Social Items

MATAHARI mulai turun ke barat cuaca menjadi gelap ketika terjadi pertempuran yang amat seru. Para hwesio dan tosu itu adalah para pimpinan rata-rata mereka memiliki kepandaian tinggi sehingga banyak anak buah gerombolan dan juga anggauta pasukan pemerintah yang roboh, luka atau tewas.

Cui-beng Sai-kong sendiri dengan marah sudah keluar dibantu oleh Tu hai Cin-jin dan beberapa orang pembantu yang cukup lihai. Tung-hai Cin-jin dengan samurainya segera disambut oleh Han Beng. Pemuda ini dikepung dan dikeroyok oleh Tung-hai Cin-jin yang bantu oleh tiga orang tokoh sesat, namun, Han Beng dapat menandingi mereka dengan baik, menggunakan sebatang tongkat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ketika dia mengeluarkan sebuah sabuk dan memegang sabuk dengan tangan kirinya, dia bahkan segera dapat mendesak empat orang pengeroyoknya.

Sementara itu, Cui-beng Sai-kong dihadapi oleh Pek I Tojin sendiri! Tosu tua ini tersenyum dan bersikap tenang sekali ketika kakek raksasa itu dengan muka semakin hitam karena masih menghadapi dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong.

"Hemmm, kiranya Pek I Tojin yang berdiri di belakang pemberontakan terhadap pemerintah!" kata Cui-beng Sai-Kong dengan nada suara mengejek. "Bagus! Seorang pertapa yang mengaku dirinya suci, tidak pernah mencampuri urusan dunia, sekarang begitu muncul menjadi pentolan pemberontak!"

Pek I Tojin tidak menjadi marah mendengar ejekan itu. Dia memandang seperti seorang tua memandang tingkah laku seorang anak-anak nakal. "Cui-beng Sai-kong dua puluh tahun yang lalu ketika engkau mengundurkan diri ke pegunungan sunyi, semua orang mengira dan mengharapkan bahwa engkau mau meninggalkan jalan sesat, memulihkan diri dan menebus dosa. Tidak tahunya sekarang engkau muncul kembali lebih jahat daripada sebelumnya. Engkau mengumpulkan tokoh-tokoh sesat bersekongkol dengan pemerintah dan mengadu domba antara para tosu dan para hwesio. Mereka bukan pemberontak engkau pun tahu akan hal ini, dan pinto sendiri yang tidak lagi membutuhkan apa-apa, untuk apa memberontak? Para hwesio dan tosu yang berjiwa pendekar itu tidak rela melihat rakyat jelata dikorbankan, yang ditentang adalah aturan yang menindas rakyat, bukan pemerintah!"

"Ahhh, banyak omong tidak akan menyelamatkan dirimu, Pek I Tojin! Lihat naga hitamku akan menelanmu bulat-bulat!"

Cui-beng Sai-kong membungkuk mencengkeram segenggam tanah dan dilontarkan tanah itu ke udara dan berbareng dengan meledaknya asap hitam nampak seekor naga yang dahsyat mengerikan hendak mencengkeram ke Pek I Tojin!

Pek I Tojin tetap berdiri tegak, tersenyum lembut dan matanya memandang kepada naga ciptaan yang menyeramkan Itu. Kemudian dia berkata lembut, "Cui-beng Sai-kong, tidak perlu bermain-main seperti anak kecil! Apa pun yang berasal dari tanah pasti kembali menjadi tanah!"

Berkata demikian, kakek pakaian putih ini menggunakan ujung tongkatnya mencokel tanah di depannya. Segumpal kecil tanah melayang dan nyambar ke arah "naga" itu dan asap hitam mengepul tebal, naga itu pun lenyap dan udara kembali terang di bawah sinar lampu-lampu yang digantung sekitar tempat itu.

Cui-beng Sai-kong marah sekali, mengeluarkan suara aumannya yang amat berbahaya itu. Namun, juga auman sama sekali tidak mempengaruhi Pek I Tojin, dan dia tetap berdiri tegak dengan penuh kewaspadaan. Maklum akan lihainya kakek berpakaian putih ini, beng Sai-kong lalu mencabut sebatang pedang dan menyerang dengan gencar dan dahsyat. Namun, semua sambaran sinar pedangnya membalik ketika bertemu dengan tongkat di tangan Pek I Tojin.

Sementara itu, Han Beng yang mengamuk dengan tongkatnya, berhasil merobohkan Tung-hai Cin-jin dan tiga orang kawannya. Nyaris pundak Han Beng terluka ketika Tung-hai Cin-jin, dengan sisa tenaga yang ada karena kakek ini sudah merasa lelah sekali, mengayun pedang samurainya. Pedang itu berat dan cara kakek itu bermain pedang, menguras banyak tenaganya, padahal lawannya Han Beng, memiliki gerakan yang lincah sekali sehingga semua serangannya tak pernah menyentuh lawan.

Ketika pedang samurai itu terayun, Han Beng sedang menendang roboh seorang pengeroyok terakhir, maka kakinya sedang terangkat dan tepat pada saat itulah pedang samurai datang menyambar lehernya. Dia cepat menekuk lututnya dan samurai itu menyambar lewat, dekat sekali dengan pundaknya sehingga terasa dingin sambaran pedang itu. Dia cepat meluncurkan tongkatnya ke samping, tepat ujung tongkatnya menotok pinggul dari kakek itu.

"Ahhh!" Seketika kaki kiri Tung-hai Cin-jin terasa lumpuh dan dia pun roboh, tangan yang memegang pedang samurai itu sudah lemas dan pedang yang berat itu pun meluncur ke bawah, hampir tak terkendalikan tangannya dan tahu-tahu pedang itu meluncur dan menusuk lehernya sendiri! Kakek itu berkelojotan dengan leher yang hampir putus!

Han Beng terbelalak ngeri. Sama sekali dia tidak bermaksud membunuh Tung-hai Cin-jin seperti itu. Dia cepat membuang muka dan pada saat itu, melihat betapa tongkat Pek I Tojin memukuli punggung dan pinggul Cui-be Sai-kong. Dia menjadi kagum bukan main. Dia sudah merasakan kelihaian Cui-beng Sai-kong yang bertangan kosong kini datuk sesat itu memegang pedang. Namun ternyata Pek I Tojin mampu mempermainkannya dan memukuli pinggang dan punggungnya seperti seorang guru memberi hukuman kepada seorang murid yang nakal!

Cui-beng Sai-kong melihat betapa pembantu utamanya, Tung-hai Cin-Jin telah roboh tewas dan para pembantunya juga banyak yang sudah roboh, Bahkan anak buahnya mulai kocar-kacir dihajar para hwesio dan tosu. Pasukan pemerintah itu pun tidak banyak dapat membantu karena mereka sendiri pun kewalahan menghadapi pengamukan para hwesio dan tosu. Karena itu, dia lalu melompat jauh meninggalkan Pek I Tojin dan melarikan diri.

Melihat betapa datuk sesat itu telah melarikan diri dan anak buahnya sudah dihajar, Pek I Tojin lalu berseru dengan suara nyaring. "Para hwesio dan tosu, kita tidak memusuhi pemerintah. Biang keladinya sudah melarikan diri! Mari kita tinggalkan tempat ini!"

Para hwesio dan tosu itu maklum bahwa tidak ada untungnya kalau mereka terus mengamuk dan membunuh banyak prajurit pasukan pemerintah. Tadi pun dalam pertempuran, mereka menjaga diri dan tidak ingin membunuh para perajurit. Kini mendengar seruan Pek I Tojin, mereka pun berloncatan meninggalkan tempat itu dan menghilang di dalam kegelapan malam.

Perwira yang menjadi komandan pasukan, berlari memberi aba-aba kepada pasukan untuk melakukan pengejaran. Akan tapi tentu saja hal ini tidak ada gunanya karena selain para penyerbu itu dapat berlari cepat sekali, juga para prajurit sudah merasa gentar dan tak berani mengejar tanpa mengandal banyak teman.

Peristiwa itu benar saja, seperti harapan Pek I Tojin, menjadi obat mujarab yang menyembuhkan dendam kebencian antara para hwesio dan para tosu. Sejak terjadinya peristiwa itu, para hwesio dan para tosu itu menyebarkan berita itu dengan luas di antara golongan masing-masing sehingga kedua pihak membuang jauh-jauh perasaan bermusuhan itu. Bahkan tidak jarang mereka itu bekerja sama untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan dalam pelaksanaan pekerjaan besar menggali terusan itu untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dengan memaksa rakyat bekerja tanpa upah!

Sementara itu, jauh di luar hutan di tempat terbuka yang sunyi, dan diterangi oleh sinar bulan yang baru muncul. Han Beng berlutut di depan Pek I Tojin.

"Orang muda, pinto melihat bahwa ilmu silatmu sudah cukup tinggi dan engkau telah mewarisi inti sari dari ilmu kepandaian Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong. Mengapa pula engkau kini mohon untuk menjadi murid pinto?" tanya Kakek itu dengan suara yang lembut, sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan gembiranya yang timbul ketika melihat pemuda ini menyatakan hendak menjadi muridnya. Dia sendiri kagum kepada pemuda ini, maklum bahwa pemuda ini selain memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa sekali kuatnya, juga memiliki bakat yang baik dan watak yang tidak tercela.

"Maaf, Lo-cian-pwe. Sama sekali bukan berarti bahwa teecu meremehkan kedua ajaran dari kedua Suhu yang telah teecu terima. Akan tetapi ketika teecu bertanding melawan Cui-beng Sai-kong, terasa benar oleh teecu betapa pengetahuan teecu masih dangkal sekali. Kemudian teecu melihat betapa Lo-cian-pwe dengan amat mudahnya mampu menundukkan datuk sesat itu. Oleh karena itulah, teecu bertekad untuk memperdalam ilmu di bawah pimpinan Lo-cian-pwe, tentu saja kalau Lo-cian pwe sudi menerima teecu sebagai murid.”

Kakek itu tersenyum. "Dunia menghadapi masa suram dan memang amat dibutuhkan orang-orang muda seperti engkau, Si Han Beng. Baiklah, dalam usia pinto yang sudah tua ini, pinto akan mencoba untuk menambah bimbingan sedapatnya kepadamu. Mari, engkau ikutlah aku ke Thai-san."

Dengan girang Han Beng lalu memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengangkatan guru dan malam itu juga guru dan murid ini melanjutkan perjalanan menuju ke Thai-san.

********************

Pemuda itu menangis sambil berlutut di depan kakek raksasa hitam yang duduk bersila di depannya, dalam sebuah gua. Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Tubuhnya sedang dadanya bidang dan wajahnya yang putih itu nampak tampan dan lembut. Rambutnya disisir rapi, dan pakaian yang seperti seorang pelajar itu pun terbuat dari sutera halus, rapi dan mewah, seperti seorang pelajar dari kota putera seorang hartawan atau seorang bangsawan.

Melihat rambutnya yang rapi, pakaian yang bersih, sepatu yang mengkilap, dapat dilihat bahwa dia seorang pemuda yang pesolek. Sikap lemah lembut, dan hidungnya yang besar mancung, bibirnya yang merah penuh gairah, matanya yang dapat memandang dengan sayu, sungguh pemuda ini memiliki daya tarik yang amat kuat bagi wanita pada umumnya.

"Suhu... ah, Suhu... kenapa suhu begitu begitu tega menyuruh teecu pergi dari sini? Semua perintah Suhu telah teecu lakukan. Latihan-latihan yang teramat berat, mempertaruhkan nyawa sudah teecu laksanakan dengan baik, akan yang terakhir, Suhu menyuruh teecu bertapa seperti mayat di dalam kuburan, diantara makam orang mati, sampai sebulan lamanya. Teecu merasa seram dan takut setengah mati, akan tetapi sudah teecu lakukan juga... semua itu untuk mentaati perintah Suhu. Dan sekarang... sekarang Suhu menyuruh teecu pergi..." Pemuda itu menangis.

Sungguh mengherankan sekali. Pemuda itu demikian gagah perkasa, akan tetapi kini dapat menangis seperti seorang anak kecil. Begitu cengengnya!

"Hong San, hentikan tangismu itu!" kata Kakek Raksasa yang bersila di depannya. "Engkau tahu, semua yang kau lakukan itu bukan hanya untuk mentaati perintahku, melainkan demi kepentinganmu sendiri! Selama ini engkau kugembleng sampai habis semua ilmuku kuberikan kepadamu, bahkan kubuka rahasia menghimpun tenaga rahasia dengan jalan bertapa, semua itu untukmu! Kini engkau miliki tingkat kepandaian yang tidak kalah olehku!"

Mendengar ini, seketika pemuda itu menghentikan tangisnya dan dia memandang kepada gurunya sambil tersenyum! Dan senyumnya sungguh manis sekali! Kalau ada yang melihatnya, tentu orang itu akan tertegun. Baru saja menangis begitu sedihnya, kini sudah dapat tersenyum manis!

”Benarkah Suhu? Benarkah, bahwa tingkat kepandaian teecu kini tidak kalah oleh Suhu?" katanya dengan sikap manja seperti anak kecil. Akan tetapi harus diakui bahwa kini wajahnya tampan sekali, berseri-seri, mulutnya tersenyum dan bibir merah itu Penuh gairah, sepasang matanya indah cemerlang.

Kakek itu berusia enam puluh tahun. Tinggi besar seperti raksasa. Tubuh yang kokoh kuat itu berkulit hitam, rambutnya brewok di mukanya yang tebal dan awut-awutan, masih hitam, mukanya seperti singa persegi empat, dan matanya mencorong. Kakek ini bukan lain adalah Cu-beng Sai-kong!

Setelah dikalahkan oleh Pek I Tojin dan anak buahnya dibasmi, kakek ini merasa kecewa, penasaran dan sakit hati sekali, akan tetapi, dia pun harus mengakui bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Pek I Tojin. Maka untuk menghilangkan rasa malunya, dia melarikan diri dan bersembunyi di dalam sebuah gua di Pegunungan Himalaya. Di tempat ini, dia bertemu dengan muridnya yang memang di suruh berlatih seorang diri di tempat sunyi itu.

Pemuda itu bernama Can Hong San. sendiri tidak tahu siapa ayah ibunya karena semenjak dia dapat mengingat tentang dirinya, dia sudah menjadi murid Cui-beng Sai-kong. Gurunya itu hanya dikenalnya sebagai seorang kakek sakti yang berjuluk Cui-beng Sai-kong, tanpa dia ketahui siapa namanya yang sesungguhnya. Tadinya, dia dan gurunya tinggal di gua besar itu dan dia gembleng dengan berbagai ilmu.

Gurunya demikian sayang kepadanya sehingga bukan saja dia digembleng dengan ilmu silat, bahkan ketika dia berumur sepuluh tahun, dia diajak pergi ke sebuah dusun di kaki pegunungan, gurunya menyuruh dia mempelajari kesusastraan dari seorang sastrawan yang mengasingkan diri. Sastrawan ini berbangsa peranakan Han dan Tibet, lama lebih dari lima tahun Hong belajar membaca dan menulis, juga kesusastraan Han dipelajarinya. Bukan saja, juga suhunya memanggil seorang ahli lukis dan main suling, sehingga muridnya itu mempelajari pula dua macam kesenian ini.

