Social Items

"Maaf, Paduka Raja Muda Baducin! Saya kira, urusan anak buah adalah urusan kecil, apa perlunya dibesarkan lagi? Biarlah lain hari kami akan mengirim obat kepada tujuh orang anggota pasukan Pedang Bengkok itu disertai maaf kedua orang muda ini."

"Aih, Poa Kiu, kenapa begitu? Kami yakin bahwa Raja Muda Baducin tidak mempunyai niat buruk. Beliau memang kagum kepada orang-orang lihai seperti juga kami. Oleh karena itu, pertandingan adu kepandaian ini menarik sekali."

Lalu dia menoleh kepada Siauw Can. "Orang muda, beranikah kalian berdua menandingi kedua orang pengawal pribadi Raja Muda Baducin itu?"

"Kami hanya menanti perintah paduka," Jawab Siauw Can.

"Bagus! Kami perintahkan kepada kalian berdua untuk menandingi dua orang raksasa kembar itu mengadu ilmu kepandaian." Kepada seorang di antara pengawalnya dia berkata, "Cepat engkau ke ruangan berlatih dan persiapkan tempat untuk mengadu kepandaian!"

Sambil tertawa-tawa akan tetapi hati mereka sebetulnya panas, dua orang bangsawan itu berjalan berdampingan menuju ke ruangan latihan yang luas di sebelah belakang bangunan itu. Mereka diikuti Poa Kiu, kemudian dua orang pengawal pribadi Bangsa Turki, lalu Siauw Can dan Bi Lan, baru duabelas orang pengawal pangeran itu mengawal bagian paling belakang.

Sebetulnya jarang sekali dua orang bangsawan itu saling berkunjung, bahkan tidak pernah. Semua orang tahu belaka bahwa Pangeran Tua Li Siu Ti merupakan bangsawan yang tidak suka kepada orang Turki, seperti banyak pula pejabat dan bangsawan yang seperti dia. Akan tetapi karena pasukan Turki itu merupakan rekan dari pasukan yang dipimpin Panglima besar Li Si Bin, tentu saja dia tidak berani berterang menyatakan rasa tidak sukanya kepada Bangsa Turki.

Hanya di dalam hatinya saja dan dia tidak pernah bergaul dengan mereka, kecuali dalam pertemuan resmi. Hal ini diketahui pula oleh Raja Muda Baducin, maka kalau dia bersikap ramah, ini hanyalah basa basi belaka. Di dalam hatinya, tentu saja dia juga amat tidak suka kepada adik kaisar yang anti Turki ini.

Mereka kini memasuki ruangan latihan yang luas itu. Di sini bukan hanya untuk latihan para pengawal, akan tetapi j|uga kadang-kadang kalau sang pangeran mengadakan rapat rahasia dengan orang yang dipercayanya saja, tempat ini dipergunakan. Tempat ini aman, tertutup dan terjaga ketat oleh para pengawal sehingga orang luar jangan harap akan dapat mengintai, apa lagi masuk.

Setelah tiba di situ sang pangeran dan sang raja muda segera duduk di kursi yang sudah disediakan, sedangkan para pengawal berjajar di belakang pangeran. Juga di pintu terdapat prajurit yang berjaga. Dua orang raksasa kembar itu agaknya sudah siap dan mereka menyeringai sambil memandang ke arah Siauw Can dan Bi Lan, calon lawan mereka. Siauw Can segera memberi hormat kepada Pangeran Tua Li Siu Ti.

"Mohon maaf, pangeran. Saya mohon agar pertandingan ini diadakan satu lawan satu dan bergiliran, karena seorang di antara kami harus menjaga Lan Lan, anak kecil ini."

Mendengar ucapan Siauw Can itu, Bi Lan mengangguk setuju dan ia merasa girang sekali. Memang, adanya Lan Lan merupakan kelemahan bagi pihaknya. Ia belum tahu watak lawan. Siapa tahu mereka menggunakan akal untuk mencapai kemenangan, misalnya dengan menangkap Lan Lan, seperti yang pernah dilakukan tiga orang perwira di kota Peng-lu itu. Permohonan Siauw Can kepada pangeran itu memang penting sekali, karena dengan cara bergantian, maka Lan Lan terjaga dengan aman.

Pangeran Tua tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, di sini tidak ada istilah keroyokan. Kamipun ingin menikmati adu kepandaian ini, kalau satu lawani satu akan dapat kita ikuti dengan baik. Siapa di antara kalian yang akan maju lebih dahulu?"

Bi Lan menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can. Anak ini sudah biasa dengan Siauw Can, maka iapun mau saja dipangku pemuda itu dan Bi Lan lalu bangkit menghampiri pangeran. "Saya yang akan maju lebih dulu, pangeran."

Pangeran Tua Li Siu Ti tersenyum kagum. Dia belum percaya betul bahwa wanita muda cantik yang mempunyai seorang anak ini memiliki ilmu kepandaian hebat dan akan mampu menandingi seorang di antara dua raksasa kembar itu. Akan tetapi sikap wanita yang demikian tenang dan berani saja sudah mengundang kekagumannya. Bagaimanapun juga, dalam hal keberanian, wanita ini jarang tandingannya, pikirnya. Diapun mengangguk dan menoleh kepada Raja Muda Baducin.

"Nah, jago kami sudah maju. Paduka akan mengajukan jago yang mana?"

Sebetulnya, tingkat kepandaian dua orang saudara kembar itu sama dan kelihaian mereka justru kalau mereka maju berdua. Biarpun mempunyai dua badan, namun saudara kembar itu dapat bergerak seperti dikemudikan satu pikiran dan satu perasaan saja, dan hal ini yang membuat mereka sukar dikalahkan kalau maju berdua. Namun, biarpun seorang diri, masing-masing juga merupakan lawan yang amat kuat.

Hanya bedanya, kalau Gondulam hanya suka akan kemuliaan, adik kembarnya, Gondalu, adalah seorang mata keranjang. Maka, begitu melihat yang maju Bi Lan, wanita yang cantik manis itu, Gondalu mendahului saudara kembarnya dan melangkah maju memberi hormat kepada Raja Muda Baducin sambil berkata.

"Kalau paduka mengijinkan, hamba yang akan maju menandingi perempuan ini. Yang Mulia!"

Tentu saja Baducin mengenal watak Gondalu, maka dia tersenyum dan mengelus kumisnya sambil mengangguk-angguk, ”bersenang-senanglah engkau, Gondalu!" katanya.

Gondalu melangkah maju menghampiri Bi Lan yang sudah siap berdiri di tengah ruangan yang luas itu. Ia bersikap waspada, berdiri dengan santai, akan tetapi seluruh syaraf di tubuhnya dalam keadaan siap siaga. Ia tadi sengaja menanggalkan sepasang pedangnya dan menyerahkannya kepada Siauw Can sehingga melihat ini, sebelum melangkah maju Gondalu juga menanggalkan pedang bengkoknya dan menitipkannya kepada saudara kembarnya. Hal ini atas isyarat Siauw Can yang tidak ingin kehadiran mereka yang pertama itu akan membuat lawan roboh terluka atau tewas sehingga akan terjadi permusuhan antara dua orang besar itu.

Gondalu yang juga tidak ingin membunuh lawan, senang-melihat wanita itu maju dengan tangan kosong. Dengan bertanding tanpa senjata, lebih mudah baginya untuk menelikung dan menangkap wanita cantik itu, mengalahkannya tanpa melukai, akan tetapi dia akan dapat sepuasnya memegang-megang dan mengusap-usap!

Bagi orang biasa, melihat kedua orang yang akan bertanding itu berhadapan, tentu akan merasa cemas terhadap Bi Lan. Sungguh tidak sepadan lawa itu, amat berat sebelah! Gondalu adalah seorang laki-laki raksasa yang tubuhnya berotot dan kokoh kekar seperti tugu batu! Sedangkan Bi Lan seorang wanita muda yang tubuhnya ramping padat dan nampak lemah lembut, tubuh yang membayangkan kehangatan dan kelembutan yang sepatutnya hanya menandingi kemesraan dan belaian, bukan kekerasan dan pukulan!

Mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua meter. Raksasa itu berdiri dengan punggung agak melengkung ke depan, lebar dan tinggi, seperti seekor beruang. Kedua lengannya yang panjang itu tergantung lepas sampai hampir mencapai lutut, dengan jari-jari tangan yang besar. Ibu jari raksasa itu tentu tidak kalah besar dibandingkan pergelangan tangan Bi Lan!

Agaknya, sekali terkena cengkeraman jari-jari tangan itu tulang-tulang Bi Lan akan remuk-remuk. Bi Lan hanya setinggi bawah pundak Gondalu dan biarpun mereka berdiri dalam jarak dua meter, hidung Bi Lan masih dapat menangkap bau yang apek dan mengingatkan ia akan bau di kandang kerbau!

"Heh-heh heh, sudah siapkah engkau, nona?" Gondalu bertanya sambil menyeringai, kata-katanya terdengar kaku dengan logat asingnya. "Kalau sudah, seranglah dan perlihatkan kepandaianmu!"

"Pihakmu yang menantang, maka kamulah yang harus menyerang lebih dulu. Aku sudah siap!" jawab Bi Lan, sikapnya masih tenang saja dan santai, akan tetapi matanya tak pernah berkedip, mengikuti gerakan tubuh orang, terutama kedua pundaknya karena semua gerakan penyerangan kedua tangan selalu didahului oleh gerakan pundak. Juga pendengarannya dikerahkan agar dapat ia menangkap semua sambaran kaki lawan kalau melakukan penyerangan. Hal ini penting sekali karena kadang-kadang, pendengaran mendahului penglihatan dalam mengikuti gerakan lawan.

"Heh-heh-heh, kau sambut ini, nona manis!" dan Gondalu sudah menerjang ke depan, kedua lengannya yang panjang itu bergerak, yang kanan meluncur ke depan mencengkeram ke arah dada Bi Lan dan yang kiri menyambar dari atas untuk menjambak rambut wanita itu. Jelas bahwa orang Turki ini tidak lagi bersikap sungkan, walaupun menghadapi lawan wanita, begitu menyerang, dia langsung mencengkeram ke arah dada, hal yang tidak akan dilakukan oleh seorang yang menjaga kesopanan terhadap wanita.

Namun, Bi Lan menghadapinya dengan tenang. Ia memang tidak pernah mengharapkan orang seperti raksasa ini akan mengenal sopan santun, maka serangannyapun tidak membuat ia terkejut atau marah. Dengan lembut dan tidak tergesa-gesa ia melangkah mundur dan serangan kedua lengan panjang itupun luput, akan tetapi Gondalu sudah melangkah maju. Kalau Bi Lan melangkah mundur tiga langkah, maka raksasa ini dengan satu langkah saja sudah mendekati Bi Lan dan sekali ini, kedua tangannya yang kasar dengan jari-jari tangan terbuka, sudah menyambar dari kanan kiri untuk menangkap pinggang Bi Lan.

Kembali Bi Lan mengelak dengan lompatan ke kiri. Ia belum berani lancang membalas karena ia harus mencari dulu kelemahan dari lawan, dan ia dapat menduga bahwa lawan belum benar-benar menyerangnya, hanya mengira ila seorang wanita lemah dan hendak mempermainkan saja.

Setelah dua kali tubrukannya luput, Gondalu mulai merasa penasaran. Dia melihat gerakan wanita itu ketika mengelak, demikian ringan dan cepat, maka sebagai seorang yang banyak pengalaman berkelahi, dia dapat menduga bahwa wanita ini memiliki kegesitan yang membuat dia akan selalu gagal kalau menyerang dengan lemah dan berusaha menangkap saja.

Maka, setelah lima kali menubruk dan gagal, kini mulailah Gondalu melakukan penyerangan dengan sungguh-sungguh. Dia mengeluarkan suara gerengan nyaring dan lengan kirinya bergerak, mencengkeram dari kiri atas ke arah kepala lawan, sedangkan tangan kanannya mendorong dengan telapak tangan ke arah perut. Serangan ini hebat sekali dan dari sambaran anginnya, tahulah Bi Lan bahwa lawan mulai bersungguh-sungguh!

"Plak! Plakk!" Ia sengaja mundur sambil menangkis dengan kedua lengannya untuk mengukur tenaga lawan. Bi Lan merasa tubuhnya terguncang! Benarlah dugaannya bahwa mengadu tenaga dengan lawan seperti ini amat berbahaya. Ketika tangan itu menyambar selagi ia terguncang, ia sudah melompat ke atas dan kakinya mencuat, menendang ke arah muka lawan! Gerakan ini amat cepat karena dilakukan ketika tubuh mencelat ke atas, seperti serangan kaki seekor burung rajawali!

"Uhhhh...!" Gondalu terkejut dan cepat dia menarik tubuh atas ke belakang. Nyaris mukanya tercium sepatu! Dan kini Bi Lan berjungkir balik tiga kali, turun ke atas lantai di belakang lawan. Akan tetapi Gondalu sudah membalik sambil melakukan tendangan. Kakinya yang panjang dan besar itu menyambar seperti sebuah balok yang besar, mendatangkan angin bersiut. Bi Lan kembali melompat dan mengelak sehingga tendangan itu hanya mengenai tempat kosong.

Marahlah Gondalu. Lupa dia bahwa lawannya seorang wanita yang cantik molek. Lenyap semua keinginannya merangkul, memeluk, meraba dan mencolek. Dengan beringas dia menyerang dan ternyata raksasa ini memiliki gerakan silat yang amat ganas, dan tenaganya memang dahsyat.

Namun, tidak percuma beberapa tahun Bi Lan digembleng ilmu oleh guru yang kemudian menjadi suaminya, yaitu mendiang Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki! Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung rajawali, mengelak sambil membalas dengan serangan yang cepat sekali, dari kanan kiri, dari depan dan terutama sekali dari atas. Ia pasti membalas dengan serangan dari atas yang membuat Gondalu terkejut dan berkali-kali dia nyaris terkena tamparan atau tendangan lawan.

Kini Raja Muda Baducin memandang bengong. Pertandingan itu jelas memperlihatkan bahwa jagonya sama sekali tidak mampu mendesak lawan, dan pertandingan itu hebat sekali. Bagaikan seekor beruang besar melawan seekor burung rajawali! Beruang itu mencoba untuk menangkap dan menyerang dari bawah dan rajawali menyambar-nyambar dari atas. Bukan main hebatnya wanita itu dan sekarang dia mengerti mengapa tujuh orang anggota pasukan Pedang Bengkok tidak mampu mengalahkan wanita itu. Memang hebat!

Juga Gondulam menonton dengan penuh perhatian. Dia melihat betapa saudara kembarnya itu tidak kalah dalam hal tenaga dan memiliki daya serang yang lebih dahsyat dan ganas, akan tetapi saudaranya itu tidak berdaya karena lawan terlampau gesit, terlampau cepat gerakannya dengan keringanan tubuh yang mengagumkan. Sukar memang menangkap atau menyerang lawan segesit itu, dan saudaranya itu berada dalam bahaya kalau dia tidak hati-hati.

Sementara itu, Pangeran Tua Li Siu Ti juga memandang bengong, akan tetapi bengong dan kagum di samping perasaan gembiranya. Berulang kali dia memandang kepada Poa Kiu sambil mengangguk-angguk senang. Memang pilihan orang kepercayaannya itu benar sekali! Wanita ini hebat! Kalau dia mempunyai pengawal keluarga seperti ini, tentu aman! Dan puterinya, anak tunggalnya, Li Ai Yin yang akhir-akhir ini rewel ingin belajar silat, dapat berguru kepada wanita yang lihai ini!

Tiba-tiba dia melihat puterinya itu muncul di ambang pintu ruangan itu. Para penjaga memberi hormat, akan tetapi gadis itu tidak memperhatikan, dan ia melangkah masuk, lalu berdiri bengong memandang ke arah pertandingan yang tengah berlangsung. Li Ai Yin adalah seorang dara berusia tujuhbelas tahun yang cantik, berkulit putih mulus dengan dandanan seorang puteri, serba indah dan mewah pakaiannya. Rambut digelung tinggi di atas kepala, dihiasi emas permata. Juga telinga, leher, lengan dan jari tangannya berhiaskan emas permata gemerlapan.

