Pusaka Gua Siluman Jilid 23, karya Kho Ping Hoo - Siok Bun menggeleng-geleng kepalanya dengan tegas sambil berkata, "Tidak, ibu. Aku harus dapat mencari Souw-taihiap. Coba saja ibu bayangkan, Souw-taihiap lenyap dalam perlindungan dan penjagaan kita. Bukankah itu berarti kita akan mendapat muka buruk sekali dari Souw-siocia (nona Souw)? Baiknya nona Souw berpemandangan luas dan berhati mulia, kalau tidak apakah dia tidak akan menuntut kepada kita? Selain itu, orang menculik Souw Laihiap sama sekali tidak memandang muka kita, malah boleh dibilang dia atau mereka itu menghina kita. Apakah kita harus tinggal diam saja, ibu? Kalau bukan anak yang pergi mencari dan menebus hinaan itu, siapa lagi?"

Dasar Ang-liang-ci Tan Sam Sam Nio juga seorang pendekar wanita yang berjiwa gagah perkasa, tentu saja mendengar pendirian puteranya ini, hilang keraguan dan kecemasan hatinya, terganti oleh rasa bangga akan selain bangga, ada pula perasaan lain yang membuat nyonya ini menatap wajah putera tunggalnya dengan tajam penuh selidik.
"Bun-ji, belum berubahkah perasaan hatimu semenjak empat tahun yang lalu? Agaknya tepat dugaan ayahmu!"
Siok Bun memandang ibunya dan kulit mukanya berubah merah sekali, akan tetapi ia masih berpura-pura dan bertanya, "Apa maksudmu, ibu?"
"Kau mencinta nona Souw!"
Sebagai anak tunggal, Siok Bun amat dimanja oleh ibunya sejak kecil. Tidak demikian dengan ayahnya yang selalu bersikap keras berdisiplin. Oleh karena ini, hubungan Siok Bun dengan ibunya jauh lebih erat dan tidak ada rahasia hatinya yang ia simpan dari ibunya. Sekarangpun, mengenai perasaan hatinya, ia berterus terang.
"Agaknya demikianlah, ibu. Entah bagaimana, aku selalu tertarik oleh nona Souw, merasa suka dan kasihan sekali. Mungkin karena rasa kagumku terhadap ayahnya, atau.... entahlah."
Ibunya tersenyum. "Sayang aku tidak bertemu dengan dia, akan tetapi puteri seorang pahlawan besar seperti Souw-taihiap tentulah seorang gadis yang baik. Jangan gelisah, Bun-ji. soal perjodohanmu, akan kubicarakan dengan ayahmu kalau dia "pulang."
Wajah Siok Bun makin merah lagi. "Paling perlu sekarang mencari jejak Sou-taihiap, ibu. Soal itu... terserah kepada ayah bunda!"
Setelah mempersiapkan segala keperluannya, Siok Bun minta diri dari ibunya dan berangkat dan melakukan penyelidikan untuk mencari Souw Teng Wi yang lenyap secara aneh itu. Ia harus bisa mendapatkan kembali Souw Teng Wi, kalau dia ingin terpandang oleh Lee Ing, gadis yang telah mencuri hatinya.
Adanya gadis itu bukan sekali-kali menjadi sebab utama akan usaha Siok Bun mencari Souw Teng Wi. Andaikata di sana tidak ada Lee Ing, tetap saja pemuda yang berhati baik dan bersemangat besar ini akan pergi mencari Souw Teng Wi, pahlawan yang amat dikaguminya.
Kita tinggalkan dulu pemuda perkasa ini dan mari kita ikuti perjalanan Souw Lee Ing yang cepat keluar dari kota raja menuju ke selatan, untuk mengejar orang yang mungkin melarikan ayahnya, juga untuk mencegat datangnya rombongan Auwyang Tek kalau saja pemuda putera menteri durna itu belum tiba lebih dulu.
"Bukankah kau Souw-lihiap.....?"
Souw Lee Ing terkejut mendengar teguran ini dah cepat ia menengok. Orang yang menegurnya adalah seorang laki-laki berjenggot berusia hampir lima puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah. Melihat laki-laki ini, Lee Ing segera teringat akan pengalamannya ketika untuk pertama kali ia datang ke pedalaman bersama kakeknya.
"Paman Lo Houw, kau di sini....?" serunya girang.
Ataukah ayahnya itu memang sengaja melarikan diri? Hal ini masih menjadi pertanyaan baginya dan ia baru saja keluar dari kota raja utara menuju ke selatan. Baru tiba di sebelah utara kota Paoting ia bertemu dan ditegur oleh Lo Houw ini.
"Syukur sekali kau dalam keadaan selamat, Souw-lihiap," kata Lo Houw, terharu dan benar nampak girang kekali. Semenjak gadis puteri Souw-taihiap ini dibawa lari Bu Lek Hwesio, Lo Houw mencari kemana-mana namun tak pernah mendengar jejak gadis ini.
"Paman Lo Houw, kong-kong di mana? Apakah dia baik-baik saja?"
"Kong-kongmu sudah kembali ke utara, Souw-lihiap, mari kita rayakan pertemuan ini! Kita minum-minum sambil mengobrol. Alangkah banyaknya yang akan kita bicarakan."
Lee Ing tak dapat menolak karena ia memang sudah lapar, pula ia bisa mempercayai orang ini dan siapa tahu kalau-kalau Lo Houw yang banyak pengalaman ini akan dapat membantunya mencari jejak ayahnya. Mereka lalu berjalan cepat memasuki kota Paoting dan masuk ke dalam sebuah rumah makan. Lo Houw memesan makanan dan minuman.
"Di sini cukup berbahaya, sekarang banyak sekali mata-mata dari selatan berkeliaran," bisik Lo Houw.
Lee Ing tersenyum, mengeluarkan pedangnya dan menaruh pedang itu di atas meja didepannya. "Tak usah khawatir, siapa sih berani mengganggu kita?" katanya.
Lo Houw tersenyum pahit. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Lee Ing sekarang jauh sekali bedanya dengan Lee Ing lima tahun yang lalu. Dia mengira bahwa Lee Ing masih sama dengan dulu, memiliki kepandaian ilmu silat cukup lihai, namun sama sekali belum boleh dipakai menjagoi di daerah ini.
Mulailah mereka bercakap-cakap, menuturkan pengalaman masing-masing. Akan tetapi Lee Ing tidak menceritakan bahwa dia telah menjadi ahli waris ilmu-ilmu peninggalan Bu-Beng Sih-Kun dl Gua Siluman, hanya menceritakan bahwa ia tadinya telah bertemu dengan ayahnya dan bahwa baru saja ia pergi ke Peking untuk menjumpai ayahnya yang bersembunyi dari kejaran kaki tangan menteri durna di sana. Akhirnya ia berkata,
"Celakanya, terjadi hal yang amat hebat. Ketika aku tiba di tempat persembunyian ayah, ternyata ayah telah lenyap secara aneh sekali. Entah ada yang menculiknya, entah ayah pergi atas kehendak sendiri. Orang tua yang malang itu selalu tidak tenteram pikirannya, terlalu amat menderita sejak berpisah dari ibu...." Lee Ing menjadi merah mukanya dan sepasang matanya yang bening menjadi basah Lo Houw mengangguk-angguk.
"Sudah banyak bagian ceritamu yang kudengar," katanya. "Aku-pun mendengar bahwa Souw-taihiap berada di Peking, akan tetapi tempat tinggalnya demikian dirahasiakan sehingga aku sendiri yang ingin sekali bertemu dengan beliau, tidak berhasil mendapatkan tempat itu. Sekarang beliau ada yang menculik, sungguh aneh! Hal ini mengingatkan daku akan dua orang aneh yang kutemui di luar kota ini."
