Si Bayangan Iblis Jilid 08

PONDOK itu sederhana saja, tersembunyi di bawah pohon cemara dan semak belukar tumbuh di sekelilingnya sehingga pondok itu tidak nampak dari bawah puncak.

“Giam susiok...!” Sui In memanggil beberapa kali di luar pondok.

Tidak ada jawaban. Sunyi sekeliling dan perasaan hati wanita itu semakin gelisah. Ia saling pandang dengan Pek-liong dan pendekar ini memberi isyarat dengan pandang matanya ke arah pintu pondok, Sui In mengangguk dan mereka lalu menghampiri pintu pondok, mendorongnya terbuka.

“Susiok...!” Sui In terkejut bukan main melihat paman gurunya sudah rebah miring di atas lantai tanah pondok itu. Ia meloncat masuk diikuti Pek-liong dan keduanya berlutut dekat tubuh yang menggeletak miring.

“Dia sudah tewas,” kata Pek-liong dan Sui In mengangguk, wajahnya pucat dan matanya terbelalak.

“Lihat ini...” kata Pek-liong menunjuk ke arah lantai dan ketika Sui In memandang sambil mendekatkan mukanya, iapun melihat betapa dekat tangan yang terkulai itu, di atas lantai tanah, terdapat tulisan. Huruf-hurufnya cukup jelas dan ia membacanya.

“Pek-mau-kwi... Kwi-eng-cu...!”

“Aih, Kwi-eng-cu...??” Gadis itu nampak terkejut sekali sehingga Pek-liong cepat bertanya.

“Siapa itu Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)?”

Sui In memandang dengan kedua mata basah. “Aku... aku mencari paman justeru... justeru... karena urusan Kwi-eng-cu dan ternyata paman guruku telah menjadi korban Kwi-eng-cu pula!”

Gadis itu menangis, teringat akan kematian suaminya dan kini kematian susioknya (paman gurunya), pada hal tadinya ia mengharapkan bantuan paman gurunya untuk dapat membalas dendam kepada Kwi-eng-cu. Pek-liong membiarkan wanita itu menangis sejenak, setelah Sui In dapat menguasai dirinya, dia lalu berkata,

“Sudahlah, In-moi. Susiokmu sudah tewas dan ditangisi bagaimanapun juga, tidak ada gunanya. Jauh lebih baik kalau kita segera mengubur jenazahnya.”

Sui In mengangguk dan Pek-liong lalu mencari sebuah cangkul di bagian belakang pondok itu, memilih tempat yang baik dan diapun segera bekerja, menggali lubang kuburan. Dan tak lama kemudian, jenazah Giam Sun, kakek berusia enampuluh tahun tokoh Kun-lun-pai itu telah dikubur secara sederhana. Kemudian disembayangi secara sederhana pula, tanpa alat sembahyang, hanya dengan berlutut di depan makam dan berdoa di dalam hati, namun dua orang muda itu bersembahyang dengan khidmat.

Setelah penguburan selesai, barulah Pek-liong berkata, “Nah, sekarang coba kauceritakan kepadaku siapa itu Kwi-eng-cu dan apa hubungannya dengan kedatanganmu ke sini dan dengan semua peristiwa ini, In-moi!”

Sui In menarik napas panjang, terkenang akan semua peristiwa buruk yang menimpa dirinya. “Aku tinggal di ibu kota, toako. Selama beberapa bulan ini, di kota raja timbul peristiwa yang menggegerkan, yaitu dengan terjadinya pembunuhan-pembunuhan gelap terhadap beberapa orang pejabat penting. Tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh itu, hanya ada yang melihat bayangan yang bertanduk, seperti iblis. Karena itu maka pembunuh itu hanya dinamakan Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) tanpa ada yang menduga siapa dia dan di mana sarangnya. Di antara banyak pejabat yang terbunuh itu, termasuk juga suamiku...”

“Ah...! Suamimu seorang pejabat dan dia pun tewas oleh Kwi-eng-cu?”

Tentu saja Pek-liong terkejut dan kini dia memandang wajah wanita itu dengan perasaan iba. Sui In melihat pandang mata penuh iba itu, maka iapun berterima kasih dengan senyum kecil!

“Aku sudah dapat mengatasi peristiwa itu, toako. Bukan hanya suamiku yang dibunuh, akan tetapi banyak pejabat, bahkan ada pangeran yang dibunuh, pembantu menteri bahkan menteri! Kota raja menjadi geger, dan aku sendiri setelah itu menjaga keselamatan pamanku, yaitu Pembantu Menteri Pajak, karena setiap orang pejabat tinggi, apa lagi yang dekat dengan kaisar, merasa terancam dan tidak aman. Karena aku ingin sekali menangkap penjahat tukang bunuh itu, maka setelah paman mendatangkan rombongan pengawal yang cukup tangguh, aku lalu pergi ke sini untuk menghadap paman guru Giam Sun, untuk minta bantuannya bersamaku menangkap dan menghukum Kwi-eng-cu di kota raja. Selanjutnya, engkau tahu apa yang terjadi di sini, toako. Ahh, sungguh malang sekali nasibku. Bagaimana pula susiok yang akan kumintai bantuan, tahu-tahu telah dibunuh orang? Dan apa artinya tulisan yang agaknya sengaja dia tinggalkan di tanah itu?”

Pek-liong tertarik sekali dan diapun mengerutkan alis, mengerjakan otaknya yang sehat, yang membuat dia cerdik sekali dan waspada. Baru sekarang dia mendengar tentang pembunuhan-pembunuhan aneh di kota raja itu dan biarpun dia tidak suka mencampuri urusan pemerintah, namun peristiwa itu sungguh menarik hatinya. Terjadi kejahatan yang luar biasa beraninya di kota raja.

“In-moi, kalau boleh aku bertanya, bagaimana keadaan dan pendirian mendiang suamimu terhadap Sribaginda Kaisar?“

Ditanya tentang suaminya itu, Sui In terkejut sekali, karena hal ini tidak pernah disangkanya. Ia memandang dengan mata terbelalak. “Apa... apa maksudmu, toako?”

“Begini, In-moi. Aku ingin mengetahui bagaimana sikap para pejabat tinggi yang terbunuh itu. Karena engkau tentu tidak mengetahui keadaan mereka, maka aku bertanya tentang suamimu. Diapun ikut pula terbunuh, berarti dia memiliki persamaan atau kepentingan yang sama dengan para pejabat lain yang terbunuh. Nah, aku ingin tahu apakah suamimu itu seorang pejabat yang... maafkan pertanyaanku kalau kasar, apakah dia seorang pejabat yang korup?”

Secara kontan Sui In menggeleng kepala keras-keras. “Sama sekali tidak! Baik pamanku, Ciok Tai-jin Pembantu Menteri Pajak, dan juga mendiang suamiku, mereka adalah pejabat-pejabat yang jujur dan setia, disiplin dan tidak sudi melakukan penyelewengan demi keuntungan diri pribadi!”

Pek-liong mengangguk-angguk. “Dan bagaimana sikapnya terhadap Sribaginda Kaisar? Setia sepenuhnyakah? Ataukah ada sesuatu yang membuat suamimu merasa tidak suka akan kebijaksanaan Kaisar? Secara terang-terangan atau secara sembunyi menentang Kaisar?”

Sui In menggelengkan kepalanya dan kini ia mengerti ke arah mana tujuan pertanyaan Pek-liong, maka iapun menerangkan. “Akupun pernah melakukan penyelidikan tentang pembunuhan-pembunuhan itu, toako, dan akupun sudah menyelidiki tentang sikap mereka yang terbunuh. Suamiku sendiri adalah seorang yang setia dan taat kepada kaisar. Akan tetapi, yang membingungkan adalah bahwa di antara mereka yang terbunuh terdapat pula mereka yang memperlihatkan sikap tidak cocok dengan kebijaksanaan Kaisar. Jadi, pembunuhan ini jelas bukan berdasarkan pro atau anti kaisar.”

Pek-liong memandang wanita itu dengan kagum. Seorang wanita yang cerdik pula, pikirnya. “Apakah di kota raja sudah ada usaha untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu? Bagaimana dengan Kaisar sendiri?”

“Kaisar sudah memerintahkan semua petugas keamanan untuk melakukan penyelidikan. Namun tanpa hasil. Akan tetapi, sungguh aku tidak mengerti apa hubungan semua pembunuhan di kota raja itu dengan pembunuhan terhadap susiok?”

“Tentu ada kaitannya, In-moi. Setidaknya, mereka itu jelas memusuhi Kun-lun-pai. Buktinya, setelah mereka tahu bahwa engkau murid Kun-lun-pai engkaupun akan mereka bunuh. Tulisan itu menyebutkan dua nama. Nama Pek-mau-kwi sudah jelas. Dia adalah orang berambut putih yang memimpin pengeroyokan terhadap dirimu. Ini berarti bahwa ketika paman gurumu terbunuh, dia mengenal Pek-mau-kwi sebagai seorang di antara pembunuhnya. Melihat tingkat kepandaiannya, kiranya kalau hanya seorang diri saja Pek-mau-kwi tidak akan mungkin dapat membunuh susiokmu yang tentu lihai sekali.”

“Dalam hal kelihaian ilmu silat, susiok hanya lebih menang sedikit dibandingkan aku, akan tetapi dia berpengalaman dan cerdik, maka aku ingin minta bantuannya untuk menangkap pembunuh di kota raja.”

“Lebih lihai dan engkau berarti tidak kalah malawan Pek-mau-kwi. Mungkin dia dikeroyok oleh Pak-mau-kwi bersama dua orang pembantunya itu. Akan tetapi, diapun menulis nama Kwi-eng-cu! Apakah pembunuh misterius di kota raja itu datang pula ke sini, bersama Pek-mau-kwi membunuhnya?”

“Mungkin juga begitu! Sayang aku datang terlambat!” kata Sui In penuh penyesalan.

Pek-liong menggeleng kepala. Otaknya sudah bekerja karena dia tertarik sekali oleh semua peristiwa yang terjadi, baik di bukit itu maupun di kota raja seperti yang dia dengar dari Sui In. “Engkau terlambat satu hari, In-moi. Pamanmu itu sudah tewas sedikitnya lima jam yang lalu, akan tetapi melihat luka pedang di tengkuknya, tentu dia sudah diserang orang pada hari kemarin. Dia tentu disangka mati dan ditinggalkan para pembunuhnya, maka dia masih mampu menuliskan nama-nama itu. Dan melihat betapa kita bertemu dengan Pek-mau-kwi pada hari ini, bersama dua orang pembantunya yang lihai pula itu, maka kurasa yang membunuh pamanmu adalah tiga orang tadi. Kalau dikeroyok tiga, sukar baginya untuk menang.”

“Akan tetapi, mengapa paman guruku menuliskan nama Kwi-eng-cu pula?”

“Itulah yang menjadi rahasianya. Apapun rahasianya itu, jelas bahwa antara Kwi-eng-cu dan Pek-mau-kwi ada hubungan! Jadi, kalau kita hendak menyelidiki tentang Kwi-eng-cu, kita dapat menyelidikinya melalui Pek-mau-kwi!”

“Kita...?” Sui In mengangkat muka, memandang dengan sinar mata penuh harap.

Pek-liong mengangguk. “Ya, aku akan pergi denganmu, In-moi. Perkara ini amat menarik hatiku. Secara kebetulan saja kita saling melihat di rumah makan itu. Kalau saja tiga orang itu tidak menimbulkan kecurigaanku dengan sikap mereka, tentu aku tidak akan membayangi mereka dan kita mungkin tidak akan saling bertemu kembali.”

Bukan main girangnya rasa hati Sui In. Ia mencari susioknya untuk membantunya menyelidiki pembunuh suaminya. Susioknya tewas terbunuh orang dan sebagai gantinya, ia mendapat bantuan dari orang yang lebih hebat dan lebih dapat dipercaya dari pada susioknya, yaitu Pek-liong-eng Tan Cin Hay!

“Terima kasih, toako! Kalau engkau yang melakukan penyelidikan, aku yakin rahasia pembunuh itu akan terbongkar dan kita akan dapat menangkapnya! Biarpun aku berduka karena kematian susiok, sebaliknya aku gembira sekali telah mendapatkan engkau sebagai penggantinya untuk membantu aku membalas dendam kematian suamiku!”

“Maaf, In-moi. Kalau aku ingin menyelidiki Kwi-eng-cu, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan balas dendam kematian suamimu, juga bukan sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan lalu membela para pejabat. Aku bukan pendekar, aku seorang manusia biasa yang bebas menentukan jalan hidupku sendiri. Kalau aku sekarang ikut denganmu ke kota raja, hal itu adalah karena aku tertarik oleh semua ceritamu tadi, In-moi.”

“Apapun alasanmu, aku girang bahwa engkau suka pergi bersamaku ke kota raja, toako. Mari kita berangkat!” ajak wanita itu dengan wajah berseri.

“Kita singgah dulu di rumahku, In-moi. Tidak jauh dari sini. Aku harus membuat persiapan dan memberitahu orang di rumah.”

“Aih, maafkan. Aku lupa. Tentu saja engkau harus berpamit kepada keluargamu!” kata Sui In dan teringat akan hal ini, seri di wajahnya menghilang.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay tertawa. “Ha-ha-ha, aku hidup seorang diri di dunia ini, In-moi, sebatang kara, tanpa keluarga. Hanya dengan para pembantu rumah tangga. Kalau aku pergi, aku harus memberitahu mereka agar mereka tidak gelisah. Pula, aku harus membawa bekal dan persiapan.”

“Tapi, toako. Seorang pria seperti engkau ini, usiamu sudah cukup dewasa, engkau pandai, engkau gagah perkasa dan wajahmu menarik, bagaimana mungkin sampai kini masih hidup membujang? Maafkan, bukan maksudku mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi seorang pria seperti engkau sudah sepatutnya kalau mempunyai seorang isteri yang cantik jelita dan bijaksana, dan mempunyai beberapa orang anak yang mungil dan sehat.”

Ada bayangan gelap menyelimuti wajah Pek-liong, namun hanya sebentar saja, seperti bayangan awan yang lewat. Wajahnya sudah berseri kembali, matanya bercahaya dan mulutnya ramai oleh senyum. “Isteriku telah meninggal dunia sembilan tahun yang lalu tanpa anak dan sejak itu, aku belum pernah menikah lagi.”

“Ah, engkau... seorang... duda? Siapa sangka!” Wajah Sui In berubah merah sekali karena ucapan itu tadi keluar begitu saja di luar kesadarannya dan baru sekarang ia merasa betapa ucapan itu amat tidak pantas keluar dari mulutnya. Untuk menutupi perasaan rikuh dan salah tingkah, ia cepat menyambung, “Isterimu tentu meninggal dunia karena sakit.”

