Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 08

KAKEK itu cepat menangkis dengan kedua tangannya sambil berseru“ Jahanam penjilat Mongol yang busuk!” dan tubuhnya sudah melompat ke atas perahu besar.

Melihat kegagahan kakek itu, Yang Cien khawatir kalau kakek itu akan menghadapi pengeroyokkan, maka diapun ikut pula melompat ke atas perahu besar. Benar seperti yang di khawatirkannya, kakek itu telah di kepung dan di keroyok oleh belasan orang yang memegang golok. Kakek pengemis itu menggerakkan tongkat bambunya dan mengamuk.

Yang Cien kagum karena kakek itu ternyata lihai sekali. Biarpun dia hanya bersenjatakan sebatang tongkat bambu sedangkan para pengeroyoknya menggunakan golok tajam, namun dia dapat menghindarkan semua serangan dengan elakkan atau tangkisan, bahkan sebentar saja sudah merobohkan empat orang pengeroyok dengan tendangan atau totokan tongkat bambunya.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Kam-lokai, mata-mata busuk, kalau engkau tidak menyerah, akan mampus di tangan kami!”

Dan seorang laki-laki jangkung kurus meloncat ke depan lalu menggerakkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sepasang kapak yang besar dan berkilauan saking tajamnya.

“Gu-Mo-ko, kiranya engkau sudah menjual dirimu kepada orang Mongol!” Bentak kakek itu dan diapun menerjang kearah orang kurus yang bersenjatakan sepasang kapak itu. Entah bagaimana orang tinggi kurus begitu mendapat julukan Gu Mo-ko (Setan Kerbau), mungkin sekali karena matanya yang besar seperti mata kerbau itu, atau sepasang kapaknya itu dapat di umpamakan sepasang tanduk kerbau. Akan tetapi ternyata Gu Mo-ko ini lihai sekali. Begitu dia menyerang dengan sepasang kapaknya yang berat, kakek itu segera terdesak karena Gu Mo-ko masih di bantu belasan orang anak buahnya.

Melihat itu, sekarang Yang Cien tidak meragu lagi untuk membantu. Tadi dia melihat kakek itu tidak terdesak, maka dia pun tidak membantu dan hanya menonton. Akan tetapi sekarang, kakek itu sungguh terdesak hebat, maka diapun sudah mengambil pedangnya dari buntalan pakaiannya dan meloncat ke depan. Dia segera dihadang lima orang anak buah Gu Mo-ko yang menyerangnya dengan golok. Akan tetapi begitu memutar Pek-liong-Po-Kiam, terdengar suara nyaring berturut-turut dan lima batang golok patah menjadi dua! Tentu saja lima orang itu terkejut bukan main, dan Yang Cien hendak melompat maju.

Pada saat itu terdengar kakek Kam Lo-kai (Pengemis Tua Kam) mengeluh dan dia terhuyung ke belakang, pundaknya terbabat sebatang kapak dan dia terluka parah. Kapak kedua menyusul membabat ke arah lehernya, akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan biru dan “tranggg...“ kapak yang menyambar leher Kam Lo-kai itu pun patah menjadi dua!

Tentu saja Gu Mo-ko terkejut dan meloncat ke belakang. Kesempatan itu dipergunakan Yang Cien untuk menyambar tubuh Kam Lo-kai dan membawanya meloncat ke bawah, ke perahunya sendiri, merebahkan kakek itu di dalam perahu dan dia cepat mendayung perahunya meninggalkan perahu besar.

Beberapa batang anak panah menyambar dari perahu besar. Yang Cien menyampok dengan tangannya dan menangkap sebatang anak panah, kemudian melontarkan ke atas perahu dan terdengarlah seorang pemanah menjerit dan roboh terkena anak panah yang di lemparkan Yang Cien.

Melihat kehebatan anak muda itu, semua orang di atas perahu besar menjadi gentar dan mereka tidak melakukan pengejaran, membiarkan Yang Cien pergi membawa kakek yang sudah terluka parah itu. Setibanya di darat, Yang Cien menalikan perahunya dan terdengar kakek itu merintih. Yang Cien berlutut di perahu.

“Bagaimana, lo-cianpwe, keadaanmu?”

Kakek itu menggeleng kepala dan ketika Yang Cien memeriksa dia terkejut. Pundak itu putus terbabat kapak dan lukanya parah sekali sampai ke dada. Keselamatan orang yang terluka seperti itu sukar di pertahanankannya.

“Orang muda... Siapapun adanya engkau... Bantulah kami yang berusaha mengusir penjajah dari tanah air... Kau sampaikan suratku… ambil surat itu dari saku bajuku...“

Yang Cien mengambil sepucuk surat itu dari saku dalam baju pengemis itu. “Untuk apa surat ini, lo-cianpwe?”

“Kau berikan… Surat… kepada… Gubernur Gak di Nam-kiang…“ kakek itu terkulai dan tewas.

Yang Cien menghela napas panjang dan menutupkan kedua mata yang masih terbuka itu. Kemudian dia memondong jenazah itu dan membawanya ke darat. Dia merebahkan mayat itu di atas tanah di tepi danau, lalu menggali lubang sambil termenung. kakek itu, walaupun melihat namanya memang seorang tokoh pengemis kang-ouw ternyata mempunyai jiwa patriot. Agaknya dia menjadi mata-mata untuk memata-matai pemerintah. Dan agaknya Gubernur Gak di Nam-kiang juga seorang pejuang. Dia sendiri seorang yang tadinya tidak mempunyai sangkut paut dengan perjuangan, kini tiba-tiba saja menjadi seorang yang membantu para pejuang!

Akan tetapi dia belum mengambil keputusan untuk membantu Gubernur Gak karena dia belum mengerti dan belum tahu apa yang diperjuangkan oleh Gubernur Gak. Pada saat ini dia hanya membantu Kam Lo-kai yang di anggapnya seorang sahabat yang kebetulan bertemu di Tai-hu dan yang hanya mengharapkan pertolongannya menyampaikan sepucuk surat kepada Gubernur Gak.

Setelah selesai mengubur jenazah itu dan memberi hormat sekadarnya dengan sederhana tanpa upacara sembahyang, Yang Cien lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke selatan.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Ketika Yang Cien berjalan tiba di lereng sebuah bukit, tiba-tiba saja dari balik semak belukar berloncatan banyak orang dan nampak tiga orang tinggi besar bersama dua belas orang anak buahnya telah menghadang perjalanannya! Yang Cien sudah menduga bahwa mereka itu memang menghadangnya, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan hendak melangkah terus. Akan tetapi tiga orang tinggi besar itu menghalangi jalannya dan berseru keras,

“Orang muda, berhenti kau!”

Yang Ciean berhenti dan memandang mereka penuh perhatian. Tiga orang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu seperti tiga orang raksasa, sekepala lebih tinggi darinya dan wajah mereka nampak bengis. Seorang yang tertua memegang sebatang golok, orang kedua memegang sebatang pedang dan orang ketiga memegang sebatang ruyung besi.

Mereka nampak kuat sekali dan orang pertama yang memegang golok maju ke depan. Mereka bertiga itu terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-how (Tiga Harimau Sunagi Kuning), terdiri dari tiga orang kakak beradik bernama Ceng Hauw, Ceng Kiat dan Ceng Lung. Ceng Hauw orang tertua berkata dengan suaranya yang parau kasar,

“Orang muda, engkaukah yang telah membantu Kam Lo-kai dan mengubur mayatnya?”

“Benar, aku yang mengubur jenazah Kam Lo-kai“ jawab Yang Cien.

“Hemmm, siapakah namamu, orang muda?”

“Namaku Yang Cien“

“Kami masih menyayangi usia mudamu. Yang Cien, sebaiknya engkau cepat menyerahkan surat yang kau terima dari Kam Lo-kai itu kepada kami!”

“Mendiang Kam Lo-kai tidak pernah menitipkan surat kepadaku untuk di serahkan kepada kalian!” kata Yang Cien dengan suara sungguh-sungguh.

“Memang bukan untuk kami. Surat itu untuk Gubernur Gak, bukan? Nah, serahkan kepada kami, cepat!”

“Kalau kalian tahu bahwa surat itu bukan untuk kalian, mengapa kalian memintanya? Itu tidak sopan dan tidak benar“

Tiga orang Huang-ho Sam-houw itu menjadi marah. “Toako, bunuh saja bocah ini dan rampas suratnya!” kata Ceng Kiat.

“Benar, hajar saja dia!’ kata pula Ceng Lung

“Hem, aku merasa sayang karena sebetulnya dia tidak tersangkut hanya kebetulan saja menerima surat dari Kam Lo-kai. Orang muda, ku harap engkau menyerahkan surat itu. Kalau tidak, tubuhmu akan menjadi seperti ini!” Berkata demikian, Ceng Houw mengayun goloknya membabat sebatang pohon dan batang pohon itu roboh seketika, terpotong oleh golok tajam yang di gerakkan dengan tenaga amat kuatnya itu.

“Atau seperti ini!” kata pula Ceng Kiat dan sebatang pohon lain tumbang oleh sabetan pedangnya.

“Atau ini?” bentak Ceng Lun dan terdengar suara keras, batu gunung sebesar kepala kerbau itu remuk di hantam ruyungnya.

Melihat ini, Yang Cien tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki tenaga besar dan merupakan lawan cukup tangguh. Namun, tentu saja dia tidak takut dan tidak ingin menyerahkan surat yang seolah baginya merupakan wasiat seorang yang telah meninggal dunia.

“Maaf, sam-wi tidak berhak menerima surat itu, terpaksa saya tidak dapat menyerahkan“

“Engkau mencari mampus!” bentak tiga orang tinggi besar itu dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk menyerang.

Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dua orang dan muncullah seorang to-kouw (Pendeta perempuan) dan seorang gadis cantik berdiri di situ. To-kouw itu memegang sebuah kebutan yang bulunya putih. “Tahan senjata!” seru To-kouw itu dengan suara nyaring. “Kalian ini orang-orang banyak hendak memaksa seorang pemuda? Kalau dia tidak mau menyerahkan sesuatu, tidak semestinya kalau kalian memaksanya...“

Huang-ho Sam-houw mengerutkan alisnya. “To-kouw, harap engkau jangan mencampuri urusan kami!” bentak Ceng Hauw marah. “Pergilah dan jangan usil“

“Kami tidak usil, dan tentu saja kami akan campur tangan kalau melihat kejahatan dilakukan orang. Kalian tidak boleh memaksa pemuda ini melakukan sesuatu yang tidak dia sukai“

Ceng Haouw memberi aba-aba kepada anak buahnya. “Serang...!“

Dua belas orang anak buahnya mengepung sambil menghunus senjata golok atau pedang mereka. Akan tetapi, nampak dua sianr berkilat ketika To-kouw dan gadis itu mencabut pedang mereka dan segera terjadi pertempuran yang berat sebelah. Dalam waktu singkat saja, gadis dan tokouw itu sudah merobohkan enam orang. Melihat ini, Huang-ho Sam-houw menjadi marah. Dengan teriakan ganas mereka menerjang dengan senjata mereka.

Ceng Haouw yang bergolok dan Ceng Kiat yang berpedang menyerang tokouw itu, sedangkan Ceng Lun menggunakan rutungnya untuk menerjang gadis yang memegang pedang dengan ronce merah. Sisa enam orang anak buah gerombolan itu pun ikut pula mengeroyok, akan tetapi dari jarak jauh karena mereka gentar menghadapi pedang tokouw dan nona itu.

Yang Cien yang berdiri di pinggiran memandang dengan kagum. Dia melihat betapa tokouw dan nona itu amat lihai sehingga tidak perlu di bantu. Maka dia pun hanya menonton saja. Tokouw itu amat lihainya, bukan saja pedangnya mampu menahan golok dan pedang lawan, akan tetapi juga kebutan di tangan kirinya merupakan senjata yang ampuh sekali. Bulu-bulu hudtim (kebutan pendeta) itu kadang dapat menjadi tegang dan keras oleh kekuatan sinking yang terkandung di dalamnya. Dapat pula dipakai melibat, dapat pula di pakai menotok.

Baru belasan jurus saja, Ceng Haouw dan Ceng Kiat terdesak hebat. Tiga orang anak buah yang mencoba-coba untuk membantu, sudah lebih dulu roboh. Pertandingan antara Ceng Lund an gadis itu pun tidak seimbang. Ruyung di tangan Ceng Lun itu memang berat dan di gerakkan dengan tenaga gajah sehingga berbunyibersiutan ketika menyambar. Batu saja remuk kena hantaman ruyung ini, apalagi tubuh gadis cantik itu.

Akan tetapi nyatanya, gerakan gadis itu cepat seperti seekor burung wallet sehingga semua sambaran ruyung tidak pernah mengenai sasaran dan sebaliknya. Serangan balik dari pedang di tangan gadis itu beberapa kali hampir saja mengenai leher dan dada Ceng Lun. Juga tiga orang anak buah yang membantunya sudah lebih dulu roboh di sambar sinar pedang gadis itu.

Akhirnya, Huang-ho Sam-houw maklum bahwa kalau di lanjutkan, mereka tidak akan menang. Mereka lalu berteriak memberi aba-aba dan semua anak buahnya melarikan diri secepatnya, ada yang terpincang, ada yang berloncat-loncatan, bahkan ada yang merangkak pergi. Huang-ho Sam-houw sendiri sudah melarikan diri dengan cepat meninggalkan tokouw dan gadis yang berbahaya itu.

Tokouw dan gadis itu tidak mengejar, hanya mengikuti mereka yang melarikan diri sambil tersenyum. Kalau mereka mengejar, tentu semua anak buah itu dapat mereka bantai karena lari mereka tidak cepat.

Yang Cien cepat memberi hormat kepada mereka. “Ji-wi telah menolong saya. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih“

“Orang muda, siapakah engkau? Siapa namamu?”

“Nama saya Yang Cien, Sian-kouw“

“Perkenalkan, pin-ni (aku yang bodoh) di sebut Im-yang Tokouw dan aku adalah wakil ketua dari Thian-li-pang, dan ini adalah murid pin-ni bernama Kwe Sun Nio. Yang Cien, kami melihat engkau tadi menguburkan jenazah Kam Lo-kai, engkau mempunyai hubungan apakah dengan Kam Lo-kai?”

“Tidak ada hubungan apapun, Sian-kouw. Kami hanya bertemu ketika kami berdua berperahu di Tai-hu, kemudian dia tewas di keroyok orang jahat dan karena dia tidak mempunyai siapa-siapa aku lalu menguburkan jenazahnya. Tentu sangat sederhana, di tepi telaga“

“Bagus, engkau seorang yang berperikemanusiaan, Yang Cien. Dan sebelum Kam Lo-kai meninggal dunia, dia memesan apa kepadamu?”

Yang Cien mengerutkan alisnya. “Sian-kouw, maafkan aku. Pesanan seorang mati merupakan wasiat, apalagi dia berpesan agar aku tidak memberitahukan siapapun, oleh karena itu terpaksa aku juga tidak dapat memberitahukan kepadamu“

“Begini, Yang Cien, engkau harus dapat membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Kami yakin engkau menerima pesan penting dari mendiang Kam Lo-kai dan kalau kau pertahankan pesan itu untukmu sendiri, bagaimana kalau nanti bermunculan orang jahat seperti tadi? Tidak aman kalau berada padamu. Oleh karena itu, berikan saja kepada pin-ni yang tentu pesan itu akan di sampaikan dengan selamat kepada yang berhak menerimanya.

