Social Items

"Memang ada orang yang menolong saya, lo-cian-pwe. Ketika saya siuman, ada seorang wanita dan seorang gadis remaja berada di sini. Wanita itu menurut keterangan si gadis remaja bernama Ban-tok Sian-li..."

"Sian-cai...! Dewi Selaksa Racun itu datang kepadamu dan mengobatimu dari pukulan beracun? Sungguh luar biasa sekali! Biasanya ia tidak perdulian orang lain.”

"Memang ia menolong saya ada pamrihnya, lo-cian-pwe. Mungkin dalam keadaan setengah sadar saya telah menyebut Si Golok Naga dan dia tertarik, setelah mengobati saya lalu ia bertanya tentang Mestika Golok Naga. Ketika saya menjawab bahwa saya tidak tahu dan bahwa yang membunuh suhu hanyalah orang berjuluk Si Golok Naga dan Tengkorak Hidup, dan saya tidak tahu di mana adanya Mestika Golok Naga, ia menjadi marah dan hendak membunuh saya. Akan tetapi nyawa saya masih dilindungi Tuhan. Muridnya, seorang gadis remaja telah mencegah gurunya membunuh saya dan selamatlah saya."

"Hemm, tanpa kau sadari, engkau telah terlibat dalam urusan yang akan membahayakan hidupmu selanjutnya, Tiong Li. Engkau melihat raksasa hitam itu membunuhi tokoh empat partai besar, berarti engkau seorang yang menjadi saksi mata atas perbuatannya itu karena ayahmu, saksi kedua telah tewas. Si raksasa hitam itu tentu tidak akan pernah merasa lega dan puas kalau belum dapat membunuhmu. Untung engkau bertemu dan menjadi murid sahabat kami Pek Hong San-jin, kalau tidak tentu sudah dari dulu engkau terancam bahaya maut," kata Thian Kui Lo-jin.

"Lo-cian-pwe, sebenarnya siapakah raksasa hitam itu? Dan siapa pula si muka tengkorak yang telah membunuh suhu itu?"

"Kami tidak tahu. Akan tetapi melihat kelihaian dan keanehannya, agaknya dia dan si muka tengkorak itu bukan tokoh di dunia kang-ouw yang kita kenal. Mungkin dia datang dari daerah lain dan sangat boleh jadi dia datang dari negara Cin, merupakan tokoh dari utara atau barat yang memang banyak terdapat orang orang lihai yang aneh. Akan tetapi sudahlah, kami tidak tertarik kepada mereka, melainkan tertarik kepadamu. Karena engkau murid mendiang sahabat kami, maka kami tidak boleh tinggal diam melihat engkau terancam bahaya maut."

"Ha-ha-ha, jalan satu-satunya adalah bahwa engkau harus ikut bersama kami, menjadi murid kami, Tiong Li. Dengan demikian berarti kita tidak menyia-nyiakan semua jerih payah hwe-shio tua itu. Bagaimana, maukah engkau menjadi murid kami dan ikut bersama kami?" tanya Tee Kui Lo-jin sambil tertawa-tawa.

Mendengar pertanyaan itu, seketika Tiong Li menjatuhkan diri berlutut di depan mereka. Mereka adalah para sahabat gurunya, dan dia merasa bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat dipakai melawan orang-orang pandai maka dengan rela dan senang hati dia lalu memberi hormat dan berkata,

"Teecu menghaturkan terima kasih kalau ji-wi suhu (guru berdua) suka mengambil teecu sebagai murid. Teecu akan menaati semua perintah dan petunjuk ji-wi suhu."

Dua orang aneh itu tertawa senang. Mereka tidak mempunyai murid dan tidak mempunyai keinginan untuk mengambil murid. Akan tetapi ketika bertemu dengan Tiong Li, melihat kebaktian Tiong Li terhadap gurunya, lalu melihat betapa Tiong Li terlibat dalam urusan besar dan anak itupun berbakat baik sekali, hati mereka tertarik dan mereka sepakat untuk menggembleng pemuda itu sebagai murid mereka.

Demikianlah, setelah api yang mem bakar pondok itu padam dan abunya beterbangan dibawa angin gunung, dua orang pertapa itu mengajak Tiong Li meninggalkan tempat itu.

"Biarlah abu jenazah Pek Hong San Jin diterbangkan angin bertebaran di seluruh permukaan bukit dan menjadi pupuk yang baik bagi tanaman di sini," kata Tee Kui Lo-jin sambil tertawa. "Ini sudah sesuai dengan kehendaknya."

Dua orang pertapa itu bertempat tinggal di Lembah Sungai Wu-kiang, di pegunungan Kui-san dan mengambil sebuah puncaknya sebagai tempat pertapaan, yaitu di puncak Ki-lin-san (Puncak Bu-kit Kilin). Disebut demikian karena puncak ini dari jauh seperti bentuk seekor ki-lin (hewan keramat setengah singa setengah harimau).

Seperti halnya ketika belajar kepada Pek Hong San-jin dahulu, sekali ini Tiong Li juga. belajar dengan tekun, hampir tidak pernah meninggalkan puncak sehingga dia tidak pernah tahu atau mendengar akan keadaan di dunia luar.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Sementara itu, diluar tempat pertapaan itu, terjadi banyak hal yang hebat. Melihat gerakan pasukan Cin (Kin) yang selalu melanggar perbatasan, kaum pendekar di dunia kang-ouw merasa penasaran sekali. Mereka tidak setuju dengan sikap Kaisar Kao Cung yang lemah dan yang lebih suka mengalah terhadap Kerajaan Kin, tanpa malu-malu mengajak Bangsa Yu-cen itu berdamai dan bahkan membayar upeti.

Di propinsi Ho pei dan Shan-si, di mana-mana para pendekar patriot membentuk pasukan-pasukan rakyat sendiri untuk melawan pasukan Kin yang selalu melanggar perbatasan dan melakukan perampokan dan pembunuhan pada penduduk dusun di sekitar perbasatan. Laskar-laskar rakyat ini membuat sarang mereka di bukit bukit dan hutan-hutan di sepanjang Sungai Yang-ce.

Pernah sebuah laskar rakyat yang menamakan dirinya Laskar Pita Merah menyerbu sebuah perkemahan pasukan Kin (Cin) dan membasmi seluruh penghuninya! Semangat mereka berkobar-kobar, sungguh berbeda dengan sikap Kaisar Sung Kao Cung yang dianggap merendahkan martabat Kerajaan.

Yang bertugas mempertahankan kota raja Kai-feng yang telah jatuh ketangan musuh adalah Panglima Cung Ce. Kini dialah yang memimpin pasukan Kerajan Sung yang bertugas di garis depan. Pada suatu ketika, Panglima Cung Ce menyeberangi Sungai Yang-ce dan mengadakan perundingan dengan para patriot yang berjuang di seberang utara untuk merebut kembali daerah yang telah dikuasai musuh.

Dia memerintahkan tujuh ribu orang pasukan, dipimpin oleh pendekar Wang Yen, menerjang kepungan puluhan ribu orang pasukan Kin dan berhasil mencapai dan menguasai Pegunungan Tai-hang-san. Mereka menghimpun lebih dari seratus ribu orang di Pegunungan Tai-hang-san ini dan berulang kali mengalahkan pasukan Kin dan memperkuat pasukan sendiri.

Berulang kali Panglima Cung Ce mengusulkan untuk menyerbu terus ke utara, namun Kaisar selalu menolak. Bahkan sebaliknya, Kaisar yang dikuasai oleh Perdana Menteri Jin Kui, merasa khawatir kalau-kalau Cung Ce yang bekerja sama dengan para pendekar patriot akan terlalu besar kekuasaannya dan mengancam kedudukan kaisar sendiri. Maka, selain menolak usul Panglima Cung Ce, kaisarpun memerintahkan orang orangnya untuk mengawasi gerak-gerik panglima itu dengan penuh kecurigaan.

Melihat keadaan itu, Panglima Cung Ce menjadi penasaran, marah dan kecewa bukan main. Sakit sekali hatinya. Dia yang setia dan membela negara untuk mengusir penjajah, untuk merebut kembali Kerajaan Sung di utara yang di kuasai musuh, selain dilarang menyerang ke utara, juga malah diawasi dan dicurigai.

Sakit hati ini membuat panglima yang sudah berusia tujuhpuluh tahun itu jatuh sakit berat. Namun, semangatnya tidak pernah pudar. Menjelang kematiannya dia mengundang para pendekar patriot dan membujuk mereka agar melanjutkan perjuangan membasmi musuh Dia meninggal dunia dengan hati mengandung penasaran sehingga matanyapun tidak dapat terpejam!

Pada waktu itu terdapat seorang panglima lain yang gagah perkasa dan setia kepada negara, yaitu Gak Hui. Bersama seluruh putera-puterinya, panglima ini merupakan pejuang yang gigih dan sudah berulang kali memukul mundur pasukan Kin. Panglima Gak Hui berasal dari kota Tang-yin di propinsi Honan, dari keluarga petani biasa.

Akan tetapi ibunya adalah seorang wanita yang bijaksana dan berjiwa patriot sejati. Pernah ibu Gak Hui menuliskan kata-kata di punggung Gak Hui yang memerintahkan puteranya itu untuk berbakti kepada negara dan setia kepada Kaisar sampai mati!

Panglima Gak Hui amat mencintai tanah airnya dan setelah bangsa Yu-cen menguasai Kerajaan Sung utara, dia amat membenci musuh ini. Dia menghimpun pasukan yang sebagian besar terdiri dari pemuda-pemuda petani yang amat patuh kepadanya. Dalam keadaan bagaimana pun, baik selagi kelaparan maupun kedinginan, tak seorangpun tentara berani mengganggu rakyat. Karena itu rakyat amat menyayang dan menghormati pasukan yang dipimpin Panglima Gak Hui dan di mana mana pasukan ini diterima dengan senang dan bangga oleh rakyat jelata.

Setelah beberapa kali memukul mundur pasukan Kin, Gak Hui membawa pasukannya maju terus ke utara dan bergabung dengan laskar rakyat di Tai-hang-san dan dengan para pasukan di Ho-pei.

Dalam tahun 1140, panglima besar Kerajaan Kin yang bernama Wu-cu memimpin pasukannya ke selatan. Akan tetapi di Shun-cang, propinsi An-hwi, pasukannya dihancurkan oleh pasukan Sung yang dipimpin oleh Jenderal Lui Chi. Juga jenderal Wu Lin menghantam pasukan Kin di Tu-feng propinsi Shen-si. Adapun Panglima Gak Hui sendiri menyerang dari Siang-yang propinsi Hu-peh. Panglima Gak Hui mengirim para patriot menyeberangi Sungai Kuning.

Mereka berhasil memorak-porandakan pertahanan musuh. Gak Hui mengejar sampai ke Yen-ceng propinsi Ho-nan. Selurun kekuatan para pejuang di utara bergabung dengan Gak Hui. Rakyat mendukung, menyumbangkan ransum dan pasukannya menjadi semakin besar karena banyak sukarelawan memasuki pasukan itu dan berjuang dengan semangat yang tinggi.

Pada saat yang amat menguntungkan bagi perjuangan itu, setelah Panglima Gak Hui berhasil, tiba-tiba saja Kaisar Sung Kao Cung memerintahkan pasukan Gak Hui untuk mundur! Kaisar Sung Kao Cung amat dipengaruhi oleh Jin Kui itu bukan saja takut kalau perhubungannya dengan Kin memburuk, juga Perdana Menteri Jin Kui memperingatkan kaisar bahwa kekuasaan Gak Hui semakin besar dengan dukungan rakyat jelata. Semua ini dapat mendorong Gak Hui untuk memberontak dan membahayakan kedudukan Kaisar.

Kaisar sama sekali tidak tahu bahwa nasihat Jin Kui untuk berdamai dengan pihak Kin itu sebetulnya didasari oleh persekutuan yang dijalin Perdana menteri Jin Kui dengan pihak musuh! Jin Kui bersekongkol bahkan diperalat oleh Kerajaan Cin (Kin) sehingga apapun yang diperintahkan pihak Kin, selalu ditaati oleh Jin Kui.

Dalam tahun 1411, Panglima Kin Wu Cu menulis sepucuk surat rahasia kepada sekutunya, yaitu Jin Kui dan berkata, "Engkau menghendaki perdamaian, akan tetapi Gak Hui menyerang Hupei. Kalau engkau tidak segera membunuh Gak Hui, perdamaian tidak akan pernah ada!"

Demikianlah, Jin Kui membujuk Kaisar yang segera menulis surat perintah kepada Gak Hui untuk menarik mundur pasukannya sampai di perbatasan, dan memerintahkan Gak Hui untuk pulang ke kota raja. Surat panggilan untuk Gak Hui ini ditandatangi oleh kaisar sendiri. Pada waktu itu, semua orang sudah tahu bahwa Kaisar dipermainkan dan dipengaruhi oleh Jin Kui dan banyak panglima, bahkan putera-puteri Gak Hui sendiri menasihatkan agar Gak Hui tidak memenuhi panggilan itu karena dikhawatirkan merupakan perangkap yang diatur oleh Perdana Menteri Jin Kui.

Namun, Panglima Gak Hui adalah seorang yang amat setia kepada kerajaan, kepada negara karenanya juga setia dan patuh kepada kaisar. Dia mengabaikan semua nasihat itu dan berkeras untuk memenuhi panggilan kaisar! Tidak percuma mendiang ibunya dahulu menuliskan kata-kata di punggungnya agar dia setia sampai mati kepada kaisar. Dengan gagahnya Gak Hui melakukan perjalanan pulang ke kota raja.

Dan benar saja seperti yang dikhawatirkan semua sahabat dan putera-puteri Gak Hui, setibanya di kota raja Gak Hui lalu ditangkap di dipenjarakan dengan tuduhan melanggar perintah dan telah lancang menyerang ke utara mengabaikan larangan kaisar! Semua ini tentu saja telah diatur oleh Perdana Menteri Jin Kui.

Melihat ini. Para putera dan sahabat Panglima Gak Hui berusaha untuk membebaskan Gak Hui. Mereka mengamuk menyerbu penjara, bahkan sudah berhasil mendobrak runtuh pintu kamar tahanan Panglima Gak Hui, mengajaknya minggat dari situ.

Akan tetapi bagaimana sikap Gak Hui? Dia marah sekali kepada para pengikut dan para puteranya, "Aku bersumpah untuk setia kepada kerajaan, setia sampai mati dan kalian malah memberontak dan mencoba untuk membebaskan aku? Aku tidak akan melarikan diri!" demikian katanya.

Para perwira bawahannya, para sahabat dan puteranya membujuk berulang-ulang. "Ayah," kata puteranya yang bernama Gak Liu. "Kalau ayah tidak mau pergi, itu berarti ayah mencari kematian sendiri. Jin Kui tentu tidak akan puas sebelum melihat ayah tewas!"

"Anak tidak berbakti. Engkau berani menganjurkan ayahmu menjadi pemberontak? Bukan Jin Kui yang dapat mengusai aku, akan tetapi Yang Mulia Sri Baginda Kaisar yang memerintahkan semua ini! Bagaimana aku dapat membangkang terhadap perintah Kaisar? Ketahuilah, kalian semua. Aku bersedia mati untuk Kerajaan dan kalau Kaisar menghendaki aku mati, maka matilah aku! Nah, kalian pergilah sebelum aku membantu kerajaan untuk menangkap kalian semua!"

Dengan hati yang hancur semua pendekar itu meninggalkan penjara yang sudah mereka serbu. Mereka harus mengambil jalan darah untuk dapat keluar dari tempat itu dengan selamat, karena pasukan telah mengepung mereka. Ada berapa orang pendekar yang roboh dan tewas. Akan tetapi Gak Liu berhasil meloloskan diri dengan hati sedih sekali melihat ayahnya tidak mau ditolong.