"Dua orang aneh? Siapa dan di mana? Apa hubungannya dengan lenyapnya ayah?"
"Aku tidak dapat memastikan apakah ada hubungannya. Akan tetapi aku mendengar mereka berdua menyebut-nyebut nama Souw-taihiap, dan berhenti bicara ketika aku mendekat."
"Coba ceritakan yang jelas, paman Lo Houw."
Lo Houw lalu menuturkan pengalamannya. Dia masih tetap si harimau tua yang berwatak gagah, pendekar yang selalu mengulurkan tangan kepada siapapun juga yang membutuhkan pertolongan darinya. Selagi ia kebingungan mencari-cari di mana kiranya orang yang ia puja, Souw-taihiap, berada, Lo Houw tiba di daerah selatan kota raja.
Ia mendengar di sebuah dusun dekat kota Paoting hidup seorang tuan tanah yang amat keji, yang menjalankan kejahatan dan pemerasan tenaga ratusan orang kanak-kanak yatim piatu korban perang yang lalu. Dengan hati panas Lo Houw menuju ke tempat itu, akan tetapi ketika ia tiba di luar kota Paoting, di sebuah hutan kecil, ia menemui sesuatu yang membuat ia menunda rencana memberi hajaran kepada tuan tapah itu.
Kejadiannya sudah sepekan yang lalu. Ketika ia berjalan cepat, ia melihat dua orang, seorang laki-laki muda tampan bersama seorang wanita cantik, berjalan bersama menuju ke sebuah kelenteng rusak, kelenteng kuno yang tidak dipakai lagi, yang berada di dalam hutan kecil itu.
Karena merasa curiga, dengan hati-hati sekali Lo Houw mengikuti mereka, la merasa malu untuk mengintai, maka ia hanya mendengarkan dari luar jendela yang penuh sarang laba-laba.
Tiba-tiba ia mendengar suara wanita itu, "Souw Teng Wi si jahanam gila itu amat lihai, aku khawatir kau takkan dapat menang."
"Tak usah takut, ibu. Dengan kepandaian yang kumiliki sekarang, biar ada dua orang Souw Teng Wi aku tidak gentar. Akan tetapi apakah betul dia berada di perahu seperti kau katakan tadi?"
"Sssttt, jangan banyak bicara. Kau lihat saja sendiri nanti."
Mendengar ini sudah cukup bagi Lo Houw. Ia dapat menduga bahwa mereka adalah orang-orang lihai, kalau tidak demikian mana berani menghadapi Souw Teng Wi? Maka diam-diam ia lalu pergi dari situ dan cepat-cepat melakukan perjalanan ke Peking.
Akan tetapi, tidak mudah mencari perahu yang dimaksudkan pemuda itu. Ia sudah menyusuri tepi sungai akan tetapi tidak melihat perahu yang ditumpangi Souw-taihiap. Akhirnya ia putus asa dan kembali ke selatan di mana ia berjumpa dengan Souw Lee Ing.
"Nah, demikianlah ceritanya," kata Lo Houw kepada Lee Ing sambil menghirup araknya. "Entah benar-benar mereka yang menculik ayahmu, entah bukan."
Lee Ing mengerutkan keningnya. Ia kecewa karena urusannya menjadi bertambah ruwet. Kalau sekiranya Lo Houw menceritakan bahwa Auwyang Tek campur tangan dalam hal ini, ia akan merasa lebih lega karena mudah mengetahui siapa yang menculik ayahnya. Akan tetapi pemuda dan wanita itu, siapakah mereka?
"Bagaimana macamnya pemuda itu? Dan bagaimana pula wanitanya?" tanyanya penuh perhatian.
"Pemudanya tampan, matanya liar, wanitanya setengah tua, masih cantik, lincah dan gerakannya gesit bukan main, hijau pakaiannya dan..."
"Celaka...!" Lee Ing menahan seruannya dan bangkit berdiri sambil menggenggam gagang pedangnya.
Tak salah lagi, wanita itu tentu Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, Si Kupu-Kupu Terbang! Dan pemuda itu, yang memanggil ibu kepada Yap Lee Nio, siapa lagi kalau bukan Sim Hong Lui? Kalau ibu dan anak itu mencari dan memusuhi ayahnya, itu tidak aneh karena mereka tentu hendak membalas kematian ayah Sim Hong Lui, yaitu bajak laut Siang-pian Hai-liong Sim Kang. Tak salah lagi, tentu mereka.
Akan tetapi, tak mungkin. Mana bisa Hui-ouw-tiap dan anaknya pemuda dogol itu menculik ayahnya? Tak mungkin sama sekali. Teringat akan ini Lee Ing. lemas lagi dan kembali ia duduk, menarik napas berkali-kali. Melihat nona itu bangkit berdiri, sikapnya menakutkan, lalu bibirnya bergerak-gerak kemudian duduk kembali, Lo Houw menjadi terheran.
"Apakah kau mengenal mereka, lihiap?"
Lee Ing mengangguk. "Mereka tentu Hui-ouw-tiap dan puteranya. Memang mereka itu musuh-musuh ayah. Akan tetapi tidak mungkin mereka dapat menculik ayah, kepandaian mereka tidak seberapa."
"Ah, bagaimana kau bisa bilang begitu, lihiap? Gerakan mereka gesit dan ringan sekali, tanda bahwa ilmu kepandaian mereka jauh di atas tingkatmu atau tingkatku."
Lee Ing tersenyum. Ia tidak menyalahkan Lo Houw sampai berkata demikian karena orang tua ini memang tidak tahu sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian ayahnya dan tidak tahu pula bahwa dia bukanlah Lee Ing lima tahun yang lalu.
"Betapapun juga, sikap mereka memang mencurigakan. Tiada salahnya kalau kita mencoba-coba melihat ke dalam kelenteng itu, siapa tahu mereka masih berada di sana," kata Lee Ing.
Lo Houw mengangguk, memanggil pelayan dan membayar makanan dan minuman. Ia lalu mengajak Lee Ing keluar kota Paoting. Di tengah jalan Lee Ing teringat bahwa Hui-ouw-tiap tentu akan mengenalnya, padahal maksudnya mengikuti Lo Houw ini hanya ingin mencari keterangan bagaimana Hui-ouw-tiap bisa tahu bahwa ayahnya berada di atas perahu.
Kalau Hui-ouw-tiap tahu, tentu ada orang lain yang tahu, dan Lo Houw dapat menyelidiki hal ini. Hui-ouw-tiap tidak mengenal Lo Houw, oleh karena ini sebaiknya kalau ia tidak melakukan perjalanan ke tempat itu bersama Lo Houw.
"Paman Lo Houw, kau beri tahu di mana letaknya kelenteng itu, kemudian kita berpisah agar jangan menimbulkan kecurigaan orang. Tolong kau selidiki dan pancing-pancing mereka, dari mana mereka bisa menduga bahwa ayah berada di atas perahu."
Lo Houw berpengalaman, ia mengangguk. Memang sebaiknya kalau ia melakukan penyelidikan sendiri sehingga kalau terjadi hal-hal "keras" ia tidak payah melindungi Lee Ing. Setelah menyatakan persetujuannya dan memberi gambaran di mana letak kelenteng yang ia maksudkan itu, Lo Houw lalu mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, berlari secepat mungkin menuju ke hutan itu.
Lee Ing tersenyum geli melihat tingkah orang tua itu yang seakan-akan hendak memamerkan ilmu lari cepatnya kepadanya. Diam-diam ia merasa kasihan juga. Orang tua itu tentu tidak tahu bahwa dia bisa berlari lima kali lebih cepat dari pada larinya Lo Houw itu.
