Pusaka Gua Siluman Jilid 26, karya Kho Ping Hoo - "Orang tua, jangan sombong!" bentak Siok Beng Hui sambil melompat mundur dan menggerakkan kaitannya menangkis. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kaitannya yang kiri yang dipergunakan untuk menangkis itu, ujungnya telah terlibat kain baju merah dan tak dapat dibetot kembali.

Sebaliknya, ia merasa tenaga betotan yang demikian kuat sehingga kalau ia berkeras mempertahankan kaitannya, tentu tubuhnya akan terbawa dan tertarik ke arah lawan. Hal ini amat berbahaya. Setelah mengerahkan seluruh tenaganya dengan sia-sia, akhirnya Siok Beng Hui terpaksa melepaskan kaitan kirinya, terpaksa mengorbankan sebatang kaitannya untuk menyelamatkan diri.
"Ho-ho-ho, begini saja kepandaian murid Bu Kam Ki?*' ejeknya.
"Siok lo-enghiong, aku datang membantumu!" kata Han Sin yang melompat maju dengan sepasang senjatanya. Melihat senjata pemuda ini, kakek itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Im-yang Thian-cu sendiri tak berani banyak berlagak di depanku. Kau ini bocah ingusan mau memamerkan senjata-senjatamu? Terimalah ini!" Sambil berkata demikian Ang Sinshe melontarkan senjata kaitan yang tadi ia rampas dari tangan Siok Seng Hui ke arah Han Sin.
Lemparan ini kuat bukan main sampai mendatangkan angin menyambar dan suara bersuitan ketika senjata itu bagaikan sebatang anak panah menyambar ke arah dada Han Sin. Pemuda ini maklum akan kelihaian kakek jubah merah itu, maka ia tidak berani sembarangan menyambut dengan tangan. Ia menangkis dengan kipasnya dan menyampok dengan pitnya.
Terdengar suara keras dan kipas yang tadi sudah bolong oleh pedang Giam Loan, sekarang bolong lagi pinggirnya terkena kaitan, sedangkan pitnya hampir terpukul jatuh. Baiknya Han Sin cepat memutar pit itu dan menggerakkan kipas dengan gerakan memutar pula sehingga daya pukul kaitan itu musnah, malah senjata Siok Beng Hui dapat dirampas kembali.
Han Sin dengan muka berubah saking kagetnya tadi, lalu memberikan senjata itu kepada Siok Beng Hui, kemudian mereka berdua cepat menyambut datangnya serangan Ang Sinshe yang sudah datang, lagi dengan serbuannya, kini makin hebat karena ia marah dan penasaran melihat serangan-serangannya tadi tidak bisa sekaligus merobohkan dua orang, lawannya yang ia pandang ringan.
Biarpun Han Sin dan Siok Beng Hui lihai dan berlaku amat hati-hati, tetap saja mereka tidak dapat mempertahankan diri terhadap serangan kakek jubah merah itu yang benar-benar lihai sekali. Kini dua buah ujung lengan bajunya mengamuk seperti sepasang naga berebut mustika, membuat pertahanan Han Sin dan Siok Beng Hui menjadi kalang kabut. Betapapun juga, dua orang gagah ini masih terus melakukan perlawanan dengan gigih dan ulet.
Puluhan jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Ang Sinshe mengeluarkan seruan keras sekali sambil memperhebat serangannya. Baik Han Sin maupun Siok Beng Hui sendiri berseru kaget ketika seruan lawan tangguh ini disusul dengan gerakan kedua lengan Ang Sinshe yang mendadak bisa memanjang sampai satu kaki lebih. Benar-benar hal yang mustahil dan di luar dugaan sehingga dalam satu gebrakan saja Han Sin sudah kena dicengkeram pundaknya dan Siok Beng Hui kena ditotok lambungnya.
Dua orang gagah ini berseru kesakitan dan terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat. Han Sin merasa pundaknya sakit bukan main, baju di bagian pundaknya menjadi matang biru, sakitnya bukan kepalang. Adapun Siok Beng Hui yang mencoba mempertahankan diri tetap saja tidak kuat dan terguling roboh dengan muka menjadi pucat sekali.
''Ho-ho-ha-ha, cuma sebegitu saja kepandaian kalian?"
Tiba-tiba kelihatan debu mengepul dan angin pukulan yang dahsyat menghantam ke arah Ang Sinshe, dibarengi bentakan nyaring, "Dukun siluman she Ang, kau benar-benar keterlaluan!"
Ang Sinshe yang menghadapi pukulan dari jauh ini cepat menyodorkan kedua tangan mendorong ke depan. Akan tetapi tidak urung ia terdorong mundur sampai dua langkah. Ketika ia memandang, ternyata seorang kakek gagah berpakaian sederhana sudah berada di depannya. Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki sendiri yang datang!
Ahg Sinshe menyeringai. Kedua tangannya yang tadi "memanjang" perlahan-lahan menjadi biasa lagi dan ia tersenyum melihat Bu Kam Ki memeriksa luka yang di derita oleh muridnya, Siok Beng Hui, dan Han Sin. Kemudian Bu Kam Ki menyuruh dua orang itu minggir dan menghadapi Ang Sinshe dengan muka merah dan keren.
"Dukun siluman! Kau benar tak tahu malu menjual kepandaian sulap di depan muridku. Kalau kau memang berkepandaian, marilah lawan aku, tua sama tua. Jangan main-main seperti anak kecil!"
Ang Sinshe terbatuk-batuk, batuk buatan yang sudah menjadi kebiasaannya. "Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki, semua adalah kesalahanmu sendiri. Sudah puluhan tahun kau bersembunyi. Seperti juga aku, menyaring pikiran menenteramkan hati tidak mencampuri urusan dunia. Kenapa kau tahu-tahu menurunkan tangan keji melukai muridku Ciong Thai dan Ciong Sek serta isteri Ciong Thai dengan Pek-kong Sin-ciang?"Semua ini tadinya masih kuanggap bahwa mungkin murid-muridku ada yang kurang ajar kepadamu maka kau memberi hajaran. Tidak apalah dan aku masih sanggup mengobati mereka dengan pantangan tidak boleh mengerahkan Iweekang selama seratus hari.
"Sebetulnya mereka bertiga takkan tewas kalau tidak melanggar pantangan. Akan tetapi celakanya hari ini muridmu lagi datang mengajak mereka bertempur sehingga mereka terpaksa mengerahkan lweekang dan akibatnya mereka tewas. Bukankah ini sma*nu artinya dengan kau bersekongkol dengan muridmu dan membunuh mereka?"
"Orang she Ang. betul-betulkah Ciong Thai dan Ciong Sek itu muridmu?"
"Sungguhpun bukan muridku sendiri, akan tetapi mereka itu sudah kuanggap sebagai murid keponakanku. Bukankah itu berarti bahWa mereka itu murid-muridku pula yang patut kubela?"
BU Kam Ki mengangguk-angguk. "Kalau begitu memang sudah selayaknya kau membela mereka. Akan tetapi, Ang Sinshe, kau tahu satu tidak tahu dua. Kau hanya tahu mereka itu terluka oleh pukulanku akan tetapi tidak mau perduli apa sebabnya aku memukul mereka! Kau ingin tahu sebab-sebabnya?. Nah, dengarlah baik-baik."
