Pusaka Gua Siluman Jilid 21

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Pusaka Gua Siluman Jilid 21
Sonny Ogawa

Pusaka Gua Siluman Jilid 21, karya Kho Ping Hoo - SAMBIL bertolak pinggang Lee Ing menjawab, "Kakek ompong! Mau tahu guruku? Namanya Bu Beng (Tiada Nama), bertahta di Yu-beng-te-hu (Istana Akhirat) di kota Kui-bun-koan (Kota Iblis). Puas?"

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Wajah Bu Kam Ki makin menjadi pucat saking marahnya. Jelas gadis ini mempermainkannya dan terlalu memandang rendah kepadanya. Tentu saja ia tidak tahu bahwa biarpun secara main-main, gadis itu telah membuat pengakuan, karena gurunya memang bernama Bu-Beng Sin-Kun dan tempat tinggalnya di dalam Gua Siluman.

"Yau-hu (siluman betina)! Kau benar-benar tidak memandang mata kepada Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki. Kau jaga baik-baik pukulanku ini!" Setelah berkata demikian, kakek itu menggerak-gerakkan kedua tangannya, diputar-putar di depan dada sampai semua pergelangan lengan mengeluarkan bunyi "kretek... kretek!" dan kulit lengannya nampak putih berminyak.

Setelah itu ia lalu membanting kedua kakinya di atas lantai sambil berseru "aaahhhh!" dan.... sepasang kakinya itu amblas kedalam lantai sampai dua dim lebih. Kemudian ia memandang tajam ke depan, siap melakukan pukulannya. Inilah ilmu pukulan yang disebut Pek-in-ki-san (Awan Putih Naik Gunung) yang merupakan inti dari Ilmu Silat Pek-kong-sin-ciang ciptaannya sendiri.

Pek-in-ki-san ini merupakan serangan yang terdiri dari dua pukulan, pertama menghantam bagian bawah tubuh lawan sedemikian rupa sehingga jalan satu-satunya bagian lawan untuk menghindarkan diri hanya melompat ke atas.

Kemudian pukulan susulan, yaitu bagian "ki-san" atau naik gunung dilakukan dengan memukul ke arah lawan yang sedang meloncat. Dalam keadaah meloncat tentu saja kedudukan lawan tidak kuat, sedangkan dua pukulan ini dilakukan dengan tenaga Pek-kong-sin-ciang maka dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahayanya.

Namun reaksi yang diperlihatkan oleh Lee Ing di luar dugaan dan tidak kalah anehnya. Melihat orang mengerahkan tenaga Iweekang sepenuhnya sampai lantai tempat kaki berpijak menjadi amblas ke bawah. Lee Ing mengeluarkan suara ketawa aneh sekali dan gadis itu mendadak menjatuhkan diri, duduk di atas lantai dengan kedua kaki dilonjorkan ke depan, kemudian kedua tangannya ia sodorkan dalam sikap menyembah.

Kelihatannya memang aneh dan menggelikan, akan tetapi inilah gerakan yang disebut Si Gila Menyembah Matahari, suatu pecahan dari Ilmu Silat Si Gila Merindu peninggalan Bu-Beng Sin-Kun. Dalam gerakan ini terkandung tenaga Iweekang yang dahsyat dan gaib.

Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki ketika melakukan pukulan pertama tertumbuk kepada tenaga tak terlihat yang meniup dari gerakan dua tangan gadis yang menyembah itu sampai terpental kedua kepalan tangannya yang melakukan gerakan mendorong. Ia kaget setengah mati bercampur rasa heran, akan tetapi melihat gadis itu kini berjungkir balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kembali ia melakukan pukulan sebagai lanjutan pukulan pertama. Kali ini pukulannya dilakukan agak ke atas, sedianya untuk memukul lawan yang melakukan pembelaan diri secara melompat.

Akan tetapi oleh karena pembelaan diri Lee Ing tadi lain dari pada yang lain, malah sekarang gadis itu berjungkir-balik, tentu saja pukulan ini menuju ke arah kedua kaki gadis itu yang menjulang ke atas seperti dua batang rebung (bambu muda). Pukulan ini hebatnya bukan kepalang tidak kalah oleh yang pertama dan kaki orang lain pasti akan patah-patah atau remuk terkena hawa pukulan ini.

Lee Ing menggerak-gerakkan kedua kakinya seperti orang menendang bola, atau seperti anak bayi bermain-main dengan kaki. Akan tetapi inipun bukan gerakan biasa karena dari kedua kakinya menyambar tendangan yang hebat. Sekali lagi Bu Kam Ki terkejut dan pukulannya terpental, bahkan tubuhnya sampai doyong ke belakang hampir terpental! la cepat melompat dan kiranya lantai yang tadi amblas sekarang makin dalam lubangnya sampai kakinya tadi amblas sebatas lutut.

Terdengar Lee Ing tertawa aneh sekali lagi dan gadis inipun melompat dan berdiri seperti biasa. Bekas kedua tangannya menabok lantai tadi juga kelihatan berlubang kurang lebih satu dim dalamnya. Ternyata hebat juga pengaruh pukulan Bu Kam Ki, akan tetapi kalau dilihat betapa lubang yang dibuat oleh kedua kaki kakek itu jauh lebih dalam, dapat dinilai bahwa dalam mengadu tenaga lweekang yang sakti tadi, ternyata gadis itu masih menang setingkat.

"Kau siluman wanita! Katakan dulu siapa gurumu, dari partai mana kau sebelum aku melanjutkan mengadu nyawa denganmu! Aku tidak akan malu-malu lagi untuk mengeluarkan seluruh kepandaianku melihat bahwa kau adalah seorang lawan setingkat."

Sejak tadi Han Sin berdiri bengong melihat pertandingan yang dalam pandangannya amat aneh itu, akan tetapi yang ia tahu merupakan pergulatan mati-matian maka dapat dibayangkan betapa gelisah hatinya. Ingin ia mencegah pertandingan ini, kalau bisa ia akan menolong Lee Ing dan kalau perlu mengorbankan nyawanya untuk nona yang dicintainya ini, akan tetapi tentu saja ia merasa berat kalau syarat pertolongan itu dia harus menikah dengan gadis lain!

"Bu lo-enghiong, nona Souw adalah puteri tunggal Souw Teng Wi Taihiap! Harap maafkan dan sudahi pertempuran ini!" akhirnya ia berteriak dengan hati gelisah sekali.

Bu Kam Ki nampak kaget sekali mendengar ini seperti disengat kalajengking. Matanya terbelalak lebar kemudian tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha-ha-ha! Thian Maha Adil! Souw Teng Wi mempunyai puteri seperti ini, benar-benar ini kurnia Thian. Memang seorang pahlawan besar seperti dia patut sekali di anugerahi puteri segagah ini. Ha-ha-ha, nona muda, kalau belum bertempur belum saling mengenal, ini memang kebiasaan orang- orang gagah. Kenyataan bahwa kau memang bersalah dalam hal ini.

"Ayahmu seorang pahlawan bangsa yang tiada keduanya. Dan kau seorang gadis muda yang tiada keduanya pula di dunia ini. Kepandaianmu benar-benar hebat dan mengagumkan. Sudahlah, aku si tua bangka memang terlalu memikirkan kepentingan sendiri, terlalu ingin melihat anakku mendapat jodoh seorang pemuda gagah. Lamunan kosong belaka, tidak melihat kebodohan dan keburukan rupa anak sendiri.

"Sudah, Liem-sicu, maafkan saja aku orang tua yang sudah pikun. Soal perjodohan kucabut kembali, namun aku tetap kelak dapat kau harapkan bantuanku dalam perjuangan membantu Tiong-gi-pai, tentu saja kalau aku masih hidup pada waktu itu." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bu Kam Ki menghilang keluar dari rumah, lenyap ditelan gelap malam.

