Tangan Gledek Jilid 50

Tangan Gledek Jilid 50

Tiang Bu melengak. Tidak tahunya "pemuda" itu adalah Pek Lian, gadis yang dulu pernah ia kagumi, gadis cantik yang bijaksana dan lihai bersama Ang Lian adiknya. Dua orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin.

"Adik Pek Lian dan Ang Lian...! Kiranya kalian ini? Bagaimana kalian bisa berada di sini dan dengan siapa kalian datang,"

Saking girangnya Ang Lian melangkah maju dan memegang kedua tangan Tiang Bu. "Saudara Tiang Bu, benar-benar girang hatiku dapat bertemu dengan kau di tempat setan ini. Kalau ada kau di sini, aku tidak takut lagi biar ada lima orang Liok Kong Ji muncul. Dan enci Pek Lian tentu seratus kali lebih girang dari pada aku. Kau tahu, ayah juga ikut datang bersama Wan-bengcu dan yang lain-lain. Mereka juga tentu girang dapat bertemu dengan kau. Baik sekali pertemuan ini, lengkap selengkap-lengkapnya. Biar aku nanti bicarakan urusan perjodohanmu dengan enci Pek Lian."

"Hush, Ang Lian..." Pe k Lian mencegah dengan muka berubah merah sekali.

“Hush apa lagi? Bukankah kau selalu merindukan dia ini? Sekarang sudah berhadapan muka, pakai malu-malu apa lagi? Aku akan bicarakan dengan ayah dan Wan bengcu...”

“Setan, jangan sembarang bicara! Kalau... kuceritakan kepada Ciu twako... Pek Lian balas menggoda. Menelengar ini, Ang Lian menjadi kewalahan dan tak berani banyak bicara lagi.

Sementara itu, mendengar kata-kata dari Ang Lian ini, Tiang Bu menjadi bingung sekali. Percuma saja mencegah seorang gadis seperti Ang Lian berhenti mengoceh. “Aku sedang mengejar-ngejar Liok Kong Ji,” katanya kemudian. Ia melirik beberapa kali ke arah tempat persembunyian Bi Li dan sebelum ia memanggil Bi Li, gadis ini sudah mucul sambil memondong Leng Leng.

Pek Lian dan Ang Lian kaget lagi, memandang kepada Bi Li dengan penuh curiga. “Apakah dia ini seorang selir Liok Kong Ji?” tanya Ang Lian yang lancang mulut dan salah duga.

“Nona Ang Li an, jangan salah duga. Dia ini adalah nona Wan Bi Li dan...”

"Astaganaga...!” Ang Lian meloncat dan memeluk Bi Li dengan mesra. "Maafkan aku, enci Bi Li. Kau boleh tampar mulutku yang lancangg. Aduh... jadi kau ini adik Wan Sun twako? Pantas... pantas akan tetapi...” ia melihat lengan kiri yang buntung itu dan tak dapat melanjutkan kata-katanya, akan tetapi dari sepasang matanya mengucur air mata. Biarpun ia kasar dan jujur, namun hati Ang Lian baik sekali ia terharu melihat lengan tangan Bi Li buntung dan ia tak pernah mendengar tentan g hal ini.

Sebaliknya, Bi Li mempunyai hati yang keras. Ia maklum apa yang menyebabkan Ang Lian mengucurkan air mata. Ini saja sudah melenyapkan kemendongkolan hatinya ketika Ang Lian mengira dia ”selir" Liok Kong Ji. "Adik yang manis kau mau tahu? Lenganku ini buntung oleh pedang Liok Kong Ji..."

Ang Lian membanting-banting kakinya. "Bangsat besar Liok Kong Ji. Kali ini ia takkan mampu lolos dari hukuman! Enci Bi Li, tahukah kau, kakakmu juga berada dengan kami?”

Ang Lian mengira bahwa BI Li tentu akan girang sekali mendengar ini, akan tetapi Bi Li malah mengerutkan kening, agaknya berita itu tidak menggembirakan hatinya benar. Memang, dalam keadaannya seperti sekarang, buntung lengannya. Ia sudah tawar hatinya untuk bertemu dengan siapa juga. Memilukan saja, pikirnya.

"Anak ini... anak siapakah?” tanya Pek Lian, sikapnya hati-hati dan sejak munculnya Bi Li, ia mendapat firasat yang tidak menyedapkan hatinya. Berkali-kali ia memandang dari Tiang Bu kepada Bi Li dan hatinya menduga-duga.

“Dia itu kami rampas dari tangan Liok Kong Ji. Tiang Bu menerangkan. "Kami sendiri tidak tahu dia anak anak siapa, hanya naman ya Leng Leng."

"Ahh, dia ini anak Wan bengcu!" Ang Lian berkata girang sambil meraih Leng Leng dari pondongan Bi Li sampai bocah itu sadar dari tidurnya dan memandang bingung. "Benar, dia anak Wan-bengcu. Bukankan namamu Wan Leng, anak manis?"

Leng Leng mengangguk-angguk kepada gadis yang tak dikenalnya ini. Ang Lian menciuminya, "Syukur, syukur, syukur... alangkah akan girangnya hati Wan bengcu dan isterinya!"

Karena percakapan itu tidak karuan juntrungnya, Tiang Bu lalu minta dua orang gadis itu menceritakan keadaannya. Ang Lian menyerahkan Leng Leng yang diminta oleh Pek Lian, kemudian ia bercerita.

"Kami sebelas orang datang untuk menyerbu Pek-houw-to, akan tetapi tak menjumpai siapa-siapa kecuali para selir dan pelayan wanita yang tidak berarti. Ayah, aku dan enci Pek Lian ini sebetulnya bertugas menjaga perahu. Akan tetapi karena sudah hampir sore mereka belum kembali, ayah lalu memperkenankan aku dan enci Pek Lian untuk menyusul mereka. Sebelum kami bertemu dengan seseorang di antara mereka, tahu-tahu malah bertemu dengan kau dan ternyata Leng-ji sudah tertolong. Menurut keterangan Wan-bengcu, Leng-ji ini dibawa ke sini oleh Cun Gi Tosu."

Tiang Bu mengangguk-angguk. Ia merasa girang sekali bahwa bocah yang ditolongnya itu ternyata puteri Wan Sin Hong. Ngeri ia memikirkan kalau sampai bocah itu tewas dalam pertempuran tadi.

"Keadaan di sini masih amat berbahaya," katanya kemudian kepada dua orang gadis enci adik itu. "Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong masih berkeliaran dan sedang kami kejar-kejar. Lebih baik kalian kembali kepada ayah kalian dan bawalah Leng-ji ini agar aman dan terlindung di sana, sambil menanti kembalinya Wan-siok-siok."

Ang Lian mengangguk-angguk, akan tetapi Pek Lian berkata. “Apakah... apakah tidak baik kalau aku membantumu menghadapi Liok Kong Ji?”

Sebelum Tiang Bu menjawab, Bi Li berkata, “Tiang Bu, tentu baik sekali kalau… enci Pek Lian ini membantumu. Tentu dia memiliki kepandaian tinggi dan karenanya kau akan lebih kuat kedudukanmu."

Tiang Bu seorang yang perasa sekali. Dalam ucapan ini ia menangkap nada yang membayangkan hati sakit, maka ia bingung dan cepat ia berkata kepada Pek Lian. “Nona Pek Lian, bukan aku tidak mengharap bantuanmu. Akan tetapi harus kau ketahui bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong lihai sekali. Kau bukan lawan mereka."

Ketika melihat pandang mata Pek Lian beralih kepada Bi Li seakan-akan bertanya mengapa kalau Bi Li boleh bersama dia, Tiang Bu cepat berkata, "Ketahuilah, nona Wan Bi Li adalah sebagai murid terkasih dari Ang jiu Mo-li dan memiliki kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya diri pada kalian, masih tidak mampu membantuku mengalahkan Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong."

Mendengar ini, dua orang enci adik itu merasa kagum kepada Bi Li. Kiranya nona butung ini lebih lihai malah dari pada mereka! Akhirnya mereka lalu menurut, membawa pergi Leng Leng untuk kembali kepada ayah mereka yang masih menanti di pantai menjaga perahu.

Tiang Bu dan Bi Li terus mencari jejak Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong. Akan tetapi malam tiba dan sepasang muda-mudi ini terpaksa melewatkan malam gelap di dalam sebuah gua untuk berlindung dari serangan hawa dingin. Tiang Bu yang amat memperhatikan Bi Li melihat perubahan pada sikap gadis itu. Setiap kali bertemu pandang, dari sepasang mata dia itu memancar sinar kemarahan yang aneh. Semua ini ia dapat melihat di bawah penerangan api unggun yang ia buat untuk mengusir nyamuk yang banyak terdapat di dalam gua di tepi pantai itu.

Ia menduga-duga dan kecerdikannya membuat ia dapat mengetahui bahwa gadis ini tentu merasa cemburu dan penasaran karena kata-kata yang keluar dari mulut Ang Lian yang amat lancang tadi tentang Pak Lian yang rindu kepadanya! Dugaannya memang tepat dan hal ini dinyatakan oleh Bi Li yang kini mulai membuka mulut bicara setelah sejak tadi diam cemberut saja.

“Tiang Bu, kau tentu sudah kenal baik sekali dengan Huang ho Sian-jin, bukan?”

Diam-diam Tiang Bu geli hatinya. Ia tahu bahwa gadis ini sebetulnya hendak bertanya bahwa ia mengenal baik dua orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin tadi, akan tetapi Bi Li sengaja bicara memutar.

“Tidak,” jawabnya sungguh-sungguh dan jujur. "Baru satu kali aku bertemu dengan orang yang gagah itu." Ia menceritakan bahwa dahulu ia menolong piauwsu yang dirampas barang-barang berharganya oleh Ang-Lian dan Pek Lian, kemudian ternyata bahwa barang-barang berharga itu dirampas oleh anak Huang-ho Sian jin untuk dibagi-bagikan kepada rakyat yang menjadi korban banjir.

“Pantas saja kalau begitu. Ayahnya seorang tokoh besar yang gagah budiman, dua orang gadis itupun gagah dan cantik-cantik sekali, apalagi yang bernama Pek Lian tadi. Tiang Bu, kau patut menjadi mantu Huang-ho Sian-jin!”

Nah, ini dia maksud hatinya yang penuh cemburu, pikir Tiang Bu. “Bi Li mengapa kau bicara begitu? Jangan kau perhatikan ucapan Ang Lian yang sejak dulu memang tukang menggoda orang dan bicaranya sangat sembrono. Ang Lian masih seperti anak-anak, kalau bicara tidak tahu kira-kira dan mudah saja menjodoh-jodohkan orang.”

"Tiang Bu, apakah kau tidak berani mengaku bahwa Pek Lian seorang gadis cantik dan gagah?” Bi Li memandang tajam.

"Memang," jawab Tiang Bu jujur, "tak dapat disangkal lagi, Pek Lian seorang gadis yang cantik. Akan tetapi hatiku telah tertawan oleh seorang gadis lain bernama Wan Bi Li...“

“Siapa ketahui hati laki-laki? Tiang Bu, kan lebih cocok dan setimpal kalau berdampingan dengan Pek Lian."

“Bi Li, harap kau sudahi percakapan ini…!” Tiang Bu memegang tangan Bi Li dengan mesra. “Kau sudah mengetahui isi hatiku. Selain enkau, tak mungkin di dunia ini ada wanita yang dapat kucinta seperti aku mencintaimu."

Akan tetapi Bi Li tak dapat melupakan sinar mata yang memancar keluar dari mata Pek Lian ketika gadis berpakaian pria itu memandang Tiang Bu, penuh kasih sayang dan kekaguman. Mendengar ucapan Tiang Bu ini, ia menunduk dan pikirannya melayang-layang.

"Tiang Bu, kalau urusan di pulau ini sudah selesai, apa ke hendakmu selanjutnya?" akhirnya dia bertanya perlahan.

"Pertama tama, minta Wan-siok-siok mengurus pernikahan kita!” jawabnya tegas.

Cahaya kemerahan dari api unggun menyembunyikan warna merah yang menjalari muka Bi Li. Ia masih menunduk dan menarik tangannya yang dipegang Tiang Bu, lalu jari-jari tangan itu bermain-main dengan sehelai rumput. “Setelah itu...?” desaknya.

"Setelah itu? Ah. Bi Li. Alangkah bahagianya kalau kita sudah menjadi suami isteri. Cita-citaku hanya untuk membahagiakan hidupmu. Sisa hidupku akan kupergunakan untuk menyenangkan hatimu. Aku ingin merantau ke seluruh permukaan bumi ini bersamamu akan kuajak kau menjelajah di empat penjuru dunia! Bukankah senang sekali?” Kembali ia memegang tangan Bi Li yang berkulit halus.

Ucapan ini membuat hati Bi Li terasa perih sekali. Tak dapat disangkal lagi, ia mencinta pemuda ini, mencinta dengan sepenuh hati karena segala gerak-gerik dan tindak-tanduk pemuda ini benar-benar memikat hatinya. Akan tetapi ucapan tadi, pergi merantau berdua di empat penjuru dunia, benar-benar mendatangkan bayangan dan renungan yang membuat hatinya perih. Ia dapat membayangkan betapa dia dengan lengan buntungnya mengawani Tiang Bu di mana-mana.

Tiang Bu, seorang pemuda yang gagah perkasa, yang kelak pasti akan dipuji-puji oleh dunia kangouw karena selain memiliki kepandaian tinggi juga mempunyai pribudi luhur, dengan seorang isteri berlengan buntung dan yang hanya akan menjadi tontonan yang menggelikan orang! Tiang Bu dikagumi dan dipuji puja. Sedangkan dia sebagai isterinya akan selalu menerima pandang mata orang yang memandang dengan sinar mata mengandung kasihan bahkan ejekan! Akan kuatkah hati Tiang Bu manghadapi ini semua? Kelak akan tiba saatnya Tiang Bu bertemu dengan seorang seorang gadis cantik jelita yang lebih gagah dari padanya, gadis yang utuh badannya, tidak buntung lengannya. Dan Tiang Bu akan jatuh hati betul-betul, dia akan... akan dilupakan!

“Tidak... tidak...!" Bi Li menutupi jari-jari tangannya ke depan mukanya yang menjadi pucat.

“Bi Li? kau kenapa?”

Bi Li dapat menguasai hatinya yang terkacau oleh bayangan tadi. Ia menggeleng kepalanya dan berkata. "Aku tidak mau merantau, hal itu hanya akan memalukan saja, Tiang Bu. Dengan lengan seperti ini...“

"Aku tidak malu, Bi Li! Bahkan kebuntungan lenganmu itulah yang menambah besarnya cintaku kepadamu. Akan kuperlihatkan kepada dunia bahwa aku bangga mempunya kau di sampingku, bahwa aku sama sekali tidak malu karena kau cacad. Coba, siapa berani mengejek atau menghinamu karena cacadmu tentu akan kuhajar habis-habisan!”

Bi Li terharu sekali. Ia percaya akan cinta kasih pemuda saperti Tiang Bu ini, dan tidak terasa lagi tangannya memegang lengan pemuda itu dengan penuh terima kasih. Kemudian ia menarik kembali tangannya dan bertanya,

"Tiang Bu, andaikata... ini andaikata saja... perjodoban kita tidak dapat berlangsung, apa yang hendak kau kerjakan?"

Dengan pertanyaan ini Bi Li bendak memancing dan menjenguk isi hati kekasihnya, sampai di mana besarnya cinta kasih pemuda ini.

Wajah Tiang Bu berubah. "Tidak akan ada yang menghalangi perjodohan kita, Bi Li. Iblis sekalipun tidak! Kecuali... kecuali kalau kau yang tidak mau menerima persembahan cintaku... apa boleh buat, kalau demikian halnya, aku bersumpah takkan mau menikah dengan lain orang, aku... aku akan mengundurkan diri dan menjadi seorang pertapa di Omei-san.

