Social Items

SETELAH percaya benar kepada Ceng Ho Hwe-shio, Tiong Li dan Siang Hwi dengan terus terang menceritakan pengalaman mereka dan maksud mereka memasuki wilayah Kin.

"Lo-suhu, saya adalah orang yang difitnah oleh Perdana Menteri Jin Kui, di tuduh menculik puteri Sung Hiang Bwee sehingga di Kerajaan Sung saya menjadi buruan pemerintah yang hendak menangkap saya sebagai seorang pemberontak. Kemudian saya mendengar bahwa sebetulnya yang menculik sang puteri adalah kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui sendiri, dan sang puteri diserahkan kepada Panglima Wu Chu sebagai hadiah. Oleh karena itulah maka kami datang ke sini untuk membuktikan apakah benar sang puteri berada di sini dan kalau mungkin saya akan menolongnya untuk dikembalikan ke kota raja sehingga nama saya dapat menjadi bersih, dan ke kejaman dan pengkhianatan Perdana Menteri Jin Kui dapat terbongkar."

"Omitohud! Perdana Menteri Jin Kuj adalah seorang yang amat jahat dan licik. Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa dan setia itu sampai tewas secara sia-sia hanya karena kelicikan Perdana Menteri Jin Kui itu. Andai kata engkau dapat menolong sang puteri keluar dari sini dan kembali ke kota raja Hang-couw, bagaimana engkau dapat menuduhnya? Tidak ada bukti bahwa yang menculik adalah orangnya. Engkau harus berhati-hati sekali berhadapan dengan orang macam Jin Kui itu, orang muda."

"Biarpun begitu, saya harus menolong sang puteri. Dengan kesaksian sang puteri bahwa saya bukan penculiknya, nama saya akan dapat dibikin bersih, tidak lagi dicap sebagai pemberontak. Akan tetapi saya tidak tahu dengan pasti, apakah berita yang saya terima itu benar bahwa sang puteri berada di tempat tinggal Panglima Wu Chu?"

"Pin-ceng juga mendengar bahwa Panglima Besar Wu Chu menerima hadiah seorang puteri kaisar. Dan dari keluarga wanita panglima itu yang bersembahyang di sini, pinceng mendengar bahwa sang puteri menolak dijadikan selir panglima itu, dan karenanya sekarang masih menjadi orang tahanan."

"Di rumah panglima itu?"

"Tentu saja, karena tahanan itu merupakan tahanan istimewa, agaknya untuk membujuk agar sang puteri mau menjadi selirnya."

Tiong Li mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, dia harus menyelidiki sendiri ke tempat tinggal panglima itu. "Lo-suhu, saya melihat Barisan Golok Naga itu amat tangguh. Dan senjata golok mereka hebat sekali. Apakah lo-suhu mengetahui asal usul barisan golok itu?"

"Barisan Golok Naga itu merupakan pasukan khusus yang dibentuk oleh Panglima Besar Wu Chu, dan memang terdiri dari orang-orang yang lihai. Dibentuknya juga belum begitu lama, mungkin mendapat latihan khusus di benteng panglima itu. Engkau harus berhati-hati menghadapi mereka, orang-muda. Mereka itu selain lihai, juga kabarnya kejam dan dengan mudah membunuh orang yang dimusuhi."

Kini Tiong Li merasa yakin. Agaknya Mestika Golok Naga ada pula pada panglima besar Bangsa Kin itu.Ini berarti bahwa pencuri Mestika Golok Naga, yaitu Hak Bu Cu yang tewas ditangan Ban-tok Sian-li telah menyerahkan pusaka itu kepada panglima besar itu. Dia percaya bahwa Hak Bu Chu, seperti juga Tang Boa Lu, adalah kaki tangan Kin yang sengaja dikirim untuk membantu usaha Perdana Menteri Jin Kui untuk menghadapi golongan yang membenci pemerintah Kin.

Orang-orang seperti Hak Bu Cu dan Tang Boa Lu itu cukup lihai untuk melakukan penculikan itu, di samping beberapa orang jagoan yang menjadi kaki tangan perdana menteri itu. Menurut dugaannya, baik Mestika Golok Naga maupun puteri Sung Hiang Bwee berada di rumah Panglima Besar Wu Chu!

Sehari itu Tiong Li memeras otaknya untuk mencari jalan bagaimana dia akan dapat merampas kembali Mestika Golok Naga dan sekaligus membebaskan sang puteri. Dia harus menggunakan akal. Kalau hanya mempergunakan kepandaian silatnya saja, mungkin dia akan dapat keluar masuk dari tempat itu mengandalkan kepandaian, akan tetapi untuk membawa keluar sang puteri? Sungguh merupakan pekerjaan yang amat sukar, bahkan tidak mungkin dilaksanakan!

"Lo-suhu," dia minta keterangan kepada Ceng Ho Hweshio. "Apakah lo-suhu mengetahui, siapa yang menjadi orang kesayangan Panglima Besar Wu Chu? Barangkali seorang di antara puteranya, atau selirnya?"

"Dia hanya mempunyai seorang putera biarpun ada beberapa orang puterinya, karena itu dia amat menyayang puteranya itu lebih dari segalanya."

"Berapa usia puteranya itu?"

"Masih kecil, paling banyak lima tahun usianya. Kenapa engkau menanyakan hal itu?"

"Tidak apa-apa, lo-suhu. Saya hanya sedang berpikir dan mencari akal bagaimana saya dapat membebaskan sang puteri dan sekaligus mencari kembali pusaka Kerajaan Sung yang dicuri orang."

Tiong Li kini mendapat akal. Dia harus menggunakan akal itu, kalau dia ingin berhasil. Malam itu dia menemui Siang Hwi di kuil itu, dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Hwi-moi, aku Sudah mendapatkan, akal. Kuharap saja akal ini berhasil baik, karena kalau tidak, akan sia-sia perjalanan kita, bahkan mungkin berbalik akan membahayakan kita."

"Bagaimana akalmu itu, koko?"

Dengan berbisik-bisik Tiong Li berkata kepadanya. "Kita sekarang, malam ini juga, pergi ke gedung Pangiima Besar Wu Chu. Engkau tidak perlu ikut masuk, melainkan menanti di luar sambil bersembunyi. Aku akan memaksa panglima itu untuk menyerahkan pusaka itu dan membebaskan sang puteri. Setelah berhasil, engkau membawa sang puteri ke sini dan menyembunyikan di sini."

"Bagaimana engkau akan dapat memaksanya, koko?" tanya Siang Hwi khawatir.

"Jangan khawatir, aku telah mengetahui kelemahannya. Aku tentu akan dapat memaksanya melakukan itu. Tugasmu hanya mengantar sang puteri ketempat ini dan bersembunyi di sini menanti sampai aku datang."

"Baik, koko. Akan tetapi berhati hatilah. Ciu Bhok Hi itu dengan Pasukan Golok Naganya amat berbahaya."

"Aku tahu dan aku akan selalu berhati-hati. Kita harus mengenakan pakaian serba hitam, Hwi-moi dan setelah berganti pakaian, kita berangkat."

Demikianlah, diantar oleh Ceng Ho Hwe-shio sampai keluar dari kuil, dua orang muda itu meninggalkan kuil melalui tembok belakang kuil agar tidak kelihatan oleh orang lain. Kemudian, keduanya mempergunakan ilmu lari cepat menuruni lereng bukit itu dan menuju ke Lok-yang.

Dengan mudah mereka melompati pagar tembok tinggi yang mengelilingi kota Lok-yang, kemudian memasuki kota itu, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Karena gerakan mereka memang ringan dan cepat, maka mereka hanya nampak seperti dua bayangan hitam saja. Akhirnya mereka dapat mendekati rumah gedung Panglima Besar Wu Chu.

"Engkau menanti di sini. Baru keluar dari sini kalau engkau melihat aku keluar dari pintu gerbang itu membawa sang puteri. Sebelum aku muncul, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, Hwi-moi."

"Baik, koko."

"Nah, aku pergi, Hwi-moi!"

"Nanti dulu, koko."

Tiong Li menahan langkahnya dan membalik. "Ada apa lagi, Hwi-moi?"

Gadis itu menghampiri dan merangkul leher Tiong Li. "Engkau... yang hati-hati menjaga dirimu, koko."

Tiong Li menunduk dan mencium dahi gadis itu. "Aku tahu, aku masih belum ingin berpisah darimu, Hwi-moi. Engkau juga berhati-hatilah. Menyingkirlah kalau ada orang mendekat tempat ini..." Kemudian Tiong Li berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Untung bagi mereka. Malam itu gelap sekali karena udara mendung dan angin bertiup mendatangkan hawa dingin. Karena udara buruk, maka jarang ada orang keluar dari rumahnya dan suasana di sekeliling tempat itu sunyi sekali. Akan tetapi penjagaan di rumah gedung Panglima Besar Wu Chu tetap ketat. Di depan pintu gerbang berkumpul belasan orang perajurit yang berjaga.

Dan Tiong Li sudah tahu bahwa di atas genteng terdapat alat-alat rahasia yang dapat memberi tahu kalau ada orang datang melalui atap. Dia sudah melompati pagar tembok dan tiba di taman. Agaknya taman ini yang paling aman karena banyak pohon-pohon. Dia mengintai dari balik rumpun bunga yang tebal dan melihat dua orang peronda membawa lampu teng berjalan datang sambil bercakap-cakap.

Tiong Li berpikir sejenak dan mengambil keputusan yang amat berani. Dia menanti sampai dua orang itu datang dekat. Lalu tiba-tiba dia meloncat dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu sudah menjadi lumpuh tertotok dan lampu teng sudah berpindah ke tangannya!

Dia memandangi kedua orang itu dengan lampu teng menyinari wajah mereka. Orang yang tinggi besar itu memandang dengan wajah ketakutan sedangkan yang kurus bahkan mendelik dengan marah. Dia lalu menotok lagi yang kurus sehingga roboh pingsan, mengikat kaki tangannya dengan sabuk orang itu sendiri, juga mulutnya ditutup kain, lalu menyeretnya ke balik semak belukar.

Sedangkan yang tinggi besar itu dia totok urat gagunya sehingga tidak dapat bicara. Dan dalam keadaan masih tertotok lemas itu, diancamnya orang itu sambil menodongkan golok di batang lehernya.

"Engkau ingin hidup?" gertaknya.

Orang tinggi besar itu mengangguk-angguk lemah. Hanya kaki tangannya saja yang tidak mampu digerakkan.

"Engkau tidak ingin mampus?" kembali dia bertanya.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepala dengan mata terbelalak penuh ketakutan.

"Baik, kalau begitu, aku minta engkau mengantarkan aku ketempat di mana Panglima Wu Chu berada. Sanggup?"

Orang itu memandang liar ke kanan kiri, nampak ketakutan dan agaknya sulit untuk mengambil keputusan.

"Hayo jawab, atau engkau ingin aku menyembelihmu sekarang juga!" Goloknya ditempelkan ke kulit leher.

Orang itu cepat mengangguk-angguk, menyatakan sanggup. Tiong Li lalu melucuti pakaian si kurus dan dipakainya pakaian itu. Dia menyamar sebagai seorang petugas ronda. Kemudian, dengan golok telanjang di tangan, dia membebaskan si tinggi besar yang ketakutan, akan tetapi orang tinggi besar itu biarpun sudah dapat menggerakkan kaki tangan, tetap saja dia tidak dapat mengeluarkan suara.

"Nah, sekarang bawa aku ke sana. Awas, sekali saja engkau melakukan gerakan yang tidak kukehendaki, golok ini akan memenggal lehermu!"

Kembali dia menempelkan golok di leher orang itu yang nampak menggigil saking takutnya. Tiong Li merasa senang. Pilihannya tepat. Orang tinggi besar ini berhati kecil dan penakut sehingga dapat diharapkan akan menaati semua perintahnya.

"Bawa lampu teng ini dan berjalanlah di depan," bisiknya. "Bersikap biasa saja kalau bertemu penjaga lain seolah tidak terjadi sesuatu. Dan cepat bawa aku ke tempat di mana Wu Chu berada!"

Dari belakang dia menodongkan goloknya ke punggung orang itu dan bergeraklah mereka meninggalkan taman. Orang itu benar-benar ketakutan, mereka memasuki gedung itu dari pintu belakang dan empat orang penjaga yang melihat dua orang peronda ini tidak menaruh perhatian. Apa lagi wajah Tiong Li terhalang bayangan si tinggi besar yang membawa lampu di depannya, sehingga wajah Tiong Li terliputi kegelapan.

Setelah melalui jalan berlika liku, dari jauh orang itu menunjuk ke sebuah ruangan. Tiong Li melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tinggi besar dan mukanya brewok, sedang bermain-main dengan seorang anak laki-laki.

"Itukah Wu Chu?" bisik Tiong Li dan tawanannya mengangguk. "Antarkan aku ke kamar puteranya!" kata pula Tiong Li.

Orang itu menunjuk ke depan, ke arah-anak yang sedang bermain-main dengan orang tinggi besar itu. "Kau maksudkan anak itu puteranya?"

Orang itu mengangguk. "Engkau tindak berbohong?" tanya Tiong Li yang merasa gembira bukan main.

Sungguh baik sekali peruntungannya, sekaligus dapat menemukan Panglima Besar Wu Chu dan puteranya. Sebetulnya dia ingin menculik putera itu yang masih kecil dan yang di sayang untuk ditukar dengan sang puteri dan Mestika Golok Naga. Akan tetapi sekarang keduanya berada di situ. Sungguh kebetulan yang menguntungkan sekali.

Orang itu menggeleng kepalanya. "Awas. engkau kutinggal dulu di sini dalam keadaan tertotok, kalau engkau berbohong, aku akan kembali di sini untuk memenggal lehermu. Benar engkau tidak membohong?"

Orang itu kembali menggeleng kepala keras-keras dan Tiong Li segera merampas lampu teng sambil menotok orang itu sehingga roboh pingsan tanpa mengeluarkan suara karena dia sudah menahan tubuhnya. Kemudian, sambil membawa lampu teng dia menghampiri ruangan yang terbuka itu. Orang tinggi besar yang sedang main-main dengan anak itu. ketika melihat seorang peronda menghampiri, segera memondong anak itu dan menghardik,

"Mau apa engkau ke sini!"

"Maafkan saja, ciangkun. Ada seorang yang menanyakan di mana adanya Panglima Besar Wu Chu."