Gadis itu memiliki mata dan mulut yang manis dan genit menantang. Kerling matanya tajam, senyumnya menantang dan ia memang memiliki daya tarik yang mempesona. Karena pertandingan sedang berlangsung dan semua orang memperhatikan pertandingan itu. Pangeran Tua Li Siu Ti juga diam saja tidak menegur puterinya yang nampak tertegun dan berdiri di dekat pintu.

Pertandingan itu kini sudah mencapai puncaknya. Tigapuluh jurus telah lewat dan belum pernah satu kalipun Bi Lan terjamah jari tangan Gondalu atau ujung kakinya. Gerakan wanita muda ini terlalu cepat bagi Gondalu dan kini Bi Lan yakin bahwa kelemahan lawannya adalah pada gerakannya yang terlalu lamban, karena berat badan dan karena kekakuan otot-otot yang dilatih terlalu keras itu. Gondalu memang berhasil memiliki tenaga otot sebesar gajah, akan tetapi hal ini membuat gerakannya menjadi kaku dan lamban.

Ia tahu pula bahwa lawan ini memiliki kekebalan, bahkan pernah ia menotok dengan jari tangan dan mengenai leher dan pundak, akan tetapi raksasa itu tidak banyak terpengaruh, hanya tergetar sedikit akan tetapi tidak roboh! Sukar agaknya merobohkan raksasa ini kalau tidak menggunakan akal, pikirnya. Dari gurunya ia telah mendapat banyak petunjuk bagaimana menghadapi lawan yang tangguh, kebal dan sukar dilukai.

Bi Lan mempercepat gerakannya dalam ilmu silat Hui-tiauw-sin kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) sehingga Gondalu terpaksa harus ikut berputar karena lawannya seperti terbang berputaran. Gondalu menjadi pening juga karena gerakan lawan terlampau cepat. Tiba-tiba dia melihat bayangan lawan meloncat ke atas dan ketika wanita itu menukik turun, kedua tangannya menyambar ke arah ubun-ubun kepala dan matanya.

"Huhh...!! " Gondalu menggereng dan kedua lengannya diputar di depan kepala dan muka untuk melindungi bagian ini. Dia memang kebal, akan tetapi matanya jelas tidak kebal, dan ubun-ubun kepalanya merupakan bagian yang amat berbahaya walaupun sudah dilindungi dengan kekebalan. Jangankan terluka, baru tergetar keras atau terguncang saja sudah berbahaya. Akan tetapi, secepat kilat Bi Lan mengurungkan serangannya dan tubuhnya meluncur ke bawah, memutar dan dari belakang, kedua kakinya menghantam ke arah kedua kaki lawan, tepat di belakang lutut!

"Bressss...!!" Betapapun kuat dan kebalnya tubuh Gondalu, akan tetapi dihantam dengan tendangan mengandung sin-kang dan tepat mengenai belakang lutut, tentu saja dia tidak mampu bertahan untuk berdiri lagi. Kedua lututnya tertekuk dan diapun sudah jongkok dan bertekuk lutut. Biarpun dia tidak roboh, akan tetapi sudah jatuh berlutut seperti itu sungguh merupakan bukti bahwa dia telah kalah! Kalau lawan menghendaki, ketika dia jatuh berlutut itu, tentu lawan dapat menghabisinya dengan serangan maut ke arah kepalanya.

Bi Lan cepat memberi hormat kepada Pangeran Tua Li Siu Ti dan pangeran itu tersenyum gembira bukan main. Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang nyaring. Semua orang menengok ke pintu dan melihat betapa yang bertepuk tangan adalah puteri sang pangeran, semua orang, termasuk para perajurit yang berjaga, ikut pula bertepuk tangan. Tepuk tangan Ai Yin dan ayahnya yang paling keras dan kedua orang inilah yang membuat semua orang berani ikut-ikut bertepuk tangan, kecuali tentu saja Raja Muda Baducin dan dua orang pengawal pribadinya itu.

Gondalu merasa penasaran sekali dan beberapa kali dia memprotes, mengatakan dalam bahasanya sendiri kepada Raja Muda Baducin bahwa dia belum kalah karena belum roboh. Akan tetapi agaknya Baducin tahu diri. Dia tadi melihat betapa jagoannya memang tidak mampu berbuat banyak. Wanita muda itu terlalu cepat gerakannya sehingga jagoannya belum pernah berhasil menampar atau memukul lawan satu kalipun, sedangkan wanita itu sudah beberapa kali memukul dan menendang dengan tepat, walaupun tidak dapat merobohkan Gondalu yang kebal. Maka diapun membentak Gondalu disuruh mundur. Gondalu, dengan muka merah, lalu berdiri di belakang raja muda itu.

"Ayah, siapakah enci yang amat lihai ini? Ia hebat sekali!" Ai Yin menghampiri ayahnya. Ketika melihat Siauw Can memondong anak perempuan kecil dan Bi Lan yang dikagumi itu menghampiri pemuda itu dan kini menggantikan memondong Lan Lan, Ai Yin mengerutkan alisnya sambil memandang kepada Siauw Can dengan penuh perhatian.

"Dan dia ini siapa, ayah? Apakah suami dari enci ini dan anak itu puteri mereka?"

"Ha-ha ha, wanita ini adalah pengawal keluarga kita yang baru, Ai Yin. Sudahlah, nanti saja kita bicara dan berkenalan dengan mereka. Sekarang masih ada sebuah pertandingan lagi. Duduklah di sini, kita nonton pertandingan yang tentu akan lebih menarik lagi," kata sang pangeran.

Ai Yin menghampiri ayahnya dan Siauw Can yang diam-diam memperhatikan, menelan ludah. Tak disangkanya bahwa Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang puteri yang demikian cantik jelitanya, dan ketika melangkah, dia menelan ludah. Langkah dara itu mengandung lenggang yang menggairahkan dan memikat dan sebagai seorang laki-laki yang berpengalaman, tahulah dia bahwa dara itu memiliki watak yang menantang dan genit.

Langkah itu buatan, dan memang hebat, lemah gemulai dan menonjolkan lekuk-lengkung tubuhnya, dengan pinggul yang menari-nari di balik bayangan pakaiannya! Dan dengan sikap amat manja Ai Yin duduk di samping ayahnya, tersenyum-senyum anggun dan bangga karena ia yakin bahwa penampilannya, gaya dan lenggang tadi tentu akan membuat semua pria yang memandangnya menjadi mabok kepayang! Apalagi pemuda yang tampan gagah itu!

Siauw Can kini maju dan memberi hormat kepada sang pangeran, otomatis juga kepada Ai Yin karena dara ini duduk di samping ayahnya. Dengan memasang senyumnya yang paling menarik, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar dengan sikap yang dibuat paling gagah, dia memberi hormat dan berkata,

"Kalau paduka mengijinkan, saya akan menghadapi tantangan jagoan raksasa ke dua dari Raja Muda Baducin."

"Perlihatkan kemampuanmu kalau kau ingin kami beri kedudukan yang tinggi," kata sang pangeran.

Siauw Can mengangguk dan ketika dengan sikap gagah dia membalik untuk menghampiri lawan, Ai Yin berseru, "Heiiii! Ambilkan perhiasan di sorban lawanmu itu untukku!"

Sang pangeran terkejut, akan tetapi karena puterinya sudah terlanjur bicara, diapun tak dapat berbuat sesuatu. Mendengar ini, Siauw Can membalik memandang kepada puteri itu dengan mata bersinar dan wajah berseri, bibirnya tersenyum dan diapun menjura dengan dalam.

"Saya akan mentaati perintah paduka!" katanya dan tentu saja Ai Yin yang manja itu menjadi girang, tersenyum dan mengangguk.

Melihat ini, diam-diam Bi Lan merasa tidak enak. Ia sama sekali tidak merasa cemburu, akan tetapii menganggap bahwa sikap Siauw Can berlebihan. Pemuda itu akan menemui banyak kesukaran kalau bersikap seperti itu terhadap puteri pangeran! Balum juga memperoleh kedudukan, sudah bersikap seperti itu, sikap yang jelas sekali menunjukkan bahwa pemuda itu tergila-gila oleh kecantikan sang puteri.

Atau mungkin juga oleh kedudukan puteri itu, karena kalau hanya tertarik oleh kecantikannya, tidak mungkin. Gadis itu masih terlalu muda, dan mempunyai sifat genit dan manja, dan mengenai kecantikannya, tidaklah terlalu hebatt sehingga kiranya tidak akan cukup untuk membuat seorang seperti Siauw Can tergila-gila.

Siauw Can sudah berhadapan dengan Gondulam. Tentu saja jagoan ke dua lebih berhati-hati dari pada saudaranya setelah melihat apa yang dialami oleh Gondalu. Dia sama sekali tidak, memandang rendah kepada lawannya, walaupun pemuda itu kelihatan kecil saja baginya. Dia sudah tahu bahwa orang Han banyak yang memiliki ilmu silat aneh dan sama sekali tidak terduga-duga, penuh rahasia.

Maka, sebelum maju dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya, dibantu oleh saudara kembarnya, sehingga ketika dia melangkah maju, selain kedua lengannya terisi kekuata sihir, juga bagi lawannya dia akan nampak mengerikan dan dahsyat! Selain itu juga dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan telapak kedua tangan itu mengeluarkan uap panas!

Begitu memandang wajah lawan dan melihat wajah itu menggiriskan Siauw Can maklum apa yang terjadi! Akan tetapi, dalam hatinya dia tertawa. Ia sendiri adalah putera dan murid mendiang Cui-beng Sai-kong (Kakek Muka Singa Pengejar Arwah), seorang yang ahli dalam hal ilmu hitam dan sihir. Maka, biarpun tahu bahwa lawannya mengeluarkan ilmu sihir sehingga membuat wajahnya nampak menyeramkan. Dia memejamkan kedua mata, berkemak-kemik lalu menggosok kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri dan ketika dia membuka kembali matanya, wajah Gondulam nampak biasa saja!

Melihat kedua telapak tangan lawan mengeluarkan uap, Siauw Can segera menghimpun sin-kang dan menyalurkannya ke arah kedua tangannya. "Sobat, tidak perlu menggunakan ilmu setan menakut-nakuti anak kecil. Aku sudah siap. Nah, majulah!" tantang Siauw Can sambil tersenyum manis karena dia menghadap ke arah sang puteri agar dara itu dapat melihat senyumnya.

Dan Ai Yin memang melihat semua lagak pemuda itu. Ia berbisik kepada ayahnya. "Ayah, orang itu hebat, ya?"

"Hemmm..." Pangeran Tua Li Siu Ti mengerling kepadanya dengan alis berkerut. Di lubuk hatinya dia merasa tidak senang kalau puterinya tertarik kepada pemuda pendekar itu atau kepada siapapun juga. Baginya, hanya ada calon tunggal untuk puterinya, yaitu ponakannya sendiri, sang putera mahkota atau panglima besar, Li Si Bin! Dia tahu bahwa mereka masih saudara sepupu, sama-sama bermarga Li.

Akan tetapi pantangan menikah antara marga yang sama hanya berlaku untuk rakyat jelata. Keluarga kaisar boleh melakukan apa saja tanpa ada pantangan, karena bukankah yang membuat peraturan dan hukum adalah keluarga kaisar pula? Yang penting, Li Ai Yin, anak tunggalnya, harus menjadi isteri Li Si Bin dan kelak menjadi permaisuri, itu merupakan satu di antara cita-citanya!

Gondulam diam-diam terkejut melihat sikap pemuda itu. Jelas bahwa pemuda itu tidak terpengaruh kekuatan sihirnya dan ini saja menunjukkan bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tangguh. "Huahhh...!!"

Dia mengeluarkan teriakan parau dan tanpa membuang waktu lagi, Gondulam sudah melakukan serangan kilat. Dia tidak mau meniru saudaranya yang tadi gagal. Begitu menyerang, dia menggunakan gerakan cepat sambil mengerahkan seluruh tenaga. Menyerang dengan dahsyat sekali sehingga tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan ketika kedua tangannya mencakar-cakar seperti kaki harimau.

Siauw Can juga maklum akan kehebatan lawan. Akan tetapi, tingkat kepandaian Siauw Can jauh lebih tinggi daripada tingkat lawannya, Juga jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Bi Lan. Maka, dengan berani dia menyambut dengan kedua tangannya pula.

"Dukk! Dess...!" Dua pasang tangan bertemu.

Sepasang lengan yang kokoh kuat dan besar dari Gondulam bertemu dengan lengan Siauw Can yang biasa saja besarnya, dan akibatnya, tubuh Gondulam terhuyung ke belakang, sedangkan Siauw Can tetap tegak dan tersenyum mengejek.

"Mana tenagamu? Keluarkan semua tenaga dan kepandaianmu," kata Siauw mengejek.

Ai Yin bertepuk tangan, tepuk tangan tunggal di ruangan itu, akan tetapi dara itu tidak merasa janggal atau sungkan. Dan diam-diam sang pangeran juga kagum kepada Siauw Can. Pemuda itu dalam segebrakan saja membuat lawannya terhuyung. Semua orang merasa heran, termasuk Raja Muda Baducin. Hanya Bi Lan yang tidak merasa heran, karena biarpun belum dapat mengukur sampai dimana kehebatan Siauw Can, namun ia tahu bahwa pemuda itu memang lihai bukan main.

Gondulam menjadi marah sekali ketika diejek. Dia mengeluarkan suara menggereng seperti binatang buas, lalu menyerang bertubi-tubi, mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Kedua tangannya itu kalau sampai dapat menangkap bagian tubuh Siauw Can, tentu akan segera menggunakan ilmu gulatnya dan jangan harap Siauw Can akan mampu melepaskan dirinya lagi sebelum seluruh tulangnya patah-patah!

Akan tetapi, pemuda inipun bukan seorang bodoh. Selain memiliki pengalaman bertumpuk, pernah menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih lihai dan berbahaya dibandingkan raksasa itu. Apa lagi sekarang dia sedang berlagak untuk memancing pujian dan kekaguman dari puteri jelita itu! Dia sengaja hendak mempermainkan lawannya! Dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, dia sengaja mengelak dengan langkah-langkah aneh dan loncatan-loncatan gesit dan lucu.

Beberapa kali sengaja membiarkan tangan lawan menyentuhnya, akan tetapi segera dia mengelak sambil beberapa kali mencolek dan mendorong tubuh lawan. Kalau dia mau, sejak tadi dia akan mampu merobohkan lawan. Akan tetapi dia memang sengaja membuat pertandingan itu nampak seru! Padahal, Gondulam sendiri tahu bahwa dia kalah jauh, akan tetapi karena pemuda itu mempermainkannya. Ia menjadi marah sekali dan menyerang dengan dahsyat dan mati-matian, bahkan membabi buta.

"Brettt...!" Siauw Can merobek baju lawan ketika dia mencengkeram baju itu dari belakang, sehingga tubuh bagian atas lawan menjadi telanjang. Kalau saja di situ tidak ada Bi Lan dan puteri pangeran itu, tentu akan direnggutnya lepas pula celana lawan.

Kembali terdengar tepuk tangan dari puteri itu yang bertepuk tangan gembira. Melihat ini, Bi Lan menjadi semakin khawatir. Ia tahu bawa Siauw Can menjual lagak, dan tahu pula bahwa gadis itu adalah seorang dara remaja yang masih hijau dan memang berpenampilan genit. Menghadapi seorang pemuda tampan gagah dan berpengalaman seperti Siauw Can, dara ingusan ini tentu amat mudah jatuh!

"Ambilkan perhiasan itu untukku!" kata pula Ai Yin di antara tepukannya.

