Tangan Gledek Jilid 42


Tangan Gledek Jilid 42

DEMONTRASI tenaga lweekang yang benar-benar tak boleh dipandang ringan. Melihat betapa tiga orang itu mendemonstrasikan kepandaian, timbul sifat gembira dalam hati Wan Sin Hong. Iapun berdiri di kepala perahunya, dayungnya digerak-gerakkan perlahan menahan majunya perahu dan ia bersajak.

"Serigala suara pergi menghilang
Datang banjir dan belalang.
Memang merisaukan hati kawan!
Sudah barang tentu bangsa sendiri membantu,
Akan tetapi membajak, apakah itu perlu?
Apa lagi yang dihadapi adalah seorang dungu,
Yang tidak mempunyai sepeser di dalam saku!”


Terdengar kakek itu tertawa, lalu ia berdiri sehingga kelihatan tubuhnya yang jangkung. Sajak Sin Hong tadi biasa saja, akan tetapi cara Sin Hong menahan majunya parahu dengan menggerak gerakkan dayung perlahan di atas air sungguh bukan perbuatan biasa.

"Tamu yang lewat bilang tidak punya sepeser, mana bisa melakukan perjalanan? Pedang bagus disimpan di dalam baju, siapa tahu kalau tidak digunakan menambah sengsara rakyat? Jaman ini banyak sekali anjing busuk, Aah, Harus diselidiki betul-betul.”

Wan Sin Hong tercengang mendengar kata-kata kakek pemimpin bajak sungai itu. Alanglah tajam pandang mata kakek itu yang dari jarak jauh dapat melihat pedang Pak-kek sin-kiam yang ia sembunyikan di balik baju. Juga kata-kata kakek itu menunjukkan bahwa kakek ini bukanlah bajak sungai biasa saja. Hatinya timbul ingin mencoba kepandaian kakek itu dan belajar kenal. Dengan tenang Sin Hong lalu menggerakkan perahu ke pinggir sambil berkata,

“Aku bukan termasuk golongan buaya bicara di atas air sungguh tidak leluasa, Kalau sahabat tua ingin bicara, mari ke darat!”

Dengan sekali melompat Sin Hong telah tiba di darat dan berdiri menanti sambil tersenyum tenang. Memang Sin Hong seorang pendekar yang hati-hati sekali. Biarpun ia tidak gentar menghadapi bajak sungai itu, akan tetapi kalau sampai terjadi perkelahian di atas perahu, ia bisa menderita rugi. Sekali saja perahunya digulingkan, ia akan berada di fihak lemah. Oleh karena itu ia mendahului menantang sambil mendarat.

Kakek itu melihat cara Sin Hong melompat, berseru gembira. "Aha. kiranya memiliki sedikit kepandaian. Aku akan manyelidiki di atas darat. Kalau kawan boleh terus kalau lawan baru meninggalkan barang!”

Sambil berkata demikian, iapun melompat dari perahunya ke atas darat dengan gerakan yang ringan sekali. Berturut-turut pemuda dan pemudi yang duduk seperahu dengan kakek itupun melompat dengan gerakan yang menunjukkan ilmu ginkang yang sudah tinggi.

"Bagus!" kata Sin Hong sambil tersenyum. "Sudah kuduga bahwa kalian tentu bukan bajak-bajak sungai biasa. Sekarang dengan cara bagaimana kalian hendak memeriksa dan menyelidik apakah aku seorang baik atau busuk menurut ukuranmu?"

Kakek itu mengurut urut jenggotnya yang panjang dan matanya memandang penuh selidik, “Hemm. sikapmu mengingatkan aku akan seorang yang sudah sering kali kudengar namanya disebut-sebut orang. Akan tetapi tak mungkin kau orang itu. Mau tahu bagaimana cara kami menyelidik? Bersiaplah dengan pedang yang kau sembunyikan itu. Kalau kau bisa mempertahankan pedang itu dari rampasan kami, kami mengaku kalah dan kau boleh melanjutkan perjalanan diiringi hormatku."

Sin Hong tersenyum. "Hemm, begitukah cara seorang bajak bertindak? Benar-benar sombong! Siapa di antara kalian yang hendak maju?”

"Thia-thia (ayah), biarlah aku memberi hajaran kepada orang yang banyak lagak ini," kata gadis cantik yang tadi bernyanyi sambil mecabut pedangnya. Sikapnya galak dan pipinya kemerahan menambah ke cantikannya.

Kakek itu hendak mencegah akan tetapi gadis yang lincah dan galak itu telah menikam dada Sin Hong dengan pedangnya. Wan Sin Hong adalah seorang pendekar besar dan sudah berusia setengah tua. kesabarannya tebal bukan main. Mana ia mau melayani seorang gadis remaja yang bertingkah? Dengan tenang ia mengulur tangan dan di lain saat ia telah mencengkeram pedang itu, di betot dan pedang telah terampas olehnya!

"Ang Lian, mundur kau!" seru si pemuda sambil menyerang dengan pedangnya tanpa minta perkenan kakek itu.

Sin Hong menggerakkan pedang rampasan yang dipegang pada bagian tajamnya, dengan sekali ia memapaki ujung pedang pemuda menggoyangkan gagang pedang yang dia pegang dan... benang ronce hiasan gagang pedang rampasan itu melibat pedang pemuda itu tak dapat ditarik pula. Sekali Sin Hong membetot, pedang pemuda itu terlepas dari pegangan dan sudah berpindah ke tangan pendekar besar ini!

"Pek Lian, kau telah sombrono!” mencela kakek itu sambil tertawa.

Sin Hong memandang kepada Ang Lian dan “pemuda” yang ternyata seorang gadis berpakaian pria bernama Pek Lian itu. Tersenyum dan menyerahkan pedang-pedang rampasannya kembali. Ang Lian dan Pek Lian bermerah muka, malu untuk menerima kembali pedang yang sudah terampas.

"Pek Lian, Ang Lian, terima kembali pedang kalian dan haturkan terima kasih!" kata kakek itu yang bukan lain adalah Huang-ho Sian-jin, “datuk" bajak sungai di sepanjang sungai Huang-ho.

Dua orang gadis itu melangkah maju menerima pedang masing-masing dan bibir mereka berbisik menyatakan terima kasih. Mereka merasa heran dan kagum bukan main. Dahulu mereka dibikin kagum dan tidak berdeya terhadap seorang pemuda bernama Tiang Bu, sekarang kembali mereka be rtemu "guru” yang lihai bukan main. Masa dalam segebrakan saja pedang mereka sudah terampas secara aneh!

Sementara itu, Huang-ho Sian-jin menghadapi Wan Sin Hong dengan mata bersinar-sinar. Ia merasa gembira sekali dapat bertemu dengan orang selihai ini. Ia sudah dapat menduga siapa orang ini. Akan tetapi dia bukan ayah Ang Lian yang keras kepala kalau dia sendiri tidak kepala batu!

“Orang gagah, aku tidak memparkenalkan nama dan tidak akan menanyakan namamu sebelum kita mengukur kepandaian-Kepandaianmu hebat sekali, ingin aku mencobanya. Cabut pedangmu itu dan mari kita main-main sebentar”

Setelah berkata demikian, ia menyambar dayung perahunya. Dayung itu terbuat dari pada baja panjang dan berat berwarna hitam. Wan Sin Hong adalah seorang pendekar sakti. Tidak saja ilmu silatnya tinggi sekali, juga ia memiliki kecerdikan melebihi orang banyak. Orang kebanyakan menilai kepandaian murid dari kepandaian gurunya, akan tetapi Sin Hong dapat menilai kepandaian guru terlihat dari kepandaian muridnya. Ia tahu bahwa dua orang gadis itu adalah puteri kakek ini, tentu mendapat warisan ilmu silat sebanyaknya. Dan ia sudah dapat menilai bakat dua orang gadis tadi. Dari perhitungan ini ia sudah dapat menduga sampai di mana tingkat ilmu kepandaian kakek itu dan ia tahu bahwa ia akan dapat mengalahkannya.

"Pedangku sudah kusembunyikan di balik baju, biarlah ia tinggal bersembunyi di sana karena aku tidak bisa mempergunakan kalau bukan berhadapan dengan musuh jahat. Sahabat tua hendak main-main, biarlah aku minta bantuan anakmu meminjam pedang.”

Baru ucapannya habis. Pek Lian yang berdiri dekat, kurang lebih tujuh langkah dari Sin Hong, tiba-tiba merasa ada angin menyambar dan di lain saat pedangnya sudah terambil lagi, terpegang oleh orang sakti itu.

"Maaf anak yang baik. Aku pinjam sebentar pedangmu," kata Sin Hong, suaranya halus dan ramah sehingga Pek Lian tidak bisa marah. Sin Hong tahu bahwa kalau ia mencabut pedangnya, selain mungkin sekali, kakek itu akan mengenal Pak-kek-sin kiam. juga kemenangannya takkan ada artinya. Pedang pusakanya amat tajam dan kalau sekali tangkis dayung lawannya putus, berarti ia akan menang mengandalkan ketajaman pedang pusaka maka ia sengaja meminjam pedang biasa kepunyaan Pek Lian.

Perbuatan dan sikap Sin Hong ini memang boleh dipandang sebagai suatu kesombongan atau sikap memandang rendah lawan, biarpun Huang-ho Sian-jin seorang kakek yang banyak pengalaman dan memiliki kesabaran besar, ia menjadi mendongkol juga. Tanpa sungkan-sungan sebagai imbalan atau imbangan sikap Sin Hong itu, ia menggerakkan dayungnya, diputar di atas kepala lalu berseru.

"Awas, lihat senjata!"

Bagaikan seekor ikan besar menyambar mangsanya, dayung itu bergerak miring dan sekaligus melancarkan serangan yang mempunyai pecahan lima macam banyaknya. Lima macam pukulan susul-menyusul dan bertubi-tubi dilakukan dengan kedua ujung dayung, dalam cara dan gerak yang berbeda sifatnya, bergantian mengandung tenaga keras dan lemas! Inilah serangan hebat sekali yang amat sukar dihindari. Dayung itu panjang dan berat, digerakkan oleh seorang yang memiliki lweekang tinggi, datangnya cepat, tidak terduga dan kuat sekali.

Akan tetapi, datuk bajak itu menghadapi Wan Sin Hong, seorang pendekar sakti yang tinggi ilmu silatnya bahkan yang pernah di pilih menjadi beng-cu dari para orang gagah. Biarpun harus ia mengakui bahwa serangan kakek itu benar luar biasa dahsyatnya dan berbahaya, namun ia bersikap tenang sekali. Dari sambaran angin pukulan ia dapat membeda-bedakan tenaga yang dipergunakan kakek itu.

Harus diketahui bahwa selama "bertapa” di Luliang-san. Wan Sin Hong telah dengan amat tekun melatih diri dan mempelajari serta memperkuat tenaga lweekang sehingga ia boleh dibilang seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Maka dari itu, sekali lihat saja ia tahu bagaimana harus melayani lawannya. Pedang pinjaman di tangannya digerakkan parlahan namun mengandung dua macam tenaga yang tepat menghadapi tenaga dayung lawan.

Lima kali dayung itu dapat disambut pedang, di waktu mempergunakan tenaga Yang-kang, terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar di waktu bertemu tenaga Im-kang, tidak ada suaranya seperti dua barang lunak akan tetapi setiap kali membuat Huang-ho Sin-jin menderita pukulan hebat. Pertemuan tenaga Yang-kang membuat ia merasa panas seluruh tubuhnya dan tergetar mundur, sedangkan pertemuan tenaga Im-kang membuat kakek itu menggigil kedinginan dan ke dua kakinya lemas. Ini menandakan bahwa dalam hal tenaga, Sin Hong yang lebih muda itu masih jauh mengatasinya.

Sin Hong yang selalu menghormati orang lebih tua, membiarkan kakek itu menyerangnya sampai tiga puluh jurus, ia hanya mempergunakan kelincahannya mengelak dan kadang-kadang menangkis tanpa balas menyerang. Setelah tiga putuh jurus lewat, ia meras a bahwa sudah cukup ia mengalah, lalu katanya, “Sahabat, maafkan pedangku!"

Tiba tiba pedang itu berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata dan Huang-ho Sian-jin sampai berseru kaget. Baru sekarang ia menyaksikan ilmu pedang yang luar biasa sekali. Ilmu Pedang Pak-kek Kiam-sut yang tiada taranya di dunia ini. Lebih dari tujuh belas pucuk sinar pedang seperti api bernyala menjilat-jilatnya, sukar ditentukan dari mana arah penyerangannya, kelihatan kacau balau. Namun teratur sekali demikian baik teraturnya hingga tiap serangan menuju ke arah jalan darah yang penting!

Sebentar saja Huang-ho Sian jin sudah tak berdaya lagi. Ia menjadi pening, dayungnya hanya diputar-putar tidak karuan dalam usahanya melin dungi tubuhnya, lalu ia berteriak-teriak. "Hebat... cukup... cukup. Kalau ini bukan Wan taihiap, bengcu yang tersohor, aku si bodoh tidak tahu lagi kau siapa!"

Wan Sin Hong menahan pedangnya, mengembalikannya kepada Pek Lian sambil mengucapkan terima kasih kemudian berkata pada Huang-ho Sian-jin. "Nama besar Huang-ho Sian-jin bukan kosong belaka, aku Wan Sin Hong merasa girang dapat berkenalan." Ia lalu mengangkat tangan memberi hormat.

Huang-ho Sian-jin tertawa bergelak, "Ha-ha-ha! Kalau tidak bertempur mana bisa saling mengenal? Sekarang aku tahu mengapa Wan taihiap tidak mengeluarkan pedangnya Pak-kek-sin-kiam yang tersohor. Karena hendak menyembunyikan keadaan diri sendiri. Ha-ha-ha...!”

Kakek itu lalu menoleh kepada dua orang anaknya, Ang Lian dan Pek Lian gadis berpakaian pria sambil berkata, "Hayo kalian memberi hormat kepada Wan Sin Hong taihiap yang dulu terkenal dengan sebuta Wan-bengcu.”

Dua orang anak dara itu memang cerdik. Sudah lama mereka mendengar nama besar Wan Sin Hong disebut ayah mereka, kini setelah berhadapan mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan Pek Lian berkata, "Kami kakak beradik mohon petunjuk dari taihiap.”

Sin Hong tersanyum dan juga tercengang karena baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa "pemuda" yang ia pinjam pedangnya itu ternyata seorang gadis pula. “Kalian sudah memiIiki kiam-hoat bagus, belajar apalagi?”

Terdengar Huang-ho Sian-jin berkata sambil menarik napas panjang dan berkata dengan suara sungguh-sungguh, "Kiam hoat apakah yang bagus? Kalau bukan Wan–taihiap yang menaruh kasihan dan bermurah hati memberi petunjuk, habis siapa lagi? Harap saja Wan taihiap tidak terlalu pelit." Ia mengangkat kedua tangan menjura dungan hormat.

Menghadapi permintaan yang sungguh-sugguh dari ayah dan anak ini, Wan Sin Hong merasa tidak enak kalau tidak menuruti. Tangan kanannya bergerak, sinar terang menyilaukan mata ketika Pak-kek-sin-kiam berada di tangan.

“Kim-hoat dimiliki karena jodoh. Entah nona-nona berjodoh atau tidak, silakan melihat baik-baik!"

Setelah berkata demikian, Sin Hong menggerakkan pedangnya dan dengan perlahan ia mainkan Soan-hong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Puyuh) yang dulu ia pelajari dari Luliang Ciangkun. Tentu saja ia tak mau menurunkan Ilmu Pedang Pak kek kiam-sut karena selain ilmu pedang ini tidak boleh diturunkan pada sembarang orang, juga untuk mempelajari ilmu pedang ini membutuhkan dasar-dasar yang amat kuat dan amat sukar dipelajari!

