Pedang Penakluk Iblis Jilid 30

Pedang Penakluk Iblis Jilid 30

SEPERTI telah dituturkan di bagian depan, Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang merasa penasaran karena belum dapat membunuh Wan Sin Hong yang mencemarkan nama baik perkumpulannya, ketika melihat tubuh Sin Hong dibawa lari oleh orang yang bermuka merah, lalu mengejar terus bersama rombongannya.

Belum lama ia mengejar dan tiba di sebuah hutan di lereng Bukit Ngo-heng-san itu, ia melihat orang yang dikejarnya tadi sedang berlutut. Wan Sin Hong direbahkan di atas tanah dan orang itu kelihatan sedang merawat luka-luka yang diakibatkan oleh jarum-jarum rahasia. Orang itu sedang asyik menusuk-nusuk bagian terluka tadi dengan jarum-jarum emas dan perak, sedangkan jarum Hek-tok-ciam dan jarum hijau yang tadi melukai Wan Sin Hong telah dicabuti dan kini diletakkan di atas sehelai kain putih.

Orang demikian asyiknya mengobati luka-luka dan duduknya membelakangi Li Hwa sehingga tidak mendengar atau melihat datangan Siok Li Hwa dan anak buahnya. Siok Li Hwa ragu-ragu. Pedangnya sudah siap di tangan, akan tetapi ia termangu-mangu ketika menyaksikan betapa orang yang menolong Wan Sin Hong itu tengah mengobati luka-luka yang ditimbulkan antara lain oleh jarum-jarum hijaunya.

“Serahkan penjahat Wan Sin Hong kepadaku!“ akhirnya ia membentak dengan suara keras.

Orang yang disangkanya orang aneh bermuka merah itu menoleh dan melihat wajah orang ini, Li liwa mengeluarkan jerit ngeri dan takut demikian pula para anak buahnya mengeluarkan jerit kaget dan muka mereka pucat. Pandang mata mereka sebentar ditujukan kepada Wan Sin Hong yang menggeletak di atas bumi, kemudian dialihkan kepada orang yang berlutut dan yang tadinya disangka orang bermuka merah. Memang aneh sekali dan bagi para gadis ini tentu saja merupakan hal yang aneh dan mengerikan karena baik bentuk badan maupun wajah kedua orang pemuda itu, baik yang berbaring maupun yang berlutut merawat, bagaikan tangan kanan dan tangan kiri. Serupa benar!

Saking bingung dan gugupnya, Li Hwa lalu melontarkan sebatung jarum hijau kepada pemuda yang sedang berlutut dan sedang mengobati luka-luka di tubuh pemuda yang rebah itu. Pemuda yang berlutut itu tengah memegangi jarum emas dan perak yang dipergunakan untuk menusuk-nusuk bagian yang terkena jarum beracun, maka ia tidak keburu nienangkis atau mengelak. Dengan tenang ia lalu melembungkan kedua pipinya dan sekali meniup jarum hijau itu runtuh ke tanah!

Mata Li Hwa yang tajam dan bening itu terbelalak kaget. Mana mungkin orang meniup runtuh jarum hijaunya? Memang benar jaram itu kecil dan ringan saja akan tetapi telah disambitkan dengan penggunaan tenaga lweekang istimewa. Seorang dengan tenaga lweekang biasa saja jangan harap akan dapat melontarkan jarum itu demikian cepat dan kuatnya. Akan tetapi bagaimanakah tenaga yang mendorong jarum itu menjadi punah begitu terkena angin tiupan pemuda itu? Setankah dia?

“Nona, tenanglah dan jangan galak-galak dulu. Tidakkah kau melihat betapa hebat luka saudara ini? Biarkan aku mengobatinya lebih dulu baru kita bicara. Pengaruh jarum hijaumu tidak berbahaya akan tetapi Hek-tok-ciam benar-benar merupakan senjata rahasia beracun keji sekali!“ Kembali pemuda itu tekun merawat yang luka dan sama sekali tidak mempedulikan Li Hwa.

Ketua Hui-eng-pai ini berdiri bengong dan merasa malu kepada diri sendiri. Tidak ada muka untuk menyerang lagi dan akhirnya ia malah melangkah mendekati dan dengan para anak buahnya berdiri di belakangnya, dia menonton cara pengobatan itu. Kagum ia melihat betapa cekatan jari-jari tangan pemuda yang mengobati.

Setelah menusuk-nusuk dengan enam jarum emas dan perak, lalu menggunakan pisau tajam untuk melakukan operasi dan mengeluarkan darah yang hitam dan kehijauan dari luka-luka akibat jarum rahasia tadi. Setelah membersihkan luka-luka, ia lalu menempelkan obat di atas bekas luka, dan dengan secawan arak ia memberi minum obat kepada Si sakit mg masih pingsan. Akhirnya ia membereskan baju si sakit yang tadi dibukanya dan sambil tersenyum ia memandang kepada Li Hwa.

“Sudah beres, nyawanya tertolong, biarpun ia harus beristirahat sedikitnya seratus hari.“

Siok Li Hwa memandang tajam dan ia merasa bulu tengkuknya berdiri melihat persamaan yang luar biasa antara dua orang pemuda itu. “Siapa kau?“ tanyanya, mengharap akan mendapat jawaban bahwa pemuda ini adalah saudara kembar dari Wan Sin Hong yang menggeletak pingsan di atas tanah. Akan tetapi jawaban pemuda yang tersenyum-senyum tenang ini membuat bulu-bulu tengkuknya berdiri lagi, juga para pengikutnya mengeluarkan seruan tertahan sambil menutup mulut yang berbibir merah dengan jari-jari tangan ketika pemuda itu menjawab.

“Namaku Wan Sin Hong.“

“Kau... Wan Sin Hong...? Kalau begitu... siapa... siapakah orang... itu...?“ Li Hwa menunjuk ke arah pemuda yang terluka tadi.

Sin Hong tersenyum duka. “Dia ini siapa aku sendiri pun belum tahu, akan tetapi biarpun ia agaknya serupa benar dengan aku, aku berani pastikan bahwa dia bukan Wan Sin Hong.“

“Kalau begitu kaulah orangnya yang berbuat jahat kepada Cun Eng. Jahanam, bersiaplah kau untuk mampus!“ Li Hwa lalu bersikap hendak menyerang dengan pedangnya, juga tiga puluh sembilan orang gadis rombongannya mencabut pedang masing-masing sehingga terdengar suara “Sraatt!“ yang nyaring.

Sin Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, kecewa dan berduka. “Nasibku yang buruk. Nona, sebelum kau membunuhku, maukah kau memberi tahu kepadaku apa sebabnya kau dan kawan-kawanmu ini begitu membenci Wan Sin Hong?“

“Bangsat besar jangan coba berpura-pura! Kau telah mengganggu Cun Eng dan…“

“Nanti dulu...! Siapa itu Cun Eng...?”

Siok Li Hwa marah bukan main, pedang hijaunya berkelebat menyerang. Sin Hong tidak bergerak hanya berkata. “Kau ini seorang nona cantik jelita yang lancang dan ceroboh!“ Pedang hijau itu terhenti di tengah udara tidak jadi menusuk dada.

“Kau… kau setan... kau berani bilang aku lancang dan ceroboh?“ bentak Hui eng Nio-cu Siok Li Hwa saking marahnya mendengar makian ini, sampai tadi ia menunda gerakan pedangnya dan lupa untuk menyerang lagi.

Sin Hong mengangguk. “Memang kau lancang dan ceroboh, dia inilah buktinya! Kalau kau tidak lancang dan ceroboh dan kau mau mempergunakan sedikit pertimbangan dan akal budi, masa kau sampai salah tangan melukai orang yang tidak berdosa? Sekarang tanpa penyelidikan lagi, kau sudah memastikan harus membunuhku, yakin betulkah kau bahwa aku benar-benar orang berdosa terhadap orang yang kau namakan Cun Eng? Bagaimana kalau sampai kau salah tangan lagi?“

Li Hwa nampak ragu-ragu. “Habis kau... kau bernama Wan Sin Hong, dan kami memang mencari penjahat Wan Sin Hong“

Kini Sin Hong menarik napas panjang “Sudah terlampau banyak perbuatan-perbuatan keji dan jahat dilakukan oleh seorang bernama Wan Sin Hong. Aku yang bernama Wan Sin Hong sama sekali tidak tahu-menahu tentang kejahatan-kejahatan itu. Hal ini mempunyai dua kemungkinan. Pertama, ada seorang penjahat yang namanya betul-betul sama dengan namaku dan kemungkinan kedua, ada seorang jahat yang sengaja memakai namaku dengan maksud memburukkan namaku. Kemungkinan kedua inilah yang kurasa tepat dan sekarang sedang kuselidiki. Sekarang, melihat wajah orang ini yang serupa betul dengan aku, dan yang juga diserang orang karena disangka Wan Sin Hong, aku sengaja merampasnya dan mengobatinya karena siapa tahu kalau-kalau benar orang ini yang selama ini memakai nama Wan Sin Hong dan membikin cemar namaku. Kalau betul demikian, dia harus hidup dulu untuk membuka semua rahasia dan untuk mengaku mengapa ia begitu benci kepadaku dan melakukan segala macam kejahatan atas namaku. Akan tetapi, aku masih ragu-ragu. Orang dengan wajah seperti ini tak mungkin jadi penjahat!“

Tiba tiba muka Sin Hong menjadi merah, ketika ia melihat pandang mata Li Hwa. Gadis ini memandang kepadanya dengan mata berseri dan mulut tersenyum. Semua ucapan Sin Hong termakan betul oleh hatinya dan dianggap penuh cengli. Akan tetapi kata-kata terakhir tadi mendatangkan geli pada hatinya, tak tertahan lagi gadis ini tertawa. Karena semenjak kecil ia hidup di tempat terasing, ketawanya tidak seperti gadis-gadis lain yang selalu malu-malu dan bersopan-sopan dengan menutupi mulut dengan tangan. Gadis ini tertawa dengan bebas, memperlihatkan gigi yang putih dan berbaris rapi.

“Kenapa kau mentertawaiku?“ Sin Hong mengerutkan alisnya.

“Kau manusia sombong, memuji-muji diri sendiri. Kiranya di dunia ini tidak pernah ada orang memujimu, maka memuji diri sendiri“

“Aku? Memuji diri sendiri? Bagaimana maksudmu?“

“Bukankah kau tadi bilang bahwa orang dengan wajah seperti dia itu tidak mungkin jadi penjahat?“

Tiba-tiba Sin Hong tertawa. Kini mengertilah dia. Memang, dengan mengatakan demikian, karena wajah orang itu serupa benar dengan wajahnya, sama artinya dengan menyatakan bahwa orang dengan wajah seperti wajahnya sendiri, tak mungkin jadi penjahat!

“Nona, ketahuilah. Di dunia ini terdapat seorang iblis jahat yang sepak terjangnya selain keji sekali, juga ia licin dan berbahaya. Salah satu di antara kecurangannya adalah penggunaan namaku untuk perbuatan-perbuatan jahatnya. Aku sedang mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti dan sekarang tiba saatnya aku membuka kedoknya. Nona siapakah dan coba kauceritakan perbuatan apakah yang dilakukan oleh penjahat yang mempergunakan namaku itu?“

Sekarang Siok Li Hwa mulai percaya kepada pemuda ini. Memang ia pikir tidak mungkin pemuda yang bersikap seperti ini seorang penjahat keji. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi atas diri Cun Eng itu dan memperkenalkan diri.

Sin Hong mengerutkan alisnya. “Hemm, keparat jahanam betul iblis itu. Di mana sekarang Nona Cun Eng?“

“Dia sudah meninggal dunia, membunuh diri.“ Li Hwa lalu menuturkan bagai-mana Cun Eng telah membunuh diri di puncak Ngo-heng-san.

“Apakah dia tidak mengenal muka penjahat itu?“

“Tidak, karena di dalam gelap, hanya penjahat itu mengaku bernama Wan Sin Hong.“

“Hemmm, seperti yang sudah-sudah juga begitu. Dan di antara kalian adakah yang sudah pernah melihat si penjahat itu?“

Li Hwa menggelengkan kepala.

“Kalau begitu lebih-lebih lagi kau tidak boleh sembarangan menyerangku, Nona. Masih baik kalau benar-benar dugaanmu bahwa akulah orang jahat itu. Akan tetapi kalau keliru, bagaimana? Seorang gagah tidak berlaku sewenang-wenang, apalagi merupakan pantangan besar bagi seorang gagah untuk mencelakai orang yang tidak berdosa.“

“Wan Sin Hong, kalau benar kau bernama Wan Sin Hong dan tidak merasa berdosa, kau sendiri yang harus dapat mencuci namamu yang sudah dikotori orang. Kalau memang kau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat, kau harus dapat menangkap orang yang memalsukan namamu. Setelah penjahatnya tertangkap baru aku dapat percaya bahwa kau tidak berdosa. Kalau tidak ada bukti itu, bagaimana aku bisa percaya?“

“Kau kira aku enak-enak saja? Berbulan-bulan aku sudah menyelidiki dan mengikuti jejak penjahat itu dan kiranya sekarang sudah dekat. Aku minta pertolongan beberapa orang anak buahmu untuk menjaga saudara ini di sini dan marilah kita naik ke puncak. Kiranya, kalau tidak meleset perhitunganku, di puncak itulah akan dapat kubongkar semua rahasia ini.“

Demikianlah Sin Hong dan Li Hwa lari menuju ke Puncak Ngo-heng-san pada saat Liok Kong Ji sedang berhadapan dengan Go Ciang Le dan pemuda itu telah mendesak Ciang Le dengan kata-kata. Di sepanjang jalan menuju ke puncak, Sin Hong minta keterangan dan Li Hwa tentang keadaan dipuncak. Gadis itu yang makin lama makin tertarik dan suka kepada Sin Hong, menceritakan semua dengan jelas, betapa Cam-kauw Sin-kai terluka hebat dan lain lain.

“Kau pun dipilih oleh Cam-kauw Sin-kai menjadi seorang calon bengcu.“ katanya sebagai penutup penuturannya, “dan aku pun masuk mencalonkan diri!“ Kata-kata ini diiringi suara ketawanya yang merdu.

Sin Hong memandang kepadanya sambil tersenyum. "Gadis ini luar biasa dan amat menarik hati", pikir Sin Hong. Akan tetapi ia merasa khawatir mendengar betapa Cum-kauw Sin-kai terluka oleh Ngo-tok Mo-jiauw, juga mendengar pengemis tua itu memilihnya sebagai calon bengcu. "Agaknya di antara semua tokoh itu, hanya kakek pengemis ini yang masih menaruh kepercayaan padaku", pikir Sin Hong. Ia lalu mengajak Li Hwa mempercepat perjalanan ke puncak.

Setelah tiba di puncak, tanpa memperdulikan semua orang yang memandang kepadanya, ada yang terheran heran, yang kaget, dan ada yang marah-marah. Ia langsung berlari mendekati Cam-kau Sinkai yang masih rebah dan dirawat oleh Hui Lian, Bi Lan dan Hong Kin. Bi Lan melompat dan memandang kepada Sin Hong dengan mata penuh selidik. Hui Lian mukanya berubah sebentar pucat sebentar merah ketika melihat pemuda, sedangkan Hong Kin menjadi bengong dan mukanya pucat sekali. Mimpikah dia Pemuda yang baru datang yang dipanggil Wan Sin Hong ini, mengapa begitu serupa dengan Pangeran Wanyen Ci Lun?

Hong Kin amat setia dan mencinta Pangeran Wanyen Ci Lun, maka begitu melihat Wan Sin Hong ia bertanya. “Di mana Wanyen Siauw-ongya?“

Sin Hong menoleh kepadanya, tak mengerti apa yang dimaksudkan. “Siapa?“

“Pangeran Wanyen Ci Lun, yang tadi dibawa pergi oleh orang muka merah, dia… serupa benar dengan engkau...“

“Ah... jadi dia itu pangeran?“ Hanya ini saja yang diucapkan oleh Sin Hong dan dadanya berdebar, apalagi ia mendengar bahwa pangeran itu mempunyai nama keturunan Wanyen, yakni nama keturunan ayahnya, "Wanyen Kan! Dia masih saudaraku" pikirnya. Akan tetapi pada saat itu seluruh perhatiannya dicurahkan kepada Cam- kauw Sin-kai dan tanpa mempedulian yang lain-lain, ia cepat berlutut dan memeriksa keadaan Cam-kauw Sin-kai.

“Kau...?“ Kakek itu berkata lemah. Napasnya sudah empas-empis dan mukanya tidak karuan, ada tanda tanda warna hitam, merah, hijau dan warna lain lagi. Inilah kehebatan racun dari Ngo-tok Mo-jiauw.