Bu Kam Ki lalu menceritakan tentang perbuatan Giam Loan yang membunuh calon mantunya bersama Ciong Sek, hanya karena calon mantunya itu menolak untuk diajak bermain kotor oleh wanita cabul itu. Kemudian ia menceritakan pula tentang usaha Han Sin hendak menolong mereka akan tetapi malah akhirnya hendak diracuni dan dijadikan korban nafsu kebinatangan suami isteri keparat itu. Semua ia tuturkan dengan jelas.
"Pemuda yang kau lukai inilah yang bernama Liem Han Sin." Bu Kam Ki menutup penuturannya.
Ang Sinshe nampak terkejut. Tak disangkanya bahwa Ciong Thai dan isteri serta adiknya mempunyai kesalahan demikian besarnya, la memandang ke arah Bu Kam Ki dan Han Sin dengan pandang mata penuh selidik. Ia sudah terlanjur membela murid-murid keponakannya, bahkan sudah terlanjur melukai Han Sin dan Siok Beng Hul. Ia merasa malu untuk mundur, maka dengan nekat ia berkata.
"Bu Kam Ki, ada peribahasa kuno yang menyatakan bahwa mengakui kesalahan sendiri lebih sukar dari pada melihat punggung sendiri. Mana di dunia ini ada orang berani mengakui kesalahannya? Ceritamu memang bagus, akan tetapi setelah tiga orang ini mati, bagaimana aku bisa memeriksa kebenarannya? Boleh jadi kau masih belum tentu membohong, akan tetapi orang muda ini yang bernama Han Sin, siapa bilang dia tidak membohong dan memfitnah murid-muridku?"
Bu Kam Ki mengangkat dada, sikapnya Angkuh dan keren. "Ang Sinshe, pernahkah kau mendengar aku orang she Bu berbohong? Apa yang kuceritakan kepadamu tadi semua benar dan aku berani mempertaruhkan nyawaku untuk kebenarannya. Adapun orang muda ini, dia adalah Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu, juga dia sudah dipercaya menjadi utusan dan petugas Tiong-gi-pai. Mana boleh diduga ia membohong? Pendeknya, semua kesalahan sehingga kematian tiga orang ini adalah karena perbuatan mereka sendiri yang tidak patut dan kau sekarang setelah mendengar penjelasannya, apakah masih hendak membela?"
Ang Sinshe ragu-ragu, akan tetapi kalau ia mundur sama halnya dengan ia menyatakan takut terhadap Pek-kong Sin-ciang. "Bu Kam Ki, tidak perduli siapa yang betul dan siapa yang salah, yang jelas mereka bertiga orang-orang muda ini tewas karena pukulanmu, oleh karena itu harus kubela. Akan tetapi oleh karena akupun meragukan kebenaran mereka, biarlah kita main-main sebentar.
"Kalau aku kalah, sudahlah aku tidak akan menarik panjang dan luka-luka muridmu dan pemuda itu akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau kau tidak bisa memenangkan aku, anggap saja kematian dua orang yang kulukai itu sebagai pengganti kematian murid-murid keponakanku."
Bu Kam Ki terkejut sekali. Tadi ketika ia memeriksa luka totokan di lambung muridnya dan luka cengkeraman di pundak Han Sin, memang ia sudah menduga bahwa kakek jubah merah itu menggunakan hawa beracun yang jahat. Sebagai seorang ahli pengobatan, tentu saja Ang Sinshe pandai mempergunakan racun. Sekarang mendengar omongan Ang Sinshe, tak dapat diragukan lagi bahwa memang nyawa Siok Beng Hui dan Hari Sin terancam bahaya maut.
"Ang Sinshe, tantanganmu ini memang cukup adil. Majulah!"
Dua orang kakek tua itu saling berhadapan penuh kewaspadaan dan siap siaga bagaikan dua ekor ayam jago sedang berlagak hendak saling terkam. Siok Beng Hui dan Han Sin menahan rasa sakit, menonton pertandingan itu dehgan hati berdebar. Hanya Ciong Swi Kiat bocah gundul itu yang duduk dengan muka penuh kesedihan dan menunggu mayat ayahnya yang sudah Ia angkat ke pinggir.
Setelah mengukur wibawa masing-masing dengan pandang mata, dua orang kakek itu mulai bergerak. Pertama-tama Ang Sinshe yang menyerang lebih dulu, menggerakkan dua lengannya dan sekaligus dua tangan dan ujung lengan baju menyerang dengan hebat ke arah empat bagian tubuh yang berbahaya dari Bu Kam Ki, Kakek berpakaian nelayan tua ini maklum akan kehebatan eerangan lawan, cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis dengan Pek-kong Sin-ciang.
Ia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu, akan tetapi tidak urung kuda-kuda kakinya tergempur juga, membuat Bu Kam Ki terhuyung ke belakang tiga langkah. Akan tetapi dengan amat cepatnya Bu Kam Ki mengirim serangan balasan, memukul dengan Pek-kong Siu-ciang. Hawa pukulan yang dahsyat menyambar, membuat debu tanah berhamburan.
Ang Sinshe sudah bersiap siaga. Ia mengebutkan kedua lengan bajunya sambil mengerahkan Iweekangnya. Akan tetapi terdengar suara "brettl" dan ternyata dua ujung lengan bajunya menjadi hancur dan dia sendiri terhuyung sampai lima langkah ke belakang.
Muka Ang Sinshe menjadi semerah warna jubahnya. Dalam segebrakan ini saja sudah dapat diukur bahwa tenaga dalam. Bu Kam Ki memang setingkat lebih tinggi dari pada tenaganya. Akan tetapi, mana dia mau mengalah begitu mudah? Sambil mengeluarkan suara ketawa aneh, ketawa yang mengandung hawa khikang, kakek baju merah itu menyerbu, kini menggunakan kedua tangan yang sudah mulur panjang seperti sepasang tangan raksasa.
Ia menggunakan keuntungan tangan panjang ini untuk menyerang dengan gerak cepat, tidak memberi kesempatan kepada Bu Kam Ki untuk mempergunakan ilmu pukulan Pek-kong Sin-ciang jarak jauh. Pendeknya, kakek jubah merah yang cerdik ini tidak mau menggunakan pertempuran mengadu tenaga, akan tetapi hendak mencari kemenangan mengandalkan kecepatannya.
Akan tetapi ia kecele kalau mengira akan dapat mengalahkan Bu Kam Ki dengan cara ini. Bu Kam Ki adalah seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, juga selama ia tidak muncul di dunia kang-ouw, dia tidak menyia-nyiakan kepandaiannya, malah sering kali dilatih dan ditambah mana yang dirasa kurang sempurna. Oleh karena itu, menghadapi serangan hebat ini ia dapat mengimbanginya. Terjadilah perang tanding yang amat seru dan cepat, membuat Han Sin dan Siok Beng Hui memandang kagum dan lupa akan rasa sakit yang diakibatkan oleh luka-luka mereka.