Sampai tiga kali Sin Hong mengulang permainannya di depan dua orang gadis Huang-ho Sian jin yang tahu aturan kang-ouw. memerintahkan anak buah bajak untuk berdiri membelakangi tempat latihan itu, bahkan dia sendiri juga tidak mau melihat.

Setelah mainkan pedangnya tiga kali ditonton penuh perhatian oleh Pek Lian dan Ang Lian, Sin Hong berhenti bermain, berkata, "Cukup sekian dan selanjutnya tergantung dari jodoh dan bakat."

Dua orang gadis itu berlutut menghaturkan terima kasih lalu pergi dari situ mencari tempat sunyi untuk mengingat dan mempelajari ilmu pedang yang terdiri dari tujuh belas jurus itu. Sedangkan Huang-ho Sian-jin dengan wajah girang berseri mempersilakan Sin Hong untuk singgah di tempat kediamannya, yaitu di sebuah perabu besar untuk menerima penghormatan dan jamuan.

Akan tetapi Sin Hong menolak dan menyatakan bahwa ia masih mempunyai banyak urusan. Kemudian ia teringat akan kedudukan Huang-ho Sian-jin sebagai bajak sungai yang malang melintang sepanjang Sungai Huang-ho dan tentunya juga ia pernah keluar berlayar di lautan dan mengenal keadaan pulau-pulau di sebelah selatan.

“Siauw-te ada sebuah urusan dan mengharapkan bantuan lo enghiong," katanya.

Wajah Huang-ho Sian jin berseri. "Tentu saja lo-hu suka sekali membantumu. Wan-taihiap. Entah urusan apakah gerangan dan bantuan apa yang dapat kuberikan?"

"Hanya sebuah keterangan dari lo-enghiong. Aku sedang mencari sebuah pulau di laut selatan, pulau yang bernama Pek-houw to (Pulau Hariman Putih), entah lo enghiong mengenal atau tidak?”

Wajah yang berseri dari kakek itu segera berubah, keningnya berkerut dan untuk sejenak ia memandang kepada Sin Hong dengan mata tajam. "Kiranya taihiap juga mengalami gangguan mereka? Iblis-iblis itu belum lama tinggal di Pek-houw-to, akan tetapi sudah membikin kacau banyak orang. Terutama sekali penduduk di sekitar pantai selatan. Aku sendiri sedang bersiap-siap untuk nekat menyerbu ke sana, biarpun aku tahu bahwa mereka terdiri dari orang-orang berhati iblis yang amat keji dan berkepandaian tinggi sekali.

"Aku tidak tahu siapa yang kau maksudkan dengan mereka itu, lo enghiong. Akan tetapi terus terang saja, aku mercari seorang tosu kaki buntung bernama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu...”

“Celaka...!” Huang-ho Sian-jin berseru kaget mendengar nama ini. “Jadi diakah gerangan orangnya? Sudah kudengar bahwa pemimpin iblis itu adalah seorang kakek buntung kaki kanannya akan tetapi siapa kira adalah Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Pantas saja banyak anak buahku tewas!”

Huang-ho Sian jin lalu bercerita bahwa memang di pulau itu tinggal banyak orang di dipimpin oleh seorang kakek buntung. Kakek itu sendiri jarang sekali kelihatan keluar dari Pulau Pek-houw-to, akan tetapi banyak anak buahnya melakukan gangguan gangguan kepada rakyat dan nelayan di sekitar daerah itu terutama di pantai daratan Tiongkok.

“Beberapa kali anak buahku mencoba untuk menegur mereka,” Huang-ho Sianjin melanjutkan penuturannya. "Kami biarpun tergolong kaum bajak, namun kami melakukan parampasan bukan semata menggendutkan perut sendiri. Di samping untuk makan anak buah kami yang hanyak jumlahnya, semua sisa hasil pembajakan selalu kupergunakan untuk menolong rakyat yang sedang menderita kekurangan. Maka sepak terjang pebghun i Pek houw-to itu memarahkan hati anak buah dan mereka menegur. Celakanya, mereka tidak suka ditegur sehingga terjadi pertempuran dan selalu pihak anak buahku yang menderita kekalahan. Selama ini aku bersabar saja sampai akhirnya kumendengar mereka itu banyak melakukan penculikan anak-anak gadis di pantai. Ini melewati batas dan aku sudah merencana persiapan untuk menyerbu ke sana dan merobohkan pemimpinnya. Tidak tahunya, pemimpinnya adalah Lo thian-tung Cun Gi Tosu! Aku bisa apakah terhadap dia?”

"Lo-enghiong jangan khawatir. Biarkan aku menghadapi kakek buntung yang telah menculik dan aku hanya minta bantuan lo enghiong untuk mengantarku ke sana sebagai petunjuk jalan," kata Sin Hong.

"Mana bisa begitu? Aku akan mengawani taihiap dan mari kuantar taihiap mendarat di sana. Akupun tidak takut menghadapi Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, sungguhpun dia terkenal sakti!”

Cepat Huang-ho Sian-jin memberi perintah kepada anak buahnya untuk menyediakan sebuwh perahu terbaik dan menyuruh pergi. Kemudian ia bersama Sin Hong mulai melakukan pelayaran, keluar dari Sungai Huang ho memasuki perairan laut dan terus berlayar ke selatan. Tidak mengecewakan Huang-ho Sian jin dianggap datuk para bajak, kepandaiannya mengemudi perahu dan berlajar memang hebat sekali. Perahu berlayar cepat dan dalam tiga hari mereka sudah tiba di tempat tujuan.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Pek-houw-to terletak tak jauh dari pantai di antara sekumpulan pulau-pulau lain. Pulau ini tidak kelihatan istimewa, hanya kalau dilih at dari jauh memang agak keputihan bentuknya seperti binatang harimau mendekam. Oleh karena bentuk dan warna inilah maka disebut Pek houw to atau Pulau Harimau Putih. Hari telah menjadi senja ketika perahu dua orang pendekar itu tiba di kepulauan itu. Keadaan di situ benar-benar sunyi, tidak kelihatan sebuahpun perahu nelayan. Padahal daerah ini terkenal banyak ikannya.

"Kau lihat sendiri, taihiap. Tak seorangpun nelayan berani mencari ikan di sini, pada dahulu di sini amat ramai. lni tandanya betapa ganas orang-orang jahat itu mengganggu ketenteraman para nelayan"

Sin Hong hanya mengangguk dan minta kepada kakek itu untuk melanjutkan palayaran ke pulau itu. Perahu terus didayung mendekati pulau dan setelah dekat nampak bahwa di antara pulau-pulau itu, hanya Pek-houw-to yang kelihatan ada rumah-rumahnya. Wuwungan rumah nampak menjulang tinggi di antara batu-batu karang dan pohon-pohon.

Perahu di daratkan dan mereka melompat ke darat dengan hati-hati. Setelah perahu ditambatkan pada batang pohon, Sin Hong berkata, “Harap lo-enghiong suka menanti di saja. Aku akan naik dan menyelidiki ke tengah pulau.”

Maklum bahwa kepandaiannya memang tidak dapat mengimbangi Sin Hong. Huang-ho Sin-jin mengangguk dan menerima pesan ini tanpa membantah. Akan tetapi setelah ia melihat bayangan Sin Hong berkelebat lenyap menuju ke jurusan kiri, iapun lalu menyusup di antara tetumbuhan menuju ke kanan, untuk melakukan penyelidikan sendiri. Tentu saja seorang gagah perkasa seperti kakek ini yang disegani di antara para bajak, merasa tidak enak sekali kalau hanya dijadikan tukang turggu atau tukang perahu. Biarpun ke pandaiannya tidak setinggi Wan Sin Hong, namun ia tidak takut menghadapi kakek buntung dan kawan-kawannya!

Belum lama Huang ho Sian-jin berjalan mengendap di antara pohon-pohon, berindap-indap ia mengintai dengan hati-hati, ia mendengar makian orang dan angin pukulan, tanda bahwa ada dua orang pandai bertempur. Ce pat ia manyelinap di balik pohon dan menghampiri tempat itu, mengintai. Dilihatnya dua orang pemuda tengah bertempur seru.

Mereka ini adalah seorang pemuda yang berenjata sepasang ranting kayu dan pemuda ke dua senjatanya mengerikan yaitu sebuah tulang Iengan kering di tangan kiri dan seekor ular kecil putih di tangan kanan! Pemuda bersenjata ranting itu terus terdesak mundur oleh Iawannya yang ternyata lebih lihai. Namun ia melawan dengan nekat sekali, ia tidak memperdulikan ejekan dan sikap lawan yang tertawa-tawa.

“Ha ha-ba, Wan Sun bocah tolol. Apakah kau masih tidak mau menyerah? Isterimu sudah tertawan dan kau sendiri sudah tak berdaya. Dengan pedangmu saja kau tidak mampu melawanku. Apa lagi dengan ranting? Ha ha jangan kau bersikap goblok. Ayah masih berlaku murah dan melarang kau dibunuh. Kalau tidak begitu, apa kaukira sekarang kau tidak akan menjadi setan tak berkepala dan isterimu sudah menjadi milikku?”

"Keparat jahanam Liok Cui Kong! Kau sudah membunuh ayah dan ibu mertuaku, secara keji menyebar maut di Kim-bun to, kau kira aku sudi mendengar omonganmu? Mari kita mengadu nyawa, aku tidak takut!”

Setelah berkata demikian, Wan Sun menyerang makin hebat. Dia adalah murid Ang jiu Mo li, tentu saja kepandaiannya tidak rendah. Biarpun pedangnya sudah terampas oleh Cui Kong dan sekarang ia hanya mempergunakab dua ranting kayu, namun ini masih merupaken senjata yang berbahaya bagi lawan.

Bagaimana Wan Sun bisa berada di pulau itu dan bertempur melawan Cui Kong? Seperti pernah diceritakan, setelah melangsungkan pernikahannya dengan Coa Lee Goat, Wan Sun mengajak isterinya untuk pergi ke utara dan mencari adiknya, Wan Bi Li. Setelah menikah, tentu saja cinta kasih Wan Sun terhadap Bi Li berubah menjadi cinta kasih kakak terhadap adiknya. karena memang dia tidak beradik dan Bi Li selain tidak bersaudara, juga telah menjadi anak yatim piatu seperti juga dia sendiri. Kalau teringat akan keadaan Bi Li, sedihlah hati Wan Sun. Ia ingin bertemu dengan adik angkatnya itu, ingin menarik Bi Li tinggal bersama dia dan kelak mencarikan pasangan yang setimpal untuk adiknya itu. Lee Goat maklum akan perasaan sayang adik dari suaminya ini, maka ia setuju untuk pergi mencari Bi Li. sekalian berbulan madu sebagai pengantin baru.

Akan tetapi, setelah berbulan-bulan merantau di utara dan mencati-cari, usaha Wan Sun sia-sia belaka. Tak seorangpun manusia tahu ke mana perginya Bi Li. Gadis itu lenyap tan pa meninggalkan jejak. Wan Sun menjadi berduka sekali. Lee Goat yang melihat kedukaan suaminya, lalu mengh iburnya dan mengajaknya pulang saja ke Kim-bun to.

“Biar nanti ayah membantumu. Jika ia memberi surat kepada para ketua partai besar minta bantuan mereka, mustahil adik Bi li tidak dapat ditemukan? Ayah mempunyai hubungan dengan semua orang kang-ouw di empat penjuru dan kalau semua orang kang-ouw membantu mengamat-amati tentu segera akan ada berita di mana adanya adik Bi Li," kata Lee Goat dengan suara menghibur.

Wan Sun menganggap kata-kata isterinya ini tepat juga, maka dia pun menurut. Akan tetapi, siapa kira, sesampainya si Kim-bun-no, bukannya menerima hiburan bahkan mendengar berita yang hebat menghan curkan hati mereka. Yang menyambut kedatangan mereka hanya Hwa Thian Hwesio. Melihat sepasang suami isteri ini datang, Hwa Thian Hwesio menyambutnya dengan air mata bercucuran. Tentu saja Lee Goat dan Wan Sun terkejut sekali.

"Lo.suhu... mengapa lo-suhu menangis. Mana ayah dan ibu, mana bibi Li Hwa dimana semua orang? Mengapa begini sunyi...?” Lee Goat menoleh ke sana ke mari dan merasa berdebar hatinya, tidak melihat siapa-siapa di situ. Juga Wan Sun mendapat firasat tak enak, wajahnya sudah menjadi pucat ketika ia melihat hwesio itu menangis terisak-isak seperti anak kecil.

“Hwa Thian lo-suhu, harap suka bercerita trus terang. Apakah yang telah terjadi?”

Hwesio itu akhirnya dapat menenangkan diri. Ia menyusuti air mata dengan ujung lengan bajunya yang lebar, lalu memandang kepada Lee Goat sambil berkata kepada Wan Sun. “Kongcu, jagalah isterimu baik-baik sementara mendengar ceritaku."

Wan Sun segera menggandeng lengan isterinya, hatinya berdebar karena ia maklum bahwa tentu telah terjadi malapetaka hebat di Kim-bun to. Adapun Lee Goat seketika menjadi pucat sekali dan suaranya serak ketika ia bertanya, “Lo-suhu, ceritakanlah, ada apa…?”

“Beberapa bulan yang lalu, pinceng kebetulan sekali datang berkunjung ke sini bersama sahabatku Ouw Beng Sin, tiba-tiba datang Liok Cui Kong putera Liok Kong Ji. Pemuda jahat itu mengamuk dan dia lihai bukan main. Biarpun dia dikeroyok, tetap tetap saja menyebar maut. Selain Ouw Beng Sin dan seorang pelayan tewas, pinceng dan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa terluka hebat, juga Coe-sicu dan isterinya tewas...“

Lee Goat menjerit. Wan Sun cepat memeluknya dan nyonya muda ini pingsan dalam pelukan suaminya. Air mata bercucuran dari sepasang mata Wan Sun, giginya berkerot-kerot, akan tetapi tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya. Dengan menekan goncangan dalam dada sendiri, ia memondong isteri nya dan membawanya ke dalam kamar, di mana Lee Goat dibaringkan dan dirawat.

Menjelang tengah malam baru Lee Goat siuman dari pingsannya, menjerit-jerit nyaring. "Liok Cui Kong bajingan besar! Aku harus bunuh kau! Aku akan mencabut jantungmu dipakai sembahyang!" berkali-kali ia menjerit menangis sedih.

Baiknya Wan Sun pandai sekali menghiburnya, dan menjanjikan un tuk segera mencari musuh besar itu dan membalas dendam. Akhirnya Lee Goat terhibur juga. Segera setelah melakukan sembahyang di depan makam ayah bundanya sambil menangis menggerung-gerung, Lee Goat mengajak s uaminya pergi lagi mencari jejak Cui Kong!

Akhirnya mereka mendenger bahwa orang yang dicari itu berada di selatan, di Pulau Pek-houw-to. Tanpa mengenaI lelah dan bahaya, kedua suami isteri ini menyusul ke sana menyeberang dan dengan nekat lalu menyerbu. Penyerbuan dua orang muda ini mendatangkan rasa geli dalam hati Cui Kong, kagum dalam hati Cun Gi Tosu, dan girang dalam hati Liok Kong Ji. Cui Kong merasa geli karena melihat dua orang muda yang kepadaiannya belum berapa tinggi berani main-main di depan mulut gua harimau.

Cun Gi Tosu kagum menyaksikan keberanian suami isteri muda ini dan Liok Kong Ji merasa girang oleh karena munculnya dua orang muda ini memberi kesempatan baginya untuk menghadapi musuh-musuh besarnya yang ia takuti yaitu Sin Hong dan Tiang Bu. Kalau saja ia dapat menawan dua orang ini, tentu ia dapat menebus keselamatannya dengan jiwa mereka! Demikianlah, tanpa banyak cakap lagi Kong Ji memberi perintah kepada Cui Kong untuk me nangkap dua orang muda itu hidup-hidup.