"Siapa orang yang bertanya tentang aku itu?" bentak sang panglima marah karena dia merasa terganggu dengan kemunculan peronda itu.

"Aku yang menanyakannya!" kata Tiong Li dan tiba-tiba dia meloncat ke depan, tangan kirinya menyambar tahu-tahu anak itu telah berada dalam cengkeraman tangan kirinya.

"Keparat! Kembalikan anakku!" teriak Wu Chu sambil menubruk untuk merampas anaknya. Akan tetapi, biarpun dia seorang panglima besar dan ahli dalam urusan peperangan, namun dalam hal ilmu silat, dia masih jauh kalau dibandingkan Tiong Li. Sambarannya luput dan sebaliknya, tiba-tiba golok di tangan Tiong Li sudah menodong dadanya.

"Sedikit saja bergerak, golok ini akan menembus jantungmu, ciangkun!" bentak Tiong Li sementara itu anak kecil yang berada dalam pondongan tangan kirinya sudah menjerit-jerit menangis.

Panglima Besar Wu Chu tidak berani bergerak lagi akan tetapi dia sempat berteriak memanggil pengawal. Tak lama kemudian sedikitnya tiga puluh orang pengawal memenuhi tempat itu, akan tetapi mereka tidak berani bergerak ketika melihat panglima mereka di todong dan putera panglima mereka dipondong seorang pemuda yang berpakaian peronda. Di antara para pengawal itu terdapat lima orang anggauta Golok Naga, dan mereka segera mengenal pemuda itu yang mereka sudah rasakan kelihaiannya ketika mengepung dan mengeroyoknya.

"Semua mundur! Siapa berani bergerak berarti matinya panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dan para pengepung itu dengan sendirinya melangkah mundur. Ada pula yang berlari keluar memanggil bala bantuan sehingga sebentar saja tempat itu penuh dengan pasukan.

"Orang muda, apa sebenarnya yang kau kehendaki?" Panglima Wu Chu yang masih tenang itu bertanya. Dia adalah seorang panglima besar, tidak mudah panik walaupun ditawannya puteranya membuat dia khawatir sekali.

"Tidak banyak," kata Tiong Li. "Nyawamu dan nyawa anakmu ini hendak kutukar dengan kebebasan puteri Sung Hiang Bwee dan Mestika Golok Naga!"

"Akan tetapi..."

"Jangan banyak cakap lagi. Kalau tidak setuju, aku akan membunuh puteramu dulu baru engkau!"

Para pasukan itu hendak menerjang maju, akan tetapi Panglima Wu Chu membentak mereka agar tidak bergerak. "Kalian jangan bergerak! Perwira Tong, cepat ambilkan sebuah golok naga!"

Yang disebut perwira Tong itu seorang yang pendek gendut segera maju dan menyerahkan sebatang golok yang berukir naga kepada Tiong Li.

"Apakah ini Mestika Golok Naga?" tanyanya kepada Wu Chu.

"Benar!" Tiong Li mengambil golok itu, menekuk dengan kedua tangan sambil memodong anak itu dan golok itu patah menjadi dua potong! "Kau bohong!" dia menghardik dan menodongkan senjatanya sehingga sedikit melukai kulit dada panglima itu. "Serahkan yang aselinya atau anakmu akan kusembelih!" Kini dia menempelkan goloknya ke leher anak itu yang menjerit-jerit ketakutan.

Panglima Wu Chu memandang dengan khawatir sekali. "Cepat ambilkan Mestika Golok Naga di kamarku, tergantung di dinding!" perintahnya dan perwira Tong itu segera berlari pergi. Tak lama kemudian dia telah kembali membawa sebatang golok dalam sarung.

"Cabut golok itu dan serahkan kepadaku!" bentak Tiong Li.

Perwira itu memandang atasannya dan Panglima Wu Chu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiong Li menerima golok itu dan baru memegangnya saja dia sudah yakin bahwa inilah golok aselinya. Dia mengadukan golok yang dipegangnya dengan golok itu dan goloknya patah menjadi dua dengan mudah! Kini dia memegang Mestika Golok Naga itu dan mengikatkan sarungnya di pinggang. Karena anak itu masih dipondongnya, Panglima Wu Chu tidak berani bergerak.

"Sekarang bawa keluar sang puteri. Cepat!"

"Bawa ia keluar!" kata Panglima Wu Chu.

Kembali perwira Tong yang berlari lari dan tidak terlalu lama kemudian dia sudah datang lagi mengikuti seorang wanita yang bukan lain adalah Sung Hiang Bwee. Puteri itu masih menjadi orang tahanan karena ia selalu menolak keinginan Wu Chu dan begitu melihat Tiong Li, sang puteri menangis menghampiri.

"Akhirnya engkau datang juga menolongku...!" Sang puteri saking girangnya hendak merangkul Tiong Li akan tetapi pemuda itu berkata.

"Nona, bersiaplah untuk keluar dari tempat ini. Harap engkau berjalan di belakangku," kata Tiong Li dengan singkat. Melihat kesungguhan sikap pemuda ini yang menodong Panglima Wu Chu dengan goloknya, puteri itupun maklum akan gawatnya keadaan.

"Baik, taihiap. Sungguh aku girang sekali melihat engkau," katanya lalu iapun berdiri di belakang pemuda itu.

Tiba-tiba dua orang pengawal dengan nekat menubruk dan menyerang Tiong Li. Tiong Li menggerakkan goloknya dan nampak sinar terang berkelebat di susul robohnya kedua orang itu, mandi darah.

"Sekali lagi ada yang bergerak, yang akan kubunuh adalah panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dengan hati khawatir juga karena kalau sekian banyaknya pasukan mengeroyoknya, biarpun dia akan dapat membunuh panglima itu, dia tentu tidak tega membunuh puteranya dan dia tidak akan mampu melindungi sang puteri!

"Tolol! Jangan ada yang menyerang!" teriak sang panglima yang tentu saja mengkhawatirkan dirinya sendiri dan puteranya.

"Ciangkun, sekarang engkau berjalan di depanku dan mengantarku keluar dari rumah ini. Hayo cepat dan jangan ada yang mendekat!"

Panglima itu terpaksa menurut dan semua pengawal hanya dapat mengikuti saja tidak berani terlalu mendekat. Tiong Li sambil memondong anak yang kini sudah agak mereda tangisnya, menodongkan goloknya ke punggung sang panglima dan Sung Hiang Bwee melangkah di belakangnya. Setelah tiba. di luar pintu gerbang Sehingga tentu akan kelihatan oleh Siang Hwi, Tiong Li berteriak,

"Hwi-moi, cepat kau ke sini!"

Gadis itu meloncat dekat dan semua pasukan tidak sempat menghadangnya.

"Bawa sang puteri pergi dari sini. Awas, kalau ada yang menghalangi atau mengejar, aku akan membunuh panglima dan puteranya!" Tiong Li berseru dengan suara berwibawa.

"Mari, sang puteri!" kata Siang Hwi sambil menggandeng tangan Sung Hiang Bwee, diajak pergi dari situ dengan cepat.

Tidak ada seorangpun berani menghalangi dan tidak ada pula yang berani melakukan pengejaran. Sebentar saja bayangan kedua orang gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam. Siang Hwi membawa puteri itu keluar dari kota melalui pagar tembok yang dilompatinya sambil menggendong puteri itu. dan ia segera mengajak puteri itu berlari menuju ke perbukitan Fu-niu-san.

Sementara itu, Tiong Li yang masih memondong anak itu, minta diantar keluar dari pintu gerbang timur untuk mengalihkan perhatian. Sedikitnya seratus orang perajurit tetap saja mengikutinya dari jarak yang tidak terlalu dekat dan panglima itu masih terus di todong di depannya. Setelah agak jauh dari pintu gerbang, barulah Tiong Li menurunkan anak itu dari pondongannya dan anak itu segera dipondong ayahnya!

"Ciangkun, maafkan aku. Terpaksa aku mengambil cara ini untuk membebaskan sang puteri dan untuk mengambil kembali Mestika Golok Naga. Engkau tidak berhak atas keduanya. Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mengerahkan orang mencariku. Selain percuma, juga kalau aku menjadi marah mungkin peristiwa seperti ini akan terulang lagi. Akan tetapi belum tentu aku akan membebaskanmu! Nah, selamat tinggal!" Tiba-tiba Tiong Li meloncat dan berkelebat menghilang di dalam kegelap an malam.

"Kejar dan Tangkap dia!" Kini panglima itu berteriak-teriak dan dia sendiri mendekap dan menciumi puteranya dengan hati lega karena putera yang disayangnya itu selamat.

Saking marahnya hati Panglima Wu Chu, dia memerintahkan pada malam hari itu juga untuk membunuh Souw Cun Ki, pemuda Kun-lun-pai yang dulu pernah hendak menolong sang puteri. Tanpa banyak alasan lagi malam hari itu juga Souw Cun Ki dibunuh oleh para pengawal di dalam kamar tahanannya!

********************

Cersil Online Karya Kho Ping Hoo Serial Mestika Golok Naga

Siang Hwi mengajak Hiang Bwee ke puncak bukit di mana kuil Siauw-lim-si itu berada dan cepat mereka diterima oleh Ceng Ho Hwe-shio dan diajak ke sebelah dalam.

"Enci, siapakah engkau?" tanya puteri itu kepada Siang Hwi.

"Saya bernama The Siang Hwi, nona," jawab Siang Hwi dengan hormat. "Dan ini adalah Ceng Ho Hwe-shio, ketua kuil ini yang melindungi dan menyembunyikan kita. Di sini, engkau tidak usah khawatir karena tidak ada yang akan berani mencari ke dalam."

"Aku tidak khawatir selama Tan-taihiap berada bersamaku," jawab puteri itu. "Bukan main gagah dan lihainya Tan-taihiap. Berani menawan Panglima Wu Chu dan memaksanya membebaskan aku. Akan tetapi, bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari kepungan pasukan sebanyak itu?"

"Harap jangan khawatir, aku yakin, bahwa Li-koko akan mampu membebaskan diri."

"Hemm, apa hubunganmu dengan Tan-taihiap, enci?"

Wajah Siang Hwi berubah kemerahan ditanya seperti itu. "Kami... kami adalah sahabat baik yang bekerja sama untuk membebaskanmu dari tempat tinggal Panglima Wu Chu. Sudahlah, nona. Engkau telah melakukan perjalanan melelahkan dan mengalami banyak hal yang menggelisahkan, harap beristirahat dan tidur."

"Bagaimana aku dapat tidur sebelum Tan-taihiap datang? Aku harus melihat dia selamat dulu dan tiba di sini," kata puteri itu.

Dan Siang Hwi merasa hatinya tidak enak sekali. Dari sikapnya, jelas baginya bahwa sang puteri ini rupanya amat tertarik dan memperhatikan Tiong Li. Dan ia sudah mendengar dari Tiong Li betapa pemuda itu pernah membebaskan puteri ini dari tangan seorang penculik dahulu. Mereka sudah saling mengenal.

Baru menjelang pagi Tiong Li yang melarikan diri dari pintu gerbang timur itu tiba di situ. Bayangannya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berada di depan dua orang gadis itu.

"Tan-taihiap...!" Sang puteri berseru gembira, bangkit berdiri dan menyongsong pemuda itu, lalu tanpa ragu dan sungkan lagi ia memegang kedua tangan Tiong Li.

"Engkau membuatku tidak dapat tidur, khawatir kalau engkau tidak dapat lolos dari kepungan mereka! Bagaimana, taihiap? Apakah engkau sudah membunuh jahanam Wu Chu itu?"

"Tidak, nona. Aku sudah berjanji menukarkan nyawanya dan nyawa puteranya dengan dirimu dan Mestika Golok Naga!"

"Ah, sayang. Orang macam itu sebaiknya dibunuh saja!" kata sang puteri dengan kecewa. "Dan kapan engkau akan mengantar aku pulang ke istana? Sekali ini ayah tentu akan girang sekali dan engkau tidak boleh lagi menolak anugerah pemberian ayahanda Kaisar"

"Kita tidak boleh tergesa meninggalkan tempat ini, nona. Panglima Wu Chu tentu sedang mengerahkan pasukannya untuk melakukan pengejaran sampai di perbatasan. Bahkan mungkin dia sudah menghubungi Perdana Menteri Jin Kui untuk membantunya melakukan penangkapan terhadap diriku kalau aku berhasil melewati perbatasan. Sebaiknya untuk selama beberapa hari ini kita tinggal dulu di sini."

"Omitohud! Selamat, selamat, Tan-sicu. Engkau telah berhasil! Benar sekali, tuan puteri. Sebaiknya cu-wi tinggal di sini dulu sampai pengejaran itu mereda. Pin-ceng akan menyuruh para murid menyelidiki. Kalau sudah mereda, barulah kalian pergi meninggalkan kuil dan kembali ke selatan," kata Ceng Ho Hweshio yang muncul dan tersenyum lebar kepada Tiong Li.

Tiong Li memberi hormat kepada hwe-shio tua itu. "Kalau tidak ada pertolongan dari lo-suhu, semua usaha kami akan sia-sia belaka. Juga jasa Hwi-moi tidak boleh dilupakan, ia yang telah mengawal sang puteri sampai kesini tanpa diketahui orang. Engkau memang hebat, Hwi-moi!"

Siang Hwi tersenyum dengan hati senang, la tahu bahwa kekasihnya itu sengaja memujinya untuk menyenangkan hatinya. "Ahh, aku hanya membantumu, koko. Tidak usah terlalu memujiku! Engkaulah yang hebat. Tak kusangka engkau akan dapat menawan mereka semudah itu. Dan engkau telah berganti pakaian seorang di antara penjaga. Lucu sekali. Ceritakan, koko, bagaimana engkau melakukannya?"

Sang puteri mengerutkan alisnya. Dilihatnya betapa akrab kedua orang muda itu dan dari pandang mata mereka saja ia sudah dapat tahu bahwa ada apa-apa di antara mereka!

"Ya, ceritakanlah, Tan-taihiap. Akupun ingin mendengarnya," akhirnya ia berkata agar jangan merasa terlalu tersisih.

Tiong Li lalu menceritakan pengalamannya ketika menyandera Wu Chu dan puteranya sambil menyamar sebagai seorang peronda. Semua yang mendengarnya memuji, bahkan Ceng Ho Hwe-shio menarik napas panjang sambil berkata.

