengambil sikap bersahabat sehingga orang-orang dari selatan dapat melakukan hubungan perdagangan dengan suku-suku bangsa itu tanpa ada gangguan.

Gubernur Li Goan maklum bahwa kedudukannya sebagai kepala daerah di perbatasan utara itu merupakan kedudukan yang berbahaya. Dialah yang bertanggung jawab atas keamanan daerah itu, dan kalau sampai daerah itu di kuasai oleh suku asing, tentu kerajaan akan menyalahkan dia. Oleh karena itu, Gubernur Li Goan selalu memperkuat pasukannya untuk menjaga keamanan di daerahnya, walaupun perbatasan telah ada perbentengan Pasukan Sui yang menjaga.

Dia memerlukan banyak pembantu yang pandai, maka hampir setiap tahun dia mengadakan pemilihan bagi tenaga-tenaga baru untuk di jadikan opsir-opsir atau tentara. Dia memberi kedudukan yang cukup tinggi sesuai dengan kepandaian masing-masing. Karena ini, dia berhasil menarik perhatian banyak tokoh persilatan yang ingin memperoleh kedudukan tinggi dalam pasukan gubernur itu.

Dengan adanya banyak ahli silat yang berilmu tinggi menjadi perwira-perwira pasukan ayahnya, Li Si Bin yang sejak kecil gemar mempelajari ilmu silat itu, dengan mudah memperdalam ilmu silatnya dengan belajar dari para perwira itu. Bahkan lebih dari itu, pemuda ini sering berkelana mengunjungi gurun-gurun dan bukit-bukit sunyi di utara, menjumpai para pertapa sakti dan kalau menemukan seorang yang sakti dan ahli dalam ilmu silat, dia lalu menjadi muridnya. Dengan cara demikian, setelah dia menjadi seorang pemuda dewasa, dia telah memilik iilmu silat yang tinggi. Selain ilmu silat, Li Si Bin juga mempelajari ilmu perang dan sastra.

Gubernur Li Goan yang merasa bangga akan kelihaian puteranya, lalu menyerahkan kepada Li Si Bin bilamana diadakan pemilihan perwira. Pemuda itulah yang mengatur ujian bagi para peserta. Dan sejak Li Si Bin yang mengatur ujian, jaranglah ada calon yang berhasil di angkat menjadi perwira. Kebanyakan hanya berhasil lulus sebagai tentara saja karena untuk menjadi perwira, syaratnya amat berat dan harus memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi kalau ada yang lulus, tentulah dia menjadi seorang perwira yang gagah perkasa dan dapat di andalkan.

Pada suatu pagi, dua orang pemuda tampan memasuki pintu gerbang kota Taigoan. Mereka ini adalah Cian Han Sin dan Cu Sian. Setelah melakukan perjalanan berhari-hari lamanya, meninggalkan Huang-ho menuju ke timur, sampailah mereka berdua di kota terbesar di daerah Shan-si itu. Begitu memasuki kota Taigoan mereka sudah melihat keadaan yang ramai seolah-olah di kota itu sedang diadakan pesta.

Cu Sian bertanya kepada seorang dengan bahasa daerah utara dengan lancar sehingga diam-diam Han Sin kagum sekali. Agaknya sahabat mudanya ini mengenal pula bahasa daerah utara. Mereka mendapatkan penjelasan orang itu bahwa dilapangan depan gedung Gubernur memang sedang di adakan semacam pesta, yaitu ujian bagi mereka atau tentara.

“Ah, paman. Tontonan apa saja yang di adakan di sana...?“ Tanya Cu Sian, sementara itu Han Sin hanya mendengarkan dan memandang sahabatnya yang kelihatan gembira sekali.

“Tentu saja seperti biasa, ada pertunjukan kekuatan, keahlian menunggang kuda dan memanah, dan yang terakhir pertunjukkan ilmu silat. Bagi mereka yang ingin menjadi perwira harus bertanding melawan Li-Kong-cu sebagai pengujinya..."

Sepasang mata Cu Sian bersinar-sinar dan Han Sin memaklumi hal ini. Semua pendekar tentu saja gembira mendengar akan ada pertunjukkan ilmu silat. Dia sendiri pun tertarik. “ Siapa sih Li-kongcu itu...?“ Cu Sian bertanya.

