Si Pedang Tumpul Jilid 16

“DAN melihat hal seperti itu, locianpwe malah menjauhkan diri? Sudah benarkah tindakan locianpwe itu?” Sin Wan menegur sambil mengerutkan alisnya yang tebal.

"Ehh? Apa maksudmu?"

"Locianpwe, perjuangan suci bukan hanya memerdekakan negara dan bangsa lalu disusul dengan usaha memakmurkan rakyatnya saja. Kalau melihat ada orang-orang yang tidak benar dan berambisi menyenangkan diri sendiri, bukankah sama halnya dengan melihat tikus-tikus yang hendak menggerogoti sarana kemakmuran bagi rakyat? Jika sudah dapat mengetahui keadaan ini, sudah benarkah bila membiarkan saja bahkan menjauhkan diri? Bukankah merupakan perjuangan yang luhur pula jika kita berusaha mencegah terjadinya semua penyelewengan itu, menghentikan semua permusuhan di antara bangsa sendiri, di antara golongan sendiri, membersihkan mereka yang menipu dan mencuri milik negara, dan menjamin keamanan bagi rakyat jelata?”

Kakek itu membelalakkan mata memandang kepada Sin Wan, tetapi tidak nampak marah melainkan tersenyum lucu. "Ehh?! Ehh, lanjutkan, lanjutkan!" katanya penuh gairah.

"Kehidupan di seluruh alam mayapada ini dikuasai oleh dua unsur, locianpwe, yaitu Im (negatif) dan Yang (positif). Keduanya ini yang memutar seluruh alam dan isinya, seluruh kejadian dan seluruh sifat. Bagaimana ada Yang tanpa Im? Bagaimana ada Terang tanpa Gelap, ada Kebaikan tanpa Keburukan dan sebagainya? Hidup ini merupakan tantangan, locianpwe, justru di sinilah letaknya seni hidup. Kita harus menghadapi setiap tantangan, menghadapinya dan mengatasinya! Bukan melarikan diri! Ini pun perjuangan namanya, perjuangan hidup, yaitu menghadapi dan mengatasi semua tantangan, dengan landasan benar! Tidakkah demikian, locianpwe? Ataukah locianpwe hanya pura-pura saja tidak tahu karena saya yakin locianpwe lebih tahu dari pada kami orang-orang muda ini?"

"Siancai... siancai…! Ini baru suara murid Sam-sian! Hei, orang muda yang baik, engkau tadi menyatakan tentang landasan benar! Nah, kata ‘benar’ ini bagaimana? Setiap orang akan menganggap dirinya benar! Kalau aku sampai berkelahi denganmu, pasti aku akan merasa diriku benar dan engkau pun demikian. Lain kalau kita berdua merasa benar, lalu siapa yang tidak benar?"

"Locianpwee apa bila locianpwe merasa benar dan saya pun merasa benar sehingga kita saling bermusuhan, maka jelaslah bahwa kita berdua sama-sama tidak benar! Kebenaran tak dapat diperebutkan, tidak dapat dimonopoli seseorang. Kebenaran yang dibela dengan kekerasan sehingga bermusuhan, jelas bukan kebenaran lagi."

"Heh-heh-heh, lalu apa maksudmu mengatakan dengan landasan benar tadi? Kebenaran yang mana yang kau maksudkan?"

"Maaf, locianpwe, kalau pengertian saya masih dangkal dan keliru, mohon petunjuk dari locianpwe. Kebenaran mutlak, yang Maha Benar, hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang lainnya, yaitu kebenaran yang diaku oleh manusia hanyalah kebenaran semu yang setiap waktu bisa dinyatakan tidak benar, tergantung waktu, keadaan dan lingkungan. Yang saya maksudkan dengan landasan benar tadi adalah kalau tindakan kita tidak didasari pamrih demi kepentingan dan keuntungan diri pribadi. Yang terpenting adalah pamrihnya, bukan perbuatannya. Betapa pun baik dan indah nampaknya suatu perbuatan, apa bila didasari dengan pamrih yang mementingkan diri pribadi, maka perbuatan itu palsu adanya."

"Heh-heh-heh, engkau terlalu keras, orang muda... ehhh, siapa namamu tadi? Sin Wan? Aku mulai tertarik kepadamu. Di dunia ini mana ada manusia yang bebas dari pamrih? Setidaknya manusia membutuhkan sandang pangan dan papan, juga berhak menikmati hidupnya dan bersenang-senang!"

"Tentu saja, locianpwe. Tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia untuk bersengsara-sengsara. Akan tetapi sekali kebutuhan akan kesenangan itu menjadi majikan, maka kita akan diperhamba oleh nafsu kemudian kita akan dibawa ke jalan sesat."

"Ha-ha-ho-ho-ho, bagus sekali, Sin Wan. Dari Sam-sian kah engkau memperoleh semua pengetahuan akan kehidupan ini?"

"Kewaspadaan terhadap kehidupan bukanlah pelajaran yang harus dihafalkan dan diingat-ingat, locianpwe, melainkan timbul dari kesadaran akan rasa diri, akan seluruh isi alam dan terutama akan Penciptanya, yaitu Allah Yang Maha Tunggal, Maha Besar, dan Maha Kuasa.”

Kakek itu tertawa bergelak, kemudian menoleh pada Kui Siang. "Dan bagaimana dengan engkau, siapa namamu tadi, Lim Kui Siang? Bagaimana denganmu? Bukankah engkau juga murid Sam-sian dan digembleng dengan kebijaksanaan yang sama?"

Kui Siang tersenyum. "Locianpwe, aku hanyalah seorang gadis bodoh, maka tidak dapat dibandingkan dengan suheng, baik dalam hal ilmu silat mau pun pengetahuan mengenai kehidupan dan filsafat. Dia memang pintar!"

Sin Wan tersenyum. “Jangan percaya ucapannya, locianpwe. Sumoi hanya merendahkan diri. Ilmu silatnya hebat, saya sendiri belum tentu akan mampu menandinginya. Dan dia adalah puteri seorang bangsawan tinggi yang setia dan baik."

"Suheng...!" Gadis itu berseru hendak mencegah suheng-nya bercerita tentang itu. Tetapi sudah terlanjur dan Sin Wan yang merasa bersalah segera berkata, suaranya menghibur.

"Maaf sumoi. Kurasa tiada halangannya locianpwe ini mengetahui tentang keadaanmu. Dia adalah sahabat baik dari guru-guru kita."

"Heh-heh-heh-heh, nona Lim Kui Siang, tanpa diberi tahu pun orang mudah saja menduga bahwa engkau tentulah mempunyai darah bangsawan! Hal itu dapat nampak pada sikap dan gerak-gerikmu yang anggun dan lembut. Bangsawan she Lim di kota raja yang setia? Hemmm, aku pernah mengenal bangsawan Lim yang menjadi Jaksa Agung di kota raja. Itukah orang tuamu?"

Kui Siang menggeleng. Sekarang dia sudah tidak perlu merahasiakan keluarganya yang sudah tiada itu. "Bukan, locianpwe, dan harap locianpwe tidak menyebut nona kepadaku. Ayahku tidak menjadi jaksa, melainkan bertugas sebagai pengurus gudang pusaka di kota raja."

“Pengurus gudang pusaka? Ahh, kalau begitu tentu seorang yang terpelajar tinggi! Ingin sekali-kali aku menemui orang tuamu dan berkenalan."

"Locianpwe, ayah dan ibu sumoi sudah meninggal dunia," kata Sin Wan.

"Ahhh!" Senyum itu menghilang dari bibir si pengemis tua. "Kiranya engkau sudah yatim piatu?”

"Ayahku dibunuh orang ketika melaksanakan tugasnya, locianpwe. Ketika pusaka-pusaka kerajaan dicuri orang, ayah menjadi korban, dibunuh oleh pencuri pusaka."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Aku pernah mendengar berita tentang hilangnya pusaka-pusaka itu, akan tetapi karena aku sudah tidak tertarik lagi akan urusan dunia ramai, aku pun tidak terlalu memperhatikan. Siapa sih orang yang begitu berani mencuri pusaka dari kerajaan?”

"Pencurinya adalah Hwe-ciang Se Jit Kong," kata Kui Siang.

"Aha…! Si Tangan Api yang tersohor itu? Ingin sekali-kali aku mencoba kelihaian tangan apinya. Kabarnya dia merajalela dan mengalahkan banyak tokoh besar dunia persilatan."

"Kini dia sudah tewas, locianpwe," kata Sin Wan. "Ketiga guru kami mendapat tugas dari Kaisar untuk mencari pusaka-pusaka itu dan berhasil merampasnya kembali dari Se Jit Kong yang tewas di tangan mereka."

"Ahh... sungguh sayang sekali! Nah, Sin Wan, engkau tadi menyalahkan tindakanku yang pergi meninggalkan kai-pang. Nah, katakan, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?"

"Maaf, sama sekali saya tidak berani menyalahkan tindakan locianpwe. Saya hanya ingin mengingatkan dan mengajak locianpwe untuk bertukar pikiran. Sekarang ini penjajah telah terusir pergi. Negara dan bangsa sudah dipimpin oleh tangan bangsa sendiri yang berarti merupakan tindak lanjut dari perjuangan merebut kemerdekaan. Kalau dahulu pada waktu berjuang merebut kemerdekaan locianpwe dengan gigih ikut membantu, kenapa sekarang tidak? Justru sekarang ini kiranya para kai-pang perlu disatu padukan untuk membantu pemerintah mengisi kemerdekaan."

"He-heh-heh, sudah kukatakan bahwa aku muak dengan semua itu! Mereka itu palsu dan penyelewengan terjadi di mana-mana. Jika aku terjun kembali, bukankah aku malah akan membiarkan diriku bergelimang dengan penyelewengan? Bermain dengan lumpur tentu akan menjadi kotor!"

"Belum tentu, locianpwe! Biar terpendam dalam lumpur pun, sekali emas akan tetap emas mengkilat. Biar hidup di atas lumpur sekali pun, bunga teratai akan tetap indah dan bersih. Kalau mau terjun kembali malah locianpwe akan dapat menangani semua penyelewengan itu, membelokkannya ke jalan benar. Jika locianpwe melarikan diri dari kenyataan seperti ini, bukankah hal itu justru berarti locianpwe membantu semakin memburuknya keadaan? Locianpwe, selagi hidup, kalau tidak membuat tindakan yang bermanfaat bagi dunia, lalu apa artinya hidup?”

Sepasang mata itu terbelalak. “Heii, orang muda! Enak saja engkau bicara. Orang bicara harus berani mempertanggung jawabkan ucapannya. Pendapatmu itu jangan kau jejalkan dan paksakan saja kepada orang lain supaya melaksanakannya, akan tetapi juga untuk dirimu sendiri! Kalau orang hanya memberi nasehat dan dorongan kepada orang lain akan tetapi diri sendiri tidak melakukan, perbuatan itu seperti sikap para pembesar korup yang menganjurkan ini itu kepada rakyat namun dia sendiri tidak melaksanakannya! Beranikah engkau membantuku kalau aku terjun kembali ke dunia ramai, menertibkan para kai-pang dan membantu pemerintah mengisi kemerdekaan?"

Sin Wan adalah seorang pemuda yang mempunyai watak gagah dan bertanggung jawab. Mendengar pertanyaan itu, tanpa ragu-ragu lagi dia segera menjawab, "Tentu saja saya berani dan sanggup membantu locianpwe!"

"Bagus!" Kakek itu terkekeh girang sekali. “Sekarang kalian berdua bersiap-siaplah untuk melawan aku, heh-heh-heh!"

Tentu saja dua orang muda itu terkejut bukan main. "Apa maksud locianpwe?" Kui Siang berseru. "Aku tidak ingin berkelahi denganmu!"

"Anak bodoh, siapa yang mau berkelahi dengan siapa? Setiap kali aku bertemu Sam-sian, tentu mereka akan kuajak berlatih silat. Kini mereka tidak berada di sini, dan yang kutemui adalah murid-murid mereka. Sebagai murid, kalian harus mewakili Sam-sian untuk berlatih dengan aku. Bersiaplah, kita berlatih beberapa jurus!"

Sin Wan segera maklum akan isi hati kakek ini. Setelah menerima kesanggupannya untuk membantu kakek itu terjun kembali ke dunia persilatan, tentu kakek ini ingin menguji ilmu kepandaiannya. Dia tak ingin sumoi-nya terilbat, karena maklum betapa besar bahayanya bila berkecimpung di dunia persilatan di mana terdapat banyak tokoh yang menyeleweng seperti yang disesalkan kakek itu, Maka, dia pun berkata,

"Locianpwe, biarlah saya mewakili ketiga orang guru kami. Sumoi adalah seorang wanita yang tidak semestinya terlibat dalam urusan ini, oleh karena itu biarlah saya sendiri yang menghadapi locianpwe.”

"Heh-heh-heh, kalau menghadapi Sam-sian, tentu aku minta mereka maju satu demi satu. Akan tetapi engkau hanya muridnya, bagaimana mungkin dapat menandingi aku? Majulah kalian berdua, baru akan seimbang, heh-heh!"

"Kita sama lihat saja, locianpwe. Semoga saja tidak sia-sia ketiga orang guruku selama ini menggembleng dan mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada saya!" kata Sin Wan tenang. "Ilmu kepandaian sumoi tidak banyak selisihnya dengan saya. Dengan mengukur tingkat saya maka locianpwe sudah akan dapat pula mengetahui kemampuan sumoi."

"Bagus! Melawan seorang di antara Sam-sian, hingga ratusan jurus belum ada yang kalah atau menang. Yang terakhir kalinya, saat melawan Kiam-sian kami berdua menghabiskan gerakan hampir seribu jurus dan belum ada yang kalah atau menang. Kalau engkau ini muridnya mampu bertahan sampai seratus jurus saja sudah kuanggap bagus sekali. Nah, bersiaplah!"

Kakek itu menggerakkan sebatang tongkat dan caping lebarnya tergantung di punggung. Tongkat itu bukanlah tongkat luar biasa, melainkan hanya sepotong ranting yang baru saja dibersihkan daun-daunnya sehingga masih basah. Besarnya hanya selengan wanita dan panjangnya satu meter lebih.

Sin Wan maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang sangat lihai, yang mampu menandingi mendiang suhu-nya, Dewa Pedang, sampai beribu-ribu jurus! Oleh karena itu tanpa ragu-ragu lagi dia pun mencabut pedangnya yang butut dari balik jubahnya.

Sinar hijau nampak berkelebat ketika pedang dicabut, akan tetapi biar pun mengeluarkan sinar hijau yang aneh, pada waktu pedang itu dipegang lurus menunjuk ke langit di depan mukanya, pedang itu hanya merupakan sebatang pedang yang jelek dan tumpul.

"Pedang tumpul...?!" kakek itu berseru kagum dengan mata terbelalak. "Pedang pusaka yang dulu pernah mengangkat nama besar Jenghis Khan! Bukankah pedang itu menjadi pusaka kerajaan?"

"Ketiga orang suhu saya menerima hadiah dari Kaisar sesudah berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang hilang, dan pedang ini merupakan satu di antara hadiah-hadiah itu, locianpwe."

"Pedang tumpul...! Bagus, aku ingin melihat apakah engkau pantas menjadi majikannya. Nah, sambut seranganku ini!" Tiba-tiba saja tongkat di tangan kakek itu lenyap, berubah menjadi gulungan sinar yang seperti ombak samudera menerjang ke arah Sin Wan.

"Ini Lam-hai Tung-hoat (Ilmu Tongkat Laut Selatan). Ilmuku terbaru yang belum pernah dilihat Sam-sian!" kakek itu berseru dari balik gulungan cahaya kelabu yang menyelimuti bayangannya itu.

Maklum bahwa dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya yang paling tinggi, Sin Wan juga tidak membuang waktu lagi. Langsung dia mainkan ilmu yang baru saja dipelajarinya dengan tekun selama satu tahun dari Dewa Arak, yaitu Sam-sian Sin-ciang! Sesuai namanya, yaitu Sam-sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa), ilmu ini dapat dimainkan dengan tangan kosong akan tetapi juga dapat dimainkan dengan menggunakan pedang!

Maka, begitu gulungan sinar kelabu dari tongkat kakek itu menyambar-nyambar dan tiba-tiba dari gulungan sinar itu mencuat sinar kecil meluncur ke arah dadanya dengan totokan yang amat cepat bagaikan kilat, Sin Wan telah menggerakkan pedangnya menangkis dan dia pun langsung membalas dengan memainkan ilmu silat Sam-sian Sin-ciang.

Melihat pedang tumpul yang tadinya menangkis tongkatnya itu tiba-tiba saja berputar dan menyambarnya dengan gerakan melengkung, kakek itu terkejut dan kagum. Anak ini telah menguasai tenaga sakti sepenuhnya sehingga dalam seketika bisa mengubah yang keras menjadi lemas! Dia mengelak dari sambaran sinar hijau pedang itu, lalu memainkan Lam-hai Tung-hoat dengan hati-hati namun cepat.