"Omitohud, engkau memang luar biasa sekali, Tan-taihiap! Biarpun aku belum melihatnya sendiri, aku yakin bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau boleh pin-ceng mengetahui, siapakah gurumu, sicu?"

Terhadap hwe-shio yang sudah menolongnya itu, Tiong Li tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya. "Saya mempunyai tiga orang guru, lo-suhu. Guru saya yang pertama adalah mendiang Pek Hong San-jin, yang kedua adalah suhu Thian Kui Lo-jin dan ke tiga Tee Kui Lo-jin."

Ceng Ho Hwe-shio terbelalak. "Omitohud...! Pin-ceng mengenal siapa mereka! Kiranya sicu murid orang-orang sakti itu. Pantas saja kalau begitu dan pinceng merasa girang sekali dapat membantu murid mereka."

Demikianlah, setelah tinggal disitu selama sepekan dan dari para hwe-shio yang melakukan penyelidikan di peroleh keterangan bahwa kini tidak ada lagi pasukan yang mencari-cari mereka, Tiong Li lalu mengajak Siang Hwi dan puteri itu untuk meninggalkan kuil.

Mereka membeli tiga ekor kuda atas bantuan para hwe-shio dan mereka meninggalkan kuil itu dengan menunggang kuda. Untung bahwa puteri Hiang Bwee biarpun tidak pandai silat akan tetapi mempunyai kegemaran ikut ayahanda kaisar pergi berburu binatang buas sehingga ia pandai menunggang kuda...

Mestika Golok Naga Jilid 14

SETELAH semua gejolak cinta itu mereda. Siang Hwi bertanya, "Sekarang kita hendak pergi ke mana, koko?"

Tiong Li lalu menceritakan tentang lenyapnya puteri Sung Hiang Bwee. "Puteri itu menurut keterangan yang kudapatkan dari percakapan Perdana Menteri Jin Kui, telah dibawa, ke utara dan diserahkan kepada Panglima Wu Chu, panglima besar Bangsa Kin. Akan tetapi Perdana Menteri melakukan fitnah sehingga Kaisar mengumumkan penangkapan atas diriku dengan tuduhan menculik puteri itu."

"Ihh, betapa jahatnya Perdana Menteri itu!" kata Siang Hwi.

"Jahat dan licik sekali, Hwi-moi Karena itu, aku harus menyusul ke utara untuk menemukan kembali sang puteri dan mengembalikan kepada Kaisar. Barulah dengan demikian namaku akan bersih dan kedok Perdana Menteri Jin Kui akan terbuka. Dan engkau ikut menemaniku mencari sang puteri."

"Ke daerah kekuasaan Kin?"

"Ya benar, ke utara."

"Baiklah, koko, ke manapun engkau pergi, aku ikut."

Demikianlah, sepasang kekasih ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke utara, melewati perbatasan atau daerah tak bertuan dan memasuki wilayah Kerajaan Kin.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Pada suatu pagi Tiong Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang. Kota ini menjadi ibu kota ke dua sesudah Kai Feng yang tetap dijadikan kota raja oleh Bangsa Kin. Bangsa Kin memerintah dengan tangan besi sehingga rakyat Bangsa Han merasa tertindas akan tetapi mereka tidak berani berbuat sesuatu.

Pasukan Bangsa Kin adalah pasukan yang kuat dan kejam, terutama sekali terhadap rakyat jelata Bangsa Han. Betapapun juga, Kerajaan Kin membiarkan rakyat berdagang seperti biasa sehingga keadaan kota-kota cukup ramai dengan perdagangan. Yang memberatkan rakyat adalah pajak yang dipungut secara liar dan sembarangan. Para pejabatnya mempunyai wewenang sehingga siàрà yang dapat memberi suapan besar, merekalah yang lolos dari himpitan pajak.

Di antara para orang Han yang pandai banyak pula yang mengabdi kepada Kerajaan Kin dan mereka yang benar-benar setia mendapat penghargaan dan menduduki pangkat tinggi. Akan tetapi banyak pula orang pandai yang bahkan menyembunyikan diri. Tidak mau membantu pemerintah Kin walaupun mereka juga tidak melakukan pemberontakan biarpun diam-diam mereka masih mengharapkan kembalinya pemerintah Kerajaan Sung.

Tiong Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang karena mereka mendengar bahwa PangIima Besar Wu Chu berkedudukan di Lok-yang walaupun perbentengan besarnya berada di luar kota Lok-yang. Di sini mereka tidak dikenal maka mereka merasa aman untuk melakukan penyelidikan. Di Kerajaan Sung, Tiong Li sudah merupakan buronan pemerintah yang gambarnya terpampang di mana-mana sehingga tentu saja dia tidak dapat melakukan perjalanan dengan aman.

Setelah mendapatkan dua kamar disebuah rumah penginapan, Tiong Li mengajak kekasihnya untuk keluar dan mereka memasuki sebuah rumah makan yang tidak jauh letaknya dari gedung tempat tinggal Panglima Wu Chu. Mereka tadi sudah berjalan-jalan di sekitar gedung itu dan melihat betapa gedung itu terjaga ketat oleh para perajurit.

Sambil memesan makan, mereka menanti datangnya masakan sambil bicara berbisik-bisik. "Mungkinkah sang puteri berada di gedung tadi?" tanya Siang Hwi berbisik. "Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya, koko?"

"Kita harus menyelidiki hal itu. Hwi-moi. Penjagaan amat ketat, maka biarlah aku sendiri yang malam nanti me-akukan penyelidikan ke dalam gedung tu untuk melihat apakah sang puteri berada di dalam ataukah tidak. Engkau menanti saja di rumah penginapan, Hwi-moi."

Siang Hwi mengangguk, maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat menyelinap masuk kedalam gedung itu tanpa diketahui penjaga dan kalau ia ikut, ia hanya akan mengganggu dan merepotkan saja. Mungkin ia masih dapat menggunakan ginkangnya untuk menyelinap masuk, akan tetapi andaikata ketahuan, maka sukarlah baginya untuk meloloskan diri tanpa ketahuan mengingat bahwa di gedung panglima besar itu tentu terdapat banyak jagoan yang lihai.

Hidangan datang dan keduanya makan minum tanpa bercakap-cakap. Pada saat itu masuk tiga orang berpakaian perwira Kin dan dengan lagak sombong dan suara keras mereka minta disediakan arak baik dan bebek panggang.

"Cepat sediakan dan araknya yang terbaik! Panggang bebeknya yang kering sehingga kulitnya renyah dan sedap!" teriak mereka. Mereka berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun.

Tiong Li melirik ke arah kiri. Di sana duduk seorang kakek berusia enam puluhan tahun dan kakek ini duduk seorang diri, capingnya yang lebar diletakkan di atas meja dan rambutnya panjang digelung ke atas. Dia melihat betapa kakek itu memandang kepada tiga orang perwira dengan alis berkerut tanda tidak senang hatinya.

Seorang perwira yang termuda kebetulan melihat Siang Hwi dan dia menyeringai. "Wah, ada bidadari di sini!" katanya kepada dua orang kawannya. Mereka semua menengok dan memandang kepada Siang Hwi.

"Hebat! Kalau engkau berhasil mengajak ia minum bersama kita, barulah engkau patut disebut jagoan jantan!" kata seorang di antara mereka kepada perwira termuda.

"Hem, mengapa tidak? Kalian lihat saja!" kata perwira itu sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dengan langkah agak terhuyung karena dia sudah minum setengah mabok sebelum masuk rumah makan itu, dia menghampiri meja Siang Hwi dan Tiong Li.

"Nona yang jelita, kami mengundang nona untuk minum-minum bersama kami sambil menikmati bebek panggang. Harap nona tidak menolak, dan kami akan memberi hadiah yang besar."

Siang Hwi mengerutkan alisnya dan menurutkan hatinya, ingin ia menghajar perwira itu. Akan tetapi pandang mata Tiong Li melarangnya dan iapun menjawab ketus. "Aku sudah makan dan minum," katanya sambil menunjuk ke atas meja.

"Aih, makan sayur begini mana enaknya? Kami mengundangmu dengan hormat, nona. Kami perwira-perwira dari panglima besar. Marilah!" Perwira itu memegang lengan kiri Siang Hwi dan berusaha menariknya.

Dengan gemas sekali Siang Hwi lalu menggunakan telunjuk tangan kanannya, menggunakan kuku telunjuk itu menggurat lengan yang memeganginya sambil berkata. "Aku tidak mau. Lepaskan tanganku!"

Tiong Li bangkit berdiri dan memberi hormat kepada perwira itu. "Ciangkun, isteriku sudah makan minum bersama aku suaminya, dan tidak menghendaki makan minum bersama ciangkun, harap tidak memaksa."

Perwira itu melepaskan tangan Siang Hwi dan memandang kepada Tiong Li dengan mata melotot. "Isterimu? Apa salahnya kalau hanya menemani kami makan minum?"

Pada saat itu, tiba-tiba kakek di meja sebelah kiri itu berkata. "Hemmm, agaknya Panglima Besar Wu Chu tidak dapat mendidik para perwira pembantunya. Hendak kulihat apa yang akan dilakukan kalau aku melaporkan Hal ini kepadanya!"

Perwira itu terkejut dan memandang kepada kakek itu. Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi kata-kata kakek itu agaknya membuatnya jerih. Dia menghampiri meja kawan-kawannya, berbisik-bisik kemudian mereka bertiga meninggalkan rumah makan tanpa menanti pesanan mereka.

Tiong Li dan Siang Hwi mengerling ke arah kakek itu, akan tetapi kakek itu minum arak dari cawannya dan tidak memperdulikan mereka. Karena peristiwa itu keduanya merasa tidak enak, takut menjadi perhatian orang maka keduanya segera menghabiskan makanan dan membayar lalu meninggalkan rumah makan itu.

Mereka berdua lalu mengunjungi taman rakyat yang terkenal indah di Lok yang, akan tetapi baru saja mereka memasuki taman itu, mereka melihat kakek yang tadi sudah berada di depan, duduk di atas sebuah bangku! Melihat mereka, kakek itu mengangkat capingnya sambil tersenyum.

Diam-diam Tiong Li terkejut. Begitu cepatnya kakek itu mendahului mereka ke tempat ini, sungguh mengejutkan dan betapa cepatnya. Dia lalu mengambil Keputusan untuk berkenalan karena dia merasa dibayangi oleh kakek itu. Di ajaknya Siang Hwi menghampiri kakek yang duduk di atas bangku itu. Untung di tempat itu tidak ada orang lain sehingga dia dapat bicara dengan leluasa.

"Maafkan kami, paman. Kami ingin menghaturkan terima kasih atas pertolongan paman di rumah makan tadi, mengusir tiga orang perwira yang hendak kurang ajar," kata Tiong Li sambil mengangkat tangan memberi hormat, di turut oleh Siang Hwi.

"Hemm, kalian bukan suami isteri, mengapa mengaku suami isteri?" tanya kakek itu dengan suara mengejek.

Kedua orang muda itu terkejut. "Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa..." kata Siang Hwi.

"Sikap kalian menunjukkan bahwa kalian bukan atau belum menjadi suami isteri!" kata kakek itu.

"Alasan itu hanya untuk menolak ajakan perwira tadi, paman," kata Tiong Li cepat.

"Kalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kalian dapat menjaga diri dengan baik, tanpa bantuanku mereka bertiga tidak akan dapat berbuat sesuatu terhadap kailan. Akan tetapi kenapa nona begitu kejam? Perwira itu memang kurang ajar, akan tetapi perlukah membuat dia terluka beracun yang amat berbahaya?"

Tiong Li terkejut. Dia sendiri tidak melihat kekasihnya menyerang orang tadi, bagaimana dapat dikatakan melukai beracun yang berbahaya? Dia menoleh kepada Siang Hwi dan melihat kekasihnya merasa terkejut dan heran pula.

"Engkau melihat apakah, paman?"

"Hemm, engkau menggurat lengannya dengan kuku jarimu dan aku melihat guratan itu sudah menimbulkan warna merah kebiruan yang membengkak!"

"Hwi-moi...!!" Tiong Li kini memandang kekasihnya dengan mata terbelalak.

Siang Hwi tersenyum. "Hebat sekali ketajaman pandanganmu, paman. Akan tetapi engkau jangan khawatir, koko. Aku hanya menggurat kulit lengannya dan dia hanya akan menderita sakit bengkak pada lengannya itu tanpa membahayakan nyawanya. Apa kau kira aku begitu mudah membunuh orang? Biarlah sekedar memberi hajaran agar lain kali dia tidak akan memandang rendah kaum wanita, dan diapun tidak akan tahu bahwa aku yang membuat lengannya membengkak."

Tiong Li kini menghadapi kakek itu dan memberi hormat pula. "Kiranya paman seorang yang amat lihai, harap maafkan kami yang tidak mengenal paman."

"Sudahlah, akan tetapi pesanku agar kalian berhati-hati di sini. Banyak terdapat jagoan yang amat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya. Kalau perbuatan nona tadi diketahui oleh seorang di antara para jagoan, tentu kalian dicurigai sebagai mata-mata Kerajaan Sung dan keadaan bisa berbahaya. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, kakek bercaping itu lalu bangkit dan berjalan pergi dengan cepat. Karena di taman itu terdapat banyak orang yang mulai berdatangan, Tiong Li dan Siang Hwi tidak berani melakukan pengejaran.

"Wah, belum apa-apa sudah bertemu dengan perwira kurang ajar dan seorang kakek yang lihai ," kata Tiong Li. "Mulai sekarang kita harus berhati-hati dan waspada, jangan mencari keributan."

"Akan tetapi bagaimana kalau ada orang berbuat atau berkata kurang ajar terhadap diriku, koko? Apakah harus di diamkan saja?"

"Tentu saja tidak, akan tetapi dari pada menanggapi mereka, lebih baik kita tinggal pergi."

"Kalau mereka mengejar dan memaksa?"

"Wah, kalau begitu, aku sendiri akan turun tangan menghajar mereka. Aku tidak ingin siapa saja mengganggumu, Hwi-moi!"

Mendengar jawaban ini barulah puas hati Siang Hwi. "Aku menaati semua pesanmu, koko."

"Nah, malam ini aku jadi melakukan penyelidikan ke rumah Panglima Besar Wu Chu dan engkau menanti aku di kamar penginapan."

