Pusaka Gua Siluman Jilid 13

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Pusaka Gua Siluman Jilid 13
Sonny Ogawa

Pusaka Gua Siluman Jilid 13, karya Kho Ping Hoo - SWAN THAI COUWSU memandang ke atas udara, menarik napas panjang dan berkata seperti berdoa, "Pikiran seorang bijaksana adalah bebas merdeka. Namun sesuai dengan kehendak rakyat jelata. Terhadap yang baik maupun yang jahat juga Kuperlakukan dengan baik tiada beda. Karena kebajikan adalah kebaikan belaka. Terhadap yang jujur maupun yang tidak kuperlakukan dengan jujur tiada beda Karena kebajikan adalah kesetiaan belaka." Jawaban berupa sajak ini sebetulnya adalah sebagian dari pada pelajaran dalam Agama To, yaitu sajak dalam kitab To Tek Keng pelajaran Nabi Lo Cu.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

"Kai Song Cinjin, anak murid Kun-lun-pai tewas sebagai ksatria-ksatria perkasa, tewas dalam pertempuran melawan kejahatan. Hidup atau mati bukan di tangan kita, mengapa pinto harus mencemarkan kehormatan anak murid yang membela kehormatan? Di dalam pertempuran, kalah menang mati hidup bukan merupakan soal yang perlu diributkan. Anak murid Kun-Iun-pai gugur karena membela nama partai, juga karena kalah tinggi kepandaiannya. Tidak lain pinto hanya bisa menarik napas panjang. Akan tetapi, melihat dia ini hendak membunuh seorang anak kecil, ini bukan pertempuran lagi namanya, melainkan usaha membunuh dan terpaksa pinto harus turun tangan."

"Swan Thai Tosu, kiranya begitu anggapanmu. Sudahlah semua itu, Kedatangan pinceng ini ada hubungannya dengan sepak terjang Souw Teng Wi murid Kun-lun-pai. Dia sudah berdosa terhadap kaisar, sudah berani menjadi pemberontak dan pengkhianat. Karena dia murid Kun-lun-pai, harus kau yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Atas perintah kaisar, pinceng dengan pasukan terpaksa mengadakan pembasmian ke Kun-lun-pai agar jangan terulang lagi pemberontakan seperti yang dilakukan Souw Teng Wi. Akan tetapi melihat kau sudah begitu tua, tak lama dalam beberapa hari lagi tentu mati, pinceng mau memberi ampun asal kau suka berlutut ke arah kota raja dan minta ampun."

Kalau Swan Thai Couwsu belum mencapai tingkat yang amat tinggi dalam ilmu batin, tentu ia akan menjadi marah sekali mendengar penghinaan ini. Akan tetapi dia hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya. Siok Ho, bocah yang berada di belakangnya itu tiba-tiba berdiri dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Kai Song Cinjin dan membentak,

"Kakek gundul, kau benar-benar kurang ajar sekali! Kau kira sucouw akan sudi melakukan perbuatan menurut obrolan kosongmu itu? Jangankan sucouw, aku sendiri lebih baik mampus dari pada menurut kata-katamu yang kotor seperti najis!"

Semua orang marah, juga, heran menyaksikan bocah yang begitu berani memaki Kai Song Cinjin. Kakek gundul ini membelalakkan matanya, akan tetapi ia tidak berani sembarangan turun tangan karena bocah itu berada di belakang Swan Thai Couwsu.

"Hemm, kau tunggu sajalah. Sebentar lagi otakmu tentu akan dimakan oleh Mo Hun," katanya menyindir. Mo Hun girang sekali mendengar janji Kai Song Cinjin ini dan air liurnya sudah memenuhi mulutnya, sakit di pundaknya sudah tak dirasakannya lagi.

"Kai Song Cinjin, kau sudah mendengar ucapan bocah ini. Biarpun dia masih kecil, dia ini pelayanku yang kusayang, pantang bagiku membikin dia kehilangan muka. Terpaksa pinto tak dapat memenuhi permintaan tadi, malah pinto harap kau membawa anak buahmu pergi cepat-cepat dari sini sekarang juga agar pinto dapat mengurus semua jenazah ini."

Kui Ek yang wataknya sombong itu menjadi tidak sabar lagi. "Totiang, kenapa melayani tua bangka mau mampus seperti ini? Bunuh mampus saja supaya tidak banyak rewel!" Setelah berkata demikian, ia menggerakkan tongkatnya menubruk maju, diikuti oleh lima orang pengawal lain yang juga menjadi tidak sabar mengapa Tok-ong mau melayani seorang kakek yang berdiri saja sudah hampir tidak kuat.

"Siancai.. siancai...!" Swan Thai Couwsu berkata sambil mengangkat kedua tangan seperti hendak melindungi kepalanya dari pukulan-pukulan senjata tajam itu.

Segera terdengar suara mengaduh dan berdebukan ketika Kui Ek dan lima orang kawannya itu terlempar dan terpukul oleh senjata-senjata mereka sendiri! Kui Ek yang kepandaiannya paling tinggi masih dapat mengelak sehingga hanya telinga kirinya yang terkena serempetan tongkatnya sendiri sampai mengeluarkan darah dan lecet-lecet.

Yang celaka adalah para pengawal itu. Yang hendak menyerampang kaki Swan Thai Couwsu, goloknya membalik menyerampang kaki sendiri sampai terluka parah, demikian pula yang membacok kena bacok, yang menusuk kena tusuk.

Tentu saja para anggauta rombongan menjadi kaget dan gentar menghadapi kakek yang lihai seperti ahli sihir ini. Kui Ek dan Mo Hun sudah dikalahkan dengan mudah, apa lagi para pengawal. Semua orang kini memandang ke arah Kai Song Cinjin dan mengharapkan hwesio ini yang akan turun tangan.

Kai Song Cinjin menjadi serba salah. Melihat sepak terjang Swan Thai Couwsu tadi, jelas ternyata bahwa kakek itu biarpun sudah tua sekali masih amat lihai, belum tentu ia dapat mengalahkannya. Kalau tidak maju, ia merasa malu. Kalau maju resikonya terlalu besar. Menangkan kakek tua ini tidak akan mengangkat namanya, kalau kalah sebaliknya memalukan sekali. Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa tinggal diam.

"Swan Thai Couwsu, kau tidak mau menurut juga tidak apa, karena hal itu sama saja. Kun-lun-pai sudah terbasmi habis, tinggal kau yang menanti mampus ini bisa apakah? Akan tetapi kalau tidak diberi hajaran, kau yang sudah tua ini akan menjadi tak tahu diri dan mengira tidak ada orang yang berani melawanmu. Kakek tua, beranikah kau menerima pukulanku sampai lima kali tanpa mengelak dan tanpa pergi dari tempat kau berdiri?" Kai Song Cinjin memang licik sekali.

Ia tahu bahwa kalau dia menantang, kakek yang menjadi tokoh besar Kun-lun-pai ini pasti tidak dapat menolaknya dan ia tahu bahwa kelihaian terutama dari kakek ini adalah ilmu pedangnya. Kalau kakek ini sudah memegang pedang, dia tidak tahu bagaimana dapat mengalahkannya. Maka pendeta Tibet yang curang ini segera menggunakan tipu muslihat, la menantang Swan Thai Couwsu untuk menerima pukulannya sampai lima kali.

Ilmu pukulannya Hek-tok-ciang amat kuat dan ia hendak mengajak tosu yang sudah tua sekali ini untuk mengadu tenaga! la tidak percaya bahwa tosu setua ini masih dapat menangkis Hek-tok-ciang, pukulannya yang belum pernah dapat ditangkis lawan itu. Tepat seperti dugaan Kai Song Cinjin, ketua Kun-lun-pai itu sambil menarik napas panjang dan memandang ke atas, kembali mengucapkan sajak dari kitab To Tek Keng :

"Kata-kata jujur tidak bagus. Kata-kata bagus tidak jujur. Orang baik tidak suka berbantahan. Orang berbantahan tidak baik. Orang yang tahu tidak sombong. Orang yang sombong tidak tahu. Orang bijaksana tidak menyimpan Ia menyumbang sehabts-habisnya. Tapi makin menjadi kaya. Ia memberi sehabis-habisnya. Tapi makin berlebihan. Jalan yang ditempuh langit selalu menguntungkan tidak merugikan. Jalan yang ditempuh orang bijaksana. Bekerja, memberi tanpa mengharapkan pahala."

Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi tidak sabar lagi. "Eh, tosu tua, dengan sajakmu itu apa yang kau maksudkan? Berani tidak kau menerima tantanganku tadi?"

"Kai Song Cinjin, kau mengandalkan Hek-tok-ciang, siapa yang tidak tahu? Kalau sudah setua pinto ini, siapa yang perduli lagi tentang mati hidup? Kau berniat menamatkan hidup pinto dengan Hek-tok-ciang lima kali berturut-turut, silahkan!"

"Kau menerima tantanganku untuk menghadapi lima kali pukulanku tanpa mengelak?" tanya lagi Kai Song Cinjin dengan suara keras agar terdengar oleh semua orang dan agar nanti ia tidak dianggap curang. Swan Thai Couwsu hanya mengangguk dan masih berdiri bersandarkan tongkat bambunya.

"Kalau begitu kau bersiaplah, lihat pukulanku!" bentak Kai Song Cinjin yang sudah mengerahkan tenaga Iweekangnya dan dengan gerakan tiba-tiba ia memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu.

Tosu tua itu bersikap tenang sekali. Tanpa merobah kuda-kuda kakinya, ia menggerakkan tongkatnya dari samping sambil miringkan tubuh. Ujung tongkatnya itu tidak ditusukkan, akan tetapi otomatis kalau Kai Song Cinjin meneruskan pukulannya, tentu pergelangan tangannya akan tertusuk ujung tongkat.

Kalau orang lain yang memegang tongkat, tentu tongkat itu terkena hawa pukulan Hek-tok-ciang saja sudah akan remuk. Akan tetapi Kai Song Cinjin cukup maklum akan kelihaian tongkat itu, maka terpaksa ia menarik kembali tangan kanannya yang memukul.

Padahal biasanya, tanpa tangannya mengenai tubuh orang, hawa pukulan Hek-tok-ciang sudah cukup merobohkan lawan. Sekarang hawa pukulannya itu hanya menggerakkan pakaian tosu itu, sama sekali tidak mendatangkan akibat apa-apa seakan-akan tosu itu tidak merasainya.

Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu. Begitu pukulan pertamanya digagalkan, kedua tangannya lalu melakukan pukulan-pukulan susulan secara bertubi-tubi. Pukulan ke dua dengan tangan kiri dipapaki oleh tongkat tosu itu. Kai Song Cinjin dengan berani melanjutkan pukulannya dan "krakk" tongkat itu bertemu dengan telapak tangannya menjadi remuk berkeping-keping, sebaliknya Kai Song Cinjin merasai lengan kirinya linu dan kesemutan.

Swan Thai Couwsu berseru, "Lihai sekali..." sambil melempar tongkat yang sudah tak dapat dipakai lagi itu, kini menghadapi serangan lawan yang masih tiga kali dengan tangan kosong. Biarpun pertemuan antara telapak tangan kiri dan ujung tongkat tadi mendatangkan rasa sakit, namun melihat tongkat itu hancur, Kai Song Cinjin tertawa bergelak.

"Ingat, Swan Thai Tosu, pukulan pinceng masih tiga kali lagi."

"Silahkan," jawab tosu tua itu dengan suara tenang sekali, la menggerak-gerakkan kedua tangannya.

Kai Song Cinjin menjadi kaget melihat betapa kedua tangan tosu itu sampai ke lengan menjadi merah sekali warnanya, la maklum bahwa kakek tua yang sudah mau mati ini tentu memiliki pukulan beracun pula, maka ia cepat-cepat menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai kedua lengan itu menjadi hitam sekali, tanda bahwa kekuatan Hek-tok-ciang sedang bekerja dan sepenuhnya disalurkan ke dalam kedua tangannya.

"Ha-ha-ha, tak disangka bahwa ketua Kun-lun-pai juga mempelajari ilmu hitam," sindir Kai Song Cinjin melihat kedua tangan kakek itu menjadi merah sekali.

"Ilmu tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, tergantung kepada cara dipergunakannya oleh si pemilik," jawab Swan Thai Couwsu tenang sambil merendahkan tubuh memasang kuda-kuda karena kini tongkatnya sudah tidak ada lagi.

"Lihat pukulan!" Kai Song Cinjin membentak dan sekaligus ia melakukan tiga kali pukulan mengandalkan kecepatan dan tenaga Iweekangnya yang luar biasa.

Pukulan pertama yang dilakukan dengan tangan kanan, ditangkis oleh Swan Thai Couwsu. Tangkisan ini perlahan saja namun Kai Song Cinjin merasa ada tenaga besar menolak pukulannya dari samping, la menyusul dengan pukulan ke dua, dengan tangan kiri sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang ke tangan kiri sebanyak tujuh bagian.

Tubuh Swan Thai Couwsu sampai mendoyong karena hebatnya hawa pukulan ini, namun tangan kanan kakek tua ini masih sempat memukul tangan kiri lawannya dari samping, membuat pukulan ke dua inipun tidak mengenai sasaran. Pukulan ke tiga atau pukulan terakhir datang, hebat bukan main, dilakukan dengan kedua tangan Kai Song Cinjin, sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang sepenuhnya memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu dengan jari-jari terbuka.

Bukan main hebatnya pukulan ini dan di dunia ini kiranya orang yang dapat menghadapi pukulan macam ini dengan selamat dapat dihitung dengan jari tangan saja.! Angin pukulannya menderu dan anggauta rombongan dari kota raja sampai merasa panasnya hawa pukulan Hek-tok-ciang itu.

Baru sekarang mereka menyaksikan pukulan hebat ini dilancarkan sepenuhnya, karena biasanya jarang sekali Kai Song Cinjin mengeluarkan ilmunya ini, mewakilkan pertunjukan Hek-tok-ciang kepada muridnya, Auwyang Tek yang terlalu sering mendemonstrasikan Hek-tok-ciang.

Akan tetapi tentu saja pukulan yang dilakukan oleh Kai Song Cinjin ini jauh lebih hebat. Pukulan ini sedemikian hebatnya hingga tidak mungkin kalau ditangkis begitu saja Swan Thai Couwsu dalam menangkis pukulan terdahulu tadi sudah maklum akan kehebatan Hek-tok-ciang yang memang luar biasa. Ia maklum bahwa pukulan terakhir ini tak mungkin ia tangkis begitu saja, maka cepat-cepat ia lalu mengulur kedua tangannya dan menerima pukulan lawan dengan pukulan pula!

"Plakkk....!" Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur, demikian hebatnya sehingga hawa pukulan yang bertemu itu membuat orang-orang yang hadir di situ sempoyongan kehilangan keseimbangan badan karena hawa pukulan itu menyeleweng ke arah mereka!

"Plakk.....!" Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur.

Swan Thai Couwsu mundur tiga tindak, akan tetapi Kai Song Cinjin terhuyung-huyung ke belakang lalu muntahkan darah. Ia menjatuhkan badan duduk bersila sambil meramkan mata, mengatur pernapasannya untuk memulihkan tenaga dan mengobati keadaan dalam tubuh yang terguncang. Adapun Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, akan tetapi juga kelihatan mengatur pernapasannya.

Tak lama kemudian Kai Song Cinjin membuka mata, bangkit berdiri dan berkata dengan senyum pahit. "Swan Thai Tosu tua-tua masih lihai, benar-benar pinceng terpaksa harus menyudahkan urusan sampai di sini saja. Lain waktu kita bertemu pula."

Setelah berkata demikian ia lalu mengajak rombongannya untuk pergi turun gunung sambil membawa jenazah dan kawan-kawan yang terluka. Setelah lama para penyerbu pergi, Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, memandang ke arah jenazah anak-anak murid Kun-lun-pai.