Dan dengan tipu muslihatnya yang licik, Jin Kui berhasil membuat surat perintah palsu dari kaisar yang menjatuhkan hukuman mati kepada Gak Hui, dalam perintah palsu kaisar mengirim mangkok arak beracun untuk Gak Hui. Tanpa ragu sedikitpun Gak Hui menerima sambil berlutut dan minum arak beracun itu sampai habis sambil berdiri tegak dan diapun mati dalam keadaan masih berdiri!

Setelah Gak Hui tewas, maka perlawanan Kerajaan Sung dengan pasukannya terhenti. Kaisar mengadakan perdamaian yang amat menghina dan merendahkan martabat Sung dengan Kerajaan Kin. Tapal batas yang baru dibuat dan daerah luas antara sebelah utara Sungai Huai dan Tasan-kuan di Shen-si jatuh ke tangan Kerajaan Kin! Selain ini, juga Kerajaan Sung harus membayar upeti dua ratus lima puluh ribu tail perak dan dua ratus lima puluh ribu gulung sutera halus setiap tahun!

Biarpun Kerajaan Sung sudah berdamai dan mengalah, akan tetapi para pendekar patriot masih terus melakukan perlawanan. Untuk ini Kerajaan Kin membentuk pasukan-pasukan khusus untuk membasminya. Keadaan di sepanjang perbatasan menjadi ajang pertempuran gerilya.

********************

Demikianlah keadaan Kerajaan Sung yang sama sekali tidak diketahui oleh Tiong Li yang sedang tekun belajar ilmu dari kedua orang gurunya. Kerajaan Kin juga mendesak Kerajaan Sung melalui sekutunya, yaitu Perdana Henteri Jin Kui untuk membasmi para pendekar patriot yang membentuk laskar laskar rakyat mengganggu Kerajaan Kin di sepanjang perbatasan. Kaisar Sung Kao Cung memberi kekuasaan kepada Menteri Jin Kui untuk memimpin pembasmian para "pemberontak" itu.

Dalam keadaan seperti itu, rakyat selalu gelisah. Di satu pihak mereka itu diam-diam membantu para pejuang dan di lain pihak mereka takut akan gerakan pembersihan pasukan pemerintah, juga kadang-kadang ada pasukan Kin yang melakukan pengejaran jauh ke dalam Kerajaan Sung Selatan melanggar perbatasan.

Rakyat dicekam ketakutan dengan adanya perang gerilya yang dapat saja sewaktu-waktu terjadi di mana. Bahkan di kota raja sendiri rakyat merasa gelisah karena Perdana Menteri Jin Kui tidak segan-segan melakukan pembersihan di kota raja menangkapi orang-orang yang dicurigai.

Dalam keadaan seperti itu, maka fitnah merajalela. Setiap orang dapat saja lakukan fitnah terhadap orang lain yang menjadi musuhnya, atau yang dibencinya. Sekali saja melapor bahwa seseorang dicurigai menjadi mata-mata pejuang, maka orang itu akan ditangkap dan disiksa untuk mengaku, kadang disiksa sampai mati! Maka terjadilah kepanikan di antara rakyat dan kesempatan ini banyak dipergunakan oleh para perwira untuk menggertak rakyat untuk memancing keluarnya uang sogokan yang besar.

Mereka mendatangi seorang yang beruang, mengancam dan baru pergi setelah menerima sogokan, padahal hartawan itu sama sekali tidak terlibat perjuangan. Terlibat atau tidak, kalau sudah ditangkap kecil harapannya akan dapat pulang dalam keadaan hidup atau tidak cacat.

Malam yang gelap dan sunyi. Hawa udara dingin sekali dan sore-sore rakyat di kota raja sudah tidak nampak di luar. Cuaca seperti itu lebih baik dihindari dengan masuk ke dalam rumah mendekati perapian. Apa lagi kalau berkeliaran di luar dan bertemu peronda pasukan keamanan, dapat saja terjadi hal yang bukan-bukan, dan merugikan mereka lahir batin.

Tiba-tiba di tengah malam yang sunyi dan gelap itu nampak sesosok bayangan berkelebat. Cepat sekali gerakan bayangan itu dan dia sudah melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah gedung besar milik Perdana Menteri Jin Kui! Akan tetapi baru saja dia memasuki pekarangan, mendadak lima orang pasukan pengawal sudah mengepungnya dan mereka menyalakan obor.

"Berhenti! Siapa engkau berani memasuki pekarangan ini tanpa ijin?" bentak seorang pengawal.

"Hemm, aku yang masuk. Cepat bawa aku menghadap Perdana Menteri!" kata orang yang bertubuh tinggi besar itu.

Para perajurit pengawal itu mendekatkan obor untuk melihat siapa orang yang datang itu. Obor menerangi wajah yang menyeramkan dan berkulit hitam. Dan mereka semua mengenalnya dengan baik karena orang ini seringkali datang berkunjung dan menjadi kenalan baik Perdana Menteri.

"Ah, kiranya Hak-sicu yang datang. Kenapa mengejutkan orang dengan melompati pagar tembok dan tidak langsung saja ke gardu penjagaan di luar gerbang?"

"Lebih baik begini jadi tidak akan ada yang melihatku!" jawab orang itu. Dia itu bernama Hak Bu Cu dan bagi yang pernah bertemu dengannya segera akan mengenalnya sebagai orang yang mengaku berjuluk Si Golok Naga!

Hak Bu Cu ini sebenarnya adalah seorang jagoan dari Kerajaan Kin dan dialah yang diutus oleh Kerajaan Kin untuk menjadi penghubung dengan Perdana Menteri Jin Kui. Dia dan Perdana Menteri Jin Kui yang mengatur pencurian Mestika Golok Naga itu, dengan maksud agar dunia kang-ouw saling menuduh sendiri dan karena keadaan para pendekar patriot menjadi lemah.

Hak Bu Cu inilah yang rnelakukan pencurian itu, dan dia pula yang membunuhi para tokoh empat partai besar. Golok itu oleh Hak Bu Cu diserahkan kepada atasannya, yaitu Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin. Dan dia sendiri membawa golok tiruan, golok yang sama besar dengan Mestika Golok Naga untuk mengelabui mereka yang hendak mencari dan merampas kembali Mestika Golok Naga. Hak Bu Cu ini adalah seorang yang lihai bukan main, mengerti banyak macam ilmu silat dan dia menjadi tangan kanan Panglima Wu Chu.

Para pengawal segera mengantarkan Hak Bu Cu masuk dan mereka melapor kepada Perdana Menteri Jin Kui yang belum tidur, masih bersenang-senang di dalam taman dihibur para selir dan dayangnya dengan tari-tarian.

Mendengar laporan pengawal bahwa Hak Bu Cu datang mohon menghadap Perdana Menteri Ji Kui segera memerintahkan semua selir dan dayang untuk mundur, kemudian dia menyuruh pengawal minta kepada tamu itu untuk masuk saja ke taman, di mana terdapat sebuah bangunan mungil terbuka yang tadi dipergunakan untuk menonton tari-tarian.

Setelah bertemu, Hak Bu Cu memberi hormat kepada Perdana Menteri Jin Kui yang langsung menegur. "Ah, Hak-sicu, angin apakah yang membawamu malam-malam begini datang berkunjung? Mari, duduklah di sini, Hak-sicu."

Hak Bu Cu, si raksasa hitam itu, setelah memberi hormat lalu duduk di depan Jin Kui, terhalang meja yang penuh dengan makanan dan minuman. Jin Kui menuangkan arak dalam cawan kosong lalu memberikannya kepada tamunya.

"Terima kasih, taijin. Saya datang diutus. oleh Wu-ciangkun untuk menemui taijin. Pertama-tama Wu-ciangkun menyampaikan hormatnya dan kedua kali dia menyuruh saya untuk membicarakan urusan penting dengan taijin," Hak Bu Cu lalu minum araknya.

"Hemm, urusan penting apakah, si-cu? Coba cepat ceritakan kepadaku."

"Begini, taijin. Akhir-akhir ini Wu-ciangkun dibikin pusing dengan munculnya sepasukan pejuang yang sungguh mengganggu kami dengan sepak terjang mereka di perbatasan. Pasukan ini sungguh. tangguh dan dipimpin oleh seorang laki-laki perkasa yang kabarnya adalah putera mendiang Panglima Gak Hui yang bernama Gak Liu."

"Hemm, Gak Liu itu memang putera mendiang Gak Hui yang paling berani dan berkepandaian tinggi. Dahulupun ketika ayahnya dipenjara, dia bersama teman-temannya sudah berani penyerbu penjara dan hampir saja dapat membebaskan ayahnya. Hanya Panglima Gak Hui yang tidak mau dibebaskan. Jadi sekarang dia memimpin pemberontak untuk mengacau di perbatasan? Sungguh kurang ajar!" Perdana Menteri itu berkata.

Pada saat itu, muncul seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, berwajah tampan dan berpakaian mewah. Dia ini adalah Jin Kiat, putera Perdana Menteri. Jin Kui, seorang pemuda yang sombong, akan tetapi telah mempelajari ilmu silat yang cukup tinggi di samping ilmu sastra.

"Aha, kiranya Paman Hak yang datang!" serunya sambil memberi hormat dan dibalas oleh raksasa hitam itu

"Pantas di sini sepi-sepi saja tidak terdengar suara musik, kiranya ayah sedang menjamu seorang tamu terhormat."

"Jin Kiat, duduklah, kami sedang membicarakan urusan penting sekali. Hak sicu ini disuruh oleh Wu-ciangkun menyampaikan berita penting tentang para pemberontak."

"Ada apa lagikah, ayah?"

"Ada sepasukan pejuang yang amat mengganggu di perbatasan, dan pasukan itu dipimpin oleh Gak Liu, puteri mendiang Panglima Gak Hui."

"Hemm, dia itukah? Yang dahulu menyerbu penjara?" Jin Kiat lalu ikut duduk menghadapi meja mendengarkan percakapan itu.

"Lalu apa yang dikehendaki oleh Wu-ciangkun?" tanya Jin Kui.

"Wu-ciangkun minta bantuan taijin untuk dapat menangkap Gak Liu dan menghukumnya, taijin," kata si raksasa hitam.

"Hemm, kalau begitu aku akan melapor kepada kaisar, akan kukatakan bahwa Gak Liu memberontak dan memimpin pasukan pemberontak. Setelah itu, maka dia akan menjadi buronan, dan kita tangkapi seluruh keluarganya, baik keluarga dekat maupun jauh, maka pernbersihan itu tentu akan memancing munculnya Gak Liu."

"Aku akan memimpin pembersihan itu, ayah! Keluarga Gak semua sudah menyingkir entah ke mana sejak matinya Gak Hui, dan kurasa di kota raja sudah tidak terdapat seorangpun yang she Gak Bahkan orang-orang Gak sudah ketakutan sendiri dan minggat. Akan tetapi kalau diusut, tentu masih ada keluarga jauh dari pihak ibunya yang bukan she Gak Aku akan menyelidiki, ayah."

"Bagus, kalau engkau sendiri yang memimpin pembersihan, tentu akan berhasil. Akan tetapi aku akan minta bantuanmu, Hak-sicu, untuk membantu Jin Kiat karena siapa tahu, di antara keluarga mendiang Gak Hui itu akan terdapat orang-orang pandai yang tentu akan menyusahkan puteraku."

"Tentu saja saya selalu siap untuk membantu, tai-jin."

"Bagus, kalau begitu tinggallah di sini sampai aku melapor kepada Kaisar. Karena setelah melapor tentu aku dapat minta surat kuasa untuk melakukan penangkapan kepada seluruh keluarga Gak yang berada di sini. Setelah ada yang tertangkap, kita dapat memaksa keterangan darinya di mana kita dapat menemukan Gak Liu si pemberontak itu."

Demikianlah, dengan gembira mereka lalu melanjutkan makan minum sampai jauh malam dan Hak Bu Cu tinggal di rumah besar itu sebagai seorang tamu yang dihormati. Jin Kiat tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk minta petunjuk tentang ilmu silat kepada tamunya, dan sambil menanti ayahnya membuat laporan, diapun mempelajari beberapa jurus ilmu silat dari si raksasa hitam yang lihai.

Pada keesokan harinya, dalam persidangan, Perdana Menteri Jin Kui melaporkan kepada Kaisar. "Yang Mulia, hamba mendengar berita yang tidak enak sekali bahwa terdapat pasukan pemberontak yang membikin kacau di perbatasan, memancing-mancing pertempuran dengan pasukan Kin. Perbuatannya ini berbahaya sekali karena setiap saat mereka dapat membalik dan berbalik menyerang pasukan kita sendiri. Dan yang memimpin pasukan itu adalah putera si pemberontak Gak Hui yang bernama Gak Liu."

Tentu saja Kaisar marah sekali! mendengar laporan ini. "Apa Putera pemberontak itu berani membikin kacau? tangkap dia!" bentaknya.

"Hamba akan melaksanakan perintah itu, Yang Mulia. Mohon Yang Mulia mengeluarkan surat per intah penangkapan bukan hanya untuk Gak Liu, melainkan untuk seluruh keluarga pemberontak itu agar hamba dapat membasminya sampai bersih!"

Kaisar lalu membuat surat perintah itu dan dengan bekal surat perintah ini, dengan girang Jin Kui lalu pulang ke rumah gedungnya.

"Nah, dengan bekal surat perintah, engkau dapat melakukan penangkapan kepada siapapun tanpa khawatir lagi, Jin Kiat," kata ayah ini dengan bangga.

Sementara itu, Jin Kiat tidak tinggal diam dan dia sudah mengutus orangnya menyelidiki siapa yang masih terhitung sanak keluarga Gak. Dia mendengar bahwa ada seorang hartawan di kota raja bernama An Kiong. An Kiong ini kabarnya masih sanak keluarga Gak, dan masih terhitung paman dari Gak Liu dari pihak ibunya. Dan masih saudara misan ibunya.

"Ha-ha, aku tahu siapa yang harus kutangkap terlebih dahulu, ayah. Dia bernama An Kiong dan menjadi seorang hartawan yang terkenal di kota raja. Mari, Paman Hak, kita siapkan pasukan untuk mulai melakukan penangkapan."

Pemuda itu sambil membawa surat perintah lalu mengajak tamunya untuk mempersiapkan selosin perajurit pilihan yang di-ambil dari pasukan keamanan. Dengan adanya Hak Bu Cu disampingnya, selusin orang perajuritpun sudah lebih dari cukup.

Perajurit itu hanya untuk menambah keangkeran saja, karena kalau Hak Bu Cu membantunya, tanpa perajuritpun dia berani melakukan penangkapan terhadap siapapun juga. Setelah pasukan itu siap, berangkatlah Jin Kiat dalam pakaian panglima yang mewah, disertai Hak Bu Cu, dengan gagahnya keluar dari gedung ayahnya menuju ke rumah sang korban.

********************

Sejak pagi sekali, banyak orang berdiri antri di depan rumah An-wangwi (hartawan An). Hampir setiap hari hartawan An ini membagi-bagi beras dan kadang juga uang kepada fakir miskin. Pada waktu itu, akibat terjadinya perang, banyak terdapat orang-orang miskin yang hidupnya terlantar.

Karena itulah, setiap kali hartawan An membagi bagi beras atau gandum, banyak yang antri minta bagian. Baik yang berpakaian seperti pengemis atau penduduk biasa, banyak yang antri. Hartawan An Kiong memang terkenal sekali di kota raja sebagai seorang yang dermawan. Tangannya terlepas dan terbuka menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan.

Pada pagi hari itu, selagi orang ramai antri dan menerima pembagian beras, lima kati setiap orang, tiba-tiba terjadi keributan. Seorang pengantri yang bertubuh tinggi besar, mendesak ke depan minta didahulukan. Pada hal, dia datang belakangan. Orang itu masih muda, berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan sikapnya kasar sekali. Dia mendorong begitu saja orang-orang yang antri di depan, tidak perduli yang didorongnya itu wanita, kakek-kakek atau kanak-kanak dan dia menuntut kepada petugas yang membagi beras untuk mengisi kantungnya dengan beras.