“Locianpwe, aku tidak berani mendahului kehendak Thian. Akan tetapi menurut pendapatku yang bodoh, lukamu tak dapat disembuhkan lagi. Racun yang mengandung hawa Im dan racun lain yang mengandung hawa Yang sudah memasuki darah. Kalau tidak kuobati, dalam waktu sehari semalam kau akan tewas. Dengan pengobatanku juga hanya dapat memperpanjang waktu sampai tiga hari tiga malam. Bagaimana? Apakah aku harus mengobatimu?“

Kakek pengemis itu menggeleng kepalanya. “Tak usah... sehari semalam sudah cukup lama... kau bereskan saja urusan ini… jaga baik-baik jangan sampai orang lain menjadi bengcu... Wan-sicu maukah kau bersumpah bahwa penjahat Wan Sin Hong itu bukan kau orangnya?“

Sin Hong cepat mengeluarkan pisau perak kecil dan mulai memotong urat-urat yang akan menghambat perjalanan racun ke jantung. Juga ia menotok sana sini sehingga akhirnya kakek itu tidak merasa sakit sama sekali. Kemudian baru ia menjawab. “Tak perlu bersumpah, Locianpwe. Apa artinya sumpah kalau tidak ada bukti-bukti? Tetap saja tidak dipercaya orang. Biarlah, sekarang juga aku hendak membongkar bukti-buktinya!“ Sambil berkata begitu ia masih asyik menotok dan memijit tubuh kakek pengemis itu.

“Wan Sin Hong penjahat terkutuk. Menyerahlah untuk kubelenggu, jangan menanti aku menurunkan tenaga besi!“

Bentakan ini diucapkan oleh Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai yang sudah berada di situ bersama Leng Hoat Taisu. Akan tetapi Wan Sin Hong yang asyik merawat Cam-kauw Sin-kai itu tidak peduli sekali atas bentakan Bu Kek Siansu, melirik pun tidak. Bu Kek Siansu melangkah maju dan menggunakan dua jarinya menotok pundak Sin Hong, dengan maksud membuat pemuda itu tidak berdaya. Juga Sin Hong tidak peduli, melirik pun tidak. Pundaknya terkena totokan jago tua dari Bu tong-pai itu.

“Duk!“

“Ayaaa...!“ Bukan Sin Hong yang terguling, melainkan tosu berjenggot panjang yang bertubuh tinggi kurus itu yang melompat ke belakang dan cepat ia mengurut-urut dua batang jari tangannya yang tadi dipakai menotok karena dua jari tangan itu telah menjadi salah urat. Bagaimana bisa begini?

Tak lain karena Bu Kek Siansu berlaku ceroboh dan tadi melihat pemuda itu tidak melakukan perlawanan, lalu berlaku sembarangan karena ia pun tidak mau melukai pemuda yang tidak melawan. Maksudnya hanya akan membikin pemuda itu tak berdaya. Akan tetapi siapa kira setelah dua batang jari tangannya menyentuh kulit pundak, pundak ini dari sebelah dalam mengeluarkan hawa panas dan agak di goyang sedikit sehingga jari tangan kakek itu terserang tenaga yang luar biasa membuat tenaga totokan membalik dan membuat urat-urat dalam jari tangan itu terpukul sendiri! Inilah kelihaian hawa sinkang yang sudah tinggi sekali.

Tadinya Bu Kek Siansu dan Leng Hoat Taisu yang duduknya di bagian lain, melihat munculnya Wan Sin Hong, menjadi marah karena mengira bahwa penjahat muda yang lihai ini tentu akan membikin onar. Maka tanpa berpikir panjang mereka lalu mendatangi tempat itu dan Bu Kek Siansu lalu menyerangnya. Akan tetapi ketika Leng Hoat Taisu melihat bahwa pemuda yang berlutut itu sebetulnya sedang mengobati suhengnya, Cam-kauw Sin-kai, menjadi tercengang dan tidak bergerak, terpaku di situ saking herannya.

Sebaliknya Bu Kek Siansu yang merasa ia dibikin malu, tidak melihat hal ini saking malu dan marahnya. Tangan kirinya sudah memegang pedang dan sambil membentak, “Penjahat keji lihat pedangku!“ ia lalu menyerang

“Trangg...!“

Pedangnya tertangkis oleh sinar hijau yang ternyata adalah pedang hijau yang dipegang oleh Siok Li Hwa. Gadis ini tadi melihat segala yang terjadi dan merasa penasaran menyaksikan kakek Ketua Bu-tong pai yang bertindak sembrono saja itu.

“Kau membela penjahat ini?“ bentak Bu Kek Siansu marah, juga kaget dan heran karena tadi ia saksikan sendiri betapa Ketua Hui-eng-pai ini amat benci kepada Wan Sin Hong dan mencarinya untuk dibunuh.

“Sabarlah kakek tua. Kalau kau tidak sabaran dan mudah marah-marah usia tak dapat panjang!“ jawab Li Hwa. “Memang betul dia ini Wan Sin Hong, akan tetapi tunggu sampai dia membuktikan bahwa dia tidak berdosa dan bahwa namanya dipergunakan oleh orang lain. Aku sendiri pun sedang menunggu pembuktian ini. Selain itu, tidakkah kaulihat, bahwa dia tengah mengobati Cam-kau Sin-kai yang terluka berat“

Sementara itu, Cam-kauw Sin-kai yang sudah tidak merasa sakit lagi, cepat bangkit dan duduk bersila, lalu berkata kepada Sin Hong. “Wan-sicu, lekas kau bereskan semua ini!“

Sin Hong kini membungkus alat-alat pengobatannya, kemudian perlahan bangkit berdiri. Matanya menyapu orang-orang yang berada di situ dan melihat Lie Bu Tek berdiri di dekat Ciang Le, ia lalu menghampiri pendekar buntung itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan Lie Bu Tek.

“Gihu, harap selama ini kau dalam sehat saja,“ kata-katanya amat mengharukan hati Lie Bu Tek.

Ingin sekali pendekar buntung ini memeluk anak angkatnya yang amat dikasihinya akan tetapi ia menahan perasaan hatinya dan hanya kedua matanya dikejap-kejapkan menahan runtuhnya air mata. Akhirnya ia dapat juga mengeluarkan kata-kata yang terdengar berat dan serak. “Buktikan dulu kebersihanmu, baru kau datang kepadaku.“

Wan Sin Hong memberi hormat lalu berdiri, untuk sejenak berpandangan dengan ayah angkatnya, dua pasang mata memandang penuh rindu dan akhirnya Sin Hong memeluk ayah angkatnya. “Mohon berkahmu, Gihu...“ ia melepaskan pelukannya dan berjalan dengan langkah tenang dan lambat ke tengah lapangan. matanya selalu ditujukan kepada Kong Ji. Lie Bu Tek mengikuti putera angkatnya dengan mata digenangi butir air mata, mengikutinya dengan pandang mata penuh kasih sayang.

“Benar-benarkah dia tidak berdosa?” kata-kata ini terlepas dan mulut Ciang Le yang terharu juga menyaksikan sikap Sin Hong terhadap Lie Bu Tek.

Lie Bu Tek menggerakkan pundaknya. “Kita sama-sama lihat saja!“ Juga Bi Lan berbisik di dekat puterinya. “Pemuda itu aneh sekali. Benar-benarkah dia seorang penjahat besar dan keji?“

Tak terasa Hui Lian mengepal tangannya dan berkata, “Entahlah, Ibu, akan tetapi aku pernah melihat dia mengejar dan mencoba menculik seorang gadis cantik.“ Terdengar suara menggetar penuh kekecewaan dan kegetiran dalam suara ini dan terbayanglah semua pengalamannya dengan Wan Sin Hong.

Sementara itu, Cam-kauw Sin-kai memanggil Go Ciang Le dan isterinya. Tentu saja Ciang Le merasa heran dan cepat-cepat bersama Bi Lan ia mendekati kakek yang bersila itu, lalu berlutut dan duduk bersila pula. “Go-taihiap dan Lihiap, tak lama lagi aku mati. Sebelum itu, aku hanya ingin bicara sedikit untuk penghabisan kali karena kalau pembicaraan ini selesai, aku hendak menghabiskan sisa hidupku menikmati cara bagaimana pemuda she Wan itu menyelesaikan semua perkara ini. Go-taihiap, kau dan isterimu sudah melihat muridku, Coa Hong Kin. Dia seorang yang baik dan melihat hubungannya dengan puterimu, biarpun sekarang bukan saat yang tepat dan bukan di tempat sang patut, mengingat usiaku tak panjang lagi, aku mengajukan lamaran kepada putrimu agar menjadi calon jodoh murindku Hong Kin.“

Ciang Le dan isterinya saling pandang, sukar untuk memutuskan perkara yang muncul tiba-tiba ini. Sebagai suami isteri yang saling mencinta, kedua orang ini saling dapat mengerti perasaan hati masing-masing hanya dengan saling pandang saja, tadi mereka sudah menyaksikan ketulusan dan kebaikan hati Hong Kin yang tidak segan-segan mengakui Soan Li sebagai isterinya hanya untuk memberikan muka keluarga Go Ciang Le, maka di dalam hati kedua suami istri ini memang sudah ada perasaan suka kepada Hong Kin.

Apalagi Hong Kin adalah murid terkasih dari Cam kauw Sin-kai dan pemuda itu selain memiliki pribadi baik juga wajahnya tampan dan kepandaian silatnya lumayan. Apalagi yang menjadi halangan? Ciang Le dan Bi Lan saling memberi tanda dengan mata. Mereka harus memberi keputusan sekarang karena usia kakek pengemis itu takkan lama lagi.

Ciang Le menoleh kepada Cam kau Sin-kai dan berkata, “Pinanganmu kami terima, Lo-enghiong. Semoga muridmu dapat membahagiakan hidup puteri kami.“

Cam-kauw Sin-kai berseri wajahnya dan dengan tangannya ia melambai kepada Hong Kin, pemuda ini cepat menghampiri suhunya dan alangkah kagetnya ketika suhunya berkata, “Lekas kau memberi hormat kepada calon gakhu (ayah mertua) dan gakbo-mu mertua)!“

Karena suhunya menudingkan jari kepada Ciang Le dan Bi Lan, maka dengan hati berdebar girang Hong Kin lalu menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Ciang Le dan Bi Lan sebagai calon-calon ayah dan ibu mertuanya!

Saking girangnya dan ingin menikmati saat yang terakhir, Cam-kauw Sin-kai timbul kegembiraannya dan dipanggilnya Hui Lian. “Nona mantuku, lekas kau mendekat. Aku ingin memberi berkah kepadamu dalam saat terakhir ini!“

Tentu saja Hui Lian yang sejak tadi miemperhatikan Wan Sin Hong, tidak mengerti maksudnya dan mengira kakek yang menderita luka berat ini sudah berubah ingatannya. Akan tetapi Bi Lan membantunya dan berkata. “Mendekatlah, Lian-ji, dan lakukan permintaan Cam-kauw Lo-enghiong. Ketahuilah, bahwa telah diikat tali perjodohan antara kau dan Coa Hong Kin.“

Merah sekali wajah Hut Lian mendegar ini dan ia memandang kepada Hong Kin dengan lirikan matanya, kemudian pandang matanya menyapu wajah ayah bundanya dan Cam-kauw Sin-kai. Dan dibayangkan betapa hati dan perasaan gadis ini tergoncang hebat dan pikirannya menjadi bingung. Seperti kilat cepatnya pikirannya melayang dan terbayanglah wajah Sin Hong wajah Pangeran Wanyen Ci Lun dan wajah Hong Ki Kemudian teringat pula akan semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Hong Kin.

Ketika matanya melirik kepada wajah ayah bundanya, ia dapat membayangkan kepastian yang tak dapat dibantah lagi. Tak terasa lagi dua butir air mata menggenangi sepasang mata yang jeli itu dan dengan kedua kaki gemetar Hui Lian lalu berlutut di depan Cam-kauw Sin kai. Kakek pengemis ini lalu meletakkan ke dua tangan ke atas kepala Hui Lian, mulutnya berkemak kemik membaca doa.

Sementara itu, di lereng Bukit Ngo heng-san terjadi hal lain yang hebat juga. Orang muda yang terluka oleh jarum-jarum beracun, dan yang menggeletak di dalam hutan dan ditolong orang bermuka merah, sebetulnya adalah Pangeran Wanyen Ci Lun. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Wan-yen Ci Lun berpamit kepada kaisar untuk pergi sendiri menyelidiki keadaan pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng- san. Dengan menyamar sebagai orang biasa, Pangeran Wanyen Ci Lun pergi ke Ngo heng-san.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Pangeran ini sebetulnya juga bukan seorang yang lemah. Sejak kecil, di samping pelajaran ilmu sastera yang tinggi, dia juga mempelajari ilmu silat dari para busu yang tinggi kepandaiannya sehingga pangeran ini memiliki ilmu yang lumayan juga. Karena ia melakukan perjalanan cepat ia dapat selalu mengamat-amati perajalanan See-thian Tok-ong dan juga dapat mengawasi Hui Lian dan Hong Kin. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Hui Lian dan Hong Kin tertawan oleh Kong Ji dan kawan-kawannya.

Dengan amat cerdik, Wanyen Ci Lun dapat menyelundup ke dalam rombongan orang-orang Kwan-cin -pai yang pakaiannya macam-macam itu setelah mereka tiba di puncak Ngo-heng san. Dengan hati-hati ia lalu berusaha untuk menolong dan membebaskan Hui Lian dan Hong Kin dan seperti telah dituturkan di bagian depan, usaha ini berhasil setelah diam-diam mendapat bantuan orang yang tidak memperlihatkan diri. Sebetulnya, seperti pembaca telah dapat menduga, penolong tersembunyi itu adalah Wan Sin Hong sendiri.

Kemudian setelah Wanyen Ci Lun keluar dari rombongan orang-orang Kwan-cin pai bersama Hui Lian dan Hong Kin, dan terkena jarum beracun, muncullah orang tersembunyi atau Wan Sin Hong itu yang ternyata telah mengenakan obat pengganti warna muka sehingga mukanya menjadi merah sekali. Wan Sin Hong menolong Wanyen Ci Lun dan membawanya lari sampai kemudian meninggalkan pangeran itu setelah mengobatinya, di bawah penjagaan sepuluh orang anggauta Hui eng-pai.

Pangeran Wanyen Ci Lun tidak begitu sembrono dan bodoh untuk melakukan perjalanan yang berbahaya dan jauh itu seorang diri saja tanpa kawan. Sebetulnya, diam-diam ia pun telah mengerahkan pasukan kepercayaannya yang terdiri dari tiga puluh orang, untuk menyusul perjalanannya dan menjaga di lereng Ngo-heng-san, menjaga kalau-kalau ada terjadi sesuatu yang memerlukan bantuan mereka. Sungguh tidak tersangka sama sekali bahwa ia baru menyelundup ke dalam pasukan Kwan-cin-pai dan akhirnya terluka, maka hal ini tidak ketahuan oleh pasukan pengawalnya yang datang belakangan.

Demikianlah, setelah ia diobati oleh Wan Sin Hong dan ditinggalkan di dalam hutan, akhirnya ia siuman dan alangkah herannya ketika ia mendapatkan dirinya berbaring di atas rumput dan dijaga oleh sepuluh orang gadis yang cantik-cantik dan kelihatan gagah-gagah.

“Mimpikah aku...?“ bisiknya, kemudian ia teringat bahwa ia telah terluka dan pundaknya terasa sakit bukan main.

“Ah... tentu aku sudah mati dan kalian ini bidadari-bidadari sorga...“

Karena Pangeran Wanyen Ci lun memang tampan wajahnya, mendengar kata-kata ini para gadis penjaga itu saling pandang dan tertawa cekikikan.

“Nona-nona manis, jangan ganggu aku. Ceritakanlah di mana aku berada. Benar-benar matikah aku?“

Seorang di antara para gadis itu menjawab. “Belum, kau belum mati, baru hampir. Apakah namamu Wan Si Hong?“

“Bukan, namaku Wanyen Ci Lun.“ meraba pundaknya yang sakit dan melihat obat yang tertempel di situ ia segera bertanya. “Siapakah yang menolongku? Apakah kalian yang mengobati luka-lukaku ini?“

Gadis-gadis itu menggeleng kepala mereka yang cantik. “Kau ditolong oleh seorang bernama Wan Sin Hong, dan yang mukanya sama benar denganmu..."

“Ke mana dia sekarang“

“Ke puncak sana bersama Niocu.“

“Siapakah itu Niocu?“

“Ketua kami, sudahlah, kau harus istirahat di sini dan kami ditugaskan menjagamu.“

Karena memang tubuhnya masih lemas dan pundaknya masih amat sakit rasanya, Wanyen Ci Lun tidak banyak membantah. Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring. “Lepaskan Siauw-ongya...!“

Muncullah tiga puluh orang pengawal yang baru sekarang tiba di situ dan melihat pangeran itu dijaga oleh sepuluh orang gadis, mengira bahwa majikan mereka ditawan. Sebaliknya sepuluh orang gadis itu tentu saja tidak membiarkan orang mendekati pemuda yang diserahkan penjagaan mereka. Cepat mereka mencabut pedang dan segera meyerang! Memang gadis-gadis ini boleh dibilang setengah liar, hidup di dalam hutan di puncak gunung, tak pernah bergaul dengan dunia ramai, maka watak mereka keras sekali.