Siok Ho muncul dari belakangnya, khawatir melihat couwsunya sejak tadi berdiri seperti patung. Ketika ia memutar dan memandang wajah couwsu itu, ia melihat air mata mengalir turun dari sepasang mata Swan Thai Couwsu.

Kakek tua itu ternyata tak dapat menahan terharunya hati menyaksikan anak-anak murid Kun-lun-pai sebagian besar musnah, ia menangis tanpa mengeluarkan suara, tanpa menggerakkan tubuh. Siok Ho merasa ada sesuatu naik ke tenggorokannya, dan ingin ia menjatuhkan diri berlutut di depan couwsunya sambil menangis, ikut berkabung atas kematian suhu-suhu dan suheng-suheng yang terkasih.

Akan tetapi bocah ini Menggigit bibirnya dan malah berkata, "Sucouw, teecu bersumpah kelak akan mencari orang-orang jahat itu dan niembikin perhitungan untuk mengangkat kembali Kun-lun-pai kita."

Mendengar suara Siok Ho, agaknya baru Swan Thai Couwsu sadar dari keadaan melamun itu. Ia menengok dan tersenyum, lalu berkata, "Penyelesaian kebencian yang dalam pasti akan meninggalkan bekas mendendam, bagaimana bisa dianggap memuaskan? Membalas dendam sama dengan mengikatkan diri kepada perputaran roda yang tiada habisnya..." Kata-kata inipun merupakan pelajaran dalam Agama To.

Siok Ho yang tidak berani membantah lalu berkata, "Sucouw, harap sucouw beristirahat, biar teecu mencari para suheng yang pergi bersembunyi dan mengurus jenazah-jenazah ini...."

Siok Ho berusaha keras supaya jangan terisak. Ia juga amat berduka, mungkin melebihi kedukaan Swan Thai Couwsu, apa lagi kalau ia melihat jenazah Kim Sim Cu yang selama ini menjadi guru dan walinya. Swan Thai Couwsu menarik napas panjang.

"Kau betul, pinto harus beristirahat.. Siok Ho, tolong bantu pinto masuk...."

Siok Ho mendekat dan alangkah kagetnya melihat couwsunya itu sukar berjalan dan tangan yang menggelendot pada pundaknya nampak begitu lemah seperti Kehabisan tenaga. Tanpa bicara mereka memasuki kuil dan terus ke kamar Swan Thai Couwsu, di mana kakek itu menjatuhkan diri di atas lantai dan bersila seperti biasa.

"Siok Ho, kau boleh lekas mengatur dan merawat jenazah-jenazah itu bersama anak murid yang masih ada. Setelah itu, lekas-lekas kau kembali ke sini. Mulai hari ini, kau akan kulatih, dan kau akan mewarisi semua ilmuku sebelum aku meninggalkan dunia ini...."

Siok Ho kaget sekali, akan tetapi di samping kedukaan hatinya, ia juga merasa girang sekali. Memang ia seorang bocah yang haus akan pelajaran dan mendengar sucouwnya akan mewariskan ilmu-ilmu silat tinggi, ia menjadi girang.

Demikianlah semenjak hari itu. Siok Ho menerima latihan-latihan dari Swan Thai Couwsu sendiri yang menurunkan semua ilmunya, maklum bahwa bocah ini boleh dipercaya dan bahwa ia takkan lama lagi hidup di dunia. Terutama sekali ia menurunkan Ang sin-ciang (Tangan Merah Sakti), ilmu pukulan yang amat hebat, karena dengan Ang-sin-ciang ini saja Siok Ho kelak dapat menghadapi Hek-tok-ciang.

Sampai tiga tahun Siok Ho menerima pimpinan langsung dari Swan Thai Couwsu dan akhirnya Swan Thai Couwsu yang sudah amat tua dan dalam keadaan tubuh sudah lemah harus menghadapi Kai Song Cinjin itu meninggal dunia.

Siok Ho meninggalkan suheng-suhengnya dan turun gunung. Tentu saja cita-cita pertama dalam hatinya adalah mencari musuh-musuh Kun-lun-pai dan membalas dendam, biarpun berkali-kali Swan Thai Couwsu pernah melarangnya.

Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika ia turun gunung melakukan perantauan, namanya menjadi cepat terkenal dan ia mendapat julukan Ang-sin-ciang (Tangan Merah Sakti). Juga telah dituturkan bagaimana ia betemu dengan Siok Bun dan menolong nyawa pemuda itu menyembuhkan lukanya akibat pukulan Hek-tok-ciang.

Sekarang mari kita kembali menengok keadaan Siok Ho yang secara kebetulan sekali bertemu di pinggir sungai dengan Lee Ing. gadis perkasa jelita yang sekaligus jatuh hati dan tertarik oleh gerak-gerik Siok Ho, pemuda gagah yang amat ganteng itu.

"Aneh dan lucu sekali, bukan?" kata Siok Ho tersenyum memandang gadis di depannya.

"Apa yang aneh? Apa yang lucu?" Lee Ing bertanya, menghentikan pekerjaannya mencuci tangan setelah habis makan daging ikan lee yang enak dan perutnya tidak begitu lapar lagi.

"Anehnya pertemuan kita tadi dan lucunya sekarang ini. Kita duduk sama-sama makan daging ikan, padahal kau dan aku tidak mengenal satu sama lain bahkan sampai sekarangpun aku tidak tahu siapa kau...?"

Merah muka Lee Ing. Pemuda ini biarpun peramah, kiranya pemalu sampai mau tahu nama saja caranya berputar-putar seperti angin puyuh! "Untuk apa sih kau mau tahu aku siapa?" tanyanya dan sepasang mata gadis ini menatap tajam, penuh selidik. Aneh, muka Siok Ho yang tampan menjadi merah sekali. Benar-benar seorang pemuda pemalu, pikir Lee Ing.

"Mengapa tidak? Kau sudah mengetahui namaku, sudah sepatutnya aku mengenal namamu pula. Kau siapakah, adik?"

Makin merah pipi Lee Ing. Biarpun pemalu, pemuda ini kadang-kadang memperlihatkan keberanian luar biasa, seperti sekarang ini belum apa-apa sudah berani menyebut "adik"! "Namaku Lee Ing..."

"Aduh bagusnya nama itu! Menyesal sekali namaku tidak seindah itu. Dan she-mu, siapakah...?"

Akan tetapi Lee Ing tidak menjawab karena ia mendengar sesuatu. Juga Siok Ho cepat menengok dan siap menanti datangnya segala kemungkinan seperti biasanya seorang ahli silat yang selalu waspada. Dari balik batu karang tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki tua yang dari pakaiannya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal istana di kota raja.

"Ha, ini tentu anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, Tangkap!" seru seorang di antara mereka sambil menubruk maju.

Memang, kaki tangan Auwyang-taijin sering kali bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan mereka dan pengaruh Auwyang-taijin, terutama sekali mengandalkan pengaruh Auwyang Tek, karena mereka ini memang kaki tangan Auwyang Tek. Setiap kali melihat penduduk yang lemah, mereka selalu menggoda dan mengganggu. Apa lagi kalau melihat gadis cantik, tentu mereka berlumba untuk menawan dan menculiknya, diserahkan kepada Auwyang Tek untuk menerima hadiah.

Tiga orang inipun merupakan kaki tangan Auwyang Tek yang memiliki kepandaian lumayan. Mereka melihat Lee Ing yang jelita, tentu saja tidak mau melepaskan begitu saja. Segera menyerbu Siok Ho untuk merobohkan pemuda ini dan selanjutnya hendak menculik Lee Ing.

Akan tetapi kali ini mereka memang sedang sialan. Andaikata mereka bertemu dengan Lee Ing seorang diri saja mereka sudah sialan, apa lagi sekarang bertemu dengan Lee Ing yang berkawan Siok Ho, mereka benar-benar sedang sial dangkalan. Siok Ho yang belum selesai makan daging ikan, tidak bergerak dari tempat duduknya. Tangan kiri masih memegang ikan, tangan kanan menggerakkan pancingnya tiga kali.