"Ang Sinshe itu lihai sekali..." kata Han Sin kagum.
"Akan tetapi suhu pasti akan dapat mengatasinya," kata Siok Beng Hui dengan suara tetap. Ia udah tahu akan cara bertempur suhunya dan karenanya ia merasa yakin bahwa akhirnya suhunya gkan menang.
Memang tidak berkelebihan keyakinan hati Siok Beng Hui ini. Setelah pertempuran berlangsung empat puluh jurus lebih, kelihatan bahwa Bu Kam Ki mulai dapat mendesak lawannya. Sungguhpun tidak mudah bagi kakek sakti ini untuk mengalahkan lawannya yang tangguh, akan tetapi perlahan-lahan ia mulai membuat Ang Sinshe kewalahan sekali.
"Bu Kam Ki, kau makin tua makin lihai!" kata Ang Sinshe sambil terengah mengatur napas ketika ia melompat mundur. Kemudian ia mengeluarkan serangannya yang terakhir, yang paling dahsyat, yaitu dengan serudukan kepala.
Ilmu menyerang seperti ini hanya terdapat dalam kalangan ahli silat golongan Hek-to, karena orang-orang gagah tidak sudi mempergunakannya. Akan tetapi jangan dipandang remeh penyerangan dengan kepala, ini, karena seluruh hawa sinkang dikumpulkan di kepala dan jarang ada orang sanggup menerima serudukan kepala Ang Sinshe!
Melihat ini, Bu Kam Ki menjadi marah. Kalau ia mau, tentu ia dapat mengelak. Akan tetapi ia tidak mau dianggap takut menghadapi serangan terakhir ini. Malah dengan menantang sekali ia melembungkan perutnya untuk menerima serudukan kepala Ang Sinshe!
"Capp!" Kepala itu menancap pada perut Bu Kam Ki dan tak dapat dicabut kembali. Keduanya mengerahkan tenaga dalam, pertempuran mati-matian terjadi dalam keadaan yang amat lucu itu. Kalau Bu Kam Ki tidak kuat, isi perutnya akan rusak berantakan oleh hawa serudukan kepala Ang Sinshe. Sebaliknya kalau Ang Sinshe yahg tidak kuat isi kepalanya akan terguncang dan rusak.
Baiknya Bu Kam Ki bukan seorang yang berhati kejam Melihat perbandingan tenaga Iwee-kang, kiranya Ang Sinshe akan tamat riwayat hidupnya kalau Bu Kam Ki mau berlaku kejam dan meremukkan kepala lawan dengan gencatan perutnya. Akan tetapi sebaliknya Bu Kam Ki yang tadi mengempiskan perut menerima serudukan kepala, kini mengeluarkan pekik keras dan perutnya dibesarkan. Bagaikan didorong oleh tenaga dahsyat, tubuh Ang Sinshe terpental ke belakang dan jatuh berdebuk dalam keadaan duduk.
Tabib jubah merah ini terduduk dalam keadaan masih bileng (pusing), matanya mendadak menjadi juling dan mulutnya peot, kepalanya bergoyang-goyang seperti mendadak ada gempa bumi. Ia cepat-cepat meramkan mata dan mengatur pernapasannya. Perlahan-lahan jalan darahnya normal kembali dan pikirannya menjadi jernih. Ia membuka matanya, menarik napas panjang lalu merayap bangun dengan tubuh lemas.
"Pek-kong Sin-ciang memang hebat. Aku mengaku kalah...." katanya.
"Ang Sinshe sungguh berlaku sungkan dan mengalah. Kepandaianmu juga hebat sekali," kata Bu Kam Ki sejujurnya.
Memang, kalau dia tidak memiliki lweekang yang setingkat lebih tinggi dari pada lawannya, akan sukar sekali untuk mengalahkan tabib ini. Ang Sinshe lalu mengeluarkan obat-obat dari saku bajunya yang lebar dan memberi obat bubuk berwarna pulih untuk ditapalkan di pundak Han Sin dan obat merah untuk diminum oleh Siok Beng Hui.
Bu Kam Ki sudah mengenal watak Ang Sinshe, yaitu biarpun dia tergolong kaum Hek-to, akan tetapi amat menjunjung tinggi ilmu pengobatan, maka segala macam obat yang dikeluarkan oleh Ang Sinshe, amat boleh dipercaya. Dalam hal pengobatan, Ang Sinshe boleh disejajarkan dengan Koai Yok Sian Si Dewa Obat yang gila di Thien-mu-san di dekat Nan-king. Karena percaya bahwa obat-obat yang diberikan tentu akan menyembuhkan dua orang itu. Bu Kam Ki menghaturkan terima kasih lalu mengajak pergi Han Sin dan Siok Beng Hui.
Ang Sinshe dibantu oleh Ciong Swi Kiat lalu mengurus mayat Ciong Thai, Ciong Sek dan Giam Loan, dikubur di tempat itu juga. Adapun Bu Kam Ki setelah mendengar penuturan Siok Beng Hui bahwa dua orang bekas sahabat baiknya, yaitu Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo, juga melakukan pengejaran terhadap Souw Teng Wi, lalu menghela napas dan berkata,
"Agaknya dua orang saudaraku Itu masih penasaran karena kekalahan kami puluhan tahun yang lalu oleh Bu beng Sin-kun. Mereka keliru dan hanya menuruti nafsu hati. Baiklah, biarlah, biar aku ikut turun gunung dan mencegah mereka melakukan hal-hal yang memalukan. Souw-taihiap tidak boleh diganggu!"
Demikianlah, Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki bersama Han Sin dan Siok Beng Hui lalu berangkat ke utara dan akhirnya mendengar bahwa Souw Teng Wi terculik, mereka melakukan pengejaran dan sampai di Ta-pie-san, di mana Bu Kam Ki sempat menyaksikan dua orang sahabat baiknya itu kalah oleh Lee Ing sehingga Tok-pi Sin-kai membuntungi sendiri tangannya yang tinggal sebelah dan Im-kan. Hek-mo membikin buta matanya sendiri!
Dapat dibayangkan pula betapa girang hati Han Sin melihat Lee Ing di situ, girang tercampur duka dan terharu karena ayah gadis itu, Souw Teng Wi, ternyata telah tewas di Bukit Ta-pie-san. Setelah mengikuti perjalanan Han Sin sampai pemuda itu tiba di Ta-pie-san, mari sekarang kita menengok perjalanan Siok Bun dan Oei Siok Ho, karena dua orang pemuda ini datang di Ta-pie-san bersama-sama, tak lama setelah Han Sin tiba di situ.
Seperti telah diketahui, seperti juga halnya Liem Han Sin, pemuda tampan gagah murid Kun-lun-pai Oei Siok Ho juga mendapat tugas menghubungi orang-orang kang-ouw di selatan di sepanjang Sungai Kan-kian. Berbeda dengan Han Sin yang mengalami banyak hal mengesankan, adalah Siok Ho tidak menemui rintangan apa-apa.