Pek-liong menggeleng kepala. “Seperti juga suamimu, isteriku tewas dibunuh orang! Sudahlah, perlu apa kita bicara tentang hal lalu. Mari engkau singgah dulu di rumahku. Tidak begitu jauh dari sini.”

Menjelang sore, tibalah mereka di dusun Pat-kwa-bun. Begitu memasuki pekarangan rumah Pek-liong, Sui In merasa, kagum bukan main. Tempat itu amat bersih dan terpelihara rapi. Dari pagar temboknya yang tidak begitu tinggi dan dicat merah, sampai pekarangan yang juga merupakan taman terpelihara indah, dengan air mancur di depan di tengah kolam ikan emas, dan ada sebuah arca naga putih di belakang kolam.

Beberapa batang pohon membuat tempat itu sejuk dan nyaman, dan hamparan rumput juga terpelihara sehingga merupakan permadani hijau yang menyegarkan mata. Rumah itu sendiri dari luar nampak kokoh. Tidak begitu besar namun indah walaupun tidak nampak mewah dari luar. Dindingnya putih bahkan jendela dari pintunya juga putih, dengan garis-garis tipis merah muda dan kuning. Gentengnya kemerahan.

“Selamat datang, Tai-hiap, Selamat datang, nona!” Dua orang pria yang berpakaian pelayan namun bersih dan dengan sikap yang gagah, dengan tubuh tegak dan tegap, menyambut mereka dengan salam hormat.

“Nona ini adalah Cu Li-hiap, menjadi tamu kehormatanku malam ini. Suruh A- liok menyiapkan hidangan yang lezat untuk tamu kita!” kata Pek-liong kepada mereka.

“Maafkan kami, Li-hiap,” kata seorang di antara mereka sambil memberi hormat kepada Sui In yang tentu saja merasa rikuh menerima penghormatan sebagai seorang pendekar wanita. Akan tetapi ia hanya mengangguk dan Pek-liong mempersilakan ia ikut memasuki rumahnya.

Setelah masuk ke dalam rumah itu, Sui In menjadi semakin kagum. Kiranya isi rumah itu berbeda sekali dengan keadaan luarnya. Semua perabot rumah di situ nampak megah dan mewah, juga terpelihara rapi. Sampai lantainya saja mengkilap seperti cermin! Lukisan-lukisan indah, juga tulisan-tulisan indah menghias dinding. Pot-pot bunga terukir naga dan burung Hong, berdiri di sudut-sudut terisi tanaman yang segar. Sutera-sutera beraneka warna menutupi lubang-lubang dan bergantungan seperti pelangi.

Ruangan-ruangan yang dilaluinya ditata secara nyeni sekali, tidak kalah indahnya dibandingkan istana raja sekalipun! Yang membuat Sui In semakin kagum adalah ketika mereka memasuki setiap ruangan Pek-liong selalu memeriksa apakah tombol rahasia menunjukkan bahwa ruangan itu bebas perangkap, jelas bahwa rumah yang indah itu penuh jebakan dan perangkap. Karena ingin tahu ia tanyakan hal ini kepada tuan rumah.

Pek-liong mengangguk, tersenyum. “Hidup seperti aku ini selalu diancam bahaya, banyak orang yang pernah kujatuhkan menaruh dendam dan setiap waktu mereka dapat datang menyerbu ke rumahku. Karena aku tidak suka menggunakan pasukan pengawal, maka aku harus mampu menjaga segala kemungkinan terhadap gangguan dari luar yang datang selagi aku tidur.”

“Ah, menarik sekali, Toako, aku tidak ingin mengetahui alat-alat rahasia di rumahmu ini yang tentu saja harus dirahasiakan, akan tetapi kalau boleh aku ingin melihat bekerjanya satu saja perangkap yang dipasang di ruangan depan itu.” Ia menuding ke depan, ke sebuah ruangan yang dihias sutera-sutera merah muda.

Pek-liong tersenyum, mengangguk dan berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Engkau boleh buktikan sendiri, In-moi. Coba kau masuki ruangan itu dengan sikap hati-hati. Engkau seorang penyerbu yang sudah menduga bahwa kamar itu dipasangi jebakan, sehingga engkau boleh berhati-hati sekali, akan tetapi engkau harus memasuki ruangan itu, katakanlah untuk mengambil atau melakukan sesuatu.”

Sui In mengerutkan alisnya. “Akan tetapi... aku tidak mau terancam bahaya maut, toako!”

Pek-liong menggeleng kepala. “Aku belum gila, In-moi. Masa aku akan mencelakaimu? Jangan khawatir, perangkap yang kupasang di rumah ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk membuat orang yang berniat buruk tidak berdaya dan tertawan tanpa melukai atau menyakitinya. Engkau boleh mencabut pedangmu untuk berjaga-jaga, seperti seorang musuh tulen!”

Sui In menjadi tertarik sekali dan iapun mengangguk, mencabut pedangnya dan dengan hati-hati menghampiri kamar itu. Bahkan ia, merasa gembira karena ia seperti berada dalam suatu permainan yang menarik untuk menguji diri sendiri dan menguji keampuhan alat yang dipasang oleh Pendekar Naga Putih di dalam rumahnya.

Dengan penuh kewaspadaan, Sui In menghampiri ruangan itu. Sebuah ruangan duduk yang indah, dengan pintunya terbuka dan lantainya mengkilap, meja kursinya terukir indah ditilami bantalan. Jendela-jendela yang berada di tiga penjuru tertutup, tentu dibuka kalau ada tamu sehingga ruangan yang menembus di sebelah kiri pada sebuah taman itu tentu akan sejuk dan nyaman sekali. Dindingnya yang bersih dihiasi lukisan dan tulisan indah berbentuk syair-syair berpasangan.

Dengan pandang matanya yang tajam Sui In mengamati seluruh bagian ruangan itu, mencari-cari tanda adanya pesawat rahasia. Namun semua nampak bersih dan wajar, tidak ada yang mencurigakan. Apakah lantainya yang mampu bergerak dan terdapat lubang sehingga ia akan terperosok ke bawah kalau menginjaknya. Ataukah dari jendela-jendela itu akan keluar senjata rahasia atau asap pembius yang akan membuatnya pingsan? Apakah daun pintu akan menutup sendiri begitu ia memasuki ruangan?

Berbagai kemungkinan ini ia perhitungkan ketika akhirnya berindap-indap ia melangkah memasuki ruangan itu dengan pedang di tangan. Selangkah demi selangkah ia memasuki ruangan itu, setiap bagian tubuhnya menegang penuh kesiap siagaan. Pada langkah kelima, tiba-tiba terdengar suara berderit di belakangnya. Ia cepat menoleh dan daun pintu yang tadi terbuka lebar itu kini tertutup!

. Ia melangkah maju lagi dan setelah tiba di tengah ruangan, tiba-tiba saja dari empat sudut ruangan itu menyambar anak-anak panah yang ujungnya berbentuk bola, juga dari atas turun anak panah bagaikan hujan. Sui In cepat menggerakkan pedangnya, diputar melindungi tubuhnya dan semua anak panah runtuh. Setelah runtuh baru nampak olehnya bahwa anakpanah-anakpanah itu tumpul dan tidak akan melukai orang yang menjadi sasaran.

Tiba-tiba saja dari lantai yang mengkilap itu bermunculan tongkat-tongkat panjang yang menyambar-nyambar ke arah kakinya. Sui In meloncat ke atas, dan pada saat itu, kain-kain sutera merah muda yang bergantungan di langit-langit itu bergerak, menyambar-nyambar sehingga mengaburkan pandangan matanya dan tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya sudah terlibat-libat oleh kain sutera yang panjang dan banyak sekali, seperti tidak ada habisnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di udara dalam libatan banyak kain sutera, seperti seekor lalat tertangkap di sarang laba-laba.

Akan tetapi, Sui In bukanlah wanita lemah. Ketika tadi kain sutera yang tadinya bergantungan sebagai hiasan itu tiba-tiba hidup dan menyambar-nyambar ke arahnya, tubuhnya terlibat-libat, ia sudah cepat membebaskan tangan kanan yang memegang pedang. Kini, biarpun tubuhnya sudah terlibat-libat kain, lengan kanan dan pedangnya masih bebas. Ia menggerakkan pedangnya dan putuslah semua libatan kain sutera dari tubuhnya.

Ia terlepas dan jatuh ke bawah. Dengan ilmu meringankan tubuh yang hebat, ia sudah berjungkir balik tiga kali dan turun ke atas lantai dengan selamat dan dalam keadaan berdiri. Akan tetapi, putusnya kain-kain sutera itu menimbulkan bunyi kelenengan nyaring bertubi-tubi dan terdengar dari seluruh penjuru rumah itu.

Daun-daun jendela tiba-tiba terbuka dan enam orang pelayan pria pembantu rumah tangga itu sudah berdiri di luar jendela dengan pedang di tangan! Daun pintu yang tadi tertutup sendiripun terbuka dan Pek-liong sudah berdiri di ambang pintu dengan tersenyum! Sui In mendapatkan dirinya sudah terkepung di dalam ruangan itu!

Pek-liong bertepuk tangan memuji. “Hebat, engkau hebat sekali, nona. Engkau sudah dapat menghindarkan anak panah, toya dan bahkan jala kain sutera!”

Sui In menyarungkan pedangnya dan menarik napas panjang. “Aihhh, sungguh ruangan ini berbahaya sekali! Biarpun sudah dapat membebaskan diri dari semua itu, akhirnya aku terkepung di ruangan ini! Ruangan yang satu ini saja sudah begini hebat, apa lagi yang lainnya! Toako, aku mengaku kalah dan menyatakan kagum sekali. Maafkan kalau aku merusak kain-kain sutera merah muda itu.”

“Ah, tidak mengapa, In-moi.” Lalu kepada para pembantunya dia berkata, “Ganti kain-kain sutera itu dengan yang baru dengan warna biru laut!”

Kemudian dia mengajak Sui In keluar dari ruangan itu dan mempersilakan janda muda itu ke sebuah kamar. Dia sendiri berhenti di luar pintu kamar.

“In-moi, inilah kamar tamu untukmu bermalam semalam ini. Besok pagi baru kita akan melakukan perjalanan ke kota raja. Malam ini aku akan membuat persiapan untuk perjalanan besok pagi. Makan malam nanti setelah siap dan engkau akan diberitahu oleh pembantu. Nah, beristirahatlah, In-moi.”

Setelah berkata demikian, Pek-liong meninggalkan wanita itu. Sampai beberapa lamanya Sui In berdiri di pintu kamar itu, mengikuti bayangan Pek-liong sampai lenyap di tikungan. Seorang pria yang bukan main, pikirnya. Gagah perkasa, berkepandaian tinggi, tampan dan ganteng, duda dan bebas, ditambah lagi kaya-raya dan juga amat sopan. Masuk ke kamar itupun dia tidak mau!

Hatinya semakin tertarik dan dengan muka merah ia mendapatkan kenyataan betapa ia telah jatuh cinta kepada pria muda yang ganteng itu! Betapa ia mengharapkan terjadi suatu mujijat, suatu anugerah dari Tuhan. Ia seorang janda, dan Pek-liong-eng Tan Cin Hay seorang duda. Sudah tepat, bukan? Dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memasuki kamar itu. Begitu masuk, hidungnya bertemu keharuman semerbak.

Sebuah kamar yang mewah sekali. Ada dupa harum masih mengepul di atas meja, tanda bahwa dupa itu baru saja dibakar oleh pelayan. Kamar itu tidak berapa besar, namun lengkap dan enak sekali. Udaranya nyaman, masuk dari jendela yang menembus taman, dan dari lubang-lubang hawa di atas jendela. Sebuah kamar kecil menyambung kamar itu. Betapa mewahnya!

Ketika ia menjenguk ke dalam kamar mandi, tersedia sudah air jernih yang cukup banyak. Setelah menutup pintu kamar, Sui In lalu menyiram tubuhnya dengan air, mandi sekenyangnya sehingga tubuhnya terasa segar kembali, kulit tubuhnya dari muka sampai kaki tangan, menjadi kemerahan karena digosoknya dengan keras sehingga bersih dari debu.

Ia telah mengenakan pakaian bersih ketika pinta kamar diketuk dari luar, dan seorang pelayan dengan sikap hormat memberitahu bahwa makan malam telah siap, dan tamu yang dihormati itu dipersilakan datang ke ruangan makan di mana “tai-hiap” telah menanti.

Ketika Sui In memasuki ruangan makan, Pek-liong bangkit berdiri dan dia memandang kepada wanita itu dengan sinar mata kagum. Harus diakuinya bahwa janda muda ini memang cantik manis dan segar bagaikan setangkai bunga mawar di pagi hari, tersiram embun pagi dan bersinar cahaya keemasan matahari. Dengan ramah dia lalu mempersilakan tamunya duduk berhadapan dengannya, menghadapi sebuah meja.

Melihat pandang mata kagum itu, Sui In merasa betapa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Untuk menenangkan hatinya, iapun segera bertanya setelah duduk. “Sudahkah engkau membuat persiapan, toako? Dan kapan kita berangkat?”

Pek-liong mengangguk. “Sudah beres semua, In-moi. Besok pagi-pagi setelah terdengar bunyi ayam berkeruyuk, kita berangkat.”

Sementara itu, dua orang pelayan datang membawa hidangan yang masih mengepul panas. Sui In mencium bau masakan yang lezat dan perutnya memberontak karena memang ia telah merasa lapar. Tidak kurang dari sepuluh macam masakan dihidangkan, kesemuanya terdiri dari masakan yang mewah dan mahal. Mereka berdua lalu makan minum dengan gembira, sambil bercakap-cakap. Sui In sama sekali tidak merasa canggung biarpun pengalaman seperti ini merupakan pengalaman pertama sejak suaminya terbunuh.

Makan malam berdua saja dengan seorang pria yang tampan dan gagah! Di dalam rumah pria itu pula! Akan tetapi, sedikitpun ia tidak merasa canggung dan kaku. Hal ini karena sikap Pek-liong yang sopan dan ramah. Memang, kadang-kadang sinar mata yang tajam mencorong itu membayangkan kekaguman, namun kekaguman yang wajar, tidak mengandung kecabulan atau kekurangajaran yang biasa ia lihat dalam pandang mata kaum pria kalau memandang kepadanya.

Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang rumah itu. Juga taman bunga ini, walaupun tidak sangat luas, diatur indah sekali. Di tengah taman, di antara beraneka macam bunga, terdapat sebuah tempat berteduh berbentuk payung, bangunan tanpa dinding, hanya atap yang berbentuk payung dan di bawahnya terdapat enam buah bangku dan sebuah meja. Tempat itu enak sekali. Empat lampu gantung menerangi tempat itu, dan di sana-sini, di ujung taman terdapat pula lampu gantung dengan berbagai warna. Suasana amat hening dan indah, semerbak harum bunga memenuhi taman itu.