Lee Ing tidak mengejar terlalu cepat. Memang ia sengaja menyuruh Lo Houw melakukan penyelidikan sendiri, oleh karena ia tahu bahwa kalau Hui-ouw-tiap yang sudah mengenalnya melihat ia berada di situ, tentu sukar untuk mencari rahasia nyonya itu, bagaimana nyonya itu dapat mengetahui tempat persembunyian ayahnya.
Diam-diam ia mengingat-ingat cerita Lo Houw di bagian ucapan Sim Hong Lui yang menyatakan bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang dimiliki, pemuda itu tidak takut menghadapi ayahnya, la merasa heran. Seingatnya, ilmu kepandaian Sim Hong Lui rendah saja, terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kepandaian ayahnya.
Malah pemuda ini sendiripun sudah mengetahui akan hal ini, karena ketika Souw Teng Wi mengamuk di perahu, pemuda itupun hampir menjadi korban seperti ayahnya yang tewas. Kalau tidak ada apa-apanya, tak mungkin pemuda itu berani mengucapkan kala-kata itu di hadapan ibunya lagi. Padahal ibunya lihai, jauh lebih lihai dari pemuda itu.
"Tentu dia belajar lagi." pikir Lee Ing dan ia tidak menyangkal adanya kemungkinan ini. Dahulupun ketika ia bertemu dengan pemuda itu, apa sih kepandaiannya? Dibandingkan dengan Sim Hong Lui, ia kalah jauh. Sekarang, kurang lebih lima enam tahun kemudian, ia telah mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukan tidak mungkin kalau daiam waktu selama itu Sim Hong Lui juga mewarisi kepandaian tinggi.
Tiba-tiba Lee Ing sadar dari lamunannya dan cepat ia menyelinap di balik rumpun tetumbuhan. Pendengarannya yang tajam menangkap derap kaki orang berlari cepat mempergunakan ginkang yang istimewa. Benar saja dugaannya, tak lama kemudian datang dua orang kakek yang berlari cepat laksana terbang melalui tempat itu. Lee Ing memperhatikan.
Dua orang kakek itu sudah tua-tua sekali, tentu tidak kurang dari tujuh puluh tahun. Yang seorang adalah kakek-kakek tua yang buntung tangan kirinya, tinggi kurus tubuh tegak, pakaian putih tambal-tambalan. Orang ke dua bermuka hitam pula, mukanya kerut-merut buruk sekali, memegang tongkat ular. Keduanya mempergunakan ilmu lari cepat yang jarang tandingannya.
Dari cara mereka berlari ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh silat yang sakti. Selama hidupnya belum pernah Lee Ing melihat dua orang kakek ini. Akan tetapi melihat keadaan jasmani mereka, nona ini teringat akan dua orang yang ia temui bertengkar dengan Siok Beng Hui, yaitu Gak Seng Cu si tosu berpedang dan Pek-Ke Cui si muka kodok yang berpedang ular.
Sekarang kakek buruk, yang ia mendengar dahulu disebut Im-Kan Hek-mo (Iblis Hitam Akhirat) dan bukankah si kakek buntung itu guru Cak Seng Cu yang berjuluk Tok-pi Sin-kai Si Pengemis Lengan Satu? Berdebar dada Lee Ing.
Dua orang kakek ini juga mencari ayahnya, bukan untuk memusuhi ayahnya, melainkan untuk mencari tahu perihal Bu-Beng Sin-Kun, musuh lama mereka Ilmu silat ayahnya yang aneh telah sampai di telinga mereka dan tahulah mereka bahwa ayahnya mempelajari ilmu silat dari BuBeng Sin-Kun. Tadinya ia hendak mengikuti dua orang kakek itu karena ia berpikir bahwa kalau dua orang kakek ini yang menculik ayahnya, masih tidak aneh.
Dua orang kakek ini memiliki kepandaian tiriggi, setingkat dengan kepandaian Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, tidak kalah lihainya oleh Tok-ong Kai Song Cinjin. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara kakek tangan buntung, "Kita harus cepat-cepat, orang she Souw itu banyak musuhnya. Jangan sampai kita didahului orang!"
Mendengar ucapan ini dan melihat bahwa kakek-kakek itu tidak menuju ke dalam hutan kecil melainkan menuju ke utara, Lee Ing mengurungkan niatnya melakukan pengejaran. Kenyataan ini membuktikan bahwa dua orang kakek itu bukan yang menjadi sebab lenyapnya ayahnya. Mereka memang bermaksud menculik ayahnya, akan tetapi jelas bahwa maksud itu belum tercapai.
Adapun dua orang kakek itu betul-betul mengerahkan tenaga karena kini mereka berkelebat lenyap dengan kecepatan angin! Diam-diam Lee Ing kagum sekali dan mengaku bahwa ilmu lari cepat dua orang kakek tua itu benar-benar jarang tandingannya. Selagi ia termangu-mangu melihat ke-jurusan lenyapnya dua orang kakek sakti itu, tiba-tiba ia mendengar pekik dari dalam hutan kecil yang hendak ia masuki. Mendengar pekik kesakitan itu, Lee Ing cepat berlari memasuki hutan.
Dari jauh ia melihat bangunan kelenteng kuno yang dimaksudkan oleh Lo Houw. Akan tetapi ia segera menuju ke kelenteng karena perhatiannya tertarik oleh seorang hwesio yang sedang berjongkok, mengguncang-guncangkan tubuh seorang laki-laki yang rebah di tanah sambil bertanya berkali-kali.
"Siapa melukaimu? Hayo katakan, siapa melukaimu! Tahukah kau di mana adanya Souw Teng Wi....?"
Hwesio itu tetapi tubuh orang yang menggeletak itu kaku tak bergerak, kemudian terdengar ia berbisik lemah, "Pemuda tampan...." dan orang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kepalanya rebah miring dan ia tidak bergerak lagi, mati!
Mendengar suara orang yang rebah di tanah itu, Lee Ing kaget bukan main. Cepat ia berlari mendekati. Benar dugaan dan kekhawatirannya. Orang itu bukan lain adalah Lo Houw, kini sudah menjadi mayat!
"Paman Lo Houw.....!" Lee Ing cepat berlutut di dekat mayat itu. Hatinya menyesal bukan main mengapa ia tadi menyuruh Lo Houw melakukan penyelidikan sendiri. Kalau ia tahu bahwa di situ terdapat bahaya besar bagi keselamatan Lo Houw, tentu ia akan membayangi orang tua ini.
Sekarang tahu-tahu Lo Houw sudah menjadi mayat. Benar-benar Lee Ing merasa amat kecewa dan menyesal. Saking sedihnya, ia sampai lupa kepada hwesio gundul yang tadi mengguncang-guncang tubuh Lo Houw.
Adapun hwesio itu begitu melihat wajah Lee Ing cepat menggerakkan tangan memukul sambil berseru, "Puteri Souw Teng Wi, bagus!" Pukulannya itu cepat bukan main lagi keras.
Lee Ing yang mencurahkan seluruh perhatian kepada Lo Houw, tidak sempat menangkis atau mengelak, hanya mengerahkan tenaga Iweekang ke arah bahu yang dipukul. Tubuh gadis itu terlempar bagaikan tertumbuk oleh tenaga raksasa, akan tetapi sedikitpun Lee Ing tidak merasa sakit karena ia sudah dilindungi oleh pengerahan tenaga. Iweekang tadi.
Di lain fihak, hwesio itu ketika melihat betapa gadis yang dipukulnya terlempar sampai tiga meter lebih akan tetapi turunnya berdiri tegak, sedikitpun tidak terluka atau terlihat tanda-tanda kesakitan, menjadi melongo dan melarikan diri tunggang langgang ke arah kelenteng!
Geli hati Lee Ing menyaksikan kelakuan hwesio itu dan ia teringat ketika melihat wajah itu. Tak salah lagi, hwesio itu adalah Bu Lek Hwesio yang telah merampasnya dari tangan kakeknya lima enam tahun yang lalu. Hwesio itu lihai sekali.
