Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 06

JAKSA Gu terkejut juga menerima undangan Perdana menteri Ji, maka bergegas dia datang berkunjung dalam pakaian kebesarannya yang mewah. Akan tetapi ketika tiba di rumah itu, penjaga mempersilahkan langsung ke kamar tamu di sebelah kiri dan kata penjaga Perdana menteri sudah tahu akan kedatangannya.

Ketika dia memasuki ruangan tamu yang pintunya terbuka itu, dia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Anak muda kurang ajar yang tempo hari dijumpainya di kedai minum dan yang bersama pemuda tinggi besar yang telah menghajar dia dan para anak buahnya, pemuda ini sudah berhari-hari dia cari tak juga berhasil.

“Engkau…! Setan cilik, mau apa engkau di sini. Aku memang sedang mencarimu, kebetulan engkau berada di sini!” Jaksa itu membuat gerakan seperti hendak menerkamnya.

“Jaksa Gu, coba kau maki aku sekali lagi. Yang keras, yang lengkap begitu!”

“Setan cilik kurang ajar, jahanam keparat, anjing babi!” Jaksa itu memaki sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat yang berpakaian seperti seorang pemuda miskin dengan kepala di tutupi topi butut.

Pada saat itu, sang perdana menteri muncul dari dalam. Melihat pembesar ini, Jaksa Gu cepat membungkuk memberi hormat. “Eeh, Jaksa Gu. Kenapa engkau marah-marah? Aku mendengar engkau memaki-maki, siapa yang kau maki itu?”

“Maaf, yang mulia. Yang saya maki adalah setan cilik ini!” katanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat dengan mata mendelik.

“Kenapa engkau memaki dia?”

“Tempo hari, di kedai minum, dia telah menghina saya dan anak buah saya. Mungkin dia itu pemberontak, Yang Mulia. Harus di tangkap dan di hokum berat!”

“Ah, begitukah? Goat-ji, lepaskan pakaian dan topimu itu“

Ji Goat lalu melepaskan topi penutup kepalanya dan baju laki-laki seperti jubah butut itu, dan kini nampaklah ia seorang gadis cantik dengan rambut terurai dan pakaian puteri yang indah. Jaksa Gu Terbelalak, lalu dia mengerti karena dia tahu bahwa Perdana Menteri mempunyai seorang anak perempuan. Bocah setan itu ternyata puteri Perdana Menteri. Mukanya seketika menjadi pucat sekali. Dengan tubuh gemetar ia berkata gugup.

“Aahh… paduka… ahh, jadi ini adalah puteri paduka...?”

“Hemm Jaksa Gu, engkau hendak memaki lagi puteriku? Boleh, silahkan maki lagi sepuasmu“

Tiba-tiba Jaksa Gu merasa lututnya lemas dan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Perdana Menteri, “Yang Mulia, hamba mohon ampun… karena tidak tahu maka hamba...“

“Engkau memaki aku sebagai setan cilik kurang ajar, jahanam keparat dan anjing babi, ya?” kini Ji Goat bertanya sambil tersenyum mengejek.

“Saya… Saya tidak berani… Mohon maaf sebanyaknya“ kata Jaksa Gu dengan muka pucat dan berulang kali dia menganggukan kepalanya.

“Ah, begitu? Jelas sekarang macam apa adanya engkau, Jaksa Gu. Dalam kedudukanmu dan tugasmu, engkau tentu bersikap seperti ini juga. Berhadapan dengan orang melarat, dengan rakyat jelata, engkau memaki-maki, bersikap kasar, mudah menjatuhkan hukuman dan melakukan penindasan semena-mena. Akan tetapi terhadap atasan dan orang kaya, engkau menunduk-nunduk dan membela, tentu karena menerima sogokan dari orang kaya, begitukah?”

“Tidak, tidak berani...“ Hanya itu yang dapat di ucapkan Jaksa Gu yang sudah tidak berdaya itu karena dia seorang telah tertangkap basah memaki-maki seenak perutnya kepada “setan cilik“ tadi.

“Kau memaki aku setan cilik, jahanam keparat dan anjing babi, hukuman apa yang harus ku balaskan kepadamu? Hayo kau pukul sendiri mukamu sebanyak sepuluh kali!” kata Ji Goat dengan marah.

Karena sudah merasa bersalah dan mengharapkan pengampunan, Jaksa itu lalu menampari mukanya sendiri dengan kedua tangan sebanyak sepuluh kali sambil memaki diri sendiri. “Anjing kau, babi kau, jahanam keparat kau…!”

“Nah, sekarang kau harus berjanji, kalau engkau masih melanjutkan sikapmu seperti itu, menindas orang kecil dan menjilat orang besar, memeras orang dan koropsi, ayah pasti akan melaporkannya kepada Sri Baginda!”

“Ampun, saya tidak berani lagi…“ Jaksa itu meratap, mukanya pucat, hanya kedua pipinya yang membengkak merah karena di tampari sendiri tadi.

“Pergilah!” Ji Goat membentak dan Jaksa yang gendut itu setengah merangkak meninggalkan ruangan itu.

Setelah dia pergi, Ji Goat tertawa terkekeh-kekeh. Ayahnya mengerutkan alisnya.“ Ji Goat, engkau agak keterlaluan. Biarpun di depan kita dia tidak berani apa-apa, akan tetapi aku khawatir dia mendendam kepadamu“

“Takut apa, ayah? Kalau baru dia dan selusin pengawalnya saja, mampu berbuat apa kepadaku? Dan juga nama besar ayah tentu membuat dia ketakutan, lebih lagi kalau aku melapor kepada suhu, tentu dia akan di hajar“

“Sudahlah, jangan membawa-bawa gurumu dalam urusan kecil itu. Jangan urusan ini di besar-besarkan karena ku rasa Jaksa Gu sudah jera dan tidak akan berani bermain gila lagi“

“Aku akan tetap mengawasi orang-orang macam dia, ayah“

“Engkau akan kekurangan tenaga dan kelelahan, anakku. Di jaman ini, hamper semua pejabat tidak jujur. Akan tetapi sudahlah, lebih baik engkau membantu usaha gurumu yang menentang gerakan mereka yang hendak memberontak“

“Justeru pemberontak itu tidak akan terjadi kalau para pejabatnya bertindak adil dan jujur, memperhatikan kepentingan rakyat, ayah“

“Aih , engkau anak kecil tahu apa. Yang penting, kita bekerja untuk Kerajaan dan kita harus melaksanakan tugas dengan baik. Kalau tidak demikian, sebaiknya jangan menjadi seorang pejabat pemerintah“

“Ayah, aku akan pergi dulu“ gadis itu mengenakan kembali pakaian dan topinya. Ayahnya menghela napas.

“Ji Goat, aku khawatir sekali, sekali waktu engkau akan mengalami malapetaka dengan ulahmu ini. Apakah engkau tidak dapat tinggal di rumah saja seperti puteri-puteri lain?”

“Dan untuk apa sejak kecil aku mempelajari ilmu silat, ayah? Aku dapat menjaga diri, dan kalaupun kekuatanku tidak mampu untuk menjaga diri, masih ada nama suhu dan nama ayah yang akan melindungiku!”

Tanpa menanti jawaban ayahnya, Ji Goat sudah berlari keluar. Ayahnya hanya menggeleng kepalanya. Anak itu terlalu manja, pikirnya. Anaknya memang hanya satu itu dan dia amat menyayanginya. dan anak itu boleh dibuat kagum.

Menurut Kok-su, yang menjadi guru anaknya, Ji Goat memiliki bakat yang besar sekali sehingga Koksu sendiri amat sayang kepada murid itu. Beberapa bulan yang lalu, seorang diri saja, Ji Goat sudah berhasil membongkar pencurian-pencurian di istana kaisar yang ternyata dilakukan oleh orang dalam, beberapa pengawal istana. Dengan ilmu silatnya yang tinggi, Ji Goat berhasil menangkap lima orang pencurinya yang kesemuanya juga lihai karena mereka adalah pengawal istana.

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Semenjak saat itu, nama Ji Goat dikenal orang sebagai puteri perdana menteri yang lihai ilmu silatnya. Akan tetapi kalau dia sudahmenyamar pria, tidak ada yang mengenalnya kecuali ayahnya sendiri dan orang kepercayaan ayahnya. Bahkan para penjaga tidak mengenalnya, maka ia selalu keluar masuk rumah itu melalui sebuah jalan rahasia.

Perdana Menteri Ji Sun Cai bukan seorang koruptor. Bagi dia, tidak perlu melakukan korupsi, karena kaisar amat percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai tangan kanan sehingga kaisar amat royal dengan hadiah-hadiah untuknya. Dia mendapatkannya pembagian tanah yang cukup luas, rumah seperti istana serba lengkap. Dan Menteri Ji ini amat setia terhadap Kaisar. Dalam tugasnya ini, dia amat dekat dengan Koksu dan kedua pejabat inilah yang merupakan tenaga terpenting bagi kaisar. Semua pejabat yang lain hanya akan mengekor saja apa yang di usulkan dua pejabat ini kepada kaisar yang telah mempercayai mereka berdua.

Karena itu, hubungan antara perdana menteri Ji dan Lui Koksu amatlah akrabnya, demikian akrabnya sehingga Perdana menteri Ji mempercayakan puteri tunggalnya untuk menjadi murid Lui Koksu. Dalam segala hal menyangkut tugas kenegaraan, mereka selalu mengadakan perundingan.

Ketika itu, terdapat perasaan permusuhan antara Perdana Menteri Ji berdua Lui Koksu terhadap seorang Panglima yang bertugas di selatan. Panglima ini menjaga keamanan di selatan dan Panglima Coa ini yang menjadi benteng Negara, menghalau semua kerusuhan dan musuh-musuh dari selatan, yaitu para raja muda di selatan yang berdiri sendiri di wilayah masing-masing.

Mula-mula adalah suatu Kerajaan Sun yang cukup kuat di selatan. Menurut Perdana Menteri dan Koksu, Kerajaan Sun ini perlu di dekati dan di ajak bersahabat, karena memiliki pasukan yang kuat. Akan tetapi tidak demikian dengan sikap yang di ambil oleh Coa-ciangkun. Panglima ini tidak memandang bulu. Penguasa di selatan yang tidak mau tunduk, pasti akan di serbunya dan di tundukkan dengan kekerasan.

Akhirnya, karena bujukan Ji-Sin-Siang (Perdana Menteri Ji) dan Lui Koksu, kaisar mengutus penguasa untuk pergi ke selatan , menyerahkan surat perintah Kaisar agar Coa-ciangkun tidak melanjutkan penyerbuannya terhadap Kerajaan Sun. Hal ini amat mengecewakan hati Coa-ciangkun yang menjadi marah sekali. Pasukan Sun selalu mengganggu perbatasan, melakukan perampokan dan perkosaan, mengapa dia tidak boleh di serbu?

Dan dia mendengar akan usaha Sin-Siang dan Koksu yang hendak melakukan pendekatan kepada Kerajaan Sun. Hal ini membuatnya marah sekali. Apakah Sin-siang dan Koksu hendak menjual Negara? Timbul kecurigaannya dan dia mengira bahwa kedua pejabat tinggi itu agaknya hendak mengadakan persekutuan rahasia dengan Kerajaan Sun. Padahal, bukan itu yang dikehendaki mereka. Mereka hanya maklum akan kekuatan Kerajaan Sun dan kalau sampai Kerajaan Toba dapat bersekutu dengan mereka, tentu seluruh wilayah selatan akan dapat dikuasai dengan kerjasama dengan Kerajaan Sun.

Permusuhan atau persaingan ini secara diam-diam masih dirasakan kedua pihak. Hanya mereka tidak berani bertindak lancang, karena selain kaisar juga mempercayai Coa-ciangkun, panglima ini memiliki pasukan besar yang kuat. Karena adanya permusuhan inilah maka Koksu lalu berkunjung kepada Im Yang Ciu-kwi, karena dia hendak menarik orang-orang pandai sebanyaknya agar dia dapat menyingkirkan para musuhnya yang hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan kedudukannya.

Im Yang Ciu-kwi dan Akauw melakukan perjalanan seenaknya ke kota raja. Akauw merasa gembira karena dia membayangkan Bi Soan. Dia rindu sekali kepada sahabatnya ini dan mengharapkan akan dapat bertemu dengan Bi Soan di kota raja. Selama tinggal dengan Ciu-kwi, Akauw tidak pernah mengeluarkan uang, dan hanya karena kebetulan saja pada suatu hari gurunya itu melihat kantung uang berisi potongan-potongan emas mentah itu.

Suhunya memeriksa potongan emas itu dan bertanya, “Akauw, dari mana engkau mendapatkan potongan-potongan emas ini?”

Akauw masih ingat akan pesan suhengnya, maka diapun berkata, “Ini adalah pemberian mendiang suhu Yang Kok It“

Tentu saja Im Yang Ciu-kwi tidak menaruh curiga lagi dan hanya merasa heran darimana Yang Kok It mendapatkan potongan emas yang masih bercampur batu karang itu. Ketika mereka tiba di sebuah padang rumput di luar hutan yang tandus, mereka melihat sebuah kedai arak di tempat sunyi itu. Ciu-kwi yang mencium bau arak ingin mencoba arak dari kedai itu, maka dia mengajak muridnya berhenti. Ada lima orang penjaga kedai, dan karena lalu lalang di situ sedang sepi, maka tidak nampak ada tamu seorangpun kecuali mereka.

Seorang pelayan segera menghampiri mereka. “Bawa seguci arak terbaik ke sini“ kata Ciu-kwi.

“Dan sepoci air teh untukku“ kata Akauw yang biarpun sudah pernah merasakan minum arak, tetap saja dia memilih air the daripada arak.

Ketika pelayan itu mengambilkan pesanan, sepasang mata Ciu-kwi yang berpengalaman melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan. Oleh karena itu ketika arak dan air teh datang, dia mencegah muridnya untuk minum air tehnya dan dia menangkap lengan pelayan itu.

“Hayo kau minum dulu arak ini!”

Dia menuangkan sedikit arak dari guci ke dalam cawan kosong. Pelayan itu menjadi pucat wajahnya. Dia meronta dan menggeleng kepalanya. “Tidak aku… tidak biasa minum arak“

“Kalau begitu, engkau cicipi air teh ini!” bentak Ciu-kwi dan ketika orang itu pun menggeleng kepala, Ciu-kwi memaksa mulutnya terbuka dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menuangkan air teh ke dalam mulutnya. Lalu dia melepaskan orang itu yang nampak terhuyung-huyung lalu roboh pingsan. Empat penjaga lain sudah mencabut golok masing-masing.

“Kenapa dia suhu?”

“Mereka orang jahat, Akauw. Minuman kita diberi racun!” kata Im-yang Ciu-kwi.

Seorang di antara empat orang itu mengeluarkan sempritan yang di tiupnya nyaring dan dari belakang kedai bermunculan belasan orang yang kesemuanya memegang golok. Im-yang Ciu-kwi duduk menghadapi meja, mengeluarkan arak dari gucinya sendiri dan sambil menghadapi guci dan cawan arak, dia berkata, “Akauw, keluarkan pedangmu dan kau lawanlah penjahat-penjahat itu!”