Lee Goat sendiri biarpun kepandaiannya tinggi dan kiam-hoatnya lihai karena ia murid Wan Sin Hong, namun tentu saja berhadapan dengan Liok Kong Ji ia marupakan makanan lunak. Belum sampai tiga puluh jurus, nyonya muda ini sudah terkena totokan yang lihai, jatuh lemas dan menjadi tawanan.

Wan Sun didesak mundur terus oleb Cui Kong. Biarpun kepandaian Wan Sun tadinya sudah hampir setingkat dengan Cui Kong, akan tetapi akhir-akhir ini Cui Kong mendapat kemajuan hebat dan kini Wan Sun masih kalah sedikitnya dua tingkat! Dengan senjatanya yang aneh, Cui Kong mendesak Wan Sun yang masih melakukan perlawanan mati-matian.

Ketika Wan Sun menggerakkan pedangnya dengan hebat untuk mamatahkan lengan kering yang mengerikan itu, Cui Kong berkata sambil tertawa, “Awas, hati-hati sedikit. Kalau tidak, pedangmu akan mematahkan lengan tangan adikmu sendiri. Lihat baik-baik, ini lengan tangan Wan Bi Li, apa kau tidak mengenal lagi?"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Wan Sun mendengar ini dan tanpa terasa gerakannya menjadi lambat dan tahu-tahu ia kehilangan pedangnya yang kena dirampas oleh Cui Kong. Namun Wan Sun bukan orang penakut. Ia melawan terus dengan sepasang ranting pohon yang ia pungut dari bawah pohon, lalu melawan mati-matian.

Pada saat itulah Huang-ho Sian-jin muncul dan mengintai. Mendengar ucapan Cui Kong yang ditujukan kepada Wan Sun tadi, tahulah kakek ini siapa yang harus ia tolong. Tadinya ia ragu-ragu karena ia tidak mengenal dua orang muda yan g sedang bertempur itu. Akan tetapi, ucapan Cui Kong cukup meyakinkan bahwa dia harus membantu pemuda bersenjata sepasang ranting itu.

“Orang muda, jangan takut, lo-hu datang membantumu!” seru kakek itu dan dayungnya sudah datang menyambar kepala Cui Kong dengan kemplangan yang mematikan.

Cui Kong terkejut sekali dan cepat melompat ke belakang menghindarkan diri dari sambaran dayung yang bukan main kuatnya itu. “Eh... eh, kau ini orang tua gila dari mana datang-datang menyerang orang? Kau siapa dan ada permusuhan apa dengan aku?” teriak Cui Kong, mendongkol dan kaget.

Huang-ho Sian-jin penasaran sekali. Kepandaiannya tinggi, serangannya tadi adalah serangan maut yang sukar dihindarkan, namun pemuda yang membawa lengan kering dan ular itu sekali melompat telah dapat menyelamatkan diri.

"Pemuda jahat, tentu kau yang selama ini menyebar kejahatan! Aku Huang-ho Sian-jin datang untuk membalas kematian beberapa orang anak buahku."

Setelah berkata demikian, kembali kakek ini menyerang dengan dayungnya. Melihat datangnya bala bantuan, Wan Sun timbul kembali semangatnya dan ikut mendesak. Sibuklah sekarang Cui Kong menghadapi gelombang serangan dua orang lawannya yang tak boleh dipandang ringan ini. Ia sama sekali tak boleh berlaku gegabah.

Terutama se kali menghadapi dayung Huang-ho Sian-jin, Cui Kong tak dapat menangkis, hanya mengelak jauh ke sana ke mari menghindarkan diri dari jangkauan dayung yang panjang dan berat itu. Kalau ia berusaha bertempur merapat datok bajak itu Wan Sun manyambutnya, kalau menjauh, kakek itu menggempurnya.

Cui Kong tahu bahaya. Ia cepat bersuit keras melepas suara isyarat bahaya kepada kawan-kawannya. Untung baginya, pada saat it u Kong Ji berada di tempat yang tidak berapa jauh. Beberapa menit kemudian muncullah Liok Kong Ji di gelanggang pertempuran.

"Anak bodoh, kalau masih belum mampu membekuk Wan Sun?” Kong Ji mengomel.

“Kakek bajak Huang-ho ini datang mengacau, ayah," Cui Kong membela diri.

Kong Ji melompat ke tengah dengan tangan kosong. Tiga kali tangannya bergerak dan dilain saat Wan Sun sudah roboh tertotok dan ditawan oleh Liok Kong Ji yang sekarang memiliki kepandaian amat lihai itu.

"Jadi kau ini orang tua yang disebut Huan-ho Sian jin?” tanya Kong Ji penuh perhatian.

Huang-ho Sian-jin sudah mendengar dari Sin Hong tentang Liok Kong Ji dan Cui Kong. Tentang Liok Kong Ji, memang sudah lama ia mendengar nama busuknya. Ia menunda dayungnya, memandang tajam lalu membentak. "Hemm kau tentu Liok Kong Ji si Manusia Iblis! Pantas saja daerah ini menjadi kacau dan tidak aman tidak tahunya di samping manusia manusia jahat ada kau iblis, yang bersembunyi!"

Liok Kong Ji tersenyum. Kakek ini ilmu dayungnya boleh juga, pikirnya. Tidak ada salahnya untuk menguji Cui Kong.

"Cui Kong, gempur dia!"

Cui Kong memang sudah merasa gemas sekali. Kalau tidak datang kakek itu tentu ia tak mendapat tegoran ayahnya dan sekarang setelah Wan Sun tertawan, ia dapat melayani kakek itu dengan leluasa. Ia mengeluarkan suara keras dan tubuhnya melayang, ular dan tangan itu bergantian bergerak menyerang. Dua macam senjata ini ada keistimewaan masing-masing. Ular itu amat berbahaya karena sekali saja manggigit akan merobobkan lawan dengan bisanya yang lihat. Tangan kering yang tadinya menjadi lengan Bi Li itupun tidak kalah hebatnya. Selain dipergunakan untuk mengemplang dan menotok, juga terutama sekali lengan kering ini mendatangkan hawa yang menyeramkan pada lawan yang kurang kuat batinnya.

Namun Huang-ho Sian-jin seorang tokoh kang-onw yang sudah banyak makan asam garam dunia dan sudah banyak sekali menghadapi banyak pertempuran besar, tidak menjadi gentar. Dayungnya menyambar-nyambar bagai naga hitam mengamuk, sedtkitpun tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya untuk mendekatinya. Sebaliknya, Cui Kong mempergunakan kelincahannya untuk bertempur dari jarak dekat, karena hanya dengan pertempuran jarak dekat saja ia akan peroleh kemenangan dan kakek yang kepandaiannya sudah mengimbangi tingkatnya sen diri itu.

Pertempuran berjalan seru, seorang menjaga supaya pertempuran terjadi dengan jauh, yang seorang lagi berusaha merobah kedudukan menjadi pertempuran jarak dekat. Kalau kadang-kadang Cui Kong berhasil, Huang-ho Sian-jin merobah permainan dayungnya, dipegang di tengah-tengab sehingga rupakan toya atau sepasang senjata pendek, akan tetapi ia segera mendesak lagi supaya dapat menggunakan dayungnya sebagai senjata panjang yang dipakai menyerang dari jauh. Mereka mempe rebutkan kedudukan dan pertempuran berjalan seru, ramai dan lama. Puluhan jurus berlalu tak terasa.

Kong Ji mendongkol sekali. Semenjak melihat kelihaian Tiang Bu puteranya yang sejak itu ia menjadi tidak sabar melihat Cui Kong dianggapnya amat bodoh. Tentu saja kalau menghendaki putera angkatnya ini sebagai Tiang Bu, ia mengimpi jauh. Untuk melampiaskan kekece waannya melihat Tiang Bu yang saat itu menolak untuk menjadi puteranya, ia menumpahkan kemendongkolan hatinya kepada Cui Kong. Sering kali pemuda ini dimaki-maki goblok dan bodoh, akan tetapi terus ia menurunkan kepandaiannya kepada Cui Kong. Sekarang melihat Cui Kong tak dapat merobohkan Huang-ho Sian-jin, kembali Kong Ji memaki-maki sambil memberi petunjuk.

“Tolol, jangan bilarkan ujung dayungnya menggertakmu. Pergunakan Soat lian dan barengi Hok-te-twi!"

Cui Kong cepat bergerak menurut petunjuk ayahnya. Gerakan Soat-lian adalah dari Soat-te kiam hoat (Ilmu Pedang Teratai Salju) yang didapat dari kitab Omei-san, gerakannya lembut namun merupakan inti ilmu ginkang sehingga tubuh menjadi ringan dan cepat, adapun Hok to-twi berarti tendangan mendekam.

Dengan dua ilmu ini Cui Kong menghindarkan diri dari kurungan ujung dayung dan mengirim tendangan-tendangan tak tersangka ke arah dayung dan tangan lawan. Memang hebat rantai serangan ini. Huang-ho Sian-jin sampai mundur-mundur terdesak untuk menyelamatkan dayungnya, sementara itu dua macam senjata di tangan Cui Kong menggantikan kedudukan pedang dalam gerakan Soat-sian tadi, hebatnya bukan main.

Bagaimanapnn juga, tidak mudah merobohkan seorang tokoh besar seperti Huang-ho Sian-jin, kalau yang merobohkan itu hanya seorang dengan tingkat yang dimiliki Cui Kong. Pertempuran hebat itn berjalan terus sampai seratus jurus dan masih belum dapat dibilang Cui Kong menang di atas angin walaupun selalu diberi petunjuk oleh Kong Ji. Tiba tiba dari jurusan tengah pulau terdengar suitan lain seperti Cui Kong tadi.

"Gurumu menghadapi musuh lain!"

Kong Ji kaget karena tidak menyangka bahwa masih ada musuh lain yang malah sudah masuk ke dalam pulau. Ia segera menurunkan tubuh Wan Sun yang tadi dikempitnya dan dengan beberapa kali lompatan ia sudah memasuki gelanggang pertempuran. Kedua tangannya bergerak memukul dengan tenaga Tin-san-kang secara hebat...

Tangan Gledek Jilid 41

Tangan Gledek Jilid 41

MENDENGAR ini, Pak-kek Sam-kui pertama menggereng marah dan mereka mulai menyerang. Ci Kui pertama menyerang kakaknya, demikian pula Ang Bouw dan Ang Louw. Pertempuran hebat terjadi, pertempuran aneh antara orang-orang kembar yan g aneh!

Memang membingungkan sekali melihat pertempuran antara orang-orang ganjil itu. Sabenarnya, tiga orang yang biasa disebut Pak-kek sam-kui yaitu yang sekarang menjadi Pak-kek Sam-kui pertama, adalah adik-adik kembar dari Pak kek Sam kui ke dua. Mereka adalah tiga pasang orang kembar dari daerah Mongol yang semenjak kecil menjadi sahabat.

Kemudian setelah mereka dewasa, mereka terpisah, merupakan dua kolompok. Yang tua melanjutkan ilmu mereka, menyembunyikan diri di gunung sedangkan yang muda. yaitu Pak-kek Sam-kui yang sudah banyak dikenal, membantu perjuangan Temu Cin atau Jengis Khan. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Pak-kek Sam-kui ini terpikat oleh Li Kong Ji dan menjadi kaki tangannya.

Ketika saudara saudara tua mereka mendengar akan penyelewengan adik-adiknya ini mereka turun gunung, membantu Jengis Khan kemudian mereka menuju ke selatan untuk mencari adik-adik mereka yang mengikuti Li Kong Ji. Tidak mengherankan apabila kepandaian mereka lebih tinggi dari pada Pak-kek Sam-kui yang sudah dikenal Lie Kong.

Sekarang dapat menduga pula akan hal itu setelah mendengar percakapan tadi. Yang menggirangkan hatinya adalah berita tentang tempat tinggal Liok Kong Ji, akan tetapi berbareng juga membuatnya tidak mengerti. Ia sedang berusaha mencari Ui tiok lim tempat tinggal Liok Kong Ji untuk mencari kembali kitab Omei-san yang dirampas oleh dua orang gadis Ui-tiok-lim dari tangan Ceng Ceng. Mengapa sekarang Liok Kong Ji sudah ke Pek-houw-to?

Ketika ia memandang ke arah pertempuran, mudah saja ia menduga bahwa tak lama lagi Pak kek Sam-kui yang muda akan kalah. Pertempuran itu memang hebat, dilakukan dengan tangan kosong saja akan tetapi angin pukulan mereka membuat batang pohon bergoyang-goyang dan daun-daun rontok semua seperti ada enam ekor gajah mengamuk. Betul saja dugaannya, hampir berbareng tiga orang Pak-kek Sam-kui yang muda terpukul roboh dan pingsan. Masing-masing mengangkat adik sendiri, memanggulnya dan tanpa menoleh lalu lari pergi dari situ.

“Sam-bengcu, tunggu!" teriak Lie Kong sambil melompat mengejar. "Hendak kutanya sedikit, bukankah Liok Kong Ji berada di Ui tiok-lim? Mengapa sam-wi tadi mengatakan dia sudah pindah ke Pek-houw to?”

Si jangkung gundul yang memanggul tubuh Ci Kui menengok dan berkata, “Kami juga tadinya menyusul ke Ui-tiok-lim, ternyata di sana sudah rusak, dihancurkan oleh seorang pemuda perkasa bernama Tiang Bu. Sekarang Liok Kong Ji dan Cun Gi Tosu berada di Pek-houw-to, kedudukan mereka lebih kuat lagi!" Setelah berkata de mikian, bersama kawan-kawannya ia lari cepat sekali, sebentar saja sudah lenyap dari situ.

Lie Kong menarik napas panjang dan berkata kepada isterinya, "Benar benar banyak sekali orang pandai di dunia ini. Baiknya tiga orang saudara tua Pak-kek Sam kui itu tergolong orang orang baik, kalau mereka jahat seperti adik-adiknya, entah siapa yang dapat menghadapi mereka. Sekarang kita sudah tahu bahwa Liok Kong Ji berada di Pek houw to, tentu kitab Pat-sian-jut-bun juga ia bawa ke sana. Kita menanti kembalinya Ceng Ceng, kemudian kita harus mengejar ke Pek-houw to."

Suami isteri ini lalu kembali ke perahu mereka di Telaga Po-yang. Alangkah kaget dan girang hati mereka me lihat Ceng Ceng sudah tiba di situ, kudanya ditambatkan di pinggir telaga dan gadis itu sendiri duduk melamun di atas dek perahu.

"Ceng Ceng...!” ibunya berseru girang.

“Ayah...! Ibu...!" seru gadis itu, sadar dari lamunannya.

Setelah bertemu dengan ayah bundanya, Ceng Ceng mendapatkan kembali kelincahannya dan sebentar saja ia sudah sibuk manceritakan pengalaman perjalanannya kepada ayah bundanya. Diceritakannya keindahan alam yang dilihatnya di Tapie-san, tentang para petani dan tentang bagaimana ia membantu anak petani menangkap burung. Akhirnya ia berkata tentang Cui Kong setelah bicara tentang hal yang sepele-sepele,

"Ayah, Aku bertemu dengan seorang pemuda dan aku... aku kalah bertanding ilmu silat olehnya."

"Mengapa kau bertempur dengan orang?” kontan ayahnya menegur.

“Dia mengalahkanmu! Waah, tentu dia lihai sekali”. Siapa pemuda itu? Agaknya kau kagum padanya," komentar Ibunya. Memang wanita lebih tajam perasaannya dalam hal ini.

Ceng Ceng sekaligus menjawab pertanyaan ayah dan ibunya, “Aku salah kira, tadinya ia kusangka pencuri kudaku, tidak tahunya dia malah yang merampas kembali kudaku dari tangan pencuri. Dengan singkat dia menceri takan pengalamannya tentang kuda yang dicuri orang pada malam hari, lalu tentang pertemuannya dengan Cui Kong.

