Pusaka Gua Siluman Jilid 20, karya Kho Ping Hoo - Lee Ing merasa kasihan juga. Gadis ini mengambil sebuah batu kecil dan menyambit. "Tak!" Kai Beng roboh tak berkutik, pingsan seperti orang tertidur, terkena totokan batu kecil itu. Hal ini menolongnya karena sekarang ia tak usah menderita sakit lagi. Pada saat itu, Thio Sam juga sudah roboh. Bagian Thio Sam lebih berat sungguhpun rasa nyerinya tidak sehebat Ho Kai Beng.

Orang she Thio ini yang tadinya nekat memutar ruyungnya, melakukan serangan dahsyat ke arah kepala nona nelayan itu, disambut oleh Lee Siang dengan totokan ke arah pundak dan terdengar bunyi "krekk" ketika tulang pundaknya terlepas sambungannya! Thio Sam meringis dan ruyung itu terlepas dari pegangannya. Ia terbungkuk-bungkuk tanda menyerah kalah.
"Hayo minggat dari sini dan beritahukan majikanmu suruh datang merangkak sendiri ke sini!" Bu Lee Siang membentak sambil mengancam dengan tangannya.
Dengan muka marah Thio Sam menoleh kepada Han Sin dan Lee Ing yang diam saja, hatinya mendongkol bukan main. Akan tetapi ia dapat berbuat apakah? Dengan menanggung rasa malu besar, Thio Sam menghampiri Ho Kai Beng dan memanggul kawannya yang masih pingsan itu di atas pundaknya yang tidak terluka lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah besar sambil menahan rasa sakit pada pundak yang terluka.
Bu Lee Siang kini menghadapi Han Sin dan Lee Ing, sikapnya masih galak dan setiap saat siap bertempur melawan musuh. Matanya berapi-api ketika mengajukan pertanyaan, "Kalau kalian ini siapa yang datang bersama dua ekor monyet tadi? Apakah kalian datang sebagai utusan keluarga Ciong?"
"Siang-ji, jangan kurang ajar terhadap tamul" Terdengar kakek she Bu membentak anaknya.
Tidak percuma Bu Kam Ki menjadi seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman. Sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa pemuda tampan dan bersikap halus yang datang ini tentu bukan orang biasa, apa lagi tadi ia melihat gerakan tangan Lee Ing yang menotok pingsan Ho Kai Beng untuk membebaskan orang itu dari siksaan rasa nyeri.
Diam-diam ia kagum dan memuji watak gadis ini yang tidak tahan melihat orang tersiksa, biarpun bagi dia totokan menggunakan batu kecil seperti itu bukanlah hal yang amat mengherankan hatinya.
"Ji-wi siapakah dan keperluan apakah yang hendak disampaikan kepada kami?" tanya Bu Lohiap dengan sikap hormat akan tetapi suaranya juga tegas. Bagaimanapun juga, ia menaruh hati curiga karena kedatangan dua orang muda ini bersama-sama dengan Thio Sam dan Ho Kai Beng, dua orang utusan keluarga Ciong yang tidak mau datang sendiri. Han Sin cepat menjura dengan sikap hormat.
"Harap locianpwe sudi memaafkan kelancanganku yang datang tanpa diundang. Saya bernama Liem Han Sin dan kalau tidak salah, suhuku Im-yang Thian-cu pernah mengenal locianpwe dan memang betul saya datang sebagai utusan Ciong lo-enghiong."
Mendengar nama Im-yang Thian-cu tadi, wajah Bu-lohiap berseri akan tetapi segera menjadi muram kembali ketika mendengar bahwa murid Im-yang Thian-cu ini datang sebagai utusan Ciong Thai....!
"Im-yang Thian-cu biarpun seorang yang tidak mau perduli tentang segala macam urusan dunia, sedikitnya ia mampu membedakan mana orang baik mana buruk dan setiap perbuatannya tentu ditujukan untuk membantu kebaikan. Akan tetapi mengapa hari ini muridnya bisa menjadi utusan manusia jahanam semacam Ciong Thai, adiknya dan isterinya? Benar-benar mengherankan sekali, dan ingin aku melihat muka Im-yang Thian-cu kalau ia melihat muridnya melakukan hal ini."
Kakek itu menarik napas panjang, kemudian setelah melirik kearah Lee Ing yang memandang acuh tak acuh itu, ia melanjutkan kata-katanya, "Betapapun juga, mungkin ada dasar dan sebabnya kalau sampai kau menjadi utusannya. Kau diutus apa dan mengapa kau murid Im-yang Thian-cu sampai menjadi utusan mereka?"
"Saya menjadi utusan mereka untuk mohon locianpwe mengampuni mereka dan memberi obat penyembuh luka-luka mereka. Adapun dasar atau sebabnya maka saya suka menjadi utusan adalah dua macam. Pertama-tama oleh karena saya memang tidak tega melihat mereka terancam bahaya maut oleh luka-lukanya, padahal tidak usah mereka itu tewas kalau saja locianpwe sudi memberi obatnya. Ke dua, oleh karena saya sudah berjanji untuk memberi balasan jasa sebagai imbangan janji mereka kelak akan membantu pergerakan Tiong-gi-pai."