"Baik, koko."

********************

Bayangan Tiong Li berkelebat seperti burung malam ketika dia berlompatan di luar tembok pagar rumah gedung Panglima Besar Wu Chu. Dengan mudah dia dapat melompati pagar tembok yang tidak ada penjaganya dan melompat masuk ke bagian dalam pagar tembok itu.

Setelah mendekam agak lama di taman dan melihat keadaan sudah aman, para petugas jaga sudah meronda lewat, dia lalu menyelinap di antara pohon-pohon dan rumpun bunga, menuju ke bagian belakang gedung itu. Dia pikir kalau benar sang puteri berada disitu, tentu berada di bagian belakang gedung, di bagian puteri.

Setelah melihat sekeliling tidak nampak penjaga, dia lalu melompat ke atas genteng. Akan tetapi baru saja dia berjalan beberapa meter, kakinya menyangkut tali yang agaknya banyak di pasang di situ. Segera terdengar suara hiruk pikuk disusul suara kentungan dan terompet dibunyikan orang.

Celaka kiranya kakinya tadi menyangkut alat yang sengaja dipasang orang sehingga menimbulkan suara hiruk pikuk. Kedatangannya telah ketahuan! Tentu saja dia tidak berani mengambil resiko. Dilihatnya dari atas genteng betapa para penjaga sudah banyak berlarian, bahkan ada yang dengan gesitnya melompat Keatas genteng. Di antara para penjaga itu terdapat banyak orang lihai pikirnya dan diapun cepat melompat turun dan lari ke dalam taman.

. Ada penjaga yang melihat bayangannya lalu berteriak mengejar. Banyak penjaga melakukan pengejaran. Akan tetapi dengan cepat sekail tubuh Tiong Li sudah melayang naik ke pagar tembok, lalu melompat keluar dan menghilang dalam kegelapan malam. Dia berhasil lolos, akan tetapi nyaris saja dia terkepung!

Karena tidak mungkin malam itu mengadakan, penyelidikan, dia lalu berlari cepat menuju ke rumah penginapan. Akan tetapi ternyata dua kamar mereka telah kosong. Tidak nampak Siang Hwi di dalamnya dan sebagai gantinya dia melihat sebatang pisau belati tertancap di atas meja menusuk sehelai surat. Dengan jantung berdebar tegang dia membaca surat itu.

"Kalau hendak bertemu dengan gadis itu, pergilah ke lereng bukit Fu-niu-san di selatan."

Tiong Li membuang pisau itu dan mengantungi suratnya, lalu tubuhnya melesat lagi keluar dari jendela. Jantungnya berdebar penuh kegelisahan. Mencari puteri Sung Hiang Bwee yang di culik orang belum berhasil, kini Siang Hwi telah diculik orang pula! Atau demikian mudahkah Siang Hwi diculik orang?

Dia tidak percaya. Gadis itu memiliki kepandaian tinggi dan cukup lihai untuk membela diri, bahkan memiliki banyak macam pukulan beracun yang ampuh. Hanya orang yang amat tinggi ke pandaiannya saja yang akan mampu menun dukkan dan menculik Siang Hwi. Akan tetapi mengapa penculik meninggalkan surat? Jelas, penculik itu sengaja memancingnya untuk datang ke Fu-niu-san. Dia tidak takut. Biar harus ke neraka sekalipun, untuk menolong Siang Hwi, akan didatanginya juga!

Fu-niu-san terletak di sebelah selatan kota Lok-yang, maka dia lalu keluar dari kota itu melalui pintu gerbang selatan, dan terus berlari cepat menuju ke bukit itu. Akan tetapi malam terlalu gelap baginya. Terpaksa dia berjalan perlahan melanjutkan tujuannya ke bukit itu.

Baru pada keesokan harinya, ketika matahari mulai bersinar, dia tiba di kaki bukit Fu-niu-san. Ke mana dia harus pergi? Perbukitan itu terlalu luas dan tentu saja mempunyai lereng yang tak terhitung banyaknya! Akan tetapi tiba-tiba, dalam keremangan fajar itu dia melihat api berkelap-kelip di atas sebuah lereng di depannya. Di seluruh tempat itu hanya ada api itu yang nampak, tidak ada di tempat lain lagi dan ini tentu bukan hal yang kebetulan saja. Agaknya orang telah memberi tanda kepadanya! Diapun tanpa ragu lagi terus mendaki lereng di depan itu.

Api itu ternyata sebuah api unggun yang sengaja dibuat orang di depan sebuah pondok besar yang terpencil! Dan di sekitar pondok itu berdiri belasan orang yang semua memegang sebatang golok. Dari sinar api unggun itu Tiong Li melihat bahwa golok yang mereka pegang itu merupakan sebatang golok besar yang berukir naga. Mestika Goloki Naga! Kenapa begitu banyak? Tiong Li teringat akan golok yang dahulu dirampasnya dari Si Golok Naga. Mestika Golok Naga yang dipegang oleh Hak Bu Cu itu ternyata palsu, dan kini begitu banyak orang memegang golok yang persis seperti Mestika Golok Naga. Tentu saja semuanya palsu!

Dia menjadi khawatir sekali akan nasib Siang Hwi. Maka, diapun dengan berani meloncat ke depan belasan orang itu yang segera mengepungnya. Pintu pondok itu terbuka dan dengan heran sekali Tiong Li melihat seorang laki-laki tinggi besar yang berusia kurang lebih empat puluh tahun berdiri tegak dengan golok semacam pula di tangan. Dan di sebelahnya berdiri Siang Hwi! Akan tetapi gadis ini bebas, dan bahkan tersenyum kepadanya!

"Hwi-moi...!"

"Koko, akhirnya engkau datang juga."

Siang Hwi lari menghampiri Tiong Li dan pemuda itu memegang kedua tangannya. "Hwi-moi, apa yang terjadi? Kenapa engkau berada di sini?"

"Perkenalkan, koko. ini adalah Ciu-ciangkun. Dialah yang mengajak aku ke sini karena katanya kalau aku berada di rumah penginapan, akan berbahaya sekali. Katanya engkau belum tentu berhasil dan diketahui rumah penginapan di mana kita bermalam, kita tentu akan dikejar dan ditangkap. Maka dia mengajakku ke sini dan sengaja mengundangmu datang ke sini. Mereka memperlakukan aku dengan hormat dan baik, koko. Dan Ciu-ciangkun ini telah mengenal subo."

Ciu Bhok Hi, perwira itu memberi hormat kepada Tiong Li. "Kami telah mendengar tentang namamu, saudara Tiong Li. Bukankah engkau yang menjadi orang buronan Kerajaan Sung? Dan nona ini adalah murid Ban-tok Sian-li yang kebetulan telah kukenal. Namaku Ciu Bhok Hi dan aku menjadi komandan dari pasukan Golok Naga yang membantu Panglima Besar Wu Chu. Kami semua sudah mengetahui bahwa engkau hendak mendatangi gedung panglima besar..."

"Akan tetapi kalau sudah mengetahui, mengapa memancing aku ke sini, dan tidak mengepung dan menyerangku di sana saja? Apa artinya semua ini?"

"Ha-ha-ha engkau begitu tidak sabar. Marilah masuk kedalam pondok, saudara Tan Tiong Li. Kita bicara di dalam!"

Dengan berani Tiong Li menghampiri dan mereka bertiga, Tiong Li Siang Hwi dan komandan itu memasuki pondok. Sementara itu, cuaca sudah mulai terang, akan tetapi api lampu penerangan dalam pondok masih dinyalakan.

Tiong Li dan Siang Hwi duduk di atas kursi menghadapi meja bundar yang besar, berhadapan dengan Ciu Bhok Hi. Setelah memandang tamunya dengan penuh perhatian, Ciu Bhok Hi menghela napas panjang.

"Tidak kusangka bahwa orang yang menggegerkan Kerajaan Sung masih begini muda. Bahkan engkau telah dapat menandingi jagoan-jagoan seperti mendiang Hak Bu Cu dan juga Tang Boa Lu, sungguh mengagumkan sekali!"

"Ciangkun terlalu memuji. Sebaiknya ciangkun cepat menceritakan apa maksud ciangkun memancing kami berdua datang ke tempat ini."

"Semua ini menunjukkan bahwa Panglima Besar Wu Chu adalah seorang yang dapat menghargai dan menghormati orang orang pandai seperti taihiap. Panglima kami tidak menghendaki menyambut tai-hiap sebagai musuh, melainkan ingin sekali jika taihiap sudi membantu pemerintah Kin. Di Kerajaan Sung taihiap sudah dimusuhi, dijadikan orang buronan, karena itu alangkah baiknya kalau taihiap mulai sekarang hidup di sini. Panglima Besar Wu Chu sudah menyediakan pangkat yang tinggi untuk taihiap dan siocia."

Tiong Li mengerutkan alisnya. Agaknya kedatangan di Kerajaan Kin disalah tafsirkan oleh mereka, disangka dia melarikan diri karena menjadi orang buruan pemerintah Sung. "Hemm, aku menjadi orang buruan karena di fitnah, disangka menculik seorang puteri Istana. Karena itu, aku harus membuktikan bahwa bukan aku penculiknya, dan aku mendengar bahwa sang puteri itu telah berada di rumah gedung Panglima Wu Chu."

"Memang benar, akan tetapi Panglima Wu Chu bukan seorang yang suka menculik wanita. Beliau menerima puteri itu sebagai hadiah dari seseorang..."

"Aku tahu! Tentu dari Perdana Menteri Jin Kui, bukan? Sungguh laknat Perdana Menteri itu!"

"Sudahlah, taihiap. Tugasku hanya untuk membujukmu agar suka bekerja dengan panglima besar kami. Bagaimana jawabanmu?"

"Kalau aku menolak?"

"Taihiap, kepandaianmu boleh jadi tinggi, akan tetapi ketahuilah bahwa pasukan golok naga kami adalah pasukan yang amat tangguh dan kami kira taihiap berdua tidak akan dapat lolos dari sini dengan selamat. Akan tetapi kami tidak menghendaki hal ini terjadi, maka harap taihiap suka mempertimbangkan dengan baik."

"Hemm, kalau aku menerima, apa tugasku?"

"Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung telah bersahabat baik. Antara raja dan Kaisar Sung telah ada kesepakatan untuk tidak saling menyerang. Akan tetapi, masih banyak bekas pengikut Panglima Gak Hui yang tidak mau menerima perdamaian itu dan mereka masih suka membuat kacau dan menyerang pasukan kami. Tugas taihiap adalah membasmi pengacau itu yang berada di perbatasan, demi berlangsungnya hubungan baik antara ke dua negara."

"Hemm, bagaimana, Hwi-moi, pendapatmu?"

"Aku hanya menyerah kepadamu, koko," kata gadis itu sejujurnya karena memang ia bingung memikirkan hal itu.

"Yang aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana engkau dapat mengetahu gerak-gerik kami, ciangkun?" tanya Tiong Li kepada Ciu Bhok Hi.

Orang yang ditanya tertawa. "Ha-ha-ha, ini menunjukkan ketelitian kami, taihiap. Semenjak taihiap memasuki wilayah kami, kami telah menerima kabar bahwa taihiap berdua mungkin masuk daerah kami dan kami telah menyebar mata-mata untuk menyelidiki. Dan ketika taihiap berdua berada di rumah penginapan, di rumah makan, peristiwa dengan para perwira yang kurang ajar, semua peristiwa itu telah kami ketahui belaka."

"Ahhhh!" Tiong Li terbelalak. "Mengerti aku sekarang! Kakek yang bercaping itu!"

"Ha-ha-ha, dia hanya seorang di antara mata-mata kami, taihiap. Nah, ketahuilah bahwa kami semua telah siap siaga dengan baik sekali. Kalau semua kekuatan kami ini ditambah lagi dengan kekuatan taihiap yang lihai, pasti Panglima Besar Wu Chu akan menjadi girang sekali dan dengan bantuan taihiap, semua perusuh di perbatasan itu akan dapat dibasmi habis."

"Tidak, aku terpaksa tidak dapat menerima penawaran kedudukan oleh panglima kalian. Selain aku sendiri masih mempunyai banyak urusan pribadi, juga aku tidak ingin terikat oleh kedudukan di manapun. Sampaikan maafku kepada panglimamu."

"Taihiap, apa lagi yang menjadi penghalang bagi taihiap untuk membantu Kerajaan Kin? Banyak pendekar yang membantunya, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw juga membantu. Kalau ada urusan pribadi, taihiap dapat mengandalkan kami untuk membereskannya."

"Ciu-ciangkun, Li-koko sudah jelas menyatakan tidak setuju, apakah masih belum jelas bagimu? Ketahuilah, sekali Li-koko mengeluarkan pernyataan tidak akan ditarik kembali dan kami berdua tidak akan menuruti permintaanmu!" kata Siang Hwi yang agaknya gembira dengan penolakan Tiong Li itu.

"Bagus! Kalau begitu jangan harap dapat keluar dari tempat ini dengan selamat! Hanya ada dua pilihan, menjadi kawan atau menjadi lawan!" kata Ci Bhok Hi sambil melompat keluar.

"Bagaimana, koko?"

"Kita lawan mereka dan melarikan diri!" kata Tiong Li dengan tenang. "Siapkan pedangmu, karena mungkin pasukan Golok Naga ini berbahaya."

Siang Hwi mencabut pedangnya dan mereka berdua keluar pula dari pondoik itu. Dan mereka melihat bahwa mereka telah terkepung oleh delapan belas orang yang semua memegang golok, dipimpin oleh Ciu Bhok Hi. Melihat sikap dan kedudukan mereka, barisan golok itu nampaknya memang teratur rapi sekali.

"Ciu-ciangkun, kami tidak menghendaki permusuhan. Maka, biarkan kami pergi!" Tiong Li masih membujuk.

"Menyerah atau mati!" bentak Ciu Bhok Hi dan diapun sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.

Tiga orang menerjang maju dan menyerang dengan golok mereka terhadap diri Tiong Li sedangkan tiga orang lagi menyerang Siang Hwi. Gadis itu memutar pedangnya dan menangkis tiga batang golok itu lalu balas menyerang, akan tetapi pedangnya bertemu dengan golok-golok lain yang menangkis.