"Kami bertempur, mula-mula dengan senjata lalu bertangan kosong. Akan tetapi dua kali aku kalah. Dia she Kwee seorang yatim piatu...”

“Eh. eh. alangkah tak patutnya kau sampai berkenalan dengan orang asing!” tegur Lie Kong.

“Habis dia memperkenalkan diri, masa aku harus menutupi kedua telingaku," bantah Ceng Ceng manja. "Dia... dia bilang mau datang ke sini... mau berjumpa dengan ayah ibu...” Sampai di sini muka gadis itu menjadi merah sekali dan ia berlari memasuki kamarnya sambil berkata, “Ayah, aku lelah sekali hendak me ngaso."

Lie Kong saling pandang dengan isterinya, lalu keduanya mengangguk-angguk maklum. "Bagaimanapun juga, kita harus berlaku hati-hali dalam memilih calon jodohnya," kata Lie Kong dan untuk ini isterinya setuju.

Pada keesokan harinya, Cui Kong sudah tiba di tepi Telaga Po-yang karena ia telah me lakukan perjalanan cepat sekali. Banyak terdapat perahu-perahu besar di telaga yang luas itu. Akan tetapi tidak sukar untuk mencari perahu yang dimaksudkan oleh Ceng Ceng. Dari tepi pantai ia sudah melihat dua ekor burung, yang seekor hinggap di at ap perahu, yang seekor lagi beterbangan di atap perahu, berputaran. Burung-burung yang indah dan besar.

Berdebar hati Cui Kong. Ia sudah mendengar nama besar Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, yang berilmu tinggi, juga kabarnya Lie adalah seorang pendekar wanita yang lihai. Ia tahu pula bahwa ayahnya tidak cocok dengan suami isteri pendekar ini dan bahwa dahulu ketika beramai-ramai menyerbu ke Omei-san suami isteri inipun mendapatkan sebuah kitab yang akhirnya terjatuh ke tangan ayah angkatnya. Ia harus berlaku hati-hati dan pandai beraksi.

Disewanya sebuah perahu kecil dan didayungnya perahu itu ke tengah telaga, mehampiri perahu cat putih yang kelihatannya tidak ada penghuninya. Akan tetapi setelah perahu kecilnya mendekati perahu besar cat putih itu, tiba-tiba terdengar suara bersuit dan burung pek thouw tiauw yang yadinya enak enak melengut di atas atap perahu mengulur kepala dan memandang ke arah perahu kecil kemudian ia terbang menyambar menyerang Cui Kong dengan ganasnya!

Cui Kong adalah seorang cerdik. ia dapat menduga bahwa perbuatan burung ini tentu ada yang mengaturnya. Kalau burung itu memang liar dan menyerang semua orang asing, sudah tentu telaga itu takkan aman. Setiap orang tentu akan diserang burung ini dan sebentar saja telaga itu akan kosong ditinggal pergi para pengunjung. Jadi jelas bahwa burung ini tentu ada yang meme rintah maka menyerangnya. Dan justeru dia yang diserang!

Pasti orang yang menyuruhnya itu hendak nenguji sepandaiannya. Dia tadi sudah mendengar suitan nyaring sebagai tanda, Ceng Ceng kah gerangan yang menyuruh burung itu menyerangnya? Tak mungkin, Gadis itu "ada hati" kepadanya, tak mungkin hendak mencelakainya dan untuk coba-coba, gedis itu sudah cukup tahu akan kepandaiannya. Tak bisa salah lagi, pikirnya, tentu pemilik burung itu, Pek-thouw-tiauw-ong sendiri atau isterinya yang menyuruh burung rajawali ini menyerangnya. Dan ini-pun tidak mungkin kalau tidak ada sebabnya. Pek-thouw.tiauw-ong dan isterinya belum mengenalnya, mengapa turun tangan?

Jawaban satu satunya, cukup mudah, tentu Ceng Ceng sudah menceritakan hal dirinya kepada ayah bundanya dan sekarang begitu tiba ia diuji oleh ayah gadis itu yang ingin melihat sendiri sampai di mana ke lihaian pemuda yang dibicarakan oleh anaknya!

Cui Kong memikirkan ini semua sambil mengelak. Sedikit saja miringkan tubuh patukan dan cakaran burung itu mengenai tempat kosong. Lewatnya tubuh burung besar itu membawa angin yang cukup santer, membuat ikat kepala Cui Kong berkibar-kibar.

Memang dugaan Cui Kong tepat sekali. Di balik dinding balik perahu, Lie Kong, isterinya dan Ceng Ceng mengintai ke luar dan tad Lie Kong yang memberi aba-aba kepada burung rajawalinya untuk "mencoba” kepandaia pemuda yang ditunjuk oleh puterinya. Melihat betapa mudahnya Cui Kong menghindarkan sambaran burungnya, kembali Lie Kong bersuit lebih keras. Sekarang tidak saja burung betina yang tadi menyerang pula, bahkan burung jantan yang beterbangan di atas ikut pula men yambar dan mengepung Cui Kong.

Cui Kong terkejut. Ia maklum bahwa burung itu kuat bukan main dan sekali kena disamhar, buarpun ia depat mengebalkan diri dan tidak terluka, akan tetapi ada bahayanya, ia akan terlempar dari perahu dan jatuh ke dalam air telaga! Tentu saja dengan pukulan tin-san-kang ia dapat memukul mampus dua burung itu, akan tetapi inipun tidak baik. Kalau ia membikin mati burung-burung kesayangan orang tua Ceng Ceng. Bukankah berarti ia akan mengecewakan dan membikin marah Pek-thouw tiauw ong Lie Kong? Kalau terjadi demikian, mana ada harapan baginya untuk meminang gadis itu?

Pada saat yang kritis ini, Cui Kong mendapat pikiran baik. Perahu itu adalah perahu nelayan dan di pojok perahu terdapat sebuah jala ikan. Cepat ia menyambar jala itu dan begitu dua ekor burung menyambar dekat, ia menggetarkan jala ikan ke atas memapaki. Jala itu milik seorang nelayan miskin, sudah robes-robek dan butut. Akan tetapi di dalam tangan Cui Kong yang memiliki lweekang tinggi, jala itu rupakan senjata hebat.

Sekali lempar saja ia telah berhasil menangkap dua ekor burung itu ia dalam jala. Cepat ia memutar-mutar jala itu sehingga tubuh dan kaki dua pek-thouw-tiauw itu tergubat sama sekali. Dua ekor burung itu meronta kuat, namun Cui Kong lebih kuat lagi. Dengan tenang Cui Kong lalu mengge njot tubuhnya dan melompat ke atas dek, jala terbuka dan dua ekor burung tadi terbang tinggi sambil berteriak-teriak ketakutan!

Lie Kong dan isterinya kagum sekali. Kini mereka percaya bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada Ceng Ceng. Cara yang dipergunakan untuk menghadapi dua ekor burung pek thouw-tiauw tadi saja sekaligus telah membuktikan adanya kecerdikan, kegesitan dan tenaga lweekang yang mengagumkan.

Muncullah Lie Kong den Souw Cui Eng dari dalam bilik perahu, diikuti oleh Ceng Ceng yang menundukkan muka kemalu-maluan dan mengerling dengan ekor matanya ke arah Cui Kong. Pemuda itu cepat-cepat menjatuhkan berlutut di depan Pek thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya sambil berkata,

"Mohon locianpwe yang budiman sudi memaafkan boanpwe yang berlaku lancang. Tanpa diundang boanpwe Kwee Cui Kong berani lancang naik ke perabu Lo cianpwe, tidak lain oleh karena di tengah jalan boanpwe mendapat kehormatan bertemu dengan puteri locianpwe yang terhormat. Boanpwe sudah berjanji hendak datang ke sini menghadap locianpwe berdua."

Sow Cui Eng berseri girang melihat sikap yang amat sopan santun dan merendah dari pemuda ini. Benar-benar seorang pemuda yang pandai membawa diri, tepat sekali menjadi mantuku, pikirnya. Akan telapi Lie Kong mengerutkan alisnya. Hatinya tak senang melihat sikap berlebih-lebihan dan agak menjilat dari pemuda ini. Bukan sikap seorang gagah, pikirnya. Akan tetapi oleh karena orang sudah berlutut, tidak baik kalau tidak disambut. Ia lalu membungkuk dan berkata,

"Orang muda, jangan terlalu sungkan, bangunlah." Dipegangnya kedua pundak Cui Kong untuk ditarik bangun sambil dikerahkan sedikit tenaganya.

Merasa betapa dua tangan itu mengenai pundaknya seperti bukit karang menindihnya, Cui Kong cepat-cepat mengerahkan lweekangnya menahan sehingga Lie Kong memegang pundak yang lunak seperti tidak bertulang. Pek-thouw- tiauw-ong mengangpuk-angguk. Diam-diam ia agak terkejut karena dari sentuhan ini ia dapat menaksir babwa tenaga lweekang pemuda ini sudah hampir mengimbanginya.

"Bangunlah, aku sudah tahu akan kepandaianma yang tinggi.”

Setelah Cui Kong bangkit berdiri, kembali Lie Kong mengerutkan keningnya. Sepasang mata pemuda ini benar-benar tidak me nyenagkan perasaan batinya. Mata yang tajam liar, mengsndung sesuatu yang mangerikan seperti bukan mata manusia. Mata Ibl is! Sabaliknya, Souw Cui Eng memandang kagum kepada pemuda ini. Dia juga tahu betapa suaminya telah mencoba tenaga pemuda yang agaknya menjadi pilihan hati puterinya.

"Sekarang katakan apa kehendakmu mengunjungi kami," tanya Lie Kong, suaranya dingin dan tenang.

Hati Cui Kong berdebar. Suara ini nadanya tidak memberi banyak harapan, akan tetapi ia dapat menenteramkan hatinya, menarik napas panjang lalu berkata, "Maafkan, boanseng yang berani mati menghadap locianpwe mengandung maksud hati. Bososeng sudah bertemu dengan puteri locianpwe, tak disengaja mencoba kepandaian dan boanseng menganggap di dunia ini tidak ada gadis yang lebih sampurna dari pada puteri loeianpwe. Oleh karena itu, melupakan kerendahan diri sendiri, bounseng datang untuk mohon tangan puteri lo cianpwe...“

"Hemm, orang muda berani mati! Mana ada aturan orang meminang sendiri?” bentak Lie Kong.

“Boanpwe seorang yatim piatu, hidup sebatangkara di atas dunia tiada sanak kadang. siapa yang sudi menjadi wali boanpwe?”

“Menilik gerakanmu tadi, kau seorang ahli waris kepandaian dari utara, siapa gurumu dan mengapa gurumu tidak mewakilimu mengajukan pinangan?"

Cui Kong terkejut. Alangkah tajam pemandangan pendekar ini. Ketika ia mainkan dua ekor pek thouw tiauw tadi, ternyata pendekar ini sudah dapat melihatnya bahwa ia mewarisi ilmu silat utara. “Memang sesungguhnya boanpwe adalah murid seorang tosu perantau di perbatasan utara dan sekarang suhu telah meninggal dunia. Oleh karena tidak mempunyai wali lain, terpaksa boanpwe memberanikan diri menghadap locianpwe,” jawabnya sedih sekali. Ia dapat mengatur suaranya demikian berduka sehingga Ceng Ceng dan ibunya merasa terharu.

Akan tetapi Lie Kong memandang tajam penuh selidik ke arah pemuda di depannya itu, kemudian ia berkata, suaranya tetap tenang akan tetapi dingin dan berpengaruh, “Orang muda, tidak gampang mendapatkan tangan puteri tunggal kami secara begitu saja. Kepandaianmu memang memenuhi syarat, cukup tinggi. Akan tetapi kepandaian tidak akan ada artinya kalau orang tidak dapat mempergunakannya untuk maksud baik. Sekarang dangarlah syarat kami. Kami telah kehilangan sebuah kitab pelajaran ilmu Silat Pat-siat-jut-bun. Kitab itu dicuri oleh dua orang perempuan jahat dari Ui-tiok-lim, sarang penjahat iblis Liok Kong Ji. Kalau kau bisa merampas kembali kitab itu dan memberikannya kepada kami, nah, permintaanmu akan dapat kami pertimbangkan."

Mendengar ini, berseri wajah Cui Kong. Kalau hanya itu syaratnya, apa sih sukarnya? Kitab pelajaran Pat sian-jut-bun telah berada di tangan ayahnya, dan bukan hal yang sukar baginya untuk mencurinya. “Baiklah, lo cianpwe. Boanpwe sanggup dan paling lama dalam waktu satu bulan kitab itu pasti akan boanpwe haturkan di depan locianpwe. Selamat tinggal, boanpwe bermohon diri.”

Setelah berkata demikian, Cui Kong memberi hormat kepada Lie Kong suami isteri, mengerling diiringi senyum manis kepada Ceng Ceng, kemudian dengan sigapnya ia meloncat ke atas perahu kecilnya yang masih tarapung-apung tak jauh dari situ. Ini saja sudah membuktikan kelihaiannya. Perahu kecilnya terpisah empat tombak lebih dan meloncat ke atas perahu kecil ringan yang bergoyang-goyang. Itu merupakan kepandaian ginkang yang tinggi.

Karena terlampau girang mendengar syarat yang amat mudah baginya itu, Cui Kong berlaku kurang hati-hati. Ia tidak tahu betapa Lie Kong makin menaruh curiga kepadanya. Permintaan Lie Kong ini sebetulnya sama sekali tak boleh dibilang ringan. Bagi orang lain, merampas kembali kitab dari tangan Lie Kong Ji di Ui-tiok-lim, bukan hal semudah itu. Akan tetapi pemuda ini bahkan dengan muka berseri berani memastikan akan berhasil dalam satu bulan.

Hal ini sudah merupakan jawaban yang amat mencurigakan Pertama, kalau pemuda itu tidak pasti akan berhasil, tak mungkin dia begitu bergembira. Kedua. Bahkan dia berani memastikan dapat berhasil dalam satu bulan, itu berarti bahwa pemuda ini sudah tahu akan kepindahan Liok Kong Ji ke laut selatan. Karena, andaikata mencari kitab itu ke Ui-tiok-lim, perjalanan pulang pergi saja ke Ui tiok-lim akan mamakan waktu berbulan-bulan!

“Pemuda itu mencurigakan sekali,” kata pendekar yang cerdik dan waspada ini, "siapa tahu kalau-kalau dia itu mempunyai hubungan dengan penjahat iblis Liok Kong Ji."

"Akan tetapi sikapnya demikian sopan santun juga kepandaiannya demikian tinggi,” bantah isterinya.

“Kau tahu apa?” kata Lie Kong mencela. "Dahulu di waktu mudanya Liok Kong Ji si Iblis juga seorang pemuda sopan dan berkepandaian tinggi.”

"Ayah menurut pendapatku, dia bukan orang jahat. Buktinya dia telah merampaskan kembali kudaku dari tangan pencuri sela Ceng Ceng berani.

“Hem hem, apa kau melihat sendiri? Betul dia berkata demikian, akan tetapi kau tidak melihat sendiri ia bettempur melawan pencuri kuda.”

“Kau memang terlalu curiga,” mencela Souw Cui Eng kepada suaminya.

"Kita lihat saja. Mudah-mudahan kecurigaanku keliru."

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Apa yan g didengar oleh Pek-thouw- tiauw-ong Lie Kong dari percakapan Pek-kek Sam-kwi tentang Liok Kong Ji memang betul. Orang yang licin sekali itu setelah terlepas dari tangan Tiang Bu dapat menyelamatkan diri dan pindah ke selatan. Ia merasa tidak aman. Tadinya hanya Wan Sin Hong seorang yang ia takuti. Malah bel akangan ini ia tidak begitu jerih lagi terhadap Sin Hong setelah ia tinggal di Ui tiok-lim dan selain kepandaiannya sendiri sudah banyak maju, juga ia dilindungi oleh lima orang saudara angkatnya. Akan tetapi, sungguh tidak nyana sekali lima orang pembantunya itu tewas semua oleh Tiang Bu puteranya sendiri, putera keturunannya yang hanya satu-satunya.