Para orang gagah yang ditemuinya rata-rata amat menghargai undangan dan ajakan Tiong-gi-pai dan menyatakan kesediaan mereka membantu kelak apa bila masanya tiba. Mereka Ini rata-rata memang tidak suka melihat kelemahan kaisar yang menyerahkan segalanya ke dalam tangan para menteri durna.
Akan tetapi perjalanan yang dilakukan oleh Oei Siok Ho amat lambat karena dia memang tidak tergesa-gesa dan melakukan perjalanannya sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang jalan. Inilah sebabnya maka ketika ia mulai menuju ke utara, Han Sin sudah lebih dulu melakukan perjalanan cepat bersama Siok Beng Hui dan Bu Kam Ki.
Pada suatu hari, ketika Siok Ho sedang berjalan memasuki kola Leng-bun, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda cepat keluar dari kota itu. Keadaan sudah menjelang senja, di situ sunyi dan cuaca sudah remang-remang sehingga Siok Ho tidak segera mengenal pemuda itu.
Akan tetapi sebenarnya pemuda itu segera mengenalnya karena menahan kudanya dan berseru memanggil, "Oei-hiante (adik Oei)...!"
Siok Ho memandang dan berserilah wajahnya. Pertemuan ini benar-benar tidak disangka-sangkanya dan amat menggembirakan hatinya. Setengah berlari ia menghampiri pemuda berkuda itu dan berseru, "Eh, kiranya Siok-twako (kakak Siok)! Kau hendak ke manakah?"
Pemuda berkuda itu memang Siok Bun adanya. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah dengan kaget mendapatkan bahwa Souw Teng Wi lenyap, pemuda ini cepat melakukan penyelidikan dan akhirnya jejak penculik-penculik pendekar besar itu membawanya ke selatan, menuju ke Ta-pie-san. Pertemuannya dengan Siok Ho benar-benar membesarkan hatinya karena ia maklum betapa lihainya Ang-sin-jiu Oei Siok Ho Si Tangan Merah!
"Oei hiante, kebetulan sekali bertemu dengan kau di sini. Ketahuilah bahwa Souw-taihiap telah diculik orang dan kemungkinan besar penculiknya adalah orang-orang Hoa-lian-pai." Dengan singkat Siok Bun lalu bercerita tentang kunjungan Lee Ing ke kota raja dan betapa dia dan Lee ing yang pertama-tama mendapatkan bahwa Souw Teng Wi tidak berada di perahunya dan lenyap tak meninggalkan bekas kecuali tanda cap jari-jari tangan di dinding bilik perahu.
Oei Siok Ho mengangguk, wajahnya yang tampan nampak sungguh-sungguh dan alisnya yang hitam berkerut. Melihat wajah Siok Bun nampak muram dan berduka ketika menceritakan hal itu, ia dapat maklum dan berkata, "Aku tahu betapa buruk keadaanmu dengan terjadinya hal itu, Siok-twako. Kau boleh dibilang bertugas menjaga keselamatan Souw lo-enghiong, dan tahu-tahu pada saat puterinya datang menjenguk, orang tua itu tidak ada. Apakah nona Lee Ing marah kepadamu?"
Ditanya begini Siok Bun makin muram. "Itulah yang membuat hatiku kesal sekali, hiante. Kalau nona Souw marah-marah dan menyalahkan aku, kiranya aku akan menerima salah, biarpun kesalahan itu tidak langsung kulakukan melainkan terjadi karena keteledoran para penjaga. Akan tetapi, nona Souw sama sekali tidak menyalahkan aku, malah dia segera melakukan pengejaran sendiri dengan cepat. Akh, kalau aku tidak berhasil mendapatkan kembali Souw-taihiap,... bagaimana aku berani bertemu dengan dia lagi?"
Mendengar keluhan Siok Bun, Siok Ho memandang tajam. "Siok-twako, agaknya dia itu suka sekali kepadamu, kalau tidak demikian halnya, tentu ia akan marah sekali kepadamu."
"Entahlah... entahlah... mudah-mudahan ia dapat bertemu kembali dengan ayahnya. Kasihan sekali nona itu.."
"Siok-twako, kau... cinta sekalikah kau kepadanya?"
Ditodong pertanyaan tiba-tiba ini, merah sekali wajah Siok Bun. Tentu saja ia merasa malu untuk mengaku dan dia hanya menjawab, "Adikku yang baik, bagaimana kau bisa bilang demikian? Nona Souw adalah puteri Souw-taihiap, dan Souw-taihiap adalah orang yang amat kami hargai. Tentu saja lenyapnya merupakan persoalan besar dan sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha sedapat mungkin mencarinya, biar untuk itu aku harus berkorban nyawa."
Oei Siok Ho mengangguk-angguk tak sabar. "Bukann itu maksudku. Tentu saja semua orang harus membantu mencari kembali Souw lo-enghiong. Akan tetapi.. apakah kau mencinta nona Souw Lee Ing?"
Hampir saja Siok Bun mengangguk. Kepada orang lain ia boleh membohong, akan tetapi ia mempunyai perasaan yang luar biasa terhadap pemuda ini. Bukan hanya karena Siok Ho pernah menolongnya secara mengharukan sekali ketika ia terluka oleh Hek-tok-ciang, akan tetapi ada sesuatu pada wajah dan sinar mata pemuda itu yang membuat ia tak mungkin dapat membohonginya.
Akan tetapi baiknya ia teringat bahwa pemuda inipun pernah bertemu dengan Lee Ing, pernah melihat Lee Ing. Dari pertanyaan-pertanyaan pemuda ini yang agaknya mengandung rasa cemburu, siapa tahu kalau-kalau pemuda inipun mencinta Lee Ing! Ah, boleh jadi sekali. Lee Ing amat gagah perkasa dan cantik-jelita, tidak aneh kalau setiap orang pemuda mencintainya. Apa lagi pemuda seperti Siok Ho yang amat gagah perkasa dan tampan sekali.
Pikiran ini amat mengganggunya, merupakan sekilat sinar yang memasuki benaknya, membakar pikiran dan hatinya, membuat ia cemburu dan panas akan tetapi wajah Siok Ho mengalahkan ini semua, mengusir rasa cemburu dan membuat ia tak berdaya, mengalah. Terhadap pemuda yang telah berlaku demikian berbudi seperti Siok Ho kepadanya, tak mungkin ia mau berebut cinta. Ia harus mengalah.
"Ti... tidak..." jawabnya gagap sambil menggeleng kepala.
Tiba-tiba Oei Siok Ho kelihatan marah. "Twa-ko, kau bohong!" katanya dan pemuda ini segera pergi meninggalkan Siok Bun.
Tentu saja Siok Bun menjadi bengong sesaat. Memang ia telah membohong, akan tetapi bagaimana pemuda itu dapat menduga demikian tepat dan mengapa pula kelihatan marah? Tentu cemburu, pikirnya. Celaka, tak salah lagi, tentu pemuda tangan merah yang lihai ini mencinta Lee Ing. Saingan yang berat sekali.
"Oei-hiante... kau hendak ke manakah?" Siok Bun mengejar, terheran melihat pemuda itu menjadi marah agaknya.
"Ke mana lagi kalau tidak ke Ta-pie-san?" jawab Siok Ho yang masih terus berlari.