“Baik, suhu“ kata Akauw dan dia sudah mencabut pedang Hek-liong-kiam dari sarungnya. Begitu dia menggerakkan pedangnya, nampak gulungan sinar hitam berkelebat kian kemari dan menyambut pengeroyokan belasan orang itu.

Terdengar suara berkerontangan nyaring dan banyak golok menjadi patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam. Akauw yang hendak menyenangkan gurunya, menggunakan ilmu pedang yang dia pelajari dari gurunya, memainkan pedangnya sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung merobohkan belasan orang itu dalam waktu singkat saja. Penjahat harus di hajar, dia teringat pesan suhengnya, akan tetapi jangan mudah membunuh orang kalau tidak terpaksa sekali. Maka diapun hanya merobohkan para pengeroyoknya tanpa membunuh, hanya melukai paha atau pundak mereka saja. Dalam waktu beberapa menit saja, semua orang yang mengeroyoknya telah di robohkan, dan cepat pula pedang itu sudah memasuki sarung kembali.

“Ihh, Akauw, mengapa begitu engkau memainkan pedangmu? Coba beri aku pinjam sebentar“ kata Ciu-kwi.

Karena tidak mengerti maksud suhunya dan mengira suhunya itu hendak memperlihatkan jurus yang mungkin kurang benar dia menggerakkannya, maka dia mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada suhunya.

“Seharusnya begini engkau menggunakan pedang!” Gurunya bergerak berloncatan ke sana sini dan Akauw terbelalak, karena gurunya telah membabati pengeroyoknya tadi, di tebasnya semua leher orang-orang itu termasuk pelayan yang tadi terbius sehingga dalam waktu singkat saja semua kepala terpisah dari badannya.

“Suhu… mengapa suhu….?” Akauw berseru heran ketika gurunya mengembalikan pedang itu kepadanya. Memang gurunya hebat. Memenggal belasan batang leher itu pedangnya sama sekali tidak ternoda darah! Hal ini hanya dapat terjadi saking kuat dan cepatnya pedangnya itu membabati leher belasan orang itu.

“Mengapa apa? Mereka menghendaki kematian kita, kenapa kita tidak mendahului saja mereka ? Hayo kita pergi dari sini!”

“Tapi, mereka itu, suhu...“ Akauw teringat akan pelajaran dari kakek Yang Kok It bahwa mayat manusia haruslah di kubur sebagaimana mestinya.

“Mereka sudah mampus, tidak perlu dipikirkan lagi. Mereka hendak mencelakakan kita, berarti mereka itu musuh yang pantas di bunuh, hayolah, Akauw!” bentak Ciu-kwi agak kecewa melihat sikap muridnya yang di anggapnya lemah itu. Terpaksa Akauw mengikuti gurunya dan beberapa kali dia menoleh memandang kearah belasan mayat manusia yang berserakan itu.

Sejak saat itu Akauw mulai menaruh hati syak wasangka terhadap gurunya. Tak dapat dia melupakan betapa gurunya itu memenggal kepala belasan orang yang sudah tidak berdaya itu secara kejam sekali. Padahal menurut ajaran Yang Kok It dan juga suhengnya, seorang gagah tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya dan tidak dapat melawan. Dan lebih lagi, gurunya meninggalkan belasan mayat itu begitu saja tanpa mau menguburkannya.

Ketika mereka memasuki kota raja Tiang-an, tiba di dekat pasar dimana terdapat banyak orang berlalu lalang, tiba-tiba Akauw melihat seorang pemuda bertopi butut.

“Bi Soan...!” Dia memanggil dan mengejar, akan tetapi Bi Soan menyelinap di antara orang banyak dan memasuki pasar. Akauw mencari beberapa lamanya, akan tetapi dia tidak melihat lagi Bi Soan. Dia tidak mungkin salah lihat. Jelas yang dilihatnya tadi Bi Soan, pemuda remaja yang di rindukannya itu. Dia merasa menyesal sekali mengapa Bi Soan tidak mau menemuinya. Padahal dahulu pemuda remaja itu amat baik terhadap dirinya.

“Akauw, engkau mencari siapakah?” gurunya menegur setelah dapat mencari pemuda itu di dalam pasar.

“Suhu, aku mencari seorang kenalan yang tadi ku lihat berada di sini. Akan tetapi dia menghilang di antara orang banyak“

“Kenalan? Siapa dia?” Tanya gurunya heran dan curiga.

Tentu saja Akauw tidak ingin menceritakan pengalamannya bentrok dengan seorang jaksa, maka dia menjawab singkat. “Dahulu aku pernah bertemu dan berkenalan dengannya dalam perjalananku, akan tetapi perkenalan itu hanya sepintas saja. Mungkin dia sudah lupa kepadaku, suhu“

“Sudahlah, jangan pedulikan sembarang orang. Kita akan menjadi tamu Koksu dan bahkan akan mendapatkan jabatan tinggi yang terhormat, jangan bergaul dengan segala macam orang. Mari kita lanjutkan perjalanan kita“

Akauw mengikuti suhunya, akan tetapi dia masih memandang ke sana sini mencari-cari dan hatinya merasa kecewa sekali . Bi Soan merupakan orang yang selalu teringat olehnya, kenapa sekarang tidak lagi mau mengenalnya? Apa barangkali Bi Soan sudah lupa kepadanya? Dia sungguh kecewa karena tadinya dia mengira bahwa Bi Soan amat baik kepadanya, seperti halnya suhengnya.

Sangat mudah bagi Thian-te Ciu-kwi untuk mencari tahu dimana rumah Koksu Lui. Semua orang juga mengetahui dimana istana tempat tinggal penasehat Kaisar itu. Rumah besar seperti istana itu di jaga oleh belasan orang prajurit yang menghadang guru dan murid itu.

“Berhenti, siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?” bentak perwira jaga dengan keren.

Ciu Kwi tertawa dan berkata, “Heii, perwira, jangan bersikap kasar terhadap kami. Kalau Koksu mengetahui, pangkatmu tentu akan di turunkan. Cepat laporkan kepada Koksu bahwa Thian-te Ciu-kwi dan muridku sudah datang untuk bertemu dengan dia“

Melihat lagak dan mendengar ucapan kakek itu, si perwira menjadi ragu dan gentar juga. Dia tahu bahwa Koksu adalah bekas seorang datuk persilatan dan tentu mengenal segala macam orang aneh dari dunia kangouw. Kalau dia bersikap kasar dan kemudian ternyata bahwa mereka ini memang sahabat baik Koksu, tentu setidaknya dia akan mendapat teguran dari atasannya. Akan tetapi untuk bersikap hormat kepada kakek dan pemuda yang pakaiannya seperti petanimiskin ini dia merasa enggan juga.

“Baiklah, harap kalian menanti si sini, aku hendak melapor ke dalam lebih dulu“ katanya dan perwira itu sendiri lalu melapor ke dalam. Benar saja seperti di khawatirkan perwira itu, begitu mendengar di sebutnya nama Thian-te Ciu-kwi, Kok-su Lui menjadi gembira dan wajahnya berseri-seri.

“Cepat persilahkan mereka duduk di ruangan tamu, dan bersikaplah hormat kepada mereka!”

Tentu saja perwira itu menjadi takut dan begitu berhadapan dengan Ciu-kwi dan Akauw, dia cepat memberi hormat dengan sikap merendah. “harap lo-cianpwe berdua suka memberi maaf atas sambutan kami yang kurang hormat karena tidak mengenal lo-cianpwe. Lui-kosu mempersilahkan lo-cianpwe berdua menanti di kamar tamu. Silahkan!”

Sambil tersenyum dan mengangkat dadanya yang kerempeng, Ciu-kwi mengikuti perwira itu bersama Akauw yang memandang bangunan seperti istana itu dengan penuh kagum. Belum pernah dia memasuki rumah semewah dan sebesar ini. Mereka duduk di kursi-kursi berukir yang berada di ruangan tamu itu dan perwira itu dengan hormat mempersilahkan mereka menunggu, lalu dia memberi hormat dan keluar dengan hati lega.

Taklama mereka duduk menanti, Koksu itu memasuki ruangan tamu dari dalam, mengenakan pakaian yang mewah gemerlapan. “Ha, Ciu-kwi, engkau datang juga!” tegurnya girang.

“Tentu saja, Giam-ong. Sekali berjanji kepadamu, tentu ku penuhi. Hanya tinggal menagih janjimu saja kepadaku untuk memberi kedudukan kepada aku dan muridku“

“Kebetulan aku memang hendak menghadap Sri Baginda Kaisar, mari kalian ikut aku menghadap dan kuperkenalkan kepada Sri Baginda. kami hendak membicarakan sikap Gubernur Gak yang agaknya condong melakukan hubungan dengan Coa-ciangkun, yang ku maksudkan dengan kami adalah aku dan Ji-taijin. Menteri Ji Sun Cai mendengar dari penyelidikan bahwa hubungan antara Gubernur Gak di perbatasan selatan amat dekat dengan Coa-ciangkun, orang keras kepala yang agaknya akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan kami. Marilah sebelum ku ajak singgah dikediaman Perdana Menteri Ji Sun Cai untuk kuperkenalkan. Engkau harus tahu, Ciu-kwi, bahwa Perdana Menteri adalah rekan kerjaku yang baik dan di antara kami ada kerja sama yang cocok sekali...“

“Baiklah, Giam-ong. Aku menurut saja apa katamu, yang penting kami berdua memperoleh kedudukan yang baik di kota raja ini“

Mereka bertiga lalu memasuki sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh para penjaga di luar, dan berangkatlah mereka menuju ke kediaman Perdana Menteri, di kawal oleh beberapa orang yang mengiringkan kereta. Benar saja, ketika tiba di gedung Perdana Menteri yang juga amat indah bagi Akauw, Lui-Koksu di terima dengan hormat oleh para penjaga dan langsung di antar ke kamar tamu.

Tak lama mereka duduk, muncullah Perdana Menteri Ji Sun Cai bersama seorang gadis yang cantik jelita. Akauw terbelalak memandang gadis itu, bukan saja karena cantik jelitanya, melainkan karena dia merasa sudah sering melihat wajah itu dalam mimpi! Setiap kali dia membayangkan wajah bidadari seperti itulah bentuk wajahnya! Ketika gadis itu memandang kepadanya, Akauw tersipu dan cepat menundukkan mukanya karena menurut ajaran yang diterima dari suhengnya, sikap seperti itu, memandang langsung wajah seorang gadis yang tidak dikenalnya, apalagi dengan pandangan kagum, adalah sikap yang tidak sopan!

Lui-Koksu Toat-beng Giam-ong segera memberi hormat kepada Perdana Menteri dan puterinya. “Maafkan kalau kami mengganggu Ji-taijin dan Ji-siocia“

“Ah, sama sekali tidak, suhu“ kata gadis itu yang bukan lain adalah Ji Goat. “Akan tetapi suhu datang bersama… siapakah mereka ini, suhu?”

“Koksu, siapakah kedua orang ini yang kau ajak datang berkunjung?” Perdana Menteri Ji juga bertanya.

“Taijin, inilah yang pernah saya bicarakan tempo hari. Ini adalah Thian-te Ciu-kwi“

“Ah, datuk kang-ouw itu? Siapakah nama lo-cianpwe yang mulia?” kata pula Perdana Menteri Ji dengan sikap cukup hormat. Agaknya Perdana Menteri ini dapat menghargai orang-orang pandai di dunia kang-ouw.

“He-he-he, Yang Mulia Perdana Menteri Ji, saya sendiri sudah lupa siapa nama saya pemberian orang tua. Harap sebut saja saya Ciu-kwi (Setan Arak), karena itu sudah menjadi nama saya, he-he-he“

“Begitukah? Dan siapakah orang muda yang gagah ini, Ciu-kwi?” Tanya Perdana Menteri itu dengan ramah.

“Akauw, hayo perkenalkan dirimu“

“Tai-jin, nama saya Cian Kauw Cu, biasa di sebut Akauw“ berkata demikian die mengerling kea rah wajah gadis jelita itu yang kelihatan tersenyum manis.

“Dia murid saya, taijin...“ kata Ciu-kwi dengan bangga.

“Aih, dia muridmu, Ciu-kwi?” Ji Goat berseru. Gadis ini tidak ragu lagi menyebut Ciu-kwi begitu saja, sesuai dengan perkenalan diri Thian-te Ciu-kwi kepada ayahnya tadi. “Aku sudah pernah mendengar namamu di puji-puji suhu, akan tetapi belum pernah mendengar engkau mempunyai seorang murid. Menilai kelihaian gurunya dapat di lihat dari kepandaian muridnya, maka aku ingin sekali bertanding ilmu silat dengan Akauw ini!”

“Hsss, Ji Goat, jangan kurang ajar!” tegur ayahnya.

“Ha-ha-ha, apa salahnya, taijin? Ji Sio-cia adalah murid saya dan Akauw ini adalah murid Ciu-kwi. Kami berdua adalah sahabat sejak lama dan saya sudah pula menguji ilmunya. Apa salahnya kalau Ji Siocia menguji ilmu murid Ciu-kwi? Mari kita sama menonton!”

Karena ruangan tamu itu cukup luas, maka Ji Goat yang ingin sekali menguji kepandaian Akauw sudah memasang kuda-kuda menghadapi pemuda tinggi besar itu dan berkata, “Akauw, aku sudah siap, keluarkan ilmumu agar ayah dan aku dapat melihatnya“

“Akauw, kita hendak mencari pekerjaan di kota raja, maka perlihatkanlah kemampuanmu...“ kata pula Thian-te Ciu-kwi kepada muridnya.

Sebetulnya Akauw merasa enggan sekali untuk bertanding melawan gadis itu. Gadis yang demikian cantiknya lemah gemulai sehingga tertiup angina keras saja agaknya akan roboh, kulitnya begitu halus, bagaimana dia dapat memukul seorang gadis seperti itu? Dia meragu, dan berdiri biasa saja, tidak memasang kuda-kuda seperti nona itu...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 05

KETIKA Akauw berjalan sampai di tepi hutan yang sunyi, dia melihat seekor kijang. Timbul nalurinya untuk berburu, apalagi perutnya memang sudah lapar dan di tempat sunyi seperti itu tentu saja tidak mungkin dapat membeli makanan. Dia lalu melompat jauh dan melakukan pengejaran. Kijang itupun mendengar suara orang mengejar, diapun melompat jauh ke depan memasuki hutan, Akauw lalu meloncat ke atas pohon dan melakukan pengejaran melalui pohon-pohon. Dengan cara ini, kijang tidak dapat mencium baunya dan tidak tahu bahwa pemburunya sudah berada di atasnya.

Semua ini tidak lepas dari pengamatan orang yang membayangi Akauw. Orang itu seperti kakek yang usianya tentu lebih dari enam puluh tahun, bertubuh pendek kecil akan tetapi mempunyai gerakan yang ringan sekali sehingga Akauw tidak tahu bahwa sejak dari kuil tadi orang itu membayanginya. Bahkan ketika dia melakukan pengejaran terhadap kijang, orang itu tetap membayanginya, walaupun tidak seperti dia meluncur dari pohon ke pohon. Orang itu berlari seperti terbang saja, menyelinap dari pohon ke pohon lain dan terus membayangi kemana saja Akauw pergi.