Malah ia sendiri hanya dengan kecerdikannya saja dapat meloloskan diri. Sekarang merasa makin tidak aman lagi, tahu bahwa Tiang Bu takkan mau berhenti mencarinya untuk membalas dendam, untuk membunuhnya. Kalau Kong Ji teringat betapa putera keturunannya sendiri hendak membunuhnya, mau tak man hatinya menjadi perih sekali. Ia takut melawan Tiang Bu, maklum bahwa kesaktian pemuda itu sekarang bahkan jauh melebihi kepandaian Sin Hong atau kepandaian tokoh yang manapun juga yang pernah ia ketahui.

Kemudian ia teringat kepada Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, kakek buntung yang amat lihai. Hanya kakek buntun g ini yang akan dapat membantunya. Dan kebetulan sekali, kakek itu sekarang sudah pindah ke selatan, tempat yang amat terpencil, di sebuah pulau kosong yang disebut Pek houw-to (Pulau Macan putih), Andai kata kakek itu masih berada di utara masih ada bahaya lain.

Di utara adalah tempat pasukan-pasukan Mongol, ia tahu bahwa diam-diam Jengis Khan tidak suka kepadanya. Raja besar itu memberi hadiah kepadanya karena memang tadinya ia membantu, akan tetapi setelah ia mengundurkan diri tidak mau membantu penyerbuan orang Mongol ke barat. Jengis Khan menjadi curiga dan tentu akan mencelakainya.

Demikian, Liok Kong Ji lalu pergi menyusul Cun Gi Tosu ke P ulau Pek-houw to. Ia diterima baik oleh kawannya ini yang maklum bahwa kedatangan Kong Ji berarti memperkuat kedudukannya. Kong Ji diam-diam lalu mendatangkan selir-selirnya yang ia sayang, lima orang jumlahnya dan sebentar saja pulau kosong itu berubah menjadi ramai dan indah, berkat pembiayaan Kong Ji yang masih mempunyai harta simpanan. Hanya Cui Kong yang tidak betah tinggat lama-lama di pulau itu dan pemuda ini sering kali pergi merantau ke luar pulau.

Di atas pulau ini, Liok King Ji memperdalam ilmu silatnya. Dengan tekun ia mempelari kitab-kitab dari Omei-san yang terjatuh ke dalam tangannya. Dia sendiri mendapatkan kitab Swat lian-kiam-coan-si yang sudah dilatih dengan baik, kemudian kitab silay Pat-sian-jut-bun yang didapatkan oteh Cui Lin din Cui Kim juga telah dipelajari sampai hafal benar. Akhirnya ia membuka-buka kitab Delapan Jalan Utama yang ia ambil dari mayat Toat-beng Kui bo. Tadinya Cun Gi Tosu yang mempelajari kitab ini, akan tetapi tosu ini terlalu bodoh sehingga mengira bahwa kitab ini hanya kitab pelajaran Buddha biasa saja.

Akan tetapi begitu Kong Ji melihatnya dengan girang ia dapat memecahkan rahasia kitab itu. Sama sekali bukan hanya sekedar pelajaran kebatinan dari Agama Buddha, melainkan pelajaran ilmu silat yang amat hebat. Akan tetapi di samping kehebatannya, juga sukarnya bukan main sehingga payah Kong Ji mempelajarinya. Isi kitab ini mengan dung delapan sari pelajaran lweekang dan penyatur hawa dalam tubuh, setiap pelajaran mempunyai pecahan-pecahan yang amat banyak.

Setiap huruf mengandung pelajaran tinggi dan Kong Ji bukanlah seorang ahli dalam ilmu sastera, maka dapat dibayangkan betapa ia memeras otaknya dan dalam waktu setengah tahun ia baru dapat memetik buahnya dua saja di antara delapan mata pelajaran itu. Sungguhpun begitu, yang dua ini sudah mendatangkan kepandaian yang mujijat, tenaga lweekangnya meningkat tinggi dan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh dapat ia salurkan sampai ke ujung pedang. Semua ini ia latih se cara diam-diam. Cun Gi Tosu sendiri sampai tidak mengetahuinya.

Demikianlah, sekali lagi Kong Ji mengalami hidup tenteram dan aman. Ia pikir, tak mungkin Sin Hong atau Tiang Bu dapat mencarinya. Andaikata mereka dapat mencarinya, ia juga tidak takut. Selain di sampingnya ada Cui Kong dan Cui Gi Tosu yang lihai, juga dia sendiri sanggup menghadapi mereka. Ia malah ingin se kali men coba kepandaian barunya dengan Sin Hong atau Tiang Bu.

Sementara itu, Wan Leng. puteri Sin Hong yang diculik oleh Cun Gi Tosu juga hidup di Pulau Pe k Houw-to, ia dirawat oleh para selir Liok Kong Ji yang rata-rata sayang kepada bocah mungil ini. Juga Cun Gi Tosu kelihatan sayang kepada calon muridnya.

********************

Kita ikuti perjalanan Pendekar Sakti Wan Sin Hong yang mencari jejak Can Gi Tosu, penculik puterinya. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah mengurus pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee Goat. Wan Sin Hong lalu meninggalkan Kim bun-to untuk pergi mencari puterinya yang di culik oleh Lethian-tung Cun Gi Tosu. Ia sudah mendengar bahwa bala tentara Mongol kini menghentikan serangannya ke selatan dan mengalihkan perahatiannya ke barat.

Dan ia tahu bahwa musuh besarnya itu ialah pembantu orang Mongol, di samping Liok Kong Ji. Oleh karena itu, walaupun perjalanan ke utara amat berbahaya dan tidak sembarang orang berani ke sana, Sin Hong melupakan bahaya, merantau ke utara lewat perbatasan Tiongkok utara untuk mencari jejak musuh besar yang melarikan puterinya itu.

Tepat sekali keputusan yang diambil Sin Hong untuk melakukan perantauan seorang diri tampa membawa isterinya, karena perjalanan yang ditempuhnya ini memang amat berbahaya. Sungguh pun isterinya juga gagah perkasa dan jarang ada orang yang mampu menandinginya, namun memasuki wilayah Mongol yang rakyatnya sedang bergolak itu, apa lagi menghadapi Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji, benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya. Baru saja memasuki wilayah Mongol, selagi enak berjalan di dalam hutan belukar, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar belasan batang anak panah yang cepat sekali datangnya!

Baiknya Sin Hong bukan pendekar basa saja, melainkan seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan kewaspadaan yang mengagumkan. Begitu mendengar bersiutnya anak panah dan melihat sinar berkelebat dari kanan kiri, cepat ia telah menggerakkan kedua tangannya ke kanan kiri dan ujung lengan bajunya dengan tepat mengibas runtuh belasan anak panah itu.

Melihat bentuknya anak panah yang bergerak laju, tahulah Sin Hong bahwa dia dikepung orang Mongol. Memang anak panah Mongol amat terkenal dan di dalam perang di selatan yang lalu, tentara Tiong-goan kewalahan menghadapi serangan anak panahya amat kuat dan laju ini. Benar saja dugaannya tempat yang tadinya sunyi itu tiba-tiba menjadi ramai dengan munculnya dua puluh orang Mongol dan terdengar suara kuda meringkik. Heran hati Sin Hong bagaimana kuda dapat dilatih sampai berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apa-apa dalam pemasangan bai hok (barisan pendam) itu.

Sambil berteriak-teriak menyeramkan, dua puluh orang Mongol seorang di antaranya berpakaian sebagai perwira, menerjang dan mengeroyoknya tanpa bertanya lagi. Ini tidak aneh karena dalam masa seperti itu, kedatangan seorang berpakaian seperti orang Han tentu dianggap musuh atau mata-mata. Senjata senjata bermacam macam, ada pedang, golok dan tombak. Bagaikan hujan sekalian sanjata itu menyambar ke arah tubuh Wan Sin Hong dan kalau semuanya mengenai tubuh, tentu tubuh itu akan menjadi hancur.

Sin Hong tidak sudi hanyak bersoal jawab. Walaupun dia tidak perdulikan urusan negara dan perang, akan tetapi orang-orang Mongol sudah banyak merampok, membunuh dan membakari rumah rakyat, dengan demikian mereka menjadi juga musuhnya. Tampak sinar menyilaukan mata berkelebatan ke sana kemari, disusul jerit dan keluh kesakitan. Sebentar saja sembilan belas orang serdadu Mongol telah bergeletakan man di darah di atas tanah dan perwira tadipun sudah kehilangan pedangnya dan sekali totok perwira itu menjadi lemas.

Sin Hong sengaja tidak mau membunuh perwira itu. "Katakan di mana adanya thian-tung Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji.” Sin Hong mengancam dengan ujung pedangnya.

Semua perwira Mongol mempunyai kegagahan yang luar biasa. Mereka itu rata-rata tidak takut mati dan melakukan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Inilah sebuah di antara rahasia kekuatan bala tentara Mongol, setia dan berdisiplin. Demikian pula perwira yang sudah terjatuh ke dalam tangan Wan Sin Hong ini. Dia sudah tertotok dan tubuhnya tak dapat bergerak pula. Akan tetapi ia masih dapat bicara dan mendengar pertanyaan serta ancaman musuhnya ini, ia tertawa besar.

"Aku seorang perajurit sejati, sudah terjatuh ke dalam tangan musuh, mau bunuh mau siksa, silahkan. Kau kira aku takut mati?” jawabnya gagah.

Diam-diam Sin Hong kagum sekali. Tadi pun ketika ia mengamuk, tak seorangpun antara para perajurit Mongol itu ketakutan atau melarikan diri, sungguhpun kawan-kawan mereka roboh seorang demi seorang oleh pedang pendekar sakti itu. Kalau saja bala tentara Kin demikian setia dan gagah berani tidak nanti Kerajaan Kin demikian mudah dibikin kocar kacir oleh Jengis Khan, pikir Sin Hong.

"Kau benar-benar seorang tai-tiang-bu (seorang gagah setia) tulen. Aku suka benar akan orang yang berhati jujur dan setia. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke utara ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan untuk urusan pribadi. Salahmu sendiri kau datang-datang menyerangku dengan anak buahmu sehingga terpaksa aku harus membela diri. Juga sedikitnya merupakan hukuman akan perbuatan terkutuk anak buahmu ketika menyerbu ke selatan. Aku menanyakan dua orang itu, terutama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, adalah karena urusan pribadi. Kau sudah pecundangku dan sudah menjadi hak yang menang untuk mengambil nyawa yang kalah. Akan tetapi melihat kesetiaan dan kegagahanmu, aku mau menukar nyawamu dengan keterangan di mana adanya dua orang itu, atau terutama sekali Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Agar kau tidak ragu-ragu, baik kau ketahui bahwa aku sedang mencarinya untuk merampas kembali puteriku yang ia culik.”

Sin Hong yang sudah banyak pengalaman dan amat cerdik itu tahu bahwa berhadapan dengan orang yang jujur dan setia seperti ini, lebih baik ia berterus terang.

"Mata-mata selatan memang pandai menipu dan membohong," jawab Perwira Mongol itu berkeras.

"Aku bukan mata-mata. Kalau aku mata-mata masa aku memasuki wilayah Mongol secara berterang begini?” Wan Sin Hong menjawab sabar.

"Bagaimana aku bisa yakin sebelum tahu betul siapa kau? Siapa namamu?"

Wan Sin Hong mulai jengkel. Dia menang dia yang menawan, akan tetapi sebaliknya dia malah "diperiksa" oleh tawanannya ini. Akan tetapi karena membutuhkaa keterangan di mana adanya musuh besarnya, ia menahan sabar dan menjawab, "Namaku Wan Sin Hong”

Perwira itu membelalakkan matanya. "Kau... Wan Sin Hong yang disebut Wan-bengcu? Raja besar kami sering kali menyebut-nyebut namamu sebagai seorang pendekar besar yang sakti, bukan pembela kerajaan selatan akan tetapi sayang tidak mau membantu pergerakan kami yang suci. Pantas saja aku dan sembilan belas orangku kalah! Ah, jadi kau Wan-bangcu...?"

“Apa kau sekarang mau menolongku?”

"Tentu saja! Manusia-manusia macam Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji itu mana ada harga kulindungi namanya!”

Sin Hong cepat membuka totokannya, membebaskan kembali orang itu. "Nah, ceritakanlah di mana mereka."

"Mereka tidak membantu kami lagi. Malah mereka itu diancam oleh raja besar kami karena mereka mengingkari janji, tidak mau membantu penyerbuan ke barat. Kalau kami mendapat kesempatan menyerbu ke wilayah selatan lagi, manusia-manusia macam itu pasti akan kami binasakan! Menurut keterangan para penyelidik kami, Liok Kong Ji sekarang bersembunyi di Ui-tiok-lim di lembah Sungai Luan-ho di luar tembok Kota Raja Kin, sedangkan Cun Gi Tosu katanya melarikan diri ke selatan dan kabarnya tinggal di sebuah pulau kosong di laut selatan, namanya Pulau Harimau Putih..."

Wan Sin Hong percaya penuh. Keterangan seorang setia seperti ini tak mungkin bohong. Ia mengangguk-angguk lalu berkata, "Terima kasih aku harus kembali ke selatan.”

Perwira itu memandang kepadanya dengan mulut celangap, “Kau... kau membebaskan aku? Tidak membunuhku?”

"Mengapa harus kubunuh? Kita tidak bermusuhan."

"Akan tetapi.. kalau aku menjadi engkau, setiap orang musuhku tentu akan kubunuh. Negara kita kan sedang saling berperang.” Saking jujurnya perwira itu malah menyatakan keheranannya mengapa ia tidak dibunuh!

Sin Hong tersenyum. Ia memang kagum sekali kepada orang ini, maka ia suka membuang waktu untuk memberi sedikit kuliah, "Perang adalah perjuangan bunuh membunuh di antara sesama manusia yang sama sekali tidak punya urusan pribadi, bahkan saling tidak mengenal! Memang seorang perajurit harus membunuh musuhnya selagi negara dalam perang bukan sekali-kali membunuh karena rasa benci perseorangan, melainkan membunuh agar jangan dibunuh dan membunuh untuk memenuhi kewajiban sebagai perajurit terhadap negara. Memang perjuangan dalam perang untuk membela nusa bangsa adalah tugas suci setiap orang gagah. Akan tetapi sekali saja kau membunuh tentara lawan dengan hati mengandung kebencian pribadi, maka sifat membunuh itu menjadi keji dan hina! Kau boleh membunuh seribu orang tentara lawan tanpa memperdulikan siapa lawan itu, tanpa rasa benci kepada orangnya, dengan pegangan bahwa dia itu musuh negara dan harus dibunuh. Akan tetapi, sekali-kali kau tidak boleh membunuh dengan rasa benci perseorangan. Kalau aku membunuhmu, apa alasanku? Aku tidak ada parmusuhan dengan kau, juga aku bukan tentara lawanmu. Kalau tadi aku membunuh anak buahmu adalah karena aku dikeroyok dan aku diserang lebih dulu sehingga aku harus membela diri. Dengan kau lain lagi, kau seorang gagah dan setia, kau telah memberi keterangan penting kepadaku, Nah, selamat tinggal.”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sin Hong sudah lenyap dari depan mata perwira itu yang mula-mula melongo, kemudian ia berjingkrak seperti orang kemasukan setan.

“Ha ha ha. Aku sudah bertemu dengan Wan Sin Hong! Aku mengalami hal luar biasa yang dapat kudongengkan kepada anak cucuku! Baru kali ini aku mengalami kekalahan terhormat dari orang besar seperti Wan-bengcu!” Orang itu tertawa-tawa kemudian lari ke utara untuk mencari kawan-kawan guna merawat para korban pedang Wan Sin Hong.