Sebaliknya, para pengawal yang menduga bahwa gadis-gadis ini tentulah sebangsa penjahat wanita, lalu melakukan perlawanan, maka terjadilah pertempuran hebat. Para pengawal adalah orang-orang pilihan yang berkepandaian tinggi akan tetapi di lain pihak para gadis pun merupakan orang-orang kepercayaan Siok Li Hwa, merupakan anggauta anggauta Hui-eng-pai yang sudah tinggi ilmunya, maka pertempuran itu bukan main serunya.

Tiba-tiba di antara gerombolan pohon berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang gadis cantik yang berwajah pucat menerobos masuk memandang wajah Pangeran Wanyen Ci Lun yang menggeletak di atas tanah, kemudian secepat kilat ia menyambar tubuh itu dipondongnya dan dibawa lari!

“Lepaskan Siauw-ongya...!“ lima orang pemimpin pasukan pengawal itu membentak dan cepat mengejar, sedangkan pengawal-pengawal yang lain masih ramai bertempur melawan gadis Hui-eng-pai.

Akan tetapi gadis bermuka pucat yang membawa lari tubuh Wanyen Ci Lun itu memiliki ginkang yang luar biasa. Biarpun ia memondong tubuh seorang muda, akan tetapi para pengejarnya ia dapat menyusulnya. Makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap dari pandangan mata para pengejarnya!

Demikianlah peristiwa yang terjadi di lereng gunung dan biarlah kita meningalkan pertempuran antara gadis-gadis Hui-eng-pai melawan para pengawal pribadi Pangeran itu, dan mari kita menengok lagi ke atas, ke puncak Gunung Ngo-heng-san di mana terjadi peristiwa yang lebih hebat.

Di puncak bukit, Wan Sin Hong berjalan perlahan ke tengah lapangan. Semua mata memandang ke arahnya. Tiba-tiba didahului oleh Liok Kong Ji, orang-orang di situ berseru. “Tangkap penjahat Wan Sin Hong! Bunuh penjahat Wan Sin Hong!“

“Bu Kek Siansu, kau sebagai pemimpin pertemuan ini, apakah tidak bisa menenteramkan mereka? Wan Sin Hong seorang calon, dia berhak bicara!“ kata Cam-kauw Sin-kai.

Terpaksa Bu Kek Siansu berlari ke tengah lapangan dan dengan kedua tangan diangkat ke atas ia berseru mengerahkan lweekangnya. “Cuwa-enghiong, bukan begitu caranya membereskan perkara. Andaikata benar Wan Sin Hong seorang penjahat keji yang harus dibasmi, akan tetapi pada saat ini dia adalah calon bengcu yang di pilih oleh Cam-kauw Sin-kai. Oleh karena itu, dia berhak bicara sebagai calon bengcu untuk membela diri“

Keadaan menjadi reda dan Wan Sin Hong menjura kepada Bu Kek Siansu selaku ucapan terima kasih. Akan tetapi Bu Kek Siansu tidak mempedulikan, bahkan lalu meninggalkan tempat itu. Wan Sin Hong tidak merasa sakit hati karena maklum bahwa kakek Ketua Bu-tong- pai itu tentu masih menganggap ia seorang penjahat besar. Ta tersenyum pahit, kemudian ia memandang kepada Liok Kong Ji dengan sinar mata menyala nyala. Lalu disapunya semua hadirin dengan pandang matanya sebelum ia bicara. Suaranya tenang dan lantang.

“Cuwi-enghiong yang mulia. Memang benar bahwa aku adalah Wan Sin Hong dan aku mengaku pula bahwa selama beberapa bulan ini, di dunia muncul seorang penjahat yang melakukan segala macam perbuatan kotor dan keji dan penjahat itu mengaku bernama Wan Sin Hong!”

“Sudah terang dosa-dosamu, penjahat besar, masih banyak omong lagi?“ Kong Ji berteriak. “Manusia macam kau harus dibunuh!”

Teriakan ini disambut oleh anak buahnya, “Bunuh...! Bikin mampus penjahat Wan Sin Hong!“

Sin Hong tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. “Pernahkah di antara para hadirin melihat sendiri penjahat ini? Bukankah aneh sekali bahwa setiap kali penjahat itu melakukan kejahatannya ia sengaja meninggalkan nama Wan Sin Hong tanpa berani memperlihatkan mukanya? Di antara yang hadir, tadinya ada dua saksi yang pernah bertemu muka dengan penjahat itu, yang pertama adalah Nona Cun Eng anggauta Hui-eng-pai. Sayang dia sudah membunuh diri karena tidak tahan mendengar penghinaan yang diucapkan oleh seorang yang hadir di sini“ Setelah berkata demikian Sin Hong menatap wajah Kong Ji dengan tajam.

Akan tetapi Kong Ji hanya menyeringai dan membalas pandangan dengan penuh ejekan. “Orang ke dua adalah Nona Gak Soan Li murid dari pendekar besar Hwa I Enghiong. Akan tetapi sayang Nona Gak Soan Li juga sudah turun gunung, sama saja halnya, tidak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut busuk seorang yang hadir di sini!“

“Bohong...! Penjahat Wan Sin Hong mencari alasan kosong untuk membersihkan diri. Serbu dan bunuh saja!“ Kong Ji berteriak.

Sin Hong mengangkat tangan. “Tahan...!“

Orang-orang yang tadinya sudah siap menyerbu, tertegun karena suara itu mengandung pengaruh yang luar biasa sehingga Ciang Le sendiri diam-diam terkejut sekali.

“Semua keributan dipelopori oleh Liok Kong Ji. Eh, Kong Ji, apakah kau sekarang sudah menjadi seorang pengecut besar? Kalau kau memang berani, tunggulah, nanti akan tiba saatnya kita berhadapan satu sama lain tanpa tangan kaki-tanganmu! Cuwi enghiong, aku adalah seorang calon bengcu, aku berhak memberi keterangan sejelasnya!”

Keadaan menjadi tenang kembali dan pada wajah Kong Ji terbayang kecemasan.

”Aku ulangi lagi, kalau saja Nona Gak Soan Li tidak terpengaruh oleh racun berbahaya, tentu dia akan menjadi saksi utama akan kebinatangan seorang yang selalu menggunakan nama Wan Sin Hong untuk mengelabuhi mata orang lain dan sekalian untuk merusak namaku. Kalau saja Nona Soan Li berada di sini, kiranya aku akan dapat mencoba menyembuhkannya agar ia dapat membuat pengakuan sejujurnya. Kalau sudah terjadi demikian, dunia akan terbuka matanya dan akan mengalihkan pandangan menuntut dari aku kepada orang itu!” Dengan telunjuknya Sin Hong menuding ke arah Liok Kong Ji yang menjadi pucat sekali.

”Bohong! Omong kosong!” katanya gagap.

Giok Seng Cu tampil ke depan. ”Wan Sin Hong, bisa saja kau mempengaruhi orang-orang di sini dengan lidahmu yang berbisa. Aku sendiri menjadi saksi dan mau bersumpah bahwa aku pernah melihatmu bersama Nona Gak Soan Li. Kau hendak menggunakan Nona itu sebagai saksi? Ha ha ha, tentu saja akan membelamu. Pernah aku melihatmu betapa engkau memijat-mijat kedua pahanya. Ha ha ha, aku masih merasa muak dan malu sekali kalau teringat akan pemandangan itu!”

Hui Lian dan Bi Lan mengeluarkan suara tertahan. Sebagai wanita-wanita sopan mereka merasa tertusuk sekali mendengar kata-kata ini. Sebaliknya, Li Hwa hanya memandang kepada Wan Sin Hong saja, penuh perhatian karena hendak melihat bagaimana pemuda itu membela diri terhadap tuduhan yang amat memalukan ini.

Akan tetapi Wan Sin Hong hanya tersenyum, tetap tenang. Hanya suaranya saja terdengar menggeledek ketika menjawab. “Giok Seng Cu, setelah menjadi anjing dari Liok Kong Ji, kau ternyata pandai sekali bicara. Di waktu aku masih kecil kau mencoba membunuhku di puncak Luliang-san. Kemudian ketika kau bertemu dengan Nona Gak Soan Li kau telah memukul kedua pahanya dengan pukulan Tin-san-kang sehingga dua paha nona itu remuk tulang-tulangnya. Baiknya aku keburu datang dan menolong mengobati kedua pahanya yang kau katakan memijit-mijit itu. Hemm, semua orang yang mengerti ilmu pengobatan tentu akan tahu bahwa menyambung tulang patah masih mudah, akan tetapi membenarkan tulang-tulang yang remuk akibat pukulanmu tidaklah mudah. Aku memijit-mijit pahanya untuk mengobati, apakah salahnya? Kemudian kau pula menculiknya dan tentu kau telah bersekongkol dengan Liok Kong Ji. Kau ini orang tua yang sudah bejat batinmu, sungguh memalukan sekali kalau mendiang Pak Hong Siansu mendengar tentang sifat pengecut dari muridnya.“

Belum habis Sin Hong bicara, Giok Seng Cu sudah mengeluarkan suara geraman seperti singa dan tiba-tiba ia menerkam dengan pukulan Tin-san-kang kearah dada Sin Hong. Pemuda ini tidak berkisar dari tempatnya melainkan menggerakkan kedua tangan yang kiri dari atas yang kanan dari bawah. Aneh sekali, hawa pukulan Tin-san-kang yang biasanya membunuh orang dari jauh tanpa tangan yang memukul menyentuh kulit, kini musnah kekuatannya bahkan nampak kakek itu seperti dibetot ke depan dan tahu-tahu lehernya telah dicekal oleh tangan kiri Sin Hong dan tangan kanan pemuda itu sudah memegang ikat pinggangnya. Kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, tanpa menggerakkan kedua kaki, tubuh kakek itu sudah diangkat ke atas dibanting ke bawah.

“Brukkk...!“ Saking kerasnya bantingan dan saking kuatnya tubuh Giok Seng Cu, tubuh bagian bawah dari kaki sampai ke paha amblas ke dalam tanah!

Wan Sin Hong tersenyum. “Itu tadi adalah pukulan Tin-san-kang yang sudah mematahkan kedua paha Nona Gak Soan Li. Dan beginilah nasib orang jahat, Giok Seng Cu, aku masih belum begitu tega untuk menewaskanmu, mengingat bahwa kau masih terhitung murid keponakan dari Suhu Pak Kek Siansu. Pergilah!”

Kembali tangan kiri pemuda itu bergerak dan tahu-tahu tubuh Giok Seng Cu telah “tercabut“ dari tanah dan kini dilemparkan ke arah Liok Kong Ji. Kong Ji menerima tubuh Giok Seng Cu yang pingsan dan sekali melihat ia tahu bahwa kakek itu telah patah kedua tulang kakinya! Wan Sin Hong kembali bicara kepada orang banyak seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.

"Setelah berbulan-bulan melakukan penyelidikan dengan susah payah, bahkan telah mengalami usaha-usaha membunuhku yang dilakukan oleh penjahat yang merusak namaku, di antaranya aku dicoba untuk dikubur hidup-hidup di lereng gunung Luliang-san, akhirnya berhasil jugalah usahaku dan ternyata bahwa iblis jahat yang selama ini merusak namaku bukan lain adalah Liok Kong Ji!“

“Jahanam bermulut jahat!“ Kong Ji membentak dan di lain saat pedang Pak kek Sin-kiam sudah berada di tangannya.

Akan tetapi ia didahului oleh Bu Kek Siansu yang diiringi oleh Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai dan Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai yang kini sudah dapat memulihkan kekuatannya. Tadi Tai Wi Siansu telah terluka hebat oleh Kong Ji, akan tetapi berkat obat dari Kun-lun-pai dan tenaga lweekangnya yang tinggi, biarpun lukanya belum sembuh betul, akan tetapi tenaganya sudah pulih. Kini mendengar ucapan Wan Sin Hong, tiga orang tua tokoh besar kang-ouw ini cepat datang karena menganggap keterangan itu amat penting dan perlu dibuktikan kebenarannya.

“Wan Sin Hong bukti-bukti bahwa kau tidak berdosa belum ada, mengapa kau bahkan menimpakan semua kesalahan kepada Liok Kong Ji. Apakah bukti dari tuduhanmu ini,” tanya Tai Wi Siansu.

Pertanyaan ini kalau didengar begitu saja seakan-akan Tai Wi Siansu membela Liok Kong Ji. Akan tetupi sebetulnya dia dan dua orang kawannya cepat bertindak untuk mencegah Kong Ji menyerang Wan Sin Hong sebelum rahasia dibuka, dan untuk memberi kesempatan kepada Sin Hong menjelaskan tuduhannya.

“Sam-wi Locianpwe, apakah Sam-wi masih belum tahu bahwa di dalam permilihan bengcu ini pun, jahanam Kong Ji telah mempergunakan siasat busuk? Apakah di sini terdapat tokoh-tokoh semua partai? Apakah semua ketua partai belum hadir di samping Sam wi Locianpwe?“

“Semua hadir, biarpun bukan ketuanya, akan tetapi partai-partai lain mengirimkan wakil masing-masing.“

“Betulkah itu? Adakah wakil dari partai Teng-san-pai di sini?“

Kong Ji yang tidak mengira bahwa Sin Hong sudah tahu akan pemalsuan wakil ini, berkata keras, “Tentu saja ada! Mereka inilah wakilnya dengan membawa surat kuasa. Partai-partai besar, termasuk Teng-san-pai telah memilihku!“ Kong Ji berkata demikian untuk menjatuhkan Sin Hong atau untuk membuat pemuda itu kecele.

Akan tetapi, Sin Hong bergerak cepat dan sekali berkelebat ia telah dapat menangkap seorang di antara wakil-wakil Teng-san-pai itu. Ia mengangkat orang itu tinggi-tinggi dan biarpun orang itu hendak memukul, namun ia tidak bergeming di dalam cengkeraman tangan kiri Sin Hong yang amat kuat.

“Sam-wi Locianpwe, lihatlah baik-baik. Dia ini bukan wakil dari Teng-san-pai Wakil dari Teng-san-pai telah dibunuh di tengah perjalanan, surat kuasanya dirampas dan diganti oleh anjing-anjing ini. Semua ini tentu pekerjaan orang she Liok si iblis jahat!“

Mendengar ini, Kong Ji menjadi makin pucat dan diam-diam ia telah memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap sedia menyerbu. Adapun Tai Siansu dan kawan-kawannya menjadi kaget setengah mati. Bu Kek Siansu merampas orang itu dari tangan Sin Hong, membantingnya ke bawah lalu mengancamnya.

“Betulkah itu? Hayo kau mengaku terus terang sebelum kuhancurkan kepalamu!“

Tiba-tiba orang itu menjerit dan roboh terguling dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Dia telah terkena pukulan Tin-san-kang dari jauh yang dilakukan oleh Kong Ji.

Sin Hong tertawa. “Tentu orang lain tidak tahu bahwa kau yang membunuhnya, akan tetapi aku tahu bahwa orang itu terbunuh oleh pukulan Tin-san-kang, pukulan yang telah meremukkan tulang paha Nona Soan Li, yang sudah melukai Tai Wi Siansu Locianpwe!“

Tai Wi Siansu kaget sekali akan ketajaman mata Sin Hong yang sekali pandang saja sudah tahu bahwa ia terluka oleh Pukulan Tin-san-kang.

“Sam-wi sekarang tentu tahu dan dapat menduga bahwa partai-partai lain yang menyokong Kong Ji, bukanlah wakil-wakil yang sesungguhnya, melainkan orang-orang palsu yang merampas surat kuasa!“

Semua orang kini memandang kepada Kong Ji. Pemuda ini membusungkan dada dan berkata lantang, “Kalian orang-orang bodoh, mudah saja ditipu oleh penjahat besar Wan Sin Hong. Mana buktinya semua tuduhannya kepadaku itu. Kalau aku yang menjadi penjahatnya, apa buktinya dan siapa saksinya? Kalau dia sudah banyak bukti perbuatannya yang terkutuk. Apakah kalian buta dan tidak dapat melihat bahwa hal itu menipu?”

Tai Wi Siansu, Bu Kek Siansu, Leng Hoat Taisu adalah tokoh-tokoh besar yang tidak mau bertindak sembarangan dan tidak mau mereka begitu saja percaya kepada Sin Hong. Teringat akan pertemuan mereka dahulu dengan Sin Hong, Tai Wi Siansu berkata pada pemuda ini.

“Wan Sin Hong, tentang keadaan Liok Kong Ji bisa kami selidiki nanti, akan tetapi tentang kau sendiri yang hendak membebaskan diri dari tuduhan. Apa jawabanmu tentang gadis yang mengaku telah kau ganggu dan yang dahulu membunuh diri dengan melempar diri ke dalam jurang?“

Sin Hong tersenyum. “Bagus, Tai Wi Siansu, memang segala apa harus secara terang-terangan, adil dan tidak berat sebelah. Tentang itu tentu saja aku sudah menyelidiki dan ketahuilah bahwa aku dapat membongkar rahasia ini, sebagian adalah karena gadis itu. Aku sudah bertemu dengan dia dan sebentar Sam-wi ini semua Enghiong yang berada di sini akan mendengar sendiri keterangan dari mulutnya.“

Kong Ji terkejut bukan main dan pada saat itu terdengar pekik yang nyaring pekik yang sudah didengar oleh semua orang yang berada di situ, yakni pekik seperti suara burung garuda, tanda dari Hui-eng-pai. Mendengar pekik ini dari lereng gunung, Siok Li Hwa lalu membalas dengan pekiknya yang lebih nyaring dan gadis ini lalu berlari cepat sekali. Sin Hong mengerutkan kening dan setelah berpikir sejenak ia berkata,

“Sam-wi Locianpwe, aku harus pergi sebentar!“ Baru saja kata-katanya habis diucapkan, tubuhnya sudah berkelebat lenyap menyusul Li Hwa.