“Aduh, bagus sekali taman ini!” kata Sui In memuji.

“Mari kita duduk di sana. Engkau belum mengantuk, bukan?” kata Pek-liong dan wanita itu tertawa.

“Aih, toako. Baru saja makan kenyang, masa mengantuk dan tidur? Pula, malam baru saja tiba, belum larut.”

Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja kecil. Suasana sungguh indah dan romantis sekali. Apa lagi ketika di langit muncul bulan muda yang memandikan taman itu dengan cahayanya yang lembut. Anginpun lembut sepoi-sepoi bercanda di antara bunga-bunga, membuat udara yang penuh keharuman bunga itu menjadi nyaman dan sejuk.

Suasana yang romantis seperti ini, cahaya bulan yang lembut mengandung daya yang mengairahkan, yang amat kuat mengusik hati muda, menggelitik dan membangkitkan berahi. Hal ini terasa sekali oleh Sui In ketika ia duduk dan menikmati keindahan itu, dan setiap kali pandang matanya berhenti di wajah Pek-liong, ia terpesona.

Wajah itu nampak demikian ganteng, demikian tampan sehingga hatinya luluh, rindu dendam dan gairahnya bangkit. Kalau saja pada saat itu Pek-liong maju selangkah saja, mengulurkan tangan, pasti ia tidak akan mampu menolak atau mengelak, dan akan terlena dalam pelukan pria itu dengan hati penuh kerinduan!

Akan tetapi, Pek-liong sama sekali tidak melakukan uluran tangan! Sama sekali tidak, bahkan pria mengajaknya bercakap-cakap kembali tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja, sehubungan dengan kemunculan Si Bayangan Iblis.

Bimbingan ke arah percakapan itu tentu saja membuyarkan keindahan khayal yang muncul dari gairah berahi tadi, apa lagi karena percakapan itu mengingatkan Sui In akan semua peristiwa dan malapetaka yang menimpa dirinya. Iapun tertarik dan setelah mereka barcakap-cakap, iapun menerangkan dan menceritakan segala hal yang diketahuinya dan yang bertalian dengan pembunuhan-pembunuhan misterius yang dilakukan oleh bayangan yang kemudian dinamakan Si Bayangan Iblis. Waktu berjalan cepat dan tahu-tahu bulan sudah naik tinggi ketika Pek-liong mempersilakan tamunya untuk tidur.

“Besok pagi-pagi kita berangkat, maka sebaiknya kalau engkau mengaso dan tidur di kamar, In-moi. Selamat malam dan selamat tidur!”

Sui In tidak menjawab dan ada perasaan kecewa dan menyesal di dalam hatinya bahwa malam itu ia harus berpisah dari Pek-liong. Muncul kembali kerinduannya akan suatu kemesraan yang sudah lama lepas darinya, lama sebelum suaminya tewas dibunuh orang. Dan ia ingin mendapatkan kemesraan itu dari Pek-liong! Akan tetapi, agaknya sedikitpun Pek-liong tidak menanggapi perasaannya. Berulang tali ia menarik napas panjang penuh kekecewaan dan penyesalan ketika ia melangkah perlahan menuju ke kamarnya, setelah tadi Pek-liong meninggalkannya di taman.

Baru setelah ia merebahkan diri di atas pembaringannya, ketika suasana romantis taman bunga bermandikan cahaya bulan itu tidak mempengaruhinya, ia tersenyum! Diam-diam ia berterima kasih kepada Pek-liong yang tidak mempergunakan kesempatan itu untuk merayunya dari menjatuhkannya!

Kalau sampai hal itu terjadi, tentu ia akan merasa menyesal sekali kemudian, karena ia sedang bertugas! Tugas mencari Si Bayangan Iblis dan menumpas kejahatan itu sama sekali belum terlaksana! Suaminya tewas di tangan penjahat, juga paman gurunya tewas di tangan penjahat dan penjahat itu agaknya Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis).

Sungguh tidak pantas kalau kini ia bersenang-senang mengumbar nafsu berahi. Selain tidak pantas karena baru saja kematian suaminya, juga tidak patut karena dalam melaksanakan tugas ia hanya mementingkan kesenangan sendiri, membiarkan diri menjadi budak nafsu! Kalau musuh itu telah terhukum, kalau ia sudah bebas dari tugas, hal itu akan lain lagi.

“Pek-liong, terima kasih...” bisiknya tersenyum dan janda muda inipun terlena dalam kepulasan.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 08 karya kho ping hoo

Gadis itu cukup manis walaupun tidak dapat dibilang terlalu cantik, Bahkan wajah yang nampak membayangkan kebodohan itu tidak akan menarik perhatian pria, walaupun harus diakui bahwa bentuk tubuhnya amat indah. Rambutnya juga nampak kasar dan gerak geriknya kaku. Juga ia kelihatan takut-takut dan gelisah.

Memasuki ruangan-ruangan yang amat indah dari istana itu, ia bagaikan seekor ikan sungai yang kecil dilempar masuk ke dalam samudera. Ia kebingungan, merasa dirinya kecil menghadapi segala kemegahan dan kemewahan itu. Melihat kegelisahan membayang di wajah yang manis dan polos itu, pria berpakaian perwira yang berjalan di sampingnya tersenyum.

“Akim, jangan takut. Tenanglah. Asalkan engkau pandai membawa diri dan rajin bekerja juga jujur dan taat, tentu engkau akan hidup senang di istana. Sekarang, Hong-houw (Parmaisuri) ingin melihatmu sebagai seorang dayang baru, engkau harus menghadap dan memberi hormat kepada beliau seperti yang sudah kuajarkan tadi.”

Gadis itu mengangguk-angguk akan tetapi jelas nampak betapa ia gelisah dan ketakutan. Gadis yang jelas sekali kelihatan sebagai seorang gadis dusun yang disebut Akim oleh perwira itu bukan lain adalah Hek-liong-li Lie Kim Cu! Dengan kepandaiannya menyamar yang hebat, ia sudah dapat menyulap dirinya yang merupakan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun yang amat cantik jelita, manis dan menarik hati, berubah menjadi seorang gadis dusun berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Kasar kaku, tidak menarik walaupun cukup manis, dan wajahnya membayangkan kebodohan. Cian Ciang-kun sendiri sampai terbalalak dan tertegun ketika pertama kali melihat penyamaran ini, dan merasa yakin bahwa tak seorangpun akan dapat mencurigai seorang gadis dusun bodoh seperti itu.

Perwira yang berjalan di sampingnya dalam ruangan-ruangan istana itu adalah Kok Ciang-kun (Perwira Kok) yang menjabat kepala pasukan pengawal thai-kam (orang- orang kebiri), yaitu kenalan Cian Ciang-kun dan yang suka “menolong” Cian Hui untuk memasukkan seorang “sanak jauh” dari dusun menjadi seorang dayang baru di istana.

Di istana bagian puteri ini, tak seorangpun dari luar diperbolehkan masuk. Hanya keluarga Kaisar yang boleh masuk, dan tentu saja para perajurit pengawal thai-kam. Untuk mencegah terjadinya, penyelewengan dari para wanita dalam istana itu, maka sejak dahulu kala sampai saat itu, para petugas pria di istana bagian-puteri haruslah dikebiri lebih dahulu!

Pada saat itu, bukan hanya karena kepandaian saja Liong-li yang kini menyamar menjadi Kim Siauw Hwa atau biasa disebut Akim kelihatan gugup dan gelisah. Akan tetapi memang benar-benar ada kegelisahan di hatinya. Ia telah memasuki istana dengan menyamar, dan ia tahu bahwa bahaya bukan hanya datang dari penjahat yang dinamakan Kwi-eng-cu akan tetapi dari satu kekuatan yang mempunyai banyak orang pandai!

Dan ia merasa yakin bahwa sarang penjahat itu, atau pimpinannya, pasti berada di istana. Kalau gerombolan penjahat itu berada di luar istana tentu sudah lama diketahui tempatnya oleh Cian Hui yang cerdik dan memiliki banyak mata-mata. Selain merasa berada di tengah-tengah pihak musuh yang belum diketahuinya siapa.

Dan betapa bahayanya bagi dirinya kalau pihak musuh sampai mengetahui bahwa ia Hek-liong-li yang menyamar, juga ia harus berhadapan dengan Hong-houw (Permaisuri) Bu Cek Thian! Menurut keterangan dari Cian Hui, wanita itu cerdik bagaikan iblis! Ia teringat akan kata-kata pesanan Cian Hui kepadanya ketika hendak berangkat tadi...

“Berhati-hatilah terhadap Hong-houw, Li-hiap. Ia seorang wanita yang teramat cerdik seperti Iblis! Bahkan saat ini boleh dibilang ia yang paling berkuasa di seluruh istana! Hong-siang (Kaisar) sendiri seperti menjadi boneka di tangannya. Ia cerdik dan amat berbahaya, oleh karena itu, berhati-hatilah engkau terhadap wanita ini.”

Tentu saja Liong-li tidak merasa takut. Baginya, makin lihai dan makin cerdik orang-orang yang berada di pihak lawan, akan semakin gembira menghadapinya. Yang membuat ia gelisah adalah mengingat betapa dirinya sama sekali tidak berdaya di dalam istana yang besar dan megah itu.

Ia merasa seperti seekor lalat memasuki sarang laba-laba! Dan begitu memasuki istana, diterima oleh Kok Ciang-kun, perwira thai-kam yang gendut dan agak genit seperti wanita ini membawanya menghadap Hong-houw, wanita yang agaknya bahkan ditakuti oleh Cian Hui itu...!

Si Bayangan Iblis Jilid 07

“APA engkau hendak menjual cincin? Tidak, aku tidak butuh cincin!”

Karena kata-kata ini diucapkan dengan cukup lantang dan Sui In memandang ke arah kedua tangan yang berada di tepi mejanya, si kepala besar itu terkejut dan mukanya berubah merah sekali, apa lagi karena terdengar suara ketawa temannya yang kurus, bahkan ada pula suara ketawa dari meja lain, entah siapa.

“Heh-heh, Ji-toako, engkau disangka penjual cincin di pasar, ha-ha!”

Pemuda she Ji itu merasa malu, akan tetapi dia mengira bahwa wanita cantik di depannya itu tidak sengaja menghinanya, apa lagi kini dia sudah berada dekat sekali dengan wanita itu, dan ternyata wanita itu jauh lebih cantik dari pada ketika dilihatnya dari jauh tadi. Juga ketika bicara, bibir yang menggairahkan itu bergerak-gerak manis sekali. Maka, biarpun merasa malu, pemuda berkepala besar itu tidak dapat marah kepada seorang wanita secantik itu.

“Toanio, aku bukan penjual cincin. Semua ini bukan barang dagangan, melainkan milikku pribadi. Ketahuilah, aku pemuda keluarga Ji, merupakan seorang pemuda yang paling kaya raya, paling royal dan tidak ada duanya di kota Tung-cu...“

“Aku tidak mengenalmu. Pergilah dan biarkan aku sendiri,” Sui In berkata.

Pemuda itu masih menyeringai. “Heh-heh, moi-moi (adik) yang manis, harap jangan menjual mahal seperti itu. Marilah, aku sendiri yang mengundangmu untuk duduk makan minum dengan kami semeja. Ataukah aku yang menemanimu di sini? Hei, pelayan, cepat hidangkan arak baru dan semua masakan lezat yang ada di rumah makanmu ini!”

Dia lalu duduk begitu saja dan berkata kepada Sui In. “Moi-moi, kalau perlu, rumah makan ini bisa kubeli untukmu, heh-heh!”

Sui In mengerutkan alisnya. Orang ini semakin kurang ajar, pikirnya, tidak lagi menghargainya dengan sebutan Toanio (nyonya), melainkan berani menyebut moi-moi yang manis, seolah-olah ia telah menjadi kekasihnya saja! Akan tetapi, karena tidak ingin ribut-ribut, ia masih menahan kesabarannya.

“Hemm, sekali lagi kukatakan. Aku tidak mempunyai urusan denganmu, aku tidak suka nenerima undanganmu, tidak suka makan minum bersamamu dan tidak suka engkau makan minum di mejaku ini. Pergilah dan jangan aku kehilangan kesabaranku!”

Kalimat terakhir sudah bernada keras, dan tanpa disengaja Sui In melihat pula pemuda yang berpakaian serba putih itu tersenyum sedikit. Juga tiga orang setengah tua yang duduk di sudut belakang kini memandang ke arah mejanya dengan penuh perhatian. Gemaslah rasa hati Sui In. Ulah pemuda kepala besar ini tentu saja telah menarik perhatian orang, dan ia menduga bahwa tentu mereka semua yang berada di rumah makan itu telah memperhatikan dirinya.

Sudah kepalang tanggung sekarang, tidak perlu lagi ia menjaga jangan sampai ada keributan. Akan tetapi ia tetap menuangkan lagi semangkok kecil air teh harum yang masih panas mengepul itu dan meniupinya perlahan untuk mendinginkannya sebelum diminumnya sedikit demi sedikit.

Si kepala besar itu sungguh tak tahu diri. Dia adalah seorang pemuda kaya raya, dan putera pejabat yang sejak kecilnya telah di manja orang tuanya dan para hamba sahayanya, sejak kecil apapun yang dikehendakinya terlaksana. Oleh karena itu, setelah dewasa, diapun menjadi berandalan dan ingin dimanjakan siapapun juga. Dia tidak mengenal takut karena selalu bergelimang kekayaan dan kekuasaan yang membuat semua orang takut kepadanya. Mendengar ucapan Sui In, dia mengerutkan alisnya.

“Apa? Engkau berani menolak ajakanku? Nona manis, jangan sombong engkau! Kalau perlu, aku mampu membeli dirimu, aku mampu membeli seratus orang perempuan seperti engkau...”

Sui In marah sekali mendengar ucapan itu dan sebelum kalimat terakhir itu habis diucapkan, ia sudah membentak, “Pergilah!” Tangan yang memegang mangkok kecil berisi air teh panas itu bergerak dan air dari dalam mangkok menyiram ke arah muka pemuda kepala besar.

“Ouhhhhh...!” Bagi orang yang pernah disiram mukanya dengan air panas baru akan tahu betapa nyerinya ketika air teh yang masih panas itu mengenai mata, hidung dan mulut pemuda kepala besar itu. Selagi dia bangkit dan mengeluarkan teriakan kesakitan, tiba-tiba kaki Sui In di bawah kolong meja bergerak, menendang.

“Desss...!” Perut itu tertendang dan si pemuda berkepala besar terlempar jauh! Bahkan, tubuhnya melewati meja kosong dan meluncur ke arah meja di mana duduk pemuda berpakaian serba putih yang makan minum seorang diri pula.