Untuk keperluan muridnya, Cui-beg Sai-kong mendatangkan banyak orang pandai yang mengajar muridnya. Sejak kecil pun muridnya itu disuruh menggunakan pakaian serba indah, pakaian pelajar dan sastrawan dan diajar pula berdandan diri sehingga selalu kelihatan gagah dan tampan seperti seorang putera bangsawan!

"Engkau berdarah bangsawan, Hong San." hanya itulah keterangan yang, lalu diberikan kepada muridnya kalau murid itu bertanya siapa orang tua. Ucapan ini mendatangkan kesan mendalam sehingga setelah dewasa, Hong San merasa bahwa dia seorang pemuda bangsawan, maka dia pun selalu ingin menyesuaikan diri dengan derajatnya dan lagaknya dia atur sehingga dia pantas menjadi seorang putera bangsawan seperti yang dia kenal dari bacaan kitab-kitab kesusastraan.

Demikianlah, setelah Hong San berusia dua puluh tiga tahun, dia telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, memiliki banyak ilmu kepandaian, baik bu (silat) maupun bun (sastra). Akan tetapi, kehidupan di dusun itu, ketika dia belajar kesusastraan, mengakibatkan dia mengenal pergaulan masyarakat luas.

Dan karena gurunya selalu memanjakannya memberi uang berlebihan, emas dan perak tak pernah kosong dari sakunya, maka banyak orang-orang muda yang suka berkawan dengan Hong San. Dan dari hubungan ini, Hong San mulai mengenal bermacam kesenangan, di antaranya kesenangan hubungan dengan wanita. Mulai usia belasan tahun saja dia telah diajak oleh teman-temannya untuk mendatangi wanita-wanita pelacur dan kesenangan ini kemudian menjadi kelemahan bagi Hong San.

Dia, setelah dewasa, selain tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, juga menjadi seorang laki-laki pesolek dan cabul yang senang menghambakan kepada nafsu berahi secara berlebih-lebihan! Dia menjadi seorang mata keranjang yang tidak ketulungan lagi.

Setiap melihat wanita cantik yang agak lebih dari wanita biasa, berahinya timbul dan dia belum merasa puas kalau belum menundukkan wanita itu dan menyeretnya ke dalam pelukannya, jarang ada wanita yang mampu menolaknya. Dia seorang pemuda yang tampan gagah perkasa, jantan, dan pandai sajak, pandai bernyanyi, pandai pula meniup suling, ahli merayu dan yang terakhir, royal dan banyak uang!

Cui-beng Sai-kong tentu saja mengetahui akan kesukaan muridnya itu. Akan tetapi, dia sendiri seorang datuk ssesat dan kesenangan seperti itu dianggapnya lumrah, bahkan dia merasa senang dan bangga mendengar betapa muridnya menjadi rebutan para perawan dusun dan kota. Kesenangan seperti itu dianggapnya "menyehatkan" dan membuktikan bahwa Hong San benar-benar seorang 'laki-laki jantan!

Dia tidak melarang atau menegur, bahkan tanpa malu-malu lagi dia mengajarkan semacam ilmu untuk menundukkan hati wanita! Dalam bidang itu pun bagi Cui-beng Sai-kong terdapat ilmunya! Tentu saja Hong San menjadi semakin gila!

Dua tahun yang lalu, yaitu ketika Hong San berusia dua puluh tiga tahun, gurunya pergi meninggalkannya dan meninggalkan setumpuk latihan untuknya, latihan aneh-aneh untuk menghimpun kekuatan dan kesaktian. Hong San yang memiliki kemauan keras dan keinginan uuk menjadi jagoan tanpa tanding, melaksanakan semua petunjuk suhunya dan berlatih dengan amat tekunnya.

Latihan yang mendekati ilmu hitam, yang amat menyeramkan, seperti bertapa dalam tanah seperti mayat, di tanah kuburan, juga dilaksanakan sampai berhasil. Maka ketika suhunya akhirnya muncul kembali, dua tahun kemudian, dia sudah menjadi seorang yang benar-benar lihai bukan main. Akan tetapi, begitu datang, suhu itu memanggilnya dan mengatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Hong San untuk meninggalkan tempat pertapa meninggalkan gurunya!

Pemuda yang wataknya aneh, mudah sekali bergembira akan tetapi juga mudah menangis, menandakan bahwa batinnya sesungguhn amat lemah dan tidak berdaya dipermainkan oleh nafsu-nafsunya, mula-mula menangis akan tetapi ketika mendeng dari suhunya bahwa tingkat kepandaia nya sudah menyamai suhunya, dia tersenyum gembira dan bangga!

"Hong San, sekarang dengarlah baik-baik, aku akan bercerita kepadamu." kata Kakek Tinggi Besar berkulit hitam itu.

Hong San yang kini sudah duduk bersila, berhadapan dengan gurunya, mengangguk dan mendengarkan penuh perhatian. Dia memang selama ini menjadi murid yang amat taat dan baik sekali.

Kakek raksasa hitam itu lalu bercerita. Kurang lebih dua puluh enam tahun yang lalu, serombongan bangsawan Nepal bertamasya di dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Perwira bersama isteri dan puterinya, berburu binatang sambil berpesiar di daerah pegunungan yang kaya akan binatang buruan itu. Tentu saja perwira itu tidak takut karena ada pasukan pengawal yang dua losin banyaknya menjaga keselamatan dia dan anak isterinya.

Akan tetapi, pada malam harinya, ketika rombongan itu berhenti dan membuat perkemahan di luar hutan, membuat api unggun dan dijaga oleh pasukan pengawal, tiba-tiba mereka diserang oleh segerombolan perampok yang melepaskan panah api. Tentu saja para pengawal menjadi panik. Terjadilah pertempuran di malam gelap, diterangi oleh sinar api unggun dan api yang membakar perkemahan.

Dalam kekacauan itu, para pengawal yang dipimpin oleh perwira itu mengadakan perlawanan mati-matian dan akhirnya gerombolan perampok itu dapat dihalau dan mereka melarikan diri dalam hutan. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya perwira itu ketika mendapat kenyataan bahwa dalam keributan itu, anak perempuannya sedang dewasa telah lenyap!

Dia mengerahkan pasukan pengawalnya untuk mencari, akan tetapi sia-sia saja karena hutan itu amat luasnya. Isterinya juga tidak dapat mengatakan ke mana adanya anak gadisnya. Dalam keributan itu isteri perwira ketakutan dan bersembunyi saja di dalam tenda. Sebaliknya, gadis itu ingin membantu ayahnya, membawa pedang dan keluar dari tenda. Lalu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Kiranya gadis itu dilarikan oleh pala perampok! Dan ternyata bahwa gerombolan perampok itu menyerang rombongan perwira Nepal bukan untuk merampok harta benda, melainkan memang untuk menculik gadis itu. Sudah sejak memasuki hutan, rombongan itu di ikuti oleh sepasang mata kepala perampok yang tergila-gila melihat kecantikan gadis Nepal itu.

Gadis itu meronta dan melawan mati-matian, namun apa dayanya menghadapi para perampok yang bertubuh raksasa ? Akhirnya ia menerima nasib dan menjadi isteri kepala perampok dengan terpaksa.

"Wah, gadis itu memang cantik manis bukan main. Belum pernah selama hidupnya kepala perampok itu bertemu dengan gadis seperti itu. Bagaikan setangkai mawar indah... penuh kelembutan, penuh kehangatan, penuh keharuman memikat, akan tetapi juga banyak durinya, bebas, liar dan mempesona...” Cui-beng Sai-kong mengakhiri ceritanya dengan puji-pujian kepada gadis yang diculik kepala perampok itu.

Hong San yang sejak tadi mendengarkan penuh perhatian, merasa kecewa, kiranya suhunya hanya menceritakan sebuah dongeng sederhana! Tentang seorang gadis Nepal yang diculik kepala rampok dan dipaksa menjadi isterinya! Akan tetapi dia seorang murid yang baik, tidak mau mengecewakan hati gurunya dan dia berlagak amat tertarik oleh cerita itu.

"Aduh, betapa senangnya kepala rampok itu, Suhu! Gadis cantik jelita memang tentu saja jauh lebih berharga daripada segala macam harta. Lalu bagaimana, Suhu? Apakah gadis itu akhirnya mau menjadi seorang isteri yang membalas cinta suaminya?"

Cui-beng Sai-kong tertawa bergelak sehingga tubuhnya yang tinggi besar terguncang, mukanya yang seperti singa nampak menyeramkan sekali. "Ha-ha-ha-ha, aku Cui-beng Sai-kong memang bukan seorang laki-laki yang haus wanita, akan tetapi sekali aku jatuh cinta dan menundukkan seorang wanita tentu bertekuk lutut dan menyerah sebulatnya, Ha-ha!"

Pemuda itu tertarik sekali sekarang, bukan pura-pura. "Wah, kiranya Suhu sendirikah kepala perampok itu?"

Cui-beng Sai-kong tersenyum lebar. "Dua puluh enam tahun yang lalu masih muda, seorang laki-laki yang gagah dan menarik walaupun ilmu kepandaianku belum berapa tinggi. Puteri bangsawan Nepal itu menyerah, menjadi istriku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, ia pun agaknya dapat membalas cintaku, akan tetapi..." Dan tiba-tiba saja kakek raksasa bermuka singa itu menangis menggerung-gerung seperti orang gila!

Hong San hanya memandang saja dan tidak menegur, akan tetapi dia merasa semakin tertarik. "Apakah yang telah terjadi, Suhu? Dimana Subo sekarang?" tanyanya walaupun dia sudah dapat menduga bahwa tentu subonya (ibu gurunya) itu agaknya sudah meninggal dunia sehingga kini terkenang akan isteri tercinta itu gurunya menangis. Kalau masih hidup tentu dia pernah bertemu dengan wanita itu.

Seperti juga ketika mulai, secara tiba-tiba saja Cui-beng Sai-kong menghentikan tangisnya dan kini sepasang mata yang lebar dan besar itu melototinya memandang kepada muridnya dengan sinar mata penuh kemarahan mencorong dari sepasang mata yang kemerahan itu.

"la sudah mati! Ahhh, ia sudah mati ketika melahirkan engkau, keparat! Karena itu aku harus membunuhmu untuk menebus dosamu yang menyebabkan kematian orang yang kukasihi!" Dan tiba-tiba saja Cui-beng Sai-kong menyerang dengan terkaman seperti seekor singa yang marah!

Pemuda itu merasa sangat terkejut. Pertama karena mendengar bahwa dia adalah putera wanita bangsawan Nepal yang menjadi isteri suhunya itu, berarti adalah putera suhunya, dan kedua karena tiba-tiba orang yang selama ini dianggap guru dan ternyata ayah kandungnya itu telah menyerangnya dengan amat dahsyat!

Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan tubuhnya berjung balik membuat salto sampai lima kali barulah dia berhasil melepaskan diri serangkaian serangan yang dilakukan gurunya dengan dahsyat. Serangan kakek raksasa itu merupakan serangan maut yang mengarah nyawanya! Dengan muka agak pucat dan mata mencorong marah Hong San berseru.

"Suhu, apakah Suhu sudah gila?"

Akan tetapi, jawaban kakek itu adalah serangan yang lebih hebat lagi! Tubuhnya meliuk-liuk, kedua tangannya membentuk cakar naga, matanya seperti bernyala dan mulutnya yang terbuka itu mengeluarkan suara mendesis panjang dan ada uap tipis keluar dari mulutnya, yang mengandung hawa panas! Kemudian, dia mengeluarkan suara parau seperti suara burung gagak dan tubuhnya condong kedepan, kedua tangan yang membentuk cakar itu bergerak-gerak seperti menggaruk-garuk atau mencakar ke depan.

Hong San mengerutkan alisnya. Itulah Koai-liong-kun (Silat Naga Setan), yang merupakan ilmu silat tangan kosong yang paling dahsyat dari gurunya! Dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri kalau menggunakan ilmu silat lain, maka dia meniru gerakan gurunya, tubuhnya meliuk-liuk dan kedua tangannya membenntuk cakar naga, mulutnya mendesir mengeluarkan hawa panas. Dia pun mu bersiap dengan ilmu Koai-liong-kun pula.

"Keparat? Pembunuh isteriku tercinta. Sudah lama kutunggu saat ini. Kau harus mampus di tanganku!" bentak Cui-be Sai-kong dengan suara menggeledek.

Hong San tersenyum mengejek, matanya berkilat. "Hemmm, coba saja kalau kau mampu!"

Diam-diam dia pun merasa penasaran bukan main. Orang ini adalah gurunya, bahkan mengaku sebagai ayah kandung, akan tetapi kini bersikeras hendak membunuhnya! Karena merasa disudutkan, dihimpit dan direndahkan bangkit kemarahan dalam hati pemuda yang wataknya juga amat aneh ini. Tahu betapa lihainya orang yang selama ini dianggap gurunya, dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannnya untuk melawan. Dia harus dapat membunuhnya lebih dulu sebelum dibunuh!

Cui-beng Sai-kong sudah menerjang lagi, dahsyat bagaikan seekor naga mengamuk. Akan tetapi sekali ini Hong San tidak hanya menghindar, melainkan mengelak lalu langsung membalas dan di lain saat, guru dan murid itu telah saling serang dengan hebatnya. Karena ilmu silat yang mereka pergunakan dalam pertandingan ini sama, maka dipandang sepintas lalu mereka itu seperti sedang berlatih saja.

Akan tetapi,sesungguh tidak demikian karena keduanya mengerahkan seluruh tenaga mereka dan perkelahian itu. Setiap jurus yang digerakkan mempunyai tujuan membunuh! Dari mulut mereka kini menyembur uap putih kemerahan yang amat panas, dan cengkeraman mereka semakin dahsyat, tendangan yang berupa jurus naga menyabetkan ekor itu pun kalau mengenai tubuh lawan tentu akan berakibat hebat!

Beberapa batang pohon yang tumbuh di kanan kiri gua itu seperti dilanda angin badai, dan karena mereka berkelahi di depan gua, maka suara angin pukulan mereka memasuki gua dan menimbulkan gema suara mengaung yang mengerikan.Tanah dan debu beterbangan di bawah kaki mereka.

Bagaimanapun juga, tentu saja ilmu yang dimiliki Cui-beng Sai-kong lebih matang dibandingkan Hong San, maka setelah lewat puluhan jurus, pemuda itu terdesak dan lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang. Namun pemuda ini mewarisi seluruh ilmu gurunya dan karena dia memang berbakat baik, maka dia telah mengusai ilmu-ilmu itu.

Dan untuk menebus kekalahannya dalam pengalaman, pemuda ini lebih menang dalam hal napas tenaga. Gurunya sudah mulai berkerinngat dan napasnya memburu, sedangkan dia sendiri masih segar bugar! Hal ini agaknya disadari pula oleh Cui-beng Si kong, maka agar jangan sampai akhirnya kalah, dia mengeluarkan suara melengking panjang dan nampak sinar berkilauan ketika dia mencabut pedangnya!