Lee Ing menarik napas panjang, "Hebat... Bu-lohiap itu kepandaiannya tinggi dan lihai sekali, belum tentu kalah oleh Tok-ong Kai Song Cinjin."

"Menurut suhu, Pek-kong-sin-ciang memang merupakan seorang di antara tokoh besar yang sekarang sudah jarang sekali muncul. Malah suhu pernah berkata bahwa sekarang setelah Tok-ong memperlihatkan diri, ada harapan tokoh yang lain juga memperlihatkan diri. Masih ada dua orang tokoh lain yang tingkatnya kelas satu akan tetapi suhu sendiri belum pernah berjumpa, yang satu bernama Tok-pi Sin kai (Pengemis Sakti Tangan Satu) dan seorang lagi berjuluk Im-kau Hek-mo (Iblis Hitam dari Akhirat)! Mereka ini kata suhu adalah orang orang aneh yang sukar sekali diajak urusan."

Lee Ing tertarik sekali "Hemm, tak kusangka di dunia begitu banyak orang sakti."

"Betapapun saktinya, tiada yangm dapat melawanmu, nona Souw"

"Bisa saja kau memuji. Aku ini apa, sih? Eh, Liem twako, kau tadi mengapa menolak? Bukankah enak sekali ditarik mantu, gadisnya cantik dan lihai, mertuanya sakti. Mau pilih yang bagaimana lagi?"

Han Sin menghela nafas dan berkata sungguh-sungguh, "Kau tahu, nona, jangankan baru puteri Bu lohiap, biar bidadari dari kahyangan sekalipun aku tetap akan menolak. Hati, cinta kasih... bahkan jiwa ragaku sudah bukan milikku lagi, sudah kuserahkan untuk bersetia sampai mati. Lupakah kau akan sumpah dan janjiku di dalam hutan gelap tadi?"

Lee Ing meniup dengan mulutnya dan semua lilin di ruangan itu padam, keadaan menjadi gelap sekali, gelap gulita tidak kelihatan apa-apa. "Hayo kita pergi, jangan mengacau yang bukan-bukan. Kita lanjutkan perjalanan, aku tidak senang di tempat ini."

"Malam-malam begini?"

"Biar malam! Sekarang sudah lewat tengah malam, sebentar lagi juga datang pagi yang terang."

"Baiklah, hanya aku khawatir kita akan kehilangan jalan lagi."

"Lebih baik aku bermalam di hutan dari pada di rumah ini. Hayo!"

Keluarlah dua muda-mudi itu dari rumah keluarga Ciong dan hal ini mudah dilakukan karena di luar rumah dipasangi lampu gantung. Hati Han Sin makin melekat kepada gadis yang luar biasa itu, akan tetapi makin dipikir makin sedihlah dia karena tidak ada harapan. Gadis ini demikian lihai dan sakti, dia mana ada harga menjadi sisihannya? Paling-paling menjadi pengagumnya selama hidup. Akan tetapi, mendapat kesempatan bersama menghadapi segala pengalaman berhaya, sudah merupakan hal yang amat membahagiakan hatinya.

Menjelang pagi mereka masih berada di dalam hutan. Lembah Sungai Yang-ce di wilayah ini ternyata banyak hutannya, hutan yang besar dan liar. Pagi itu hawanya dingin sekali menusuk tulang, namun bagi muda-mudi seperti Han Sin dan Lee Ing yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja serangan hawa dingin ini bukan apa-apa. Dengan gembira mereka berjalan terus melalui sebuah lorong kecil yang jarang sekali dilalui manusia.

"Ada orang menggantung diri di sana!" tiba-tiba Han Sin berseru sambil menuding ke kiri. Lee Ing menoleh dan benar saja, di sebelah kiri kelihatan seorang gadis menggantung lehernya sendiri dengan sehelai ikat pinggang sutera yang diikatkan pada dahan pohon besar yang tinggi.

"Hemmmm, seperti pernah kulihat mukanya," kata Lee Ing sambil mengikuti Han Sin yang sudah melangkah maju ke jurusan itu.

"Benar, dia Bu Lee Siang!" Kaget hati Han Sin. Benar saja gadis yang mengambil keputusan pendek itu adalah Lee Siang, puteri Bu Kam Ki.

"Dia masih hidup, mari kita tolong!" kata Han Sin.

Lee Ing mengerutkan keningnya. "Dia sudah mengambil keputusan sendiri, ditolong juga apa artinya? Kecuali kalau kau menikah dengan dia dan selalu berada di sampingnya, baru dia tidak ada kesempatan menggantung diri. Kalau tidak, sekarang ditolong besok bisa menggantung leher sendiri lagi."

Akan tetapi Han Sin yang besar perikemanusiaannya itu tidak memperdulikan kata-kata Lee Ing dan cepat melompat ke atas, memutuskan ikat pinggang yang mengikat leher Lee Siang, kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi ia memondong tubuh gadis itu ke bawah dan membaringkannya di atas rumput. Pada kulit leher yang putih bersih itu nampak tanda merah bergurat bekas ikatan tali sutera.

Baiknya belum lama gadis ini menggantung diri, sebentar saja napasnya sudah mulai berjalan lagi. Akan tetapi ketika Han Sin menengok, ternyata Lee Ing sudah pergi dari situ! Lee Siang membuka matanya perlahan, nampak terheran lalu menoleh ke kanan kiri. Ketika ia melihat Han Sin berjongkok di dekatnya, ia kaget sekali.

"Di... di mana aku....?" tanyanya lemah.

"Engkau masih hidup, nona. Harap tenang dan sabar, segala hal dapat diurus beres, mengapa mesti mengambil jalan gelap?"

Akan tetapi Lee Siang melompat kaget mendengar ini. "Jadi kau... kau yang menolongku? Setelah apa yang kau lakukan kepadaku, setelah kau menghinaku, menghancurkan hatiku, mendatangkan malu besar sampai aku tak sanggup hidup lagi, sekarang kau masih hendak merintangi aku mengambil jalan gelap? Aku mampus kau perduli apa?" Nona itu kelihatan marah sekali.

Han Sin gelagapan diserang dengan kata-kata ini. "Eh-heii. nanti dulu, nona. Apakah kesalahanku? Aku menghina bagaimana dan mengapa membikin malu? Apa kau tidak keliru?"

"Orang berhati kejam! Kau masih berpura-pura lagi? Kau menolak pinangan ayah, berarti kau, menolak aku! Tanpa alasan pula! Dan ayah tidak berdaya memaksamu karena... karena siluman wanita itu....! Untuk apa aku hidup setelah menerima penghinaanmu ini tanpa dapat membalas?"

"Ah, kau keliru, nona. Aku sama sekali tidak menolak karena aku benci kepadamu atau kupandang rendah. Sama sekali bukan tidak ada alasan."

"Kau belum beristeri belum bertunangan, namun kau menolak!"

"Betul, akan tetapi jiwa ragaku sudah ada yang punya! Sungguhpun orang ini belum tentu mencintaiku, namun selama hidupku aku hanya mencinta seorang wanita saja."

Bu Lee Siang nampak tercengang. "Eh, kenapa kau tidak memberi tahu ayah secara terus terang untuk mencegah ayah menggunakan paksaan yang memalukan? Apakah.... apakah wanita itu siluman betina yang datang bersamamu?"

Han Sin hanya mengangguk. Tiba-tiba Lee Siang mengeluarkan suara aneh, setengah tertawa setengah menangis, lalu pergi dari situ. "Kalau begitu kau tidak menghinaku, aku tak perlu mati. Bukan kau saja laki-laki di dunia ini!"

Han Sin menarik napas panjang. Untung gadis itu dapat sadar dan membatalkan niatnya yang buruk. la menoleh ke sana ke mari tetapi tetap saja tidak nampak Lee Ing. Memang ada baiknya Lee Ing tidak berada di situ, pikirnya karena kalau tadi ada Lee Ing, kiranya tak semudah itu ia mengaku di depan puteri Bu Kam Ki bahwa ia hanya meminta Lee Ing seorang.