Suara yang keluar dari bibir Tiang Bu ini adalah suara hatinya, maka terdengar menggetar mengharukan, membuat Bi Li tak dapat menahan isak tangisnya. Hati gadis ini tidak karuan, girang, bahagia, tercampur duka, haru, dan khawatir. Dia diam saja ketika Tiang Bu memeluk dan menghiburnya. Akhirnya ia pulas dengan kepala di atas pangkuan Tiang Bu yang menjaganya semalam penuh agar tubuh kakasihnya tidak diganggu nyamuk yang masih saja berseliweran biarpun api unggun masih bernyala terus.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Pada ke esokan harinya, pagi-pagi Tiang Bu bersama Bi Li sudah mulai lagi mencari jejak Liok Kong Ji dan Cui Kong yang masih belum juga dapat ditemukan di mana sembunyinya.

“Mereka tak mungkin ke luar dari pulau ini," kata Tiang Bu. Setelah Wan siok-siok dan kawan-kawannya datang dengan perahu, tentu Wan-siok-siok tidak begitu bodoh untuk meninggalkan penjagaan di pantai. Menurut Ang Lian dan Pek Lian. Huang-ho Sian-ji ditinggalkan di pantai, tentu kakek itu melakukan perondaan dan akan melihat apabila Liok Kong Ji meninggalkan pulau dan tentu akan memberi isyarat kepada Wan-siok-siok. Aku yakin mereka itu masih bersembunyi dalam gua-gua yang banyak terdapat di pesisir ini.”

Bi Li juga berpendapat demikian dan dua oran g muda ini mulai mencari terus tanpa mengenal lelah. Juga rombongan Wan Sin Hon g mencari cari, akan tetapi mereka itu berada di lain jurusan dan tidak mencari dalam gua-gua di pesisir batu karang. Tempat ini memang agak tersembunyi dan hanya Tiang Bu yang sudah sampai di situ lebih dulu.

Memang dugaan Tiang Bu tepat sekali. Liok Kong Ji tidak berani meninggalkan pulau, bahkan tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya karena maklum bahwa musuh- musuhnya yang banyak jumlahnya berkeliaran di atas pulau itu. Sekali saja ia terlihat, ia akan mengalami pengepungan dan sukar menyelamatkan diri lagi. Ia tahu bahwa sekali ini yang mengejarnya orang-orang pandai dari pelbagai kalangan dan andaikata ia dapat melawan Wan Sin Hong, belum tentu ia akan dapat melepaskan diri dari tangan Tiang Bu.

Berdua dengan putera angkatnya. Liok Kong Ji bersembunyi di dalam sebuah gua besar yang menjadi tempat rahasia di mana ia menyimpan kitab-kitabnya, dan gua itu tertutup oleh sebuah batu besar yang amat berat. Setelah ia memasuki gua itu bersama Liok Cui Kong lalu mengangkat batu itu dari dalam, menyeretnya ke depan gua dan menurunkannya di depan gua sehingga sepintas pandang saja orang takkan tahu bahwa di batu besar itu terdapat sebuah gua yang mulutnya kecil saja.

Akan tetapi sebetulnya kalau dimasuki mulut gua yang hanya tiga kaki tinggi dan dua kaki lebarnya itu, membawa orang ke dalam sebuah gua yang besar dan luas penuh dengan perabot-perabot rumah seperti meja kursi, tempat tidur dan yang semuanya terbuat dari pada kayu-kayu yang baik dan mahal. Juga di dalam gua itu dihias amat mewahnya, diterangi lampu minyak dan dinding-dindingnya yang tertutup papan itu digantungi gambar gambar indah. Pendeknya, di sebelah dalam merupakan ruangan atau kamar tidur besar yang mewah dan enak ditinggali.

Maklum akan kelahaian ayah dan anak yang dikejar-kejarnya, Tiang Bu tidak membuang pedang yang dapat ia rampas dari tangan Liok Kong Ji. Bahkan sekarang ia mencari-cari dengan pedang di tangan. sedangkan Bi Li berjalan di belakangnya Akhirnya Tiang Bu dan Bi Li berdiri di depan batu karang yang menutup mulut gua kecil. Tiang Bu menaruh curiga karena di dekat situ ia melihat tapak kaki yang tidak begitu jelas, tanda bahwa orang yang lewat di situ memiliki ginkang tinggi dan sengaja berlaku hati-hati supaya tidak kelihatan tapak kakinya. Tapak-tapak kaki itu lenyap di situ dan tidak terdapat sebuahpun gua di dekat situ, maka hal itu amat mencurigakan hatinya.

“Tiang Bu, batu ini baru saja dipindahkan ke sini. Lihat, rumput-rumput di bawahnya tertindih dan rusak. Kalau sudah lama di sini, tentu tidak ada rumput tertindih. Rumput-rumput ini masih hidup dan segar,” kata Bi Li menuding ke bawah.

Benar saja, memang ada rumput yang tertindih batu besar itu. Tiang Bu menjadi girang dan kagum akan ke awasan mata Bi Li ia mengerahkan tenaga di tangan kiri dan sekali mendorong, batu karang yang menutupi mulut gua itu roboh, kelihatanlah sebuah mulut gua kecil itu.

Tiang Bu tercengang melihat bahwa di balik batu karang itu hanya terdapat gua yang lobangnya sekecil itu. Ia merasa ragu-ragu dan mulai memandang ke sana ke mari mencari-cari jejak. Ketika ia hendak pergi dari situ, kembali Bi Li berkata,

"Nanti dulu, Tiang Bu. Aku merasa curiga melihat gua kecil ini. Kau perhatikan baik-baik, gua ini begini gelap, ini hanya menandakan bahwa dalamnya besar. Siapa tahu kalau-kalau mereka bersembunyi di sini. Memang tempat ini merupakan persembunyian yang baik dan tidak mencurigakan, maka harus diselidiki baik-baik.”

Tiang Bu sadar dan cepat berkata, “Kau betul, Bi Li. Kau tunggu saja di sini, biar aku menyerbu masuk!”

Bi Li memegang lengan Tiang Bu yang sudah hendak melompat ke dalam gua kecil itu. “Nanti dulu jangan terburu-buru Tiang Bu. Gua ini mulutnya amat kecil. Kalau betul-betul mereka berada di dalam dan menyerang selagi kau melompat masuk, apakah tidak berbahaya sekali? Aku teringat ketika dahulu bersama ayah Pangerau Wanyen Ci Lun memburu binatang hutan. Ayah menyuruh orang-orangnya mengasapi gua untuk memancing ke luar macan dan binatang buas lain. Apakah tidak lebih baik kita sekarang membakari daun dan ranting kering di depan gua dan meniup asapnya ke dalam untuk memaksa mereka keluar. Kalau sudah berada di luar gua, terserah kepadamu karena aku percaya kau akan dapat melawan mereka.”

Tiang Bu tersenyum. Sebetulnya ia tidak takut sama sekali, akan tetapi karena melihat sikap Bi Li demikian bersungguh-sungguh dan gadis itu amat mengkhawatirkan keselamatannya, ia tak tega membantah. “Sesukamulah “ jawabnya tertawa. "Akupun ingin sekali membuat Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong terserang asap dan tak dapat bernapas. Alangkah akan lucunya kalau mereka terpaksa ke luar sambil batuk-batuk tak dapat bernapas.”

Ucapan ini dikeluarkan dengan keras oleh Tiang Bu agar terdengar dari dalam gua. Ucapan ini saja sudah merupakan pancing dan ancaman. Maksudnya berhasil baik karena tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari dalam gua yang kecil mulutnya itu keluarlah asap hitam bergulung-gulung. Tiang Bu melompat ke belakang dan meneorong Bi Li untuk mundur. Ia mengenal asap dari huncwe maut Cui Kong dan tahu bahwa dua orang musuhnya betul-betul berada di dalam gua itu.

Ting Bu memutar pedangnya ketika melihat sinar-sinar hitam menyambar pula dari dalam gua. Itulah senjata-senjata rahasia hek-tok-ciam yang dilepas oleh Liok Kong Ji untuk menyusul senjata rahasia asap biasa yang disemburkan oleh Cui Kong. Memang kali ini Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang biasanya amat licin dan cerdik itu kena diakali oleh Tiang Bu dan Bi Li. Mendengar usul Bi Li untuk mengasapi gua itu, mereka menjadi terkejut setengah mati.

Tentu saja mereka tidak sudi dijadikan seperti dua ekor tikus yang terpaksa keluar lemas karena lubangnya diasapi. Menghadapi serangan, mereka masih dapat mempergunakan ilmu kepandaian untuk melindungi diri, akan tetapi kalau gua itu dipenuhi asap, berapa lamakah mereka dapat bertahan? Maka dengan hati kecut mereka terpaksa membuka jalan keluar dan menghujankan senjata rahasia mereka.

Betapapun lihainya ilmu silat Tiang Bu pemuda ini tidak berani berlaku gegabah menyerbu ke dalam gua. Senjata rahasia dua orang itu cukup berbahaya, apa lagi hek-tok-ciam itu dilepas di antara asap hitam, tidak kelihatan dan amat berbahaya kalau ia terkena Hek-tok-ciam, sungguhpun ia dapat mengobatinya, namun tentu akan banyak mengurangi daya serang dan daya tempur menghadapi ayah dan anak angkat yang berkepandaian tinggi itu.

“Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong manusia-manusia iblis. Keluarlah untuk menebus dosa-dosamu!” kata Tiang Bu, siap menanti mereka.

Sambil terus melepaskan jarum-jarumnya, Liok Kong Ji akhirnya melompat keluar, di ikuti oleh Cui Kong yang memegang huncwe mautnya. Kini Liok Kong Ji juga sudah memegang pedang lagi, karena dalam gua itu memang tersedia beberapa batang pedangnya yang baik baik.

"Bocah durhaka, kali ini aku tidak ampunkan kau lagi!” kata Liok Kong Ji sambil memutar pedangnya melakukan serangan kilat dituruti pula oleh Cui Kong.

Tiang Bu tahu bahwa ucapan itu hanya gertakan belaka, namun ia tidak berlaku sembrono dan tidak mau memandang rendah kepada dua orang musuhnya yang sudah berkali-kali mengakali dan lolos dari desakannya itu. Cepat ia memutar pedang rampasannya dan menangkis serangan lawan lalu membalas dengan hebat dan tidak kalah sengitnya. Serangan tangan kosong saja Tiang Bu sudah mampu mendesak dua orang lawannya itu, apa lagi ia menggunakan pedang.

Sebentar saja Kong Ji dan Cui Kong hanya bisa main mundur dan ke mana saja mereka meloncat, selalu mereka dibayangi dan dikurung oleh sinar pedang Tiang Bu. Memang pemuda ini sudah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dan berkali kali Liok Kong Ji sampai merasa kagum bukan main. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Liok Kong Ji adalah ilmu pedang sakti yang jarang bisa dilawan orang, lihai dan selain cepat dan kuat, juga membingungkan lawan.

Kiranya sukar mencari orang yang akan kuat menandingi ilmu pedang Liok Kong Ji pada masa itu. Juga Liok Cui Kong memiliki kepandaian gabungan, sebagian ia pelajari dari Kong Ji dan sebagian pula ia dapatkan dari gurunya, Cun Gi Tosu. Pemuda inipun amat lihai ilmu silatnya, apalagi huncwe mautnya merupakan senjata ganjil yang amat sukar diduga gerakan gerakannya.

Namun dua orang ini tidak berdaya menghadapi Tiang Bu. Di dalam permainan Tiang Bu terdapat segala dasar pertahanan yang maha kuat, yang sukar sekali ditembus oleh serangan-serangan dua orang itu. Desakan-desakan Tiang Bu sebaliknya amat berat mereka rasakan, sungguhpun untuk merobohkan mereka juga bukan merupakan hal mudah bagi Tiang Bu.

Ayah dan anak angkat itu dapat bekerja sama baik sekali. Mereka telah maklum akan kelihaian Tiang Bu den ketika mereka bersembunyi di dalam gua. Liok Kong Ji sudah mengatur siasat bertanding menghadapi Tiang Bu. Ia telah memberi petunjuk kepada Cui Kong dan sekarang petunjuk itu dipraktekkan. Keduanya tidak bergerak sendiri-sendiri terpisah, melainkan bergabung menjadi satu, saling melindungi dan saling membantu. Inilah yang membuat Tiang Bu menghadapi kesukaran untuk segera mengalahkan mereka. Kedudukan mereka memang kuat, bagai tembok baja!

Bi Li menonton pertempuran itu dengan gemas. Ia merasa penasaran tak dapat membantu kekasihnya dan beberapa kali ia mengepal-ngepal tangannya yang tinggal satu dan memandang marah penuh kebencian kepada orang itu, terutama kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi lengannya. Ingin ia segera melihat musuh besar yang sudah membuat hidupnya hampa dan tubuhnya bercacad ini segera roboh binasa di bawah pedang Tiang Bu. Akan tetapi tiba-tiba ia melihat perubahan dan kini Tiang Bu hanya mendesak Cui Kong seorang, seakan-akan tidak bermaksud merobohkan Kong Ji.

Bi Li mengerutkan keningnya. Apa Tiang Bu tiba-tiba merasa kasihan dan tidak tega membunuh orang yang sebetulnya masih ayahnya sendiri itu? Timbul keraguan dan “perang” dalam pikiran Bi Li ia teringat akan ayahnya sendiri. Ayahnya yang sejati, Kwan Kok Sun, juga bukan seorang manusia baik-baik, bahkan dahulunya amat terkenal jahat. Demikian pula Tiang Bu. Sudah sepatutnya kalau Tiang Bu ragu-ragu untuk membunuh ayah sendiri. Akan tetapi ayah Tiang Bu itu telah membikin buntung lengannya, dosa yang tak dapat ia ampunkan lagi!

Kekhawatiran Bi Li ini sebetulnya kosong belaka. Tiang Bu sama sekali tidak merasa kasihan kepada Liok Kong Ji. Ia amat banci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya ini dan ia akan tega membunuhnya. Dia bukannya berkasihan kepada Kong Ji, akan tetapi dia sedang menjalankan siasatnya. Menghadapi ayah dan anak angkat yang dapat bekerja sama dengan baik betul-betul Tiang Bu menemukan kesukaran untuk mencari kemenangan secepatnya.

Pertahanan dua orang itu kuat bukan main. Oleh karena itu Tiang Bu lalu mengambil keputusan untuk menyerang dan mendesak seorang di antara dua pengeroyoknya. Dan di antara dua oraug itu, Cui Kong paling lemah, maka ia lalu memusatkan perhatiannya kepada Cui Kong dan menghujankan serangan-serangan hebat kepada pemuda itu.

Tentu saja Cui Kong menjadi gelagapan. Biasanya kalau ada lawan menyerangnya, tangkisan huncwenya dapat membuat serangan lawannya buyar dan gagal, akan tetapi kali ini, makin ditangkis pedang di tangan Tiang Bu menjadi makin ganas, seolah-olah tangkisan huncwe itu menambah daya serangnya! Biarpun Liok Kong Ji sudah cepat-cepat membantu untuk menangkisnya dan bahkan menyerang Tiang Bu dengan dahsyat. Tetap saja Cui Kong tak dapat menghindarkan lagi sebuah tusukan pedang yang amat cepat mengarah perutnya.

Ia mempergunakan segala kelincahannya untuk mengelak dari tusukan yang sudah tak mungkin ditangkis lagi itu, akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan perutnya, tidak dapat lagi menolong pahanya yang tertusuk pedang sampai tembus. Ketika pedang dicabut, darah mengalir deras dari paha itu. Tiang Bu hendak menyusulkan tusukan maut ke dua. namun Cui Kong yang berteriak kesakitan itu sudah membuang diri ke atas tanah dan menangkis tusukan ini dengan huncwenya.

Terdengar suara keras dan huncwe itu terlepas dari tangannya, namun ia selamat dan segera menggerakkan tubuh bergulingan sampai jauh dan baru berhenti karena di belakangnya adalah tebing batu karang yang amat curam. Di sini ia merintih-rintih sambil berusaha membebat luka di pahanya dengan baju yang dirobeknya. Darah amat banyak mengucur, membuat kepalanya pening. Kemudian Cui Kong terguling pingsan!