Kakeknya juga kalah. Akan tetapi sekarang baginya hwesio itu hanya seorang kasar yang besar tenaganya, tidak lebih. Setelah membenarkan letak tangan Lo Houw dan menutupi muka mayat orang tua itu dengan pakaian Lo Houw sendiri, Lee Ing lalu melompat dan berlari cepat mengejar ke kelenteng. Semua orang telah datang, semua orang mencari ayahnya. Benar-benar ayahnya amat malang nasibnya.
Ketika tiba di dekat kelenteng, di sini nampak sunyi saja. Lee Ing yang dapat menduga bahwa di situ tentu bersembunyi musuh-musuh tangguh, cepat mengeluarkan pedangnya dan bagaikan disulap, Li-lian-kiam sudah berada di tangan kanannya. Ia melirik ke sana ke mari, sunyi saja.
Tiba-tiba ia mendengar suara ribut dibelakang kelenteng. Lee Ing tidak mau berlaku sembrono. Dengan jalan memutar ia tiba di belakang kelenteng dan melihat hwesio tadi, Bu Lek Hwesio, muntah-muntah darah dan pedang ular yang dipegangnya terlepas.
Sedangkan di depan hwesio itu, Auwyang Tek berdiri sambil memaki-maki. Lee Ing melihat bahwa hwesio itu telah terkena pukulan Hek-tok-ciang di dada kiri dan mudah diduga bahwa hwesio buruk watak ini takkan dapat hidup lama.
"Setan gundul, kau berani main-main di depanku? Tadinya kau bilang mengetahui tempat persembunyian Souw Teng Wi, kemudian kau bilang Souw Teng Wi diculik orang dan membawaku ke tempat ini. Kelenteng ini kosong pula dan kau bilang Souw Teng Wi sudah dibawa kabur oleh penculiknya. Setelah itu. kau setan gundul tak tahu malu, kau berani memerasku di sini dan minta seribu tael baru mau memberi tahu siapa penculiknya. Apa kau kira aku ini bocah yang mudah diperas dan kau tipu? Rasakan Hek-tok-ciang, baru tahu kelihaianku!"
"Pin.... pinceng tidak bohong...... murid Lui Siu Nio-nio.... ketua Hoa-lian-pai di Tapie-san... aaahhhhh......." Bu Lek Hwesio terguling roboh dan tamatlah riwayatnya, tewas di saat itu juga.
Lee Ing tadinya hendak menyerang pemuda yang dibencinya itu, akan tetapi tiba-tiba melayang turun tiga hwesio aneh, seorang bermuka merah, yang ke dua bermuka kuning dan ke tiga bermuka hitami Mereka ini melayang bagaikan tiga ekor burung gagak, langsung menubruk Lee Ing Mereka itu bukan lain adalah Hu-niu Sam-lojin yang bernama Ang Bin Hosiang. Oei Bin Hosiang, dan Ouw Bin Hosiang!
"Auwyang-Kongcu, di sini ada mata-mata!" teriak Ang Bin Hosiang, akan tetapi teriakannya itu disusul teriakan kaget dan heran ketika ia melihat bahwa ia telah saling tubruk sendiri dengan Oei Bin Hosiang dan Ouw Bin Hosiang! Sedangkan gadis cantik yang ditubruk tadi lenyap entah ke mana!
"Mana mata-mata itu?" Auwyang Tek bertanya ketika ia melompat ke balik dinding itu. Tiga orang hwesio tadi saling pandang dengan bengong.
"Siluman...!" kata Ang Bin Hosiang.
"Omitohud..... siang-siang muncul setan..." kata Oei Bin Hosiang.
"Tak mungkin manusia. Kita telah bertemu dengan iblis," kata Ouw Bin Hosiang.
Auwyang Tek membanting-banting kakinya. "Aku sedang kecewa dan mendongkol, masa sam-wi lo-suhu mengajakku bermain-main di tempat seperti ini?"
"Kami tidak main-main, memang tadi terlihat seorang wanita. Kami bertiga menubruk hendak menangkapnya, akan tetapi ia menghilang," kata Ang Bin Hosiang.
"Benar, dia lenyap begitu saja seperti asap," kata Ouw Bin Hosiang sambil bergidik.
Mereka bertiga adalah hwesio-hwesio berilmu tinggi, maka mengandalkan kepandaian sendiri mana mereka percaya ada orang, apa lagi seorang gadis muda, dapat meloloskan diri dari tubrukan mereka bertiga secara begitju gaib? Maka jalan satu-satunya yang paling murah agar jangan menurunkan nama, adalah menyatakan bahwa yang ditubruknva tadi adalah setan!
Ke mana perginya Lee Ing? Gadis ini setelah dapat menyelinap pergi dengan kecepatan luar biasa dari tubrukan tiga orang hwesio itu, maklum bahwa kalau dia menyerang Auwyang Tek, tentu ia dikeroyok empat dan ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan. Tubrukan tadi saja sudah memperingatkan kepadanya bahwa tiga orang hwesio itu tidak boleh dibuat main-main sedangkan Auwyang Tek sendiri dengan pukulan Hek-tok-ciang, juga cukup lihai.
Biarpun ia tidak gentar dan tak mungkin kalah, akan tetapi itu hanya akan membuang waktu saja sedangkan ia perlu cepat-cepat menyusul Sim Hong Lui dan Hui-ouw-tiap. Dari ucapan penghabisan Lo Houw, gadis ini menjadi makin yakin bahwa, penculik ayahnya tentu pemuda itu. Siapa lagi kalau bukan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang disebut murid Lui Siu Nio-nio?
la tahu ke mana ia harus menyusui. Ke mana lagi kalau bukan ke Ta-pie-san, ke pusat perkumpulan Hoa-lian-pai yang diketuai oleh Lui Siu Nio-nio? Maka tanpa melayani Auwyang Tek lebih lanjut, Lee Ing mempergunakan ilmu lari cepatnya pergi dari tempat itu.
Apakah sebetulnya yang terjadi dengan diri Souw Teng Wi? Untuk mengetahui akan hal ini, baik kita tinggalkan dulu, Lee Ing yang melakukan pengejaran ke Ta-pie-san untuk mencari ayahnya dan mari kita menengok pengalaman pahlawan rakyat Souw Teng Wi yang bernasib buruk itu.
Semenjak Souw Teng Wi dibawa oleh Tiong-gi-pai ke utara, memang ia telah hidup dalam keadaan aman. Di utara tidak ada orang yang berani mengganggunya, dan lagi siapakah yang mau mengganggunya? la terkenal sebagai seorang pahlawan rakyat yang dahulu tiada hentinya berusaha mengusir kekuasaan penjajah Mongol dari wilayah Tiongkok.
Sekarang ia telah berubah ingatan, seperti orang gila sebentar tertawa terbahak-bahak sebentar menangis menyebut-nyebut nama Namilana dan Lee Ing. Dia telah menjadi seorang kakek yang buta, akan tetapi amat berbahaya kalau lagi mengamuk. Ilmu kepandaiannya aneh dan tinggi sekali sehingga kalau dia lagi mengamuk, tidak ada orang berani mendekatinya.
Mungkin sekali teringat akan pertemuan kembali dengan puterinya di atas perahu bajak laut Sim Kang, setelah dibawa ke kota raja utara. Souw Teng Wi minta supaya ia ditempatkan di sebuah perahu. Untuk menyembunyikannya, maka ia lalu dibikinkan sebuah perahu besar dan gembiralah hati Souw Teng Wi.