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Sin Wan terus mengimbangi kecepatan gerakan kakek itu hingga Kui Siang yang menjadi penonton tunggal merasa tertegun dan kagum. Kini dua orang yang sedang bertanding itu tidak nampak lagi, yang terlihat hanyalah dua gulungan sinar kelabu dan hijau yang saling terjang, saling belit dan saling desak. Dua orang itu mengandalkan ketangguhan ilmu silat mereka yang aneh itu disertai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Selama sepuluh tahun menjauhkan diri dari dunia persilatan, kakek itu sama sekali tidak pernah berkelahi, akan tetapi juga tidak pernah meninggalkan latihan. Bahkan dia sudah menyempurnakan ilmu-ilmunya, menggabung jurus-jurus terampuh menjadi satu sehingga terciptalah ilmu tongkat Lam-hai Tung-hoat.

Tadinya dia mengira bahwa sebelum seratus jurus, tentu dia akan mampu mengalahkan pemuda murid Sam-sian itu dengan llmu tongkatnya yang baru. Namun ternyata pemuda dengan Pedang Tumpul itu bukan saja sanggup bertahan, bahkan mengimbangi semua kecepatannya dan membalas serangan tidak kalah gencarnya sehingga keadaan mereka dapat dikatakan seimbang!

Kini sudah hampir seratus jurus lewat dan dia sama sekali tidak mampu mendesak. Diam-diam dia merasa gembira sekali. Mendapatkan seorang pembantu seperti ini benar-benar menyenangkan dan menguntungkan! Dia pun tahu bahwa jika dilanjutkan mengandalkan kecepatan yang dapat diimbangi pemuda itu, akhirnya dialah yang akan kalah, yaitu kalah dalam hal pernapasan. Napasnya akan habis sebelum pemuda itu terengah-engah!

“Hyaaaattt...!" Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan kini tongkatnya digerakkan mengandung tenaga yang dahsyat, tenaga sakti dikerahkan dan dipusatkan pada gerakan menusuk itu.

Sin Wan dapat merasakan datangnya sambaran angin yang amat dahsyat, maka tahulah dia bahwa kakek itu telah mengerahkan tenaga sakti yang amat kuat. Maka dia pun cepat mengerahkan tenaganya lantas menangkis dengan kuat untuk mencoba sampai di mana kekuatan kakek itu.

"Crakkkk...!” Pertemuan antara ranting dan pedang itu membuat tanah di sekelilingnya seperti tergetar hebat. Akibatnya Sin Wan terdorong ke belakang sampai dua langkah sedangkan kakek itu sama sekali tidak, hanya merasakan tangannya tergetar saja. Hal ini saja telah menjadi bukti bahwa dalam hal tenaga sakti, pemuda itu masih kalah.

Namun diam-diam Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki kagum bukan main. Jarang ada tokoh kang-ouw, biar datuk sekali pun, yang mampu bertahan terhadap pengerahan tenaga sinkang-nya tadi, dan pemuda ini hanya undur dua langkah saja!

"Bagus!" Serunya dan kini kakek jembel itu menyerang lagi. Serangannya nampak sangat lambat, sama sekali menjadi kebalikan tadi. Kalau tadi dia mengandalkan kecepatan, kini dia mengandalkan tenaga.

Sin Wan maklum akan hal ini, lantas dia pun mengerahkan tenaga sakti dan menandingi kakek itu. Pertandingan dilanjutkan dan beberapa kali kedua senjata itu bertemu sehingga menggetarkan tanah yang diinjak Kui Siang yang menonton dengan hati sangat kagum. Tidak disangkanya bahwa kakek tua itu sedemikian lihainya, memang agaknya setingkat dengan kepandaian Sam-sian.

Kembali seratus jurus terlewat dalam pertandingan yang didasari tenaga sinkang ini. Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan seruan melengking dan tongkatnya menyambar dari atas ke bawah, memukul ke arah kepala lawan! Sin Wan segera menggerakkan pedangnya dan menangkis dari bawah ke atas.

"Trakkk!" Kembali kedua senjata bertemu, akan tetapi sekali ini Sin Wan tidak terdotong mundur. Agaknya kakek itu mengurangi tenaganya, hanya kini pedang itu melekat pada tongkat! Ketika Sin Wan hendak menarik pedangnya yang tertempel tongkat itu, tiba-tiba saja dia merasa betapa tongkat itu mengendur, kehilangan tenaga! Sin Wan terkejut.

Tentu kakek itu kehabisan tenaga, pikirnya dan dalam keadaan seperti ini, ada dua jalan saja yang dapat dia lakukan. Kalau dia menghendaki kemenangan, tentu dengan mudah saja dia dapat mengerahkan tenaga dan dari tempelan tongkat yang kini tanpa tenaga itu dia dapat langsung menyerang dengan tusukan atau bacokan sehingga dengan mudah dia akan memperoleh kemenangan.

Akan tetapi Sin Wan adalah seorang yang semenjak kecil dijejali kelembutan oleh ibunya, kemudian digembleng lahir batin pula oleh Sam-sian. Ia tidak haus kemenangan, apa lagi terhadap kakek jembel yang amat dihormatinya ini. Tidak, dia tidak mau mempergunakan kesempatan itu untuk menang. Maka dia pun cepat-cepat mengendurkan tenaganya dan menarik kembali pedangnya yang menempel pada tongkat, untuk memberi kesempatan kepada lawan memulihkan.tenaganya.

Akan tetapi, pada saat dia mengendurkan tenaganya dan menarik pedangnya itu, tongkat yang tadinya tidak bertenaga itu tiba-tiba saja secepat kilat telah meluncur dengan tenaga sepenuhnya dan tahu-tahu sudah menempel pada lehernya! Tentu saja Sin Wan terkejut bukan main. Ini berarti bahwa dia telah kalah mutlak! Kakek itu terkekeh senang.

"Kau kalah, Sin Wan."

"Tapi, locianpwe tadi seperti kehilangan tenaga...”

"Itu namanya menggunakan tenaga Mengalah Untuk Menang!"

"Kalau saya tidak menarik pedang dan pada kesempatan itu justru mencari keuntungan dan menyerang..."

"Kau juga akan kalah. Coba saja kita ulangi!" kata kakek itu sambil tersenyum.

Dia segera memasang kuda-kuda seperti tadi, dengan tongkatnya di atas. Sin Wan yang merasa penasaran juga memasang kuda-kuda seperti tadi, lalu menempelkan pedangnya pada tongkat.

“Aku mulai!" kata Pek-sim Lo-kai dan mendadak tongkat itu mengendor seperti kehilangan tenaga.

Sin Wan mempergunakan kesempatan ini untuk menggerakkan pedangnya, menusuk ke depan, ke arah leher lawan, tentu saja dengan tenaga yang terkendali sehingga dapat dia hentikan kalau sudah menempel pada leher. Akan tetapi tiba-tiba sekali tubuh kakek itu merendah, kedua lututnya ditekuk dan sebelum Sin Wan dapat menyangkanya, perutnya sudah ditodong ujung tongkat! Kembali dia kalah mutlak!

Kakek itu terkekeh. “Heh-heh, ilmu Tenaga Mengalah Untuk Menang ini memang ampuh sekali, merupakan satu di antara ilmu yang kudapatkan selama ini. Menghadapi ilmuku ini, menggunakan kesempatan untuk menang berarti kalah, dan kalau mengalah dan menarik pedangmu, berarti kalah juga!"

Sin Wan tertegun kagum. "Wah, kalau begitu apakah tidak ada cara untuk menghindarkan diri dari ilmu itu, locianpwe?”

"Tentu saja ada, akan tetapi tidak pernah diduga dan dipergunakan orang tentunya! Inilah keistimewaan ilmu ini. Tenagaku yang tiba-tiba mengendur itulah yang menjadi pancingan, menjadi umpannya. Bila lawan merasa bahwa tenagaku mengendur lalu hendak mencari kemenangan seperti yang kau lakukan dalam pengulangan tadi, maka dengan mudah aku akan dapat mengalahkan, karena tentu dia mengira aku kehabisan tenaga sehingga tidak menduga akan seranganku ke arah perut tadi. Kalau sebaliknya dia hendak mengalah dan menarik senjatanya, maka aku dapat menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya dengan tiba-tiba dan memperoleh kemenangan. Bagaimana untuk menghindarkan diri dari kekalahan menghadapi ilmuku ini! Heh-heh-heh, namanya juga orang memancing, kalau umpannya tidak disambar ikan, pasti akan gagal! Kalau engkau tetap dengan sikapmu, tidak mengurangi tenaga menarik kembali senjata, tidak pula menggunakan kesempatan untuk menyerang, berarti aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali menggunakan siasat lain!"

Kakek itu tertawa-tawa dan Sin Wan ikut pula tertawa. Ilmu yang aneh dan nakal, akan tetapi memang dapat berhasil baik, menunjukkan betapa cerdiknya kakek ini.

"Ada lagi ilmu baru yang kudapatkan dan belum pernah kucoba, satu di antara ilmu-ilmu yang kuanggap terbaik. Nah, mari kita coba! Sekali ini berhati-hatilah engkau karena aku akan melancarkan serangkaian serangan yang dahsyat!"

Sin Wan sudah memasang kuda-kuda dengan hati-hati sekali. Kedua kakinya terpentang dan tertekuk sedikit, kokoh kuat, sementara tangan kanan dengan jari terbuka di pinggang kiri, pedang melintang di depan dada. Dalam keadaan seperti itu, diserang dari mana pun dia akan mampu menjaga dirinya.

"Saya sudah siap, locianpwe!" katanya gembira. Betapa hatinya tidak gembira. Dia akan melihat ilmu-ilmu yang aneh dan lihai. Sama saja dengan menerima pelajaran ilmu-ilmu baru yang ampuh dari kakek itu.

"Awas seranganku ini!" teriak kakek itu dan tiba-tiba tubuhnya berpusing seperti gasing! Saking cepatnya, gerakan berpusing itu sukar diikuti dengan pandang mata, biar pandang mata terlatih seperti mata Sin Wan sekali pun. Dan pusingan atau gasingan hidup itu kini berputar dan menggelinding ke arah Sin Wan.

Pemuda ini tidak dapat melihat mana tongkat lawan dan mana pula bagian tubuhnya yang hendak diserang. Maka untuk melindungi tubuhnya, dia memutar pedang menjadi perisai. Terdengar suara berdentang beberapa kali dan gasing manusia itu lantas menggelinding pergi, namun membalik dan menyerang kembali dalam keadaan masih berpusing.

Sin Wan sama sekali tidak mampu membalas. Dia hanya melindungi diri setiap kali gasing manusia itu mendekat, Ketika gasing itu menggelinding mendekat untuk yang ke empat kalinya dan dia memutar pedang menjadi perisai, tiba-tiba gasing itu mencelat ke atas dan ketika dia memutar pedangnya ke atas, dia merasa rambutnya seperti ditarik lalu gasing hidup itu telah melayang turun kembali dan nampak kakek itu terkekeh.

"Heh-heh-heh, kalau yang keempat kalinya itu aku gagal, dua kali serangan lagi tentu aku akan roboh sendiri. Siapa dapat tahan kalau sudah setua ini disuruh berpusing seperti gasing. Sekarang pun bumi seperti dilanda gempa hebat, ha-ha-ha!”

Sin Wan meraba rambutnya dan ternyata kain pengikat rambutnya telah lenyap dan ketika dia memandang lagi, kain itu sudah terkait di ujung tongkat Pek-sim Lo-kai! Tahulah dia bahwa kembali dia harus mengaku kalah karena kalau yang dihadapinya seorang musuh, tentu bukan kain pengikat rambut yang dikait!

"Hebat sekali gerakan aneh tadi, locianpwe. Ilmu apakah itu tadi?"

"Itu namanya Langkah Angin Puyuh! Bukan saja dapat digunakan untuk menyerang, akan tetapi juga dapat untuk menghadapi pengeroyokan banyak orang. Akan tetapi harus kuat terhadap putaran itu, kalau tidak, kepala bisa pening dan baru beberapa putaran sudah roboh sendiri. Membutuhkan latihan!"

"Sungguh hebat sekali, locianpwe. Masih ada lagikah ilmu aneh yang boleh kami lihat?" kini Kui Siang berkata, merasa kagum bukan kepalang karena dengan dua macam ilmu itu saja, demikian mudahnya suheng-nya dikalahkan.

"Ha-ha-ha, masih banyak, nona...”

"Kenapa locianpwe demikian sungkan menyebut nona padaku? Namaku Lim Kui Siang," kata gadis itu ramah.

"Heh-heh, Kui Siang. Aku sudah tua. Jika terlalu lama bertanding, napasku bisa putus dan tenagaku habis. Sekarang pun aku sudah haus sekali dan lapar bukan main.”

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan ke selatan, locianpwe. Bukankah kota Peking tidak jauh lagi?" kata Sin Wan. "Di sana kita dapat makan di rumah makan."

"Kalian yang bayar? Aku seorang pengemis tua, mana bisa makan di rumah makan?"

"Kami akan membayar, locianpwe. Pilihlah makanan yang paling enak, dan kamilah yang akan membayar," kata Kui Siang.

Kakek itu bersorak. "Ha-ha-ha! Hari ini engkau mujur, perut dan mulut. Mari kita segera berangkat!" Dan dia pun sudah berlari dengan cepat seperti terbang saja.

Sin Wan dan Kui Siang saling pandang, tersenyum dan mereka pun segera menggunakan ilmu berlari cepat mengejar kakek itu, menuju ke selatan, ke kota Peking...

********************

Si Pedang Tumpul Jilid 15

SUI IN maklum bahwa lawan sudah mengumpulkan tenaga sakti dan siap menyerangnya, maka dia pun mengangkat kedua tangannya lurus ke atas, lantas kedua tangan itu turun membuat gerakan melengkung seperti membentuk lingkaran dan berhenti di depan dada seperti memondong anak, perlahan-lahan kedua tangan itu diturunkan ke kanan kiri tubuh, tergantung lepas dan lurus seperti tidak bertenaga lagi. Dia tersenyum dan berkata,

"Aku telah siap, pangcu. Mulailah!"

Souw Kiat tidak menjawab, melangkah maju sampai dekat di depan wanita itu. Hidungnya mencium keharuman yang keluar dari pakaian Sui In dan dengan cepat dia mematikan penciuman itu supaya tak mengganggu konsentrasinya. Kemudian, sambil mengerahkan tenaga dari bawah pusar, disalurkannya ke seluruh kedua lengannya, dia pun membuat gerakan mendorong dengan kedua tangan terbuka, ke arah dada Sui In. Terdengar angin yang dahsyat menyambar keluar dari kedua tangan itu. Sui In segera menyambutnya dengan dua tangan pula yang diluruskan ke depan, dengan jari terbuka pula.

"Plakkkk…!" Dua pasang telapak tangan itu saling bertemu dan melekat, kemudian mulailah keduanya mengerahkan tenaga sakti masing-masing untuk saling dorong dan mengalahkan lawan. Nampaknya kedua orang itu seperti main-main saja, namun semua orang maklum bahwa adu tenaga yang dilakukan secara diam tanpa bergerak ini bahkan lebih berbahaya dari pada adu silat yang penuh pukulan, tendangan, elakan dan tangkisan.

Souw Kiat memang cerdik. Melihat ilmu silat Lili tadi saja, dia tahu bahwa dalam ilmu silat dia bukan tandingan wanita cantik ini. Akan tetapi dia memiliki sinkang yang terkenal kuat, maka dia hendak mencari kemenangan melalui adu tenaga sakti.

Ketika kedua telapak tangannya bertemu dengan kedua tangan wanita itu, mula-mula dia merasa betapa telapak tangan itu lembut, lunak dan hangat. Dia lalu mengerahkan tenaga untuk mendorong, namun begitu bertemu dengan tenaga lunak itu, tenaganya seperti batu yang ditekan ke air, tenggelam! Kemudian telapak tangan yang halus itu menjadi panas sekali.

Souw Kiat cepat-cepat mengerahkan tenaganya untuk melawan hawa panas yang seperti membakar telapak tangannya. Tetapi kedua telapak tangan halus itu makin lama semakin panas dan ada tenaga dorongan yang amat kuat keluar dari tangan itu. Souw Kiat mengerahkan seluruh tenaga untuk bertahan dan tak lama kemudian, dahi dan lehernya sudah penuh keringat, dan dari kepalanya mengepul uap. Merasa betapa kedua kakinya mulai goyah dan kuda-kudanya terbongkar, dia semakin mempertahankan sekuat tenaga.