Melihat ini, Bi Li yang sudah menjadi kegirangan segera berlari menyambar huncwe Cui Kong yang menggeletak di atas tanah, kemudian ia berlari menghampiri Cui Kong yang sudah pingsan itu untuk memberi pukulan terakhir.

“Bi Li, jangan dekati dia...!" Tiang Bu yang masih bertanding dengan Kong Ji itu melarang. Pemuda ini biarpun melihat Cui Kong sudah terguling dan tidak bergerak seperti mati, masih saja curiga dan takut kalau-kalau kekasihnya menjadi korban kelicikan Cui Kong. Akan tetapi Bi Li yang sudah sakit hati itu, mana mau dilarang? Ia makin gemas dan sekali melompat ia sudah tiba di dekat Cui Kong, lalu mengayun huncwe itu ke arah kepala Cui Kong!

Tepat dugaan Tiang Bu. Sebetulnya Cui Kong tidak pingsan, hanya pura-pura pingsan, untuk menyelamatkan diri dan mencegah Tiang Bu menyerang terus. Sama sekali ia tidak mengira bahwa Bi Li akan mengejar dan menyerangnya. Biarpun matanya tertutup, ia dapat mendengar sambaran angin pukulan huncwenya. Cepat ia menggulingkan tubuh dan kepala sehingga huncwe di tangan Bi Li itu menghantam batu, menimbulkan suara keras dan bunga api berpijar membarengi muncratnya batu yang remuk terkena pukulan huncwe!

Bi Li penasaran dan mengejar lagi, mengirim serangan hebat. Terpaksa Cui Kong melompat berdiri, akan tetapi terguling roboh lagi karena pahanya terasa sakit sekali. Namun dalam mengelak, ia terkena huncwe pada pundaknya, membuat ia mengerang kesakitan Bi Li memukul terus, ditangkis oleh lengan kiri Cui Kong.

“Krak!" Tulang lengan itu patah. Tenaga lweekang Cui Kong sudah banyak berkurang karena lukanya yang hebat, maka tidak kuat menerima pukulan huncwe. Sebelum Cui Kong berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya, Bi Li sudah menyerang lagi!

"Mampuslah kau jahanam!" seru Bi Li dengan gemas, huncwenya kini mendorong dada Cui Kong untuk membuat pemuda terjengkang ke belakang di mana tebing batu karang siap menerima tubuh pemuda itu untuk dilempar ke bawah di mana gelombang laut mengganas kelaparan! Tidak ada jalan mengelak atau menangkis lagi. Cui Kong berlaku nekat, tidak melindungi tubuhnya melainkan menubruk ke depan dengan kedua tangan mencengkeram atau memeluk.

"Awas, Bi Li...!” Tiang Bu berseru dan meninggalkan Kong Ji karena melihat bahaya mengancam Bi Li. Namun terlambat! Cui Kong yang sudah nekat dan ingin mati mengajak lawan itu, berhasil mencengkeram lengan tangan Bi Li yang memegang huncwe dan mendorong dada sedemikian hebatnya sehingga tubuh Cui Kong mencelat ke belakang membawa tubuh Bi Li bersama. Dua orang itu tergelincir masuk ke tepi batu karang dan melayang ke bawah diiringi pekik mengerikan dari Cui Kong.

"Bi Li...!!” Tiang Bu menjerit dan berlari ke tempat itu, tidak perduli lagi pada Kong Ji yang terus saja mempergunakan kesempatan baik itu untuk lari menyelamalkan diri.

Setibanya di pinggir tebing, Tiang Bu melonguk ke bawah dan pucatlah wajahnya. Jauh sekali di bawah, puluhan tombak jauhnya, hanya kelihatan arus ombak menggelora kepulih putih an. berbuih-buih seperti mulut iblis yang haus akan darah. Ia hendak meloncat, akan tetapi segera kesadarannya melarangnya. Kalau ia meloncat turun, tipis harapan akan selamat. Apa gunanya membuang jiwa secara sia-sia belaka?

Kong Ji masih belum terbunuh dan pula, menolong Bi Li harus dilakukan dengan jalan sewajarnya, bukan dengan jalan membunuh diri. Mengingat akan ini, TiangBu segera berlari lari ke kanan kiri untuk mencari tebing yang tidak curam, dari mana ia akan mencari perahu dan menuju ke tempat di mana Bi Li tadi jutuh bersama Cui Kong.

Sukar sekali mencari perahu di situ karena perahu-perahu bajak sudah ia tenggelamkan semua. Akhirnya ia menggunakan pedangnya menebang sebatang pohon dan menggunakan batang pohon itu untuk perahu ist imewa Dengan batang pohon ini ia mendayung menuju ke tempat di mana tadi Bi Li terjatuh. Akan tetapi ia sudah membuang terlalu banyak waktu, Ketika mencari-cari tebing kemudian mencari perahu lalu menebang pohon untuk perahu, ia telah membuang waktu satu jam lebih.

Biarpun begitu, ketika ia tiba di bawah tebing curam itu, ia masih sempat melihat tubuh Cui Kong yang sudah menjadi mayat itu bergerak-gerak di permukaan air laut yang kini sudah menjadi terang, agaknya sudah kekenyangan karena mendapatkan dua mangsa manusia itu. Ketika Tiang Bu mendekat, ia merasa ngeri juga melihat bahwa mayat Cui Kong itu bergerak-gerak karena dibuat berebutan oleh beberapa ekor ikan hiu yang ganas dan buas! Tubuh Bi Li tidak kelihatan sama sekali.

Dengan perahu istimewanya itu Tiang Bu mendayung ke sana ke mari men cari-cari sambit memanggil nama kekasihnya, "Bi Li! Bi Li!”

Tiupan angin laut membuat suaranya hilang tak berbekas. Sia-sia ia mencari-cari tidak kelihatan tubuh yang ia cari-cari. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat kerongkongannya serasa tersumbat. Matanya terbelalak memandang ke arah benda itu, mukanya pucat dan bibirnya bergerak-gerak menyebut “Bi Li...” tanpa mengeluarkan suara.

Benda itu adalah robekan baju Bi Li di bagian lengan dan pundak, robek sama sekali seperli ditarik dengan paksa dari tubuh kekasihnya itu. Ia menoleh ke arah mayat Cui Kong yang masih diseret-seret oleh ikan-ikan ganas itu. Tak terasa lagi air mata bercucuran dari sepas ang mata Tiang Bu.

“Bi Li...” Ia dapat membayangkan betapa kekasihnya itu sudah lebih dulu menjadi mangsa ikan, mayatnya diseret-seret dan ditarik-tarik oleh ikan-ikan hiu itu sehingga bajunya robek-robek dan terapung di sini. Dengan isak tertahan Tiang Bu membawa pedangnya meloncat ke dalam air dan menyambar robekan baju itu.

"Bi Li...!" Ia mendekap robekan baju itu ke dadanya sambil mendongak ke angkasa, air matanya bercucuran . Tiba-tiba batang pohon itu bergerak miring dan hal ini menyadarkan Tiang Bu dari pada kesedihan yang membuat ia lupa diri itu. Dilihatnya seekor ikan hiu meraba-raba perahu aneh itu dengan moncongnya. Melihat ikan ini, bangkit kemarahan Tiang Bu.

"Bedebah, kau yang membunuh Bi Li!” Pedangnya berkelebat dan kepala ikan itu terbelah dua. Air menjadi merah dan tubuh ikan itu terapung dengan perut di atas.

Darah ikan itu sebentar saja mendatangkan banyak ikan hiu yang serta merta menyerbu dan menyerang bangkai hiu tadi. Melihat betapa lahapnya ikan-ikan itu memperebutkan daging ikan hiu, Tiang Bu menjadi marah. Dalam pandang matanya, seakan-akan yang diperebutkan itu bukan bangkai hiu, melainkan mayat kekasihnya Bi Li!

“Binatang iblis, kalian jahat dan keji!” makinya dan pedangnya berkelebat. Sebentar saja laut di bagian itu penuh dengan bangkai ikan hiu. Sampai lelah sekali tubuh Tiang Bu mengamuk dan membunuhi ikan hiu. Akhirnya ia teringat bahwa perbuatannya ini seperti perbuatan orang gila. Ia lelah lahir batin, dan dalam keadaan setengah pingsan Tiang Bu menjatuhkan diri di atas batang pohon yang ia jadikan perahu. Laut mulai mengombak lagi dan batang pohon itu dipermainkan, didorong-dorong sampai ke tepi.

Dengan hati hancur Tiang Bu mendarat sambil mendekap robekan kain baju Bi Li. Air matanya kembali jatuh berderai kalau ia teringat betapa kekasihnya itu tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan tidak dimakamkan. Teringat ini, Tiang Bu lalu menggunakan pedang rampasan itu untuk menggali tanah, cukup dalam seperti kalau orang hendak mengubur jenazah manusia.

Setelah itu ia berlari ke dalam gua di mana tadi Kong Ji bersembunyi dan dia mendapatkan apa yang dicarinya, yaitu lilin dan hio. Sekembalinya di tanah galian, dengan penuh khidmat Tiang Bu "mengubur" robekan baju Bi Li yarg ia anggap sebagai pengganti jenazah kekasihnya. Ia melakukan upacara pemakaman ini sambil menangis dan menyebut-nyebut nama Bi Li berulang-ulang.

Ia lalu menguruk kembali lubang itu. Dengan pedangnya Tiang Bu membuat bongpai sederhana dari batu karang. Ia tidak perduli pedang itu menjadi rusak karenanya, malah setelah rampung membuat bongpai, ia membuang pedang rampasan itu. Setelah itu ia lalu menyalakan lilin dan hio, bersembahyang dengan penuh khidmat dan sedih. Ia berlutut di depan bongpai (batu nisan) itu dan berkata keras-keras,

“Bi Li, kau mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah bahwa sebelum membunuh Liok Kong Ji untuk membalaskan sakit hatimu aku takkan berhenti. Kau tunggulah aku di alam baka. karena setelah tugasku aku akan hidup sebagai pertapa di Omei-san sampai datang saatku menyusulmu.”

Ucapan ini diulangi berkali-kali dan sampai lama ia berlutut di depan "makam." Demikian khidmatnya ia bersembahyang sampai telinganya yang biasanya amat tajam itu tidak mendengar datangnya beberapa orang yang berdiri di belakangnya dan memandang dengan terheran-heran dan penuh keharuan. Akhirnya seorang di antara mereka yang bertubuh gagah dan masih muda, mendengar nama Bi Li disebut-sebut Tiang Bu, nampak kaget sekali dan bertanya,

“Kau bilang... Bi Li... Bi Li mati? Apakah itu kuburan Bi Li adikku...?” menudingkan telunjuknya ke arah makam itu.

Tiang Bu menoleh dan melihat Wan Sin Hong berdiri sambil bersedakap di situ, memandangnya dengan mata mengandung kasih sayang besar. Yang bertanya tadi adalah Wan Sun, kakak angkat Bi Li, putera dari mendiang Pangeran Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li atau saudaranya sendiri, saudara sekandung berlainan ayah! Orang ketiga adalah seorang tosu tua yang ia tidak kenal.

"Tiang Bu koko, saudara tuaku yang gagah parkasa, betulkah itu makam Wan Bi Li adikku...?" Kembali Wan Sun bertanya sambil menghampiri Tiang Bu. Tiang Bu menjadi makin terharu. Inilah adiknya seibu berlainan ayah.

Inilah anak kandung lbunya. Ia melompat berdiri dan memeluk Wan Sun, tak tertahan lagi ia menangis terisak. "Dia... dia sudah mati..." hanya itu yang dapat ia katakan, kemudian ia manjatuhkan diri berlutut di depan Wan Sin Hong.

Wan Sun cepat berlutut di depan makam sambil menyalakan lilin kemudian ia berdiri dan bersembahyang, mulutnya berkemak-kemik, air matanya menitik turun. Terbayang semua pengalamannya ketika kecil dan menjelang dewasa. Bi Li wanita yang sebetulnya merupakan cinta pertamanya sebelum ia bertemu dengan Coa Lee Goat.

Wan Sin Hong menyuruh Tiang Bu berdiri dan ia memandang kepada pemuda ini penuh perhatian. Alangkah bedanya dengan ayahnya, pikir Sin Hong. Bocah tidak berdosa yang kini menanggung akibat dari dosa ayahnya yang jahat sekali.

“Tiang Bu, coba kau ceritakan bagaimana Bi Li sampai tewas dan bagaimana hasilnya usahamu mencari musuh kita? Kau tentu datang untuk mencari ayah dan anak iblis itu bukan...?”

Tangan Gledek Jilid 49

Tangan Gledek Jilid 49

MULA-MULA Tiang Bu bingung melihat gua yang gelap itu dan ia tidak melihat sesuatu. Lambat laun matanya biasa dengan kegelapan namun tetap saja ia hanya melihat batu-batu karang menonjol dan gua itu ternyata menembus ke pinggir laut, merupakan jurang yang amat curam.

“Bi Li...!” teriaknya. Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab. “Bi Li... di mana kau...?!" ia berseru lagi, kini mengerahkan tenaga khikang sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh di luar gua.

Ia menanti sampai gema suaranya sendiri yang panjang itu lenyap, namun tetap saja tidak ada suara jawaban Bi Li. Marahlah hati Tiang Bu. Ia merasa tertipu oleh Cui Kong. Setan, pikirnya, mengapa aku begini bodoh? Akan tetapi ketika ia hendak keluar dari gua yang gelap itu, kembali ia mendengar suara rintihan perlahan seperti yang ia dengar tadi. Ia memperhatikan dan memasuki gua lagi sampai di pinggir jurang. Ternyata suara itu keluar dari bawah!

Dengan hati-hati Tiang Bu merebahkan diri telungkup ke pinggir jurang dan melihat ke bawah. Gelap sekali. Tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang bergoyang-goyang. Ternyata sehelai tambang yang diikatkan pada batu karang dan tambang itu menggantung ke luar, masuk jurang! Dari ujung tambang itulah datangnya suara rintihan.

Tiang Bu mengeretak giginya. Tahulah kini ia bahwa tubuh Bi Li diikat pada ujung tambang yang digantungkan ke dalam jurang yang amat curam itu! Cepat ia hendak menarik tambang, akan tetapi kecerdikannya melarangnya dan lebih cepat lagi ia menarik kembali tangannya dan berpikir keras. Tak mungkin orang selicik Cui Kong akan menggantungkan tubuh Bi Li begitu saja dan mudah ditolong. Tentu ada apa-apa di balik ini semua.

Tiba-tiba ia melompat dengan gerakan cepat ke luar dari gua, menduga bahwa tentu Cui Kong dan Kong Ji megintai di luar gua dan akan melakukan sesuatu untuk menjebaknya. Akan tetapi di luar kosong saja dan kembali ia mendengar suara rintihan perlahan dari dalam guha. Ia memasuki guha kembali dan berpikir-pikir.

“Bi Li, apa kau berada di bawah situ?" tanyanya sambil melihat ke bawah.

Matanyna yang tajam dapat melihat samar-samar bayangan tubuh Bi Li tergantung di bawah, akan tetapi gadis itu tidak dapat menjawab, hanya mengeluarkan suara perlahan seperti rintihan. Tiang Bu berlari ke luar lagi, menggunakan tenaganya untuk membeset kulit pohon yang ulet. Ia menyambung nyambung kulit ini menjadi sehelai tambang yang panjang, kemudian berlari masuk lagi ke guha itu. Ia lupa sudah akan Cui Kong dan Kong Ji.