Melihat betapa hidangan di atas mejanya terancam hancur berantakan, tiba-tiba tubuh pemuda berpakaian putih itu sudah meloncat bangun dan dengan sigapnya dia menjulurkan kedua tangan, menyambar tubuh yang melayang itu dan sekali dia melontarkan, tubuh pemuda kepala besar itu berbelok arah melayang ke arah mejanya sendiri.

“Brakkkkk...!” Meja itupun runtuh dan semua masakan tumpah dan berantakan ketika meja itu tertimpa tubuh si kepala besar.

“Aduhh... auhhh, aduhhhh...!” Si kepala besar mengaduh-aduh, juga si kurus yang menjadi temannya mengaduh dan menyumpah-nyumpah karena muka dan pakaiannya juga berlepotan kuah masakan. Akan tetapi dua orang teman mereka yang lain sudah dapat berloncatan menghindar dengan gerakan cepat sehingga tidak sampai ikut tertimpa atau tersiram kuah masakan!

Tiga orang setengah tua yang sejak tadi melihat, kini saling pandang. Akan tetapi Sui In sudah duduk kembali menuangkan air teh dalam mangkoknya, minum air teh panas seperti tidak terjadi sesuatu. Juga pemuda berpakaian putih tadi nampak masih duduk sambil makan minum, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu! Padahal, menyambar tubuh yang melayang lalu melontarkan kembali ke arah yang lain membutuhkan kecekatan tangan dan juga tenaga besar.

Apa yang diperlihatkan oleh pemuda berpakaian putih itu sesungguhnya bukan apa-apa baginya. Seperti permainan kanak-kanak saja karena dia tentu saja dapat melakukan hal-hal yang jauh lebih sukar dari pada sekedar melemparkan tubuh si kepala besar tadi. Pemuda itu, walau nampaknya lemah seperti seorang terpelajar, seorang kongcu (tuan muda), atau seorang siu-cai (sarjana), sebetulnya adalah seorang yang memiliki nama besar dan kalaupun wajahnya jarang muncul di dunia persilatan dan orang tidak mengenalnya, namun namanya sudah terkenal di empat penjuru.

Hampir semua orang di dunia persilatan pernah mendengar namanya yang besar, yaitu nama julukannya. Dia dijuluki orang Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) atau disingkat Pek-liong (Si Naga Putih) saja karena ke manapun dia pergi, dia selalu berpakaian putih, dan sepak terjangnya seperti seekor naga sakti!

Si Naga Putih atau Pendekar Naga Putih ini bernama Tan Cin Hay, berusia dua puluh tujuh tahun. Wajahnya yang tampan sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang pria yang gemblengan, lebih pantas kalau dia menjadi seorang terpelajar. Sikap dan gerak geriknya juga lembut, tubuhnya sedang saja dan otot-otot yang kuat itu tersembunyi di balik pakaian sehingga tidak nampak dari luar. Pakaiannya yang serba putih amat bersih.

Satu-satunya yang membayangkan bahwa dia seorang pria jantan yang kadang berwatak keras adalah dagunya yang berlekuk, dan matanya yang kadang mencorong. Biarpun namanya terkenal sekali di dunia persilatan, namun kalau tidak perlu, jarang dia keluar ke dunia kang-ouw. Dia hidup menyendiri di dusun Pat-kwa-bun tak jauh dari Telaga See-ouw, di dalam sebuah rumah gedung yang megah dan indah. Dari rumahnya ini saja dapat diketahui bahwa pendekar yang hidup menyendiri itu adalah seorang yang kaya raya.

Dan memang benar demikian. Bersama Hek-liong-li Lie Kim Cu, Pek-liong-eng Tan Cin Hay pernah mendapatkan harta karun yang amat besar, tak ternilai besarnya. Mereka membagi dua dan dengan bagian harta karun itu, Pendekar Naga Putih menjadi orang yang kaya raya. Dia seorang duda. Isterinya yang tercinta tewas di tangan penjahat, dan sejak itu, dia tidak pernah mau menikah lagi walaupun kalau dia mau banyak gadis yang akan merasa bangga dan berbahagia menjadi isterinya. Dia tampan, gagah, berkepandaian tinggi, kaya raya!

Jangankan wanita yang belum dikenalnya, bahkan wanita yang pernah bergaul dekat dengannya, yang pernah berenang di lautan asmara bersamanya, tak pernah ada yang berhasil mengikatnya sebagai suami. Tidak, dia tidak mau terikat dalam pernikahan dengan seorang wanita, walaupun dia tidak menolak untuk bercinta dengan seorang wanita yang menarik hatinya, yang bebas, dan yang tahu bahwa dia tidak akan mau menikahinya.

Dia pantang mempergunakan kekayaan dan ketampanannya untuk menjatuhkan hati wanita, pantang untuk menjanjikan pernikahan lalu menipunya. Dia hanya mau mendekati wanita yang sudah tahu bahwa dia tidak mau terikat, dan kalaupun mereka berdua bercinta, hal itu dilakukan karena mereka saling merasa suka.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay maklum bahwa di dunia persilatan, banyak tokoh pendekar yang mencela sikapnya terhadap wanita itu. Banyak pendekar dan tokoh-tokoh kang-ouw yang menganggapnya sebagai seorang yang mata keranjang, seorang perayu wanita dan tukang merusak wanita, seorang petualang cinta yang amat berbahaya bagi setiap orang wanita!

Namun, dia tidak memperdulikan anggapan orang. Dia sudah meneliti diri sendiri dan tidak menemukan watak seperti yang dikatakan orang terhadap dirinya. Tidak, dia tidak akan pernah memaksa seorang wanita untuk bercinta dengannya, baik memaksa dengan kekerasan atau memikatnya dengan kekayaannya, kepandaiannya atau ketampanannya. Dia tidak pernah jatuh cinta dalam arti seperti cintanya terhadap mendiang isterinya dahulu.

Dia tidak pernah ingin memperisteri seorang wanita. Dan hubungannya dengan seorang wanita terjadi karena mereka saling mengagumi, saling tertarik, dengan penuh kesadaran bahwa hubungan itu tidak akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dia tidak pernah menipu! Bahkan tidak jarang dia menjauhkan diri sebelum terjadi hubungan cinta kalau seorang gadis atau seorang janda benar jatuh cinta dan menginginkan menjadi isterinya.

Kini empat orang muda itu menjadi marah bukan main. Pemuda berkepala besar dan pemuda kurus yang berpakaian mewah itu adalah dua orang yang merasa diri mereka sebagai kongcu-kongcu (tuan muda) yang harus ditaati semua perintah mereka. Mereka itu putera-putera orang kaya raya yang sejak kecil dimanja dan dituruti semua permintaan mereka.

Dua orang kawan mereka adalah tukang pukul mereka yang hidup bagaikan lintah, menempel kepada dua orang muda kaya itu. Ke manapun mereka berdua yang sakunya penuh uang itu pergi, tentu ada saja pemuda-pemuda tukang pukul yang mengikuti mereka sebagai pengawal dan juga sebagai pembonceng berbelanja apa saja.

“Hajar perempuan itu!” bentak si kepala besar yang masih mengaduh-aduh karena mukanya kini seperti udang direbus, kemerahan terkena kuah dan air teh panas. Dia menuding ke arah Cu Sui In dengan mata melotot lebar.

“Ia harus mencium kaki kami untuk minta ampun!” kata pula si kurus yang juga terkena percikan kuah dan kini dia sibuk membersihkan pakaiannya yang kotor dan basah.

Dua orang tukang pukul itu menghampiri Cu Sui In dengan sikap mengancam. Sui In sudah selesai makan atau memang ia sudah kehilangan seleranya, maka ia bangkit dari duduknya dan menggapai pelayan karena ia ingin membayar harga makanan dan minumannya lalu pergi dari situ secepatnya.

Seorang pelayan bergegas datang menghampirinya, akan tetapi dua orang tukang pukul itu mendorongnya sehingga terpelanting. “Pergi kau!” bentak seorang di antara dua tukang pukul itu, yang berjenggot kambing.

Orang kedua, yang matanya juling, berkata kepada Sui In dengan nada memerintah. “Bocah sombong, hayo cepat berlutut mohon ampun kepada kedua orang kongcu kami, atau engkau ingin aku memaksamu berlutut?” Dia menghampiri dengan sikap mengancam.

“Berlutut dan cium kaki kedua kongcu kami!” bentak pula si jenggot kambing.

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali dan sinar mata yang jeli itu kini mencorong, tanda bahwa Sui In marah bukan main mendengar ucapan yang nadanya menghina itu. “Aku tidak ingin mencari perkara, akan tetapi kalau kalian tidak cepat pergi dari sini dan menutup mulut kalian yang kotor, terpaksa kalian akan kuhajar!” katanya, lembut namun mengandung ancaman.

“Heiiiittt!” Si mata juling segera memasang kuda-kuda, kedua kaki terpentang, kedua lutut ditekuk dan pinggulnya menonjol ke belakang, kedua lengan menyilang di depan dada, dengan tangan membentuk cakar. Lagaknya yang digagah-gagahkan itu lucu sekali.

“Hyatttt...!” Si jenggot kambing juga memasang kuda-kuda, lebih gagah lagi, dengan kaki kiri diangkat dan lutut ditekuk sehingga kaki kiri menempel di samping lutut kanan sedangkan kaki kanan berjungkit, tangan kiri di depan pusar dan tangan kanan diangkat tinggi menuding langit! Seolah-olah dia hendak memainkan ilmu silat yang amat luar biasa tingginya, setinggi langit. Akan tetapi karena dia tidak dapat bertahan lama dengan sebelah kaki berjungkit, maka kaki kanan diturunkan dan kini dia membentuk kuda-kuda dengan kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang, kedua tangan terkepal di pinggang, siap untuk menerjang!

Melihat lagak mereka, Sui In tersenyum mengejek dan menepiskan tangannya seperti orang mengusir lalat. “Sudahlah, kalian badut-badut menjemukan, aku mau pergi!” Ia lalu melangkah dan sama sekali tidak memperdulikan kedua orang yang memasang kuda-kuda dan siap menyerangnya itu.

Melihat betapa gadis itu tidak takut menghadapi kuda-kuda mereka yang gagah, dua orang tukang pukul itu marah dan ketika gadis itu lewat di antara mereka, keduanya seperti berlomba lalu menubruk maju, berlumba untuk merangkul gadis itu. Si jenggot kambing merangkul leher, dan temannya si mata juling merangkul pinggang Sui In membiarkan sampai serangan mereka itu datang dekat, lalu tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat cepat ke depan. Dua orang yang sudah yakin akan berhasil menubruk dan merangkul itu, girang sekali.

“Bressss...!” Mereka mengaduh karena mereka ternyata saling tubruk dan saling rangkul, bahkan kepala mereka saling bertemu dengan kerasnya. Terdengar suara tertawa bergelak dan yang tertawa ini adalah Pek-liong yang tak dapat menahan kegelian hatinya melihat lagak dua orang itu, dan diapun girang dan kagum melihat kecekatan gadis manis itu.

“Keparat kau!” bentak si jenggot kambing sambil mencabut goloknya.

“Perempuan hina!” bentak pula si mata juling dan diapun mencabut goloknya.

Akan tetapi, Sui In tetap tenang, tidak mengeluarkan senjatanya karena dara ini sudah dapat mengukur bahwa dua orang lawannya itu lebih mengandalkan kenekatan dari pada kepandaian. Mereka itu seperti dua buah tong kosong yang berbunyi nyaring. Dengan teriakan-teriakan menyeramkan, ke dua orang itu kini menggerakkan golok mereka dan menerjang ke arah Sui In, bukan hanya untuk menakut-nakuti, melainkan benar-benar menyerang!

Namun, Sui In dengan mudahnya berloncatan mengelak. Dua orang itu mengamuk terus, mengejar ke manapun Sui In meloncat sehingga golok mereka menyambar-nyambar dan merobohkan beberapa buah kursi yang menjadi patah-patah. Melihat ini, pemilik rumah makan itu menjadi panik. Bisa hancur semua perabotnya!

“Sudah! Sudah... harap jangan berkelahi di sini...!” Berulang-ulang dia berteriak.

Melihat ini, Sui In merasa kasihan, maka ketika dua batang golok itu menyambar, tubuhnya merendah dan kedua lengannya berkembang, tangannya sudah menotok ke arah siku dua orang penyerangnya. Golok itu terlepas dan pada detik berikutnya, kaki kanan gadis itu terangkat dan dua kali bergerak menendang ke arah perut dua orang lawannya.

Kaki itu menendang dengan gerakan cepat dan indah, dua kali bergerak tanpa turun dulu. Nampaknya tendangan itu tanpa tenaga, akan tetapi, begitu mengenai perut si jenggot kambing dan si mata juling, keduanya berteriak kesakitan, dan terjengkang lalu mengaduh-aduh sambil mengelus perut mereka yang mendadak terasa mulas dan nyeri sekali!

Kini Sui In melangkah ke arah meja dua orang pemuda kaya itu, tanpa memperdulikan, lagi dua orang bekas lawan yang mengaduh-aduh. Matanya yang jeli itu menatap wajah kedua orang pemuda hartawan itu dengan sinar mencorong.

Dua orang pemuda itu berdiri menggigil ketakutan melihat betapa dua orang tukang pukul mereka roboh tak berdaya. Apa lagi melihat sinar mata gadis itu, mereka ketakutan dan kedua kaki mereka menggigil, dan ketika Sui In tiba di depan mereka, tak dapat ditahan lagi celana mereka menjadi basah! Melihat ini, Sui In merasa jijik. Tangan kirinya bergerak, dua kali ke arah muka mereka.

“Plok! Plok!” Tubuh dua orang pemuda hartawan itu terpelanting dan ketika mereka bangkit duduk sambil memegangi pipi yang membengkak dan mulut berdarah karena beberapa buah gigi mereka rontok, gadis itu sudah membayar harga makanan tanpa bicara lagi, dan melangkah pergi.

Pek-liong-eng Tan Cin Hay kagum bukan main. Gadis hebat, pikirnya dan dia merasa puas. Kalau lebih banyak wanita seperti gadis berpakaian hijau itu, tentu berkuranglah laki-laki iseng yang suka mengganggu wanita dengan cara yang kurang sopan. Diapun mengenal gerakan wanita itu ketika tadi menghadapi serangan dua batang golok, cara mengelak, kemudian tendangan beruntun itu.

Gerakan gadis itu mempunyai ciri khas yang datang dari sumber partai persilatan Kun-lun-pai. Gadis itu tentu seorang murid Kun-lun-pai, pikirnya. Murid yang sudah jadi, sudah matang menurut dugaannya. Tentu saja ini hanya dugaan karena untuk menentukan tingkat gadis itu, dia harus melihat gadis itu bersilat berkelahi sungguh-sungguh, terutama menggunakan ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedangnya.