Si petugas melihat orang itu dan mengenalnya sebagai orang yang pagi tadi sudah mendapatkan jatahnya, "Eh, bukankah engkau tadi sudah mendapatkan lima kati?"

"Itu kan tadi. Akan tetapi aku sudah antri lagi dan setiap pengantri harus mendapatkan lima kati," katanya kukuh.

"Hem aturan siapa itu?"

"Aturanku!" kata laki-laki itu sambil melotot marah. "Cepat berikan bagianku, ataukah aku harus ambil sendiri?"

"Heii, engkau ini minta atau merampok?" bentak petugas yang membagi beras.

"Kalau merampok, engkau mau apa" balas si laki-laki tinggi besar itu Terjadilah perkelahian, akan tetapi lima petugas itu bukan lawan si laki-laki tinggi besar yang memukul dan menendang mereka sampai jatuh bangun.

Mendadak di tempat itu muncul seorang Wanita cantik bersama seorang gadis manis lain yang lebih muda. Gadi itu berusia kurang lebih sembilanbelas tahun, wajahnya manis sekali dan dia memandang kepada laki-laki itu denga alis berkerut. Gadis ini bukan lain adalah Siang Hwi, murid Ban-tok Sian li yang juga hadir di situ.

Guru dan murid ini berada di kota raja, baru tadi mereka datang dan mereka tertaril sekali melihat kerumunan banyak orang itu maka mereka mendekat dan melihat bahwa kerumunan orang itu adalah orang orang yang menerima bagian beras dari seorang hartawan yang dermawan. Mereka merasa kagum sekali kepada hartawan itu. Pada masa itu, jaranglah terdapat hartawan yang demikian dermawan, yang membagi-bagi beras kepada fakir miskin dan siapa saja yang membutuhkannya.

An Kiong yang diberitahu cepat ke luar. Dia dengan wajah ramah lalu memberi hormat kepada laki-laki tinggi besar yang baru saja menghajar orang-orangnya itu. "Sobat, harap jangan marah. Kalau engkau menghendaki beras, marilah kuambilkan."

"Bagus, begitu baru baik. Nah, isilah kantung ini sampai penuh!" katanya.

An Kiong mengerutkan alisnya. "Sobat, biasanya untuk setiap orang diberi lima kati. Yang minta banyak, kami khawatir kalau sampai persediannya kurang."

"Tidak perduli. Orang-orangmu bersikap kasar kepadaku. Harus dipenuhi kantung ini atau aku akan mengambil sendiri!"

"Perampok busuk...!"

Mestika Golok Naga Jilid 04

PADA saat itu, Pek Hong San-jin mengerahkan tenaganya dan mendorongkan tangan kanannya yang melekat pada kedua tangan si tengkorak hidup. Akibatnya tengkorak hidup itu pun terpental ke belakang dan dari mulutnya mengalir darah, tanda bahwa diapun sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Tanpa banyak cakap lagi, si raksasa hitam dan si tengkorak hidup yang telah menderita luka itu lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah terhuyung, takut melanjutkan pertandingan melawan hwe-sio tua yang sakti itu.

Tiong Li siuman dan dia bangkit berdiri, agak terhuyung. Akan tetapi dia mendengar suhunya terbatuk-batuk dan tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang juga terluka, dia menghampiri gurunya. Kakek itu terhuyung lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku. lalu muntahkan darah yang cukup banyak Suhunya telah terluka parah!

"Suhu...!" Dia menghampiri.

Pek Hong San-jin mengangkat mukanya. Dia telah mempergunakan tenaga yang berlebihan melawan dua orang yang sakti sehingga dia menderita luka parah tanpa di ketahui kedua orang lawannya yang melarikan diri. Dia melihat muridnya dan tersenyum!

"Engkau tidak apa-apa, Tiong Li...?" katanya dengan suara yang lemah sekali.

"Tidak, suhu. Akan tetapi suhu bagaimana ? Suhu muntahkan demikian banyak darah..."

"Omitohud... mereka berdua itu... kuat sekali. Sayang kesaktian seperti itu... dipergunakan untuk berbuat jahat...! Tiong Li, engkau ingat semua nasihatku...? Jangan... jangan sekali-kali kau pergunakan ilmumu untuk kejahatan..."

"Tentu saja teecu ingat Suhu..." Tiong Li khawatir sekali melihat wajah gurunya demikian pucat seperti mayat sehingga dia lupa akan keadaan dirinya sendiri yang juga terluka parah disebelah dalam tubuhnya.

"Akan tetapi suhu..., marilah teecu bantu untuk menyalurkan sin-kang ke tubuh suhu..."

Gurunya menggeleng kepala dan berkata lirih, "Tidak ada gunanya lagi..."

"Suhu...!" Tiong Li berseru ketika melihat suhunya terkulai. Cepat dirangkulnya suhunya agar jangan terjatuh dari atas bangku.

Gurunya memandangnya dengan tetap tersenyum. Menyedihkan sekali melihat bibir yang berdarah itu tersenyum!

"Tiong Li, ingatkah engkau... akan pembicaraan kita tadi... tentang... tentang kematian? Kematian bukanlah yang terakhir, Tiong Li... dan sudah ditentukan oleh Tuhan, kita tinggal menyerah... kehendak Tuhan terjadilah...!"

"Suhu...!"

"Pinceng hanya pesan... agar jenazah pinceng dibakar bersama gubuk itu..." Kepala itu terkulai dan napasnya putus.

"Suhu!" Tiong Li merebahkan tubuh yang tak bernyawa itu di atas bangku dan diapun terkulai, pingsan di atas tanah.

Tiong Li membuka dan mengedip-ngedipkan matanya. Mukanya basah terpercik air dan samar-samar dia melihat wajah seorang gadis remaja bersama seorang wanita dewasa yang cantik jelita.

Dia teringat akan kematian gurunya, teringat akan si raksasa hitam dan bibirnya bergerak, "Si Golok Naga...! lalu dia terkulai dan pingsan lagi.

Wanita itu memang cantik sekali. Usianya sekitar tigapuluh tahun, akan tetapi ia kelihatan seperti seorang gadis dua puluhan tahun. Rambutnya yang subur itu hitam mengkilap tersisir rapi dan digelung ke atas, terhias emas permata berbentuk burung Hong yang indah sekali dan tentu mahal harganya.

Anak rambut berjuntai di dahinya yang putih mulus dan alisnya juga hitam kecil panjang melengkung indah, melindungi sepasang mata yang amat tajam sinarnya. Sinar mata yang seolah menembus segala yang dipandangnya dan kadang sinar mata itu mencorong seperti binatang yang haus darah!

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya berbentuk manis dengan sepasang bibir yang selalu merah basah. Wajahnya berbentuk bulat telur. Sungguh sebuah wajah yang cantik jelita, namun sinar mata dan tarikan pada mulut itu kadang membayangkan kekerasan nati yang mengerikan.

Tubuhnya juga padat menggairahkan, sedang dan ramping. Wanita cantik ini kalau sudah memperkenalkan namanya tentu akan membuat orang-orang kang-ouw terkejut setengah mati. Wanita yang amat cancik ini ternyata adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal sebagai seorang datuk sesat dengan nama julukan Ban-tok Sian-li (Dewi Selaksa Racun)!

Selain ilmu silatnya yang tinggi dan lihai bukan main, juga wanita ini terkenal sebagai seorang ahli racun dan kabarnya, sebuah goresan kuku jari tangannye saja sudah cukup membuat orang mati keracunan!

Bahkan tempat tinggalnya juga menjadi sebuah tempat yang menakutkan, yaitu di lembah Sungai Yang-ce dan lembah itu demikian ditakuti orang hingga diberi nama Lembah Maut.

Adapun gadis remaja yang bersamanya itu adalah seorang muridnya, bernama The Siang Hwi, berusia empat belas tahun akan tetapi sudah pula mewarisi ilmu silat tinggi dari gurunya yang secantik dewi akan tetapi kadang dapat sekejam iblis itu.

Ketika Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi secara kebetulan mendaki puncak itu dalam penyelidikannya tentang Golok Naga, la menemukan seorang hwesio tua yang sudah tewas di atas bangku dan seorang pemuda remaja yang menggeletak pingsan di bawah bangku. Muridnya lalu disuruh mencari air dan memecikkan pada wajah pemuda itu agar siuman dan dapat ditanyai apa yang telah terjadi.

Ketika Tiong Li siuman dan satu-satunya kata yang keIuar dari mulutnya adalah "si Golok Naga!" kemudian pingsan kembali, tentu saja hati Bantok Sian-li menjadi tertarik sekali.

Kunjungannya ke Liong-san memang ada hubungannya dengan Golok Naga. la mendengar tentang golok pusaka yang di curi itu dan sudah sepuluh tahun belum juga dapat ditemukan kembali.

Mendengar bahwa Kaisar menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat mengembalikan golok pusaka itu tidaklah begitu menarik perhatiannya. Yang menarik perhatiannya adalah golok itu sendiri karena la mendengar bahwa Golok Naga itu adalah sebuah senjata mestika yang amat ampuh. la ingin mencarinya, bukan untuk dikemballkan kepada Kaisar, melainkan untuk dimilikinya sendiri.

la mendengar pula bahwa empat orang-tokoh dari perkumpulan besar yang melakukan penyelidikan telah terbunuh di Liong-san. Maka ia mengambil kesimpulan bahwa ia dapat mulai melakukan penyelidikan dari Liong-san. Tentu ada hubungannya antara Liong-san dengan pembunuh itu dan agaknya pembunuh itu tahu soal golok pusaka yang dicuri. Kalau tidak begitu, mengapa dia membunuh empat orang tokoh partai-partai besar yang kabarnya difitnah oleh si pencuri golok!

Demikianlah, mendengar pemuda remaja itu menyebut Golok Naga, tentu saja ia tertarik sekali.ia lalu memeriksa pemuda itu dan mengertilah ia mengpa pemuda itu setelah siuman lalu pingsan kembali. Pemuda itu menderita luka dalam yang amat parah, akibat dari pukulan beracun yang entah dilakukan oleh siapa.

Karena ia memang ahli tentang pukulan-pukulan beracun, maka Ban tok Sian-li lalu menyingsingkan lengan bajunya sehingga sepasang lengannya yang putih mulus itu nampak sebatas siku. Kemudian ja menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Tiong Li setelah menelungkupkan pemuda itu. Muridnya hanya berdiri menonton gurunya mengobati pemuda yang pingsan itu.

Seperempat jam kemudian setelah pengobatan dengan penyaluran tenaga sinkang itu dilakukan Ban-tok Sian-li pernapasan Tiong Li yang tadinya terengah dan satu-satu, mulai normal kembali dan setelah ditotok di beberapa bagian jalan darah di tubuhnya,diapun siuman.

Ban-tok Sian-li bangkit berdiri, menghapus sedikit keringat dileher dan dahinya. la telah mengerahkan banyak tenaga untuk menyembuhkan pemuda itu. Akan tetapi ia rela karena ia tentu akan mendapatkan keterangan yang banyak dari pemuda itu tentang Golok Naga.

Tiong Li membuka mata, bergerak bangkit duduk dan terkejut heran melihat wanita cantik dan gadis remaja itu. "Siapakah Ji-wi (anda berdua)?" tanyanya.

Akan tetapi dia teringat, menoleh dan melihat suhunya masih menggeletak di atas bangku dalam keadaan tidak bernyawa lagi, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut dekat bangku dan menangis.

"Suhu...!" Tiong Li merasa ada sentuhan halus sebuah tangan di pundaknya. Ketika dia menengok, ternyata gadis remaja itu yang menyentuh pundaknya dan gadis itu berkata.

"Engkau tadi terluka parah dan subo (guru) yang telah menyembuhkanmu. Jangan menangis dan ceritakan semuanya kepada subo.”

Mendengar ini, Tiong Li lalu bangkit dan memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li, dengan air mata masih membasahi pipinya. "Terima kasih atas pertolongan bibi..."

"Aku bukan bibimu!" terdengar jawaban menyentak marah. Memang merupakan pantangan begi Ban-tok Sian-li kalau ia disebut sebagai orang yang lebih tua!

Muridnya yang sudah mengenal watak subonya lalu berkata kepada Tiong Li, "Subo adalah Ban-tok Sian-li, engkau boleh menyebutnya Sian-li (Dewi) bukan bibi."

Tiong Li yang mengenal baik sopan santun lalu berkata, "Maaf, terima kasih atas pertolongan Sian-li kepadaku."

"Aku tidak butuh terima kasihmu, lebih baik kau cepat ceritakan dimana adanya Golok Naga!" kata pula Ban-tok Sian-li sambil memandang tajam penuh selidik.

"Golok Naga...?" Tiong Li memandang heran. "Aku tidak tahu tentang golok itu..."

"Jangan bohong!" bentak Ban-tok Sian-li. "Ketika engkau sluman, tadi engkau berkata Si Golok Naga! Dan sekarang mengatakan tidak tahu?"

"Ahh,... Si Golok Naga? Memang benar, Sianli. Akan tetapi yang kumaksudkan adalah Si Golok Naga raksasa hitam itu yang bersama-temannya. Tengkorak Hidup itu telah membunuh guruku dan melukai aku.”

"Apa hubungannya raksasa hitam dengan Mestika Golok Naga? hayo ceritakan semuanya!"

Tentu saja Tiong Li sudah dapat menduga bahwa raksasa hitam yang membunuhi empat tokoh partai besar dan juga membunuh ayahnya, kemudian bersama orang seperti tengkorak hidup itu membunuh suhunya, agaknya menjadi pencuri Mestika Golok Naga. Akan tetapi dia tidak ingin menceritakan hal itu kepada wanita galak ini. Dia hendak merahasiakannya untuk dirinya sendiri. Dia sendiri yang akan mencari raksasa hitam itu yang telah membunuh ayah kandungnya kemudian membunuh pula suhunya.

"Aku tidak tahu, Sianli. Raksasa hitam itu menyebut dirinya sendiri Golok Naga dan dia datang bersama orang yang mukanya seperti tengkorak hidup."

"Mengapa dia datang membunuh gurumu dan melukaimu? Apa sebabnya?"

"Aku juga tidak tahu. Suhu tidak pernah mempunyai musuh, akan tetapi Golok Naga itu tiba-tiba muncul bersama temannya dan mengeroyok suhu."

"Dan hubungannya dengan Mesti Golok Naga?"

"Aku tidak tahu."

"Keparat! Aku sudah susah payah membuang banyak tenaga untuk menghidupkanmu kembali dan engkau tidak dapat memberi petunjuk tentang Mestika Golok Naga? Kalau begitu, apa perlunya aku mengobatimu? Lebih baik kau kubunuh saja karena engkau telah mengecewakan hatiku!"

Wanita itu sudah mengangkat tangannya, akan tetapi tiba-tiba gadis remaja itu melangkah maju menghadang dan menyembunyikan Tiong Li di belakang tubuhnya.

"Subo, aku tidak setuju! Pemuda itu tadi belum mati ketika subo menolongnya. Dan diapun tidak minta ditolong. Adalah subo sendiri yang menolongnya, kenapa sekarang subo hendak membunuhnya? Lihat, subo, gurunya sudah tewas dan siapa yang akan mengurus jenazah suhunya kalau kini muridnya subo bunuh pula? Subo, kita boleh bertindak keras kepada seorang yang bersalah kepada kita, akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak bersalah kepada subo!"

Anak itu kelihatan berani sekali menentang kehendak subonya, dan sungguh aneh, ketika bertemu pandang dengan muridnya yang melindungi Tiong Li, Ban-tok Sian-li menurunkan lagi tangannya dan menarik napas panjang.

"Sudahlah, membunuh anak inipun tak ada gunanya! Mari kita pergi!"

Dan sekali berkelebat Ban-tok Sian-li telah lenyap dari tempat itu. Demikian cepat gerakannya seolah-olah ia pandai menghilang saja.