Walau pun tidak dapat merasakan, namun semua orang yang menyaksikan pertandingan ini dapat melihat perbedaan antara dua orang yang sedang bertanding sinkang itu. Kalau Souw Kiat berpeluh, kepalanya beruap serta mukanya sebentar merah sebentar pucat, maka wanita cantik itu masih tenang saja, nampak santai dan tersenyum mengejek.

Tiba-tiba saja Sui In mengeluarkan bentakan melengking dan tubuh Souw Kiat terangkat ke atas, kedua kakinya naik sampai satu meter dari tanah! Biar pun Souw Kiat berusaha untuk membuat tubuhnya menjadi berat, tetap saja dia tidak mampu menandingi tenaga yang mengangkat tubuhnya itu. Mukanya berubah pucat karena dia berada dalam bahaya maut!

Kalau adu tenaga sinkang ini dilanjutkan maka dia akan terpukul oleh tenaganya sendiri yang membalik dan akan terluka parah, mungkin tewas. Dia berusaha melepaskan kedua tangan dari tangan lawan, akan tetapi dua pasang tangan yang bertemu itu seperti sudah melekat dan tidak dapat dipisahkan lagi!

Tiba-tiba Sui In mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya mendorong dan tubuh Souw Kiat terlempar sampai empat lima meter jauhnya kemudian terbanting keras di atas lantai. Dia menderita nyeri pada pinggul yang terbanting, akan tetapi tidak menderita luka dalam. Tahulah dia bahwa wanita itu selain sakti juga tak mempunyai niat buruk terhadap dirinya yang tadi telah berada di ambang maut. Dia pun bangkit, memberi hormat dengan hati kagum lalu berkata,

"Saya mengaku kalah dan terima kasih atas pengampunan lihiap."

"Hemm, sekarang engkau membolehkan aku menjadi ketua Hek I Kai-pang? Atau masih ada anggota kai-pang lainnya yang merasa tidak suka?" tanya Sui In.

Tidak ada satu orang pun yang berani menjawab. Bahkan mereka harus mengakui bahwa wanita cantik ini jauh lebih lihai dari pada pangcu mereka, dan sudah sepatutnya menjadi ketua baru. Akan tetapi mereka pun tak suka mendukungnya karena Hek I Kai-pang tentu akan menjadi bahan tertawaan para kai-pang yang lain kalau mereka mendengar bahwa Hek I Kai-pang diketuai oleh seorang wanita muda yang cantik.

"Cu-lihiap, saya beserta seluruh anggota Hek I Kai-pang tentu akan suka sekali bila lihiap memimpin kami. Akan tetapi saya khawatir justru Cu-lihiap sendiri yang tidak mau menjadi ketua kami."

Lili bangkit dari tempat duduknya dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah Souw Kiat. "Hei, Souw-pangcu, engkau jangan plintat-plintut! Selama ini Hek I Kai-pang dipimpin oleh orang-orang yang tidak becus, sebab itu mudah saja menjadi permainan perkumpulan lain seperti Hwa I Kai-pang. Sekarang suci dengan mudah mengalahkanmu, maka dia berhak menjadi pangcu. Mengapa tadi engkau malah mengatakan bahwa suci tidak mau menjadi ketua? Omongan macam apa itu?"

"Harap ji-wi lihiap (berdua pendekar wanita) tidak salah paham dan suka mendengarkan keterangan kami," kata Souw Kiat. "Hek I Kai-pang sejak puluhan tahun telah mempunyai suatu peraturan tertentu yang sama sekali tidak boleh dilanggar mengenai pengangkatan seorang ketua baru. Selain harus menjadi orang yang ilmu kepandaiannya paling tinggi di antara seluruh anggota, seorang ketua baru terlebih dahulu juga harus melakukan sendiri pekerjaan mengemis selama satu bulan, dan dia hanya boleh mengenakan pakaian warna hitam. Nah, apakah Cu-lihiap suka memenuhi syarat dalam peraturan itu?"

Dua orang wanita itu saling bertukar pandang. Lili tertawa akan tetapi suci-nya cemberut dan mengerutkan alisnya. "Mengemis? Sebulan dan selalu berpakaian hitam? Wah, aku tidak suka melakukan itu, Souw-pangcu!" katanya kemudian. "Akan tetapi aku tetap ingin didukung oleh Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti!"

Kini ketua dan wakil ketua Hek I Kai-pang yang mengerutkan alis dengan bingung. Tiba-tiba Lu Pi memandang kepada ketuanya dengan wajah berseri. "Ahh, hal itu mudah diatur, Souw-toako! Di dalam peraturan kita tidak ada disebut tentang ketua kehormatan, karena itu kita dapat mengangkat Cu-lihiap dan Tang-lihiap sebagai ketua dan wakil ketua kehormatan. Karena tidak ada dalam peraturan, maka mereka tidak terikat oleh peraturan dan persyaratan itu. Dan kelak, pada saat pemilihan, tentu kita bisa mendukung Cu-lihiap sebagai calon pemimpin besar kai-pang karena mereka sudah kita terima sebagai ketua-ketua kehormatan!"

"Bagus sekali! Engkau benar, siauw-te. Nah, ji-wi lihiap sudah mendengar sendiri usul Lu-siauwte yang amat baik. Apakah ji-wi juga setuju dengan usul itu?"

Sui In mengangguk, "Teserah kepada kalian. Bagiku, yang terpenting adalah kelak kalian harus mendukung aku dalam pemilihan pemimpin kai-pang."

Untuk menghormati ketua dan wakil ketua kehormatan itu, Souw-Pangcu dan Lu-Pangcu kemudian mengadakan penyambutan dengan pesta. Dan di dalam kesempatan ini Souw Kiat menceritakan mengenai keadaan kai-pang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru dan tentang pemilihan pemimpin besar kai-pang yang akan diadakan sebulan lagi di kota Lok-yang.

Ada empat kai-pang terbesar yang menguasai empat daerah. Di barat adalah Hek I Kai-pang dengan pakaian hitam, di timur Hwa I Kai-pang dengan pakaian kembang-kembang, di selatan terdapat Lam-kiang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sungai Selatan) dengan tanda topi butut hitam yang dipakai para anggotanya, dan yang berkuasa di utara adalah Ang-kin Kai-pang yang ditandai dengan sabuk merah di pinggang para anggotanya.

"Sesungguhnya masih banyak perkumpulan pengemis lainnya, akan tetapi mereka semua hanyalah perkumpulan-perkumpulan kecil yang bernaung di bawah panji kekuasaan empat perkumpulan pengemis yang besar itu," Souw Pangcu berhenti sejenak, lalu melanjutkan keterangannya lagi. "Empat perkumpulan besar itulah yang pada bulan depan nanti akan mengadakan pertemuan untuk memilih seorang pemimpin besar kai-pang yang menjadi penasehat dan sesepuh, yang berwenang untuk memutuskan apa bila terdapat pertikaian dan persaingan di antara keempat kai-pang."

"Aku pernah mendengar bahwa sebenarnya seluruh kai-pang sudah mempunyai seorang pemimpin besar yang amat sakti dan bijaksana. Ayahku mengenal baik tokoh ini, apakah sekarang dia tidak lagi memimpin para kai-pang?” tanya Sui In

Souw Pangcu mengangguk-angguk. "Memang benar sekali, Cu-lihiap. Dahulu seluruh kai-pang sudah mempunyai seorang sesepuh yang sakti dan bijaksana, yaitu Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih). Selama masih ada beliau, para kai-pang tidak ada yang berani melakukan penyelewengan. Mereka selalu hidup rukun dan saling bantu dengan kai-pang lainnya. Akan tetapi, semenjak beberapa tahun yang lalu beliau menghilang dan tidak ada seorang pun mengetahui di mana adanya, masih hidup ataukah sudah mati. Dahulu beliau memimpin kami untuk menentang penjajah Mongol dengan gerakan bawah tanah, bahkan membantu pergerakan Kerajaan Beng. Tapi beliau langsung menghilang setelah penjajah Mongol berhasil digulingkan,. Mungkin karena kini rakyat tidak terjajah lagi, negara berada di bawah pemerintahan Kerajaan Beng, bangsa sendiri, sehingga beliau menganggap tak perlu lagi memimpin para kai-pang."

Sui In juga menceritakan rencananya. "Kaisar Thai-cu sendiri yang memerintahkan agar dunia persilatan memilih seorang bengcu (pemimpin rakyat) agar pemerintah lebih mudah mengadakan hubungan dengan para tokoh dunia persilatan. Nah, dalam rangka inilah aku ingin menjadi pemimpin para kai-pang, dan kelak aku hendak mewakili kai-pang di dalam pemilihan bengcu itu dan para kai-pang harus mendukung ayahku sebagai calon bengcu."

Mendengar ini, para pimpinan pengemis itu merasa lega. Ternyata wanita ini sama sekali bukan menginginkan kedudukan ketua Hek I Kai-pang atau pun pemimpin besar kai-pang, melainkan menginginkan kedudukan bengcu untuk ayahnya. Tentu saja hal itu tidak ada sangkut-pautnya secara langsung dengan Hek I Kai-pang, maka dengan hati lega Souw-pangcu menyatakan kesanggupannya untuk membantu dan memberi dukungan.

Karena pemilihan permimpin besar kai-pang masih sebulan lagi, maka Sui In dan Lili pergi meninggalkan perkumpulan itu, memasuki kota Lok-yang dan menghabiskan waktu untuk berpesiar ke seluruh daerah Lok-yang di mana terdapat banyak tempat wisata yang amat indah.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Dataran tandus di kaki pegunungan sebelah dalam Tembok Besar itu merupakan daerah yang amat sunyi. Letaknya di sebelah utara kota Peking. Daerah yang berbukit-bukit dan kadang-kadang diseling gurun pasir dan tandus itu merupakan daerah yang mati. Namun daerah ini merupakan daerah pertempuran besar-besaran ketika pasukan rakyat mengejar tentara Mongol pada akhir perang yang meruntuhkan kekuasaan Mongol,. Banyak prajurit kedua pihak tewas di daerah ini. Juga banyak pula para pengungsi dan penduduk dusun yang ikut pula dibantai di tempat ini.

Biar pun perang itu sudah berlalu selama belasan tahun, namun masih banyak ditemukan rangka-rangka manusia berserakan di situ, juga tengkorak-tengkorak dan bahkan senjata-senjata tajam yang sudah berkarat.

Pada siang hari itu nampak seorang kakek melintasi daerah tandus yang terakhir dan kini dia melepas lelah di hutan pertama, di bawah pohon besar yang amat rindang, berteduh dari terik matahari. Di dalam perjalanan tadi dia memungut sebuah tengkorak yang bersih, dan kini dia duduk di bawah pohon sambil memegangi tengkorak itu dan menghadapkan muka tengkorak kepadanya, dan dia mengajak tengkorak itu bercakap-cakap!

Dia seorang lelaki tua, mungkin usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun. Pakaiannya jelek sekali, sudah robek di sana sini dan penuh tambalan. Akan tetapi anehnya, pakaian yang butut itu terlihat bersih seperti habis dicuci. Kedua kakinya telanjang tanpa alas kaki, celana yang robek dan buntung sebatas lutut itu memperlihatkan betis yang kecil kurus hampir tak berdaging. Kakek ini tubuhnya sedang akan tetapi kurus, kepalanya besar dan mukanya seperti muka singa karena rambut, cambang, kumis serta jenggotnya tebal dan awut-awutan melingkari muka itu.

Rambutnya telah banyak yang putih, demikian pula kumis dan jenggotnya yang dibiarkan tumbuh liar tak terpelihara rapi. Akan tetapi rambut serta kumis jenggotnya halus seperti kapas, juga bersih, tanda bahwa biar pun dia tidak pernah menyisir rambutnya akan tetapi rambut dan kumis jenggot itu sering dicuci bersih. Sepasang matanya seperti mata kanak-kanak, nampak berseri gembira, dan mulutnya yang sudah tidak bergigi lagi itu pun selalu tersenyum, bibirnya merah tanda bahwa dia sehat.

Kurang pantaslah kalau dia dikatakan seorang kakek jembel, karena pakaian dan seluruh tubuhnya nampak sehat dan bersih. Akan tetapi kalau bukan jembel, kenapa pakaiannya penuh tambalan dan robek-robek? Sebuah caping lebar tergantung di punggungnya, baru saja dilepaskan dari atas kepalanya ketika dia menjatuhkan diri duduk di bawah pohon itu. Kini dia bicara kepada tengkorak yang dipegangnya, seperti orang bicara kepada seorang sahabatnya saja.

"Hayo jawablah!" Dia mengulang. "Selagi hidup engkau tentu cerewet bukan main, tetapi mengapa sekarang diam dalam seribu bahasa?" Dia terkekeh. Suara kakek itu lirih dan ringan, seperti suara anak-anak.

"Hayo katakan, apakah engkau dahulu seorang wanita yang cantik jelita ataukah wanita yang buruk rupa? Apakah seorang laki-laki yang jantan perkasa ataukah seorang laki-laki yang lemah berpenyakitan? Apakah engkau dahulu seorang panglima? Ataukah seorang prajurit biasa? Hartawan ataukah pengemis?"

Kalau ada orang lain melihat dan mendengatnya di saat itu, tentu kakek ini akan dianggap seorang yang tidak waras, seorang gila atau setidaknya sinting.

"Coba jawab. Apakah dulu engkau seorang pembesar yang jujur bijaksana atau seorang pembesar yang korup dan penindas rakyat? Seorang hartawan yang dermawan ataukah yang pelit? Apakah engkau seorang pendeta yang arif bijaksana dan penuh kasih sayang, ataukah seorang pendeta munafik yang berpura-pura alim? Ha-ha-ha-ha, apa pun adanya engkau dahulu, sekarang tiada lebih hanya sebuah tengkorak! Mana itu kecantikan atau ketampananmu, mana hartamu, mana kedudukanmu? Ha-ha-ha, sekarang engkau hanya pantas untuk menakut-nakuti anak-anak saja!" Kakek itu tertawa-tawa.

"Heii, tengkorak! Selagi hidup harus ada manfaatnya! Jadilah seperti para pemimpin yang membimbing rakyat dengan bijaksana dan adil menuju ke arah kehidupan yang makmur, seperti para cerdik pandai yang memberi pelajaran yang berguna bagi orang lain, seperti kaum pendekar yang selalu menegakkan dan membela kebenaran dan keadilan, seperti para pendeta yang sungguh-sungguh mengabdi kepada Tuhan, memberi penyuluhan dan bimbingan kepada orang lain ke arah jalan benar. Mereka meninggalkan hasil karya dan nama baik mereka sehingga mati pun tidak perlu menyesal karena telah berjasa semasa hidupnya. Dan engkau, apakah jasamu terhadap orang lain, terhadap negara dan bangsa, dan terutama terhadap Tuhan?"

Kini kakek itu tidak tertawa lagi, melainkan menghela napas panjang. Kemudian terdengar lagi dia berkata, “Kuharap saja engkau dahulu bukan seperti para muda yang tidak jujur, yang suka mengintai orang dan tidak berani muncul secara berterang, tengkorak. Apa bila demikian halnya, maka engkau tak pantas kuajak bicara!" Dia meletakkan tengkorak itu di atas tanah dan pada saat itu dari balik sebatang pohon besar berloncatan keluar seorang pemuda dan seorang gadis.

Tadi mereka bersembunyi sambil mengintai, dan dengan terheran-heran mendengarkan ulah kakek jambel itu. Tapi ucapan terakhir kakek itu yang menyindir mereka yang sedang mengintai sangat mengejutkan mereka, dan keduanya segera berloncatan keluar. Mereka menghampiri kakek itu dan memberi hormat.

"Kakek yang baik, harap maafkan kami yang tadi bersembunyi di sana," kata pemuda itu dengan sikap yang sopan.

Kakek itu terkekeh sambil memandang kepada dua orang muda itu dan hatinya merasa senang. Dia adalah seorang kakek yang sudah banyak makan garam, sudah luas sekali pengalamannya dan dia dapat menilai orang hanya dengan melihat sinar matanya saja.

Pemuda berkulit gelap itu berusia dua puluh satu tahun. Wajahnya tampan dan gagah, dan tubuhnya tinggi tegap. Dahinya lebar, sepasang alis tebal berbentuk golok melindungi sepasang mata yang lebar dan bersinar-sinar. Akan tetapi mata yang bersinar tajam itu amat lembut dan ini saja sudah menyenangkan hati si kakek, apa lagi melihat pemuda itu begitu muncul sudah minta maaf kepadanya!

Gadis yang muncul bersama pemuda itu pun mengagumkan hatinya. Dara itu pun sebaya dengan si pemuda, wajahnya lonjong dengan dagu runcing. Ada setitik tahi lalat menghias dagu kanannya. Matanya juga tajam bersinar, namun lembut. Bibirnya merah segar dan sikapnya halus dan anggun.