"Aduh.... celaka.... mati aku......!"

Tiga orang itu dengan tepat sekali terkena serangan pancing istimewa itu pada leher dan tempat-tempat berbahaya sehingga biarpun jarum keci itu tidak sampai menewaskan mereka? namun cukup membuat mereka kesakitan. Tubuh mereka menggelundung dan Lee Ing secara main-main melempar-lemparkan tulang ikan ke arah mereka.

Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok disusul teriakan-teriakan kesakitan dan tanpa dapat dicegah lagi tiga orang yang kini mendapat tambahan hadiah dari Lee Ing, yaitu kepala mereka tertancap oleh duri-duri ikan, terus menggelinding dan tercebur ke dalam sungai!

"Ha-ha-ha, kau sekarang bisa memancing ikan kaki dua!" kata Lee Ing kepada Siok Ho. Akan tetapi pemuda itu ternyata sudah melompat pergi, mengejar empat orang pengawal lain yang rupa-rupanya menjadi jerih melihat tiga orang kawan mereka roboh demikian mudah.

Lee Ing hendak ikut mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang dari tempat jauh. Dua bayangan orang itu cepat sekali gerakannya, jauh lebih cepat dari pada gerakan para pengawal itu, maka tanpa banyak cakap lagi, Lee Ing lalu melompat dan mempergunakan ilmu lari cepat mengejar bayangan-bayangan itu yang lari ke lain jurusan.

Tak lama kemudian selagi ia celingukan mencari bayangan-bayangan itu yang memasuki sebuah dusun, ia mendengar jerit-jerit memilukan. Lee Ing berlari mengejar dan masih terdengar olehnya beberapa orang penduduk menutup pintu rumah masing-masing dan di jalan-jalan sunyi sekali seakan-akan semua penduduk sudah sejak tadi menyembunyikan diri.

Lee Ing memasuki sebuah rumah kuno dari mana tadi ia mendengar teriakan menyayat hati. Begitu ia menerjang pintu dan melompat masuk, Lee Ing berhenti dan memandang ke atas lantai dengan mata terbelalak. Di depan kakinya, di atas lantai, rebah tiga orang yang kelihatannya gagah-gagah dalam keadaan sudah menjadi mayat. Pada dada dan punggung mereka nampak tapak tangan menghitam dan muka mereka juga sudah mulai menghitam!

"Bekas tangan Hek-tok-ciang.." Lee Ing berpikir dengan hati marah. "Benar-benar jahat komplotan yang dipimpin oleh Kai Song Cinjin ini.." Ia menengok ke arah dinding dan melihat tulisan di atas dinding.

BASMI SEMUA ANGGAUTA TIONG-GI-PAI

Tulisan itu dibuat dengan guratan jari tangan sampai membekas dalam-dalam di tembok, tanda bahwa penulisnya memiliki tenaga lweekang yang cukup tinggi. Membaca tulisan ini, sekali lagi Lee Ing memandang ke arah mayat tiga orang itu dan hatinya terharu.

Teringat ia akan rombongan Tiong-gi-pai yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan, orang gagah perkasa murid Kun-lun-pai yang dahulunya menjadi sahabat ayahnya, malah berusaha menolongnya dengan menukarkan Ilmu Pedang Lian-cu-sam-kiam kepada Bu Lek Hwesio. Teringat akan ini semua, hatinya menjadi mendongkol sekali melihat sekarang anggauta-anggauta Tiong-gi-pai dibunuh semuanya oleh pukulan Hek-tok-ciang.

Tanpa banyak cakap lagi Lee Ing lalu melesat keluar, naik ke atas genteng untuk mencari jejak musuh. Akan tetapi keadaan sunyi saja, bahkan ia tidak tahu lagi ke mana perginya Siok Ho yang tadi mengejar para pengawal.

"Tentu diapun pergi ke kota raja," pikirnya. Lee Ing lalu berlari cepat menuju ke Nan-king, dalam hatinya mengambil keputusan untuk mencari Tiong-gi-pai dan membantu perkumpulan patriot ini secara diam-diam dan mencari tahu perihal ayahnya.

Yang membuat ia merasa heran adalah bayangan Siok Ho yang selalu terbayang di depan matanya. Sukar ia mencoba untuk mengusir bayangan ini, terutama sekali senyum manis dan pandangan mata penuh kejujuran dari pemuda itu merupakan sesuatu yang menggoda hatinya dan mendatangkan kesan mesra yang selama hidup belum pernah dirasainya. Di luar kesadarannya, Lee Ing telah jatuh cinta kepada Oei Siok Ho, jago muda dari Kun-lun itu!

Dengan melakukan perjalanan cepat sekali Lee Ing segera memasuki Kota Raja Nan-king. Mudah saja baginya mendengar dari tukang-tukang warung arak tentang pertandingan pertandirgan yang sering terjadi antara orang-orang Tiong-gi-pai melawan kaki tangan Auwyang taijin. Juga ia mendengar tentang keganasan Auwyang Tek sebagai putera menteri dunia yang mengandalkan kepandaian silatnya dan kedudukan ayahnya.

Ketika mendengar bahwa Auwyang Tek adalah murid terkasih dari Kai Song Cinjin, Lee Ing dapat menduga bahwa orang yang melakukan pembunuhan di luar kota raja terhadap tiga orang anggauta Tiong-gi-pai itu tentu Auwyang Tek adanya.

Dia telah melihat dua bayangan yang cepat gerakannya, tentu Auwyang Tek bersama seorang kawannya yang pandai pula, entah siapa. Ketika Lee Ing bertanya tanya tentang Tiong-gi-pai, tak seorangpun dapat memberi tahu kepadanya. Memang Tiong-gi-pai adalah perkumpulan rahasia yang tidak mempunyai tempat tertentu, pula, andaikata Tiong-gi-pai mempunyai tempat tertentu, pasti siang-siang sudah diserbu oleh kaki tangan Auwyang-taijin.

Selagi Lee Ing kebingungan ke mana harus mencari Tiong-gi pai atau ketuanya, Kwee Cun Gan, untuk menanyakan keadaan ayahnya, tiba-tiba di satu tikungan jalan di kota raja yang ramai itu ia melihat berkelebatnya bayangan yang amat dikenalnya, Oei Siok Ho!

Pemuda tampan itu berjalan dengan tenang-tenang saja dan agaknya tidak melihat Lee Ing. Gadis ini cepat menyelinap bersembunyi dan diam-diam melakukan pengintaian. Hendak mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh pemuda itu dan ingin ia melindungi pemuda itu secara diam-diam.

Tiba-tiba Lee Ing tersenyum geli ketika melihat setangkai daun kebiruan menghias topi pemuda itu. "Benar-benar lucu," pikirnya. "Kalau hendak mempersolek diri, mengapa bukan kembang yang menghias topi, melainkan setangkai daun yang buruk pula bentuk maupun warnanya, juga sudah kering?"

Akan tetapi Lee Ing menahan ketawanya ketika ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang tadinya duduk di tepi jalan bersandar tongkat dan berpakaian pengemis, sekarang berdiri terbongkok-bongkok dan tiba-tiba melangkah maju menghadang Siok Ho. Pandangan mata Lee Ing awas sekali, maka ternyata olehnya bahwa pengemis yang kelihatannya lemah berpenyakitan itu, ketika bergerak bukan main cepatnya, tanda bahwa dia sebetulnya seorang ahli silat yang pandai.

Lee Ing merasa heran sekali, akan tetapi perasaan ini segera terganti kekagetan ketika pengemis itu terhuyung huyung mau jatuh ke arah Siok Ho yang sedang enak-enak berjalan. Bagi mata orang biasa tentu dikira pengemis itu kelaparan atau kelelahan sampai tak kuat berdiri dan hendak jatuh menimpa orang di jalan, akan tetapi bagi Lee Ing, terang bahwa orang itu sengaja menubruk Siok Ho dan mengirim pukulan yang kuat sekali.