Tiong Li memegang tangan gadis remaja itu. "Nona, engkau telah menyelamatkan nyawaku! Aku selama hidup tidak akan melupakanmu dan semoga kelak aku dapat membalas jasamu ini. Namaku Tan Tiong Li, nona. Dan bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Namaku The Siang Hwi. Sudahlah, aku harus pergi agar subo tidak marah kepadaku!"

Siang Hwi menarik lepas tangannya lalu ia meloncat dengan tubuh ringan dan berlari cepat, sebentar saja sudah lenyap dari situ.

Tiong Li menghela napas panjang. Baru saja nyawanya beberapa kali terancam maut akan tetapi kalau memang Tuhan belum menghendaki dia mati, seperti wejangan gurunya, tetap saja dia tertolong. Mula-mula dia terancam maut ketika terpukul oleh Si Golok Naga. Tapi Ban-tok Sian-li yang menyembuhkannya.

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Kemudian mestinya dia mati di tangan Ban-tok Sian-li, akan tetapi ada The Siang Hwi yang menyelamatkannya. Dan peristiwa yang baru saja terjadi membuka matanya bahwa setelah selama sepuluh tahun dia mempelajari ilmu, ternyata masih jauh untuk dapat dipakai membela diri. Melawan Si Golok Naga dan Si Muka Tengkorak Hidup saja tidak mampu, apa lagi melawan Ban-tok Sian-li! Ilmu yang telah dikuasainya belum ada artinya.

Tentu saja pemuda remaja itu tidak tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah datuk-datuk persilatan yang sakti. Kalau dia bertemu dengan tokoh-tokoh yang leblh rendah tingkatnya, maka ilmunya sudah lebih dari cukup.

Dia lalu mengangkat jenazah suhunya. Terasa ringan sekali jenazah itu dan baru sekarang dia menyadari betapa ringkih dan kurus tubuh suhunya. Heran bagaimana tubuh seringkih itu memiliki kesaktian yang hebat. Akan tetapi sekarang, di mana adanya semua kesaktian itu? Lenyap bersama matinya raga!

Kalau begitu, yang dinamakan ilmu kepandaian itu hanya untuk sementara saja, tidak kekal seperti adanya tubuh ini. Benar suhunya. Semua ini hanya alat! Dan sudah sepatutnya semua orang berusaha untuk menjadi alat yang baik bukan alat yang merusak! Alat yang baik akan dipergunakan Tuhan mengutarakan kekuasaannya, sebaliknya alat yang buruk hanya akan dipakai oleh setan untuk merajalela!

"Suhu, teecu bersumpah untuk menjadi alat yang baik bagi Tuhan Yang Maha Kuasa."

Dia teringat akan pesan terakhir suhunya sebelum meninggal. Suhunya minta agar jenazahnya dibakar bersama gubuk tempat tinggalnya. Hal ini hanya mengandung arti bahwa sepeninggal suhu nya, dia harus pula meninggalkan tempat itu, maka gubuknya disuruh bakar Dia merebahkan jenazah itu ke pembaringan suhunya.

Melihat pakaian suhunya berlepotan darah, dengan hati terharu dan tangan gemetar dia lalu mengganti pakaian suhunya itu dengan pakaian yang bersih. Kemudian dia mengemasi pakaiannya sendiri, disatukan dalam buntalan, setelah sekali lagi memberi hormat sambil berlutut delapan kali di depan jenazah suhunya sambil menangis, dia berkata,

"Selamat tinggal, suhu, selamat tinggal dan selamat jalan...!"

Dia sendiri menjadi bingung, harus mengucapkan selamat tinggal atau kah selamat jalan kepada gurunya!

Dia lalu mengumpulkan kayu bakar, menumpuknya di sekitar pembaringan suhunya, kemudian, dengan air mata bercucuran, mulailah dia membakar tumpukan kayu bakar itu. Setelah api berkobar besar barulah dia keluar dari rumah itu, berdiri di pekarangan memandang api berkobar membakar pondok itu dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya.

" Suhu... suhu... ahh, suhu..." Tiong Li mengeluh sambil menangis tersedu-sedu.

Sepuluh tahun lamanya dia hidup bersama kakek itu yang menjadi pengganti ayahnya, pengganti segala galanya baginya. Menjadi gurunya, orang tuanya, sahabatnya. Dan kini, tiba-tiba saja gurunya mati dan dimakan api! Padahal, baru saja tadi gurunya masih bercakap-cakap dengan dia.

Malam mulai tiba dan cuaca mulai gelap sehingga api yang membakar pondok itu membuat cuaca disekelilingnya menjadi terang benderang. Tiba-tiba saja di belakang Tiong Li terdengar orang tertawa bergelak, suara tawanya menembus keremangan malam itu bagaikan suara tawa iblis.

"Ha-ha-ha, si hwesio tua dari Pek hong-san kok telah mendahului kita. Ha ha-ha sungguh beruntung, sungguh baik sekali nasibnya, ha-ha-ha!"

Tiong Li terkejut dan membalikkan tubuhnya, siap untuk bertanding mati-matian. Akan tetapi yang dilihatnya bukanlah Si Golok Naga melainkan seorang kakek berpakaian jubah pendeta yang longgar. Kakek itu bertubuh pendek gendut seperti bola saja bentuknya dan dialah yang tertawa bergelak dan mengeluarkan ucapan tadi.

Di sampingnya berdiri seorang kakek lain yang juga berjubah longgar akan tetapi kakek ini tinggi kurus seperti tihang. Usia mereka sekitar enampuluh tahun. Kalau kakek pendek gendut itu masih tertawa terkekeh-kekeh seperti orang kesenangan, adalah kakek tinggi kurus memandang langit di mana sudah muncul bulan sepotong dan kakek kurus itu lalu bernyanyi! Suaranya tinggi melengking sesuai dengan bentuk tubuhnya dan karena lehernya panjang, maka suaranya cukup merdu ketika dia bernyanyi.

"Sungguh membuat hati kita menjadi iri melihat keberuntungan hwesio tua ini betapa senangnya meninggalkan segala kepalsuan untuk menikmati kebebasan! Habislah derita, lenyap sengsara bebas menuai hasil karma! Aiih, hwe-sio tua dari Pek-hong-san kenapa pergi meninggalkan kami tanpa pesan?"

Sehabis bernyanyi diapun ikut tertawa-tawa bersama si kakek gendut. Tiong Li menjadi marah dan hatinya dongkol sekali. Dia sedang menangis dan berkabung karena kematian suhunya, dua orang ini malah tertawa-tawa dan bersenang-senang! Akan tetapi karena nada bicara orang itu seperti orang-orang yang telah mengenal baik suhunya, dan siapa mereka tidak bermusuhan, diapun bersikap hormat dan melangkah maju menghadapi kedua orang yang masih tertawa-tawa itu sambil mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Maaf, ji wi lo-cian-pwe. Siapakah ji-wi yang datang tertawa-tawa selagi saya berduka dan berkabung karena kematian suhu?"

Si pendek gendut itu yang menjawab sambil menyeringai, "Kami berdua adalah sahabat-sahabat baik si hwesio tua. Pinto (aku) disebut Tee Kui Lojin (Si Tua Setan Bumi) dan saudaraku ini Thian Kui Lojin (Si Tua Setan Langit). Karena sudah lama tidak berjumpa dengan Pek Hong San-jin, malam ini kami datang berkunjung, siapa tahu dia seenaknya meninggalkan kami untuk bersenang-senang! Ha-ha-ha! Si Tua yang licik, meninggalkan kami disarang kepalsuan dan kesengsaraan ini!"

Tiong Li mengerutkan alisnya. "Maaf, lo-cian-pwe. Saya kira siapa ji-wi ini tidak sepantasnya. Saya sedang menangis, berduka dan berkabung, akan tetapi jiwi datang bersenang dan tertawa-tawa. Dan ji-wi masih mengaku sebagai sahabat-sahabat baik suhu!"

"Ha-ha ha-ha!" Tee Kui Lojin tertawa geli seolah ucapan pemuda itu terdengar lucu sekali. "Kami memang sahabat baik dan kami amat menghormati dan sayang kepada si hwesio tua."

"Lebih tidak masuk diakal lagi!" bantah Tiong Li. "Kalau ji-wi menghormati dan sayang kepada suhu, mengapa tertawa melihat kematiannya?"

"Ha-ha, anak muda. Justeru karena kami sayang kepada suhumu, maka kami bersenang-senang melihat dia meninggalkan dunia..."

"Tidak masuk akal!" bantah Tiong li. "Bagaimana mungkin orang dapat bersenang-senang di tinggal mati orang yang disayangnya? Saya menyayang suhu, dan ketika suhu meninggal saya merasa berduka sekali!"

"Hemm, orang muda, engkau murid Pek Hong San-jin? Kenapa begini bodoh!"

Sekarang si jangkung Thian Kui Lojin berkata, mencela. "Kenapa pandanganmu masih sepicik itu? Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, kalau engkau memang sayang kepada suhumu, mengapa setelah dia mati engkau tangisi dia. Mengapa?"

"Tentu seja, lo-cian-pwe, saya kehilangan suhu yang saya sayang dan mati. "

"Hemm, jadi engkau menangisi dirimu sendiri, ya? Engkau menangis karna merasa kasihan kepada dirimu sendiri yang ditinggalkan orang yang kau sayang? Berarti engkau sama sekali tidak menangisi gurumu! Dan pula, mengapa kematian ditangisi? Kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan suhumu, kenapa ditangisi? Yang jelas sekali, dia telah terbebas dari siksa hidup, dari penyakit, dari permusuhan, dari kepalsuan dan segala macam kemunafikan dunia. Kenapa ditangisi?"

Tiong Li terbelalak dan dia merasa malu kepada diri sendiri. Tentu saja suhunya pernah bicara tentang kematian ini, dan diapun kini manyadari bahwa dia tadi menangis karena duka mengingat akan keadaan dirinya sendiri,sama sekali bukan menangisi gurunya! Bagaimana dia dapat menangisi nasib gurunya kalau dia tidak tahu apa yang dialami gurunya setelah kematiannya?

"Saya menangisi suhu, menangisi kematiannya yang amat menyedihkan. Dia tewas karena dibunuh oleh dua orang jahat. Apakah hal itu tidak menyedihkan?" bantahnya untuk memberi alasan tangisnya tadi.

Api masih berkobar-kobar membakar pondok dan Jenazah yang berada di dalamnya. Kini Tee Kui Lojin yang bicara. "Ha ha, kau berduka karena permainan pikiran dan perasaanmu sendiri. Kematian itu sudah merupakan garis yang tidak dapat diuboh oleh siapaun juga. Kalau saat kematian sudah tiba, biar engkau bersembunyi dilubang semut, maut akan tetap datang menjemput. Sebaliknya kalau saat kematian belum mestinya tiba, biar engkau diancam seribu ujung tombak, engkau akan tetap dapat mengelak. Kematian gurumu sudah garis, tidak dapat dielakkan lagi, seperti kematian yang datang pada setiap orang hidup di dunia ini. Adapun cara kematian itu yang merupakan penyebab kematian adalah buah karma. Roda karma pasti datang berputar dan pada saatnya akibat akan menyusul sebabnya. Usaha kita satu-satunya untuk menanam karma baik hanyalah dengan perbuatan baik yang tanpa pamrih."

"Perbuatan yang baik itu yang bagaimana, lo-cian-pwe?"

Tiong Li memancing karena dia tertarik sekali. Dari mendiang suhunya diapun sudah banyak mendapatkan wejangan tentang ini, akan tetapi cara mengungkapkan kedua orang kakek aneh ini agak berbeda walaupun intinya sama, maka dia ingin sekali mendengarnya.

"Ha-ha-ha, engkau anak yang cerdik, pantas untuk mendengar penjelasan tentang itu agar kelak tidak akan tersesat. Perbuatan baik itu adalah perbuatan yang bermanfaat dan mendatangkan kesenangan bagi orang lain. Ada perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja dan berpamrih. Perbuatan baik seperti ini buahnya sudah langsung diterima sesuai dengan pamrihnya. Kesenangan atau pujian yang didapatkan karena perbuatan baik itu sudah menjadi buah yang langsung dipetik dan dinikmatinya sehingga sudah lunas. Akan tetapi perbuatan baik kedua adalah perbuatan yang tidak disengaja, bahkan tidak diketahuinya bahwa itu perbuatan baik, melainkan perbuatan yang timbul dari hati yang penuh belas kasih dan karena tidak disengaja atau diketahui bahwa perbuatan itu baik maka pelakunya tidak berpamrih dan tidak mengharapkan apapun. Nah, perbuatan seperti inilah yang masuk catatan karma dan mungkin buahnya diterima kemudian, cepat atau lambat. Perbuatan-perbuatan yang timbul dari hati penuh belas kasih inilah yang memupuk karma baik. Mengertilah engkau, eh, siapa namamu, orang muda?"

"Terima kasih atas semua penjelasan itu, lo-cian-pwe. Nama saya adalah Tan Tiong Li dan saya telah menjadi murid suhu semenjak saya berusia lima tahun, sudah sepuluh tahun ini."

"Bagus, engkau murid berbakat dan berbakti. Sekarang ceritakan, bagaimana Pek-hong Sanjin tewas dan oleh siapa dan kenapa?"

Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang sakti sahabat suhunya, maka tanpa ragu lagi Tiong Ll lalu bercerita, diawali sejak dia berusia lima tahun.

"Ketika saya baru berusia lima tahun, saya bersama mendiang ayah saya pergi berburu binatang ke puncak Liong san. Tanpa sengaja kami berdua melihat empat orang tokoh-tokoh partai besar sedang bercakap-cakap tentang lenyapnya Mestika Golok Naga yang katanya dicuri orang dan pencurinya membunuhi para pengawal dengan menggunakan ilmu dari empat partai besar itu. Tiba-tiba muncul seorang raksasa hitam yang mengaku berjuluk Si Golok Naga, dan dia menggunakan sebatang golok membunuh empat orang tokoh besar itu."

"Siancai... kami sudah mendengar tentang terbunuhnya para tokoh Siauw-limpai, Hoa-sanpai, Butong-pai dan Kunlunpai di Liong-san itu. Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya. Siapa kira engkau tidak hanya mengetahui bahkan menjadi saksi!" kata Thian Kui Lo-jin yang jangkung.

"Lanjutkan ceritamu, Tiong Li. Menarik sekali ceritamu," kata Tee Kui Lojin.

"Ayah lalu mengajak saya untuk melarikan diri. Akan tetapi Si Golok Naga agaknya mengetahui dan mengejar kami Ayah lalu menyuruh saya mendaki sebuah puncak lain dan ayah sendiri mengalihkan perhatian pengejar itu. Akhirnya ayah tersusul dan dibunuh oleh si Golok Naga, sedangkan saya ditolong oleh suhu Pek Hong San-jin, lalu diambil murid sampai hari ini..."

"Hemm, dan suhumu mati oleh Si Golok Naga itu pula? terjadinya?"

"Sore tadi suhu baru tiba dari perjalanannya sejak pagi dan selagi kami bicara, muncullah Si Golok Naga bersama seorang yang wajahnya sepert tengkorak hidup. Karena mereka menyatakan hendak membunuh suhu, saya lalu myerang Si Golok Naga, akan tetapi akhirnya dia merobohkan saya dengan sebuah pukulan beracun. Saya melihat suhu juga roboh dan saya memaksakan diri menghampiri suhu. Suhu meninggalkan pesan agar jenazahnya di bakar bersama pondok ini, dan suhu meninggal dalam rangkulan saya. Kemudian saya roboh pingsan."

"Hemm, tapi kami melihat engkau sudah tidak terluka lagi, melihat gerakanmu dan suaramu," kata si jangkung Thian Kui Lo-jin...