"He-he-heh!" kakek jembel itu terkekeh sesudah mengamati wajah kedua orang muda itu. Wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan. "Kenapa kalian minta maaf kepadaku? Tempat ini bukan milikku. Siapa saja boleh datang dan pergi. Akan tetapi kenapa kalian main sembunyi-sembunyi? Kalian bukan sepasang kekasih yang melarikan diri dari orang tua kalian, bukan?"

Wajah kedua orang muda-mudi itu berubah kemerahan, akan tetapi keduanya tersenyum dan tidak menjadi marah. Ucapan kakek itu wajar dan sebagai kelakar yang sopan, tidak bermaksud untuk menghina.

"Sama sekali bukan, locianpwe (orang tua gagah)."

"Heii! Kenapa engkau menyebut aku seorang jembel tua dengan sebutan locianpwe! Aku hanya pandai makan dan minta-minta!"

"Harap locianpwe tidak merendahkan diri. Locianpwe tadi dapat mengetahui bahwa kami bersembunyi, hal itu saja sudah menunjukkan bahwa locianpwe memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam sekali," kata pemuda itu.

Kakek itu memandang dengan kagum. "Haii, engkau cerdik juga. Nah, katakan mengapa tadi kalian bersembunyi."

"Kami melihat dan mendengar semua kata-katamu, locianpwe. Kami bersembunyi karena tidak ingin mengganggumu. Ucapan locianpwe kepada tengkorak tadi sangat menyentuh perasaan kami. Akan tetapi, locianpwe, mengapa locianpwe seperti orang yang berputus asa sehingga melihat dunia ini dari segi yang mengecewakan dan menyedihkan belaka? Bukankah masih banyak segi lain yang menggembirakan?"

Tiba-tiba sepasang mata yang lembut dan ramah itu mencorong hingga mengejutkan hati pemuda itu. Lalu kakek itu menarik napas panjang, pandang matanya melembut kembali. "Aihhh, siapakah yang tidak akan merasa kecewa dan bersedih, orang muda? Kalau aku mengenang semua peristiwa yang terjadi selama beberapa tahun ini, sejak perang yang meruntuhkan pemerintah penjajah Mongol. Aihh, sungguh menyedihkan...”

Pemuda itu mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, locianpwe, bukankah peristiwa itu sangat membahagiakan rakyat? Bukankah perang itu yang berhasil melepaskan rakyat dari pada cengkeraman penjajah? Mengapa locianpwe malah merasa kecewa dan sedih? Bukankah sudah selayaknya kalau kita bersyukur, bahkan kalau bisa membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah?"

Untuk sejenak kakek itu menatap wajah pemuda yang bicara dengan sikap penasaran itu, kemudian dia tertawa bergelak sambil memandang ke angkasa. "Ha-ha-ha-ha, lucunya! Engkau memberi kuliah kepadaku tentang perjuangan? Ha-ha-ha, orang muda, ketahuilah bahwa selama perang melawan Mongol, aku selalu berada di garis terdepan!"

Pemuda dan gadis itu langsung memberi hormat. "Kiranya locianpwe seorang pahlawan!" kata gadis itu, baru pertama kali bicara.

"Apakah pahlawan itu? Apa artinya sebutan itu? Kalian tahu, ketika rakyat bergerak dan berjuang melawan penjajah Mongol, aku merasa bangga dan girang bukan main. Hampir dapat dikatakan bahwa semua golongan, tidak peduli dari aliran mana, bersatu padu dan bekerja sama, bahu membahu dalam perjuangan, setiap saat rela berkorban nyawa. Akan tetapi kegembiraan itu hanya sebentar! Aihh, seperti awan tipis tertiup angin saja. Segera terganti kedukaan ketika aku melihat betapa perang itu mengakibatkan jatuhnya korban yang teramat besar. Banyak rakyat jelata yang tidak berdosa menjadi korban, tidak peduli wanita, anak-anak, orang-orang jompo, semua tak terkecuali, banyak yang roboh dibantai orang! Perang itu mengakibatkan banjir darah!"

"Apa anehnya hal itu, locianpwe? Setiap perang tentu saja menjatuhkan banyak korban. Setiap perjuangan tentu saja membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan rakyat tidak sia-sia, locianpwe. Mereka yang tewas di dalam perang itu. baik dia prajurit mau pun rakyat, adalah pahlawan. Darah merekalah yang telah membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah. Kematian merekalah yang mendatangkan kebebasan dan kemakmuran..."

"Kemakmuran siapa, orang muda? Inilah yang menyedihkan hatiku. Kami dahulu dengan senang hati membantu perjuangan yang dipimpin pendekar Cu Goan Ciang yang gagah perkasa, bahkan sampai kini pun, sesudah menjadi Kaisar Thai-cu, kami masih menaruh rasa hormat kepada dia. Dia memang seorang pejuang sejati, seorang pemimpin sejati. Sekarang pun dia menjadi kaisar yang sangat bijaksana, yang tidak mabok kemenangan, tidak mabok kemuliaan dan kesenangan. Dia terus membangun yang rusak oleh perang, dibantu oleh para pejabat yang setia dan bijaksana...”

"Nah, bukankah hal itu menggembirakan sekali, locianpwe?"

"Uhhh, engkau hanya tahu satu tidak tahu selebihnya yang jauh lebih banyak. Aku melihat hal-hal yang menyedihkan sebagai akibat perang, atau menyusul perjuangan yang luhur itu. Kalau dulu semua golongan bersatu padu menyerang penjajah, ehh, sekarang malah terjadi perpecahan di antara kita dengan kita sendiri karena saling berebut! Saling berebut pengaruh, kedudukan dan kekuasaan yang pada hakekatnya saling berebut kesenangan duniawi! Tak mungkin orang-orang memperebutkan pengaruh, kedudukan dan kekuasaan jika di situ tidak terdapat kesenangan! Jadi yang diperebutkan adalah kesenangan! Dalam perebutan ini mereka tidak segan-segan untuk saling serang dan saling bunuh! Bukan itu saja, tetapi lihat keadaan para pembesar! Mereka tidak pantas disebut pemimpin, mereka adalah pembesar yang membesarkan perut sendiri. Mereka melakukan korupsi, mencuri dan menipu uang negara, menindas yang bawah menjilat yang atas, bahkan banyak pula yang lebih tamak dan lebih murka dibandingkan penjajah Mongol sendiri! Dan Kaisar yang bijaksana itu bagaimana mungkin dapat mengetahui semua yang terjadi di antara laksaan orang pejabatnya?”

"Akan tetapi, locianpwe, aku tak setuju dengan pendapat locianpwe! Tidak semua pejabat seperti yang locianpwe katakan tadi! Masih banyak yang merupakan pejabat sejati, yang setia kepada pemerintah, jujur dan tidak mementingkan diri sendiri!" Gadis itu kini berseru penasaran.

"Ha-ha-ha-ha, hanya berapa gelintir orang saja yang seperti itu! Dan... ehh, mengapa aku bicara dan berdebat dengan dua orang muda yang sama sekali tidak kukenal?" Dia pun menepuk kepala sendiri lantas mengomel, akan tetapi sambil tersenyum, "Bu Lee Ki, kau tua bangka pikun. Sekali waktu kau bisa celaka oleh celotehmu sendiri!"

Melihat kakek itu kini mengatupkan bibir kuat-kuat dan duduknya bahkan membelakangi mereka, pemuda itu saling pandang dengan si gadis dan keduanya tersenyum.

"Locianpwe, maafkan kami berdua yang masih muda dan lupa untuk memperkenalkan diri kepada locianpwe. Namaku Sin Wan dan ini adalah sumoi-ku bernama Lim Kui Siang.”

Kakek itu tidak menoleh, masih duduk membelakangi mereka, seperti acuh saja. Sin Wan dan Kui Siang kembali saling pandang. Mereka berdua baru saja meninggalkan guru mereka yang tinggal seorang, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui yang sudah berhasil mengajarkan Sam-sian Sin-ciang kepada dua orang muridnya itu. Selama hampir setahun dua orang murid itu dengan tekun melatih diri dengan ilmu silat baru hasil penggabungan inti sari ilmu-ilmu Tiga Dewa. Sesudah Dewa Arak melihat bahwa dua orang muridnya sudah benar-benar menguasai ilmu silat sakti itu, dia pun menyuruh mereka turun gunung.

"Aku hendak menghabiskan sisa hidupku di sini, menanti uluran tangan maut yang akan membawa aku menyusul dua orang gurumu yang sudah lebih dahulu meninggalkan kita. Kalian pergilah dan pergunakan semua kepandaian yang pernah kalian pelajari dari kami demi keadilan dan kebenaran. Kui Siang, sebaiknya engkau kembali dahulu ke kota raja. Tentu semua harta peninggalan orang tuamu berikut rumahmu masih dirawat baik-baik oleh Ciang-Ciangkun. Dan engkau, Sin Wan, terserah kepadamu hendak ke mana, akan tetapi... biarlah sekarang kuceritakan kepada kalian suatu keinginan hati yang sudah kami sepakati bertiga ketika dua orang gurumu yang lain masih hidup. Kami ingin melihat kalian menjadi suami isteri...”

"Suhu...!" Kui Siang berseru lirih dan mukanya menjadi merah sekali. Ia hanya menunduk. Wajah Sin Wan juga menjadi kemerahan, akan tetapi dia pun tidak berani berkutik, hanya menunduk.

Sejak masih kecil hatinya sudah penuh kasih sayang kepada Kui Siang. Dia menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. Begitu pula Kui Siang yang nampak sayang kepadanya. Mungkin kebersihan hati mereka berdua yang belum sempat membiarkan panah asmara menembus hati mereka. Karena itu mereka menjadi tertegun dan malu begitu Dewa Arak secara terang-terangan menyatakan keinginannya, juga keinginan dua orang guru mereka yang telah tiada.

"Aihhh, Sin Wan dan Kui Siang. Kalian sudah tahu akan watakku. Aku menjunjung tinggi kebebasan setiap orang dan dalam hal perjodohan, tentu saja tidak boleh ada penekanan dari orang lain. Aku hanya memberi tahukan keinginan kami bertiga, hanya mengusulkan saja. Sama sekali tidak akan memaksa, terserah kepada kalian berdua. Hanya aku yakin, kedua orang gurumu yang sudah tiada, juga aku sendiri, akan merasa gembira dan puas sekali kalau kalian dapat menjadi suami isteri. Nah, sekarang pergilah kalian, dan jangan mencari aku di sini karena mungkin aku tidak berada di sini lagi. Kalau aku ingin bertemu dengan kalian, akulah yang akan mencari kalian."

Demikianlah, dua orang murid itu lalu meninggalkan Dewa Arak. Karena dia tidak memiliki tujuan lain, maka Kui Siang pergi ke kota raja, ditemani Sin Wan. Pemuda ini juga tidak mempunyai tujuan. Dia hanya menemani sumoi-nya pulang ke kota raja, baru kemudian dia akan melanjutkan perjalanan, entah ke mana. Mereka sengaja mengambil jalan memutar untuk mencari pengalaman, dan pada hari itu tibalah mereka di hutan dekat daerah tandus itu lantas tertarik oleh ulah kakek tua jembe! yang berbicara dengan sebuah tengkorak.

Sekarang kakek tua jembel itu masih duduk membelakangi mereka. Karena Sin Wan dan Kui Siang menganggap bahwa kakek itu menjadi marah dan tidak mau lagi bicara dengan mereka, maka Sin Wan memberi isyarat dengan matanya kepada sumoi-nya. Kalau orang tua ini tidak lagi mau bicara, mereka pun tidak sepantasnya mengganggunya.

"Maafkan, locianpwe. Kami berdua sudah lancang mengganggu locianpwe dan sekarang kami hendak pergi saja."

Namun baru saja keduanya bangkit berdiri, terdengar kakek itu bertanya tanpa menoleh, "Nanti dulu, katakan dulu siapa guru kalian."

Sin Wan saling pandang dengan Kui Siang. Mereka ragu-ragu. Kakek jembel yang tadinya kelihatan amat ramah itu kini seperti orang yang angkuh. Mereka sudah memperkenalkan diri, akan tetapi kakek itu tidak mengatakan siapa dia, dan kini malah menanyakan nama guru mereka. Padahal mereka tahu benar bahwa tiga orang guru mereka sama sekali tak ingin nama mereka disebut-sebut kalau tidak penting sekali.

Agaknya kakek itu dapat membaca isi hati mereka. "Hemm, jangan kalian menaruh curiga kepadaku. Aku Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki tidak pernah banyak bicara dengan sembarang orang. Katakan dulu siapa guru kalian supaya aku dapat memutuskan untuk melanjutkan percakapan kita ataukah tidak."

Mendengar nama julukan Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Berhati Putih), dua orang muda ini tercengang. Mereka pernah mendengar nama julukan itu disebut oleh Dewa Arak, dan guru mereka itu mengatakan bahwa Pek-sim Lo-kai adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang tidak palsu dan amat dihormatinya.

"Aihh, kiranya locianpwe adalah pemimpin besar seluruh kai-pang!" seru Sin Wan.

"Ketiga orang suhu kami, Sam-sian, pernah menceritakan tentang locianpwe!" kata pula Kui Siang.

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri sambil membalikkan tubuhnya, menghadapi dua orang muda itu, wajahnya berseri-seri dan senyumnya melebar sehingga matanya menjadi sipit sekali, kemudian dia bahkan tertawa ha-ha-he-he seperti tadi lagi.

"Heh-heh-heh, ternyata kalian adalah murid-murid Sam-sian! Ha-ha-ha, kalau begitu kita bukan orang lain karena Sam-Sian sudah lama kuanggap sebagai sahabat-sahabat yang paling baik! Bagaimana kabarnya dengan mereka bertiga? Apakah Ciu-sian tetap mabok-mabokan dan ugal-ugalan, Kiam-sian masih senang berfilsafat dengan pelajaran To, dan Pek-mau-sian masih suka bersajak?"

Mendengar ucapan ini, terbayanglah di depan mata Kui Siang wajah tiga orang gurunya, terutama Kiam-sian dan Pek-mau-sian, dan semua sikap dan gerak-gerik mereka, dan tak tertahankan lagi, kedua matanya menjadi basah.

Biar pun tadi tersenyum dan matanya menyipit nyaris tertutup, ternyata penglihatan kakek itu tajam sekali. Air mata itu belum sempat jatuh, masih tergenang di pelupuk mata, akan tetapi dia sudah cepat menegur. "Heiiii? Kenapa engkau menangis? Apa yang terjadi dengan Sam-sian?" tanyanya kepada Kui Siang.

Dangan muka ditundukkan karena dia tak ingin memperlihatkan tangisnya, Kui Siang lalu menjawab, "Suhu Kiam-sian dan suhu Pek-mau-sian telah meninggal dunia lebih setahun yang lalu."

Mendengar ini hanya sejenak saja kakek itu tertegun, lalu dia terkekeh lagi. "He-he-heh, enaknya kalian, Kiam-sian dan Pek-mau-sian! Tidak seperti aku yang masih terseok-seok mengikuti langkah kakiku yang sudah mulai lemah terhuyung ini. Heh-heh. Dan di mana sekarang Dewa Arak?"

Cara kakek itu membicarakan Sam-sian menunjukkan bahwa dia memang sahabat karib mereka, maka Sin Wan yang memberi keterangan. "Suhu Ciu-sian menyuruh kami pergi meninggalkannya dan suhu hendak merantau, entah ke mana karena tidak memberi tahu kepada kami berdua."

"Aihh, masih enakan dia dari pada aku. Dia bebas, dan aku? Terikat oleh kaipang-kaipang yang brengsek itu! Dahulu ketika jaman perjuangan, mereka itu demikian setia, demikian gagah perkasa dan bersatu! Sekarang? Muak aku melihatnya. Saling bermusuhan, saling berebutan, bahkan banyak yang kemasukan kaum sesat! Sungguh memalukan. Karena itu lebih baik aku merantau dan menjauhi semua tetek-bengek itu!" Baru sekarang wajah yang biasanya berseri itu nampak digelapkan mendung kemurungan. "Mereka itu munafik semuanya! Segala kebaikan, segala kehormatan, segala keramah tamahan, semuanya itu munafik! Sama dengan bedak gincu saja, untuk menyembunyikan kulit yang buruk."

Dia menghela napas panjang dan memandang wajah Kui Siang. "Tidak ada hubungannya dengan engkau, anak baik. Engkau memiliki wajah yang cantik dan bersih sehingga tidak membutuhkan bedak gincu lagi!"

Diam-diam Sin Wan terkejut. Menurut ketiga gurunya, Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki adalah seorang sakti yang gagah perkasa dan ditakuti, juga disegani oleh kawan dan lawan. Dia lihai akan tetapi berhati lembut, adil dan pandai mengatur sehingga seluruh perkumpulan pengemis dari empat penjuru sudah memilihnya sebagai pemimpin besar yang disebut Thai-pangcu (Ketua Besar) dan ditaati seluruh pimpinan semua perkumpulan pengemis. Akan tetapi sekarang tokoh ini meninggalkan perkumpulan, melarikan diri dari semua hal sehingga membuatnya kecewa dan penasaran.