Setelah tiba di atas kijang itu, Akauw mengeluarkan pekik seperti ketika dia masih hidup di antara kera-kera itu dan tubuhnya meluncur dari atas pohon, tepat menimpa punggung kijang itu. Kijang itu kaget, meronta, namun lehernya telah di pegang oleh sepasang tangan yang amat kuat dan kepalanya di puntir, maka robohlah kijang itu, tidak bergerak lagi, mati seketika. Akauw mengeluarkan suara penuh kemenangan yang terdengar seperti lengking panjang, kemudian dia membuat api unggun dan tak lama kemudian dia sudah memanggang daging kijang muda yang sedap dan lunak.

Sepasang mata yang mengintainya kini berkedip-kedip dan mulut kakek kecil itu berliur ketika bau sedap daging kijang panggang itu menyerang hidungnya. Dia lalu keluar dari tempat sembunyi sambil terkekeh. Akauw terkejut bukan main. Dia melompat berdiri saking kagetnya. Bagaimana dia tidak dapat mendengar ada orang yang berada begitu dekat dengannya?

“He-he-he, anak muda, bolehkan aku mendapatkan sedikit daging kijang yang kau panggang itu?”

“Ah, tentu saja, paman, tentu saja. Mari, silahkan duduk, paman dan mari silahkan makan bersamaku“ Akauw sudah hilang kagetnya dan dengan ramah dia menyilakan orang itu duduk menghadapi api unggun.

“Terima kasih...“ orang itu memandang Akauw yang membolak-balik daging kijang yang sedang di panggangnya. “Engkau siapakah, anak muda?”

“Namaku Cian Kauw Cu, paman. Dan paman siapakah dan bagaimana dapat berada di hutan yang amat lebat ini?”

“Aku? ha-ha-ha, aku memang seringkali berkeliaran di hutan ini dan kebetulan melihat engkau memanggang daging kijang. Wah, sudah masak rupanya“

Akauw lalu mematahkan sebagian paha kijang dan menyerahkannya kepada tamunya yang memakan dengan lahapnya. Mereka makan daging panggang rusa itu tanpa berkata-kata. Setelah kenyang, kakek itu mengeluarkan seguci arak, lalu minum dari guci itu dengan suara menggelogok. Lalu dia menyerahkan guci itu kepada Akauw.

“Nah, sebagai pengganti pemberianmu daging rusa, minumlah arak ini, orang muda“

“Terima kasih, paman. Akan tetapi, aku tidak pernah minum arak. Aku hanya minum air teh atau air putih saja“

Mendengar jawaban ini, kakek itu bangkit berdiri dan tertawa terkekeh-kekeh. “He-he-he, orang begini gagah perkasa, minumnya hanya air teh atau air putih saja, seperti seorang gadis pingitan. He-he-heh-he, engkau menolak arak pemberian Thian-te Ciu-kwi (Setan Arak Langit Bumi), itu berarti penghinaan. Orang muda, hayo kau harus mampu melawanku sebanyak sepuluh jurus. Kalau tidak mampu, engkau mampus karena berani menghina aku!”

Akauw juga bangkit berdiri dan sepasang alis yang tebal itu berkerut. “Paman, siapa yang menghina? Aku menolak karena memang tidak suka minum arak“

“He-he-he, suka tidak suka harus minum kalau sudah ku beri. Engkau akan mampus kalau tidak dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus“ Setelah berkata demikian, kakek itu sudah menyerangnya dengan guci araknya yang terbuat dari pada baja.

Akauw terkejut karena serangan itu hebat sekali. Dari angina suara serangan itu saja dia tahu bahwa kakek itu menggunakan tenaga yang luar biasa besarnya. Cepat dia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri. “Kakek, engkau jahat sekali! Engkau hendak membunuh orang yang tidak berdosa? Engkau jahat dan patut di hajar!” kata-kata terakhir ini di dapatnya dari suhengnya yang mengharuskan dia menghajar orang yang jahat. Setelah berkata demikian, diapun membalas dengan pukulan tangannya dan otomatis ia menggerakkan pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng.

“Siiuuttt...!“ Angin besar melanda kakek itu dan membuat si kakek berjungkir balik dan mengeluarkan seruan kaget.

“Ehhh, ilmu apa ini? Engkau hebat juga, orang muda!“ katanya dan kembali dia menyerang. Hebat memang serangan kakek kecil itu. Bukan saja tenaganya amat besar, akan tetapi juga kecepatan gerakannya mengangumkan.

Kembali Akauw mengelak dengan lompatan ke belakang dan untuk kedua kalinya dia menyerang dengan menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng. Terdengar lagi suara berciutan yang amat dahsyat dan biarpun kakek itu sempat menghindar namun dia semakin kagum.

“Berhenti dulu, orang muda!” kata kakek itu.

Dengan girang Akauw berhenti. “Paman, engkau tidak boleh jahat begitu karena kulihat engkau seorang yang pandai, kenapa menggunakan kepandaian untuk membunuh orang?”

“He-ho-ho-ho, baiklah aku tidak membunuh orang. Sekarang kita ganti taruhannya. Bukan nyawa lagi, akan tetapi dengan perjanjian bahwa kalau engkau mampu bertahan seranganku selama dua puluh lima jurus, aku akan membebaskanmu, akan tetapi kalau engkau kalah sebelum dua puluh lima jurus, engkau harus menjadi muridku selama beberapa tahun. Bagaimana?”

Akauw juga bukan orang bodoh, akan tetapi jalan pikirannya memang sederhana sekali. Kalau dalam dua puluh lima jurus kakek ini mampu mengalahkannya, berarti dia lihai sekali dan apa salahnya menjadi murid seorang lihai selama beberapa tahun? Dia tidak akan rugi malah untung! “Baiklah, paman. Mari kita mulai!”

“Lihat pukulan jurus pertama!” bentak kakek itu dan kini dia menyerang dengan loncatan bagaikan burung wallet.

Mula-mula tubuhnya melayang ke atas, kemudian dia menukik dan menyerang dengan kedua tangannya kea rah kepala Akauw. Akauw bersikap tenang, dia tetap menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk menyambut serangan, kedua tangannya membuat gerakan menggunting ke atas untuk menyambut serangan yang dahsyat itu.

“Desss...!” Dua pasang tangan bertemu di udara. kakek itu berjungkir balik beberapa kali dan tubuh Akauw terhuyung, merasa nyeri pada kedua pundaknya karena tadi dirasakan seolah dia telah menahan benda yang beratnya ribuan kati!

“He-he-he, ilmu yang hebat! Sungguh hebat…!” kakek itu memuji dan diapun mulai menyerang lagi.

Akauw juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan perlawanan, juga kalau sempat dia balas menyerang dengan tak kalah hebatnya. Berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan heran, akan tetapi bagaimanapun juga, kakek ini adalah seorang datuk dari daerah timur, maka tentu dibandingkan dengan Akauw, dia menang banyak dalam hal pengalaman bertanding. Setelah beberapa kali mengadu tenaga, tahulah dia bahwa biarpun ilmu silat yang dimainkan pemuda itu amat aneh dan hebat bukan main, namun pemuda itu masih belum dapat mengimbangi kehebatan ilmu itu dengan tenaga. Tenaga sinkang pemuda itu tidak berapa hebat, dia lebih mengandalkan tenaga otot.

Pada jurus ke duapuluh dua, tiba-tiba kakek itu menyerang dengan bergulingan di atas tanah. Hal ini membingungkan Akauw dan begitu kakek itu mengerahkan tenaga menarik, tanpa dapat di cegah lagi, Akauw roboh terpelanting!

“He-he-he, baru dua puluh dua jurus engkau sudah roboh. Engkau harus mengaku kalah, orang muda“

Akauw adalah seorang yang jujur. Biarpun tidak menderita nyeri, akan tetapi dia sudah roboh dan dalam adu kepandaian itu berarti kalah. Maka dia lalu merangkap kedua tangan memberi hormat. “Aku mengaku kalah, paman“

“Husshhh, kenapa menyebut paman? Engkau kalah dan engkau mulai saat ini harus menjadi muridku, tahu? Nah, engkau harus menyebut suhu kepadaku dan menaati semua perintahku“

“Baik, suhu“ kata Akau taat karena dia harus memegang janjinya.

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan merasa girang sekali. Bukan girang karena mendapatkan murid saja, melainkan terutama sekali dia mendapatkan sebuah ilmu silat aneh melalui muridnya ini. Bagus, bagus! Siapa namamu, muridku?”

“Suhu, namaku Cian Kauw Cu dan biasa di sebut Akauw saja“

“Ha-ha-ha, aku sudah melihatmu tadi. Cocok nama itu dengan sepak terjangmu, he-he. Akauw mulai sekarang, engkau harus ikut denganku untuk memperdalam ilmu silatmu. Sebelum kunyatakan tamat belajar, engkau tidak boleh meninggalkan aku, mengerti?”

“Baik, suhu...“

“Buntalanmu itu, apa isinya?”

“Pakaian dan pedang, suhu“

“Hem, coba kulihat engkau bermain pedang“ katanya lagi.

Akaw menurut dan dia mengeluarkan sebatang pedang dari buntalan pakaiannya. Sarung pedang itu sederhana sekali dan si kakek sudah menganggap rendah pedang itu. Akan tetapi ketika Akauw mencabutnya, kakek itu terbelalak karena ada sinar hitam yang membuatnya bergidik!

“Tahan dulu, pedangmukah itu? Apa nama pedang itu, Akauw?” Sungguh pemuda ini mempunyai banyak kejutan, pikirnya.

“Namanya Hek-liong-kiam, suhu“

“Coba, aku ingin melihatnya“ Ketika menerima pedang itu dari tangan Akauw, Thian-te Ciu-kwi merasakan jantungnya berdebar tegang. Dia pernah mendengar dongeng tentang sepasang pedang putih dan hitam yang di sebut Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam. Akan tetapi selama ratusan tahun pedang-pedang itu tidak pernah keluar dari dunia kang-ouw dan sekarang tahu-tahu berada di tangan pemuda yang seperti monyet ini!

“Akauw, darimana engkau memperoleh pedang ini?” tanyanya, sambil memandang penuh selidik.

Akauw teringat akan pesan suhengnya. “Sampai bagaimanapun, jangan sekali-sekali membuka rahasia tempat ini kepada orang lain, sute. Baru emas itu saja dapat menimbulkan malapetaka kalau terjatuh ke tangan orang jahat“

“Akan tetapi, aku harus bilang apa, suheng? Aku tidak dapat berbohong“ bantahnya.

“Katakan saja engkau mendapatkan disebuah guha dan kau sudah lupa lagi tempatnya. Sekali waktu berbohong boleh asal bukan untuk menipu orang, sute“

Demikianlah, teringat akan pesan suhengnya, Akauw lalu berkata, “Aku mendapatkannya dari guruku, suhu“

“Juga ilmu silatmu yang aneh itu?”

“Benar, suhu...“

“ lDan siapa gurumu itu?”

“Guruku sudah mati, namanya adalah Yang Kok It“

Kakek kecil itu membelalakan matanya yang kecil. “Yang Kok It l, bekas Panglima itu? Tahukah engkau bahwa dia adalah seorang bekas panglima yang buron dan menjadi kejaran orang. Dan tahukah engkau bahwa dia mempunyai seorang cucu pula? Apakah engkau cucunya itu?”

“Ah, bukan suhu. Aku tidak tahu tentang cucunya. Suhu sudah meninggal dunia, dan aku sudah tidak mempunyai ayah ibu atau saudara lagi“

Kakek kecil itu berpikir. Agaknya tidak mungkin kalau bocah ini cucu Yang Kok It. Bocah ini lagaknya seperti orang hutan saja, walaupun ilmu silatnya hebat dan pedangnya lebih hebat pula. “Nah, kau mainkan pedang itu!” katanya.

Akauw segera bermain pedang. Akan tetapi berbeda dengan Yang Cien yang dapat mengubah ilmu pedang dari ilmu Bu-tek Cin-keng, Akauw hanya dapat memainkan ilmu pedang yang pernah dia pelajari dari Yang Kok It, yaitu ilmu pedang Gobi-pai. Yang Kok It adalah seorang murid Gobi-pai.

Melihat ini, kakek itu kecewa. Dibandingkan ilmu silat tangan kosongnya, ilmu pedang pemuda ini tidak ada artinya, dan permainan pedang dengan ilmu pedang Gobi-pai itu membenarkan keterangannya bahwa dia murid Yang Kok It.

“Cukup, simpan pedangmu baik-baik. Pedang itu amat berharga dan jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain, Akauw“ katanya. “Mari kita berangkat, tempat tinggalku di puncak bukit sana itu“

Datuk sesat seperti Thian-te Ciu-kwi tentu saja tidak bersungguh-sungguh ingin mengambil murid seperti Akauw. Dia ingin mengambil murid Akauw karena ingin mempelajari ilmu silat tangan kosong yang dimainkan Akauw tadi. Harus dia akui, bahwa kalau Akauw lebih matang ilmunya, agaknya akan sukar baginya untuk dapat mengalahkan ilmu pemuda itu. Apalagi setelah melihat Hek-liong-kiam. Tentu saja kini tidak hanya ilmu silat pemuda itu yang ingin dia peroleh, akan tetapi juga pedang hitam itu!

Akan tetapi dia harus bersabar karena ilmu silat itu harus dia pelajari satu jurus demi satu jurus. Dan untuk membuat pemuda itu tidak curiga kepadanya, dia harus benar-benar mengajarkan sin-kang dan ilmu lain kepadanya. Kalau pemuda itu kelak menyenangkan hatinya, bukan hanya ilmu pedang dan pedang itu yang dapat menjadi miliknya, akan tetapi pemuda pemuda itupun dapat dijadikan pembantu yang amat berguna.

Demikianlah, mulai hari itu Akauw menjadi murid Thian-te Ciu-kwi, dia tidak tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat dan kejam.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Baru setahun Akauw tinggal bersama Thian-te Ciu-kwi di puncak bukit itu, dia sudah merasa tidak betah sama sekali. Watak kakek itu mulai kelihatan. Setiap harinya hanya minum arak sampai mabok dan kalau sudah begitu dia memaksa Akauw untuk berulang-ulang melakukan jurus ilmu silat dari Bu-tek Cin-keng, mengulang dan mengulanginya lagi . Kakek itu merasa mendapatkan ilmu yang aneh dan sukar bukan main. Rasanya ada sesuatu yang salah dalam ilmu silat itu, akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu itu amat dahsyat. Maka agak sukarlah baginya untuk dapat mengerti inti sari ilmu itu.

Dia juga mengajarkan Samadhi kepada Akauw dan justeru Akauw paling tidak suka pelajaran ini yang di anggapnya tidak berguna dan membuang-buang waktu saja. Pada suatu hari datanglah seorang tamu di puncak itu. Tamu ini seorang kakek berusia enampuluh tahun, tinggi besar, raksasa hitam karena kulitnya amat hitam. Dia membawa sebatang golok yang punggungnya seperti bentuk gergaji, pakaiannya mewah dan agaknya dia seorang pejabat tinggi, karena kedatangannya di iringkan selusin pasukan pengawal. Begitu melihat orang ini, Thian-te Ciu-kwi bersorak gembira.