Tentu saja Siok Ho yang memiliki kepandaian tinggi, tahu pula bahwa dirinya bukan sembarangan ditubruk oleh seorang pengemis kelaparan, melainkan diserang deh seorang lawan yang lihai. Akan tetapi ia menjadi girang ketika melihat bahwa serangan iiu adalah gerak tipu Pek-wan-hoan-hwa (Lutung Putih Mencari Bunga), jurus dari ilmu silat Kun-lun-pai yang dimainkan dengan gerakan buruk sekali. Cepat Siok Ho miringkan tubuh, menangkap dua lengan orang itu sambil berseru,

"Lopek, hati-hatilah jangan jatuh!" Setelah berkata demikian, Siok Ho pura-pura membantu dan menolong orang itu berjalan.

Banyak orang yang menyaksikan kejadian ini tentu mengira bahwa Siok Ho adalah seorang pemuda baik hati yang merasa kasihan kepada pengemis setengah tua itu dan berusaha menolongnya. Akan tetapi Lee Ing yang memperhatikan dengan pandangan lain, melihat betapa mereka berbisik-bisik dan menyelinap pergi di antara orang banyak yang tidak memperhatikan lagi kejadian itu.

Lee Ing terus mengikuti dan akhirnya, benar seperti dugaannya, ia melihat Siok Ho dan '‟pengemis" itu sudah keluar dari kota raja dan berlari cepat ke jurusan utara, masuk ke dalam sebuah hutan yang sunyi. Dengan kepandaiannya yang luar biasa sekali Lee Ing dapat menyelinap dan mengikuti mereka tanpa diketahui oleh yang diikuti, bahkan dapat mengintai sambil bersembunyi ketika Siok Ho tiba di tengah hutan dan disambut oleh serombongan orang.

Bisikan-bisikan di antara pengemis dan Siok Ho tadi tak terdengar oleh Lee Ing. Setelah pengemis itu tak berhasil menyerang Siok Ho bahkan kedua tangannya dipegang membuat dia tak berdaya tadi, ia bertanya perlahan, "Kau dari Kun-lun-pai datang ke sini hendak mencari siapakah?"

Siok Ho berbisik girang, "Mencari Tiong-gi-pai bertemu dengan ketuanya, Kwee Cun Gan."

"Mari kau ikut aku," jawab pengemis itu sambil mengajak Siok Ho pergi ke luar kota raja.

Ketika mereka tiba di dalam hutan itu, tanpa menyadari bahwa semenjak tadi mereka terus diikuti oleh Lee Ing, mereka disambut oleh sembilan orang gagah yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan sendiri. Kwee Cun Gan nampak agak tua dan rambutnya sudah banyak ubannya, tanda bahwa dia banyak menderita, namun sinar matanya tetap memancarkan semangat besar.

"Lo Kiam... kau datang membawa orang muda ini siapakah?" tegur Kwee Cun Gan kepada "pengemis" itu yang sebetulnya adalah seorang anggauta Tiong-gi-pai yang bertugas menyelidik di kota raja.

"Aku melihat dia memakai daun biru seperti yang pernah dipakai oleh Kwee-twako, dan aku teringat bahwa itu adalah tanda dari anak murid Kun-lun-pai yang hendak mencari hubungan. Oleh karena itu aku lalu menubruk dan menyerangnya dengan jurus Kun-lun-pai yang kudapat dari twa-ko, akan tetapi dia dapat menangkapku. Ketika kutanya apa maksud kedatangannya, dia bilang hendak mencari Kwee-twako." Pengemis itu memberi laporannya.

Kwee Cun Gan memandang Siok Ho, matanya tajam menyelidik penuh kecurigaan. Maklumlah Tiong-gi-pai sudah mengalami banyak kekalahan juga sudah banyak anak buahnya yang tewas. Fihak kaki tangan Auwyang Tek amat berbahaya dan curang, siapa tahu kalau pemuda ini bukan lain mata-mata dari fihak musuh.

"Orang muda, kau siapakah dan datang dari mana?" tanyanya.

Slok Ho tidak mau menduga-duga dengan siapa ia berhadapan, maka lalu berkata, "Aku harap cuwi suka memberi tahu kepada Kwee Cun Gan lo-enghiong bahwa seorang anak murid Kun-lun-pai datang ingin bertemu. Aku bernama Oei Siok Ho dan aku datang langsung dari Kun-lun-pai untuk membantu Tiong-gi-pai."

Kwee Cun Gan mengerutkan keningnya. Memang banyak sekali anak murid Kun-lun-pai dan dia sendiri tentu saja tidak mengenal murid-murid baru. Akan tetapi kalau yang datang membantunya hanya seorang murid muda dan kelihatan begini lemah lembut, apa sih artinya? Paling-paling hanya akan membikin malu saja, malah-malah dapat merendahkan nama besar Kun-lun-pai.

"Aku sendiri yang bernama Kwee Cun Gan," katanya singkat.

Siok Ho tersenyum lalu menjura dengan hormatnya. "Kwee suheng, terimalah hormat siauwte Oei Siok Ho."

Kwee Cun Gan mengangguk dan keningnya berkerut. "Bocah ini benar-benar tak tahu diri," pikirnya di dalam hati, "masa semuda dia menyebut suheng kepadaku?"

Karena tidak ada alasan untuk menyatakan kemendongkolan hatinya, ia bertanya dan terpaksa menyebut sute, "Tidak tahu sute ini murid siapakah?"

"Siauwte yang bodoh tadinya mendapat latihan dari suhu Kim Sim Cu, akan tetapi selama tiga empat tahun ini siauwte mendapat petunjuk-petunjuk dari couwsu sendiri."

Kwee Cun Gan makin mendongkol. Sombongnya, pikirnya. Mana couwsu mau sembarangan memberi petunjuk kepada anak murid yang masih begini hijau? Akan tetapi ia menyelidik terus,

"Couwsu yang mana?" Ia pikir tentu ji-couw-su atau sam-couwsu yang memberi sekedar petunjuk, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendengar jawaban Siok Ho.

"Siauwte mendapat petunjuk dari Swan Thai Couwsu sendiri."

Kesabaran Kwee Cun Gan ada batas. Ia anggap pemuda ini terlalu sombong dan terlalu besar bohongnya. Ia sendiri tahu bahwa Swan Thai Couwsu sudah puluhan tahun tidak mau mengajar, tidak mau tahu urusan dunia. Mana Couwsu itu mau turun tangan mengajar bocah ini? Dia sendiri adalah murid Swan Thian Couwsu, sedangkan Souw Teng Wi murid Swan Le Couwsu.

Kalau bocah ini murid Swan Thai Couwsu yang memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada Couwsu ke dua dan ke tiga, memang bocah ini terhitung sutenya, akan tetapi tentu sutenya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada dia dan Souw Teng Wi. Gila benar! Siapa yang sudi percaya? Akan tetapi Kwee Cun Gan adalah seorang yang halus budi pekertinya, tentu saja ia tidak mau bersikap kasar dan ia ingin menyelidiki terus dengan secara halus.

"Oei-sute, kalau kau benar murid Swan Thai Couwsu sendiri, memang kau suteku, karena aku adalah murid Swan Thian Couwsu. Sebagai murid Swan Thai Couwsu, tentu kepandaianmu hebat sekali. Sute, sudah lama aku tidak bertemu dengan anak murid partai kita, sebagai perkenalan dan oleh-oleh, maukah kau memperlihatkan ilmu silat kita barang dua jurus untuk kulihat apakah pelajaran dulu dan sekarang ada perubahan?"

Siok Ho tersenyum, Ia maklum bahwa suhengnya ini masih belum mau percaya kepadanya dan hal ini memang ia anggap sewajarnya dalam jaman seperti itu. Ia juga belurn mau bercerita tentang keadaan Kun-lun-pai sebelum suhengnya ini betul-betul percaya kepadanya.