"Nona Souw....!" teriaknya memanggil. Tiada jawaban. "Adik Lee Ing..!" ia memanggil lagi.

Tetap sunyi, tiada jawaban gadis itu, hanya kicau burung hutan yang menjawabnya. Apa boleh buat, ia berjalan terus melanjutkan perjalanannya tadi, keluar dari hutan. Setelah keluar dari hutan itu, ia melihat Lee Ing, berdiri menghadapi matahari pagi sambil bersilang tangan seperti sedang mandi cahaya matahari. Gadis itu berdiri tegak dan membelakangi Han Sin.

"Nona Souw.....!‟ Han Sin berseru girang.

"Kusangka kau sudah pergi jauh dari sini."

Lee Ing memutar tubuhnya dan Han Sin melihat sepasang mata yang kemerahan, agaknya karena terlalu lama menghadapi matahari pagi, pikirnya. "Bagaimana dengan Bu Lee Siang?" tanya Lee Ing dengan suara perlahan, berbeda dari biasanya. Agak tergetar dan terharu.

"Anak bodoh itu sudah pulang," jawab Han Sin biasa.

Tiba-tiba Lee Ing nampak marah. "Sombong! Kenapa kau menyebut dia anak bodoh?"

Akan tetapi sebelum Han Sin menjawab, dia sudah berkata lagi cepat-cepat, "Hayo kita melanjutkan perjalanan. Bukankah kau hendak ke Peking sekarang? Ataukah masih harus berputar-putar di sini?"

"Aku baru mendapat janji satu orang, yaitu Bu-lohiap, tentu ini belum berarti tugasku selesai. Aku harus terus ke barat lebih dulu sampai di Gunung Tai-Iiang-san, baru aku akan ke utara." Di dalam hatinya Han Sin ingin mengajak nona itu, akan tetapi tentu saja bibirnya tidak berani mengucapkannya.

"Hemmmmm......" Lee Ing berpikir-pikir, "sebetulnya aku harus cepat-cepat ke utara mencari ayah. Akan tetapi, bertemu dengan orang-orang sakti itupun menarik hati sekali. Setelah sampai di sini, baik aku ikut sampai ke Tai-liang'-san."

Girang hati Han Sin. "Bagus sekali, nona Souw. Aku harap saja kita akan dapat bertemu dengan seorang di antara dua tokoh yang kusebutkan tadi karena kata suhu mereka itu dahulu melenyapkan diri di wilayah Tai-Iiang-san."

Berangkatlah kedua orang ini ke barat, melalui jalan yang amat sukar dan liar. Namun berkat kepandaian mereka yang tinggi, tentu saja perjalanan sukar itu mereka lakukan dengan mudah dan cepat. Hanya Han Sin yang payah, harus selalu mengerahkan seluruh kepandaian untuk dapat mengimbangi kecepatan gerakan Lee Ing yang nampaknya berjalan biasa namun ringan dan cepat sekali majunya.

Mereka makin erat hubungannya. Lee Ing adalah seorang gadis jenaka yang selalu bergembira, namun agak aneh wataknya dan kadang-kadang seperti orang sinting! Ini adalah pengaruh yang ia dapat dari Gua Siluman. Di lain fihak, Han Sin adalah seorang pemuda yang sifatnya sederhana, ramah-tamah, jujur dan selalu berpikiran baik dan sopan. Mereka cocok sekali.

Yang membuat Han Sin merasa agak kecewa dan juga heran adalah pengetahuan Lee Ing tentang ilmu silat. Kalau Han Sin mengajaknya bicara tentang ilmu silat, keterangan gadis yang berilmu tinggi itu amat kacau dan malah seperti ngawur kalau tidak boleh dikata bahwa tingkat pengetahuannya seperti tingkat seorang yang memiliki kepandaian ilmu silat tidak berapa tinggi.

Hal ini memang demikian, karena kepandaian silat dari Lee Ing adalah berkat pendidikan kong-kongnya, Haminto Losu, yang biarpun lihai namun dibandingkan dengan Han Sin masih terhitung rendah. Adapun ilmu kesaktian yang kini dimiliki gadis itu adalah ilmu silat yang aneh, yang ia warisi dari manusia aneh pula sehingga dasar-dasarnya sudah jauh berlainan dengan ilmu silat-ilmu silat dari partai-partai seperti Kun-lun, Bu-tong, Go-bi, dan lain-lain yang mempunyai dasar yang sama, atau setidaknya hampir sealiran.

Yang berbeda hanya ilmu silat-ilmu silat dari golongan sia-pai atau penganut-penganut Mo-kauw yang merobah ilmu silat menjadi setengah ilmu sihir, merobah-ilmu seni penjagaan diri menjadi ilmu setan alat pembunuh! Akan tetapi, ilmu silat yang dimiliki Lee Ing ini berbeda dari kedua-duanya! Dikata seni penjagaan diri yang biasanya selain keteguhan juga diperlihatkan keindahan gerak tubuh.

Sama sekali bukan karena gerakan-gerakan yang diperlihatkan Lee Ing sama sekali tidak indah, kacau balau dan lucu seperti seorang gila menari-nari. Dikatakan ilmu setan alat pembunuh dari Mo-kauw juga bukan, karena pukulan-pukulannya bersih tidak memperlihatkan segi-segi curang dan tidak mengandung hawa beracun.

Hati Han Sin sudah seratus prosen tunduk, ia mencinta Lee Ing sepenuh hati dan perasaannya. Ini bukan rahasia lagi, malah biarpun ia selalu bersikap sopan dan tidak berani sembarangan menyatakan cinta, namun gerak-gerik dan sikap serta pandang matanya membuat Lee Ing siang-siang sudah tahu apa gerangan yang terjadi di dalam hati pemuda tampan itu.

Bagaimana dengan Lee Ing sendiri? Sukar dijawab, malah Lee Ing sendiri juga tidak tahu. Ia tertarik dan suka kepada Oei Siok Ho, pemuda yáng amat ganteng dan memikat hatinya. Hatinya berbisik bahwa ia mencinta Siok Ho. Ia suka sekali kepada Han Sin, ini tidak dapat disangkal pula, akan tetapi di sana ada Siok Ho yang lebih dulu sudah merebut hatinya dan cintanya. Andaikata tidak ada Siok Ho, mungkin sekali hatinya akan condong kepada Han Sin.

Tiga pekan telah lewat semenjak Han Sin dan Lee Ing melanjutkan perjalanan mereka ke barat. Sikap dua orang muda ini satu kepada yang lain sudah tidak asing lagi, malah kini Lee Ing selalu menyebut pemuda itu Sin-ko (kakak Sin) sedangkan Han Sin menyebut pemudi itu Ing-moi (adik Ing). Tentu saja sebutan ini adalah usul Lee Ing karena kalau tidak, Han sin masih selalu ragu-ragu dan tidak berani Untuk berlancang menyebut Ing-moi.

Biarpun di dalam sebutan ini tidak ada artinya apa-apa namun Han Sin sudah menjadi amat girang dan berbesar hati. Memang tolol sekali orang yang sudah terpengaruh oleh cinta. Diberi senyum sedikit, dikerling sekilas, sudah bukan main besar hatinya! Mudah merasa bahagia, mudah pula merasa berduka, inilah sifat orang bercinta kasih.

Pada suatu malam bulan purnama, dua orang muda-mudi ini melanjutkan perjalanan mereka yang kini sudah jauh meninggalkan tanah datar lembah sungai dan sudah mulai memasuki daerah tinggi berbukit. Malam itu memang indah. Bulan penuh tidak ada angin, terang sejuk dan pemandangan amat indahnya.

Usul Lee Ing pula untuk melanjutkan perjalanan di waktu malam. Han Sin sudah biasa sekarang dengan watak gadis yang kadang-kadang aneh ini. la tidak banyak membantah, hanya menyatakan setuju dan melanjutkan perjalanan, tidak bermalam di dusun yang mereka lalui.