Sambil tersenyum dia melihat betapa empat orang pemuda itu merangkak-rangkak, membayar harga makanan, bahkan membayar pula kerugian yang timbul karena kerusakan meja kursi dan pecahnya mangkok piring akibat perkelahian tadi. Kemudian mereka pergi dari situ, si kepala besar tidak malu-malu menangis dan mengaduh-aduh karena pipinya bengkak dan banyak giginya sebelah kanan rontok!

Akan tetapi, Cin Hay yang sudah hampir melupakan lagi gadis berpakaian hijau yang lihai dan menarik itu, dan hendak melanjutkan makan minumnya, tiba-tiba tertarik melihat sikap tiga orang pria-pria setengah tua yang tadi dia lihat makan pula di meja lain. Dari sikap mereka, diapun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa bertualang di dunia persilatan. Akan tetapi tadi dia tidak memperhatikan mereka.

Baru sekarang dia menaruh perhatian ketika melihat betapa tiga orang itu bicara bisik- bisik dan kadang menoleh ke luar setelah gadis berpakaian hijau tadi meninggalkan rumah makan itu. Alisnya berkerut. Jelas bahwa mereka itu bukan orang-orang lemah, terutama sekali orang yang berusia limapuluh tahun dan rambutnya sudah berwarna putih semua itu.

Pernah dia mendengar akan seorang tokoh sesat yang rambutnya sudah putih semua dan terkenal ahli bermain pedang, julukannya Pek-mau-kwi (Setan Rambut Putih). Inikah orangnya? Diapun memperhatikan dua orang yang lain. Yang seorang berperut gendut, mukanya ramah akan tetapi matanya bersinar kejam. Orang kedua kurus pendek dengan wajah bengis. Tak lama kemudian, tiga orang ini bangkit dari meja dan membayar harga makanan, lalu bergegas mereka keluar.

Cin Hay melirik ke arah meja mereka. Mereka itu belum selesai makan, akan tetapi mengapa tergesa-gesa pergi? Dan mereka tadi jelas membicarakan si nona baju hijau! Timbul kecurigaannya dan diapun segera membayar harga makanan lalu melangkah keluar. Di luar masih terdapat beberapa orang yang tadi tertarik melihat keributan yang terjadi dalam rumah makan dan mereka itu kini sedang membicarakan gadis baju hijau dengan kagum.

Cin Hay masih sempat melihat mengepulnya debu bekas kaki tiga ekor kuda itu menuju ke utara, maka diapun berjalan dengan langkah lebar menuju ke utara. Setelah keluar dari dusun Kim-tang, sebagai seorang yang tinggal di daerah Telaga See-ouw, tentu saja dia mengenal baik daerah ini dan melihat betapa masih nampak debu bekas kaki kuda mengepul di depan, tahulah dia bahwa tiga orang penunggang kuda itu menuju ke bukit hutan cemara.

Dia tahu bahwa hutan itu sunyi dan jarang dikunjungi orang karena selain di sana tidak terdapat binatang buruan, juga banyak bagian yang berbatu-batu dan tidak mendatangkan hasil apapun kecuali kayu pohon cemara. Diapun segera mengerahkan tenaga berlari cepat setelah tiba di jalan yang sunyi, membayangi tiga orang penunggang kuda itu.

Kini dia sudah kehilangan tiga orang penunggang kuda karena mereka sudah memasuki hutan di kaki bukit. Cin Hay yang merasa curiga, terus membayangi, bahkan mempercepat larinya untuk menyusul karena kalau sudah tiba di hutan, dia dapat membayangi dari jarak yang lebih dekat tanpa mereka ketahui.

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 07 karya kho ping hoo

Sementara itu, Sui In setelah meninggalkan rumah makan, segera melanjutkan perjalanannya. Ia ingin mengunjungi susioknya (paman gurunya) yang bertapa di Bukit Cemara itu. Susioknya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai, dan ia percaya bahwa kalau susioknya membantu, akan lebih mudah baginya untuk mencari Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis) sampai dapat dan membalas dendam atas kematian suaminya, juga menghentikan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja selama ini.

Ketika Sui In tiba di luar dusun, iapun menggunakan ilmu berlari cepat menuju ke bukit Cemara. Setelah hampir tiba di kaki bukit, ia merasakan sesuatu yang tidak wajar, yang membuatnya menengok dan iapun melihat tiga orang penunggang kuda membalapkan kuda mereka. Ia tidak tahu siapa mereka, akan tetapi menduga bahwa tentu mereka itu orang-orang yang hendak membalaskan kekalahan empat orang pemuda kurang ajar yang dihajarnya di rumah makan tadi.

Maka iapun mempercepat larinya dan tibalah ia di hutan cemara yang mulai dari kaki bukit. Akan tetapi, tiga orang penunggang kuda itu terus mengejar memasuki hutan. Ia menjadi penasaran sekali. Tentu saja ia tidak takut menghadapi mereka, dan kalau mereka itu hendak membela empat orang pemuda kurang ajar tadi, ia akan menghajar mereka pula! Maka, setelah tiba di tempat terbuka, ia berhenti untuk mengaso dan melihat siapa mereka yang melakukan pengejaran itu.

Tiga orang penunggang kuda itu berlompatan turun dari atas kuda mereka ketika melihat bahwa gadis yang mereka kejar sudah berdiri menanti di atas lapangan terbuka, dengan sikap yang gagah dan menantang! Tiga orang penunggang kuda itu sesungguhnya bukanlah tukang-tukang pukul biasa yang hendak membela empat orang pemuda tadi seperti yang disangka oleh Sui In. Sama sekali bukan!

Mereka adalah tiga orang setengah tua yang tadi makan pula di rumah makan dan mereka melihat pula ketika Sui In menghajar para pemuda kurang ajar itu. Justeru gerakan gadis itulah yang menarik perhatian mereka dan yang membuat mereka melakukan pengejaran. Gerakan ilmu silat Sui In ketika menghadapi para pemuda jahat tadi mereka kenal sebagal ilmu silat Kun-lun-pai. Gadis itu murid Kun-lun-pai dan karenanya harus mati di tangan mereka! Atau lebih tepat lagi harus mati di tangan laki-laki berambut putih itu, karena yang dua orang lainnya hanyalah merupakan para pembantunya.

Siapakah mereka bertiga itu? Dugaan Pek-liong tadi memang tidak keliru. Pria berusia lima puluhan tahun yang rambutnya sudah putih semua itu adalah Ciong Hu, berjuluk Pek-mau-kwi (Setan Rambut Putih), seorang tokoh sesat kenamaan. Pek-mau-kwi Ciong Hu ini terkenal lihai dengan ilmu pedangnya, dan diapun terkenal jahat dan kejam. Dia tidak pantang melakukan kejahatan apapun asal perbuatan itu menghasilkan keuntungan baginya.

Adapun dua orang temannya juga bukan orang sembarangan, melainkan tokoh-tokoh sesat yang namanya ditakuti orang karena selain kejam, merekapun lihai sekali. Terutama mereka yang suka mengarungi Sungai Huang-ho dengan perahu, tentu akan mengenal nama mereka.

Mereka adalah dua orang kakak beradik yang suka membajak di sepanjang Sungai Kuning, maka nama julukan merekapun Huang-ho Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Kuning). Yang berperut gendut dengan wajah cerah akan tetapi sinar matanya kejam berusia empatpuluh lima tahun dan bernama Can Kai, sedangkan yang kurus pendek berwajah bengis adalah adiknya bernama Can Kui berusia empatpuluh tiga tahun.

Melihat cara tiga orang itu berlompatan dari atas punggung kuda, Sui In terkejut juga. Ia tahu bahwa tiga orang ini tidak boleh dipandang ringan, tidak seperti dua orang tukang pukul muda yang dihajarnya di rumah makan tadi, maka iapun bersikap waspada. Ia mulai meragukan sangkaannya setelah mengetahui mereka sebagai tiga orang yang tadi ia lihat makan di restoran itu pula.

Kalau mereka ini membela empat orang pemuda yang dihajarnya tadi, tentu mereka sudah bergerak tadi di sana, pikir Sui In. Tidak, mereka mengejarnya tentu karena alasan lain. Akan tetapi ia bersikap tenang saja ketika berdiri berhadapan dengan mereka bertiga. Melihat mereka bertiga itu hanya memandang kepadanya dengan penuh perhatian, sedangkan si perut gendut menyeringai dengan sikap ceriwis. Sui In lalu menegur.

“Mau apa kalian bertiga mengejarku?”

Pek-mau-kwi Ciong Hu menggerakkan tangannya. “Nona, benarkah dugaan kami bahwa engkau seorang murid Kun-lun-pai?”

Sui In mengerutkan alisnya. “Kalau benar, mengapa?”

Akan tetapi pria berambut putih itu tidak memperdulikan Sui In melontarkan balas tanya penuh tantangan itu. “Dan engkau hendak berkunjung ke pondok Giam Sun?”

Sui In merasa tidak perlu merahasiakan kunjungannya lagi karena agaknya mereka sudah mengenal susioknya. “Memang aku akan berkunjung ke tempat pertapaan Giam Susiok. Kalian siapakah?”

Akan tetapi tiga orang itu sudah tertawa bergelak. “Hemm, engkau murid keponakan Giam Sun?” kini Can Kai si gendut tertawa. “Bagus sekali, kalau begitu engkau harus turut dengan aku!”

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi Can Kai sudah menubruk ke depan. Biarpun perutnya gendut ternyata dia dapat bergerak dengan cepat sekali. Sui In cepat mengelak dan ketika lengan kanan si gendut itu masih berusaha meraihnya, ia menangkis sambil mengerahkan tenaga.

“Plakk!” Can Kai mengeluarkan seruan kaget karena lengannya yang tertangkis itu terpental keras, tanda bahwa gadis itu memiliki sin-kang yang cukup kuat.

“A Kai, jangan main-main. Cepat selesaikan ia, kita tidak mempunyai banyak waktu!” tiba-tiba Pek-mau-kwi Ciong Hu berseru dan mendengar ini, si gendut sudah mencabut pedangnya, lalu tanpa banyak cakap lagi diapun sudah langsung menerjang dengan ganas. Akan tetapi, melihat lawan menggunakan senjata, Sui In juga, sudah cepat menghunus pedang dan kini ia menangkis dengan gerakan kilat.

“Tranggg...!” Begitu kedua pedang bertemu dan tangkisan itu membuat pedang Can Kai terpental, pedang di tangan Sui In sudah meluncur dengan gerakan lingkaran yang amat cepat, menyambar dari samping membabat ke arah leher Can Kai!

Si gendut ini terkejut dan cepat melempar tubuh ke belakang, lalu berjungkir balik sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Wajahnya berubah agak pucat karena nyaris lehernya putus! Dia menjadi marah dan sudah menerjang lagi dengan dahsyat, sama sekali tidak berani memandang rendah lagi.

Sui In juga segera memainkan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat indah dan kuat. Pedang di tangannya itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dari gulungan sinar itu, yang selalu menahan setiap serangan lawan, seringkali mencuat sinar yang merupakan serangan balasan yang cepat dan berbahaya bagi lawan.

Dalam waktu dua puluh jurus saja, Can Kai sudah terdesak hebat dan setiap lima kali serangan lawan dia hanya mampu membalas satu kali saja! Tentu saja dia mundur terus dan berputar-putar dan jelas bahwa kalau dilanjutkan, tak lama lagi dia pasti akan roboh menjadi makanan pedang di tangan gadis Kun-lun-pai yang lihai itu!

Melihat kakaknya terdesak, Can Kui sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi diapun sudah terjun membantu kakaknya. Ilmu pedang Can Kui tidak banyak berbeda dengan kakaknya, maka kini Sui In dikeroyok dua dan kalau tadi Sui In dapat mendesak lawan, kini ia harus berhati-hati karena setelah dikeroyok, tentu saja keadaan menjadi berubah! Wanita perkasa ini memutar pedangnya melindungi diri, akan tetapi kini serangan dua orang itu lebih cepat dan lebih sering dibandingkan serangan balasan yang dapat ia lakukan.

Pek-mau-kwi Ciong Hu menjadi tidak sabar. Tak disangkanya bahwa wanita ini demikian lihainya sehingga dikeroyok oleh dua orang pembantunya pun agaknya mereka tidak akan mudah memperoleh kemenangan, “Hemm, perempuan yang sombong, terimalah kematianmu!” bentaknya dan diapun sudah mencabut pedangnya. Begitu pedangnya dicabut, nampak sinar berkilauan, tanda bahwa pedangnya itu adalah sebuah senjata yang baik dan juga tajam sekali.

Pedang itu meluncur dan merupakan segulung sinar terang menyerang ke arah Sui In yang sudah dikeroyok oleh dua orang, Sepasang Harimau Sungai Kuning itu. Cepat dan kuat sekali serangan itu sehingga Sui In menjadi terkejut bukan main karena pada saat itu ia sedang didesak oleh dua orang pengeroyoknya. Pada saat yang amat berbahaya bagi Sui In, tiba-tiba nampak sinar putih meluncur dari samping.

“Cringggg...! Ahhhh...!” Pek-mau-kwi Ciong Hu mengeluarkan seruan kaget dan cepat memeriksa pedangnya yang hampir saja terlepas dari pegangannya ketika tadi tertangkis oleh sinar putih itu.

Dia merasa lega bahwa pedangnya tidak rusak, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia mengangkat muka memandang kepada seorang pria muda yang berdiri di situ sambil tersenyum. Seorang pria muda berpakaian serba putih, pakaian sederhana saja dan tentu dia tidak akan menduga bahwa pemuda itu seorang ahli silat yang lihai kalau saja dia tidak melihat pedang yang bersinar putih dan yang telah membuat pedangnya terpental tadi.

“Pek-liong-eng...!” serunya dengan mata terbelalak.

Tan Cin Hay tersenyum, “Dan engkau tentu Pek-mau-kwi Ciong Hu!”

“Pek-liong-eng, selama ini di antara kita tidak pernah ada permusuhan dan jalan kita selalu bersimpang. Harap engkau tidak mencampuri urusan pribadiku!” kata Pek-mau kwi Ciong Hu, sementara itu, dua orang kakak beradik Can itu masih berkelahi mengeroyok Sui In.

“Pek-mau-kwi, memang jalan kita tidak pernah bertabrakan, akan tetapi sekali ini, secara pengecut sekali kau mengeroyok seorang wanita murid Kun-lun-pai dengan dua orang kawanmu. Hal ini tentu saja tidak dapat kubiarkan saja. Aku paling benci melihat laki-laki yang curang dan pengecut!”

“Pek-liong-eng, orang lain boleh takut kepada nama besarmu, akan tetapi aku tidak! Mampuslah!” Pek-mau-kwi Ciong Hu sudah menyerang dengan pedangnya. Serangannya memang hebat dan dia adalah seorang ahli pedang yang sukar dicari tandingnya. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan Si Naga Putih!