"Baik, tuan puteri!" biarpun dihujani serangan dari lawan yang semakin marah, Siauw Can masih mampu menjawab. "Heiii, gajah bengkak! Tuan puteri minta perhiasan sorbanmu, tidak cepat kau serahkan?" katanya dan tiba-tiba tangan kirinya dengan jari-jari terpentang menusuk ke arah mata Gondulam.

Gerakan ini cepat dan tiba-tiba, membuat Gondulam terkejut. Tentu saja dia tidak ingin matanya menjadi buta tertusuk jari-jari tangan itu. Dia cepat menangkis, bahkan mencoba untuk menangkap tangan yang menusuk ke arah mata itu, sambil menarik tubuh atas ke belakang. Akan tetapi, pada saat itu Siauw Can sudah meloncat keatas, berjungkir balik dan tangannya menyambar ke arah sorban di kepala lawan. Sebelum Gondulam dapat mengelak atau menangkis, perhiasan di sorbannya telah dapat dicabut oleh Siauw Can dan dengan membuat salto beberapa kali, tubuhnya sudah meluncur ke arah pangeran dan puterinya. Siauw Can turun dan memberi hormat kepada Ai Yin sambil menyodorkan perhiasan itu kepada sang puteri.

"Terima kasih, engkau hebat!" kata Ai Yin sambil tertawa. Siauw Can sudah meloncat lagi ke depan Gondulam yang kini berdiri dengan mata melotot dan muka berubah merah sekali.

"Srattt!" Dia sudah mencabut pedang bengkoknya dan nampak sinar menyilaukan mata saking tajamnya pedang itu. "Pemuda sombong, lawanlah pedangku kalau engkau berani!" tantangnya.

"Heiii, bagaimana ini, Raja Baducin? Bukankah paduka datang untuk menguji ilmu, bukan untuk menyuruh pengawal paduka membunuh orang? Kenapa menggunakan pedang?"

Sejak tadi wajah Raja Muda Baducin sudah muram dan marah. Gondalu tadi telah kalah oleh Bi Lan, hal itu saja sudah membuat dia kehilangan muka, membuat dia bermuram wajah. Kini, jelas nampak pula betapa Gondulam menjadi permainan pemuda itu. Sekali ini benar-benar dia menderita malu.

"Yang Mulia," katanya dengan kata-kata tanpa senyum lagi. "Gondulam hanya menantang untuk mengadu ilmu senjata. Kalau jagoan paduka itu takut, biarlah tidak perlu dilanjutkan."

Mendengar ini, Siauw Can yang ingin mencari muka, segera memberi hormat kepada sang pangeran. "Maaf, Yang Mulia! Kalau raksasa ini menantang saya untuk mengadu senjata, biarlah akan saya layani dan paduka harap tidak merasa khawatir. Dia dan pedangnya bagi saya hanya seorang anak-anak yang memegang pisau mainan saja!"

Mendengar ini, Ai Yin bersorak. "Horreee...! Bagus sekali! Layani raksasa itu, orang gagah!"

Mendengar teriakan puterinya, Pangeran Li Siu Ti merasa tidak enak terhadap tamunya. Maka diapun memesan, "Baiklah, akan tetapi jangan sekali-kali membunuh orang!"

"Harap paduka jangan khawatir. Raksasa ini tidak akan mati, juga tidak mengeluarkan setetespun darah yang akan mengotori ruangan ini. Akan tetapi kalau sekedar benjol-benjol di kepala dan memar di badan, boleh, bukan?"

Semua orang tersenyum mendengar ini, pertanyaan yang lucu akan tetapi juga mengandung ejekan. Raja Muda Baducin berkata kepada Gondulam dalam bahasa mereka sendiri, "Gondulam, jangan membikin malu. Kerahkan semua kemampuanmu!"

Melihat pemuda itu berdiri dengan tangan kosong di depan Gondulam yang sudah mencabut pedang, tiba-tiba Ai Yin turun dari tempat duduknya dan dengan tangan diangkat ke atas ia berteriak. "Berhenti! Ini tidak adil! Raksasa itu berpedang, kenapa jagoan tidak?"

Pangeran Li Siu Ti baru menyadari akan hal ini. Tadi dia terlalu kagum dan girang melihat bahwa tanpa disangka-sangka dia telah mendapatkan dua tenaga yang hebat itu. "Benar, dia harus menggunakan senjata!" teriaknya.

"Harap paduka jangan khawatir, saya sudah memiliki senjata. Inilah senjata saya!" kata Siauw Can dan dia mencabut sulingnya, lalu mendekatkan suling di mulut dan meniup sebuah lagu rakyat yang indah! Tentu saja semua orang kembali tertawa. Bagaimana orang menghadapi raksasa yang memiliki pedang bengkok yang setajam itu, menggunakan sebatang suling dan bahkan meniup suling itu dalam sebuah lagu?

Tentu saja Gondulam semakin marah . Pemuda itu sungguh amat meremehkan dia. "Bocah sombong, kaulihat pedangku!" bentaknya dan diapun sudah menerjang ke arah Siauw Can sambil menggerakkan peang bengkoknya membacok. Pemuda itu masih enak-enak melanjutkan lagunya, seolah-olah tidak melihat ada pedang membacok ke arah lehernya!

"Iiihhhhh...!!" Ai Yin menjerit saking ngerinya melihat pedang tajam itu mengeluarkan sinar dan menyambar ke arah leher pria yang dikaguminya.

Akan tetapi, begitu pedang menyambar dekat leher, Siauw Can meloncat dan bacokan itu luput, akan tetapi dia masih melanjutkan tiupan sulingnya, karena lagu tadi belum habis. Hal ini buat Gondulam semakin marah. Seolah-olah keluar uap dari hidung dan mulutnya ketika dia menyerang tadi, membacok dan menusuk bertubi-tubi. Makin lama semakin ganas karena kemarahannya semakin menyala. Siauw Can berloncatan ke sana sini, terus memainkan lagu dengan sulingnya sampai lagu itu selesai.

"Singggg...!" Pedang menyambar dekat sekali dengan pahanya. Akan tetapi berbareng dengan habisnya lagu, suling itu bergerak menjadi sinar putih dan menangkis pedang itu.

"Tranggggg...!!" Nampak bunga api berpijar dan Gondulam terkejut setengah mati karena hampir saja pedang bengkoknya terlepas dari pegangan ketika bertemu suling. Dan kini dia yang repot mengelak dan memutar pedang melindungi tubuhnya karena suling telah berubah menjadi gulungan sinar yang mengelilingi tubuhnya, membuat matanya berkunang karena dia tidak tahu lagi ke arah mana ujung suling itu menotok! Dan semua tangkisannya tidak ada yang dapat menyentuh suling.

"Takkk!" Tiba-tiba kepalanya terpukul oleh suling. Biarpun dia kebal dan kepalanya masih terlindung sorban, namun rasa nyeri menyengat kepalanya sampai menembus ke ulu hati! Dia menjadi nekat dan mencoba untuk balas menyerang dengan pedangnya, menusuk sampai tiga kali.

"Trang-trang-trangg.. tokkk!"

Kembali kepalanya terkena pukulan, kini di dekat tengkuk, membuat matanya berkunang. Sambil menggereng, Gondulam menyerang lagi membabi-buta, tidak lagi memperdulikan keselamatan diri.

"Tak-tok-tokk!" Berturut-turut terdengar bunyi nyaring ini dan ujung suling sudah menghantam kepalanya, menotok tubuhnya di sana sini dan paling akhir, suling itu mencongkel sorbannya sehingga terlepas dari kepalanya yang ternyata botak hampir gundul.

Dan sebelum Gondulam tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan diapun jatuh terduduk seolah kedua kakinya menjadi lumpuh. Kiranya dia telah terkena totokan yang ampuh, yang menembus kekebalannya sehingga biarpun hanya untuk sebentar, tetap dia tidak mampu mempertahankan diri dan jatuh terduduk!

Siauw Can sudah melompat menjauhinya, menghadap sang pangeran dan puterinya, memberi hormat dan Ai Yin menyambutnya dengan tepuk tangan yang diikuti para pengawal sehingga riuh rendah. Biarpun mukanya menjadi pucat saking marahnya, Gondulam harus mengakui kekalahannya. Sorbannya terlepas, kepalanya yang botak itu jelas memperlihatkan benjolan-benjolan sebesar telur dan dia tadi telah jatuh.

Raja Muda Baducin bangkit dari tempat duduknya, wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Kalau saja peristiwa ini terjadi bukan dengan Pangeran Li Siu Ti, dia tentu dapat menerima kekalahan dua orang jagoannya. Akan tapi di depan pangeran yang dia tahu tidak suka kepada orang Turki itu!

"Sudahlah, sekali ini aku mengaku kalah! Pangeran, kami mohon diri, terima kasih atas pelajaran yang kami terima di sini."

Pangeran Tua Li Siu Ti merasa tidak enak. Kalau raja muda ini mengadu kepada kaisar, tentu dia akan menerima teguran dari kakaknya, Kaisar Tang Kao Cu. Maka diapun cepat bangkit berdiri. "Raja Muda Baducin, harap paduka maafkan kami dan pengawal kami. Marilah kita makan minum dan beri kesempatan kepada kami untuk menghaturkan maaf dalam perjamuan."

"Terima kasih, pangeran. Kami masih mempunyai banyak urusan. Biarlah lain kali saja."

Raja Muda Baducin diikuti dua orang raksasa kembar lalu keluar dari gedung itu, diantarkan oleh Pangeran Tua Li Siu Ti sampai ke pekarangan depan. Raja Muda itu lalu menaiki keretanya dan diikuti rombongan pengawalnya, dia lalu meninggalkan tempat itu dengan hati yang panas!

Pangeran Li Siu Ti memanggil Siauw Can dan Bi Lan ke ruangan dalam dan mereka berkumpul semua di sana. Pangeran Siu Ti, Poa Kiu, Li Ai Yin, Siauw Can dan Bi Lan ynng memangku Lan Lan. Wajah pangeran itu berseri,

"Bagus! Bagus! Sekarang baru aku yakin dan kami menerima kalian bekerja di sini! Akan tetapi, coba perkenalkan diri kalian kepadaku dan ceritakan riwayat kalian..."

"Apakah kalian ini suami isteri dan ini anak kalian?" Ai Yin bertanya sambil mengamati wajah Siauw Can dengan penuh kagum.

Siauw Can menggeleng kepala, "Bukan, tuan puteri..."

"Ihh, aku bukan puteri raja! Jangan sebut tuan puteri, sebut saja nona, dan namaku Ai Yin, Li Ai Yin!"

"Maaf, siocia (nona). Begini, pangeran. Saya bernama Siauw Can dan ia bernama Kwa Bi Lan. Kami masih saudara misan. Saya hidup sebatangkara, tiada orang tua tiada saudara, Sedangkan adik misan Kwa Bi Lan inipun ditinggal mati suaminya. Ia seorang janda yang mempunyai seorang anak, yaitu Lan Lan ini."

"Hemm, anak yang manis. Siapa nama keluarganya?" tanya sang pangeran sambil memandang kepada ibu dan anak itu. Karena Siauw Can sendiri tidak berani lancang memperkenalkan bahwa Bi Lan adalah isteri mendiang Sin-tiauw Liu Bhok Ki, maka diapun tidak mau menjawab dan membiarkan wanita itu sendiri yang menjawab.

"Nama keluarganya Liu, pangeran," kata Bi Lan. Memang ia sudah mengambil keputusan untuk merahasiakan bahwa Lan Lan sebenarnya adalah puteri pendekar Si Han Beng dan bernama Si Hong Lan. Ia menganggap Lan Lan anaknya sendiri, maka ia mengakui nama keluarganya sebagai Liu.

Pangeran Tua Li Siu Ti gembira sekali setelah mereka memperkenalkan diri. "Kami senang sekali menerima kalian sebagai pengawal-pengawal di sini. Engkau, Siauw Can, engkau menjadi pengawal pribadiku dan aku akan menyerahkan tugas-tugas yang terpenting kepadamu. Engkau boleh minta nasihat dari Poa Kiu dalam segala hal karena dialah tangan kananku, orang kepercayaanku. Selain dia, engkau tidak boleh mengadakan perundingan dengan orang lain."

"Terima kasih, Pangeran!" kata Siauw Can sambil memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki.

"Bukan pengawalmu saja, ayah! Kalau aku sedang bepergian, akupun minta dikawal oleh Siauw Can, agar aku merasa aman!" Li Ai Yin berkata dan matanya bersinar-sinar memandang kepada pemuda tampan dan gagah itu. Siauw Can tahu diri dan pandai beraksi, dia hanya menunduk seperti seorang pemuda yang alim!

"Ai Yin, selain dia ada Kwa Bi Lan di sini. Bi Lan, engkau kami terima sebagai pengawal keluarga kami, engkau tinggal di sini bersama puterimu, menjaga keamanan di rumah ini, mengawal keluarga kami kalau bepergian, dan juga kuangkat menjadi guru dari Ai Yin. Ai Yin, bukankah engkau selalu ribut ingin mencari guru silat yang pandai! Nah, engkau boleh belajar dari Bi Lan.

Ai Yin memandang kepada Bi Lan, lalu menoleh ke arah Siauw Can, wajahnya berseri. "Akan tetapi, akupun boleh minta petunjuk dari Siauw Can, bukan? Kulihat dia lebih lihai dari Bi Lan!"

Sementara itu Bi Lan memberi hormat kepada pangeran itu dan berterima kasih. Demikianlah, mulai hari itu Kwa Bi Lan dan Lan Lan mendapatkan sebuah kamar di bagian belakang istana itu, tempat keputren. Ia dihadapkan kepada isteri dan para selir pangeran, dan tentu saja ia diterima dengan gembira oleh keluarga pangeran yang merasa tenteram dengan adanya seorang pengawal wanita yang berilmu tinggi di tengah-tengah mereka.

Mereka akan dapat tidur lebih nyenyak sekarang. Dan Lan Lan yang mungil dan lincah itupun, segera dapat menarik perasaan suka di antara para keluarga itu, apalagi karena Pangeran Tua Li Siu Ti tidak mempunyai anak lain kecuali Li Ai Yin yang kini sudah dewasa dan yang berwatak keras terhadap keluarga ayahnya.

Adapun Siauw Can juga mendapatkan sebuah kamar di bagian samping depan, di mana tinggal pula para perwira pasukan pengawal yang kini harus memandang Siauw Can sebagai atasan mereka! Selain keluarga pangeran, semua pelayan dan pengawal menyebut Siauw Can dengan sebutan Siauw-taihiap (Pendekar besar Siauw) dan Bi Lan disebut li-hiap (pendekar wanita).

Diam diam Siauw Can merasa girang bukan main akan nasibnya yang amat baik. Tanpa disangka-sangka, dengan mudah saja dia diangkat menjadi pengawal pribadi dan kepala pengawal dari Pangeran Tua! Sungguh merupakan kedudukan yang amat tinggi dan memberi harapan dan masa depan yang amat cerah, karena dia tahu bahwa pangeran itu merupakan orang yang kekuasaannya besar, merupakan orang ke tiga setelah kaisar dan putera mahkota. Dan di istana pangeran itu terdapat Li Ai Yin yang jelas merupakan wanita yang akan mudah dia dekati! Siapa tahu, melalui gadis itu dia akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi lagi dari pada sekarang.

Bi Lan sendiri juga girang dengan keadaannya. Ia hidup serba kecukupan. Juga Lan Lan berada di antara keluarga yang baik. Keluarga pangeran itu rata-rata ramah dan berpendidikan. Ia sendiri tidak mempunyai banyak pekerjaan kecuali hanya bersikap waspada menjaga keamanan keluarga itu. Isteri dan para selir pangeran semua bersikap manis kepadanya dan kepada Lan Lan. Hanya satu hal yang membuat Bi Lan merasa tidak senang, yaitu sikap Li Ai Yin.