Seluruh perhatiannya tercurah kepada Bi Li yang hendak ditolongnya lebih dulu. Dengan cepat dan hati-hati ia mengikatkan tambang kulit kayu ini pada sebuah batu karang, kemudiann ia merosot turun ke dalam jurang melalui tambang sederhana itu. Ia teringat bahwa kalau musuh musuhnya datang dan memutuskan tambang itu, tentu ia akan menemui bencana besar. Akan tetapi resiko ini ia harus berani hadapi demi menolong nyawa Bi Li yang terancam bahaya maut.

Ketika ia sudah merosot sampai di tempat Bi Li tergantung dan ia dapat melihat keadaan gadis kekasihnya itu, ia menjadi pucat. Tambang yang dipergunakan untuk mengikat Bi Li dan digantung dari gua itu, dilibatkan pada sebuab batu karang yang tajam sekali, Tambang itu sudah tergosok-gosok dan tinggal setengahnya saja. Kalau tadi ia menarik ke atas, sudah pasti tambang itu akan putus dan tubuh Bi Li akan jatuh ke bawah menemui kematian yang mengerikan!

"Cui Kong jahanam keji!" Tiang Bu mengutuk. Cepat ia meraba-raba tubuh Bi Li dan mendapat kenyataan bahwa totokan pada tubuh itu sudah dibebaskan, akan tetapi kaki tangan gadis itu terikat dan mulutnya tertutup saputangan. Inilah sebab mengapa Bi Li tidak dapat menjawab panggilannya. Cepat ia merenggut saputangan yang menutupi mulut gadis itu sambil berbisik.

"Bi Li, jangan bergerak. Tambang yang mengikatmu hampir putus."

Peringatan ini penting sekali karena kalau tadi Bi Li meronta-ronta. tentu tambang itu sudah putus. Mendengar peringatan ini, Bi Li tidak bergerak, hanya terdengar ia berkata lemah, "Tiang Bu tanganku sakit sekali...“

Tiang Bu menggigit bibir melihat betapa lengan kekasihnya yang tinggal sebelah itu ditekuk ke belakang dan digantung. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan kekasihnya. Cepat Tiang Bu memutus tali itu dan menarik tubuh Bi Li sehingga gadis itu dapat manangkap tali kulit pohon, kemudian tambang yang mengikat kakinya diputuskan pula.

Dengan hati-hati sekali Bi Li lalu merayap naik dengan satu tangannya, dibantu oleh Tiang Bu dari bawah. Dengan susah payah mereka naik, akhirnya dapat juga mereka tiba di atas, selamat di dalam guha yang gelap itu. Begitu lepas dari bahaya. Bi Li terisak dan menjatuhkan diri di atas dada Tiang Bu. Tiang Bu mangelus-elus rambut kekasihnya, membiarkan kekasihnya yang baru saja terbebas dari bahaya maut mengerikan itu menangis sepuasnya.

"Bi Li... kau... kau tidak diganggu oleh Cui Kong?" bisiknya dengan hati panas terbakar, penuh kebencian dan dendam kepada Cui Kong.

Tanpa mengangkat mukanya dari dada Tiang Bu, Bi Li menggeleng kepalanya. Kemudian, setelah agak reda tangisnya, dengan singkat ia menceritakan pengalamannya, "Setelah kau tinggalkan, guruku datang dan dia yang mengajak aku menyusulmu. Malang bagi dia, di tengah jalan bertemu dengan dua orang iblis jahat itu. Terjadi pertempuran, akhirnya guruku tewas dan aku tertawan. Tadi iblis Cui Kong itu mengikatku dan menggantungkan ke luar gua sambil tertawa-tawa mengejek, bilang bahwa aku akan mati dalam tanganmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang ia maksudkan, akan tetapi... hanya Thian yang tahu betapa gelisah dan takutnya hatiku,Tiang Bu...”

Tiang Bu memeluk lebih erat lagi. "Hanya sedikit selisih... Bi Li, sedikit saja selisihnya. Kalau aku tadi terburu nafsu dan menarik tambang di mana kau digantung... ah, ngeri aku membayangkan! Cui Kong manusia keparat harus kuhancurkan kepalanya!”

Bi Li nampak kecewa. “Jadi kau belum berhasil menewaskan mereka?"

"Sayang sekali belum. Aku mendengar rintihanmu dan terpaksa kutinggalkan mereka untuk menolongmu."

Bi Li melepaskan diri dari pelukan Tiang Bu. “Tiang Bu, kau memang benar. Kau lebih benar ketika melarangku datang ke pulau ini. Sekarang ternyata aku hanya menjadi penghalang, malah guruku tewas di tangan mereka.

"Tidak, Bi Li. Mati hidup berada di tangan Thian. Memang agaknya sudah menjadi suratan nasib Ang jiu-toanio untuk tewas oleh mereka. Akan tetapi kita masih mempunyai banyak harapan untuk mengejar dan mencari mereka. Hayo ke luar dari tempat terkutuk ini.”

Sambil men ggandeng tangan Bi Li, Tiang Bu mengajaknya ke luar. Sesampainya di luar, ia dapat melihat keadaan kekasihnya. Memang tidak apa-apa, hanya agak pucat karena mengalami ancaman maut yang mengerikan tadi. Ia menjadi lega. Akan tetapi sekarang sudah tidak kelihatan lagi bayangan Liok Kong Ji maupun Cui Kong. Namun Tiang Bu tidak putus asa dan ia mengajak Bi Li terus mencari dan memeriksa di sebelah dalam atau di tengah pulau.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Sementara itu, di pantai Palau Pek-houw to juga terjadi hal yang menarik. Serombongan orang gagah dipimpin oleh Wan Sin Hong mendatangi dengan dua buah perahu ke pulau itu. Inilah rombongan yang dilihat oleh kaki tangan Liok Kong Ji dan dilaporkan, membuat Kong Ji menjadi gelisah sekali. Apalagi ketika Kong Ji dan Cui Kong berhasil melepaskan diri dari desakan Tiang Bu dan hendak melarikan diri dengan perahu, mereka melihat dua perahu ini mendatangi, Kong Ji terpaksa kembali lagi ke pulau dan keadaannya seperti terjepit.

Wan Sin Hong kali ini tidak datang sendiri dan tidak mau kepalang usahanya membalas dendam kepada musuh besarnya. Ia maklum akan kelihaian Kong Ji yang dibantu oleh Cui Kong, Cun Gi Tosu, dan banyak lagi orang-orang gagah yang berhasil dibujuk menjadi kaki tangan Liok Kong Ji. Karena tidak berbasil bertemu dengan Tiang Bu yang akan menjadi pembantu kuat baginya, Wan Sin Hong datang membawa beberapa orang tokoh yang berkepandaian cukup tinggi.

Di antara kawan kawannya itu kelihatan muridnya sendiri, Coa Lee Goat dan suaminya, Wan Sun. Juga isterinya tidak ketinggalan, yaitu Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang sudah sembuh dari luka-lukanya ketika bertempur melawan Liok Cui Kong di Pulau Kim-bun-to. Li Hwa mempunyai sakit hati besar sekali terhadap Liok Kong Ji dan kaki tangannya, bukan saja karena anaknya diculik oleh Cun Gi Tosu, juga karena peristiwa di Kim-bun-to, di mana Cui Kong mengamuk dan menyebar maut itu.

Selain keluarga gagah parkasa ini, ikut juga Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, tosu tinggi kurus jenggot panjang itu, dan Pang Soan Tojin ketua Tang-san pai, tosu gemuk berjenggot pendek. Selain dua orang tokoh tua ini, masih ada lagi Huang-ho Sian-jin si datuk bajak dari Sungai Huang ho bersama dua orang puterinya, Ang Lian yang lincah jenaka dan Pek Lian yang cantik pendiam dan berpakaian pria. Juga masih ada dua orang lagi, yaitu H ok Tek Hwesio dari Siauw lim pai dan Ciu Lee Tai, seorang laki-laki muda berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah. Ciu Lee Tai ini seorang yang bersemangat sekali, pengagum Wan-bengcu dan biarpun ia agak bodoh, namun ia jujur dan berkepandaian lumayan.

Sebetulnya, Wan Sin Hong maklum bahwa tingkat kepandaian Ciu Lee Tai dan Hok Tek Hwesio masih terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kelihaian Liok Kong Ji dengan kawan kawannya, akan tet api karena mereka ini orang segolongan dan mereka ikut dengan suka rela, ia pikir lumayan untuk melayani penjaga-penjaga kaki tangan Liok Kong Ji.

Demikianlah, rombongan yang terdiri dari sebelas orang ini mendarat dengan hati-hati dan dengan senjata di tangan. Mereka semua sudah maklum bahwa mereka menghadapi orang-orang jahat yang amat lihai kepandaiannya. Di sepanjang perjalanan. Ciu Lee Tai yang biarpun sudah berusia tiga puluh tahun tapi masih tetap single (membujang) itu, agaknya amat tertarik kepada Ang Lian, dara jelita yang bersikap lincah jenaka dan agak genit itu. Sedemikian jauh, si jaka tua ini selalu "tahan hinaan" dan mencemoohkan setiap orang gadis yang memandang kepadanya dengan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya.

Akan tetapi begitu ia bertemu dengan Ang Lian dan melihat senyum dan kerling mata gadis ini, jatuhlah keangkuhannya. Senyum dan kerling itu langsung menembus jantungnya dan membuat dia tergila-gila! Si bujang ini beberapa kali melirik-lirik, mengajak senyum dan pendeknya mempergunakan segala macam siasat untuk memikat si dara jetita, akan tetapi kali ini ia "bertemu batunya.” Semua aksinya tidak digubris oleh Ang Lian, bahkan Ang Lian bersikap jinak-jinak merpati, kadang-kadang nampak mudah didekati akan tetapi kalau orang bersungguh-sungguh ia terbang menjauh Sikap beginilah yang membuat hati sang jaka jatuh bangun.

Tentu saja, sedogol-dogolnya, Ciu Lee Tai tidak berani berterus terang dengan kata kata menyatakan perasaan hatinya, apa lagi ia sering melihat wajah datuk bajak Huang-ho Sian-jin yang keren galak dan matanya melotot. Habislah nyalinya kalau ia melihat bapak dara pujaannya itu. Namun, saking dalamnya asmara menggerogoti jantungnya, si dogol ini sampai menghadap Wan Sin Hong dan dengan muka merengek ia mohon bantuan pendekar ini.

"Wan-bengcu." katanya dengan mukanya yang tampan menjadi merah seperti kepiting dipanggang. Siauwte hendak mengajukan permohonan kepada bengcu dan mengharap ke murahan hati bengcu."

Wan Sin Hong sudah lama kenal pemuda tua ini dan ia memang suka kepada Cui Lee Tai yang jujur dan dogol namun berjiwa ksatria. Bahkan dahulu ia berkenan menurunkan dua tiga macam ilmu pukulan kepada si dogol ini. Mendengar permohonan disertai wajah yang bersungguh-sungguh itu, ia tersenyum.

"Kita berada di tengah perjalanan, di atas laut. Kau hendak minta aku membantumu dalam hal apakah, Lee Tai?" Wan Sin Hong memang memanggil namanya begitu saja, inipun kemauan Lee Tai sendiri yang ingin diaku sebagai anak buah atau murid. Demikian besar kagumnya terhadap Wan Sin Hong.

"Sebetulnya bukan sekarang. Siauwte hanya minta kesediaan bengcu untuk membantuku dalam urusan ini, kelak kalau urusan penyerbuan ke Pulau Pek-houw-to selesai. Apakah bengcu bersedia?”

"Ha, kau ini aneh sekali. Tentu saja aku bersedia membantumu. Akan tetapi, bagaimana kalau dalam penyerbuan yang amat berbahaya ini kau atau aku tewas?”

“Kalau begitu... kalau begitu... tentu saja tidak jadi aku... kawin...”

"Eh kawin...?”

Muka pemuda itu menjadi makin merah. "Begini, bengcu. Sebetulnya siauwte hendak minta tolong agar bengcu suka... suka menjadi... menjadi perantara. Siauwte telah berusia tiga puluh tahun, dahulu ayah ibu minta siauwte menikah akan tetapi siauwte belum sanggup menjalani karena memang belum ada yang cocok. Sekarang ayah ibu sudah tidak ada dan siauwte kerap kali merasa berdosa dan bersedih tak dapat memuaskan hati orang tua. Sekarang siauwte bertemu dengan gadis yang mencocoki hati. Kiranya kalau siauwte bisa menikah dengan dia. arwah ayah-bunda siauwte akan menjadi puas.”

Sin Hong tidak ketawa lagi. Malah ia menjadi amat terharu, teringat akan keadaannya sendiri. Diapun menikah setelah usianya tiga puluhan lebih, dan tentang orang tuanya... juga tidak melihat pernikahannya. Dengan suara sungguh-sungguh ia menjawab.

"Baik. Lee Tai. Tenangkanlah hatimu. Tentu aku suka menjadi wakil orang tuamu untuk mengawinkan kau. Tidak tahu gadis manakah yang kau penujui?”

"Puteri... puteri Huang-ho Sian-jin...”

"Aahhh, dia...? Yang mana?”

“Yang kedua, bengcu. Itu yang namanya Ang Lian yang senyumnya manis kerlingnya tajam...”

Sin Hong tak dapat menahan senyumnya dan ia mengangguk-angguk. “Itu soal mudah. Huang-ho Sian-jin adalah sahabat karibku, kalau aku yang mintakan kiranya tak akan sukar. Hanya aku khawatir anaknya sendiri yang akan rewel. Kalau dia tidak setuju, anak seperti Ang Lian itu tentu akan menolak keras. Bagaimana pendapatmu, apakah dia juga... ada hati kepadamu?”

"Entahlah, bengcu. Akan tetapi dia sering kali tersenyum dan melirik. Akan kuselidiki hal itu. Asal Wan-bengcu sudah bersedia membantu, hatiku sudah lega dan banyak banyak terimakasih." Tanpa dapat dicegah lagi si dogol lalu menjatuhkan diri berlutut dan pai-kui sampai tujuh kali.

“Sudah, sudah, hasilnya masih belum tentu kau sudah jengkang-jengking seperti ayam makan padi.”

Dengan hati gembira dan besar sekali Ciu Lee Tai mengundurkan diri dan semenjak saat itu lebih berani melirik-lirik ke arah Ang Lian. Bahkan pada suatu ketika, ia mendapat kesempatan mendekati Ang Lian di atas perahu dan berbisik. "Nona, kalau kelak urusan ini beres, aku akan mengirim wali mengajukan lamaran kepadamu."

Tentu saja Ang Lian melengak. Selama hidupnya belum pernah ia bertmu dengan orang yang begini terus terang dan tidak kenal malu. Gadis ini dengan lagak mangejek meludah ke dalam laut dan melihat di situ tidak ada orang memperhatikan mereka, berkata perlahan,

“Enak saja kau mengomong. Kau bisa apa sih mau melamarku?"

Lee Tai mengangkat dadanya yang memang bidang dan tegap. "Aku Ciu Lee Tai, di barat terkenal dengan julukan Kang-thouw ciang (Si Kepalan Baja) dan siapa yang tidak tunduk terhadap golokku?" ia menepuk-nepuk golok di pinggangnya, golok besar yang memang amat lihai kalau ia mainkan.

Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah membuat hati Lee Tai menjadi gemas terpincut. Biarpun orang ini dogol, namun Ang Lian diam-diam suka juga melihat ketegapan tubuh dan ketampanan wajah Ciu Lee Tai.

"Dengar baik-baik, dogol. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan diriku. kecuali kalau ia berkepandaian tinggi." Bicara begini, Ang Lian teringat akan Tiang Bu yang membuat cicinya, Pek Lian, tergila-gila dan teringat selalu. "Begini syaratnya. Kalau kau bisa mengalahkan manusia iblis Liok Kong Ji, aku bersedia menerima lamaranmu. Nah, pergilah.”

Ciu Lee Tai berseri wajahnya. Ingin ia menari-nari kegirangan dan saking girangnya ia sampai lupa diri dan... melompat ke dalam air! Tentu saja semua orang di dalam dua perahu itu menjadi panik melihat tidak karu-keruan sebabnya, si dogol itu melompat ke dalam laut dan berenang ke sana ke mari sambil bernyanyi nyanyi.