"Kebetulan kalau begitu! Akupun hendak ke sana!" seru Siok Bun girang dan mempercepat larinya untuk menyusul kawannya yang aneh wataknya itu.
"Aku tidak suka melakukan perjalanan bersama seorang pembohong!" terdengar Siok Ho berkata lagi.
Siok Bun menjadi serba salah. Benar-benar aneh sekali watak pemuda murid Kun-lun itu, pikirnya. Urusan dia mencinta Lee Ing atau tidak, mengapa begitu diurus? Apa sih sangkut-pautnya dengan pemuda itu? Akan tetapi karena melihat Siok Ho benar-benar tidak mau menantinya, ia segera berseru, "Berhenti dulu, Oei-hiante, aku mau bicara. ,Aku tidak mau membohong lagi!"
Tiba-tiba Siok Ho berhenti dan memandang kepadanya, Wajah yang tampan itu kelihatan agak pucat dan mulutnya merengut.
"Hiante, kenapa kau marah-marah kepadaku?"
"Karena kau suka membohong."
Siok Bun memegang tangan pemuda itu, menarik napas panjang dan berkata, "Adikku yang baik, kau benar-benar selain memiliki ilmu silat yang lihai, juga mempunyai watak aneh! Oei-hiante, apakah sebabnya maka kau ingin mengetahui sekali apakah aku mencinta nona Souw atau tidak?"
Muka Oei Siok Ho menjadi merah sekali dan makin keras dugaan Siok Bun bahwa pemuda remaja yang masih hijau ini tentu juga jatuh hati kepada Lee Ing! Akan tetapi Siok Ho memandang dengan sungguh-sungguh dan katanya tegas.
"Aku paling menghargai kejujuran maka bencilah hatiku melihat kau tidak mau berterus terang. Twako, kau sendiri yang menganggap aku sebagai adikmu, masa seorang kakak membohong terhadap adiknya?" Sambil berkata demikian Siok Ho menarik tangannya terlepas dari pegangan Siok Bun.
"Baiklah kau maafkan aku kali ini. Aku berjanji lain kali aku takkan membohongimu, biar lidahku copot kalau aku berani membohong padamu. Oei-hiante, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau di sini. Dengan kau berada di dekatku, aku mendapat keyakinan bahwa aku pasti akan dapat menemukan kembali Souw-taihiap."
"Penjahat yang sudah berhasil menculik Souw lo-enghiong tentu bukan seorang biasa. Belum tentu aku dapat melawannya. Akan tetapi kita sama lihat saja nanti. Yang paling penting, untuk menebus kebohonganmu tadi, sekarang harap twako suka mengaku terus terang lebih dulu bagaimana perasaanmu terhadap nona Souw Lee Ing."
Diulanginya urusan ini membuat Siok Bun benar-benar menjadi bohwat (tak berdaya). Ia bingung dan tak tahu harus menjawab bagaimana. "Hiante, apakah hal ini penting bagimu maka kau terus mendesakku?"
"Tentu saja penting, karena ini memperlihatkan kejujuranmu kepadaku. Tanpa adanya kejujuran, kurasa percuma saja ada hubungan di antara kita," kata Oei Siok Ho dengan sikap sungguh-sungguh.
Siok Bun mengangguk-angguk. Pemuda aneh, pikirnya. Akan tetapi tidak amat mengherankan karena memang di dunia kang-ouw ini banyak terdapat orang yang aneh. Seorang pemuda yang mewarisi kepandaian Kun-lun-pai seperti Oei Siok Ho ini memang sudah sepatutnya pula memiliki watak aneh.
"Apa yang harus kukatakan? Nona Souw Lee Ing adalah seorang gadis yang tidak saja cantik jelita, juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Pemuda mana yang tidak jatuh hati kepadanya? Apa lagi dia gagah perkasa, puteri seorang pahlawan rakyat yang berjiwa patriotik. Aku hanya pemuda biasa, pemuda lemah, mana ada harga untuk menyintanya? Betapapun juga, harus aku nyatakan terus terang kepadamu bahwa semenjak pertama kali bertemu dengan nona Souw Lee Ing, aku merasa amat kagum dan suka kepadanya."
"Dan menyinta.....?" tanya Siok Ho sambil lalu. "....tentang itu.. eh...... aku tidak tahu karena belum pernah aku jatuh cinta." Belum selesai Siok Bun bicara, pemuda tampan itu sudah lari cepat, "Oei-hiante, tunggu..."
"Mari kita cepat-cepat pergi mencari terang yang terculik!" jawab Siok Ho tanpa menoleh. Siok Bun melompat ke atas kudanya dan membalapkah kuda menyusul.
"Tunggu dulu, Oei-hian-te,.... kita mencari seekor kuda untukmu atau kau tunggangi kuda ini...!"
"Tak usah, kau saja yang menunggang kuda!" jawab Siok Ho, terus berlari cepat.
"Biar kita tunggangi berdua sampai kita mendapat seekor lagi," kata Siok Bun yang sudah dapat menyusul pemuda itu.
"Tak usah, twako. Jangan kau sungkan-sungkan, kau tahu aku dapat berlari cepat dan aku... aku lebih suka jalan kaki."
"Jangan begitu, hiante. Kau membikin aku merasa tidak enak. Mari kita naiki berdua."
"Tidak! Siapa mau.... menyiksa kuda? Biar aku berlari saja!" Siok Ho berkeras, malah mempercepat larinya.
Siok Bun menjadi serba salah. Akhirnya karena ia tidak sampai hati melihat penolongnya itu berlari seorang diri sedangkan dia berkuda, ia lalu melpmpat turun, mengambil buntalan bekal pakaian lalu menggendong buntalan itu, meninggalkan kuda dan melanjutkan perjalanan sambil berlari juga mengejar Siok Ho.
Setelah agak lama dua orang pemuda itu berlari berdampingan tanpa mengeluarkan kata-kata, baru Siok Ho melirik dan bertanya, "Lho, mana kudamu, Siok-twako?"
"Kutinggal di jalan, lebih baik aku berlari seperti kau."
Oei Siok Ho tertawa, wajahnya dan matanya bersinar-sinar. "Kau terlalu sungkan atau terlalu baik hati?"
"Tidak keduanya, aku hanya seorang bodoh."
"Lho, kenapa?" tanya Siok Ho terheran sampai ia menghentikan larinya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa.
"Karena aku terlalu bodoh untuk dapat menyenangkan hatimu."
"Eh.... ah, kau marah, twako?"
"Bukan aku. Kaulah yang marah," jawab Siok Bun mendongkol.
"Aku tidak marah. Tak baik orang marah, Siok-twako. Orang marah lekas tua. Dan orang seperti kau ini tidak patut kalau marah. Kau terlampau baik.. Hanya terlalu merendahkan diri. Pemuda seperti kau ini tidak semestinya bilang kurang berharga bagi seorang nona seperti Souw Lee Ing."
Siok Bun tertegun, makin heran, tak mengerti sama sekali. Sukar baginya untuk menyelami perasaan hati pemuda aneh ini. "Apa maksudmu, hiante?"