Ternyata bahwa yang mengeluarkan pekik tadi adalah para anggauta Hui-eng-pai yang sedang bertanding melawan para pengawal pribadi Pangeran Wanyen Ci Lun. Melihat betapa seorang gadis pucat yang cantik dan cepat gerakannya, telah memondong dan melarikan Wanyen Ci Lun dan mereka sendiri tidak berdaya, mengejar, para gadis Hui-eng-pai ini lalu memberi tanda kepada ketua mereka.

Sebaliknya, para pengawal pangeran itu mengira bahwa gadis cantik yang melarikan Pangeran Wanyen Ci Lun adalah kawan dari para gadis yang bertempur dengan mereka maka mereka terus mendesak dan menyerang dengan hebat. Para gadis Hui eng-pai itu benar-benar lihai karena sebentar saja sudah ada beberapa orang lawan yang roboh terkena pedang. Akan tetapi mereka terdesak dan terkurung karena kalah banyak.

Ketika Li Hwa tiba di situ, ia masih marah sekali melihat anak buahnya dikeroyok. Sekali pedang hijau berkelebat, robohlah dua orang pengawal. Li Hwa hendak mengamuk terus, tiba-tiba lengan kanannya ada yang memegang dan terdengar suara Sin Hong,

“Nona, perlahan dulu. Lebih baik kita kita selidiki siapa mereka ini.“

Li Hwa mencoba untuk mengerahkan tenaga, meronta dan melepaskan lengannya, akan tetapi sia-sia saja sehingga diam-diam ia kagum bukan main akan kelihaian pemuda ini. Adapun Sin Hong setelah melepaskan lengan Li Hwa, lalu menghadapi orang-orang itu yang kini berdiri bengong dan memandangnya seperti orang melihat setan. Bagaimana mereka tidak terheran-heran kalau kini tiba-tiba saja melihat Pangeran Wanyen Ci Lun yang tadi terluka dan dibawa lari gadis pucat itu kini tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka dengan pakaian berbeda?

Melihat betapa pangeran ini mempunyai hubungan baik dengan para gadis cantik, para pengawal menjadi ketakutan, takut kalau dimarahi karena penyerangan mereka tadi. Maka cepat-cepat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata,

“Siauw-ong-ya mohon ampun atas kelancangan hamba sekallan karena sesungguhnya hamba tadi melihat Siauw-ongya terluka... hamba kira Siauw-ong-ya perlu bantuan...“

Sin Hong bertukar pandang dengar Li Hwa dan pemuda itu menarik napas, “Sudah nasibku selalu ditukar dengan lain orang...“ Kemudian dengan gemas membentak orang-orang itu.

“Cukup ini semua! Aku bukan Pangeran Wanyen Ci Lun!“ Para pengawal terkejut dan seorang demi seorang berdiri. Setelah memandang tegas, baru mereka melihat perbedaan antara majikan mereka dengan pemuda ini.

“Kau... kau siapa?“ tanya seorang pemimpin mereka.

“Aku siapa bukan soal,“ jawab Sin Hong, “yang penting sekali, Pangeran Wanyen Ci Lun tadi terluka dan dijaga oleh Nona-nona ini. Mengapa kalian datang menyerbu? Kalian ini siapa?“

“Kami adalah pengawal-pengawal pribadi Pangeran Wanyen, dan kami kira bahwa dia tadi...“

“Celaka, kalian ceroboh sekali! Dimana Pangeran Wanyen Ci Lun sekarang?“

Dengan suara riuh para gadis dan para pengawal itu menuturkan bagaimana seorang gadis cantik yang berwajah pucat membawa lari pangeran itu. Seorang di antara gadis Hui-eng-pai berkata kepada ketuanya.

“Kami sedang sibuk mengalami pengeoyokan orang-orang tolol ini, maka tidak sempat memperhatikan dan tidak sempat melihat siapa adanya gadis yang membawa lari pangeran itu.“

“Sudahlah, kita selidiki hal itu nanti,“ kata Sin Hong, “Kalian para pengawal boleh mencoba untuk mengejar dan mencari majikan kalian di sekitar gunung ini. Kami hendak kembali ke puncak.“ Setelah berkata demikian, Sin Hong meagajak Li Hwa dan anak buahnya kembali ke puncak di mana orang-orang sedang menantinya.

Orang-orang yang berada di puncak Gunung Ngo-heng- san sudah ramai membicarakan tentang munculnya Wan Sin Hong. Keadaan sekarang jauh berbeda dengan tadi, kini penuh ketegangan. Tanpa diketahui oleh orang-orang lain, secara diam-diam Liok Kong Ji sudah berunding dengan kawan-kawannya dan mengatur siasat. Gentar juga hati pemuda yang biasanya tabah dan penuh akal ini, terutama sekali karena melihat pembantunya yang paling boleh diandalkan, yakni Giok Seng Cu, sudah tak berdaya sama sekali. Juga See-thian Tok-ong yang tadinya diharapkan untuk menjadi kawan dan pembantu, kini sudah bersila dalam keadaan terluka oleh tendangan Hwa T Enghiong Go Ciang Le tadi.

Akan tetapi Kong Ji berbesar hati. Pembantu-pembantunya banyak sekali jumlahnya, merupakan pasukan-pasukan besar yang akan membelanya dengan setia. Apalagi semua tuduhan Wan Sin Hong tadi tak dapat dibuktikan sama sekali. Ia takut apakah? Kata-kata Sin Hong tadi seakan-akan membayangkan bahwa Sin Hong sudah bertemu dengan Nalumei. Tak mungkin, pikirnya. Bukankah Nalumei sedang ke utara dan mungkin waktu ini sudah berada di sekitar Ngo-heng-san bersama pasukannya?

Dia dahulu menyuruh Nalumei kembali ke utara dengan alasan mengumpulkan pasukan untuk membantunya, sebetulnya hanya mengandung maksud untuk menyingkirkan Nalumei saja. Nalumei sudah cukup membantunya, bahkan Nalumei sekarang merupakan bahaya karena pernah menjadi saksi atas semua perbuatannya, di samping ini, sekarang Nalumei mulai rewel dan sering cemburu. Lebih-lebih lagi, karena ia memang sudah bosan dan jemu dekat dengan wanita suku bangsa Naiman itu.

Ia mengirim Nalumei ke utara seperti menyuruh kelinci memasuki hutan sarang harimau karena ia maklum bahwa di utara, pengaruh dan kekuasaan Temu Cin sudah demikian meluas sehingga tak mungkin lagi Nalumei dapat mencari sisa suku bangsanya yang tidak takluk kepada Temu Cin. Andaikata benar Sin Hong telah bertemu dengan wanita itu, tak mungkin Nalumei mau mengkhianatinya, demikian pikir Kong Ji.

Akan tetapi, semangatnya sudah terbang rasanya ketika ia melihat Sin Hong muncul lagi bersama Li Hwa dan anak buah Hui-eng-pai dan di sebelah kiri Sin Hong berjalan seorang perempuan cantik yang pakalannya menunjukkan bahwa dia itu bukanlah seorang wanita Han.

“Nalumei...!“ Kong Ji berseru perlahan demi melihat wanita ini dan wajahnya berubah pucat.

Sin Hong tersenyum dan menghadap Tai Wi Siansu dan tokoh lain. “Tai Wi Siansu, kenalkah Locianpwe kepada wanita ini?“

Tentu saja tokoh-tokoh besar yang berada di situ mengenalnya, yakni mereka yang dahulu mendengar pengakuan nona ini dan kemudian melihat sendiri betapa gadis itu membuang diri ke dalam jurang. Akan tetapt bagaimana gadis ini masih hidup dan berpakaian seperti orang asing?

“Bukankah dia ini nona yang dulu menuduhmu, kemudian membuang diri ke dalam jurang?“ kata Tat Wi Siansu.

Hui Lian yang melihat gadis itu pun berbisik kepada ibunya. “Ibu gadis itulah yang dulu kulihat diserang dan dikejar oleh Wan Sin Hong dan aku bersama Tang Hwesio membantunya sehingga ia dapat melarikan diri“ Gadis ini benar-benar merasa heran dan ingin sekali melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Benar, Locianpwe, dia inilah nona yang dulu membuang diri dan nona ini pula yang bernama Nona Nalumei, puteri kepala suku bangsa Naiman di utara yang telah menjadi korban Liok Kong Ji, kemudian bahkan dipergunakan untuk membantunya dalam siasat memburukkan namaku.“

Kong Ji melangkah maju, memandang kepada Nalumei dengan mata tajam lalu berkata, “Nalumei apakah yang telah dilakukan oleh penjahat Wan Sin Hong ini kepadamu?“

Kong Ji sama sekali tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan hebat dalam pikiran Nalumei. Seperti telah diceritakan di bagian depan, nona ini menuju ke utara untuk mengumpulkan pasukan seperti yang diminta oleh Kong Ji. Akan tetapi setelah tiba di utara, ia melihat bahwa semua suku bangsanya telah menjadi pembantu setia dari Temu Cin. Bahkan Nalumei bertemu dengan paman-pamannya, dan dengan seorang pemuda Naiman bekas kekasihnya sebelum menjadi kekasih paksaan dari Kong Ji, dan oleh mereka inilah Nalumei dicuci otaknya. Baru ia merasa betapa ia selama ini menjadi permainan Kong Ji, bahwa sebetulnya Kong Ji adalah seorang manusia berhati iblis yang amat keji.

Mendengar penuturan Nalumei tentu semua pengalamannya dengan terus terang, paman paman dan bekas kekasih Nalumei, juga suku bangsanya, menjadi kecewa dan memandang rendah bekas puteri kepala ini. Bahkan paman-paman Nalumei mengusir gadis yang mereka anggap telah mengotori nama baik bangsa Naiman sebagai bangsa yang gagah berani.

Dengan hati hancur Nalumei kembali ke selatan tanpa membawa seorang pun kawan. Timbul marah dan sakit hatinya, kepada Kong Ji, apalagi kalau ia teringat akan kebiadaban Kong Ji terhadap gadis-gadis lain seperti Gak Soan Li dan banyak lagi gadis muda yang menjadi korbannya. Ia akan ke Ngo-heng-san sesuai dengan kehendak dan pesan Kong Ji, akan tetapi sama sekali bukan untuk membantunya, melainkan untuk membalas dendam untuk membunuhnya!

Kebetulan sekali, ketika ia tiba dekat Gunung Ngo-heng san, ia bertemu dengan Wan Sin Hong. Pemuda ini cepat memegang pergelangan lengannya, dan berbeda dengan dahulu, Nalumei tidak melawan, tidak memberontak, bahkan tersenyum duka sambil berkata,

”Wan Sin Hong, aku memang sudah berdosa terhadapmu. Akan tetapi kau dan aku ini hanya menjadi korban orang lain. Kau lihai, kalau kau sakit hati terhadap aku bunuhlah, aku tidak penasaran. Hanya aku tidak akan mati meram sebelum dapat membelek dada iblis Liok Kong Ji” Setelah berkata demikian Nalumei menangis terisak-isak. Sin Hong melepaskan pegangannya dan dari gadis ini ia mendengar semua rahasia tentang cara-cara Kong Ji merusak namanya.

Gadis itu mengaku pula betapa atas perintah Kong Ji, ia pernah mengadakan pengakuan palsu di hadapan para tokoh kang-ouw bahwa ia telah menjadi korban kekejian penjahat Wan Sin Hong. Kemudian, atas siasat yang diatur oleh Kong Ji pula, ia melompat dan melempar diri dari atas jurang. Tentu saja ia tidak menghadapi bahaya karena di bawah telah menanti Kong Ji yang siap membantunya. Inilah sebabnya maka Sin Hong tidak dapat menemukan gadis itu di bawah jurang.

Sin Hong berterima kasih sekali dan berjanji akan membawa Nalumei ke atas puncak setelah selesai urusannya dengan Kong Ji. Ketika ia kembali ke puncak bersama Li Hwa, ia sengaja menjemput Nalumei yang dibuat tak berdaya oleh sikap lemah lembut pemuda ini, dan bersama gadis Naiman itu ia kembali ke puncak seperti telah dituturkan di bagian depan.

Nalumei mengangkat muka memandang kepada Kong Ji dengan mata penuh kebencian, kemudian ia mengangkat dada mengumpulkan keberanian dan menghadapi Tat Wi Siansu dan yang lain-lain sambil berkata nyaring.

"Tidak salah apa yang dikatakan oleh Wan Sin Hong. Semua perbuatan keji yang selama ini dilakukan atas nama Wan Sin Hong, sebetulnya adalah perbuatan jahanam Liok Kong Ji yang mengunakan nama Wan Sin Hong!”

“Bohong’ Nalumei, kau sudah gila...“ Kong Ji berseru marah dan heran sambil melangkah maju.

“Memang aku telah gila semenjak aku percaya omonganmu. Aku lebih dari gila, mempercayai seorang iblis seperti engkau dan meninggalkan suku bangsaku. Kau keji dan buas menyuruh aku pura-pura membuat pengakuan telah diperkosa oleh Wan Sin Hong, padahal kau sendiri yang merusak hidupku! Biarpun aku tidak menyaksikan sendiri apa yang kau perbuat terhadap diri Gak Soan Li dan banyak pula gadis lain, aku dapat menduganya kau... kau... jahanam...“ Setelah berkata demikian tiba-tiba Nalumei melompat dan menerkam Kong Ji dalam usahanya menyerang hebat.

Sin Hong kaget sekali, namun ia terlambat. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Nalumei akan melakukan serangan nekad. Sejak tadi hanya memperhatikan Kong Ji, sehingga kalau andaikata Kong Ji menyerang Nalumei biar secara menggelap sekalipun, pasti Sin Hong akan melihatnya dan dapat melindungi Nalumei. Akan tetapi sekarang terjadi sebaliknya daripada yang ia khawatirkan, bukan Kong Ji menyerang Nalumei, bahkan gadis bangsa Naiman itu yang menyerang Kong Ji. Ia menjadi tertegun sejenak, dan waktu yang amat singkat ini sudah cukup bagi Kong Ji untuk bertindak. Pedang Pak-kek Sin-kiam berkelebat dan Nalumei menjerit roboh dengan mandi darah yang mengucur keluar dari dadanya yang tadi ditembus pedang Pak kek Sin-kiam.

Tai Wi Siansu dan tokoh-tokoh lain menjadi marah sekali. Mereka sudah siap menyerbu pemuda iblis itu, akan tetapi Sin Hong mendahului mereka sambil berseru,

“Cuwi Locianpwe, serahkan saja jahanam ini kepadaku!“ Dengan gerakan lincah Sin Hong sudah melompat dan menghadapi Kong Ji dengan pedang di tangan. Dua orang pemuda ini, sekarang berhadapan satu lawan satu. Kong Ji memandang penuh kebencian kepada Sin Hong, sebaliknya Sin Hong hanya tersenyum mengejek. Kong Ji marah bukan main, sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api, giginya berkerot-kerot. Dalam diri Kong Ji ia melihat seorang musuh besar yang menjadi penghalang cita-citanya, maka kini nafsu membunuh memenuhi dadanya.

“Sin Hong...“ dengusnya dengan suara mendesis melalui celah bibirnya, “Alangkah bencinya melihatmu... lihat, sebentar lagi akan kupenggal lehermu, kuminum darahmu, kucincang hancur tubuhmu!“

“Kong Ji semenjak kecil kau sudah jahat, sekarang kau menjadi iblis. Sudah menjadi tugasku membasmi seorang iblis jahat.”

Dengan mata marah Kong Ji menyapu para tokoh kang-ouw yang kiranya tidak akan membantunya, lalu berkata suaranya menyeramkan. “Aku Tung-nam Tai bengcu Liok Kong Ji, sekarang sebagai calon bengcu besar hendak mengadu kepandaian dengan seorang calon lain, siapakah ada maksud hendak mengeroyokku? Awas, kalau ada yang membantu lawanku secara sembunyi aku pun mempunyai banyak sekali kawan berkumpul di sini yang akan sanggup membasmi kalian!“

Kini semua orang tersenyum mengejek mendengar kata-kata ini bahkan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa berkata setelah tertawa nyaring.

”Wan Sin Hong, jangan bunuh dia dulu, biarkan aku yang membunuhnya! Atau, kalau kau bunuh juga, jangan diganggu lehernya ingin aku memenggal batang lehernya dan mengambil kepalanya untuk menyembahyangi roh dari Cun Eng!”