"Maaf, locianpwe. Sudah berapa lamakah locianpwe meninggalkan kai-pang?"

"Heh-heh-heh, biarlah mereka tahu rasa. Biar mereka memilih sendiri pemimpin mereka, agar pimpinan yang baru itu mampus karena pusing kepala! Aku tak sudi lagi, aku sudah meninggalkan semuanya itu, sudah bertahun-tahun sedikitnya ada tujuh tahun!"

"Akan tetapi, locianpwe. Menurut para guruku, hanya locianpwe seorang yang dipandang oleh seluruh pimpinan kai-pang di empat penjuru, hanya locianpwe yang dapat mengatur dan mengarahkan mereka supaya mereka tetap berjalan di jalan yang benar. Bukankah locianpwe pula yang dahulu memimpin mereka membantu perjuangan menumbangkan pemerintah Mongol? Kenapa locianpwe sekarang malah meninggalkan mereka?"

“Biar! Heh-heh-heh, siapa sudi mengurus orang-orang brengsek itu? Sesudah perjuangan selesai, mereka ikut-ikutan dengan orang-orang sesat untuk memperebutkan harta benda dan kedudukan, menuntut imbalan jasa atas perjuangan menumbangkan penjajah!"

"Maaf, locianpwe, bukankah itu wajar saja? Bukankah mereka yang sudah berjasa dalam perjuangan memang berhak untuk menerima imbalan?" Sin Wan mengejar, hanya untuk memancing pendapat kakek itu karena dia sendiri sudah dapat melihat alangkah sesatnya perbuatan itu.

Sepasang mata itu melotot. "Hehh?! Kau hendak menguji aku atau bersungguh-sungguh? Kalau engkau bersungguh-sungguh, tak pantas engkau menjadi murid Sam-sian, apakah guru-gurumu hanya mengajarkan ilmu pukulan dan tendangan saja dan tidak membuka matamu melihat kenyataan hidup?"

"Maaf, saya mengharapkan petunjuk dan pelajaran yang amat berharga dari locianpwe," kata Sin Wan.

"Hemmm, kalau berjuang namun mengharapkan imbalan jasa, maka itu bukan perjuangan namanya! Makna perjuangan yang luhur, yaitu pengabdian kepada nusa bangsa dengan taruhan nyawa, menjadi pudar sesudah diisi dengan pamrih demi keuntungan diri pribadi. Pejuang-pejuang seperti itu dengan mudah dapat melakukan penyelewengan karena yang dipentingkan adalah pamrihnya. Berjuang hanya mempunyai satu tekad, yaitu menghalau penjajah untuk membebaskan bangsa dan negara dari belenggu kekuasaan Mongol. Itu saja! Tentu saja, sesudah berhasil dilanjutkan dengan mengisi kemerdekaan yang sudah diperoleh dengan pengorbanan harta dan nyawa itu. Dan pengisiannya ini juga merupakan perjuangan yang sama luhurnya, yaitu demi negara dan bangsa, bukan demi penuhnya kantung sendiri, demi keuntungan dan kesenangan diri sendiri! Dan lihatlah, mereka mulai saling bermusuhan seperti segerombolan anjing kelaparan memperebutkan tulang-tulang yang berserakan. Sungguh memalukan...!"

Si Pedang Tumpul Jilid 14

DI RUANGAN terdapat lebih dari dua puluh orang. Tentu mereka adalah tokoh-tokoh Hek I Kai-pang, pikir Sui In, karena dia melihat betapa lebih banyak lagi pengemis yang berada di luar ruangan itu. Di sebuah kursi yang agak tinggi duduk seorang kakek pengemis yang usianya kurang lebih enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan wajahnya membayangkan kegagahan.

Mukanya berbentuk persegi dan matanya lebar, kumis dan jenggotnya teratur rapi walau pun pakaiannya sederhana sekali, yaitu dari kain berwarna hitam. Kalau ada perbedaan dengan para anak buahnya, perbedaan itu hanya karena pada ikat pinggangnya terselip sebatang tongkat hitam yang panjangnya tiga kaki dan besarnya seibu jari kaki.

"Lekas ceritakan apa yang terjadi," kata ketua itu kepada dua orang pengemis yang tadi membawa mayat pengemis muda berbaju hitam ke dalam ruangan itu. Sekarang mayat itu rebah telentang di depan mereka.

Si pengemis tinggi kurus bercerita singkat. "Ketika kami berdua lewat di depan kedai nasi itu, kami melihat anak buah kita ini dirobohkan seorang di antara dua wanita yang sedang makan di kedai. Kami segera mendekat dan ternyata dia ini sudah berkelojotan sekarat, dengan kedua pipi ditembusi sebatang sumpit. Dengan hati-hati kami menguji kepandaian mereka dan ternyata mereka itu amat lihai. Dalam menguji dengan sinkang (tenaga sakti), kami bukanlah tandingan dua orang wanita itu. Pada saat itu pula, sebelum kami bergerak lebih jauh, muncul Lui-pangcu (ketua Lui), yaitu seorang di antara tokoh Hwa I Kai-pang. Dia datang bersama pasukan penjaga keamanan dan dia menuduh kita sebagai kai-pang yang suka membikin kacau. Bahkan kemudian dia mengatakan bahwa anak buah kita ini sudah melakukan pemerasan di kedai itu dan mengganggu kedua orang tamu wanita itu. Karena semua orang yang berada di sana membenarkan keterangan itu, maka kami pun segera minta maaf kemudian membawa jenazah ini ke sini untuk menerima petunjuk dari pangcu (ketua)."

Pengemis tinggi besar itu adalah ketua umum dari Hek I Kai-pang. Namanya Souw Kiat dan dialah ketua umum yang menguasai seluruh anggota Hek I Kai-pang di daerah barat dan merupakan seorang di antara empat pemimpin kai-pang terbesar di empat penjuru. Sikapnya tenang dan berwibawa, dan mendengar laporan itu tidak timbul emosinya. Dia tetap tenang, lalu memandang ke arah mayat yang rebah di atas lantai.

"Hemmm, sumpit yang menembus kedua pipi itu tidak mungkin membunuhnya. Ji-pangcu (ketua Ji), coba periksa, apakah yang menyebabkan dia mati," perintah ketua umum itu kepada seorang di antara ketua cabang yang dia tahu ahli dalam hal pengobatan.

Seorang pengemis tua bertubuh kurus kering segera berjongkok dan memeriksa jenazah itu. Diperiksanya muka yang ditembusi sumpit dari pipi yang satu ke pipi yang lain itu dan dia membenarkan pendapat ketua umumnya bahwa bukan sumpit itu yang menyebabkan kematian. Dia lalu merobek baju pada bagian dada untuk memeriksa. Dan tepat di bawah tenggorokan, di dada bagian atas, nampak tanda seperti tiga bintik kecil yang warnanya biru menghitam.

"Pangcu, kematiannya disebabkan tiga batang jarum yang menembus bajunya kemudian memasuki dadanya," Ji-pangcu melapor kepada atasannya.

"Hemm, melihat sumpit itu, jelas bahwa penyambitnya seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi kenapa dia menggunakan jarum beracun pula untuk membunuhnya? Jika sambitan itu dinaikkan sedikit saja, tentu orang ini juga akan tewas seketika!" kata Souw-pangcu dengan alis berkerut.

Tiba-tiba saja nampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dl tengah ruangan itu sudah berdiri dua orang wanita cantik. Melihat Sui In dan Bwe Li, dua orang pengemis yang tadi membawa jenazah itu pulang, terkejut bukan main.

"Kami tidak menggunakan jarum beracun!" kata Sui In dengan suara lantang tapi lembut.

"Pangcu... mereka... mereka inilah dua orang tamu di kedai itu..." kata si pengemis tinggi kurus.

Sejenak Souw Kiat memandang kepada dua orang wanita itu penuh perhatian dan diam-diam dia merasa kagum dan terkejut. Dua wanita ini memasuki ruangan seperti siluman saja. Dia sendiri yang biasanya sangat peka dan hati-hati, sama sekali tidak tahu akan kedatangan mereka. Dan mereka ini masih muda, wanita pula, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian luar biasa.

Dia lalu membentak para pembantunya yang nampak siap siaga dengan sikap menantang sesudah mendengar bahwa dua orang wanita ini adalah pembunuh anak buah mereka, "Kalian semua mundur dan sediakan tempat duduk untuk kedua lihiap (pendekar wanita) ini!"

Setelah berkata demikian, Souw Kiat segera memberi hormat kepada Sui In dan Bwe Li, memberi hormat dengan sungguh-sungguh, bukan seperti dua orang pembantunya yang tadi memberi hormat untuk menguji kekuatan.

"Selamat datang di tempat tinggal kami, ji-wi lihiap (pendekar wanita berdua). Saya Souw Kiat ketua Hek I Kai-pang, merasa girang sekali bahwa ji-wi sudi datang berkunjung ke sini. Tentu ji-wi akan memberi penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di kedai nasi itu, bukan?”

Melihat sikap gagah dan sopan dari ketua itu, baik Sui In mau pun Bwe Li merasa senang dan tidak jadi marah yang tadi timbul ketika melihat sikap para pimpinan pengemis di situ yang memandang marah dan siap mengeroyok itu. Sui In mengangguk.

"Bukan hanya memberi penjelasan, juga kami minta penjelasan mengenai kai-pang pada umumnya." suara Sui In tenang, lembut namun penuh wibawa.

"Silakan duduk, ji-wi lihiap," kata Souw Kiat yang disambungnya setelah mereka duduk. "Bolehkah kami mengetahui siapa nama ji wi dan dari partai mana?"

"Cukup kau ketahui bahwa aku she Cu dan ini sumoi-ku she Tang. Souw-pangcu, seperti diceritakan dua orang pembantumu tadi, pengemis ini tadi mengganggu kami di kedai nasi ketika kami sedang makan. Karena dia sangat kurang ajar, maka aku sudah melukainya dengan sumpit. Akan tetapi bukan aku yang membunuhnya dengan jarum beracun walau pun aku juga memiliki jarum beracun. Dan untuk membuktikan, jarum yang membunuh itu dapat dibandingkan dengan jarumku."

Tiba-tiba nampak tangan kiri Sui In bergerak. Tidak terlihat dia melemparkan jarum, akan tetapi ketika semua orang memandang, pada dada mayat yang bajunya masih terbuka itu nampak pula tiga titik baru di dekat tiga titik yang lama.

Akan tetapi, kalau tiga titik yang lama itu dikelilingi warna kehitaman, maka pada tltik-titik yang baru itu nampak jelas betapa kulit berikut daging yang tertembus jarum itu mencair seperti terbakar! Tentu saja semua orang menjadi terkejut bukan main.

"Ahhh... jarum-jarummu mengandung racun yang lebih dahsyat lagi, Cu-lihiap!” seru ketua itu.

Sui In tersenyum dingin, "Ini hanya untuk membuktikan bahwa aku bukan pembunuh anak buahmu, pangcu. Dan sekarang, sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin sekali mengetahui bagaimana pertanggungan jawabanmu kalau ada anak buahmu yang begini menjemukan, melakukan kekerasan ketika mengemis, dan mengganggu wanita dengan mengandalkan kepandaiannya yang masih amat dangkal itu!”

Wajah Souw Kiat berubah kemerahan. Walau pun lembut tetapi ucapan itu sungguh tajam seperti pedang menusuk ulu hatinya. Sinar matanya menjadi keras dan marah ketika dia memandang ke sekeliling, ke arah para pembantunya. "Kalian semua lihat baik-baik, anak buah siapa jahanam yang membikin malu nama Hek I Kai-pang ini!”

Dua puluh empat orang ketua cabang itu cepat-cepat menghampiri mayat dan melakukan pemeriksaan dengan teliti, tetapi satu demi satu mereka mundur lagi lalu menggelengkan kepala. Akhirnya dua puluh empat orang itu menyangkal semuanya dan tidak ada yang mengakui mayat itu sebagai bekas anggota mereka. Melihat ulah itu, Lili yang nakal dan galak lalu berkata kepada suci-nya, cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang.

"Suci, apakah pernah engkau mendengar ada orang yang berani mengakui kesalahan dan cacat celanya? Aku sendiri belum pernah!"

Sui In menjawab dengan suara dingin, "Yang berani melakukan pengakuan semacam itu hanyalah orang-orang gagah saja, sumoi."

Mendengar ini wajah Souw Kiat menjadi semakin merah. Sepasang matanya melotot dan dia pun memandang kepada dua orang wanita itu. "Ji-wi lihiap, bukan watak kami untuk menyangkal kesalahan yang kami lakukan. Kalau para pembantuku ini mengatakan tidak, berarti memang tidak! Kami bukan pengecut! Akan tetapi kalau ji-wi tidak percaya, maka kami pun tidak dapat memaksa."

Cu Sui In adalah seorang tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan terkenal amat cerdik. Dengan tajam matanya tadi menatap semua wajah pimpinan para pengemis ketika mereka satu demi satu memeriksa mayat itu, dan dia pun mengamati wajah Hek I Kai-pangcu dengan seksama. Dia percaya bahwa mereka memang tidak berpura-pura, dan dia pun teringat akan peristiwa yang terjadi di kedai itu.

Sikap pengemis baju hitam yang tewas itu terlampau menyolok, terlalu berani dan tidak sesuai dengan kepandaiannya yang tak seberapa hebat, seolah-olah dia sengaja hendak menarik perhatian dengan perbuatan dan sikapnya yang jahat dan membuat kekacauan. Kemudian muncul pengemis baju kembang bersama sepasukan penjaga keamanan yang agaknya sengaja memburukkan pengemis baju hitam. Dan pembunuhan rahasia terhadap pengemis yang mengacau itu! Semua itu merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kait mengait dan pasti ada apa-apanya.

"Pangcu, apakah Hek I Kai-pang di Lok-yang mempunyai musuh-musuh?" tiba-tiba Sui In bertanya.

Souw Kiat dan para pembantunya memandang wanita cantik itu dengan heran, kemudian menggelengkan kepala. "Sepanjang yang kami ketahui, Hek I Kai-pang tidak mempunyai musuh. Musuh kami hanyalah orang-orang Mongol, akan tetapi setelah kini mereka diusir, kami tidak mempunyai musuh lagi. Kenapa lihiap bertanya tentang itu?"

"Jawab sajalah," Sui Cin berkata dengan suaranya yang berwibawa. "Bagaimana dengan Hwa I Kai-pang? Apakah mereka bukan musuh Hek I Kai-pang?"

Souw Kiat saling pandang dengan para pimpinan cabang. "Hwa I Kai-pang? Aihhh, lihiap, Hwa I Kai-pang adalah segolongan dengan kami, mereka adalah rekan-rekan kami. Hwa I Kai-pang adalah perkumpulan yang menguasai daerah timur, sedangkan kami menguasai daerah barat. Batasnya justru di Lok-yang ini, maka di kota ini terdapat anggota-anggota kedua perkumpulan. Akan tetapi di antara kami tidak pernah ada permusuhan."

"Hemm, tadi kulihat sikap pengemis baju kembang itu tak bersahabat terhadap pengemis baju hitam. Bahkan dia juga memburukkan Hek I Kai-pang di depan umum dan di depan perwira yang memimpin pasukan penjaga keamanan," Sui In mendesak.

Souw Kiat mengerutkan sepasang alisnya. "Hemm, terus terang saja, lihiap, memang ada persaingan di antara kami, maklum karena Lok-yang merupakan perbatasan. Kami sama-sama ingin agar hubungan kami lebih dekat dengan para penguasa, dan mendapat nama baik di kota sehingga banyak hartawan suka menderma kepada kami. Hanya persaingan namun bukan permusuhan, dan selama ini tidak pernah terjadi bentrokan...," dia berhenti dan mengamati wajah cantik itu. "Akan tetapi kenapakah, lihiap?"

"Orang ini bukan anggota Hek I Kai-pang akan tetapi dia memakai pakaian Hek I Kai-pang dan mengaku anggota. Dia bersikap jahat dan membuat kekacauan di tempat umum yang ramai. Kemudian dia dibunuh secara diam-diam dan kebetulan sekali di sana mendadak muncul pasukan penjaga keamanan yang menyaksikan kejahatan yang dilakukan anggota Hek I Kai-pang, diperkuat oleh pengakuan semua orang yang berada di sana. Nah, kalau orang ini benar bukan anggota Hek I Kai-pang, kemungkinannya hanya satu, yaitu bahwa orang ini palsu sengaja dibayar oleh pihak yang ingin memburukkan nama Hek I Kai-pang, lalu membunuhnya agar dia tidak membocorkan rahasia itu."