"Malam indah seperti ini aku tidak mau dikurung dalam rumah apek di bawah atap penuh tikus," kata Lee Ing. "Kalau kita lelah mengantuk, biar kita bermalam saja di atas rumput bawah pohon sambil menikmati cahaya bulan untuk memperkuat Im-kang dalam tubuh.

Kepandaian Han Sin belum mencapai tingkat begitu tinggi sehingga dari cahaya bulan ia dapat memperkuat Im-kang. Hanya orang-orang yang sudah tinggi saja tingkat lweekangnya akan dapat melatih diri dan memperkuat Yang-kang dengan sinar matahari dan memperkuat lm-kang dengan cahaya bulan.

"Lihat, di sana itu ada asap, dan baunya sedap sampai ke sini.!" tiba-tiba Lee Ing berkata sambil menudingkan telunjuknya yang kecil runcing itu ke arah puncak sebuah bukit kecil.

"Heran," kata Han Sin setelah menoleh. "Terang di sana tidak ada dusunnya, tidak ada rumah orang. Bagaimana bisa ada asap dupa? Tentu dupa yang dibakar oleh pertapa."

"Mari kita melihat ke sana." ajak Lee Ing.

"Untuk apa kita mengganggu pertapa yang sedang menikmati cahaya bulan sambil membakar dupa dan berdoa? Itu dosa namanya, mengganggu pendeta yang mensucikan diri."

Lee Ing tersenyum dan Han Sin tertegun, kesima kagum. Sering kali ia melihat gadis itu tersenyum, bahkan setiap gadis itu tersenyum ia selalu memperhatikan, akan tetapi belum pernah ia melihat Lee Ing tersenyum di bawah sinar bulan purnama. Memang hebat sekali senyum gadis di bawah sinar bulan purnama, mempunyai pengaruh dan wibawa yang ajaib sekali. Han Sin menjadi terpesona dan berdiri bengong seperti orang terkena hikmah.

"He, kau kenapa, Sin-ko....?" tanya Lee ing sambil menepuk pundaknya.

Baru Han Sin sadar kembali dengan kaget lalu menjawab gugup-gagap. "Aku, aku... tidak apa-apa... hanya melihat engkau..."

"Lain kali kalau memandang orang jangan seperti itu, mengerikan sekali." Gadis itu mengomel, "Kau tadi bilang yang di atas itu pendeta suci? Aku tidak percaya. Andaikata betul pendeta, dia tak bisa dibilang suci karena masih mempunyai keinginan besar untuk bersenang hati. Buktinya, hendak menikmati cahaya bulan dan harumnya dupa, dan semua itu dinikmatinya sendiri!"

"Lho, mengapa perbuatan itu kau jadikan ukuran bahwa dia tidak suci?" tanya Han Sin tak mengerti.

"Sudahlah, jangan-jangan kita nanti cekcok tentang pendeta suci atau tidak Jangan merusak suasana seindah ini dengan perdebatan," kata Lee Ing yang segera membelok dan mulai mendaki bukit kecil itu.

Terpaksa Han Sin mengikuti dari belakang. Memang dua orang muda-mudi ini seringkali berdebat mengukuhi kebenaran pendirian sendiri-sendiri. Han Sin orangnya jujur, tentu saja ia tidak suka pura-pura yang dianggapnya keliru. Akan tetapi kerap kali ia dibikin bingung dan tak mengerti oleh pendapat-pendapat Lee Ing yang aneh dan sukar dimengerti.

Makin dekat dengan puncak bukit itu. makin keras baunya asap dupa menusuk hidung. Lee Ing mempercepat pendakiannya dan Han Sin terpaksa juga mengikutinya terus. Akhirnya sampai juga mereka di puncak dan terlihat oleh mereka tiga orang laki-laki setengah tua duduk bersila di atas tanah mengitari sebuah batu yang dipergunakan seperti meja, sedangkan di dekat mereka mengebul asap dupa itu yang ternyata amat keras dan harum baunya.

Seorang di antara mereka adalah seorang setengah tua yang bertopi batok (topinya berbentuk batok), seorang lagi tosu setengah tua yang memegang pedang dan orang ke tiga adalah seorang gemuk dengan muka bundar seperti muka kodok, memegang sebatang pedang bengkak-bengkok seperti tubuh ular.

"Dia Pek-kong-sin-kau Siok Beng Hui...!" Han Sin berbisik sambil menudingkan jan telunjuknya.

"Yang bertopi batok itu?" bisik Lee Ing kembali. Mereka berdua mengintai dari balik pohon dan mereka bersembunyi di balik pohon berhimpitan dan tanpa disengaja pundak Lee Ing mendesak dada Han Sin sedangkan rambutnya melambai mengusap hidung pemuda itu, membuat Han Sin untuk sejenak hampir kehilangan kesadarannya!

"Dialah pembantu dan utusan raja muda di utara," kata Han Sin, suaranya agak gemetar karena hatinya masih dak-dik-duk dapat mencium rambut gadis itu tanpa disengaja. "Heran mengapa dia berada di sini?"

Tentu saja Lee Ing sudah mengenal nama Siok Beng Hui. Bukankah orang tua ini ayah pemuda Siok Bun, merah pipi Lee Ing. Pemuda bertopi batok yang tampan itu juga amat baik kepadanya. Ada tiga orang yang ketiganya baik sekali, pertama Siok Ho, ke dua Han Sin, dan ke tiga Siok Bun! Tiga orang yang duduk seperti patung tak bergerak itu kini mulai bicara. Yang bicara adalah si tosu yang memegang pedang, suaranya tegas dan penuh desakan, ditujukan kepada Siok Beng Hui,

"Siok Beng Hui, kita bertiga bertemu dan bicara secara laki-laki, disaksikan oleh cahaya bulan. Harum dupa sudah menjernihkan pikiran kita, maka pinto harap saja kau akan dapat mempertimbangkan permintaan kami secara mendalam."

"Sudah kupertimbangkan baik-baik, Gak Seng Cu. Dan jawabanku tetap tidak! Keselamatan Souw-taihiap menyangkut keadaan negara dan jangan dibandingkan dengan hubungan keluarga atau sahabat, bahkan dibandingkan dengan keselamatan nyawa lebih penting lagi."

"Siok Beng Hui, kau ternyata masih keras kepala seperti di waktu muda, tidak dapat berpikir panjang. Kau tentu tahu bahwa kami tidak akan mengganggu keselamatan Souw Teng Wi."

"Tetap saja aku tak dapat memenuhi permintaanmu, Gak Seng Cu, terserah kepadamu!" jawab pula Siok Beng Hui, suaranya juga tetap.

Tosu itu menarik napas panjang, sedangkan kawannya, si muka kodok, hanya mesam-mesem lucu. "Siok Beng Hui, guru-guru kita bertiga adalah tokoh-tokoh besar di dunia puluhan tahun yang lalu dan selama itu tidak pernah ada permusuhan. Siapa yang tidak kenal gurumu, Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki? Siapa tidak mengenal guru Pek Ke Cui ini, Im-kan Hek-mo?

"Juga guruku tidak kalah terkenalnya, semua orang kang-ouw pernah mendengar nama Tok-pi Sin-kai! Mereka bertiga itu dahulu menjagoi dan tak pernah dikalahkan orang kecuali untuk satu kali! Bukan rahasia lagi bagi kita bertiga bahwa guru-guru kita itu dahulu, di waktu mereka masih muda belia dan kuat perkasa, mereka bertiga secara mengeroyok telah dikalahkan oleh seorang gila yang sudah tua bangka bernama Bu-beng Sin-kun!