Sin Hong tersenyum, lalu menantang. “Kong Ji, sudah cukupkah kau mengobrol?”

Kong Ji tidak menanti sampai Sin Hong menghabiskan kata katanya. Cepat sekali dia menyerang dengan Pak-kek Sin-kiam yang diputar cepat dan beberapa serangan secara bertubi-tubi telah menyambar ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari Sin Hong. Sin Hong maklum bahwa ilmu silat dari Kong Ji memang amat lihai ditambah lagi dengan Pak-kek Sin-kiam di tangan, pemuda itu merupakan lawan yang amat berbahaya.

Cepat ia mengelak dan di lain saat dua orang pemuda itu sudah bertempur hebat. Kong Ji berlaku nekad, mendesak terus sambil mengeluarkan segala kepandaiannya. Tidak hanya pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang menyambar-nyambar sebagai tangan maut, juga tangan kirinya tiada hentinya mengirim pukulan Tin-san-kang sehingga debu berhamburan terkena sambaran hawa pukulan yang dahsyat ini...

Pedang Penakluk Iblis Jilid 29

Pedang Penakluk Iblis Jilid 29

AKAN tetapi tiba-tiba seorang di antara para anggauta Kwan-cin-pai itu, seorang pemuda yang pakaiannya sederhana, diam-diam mendekati Hui Lian dan Hong Kin. Ketika dua orang muda itu memandang, mereka merasa terkejut, heran, dan juga girang. Pemuda itu segera diam-diam lalu menggunakan sebatang pisau pendek yang amat tajam untuk membabat putus tali pengikat pergelangan, tangan mereka dan dalam sekejap mata bebaslah Hui Lian dan Hong Kin.

Dua orang muda yang berkepandaian tinggi ini lalu mengerahkan lweekang dan dengan jari tangan sendiri dapat membebskan totokan. Pada saat itu, Kong Ji tengah melancarkan serangan-serangan yang amat menghina kepada Ciang Le dan menghina nama baik Gak Soan Li semau-maunya. Mendengar dan melihat ini Hui Lian berbisik. “Celaka, nama Ayah akan tercemar...“

“Biar aku menolongnya...“ kata Hong Kin cepat-cepat. Mereka bertiga lalu menggunakan kesempatan selagi semua orang menonton perang kata-kata yang menegangkan menerobos keluar dari barisan dan Hong Kin lalu mengeluarkan kata-kata pengakuan bahwa dialah suami Soan Li!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, munculnya Hui Lian, Hong Kin dan pemuda yang menolong mereka yang kemudian ternyata Wan Sin Hong menimbulkan kegemparan. Seperti telah kita ketahui semua, Wan Sin Hong terkena serangan jarum-jarum rahasia dari Siok Li Hwa dan Liok Kong Ji sehingga roboh akan tetapi muncul manusia aneh bermuka merah darah yang menyambar tubuh wan Sin Hong dan lenyap dari situ!

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Setelah berhasil melukai Wan Sin Hong dengan jarum- jarumnya, Kong Ji dan Siok Li Hwa merasa heran dan penasaran sekali. Orang aneh muka merah tadi telah menolak serangan pedang mereka hanya dengan hawa pukulan dan kini orang aneh itu telah membawa lari tubuh Wan Sin Hong. Kong Ji yang melihat jarum beracun Hek-tok-ciam telah mengenai tepat tubuh Wan Sin Hong dan merobohkan pemuda yang paling ditakutinya itu, menjadi lega.

Dia tadinya kaget setengah mati melihat munculnya Wan Sin Hong. Bagaimana pemuda itu dapat muncul? Demikian ia bertanya-tanya dengan hati ngeri karena ia maklum bahwa kepandaian Wan Sin Hong amat tinggi. Maka melihat betapa semua orang memusuhi Sin Hong bahkan betapa Sin Hong telah roboh oleh jarum-jarumnya dan jarum-jarum yang dilepas oleh Siok Li Hwa, ia menjadi lega dan tidak mau mengejar. Apalagi karena ia menyaksikan betapa orang aneh bermuka merah yang ia belum tahu siapa adanya itu benar-benar tangguh dan lihai, maka ia menyerahkan pengejaran kepada Siok Li Hwa.

Memang Ketua Hui-eng-pai ini merasa penasaran sekali melihat Wan Si Hong musuh besarnya dilarikan orang aneh bermuka merah. Kalau belum membunuh Wan Sin Hong dan membawa kepalanya, hati Siok Li Hwa belum puas. Nama baik Hui-eng-pai telah dicemarkan hal ini baru satu kali terjadi selama ia hidup, maka Wan Sin Hong harus dibunuhnya!

Sambil membentak keras Siok Li Hwa mengejar orang aneh bermuka merah yang lenyap ke jurusan barat puncak. Para anak buahnya cepat-cepat mengejar sehingga mereka itu kelihatan seperti sekelompok garuda putih beterbangan turun gunung! Sementara itu Hui Lian yang memeluk ibunya, secara singkat lalu menceritakan semua pengalamannya yang terakhir. Karena tidak ada kesempatan dan waktu, Hui Lian hanya menceritakan yang paling penting saja, terutama yang berhubungan dengan keadaan di situ.

“Ibu dan Ayah, Saudara Coa Hong Kin tadi sengaja mengaku sebagai suami Suci, untuk membersihkan muka kita...“

Ciang Le menjadi girang sekali dan memandang ke arah Hong Kin yang bercakap-cakap perlahan dengan gurunya, memandang dengan penuh terima kasih. Sementara itu atas perintah Cam-kauw sin-kai, Hong Kin lalu memberi hormat kepada Ciang Le dan Bi Lan, juga kepala Lie Bu Tek. Adapun Cam-kauw Sin-kai sendiri dengan suara lantang tertawa dan berkata,

“Cuwi Enghiong yang hadir di sini semua menjadi saksi betapa besar kebohongan manusia she Liok! Dia tadi membuka mulut kotornya memburuk-burukkan dan menghina nama baik Hwa I Enghiong dan muridnya. Sekarang ternyata kata-katanya itu bohong belaka. Nona Gak Soan Li ada suaminya!“

Tai Wi Siansu cepat mencegah dilanjutkannya percekcokan karena sebagai pemimpin permilihan bengcu. ia berkewajiban untuk segera menyelesaikan tugasnya yang banyak terhalang oleh percekcokkan tadi.

“Saudara sekalian harap suka bersabar dan harap menghentikan segala caci maki satu kepada yang lain. Sekarang kita lanjutkan tentang pemillhan bengcu, diambil dan tujuh orang calon-calon tadi. Seperti sudah lajim dalam pemilihan bengcu, harap para calon sekarang membuktikan bahwa dia memang patut menjadi bengcu karena kepandaian silatnya. Dan oleh karena itu pinto sendiri di luar kehendak pinto telah dipilih menjadi calon bengcu, maka terpaksa pimpinan pinto serahkan kepada wakil pinto, yakni Bu Kek Siansu ciangbunjin dari Butong pai! Dan untuk mempersingkat waktu, pinto sendiri mempelopori para calon bengcu, dan pinto bersiap sedia mencoba kepandaian seorang di antara para calon.“

Setelah berkata demikian, Tai Wi Siansu yang sudah tua itu lalu melompat ke tengah lapangan dan menanti datangnya seorang di antara calon bengcu yang hendak memperlihatkan kepandaian. Sebetulnya, Ketua Kun-lun-pai yang sudah lanjut usianya ini tentu saja tidak mempunyai nafsu untuk menjadi bengcu.

Akan tetapi, untuk memperkuat pihak yang disukainya, dan pula melihat bahwa di antara para calon terdapat orang- orang seperti Liok Kong Ji dan See-thian Tok-ong, ia tentu saja tidak rela kalau sampai kedudukan bengcu dipegang oleh seorang di antara mereka ini dan daripada kedudukan bengcu dipegang oleh See-thian Tok-ong, lebih baik dia pegang sendiri!

Ia tahu pula bahwa dalam pemilihan bengcu, pasti akan terjadi adu tenaga, dengan masuknya menjadi calon bengcu, berarti ia memperkuat tenaga pihak yang disukainya. Kalau saja ia melihat bahwa para calon itu semua memenuhi syarat dan mencocoki hatinya, tidak nanti ia mau dipilih sebagai calon! Melihat majunya Tai Wi Siansu, tentu saja para calon seperti Cam-kauw Sin-kai dan Hwa I Enghiong Go Ciang Le tidak mau maju untuk melayani kakek itu mengukur kepandaian.

Bagi Cam-kauw Sin-kai dan Go Ciang Le, kalau kedudukan bengcu itu diserahkan kepada Tai Wi Siansu, mereka tidak akan membantah seperti halnya Tai Wi Siansu sendiri tentu tidak akan membantah kalau yang dipilih sebagai bengcu itu Cam-kauw Sin-kai atau Go Ciang Le. Dua orang calon yang tadi disebut Siok Li Hwa dan Wan Sin Hong tidak berada di situ dan kini tmggal dua orang calon yang lain, yakni Liok Kong Ji dan See Thian Tok-ong.

See-Thian Tok-ong hendak melompat maju menghadapi Ketua Kun-lun-pai akan tetapi Kong Ji sambil tertawa mencegahnya. “See-thian Tok-ong, mengapa terburu-buru? Tidakkah kau dapat melihat bahwa mereka itu semua bersekongkol? Lihat, aku berani bertaruh bahwa Hwa I Enghiong dan Cam- kauw Sin-kai tidak nanti mau maju menghadapi Tai Wi Siansu. Kau lihat sajalah dan jangan terburu-buru maju.“

See-thian Tok-ong memang orang yang kurang pedulian, maka ia tadi tidak mempedulikan keadaan, sehingga ia tidak memikirkan sejauh itu. Sekarang mendengar kata-kata Kong Ji, ia menunda niatnya dan benar-benar ia menanti. Memang apa yang dikatakan oleh Kong Ji ini benar belaka. Betapapun juga, tak nanti Ciang Le dan Cam-kauw Sin-kai mau maju menghadapi Tat Wi Siansu untuk bertanding ilmu.

Melihat ini See-thian Tok-ong sudah hilang sabar dan hendak maju pula. Akan tetapi Kong Ji sudah mendahuluinya, menyuruh seorang pembantunya untuk maju. Orang ini adalah seorang kakek tua yang bongkok kurus, kepalanya besar, rambutnya jarang dan putih sedang kulit mukanya kerut-merut jelek sekali.

Ia memegang sebatang tongkat bambu dan dari belakang pundaknya tersembul gagang pedang yang ujungnya berukirkan kepala setan yang menakutkan dan ronce-roncenya berwarna hitam. Dengan langkah sembarangan orang ini telah menghadapi Tai Wi Siansu, menyeringai sambil berkata dengan suaranya yang parau seperti suara burung gagak.

“Tai Wi Siansu, sudah lama sekali aku mendengar akan nama besar Ketua Kun-lun-pai yang katanya memiliki ilmu pedang yang tinggi sekali. Kebetulan hari ini aku mendapat kehormatan bertemu muka dan siapa kira kau yang sudah begini tua masih menginginkan kedudukan bengcu. Akan tetapi malah kebetulan, karena dengan demikian aku mendapat kesempatan untuk merasai kehebatan ilmu pedangmu. Bukankah setiap orang yang hadir berhak menguji kepandalan calon bengcu?“ Setelah berkata demikian, ia tertawa terbahak-bahak.

Melihat kakek ini, Tat Wi Siansu dapat menduga bahwa dia tentu seorang yang pandai, akan tetapi karena belum mengenalnya, Tat Wi Siansu lalu memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan dan bertanya.

“Sahabat siapakah? Dari golongan mana dan siapa nama sahabat yang terhormat?“ Sebagai seorang ciangbunjin (ketua) partai besar. Tai Wi Siansu tentu saja tidak mau mengadu kepandaian dengan seorang lawan yang tidak ternama. tentu Tai Wi Siansu akan mundur dun menyuruh murid saja untuk melawannya.

Kakek yang buruk rupa itu mengeluarkan suara menyindir. “Hemm, tentu saja Ketua Kun-lun-pal yang bernama besar tidak mengenal kepada seorang rendah seperti aku. Aku adalah Ketua Kwan-cin-pai dan tinggal di An-hwei.“

Tat Wi Siansu terkejut. “Aha, kiranya pinto berhadapan dengan Mo-kiam Siang koan Bu, jago nomor satu dan Propinsi An-hwei! Kau mau bermain-main dengan pinto? Marilah!“

Kakek buruk rupa itu memang Mokiam siangkoan Bu Ketua Kwan-cin-pai yang sudah menjadi pengikut Kong Ji. Pemuda ini belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian Tai Wi Siansu, maka ia tidak mau maju sendiri. Sebagai seorang calon bengcu atau bahkan seorang bengcu dari timur dan selatan, ia harus memegang harga diri.

Maka ia memberi tanda kepada Mokiam Siangkoan Bu untuk mencoba kepandaian kakek Kun-lun-pai itu sebelum ia sendiri turun tangan. Memang Kong Ji adalah seorang sang amat licik dan ia telah mengatur siasat rendah. Kawan-kawannya yang memiliki kepandaian tinggi cukup banyak, di antaranya adalah Siangkoan Bu sendiri, lalu ada di situ

Siang-pian Giam-ong Ma Ek Ketua Bu cin-pai, Sin houw Lo Bong Ketua Shan si-kai-pang, Twa-to Kwa Seng Ketu Twa-to Bu pai, ada pula Giok Seng Cu tangan kanannya, dan masih ada beberapa orang gagah dan Siauw-lim-pai. Go bi-pai, Heng-san-pai dan Hoa-san-pai. Ta hendak menggunakan tenaga orang-orang ini untuk menghadapi para calon bengcu yang lain.

Kalau sampai mereka semua ini kalah dan ia sendiri kiranya takkan dapat kemenangan, masih ada jalan lain, yakni melakukan pengeroyokan! Untuk keperluan ini di belakangnya sudah ada seribu lebih orang dari partai pendukungnya yang pada saat itu sudah berkumpul di sekitar puncak Ngo-heng-san! Bahkan masih mengharapkan munculnya Nalumei bersama pasukannya.

Mo-kiam Siangkoan Bu yang melihat bahwa Tai Wi Siansu sudah bersikap sedia dengan sebatang pedang tipis ditangan, lalu mengeluarkan suara meringkik seperti kuda dan cepat melakukan serangan pertama dengan tongkat bambunya. Tongkat ini ditusukkan ke arah mata Tai Wi Siansu dengan gerakan cepat.

Ketua Kun-lun-pai diam-diam marah dan mendongkol. Kalau ia diserang dengan pedang, itu adalah hal yang wajar. Akan tetapi diserang dengan sebatang bambu, inilah penghinaan namanya! Pedang tipis di tangannya bergerak sedikit dan bambu di tangan Siangkoan Bu putus ujungya begitu bertemu dengan pedang, sedikit pun tidak mengeluarkan suara.

Akan tetapi, ternyata kemudian bahwa memang inilah semacam gerak tipu dari Siangkoan Bu karena begitu bambu terbabat, bambu ini terus saja langsung melakukan serangan menusuk ulu hati! Tadi memang sengaja ia “menyerahkan“ bambunya untuk dibabat, hanya ketika pedang lawan membabat ia miringkan bambu sehingga bambu itu kini menjadi runcing sekali dan tahu-tahu ia pergunakan untuk menusuk dada.

Senjata bambu ini tak boleh dipandang ringan, karena batang bambu yang kosong ini kalau terisi oleh hawa lweekang dari pemegangnya, bambu ini berubah menjadi senjata yang ampuh dan kuat, dan dalam penggunaan dalam serangan menusuk ini tidak kalah berbahayanya oleh senjata tajam dan runcing lain dari baja. Hebatnya, selagi bambu ini masih menusuk, tangan kiri Siangkoan Bu sudah bergerak ke pundak dan di lain saat, sebatang pedang dengan sinar kebiruan telah meluncur cepat menyusul serangan bambu, melakukan serangan ke dua dan menusuk lambung!

“Bagus!“ Tat Wi Siansu sendiri yang juga seorang ahli pedang dan Kun lunpai, memuji gerakan lawan ini yang memang benar-benar amat cepat indah dan berbahaya. Ketua Kun-lun-pai ini setelah menangkis bambu, cepat miringkan tubuh sehingga dua serangan sekaligus itu dapat dihindarkan. Kemudian tanpa memberi kesempatan kepada lawan, ia lalu membalas dengan penyerangan membabat dari kiri ke kanan dengan pedangnya.

Siangkoan Bu menangkis, dua pedang bertemu dan bunga api berpijar. Keduanya melompat mundur untuk melihat pedang masing-masing. Mereka merasa lega melihat pedang masing-masing tidak rusak oleh pertemuan yang keras tadi tanda bahwa pedang mereka berimbang dalam kekuatannya.

Pedang di tangan Tai Siansu adalah sebatang pedang pusaka Kun-lun-pai biarpun amat tipis namun terbuat dari pada baja putih yang kuat sekali. Besi biasa saja dapat terputus dengan mudah oleh pedangnya. Di lain pihak, pedang di tangan Siangkoan Bu diberi nama Mo-bin-kiam (Pedang Muka Iblis), terbuat dari logam berwarna kebiruan yang amat keras dan juga pedang ini tajam sekali, cukup kuat untuk membuat putus logam-logam lain.