Ia hidup di dalam perahu itu seorang diri, segala keperluannya dilayani oleh para penjaga yang selalu meronda di-sungai itu dengan perahu-perahu kecil. Sampai bertahun-tahun Souw Teng Wi hidup aman terjaga dan setiap pagi atau kadang-kadang pada malam hari terdengar suaranya bernyanyi lagu perjuangan yang penuh semangat.
Akan tetapi pada malam hati itu. tepat pada saat Lee Ing datang ke kota raja menemui Siok Bun, terjadi hal aneh dan hebat di sungai tadi. Dalam kegelapan malam, tanpa terlihat oleh para penjaga dari perahu-perahu mereka, sesosok baayangan hitam meluncur maju di permukaan sungai tanpa mengeluarkan suara. Kalau para penjaga itu melihatnya, tentu mereka akan menggigil ketakutan, oleh karena apa yang mereka lihat itu memang benar-benar mengerikan dan tak masuk di akal.
Kalau manusia, bagaimana bisa berjalan di atas air? Akan tetapi melihat sesosok tubuh hitam itu, tak salah lagi bahwa dia seorang manusia. Memang seorang manusia, masih muda malah. Seorang pemuda yang berwajah tampan namun pucat, dengan senyum aneh menghias kulit mukanya yang halus putih, menggerak-gerakkan tangan kakinya dengan teratur dan tubuhnya meluncur di permukaan air!
Apakah ia memiliki ilmu gaib dan dapat berjalan di permukaan air ataukah barangkali ia pandai terbang? Tak mungkin, selama sejarah berkembang, belum pernah ada manusia bisa terbang atau mengambang di permukaan air, kecuali dalam dongeng. Apakah ia siluman atau iblis? Lebih tak mungkin lagi. Mana di dunia ini ada siluman atau iblis yang muncul begitu saja! Siluman atau iblis, kalau ada, selalu sembunyi dalam pandang mata orang-orang penakut, dan sembunyi dalam hati dan pikiran orang-orang jahat.
Kalau dilihat lebih dekat, baru diketahui bahwa sesosok bayangan itu memang betul-betul seorang manusia tulen, manusia darah daging, hanya bedanya dengan manusia biasa, ia memiliki kepandaian tinggi. Kalau bukan orang yang memiliki ginkang sampai di puncaknya, tak mungkin, bisa melakukan apa yang ia lakukan di malam itu. la benar-benar meluncur di permukaan air, mengambang dengan bantuan dua potong papan.
Dua potong papan yang panjangnya dua kaki lebar setengah kaki itu diinjaknya, diikat dengan sepatunya, lalu ia menggerak-gerakkan kedua tangan, mengerahkan Iweekang pada kaki tangannya dan demikianlah ia meluncur maju dengan kecepatan luar biasa!
Orangnya masih muda namun sudah memiliki ginkang dan Iweekang sedemikian tingginya, benar-benar sukar dicari bandingnya. Dengan kecepatan mengagumkan sehingga tidak-terlihat oleh para penjaga, pemuda ini sudah melompat ke atas perahu Souw Teng Wi dan melepaskan dua bilah papan itu. Kemudian ia maju hendak memasuki ruangan dalam perahu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dan angin dahsyat menyambar dari dalam perahu.
Pemuda itu terkejut. Ia tahu itulah angin pukulan yang kuat sekali. Dengan hati-hati ia mengelak dan mengibaskan tangannya, kemudian dengan berani sekali ia menyelonong masuk. Ia disambut dengan pukulan oleh Souw Teng Wi, namun dengan gerakan aneh sekali pemuda ini dapat menangkis.
"Sobat, kau hebat sekali!" Souw Teng Wi menegur sambil tertawa. "Kau pantas menemani aku minum, arak, ha-ha-ha!"
Pemuda itu tersenyum, akan tetapi hanya bibirnya saja yang tersenyum, sedangkan sepasang matanya berputaran liar, lebih liar dari mata Souw Teng Wi yang selalu melirik ke sana ke mari sebelum pendekar ini dibikin buta matanya oleh Tok-ong Kai Song Cinjin. Sekarang mata Souw Teng Wi kosong melompong, hitam mengerikan.
"Souw Teng Wi, dulu, kau yang menjadi tamu, sekarang aku yang kau tawari arak. Akan tetapi lain dulu lain sekarang. Dulu kau tidak buta, dan aku masih amat lemah dan bodoh. Hah-hah-hah-hah!" Suara ketawa pemuda ini benar-benar dapat membikin orang waras menjadi, beku darahnya kalau mendengarnya. Bukan suara ketawa manusia lagi, tinggi berirama seperti lagu neraka dinyanyikan oleh para setan!
Souw Teng Wi tertawa-tawa lagi. "Ya, lain, dulu lain sekarang. Dulu aku pahlawan besar, sekarang orang buta hina-dina.....!" Dan kakek ini, bekas pahlawan rakyat yang dicintai kawan dlsegani lawan, lalu menangis sambil menyodorkan arak.
Pemuda itu melangkah maju, menerima arak, akan tetapi tidak diminum, melainkan disiramkan ke arah muka Souw Teng Wi sampai kakek itu gelagapan. "Souw Teng Wi, kau telah membunuh ayahku, ingat?"
Sambil berkata demikian, secepat kilat pemuda itu mencengkeram pundak Souw Teng Wi. Kakek buta yang sudah mewarisi ilmu silat aneh itu cepat mengelak, akan tetapi sama anehnya, dengan gerakan seperti orang terhuyung roboh ke depan, pemuda itu melanjutkan serangannya dengan dua kali totokan.
Betapapun pandainya Souw Teng Wi, ia sudah tua, sudah buta, dan terlalu banyak minum arak. Apa lagi pemuda itu benar-benar lihai sekali, gerakannya aneh dan cepat dan tahu-tahu Souw Teng Wi telah roboh lemas terkena totokan.
Sambil tertawa aneh pemuda itu lalu menyeret tubuh lawannya dipondongnya lalu melompat ke luar setelah lebih dulu memukulkan tangannya pada dinding kamar itu. Dipakainya dua bilah papan di bawah sepatunya dan seperti datangnya tadi, ia meluncur di permukaan air sungai, menghilang di dalam gelap sambil membawa tubuh Souw Teng Wi yang tak dapat bergerak lagi.
Setelah berhasil menculik Souw Teng Wi, pemuda aneh ini berlari cepat sekali ke selatan dan pada pagi hari ia sampai di dalam hutan kecil dekat kota Paoting, lalu melompat ke dalam kelenteng. Seorang wanita setengah tua yang masih cantik menyambut kedatangannya dengan muka girang.
"Hong Lui, anakku yang ganteng, kau betul-betul berhasil menawan bajingan ini!" seru wanita itu yang bukan lain adalah Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, sedangkan pemuda aneh yang mukanya tampan akan tetapi mengerikan itu adalah Sim Hong Lui.
Pemuda itu tidak menjawab, melainkan melempar tubuh Souw Teng Wi di atas lantai sedangkan dia sendiri melepaskan lelah, duduk bersila di atas lantai yang kotor. Sekarang, di bawah sinar matahari pagi, kelihatan Wajah pemuda ini. Dibandingkan dengan dulu, ia banyak kurusan. Juga sikapnya jauh berbeda, ia pendiam, bibirnya tersenyum aneh, matanya liar seperti mata orang yang miring otaknya.
Benar-benar Sim Hong Lui sekarang ini jauh sekali dengan dahulu, sekarang dia bermuka pucat seperti orang menderita batin yang hebat, namun kepandaiannya luar biasa, aneh dan lihai sekali.
Melihat Souw Teng Wi, orang yang telah membunuh suaminya, biarpun sudah lama bercerai dari suaminya itu. hati Hui-ouwtiap Yap Lee Nio masih panas, la cepat mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap ia menubruk ke depan untuk menusukkan pedangnya ke dada musuh besar itu.