Mestika Golok Naga Jilid 03

DIA lalu menghampiri Tiong Li yang masih menangis, lalu mengangkatnya bangun. "Diamlah, anak yang baik. Yang mati tidak akan dapat hidup kembali oleh tangis. Kematian datang menjemput setiap orang, karena itu jangan di tangisi lagi. Mari pinceng bantu engkau menguburkan jenazah ayahmu dengan baik. Di manakah rumahmu? Kita dapat membawa jenazah ayahmu kembali ke keluargamu."

"Lo-suhu, ayah dan saya tinggal di dusun lereng bawah sana. Akan tetapi kami tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kami hanya hidup berdua."

"ibumu?"

"Sudah meninggal sejak saya masih kecil, lo-suhu."

"Aih, anak sekecil ini sudah yatim piatu. Kalau begitu, bagaimana baiknya? Apakah dikubur di sini saja?"

Anak itu mengangguk. Baginya sama saja ayahnya akan dikuburkan di mana karena dia sudah mengambil keputusan bulat bahwa dia akan ikut dengan hwe-sio tua Ini yang mampu mengusir raksasa hitam yang jahat tadi.

Kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Tiong Li terheran-heran . Dengan menggunakan sepotong kayu, bukan cangkul atau senjata tajam lainnya. kakek itu menggali tanah dan penggalian dengan menggunakan sepotong kayu itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga dalam sekejap saja sudah tergali sebuah lubang yang cukup besar dan panjang untuk menguburkan jenazah ayahnya!

Kakek itu lalu mengangkat Jenazah itu berikut kepalanya dan merebahkan ke dalam lubang dengan baik, Kemudian setelah kakek itu membaca doa untuk yang mati, lubang itu ditimbuni tanah oleh mereka berdua. Di atas gundukan tanah itu diletakkan sebuah batu panjang oleh si hwe-sio tua yang dengan mudahnya mengangkat batu yang belum tentu dapat diangkat empat orang laki-laki yang bertenaga besar.

Setelah itu, Tiong Li lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, "Lo-suhu, saya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, oleh karena itu perkenankanlah saya ikut dengan lo-suhu, menjadi murid lo-suhu," Dia berkata demikian sambil menangis.

"Omitohud, menolong orang tidak boleh setengah-setengah. Tanpa kau minta sekalipun, pinceng tidak akan menegakanmu. Anak yang baik, siapakah namamu dan siapa pula nama ayahmu?"

"Mendiang ayah bernama Tan Hok dan saya bernama Tan Tiong Li, lo-su-hu."

"Kalau begitu. di atas batu ini perlu dituliskan nama ayahmu agar kelak dapat menjadi peringatan bagimu." Hwe-sio tua itu lalu menggunakan jari telunjuknya, menggurat-gurat pada batu besar dan nampaklah huruf-huruf seperti dipahat saja dan berbunyi: KUBURAN TAN HOK.

"Marilah kita pulang, Tiong Li." kakek itu berkata dan dia menggandeng tangan anak itu. Segera Tiong Li merasa tubuhnya seperti terangkat dan meluncur dengan cepat mendaki puncak. Kakinya seolah tidak menyentuh tanah, akan tetapi tubuhnya meluncur cepat sekali seperti terbang dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak di mana dia bertemu dengan kakek tadi.

"Puncak ini merupakan tempat tinggal pinceng dan disebut Pek-hong sen- kok (Lembah Gunung Burung Hong Putih). Mulai sekarang engkau tinggal di sini bersamaku."

Demikianlah, mulai hari itu Tiong Li menjadi murid kakek itu yang tidak mempunyai nama, melainkan memakai nama puncak itu sebagai namanya, yaitu Pek Hong San-jin (Orang Gunung Hong Putih). Anak itu memang rajin dan tahu membawa diri. Biarpun masih kecil dia sudah membantu kakek itu dengan segala macam pekerjaan. Mencari kayu kering, memasak air, berkebun, memikul air dari sumber, membersihkan pondok kecil yang seperti gubuk itu, menyapu pekarangan.

Dan diapun tidak pernah mengeluh harus makan nasi dan sayur-sayuran sederhana saja. Dia tidak tahu dari mana kakek itu mendapatkan beras, hanya kadang kakek itu meninggalkan puncak sampai sehari lamanya dan pulangnya membawa segala bahan keperluan hidup mereka.

Akan tetapi dari hwe-sio tua itu Tiong Li mempelajari segala macam ilmu. Bukan saja dasar-dasar ilmu silat, melainkan juga Ilmu membaca dan menulis, bahkan setelah dia pandai membaca, dia mulai disuruh membaca kitab-kitab agama.

Beberapa tahun kemudian setelah Tiong Li memiliki dasar-dasar Ilmu silat, barulah gurunya mengajarkan ilmu silat. Ternyata kakek itu merupakan seorang ahli semua ilmu silat.

"Ilmu silat banyak ragamnya," demikian antara lain kakek itu menjelaskan, "namun pada dasarnya mempunyai sumber yang sama. Mempergunakan tenaga sedikit mungkin untuk menghaslikan daya serang sebanyak mungkin. Semua ilmu silat ditujukan untuk membela diri, dan dasar bela diri itu semua sama saja, hanya kembangannya yang berbeda sesuai dengan aliran masing-masing."

"Suhu, kalau Ilmu silat itu ditujukan untuk membela diri, mengapa ada Jurus-Jurus untuk menyerang?" Tanya Tiong Li.

"Membela diri bukan berarti bertahan saja. Menyerang dan merobohkan lawan juga merupakan bentuk bela diri. Akan tetapi, jangan sekali-kali menyerang orang yang tidak mengganggu kita atau jangan mendahului menyerang orang. Ilmu silat bukan dipelajari untuk melakukan kekerasan, bukan pula untuk mencari kemenangan, atau untuk menyembongkan diri. 0leh karena itu, di jaman dahulu, ilmu silat hanya dipelajari oleh orang-orang yang lemah, yang tertindas dan bertenaga keciI. Semua itu merupakan usaha untuk dapat membela diri dari penindasan mereka yang lebih kuat."

"Apalagi tujuan Ilmu silat selain untuk membela diri dari penindasan mereka yang sewenang-wenang, suhu?"

"Ilmu silat mengandung tiga unsur, Tiong Li. Pertama sekali, sebagaimana awal mulanya, ilmu silat adalah untuk menjaga kesehatan karena ilmu silat adalah olah raga yang baik sekali dan yang menyehatkan. Kedua, di dalam Ilmu silat dimasukkan unsur seni tari yang indah, yang sesuai dengan kelemasan dan kelincahan gerakan seorang manusia atau bahkan meniru gerakan hewan . Dan unsur ketiga adalah seni bela diri itulah."

"Akan tetapi, teecu (murid) melihat ada ilmu-ilmu sesat seperti yang dipergunakan oleh raksasa hitam dahulu, suhu. Apakah memang ada ilmu bersih dan ilmu kotor?"

"Semua ilmu asal mulanya datang karena ada anugerah Yang Maha Kuasa sebagai dayanya sang budi atau disebut budi-daya yang menjadi kebudayaan manusia. Tidak ada yang bersih dan tidak ada yang kotor. Barulah ilmu itu menjadi bersih atau kotor setelah dipergunkan manusia. Ilmu apapun kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itu menjadi sesat, Seperti halnya sebatang pisau, pisau itu tidak dapat disebut baik atau buruk, melainkan pisau waja saja. Setelah dipergunakan untuk bekerja di kebun atau di dapur, mengupas bahkan memotong sayuran maka pisau itu baik, akan tetapi kalau pisau itu dipergunakan untuk menyerang orang, melukai atau membunuh, maka pisau itu menjadi buruk. Sebetulnya yang jahat itu bukan pisaunya, bukan pula ilmunya, melainkan manusianya. Semua itu hanya alat, ilmu silatpun dianugerahkan kepada manusia untuk dijadikan alat, yaitu sebagai olah raga, sebagai seni tari dan sebagai seni bela diri. Kalau dipergurnakan untuk berbuat kejahatan, yang Jahat bukanlah ilmu silatnya, melainkan orangnya. Kau ingat golok yang dipegang oleh raksasa hitam dahulu itu? Golok itu adalah sebuah pusaka yang langka didapatkan, kalau tidak salah golok itu adalah Mestika Golok Naga yang tempatnya di gudang pusaka istana. Nah, biarpun mestika itu sebuah pusaka yang ampuh dan keramat sekalipun, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka tetap saja menjadi jahat sifatnya. Tergantung yang mempergunakannya. Kepintaran itu baik bagi manusia, akan tetapi bagaimana kalau kepintaran itu dipergunakan untuk menipu orang orang lain yang bodoh? "

Tiong Li mengangguk-angguk mengerti. Baru berusia belasan tahun dia sudah mendengar banyak sekali tentang kehidupan dari gurunya yang arif bijaksana.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Pencurian Mestika Golok Naga Itu menggegerkan kota raja. Terjadinya memang aneh sekali. Bukan pencurian biasa karena perbuatan itu dilakukan orang dengan terang-terangan. Seperti biasa, gudang pusaka itu dijaga siang malam oleh pasukan pengawal, tujuh orang banyaknya dan pengawal itu bukanlah perajurit biasa melainkan pengawal pilihan yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.

Akan tetapi pada malam hari itu, tahu-tahu pada keesokan harinya orang mendapatkan tujuh orang pengawal ini telah tewas semua dan di antara barang-barang pusaka yang demikian banyaknya, hanya sebuah saja yang hllang, yaitu Mestika Golok Naga.

Kaisar menjadi marah dan mengutus para ahli menyelidikinya. Para jagoan istana yang berilmu tinggi memeriksa mayat ke tujuh orang pengawal itu dan mereka mendapat kenyataan bahwa di antara para mayat ini terdapat tanda-tanda dengan ilmu apa mereka dibunuh. Ada yang terbunuh oleh pukulan Pek-lek-jlu (Tangan Geledek) yang mereka tahu merupakan ilmu pukulan dari Kun-lun-pai.

Ada pula yang terbunuh oleh senjata rahasia paku yang disebut Touw-kut-teng (Paku Penembus Tulang) yang biasa dipergunakan oleh para pendekar Butong-pai. Ada pula yang tewas karena pukulan Ang-se-ciang (Tangan Pasir Merah) dari Siauw-Lim-pai dan ada pula yang tewas karena pukulan Ilmu Tiat-ciang (Tangan Besi) dari Hoa-san-pai.

Tentu saja para jagoan Istana melaporkan hal ini kepada kaisar. Pada waktu itu Kerajaan Sung telah pecah berantakan oleh serangan Kerajaan Cin yang menyerang sampai ke kota raja Kai feng. Kaisar beserta seluruh keluarganya tertawan dan dibuang. Semua ini adalah akibat pengkhianatan Jin Kui yang bersekutu dengan Kerajaan Cin, sehingga Kerajaan Sung menjadi berantakan.

Akan tetapi, seorang pangeran adik Kaisar yang bernama Sung Kao Cung, berhasil melarikan diri dan tidak tertangkap oleh bangsa Yucen atau Kerajaan Cin dan Sung Kau Cung melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce.

Di selatan ini, Sung Kao Cung naik tahta dan Kerajaan Sung berdiri kembali dalam tahun 1127. Akan tetapi karena kekuasaan Kerajaan Sung hanya berada di sebelah selatan Sungai Yang-ce, maka kerajaan itu dinamakan Kerajaan Sung Selatan.

Daratan Cina kembali terpecah menjadi dua. Di sebelah utara Sungai Yang ce berkuasa Kerajaan Cin, dan di sebelah selatan sungai itu berkuasa Kerajaan Sung. Akan tetapi Kerajaan Sung Selatan ini amat lemah sehingga Kaisarnya terpaksa harus membayar upeti kepada Kerajaan Cin.

Memang tidak selamanya Sung Selatan tunduk. Ada kalanya terjadi pertempuran sengit antara kedua kerajaan itu. Akan tetapi dalam Kerajaan Sung Selatan, kekuasaan yang besar berada di tangan kaum tuan tanah yang tidak merasa berkepentingan untuk merebut daerah sebelah utara Sungai Yang-ce, maka pertempuran itu tidak pernah menjadi peperangan umum. Sebaliknya, Kerajaan Cin sendiri juga tidak memandang penting untuk merebut daerah Kerajaan Sung, karena daerah pertanian di selatan tidak menarik bagi mereka yang berasal dari Bangsa Nomad berkuda.

Yang terjadi adalah perang dingin. Dan yang lebih banyak mengadakan perlawanan kepada Bangsa Cin adalah orang-orang kang-ouw, para pendekar yang masih mendendam dan membenci bangsa Cin yang telah menguasai Kerajaan Sung dan memaksa kaisarnya pindah ke selatan sehingga Kerajaan Sung menjadi sebuah negara yang lemah dan nampaknya seperti sebuah pemerintahan yang mengungsi.

Para pendekar banyak yang seringkali bentrok dengan pasukan Cin di sepanjang perbatasan dan sepak terjang para pendekar ini kadang memusingkan Kerajaan Cin karena mereka banyak kehilangan anak buah yang terbasmi oleh para pendekar.

Dalam keadaan seperti itulah tiba tiba saja Mestika Golok Naga itu lenyap dicuri orang dalam gudang pusaka Istana Kerajaan Sung. Ketika Kaisar Sung Kao Cung mendengar bahwa ada tanda-tanda bahwa yang membuhuh para pengawal adalah orang-orang dari empat perkumpulan besar Siauw-lim-pai, Bu- tong-pai, Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, Kaisar menjadi marah. Kaisar mengutus para jagoannya membawa pasukan untuk mendatangi partai-partai itu.

Akan tetapi, para jagoan istana sendiri tidak percaya bahwa ke empat partai yang biasanya amat setia itu mencuri golok pusaka, dan mendatangi mereka bukan untuk melakukan penangkapan, melainkan mengajak mereka berunding membicarakan perkara pencurian itu.

Para ketua keempat partai persilatan itu berjanji akan berusaha mencari pencuri yang selain mencuri golok pusaka juga telah melakukan fitnah kepada nama perkumpulan mereka berempat. Mereka mengutus murid-murid pilihan mereka untuk menyebar dan melakukan penyelidikan, kalau perlu sampai ke sebelah utara Sungai Yang-ce-kiang.

Para ketua empat partai besar itu mengadakan pertemuan sendiri dan mereka terutama membicarakan murid-murid mereka yang menjadi tokoh kelas tiga, yang mengadakan pertemuan di Liong-san akan tetapi tidak pernah kembali.

Mereka lalu mengutus murid-murid lain menyusul ke sana dan mendapatkan empat orang murid itu telah tewas dan mayat mereka telah menjadi kerangka. Mereka mengenali mereka dari pakaian dan senjata-senjata mereka saja.

"Omitohud! Jelas ini tentu perbuatan si pencuri itu dan dia tentu bukan pencuri sembarangan. Di balik perbuatannya mencuri ini agaknya terkandung maksud yang lebih besar lagi. Pertama, untuk mengadu domba antara para partai dan Kerajaan Sung, dan kedua untuk membingungkan para tokoh partai itu sendiri agar saling tuduh dan terjadi perpecahan. Pendeknya, di balik pencurian golok pusaka itu terkandung maksud untuk semakin melemahkan Kerajan Sung," kata ketua Siauw-lim-pai "Yang jelas, orang yang mencuri golok pusaka itu adalah seorang yang ahli banyak macam ilmu dan dia lihai sekali."

"Kami mencurigai Bangsa Yu-ce yang berdiri di balik semua ini " Sambung ketua Butong-pai ketika keduanya mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah itu.

"Bangsa Yu-cen pertama-tama menjalin persahabatan dengan kerajaan Sung hanya ketika mereka hendak menundukkan Bangsa Khitan dan membutuhkan bantuan. Setelah mereka mengalahkan Bangsa Khitan, Kini mereka hendak menguasai Sung dengan berbagai cara."