Wan Sin Hong memutar perjalanannya sembilan puluh derajat. Ia kini memutar ke selatan. Ada keinginan hatinya untuk mencari Liok Kong Ji di Ui-tiok-lim untuk membuat perhitungan terakhir dengan musuh lama ini. Akan tetapi ia menekan keinginan ini karena perhatiannya tercurah kepada puterinya.

la harus mencari dan menolong dulu puterinya, baru kelak membereskan perhitungan dangan Kong Ji. Oleh karena itu ia tidak mencari ke Ui-tiok-lim, melainkan terus melakukan perjalanan ke selatan yang luar biasa jauhnya. Di dalam perjalanan ini, Wan Sin Hong teringat akan perjalanannya, ketika ia mencari Tiang Bu yang terculik oleh Hui-eng Niocu yang sekarang sudah menjadi isterinya.

Kalau saja ia lebih dulu pergi ke Ui-tiok- lim, ada kemunngkinan ia akan menjadi saksi betapa Tiang Bu mengobrak-abrik tempat persembunyian Liok Kong Ji ini. Dalam melaksanakan perjalanan ke selatan, Wan Sin Hong menuju ke barat lebih dulu sampai ia bertemu dengan Sungai Huang-ho, kemudian ia nyambung perjalanannya dengan sebuah perahu setelah lebih dulu ia singgah di Luliang-san untuk mengunjungi makam suhunya.

Perjalanan dengan perahu amat cepat karena selain perahu dibawa aliran sungai, juga Sin Hong menambah dengan dayungnya yang digerakkan dengan tenaga. Terjadi pertemuan dan peristiwa yang menarik hati ketika ia tiba di dekat kota Lok-yang, di mana air Sungai Huang-ho dari utara itu membelok ke timur. Memang Sin Hong hendak mendarat dan melanjutkan perjalanan darat lagi terus ke selatan. Akan tetapi sebelum ia mendarat, ketika perahunya tiba di daerah berhutan yang liar, tiba-tiba di depannya menghadang lima buah perahu kecil yang diatur berjajar, sengaja menghalangi perahunya.

Dari pengalamannya. Wan Sin Hong tahu bahwa penghadangnya tentulah golongan bajak. Akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Empat buah perahu masing-masing hanya ditumpangi dua orang berpakaian hitam yang memegang golok, sedangkan perahu ke lima diduduki tiga orang, yaitu seorang kakek, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik. Tiga orang ini lebih menarik perhatian Sin Hong karena mereka memperlihatkan sifat-sifat gagah.

Selagi Sin Hong hendak menegur mengapa ia dihadang, tiba tiba ia mendengar suara khim (alat musik) ditabuh oleh pemuda itu dan si gadis cantik bernyanyi, sedangkan kakek itu mengambil irama dengan ketokan dayungnya pada air, Sin Hong memasang telinga memperhatikan isi nyanyian.

"Serigala utara pergi menghilang.
Datang banjir dan belalang
Tinggalkan uang dan barang
Baru perahu takkan terhalang!

Hati siapa takkan risau?
Siapa pula akan hirau?
Membuka tangan membantu petani
Kalau bukan bangsa sendiri.


Suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi mengandung kekuatan dapat menembus angin dan mencapai telinga Sin Hong, demikian pula permainan khim. Ini semua selain merupakan pernyataan “minta barang dan uang", juga merupakan demonstrasi lweekang yang tinggi dari pemuda dan gadis itu. Akan tetapi, sudah tentu saja demonstrasi pemuda dan gadis itu merupakan permainan biasa bagi Sin Hong. Yang amat menarik perhatian Sin Hong adalah kakek yang memukul-mukulkan dayungnya ke air untuk menerbitkan suara berirama.

Dayung itu dipukul-pukulkan biasa saja akan tetapi perahu sedikitpun tidak bergoyang dan air sedikitpun tidak memercik ke atas. Namun, setiap kali dayung mengenai air terdengar bunyi “plak" yang keras dan air tertekan ke dalam sedangkan di sekitarnya menaik ke atas...!

Tangan Gledek Jilid 40

Tangan Gledek Jilid 40

SAMPAI lama Ceng Ceng berdiri memandang, kemudian ia menjadi marah. Tentu pemuda ini yang telah mencuri kudanya! Ia melepaskan kendali kudanya, melangkah maju mendekati pemuda itu sambil membentak.

"Pencuri kuda kurang ajar! Turunlah kau menerima hajaran!"

Pemuda itu membuka matanya memandang kepada Ceng Ceng dengan mata bersinar dan bibir tersenyum. "Nona, kau memaki siapa?" tanyanya, suaranya halus, sikapnya sopan.

“Memaki kau, siapa lagi? Kau pencuri kuda hina, turunlah kalau kau mempunyai kepandaian!” Dilolosnya pedang dari pinggangnya dan gadis ini siap untuk menyerang.

Pemuda itu tersenyum tenang. "Nona, aku Cui Kong selamanya tidak pernah mencuri kuda. Harap kau dapat memperbedakan antara pencuri kuda dan orang baik-baik.”

Memang pemuda ini bukan lain adalah Liok Cui Kong. Setelah berhasil membunuh Coa Hong Kin dan Go Hui Lian, pemuda ini lalu melakukan perjalanan ke selatan menuju ke tempat tinggal ayah angkatnya yang baru, yaitu di sebuah pulau di pantai selatan, mendekati Lo thian-tung Cun Gi Tosu yang juga melarikan diri ke selatan setelah di utara ia tidak diterima baik oleh Jengis Khan.

Kebetulan sekali di tengah jalan ia melihat Ceng Ceng. Sebagai seorang pemuda mata kerarjang yang bejat moralnya, tentu saja melihat seorang dara cantik seperti Ceng Ceng. hati Cui Kong tergorcang hebat. Akan tetapi, melihat sikap dan gerak gerik Ceng Ceng, pula menyaksikan kepandaian gadis ini, timbul perasaan aneh dalam diri Cui Kong.

Berbeda dengan perasaan kalau melihat gadis-gadis lain. ia amat tertarik dan timbul kasih sayang. Inilah agaknya cinta yang bersemi di dalam hatinya, oleh karena manusia bagaimana jahatpun sekali waktu akan jatuh hati kepada seorang tertentu. Ini pula sebabnya maka Cui Kong tidak mau bermain kasar. Ia sengaja mencari kuda nona itu dan sekarang menanti di sini, siap mencari alasan baik untuk berkenalan.

Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar jawaban pemuda itu. Ia tidak mengenal nama Cui Kong, dan ia ragu-ragu apakah ucapan itu betul. "Bagaimana kau bisa bilang bukan pencuri kuda kalau kudaku hilang dari rumah penginapan, dibawa orang pada tengah malam, terus kukejar di sini dan kudapatkan kuda itu berada di sini bersamamu? Bagaimana kau bisa menyangkal?”

Cui Koug mengangguk-angguk berkata, masih tersenyum memikat hati. “Memang ada kulihat tadi seorang laki-laki membalapkan kuda lewat dekat ini. Karena curiga melihat orang pagi-pagi membalapkan kuda yang besar dan indah, aku menegurnya. Akan tetapi orang itu malah mengayun pecut menyerangku. Aku menangkap pecutnya dan membetotnya sehingga orang tidak punya guna itu roboh terjungkal. Dua kali ia menyerangku lagi akan tetapi dua kali ia terjungkal lalu melarikan diri. Kuda itu ia tinggalkan dan kuda baik ini ternyata tidak mau pergi. Nah, aku sudah memberi keterangan, apakah kau masih hendak memaki aku sebagai maling kuda?"

Ceng Ceng memang seorang gadis lincah pandai berdebat. Mendengar penuturan ini ia menjawab, "Enak saja kau mendongeng! Apa buktinya kebenaran dongenganmu itu dan siapa bisa bilang kalau kau tidak membohong?"

“Nona, ada dua sebab kuat yang menjelaskan bahwa aku bukan pencuri kuda. Aku sudah menyaksikan kepandaianmu, kalau aku yang mencuri, perlu apa aku masih melarikan diri? Kedua, andaikata aku yang mencuri lalu lari ketakutan, perlu apa aku sekarang musti menantimu di sini? Coba kau pikir baik-baik."

Memang beralasan sekali ucapan ini, akan tetapi perut Ceng Ceng sudah menjadi panas. Kalau saja Cui Kong memberi alasan yang ke dua saja, ia sudah akan merasa puas dan percaya. Akan tetapi, alasan pertama dari pemuda itu menyatakan bahwa pemuda itu memandang rendah kepadaianya! Cui Kong bilang bahwa dia sudah menyaksikan kepandaian Ceng Ceng dan andaikata dia yang mencuri kuda, ia takkan lari. Bukankah itu berarti bahwa pemuda ini menganggap kepandaian Ceng Ceng tidak berapa?

"Bagus, tidak tahunya kau selihai itukah? Boleh, boleh kita coba-coba. Kalau kau betul sudah dapat mengalahkan pencuri kuda, tentu kepandaianmu lebih tinggi dari pada aku. Turunlah!"

Setelah berkata demikian, Ceng Ceng menggunakan kakinya mendorong batu besar yang diduduki oleh Cui Kong. Hebat sekali lweekang nona ini. Batu yang beratnya ada seribu kati ini menjadi miring!

"Ayaaa, kiranya kau sekuat ini!” Seru Cui Kong, benar-benar terkejut. Tadinya ia hanya melihat gadis itu menimpukkan pasir merobohkan banyak burung sekaligus. Kepandaian ini indah, akan tetapi belum menunjukkan bahwa gadis itu seorang ahli silat tinggi. Melihat usianya yang begitu muda, Cui Kong menganggap gadis itu tentu tidak sedemikiah hebat. Akan tetapi dorongan kaki pada batu besar tadi benar-benar mendemonstrasikan tenaga yang hebat dan kepandaian yang tinggi!

Sementara itu, Ceng Ceng juga kagum melihat tubuh yang tadinya bersila di atas batu, kini, "melayang” turun dalam kedudukan masih bersila seakan-akan pemuda itu pandai terbang. Padahal inipun demonstrasi ginkang yang hebat dari Cui Kong, yang mempergunakan ujung-ujung jari kakinya menotol batu di bawahnya sehingga tubuhnya dapat mencelat turun. Ketika tiba di tanah, kedua kakinya dilepas sehingga ia jatuh be rdiri dengan ringan dan tenang. Ceng Ceng bersiap-siap, ia mengandalkan Ilmu silatnya Pat-sian-jut-bun, sama sekali tidak mengira bahwa pemuda di depannya inipun ahli dalam ilmu silat itu!

Soalnya begini. Seperti telah diceritakan dahulu, kitab Pat-sian-jut-bun yang tadinya terjatuh ke dalam tangan Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan diberikan Ceng Ceng, telah dirampas oleh Cui Lin dan Cui Kim dan akhirnya terjatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji. Akan tetapi sebelum terjatuh ke dalam tangan Liok Kong Ji, Cui Kong sudah mencuri lihat dan otaknya yang cerdas dapat menghafal isinya dan diam-diam iapun mempelajari ilmu silat ini. Oleh Liok Kong Ji kitab itu bahkan dijadikan bahan untuk mengatur barisan bambu di Ui tiok-lim, yang makin disempurnakan ilmu dari kitab ini.

Demikianlah Ceng Ceng sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ia berhadapan dengan tokoh Ui-tiok lim atau kakak angkat dari dua orang gadis yang mencuri kitabnya dan yang sekarang masih dicarinya itu.

"Nona, kau betul-betul hendak mengujiku? Boleh, boleh, akupun ingin sekali tahu sampai di mana tingginya kepandaian mu. Akan tetapi harap kau ingat bahwa aku betul-betul bukan pencuri kudamu dan kita bertempur hanya sebagai pibu persahabatan saja."

"Jangan banyak cingcong! Keluarkan senjatamu!" seru Ceng Ceng. Gadis ini belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda ini. Biarpun ia tertarik akan ketampanan wajah pemuda ini dan sifat-sifainya yang gagah, namun sebelum mengukur tinggi rendah kepandaiannya, mana bisa ia menaruh penghargaan?

Cui Kong mencabut keluar huncwenya menjawab, “Aku masih muda dan tidak doyan menghisap tembakau, akan tetapi huncwe ini sudah menjadi kawan lama yang selalu melindungiku, inilah senjataku nona. Kau majulah!”

Diam-diam Ceng Ceng menjadi agak gembira. Seorang yang mempergunakan senjata begitu aneh, tentu memiliki kepandaian tinggi dan ia ingin sekali tahu sampai bagaimana tingginya. "Lihat pedang!” serunya dan dengan gerakan manis sekali ia menusuk ke arah tenggorokan lawannya, kemudian pedang diteruskan dengan gerakan memutar ke atas ke bawah sedangkan tangan kirinya ditekuk di depan dada. Sekaligus ujung pedang itu menyerang tiga bagian tubuh yang berbahaya.

Melihat gerakan ini, Cui Kong terkejut sekali. Itulah gerakan Cui sian-sia-ciok (Dewa Arak Mamanah Batu) sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pat sian-jut-bun! Ia cepat memutar huncwenya ke depan tubuh sambil melompat mundur dan berkata. "Nanti dulu, nona. Seranganmu begitu lihai dan ganas, kalau sampai mengenai aku, bukankah nyawaku akan menghadap Giam-kun (Dawa Maut)?" ia berkelakar.

Ceng Ceng cemberut. "Kalau takut pedang jangan bicara sombong!"

"Aku seorang jantan tulen tidak takut mati, nona. Hanya aku khawatir akan mati dengan mata melek karena penasaran sebelum aku tahu siapa orangnya yang akan membunuhku. Pedang tidak bermata, nona. Sebelum ada kemungkinan dada ini tergores pedang aku harus tahu siapa gerangan nona yang gagah perksa ini? Kau sudah tahu, namaku Cui Kong. Akan tetapi siapa nona dan dari aliran manakah?”

"Namaku Lie Ceng, bukan dari aliran mana-mana. Ayahku Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong.”

Cui Kong pura-pura terkejut girang, padahal di dalam hatinya ia benar-benar terkejut dan cemas. Ia merasa punya dosa terhadap Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong karena bukankah Cui Lin dan Cui Kim telah mencuri kitab gadis ini? Dengan air muka kelihatan tercengang girang ia berseru sambil merangkapkan kedua tangan memberi hormat,

"Aduh, kiranya lihiap (pendekar wanita) adalah puteri dari Lie-locianpwe yang mulia. Maaf, maaf, aku yang bodoh tidak tahu dan berlaku kurang hormat. Memang lihiap tentu saja tidak mengenal namaku yang terpendam ke dalam lumpur, akan tetapi sebaliknya dari bawah lumpur aku sudah melihat rajawali kepala putih terbang melayang di angkasa raya."

Mendengar pujian yang muluk ini tentu saja hati Ceng Ceng merasa senang, akan tetapi ia masih penasaran. Serangan pertamanya tadi ternyata dengan mudah dapat ditangkis oleh Cui Kong, apakah pemuda ini betul-betul akan dapat menangkan dia...? Kalau betul demikian... hemmm, pemuda seperti ini lah kiranya yang patut... menjadi jodohnya! Merah muka Ceng Ceng dengan sendirinya ketika ia berpikir sampai di situ.

"Sudahlah, tak perlu banyak peradatan ini. Hayo kita selesaikan pibu kita!”

Cui Kong merasa girang mendengar nona itu menyebut “pibu", bukan pertandingan sungguh-sungguh, maka ia segera bersiap dan berkata, "Aku yang bodoh sudah siap menerima petunjuk dari lihiap."