“Haiii, sahabatku yang baik, Toat-beng Giam-ong Lui Tat angin apa yang meniupmu kesini?“

“Thian-te Ciu-kwi, angin baik yang membawaku ke sini, dan ku lihat engkau masih menjadi setan arak seperti dulu“

“He-he-he, dan engkau menjadi seorang pejabat tinggi yang dimuliakan orang agaknya. Amboiii!”

“Dan kedatangku ini untuk memberi bagian kemuliaan yang sama kepadamu, Ciu-kwi. Aku menawarkan kedudukan yang baik bagimu kalau engkau mau ikut bersamaku ke kota raja menghadap Sri baginda Kaisar“

“Hemm, mari kita duduk dan bicara di dalam , Giam-ong“

Kedua sahabat itu bergandeng tangan, seorang raksasa tinggi besar dan seorang yang pendek kecil, lalu memasuki pondok Ciu-kwi. Raksasa itu berteriak menyuruh anak buahnya beristirahat agak jauh dari situ agar jangan mengganggu percakapan mereka. Ketika berada di dalam dan melihat Akauw, Giam-ong mengerutkan alisnya. “Siapa dia, Ciu-kwi?”

“Ha-ha, dia muridku yang baik, Giam-ong. Eeh, Akauw, cepat memberi hormat kepada sahabatku ini. Engkau harus menyebutnya taijin karena dia pejabat tinggi dari kota raja“

“Heh, kalau dia muridmu tidak perlu memakai banyak peraturan, Ciu-kwi. Orang muda, sebut saja aku locianpwe“

“Selamat datang, locianpwe“ kata Akauw sambil memberi hormat.

“Hei, Akauw. Cepat engkau menyuguhkan arak kepada dua belah orang pasukan pengawal sahabatku ini dan jangan engkau masuk ke sini kalau tidak kupanggil“

“Baik, suhu“ Akauw yang segera melaksanakan perintah itu karena suhunya memang menyimpan banyak sekali arak, berguci-guci banyaknya.

“Sejak kapan engkau menjadi antek orang Mongol, Giam-ong?” Tanya Ciu-kwi dengan nada suara mengejek.

“Hush, jangan berkata demikian. Kaisar-kaisar bangsa kita tidak becus memerintah. Buktinya, selama berabad mereka itu hanya saling serang, tiada henti-hentinya. Sekarang, Orang Toba memerintah, dan kalau itu menguntungkan kita, apa salahnya? Hidup satu kali haruslah dapat memetik manfaat dari keadaan, bukan? Nah, Kaisar Julan Khan ini dapat menggunakan tenaga kita, dan dia amat royal memberi pahala. Kalau engkau bersedia, asalkan datang bersamaku, engkau segera akan mendapatkan pangkat dan memiliki kemuliaan yang belum pernah kau impikan sebelumnya. daripada engkau di sini hidup bersama muridmu yang nampak ketololan itu“

“Aih, aih, jangan memandang rendah kepada muridku, Giam-ong. Dia merupakan sumber kebesaran yang tidak kalah oleh kedudukanmu yang mulia sekarang ini“

”Hem, apa maksudmu?”

“Engkau tentu tidak menyangka sama sekali bahwa dia adalah murid Yang Kok It sebelum menjadi muridku“

Toat-beng Giam-ong Lui Tat nampak terkejut mendengar ini. “ Ah, kalau begitu aku harus menangkapnya untuk di tanya, dimana adanya Yang Kok It dan cucunya, putera pemberontak Yang Koan itu!”

“Tenang, tenang dan bersabarlah, sobat. Kakek Yang Kok It telah meninggal dunia dan dia sama sekali tidak tahu dimana adanya cucunya. Dia adalah seorang yang lugu , akan tetapi tentang Yang Kok It itu tidak penting. Ada yang lebih penting lagi dan engkau pasti akan tertarik sekali mendengarnya“

“Hem, apa lagi yang penting itu?”

“Dia mempunyai suatu ilmu yang amat hebat, dan aku sedang mempelajarinya. Orang ini dapat amat berguna kelak untuk membantu kita dalam segala hal“

“Hemm, kalau dia masih mau menjadi muridmu, ilmu hebat apakah yang dia kuasai?“ Tanya Toat-beng Giam-ong, tentu saja tidak percaya karena kalau pemuda itu memiliki ilmu hebat tentu tidak mau menjadi murid orang lain.

“Giam-ong, untuk membuktikan omonganku tadi, mari coba kita main-main sebentar dan kau boleh menyerangku dalam tiga jurus!”

Giam-ong adalag seorang ahli silat dan dia mengerti benar bahwa rekannya itu tidak memiliki kepandaian silat yang terlalu istimewa akan tetapi paling hebat hanya dapat mengimbanginya saja. Tingkat kepandaian mereka tidak berselisih jauh, maka mendengar dia di tantang bertanding selama tiga jurus, hatinya tertarik sekali.

“Baik, hendak ku buktikan omonganmu“ katanya dan mereka berdua segera memasang kuda-kuda. “Ciu-kwi, lihat seranganku!” katanya kemudian dan dia menyerang dengan dahsyat, dengan kedua tangannya yang panjang besar.

Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak mengelak, melainkan meluruskan kedua tangan menyambut dan dari kedua tangannya itu menyambar angina yang aneh, membuat Giam-ong terkejut dan mengelak, lalu melanjutkan dengan serangan jurus kedua. Kembali Ciu-kwi membuat gerakan aneh dan daya pukulan Giam-ong meleset dengan sendirinya. Jurus ketiga dipergunakan oleh giam-ong untuk menyerang dengan seluruh tenaganya, menggunakan pukulan jarak jauh dengan kedua tangan terbuka. Ciu-kwi menyambut dengan kedua tangan terbuka pula dan akibatnya. Giam-ong terdorong mundur sampai terhuyung!

“Wah, ilmumu meningkat hebat, Ciu-kwi!” seru Giam-ong terkejut dan kagum, juga penasaran.

“Inilah berkat aku mempelajari ilmu aneh dari muridku, Giam-ong. Ini baru beberapa jurus saja dan amat sukar di pelajari. Nah, apakah murid seperti ini hendak dimusnakan begitu saja? Masih ada lagi hal penting lain kecuali ilmu ini. Dia memiliki Hek-liong-kiam“

“Hek-liong-kiam...?“ Kau maksudkan pek-hek-liong-kiam sepasang pedang kembar dalam dongeng itu?”

“Tidak salah. Dia memiliki Hek-liong-kiam yang katanya dia terima dari mendiang Yang Kok It. Nah, karena itulah dia ku ambil murid dan orang macam ini dapat kita pergunakan. Sebagai muridku tentu dia akan menaati semua perintahku...“

“Ha-ha-ha, engkau cerdik sekali, Ciu-kwi. Bagus, kalau begitu engkau dan muridmu itu ku minta untuk bekerja di istana. Kaisar tentu akan senang sekali memberi kedudukan tinggi kepadamu“

“Eh, Giam-ong, ada apa ini? Tiada hujan tiada angin engkau bersikap begitu baik padaku? Aku menjadi curiga“

“Ha-ha-ha, kawan, siapa yang berbuat baik kepadamu. Aku berbuat baik bukan untukmu, melainkan untuk diriku sendiri. Sekarang banyak gejala timbulnya pemberontakan di sana sini dan dengan sendirinya sebagai seorang penasehat militer kaisar, aku mempunyai banyak tugas, mempunyai banyak musuh. Aku membutuhkan kawan yang dapat di andalkan, dapat di percaya dan aku memutuskan bahwa engkaulah orangnya yang tepat. Ciu-kwi, kita sudah semakin tua. Kalau tidak sekarang menggunakan kesempatan untuk hidup berkecukupan dan terhormat, mau kapan lagi?”

Thian-te Ciu-kwi mengangguk-angguk. “Engkau benar juga, kawan. Baiklah, aku akan membicarakan dengan muridku, dan sebaiknya kalau engkau pulang lebih dulu. Dalam bulan ini juga kami tentu akan pergi ke Tiang-an dan mengadap Kaisar di sana. Ku harap saja semua akan berjalan lancer“

“Cari saja aku lebih dulu, mudah mencari rumah Lui-koksu (Guru Negara Lui) di sana aku akan membawamu menghadap Sri Baginda Kaisar“

“Baik, Giam-ong, eh Kok-su!” kata Ciu-kwi gembira.

Setelah para tamunya pergi, Ciu-kwi memanggil Akauw. “Muridku yang baik, peruntunganmu memang bagus sekali. Kau tahu siapa yang datang berkunjung tadi?”

Akauw menggeleng kepalanya. “ lNampaknya seorang pembesar“

“Memang benar. Akan tetapi pembesar yang bagaimana? Dia penasehat Kaisar! Dia pejabat yang kedudukannya tinggi sekali. Dan kau tahu apa keperluannya datang ke sini tadi?”

“Tidak tahu, suhu. Agak dia berkunjung karena suhu adalah sahabatnya“

“Memang benar, akan tetapi dia datang menawarkan kedudukan kepada kita“

“Kita, suhu?”

“Ya, engkau dan aku. Kita akan berangkat ke kota raja, Akauw dan di sana kita akan menjabat kedudukan tinggi, menjadi orang-orang terhormat dan mulia, hidup serba kecukupan...”

Akan tetapi di dalam hatinya, Akauw tidak begitu suka mendengar ini. Dia akan memasuki kehidupan baru dan dia teringat akan pengalamannya di Kota Raja. Teringat kepada jaksa yang sombong itu. Kalau para pejabat seperti itu wataknya, tentu kehidupan di kota raja akan menjadi tidak amat menyenangkan. Akan tetapi dia teringat kepada Bi Soan, pemuda remaja yang lucu dan menyenangkan itu! Dan mendadak saja wajahnya berubah berseri gembira!

“Suhu, aku senang sekali pergi ke kota raja. Di Sini sudah kurang lebih setahun, membosankan karena sepi sekali“

“Bagus, kalau begitu kita berkemas, besok pagi-pagi kita melakukan perjalanan ke kota raja, Akauw...“

********************

“Ayah, aku telah di hina orang, ayah!” kata gadis itu dengan sikap manja sekali.

Perdana Menteri Ji Sun Cai mengerutkan alisnya. Gadis itu adalah puteri tunggalnya yang amat di sayangnya. “Siapa berani menghinamu?” tanyanya marah.

“Seorang jaksa di rumah minum, dia telah menghinaku!”

“Di kedai minum? Ahhh, engkau tentu telah pergi dalam penyamaranmu lagi, Goat-ji (Anak Goat)!” kata ayahnya mencela dan kemarahannya mereda. Kalau ada orang menghina anaknya dalam penyamaran, hal itu tidak aneh karena tentu orang itu tidak tahu bahwa Ji Goat adalah puterinya. Puterinya ini suka sekali keluyuran menyamar sebagai seorang pria, nakalnya bukan main.

“Akan tetapi, Jaksa Gu itu memang kurang ajar sekali. Biarpun dia tidak mengenalku, dia tidak boleh menghina orang seenaknya saja. Aku dan seorang teman sudah memberi hajaran kepada dia dan anak buahnya, akan tetapi aku khawatir dia akan mencariku dan kalau bertemu tentu anak buahnya akan menyerangku“

“Hemmm, lalu apa yang harus kulakukan? Jaksa Gu cukup berpengaruh di kalangan rakyat, dia seorang Jaksa yang keras“

“Keras terhadap rakyat miskin, akan tetapi lunak terhadap orang kaya, bukan begitu, ayah? Jangan mengira aku tidak tahu, ayah? Kelakuan sebagian besar para pejabat di Kota Raja sudah berada di tanganku. Tidak sia-sia aku suka berkeluyuran menyamar sebagai pria karena banyak hal yang ku ketahui“

“Sudahlah, jangan macam-macam. Lalu apa yang kau ingin lakukan?“

“Undang Jaksa Gu ke sini ayah?”

“He...? Kalau sudah datang lalu bagaimana? Menegurnya?”

“Tidak usah. Aku yang akan menghadapinya kelak“

Saking cintanya kepada anaknya, dan kadang suka memanjakan, Perdana menteri Ji Sun Cai tidak menolak dan segera mengirim utusan menyampaikan surat mengundang datang Jaksa Gu...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 04

KALAU Yang Cien sangat tekun melatih diri dengan pernapasan dan siulan begitu tekun sampai setahun lewat tanpa dia rasakan, adalah Akauw yang mulai uring-uringan karena bosan. Setiap hari dia hanya melihat suhengnya duduk bersila dan melakukan pernapasan yang aneh-aneh, kadang-kadang napasnya bersuara seperti orang mengorok, kadang-kadang seperti kuda meringkik, kadang tidak bersuara sama sekali.

Karena bosan dan iseng, mulailah dia memperhatikan gambar-gambar orang bersilat yang terdapat di dalam dinding itu. maka mulailah dia berlatih silat melalui gambar-gambar, menirukan setiap gerakan. Dasar dia memang berbakat baik sekali, telah memiliki kesigapan alami, maka tidak berapa sukar baginya untuk menirukan jurus-jurus itu.

Yang Cien melihat ini dan dia diam saja, dia tahu betapa jemunya sutenya itu berdiam diri saja di tempat itu, setiap hari hanya mempersiapkan segala keperluan untuk dirinya. Dia amat berterima kasih kepada sutenya yang setia, maka melihat sutenya giat berlatih silat, dia mendiamkan saja. Dan ternyata Akauw mendapatkan kesibukan tersendiri dan dia tekun sekali berlatih.

Setelah mempelajari siu-lan selama dua tahun, pada lembar-lembar berikutnya barulah ternyata olehnya bahwa latihannya itu adalah untuk persiapan mempelajari ilmu silat yang gambarnya terdapat pada dinding. Ilmu silat yang dilatih oleh sutenya itu ilmu Bu Tek Cin Keng. Dan sutenya telah mempelajarinya begitu saja, tanpa petunjuk kitab. Padahal, sutenya sudah melatihnya selama dua tahun, dan agaknya sudah menguasai semua jurus dari Bu Tek Cin Keng.

“Sute, tahan…!” Dia berseru ketika membaca lembaran kitabnya pada bagian itu. “Sute, engkau tidak boleh melatih ilmu silat itu begitu saja. Harus menurut peraturan yang terdapat dalam kitab ini. Mari ku bacakan. Dimulai dari jurus pertama dulu, sute. Ketika berdiri tegak dan merangkap kedua tangan depan dada, seluruh hati akan pikiran haruslah di tundukkan kearah kepasrahan kepada Thian, haruslah kosong dan biar terisi oleh kekuasaan Thian. Selaras dengan bunyi ujar-ujar Thian-beng-ci wi-seng (Anugerah Tuhan adalah yang dinamakan Aseng). Nah, kita mengosongkan hati akal pikiran itu, agar Seng (watak asli) kita bangkit, terbebas dari pengaruh segala nafsu, kembali murni seperti aslinya. Setelah itu, barulah kedua tangan yang di rangkap depan dada itu berpisah, yang kanan menuding keatas, yang kiri ke bawah, yang ini yang dinamakan pisah akan tetapi kumpul, seperti pisahnya bumi dan langit yang sebetulnya tidak pernah berpisah karena memang menjadi satu rangkaian. Gerakan pertama dari jurus pertama ini dilakukan dengan tarikan napas panjang, menyimpan di perut, baru pada gerakan kedua dihembuskan keluar dan bersuara aaahhhhh, kemudian pada gerakan ke tiga…“

“Wah, sudah, sudah. aku menjadi pening, suheng. Kau saja yang mempelajari dari kitab. Aku hanya ingin mempelajari segala gerakannya saja, tidak ingin mempelajari segala artinya, baru satu jurus saja sudah begitu panjang lebar belum juga selesai kau terangkan, bagaimana aku dapat mengerti dan ingat? Padahal semua ada tiga puluh enam jurus dank au tahu suheng? Semua jurus itu sudah hafal olehku. Nah, kau lihat ini...“

Akauw lalu mulai bersilat, dari jurus pertama sampai selesai tegapuluh enam jurus. Gerakannya gesit bukan main dan ilmu silat itu memang indah sekali seperti orang menari-nari. Akan tetapi setelah selesai bersilat, napas Akauw agak memburu dan dia tertawa bergelak-gelak saking girangnya.