Bu Kam Ki nampak tertarik sekali. "Apa kau bilang? Apa hubungan Tiong-gi-pai dengan ini semua? Kau orang muda menyebut-nyebut Tiong-gi-pai mempunyai hubungan apakah?"
"Saya yang muda dan bodoh sebetulnya diutus deh Tiong-gi-pai untuk mengadakan hubungan dan minta bantuan orang-orang gagah di selatan agar kelak apa bila tiba masanya Tiong-gi-pai membantu perjuangan Raja Muda Yung Lo, para orang gagah sudi turun tangan pula memberi bantuan. Ciong lo-enghiong sekeluarga sudah memberi kesanggupan untuk membantu asal saya suka menolong mereka mintakan obat penolong bagi mereka kepada locianpwe. Oleh karena itu, saya mengharap dengan sangat kebaikan hati locianpwe, selain kelak dapat membantui pula pergerakan kami, juga sudi memandang persahabatan mengampuni keluarga Ciong."
Tiba-tiba Bu Kam Ki berdongak dan tertawa bergelak dengan nyaring sekali. Bu Lee Siang dan semua orang sampai terkejut dan memandang bengong. Memang aneh sekali kakek ini. Dalam keadaan berkabung, semenjak kemarin dulu selalu muram dan tak senang hati, bagaimana sekarang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak seperti itu?Han Sin sendiri menjadi bingung dan gelisah, tidak tahu apa yang menyebabkan kakek ini tertawa keras, padahal menurut anggapannya, ia bicara cukup sopan dan cukup cengli (menurut aturan pantas).
"Ha-ha-ha, kau pemuda bodoh barangkali sudah sinting. Aduh lucunya, dan ini dilakukan oleh murid Im-yang Thian-cu pula! Ha-ha-ha, membikin perutku menjadi kaku dan mulas. Bocah tolol, mengapa Tiong-gi-pai mengutus seorang muda tolol seperti engkau? Tugas yang kau kerjakan ini terlalu berat dan sukar bagi seorang pemuda hijau seperti kau.
"Tak tahukah kau siapa adanya Ciong Thai dan manusia macam apa dia itu? Dia seorang tokoh golongan hek-to (jalan hitam atau jalan sesat)! Bagaimana dengan orang-orang macam mereka itu kau mengadakan persekutuan untuk membela nusa bangsa? Ha-ha-ha, benar lucu!"
Lee Ing tersenyum dan matanya yang menatap wajah Han Sin seakan-akan berkata menggoda, "Nah, itu! Kena batunya sekarang!"
Akan tetapi Han Sin mengerutkan keningnya, menjura lalu menjawab, suaranya lantang dan tegas, "Harap locianpwe jangan berpemandangan seperti itu, karena itu adalah pandangan yang amat sempit. Rakyat kecil menderita oleh karena yang berkuasa adalah menteri-menteri durna, boneka-boneka nafsu kemurkaan yang tidak segan-segan mencekik leher rakyat kecil.
"Menghadapi musuh rakyat ini, semua tenaga rakyat harus dihimpun, dipersatukan untuk melawannya. Dalam keadaan negara dikuasai oleh boneka-boneka ini, di mana rakyat hidup sengsara, kita harus menjauhkan segala permusuhan antara kita sendiri, tidak perduli dari golongan mana dan memiliki faham apa, harus bersatu padu untuk menghancurkan musuh rakyat."
Mendengar pemuda ini bicara penuh semangat berapi-api, Lee Ing kembali menjadi kagum, sungguhpun apa yang dibicarakan itu ia hampir tidak mengerti. Bu Kam Ki juga kagum menyaksikan semangat pemuda tampan ini. Akan tetapi ia menarik napas panjang dan berkata,
"Inilah salah satu sebab dari sekian banyaknya kegagalan-kegagalan dari perjuangan para patriot untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman pembesar-pembesar lalim. Dulupun demikian keadaannya sampai kami gagal mengusir orang-orang Mongol. Orang muda, kau tahu apa tentang perjuangan maka berani bicara seperti itu? Ah, kalau saja kau tahu betapa banyaknya manusia-manusia palsu, kau akan merasa ngeri. Kalau saja semua berjalan menurut, teorimu tadi, alangkah mudahnya perjuangan!
"Akan tetapi sayang sekali tidak semudah itu, orang muda. Kau boleh mempercayai rakyat kecil sepenuhnya, kaum tani, nelayan, pekerja-pekerja biasa boleh kau percaya karena mereka itulah massa rakyat yang tertindas. Sudah tentu mereka akan bangkit kalau ada yang memimpin, sudah tentu mereka akan menghancurkan kekuasaan yang menindas dan sudah dapat dipastikan di dalam dada mereka berkobar api setia kawan karena senasib sependeritaan!