"Benarlah demikian. Dahulu, Bangsa Khitan yang merupakan gangguan bagi kita, dan kini ternyata Bangsa Yu-cen setelah kita bantu mengalahkan Bangsa Khitan, menjadi pengganggu yang lebih kejam lagi. Di sepanjang perbatasan mereka selalu membikin kacau dan mengganggu rakyat jelata. Harapan kita satu-satunya terletak kepada... Jenderal Gak Hui yang berjaga di garis terdepan. Hanya Jenderal Gak itulah yang akan mampu menghancurkah Bangsa Yu-cen dengan Kerajaan Cin mereka!" kata pula ketua Siauw-lim-pai. Kalau hendak menemukan lagi golok pusaka itu, kita harus mencari kedaerah kekuasaan Cin di utara."

"Omitohud,. kata-kata to-yu benar. Mari kita kirimkan murid-murid kita masing-masing untuk mencari ke sana. Kalau kita tidak dapat menemukan golok itu, tentu Kaisar akan memandang kepada kita dengan curiga."

Apa yang dibicarakan kedua orang ketua partai besar ini memang sebenarnya. Pada waktu itu, terdapat seorang jenderal yang setia kepada Kerajaan Sung, yaitu Jenderal Gak Hui. Kalau saja kaisar menuruti kehendak jenderal ini yang bermaksud menghajar Bangsa Yucen dengan kekerasan, mungkin Kerajaan Sung tidak sampai jatuh.

Akan tetapi, Kaisar dipengaruhi oleh seorang Menteri bernama Jin Kui, seorang yang berjiwa pengkhianat sehingga Kaisar melarang Gak Hui untuk memukul pasukan Cin dan lebih suka mengeluarkan harta benda untuk membayar upeti kepada Bangsa Yu-cen.

Jenderal Gak Hui menjadi penasaran. Dia menghadap kaisar dan mengusulkan untuk membangun pasukan rakyat besar-besaran untuk merebut kembali daerah utara. Namun, Perdana Menteri Jin Kui membujuk Kaisar dengan alasan bahwa kalau gagasan Jenderal Gak Hui itu dilaksanakan, maka Kerajaan Sung akan hancur sama sekali. Dan celakanya, kaisar lebih percaya kepada Perdana Menteri Jin Kui sehingga Kaisar melarang Jenderal Gak Hui untuk mengadakan penyerbuan ke utara.

Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang amat setia, maka diapun menaati perintah kaisar dan menahan pasukannya di perbatasan, tidak bergerak maju lagi. Akan tetapi di mana terdapat pasukan Jenderal Gak Hui, daerah itu pasti aman dan tidak ada pasukan Cin berani mengganggu rakyat jelata. Oleh karena itu, nama Jenderal Gak Hui disanjung dan dipuja rakyat sebagai pembela dan pelindung rakyat jelata.

Demikianlah keadaan Kerajaan Sung pada waktu itu. Nampaknya saja aman tidak ada perang, akan tetapi sesungguhnya kerajaan ini selalu mengalah kepada Kerajaan Cin dan mengirim upeti, bahkan banyak pelanggaran dilakukan pasukan Cin di perbatasan. Hal ini membuat para pendekar menjadi dongkol sekali dan merasa terhina karena kedaulatan mereka terinjak-injak oleh Bangsa Yu-cen yang mereka anggap sebagai bangsa biadab dari utara.

Sang waktu meluncur dengan amat cepatnya dan sepuluh tahun telah lewat sejak Tiong Li menjadi murid kakek yang hanya dikenalnya sebagai Pek Hong San-jin. Dia telah menjadi seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun yang bertubuh seperti seorang pemuda dewasa saja. Tinggi tegap dengan dada yang bidang. Wajahnya yang sederhana itu tampan dan gagah dan semuda itu dia telah mempelajari banyak macam ilmu.

Bukan saja ilmu silat yang tinggi, melainkan juga ilmu baca tulis dan ilmu keagamaan yang membuatnya berpandangan jauh dan mendalam mengenai kehidupan.

Pada suatu sore, seperti biasa setelah selesai melakukan tugas pekerjaannya, Tiong Li berlatih silat seorang diri di pekarangan depan rumah. Mula-mula dia bersilat tangan kosong, gerakannya lambat dan mantap, akan tetapi setiap gerakan tangannya mendatangkan angin yang membuat daun-daun dan bunga-bunga di pekarangan itu bergoyang-goyang. Makin lama gerakannya menjadi semakin cepat sehingga akhirnya tubuhnya tidak nampak jelas dan hanya bayangannya saja yang berkelebat ke sana sini.

Ada seperempat jam dia bersilat tangan kosong, lalu menghentikan gerakannya. Ada sedikit keringat membasahi dahinya akan tetapi pernapasannya biasa saja, tidak terengah. Kemudian dia memungut sebatang kayu kering yang panjangnya seperti panjang pedang atau golok dan mulailah dia bersilat lagi, kayu itu dimainkan seperti orang memainkan sebatang golok. Membacok sana sini, menangkis dan menusuk.

Gerakannya seperti juga tadi, mula-mula lambat dan mantap, semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar kehijauan dari kayu yang dimainkannya. Seperempat jam kemudian dia berhenti lagi.

"Bagus, Tiong Li. Kulihat engkau sudah mendapat kemajuan!" terdengar teguran dan Tiong Li membalikkan tubuh, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya yang ternyata baru datang setelah sehari bepergian.

"Semua ini berkat bimbingan suhu kepada teecu (murid)," kata Tiong Li dengan suara mengandung rasa terima kasih.

"Bukan, melainkan berkat ketekunan dan kerajinanmu, juga karena engkau memiliki bakat yang baik sekali. Berterima kesihlah kepada Tuhan, Tiong Li Ketahuilah, bahwa manusia itu sebenarnya hanya sekedar alat yang dipergunakan Tuhan untuk melaksanakan kekuasaanNya. Oleh karena itu, yang pandai itu adalah Tuhan, yang kuasa adalah Tuhan. Manusia yang bijaksana selalu akan menyerah pasrah kepada kekuasaan Tuhan dan selalu berusaha untuk dapat menjadi alat yang baik sehingga dapat dipergunakan Tuhan."

"Akan tetapi, suhu. Bukanlah segala daya upaya itu usaha manusia? Untuk mempelajari sesuatu, bukankah manusia harus menggunakan pikirannya?"

"Omitohud, tidakkah engkau melihat bahwa yang dinamakan pikiran itupun pemberian Tuhan pula? Kita terlahir dengan sempurna, dengan segala peralatan yang serba lengkap, tentu dimaksudkan agar kita mempergunakan semua itu dengan sebaiknya. Adalah suatu kesombongan kosong kalau seseorang membanggakan dirinya sebagai yang pintar dan yang berkuasa. Manusia itu tanpa kekuasaan Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa. Baru mengatur tumbuhnya rambut sendiri saja tidak mampu! Bahkan tumbuhnya rambutnya pun diatur oleh kekuasaan Tuhan. Segala sesuatu ini diatur oleh kekuasaan Tuhan, karena itu, sudah semestinya kalau kita menyerah dengan tulus ikhlas kepada kekuasaanNya, Kalau kekuasaan Tuhan sudah menghendaki kita mati, sewaktu-waktu kita dapat saja mati tanpa ada apapun yang akan mampu mencegahnya"

Tiong Li menundukkan kepalanya dan pada saat itu dia merasa seolah semua bulu di tubuhnya bangkit berdiri. Terasa sekali olehnya bahwa hidupnya ini, luar dalam, dikuasai oleh kekuasaan Tuhan dan bahwa dia sesungguhnya adalah tidak memiliki kekuasaan apapun.

Keyakinan ini menebalkan imannya bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan, dan tugas manusia hanyalah berusaha sedapat-dapatnya. Kalau menghadapi bahaya, berusahalah untuk menghindar. Kalau sakit berusahalah untuk berobat sampai sembuh. Untuk keperluan hidup seperti makan pakaian dan tempat tinggal berusahalah untuk mendapatkannya dengan bekerja. Hanya itu tugas manusia. Berusaha sebaik mungkin. Ada pun bagaimana hasilnya, terserah kepada kekuasaan Tuhan yang mengaturnya.

"Suhu, harap jangan bicara tentang kematian, karena betapapun juga, teecu masih ingin melihat teecu dan suhu dalam keadaan sehat selamat."

"Omitohud... siapa takut akan kematian, berarti belum dapat mengambil sikap menyerah sebulatnya kepada kekuasaan Tuhan. Nah, bangkitlah, Tiong Li dan duduk di sini. Pinceng hendak menceritakan hal-hal yang menimbulkan perasaan tidak enak di hati pinceng. duduklah."

Mereka duduk di atas bangku yang berada di pekarangan itu. Setelah mereka duduk, Tiong Li bertanya, "Suhu pergi sejak pagi, kini pulang membawa berita apakah, suhu?"

"Berita yang buruk sekali, Tiong Li. Omitohud, apakah ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung akan lenyap dari permukaan bumi ini ? Ketahuilah, Jenderal Gak Hui yang menjadi tumpuan harapan rakyat untuk membebaskan mereka dari ancaman Bangsa Yu-cen, bukan saja diperintahkan menghentikan gerakannya dan bahkan dipanggil untuk pulang ke kota raja oleh Kaisar! Padahal, kalau pasukan Jenderal Gak Hui sampai ditarik mundur, berarti pertahanan di tapal batas akan menjadi lemah sekali dan pasukan Cin akan dengan mudah menyerbu ke daerah Sung."

"Akan tetapi, sebagai seorang panglima tentu saja Jenderal Gak Hui tidak dapat menolak perintah Kaisar."

"Itulah Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang setia lahir batin, tentu akan menaati semua perintah Kaisar, bahkan rela mengorbankan nyawa demi negara. Akan tetapi perintah kaisar itu sungguh aneh sekali. Jenderal Gak Hui amat dibutuhkan di garis depan, mengapa malah dipanggil pulang? Dan desas-desus yang pinceng terima mengkhawatirkan bahwa semua ini adalah ulah Perdana Menteri Jin Kui yang mempengaruhi Kaisar. Padahal bukan rahasia lagi bahwa Perdana Menteri Jin Kui adalah seorang yang licik bahkan mencurigakan, ada persangkaan bahwa dia bersekutu dengan pihak Bangsa Yu-cen!"

"Akan tetapi, kalau benar demikian, kenapa dia dipercaya oleh Kaisar, suhu?"

Itulah! Kaisar tidak percaya bahwa Perdana Menteri Jin Kui sesungguhnya adalah seorang menteri durna. Dia lebih percaya pada menteri yang khianat itu dari pada seorang panglima besar yang setia seperti Jenderal Gak Hui. Inilah sebabnya pinceng mengatakan bahwa barangkali semua Ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung sudah tiba saatnya untuk hancur dan lenyap dari permukaan bumi."

"Suhu, mengapa mengkhawatirkan sampai sedemikian jauhnya?"

"Banyak tanda-tandanya, Tiong Li. Dan engkau ingatlah selalu, sebagai seorang laki-laki sejati, pantanglah untuk menjadi seorang pengkhianat. Orang laki-laki harus tiga kali berbakti dalam hidupnya. Berbakti kepada Tuhan, Berbakti kepada Negara dan berbakti ke pada orang tua. Kalau satu di antaranya dilanggar, dia bukan laki-laki sejati. ingatlah semua ini, Tiong Li..."

"Teecu akan selalu mengingat dan menaati semua nasihat suhu."

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang bergelak dan nyaring sekali. "Ha- ha-ha-ha, kalau engkau laki-laki sejati, bersiaplah engkau untuk membuat perhitungan denganku, kakek tua bangka!"

Guru dan murid itu menengok. Ternyata di situ telah berdiri dua orang, yang seorang adalah raksasa hitam yang pernah mereka lihat sepuluh tahun yang lalu, yang memakai nama Si Golok Naga, dan orang kedua adalah seorang kakek yang kecil pendek dan demikian kurusnya sehingga seperti kerangka terbungkus tulang dan mukanya mirip tengkorak!

"Omitohud...! Engkau datang lagi, sobat. Sekarang apakah yang kau kehendaki?" tanya Pek Hong San-jin dengan sikapnya yang tenang sekali.

"Ha-ha-ha, apa lagi yang kukehendaki? Ini tentu bocah yang dulu kau selamatkan itu! Aku datang untuk membunuh kalian berdua!"

"Omitohud, sampai sekarang engkau belum juga menyadari kesesatanmu, Sobat?"

Akan tetapi Tiong Li tidak sesabar gurunya. "Si Golok Naga! Aku mengerti mengapa engkau hendak membunuh aku dan suhu. Aku telah melihat bahwa engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar itu dan aku telah mendengar bahwa engkaulah pencuri golok pusaka dari Istana! Engkau tidak ingin kenyataan semua itu tersiar, bukan? Engkau pencuri jahat, sudah mencuri masih hendak melempar fitnah kepada orang-orang lain..."

"Bocah keparat mampuslah!" bentak Si Golok Naga dan dia sudah menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cakar. Jari-jari tangan besar yang membentuk cakar itu berbahaya sekali. Kalau sampai cakar itu dapat mencengkeram kepala Tiong Li, tentu kepala itu akan remuk dan orangnya tewas!

Akan tetapi Tiong Li sekarang bukanlah anak berusia lima tahun seperti sepuluh tahun yang lalu. Dia telah menjadi seorang remaja yang amat lihai, maka cengkeraman itu dapat dihindarkannya dengan lompatan ke kiri. Ketika raksasa hitam itu mengejar dan menampar dengan tangan kanannya, Tiong Li menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

"Dukk!" Tubuh Tiong Li tergetar ke belakang akan tetapi si raksasa hitam itupun mundur dua langkah.

"Bagus, engkau agaknya telah memiliki sedikit kepandaian!" bentak raksasa hitam itu dan kini dia menyerang kalang kabut dengan pukulan-pukulan yang amat dahsyat.

Tiong Li melawan, mengelak, menangkis dan bahkan membalas memukul dengan tidak kalah dahsyatnya. Pemuda ini telah mempelajari ilmu silat tinggi dari kakek hwe-sio tua itu, dan juga sudah menghimpun tenaga sakti yang cukup kuat.

Pertandingan antara mereka berjalan dengan seru dan seimbang. Pek Hong San-jin yang ingin melihat kemajuan muridnya, sengaja tidak mau menolong muridnya andaikata muridnya terancam bahaya.

Si raksasa hitam merasa penasaran Sekali. Sampai dua puluh jurus sama sekali dia tidak mampu mendesak Tiong Li dan pertandingan berjalan seimbang. Dia tidak mau mempergunakan senjata karena merasa malu kalau harus bersenjata melawan seorang pemuda remaja yang bertangan kosong.

Akan tetapi, agaknya tengkorak hidup yang datang bersama Si Golok Naga itu tidak bersabar lagi, dua kali tangannya mendorong ke depan dan terdengar suara berciutan, Pek Hong San-jin sendiri terkejut melihat pukulan jarak jauh yang demikian hebat. Dia hendak menangkis, akan tetapi terlambat. Tiong Li tiba-tiba didorong oleh tenaga yang amat dahsyat dan dia terhuyung ke belakang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Si Goliok Naga untuk menghantamnya dengan tangan kiri yang tepat mengenai dada Tiong Li. Pemuda Ini terpental ke belakang dan roboh, tak dapat bergerak kembali dan pingsan.

Sementara Itu, Pek Hong San-jin sudah menangkis pukulan jarak jauh yang ke dua, juga dengan dorongan tangannya dan keduanya masing-masing tertolak ke belakang. Si tengkorak hidup mengeluarkan suara melengking tinggi dan dia lalu menyerang hwe-sio tua itu dengan pukulan-pukulan tangan terbuka yang mengeluarkan suara berciutan.

Akan tetapi hwe-sio tua itu mengimbanginya dengan dorongan-dorongan tangannya. Melihat kawannya sudah bertanding melawan hwe-sio tua itu dan si pemuda sudah roboh dan tentu tewas oleh pukulan tangan kirinya, raksasa hitam kini menerjang hwesio tua dan mengeroyoknya bersama si tengkorak hidup. Karena maklum akan kelihaian hwesio tua itu, si raksasa hitam telah mencabut goloknya yang nampak hebat, yaitu golok naga!