Yang Cien mengerutkan alisnya. Dari suara ketawa sutenya itu saja tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sikap Akauw. “Sute, engkau harus taat kepadaku, ingat? Aku katakan engkau mulai sekarang tidak boleh memainkan ilmu silat itu, kecuali kalau engkau mau mempelajari dari semual menurut petunjuk kitab ini. Mari kita mempelajari berdua, sute“

“Ah, sudah hafal di mulai lagi dari pertama, untuk apa? Aha, suheng, agaknya engkau iri kepadaku. Aku sudah hafal semua dan engkau baru mulai dari jurus satu. Suheng, aku sudah jemu di sini. Sekarang setelah tanganmu sembuh, marilah kita pergi dari sini, melanjutkan perjalanan kita“

“Sute, aku ingin mempelajari ilmu silat ini lebih dulu seperti pesan suhu“

“Suhu siapa?”

“Suhu Thian Beng Lojin. seperti yang tertulis di dalam kitabnya. Aku harus menaati pesannya, kalau tidak berarti aku bukan seorang murid yang baik. Kalau kakek masih hidup, tentu demikian pula pesannya kepadaku dan kepadamu. Tunggulah sampai aku selesai mempelajari kitab ini, baru kita pergi melanjutkan perjalanan kita, sute“

“Sampai kapan, suheng?”

“Sampai tiga tahun lagi, karena menurut kitab ini, aku harus berlatih selama lima tahun dan ini baru lewat dua tahun“

“Tiga tahun? Wah, terlalu lama, suheng. Kita pergi sekarang, kalau engkau tidak mau, biar aku pergi sendiri“

Jelas bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Akauw, pikir Yang Cien. Apakah ini ada hubungannya dengan melatih ilmu Bu Tek Cin Keng tanpa tuntunan? Kalau dulu dia pernah menganjurkan sutenya untuk merantau dulu seorang diri, kini dia berbalik malah khawatir.

“Sute, jangan pergi dulu, tunggu sampai aku selesai melatih ilmu“

“Suheng, aku bukan anak kecil lagi. Suheng juga seringkali mengatakan bahwa aku telah dewasa, usiaku sudah dua puluh satu tahun. Aku sudah mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk menjaga diri, dan juga bekal emas yang cukup untuk biaya hidup. Suheng biarlah aku merantau dulu, dan paling lama tiga tahun, sebelum engkau selesai melatih ilmu di sini, aku pasti akan datang menjemputmu“

Yang Cien menghela napas panjang. Kalau dia mencegah terus, sutenya bisa menduga bahwa dia terlalu memikirkan diri sendiri. Kini lukanya sudah sembuh, tinggal melatih ilmu saja untuk membuat semua racun lenyap dari tubuhnya. Dia dapat mencari makan sendiri, dapat mengatur keperluan dan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan sutenya.

“Baiklah kalau engkau berkeras, sute. Hanya jangan lupa di dunia banyak sekali terdapat orang jahat. Engkau tentu masih ingat akan semua pelajaran yang kau terima dari kakek atau dariku, dapat membedakan mana baik dan mana jahat. Dan sekali lagi, jangan engkau mudah melibatkan diri dalam perkelahian, dan terutama sekali, jangan membunuh orang tanpa sebab“

“Aku mengerti, suheng. Akan tetapi tentu engkau tidak keberatan kalau aku membunuh orang yang jahat sekali dan yang suka mencelakakan orang, bukan?”

Yang Cien menghela napas panjang, teringat akan dasar watak sutenya yang keras...“ Engkau tentu dapat memilih, pendeknya, jangan terlalu mudah membunuh orang, kecuali kalau engkau menjadi seorang prajurit yang bekerja untuk sebuah kerajaan . Akan tetapi engkau harus dapat memilih kerajaan macam apa, dibawah raja macam apa engkau mengabdi“

“Jangan khawatir, suheng. Aku tidak akan menjadi seorang prajurit kalau tidak bersama engkau. Nah, aku sudah mempersiapkan segalanya malam tadi, selamat tinggal suheng, aku berangkat“

“Sute, selamat jalan, jaga dirimu baik-baik, sute“

“Suheng...!” Akauw menghampiri suhengnya dan merangkulnya. Yang Cien balas merangkul dan saat itu dia merasa betapa sayangnya dia kepada sutenya ini yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri dan betapa besar dan kokoh tubuh sutenya sehingga tidak pantas kalau dia selalu menahan dan menjaganya“

“Sute, pergilah“

Dia mengikuti sutenya yang berloncatan dengan sigap sekali di antara batu-batu besar di luar guha. Setelah sutenya pergi, baru dia merasa betapa sepinya hidup ini. Dia merasa kehilangan sekali dan merasa kesepian

Dalam setiap perpisahan, selalu pihak yang di tinggalkan merasa lebih berat dan kehilangan, seolah-olah dalam hidupnya menjadi tidak lengkap lagi. Sebaliknya, yang meninggalkan tidaklah begitu merasa berat karena pikirannya penuh dengan hal-hal baru, yang akan dihadapinya dalam perjalanan.

Setelah dapat menentramkan batinnya yang terguncang dan merasa nelangsa di tinggalkan sutenya dan hidup sendiri di tempat terasing itu, mulailah Yang Cien melatih diri dengan ilmu silat yang gambarnya memenuhi dinding, menurut petunjuk dalam kitab. Dan bukan main kagumnya karena dia menemukan ilmu silat yang luar biasa sekali hebatnya. Dan juga menurut petunjuk kitab itu.

Setiap jurus haruslah digerakkan sesuai dengan peraturan pernapasan dan pencurahan perhatian di tujukan kepada suatu tertentu. Sehingga untuk melatih setiap jurus membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan! Dan untuk melatih dan menguasai semua tiga puluh enam jurus itu di butuhkan waktu tiga tahun! Akan tetapi sutenya telah menghafal dan melatih seluruh jurus itu hanya dalam waktu dua tahun.

Ketika sutenya pergi jauh dan dia memeriksa pedang yang berada di atas meja sembahyang, baru dia tahu bahwa sebatang di antara dua batang pedang itu telah lenyap. Sarung pedang itu kini hanya tinggal berisi sebatang pedang saja, yati pedang yang bersinar putih. Sedangkan pedang yang bersinar hitam tidak ada. Pasti sutenya yang membawanya. Pedang hitam itu memang biasa di pakai sutenya untuk berlatih silat.

Ketika dia menemukan kitab Bu-tek Cin-keng, di dekat kitab itu terdapat sepasang pedang itu. Ketika dia dan sutenya memeriksanya, ternyata sepasang pedang itu adalah pedang sinarnya berlainan sama sekali, bahkan berlawanan. Yang satu bersinar putih dan yang lain bersinar hitam. Namun bentuknya, panjangnya, beratnya sama benar. Dan karena pedang itu di hias ukiran naga, maka mereka berdua sepakat untuk menamakan pedang itu Pek-liong-kiam (Pedang Naga Putih) dan Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam). Ternyata pedang itu terbuat dari logam yang aneh dan kuat bukan main. Batu karang saja dengan mudah terbelah oleh pedang-pedang itu.

Begitu melihat pedang itu, Akauw sudah merasa sangat suka kepada pedang yang hitam. Warna hitamnya seperti arang dan kalau di gerakkan dengan pengerahan tenaga sin-kang, pedang itu mengeluarkan suara mengaum seperti singa. Akauw selalu berlatih dengan pedang ini dan seringkali membawanya kalau dia keluar guha untuk melindungi dirinya.

Yang Cien tidak merasa aneh kalau sutenya membawa pedang Naga Hitam itu pergi. Bahkan dia tadi lupa, kalau tidak tentu diapun mengusulkan agar sutenya membawa pedang hitam itu. akan tetapi yang membuat dia merasa sayang, kenapa sutenya tidak bilang kepadanya. Padahal kalau mengatakan, tentu saja dia membolehkannya. Bagi Yang Cien, dia merasa lebih cocok dengan pedang Naga Putih. Pedang itu kalau di gerakkan mengeluarkan suara nyaring melengking seperti suara burung hong betina. Dan ilmu Bu-tek Cin-keng ternyata merupakan ilmu silat yang serba cocok untuk memainkannya dengan atau tanpa senjata.

Memang pada gambar-gambar itu, orangnya bersilat dengan tangan kosong, namun bagi orang yang sudah menguasai dasar-dasar ilmu pedang, maka dengan sedikit perkembangan, ilmu silat itu cocok sekali untuk di jadikan ilmu silat pedang. Maka, sambil melatih ilmu tangan kosong dari Bu-tek Cin-keng, Yang Cien kadang juga melakukan gerakan-gerakan itu dengan Pedang Naga Putih dan merangkai sebuah ilmu silat Pedang yang dia namakan Pek Liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Putih)!

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Keadaan di Cina utara pada waktu itu memang baru saja di landa perang saudara yang hebat. Seperti tercatat dalam sejarah, pada tahun 221–265, Cina di kuasai oleh tiga kerajaan dan masa itu di kenal sebagai Zaman Sam Kok (Tiga Negara). Sam Kok ini menyusul runtuhnya Kerajaan Han Timur. Negara Cina terpecah-pecah menjadi tiga kelompok.

Kerajaan Wei berkuasa di utara, yaitu di Shan-si, Shan-si utara dan daerah lain di utara. Kemudian di Barat daya berkuasa Kerajaan Shu yang kekuasaannya meliputi daerah Hupei, Huna, Se-cuan dan Yunan. Adapun di Tenggara berkuasa Kerajaan Wu. Dengan demikian, selama 221–265, Cina memiliki tiga orang Kaisar.

Tiga Kerajaan ini tiada hentinya berperang, saling bermusuhan sehingga rakyat menderita sengsara karena perang segi tiga yang tiada henti-hentinya. Akan tetapi akhirnya pada tahun 265, Kerajaan Wei keluar sebagai pemenangnya, menaklukan dua kerajaan yang lain dan Cina di kuasai dan dipersatukan oleh Kerajaan atau Dinasti Wei.

Namun apakah ini berarti bahwa keadaan Negara menjadi tentram? Jauh daripada itu! Keadaan Kerajaan Wei tetap saja lemah, Kesatuan tidak dapat dipelihara dengan baik. Para tuan tanah, pejabat daerah, jendral-jendral silih berganti berperang memperebutkan kekuasaan di daerah-daerah. Pertempuran kecil dan besar timbul di seluruh Cina, dari bagian utara sampai selatan. Kekuasaan berganti-ganti jatuh ke tangan pemenangnya, dari jendral ini di rebut kembali oleh jendral itu. Wangsa-wangsa baru berdiri jatuh-bangun, timbul tenggelam.

Itu semua masih belum hebat. Masih di tambah lagi penyerbuan suku-suku Nomad yang berebutan menduduki daerah-daerah luas di pinggiran. Suku Hsiung nu, Suku Tibet, Turki dan Bangsa Toba yang paling berpengaruh itu menyerbu dari utara dan barat, bahkan Bangsa Toba akhirnya mendirikan Kerajaan Toba yang berkuasa di seluruh Tiongkok utara. Tiongkok terpecah-belah dan kekacauan ini berlangsung terus sejak tahun 265 sampai sekarang, hampir tiga abad lamanya.

Di selatan juga banyak sekali raja-raja kecil timbul sebagai akibat dikuasainya daerah utara oleh Bangsa Toba dan di antara raja-raja kecil inipun selalu timbul perang memperebutkan wilayah. Bangsa Toba adalah suatu suku dari bangsa Mongol yang termasuk suku yang gagah perkasa, pandai menunggang kuda dan pandai menggunakan anak panah yang pada waktu itu merupakan senjata paling ampuh dalam perang.

Juga Bangsa ini sejak dari kampung halamannya si utara, sudah suka sekali akan kekerasan dan olah keperwiraan. Mereka itu ahli gulat dan juga memiliki semacam ilmu bela diri yang cukup ampuh karena mereka mendapatkannya dari bangsa India dan juga banyak orang Han yang mengajarkan ilmu silat mereka kepada bangsa ini.

Bagaimanapun juga, Kerajaan Toba ini tak dapat di bilang kuat. Kerajaan ini membagi-bagi daerah kepada sekutunya, yaitu kepada Bangsa Hsiung-nu, bangsa Tibet, Turki dan lain-lain. Karena daerah itu terpecah-pecah dan dibagi-bagikan, maka tentu saja kekuasaannya terbatas. Apalagi pada masa kisah ini terjadi, Kaisar Bangsa Toba yang terakhir adalah seorang pemabok dan tukang pelesir yang tidak ketulungan lagi. Dia berjuluk Julan Khan, berusia lima puluh tahun dan biarpun dia seorang yang memiliki ilmu silat dan ilmu perang yang ampuh.

Namun karena dia hanya bersenag-senang saja, maka dia dapat dibilang seorang kaisar yang lemah. Untuk mendapatkan seorang wanita saja, dia tidak segan untuk mengerahkan pasukannya menyerang daerah dimana wanita yang digandrunginya itu tinggal. Kalau wanita itu dengan baik-baik di serahkan, dia tidak akan sayang untuk menghujani hadiah kepada keluarganya atau kepada kepala daerahnya, akan tetapi kalau sampai di tolak, tentu daerah itu di gempur, banyak orang tewas dan akhirnya wanita itu dibawanya sebagai hasil menang perang!

Raja Julan Khan memilih Tiang-an sebagai kota raja dan di sini dia hidup serba mewah dan berenang dalam lautan kesenangan, tidak memperdulikan bahwa semua pejabat, dari pusat ke daerah, semua melakukan korupsi dan penindasan kepada rakyat jelata.

Mendiang kakek Yang Kok It adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Han dan Wei, maka dia tidak mau bekerja lagi ketika Kerajaan Toba berdiri, apalagi dia sudah tua. Akan tetapi puteranya, Yang Koan, bekerja kepada Kerajaan Toba yang ketika itu masih di pimpin oleh ayah kaisar yang sekarang. Akan tetapi, mendiang Yang Koan paling membenci rekan-rekannya yang melakukan penindasan kepada rakyat.

Dan akhirnya karena berselisih paham, Yang Koan dan istrinya tewas ditangan saingannya, yaitu para pembesar yang korup, yang menggunakan seorang sakti untuk membunuhnya, bahkan lalu orang sakti yang bernama Toang-beng Kiam-ong Lui Tat itu mendapat tugas untuk mengejar dan mencari kakek Yang Kok It yang melarikan diri bersama cucunya yang bernama Yang Cien.