"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan kalau kau memang ingin lekas-lekas berhasil menolong Souw Io-enghiong. Jangan-jangan jasa itu didahului Qleh pemuda lain, kan berabe untukmu!"
Siok Bun tertawa saja digoda begini, lalu mengerahkan tenaga menyusul Siok Ho yang sudah berlari cepat. Akan tetapi ia masih merasa bahwa diam-diam pemuda penolongnya ini sebenarnya masih marah kepadanya. Makin tebal keyakinannya bahwa pemuda ini tentu mencinta Lee Ing dan mencoba untuk menyembunyikannya dengan memuji-mujinya. Kalau betul demikian halnya, ia akan mengalah.
Selain belum tentu Lee Ing mau menerima cintanya, juga tak mungkin ia dapat bersaing dengan Oei Siok Ho, pemuda yang telah menolong jiwanya, pemuda yang amat simpatik dan entah mengapa telah menggerakkan hatinya untuk menganggapnya sebagai saudara atau adik sendiri.
Demikianlah, kita telah mengikuti perjalanan Liem Han Sin yang datang bersama Siok Beng Hui dan Bu Kam Ki, juga telah mengikuti perjalanan Oei Siok Ho yang datang bersama Siok Bun di asrama Hoa-lian-pai di Ta-pie-san.
Han Sin tertinggal jauh oleh Bu Kam Ki yang mendahului naik ke puncak Setelah mereka tiba dekat gunung itu, maka Bu Kam Ki dapat lebih dulu sampai dan sempat melihat Lee Ing bertempur dengan dua orang sahabatnya, Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo. Sedangkan Han Sin ketika sedang mendaki, bertemu dengan Siok Ho dan Siok Bun sehingga selanjutnya, tiga orang muda ini, bersama Siok Beng Hui, jalan bersama.
Alangkah kaget dan duka hati mereka ketika tiba di asrama Hoa-lian-pai, mereka melihat Souw Teng Wi dan ketua Hoa-lian-pai telah tewas, dan ternyata pula bahwa Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu telah berada di situ mengepalai pengurusan jenazah yang dimasukkan ke dalam peti yang dibuat secara mendadak pula.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika bersembahyang di depan peti mati ayahnya, Souw Lee Ing terguling dan jatuh pingsan. Ia mengalami tekanan batin yang hebat, membuat ia pingsan sampai lama sekali. Setelah mengantar Tok-pi Sin-kai yang sekarang menjadi buntung kedua tangannya dan Im-kan Hek-mo yang menjadi buta itu turun gunung, Bu Kam Ki sempat menengok ke asrama Hoa-lian-pai.
Kakek tua ini menarik napas panjang menyaksikan keadaan yang menyedihkan itu, dan ia sempat pula memeriksa Lee Ing yang masih belum siuman. "Ia menderita tekanan batin yang hebat, gadis yang malang ini. Biarkan dia beristirahat, jangan diganggu, lambat-laun ia akan sembuh kembali seperti sedia kala."
Setelah meninggalkan pesan ini dan memberi banyak nasihat kepada muridnya, Siok Beng Hui supaya teguh dan setia menjalankan tugasnya membela negara dan bangsa, Bu Kam Ki lalu pulang ke kampungnya di mana puterinya, Bu Lee Siang telah menantinya dengan tak sabar lagi.
Juga Im-Yang Thian-Cu yang masih berduka atas kematian bekas sumoinya, Lui Siu Nio-nio, pergi bersama Pek Mao Lojin setelah mengurus upacara pemakaman dari jenazah Souw Teng Wi, Lui Siu Nio-nio, dan Yap Lee Nio yang dikubur secara diam-diam oleh para anak murid Hoa-lian-Pai.
Kini yang tinggal di situ hanya Siok Beng Hui dan puteranya, Siok Bun, juga Oei Siok Ho dan Liem Han Sin. Mereka ini hendak kembali ke utara bersama-sama setelah Lee Ing sembuh. Nona Souw ini masih saja pingsan selama dua hari dua malam. Dan tiga orang pemuda itu, Siok Bun, Han Sin, dan Siok Ho, kelihatan muram dan gelisah saja.
Berkali-kali mereka bertiga secara bergantian atau kadang-kadang juga bersama-sama, berdiri atau duduk menunggu di luar jendela kamar, atau di ambang pintu, memandang gadis yang diam tak bergerak seperti orang tidur itu, dijaga oleh beberapa orang anak murid Hoa-lian-pai.
Dari sikap masing-masing, tiga orang muda ini tahulah bahwa mereka bertiga sama-sama mencinta Souw Lee Ing, maka diam-diam di antara mereka seakan-akan timbul persaingan! Sungguh amat menarik kalau mempelajari sikap tiga orang muda yang sedang menghadapi persaingan dalam cinta kasih yang kini diseling oleh perasaan gelisah melihat gadis yang dijadikan rebutan berada dalam keadaan menyedihkan itu.
Siok Bun kadang-kadang memandang kepada Han Sin dengan pandang mata tak senang dan penuh cemburu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah mengambil keputusan untuk berusaha supaya akhirnya Lee Ing menjadi jodoh Siok Ho. Malah diam-diam pemuda ini sudah membicarakan hal itu kepada ayahnya.
"Ayah, aku melihat bahwa nona Souw Lee Ing itu amat cocok kalau dijodohkan dengan Oei-hian-te. Nona Souw cantik jelita gagah perkasa, yatim-piatu. Demikian pula Oei-hiante, yatim-piatu dan biarpun tak dapat menandingi nona Souw dalam kegagahan, namun jarang menemukan seorang pemuda gagah-perkasa seperti Oei Siok Ho yang sudah mewarisi ilmu-ilmu lihai dari Kun-lun-pai,"
Tentu saja Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui memandang kepada puteranya dengan alis berkerut dan mata bersinar penuh keheranan. Tadinya ia mengira, bahkan sudah tahu pasti bahwa puteranya ini jatuh cinta kepada Souw Lee Ing, dan dia sendiri bersama isterinya juga sudah setuju seratus prosen kalau puteranya mendapat jodoh seperti Souw Lee Ing. Akan tetapi mengapa sekarang anaknya itu tiba-tiba mengeluarkan pendapat dan usul seperti itu?
"Aku menganggap Siok Ho seperti adikku sendiri, ayah. Aku kasihan melihat dia yang sudah yatim piatu, maka kuharap ayah sudi menolongnya, menjadi walinya untuk mengatur perjodohannya dengan nona Souw Lee Ing."
Semenjak tadi Siok Beng Hui diam saja dan ia memandang kepada puteranya penuh perhatian. Juga telinganya dapat menangkap getaran suara penuh haru dalam kata-kata terakhir dari Siok Bun. Ia menepuk meja dan berkata lantang,
"Bun-ji, omongan apakah yang kau keluarkan ini? Bukankah kau sendiri yang menyinta nona Souw semenjak pertemuan pertama dahulu? Mengapa sekarang kau mengajukan usul supaya aku melamar gadis itu untuk orang lain?"