Melihat ini, Hong San berseru, "Bagus, mari kita mengadu nyawa!" sambil membentak, dia pun mencabut pedangnya.

"Cring-tranggggg...!" Bunga api berpijar dan suara nyaring bergema kedalam gua ketika beberapa kali pedang-pedang itu saling bertemu. Kini mereka saling serang dengan pedang dan beberapa kali pedang mereka saling bertemu dengan amat kuatnya. Namun, setiap kali pedang bertemu, nampak tubuh Cui-beng Sai-kong tergetar!"

"Wuuuuuttttt... singgggg...!"

Hong San terkejut bukan main. Serangan gurunya tadi amat dahsyatnya sehingga nyaris lehernya terbabat putus! Untung dia masih sempat merendahkan tubuhnya sehingga hanya segumpal rambut saja yang terbabat dan rambut itu pun berhamburan. Pedang di tangan Cui-beng-kong itu masih meluncur terus kebelakangnya.

"Crokkkkk!!" Batang pohon di belakang pemuda itu terbabat dan tumbang! Demikian hebatnya sambaran pedang ditangan kakek raksasa itu.

"Singgggg...!" Hong San tidak mau membuang kesempatan itu dan pedangnya sudah meluncur ke depan, menusuk ke bawah pangkal lengan mengarah dada kanan gurunya.

"Tranggggg...!" Cui-beng Sai-kong masih mampu menangkis, akan tetapi tangkisan pedang itu yang agak lambat membuat dia terhuyung ke belakang. Hong San terus mendesak dan terjadilah lanjutan perkelahian yang lebih seru lagi. Dan karena ilmu pedang mereka pun sama, maka perkelahian seperti latihan saja, walaupun setiap pedang menyambar, selalu merupakan serangan maut.

Namun bagi Hong San pertandingan itu sama sekali bukan merupakan latihan, karena dia tahu bahwa kakek yang selama ini dianggap guru itu benar-benar berusaha keras hendak membunuhnya. Dia pun mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melawan dan juga berusaha untuk merobohkan gurunya, kalau perlu membunuhnya!

Pertandingan berlangsung seru setelah lewat seratus jurus, mulai gerakan Cui-beng Sai-kong mengendur bukan hanya dia kehabisan tenaga, akan tetapi juga napasnya terengah-engah. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan gerakan kaki maupun tangannya sudah tidak mantap lagi. Melihat ini, Hong San bukan mengalah, bahkan dia mempercepat dan memperkuat serangan-serangan-sehingga kakek itu benar-benar terdesak hebat!

"Cringgg... tranggggg... Ceppp!"

Dua kali sepasang pedang itu bertemu dengan amat kerasnya dan pedang di tangan kakek itu terpental, disusul masuknya pedang di tangan Hong San yang menusuk ke depan dan memasuki dada gurunya, hampir menembus punggung.

Peristiwa ini hampir tidak nampak saking cepatnya gerakan pedang dan juga kakek itu nampak hanya berdiri mematung, pedangnya masih berada di tangan kanan sedangkan tangan kiri mendekap dada, matanya mendelik memandang ke arah Hong San, dan tiba-tiba saja dia tertawa bergelak!

"Bagus, ha-ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau telah dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha! Engkau telah dapat membunuhku, berarti engkau telah mewarisi seluruh kepandaianku dan engkau telah siap untuk menjadi jagoan tak terkalahkan di dunia... ha-ha-ha!"

Mendengar ucapan ini dan melihat kakek itu terhuyung, pedangnya terlempar lalu roboh terguling, barulah Hong sadar bahwa gurunya tadi memang sengaja mengujinya sampai akhir, dengan taruhan nyawa! Dia pun cepat berlutut dekat tubuh suhunya.

"Suhu... benarkah Suhu juga... Ayah kandungku sendiri?"

Darah itu mengalir melalui celah-celah antara jari tangan kiri yang mendekap luka di dada. Wajah singa itu tersenyum lebar. "Kenapa tidak benar? Dulu sekali namaku adalah Can Siok, maka engkau she Can. Ibumu adalah puteri bangsawan Nepal itu. Aku... ah, aku menderita bertahun-tahun karena kehilangan wanita yang kucinta. Segala perbuatan kulakukan untuk menghibur diri dan melupakannya. Akan tetapi gagal, aku setiap malam bermimpi dan setiap siang terkenang. Hanya karena engkau-lah aku hidup sampai sekarang. Engkau mirip sekali Ibumu, maka aku mengemblengmu sampai tamat. Dan ujian hari ini... berarti engkau lulus dan engkau yang mengantar aku menyusul Ibumu... ha-ha-ha!"

Kakek itu tertawa terus sampai akhirnya suara ketawanya makin lemah, lalu diam tak terdengar lagi juga tubuhnya terkulai lemas. Ketika Hong San merabanya, tahulah dia hahwa gurunya, juga ayahnya, telah tewas! Dan tiba-tiba pemuda itu menangis menggerung-gerung memeluk mayat ayah kandungnya! Dia menangis bukan karena menyesal, melainkan karena merasa sengsara, sebatang kara di dunia.

Akan tetapi tidak lama dia menangis. Di lain saat dia sudah bangkit berdiri, memandang mayat ayahnya yang telentang itu. Sepasang mata yang lebar itu masih terbuka, mendelik, mulut itu agak ternganga dan bagian depan tubuh mayat itu berlepotan darah. Dan dia merasa bangga!

"Ha-ha-ha," dia tertawa, tidak senyaring ketawa ayahnya, melainkan suara Ketawa yang ditahan-tahan dan terdengar menyeramkan, "Aku telah dapat mengalahkan Cui-beng Sai-kong! Guruku dan Ayahku sendiri telah tewas di ujung pedangku. Apalagi orang lain! Terma kasih, Suhu! Terima kasih, Ayah! Bukan hanya untuk ilmu-ilmu yang kupelajari darimu, juga karena engkau mati ditanganku! Lebih baik engkau mati agar aku tidak usah mengaku engkau yang buruk sebagai ayah kandungku!"

Setelah berkata demikian, Hong memasuki gua, mengemasi semua barangnya dan tak lama kemudian dia keluar menggendong buntalan pakaian, kantung emas simpanan ayahnya, meninggalkan gua, membiarkan mayat ayahnya menggeletak telentang di depan gua begitu saja! Sebuah caping lebar yang bercat merah memayungi kepalanya dan dengan lenggang seenaknya pun menuruni bukit itu.

Hong San memang memiliki watak yang aneh, mungkin watak ini dia war isi pula dari gurunya yang ternyata juga ayah kandungnya. Biarpun dia tahu bahwa gurunya adalah ayahnya sendiri, sedikit pun dia tidak merasa menyesal bahwa dia telah menjadi sebab kematan ayahnya! Dia sama sekali tidak mempedulikan mayat ayahnya itu, bahkan begitu turun dari bukit, dia memasuki buah kota dan pertama yang dicarinya adalah seorang pelacur langganannya. Dia bermalam di tempat pelesir itu sampai tiga malam dan dia bersenang-senang dengan pelacur itu.

Setelah puas, baru dia meninggalkan tempat itu, untuk mulai dengan perantauannya karena dia bercita-cita untuk menaklukkan semua tokoh dunia persilatan dan mengangkat diri sendiri menjadi seorang tokoh besar, menggantikan gurunya atau juga ayahnya! Dia akan menyusuri sepanjang Su-gai Huang-ho (Kuning) untuk kemudian menuju ke kota raja!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Mereka bertiga nampak bahagia sekali. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu berlari-larian mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang sedang mekar indah. Ayah ibunya duduk di atas bangku, nampak mesra dan saling mencinta.

"Lihat, betapa gembiranya Thian Ki kata Sang Isteri.

Suaminya mengangguk-angguk. "Kalau dia memiliki gemblengan silat sejak bayi, tentu dia akan mudah menangkap kupu-kupu itu..." kata suaminya.

"Dan meremasnya hancur? Ihhh, mengerikan! Untung kita sudah mengambil keputusan untuk menjadikan dia seorang manusia yang berbudi baik, yang tidak mengenal kekerasan, tidak suka berkelahi."

Suami itu menggenggam tangan isterinya yang membalas genggaman itu. Dari getaran tangan mereka, keduanya maklum akan isi hati masing-masing merasa setuju. Memang, mereka telah mengambil keputusan, bahkan keduanya telah bersumpah ketika anak itu masih berada di dalam kandungan bahwa mereka berdua akan menjaga agar anak mereka kelak tidak menjadi seorang yang seperti mereka, yaitu orang yang pandai ilmu silat seperti mereka.

Mereka bersumpah bahwa anak mereka akan menjadi seorang terpelajar yang halus dan Yang sama sekali tidak mengenal dunia persilatan, tidak mengenal kekerasaan! Maka, setelah anak itu terlahir, seorang anak laki-laki yang sehat, mereka berdua menjaga agar anak itu sama sekali tidak mengenal ilmu silat.

Memang aneh sekali kalau diingat akan keadaan suami isteri ini. Mereka masih muda. Usia mereka baru tiga puluh tahun lebih sedikit. Pria itu tampan, biasa mengenakan pakaian putih, nampak gagah dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat yang pandai. Memang tidak salah. Dia adalah Coa Siang Lee, keturunan pemimpin perkumpulan Hek-houw-pang, perkumpulan orang gagah yang pandai silat dan sejak kecil Coa Siang Lee telah digembleng dengan ilmu silat.

Adapun isterinya itu juga bukan orang sembarangan, bahkan memiliki ilmu silat yang lebih hebat daripada suaminya! Ia adalah Sim Lan Ci,seorang wanita cantik yang berpakaian serba hitam, la bukan lain adalah puteri dari Ban-tok Mo-li, dan sesat itu yang berjuluk Iblis Betina...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 27

Han Beng yang menjadi penonton sambil bersembunyi dibalik batang pohon, menjadi bingung. Tentu saja tidak dapat menjadi pemisah setelah kedua pihak saling serang seperti itu. Akan tetapi dia melihat bahwa tak seorang pun di antara sembilan tosu yang tadi berada di antara para penyerbu itu Para tosu ini merupakan wajah-wajah baru!

Juga melihat gerakan mereka, biarpun kesemuanya pandai ilmu silat namun dibandingkan dengan para hwesio yang rata-rata memiliki tingkat tinggi itu, mereka bukan merupakan lawan yang perlu dikhawatirkan. Dugaannya Beng Han belum ada sepuluh menit dua puluh orang tosu itu melakukan penyerbuan mereka sudah dapat dipukul mundur akhirnya mereka melarikan diri menuju hutan!

Ketika ada hwesio yang hendak mengejar, Thian Gi Hwesio berseru, "Jangan kejar! Mengejar musuh di dalam hutan lebat amat berbahaya. Pula, kita harus setia kepada janji dalam sendiri. Mulai sekarang, kita tidak menjadi pihak menyerang. Kalau tosu menggunakan kekerasan, barulah kita membalas. Kalau mereka menggunakan kelembutan dan tidak menyerang, kita pun tidak boleh menyerang mereka. Kini, gerombolan tlosu yang menyerang kita sudah melarikan diri, tidak perlu dikejar lagi."

Akan tetapi Han Beng sudah menyelinap dan berlari-lari di antara pohon-pohon dalam hutan. Dia membayangi para tosu yang melarikan diri karena dia menaruh hati curiga. Para tosu itu sudah menanti dan menghadang di tempat itu agaknya.

Tentu mereka sudah tahu para Hwesio macam apa yang akan lewat dan mereka hadapi. Akan tetapi mereka itu tidak melakukan persiapan matang, dan mengajukan tosu-tosu yang tidak berapa tinggi kepandaiannya! Dan setelah menyerang belum berapa lama, belum ada diantara mereka yang terluka parah, tiba-tiba mereka melarikan diri! Sungguh gerakan ini mencurigakan sekali!

Ternyata para tosu itu melarikan sampai menembus hutan dan keluar dari sisi lain, kemudian mereka mendaki sebuah bukit! Ini pun mencurigakan Jelas bahwa mereka hendak menghilarngkan jejak dengan melalui hutan itu. Orang akan menyangka bahwa mereka berkumpul di hutan itu, padahal hutan itu hanya sekedar untuk lewat saja!

Setelah mendaki bukit yang penuh dengan hutan dan jurang yang curam itu, dan tiba di sebuah lereng di mana terdapat semacam perkampungan, mereka berhenti. Han Beng cepat menyelinap dekat untuk mendengarkan percakapan mereka. Seorang tosu yang tinggi kurus berkata kepada kawan-kawannya.

"Kalian semua sudah tahu bahwa untuk bebera hari lamanya, sebelum ada perintah, kalian tidak boleh meninggalkan perkampungan. Kami bertiga akan melaporkan kepada Beng-cu (Pemimpin)."

Setelah berkata demikian, tosu tinggi kurus dan dua orang lainnya melanjutkan perjalan menuju ke puncak, sedangkan tujuh belas orang tosu yang lain memasuki perkampungan itu. Sebagian dari mereka ketika memasuki pintu gerbang perkampungan yang terjaga itu, sudah menanggal jubah tosu dan di sebelah dalam jubah itu ternyata mereka mengenakan pakaian ringkas!

Hemmmn, kiranya hanya tosu-tosu palsu, pikir Han Beng yang menjadi semakin curiga. Dia pun segera membayangi tiga orang tosu yang mendaki puncak, ingin tahu siapa yang mereka sebut Beng-cu itu dan apa yang akan mereka laporkan.

Tiga orang itu kini dipuncak dan ternyata bahwa di puncak itu, tertutup oleh hutan yang mengelilingi puncak, terdapat sebuah bangunan besar dan baru. Ketika Han Beng menyelinap dan mengintai, dia melihat tiga orang tosu palsu itu langsung menuju ke pintu gerbang yang terjaga ketat dan pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang perwira pasukan pemerintah, menunggang kuda dan dikawal oleh dua losin tentara. Melihat perwira ini, para penjaga pintu gerbang segera memberi jalan dengan sikap hormat.

Han Beng termenung dan kecurigaannya semakin menebal. Melihat pakaian penjaga pintu gerbang itu, jelas bahwa mereka bukan tentara. Akan tetapi perwira dan para pengawalnya itu pasti pasukan pemerintah. Apa maksudnya berkunjung ke tempat aneh di puncak bukit ini? Dan para tosu palsu itu pun ke situ untuk bertemu dengan bengcu atau pimpinan mereka! Tentu ada kaitannya antara pimpinan para tosu palsu dan perwira pasukan pemerintah!

Tak lama kemudian, menggunakan ilmu kepandaiannya, Han Beng berhasil melompati pagar tembok tanpa diketahui para penjaga dan dia pun sudah menyelinap diantara pohon-pohon di taman bunga, mendekati bangunan dan dengan gerakan bagaikan seekor burung walet dia sudah meloncat ke atas genteng bersembunyi di balik wuwungan dan merayap seperti seekor kucing tanpa mengeluarkan suara untuk mengintai ke dalam.