Ceng Ceng tidak mau berlaku sungkan lagi. Pedangnya digerakkan amat cepatnya, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung rajawali mengamuk. Sinar putih seperti perak bergulung-gulung mengurung diri Cui Kong yang berlaku tenang tenang saja. Pemuda yang sudah tahu akan kelihaian ilmu Pak-sian-jut-bun ini, tidak mau berlaku gugup dan tidak mau mengikuti pergerakan pedang lawan. Kalau ia mengikutinya, akan celakalah dia. Inilah kehebatan ilmu pedang itu yang harus dilawan dengan tenang. Ia hanya memperhatikan sinar pedang menyambar ke arahnya untuk ditangkis dengan huncwenya.

Ilmu silat Cui Kong masih setingkat lebih tinggi dari pada gadis ini, juga tenaganya lebih besar. Oleh karena itu ia dapat melayani Ceng Ceng dengan baik. Andaikata ia belum mencuri baca kitab Pat-sian-jut-bun, kiranya dia takkan depat menghadapi gadis ini demikian enak, sedikitnya dia harus mengerakkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi.

Sebaliknva, Ceng Ceng merasa seakan-akan menghadapi tembok baja yang amat kuat. Biarpun pemuda itu bergerak lambat dan tenang namun kemana saja pedangnya menyerang di situ sudah ada huncwe yang menangkis. Dan setiap tangkisan huncwe membuat telapak tangan tergetar. Hati Ceng Ceog ikut tergetar pemuda itu benar-benar lihai. Kiranya tidak kalah lihai oleh Tiang Bu. Akan tetapi dia pernah dikalahkan oleh Tiang Bu dan ia merasa penasaran apakah pemuda tampan yang lihai inipun dapat mengalahkannya.

"Hayo kau balas menyerang!" bentaknya berulang-ulang melihat pemuda itu hanya menjaga diri saja.

"Mana aku berani!" jawab Cui Kong mengambil hati. Tentu saja pemuda ini tidak tahu akan suara hati gadis ini. Dia tertarik kepada Ceng Ceng dan berusaha mengambil hatinya, ia takut kalau kalau gadis itu akan merasa terhina dan marah kalau sampai ia mengalahkannya, maka ia hanya mempertahankan diri saja. Tidak tahunya gadis ini bahkan menghendaki sebaliknya.

“Bagaimana tidak berani, ini pibu namanya! Hayo kau balas, hendak kulihat apa kau mampu mengalahkan aku."

"Aku tidak berani melukaimu. nona. Aku tidak mau kau menjadi sakit hati dan marah,” jawab Cui Kong halus sambil menangkis tusukan pedang sehingga lagi lagi terdengar bunyi "tringg" yang amat nyaring dibarengi bunga api berpijar.

“Bodoh! Kalau pedangku terlepas dari tangan aku menyerah kalah," kata pula Ceng Ceng.

Mendengar ini, Cui Kong cepat menggerakkan huncwenya, kini membalas dengan totokan-totokan berbahaya. Gerakannya cepat sekali karena ia telah mainkan ilmu pedang yang ia pelajari dari gurunya, mengambil dari kitab Omei-san yang terjatuh ke dalam tangan Lo. Thian-tung Cun Gi Tosu, yaitu kitab Soan-hong-kiam-coan-si (Kitab Ilmu Pedang Angin Puyuh). Pedang ini sekarang diganti dengan huncwe dan diputar sampai mengeluarkan angin dingin.

Sebetulnya, sama-sama kitab dari Omei-san kehebatan ilmu yang dimainkan oleh Cui Kong dengan Pat-sian jut-bun yang dimainkan Ceng Ceng itu mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Namun karena Cui Kong memangnya menang setingkat, tentu saja permainannya juga lebih lihai dan Ceng Ceng sebentar saja merasa pening. Ia mencoba menangkis dengan pedangnya, akan tetapi pedang itu tertempel huncwe dan ikut berputaran dan terlepas dari pegangannya, berpindab ke tangan kiri Cui Kong!

Dengan sikap manis budi dan merendah Cui Kong memutar pedang itu dan memegang ujungnya. Gagangnya ia angsurkan kepada Ceng Ceng sambil berkata. "Karena kurang hati-hati pedangmu terlepas, nona. Terimalah kembali dan maafkan aku, kiam-hoat mu benar-benar hebat sekali aku merasa kagum."

Ucapan ini dikeluarkan dengan sikap sungguh-sungguh sehingga sama sekali Ceng Ceng tidak merasa diejek. Akan tetapi, tetap saja mukanya menjadi merah sekali ketika ia nerima kembali pedangnya dan me masukannya kedalam sarung pedang.

"Dalam ilmu pedang aku telah kalah, akan tetapi aku masih hendak menecoba ilmu silat tangan kosong!" kata Ceng Ceng. Ia tahu bahwa sikapnya ini keterlaluan. Sudah jelas bahwa ia kalah lihai, tantangannya ini benar-benar bocengli (tidak pakai aturan). Akan tetapi gadis ini memang keras kepala dan pada saat itu ia memang ingin sekali tahu apakah benar-benar pemuda tampan ini lebih lihai dari padanya dalam sagala macam ilmu silat.

Cui Kong tersenyum. Gadis ini cantik jelita dan keras hati, puteri Pak-thouw-tiauw-ong pula. Hemm, aku harus dapat menundukkannya. Jarang di dunia ini bisa kudapatkan gadis sehebat ini. “Baiklah, nona. Aku yang bodoh hanya menurut saja atas segala kehendakmu, dan tentu saja aku girang mendapat petunjuk-petunjuk dari puteri Pek-thouw-tiauw-ong yang ternama."

”Lihat pukulan!" Ceng Ceng terus saja menyerang tanpa mau membuang waktu lagi. Begitu menyerang ia mempergunakan ilmu silat ciptaan ayahnya, yaitu Pek-tiauw-kun-hwat (Ilmu Silat Rajawali Putih). Ayahnya mencipta ilmu silat ini dari gerak-gerak pek-thouw-tiauw (rajawali kepala putih) peliharaannya.

Ketika dua ekor rajawali itu pertama kali dipeliharanya dan masih liar, sering kali Lie Kong sengaja mengajaknya bertempur atau ia menyuruh isterinya melayani mereka dan diam-diam ia memperhatikan gerak gerik mereka. Cara mereka mengelak, menangkis dan menyerang. Dari ”latihan” inilah pendekar pantai timur ini akhirnya berhasil mencipta Pek-tiauw-kun-hwat yang merupakan gabungan dari gerak gerak rajawali dicampur gerak-gerak tipu ilmu silat tinggi yang sudah ia pelajari semenjak kecil.

Gerakan Ceng Ceng amat lincah. Kedua tangannya bergerak-gerak, kadang-kadang mekar seperti sayap rajawali, kadang-kadang menotok seperti paruh rajawali, tubuhnya menyambar ke atas ke bawah, ke dua kakinya kadang-kadang berjungkit, kadang-kadang merendah atau meloncat loncat tinggi. Pendeknya amat indah dipandang akan tetapi amat berbahaya dihadapi lawan.

“Bagus sekali! Kau hebat, nona,” berkali-kali Cui Kong mengeluarkan suara pujian bukan hanya sekedar untuk mengambil hati akan tetapi memang ia merasa kagum sekali.

Sifat gadis yang lincah jenaka ini memang cocok sekali dengan ilmu silat ini. Dan Cui Kong girang mendapat kesempatan “main-main" dengan gadis seperti ini, sungguhpun main-main ini dapat membahayakan keselamatannya karena pukulan-pukulan gadis itu ternyata bukan main-main. Tingkat kepandaian Cui Kong memang masih menang setingkat, akan tetapi ia harus berlaku hati-hati sekali kalau tidak mau terkena pukulan yang berbahaya.

Seratus jurus lewat dan belum juga Ceng Ceng dapat mendesak Cui Kong. Sebenarnya kalau Cui Kong mau, ia tentu akan dapat robohkan lawannya ini dalam seratus jurus, dia sudah banyak mempunyai ilmu pukulan yang aneh-aneh dan beracun. Namun menghadapi Ceng Ceng ia menjadi lemah, tidak tega mencelakainya. Ia ingin merebut hati gadis ini tanpa kekerasan, melainkan dengan kehalusan dan cinta kasih.

Di lain pihak, Ceng Ceng makin lama makin kagum terhadap pemuda ini. Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda demikian pandainya, kecuali Tiang Bu. Ia sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja tidak mampu ia mendesak. Pertahanan pemuda itu kuat seperti baja sehingga semua serangannya membalik.

Cui Kong berpikir bahwa kalau dalam pertandingan tangan kosong ini ia mengalahkin gadis itu, mungkin gadis itu akan menjadi tersinggung hatinya dan berbalik membencinya. Harus kuberi kesempatan kepadanya supaya kali ini dia menang, pikirnya. Cepat ia menyerang akan tetapi berbalik memberi kesempatan dan lowongan.

Sebagai seorang ahli silat ia tentu saja Ceng Ceng dapat melihat lowongan ini dan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik. Tangan kirinya menyambar ke arah dada yang terbuka dengan pukulan keras, akan tetapi segera kepalannya dibuka dan hanya telapak tangannya yang mendorong sekuat tenaga.

"Bukk!” Cui Kong terjengkang dan berjungkir balik ke belakang, Sedangkan Ceng Ceng merasa tangannya kesemutan dan kaku. Bukan main kagetnya dan diam-diam ia menjadi makin kagum karena hal itu membuktikan bahwa tenaga lweekang pemuda itu tinggi.

"Nona lihai sekali. Aku Cui Kong mengaku kalah," kata Cui Kong sambil mengebut-ngebutkan bajunya.

Akan tetapi Ceng Ceng bukan anak kecil. Kini ia maklum bahwa pemuda itu sengaja mengalah dan merahlah mukanya. Makin tertarik hatinya, pemuda ini selain gagah perkasa, juga berbudi manis dan pandai merendah. Di lain fihak, Cui Kong hampir menari kegirangan karena ketika merubah pukulan menjadi dorongan tadi. Ia dapat menduga bahwa sedikitnya gadis itu mempunyai pandangan baik terhadap dirinya dan tidak mempunyai sikap bermusuh lagi!

"Ah, kau terlalu memuji. Sebetulnya akulah yang kalah dan terus terang saja aku mengakui kelihaianmu, saudara... saudara...”

“Cui Kong namaku, nona. Kau selalu merendah, nona Lie. Sebetulnya saja kepandaian kita setingkat, mungkin aku sedikit lebih kuat, ini tidak aneh karena kau seorang wanita. Akan tetapi, dibandingkan dengan ayahmu tentu aku kalah jauh sekali. Sudahlah, tertang kepandaian memang tidak ada batasnya, nona. Bolehkah aku bertanya, nona hendak pergi kemanakah?"

"Aku pergi merantau meluaskan pengalaman," jawab Ceng Ceng singkat.”

Wajah Cui Kong berseri. "Aah, tentu saja begitu. Puteri seorang pendekar tentu ingin pula mengetahui bagaimana keadaan dunia kang-ouw. Akupun mempunyai keinginan seperti itu, nona. Hanya bedanya, kalau ayah bundamu terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, adalah aku seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini, hanya mempunyai seorang ayah angkat. Akan tetapi...” Cui Kong menarik napas panjang, “Ayah angkat inipun hanya menambah beban hidupku. Aku... aku terpaksa lari dari rumahnya...”

Mendengar ucapan terputus-putus dan tidak jelas ini, hati Ceng Ceng tertarik. Kepribadian pemuda itu memang telah menarik hatinya. ingin sekali ia mengetahui keadaan pemuda ini. "Mengapa...? Mengapa kau... lari?"

Diam-diam Cui Kong makin gembira. Jelas bahwa nona ini menaruh perhatian kepada dirinya. Ia harus berlaku hati-hati. Nona ini bukan nona sembarangan, melainkan puteri dari Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong. Ia harus menggunakan akal dan siasat untuk mendapatkan gadis yang benar-benar yang benar-benar telah membetot semangatnya ini.

"Ahh, kepada orang lain biar mati aku takkan mau menceritakan urusan keluargaku, nona. Akan tetapi terhadapmu... entah mengapa biarpun baru sekarang bertemu, aku merasa... seakan-akan kita sudah menjadi sahabat baik puluhan tahun lamanya...”

Ia berhenti sebentar untuk melihat bagaimana reaksi kata-katanya yang berani ini, apakah gadis ini akan marah? Tidak, Ceng Ceng malah menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Ia menjadi makin berani dan melanjutkan kata-katanya, "Sebenarnya, ayah angkatku hendak memaksa aku untuk menikah dengan seorang gadis kampungku. Maka aku... lari pergi!”

Tanpa disengaja Ceng Ceng tertawa kecil mendengar ini. Ia memandang muka pemuda itu dan bertanya jenaka sudah timbul sifatnya yang jenaka dan lincah. "Mengapa lari? Apa dia itu buruk rupa?”

“Tidak buruk, bahkan cantik menjadi kembang kampungku. Akan tetapi, nona Lie yang baik, bukan seorang gadis cantik yang lemah menjadi idam-idaman hatiku. Gadis itu benar cantik, akan tetapi dia lemah dan bodoh. Kakinya sebesar kepalan tangan...”

”Eh. bukankah itu baik sekali? Kata orang, kaki wanita harus kecil, makin kecil makin baik.” Diam-diam ia melirik ke arah kakinya yang biarpun tidak besar dan mungil namun tidak bisa dibilang kecil seperti kaki wanita dusun yang semenjak bayi dibungkus dan diikat.

"Mana bisa dibilang baik? Kaki kecil bengkok, jalannya terpincang-pincang. Ah, tak sudi aku dekat wanita demikian, lemah berpenyakitan. Idaman hatiku, kalau orang buruk rupa dan bodoh semacam aku ini laku kawin, calon isteriku harus seorang wanita yang gagah perkasa. Tak usah dibilang lagi kalau gagahnya seperti engkau, nona, baru memiliki kegagahan setengah kepandaianmu saja, aku sudah akan merasa bahagia sekali. Kalau... andaikata... dia itu seperti engkau baik rupa maupun kepandaian... ah. aku... aku mau berlutut di depannya, nona!” Sambil berkata demikian, Cui Kong betul betul menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Ceng. Demikian pandainya Cui Kong mengambil hati!

Ceng Ceng cepat membalikkan tubuh tidak mau menerima penghormatan itu sambil berkata, "Jangan begitu! Tidak patut orang-orang muda seperti kita bicara tertang perjodohan. “Itu urusan orang tua. Berdirilah agar kita bisa bicara dengan baik.” Diam-diam gadis ini merasa girang sekali hatinya. Sudah lama ia mengidamkan seorang calon suami yang tidak saja tampan dan halus budinya, akan tetapi juga memiliki kepandaian yang melebihi kepandaiannya. Dan pemuda ini tidak saja sudah memenuhi semua syarat, bahkan terang-terangan sudah menyatakan cinta kepadanya!

"Kau tidak marah? Terima kasih, nona. Agaknya hari ini Thian menuntunku ke jalan babagia." Cui Kong berdiri dan nona itu kembali menghadapinya.

“Seperti juga kau. Aku dipaksa oleh ayah untuk menikah dengan seorang pemuda yang tidak kusetujui. Aku tadinya hendak dipaksa menjadi jodoh seorang pemuda bernama... Tiang Bu."

Kalau Cui Kong tidak mempunyai kepandaian menguasai diri, tentu ia akan tersentak kaget mendengar disebutnya nama ini. Hendak dijodohkan dengan Tiang Bu pemuda sakti itu, Hatinya berdebar keras. Alangkah kebetulan. Kalau ia bisa mendapatkan gadis ini, tidak saja hatinya akan puas karena memang ia tartarik dan cinta kepada Ceng Ceng. Akan tetapi juga sekaligus itu merupakan pukulan terhadap Tiang Bu, merupakan sebagian dari pada balas dendam kepada pemuda yang dibencinya itu.