Sebelum dia menjadi rekan setia dari Hek-liong-li, dia sudah merupakan seorang pendekar yang berilmu tinggi, mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari mendiang Pek I Lojin. Apa lagi setelah dia memiliki pedang pusaka Pek-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Putih), dan bersama Hek-liong-li dia menciptakan ilmu pedang Sin-liong Kiam-sut, maka ilmu pedangnya dahsyat bukan main. Begitu dia menggerakkan pedang pusakanya, lenyaplah bentuk pedang itu dan yang nampak hanya sinar putih bergulung-gulung yang menimbulkan bunyi berdesing-desing dan angin menyambar-nyambar dahsyat, bagaikan seekor naga bermain-main di angkasa.

Pek-mau-kwi merasa terkejut bukan main. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu pedangnya, memainkan jurus-jurus pilihan, namun tetap saja sinar pedangnya terkurung dan terhimpit oleh sinar pedang lawannya. Masih untung baginya bahwa diam-diam Pek-liong mengkhawatirkan keselamatan gadis Kun-lun-pai itu sehingga perhatian Pek-liong terpecah, sebagian untuk menjaga kalau-kalau wanita perkasa itu terancam babaya. Hal ini memberi kesempatan kepada Pek-mau-kwi untuk meloncat jauh ke belakang.

“Kita pergi...!” teriaknya kepada dua orang pembantunya.

Sebetulnya, Can Kai dan Can Kui sudah mulai menghimpit lawannya. Wanita perkasa itu hanya mampu menangkis dan melindungi tubuhnya saja dan kalau dilanjutkan, ia pasti akan roboh. Akan tetapi, mendengar seruan Pek-mau-kwi, mereka terkejut. Tadipun mereka sudah cemas mendengar pemimpin mereka menyebut nama Pek-liong-eng. Maka, tanpa banyak pikir lagi, keduanya sudah berloncatan meninggalkan Sui In dan di lain saat, mereka bertiga sudah membalapkan kuda meninggalkan tempat itu.

Pek-liong tidak mengejar, juga Sui In tidak mencoba untuk mengejar. Mereka berdiri saling pandang sejenak, pandang mata yang mengandung kekaguman. Kemudian, Sui In yang teringat bahwa baru saja ia dibebaskan dari ancaman maut, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil berkata,

“Terima kasih atas pertolongan yang diberikan sehingga aku lolos dari ancaman maut di tangan mereka.”

Pek-liong-eng Tan Cin Hay tersenyum dan membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tangan depan dada, “Tidak perlu berterima kasih, nona. Sudah sepatutnya kalau kita saling membantu apabila menghadapi ganguan orang-orang jahat.”

“Aku... aku bukan seorang nona...” Sui In tersipu mendengar ia dipanggil “siocia” (nona). Usianya sudah dua puluh enam tahun dan ia seorang janda!

Pek-liong masih tersenyum dan kembali mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat, “Ah, maafkan aku, nyonya...”

Sui In masih tersipu akan tetapi iapun tersenyum, dan menggeleng kepalanya. “Akupun bukan seorang nyonya...”

“Ehhh...?” Kini Pek-liong terbelalak bingung. Bukan nona dan bukan nyonya, apakah ia banci...?

“Aku seorang janda...” Sui In cepat menjelaskan.

“Ah, begitu...?”

Keduanya terdiam. Agaknya pengakuan dirinya sebagai seorang janda itu membuat suasana menjadi canggung. Akan tetapi akhirnya Sui In dapat menguasai hatinya. Ia tahu bahwa pria di depannya itu menjadi rikuh maka tidak berani sembarangan bicara dan harus ia yang lebih dahulu bicara. Ia mengangkat muka. Kebetulan Pek-liong juga sedang memandang kepadanya sehingga dua pasang mata bertemu, bertaut sebentar lalu Sui In yang membuang pandang mata ke samping sambil memerah muka di luar kesadarannya.

“Jadi... engkau ini yang dijuluki Pek-liong-eng itu? Namamu sudah terkenal sampai ke kota raja...”

“Ah, hanya nama kosong saja, tidak pantas untuk disohorkan,” kata Pek-liong merendah.

“Bukan nama kosong. Baru saja aku menyaksikan sendiri betapa hebatnya ilmu pedangmu, tai-hiap (pendekar besar). Aku sudah mendengar pula nama Pek-mau-kwi yang kabarnya amat lihai dan ilmu pedangnya amat berbahaya, namun dalam beberapa gebrakan saja, melawanmu, dia telah melarikan diri. Sungguh engkau memiliki kesaktian hebat, tai-hiap.”

“Wah, engkau membikin aku dua kali malu dan bingung. Engkau tidak mau disebut nona, juga tidak mau disebut nyonya, akan tetapi sebaliknya engkau menyebut aku tai-hiap! Ini tidak adil namanya. Karena malu dan canggung, aku rasanya ingin lari saja. Kalau kita ingin melanjutkan perkenalan ini sebaiknya engkau menyebut aku toako saja. Usiaku sudah dua puluh tujuh tahun, tentu jauh lebih tua darimu, maka sudah sepatutnya kalau engkau menyebut toako (kakak) kepadaku.”

Sui In tersenyum. Hatinya girang bukan main. Dahulu ia sudah mengagumi nama besar Pek-liong-eng. Tadi ketika bertemu di restoran, iapun diam-diam kagum melihat pria ini karena tampan dan jantan, kemudian ia semakin kagum melihat ilmu kepandaian dan sepak terjangnya. Dan kini, bukan saja ia berhadapan dan berkenalan dengan pendekar itu, bahkan ia diperbolehkan menyebut toako! Ia semakin kagum. Pria ini selain tampan dan gagah, jantan, berkepandaian tinggi, juga ternyata sopan dan amat ramah dan jujur!

“Baiklah, toako, akan tetapi engkaupun jangan menyebut aku nona atau nyonya, melainkan siauw-moi (adik perernpuan). Usiaku sudah dua puluh enam tahun, setahun lebih muda darimu.”

“Ah, tidak mungkin!”

“Apanya, yang tidak mungkin, toako?”

“Mana mungkin usiamu sudah dua puluh enam tahun? Engkau kelihatan tidak lebih dari dua puluh tahun!” kata Pek-liong dengan sikap sungguh-sungguh sehingga wanita itu tersenyum bangga, maklum bahwa pendekar itu tidak sekedar merayu.

“Sungguh, toako. Eh, kita ini sudah saling menyebut toako dan siauw-moi, akan tetapi belum mengetahui nama masing-masing! Aku hanya pernah mendengar julukanmu, belum mengetahui namamu. Aku bernama Cu Sui In, toako.”

“Cu Sui In nama yang bagus. Namaku sendiri Tan Cin Hay, In-moi (adik In). Nah, kita telah berkenalan dan menjadi sahabat. Maukah engkau menceritakan kepadaku mengapa tiga orang itu tadi berusaha mati-matian untuk membunuhmu?”

Sui In menggeleng kepala. “Aku sendiri pun tidak tahu mengapa mereka memusuhi aku, toako. Mereka tadi mengejarku, setelah tiba di sini mereka hanya bertanya apakah aku murid Kun-lun-pai. Setelah aku membenarkan, mereka segera menyerangku dan berusaha sungguh-sungguh untuk membunuhku. Merekapun agaknya mengenal susiokku Giam Sun yang bertapa di puncak bukit ini.”

“Susiokmu? Seorang tokoh Kun-lun-pai bertapa di bukit ini? Heran sekali, mengapa aku tidak pernah mendengar akan hal itu? Padahal, aku tinggal tidak jauh sekali dari sini.”

“Giam Susiok (Paman Guru Giam) memang bertapa mengasingkan diri dari dunia ramai, maka dia seperti orang bersembunyi dan tidak ada yang tahu. Aneh sekali bagaimana tiga orang itu mengetahuinya dan... ah, jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan susiok...!” Wajah manis itu nampak khawatir sekali. “Aku harus cepat melihat keadaannya!”

Setelah berkata demikian, Sui In yang mengkhawatirkan paman gurunya segera berlari mendaki bukit. Pek-liong juga tertarik sekali mendengar bahwa paman guru gadis itu bertapa di situ, maka diapun mengikuti di belakang gadis itu tanpa bicara lagi...

Si Bayangan Iblis Jilid 06

KOMANDAN jaga itu menceritakan betapa semalam, ketika sebagian anak buahnya berjaga dan meronda dan sebagian lagi mengaso di gardu, tiba-tiba mereka yang berada di luar gardu berjatuhan tanpa mengeluarkan suara. Ketika para penjaga lainnya keluar, mereka disambut oleh bayangan yang berkelebatan dan merekapun roboh satu demi satu.

“Saya sendiri ketika itu sedang berada di belakang. Mendengar suara berisik di depan, saya segera berlari keluar dan sempat melihat anak buah saya terakhir roboh dan berkelebatnya bayangan...”

“Seperti apa bayangan itu?” tanya Cian Hui.

Wajah komandan jaga itu semakin pucat dan dengan gelisah dia mengerling ke arah Liong-li, Hatinya diliputi keraguan melihat adanya seorang nenek yang tidak dikenalnya di situ, ikut mendengarkan percakapan yang memalukan itu.

“Hayo katakan. Ini bibiku sendiri, tidak perlu kau sungkan!” kata pula Cian Hui. “Seperti apa bayangan itu?”

“Dia dia tinggi besar, bertanduk Si Bayangan Iblis...” suaranya gemetar.

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Saya mencabut pedang dan menyerang keluar, mengejar Si Bayangan Iblis dengan nekat. Akan tetapi, tiba-tiba saja pedang saya terlepas dan mata saya menjadi gelap. Tahu-tahu pagi tadi saya siuman seperti yang lain, seperti baru bangun tidur saja.”

Liong-li yang ikut mendengarkan dapat memaklumi peristiwa itu. Si Bayangan Iblis memang lihai bukan main dan memiliki keringanan tubuh dan kegesitan yang luar biasa. Para penjaga itu adalah perajurit-perajurit biasa, bukan pasukan khusus, maka tentu saja dengan mudah dapat dirobohkan Si Bayangan Iblis tanpa mereka mampu mengenalnya. Kalau pasukan khusus yang terdiri dari perajurit-perajurit pilihan tentu akan lain lagi halnya, setidaknya para perajurit pasukan khusus tentu akan dapat melakukan perlawanan dan lebih banyak kemungkinan mereka akan dapat mengenal bayangan itu.

Agaknya Cian Hui juga berpendapat demikian, maka setelah dia melirik ke arah Liong-li yang nampak tidak tertarik, dia lalu berkata, “Sudahlah, engkau boleh pergi. Aku tidak akan melaporkan ke atasan, akan tetapi mulai sekarang, kalau terjadi hal-hal mencurigakan di pintu gerbang, engkau harus cepat melaporkannya kepadaku atau menyampaikan kepada pembantuku Teng Gun.”

Komandan jaga itu nampak girang mendengar ini. Bagaikan seekor ayam makan padi, kepalanya mengangguk-angguk dan diapun berpamit lalu pergi dari situ dengan hati lega.

“Bagaimana pendapatmu, Li-hiap?” setelah mereka hanya berdua saja, Cian Hui bertanya.

Liong-li mengerutkan alisnya. “Jelas bahwa Si Bayangan Iblis bukan hanya satu orang saja dan pembunuhan-pembunuhan misterius itu tentulah didalangi orang pandai yang mempunyai banyak anak buah! Dan mengingat bahwa mereka itu mampu bergerak leluasa dam menghilang penuh rahasia, aku semakin condong menduga bahwa mereka tentu bersembunyi di dalam istana, atau setidaknya, pemimpinnya berada di dalam istana. Bagaimana Ciang-kun, tentang rencana kita agar aku dapat diseludupkan ke istana?”

“Beres, Li-hiap! Sore hari ini juga engkau dapat dibawa ke istana. Sudah kuhubungi para pejabat di istana yang kukenal baik. Aku menceritakan bahwa engkau keponakanku dari dusun yang ingin sekali menjadi dayang, dan akhirnya kepala Thai-kam (laki-laki kebiri) yang mengepalai para dayang, yaitu Bong Thai-kam, dapat menerimamu. Ketika dia menanyakan namamu, aku mengatakan bahwa engkan she Kim bernama Siauw Hwa, akan tetapi sejak kecil biasa disebut Akim.”

“Bagus sekali nama itu, Ciang-kun!” Liong-li memuji.

“Ah, aku hanya ingat bahwa namamu memakai huruf Kim (emas), maka kupergunakan nama itu yang juga bisa dipakai sebagai nama keturunan. Sudah kupersiapkan perlengkapan yang harus kau bawa sebagai seorang gadis dusun, dan sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai gadis dusun yang tidak terlalu cantik akan tetapi juga jangan terlalu buruk.”

“Kenapa begitu, ciang-kun?” Liong-li menatap wajah perwira itu sambil tersenyum. “Bagaimana kalau aku membiarkan wajahku yang aseli?”

“Wah, jangan! Berbahaya kalau begitu. Baru sehari saja di sana tentu para pangeran akan saling memperebutkanmu, engkau pantas menjadi seorang puteri!”

“Ih, engkau memuji atau merayu, ciang-kun?”

“Boleh kau anggap kedua-duanya. Akan tetapi aku bicara serius. Di istana penuh dengan pangeran-pangeran mata keranjang, dan aku mendengar di sana penuh dengan hubungan-hubungan gelap dan kotor karena para pangeran itu tidak malu atau segan untuk mengganggu selir dan dayang ayah mereka.”

“Hemmm...” Liong-li mengangguk-ngangguk. Hal inipun tidak aneh baginya karena sudah banyak mendengar akan kehidupan kotor di balik gemerlapnya kedudukan tinggi dan penuh kehormatan itu.

“Oleh karena itulah maka amat berbahaya kalau engkau kelihatan terlalu cantik di istana, Li-hiap. Bukan saja niatmu melakukan penyelidikan akan menemui banyak rintangan, juga dirimu sendiri menjadi pusat perhatian dan akan datang gangguan yang akan menyulitkan keadaan dirimu. Sebaliknya, kalau penyamaranmu itu kelihatan terlalu jelek, juga akan mencurigakan, karena bagaimana mungkin seorang gadis yang buruk rupa dapat diterima sebagai dayang?”

“Tidak terlalu cantik akan tetapi tidak terlalu buruk, hemmm, memang sukar sekali, akan tetapi aku tahu apa yang kau maksudkan, Ciang-kun. Jangan khawatir, aku tidak akan nampak terlalu buruk, akan tetapi setiap orang pria di istana kalau bertemu dengan aku, sudah pasti tidak akan tertarik.”