Akhirnya dia tiba diatas sebuah ruangan yang luas di mana terdapat berapa orang sedang duduk menghadapi meja besar dan bercakap-cakap. Han Beng yang mengintai dari atas, mengenal tiga orang tosu yang dipimpin tosu kurus tadi, juga melihat perwira yang tadi menunggang kuda berada pula di situ. Di kepala meja duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih dan melihat orang ini, Han Beng terkejut.

Sungguh seorang laki-laki yang menyeramkan. Rambut, kumis dan jenggotnya masih hitam, tebal dan lebat, tidak terawat sehingga awut-awutan. Rambutnya keriting dan tebal sekali sehingga kepala itu seperti mengenakan topi bulu yang aneh. Mukanya persegi empat, dan muka itu dipenuhi brewok sehingga mirip muka seekor singa atau harimau.

Tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, sepasang matanya juga mencorong seperti mata harimau. Kuku-kuku jari tangannya panjang meruncing. Mengesankan sekali orang ini dan menakutkan. Baru melihat keadaan tubuhnya saja mudah diduga bahwa ia tentu seorang yang memiliki tenaga kuat sekali dan tentu pandai pula, memiliki ilmu silat yang tinggi.

Memang dugaannya ini tidak meleset dari kenyataan. Raksasa kulit hitam itu adalah seorang datuk sesat yang selama hampir dua puluh tahun ini menghilang di dunia kang-ouw. Ketika dia muncul kembali, dunia kang-ouw geger karena ia memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Munculnya menundukkan para datuk sesat sehingga sebentar namanya terkenal sekali dan dia diakui sebagai seorang datuk besar dunia hitam.

Apalagi, disamping ilmu silatnya yang tinggi juga dia memiliki ilmu sihir dan kemunculannya membawa pula suatu aliran kepercayaan baru, yaitu penyembah Raja Setan yang disebut Thian-te Kwi-ong!

Hebatnya, Cui-beng Sai-kong, demikianlah nama datuk ini, mampu mendatangkan Raja Setan yang disembah-sembah itu! Karena dia dapat membuktikan hal-hal yang aneh, disamping dia yang memiliki kepandaian silat dan sihir yang ampuh, sebentar saja banyak orang yang terdiri dari para datuk sesat yang takluk kepadanya dan menjadi pengikut atau anggauta perkumpulan atau aliran kepercayaan itu! Aliran kepercayaan yang menyembah dan memuja Raja setan.

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Seperti kita ketahui, Hok-houw To-to Lui Seng Cu juga seorang penyembah Thian-te Kwi-ong dan orang itu adalah murid pertama atau pembantu pertama dari Cui-beng Sai-kong! Dari raksasa hitam inilah Lui Seng Cu menerima aliran kepercayaan baru itu dan dia pun bertugas untuk menyebar-luaskan kepercayaan itu dan akhirnya, seperti kita ketahui, Lui Seng Cu berhasil mengait Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu menjadi anggautanya!

Di dekat kursi Cui-beng Sai-kong yang disebut beng-cu (pemimpin) oleh para tokoh sesat itu, duduk pula seorang kakek yang lebih tua. Usia kakek itu tentu sudah lebih dari tujuh puluh, dan pakaiannya seperti seorang tosu. Tubuhnya pendek, dengan kaki dan tangan yang pendek. Akan tetapi pedang yang tergantung dipunggung belakang itu panjang dan melengkung, semacam pedang Samurai dari Jepang. Jubahnya berwarna kuning dan rambutnya yang sudah putih digelung keatas.

Dia ini bukan lain adalah Tung-hai Cin-jin, seorang tosu perantau yang berasal dari pantai timur. Tung-hai Cin-jin tadinya penasaran dengan munculnya Cui-beng Sai-kong dan dia pernah mencoba kepandaian datuk sesat itu. Akan tetapi dia kalah jauh dan tosu perantau ini tunduk dan suka ditarik menjadi pembantu beng-cu itu. Apalagi karena Tung-hai Cin-jin juga tertarik kepada aliran kepercayaan itu yang menjanjikan kesaktian dan juga usia panjang!

Han Beng mendengarkan percakapan lima orang-orang itu dengan hati terarik. Ketika itu, perwira yang agaknya menjadi tamu itu menepuk meja dengan wajah gembira.

"Bagus! Jadi berhasil baik rencana kita, Beng-cu? Ah, harap ceritakan bagaimana hasilnya!"

"Tadinya memang mengkhawatirkan sekali, Ciangkun," kata Tung-hai Cin-jin yang duduk di sebelah pemimpinnya, pinto bertugas untuk mengamati pertemuan antara rombongan hwesio dan tosu di puncak Bukit Kijang. Mereka sudah saling siap untuk bertempur ketikaa tiba-tiba muncul seorang pemuda seorang pertapa yang berhasil melerai sehingga dua pihak tidak jadi berkelahi.”

"Wah, sungguh sayang sekali kalau begitu!" kata perwira itu kecewa.

"Akan tetapi, rombongan tosu palsu yang kita buat telah berhasil menyergap para hwesio itu di luar hutan!" kata Cui-beng Sai-kong dengan bangga. "kita sekarang tinggal menanti hasil penyergapan para hwesio palsu buatan yang bertugas untuk menyerang rombongan tosu itu."

Perwira itu mengangguk-angguk, "syukurlah kalau berhasil. Para hwesio dan tosu itu merupakan orang-orang yang keras kepala. Merekalah yang merupakan golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah. Karena pengaruh mereka, maka rakyat juga menentang pembuatan terusan dan mereka kurang semangat. Padahal, pembangunan terusan itu membutuhkan biaya yang amat banyak, terutama tenaga manusia yang besar jumlahnya. Para hwesio dan tosu itu, terutama para hwesio Siauw-lim-si, merupakan penghambat besar. Karena itulah maka kita mengadakan siasat mengadu domba antara mereka agar mereka sibuk dengan permusuhan mereka sendiri dan tidak ada lagi waktu untuk mengganggu lancarnya pembangunan terusan."

Cui-beng Sai-kong tertawa. "Serahkan saja kepada kami, Ciangkun. Asal Ciangkun tidak lupa memberi laporan yang baik buat kami ke atasan Ciang-kun.”

Perwira itu tertawa pula. "Jangan khawatir, Bengcu. Bukankah selama ini kami dari pihak pasukan pemerintah telah bekerja sama dengan baik sekali denganmu? Bukankah kami juga mengakui kedaulatan dan kekuasaanmu di antara para tokoh kang-ouw?"

Para pelayan wanita datang membawa hidangan dan mereka pun makan minnum dengan gembira. Tak lama kemudian, muncullah tiga orang hwesio palsu, kepala mereka memang tidak berambut, akan tetapi pakaian mereka telah menjadi pakaian yang ringkas karena mereka telah menanggalkan jubah pendeta mereka seperti yang dilakukan para tosu tadi sebelum mereka memasuki ruangi itu. Setelah memberi hormat kepada pimpinan mereka dan orang-orang lain dan dipersilakan duduk, seorang di antara tiga orang "hwesio" ini lalu membuat laporan.

Seperti juga rombongan tosu palsu yang menghadang para hwesio, juga tiga orang hwesio palsu itu melaporkan tapa mereka dengan rombongan hwesio palsu telah berhasil menghadang dan menyerang para tosu yang meninggal puncak Bukit Kijang. Mereka pun dipukul mundur, akan tetapi mereka berhasil membuat para tosu yang mereka serang itu tentu saja menjadi marah dan permusuhan di antara kedua pihak kobar lagi.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Beng-cu kami akan melaporkan hasil ini kepaatasan kami dan tentu Bengcu dan kawan-kawan akan menerima balas jasa..." kata perwira itu.

Han Beng sejak tadi mendengarku mengepal tinju. Sungguh licik dan jahat orang-orang ini, pikirnya. Kini, tanpa ragu lagi dia dapat membayangkan mengapa permusuhan antara para tosu dan para hwesio semakin meluas sejak Siauw-lim-si dibakar. Tentu juga atas usaha orang-orang seperti inilah maka kedua pihak itu semakin mendendam dan saling membenci. Tentu ada di antara mereka ini yang membunuh tosu dengan menyamar sebagai hwesio atau sebaliknya.

Dia bergidik membayangkan betapa luasnya akibat yang disebabkan oleh usaha yang amat jahat itu. Tentu para hwesio dan para tosu menjadi semakin saling membenci. Apalagi dilandasi perbeda agama, maka permusuhan itu akan jadi malapetaka yang mengerikan.

"Sungguh keji sekali kalian ini orang-orang jahat!" bentaknya dan di lain saat, tubuhnya sudah melayang turun ke dalam ruangan itu.

Tentu saja semua yang menjadi terkejut bukan main ketika melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah telah berdiri disitu, menentang mereka dengan pandangan mata mencorong penuh kemarahan. Cui-beng Sai-kong adalah seorang datuk besar yang sadar akan kemampuannya, maka biarpun diam-diam dia terkejut melihat munculnya seorang pemuda tanpa dia ketahui kehadirannya tadi, namun dia bersikap tenang saja.

Perwira itulah yang terkejut dan marah. "Wah, ada mata-mata musuh kesini! Dia harus ditangkap!"

Perwira itu mengeluarkan teriakannya sebagai aba-aba dan dari luar ruangan yang luas itu berhamburan masuk dua lusin perajurit pengawalnya! Atas isyarat yang diberikan oleh perwira itu sendiri yang sudah mencabut pedang dan memimpim langsung pasukannya, Han Beng segera dikepung.

"Hemmm, mata-mata keparat! Menyerahlah engkau sebelum kami melakukan kekerasan! Menyerahlah untuk kami tangkap!"

Han Beng bersikap tenang. "Ciangkun, aku tidak dapat menyalahkan engkau karena bagaimanapun juga, engkau adalah seorang perwira yang melaksanakan tugas untuk atasanmu. Akan tetapi, mereka ini adalah orang-orang jahat yang ingin mengadu domba dan mencelakakan orang lain hanya untuk mendapatkan imbalan jasa. Merekalah yang kutentang bukan engkau, Ciangkun!"

Akan tetapi perwira itu tidak peduli dan memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu. "Tangkap dia dan bunuh kalau melawan!" bentaknya.

Dua lusin perajurit itu bergerak dan banyak sekali tangan dijulurkan untuk mencengkeram dan menangkap Han Beng. Akan tetapi pemuda ini meloncat dan mereka semua hanya mencengkeram udara kosang. Tahu-tahu pemuda itu telah berada di luar kepungan. Mereka membalik dan kembali mengepung, sekali ini mereka mempergunakan senjata untuk menyerang.

Han Beng menggerakkan kaki tangannya dan segera terdengar para pengepungnya berrteriak kesakitan, pedang, dan golok beterbangan dan lima orang roboh susul-menyusul oleh dorongan tangan, tamparan atau tendangan kakinya. Namun, Han Keng membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh orang. Perwira itu marah sekali. Dia meloncat, menubruk dengan pedangnya yang menyambar ganas kearah leher Han Beng.

"Aku tidak mau bermusuhan dengan pasukan pemerintah!" kata Han Beng dan tangan kirinya menyambar, menangkap pedang itu.

Perwira itu membetot sekuat tenaga, namun pedang seperti terjepit jari-jari baja saja. mengerahkan tenaga sekuatnya, menarik lagi dan tiba-tiba saja dia terjengkang dengan pedang yang tinggal sepotong karena yang sepotong lagi tertinggal tangan Han Beng!

Melihat kehebatan pemuda ini, yang begitu saja menangkap pedang telanjang komandan mereka, apalagi kemudian mematahkannya, para perajurit menjadi gentar dan ragu-ragu untuk melanjutkan pengeroyokan mereka. Sebelum perwira itu dapat memberi aba-aba baru karena dia sendiri masih terkejut melihat kelihaian pemuda itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Saudara-saudara mundurlah semua. Biarkan pinto yang menghadapi bocah sombong ini!"

Yang berteriak ini adalah Tung-hai Sin-jin, tosu tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu. Melihat majunya pembantu utama dari Bengcu, perwira itu yang merasa jerih kepada Han Beng memberi isyarat kepada anak buahnya dan pasukan itu pun memundurkan diri dan keluar dari ruangan itu. Kini,kakek pendek itu sudah berhadapan dengan Han Beng. Melihat kakek ini, Han Beng merasa seperti sudah pernah melihatnya, akan tetapi dia lupa lagi entah kapan dan di mana.

"Orang muda," kata Tung-hai Cin-Jin dengan sikap penuh wibawa. "Engkau ini orang yang masih muda sekali akan tetapi berani lancang mencampuri urusan orang lain! Siapakah namamu dan siapa yang menyuruhmu menjadi mata-mata di sini?"

"Totiang, sungguh aku merasa heran sekali. Engkau juga seorang tosu, tetapi setidaknya berpakaian sebagai seorang tosu. Akan tetapi mengapa engkau ikut pula mengotorkan tanganmu mengatur rencana permusuhan antara para hwesio dan para tosu sendiri? Tidak ada yang menyuruh aku, akan tetapi aku tadi melihat ketika para tosu palsu menghadang para hwesio, maka aku mengikuti tosu-tosu palsu itu kesini.”

"Siancai, pemuda yang besar mulut. Engkau tidak tahu bahwa engkau berhadapan dengan Tung-hai Cin-jin! Hayo cepat engkau berlutut dan minta ampun baru mungkin aku dapat mintakan ampun untukmu kepada Beng-cu!"

Kini Han Beng teringat. Pernah gurunya yang pertama, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, menceritakan kepadanya siapa-siapa saja para tokoh kang-ouw yang ikut memperebutkan anak naga di kedung maut Sungai Huang-ho, bahkan kemudian memperebutkan dia dan Giok Cu karena dia dan Giok Cu telah menghisap darah anak naga. Dan menurut guru yang pertama itu, di antara para to kang-ouw itu terdapat yang bernama Tung-hai Cin-jin dan kini dia pun teringat.

"Ah, kiranya Totiang adalah petualang yang dimana pun selalu mengejar keuntungan itu! Pernah kita saling bertemu, Totiang, kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, di tepi pusaran maut Sungai Huang-ho!"

Tosu itu mengerutkan alisnya dan ia memandang dengan sinar mata penuh perhatian. Lalu dia menuding dengan telunjuk kirinya, sedangkan tangan kanan meraba gagang samurainya. "Bagus! Kiranya engkau bocah penghisap darah naga Ho-ho, sungguh kebetulan sekali, pinto semakin tua dan membutuhkan sekali darahmu untuk obat kuat dan panjang umur!"

"Aha, jadi itukah bocah yang pernah kau ceritakan kepadaku, Tung-hai Cin-jin? Kalau begitu, tangkaplah dia untukku!"

Tiba-tiba Cui-beng Sai-kong berseru gembira. Dia sudah mendengar cerita pembantunya itu tentang perebutan mustika dan darah naga di Sungai Huang-ho, maka mendengar bahwa pemuda itu adalah anak yang menghisap darah naga, tentu saja dia tertarik sekali.

Tung-hai Cin-jin mengerutkan alisnya dan ingin dia menampar mulut sendiri. Kenapa dia membuka rahasia itu didepan bengcu! "Beng-cu, pin-to... pinto sudah tua dan loyo, amat membutuhkan darahnya..."