“Sekali lagi maaf, Sian-kow. Aku tidak dapat memberitahukan apa-apa atau memberikan kepadamu. Apa yang terjadi antara Kam Lo-kai dan aku merupakan rahasia yang tidak akan ku katakana kepada siapa pun juga“

“Yang Cien, engkau sungguh keras kepala. Bagaimana kalau aku memaksamu?”

“Terserah kepadamu, Sian-kouw. Tetap tidak akan kuberikan“

“Engkau berani menentangku?”

“Apa boleh buat, engkau yang memaksaku“

“Bocah sombong, rasakan ini!” Tokouw itu lalu menggerakkan kebutannya. Bulu kebutan menjadi tegang dan meluncur dengan totokan kea rah pundak Yang Cien.

Yang Cien merasa penasaran juga. Ternyata tokouw ini juga menghendaki surat dari Kam Lo-kai itu. Akan tetapi, bagaimana pun, tokouw dan nona ini tadi sudah membantunya, bagaimana kini akan menjadi lawannya. Totokan kebutan itu di elakkannya dengan mudah, akan tetapi agaknya tokouw itu ingin mengujinya atau memang marah. Kebutannya sudah bergerak lagi, berputaran dan mendatangkan gulungan sinar putih melakukan totokan berulang-ulang. Yang Cien terpaksa mengerahkan tenaga dan sekali tangannya menangkis dengan sentilan jari tangannya, kebutan itu membalik dan beberapa helai bulunya rontok!

“Ihhh...!“ Sian-kouw itu terkejut bukan main, hampir tidak percaya bahwa sentilan jari tangan itu dapat membuat kebutannya membalik dan merontokkan bulu kebutannya. Akan tetapi ketika di lihatnya, pemuda itu telah melompat jauh dan gerakannya sedemikian cepatnya sehingga dengan beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah lenyap. Im Yang Sian-kouw menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya, “Hebat! Tak ku sangka pemuda itu demikian hebatnya. Kalau begitu, kita tidak perlu khawatir surat itu akan dapat terampas orang, hanya siapa tahu pemuda itu tidak akan menyampaikannya kepada Gubernur Gak?”

Yang Cien memang mempergunakan ilmunya berlari secepat terbang meninggalkan Im Yang Sian-kouw dan Kwe Sun Nio karena dia tidak ingin berkelahi melawan kdeua orang itu. Ketika tiba di Nam-kiang dengan mudah saja dia dapat menemukan rumah Gubernur Gak, akan tetapi seperti biasanya, tidak mungkin setiap orang dapat menemui orang yang tertinggi kedudukannya di daerah itu. Yang Cien di tahan oleh para penjaga di depan pintu gerbang gedung tempat tinggal Gubernur Gak.

“Tidak mungkin menghadap Gubernur Gak. Lebih dulu daftarkan nama dan keperluannya, baru kami laporkan ke dalam dan kalau Gubernur berkenan menerimamu, baru engkau boleh pergi menghadap“ kata kepala jaga.

Yang Cien menghela napas panjang. Betapa sulitnya bertemu orang besar, pikirnya. Dia lalu mendaftarkan namanya dan untuk keperluannya dia menerangkan bahwa dia mohon menghadap Gubernur Gak untuk menyampaikan pesan dari Kam Lo-kai. Ternyata nama Kam Lo-kai itu amat berpengaruh. Kepala jaga yang melihat nama ini di sebut, segera membawa daftar itu ke dalam untuk melapor kepada Gubernur Gak dan tak lama kemudian dia keluar lagi dan sikapnya berubah ketika dia mempersilahkan Yang Cien masuk dan menunggu di kamar tamu.

Terdengar langkah kaki dari dalam, akan tetapi bukan hanya satu orang. Muncullah seorang laki-laki setengah tua yang dari pakaiannya saja Yang Cien dapat menduga bahwa orang inilah gubernurnya. Akan tetapi yang membuat dia kaget dan bengong adalah dua orang yang ikut datang bersama gubernur itu. Im Yang Sian-kouw dan Kwee Sun Nio! Dengan sendirinya semua urat syaraf di tubuh Yang Cien menegang dan alisnya berkerut, matanya dengan tajam menatap kedua orang wanita itu.

“Engkaukah yang bernama Yang Cien dan membawa pesan dari Kam Lo-kai untuk kami?” Tanya Gubernur itu.

Yang Cien baru menyadari sikapnya dan dia cepat memberi hormat kepada gubernur itu. “Benar, taijin. Saya bernama Yang Cien dan hendak menyampaikan pesan dari mendiang Kam Lo-kai, akan tetapi...“ dia memandang kepada dua orang wanita itu.

“Jangan heran, Yang Cien. Ketahuilah bahwa Im Yang Sian-kouw hanya hendak mengujimu, hendak mengetahui apakah engkau setia kepada mendiang Kam Lokai dan apakah engkau memiliki kemampuan untuk mempertahankan surat pesanan itu. Iam Yang Sian Kouw adalah utusan kami untuk menjemput Kam Lokai akan tetapi dia dan muridnya terlambat“

Barulah Yang Cien mengerti dan dia pun menceritakan pertemuannya dengan Kam Lokai sampai terlukanya Kam Lokai dan tewasnya pengemis tua itu, juga tentang pesan yang diberikan kepadanya. Lalu dia mengeluarkan surat itu dan menyerahkannya kepada Gubernur Gak.

Gubernur membuka surat itu dan membacanya. Dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah, kemudian dia memandang kepada Yang Cien. “Yang Cien, kami berterima kasih sekali atas bantuanmu ini. Engkau telah berjasa dan kami akan memberi hadiah besar kepadamu“

“Ah, bukan hadiah yang saya harapkan, taijin. Saya melakukan ini untuk mendiang Kam Lokai, bukan untuk taijin. OLeh karena itu saya tidak mengharapkan hadiah sama sekali. Nah, sesudah saya menyampaikan surat ini kepada yang berhak menerimanya, perkenankan saya berpamit, taijin“

“Engkau benar tidak ingin menerima hadiah, Yang Cien?”

“Terima kasih, taijin. Saya tidak menghendaki apapun. Selamat tinggal“ Yang Cien lalu mengundurkan diri, keluar dari ruangan tamu itu.

Setelah Yang Cien pergi, Gubernur Gak memuji. “Seorang pemuda yang baik. Akan tetapi kita tidak boleh membiarkan dia mengetahui urusan kita, karena siapa tahu dia berdiri di pihak mana. Dia tentu seorang yang berwatak pendekar, akan tetapi mungkin saja dia tidak setuju dengan pendirian kita“

“Benar, taijin. Kalau belum yakin betul tentang watak dan sikapnya, tentu saja tidak semestinya kita memberitahu kepadanya. Taijin maaf, apakah pesan yang di bawa Kam Lokai itu?”

“Penting sekali. Ternyata kini Koksu telah menghimpun tenaga, bahkan Kaisar Julan Khan telah menerima seorang yang lihai dan mengangkatnya menjadi pembantu Koksu“

“Siapakah dia, taijin?”

“Dia seorang datuk dari timur, julukannya Thian-te Ciu-kwi“

“Ah, dia? Kalau begitu, kedudukan Koksu kini menjadi semakin kuat. Kalau dia mengumpulkan datuk-datuk persilatan untuk memperkuat kedudukannya, maka pengaruhnya akan menjadi semakin besar“

“Koksu dan Perdana Menteri Ji memang merupakan penghalang besar dari gerakan kita, taijin. Sebelum menghancurkan kedua orang itu dan para pembantunya, kiranya akan sukar untuk mengusir penjajah Toba dari tanah air.. “

“Dan lebih celaka lagi, Kaisar telah memanggil pulang Coa-ciangkun dan menarik mundur pasukan. Aku heran, mengapa kaisar tiba-tiba saja melakukan sesuatu hal ini? Apakah dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia curiga kepada Coa-ciangkun?”

“Pin-ni khawatir bahwa ini adalah ulah Perdana Menteri Ji dan Koksu Lui. Sejak dahulu mereka berdua ini tidak akur dengan Coa-ciangkun. Bahkan Coa-ciangkun sampai di kirim ke selatan adalah karena kaisar makan bujukan mereka berdua agar Coa-ciangkun jauh dari kota raja dimana Coa-ciangkun suka menentang peraturan yang menindas rakyat. Akan tetapi kenapa sekarang tiba-tiba Panglima Coa di panggil pulang?”

“Memang mencurigakan sekali. Sekarang harap tokouw suka pergi ke perbatasan menemui Panglima Coa, juga melaporkan tentang masuknya datuk sesat Thian-te Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu. Kalau mungkin, harap bujuk agar Panglima Coa tidak kembali ke kota raja karena aku khawatir sekali bahwa panggilan ini merupakan jebakan bagi Panglima Coa“

“Baik, taijin. Mari Sun Nio, kita berangkat sekarang juga...“

Guru dan murid itu lalu meninggalkan gedung Gubernur Gak untuk melaksanakan tugas mereka mendatangi Panglima Coa di garis depan, perbatasan dengan Kerajaan Sun.

********************

Yang Cien berjalan-jalan seorang diri di kota Nam-kiang. Ketika melihat sebuah rumah makan, dia pun merasa lapar dan memasuki rumah makan itu. Begitu dia memasuki rumah makan, bukan pelayan yang menghampirinya, melainkan seorang berpakaian satrawan yang usianya sekitar tiga puluh tahun.

“Selamat siang, sobat. Apakah engkau ingin makan minum?”

“Benar...“ jawab Yang Cien dengan heran, karena tidak mungkin kalau orang ini pelayannya. Pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

“Aku melihat engkau datang seorang diri, dan kebetulan sekali akupun seorang diri sedang makan minum di sini. Sejak tadi aku mencari-cari seorang kawan untuk makan minum karena aku merasa kesepian sekali. Kebetulan engkau muncul, maka kalau engkau tidak berkeberatan, aku mengundangmu untuk makan minum bersamaku sambil mengobrol. Maukah engkau, sobat?”

Ajakan itu sungguh ramah dan orang itupun kelihatan sopan terpelajar. Yang Cien menjadi tertarik sekali dan diapun mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, sobat. Tentu saja aku merasa senang sekali“

Orang itu lalu membawa Yang Cien ke sebuah meja yang penuh makanan dan belum di jamah. “Nah, silahkan makan minum bersamaku, saudara...“

“Yang Cien, namaku Yang Cien“

“Bagus, saudara Yang Cien. Namaku Thio Swi“ orang itu memperkenalkan dirinya. Dia lalu menuangkan arak ke dalam cawan di depan Yang Cien, juga di depannya sendiri.

Pada saat itu, masuklah seorang berpakaian pengemis yang membawa tongkat dan mangkok retak, meminta-minta sedekah dari para tamu. Dan dia mendekati Yang Cien menadahkan tangannya kepada pemuda itu. Gerakan tangan itu menarik perhatian Yang Cien karena seperti gerakan silat dan ketika dia memandang dia melihat dua buah. Dan huruf-huruf itu mengejutkan hatinya karena tertulis:

ARAK BERACUN.

Akan tetapi Yang Cien telah melatih diri sehingga dia mampu menguasai dirinya. Pengemis setengah tua itu sudah pergi lagi tanpa satrawan itu mengetahui bahwa diam-diam pengemis ini memberi peringatan kepada Yang Cien.

“Saudara Yang Cien, mari kita minum untuk pertemuan dan persahabatan“

“Maafkan, saudara Thio Swi. Aku sedang berpantang minum arak. Aku baru saja bersumpah kepada ibuku untuk tidak minum arak setetespun. Aku tidak berani, biar aku minum teh saja“

“Eh, kenapa begitu? Kenapa engkau bersumpah kepada ibumu tidak akan minum arak setetespun?”

Yang Cien tersipu, “Aku pulang dalam keadaan mabok keras. Ibuku marah dan menyuruh aku bersumpah bahwa selama tiga bulan aku tidak akan menyentuh arak dan tidak minum setetespun. Baru berjalan satu bulan, masih dua bulan lagi aku berpantang minum arak“

Sastrawan itu kelihatan mengerutkan alisnya dan sekarang berubahlah sikapnya yang tadinya sopan. “Aih, saudara Yang Cien. Kalau engkau minum secawan ibumu juga tidak akan tahu. Asal engkau tidak minum sampai mabok. Ini hanya untuk merayakan pertemuan kita…“ kata Thio Swi sambil mengangkat cawannya, mengajak Yang Cien minum.

“Maaf, saudara Thio Wi. Aku tidak berani...“

“Yang Cien, kalau engkau tidak mau minum, berarti engkau tidak menghormatiku, tidak menerima maksud baikku, bahkan menghinaku!”

Yang Cien bangkit berdiri. “Kalau begitu, biarlah aku duduk di meja lain dan tidak akan mengganggumu, saudara Thio Wi“

Thio Swi mendadak bangkit berdiri dan menggebrak meja. “Engkau bahkan berani menolak undanganku yang bermaksud baik? Sungguh engkau menghinaku, engkau menantangku!”

Dan Thio Swi melemparkan arak dalam cawannya kea rah muka Yang Cien. Namun Yang Cien telah waspada dan dengan mudah dia miringkan kepalanya mengelak. Akan tetapi Thio Swi semakin marah. Dia melompati meja dan menyerang dengan pukulan tangan kanan. Gerakannya gesit dan ringan, pukulannya juga mengandung tenaga yang kuat. Yang Cien menggerakkan tangan menangkis.

“Dukkk!” Kedua lengan bertemu dan akibatnya Thio Swi menyerengai karena merasa lengannya nyeri seolah tulangnya akan patah. Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan dahsyat...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 07

“Ha-ha-ha-ha, Akauw, jangan engkau memandang rendah nona ini. Ia adalah murid Toat-beng Giam-ong, tahukah engkau? Dan tingkat kepandaian Lui Koksu ini tidak berada di bawah tingkatku. Hati-hatilah jangan sampai engkau kena di robohkan!” Ciu-kwi menegur muridnya yang kelihatan tidak bersungguh-sungguh.

“Lihat serangan!” tiba-tiba gadis itu menyerang.

Dan Akauw betul-betul terkejut ketika matanya nyaris tertusuk jari tangan gadis itu yang menyambar sedemikian cepat dan kuatnya. Baru angin pukulan tangan itu saja dapat dia rasakan dan ketahui bahwa gadis ini memiliki tenaga sakti yang amat kuat dan juga gerakannya tadi amatlah cepatnya. Kalau dia tidak membuang diri ke belakang sebagai gerakan terdorong naluri sebagai gerakan terdorong naluri sebagai gerakan kera, tentu dia akan terkena totokan itu! Diapun cepat membuat gerakan silat dan otomatis karena bertangan kosong dia lalu bergerak menurut ilmu silat yang di latihnya di dalam guha itu. Dia tidak tahu bahwa ilmu silat itu adalah ilmu dari Bu-tek Cin-keng.

Sekarang Ji Goat yang terkejut karena dari gerakan tangan Akauw menyambar angin yang lembut namun dahsyat sekali, yang membuat serangannya berikutnya membalik. Cepat ia lalu mengerahkan gin-kangnya dan dengan mengandalkan kecepatan gerakannya di lancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Akauw.

Pemuda ini bersikap tenang saja. Memang gadis itu memiliki gerakan yang cepat, akan tetapi gerakan gadis itu cepat karena latihan gin-kang sedangkan dia sendiri memiliki gerakan cepat alami dan juga karena naluri. Dia mampu mengimbangi gerakan gadis itu dan semua serangan dapat di hindarkan dengan elakan atau tangkisan.