"Kalau suheng memerintahkan, bagaimana siauwte berani membantah? Akan tetapi harap saja suheng dan sekalian enghiong yang berada di sini tidak menertawakan kepandaian siauwte yang hanya patut disebut kebodohan ini. Dasar ilmu silat Kun-lun-pai tidak banyak dan tidak berapa sukar dipelajari, beginilah!"

Setelah berkata demikian. Siok Ho lalu bersilat tangan kosong. Begitu ia bersilat, Kwee Cun Gan kecewa bukan main. Pemuda ini memperlihatkan permainan Ilmu Silat Pat-kwa-pouw atau Iangkah-langkah Pat-kwa yang menjadi dasar ilmu silat-ilmu silat Kun-lun-pai. Setiap murid baru selalu dilatih langkah-langkah seperti ini dan biarpun seorang bocah umur empat tujuh tahun kalau menjadi murid Kun-lun-pai tentu saja diberi pelajaran Pat-kwa-pouw ini.

Sekarang bocah ini memperlihatkan permainan Pat-kwa-pouw, biarpun permainan itu tepat dan bagus gerakannya, apa sih anehnya diperlihatkan di depan dia dan para anggauta Tiong-gi-pai? Belum apa-apa bocah ini sudah memalukan Kun-lun-pai saja dan dia berani mati mengaku murid Swan Thai Couwsu? Setelah selesai mainkan Pat-kwa-pouw, Siok Ho menghentikan permainannya dan menjura sambil berkala dengan senyum,

"Harap suheng dan cuwi enghiong tidak mentertawakan permainanku tadi."

Orang-orang yang hadir di situ, anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, rata-rata adalah ahli silat lumayan. Ada pula tiga orang murid Kwee Cun Gan sendiri yang tentu saja mengenal Pat-kwa-pouw itu, maka mereka semua merasa heran mengapa dari Kun-lun-san datang seorang bocah tolol macam ini yang datang-datang menyombongkan diri sebagai murid tokoh pertama dari Kun-lun-pai dan hendak membantu gerakan Tiong-gi-pai. Orang macam ini saja bisa disuruh apakah? Hanya gantengnya saja yang lebih dari orang lain, tentang kepandaian, aahh!

Wajah Kwee Cun Gan makin kelihatan kecewa. Akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman, ia tidak mau segera bertindak sembrono. la maklum bahwa jaman telah berubah dan banyak sekali orang-orang muda yang sekarang ini memiliki kepandaian tinggi. Buktinya saja pemuda-pemuda seperti Auwyang Tek, keponakannya sendiri Kwee Tiong, lalu Liem Han Sin, dan Siok Bun, biarpun masih amat muda-muda namun kepandaian mereka masih lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaiannya sendiri!

la teringat akan rahasia kang-ouw bahwa orang harus berhati-hati kalau berhadapan dengan orang orang yang kelihatannya lemah, seperti pemuda siucai (sasterawan), gadis lemah-lembut, nenek-nenek dan orang bercacad. Mereka ini memang pada umumnya orang-orang lemah, namun kalau memiliki kepandaian, mereka bisa membuat salah hitung pada lawan yang tadinya memandang ringan.

"Bagus sekali, sute. Agaknya Swan Thai Couw-su mementingkan dasar dari ilmu silat kita. Aku mempunyai tiga orang murid yang terhitung murid keponakanmu sendiri. Kau yang baru saja lulus dari perguruan kita, maukah kau bermurah hati memberi petunjuk kepada mereka tentang kepentingan Ilmu Pat-kwa-pouw tadi?"

Setelah berkata demikian, Kwee Cun Gan memberi isyarat kepada tiga orang muridnya sambil berkata, "Kebetulan sekali, susiokmu datang dan kalian boleh minta petunjuk untuk menambah pengertian."

Murid-murid Kwee Cun Gan ini adalah bekas-bekas pejuang. Sebelum menerima pelajaran ilmu silat Kun-lun-pai dari Kwee-pangcu, mereka sudah memiliki ilmu silat yang lumayan juga. Mereka adalah orang-orang lelaki yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih, dada bidang tenaga kuat dan pengalaman pertempuran yang sudah masak. Yang pertama bernama Tan Kui, yang ke dua dan ke tiga adalah kakak beradik bernama Nyo Tat Sek dan Nyo Tat Sui.

Tiga orang ini terkenal sebagai orang-orang kuat dan termasuk jago-jago Tiong-gi-pai. Tentu saja mereka memandang rendah kepada Siok Ho. Akan tetapi oleh karena Siok Ho diperkenalkan oleh suhu mereka sebagai anak murid Kun-lun-pai dan malah masih terhitung susiok (paman guru) mereka tidak berani mengatakan perasaan mereka secara berterang.

Tan Kui, diikuti oleh saudara Nyo, melangkah maju dan dengan sikap menjura dengan hormat, mengerahkan tenaga ketika menjura sampai kedua lengannya memperdengarkan suara berkerotokan, tanda bahwa orang kuat ini sedang mengerahkan lweekangnya!

"Susiok, terimalah hormat teecu," katanya, suaranya sungguh-sungguh akan tetapi jelas mata dan mulutnya mentertawakan.

Siok Ho tersenyum, membalas penghormatan itu dan berkata, "Sam-wi harap jangan terlalu sungkan. Biarpun harus kuakui bahwa aku adalah paman guru kalian, namun melihat usia, tidak enaklah dipanggil susiok!"

Tan Kui mendongkol. Biarpun suara pemuda itu ramah dan merendah, namun jelas menyatakan bahwa pemuda itu memang berhak menjadi paman guru, alangkah sombongnya.

"Oei-susiok, seperti yang dikatakan oleh suhu tadi, teecu mohon petunjuk tentang ilmu silat. Selain Pat-kwa-pouw tadi, ilmu silat apakah kiranya dapat susiok tambahkan kepada teecu?"

"Tentu kalian sudah mempelajari Pat-kwa-pouw, bukan?" tanya Siok Ho.

Tiga orang itu saling pandang dan Tan Kui tertawa. "Tentu saja, bukankah itu merupakan dasar yang harus dipelajari oleh murid bagaimanapun rendah tingkatnya?"

"Coba kalian mainkan Pat-kwa-pouw, barangkali aku dapat memberi sedikit petunjuk," kata pula Siok Ho dengan sikap tenang.

Sementara itu, Kwee Cun Gan dan kawan-kawan lain lalu duduk di atas rumput hendak menonton pertunjukan yang mereka anggap aneh dan lucu ini. Kalau memang betul pemuda itu hanya orang yang mengaku-aku atau memang mata-mata fihak musuh, mereka akan mempermainkannya.

Disuruh mainkan Pat-kwa-pouw, tiga orang itu menoleh ke arah Kwee Cun Gan yang segera berkata, "Paman gurumu sudah memberi perintah, mengapa kalian masih ragu-ragu?"

Tan Kui dan dua orang sutenya menjadi merah mukanya. Kalau tidak takut kepada Kwee Cun Gan, mau mereka menegur "paman guru" ini yang agaknya hendak mempermainkan mereka. Masa mereka, tiga orang jagoan Tiong-gi-pai, disuruh mainkan Pat-kwa-pouw yang lebih patut dimainkan oleh anak-anak yang sedang belajar silat?

Terpaksa mereka bertiga lalu mulai bergerak, melangkah menurutkan Pat-kwa-pouw dan seperti dulu ketika mula-mula belajar silat, mereka melangkah sambil berseru, "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan!" Demikian berturut-turut karena memang Pat-kwa-pouw terdiri dari delapan langkah yang berubah-ubah, delapan kali delapan langkah menjadi enam puluh empat langkah yang membentuk bermacam-macam bhesi atau kuda-kuda ilmu silat Kun-lun-pai.