"Ahhh..." Souw Kiat dan para pembantunya berseru kaget dan penasaran. "Tapi... tapi...”

"Souw pangcu, coba ceritakan, apakah antara Hek I Kai-pang dan Hwa I Kai-pang terjadi perebutan sesuatu? Sekarang atau dalam waktu dekat ini?”

Souw Kiat mengerutkan alisnya, "Tidak ada perebutan sesuatu atau... ahh, mungkinkah? Dalam waktu dekat ini, sebulan lagi, seluruh kai-pang di empat penjuru memang sedang merencanakan untuk mengadakan pertemuan besar. Kami semua sudah sepakat hendak mengangkat atau menunjuk seseorang untuk menjadi pemimpin besar kai-pang. Orang ini akan menjadi atasan atau penasehat dari semua ketua empat kai-pang tersebar di empat penjuru. Tapi..."

"Souw-pangcu, ceritakan kepadaku tentang semua itu, tentang keadaan semua kai-pang dan apa yang hendak dibicarakan dalam pertemuan itu, dan siapa pula yang kini menjadi pemimpin besar kai-pang."

Sekarang ketua Hek I Kai-pang mengubah sikapnya dan dia menatap tajam wajah Sui In. Kemudian terdengarlah suaranya yang tegas. "Maaf, Cu-lihiap. Semua itu adalah urusan pribadi kai-pang, tak ada sangkut-pautnya dengan lihiap. Kami tidak boleh bicara tentang urusan dalam kai-pang kepada orang luar. Lagi pula, untuk apa lihiap hendak mengetahui semua itu? Tidak ada manfaatnya bagi lihiap."

"Souw-pangcu. Aku telah mengambil keputusan untuk mendapat dukungan dari Hek I Kai-pang, bahkan mewakili Hek I Kai-pang dalam pemilihan pemimpin besar kai-pang nanti."

Tentu saja ketua itu terkejut, dan para pembantunya juga memandang heran dan kaget. "Ahhh, apa maksud lihiap? Bagaimana mungkin lihiap sebagai orang luar dapat mewakili perkumpulan kami? Dan dukungan apa yang dapat kami berikan kepada lihiap?"

"Tentu saja mungkin apa bila engkau sebagai ketua Hek I Kai-pang memang menyetujui, pangcu. Aku dan sumoi-ku dapat saja menjadi anggota rombongan Hek I Kai-pang dalam pertemuan rapat besar itu. Ada pun dukungan yang kuminta adalah agar di dalam rapat itu Hek I Kai-pang mau mendukung diadakannya pemilihan pemimpin, kemudian mengajukan calon yang akan kutentukan untuk menjadi pemimpin besar kai-pang!”

Souw Kiat bangkit dari tempat duduknya, alisnya berkerut dan mukanya berubah merah. Juga para pembantunya banyak yang bangkit dan memandang kepada dua orang wanita itu dengan marah. "Cu-lihiap, permintaanmu itu sungguh tak mungkin terjadi! Pemimpin besar kai-pang kelak akan mewakili kai-pang dalam pemilihan bengcu di dunia persilatan! Bagaimana seorang yang bukan pangemis bisa menjadi calon pemimpin besar kai-pang? Dan juga lihiap tidak berhak untuk mencampuri urusan kai-pang!"

Sui In tersenyum dingin sambil memandang kepada ketua itu dengan sinar mata tajam. "Souw Kiat, kenapa orang seperti engkau dapat diangkat menjadi ketua Hek I Kai-pang? Tentu karena engkau yang paling lihai di antara semua tokoh Hek I Kai-pang, bukan?"

Souw-pangcu memandang tidak senang. "Kalau memang benar begitu, apa hubungannya denganmu?"

Sui In bangkit dengan tenang. "Kalau begitu aku hendak merebut kedudukan ketua Hek I Kai-pang dari tanganmu dengan mengalahkanmu! Jika aku yang menjadi ketua, tentu aku akan dapat mencalonkan pilihanku itu untuk menjadi pemimpin besar kai-pang."

Semua orang menjadi gaduh dan bicara sendiri-sendiri mendengar ucapan wanita cantik yang mereka anggap keterlaluan itu. Souw-pangcu sudah marah bukan main, akan tetapi sebagai orang yang telah banyak pengalaman, dia masih dapat menahan diri dan berkata dengan suara yang tegas.

"Cu-lihiap, sebenarnya apa yang kau kehendaki? Tidak mungkin Hek I Kai-pang memiliki ketua seorang wanita. Dan engkau juga bukan orang pengemis! Bagaimana mungkin Hek I Kai-pang mempunyai ketua seorang wanita yang bukan pengemis? Andai kata ada yang setuju pun, anggota Hek I Kai-pang lainnya yang berjumlah ratusan orang itu tentu akan merasa berkeberatan!"

"Hemm, kalau begitu jangan sampai memaksaku untuk merampas kedudukan ketua! Aku pun tidak suka menjadi ketua kaum jembel. Aku hanya menghendaki dukungan Hek I Kai-pang untuk memilih calonku menjadi pemimpin besar kai-pang."

"Hemm, lalu siapakah calon yang kau pilih untuk menjadi pemimpin besar kai-pang?" Souw-pangcu bertanya, semakin penasaran.

Dengan wajah dingin akan tetapi bibirnya yang amat manis menggairahkan itu tersenyum mengejek, Sui In berkata, suaranya lantang terdengar oleh semua anggota kai-pang yang berada di situ. "Calonnya adalah aku sendiri! Aku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang agar kelak aku dapat mewakili seluruh kai-pang dalam pemilihan Bengcu."

Semua orang terbelalak, lalu suasana menjadi gaduh. Ada yang tertawa geli, ada yang mengomel panjang pendek, ada pula yang berseru kagum akan keberanian wanita cantik jelita itu. Kalau Sui In tenang-tenang saja menghadapi sikap para pengemis itu, sebaliknya Lili menjadi marah melihat gurunya ditertawakan orang. Walau pun sekarang Sui In sudah menjadi kakak seperguruannya, namun di dalam beberapa hal dia masih menganggapnya sebagai gurunya.

"Heiii, kalian ini jembel-jembel busuk dan bau! Suci-ku ingin menjadi pemimpin besar kai-pang, tetapi kalian tidak cepat menyambutnya dengan baik bahkan mentertawakan! Hayo, siapa yang berani menyatakan tidak setuju, boleh maju melawan aku!"

Karena melihat kedua orang wanita ini datang tidak untuk memusuhi mereka, sebetulnya ketua Souw Kiat tak ingin memusuhi mereka dan telah menyambut mereka dengan sikap hormat. Akan tetapi, mendengar permintaan mereka untuk menjadi ketua Hek I Kai-pang dan kemudian bahkan ingin menjadi pemimpin besar seluruh kai-pang, dia sangat terkejut dan merasa penasaran.

Oleh karena itu dia pun diam saja ketika wakilnya yang bernama Lu Pi maju menghadapi gadis muda yang galak itu. Bagaimana pun juga kedua orang wanita ini harus dihadapi dengan kegagahan kalau dia tidak ingin perkumpulannya menjadi bahan tertawaan dunia kang-ouw. Dipimpin oleh wanita muda yang cantik! Bagaimana mungkin?

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Lu Pi adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun yang bertubuh tinggi kurus, kelihatannya saja lemah dan berpenyakitan, akan tetapi sebenarnya dia adalah seorang ahli silat yang pandai. Dia memiliki tenaga sinkang yang kuat, juga memiliki gerakan yang cepat yang licin bagaikan belut.

Oleh karena kepandaiannya itu, maka dia dapat diangkat menjadi wakil ketua Hek I Kai-pang dan menjadi tangan kanan Souw Kiat. Orangnya pendiam akan tetapi hatinya keras dan mendengar ucapan Lili tadi, mukanya berubah merah dan dia pun sudah meloncat ke depan dara itu. Dengan telunjuk tangan kiri ditudingkan ke arah muka Lili, dia kemudian membentak.

"Bocah sombong, berani engkau menghina Hek I Kai-pang? Aku Lu Pi, wakil ketua Hek I Kai-pang yang akan menghajarmu!” Dia berkata sambil melintangkan tongkat hitamnya di depan dada, tongkat yang sama dengan tongkat hitam ketua Souw Kiat, lalu menantang. "Hayo cepat keluarkan senjatamu!"

"Untuk apa senjata? Melawan orang macam engkau ini, dengan tangan kosong pun sudah terlalu kuat!" kata Lili dan kembali ucapannya itu membuat banyak orang merasa terkejut. Ada yang kagum akan keberaniannya, akan tetapi lebih banyak yang marah karena gadis ini dianggap terlalu sombong.

"Sumoi, jangan sampai membunuh orang!" kata Sui In. Dia tidak menghendaki Hek I Kai-pang mendendam padanya karena dia memerlukan bantuan dan dukungan perkumpulan pengemis ini.

"Jangan khawatir, suci. Aku hanya ingin memberi hajaran kepada anjing kurus ini."

Mendengar ucapan dua orang wanita itu, Lu Pi menjadi semakin marah. Mereka sungguh amat memandang rendah padanya. Dia telah memutar tongkat hitamnya sehingga benda itu berubah menjadi gulungan sinar hitam, kemudian dia berseru lantang. "Bocah sombong, lihat seranganku!"

Tanpa sungkan lagi dia menyerang gadis muda yang tidak memegang senjata itu. Wakil ketua ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman. Biar pun dia sudah marah bukan main, namun dia tetap bersikap waspada dan hati-hati karena dia maklum bahwa sikap sombong gadis itu tentu ditunjang kepandaian yang tinggi.

Sesudah membentak sebagai peringatan pembukaan serangan, gulungan sinar hitam itu makin meluas dan tiba-tiba ujung tongkatnya mencuat dari gulungan sinar itu, menyambar dengan totokan ke arah pundak kiri Lili. Betapa pun juga, agaknya Lu Pi masih teringat bahwa yang diserangnya ini adalah seorang gadis belasan tahun yang tidak bersenjata, oleh karena itu serangannya pun masih lunak dan hanya ditujukan ke pundak orang untuk menotoknya.

Namun, yang diserang enak-enak saja berdiri santai, sama sekali tidak membuat gerakan untuk menghindarkan diri dari totokan itu. Baru setelah ujung tongkat mendekati pundak, tangan kanannya bergerak ke atas lantas jari tengahnya menjentik ke arah ujung tongkat yang datang menyambar pundaknya.

"Takkk!" Lu Pi terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya tergetar sehingga hampir saja tongkat itu terlepas dari genggamannya. Ujung jari tengah gadis itu membuat tongkatnya terpental keras! Kini tahulah dia bahwa lawannya bukan sekedar membual belaka. Gadis yang masih amat muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian hebat dan tenaga sinkang-nya lewat jentikan jari tadi saja telah terbukti kekuatannya. Dia pun tidak sungkan lagi dan serangan berikutnya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ujung tongkatnya bertubi-tubi mengirim serangkaian totokan maut!

Akan tetapi yang diserangnya tetap tenang dan bahkan enak-enak saja. Lili sudah dapat mengukur tingkat kepandaian lawan, maka dia pun bergerak dengan santai saja, bahkan kedua kakinya jarang digeser, hanya kedua lengannya saja yang bergerak bagaikan dua ekor ular. Begitu lentur dan begitu aneh gerakan lengannya, sungguh mirip dua ekor ular menari-nari dengan kepala terangkat. Ke mana pun ujung tongkat menotok selalu bertemu dengan ‘kepala’ dua ekor ular itu yang setiap kali menangkis membuat tongkat terpental.

Ketika tongkat kembali meluncur, dan sekarang menusuk ke arah tenggorokan gadis itu, Lili menangkis dengan tangan kanannya sekaligus menangkap ujung tongkat, gerakannya seperti ular yang membuka moncongnya dan menggigit. Ujung tongkat itu tertangkap dan sebelum Lu Pi dapat menarik kembali tongkatnya, pergelangan tangannya kena diketuk oleh jari tangan kiri Lili.

Seketika lengan kanan itu menjadi lumpuh dan dengan amat mudahnya tongkat hitam itu sudah berpindah ke tangan Lili. Gadis itu lalu menggunakan tongkat rampasannya untuk menyerang. Gerakannya aneh dan cepat, dan tubuh Lu Pi langsung menjadi bulan-bulan tongkatnya sendiri.

Walau pun Lu Pi berusaha untuk mengelak dan menangkis, tetap saja gerakannya kalah cepat dan terdengar suara bak-bik-buk ketika tongkat itu menggebuki kepala, punggung dan pinggulnya. Pukulan itu datang bertubi-tubi sehingga akhirnya tubuh Lu Pi terpelanting roboh.

Sesudah lawannya roboh tanpa menderita luka parah, barulah Lili menghentikan pukulan tongkat. Dia lalu meremas tongkat itu dengan kedua tangannya. Bagian yang diremas itu menjadi hancur berkeping lalu dia pun melemparkan sisa tongkat serta remukannya itu ke arah tubuh Lu Pi yang mulai merangkak bangun, lalu ia menepuk-nepuk kedua tangannya untuk membersihkan telapak tangannya dari remukan kayu tongkat! Sikapnya angkuh dan memandang rendah sekali.

Semua anggota kai-pang memandang dengan mata terbelalak. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa wakil ketua mereka yang sangat lihai dengan tongkatnya itu roboh hanya dalam beberapa gebrakan saja, bahkan setelah dipermainkan oleh dara remaja itu, seperti seorang dewasa mempermainkan seorang kanak-kanak saja!

Lu Pi juga tahu diri. Dia maklum sepenuhnya bahwa dia bukanlah lawan gadis itu, maka dengan muka pucat dan kepala ditundukkan dia pun mundur ke sudut. Kini Lili menghadapi Souw Kiat dan berkata dengan nada yang amat meremehkan.

"Nah, pangcu. Apakah engkau juga masih berkeras tidak mau menyerahkan kedudukan kepada suci-ku ini?"

Wajah Souw Kiat kelihatan suram. Dia sudah melihat sendiri kekalahan wakilnya, dan dia pun tahu bahwa melawan gadis remaja itu saja, dia tidak akan menang. Dia tidak sanggup mengalahkan Lu Pi dengan cara yang dilakukan gadis itu, sedemikian mudahnya! Apa lagi kalau harus melawan kakak seperguruan gadis itu, seorang wanita yang tidak muda lagi walau pun masih nampak segar dan cantik, yang tentu lebih lihai lagi dibandingkan adik seperguruannya.

"Aku Souw Kiat menjadi Hek I Kai-pangcu mengandalkan kepandaian silatku. Kalau ada yang hendak merampas kedudukan ini, harus juga melalui adu kepandaian," katanya akan tetapi dengan lemah seolah-olah tidak bersemangat.

"Kalau begitu bangkitlah dan mari kita mengadu kepandaian!” tantang Lili.

"Sumoi, apakah engkau ingin menjadi ketua perkumpulan pengemis ini?" tanya Sui In.

Lili terbelalak dan menggeleng kepala kuat-kuat. "Aihh, siapa ingin mengetuai para jembel ini, suci? Tidak, aku hanya mewakilimu merampas kedudukan ketua di sini!"

"Kalau tidak, mundurlah, sumoi. Aku yang ingin menjadi ketua, maka harus aku pula yang merampas kedudukan itu dari tangan Souw-pangcu."

Dengan tenang Sui In bangkit dan melangkah ke tengah ruangan itu, lantas memandang kepada Souw Kiat sambil berkata, “Souw-pangcu, aku Cu Sui In hendak menantangmu mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih pantas menjadi ketua Hek I Kai-pang!"

Souw Kiat bangkit berdiri, kemudian dengan langkah lemas dia berjalan ke tengah ruang untuk menghadapi wanita cantik itu. Dia maklum bahwa kedudukannya sedang terancam. Souw Kiat memberi hormat dan berkata,

"Cu-lihiap, sungguh sikap lihiap ini sangat membingungkan hati kami. Bagaimana seorang wanita cantik seperti lihiap begitu ingin menjadi pemimpin besar kai-pang? Apakah lihiap mempunyai alasan yang kuat? Dan sebelum kita bertanding, jika boleh kami mengetahui, dari partai manakah lihiap datang? Kami orang-orang Hek I Kai-pang selalu menghargai kegagahan dan ingin bersahabat dengan semua golongan."

"Sudah kukatakan tadi, aku ingin menjadi ketua Hek I Kai-pang agar aku bisa mendapat dukungan kalau ada pemilihan pemimpin besar Kai-pang. Tujuanku bukan untuk menjadi pemimpin besar kai-pang, melainkan supaya aku dapat mewakili seluruh kai-pang untuk mengadakan pemilihan bengcu."

Mata Souw Kiat terbelalak. "Apakah... apakah lihiap yang masih semuda ini berkeinginan menjadi bengcu?”

Sui In menggelengkan kepala. “Bukan aku calon bengcu-nya, melainkan ayahku.”