Dalam detik-detik selanjutnya dua orang kakek kosen ini sudah bertempur sengit. Sepasang pedang itu bergulung- gulung merupakan sinar berwarna putih dan biru, amat indah dipandang dan mendebarkan hati karena tegangnya. Semua orang tahu bahwa dalam permainan yang indah kelihatannya ini bersembunyi tangan-tangan maut yang setiap waktu dapat mencabut nyawa seorang di antara kedua pemainnya.

Kepandaian Siangkoan Bu memang tinggi. Tidak saja ia memiliki tenaga lweekang yang sudah tinggi sekali, juga ilmu pedangnya amat aneh, cepat dan ganas. Pantas saja ia diberi julukan Mo ,-kiam (Si Pedang Iblis) karena memang ia memiliki ilmu pedang yang kuat dan dahsyat.

Di lain pihak, siapakah yang tidak mendengar kelihaian Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat? Ilmu pedang partai besar Kun-lun-pai sudah tersohor di kolong langit. Gerakannya indah dan cepat mengandung kekuatan menyerang yang sukar dilawan, sebaliknya dalam bertahan amat kuatnya, merupakan benteng sinar pedang yang sukar ditembusi. Maka dapat dibayangkan betapa ramainya pertandingan ini, makim lama gerakan mereka makin cepat sehingga setelah lewat lima puluh jurus, keduanya lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka.

Bagi para penonton yang kurang tinggi ilmu silatnya, sukar dapat mengatakan siapakah di antara dua ahli pedang itu yang unggul dan siapa yang terdesak. Tentu saja dalam pandangan mata para ahli yang berada di situ, di antaranya Kong Ji dan Ciang Le, mudah saja terlihat bahwa lambat laun akan tetapi tentu, Ketua Kun-lun-pai yang sudah tua itu mendesak Mo-kiam Siangkoan Bu!

Akhirnya pada jurus ke delapan puluh, terdengar Tai Wi Siansu membentak keras, diikuti suara nyaring. Bambu di tangan Siangkoan Bu tadi putus menjadi dua sedangkan pedang birunya terlempar jauh ke belakang. Dia sendiri terhuyung-huyung dan cepat melompat berjungkir balik ke belakang, lalu berdiri dengan muka pucat. Darah mengucur keluar dari luka di kedua lengannya dekat siku. Ia menjura dan berkata,

“Terima kasih, Tai Wi Siansu. Memang ilmu pedang Kun-lun-pai hebat, bukan among kosong. Aku menerima kalah.“

Inilah kata-kata jujur yang mau tidak mau harus diucapkan oleh seorang jagoan kang-ouw yang telah kalah dalam sebuah pibu (adu kepandaian). Mo-kiam Siangkoan Bu terpaksa harus mengaku ini, karena ia sudah berhutang nyawa kepada kakek Kun lun-pai itu. Kalau dalam gebrakan tadi Tai Wi Siansu mau berlaku kejam, kiranya bukan hanya luka kecil pada kedua lengan saja yang dideritanya, melainkan jauh lebih hebat. Kemudian ia mengambil pedangnya dan berdiri di dekat pasukannya dengan muka muram. Ta telah menderita kekalahan dan karenanya merasa malu dan penasaran.

Di lain pihak, dengan napas agak memburu, Tai Wi Siansu berdiri tegak dengan pedang dilintangkan di depan dada. Kakek berusia delapan puluh tahun ini kelihatan gagah sekali dan sikapnya lemah lembut. Jenggotnya yang putih semua dan panjang itu berkibar-kibar tertiup angin dan sinar matanya penuh semangat, berapi-api.

Akan tetapi bagi siapa yang memillki pandang mata awas, dapat dilihat bahwa kakek tua renta ini sudah lelah sekali dan hanya tenaga lweekangnya yang tinggi saja yang dapat mengatur pernapasannya sehingga tidak terengah-engah, sungguhpun jalan darahnya sudah amat cepat membuat seluruh tubuh panas dan keringat keluar dari lengan dan jidat.

Tentu saja Kong Ji melihat pula dan maklum akan hal ini. Cepat pemuda ini melompat keluar dan tahu-tahu pedang Pak-kek Sin-kiam yang bercahaya keemasan telah berada di tangannya. “Tai Wi Siansu, kita sama-sama calon bengcu, mari kita menguji kepandaian masing-masing!“ Tanpa menanti jawaban, pemuda itu sudah menusuk dengan pedangnya ke arah tenggorokan kakek itu.

“Tidak adil...!“ Seru Leng Hoat Taisu Ketua Thian-san-pai dan sudah melompat dengan tongkat hitamnya untuk menggantikan Tai Wi Siansu.

Akan tetapi, sebagai ciangbunjin dari Kun-lun-pai, juga sebagai calon bengcu, Tai Wi Siansu merasa malu kalau harus mengaku kalah sebelum bertanding. Ta mengelak cepat dari serangan Kong Ji dan melihat majunya Leng Hoat Taisu yang bukan seorang calon bengcu ia berseru,

“Leng Hoat Toyu, kau mundurlah. Biar aku menghadapi bocah she Liok ini. Dia benar, kami sama-sama calon harus mengukur kepandaian dan tidak mengandalkan bantuan kawan.”

“Akan tetapi tadi ia juga mengajukan wakil.“ Leng Hoat Taisu mencoba membantah. Sementara itu, Kong Ji hanya tersenyum dan sebelum Tai Wi Siansu yang ragu-ragu itu mendapat kesempatan menjawab, pemuda ini sudah memberi api.

“Benar, Tai Wi Siansu, kau sudah tua tentu pertempuran tadi membuat kau lelah. Kalau mau mengaso dan mengatur napas dulu, silakan, aku yang muda akan melayani Leng Hoat Taisu, kemudian baru kita main-main. Tidak apa aku mengalah menghadapi dua orang beruntun, sudah sepatutnya yang muda mengalah!“ Senyumnya demikian penuh ejekan sehingga Tai Wi Siansu tidak ada muka lagi untuk mundur. Dengan muka merah saking marahnya. Tai Wi Siansu menggerakkan pedangnya membentak.

“Bocah she Liok. Alangkah sombongmu! Kaukira pinto takut kepadamu? Majulah!“

Melihat kenekatan Tai Wi Siansu terpaksa Leng Hoat Taisu mengundurkan diri dan ia memandang kepada Bu Kek Siansu dengan kepala digeleng-gelengkan dan mukanya memperlihatkan kekhawatiran. Kekalahan atau kemenangan dalam pibu bukanlah hal yang aneh. bahkan kematian dalam pibu tidak pernah dibuat penasaran oleh orang-orang gagah di dunia kang- ouw.

Akan tetapi kettdak-adilan membuat semua orang gagah penasaran dan pertandingan pibu antara Liok Kong Ji dan Tai Wi Siansu dianggap tidak adil. Akan tetapi oleh karena Tai Wi Siansu sendiri yang tidak kuat menghadapi ejekan Liok Kong Ji sudah menyatakan setuju. Tak seorang pun berhak mencampuri pertandingan ini. Mereka yang berpihak pada Tai Wi Siansu kini menonton dengan hati berdebar dan perasaan tegang.

Dengan mulut masih tersenyum Kong Ji memasang kuda-kuda, tubuhnya merendah hampir berjongkok, pedangnya disembunyikan di bawah lengan kiri, sedangkan lengan kirinya bergerak-gerak lambat ke depan dan belakang. Kuda-kuda macam ini tidak dikenal oleh Tai Wi Siansu sungguhpun kakek ini seorang jago pedang yang kenamaan.

Hal ini tidak mengherankan oleh karena Kong Ji, pemuda yang penuh akal dan amat cerdik ini ternyata telah dapat menciptakan kuda-kuda ini menurut Ilmu Pukulan Tin-san-kang dicampur dengan ilmu pedang berdasarkan Pak-kek Sin-ciang yang ia “curi” pelajari melalui Hui Lian! Maka yang mengenal kuda kuda ini hanya dua orang. Ini pun hanya setengah-setengah.

Ciang Le mengenal kuda-kuda ini dengan melihat pedang disembunyikan di bawah lengan kiri sebagai jurus yang hampir sama atau pada dasarnya sama dengan jurus Hok-te-ciong-kiam (Mendekam di Tanah Menyembunyikan Pedang) dari Ilmu Pedang Pak-kek-sin-kiam. Hanya tangan kiri yang jari-jari tangannya dibuka dan digerak-gerakkan lambat-lambat ke depan dan ke belakang itu tidak ada dalam gerakan Hok-te-ciong-kiam, maka Ciang Le menjadi terheran-heran.

Sebaliknya Giok Seng Cu mengenal baik gerakan tangan kiri itu, yang bukan lain adalah gerakan Tin-san-kang, gerakan mengumpulkan tenaga. Sebaliknya gerakan Hok-te-ciong-kiam tadi tidak dikenal oleh Giok Seng Cu. Memang ilmu pedang Pak-kek-sin-kiam-sut biarpun sumbernya sama dengan ilmu silat yang dipelajari oleh Giok Seng Cu dari mendiang Pak Hong Siansu, namun ilmu pedang ini jarang ada yang mengerti sedangkan Ciang Le sendiri pun hanya mempelajari sebagian saja.

Adapun Tai Wi Siansu yang sudah marah, menghadapi pasangan kuda-kuda pemuda itu dan melihat mulut yang tersenyum-senyum mengejek, tak dapat menahan sabar lagi. Kakek ini adalah Ketua Kun-lun-pai, ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali, maka tentu saja ia tidak gentar menghadapi segala macam kuda-kuda yang aneh sekalipun. Ta mengandalkan kekuatan pedangnya dan sambil berseru, “Lihat pedang“ ia menyerang Kong Ji yang kuda-kudanya rendah itu dengan sabetan pada kepala.

Kong Ji memang sudah menanti datangnya serangan ini. Ta mengumpulkan tenaganya menanti datangnya pedang lawan sampai dekat, kemudian sekaligus ia melompat dengan dua macam gerakan. Pedangnya membabat pedang lawan dengan pengerahan tenaga lweekang sedangkan tangan kirinya mendorong ke arah dada dengan tenaga Tin-san-kang sepenuhnya.

“Traanggg...!”

Pedang tipis di tangan Tai Wi Siansu menjadi buntung ujungnya ketika bertemu dengan Pak-kek Sin-kiam, dan dalam kagetnya Tat Wi Siansu sampai kurang memperhatikan datangnya hawa pukulan dari tangan kiri Kong Ji. Tiba-tiba kakek itu berteriak dan terhuyung-huyung mundur sampai enam tindak, terkena pukulan Tin-san-kang pada dadanya!

Wajah Tat Wi Siansu menjadi pucat sekali. Tidak hanya karena pedangnya menjadi buntung, akan tetapi terutama sekali karena hebatnya pukulan Tin san kang yang hawa pukulannya mengenai dadanya. Baiknya ia adalah seorang ahli yang sudah memiliki hawa sinkang di tubuhnya sehingga hawa ini secara otomatis telah dapat menolak pukulan Tin-san kang. Namun karena pukulan ini memang lihai bukan main, tenaga sinkang itu masih kalah kuat, membuat Tai Wi Siansu terhuyung-huyung dan menderita luka di dalam dadanya. Ta merasa dadanya sakit dan napasnya sesak, akan tetapi dengan pengerahan lweekang ia dapat mempertahankan lukanya, kemudian dengan marah ia menyerbu lagi!

Para tokoh yang memihak Tai Wi Siansu menjadi pucat. Sudah jelas bahwa kakek ini terluka dan kalau melanjutkan pertempuran, akan terancam bahaya. Akan tetapi mereka juga maklum bahwa tentu saja Tai Wi Siansu tidak sudi mengalah begitu saja. Dikalahkan oleh seorang begitu muda hanya dalam satu jurus, benar-benar merupakan hal yang sangat memalukan dan lebih baik putus nyawa daripada menyerah dalam sejurus! Pedang buntung di tangan Tai Wi Siansu masih amat lihai bergerak-gerak dan menyambar-nyambar laksana naga mengamuk. Biarpun buntung ujungnya, namun masih tajam dan masih dapat membabat leher atau pinggang lawan!

Akan tetapi, oleh luka-luka di dada itu, tenaga kakek ini makin berkurang dan Liok Kong Ji tanpa mengenal kasihan terus mendesaknya dengan pukulan-pukulan Tin-san-kang dan pedang Pak-kek Sin-kiam selalu menyambar ke arah pedang tipis buntung itu dengan maksud merusak pedang ini sampai tak dapat dipergunakan lagi.

Tentu saja amat kewalahan kakek itu mempertahankan diri. Tidak saja ia harus mempertahankan diri dengan tangkisan-tangkisan terhadap serangan pukulan Tin-san-kang yang dahsyat juga ia harus berhati-hati agar pedangnya jangan bertemu lagi dengan pedang lawan. Hal ini tentu saja membuat permainan pedangnya canggung karena setiap kali harus ditarik mundur dan tidak dilanjutkan dalam serangannya takut kalau terbabat oleh Pak-kek Sin-kiam, maka makin lama makin terdesaklah Ketua Kun-lun pai itu.

Betapapun juga, Tai Wi Siansu patut dikagumi. Ta masih berhasil mempertahankan diri sampai lima puluh jurus Kong Ji menjadi marah dan penasaran kalau tadi hanya berusaha membabat putus pedang kakek ini dan hendak mengalahkan kakek ini tanpa membunuhnya adalah sekarang pedangnya berkelebatan mengarah tempat-tempat berbahava dan pukulan Tin-san-kang dilakukan oleh tangan kirinya mengarah tempat-tempat seperti lambung, ulu hati dan pusar!

Menghadapi gelombang serangan dahsyat ini Tai Wi Siansu yang napasnya sudah empas empis hanya kuat bertahan selama sepuluh jurus. Tiba-tiba pedangnya kena dibabat putus pada tengah tengahnya dan dalam elakannya terhadap pukulan Tin-san kang di dada, ia kurang cepat sehingga pundak kanannya terkena darongan tangan kiri Kong Ji. Kakek itu terpental seperti dilemparkan akan tetapi dapat jatuh dengan kedua kaki di atas tanah dan dalam keadaan berdiri.

Kelihatannya tidak apa-apa, hanya mukanya pucat dan pedang tinggal sepotong masih di tangannya. Tiba-tiba menyambitkan sisa pedang itu ke arah Kong Ji. Pemuda itu memukul pedang lengan tangan kiri sehingga pedang sepotong itu amblas ke dalam tanah tidak kelihatan lagi! Melihat ini, Tai Wi Siansu tiba-tiba muntahkan darah merah dan tubuhnya sempoyongan. Baiknya Leng Hoat Taisu sudah melompat dan memondong tubuhnya mundur.

Kekalahan Tai Wi Siansu sudah sah. Dengan kekalahan ini, berarti ketua Kunlun-pai itu tidak dianggap sebagai calon bengcu lagi, sudah “gugur“ dan harus diganti calon lain. Cam-kauw Sin-kai mendahului Ciang Le. Kakek pengemis ini melompat ke tengah lapangan. Lengan bajunya yang lebar berkibar dan ia sudah berdiri menghadapi Kong Ji. Sebelum pengemis sakti ini membuka mulut, Kong Ji sudah menoleh ke arah See-thian Tok-ong dan berkata,

“See thian Tok-ong, inginkah kau main-main dengan pengemis ini ataukah kau lebih suka nanti menghadapi Hwa I Enghiong?“

Memang Kong Ji pintar bukan main. Ia tahu bahwa Cam-kauw Sinkai seorang yang pandai dan merupakan lawan berat. Bukan ia gentar menghadapinya, akan tetapi baru saja ia merobohkan Tai Wi Siansu. Kalau sekarang ia menghadapi kakek pengemis ini, biarpun ia dapat menang, akan tetapi ia harus menyerahkan tenaga seperti yang tadi lakukan dalam menghadapi Tan Wi Siansu. Dan ini merugikan plhaknya. Kalau ia sudah lelah betul baru menghadapi Ciang Le nanti, berbahayalah kedudukannya. Oleh karena itu, ia hendak mengajukan See- thian Tok-ong dan dengan kata-katanya tadi berhasil memancing keluar See-thian Tok ong.

See-thian Tok-ong sudah pernah merasai kelihaian Ciang Le, maka sekarang mendengar kata-kata Kong Ji tentu saja ia lebih suka menghadapi Cam-kauw Sin-kai dan “menyerahkan“ Go Ciang Le kepada bocah she Liok bekas muridnya yang sekarang sudah menjadi seorang pemuda lihai bukan main itu. Atas pertanyaan Kong Ji tadi, See-thian Tok-ong bertukar pandang dengan puteranya dan di lain saat, Kwan Kok Sun telah bertindak menghampiri Cam-kauw Sin-kai. Melihat ini, Liok Kong Ji seperti seorang penjual obat berkata keras kepada para hadirin,

“Inilah dia Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun, putera tunggal dari See-thian Tok-ong! Dia tentu saja berhak maju mewakili ayahnya. Eh, pengemis bangkotan, kau berhati- hatilah menghadapi Saudara Kwan Kok Sun ini!“

Sambil tertawa, Kong Ji lalu melompat mundur ke dalam rombongannya sendiri di mana diam-diam ia mengumpulkan tenaga dan mengatur napas agar kelelahannya dalam bertanding tadi dapat diusir dan tenaganya menjadi segar kembali dalam persiapan menghadapi lawan yang lebih berat lagi. Sementara itu, ketika Cam-kauw Sin-kai melihat bahwa lawan yang menghdapinya adalah bocah gundul putera See- thian Tok-ong yang terkenal jahat, segera maju membentak.