Souw Teng Wi yang sudah siuman akan tetapi tak dapat bergerak itu, masih tertawa-tawa perlahan, la sama sekali tidak ambil perduli akan pedang yang berkelebat meluncur ke dadanya itu. "Tranggg...!"
"Ayaaaa...! Lui-ji (anak Lui), kenapa kau menahan pedangku?" tanya Yap Lee Nio terkejut sambil memegang-megang tangan kanan yang terasa sakit sekali kemudian membungkuk untuk memungut pedangnya yang terlempar ke bawah.
Pedang itu telah disentil oleh kuku jari Sim Hong Lui dan sekali sentil saja cukup kuat membuat pedang terlepas dari tangan ibunya! Benar-benar pemuda ini telah menjadi hebat sekali, kepandaiannya jauh melampaui ibunya, malah jauh melampaui kepahdaian Souw leng Wi!
"Aku yang akan menghukum dia, menggunakannya sebagai umpan memancing datang si cantik manis Souw Lee Ing," kata Sim Hong Lui, wajahnya tidak berubah sedikitpun akan tetapi suaranya perlahan berpengaruh dan mengandung nafsu.
Ibunya memandang bingung. "Di mana?"
"Kita bawa dia ke Ta-pie-san," kata pula pemuda aneh itu yang masih tetap duduk bersila, kemudian pemuda itu meramkan mata dan ibunya tidak berani lagi mengganggu puteranya yang sedang tidur itu.
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio hanya duduk menatap wajah puteranya, dalam hati masih belum habis keheranannya melihat keadaan Sim Hong Lui. Telah tiga tahun lebih pemuda itu pergi tanpa meninggalkan bekas kemudian baru beberapa bulan ini muncul lagi dengan kepandaian yang luar biasa, akan tetapi otaknya agak miring.
Setelah cukup beristirahat, Sim Hong Lui lalu memanggul tubuh Souw Teng Wi dan berangkat, diikuti oleh ibunya. Akan tetapi baru saja ia melompat keluar dan lari tidak berapa jauh dari kelenteng, seorang laki-laki muncul dan langsung menyerangnya dengan pukulan tangan kiri sedangkan tangan kanan orang itu berusaha merampas Souw Teng Wi.
Orang ini bukan lain adalah Lo Houw yang segera mengenal Souw Teng Wi yang terculik. Akan tetapi dengan mengeluarkan suara mengejek, Sim Hong Lui menangkis pukulan itu dan sekali kakinya diangkat tubuh Lo Houw terlempar jauh Mana Lo Houw mau sudah begitu saja. Pendekar ini merayap bangun lagi dan dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya. Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, menyambar benda-benda kecil ke arah dadanya.
Lo Houw mengeluh dan roboh lagi, dadanya terluka oleh beberapa butir Thi-lian-ci, senjata gelap yang dilepas oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Lo Houw mengerang sekali, la hanya mendengar suara ketawa dua orang ibu dan anak im, sama sekali tak berdaya untuk mengejar, bahkan untuk bangun saja ia tidak kuat. Demikianlah Sim Hong Lui dan ibunya membawa lari Souw Teng Wi dan seperti telah dituturkan di bagian depan, Lee Ing mengejar ke Ta-pie-san.
Juga Auwyang Tek menjadi penasaran sekali. Mendengar penuturan Bu Lek Hwesio yang ia bunuh, pemuda ini lalu menyuruh Ouw Bin Hwesio untuk memanggil Tok-ong Kai Song Cinjin di selatan. Adapun dia. sendiri ditemani oleh Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang, langsung melakukan pengejaran ke Ta-pie-san. Ouw Bin Hwesio atau Ouw Bin Hosiang segera berangkat ke kota raja, membawa surat pemuda itu.
Ta-pie-san adalah pegunungan di Tiongkok Selatan, di sebelah barai kota raja Nan-king. Pemandangan alam di pegunungan ini indah sekali karena tanahnya amat subur. Sungai Huai bermata air dari pegunungan ini. Seluruh permukaan gunung ditumbuhi pohon-pohon menghijau, hutan-hutan lebat yang penuh binatang-binatang hutan beraneka macam dengan burung-burungnya yang indah rupa dan suaranya.
Memang pantas sekali kalau tempat ini dijadikan pusat atau markas perkumpulan Hoa-Iian-pai, perkumpulan wanita yang diketuai oleh Lui Siu Nio-nio, nenek perkasa yang masih gadis itu. Seperti sudah dituturkan di bagian depan, Lui Siu Nio-nio adalah bekas kekasih Im-Yang Thian-Cu yang dahulu di waktu muda bernama Can Hoat. Karena perbedaan faham, keduanya berpisah dan tetap tidak mau menikah.
Perkumpulan Hoa-Iian-pai tadinya dibuka oleh Lui Siu Nio-nio dengan dua maksud. Pertama untuk menghibur hatinya yang terluka agar hidupnya tidak begitu kesunyian, mempunyai banyak kawan dan murid. Ke dua untuk memberi kesempatan kepada para wanita yang terlantar mendapatkan tempat untuk belajar memperkuat diri.
Boleh dibilang Lui Siu Nio-nio berhasil dalam usahanya ini, tidak saja hatinya sedikit banyak terhibur, juga ia telah menolong banyak sekali wanita yang tadinya sudah putus asa dan mengambil jalan pendek dengan menceburkan diri dalam pelacuran dan kejahatan.
Di bawah bimbingan Lui Siu Nio-nio, para anggauta Hoa-Iian-pai menjadi berdisiplin dan terutama sekali mereka bukan lagi merupakan wanita-wanita lemah yang boleh diperbuat sesuka hati kaum pria. Malah banyak di antara anggauta Hoa-Iian-pai yang menjadi pendekar wanita, banyak pula yang sudah berumah tangga dan hidup bahagia.
Hanya satu hal yang dianggap gagal oleh Lui Siu Nio, yakni dalam memilih murid. Jarang ada murid bertulang dan berbakat baik, hanya satu-satunya murid yang berbakat adalah Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Akan tetapi sayang sekali, murid ini selain nasibnya buruk sampai bercerai dari suaminya malah akhirnya kehilangan suaminya yang tewas oleh SouwTeng Wi, juga harus diakui bahwa murid nomor satu ini kurang baik, terlalu ganas dan kejam, mudah sekali membunuh orang yang dibencinya atau dianggapnya musuh.
Memang tadinya Yap Lee Nio terkenal sebagai seorang pendekar wanita, seorang perampok tunggal budiman yang membagikan hasil perampokannya kepada rakyat jelata. Pula ia hanya merampok hartawan-hartawan kikir dan bangsawan-bangsawan jahat. Akan tetapi hati Yap Lee Nio terlampau keras dan kalau wanita ini sudah marah, mudah saja menyebar maut!
Kematian Sim Kang yang membuat Yap Lee Nio merasa sakit hati sehingga murid ini menangis di depan gurunya, membuat Lui Siu Nio-nio tak enak hati dan terpaksa guru besar Hoa-lian-pai ini turun gunung untuk mencari Souw Teng Wi atau Souw Lee Ing agar sakit hati muridnya dapat terbalas. Ia terlalu sayang kepada muridnya itu.
Akan tetapi, seperti telah dituturkan di bagian depan, tidak saja Lui Siu Nio-nio gagal menolong muridnya mendapatkan kembali Souw Teng Wi atau puterinya, malah Lui Siu Nio-nio bertemu muka dengan Souw Lee Ing dan mendapat malu besar karena alat tetabuhan khim yang juga menjadi senjata istimewa darinya itu rusak sedikit oleh Lee Ing!
Hal ini merupakan sesuatu yang amat merendahkan namanya, maka Lui Siu Nio-nio segera pulang ke Ta-pie-san dan kepada Yap Lee Njo ia menyatakan bahwa ia tidak sanggup membantu muridnya karena kepandaiannya masih terlampau rendah.