Hwe-sio tua itu bersikap tenang namun gerakannya cepat bukan main. Semua sambaran golok dapat dielaknya dengan mudah dan hal ini membuat si tengkofak hidup menjadi penasaran sekai . Dia terkenal sebagai seorang sakti, guru dari Golok Naga, dan sekarang dia harus mengeroyok hwe-sio itu berdua muridnya! Dengan pengerahan tenaga dia lalu mendorong dengan kedua telapak tangannya sambil mengeluarkan teriakan melengking.

"Hieeeeeehhhhhhh...!"

"Omitohud...!" Pek Hong San-jin berseru kaget dan dia menyambut dorongan kedua tangan si tengkorak hidup itu dengan tangannya. Tangan kanan itu bertemu dengan dua tangan si Tengkorak hidup dan melekat. Mereka saling dorong dan terjadilah adu kekuatan sin-kang yang menegangkan.

Melihat kesempatan baik ini, Si Golok Naga tidak mau menyia-nyiakannya dan diapun melompat ke depan, mengangkat goloknya tinggi-tinggi dan membacok ke arah kepala Pek Hong San-Jin.

Akan tetapi Pek Hong San jin menggerakkan tangan kirinya, mendorong ke arah penyerang itu dan sebelum golok mengenai kepalanya, lebih dahulu tubuh Si Golok Naga terkena dorongan tangan kiri itu dan dia terlempar sampai tiga tombak jauhnya dan jatuh berdebuk dengan keras. Ketika dia bangkit lagi, mukanya berubah pucat dan mulutnya menyeringai kesakitan...

Mestika Golok Naga Jilid 02

Musim Semi telah berusia satu bulan. Pegunungan Liong-san, dari kaki sampai ke puncak, nampak hijau karena semua tumbuh-tumbuhan berdaun dan berbunga, mendatangkan suasana yang sejuk segar.

Angin musim semi bertiup sepoi-sepoi menggerakkan padang rumput ilalang yang seolah menjadi lautan rumput yang bergoyang-goyang mengombak. Kalau orang berdiri di lereng tengah, melihat ke puncak Liong-san, akan nampak puncak itu muncul dari balik awan yang mengelilinginya, seolah puncak itu ter gantung pada langit dan di puncak itu masih nampak sebagian berwarna putih karena masih ada sisa salju. Kalau orang memandang ke bawah, akan nampak pemandangan yang teramat indahnya.

Kelompok-kelompok hutan diseling jurang yang curam, lalu di bawah sana nampak sawah ladang hijau menguning, dusun-dusun kecil dan padang-paaang rurnput. Segaris sungai berlenggak-lenggok seperti seekor naga menuruniy bukit, makin jauh semakin lebar.

Pagi itu udara amat cerahnya. Matahari pagi bersinar terang dan sejak pagi nampak kesibukan di sepanjang lereng itu. Burung-burung beterbangan sambil berkicau saling sahutan, binatang-binatang kecil seperti tupai dan kelenci sudah keluar mencari makan.

Kekuasaan Tuhan nampak di mana-mana, memberi kehidupan dan kebahagiaan kepada apa dan siapa saja yang dapat menerimanya. Berkah Tuhan berIimpahan, tak pernah kurang, kepada semua mahluk, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Selalu ada tersedia untuk menyambung kehidupan atau untuk me nikmati kehidupan.

Air, hawa udara, sinar matahari, tak pernah habis-habisnya menghidupi semua yang ada di permukaan bumi ini. Kekuasaan Tuhan berada di dalam mata kita yang membuat kita dapat melihat segala sesuatu yang nampak. Kekuasaan Tuhan terdapat di dalam pemandangan alam semesta yang amat indahnya. Kita tinggal membuka mata melihatnya untuk dapat menikmati semua itu.

Namun sungguh sayang. Kadangkala kita tidak melihat semua keindahan itu.'Butakah kita? Mata badan kita tidak buta, akan tetapi mata batin kita yang buta. Batin kita dipenuhi segala macam persoalan, disibukkan segala macam masalah yang dibuat oleh pikiran kita sendiri sehingga biarpun mata kita terbuka, kita tidak dapat melihat betapa Kekuasaan Tuhan bekerja dan hasilnya terbentang luas di depan mata kita.

Lihatlah awan yang berarak di seputar puncak itu. Betapa ajaibnya. Lihatlah ujung-ujung ranting penuh daun itu yang menari-nari ditiup angin. Betapa menakjubkan. Rasakanlah mengalirnya hawa sejuk segar itu ke dalam paru paru kita. Betapa nikmat dan segarnya.

Dengarlah kicau burung, dendang percik air sungai, bisikan rumput ilalang digerakkan angin. Betapa merdunya. Namun semua itu lenyap, lewat begitu saia di depan mata, di depan telinga, di depan panca indera kita yanq secang sibuk sendiri oleh hati akal pikiran yang menumpuk masalah. Berbahagialah orang yang dapat menikmati itu semua.

Hidup adalah berkah. hidup adalah nikmat, hidup adalah bahagia. Hampir semua orang di dunia ini mengejar-ngejar atau mencari kebahagian dengan berbagai cara, bahkan ada cara menyiksa diri untuk mencari kebahagiaan! Padahal, kalau kita simak, mengapa kita mencari kebahagiaan? Mengapa kita mendambakan, membutunkan kebahagiaan?

Jawabannya hanya satu, Yakni bahwa kita mencari kebahagiaan karena kita MERASA tidak berbahagia. Bukankah demikian halnya? Kita mendambakan kebahagiaan karena kita merasa tidak berbahagia.

Kebahagiaan adalah suatu keadaan hati perasaan. Kalau dalam keadaan tidak berbahagia kita mencari ke bahagiaan, mungkinkah kita akan dapat nenemukannya? Tidakkah yang lebih penting kita menyelidiki, apa yang menyebabkan kita tidak berbahagia itu ? Kalau sebab yang membuat kita tidak berbahagia itu tidak ada lagi, Perlukah kita mencari kebahagiaan? Tentu saja tidak perlu lagi, kita tidak butuh bahagia lagi karena kita SUDAH berbahagia!

Sama halnya dengan kesehatan. Dalam keadaan sakit mengejar-ngejar kesehatan jelas tidak mungkin. Kesehatan adalah suatu keadaan badan. Kalau sebab yang membuat kita sakit atau tidak sehat itu sudah hilang, kita tidak membutuhkan kesehatan lagi karena kita sudah sehat! Akan tetapi seperti juaa kesehatan, kebahagiaan tidak dirasakan oleh kita, Kalau kita sehat, apakah kita merasa sehat ? Kita baru merasa membutuhkan kesehatan begitu kita sakit .

Demikian pula dengan kebahagiaan. Kita tidak merasakan betapa Tuhan menciptakan kita dengan sempurna, betapa kebahagiaan sudah ada pada diri kita, namun kita baru merasakan kalau ada sesuatu yang mengganggu sehingga kita merasa tidak berbahagia. Terpujilah Tuhan Maha Kasih. BerkahNya sudah berlimpahan. Tinggal kita mampu untuk menerimanya atau tidak!


Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo
Di puncak Liong-san (Gunung Naga) yang dingin itu, yang dari lereng nampak dikelilingi awan dan sunyi senyap itu, pada pagi hari itu tidaklah sunyi. Di puncak yang datar dan penuh batu besar itu nampak empat orang sedang duduk bersila saling berhadapan, dan mereka itu nampaknya sedang berbantahan.

"Sian-cai...!" Seorang di antara mereka, seorang tosu (pendeta agama To) berseru.

"Kami dari Hoasan-pai selalu mempertanggung-jawabkan perbuatan kami. Kalau kami yang mengambil golok mestika itu, pasti akan kamu akui! akan tetapi pinto (aku) berani memastikan bahwa perbuatan itu tidak dilakukan oleh seorang di antara kami!" Tosu ini adalah Thian Seng Cu, seorang tokoh dari partai Hoa-sanpai, seorang tosu yang terkenal lihai berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh tinggi kurus.

"Kalau ada seorang di antara para pengawal itu tewas karena pukulan Tiat ciang (Tangan Besi). Itu pasti ada orang lain yang mencuri ilmu perkumpulan kami dan menggunakannya. Kami tidak akan pernah mempergunakan Tiat-ciang untuk membunuh orang dan mencuri golok mestika!"

"0mitohud...!" Seru seorang hwesio yang gemuk, berusia sekitar lima puluh tahun Juga. "Apa yang diucapkan Thian Seng Cu Tosu adalah suara hati pinceng Juga! Seorang pengawal telah tewas dengan pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah), akan tetapi pinceng berani tanggung bahwa pukulan itu tidak dilakukan oleh seorang murid Siauw lim-pai. Murid Siauw-lim-pai tidak akan mencuri golok mestika dari gudang pusaka istana!" Hwesio itu bernama Tek Hwat Hwe-sio, seorang tokoh Siauw lim-pai tingkat tiga.

O-ho...!" Seorang di antara mereka, yang barpakaian seperti seorang sasterawan, berseru nyaring. "Kalau Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai tidak mengambil golok mestika itu, apakah ada yang menyangka bahwa Butong-pai mengambilnya? Kami juga bukan golongan pencuri yang suka mencuri golok mestika. Biarpun di antara para pengawal ada yang tewas karena senjata rahasia Touw-kut-teng, namun aku berani tanggung bahwa itu bukanlah perbuatan murid Butong-pai!"

Orang berpakaian sasterawan ini adalah Kiang Cun, seorang tokoh Butong-pai yang lihai pula. Usia nya empatpuluh tahun lebih dan tubuhnya sedang saja, hanya sepasang matanya yang menarik perhatian karena tajamnya seperti mata elang.

"Sian-cai...! Di antara kita memang tidak mungkin ada yang mencuri golok mestika itu. Kami dari Kun-lun-pai juga tidak pernah mencurigai perkumpulan sam-wi (anda bertiga), seperti juga kami tidak tahu menahu tentang lenyapnya golok mestika. Kematian seorang pengawal akibat pukulan Pek-lek-jiau (Tangan Geledek) bukan merupakan bukti bahwa murid kami yang melakukannya. Setiap ilmu yang sudah dipelajari oleh ratusan orang murid, bisa saja bocor keluar dan dipelajari oleh orang lain, lalu dipergunakan untuk melakukan fitnah kepada kami! Justeru kami mengundang sam-wi berkumpul di Liong-san ini untuk membicarakan urusan itu, bukan saling menuduh, Pencuri telah mempergunakan ilmu-ilmu dan senjata rahasia kita untuk membunuhi para pengawal. Berarti perkumpulan kita berempat yang difitnah. Sudah menjadl kewajiban kami untuk menyelidiki dan menangkap pencuri yang melempar fitnah kepada perkumpulan kami berempat itu!"

"Hemm, benar sekali apa yang dikatakan Ciong-tosu!"

Orang yang disebut Ciong-tosu itu adalah seorang tosu dari Kun-lun-pai, tubuhnya tinggi besar dan jenggotnya panjang sampai ke dada, nampaknya gagah sekali dalam usianya yang 1imapuluh tahun.

"Karena itu, pinto harap agar kita semua pulang keperkumpulan masing-masing dan mengerahkan para anggauta untuk melakukan penyelidikan. Menyelidiki si pencuri memang tidak mudah, maka jalan satu-satunya adalah mencari golok mestika itu. Dan satu-satunya cara untuk memancing si pencuri adalah mengabarkan bahwa golok mestika yang dicurinya itu adalah palsu!"

Tiga orang yang lain mengangguk-angguk setuju. Pada saat itu terdengar suara orang tertawa bergelak dan sinar hitam halus menyambar ke arah mereka. Semua orang mengelak dari sambaran senjata rahasia ini, kecuali Kiang Gun, tokoh Butong-pai itu. Dia menggunakan dua jari tangannya menjepit dan menangkap senjata rahasia itu,

"Touw kut-teng (Paku Penembus Tulang)!" Serunya kaget mengenal senjata rahasia dari perkumpulannya.

"Kurang ajar, siapa menggunakan Touw-kut-teng?"

Semua orang berloncatan dan membalikkan tubuh ke arah dari mana datangnya sambaran senjata rahasia itu. Mereka melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan bermuka hitam, telah berdiri tak jauh dari tempat mereka dan bertolak pinggang sambil tertawa bergelak.

Kiang Cun melangkah ke depan dan menegur dengan suara lantang, "Siapa engkau berani menggunakan senjata rahasia Touw-kut-teng kami?"

"Ha-ha-ha! Selain Touw-kut-teng, akupun pandai menggunakan Tiat-ciang dari Hoa-san-pai, Ang-see-ciang dari Siauw-lim-pai, dan Pek-lek-jiau dari Kun-lun-pai. Ha-ha-ha-ha!"

Siapa raksasa muka hitam itu congkak sekali. Wajahnya memang menyeramkan. Kepalanya botak, rambutnya yang jarang itu kaku seperti kawat, demikian pula jenggot dan kumisnya, kaku bercampur uban. Alisnya tebal, matanya besar dan terbelalak, hidungnya besar dan mulutnya lebar. Segala anggauta tubuh orang ini nampaknya besar dan tebal, tubuhnya yang tinggi besar itu kokoh kekar seperti batu karang.

Mendengar ucapan orang itu, empat tokoh partai besar itu terbelalak kaget dan hampir berbareng mereka berseru, "Pencuri golok mestika...!!"

Ciong-tosu, tokoh Kun-lun-pai, melompat ke depan menghadapi raksasa itu. Dia menudingkan telunjuknya ke arah raksasa itu sambil membentak, "Kiranya engkau pencuri golok mestika dan telah melempar fitnah kepada kami! Sekarang berhadapan dengan kami, sebaiknya engkau menyerah untuk kami tangkap dan kami hadapkan ke kota raja!"

"Ha-ha-ha, engkau Ciong-tosu dari Kun-lun-pai, bukan? Kalau aku takut kepada kalian, perlu apa aku keluar menemui kalian di sini?"

"Sian-cai...! Manusia sombong katakan siapa namamu!" kata Ciong-tosu marah.

"Apa perlunya aku memperkenalkan nama kalau kalian semua akan mati? Ha-ha-ha!" Dia menggerakkan tangan kanan dan...

"Singggg...!!i" sebatang golok yang berkilauan telah dicabut dari balik bajunya yang longgar. Mudah sekali, dikenal golok yang terdapat ukiran Naga itu, dan indah sekali. Itulah tentunya Mestika Golok Naga yang telah dicuri dari gudang pusaka istana!

"Sebut saja aku Si Golok Naga, ha-ha-ha!"

Ciong-tosu semakin marah. Dia mencabut pedangnya dan membentak nyaring, "Manusta sombong, lihat pedang!"

Dan diapun menyerang dengan tusukan kilat bertubi-tubi karena dia menggunakan jurus maut Liong-li-coan-ciam. (Liong-li Menusuk Dengan Jarum). Jurus ini dahsyat sekali dengan pedang menusuk bertubi-tubi ke arah tiga belas-jalan darah di bagian depan tubuh lawan.

Akan tetapi raksasa hitam itu sambil tertawa bergelak memutar goloknya dan terdengar suara berdencing nyaring dari pertemuan kedua senjata itu yang mengakibatkan Ciong-tosu terhuyung! Semua tokoh itu terkejut. ilmu kepandaian Ciong-tosu dari Kun-lun-pai itu sudah cukup tinggi, akan tetapi dalam segebrakan saja dia sudah terhuyung.

Para tokoh empat partai itu adalah tokoh-tokoh kelas tiga, kepandaian mereka sudah tinggi maka mereka juga segan untuk melakukan pengeroyokan dan tadi ketika Ciong-tosu maju, merekapun hanya menjadi penonton.