Tiong Li menggunakan gerakan Jauw sang-hui, dengan cepat tubuhnya berkelebat di antara gulungan sinar golok dan semua bacokan golok. Akan tetapi tiga batang golok lain sudah menyusul dan segera kedua orang itu dikepung dan dikeroyok dengan hebatnya. Memang hebat sekali barisan golok itu.

Akan tetapi tidak terlalu hebat bagi Tiong Li, bahkan Siang Hwi juga dapat membela diri dengan pedangnya. Memang rapi sekali susunan penyerangan golok itu, akan tetapi karena kepandaian pribadi masing-masing tidaklah terlalu tinggi, tenaga sinkang mereka tidak terlalu kuat, maka mudah bagi Tiong Li untuk mulai membalas beberapa orang sudah bergelimpangan jatuh bangun.

Setelah merobohkan delapan orang dengan tendangan dan tamparan tangannya, Tiong Li mengajak Siang Hwi untuk melarikan diri. Dia bahkan menyambar tangan gadis itu dan diajaknya berlari cepat menggunakan ilmu Jouw-sang-hui. Biarpun para anggauta barisan golok itu melakukan pengejaran, namun sebentar saja kedua orang itu lenyap di balik pohon-pohon.

Selagi Tiong Li dan Siang Hwi berlari cepat tiba-tiba muncul seorang hweshio tua di depan mereka yang mengangkat tangan ke atas menahan mereka. Tiong Li dan Siang Hwi berhenti akan tetapi mereka curiga. Jangan-jangan hwe-shio inipun kaki tangan Panglima Besar Wu Chu, seorang mata-mata!

"Siapakah lo-suhu dan ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?" tanya Tiong Li dengan suara tegas.

"Omitohud, pinceng melihat kalian dikejar-kejar pasukan Golok Naga, sebaiknya kalau pinceng membantu kalian bersembunyi. Bukankah kalian ini warga Sung yang setia?"

"Dan lo-cianpwe, bukankah seorang mata-mata dari Panglima Wu Chu?" tanya Siang Hwi yang juga curiga, dan pedangnya sudah siap-untuk menyerangnya.

"Omitohud, kalau benar pinceng mata-mata, engkau lalu mau apa nona?"

"Engkau layak mampus!" Bentak Siang Hwi yang segera membacokkan pedangnya.

Akan tetapi dengan lincah sekali hwe-shio tua gemuk itu mengelak. Siang Hwi menyerang terus sampai tujuh kali beruntun, akan tetapi semua serangannya mengenai tempat kosong dan hwe-shio itu kini meloncat ke atas sebuah dahan pohon yang tinggi. Tiong Li melihat gerakan ginkang yang hebat itu dan mencegah Siang Hwi mengejar terus.

"Lo-suhu, benarkah lo-suhu mata-mata dari Wu Chu yang ditugaskan menangkap kami?" tanyanya karena kalau benar demikian, dia sendiri hendak melawannya.

Hwe-shio itu melayang turun. "Omitohud, ilmu pedang yang hebat sekali. Nona, harap jangan terburu nafsu. Aku juga seorang yang setia kepada Kerajaan Sung. Bagaimana engkau tega menyangka pin-ceng itu pengkhianat yang mengabdi kepada Kin? Percayalah, pinceng bermaksud untuk menyembunyikan kalian dan kalau keadaan sudah mereda, baru kalian boleh melanjutkan perjalanan. Sekarang ini setelah kalian dikejar Barisan Golok Naga, keadaan kalian berbahaya dan kemanapun kalian pergi ke wilayah ini, tentu akan menjadi orang buruan. Pinceng Ceng Ho Hwe-shio, seorang murid Siauw-lim-pai, apakah kalian masih juga tidak percaya?"

Tiong Li cepat memberi hormat. "Kalau begitu, kami percaya dan sebelumnya kami menghaturkan terima kasih atas kebaikan lo-suhu."

"Marilah, jangan bicara saja, ikuti pin-ceng," kata hwe-shio itu yang lalu mendaki sebuah lereng menuju ke kuil yang berada di puncak bukit.

Tiong Li dan Siang Hwi mengikutinya dan ternyata hweshio itu dapat berlari cepat sekali sehingga Siang Hwi terpaksa harus mengerahkan tenaga agar jangan sampai tertinggal. Tentu saja tidak demikian dengan Tiong Li yang dapat mengikuti hwe-shio itu tanpa, banyak mengerahkan tenaga.

Kuil itu cukup besar dan dihuni oleh dua puluh orang hwe-shio. Dan ternyata mereka ini, walaupun tidak menentang pemerintah Kin secara terang-terangan, semua adalah orang-orang yang masih setia kepada Kerajaan Sung. Tiong Li dan Siang Hwi mendapatkan dua buah kamar di sebelah dalam, dan mereka mendengar pula ketika diluar banyak orang berdatangan.

Rombongan itu adalah Barisan Golok Naga yang mengejar sampai ke kuil, akan tetapi ketika Ceng Ho Hwe-shio mengatakan bahwa dua orang yang dicari tidak kelihatan datang ke kuil, rombongan itu tanpa memeriksa percaya saja lalu pergi.

Hal ini menunjukkan bahwa para hwe-shio itu dipercaya oleh pemerintah Kin. Dan memang hal ini adalah karena Siauw-lim pai tidak pernah memberontak atau memperlihatkan sikap melawan. Dan di antara para pejabat Bangsa Kin yang menganut agama Buddha, maka mereka itu menghormati para hwe-shio dari kuil itu...

Mestika Golok Naga Jilid 13

TAK pernah golok dan pedang itu dapat mengenai tubuhnya dan ketika dia menggunakan ilmu pukulan Thai-lek Kim-kong-jiu, golok yang berada di tangan Un Ci Siang terlepas karena lengannya kena dihantam tenaga sakti itu sehingga tergetar hebat. Di lain saat, ketika Tiong Li membalik untuk menghantam Gui Kong Sek, orang ini sudah meloncat ke belakang dan bersama tamunya dia melarikan diri! Agaknya baik Un CI Siang maupun Gui Kong Sek maklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu menandingi Tiong Li, maka keduanya segera kabur cerai berai!

"Jangan biarkan orang Kin itu lolos!" teriak Tiong LI kepada anak buah Ceng-liong-pang dan dia sendiri segera mengejar Gui Kong Seng. Orang-orang Ceng-liong-pang bagaikan baru sadar dari mimpi. Tadi mereka bengong dan terkagum-kagum melihat betapa Tiong Li mampu menandingi pengeroyokan dua orang itu dan kini, melihat Un Ñi Siang melarikan diri, mereka segera beramai-ramai mengejar dan mengepung sambil mengacung acungkan senjata untuk mengeroyok.

Un Ci Siang terkepung dan mengamuk dengan tangan kosong. Amukannya merobohkan sedikitnya lima orang anggauta Ceng-liong-pang, akan tetapi karena jumlah mereka amat banyak, akhirnya jagoan dari Kerajaan Kin itu jatuh juga menjadi korban puluhan senjata yang membuat tubuhnya hancur dan tewas. Setelah menewaskan Un Ci Siang, para anggauta Ceng-liong-pang itu lalu ikut mengejar ketua mereka sendiri yang dikejar oleh Tiong Li.

Dengan panik Gui Kong Sek lari ke gua di mana dia biasa bertapa. Akan tetapi Tiong Li tetap mengejarnya dan melihat bahwa dia tidak dapat melepaskan diri dari pengejarnya, ketua Ceng-liong-pang ini lalu masuk ke dalam gua tempat dia biasa bertapa itu.

Gua itu besar dan gelap dan ketika tubuh ketua Ceng-liong-pang itu masuk ke dalamnya dia segera ditelan kegelapan gua itu. Dengan berani Tiong Li mengejar masuk dengan sikap hati-hati dan waspada sekali. Tiba-tiba dia mendengar desir angin dari depan dan sangat cepat tubuh nya mengelak ke samping. Tiga batang piauw (pisau terbang) meluncur lewat tubuhnya dan dia terus mengejar ke dalam.

Kiranya gua itu bukan hanya lebar, akan tetapi juga dalam dan merupakan semacam terowongan yang berlika-liku. Di sebelah dalam keadaannya tidak segelap di bagian luar karena mendapat sorotan sinar dari atas, mungkin dari celah-celah di mana sinar matahari dapat masuk.

Ketika dia masuk terus akhirnya dia tiba di sebuah ruangan dan Tiong Li berhenti melangkah dan memandang dengan mata terbelalak. Dia melihat ketua Ceng-liong-pang yang tadi sudah berdiri didekat seorang laki-laki yang terbelenggu kaki tangannya sambil menodongkan pedangnya ke dada laki-lakl itu.

Dan laki-laki itu memiliki bentuk wajah yang serupa benar dengan ketua Ceng-liong-pang itu! Sekarang mengertilah Tiong Li. Ketua Ceng-liong-pang yang dikejarnya tadi adalah ketua yang palsu, sedangkan ketua aselinya menjadi menjadi orang tahanan di dalam gua ini, dibelenggu kaki tangannya! Pantas saja ketua Ceng-liong-pang membawa anak buahnya menyeleweng dan bersengkongkol dengan Perdana Menteri Jin Kui dan orang Kin, kiranya dia adalah ketua palsu!

"Jangan mendekat, atau orang ini akan kubunuh lebih dulu!" bentak ketua palsu itu.

"Hemm, biar engkau membunuhnya juga bagaimana engkau akan dapat lolos dari sini?" Tiong Li balas menggertak. Diam-diam mendengar lapat-lapat suara para anggauta Ceng-liong-pang yang mengejar menuju tempat itu.

"Aku punya usul. Bagaimana kalau engkau membebaskan dia sedangkan aku membebaskanmu, membiarkan engkau keluar dari sini dan melarikan diri?"

Ketua palsu itu memang menghendaki demikian. "Bagaimana aku dapat percaya kepadamu?" bentaknya.

"Aku Tan Tiong Li bukan orang yang suka melanggar janji. Aku bersumpah tidak akan mengganggumu dan membiarkan engkau keluar dari sini kalau engkau membebaskan tawanan itu! Kalau engkau tidak percaya dan tidak mau, silakan lakukan apa saja akan tetapi jangan harap dapat lolos dari tanganku!"

Gertakan ini mengenai sasaran. "Baik, aku akan membebaskan dia dan minggirlah!"

Tiong Li minggir memberi jalan kepada orang itu yang segera meloncat melewati Tiong Li dan berlari keluar terowongan gua. Tiong Li tidak memperdulikannya lagi karena dia percaya bahwa ketua palsu itu tentu akan bertemu dengan para anggauta Ceng-liong-pang yang melakukan pengejaran dan sudah tiba di depan gua!

Dia lalu meloncat ke dekat orang yang terbelenggu itu. "Apakah engkau ini pangcu Gui Kong Sek yang aseli?"

Orang itu mengangguk lemah. "Benar, dan orang tadi adalah seorang kaki tangan Bangsa Kin yang menyamar sebagai diriku, ketika aku bersamadhi disini, tiba-tiba aku diserang dan ditotok sehingga tidak berdaya."

Tiong Li lalu membebaskan kaki tangan orang itu dan mengajaknya keluar. Mereka mendengarkan suara ribut-ribut di luar gua. "Aku adalah ketua kalian! Kalian mau apa? Apakah hendak berkhianat kepadaku? Apakah kalian semua minta mati?"

Tiba-tiba Gui Kong Sek yang aseli meloncat ke depan. "Jangan percaya, dia pembohong, dan dia menyamar sebagai aku. Akulah Gui Kong Sek yang aseli, yang selama ini dia tahan, di dalam gua!"

Semua orang terkejut melihat ada dua Gui Kong Sek, akan tetapi mereka semua percaya kepada Gui Kong Sek yang pakaiannya kumal dan kurus ini, maka segera mereka mengepung Gui Kong Sek yang palsu. Orang itu menggunakan pedangnya mengamuk, akan tetapi dia di keroyok dan kini Gui Kong Sek yang aseli juga sudah menerima sebatang pedang dari anak buahnya dan dengan sengit ikut menyerang.

Tiong Li hanya menonton saja. Dia sudah bersumpah tidak akan mengganggu Gui Kong Sek palsu itu, dan dia sudah memperhitungkan bahwa ketua palsu Itu tidak akan dapat meloloskan diri karena para anggauta Ceng-liong-pang sudah tiba di depan gua. Perhitungannya tepat sekali dan kini ketua palsu itu di keroyok oleh banyak sekali anggauta Ceng-liong-pang yang membantu ketuanya yang aseli.

Biarpun ketua palsu itu cukup lihai, akan tetapi kini dia menghadapi ketua aseli yang juga hebat Ilmu pedangnya, ditambah lagi pengeroyokan puluhan orang anggauta Ceng-Iiong-pang. Akhirnya diapun roboh dan menjadi sasaran puluhan batang senjata tajam sehingga tubuhnya hancur lebur.

Tiong Li hendak mencegah akan tetapi sudah terlambat. Dia hanya menyatakan penyesalannya kepada Gui Kong Sek ketua Ceng-liong-pang. "Sayang sekali, kalau dia ditangkap hidup-hidup tentu kita dapat bertanya siapa dalang semua ini?"

"Maafkan kami, taihiap. Kami tidak lagi dapat menahan kemarahan."

"Sudahlah, sekarang pangcu mempunyai tugas baru yang amat berat dan penting, yaitu membersihkan nama Ceng-liong-pang yang sudah terlanjur buruk di mata para pejuang."

Setelah itu Tiong Li berpamit dan diantar sampai keluar dari daerah Ceng Iiong-pang oleh ketuanya dan para anggautanya yang berterima kasih sekali. Kalau tidak ada pertolongan pemuda perkasa itu tentu Ceng-liong-pang terlanjur menjadi sebuah perkumpulan yang menyimpang dan menyeleweng!

Tiong Li melanjutkan perjalanannya, hatinya diliputi kekhawatiran melihat betapa pihak Bangsa Kin agaknya berusaha benar-benar untuk bersama Perdana Menteri Jin Kui menumpas para patriot pejuang.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Ban-tok Sian li Souw Hian Li tinggal di Lembah Maut, sebuah lembah yang curam dan berbahaya di tepi Sungai Yang-ce, Karena tempat itu memang merupakan perbukitan dengan lembahnya yang curam dan banyak terdapat jurang, berbahaya sekali, maka disebut Lembah Maut. Di tempat berbahaya ini Ban-tok Sian-li mempunyai sebuah rumah gedung yang megah, tinggal di situ bersama muridnya, The Siang Hwi dan beberapa orang pembantu wanita.