"Ilmu silat Bu-beng Sin-kun tidak ada yang menyamai keanehannya dan kita semua sudah mendengar dari guru-guru kita. Sekarang tak dapat disangkal lagi bahwa Souw Teng Wi mempelajari ilmu silat Bu-beng Sin-kun! Kita masih berpikiran waras, tidak akan menganggap Souw Teng Wi sebagai musuh, akan tetapi pinto dan Pek Ke Cui ini berhak mengetahui di mana Souw Teng Wi mempelajari ilmu silat musuh lama itu."

"Kau sudah menceritakan semua itu, Gak Seng Cu, dan aku sudah mengerti betul apa yang kalian kehendaki. Selain hendak mengetahui di mana Souw-taihiap mempelajari ilmu itu, juga kalian ingin sekali dapat mewarisi ilmu yang dulu pernah mengalahkan guru-guru kita, bukan? Akan tetapi, menyesal sekali, Souw-taihiap adalah seorang pahlawan besar, dia banyak diincar oleh para penghianat maka tempat tinggalnya dirahasiakan. Bahkan kepada kalian sendiripun terpaksa aku tak dapat membuka rahasia."

"Siok Beng Hui, kau terlalu! Guru-guru kita yang menjadi jagoan-jagoan kelas satu di dunia, saling tolong dan akur. Masa di antara kita harus melenyapkan tradisi baik itu? Apakah kami harus menggunakan kekerasan?"

Siok Beng Hui berdiri, sikapnya tenang namun tegas dan gagah. "Kalian ini orang-orang tak tahu diri yang lupa akan keadaan. Memiliki kepandaian tidak dipergunakan untuk membela rakyat memperbaiki keadaan negara, masih mencari kepandaian terus, untuk apa? Rakyat sedang prihatin, kalian tidak membantu malah memikirkan kesenangan diri sendiri."

"Orang she Siok, kepandaianmu seberapakah, bicaramu begitu sombong? Kau menghina kami sama dengan menghina guru kami karena mencari tempat tinggal Bu-beng Sin-kun bukan hanya kehendak kami, melainkan kehendak guru-guru kami!" kata si muka kodok yang bernama Pek Ke Cui itu.

"Aha, begitukah? Jadi guru-guru kalian yang menyuruh? Betapapun juga, aku tetap menolak, tidak saja karena kedudukanku, juga mengingat bahwa suhu sendiri tentu takkan membiarkan aku berlaku khianat terhadap seorang pahlawan seperti Souw-taihiap!"

"Pek Ke Cui, manusia ini sudah terlalu mabok akan pangkat. Kita tangkap dan seret ke depan suhu-suhu kita, beres!" kata Gak Seng Cu, tosu yang memegang pedang itu.

"Jangan kira aku takut!" bentak Siok Beng Hui yang mencabut keluar sepasang senjatanya, yaitu kaitan yang berwarna putih.

"Tosu bau dan siluman kodok benar-benar tak tahu diri!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Lee Ing sudah berdiri di hadapan mereka.

Jangankan Gak Seng Cu, Pek Ke Cui, dan Siok Beng Hui. Bahkan Han Sin sendiri yang berdiri dekat sekali dengan Lee Ing, tidak melihat kapan gadis itu bergerak, sekali berkelebat tahu-tahu sudah pindah tempat. Tentu saja ketiga orang jago itu menjadi kaget dan terheran-heran sampai mereka melongo dan tidak melanjutkan pertempuran yang tadinya akan berlangsung. Akan tetapi Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui marah sekali karena mereka maklum sepenuhnya bahwa makian tadi ditujukan kepada mereka.

"Dari mana munculnya bocah perempuan siluman?" bentak Gak Seng Cu marah.

Akan tetapi Lee Ing tidak memperdulikan mereka, sebaliknya ia menghadapi Siok Beng Hui, mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata, "Siok-lopek (uwa Siok), terimalah hormatku. Kau seorang gagah yang amat mengagumkan. Kau betul sekali, jangan hiraukan dua ekor kadal ini!"

Mau tak mau Siok Beng Hui tersenyum mendengar ucapan dan melihat sikap Lee Ing yang jenaka, namun tak dapat disangkal lagi cantik menarik dan penuh keberanian yang mengagumkan.

"Nona cilik, jangan kau main-main. Dua orang gagah ini tidak boleh kau permainkan begitu saja. Mereka lihai sekali dan mundurlah kau, biar aku menghadapi mereka untuk membereskan urusanku," kata Siok Beng Hui halus.

Akan tetapi kini Lee Ing sudah menghadapi dua orang lawan Siok Beng Hui itu, lalu menudingkan jari telunjuknya yang kecil sambil memaki, "Eh, kadal-kadal kelaparan, dengarkan baik-baik. Kau hendak memaksa Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui untuk menjadi pengkhianat. Mana dia mau? Seorang pahlawan atau ksatria tidak macam kalian ini, kadal dan kodok busuk. Kalian mencari-cari pahlawan Souw Teng Wi mau apa sih? Tak usah jauh-jauh kalian mencari, ini puterinya, Souw Lee Ing kalian hadapi. Hayo, kalian mau apa? Apa kau kira manusia-manusia tiada guna macam kalian ini bisa menggertak ayah? Cih, tidak tahu diri benar!"

Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui menjadi bengong, tidak saja tertegun menyaksikan gadis ini bersikap sedemikian rupa terhadap mereka yang selama hidup belum pernah dihina orang seperti ini, juga karena kaget mendengar pengakuan bahwa gadis ini adalah puteri Souw Teng Wi.

Siok Beng Hui juga tak kurang-kurang kagetnya. Baru satu kali ia melihat puteri sahabatnya itu, yakni ketika Lee Ing diculik oleh Toat-beng-pian Mo Hun. Akan tetapi ketika itu belum jelas benar ia melihat Lee Ing maka sekarang ia menjadi pangling (lupa akan wajah seseorang yang dikenal).

"Kau puteri Souw-taihiap? Bagus! Minggirlah anak baik, biar aku menghadapi dua orang yang menyeleweng ini," kata Siok Beng Hui, gembira bahwa ternyata puteri pahlawan itu masih hidup.

Hal ini tentu akan banyak membantu kemajuan pikiran Souw Teng Wi yang selama ini hidup tidak karuan jalan pikirannya, tetap seperti orang gila. Dan ia merasa girang sekali bahwa puteri Souw-taihiap ternyata cantik jelita dan pemberani, sungguhpun agak terlalu berlebihan dalam menghadapi Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, kalau ia teringat betapa puteranya, Siok Bun agaknya cinta kepada gadis ini. Sikap binal dan jenaka dari gadis ini mudah dirobah kelak, pikirnya.

Akan tetapi mana Lee Ing mau mundur atau minggir? Dua orang ini sudah memandang rendah ayahnya hendak memaksa mengetahui tempat ayahnya untuk diculik kiranya, atau dipaksa menunjukkan tempat tinggal Bu-beng Sin-kun. Mana ia bisa diam saja? Mencari tempat Bu-beng sin-kun berarti mencari Gua Siluman dan memusuhi Bu-Beng Sin-kun sama halnya dengan memusuhi gurunya, dan karenanya juga memusuhi dia sendiri sebagai murid tunggal Bu beng sin-kun!

"Tidak, Siok-lopek. Mereka telah berani menghina ayah, biar aku yang memberi hajaran kepada mereka." Lee Ing mencabut pedangnya yang ia beri nama Li-lian-kiam untuk memperingati nama kekasih suhunya yang mati di dalam Gua Tengkorak Seperti main sulap saja ia melakukan ini karena tahu-tahu sebatang pedang tipis ringan telah berada di tangannya.

Bahkan tiga orang jago itu yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi juga tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana gadis itu mencabut pedangnya. Han Sin saja yang tahu karena gadis itu pernah memperlihatkan Li-lian-kiam yang selalu digulung sebagai sabuk di pinggang gadis itu. Tentu saja kalau diambil secara cepat membuat orang bingung karena tadinya tidak kelihatan.

Melihat betapa Siok Beng Hui masih ragu-ragu untuk membiarkan gadis semuda itu menghadapi dua orang lihai sepert Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, Han Sin berseru, "Siok lo-enghiong harap jangan khawatir. Kepandaian nona Souw boleh diandalkan!"