"Mengapa kau tidak setuju, nona? Apakah Tiang Bu itu seorang pemuda yang tidak memiliki kepandaian silat?” ia pura-pura bertanya.

Ceng Ceng tersenyum. “Tentang kepandaian silat aku sama sekali tidak dapat menang melawan dia, mungkin kau dapat mengalahkannya. Hemm, aku ingin sekali melihat kau dan dia bertempur.”

Diam-diam Cui Kong mengeluh di dalam hatinya. Kalau saja Ceng Ceng tahu betapa Tiang Bu sudah membikin kocar kacir Ui-tiok-lim! Dikeroyok tujuh saja masih tidak kalah, bagaimana Cui Kong harus menghadapi Tiang Bu seorang diri? memikirkan hal ini saja bulu tengkuknya sudah berdiri saking ngerinya.

"Ah, kalau begitu dia seorang yang berkepandaian tingi...? Mengapa kau menolaknya. nona...?" tanyanya menyimpangkan pembicaraan tentang kepandaian silat. Kemudian disambungnya cepat agar dianggap sopan. "Ah, maaf beribu maaf, sebetulnya tidak patut aku berlancang mulut. Malutku patut digampar!"

Cenga Ceng yang tadinya hendak marah menjadi tersenyum, "Apakah kepandaian tinggi saja cukup menjadi syarat perjodohan? Kalau hati tidak suka, siapa bisa memaksaku?”

Cui Kong bertepuk tangan, wajahnya berseri. "Bagus! Bagus! Memang menjadi orang muda harus demikian. Aku girang sekali bahwa ternyata pendirianku ada yang menyamai, keadaanku dan keadaanmu cocok sekali, nona."

Kembali Ceng Ceng menjadi merah mukanya, akan tetapi dia memang bukan gadis pemalu. Ditatapnya wajah pemuda itu penuh selidik, lalu bertanya. “Kau telah memperkenalkan nama, akan tetapi siapa she (nama keturunan) mu? Dan kemana kau hendak pergi?”

“Aku she Kwe dan seperti juga kau, aku pergi merantau menjauhkan diri dari paksaan ayah angkatku." Kemudian ia berkata dengan sikap sungguh-sungguh. “Nona Lie Ceng, aku Kwee Cui Kong biasa bicara jujur dan terbuka, sesuai dengan sikap orang gagah yang tidak suka menyimpan perasaan sendiri sebagai rahasia. Terus terang nona. Begitu bertemu dengan nona, apa lagi setelah mengadu kepandaian, aku merasa cocok sekali denganmu, dan... apabila nona setuju... maafkan kelancanganku karena aku suka berterus terang menyatakan isi hatiku, apabila nona setuju, aku ingin ikut nona menemui orang tua nona untuk... untuk mengajukan pinangan atas diri nona."

Dapat dibayangkan betapa likat dan malu rasa hati Ceng Ceng sebagai seorang dara mendengar kata-kata yang terus terang seperti ini. Akan tetapi diam-diam ia memuji keberanian pemuda ini dan sama sekali ia tidak bisa marah karena memang pemuda ini tidak bisa dibilang kurang ajar. Bahkan ucapan itu membuktikan betapa jujur dan gagah sikapnya! Memang Ceng Ceng hanya pandai ilmu silat akan tetapi pengalamannya masih hijau sekali. Tentu saja menghadapi seorang "buaya" seperti Cui Kong, ia terpikat!

Sampai lama Cang Ceng tidak bisa bicara, akhirnya sambil menundukkan muka ia berkata, "Urusan jodoh urusan orang tua, bagaimana jika kau hendak bertemu sendiri dengan ayah bundaku?"

Sudah menang setengah bagian, pikir Cui Kong! Terang gadis ini setuju, kalau tidak masa bertanya demikian, tentu marah. Kalau gadis ini marah dan menolaknya, tentu Cui Kong hendak menggunakan kekerasan menculiknya, akan tetapi ia lebih senang mengambil jalan halus karena memang kali ini ia bersungguh-sungguh, begitu berjumpa dengan Ceng Ceng ia tertatik sekali. Apa lagi kalau diingat bahwa dara ini puteri Pek-tbouw-tiauw-ong, dia harus berhati-hati.

"Ucapanmu itu memang tepat sekali, nona, dan akupun tentu akan mematuhi peraturan dan kesopanan. Akan tetapi apa mau dikata, seperti tadi telah kuceritakan, aku adalah seorang anak yatim piatu, tiada ayah bunda lagi...” Sampai di sini dengan pandai sekali sepasang mata Cui Kong menjadi basah oleh air mata! "Ayah angkatku memaksaku menikah dengan seorang gadis kampungku puteri seorang hartawan, kalau ku ceritakan kepadanya tentang niatku ini sudah pasti ia akan marah-marah dan menolak. Oleh karena itu, lebih baik aku datang sendiri kepada ayah bundamu dan menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada lagi waliku sehingga terpaksa aku mengajukan pinangan sendiri. Nona Lie yang mulia. sudikah kau menyetujui permohonanku ini?”

Ceng Ceng menjadi terharu. Hatinya sudah jatuh betul-betul. Akan tetapi sebagai seorang gadis terhormat, bagaimana dia bisa menjawabnya? Tiba-tiba kudanya meringkik dan menggaruk-garuk tanah dengan kaki depan. Kuda itu sudah tidak sabar dan minta diberi kesempatan lari.

"Aku memang hendak manyusul ayah di kota Kiu-kiang. Kalau kau hendak mencari kami, datang saja di Telaga Po-yang, di sana ayah mempunyai perahu besar tempat kami pelesir. Nah, aku pergi dulu!” Dengan gerak ringan sekali Ceng Ceng melompat ke atas punggung kudanya. Sekali menarik kendali kuda itu meringkik dan melompat jauh terus berlari cepat.

“Nona, bagaimana aku tahu yang mana perahu ayahmu?” Cui Kong berteriak keras.

“Cari saja burung pek-thouw-tiauw, tentu ketemu!” jawab Ceng Ceng sambil menoleh dan melambaikan tangannya. Kemudian kuda itu membalap cepat, sebentar saja lenyap di sebuah tikungan jalan.

Cui Kong berdiri bengong, merasa hatinya dan semangatnya terbawa lari oleh kuda itu. Akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata heran, "Cui Kong... Cui Kong... mengapa hatimu seaneh ini? Hemm, banyak sekali wanita cantik, akan tetapi tak seorangpun dapat menandingi Ceng Ceng. Dia itulah calon isteriku! Aku harus mendapatkan dia!” Kemudian ia pun lari cepat menuju ke Kiu-kiang.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Telaga Po-yang adalah sebuah telaga besar di Propinsi Kiang-si. Telaga yang indah dan juga ramai. Telaga ini menjadi pusat ke ramaian dan tempat orang berpelesir, terutama sekali oleh karena letaknya di dekat kota-kota besar seperti Nan-ciang dan lain-lain. Para saudagar tidak ada yang tidak melewatkan waktu untuk mengunjungi telaga ini apabila maraka kebetulan lewat di daerah ini, juga para pembesar setempat selalu menghibur hati di telaga dengan perahu-perahu mereka yang serba mewah dan indah.

Telaga ini menjadi pusat para seniman di mana mereka mencari ilham di tempat sunyi indah ini untuk menghasilkan karya-karya besar. Hanya rakyat kecil, kaum petani dan nelayan yang agaknya tidak menaruh perhatian atas segala keindahan alam ini, pandangan mata mereka jauh sekali bedanya dengan orang-orang kota itu.

Mengapa demikian? Oleh karena rakyat kecil yang selamanya tinggal di dusun-dusun ini sudah biasa dengan segala keindahan alam semenjak mereka kecil. Mereka telah menjadi satu dengan keindahan tamasya alam sehingga para pelukis dan penyajak tidak pernah lupa menyebut mereka ini dalam lukisan atau sajak mereka. Memang sagala keindahan itu akan kehilangan rasanya apabila telah dimiliki.

Di antara puluhan buah perahu indah milik para pembesar dan saudagar, terdapat sebuah perahu cat putih yang sedang saja besarnya. Akan tetapi tentu saja sudah termasuk besar dan mewah apabila dibandingkan dengan perahu-perahu butut milik para seniman dan nelayan yang banyak berkeliaran di permukaan telaga. Perahu bercat putih ini sudah tiga bulan berada di situ, dimiliki oleh sepasang suami isteri pendekar yang amat ternama, yaitu Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan isterinya Souw Cui Eng. Bagi orang-orang yang sudah biasa merantau di dunia kangouw, melihat dua ekor burung pak-thouw-tiauw yang sering kali hinggap di atas perahu atau terbang berputaran di atasnya, tentu akan mengenal siapa pemilik perahu itu.

Pada suatu pagi, ketika matahari mulai memancarkan sinarnya di permukaan telaga suami isteri pendekar ini sudah kelihatan duduk di atas dek perahu mereka. Sudah jadi kebiasaan mereka untuk "mandi cahaya matahari" di waktu pagi yang merupakan sebagian dari pada latihan mereka sehingga tubuh selalu sehat dan awet muda. Inilah saatnya mereka bercakap cakap dengan asyik, si isteri melayani suami minum teh hangat dan sekedar santapan pagi.

"Heran mengapa Ceng Ceng masih juga belum kembali? Apa dia lupa bahwa dalam bulan ini kita akan meninggalkan Po-yang?” terdengar Lie Kong berkata sambil menghirup teh panasnya.

"Anak ini kalau sudah bertamasya lupa waktu." jawab Souw Cui Eng. ”Akan tetapi pada saatnya ia tentu akan datang. Biarpun suka pelesir, Ceng Ceng selalu ingat akan pesan kita. Kurasa sebelum lewat bulan ini tentu ia akan pulang."

Lie Kong menarik napas panjang, "Tahun ini Ceng Ceng sudah berusia delapan belas lebih, dan kita belum mendapatkan calon jodohnya...”

Isterinya juga menarik napas panjang. "Anak itu agak bandel. Akupun sudah setuju sekali kalau dia menjadi isteri Tiang Bu pemuda yang sakti itu. Akan tetapi, aahhh, memang Ceng Ceng amat bandel…”

"Tunggu saja sampai kita bertemu dengan keluarga di Kim-bun-to, tentu hal perjodohan ini akan kujadikan,” kata Lie Kong.

Tiba-tiba terdengar pekik nyaring. Suami isteri itu menoleh ke darat sebelah timur sambil mengerutkan kening. Sekali lagi pekik terdengar dan tak lama kemudian seekor burung rajawali berkepala putih datang beterbangan diatas perahu, berputar-putar sambil cecowetan.

“Hemm, betinanya ke mana?” tanya Lie Kong sambil memandang burungnya itu.

“Celaka, tentu terkena bencana. Hayo kita lihat!” kata isterinya yang amat sayang kepada sepasang burungnya. Suami isteri ini cepat minggirkan perahu, diikuti oleh pok-thouw-tiauw dari atas. Dengan sigap mereka melompat ke darat meninggalkan perahu lalu berlari mengikuti burung mereka yang menjadi penunjuk jalan.

Burung itu terbang terus ke sebuah hutan kecil di sebelah timur telaga. Setelah memasuki hutan, mereka melihat enam orang laki-laki aneh yang berdiri saling berhadapan. Lie Kong dan isterinya berdiri bengong seperti patung! Apa yang mereka lihat memang luar biasa anehnya. Tiga di antara enam orang itu pernah mereka lihat, yaitu bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui (Tiga Iblis Kutub Utara) yang bernama Giam lo-ong Ci Kui, Liok-to Mo-ko Ang Bouw, dan Sin sai-kong Ang Louw.

Akan tetapi, tiga orang ini sekarang berdiri berhadapan dengan tiga orang Pak-kek Sam-kui pula! Tegasnya pada saat itu terdapat dua orang Ci Kui, dua orang Ang Bouw, dan dua orang Ang Louw. Tiga pasang manusia kembar yang sukar sekali dibedakan mana asli mana palsu! Hanya bentuk pakaian mereka yang agak berbeda, selebihnya mereka serupa benar. Saking heran dan terkejut menyaksikan pemandangan ganjil ini, Lie Kong dan isterinya sampai tak dapat mengeluarkan suara. Burung pek-thouw-tiauw betina sedang dipegang sayapnya oleh seorarg Ci Kui dan burung itu sama sekali tak dapat berkutik. Memegang burung besar yang amat kuat seperti itu menunjukkan keahlian si pemegangnyaa.

“Ha, pemilik pek thouw tiauw sudah datang kau masih juga belum melepaskannya!" kata Ci Kui kedua kepada Ci Kui pertama.

Ci Kui yang memegang burung mengeluarkan ketawa sambil memandang kepada Lie Kong, agaknya ia jerih dan sekali menggerakkan tangan, burung pek thouw tiauw betina itu sudah terbang tinggi mengeluarkan pekik marah. Ci Kui kedua yang menyuruh Ci Kui pertama tadi lalu menjura kepada Lie Kong.

"Si-cu harap sudi memaafkan kami tiga orang adik kakak ini membuat kesalahan terhadap sicu, kami yang mintakan maaf. Sekarang kami enam orang kakak beradik masih mempunyai urusan penting sekali, harap sicu mengalah dan mundur."

Lie Kong cepat-cepat mengerahkan tenaganya ketika dari sepasang kepalan itu menyambar angin yang amat kuatnya. Ia memberi penghormatan itu dengan merangkap kedua tangan ke dada dan digerakkan ke depan. Dua tenaga dahsyat saling bertemu dan Lie Kong tergeser sedikit kaki kirinya, tanda bahwa orang tinggi kurus itu benar-benar lihai sekali. Hal ini mengejutkan hati Lie Kong. Ia tahu bahwa tiga orang Pak kek Sam kui lihai, akan tetapi tidak mungkin seorang saja dari mereka dapat menandinginya.

Akan tetapi karena orang bicara dengan cengli (menurut aturan), iapun tidak mau banyak cakap. Burungnya tidak terganggu, mengapa ia harus banyak ribut? Ia mengangguk kepada isterinya, lalu mengundurkan diri. Akan tetapi oleh karena hutan itu tempat umum, ia berani dengan isterinya duduk di bawah pohon agak jauh dari situ untuk melihat apa yang selanjutnya akan terjadi antara tiga pasang manusia kembar yang aneh-aneh seperti siluman itu.

Dua pasang Pak-kek Sam kui selanjutnya tidak memperdulikan lagi akan hadirnya Lie Kong dan isterinya dan mereka saling berhadapan, sikap Pak-kek Sam kui pertama menantang dan Pak-kek Sam-kui kedua sikapnya tenang, sabar membujuk.

"Bagaimana, apakah kalian masih berkeras kepala tidak mau ikut kami pulang ke utara?” terdengar Ci Kui kedua bertanya.

Ci Kui pertama menjawab, "Tidak! Kami bebas melakukan apa saja yang kami sukai dan kalian tak perlu mencampuri urusan kami!" Agaknya seperti juga Ci Kui ke dua, yang pertama inipun mewakili kawan-kawannya.

"Hemmm, kalian ini benar-benar tak tahu diri. Kami sebagai saudara-saudara tua masih bersikap sabar sekali. Kalian patut dilenyapkan dari muka bumi. Kalian secara tak tahu malu sekali mencemarkan nama saudara tua, membantu manusia-manusia jahat dan pengkhianat semacam Liok Kong Ji dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Di mana sifat kegagahanmu? Raja besar kami sedang sibuk memukul ke barat, kalian enak-enak hendak mengikuti Liok Kong Ji yang bersembunyi di Pulau Pek-houw-to (Pulau Harimau Putih) di laut selatan. Sudah banyak kejahatan kalian lakukan sebagai kaki tangan Liok Kong Ji, sudah banyak kalian membuat permusuhan dengan orang-orang gagah di dunia selatan. Dari pada kelak kalian mampus di tangan orang-orang gagah, lebih baik sekarang kalian roboh oleh tangan kami sendiri..."