Semenjak kekalahannya itu dan semenjak pertemuannya dengan Im-Yang Thian-Cu atau Can Hoat. yang menolak untuk melanjutkan cita-cita mereka di waktu muda (baca jilid sebelumnya), Lui Siu Nio-nio lalu menyembunyikan diri saja di dalam kelenteng Hoa-lian-pai dan bertapa menenteramkan batin dan memperkuat hawa murni.
Sungguh sedikitpun juga wanita sakti ini tak pernah mengira bahwa hari itu perkumpulan dan tempatnya akan mengalami hal-hal hebat yang diakibatkan oleh kedatangan muridnya yang tersayang, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio dengan puteranya, Siin Hong Lui.
Kedatangan Hui-ouw-tiap di lereng atau dekat kaki Bukit Ta-pie-san disambut dengan girang oleh para anak murid Hoa-lian-pai, akan tetapi para wanita itu menjadi terheran-heran melihat bahwa kedatangan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio disertai seorang pemuda tampan bersikap aneh yang memanggul tubuh seorang kakek yang tertawa-tawa dan memaki-maki.
Lui Siu Nio-nio yang mendengar laporan tentang kedatangan muridnya segera keluar. Yap Lee Nio cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya. "Teecu. datang mengganggu, harap niocu sudi memaafkan. Teecu datang beserta putera teecu yang berhasil membekuk musuh besar, Souw Teng Wi."
Lui Siu Nio-nio mengerutkan kening melirik ke arah pemuda itu. Sim Hong Lui sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat kepada guru ibunya itu, malah ia melemparkan tubuh Souw Teng Wi ke atas lantai lalu mengebut-ngebut pakaiannya, membersihkannya dari debu.
Debu dari pakaiannya mengebul ke sana-sini, di antaranya terbang ke arah Lui Siu Nio-nio yang berpakaian bersih sekali. Para murid Hoa-lian-pai mengerutkan alis dan menggerutu melihat pemuda itu bersikap tidak tahu adat sama sekali.
"Lui-ji, ini adalah Lui Siu Nio-nio, ketua Hoan-lian-pai dan guru ibumu, hayo kau memberi hormat kepada niocu!" kata Yap Lee Nio yang merasa jengah juga melihat sikap puteranya itu.
Sim Hong Lui tertawa. "Lui Siu Nio-nio, tuan mudamu datang, tidak lekas-lekas pergi ambil minuman malah berdiri seperti patung. Sungguh tak tahu adat... tak tahu adat....!"
Wajah Yap Lee Nio menjadi pucat, juga wajah para anak murid Hoa-lian-pai menjadi merah sekali. Bahkan Lui Siu Nio-nio sendiri berobah air mukanya. Ia melirik ke arah Yap Lee Nio.
"Lee Nio, kau bawa dari mana bocah gila ini. Kalau kau sudah berhasil menangkap Souw Teng Wi, bawalah pergi dari sini, pinni tidak sudi mencampuri lagi. Mengapa kau membawa ke sini bersama anakmu yang berotak miring ini?" Ketua Hoa-lian-pai sekali pandang saja maklum bahwa putera muridnya itu tidak beres otaknya, maka ia dapat menindas kemarahannya ketika pemuda itu mengeluarkan kata-kata yang tak patut tadi.
Adapun Yap Lee Nio yang ditegur gurunya, hanya bisa menundukkan muka, tak dapat menjawab. Apa yang harus dijawabnya? Adalah kehendak Hong Lui maka ia terpaksa mengantar puteranya itu kc Ta-pie-san. Ibunya tidak menjawab, akan tetapi Sim Hong Lui yang menjawab dengan suara ketawanya yang membikin bulu tengkuk meremang,
"Ha-ha-hi-hi-ha-ha! Nenek-nenek tua, mana anakmu yang baru? Suruh keluar dong, jangan yang tua-tua buruk rupa saja, siapa sudi kepada mereka? Hayo, tuan mudamu sudah haus, haus arak wangi dan haus belaian kasih sayang. Ha-ha-hah!"
Yap Lee Nio menjadi makin pucat, la maklum bahwa kalau puteranya itu sudah angot (kambuh) penyakit gilanya, makin ditentang makin menggila. Biasanya kalau puteranya itu mengoceh tentang wanita secara tak tahu malu, ia mendiamkannya saja sampai reda kembali. Pernah ia memaki dan melarangnya, eh, bukannya berhenti malah makin menggila.
Memang Sim Hong Lui pada dasarnya berwatak rendah. Sudah terlampau banyak ia melakukan kejahatan, sudah terlampau dalam ia terperosok ke dalam lumpur kehinaan. Dahulu tempat bermainnya adalah tempat-tempat perjudian dan tempat pelacuran, maka sekarang dalam keadaan gila ia masih saja mengoceh tentang tempat pelacuran dan pelbagai kejahatan!
Saking marah dan kagetnya, Lui Siu Nio-nio dan anak-anak muridnya sampai tak dapat mengeluarkan suara apa apa. Yang menjawab kata-kata ini adalah suara ketawa lain lagi, yang keluar dari mulut Souw Teng Wi. Juga kakek ini tertawa, terbahak-bahak, biarpun tubuhnya masih lemas di bawah pengaruh totokan namun suara ketawanya keras bagaikan geram seekor harimau jantan.
Sebentar saja ruangan yang biasanya sunyi aman, bersih dan tak pernah didatangi laki-laki, yang selalu hanya berisikan suara-suara nyanyian halus, atau suara-suara doa penuh khidmat, kadang-kadang anak-anak murid Hoa-lian-pai itu juga bergurau akan tetapi dengan suara lemah-lembut, kini penuh oleh dua suara ketawa yang aneh dan sama gilanya dari dua orang laki-laki berotak miring.
Mendengar Souw Teng Wi ketawa, makin geli hati Hong Lui sampai ia terpingkal-pingkal tertawa dan memegangi perutnya. Kemudian ia menepuk-nepuk pundak Souw Teng Wi seperti kepada seorang sahabat baik, lalu berkata di antara tawanya,
"Dua orang laki-laki seperti kita dan perempuannya begini banyak. Hayaaa, siapa kuat? Apa lagi perempuannya tua-tua, eh, kakek Souw, kau mau yang mana?"
Lui Siu Nio-nio tidak kuat lagi menahan kemarahannya. Ia melangkah maju sambil menggerakkan senjatanya kembang emas ke arah pundak Sim Hong Lui sambil membentak, "Bocah tidak sopan, pergi kau dari sini!"
Ilmu kepandaian Lui Siu Nio-nio tinggi sekali senjatanya kembang emas itupun hebat, dimainkannya seperti sebatang pedang. Mengingat bahwa pemuda itu adalah putera muridnya yang terkasih, ia hanya menyerang pundak untuk menakut-nakuti. Akan tetapi segera ia mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan marahnya ketika tiba-tiba, dengan gerak tangan yang aneh, pemuda itu tidak saja dapat mengelak, malah hampir berhasil merampas tangkai kembang emas itu kalau saja Lui Siu Nio-nio tidak cepat-cepat menariknya kembali.
"Heh-heh-heh, nenek tua, pergi ke mana? Aku tidak mau pergi, di sini enak banyak perempuannya," jawab Hong Lui yang kumat gilanya.
"Hong Lui....!" ibunya membentak, akan tetapi pemuda itu hanya tertawa ha-hah-heh-heh saja, juga Souw Teng Wi tertawa-tawa mendengar ketua Hoa-lian-pai marah-marah.
Lui Siu Nio-nio tak dapat menahan marahnya. Ia berseru keras dan kini senjatanya kembang emas meluncur cepat melakukan serangan maut ke arah dada Sim Hong Lui. Yap Lee Nio menjadi pucat. Serangan gurunya ini hebat bukan main dan di dunia ini tidak banyak orang yang akan dapat menghindarkan diri dari ancaman maut dari serangan itu.
Akan tetapi sambil terkekeh-kekeh aneh dan matanya tetap liar Sim Hong Lui membuat gerakan luar biasa, seperti orang mabok terhuyung-huyung, namun serangan itu menjadi luput. Lui Siu Nio-nio kaget dan penasaran, terus melakukan penyerangan lanjutan yang bertubi-tubi dan berbahaya. Akan tetapi sia-sia belaka, setiap kali ujung senjatanya mendekati tubuh pemuda itu, seakan-akan ada semacam hawa ajaib yang menolak senjata itu menyeleweng ke samping.
Pemuda itu tertawa sambil berkata, "Nenek tua masih banyak lagak, heh-heh-heh!" Tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke arah dada Lui Siu Nio-nio.
Biarpun sudah tua, Lui Siu Nio-nio adalah seorang wanita yang masih gadis, mana ia mau membiarkan tubuhnya tersentuh tangan pria? Mukanya menjadi merah sekali dan cepat ia menangkis tangan kurang ajar itu dengan kembang emasnya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika serangan itu hanya pancingan saja karena dalam sekejap mata tangan pemuda itu berubah menjadi cengkeraman ke arah kembang emas dan di lain saat senjata istimewa itu telah berpindah tangan.
Sim Hong Lui menggunakan kedua tangannya menekuk senjata itu sampai menjadi bengkak-bengkok tidak karuan dan menyodorkannya kepada Lui Siu Nio-nio sambil tertawa mengejek! Belum pernah Selama hidupnya Lui Siu Nio-nio dihina orang seperti ini. la cepat merenggut alat tetabuhan khim, senjatanya yang luar biasa ini, lalu memukul kepada Hong Lui dengan pengerahan seluruh tenaga lweekangnya. Hong Lui merendahkan tubuhnya dan kedua tangannya memukul.
"Brakkkkk!!" Khim itu pecah berantakan dan tubuh Lui Siu Nio-nio sendiri terguling roboh. Nenek ini bergerak hendak bangun dengan susah payah, wajahnya pucat sekali. Hong Lui tertawa bergelak dan melompat maju, agaknya hendak memukul.
"Bocah kurang ajar, mundur kau!" Yap Lee Nio membentak dan melompat di depan puteranya sambil mendorongnya ke belakang.
Menghadapi ibunya, pemuda berotak miring itu tidak melawan, hanya melangkah sambil tersenyum. Yap Lee Nio hendak menolong gurunya bangun, akan tetapi sekali sampok saja Lui Siu Nio-nio membuat muridnya itu terguling. Dengan isak tertahan Lui Siu Nio-nio meninggalkan ruangan itu, kepalanya ditundukkan, hatinya patah. Dua kali ia mengalami kekalahan yang memalukan.
Pertama kali ketika ia kalah oleh Souw Lee Ing, puteri Souw Teng Wi sehingga senjata yang diandalkannya, alat tetabuhan khim itu, putus senarnya. Akan tetapi kekalahan itu tidak sehebat sekarang ini, senjata kembang emas dirusak, khim-nya hancur, masih dihina lagi oleh seorang pemuda gila seperti putera muridnya itu!
Kalau saja ia bukan seorang wanita tua, tentu ia akan menangis dan bergulingan di atas lantai. Lui Siu Nio-nio lari ke dalam, kamarnya dan duduk bersila, meramkan matanya, hatinya perih dan tekadnya ingin saat itu mati saja.
Pada saat itu, terdengar teriakan nyaring dari luar, kelenteng. "Lui Siu Nio-nio! Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio! Kalian keluarlah, aku mau bicara!"
Teriakan ini terdengar ke dalam kelenteng seakan-akan orangnya bicara di dalam, demikian jelas dan bergema, padahal orangnya tidak kelihatan karena berada di luar. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan bahwa orang itu memiliki ilmu mengirim suara dari jauh yang amat hebat. Kalau Sim Hong Lui tertawa-tawa tidak perdulian mendengar suara ini adalah Yap Lee Nio yang menjadi berubah air mukanya.
"Puteri Souw Teng Wi yang datang itu..." katanya.
Mendengar ini, Sim Hong Lui mengeluarkan seruah aneh dan ia melompat keluar dengan kecepatan kilat. Yap Lee Nio yang dapat menduga bahwa gadis itu tentu datang hendak merampas Souw Teng Wi, cepat menyeret kakek yang masih lumpuh oleh totokan itu ke dalam sebuah kamar tahanan di dalam kelenteng, kamar yang biasa dipergunakan untuk menghukum murid Hoa-lian-pai yang melanggar peraturan atau yang bersalah.
Memang benar dugaan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Yang datang dan berteriak-teriak di luar kelenteng adalah Souw Lee Ing. Dengan melakukan perjalanan cepat tak mengenal lelah, akhirnya Lee Ing tiba di depan kelenteng yang merupakan asrama perkumpulan Hoa-lian-pai.
Melihat keadaan kelenteng yang bersih terawat, juga terutama sekali mengingat akan kedudukan Lui Sin Nio-nio yang menjadi ketuanya, Lee Ing tidak mau berlaku lancang. Maka ia tidak menyerbu ke dalam melainkan berteriak-teriak memanggil keluar Lui Siu Nio-nio dan Yap Lee Nio.
Ketika melihat seorang pemuda aneh yang keluar dari kelenteng, Lee Ing segera mengenalnya. Akan tetapi alangkah jauh bedanya Hong Lui dahulu dan sekarang. Wajahnya masih tak berubah, tampan dan gagah seperti dulu akan tetapi kulit muka yang dulu kemerahan itu sekarang menjadi pucat tak berdarah seperti muka mayat.
Mata yang dulu jalang liar itu kini berputaran tidak normal, bibir yang dulu selalu tersenyum memikat sekarang masih tersenyum, akan tetapi senyumnya mengejek dan aneh seakan-akan di balik senyumnya ini terkandung tekanan dan penderitaan batin yang sukar dilukiskan.
Melihat gadis itu, sepasang mata Sim Hong Lui makin cepat berputaran, mulutnya terbuka tertawa, ha-hah-he-heh, lalu berkata dengan suara parau, "Manisku, kau sudah datang? Ke sinilah, aku memerlukan jantungmu!"
Lee Ing bergidik. Tak salah lagi pandang matanya, pemuda jahat dan ceriwis ini telah menjadi seorang gendeng yang berotak miring. "Sim Hong Lui, agaknya Thian telah menghukummu karena kejahatanmu sudah melewati batas sehingga kau menjadi gila," katanya perlahan.
Kemudian ia melihat Yap Lee Nio muncul dari pintu, segera Lee Ing membentak, "Hui-ouw-tiap, kau bawa ke mana ayahku?"
Yap Lee Nio sudah mengenal kelihaian gadis itu maka ia tidak berani mendekat, juga tidak menjawab, hanya memandang ke arah puteranya yang gila. Biarpun sudah gila, nyonya ini maklum akan kehebatan kepandaian puteranya itu, maka ia mengandalkan kepada Hong Lui untuk menghadapi Lee Ing.
Jangan berpura-pura tuli dan gagu, hayo katakan di mana ayahku!" Lee Ing membentak lagi dan tubuhnya melayang ke arah Yap Lee Nio untuk menangkap wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara ketawa aneh di belakangnya dan tahu-tahu lengannya ada yang memegang dari belakang sehingga ia terpaksa memutar tubuh dan membatalkan niatnya menangkap Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.
"Manisku, jangan ganggu ibuku!" kata Hong Lui yang telah memegang lengan Lee Ing dari belakang sambil menarik gadis itu...