Memang, diakuinya bahwa gadis yang lincah dan genit itu bersikap cukup baik dan bersahabat dengannya, bahkan harus diakui bahwa gadis itu memiliki bakat yang cukup baik dalam ilmu silat. Akan tetapi, gadis itu terlalu genit dan secara terbuka sering membicarakan Siauw Can dengannya. Gadis itu jelas amat tertarik dan kagum kepada Siauw Can!

Gadis seperti ini akan mudah tergelincir dan ia melihat bahaya mengancam gadis remaja yang amat genit ini. Dan ia merasa menjadi tugas kewajibannya untuk mengamati gadis ini agar jangan sampai terjerumus, walaupun ia belum menganggap Siauw Can seorang pria yang berwatak buruk. Hanya saja, pernah ia melihat sinar mata Siauw Can menyala aneh ketika pemuda itu memandang Ai Yin, dan iapun merasa khawatir.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Beberapa hari kemudian, ketika Siauw Can duduk di pos penjagaan depan istana, mengobrol dengan dua orang perwira pasukan pengawal, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda besar dibalapkan penunggangnya memasuki halaman istana itu. Tentu saja hal ini merupakan larangan dan semua penjaga sudah berloncatan, termasuk dua orang perwira yang sedang asyik mengobrol dan memberi keterangan tentang keadaan dan tugas-tugas di situ kepada Siauw Can.

Siauw Can sendiri mengangkat muka dan bersikap waspada. Siapa tahu penunggang kuda itu akan membuat kerusuhan dan dia harus siap siaga. Akan tetapi, betapa herannya ketika dia melihat para penjaga itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut menghadap si penunggang kuda yang sudah menghentikan kudanya di pekarangan. Bahkan dua orang perwira yang tadi bicara dengan dia, juga berlutut kepada penunggang kuda itu. Siapakah penunggang kuda yang dihormati seperti itu oleh para penjaga? Siauw Can mengamati penuh perhatian tanpa keluar dari pos penjaga.

Penunggang kuda itu adalah seorang laki-laki muda. Usianya paling banyak duapuluh tiga tahun, akan tetapi dia bersikap anggun dan gagah, juga amat berwibawa. Pakaiannya seperti seorang bangsawan muda, akan tetapi sederhana kalau dibandingkan dengan para pemuda bangsawan lainnya, dan biarpun pakaiannyya lebih mirip seorang pelajar, namun jelas bahwa gerakannya mengandung kekuatan besar. Terutama sekali sepasang matanya, mencorong dan penuh wibawa, seperti mata naga saja!

"Selamat datang, Yang Mulia Pangeran!" kata kedua orang perwira itu sambil berlutut.

Pemuda itu memandang kepada dua orang perwira yang berlutut itu sambil mengerutkan alisnya. "Kalian perwira komandan pasukan pengawal di rumah paman pangeran ini?" Suaranya tegas dan lantang.

"Benar, yang mulia!"

"Hemm, apakah kalian belum mendengar bahwa aku paling tidak suka melihat kelemahan para perajuritku? Setiap orang perajurit, termasuk kalian, kalau bertemu denganku, harus menghormat seperti perajurit menghormati atasannya, panglimanya!"

Mendengar ini dua orang perwira dan anak buah mereka cepat bangkit dan kini berlutut dengan sebelah kaki, melintangkan lengan ke depan dada dan menghormat secara militer!

"Selamat datang, Panglima Besar!" teriak mereka serentak.

Wajah yang gagah itu kehilangan kekerasannya dan bibirnya tersenyum, mengangguk sedikit. Melihat dan mendengar semua in Siauw Can merasa betapa kedua kakinya gemetar. Kiranya pemuda itu adalah Sang Putera Mahkota, juga Panglima Besar Li Si Bin! Inilah orangnya yang telah berhasil menggulingkan Kerajaan Sui, dan kemudian mengangkat ayahnya menjadi Kaisar Tang Kao Cu, sedangkan dia sendiri menjadi putera mahkota dan juga panglima besar!

Semua itu sudah didengarnya akan tetapi tidak pernah dia melihat tokoh ini, karena ketika kerajaan Sui jatuh, dia berada di penjara, kemudian dikeluarkan oleh Pangeran Cian Bu Ong dan menjadi pembantu pangeran Kerajaan Sui itu yang mencoba untuk melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Tang yang baru namun gagal. Setelah mengetahui bahwa pemuda itu adalah Pangeran Li Si Bin, Siauw Can cepat keluar dari dalam pos penjagaan, langsung dia menghadap pangeran itu dan berlutut dengan sebelah kaki seperti para perwira, memberi hormat dengan sigapnya.

"Panglima Besar!" serunya dengan sikap hormat dan siap.

Pangeran Li Si Bin memandang kepadanya dan sejenak Siauw Can merasa seolah-olah seluruh tubuhnya digerayangi sinar mata itu, membuat dia merasa ngeri dan bulu tengkuknya meremang. Belum pernah dia berjumpa dengan orang yang memiliki wibawa sebesar ini!

"Hemm, engkau berpakaian seperti pelajar akan tetapi memberi hormat seperti seorang perwira militer! Engkaukah yang bernama Siauw Can dan menjadi pengawal pribadi baru dari Paman Pangeran Tua?"

Diam-diam Siauw Can terkejut dan dia mencatat di dalam hatinya, bahwa selain wibawa yang amat besar, juga putera mahkota ini memiliki kecerdikan yang mungkin akan dapat membahayakan dirinya. "Benar sekali, Yang mulia!" jawabnya.

"Perwira, rawat kudaku ini, beri rumput yang segar!" kata sang pangeran sambil menyerahkan kendali kuda ke perwira yang cepat meloncat berdiri dan menerima tugas itu.

"Minggirlah, jangan menghalangi jalan!" kata pangeran Li Si Bin dan dengan gerakan wajar, ketika dia melangkah maju hendak menuju ke beranda depan, dia mendorong ke arah Siauw Can yang masih berlutut dengan sebelah kaki. Dan betapa kagetnya hati Siauw Can karena dari tangan pangeran itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, tanda bahwa pangeran mahkota ini memiliki kekuatan sin-kang yang hebat!

Dia menjadi serba salah. Dia tahu bahwa putera mahkota itu tidak bermaksud menyerangnya, melainkan mungkin sekali hanya ingin mengujinya. Dia tidak boleh menangkis sehingga membuat pangeran itu kesakitan, juga kalau dia mengelak begitu saja dan dorongan itu luput, berarti dia melakukan perlawanan. Maka dia berpura-pura tidak tahu bahwa pangeran itu mendorongnya dengan kekuatan sin-kang.

Dia bahkan mengerahkan tenaga membuat tubuhnya kaku dan ketika terdorong, tubuhnya terlempar dalam keadaan setengah berlutut dan turun lagi sampai tiga meter di belakangnya, dalam keadaan berlutut seperti tadi, seolah-olah dia adalah sebuah arca yang dipindahkan Sedikitpun dia tidak terguncang, dan keadaannya sama seperti tidak berubah! Kalau pangeran itu telah memperlihatkan kekuatan yang dahsyat, sebaliknya Siauw Can memperlihatkan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa pula!

Pangeran Li Si Bin memandang dan sinar kagum memancar sebentar saja dari matanya. Dia mengangguk dua kali lalu melanjutkan langkahnya menuju beranda depan, dan meloncat masuk istana itu begitu saja seperti memasuki rumah sendiri. Hal ini tidaklah aneh. Pangeran Tua Li Siu Ti adalah adik kaisar, jadi pamannya sendiri dan dia sudah biasa keluar masuk ke rumah pamannya itu secara kekeluargaan.

Para penjaga pintu yang melihatnya, segera memberi hormat. Mereka melihat betapa pangeran mahkota tadi menegur para perwira, maka merekapun tahu diri dan cepat berlutut dengan sebelah kaki dan memberi hormat secara militer!

Siauw Can menarik napas panjang ketika ia bangkit berdiri. Kagum bukan main. Dengan hawa pukulannya, pangeran mahkota itu telah dapat membuat dia terlempar sampai tiga meter! Jelas bahwa pangeran ini diam-diam memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, dan mungkin memiliki ilmu kepandaian silat yang hebat pula, jauh lebih hebat dibandingkan dua orang raksasa kembar pengawal pribadi Raja Muda Baducin!

Dia harus berhati-hati terhadap pangeran ini yang selain berkuasa besar, juga lihai dan cerdik bukan main. Dia mulai merasa khawatir karena darimana pangeran mahkota itu mengenalnya kalau tidak mendengar dari orang-orang Turki itu? Keheranannya berkurang ketika dia ingat bahwa putera mahkota tadi, sejak mudanya telah memimpin pasukan besar yang berhasil menumbangkan Kerajaan Sui.

Seorang panglima besar seperti itu, sudah pasti memiliki ilmu kepandaian tinggi. Seorang perwira yang melihat betapa tubuh Siauw Can tadi terlempar sampai tiga meter, hanya menduga bahwa pengawal baru ini telah dikalahkan oleh sang pangeran, maka dia menghampiri Siauw Can dan berkata.

"Taihiap, kepandaian Yang Mulia Panglima Besar memang seperti dewa saja!" Ucapannya mengandung kebanggaan seolah hendak mengatakan bahwa bagaimanapun juga, pemuda ini masih kalah oleh junjungannya! Siauw Can hanya tersenyum, mengangguk dan diapun melangkah memasuki istana dengan kepada menunduk.

Sementara itu, di dalam taman bunga di sebelah belakang istana, taman bunga yang indah, di dekat kolam ikan emas, Ai Yin sedang berlatih ilmu silat, di bawah pimpinan Kwa Bi Lan. Bi Lan memberi pelajaran dasar-dasar ilmu silat yang diambilnya dari ilmu silat Siauw-lim-pai, yaitu ilmu silat para pendeta yang semula diajarkan hanya untuk memperkuat dan menyehatkan badan, namun kemudian oleh para murid bukan pendeta, dikembangkan menjadi ilmu bela diri yang kokoh dan tangguh. Ai Yin memang berbakat, dan tubuhnya lentur. Apa lagi ditambah orangnya memang genit, maka gerakan-gerakannya juga penuh gairah!

"Bhe-si (Kuda-kuda) itu kurang sempurna, siocia," kata Kwa Bi Lan.

"Eh, Bukankah punggung harus lurus ke atas, kepala dikedikkan dengan pandang mata menatap ke depan lurus. Kedua tangan santai di kedua pinggang dengan kepala menelentang, dan kedua kaki ditekuk bersiku lurus dan kekuatan dipusatkan di tengah-tengah?" bantah Ai Yin. Ia sedang membuat kuda-kuda yang disebut "menunggang kuda"

Dengan kedua kaki ditekuk menjadi siku, dipentang seperti orang menunggang kuda. Ia sudah melatih kuda-kuda ini berhari-hari lamanya, seperti anjuran Bi Lan bahwa ilmu silat yang baik memiliki dasar kuda-kuda yang kuat karena ibarat membuat bangunan, kuda-kuda merupakan tiangnya, maka harus kokoh kuat dan tidak boleh bosan berlatih.

Pada hari-hari pertama, seluruh tubuh Ai Yin terasa nyeri, terutama sekali di bagian betis dan belakang paha. Untuk jongkok saja rasanya kaku dan nyeri. Akan tetapi kini rasa nyeri sudah banyak berkurang dan mendengar kuda-kuda itu masih dikatakan kurang sempurna tentu saja ia menjadi kecewa dan membantah.

"Memang sudah tepat, siocia, hanya sedikit kesalahannya."

"Di bagian mana yang salah?"

Kwa Bi Lan tersenyum geli. "Di pinggul itu, terlalu menonjol ke belakang!"

Sang puteri berdiri dan cemberut. "Ihh! Tentu saja! Memang bukit pinggulku besar menonjol. Bagus, ya?" Ia mengusap-usap pinggulnya dengan bangga.

Melihat ini, Bi Lan makin geli. Memang pinggul puteri itu indah dan montok membusung, akan tetapi ketika memasang kuda-kuda tadi, terlalu ditonjolkan belakang! "Memang indah, siocia. Akan tetapi dalam memasang kuda-kuda, haruslah punggung lurus benar. Dari tengkuk sampai ke pinggul, jangan ditonjolkan pinggul itu terlalu ke belakang."

Ai Yin memasang kuda-kuda lagi, kini menarik sedikit tonjolan pinggulnya sehingga menjadi siku benar.

"Nah, bagus begitu. Kalau terlalu ditonjolkan ke belakang, perubahan gerakan kakimu bisa kaku dan terlambat. Sekarang tirukan gerakanku. Ini merupakan jurus baru, siocia."

Dengan penuh perhatian Ai Yin meniru gerakan silat Bi Lan, sedangkan Lan Lan bermain-main dengan daun-daun kering yang rontok terlanda angin. Dengan tekun kedua orang wanita cantik ini berlatih silat sampai Ai Yin berkeringat, dan napasnya agak memburu sehingga ia menghentikan gerakannya. Ia telah pandai memainkan belasan jurus ilmu silat yang indah dan tangguh.

"Bagus sekali!" terdengar seruan disusul tepuk tangan.

Ai Yin dan Bi Lan cepat membalikkan tubuh dan Bi Lan mengerutkan alisnya ketika melihat seorang pria muda telah berdiri di situ. Muncul dari balik sebatang pohon dan kini bertepuk tangan memuji. Betapa kurang ajarnya laki-laki ini, pikirnya dan ia memandang dengan curiga, dan siap menghadapinya kalau orang ini hendak membuat keributan. Akan tetapi, kalau tadinya ia mengira sang puteri akan marah-marah, sebaliknya begitu melihat laki-laki yang bertepuk tangan memuji itu, Ai Yin tersenyum girang dan lari menghampiri.

"Aih, kiranya paduka yang datang, pangeran! Kenapa tidak memberitahu lebih dulu agar kami dapat menyambut." Dan Ai Yin cepat memberi hormat dengan setengah berlutut.

Pemuda itu menyentuh pundak Ai Yin dan berkata, "Bangkitlah, Ai Yin. Kita ini keluarga sendiri, mengapa harus memberi kabar lebih dulu? Dan aku girang sekali tadi tidak memberi kabar sehingga dapat melihat engkau berlatih silat. Engkau hebat! Kelak tentu akan menjadi seorang wanita sakti. Ha-ha-ha kelak suamimu harus berhati-hati, jangan sampai membuat kesalahan padamu, bisa remuk kepalanya, ha-ha...!"

Ai Yin juga tertawa gembira. Bi Lan tertegun. Inikah putera mahkota yang juga menjadi panglima besar itu? Inikah putera kaisar yang pernah ia dengar dari Siauw Can? Bukan main! Masih begini muda sudah dapat memimpin rakyat dan menggulingkan pemerintah Kerajaan Sui! Bahkan mendiang suaminya pernah bicara tentang Li Si Bin sebagai seorang pemuda yang menerima petunjuk Tuhan sehingga mampu menggerakkan peran rakyat jelata! Namanya berada di ujung bibir setiap orang yang memuji dan memujanya. Inikah orangnya?

Pangeran itu sudah menggandeng tangan Ai Yin dan menghampirinya. Melihat Kwa Bi Lan hanya berdiri tertegun, Ai Yin segera berseru, "Heii, enci Bi Lan. Cepat beri hormat. Ini adalah kakak sepupuku, yang mulia Pangeran Mahkota Li Si Bin, panglima besar yang namanya sudah menggetarkan seluruh kolong langit!"

Bi Lan cepat memberi hormat kepada pangeran itu, kemudian ia memondong Lan Lan dan berdiri dengan kepala tertunduk, karena pangeran itu mengamatinya dengan pandang mata tajam penuh silidik. Mata itu! Mencorong seperti mata naga, pikirnya dengan jerih. Wibawanya luar biasa, membuat ia merasa dirinya menjadi kecil sekali.

"Engkaukah yang bernama Kwa Bi Lan dan kini menjadi pengawal keluarga di rumah pamanku?" tanya Pangeran Li Si Bin.

"Benar, pangeran," jawab Bi Lan lirih, diam-diam merasa heran bahwa pangeran ini sudah mendengar pula tentang dia.