“Hemm, tentu ji-wi (Kalian berdua) datang dari jauh sekali maka tidak mengenal Li Kong-cu...“ kata orang itu. “Kalau ji-wi tinggal di daerah Shan-si tentu sudah mengenal atau setidaknya mendengar nama ini. Li Kong-cu adalah seorang pemuda yang paling hebat dan paling tangguh ilmu silatnya akan tetapi paling popular dan dekat dengan rakyat jelata. Dia adalah putera Kepala Daerah Shan-si, yaitu Gubernur Li Goan...“

“Wah, tentu ramai sekali! Sin-ko, kita harus nonton pertunjukkan itu...!“ kata Cu Sian gembira, lalu tanpa menanti jawaban sahabatnya, dia sudah menarik tangan Han Sin di ajak pergi kearah lapangan seperti yang di tunjukkan orang tadi.

Han Sin tersenyum dan menurut saja. Kalau sedang bergembira seperti itu, Cu Sian sungguh kelihatan seperti seorang kanak-kanak. Selama melakukan perjalanan bersama Cu Sian, dia semakin tidak mengerti akan sikap Cu Sian yang suka berubah-ubah. Kadang begitu akrab, akan tetapi kadang-kadang juga seperti orang asing baginya. Selama dalam perjalanan itu, Cu Sian tidak pernah mau tidur dekat dengannya.

Juga kalau membersihkan badan di sumber air atau anak sungai, selalu dia ingin menyendiri dan mencari tempat yang agak jauh. Tingkahnya kadang-kadang seperti seorang kanak-kanak yang manja dan mudah tersinggung. Maka ketika diajak nonton pertunjukkan itu, dia tidak membantah karena bantahan hanya akan membuat pemuda remaja itu ngambek!

Ketika mereka tiba di lapangan rumput yang luas, di depan sebuah bangunan besar, mereka mendengar tambun dan gendering di pukul orang sehingga suasana menjadi ramai meriah. Ratusan orang sudah berkumpul untuk menonton. Akan tetapi tempat itu dilingkari tali karena untuk ujian itu di butuhkan tempat yang luas. Di tengah-tengah lapangan terdapat sebuah panggung dari papan setinggi dua meter.

Di dekat panggung itu terdapat dua kelompok orang. Mereka semua adalah orang-orang muda yang gagah. Kelompok pertama terdiri dari seratus orang lebih, sedangkan kelompok kedua hanya ada dua belas orang. Setelah bertanya-tanya, Cu Sian mendapat keterangan dari seorang penonton bahwa kelompok besar itu adalah mereka yang ingin menempuh ujian sebagai tentara, sedangkan kelompok kecil itulah calon-calon perwira.

Tiba-tiba Cu Sian memegang lengan han Sin, kuat sekali sehingga Han Sin terkejut dan memandang kepadanya. sahabatnya itu sedang memandang kearah tengah lapangan dimana dua kelompok calon itu berkumpul dekat panggung maka diapun memandang ke sana. Setelah memandang dengan teliti barulah dia tahu mengapa sahabatnya mencengkram lengannya demikian kuatnya.

Ternyata di dalam kelompok dua belas orang itu terdapat pemuda tinggi besar yang sudah dua kali mereka lihat. Pertama di dalam rumah makan ketika pemuda itu rebut mulut dengan Cu Sian, dan kedua kalinya ketika mereka berdua melihat pemuda itu mendayung perahu melawan arus.

“Dia ada di sini...“ bisik Cu Sian demikian sungguh-sungguh sehingga Han Sin menjadi geli.

“Kalau di sini mau apa...?“ katanya tersenyum. “Tenanglah Sian-te. kita lihat saja sampai dimana kelihaian pemuda itu nanti...“

Cu Sian mengangguk, akan tetapi alisnya berkerut. “Hemm, aku ingin menandinginya dalam ujian ini...“ bisiknya.

“Hushh, apa-apaan engkau ini...? apakah engkau ingin masuk menjadi perwira di Shan-si...?”

“Tidak, aku hanya ingin mengukur kepandaian orang sombong itu...!”

“Ingat, Sian-te, kita ini hanya penonton saja. Jangan membikin ribut di sini. Apalagi aku membutuhkan bantuan Gubernur Li. Ibuku berpesan agar aku menghadap Gubernur Li dan minta keterangan darinya. Siapa tahu dia akan dapat memberi banyak keterangan tentang kematian ayahku, karena menurut ibuku, Gubernur Li adalah seorang sahabat baik mendiang ayah...“

“Hemmm, baiklah, Sin-ko...“

Ratusan orang yang menjadi penonton dan yang tadi ramai saling bercakap sendiri, tiba-tiba menjadi diam ketika ujian itu di mulai. Ujian bagi para calon tentara tidaklah terlalu menarik bagi Han Sin dan Cu Sian. Ujian itu hanyalah ujian tenaga mengangkat sebuah arca singa dari batu, kemudian ujian memanah orang-orangan dari jerami dalam jarak seratus li, kemudian ujian ilmu silat yaitu setiap orang calon di haruskan memainkan ilmu silatnya menggunakan senjata golok atau tombak. Hampir seluruh calon lulus dengan baik.