“Bocah setan, keluarkan senjatamu!" sambil berkata demikian, Cam-kauw Sin kai menggoyang-goyang tongkatnya dengan sikap seperti orang hendak menggebuk anjing. Ini bukan gerakan biasa karena ini merupakan kuda- kuda dari Ilmu Tongkat Cam-kauw-tung-hwat yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw, terkenal sebagai Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing yang sukar dikalahkan.

Kwan Kok Sun menggerakkan hidungnya. “Jembel tua, untuk melawan orang macam engkau saja mengapa mesti mengeluarkan senjata? Kedua tanganku masih kuat untuk merobohkanmu. Majulah“

Bukan main marahnya Cam-kauw Sin-kai mendengar ejekan ini. Ia tadinya sudah segan-segan untuk melawan bocah ini, karena biarpun sudah dewasa, aneh sekali, pemuda gundul ini masih kelihatan seperti seorang anak- anak dari sepuluh tahun. Hanya tubuhnya saja yang besar akan tetapi kedua tangannya kecil, juga mukanya seperti muka anak-anak. Ia segan karena menghadapi Kwan Kok sun, ia seperti hendak bertanding melawan ejekan itu, ia menancapkan tongkatnya ke dalam tanah, lalu melangkah maju membentak.

“Bocah setan, sombong amat kau. Majulah kalau mukamu sudah gatal-gatal ingin ditampar!“

Kwan Kok Sun menyerang dengan kedua kepalan tangannya yang kecil!. Gerakannya kuat dan cepat, mendatangkan desir angin dan tiba-tiba Cam-kauw Sin-kai mencium bau yang amis memuakkan. Ia terkejut sekali dan tahu bahwa sebagai putera See-thian Tok-ong Si Raja Racun, sudah tentu sekali bocah ini pun seorang ahli racun. Hawa pukulan kedua tangannya saja sudah membawa bau racun yang kuat dan berbahaya.

Cepat pengemis sakti ini menyembunyikan tangannya ke dalam lengan baju dan dengan ujung lengan bajunya ia mengebut dan menangkis pukulan pukulan Kwan Kok Sun. Ilmu Silat Cam kauw Kun-hwat memang aneh. Ilmu silat ini diciptakan untuk menghajar orang-orang seperti menghajar anjing, maka gerakan-gerakannya aneh dan anjing yang bagaimana pun galaknya, tentu akan terpukul tunggang langgang dengan ilmu silat ini.

Demikian pula kalau menghadapi lawan manusia, ilmu silat ini amat aneh dan sukar diduga gerakan-gerakannya Giok Seng Cu sendiri ketika menghadapi murid Cam-kauw Sin-kai yakni pemuda Coa Hong Kin, dalam segebrakan saja terkena tamparan di pundaknya oleh pemuda itu yang mempergunakan ilmu Silat Cam-kauw Kun-hoat.

Baru saja bertempur belasan jurus sudah dua kali Kwan Kok Sun kena disentil telinganya oleh Cam kauw Sin-kai dengan ujung lengan baju dan ditampar pundaknya yang membuat pemuda gundul itu terhuyung huyung dan merasa sakit bukan main. Telnganya mengeluarkan darah dan pundaknya serasa retak tulangnya. Ia mengamuk dan tiba-tiba dari jari-jari tangan kiri yang dibuka menyambar sinar hijau. Inilah bubuk racun yang disebarkan ke arah muka Cam-kauw Sin-kai.

Kakek pengemis itu adalah seorang tokoh kang-ouw penggembara yang sudah kenyang makan garam, di samping pengalamannya banyak sekali tentu saja siang siang ia telah mengenal senjata racun ini. Dengan ujung lengan baju dilebarkan ia menggerak-gerakkan kedua tangannya sehingga serangan-serangan racun itu dapat disampok pergi, kemudian sambil berseru keras ia menerjang dengan tendangan berantai. Inilah tendangan That-kauw-soan-hong-twi (Menendang Angin Dengan Tendangan Berputar-putar), sebuah tipu gerakan dalam ilmu Silat Cam-kauw-kunhoat.

Kwan Kok Sun terkejut sekali dan biarpun ia juga memiliki gerakan yang gesit, akan tetapi ia hanya dapat mengelak sampai lima kali tendangan saja. Tendangan ke enam dan ke tujuh dengan tepat mengenai pahanya, membuat tubuhnya terlempar ke belakang dan ke dua kakinya menjadi lumpuh, karena biarpun tulang-tulang pahanya tidak sampai patah, akan tetapi daging puhanya menjadi hitam biru dan jalan darahnya tertahan.

Akan tetapi Kwan Kok Sun benar-benar lihai. Setelah terpental, ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, sehingga jatuhnva di atas tanah dalam keadaan duduk. Ketika Cam-kauw Sin-kai mengejar, ia cepat mengangkat kedua tangannya, digerak-gerakkan bergantian ke depan.

Dilihat begitu saja, seakan-akan Kwan Kok Sun merasa takut dan hendak mencegah Cam-kauw Sin-kai turun tangan lebih lanjut atau maksudnva sudah menerima kalah. Demikian pula tadinya disangka oleh Cam-kauw Sin-kai sehingga pengemis sakti ini tidak membuat penjagaan, bahkan hendak maju menghampiri dan menolong bocah itu berdiri.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa ada angin menyambar dari depan menyerang dadanya dengan hebat. Itulah pukulan Hek- tok ciang yang dilancarkan dan jauh dengan mengandalkan lenaga hoat-sut (sihir) dari barat! Cam-kauw Sin-kai tidak sempat mengelak, maka ia cepat mengerahkan tenaga ke dada menolak. Ia berhasil menolak pukulan itu dan cepat melompat ke samping, akan tetapi pakaiannya di bagian dada menjadi hangus dan kulit dadanya terasa gatal-gatal!

“Kurang ajar!“ serunya dan ia telah mengepal tinju hendak memberi hajaran kepada Kwan Kok Sun, akan tetapi tiba-tiba pemuda gundul itu telah lenyap. Ternyata ibunya, Kwan Ji Nio, telah turun tangan menyambar tubuh puteranya. Tentu saja dengan adanya kejadian ini Kwan Kok Sun dianggap kalah.

Cam-kauw Sin-kai cepat mengeluarkan sebutir pel merah dari saku bajunya dan ditelannya. Ini hanya untuk penjagaan kalau-kalau pukulan Hek-tok-ciang tadi mengakibatkan luka di dalam dada. Kemudian ia mcncabut tongkatnya, karena melihat See thian Tok-ong sudah melompat maju untuk menggantikan puteranya yang kalah.

“Cam-kauw Sin-kai, jangan kau sombong karena dapat mengalahkan anak kecil. Inilah lawanmu!“ Sambil berkata demikian, See-thian Tok-ong mengeluarkan senjatanya yang dahsyat, yaitu sepasar Ngo-tok Mo-jiauw (Cakar Setan Lima Racun) yang amat mengerikan.

Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai sudah maklum bahwa menjadi calon bengcu berarti menghadapi lawan-lawan berat, maka ia sudah siap menghadapi segala resikonya. Setelah berhadapan, dua orang kakek yang berilmu tinggi ini mulai saling menyerang dengan seru. Pertempuran kali ini lebih sengit daripada tadi. Gerakan See-thian Tok-ong benar-benar luar biasa sekali.

Sepasang cakar setan itu bergerak- gerak aneh, seperti menycrang dengan cara membabi buta, akan tetapi sebetulnya gerakan-gerakan ini menurutkan sistim silat yang aneh dan jarang terdapat di pedalaman Tiongkok. Yang amat berbahaya adalah hawa beracun yang keluar dari sepuluh kuku-kuku panjang dan cakar itu. Setiap cakar mempunyai lima kuku panjang dan lima warna yang mengeluarkan bau keras dan tidak enak lima macam, yang satu lebih hebat dari yang lain. Sekali gurat saja dengan kuku cakar setan ini akan mendatangkan maut!

Baiknya Cam-kauw Sin-kai memiliki Ilmu Silat Cam-kauw-tung-hwat yang juga amat aneh gerakan-gerakannya dan sukar diduga perubahan gerakannya. Juga tongkatnya ternyata amat berbahaya karena setiap serangan merupakan totokan atau tusukan maut. Oleh karena itu, tidak mudah bagi See-thian Tok-ong untuk mengalahkan lawannya dalam waktu singkat. Pertahanan Cam-kauw Sin-kai benar-benar kokoh kuat dan tongkatnya kini meupakan lingkaran yang sukar sekali diterobos.

Pertempuran kali ini berjalan sampai seratus jurus lebih, masing-masing mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, maklum bahwa lawan amat berat dan sekali terkena serangan berarti menghadapi bahaya maut. Akan tetapi tak lama pengemis sakti itu makin terdesak. Yang membuat ia tidak kuat adalah bau dari hawa beracun yang keluar dari Ngo tok Ma-Jiauw itu. Biarpun ia sudah menahan napas dan menarik napas amat hati-hati, tidak urung ia terpengaruh juga oleh hawa beracun itu, yang membuat kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang.

Cam-kauw Sin-kai maklum kalau tidak cepat-cepat dapat merobohkan lawannya, ia akan kalah. Sambil berseru keras ia lalu mainkan jurus-jurus terakhir yang paling hebat dari ilmu silatnya. Tongkatnya melayang-layang turun naik dengan gerakan cepat dan aneh. Biarpun See-thian Tok-ong lihai bukan main, ia menjadi terkejut dan bingung. Tak dapat ia menghindarkan diri ketika tongkat itu menusuk dengan cara tusukan bertubi-tubi yang dimulai dari atas ke bawah.

Sebuah tusukan mengenai pangkal lengan kirinya dan untuk sedetik lengan kiri itu menjadi lumpuh sehingga sebuah senjatanya terlepas dari pegangan. Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan, hanya dua tiga detik lebih lambat. Ngo-tok Ngo-jiauw di tangan kanan See-thian Tok-ong berhasil menggurat pundak Cam-kauw Sin-kai!

Kakek pengemis ini merasa pundaknya gatal panas dan seperti ditusuk-tusuk jarum. Cepat ia melompat jauh ke belakang dan begitu ia turun ke tanah, ia lalu mengambil segenggam pil penawar racun yang terus ditelannya! Namun tetap saja ia menjadi limbung dan terpaksa ia duduk di atas tanah, bersila sambil mengerahkan tenaga lweekang untuk mengusir pengaruh racun yang hebat itu.

See-thian Tok-ong mengeluarkan suara ketawa aneh. Tangan kirinya sudah pulih kembali dan kini sepasang Ngo- tok Mo-jiauw sudah dipegangnya dengan sikap menantang. Ta maklum bahwa kakek pengemis itu pasti akan tewas, paling lama dalam waktu dua puluh empat jam lagi.

“Iblis dari barat rasakan pembalasanku!“

Tiba-tiba Coa Hong Kin membentak marah dan pemuda ini mencahut pedang, hendak melompat ke tengah lapangan untuk menuntut balas atas kekalahan suhunya. Akan tetapi sebuah tangan yang amat kuat memegang pundaknya, mencegahnya dan terdengar suara Ciang Le yang tenang dan berpengaruh.

“Dia bukan lawanmu. Biar aku menghadapinya. Tangan kuat yang menahan pundaknya itu terlepas dan tahu-tahu tubuh Ciang Le sudah berada di tengah lapangan menghadapi See-thian Tok-ong. Hong Kin lalu menghampiri suhunya dan dengan bantuan muridnya. kakek pengemis ini berjalan kembali ke dalam rombongannya di mana ia lalu direbahkan d atas rumput dan dirawat oleh Hong Kin dibantu oleh Lie Bu Tek, Hui Lian dan Bi Lan.

Sementara itu, See-thian Tok-ong melihat Ciang Le datang, tanpa banyak cakap lagi segera menyerang dengan Ngo tok Mo-jiauw, menyerang bertubi-tubi dengan sepasang senjata itu. Ciang Le tidak mau berlaku lambat, ia melompat jauh ke kanan untuk menghindarkan diri dan untuk mencabut pedangnya. See-thian Tok-ong sudah pernah merasai kelihatan tangan Ciang Le, maka ia berlaku hati-hati sekali dan dengan penuh perhatian serta pengerahan tenaga dan kepandaian, Raja Racun dari barat ini mulai mendesak Hwa I Enghiong.

Akan tetapi sebentar saja See thian Tok-ong mengeluh di dalam hati. Ilmu pedang dari Hwa I Enghiong benar-benar hebat dan kuat luar biasa. Juga pedang yang digunakan oleh Hwa I Enghiong adalah Kim-kong kiam, pedang yang mengeluarkan sinar emas seperti pedang Pak kek Sin-kiam, akan tetapi sinar pedang Pak-kek Sin-kiam lebih putih dan lebih gemilang. Biarpun demikian pedang Kim kong-kiam termasuk pedang pusaka yang ampuh dan kuat.

Dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Ciang Le, biarpun See-thian Tok-ong memegang Pak-kek Sin-kiam, masih saja ia tidak dapat merobohkan Ciang Le, yang bertangan kosong, maka tentu saja ia sudah cukup maklum akan kelihaian ilmu silat dari Hwa I Enghiong. Akan tetapi sekarang lain lagi keadaannya, See-thtan Tok-ong memegang sepasang senjatanya yang diandalkan, yaitu Ngo-tok Mo-jiauw dan dalam hal ilmu silat dengan Ngo-tok Mo-jiauw sesungguhnya Raja Racun ini jauh lebih lihai daripada kalau ia menggunakan senjata lain.

Ia telah mencipta ilmu silat yang khusus untuk mainkan sepasang senjata yang mengerikan itu. Dan di samping ini, betapapun lihai Hwa I Enghiong Go Ciang Le, seperti Cam-kau Sin-kai tadi ia pun mulai terkena pengaruh bau senjata aneh Ngo-tok Mo-jiau tadi.

“Celaka,“ pikir Ciang Le sambil memutar pedang Kim-kong-kiam lebih hebat lagi. “aku harus cepat-cepat merobohkanya!“

Setelah mengambil keputusan ini dan melihat kesempatan, Ciang Le lalu menyerang dengan Ilmu Pedang Pak-kek Kiam-hoat bagian yang paling lihai. Pedangnya berkelebat mengancam dari atas seperti burung elang menyambar- nyambar kepala mengeluarkan angin dan suara mendesing-desing mengerikan.

See thian Tok-ong terkejut sekali, tahu bahwa serangan ini merupakan ancaman maut yang dapat memenggal leher atau memecahkan kepalanya, maka ia lalu mengerahkan dan menggunakan sepasang Ngo-tok Mo-jiauw untuk melindungi kepala dengan memutarnya seperti kitiran cepatnya. Akan tetapi tiba-tiba Ciang Le berseru.

“Pergilah!“

Tubuh See-thian Tok ong yang besar itu terlempar seperti batang pohon dilontarkan angin kuat. Inilah kehebatan jurus Ilmu pedang yang dimainkan oleh Ciang Le tadi. Nampaknya hebat dan dahsyat menyerang kepala, tidak tahunya kelihaiannya terletak pada serangan lanjutan yang dilakukan oleh kaki!

Ternyata bahwa pedang yang menyambar-nyambar tadi hanya pancingan belaka agar lawan yang bagaimana kuat pun akan melindungi kepalanya dan kurang memperhatikan tubuh bagian bawah. Oleh karena itu, dengan mudah Ciang Le dapat menendang perut See-thian Tok-ong sehingga tubuh Raja Racun itu terlempar jauh!

Akan tetapi Ciang Le juga terkena pengaruh hawa beracun sehingga mukanya agak pucat. Baiknya tendangannya tadi kuat sekali sehingga betapapun kuat tubuh See-thian Tok-ong, tendangan itu telah mendatangkan luka di dalam perutnya dan tidak memungkinkan Raja Racun ini bertempur terus. Maka tentu saja dianggap kalah dan gagal dalam pemilihan bengcu. Orang-orang yang berpihak kepada Hwa I Enghiong bersorak menyambut kemenangan ini. See-thian Tok-ong dirawat oleh delapan orang kawannya, para busu yang menyamar.

“Hwa l Enghiong jahanam..." tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat luar biasa dan tahu-tahu Kwan Ji Nio sudah menyerangnya dengan ranting bambu, menotok matanya.

Ciang Le melompat jauh ke belakang ia ragu-ragu, karena selain kepalanya masih pening akibat pengaruh hawa beracun dari Ngo-tok Mo-jiauw, juga ia merasa segan-segan untuk melayani seorang wanita.