Beng Hui menengok dan sekarang ia melihat Liem Han Sin muncul dari balik pohon. Ia menjadi girang dan cepat mendekati pemuda itu, lalu bersama Han Sin memandang ke arah Lee Ing yang sudah menghadapi dua lawannya.

"Siok Beng Hui, tak malukah engkau, mengundurkan diri dan membiarkan seorang bocah perempuan mewakilimu merasakan kelihaian kami? Kalau kau takut penuhi saja permintaan kami dari pada harus lari bersembunyi di balik punggung wanita. Kami segan bertanding dengan bocah perempuan!" kata Gak Seng Cu, sedangkan Pek Ke Cui hanya menyeringai.

"Eh, tosu bau dan muka kodok, jangan banyak tingkah. Kalian sudah berani menghina ayah, mana tidak berani menghadapi tantangan puterinya? Ha-yo, aku menantang kalian mengadu kepandaian, kalau kalian takut, suruh guru-guru kalian kakek-kakek tak tahu diri yang mau mampus itu ke sini!"

"Nona Souw, harap jangan bicara seperti itu!" Siok Beng Hui menegur, gelisah sekali mendengar nona itu lancang memaki-maki nama dua orang tokoh besar, guru dari Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui. "Guru-guru mereka adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw...."

"Tak perduli. Mereka mencelakai ayah boleh maju kalau sudah bosan hidup!"

Sementara itu, Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui tak dapat menahan marahnya lagi. Akan tetapi untuk maju berbareng, mereka merasa malu. Bahkan maju sendiri saja melawan seorang gadis muda sudah merupakan keganjilan memalukan. Akan tetapi sikap dan kata-kata gadis itu benar-benar menyakiti hati dan tak boleh didiamkan begitu saja.

"Bocah bermulut lancang. Lekas pergi dari sini jangan banyak ribut!" bentak Gak Seng Cu sambil mengarahkan pedangnya ke arah Lee Ing untuk mengancam, sedangkan lengan baju tangan kirinya menyambar untuk mendorong roboh gadis itu dari samping.

Akan tetapi akibatnya aneh sekali. Pedang Gak Seng Cu itu dengan kerasnya memukul pedang di tangan Lee Ing dengan maksud membuat pedang gadis itu terlepas, akan tetapi begitu bertemu, dua pedang itu saling tempel tak dapat dipisahkan lagi. Gak Seng Cu merasa betapa semacam kekuatan penarik yang dahsyat keluar dari pedang lawan, membuat pedangnya melekat tak dapat dibetot kembali. Sedangkan tangan kirinya yang mendorong tadi, tiba-tiba terpental oleh semacam hawa pukulan aneh sampai menjadi kaku rasanya dan ujung lengan bajunya pecah dan sobek-sobek!

"He, muka kodok. Apa kau tidak berani? Hayo kau maju sekalian kalau memang gurumu yang bernama Iblis Hitam Neraka Jahanam itu berkepandaian."

Ditantang begini dan melihat betapa kawannya bengong saja dengan pedang masih menempel pada pedang gadis cilik itu, Pek Ke Cui menjadi tak sabar lagi. Disangkanya kawannya itu tidak bersungguh-sungguh.

"To-yu, mengapa kau sungkan-sungkan?" katanya dan pedangnya yang bentuknya seperti ular itu menyambar ke depan, sinarnya berkilauan terkena cahaya bulan, gerakannya cepat dan bertenaga.

Pedang ini tidak menyerang tubuh Lee Ing, melainkan menyambar ke arah pedang gadis itu pula untuk melepaskan pedang dari pegangan nona itu. Seperti Gak Seng Cu, si muka kodok ini sebetulnya sungkan untuk bertanding dengan Lee Ing.

Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi, masa disuruh bertanding melawan seorang nona muda? Dan karena mereka memang bukan orang-orang jahat, maka mereka tidak mau melukai Lee Ing dan hanya berusaha mengusir dan menakuti gadis muda itu saja supaya pergi dari situ jangan menganggu lagi.

"Tak!" Begitu pedang berbentuk ular itu bertemu dengan pedang Li-lian-kiam, kembali pedang itu menempel tak dapat terlepas lagi. Pek Ke Cui mengerahkan tenaga untuk membetotnya, juga Gak Seng Cu berusaha keras dan mengerahkan Iweekang namun tetap saja pedang mereka tak dapat terlepas dari pedang Lee Ing!

Hal ini bukan hanya karena pedang gadis ini memang terbuat dari bahan yang mengandung besi semberani, melainkah terutama sekali oleh karena gadis itu memang sengaja menggunakan tenaga menyedot sehingga kekuatan semberani dari pedangnya menjadi berlipat ganda besarnya.

Hanya dua orang itu yang dapat mengalami betapa anehnya pertandingan ini, sedangkan Siok Beng Hui yang tidak mengalaminya, menjadi bengong dan tidak mengerti mengapa dua orang yang kepandaiannya setingkat dengan dia sendiri itu hanya berdiri dan berkutetan untuk membetot pedang Masing-masing.

Lee Ing juga bukan seorang gadis yang bodoh dan tak dapat membedakan orang. Melihat bagaimana dua orang lawannya tadi tidak mau melakukan serangan hebat ke arah tubuhnya saja sudah Membuktikan bahwa dua orang itu sebetulnya bukan orang-orang jahat yang kejam maka iapun tidak mau berlaku kejam.

Selagi dua orang di kanan kirinya itu berusaha Melepaskan pedang masing-masing, Lee Ing mengerahkan tenaga pada pedangnya dan menarik. Tak dapat ditahan lagi dua orang itu tertarik maju dan pada saat itu Lee Ing berseru keras, "Lepas!"

Dan dua orang yang tiba-tiba pedangnya terlepas dari pedang Lee Ing itu tak dapat dicegah lagi terhuyung ke depan saling tabrak dengan kawan sendiri. Baiknya mereka berlaku cepat, dua tangan kiri didorongkan maju. Dada Gak Seng Cu terdorong oleh tangan kiri Pek Ke Cui sedangkan tangan kiri tosu itu mendorong kepala si muka kodok. Keduanya terjengkang ke belakang namun tidak sampai jatuh!

"Ilmu siluman..." Pek Ke Cui berkata perlahan sambil mengelus-elus kepalanya yang terdorong oleh kawan sendiri tadi.

"Pek Ke Cui, lihat ilmunya yang aseli, agaknya dia belul anak Souw Teng Wi! Kebetulan sekali, kita tawan saja dia dan bawa kepada suhu!" kata Cak Seng Cu.

"Kau betul, toyu..." jawab kawannya dan pedang mereka berkelebat cepat sekali melakukan serangan dari dua jurusan.

Lee Ing tertawa gembira. "Kalian mau menawan aku? Hemmm... diberi rasa sedikit masih belum kapok. Lihat pedang!"

Di lain saat dua orang itu menjadi bingung dan Siok Beng Hui yang tadinya khawatir menjadi kagum sekali. Gadis itu mainkan pedang seperti orang mabok, gerakannya tidak karuan dan lucu serta aneh sekali. Akan tetapi dua orang lawannya menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus menyerang dan menjaga diri.

Kemanapun juga mereka menyerang, pedang mereka selalu terpental kembali, sebaliknya setiap saat ujung pedang gadis itu mencari lowongan dan mengancam mereka dari semua jurusan! Benar-benar ilmu pedang yang aneh bukan main, sinarnya mengisi yang lowong membuyarkan yang penuh.

"Hebat sekali puteri Souw taihiap..." kata Siok Beng Hui perlahan.