"Bodoh! Darah itu kini telah menjadi banyak setelah dia dewasa, lebih dari cukup untuk kita berdua!"

Tung-hai Cin-jin merasa terhibur juga. Ucapan itu menyatakan bahwa dia tentu akan mendapat bagian dari darah pemuda ini yang amat dia butuhkan. Maka terdengar suara berdesing dibarengi sinar berkilat menyilaukan mata ketika dia mencabut pedang samurai dari belakang punggungnya.

Han Beng melihat ini maklum bahwa tosu tua itu ahli bermain pedang dan bahwa pedang yang panjang melengkung itu tajam bukan main. Dia sejak tadi sudah menyadari sepenuhnya bahwa dia memasuki tempat berbahaya, gua harimau dan akan menghadapi orang-orang berbahaya. Oleh karena itu, ketika dia masuk tadi, dia sudah mematahkan sepotong dahan pohon sebagai tongkat untuk dipakai sebagai senjata.

Kini, dengan potongan kayu sebesar lengan itu di tangan, dia bersikap tenang. "Hemmm, kiranya engkau pun hanya seorang tosu yang palsu saja, Tung-Hai Cin-jin. Seorang tosu yang tulen tentu telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan hidup selaras dengan To, tidak seperti engkau yang masih diperbudak oleh nafsu-nafsu sendiri."

"Bocah sombong, pinto membutuhkan darahmu!"

Berkata demikian, kakek itu lalu menggerakkan pedangnya. Pedang itu panjang dan melengkung, berat dan Tung-Hai Cin-jin mempergunakan kedua tangan untuk memegang gagangnya dan menyerang. Serangannya itu cepat dan kuat bukan main. Sungguh aneh permainan pedangnya itu, menggunakan kedua tangan!

Akan tetapi, ketika Han Beng mengelak, pedang itu sudah datang lagi menyambar dari arah yang berlawanan! Ternyata biarpun dia mempergunakan dua tangan, namun gerakan pedang itu tidak kalah cepatnya seperti kalau digerakkan oleh satu tangan saja.

Han Beng segera mengelak lagi sambil mulai memainkan tongkatnya. Dia telah mempelajari ilmu tongkat dari Sin-ciang Kai-ong, ilmu tongkat yang menjadi andalan guru ke dua itu, yang dinamakan "Tongkat Dewa Mabuk"! Tongkat di tangannya menyambar kacau, ringan gerakan miring dan kadang-kadang seperti tidak akan mengenai sasaran akan tetapi dengan gerakan menyerong itu ujung tongkat mengancam jalan darah yang berbahaya di tubuh lawan!

Tung-hai Cin-jin terkejut dan cepat memutar pedangnya untuk membabat tongkat yang hanya terbuat dari dahan pohon itu agar patah-patah. Namun, gerakan tongkat itu aneh sekali dan selain dapat menghindarkan setiap bacokan untuk disusul dengan pukulan atau totokan tongkat. Tung-hai Cin-jin merasa penasaran dan dia memutar pedang semakin cepat sehingga nampaklah gulungan sinar pedang yang putih kemilauan, menyambar-nyambar dengan bunyi berdesing-desing.

Namun, Han Beng selalu dapat mengelak dan tongkatnya yang sederhana berubah menjadi gulungan sinar hijau. Tadinya, pada dahan itu masih menempel beberapa lembar daun. Kini, daun-daun itu sudah rontok, akan tetapi sebelum rontok, sudah berkesempatan untuk lebih dulu menyambar kearah tubuh Tung-hai Cin-jin. Dua helai daun tadi telah menyambar dan menampar kedua pipi kakek itu. Hanya daun terbang, akan tetapi karena mengandung tenaga kuat, maka kedua pipi itu menjadi merah sekali!

Kakek itu memang amat hebat dengan pedang samurainya. Namun, dia sudah terlalu tua untuk berkelahi dalam waktu lama. Sebentar saja, tubuhnya sudah basah dengan keringat dan napasnya mulai terengah-engah. Melihat keadaan pembantunya itu, diam-diam Cui-beng Sai-kong terkejut juga. Dia mengenal kepandaian kakek pendek itu yang cukup lihai. Akan tetapi melawan pemuda ini, belum juga dua puluh jurus lamanya, Tung-hai Cin-jin sudah terdesak dan terengah-engah.

"Bocah sombong, lihat seranganku!"

Dia membentak dan kakek tinggi besar hitam seperti raksasa itu sudah meloncat kedalam medan pertempuran, kedua lengannya diayun dan angin menyambar ke arah Han Beng yang pada saat itu sedang menahan pedang samurai lawan dengan tongkatnya. Cepat dia melepaskan pedang itu dari tempelan tongkatnya sambil melompat kebelakang.

Namun, angin pukulan itu tetap saja masih membuat dia terhuyung kebelakang. Dari belakang, ada beberapa orang pembantu beng-cu itu menyambutnya dengan serangan golok dan tombak. Akan tetapi Han Beng melempar tubuh ke bawah menggelinding ke arah mereka dan begitu tongkatnya bergerak, dua orang pengeroyok telah roboh tertotok sambungan lutut mereka! Dia meloncat bangun kembali dan kini bersikap hati-hati, karena dia maklum betapa lihainya beng-cu itu.

Cui-beng Sai-kong yang melihat betapa pemuda itu bukan saja berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bahkan sambil menggelundung tadi merobohkan pula dua orang pembantunya yang cukup lihai, menjadi marah dan penasaran. Kalau dia tidak cepat merobohkan pemuda itu, tentu kebesarannya akan tercemar!

Sekali menggerakkan tubuhnya, dia telah meloncat ke depan Han Beng. Dan mulailah dia menyerang dengan gerakan aneh dan cepat, juga kedua tangannya yang menyambar-nyambar itu mengeluarkan suara berkerotokan seolah-olah semua tulangnya itu saling beradu, dibarengi menyambarnya angin dahsyat. Serangkaian serangan terdiri dari sembilan pukulan dan cengkeraman yang bertubi-tubi datangnya dapat dihindarkan oleh Han Beng dengan elakan dan loncatan kesana-kemari.

Gerakan tubuhnya lincah sekali sehingga dia berhasil lolos. Namun, kembali dia terhuyung karena serangan-serangan itu mendatangkan angin pukulan yang mendorong dengan kuatnya. Sebagai balasan, ketika dia melihat kesempatan setelah lewatnya serangkaian serangan itu, ujung tongkatnya bergerak lengan ujungnya berputaran kedepan muka lawan. Kalau lawannya tidak lihai sekali, tentu akan bingung dan pandang matanya kabur melihat ujung torgkat berputaran didepan mata seperti itu.

Namun tidak demikian dengan Cui-ben Sai-kong yang selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga memiliki pengalaman yang matang dalam soal perkelahian. Sudah banyak dia menghadapi lawan-lawan tangguh, maka biarpun ilmu tong kat yang dimainkan pemuda itu aneh dan membingungkan, namun dia tidak menjadi gentar dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyambar kedepan, mencengkeram ke arah pusar lawan sedangkan tangan kirinya diputar sedemikian rupa untuk menangkap ujung tongkat itu!

Tentu saja Han Beng tidak mau tongkatnya tertangkap lawan. Dia menarik tongkatnya dan menghindarkan cengkeraman itu dengan memiringkan tubuh ke kanan. Akan tetapi, dari atas, tangan kiri yang diputar tadi telah menyambar, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya dan tangan kanan yang luput mencengkeram tadi pun sudah menyambar dari samping dengan pukulan tangan terbuka yang dasyat sekali!

Han Beng terkejut, cepat dia mengelak lagi sambil melompat ke atas, kini menggunakan gerakan dari Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) yang dipelajarinya dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Gerakannya cepat dan tubuhnya bagaikan bersayap saja. Dari atas, tongkatnya kembali menyambar ke bawah, kearah tengah kepala lawan. Kini kakek itu yang terkejut.

"Aihhhhh...!" Dia mendengus, akan tetapi biarpun dia sudah mengelak sambil menggunakan kedua tangan untuk melindungi kepala, berusaha menangkap tongkat, namun tongkat itu menyeleweng ke samping dan berhasil mencium pundaknya.

"Tukkk!" Pundak itu dilindungi kekebalan yang luar biasa sehingga ujung tongkat terpental. Keduanya terkejut.

Han Beng terkejut karena hampir saja tongkat yang berhasil menotok pundak itu patah, sudah melengkung, dan sebaliknya kakek itupun terkejut karena biarpun dia mampu menyelamatkan pundaknya dengan perlindungan kekebalan, namun tetap saja pundaknya terasa nyeri, tanda bahwa tenaga di dalam tongkat itu sungguh amat kuatnya!

Mau tidak mau, Cui-beng Sai-kong terhuyung. Akan tetapi pada saat itu, Tung-hai Cin-jin sudah menyerang lagi dengan samurainya disabetkan dari kanan ke kiri membabat pinggang Han Beng. Kalau mengenai sasaran, agaknya pemuda itu akan sukar menyelamatkan diri dan tubuhnya tentu akan buntung menjadi dua potong! Dia melempar tubuh ke belakang, tongkatnya diputar di sebelah kirinya menyambut pedang itu yang begitu bertemu tongkat Ialu ikut terputar dan hampir terlepas dari tangan kakek tua renta itu.

Tung-hai-Cin-jin terkejut, cepat menarik kembali samurainya dan melompat ke belakang dengan muka pucat. Akan tetapi, kini Cui-beng Sai-kong sudah mengerahkan tenaga dalam dan menggunakan ilmu hitamnya. Dia mengeluarkan suara menggereng seperti auman singa marah dan se galanya tergetar hebat oleh auman itu. Inilah semacam ilmu Sai-cu Ho-kang (Tenaga Auman Singa) yang amat ampuh dapat menggetarkan dan melumpuhkan lawan. Ilmu ini memang diambil pengaruh dari auman singa. Seekor singa harimau atau binatang buas lain, serta mempergunakan kekuatan auman ini untuk melumpuhkan lawan.

Han Beng terkejut sekali. Banyak orang di situ roboh bergelimpangan, pemuda itu pun merasa betapa kedua kakinya lemas! Pada saat itu, Cui-Sai-kong sudah menubruk dengan kedua lengannya mencengkeram ke arah leher dan dada. Han Beng teringat akan nasihat kedua orang gurunya kalau menghadapi serangan yang mengandalkan kekuatan suara atau ilmu hitam.

Dia mengerahkan Sin-kang di tubuhnya, dihalau ke seluruh tubuh sampai menembus ke otak pada saat serangan datang, dia sudah pulih kembali, tidak lagi merasa Iumpuh dan dia dapat membuang tubuhnya kiri sehingga cengkeraman kedua tangan lawan itu luput dan dari kiri, Han Beng sudah mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambung lawan!

“Tukkk!" Totokan itu tak mengenai sasaran, meleset dan pada saat itu, dalam keadaan terhuyung, Cui-beng Sai-kong yang lihai itu telah mengirim tendangan dengan kakinya yang panjang dan besar.

"Desss...!" Tendangan itu mengenai paha Han Beng dan tubuh pemuda ini terlempar jauh ke atas! Dan tubuh itu tidak turun kembali! Semua orang terbalak memandang ke atas. Kiranya, Tubuh pemuda itu disambar oleh seorang kakek yang pakaiannya serba putih. Kakek itu menarik tubuh Han Beng melalui atap yang sudah berlubang dan mereka pun lenyap.

”Kejar!" teriak Cui-beng Sai-kong sambil bersama Tung-hai Cin-jin mendahului melompat ke atas genteng.

Namun sia-sia. Kakek itu bersama Han Beng telah lenyap entah ke mana. Kakek yang melarikan Han Beng itu bukan lain adalah Pek I Tojin! Han Beng tidak terluka. Tadi ketika terkena tendangan, karena sudah tidak mampu menghindarkannya lagi, dia melindungi tubuh dengan sin-kang, bahkan membiarkan tubuhnya ringan sehingga ketika terkena tendangan yang amat kuat itu, tubuhnya seperti sebutir bola melambung ke atas. Tahu-tahu ada orang menyambarnya.

Han Beng hendak meronta, akan tetapi ketika mengenal kakek yang pernah dilihatnya ketika melerai pertikaian antara para hwesio dan tosu, dia pun diam saja, bahkan membiarkan dirinya dibawa lari sampai jauh. Di dalam hutan yang sunyi Pek I Tojin melepaskan tubuh Han Beng dia memandang heran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak terluka dan berlutut di depannya memberi homat.

"Eh, kau tidak... terluka?"

"Tidak, Lo-cian-pwe."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Bagus! Kiranya engkau telah menerima gemblengan orang pandai. Tidak tahu siapakah gurumu ?"

"Teecu (Murid) pernah dibimbing Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan kemudian oleh Suhu Sin-ciang Kai-ong."

"Siancai...! Pantas kalau begitu. Dan Engkau telah mewarisi ilmu-ilmu mereka dengan baik. Akan tetapi engkau masih terlalu hijau, tidak mengukur kekuatan lawan. Ketahuilah bahwa Cui-beng Sai-kong itu selain lihai sekali, juga memiliki banyak anak buah. Untung engkau tadi belum dikeroyok oleh seluruh anak Buahnya. Hemmm, kenapa engkau dapat berada di sarang mereka itu?"

Han Beng menceritakan tentang penyerbuan tosu-tosu palsu yang diatur oleh gerombolan itu untuk mengadu domba antara para hwesio dan tosu. Mendengar ini, Pek I Tojin tersenyum.

"Sudah pinto duga begitu. Pinto juga melihat dua puluh orang hwesio palsu menyergap para tosu, maka pinto juga membayangi paru hwesio palsu itu dan tiba di sarang mereka."

“Ah, kalau begitu, usaha Lo-cian-pwe melerai dan mendamaikan para tosu dan para hwesio akan menjadi sia-sia saja mereka tentu sudah terpengaruh oleh siasat busuk mengadu domba itu."

"Tidak, orang muda. Bahkan pinto melihat jalan yang baik untuk mendamaikan antara mereka, mungkin untuk selamanya. Mari kita membagi pekerjaan. Kau pergilah ke barat. Di luar hutan terdapat sebuah kuil tua dan pinto kira disana engkau akan dapat menemukan sepuluh hwesio pimpinan itu. Ceritakan apa yang kau lihat tentang tosu tosu palsu itu, kemudian ajak mereka ke sini. Katakan bahwa pinto menanti disini bersama para tosu pimpinan. Kemudian kita bersama-sama menyerbu sarang Cui-be Sai-kong dan anak buahnya. Dengan terbongkarnya kepalsuan dan fitnah adu domba itu, kiranya para hwesio dan tosu akan benar-benar insaf betapa bodohnya sikap mereka selama ini dan bahwa permusuhan hanya akan memancing datangnya malapetaka bagi diri sendiri."

Han Beng dapat mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu. Dia lalu berlari cepat menuju ke barat sedangkan kakek itu pun berkelebat menuju ke timur. Benar saja, Han Beng dapat menjumpai para hwesio yang dipimpin oleh Thian Gi Hwesio itu di dalam sebuah kuil. Mereka sedang berdoa ketika dia tiba di situ. Ketika para hwesio mendengar keterangannya tentang para tosu palsu yang menyerbu mereka, para hwesio itu menjadi marah.