Sambil memperhatikan langkah mereka, berkali-kali Siok Ho berkata, "Terlalu lemah! Kurang tepat. Terlalu cepat!" dan kadang-kadang "terlalu lambat" sampai permainan mereka selesai Siok Ho menggeleng kepala sambil berkata,

"Kalian bertiga tentu tidak memperhatikan pelajaran suheng dengan baik. Pat-kwa-pouw yang kalian lakukan tadi benar-benar tidak tepat dan amat lemah! Bagaimana ilmu setinggi ini kalian abaikan saja? Mulai sekarang harap kalian suka berlatih lebih baik lagi, jangan membikin malu nama Kun-lun-pai dan harap banyak-banyak bertanya kepada suhu kalian."

Kwee Cun Gan melengak, Pat-kwa-pouw tiga orang muridnya itu, biarpun tidak sebaik dia, sudah termasuk baik dan kuat, bagaimana pemuda itu berani berlancang mulut mencelanya sampai begitu hebat?

Tan Kui yang berdarah panas segera berkata, nadanya mengejek, "Oei-susiok, Pat-kwa-pouw hanya permainan dasar saja, hanya untuk melemaskan gerakan kaki dan melatih bhesi. Apa sih perlunya? Tak dapat dipakai menghadapi lawan berat."

Siok Ho mengerutkan alisnya. "Hemmm, bagaimana kau berani bilang begitu? Itu tandanya kau mengabaikan pelajaran dan suheng terlalu lemah dan memanjakan kalian. Apa kalian mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari pada Pat-kwa-pouw?"

"Pat-kwa-pouw bagi teecu bertiga bukan apa-apa, tentu saja kami mempunyai ilmu silat yatag betul-betul permainan orang-orang gagah," jawab Tan Kui.

“Bodoh! Satu ilmu aseli saja tidak dipelajari baik-baik, sudah belajar lain ilmu. Kosong belaka. Kalian belum melihat kelihaian dasar ilmu silat Kun-lun-pai? Coba perlihatkan ilmu-ilmu silat tinggi kalian dan kalian coba pecahkan Pat-kwa-pouw yang kumainkan!" Sambil berkata demikian Siok Ho segera memasang kuda-kuda bergerak dalam Pat-kwa-pouw. Hampir saja Tan Kui dan dua orang sutenya tertawa bergelak.

Mereka anggap pemuda ini lucu sekali, lucu dan ngawur. Bagaimana dengan Pat-kwa-pouw berani menghadapi mereka bertiga yang bersilat sesuka hati mereka? Boleh jadi pemuda yang mengaku paman guru mereka ini lihai, akan tetapi dengan Pat-kwa-pouw, orang bisa apakah? Pat-kwa-pouw tidak mengandung daya serang atau daya tahan, hanya mengandung peraturan perubahan kaki belaka!

"Susiok kalian sudah memberi perintah, hayo serang dia!" kata Kwee Cun Gan yang menjadi gembira melihat kenekatan pemuda itu. Ia makin curiga dan tidak percaya kalau benar-benar pemuda itu murid Swan Thai Couwsu. Dia sendiri sebagai murid Kun-lun-pai yang sudah berpengalaman tidak tahu bagaimana ia akan dapat mengahadapi tiga orang kosen seperti murid-muridnya itu hanya dengan gerakan Pat-kwa-pouw.

Mendengar perintah suhunya, Tan Kui bersama dua orang sutenya lalu mulai menyerang sambil berkata, "Maaf, susiok sendiri yang menyuruh tee-cu menyerang!"

Cepat sekali penyerangan mereka bertiga. Mula-mula hanya mendorong dan membetot saja untuk membuat pemuda itu roboh atau kacau gerakan kakinya. Akan tetapi setelah berkali-kali menangkap angin, mereka mulai menyerang dengan sungguh-sungguh.

Aneh sekali! Siok Ho hanya bergerak menurut Pat-kwa-pouw, hanya merobah-robah kaki menurut kedudukan yang amat sulit dan aneh, sambil mulutnya tiada hentinya menyebut nama langkah yang dilaluinya. Dan lebih aneh lagi, tiga orang penyerangnya itu seakan-akan menjadi bingung dan dalam pandangan mereka, tubuh pemuda itu lenyap setiap kali hendak dipukul dan tampak kembali setiap kali pukulan berlalu.

Langkah pemuda itu nampak sewajarnya dan begitu tepatnya sehingga mereka sendiri menjadi bingung dan mati langkah. Makin cepat mereka bergerak mengurung, makin cepat pula Siok Ho bergerak dan pada jurus ke dua belas, Tan Kui terhuyung ke depan karena memukul angin. Tadinya ia melihat kesempatan dan sudah memukul dengan kuat, dan pada pendapatnya tentu akan mengenai sasaran.

Celakanya, sebelum kepalannya menyerempet pakaian, pemuda itu sudah lenyap dan sebagai gantinya, tahu-tahu Nyo Tat Sek sudah berada di situ menggantikan Siok Ho hendak menerima pukulannya! Pada saat yang sama melangkah keluar, tiga orang itu tak dapat dicegah lagi saling bertumbukan dan roboh!

Kwee Cun Gan sampai melongo menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana mungkin langkah-langkah Pat-kwa-pouw dapat merobohkan tiga orang muridnya yang selain faham langkah itu juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi? Ataukah mungkin tiga orang muridnya itu terlampau terburu nafsu sehingga terjadi saling tabrak dalam pengeroyokan itu? Karena masih penasaran, maka ia diam saja ketika melihat Tan Kui dan dua orang sutenya itu bangun berdiri dan tanpa banyak cakap menerjang lagi kepada Siok Ho.

"Anak-anak bandel," terdengar Siok Ho berkata, "Apakah kalian masih belum merasa cukup? Masih belum percaya akan kelihaian Pat-kwa-pouw? Nah, rasakanlah!"

Dengan cekatan dan gesit seperti burung walet pemuda itu melangkah ke depan belakang dan ketika kakinya bergeser, secepat kilat kaki ini mengait kaki Tan Kui dan sute-sutenya. Karena gerakan Siok Ho jauh lebih cepat dan tenaga Iweekangnya juga sudah masak, maka tanpa dapat dicegah lagi untuk kedua kalinya Tan Kui dan dua orang sutenya roboh terjengkang. Kali ini mereka roboh agak keras sampai mereka mengaduh-aduh kesakitan bercampur dengan rasa heran yang tidak mereka sembunyikan dari muka mereka.

Kini baru mereka tunduk betul, dan Tan Kui memimpin sute-sutenya menjura di depan Siok Ho sambil berkata, "Susiok benar hebat, teecu bertiga sudah menerima petunjuk dan pelajaran, harap maafkan kekuarangajaran teecu tadi."

Siok Ho menggerakkan tangan menyuruh mereka minggir sambil berkata, "Tidak aneh kalau kalian memandang ringan kepadaku karena usiaku, akan tetapi kepandaian bukan bersandar kepada usia. Kepandaian kalian sudah cukup, hanya mungkin dahulu kurang memperhatikan petunjuk suheng."

Kwee Cun Gan masih penasaran, apa lagi ia yang menjadi guru tiga orang itu merasa malu sekali karena murid-muridnya sama saja seperti orang-orang tolol. Bagaimana seorang guru tidak merasa tersinggung dan malu kalau melihat murid-muridnya tolol? la bangkit berdiri, menghampiri Siok Ho dan berkata,

"Oei-sute, permainanmu Pat-kwa-pouw tadi benar-benar mengagumkan sekali dan terus terang saja aku sendiri belum pernah melihat Pat-kwa-pouw dimainkan seperti itu. Memang dengan pertunjukanmu tadi kau telah mengharumkan nama besar partai kita. Akan tetapi melihat tingkat kepandaianmu, tidak hanya murid-murid keponakanmu yang perlu dengan petunjukmu, bahkan aku sendiripun mengharapkan petunjukmu. Apakah selain Pat-kwa-pouw kau juga menerima pelajaran lain dari sucouw?"