Akhirnya pengejaran dihentikan karena tidak terdengar lagi berita tentang kedua orang itu. Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang berjasa membunuh Yang Koan sekeluarga, oleh para pejabat lalu dihadapkan kaisar dan diberi pujian sehingga kakek ini lalu di angkat menjadi penasehat militer yang tentu saja memiliki kedudukan yang tinggi di kota raja.

Pada suatu siang udara sangat panas karena musim panas sedang berada di tengah-tengah. Panasnya udara membuat orang segan keluar dan kedai-kedai minuman di penuhi tamu yang akan melepas dahaga. Seorang pemuda memasuki kedai minuman itu. Dia seorang pemuda tinggi besar, mukanya agak gelap seperti muka yang banyak terbakar matahari, pakaiannya seperti pakaian orang dusun namun bersih. Rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai ke belakang punggung, di ikat dengan sehelai kain putih dan punggungnya yang lebar menggendong sebuah buntalan panjang.

Orang ini mendatangkan kesan kokoh kuat sehingga tidak ada yang berani untuk mencoba mengganggunya. baru kedua lengannya saja yang nampak tersembul keluar dari lengan bajunya yang di gulung, nampak kekar berotot sebesar jari tangan. Usianya sekitar dua puluh satu tahun dan begitu memasuki kedai minuman itu dia langsung memesan minuman kepada pelayan. Suaranya besar dan dalam, kata-katanya singkat saja. Pemuda ini bukan lain adalah Cian Kauw Cu atau Akauw.

Perantauannya membawa dia ke kota raja Tiang-an di siang hari itu dan biarpun dia amat menganggumi besarnya dan indahnya rumah-rumah di sepanjang jalan yang dilaluinya, namun dia tidak memperlihatkan kekaguman dan keheranannya. Kini dia sudah terbiasa melihat banyak orang, sungguh pada waktu pertama kali memasuki sebuah dusun dan melihat begitu banyaknya manusia, dia menjadi panik dan gentar juga. Apalagi ketika pertama kali melihat wanita muda, dia sampai melotot memandanginya dan wanita itu menjadi ketakutan lalu melarikan diri. Tak di sangkanya bahwa bangsanya ada juga betinanya, dan begitu mempesona!

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah banyak mendengar keterangan Yang Cien, maka keheranannya tidaklah begitu mengubah sikap dan wataknya. Dia harus sopan terhadap wanita, demikian ajaran suhengnya. Sopan itu berarti tidak menegur mereka kalau tidak kenal, tidak memandang terlalu lama, dan tidak mendekati mereka. Kecuali kalau sudah berkenalan.

“Pelayan, cepat sediakan teh dingin untukku! Aihh, panasnya!”

Suara nyaring ini menarik perhatian Cian Kauw Cu. Dia segera menengok dan hamper saja dia tertawa. Seorang pemuda, melihat bentuk tubuhnya yang ceking tentu masih remaja, akan tetapi sikapnya seperti seorang yang sudah dewasa saja, memasuki kedai itu lalu memilih tempat kosong, tak jauh dari tempat duduk Kauw Cu. Dan begitu teh yang dipesannya tiba, dia lalu mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku dan minum dengan lahapnya.

Kauw Cu tersenyum dan kebetulan pemuda remaja itu juga memandang kepadanya. Mereka saling pandang dan Kauw Cu melihat betapa sepasang mata itu memiliki senar tajam penuh selidik dan manik matanya bergerak gerak amat cepatnya, menunjukkan kecerdasan otaknya.

“Hemm, kalau orang tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab itu namanya orang gila. Ku harap engkau masih waras, sobat. Kenapa engkau tersenyum-senyum sendiri yang menatap aku seperti itu?”

Pertanyaan inipun di anggap lucu oleh Kauw Cu. “Aku tersenyum melihat engkau minum begitu lahapnya, sobat. Agaknya engkau sudah haus sekali“

“Siapa tidak haus dalam hawa sepanas ini?” kata pemuda itu dan selanjutnya dia tidak memperdulikan lagi kepada Kauw Cu yang juga sudah mengalihkan perhatiannya kepada minumannya.

Yang Cien menasehati bahwa dia tidak boleh usil, tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Inipun demi menjaga kesopanan dan menjauhkan percekcokan. Dan melihat bahwa di meja lain duduk seorang yang melihat pakaiannya seperti seorang pembesar, bersama tiga orang yang berpakaian seperti ahli silat, mungkin tukang-tukang pukulnya.

Pembesar itu dengan alis berkerut melirik kearah pemuda yang nongkrong mengangkat sebelah kakinya sambil minum teh dengan suara berseruputan dan agaknya dia tidak senang sekali. Lalu dia berbisik kepada seorang pengawalnya yang bertubuh tinggi besar bermuka bopeng. Biarpun dia berbisik, namun Kauw Cu dapat mendengar bisikan itu. Telinganya sudah terlatih baik, bersatu dengan nalurinya.

“Beri hajaran kepada anak muda kurang ajar itu dan lempar dia keluar!” kata sang pembesar kepada tukang pukulnya yang bertubuh tinggi besar.

Tukang pukul ini lalu bangkit. Tubuhnya memang tinggi besar, lebih tinggi dibandingkan tubuh Kauw Cu sehingga mengingatkan Kauw Cu akan seekor biruang, musuh utamanya di hutan. Si Biruang itu lalu menghampiri pemuda tadi dan menghardik.

“bocah liar! Di sini terdapat seorang pembesar, dan engkau duduk nongkrong mengangkat kaki seperti monyet, minum berseruputan seperti babi!”

Pemuda itu sama sekali tidak nampak ketakutan di hardik dan dimaki seperti itu, malah membelalakkan matanya dan nampak keheranan. “Aih, aih... Engkau ini mabok, ya? Di sini tempat umum, aku boleh nongkrong, boleh duduk sesukaku, aku tidak merugikan orang lain kenapa ribut-ribut?”

Si muka bopeng menggerakkan tangannya, memegang leher baju bagian belakang pemuda remaja itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga tubuh pemuda itu tergantung. “ Engkau banyak membantah, ya? Hayo pergi dari sini!”

Dia membawanya keluar dan hendak melemparkan tubuh pemuda itu ketika Akauw sudah datang menghadangnya. “Sobat, anak ini tidak bersalah apa-apa, tidak merugikan siapa-siapa, harap jangan diganggu“

Menghadapi pemuda yang membela anak itu, si muka bopeng menjadi marah sekali. Dia melepaskan anak muda itu yang segera lari ke belakang meja untuk berlindung. “Jahanam busuk, engkau tidak tahu aku siapa, ya? Aku pengawal Gu-taijin, jaksa di sini tahu?”

“Maaf, aku memang tidak mengenalmu, sobat. Dan aku tidak mencari keributan. Aku hanya minta agar engkau jangan memukul anak yang tidak bersalah itu“

“Baik, kalau aku tidak boleh memukul dia, aku akan memukulmu!“

Setelah berkata demikian, si muka bopeng menggerakkan tangan kanannya yang dikepal sebesar kepala anak-anak itu meluncur dan menghantam kearah muka Akauw. Dengan tenang Akauw menggerakkan tangan kirinya, menyambut kepalan tangan kanan lawan itu dan mencengkramnya.

“Auuwww…!” si muka bopeng berteriak kesakitan, akan tetapi dasar dia tidak tahu diri, kini tangan kirinya melayang kearah kepala Akauw.

Akauw menggunakan tangan kanannya menyambut dan menangkap kepalan kiri itu dan kini kedua tangan lawan itu berada dalam genggamannya dan si muka bopeng mengaduh-aduh karena dia merasa kedua kepalan tangannya remuk. Akauw lalu mendorongnya ke belakang karena pada saat itu, dua orang pengawal yang lain sudah menerjangnya. Akan tetapi kedua orang itu terbelalak ketika tiba-tiba saja orang yang mereka serang itu menghilang.

Kiranya Akauw melompat dengan cepat sekali ke atas dan bergantung kepada tiang, kemudian selagi kedua orang tukang pukul itu kebingungan, dia pun meloncat turun ke belakang mereka, kedua tangannya menjambak rambut kepala mereka dan mengadukan dua buah kepala itu, tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat kepala itu benjol dan bermunculan ribuan bintang yang membuat kedua orang itu pening dan terkulai. Untung Akauw masih ingat untuk tidak membunuh orang. Kalau terlalu keras dia mengadukan kepala itu sudah pecah dan tentu saja orangnya mati.

Geger di kedai minuman itu. Melihat ketiga tukang pukulnya sudah roboh, si tinggi besar masih berjingkrak karena kedua tangannya terasa nyeri, kiut miut rasanya dan kedua orang yang masih duduk memegangi kepala yang rasanya seperti berputar-putar. Jaksa itu pun tahu diri dan bangkit keluar dari kedai meinuman. Akan tetapi sebelum keluar, sesosok bayangan menyelinap dan pemuda remaja itu sudah berdiri di depannya.

“Heii, jaksa. mau kemana kau? sudah membikin kacau hendak menghina orang, kini mau pergi begitu saja?”

Jaksa yang gendut itu menjadi marah. Dia memang gentar menghadapi Akauw, akan tetapi bocah kurang ajar yang ceking ini tentu saja tidak membuatnya takut. “Minggir, bocah setan atau kupukul kepalamu!” bentaknya.

“Wah, malah mau pukul? Kepalan tahumu itu bisa memukul. Coba hendak kurasakan kepalan tahumu itu. Jangan-jangan untuk memukul kepalaku malah remuk...”

Di ejek begitu sang jaksa lalu mengerahkan seluruh tenaganya mengayun kepalan tangan kanannya memukul kepala anak itu, akan tetapi tiba-tiba bocah itu merendahkan tubuhnya sehingga pukulan itu luput dan tubuhnya terbawa oleh tenaga pukulan terhuyung ke depan. Tubuh yang perutnya gendut itu terhuyung, maka ketika kaki pemuda itu mengganjal kakinya, tanpa dapat di cegah lagi tubuhnya jatuh menubruk meja di depannya. Celakanya, tamu meja depan itu memesan semangkok besar bubur ayam yang masih panas dan ketika roboh menelungkup, muka si jaksa masuk ke dalam mangkok besar bubur ayam sehingga berlepotan bubur panas. Dia mengaduh-aduh dan menjerit-jerit seperti babi di sembelih.

Akauw merasa tangannya di pegang orang dan ternyata pemuda remaja itu yang memegang tangannya, “Hayo cepat kenapa bengong melulu? Apa engkau kepingin mati?”

“Kepengin mati? Tentu saja tidak!”

“Kalau tidak, hayo cepat ikut aku!”

Pemuda remaja itu lalu menggandeng tangannya dan menariknya berlari keluar dari kedai minuman itu. “Nanti dulu“ Akauw membantah. “Aku belum membayar harga minumanku“

“Alaa, biarkan pembesar gendut itu yang membayarnya. Hayo cepat kita lari“

Akauw membiarkan saja dirinya ditarik dan dibawa lari. Mereka pergi keluar kota dan memasuki sebuah kuil tua kosong yang berada diluar kota raja. Barulah pemuda remaja itu melepaskan tangannya dan dia terengah-engah, duduk di lantai bersandarkan dinding tua. Akauw juga ikut duduk di depannya, bersila.

“Eh, sobat cilik, kenapa kau bilang aku tadi kepengin mati? Apa yang kau maksudkan? Dan kenapa pula engkau mengajakku lari-lari seperti ini dan bersembunyi di tempat ini?”

“Wah, engkau tidak mengerti, ya? Kok Tolol benar sih kau ini? Tubuhmu saja besar akan tetapi engkau bodoh sekali“

Heran. Akauw tidak marah bahkan merasa geli. Biarpun dimaki, akan tetapi cara memaki pemuda itu terdengar lucu, karena sikapnya bukan seperti orang yang menghina atau merendahkan, melainkan seperti seorang nenek memarahi cucunya! “Memang aku bodoh. Nah, katakan mengapa?“

“Kau tahu? Orang gendut tadi seorang jaksa! Kau tahu apa itu jaksa?”

Akauw mengingat-ingat. Setahunya, jaksa itu seorang pembesar yang bekerja dipengadilan. “Seorang jaksa itu orang yang menuntut seseorang penjahat agar di adili dan di hukum. Seorang jaksa menentang kejahatan“

“Itu jaksa yang baik. Akan tetapi Gu-taijin itu bukan seorang jaksa yang baik. Dia malah menghukum orang baik-baik yang tidak bersalah, membenarkan orang jahat asal orang jahat itu memberinya uang. Dia sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya, memaksakan kehendaknya seperti kau lihat tadi di kedai minuman. Dia mempunyai banyak tukang pukul untuk menyiksa orang, untuk memaksa orang yang tidak bersalah membuat pengakuan palsu.

“Hemmm, kalau begitu dia jahat sekali, sudah pantas diberi hajaran. Akan tetapi mengapa engkau membawa aku pergi melarikan diri?”

“Karena, seperti kataku tadi, dia berkuasa dan mempunyai banyak pengawal. Dia tentu tidak akan tinggal diam dan kalau kita tidak cepat lari, sampai dia memanggil banyak pengawalnya, kita dapat saja di fitnah sebagai pemberontak dan di hokum mati“

“Wah, kalau begitu kita tidak semestinya lari dari sana. Kita bahkan harus menghukum jaksa jahat itu sampai dia jera berbuat kejahatan lagi...“ Berkata demikian, Akauw mengepal kedua tinju tangannya dan mengamangkan tinjunya.

Pemuda remaja itu memandang kagum, lalu dengan kedua tangannya dia memegang dan menekan untuk mencoba kekerasan lengan Akauw yang berotot itu. “Hemm, engkau memang kuat. Bukan main, lenganmu seperti besi baja saja. Akan tetapi, engkau tadi mampu merobohkan tiga orang tukang pukul, apakah engkau mampu mengalahkan tiga puluh orang, atau bahkan tiga ratus orang. Engkau akan menghadapi ribuan atau puluhan ribu pasukan dan hendak kulihat engkau akan bisa berbuat apa“

“Apakah ada pemberontak-pemberontak seperti itu, sobat?”

“Kenapa tidak ada? Banyak sekali. Kenapa? Tentu untuk merebut kekuasaan. Dan satu antara lain sebabnya adalah pembesar-pembesar tidak becus seperti jaksa itu. Mereka berbuat tidak adil sehingga membuat orang menjadi penasaran dan memberontak. Pemberontakan seperti itu harus di basmi karena menimbulkan perang yang akan menyusahkan rakyat saja“

“Sobat, engkau ini masih kecil akan tetapi otakmu cerdas sekali, mengetahui banyak hal!” kata Akauw kagum.

“Dan engkau ini besar, kuat dan pandai silat akan tetapi lagakmu begini bodoh. Siapa sih namamu?“

“Namaku Cian Kauw Cu, akan tetapi engkau boleh menyebutku Akauw saja, seperti di sebut oleh orang-orang yang baik kepadaku. Dan siapa namamu?”

“Aku bermarga Bi namaku Soan“

“Bi Soan? Namamu indah, memang engkau tampan seperti bulan“ puji Akauw.

“Tampan seperti bulan? Mana ada seorang laki-laki tampan seperti bulan?”

“Tapi engkau memang tampan, aku suka sekali padamu, Bi Soan“ kata Akauw.

“Engkau pintar, tidak seperti aku yang bodoh“

“Hem, aku juga suka padamu, engkau kuat, pandai bersilat, dan juga jujur sekali. Terlalu jujur sehingga nampak bodoh. Akan tetapi aku tidak mengatakan engkau bodoh, engkau seperti orang yang berpura-pura bodoh saja“

“Sudahlah, Bi Soan. Sekarang aku harus pergi. Kalau kau anggap berbahaya kembali ke kota, aku akan pergi meninggalkan Tiang-an, aku tidak suka tempat itu karena terlalu ramai, terlalu bising“

“Engkau hendak kemana, Akauw?”

“Melanjutkan perantauanku. Sudah setahun aku merantau dan baru hari ini aku bertemu dengan seorang yang baik seperti engkau . Selamat tinggal“

“Selamat jalan, Akauw. Sampai berjumpa kembali…“

Akauw sudah meninggalkan kuil itu dan tidak kembali ke Tiang-an, melainkan melanjutkan perjalanan ke timur. Dia tidak tahu bahwa dari belakang kuil itu berkelebat bayangan hitam yang membayanginya dari jauh. Juga dia tidak tahu bahwa Bi Soan nampak melamun setelah dia pergi.

“Bukan main! Orang yang kuat dan mengagumkan sekali, sayang dia bodoh, kalau tidak... Hemmmm...“

Bi Soan lalu pergi dari kuil itu, kembali ke kota Tiang-an dengan sikap seenaknya, seolah dia sama sekali tidak takut kalau-kalau akan bertemu dengan tukang pukulnya Jaksa Gu.

********************

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 03

PADA keesokan harinya, barulah mereka menggali sebuah lubang yang cukup dalam untuk mengubur jenazah kakek Yang Kok It. Setelah selesai, Yang Cien mengangkat sebuah batu besar sebagai nisan kuburan yang berada di bawah pohon tempat tinggal mereka itu. Setelah itu, Yang Cien lalu berkemas. “ Kita pergi sekarang saja, sute“

“Kemana, suheng?”

“Memenuhi pesan kakek. Kita harus kembali ke dunia ramai dan melanjutkan cita-cita mendiang ayahku untuk menyatukan seluruh negeri agar dapat menentang gangguan bangsa mongol yang datang dari barat dan utara“

Kauw Cu tidak menjawab, akan tetapi memandang penuh perhatian ketika Yang Cien mengambil sebuah kantung dari tumpukan pakaian kakeknya dan membuka, lalu mengeluarkan isi kantung itu. Ternyata berisi perak dan emas potongan yang amat diperlukan untuk bekal perjalanan.

“Itu apakah, suheng? Itu yang berkilauan kuning…“

“Ah, inikah, sute? Ini yang dinamakan emas, dan ini perak. Kita membutuhkan sekali emas ini untuk bekal diperjalanan“

“Untuk apakah emas itu, suheng?”

“Untuk segala keperluan. Membeli pakaian , membeli makanan dan menyewa rumah penginapan atau membeli kuda atau perahu“

“Kalau begitu kita perlu membawa yang banyak, suheng“

“aih, darimana membawa banyak? Benda ini sukar sekali di dapatkan, dan amat berharga. Dikota segalanya harus dibeli, bahkan makanan. Engkau tak dapat mencari makanan seperti di sini. Semua pohon buah ada yang memilikinya, kalau membutuhkan harus dibeli“

“Aku tahu sebuah tempat yang penuh dengan emas ini, suheng“

“Ahhh...?" Yang Cien memandang heran. “Benarkah, sute? Dimana itu?”

“Aku tidak mau memberitahukan atau menunjukkan kepadamu dimana tempatnya“

“Kenapa, sute?”

“Aku takut engkau menjadi jahat seperti Aki. Diapun menjadi jahat dan hendak membunuhku setelah kuperlihatkan tempat itu kepadanya“

“Ahhh… Engkau kira aku ini orang macam apakah, sute. Apakah sampai sekarang engkau belum juga percaya kepadaku? Kalau begitu, tidak usah kau tunjukkan tempatnya kepadaku. Aku pun tidak ingin memperoleh banyak emas. Ini saja sudah cukup, dan kalau habis, kita dapat bekerja untuk mendapatkan penghasilan“

Akauw diam sejenak dan menatap wajah suhengnya. Kemudian dia memegang tangan suhengnya. “Maafkan aku, suheng. Mari, mari kutunjukkan tempatnya. Perjalanan dari sini cukup jauh, akan tetapi kalau engkau mempergunakan ilmu berlari cepat dan aku melakukan perjalanan melalui pohon-pohon, dalam waktu seperempat hari saja tentu akan sampai..."

Timbul kegembiraan di hati Yang Cien yang dilanda duka karena kematian kakeknya itu. Bukan karena dijanjikan memperoleh banyak emas, melainkan akan melihat tempat lain daripada hutan yang selama lima tahun di huni bersama Akauw dan kakeknya. Dan dia ingin tahu sekali tempat apa itu yang dikatakan mengandung banyak emas oleh Akauw.

Disebutnya Lembah Iblis, mengapa ada tempatnya yang mengandung emas? Maka diapun berangkat. Akauw sebagai penunjuk jalan melakukan perjalanan dari pohon ke pohon, gerakannya cepat sekali berayun-ayun dan Yang Cien harus menggunakan gin-kangnya agar dapat berlari cepat menyusul sutenya yang berada di atas.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Setelah tiba di tempat yang penuh guha itu, Yang Cien terbelalak, terheran-heran dan terkagum-kagum. Pada guha pertama, melihat patung-patung batu yang terukir indah itu, dia mengeluarkan pujian.

“Luar biasa sekali, betapa indahnya ukiran arca-arca ini. Sayang sebagian besar belum selesai, dan sudah di tinggalkan pemahatnya. Sute, semua ini menunjukkan bahwa di tempat ini dahulu tinggal satu atau beberapa orang-orang pandai sekali..."

Baru Akauw tahu bahwa arca-arca itu merupakan buatan orang yang pandai dan menganggumkan. Dahulu Aki sama sekali tidak mengangumi arca-arca itu. Kini, melihat suhengnya meneliti patung itu satu demi satu, diapun ikut meneliti dan ikut terkagum. Baru sekarang dia melihat betapa arca itu dibuat bagus sekali, ada yang nampak urat-urat menontol di bawah permukaan kulit.

Ketika agak memasuki guha itu, terdengan Yang Cien berseru kagum. Akauw cepat menghampiri dan die melihat bahwa suhengnya telah menemukan sebuah arca yang tingginya hanya satu meter, akan tetapi arca itu luar biasa indahnya. Menggambarkan seorang wanita yang cantik jelita. Begitu bagus buatannya sehingga kalau dilihat dari tempat agak jauh arca itu seolah hidup dan tersenyum manis!

“Bukan main! Sute, selama hidupku belum pernah aku melihat arca seindah ini!“

keduanya mengamati arca itu dengan kagum . Sampai lama Yang Cien melihat-lihat kumpulan arca dalam guha itu.

“Mari, suheng ke tempat yang ku maksudkan“

“Ah, sampai lupa aku, sute. Arca-arca ini demikian menarik perhatianku. Kenapa baru sekarang kau beritahu, sute? Kalau dulu kakek mengetahui dan dapat melihat arca-arca ini, tentu kong-kong akan senang sekali dan barangkali saja kong-kong dapat menduga siapa pembuat arca-arca ini di sini“

“aku selalu khawatir kalau kong-kong dan engkau akan menjadi sejahat Aki, suheng. Maafkan aku“

“Sudahlah, mari kita pergi ke guha tempat emas itu“

Akauw lalu mengajak Yang Cien pergi ke guha lain, yang berada di tengah-tengah antara guha-guha yang banyak terdapat di situ. Akan tetapi baru saja tiba di pintu guha, dari dalam guha terdengar gerengan dahsyat dan muncullah seekor biruang hitam yang besar sekali.

“Awas, sute!” kata Yang Cien.

“Biar aku melawannya, suheng. Dia ini berbahaya akan tetapi aku tahu bagaimana harus melawannya. Biruang merupakan musuh utamaku sejak aku kecil“

Akauw menghampiri biruang itu, dan Yang Cien yang berada di pinggiran hanya menonton, akan tetapi siap siaga membantu kalau sutenya terancam bahaya. Akauw menghampiri dengan tenang dan diapun mengeluarkan gerengan kera marah. Biruang itu tiba-tiba saja menerkam, akan tetapi Akauw menghindar dengan lebih cepat lagi sehingga terkaman itu luput. Dan sebelum biruang yang besar dan lamban itu dapat membalikkan tubuhnya, Akauw sudah merangkul lehernya dari belakang dan mencekik leher itu dengan kedua tangannya,lengannya menyusup dibawah kaki depan biruang itu.

Dan terjadilah adu tenaga yang menegangkan. Biruang itu meronta, menggoyang tubuhnya, menggereng, akan tetapi tubuh Akauw tak pernah melepaskan, seperti seekor lintah melekat pada kaki seseorang. Biruang itu semakin marah dan juga ketakutan karena dia mulai sesak bernapas, lalu menjatuhkan diri bergulingan.

Yang Cien menjadi cemas melihat betapa tubuh biruang yang besar itu menggilas dan menindih tubuh Akauw, akan tetapi dia merasa lega melihat Akauw tidak apa-apa, dan ternyata memang tubuh sutenya itu kuat bukan main. Akhirnya, biruang itu menjadi semakin lemah dan lidahnya terjulur keluar, keempat kakinya hanya dapat bergerak-gerak lemah.

“Sute, jangan bunuh dia!” kata Yang Cien dan mendengar ucapan suhengnya ini, Akauw lalu melepaskan jepitan kedua tangannya dari leher biruang itu, dan dia lupa diri, menginjak dada biruang itu dan mengeluarkan pekik kemenangan, pekik kera yang menggetarkan jantung. Lalu dia menendang biruang itu yang dapat bangkit lagi lalu biruang itu melarikan diri dengan terhuyung-huyung.

“suheng, kenapa engkau melarang aku membunuhnya?”

“Sute, untuk kepentingan apa engkau membunuhnya?”

“Kepentingan apa? Tidak ada, karena dia menyerangku, maka sepatutnya aku membunuhnya“

“nah, mulai sekarang, kebiasaan seperti itu haruslah kau buang jauh-jauh, sute. Ketahuilah, dalam kehidupan antara manusia, membunuh adalah perbuatan yang jahat sekali dan dilarang. Kalau tidak terpaksa sekali dan jangan engkau sekali-kali melakukan pembunuhan.

Juga terhadap binatang, boleh saja engkau membunuhnya kalau memang kau memerlukannya untuk dimakan. Misalnya membunuh kijang, kelinci, ayam dan lain-lain. Akan tetapi kalau tidak memerlukannya, jangan membunuh apalagi membunuh manusia, kecuali dalam perang karena membunuh dalam perang tidaklah sama dengan membunuh seseorang dalam perkelahian dan urusan pribadi. membunuh itu hanya dilakukan orang yang kejam dan jahat, sute“

Akauw mengangguk-angguk. “Aku mengerti, suheng. Nah, mari kita memasuki guha, dan lihat itu, yang berkilauan itu, bukankah itu sama dengan yang berada di kantungmu tadi?”

Dan Yang-Cien masuk, dan dia terbelalak kagum. Tak salah lagi, yang terdapat banyak di dinding itu adalah bongkahan batu-batu yang ternyata adalah emas murni bercampur batu karang. Tak ternilai harganya. Dia mengambil beberapa potong dan menimbang-nimbang di telapak tangannya . Baru beberapa potong kecil ini saja sudah jauh lebih berharga dari pada milik gurunya yang ditemukan dalam kantung kecil itu.

Dia memandang sutenya , Akauw yang bajunya robek-robek karena perkelahian tadi sudah melepaskan baju atasnya dan kini nampak tubuhnya yang kekar, otot-otot melingkar di lengan dan dadanya, tubuhnya yang tinggi besar itu setengah kepala lebih tinggi dari tubuh Yang Cien yang sudah terhitung tinggi tegap. Yang Cien memandang kagum, lalu menghampiri dan menepuk pundak sutenya.

“Sute, engkau sungguh seorang laki-laki jantan yang gagah perkasa, aku bangga mempunyai seorang adik seperti engkau!”

“Aih, suheng, kenapa mendadak memujiku. Engkau lebih hebat, aku tahu bahwa aku tidak akan berdaya, aku tahu bahwa aku tidak akan berdaya kalau bertanding melawanmu“

Mereka saling pandang dengan kagum. Yang Cien kini menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun yang tinggi tegap, wajahnya berbentuk persegi dengan dagu yang membayangkan kekuatan dan keteguhan hati, namun sinar matanya yang tajam itu lembut tanda bahwa dia berakal budi dan bijaksana. Hidungnya yang mancung dan mulutnya yang berbentu indah itu membuat wajahnya kelihatan tampan menarik sekali. Sedangkan Kauw Cu memiliki wajah yang bulat terlur, akan tetapi matanya yang lebar , sampai hidungnya yang besar dan bibirnya yang tebal memberi kesan kokoh, kuat, jujur, adil dan kaku.

Namun sinar matanya juga mengandung kelembutan, ini sebagai hasil pendidikan selama lima tahun oleh mendiang kakek Yang Kok It. Dia jauh nampak lebih jantan dari pada Yang Cien dan sukar mengatakan mana yang lebih menarik sebagai seorang pemuda di antara keduanya.

“Bagaimana, suheng? Benarkah semua ini emas?”

“Tidak salah, sute. memang ini adalah emas yang tidak ternilai harganya“

“Apakah engkau tidak girang melihatnya , suheng? Dahulu Aki demikian girang sampai dia menari-nari dan berteriak-teriak bahwa dia menjadi kaya raya“

Yang Cien dengan tenang berkata sambil tersenyum. “Adikku, emas merupakan harta benda yang dapat bermanfaat besar sekali kalau terjatuh ke tangan orang bijaksana. Dapat menolong rakyat keluar dari bahaya kelaparan, dapat memperkuat Negara, pendeknya dapat mengangkat rakyat keluat dari penderitaan. Akan tetapi kalau terjatuh ke tangan orang jahat, harta kekayaan dapat mendatangkan bencana kepada orang lain. Tentu aku girang menemukan semua ini, sute. Akan tetapi sat ini aku sama sekali tidakmembutuhkan. Entah kelak kalau cita-citaku berhasil, yaitu menyatukan seluruh negeri menjadi persatuan yang kokoh untuk mengusir bangsa-bangsa liar yang mengganggu keamanan rakyat. Mari, sute, kita periksa guha-guha yang lain, apakah engkau pernah memeriksa guha yang lain?”

“Sudah semua, suheng. Guha-guha yang lain semuanya kosong kecuali sebuah guha terbesar dimana kudapatkan hanya sebuah arca di dalam guha, tidak ada apa-apanya lagi“

“Mari kita periksa guha besar itu“ ajak Yang Cien dan mereka lalu menuju ke guha itu.

Ketika menuju ke guha itu, Yang Cien terkejut. Nampak dari jauh, guha itu seperti wajah seorang raksasa. Guha itu menjadi mulutnya yang terbuka, dengan taring-taring berupa batu-batu yang bergantung runcing, dan di atas guha itu merupakan tebing yang terhias batu-batu besar yang menjadi sebuah hidung dan sepasang matanya. Sungguh merupakan wajah yang mengerikan dan sepatutnya kalau itu wajah iblis. Sekarang dia mengerti mengapa lembah itu dinamakan Lembah Iblis. Selain tempatnya amat berbahaya, banyak terdapat binatang buas dan tempat-tempat aneh, juga guha-guha ini memang menyeramkan sekali, terutama yang besar itu.

“Kenapa, suheng?”

“Kau lihat, sute. Bukankah itu seperti muka iblis yang menakutkan?” kata Yang Cien sambil menunjuk. “Guha itu mulutnya dan penuh taring, batu besar di atasnya itu hidungnya dan yang sepasang mulut itu matanya“

“Ihh, benar! Kenapa dulu kau tidak memperhatikannya? Barangkali itu yang pantas di sebut Guha Iblis dan agaknya di jadikan tempat tinggal para iblis!” kata Akauw yang tidak memperlihatkan rasa takut karena di kalangan kera tidak ada istilah tahyul takut setan dan pengertiannya tentang setan sedikit sekali dari penuturan mendiang kakek Yang Kok It dan Yang Cien.

“Mari kita selidiki, sute“

Keduanya lalu berloncatan menuju ke guha itu. Dan benar saja seperti yang dikatakan Kauw Cu, guha besar itu kosong, hanya di dalam ruangan itu terdapat sebuah arca besar, sebesar manusia, arca seorang kakek tua yang sedang duduk bertopang dagu. Yang Cien memperhatikan arca itu. Jelas bahwa ukirannya serupa dengan arca-arca di guha pertama. Kenapa arca tunggal ini berada di sini? Tentu ada maksudnya, pikirnya. Ada sesuatu yang ganjil. Muka patung itu bukan menghadap ke kiri, akan tetapi seperti kepala yang di putar ke kiri, juga jari tangan kiri yang menopang dagu itu telunjuknya menunjuk ke kiri.

Yang Cien lalu pergi ke bagian dinding kiri guha itu, meraba-raba, akan tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Apa artinya kepala dan jari yang terputar ke kiri itu?

“Engkau mencari apa, suheng?”

“Mencari barangkali ada rahasia tersembunyi di guha ini, sute. Tempat ini sungguh menarik sekali“

Dia memperhatikan lantai. Lantai dari batu itu terdapat jejak kaki manusia. Bukan main! Manusia macam apa yang dapat membuat jejak kaki pada lantai batu? Dan jejak kaki itu miring ke sana sini, dan ketika Yang Cien mengikuti jejak kaki itu menginjak dan melangkah dengan kakinya, maka terbentuklah langkah-langkah seperti orang bersilat!

Pernah ada orang berlatih silat di sini, dan kakinya meninggalkan bekas di lantai batu! Bukan main. Hanya sinkang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali saja yang dapat membuat kaki meninggalkan jejak seperti itu di atas batu keras, seolah-olah lantai itu terbuat dari tanah liat yang lunak saja.

“Rahasia apa, suheng? Arca ini tidak menunjukkan sesuatu. Barangkali rahasianya terletak dibawahnya, coba ku angkat!” berkata demikian, raksasa muda itu memeluk arca lalu dicobanya untuk di angkat. Akan tetapi arca itu tidak dapat di angkatnya. Padahal menurut besarnya patung, sudah pasti Kauw Cu dapat mengangkatnya . Akan tetapi arca ini seolah-olah ada sesuatu yang menahannya dari bawah sehingga tidak dapat terangkat.

“Ah, arca ini berakar di bawahnya, suheng!” kata Akauw penasaran.

Yang Cien mendekati. “Hentikan usahamu, sute. Kalau arca ini tidak dapat kau angkat, berarti memang dibawahnya terkait sesuatu. Ah, mungkin itulah rahasia yang akan ditunjukkan kepada kita“

Dia lalu memegang arca itu, dan meutarnya ke kiri. Untuk itu dia harus mengerahkan seluruh tenaganya dan tiba-tiba arca itu dapat diputar ke kiri. Saat itu terdengar suara gemuruh seperti ada banyak batu runtuh dan di dinding kiri guha itu tiba-tiba saja runtuh berlubang besar!

Yang Cien dan Akauw melompat keluar guha agar jangan sampai tertimpa batu-batu yang runtuh. Debu mengepul tebal dari reruntuhan itu dan setelah batu berhenti berjatuhan, debu juga mulai menipis, Yang Cien memasuki guha, diikuti Akauw yang agak takut karena merasa ngeri melihat kejadian yang aneh itu. Nalurinya seolah memberitahu kepadanya bahwa dibalik reruntuhan itu terdapat bahaya besar mengancamnya!

“Hati-hati, suheng...!“ bisiknya dan dia berjalan dekat sekali dibelakang suhengnya.

“Kita harus waspada, sute“ bisik Yang Cien.

Keduanya memasuki lubang dari dinding yang runtuh tadi, dan ternyata di balik dinding itu terdapat sebuah tangga batu menuju ke bawah yang gelap sekali!

“Wah, gelap sekali, suheng...“

“Tidak apa, sute. Kita meraba-raba dan tetap "waspada“

Keduanya setengah merangkak mengikuti lorong itu dan seratus langkah kemudian nampaklah sinar didepan. Ternyata lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang lebih luas daripada guha di depan dan penerangan itu datang dari atas, dimana terdapat celah-celah batu yang berbentuk segi delapan dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk!

Dan di tengah-tengah ruangan itu terdapat meja sembahyang daripada batu, tempat lilin batu dimana masih ada lilinnya yang tidak menyala, tinggal sepotong lilin itu. Di kanan kiri meja sembahyang terdapat dua buah patung, patung seorang pria dan patung seorang wanita yang merupakan arca batu yang sama besarnya dengan arca wanita di guha yang lain itu.

Dua buah arca ini sama bagusnya dengan arca wanita itu, ukirannya demikian indah dan halusnya sehingga garis-garis telinga dari arca itu nampak jelas. Yang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tampan dan berwibawa, yang wanita cantik sekali, sama cantiknya dengan arca wanita di guha yang lain, akan tetapi alisnya berkerut dan tarikan wajah cantik ini membayangkan kekerasan hati dan kekejaman!

Di seluruh dinding tempat itu terdapat ukir-ukiran yang membentuk gambar-gambar dari orang yang bersilat, demikian jelas gambar-gambar itu dan demikian teratur sehingga tanpa penerangan sekalipun orang dapat mempelajari silat dengan meniru kedudukan jurus-jurus dalam gambar itu.

Seluruhnya ada tiga puluh enam jurus yang terbagi dalam banyak perkembangan sehingga untuk menggambarkan satu jurus saja terdapat lebih dari lima gerakan dalam gambar. Begitu jelasnya sehingga Akauw yang melihatnya segera mulai bergerak-gerak menirukan gambar itu.

“Akauw, jangan lancang“

“Maaf, suheng" Dan diapun mengikuti suhengnya yang sudah menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang, sekaligus menghadap dua arca itu.

“Teecu berdua Yang Cien dan Ciang Kauw Cu, secara kebetulan saja memasuki tempat ini tanpa ijin lo-cian-pwe, harap lo-cian-pwe sudi memberi maaf yang sebesarnya“ kata Yang Cien dengan sikap dan suara menghormat.

Hampir saja Akauw tertawa. Apakah suhengnya mendadak menjadi gila. “suheng“ bisiknya. “Itu hanya arca batu...“

“Hushhhh, sute, lihatlah di belakang meja sembahyang itu“ bisik kembali Yang Cien.

Akauw mengangkat kepalanya dan menjenguk. Matanya terbelalak dan wajahnya berubah agak pucat. Di sana, dibelakang meja, di atas kursi, duduk sebuah kerangka manusia lengkap dengan tengkoraknya, telunjuk kanannya menuding kepadanya dan telunjuk kirinya menuding ke atas, matanya yang berlubang itu seperti melotot kepadanya.

“Ampun, ampunkan saya, lo-cian-pwe“ katanya dengan suara gemetar sehingga kini Yang Cien yang ingin tertawa.

Yang Cien melakukan penghormatan itu untuk menghormati arwah orang yang telah mati dan telah menjadi kerangka di balik meja sembahyang itu. Ketika dia melihat lagi, di atas meja sembahyang itu terdapat sebuah kitab dan sebuah sarung pedang yang terisi dua batang pedang. Sema-ciang dan siang-kiam (pedang pasangan). Tentu saja ingin sekali dia mengambil kitab dan pedang untuk memeriksanya, akan tetapi dia tidak berani lancing.

“Sute, engkau membawa alat pembuat api?”

“Ada, suheng...?“

“Buatlah api untuk menyalakan lilin di atas meja sembahyang ini, kita perlu mohon ijin dulu“

Akauw dengan kedua tangan gemetar lalu membuat api dan menyalakan lilin itu yang masih dapat menyala dengan baik. Kemudian Yang Cien, di turut oleh sutenya, lalu memberi hormat sambil berlutut, dan berkata,

“Saya Yang Cien mohon ijin kepada lo-cianpwe untuk membaca kitab dan melihat pedang itu“

Setelah berkali-kali berkata demikian, dia lalu bangkit berdiri dan dengan sikap hormat, dia menjulurkan tangannya mengambil kitab yang tidak berapa besar itu. Akan tetapi, begitu dia mengangkat kitab itu dari atas meja, tiba-tiba dia berseru kesakitan, lalu terhuyung-huyung dan roboh di depan meja sembahyang, pingsan!

“Suheng...! Ah, suheng... Jangan mati, suheng...“ Akauw berteriak-teriak karena baru saja dia kematian kakek Yang Kok It, merasa takut melihat Yang Cien jatuh pingsan. Kemudian, dia bangkit berdiri dan mengepal tinju, mengamangkan tinjunya kepada kerangka itu dan memaki.

“Iblis busuk, bangkitlah dan lawan aku kalau berani! Kami telah bersikap sopan, akan tetapi malah engkau membunuh suhengku! Hayo bangkit dan lawan aku atau akan kuhancurkan meja dan arca-arca ini!”

Untuk sebelum dia menghancurkan segalanya, Yang Cien siuman dan membuka matanya. “Sute!" Dia mencegah sutenya ketika mendengar sutenya menantang-nantang kerangka itu dan akan menghancurkan meja dan arca. “Jangan, sute...“

Mendengar seruan suhengnya, Akauw lalu berlutut dan membantu kakaknya bangkit duduk, hatinya lega karena melihat Yang Cien tidak mati. “Engkau tidak mati, suheng? Aku takut engkau mati...“

Yang Cien menggigit bibir menahan sakit, lalu memeriksa tangan kanannya, yang ternyata tertusuk sebatang jarum dan telapak tangannya itu menghitam. Dengan jari dia mencabut jarum itu dan merasa tangannya seperti di bakar.

“Sute, ambilkan buku itu“ Kitab itu terlepas dari pegangannya dan terlempar. sutenya mengambil kitab kecil itu dan menyerahkannya kepadanya. Dengan tangan kirinya Yang Cien membuka lembar pertama dan di situ ada tulisan tangan yang jelas sekali.

Muridku,
Engkau telah keracunan Ban-tok-ciam (jarum selaksa racun) dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawamu, engkau harus tekun berlatih dari kitab ini selama lima tahun di sini“
Thian Beng Lojin.


Yang Cien tertegun. Dari kakeknya, dia pernah mendengar nama Thian Beng Lojin (Kakek Anugerah Tuhan) ini, seorang kakek sakti luar biasa yang tidak diketahui dimana tinggalnya atau matinya, beberapa abad yang lalu. Dia di angkat murid! Akan tetapi diapun keracunan Ban-tok-ciam dan harus tekun berlatih selama lima tahun di tempat itu!

Dia di lukai ketika mengambil kitab, yang dipasangi alat yang membuat jarum itu menyebar, dilukai untuk “dipaksa“ menjadi murid! Lima tahun! Bukan waktu yang pendek. Dan bagaimana dengan sutenya?

“Bagaimana, suheng? Apa yang terdapat dalam kitab ini?”

“Sute, aku telah keracunan Ban-tok-ciam, dan tidak dapat disembuhkan oleh obat apapun juga“

“Jangan khawatir, suheng. Aku mengenal daun obat yang dapat dipergunakan mengobati gigitan ular berbisa“

“Sute, jarum ini mengandung selaksa racun. Jalan satu-satunya untuk mengobati, menurut kitab ini selama lima tahun, aku harus berlatih dari kitab ini selama lima tahun di sini“

“Lima tahun! Gila! Lima tahun itu sama dengan ketika kakek mengajar kita...“

“Apa boleh buat, sute. Kalau aku masih ingin hidup, aku harus menaati pesan dalam kitab itu. Dan engkau boleh merantau dulu seorang diri, sute. Bekal ilmu sudah cukup ada padamu, dan bekal uang juga cukup. Carilah pengalaman di luar, akan tetapi ingat, jangan mencari perkara, jangan suka berkelahi dan terutama sekali jangan membunuh orang“

“Tidak, suheng. Kalau aku pergi, siapa yang menemanimu? Aku akan menemanimu? Aku menemanimu di sini, jangan khawatir...“

“Akan tetapi, sute, lima tahun…“

“Kalau lima tahun mengapa? Jangankan lima tahun, biar selamanya aku manu menemanimu di sini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, dan aku takut memasuki dunia manusia tanpa engkau…“

“Sute...!” Yang Cien merangkul sutenya dengan hati penuh keharuan. Anak ini, biarkan di besarkan oleh kera, akan tetapi memiliki watak yang amat baik. “Kalau begitu, sesukamulah. Aku harus mulai membaca kitab itu sekarang“

“Aku akan mencari bahan makanan dan mengambil semua perabot kita untuk memasak air, untuk memasak makanan dan lain-lain. Nanti sore aku sudah kembali lagi, suheng“

“Baiklah, sute...“

Setelah Akauw pergi, Yang Cien juga membuka lembaran kedua dan di situ tertulis bahwa untuk mempelajari ilmu menghimpun tenaga dalam kitab itu dia tidak boleh tergesa-gesa, tidak boleh membuka lembaran berikutnya sebelum mengerti benar dan melatih lembaran pertama. Kalau hal itu di langgar, kalau cara melatihnya tidak menurut aturan yang ditentukan, maka mempelajari ilmu itu dapat membuat dia menjadi gila!

Yang Cien bergidik ngeri. Begitu hebatkah ilmu ini? Di lembar ke tiga di tulis nama dari ilmu itu. Bu Tek Cin Keng! Dan lembar berikutnya barulah pelajaran pertama, yaitu pelajaran cara melatih pernapasan dan bermeditasi. Seketika itu juga Yang Cien mulai berlatih diri menurut petunjuk kitab itu.

Sorenya Akauw datang membawa semua perabot masak, juga pakaian mereka, dan sejak itu, dengan tekunnya Yang Cien berlatih dari Kitab itu dan Akauw melayaninya dengan rajin. Dan benar saja baru sebulan dia berlatih diri, dan baru dapat tiga lembar saja, warna hitam di telapak tangannya sudah mulai menipis...

********************