Sebetulnya kalau Akauw menghendaki dan mau menggunakan tenaganya, tentu gadis itu akan dapat di robohkannya. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau merobohkan gadis sejelita itu. Namanya keterlaluan kalau dia melakukan itu, dan suhengnya tentu akanmerasa tidak senang sekali. Gadis itu menyerangnya hanya untuk menguji kepandaian, bukan berkelahi sungguh-sungguh maka tentu saja dia tidak ingin membuat malu dengan merobohkannya.

Akan tetapi hal ini amat merugikannya karena dia hanya mengelak dan menangkis saja. dan tidak pernah membalas ! dan betapa pun rapat pertahanannya karena ilmu silat gadis itu yang di warisi dari datuk Toat-beng Giam-ong juga merupakan ilmu silat tinggi, akhirnya pundaknya terkena pukulan tangan kiri gadis itu.

“Dukkk…!” Akibatnya, tubuh Akauw terdorong kebelakang, akan tetapi sebaliknya Ji Goat juga terhuyung dan dia memegangi kepalan kirinya yang terasa nyeri. Dia merasa seolah memukul pundak yang terbuat dari baja, bukan dari kulit daging!

“Siocia amat lihai, saya mengaku kalah!“ kata Akauw cepat-cepat agar gadis itu menyudahi pertandingan.

Wajah Ji Goat berubah merah karena penasaran. Memang kelihatannya saja dia menang karena dia dapat memukul pundak itu, akan tetapi dia sendiri terhuyung dan tangannya sakit sedangkan yang dipukulnya tidak apa-apa!

“Kepandaianmu hebat, tidak percuma menjadi murid Thian-te Ciu-kwi!” katanya sambil membalas penghormatan Akauw yang mengangkat kedua tangan depan dada. Sementara itu, Ciu-kwi mengerutkan alisnya dan tidak merasa puas dengan pertandingan yang dilakukan muridnya itu. Menurut dia, kalau Akauw bersungguh-sungguh tentu dia akan mampu mengalahkan gadis itu. Baginya, tidak ada perasaan sungkan atau tenggang rasa seperti yang dirasakan Akauw terhadap seorang gadis.

Perdana Ji Girang sekali. Dari pengamatannya tadi dia pun dapat menduga bahwa pemuda itu cukup gagah perkasa dan akan menjadi seorang pembantu yang amat baik. Dia lalu mempersilahkan tamu-tamu duduk, sedangkan Ji Goat berpamit untuk masuk ke dalam.

Setelah kini duduk berempat saja, Perdana Menteri itu lalu berkata, “Memang sebaiknya kalau lo-cianpwe ini dan muridnya dihadapkan kepada Sri Baginda dan sedapat mungkin diperbantukan padamu, Koksu. Dengan demikian kita dapat bekerjasama. aku ingin sekali agar Akauw atau gurunya melakukan penyelidikan kepada Gubernur Gak. Mereka belum di kenal dan akan mudah sekali melakukan penyelidikan ke sana tanpa khawatir diketahui orang“

“Tepat sekali, taijin. Memang saya pun berpendapat demikian, maka sebelum membawa mereka menghadap Sri Baginda, saya membawa mereka ke sini lebih dulu untuk mendapatkan persetujuan taijin“

“Tentu saja saya setuju sekali, Koksu. dan sebaiknya kalau koksu membawa mereka menghadap Kaisar, lebih cepat lebih baik. Jangan lupa untuk membujuk agar Sri Baginda suka memanggil pulang Coa-ciangkun dari garis depan agar penyerangan terhadap Kerajaan Sun dapat dihentikan.

Tanpa di panggilnya pulang Coa-ciangkun, saya kira usaha kita tidak akan berhasil. Sementara itu, saya akan bertugas membujuk Sri Baginda agar bersikap lunak kepada Kerajaan Sun, menariknya sebagai sekutu agar lebih mudah bagi kita menguasai daerah selatan pada umumnya“

“Baiklah, taijin. Kita membagi tugas dan sebaiknya kalau taijin menghubungi para thaikam kepala agar ikut membujuk kaisar“

“Jangan khawatir, Koksu. Mereka semua sudah berada di tanganku“

Setelah berunding sebentar, Lui Koksu berpamit dan bersama Ciu-kwi dan Akauw mereka lalu naik kereta menuju ke istana. kalau tadi melihat istana Kok-su dan Perdana Menteri yang mewah itu Akauw sudah merasa terkagum-kagum, kini begitu dibawa masuk istana, dia benar-benar terpesona. Tak pernah dibayangkan semula ada rumah manusia seperti itu mewah dan megahnya. Semuanya serba besar, serba indah dan serba mewah. baru pintunya saja sudah begitu besar dan tinggi, agaknya pintu itu dibuat untuk masuk seekor gajah!

Dan dimana-mana penuh tanaman buatan, taman-taman kecil, air pancuran, batu-batu karang beraneka bentuk, ukiran-ukiran, lukisan-lukisan, pendeknya, tidak habis-habisnya dia kagumi. Sampai nanar dia di buatnya memandangi semua keindahan itu.

Para prajurit pengawal yang berjaga di setiap lorong dan tikungan istana itu memberi hormat kepada Koksu, dan setelah mereka tiba di bagian dalam, para pengawal yang berjaga adalah orang-orang sida-sida atau Thaikam.

Akhirnya mereka dibawa menghadap kaisar di sebuah ruangan yang amat indahnya. Karena saat itu bukan waktu persidangan, maka Koksu di terima oleh kaisar diperpustakaan, dimana Sri Baginda sedang memilih buku untuk di bacanya. Biarpun dia Kaisar bangsa Mongol (Toba), namun kaisar Julan Khan suka akan kesusastraan, di samping lihai pula ilmu silatnya. Para pengawal thaikam itu segera di suruh keluar dari ruangan setelah kaisar melihat bahwa yang menghadapnya adalah Lui Koksu yang dipercaya penuh, bersama seorang kakek kecil kurus dan seorang pemuda yang gagah perkasa.

Mereka bertiga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar. Hal ini di lakukan oleh Akauw setelah lebih dulu dia diberitahu dan di ajari bagaimana harus bersikap kalau berhadapan dengan kaisar, akan tetapi ketika menjatuhkan dirinya berlutut, tetap saja caranya kasar karena memadang di dalam hatinya dia masih meragu mengapa dia harus berlutut seperti itu di depan seorang yang baru saja di jumpainya dan belum di kenalnya sama sekali.

“Oh, engkau, Koksu. Bangkit dan duduklah dan juga kalian berdua yang datang bersama Kok-su“

“Terima kasih Yang Mulia“ kata mereka hamper berbarengan.

Kini mereka menghadap Kaisar yang duduk di atas kursi berukir indah itu dengan berdiri saja, berdiri dengan kepala di tundukkan dan sama sekali tidak boleh kepala itu di angkat kalau tidak sedang di ajak bicara oleh Kaisar. Juga setiap kali bicara, kedua tangan harus di rangkap di depan dada sebagai tanda penghormatan.

“Lui-koksu, siapakah yang kau bawa menghadap ini? Tadi pengawal memberitahu akan tetapi kami kurang memperhatikan“

“Yang Mulia, ini adalah seorang sahabat hamba di waktu muda. Julukannya adalah Thian-te Ciu-kwi, dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Yang muda ini adalah muridnya bernama Cian Kauw Cu yang biasa di sebut Akauw. Mereka berdua ini menawarkan tenaga mereka untuk membantu paduka, untuk bekerja dengan hamba. Mengingat bahwa kepandaian mereka boleh di andalkan, maka hamba sengaja mengajak mereka untuk menghadap paduka, untuk mohon perkenan paduka agar mereka di perbolehkan membantu hamba dan di angkat sebagai panglima“

“Hemmm, kami percaya dengan semua keteranganmu, Koksu. Akan tetapi kau tahu tidak mudah begitu saja mengangkat seseorang menjadi panglima sebelum kami melihat sendiri kemampuan mereka...“

Kaisar lalu bertepuk tangan dan bermunculan pengawal thaikam dari pintu dalam. Agaknya para pengawal itu biarpun tidak diperbolehkan memasuki kamar, namun selalu mereka siap diluar pintu sehingga sekali di panggil mereka akan bermunculan dalam waktu cepat sekali.

“Coba panggil Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima unsur) dan suruh mereka bersiap di lian-bu-thia (tempat berlatih silat)!” kata kaisar memerintah kepada para pengawal. Mereka memberi hormat dan pergi.

“Koksu, kami hendak melihat apakah guru dan murid ini akan mampu menghadapi Ngo-heng Kiam-tin!” kata Kaisar kepada Lui-Koksu. Tentu saja Toat-beng Giam-ong sudah tahu siapa itu Barisan Pedang Lima Unsur, maka dia menjawab.

“Hamba kira sobat Ciu-kwi akan mempu menghadapi mereka, Yang Mulia“

Mereka semua lalu mengikuti Kaisar pergi ke ruangan yang amat luas. Ruangan yang memang biasanya dipergunakan untuk berlatih silat. Seperti di ketahui, Kaisar Julan Khan sendiri adalah seorang yang kuat, ahli gulat dan ahli silat. Ketika mereka tiba di sana, sudah menanti lima orang yang berpakaian aneh. Pakaian mereka itu saling berbeda warnanya. Ada yang serba merah, serba biru, serba kuning, hitam dan putih. Lima macam warna! Kaisar muncul, mereka berlima lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Bangkitlah!” perintah kaisar dan setelah mereka semua bangkit berdiri, kaisar berkata, “kalian harus menguji kemampuan dua orang guru dan murid ini yang mencalonkan diri sebagai panglima pembantu Koksu“ katanya dan seorang thaikam segera mengangkat kursi kaisar ke belakang kaisar yang segera duduk dengan wajah gembira. Kaisar ini memang suka sekali menonton orang bertanding mengadu ilmu silat.

Sementara itu, Lui Koksu sudah membisiki Ciu-kwi bahwa biarpun kepandaian lima orang itu tidak berapa hebat, akan tetapi karena merupakan barisan pedang yang bekerja sama dengan baik sekali, maka cukup berbahaya . Akan tetapi dia percaya bahwa dengan tangan kosong saja dia atau Akauw mampu mengatasi mereka!

Mendengar bisikan sahabatnya itu, Thian-te Ciu-kwi lalu berkata kepada Kaisar, “Yang Mulia, kalau paduka mengijinkan, hamba akan lebih dahulu maju menghadapi Ngo-heng Kiam-tin ini dengan tangan kosong, baru sesudah hamba murid hamba akan menandingi mereka“

Mendengar ini, Kaisar mengerutkan alisnya. Dia tahu akan kemampuan Ngo-heng Kiam-tin, dan kakek kecil kurus seperti orang pemadatan ini hendak menandingi dengan tangan kosong saja. Ini hanya ada dua kemungkinan. Kakek itu memang sakti atau sombong. Kalau sombong, biarlah mendapat hajaran keras dari Ngo-heng Kiam-tin.

“Dengan tangan kosong, Ciu-kwi. Ingat, lima batang pedang itu dapat melukaimu!”

“Kalau memang demikian, sudah nasib hamba, Yang Mulia“

“Baiklah, kalau begitu Ngo-heng Kiam-tin, kalian siap menandingi Thian-te Ciu-kwi yang bertangan kosong!”

Lima orang itu lalu berloncatan membentuk lingkaran segi lima. Tubuh mereka rata-rata tinggi besar dan dengan pakaian mereka yang saling berbeda warna itu, gerakan mereka tadi kelihatan indah sekali seperti lima orang penari. tahu-tahu mereka telah mencabut pedang mereka dan siap dengan bermacam pasangan kuda-kuda. Ada yang melintangkan pedang di depan dada, ada yang mengacungkan pedang di atas kepala, ada yang menyembunyikan pedang di bawah lengan. Mereka semua sudah siap untuk menyerang kakek yang berdiri seenaknya itu. Akan tetapi, lima orang ini tidak berani memandang rendah. Nama besar Thian-te Ciu-kwi sudah pernah mereka dengar sebagai datuk kang-ouw dari pantai timur dan kabarnya lihai bukan main.

“Apakah engkau sudah siap, Ciu-kwi?” Tanya kaisar.

“Sejak tadi hamba sudah siap, Yang Mulia“

“Kalau begitu, mulailah!” kata kaisar, di tujukan kepada lima orang itu. Mereka adalah jagoan-jagoan istana, merupakan anggota pasukan pengawal pribadi kaisar.

Mendengar seruan kaisar ini, lima orang itu mulai bergerak melangkah dengan teratur mengelilingi Ciu-kwi yang kelihatan masih berdiri dengan santai saja. Tiba-tiba seorang di antara mereka, yang berpakaian putih dan agaknya menjadi pemimpin Ngo-heng Kiam-tim, mengeluarkan bentakan nyaring.

“Thian-te Ciu-kwi, lihat pedang!”

Dan diapun sudah menyerang dari depan dengan gerakan dahsyat. Dua orang lain menggerakkan pedang mereka memperkuat serangan baju putih dan dua orang lagi menggerakkan pedang menjaga kalau lawan membalas serangan. Ciu Kwi mengeluarkan kecepatan gerakannya. Dengan mudah saja dia mampu menerobos di antara sambaran tiga batang pedang itu, berloncatan ke sana sini seperti orang mabok dan tahu-tahu kedua kakinya yang kecil itu mengirim tendangan, bukan membalas serangan tiga orang itu melainkan menyerang dua orang orang yang tadi berjaga-jaga.

Dua orang itu terkejut, maklum lihainya tendangan itu dan berlompatan ke belakang. Mereka mengepung lagi dan dengan bergantian pedang mereka menyerang bertubi-tubi, namun tidak ada pedang yang mampu melukai Ciu-kwi. Dia mengelak, berloncatan dan kadang dengan tangannya menyapok pedang dari samping. Ciu-kwi memperlihatkan ilmu yang menjadi andalannya, yaitu Thian-te Sin-kun (Silat Sakti Langit Bumi) dan mencampurnya dengan gerakan Dewa Mabok untuk mengelak dan mengacaukan lawan.

Ngo-heng Kiam-tin memang kuat sekali. Mereka itu saling tunjuang, saling bantu dan saling melindungi. Mereka dapat bekerja sama dengan rapi dan teratur sehingga Ciu-kwi seperti melawan lima orang dengan satu hati dan pikiran. Namun, karena memang tingkatnya jauh lebih tinggi dari mereka, dia dapat selalu menghindarkan diri dan balasan serangannya beberapa kali membuat barisan pedang menjadi kacau.

Setelah lewat tiga puluh jurus, Ciu-kwi mengeluarkan bentakan melengking dan begitu kedua tangannya berputar dan memukul ke depan, angin pukulan dahsyat menyambar dan lima orang itu terhuyung ke belakang, bahkan dua di antara mereka terjengkang. Ciu-kwi cepat melangkah mundur dan memberi hormat kepada Sri Baginda.