“Harap engkau jangan khawatir, Li-hiap. Aku yang telah menerima bantuanmu, tentu tidak akan membiarkan engkau begitu saja. Syukur kalau penyelidikanmu berhasil dan rahasia pembunuhan itu dapat dipecahkan. Andaikata engkau menemui kesulitan di istana dan tidak ada jalan keluar lagi, akulah yang akan menghadap kaisar sendiri, dan aku yang akan bertanggung jawab, akan kuceritakan semua kepada kaisar sebab kehadiranmu di istana dan aku yakin, mengingat akan jasa-jasaku, kaisar akan suka memenuhi permohonanku untuk mengampuni dan membebaskanmu.”

Terharu juga hati Liong-li mendengar janji ini. Ia tahu bahwa ucapan itu bukan sekedar janji kosong. Orang segagah Cian Hui ini tentu tidak akan mundur dari tanggung jawab. Akan tetapi ia tidak menghendaki tugas ini gagal seperti itu.

“Kalau aku menemui kesulitan, tidak perlu engkau menghadap kaisar, Cian Ciang-kun, akan tetapi sampaikan saja suratku ini kepada rekanku.”

“Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)?” Cian Ciang-kun segera menduga.

Liong-li tidak merasa heran. Memang dunia kang-ouw sudah mengetahui belaka bahwa Hek-liong-li dan Pek-liong-eng adalah dua sekawan yang tak terpisahkan, apa lagi kalau menghadapi lawan tangguh dan bahaya besar.

“Benar, apakah engkau sudah tahu di mana harus mencari dan menemuinya, Ciang-kun?”

Cian Ciang-kun mengangguk. Sebagai seorang penyelidik terkenal di kota raja, tentu saja dia sudah menyelidiki di mana alamat pendekar luar biasa yang menjadi rekan dari Hek-liong-li itu. “Dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-Ouw di Hang-kouw?”

Liong-li mengangguk kagum. Orang ini memang pantas menjadi seorang penyelidik besar yang terkenal di kota raja. Ia menyerahkan sesampul surat yang sudah ia persiapkan kepada perwira itu. “Hanya kalau engkau mendengar bahwa aku menghadapi kesulitan dan terancam bahaya saja kau serahkan surat ini kepadanya. Kalau tidak, harap jangan engkau mengganggu ketenteramannya, Cian Ciang-kun!”

Siang hari itu, Liong-li beristirahat dan tidur untuk memulihkan kembali tenaganya dan menghilangkan lelahnya. Ia menghadapi pekerjaan besar dan berbahaya dan ia harus memiliki tubuh yang sehat dan pikiran yang jernih kalau masuk ke dalam istana sore nanti.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 06 karya kho ping hoo

Dusun Kim-tang merupakan dusun terakhir di sepanjang jalan panjang menuju ke Telaga See-ouw dan karena semua pelancong yang menuju ke Telaga See-ouw yang indah itu harus melewati dusun ini, maka dusun menjadi ramai dan penghuninya semakin banyak. Mereka membuka kedai-kedai minuman dan makanan, bahkan ada pula yang membuka rumah penginapan sederhana. Kalau ada pelancong kemalaman di tengah perjalanan, tentu mereka akan merasa senang sekali mendapatkan rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan di dalam dusun ini.

Karena dusun itu seringkali dikunjungi pelancong-pelancong dari kota yang hendak pesiar ke Telaga See-ouw, maka para penghuni dusun itu sudah biasa melihat orang-orang kota yang berpakaian mewah, melihat pria-pria tampan, dan wanita-wanita cantik. Itulah sebabnya, ketika seorang wanita yang amat menarik memasuki sebuah rumah makan di dusun itu pada suatu sore.

Tidak ada yang merasa heran, walaupun hampir setiap orang pria yang melihat wanita ini, otomatis mengangkat muka dan sepasang mata mereka mengeluarkan sinar penuh kagum. Seorang wanita yang cantik manis dengan tubuh yang penuh lekuk lengkung yang matang menggairahkan! Seorang wanita yang membuat setiap orang pria yang berpapasan dengannya tak dapat menahan diri untuk tidak menoleh dan memandang sekali lagi penuh kagum.

Wanita itu memasuki rumah makan dengan langkah perlahan dan lenggang yang gontai, tanda bahwa ia lelah. Namun lenggang yang seenaknya itu bahkan membuat pinggulnya menari-nari dengan indahnya, tidak dibuat-buat, dan pinggang yang ramping itu seperti batang pohon yang-liu tertiup angin ribut sehingga meliuk-liuk ke kanan kiri dengan lenturnya!

Usianya sekitar dua puluh enam tahun. Wajahnya manis dan jelita, terutama sekali yang indah dan penuh daya tarik adalah mata dan mulutnya. Mata itu demikian jeli dan kocak, dengan kerling-kerling yang amat tajam. Mata yang sipit namun lebar itu agaknya dapat melihat ke semua arah tanpa menggerakkan leher. Bulu matanya yang lebat melindungi mata itu sehingga ke mana arah lirikannya tidak begitu menyidik.

Dan mulutnya! Melihat mulut itu saja, bagi seorang pria yang panas, sudah merupakan suatu penglihatan yang menantang dan mendebarkan, seolah-olah mulut itu menantang untuk dicinta dan dicium. Sepasang bibir yang penuh dan lembut, dengan garis bibir melengkung seperti gendewa dipentang, kulit bibir tipis dan kemerahan selalu nampak kebasah-basahan, segar seperti buah masak dan lekuk-lekuk tipis membayang di kanan kiri mulut. Deretan gigi putih kadang-kadang mengintai dari balik belahan bibir kalau ia bicara. Bukan main!

Akan tetapi, ada sesuatu pada wanita itu yang membuat para pria yang memandang kagum, tidak berani sembarangan memperlihatkan kekaguman mereka secara kurang ajar atau tidak sopan. Wanita itu mengenakan pakaian serba hijau yang ketat, yang membuat keindahan bentuk tubuhnya nampak nyata, dengan lekuk lengkung sempurna di tempat-tempat tertentu.

Dan di punggungnya, selain tergendong sebuah buntalan pakaian dari kain kuning, juga nampak gagang sepasang pedang yang disatukan! Dan sikap tenang itu, di samping sepasang pedangnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang bukan saja cantik jelita, akan tetapi juga tidak boleh dibuat sembarangan. Seorang wanita kang-ouw!

Dugaan itu tidak keliru. Wanita ini bukan lain adalah wanita yang pernah dibicarakan oleh Cian Hui kepada Hek-liong-li. Ia adalah Cu Sui In, keponakan dari isteri CiokTai-jin di kota raja. Cu Sui In memang benar murid Kun-lun-pai, yang boleh dibilang sudah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dari Kun-lun-pai.

Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa wanita ini sejak berusia lima tahun, telah digembleng oleh seorang di antara pimpinan Kun-lun-pai. Sampai berusia duapuluh tahun, selama limabelas tahun ia belajar ilmu-ilmu yang tinggi dan ditambah pula dengan bakatnya, maka setelah dewasa iapun menjadi seorang pendekar wanita Kun-lun-pai.

Selain lihai ilmu silat tangan kosongnya, dan pandai memainkan delapanbelas macam senjata, Sui In memiliki keistimewaan dalam ilmu pedang pasangan dan iapun menerima hadiah sepasang pedang yang amat baik dari para pimpinan Kun-lun-pai ketika ia meninggalkan perguruan Kun-lun-pai yang terkenal itu.

Setelah meninggalkan perguruan, iapun diajak oleh bibinya ke kota raja. Bibinya menjadi isteri Pembantu Menteri Pajak, Ciok Tai-jin, dan tentu saja sebagai seorang gadis yang amat cantik, sebentar saja pinangan datang bagaikan hujan. Akhirnya, mengingat usianya yang sudah duapuluh tahun, dan dalam keadaan yatim piatu, dia tidak menolak ketika bibinya dan pamannya memilihkan jodoh untuknya.

Jodohnya itu seorang terpelajar yang sudah lulus ujian negara dan telah diangkat menjadi seorang pejabat yang memiliki masa depan yang amat baik. Dia seorang pemuda she Cia dan tentu saja pilihan seorang pejabat tinggi yang jujur seperti Ciok Tai-jin, pemuda Cia inipun seorang pejabat yang jujur dan aetia. Dan memang benar pilihan Ciok Tai-jin, dalam waktu lima tahun saja, kedudukan, suami Sui In meningkat tinggi karena dia dipercaya oleh kaisar dan merupakan seorang pejabat yang amat baik.

Karena suaminya seorang yang lembut dan baik, maka setelah menjadi isteri Cia, Sui In mencintai suaminya dengan sepenuh hatinya. Hanya sayang, setelah menikah selama lima tahun, mereka tidak dikurniai putera. Dan hal inilah agaknya yang menciptakan kerenggangan, dalam hubungan suami isteri itu. Cia Tai-jin, yang masih muda itu, baru berusia tigapuluhan tahun, mula-mula mengambil seorang selir dengan alasan agar mendapatkan keturunan. Akan tetapi dari seorang, lalu bertambah sampai belasan orang!

Sui In merasa terpukul dan tersiksa batinnya mulailah terdapat kerenggangan dalam hubungan di antara mereka. Sui In kecewa. Kecewa karena tidak mempunyai anak, kemudian kecewa karena ia kehilangan suaminya pula, kehilangan cintanya yang membuat hatinya merasa hambar dan akhirnya iapun tidak lagi mempunyai gairah cinta kepada suaminya kecuali hanya sebagai seorang wanita yang harus bersikap manis kepada seorang pria yang telah menjadi suaminya.

Hubungan di antara mereka hanya tinggal hubungan kewajiban belaka, tanpa kasih sayang lagi. Kemudian, terjadilah malapetaka itu! Suaminya terbunuh, menjadi korban dari Kwi-eng-cu Si Bayangan Iblis yang sedang mengamuk dan melakukan serangkaian pembunuhan di kota raja! Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi Sui In yang mendapatkan dirinya menjadi seorang janda tanpa anak!

Kalau saja suaminya tidak mempunyai banyak selir, kalau hubungan di antara mereka masih seperti dahulu, belum tentu suaminya akan terbunuh penjahat! Ia tentu akan mampu melindungi suaminya. Akan tetapi suaminya mati terbunuh ketika tidur bersama seorang di antara selir-selirnya, terbunuh bersama selirnya pula. Dan iapun tidak dapat berbuat sesuatu!

Memang ada juga perasaan marah dan ia sudah berusaha untuk mencari pembunuh suaminya. Namun, seperti juga usaha semua orang yang bertugas mencari pembunuh itu, usahanya gagal dan ia tidak pernah mampu menemukan Si Bayangan Iblis walaupun pernah ia menggagalkan usaha Si Bayangan Iblis untuk membunuh pamannya, yaitu Ciok Tai-jin!

Ketika itu, iapun hanya melihat berkelebatnya bayangan yang menyeramkan itu. Ia mengejar, namun tidak berhasil menemukannya. Dan sejak itu, setelah tahu bahwa pamannya juga terancam, Sui In selalu berjaga-jaga dan ia mendapatkan sebuah kamar berdampingan dengan kamar paman dan bibinya. Rasa kecewa, duka dan marah membuat Sui In tidak enak makan tidak nyenyak tidur. Kalau saja ia mempunyai anak, maka ditinggal mati suaminya ini tentu tidak begitu hebat. Kini ia hidup menjanda, baru berusia dua puluh enam tahun, namun tidak mungkin menikah lagi!

Pada jaman itu, bagi seorang janda, apa lagi janda seorang pejabat tinggi, tentu saja merupakan hal yang memalukan dan merendahkan kalau ia menikah lagi! Setiap orang janda dipaksa oleh lingkungan dan keadaan dan kesusilaan untuk tinggal menjanda selama hidup!

Dan ia baru berusia dua puluh enam tahun, cantik manis dan bagaikan setangkai bunga sedang semerbak harum, sedang mekar-mekarnya membuat para kumbang mabok kepayang. Ia merasa seperti seekor burung dalam sangkar emas yang sempit. Ia ingin terbang, ingin bebas di udara. Akan tetapi, pamannya perlu dijaga dan dilindungi keselamatannya! Pamannya orang yang amat baik hati dan ia telah berhutang banyak budi kepada pamannya.

Dan memang Ciok Tai-jin seorang yang bijaksana. Pembesar ini cukup waspada dan dia tahu benar betapa keponakan isterinya yang kini menjadi janda setiap hari termenung dan tenggelam dalam duka, maka pada suatu malam, dia dan isterinya mengajak janda muda ini bicara dari hati ke hati.

“Sui In,” kata Ciok Tai-jin. “Sudah beberapa bulan sejak suamimu meninggal dunia, engkau pindah ke rumah kami dan engkau menjaga keselamatanku, terutama di waktu malam. Akan tetapi kami melihat engkau tenggelam dalam duka dan engkau jelas kelihatan tidak betah tinggal di sini. Engkau jarang makan dan setiap malam menjaga keamanan, hanya tidur sebentar di waktu siang. Sui In, katakanlah, apa yang kaukehendaki! Jangan sampai kami orang-orang tua yang menjadi penghalang kebahagiaanmu, kami tahu betapa nasibmu gelap dipenuhi duka, dan kami tidak ingin menambah beban penderitaan batin yang kau pikul dengan memaksamu bertugas seperti ini.”

Ditanya demikian, Sui In menangis. Bibinya merangkulnya dan setelah dapat mengatur pernapasannya yang penuh duka, Sui In lalu memberi homat kepada paman dan bibinya. “Sebetulnya, sudah lama saya ingin bicara, akan tetapi saya takut kalau dianggap sebagai orang yang kejam dan tidak mengenal budi. Paman terancam penjahat, bagaimana mungkin saya meninggalkan paman? Ah, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan atau saya perbuat. Kalau saja saya dapat mengetahui siapa si laknat Kwi-eng-cu itu! Tentu akan saya tantang untuk mengadu nyawa!”

“Sui In, katakan saja apa sebenarnya yang kau kehendaki. Mengenai diriku dan keselamatanku, tidak perlu kau pikirkan benar. Kalau perlu, aku dapat minta bantuan panglima untuk mengirim beberapa orang jagoan agar menjadi pengawal pribadiku. Katakanlah, apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Paman, saya ingin mencari pembunuh suamiku itu sampai dapat, agar saya dapat membalas kematian suamiku!” kata Sui In penuh semangat.

“Bukankah selama ini engkau sudah berusaha mencarinya? Bahkan bukan hanya engkau yang mencarinya. Pemerintah juga mencari dan aku mendengar bahwa Cian Ciang-kun sendiri yang turun tangan untuk mencari dan membongkar rahasia Si Bayangan Iblis.”

“Akan tetapi sampai kini tidak ada hasilnya, paman. Si Bayangan Iblis itu terlalu lihai dan agaknya saya harus mencari bantuan.”