“Mengasolah!“ tiba-tiba ia mendengar suara bisikan isterinya yang tahu-tahu telah berada di dekatnya. Ciang Le mundur, dan kini Bi Lan menghadapi Kwan Ji Nio. Dua orang tokoh wanita yang berilmu tinggi saling berhadapan, bagaikan dua ekor singa betina hendak saling terkam.

“Kwan Ji Nio, benar-benar girang sekali hatiku dapat bertemu dengan engkau di sini. Akan puas hatiku dapat melanjutkan pertandingan yang dahulu.“

Memang kurang lebih sembilan tahun yang lalu, dalam perebutan Pak-kek Sin-kiam, pernah Kwan ji Nio bertempur melawan Liang Bi Lan dan See-thian Tok-ong bertanding melawan Go Ciang Le, sedangkan Kok Sun bertempur menghadapi Go Hui Lian yang ketika itu, sebagaimana dapat diikuti dalam cerita bagian depan, tidak dilanjutkan karena Ciang Le, menawan Kok Sun dan memaksa suami isteri dari barat itu mengembalikan pedang unuk ditukar dengan Kok Sun.

Sekarang dua orang wanita kosen itu berhadapan lagi. Keduanya sama usianya, kurang lebih empat puluh tahun, sama cantiknya dan sama ramping tubuhnya. Akan tetapi sikap Bi Lan nampak jauh lebih gagah.

“Kau menggantikan suamimu untuk menjenguk neraka! Baik, bersiaplah untuk mampus!“ bentak Kwan Ji Nio yang serentak mengirim serangan bertubi-tubi dengan rantingnya.

Gerakannya cepat bukan main karena nyonya ini adalah ahli ilmu meringankan tubuh yang disebut Te in-hang (Lompatan Tangga Awan) sehingga ketika ia bergerak dalam serangan-serangannya, tiada ubahnya seperti seekor burung walet menyambar-nyambar. Kedua kakinya seperti tak pernah menyentuh tanah.

Bi Lan mengeluarkan suara ketawa mengejek dan di lain saat nyonya ini pun lenyap dari pandangan mata. Hanya sinar pedangnya saja yang nampak, menjadi gulungan sinar yang bundar, dan kedua kaki yang kadang-kadang kelihatan menyentuh bumi menyatakan bahwa nyonya ini masih ada di dalam bungkusan gulungan sinar pedang itu! Kali ini Kwan Ji Nio menemui batu keras! Kali ini ia menjumpai tandingan yang juga seorang ahli ginkang luar biasa.

Bi Lan telah mendapat latihan ginkang dari orang aneh, sepasang tosu kembar bernama Thian-te Siang-mo yang memiliki ginkang luar biasa (baca Pendekar Budiman). Dahulu ketika masih muda, Bi Lan telah dijuluki orang Sian- li Eng-cu (Bayangan Bidadari) karena memang gerakannya amat cepat sehingga kalau ia bergerak, yang kelihatan hanya bayangannya saja.

Kali ini pertempuran benar-benar hebat, mengalahkan kehebatan pertempuran yang lalu. Hal ini memang tidak aneh, karena keduanya adalah ahli-ahli gin-kang yang kepandaiannya sudah memuncak, maka dalam pertempuran ini, orang-orang hanya melihat gulungan sinar pedang dan gulungan sinar ranting yang saling belit dan saling tindih menjadi satu sukar diketahui mana yang lebih kuat.

Delapan puluh jurus telah lewat dan pertempuran makin memuncak saking ramainya. Hui Lian berdiri menonton sambil meremas-remas tangannya. Ta merasa meyesal mengapa tidak dia saja yang tadi menggantikan ayahnya. Ta khawatir kalau-kalau ibunya akan kalah, sungguhpun ia dapat melihat betapa ibunya kini medesak hebat kepada Tawannya.

Kalau dia yang maju, Hui Lian merasa pasti dapat merobohkan Kwan Ji Nio, paling lama dalam pertandingan lima puluh jurus. Biarpun masih kalah hebat dalam ginkang oleh ibunya akan tetapi dalam ilmu pedang, kiranya ia masih lebih mahir daripada ibunya. Tni adalah karena dia telah mempelajari Pak-kek Kiam-sut sedangkan ibunya tidak.

Akan tetapi ketika memperhatikan lagi, Hui Lian menarik napas lega. Tbunya pasti menang, dan benar saja, terdengar jerit kesakitan, ranting terlempar jatuh dan tubuh Kwan Ji Nio melompat ke ke belakang. Ta jatuh dengan kedua kaki di atas tanah, terhuyung huyung dan darah mengucur dari pahanya. Cepat Kong Ji menyuruh ahli-ahli pengobatan rombongannya merawat. Sejak tadi pun ia sudah menyuruh kawan-kawannya merawat See-thian Tok-ong dan Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun.

See-thian Tok-ong yang melihat pihaknya kalah semua, tentu saja menerima baik bantuan pemuda ini karena setelah dia dan anak isterinya kalah, paling baik sekarang menjagoi Kong Ji dan membantunya! Demikianlah sifat orang jahat. Mudah berubah, penjilat, dan pengecut. Selalu memilih tempat untuk keuntungannya sendiri tanpa memperdulikan kegagahan, keadilan, dan kejujuran.

Kini dari pihak Liok Kong ji muncul Giok Seng Cu. ”Aku mewakili Tung-nam Tui-bengcu,” katanya dengan suara kasar, “sekarang calon yang masih ada hanyalah Tai bengcu dan Go Ciang Le. Semenjak dahulu, Hwa I Enghiong hanya nienyembunyikan diri saja, mengapa sekarang tiba-tiba muncul hendak menduduki kursi bengcu? Apakah dia benar-benar begitu ingin menjadi bengcu?” Ucapan Giok Seng Cu ini penuh sindiran, membuat Bi Lan marah sekali.

“Giok Seng Cu, suamiku mengingini kedudukan bengcu masih tidak begitu memalukan, tidak seperti engkau yang begitu merendahkan diri menjadi kaki tangan seorang penjahat muda yang pernah menjadi muridmu. Di manakah kulit mukamu? Ketahuilah, suamiku tidak begitu ingin menjadi bengcu, hanya karena pilihan orang lain maka terpaksa ikut dalam lomba ini. Akan tetapi bukan semata-mata untuk meramaikan pemilihan, melainkan semata-mata untuk menghadapi manusia-manusia jahat yang hendak mempergunakan kepandaian menduduki kursi bengcu!“

Giok Seng Cu tersenyum mengejek “Bi Lan, kau masih saja bermulut besar seperti dulu. Pergilah dan biarkan suamimu yang maju!“ Giok Seng Cu melakukan tantangan ini karena ia melihat Hwa I Enghiong Go Ciang Le masih bersila sambil meramkan mata mengira bahwa CiangLe masih terluka dan karenanya iato bera ni menantang.

“Untuk melayani manusia rendah macam engkau saja, cukup dengan pedangku. Majulah!“ kata Bi Lan sambil menyerang.

Terjadi pertempuran hebat yang ke lihatannya berat sebelah karena Giok Seng Cu hamya bertangan kosong. Akan tetapi pada hakekatnya, kakek rambut pandang inilah yang mendesak Bi Lan dengan pukulan- pukulan Tin-san-kang. Sedangan pedang Bi Lan cukup ia layani dengan kibasan kedua lengan bajunya saja, sedangkan pukulan-pukulan Tin-san-kang dari jarak jauh membuat Bi Lan kewalahan. Nyonya ini baiknya memiliki kegesitan luar biasa sehingga dapat mengelak ke sana ke mari, hanya hawa pukulan saja yang menyerempet dan membuat pakaiannya berkibar-kibar. Akhirnya Bi Lan tak kuat menghadapi lawannya lebih lama lagi, ia bertempur sambil mundur.

“Ibu, kau sudah lelah. Biar aku menggantikanmu!” tiba- tiba terdengar bentakan nyaring dan Hui Lian sudah menyerang Seng Cu dengan pedangnya, sedangkan Bi Lan lalu melompat mundur untuk beristirahat karena ia betul betul lelah menghadapi Giok Seng Cu yang lihai.

Sebelum tertangkap oleh Kong Ji, Hui Lian sudah bertempur melawan Giok Seng Cu dan telah melukai kulit lengannya dengan ujung pedangnya. Oleh karena inilah gadis itu menjadi berani dan besar hati menghadapi Giok Seng Cu yang dianggapnya bertenaga besar akan tetapi tidak memiliki kepandaian tinggi.

la tidak tahu bahwa ketika melawannya sampai tergores pedang kulit lengannya, Giok Seng Cu tidak melawannya dengan sungguh-sungguh. Kakek ini tidak berani melukainya seperti yang dipesan oleh Kong Ji dan dalam pertempuran seperti itu, Giok Seng Cu hanya mengelak dan tak pernah menyerangnya. Serangan satu-satunya yang diajukan selalu hanyalah usaha untuk menangkapnya hidup-hidup tanpa melukai dirinya. Tentu saja dalam pertempuran seperti itu, Giok Seng Cu tidak dapat mengeluarkan semua kepandaiannya dan karena itulah ia sampai terluka oleh goresan pedang Hui Lian.

Akan tetapi sekarang lain lagi. Mereka berada di gelanggang pertempuran yang sungguh-sungguh dan tak terdengar perintah sesuatu dari Kong Ji. Oleh karena inilah Giok Seng Cu lalu menyerang dengan sepenuh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya. Hui Lian terkejut dan cepat-cepat melakukan perlawanan sengit.

Kong Ji berdiri tegak dengan hati tak enak. Tadi ia sudah terkejut sekali melihat munculnya Hui Lian dan Coa Hong Kin yang ternyata telah ditolong oleh Wan Sin Hong. Gagallah rencananya unmemaksa Ciang Le dengan mengancam Hui Lian yang sudah tertawan. Sekarang ia melihat gadis itu melakukan perlawanan sengit terhadap Giok Seng Cu, benar-benar hatinya tidak enak sekali. la dapat meramalkan bahwa nona itu pasti akan kalah oleh Giok Seng Cu.

Hal ini memang tidak apa-apa baginya, akan tetapi ia tahu betul akan silat kepandaian Giok Seng Cu. Kakek ini mengandalkan kelihaiannya semata-mata atas kemahiran ilmu silat dan senjatanya yang ampuh adalah Pukulan Tin-san-kang. OLeh karena setiap orang lawan dari kakek ini kalau kalah tentu akan roboh terkena pukulan Tin-san-kang dan ini berarti lima bagian tewas, tiga bagian terluka berat di dalam tubuh dan hanya dua bagian masih ada harapan hidup!

Bagi Kong Ji, kalau sampai Hui Lian tewas memang tidak apa-apa. Akan tetapi di dalam hati kecilnya ada rasa sayang kepada bekas sumoinva ini dan ia tidak tega kalau melihat Hui Lian tewas. Apalagi ia tahu bahwa kalau hal ini terjadi, permusuhan dengan pihak Hwa I Enghiong akan menjadi makan besar dan selamanya ia takkan merasa aman lagi. Dengan orang seperti Go Ciang Le itu lebih aman bersahabat daripada bermusuh, lebih baik menjadi kawan daripada menjadi lawan. Setidaknya jangan menanam rasa permusuhan besar dan dendam yang melahirkan pembalasan-pembalasan.

Diam-diam Kong it mengeluarkan suatu dari saku bajunya dan memandang ke arah pertempuran dengan penuh perhatian. Saat yang dikhawattrkan tiba. Ketika nona itu menyerang dengan pedangnya secara cepat sekali. Giok Seng Cu membuang diri ke kiri, terus bergulingan di atas tanah. Ini merupakan pancingan yang hanya dimengerti oleh Kong ji. Akan tetapi Hui Lian mengira bahwa ia telah dapat mendesak, maka dengan hati besar ia mengejar.

Tiba-tiba Giok Seng Cu membalikkan tubuh dan selagi tubuhrnya masih mendekam, ia mengirim pukulan Tin-san kang ke arah Hui Lian! Inilah hebatnya pancingan itu. Pukulan Tin-san-kang memang dilakukan dengan tubuh merendah, makin rendah makin kuatlah pukulan itu, maka dalam bergulingan Giok Seng Cu selain memancing lawan datang mengejar, juga dapat mengatur kedudukan yang amat baik untuk melakukan pukulan tiba-tiba.

Hui Lian melihat ini dan mengerti namun terlambat. Ketika ia mengelak angin pukulan Tin san-kang sudah menghantamnya biarpun ia sudah mengelak, pundaknya masih terdorong, membuat ia terguling! Giok Seng Cu mengeluarkan seruan girang, melompat dan mengejar, bermaksud mengirim pukulan ke dua yang tentu akan mematikan gadis itu. Terdengar Bi Lan menjerit dan Ciang Le menahan napas. Tentu saja kalau mereka mau, mereka dapat menyerang Giok Seng Cu, akan tetapi ini bukanlah laku orang gagah. Mereka ini lebih baik kehilangan puteri daripada harus melanggar peraturan kang-ouw.

Pada saat Giok Seng Cu memukul, kakek ani berteriak kesakitan mengurungkan pukulannya, bahkan ia sendiri terhuyung-huyung lalu berlari mendekati Kong Ji. Di pundaknya telah menancap tiga batang Hek-tok-ciam (Jarum racun Hitam) yang dilepas oleh Kong Ji dalam usahanya menolong Hui Lian.

Dengan muka sebentar pucat sebentar merah Hui Lian kembali ke rombongannya. Kong Ji setelah mengobati pundak Giok Seng Cu, lalu melompat ke tengah lapangan. Ciang Le juga melompat menghadapinya dengan Hwa I Enghlong berkata singkat.

“Kami telah berhutang nyawa anak kami kepadamu.“

Kong Ji menjura dengan hormat. “Harap maafkan Giok Seng Cu Suhu yang lancang tangan. Memang tidak sedikit pun aku mempunyai maksud bermusuhan denganmu. Kalau saja kau suka mengalah dan membiarkan aku menduduki kursi bengcu, bukankah ini berarti saling menolong dan menghindarkan pertandingan pertandingan yang membahayakan nyawa?”

Ciang Le tak dapat menjawab. ia bingung sekali. Ia memang harus membela kedudukan bengcu agar jangan terjatuh dalam tangan orang seperti Kong Ji. Akan tetapi di lain pihak, sebagai seorang gagah ia harus ingat budi. Betapapun jahatnya Kong Ji, baru saja tak dapat disangkal bahwa tanpa pertolongan Kong Ji yang mengorbankan pembantunya sendiri sampai dilukainya, sudah dapat ditentukan nyawa Hui Lian melayang di tangan Giok Seng Cu. Budi menolong nyawa adalah budi besar, hanya dapat dilunasi dengan menolong nyawa pula. Ciang Le berdiri bengong, kagum dan juga ngeri menyaksikan kelicikan dan kepintaran Liok Kong Ji. Bocah ini benar-benar seorang iblis yang kelak akan membahayakan dunia.

Pada saat itu, terdengar suara orang-orang yang hadir di situ dan semua mata memandang ke satu jurusan. Tentu saja Kong Ji dan Ciang Le juga tertarik dan mereka ikut menoleh. Kong Ji mengeluarkan seruan marah dan kaget sedangkan Ciang Le terheran-heran ketika melihat siapa yang datang itu.

Dengan sikap gagah dan senyum yang menambah cantiknya. Siok Li Hwa berjalan diikuti oleh pasukannya dan di sampingnya berjalan seorang pemuda membikin kaget, marah, dan heran semua orang. Pemuda itu yang berjalan dengan sikap tenang dan sederhana, sepeti juga sederhananya pakaiannya, bukan lain adalah Wan Sin Hong.

Kong Ji kaget setengah mati hampir ia tak dapat mempercayai kedua matanya sendiri. Wan Sin Hong sudah menjadi korban jarum Hek-tok-ciam dan jarum hijau dari Li Hwa, bagaimana sekarang datang lagi dalam keadaan segar dan sehat? Dan mengapa sekarang berjalan dalam suasana persahabatan dengan Li Hwa? Hatinya berdebar tidak karuan dan ia merasa tidak enak.

Sebaliknya, Ciang Le tidak heran melihat Wan Sin Hong dalam keadaan masih hidup dan sehat karena ia sudah mendengar dari Lian tadi siapa adanya orang yang terkena jarum-jarum yang dilepas oleh Kong Ji dan ketua Hui-eng-pai. Ia hanya heran melihat Wan Sin Hong berani muncul di tempat itu.

Bagaimanakah Wan Sin Hong yang tadinya sudah roboh oleh jarum rahasia dan dibawa pergi tubuhnya oleh seorang aneh yang bermuka merah dan dikejar oleh Li Hwa, kini datang dalam keadaan sehat bersama Siok Li Hwa? Mengapa mereka tidak kelihatan bermusuhan dan kemanakah perginya Si Muka Merah yang aneh tadi? Baiklah kita mengikuti pengalaman Hui-eng Niocu Siok Li Hwa ketika melakukan pengejaran kepada Wan Sin Hong yang dipondong pergi oleh manusia muka merah yang aneh...