Di sekeliling rumahnya terdapat pondok-pondok mungil dan ini merupakan tempat tinggal anak buahnya yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Para anggauta itu, yang juga merupakan murid-murid yang dilatih oleh The Siang Hwi yang mewakili gurunya, adalah wanita yang berusia dari dua puluh sampai tiga puluh tahun.

Biarpun namanya Lembah Maut, akan tetapi tempat ini mempunyai bagian yang subur sekali sehingga mereka dapat bercocok tanam di tanah subur itu. Ada pula yang setiap hari mencari ikan di Sungai Yang-ce.

Pada suatu hari, setelah mandi Siang Hwi bertemu dengan gurunya di beranda depan, Ban-tok Sian-li Souw Hian Li sepagi itu juga sudah mandi dan namрàk segar sehingga Siang Hwi menjadi kagum. Gurunya itu nampak selalu tetap muda, pantas menjadi kakaknya yang hanya berbeda satu dua tahun. Pada hal, gurunya itu sepuluh atau sebelas tahun lebih tua darinya.

"Selamat pagi, subo."

"Selamat pagi, Siang Hwi. Kenapa engkau kelihatan wajahnya agak pucat dan muram?"

"Semalam aku kurang tidur, subo. Aku mendapatkan mimpi buruk sekali membuat aku sukar tidur."

Gurunya tersenyum. "Ihh, seperti anak kecil saja engkau, Siang Hwi. Kenapa mimpi saja dipikirkan sampai tidak dapat tidur?"

"Entahlah," subo. Akan tetapi sungguh mimpi itu membuat teecu tidak dapat tidur dan hati merasa gelisah. Sungai Yang-ce meluap dan airnya sampai menghanyutkan semua yang berada di sini!"

Senyum Ban-tok Sian-li semakin melebar. "Anak bodoh! Mana mungkin air Sungai Yang-ce dapat naik ke lembah ini? Andaikata benar terjadi banjir, tidak mungkin air sungai dapat naik ke tempat yang tinggi ini!"

Baru saja percakapan mereka sampai ke situ, tiba-tiba terdengar suara hiruk plkuk dan sorak sorai. Seluruh anak buah Lembah Maut menjadi gempar karena tiba-tiba sekali tempat itu sudah diserbu oleh pasukan yang besar jumlahnya! Tidak kurang dari seratus orang perajurit Kerajaan Sung menyerbu tempat itu, dan tanpa banyak cakap lagi telah menyerang.

Siang Hwi dan Ban-tok Sian-li серat berlari keluar sambil membawa pedang dan mereka segera disambut oleh Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak! Segera terjadi pertempuran hebat antara Ban-tok Sfan-li dan Tang Boa Lu, sedangkan The Siang Hwi sudah bertanding melawan Kui To Cin-jin yang bersenjatakan rantai baja.

"Tangkap pemberontak!"

"Hancurkan mereka!"

Teriakan-teriakan itu terdengar dan Ban-tok Sian-li tidak merasa perlu untuk bertanya lagi. Memang ia kini bersimpati kepada para pejuang dan semenjak peristiwa di kota raja, yaitu tewasnya An Kiong hartawan di kota raja yang dibelanya itu, la sudah dianggap sebagai pemberontak pula. Maka, iapun mengamuk dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan lawan. Akan tetapi lawannya, Si Muka Tengkorak, merupakan lawan yang setingkat dengannya sehingga pertandingan itu menjadi amat seru.

Sementara itu, para anggauta pasukan Kerajaan Sung ketika mendapat kenyataan bahwa lawan mereka semua adalah wanita yang rata-rata masih muda dan cantik, mereka merasa gembira sekali dan berusaha keras untuk menangkap mereka hidup-hidup. Karena jumlah mereka seratus orang lebih sehingga jauh lebih besar dari pada jumlah anak buah Lembah Maut yang hanya tiga puluh orang, maka dengan cepat mereka dapat mendesak lawan.

The Siang Hwi yang mendapatkan lawan Kui To Cin-jin, merasa kewalahan. Orang yang berjubah seperti pendeta dan bersenjata rantai baja ini memang lihai bukan main. Mukanya yang seperti tikus, kini tersenyum dan Jenggotnya yang panjang bergoyang-goyang. Biarpun tubuhnya tinggi kurus, namun rantai yang menyambar-nyambar dengan amat kuat dan setiap kali bertemu dengan pedangnya, Siang Hwi merasa betapa telaрak tangannya panas dan tergetar hebat. Setelah lewat lima puluh jurus, Siang Hwi sudah tidak kuat bertahan lagi.

"Trangggg!"

Dengan keras sekali pedangnya bertemu rantai baja dan pedang itu terlepas dari pegangannya dan sebelum sempat menghindar, sebuah tendangan membuat ia terpelanting dan sebuah totokan menyusul, membuat ia ti dak mampu bergerak lagi. Pada saat itu, sebagian besar anak buah Lembah Maut juga sudah tertawan dan ada pula beberapa orang yang terluka parah dan tewas. Akan tetapi lebih banyak yang tertawan hidup-hidup.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Ban-tok Sian-li memutar pedangnya dengan kecepatan hebat dan ia dapat membuat lawannya terpaksa mundur. Kesempatan ini ia pergunakan untuk meloncat jauh ke belakang dan Ban-tok Sian-li melarikan diri. la tidak ingin tertangkap atau terbunuh pula karena maklum bahwa pihaknya sudah menderita kekalahan.

Akhirnya semua anggauta Lembah Maut telah kalah. Duapuluh orang tertawan hidup-hidup dan mereka itu berada dalam rangkulan para perajurit yang tertawa-tawa penuh kemenangan. Kui To Cin-jin menawan Siang Hwi karena dia tahu bahwa muridnya, mendiang Jin Kiat pernah tergila-gila kepada gadis ini dan seolah gadis ini yang patut dimintai pertanggungan jawab. Maka dia bermaksud membawanya kepada Perdana Menteri Jin Kui untuk diadili karena gurunya dapat melarikan diri. Sarang itu lalu dirampok habis-habisan, kemudian rumah gedung dan semua pondok yang mengelilinginya dibakar oleh pasukan itu.

Kui To Cin-jin tidak memperdulikan nasib para anggauta Lembah Maut. Dia menyerahkan mereka kepada anak buahnya yang bagaikan segerombolan serigala yang haus darah lalu mempermainkan dan memperkosa mereka sampai puas dan merekapun di tinggalkan mati di tempat itu. Melihat ini, Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak juga tidak perduli sama sekali.

The Siang Hwi yang melihat ini merasa sakit sekali hatinya dan diam-diam ia bersumpah bahwa kelak ia akan berusaha untuk membalas sakit hati ini kepada dalangnya yang ia duga bukan, lain adalah Perdana Menteri Jin Kui, Akan tetapi pada saat itu ia tidak berdaya sama sekali, menjadi tawanan Kui To Cin-jin.

la memang tidak diganggu dan Kui To Cin jin melarang para perajurit mengganggunya karena ia hendak diserahkan kepada Perdana Menteri Jin Kui untuk diadili, akan tetapi ia di ikat kedua tangannya dan dinaikkan kuda di depan Kui To Cin-jin, ditelungkupkan melintang di atas punggung kuda.

Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu menunggang kuda di depan pasukan itu. Mereka berdua merasa gembira karena telah berhasil membasmi para pemberontak di Lembah Maut. Perdana Menteri Jin Kui memerintahkan jagoannya yang diandalkan, yaitu Kui To Cin-jin untuk memimpin penyerangan itu, dan mengingat bahwa Bantok Sian-li amat lihai, maka dia minta agar Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak membantunya. Dan ternyata mereka berhasil. Biarpun Ban-tok Sian-li dapat melarikan diri, akan tetapi muridnya dapat ditangkap dan semua anak buahnya dibasmi habis!

Dua orang jagoan ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika mereka tiba di sebuah jalan sunyi dan berpapasan dengan seorang pria muda yang memakai caping dan menutupi mukanya dengan caping, pria muda itu lalu membayangi mereka dari belakang. Tidak menyangka sama sekali bahwa pria muda itu adalah orang yang selama ini mereka cari-cari, yaitu Tan Tiong Li.

Tan Tiong Li sedang dalam perjalanan mencari puteri Sung Hiang Bwee yang terculik orang dan dibawa ke daerah Kin, dan baru saja dia meninggalkan Ceng-liong-pang ketika dia dari jauh melihat rombongan pasukan itu. Dia menutupi mukanya dengan caping dan betapa kagetnya ketika ia melihat The Siang Hwi rebah melintang di atas kuda yang ditunggangi oleh Kui To Cin-jin!

Tahulah dia bahwa gadis itu ditawan, maka dia lalu membayangi dengan cepat. Bahkan tanpa mereka ketahui, dengan mengambil jalan pintas dia mendahului mereka dan naik ke atas pohon tepi jalan. Dia sudah memperhitungkan dengan cermat sekali, maka ketika rombongan itu lewat, dan tepat ketika kuda yang ditunggangi Kui To Cin-jin berada di bawah pohon, pemuda itu lalu melayang turun. Bagaikan seekor burung garuda yang besar dia menyambar tubuh Siang Hwi dari atas kuda Kui To Cin-jin, tanpa pendeta itu dapat menghalangi karena gerakan dengan ilmu Jouw-sang-hui itu cepat bukan main dan tahu-tahu Siang Hwi telah berada dalam pondongannya!

Ketika melihat siapa orangnya yang merampas gadis tawanannya itu, Kui To Cin-jin terkejut sekali dan cepat dia berteriak, "Tangkap orang itu...!"

Tang Boa Lu yang lebih dulu dapat mengejar dengan loncatannya, akan tetapi Tiong Li yang sudah membebaskan ikatan tangan gadis itu, membalik dan melontarkan pukulan Thai-lek Kim-kong- jiu kepada Si Muka Tengkorak. Tang Boa Lu terkejut dan menangkis dengan pengerahan tenaga.

"Desssss...!" Dua tenaga sinkang yang kuat itu bertemu di udara dan akibatnya Si Muka Tengkorak hampir terpelanting!

"Mari kita pergi!" kata Tiong Li sambil menggandeng tangan Siang Hwi dan membawanya loncat jauh.

Melihat ketangguhan pemuda itu, Si Muka Tengkorak menjadi jerih kalau harus melawan sendiri, sedangkan yang lain-lain masih belum cukup kepandaian mereka untuk dapat melakukan pengejaran.

Terpaksa Kui To Cin-jin hanya dapat menyumpah-nyumpah dan mengajak mereka melakukan pengejaran. Akan tetapi semua usaha itu sia-sia belaka. Yang dikejar sudah lenyap entah ke mana. Dengan uring-uringan Kui To Cin-jin terpaksa mengajak mereka kembali ke kota raja, melapor kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa usaha pembasmian ke Lembah Maut sudah berhasil baik akan tetapi Ban-tok Sian-li dan muridnya telah berhasil melarikan diri.

********************

Tiong Li berhenti berlari dan memandang kepada Siang Hwi yang terengah engah kelelahan karena dipaksa melarikan diri dengan cepat sekali itu. Dia melihat wajah gadis itu pucat dan wajahnya yang cantik jelita itu diliputi kedukaan besar.

"Hwi-moi..." tegurnya sambil memandang kepada gadis itu dengan penuh iba.

"Li-koko...!" Dan tiba-tiba saja gadis itu menangis.

Tiong Li terkejut dan merangkulnya, "Hwi-moi, ada apakah...?"

Siang Hwi menangis di dada pemuda itu, lupa bahwa ia telah berada dalam pelukan orang. la hanya ingin menumpahkan semua kedukaan pada saat itu dan baginya dada pemuda itu merupakan tempat bersandar yang sentausa dan aman.

Karena maklum bahwa gadis itu baru saja mengalami hal yang hebat dan mungkin mendukakan, Tiong Li mendiamkan saja menangis, bahkan menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang gurunya yang tidak nampak. Setelah tangis itu mereda, barulah Siang Hwi sadar bahwa ia berada dalam pelukan Tiong Li. la menjauhkan diri, melihat betapa baju bagian dada Tiong Li sudah basah air matanya.

"Ah, maaf, koko, bajumu menjadi basah..." katanya tersipu.

"Tidak mengapa, Hwi-moi. Sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi denganmu dan bagaimana engkau sampai tertawan oleh orang-orangnya Perdana Menteri Jin Kui itu?"

"Tempat kami telah diserang pasukan tadi, koko. Semua anak buah telah... dibunuh..." la tidak sampai hati menceritakan betapa semua anak buah itu dihina dan diperkosa sebelum di bunuh.

"Ah, dan di mana subomu?"

"Subo dapat melarikan diri akan tetapi aku tertawan. Tempat kami diramроk dan dibakar habis. Aku... ah, entah apa yang akan terjadi dengan diriku kalau saja tidak ada engkau yang menolongku, koko. Aku berterima kasih kepadamu..."

"Hussh, tidak perlu bicara tentang terima kasih. Sudah selayaknya kita saling bantu. Dahulupun kalau bukan engkau yang menolong, aku sudah lama mati di tangan subomu. Sekarang, bagaimana, Hwi-moi? Apa yang akan kau lakukan?"

Siang Hwi menghela napas panjang dan memandang pemuda itu dengan memelas. "Aku tidak tahu, koko. Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Tempat sudah dibakar, subo juga entah pergi ke mana. Aku tidak tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus kulakukan," katanya bingung.

"Kalau engkau hendak mencari subomu, mari kutemani dan kubantu mencarinya."

"Kemana kita harus mencarinya? la melarikan diri dan kami berdua tentu kini menjadi buruan pemerintah. Ke manapun kita pergi tentu akan diburu dan kalau ketahuan akan ditangkap. Aih koko, aku tidak mengira sekali... nasibku akan menjadi begini."

"Sudahlah, moi-moi. Bagaimana kalau engkau kembali kepada keluargamu? Aku akan mengantarmu ke sana."

Gadis itu memejamkan matanya dan kembali beberapa butir air mata mengalir keluar dan cepat dihapusnya. "Li koko, aku sudah tidak mempunyai keluarga, sudah tidak mempunyai orang tua. Aku hidup sebatang kara di dunia ini, tadinya aku hanya mempunyai subo, akan tetapi sekarang..." Gadis itu memandang sedih sekali.