”Harap paduka maafkan hamba“

Sri Baginda bertepuk tangan memuji. “Bagus, bagus sekali, Ciu-kwi. Engkau memang pantas menjadi sahabat dan pembantu Kok-su! Dan bagaimana dengan muridmu itu?“

“Hamba kira dengan menggunakan pedangnya, Akauw akan mampu menandingi Ngo-heng Kiam-tin“

Mendengar ucapan Ciu-kwi, Sri Baginda menjadi gembira sekali. Orang yang mampu mengalahkan Ngo-heng Kiam-tin merupakan orang yang sakti dan tentu saja dia dapat mempergunakan tenaga orang-orang seperti itu. Akan tetapi Lui-Koksu tidak heran karena dia sudah mendengar dari Ciu-kwi bahwa Akauw memiliki ilmu aneh dan juga memiliki Hek-liong-kiam yang ampuh.

“Akauw, lawanlah mereka dengan pedangmu. Akan tetapi jangan sekali-sekali melukai mereka“ pesan Ciu-kwi kepada muridnya.

“Baik, suhu...“ kata Akauw yang telah melihat gerakan lima orang itu dan merasa dapat mengatasi mereka dengan pedangnya. Dia lalu memberi hormat kepada Kaisar, “Mohon perkenan paduka, Yang Mulia“

“Baik, bangkit dan lawanlah Ngo-heng Kiam-tin dengan pedangmu, orang muda“ kata kaisar gembira.

Akauw lalu bangkit berdiri, mencabut Hek-liong Po-kiam dari sarungnya dan nampaklah sinar hitam yang menyeramkan. Bahkan kaisar sendiri berseru kagum. “Po-kiam yang hebat!”

Ngo-heng Kiam-tin kini sudah maju lagi mengepung. Dalam pertandingan melawan Ciu-kwi tadi, jelas mereka telah kalah, akan tetapi tak seorang pun dari mereka mengalami luka sehingga kini mereka dapat maju dengan lengkap dan tenaga mereka masih tidak berkurang. Hanya mereka agak gentar menghadapi pedang hitam di tangan pemuda tinggi besar itu. Mereka pun dapat menduga bahwa pemuda itu memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh.

Lima orang itu, seperti tadi mengepung Akauw dengan berbagai macam kuda-kuda. Akauw sendiri dengan tenang berdiri dengan pedang melintang di depan dada, seluruh saraf di tubuhnya menengang dalam keadaan siap siaga. Kembali si baju putih mengeluarkan bentakan.

“Lihat pedang!” Dan dia mulai menyerang, di susul teman-temannya Kadang mereka menyerang bertubi-tubi, susul menyusul, kadang mereka menyerang berbarengan dan menyatukan tenaga dalam pedang mereka.

Namun Akauw telah maklum akan gerakan mereka. Kalau mereka menyerang bertubi-tubi, dia pun mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindar, kalau mereka menyatukan pedang mereka, diapun menangkis dengan pengerahan tenaga. Memang agak repot juga baginya kalau mengadu dengan tenaga lima orang yang menggabungkan tenaga mereka itu. Di keroyok oleh lima orang, tenaganya tidak kuat bertahan dan beberapa kali dia terpaksa melangkah mundur. Akan tetapi, setelah lewat dua puluh lima jurus, Akauw mengubah gerakan pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membelit dan memutar.

“Kraakk!” terdengar suara keras dan pedang si baju putih patah menjadi dua ketika dia berani menangkis dengan langsung sambaran sinar hitam yang bergulung-gulung itu. Kepatahan pedang baju putih sebagai pemimpin ini mengacaukan yang lain dan Akauw menggunakan kesempatan ini untuk menyambar pedangnya dan empat batang pedang yang lain juga patah semua! Tentu saja Ngo-heng Kiam-tin menjadi rusak dan mereka berlima terpaksa berlompatan ke belakang karena sudah tidak ada senjata di tangan mereka.

Sri Baginda Kaisar Julan Khan bertepuk tangan memuji. “Bagus, Kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus!“ dia memuji lalu berkata kepada Lui-koksu, "kami telah melihat ilmu Ciu-kwi dan Akauw. Mereka boleh kau terima menjadi panglima untuk membantu pekerjaanmu“

Ciu-kwi dan Akauw segera menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih. Mereka bertiga meninggalkan istana dengan gembira dan semenjak hari itu, Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu dan Akauw menjadi seorang panglima muda yang di perbantukan pula kepada Kok-su. Mereka berdua untuk sementara tinggal di tempat kediaman Kok-su.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Yang Cien. Seperti telah diceritakan di bagian depan. Yang Cien tinggal seorang diri di dalam guha besar bawah tanah itu setelah di tinggal pergi oleh Akauw. Dia segera dapat menghilangkan perasaan kesepiannya di tinggalkan sutenya itu, dan dengan tekun dia melanjutkan latihannya, mempelajari ilmu Bu-tek Cin-keng yang ternyata amat sulit di latih itu. Dia tahu bahwa sutenya telah hafal akan semua gerakan ilmu silat itu, akan tetapi tanpa petunjuk kitab, ilmu yang di miliki sutenya itu hanyalah kulitnya saja, tanpa isi. Dia berjanji pada diri sendiri bahwa kelak kalau dia bertemu kembali dengan sutenya, dia akan mengajarkan ilmu itu secara yang semestinya agar sutenya juga menguasai Bu-tek Cin-keng secara benar.

Setiap hari Yang Cien tekun berlatih , hidup secara sederhana sekali, tidak pernah berhubungan dengan manusia lain. Dia seolah menjadi seorang pertapa yang hidup menyendiri di tempat sunyi itu, di Lembah Iblis. Tiga tahun telah lewat tanpa terasa. Yang Cien telah menyelesaikan pelajaran ilmu itu dan kini akibat racun jarum di kitab itu sudah hilang sama sekali. Tanpa di sadarinya sendiri, dia telah menguasai ilmu yang amat dahsyat, yang di pelajari dan di latihnya selama lima tahun di tempat itu! Juga dia tidak menyadari bahwa kini dia telah menjadi seorang pemuda yang sudah dewasa benar, pemuda yang berusia dua puluh lima tahun!

Pada halaman terakhir kitab Bu-tek Cin-keng itu terdapat tulisan yang mengharuskan murid yang mempelajari kitab itu sampai habis, agar menutup guha itu. “Gulingkan batu yang berada di atas tebing dan hujan batu besar akan menutup guha ini untuk selamanya“ demikian bunyi pesan itu.

Yang Cien melangkah keluar guha. Biasanya hanya untuk mencari makan saja dia keluar dari guha itu, paling banyak sekali dua kali dia keluar guha dalam sehari. Dia tidak begitu memperhatikan di atas tebing dan baru sekarang dia berdongak memperhatikan keadaan di atas tebing. Tebing itu tinggi dan permukaan dinding tebing memang penuh dengan batu besar yang kalau tertimpa batu dari atas tentu akan dapat terlepas dan runtuh ke bawah. Tentu itu yang di maksudkan pesan dalam halaman terakhir kitab itu.

Dia masuk kembali lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap kerangka yang berada di kursi itu. Kedudukan kerangka yang berada di kursi itu pun ternyata membantunya memecahkan rahasia dari jurus terakhir sebagai penutup kitab pelajaran itu. Tadinya, sampai berhari-hari dia bingung, tidak dapat mengerti dengan baik gerakan jurus penutup. Baru setelah dia melihat kedudukan kerangka itu, memperhatikan kedudukan kedua tangan dan kakinya, dia mengerti. Kerangka itu justeru berkedudukan seperti yang di kehendaki dalam jurus terakhir tadi.

“Suhu, siapapun adanya suhu, teccu (murid) menghaturkan banyak terima kasih atas semua petunjuk suhu sehingga teecu dapat menyelesaikan pelajaran Bu-tek Cin-keng ini. Karena khawatir kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat, kitab ini teecu tinggalkan di sini bersama suhu, dan pedang Pek-liong-Po-kiam teecu bawa sedangkan Hek-liong-Po-kiam di bawa sute Akauw...“

Setelah berlutut dan memberi hormat delapan kali, di atas meja dan dia membawa Pedang Naga Putih keluar, bersama buntalan pakaiannya. Kemudian dia mendaki tebing itu ke atas dan baru dia mengetahui betapa mudahnya hal itu dilakukannya. Padahal, tadinya dia mengira bahwa memanjat tebing itu akan sukar sekali karena tebing itu terjal. Namun setelah kakinya memanjat, dia merasa ringan dan mudah saja! Dia sendiri tidak menyadari bahwa latihan-latihan itu telah meningkatkan sinkang dan ginkangnya sehingga dia mampu bergerak seperti seekor cecak merayap dinding!

Setelah tiba di atas tebing, dia lalu mencari batu yang terbesar. Di temukan batu itu, sebesar gajah. Tadinya diapun meragukan apakah dia akan mampu, menggulingkan batu sebesar gajah itu, apakah tidak lebih baik memilih yang lebih kecil. Akan tetapi, begitu dia mencoba untuk menggerakkan batu itu, ternyata terasa tidak terlalu berat baginya dan dengan mudah dia mampu mendorong dan menggelindingkan batu ke tepi tebing, tepat di atas guha besar yang selama lima tahun menjadi tempat tinggalnya itu.

Begitu batu terguling, terdengar suara gemuruh dan ketika dia melongok ke bawah, benar saja, batu itu menghantam batu-batu di bawah sehingga terlepas dari dinding tebing dan hujan batu besar terjadi di depan guha sehingga guha itu tertutup sama sekali oleh ratusan, bahkan mungkin ribuan batu besar! Tidak mungkin lagi bagi seorang atau beberapa orang manusia untuk membongkar batu-batu itu. Guha itu benar-benar telah menjadi kuburan bagi gurunya yang tak di kenal namanya itu.

Kemudian, dia menuruni tebing kembali dan memasuki guha yang penuh emas. Sampai lama dia mengamati emas-emas yang menempel di dinding guha. Sekali waktu benda berharga ini akan berguna juga, entah kapan dan untuk apa, dia belum mampu membayangkan. Dia lalu mengambil secukupnya untuk bekal. kemudian mencari batu besar dan menggulingkan batu itu menutupi guha kecil itu sehingga tidak nampak sama sekali dari luar. Hanya dia yang tahu bahwa di balik batu besar itu terdapat sebuah guha penuh emas. Dalam guha-guha lain yang berjajar di daerah itu tidak terdapat apa-apa lagi, kecuali guha pertama yang penuh dengan arca yang tidak begitu penting untuk di sembunyikan.

Setelah selesai menutup kedua guha yang di rahasiakannya itu, Yang Cien lalu pergi meninggalkan tempat itu. Beberapa kali dia menoleh untuk memandang tempat yang di jadikan tempat tinggalnya selama lima tahun itu. Menduga-duga kapan kiranya dia akan dapat kembali ke tempat itu. Lembah Iblis! Dia tidak mengerti mengapa rakyat di wilayah itu menamakannya Lembah Iblis.

Padahal baginya, lembah itu amat indah dan menjadi tempat dia menghabiskan waktunya bertahun-tahun. Sejak dia memasuki lembah itu bersama kakeknya, tidak kurang lebih sepuluh tahun dia tinggal di sana, lima tahun tinggal di gubuk atas pohon seperti kera, dan lima tahun tinggal di guha seperti pertapa. Dan kini, dia memasuki dunia ramai. Apakah yang menanti dia di depan? Dia tidak tahu, dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan.

Nasib? Menurut pelajaran tentang kehidupan yang dia dapatkan dari kakeknya, dia tidak mau menggantungkan diri kepada nasib. Nasib tidak datang bagitu saja, nasib hanya merupakan mata rantai dari sebab akibat. Kalau orang menanam bibit baik lalu menuai hasil panen baik, itu bukan nasib namanya! Juga kalau menyebar bibit baik, itu juga dapat memetik panen baik, itu juga bukan nasib karena pasti ada penyebabnya! Entah karena pemupukannya kurang baik, atau penjagaannya kurang baik sehingga terusak oleh hujan atau oleh burung-burung atau hama lainnya. Jelas bukan karena nasib buruk dan sebagainya!

Kekuasaan Tuhan memang mutlak. Akan tetapi Kekuasaan Tuhan juga adil! Jadi tidak ada yang di sebut nasib baik atau nasib buruk karena semua yang terjadi sudah semestinya demikian, sesuai dengan hokum karma masing-masing. Dan karma itu siapa penyebabnya, siapa pembuatnya? Kita sendiri! Karena itu, setiap perbuatan adalah menyebar benih setiap peristiwa yang terjadi menimpa diri adalah penuaian dari penyebaran benih tadi, atau akibat dari perbuatan kita.

Maka orang bijaksana tidak mengeluh kalau sesuatu menimpa dirinya karena sadar bahwa itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri, lama atau baru, sedangkan kalau melakukan sesuatu maka pekerjaan itu dilakukan tanpa pamrih imbalan apapun.


Demikianlah apa yang telah dipelajari Yang Cien dari kakeknya, oleh karena itu, dia pun tidak gentar menghadapi apapun karena maklum bahwa segalanya tergantung dari padanya sendiri.

********************

Pemandangan di Telaga Tai-hu amatlah indah. Di tengah telaga yang besar itu terdapat beberapa pulau kecil dan banyak orang yang berpesiar naik perahu di telaga disamping perahu-perahu nelayan penangkap ikan. Ada pula orang-orang berpakaian sastrawan yang naik perahu kecil, menghadapi kitab sambil minum arak atau sambil memancing ikan.

Seorang pemuda berpakaian sederhana naik sebuah perahu kecil dan mandayungnya mendekati sebuah pulau. Dia tertarik sekali kepada seorang laki-laki yang juga berperahu seorang diri sambil membaca sajak. Pemuda ini selain pakaiannya yang sederhana, juga gerak-geriknya amat sederhana. Rambutnya yang di gelung ke atas itu tertutup sebuah caping lebar, bajunya dari kain kasar berwarna biru dan potongannya seperti yang biasa di pakai para petani. Wajahnya yang terlindung caping itu tampan, berbentuk persegi dan berkulit putih. Alisnya tebal melindungi sepasang mata yang mencorong seperti mata naga, hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengembangkan senyum yang ramah. Wajah yang menyenangkan, akan tetapi juga mengandung wibawa yang kuat.

Pemuda itu adalah Yang Cien. Dia menyembunyikan Pedang Pusaka Naga Putih di dalam buntalan pakaian yang digendongnya. Pemuda ini dalam perjalanannya merantau telah membeli beberapa potong pakaian baru yang di gendongnya dalam buntalan kain kuning.

Ketika melakukan perjalanan merantau karena sampai selesai melatih diri dengan Kitab Bu-tek Cin-keng sutenya belum juga pulang, dia tiba di Telaga Tai-hu dan menyewa sebuah perahu. Tertarik oleh pemandangan yang amat indah itu. Ketika tadi mendengar orang membaca sajak, dia tertarik oleh kata-kata dalam sajak itu.

“Pohonku dikuasai burung gagak Sarangku terancam musnah Namun apa dayaku?

Semua burung dara pergi ketakutan Tidak ada yang berani melawan gagak

Tiada harapan kecuali menanti munculnya Sang Garuda. Pengusir burung gagak dari pohonku“


Dia tertarik sekali karena dia dapat menangkap inti dari sajak atau nyanyian itu. Pohon dikuasai burung gagak, yaitu termasuk burung liar seperti yang terjadi sekarang. Cina bagian utara sepenuhnya di kuasai bangsa Mongol (Toba) dan semua burung dara pergi ketakutan. Bukan hanya ketakutan bahkan banyak penduduk pribumi yang menghambakan dirinya kepada kekuatan asing itu. Bahkan mendiang ayahnya juga menghambakan dirinya kepada kaisar Toba. Hal ini sebetulnya tidak di setujui kakeknya. Kakeknya seringkali menyesalkan hal itu.