"Bukan hanya pengawal keluarga, pangeran. Akan tetapi juga menjadi guruku. Akan tetapi aku tidak mau menyebutnya subo (ibu guru). Lihat ia masih begitu muda dan cantik, bagaimana aku dapat menyebutnya subo? Enci Bi Lan, kau belum memberitahu, berapa sih usiamu?"

Bi Lan merasa canggung dan sungkan sekali. Kalau mereka berada berdua saja, tentu semua pertanyaan pribadi dari Ai Yin akan dijawabnya dengan senang hati. Akan tetapi kini pertanyaan tentang umur ditanyakan di depan seorang pria, walaupun pria itu adalah putera mahkota dan panglima besar! Betapapun juga, ia tidak berani untuk tidak menjawab, maklum akan kekerasan hati Ai Yin yang mudah tertawa, mudah menangis dan mudah marah-marah itu.

"Duapuluh empat tahun, siocia," jawabnya lirih sambil menundukkan mukanya. "Sungguh membuat orang kagum.!" Kata pangeran itu dengan suara lirih dan sungguh-sungguh, tidak bernada mengeluarkan pujian kosong atau merayu belaka.

"Seorang wanita semuda ini sudah dapat memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan mampu mengalahkan seorang jagoan seperti Gondalu! Sungguh paman pangeran beruntung sekali mendapatkan seorang pengawal keluarga seperti nyonya muda ini. Akan tetapi, sungguh menyedihkan dan mengharukan, wanita semuda ini telah menjadi seorang janda dengan seorang anak."

Berdebar rasa jantung dalam dada Bi Lan. Ucapan itu begitu jujur dan sempat membuat ia terharu, akan tetapi ia tetap menunduk dan tidak menjawab, hanya mendekap Lan Lan ke dadanya.

"Pangeran belum melihat kakak sepupunya yang bernama Siauw Can. Dia lebih lihai lagi dan sekarang menjadi pengawal pribadi ayah!" kata Ai Yin.

"Aku sudah bertemu dengan dia di luar tadi," kata Pangeran Li Si Bin, lalu dia kembali memandang kepada Bi Lan yang menunduk saja.

"Kwa Bi Lan, kulihat tadi engkau mengajarkan kuda-kuda dan jurus-jurus ilmu silat Siauw-lim-pai. Apakah engkau murid Siauw-lim-pai?"

Bi Lan terkejut. Kiranya pangeran ini berpemandangan tajam dan pasti pandai ilmu silat maka dapat mengenal jurus-jurus Siauw-lim-pai. Tanpa mengangkat muka ia mengangguk. "Benar, pangeran..."

Naga Beracun Jilid 11

"Aku pernah menyewa kamar ini selama seminggu. Tidurkanlah anakmu, di sini tenang." kata Hong San.

Dengan hati lega dan berterima kasih Bi Lan lalu memasuki kamar itu, menidurkan Lan Lan di atas pembaringan dan melepaskan buntalannya, meletakkannya di atas meja. Setelah menyalakan sebatang lilin lagi untuk menambah penerangan di kamar itu, iapun keluar dari dalam kamar.

"Baik, kongcu, aku akan berusaha mendapatkan apa yang kau cari itu. Nah, aku akan pergi sekarang juga. Nyonya, beristirahatlah, saya hendak pergi dulu mencarikan kuda dan kereta yang dipesan kongcu." Petani itu menjura ke arah Bi Lan, lalu keluar dari pondok, menutupkan daun pintunya dengan hati-hati dari luar.

Bi Lan kini duduk menghadapi meja bersama Hong San setelah pemuda itu mempersilakannya duduk. Mereka saling berpandangan, dan keduanya kagum. Di bawah sinar lampu yang remang-remang mereka saling mengagumi wajah masing-masing. Hong San melihat betapa wajah yang bulat itu berkulit putih mulus, juga leher dan tangan itu. Putih mulus yang wajar. Hidung yang mancung kecil itu mungil dan mata itu bagaikan sepasang bintang, gemerlapan tajam.

Di lain pihak, Bi Lan juga kagum. Pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun itu memang tampan dan gagah. Pakaiannya seperti seorang sastrawan, sederhana namun bersih. Caping lebar yang tadi dipergunakannya, kini tergantung di dinding. Wajah itu jantan. Hidungnya mancung dan besar, matanya tajam agak terlalu hitam, dan bibirnya kemerahan seperti bibir wanita, akan tetapi lebih besar dan penuh gairah. Kulitnya agak coklat dan wajah itu membayangkan ketampanan orang dari daerah barat. Hal ini tidak aneh karena Can Hong San memang berdarah Nepal. Ibu kandungnya seorang puteri Nepal!

"Nah, sekarang kuharap engkau suka memperkenalkan dirimu, nyonya, tentu saja kalau engkau percaya kepadaku."

Bi Lan menarik napas panjang. "Tentu saja aku percaya kepadamu, tai-hiap...!"

"Nanti dulu, nyonya!" Hong San menghentikan dengan mengangkat tangan kanan ke atas. "Harap engkau tidak menyebut aku tai-hiap, sungguh hanya membuat aku merasa malu dan canggung!" Lalu ia menatap tajam wajah yang manis itu. "Maukah engkau menyebut aku toako (kakak) saja? Namaku Hong San dan aku sama sekali tidak suka disebut tai-hiap (pendekar besar), apa lagi oleh seorang wanita perkasa seperti nyonya."

Bi Lan tersenyum. "Hemm, engkau melarangku menyebutmu tai-hiap, akan tetapi engkau sendiri menyebut aku nyonya! Seharusnya aku menyebut tuan kepadamu, akan tetapi engkau ingin aku menyebut toako. Kalau aku menyebut kakak, apa sebutan seorang kakak terhadap adiknya?"

Hong San tertawa gembira. Biarpun tidak banyak bicara, ternyata wanita ini dapat diajak berkelakar. "Baiklah, aku akan menyebutmu moi-moi (adik perempuan). Aneh, seorang kakak tidak tahu nama adiknya!"

"Toako, namaku Bi Lan, Kwa Bi Lan."

"Hemmm, nama yang indah sekali!"

"Kiranya selain gagah perkasa, engkau juga seorang perayu, toako. Namaku biasa saja engkau katakan indah."

"Maaf, Lan-moi. Aku bukan bermaksud merayu, hanya... ah, sudahlah, aku hanya berkelakar, lanjutkan bicaramu."

"Bicara apa lagi? Sudah kuperkenalkan namaku. Aku Kwa Bi Lan dan anakku itu, namanya Lan Lan."

"Dan siapa nama suamimu? Di mana tempat tinggalmu dan kenapa engkau melakukan perjalanan berdua saja dengan anakmu yang masih kecil? Darimana dan hendak ke manakah engkau pergi, Lan-moi?"

Bi Lan melirik ke arah wajah pemuda itu, tersenyum sedih. Orang ini demikian memperhatikan dirinya dan pertanyaannya datang seperti banjir saja. "Toako, engkau ingin tahu segalanya, akan tetapi engkau tidak mau menceritakan segalanya tentang dirimu sendiri. Engkau hanya memperkenalkan namamu, dan akupun sudah membalas dengan memperkenalkan nama kami. Kalau ingin mendengar tentang keadaan dan keluargaku, tidakkah sepatutnya kalau seorang laki-laki lebih dahulu menceritakan tentang dirinya?"

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau kalah, itu tandanya engkau belum percaya benar kepadaku. Baiklah, akan kuceritakan semua tentang diriku, akan tetapi tidak ada yang menarik tentang diriku. Aku berusia duapuluh tujuh tahun, aku hidup sebatangkara, belum pernah menikah, yatim piatu dan tidak mempunyai keluarga seorangpun. Aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Seorang kelana yang tidak mempunyai apa-apa. Guruku adalah ayahku sendiri yang sudah meninggal dunia, bernama Can Siok. Selama ini aku hanya mengembara, kemana saja hati dan kaki ini membawaku. Nah, hanya inilah cerita tentang diriku, Lan-moi. Sama sekali tidak menarik, bukan?"

Bi Lan mendengarkan dengan heran. Seorang pemuda yang begini tampan gagah, berilmu tinggi, usianya sudah sangat dewasa, kenapa hidup seorang diri saja dan tidak menikah? Tentu seorang pendekar petualang ynng selalu ingin hidup bebas!

"Eh? Kenapa engkau diam saja, Lan-moi? Aku sudah siap mendengarkan cerita tentang dirimu!"

Bi Lan menghela napas panjang. "Kalau engkau mengatakan bahwa riwayatmu tidak menarik, sebaliknya riwayatku lebih buruk lagi, malah hanya menyedihkan saja."

"Yang sudah lalu hanya menjadi kenangan, Lan-moi, tidak ada gunanya disedihkan lagi. Nah, ceritakanlah, aku ingin sekali mendengar agar perkenalan antara kita menjadi lebih akrab."

"Akupun hidup berdua saja dengan anakku Lan Lan. Sekarang inipun aku masih belum mempunyai tempat tinggal yang tetap." Bi Lan berhenti seolah-olah cerita tentang dirinya habis sekian saja.

"Tapi, suamimu...?" Hong San mendesak. "Dan siapa pula gurumu, orang tuamu?"

"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Dan suamiku, dia juga guruku sendiri, dia sudah meninggal dunia..."

Mendengar suara yang mengandung duka itu, Hong San menarik napas panjang dan diam-diam dia menekan perasaan girangnya mendengar bahwa wanita ini adalah seorang janda! "Aih, maafkan pertanyaanku tadi, Lan-moi. Siapa kira, semuda ini engkau telah ditinggal mati suami dan hidup berdua saja dengan seorang puteri. Kalau boleh aku bertanya, siapakah nama mendiang suamimu? Kalau dia menjadi gurumu, tentu dia lihai sekali."

"Nama mendiang suami dan juga guruku adalah Liu Bhok Ki..."

Hong San terbelalak dan dia demikian terkejut sehingga bangkit berdiri dari kursinya. "Dia...? Kau maksudkan Sin-tiauw (Si Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki?"

Melihat kekagetan pemuda itu, Bi Lan tidak merasa heran. Nama besar mendiang suaminya memang amat terkenal di dunia persilatan. Iapun mengangguk bangga.

"Aihhhh, pantas kalau begitu," kata Hong San sambil duduk kembali dan memandang kagum. "Pantas kalau engkau memiliki ilmu silat yang lihai. Kiranya murid dan juga isteri Si Rajawali Sakti. Akan tetapi, maaf Lan-moi. Kulihat tadi dalam gerakan silatmu ada dasar ilmu silat Siauw-lim-pai."

"Penglihatanmu tajam sekali, toako dan ini membuktikan bahwa ilmu kepandaianmu sudah sangat tinggi. Memang, sebelum aku menjadi murid suamiku, aku pernah mempelajari ilmu silat Siau-lim-pai."

"Hebat...! Murid Siauw-lim-pai yang kemudian menjadi murid Si Rajawali Sakti! Aku girang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, Lan-moi! Lalu kemana engkau hendak pergi?"

Sampai lama Bi Lan berdiam diri. Ia sendiri tidak dapat menjawab karena memang ia tidak tahu kemana ia akan pergi! Ia telah menculik Lan Lan dan ia tidak berani kembali ke rumah suaminya di Kim-hong-san, karena tentu Si Han Beng dan Bu Giok Cu akan mencari anak mereka dan mengejarnya kesana! Dan ia pasti tidak akan mampu mempertahankan kalau mereka itu merampas Lan Lan.

Ilmu kepandaian mereka terlampau tinggi baginya. Melawan Bu Giok Cu saja ia tidak akan menang, apalagi melawan Si Han Beng dan lebih-lebih menghadapi mereka berdua! Dan ia sudah jatuh cinta kepada anak itu yang kini menyebut ibu kepadanya. Ia tidak mempunyai suatu tempat untuk pergi, maka pertanyaaan Hong San membuat ia bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Kemudian ia teringat kepada pamannya Lie Koan Tek. Daripada tidak dapat menjawab, dia lalu berkata.

"Aku masih mempunyai seorang paman, saudara dari mendiang ibuku. Aku akan mencari pamanku itu, toako."

"Siapakah pamanmu itu?"

"Dia seorang tokoh Siauw-lim-pai namanya Lie Koan Tek."

"Lie Koan Tek...?" Hong San terbelalak. Terbayanglah kini ketika dia bertempur melawan Lie Koan Tek, dikeroyok oleh Poa Liu Hwa isteri mendiang Kam Seng Hin ketua Hek-houw-pang, kemudian muncul seorang gadis perkasa dan... Hong San terbelalak. "Ahhhhh....!!"

Dia meloncat dari tempat duduknya, bangkit berdiri dan memandang kepada Bi Lan dengan kaget. Inilah gadis yang dulu membantu Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa!

"Ada apakah, toako? Engkau kelihatan terkejut sekali."

Hong Sen cepat mengerahkan tenaga untuk menenangkan hatinya dan wajahnya yang tadi berubah agak pucat itu menjadi merah kembali. Dia bukan terkejut mendengar nama Lie Koan Tek, melainkan terkejut ketika teringat bahwa gadis inilah yang dulu pernah membantu Lio Koan Tek mengeroyoknya. Tak dapat dia membayangkan bagaimana akan sikap wanita ini kalau mengenalnya!

"Aku memang terkejut mendengar nama pamanmu. Tentu saja aku mengenal nama itu. Yang mengejutkan adalah karena engkau hendak mencarinya. Padahal menurut pendengaranku, pamanmu adalah seorang pelarian dan buruan pemerintah! Kabarnya dia telah melarikan diri dari penjara, bahkan membantu gerakan pemberontak. Bagaimana engkau akan mencari pamanmu yang sedang diburu pemerintah?"

Bi Lan menarik napas panjang. Tentu saja ia tahu akan hal itu dan kalau tadi ia mengatakan hendak mencari pamannya, hal itu dilakukan hanya agar dapat menjawab pertanyaan Hong San saja. "Aku tahu akan hal itu, toako. Akan tetapi... aku tidak tahu lain tempat lagi yang dapat kuharapkan menjadi tempat tinggalku. Aku akan berkelana saja..." katanya sedih.

Hong San tersenyum. Dia sudah mampu menguasai dirinya lagi. Jelas bahwa Bi Lan tidak ingat kepadanya. Pertemuan antara mereka hanya terjadi sebentar saja, dan itupun dalam pertempuran, sehingga wanita ini tidak mengenal dan tidak mengingatnya sama sekali. Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan ada sesuatu yang tidak nyaman rasanya di hati setelah dia mengetahui siapa wanita ini. Kalau sampai Bi Lan mengenalnya!

"Lan-moi, kalau engkau hidup seorang diri, kiranya tiada salahnya menjadi seorang pengelana seperti aku ini. Akan tetapi ingat, engkau mempunyai seorang puteri yang masih kecil. Tidak mungkin akan mengajaknya berkelana tanpa tujuan? Tidak baik bagi pendidikan puterimu."

"Aku mengerti, toako. Akan tetapi apa dayaku? Aku tidak tahu ke mana harus pergi."

Hening sejenak. Hong San tidak mau tergesa-gesa. Dia harus mengakui bahwa setelah kini wanita itu duduk di depannya, dekat dan di bawah sinar lampu sehingga dia dapat mengamati wajah itu dengan jelas. Setelah wanita itu bicara, apalagi setelah mendengar bahwa wanita itu seorang janda muda yang hidup sebatangkara, hatinya semakin tertarik dan dia tahu bahwa sekali ini dia jatuh cinta!

Belum pernah perasaan seperti ini menguasai hatinya. Biasanya terhadap wanita cantik, hanya berahinya yang timbul. Akan tetapi sekali ini lain. Dia ingin memiliki Bi Lan seluruhnya dan sepenuhnya, untuk selamanya. Dia ingin menyenangkan hati wanita ini, membahagiakannya, dan dia ingin berdampingan selamanya! Dia ingin membuat wajah yang manis ini selalu tersenyum dan cerah berseri. Akan tetapi dia harus berhati-hati. Kalau janda ini sampai dapat menjenguk dan mengetahui latar belakang kehidupannya! Dia ngeri membayangkan akibatnya.