"Ha-ha-ha, dengan kepandaian serendah itu engkau hendak menangkap Si Golok Naga? Ha-ha-ha, kalian berempat majulah semua, agar lebih cepat dan lebih mudah aku membunuh! kalian!" tantang si raksasa dengan siapa sombong.

Empat orang tokoh itu. kini tidak pantang untuk maju bersama karena mereka ditantang dan juga jelas bahwa Ilmu kepandaian raksasa itu tinggi sekali sehingga kalau mereka maju satu demi satu, tak mungkin mereka akan mampu menandinginya. Kiang Cun, tokoh Butong-pai mencabut pula pedanqnya, Thian ceng Cu tokoh Hoa-san-pai juga mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya dan Tek Hwat Hwe-sio dari Siauw-Iim-pai maju dengan tangan kosong karena hwesio ini selain tidak membawa senjata, juga ujung kedua lengan bajunya dapat menjadi senjata yang ampuh.

Raksasa hitam yang menggunakan julukan Si Golok Naga itu masih tertawa, amat memandang rendah empat orang lawan yang sudah mengepungnya, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara menggerang seperti harimau dan empat orang itu terkejut sekali karena mereka merasa betapa Jantung mereka terguncang dan mereka terhuyung.

Pada saat itu, Si Golok Naga menggerakkan goloknya dengan dahsyat. Golok itu berubah menjadi gulungan sinar terang dan mengeluarkan suara angin menderu-deru. Empat orang tokoh partai besar itu makin terkejut lagi Samar-samar mereka mengenal ilmu golok itu seperti ilmu golok Ngo-houw-toan-bun-to (Ilmu Golok Lima Harimau Menjaga Pintu), akan tetapi gerakan itu memiliki perkembangan yang aneh dan juga kokoh kuat sekali.

Mereka segera menggerakkan senjata menyerang dari empat jurusan. Tek Hwat Hwe-Sio menggerakkan kedua tangannya yang didahului oleh sepasang ujung lengan bajunya, gerakannya mengandung tenaga sinkang dan mendatangkan angin menyambar-nyambar.

Pedang Kiang Cun tokoh Bu tong-pai juga bergerak cepat dan indah seperti yang menjadi keistimewaan Ilmu pedang Butong-pai. Demikian pula Ciong tosu sudah menyerang lagi dengan pedangnya dan Thian Seng Cu dari Hoa-San-pai memainkan siang-kiamnya dengan cepat.

Biarpun dikeroyok oleh ampat tokoh partai besar yang berilmu tinggi, namun raksasa hitam itu sama sekali tidak takut. Dia masih dapat tartawa-tawa ketlka golok di tangannya membantuk benteng sinar yang menghalau semua serangan empat orang itu.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat. Biarpun tingkat kepandaian Si Golok Naga itu jauh lebih tinggi, akan tetapi karena empat orang tokoh itu maju bersama, mereka dapat menandingi juga dan pertandingan itu terjadi dengan hebatnya.

Sejak tadi, seorang laki-laki tengah tua berusia empatpuluhan tahun bersama seorang anak laki-laki. berusia lima tahun mendekam di balik semak belukar dengan tubuh gemetaran karana takut. Laki-laki itu seorang penduduk dusun yang pekerjaannya di samplng bertanl, juga kadang kala memburu binatang untuk penambah penghasilannya yang sederhana.

Orang itu bernama Tan Hok, dan puteranya bernama Tan Tiong Li. Pada hari itu, tidak seperti biasanya, Tan Hok mengajak puteranya untuk mendaki ke puncak karena sejak tadi mereka tidak menemukan binatang buruan di lereng.

Ketika mereka melihat di puncak ada orang-orang aneh, mereka lalu bersembunyi karena takut. Apa lagi ketika muncul raksasa hitam yang kini bertanding dengan empat orang tokoh partai besar itu. Mereka menjadi ketakutan dan mendekam di balik semak belukar dengan tubuh gemetar.

Pertandingan itu sudah mencapai puncaknya ketika Si Golok Naga mengubah ilmu goloknya yang kini menyambar-nyambar bagaikan kilat. Empat orang pengeroyoknya berusaha untuk melindungi dirinya masing-masing, akan tetapi sia sia belaka. Golok Naga itu menyamba dahsyat, mengeluarkan bunyi berdesingan mengerikan dan robohlah Tek Hwat Hwe-sio yang pertama kali kena disambar sinar golok sehingga dadanya terluka lebar dan dia roboh dan tewas seketika!

Tiga orang rekannya menjadi merah dan mengamuk, akan tetapi belum lewat lima jurus, Ciong-tosu dari Kun-lun-pai juga roboh dan tewas dengan leher hampir putus!

Tan Hok dan anaknya menjadi semakin ketakutan melihat robohnya dua orang dengan darah muncrat mengerikan itu. Tan Hok segera menangkap tangan puteranya diajak bangkit dan melarikan diri dari tempat itu .

Gerakan mereka terlihat oleh Si Golok Naga, akan tetapi karena masih menghadapi dua orang pengeroyok Si Golok Naga melanjutkan amukannya dan berturut-turut Kiang Cun dan Thian Seng Cu juga roboh dan tewas.

Si Golok Naga tertawa bergelak dan ketika terlihat akan ayah dan anak yang tadi bersembunyi dan melarlkan diri, dia segera melompat dan melakukan pengejaran .

"Hei...!! kalian berdua, berhenti!" teriak Si Golok Naga ketika melihat dua orang itu sudah berlari cukup jauh, dilereng puncak bukit di depan.

Mendengar teriakan yang amat nyaring itu, Tan Hok semakin panik. Dia lalu mendorong puteranya agar naik ke puncak bukit itu dan berkata, "Naiklah kau ke puncak itu dan bersembunyi di sana! Aku akan memancing dia agar mengejar ke jurusan lain!"

Tan Tiong Li memang baru lima tahun akan tetapi dia seorang anak yang cerdik sekali. Dia sudah dapat mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya, maka diapun mendaki puncak itu seorang diri sedangkan ayahnya sengaja berlari ke padang rumput agar dapat nampak oleh pengejarnya. Ayah ini tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri. Baginya, yang terpenting adalah keselamatan anaknya.

Usaha pancingannya berhasil. Si Golok Naga melihat dia lari melintasi padang rumput segera melakukan pengejaran. Tak lama kemudian Tan Hok dapat tersusul dengan mudah dan tanpa banyak cakap lagi Si Golok Naga menggerakkan goloknya dan putuslah leher Tan Hok Dia roboh dan kepalanya menggelinding jatuh dari tubuhnya.

Si Golok Naga memandang ke kanan kiri. "Ehh, tadi dia bersama seorang anak kecil. Ke mana perginya anak itu? Celaka dia akan menjadi saksi yang merugikan. Aku harus dapat menemukan dan membunuhnya!" katanya seorang diri dan melihat di depan terdapat puncak itu, dia lalu mendaki puncak dengan golok di tangan. Dia merasa yakin bahwa anak itu tentu menyembunyikan diri di puncak itu.

Dengan napas terengah-engah Tan Tiong Li dapat tiba di puncak bukit itu. Dia lelah sekali dan kehabisan napas, maka ketika tiba-tiba dari balik batu besar itu muncul seorang-manusia, dia begitu terkejut dan ketakutan sehingga tubuhnya terguling dan dia sudah berlutut sambil menangis.

Dua tangan dengan lembut menariknya bangun dan Tiong Li melihat bahwa orang itu bukanlah raksasa hitam yang tadi mengejar dia dan ayahnya, melainkan seorang hwesio tua yang berjubah kuning. Hwesio tua itu tersenyum kepadanya.

"Omitohud... seorang anak kecil mendaki puncak seorang diri. Anak yang baik, siapakah engkau dan kenapa engkau berlari-lari ke tempat ini?"

"Lo suhu... saya dikejar-kejar seorang raksasa hitam yang hendak membunuh saya..."

Hwesio itu masih tersenyum, "Raksasa hitam? Di mana ada raksasa hitam, anak yang baik? Engkau mengkhayal barangkali."

"Tidak, lo-suhu. Sungguh raksasa itu telah membunuh banyak orang di puncak sana dengan goloknya. Mengerikan. Dia lalu mengejar ayah dan saya..."

"Ayahmu? Mana ayahmu?"

"Ayah berlari ke arah lain agar raksasa itu tidak mengejar saya. Tolonglah, lo-suhu..."

Kini hwe-sio itu tidak tersenyum lagi melainkan mengerutkan alisnya karena dia mulai percaya bahwa anak ini tidak berbohong dan tidak berkhayal. Dia lalu memandang ke bawah puncak dan pada saat itu dia melihat seorang laki laki tinggi besar bermuka hitam membawa sebatang golok yang berkilauan sedang berlari cepat mendaki puncak itu.

"Omitohud... agaknya semua ceritamu benar, anak baik. Jangan takut, pinceng akan melindungimu dari raksasa hitam itu."

Sementara itu, Si Golok Naga dengan penasaran mendaki untuk mencari anak yang hilang itu. Anak itu harus mati! Tidak seorangpun yang menyaksikan apa yang terjadi di puncak sana tadi boleh hidup. Akhirnya dia tiba di puncak dan melihat anak itu berlutut di depan seorang hwesio tua renta. Dia menyarungkan goloknya dan tertawa.

"Ha-ha-ha, bocah setan, kiranya engkau bersembunyi di sini!" Tangannya yang panjang itu dijulurkan ke depan hendak mencengkeram Tiong Li. Akan tetapi tangan itu bertemu tangan lain yang lembut.

"Omitohud, hendak kau apakan anak ini, sobat?"

Si Golok Naga mengerutkan alisnya yang tebal ketika merasa betapa gerakan tangannya tertahan. "Hemm, Jangan ikut-ikut, hwesio tua. Jangan mencampuri urusanku dan serahkan anak itu ke padaku!"

"Engkau belum menjawab pertanyaan ku, sobat. Hendak kauapakan anak ini?"

"Persetan, keparat! Anak itu harus mat! ditanganku!" bentak raksasa hitam itu.

"Omitohud, siapa yang berbuat jahat terhadap orang yang tidak bersalah atau berdosa, maka kejahatan itu akan berbalik menimpa dirinya sendiri, bagaikan menebarkan debu melawan arah angin yang akan berbalik menimpa yang menebarkannya." Hwe-sio itu mengucapkan pelajaran agama Buddha dengan suara yang lantang namun lembut mengingatkan.

"Hwe-sio tua, kalau engkau banyak cakap lagi, engkaupun akan kubunuh! Serahkan anak itu!"

Kembali hwe-sio tua itu menjawab dengan ayat-ayat dalam pelajaran agama Buddha. "Dia yang melaksanakan kehendaknya dengan jalan kekerasan tidaklah benar. Bijaksanalah dia yang menimbang antara yang salah dan yang bernar."

Ketika raksasa hitam itu nampak semakin marah, hwe-sio tua itu berkata lagi, "Anak ini bukan apa-apamu, dan sudah lari ke sini mencari perlindungan kepada pinceng. Pinceng harap engkau orang gagah suka memandang muka pinceng dan tidak mengganggunya lagi."

"Hwe-sio yang bosan hidup. Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku enggan membunuhmu karena engkau seorang pendeta dan tidak mempunyai urusan apapun denganku. Akan tetapi anak ini harus mati di tanganku. Hyaaaattt...!"

Dia lalu mengirim pukulan maut dengan tangan kanannya ke arah kepala anak itu, Pukulan itu hebat dan dahsyat bukan main. Jangankan sampai kepalan itu, baru angin pukulannya saja sudah dapat membunuh orang karena hawa sin-kang yang keluar dari gerakan pukulan itu.

"Plakk!" kepalan kanan yang besar dan keras itu bertemu telapak tangan yang lunak halus seperti telapak tangan kanak-kanak. Dan pukulan itu terhenti dan tenaganya seolah amblas masuk ke dalam air. Si raksasa hitam merasa seperti memukul agar-agar atau air saja.

Tentu saja dia terkejut dan cepat menarik kembali tangannya dan memandang hwe-sio tua yang tidak dikenal nya itu. Kini baru dia menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang yang sakti!

"Omitohud, sadarlah, sobat. Lalang merupakan bencana bagi ladang padi dan kebencian adalah bencana bagi kemanusiaan, karena itu persembahan yang disajikan kepada mereka yang bebas dari kebencian mendatangkan pahala besar. Sobat yang baik, kekerasan hanya akan mendatangkan kehancuran bagi dirimu sendiri, ingatlah itu."

Si raksasa hitam yang baru saja dengan mudahnya membunuh empat orang tokoh partai besar, tentu saja tidak mendengarkan semua peringatan hwe-sio tua itu. Dia sudah mencabut goloknya yang baru saja minum darah lima orang itu, golok yang sebulan lalu dicurinya dari gudang pusaka Istana, yaitu Mestika Golok Naga.

Begitu mencabut golok itu, si raksasa hitam lalu menyerang dengan bacokan ke arah kepala hwe-sio tua itu Golok menyambar dengan suara berdesing, cepat dan kuat bukan main. Akan tetapi hwe-sio itu hanya menyebut, "Omitohud...!" dan sedikit membungkukkan tubuhnya, golok itu luput. Si raksasa hitam menjadi penasaran dan semakin marah. Serangannya lalu dilanjutkan dengah bacokan-bacokan lain yang lebih kuat lagi.

Akan tetapi, dia merasa seperti membacok bayangan saja. Betapapun cepatnya dia menggerakkan goloknya, namun bacokannya tidak pernah mengenai sasaran, seolah tubuh kakek itu sudah tergeser lebih dulu, terdorong angin serangannya, seperti orang menyerang sehelai bulu yang amat ringan. Karena kakek itu terus menerus mengelak, raksasa hitam itu mendapat akal. Yang penting baginya adalah membunuh anak itu karena anak itu yang tadi menyaksikan pertemuannya dengan empat orang tokoh partai besar.

Maka tiba-tiba saja dia membalik dan kini goloknya menyambar ke arah anak yang masih berlutut. Akan tetapi golok itu tertahan di udara! Ketika dia mengangkat muka memandang, ternyata goloknya sudah dijepit dua buah jari tangan kakek itu.

Cepat dia membalik dan menggerak kan goloknya, akan tetapi tiba-tiba tangannya tak dapat digerakkan lagi karna secepat kilat kakek itu telah menotok bawah lengannya, membuat lengan itu lumpuh seketika. Ketika dia hendak menggerakkan tangan kirinya, kakek melanjutkan dengan totokan satu jari yang amat dahsyat, dalam sekejap mata saja tiga jalan darah terpenting di tubuhnya telah tertotok dan dia tidak dapat bergerak lagi seperti sebuah patung!

"Omitohud...! Sobat, mulai hari ini, sadarlah dan kembalilah ke jalan benar. Kalau engkau melanjutkan kejahatanmu, maka kejahatan itu akan menyeretmu ke lembah kesengsaraan yang amat hebat. Nah, pergilah!"

Dia menepuk pundak raksasa hitam itu dan tubuh itu terhuyung ke belakang akan tetapi dia telah mampu bergerak kembali. Kini yakinlah si raksasa hitam bahwa dia tidak akan mampu menandingi hwe-sio tua itu, maka diapun melompat pergi dengan cepat.

"Nah, sekarang pembunuh itu telah pergi. Marilah kita cari ayahmu, anak yang baik," kata hwe-sio tua itu sambil menggandeng tangan Tiong Li. Mereka menuruni puncak dan tak lama kemudian mereka berdua sudah menemukan tubuh Tan Hok yang sudah menjadi mayat dengan kepala terpisah.

"Omitohud...!" Hwe-sio tua itu merangkap kedua tangannya dan melihat Tiong Li menjerit dan menangis, berlutut memeluki tubuh ayahnya yang telah menjadi mayat. Hwe-sio tua itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Omitohud, bagaimana dunia dapat menjadi tempat yang damai kalau nafsu dan kekerasan merajalela menguasai hati manusia...?"

Mestika Golok Naga Jilid 01