"Ayah, Oei-hiante bukan orang lain bagiku. Mungkin dengan pemuda lain aku takkan mau mengalah, akan tetapi terhadap Oei-hiante, aku rela berkorban apapun juga. Dia telah menolong nyawaku, ayah....."
"Hemm, menolong nyawa orang adalah kewajiban setiap orang gagah. Tidak boleh kalau hanya karena ditolong lalu selama hidupnya bersedia mengorbankan kebahagiaan untuk membalas budi. Oei Siok Ho kukira tidak demikian picik untuk menanam budi agar kau balas dengan pengorbanan. Kalau demikian halnya, dia bukan seorang gagah. Seorang gagah menolong orang tanpa mengharapkan apa-apa. Kalau kau memang mencinta nona Souw dan dia mencinta kau."
"Ayah tahu aku mencinta nona itu, akan tetapi belum tentu dia mencintaku."
"Apa dia mencinta Oei Siok Ho?"
"Itupun anak belum tahu betul."
"Hemm, Bun-ji, jangan kau sembarangan hendak mengatur perjodohan orang. Jodoh adalah kehendak Thian, tak dapat diatur tak dapat dihalangi. Kalau memang Siok Ho berjodoh dengan Lee Ing, tak usah kau turut campur, tentu akan terjadi. Sebaliknya kalau kau memang berjodoh dengan Lee Ing, seorang Siok Ho di dunia takkan dapat menghalangimu."
Siok Bun tak berani banyak membantah lagi, akan tetapi di dalam hatinya ia mengambil keputusan untuk membantu Siok Ho sampai berhasil niat pemuda itu menjadi jodoh Lee Ing. Demikianlah, biarpun di luarnya kelihatan Siok Bun ikut bersaing untuk merebut hati gadis yang masih menggeletak pingsan itu, namun boleh dibilang bahwa ia melakukan hal ini demi kemenangan Siok Ho! la selalu menjaga jangan sampai gadis itu memilih Han Sin.
Bagaimana dengan Han Sin sendiri? Diapun maklum bahwa tidak hanya dia seorang yang tergila-gila kepada dewi pujaannya. Terang bahwa dua orang pemuda lain yang selalu berada di situ juga mencinta nona Souw ini. Akan tetapi, pemuda pendiam ini tidak banyak mengeluarkan perasaannya.
Diam-diam ia merasa khawatir karena maklum bahwa dua orang saingannya itu merupakan saingan kelas berat. Siok Bun adalah putera Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui, seorang pemuda gagah, putera seorang kepercayaan Raja Muda Yung Lo.
Kedudukannya tinggi, orangnya tampan dan gagah. Terhadap Siok Bun, Han Sin merasa kagum dan kiranya ia akan menerima nasib kalau sampai Lee Ing memilih Siok Bun yang memang patut menjadi suami seorang gadis seperti Lee Ing.
Akan tetapi kalau gadis itu sampai terpikat oleh Oei Siok Ho, benar-benar hati Han Sin merasa tidak rela! Bagi Han Sin, Siok Ho tidak menyenangkan hatinya. Harus ia akui bahwa Siok Ho gagah perkasa, murid Kun-lun-pai yang lihai sekali ilmu silatnya. Juga amat tampan, dari pada Siok Bun.
Akan tetapi pemuda itu terlalu tampan, terlalu pesolek, sifat yang bagi Han Sin amat tidak menyenangkan. Seorang laki-laki pesolek biasanya tidak setia, dan Han Sin paling takut melihat Lee Ing kelak menderita. Ia akan ikut merasa bahagia melihat Lee Ing hidup beruntung, biarpun dengan laki-laki lain. Cinta kasih Han Sin terhadap Lee Ing adalah cinta kasih murni, tidak mementingkan diri sendiri.
Bagaimana dengan pemuda ke tiga, Oei Siok Ho? Sukar untuk mengetahui perasaan pemuda tampan ini dari wajahnya. Hanya kadang-kadang kalau ia memandang kepada Lee Ing, sinar matanya yang lembut itu makin melembut, penuh rasa kasihan dan kelembutan sinar mata itu! mengeras apa bila ia melihat Siok Bun memandang ke arah Lee Ing dengan penuh perasaan. Terhadap Han Sin ia tidak perduli, seakan-akan saingan ini tidak berarti apa-apa baginya.
Demikianlah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri, tiga orang muda ini seperti tengah bersaing. Mereka menjaga Lee Ing dengan setia, menanti gadis ini membuka matanya. Sikap tiga orang muda ini terhadap Lee Ing yang, demikian memperhatikan, demikian mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, jelas sekali memperlihatkan perasaan mereka terhadap gadis perkasa itu.
Para anak buah Hoa-lian-pai sudah saling mempercakapkan hal ini dan tertawa-tawa di belakang punggung tiga orang pemuda itu. Siok Beng Hui sendiri hanya memandang dengan kening berkerut dan diam-diam ia menarik napas panjang dan menggeleng kepala.
Pada hari ke tiga, menjelang senja, Lee Ing siuman. Gadis ini mengejap-ngejapkan matanya seperti orang bangun tidur melihat cahaya matahari yang terang menyilaukan mata, lalu menutup matanya lagi, la mendengar seruan-seruan girang dan dibukanya lagi kedua matanya perlahan. Sinar matanya bergerak menyapu ruangan Itu, menyapu wajah orang-orang yang mengelilinginya, kemudian sinar mata itu berhenti pada wajah Siok Ho! Dan Lee Ing tersenyum gembira!
"Saudara Siok Ho, kau juga berada di sini...!" Sungguh hebat gadis ini, selama tiga hari pingsan, sekarang begitu siuman ia telah ingat akan keadaannya, ingat mengapa ia berbaring di situ, ingat pula bahwa dia berada di Ta-pie-san maka ia mengherankan mengapa tahu-tahu Siok Ho bisa berada di situ.
"Adikku Lee Ing yang manis, sudah tiga hari tiga malam aku berada di sini, menungguimu dalam pingsan selama itu," jawab Siok Ho sambil tersenyum pula dan mendekati pembaringan.
Jawaban ini membuat muka Lee Ing merah dan dadanya berdebar. Terdengar manis sekali jawaban ini, terutama panggilan "adikku yang manis" dan keterangan bahwa pemuda ini telah menjaganya selama tiga hari tiga malam!
"Ing-moi, sukur kau sembuh kembali!" terdengar suara Han Sin yang juga sudah mendekati pembaringan.
"Nona Souw, sukur kau baik-baik saja, hanya menyesal taihiap telah... meninggal dunia..." kata Siok Bun yang tidak ketinggalan, menghampiri pembaringan.
Lee Ing menengok. Wajahnya berseri ketika ia melihat Han Sin. "Sin-ko (kakak Sin)..." tegurnya, akan tetapi ia sudah mendengar ucapan Siok Bun dan sekaligus ia teringat kepada ayahnya. Otomatis semua kegembiraan hatinya lenyap dan wajahnya yang berseri itn menjadi muram, pipi yang kemerahan menjadi pucat sekali. Ia melompat turun dari pembaringan, akan tetapi tentu ia jatuh tersungkur kalau tidak cepat-cepat Siok Ho memegang lengannya.