Agaknya para penonton juga tidak begitu memperhatikan ujian bagi para calon tentara ini karena merekapun ingin sekali nonton ujian bagi calon perwira yang lebih seru.

Akhirnya, setelah calon tentara sudah di uji semua dan lulus lalu dikumpulkan dan di ajak masuk rumah gedung lewat jalan samping untuk di daftar sebagai tentara, maka ujian perwira di mulai. Dua belas orang calon itu di uji satu demi satu. Mula-mula mereka di haruskan melompat ke atas panggung yang dua meter tingginya itu. Di atas panggung sudah tersedia sebuah busur yang besar dan berat dan mereka di haruskan menggunakan busur itu unt uk memanah orang-orangan dari jerami dalam jarak dua ratus kaki!

Singa batu yang tadi di angkat oleh para calon tentara juga sudah di taruh di panggung dan para calon perwira di haruskan mengangkat arca singa itu dan melemparkannya ke atas dan di terima lagi dengan tangan. Setelah itu mereka diharuskan menunggang kuda sambil melepaskan anak panah pada orang-orangan jerami dalam jarak lima puluh kaki. Setelah semua itu lulus, barulah si calon akan di uji oleh Li Kong-cu sendiri dengan bertanding ilmu silat.

Satu demi satu maju untuk menempuh ujian itu. Akan tetapi ternyata bahwa ujian itu amat berat. Delapan orang dari mereka gugur. ada yang gagal baru dalam babak kedua ketika menggunakan busur yang berat itu untuk memanah orang-orangan jerami. Ada pula yang gugur ketika melemparkan arca singa dan menerimanya kembali, karena mereka tidak kuat dan terpaksa melepaskan singa itu.

Ada pula yang gugur ketika menunggang kuda sambil melepaskan anak panah. Tiga orang dari mereka, dengan susah payah, berhasil lulus, tinggal menanti ujian ilmu silat dan mereka di persilahkan menunggu di sudut panggung. Orang kesebelas adalah pemuda tinggi besar yang selalu diperhatikan Cu Sian.

Ketika orang ini melompat ke atas panggung, jelas kelihatan bahwa dia memiliki gin-kang yang jauh lebih baik daripada para peserta lainnya. Dia melompat tinggi, jauh lebih tinggi dari panggung itu dan berjungkir balik dua kali baru turun ke atas panggung tanpa mengeluarkan suara ketika kakinya menginjak panggung, seolah tubuhnya itu ringan sekali. Tentu saja lompatan istimewa ini mendapat sambutan paling meriah dari para penonton.

“Huh, lompatan begitu saja apa artinya...?” Cu Sian mengomel tak senang melihat orang yang tidak di sukainya itu mendapat sambutan dan pujian begitu meriah.

Peserta terakhir itu lalu berjalan dengan lenggang seperti harimau menghampiri busur dan anak panah yang berada di atas meja. Tiga orang peserta yang berhasil tadi, ketika menarik busur melepaskan anak panah kelihatan berat sekali dan mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka.

Akan tetapi peserta terakhir dengan mulut tersenyum memasang anak panah pada busur berat dan berat itu dengan sekali tarik dengan seenaknya, dia telah berhasil membuat busur itu melengkung dan ketika dia melepaskan anak panah, anak panah itu meluncur bagaikan kilat kearah orang-orangan dari jerami dan… Menembus badan orang jerami itu, bahkan setelah menembus masih melayang cukup jauh. Sorak sorai menggegap gempita menyambut pameran memanah yang istimewa itu. Tak dapat di ragukan lagi, pemuda tinggi besar itu memiliki tenaga yang hebat!

Pemuda itu tersenyum bangga dan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat agar semua orang tidak membuat gaduh. Kemudian dia menghampiri singa batu dan semua orang mengikuti gerak geriknya tanpa berkedip. Pemuda itu memegang singa batu dengan kedua tangan lalu mengangkatnya ke atas, melemparkannya dan menerimanya kembali sampai tiga kali, kelihatan demikian ringannya! Kembali orang-orang bersorak sorai dan bertepuk tangan.