“Bagaimanapun juga, seorang patriot haruslah menentang penjajahan, bukannya membantu kaum penjajah untuk memakmurkan rakyat.“ kata kakeknya.

Di dalam sajak di sebutkan bahwa semua burung dara tidak ada yang berani melawan gagak, maka di harapkan munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak. Mengusir Bangsa Toba dari tanah air? Bukan pekerjaan mudah!

“Ayahmu salah langkah“ kata kakeknya dahulu, “sepatutnya dia membantu mereka yang menentang Kaisar Toba, bukan menghambakan diri kepadanya. Di bawah kekuasaan Kaisar Toba, para pejabat melakukan koropsi dan penindasan terhadap rakyat. Mereka tidak memperdulikan nasib rakyat jelata karena menganggap tidak perlu bekerja dengan sungguh-sungguh mengingat bahwa pemerintahan itu adalah Kerajaan Mongol. Semua pejabat berlomba untuk menggendutkan diri, menebalkan kantung sendiri dan berlomba untuk mewah-mewahan. Para pendekar yang berjiwa patriot melihat penindasan oleh Bangsa Mongol merasa prihatin sekali. Namun pasukan Kerajaan Toba amat kuat sehingga setiap pemberontakan mengalami kegagalan. Para pejabat yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakayt, seperti mendiang ayahmu, malah di musuhi oleh pejabat-pejabat tinggi yang berkuasa. Nah, mendiang ayahmu telah salah langkah, dan tidak seharusnya engkau mengikuti jejaknya itu“

“Kakek pernah mengatakan bahwa yang membunuh ayah ibu adalah Koksu“

“Benar. Anak buah Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang kini menjadi Koksu itu yang telah mengeroyok dan membunuh ayah ibumu. Dia tidak senang melihat ayahmu membela rakyat yang terindas dan berani memprotes kenaikan pajak dan kerja paksa. Pemerintah penjajah memang sifatnya menindas dan memeras, dan ayahmu telah berani menentang arus. Akan tetapi, singkirkan dendammu pribadi itu, Yang Cien. Engkau harus mempergunakan segala daya dan kepandaianmu untuk mempersatukan rakyat, mempersatukan semua kekuatan agar tidak terpecah-belah dan hanya dengan persatuan saja kiranya penjajah Mongol akan dapat di halau dari negeri kita“

Demikianlah, percakapan itu mengiang di telinga Yang Cien ketika dia tertarik mendengar bunyi sajak yang mengandung semangat menantang penjajah itu. Dia lalu mendayung perahunya mendekat perahu orang itu. Ternyata yang membaca sajak tadi adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang berpakaian seperti pengemis! Kakek itu menghadapi seguci arak dan dia tadi membaca sajak sambil di seling minum arak. Yang Cien dapat menduga bahwa kakek itu tentulah bukan seorang pengemis biasa saja. Mana ada seorang pengemis berperahu, menikmati arak sambil membaca sajak?

“Lo-cianpwe, sajakmu tadi sungguh indah!” katanya memuji.

Kakek itu menoleh dan melihat bahwa yang memujinya seorang pemuda tampan gagah berpakaian sederhana dan bercaping lebar, dia tersenyum ramah. “Orang muda, kalau engkau suka sajak dan minum arak, naiklah ke perahuku. Berdua lebih menggembirakan daripada seorang diri saja“

“Baik, lo-cianpwe dan terima kasih...“ kata Yang Cien gembira.

Akan tetapi pada saat dia mengikatkan tali perahunya pada perahu kakek pengemis itu, tiba-tiba saja datang sebuah perahu besar. Perahu itu sudah dekat sekali dan dari perahu besar itu meluncur banyak anak panah kea rah mereka...!

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 06

JAKSA Gu terkejut juga menerima undangan Perdana menteri Ji, maka bergegas dia datang berkunjung dalam pakaian kebesarannya yang mewah. Akan tetapi ketika tiba di rumah itu, penjaga mempersilahkan langsung ke kamar tamu di sebelah kiri dan kata penjaga Perdana menteri sudah tahu akan kedatangannya.

Ketika dia memasuki ruangan tamu yang pintunya terbuka itu, dia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Anak muda kurang ajar yang tempo hari dijumpainya di kedai minum dan yang bersama pemuda tinggi besar yang telah menghajar dia dan para anak buahnya, pemuda ini sudah berhari-hari dia cari tak juga berhasil.

“Engkau…! Setan cilik, mau apa engkau di sini. Aku memang sedang mencarimu, kebetulan engkau berada di sini!” Jaksa itu membuat gerakan seperti hendak menerkamnya.

“Jaksa Gu, coba kau maki aku sekali lagi. Yang keras, yang lengkap begitu!”

“Setan cilik kurang ajar, jahanam keparat, anjing babi!” Jaksa itu memaki sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat yang berpakaian seperti seorang pemuda miskin dengan kepala di tutupi topi butut.

Pada saat itu, sang perdana menteri muncul dari dalam. Melihat pembesar ini, Jaksa Gu cepat membungkuk memberi hormat. “Eeh, Jaksa Gu. Kenapa engkau marah-marah? Aku mendengar engkau memaki-maki, siapa yang kau maki itu?”

“Maaf, yang mulia. Yang saya maki adalah setan cilik ini!” katanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Ji Goat dengan mata mendelik.

“Kenapa engkau memaki dia?”

“Tempo hari, di kedai minum, dia telah menghina saya dan anak buah saya. Mungkin dia itu pemberontak, Yang Mulia. Harus di tangkap dan di hokum berat!”

“Ah, begitukah? Goat-ji, lepaskan pakaian dan topimu itu“

Ji Goat lalu melepaskan topi penutup kepalanya dan baju laki-laki seperti jubah butut itu, dan kini nampaklah ia seorang gadis cantik dengan rambut terurai dan pakaian puteri yang indah. Jaksa Gu Terbelalak, lalu dia mengerti karena dia tahu bahwa Perdana Menteri mempunyai seorang anak perempuan. Bocah setan itu ternyata puteri Perdana Menteri. Mukanya seketika menjadi pucat sekali. Dengan tubuh gemetar ia berkata gugup.

“Aahh… paduka… ahh, jadi ini adalah puteri paduka...?”

“Hemm Jaksa Gu, engkau hendak memaki lagi puteriku? Boleh, silahkan maki lagi sepuasmu“

Tiba-tiba Jaksa Gu merasa lututnya lemas dan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Perdana Menteri, “Yang Mulia, hamba mohon ampun… karena tidak tahu maka hamba...“

“Engkau memaki aku sebagai setan cilik kurang ajar, jahanam keparat dan anjing babi, ya?” kini Ji Goat bertanya sambil tersenyum mengejek.

“Saya… Saya tidak berani… Mohon maaf sebanyaknya“ kata Jaksa Gu dengan muka pucat dan berulang kali dia menganggukan kepalanya.

“Ah, begitu? Jelas sekarang macam apa adanya engkau, Jaksa Gu. Dalam kedudukanmu dan tugasmu, engkau tentu bersikap seperti ini juga. Berhadapan dengan orang melarat, dengan rakyat jelata, engkau memaki-maki, bersikap kasar, mudah menjatuhkan hukuman dan melakukan penindasan semena-mena. Akan tetapi terhadap atasan dan orang kaya, engkau menunduk-nunduk dan membela, tentu karena menerima sogokan dari orang kaya, begitukah?”

“Tidak, tidak berani...“ Hanya itu yang dapat di ucapkan Jaksa Gu yang sudah tidak berdaya itu karena dia seorang telah tertangkap basah memaki-maki seenak perutnya kepada “setan cilik“ tadi.

“Kau memaki aku setan cilik, jahanam keparat dan anjing babi, hukuman apa yang harus ku balaskan kepadamu? Hayo kau pukul sendiri mukamu sebanyak sepuluh kali!” kata Ji Goat dengan marah.

Karena sudah merasa bersalah dan mengharapkan pengampunan, Jaksa itu lalu menampari mukanya sendiri dengan kedua tangan sebanyak sepuluh kali sambil memaki diri sendiri. “Anjing kau, babi kau, jahanam keparat kau…!”

“Nah, sekarang kau harus berjanji, kalau engkau masih melanjutkan sikapmu seperti itu, menindas orang kecil dan menjilat orang besar, memeras orang dan koropsi, ayah pasti akan melaporkannya kepada Sri Baginda!”

“Ampun, saya tidak berani lagi…“ Jaksa itu meratap, mukanya pucat, hanya kedua pipinya yang membengkak merah karena di tampari sendiri tadi.

“Pergilah!” Ji Goat membentak dan Jaksa yang gendut itu setengah merangkak meninggalkan ruangan itu.

Setelah dia pergi, Ji Goat tertawa terkekeh-kekeh. Ayahnya mengerutkan alisnya.“ Ji Goat, engkau agak keterlaluan. Biarpun di depan kita dia tidak berani apa-apa, akan tetapi aku khawatir dia mendendam kepadamu“

“Takut apa, ayah? Kalau baru dia dan selusin pengawalnya saja, mampu berbuat apa kepadaku? Dan juga nama besar ayah tentu membuat dia ketakutan, lebih lagi kalau aku melapor kepada suhu, tentu dia akan di hajar“

“Sudahlah, jangan membawa-bawa gurumu dalam urusan kecil itu. Jangan urusan ini di besar-besarkan karena ku rasa Jaksa Gu sudah jera dan tidak akan berani bermain gila lagi“

“Aku akan tetap mengawasi orang-orang macam dia, ayah“

“Engkau akan kekurangan tenaga dan kelelahan, anakku. Di jaman ini, hamper semua pejabat tidak jujur. Akan tetapi sudahlah, lebih baik engkau membantu usaha gurumu yang menentang gerakan mereka yang hendak memberontak“

“Justeru pemberontak itu tidak akan terjadi kalau para pejabatnya bertindak adil dan jujur, memperhatikan kepentingan rakyat, ayah“

“Aih , engkau anak kecil tahu apa. Yang penting, kita bekerja untuk Kerajaan dan kita harus melaksanakan tugas dengan baik. Kalau tidak demikian, sebaiknya jangan menjadi seorang pejabat pemerintah“

“Ayah, aku akan pergi dulu“ gadis itu mengenakan kembali pakaian dan topinya. Ayahnya menghela napas.

“Ji Goat, aku khawatir sekali, sekali waktu engkau akan mengalami malapetaka dengan ulahmu ini. Apakah engkau tidak dapat tinggal di rumah saja seperti puteri-puteri lain?”

“Dan untuk apa sejak kecil aku mempelajari ilmu silat, ayah? Aku dapat menjaga diri, dan kalaupun kekuatanku tidak mampu untuk menjaga diri, masih ada nama suhu dan nama ayah yang akan melindungiku!”

Tanpa menanti jawaban ayahnya, Ji Goat sudah berlari keluar. Ayahnya hanya menggeleng kepalanya. Anak itu terlalu manja, pikirnya. Anaknya memang hanya satu itu dan dia amat menyayanginya. dan anak itu boleh dibuat kagum.

Menurut Kok-su, yang menjadi guru anaknya, Ji Goat memiliki bakat yang besar sekali sehingga Koksu sendiri amat sayang kepada murid itu. Beberapa bulan yang lalu, seorang diri saja, Ji Goat sudah berhasil membongkar pencurian-pencurian di istana kaisar yang ternyata dilakukan oleh orang dalam, beberapa pengawal istana. Dengan ilmu silatnya yang tinggi, Ji Goat berhasil menangkap lima orang pencurinya yang kesemuanya juga lihai karena mereka adalah pengawal istana.

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Semenjak saat itu, nama Ji Goat dikenal orang sebagai puteri perdana menteri yang lihai ilmu silatnya. Akan tetapi kalau dia sudahmenyamar pria, tidak ada yang mengenalnya kecuali ayahnya sendiri dan orang kepercayaan ayahnya. Bahkan para penjaga tidak mengenalnya, maka ia selalu keluar masuk rumah itu melalui sebuah jalan rahasia.

Perdana Menteri Ji Sun Cai bukan seorang koruptor. Bagi dia, tidak perlu melakukan korupsi, karena kaisar amat percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai tangan kanan sehingga kaisar amat royal dengan hadiah-hadiah untuknya. Dia mendapatkannya pembagian tanah yang cukup luas, rumah seperti istana serba lengkap. Dan Menteri Ji ini amat setia terhadap Kaisar. Dalam tugasnya ini, dia amat dekat dengan Koksu dan kedua pejabat inilah yang merupakan tenaga terpenting bagi kaisar. Semua pejabat yang lain hanya akan mengekor saja apa yang di usulkan dua pejabat ini kepada kaisar yang telah mempercayai mereka berdua.

Karena itu, hubungan antara perdana menteri Ji dan Lui Koksu amatlah akrabnya, demikian akrabnya sehingga Perdana menteri Ji mempercayakan puteri tunggalnya untuk menjadi murid Lui Koksu. Dalam segala hal menyangkut tugas kenegaraan, mereka selalu mengadakan perundingan.

Ketika itu, terdapat perasaan permusuhan antara Perdana Menteri Ji berdua Lui Koksu terhadap seorang Panglima yang bertugas di selatan. Panglima ini menjaga keamanan di selatan dan Panglima Coa ini yang menjadi benteng Negara, menghalau semua kerusuhan dan musuh-musuh dari selatan, yaitu para raja muda di selatan yang berdiri sendiri di wilayah masing-masing.

Mula-mula adalah suatu Kerajaan Sun yang cukup kuat di selatan. Menurut Perdana Menteri dan Koksu, Kerajaan Sun ini perlu di dekati dan di ajak bersahabat, karena memiliki pasukan yang kuat. Akan tetapi tidak demikian dengan sikap yang di ambil oleh Coa-ciangkun. Panglima ini tidak memandang bulu. Penguasa di selatan yang tidak mau tunduk, pasti akan di serbunya dan di tundukkan dengan kekerasan.

Akhirnya, karena bujukan Ji-Sin-Siang (Perdana Menteri Ji) dan Lui Koksu, kaisar mengutus penguasa untuk pergi ke selatan , menyerahkan surat perintah Kaisar agar Coa-ciangkun tidak melanjutkan penyerbuannya terhadap Kerajaan Sun. Hal ini amat mengecewakan hati Coa-ciangkun yang menjadi marah sekali. Pasukan Sun selalu mengganggu perbatasan, melakukan perampokan dan perkosaan, mengapa dia tidak boleh di serbu?

Dan dia mendengar akan usaha Sin-Siang dan Koksu yang hendak melakukan pendekatan kepada Kerajaan Sun. Hal ini membuatnya marah sekali. Apakah Sin-siang dan Koksu hendak menjual Negara? Timbul kecurigaannya dan dia mengira bahwa kedua pejabat tinggi itu agaknya hendak mengadakan persekutuan rahasia dengan Kerajaan Sun. Padahal, bukan itu yang dikehendaki mereka. Mereka hanya maklum akan kekuatan Kerajaan Sun dan kalau sampai Kerajaan Toba dapat bersekutu dengan mereka, tentu seluruh wilayah selatan akan dapat dikuasai dengan kerjasama dengan Kerajaan Sun.

Permusuhan atau persaingan ini secara diam-diam masih dirasakan kedua pihak. Hanya mereka tidak berani bertindak lancang, karena selain kaisar juga mempercayai Coa-ciangkun, panglima ini memiliki pasukan besar yang kuat. Karena adanya permusuhan inilah maka Koksu lalu berkunjung kepada Im Yang Ciu-kwi, karena dia hendak menarik orang-orang pandai sebanyaknya agar dia dapat menyingkirkan para musuhnya yang hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan kedudukannya.