"Omitohud...! Kiranya begitu? Kami sudah merasa bingung dan heran sekali...! Mari kita serbu ke sarang mereka!" Thian Gi Hwesio berkata dan para hwesio lainnya menyambut penuh semangat.

"Nanti dulu, Lo-suhu. Saya disuruh oleh Lo-cian-pwe Pek I Tojin agar mengajak Cu-wi ke dalam hutan. Di sana dia akan menanti bersama para tosu yang juga disergap oleh segerombolan hwesio palsu."

Berangkatlah para hwesio itu dan Han Beng menjadi petunjuk jalan. Ketika mereka tiba di dalam hutan, ternyata Pek I Tojin dan sembilan orang tosu pimpinan sudah berada di situ. Ketika para hwesio dan para tosu mendengarkan siasat yang dijalankan pemerintah dengan bantuan tokoh-tokoh sesat untuk mengadu domba antara para hwesio dan para tosu, tentu saja mereka menjadi penasaran dan marah sekali. Pek I Tojin tersenyum, diam-diam girang melihat sikap mereka.

"Nah, sekarang kalian dapat melihat sendiri betapa ruginya kalau antara kedua pihak selalu bermusuhan. Dapat dipergunakan oleh golongan ke tiga untuk mengadu domba kalian sehingga memperlemah diri sendiri. Tahukah kalian mengapa pemerintah memusuhi golongan pendeta, banyak para hwesio maupun para tosu, dan tidak segan-segan mempergunakan tokoh-tokoh sesat untuk memusuhi kalian? Bukan lain karena di samping para pendekar, kedua golongan hwesio dan tosu yang melindungi rakyat dan menyatakan tidak setuju dan menentang pelaksanaan penggalian terusan yang memakan korban banyak sekali nyawa rakyat. Kalau kalian ditentang pemerintah yang tidak segan bersekongkol dengan kaum sesat, maka hal itu berarti bahwa perjuangan kalian sudah benar. Nah, sekarang hendaklah pengalaman ini menjadi pelajaran dan kalian dapat menyebarluaskan kepada saudara-saudara golongan masing-masing betapa bodoh dan kelirunya untuk saling bermusuhan."

Setelah mendengarkan nasihat itu, mereka semua berangkat menuju ke Sarang Cui-beng Sai-kong di puncak bukit, Ketika tiba di lereng bukit dan Han Beng mengajak mereka lebih dulu menyerbu markas di mana tinggal para anak buah datuk sesat itu, ternyata markas telah kosong dan semua anggauta-anggauta gerombolan telah dikerahkan oleh Cui-Beng Sai-kong, melakukan penjagaan di Puncak! Mereka telah memusatkan kekuatan di puncak. Bahkan perwira itu telah mengutus anak buahnya untuk mendatangkan pasukan sebanyak seratus orang!

Ketika rombongan tosu dan hwesio tiba di sarang gerombolan itu, mereka disambut dengan serangan oleh para anak buah gerombolan. Dapat dibayangkan betapa marahnya hati para tosu dan Hwesio ketika melihat bahwa di antara para penyambut itu terdapat hwesio-hwesio dan tosu-tosu palsu yang tadi telah menyergap mereka...!

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 26

Hui Im lalu bercerita tentang pertentangan antara keluarganya dengan Ang-kin Kai-pang, dan tentang fitnah yang dilontarkan Ang-kin Kai-pang kepada ayahnya sehingga ayahnya dituduh pemberontak.

"Kalau tidak ada Toako Si Han Beng dan gurunya, kiranya saya pun tak mungkin dapat selamat. Bahkan Ayah dan Susiok juga diselamatkan oleh Toako Han Beng dan gurunya, akan tetapi mereka berdua tewas karena luka-luka mereka. Karena saya tidak mempunyai tempat tinggal lagi, tidak mempunyai keluarga, maka satu-satunya tujuan adalah datang kepada Paman dan Toako Han Beng demikian baiknya untuk mengantar saya sampai ke sini."

Suara Hui Im mengandung kedukaan, akan tetapi ia tidak lagi menangis. Sejak melakukan perjalanan dengan Han Beng, ia banyak mendengar tentang isi kehidupan dan ia pun telah pandai mengubah sikap yang keliru.

"Hemmm, engkau melakukan perjalanan sejauh itu, selama berhari-hari, berdua saja dengan pemuda ini, Hui Im? Itu namanya tidak sopan dan tidak pantas!" isteri Tang Gu It berkata dengan alis berkerut dan mulutnya meruncing tanda bahwa hatinya tidak senang.

"Benar, Bibi. Habis dengan siapa? Toako Han Beng ini penolong saya dan dia suka mengantar..."

"Memang kurang pantas kalau seorang gadis melakukan perjalanan jauh yang berhari-hari lamanya bersama seorang pemuda bukan sanak keluarga," kata pula Ciok An.

Mendengar ucapan calon ibu mertua dan calon suami itu, Hui im tidak mau membantah, hanya menundukkan mukanya dengan alis berkerut.

"Sudahlah! Biarpun tidak pantas, akan tetapi kalau keadaan memaksa, mau bagaimana lagi? Apakah kalian menganggap bahwa lebih baik Hui Im melakukan perjalanan seorang diri? Lebih tidak pantas lagi, juga tidak aman," kata Tang Gu It. "Hui Im, syukurlah kalau engkau selamat. Tidak perlu engkau bersedih. Tinggallah di sini dan setengah tahun kemudian, pernikahan antara engkau dan Ciok An kami rayakan di sini."

"Aih, kalau saja aku berada di sana, Im-moi, tentu tidak akan terjadi malapetaka menimpa keluarga Ayahmu. Aku akan lebih dulu membasmi perkumpulan pengemis-pengemis hina itu sebelum mereka dapat bertindak jahat!" kata Ciok n kepada tunangannya. "Jaman sekarang ini memang kita tidak boleh percaya kepada sembarang orang, Moi-moi. Lihat saja tadi, Si Kiu-bwe-houw Gan Lok. Namanya saja besar, akan tetapi dia bukan lain hanyalah seorang pemeras. Untung ada aku! Benarkah engkau tidak menemui halangan sesuatu ketika engkau pergi meninggalkan kota raja kesini, Moi-moi. Tidak ada yang berbuat jahat kepadamu?"

Hui Im memandang kepada tunangannya, dan menggeleng kepala. "Tidak terjadi apa-apa..."

"Benarkah? Tidak ada misalnya laki-laki yang mengganggu dan menggodamu?" Ciok An melirik ke arah Han Beng. "Engkau seorang gadis muda yang cantik menarik, Moi-moi. Aku tidak akan merasa heran kalau banyak pria tergila-gila kepadamu dan mencoba untuk berbuat kurang ajar kepadamu!"

Hui Im maklum bahwa tunangannya itu diam-diam secara tidak langsung merasa cemburu kepada Han Beng. la mengerutkan alisnya dan kini mengangkat muka memandang tajam kepada Ciok An.

"Koko! Apakah engkau menuduh aku berbuat yang tidak-tidak, melakukan hal yang tidak sopan dan tidak tahu malu dalam perjalananku ke sini?" Ia mengajukan pertanyaan ini dengan pandang mata tajam dan suara meninggi.

"Aih, tentu saja, Moi-moi. Tentu saja engkau tidak melakukan sesuatu yang tidak baik. Akan tetapi, biasanya laki-laki yang suka kurang ajar kepada wanita. Dan engkau melakukan perjalanan berhari-hari bersama seorang laki-laki asing..."

"Koko! Toako ini adalah Si Han Beng, seorang pendekar sejati! Dia adalah murid dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin-Ciang Kai-ong! Sedikit. pun dia tidak pernah memperlihatkan sikap yang buruk kepadaku!"

"Hemmm, seorang pendekar sejati, ya?" Ciok An memandang kepada Han Beng dengan mata dipicingkan.

"Ciok An!" kini Tang Gu It membentak puteranya. "Bersikaplah wajar dan hormat kepada tamu! Bagaimanapun juga, Si-taihiap (Pendekar Besar Si) telah menyelamatkan calon isterimu! Si-taihiap, harap maafkan kami dan kami berterima asih sekali kepadamu."

Sejak tadi Han Beng telah merasa marah sekali. Hatinya terasa panas bukan main. Dia memang sudah merasa terpukul batinnya ketika melihat Hui Im bertemu dengan tunangannya, biarpun Dihiburnya perasaannya sendiri bahwa gadis itu memiliki seorang calon suami mg amat baik, tampan kaya raya, dan gagah perkasa. Karena itulah, maka tadi diam-diam membantu Ciok An megalahkan Gan Lok.

Akan tetapi kini, dia hanya mendengar kata-kata yang amat tidak enak dan melihat sikap yang amat memandang rendah kepadanya. Dan sikap Tang Gu It yang merendah itu pun amat yang merendah itu pun amat dibuat-buat, atau mungkin karena mendengar nama kedua orang gurunya. Hatinya terasa panas sekali dan kalau bukan untuk Hui Im, tentu sudah sejak tadi dia pergi.

Ibu Ciok An agaknya juga menyadari bahwa suaminya marah dan menegur puteranya, maka ia pun hendak bersikap baik. "Benar, Ciok An. Pemuda ini sudah mengantar calon isterimu sampai ke sini dengan selamat. Sebaiknya engkau cepat mengambil perak beberapa puluh tail untuk diberikan kepadanya sebagai imbalan dan uang lelah!"

Han Beng tidak dapat menahan lagi. Dia bangkit berdiri dengan kedua telapak tangan masih berada di atas meja, lalu memandang kepada Hui Im tanpa menjawab semua kata-kata dari keluarga tuan rumah itu. "Siauw-moi, engkau tahu benar bahwa aku mengantarmu sampai kesini tanpa pamrih apa pun. Aku sudah merasa berbahagia sekali bahwa engkau telah bertemu dengan keluarga calon suamimu dengan selamat. Aku tidak minta imbalan upah apa pun, akan tetapi aku pun tidak sudi untuk dipandang rendah oleh siapa pun! Nah, engkau sudah tiba di tempat tujuan, Siauw-moi, maka perkenankan aku pergi sekarang."

"Nanti dulu, Toako! Ah, jangan engkau pergi dengan perasaan tidak enak seperti itu. Kau... kau maafkanlah semuanya, Toako. Semua ini hanya kesalah-pahaman belaka. Toako, aku minta, dengan hormat dan sangat, sudilah engkau hadir pada perayaan pernikahanku tengah tahun mendatang."

Mereka berdiri dan saling pandang. Han Beng melihat betapa sepasang mata yang indah itu memandang kepada penuh permohonan, bahkan kedua mata itu basah dengan air mata. Han Beng terasa lemas dan dia pun mengangguk. "Kalau Tuhan memperkenan, aku tentu akan datang. Nah, selamat tinggal, Adik Souw Hui Im!"

Setelah berkata demikian, semua orang yang duduk di situ hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh pemuda itu sudah lenyap dari situ! Tentu saja Tang Gu It, isterinya dan Ciok An terkejut bukan main. Mereka memandang ke arah pintu depan, namun tidak nampak lagi bayangan Han Beng dan tiba-tiba Tang Gu It menuding kearah meja yang tadi dihadapi Han Beng dengan telunjuk gemetar. Ciok An dan ibunya memandang, juga Hui Im. Dan meja di mana tadi ditekan oleh kedua telapak tangan Han Beng, nampak ada tanda dua telapak tangan dan papan meja itu hangus dan masih mengepulkan sedikit asap!

Agaknya, saking marahnya dan menahan perasaannya, Han Beng menyalurkan kekuatannya melalui kedua telapak tangan dan sin-kang itu mendatangkan hawa panas yang sampai membakar papan meja!

"Ahhhhh...!" Ciok An berseru dan wajahnya berubah pucat. Dia memandang kepada tunangannya. "Im-moi... dia... dia begitu sakti kah...?"

Gadis itu menundukkan mukanya agar jangan nampak kedukaan membayangkan diwajahnya dan dengan perlahan ia mengangguk, "la memang seorang pendekar sakti, seperti seekor naga sakti..."

Tang Gu It menarik napas panjang. "Nah, sekarang terbukalah matamu, Ciok An. Jangan mudah memandang rendah orang lain. Tadi pun aku sudah terkejut mendengar bahwa dia murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong! Tahukah engkau siapa kedua orang sakti itu? Mereka adalah dua orang sakti yang amat terkenal di dunia kang-ouw, karena itu tadi pun aku segera menyebutnya taihiap. Akan tetapi engkau sudah tidak tahu diri, masih saja merendahkannya. Bahkan ingin memberi hadiah uang kepada seorang pendekar sakti! Sungguh menggelikan dan memalukan sekali!"

Keluarga itu masih belum hilang kagetnya dan sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi menyebut nama Han Beng, apalagi membicarakan persangkaan buruk kepada pendekar itu. Sikap mereka terhadap Hui Im juga menjadi baik dan hal ini sedikit banyak menghibur hati gadis itu yang merasa kehilangan sekali setelah Han Beng pergi. Baru ia yakin benar bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada pendekar itu.

Akan tetapi apa daya? Sejak kecil ia sudah ditunangkan dengan Tang Ciok An dan tidak mungkin ia mengubah kenyataan ini. Pertama, ia harus mentaati keputusan ayahnya, apalagi setelah ayahnya meninggal dunia, ia harus lebih mentaatinya lagi. Pesan seorang yang sudah meninggal dunia adalah pesanan yang suci dan harus ditaati.

Kedua, ia sudah ditampung oleh keluarga tunangannya, dan bagaimanapun juga, calon ayah mertuanya adalah pamannya sendiri pula. Ia tidak mempunyai tempat lain atau keluarga lain yang dapat ditumpangi. Dan ke tiga, harus diakuinya bahwa pilihan orang tuanya itu pun tidak keliru, tidak mengecewakan. Ia sudah harus merasa beruntung mendapatkan seorang calon suami seperti Tang Ciok An, Dia ganteng, tampan, gagah perkasa, kaya raya. Mau apa lagi?

Kehidupan ini akan terisi penuh konflik kalau kita membiarkan diri kita dicengkeram oleh pikiran yang sudah bergelimang nafsu. Nafsu selalu melahiran keinginan-keinginan akan hal-hal buruk! Yang baik dan menyenangkan hanyalah apa yang diinginkan itu! Mempunyai ini, ingin yang itu sehingga yang ini nampak tidak ada daya tariknya. Mendapatkan yang itu, menginginkan yang ini, dan demikian selanjutnya. Hanya orang yang menyerahkan segala-galanya kepada kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat menerima apa yang ada tanpa penilaian!

Apa pun yang datang menimpa dirinya, apa pun yang didapatkan dari hasil usahanya, dianggapnya sebagai suatu anugerah dari Tuhan, sebagai suatu kemurahan dari Tuhan sehingga diterima dengan hati penuh keikhlasan, penuh penyerahan diri dan penuh ketawakalan. Biasanya, setiap mulut mengatakan bahwa dia ber-Tuhan, bahwa dia percaya kepada Tuhan.