“Siapakah ayah lihiap? Bolehkah kami mengetahui nama besarnya?"

"Ayahku adalah See-thian Coa-ong Cu Kiat."

Terdengar seruan-seruan kaget. Souw Kiat sendiri segera memberi hormat lagi kepada Sui In. "Ahh, kiranya lihiap adalah puteri locianpwe See-thian Coa-ong!”

“Lu-siauwte, engkau tidak perlu merasa penasaran! Engkau telah dikalahkan oleh seorang murid dari locianpwe See-thian Coa-ong!" seru ketua Hek I Kai-pang itu kepada wakilnya.

Wajah Lu Pi yang tadinya muram kini berseri. Kalau dikalahkan seorang murid dari datuk besar itu tentu saja lain halnya. Namanya tak akan rusak, berarti dia tidak dikalahkan oleh gadis sembarangan!

"Cu-lihiap, kalau demikian halnya, kiranya tidak perlu lihiap menjadi ketua Hek I Kai-pang. Kelak ketika ada pemilihan pemimpin seluruh kai-pang, lihiap akan kami dukung sebagai calon.”

"Souw-toako, bagaimana mungkin itu? Kalau Cu-lihiap bukan ketua kai-pang, bahkan juga bukan anggota, bagaimana mungkin diajukan sebagai calon pemimpin seluruh kai-pang?" Lu-pangcu mengingatkan ketuanya.

Souw Kiat mengangguk sambil mengerutkan alisnya. "Benar juga ucapan Lu-siauwte tadi. Bagaimana mungkin kami kelak mendukung kalau lihiap bukan seorang ketua kai-pang?" Dia menghela napas panjang. "Agaknya tidak dapat dihindarkan lagi, terpaksa aku mohon petunjukmu, lihiap. Kalau aku kalah, maka barulah lihiap berhak menjadi ketua Hek I Kai-pang."

"Hemm, silakan maju, pangcu," kata Sui In dan dengan sikap tenang dia menanti ketua itu untuk bergerak menyerang.

Akan tetapi Souw Kiat nampak tak bersemangat. Begitu mendengar bahwa wanita cantik ini adalah puteri See-thian Coa-ong, dia sudah menjadi jeri sekali. Apa lagi tadi dia melihat sendiri ketika wakilnya dengan amat mudah dikalahkan sumoi dari wanita ini.

"Cu-lihiap, dalam hal ilmu silat aku tak akan menang melawanmu. Akan tetapi kalau lihiap mampu mengalahkan aku dalam hal tenaga sinkang, maka aku akan mengaku kalah dan akan merasa bangga mempunyai ketua baru seperti lihiap."

Sui In tersenyum. "Baik, kau mulailah!"

Ketua Hek I Kai-pang yang bertubuh tinggi besar itu lalu berdiri tegak, kedua lengannya diangkat ke atas dengan kedua tangan dikembangkan dan dia pun mengerahkan tenaga, membuat gerakan seperti sedang memetik buah-buah dari atas, kemudian kedua tangan diturunkan ke bawah dan terdengar bunyi tulang-tulang lengannya berkerotokan. Kedua tangannya terkembang ke bawah kemudian kembali membuat gerakan seperti mencabuti rumput-rumput dari bawah, lalu kedua tangan naik lagi dengan jari-jari terbuka menempel di kanan kiri pinggang. Mukanya berubah merah, seluruh tubuhnya tergetar, terisi tenaga sinkang yang dihimpunnya tadi...

Si Pedang Tumpul Jilid 13

MAKA pada saat itu bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan yang saling bertentangan. Di satu pihak muncul perkumpulan-perkumpulan golongan sesat atau para penjahat yang dipergunakan oleh para pembesar yang berniat memberontak, dan di pihak lain golongan para pendekar yang membantu pemerintah untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Tentu saja golongan para pendekar ini mendapatkan dukungan dari rakyat jelata yang tak ingin melihat kehidupan mereka dirusak kembali oleh para pengacau. Juga mereka baru saja terbebas dari perang yang amat mengerikan dan menjatuhkan banyak korban, maka mereka tidak menghendaki timbul perang baru yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata belaka.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada suatu pagi, dua orang wanita cantik mendayung perahu mereka yang kecil mungil ke darat sungai Kuning di sebelah utara kota besar Lok-yang. Mereka menarik perahu ke darat, lalu memanggil seorang di antara para nelayan yang berada di pantai.

"Paman, maukah engkau menyimpan perahu ini untuk kami? Boleh paman pakai untuk keperluan paman, akan tetapi jika sewaktu-waktu kami datang membutuhkannya, paman harus mengembalikan kepada kami," kata wanita yang muda.

Nelayan itu memandang heran, akan tetapi karena perahu itu biar pun kecil cukup kokoh dan indah, dia pun mengangguk. "Baiklah, nona. Biar anakku yang merawatnya dan dia pula yang menggunakan untuk sekadar mencari ikan, Namaku A Liok, nona. Kelak kalau nona hendak mengambilnya kembali, tanyakan saja kepada orang di sini."

Gadis itu mengangguk, kemudian dua orang wanita cantik itu pergi meninggalkan pantai sungai, menuju ke barat, melalui jalan raya yang menuju ke kota Lok-yang. Dua orang wanita itu adalah Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan Tang Bwe Li!

Setahun lebih yang lalu mereka datang ke Pek-in-kok dan Si Dewi Ular itu sudah berhasil membunuh Dewa Pedang dan Dewa Rambut Putih, walau pun dia sendlri juga terluka parah. Namun kini dia telah sembuh sama sekali dan meski pun usianya kini sudah empat puluh tahun lebih, Cu Sui In masih nampak cantik jelita seperti belum ada tiga puluh tahun usianya.

Rambutnya masih digelung tinggi, dan rambut itu masih hitam panjang, gelungnya model sanggul para puteri bangsawan dengan dihias emas permata berbentuk burung Hong dan bunga teratai. Pakaiannya juga indah, terbuat dari sutera mahal berkembang. Wajahnya yang cantik jelita itu bertambah cantik dengan olesan bedak tipis serta pemerah bibir dan pipi. Alisnya kecil melengkung dan hitam karena ditata dengan cukuran dan penghitam alis. Sepasang matanya tajam dan mengandung sesuatu yang dingin dan menyeramkan.

Hidungnya mancung, akan tetapi yang paling menggairahkan hati pria adalah mulutnya. Mulut itu memang indah bentuknya, bahkan tanpa pemerah bibir pun sepasang bibir itu sebetulnya sudah merah membasah karena sehat, sepasang bibir yang hidup dan dapat bergerak-gerak pada ujungnya, penuh dan tipis lembut. Akan tetapi semua kecantikan itu menjadi kereng dengan adanya sebatang pedang yang bergagang dan bersarung indah tergantung pada punggungnya, tertutup buntalan pakaian dan sutera kuning.

Tang Bwe Li yang kini berusia dua puluh tahun tidaklah secantik dan seanggun gurunya yang kini menjadi suci-nya itu. Namun dara ini jauh lebih manis! Lesung di pipinya, kerling tajam pada matanya, senyum sinis pada mulutnya, hidung yang dapat kembang kempis itu, ditambah gayanya yang lincah jenaka dan galak, membuat hati setiap orang pria yang melihatnya menjadi gemas-gemas sayang.

Beberapa bulan yang lalu Tang Bwe Li atau yang biasa dipanggil Lili, pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Himalaya di mana suhu-nya, See-thian Coa-ong Cu Kiat dan suci-nya, Bi-coa Sian-li Cu Sui In, tinggal. Dia telah melakukan perjalanan seorang diri untuk mencari Dewa Arak dan muridnya, anak laki-laki yang dulu pernah menampari pinggulnya sampai panas dan merah, yang tidak diketahui namanya akan tetapi amat dibencinya itu.

Dia hendak mewakili suci-nya yang sedang mengobati luka dalam karena tendangan Pek-mau-sian. Akan tetapi Lili tidak berhasil menemukan Dewa Arak di Pek-in-kok. Dia hanya melihat dua buah makam, yaitu makam Kiam-san dan Pek-mau-sian. Dia sudah mencari ke sekitar lembah itu, namun sia-sia sehingga dengan marah-marah terpaksa dia kembali ke rumah suhu-nya dan melapor kepada suci-nya.

Dewi Ular juga menjadi kecewa sekali, maka setelah dia sembuh sama sekali, dia segera mengajak sumoi-nya turun gunung. Selain hendak mencari Dewa Arak dan muridnya, juga mereka berdua ingin memenuhi pesan See-thian Coa-ong Cu Kiat.

Datuk ini sudah mendengar akan perubahan besar yang terjadi semenjak penjajah Mongol diusir dari daratan Cina. Dia merasa sudah tua dan tidak semestinya terus mengasingkan diri di Pegunungan Himalaya.

"Sekarang tibalah waktunya bagi kita untuk mencari kedudukan, karena kaisarnya adalah bangsa sendiri," katanya.

"Apakah ayah bercita-cita untuk menjadi seorang pembesar?” tanya Dewi Ular heran.

"Ha-ha-ha, siapa ingin menjadi pejabat? Kalau menjadi pejabat, aku harus menjadi kaisar! Ahh, tidak, Sui In. Kita adalah orang-orang dunia persilatan. Aku mendengar bahwa kini para orang gagah di dunia kang-ouw mendapat angin baik dari pemerintah yang baru. Aku ingin menjadi bengcu (pemimpin) dari rimba persilatan!"

"Suhu, di dalam perjalananku mencari Dewa Arak, aku pun mendengar bahwa tahun ini, yaitu pada akhir tahun, akan ada pertemuan besar antara para pimpinan partai persilatan dan mungkin dalam pertemuan itu akan dilakukan pemilihan ketua atau pemimpin baru," kata Lili.

"Bagus! Akhir tahun masih cukup lama, masih sembilan bulan lagi. Kalian berangkatlah lebih dahulu, menyusun kekuatan dan sedapat mungkin membentuk sebuah perkumpulan yang kuat untuk menjadi anak buah kita. Kelak pada saatnya aku akan muncul di tempat pertemuan puncak itu. Bwe Li, di mana pertemuan itu diadakan? Biasanya pertemuan semacam itu diadakan di Thai-san "

"Menurut yang kudengar memang akan diadakan di puncak Thai-san, suhu," kata gadis itu.

"Nah, kalau begitu, kalian berangkatlah. Menurut sejarah, dahulu perkumpulan pengemis merupakan perkumpulan yang amat kuat dan memiliki anak buah paling banyak di antara semua perkumpulan. Bahkan partai pengemis di utara dahulu pernah menjadi penghalang bagi penjajah Mongol pada saat hendak menyerbu ke selatan. Akan tetapi, karena adanya pengkhianatan di antara para pimpinan, partai pengemis dapat dikuasai oleh orang-orang Mongol dan akhirnya diadu domba hingga pecah belah. Bahkan ketika jaman penjajahan Mongol, partai itu dilarang sehingga anak buahnya cerai berai. Sekarang, setelah penjajah lenyap, kurasa mereka tentu membangun kembali partai pengemis. Apa bila kalian dapat menguasai mereka, bila kalian dapat menjadi pimpinan kai-pang (partai pengemis), tentu kedudukan kita akan menjadi kuat dan disegani."

Demikianlah, dua orang wanita itu melakukan perjalanan dan pada pagi hari itu mereka turun dari perahu dan menuju ke Lok-yang. Mereka mendengar dalam perjalanan mereka bahwa memang sekarang kai-pang mulai nampak kuat kembali, di mana-mana diadakan persatuan pengemis dan pusatnya berada di tiga tempat.

Pengemis utara berpusat di Pe-king, pengemis barat berpusat di Lok-yang dan pengemis timur dan selatan berpusat di Nan-king, kota raja. Itulah sebabnya kini dua orang wanita itu menuju ke Lok-yang. Kalau saja mereka bisa menguasai cabang barat di Lok-yang ini, maka akan memudahkan mereka menuju pada kedudukan puncak yang berpusat di kota Nan-king.

Ketika mereka memasuki Lok-yang, Lili yang jarang melihat kota besar, menjadi kagum. Lok-yang adalah bekas kota raja, maka selain besar dan ramai, kota ini juga amat indah. Di sana terdapat banyak bangunan indah bekas istana, juga gedung-gedung besar yang dulunya menjadi tempat tinggal para pembesar tinggi. Nampak berderet toko-toko besar penuh barang dagangan, juga terdapat banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar.

Sesudah berjalan-jalan di kota itu, Sui In yang tidak heran melihat keramaian kota karena dia sudah sering berkunjung ke kota-kota besar, berkata, "Sungguh luar biasa!"

"Apanya yang luar biasa, suci? Memang kota ini ramai dan indah..."

"Bukan itu maksudku. Coba kau lihat, sumoi, tidak ada seorang pun pengemis nampak di kota ini. Padahal menurut keterangan kota Lok-yang merupakan pusat dari para pengemis daerah barat."

"Ahh, benar juga, suci. Tentu telah terjadi sesuatu, atau mungkin mereka itu sudah pindah ke kota lain?"

"Andai kata benar mereka pindah pun, mengapa di kota besar seperti ini tidak kelihatan seorang pun pengemis? Ini sungguh aneh!" kata Dewi Ular.

Mereka lantas mencari kamar di rumah penginapan. Karena baru saja mereka melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, siang itu mereka beristirahat dan setelah mandi sore, Dewi Ular mengajak sumoi-nya untuk keluar mencari makanan sambil berjalan-jalan untuk melihat keadaan dan menyelidiki tentang para pengemis.

Kota Lok-yang di malam hari memang makin semarak. Toko-toko dibuka dengan lampu-lampu gantung yang terang, juga jalan raya diterangi lampu-lampu. Banyak orang berlalu lalang, berjalan-jalan atau berbelanja di toko, di warung-warung, bahkan di dalam taman kota yang indah, yang pada waktu jaman penjajahan hanya untuk kaum bangsawan atau pembesar saja tetapi kini dibuka untuk umum dan ramai sekali.

Dua orang wanita itu turut merasa gembira dengan ramainya suasana. Langit cerah dan bulan mulai muncul, membuat suasana semakin gembira. Sui In dan Bwe Li kini duduk di sebuah kedai nasi, duduk pada meja paling luar sambil menonton keramaian di jalan raya, juga memesan makanan dan air teh.

Selagi mereka makan, tiba-tiba Bwe Li menyentuh lengan suci-nya dan dengan pandang mata dia memberi isyarat ke sebelah kanan. Sui In menengok dan dia melihat seorang pengemis datang rnenghampiri kedai itu. Seorang pengemis yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, tubuhnya tegap dan sehat, pakaiannya serba hitam, bahkan rambutnya yang panjang juga diikat dengan pita hitam.

Bila melihat perawakannya, sungguh tak pantas seorang pria muda yang masih kuat dan tidak cacat itu menjadi pengemis! Juga gerak-geriknya tidak menunjukkan seperti seorang pemalas, melainkan sigap dan langkahnya lebar. Akan tetapi wajahnya membayangkan kekerasan dan matanya liar.

Dua orang wanita itu kini menunda makan dan mengikuti gerak gerik pengemis itu dengan pandang mata mereka. Pengemis muda itu kini menghampiri sebuah meja paling depan dekat pintu kedai, di mana duduk tiga orang laki-laki yang sedang makan bakmi.

"Tuan-tuan, bagilah sedikit rejeki untukku dan beri sedekah untukku," kata pengemis itu, sikap dan suaranya angkuh seperti orang menagih hutang saja.

Tiga orang yang sedang makan itu nampak terganggu, akan tetapi yang tertua di antara mereka agaknya tidak ingin ribut-ribut, mengambil sepotong uang kecil dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada si pengemis. Pengemis baju hitam itu menerima uang kecil, mengamatinya kemudian dia pun mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang itu dengan marah.

"Kalian hanya memberi sekeping tembaga ini? Untuk membeli semangkok bakmi juga tak cukup! Kalian berani menghinaku, ya?" Pengemis itu membanting uang kecil itu ke atas meja. Uang itu menancap di meja depan tiga orang itu yang menjadi terkejut sekali.

Pria yang tertua itu lantas berkata, "Engkau tidak mau diberi sebegitu? Lalu, berapa yang kau minta?"

Pengemis itu menggapai ke arah pelayan yang kebetulan sedang berada di dekat sana, lalu dia bertanya, "Coba hitung, berapa harga semua hidangan tiga orang ini."

Pelayan itu memandang heran. Benarkah pengemis ini hendak membayar makanan tiga orang itu maka menanyakan harganya? Dia menghitung-hitungkan lalu berkata, "Semua sekeping uang perak," jawabnya.

Pengemis itu lalu menjulurkan tangan ke arah tiga orang tamu itu. "Nah, berikan sekeping perak kepadaku!"