"Lee Tai, kau sedang apa-apaan?" tegur Wan Sin Hong terheran-heran.

Baru Lee Tai sadar akan keadaannya yang memang tidak sewajarnya itu, maka cepat -cepat ia memutar otaknya yang puntul untuk mencari jawaban. Akhirnya ia menjawab, "Wan-bengcu. aku merasa kepanasan dan ingin mandi sebentar menyegarkan tubuh." Cui Lee Tai merasa bangga akan jawabannya yang langsung ini, tanda bahwa ia cerdik!

Akan tetapi jawabannya membuat semua orang tertawa sehingga ia menjadi kebingungan. Apa lagi ketika ia melihat Ang Lian cekikikan mentertawakannya, ia makin bingung dan penasaran. "Apa tidak boleh mandi?" tanyanya mendongkol sambil menyambar pinggiran perahu dan merayap naik dengan pakaian basah kuyup.

"Mana ada orang mandi dengan pakaian lengkap? Dan membawa-bawa golok pula, apakah kau hendak menyerang istana Hai-liong-ong di dasar laut?" kata Wan Sun sambil menahan kegelian hatinya.

Cin Lee Tai menunduk, memandang pakaiannya yang basah kuyup. Ia tak dapat menjawab, hanya buru-buru memasuki kamar perahu untuk bertukar pakaian kering. Akan tapi kegembiraannya tidak lenyap, tidak perduli ia ditertawakan orang, hatinya sebesar gunung. Liok Kong Ji? Itu syaratnya? Jangankan harus mengalahkan Liok Kong Ji biar harus melawan seribu orang Liok Kong Ji ia takkan gentar asal hadiahnya Ang Lian. Akan kutabas batang leher Liok Kong Ji dengan golokku, pikirnya. Pikiran hal membuat ia datang lagi menghadap Sin Hong.

"Ada apa lagi, Lee Tai? Harap kau jangan sekali-kali lagi terjun dan mandi di laut, banyak ikan hiu di sini, kalau kau dikeroyok hiu, biar aku sendiri takkan dapat menolong nyawamu."

"Wan-bengcu, apakah Liok Kong Ji itu sudah pasti berada di pulau itu?"

"Tentu saja, memang kita sedang mencari dia. Mengapa?”

"Harap bengcu memberi kesempatan kepadaku untuk menghadapi iblis itu. Siauwte ingin sekali menabas batang lehernya dengan golokku ini, jangan sampai didahului orang lain!”

Wan Sin Hong maklum akan keberanian orang she Ciu ini yang luar biasa, juga maklum akan kedogolannya. Akan tetapi mendengar ini, benar-benar perutnya menjadi sakit karena menahan tawa. Dia sendiri belum tentu dapat menahan Liok Kong Ji, dan si dogol ini bersumbar hendak menebas batang leher Liok Kong Ji! Benar-benar seperti seekor katak hendak membunuh kerbau. Akan tetapi Sin Hong berperasaan halus, tidak mau mengecewakan atau menyinggung perasaan hati orang lain, maka ia mengangguk dan menjawab,

"Baiklah, Lee Tai. Asalkan dapat berlaku hati-hati, dia lihai sekali.”

"Jangan khawatir, bengcu. Golokku biasanya ampuh sekali menghadapi orang jahat."

Ciu Lee Tai menjadi makin gembira. Semenjak saat itu, ia kelihatan berseri dan gembira dan bernyanyi-nyanyi. Memang suaranya merdu, sehingga kegembiraan si dogol ini menghibur orang-orang lain dan membuat orang lain gembira pula. Akan tetapi kecuali Ang Lian, tidak ada orang lain yang dapat menduga mengapa si dogol itu demikian gembira. Hanya Ang Lian yang tahu dan diam diam gadis jenaka ini terharu juga. Ia dapat menjajaki hati Lee Tai dan tahu bahwa pemuda dogol itu sudah membayangkan akan dapat menewaskan Liok Kong Ji dengan mudah.

"Sayang...” Ang Lian berkali-kali menarik napas panjang dan berbisik-bisik kepada diri sendiri. "Sayang ia tidak selihai Tiang Bu...”

Sin Hong membawa rombongannya mendarat di pantai yang datar dan sunyi. Mereka berlompatan ke darat dengan hati-hati sekali. Mereka merasa heoran dan curiga melihat pantai itu tidak terjaga dan sunyi sekali. Sin Hong lalu membagi tugas. Huang-ho Sian jin dan dua orang puterinya diberi tugas menjaga perahu-perahu di pantai agar perahu perahu itu tidak sampai diganggu musuh. Kemudian dengan delapan orang kawan lainnya Sin Hong memasuki hutan di pulau itu menuju ke tengah pulau. Mereka menjadi makin heran melihat beberapa orang penjaga menggeletak, terluka atau tewas. Bahkan mereka menemukan lima orang yang berpakaian berwarna menggeletak menjadi mayat.

"Eh. bukan kah ini Lam-thian-chit-ong,” kata Hok Tek Hwesio yang mengenal tokoh-tokoh selatan ini. "Mana lagi yang dua? Masih ada dua orang yang berpakaian hit am dan putih , kemana mereka dan siapa yang bisa membunuh mereka ini? Mereka terkenal lihai dengan Chit-seng-tin mereka."

Wan Sin Hong juga merasa heran. Ia sudah mendengar bahwa tujuh orang perampok ini menjadi kaki tangan Liok Kong Ji. Kiranya hanya satu orang yang dapat mengalahkan mereka dan orang itu tentu Tiang Bu. Benarkah pemuda itu sudah menyerbu ke sini? Ia mengajak kawan-kawannya maju terus. Di rumah gedung tempat tinggal Liok Kong Ji sunyi sekali. Di sana sini be rgeletakan para penjaga. Sin Hong mendesak seoran g penjaga yang luka tertotok. Ia membebaskan totokannya dan bertanya.

"Siapa yang menyerbu ke sini dan melukai kalian?”

"Hamba tidak tahu. Seorang manusia berkepandaian seperti setan. Pergi datang tidak meninggallan bekas dan tahu-tahu kami roboh...” orang itu menerangkan karena ia memang tidak mengenal Tiang Bu yang merobohkannya.

"Di mana Liok Kong Ji?"

"Tidak tahu, mungkin keluar menghadapi musuh."

Sin Hong tidak mau perdulikan lagi orang itu dan mengajak kawan-kawannya maju terus. Akan tetapi Ciu Lee Tai yang merasa kecewa karena Ang Lian tidak diajak menyerbu dan terpisah dari sampingnya, melampiaskan kemarahannya dengan menendang orang itu yang seketika putus nyawanya.

“Lee Tai, jangan lancang membunuh orang!" tegur Sin Hong.

"Bengcu, orang seperti ini adalah setengah iblis, kalau tidak dibunuh kelak tentu menjadi penjahat pula mengacau rakyat." bantah Lee Tai.

Sin Hong menganggap pendapat ini betul juga sungguh pun hatinya tidak mengijinkan orang berlaku kejam. Memang Sin Hong terkenal sebagai seorang pendekar yang halus budinya, tidak mau membunuh kalau tidak penting dan terpaksa sekali.

Ketika mereka memasuki rumah gedung itu, di dalamnya hanya terdapat para selir dan para pelayan wanita. Mereka ini semua biarpun sudah mempelajari ilmu silat, sekarang tidak berani berkutik dan berlutut minta diampuni jiwanya. Juga dari mereka ini Sin Hong tidak bisa mendapat keterangan di mana adanya Liok Kong Ji, Liok Cui Kong dan Cun Gi Tosu. Akan tetapi, ia mendapat petunjuk di mana adanya pondok Cun Gi Tosu, dan mendengar pula banwa Leng Leng dibawa pergi oleh tosu itu ke pondoknya.

Wan Sin Hong mengajak rombongannya menyusul ke pondok itu! Alangkah kagetnya ketika tiba di depan pondok, ia melihat tosu buntung itu sudah menggeletak tak bernyawa di atas

tanah. "Ada yang mendahulul kita!” Teriaknya dan ia berlari-lari, diikuti oleh isterinya, memasuki pondok Cun Gi Tosu untuk mencari anak mereka, Leng Leng. Akan tetapi di dalam pondok hanya terdapat seorang pelayan wanita yang menangis ketakutan.

"Hayo lekas bilang, di mana adanya Leng-ji?" Li Hwa membentak sambil menempelkan pedangnya di batang leher pelayan itu yang me njadi makin ketakutan.

"Tadi... tadi di sini... hamba yang bertugas mengasuhnya... lalu datang Liok-loya dan Liok-kongcu... nona Leng Leng dibawa pergi...!"

"Ke mana?” tanya Sin Hong yang berobah air mukan ya mendengar bahwa anaknya dibawa Liok Kong Ji.

"Mana hamba tahu? Ampun, hamba tidak bersalah apa-apa...”

Sin Hong tidak perdulikan lagi pelayan itu, bersama isterinya dan yang lain lain ia menggeledah ke dalam, akan tetapi betul saja, tak dapat ia menemukan anaknya di dalam pondok.

“Tentu ia membawa Leng-ji lari ke luar. Hayo cari,” kata Sin Hong dan keluarlah mereka. Sesampainya di luar, Sin Hong lalu membagi rombongannya. Dia sendiri bersama isterinya, Wan Sun dan Coa Lee Goat menuju ke kiri dan dia minta supaya rombongan lain yaitu Bu Kek Siansu, Pang Soan Tojin, Ho Tek Hwesio, dan Ciu Lee Tai mencari di sebelah kanan. Dengan cara begini Sin Hong hendak mengepung dan memotong jalan Liok Kong Ji dan Cui Kong.

********************

Sementara itu, Tiang Bu dan Bi Li juga mencari terus, keluar masuk gua-gua yang banyak terdapat di pesisir batu karang itu. Akan tetapi belum juga mereka dapat menemukan musuh-musuh mereka. Tiang Bu mendapat akal. Ia naik ke sebatang pohon besar dan tinggi, lalu mengintai puncak pohon itu sampai beberapa lama. Usahanya ini berhasil karena tak lama kemudian ia melihat bayangan dua orang yang dikejar-kejarnya itu bersembunyi di antara batu karang yang bentuknya seperti menara-menara kecil. Yang membuat ia terheran adalah ketika melihat Kong Ji memondong seorang anak perempuan kecil.

la cepat melompat turun dan bersama Bi Li lari ke arah tempat itu. Setelah dekat menyelinap di antara batu karang dengan hati-hati. Akhirnya ia muncul di depan Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang tentu saja menjadi kaget setengah mati.

"Liok Kong Ji, kau sekarang hendak lari ke manakah?" Tiang Bu mengejek dan siap untuk menyerang.

Liok Kong Ji menjadi bingung. Untuk lari memang mudah, akan tetapi ia tahu bahwa Tiang Bu dapat mengejarnya. Untuk mempergunakan bocah yang dipondongnya juga tidak mungkin karena Tiang Bu mana mau memperdulikan bocah itu? Adanya ia membawa Leng Leng adalah untuk dipergunakan sebagai perisai terhadap Wan Sin Hong. Kalau Wan Sin Hong dan kawan kawannya yang mengurun gnya, dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri dengan mengancam nyawa bocah itu.

Cui Kong juga tidak melihat jalan keluar lagi kecuali menyerang mati-matian. Maka ia lalu menggerakkan huncwenya, langsung menyerang Tiang Bu dengan sengit. Liok Kong Ji terpaksa menotok Leng Leng agar anak itu jangan dapat lari, menaruh bocah itu di atas tanah dan iapun membantu Cui Kong. Dengan maju berdua mereka masih dapat bertahan menghadapi amukan Tiang Bu yang luar biasa lihainya itu.

Bi Li tahu diri. Biarpun ia merasa gemas dan benci sekali melihat dua orang musuh besarnya itu, akan tetapi ia cukup maklum bahwa kalau ia melawan atau membantu Tiang Bu, bantuannya itu tidak banyak artinya, bahkan dapat mengacaukan permainan silat Tiang Bu. Maka ia berdiri saja menonton. Ia percaya penuh akan kesaktian kekasihnya, namun tidak urung ia berdebar gelisah juga melihat pedang di tangan Kong Ji menyambar-nyamhar seperti kilat dan huncwe di tangan Cui Kong bergerak ganas diselingi semburan asap hitam yang ia sudah merasai sendiri keganasannya.

Seperti juga tadi, Tiang Bu melayani ayah dan anak itu dengan tenang, namun setiap gerakannya mengandung tenaga dalam sehingga tanpa ia kelit, asap hitam itu sudah buyar sendiri terpukul hawa sinkang yang keluar dari sepasang tangannya. Pertempuran berjalan seru, sengit dan mati-matian.

Ketika mendapat kesempatan baik, huncwo maut di tangan Cui Kong menyambar ke arah kepala Tiang Bu dengan pukulan yang tentu akan meremukkan kepala itu apa bila mengenai sasaran, sedang pedang di tangan Kong Ji menusuk ulu hati, dengan gerakan memutar yang sudah diperhitungkan masak-masak dan amat sukar dielakkan.

Tiang Bu sengaja berlaku lambut sampai Bi Li mengeluarkan jeritan tertahan. Ketika huncwe itu sudah menyentuh rambut kepalanya, tiba-tiba Tiang Bu menggerakkan jari tangannya ke atas, menyentil huncwe itu dari atas sehingea huncwe menyelonong ke bawah dan tepat menangkis pedang Kong Ji yang menusuk ulu hatinya.

"Traangg...!" Sepasang senjata bertemu keras. Api berpijar dan di lain saat pedang di tangan Kong Ji sudah terampas oleh Tiang Bu sedangkan huncwe maut itu sudah terlepas dari tangan Cui Kong!

Tentu saja dalam pertemuan senjata itu, Cui Kong kalah kuat oleh ayah angkatnya dan huncwenya sampai terlempar, sedangkan Tiang Bu mempergunakan kesempatan baik itu untuk merampas pedang Kong Ji. Dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya Liok Kong Ji dan Cui Kong yang sudah kehilangan senjata. Hampir berbareng mereka menghujankan Hek-tok-ciam ke arah Tiang Bu. Akan tetapi sambil tertawa menyeramkan. Tiang Bu memutar pedang rampasan nya dan se mua jarum runtuh ke bawah, bahkan ada yang membalik dan menyambar dua orang pelepas jarum itu sendiri!

Memang Kong Ji dan Cui Kong orang-orang licik sekali. Dalam keadaan terdesak dan senjata dilucuti dan Tiang Bu yang parkasa malah kini berpedang, mereka masih mampu mempergunakan siasat cerdik. secepat kilat Kong Ji menyambar tubuh Leng Leng di atas tanah dan mempergunakan bocah ini sebagai senjata! Ia memegang kedua kaki Leng Leng dan memutar tubuh itu untuk menghadapi serangan Tiang Bu.

"Tiang Bu, jangan lukai bocah itu...!” Bi Li menjerit. Gadis ini tidak ingin melihat Tiang Bu membunuh bocah yang mungil itu. Akan tetapi, tanpa cegahannya, Tiang Bu sendiri tidak sudi membunuh bocah yang tidak diketahui siapa itu. Hatinya tidak sekejam dan ia terpaksa mengalah mundur, menyelipkan pedang rampasan di pinggang dan maju lagi dengan kedua tangan kosong untuk mencoba merampas bocah itu dari tangan manusia iblis Liok Kong Ji.

Pada saat itu, Cui Kong yang licik juga menyerang lagi dengan Hek-tok ciam, akan tetapi tidak ditujukan kepada Tiang Bu, melainkan ke arah Bi Li! Namun, kalau hanya diserang senjata rahasia saja, kepandaian Bi Li cukup tinggi untuk menghindarkan dengan elakan manis dan kebutan tangan kanannya ia dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi Cui Kong telah dapat melompat jauh meninggalkan tempat itu Kong Ji menyusul. Ketika Tiang Bu hendak mengejarnya, ia membentak,

"Terimalah popwe (jimat) ini!” Sambil membentak begitu, tubuh Leng Leng ia lontarkan sekuat tenaga ke arah Tiang Bu! Sungguh kejam manusia ini, untuk menyelamatkan diri ia tak segan-segan untuk membunuh siapapun juga.