Tiba-tiba dia seperti dipaksa oleh sesuatu mengangkat mukanya menatap wanita itu. Dan ternyata wanita itupun sedang memandang kepadanya. Agaknya pandang mata wanita itulah yang tadi menyentuh perasaannya dan membuatnya mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertaut sejenak, lalu Bi Lan menundukkan mukanya.

"Lan-moi, apakah engkau percaya kepadaku?" tiba-tiba Hong San bertanya.

"Eh? Kenapa, toako? Tentu saja aku percaya padamu. Engkau adalah penolongku."

"Kita baru saja bertemu, engkau belum mengenal benar siapa diriku, dan orang macam apa adanya aku. Mungkin saja aku ini seorang penipu, seorang penjahat..."

"Aih, jangan mengada-ada, toako. Aku yakin bahwa engkau seorang yang baik budi, gagah perkasa, dan..."

"Belum tentu, Lan-moi. Di dunia ini, di mana ada manusia sempurna tanpa salah? Akupun, sebagai manusia biasa, pernah melakukan kesalahan, pernah tersesat dan berdosa..."

"Sudahlah, toako. Apa sebetulnya yang hendak kau katakan maka engkau bertanya apakah aku percaya kepadamu? Aku percaya! Nah, lalu apa?"

Hong San menelan ludah. Baru sekarang dia merasa begini gugup dan tegang! "Begini, Lan-moi... Biarpun kita baru saja saling bertemu secara kebetulan dan saling berkenalan, namun rasanya bagiku engkau seorang sahabat lama dan kita saling percaya. Engkau dan puterimu hidup sebatangkara, dan akupun demikian. Maukah engkau kalau aku mencarikan sebuah tempat tinggal untuk engkau dan anakmu di mana engkau akan hidup dengan tenang dan tenteram?"

Sejenak Bi Lan hanya memandang wajah pemuda itu. Sungguh luar biasa kalau ada kenalan baru hendak menolongnya seperti itu! Ia merasa terharu, akan tetapi juga heran. "Can-toako, kita baru saja berkenalan dan engkau sudah bersikap begini baik kepada kami. Seorang anggota keluarga sendiri belum tentu sebaik engkau! Kenapa engkau begini baik kepada kami dan ingin mencarikan tempat tinggal untuk kami? Kenapa, toako?"

Menghadapi sepasang mata yang bersinar tajam, yang memandangnya penuh selidik ini, Hong San tidak tahan menentang terlalu lama. Dia khawatir kalau sinar mata itu akan mampu menjenguk dan melihat latar belakang kehidupannya yang lalu! Dia lalu menunduk, menghela napas panjang beberapa kali sebelum menjawab dengun sukar.

"Kenapa aku ingin menolongmu? Ah kenapa, ya? Mungkin karena aku merasa kasihan sekali kepadamu dan kepada puterimu, Lan-moi. Sejak kita saling jumpa ketika engkau dikeroyok perampok itu sudah timbul perasaan yang luar biasa dalam hatiku. Aku tidak berani mengatakan... eh, cinta, itu akan terlalu lancang karena kita baru saja berkenalan. Akan tetapi, aku merasa kasihan dan ingin menolongmu, membantumu, membahagiakan engkau dan anakmu, Lan-moi. Maafkan kelancanganku ini..."

Sejenak Bi Lan berdiam diri, menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Ia meneliti perasaan sendiri, merasa kagum kepada laki-laki ini, kagum dan berterima kasih. Akan tetapi laki-laki ini menyinggung soal cinta dan untuk itu, ia harus menjenguk lebih dalam dan ini membutuhkan waktu untuk dapat menentukan.

"Toako, tidak perlu meminta maaf. Orang-orang seperti kita memang sebaiknya kalau berterus terang secara jujur," katanya.

"Terima kasih, Lan-moi. Memang sebaiknya begitu, aku tadi hanya takut kalau sampai menyinggung perasaanmu. Aku tidak berani mengatakan cinta karena selama ini aku belum pernah jatuh cinta kepada seorang wanitapun. Banyak wanita yang menarik, akan tetapi belum pernah aku merasakan jatuh cinta. Akan tetapi yang jelas, aku merasa kasihan dan sayang kepadamu. Terimalah uluran tanganku untuk membantumu, Lan-moi. Tentu saja, kalau engkau percaya kepadaku. Kalau engkau tidak percaya dan menyangka ada maksud tertentu yang buruk dalam hatiku terhadap dirimu, tentu aku tidak akan berani memaksamu."

Kalaupun ada keraguan di hati Bi Lan, maka keraguan itu tentu akan lenyap setelah mendengar ucapan pemuda itu yang demikian "jujur" dan meyakinkan. "Bagaimana aku berani menolak niat baikmu, toako? Apa lagi engkau tadi sudah menyuruh pemilik rumah ini mencarikan kuda dan kereta. Aku berterima kasih dan menerima uluran tanganmu, akan tetapi dengan satu syarat, yaitu bahwa kalau kelak aku merasa tidak cocok dengan tempat itu atau denganmu, aku akan membawa anakku pergi mengambil jalanku sendiri, dan harap engkau tidak menuduh aku tidak mengenal budi."

Hong San tertawa dengan gembira, wajahnya berseri. "Tentu saja, Lan-moi. Tentu saja engkau bebas untuk menentukan langkahmu sendiri. Aku sudah merasa cukup bangga dan puas bahwa kau dapat mempercayaiku!"

Pemilik rumah itu datang memberi laporan bahwa ada seorang penduduk dusun yang mau menjual kudanya, adapun keretanya dapat dibeli di kota Peng-lu. Karena pembelian mendadak dan tergesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar hampir dua kali lipat harga umum. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh Hong San. Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta yang dilarikan dengan cepat. Mereka menuju ke kota raja!

"Akan tetapi, kenapa ke kota raja? Apakah engkau mempunyai keluarga di sana, toako? Ataukah sahabat?" Bi Lan bertanya ketika malam itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota raja Tiang-an.

"Di kota raja yang ramai kita dapat dengan mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi. Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di kota raja. Selain itu, di kota besar ini kita akan dapat mencari penghasilan dengan mudah. Aku sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk mendapatkan kedudukan."

Bi Lan diam saja. Ia tidak dapat banyak memilih dan menyerahkan saja pada pemuda ini. Sikap yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini memang membuat ia percaya sepenuhnya. Akan tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya. Ada sesuatu yang membuatnya ragu. Pemuda ini seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang sikapnya aneh dan tidak wajar. Juga, sepasang mata yang terlalu hitam dari pemuda itu kadang-kadang membuatnya merasa ngeri. Kadang-kadang ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh kekejaman. Kadang sinar yang dingin dan acuh, akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah, memancar dari sepasang mata itu.

"Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada sesuatu yang perlu kau tahui dan aku memerlukan bantuanmu."

Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya. Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat muka, memandang kepada pemuda itu. Sinar mata pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan tetapi juga kekhawatiran.

"Ada apakah, toako? Katakanlah, dan tentu saja aku siap membantumu."

"Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang sekarang ini, yang baru tiga empat tahun berdiri, dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak terhadap Kerajaan Sui."

"Tentu saja," kata Bi Lan. "Setiap kerajaan atau pemerintahan baru yang merebut pemerintahan lama tadinya adalah pemberontak."

"Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin pasukan pemberontak, aku pernah membantu pasukan Kerajaan Sui untuk menentang pemberontak. Akan tetapi pasukan pemerintah gagal dan kalah. Kaisar Yang Ti melarikan diri dan akupun meninggalkan pasukan pemerintah."

Bi Lan tidak merasa heran. Dalam suasana perang saudara seperti itu, banyak orang terlibat, dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan pemberontak yang kemudian memperoleh kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang baru."

"Lalu mengapa, toako? Hal itu adalah wajar saja."

"Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka, Lan-moi. Karena kini mereka yang berkuasa, maka tentu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku berada di kota raja."

Bi Lan mengerutkan alisnya. "Kalau sudah begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota raja, toako?"

"Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal namaku saja, tidak pernah melihat orangnya. Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada yang tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan Sui untuk menentang mereka. Karena itu, aku mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau memaklumi pergantian namaku. Aku akan menggunakan nama Siauw Can saja sehingga engkau masih tetap menyebutku Can-toako."

Bi Lan tersenyum. "Baik, toako. Nama baru itu sebetulnya tidak baru. Siauw Can berarti Can Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San saja yang tidak kau pergunakan."

"Engkau benar, Lan-moi. Akan tetapi dengan menggunakan nama Siauw Can, orang akan menganggap bahwa nama keturunanku adalah Siauw, dan nama kecilku Can. Dengan demikian, akan aman, bukan?"

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka meninggalkan dusun itu. Seperti biasa, Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can menjadi kusir. Bi Lan dan Lan Lan berada di dalam kereta. Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di sepanjang jalan. Makin mendekati pintu gerbang kota raja, semakin ramailah jalan raya itu.

Agaknya para penduduk dusun banyak yang membawa barang dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil sungai ke pasar di kota raja. Para petani yang memikul barang dagangan mereka atau yang mendorong dengan kereta, berbondong-bondong memasuki pintu gerbang selatan. Banyak pula wanita dusun yang membawa barang dagangan, ada yang memikul, ada yang membawa keranjang.

Siauw Can menjalankan keretanya perlahan-lahan. Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup lebar, akan tetapi karena banyaknya orang yang lalu lalang berbondong-bondong, dia harus menjalankan keretanya dengan hati-hati. Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu mempercepat jalan mereka, bahkan nampak tergesa-gesa dan wajah mereka membayangkan ketakutan. Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari dalam kereta.

"Can-toako, apakah yang terjadi? Orang-orang itu nampak ketakutan!"

Siauw Can membawa keretanya ke tepi jalan dan berhenti. "Akupun tidak tahu mengapa, Lan-moi. Biar kutanyakan kepada mereka."

Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya kepada seorang petani yang memikul ketelanya. "Paman, apakah yang terjadi? Kenapa kalian kelihatan ketakutan?"

Petani itu menengok, akan tetapi tidak menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia menuding ke arah depan dan melanjutkan perjalanannya dengan tergesa-gesa. Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang ditunjuk. Mereka kini melihat serombongan orang, tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang sambil tertawa-tawa.

Mereka itu bukan orang Han, karena pakaian mereka berbeda. Berjubah panjang dengan sepatu kulit yang tinggi, dan kepala merekapun tertutup topi bulu. Mereka adalah orang-orang Turki! Di pinggang mereka tergantung golok melengkung. Rata-rata mereka berwajah tampan dengan kumis melintang, usia antara tigapuluh sampai empat puluh tahun. Seorang di antara mereka yang berusia empatpuluhan tahun, dengan codet atau bekas luka di pipi kanan, memegang sebatang cambuk hitam.

Agaknya mereka inilah yang menimbulkan suasana ketakutan karena semua orang yang menuju ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh orang ini, semua lalu minggir dan bahkan menyeberang untuk mengambil sisi lain agar jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh orang itu. Seorang petani yang membawa sepikul kentang, berhenti di dekat kereta. Dia sudah tua, usianya sudah enampuluh tahun lebih. Dia berhenti untuk menghapus keringatnya. Seluruh tubuh atas yang tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani itu nampak gelisah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta mendekati petani itu.

"Paman, kami bukan orang sini. Tolong beri tahu kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu?" tanyanya.

Dengan wajah ketakutan petani itu memandang kepada Siauw Can, kemudian menjenguk ke dalam kereta. "Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh. Mereka itu orang orang Turki yang sering membikin ribut, apalagi urusan wanita cantik!" Dengan tergesa-gesa diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang dan melanjutkan perjalanannya.

"Tar-tar-tarrr..." terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, disusul jerit suara wanita.

Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka memandang. Kiranya si codet pemegang cambuk tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa sekali. Cambuk itu menyambar-nyambar ke arah seorang wanita dusun, masih muda, antara duapuluh lima tahun usianya, dengan wajah sederhana. Cambuk itu menyambar-nyambar tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobek-robek baju atasnya sehingga kini wanita itu menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat! Tentu saja ia menggunakan kedua lengan untuk memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil menangis. Tujuh orang itu tertawa bergelak melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang lucu.

"Bedebah...!" Bi Lan menyumpah dengan muka berubah merah sekali. Kini mengertilah ia mengapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu. Kiranya mereka adalah orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani menentang! Ia pun menduga bahwa wanita tadi memang hanya dihina saja, dibuat lelucon. Andaikata wanita itu cantik, tentu akan lain jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang pernah dilakukan tujuh orang ini terhadap wanita dusun yang cantik.

Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari kereta. Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu dan mereka menengok. Sejenak mereka itu tertegun, tak mengira di tempat itu akan melihat seorang wanita muda secantik itu turun dari kereta. Kemudian, mereka bicara dan tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bicarakan, Bi Lan tidak mengerti karena mereka mempergunakan Bahasa Turki. Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan.

Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi Lan dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat. Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta itu kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa. Kalau terhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak akan berani bertindak sembarangan.

"Nona manis, dari mana dan hendak ke mana? Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal nona!" katanya dengan logat yang aneh dan lucu.

"Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa yang berkenan di hati nona? Pilih saja aku yang paling jantan di antara kami, ha-ha-ha" kata orang ke dua. Orang ini memang nampak jantan, dengan kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara rapi, tumbuh dari bawah telinga dengan lebat sekali!

"Kalian ini orang-orang biadab! Kalian tadi menghina seorang wanita, dan sekarang berani mengganggu aku? Agaknya kalian memang sudah bosan hidup, ya? Anjing-anjing liar, pergilah sebelum aku menghajar kalian!" Bi Lan masih menahan kesabarannya karena Siauw Can berkedip kepadanya minta agar ia bersabar.

Tentu saja ucapan Bi Lan membuat tujuh orang itu terbelalak. Belum pernah ada orang, apa lagi wanita, berani menghina mereka, memaki mereka seperti itu! Si codet memberi kesempatan kepada si brewok tadi dalam bahasa mereka, dan sambil menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih berkilat si brewok melangkah maju mendekati Bi Lan. Wanita ini maklum bahwa tentu tujuh orang itu akan membuat ribut, maka ia lalu menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can.

"Can toako, tolong kau pondong dulu Lan Lan, aku akan menghajar anjing-anjing keparat ini!"

Melihat betapa wajah Bi Lan sudah menjadi merah sekali dan sinar matanya mencorong, Siauw Can khawatir kalau-kalau Bi Lan melakukan pembunuhan sehingga akan menggegerkan kota raja. Dia menerima Lan Lan dan berkata, "Jangan lupa diri sampai membunuh, Lan-moi."

Bi Lan tersenyum. Biarpun ia marah sekali, akan tetapi iapun maklum bahwa melakukan pembunuhan di tempat umum dekat kota raja tentu akan mendatangkan keributan. Ia tidak ingin menjadi pengacau dan dimusuhi petugas keamanan kota raja. Ia menggeleng. "Jangan khawatir, toako."

Si brewok kini sudah makin mendekat. "Nona manis, aku akan memaafkan kelancangan mulutmu tadi asal engkau mau menciumku."

"Enak saja!" tiba-tiba si codet membentak. "Ia harus mencium kita bertujuh bergantian, baru kita mau memaafkannya.!"

Si brewok tertawa. "Nah, kau dengar sendiri, manis. Memang sudah untungmu hari ini, akan diciumi tujuh orang laki-laki jantan perkasa, ha ha ha! Nah, aku akan menciummu lebih dahulu!" Si brewok mengembangkan kedua lengannya yang panjang, dan dari kanan kiri, kedua tangannya menyambar hendak merangkul tubuh Bi Lan.