Han Sin memandang bangga. Dia sudah tahu bahwa Lee Ing, seperti biasa, tentu akan menang. Kepercayaannya terhadap gadis itu sudah penuh. "lng-moi pasti menang..." katanya perlahan, tanpa melepaskan pandang matanya dari pertempuran. la tidak tahu betapa Siok Beng Hui menoleh kepadanya dengan kening berkerut, akan tetapi hanya sebentar karena jago tua inipun segera menonton jalannya penandingan lagi.

Pertandingan itu tidak memakan waktu lama. Belum sampai dua puluh lima jurus, tiba-tiba terdengar seruan Lee Ing, "Lepaskan pedang!!"

Pedangnya sendiri berubah menjadi sinar memanjang yang bergerak cepat sekali seperti cahaya kilat beterbangan dan tahu-tahu terdengar suar "traang-traang!" disusul terlemparnya pedang dari tangan Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui.

Dua orang jago tua ini berdiri pucat. Mereka maklum, sungguhpun dengan heran dan hampir tak dapat percaya, bahwa mereka bukanlah lawan gadis ini. Kekalahan mereka bukan karena kebetulan saja, melainkan kekalahan mutlak yang tak dapat dibantah lagi. Andaikata mereka kalah oleh Siok Beng Hui, hal ini masih tidak mengapa karena memang kalau dibandingkan dengan Siok Beng Hui kepandaian mereka seimbang, menang kalah bukan hal aneh.

Akan tetapi kalah oleh gadis semuda itu dengan secara begitu mudah lagi, benar-benar merupakan hal yang tak masuk di akal, karenanya benar-benar merendahkan sekali. Dengan perasaan malu yang hampir tak tertahankan lagi, membuat mukanya sebentar pucat sebentar merah, Gak Seng Cu memungut pedangnya dan berkata,

"Nona kecil benar-benar lihai, telah mewarisi ilmu tinggi. Pinto Gak Seng Cu mengaku kalah." la menjura lalu pergi diikuti oleh Pek Ke Cui yang juga sudah mengambil pedangnya dan tidak mengeluarkan perkataan apa-apa.

"Kalau masih penasaran, boleh mencari Souw Lee Ing jangan mencari ayah yang sudah tua!" Lee Ing mengejek. Gadis ini sebetulnya sembarangan mengejek, memang sengaja menantang menggunakan nama sendiri karena tadi ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian mereka memang tinggi.

Andaikata ayahnya tak usah kalah terhadap mereka ini, akan tetapi kalau guru mereka yang datang, yang tingkahnya tentu sebanding dengan kepandaian Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, padahal ayahnya selain sudah tua, juga sudah cacad, sepasang matanya sudah buta, oleh karena inilah maka ia hendak mewakili ayahnya menghadapi mereka semua.

"Akan kami ingat nama itu...!" terdengar jawaban Gak Seng Cu dari tempat jauh. Ternyata mereka sudah hampir sampai di kaki buku. Demikian cepatnya ilmu lari mereka.

Siok Beng Hui menghela napas panjang sambil menghampiri Lee Ing. "Melihat gerakan mereka, dua orang tadi tak boleh dibilang mundur kepandaiannya. Akan tetapi dalam beberapa jurus saja kalah olehmu benar-benar membuat aku orang tua tak berguna, kagum sekali, nona Souw. Sungguh besar hatiku melihat bahwa Souw-taihiap mempunyai keturunan pandai seperti kau."

"Siok-lopek. di mana ayahku?" tanya Lee Ing cepat-cepat, la tahu bahwa jago tua she Siok mi tentu tahu di mana ayahnya berada.

Siok Beng Hui nampak ragu, memandang ke kanan kiri, lalu berkata perlahan, "Souw-taihiap berada di utara, kalau nona hendak mencarinya, pergilah ke Peking dan tanyakan kepada Bun-ji, dia akan membawa nona kepada Souw-taihiap."

"Bagus! Aku hendak menyusul ke sana!" Lee Ing menoleh kepada Han Sin, tersenyum dan berkata, "Sin-ko, terpaksa kita berpisah di sini. Aku tak dapat lagi menemani mencari jago-jago karena aku sudah tidak sabar lagi menanti, hendak buru-buru bertemu dengan ayah. Selamat berpisah, Sin-ko." Setelah berkata demikian gadis itu memberi hormat kepada Siok Beng Hui dan Han Sin, kemudian sekali berkelebat ia lenyap, lari ke bawah bukit.

Han Sin kecewa sekali, akan tetapi apa yang dapat ia perbuat? la merasa seakan-akan semangatnya copot dan meninggalkan raganya, ikut terbang melayang di samping gadis itu. Tentu saja ia tidak berani sembarangan mencegah, apa lagi di situ ada Siok Beng Hui menjadi saksi, la hanya dapat mengangkat tangan kanannya melambai dengan hati perih dan muka pucat yang tidak kentara di bawah cahaya bulan itu.

Siok Beng Hui sengaja tidak memberitahukan tempat persembunyian Souw Teng Wi kepada Lee Ing oleh karena sebetulnya ia masih ragu-ragu apakah benar gadis ini puteri Souw Teng Wi. Menurut cerita puteranya, puteri Souw Teng Wi yang bernama Souw Lee Ing tidak begitu tinggi ilmunya, mengapa sekarang tahu-tahu telah begini lihai?

Maka ia sengaja menyuruh gadis itu menjumpai Siok Bun di kota raja utara, karena Siok Bun yang akan mengenalnya sebagai puteri Souw Teng Wi atau bukan. Kalau bukan dan ternyata palsu, tentu Siok Bun takkan mau menunjukkannya.

"Siok-Io-enghiong, bagaimana bisa sampai ke sini?" tanya Han Sin kepada Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui yang baru sekarang ia ketahui adalah murid Bu Kam Ki.

"Hendak mencari suhu yang kabarnya berada di wilayah ini. Kau sendiri mengapa berada di sini? Aku sudah mendengar bahwa kawan-kawan Tiong-gi-pai mengungsi ke utara, malah ada beberapa orang sudah kujumpai, mengapa kau sendiri menyendiri di sini?"

"Aku justeru memenuhi tugas yang diserahkan kepadaku untuk menghubungi orang-orang gagah, minta bantuan mereka kelak untuk menjatuhkan boneka-boneka pemeras rakyat. Suhu lo-enghiong bukankah Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki Lo-cianpwe?"

"Betul, kau tahu tempatnya?"

"Baru beberapa hari yang lalu aku pernah bertemu dengan beliau." Han Sin lalu bercerita tentang keluarga Ciong dan keluarga Bu Kam Ki. Tentu saja ia tidak mau bicara tentang maksud perjodohan yang menimbulkan heboh itu.

Girang sekali hati Siolk Beng Hui. "Bagus, kalau begitu mari kau antar aku menemui suhu. Persiapan sudah dekat dan tadinya aku hendak minta bantuan kedua susiok, Tok-pi sin-kai dan Im-kan Hek-mo. Siapa kira mereka mempunyai pikiran yang bengkok, menyuruh murid mencari Souw-tai-hiap. Benar-benar menjengkelkan sekali! Fihak musuh sudah lama selalu berusaha mencari Souw-taihiap sekarang ditambah dua orang kakek itu, benar-benar sukar diurus. Baiknya ada nona Souw yang begitu lihai."

Karena maklum bahwa Siok Beng Hui adalah orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo dan menjadi seorang yang dijunjung tinggi oleh Tiong-gi-pai, tentu saja Han Sin tidak berani menolak. Pula apa alasannya kalau menolak? Terpaksa ia berangkat dengan jago tua itu, ke timur kembali dan hatinya dak-dik-duk tidak enak kalau ia bayangkan bahwa ia harus bertemu muka lagi dengan Bu Kam Ki, terutama sekali dengan Bu Lee Siang!

Hatinya berat sekali karena baru tadi ia masih menikmati cahaya bulan purnama di samping Lee Ing sambil bersenda-gurau, sekarang ia harus berjalan di samping Siok Beng Hui, seorang setengah tua yang pendiam dan keren. Benar-benar perobahan mendadak yang tidak menyenangkan hati sekali.