“Huh, apa sih anehnya pertujunkkan seperti itu...? Sombongnya...!“ Cu Sian mendengus marah sehingga Han Sin menoleh kepadanya dan tersenyum.

“Sian-te, kau lihat...? Orang itu boleh juga...“ kat a Han Sin. “Tenaganya seperti gajah. Dia pasti lulus dengan baik...“

Mendengar ini, Cu Sian menjadi semakin gemas. “Hemm , apa hebatnya semua itu...? Permainan anak kecil...!”

“Sssttt, lihat, Sian-te, lihat gayanya menunggang kuda...“ bisik Han Sin.

Peserta terakhir itu sudah meloncat ke atas punggung kuda yang disediakan untuk ujian itu sambil membawa busur dan anak panah. Kuda dibalapkan kearah orang-orangan jerami dan setelah jaraknya lima puluh kaki seperti telah ditentukan dia melepas anak panah yang menyambar cepat dan menancap tepat di ulu hati orang-orangan itu. Kembali para penonton menyambut dengan tepuk tangan. Tak usah di sangsikan lagi, peserta terakhir ini lulus dengan baik dan diapun dipersilahkan berkumpul dengan tiga orang yang lain di sudut panggung.

Seorang yang berpakaian perwira dan menjadi juru bicara, melangkah ke tengah panggung dan mengangkat kedua tangan, suaranya terdengar lantang sekali. “Para penonton harap jangan gaduh. Sekarang ujian ilmu silat akan dimulai! Empat orang yang telah lulus dan akan menghadapi ujian ilmu silat, peserta pertama di minta maju...!“

Peserta pertama itu seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dan dia melangkah maju ke tengah lapangan, siap menghadapi ujian. Semua penonton kini nampak gembira dan kagum karena dari bawah panggung melompat seorang pemuda yang amat gagah dan tampan.

Pemuda ini masih muda sekali, paling banyak delapan belas tahun usianya, akan tetapi tubuhnya tegap dan dadanya bidang, sepasang matanya mencorong seperti mata naga. Pakaiannya dari sutera, akan tetapi tidak terlalu mewah dan pakaian itu ringkas. Begitu dia berada di atas panggung, terdengar orang-orang berseru.

“Hidup Li-kongcu…!“

Han Sin dan Cu Sian memperhatikan ketika mendengar orang menyebut pemuda itu Li Kong-cu. Jadi pemuda itulah putera Gubernur Li. Mengapa pakaiannya tidak mewah dan mentereng...? Juga sikapnya sederhana sehingga mendatangkan rasa kagum dalam hati Han Sin dan Cu Sian.

Pemuda itu memang Li Si Bin atau lebih dikenal dengan sebutan Li-Kongcu (Tuan muda Li) oleh rakyat. Ketika dia mendengar teriakan menyambutnya, dia lalu menghadapi penonton dan membungkuk sambil berkata, “Harap saudara sekalian menonton dengan tenang. Ini bukan pertandingan, melainkan ujian bagi calon perwira...“

Suaranya nyaring namun lembut dan mendengar ucapannya itu, semua penonton diam. Han Sin juga dapat merasakan suatu wibawa yang besar terkandung dalam suara itu. Dia semakin kagum. Pemuda ini sungguh bukan orang biasa. Gerak geriknya demikian matang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, wibawanya amat besar.

Kini Li Si Bin berhadapan dengan peserta pertama yang bertubuh pendek tegap. “Saudara menghendaki ujian tangan kosong ataukah senjata...? Silahkan pilih...!“ terdengar Li Si Bin bertanya ramah. Sama sekali tidak nampak sikap congkak seperti layaknya putera bangsawan tinggi.

Peserta pendek itu memberi hormat. Agaknya dia adalah orang daerah Shan-si yang sudah tahu dengan siapa dia berhadapan. “Saya bertangan kosong saja, kong-cu...“

“Baiklah, mudah-mudahan engkau berhasil...!“ kata Li Si Bin, lalu setelah melihat peserta itu memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, dia berseru. “Lihat seranganku...!“

Li Si Bin menyerang dengan tamparan tangannya ke arah pundak lawan. Peserta pendek itu cepat mengelak dan membalas dengan tendangan kakinya. Akan tetapi Li Kong-cu dapat pula menangkis tendangan itu dan melancarkan serangan kedua. Kedua orang ini sudah cepat saling menukar serangan...