"Wuuuuuttt...!" Si brewok merangkul dan rangkulan itu hanya mengenai tempat kosong karena Bi Lan dengan kecepatan luar biasa telah dapat mengelak. Si brewok membalik dan hendak menubruk lagi, akan tetapi Bi Lan mendahuluinya dengan loncatan ke depan dan kakinya menyambar.

"Ciumlah sepatuku ini...!"

"Plok!" Ujung sepatu kiri Bi Lan menendang tepat mengenal hidung yang panjang besar dan melengkung itu. Si brewok terjengkang dan ketika dia bangkit kembali dia memegangi hidungnya yang bocor berdarah! Si brewok ini menjadi korban kelancangannya sendiri. Karena terlalu memandang rendah Bi Lan yang disangkanya seorang wanita lemah yang hanya galak saja, maka hidungnya hampir pecah oleh tendangan wanita perkasa itu.

Tentu saja kawan-kawannya menjadi marah dan merekapun berteriak-teriak untuk berlomba untuk menangkap Bi Lan. Hanya si codet yang masih berdiri saja dengan pecut diputar-putar dan matanya mengamati kawan-kawannya yang berlomba untuk menangkap Bi Lan. Kalau wanita itu tertangkap, akan diikat dengan cambuknya dan dilarikan ke tempat tinggal mereka.

Wanita itu harus dihukum karena telah berani menghina bahkan melukai si brewok. Akan tetapi, ia terbelalak dan baru menyadari bahwa Bi Lan bukan wanita biasa. Biarpun dikeroyok lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar, dapat bergerak cepat dan bertenaga besar pula, namun wanita itu memiliki gerakan seperti seekor burung walet saja cepatnya, berkelebatan di antara lima orang pengeroyoknya.

Sambil mengelak mengandalkan kegesitan tubuhnya, Bi Lan yang marah kepada orang-orang kasar itu membagi-bagi tamparan dan tendangan. Lima orang Turki itu sebetulnya bukanlah orang-orang lemah. Mereka adalah anggota pasukan Turki, pasukan pedang bengkok yang ganas dan kuat dalam perang. Namun, mereka terlalu memandang rendah Bi Lan, dan juga sekali ini mereka bertemu dengan seorang lawan ahli silat tingkat tinggi yang lihai sekali. Maka, dalam beberapa gebrakan saja merekapun terkena tamparan atau tendangan, sehingga satu demi satu terpelanting.

"Tar-tar-tarrrr...!!" Si codet yang marah sekali melihat anak buahnya dikalahkan seorang wanita muda, menggerakkan cambuk panjangnya. Cambuk hitam itu terbuat dari kulit dan selain panjang, juga lemas dan kuat sekali. Cambuk ini tadi telah mencabik-cabik baju seorang wanita dusun tanpa melukai kulitnya. Hal itu menunjukkan bahwa si codet ini memang ahli dalam memainkan cambuk.

Bi Lan bersikap tenang. Ketika ujung cambuk menyambar ke arah dadanya, ia menggeser kaki ke samping sehingga ujung cambuk itu luput. Si codet menjadi semakin beringas. Tangannya bergerak lebih kuat dan cepat. Cambuknya kini menyambar-nyambar bagaikan seekor ular panjang yang hidup.

Bi Lan tetap mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk berloncatan ke sana sini mengelak sambil memperhatikan gerakan cambuk. Setelah ia melihat perubahan gerakan cambuk ketika menyusulkan serangan baru, dengan gerakan melengkung ke atas, ia lalu mengelak lagi dan pada saat cambuk itu melengkung ke atas untuk menyambung serangan yang luput, ia telah mendahului dan menggunakan tangan kanan menangkap ujung cambuk! Bi Lan mengerahkan tenaga mempertahankan ketika si codet menarik cambuknya. Dengan kekuatan sin-kang. ujung cambuk itu seperti melekat pada tangannya dan dengan perhitungan yang tepat, tiba-tiba Bi Lan melepaskan cambuknya.

"Wuuutttt... tarr...!"

"Aduhhh...!" Si codet berteriak kesakitan karena dagunya dicium ujung cambuknya sendiri dengan kuatnya sehingga terluka dan berdarah!

Melihat ini, enam orang anak buahnya mencabut pedang bengkok mereka dan bersama si codet yang semakin marah mereka hendak mengeroyok Bi Lan dengan senjata di tangan.

"Serang, bunuh perempuan jahat ini!" Si codet memberi aba-aba dan ia sendiripun sudah memutar cambuknya dengan kemarahan meluap-luap. Luka di dagunya tidak ada artinya dibandingk luka di hatinya, karena dia merasa terhina dan malu sekali dikalahkan seorang wanita muda, di depan umum pula.

Bi Lan sudah siap siaga. Akan tetapi ketika tujuh orang itu mulai bergerak, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, didahului sinar menyilaukan mata. Terdengar suara senjata beradu, berdeting dan enam batang pedang bengkok itupun terpental dan terlepas dari tangan pemiliknya, sedangkan cambuk itupun terlepas. Tujuh orang itu terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang terasa nyeri karena sambaran sinar suling di tangan Siauw Can!

Pemuda ini tidak melukai mereka hanya menotok dengan ujung sulingnya, ke arah tangan kanan mereka sehingga mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan terhuyung ke belakang dengan mata terbelalak kaget. Lebih-lebih rasa kaget dan heran mereka ketika melihat bahwa yang membuat senjata mereka terlepas tadi adalah si kusir kereta, pemuda tampan itu yang tangan kirinya memondong anak perempuan kecil sedangkan tangan kanannya memegang sebatang suling!

Hanya dengan sulingnya, dan sambil memondong anak kecil, pemuda itu mampu membuat senjata mereka bertujuh terlepas! Hal ini saja sudah membayangkan betapa lihainya pemuda ini. Akan tetapi, tujuh orang Turki itu bukan hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian saja untuk memaksakan kemenangan, melainkan terutama mengandalkan kedudukan mereka! Biarpun mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menang kalau berkelahi melawan wanita muda dan pemuda kusir yang lihai ini, namun mereka masih berani membentak.

"Kalian berani melawan kami, para anggota Pasukan Pedang Bengkok?" teriak si codet.

Pada saat itu, dari kelompok penonton yang memenuhi tempat itu, muncul seorang pria berusia lima puluhan tahun, berpakaian bangsawan. Pria ini sejak tadi ikut pula menonton dengan kagum dari atas kudanya dan kini dia meloncat turun, membiarkan kudanya dipegangi kendalinya oleh seorang pengawal dan diapun maju menghampiri tujuh orang itu.

"Kalian ini selalu mendatangkan keributan!" tegurnya. Ketika si codet dan kawan-kawannya melihat bangsawan itu, mereka memberi hormat dengan membungkukkan tubuh.

"Poa-taijin (pembesar Poa)...!” kata si codet sambil memberi hormat ditiru semua anak buahnya.

Pembesar yang bermata sipit itu berkata dengan suara mengandung teguran. "Kalian sungguh ceroboh, berani sekali mengganggu tai-hiap dan li-hiap ini! Tahukah kalian? Mereka ini adalah sanak keluarga dari Pangeran Tua Li yang baru tiba dari dusun!"

Tujuh orang Turki itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat. Si codet cepat memberi hormat kepada Siauw Can dan Bi Lan, kembali diikuti oleh keenam orang anak buahnya. "Mohon ji-wi (kalian) sudi memaafkan kami yang tidak mengenal ji-wi maka bersikap kurang hormat." Setelah berkata demikian, mereka bertujuh cepat memungut senjata mereka dan pergi dari situ dengan langkah lebar dan muka ditundukkan.

Melihat pembesar itu kini memandang kepada mereka sambil tersenyum ramah Siauw Can cepat memberi hormat dan berkata, "Maafkan kami, tai-jin, akan tetapi kami tidak mengerti..."

Pembesar itu membuat gerakan dengan tangan menghentikan ucapan Siauw Can, lalu dia menoleh ke arah orang-orang yang masih berkerumun menonton di situ sambil membicarakan perkelahian tadi, memuji-muji Bi Lan dan Siauw Can.

"Hei, kalian menonton apa? Kami bukan tontonan, hayo pergi melanjutkan perjalanan dan pekerjaan kalian masing-masing!"

Mendengar bentakan seorang pembesar yang berpakaian mewah, para penonton itu menjadi takut dan merekapun bubar. Keadaan menjadi sunyi kembali dan pembesar itu mendekati Siauw Can.

"Tai-hiap, kalau kami tidak mencampuri, kalian tentu akan dikeroyok oleh ratusan orang anggota pasukan Turki itu. Akan tetapi di sini bukan tempat kita bicara. Marilah ikut dengan kami menghadap Pangeran Tua. Kalian tentu akan mendapatkan kedudukan yang pantas kalau suka membantu beliau."

Siauw Can saling pandang dengan Bi Lan. Sungguh merupakan peristiwa yang amat kebetulan dan amat menguntungkan mereka. Tanpa dicari, pekerjaan datang sendiri, bahkan mereka akan dihadapkan kepada seorang pangeran! Dan Siauw Can sudah tahu siapa Pangeran Tua! Adik kaisar! Tentu mereka akan dapat memperoleh kedudukan yang amat baik!

"Ingat, demi keselamatan kalian! Kalau kalian menolak dan melihat bahwa kalian bukan orang-orang Pangeran Tua, tentu orang-orang Turki itu tidak akan membiarkan kalian bebas dan kalian akan terancam bahaya besar." kata pembesar itu ketika melihat keraguan pada wajah si wanita cantik.

Siauw Can cepat memberi hormat. "Tai-jin, terus terang saja kami berdua hendak pergi ke kota raja memang untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kami."

"Bagus! Kalau begitu cocok sekali. Kalian mencari pekerjaan dan Pangeran Tua memang sedang mencari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi seperti kalian. Marilah ikut dengan kami. Namaku Poa Kiu dan aku orang kepercayaan Pangeran Tua Li Siu Ti."

"Tai-jin maksudkan adik dari Sri Baginda Kaisar?" tanya Siauw Can dengan girang.

"Siapa lagi kalau bukan beliau yang disebut Pangeran Tua? Nah, mari kalian ikuti rombonganku memasuki kota raja, pasti aman." Poa Tai-jin yang bernama Poa Kiu itu lalu menunggang kudanya, diikuti oleh enam orang pengawal dan Siauw Can cepat mengikuti dari belakang dengan keretanya.

Dari dalam kereta, Bi Lan bertanya kepada Siauw Can, "Can-toako , siapa sih orang-orang asing itu? Kenapa mereka merajalela di kota raja dan kenapa pula Poa Tai-jin mendiamkan saja mereka, hanya menegur dan tidak mengambil tindakan?"

"Aih, kiranya engkau belum tahu duduknya persoalan, Lan-moi," jawab Siauw Can lirih agar jangan terdengar orang lain. "Pasukan Turki merupakan rekan dari pasukan yang digerakkan oleh Panglima atau Pangeran Mahkota Li Si Bin, sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui dan mendirikan Kerajaan Tang. Oleh karena itu, tentu saja orang-orang Turki itu menjadi besar kepala dan berani merajalela di sini. Mereka merasa telah berjasa pada pendirian Kerajaan Tang. Bahkan di antara tokoh-tokoh mereka banyak yang diangkat menjadi panglima dan pembesar-pembesar tinggi oleh Sribaginda Kaisar.”

"Tapi... mengapa begitu? Mengapa para pendiri Kerajaan Tang itu bersekutu dengan orang-orang Turki?"

"Hal itu tidaklah aneh. Ketahuilah bahwa pemimpin pemberontak yang menggulingkan Kerajaan Sui adalah Li Si Bin yang kini menjadi panglima besar dan pangeran mahkota. Dan dia adalah seorang peranakan Turki. Ayahnya, yang sekarang menjadi Kaisar Tang Kao Cu adalah seorang Han, akan tetapi ibunya adalah seorang wanita Turki, yang kini menduduki jabatan Permaisuri Muda. Nah sebagai seorang peranakan Turki, tentu saja hubungannya dengan bangsa Turki amat baik dan dia memang membutuhkan bantuan pasukan Turki untuk memenangkan perjuangannya menggulingkan Kerajaan Sui. Setelah berhasil, tentu saja bangsa Turki itu mendapat angin dan berani merajalela di sini."

Dengan singkat, di sepanjang perjalanan ke kota raja. Siauw Can menceritakan keadaan keluarga kaisar yang diketahuinya dengan baik. Dia menceritakan betapa yang paling berkuasa di kota raja adalah Panglima atau Putera Mahkota Li Si Bin, yang sebetulnya merupakan orang yang menjadi pemimpin besar dalam menggulingkan Kerajaan Sui.

Karena dia masih harus melakukan penertiban dan pembersihan, maka dia mengangkat ayahnya menjadi kaisar pertama Kerajaan Tang, yaitu kaisar yang sekarang berjuluk Kaisar Tang Kao Cu. Adapun Putra Mahkota Li Si Bin sendiri menjadi Panglima besar dan dialah yang berhasil menundukkan semua pemberontak, melakukan penertiban di mana-mana.

Setelah Li Si Bin berhasil, tentu saja otomatis keluarga Li mendapat anugerah, menjadi keluarga kaisar! Juga Li Si Bin tidak melupakan keluarga ibunya dari Turki dan banyak orang pandai dari Turki diberinya kedudukan untuk membantu lancarnya pemerintahan Tang yang baru. Di antara para keluarga Li, yang paling menonjol kedudukannya adalah adik kandung kaisar sendiri, atau paman dari Li Si Bin yang bernama Li Siu Ti. Paman inipun sudah berjasa membantu perjuangannya, maka setelah mereka berhasil mendirikan Kerajaan Tang, Li Siu Ti menjadi Pangeran Tua yang menjadi penasihat kaisar, bahkan mengepalai para pangeran sebagai wakil kaisar.

"Demikianlah, Lan-moi. Sekarang kita diundang ke sana! Kalau kita dapat bekerja kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, berarti bintang kita sedang terang! Dia merupakan orang yang paling berkuasa di istana, tentu saja sesudah kaisar dan putera mahkota!"

Bi Lan ikut merasa gembira. Ia pun ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya agar ia mendapatkan tempat tinggal yang baik, serba bercukupan sehingga ia akan dapat mendidik Lan Lan dengan baik. Ia sudah hampir lupa bahwa Lan Lan adalah puteri Si Han Beng dan Bu Giok Cu. Ia merasa bahwa Lan Lan adalah anaknya sendiri dan segala yang ia lakukan adalah demi kepentingan Lan Lan yang amat disayangnya.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Gedung itu besar dan indah. Mungkin hanya kalah megahnya dengan istana kaisar saja. Hal ini saja membuktikan kebesaran penghuninya. Dan semua orang tahu belaka bahwa pemilik istana itu Pangeran Tua Li Siu Ti, adalah orang yang paling berkuasa sesudah kaisar dan putera mahkota atau panglima besar.

Pangeran Li Siu Ti, biarpun disebut Pangeran Tua sebagai tanda bahwa dia bukan putera kaisar, melainkan adiknya, belumlah tua benar. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi besar dan gagah, matanya membayangkan kecerdikan dan kadang-kadang mulutnya memiliki senyum yang penuh rahasia.

Sejak dia kebagian kemuliaan menjadi Pangeran Tua dan diangkat menjadi penasihat kakaknya yang menjadi kaisar, Pangeran Li Siu Ti telah membuat banyak jasa. Dia memang cerdik dan nasihatnya kepada kaisar selalu tepat. Banyak membantu kelancaran jalannya roda pemerintahan dari Kerajaan Tang yang baru itu.

Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang isteri dan lima orang selir. Akan tetapi, hanya dari selir ke dua saja dia mempunyai keturunan, yaitu seorang anak perempuan yang pada waktu itu teluh menjadi seorang gadis remaja berusia tujuhbelas tahun, bernama Li Ai Tin. Puteri ini berwajah cantik, apalagi karena ia pandai dan suka bersolek. Bentuk tubuhnya yang ramping padat juga menggairahkan, sehingga banyak pemuda di kalangan bangsawan tergila-gila kepadanya.