Lee Ing melakukan perjalanan secepat mungkin, mengerahkan semua kepandaian untuk berlari cepat dan hanya mengaso apa bila sudah lelah benar untuk tidur atau makan. Biarpun hari sudah jauh malam, kalau fa belum lelah dan mengantuk benar, ia berjalan terus, la belum pernah melakukan perjalanan di daerah ini, akan tetapi maklum bahwa letak kota raja utara adalah di utara.

Akan tetapi, betapapun lihainya ilmu lari cepat Lee Ing, jarak yang ditempuhnya amat jauh. Ia berada di daerah Propinsi Hu-nan dan untuk mencapai tempat tujuannva, ia harus melalui empat propinsi besar lagi, yaitu Ho-pek, Ho-nan, dan Ho-pei. Ribuan mil ia harus tempuh dan banyak daerah yang masih liar dan sukar dilalui. Hanya berkat kepandaian yang tinggi saja ia dapat maju terus dengan cepat.

Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan tanpa mengenal lelah saking rindunya hendak cepat-cepat bertemu dengan ayahnya, pada suatu pagi Lee Ing sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho, sebelah utara kota Lok-yang. Ketika ia tadi pagi-pagi sekali berangkat dari Lok-yang, ia lebih dulu makan bubur di sebuah warung kecil. Pelayan warung itu menyatakan herannya bahwa sepagi itu ada seorang gadis membeli dan makan bubur.

"Kemarin juga pagi-pagi sekali ada serombongan orang makan bubur. Mereka itu orang-orang aneh, tetapi lihai. Nona lihat saja. Yang seorang dapat merayap tembok seperti cecak lalu mengecapkan tangannya di pian itu untuk main-main dengan kawan-kawannya yang jumlahnya lima orang. Orang-orang aneh akan tetapi mereka memberi hadiah secara royal sekali!"

Lee Ing tidak begitu memperhatikan dongeng pelayan ini, akan tetapi ketika matanya melirik ke arah pian yang ditunjuk, hampir saja ia berteriak, la melihat tanda tapak tangan hitam di atas pian itu. Itulah tanda Hek-tok-ciang! "Hemm... siapakah badut yang main-main dengan cap buruk itu?" tanyanya memancing, pura-pura heran.

"Bukan badut, nona. Memang dia aneh, akan tetapi dia seorang kongcu (tuan muda) yang tampan dan berpakaian gagah sekali. Kawan-kawannya amat menghormatnya dan sikapnya seperti seorang berpangkat."

Lee Ing dapat menduga bahwa yang dimaksudkan itu tentulah Auwyang Tek. Siapa lagi selain Auwyang Tek atau Tok-ong Kai Song Cinjin yang memberi tanda Hek-tok-ciang? Hemm, pemuda itu sudah keluyuran sampai di sini, apa maksudnya? Dan tanda itu, apakah bukan sengaja dipasang supaya orang melihatnya? Tentu itulah tanda-tanda rahasia bagi crang-orang tertentu, ataukah untuk menakut-nakuti fihak lawan?

"Ke mana mereka pergi?" tanyanya sambil lalu seakan-akan untuk sekedar mengisi waktu sambil makan bubur.

"Mereka bicara tentang menggunakan perahu, tentu hendak menyeberangi Huang-ho, ke mana entah, mana aku-bisa tahu, nona?"

Demikianlah, setelah membayar tukang warung, Lee Ing melanjutkan perjalanannya dan dari Lok-yang ke sungai itu tidak berapa jauh maka sebentar saja ia sudah sampai di tepi sungai yang amat lebar itu. Baiknya musim hujan belum tiba, kalau sudah, sukarlah menyeberangi Huang-ho yang sedang meluap dan mengamuk. Para nelayan yang biasa menyewakan perahu segera merubungnya dan menawarkan perahu sendiri. Hanya seorang nelayan tua yang menarik perhatian Lee Ing karena pujiannya,

"Perahuku sangat kuat dan boleh dipercaya, nona. Kalau tidak masa kemarin ada pembesar-pembesar menyewanya? Lima orang kuseberangkan sekaligus, apa lagi hanya seorang gadis seperti nona yang tentu ringan sekali. Percayalah, nona. Naik perahuku sama amannya dengan duduk di kursi dalam rumah nona sendiri."

Lee ing mengambil keputusan menyewa perahu nelayan tua ini. "Jangan terima penumpang lain, biar kuborong saja. Kubayar biaya untuk lima orang."

Tentu saja kakek itu girang sekali dan cepat menyiapkan perahunya yang biarpun sudah tua namun masih kelihatan kuat seperti dia sendiri. Dan dalam penyeberangan ini Lee Ing mendapat keterangan bahwa lima orang yang diduganya adalah Auwyang Tek dan kawan-kawannya itu telah menyeberang kemarin pagi dan terus menuju ke utara.

Setelah mendarat di sebelah utara sungai, Lee Ing melanjutkan perjalanannya dengan cepat untuk menyusul rombongan Auwyang Tek itu ke utara. Di sepanjang perjalanan ia melihat tapak-tapak tangan hitam pada batang-batang pohon yang tinggi, pada batu-batu karang. Ia tidak tahu apa maksud rombongan itu meninggalkan tanda-tanda Hek-tok-ciang ini.

Akan tetapi melihat gambar-gambar itu Lee Ing merasa sebal sekali dan untuk memuaskan hatinya, setiap kali melihat tanda itu, ia tentu menggunakan telunjuknya untuk mencoretnya dua kali kanan kiri sebagai tanda "mematikan" gambar tangan Hek-tok-ciang itu.

Dengan perjalanan cepat akhirnya dalam tiga hari ia sudah dapat menyusul rombongan itu. Mereka sedang berdiri di puncak sebuah bukit yang bernama Bukit Tiga Menara Bukit itu bernama demikian oleh karena di puncaknya terdapat tiga buah batu karang yang amat tinggi, menjulang ke angkasa seperti tiga buah menara buatan alam.

Dari tempat pengintaiannya, Lee Ing melihat bahwa dugaannya memang tepat. Auwyang Tek berada di tempat itu bersama empat orang kawannya. Yang tiga orang adalah tiga orang hwesio tinggi kurus yang bentuk wajah dan badannya hampir sama, hanya warna kulit muka mereka saja yang berlainan.

Seorang bermuka hitam, ke dua bermuka kuning dan yang ke tiga mukanya merah sekali! Benar-benar tiga orang hwesio aneh. Dari pandangan mata mereka yang berkilat-kilat, Lee Ing dapat menduga bahwa mereka ini memang orang-orang pandai.

Adapun orang ke empat adalah seorang hwesio pula yang dikenal baik oleh Lee Ing, karena hwesio ini bukan lain adalah Bu Lek Hwesio yang dulu merampasnya dari kakeknya Haminto Losu kemudian "menjualnya" kepada Tiong-gi-pai dengan penukaran ilmu pedang dari Kwee Cun Gan!

Bagaimana Auwyang Tek bisa berada di tempat itu? Ternyata kaki tangan Auwyang-taijin segera mengetahui bahwa para anggauta Tiong-gi-pai melarikan diri ke utara dan berusaha untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang pandai untuk memusuhi fihak Auwyang-taijin. Oleh karena ini, Tok-ong Kai Song Cinjin juga tidak tinggal diam.

Kawan-kawannya dibagi tugas, ada yang harus membasmi semua anggauta Tiong-gi-pai dan mengejar mereka ke utara, ada yang disuruh memanggil orang-orang pandai untuk dijadikan pembantu. Tok-ong sendiri pergi ke Tibet untuk mencari saudara-saudaranya. Sedangkan Auwyang Tek mendapat tugas pula mengamat-amati perbatasan utara dan selatan serta gerak-gerik Raja Muda Yung Lo, sekalian mencari kawan-kawan sehaluan.

Jilid selanjutnya,
PUSAKA GUA SILUMAN JILID 22