“Bantuan siapa, Sui In?”

“Saya mempunyai seorang susiok (paman guru) yang pandai, paman, dan dia kini kabarnya bertapa di bukit sunyi dekat Telaga See-ouw. Saya ingin mencari dia dan minta bantuannya. Dengan bantuannya, tentu saya akan dapat menemukan Si Bayangan Iblis yang mengacau di kota raja itu.”

Ciok Tai-jin mengangguk-angguk dan meraba-raba jenggotnya. “Hemm, pikiran yang bagus, Sui In. Kenapa engkau tidak mencarinya?”

“Itulah paman, yang menjadi pemikiranku. Aku tahu bahwa paman juga terancam Si Bayangan Iblis, maka saya tidak berani meninggalkan paman. Saya harus selalu melindungi paman dari serangannya.”

“Engkau benar sekali, Sui In keponakanku yang baik, kalau bukan engkau yang melindungi keselamatan pamanmu, habis siapa lagi yang dapat kami percaya?” kata bibinya yang merasa khawatir sekali akan keselamatan suaminya.

“Ah, engkau ini hanya mementingkan diri sendiri saja!” tegur Ciok Tai-jin kepada isterinya, lalu memandang keponakannya. “Sui In, mengenai diriku, jangan khawatir. Aku akan mengundang beberapa orang jagoan untuk melindungiku. Kalau kau pikir, dengau bantuan susiokmu itu engkau akan dapat menangkap Si Bayangan Iblis, pergilah mencarinya. Apakah engkau memerlukan pasukan untuk menemanimu?”

Bukan main girang dan lega rasa hati Sui In. “Tidak perlu, paman. Saya dapat pergi sendiri saja. Kalau sudah bertemu susiok, saya akan mengajaknya ke sini, paman. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari saya, maka dengan bantuannya, tentu kami akan dapat meringkus Si Bayangan Iblis dan kematian suami saya dapat terbalas.”

Demikianlah, dengan bekal pakaian, uang dan membawa sepasang pedangnya Sui In meninggalkan rumah gedung pamannya dan melakukan perjalanan ke See-ouw. Ia tidak tahu bahwa beberapa hari setelah ia pergi, rumah gedung Pamannya diserbu Si Bayangan Iblis dan seperti telah kita ketahui, serbuan itu gagal berkat kehadiran Liong-li. Andaikata tidak ada Liong-li, walaupun di situ terdapat beberapa orang jagoan pengawal yang diundang Ciok Tai-jin sebagai pengganti Sui In, tentu keselamatan Wakil Menteri Pajak itu terancam bahaya maut.

Sui In yang melakukan perjalanan, pada suatu sore tiba di dusun Kim-tang dan karena sehari itu ia melakukan perjalanan cukup jauh tanpa berhenti, bahkan tidak makan siang, perutnya terasa lapar dan iapun memasuki sebuah rumah makan di dusun yang ramai itu. Biarpun ia tahu betapa banyak pasang mata pria melemparkan pandangan kagum kepadanya, Sui In yang sudah terbiasa akan hal itu, tidak perduli lalu menghampiri meja kosong yang ditunjukkan seorang pelayan yang menyambutnya.

“Toanio hendak memesan apakah? Makanan? Minuman?” tanya pelayan muda itu dan pandang matanya yang menatap wajah tamu itupun penuh dengan kekaguman.

“Aku lapar dan ingin makan. Beri nasi putih dan masakan apakah yang paling lezat dan terkenal di rumah makan ini?” Sui In sehari tidak makan dan ia ingin makan enak.

Pelayan itu segara menjawab tanpa dipikir lagi karena pertanyaan seperti itu seringkali dia dengar dari para pelancong yang datang dari kota. “Masakan kami yang paling lezat dan terkenal adalah Ikan Lee dimasak jahe, nona. Ikan Lee dari Telaga See-ouw aseli, gemuk dan semua tulangnya dibersihkan. Juga masakan kami Udang Saus tomat amat sedap. Sup ayam jamur kami juga enak.”

“Cukup sudah. Beri aku masakan tiga macam itu, nasi putih dan air teh.”

“Arak, toanio (nyonya)?”

“Tidak, atau... kalau ada anggur merah yang tidak begitu keras boleh juga beri sebotol kecil saja.”

Pelayan itu mundur dan Sui In termenung. Ketika ia menjadi pengantin baru, pernah suaminya mengajaknya pesiar ke Telaga See-ouw. Rumah makan ini belum ada, akan tetapi suaminya juga menyuruh beli masakan-masakan yang lezat dan mereka makan di perahu. Pedih rasa hati Sui In. Betapa lamanya sudah peristiwa yang mesra itu lewat, hanya tinggal kenangan. Jauh sebelum suaminya meninggal dunia, kemesraan itu sudah lenyap tak berbekas lagi. Tidak, ia tidak menyalahkan suaminya, hanya menyalahkan nasib dirinya. Andaikata ia dikurniai putera, tentu suaminya tidak mau menengok wanita lain dan kemesraan itu dapat dipertahankan.

Sudah, ia tidak mau lagi mengenangkan semua itu. Dan baru setelah suaminya tewas, ia menemukan dirinya sendiri. Ketika menikah dengan suaminya itu, tidak ada rasa cinta dalam batinnya. Itu masalahnya cintanya adalah cinta yang ia paksakan, untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang isteri. Dan suaminya memang seorang yang bijaksana. Banyak sudah budi diterimanya dari suaminya, bahkan kini sebagian besar harta peninggalan suaminya diberikan kepadanya. Ia menjadi seorang janda yang muda dan kaya.

Hartanya itu ia titipkan kepada pamannya, Pembantu Menteri Pajak. Dan pihak mertuanya juga mau membebaskannya, tidak mengikatnya, karena memang ia tidak mempunyai anak dari keluarga Cia. Mereka itu amat baik kepadanya. Ia berhutang budi kepada keluarga Cia. Karena itu, ia baru mencari pembunuh suaminya dan membalas dendam itu!

Tak lama kemudian, lamunannya membuyar ketika pelayan datang membawakan masakan yang dipesannya. Masih mengepul panas tiga macam masakan itu dihidangkan di depannya, berikut nasi putih, air teh dan sebotol anggur merah. Hidungnya kembang kempis. Masakan itu mengepulkan uap yang sedap, juga anggur merah itu ketika dibuka tutupnya, menghamburkan bau yang harum dan lezat. Perutnya segera berkeruyuk menghadapi tantangan itu.

Sui In makan seorang diri. Pelayan tadi tidak membual. Masakan ikan Lee dengan jahe itu sedap bukan main. Daging ikannya lunak dan sama sekali tidak ada tulangnya. Gurih bukan main, dan cocok dimakan dengan bumbu penyedap kecap manis. Nasi putihnya juga hangat dan harum. Ketika ia mencoba masakan lain, ia girang dan kagum. Udang saus tomat itupun enak. Udangnya sebesar jari kaki, dagingnya putih kemerahan dan terasa manis, dan tidak berbau amis. Juga ikan Lee itu tidak berbau amis. Pandai memang tukang masaknya. Dan sup ayam dengan jamur itupun sedap dan segar. Kuahnya enak sekali.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, biarpun sedang tenggelam dalam kenikmatan dan kelezatan makan, tetap saja Sui In tidak pernah lengah dan baik telinganya, maupun kerling matanya, tidak pernah melepaskan perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Oleh karena itu, iapun tahu ketika ada tiga orang tamu baru saja masuk dan duduk di meja sudut kiri dalam, hanya terpisah lima meja saja dari tempat duduknya.

Dengan kerling mata ke kiri, ia melihat bahwa tiga orang itu adalah laki-laki yang berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, ketiganya berpakaian mewah namun masih jelas dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan. Yang seorang, paling tua berusia lima puluhan tahun, bertubuh jangkung dan rambutnya sudah putih semua walaupun mukanya masih nampak muda. Senyumnya anggun dan sikapnya berwibawa, sinar matanya tajam dan memerintah. Di punggungnya nampak gagang sebatang pedang.

Dua orang kawannya bersikap sebagai orang bawahan, usia mereka kurang lebih empatpuluh sampai empatpuluh lima tahun. Seorang di antara mereka bertubuh gendut dan mukanya dipenuhi tawa, cerah dan lucu, akan tetapi matanya menyinarkan kekejaman. Orang kedua pendek kurus condong ke arah cebol, akan tetapi mukanya bengis. Dua orang inipun membawa pedang yang tergantung di punggung.

“Heii, pelayan! Bawa arak seguci besar! Cepaaatt!!” terdengar si gendut berteriak.

Pelayan berlari-lari mendatangi dan pria jangkung itu dengan suara lembut namun tegas dan galak, memesan masakan. Sui In tidak mau memperhatikan lagi karena si gendut itu terang-terangan memandangnya dengan sikap kurang ajar. Apalagi pada saat itu, perhatiannya tertarik oleh seorang tamu baru yang memasuki ruangan itu. Seorang pria yang bukan main! Pria itu usianya kurang lebih duapuluh tujuh tahun.

Tubuhnya sedang saja, namun tegak dan gagah. Wajahnya tampan dan jantan, wajah yang agaknya sudah digembleng kekerasan hidup. Namun pakaiannya yang terbuat dari sutera putih-putih itu berpotongan pakaian seorang pelajar atau sasterawan. Pakaian itulah yang membayangkan kelembutan seorang siu-cai (sarjana), namun lekuk di dagunya membayangkan kejantanan yang kuat.

Biarpun hanya memandang sepintas lalu, diam-diam Sui In kagum. Rasa kewanitaannya tersentuh. Seorang pria yang jantan dan penuh daya tarik, pikirnya. Akan tetapi perasaan itupun hanya lewat saja, karena ia bukanlah seorang wanita yang mudah terguncang ketampanan seorang pria. Akan tetapi ia masih sempat melihat betapa pria itupun ketika duduk di mejanya, hanya terpisah dua meja dari tempatnya, menatap kepadanya dan diam-diam ia terkejut. Tatapan mata itu sungguh luar biasa.

Sepasang mata yang mencorong penuh wibawa, akan tetapi karena mulutnya tersenyum, maka wajah itu nampak lembut. Orang muda itu tentu seorang sarjana yang lembut dan pintar, pikir Sui In, akan tetapi tentu saja lemah. Seperti mendiang suaminya. Akan tetapi suaminya memang lemah sekali, bahkan lembut seperti wanita.

Pria di depannya ini jantan, walaupun hanya seorang sasterawan atau seorang terpelajar. Tidak membawa senjata, juga tidak nampak bayangan kekerasan. Bahkan pakaiannya yang serba putih, itu nampak bersih sekali. Sungguh jauh bedanya dengan tiga orang pria yang pertama itu, penuh kekerasan.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa dari meja di sudut kanan. Di sana sejak tadi memang ada empat orang laki-laki muda sedang makan minum dan kini agaknya mereka sudah mabok-mabokan. Sui In tadipun sudah melihat mereka. Empat orang pemuda dari kota, mungkin putera-putera orang kaya atau orang berpangkat. Usia mereka antara duapuluh sampai duapuluh empat tahun dan lagak mereka menjemukan. Jelas bahwa mereka adalah orang-orang muda yang royal, tidak pandai cari uang akan tetapi pandai menghamburkannya.

Tadi pun mereka memandang ke arah Sui In dengan sinar mata mengandung kekurangajaran, akan tetapi Sui In tidak memperdulikan mereka, bahkan selanjutnya tidak pernah melirik ke arah meja mereka karena ia tahu bahwa pemuda-pemuda hidung belang seperti itu, sekali dilirik tentu akan menjadi semakin berani dan semakin kurang ajar. Ia tentu saja tidak takut kepada mereka, akan tetapi iapun tidak ingin memancing keributan.

“Ha-ha-ha, setiap orang dapat saja membawa pedang, untuk perhiasan!”

“Ha-ha, atau mungkin juga untuk lagak saja, untuk menakut-nakuti!”

Empat orang pemuda itu tertawa-tawa lagi. Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar, terang-terangan kini memandang kepada Sui In dan bicaranya kini lebih berani. “Ia makan minum seorang diri saja, sayang seorang secantik itu. Biar kuajaknya ia makan minum bersama kita.”

“Huh, kau takkan berani! Ia tentu sudah bersuami,” kata seorang temannya yang kurus.

“Apa? Aku tidak berani mengajak seorang wanita? Hemm, biar ia gadis atau isteri orang, kalau Ji-kongcu (tuan muda Ji) yang mengajaknya, pasti ia mau! Ha-ha-ha, kalian lihat saja!”

Si kepala besar ini bangkit berdiri ditertawai oleh si kurus yang berpakaian mewah. Dua orang kawan lain yang berpakaian seperti orang-orang ahli silat hanya tersenyum-senyum saja. Agaknya mereka ini hanya pengikut dan memang mereka adalah tukang-tukang pukul pemuda she Ji itu.

Pada saat itu, Sui In sudah selesai makan dan ia merasa lega bahwa gangguan itu datang setelah ia selesai makan, karena kalau tidak tentu akan mengganggu selera makannya. Ia merasa kenyang dan puas. Ikan Lee itu memang lezat sekali, dan jahe itu membuat perutnya terasa hangat, apa lagi ditambah anggur merah.

Ia tahu bahwa gangguan datang karena percakapan yang terang-terangan dan tidak lirih itu jelas ditujukan kepadanya. Di rumah makan itu, hanya ia seoranglah wanita yang makan sendirian. Ada pula beberapa orang wanita akan tetapi mereka makan dengan keluarga mereka dan kebetulan wanita yang masih muda hanya ia seorang. Siapa lagi kalau bukan ia yang mereka maksudkan?

Iapun tidak merasa heran ketika pemuda berpakaian mewah yang kepalanya besar itu dengan jalan terhuyung karena setengah mabok, menghampiri mejanya. Ia pura-pura tidak tahu, bersikap tenang saja sambil menghirup teh panas yang harum dari mangkok teh yang kecil. Akan tetapi karena kebetulan duduknya menghadap ke arah meja di mana duduk pemuda berpakaian putih, untuk pertama kalinya sejak ia melihat pemuda ini masuk, ia memandang dan pada saat itu, si pemuda berpakaian putih juga sedang memandang ke arah mejanya.

Alis yang tebal hitam dari pemuda berpakaian putih itu sedikit berkerut ketika dia melihat si kepala besar mendekati meja Sui In sambil cengar cengir. Akan tetapi, hanya sebentar saja pandang mata mereka saling bertemu karena keduanya segera mengalihkan pandang mata.

Sui In harus memperhatikan pemuda mewah yang kini sudah bediri dekat mejanya, bahkan kedua tangannya diletakkan di tepi mejanya, dengan jari-jari direntangkan seolah-olah hendak memamerkan cincin yang. memenuhi semua jari kedua tangannya, kecuali, ibu jarinya...!