Akan tetapi buktinya? Kalau orang benar-benar ber-Tuhan hanya mulut saja yang mengakuinya, melainkan jauh di lubuk hatinya, didalam dasar batinnya, harus ada kepercayaan itu. Kepercayaan yang mendalam ini yang akan mendatangkan peyerahan, keikhlasan, dan kalau apa pun yang menimpa diri dianggap sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan, maka senyum ini takkan pernah meninggalkan mulut.

Yang ada hanya rasa terima kasih dan syukur Tuhan Yang Maha Kasih. Dan kalau sudah begitu penderitaan lain tidak ada lagidan penderitaan batin tidak ada lagi dan penderitaan lahir pun tidak meninggalkan bekas, seperti awan lalu. Kepercayaan yang mendalam ini yang akan mendatangkan kekuasaan Tuhan bekerja di luar dan di dalam diri karena kekuasaan Tuhan meliputi seluruh alam, yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang paling kecil sampai yang paling besar, paling rendah sampai paling tinggi, yang paling dalam dan paling luar, pendeknya tidak ada apa pun di alam mayapada ini yang tidak diliputi kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih!

Dan kalau kekuasaan Tuhan yang bekerja, maka segalanya akan wajai dan sempurna! Yang menimbulkan baik buruk, suka duka dan segala macam pertentangan adalah penilaian yang timbul dari nafsu. Dan hanya kekuasaan Tuhan ini sajalah yang akan mampu menundukkan nafsu sehingga menjadi jinak dan berman faat bagi kehidupan manusia, bukan lagi sebagai perusak, melainkan sebagai pembantu dan alat mempertahankan hidup.


********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

"Omitohud, sejak dahulu, para to-su memang berhati palsu. Pada lahirnya saja kelihatan halus dan baik budi, akan tetapi di sebelah dalamnya kotor dan curang!" Seorang di antara sepuluh orang hwesio yang berada di puncak itu berseru, sedangkan sembilan orang hwesio lainnya mengangguk-angguk menyetujui.

"Sian-cai...! Para hwesio seharusnya dapat mengekang musuh yang paling besar dalam kehidupan ini, yaitu nafsu amarah. Kenapa sudah mencukur gundul rambutnya dan sudah mengenakan jubah kuning masih mudah dikuasai nafsu amarah sehingga menyebar fitnah buruk kepada orang atau pihak lain?" seorang di antara sembilan orang tosu itu pun membantah dan kini delapan orang rekannya yang mengangguk-angguk membenarkan.

Puncak bukit itu datar dan ditumbuhi rumput yang subur. Mereka, sepuluh orang hwesio dan sembilan orang tosu itu duduk saling berhadapan, pihak hwesio satu garis dan berhadapan dengan mereka, pihak tosu juga satu garis. Mereka terdiri dari orang-orang yang sudah tua, sedikitnya berusia enam puluh tahun. Para hwesio itu mengenakan jubah kuning dan berkepala gundul, sedangkan para tosu mengenakan jubah putih dengan rambut diikat ke atas. Jelas dari sikap mereka bahwa kedua pihak saling mencela dan dalam pandangan mata mereka nampak api kemarah yang menjurus kepada kebencian.

"Siapa yang marah dan siapa yang menyebar fitnah?" bentak seorang antara para hwesio itu sebagai lawan. "Kami tidak menuruti nafsu amarah dan tidak menyebar fitnah, melainkan bicara seperti apa adanya saja! Golongan kalian para tosulah yang tukang sebar fitnah! Kalau tidak karena fitnah seorang tosu, yaitu Cun Bin Tosu, apakah kuil Siauw-lim-si sampai terbakar dan banyak jatuh korban yang tidak berdosa? Nah, apakah kini kalian para tosu masih mencoba untuk menyangkal kenyataan itu?"

"Siancai... kami tidak menyangka adanya orang seperti Cun Bin Tosu. seperti juga kami tidak menyangkal adanya banyak tosu yang melakukan perbuatan yang sesat. Akan tetapi, apa hubungannya hal itu dengan kami? Apakah kesalahan seorang tosu harus dipikul dosanya oleh seluruh tosu di permukaan bumi ini? Apakah di dunia ini tidak ada seorang pun hwesio yang menyeleweng? Dan kalau ada, apakah juga kesalahan seorang hwesio itu harus ditanggung oleh seluruh hwesio di permukaan bumi? Kalau begitu halnya, maka kesalahan tiap orang manusia juga harus ditanggung dosanya oleh kita semua, karena bukankah kita semua ini juga manusia! Jadi, kesalahan Cun Bin Tosu itu juga harus ditanggung oleh kita semua, juga oleh kalian para hwesio karena Cun Bin Tosu seorang manusia, seperti kita semua, termasuk kalian juga."

"Omitohud! Sejak dahulu para tosu memang pandai bicara, seperti perempuan, pandai memutarbalikkan kenyataan. Sekarang tidak perlu banyak cakap lagi. Kita adalah orang-orang yang sejak kecil sudah mempelajari ilmu, oleh Karena itu, daripada mengadu lemasnya lidah palsunya kata-kata, mari kita buktikan siapa di antara kita yang lebih jantan dan lebih gagah!" berkata demikian, hwesio yang jadi juru bicara itu bangkit berdiri, diikuti oleh sembilan orang temannya.

Melihat ini, sembilan orang tosu juga serentak bangkit dan kedua pihak sudah siap untuk saling hantam dan saling serang untuk menyudahi percekcokan tadi. Sudah lama sekali terjadi permusuhan antara hwesio dan para tosu. Hal ini terjadi semenjak kuil Siauw-lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Pihak para hwesio selalu menyesalkan peristiwa itu dan karena memang seorang tosu yang menjadi mata-mata pasukan pemerintah, yaitu Cun Bin Tosu yang akhirnya tewas dalam pertempuran para hwesio dan murid Siauw-lim-si, maka di dalam hati para hwesio terkandung dendam kepada para tosu.

Permusuhan ini semakin lama semakin menjadi sehingga menjadi permusuhan terbuka di mana setiap perjumpaan antara seorang hwesio dengan seorang tosu pasti menimbulkan percekcokan, saling mengejek sehingga berakhir dengan perkelahian. Sudah ada beberapa orang jatuh menjadi korban dalam permusuhan itu.

Akhirnya, para pimpinan hwesio dan para pimpinan tosu mengadakan keputusan untuk mengakhiri permusuhan itu dengan jalan mengadakan pertemuan antara para pimpinan di puncak bukit Kijang itu. Kedua pihak, yaitu para pimpinan yang sudah lebih luas pandangannya dan lebih matang menyerap pelajaran agama masing-masing melihat betapa tidak benarnya permusuhan itu, dan mereka bermufakat untuk mengadakan peremuan di puncak itu.

Akan tetapi, kembali mereka dikuasai nafsu dan pertemuan yang dimaksudkan untuk mencari perdamaian itu berakhir dengan percekcokan yang semakin memanas dan akhirnya kedua pihak siap untuk saling serang dan saling bunuh!

Betapapun pandainya seseorang, betapapun tinggi ilmunya, pada saat nafsu mencengkeram dan menguasainya, maka akan hilanglah semua pertimbangannya, lenyap semua kebijaksanaannya. Yang ada hanyalah menyalanya nafsu jalang yang menuntut pemuasan melalui kemenangan dan tercapainya keinginan.

Nafsu memang terbawa sejak lahir dan nafsu merupakan alat yang amat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya dunia ini. Karena itu, usaha manusia yang melihat betapa berbahayanya nafsu, bermacam-macam. Ada yang berusaha menundukkan nafsu melalui tapa, melalui latihan-latihan pernapasan, samadhi, melalui penyiksaan diri, pengurangan makanan dan sebagainya lagi.

Namun, semua, itu masih tidak keluar dari lingkaran nafsu, karena semua usaha itu mengandung suatu keinginan. Hasilnya hanya pengurangan saja, itu pun hanya sementara. Merupakan pengekangan saja terhadap nafsu. Pengekangan ini buka berarti sudah dapat menguasai nafsu sepenuhnya. Usaha melenyapkan nafsu Tidak mungkin!

Nafsu tak mungkin dilenyapkan dari kehidupan kita, karena kehidupan ini ada karena nafsu, bagaikan nyala api membutuhkan bahan bakar. Melenyapkan nafsu berarti melenyapkap keadaan badan dan berarti mati! Selama masih hidup, manusia tidak mungkin dapat meninggalkan nafsu. Nafsu itu suatu keperluan untuk hidup. Namun, kalau nafsu dibiarkan menguasai batin, maka dia akan menyeret kita ke dalam penyelewengan.

Nafsu adalah anugerah Tuhan, ciptaan Tuhan dan satu-satunya yang dapat mengatur agar nafsu dapat sesuai dengan kehidupan kita, dapat menjadi alat yang baik dan bukan menjadi majikan yang merajalela, yang dapat menundukkannya hanyalah kekuasaan Tuhan! Dan kekuasaan Tuhan dalam diri akan bekerja dengan sempurna kalau kita dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Tuhan, menyerahkan diri dengan ikhlas, dengan penuh ketawakal.

Kalau kita membiasakan diri setiap saat teringat akan kekuasaan Tuhan, maka kita pun akan terbimbing oleh kekuasaan yang maha hebat itu. Dan nafsu-nafsu akan menyingkir dan menduduki tempat masing-masing dengan teratur. Tanpa kekuasaan Tuhan, betapapun kita berusaha, maka hasilnya pun hanya akan tipis sekali dan hanya untuk sementara karena usaha kita itu pun hanya di dalam lingkungan akal budi, dan pikiran padahal pikiran dan akal budi sudah bergelimangan dengan nafsu!


Ketika sepuluh orang hwesio dan sembilan orang tosu sudah bangkit diri, kesemuanya sudah dikuasai nafsu amarah dan siap untuk saling serang dan saling membunuh, seorang di antara para hwesio itu berseru dengan suaranya yang lantang.

"Saudara semua, tahan dulu senjata Pinceng hendak bicara!"

Suaranya lantang dan berwibawa, semua hwesio yang melihat siapa yang akan bicara, merangkap kedua tangan depan dada dan berseru.

"Omitohud...! dan mereka pun mundur.

Yang bicara itu adalah Thian Gi Hwesio, seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar berusia tujuh puluh tahun, dan dia ter kenal dengan wataknya yang terbuka jujur dan galak. Thian Gi Hwesio tentu saja amat terkenal dan disegani oleh para rekannya karena dia adalah wakil ketua dari kuil Siauw-lim-si yang terbakar itu. Juga para tosu mengenalnya, maka merekapun mendengarkan dengan penuh perhatian, ingin tahu apa yang akan dikatakan hwesio yang Jangkung menjadi korban dalam peristiwa kebakaran Siauw-lim-si itu.

Thian Gi Hwesio melintangkan senjata toyanya dan dia memandang kepada para tosu di depannya. "Para To-yu (Sobat) sekalian. Kita semua sudah melihat bahwa tidak mungkin diadakan perdamaian tanpa adu kepandaian di antara para hwesio dan tosu. Akan tetapi kita pun tahu betapa kelirunya hal ini. Tidak ada permusuhan di antara para tosu dan para hwesio. Mereka itu hanya terseret oleh setia kawanan belaka. Oleh karena itu, kita sebagai golongan lebih tua, sebaiknya tidak membiarkan para murid kita saling hantam dan saling serang tanpa alasan yang sehat. Maka, sekarang pin-ceng maju mewakili para hwesio untuk menyelesaikan urusan pertikaian yang berkepanjangan ini melalui adu kepandaian yang sehat dan adil, seperti yang sudah sepatutnya dilakukan oleh orang-orang yang menjunjung keadilan dan kebenaran. Harap para To-yu mengajuk seorang wakil dari para tosu dan biarlah pertandingan ini akan menentukan siapa di antara kedua golongan yang benar dan lebih kuat. Yang kalah tidak diperbolehkan menuntut balas atau mendendam!"

"Siancai...! Ucapan Thian Gi Hwesio memang tepat, akan tetapi siapa yang dapat menanggung kalau sesudah ada pertadingan adu kepandaian antara dua orang wakil ini lalu tidak ada lagi murid yang saling berkelahi?" tentu dengan seruan seorang di antara para tosu.

"Bagi pinceng, sekali sudah berjanji akan dipegang sampai mati!" Thian Hwesio berseru.

"Andaikata ada murid atau hwesio yang kelak melanggar janji, pinceng sendiri yang akan menghajarnya!"

"Sian-cai...! Kami semua percaya akan kejujuran dan kegagahan bekas wakil ketua Siauw-lim-si! Akan tetapi ucapan itu lebih mudah dikeluarkan mulut daripada dilaksanakan. Bagaimana seorang saja akan mampu menjaga agar janji itu dilaksanakan di seluruh negeri?"

Ucapan ini disambut dengan suara setuju oleh semua tosu, bahkan diantara para hwesio sendiri juga melihat betapa sukarnya janji itu dipenuhi kelak. Bagaimana mungkin Thian Gi iHwesio atau dibantu oleh mereka semua, sepuluh orang hwesio akan mampu menjaga seluruh hwesio yang jumlahnya ratusan ribu itu agar menepati janji yang dadakan hari ini? Pula, apakah seluruh hwesio telah menyatakan persetujuannya atas janji yang dikeluarkan oleh Thian Gi Hwesio?

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang, "Harap para Locianpwe menyadari akan buruknya permusuhan dan dapat menghabiskan sampai di sini saja"

Mendengar ucapan yang nyaring itu, para hwesio dan para tosu menoleh dan Mereka melihat munculnya seorang pemuda dari balik batang pohon yang tumbuh tidak jauh dari padang rumput itu. mereka semua heran. Mereka sembilan belas orang adalah orang-orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi akan tetapi bagaimana tidak ada seorangpun yang tahu akan kehadiran pemuda itu?

Apakah karena mereka semua terlalu tegang dan mencurahkan seluruh perhatian kepada urusan mereka, ataukah memang pemuda itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi? Pemuda itu tidak terlalu mengesankan. Pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan, nampak sederhana sekali, dengan pakaian seperti seorang pemuda petani saja.

"Siancai...! Dari manakah datangnya seorang pemuda yang begini. la berani mencampuri urusan gawat orang-orang tua?" bentak seorang di antara para tosu.

Akan tetapi Thian Gi Hwesio yang tadi pun nampak ragu-ragu setelah usulnya dibantah, memandang tajam. "Omitohud...! Orang muda yang gagah. Siapakah engkau dan apa maksud ucapanmu tadi?"

Han Beng, pemuda itu, memberi hormat kepada semua pendeta itu, lalu berkata dengan sikap sungguh-sungguh. "Saya hanyalah seorang pemuda biasa yang lebetulan lewat di sini dan melihat, juga mendengar semua perbantahan antara Cu-wi Locianpwe (Para Orang Tua Gagah Sekalian). Saya merasa ikut prihatin, akan tetapi, semua pendapat dari para lo-cianpwe itu menurut saya, tidak akan dapat membuka jalan keluar. Bahkan akan semakin membesarkan nyala api permusuhan dan dendam."

Thian Gi Hwesio mengerutkan alisnya yang tebal dan melintangkan toyanya. "Hemmm, orang muda yang lancang mulut! Agaknya engkau berani mencela kami tentu sudah mempunyai kebijaksanaan yang lebih patut. Nah, katakanlah bagaimana cara yang baik menurut pendapatmu?"

"Cu-wi Lo-cian-pwe bukan orang-orang muda dan merupakan orang-orang yag dipenuhi kebijaksanaan. Sepatutnya Cu-wi sudah mengetahui bahwa semua permusuhan, dendam kebencian, bukan datang dari luar melainkan datang dari dalam batin masing-masing. Oleh karena itu, melenyapkan permusuhan tidak mungkin dilakukan dengan cara menundukkan musuh yang berada di luar. Yang penting adalah mengalahkan musuh yang berada di dalam diri sendiri! Cu-wi Lo-cian-pwe dan sekalian pengikutnya, para hwesio dan para tosu yar terhormat, seyogianya mawas diri masing-masing dan mengenyahkan semua dendam kebencian dari hati masing-masing, kalau sudah begitu, dengan sendirinya dak mungkin ada permusuhan. Kalau di dalam sudah padam, tidak mungkin menjalar dan membakar keluar. Nah, sukarnya kalau mulai detik ini juga Cu-wi masing-masing memadamkan api dalam itu dan dengan demikian tiada lagi permusuhan dan dendam?"

Omitohud...! Enak saja memang kalau bicara, orang muda!" kata Thian di Hwesio. "Tidak ada kebakaran tanpa sebab, tidak ada dendam tanpa sebab! Bagaimana pinceng dan kawan-kawan mampu meniadakan dendam kalau teringat akan pembasmian kuil Siauw-lim-si?”

"Siancai... omonganmu memang tepat sekali, orang muda. Akan tetapi tanpa adanya penyelesaian sekarang, bagaimana mungkin kita merasa aman dan tenteram di masa mendatang? Pertikaian ini memang sudah seharusnya diselesaikan sekarang juga, kalau perlu melalui pengorbanan!" kata seorang tosu.

Han Beng tersenyum. Sudah baik kalau kedua pihak dari orang-orang tua yang kaku itu mau mendengarkan ucapannya, setidaknya dia telah memberi bahan renungan untuk mereka yang sedang dikuasai nafsu dendam dan amarah.

"Maafkan saya yang muda dan bodoh, Cu-wi Lo-cian-pwe. Bukankah hidup ini sekarang? Kemarin dan masa lalu hanyalah hal-hal yang lewat, sudah lapuk dan sudah mati, perlu apa dipikirkan dan dikenang lagi? Adapun masa depan dan hari esok adalah hal-hal yang belum akan hanya khayalan dan gambaran pikiran, perlu apa dibayangkan? Yang penting adalah sekarang ini, saat ini. Memang, tidak ada perubahan tanpa pengorbanan dan dalam hal ini, yang menjadi korban adalah perasaan sendiri, bukan mengorbankan orang lain."

"Omitohud...! Agaknya orang muda ini diam-diam memang berpihak kepada para tosu maka dia menghendaki agar kita melupakan semua urusan yang lalu. Kalau kita teringat betapa mendiang Thian Cu Hwesio, ketua Siauw-lim terpaksa membakar diri sampai mati gara-gara pengkhianatan mendiang Cun Bin Tosu, hati siapa tidak akan terbakar karena kejahatan tosu itu?" demikian seorang hwesio berseru marah.

Thian Gi Hwesio lalu berkata kepada Han Beng. "Sudah, minggirlah, orang muda dan jangan mencampuri urusan kami. Maksudmu baik, akan tetapi tidak tepat. Pergilah engkau!"

Berkata demikian, Thian Gi Hwesio menggerakkan tangan kirinya mendorong, tentu saja sambil mengerahkan sin-kang agar pemuda itu terkejut dan menyingkir. Akan tetapi, biarpun dari ujung lengan bajunya yang lebar itu menyambar angin yang kuat ke arah pemuda itu, ternyata sama sekali tidak membuat pemuda itu bergoyang, apalagi mundur dan terkejut! Pemuda itu tetap tenang saja, bahkan ujung lengan baju itu yang balik seperti bertemu dengan benda kuat yang menghalang tiupan angin dorongan tadi.

"Omitohud...! Kiranya engkau memiliki kepandaian juga? Pantas saja berani mencampuri urusan kami!" bentak Thia Gi Hwesio yang berhati keras dan galak. "Nah, majulah orang muda. Kalau memang engkau hendak memamerkan kepandaian, maju dan lawanlah pincei sebelum engkau melanjutkan kelancanganmu!"

Melihat sikap itu, Han Beng terkejut tak disangkanya bahwa usahanya mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan itu diterima salah oleh kedua pihak pula. Bahkan kini ia ditantang oleh seorang hwesio yang kelihatannya galak dan lihai.

"Maaf, Lo-cian-pwe. Saya bermaksud untuk melerai, mendamaikan dan melenyapkan permusuhan, bukan menanambah permusuhan baru!"

"Kalau engkau tidak berani melawan pinceng, hayo cepat pergi dari sini!"

Pada saat itu, terdengar suara ketawa halus dan tiba-tiba saja munculah seorang kakek tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, pakainnya sederhana sekali dari kain putih.

"Siancai... ini namanya orang-orang tua yang sepatutnya berguru kepada orang muda, akan tetapi merasa malu untuk mengakuinya!"

Para tosu yang tadinya sudah bediri dan siap untuk berkelahi, begitu Melihat tosu ini, cepat mereka lalu memberi hormat dengan membongkok, bahkan ada yang segera berlutut kembali. Juga Thian Gi Hwesio dan para hwesio lain ketika melihat tosu tua renta ini, mereka terkejut dan cepat memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Akan tetapi, Thian Gi Hwesio mengerutkan alisnya karena ada rasa khawatir juga penasaran dalam hatinya melihat munculnya kakek ini. Biarpun kakek ini, yang terkenal dengan nama Pek I Tojin, merupakan seorang pertapa suci dari Thai-san yang agaknya tidak mungkin mau mencampuri urusan dunia akan tetapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang tosu dan tentu akan berpihak kepada para tosu! Dan kalau kakek ini campur tangan, maka keadaan pihaknya akan menjadi gawat.

Siapa yang tidak mengenal Pek I-Tojin, yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa saja? Bahkan suhengnya sendiri, mendiang Thian Cu Hwesio, pernah mengatakan kepadanya bah untuk jaman itu, sukar dicari orang yang memiliki tingkat kepandaian seperti Pek I Tojin. Mungkin hanya Hek Bin Hwesio saja, suheng dari Thian Cu Hwesio da lam perguruan kebatinan di Himalaya yang mampu mencapai tingkat itu.

Setelah memberi hormat, Thian Hwesio mewakili teman-temannya. "Omitohud, kiranya Lo-cian-pwe Pek I Tojin yang datang. Tidak tahu apakah kedatangan Lo-cian-pwe ini untuk membesarkan hati para tosu dan memberi pelajaran kepada kami?"

Pek I Tojin tertawa lembut mendengar ucapan itu. Dia bersikap lembut dan tenang. "Siancai, Thian Gi Hwesio sungguh masih saja penuh semangat. Apakah engkau sudah lupa ketika pinto datang bersama Hek Bin Hwesio melerai keributan antara hwesio dan para tosu? Pinto tidak berpihak siapa pun seperti juga Hek Bin Hwesio tidak berpihak siapa pun. Masing-masing melerai dan menahan golongan sendiri, itu baru benar, sesuai dengan petunjuk pemuda bijaksana ini bahwa perdamaian dimulai dari keadaan hati sendiri. Diri sendiri yang harus ditundukkan, bukan orang lain.”

Melihat munculnya Pek I Tojin, seorang datuk yang amat mereka hormati, para tosu tadinya berbesar hati. Akan tetapi mereka pun teringat betapa tokoh besar yang satu ini tidak suka akan pertentangan, maka tentu kedatangannya ini akan berakibat teguran bagi golongan sendiri. Oleh karena itu, seorang di antara paru tosu sudah cepat memberi hormat dan berkata,

"Lo-cian-pwe, kami ini para tosu mohon petunjuk karena kami didesak dan dimusuhi para hwesio yang marah-marah!"

"Siancai, tidak ada kemarahan tanpa sebab dan tidak ada perselisihan timbul kalau kedua pihak tidak saling serang. Tak mungkin bertepuk tangan sebelah! Tak mungkin terjadi kebakaran kalau api tidak bertemu dengan bahan bakar. Para To-yu (sahabat), setelah pinto datang kalian minta petunjuk. Apakah benar kalian akan mentaati apa yang kunasihatkan?"

"Kami taat!" Serentak para tosu itu menjawab karena mereka percaya sepenuhnya kepada datuk besar itu.

"Nah, kalau kalian taat, sekarang juga kalian duduk bersila dan pasrah sepenuhnya. Kalau ada yang menyerang kalian, sampai membunuh kalian pun, kalian jangan bergerak dan jangan melawan!"

Tentu saja para tosu terbelalak. Mereka berhadapan dengan para hwesio yang sedang marah besar dan sudah siap untuk menyerang, bagaimana mungkin mereka harus berdiam diri, menyerang tanpa perlawanan biar dibunuh sekalipun?

"Akan tetapi bagaimana kalau para hwesio itu menyerang kami dan membunuhi kami, Lo-cian-pwe?"

Pek I Tojin tersenyum. "Adakah manusia membunuh manusia lain kalau Tuhan tidak menghendaki? Kalau sampai kalian mati terbunuh, anggap saja sebagai penebusan dosa yang dilakukan oleh kawan-kawan terdahulu. Biar pinto yang duduk terdepan!" Berkata demikian Pek I lojin juga duduk bersila di depan para tosu lainnya dan dia pun berkata kepada para hwesio dengan lembut dan senyum ramah. "Nah, Saudara-saudara para hwesio, sekarang para tosu sudah menyerah dan tidak akan melawan sedikitpun juga. Terserah kepada kalian apa yang akan kalian lakukan kepada diri kami," berkata demikian Pek I Tojin lalu memejamkan mata dengan mulut tersenyum dan agaknya sudah pulas dalam samadhi. Para tosu lainnya juga meniru perbuatan ini.

Para hwesio saling pandang dengan bingung. Jelas bahwa para tosu itu tidak lagi mau mengadakan perlawanan dengan kekerasan. Betapa mudahnya untuk melampiaskan nafsu amarah dan dendam. Tinggal menghajar saja mereka! Agaknya ada dua orang hwesio yang suah tidak sabar lagi. Melihat kesempatan baik itu terbuka, dua orang hwesio itu sudah bergerak dan melakukan serangan ke arah dua orang tosu yang bersila paling pinggir.

Melihat gerakan dua orang hwesio ini, tiba-tiba toya di tangan Thian Gi Hwesio bergerak dan menyelonong ke depan, mendahului dua orang hwesio itu yang terdorong da mereka terjengkang! Tentu saja dua orang hwesio itu terkejut, heran dan penasaran melihat betapa bekas wakil ketua Siauw-lim-si itu bahkan menyerang mereka untuk mencegah mereka menyerang musuh.

"Apa... apa artinya ini!" mereka berseru.

Wajah Thian Gi Hwesio menjadi merah sekali. "Tidak malukah kalian menyerang orang yang sudah tidak mau melawan? Sungguh perbuatan itu merupakan perbuatan pengecut dan tidak tahu malu! Kalau para tosu sudah tidak mau melawan, berarti mereka itu mengalah dan mengakui kesalahan rekan mereka. Kalau kita menyerang orang yang sudah tidak melawan, maka pihak kitalah yang menjadi sejahat-jahatnya orang! Pinceng melarang rekan-rekan kita untuk turun tangan terhadap para tosu yang tidak melawan. Mulai sekarang, kalau para Tosu tidak menggunakan kekerasan, kita tidak boleh menggunakan kekerasan! Lo-cian-pwe Pek I Tojin hendak menggunakan siasat yang lemah menundukkan yang keras, maka kita pun harus menggunakan kelemahan, bukan kekerasan dan menjadi kalah tanpa bertanding!"

Setelah berkata demikian, Thian Gi Hwesio memberi hormat kepada Pek I Tojin dan para tosu lainnya, kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Sembilan orang hwesio lainnya juga mengikuti langkahnya itu sebentar saja mereka sudah meninggalkan puncak itu.

Setelah para hwesio pergi, Pek I Tojin membuka matanya. "Siancai...! Bagaimanapun juga, Thian Gi Hwesio Jelas berwatak keras itu masih memiliki kebijaksanaan."

Para tosu lainnya juga membuka mata mereka dan mereka itu merasa lega bahwa semua hwesio telah pergi.

"Nah, kalian melihat sendiri buktinya bahwa kekerasaan hanya dapat ditundukkan oleh kelunakan. Apakah kalian masih meragukan hukum Tuhan yang mutlak ini?"

Setelah berkata demikian Pek I Tojin kembali tersenyum dan ketika dia menggerakkan tubuhnya, nampak bayangan berkelebat dan dia pun lenyap dari situ. Para tosu memberi hormat ke arah lenyapnya Pek I Tojin kemudian mereka memandang kepada Han Beng yang sejak tadi menonton saja. Seorang di antara mereka menjura.

"Orang muda, terima kasih atas bijaksanaanmu tadi." Setelah berkata demikian, para tosu juga pergi, mengambil arah lain dari arah yang diambil para hwesio.

Namun, didalan hatinya, Han Beng masih menaruh curiga. Tadi, sikap para hwesio masih penasaran, apalagi orang yang ditangkis oleh Thian Ci Hwesio. Siapa tahu mereka itu masih belum dapat melenyapkan dendam. Maka, dengan perasaan tidak enak, Han Beng la berlari menuruni puncak, membayangi para hwesio yang turun menuju ke arah barat.

Para hwesio itu berjalan dengan langkah lebar, akan tetapi dengan mudah Han Beng dapat menyusul dan membayangi mereka. Mereka berjalan tanpa bicara. Ketika mereka tiba di tepi sebelah hutan dan Han Beng sudah mulai saja bosan membayangi mereka karena selain mereka tidak bicara, juga agaknya tidak ada sesuatu yang patut dicurigai, tiba-tiba dari dalam hutan muncul kurang lebih dua puluh orang tosu yang memegang senjata dan tanpa banyak cakap lagi dua puluh orang tosu itu telah menyerang sepuluh orang hwesio itu.

Tentu saja para hwesio menjadi marah. Mereka tadi memang hanya karena terpaksa oleh sikap Pek I Tojin saja menahan diri dan tidak menyerang para tosu yang tidak mau melawan. Kini, melihat dua puluh orang tosu muncul dari dalam hutan dan agaknya memang sengaja menghadang mereka dan menyerang dengan senjata pedang dan golok, sepuluh orang hwesio itu menjadi marah dan mereka pun mengantuk, dipimpin oleh Thian Gi Hwesio yang bersenjatakan toya...!

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 25