"Kau masih payah, adik Lee Ing. Jangan turun dari pembaringan," kata Siok Ho sambil menuntun Lee Ing kembali ke pembaringan.
Lee Ing meramkan matanya karena pemandangannya menjadi pening, segala kelihatan berputaran. Akhirnya ia merebahkan diri lagi di atas pembaringan dan air mata mengalir turun dari kedua matanya yang dimeramkan.
"Kau kenapa, Ing-moi....? Apamu yang terasa sakit? Lukakah kau...?" tanya Han Sin penuh kekhawatiran dan suaranya menggetar tanda bahwa pemuda ini merasa terharu dan sedih sekali.
"Dia lemah, jangan kita mengganggunya. Mari kita keluar, biarkan dia mengaso dan menenteramkan pikiran," kata Siok Ho kepada Han Sin dan Siok Bun.
Tentu saja dua orang muda ini tidak membantah dan keluar dari kamar itu, dan diam-diam Han Sin makin benci dan cemburu kepada Siok Ho yang tadi tanpa ragu-ragu dan malu-malu memeluk Lee Ing ketika gadis itu hendak jatuh. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau memperlihatkan perasaan tak senangnya ini karena pada waktu itu iapun terlalu penuh oleh kegelisahan melihat keadaan Lee Ing, gadis pujaan hatinya itu.
Ternyata keadaan Lee Ing berlarut-larut. Tubuhnya terasa lemah dan ia hampir tak pernah turun dari pembaringan, la telah menderita pukulan batin yang hebat dan menurut dugaan Siok Beng Hui yang sudah banyak pengalaman, gadis ini membutuhkan waktu agak lama untuk beristirahat dan memulihkan kesehatannya.
Akan tetapi ia maklum bahwa tidak ada bahaya mengancam keselamatan Lee Ing yang hanya menderita serangan batin dan tubuh gadis yang amat kuat berkat ilmu silatnya yang tinggi itu. Akan segera mengusir semua kelemahan.
"Aku perlu memberi laporan ke kota raja." kata Siok Beng Hui kepada puteranya. "Kau amat-amati keadaan nona Souw, setelah sehat kembali ajak ke kota raja kalau dia mau."
Setelah berpamit kepada Han Sin dan Siok Ho, juga kepada para anak murid Hoa-lian-pai yang tinggal sedikit karena sebagian besar pulang ke kampung masing-masing setelah ketua mereka meninggal, Siok Beng Hui lalu meninggalkan Ta-pie-san.
Seperti orang-orang yang sudah sama-sama maklum, tiga orang pemuda itu tidak mau mendahului pergi dari situ. Benar-benar lucu keadaan mereka, tiga orang muda yang mempergunakan kesempatan ini untuk merebut hati Lee Ing. Akan tetapi kalau bagi Siok Bun rela-rela saja melihat betapa Lee Ing selalu menunjukkan perhatiannya, kepada Siok Ho, adalah Han Sin yang menjadi makin tak enak hati.
Pandangan matanya yang tajam melihat betapa Siok Ho agaknya menganggap Lee Ing seperti saudara sendiri, kadang-kadang malah tidak mengacuhkannya. Akan tetapi Lee Ing tampak gembira kalau melihat Siok Ho dan tiap kali Han Sin menengoknya, sudah tentu gadis itu menanyakan Siok Ho!
Han Sin tidak bisa tidur karenanya! Dalam sepekan saja tubuh pemuda ini menjadi kurus dan mukanya pucat. Andaikata Lee Ing sudah ada kepastian memilih Siok Bun, tentu ia akan mengalah dan pergi dari situ. Akan tetapi celakanya, agaknya Lee Ing jatuh hati kepada Siok Ho, padahal menurut pandangannya, pemuda pesolek itu tidak patut menjadi sisihan Lee Ing.
Pemuda itu belum tentu mencinta sesungguhnya, kalau tak boleh dibilang memikat Lee Ing dengan ketampanannya! Ia harus menjaga jangan sampai Lee Ing terjeblos dalam jebakan, jangan kelak hidup Lee Ing menjadi sengsara karena salah pilih.
Tidak hanya Han Sin yang tak dapat tidur. Juga Siok Bun melihat jelas betapa sikap Siok Ho tiba-tiba berubah banyak sekali setelah berhadapan dengan Lee Ing. Pemuda Kun-lun-pai ini selain menjadi pesolek, juga sikapnya amat dibuat-buat dalam berusaha merebut hati Lee Ing.
Bicaranya yang biasanya jujur dan kadang-kadang ketus, di depan Lee Ing menjadi bermanis-manis. Ia dapat menduga bahwa Siok Ho mencinta Lee Ing, akan tetapi mengapa sikapnya begitu menyolok seakan-akan hendak pamer atau sengaja menyakitkan hatinya dan hati Han Sin?
Beberapa hari kemudian, pada pagi hari sewaktu matahari mulai memancarkan cahayanya yang sehat segar, Lee Ing sudah duduk di taman bunga, ditemani oleh dua orang anak murid Hoa-lian-pai yang sudah setengah tua. Untuk memulihkan kesehatannya, Lee Ing sering kali berjemur matahari dan menjernihkan pikiran di taman itu.
Tanpa diketahui orang lain, dari dua jurusan yang berlawanan, datang Han Sin dan Siok Bun. Mereka tidak berani mengganggu, hanya melihat dari tempat agak jauh, bersembunyi di balik rumpun kembang. Siok Bun memandang penuh kasihan, Han Sin terharu dan terpaku seperti patung. Ingin ia menghibur dewi pujaannya, ingirv ia menyerahkan segalanya, rela mengorbankan nyawanya asalkan Lee Ing sembuh dan gembira lagi seperti sedia kala.
Memang Lee Ing jauh bedanya dengan beberapa pekan sebelumnya. Kalau tadinya ia merupakan seorang gadis, yang lincah jenaka, gembira dan gesit, sekarang ia kelihatan lesu dan tidak bergembira, mukanya agak pucat. Sebetulnya apakah yang diderita oleh gadis ini?
Sesungguhnya, biarpun dalam rohani gadis ini terpukul dan tertekan oleh kematian ayahnya, namun jasmani dia tidak apa-apa! Lee Ing sudah makan buah dewa yang ia dapatkan di dalam Gua Siluman, tubuhnya kuat sekali, darahnya bersih dan hawa sakti dalam tubuhnya mampu menolak segala macam kelemahan tubuh.
Akan tetapi sesuatu yang membuat dia bersikap seperti itu, yakni adanya tiga orang pemuda di sampingnya yang seakan-akan berlumba untuk menarik cinta kasihnya. Inilah yang membuat ia bimbang, membuat ia lemas dan tiap malam membuat ia tak dapat tidur. Sukar bukan main mengadakan pemilihan di antara tiga orang muda ini.
Ketiganya pemuda-pemuda pilihan, ketiganya amat memperhatikannya dan memperlihatkan cinta kasih yang besar. Han Sin dan Siok Bun sudah pernah menyatakan perasaan hati mereka, hanya Siok Ho yang belum. Justeru inilah yang membuat hati Lee Ing bimbang tidak karuan, membuat ia tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan....