Pusaka Gua Siluman Jilid 17, karya Kho Ping Hoo - "PINCENG sekarang yang maju, hayo siapa yang mau mencoba pinceng?'' tantangnya dengan lagak sombong.

Tak seorangpun di fihak Tiong-gi-pai yang merasa kuat menghadapi Raja Racun yang berilmu tinggi ini. Liem Han Sin melompat ke atas panggung, sikapnya tenang biarpun wajahnya agak pucat, la telah mengambil keputusan untuk mengorbankan diri. Biarlah kalau sampai ia binasa di tangan Tok-ong, asal kawan-kawannya yang lain dapat memperoleh kemenangan.
"Kai Song Cinjin, biarkan aku yang muda melawanmu!" kata pemuda yang tabah ini dengan sikap gagah.
Kai Song Cinjin mengerutkan keningnya dan merasa tertipu oleh fihak lawan. Ia maklum bahwa lawan mempergunakan siasat "menghadapi yang terpandai dengan yang terlemah" untuk memperoleh kemenangan. Akan tetapi ia tak dapat mundur Iagi, selain itu iapun sudah mempunyai siasat untuk akhirnya memperoleh kemenangan terakhir.
Kalau sekarang, dan ini sudah pasti, ia menangkan pertandingan ini, berarti keadaan menjadi dua-dua dan pertandingan terakhir nanti yang memutuskan, la melihat fihak lawan sudah tidak ada jagonya lagi yang boleh diandalkan, maka kiranya kalau ia mengajukan muridnya saja, ia yakin pasti akan menang. Pertandingan ke empat ini memang harus menang, berbahaya kalau bukan dia sendiri yang maju. Soal yang terakhir nanti, mudah diatur belakangan.
"Orang muda, kau yang melawan murid pinceng saja sudah mau mati, bagaimana sekarang berani menghadapi pinceng? Apa ini bukan berarti mengantar nyawa dengan sia-sia?"
"Tidak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia, Tok-ong," jawab Han Sin gagah. "Dan orang gagah tidak sayang nyawa untuk membela kebenaran, nama dan kehormatan."
"Kau memang sudah bosan hidup. Nah, terimalah!" Dengan secara sembarangan saja Kai Song Cinjin menampar, akan tetapi angin tamparannya sudah cukup membuat Han Sin yang mengelak itu terhuyung huyung!
"Ha ha, kau bersikap seperti orang gagah. Hendak pinceng lihat sampat di mana kau mempertahankan kegagahanmu dan tidak melompat turun panggung menerima kalah!"
Hwesio ini memang pandai sekali mempermainkan perasaan orang, la maklum bahwa pemuda di depannya ini memiliki kegagahan dan keberanian luar biasa, akan tetapi karena tak mungkin dapat melawan dia, kiranya nanti akan menyerah. Oleh karena itu, ia sengaja mendahului dengan ucapan itu yang tentu saja membuat Han Sin merasa malu kalau harus menyerah dan turun panggung! Ucapan ini sama saja dengan keputusan hukum mati bagi Han Sin.
"Jangan percaya padanya, Han Sin. Kalau kau tidak kuat, kau boleh lompat turun dan mengalah," kata Im-Yang Thian-Cu yang amat mengkhawatirkan keselamatan muridnya, la maklum akan watak Han Sin yang gagah dan berani, dan maklum pula bahwa ucapan Tok-ong itu dapat membuat Han Sin menjadi nekat dan pantang mundur. Memang betul seperti yang dikehendaki oleh Tok-ong.
Mendengar ucapan itu, Han Sin mencabut Yang-pit Im-san, yaitu sepasang senjata pit dan kipas. "Tok-ong, kau kira aku takut mati? MajuIah" Pemuda ini menerjang dengan kipas dan pitnya, melakukan serangan hebat sekali.
Akan tetapi hanya dengan sampokan ujung lengan bajunya, kembali Tok-ong dapat membuat pemuda itu terhuyung ke samping. Semua orang fihak Tiong-gi-pai mengerutkan kening. Pemuda gagah itu benar-benar bukan lawan Tok-ong Kai Song Cinjin yang lihai. Sampai tiga kali Han Sin menyerang dan selalu ia disampok sampai hampir roboh oleh Kai Song Cinjin.
Hwesio Tibet ini sengaja hendak menghina Han Sin. Kalau ia mau, sebentar saja ia bisa merobohkan pemuda itu, akan tetapi ia ingin memaksa Han Sin melarikan diri untuk kemudian dipukul sebelum turun. Ia ingin fihak Tiong-gi-pai mendapat malu. Kalau ia bisa membikin pemuda ini ketakutan dan melarikan diri! la tidak khawatir pemuda itu akan terlepas dan tangan mautnya, karena andaikata pemuda itu melompat turun, sebelum kakinya menginjak tanah ia dapat menyusulkan pukulan jarak jauh untuk menewaskannya.
Akan tetapi, biarpun sampai terhuyung-huyung tiga kali, Han Sin masih tetap bersemangat. la maju dan melakukan serangan lebih hebat pula. Kai Song Cinjin kini tidak mengebutkan lengan bajunya, melainkan menangkis dengan tangannya. "Krakkk!" Kipas di tangan Han Sin hancur berantakan."Ha-ha, pemuda gagah. Kau tidak menyerah?" Tok-ong mengejek. Namun ia belum mengenal watak Han sin kalau ia mengira pemuda itu akan menjadi gentar.
Pemuda itu menyerang lagi dengan pitnya, melakukan totokan yang bukan tidak berbahaya. Karena totokan itu benar lihai, terpaksa Tok-ong mengelak ke samping dan ujung lengan bajunya yang kiri menyambar, tepat mengenai pundak Han Sin, membuat pemuda itu roboh bergulingan di atas panggung. Akan tetapi secepat kilat Han Sin melompat bangun lagi dan mengirim tusukan pitnya, lagi sama sekali tidak memperdulikan rasa nyeri pada pundaknya.
"Kau bandel!" Tok-ong berseru dan sekali tangannya bergerak, pit yang dipegang pemuda itu sudah kena dirampasnya, lalu ditekuk patah dan dilempar ke bawah panggung.
Kini Han Sin berdiri dengan tangan kosong, menghadapi kakek itu dengan mata beringas, sedikitpun tidak kelihatan takut atau jerih. Tok-ong meringis mentertawakan. "Bocah cilik, kau masih belum menyerah?"
"Liem Han Sin hanya sudi menyerah kepadamu kalau sudah putus nyawa!" jawab pemuda itu dengan sikap gagah. Keadaan menjadi tegang sekali dan hampir semua orang di fihak Tiong-gi-pai memandang dengan muka pucat.
Im-Yang Thian-Cu kelihatan lebih merengut dari pada biasanya, hatinya penuh kemarahan dan kedukaan melihat muridnya berada di pinggir jurang kematian tanpa ia sanggup menolong. Sedangkan Liem Hoan duduk dengan muka pucat dan dua titik air mata menetes di atas pipinya.
Dapat dibayangkan betapa pilunya hati bapak ini melihat puteranya, anak yang tinggal satu-satunya, menghadapi maut dengan sikap demikian jantan, rasa duka dan bangga bercampur aduk menimbulkan keharuan yang luar biasa. Jiwanya menjerit, menangis melihat puteranya sudah tidak ada harapan lagi.
Tok-ong menjadi merah mukanya. Ia mulai marah dan ingin ia sekali pukul menewaskan pemuda di depannya itu. Sementara itu. Han Sin sudah menyerang lagi dengan pukulan tangan kanan ke arah dada Tok-ong Kai Song Cinjin.
"Plak! Plak!" Tok-ong menangkis dan berbareng menampar, hanya merupakan dorongan ke arah pundak Han Sin, namun cukup membuat pemuda itu mengeluarkan suara "uuuhhh...!" dan tubuhnya terguling di atas lantai panggung. Akan tetapi pemuda itu bangkit lagi biarpun dengan merangkak, dan mengerahkan kekuatan lagi untuk memasang kuda-kuda!
"Han Sin, kau menyerahlah!" Liem Hoan berseru keras, tidak kuat lagi menyaksikan puteranya disiksa. "Im-Yang Thian-Cu, kalau Han Sin menyerah kalah, dia kan bukan pengecut dan kau takkan marah, bukan?" pertanyaan ini diajukan oleh Liem Hoan dengan suara keras dengan maksud supaya terdengar oleh anaknya.
"Tentu saja tidak, karena memang dia bukan lawan Tok-ong," jawab lm-Yang Thian-cu yang juga merasa kasihan kepada muridnya.
Akan tetapi Han Sin adalah seorang pemuda yang berhati baja. Selama ia masih kuat bergerak, tidak nanti ia sudi menyerah kepada musuh jahatnya, musuh besarnya, guru Auwyang Tek yang telah membunuh dua orang saudaranya itu. la harus melawan urus, biarpun ia harus berkorban nyawa!
Tiba-tiba ia teringat akan "dewi" yang telah datang mengobatinya, la mendapatkan pikiran aneh. Dewi yang sakti itu betul-betul muncul dalam hidupnya, bukan dongeng bukan pula mimpi. Kalau dewi ini sudah berhasil menolongnya dan menyembuhkan lukanya, apa anehnya kalau sekarang juga datang menolongnya dengan kesaktiannya? Mengingat akan hal ini Han Sin berbisik, "Dewi yang mulia, bantulah hamba...!"
Tok-ong yang mendengar suara ini, tertawa bergelak. la merasa sudah cukup menyiksa karena sekarang ternyata olehnya bahwa sampai matipun pemuda bandel ini kiranya takkan suka lari, maka ia lalu mengerahkan tenaga di tangan kanannya dan mengirim pukulan jarak jauh sambil berseru, "Mampuslah!"
Pukulan yang dahsyat ini menghantam Han Sin dari depan dan Im-Yang Thian Cu sebagai ahli silat tinggi yang melihat ini sudah menahan napas dan meramkan mata, la maklum bahwa pukulan lweekang dari seorang Raja Racun seperti Tok-ong itu tentu sekaligus akan menewaskan muridnya itu.
Juga Pek Mao Lojin berkata perlahan, "Habislah riwayat seorang pemuda perkasa!"
Han Sin sendiri merasa dadanya disambar angin dahsyat, akan tetapi pada saat itu juga, dari punggungnya juga menyambar angin yang tidak kalah dahsyatnya, hanya bedanya, kalau sambaran angin dari depan itu berhawa panas, adalah sambaran angin dari belakangnya berhawa dingin.
Ia merasa betapa dua tenaga raksasa itu bergulat dan bertemu di sekitar tubuhnya, akhirnya tenaga dari depan itu mundur kembali dan Tok-ong Kai Song Cinjin mengeluarkan seruan kaget sambil mundur satu tindak ke belakang. Bagaimana kakek ini tidak akan merasa kaget kalau melihat pemuda yang dipukulnya tidak bergeming sedikitpun juga, bahkan tenaga pukulannya mental kembali!
Anehnya, pemuda yang sudah dapat menahan pukulannya itu biarpun tidak bergeming, namun kelihatan lemas menahan sakit pada pundak yang terluka. Bagaimana mungkin pemuda yang sudah terluka dan lemah ini dapat menahan pukulannya? Dengan marah sekali Tok-ong lalu melangkah maju dan kali ini ia mengerahkan seluruh tenaga, mengirim pukulan Hek-iok-ciang!
"Celaka...!" teriak Pek Mao Lojin yang tadi pun duduk bengong terlongong.
Tiba-tiba tubuh Han Sin kelihatan melayang di udara seperti terbawa angin keras dan pukulan Hek-tok-ciang itu tidak mengenai sasaran. Agaknya tubuh Hau Sin akan terlempar jauh ke bawah, maka cepat Tok-ong yang menyangka pemuda itu melarikan diri, mengirim susulan dengan pukulannya paling hebat, yaitu Ngo-tok-ciang. Pukulan ini ditujukan kepada tubuh Han Sin yang masih melayang di udara.
Terjadi hal yang aneh lagi. Han Sin yang tidak merasa melompat tahu-tahu merasa dirinya terlempar, tadinya mengira bahwa itu adalah akibat hawa pukulan lawan. Kini ketika Ngo-tok-ciang dipukulkan, kembali tubuh Han Sin yang sudah diudara itu terpental lagi, sekarang melayang ke arah tempat duduk rombongan Tiong-gi-pai dan kembali pukulan Ngo-tok-ciang mengenai angin.
Sementara itu, tubuh Han Sin sudah disambar oleh lm-Yang Thian-Cu dalam keadaan pingsan. Akan tetapi Im-Yang Thian-Cu terheran-heran juga girang sekali mendapat kenyataan bahwa pemuda ini sama sekali tidak menderita luka hebat dan nyawanya tidak terancam bahaya. Benar-benar amat mengherankan. Tentu saja Liem Hoan juga girang sekali mendengar keterangan ini dan segera Han Sin dirawat baik-baik.
Sementara itu, Tok-ong sampai lama berdiri bengong di atas panggung, tidak ada habisnya ia memikirkan keganjilan tadi. Akhirnya, tak sanggup memecahkan teka-teki itu, ia berpikir, "Kalau tidak pemuda itu mahir ilmu sihir, tentu ada orang pandai menolongnya."
Untuk dugaan terakhir ini ia merasa khawatir sekali, akan tetapi melihat kenyataan bahwa kalau ada orang pandai membantu orang itu sembunyi-sembunyi, tentu takkan muncul dan bukan orang fihak Tiong-gi-pai. la lalu turun dari panggung, disambut sorak-sorai kawan-kawannya yang kegirangan karena sekarang keadaan pertandingan menjadi dua-dua. Pertandingan terakhir akan menentukan fihak mana yang kalah atau menang.
Auwyang Tek maju sebagai jago ke lima. "Hayo mana jago muda Tiong-gi-pai yang belum maju. Mari lawan aku!" katanya tertawa-tawa sambil mengenakan sepasang sarung tangannya yang terkenal ampuh.
Siok Ho berdiri dan setelah menjura kepada Kwee Cun Gan, ia lalu melompat ke atas panggung, sikapnya tenang dan mukanya yang tampan sekali itu tersenyum-senyum. Melihat pemuda ini, Kui Ek terkejut dan cepat ia berseru kepada Auwyang Tek. "Auwyang-Kongcu, hati-hatilah. Dia itu murid Kun-lun-pai, kepandaiannya boleh juga!"
Auwyang Tek mengerutkan kening, tidak senang karena Kui Ek memuji musuh berdepan. Ia mengeluarkan senyum menghina, lalu berkata, "Kaya apa sih lihainya murid Kun-lun? Bocah masih ingusan, kau siapa dan sejak kapan kau menjadi anggauta Tiong-gi-pai?"
Siok Ho tetap tersenyum dan menjawab tenang, "Auwyang Tek, sudah lama sekali aku mendengar nama busukmu dan kebetulan sekali sekarang kita berhadapan sebagai lawan terakhir dari pibu ini. Aku Oei Siok Ho, murid Kun-lun-pai dan sebagai seorang yang menjunjung kebenaran, tentu saja aku membantu Tiong-gi-pai."
Sejak tadi Auwyang Tek sibuk menggosok-gosok kedua tangannya dengan bubuk hitam yang ia keluarkan dari selampai hitam di saku bajunya, dan Siok Ho mencium bau yang keras sekali.
"Oei-sicu, hati hati dia menambah bubuk racun pada sarung tangannya!" seru Pek Mao Lojin kepada Siok Ho.
Auwyang Tek tertawa bergelak. "Kalau bocah ingusan ini takut, boleh pulang dan ganti lain orang saja!"
Diam-diam Siok Ho merasa menyesal sekali mengapa ia tidak membawa pedang, karena menghadapi lawan ini dengan tangan kosong merupakan bahaya juga.
"Saudara Oei, kau boleh memakai siang-kiam-ku ini!" Kwee Tiong berseru dari bawah panggung. Akan tetapi Siok Ho tidak bisa menggunakan siang-kiam, maka pemuda ini ragu-ragu.
Tiba-tiba, entah dan mana datangnya, muncul seorang gadis cantik yang berlari-lari seperti lagak seorang bocah ke arah panggung dan berkata, "Saudara Siok Ho, kau pakailah pedangku ini, pasti menang!"
Siok Ho menoleh dan pemuda ini tertawa gembira. Pedang di tangan gadis itu kelihatan cocok sekali kalau ia pakai, pendek dan tipis ringan. "Kau? Di sini? Sejak kapan, mengapa aku tadi tidak melihatmu?" tanyanya.
Gadis itu adalah Lee Ing yang tertawa kecil "Aku sembunyi dan mengintai saja, takut melihat pertandingan-pertandingan yang begitu hebat."
"Baik, kupinjam pedangmu, terima kasih. Kau duduklah menonton dengan kawan-kawan di sana," kata pemuda itu menuding ke arah rombongan Tiong-gi-pai.
Lee Ing mengangguk, lalu berjalan menuju ke arah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya yang memandang kepada gadis ini dengan curiga dan heran. Lee Ing hanya tersenyum-senyum, lalu berdiri di pinggiran, tidak begitu dekat dengan rombongan Tiong-gi-pai, akan tetapi jauh dari rombongan Auwyang-taijin.
Kwee Tiong berdiri dan membawa sebuah bangku, menghampiri Lee Ing dan berkata sopan, "Nona, silahkan duduk di bangku ini. Sebagai kawan saudara Oei, kaupun sahabat kami."
Pemuda ini menjura dan wajahnya yang jujur tidak memperlihatkan perasaan apa-apa yang tidak baik. Lee Ing menjura dan menghaturkan terima kasih, lalu menduduki bangku itu. Orang-orang di fihak Auwyang-taijin juga memandang, akan tetapi tak seorangpun mengenal Lee Ing, maka mereka hanya menganggap bahwa gadis itu tentu kawan baik pemuda yang menghadapi Auwyang Tek.
Sementara itu, Auwyang Tek tertawa bergelak. "Aduh, sedang dimabok asmara berani naik panggung luitai? Orang she Oei, kalau kau nanti mampus dalam pibu ini, apa kau tidak kasihan kepada kekasihmu yang jelita itu? Siapa yang akan menghiburnya kelak....?"
"Jangan menghina dia...!" Siok Ho membentak, mukanya menjadi merah sekali.
"Saudara Siok Ho, biarkan saja dia mengoceh. Sebangsa binatang kalau mau mampus selalu ocehannya paling merdu. He, lutung tangan hitam, kau mengocehlah lagi yang baik!" kata Lee Ing sambil tersenyum-senyum dan wajahnya memperlihatkan watak yang jenaka sekali.
Ditantang begitu, Auwyang Tek bungkam. "Orang she Oei, kalau mampus, jandamu itu kuoperi"
Siok Ho mengayun pedangnya dan membentak, "Tutup mulut dan lihat pedang!" Dengan gerakan Hun-in-toan-san (Awan Melintang Putuskan Bukit) ia mulai menyerang, pedangnya menyambar ke arah kepala lawan sedangkan tangan kirinya lurus ke belakang.
"Bagus!" Auwyang Tek berseru dan menggunakan tangan kirinya menangkis ujung pedang lawan.
"Trangg!" bunga api berpijar ketika ujung pedang bertemu dengan sarung tangan yang melindungi tangan kiri Auwyang Tek. Bukan main hebatnya sarung tangan itu, tahan menerima senjata tajam dan runcing sampai mengeluarkan bunga api! Akan tetapi alangkah kagetnya hati Auwyang Tek ketika pedang itu seakan-akan menempel di tangannya, la terheran heran dan kaget sampai mengeluarkan seruan dan melompat ke belakang.
Juga diam-diam Siok Ho kaget sekali, mengira lawannya menggunakan tenaga istimewa untuk menempel pedangnya. Akan tetapi melihat lawannya terkejut dan melompat ke belakang, pemuda yang cerdik ini dapat menduga bahwa memang pedang ini yang aneh, dapat menempel sarung tangan. Ia menggunakan keuntungan ini untuk mendesak terus.
Auwyang Tek terdesak mundur sampai tujuh jurus, ia betul-betul repot sekali mengelak ke sana ke mari, tidak berani menangkis lagi. Tentu saja Auwyang Tek, juga Siok Ho sendiri, tidak tahu bahwa pedang pusaka yang jarang ke duanya di dunia ini. Pedang pusaka peninggalan Bu-Beng Sin-Kun. Bahkan Lee Ing sendiri belum tahu betul akan kehebatan pedang ini yang sebetulnya mengandung tenaga semberani.
Inilah sebabnya sarung tangan yang dipakai Auwyang Tek selalu menempel apa bila dipakai menangkis, karena sarung tangan itu terbuat dari pada bahan yang mengandung besi pula. Hebatnya lagi, tanpa disadari oleh dua orang yang sedang bertanding itu, bubuk hitam atau bubuk racun yang tadi digosok-gosokkan kepada sepasang sarung tangan itu, sedikit demi sedikit mulai menempel pada pedang setiap kali pedang dan sarung tangan bertemu. Oleh karena itu, makin lama pedang itu berubah hitam!
Setelah mengelak dan mundur terus sampai belasan jurus, akhirnya Auwyang Tek dapat menguasai kekagetannya dan mulai menyerang sekali-kali dengan pukulan Hek-tok-ciang. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika setiap pukulannya itu dilawan oleh dorongan pukulan tangan kiri Siok Ho. Makin lama tangan kiri Siok lio juga berubah menjadi merah!
"Dia mempunyai Ang-sin-jiu....!" terdengar Tok-ong Kai Song Cinjin berseru kaget, sengaja berseru keras-keras.
"Dikiranya orang sana saja yang bisa mengecat tangan?" Lee Ing menyindir. "Laginya, jauh lebih bagus bertangan merah dari pada bertangan hitam!"
Tiba-tiba terdengar seorang berseru, "Kwan Im Pouwsat... betul dia...!"
Yang berseru ini adalah Liem Han Sin yang baru siuman dari pingsannya. Ketika ia siuman, ia masih lemas dan pundaknya terasa sakit, la hanya melirik ke arah panggung dan melihat pertandingan antara Siok Ho dan Auwyang Tek, diam-diam kagum melihat Siok Ho mendesak lawannya.
Akan tetapi betapa kaget dan girangnya ketika ia melihat gadis yang selalu terbayang di depan matanya itu duduk menongkrong dengan enaknya di situ, menonton pertempuran sambil memberi komentar-komentar bahkan berani menyindir untuk menjawab kata-kata Tok ong Kai Song Cinjin! Kaget, girang, dan terheran-heran membuatnya, tanpa ia sadari, berseru tadi, bahkan ia lalu turun dari bangku panjang di mana ia direbahkan tadi, menghampiri L ee Ing dan berlutut di depannya!
Tadinya Im-Yang Thian-Cu dan Pek Mao Lojin yang menyaksikan tangan merah dari Siok Ho, saling pandang. "Kiranya kakek tua Kun-lun menurunkan kepandaiannya kepada bocah itu," kata Im-Yang Thian-Cu kagum. Mereka tidak memperhatikan Han Sin. Akan tetapi, setelah melihat kelakuan aneh dari Han Sin, Im-Yang Thian-Cu lalu menarik muridnya dan menyuruh Kwee Cun Gan mencari orang untuk mengantar pulang pemuda ini lebih dulu.
Liem Hoan lalu menarik tangan anaknya diajak pergi dari situ untuk dirawat. Semua orang mengira Han Sin sudah bersikap aneh itu karena luka-lukanya mendatangkan demam. Tak seorangpun, kecuali Lee Ing, yang tahu bahwa Han Sin sedikitpun tidak demam dan bahwa ia tadi bersikap demikian dengan sungguh-sungguh dan sewajarnya!
“Dia.... dewiku... betul berada disini.!" Han Sin masih berkata seperti orang mengigau ketika Liem Hoan menarik anaknya ini keluar dari Lian-bu-koan.
Memang hanya Han Sin saja yang tahu bahwa dia tadi telah ditolong lagi oleh gadis cantik seperti dewi kahyangan yang pernah mengobatinya itu. Ketika ia tadi menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin dengan tangan kosong dan nyawanya seolah-olah berada di telapak tangan Tok-ong, ia berdoa kepada "dewinya" untuk membantunya, dan memang telah terjadi hal yang amat aneh. Tadinya ia terlempar dari atas panggung, mengira bahwa ia terkena pukulan Tok-ong.
Akan tetapi kemudian ia tahu bahwa ia terlempar dari panggung sama sekali bukan oleh pukulan lawannya, melainkan ada tenaga ajaib yang memang menolong dan menyeretnya sehingga ia terluput dari pukulan Raja Racun itu. Setelah tadi ia melihat munculnya gadis itu, baru Han Sin merasa yakin bahwa tadi ia telah dibantu secara ajaib oleh kesaktian "dewi" itu!
Akan tetapi lain orang tidak tahu dan mereka sudah mencurahkan perhatian kepada pertandingan terakhir yang menentukan ini, sudah melupakan sikap aneh dari Han Sin. Hanya seorang saja yang menaruh perhatian khusus akan sikap itu dan kini orang itu memandang ke arah Lee Ing dengan penuh selidik. Orang ini adalah Tok-ong Kai Song Cinjin. Sebagai seorang sakti, Tok-ong sudah menaruh dugaan bahwa tadi ketika ia hendak membunuh Han Sin, rencananya gagal karena mungkin sekali Han Sin ditolong orang sakti.
Gadis inikah orang sakti itu? Teringat pula Tok-ong akan tokoh aneh yang mengacau gedung Auwyang-Taijin, menyaru sebagai patung setan. Ini pulakah orangnya? Tak masuk di akal sekali. Masa seorang gadis semuda ini dapat memiliki kepandaian setinggi itu? Oleh karena bantahan hatinya sendiri ini, Tok-ong mengalihkan perhatiannya dan kini ia memperhatikan jalannya pertempuran antara muridnya dan murid Kun-lun-pai itu. Ia mengerutkan keningnya.
Benar-benar Auwyang Tek terdesak hebat, terkurung oleh sinar pedang yang berkilauan seperti gulungan sinar perak itu. Pedang itu memang hebat sekali, lemas ringan dan ampuh. Siok Ho sendiri girang bukan main, juga kagum mempergunakan pedang pusaka yang ia pinjam dari gadis muda jenaka itu.
"Bagus! Hantam terus! Ganyang terus sampai mampus!" Lee Ing berteriak-teriak sambil tertawa-tawa dan bertepuk tangan, nampaknya gembira sekali melihat Siok Ho mendesak Auwyang Tek yang menjadi sibuk setengah mati. Kegembiraan gadis ini menulari orang-orang Tiong-gi-pai yang juga menjadi girang melihat jago mereka mendesak musuh. Sorak-sorai bergemuruh membesarkan semangat Siok Ho.
Auwyang Tek betul-betul kewalahan menghadapi terjangan-terjangan jago muda Kun-lun-pai ini. Semua pukulan Hek-tok-ciang yang ia lakukan sebagai pembalasan, dapat dipunahkan oleh Siok Ho dengan pukulan-pukulan Ang-sin-jiu. Sementara itu, pedang pusaka yang menyambar-nyambar laksana seekor naga benar-benar membuat Auwyang Tek mati kutu.
Ia mulai main mundur, mengandalkan dua sarung tangannya untuk menangkis atau mengelak. Semua bubuk hitam yang tadi ia ulas-ulaskan ke sarung tangan itu sudah "pindah" ke ujung pedang, disedot oleh besi sembrani. Sama sekali Auwyang Tek tak dapat membalas serangan lawan dan agaknya kekalahan baginya hanya tinggal soal waktu saja.
Tiba-tiba terjadi perobahan yang aneh. Kalau tadi Auwyang Tek bergerak cepat untuk menghindarkan diri dari kurungan sinar pedang Siok Ho yang bergulung-gulung, sekarang putera menteri itu bergerak lambat-lambat saja, akan tetapi anehnya, setiap gerakannya merupakan kunci yang mematikan serangan lawan.
Malah lebih dari itu, hanya dengan gerakan kaki mundur maju saja Auwyang Tek sudah berhasil mulai melakukan serangan-serangan balasan yang ampuh. Seolah-olah Auwyang Tek telah menemukan cara baru untuk menghadapi Siok Ho, atau seolah-olah pemuda itu mengeluarkan ilmu simpanannya yang lihai.
Semua orang terkejut dan terheran-heran. Bahkan Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu yang berilmu tinggi, hanya bisa menduga-duga saja sambil nemandang ke arah Tok-ong Kai Song Cinjin. Pendeta Tibet itu kelihatan anteng, duduk tenang dan tekun seperti orang bersamadhi sambil matanya tajam menatap ke atas panggung.
Dua orang tokoh itu hanya bisa menduga bahwa Tok-ong yang mempergunakan ilmunya membantu Auwyang Tek. Akan tetapi oleh karena andaikata membantu, bantuan itu tidak kelihatan dan tidak terbukti, mereka tak dapat berbual sesuatu, hanya memandang ke arah pertempuran dengan hati khawatir.
Memang tidak salah dugaan Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu. Ketika melihat keadaan muridnya terdesak dan berbahaya, Tok-ong Kai Song Cinjin tentu saja tidak mau tinggal diam. Beberapa kali Auwyang-taijin melirik ke arahnya dengan wajah khawatir, akan tetapi Raja Racun itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia mengeluarkan ilmunya yang hebat.
Biarpun ia duduk diam tidak bergerak dari tempatnya, biarpun bibirnya tidak kelihatan bicara, hanya bergerak sedikit saja, namun ia telah membantu muridnya. Hal ini hanya terasa oleh Auwyang Tek sendiri yang dalam kesibukannya mendengar suara gurunya, berbisik-bisik di dekat telinganya menyuruh ia tenang dan selanjutnya memberi petunjuk-petunjuk untuk menghadapi pedang lawan.
Tok-ong Kai Song Cinjin adalah seorang tokoh ilmu silat yang memiliki kepandaian tinggi dan pengetahuan luas sekali. Boleh dibilang semua cabang ilmu silat ia kenal baik, di antaranya Kun-lun Kiam-hoat (Ilmu Pedang Kun-lun) pernah ia selidiki dan pelajari sehingga ia dapat mengetahui dasarnya.
Maka sekarang melihat permainan pedang Siok Ho, setelah lewat puluhan jurus ia dapat mengenal pula dasar-dasar dan rahasianya. Maka dengan Ilmu Hoan-im-sin-kang (Tenaga Sakti Pindahkan Suara) ia membisikkan ke telinga muridnya semua gerakan-gerakan yang perlu dilakukan untuk mengimbangi permainan Siok Ho.
Inilah sebabnya mengapa tiba-tiba keadaan menjadi berobah, sekarang malah makin lama gerakan-gerakan Auwyang Tek makin mantap dan teratur, mendesak Siok Ho dengan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang! Biarpun Siok Ho selalu dapat menangkis dengan Ang sin-jiu dan menangkis dengan pedang.
Namun gerakan Siok Ho sekarang terbatas karena langkah-langkah dan gerakannya selalu tertutup seakan-akan Auwyang Tek sudah mengetahui ke mana ia hendak bergerak! Kini fihak Auwyang-Taijin bernapas lega, malah ada yang bersorak-sorak, sedangkan fihak Tiong-gi-pai memandang dengan muka pias dan bingung penuh kegelisahan.
Tiba-tiba terdengar Auwyang Tek berseru bingung, "Bagaimana, suhu....?" Gerakannya tidak karuan dan sebentar lagi putera menteri ini bergerak-gerak seperti orang menari bingung, ilmu silatnya kacau balau tidak karuan!
Apa yang terjadi? Ternyata bahwa telinga Auwyang Tek mendengar dua macam suara, kalau tadi suara Tok-ong Kai Song Cinjin berbisik-bisik di telinga kirinya, adalah sekarang pada saat yang sama ada suara lain berbisik-bisik di telinga kanannya! Celakanya, suara yang terdengar di telinga kanannya itu bicara berbisik bisik tidak karuan, memberi petunjuk-petunjuk yang sama sekali berlawanan dengan petunjuk suara Tok-ong di telinga kirinya. Tentu saja Auwyang Tek menjadi bingung.
Bagaimana ia tidak akan menjadi bingung kalau mendengar suara di telinga kiri, "Melangkah mundur dua tindak!" lalu pada saat itu juga mendengar suara di telinga kanan, "Maju terus dua tindak!" dengan suara yang keras? Mendengar dua suara yang berlainan, keduanya dekat benar dengan telinganya membuat Auwyang Tek bingung dan pening kepala, apa lagi setelah suara di telinga kanannya itu tiba-tiba dengan nada mengejek menyakitkan hati!
Dalam keadaan kacau balau itu. Auwyang Tek tak dapat mengelak lagi ketika ujung pedang Siok Ho membabat dan "brett...!" bajunya di bagian punggung sobek sampai lebar. Untung tadi ia masih ingat untuk menyampok pedang itu, kalau tidak tentu kulit dagingnya ikut robek!
Yang paling kaget melihat perobahan ini adalah Tok-ong Kai Song Cinjin. la maklum bahwa ada orang mengacaukan bantuannya pada Auwyang Tek. Cepat ia menengok ke arah rombongan Tiong-gi-pai. Di antara rombongan itu, orang-orang yang paling pandai hanyalah Pek Mao Lojin dan lm-Yang Thian-Cu.
Akan tetapi dua orang ini duduk dengan muka tak bergerak, hanya memandang ke atas panggung dengan wajah berseri akan tetapi mata membayangkan keheranan besar. Juga mereka ini tidak mengerti mengapa terjadi hal-hal aneh dalam pertandingan itu.
Akhirnya seperti orang diingatkan, Tok-ong menengok ke arah gadis muda yang duduk menyendiri. Wajah raja Racun ini tiba-tiba menjadi pucat, matanya berapi-api ketika ia melihat Lee Ing tertawa-tawa sambil bibirnya berkemak-kemik! Tak salah lagi, gadis itulah yang mengirim suara dari jauh mengacaukan Auwyang Tek dengan Ilmu Mengirim Suara Dan Jauh (Coan-ini-jim-bit)!
"Orang-orang Tiong-gi-pai berlaku curang! Serang dan bunuh semua pemberontak ini!" Tiba-tiba Kai Song Cinjin memberi tanda dengan seruan keras.
Memang sebelum pertandingan pibu dimulai, Auwyang-Taijin sudah mengatur siasat yang amat curang dan busuk. Kalau fihaknya menang dalam pibu, tidak akan terjadi apa-apa, akan tetapi kalau kalah, sudah diatur untuk menangkap atau membunuh semua orang Tiong-gi-pai! Tok-ong begitu melihat ada orang pandai membantu Siok Ho, dapat menduga bahwa muridnya akan kalah, maka ia mendahului dan memberi aba-aba menyerang.
Mendengar teriakannya itu tidak hanya semua orang yang duduk di rombongan Auwyang-Taijin yang bangkit menghunus senjata, bahkan dari luar lian-bu-koan berbondong-bondong masuk banyak perwira dengan senjata di tangan, siap untuk mengeroyok dan menggempur musuh! Adapun Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri melompat ke depan Lee Ing. terus menyerang sambil membentak.
"Pengacau cilik, kau mengandalkan apamu berani main gila di depan pinceng?"
Lee Ing tertawa, "Setan gundul, siapa sih takut padamu maka kau membuka mulut besar?"
Pukulan atau lebih tepat hawa pukulan Tok-ong tiba dan Lee Ing dengan enaknya menggerakkan tubuh yang sekaligus melayang ke kiri. "Brakk!" bangku yang tadi diduduki gadis itu hancur berkeping-keping bagaikan dihantam palu besar!
"Memukul bangku, cucuku pun bisa!" Lee Ing mengejek sambil membuat gerakan menari di depan kakek gundul itu.
Kai Song Cinjin menjadi makin marah, la menyerang terus sambil mengerahkan tenaga Iweekangnya. Kini ia dapat menduga siapa yang tadi membantu Liem Han Sin meluputkan diri dari pukulan-pukulan. Tentu gadis yang aneh dan lihai ini. Sungguhpun hal itu nampaknya tidak masuk di akal, namun menjadi kenyataan.
Buktinya sekarang dengari tarian-tarian aneh gadis ini mempermainkannya dan mengelak dari semua pukulannya, seakan-akan pukulan-pukulan seperti Hek-tok-ciang, Coa-tok-sin-ciang dan Ngo-tok-kun yang serba beracun itu dianggap ringan dan main-main saja.
Akan tetapi, Tok-ong Kai Song Cinjin adalah seorang sakti yang tingkat kepandaiannya sukar diukur lagi sampai bagaimana tingginya. Dia bukan seorang yang boleh dibuat main-main. Melihat gerakan-gerakan aneh dari Lee Ing, gerakan yang ia tidak mengenal sama sekali, ia mengeluarkan geraman keras menggetar untuk melumpuhkan tenaga dalam gadis itu dan berbareng ia melakukan dorongan keras dengan kedua tangan menggunakan pukulan jarak jauh.
Lee Ing biarpun belum banyak pengalamannya kalau dibandingkan dengan Tok-ong, namun berkat kepandaian sakti yang ia warisi, dapat berlaku waspada dan maklum bahwa serangan ini tak boleh dibuat main-main. Terhadap gerengan kakek itu ia mengeluarkan suara ketawa nyaring untuk melawannya, kemudian karena ingin coba-coba iapun mendorong dengan kedua tangannya ke arah Kai Song Cinjin.
Hebat sekali pertemuan dua tenaga raksasa itu. Tenaga Kai Song Cinjin hebat bukan main, Iweekangnya sudah matang dan untuk masa itu kiranya tidak banyak orang dapat melawan tenaganya. Akan tetapi Lee Ing telah mewarisi ilmu aneh yang luar biasa, pula ia telah makan tiga buah sian-li yang telah ratusan tahun umurnya. Di dalam tubuhnya mengalir hawa lm-Yang murni yang amat kuat, apa lagi ditambah oleh latihan-latihan ilmu silatnya yang aneh.
Menghadapi dorongan tenaga Tok-ong Kai Song Cinjin, tubuhnya terpental ke belakang seperti daun kering tertiup angin. Akan tetapi ia masih tertawa-tawa dan turun ke atas tanah kurang lebih empat tombak di belakangnya. Sebaliknya, biarpun ia hanya mundur dua langkah, Tok-ong Kai Song Cinjin merasa dadanya sesak seakan-akan dorongannya tadi bertemu dengan bukit baja dan tenaganya membalik.
Akan tetapi Lee Ing tidak memperdulikannya lagi. Gadis ini melihat betapa orang-orang Tiong-gi-pai dikeroyok dan maklum bahwa biarpun di situ ada Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu yang lihai dan sukar didekati oleh para perwira, akan tetapi kalau pertempuran diteruskan, orang-orang Tiong-gi-pai akhirnya akan kalah.
la menggunakan kesempatan ketika tubuhnya terlempar jauh karena gelombang tenaga hawa pukulan Tok-ong Kai Song Cinjin tadi, terus saja ia menyerbu dan merobohkan empat orang pengeroyok Kwee Cun Gan, sambil berseru.
"Paman Kwee, kau dan kawan-kawanmu larilah, biarkan aku menahan mereka!"
Kwee Cun Gan kagum bukan main melihat ketangkasan gadis ini. "Kawan-kawan, mundur semua!" teriaknya dengan keras, mengajak kawan-kawannya melarikan diri.
Akan tetapi desakan fihak Auwyang-Taijin membuat perintah ini sukar dilaksanakan. Auwyang-Taijin sendiri, sesuai dengan rencana siasat, secara diam-diam telah pergi menyelamatkan diri ke dalam begitu mendengar aba-aba Tok-ong tadi.
Pertempuran antara Auwyang Tek dan Siok Ho sudah selesai. Dengan sebuah tendangan kilat Siok Ho membuat Auwyang Tek terlempar ke bawah panggung di mana ia segera ditolong dan dibawa masuk oleh anak buahnya. Siok Ho lalu mengamuk ketika melihat kawan-kawannya dikeroyok. Pedang pinjamannya berkelebatan menimbulkan sinar bergulung-gulung yang merobohkan banyak orang.
Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu sudah dikeroyok pula oleh Yokuto dan Manimoko, dibantu pula oleh beberapa orang perwira. Orang-orang Tiong-gi-pai lainnya sudah terseret dalam pertempuran hebat dan mati-matian. Terdengar teriakan-teriakan dan pekik kesakitan, orang-orang terjungkal mandi darah.
"Saudara-saudara Tiong-gi-pai, larilah sebelum terlambat!" terdengar pula Lee Ing berseru keras. Tubuhnya berkelebat lenyap mendekati Siok Ho. Pemuda ini yang sedang enak membabat dengan pedang pinjamannya, tahu-tahu merasa dirinya ditarik ke tempat aman, pedangnya sudah pindah tangan dan terdengar suara halus,
"Saudara Siok Ho yang baik, sudah terlalu banyak kau membunuh orang. Keselamatanmu sendiri terancam, lekas kau lari!"
Siok Ho menoleh dan melihat Lee Ing sudah memegang pedang pusaka itu, kemudian terlihat gadis itu menggerakkan pedangnya. Sekali bergerak saja enam orang pengeroyok roboh dan luka-luka sehingga yang lain menjadi kaget dan gentar.
"Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu, harap mundur dan melindungi saudara-saudara Tiong-gi-pai melarikan diri!" kata pula Lee Ing sambil melompat mendekati tempat dua orang tokoh ini bertempur. Dua kali tubuhnya berkelebat dan terdengar suara nyaring sampai dua kali ketika pian kelabang di tangan Mo Hun dan tongkat burung di tangan Kui Ek terpental kena tangkisan pedang Lee Ing.
Pek Mao Lojin tertawa. "Mataku yang tua sudah lamur, tidak melihat seorang muda yang sakti. Setelah orang seperti kau di sini, apa lagi gunanya kakek-kakek lemah seperti kami? Im-Yang Thian-cu, mari pergi!"
Selain merasa tidak ada gunanya untuk melanjutkan pertempuran dengan orang-orang kerajaan karena salah-salah oleh kaisar mereka bisa dicap pemberontak-pemberontak, juga dua orang kakek ini melihat betapa pentingnya mereka melindungi orang-orang Tiong-gi-pai pergi dari situ. Di antara tiga puluh orang lebih anggauta Tiong-gi-pai sudah ada delapan orang yang roboh tewas dan di antaranya malah Kwee Tiong sudah menggeletak mandi darah.
Pemuda yang amat marah ini sudah mengamuk hebat dan sudah merobohkan banyak lawan. Akan tetapi akhirnya ia harus mengakui keunggulan dua orang pengeroyok utamanya, yaitu Manimoko dan Yokuto. la roboh terkena bacokan pedang panjang dari jago-jago Jepang itu!
"Celaka..!" Pek Mao Lojin berseru ketika melihat muridnya roboh terguling! Dengan gerakan cepat sekali ia melompat dan sekali menggerakkan kedua tangan ia berhasil membuat Manimoko dan Yokuto mundur terhuyung, lalu ia menyambar tubuh muridnya. Bersama Im-Yang Thian-Cu, kakek botak ini lalu membuka jalan darah dan melindungi Kwee Cun Cian dan kawan-kawannya keluar dari kepungan.
"Tok-ong Kai Song Cinjin tak tahu malu!" teriak Lee Ing. "Kalah pibu lalu mengeroyok, apa ini namanya orang gagah? Benar-benar pengecut hina dina! Kalau benar laki-laki, keroyoklah aku, jangan orang-orang Tiong-gi-pai!" Akan tetapi sambil berkala demikian, Lee Ing selalu melindungi orang-orang Tiong-gi-pai dari belakang, merobohkan setiap orang yang hendak mengejar.
"Tar-tar-tar!" Mo Hun menyambarkan pian kelabangnya ke arah leher Lee Ing. "Oho, ini si pemakan bangkai muncul lagi!" kata Lee Ing sambil menangkis dengan pedangnya dan pian itu lengket saja di situ!
Mo Hun membetot keras dan tiba-tiba Lee Ing menggerakkan pedangnya dan sinar hitam menyambar ke arah Mo Hun berbareng dengan terlepasnya pian. Sinar hitam itu adalah bubuk beracun yang tadi melengket pada ujung pedang, dari sarung tangan Auwyang Tek ketika bertempur melawan Siok Ho tadi.
Mo Hun gelagapan, tidak saja ia diserang sinar hitam, juga ia diserang oleh piannya sendiri. Ia pikir lebih berbahaya sinar hitam yang tidak diketahui apa itu, maka ia mengelak sambil merobohkan diri, dan tak dapat mencegah lagi ujung cambuk kelabangnya sendiri yang menyambar mukanya.
Ia masih dapat miringkan kepalanya dan ini baik sekali karena hanya telinga kirinya saja yang robek, bukan mukanya! Darah mengalir dan daun telinganya terasa perih sekali. Tok-ong Kai Song Cinjin dan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, juga jago-jago lain segera menyerbu untuk mengeroyok Lee Ing.
"Tangkap.....!" Mo Hun berteriak, mulutnya menyeringai kesakitan. "Dia itu puteri Souw Teng Wi....! Tangkap dia...!"
Seruan ini menyelamatkan Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya, karena mendengar bahwa gadis muda itu adalah puteri Souw Teng Wi, semua orang membalik dan beramai mengepung Lee Ing, dan orang-orang Tiong-gi-pai mendapat kesempatan untuk menyelamatkan diri. Beberapa orang penjaga yang berusaha menghadang mereka, mana bisa melawan orang-orang gagah ini, apa lagi di situ terdapat Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian-Cu?
Lee Ing sendiri yang tadi sudah merasai kehebatan pukulan Tok-ong Kai Song Cinjin, tidak berani memandang rendah kepada musuh besar ini. Apa lagi sekarang di samping Tok-ong, masih terdapat banyak sekali orang-orang pandai seperti Mo Hun, Kui Lk, dan lain-lain. Pula, perwira-perwira dan pengawal-pengawal istana mulai berdatangan.
Tidak akan ada gunanya melawan, pikirnya. la hanya menghendaki dapat bertempur satu lawan satu dengan musuh besarnya, Tok-ong Kai Song Cinjin. Akan tetapi pada saat seperti itu tak mungkin ia dapat berhasil membalas dendam ayahnya kepada Raja Racun itu.
Karena tidak ingin membunuh banyak orang yaug tak dikenalnya, Lee Ing hanya menggunakan kelincahannya untuk mengelak ke sana ke mari di antara keroyokan banyak lawan itu sambil menabas putus banyak senjata dengan pedangnya, la maklum bahwa kalau ia dekat dengan Tok-ong, sukar untuk lolos.
Apa lagi sekarang Tok-ong menyerukan pengepungan yang lebih rapat, la selalu menjauhkan diri dari Tok-ong dan hal ini mudah baginya setelah Lian-bu-koan itu penuh orang. Setelah Lee Ing memperhitungkan bahwa orang-orang Tiong-gi pai sudah lari jauh, ia berseru,
"Tok-ong, biar aku titip kepalamu itu dilehermu dulu. Lain kali aku datang mengambilnya!"
Tok-ong Kai Song Cinjin marah sekali karena tidak berhasil mendekati gadis itu. "Hadang dia! Jangan boleh lari! Serbu, kepung...!"
Akan tetapi siapa dapat mencegah gadis itu pergi? Setiap orang yang berani mencoba-coba untuk menghadang, segera roboh dengan tulang kaki patah-patah! Dengan kecepatan yang mengagumkan, gadis itu sudah dapat menyelinap di antara para pengeroyoknya dan melarikan diri ke luar, la terus dikejar, namun tanpa kesukaran apa-apa Lee Ing dapat meninggalkan para pengejarnya dan lari ke luar kota.
Tok-ong membanting-banting kaki dan menyumpah-nyumpah. "Tolol semua!" makinya. "Kalau tidak terhalang oleh kalian babi-babi tiada guna, pinceng sendiri bisa mengejar dan menangkapnya!"
Kalau Tok-ong memaki-maki marah merasa kecewa dan juga malu sekali terhadap Auwyang-Taijin bahwa dia tidak bahasil membasmi semua orang Tiong-gi-pai maka di lain fihak Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya yang sudah berhasil melarikan diri ke hutan, juga menderita kesedihan besar. Ternyata ada sembilan orang anggauta Tiong-gi-pai tewas, di antaranya Kwee Tiong!
Pemuda gagah ini biarpun sudah tertolong oleh Pek Mao Lojin dan dibawa lari, namun luka-lukanya amat parah dan ia tak tertolong lagi. Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Kwee Cun Gan. Perkumpulannya terancam, banyak kawan tewas dan kini tidak aman lagi berada di tempat itu.
"Tidak ada lain jalan. Kita harus ke utara dan menggabungkan diri dengan Raja Muda Yung Lo. menanti saat baik untuk menghancurkan durna-durna jahat itu," kata Kwee Cun Gan setelah pemakaman jenazah Kwee Tiong diurus beres, disaksikan oleh semua anggauta Tiong-gi-pai, juga Pek Mao Lojin dan lin-Yaug Thian-Cu hadir dalam upacara pemakaman.
"Sudahlah, sudah cukup kiranya pinto mengotorkan tangan, mencampuri urusan dunia. Pinto minta permisi Kwee sicu dan betapapun juga, pinto tidak menyesal telah membantu pergerakanmu yang memang mulia," kata lm-Yang Thian-Cu sambil menarik napas panjang.
Kwee Cun Gan menjura dalam ke arah Im-Yang Thian-Cu. "Totiang telah banyak menolong kami, dan tanpa bantuan totiang, kiranya Tiong-gi-pai telah terbasmi di Lian-bu-koan. Terima kasih dan selamat jalan, totiang, mudah-mudahan kelak kita saling bertemu pula."
"Han Sin, apakah kau masih belum ingin ikut dengan pinto mencari perdamaian abadi?" Im-Yang-Thian-cu menengok ke arah muridnya. Han Sin sudah sembuh dari lukanya, kini kelihatan sehat dan segar, la berlutut di depan gurunya dan berkata dengan suara dan wajah bersungguh-sungguh,
"Suhu, harap maafkan kalau teecu terpaksa belum dapat ikut. Pula, teecu merasa bahwa perdamaian abadi tidak ada gunanya kalau hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri saja, seperti halnya kebahagiaan takkan ada artinya kalau hanya dimiliki oleh beberapa gelintir orang saja. Perdamaian abadi baru timbul kalau pengacau dan perusuh, penindas manusia dan pemeras rakyat kecil sudah terganyang habis!
"Bagaimana hati ini bisa damai kalau mata melihat rakyat diperas habis-habisan oleh kaum durna? Tidak, suhu. Teecu hendak melanjutkan perjuangan, membantu Tiong-gi-pai, membantu Raja Muda Yung Lo, dan kelak kalau perdamaian dan kebahagiaan sudah dimiliki oleh semua orang, terutama rakyat kecil bukan orang-orang besar seperti Menteri Auwyang dan kaki tangannya, baru teecu suka ikut dengan suhu."
Im-Yang Thian-Cu mengerutkan kening. "Agaknya kaulah yang betul, muridku. Sesukamulah, lanjutkan perjuanganmu. Adapun aku sendiri... ah, untuk apa semua itu....? Untuk apa.....?" Tosu itu menggeleng-geleng kepalanya dengan muka sedih, lalu pergi dari situ tanpa bicara apa-apa lagi, kepalanya masih digeleng-gelengkan dan elahan napasnya terdengar.
Pek Mao Lojin juga minta diri. "Lohu juga mau melanjutkan perantauan," katanya kepada Kwee Cun Gan, "senang sekali dapat membantu kalian dan biarpun aku kehilangan murid, namun dia tewas sebagai seorang gagah, seorang pahlawan yang berjuang demi kebenaran dan untuk memusuhi pengaruh-pengaruh jahat yang menindas rakyat. Yang baik-baik saja menjaga diri agar kalian dapat sampai di utara dengan selamat. Kelak apa bila tiba saatnya, pasti lohu tidak segan-segan untuk membantu lagi." Kakek botak ini dengan mulut tersenyum-senyum seperti biasa lalu pergi dari situ tanpa menghiraukan ucapan terima kasih dari Kwee Cun Gan.
"Kalau kita semua ke utara untuk membantu Raja Muda Yung Lo, sebaiknya kita jangan datang dengan tangan kosong. Menurut keterangan Pek-kong-Sin-kauw Siok-taihiap dahulu, raja muda di Peking sudah membuat persiapan-persiapan untuk memperkuat kedudukan berhubung dengan makin meluasnya pengaruh para dunia. Kaisar Thai Cu agaknya tidak menghiraukan puteranya itu karena hasutan para durna, maka menurut dugaanku, kelak akan terjadi perebutan kedudukan.
"Sudah tentu kalau terjadi hal itu, kita akan memihak utara, karena kita tahu bahwa Raja Muda Yung Lo yang paling bijaksana dan tepat untuk memimpin rakyat, ke arah kemakmuran. Oleh karena itu, kita harus bekerja, sebelum ke utara, kita harus menghubungi orang-orang kang-ouw di selatan ini, memberi dorongan semangat kepada mereka agar jangan sampai masuk perangkap Auwyang Kansin (Menteri Korup Auwyang). Dengan demikian, mereka tidak akan dapat dibujuk oleh Tok-ong dan kelak dapat diharapkan bantuan mereka."
Semua orang memuji buah pikiran Kwee Cun Gan ini. Memang Kwee Cun Gan mempunyai bakat menjadi pemimpin serta memiliki kecerdikan dan pemandangan luas.
"Siauwte bersiap sedia melakukan petunjuk suheng." kata Siok Ho kepada Kwee Cun Gan yang ia anggap suheng (kakak seperguruan).
"Juga saya bersiap menanti perintah paman Kwee." kata Liem Han Sin dengan penuh semangat. Yang lain-lain juga meniru kesanggupan dua orang muda itu.
Kwee Cun Gan mengangkat tangan menyuruh semua orang diam. "Kita semua sekarang telah menjadi orang-orang buronan, tentu fihak Auwyang Kansin tidak mau tinggal diam saja dan sekali kita dilihat, tentu akan ditangkap sebagai pemberontak-pemberontak.
"Oleh karena itu, di selatan ini kita sudah tidak dapat bergerak bebas lagi. Berbahaya sekali kalau kita masih berkeliaran di sini. Oleh karena itu hanya sute Oei Siok Ho dan Han Sin yang tepat untuk menemui tokoh tokoh kang-ouw di selatan dan mengajak mereka bersama-sama membantu gerak an Raja Muda Yung Lo kalau saatnya sudah tiba.
"Dua orang ini selain muda, juga berkepandaian tinggi dan kiranya lebih mudah menjaga diri. Yang lain-lain secara berpencaran, mengajak kawan-kawan. sehaluan untuk bersama mengadakan persiapan. Akan tetapi yang kemarin ikut ke Lian-bu-koan, harus mengungsi ke utara." Demikianlah Kwee Cun Gan mengatur kawan-kawannya.
Siok Ho dan Han Sin diberi tugas menghubungi orang-orang kang-ouw. Dua orang muda ini akan Melakukan perjalanan ke selatan, kemudian mengambil jalan memulai, seorang melalui barat dan seorang timur, untuk menyusul ke utara.
"Jangan lebih dari enam bulan melakukan perjalanan ini," kata Kwee Cun Gan. "dan di dalam waktu itu apa bila kalian mendengar tentang pergerakan dari utara sudah dimulai, jangan membuang waktu, terus kalian menyusul kami untuk bersama-sama membantu Raja Muda Yung Lo."
Agak berat hati Liem Hoan melepas puteranya, akan tetapi oleh karena puteranya pergi melakukan tugas mulia ia merelakan harinya, hanya memesan agar puteranya dapat menjaga diri baik-baik dan berhati-hati.
"Gadis puteri Souw-taihap itu hebat, aku akan girang dan bangga kalau kelak kau bisa berjodoh dengan dia," kata Liem Hoan sebagai penutup.
Merah wajah Han Sin la juga sudah mendengar tentang puteri Souw Teng Wi, gadis muda yang tadinya ia kira Kwan lm Pouwsat, akan tetapi ternyata seorang gadis yang berkepandaian tinggi itu. Juga mendengar bahwa sekarang Kwee Cun Gan dan lain lain angganta Tiong-gi-pai lama termasuk ayahnya sendiri, mengenal gadis itu sebagai Souw Lee lng yang dulu diculik oleh Toat-beng-pian Mo Hun.
Memang tak dapat disangkal Iagi bahwa hati Liem Han Sin sekaligus jatuh cinta kepada gadis ini. Akan tetapi ia menjadi ragu-ragu kalau mengingat betapa mesra dain rukun agaknya hubungan antara Lee Ing dan Siok Ho!
Setelah segalanya dirundingkau masak-masak, rombongan Tiong-gi-pai dibubarkan dan masing-masing mulai melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Kwee Cun Gan berdua Liem Hoan langsung menuju ke utara untuk menghadap Raja Muda Yung Lo dan memberi laporan. Liem Han Sin dan Oei Siok Ho, dua orang muda gagah perkasa itu bersama dengan yang lain, malah menuju ke selaian.
Mereka sudah bersepakat untuk mengambil jalan sendiri-sendiri ke selatan. Siok Ho hendak menghubungi orang-orang gagah di sepanjang Sungai Kan-kian sedangkan Han Sin hendak melakukan perjalanan di sepanjang Sungai Siang kian terus ke barat. ke Bukit Ta-liang san.
Liem Han Sin berjalan seorang diri keluar dari wilayah Nanking menuju ke selatan, la berjalan dengan tenang dan sunyi. pikirannya masih penuh dengan bayangan gadis lincah jenaka yang telah menguasai hatinya, Souw Lee Ing. Di samping ini, juga ia merasa amat penasaran karena sebegitu jauh belum juga ia dapat membalaskan sakit hati atas kematian dua orang saudara perempuannya yang dibunuh oleh Auwyang Tek.
"Aku harus belajar lagi," pikirnya, "harus memperdalam ilmu silatku yang ternyata masih amat rendah. Aku harus berlatih keras, pertama-tama untuk dapat mengatasi Auwyang Tek, ke dua kalinya..." Jalan pikirannya berhenti dan terbayanglah ia kepada Lee Ing yang menurut orang-orang Tiong-gi-pai memiliki kepandaian yang amat tinggi! Ia harus dapat mengimbangi Lee Ing!
"Siapa tahu," pemuda itu melanjutkan lamunannya, "siapa tahu dalam perjalanan menghubungi orang-orang kang-ouw ini aku akan bertemu dengan orang sakti yang suka menurunkan kepandaiannya kepadaku...."
Akan tetapi hatinya menjadi gelisah, kecewa kalau ia teringat akan Oei Siok Ho. Pemuda itu hebat, tampan sekali dan ilmu silatnya juga tinggi, lebih tinggi dari padanya. Bagaimana ia mampu bersaing dengan Siok Ho? Melihat sikap Lee Ing ketika meminjamkan pedang kepada Siok Ho, sudah dapat dilihat bahwa gadis itu suka kepada Siok Ho.
Dia sendiri tidak melihat hal ini karena ketika terjadi ia masih pingsan. Akan tetapi kawan-kawan di Tiong-gi-pai yang tiada habisnya bicara tentang Lee Ing, mengatakan demikian. Bagaimana dengan Siok sendiri? Pemuda itu hanya tersenyum dengan wajahnya yang ganteng, tidak mau memberi komentar apa-apa.
Hanya kata Siok Ho kepadanya, "Saudara Han Sin, kita bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nona Souw. Kepandaiannya sepuluh kali lebih menang dari kita."
Anehnya, Siok Ho nampaknya tidak begitu memperhatikan Lee Ing, malah kelihatan jemu dan tidak senang kalau ada orang bicara penuh pujian terhadap gadis puteri Pendekar Besar Souw Teng Wi itu! Cemburu ataukah memang tidak ada perhatian? Masih sukar bagi Han Sin untuk menerkanya.
Saking asyiknya melamun sambil berjalan perlahan, pemuda ini tidak merasa bahwa semenjak tadi ada orang mengejarnya dari belakang. Baru setelah orang itu dekat, ia mendengar gerakannya dan menoleh. Berubah wajah Han Sin dan ia cepat mencabut kipas dan pitnya. Sepasang senjata ini adalah senjata suhunya. Im-Yang Thian-Cu meninggalkan sepasang senjatanya kepada muridnya ini untuk bekal dalam perjalanan karena senjata pemuda ini telah rusak oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.
Pengejarnya bukan lain orang, adalah Ma-thouw-Koai-iung Kui Ek! Kakek bermuka burung ini menyeringai penuh ejekan, nampaknya girang sekali karena ia berhasil mendapatkan seorang buronan yang cukup berharga. Memang tidak salah dugaan Kwee Cun Gan, Menteri Auwyang menjadi marah sekali mendengar bahwa orang-orang Tiong-gi-pai dapat meloloskan diri.
Pembesar ini segera memberi perintah kepada orang-orangnya untuk melakukan pengejaran dan mengerahkan sejumlah besar tentara penjaga keamanan. Juga menteri yang berhati palsu ini melapor kepada kaisar bahwa gerombolan pemberontak bernama Tiong-gi-pai dipimpin oleh Kwee Cun Gan telah membunuh banyak perwira. Kaisar yang mendengar laporan ini tentu saja memberi ijin untuk membasmi gerombolan itu.
Tok-ong Kai Song Cinjin mengerahkan pembantu-pembantunya, melakukan pengejaran secara berpencar. Dia sendiri segera mengejar ke utara karena Tok-ong maklum bahwa orang-orang Tiong-gi-pai mengandalkan pengaruh Raja Muda Yung Lo untuk memusuhi fihak Menteri Kerajaan Beng.
Akan tetapi Kui Ek dan Mo Hun berpikir lain. Dua orang ini suka membantu Menteri Auwyang hanya karena mereka ingin memperoleh kedudukan mulia dan kemewahan hidup belaka, berlindung di bawah kewibawaan kaisar. Akan tetapi kalau pemerintah Beng-tiauw akan berperang dengan Raja Muda Yung Lo misalnya, mereka tentu merasa enggan untuk membantu.
Bagi mereka, tidak ada pikiran sedikitpun tentang tata negara dan tidak berfihak kepada siapapun. Pokoknya asal dapat hidup senang dan siapa yang dapat menjamin kesenangan dialah yang akan mereka bantu. Akan tetapi kalau sampai harus bermusuhan dengan raja muda di utara yang kabarnya didukung oleh orang-orang gagah di utara nanti dulu. Itu terlalu berbahaya!
Maka keduanya tidak mengejar ke utara agar jangan sampai berganti musuh dengan tokoh-tokoh utara. Mo Hun melakukan pengejaran ke timur sedangkan Kui Ek ke barat. Mereka juga hendak melanjutkan kesenangan mereka merantau, karena di kota raja sudah tidak ada apa-apa lagi. Kalau orang-orang Tiong-gi-pai sudah pergi semua, ada apa lagi sih harus tinggal di kota raja?
Inilah sebabnya maka Kui Ek secara kebetulan dapat bertemu dengan Han Sin. Tentu saja kakek bermuka burung itu girang sekali karena terbuka kesempatan baginya utnuk membuat jasa dan menerima pahala dengan menangkap Liem Han Sin, seorang tokoh Tiong-gi-pai yang sudah dicap pemberontak-pemberontak, la sudah melihat sendiri kepandaian pemuda ini ketika melawan Tok-ong Kai Song Cinjin, karenanya ia memandang rendah.
"Aha, murid lm-Yang Thian-Cu! Kebetulan sekali, agaknya sudah nasibmu untuk mati dalam usia muda setelah kau terlepas dari tangan Tok-ong!" kata Kui Ek tertawa-tawa dan menggoyang-goyangkan tongkatnya. Liem Han Sin sama sekali tidak kelihatan takut, malah bibirnya menyungging senyum mengejek.
"Kukira siapa, tidak tahunya Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang kemarin dulu keok dalam pibu oleh suhu." Mendengar kata-kata ini dan melihat senjata kipas dan pit di tangan pemuda itu. Kui Ek menjadi marah sekali. Panas hatinya karena diejek tentang kekalahannya melawan Im-Yang Thian-Cu.
"Bagus, sekarang kau muridnya yang harus membayar hinaan itu!" serunya dan cepat sekali tongkatnya sudah digerakkan menyerang kepala Han Sin.
Tentu saja pemuda itu tidak berani berlaku lambat. Cepat ia mengelak dan balas menyerang dengan pit di tangan kanannya. Pemuda ini pernah bertanding melawan Tok-ong, sama sekali tidak gentar biarpun nyawanya terancam bahaya maut, apa lagi sekarang hanya melawan Kui Ek. Biarpun tingkat kepandaian Kui Ek memang lebih tinggi darinya, namun pemuda yang gagah berani ini sama sekali tidak menjadi jerih.
Dengan sepenuh tenaga ia mengerahkan kepandaiannya, mati-matian melawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek. Ketabahan dan kenekatan pemuda ini banyak membantunya, membuat gerakan-gerakannya jauh lebih cepat dan berbahaya sehingga Kui Ek sendiri terpaksa berlaku hati-hati menghadapi lawan yang tabah ini.
"Gurumu saja sudah payah melawanku, apa lagi kau!" Kui Ek sengaja mengejek untuk membuyarkan pencurahan perhatian (konsentrasi) lawannya yang benar-benar ulet itu.
Akan tetapi Han Sin sama sekali tidak terpengaruh, bahkan la tiba-tiba mengibaskan kipasnya ke arah muka lawan, tubuhnya menyelinap di bawah tongkat yang menyambar-nyambar, terus maju sambil "memasukkan" pitnya mencoba menotok lambung lawannya.
Kui Ek terkejut dan cepat ia membanting tubuhnya ke belakang, menggunakan tongkatnya yang ditekan pada tanah untuk melambung lagi dan berjungkir balik ke belakang. Hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan diri. Bukan main marahnya Ma-thouw Koai-tung Kui Ek. Serangan tadi hampir saja mencelakakannya. Kalau sampai lambungnya terkena totokan tadi, amat boleh jadi ia akan roboh!
"Bangsat cilik lihat pembalasanku!" teriak Kui Ek dan tongkatnya menyambar ganas. Tongkat yang ujungnya dipasangi kaitan itu kini bergerak dengan cepat dan kuat, membuat Han Sin repot menangkis dan mengelak. Sebentar saja Han Sin yang memang kalah tinggi tingkatnya, hanya mampu mempertahankan diri saja. Kui Ek mulai lagi dengan ejekan-ejekannya sambil mendesak terus dengan pukulan pukulan mautnya...