Im Yang Ciu-kwi dan Akauw melakukan perjalanan seenaknya ke kota raja. Akauw merasa gembira karena dia membayangkan Bi Soan. Dia rindu sekali kepada sahabatnya ini dan mengharapkan akan dapat bertemu dengan Bi Soan di kota raja. Selama tinggal dengan Ciu-kwi, Akauw tidak pernah mengeluarkan uang, dan hanya karena kebetulan saja pada suatu hari gurunya itu melihat kantung uang berisi potongan-potongan emas mentah itu.

Suhunya memeriksa potongan emas itu dan bertanya, “Akauw, dari mana engkau mendapatkan potongan-potongan emas ini?”

Akauw masih ingat akan pesan suhengnya, maka diapun berkata, “Ini adalah pemberian mendiang suhu Yang Kok It“

Tentu saja Im Yang Ciu-kwi tidak menaruh curiga lagi dan hanya merasa heran darimana Yang Kok It mendapatkan potongan emas yang masih bercampur batu karang itu. Ketika mereka tiba di sebuah padang rumput di luar hutan yang tandus, mereka melihat sebuah kedai arak di tempat sunyi itu. Ciu-kwi yang mencium bau arak ingin mencoba arak dari kedai itu, maka dia mengajak muridnya berhenti. Ada lima orang penjaga kedai, dan karena lalu lalang di situ sedang sepi, maka tidak nampak ada tamu seorangpun kecuali mereka.

Seorang pelayan segera menghampiri mereka. “Bawa seguci arak terbaik ke sini“ kata Ciu-kwi.

“Dan sepoci air teh untukku“ kata Akauw yang biarpun sudah pernah merasakan minum arak, tetap saja dia memilih air the daripada arak.

Ketika pelayan itu mengambilkan pesanan, sepasang mata Ciu-kwi yang berpengalaman melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan. Oleh karena itu ketika arak dan air teh datang, dia mencegah muridnya untuk minum air tehnya dan dia menangkap lengan pelayan itu.

“Hayo kau minum dulu arak ini!”

Dia menuangkan sedikit arak dari guci ke dalam cawan kosong. Pelayan itu menjadi pucat wajahnya. Dia meronta dan menggeleng kepalanya. “Tidak aku… tidak biasa minum arak“

“Kalau begitu, engkau cicipi air teh ini!” bentak Ciu-kwi dan ketika orang itu pun menggeleng kepala, Ciu-kwi memaksa mulutnya terbuka dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menuangkan air teh ke dalam mulutnya. Lalu dia melepaskan orang itu yang nampak terhuyung-huyung lalu roboh pingsan. Empat penjaga lain sudah mencabut golok masing-masing.

“Kenapa dia suhu?”

“Mereka orang jahat, Akauw. Minuman kita diberi racun!” kata Im-yang Ciu-kwi.

Seorang di antara empat orang itu mengeluarkan sempritan yang di tiupnya nyaring dan dari belakang kedai bermunculan belasan orang yang kesemuanya memegang golok. Im-yang Ciu-kwi duduk menghadapi meja, mengeluarkan arak dari gucinya sendiri dan sambil menghadapi guci dan cawan arak, dia berkata, “Akauw, keluarkan pedangmu dan kau lawanlah penjahat-penjahat itu!”

“Baik, suhu“ kata Akauw dan dia sudah mencabut pedang Hek-liong-kiam dari sarungnya. Begitu dia menggerakkan pedangnya, nampak gulungan sinar hitam berkelebat kian kemari dan menyambut pengeroyokan belasan orang itu.

Terdengar suara berkerontangan nyaring dan banyak golok menjadi patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam. Akauw yang hendak menyenangkan gurunya, menggunakan ilmu pedang yang dia pelajari dari gurunya, memainkan pedangnya sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung merobohkan belasan orang itu dalam waktu singkat saja. Penjahat harus di hajar, dia teringat pesan suhengnya, akan tetapi jangan mudah membunuh orang kalau tidak terpaksa sekali. Maka diapun hanya merobohkan para pengeroyoknya tanpa membunuh, hanya melukai paha atau pundak mereka saja. Dalam waktu beberapa menit saja, semua orang yang mengeroyoknya telah di robohkan, dan cepat pula pedang itu sudah memasuki sarung kembali.

“Ihh, Akauw, mengapa begitu engkau memainkan pedangmu? Coba beri aku pinjam sebentar“ kata Ciu-kwi.

Karena tidak mengerti maksud suhunya dan mengira suhunya itu hendak memperlihatkan jurus yang mungkin kurang benar dia menggerakkannya, maka dia mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada suhunya.

“Seharusnya begini engkau menggunakan pedang!” Gurunya bergerak berloncatan ke sana sini dan Akauw terbelalak, karena gurunya telah membabati pengeroyoknya tadi, di tebasnya semua leher orang-orang itu termasuk pelayan yang tadi terbius sehingga dalam waktu singkat saja semua kepala terpisah dari badannya.

“Suhu… mengapa suhu….?” Akauw berseru heran ketika gurunya mengembalikan pedang itu kepadanya. Memang gurunya hebat. Memenggal belasan batang leher itu pedangnya sama sekali tidak ternoda darah! Hal ini hanya dapat terjadi saking kuat dan cepatnya pedangnya itu membabati leher belasan orang itu.

“Mengapa apa? Mereka menghendaki kematian kita, kenapa kita tidak mendahului saja mereka ? Hayo kita pergi dari sini!”

“Tapi, mereka itu, suhu...“ Akauw teringat akan pelajaran dari kakek Yang Kok It bahwa mayat manusia haruslah di kubur sebagaimana mestinya.

“Mereka sudah mampus, tidak perlu dipikirkan lagi. Mereka hendak mencelakakan kita, berarti mereka itu musuh yang pantas di bunuh, hayolah, Akauw!” bentak Ciu-kwi agak kecewa melihat sikap muridnya yang di anggapnya lemah itu. Terpaksa Akauw mengikuti gurunya dan beberapa kali dia menoleh memandang kearah belasan mayat manusia yang berserakan itu.

Sejak saat itu Akauw mulai menaruh hati syak wasangka terhadap gurunya. Tak dapat dia melupakan betapa gurunya itu memenggal kepala belasan orang yang sudah tidak berdaya itu secara kejam sekali. Padahal menurut ajaran Yang Kok It dan juga suhengnya, seorang gagah tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya dan tidak dapat melawan. Dan lebih lagi, gurunya meninggalkan belasan mayat itu begitu saja tanpa mau menguburkannya.

Ketika mereka memasuki kota raja Tiang-an, tiba di dekat pasar dimana terdapat banyak orang berlalu lalang, tiba-tiba Akauw melihat seorang pemuda bertopi butut.

“Bi Soan...!” Dia memanggil dan mengejar, akan tetapi Bi Soan menyelinap di antara orang banyak dan memasuki pasar. Akauw mencari beberapa lamanya, akan tetapi dia tidak melihat lagi Bi Soan. Dia tidak mungkin salah lihat. Jelas yang dilihatnya tadi Bi Soan, pemuda remaja yang di rindukannya itu. Dia merasa menyesal sekali mengapa Bi Soan tidak mau menemuinya. Padahal dahulu pemuda remaja itu amat baik terhadap dirinya.

“Akauw, engkau mencari siapakah?” gurunya menegur setelah dapat mencari pemuda itu di dalam pasar.

“Suhu, aku mencari seorang kenalan yang tadi ku lihat berada di sini. Akan tetapi dia menghilang di antara orang banyak“

“Kenalan? Siapa dia?” Tanya gurunya heran dan curiga.

Tentu saja Akauw tidak ingin menceritakan pengalamannya bentrok dengan seorang jaksa, maka dia menjawab singkat. “Dahulu aku pernah bertemu dan berkenalan dengannya dalam perjalananku, akan tetapi perkenalan itu hanya sepintas saja. Mungkin dia sudah lupa kepadaku, suhu“

“Sudahlah, jangan pedulikan sembarang orang. Kita akan menjadi tamu Koksu dan bahkan akan mendapatkan jabatan tinggi yang terhormat, jangan bergaul dengan segala macam orang. Mari kita lanjutkan perjalanan kita“

Akauw mengikuti suhunya, akan tetapi dia masih memandang ke sana sini mencari-cari dan hatinya merasa kecewa sekali . Bi Soan merupakan orang yang selalu teringat olehnya, kenapa sekarang tidak lagi mau mengenalnya? Apa barangkali Bi Soan sudah lupa kepadanya? Dia sungguh kecewa karena tadinya dia mengira bahwa Bi Soan amat baik kepadanya, seperti halnya suhengnya.

Sangat mudah bagi Thian-te Ciu-kwi untuk mencari tahu dimana rumah Koksu Lui. Semua orang juga mengetahui dimana istana tempat tinggal penasehat Kaisar itu. Rumah besar seperti istana itu di jaga oleh belasan orang prajurit yang menghadang guru dan murid itu.

“Berhenti, siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?” bentak perwira jaga dengan keren.

Ciu Kwi tertawa dan berkata, “Heii, perwira, jangan bersikap kasar terhadap kami. Kalau Koksu mengetahui, pangkatmu tentu akan di turunkan. Cepat laporkan kepada Koksu bahwa Thian-te Ciu-kwi dan muridku sudah datang untuk bertemu dengan dia“

Melihat lagak dan mendengar ucapan kakek itu, si perwira menjadi ragu dan gentar juga. Dia tahu bahwa Koksu adalah bekas seorang datuk persilatan dan tentu mengenal segala macam orang aneh dari dunia kangouw. Kalau dia bersikap kasar dan kemudian ternyata bahwa mereka ini memang sahabat baik Koksu, tentu setidaknya dia akan mendapat teguran dari atasannya. Akan tetapi untuk bersikap hormat kepada kakek dan pemuda yang pakaiannya seperti petanimiskin ini dia merasa enggan juga.

“Baiklah, harap kalian menanti si sini, aku hendak melapor ke dalam lebih dulu“ katanya dan perwira itu sendiri lalu melapor ke dalam. Benar saja seperti di khawatirkan perwira itu, begitu mendengar di sebutnya nama Thian-te Ciu-kwi, Kok-su Lui menjadi gembira dan wajahnya berseri-seri.

“Cepat persilahkan mereka duduk di ruangan tamu, dan bersikaplah hormat kepada mereka!”

Tentu saja perwira itu menjadi takut dan begitu berhadapan dengan Ciu-kwi dan Akauw, dia cepat memberi hormat dengan sikap merendah. “harap lo-cianpwe berdua suka memberi maaf atas sambutan kami yang kurang hormat karena tidak mengenal lo-cianpwe. Lui-kosu mempersilahkan lo-cianpwe berdua menanti di kamar tamu. Silahkan!”

Sambil tersenyum dan mengangkat dadanya yang kerempeng, Ciu-kwi mengikuti perwira itu bersama Akauw yang memandang bangunan seperti istana itu dengan penuh kagum. Belum pernah dia memasuki rumah semewah dan sebesar ini. Mereka duduk di kursi-kursi berukir yang berada di ruangan tamu itu dan perwira itu dengan hormat mempersilahkan mereka menunggu, lalu dia memberi hormat dan keluar dengan hati lega.

Taklama mereka duduk menanti, Koksu itu memasuki ruangan tamu dari dalam, mengenakan pakaian yang mewah gemerlapan. “Ha, Ciu-kwi, engkau datang juga!” tegurnya girang.

“Tentu saja, Giam-ong. Sekali berjanji kepadamu, tentu ku penuhi. Hanya tinggal menagih janjimu saja kepadaku untuk memberi kedudukan kepada aku dan muridku“

“Kebetulan aku memang hendak menghadap Sri Baginda Kaisar, mari kalian ikut aku menghadap dan kuperkenalkan kepada Sri Baginda. kami hendak membicarakan sikap Gubernur Gak yang agaknya condong melakukan hubungan dengan Coa-ciangkun, yang ku maksudkan dengan kami adalah aku dan Ji-taijin. Menteri Ji Sun Cai mendengar dari penyelidikan bahwa hubungan antara Gubernur Gak di perbatasan selatan amat dekat dengan Coa-ciangkun, orang keras kepala yang agaknya akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan kami. Marilah sebelum ku ajak singgah dikediaman Perdana Menteri Ji Sun Cai untuk kuperkenalkan. Engkau harus tahu, Ciu-kwi, bahwa Perdana Menteri adalah rekan kerjaku yang baik dan di antara kami ada kerja sama yang cocok sekali...“

“Baiklah, Giam-ong. Aku menurut saja apa katamu, yang penting kami berdua memperoleh kedudukan yang baik di kota raja ini“

Mereka bertiga lalu memasuki sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh para penjaga di luar, dan berangkatlah mereka menuju ke kediaman Perdana Menteri, di kawal oleh beberapa orang yang mengiringkan kereta. Benar saja, ketika tiba di gedung Perdana Menteri yang juga amat indah bagi Akauw, Lui-Koksu di terima dengan hormat oleh para penjaga dan langsung di antar ke kamar tamu.

Tak lama mereka duduk, muncullah Perdana Menteri Ji Sun Cai bersama seorang gadis yang cantik jelita. Akauw terbelalak memandang gadis itu, bukan saja karena cantik jelitanya, melainkan karena dia merasa sudah sering melihat wajah itu dalam mimpi! Setiap kali dia membayangkan wajah bidadari seperti itulah bentuk wajahnya! Ketika gadis itu memandang kepadanya, Akauw tersipu dan cepat menundukkan mukanya karena menurut ajaran yang diterima dari suhengnya, sikap seperti itu, memandang langsung wajah seorang gadis yang tidak dikenalnya, apalagi dengan pandangan kagum, adalah sikap yang tidak sopan!

Lui-Koksu Toat-beng Giam-ong segera memberi hormat kepada Perdana Menteri dan puterinya. “Maafkan kalau kami mengganggu Ji-taijin dan Ji-siocia“

“Ah, sama sekali tidak, suhu“ kata gadis itu yang bukan lain adalah Ji Goat. “Akan tetapi suhu datang bersama… siapakah mereka ini, suhu?”

“Koksu, siapakah kedua orang ini yang kau ajak datang berkunjung?” Perdana Menteri Ji juga bertanya.

“Taijin, inilah yang pernah saya bicarakan tempo hari. Ini adalah Thian-te Ciu-kwi“

“Ah, datuk kang-ouw itu? Siapakah nama lo-cianpwe yang mulia?” kata pula Perdana Menteri Ji dengan sikap cukup hormat. Agaknya Perdana Menteri ini dapat menghargai orang-orang pandai di dunia kang-ouw.

“He-he-he, Yang Mulia Perdana Menteri Ji, saya sendiri sudah lupa siapa nama saya pemberian orang tua. Harap sebut saja saya Ciu-kwi (Setan Arak), karena itu sudah menjadi nama saya, he-he-he“

“Begitukah? Dan siapakah orang muda yang gagah ini, Ciu-kwi?” Tanya Perdana Menteri itu dengan ramah.

“Akauw, hayo perkenalkan dirimu“

“Tai-jin, nama saya Cian Kauw Cu, biasa di sebut Akauw“ berkata demikian die mengerling kea rah wajah gadis jelita itu yang kelihatan tersenyum manis.

“Dia murid saya, taijin...“ kata Ciu-kwi dengan bangga.

“Aih, dia muridmu, Ciu-kwi?” Ji Goat berseru. Gadis ini tidak ragu lagi menyebut Ciu-kwi begitu saja, sesuai dengan perkenalan diri Thian-te Ciu-kwi kepada ayahnya tadi. “Aku sudah pernah mendengar namamu di puji-puji suhu, akan tetapi belum pernah mendengar engkau mempunyai seorang murid. Menilai kelihaian gurunya dapat di lihat dari kepandaian muridnya, maka aku ingin sekali bertanding ilmu silat dengan Akauw ini!”

“Hsss, Ji Goat, jangan kurang ajar!” tegur ayahnya.

“Ha-ha-ha, apa salahnya, taijin? Ji Sio-cia adalah murid saya dan Akauw ini adalah murid Ciu-kwi. Kami berdua adalah sahabat sejak lama dan saya sudah pula menguji ilmunya. Apa salahnya kalau Ji Siocia menguji ilmu murid Ciu-kwi? Mari kita sama menonton!”

Karena ruangan tamu itu cukup luas, maka Ji Goat yang ingin sekali menguji kepandaian Akauw sudah memasang kuda-kuda menghadapi pemuda tinggi besar itu dan berkata, “Akauw, aku sudah siap, keluarkan ilmumu agar ayah dan aku dapat melihatnya“

“Akauw, kita hendak mencari pekerjaan di kota raja, maka perlihatkanlah kemampuanmu...“ kata pula Thian-te Ciu-kwi kepada muridnya.

Sebetulnya Akauw merasa enggan sekali untuk bertanding melawan gadis itu. Gadis yang demikian cantiknya lemah gemulai sehingga tertiup angina keras saja agaknya akan roboh, kulitnya begitu halus, bagaimana dia dapat memukul seorang gadis seperti itu? Dia meragu, dan berdiri biasa saja, tidak memasang kuda-kuda seperti nona itu...

Sepasang Naga Lembah Iblis Jilid 05

KETIKA Akauw berjalan sampai di tepi hutan yang sunyi, dia melihat seekor kijang. Timbul nalurinya untuk berburu, apalagi perutnya memang sudah lapar dan di tempat sunyi seperti itu tentu saja tidak mungkin dapat membeli makanan. Dia lalu melompat jauh dan melakukan pengejaran. Kijang itupun mendengar suara orang mengejar, diapun melompat jauh ke depan memasuki hutan, Akauw lalu meloncat ke atas pohon dan melakukan pengejaran melalui pohon-pohon. Dengan cara ini, kijang tidak dapat mencium baunya dan tidak tahu bahwa pemburunya sudah berada di atasnya.

Semua ini tidak lepas dari pengamatan orang yang membayangi Akauw. Orang itu seperti kakek yang usianya tentu lebih dari enam puluh tahun, bertubuh pendek kecil akan tetapi mempunyai gerakan yang ringan sekali sehingga Akauw tidak tahu bahwa sejak dari kuil tadi orang itu membayanginya. Bahkan ketika dia melakukan pengejaran terhadap kijang, orang itu tetap membayanginya, walaupun tidak seperti dia meluncur dari pohon ke pohon. Orang itu berlari seperti terbang saja, menyelinap dari pohon ke pohon lain dan terus membayangi kemana saja Akauw pergi.

Setelah tiba di atas kijang itu, Akauw mengeluarkan pekik seperti ketika dia masih hidup di antara kera-kera itu dan tubuhnya meluncur dari atas pohon, tepat menimpa punggung kijang itu. Kijang itu kaget, meronta, namun lehernya telah di pegang oleh sepasang tangan yang amat kuat dan kepalanya di puntir, maka robohlah kijang itu, tidak bergerak lagi, mati seketika. Akauw mengeluarkan suara penuh kemenangan yang terdengar seperti lengking panjang, kemudian dia membuat api unggun dan tak lama kemudian dia sudah memanggang daging kijang muda yang sedap dan lunak.

Sepasang mata yang mengintainya kini berkedip-kedip dan mulut kakek kecil itu berliur ketika bau sedap daging kijang panggang itu menyerang hidungnya. Dia lalu keluar dari tempat sembunyi sambil terkekeh. Akauw terkejut bukan main. Dia melompat berdiri saking kagetnya. Bagaimana dia tidak dapat mendengar ada orang yang berada begitu dekat dengannya?

“He-he-he, anak muda, bolehkan aku mendapatkan sedikit daging kijang yang kau panggang itu?”

“Ah, tentu saja, paman, tentu saja. Mari, silahkan duduk, paman dan mari silahkan makan bersamaku“ Akauw sudah hilang kagetnya dan dengan ramah dia menyilakan orang itu duduk menghadapi api unggun.

“Terima kasih...“ orang itu memandang Akauw yang membolak-balik daging kijang yang sedang di panggangnya. “Engkau siapakah, anak muda?”

“Namaku Cian Kauw Cu, paman. Dan paman siapakah dan bagaimana dapat berada di hutan yang amat lebat ini?”

“Aku? ha-ha-ha, aku memang seringkali berkeliaran di hutan ini dan kebetulan melihat engkau memanggang daging kijang. Wah, sudah masak rupanya“

Akauw lalu mematahkan sebagian paha kijang dan menyerahkannya kepada tamunya yang memakan dengan lahapnya. Mereka makan daging panggang rusa itu tanpa berkata-kata. Setelah kenyang, kakek itu mengeluarkan seguci arak, lalu minum dari guci itu dengan suara menggelogok. Lalu dia menyerahkan guci itu kepada Akauw.

“Nah, sebagai pengganti pemberianmu daging rusa, minumlah arak ini, orang muda“

“Terima kasih, paman. Akan tetapi, aku tidak pernah minum arak. Aku hanya minum air teh atau air putih saja“

Mendengar jawaban ini, kakek itu bangkit berdiri dan tertawa terkekeh-kekeh. “He-he-he, orang begini gagah perkasa, minumnya hanya air teh atau air putih saja, seperti seorang gadis pingitan. He-he-heh-he, engkau menolak arak pemberian Thian-te Ciu-kwi (Setan Arak Langit Bumi), itu berarti penghinaan. Orang muda, hayo kau harus mampu melawanku sebanyak sepuluh jurus. Kalau tidak mampu, engkau mampus karena berani menghina aku!”

Akauw juga bangkit berdiri dan sepasang alis yang tebal itu berkerut. “Paman, siapa yang menghina? Aku menolak karena memang tidak suka minum arak“

“He-he-he, suka tidak suka harus minum kalau sudah ku beri. Engkau akan mampus kalau tidak dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus“ Setelah berkata demikian, kakek itu sudah menyerangnya dengan guci araknya yang terbuat dari pada baja.

Akauw terkejut karena serangan itu hebat sekali. Dari angina suara serangan itu saja dia tahu bahwa kakek itu menggunakan tenaga yang luar biasa besarnya. Cepat dia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri. “Kakek, engkau jahat sekali! Engkau hendak membunuh orang yang tidak berdosa? Engkau jahat dan patut di hajar!” kata-kata terakhir ini di dapatnya dari suhengnya yang mengharuskan dia menghajar orang yang jahat. Setelah berkata demikian, diapun membalas dengan pukulan tangannya dan otomatis ia menggerakkan pukulan dari ilmu Bu-tek Cin-keng.

“Siiuuttt...!“ Angin besar melanda kakek itu dan membuat si kakek berjungkir balik dan mengeluarkan seruan kaget.

“Ehhh, ilmu apa ini? Engkau hebat juga, orang muda!“ katanya dan kembali dia menyerang. Hebat memang serangan kakek kecil itu. Bukan saja tenaganya amat besar, akan tetapi juga kecepatan gerakannya mengangumkan.

Kembali Akauw mengelak dengan lompatan ke belakang dan untuk kedua kalinya dia menyerang dengan menggunakan jurus dari Bu-tek Cin-keng. Terdengar lagi suara berciutan yang amat dahsyat dan biarpun kakek itu sempat menghindar namun dia semakin kagum.

“Berhenti dulu, orang muda!” kata kakek itu.

Dengan girang Akauw berhenti. “Paman, engkau tidak boleh jahat begitu karena kulihat engkau seorang yang pandai, kenapa menggunakan kepandaian untuk membunuh orang?”

“He-ho-ho-ho, baiklah aku tidak membunuh orang. Sekarang kita ganti taruhannya. Bukan nyawa lagi, akan tetapi dengan perjanjian bahwa kalau engkau mampu bertahan seranganku selama dua puluh lima jurus, aku akan membebaskanmu, akan tetapi kalau engkau kalah sebelum dua puluh lima jurus, engkau harus menjadi muridku selama beberapa tahun. Bagaimana?”

Akauw juga bukan orang bodoh, akan tetapi jalan pikirannya memang sederhana sekali. Kalau dalam dua puluh lima jurus kakek ini mampu mengalahkannya, berarti dia lihai sekali dan apa salahnya menjadi murid seorang lihai selama beberapa tahun? Dia tidak akan rugi malah untung! “Baiklah, paman. Mari kita mulai!”

“Lihat pukulan jurus pertama!” bentak kakek itu dan kini dia menyerang dengan loncatan bagaikan burung wallet.

Mula-mula tubuhnya melayang ke atas, kemudian dia menukik dan menyerang dengan kedua tangannya kea rah kepala Akauw. Akauw bersikap tenang, dia tetap menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk menyambut serangan, kedua tangannya membuat gerakan menggunting ke atas untuk menyambut serangan yang dahsyat itu.

“Desss...!” Dua pasang tangan bertemu di udara. kakek itu berjungkir balik beberapa kali dan tubuh Akauw terhuyung, merasa nyeri pada kedua pundaknya karena tadi dirasakan seolah dia telah menahan benda yang beratnya ribuan kati!

“He-he-he, ilmu yang hebat! Sungguh hebat…!” kakek itu memuji dan diapun mulai menyerang lagi.

Akauw juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan perlawanan, juga kalau sempat dia balas menyerang dengan tak kalah hebatnya. Berkali-kali kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan heran, akan tetapi bagaimanapun juga, kakek ini adalah seorang datuk dari daerah timur, maka tentu dibandingkan dengan Akauw, dia menang banyak dalam hal pengalaman bertanding. Setelah beberapa kali mengadu tenaga, tahulah dia bahwa biarpun ilmu silat yang dimainkan pemuda itu amat aneh dan hebat bukan main, namun pemuda itu masih belum dapat mengimbangi kehebatan ilmu itu dengan tenaga. Tenaga sinkang pemuda itu tidak berapa hebat, dia lebih mengandalkan tenaga otot.

Pada jurus ke duapuluh dua, tiba-tiba kakek itu menyerang dengan bergulingan di atas tanah. Hal ini membingungkan Akauw dan begitu kakek itu mengerahkan tenaga menarik, tanpa dapat di cegah lagi, Akauw roboh terpelanting!

“He-he-he, baru dua puluh dua jurus engkau sudah roboh. Engkau harus mengaku kalah, orang muda“

Akauw adalah seorang yang jujur. Biarpun tidak menderita nyeri, akan tetapi dia sudah roboh dan dalam adu kepandaian itu berarti kalah. Maka dia lalu merangkap kedua tangan memberi hormat. “Aku mengaku kalah, paman“

“Husshhh, kenapa menyebut paman? Engkau kalah dan engkau mulai saat ini harus menjadi muridku, tahu? Nah, engkau harus menyebut suhu kepadaku dan menaati semua perintahku“

“Baik, suhu“ kata Akau taat karena dia harus memegang janjinya.

Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh dan merasa girang sekali. Bukan girang karena mendapatkan murid saja, melainkan terutama sekali dia mendapatkan sebuah ilmu silat aneh melalui muridnya ini. Bagus, bagus! Siapa namamu, muridku?”

“Suhu, namaku Cian Kauw Cu dan biasa di sebut Akauw saja“

“Ha-ha-ha, aku sudah melihatmu tadi. Cocok nama itu dengan sepak terjangmu, he-he. Akauw mulai sekarang, engkau harus ikut denganku untuk memperdalam ilmu silatmu. Sebelum kunyatakan tamat belajar, engkau tidak boleh meninggalkan aku, mengerti?”

“Baik, suhu...“

“Buntalanmu itu, apa isinya?”

“Pakaian dan pedang, suhu“

“Hem, coba kulihat engkau bermain pedang“ katanya lagi.

Akaw menurut dan dia mengeluarkan sebatang pedang dari buntalan pakaiannya. Sarung pedang itu sederhana sekali dan si kakek sudah menganggap rendah pedang itu. Akan tetapi ketika Akauw mencabutnya, kakek itu terbelalak karena ada sinar hitam yang membuatnya bergidik!

“Tahan dulu, pedangmukah itu? Apa nama pedang itu, Akauw?” Sungguh pemuda ini mempunyai banyak kejutan, pikirnya.

“Namanya Hek-liong-kiam, suhu“

“Coba, aku ingin melihatnya“ Ketika menerima pedang itu dari tangan Akauw, Thian-te Ciu-kwi merasakan jantungnya berdebar tegang. Dia pernah mendengar dongeng tentang sepasang pedang putih dan hitam yang di sebut Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam. Akan tetapi selama ratusan tahun pedang-pedang itu tidak pernah keluar dari dunia kang-ouw dan sekarang tahu-tahu berada di tangan pemuda yang seperti monyet ini!

“Akauw, darimana engkau memperoleh pedang ini?” tanyanya, sambil memandang penuh selidik.

Akauw teringat akan pesan suhengnya. “Sampai bagaimanapun, jangan sekali-sekali membuka rahasia tempat ini kepada orang lain, sute. Baru emas itu saja dapat menimbulkan malapetaka kalau terjatuh ke tangan orang jahat“

“Akan tetapi, aku harus bilang apa, suheng? Aku tidak dapat berbohong“ bantahnya.

“Katakan saja engkau mendapatkan disebuah guha dan kau sudah lupa lagi tempatnya. Sekali waktu berbohong boleh asal bukan untuk menipu orang, sute“

Demikianlah, teringat akan pesan suhengnya, Akauw lalu berkata, “Aku mendapatkannya dari guruku, suhu“

“Juga ilmu silatmu yang aneh itu?”

“Benar, suhu...“

“ lDan siapa gurumu itu?”

“Guruku sudah mati, namanya adalah Yang Kok It“

Kakek kecil itu membelalakan matanya yang kecil. “Yang Kok It l, bekas Panglima itu? Tahukah engkau bahwa dia adalah seorang bekas panglima yang buron dan menjadi kejaran orang. Dan tahukah engkau bahwa dia mempunyai seorang cucu pula? Apakah engkau cucunya itu?”

“Ah, bukan suhu. Aku tidak tahu tentang cucunya. Suhu sudah meninggal dunia, dan aku sudah tidak mempunyai ayah ibu atau saudara lagi“

Kakek kecil itu berpikir. Agaknya tidak mungkin kalau bocah ini cucu Yang Kok It. Bocah ini lagaknya seperti orang hutan saja, walaupun ilmu silatnya hebat dan pedangnya lebih hebat pula. “Nah, kau mainkan pedang itu!” katanya.

Akauw segera bermain pedang. Akan tetapi berbeda dengan Yang Cien yang dapat mengubah ilmu pedang dari ilmu Bu-tek Cin-keng, Akauw hanya dapat memainkan ilmu pedang yang pernah dia pelajari dari Yang Kok It, yaitu ilmu pedang Gobi-pai. Yang Kok It adalah seorang murid Gobi-pai.

Melihat ini, kakek itu kecewa. Dibandingkan ilmu silat tangan kosongnya, ilmu pedang pemuda ini tidak ada artinya, dan permainan pedang dengan ilmu pedang Gobi-pai itu membenarkan keterangannya bahwa dia murid Yang Kok It.

“Cukup, simpan pedangmu baik-baik. Pedang itu amat berharga dan jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain, Akauw“ katanya. “Mari kita berangkat, tempat tinggalku di puncak bukit sana itu“

Datuk sesat seperti Thian-te Ciu-kwi tentu saja tidak bersungguh-sungguh ingin mengambil murid seperti Akauw. Dia ingin mengambil murid Akauw karena ingin mempelajari ilmu silat tangan kosong yang dimainkan Akauw tadi. Harus dia akui, bahwa kalau Akauw lebih matang ilmunya, agaknya akan sukar baginya untuk dapat mengalahkan ilmu pemuda itu. Apalagi setelah melihat Hek-liong-kiam. Tentu saja kini tidak hanya ilmu silat pemuda itu yang ingin dia peroleh, akan tetapi juga pedang hitam itu!

Akan tetapi dia harus bersabar karena ilmu silat itu harus dia pelajari satu jurus demi satu jurus. Dan untuk membuat pemuda itu tidak curiga kepadanya, dia harus benar-benar mengajarkan sin-kang dan ilmu lain kepadanya. Kalau pemuda itu kelak menyenangkan hatinya, bukan hanya ilmu pedang dan pedang itu yang dapat menjadi miliknya, akan tetapi pemuda pemuda itupun dapat dijadikan pembantu yang amat berguna.

Demikianlah, mulai hari itu Akauw menjadi murid Thian-te Ciu-kwi, dia tidak tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat yang amat jahat dan kejam.

********************

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis Karya Kho Ping Hoo

Baru setahun Akauw tinggal bersama Thian-te Ciu-kwi di puncak bukit itu, dia sudah merasa tidak betah sama sekali. Watak kakek itu mulai kelihatan. Setiap harinya hanya minum arak sampai mabok dan kalau sudah begitu dia memaksa Akauw untuk berulang-ulang melakukan jurus ilmu silat dari Bu-tek Cin-keng, mengulang dan mengulanginya lagi . Kakek itu merasa mendapatkan ilmu yang aneh dan sukar bukan main. Rasanya ada sesuatu yang salah dalam ilmu silat itu, akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu itu amat dahsyat. Maka agak sukarlah baginya untuk dapat mengerti inti sari ilmu itu.

Dia juga mengajarkan Samadhi kepada Akauw dan justeru Akauw paling tidak suka pelajaran ini yang di anggapnya tidak berguna dan membuang-buang waktu saja. Pada suatu hari datanglah seorang tamu di puncak itu. Tamu ini seorang kakek berusia enampuluh tahun, tinggi besar, raksasa hitam karena kulitnya amat hitam. Dia membawa sebatang golok yang punggungnya seperti bentuk gergaji, pakaiannya mewah dan agaknya dia seorang pejabat tinggi, karena kedatangannya di iringkan selusin pasukan pengawal. Begitu melihat orang ini, Thian-te Ciu-kwi bersorak gembira.

“Haiii, sahabatku yang baik, Toat-beng Giam-ong Lui Tat angin apa yang meniupmu kesini?“

“Thian-te Ciu-kwi, angin baik yang membawaku ke sini, dan ku lihat engkau masih menjadi setan arak seperti dulu“

“He-he-he, dan engkau menjadi seorang pejabat tinggi yang dimuliakan orang agaknya. Amboiii!”

“Dan kedatangku ini untuk memberi bagian kemuliaan yang sama kepadamu, Ciu-kwi. Aku menawarkan kedudukan yang baik bagimu kalau engkau mau ikut bersamaku ke kota raja menghadap Sri baginda Kaisar“

“Hemm, mari kita duduk dan bicara di dalam , Giam-ong“

Kedua sahabat itu bergandeng tangan, seorang raksasa tinggi besar dan seorang yang pendek kecil, lalu memasuki pondok Ciu-kwi. Raksasa itu berteriak menyuruh anak buahnya beristirahat agak jauh dari situ agar jangan mengganggu percakapan mereka. Ketika berada di dalam dan melihat Akauw, Giam-ong mengerutkan alisnya. “Siapa dia, Ciu-kwi?”

“Ha-ha, dia muridku yang baik, Giam-ong. Eeh, Akauw, cepat memberi hormat kepada sahabatku ini. Engkau harus menyebutnya taijin karena dia pejabat tinggi dari kota raja“

“Heh, kalau dia muridmu tidak perlu memakai banyak peraturan, Ciu-kwi. Orang muda, sebut saja aku locianpwe“

“Selamat datang, locianpwe“ kata Akauw sambil memberi hormat.

“Hei, Akauw. Cepat engkau menyuguhkan arak kepada dua belah orang pasukan pengawal sahabatku ini dan jangan engkau masuk ke sini kalau tidak kupanggil“

“Baik, suhu“ Akauw yang segera melaksanakan perintah itu karena suhunya memang menyimpan banyak sekali arak, berguci-guci banyaknya.

“Sejak kapan engkau menjadi antek orang Mongol, Giam-ong?” Tanya Ciu-kwi dengan nada suara mengejek.

“Hush, jangan berkata demikian. Kaisar-kaisar bangsa kita tidak becus memerintah. Buktinya, selama berabad mereka itu hanya saling serang, tiada henti-hentinya. Sekarang, Orang Toba memerintah, dan kalau itu menguntungkan kita, apa salahnya? Hidup satu kali haruslah dapat memetik manfaat dari keadaan, bukan? Nah, Kaisar Julan Khan ini dapat menggunakan tenaga kita, dan dia amat royal memberi pahala. Kalau engkau bersedia, asalkan datang bersamaku, engkau segera akan mendapatkan pangkat dan memiliki kemuliaan yang belum pernah kau impikan sebelumnya. daripada engkau di sini hidup bersama muridmu yang nampak ketololan itu“

“Aih, aih, jangan memandang rendah kepada muridku, Giam-ong. Dia merupakan sumber kebesaran yang tidak kalah oleh kedudukanmu yang mulia sekarang ini“

”Hem, apa maksudmu?”

“Engkau tentu tidak menyangka sama sekali bahwa dia adalah murid Yang Kok It sebelum menjadi muridku“

Toat-beng Giam-ong Lui Tat nampak terkejut mendengar ini. “ Ah, kalau begitu aku harus menangkapnya untuk di tanya, dimana adanya Yang Kok It dan cucunya, putera pemberontak Yang Koan itu!”

“Tenang, tenang dan bersabarlah, sobat. Kakek Yang Kok It telah meninggal dunia dan dia sama sekali tidak tahu dimana adanya cucunya. Dia adalah seorang yang lugu , akan tetapi tentang Yang Kok It itu tidak penting. Ada yang lebih penting lagi dan engkau pasti akan tertarik sekali mendengarnya“

“Hem, apa lagi yang penting itu?”

“Dia mempunyai suatu ilmu yang amat hebat, dan aku sedang mempelajarinya. Orang ini dapat amat berguna kelak untuk membantu kita dalam segala hal“

“Hemm, kalau dia masih mau menjadi muridmu, ilmu hebat apakah yang dia kuasai?“ Tanya Toat-beng Giam-ong, tentu saja tidak percaya karena kalau pemuda itu memiliki ilmu hebat tentu tidak mau menjadi murid orang lain.

“Giam-ong, untuk membuktikan omonganku tadi, mari coba kita main-main sebentar dan kau boleh menyerangku dalam tiga jurus!”

Giam-ong adalag seorang ahli silat dan dia mengerti benar bahwa rekannya itu tidak memiliki kepandaian silat yang terlalu istimewa akan tetapi paling hebat hanya dapat mengimbanginya saja. Tingkat kepandaian mereka tidak berselisih jauh, maka mendengar dia di tantang bertanding selama tiga jurus, hatinya tertarik sekali.

“Baik, hendak ku buktikan omonganmu“ katanya dan mereka berdua segera memasang kuda-kuda. “Ciu-kwi, lihat seranganku!” katanya kemudian dan dia menyerang dengan dahsyat, dengan kedua tangannya yang panjang besar.

Akan tetapi Thian-te Ciu-kwi tidak mengelak, melainkan meluruskan kedua tangan menyambut dan dari kedua tangannya itu menyambar angina yang aneh, membuat Giam-ong terkejut dan mengelak, lalu melanjutkan dengan serangan jurus kedua. Kembali Ciu-kwi membuat gerakan aneh dan daya pukulan Giam-ong meleset dengan sendirinya. Jurus ketiga dipergunakan oleh giam-ong untuk menyerang dengan seluruh tenaganya, menggunakan pukulan jarak jauh dengan kedua tangan terbuka. Ciu-kwi menyambut dengan kedua tangan terbuka pula dan akibatnya. Giam-ong terdorong mundur sampai terhuyung!

“Wah, ilmumu meningkat hebat, Ciu-kwi!” seru Giam-ong terkejut dan kagum, juga penasaran.

“Inilah berkat aku mempelajari ilmu aneh dari muridku, Giam-ong. Ini baru beberapa jurus saja dan amat sukar di pelajari. Nah, apakah murid seperti ini hendak dimusnakan begitu saja? Masih ada lagi hal penting lain kecuali ilmu ini. Dia memiliki Hek-liong-kiam“

“Hek-liong-kiam...?“ Kau maksudkan pek-hek-liong-kiam sepasang pedang kembar dalam dongeng itu?”

“Tidak salah. Dia memiliki Hek-liong-kiam yang katanya dia terima dari mendiang Yang Kok It. Nah, karena itulah dia ku ambil murid dan orang macam ini dapat kita pergunakan. Sebagai muridku tentu dia akan menaati semua perintahku...“

“Ha-ha-ha, engkau cerdik sekali, Ciu-kwi. Bagus, kalau begitu engkau dan muridmu itu ku minta untuk bekerja di istana. Kaisar tentu akan senang sekali memberi kedudukan tinggi kepadamu“

“Eh, Giam-ong, ada apa ini? Tiada hujan tiada angin engkau bersikap begitu baik padaku? Aku menjadi curiga“

“Ha-ha-ha, kawan, siapa yang berbuat baik kepadamu. Aku berbuat baik bukan untukmu, melainkan untuk diriku sendiri. Sekarang banyak gejala timbulnya pemberontakan di sana sini dan dengan sendirinya sebagai seorang penasehat militer kaisar, aku mempunyai banyak tugas, mempunyai banyak musuh. Aku membutuhkan kawan yang dapat di andalkan, dapat di percaya dan aku memutuskan bahwa engkaulah orangnya yang tepat. Ciu-kwi, kita sudah semakin tua. Kalau tidak sekarang menggunakan kesempatan untuk hidup berkecukupan dan terhormat, mau kapan lagi?”

Thian-te Ciu-kwi mengangguk-angguk. “Engkau benar juga, kawan. Baiklah, aku akan membicarakan dengan muridku, dan sebaiknya kalau engkau pulang lebih dulu. Dalam bulan ini juga kami tentu akan pergi ke Tiang-an dan mengadap Kaisar di sana. Ku harap saja semua akan berjalan lancer“

“Cari saja aku lebih dulu, mudah mencari rumah Lui-koksu (Guru Negara Lui) di sana aku akan membawamu menghadap Sri Baginda Kaisar“

“Baik, Giam-ong, eh Kok-su!” kata Ciu-kwi gembira.

Setelah para tamunya pergi, Ciu-kwi memanggil Akauw. “Muridku yang baik, peruntunganmu memang bagus sekali. Kau tahu siapa yang datang berkunjung tadi?”

Akauw menggeleng kepalanya. “ lNampaknya seorang pembesar“

“Memang benar. Akan tetapi pembesar yang bagaimana? Dia penasehat Kaisar! Dia pejabat yang kedudukannya tinggi sekali. Dan kau tahu apa keperluannya datang ke sini tadi?”

“Tidak tahu, suhu. Agak dia berkunjung karena suhu adalah sahabatnya“

“Memang benar, akan tetapi dia datang menawarkan kedudukan kepada kita“

“Kita, suhu?”

“Ya, engkau dan aku. Kita akan berangkat ke kota raja, Akauw dan di sana kita akan menjabat kedudukan tinggi, menjadi orang-orang terhormat dan mulia, hidup serba kecukupan...”

Akan tetapi di dalam hatinya, Akauw tidak begitu suka mendengar ini. Dia akan memasuki kehidupan baru dan dia teringat akan pengalamannya di Kota Raja. Teringat kepada jaksa yang sombong itu. Kalau para pejabat seperti itu wataknya, tentu kehidupan di kota raja akan menjadi tidak amat menyenangkan. Akan tetapi dia teringat kepada Bi Soan, pemuda remaja yang lucu dan menyenangkan itu! Dan mendadak saja wajahnya berubah berseri gembira!

“Suhu, aku senang sekali pergi ke kota raja. Di Sini sudah kurang lebih setahun, membosankan karena sepi sekali“

“Bagus, kalau begitu kita berkemas, besok pagi-pagi kita melakukan perjalanan ke kota raja, Akauw...“

********************

“Ayah, aku telah di hina orang, ayah!” kata gadis itu dengan sikap manja sekali.

Perdana Menteri Ji Sun Cai mengerutkan alisnya. Gadis itu adalah puteri tunggalnya yang amat di sayangnya. “Siapa berani menghinamu?” tanyanya marah.

“Seorang jaksa di rumah minum, dia telah menghinaku!”

“Di kedai minum? Ahhh, engkau tentu telah pergi dalam penyamaranmu lagi, Goat-ji (Anak Goat)!” kata ayahnya mencela dan kemarahannya mereda. Kalau ada orang menghina anaknya dalam penyamaran, hal itu tidak aneh karena tentu orang itu tidak tahu bahwa Ji Goat adalah puterinya. Puterinya ini suka sekali keluyuran menyamar sebagai seorang pria, nakalnya bukan main.

“Akan tetapi, Jaksa Gu itu memang kurang ajar sekali. Biarpun dia tidak mengenalku, dia tidak boleh menghina orang seenaknya saja. Aku dan seorang teman sudah memberi hajaran kepada dia dan anak buahnya, akan tetapi aku khawatir dia akan mencariku dan kalau bertemu tentu anak buahnya akan menyerangku“

“Hemmm, lalu apa yang harus kulakukan? Jaksa Gu cukup berpengaruh di kalangan rakyat, dia seorang Jaksa yang keras“

“Keras terhadap rakyat miskin, akan tetapi lunak terhadap orang kaya, bukan begitu, ayah? Jangan mengira aku tidak tahu, ayah? Kelakuan sebagian besar para pejabat di Kota Raja sudah berada di tanganku. Tidak sia-sia aku suka berkeluyuran menyamar sebagai pria karena banyak hal yang ku ketahui“

“Sudahlah, jangan macam-macam. Lalu apa yang kau ingin lakukan?“

“Undang Jaksa Gu ke sini ayah?”

“He...? Kalau sudah datang lalu bagaimana? Menegurnya?”

“Tidak usah. Aku yang akan menghadapinya kelak“

Saking cintanya kepada anaknya, dan kadang suka memanjakan, Perdana menteri Ji Sun Cai tidak menolak dan segera mengirim utusan menyampaikan surat mengundang datang Jaksa Gu...