Oei Siok Ho memandang tajam lalu berkata sambil menarik napas panjang, "Kalau aku tidak ingat bahwa suheng sudah terlalu banyak menderita dalam perjuangan sehingga menjadi hati-hati dan selalu curiga, tentu aku akan merasa kecewa dengan penyambutan ini. Siauwte tahu bahwa suheng masih curiga terhadap siauwte dan ingin menguji. Tentu suheng maklum bahwa ilmu silat Kun-lun-pai tak boleh dimainkan untuk pamer begitu saja. Akan tetapi untuk meyakinkan hati suheng, boleh suheng minta siauwte mainkan ilmu silat yang mana saja dari partai kita."

Kwee Cun Gan menjadi makin tidak enak. Kalau mendengar pembicaraannya dengan orang muda ini agaknya betul-betul anak murid Kun-lun, akan tetapi melihat usianya yang begitu muda mana mungkin menjadi murid Swan Thai Couwsu?

"Dugaanmu memang betul," akhirnya ia berkata terus terang, "Nah, kau puaskan hatiku, sute, coba kau mainkan Lian-cu-sam-kiam."

Siok Ho tersenyum. "Sucouw pernah bilang bahwa di antara tujuh belas ilmu simpanan dari Kun-lun-pai, suheng telah mempelajari Lian-cu-sam-kiam. Siauwte yang bodoh mana bisa menandingi suheng? Biarlah suheng maafkan dan siauwte hanya mainkan beberapa jurus saja tanpa pedang."

Setelah berkata demikian, Siok Ho lalu bersilat dengan gerakan ringan sekali dan mulutnya menyebutkan jurus-jurus keberapa yang dimainkan itu. Gerakannya demikian cepat dan mengandung tenaga hebat, biarpun tidak menggunakan pedang namun getaran jari-jari tangannya melebihi getaran pedang, membuat Kwee Cun Gan makin kaget dan kagum.

"Cukup.... cukup....!" katanya dan cepat ia menghampiri Oei Siok Ho untuk dipeluk pundaknya saking girangnya.

Akan tetapi Siok Ho dengan lincah miringkan pundak sehingga pelukan Kwee Cun Gan meleset. "Suheng harap jangan terlalu memuji," katanya sambil melangkah mundur.

Kwee Cun Gan mengira bahwa Siok Ho marah karena dicurigai tadi sehingga tidak mau dipeluk. Ia berdiri memandang dan dari kedua mata ketua Tiong-gi-pai ini keluar dua butir air mata. Hatinya amat terharu dan girang sekali.

"Oei-sute, sudah lama kukira bahwa Kun-lun-pai melupakan murid-muridnya yang berada di luar, dan kiraku hanya suheng Souw Teng Wi dan aku sendiri saja yang dibiarkan menghadapi orang-orang jahat menindas rakyat. Tidak tahunya sekarang sucouw mengirim kau, muridnya yang biarpun masih muda namun jempolan. Hati siapa tidak terharu dan girang?"

Dan kepada Tan Kui dan dua orang sutenya tadi, ia berkata, "Dengar kalian, bahkan melihat tingkat kepandaiannya, ia pantas menjadi susiok-couw kalian!"

Mendengar kata-kata Kwee Cun Gan ini, barulah semua orang menjadi kaget sekali. Sungguh di luar sangkaan mereka bahwa pemuda ganteng itu ternyata benar-benar anak murid Kun-lun-pai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sampai-sampai ketua memuji setinggi langit.

Tentu saja di samping keheranan ini, terdapat rasa kegembiraan besar karena Semenjak Liem Han Sin terluka, dalam pertandingamnya melawan Auwyang Tek dan keluarga Siok berangkat ke utara, maka kedudukan Tiong-gi-pai amat lemah, tidak mempunyai jago lagi.

Tentu saja kedatangan pemuda ganteng yang gagah perkasa ini membangunkan semangat mereka pula. Sekarang mereka dapat mengangkat muka dan berani mengirim tantangan kepada Auwyang Tek si pemuda jahat. Segera mereka mengerumuni Siok Ho dan menyatakan kegembiraan mereka.

Pada saat itu, terdengar suara. "Aduuhhh... kurang ajar, aduuuh....!"

Siok Ho dan Kwee Cun Gan kaget sekali karena suara ini kedengarannya dari dalam sebatang pohon besar. Kwee Cun Gan melompat ke arah pohon, akan tetapi Siok Ho lebih cepat lagi, tangan kanannya bergerak dan sebuah kancing bajunya melayang cepat ke arah daun-daun pohon yang tadi nampak bergoyang-goyang. Biarpun yang ia pakai sebagai senjata rahasia hanya sebuah kancing baju terbuat dari pada tulang, namun apa bila mengenai orang dapat menembus kulit daging seperti sebuah pelor baja.

Berbareng dengan masuknya senjata rahasia itu ke dalam gerombolan daun pohon, dari dalam rumpun itu melesat keluar bayangan orang yang sukar diikuti oleh pandangan mata, karena cepatnya laksana kilat saja. Para anggauta Tiong-gi-pai malah tidak melihat apa-apa, hanya mata Siok Ho dan Kwee Cun Gan yang melihat bayangan orang berkelebat dan lenyap.

"Kita telah diintai oleh seorang sakti," kata Siok Ho kepada Kwee Cun Gan dan semua orang menjadi kagum bukan main.

"Asal saja bukan fihak musuh...." kata Kwee Cun Gan penuh harap, "Fihak musuh sudah terlalu banyak mempunyai orang sakti, kalau ditambah dengan yang tadi, benar benar sukar dilawan."

Mudah diduga siapa adanya orang di dalam pohon tadi. Memang, dia itu bukan lain adalah dara perkasa kita, Souw Lee Ing yang sejak tadi mengikuti Siok Ho dan mengintai dari dalam gerombolan daun pohon besar itu. Saking asyik dan kagumnya ia melihat Siok Ho mempermainkan orang-orang Tiong-gi-pai, ia sampai tidak memperhatikan dan tidak tahu betapa seekor semut merah merayap memasuki pakaiannya, menjadi bingung karena tidak dapat keluar dan akhirnya karena tergencet pakaian lalu menggigit kulit pahanya!

Rasa sakit, panas dan gatal membuat Lee Ing berseru kaget dan marah, lupa bahwa ia sedang mengintai dan karenanya tidak boleh mengeluarkan suara berisik. Setelah Kwee Cun Gan melompat dan Siok Ho menyambit dengan senjata rahasia, barulah ia sadar dan menyesal. Cepat laksana kilat ia melompat keluar, menyambar senjata kecil yang disambitkan oleh Siok Ho terus kabur secepatnya pergi dari tempat itu.

Setelah tiba di tempat sunyi, ia melihat "senjata rahasia" itu adalah sebuah kancing baju. Entah apa sebabnya, tahu-tahu tangannya memasukkan kancing itu ke dalam saku baiunya dan setelah melakukan hal ini, Lee Ing celingukan ke kanan kiri, seakan-akan takut perbuatannya tadi dilihat orang lain!

Tiba-tiba ia menjadi kaget dan air mukanya berubah. Baiknya ia celingukan ke sana ke mari, kalau tidak tentu ia takkan melihat bayangan-bayangan orang yang berseliweran di luar hutan. Keadaan mereka mencurigakan sekali dan ketika Lee Ing menyelinap melakukan penyelidikan, ternyata bahwa hutan di mana anggauta-anggauta Tiong-gi-pai berada itu telah terkurung oleh banyak sekali pengawal kerajaan! Celaka, pikirnya. Tentu Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya akan diserbu oleh kaki tangan menteri durna ini.

Lee Ing kembali memasuki hutan untuk secara diam-diam membantu rombongan Tiong-gi-pai. Di tengah perjalanan ia melihat seorang kakek yang mukanya seperti muka burung, membawa sebatang tongkat berkepala burung pula. Orang aneh dan lucu ini sedang berdiri dan mendengarkan keterangan seorang gadis cilik yang menudingkan jari ke-arah sebatang pohon.

"Suhu, tadi aku melihat kakek botak itu di sini bersama pemuda itu dan lihat saja apa yang mereka perbuat kepada bendera tanda Auwyang-kongcu," kata gadis cilik itu.

Jilid selanjutnya,
PUSAKA GUA SILUMAN JILID 14