Tiang Bi kaget sekali. Kalau tubuh bocah itu tidak ia terima, tentu bocah itu akan mati terbanting pada batu-batu karang. Ia lalu bersiap dan dengan kedua tangannya ia menangkap tubuh bocah itu di udara. Ternyata Leng Leng sudah lemas dan pingsan. Ketika diputar-putar tadi saja Leng Leng sudah merasa pening dan sukar bernapas, membuatnya pingsan.

Tiang Bu menyerahkan bocah ini kepada Bi Li dan ia hendak mengejar, akan tetapi dua orang musuhnya sudah lenyap, tidak ketahuan ke mana perginya. Ia membanting-banting kaki. Lagi-lagi dua orang musuh itu terlepas dari tangannya berkat kelicikan mereka.

"Aku harus dapatkan mereka, aku harus basmi mereka!” gerutunya.

Bersama Bi Li ia mencari terus, akan tetapi sementara itu siang telah berganti senja dan udara mulai gelap. Leng Leng siuman dari pingsannya dan menangis.

"Diam, nak, diam... siapa namamu?” tanya Bi Li menimang-nimang bocah itu.

"Leng Leng... mana Sam-ma?" tanya anak itu menanyakan inang pengasuhnya.

Bi Li merasa sayang kepada bocah yang mungil ini, sambil mengelus kepalanya ia bertanya tentang ayah ibu bocah itu, akan tetapi Leng Leng yang baru saja mengalami banyak penderitaan semenjak "bibi Ceng Ceng” terbunuh, tak dapat banyak memberi keterangan. Ia hanya menangis dan berkali-kali berkata,

“Paman Kong Ji jahat sekali.... jahat sekali...“

Akhirnya setelah dihibur dan dibuai oleh Bi Li, ia tertidur dalam pang kuan Bi Li. “Heran, bocah ini siapakah dan anak siapakah. Kecil-kecil ia sudah tahu bahwa Kong Ji jahat...” kata Bi Li kepada Tiang Bu.

Akan tetapi Tiang Bu memberi isyarat supaya jangan berisik sambil menuding ke depan. Ketika Bi Li memperhatikan, benar saja dari arah itu terdengar suara orang bicara, makin lama makin keras, tanda bah wa dua orang yang bicara itu sedang berjalan mendekati tempat mereka.

“Dengan bocah itu di tanganmu, kau tak dapat menjaga diri dengan sempurna, lebih baik kau menanti di balik batu karang.” Tiang Bu berbicara kepada kekasihnya.

Bi Li mengangguk. Memang, kalau fihak musuh muncul dan terjadi pertempuran. tentu saja dengan adanya bocah itu ia takkan dapat melakukan pembelaan dari dengan baik, apa lagi kalau harus melindungi Leng Leng. Tanpa banyak membantah ia lalu pergi membawa Leng Leng yang sedang tidur itu, menyelinap di balik batu karang. bersembunyi sambil mengintai ke arah Tiang Bu.

Keadaan sudah mulai remang-remang, Tiang Bu tidak mengenal muka dua orang yang datang memasuki hutan itu, hanya tahu bahwa dua orang itu adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Ia mengira bahwa mereka ini tentulah kawan-kawan Liok Kong Ji maka tiba-tiba ia melompat ke luar dan membentak,

"Kalian siapa dan di mana Liok Kong Ji?” Ia sudah siap untuk menyerang tokoh dua orang itu.

Dua orang itu kaget bukan kepalang, akan tetapi pemuda itu segera berseru girang. “Tiang Bu...“

Gadis itupun berseru kaget dengan sikap jenaka. “Ya Dewa Maha Agung! Kiranya saudara Tiang Bu ini...?? Ah, bertahun-tahun enci Pek Lian merindukan dan menanti-nanti, tidak tahunya dapat bertemu di tempat seperti ini. Kalau ini bukan jodoh namanya, entah disebut apa!”

"Ang Lian, jangan main-main!" pemuda itu membentak si gadis baju merah yang jenaka...

Tangan Gledek Jilid 48

Tangan Gledek Jilid 48

CUN GI TOSU mengira bahwa sekali pukul ia akan dapat membikin mampus lawan muda ini. Ilmu tongkatnya memang hebat, pukulannya mengandung tenaga lweekang hampir seribu kati dan sukar sekali dielakkan lawan, apa lagi ditangkis. Akan tetapi, alangkah heran dan juga gembira hatinya ketika ia melihat bocah itu mengangkat tangan kanan dan hendak menangkis pukulan tongkat itu dengan telapak tangan!

“Ha-ha, remuk tulang-tulangmu!” bentak Cun Gi Tosu sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Tak dapat tidak, pikirnya, tangan pemuda goblok ini pasti remuk. Jangankan baru telapak tangan orang lagi masih muda, senjata baja yang bukan pusaka ampuh tentu akan patah-patah atau hancur!

Sama sekali Cun Gi Tosu tak pernah mimpi bahwa ia tidak menghadapi seorang manusia dengan kepandaian silat biasa, melainkan menghadapi seorang ahli waris langsung dari Omei-san, murid Tiong Sin Hwesio pewaris Tat Mo Couwsu dan Tiong Sin Hwesio pewaris Hoat Hian Couwsu! Bukan hanya mewarisi kepandaian kedua orang tokoh Omei-san yang tidak ada tandingannya itu, malah sudah pula mewarisi sinkang dari kedua orang sakti itu. Apa lagi setelah mempelajari kitab Seng-thian-to, tenaga dalam dari pemuda ini sudah jangan dikata lagi kehebatannya, mendekati tenaga sakti yang dimiliki oleh para couwsu (guru besar) dari sekalian partai persilatan besar.

"Plak!" Ujung Tongkat Pengacau Langit bertemu di udara dengan telapak tangan Tiang Bu dan... Cun Gi Tosu meloncat-loncat ke belakang dengan sebelah kakinya. Hampir saja ia terjengkang roboh kalau ia tidak cepat-cepat melambung tinggi dan berpoksai (berjungkir-balik) sampai tiga kali, baru ia mampu berdiri tegak dan dapat pula menggunakan tongkatnya untuk menyandarkan diri. Matanya terbuka lebar lebar dan mulutnya melongo. Serasa mimpi kejadian tadi, hampir tak dapat ia percaya. Apakah tiba-tiba tenaganya sudah musnah? Tak mungkin! Ia mengayun tongkatnya ke arah batang pohon besar di sebelah kirinya.

“Brakk...!” Batang pohon itu patah dan pohonnya tumbang mengeluarkan suara berisik. Baru ia mau percaya bahwa pemuda di depannya ini memang sakti bukan main dan mulai ia percaya bahwa muridnya, Cui Kong dan Liok Kong Ji tidak berlebih-lebihan ketika memuji kepandaian Tiang Bu.

Akan tetapi dia adalah Lo-thian-tung Cun Gi Tosu yang terkenal berilmu tinggi. Masa ia harus takut menghadapi lawan begini muda? Mungkin bocah ini sudah mewarisi tenaga besar, akan tetapi dalam hal ilmu silat. tentu belum masak, belum lama terlatih dan belum banyak pengalaman. Oleh karena pikiran ini, hati Cun Gi Tosu tetap besar dan tabah. Ia memutar tongkatnya dan menyerang lagi sambil membentak,

"Bocah, tenagamu besar. Akan tetapi jangan kira Lo-thian tung takut!"

Memang benar semua dugaan Cun Gi Tosu tadi. Melihat usianya yang baru dua puluhan, tentu saja di banding dengan Cun Gi Tosu, Tiang Bu sama sekali tak dapat direndengkan dalam hal kematangan latihan den pengalaman bertempur. Sebelum Tiang Bu terlahir di dunia. Cun Gi Tosu sudah menjadi seorang tokoh besar. Akan tetapi, harus diketahui bahwa Tiang Bu telah mewarisi ilmu silat yang diciptakan sendiri oleh Tat Mo Couwsu dan Hoat Hian Couwsu.

Mengingat bahwa ilmu ilmu silat yang ada sebagian besar bersumber pada dua orang guru besar ini, dapat dibayangkan bahwa ilmu silat yang dipelajari oleh Tiang Bu memang lebih sempurna dan lebih tinggi tingkatnya dari pada ilmu silat yang dimiliki oleh Cun Gi Tosu. Memang dia kalah matang dan kalah pengalaman, andaikata pengalaman dan kematangan ilmu silatnya sebanding dengan tosu itu kiranya dalam sepuluh jurus saja tosu buntung itu akan roboh.

Terjadilah pertempuran yang benar benar hebat. Kali ini Tiang Bu menghadapi lawan yang benar-benar tangguh sesudah ia dahulu menghadapi Wan Sin Hong. Seperti juga dahulu ketika menghadapi Wan Sin Hong, Tiang Bu terdesak oleh ilmu tongkat yang dimainkan oleh Cun Gi Tosu secara dahsyat sekali. Kemahiran dan kematangan Cun Gi Tosu dalam bermain silat tongkat benar-benar sudah mencapai batas tinggi sekali dan dalam jurus jurus pertama Tiang Bu benar terdesak terus. Akan tetapi lambat laun pemuda ini dapat memahami inti sari ilmu tongkat lawannya itu dan mengimbanginya.

Sudah dua kali ia membiarkan pundak dan pahanya dipukul, hanya dilawan dengan hawa sinkang di tubuhnya sehingga pukulan-pukulan itu hanya terasa sakit sedikit saja. Kemudian setelah tiga puluh jurus lamanya ia memahami inti sari gerakan lawan, baru Tiang Bu membalas serangan lawan dengan desakan-desakan ilmu pukulannya yang lihai. Baru Cun Gi Tosu terkejut bukan kepalang. Tadinya, melithat pemuda itu terdesak, bahkan dua kali kena pukulannya ia sudah mulai girang den mangira bahwa ia tentu akan dapat merobohkan lawan ini. Tidak tahunya, yang tiga puluh jurus lamanya itu memang sengaja dipergunakan oleh Tiang Bu untuk memahami gerakan lawan dan mengalah, mempertahankan diri terus menerus dengan llmu Kelit Sam-hoan-sam-bu.

Kini setiap pukulan tongkat Cun Gi Tosu, ditangkis atau dikelit dengan balasan serangan pukulan keras. Kasihan sekali kakek buntung itu yang harus berloncatan ke sana ke mari menghindarkan pukulan Tiang Bu yang didahului oleh sambaran angin pukulan yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin itu. Cun Gi Tosu makin ketakutan karena maklum bahwa lweekang pemuda ini sudah sedemikian tingginya sehingga dalam satu serangan dapat mempergunakan Im-kang dan Yang-kang secara bergantian atau dicampur campur. Tingkat setinggi ini biar dia sendiripun masih belum dapat mencapainya!

Berkali-kali tongkat bertemu dengan telapak tangan Tiang Bu. Makin lama, setiap kali tongkat dan tangan bertemu, Cun Gi Tosu terhuyung makin jauh ke belakang dan pada jurus ke lima puluh. ketika tongkat Cun Gi Tosu menghantam kepala, Tiang Bu menangkis lagi, Cun Gi Tosu berteriak kaget karena kali ini ia seperti tak bertenaga lagi dan tahu-tahu ia merasa dadanya sakit sekali. Kembali ia menghantam, ditangkis lagi dan ia menjerit, dadanya seperti dipukul orang.

“Totiang, kejahatanmu sudah memuncak. Kau menghantam diri sendiri sampai mati,” kata Tiang Bu yang mendesak terus. Memang sesungguhnya, hawa pukulan dari Tiang Bu adalah hawa bersih yang keluar dari sinkang di dalam tubuhnya. Pukulan-pukulan Cun Gi Tosu yang dilakukan dengan pengerahan tenaga lwee lkang itu makin lama makin lemah, selalu dipukul mundur dan akhirnya tenaganya itu melukai tubuh sendiri di bagian dalam.

Makin hebat ia memukul, kalau ditangkis maka tenaganya itu makin hebat menghantam tubuh sendiri tanpa ia sadari. Kembali tongkatnya melayang, kini malah menyodok ulu hati Tiang Bu. Pemuda ini mengerahkan tenaga dan menerima totokan itu dengan telapak tangnnya secara tiba-tiba dan digentakkan.

“Dukk!!” Cun Gi Tosu terpental ke belakang, muntah-muntah darah dan roboh terlentang tak bernapas lagi. Jantungnya terkena goncangan hebat oleh tenaga sendiri yang membalik dan tewas karena jantungnya rusak.

“Tiang Bu... tolonglah aku...” tiba-tiba Tiang Bu merasa seakan-akan tubuhnya kaku mendengar suara ini.

Ia menengok dan... apa yang dilihatnya? Bi Li berada dalam pondongan Cui Kong dalam keadaan lemas tertotok. Secepat kilat Tiang Bu melompat bayangannya seperti lenyap merupakan sambaran hebat ke arah Cui Kong. Akan tetapi Liok Kong Ji sudah menghadang di depannya dan berkata keras,

"Tiang Bu, kekerasan hanya berarti tewasnya kekasihmu ini...”

Kata-kata ini me mmbuat Tiang Bu surut kembali dengan wajah pucat. "Jangan... jangan ganggu dia... jangan kalian berani mengganggu calon isteriku! Lepaskan!"

Liok Kong Ji tersenyum dan memandang ke arah Bi Li dengan muka berseri “Aha, calon isterimuya? Bagus, dia calon mantuku kalau begitu. Bagaimana aku mau mengganggu calon mantu sendiri? Tidak, tidak, anakku gagah perkasa. Aku bukan orang kejam, Kau pun tentu bukan seorang anak yang kejam mau membunuh ayah sendiri bukan?"

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Kita tinggalkan dulu Liok Kong Ji yang cerdik dan penuh tipu muslihat itu mencoba menggunakan lidahnya yang runcing untuk mempengaruhi Tiang Bu. Bagaimanakah Bi Li dapat terjatuh ke dalam tangan Cui Kong dan Kong Ji? Mari kita mundur sedikit.

Seperti telah kita ketahui, Bi Li ditinggalkan di pantai daratan oleh Tiang Bu yang tidak menghendaki kekasihnya itu terancam bahaya di pulau musuh musuhnya. Kemudian datang Ang-jiu Mo li yang mengajak muridnya itu menyusul ke Pulau Pek-houw-to untuk membalas dendam kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi lengan Bi Li.

Tanpa mendapat kesukaran Ang-jiu Mo-li dan Bi Li mendarat di pulau itu dan cepat berlari-lari dari pantai timur yang benar seperti dugaan Ang jiu Mo-li tidak terjaga kuat karena penghuninya menyangka bahwa musuh tentu akan datang dari barat. Di sana-sini Ang-jiu Mo-li dan Bi Li melihat penjaga-penjaga menggeletak tertotok atau terluka. Tahulah mereka bahwa Tiang Bu sudah mulai turun tangan.

Bi Li mendesak gurunya supaya mempercepat perjalanan karena gadis ini mulai mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya, biarpun ia percaya penuh akan kesakitan Tiang Bu. Ang jiu Mo-li maklum akan isi hati muridnya dan iapun mengerti bahwa menghadapi lawan-lawan seperti Liok Kong Ji dan kaki tangannya memang bukan hal yang boleh dipandang ringan. Mereka berlari lebih cepat lagi.

Tiba-tiba mereka malihat dua orang laki-laki tengah be rlari cepat dari depan dan setelah dekat ternyata bahwa dua orang itu bukan lain adalah Liok Kong Ji sendiri bersama Liok Cui Kong! Tentu saja Ang-tiu Mo-li menjadi girang sekali dapat bertemu muka dengan musuh-musuh besar yang ia cari-cari. Kegirangannya bercampur aduk dengan kemarahan besar ketika ia melihat Cui Kong membawa lengan kering yang dilingkari ular sebagai senjata!

Sekali pandang saja maklumlah ia bahwa pemuda keji itu telah mempergunakan lengan Bi Li sebagai sebuah senjata yang mengerikan. Juga Bi Li tahu akan hal ini maka kemarahannya memuncak. Dengan pedang di tangan gadis ini langsung menyerang Cui Kong, sedangkan Ang-jiu Mo li membentak.

"Liok Kong Ji manusia iblis, sekarang tiba saatmu untuk kembali ke neraka jahanam!“ Wanita sakti ini lalu maju menyerang dengan tangannya yang menjadi merah seperti api.

Melihat munculnya wanita tokoh besar utara ini, biarpun dia tidak gentar, namun membuat Kong Ji diam-diam mengeluh. Tiang Bu sudah merupakan lawan tangguh, dan di sana masih ada ancaman Wan Sin Hong dengan kawan-kawannya yang sedang mendatangi. Sekarang tahu-tahu ditambah lagi dengan seorang Ang-jiu Mo-li yang ia cukup kenal kelihatannya. Aneh, dasar ia sedang sial, pikirnya.

Tanpa ban yak cakap lagi Liok Kong Ji mempergunakan pedangnya menghadapi Ang-jiu Mo-li. Pedangnya diputar cepat sekali dan Ang jiu Mo-li terkejut melihat sinar pedang berkilauan dan gerakannya selain cepat dan aneh, juga mendatangkan hawa dingin menandakan bahwa tenaga lweekang dari mus uh besarnya ini telah mendapatkan kemajuan luar biasa. Ia berlaku hati-hati dan cepat mengelak mundur, kemudian sekali berseru nyaring Ang-jiu Mo-li lalu meloloskan selendang suteranya untuk menghadapi pedang lawan yang tak boleh dipandang ringan itu.

Memang Liok Kong Ji sekarang jauh bedanya dibandingkan dengan Liok Kong Ji beberapa tahun yang lalu. Dia sudah memahami isi kitab Omei-s an, tidak saja ia mewarisi ilmu pedang luar biasa dari Omei san yaitu Ilmu Pedang Soat-lian-kiam-coansi (Ilmu Pedang Teratai Salju), akan tetapi juga ia telah mempelajari kitab Pat-sian-jut bun yang ia rampas dari Lie Ceng Ceng.

Kemudian ia juga mempelajari kitab ke tiga dari Omei-san, yaitu Soan-bong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Payuh). Ini semua masih belum hebat , yang paling hebat dan yang membuat ia mendapat kemajuan pesat sekali adalah ketika ia mempelajari kitab Omei-san yang paling sulit dipelajari namun merupakan ilmu paling tinggi, yaitu kitab Delapan Jalan Utama yang ia dapat dari Toat-beng Kui-bo.

Setelah bertempur dua-tiga puluh jurus saja Ang-jiu Mo-li sudah merasa bahwa Liok Kong sekarang benar-benar hebat kepandaiannya dan ia hanya dapat mangimbanginya dengan amat sukar dan harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya. Merasa penasaran karena dahulu ketika Liok Kong Ji masih tinggal di utara, pernah Ang-jin Mo-li mengacau pasukan Mongol dan pernah pula ia bertanding dengan Liok Kong Ji yang ia desak dan permainkan, sekarang desakan Liok Kong Ji membuat Ang-jiu Mo-li makin marah. Dulu kalau tidak ada bantuan dari panglima-panglima Mongol, tentu Liok Kong Ji sudah roboh olehnya. Masa sekarang satu lawan satu ia kalah?

Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li mengeluarkan pekik nyaring. tangan merahnya melayang ke depan dengan hawa pukulan sepenuhnya manyambar ke arah dada Liok Kong Ji, sedangkan selendang suteranya bagaikan ular merah menyambar kepala Kong Ji. Inilah sejurus dari ilmu Silat Kwan-Im-cam-mo (Dewi Kwan lm Menaklukkan Iblis) yang ia pelajari dari kitab Omei-san yang terjatuh ke dalam tangannya. Hebatnya serangan ini sudah jangan ditanya lagi. Ang-jiu Mo-li yang sudah marah itu benar-benar menurunkan tangan maut dan agaknya Liok Kong Ji takkan dapat menghindarkan diri lagi.

Akan tetapi, kalau kepandaian Ang-jiu Mo-li hanya bertambah oleh ilmu dari sebuah saja kitab Omei-san, adalah Kong Ji menambah kepandaiannya dari empat buah kitab Omei-san, dan kitab-kitab yang ia pelajari tingkatnya lebih tinggi pula. Kalau kepandaian Ang jin Mo-li hanya meningkat dua bagian, kiranya kepandaian Liok Kong Ji sudah meningkat delapan bagian!

Menghadapi serangan maut itu, Liok Kong Ji juga mengeluarkan seruan keras, pedangnya berkelebat-kelebat seperti naga mengamuk, tangan kirinya didorongkan ke depan. Pedang bertemu selendang, selendang melibat. Pakulan Ang-sin-ciang bertemu pukulan Tin -san kang membeleduk di udara membuat Ang-jiu Mo-li, tergetar seluruh anggauta tubuhnya. Selendang masih melibat, lemas lawan lemas karena kalau Kong Ji mempergunakan tenaga kasar pedargnya bisa patah. Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li membetot selendangnya yang menjadi kaku dan keras. Akan tetapi pedang itu juga menjadi keras dan..."krak!" selendang itu putus.

Liok Kong Ji tertawa bergelak. Wajah Ang jiu Mo-li menjadi semerah tangannya. Wanita sakti itu menyerang lagi mati-matian untuk menebus kekalahannya dalam adu tenaga lwee-kang tadi. Biarpun selendangnya sudah putus sebagian, namun senjata istimewa ini masih berbahaya sekali. Sementara itu, Bi Li yang manyerang Cui Kong dengan mati-matian, harus meagakui keunggulan pemuda ini. Sambil tertawa-tawa Cui Kong melayaninya, kadang-kadang menyindir dan mengejek.

"Hai-hai... nona manis, jangan keras. keras membacok lenganmu sendiri!” katanya sambil mengangkat lengan kering itu untuk menangkis pedang Bi Li yang menyambar-nyambar.

"Aduh, kau makin cantik jetita saja, seperti patung Kwan Im yang buntung...! Biarpun sudah buntung aku masih mau...!”

Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan hati Bi Li ia dilawan dengan sebuah lengannya sendiri yang sudah kering dan mengerikan, ditambah lagi oleh ejekan-ejekan yang kadang-kadang bersifat kotor dari lawannya. Dengan nekat sekali Bi Li menghujankan serangan, kalau perlu ia mati mengorbankan nyawanya asal dapat membunuh orang ini. Sepasang mata yang bening itu berkilat, bibir yang merah digigit dan pedangnya mengeluarkan suara mengaung, menimbulkan segulung sinar berkeredepan.

Biarpun tingkat kepandaian Cui Kong lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya. namun kiranya takkan mudah bagi pemuda itu untuk merobohkannya. Apa lagi karena melihat wajah Bi Li yang memang cantik sekali itu, hati Cui Kong tidak tega untuk membunuhnya dan timbul pikirannya hendak menawan Bi Li hi dup-hidup. Tidak saja pemuda ini sudah tergila-gila akan kecantikan Bi Li yang sudah buntung lengannya juga sebagai seorang cerdik seperti ayah angkatnya, ia maklum bahwa Bi Li dapat ia pergunakan sebagai perisai terhadap Tiang Bu yang mencinta gadis ini.

Menghadapi kenekatan Bi Li, Cui Kong menjadi kewalahan juga. Akhirnya ia terpaksa mengeluarkan huncwenya dan dengan senjata ini ia menyerang Bi Li yang menjadi kocar-kacir pertahanannya. Selagi gadis ini terdesak, tiba-tiba Cui Kong meniup huncwenya dan asap kekuningan menyambar ke arah muka gadis itu Bi Li mencoba untuk mengelak, akan tetapi ternyata asap itu bukan asap beracun, hanya dipergunakan untuk menggertak saja. Selagi gadis itu men curahkan perhatian kepada serangan asap, Cui Kong menggerakkan huncwenya dan... Bi Li roboh tertotok, tak berdaya lagi.

Cui Kong tertawa senang. “Cui Kong, bantulah...!" terdengar Kong Ji berseru melihat anak angkatnya sudah berhasil merobohkan lawannya.

Cui Kong melompat dan di lain saat Ang-jiu Mo-li sudah dikeroyok dua oleh ayah dan anak yang lihai ini. Tentu saja Ang-jiu Mo-li menjadi makin kewalahan. Tadi saja menghadapi Kong Ji ia sudah berada dalam keadaan terdesak. Apa lagi sekarang Cui Kong maju dan ke pandaian pemuda ini memang sudah hebat. Namun Ang-jiu Mo-li tidak menjadi gentar. Dengan mati-matian ia membela diri dan membalas serangan kadua orang lawannya dengan sengit.

Setelah menghadapi keroyokan sampai tiga puluh jurus, Ang-jiu Mo-li menjadi lelah sekali. Kedua lawannya bertenaga kuat dan seti ap kali menangkis ia harus mengerahkan seluruh lweekangnya. Lengan kering di tangan Cui Kong menyambar hebat, ular kecil yang -melingkar di lengan itu siap menggigit. Jari-jari tangan kering yang mengerikan itu seperti cakar seakan mengarah muka Ang-jiu Mo-li.

Serangan ini hebat datangnya karena merupakan susulan dari pada serangan-serangan Liok Kong Ji yang dapat digagalkan oleh Ang-jiu Mo-li. Menghadapi serangan dengan lengan kering muridnya ini timbul kemarahan hati Ang-jiu Mo-li. Dari mulutnya terdengar pekik keras sekali, tangannya yang sudah merah membara itu menghantam ke depan ke arah lengan dan ularnya.

"Brakk!” Tulang-tulang kering itu hancur berantakan berikut tubuh ular kecil yang menjadi remuk berikut tulang-tulangnya! Cui Kong sendiri terdorong mundur, akan tetapi di lain saat terdengar Ang-jiu Mo-li mengeluh tubuhnya tergelimpang dan roboh tak bernyawa lagi.

Ang-jiu Mo li ketika menghantam lengan kering tadi mengerahkan perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya, maka ia tidak dapat mengelak lagi ketika pedang di tangan Liok Kong Ji bergerak ke depan dan menembus dadanya! Tamatlah riwayat hidup Ang-jiu Mo-li, wanita sakti tokoh utara yang dulu ditakuti Liok Kong Ji akan tetapi sekarang tewas oleh pedang Liok Kong Ji pula!

“Lekas kita menyusul Cun Gi totiang. Kau bawa bocah itu, siapa tahu berguna nanti,” kata Kong Ji kepada Cui Kong.

Memang bapak dan anak angkat ini setali tiga uang, sama cerdiknya sama liciknya. Tanpa banyak komentar lagi Cui Kong memondong tubuh Bi Li yang sudah tertotok jalan darahnya sehingga tak dapat bergerak lagi seperti lumpuh, tubuhnya lemas sekali.

Demikianlah, ketika Kong Ji dan Cui Kong yang memondong Bi Li tiba di dekat pondok Cun Gi Tosu, mereka melihat tosu buntung itu sudah tewas oleh Tiang Bu. Dan melihat kekasihnya itu, Bi Li yang sudah tak berdaya mengeluarkan seruan minta tolong. Seperti sudah diceritakan di bagian depan, melihat Bi Li tak berdaya dalam pondongan Cui Kong, Tiang Bu melompat dan menerkam hendak merampas tubuh kekasihnya itu. Akan tetapi Kong Ji sudah menghadang di depannya dan mengancam.

"Kalau kau menggunakan kekerasan, berarti calon isterimu itu akan mati, Tiang Bu, sudah berkata-kali kau mendurhaka terhadap ayah sendiri. Kalau dulu kau tidak mendurhaka terhadap ayah sendiri, tentu calon isterimu ini tidak sampai cacad. Sekarang, lebih baik kau kembali ke jalan benar, lebih baik kau berpihak kepadaku, kepada ayahmu sendiri. Setelah kita dapat mengusir musuh-musuh, tentu aku akan mengawinkan kau dengan gadis ini."

Kata-kata Kong Ji dikeluarkan dengan suara halus, penuh bujuk rayu, Tiang Bu diam saja, tak bergerak, keningnya berkerut-kerut. Diamnya pemuda ini dianggap oleh Kong Ji sebagai keraguan dan ada harapan anaknya yang sejati itu suka tunduk kepadanya, maka dengan muka berseri ia menyambung.

“Tiang Bu, puteraku hanya kau seorang. Di dunia ini hanya ada dua orang yang betul-betul kusayang sepenuh jiwaku, pertama adalan mendiang ibumu dan ke dua kau sendiri! Insysflah, anak, tidak bijaksana kau seorang anak melawan ayah sendiri. Kau bisa dikutuk oleh Thian...!"

“Tiang Bu, jangan dengarkan dia. Serang dan bunuh saja!” Tiba-tiba Bi Li berseru marah. Gadis ini khawatir juga melihat Tiang Bu diam saja, ia mengira bahwa pemuda pujaannya itu akan terpengaruh oleh kata-kata Liok Kong Ji.

"Hush, diam kau. Nyawamu di tangan kami!" Cui Kong membentak Bi Li. Pemuda ini terkejut mendengar ucapan gadis tadi karena ia sudah takut-takut kalau Tiang Bu yang ia takuti itu mengamuk.

"Tiang Bu, jangan perdulikan aku. Aku dibunuh tidak apa, asal kau memakai jantung dua orang ini untuk menyembahyangi rohku, aku akan mati meram," kembali Bi Li berseru.

Sebetulnya, Tiang Bu berdiam saja bukan sekali-kali karena terpengaruh oleh kata-kata yang keluar dari mulut Liok Kong Ji. Ia tadi berdiam diri karena sedang bingung dan mencari jalan bagaimana ia dapat me nolong kekasihnya. Teriakan-teriakan Bi Li manyadarkannya. Dua orang ini terlalu jahat, harus dibasmi. Kalau ia melepaskan mereka, apa lagi membantu mereka hanya karena hendak menyelamatkan kekasihnya, itu bukan perbuatan seorang gagah.

Apa lagi Bi Li sendiri rela berkorban nyawa asal dua orang itu terbinasa. Kalau ia sampai tunduk terhadap manusia jahat seperti iblis itu, alangkah akan rendahnya, hiduppun Bi Li takkan sudi memandangnya lagi! Tiang Bu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah Cui Kong, berusaha sekali lagi merampas Bi Li.

"Anak durhaka!” Kong Ji yang berpemandangan dan memiliki gerakan cepat sekali sudah menghadang lagi sambi l melakukan pukulan Hek-tok ciang ke arah dada Tiang Bu.

Pemuda ini tidak perdulikan itu, tangan kirinya menyampok dan tubuh Kong Ji terhuyung huyung oleh tenaga tangkisan luar biasa kuatnya itu. Cui Kong ketakutan dan.... melarikan diri sambil memondong tubuh Bi Li dan berkaok-kaok.

“Tiang Bu, kalau kau mengejarku, kubikin mampus gadis ini!"

Tiang Bu ragu-ragu karena betapapun juga amat cinta kepada Bi Li dan merasa tidak tega kalau sampai kekasih hatinya itu tewas. "Tiang Bu, jangan perduli. Aku rela mati asalkan bisa membasmi ayah dan anak iblis ini!" Bi Li berseru, mencoba untuk meronta akan tetapi tenaganya habis sama sekali.

Tiang Bu molompat lagi mengejar. Akan tetapi Kong Ji menyerangnya dengan pedang terhunus, melakukan tusukan yang amat berbahaya sehingga Tiang Bu terpaksa mengelak. "Anak durhaka, benar-benar kau tidak mau berbaik dengan ayah sendiri?” teriak Liok Kong Ji.