Tiong Li memegang kedua lengan gadis itu. "Besarkan hatimu, Hwi-moi, Ketahuilah bahwa aku sendiri juga seorang yatim piatu yang tidak mempunyai siapa-siapa lagi, kita sama-sama sebatang kara akan tetapi... bukankah kita ini sekarang saling... memiliki? Aku akan membantumu dalam segala hal, dan akan melindungimu, kalau perlu dengan taruhan nyawaku, Hwi-moi..."

"Li-koko... engkau begini baik. Sejak dahulu engkau amat baik kepadaku. Kenapa engkau begini baik kepada ku, koko? Bahkan subo yang biasanya baik kepadaku meninggalkan aku ketika aku tertawan. Akan tetapi engkau... ah, mengapa engkau begini baik kepadaku?"

"Mengapa? Aku sejak pertama kali bertemu sudah amat tertarik kepadamu, Hwi-moi, tertarik karena kebaikan hatimu ketika engkau mencegah subomu untuk membunuhku. Aku sudah suka sekali kepadamu dan aku... ah, aku cinta padamu, Hwi-moi. Tidak terasakah olehmu?"

Tiba-tiba Siang Hwi menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. "Aku... aku merasakan itu, koko."

"Dan bagaimana dengan perasaan hatimu, Hwi moi? Bagaimana perasaan hati mu terhadap aku?"

Sampai lama Siang Hwi tidak mampu menjawab. Bagaimana seorang gadis dapat membuka rahasia hatinya begitu saja? la merasa tersipu dan malu sekali. "Koko, aku... aku hanya pasrah kepadamu. Aku... kalau engkau tidak berkeberatan, aku akan ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku dan aku... aku akan setia kepadamu."

Tiong Li merasa gembira sekali dan berbesar hati. "Akan tetapi bagaimana kalau kita bertemu lagi dengan subomu? Engkau akan meninggalkan aku dan ikut lagi kepada subomu?"

"Tidak! Subo telah meninggalkan aku ketika aku tertawan. Aku tidak lagi mau ikut subo. Aku ingin ikut engkau, koko!"

"Hanya ikut saja? Sebagai apa?"

"Terserah kepadamu, aku hanya menurut. Sebagai muridmu, atau sebagai pelayanmu, aku tidak akan menolak."

Tiong Li merasa terharu sekali dan tlba-tiba dia merangkul lagi gadis itu. Dikecupnya kening yang halus itu dan dia berbisik, "Bagaimana kalau engkau ikut denganku sebagai... tunanganku, sebagai kekasihku, sebagai calon isteriku? Aku cinta padamu, Hwi-moi."

Dengan tersipu Siang Hwi menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu. "Sudah kukatakan aku pasrah dan menurut saja semua keinginanmu, koko."

"Akan tetapi, cintakah engkau kepadaku?" Tiong Li mencium rambut kepala yang bersandar di dadanya itu.

Siang Hwi tidak menjawab, akan tetapi Tiong Li merasa dengan dadanya betapa kepala itu mengangguk-angguk! Dan itu sudah cukup baginya. Hatinya merasa demikian besar dan gembira. Dia menangkap tubuh itu, lalu dilemparkannya ke atas, ditangkap dan dilemparkan lagi.

Siang Hwi terkekeh dan menjerit-jerit kecil, akan tetapi Tiong Li tetap melambungkannya ke atas dan menangkapnya lagi seperti sebuah bola. Siang Hwi lalu mengerahkan tubuhnya sehingga berat. Akan tetapi Tiong Li dapat menangkapnya dan ketika melambungkannya lagi gadis itu menggunakan ginkangnya untuk meloncat dan berjungkir balik sehingga ketika ia turun kepalanya terlebih dulu. la menjulurkan kedua tangannya untuk menangkis tangkapan kekasihnya sambil terkekeh. Tiong Li menerimanya dan merangkul, memondongnya seperti anak kecil dan mengecup kedua pipinya.

"Aih, engkau nakal, Li-ko!" Siang Hwi berkata, akan tetapi ia merangkulkan lengannya ke leher pemuda itu.

Demikianlah, kedua orang muda itu bermain-main dan bermesraan dengan hati penuh kasih sayang...

Mestika Golok Naga Jilid 12

PADA saat yang ditentukan, Kok Bu dan kawan-kawannya membakar api besar di dekat pintu gerbang rumah kediaman Jin Kui. Ketika melihat api berkobar dan melihat belasan orang menyerang para penjaga di pintu gerbang, para penjaga lain datang berlarian ke tempat itu untuk menghadapi para perusuh.

Akan tetapi setelah para penjaga semua berkumpul dan tidak kurang dari tiga puluh orang pasukan jaga melakukan perlawanan, Kok Bu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan segera melarikan diri. Tak seorangpun di antara mereka terluka karena merekapun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya memancing saja agar semua penjaga berdatangan ke pintu gerbang.

Sementara itu, dengan gerakannya yang ringan dan gesit seperti seekor burung walet, Tiong Li menggunakan ilmu Jouw-sang-hui, melompat ke atas tembok yang sudah ditinggalkan penjaganya dan melompat masuk ke sebelah dalam tembok pagar. Dia menyusup ke dalam taman sehingga tidak nampak, bersembunyi dan menyelinap di balik rumpun bunga, atau batang pohon yang tumbuh di dalam taman itu. Akhirnya, tak lama kemudian dia sudah berada di atas atap gedung tempat tinggal Perdana Menteri Jin Kui.

Di atas sebuah ruangan di mana duduk Perdana Menteri Jin Kui, dia mendekam dan mengintai ke bawah. Dilihatnya Perdana Menteri Jin Kui duduk dijaga oleh lima orang pengawal dan tak lama kemudian muncullah seorang yang amat dikenalnya, yaitu Si Muka Tengkorak yang lihai!

"Bagaimana? Apa yang terjadi di luar?" tanya Perdana Menteri Jin Kui kepada Si Muka Tengkorak.

Tang Boa Lu melapor. "Hanya ada belasan orang pengacau yang membikin ribut di pintu gerbang. Akan tetapi setelah para penjaga datang menyerang, mereka kabur dan menghilang di kegelapan malam. Mereka itu hanya beberapa orang pemberontak pengecut yang agaknya hendak mencoba untuk menyerang para penjaga akan tetapi setelah mendapat perlawanan lalu melarikan diri."

"Ah, para pemberontak itu memperhebat pengacauannya. Jangan-jangan mereka tahu tentang puteri..."

"Aih, apa yang mereka ketahui, tai-jin? Puteri Sung Hiang Bwee kini telah berada di tangan Panglima Besar Wu Chu di Kerajaan Kin, tidak ada seorangpun yaog mengetahui, harap tai-jin jangan khawatir."

Kemudian bermunculan Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan juga Kui To Cin-jin.

"Sungguh celaka. Di kota raja terdapat belasan orang pemberontak dan kalian tidak mengetahuinya. Ini sungguh berbahaya sekali."

"Hemm, bagaimana dengan tugas kalian? Apakah dapat menangkap para pengacau itu?"

"Kami telah melakukan pengejaran akan tetapi mereka itu lenyap dalam kegelapan malam, tai-jin," Ciang Sun Hok melapor.

Ma Kiu It, panglima pengawal Jin Kui, segera berkata, "Jangan khawatir, tai-jin. Besok pagi saya akan mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan di dalam kota. Saya juga mencurigai para pengemis Hek-tung Kai-pang."

"Ada apa dengan mereka? Bukankah selama ini para pengemis Hek-tung Kai-pang tidak pernah melakukan pelanggaran?" tanya Jin Kui.

"Memang benar, mereka tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran apapun. Akan tetapi saya mendengar bahwa mereka semua mempelajari iImu silat dan kabarnya malah mereka memiliki banyak jagoan. Hal ini amat berbahaya karena siapa tahu diam-diam mereka itu membantu para pemberontak!"

"Kalau begitu lakukan penggeledahan dalam sarang mereka Kalau mendapatkan senjata tajam, sita dan kalau sikap mereka mencurigakan, lakukan penangkapan!"

"Baik, tai-jin."

Tiong Li sudah mendengar cukup. Pertama, dia sudah tahu bahwa yang diculik adalah Sung Hiang Bwee dan kiranya puteri itu diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari kerajaan Kin. Siapa lagi yang punya ulah seperti itu kalau bukan Perdana Menteri Jin Kui? Tiong Li mengepal tinjunya kalau ingat betapa puteri yang cantik jelita itu telah diserahkan kepada panglima Bangsa Kin!

Dan berita kedua juga amat penting. Besok pagi akan diadakan penggeledahan di Hek-tung Kai-pang yang mulai dicurigai! Dia harus memberitahu kepada Kok Bu secepatnya. Karena itu, dengan hati-hati dia meninggalkan gedung itu dan memasuki taman.

Akan tetapi sekarang, jalan keluarnya sudah tertutup. Semua tembok terdapat penjaganya, di sebelah dalam dan luar tembok sehingga tidak mungkin dia keluar tanpa diketahui orang. Akan tetapi dia tidak perduli. Dengan menggunakan iImu Jouw-sang-hui, dia melompat ke atas tembok. Para penjaga melihat dan mengejarnya, akan tetapi dua orang penjaga yang terdekat segera roboh begitu Tiong Li menggerakkan kakinya. Dan sebelum para penjaga lain dapat menyerangnya, dia sudah berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Tentu saja para penjaga menjadi gempar dan segera melaporkan kepada Perdana Menteri Jin Kui. Perdana Menteri Jin Kui menjadi pucat wajahnya mendengar laporan bahwa baru saja ada orang keluar dari dalam tembok pagar rumahnya.

Berarti tadi ada orang yang berkeliaran di rumahnya! Padahal di situ terdapat Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin dan bahkan Tang Boa Lu. Dan mereka semua tidak mengetahuinya. Ini hanya membuktikan betapa lihainya orang yang menyusup masuk tadi. Dan mungkin orang itu sudah mendengarkan percakapan antara dia dan para pembantunya.

"Celaka! Kejar, cari dan tangkap orangnya!" teriaknya kepada para pembantunya.

Empat orang itu segera berlompatan mengejar, akan tetapi tentu saja mereka hanya berputar-putar dalam kegelepan malam tanpa menemukan siapa- siapa!

Tiong Li yang mengenakan pakaian hitam itu kembali ke rumah gedung kosong di mana Gan Kok Bu sudah menantinya.

"Bagaimana hasilnya, taihiap?"

"Ada berita amat penting dapat kudengar," kata Tiong Li. "Puteri Sung Hiang Bwee itu ternyata diculik untuk diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari Kerajaan Kin dan sekarang sudah berada di sana!"

"Jahanam busuk! Puteri kaisar diserahkan kepada Panglima Kin? Jin Kui memang seorang pengkhianat busuk!"

"Ada berita yang lebih penting sekali untuk kalian," kata Tiong Li. "Besok pagi-pagi panglima pengawal dari Jin Kui akan mengadakan pembersihan terhadap Hek-Tung Kai-pang."

"Ah, apa alasannya?" seru Kok Bu terkejut sekali.

"Agaknya Hek-tung Kai-pang mulai dicurigai karena anggautanya banyak yang mempelajari silat. Besok akan dilakukan pernggeledahan di sarang Hek-tung Kai-pang. Kalau bertemu senjata tajam akan disita dan kalau sikap kalian mencurigakan akan dilakukan penangkapan!"

"Terima kasih, Tan-taihiap. Berita ini memang penting sekali untuk kami. Nah, selamat tinggal. Sekarang juga aku harus memberitahu ayah dan kawan-kawan agar mereka bersiap-siap menghadapi pemeriksaan besok pagi."

Kok Bu meninggalkan Tiong Li yang kembali menyamar sebagai seorang pengemis dan malam itu juga meninggalkan kоta raja. Untung baginya bahwa kecurigaan terhadap para pengemis belum sampai kepada para petugas jaga di pintu gerbang sehingga dengan mudah dia menyelinap keluar dari pintu gerbang tanpa banyak halangan.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Perkumpulan Ceng-liong-pang yang berpusat di pegunungan Ceng-liong-san adalah sekelompok pejuang yang gigih. Ketuanya, Gui Kong Sek adalah seorang patriot sejati. Biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, akan tetapi dia masih menjadi pejuang yang gigih, memimpin anak buahnya yang sebanyak dua ratus orang itu untuk melawan dan menentang penjajah Bangsa Kin. Karena letaknya berada di perbatasan antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin, terletak di daerah tak bertuan yang amat luas, maka mudah bagi para pejuang Ceng-liong-pang untuk mengganggu pasukan Kin.

Baik pasukan Kerajaan Kin maupun pasukan Sung yang menganggap mereka itu pemberontak, mengalami kesulitan untuk membasmi kelompok ini. Setiap kali diserbu, ketompok ini cerai berai bersembunyi di pegunungan Ceng-liong-san, dan mengadakan perlawanan gerilya yang merugikan pasukan yang hendak membasmi mereka.

Gui Kong Sek adalah seorang ahli silat Butong-pai yang berkepandaian tinggi, juga berwatak gagah. Dalam waktu luang, kalau tidak ada pertempuran, dia bisa mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk bersamadhi. Kalau sudah berada di dalam gua itu tak seorangpun anak buah boleh mengganggunya, kecuali terjadi hal yang penting sekali dan dia dapat bertahan sampai beberapa hari bersamadhi di dalam gua itu.

Pada suatu hari Gui Kong Seng menyudahi samadhinya setelah lima hari berada di dalam gua, dan semua anggauta Ceng-liong-pang merasa heran melihat sikaр ketua mereka begitu pendiam, tidak seperti biasanya. Bahkan berhari hari ketua itu tidak pernah lagi mengadakan pertemuan dengan para murid dan pembantunya untuk membicarakan рerjangan.

Pada suatu hari sang ketua memanggil para murid dan pembantunya, dan dengan suara tenang dan berwibawa dia berkata kepada mereka, "Selama ini kita telah salah jalan. Dalam samadhiku aku merenungkan semua yang telah kita lakukan selama ini dan aku merasakan suatu kesalahan yang besar, Kita harus mencontoh mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita juga harus setia kepada pemerintah Sung dan kaisar, maka kita harus mencegah adanya pemberontakan terhadap Kerajaan Sung! Kita harus membantu kerajaan untuk membasmi para pemberontak!"

Tentu saja semua murid, dan sute dan pembantu menjadi heran sekali melihat perubahan ini. Sang Ketua yang hidup sebatang kara dan tidak berkeluarga itu kelihatan amat berubah!

"Akan tetapi, pangcu," kata seorang sutenya. "Apakah itu berarti bahwa kita tidak lagi memusuhi Bangsa Kin?"

"Semua tergantung keputusan pemerintah. Kalau Kerajaan Sung memusuhi Kin, kita juga harus memusuhinya. Akan tetapi kalau Kerajaan Sung berdamai dengan Kin, kita tentu saja tidak boleh menentangnya. Pendeknya, kita harus bekerja untuk Kerajaan Sung dan tidak menentang politik dan pendiriannya!"

Dia lalu membubarkan pertemuan itu dan tentu saja keputusan ini amat menghebohkan para angguta Ceng-liong- pang. Selama ini perkumpulan itu disegani kawan dan lawan sebagai pejuang yang amat gigih, dan kini tahu-tahu ketuanya membanting haluan ke arah yang berlawanan!

Dan keheranan itu bertambah menjadi penasaran ketika dua pekan kemudian, perkumpulan itu menerima kunjungan tamu, yaitu para jagoan dari kota raja para pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang membicarakan tentang pembasmian para pemberontak!

Hal ini tentu saja membuat para anggauta Ceng-liong-pang menjadi penasaran sekali, terutama dua orang sute dari Hui Kong Sek. Mereka merasa curiga dan hendak melakukan penyelidikan. Akan tetapi, pada malam hari itu, kedua orang sute ini kedapatan tewas di kamar sang ketua yang segera memanggil semua anggauta dan menunjuk mayat kedua orang sutenya sambil berkata,

"Lihat, mereka ini hendak berkhianat dan bermaksud membunuhku! Akan tetapi mereka tidak berhasil dan berbalik terbunuh olehku. Hendaknya mereka ini menjadi contoh kepada kalian. Siapa yang hendak berkhianat akan mengalami nasib yang sama! Nah, siapa lagi yang hendak membantah keputusanku bahwa mulai sekarang kita harus setia kepada Kerajaan Sung dan membasmi para pemberontak?"

Semua anggauta menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani membantah. Bukan itu saja. Setelah Gui Kong Sek bersekutu dengan orang orang kepercayaan Menteri Jin Kui, mulai berdatangan utusan dari Kerajaan Kin. Dan berkat bantuan Gui Kong Sek, banyak kelompok pejuang yang dapat dibasmi. Sarang mereka diserbu atas petunjuk ketua Ceng-liong-pang itu, bahkan para anggauta Ceng-liong-pang dipaksa untuk ikut menyerbu.

Pada suatu hari, Tiong Li yang melakukan perjalanan untuk mencari puteri Sung Hiang Bwee, tibalah di daerah kekuasaan Ceng-liong-pang. Selagi dia berjalan seorang diri, kini dia tidak lagi menyamar sebagai pengemis sejak keluar dari kota raja, mendadak bermunculan dua puluh orang lebih yang menghadangnya.

Tadinya dia mengira bahwa mereka adalah perampok-perampok, akan tetapi melihat pakaian mereka yang pantas, dia mengira mereka itu kelompok pejuang. Dengan tenang Tiong Li menghadapi seorang tinggi kurus yang agaknya menjadi pemimpin dari kelompok orang itu.

"Sobat-sobat sekalian,ada keperluan apakah anda sekalian menghadang perjalananku?"

Mendadak seorang di antara mereka berseru, "Aku mengenal orang ini. Gambarnya terpampang di mana-mana. Dia adalah Tan Tiong Li, pemberontak yang melarikan puteri istana itu!"

"Tangkap dia!"

"Jangan sampai lolos pemberontak ini!"

Orang-orang itu berteriak-teriak dan menghunus senjata, mengepung Tiong Li.

Tiong Li berusaha menyabarkan mereka, "Kawan-kawan, harap jangan terburu nafsu. Memang benar aku bernama Tan Tiong Li dan memang benar gambarku terpampang di papan pengumuman di mana-mana, akan tetapi semua itu hanyalah fitnah belaka. Aku bukan seorang pemberontak dan aku sama sekali tidak menculik puteri Istana."

"Bohong...!"

"Mana ada maling mengaku pencuri?"

"Serang dia! Bunuh!"

Orang-orang itu sudah tidak terkendalikan lagi, beramai-ramai mereka menyerang Tiong Li. Pemuda itu mengelak dari semua serangan itu, tubuhnya berkelebatan dan begitu dia menggerakkan tangan kaki, para pengeroyok itu berpelantingan seperti daun-daun kering di terbangkan angin!

Si Tinggi kurus sendiri menggunakan pedangnya menusuk dada Tiong Li, akan tetapi dengan mudah Tiong Li meloncat ke samping dan sebelum si kurus sempat menyerang lagi, sebuah totokan membuatnya roboh dengan lemas dan tidak dapat bangkit kembali.

Tiong Li terus mengamuk dan dalam waktu singkat semua orang yang berjumlah dua puluh tiga orang itu telah roboh semua! Dia memang tidak bermaksud membunuh, maka mereka itu hanya mengalami salah urat atau tertotok saja, tidak ada yang terluka berat ataupun tewas.

Tiong Li mendekati si tinggi kurus dan sekali tepuk dengan tangannya, dia membebaskan totokannya, lalu bertanya, "Sebetulnya kalian siapakah dan mengapa memusuhiku? Kulihat kalian bukan perampok."

Si tinggi kurus maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kesaktian. "Kami adalah anggauta Ceng-liong-pang."

"Hemmm...!" Tiong Li mengerutkan alisnya dengan heran. "Bukankah menurut pendengaranku Ceng-Iiong-pang adalah sebuah perkumpulan para pejuang patriot yang menentang penjajah Kin? Kenapa menyerang aku yang difitnah oleh Perdana Menjeri Jin Kui?"

Si tinggi kurus itu menghela napas panjang, "Ini semua atas perintah pang-cu. Entah apa yang terjadi, pangcu kami telah berubah sama sekali. Bukan saja berhubungan dengan para utusan Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi juga dengan utusan dari Kerajaan Kin!"

"Ah...!" Tiong Li terkejut sekali. "Apa yang telah terjadi?"

Si tinggi kurus ini adalah seorang murid tertua dan dia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan tindakan gurunya, apalagi setelah kedua orang paman gurunya tewas oleh gurunya sendiri. Kini, bertemu dengan seorang pemuda sakti yang dimusuhi Perdana Menteri Jin Kui, timbul harapannya kalau-kalau pemuda ini dapat membongkar rahasia apa yang terkandung di balik perubahan sikaр ketua mereka itu.

"Terjadinya beberapa bulan yang lalu. Setelah keluar dari tempat samadhinya, pangcu menjadi berubah sama sekali. Dia melarang kami melakukan gerakan menyerang pasukan Kin, bahkan tak lama kemudian dia menerima utusan dari Menteri Jin Kui, dan utusan dari pasukan Kin. Dan kemudian dia bahkan memaksa kami untuk memusuhi para pejuang yang disebutnya sebagai pemberontak-pemberontak yang patut dibasmi."

"Apa alasannya?"

"Katanya kita harus mengikuti jejak mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita tidak boleh menentang kebijaksanaan Kaisar dan kalau Kaisar berbaik dengan penjajah Kin, kitapun harus mengikuti jejak Kaisar. Dengan sikapnya itu, dia membantu pasukan Sung untuk membasmi kaum pejuang. Hal ini amat mendukakan kami semua akan tetapi kami tidak berdaya, tai-hiap."

"Ah, sungguh mencuгigakan!" kata Tiong Li. "Mungkin ketua kalian itu di ancam dan dipaksa. Aku harus menyelidiki persoalan ini!"

Si tinggi kurus itu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tiong Li dan perbuatan ini diturut oleh semua anak buahnya. "Kami akan merasa berterima kasih sekali kalau taihiap suka menyelidiki. Dua orang paman guru kami yang hendak menyelidiki masalah itu bahkan dibunuh sendiri oleh ketua kami."

"Jangan khawatir, aku akan menyelidikinya. Pasti ada sebabnya yang membuat ketua kalian berubah pendirian secara mendadak seperti itu. Nah, mari bawa aku menghadap dia!"

Dua puluh tiga orang itu lalu berramai-ramai mengantar Tiong Li ke sarang mereka. Kedatangan mereka disambut oleh para anggauta lainnya yang berjumlah kurang lebih duaratus orang itu, dan ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu adalah Tan Tiong Li yang di cari-cari oleh pemerintah, dan mendengar bahwa pemuda itu hendak menyelidiki sang ketua yang berubah pendirian, sebagian besar dari mereka merasa senang sekali.

Ada memang beberapa orang di antara mereka yang berpihak ke pada sang ketua, akan tetapi jumlah mereka tidak banyak dan mereka disuruh diam oleh para anggauta yang menghendaki agar Tiong Li menyelidiki perubahan sikaр ketua mereka. Berbondong-bondong mereka lalu mengantar Tiong Li menghadap Gui Kong Sek, ketua mereka.

Gui Kong Sek sedang berbincang- bincang dengan seorang tamunya, yaitu utusan dari pasukan Kin yang datang ke marin. Tamu ini adalah seorang utusan panglima Besar Wu Chu yang bernama Un Ci Siang, seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan nampaknya kuat sekal! Begitu mendengar suara ribut-ribut di luar, ketua Ceng-liong-pang bersama tamunya lalu berlari keluar.

Mereka melihat para angguta berbondong datang mengiringkan seorang pemuda tampan. Melihat pemuda ini, Gui Kong Sek terbelalak dan berteriak sambil menudingkan telunjuknya kepada Tiong Li.

"Dia pemberontak itu, penculik puteri kaisar! Tangkap dia!"

Akan tetapi anak buahnya tidak ada yang bergerak, dan Tiong Li sambil tersenyum melangkah maju menghampiri Gui Kong Sek. "Anak buahmu tidak akan menangkap aku, pangcu. Bahkan mereka mempercayaiku untuk bicara denganmu. Harap pangcu menjawab terus terang saja semua pertanyaanku."

Gui Kong Sek mengerutkan alisnya. "Bicara denganmu? Bicara apa lagi!? Engkau seorang pemberontak laknat!"

"Aku bukan pemberontak dan bukan pula penculik puteri. Hal ini tentu engkau tahu benar kalau memang engkau telah bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui. Pangcu, aku mewakli para anggauta Ceng-liong-pang untuk bertanya kepadamu. Kenapa engkau mengubah sikaр mu sebagai seorang pejuang? Engkau bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui dan engkau berbaik dengan orang-orang Kin yang seharusnya kau musuhi. Apa artinya ini semua?"

"Aku taat kepada Perdana Menteri berarti taat kepada pemerintah. Kami bukan pemberontak melainkan pejuang yang membela kepentingan Kerajaan Sung."

"Akan tetapi mengapa bersekutu dengan orang Kin?"

"Kerajaan Sung tidak memusuhi kerajaan Kin, melainkan ingin bersahabat, kita hanya mendukung politik yang digariskan oleh Kaisar! Tan Tiong Li, engkau lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan kami!"

"Urusan dalam perkumpulan Ceng-liong-pang adalah urusan kita semua yang merasa sebagai pejuang yang hendak mengusir bangsa Kin dari tanah air. Engkau telah berbalik haluan, mengubah pendirian tentu ada sebab tertentu. Apakah engkau dipaksa oleh Perdana Menteri Jin Kui, atau engkau telah makan suapan Bangsa Kin? Kenapa pula engkau membunuh dua orang sutemu yang hendak menyelidiki masalah perubahan sikapmu itu?"

Mendengar ini, Un Ci Siang yang tinggi besar itu telah menjadi marah dan tidak sabar lagi. "Pang-cu, kalau bocah ini mengganggumu, biarkan aku yang mengusirnya untukmu!"

"Jangan usir, melainkan tangkap hidup atau mati karena dia seorang buronan pemerintah Sung!" kata Gui Kong Sek.

Tiong Li sudah mendengar dari orang-orang Ceng-liong-pang tadi bahwa tamu inipun utusan panglima Kin, maka dia memandang dengan mata bersinar. "Engkau seorang perwira Kin, musuh besar kami! Engkaulah yang harus menyerah kepada kami!"

Si tinggi besar itu sudah mencabut sebatang golok yang besar dan mengkilap tajam, membentak, "Pemberontak laknat, kematian sudah di depan mata, jangan banyak mulut tagi!" Dan diapun sudah menyerang dengan goloknya. Serangannya dahsyat sekali karena memang raksasa ini memiliki tenaga yang besar.

Tiong Li mengelak dan membalas dengan tendangan yang juga dapat dielakkan lawan. Ternyata raksasa itu adalah seorang jagoan dari Kin, memiliki ilmu siat yang cukup tangguh. Akan tetapi lawannya adalah Tiong Li, seorang pemuda yang telah memiliki kesaktian, maka biarpun hanya bertangan kosong, Tiong Li sama sekali tidak terdesak, bahkan ketika dia memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, si raksasa menjadi repot sekali harus mengelak ke sana sini.

Pertandingan seru itu menjadi perhatian semua anggauta Ceng-liong-pang dan melihat betapa tamunya belum juga berhasil merobohkan Tiong Li, mendadak Gui Kong Seng mengeluarkan teriakan nyaring dan dia sudah melompat ke depan menggunakan pedangnya untuk mengeroyok!

Pada saat itulah para murid dan anggauta Ceng-liong-pang memandang heran. Mereka sama sekali tidak mengenal ilmu pedang yang dimainkan ketua mereka! Bukan ilmu pedang dari Ceng-liong-pang yang dimainkan ketua itu, melainkan ilmu pedang yang asing sama sekali bagi para murid Ceng-Iiong-pang, namun harus diakui bahwa ilmu pedang itupun dahsyat sekali!

Biarpun dikeroyok dua oleh orang yang bergolok dan berpedang sedangkan dia sendiri bertangan kosong, namun sama sekali Tiong Li tidak pernah terdesak. Memang kedua orang lawannya memainkan pedang dan golok dengan dahsyat dan cepat, membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-iingkar, namun tubuh Tiong Li seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar itu...

Mestika Golok Naga Jilid 11