Tiga orang itu saling pandang dengan mata terbelalak. Mana ada pengemis yang minta sedekah sebanyak harga makanan mereka bertiga? Dengan paksaan pula! Dan pelayan itu pun kini mengerti bahwa pengemis baju hitam ini mencari gara-gara. Pada waktu itu keadaan kota Lok-yang aman dan hampir tidak pernah ada gangguan kejahatan. Hal ini membuat pelayan itu berani menentang, merasa bahwa ada pasukan keamanan di Lok-yang.

"Bung, harap jangan memaksa dan membuat ribut di kedai ini, jangan mengganggu tamu kami," bujuknya.

Pengemis baju hitam itu menoleh, memandang kepada pelayan itu, lalu tangannya meraih ujung meja, mencengkeramnya dan ujung meja dari kayu keras itu segera remuk di dalam cengkeraman si pengemis!

"Apakah kepalamu lebih keras dari pada kayu meja ini?” katanya lirih akan tetapi sangat menyeramkan.

Pelayan itu mundur dengan muka pucat, dan tiga orang tamu juga menjadi pucat. Tamu tertua cepat-cepat mengambil sekeping perak dan menyerahkannya kepada pengemis itu. Tanpa bicara lagi pengemis itu menerima uang sekeping perak, lalu meninggalkan meja itu. Ketika dia memandang kepada Sui In dan Bwe Li, matanya terbelalak dan mulut yang tadinya kaku dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar secara kurang ajar. Sekarang dia menghampiri meja Sui In dan Bwe Li.

Agaknya sikap pengemis muda itu semakin berani ketika dia melihat wanita cantik yang lebih tua memandang kepadanya dengan tenang dan tidak malu-malu, sedangkan gadis yang manis itu bahkan memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum!

"Aihh, nona-nona yang cantik manis seperti bidadari kahyangan, berilah sedekah padaku, kudoakan semoga kalian semakin cantik dan makin menggairahkan!" kata pengemis itu. Sikap dan suaranya sama sekali bukan lagi seperti seorang pengemis yang minta-minta, melainkan seperti seorang laki-laki mata keranjang menggoda wanita.

Sui In tidak sudi melayani orang itu. Dia melanjutkan makan dan seolah-olah pengemis itu hanya seekor lalat saja. Namun Bwe Li yang diam-diam menjadi marah karena pengemis itu berani mengeluarkan ucapan kurang ajar terhadap dia dan suci-nya, bertanya.

"Hemm apa yang kau minta, pengemis?"

Ketika pengemis itu tadi memperlihatkan kekerasan dan paksaan saat meminta sedekah kepada tiga orang tamu, Sui In dan Bwe Li hanya memandang saja dan sama sekali tidak peduli. Mereka tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Akan tetapi sekarang pengemis itu langsung mengganggu mereka!

Pengemis itu tersenyum semakin lebar dan matanya bermain dengan kedipan penuh arti. "Perhiasan di rambut enci itu indah sekali, berikan kepadaku sebagai sedekah," katanya sambil memandang pada perhiasan burung hong dan teratai terbuat dari emas permata di rambut Sui In.

Bwe Li mendongkol bukan main. Perhiasan suci-nya itu adalah sebuah benda yang amat mahal harganya, apa lagi itu pemberian suhu-nya dan menurut suci-nya, benda itu dahulu pernah menjadi perhiasan rambut salah seorang puteri kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol. Maka, selain mahal, juga benda itu merupakan benda pusaka yang tidak ternilai harganya, dan kini seorang jembel minta benda ini begitu saja sebagai sedekah!

Ingin Bwe Li tertawa karena menganggap hal ini lucu sekali. Dia melirik kepada suci-nya yang masih tenang dan enak-enak makan saja, maka dia tahu bahwa suci-nya tidak sudi melayani pengemis itu.

"Kalau tidak kami berikan, lalu kau mau apa?" tanya Bwe Li, mengira bahwa pengemis itu tentu akan menjual lagak lagi dengan memamerkan kekuatan tangannya mencengkeram hancur ujung meja.

Akan tetapi sekali ini pengemis itu agaknya tidak ingin memperlihatkan kehebatannya. Dia mendekatkan mukanya kepada Bwe Li dan berkata lirih. "Kalau tidak kalian berikan, sebagai gantinya boleh engkau ikut denganku dan melayaniku semalam ini, nona manis."

Bwe Li terbelalak. Mukanya langsung berubah merah dan terasa panas bukan main. Akan tetapi hanya sebentar. Dia telah menerima gemblengan seorang datuk besar seperti See-thian Coa-ong, maka tentu saja dia sudah dapat menguasai perasaannya.

"Haiiii, kalian lihat ada monyet menari-nari!" teriaknya dan tiba-tiba saja tangannya sudah menggerakkan sisa kuah yang berada di mangkoknya. Kuah itu mengandung saos tomat dan bubuk merica yang pedas.

Demikian cepatnya gerakan tangan Bwe Li dan sama sekali tidak diduga oleh si pengemis sehingga dia tidak sempat untuk mengelak. Kuah dengan sambalnya itu tepat mengenai mukanya, memasuki hidung dan matanya.

Seketika itu pula pengemis baju hitam itu berjingkrak-jingkrak seperti monyet menari-nari, persis seperti yang diteriakkan Bwe Li atau Lili tadi! Semua orang segera menengok dan terdengar ada yang tertawa, terutama sekali tiga orang yang tadi kena diperas sekeping perak oleh si pengemis.

Hanya orang-orang yang pernah terkena merica pada mata dan hidungnya saja yang bisa menceritakan bagaimana rasanya. Pengemis itu berjingkrak-jingkrak sambil menggosok mata dan hidungnya, megap-megap bagai ikan dilempar ke darat, lalu berbangkis-bangkis dengan air mata bercucuran. Makin digosok, makin pedas rasa matanya dan makin hebat ‘tangisnya’.

Saking nyeri, pedih dan panasnya, ia membuat gerakan seperti monyet yang menari-nari, berlenggang-lenggok dengan kaki naik turun, tubuh berputar-putar dan kedua lengannya membuat gerakan yang lucu dan aneh-aneh. Akhirnya, di bawah riuh rendah suara tawa para penonton, pengemis itu dapat membuka matanya yang menjadi merah, juga semua merica agaknya sudah keluar melalui bangkis-bangkis tadi, akan tetapi air matanya masih bercucuran dari kedua matanya yang masih terasa panas dan pedas! Dia memandang kepada Lili dengan mata mendelik, walau pun harus sering berkedip menahan pedas!.

Lili dan Sui In masih melanjutkan makan, bahkan Sui In sudah selesai dan Lili juga sudah hampir selesai. Pengemis itu mengeluarkan suara menggereng bagaikan seekor harimau marah sehingga para penonton sudah tak berani tertawa lagi dan kini hanya memandang dengan hati tegang. Apa lagi mereka yang tadi melihat betapa kuatnya tangan pengemis itu menghancurkan ujung meja. Mereka mengkhawatirkan nasib dua orang wanita cantik itu.

Mendengar suara gerengan itu, Lili menoleh memandang, "Ihh, anjing geladak ini sungguh tidak tahu aturan!" kata Lili sambil tersenyum mengejek. "Sudah diberi kuah tetapi masih belum puas dan menggereng-gereng minta lagi. Cepat pergilah dari sini, memualkan perut dan mengurangi selera makan saja. Kau bau!”

Dapat dibayangkan betapa marahnya pengemis baju hitam itu. Dia menggereng lagi dan dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan terbuka, dia lantas menubruk ke arah Lili, hendak menangkap wanita itu. Lili tidak bangkit dari duduknya, hanya kakinya segera mencuat dengan kecepatan kilat ketika tubuh orang itu sudah dekat dan kedua tangan itu sudah hampir menyentuh pundaknya.

"Ngekkk…!" Ujung sepatu itu tepat memasuki perut di bawah ulu hati membuat tubuh si pengemis baju hitam terjengkang sehingga pantatnya terbanting keras ke atas tanah. Sejenak dia hanya mampu bangkit duduk, tangan kiri menekan perut yang seketika terasa mulas, dan tangan kanan meraba-raba pantat yang nyeri karena ketika terbanting tadi, pantatnya menjatuhi sebuah batu sebesar kepalan tangan.

Dia menyeringai, akan tetapi seringainya tidak seperti tadi ketika dia menggoda dua orang wanita itu. Kini dia menyeringai kesakitan, akan tetapi juga bercampur kemarahan. Orang yang biasa mengagulkan diri sendirl memang tak tahu diri, selalu meremehkan orang lain sehingga pelajaran yang diterimanya tadi tidak cukup membuat dia menjadi sadar, bahkan membuat dia semakin marah dan penasaran.

"Keparat, kubunuh kau...!" bentaknya dan sekarang tangannya telah memegang sebatang golok kecil yang tadi disembunyikan di bawah bajunya. Akan tetapi pada saat itu nampak sinar menyambar dari samping, ke arah muka pengemis itu.

"Crottttt...!

“Aughhhh...!" Pengemis itu terpelanting, goloknya terlepas dan sepasang tangannya meraba mukanya dengan mata terbelalak. Sebatang sumpit bambu sudah menembus muka, dari pipi kanan ke pipi kiri! Sumpit itu memasuki kulit pipi, menembus geraham kanan sampai keluar dari kulit pipi yang lain sehingga muka itu seperti disate!

"Suci...!" kata Lili memandang suci-nya.

"Aku mendahului, agar engkau tidak membunuhnya. Kita butuh keterangan darinya..."

Tiba-tiba saja dua orang wanita itu terkejut mendengar pengemis itu mengeluarkan suara aneh. Ketika mereka memandang, tubuh pengemis itu berkelojotan dalam sekarat. Tentu saja Sui In kaget bukan main. Tadi dia menyerang dengan sambitan sumpit tidak dengan niat membunuh dan dia yakin bahwa orang itu hanya terluka dan tidak akan mati. Kenapa kini tahu-tahu orang itu berkelojotan sekarat? Tentu ada penyerang lain, pikirnya.

Pada saat itu muncul dua orang pengemis berpakaian hitam. Mereka adalah orang-orang yang berusia kurang lebih lima puluh tahun, sikap mereka berwibawa dan gerakan mereka ringan karena tahu-tahu mereka telah berkelebat dan muncul di situ. Mereka memandang ke arah tubuh pengemis yang berkelonjotan, lalu mereka menghadapi Cu Sui In dan Tang Bwe Li, sejenak mengamati wajah dua orang wanita itu, kemudian mereka menghampiri meja dua orang wanita itu.

"Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang merobohkan dia?" tanya seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus sambil menuding ke arah tubuh pengemis yang masih berkelonjotan.

"Aku yang melukainya dengan sumpit," kata Sui In tenang dan suaranya acuh saja seolah tidak ada sesuatu yang perlu diributkan.

Lili yang berwatak galak segera berkata pula. "Anjing geladak ini memang pantas dihajar. Apakah kalian pemeliharanya? Kenapa tidak kalian ajar adat kepadanya?”

Dua orang pengemis tua itu saling pandang, kemudian serentak mereka melangkah maju mendekat. Si tinggi kurus mengangkat dua tangannya ke depan dada, sedangkan orang ke dua yang bertubuh gemuk pendek juga mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Mereka lalu memberi hormat kepada Sui In dan Lili.

"Kami dari Hek I Kai-pang (Partai Pengemis Baju Hitam) mohon maaf kepada nona," kata si tinggi kurus.

"Kami berterima kasih atas pelajaran yang sudah diberikan kepada anggota kami," kata si gemuk pendek. Dua orang pengemis tua itu lalu memberi hormat.

Sui In dan Bwe Li tersenyum mengejek. Tanpa berdiri, masih sambil duduk, mereka pun mengangkat kedua tangan ke depan dada, membalas penghormatan itu. Tadi dua orang pengemis itu bukan sembarang menghormat saja, namun mengerahkan tenaga sakti yang disalurkan melalui lengan mereka ketika mereka menggerakkan tangan memberi hormat.

Sebetulnya mereka telah melakukan serangan jarak jauh untuk menguji kepandaian dua orang wanita yang sudah merobohkan anak buah mereka itu. Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika dari gerakan tangan kedua orang wanita itu pun tiba-tiba menyambar tenaga dahsyat yang menyambut tenaga mereka sehingga membuat tenaga mereka membalik dan mereka pun terhuyung!

Pada saat itu pula terdengar suara orang. "Ciangkun lihat saja, di mana-mana anggota pengemis Baju Hitam selalu membikin kekacauan!"

Nampaklah serombongan orang datang ke tempat itu. Pasukan yang terdiri dari belasan orang dikepalai seorang perwira datang bersama seorang laki-laki setengah tua yang juga mengenakan pakaian tambal-tambalan. Namun pakaiannya bukan berwarna hitam seperti pengemis yang lain, melainkan berkembang-kembang! Dialah yang tadi berbicara dengan suara lantang kepada komandan pasukan kecil itu.

Melihat yang datang rombongan penjaga keamanan, dua orang pengemis baju hitam yang telah dapat menguasai diri mereka karena terkejut mendapat sambutan dua orang wanita itu, lalu memberi hormat kepada komandan pasukan dan pengemis baju kembang.

"Sobat dari Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), mengapa menuduh yang bukan-bukan terhadap kami orang-orang segolongan?" kata pengemis baju hitam yang tinggi kurus.

Pengemis baju kembang yang tinggi besar dan bermuka hitam itu tersenyum mengejek. "Sobat-sobat dari Hek I Kai-pang, bukannya aku menuduh yang tidak-tidak kepada orang segolongan. Akan tetapi semua orang di kedai ini pun tahu belaka betapa anggota kalian ini tadi memaksa ketika minta sedekah, kemudian bahkan menggoda dua orang nona ini. Bukankah itu berarti bahwa para pengemis Hek I Kai-pang adalah orang-orang yang suka membuat kekacauan?”

Dua orang pengemis baju hitam memandang ke sekeliling. Ketika melihat betapa semua orang mengangguk dan membenarkan ucapan pengemis baju kembang, mereka menarik napas dan pengemis tinggi kurus berkata,

"Anggota perkumpulan kami sudah membuat kesalahan. Akan tetapi dia sudah menebus dengan nyawanya, sudah terhukum. Biarlah ini menjadi peringatan bagi kami supaya kami lebih ketat mengawasi anak buah kami. Ciangkun, maafkan, kami akan membawa pergi mayat anggota kami.”

Setelah berkata demikian, si gemuk pendek memondong tubuh pengemis yang telah mati itu, dan sesudah keduanya memandang sejenak kepada Sui In dan Bwe Li, mereka lalu pergi dari situ dengan cepat.

"Ciangkun, mestinya mereka berdua tadi ditangkap saja untuk dihadapkan ke pengadilan," kata pengemis baju kembang kepada perwira yang menjadi pemimpin pasukan penjaga keamanan itu.

Perwira itu menggelengkan kepala. "Yang bersalah sudah mati. Dua orang pengemis baju hitam itu tidak melakukan kesalahan apa pun, bagaimana kami bisa menangkap mereka? Sudahlah, selama ini tidak ada pengemis baju hitam yang membuat kekacauan."

Sui In segera membayar harga makanan, lantas memberi isyarat kepada sumoi-nya untuk cepat meninggalkan tempat itu. Ketika suci-nya mengajak dia berlari menyelinap di dalam kegelapan, Bwe Li bertanya lirih, "Ada apakah, suci?"

"Ssttt, kita membayangi para pengemis baju hitam itu," kata Sui In.

Mereka berdua mempergunakan ilmu kepandaian mereka dan sebentar saja mereka telah dapat menyusul dua orang pengemis baju hitam yang berjalan cepat sambil memondong tubuh anak buah mereka yang telah menjadi mayat itu.

Dua orang baju hitam itu keluar dari kota melalui pintu gerbang sebelah barat dan kurang lebih tiga li dari kota, mereka memasuki sebuah perkampungan di mana terdapat rumah-rumah yang cukup besar. Kiranya Hek I Kai-pang memiliki perkampungan para pengemis baju hitam di situ, dan di tengah perkampungan berdiri sebuah gedung yang cukup besar dan cukup megah, dikelilingi rumah-rumah yang lebih kecil.

Ketika dua orang pengemis itu masuk sambil memondong mayat seorang pengemis baju hitam, maka gegerlah perkampungan itu. Mereka semua mengikuti dua orang pengemis itu menuju ke gedung besar dan memasuki ruangan yang luas di mana telah menunggu ketua mereka yang sudah lebih dulu diberi tahu.

Karena mereka semua hanya mencurahkan perhatian kepada dua orang pengemis yang memondong mayat seorang kawan mereka, maka para pengemis baju hitam itu menjadi lengah. Hal ini tentu saja memudahkan Sui In dan Lili yang mempergunakan kepandaian mereka menyelinap memasuki perkampungan itu dan mereka sudah mengintai ke dalam ruangan dari atas atap...