Ketika rombongan Poa Kiu yang mengantar Siauw Can dan Bi Lan memasuki pekarangan yang luas dari gedung tempat tinggal Pangeran Tua, kedua orang ini melihat bahwa tempat itu terjaga oleh pasukan keamanan. Akan tetapi karena yang mengawal kereta adalah Poa Kiu yang dikenal oleh semua pengawal, maka kereta itu tidak ditahan dan dapat dijalankan sampai di bawah anak tangga beranda depan gedung itu.

Siauw Can dan Bi Lan diam-diam memperhatikan keadaaan tempat itu dan melihat bahwa di antara para anggota pasukan penjaga tidak nampak seorangpun bangsa Turki. Kepada kepala pengawal, Poa Kiu minta agar dikabarkan kepada Pangeran Tua bahwa dia mohon menghadap bersama dua orang tamu yang amat penting, guna dihadapkan kepada pangeran. Kepala pengawal tahu bahwa Poa Kiu adalah orang kepercayaan dan tangan kanan sang pangeran, maka tanpa banyak tanya lagi dia lalu langsung saja masuk ke dalam untuk memberi laporan kepada majikannya.

Tak lama kemudian, kepala pengawal itu muncul kembali dan mempersilakan Poa Kiu dan dua orang tamu itu langsung saja memasuki ruangan tamu di bagian kanan bangunan. Kalau tadi Bi Lan dan Siauw Can mengagumi pekarangan depan yang mempunyai taman amat indahnya, dan beranda depan yang luas dan dihias arca-arca singa dan naga, kini mereka menjadi makin kagum ketika memasuki lorong menuju ke ruangan tamu, didahului oleh kepala pengawal dan Poa Tai-jin.

Gedung itu memang indah sekali. Pot-pot tanaman bunga yang terukir indah, dengan tanaman bunga yang langka didapat. Guci-guci besar menghias sudut-sudut di sepanjang lorong, tempat-tempat lampu yang beraneka bentuk dan warna. Pilar-pilar yang terukir, tirai-tirai sutera, permadani dan pada dinding tergantung lukisan-lukisan dan tulisan huruf indah yang tak ternilai harganya.

Ketika mereka memasuki kamar tamu, Pangeran Tua Li Siu Ti sudah duduk di situ, di atas sebuah kursi yang berwarna merah. Di kanan kiri dan belakangnya berdiri selosin pengawal pribadi. Kepala pengawal itu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri dan memberi hormat. Poa Kiu juga memberi hormat kepada atasannya dengan menjura dan membungkuk. Melihat ini, Siauw Can dan Bi Lan juga mengangkat kedua tangan di depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat.

Dengan tangannya. Pangeran Li Siu Ti menyuruh kepala pengawal mundur, kemudian dia memandang kepada pembantu utamanya. "Poa Kiu, siapakah dua orang muda ini dan kenapa engkau membawa mereka menghadapku?"

Dalam pertanyaan ini terkandung teguran karena agaknya sang pangeran kecewa. Tadi kepala pengawal melaporkan bahwa Poa Kiu mohon menghadap bersama dua orang penting! Tidak tahunya hanya seorang pemuda sederhana dan seorang wanita muda yang memondong seorang anak perempuan!

"Ampun, pangeran," kata Poa Kiu. "Sekali ini saya membawa berita amat menggembirakan. Tanpa disengaja di tengah perjalanan, saya telah bertemu dengan dua orang pendekar ini yang tentu akan amat berguna bagi paduka. Mereka inilah orang-orang yang selama ini paduka cari, yang paduka butuhkan. Mereka berdua memiliki ilmu kepandain silat yang hebat."

Lalu Poa Kiu menceritakan kepada sang pangeran tentang sepak terjang Bi Lan dan Siauw Can ketika diganggu oleh tujuh orang Turki di jalan tadi. Sang pangeran mendengarkan dengan penuh perhatian, akan tetapi dia mengerutkan alis mengamati dua orang itu. Agaknya, sukar baginya untuk dapat mempercayai cerita itu.

Dua orang muda itu sama sekali tidak mengesankan sebagai orang-orang berilmu tingggi, apalagi wanita itu, yang masih muda, cantik dan kelihatan lemah lembut. Bagaimana mungkin dengan tangan kosong mampu mengalahkan tujuh orang Turki yang kuat-kuat itu? Dan pemuda itu dengan sebatang suling saja mampu melucuti senjata tujuh orang Turki itu? Tak masuk akal!

Akan tetapi pada saat itu, kepala pengawal datang menghadap dan melaporkan bahwa Raja Muda Baducin datang bertamu! Mendengar nama ini, wajah Pangeran Li Siu Ti berseri dan dia mengerling ke arah Poa Kiu.

"Bagus! Agaknya ini ada hubungannya dengan dua orang muda ini. Poa Kiu engkau ajak mereka keluar dari sini, tunggu di ruangan sebelah. Nanti kalau aku memberi isyarat memanggil, kalian masuklah ke sini."

Kemudian pangeran itu memerintahkan kepala pengawal untuk mempersilakan Raja Muda Baducin untuk memasuki ruangan tamu. Poa Kiu maklum akan apa yang dimaksudkan majikannya, maka diapun mengajak Siauw Can dan Bi Lan keluar melalui pintu samping dan menunggu di ruangan sebelah.

Tak lama kemudian, masuklah tiga orang ke dalam ruangan tamu itu. Yang menjadi tamu kehormatan adalah Raja Muda Baducin, seorang laki-laki bangsa Turki berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus. Matanya lebar dan tajam sekali, hidungnya seperti paruh kakaktua, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi dan kulitnya coklat mengarah hitam. Pakaiannya mewah dan kepalanya tertutup sorban putih dari sutera.

Orang yang menemaninya selalu berada di belakangnya arah kanan kiri dan sekali pandang saja orang akan mengetahui bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar. Wajah mereka, bentuk tubuh mereka, bahkan pakaian mereka, serupa dan sukarlah membedakan yang satu dengan yang lain.

Usia mereka sekitar empat puluh tahun, pakaian mereka seperti pakaian perwira perang, dan dipinggang mereka tergantung pedang bengkok yang ujung dan gagangnya terhias emas permata. Kumis mereka melintang panjang, melengkung ke atas, dan jenggot mereka dipotong agak pendek, membuat mereka tampak jantan dan kokoh kuat. Apalagi keduanya memang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, sehingga baru bertemu saja, orang akan merasa gentar.

Setelah saling bersalaman dan mempersilakan tamunya duduk; Raja Muda Baducin duduk di atas kursi dan dua orang kembar itu tetap saja berdiri di belakangnya, seperti juga selosin pengawal pribadi yang tetap berdiri di belakang Pangeran Li Siu Ti, Pangeran itu lalu berkata kepada kepala pengawal.

"Engkau boleh keluar dan sediakan minuman untuk pasukan pengawal Raja Muda!"

"Baik, Yang Mulia Pangeran!" kata kepala pengawal itu lalu keluar dari situ. Seperti biasa, kepala para orang Turki itu tentu saja datang dengan sepasukan pengawal yang tadi menanti di luar, sedangkan yang masuk hanya dia bersama dua orang pengawal pribadi yang setia.

Kalau saja orang melihat keadaan kedua "orang besar" ini beberapa tahun yang lalu, tentu apa yang dilihatnya sekarang ini mirip dengan pertunjukan panggung sandiwara saja. Baru beberapa tahun yang lalu, Pangeran Tua Li Siu Ti yang kini disebut yang mulia dan paduka yang mulia, hanyalah orang biasa saja, bahkan dari keluarga petani. Akan tetapi begitu sekarang keluarganya berhasil meraih tahta kerajaan, dia menjadi seorang bangsawan tinggi yang dimuliakan orang.

Juga orang yang kini disebut Raja Muda Baducin, tadinya adalah seorang kepala gerombolan orang Turki yang termasuk golongan hitam atau sesat yang di negerinya dimusuhi sendiri oleh pemerintahnya. Baducin dapat bersekutu dengan Li Si Bin dan membantu gerakan perwira muda itu sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui. Maka, sebagai balas jasa, setelah Li Si Bin berhasil, Baducin menerima anugerah, yaitu sebutan "raja muda" dan kedudukan yang mulia!

Dan kini dua orang yang berasal dari rakyat jelata ini, sekarang saling berhadapan seperti dua orang bangsawan tinggi, lengkap dengan semua peralatan dan peraturannya. Setelah gadis-gadis pelayan yang cantik datang menyuguhkan makanan dan minuman kepada tamu kehormatan itu, dan mereka berdua makan minum dengan gembira sambil memberi hormat dengan minum arak, barulah Pangeran Li Siu Ti menanyakan maksud kunjungan raja muda itu.

"Kunjungan paduka Raja Muda Baducin merupakan suatu kehormatan besar bagi kami, akan tetapi kunjungan yang mendadak ini agaknya membawa urusan penting. Atau hanya merupakan kunjungan iseng belaka untuk melepas rindu?" tanya sang pangeran dengan ramah.

Raja Muda Baducin tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang rapi. "Ha-ha-ha, tepat sekali apa yang diduga oleh Paduka Pangeran Tua. Orang yang selalu sibuk seperti kami ini mana ada kesempatan untuk membuang waktu hanya untuk iseng? Sesungguhnya kunjungan kami ini untuk mohon keterangan dari paduka tentang peristiwa yang amat tidak menyenangkan hati kami."

"Hemm, peristiwa apakah itu? Harap paduka segera menceritakan kepada kami."

"Begini, pangeran. Pagi tadi, tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok sedang mengadakan patroli di luar pintu gerbang kota raja. Mereka melihat sebuah kereta dan karena curiga mereka menghentikan kereta itu untuk melakukan pemeriksaan. Akan tetapi penumpang kereta itu, seorang pemuda dan seorang wanita muda, membantah dan terjadi percekcokan dan perkelahian. Akan tetapi, ketika anak buah kami hendak memberi hukuman kepada orang-orang yang menghina itu, muncul pembantu paduka, yaitu Poa Kiu. Dia mencegah anak buah kami bertindak dengan mengatakan bahwa dua orang itu adalah sanak keluarga paduka yang datang dari dusun. Dan tadi, mata-mata kami mengetahui bahwa dua orang itu memang datang ke gedung ini! Nah, setelah mendapatkan laporan itu, kami bergegas datang berkunjung untuk mohon penjelasan agar tidak sampai terjadi kesalah pahaman di antara kita."

Pangeran Li Siu Ti mengangguk-angguk dan tersenyum. Biarpun cerita yang didengarnya dari raja muda ini berbeda dengan yang didengarnya dari Poa Kiu, tentu saja dia lebih percaya kebenaran cerita pembantunya yang setia. Dan diapun maklum bahwa tentu orang-orang Turki itu tidak berterus terang kepada pimpinan mereka bahwa mereka telah dikalahkan pemuda dan wanita muda itu!

"Memang benar apa yang paduka dengar itu, karena memang mereka adalah masih sanak keluarga dengan kami, walaupun masih jauh. Mereka datang berkunjung untuk membantu pekerjaan kami. Menurut cerita mereka, memang terjadi kesalah-pahaman dengan tujuh orang anak buah paduka. Akan tetapi, keributan itu tidak sampai berakibat jauh, tidak ada pihak yang terluka parah atau tewas. Maka, kami harap paduka menghabiskan saja urusan di antara anak buah kita itu."

Raja Muda Baducin itu tertawa, "Ha-ha-ha, kalau memang mereka itu sanak keluarga paduka, tentu saja kami yang mohon maaf atas kelancangan anak buah kami. Hanya yang membuat kami merasa penasaran. Kabarnya kedua orang muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali sehingga anak buah kami menjadi permainan mereka."

Pangeran Li Siu Ti tersenyum bangga. "Memang kedua orang sanak jauh itu merupakan dua orang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi!"

"Bagus, kalau begitu, ingin sekali kami bertemu dan berkenalan dengan mereka, dan dapat melihat dengan mata kepala sendiri dua orang muda, seorang pemuda dan seorang gadis, yang telah mampu mengalahkan tujuh orang anak buah pasukan Pedang Bengkok! Kalau mereka berada disini, dapatkah kami bertemu dengan mereka, pangeran?"

"Tentu saja boleh! Bahkan mereka berduapun berada di sini, akan tetapi untuk menghormati paduka, kami memerintahkan mereka menyingkir ke ruangan lain..."

Pangeran Li Siu Ti bertepuk tangan dan muncullah Poa Kiu diiringi Siauw Can dan Kwa Bi Lan yang memondong Lan Lan. Anak itu sedang makan kembang gula dengan asyiknya. Pangeran Tua segera memperkenalkan tamunya kepada dua orang muda itu, sedangkan Poa Kiu sudah menjura dengan sikap hormat.

"Tamu terhormat kita ini adalah Raja Muda Baducin yang mengepalai semua pasukan Turki yang berada di sini, dan beliau ingin berkenalan dengan kalian berdua."

Bi Lan sendiri meragu, dan andaikata tidak ada Siauw Can di situ, belum tentu dia mau memberi hormat kepada orang itu. Biarpun raja muda, ia adalah seorang Turki dan tadi pagi orang-orang Turki bersikap amat kasar dan menghina kepadanya. Bagaimana ia dapat memberi hormat? Akan tetapi, Siauw Can mendahuluinya dan pemuda ini memberi hormat dengan menjura, yang diturut pula oleh Bi Lan.

Sementara itu, melihat bahwa dua orang yang telah mengalahkan tujuh orang anak buahnya itu hanya seorang pemuda kerempeng dan seorang wanita muda cantik yang lemah lembut, hati Raja Muda Baducin menjadi semakin penasaran. "Aha, kiranya dua orang ini masih amat muda! Pantas saja lancang dan berani menghina tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok kami!" katanya.

Mendengar ini, Siauw Can cepat menjawab. "Paduka mendapat keterangan yang keliru. Kami berdua sama sekali tidak pernah menghina tujuh orang itu."

"Ho-ho-ho, kalian mengalahkan tujuh orang anggota Pedang Bengkok di jalan raya, disaksikan banyak orang kalian telah melucuti senjata pedang mereka dan memandang rendah mereka, bukankah itu penghinaan besar namanya! Kalau tidak muncul Poa Tai-jin, tentu telah terjadi perkelahian mati-matian!"

"Maafkan kami," kata pula Siauw Can mengalah.

"Ha-ha-ha, kalau kami tidak memaafkan, apa kami mau berkunjung ke sini? Kami justru kagum kepada kalian dan kami ingin menyaksikan sendiri sampai di mana kelihaian kalian berdua! Nah, di sini ada dua orang pengawalku. Kalau kalian berdua mampu mengalahkan dua orang pengawalku ini, aku akan memberi selamat kepada Pangeran Tua yang beruntung sekali mendapatkan pembantu-pembantu yang amat lihai!"

Itu merupakan tantangan terbuka! Bi Lan sudah menjadi merah wajahnya, akan tetapi Siauw Can yang cerdik memberi hormat ke arah Pangeran Li Siu Ti yang sejak tadi hanya mendengarkan saja. "Kami berdua telah bekerja di sini maka kami tidak dapat melakukan apapun tanpa perintah dari Paduka Pangeran Tua! Kami berdua menanti perintah!"

Pangeran Li Siu Ti tersenyum lebar. Inilah kesempatan baginya untuk menguji kedua orang itu. Akan tetapi Poa Kiu merasa khawatir. Tentu saja dia sudah mengenal siapa dua orang pengawal pribadi Raja Muda Baducin ini. Dua orang raksasa kembar itu merupakan orang-orang yang paling kuat dan paling lihai di antara semua orang Turki yang berada di kota raja. Nama mereka Gondulam dan Gondalu, dua orang saudara kembar yang selain bertenaga gajah juga pandai ilmu gulat, pandai silat bahkan memiliki kekuatan sihir...!

Naga Beracun Jilid 10