"Persetan dengan kau, manusia busuk!" Tiang Bu balas menyerang. Pemuda in i mendapat pikiran baik. Kalau ia berhasil merobohkan Liok Kong Ji lebih dulu, tentu Cui Kong tidak berdaya lagi. Ia melakukan serangan balasan dengan hebat dan di lain saat dua orang ini, ayah dan anak, bertanding mati-matian. Kembali Tiang Bu menghadapi lawan berat . Tingkat kepandaian Liok Kong Ji pada waktu itu malah lebih tinggi dari tingkat Cun Gi Tosu dan pedangnya amat lihai, pukulan Tin-san-kang dan Hek- tok-ciang ia lakukan berganti-ganti, menyambar-nyambar merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau nyawa lawan.

Melihat ayah angkatnya bertempur melawan Tiang Bu sehingga musuh ini tidak mengejarnya lagi, Cui Kong menjadi lega dan melarikan diri terus! Kong Ji gemas sekali melihat ini. “Cui Kong, anak tak tahu budi! Apa kau tidak mau membantuku?" teriak Kong Ji marah.

Tiang Bu tertawa mengejek. "Manusia macam kau memang pantas mempunyai anak seperti dia, berwatak rendah dan tak kenal budi.” Pemuda ini menyerang terus dengan sengitnya, akan tetapi Liok Kong Ji mengelak dan membalas dengan sama dahsyatnya.

Kalau saja Tiang Bu belum memahami ilmu thian-to dan belum menguasai semua dasar Ilmu silat yang diturunkan oleh kedua orang gurunya di Omei-san, tentu ia takkan kuat menghadapi Liok Kong Ji yang kepandaiannya sudah amat tinggi itu. Baiknya Tiang Bu mengenal inti sari semua limu silat yang dimainkan oleh Liok Kong Ji dengan pedangnya, baik Ilmu Pedang Soan-hong-kiam- hoat yang berdasarkan tenaga Im-kang maupun Ilmu Pedang Soan-tian kiam hoat yang berdasarkan tenaga Yang-kang.

Bahkan inti sari Ilmu Delapan Jalan Utama itupun merupakan "pakaian" saja dan Ilmu Thian-te Si-kong, maka pengaruhnya terhadap Tiang Bu tidak begitu hebat. Satu demi satu ilmu silat yang dimainkan oleh Liok Kong Ji dapat dipecahkan dengan baik oleh Tiang Bu. Sebaliknya, dengan tangan kosong pemuda itn juga tidak begitu mudah mengalahkan Liok Kong Ji, sungguhpun tiap serangan pemuda ini me mbuat pertahanan Kong Ji kocar-kacir.

Debu beterbangan, daun-daun pohon bergoyang- goyang. Bahkan pada jurus ke tiga puluh, Kong Ji menusukkan pedangnya dengan gerak tipu Soan-hong-koan jit (Angin Puyuh Menutup Matahari) sebuah gerakan yang lihai dari Ilmu Pedang Soan-hong-kiam-hoat. Pedangnya membuat gerakan melingkar-lingkar, mula-mula lingkaran-lingkaran kecil, makin lama makin besar sehingga tertutuplah tubuh Kong Ji dan sebentar ke mudian lenyap seakan-akan tubuhnya sudah bergabung menjadi satu dengan pedang. Gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar ini menyambar dengan pesat dan kuatnya ke arah leher Tiang Bu. Dan dari dalam gulungan sinar pedang itu, Liok Kong Ji masih mengirim pukulan pukulan Tin-san-kang yan g dilakukan bertubi-tubi dengan tangan kanannya!

Serangan macam ini benar-benar hebat bukan main. Tiang Bu tidak diberi kesempatan untuk mengelak sama sekali karena lingkaran pedang itu sudah menutup semua jalan keluar. Namun Tiang Bu yang sudah mengenal dasar penyerangan ini tidak menjadi gentar. Tubuhnya dikecilkan dan ia setengah berjongkot untuk menghindarkan tusukan pedang, kedua tangannya ia dorongkan dari bawah ke atas dengan gerak tipu Se ng thian -pai-in (Naik ke Langit Mendorong Awan). Dari kedua tangannya yang mendorong itu keluar tenaga dahsyat yang hawanya saja sudah membentur pukulan-pukulan Tin-san-kang yang dilakukan oleh Liok Kong Ji.

“Brakk...!” Sekarang pohon besar yang tumbang di belakang Tiang Bu roboh seperti terdorong tenaga dahsyat. Inilah ke hebatan tenaga Tin-san-kang yang dilakukan oleh Liok-Kong Ji. Tenaga pukulan ini karena tidak mengenai Tiang Bu bah kan terpental oleh dorongan Seng-thian-pai-in tadi, terus menyambar ke belakang Tiang Bu dan merobohkan sebatang pohon yang besarnya melebihi tubuh Tiang Bu! Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian Liok Kong Ji. Kalau seorang tokoh persilatan biasa saja tak mungkin dapat menghadapi pukulan ini tanpa menderita malapetaka hebat.

Tiang Bu sendiri mau tidak mau menjadi kagum. Kepandaian Liok Kong Ji benar-benar hebat dan ia harus berlaku waspada. Lawan ini malah lebih berat dari pada Cun Gi Tosu, malahan ia meragukan apakah Wan Sin Hong dapat menandingi orang ini. Pemuda ini melihat lawannya melakukan pukulan dahsyat, tidak tinggal diam saja. Setelah menyelamatkan diri dari serangan lawan tadi, cepat ia membalas dengan pukulan jarak jauh yang tidak kalah hebatnya. Empat kali berturut-turut kedua tangannya melakukan gerakan memukul ke depan.

Kong Ji merasa datangnya hawa pukulan dahsyat ini, sambil berseru kaget ia meloncat sampai dua tombak ke kiri sambil mengerahkan tenaga mengibaskan tangan. Namun tetap saja hawa pukulan Tiang Bu membuat ia terhuyung-huyung seperti pohon besar diterjang angin, setelah terhuyung jauh baru ia terbebas dari pukulan dahsyat itu. Hawa pukulan terus meluncur ke depan dan terdengar suara keras ketika sebuah batu karang yang kokoh kuat roboh terguling seperti didorong oleh seekor gajah mengamuk!

"Lihai sekali..." Kong Ji memuji. Hatinya sudah mulai gentar karena dari pukulan ini tadi saja ia sudah maklum bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga melawan anaknya sendiri yang memusuhinya ini. Hatinya merasa sedih dan bingung. Kalau ia sampai tewas di tangan musuh-musuhnya, hal itu bukan merupakan suatu yang patut disedihkan. Mati hidup buat seorang seperti Kong Ji ini bukan apa-apa, akan tetapi yang membuat ia bingung dan sedih adalah kalau ia harus mati di tangan puteranya sendiri!

"Cui Kong manusia tak kenal budi...!" Ia memaki dan bersungut-sungut sambil cepat mengelak ketika Tiang Bu menyerang lagi. Kong Ji terpaksa melayani dan hatinya penasaran dan marah sekali mengapa Cui Kong tidak membantunya. Kalau Cui Kong membant u, kiranya ia takkan begini terdesak.

“Cui Kong, di mana kau...?" Kong Ji berteriak sambil melompat ke kanan menghindari pukulan maut Tiang Bu, kemudian ia... melarikan diri.

“Manusia lblis , kau hendak lari ke mana?” Tiang Bu mengejar cepat. Dalam hal ginkang, ia tidak usah menyerah kalah terhadap Liok Kong Ji, maka dalam beberapa puluh langkah saja ia sudah dapat menyusul.

Tiba-tiba Liok Kong Ji membalik, tangan ki rinya tarayun, disusul oleh serangan pedang di tangan kanan, dilanjutkan dengan pukulan Hek tok-ciang dari tangan kanan. Ayunan tangan kiri tadi menimbulkan sinar kahitaman yang menyambar ke arah jalan darah penting di tubuh Tiang Bu. itulah Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam), senjata rahasia jarum yang sudah direndam racun hitam yang amat jahat.

Serangan ini datangnya tiba-tiba dan tidak terduga-duga karena selagi berlari. mendadak membalik dan menyerang. Orang lain tentu akan sukar menyelamatkan diri dari serangan-serangan berantai dari Kong Ji yang betul-betul lihai dan berbahaya sekali ini. Akan tetapi Tiang Bu memang sudah siap siaga, sudah dapat menduga lebih dulu bahwa lawannya yang terkenal licik dan jahat itu pasti akan melakukan serangan gelap.

Dengan tenang dan tepat pemuda ini mangepretkan jari-jari tangan yang dilonjorkan dari samping ke arah jarum-jarum racun hitam itu dan semua jarum runtuh di atas tanah. Selanjutnya tangan kirinya diulur untuk men cengkeram pedang lawan dan tangan kanannya didorongkan ke depan untuk menyambut pukulan Hek-tok-ciang!

Liok Kong Ji kaget bukan main, juga heran dan kagum sekali. Meruntuhkan jarum-jarum Hek-tok-ciam dengan kepretan jari-jari tangan terbuka merupakan perbuatan yang amat berbahaya, karena sedikit saja kulit tergores jarum dan terluka, berart i ancaman maut. Namun pemuda itu dapat meruntuhkan semua jarum tanpa terluka sediki tpun. Kemudian cengkeraman dengan gerak tipu Leng-mauw-po-ci (Kucing Manerkam Tikus) inipun amat luar biasa dan berbahaya. Tanpa memiliki lweekang yang tinggi tak mungkin orang berani mencengkeram pedang lawan yang merupakan pedang pusaka, bukan pedang biasa. Cengkeraman itu adalah semacam Ilmu Silat Sin-na-hwat yang aneh dan jari-jari tangan Tiang Bu yang dibentuk seperti cakar harimau itu menjadi kaku dan kuat melebihi baja.

Tentu saja Kong Ji tidak membiarkan pedangnya dicengkeram dan dirampas. Cepat ia menarik kembali pedangnya dan seluruh perhatiannya ia tujukan ke arah pukulan tangan kirinya yang merupakan serangan Hek-tok-ciang kuat sekali. Ia hendak sekali lagi mengadu tenaga dengan harapan kali ini ia akan menang karena Tiang Bu baru saja memecah perhatiannya untuk menghirdarkan serangan jarum dan pedang.

Dan tenaga raksaaa bertemu di udara ketika dua telapak tangan itu hampir saling bertumbukan. Akibatnya, Tiang Bu mundur dua langkah akan tetapi Kong Ji terpental ke belakang dan hanya dengan berjungkir balik dia dapat menghindarkan diri terjengkang! Sekali lagi ia harus mengakui keunggulan pemuda itu yang telah memiliki sinkang luar biasa. Makin kecil hati Kong Ji. Begitu kakinya menginjak tanah, ia lari lagi secepatnya me nuju ke gua-gua di pantai laut untuk bersembunyi. Tiang Bu tentu saja tidak mau melepaskannya dan mengejar terus.

Tiba-tiba muncul Liok Cui Kong dari balik batu-batu karang. Pemuda ini sudah membawa senjatanya yang istimewa, huncwe maut. Datang-datang pemuda itu dimaki ayah angkatnya, “Setan, kau ke mana saja. Hayo bantu aku merobohkan si durhaka ini!"

Cui Kong tersenyum. "Ayah, nona manis yang sudah lama kurindukan terjatuh ke dalam tanganku, bagaimana aku bisa menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik?"

Cui Kong sengaja mengeluarkan ucapan-ucapan yang menusuk perasaan Tiang Bu. Ini ia lakukan untuk menjalankan siasatnya. Ia tahu bahwa Tiang Bu cinta kepada gadis itu, biarpun Tiang Bu memperlihatkan sikap kurang perhatian karena gadis itu mendesak agar supaya Tiang Bu membunuh Kong Ji dan Cui Kong. Akan tetapi kalau mendengar kata-kata tadi, masa Tiang Bu tidak menjadi panas hati dan ingin melihat keadaan kekasihnya?

Memang tepat dugaan Cui Kong. Mende ngar ucapan ini, Tiang Bu naik darah. Secepat kilat ia menerjang Cui Kong yang memapakinya dengan pukulan huncwe. Akan tetapi sekali menggerakkan tangan, Cui Kong berikut huncwenya terlepas sampai tiga tombak lebih!

"Kau apakan dia...? Di mana dia...?” tanya Tiang Bu dengan muka berubah dan nafas terengah-engah saking marah dan gelisahnya.

Cui Kong yang tidak terluka sudah bergabung dengan ayah angkatnya. Ia berdiri di dekat Liok Kong Ji, mempersiapkan huncwe dan menjawab. "Kau perduli apa? Dia sudah menghadapi kematian mengerikan dan takkan kuberitahukan keadaannya kalau kau tidak manyerahkan diri dan taluk kepada ayah."

Tiang Bu makin marah. “Jahanam, kalau kau mengganggu dia, jangan kau bersambat kepada neraka!" Tubuhnya berkelebat dan ia menerjang lagi ke arah Cui Kong, dengan maksud menangkap pemuda keji itu dan memaksanya mengaku di mana Bi Li disembunyikan dan bagaimana keadaannya.

Akan tetapi sekarang terjangannya dihadapi dua orang. Kong Ji menusukkan pedang dan Cui Kong menotok dengan huncwenya dibarengi semburan uap hitam dari mulutnya, uap yang telah merobohkan tokoh-tokoh Kim-bun-to. Terpaksa Tiang Bu membuang diri ke kanan untuk mengelak dari serangan-serangan yang tak boleh dipandang ringan ini, lalu melanjutkan serangannya dari samping.

Pertempuran he bat terjadi, kali ini lebih ramai dan seru karena dengan adanya Liok Cui Kong di sumpingnya, kedudukan Kong Ji tentu lebih kuat lagi. Bukan saja kini ia menghadapi dua orang lawan tangguh, juga hati Tiang Bu sudah terguncang dan gelisah karena ucapan Cui Kong tadi. Mungkin juga ucapan tadi hanya siasat belaka, akan tetapi manusia macam Cui Kong itu, mana bisa dipercaya? Semua perbuatan keji mungkin dilakukannya dan hati Tiang Bu gelisah bukan main.

Kong Ji dan Cui Kong memang orang-orang cerdik dan licik, mereka ini sudah tahu akan kegelisahan hati Tiang Bu. Maka dengan sengaja Liok Kong Ji dalam pertempuran itu bertanya kepada anak angkatnya. "Cui Kong, kau benar benar mata keranjang! Masa adik iparmu sendiri kausukai? Benar benarkah kau cinta kepada seorang gadis buntung lengannya?”

Cui Kong tertawa puas. "Ha-ha-ha, ayah tidak tahu! Biarpun buntung lengannya, nona Bi Li adalah dara tercantik yang pernah kujumpai."

Tentu saja Tiang Bu menjadi makin gelisah. Nafsunya bertempur berkurang banyak dan hatinya ingin sekali melihat keadaan kekasihnya. "Jahanam, di mana dia...?" bentaknya berkali-kali sambil mendesak Liok Cui Kong dengan pukulan-pukulan berat. Hanya karena Liok Kong Ji membantunya menangkis dari samping maka Cui Kong tidak roboh oleh desakan ini. Akhirnya Cui Kong maklum bahwa kalau tidak segera mengubah siasat, tentu ia akan celaka.

“Dia di dalam gua ke tiga, mau tahu keadaanya? Lihatlah sendiri!” Ia lalu melompat ke belakang dan tertawa bergelak-gelak.

Tiang Bu ragu-ragu. Tentu ini siasatnya untuk memancing aku memasuki gua sedangkan dia dan Kong Ji akan melarikan diri, pikirnya. Akan tetapi tiba-tiba telinganya yan g berpendengaran tajam sekali itu mendengar suara rintihan dari dalam gua itu, rintihan dari orang ketakutan yang disembunyikan.

Mendengar ini, Tiang Bu melompat ke arah gua ke tiga yang berjajar di dekat pantai, dari mana tadi Cui Kong muncul. Ia tidak perdulikan lagi keadaan ayah dan anak itu yang tentu saja mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri...!