"Akan tetapi orang-orang macam Ciong Thai? Lebih selamat kalau kau tidak bawa-bawa dia! Di mulutnya berkata putih, di hatinya berkeyakinan hitam! Di mulutnya dia boleh jadi akan membantu Tiong-gi-pai atau perjuangan rakyat lainnya, akan tetapi yang begini ini amat berbahaya, suatu waktu akan tampak kepalanya dua! Manusia semacam dia inilah yang tidak segan-segan untuk menjual bangsanya asal dia diberi kemuliaan,"
Bu Kam Ki berhenti untuk mengambil napas, dia tadi telah bicara penuh semangat pula. Baru sekarang kelihatan keasliannya patriot tua ini, biasanya ia diam saja dan hidup seperti seorang nelayan miskin yang sederhana.
"Saya masih belum yakin betul akan kebenaran keterangan Iocianpwe tadi. Orang boleh jadi berbeda-beda wataknya boleh jadi berlainan golongannya, boleh jadi berlainan pula jalan hidupnya dan tak boleh disangkal lagi banyak yang mengambil jalan sesat. Akan tetapi dalam satu hal ini, yaitu demi kepentingan nusa bangsa, hanya ada satu tekad, satu kebaktian."
"Ho-ho-ho, lantunan kosong seorang patriot muda! Alangkah enaknya jalan perjuangan kalau begitu. Ketahuilah, perjuangan bangsa itu berliku-liku, banyak pula rintangannya. Adalah kewajiban setiap orang patriot sejati untuk memberantas rintangan-rintangan ini, apapun juga macamnya, oleh siapapun juga rintangan ini ditimbulkannya. Biarpun bangsa sendiri, kalau dia berhati palsu dan merintangi perjuangan, dia itu penghianat, dia itu musuh dan harus dibasmi habis-habis! Dan kau... kau percaya akan bantuan orang macam keluarga Ciong itu? Heran!"
"Bu-locianpwe, agaknya dalam hal ini pandangan kita berbeda. Akan tetapi atas nama Tiong-gi-pai, kami mohon juga dengan hormat bantuan lo-cianpwe kelak apa bila masanya tiba untuk meruntuhkan kekuasaan para durna yang mencekik leher rakyat."
"Hemm, sekali aku pernah gagal. Akan tetapi sudah lama aku mendengar tentang kelaliman para menteri durna. Sayang sekali Ciu-taihiap yang sekarang sudah menjadi kaisar, terjatuh ke dalam pengaruh mereka. Tanpa kau minta, kalau tenagaku mengijinkan dan kalau aku masih hidup, tentu aku akan suka sekali membantu rakyat."
Han Sin berseri wajahnya, menambah tampannya. Ia menjura sampai dalam menghaturkan terima kasihnya, kemudian berkata, "Sekarang saya harap locianpwe juga berbaik hati untuk memberi ampun kepada keluarga Ciong dan memberi obat."
"Suruh mereka datang sendiri, mengapa harus engkau yang mintakan?" Bu Lee Siang membentak. Matanya melotot tajam memandang Han Sin.
"Puteriku betul, orang muda. Keluarga Ciong harus datang sendiri dan obat itu hanya dapat ditebus dengan permintaan ampun sambil berlutut di depan peti mati Lai Seng," kata Bu Kam Ki dengan suara tegas.
"Aku menjadi pesuruh dan aku bersedia untuk berlutut mintakan ampun bagi mereka," kata Han Sin dengan suara tetap pula.
"Tidak bisa... tidak bisa...!" kata pula kakek itu tegas dan keningnya mulai berkerut tanda kesabarannya menipis. "Orang akan memandang kami tak pandai memegang kata-kata sendiri. Keluarga Ciong sendiri harus datang dan kalau mereka minta bantuan orang lain, karena kami telah melukai mereka dengan pukulan, utusan mereka harus pula dapat menundukkan kami dengan pukulan pula!"
Inilah ucapan tantangan bahwa utusan keluarga Ciong baru bisa mendapatkan obat yang diminta kalau bisa mengalahkan Bu Kam Ki dan puterinya! Tentu saja hal ini amat berat bagi Han Sin. Keluarga Ciong bertiga saja tidak kuat melawan kakek ini seorang diri, apa lagi dia? Melawan puterinya saja ia masih belum yakin benar apakah akan dapat menang.
Akan tetapi Han Sin, seperti dapat dilihat dari sikap dan kelakuannya, adalah seorang pemuda keras hati yang tidak akan mundur selangkah sebelum tugasnya terpenuhi. Ia sudah berani menjadi utusan, maka ia harus berani membela tugasnya sampai berhasil.
Kalau perlu nyawanya boleh menjadi korban atau penebus. Dalam tugas yang ia Hadapi sekarang ini, bukan sekali-kali ia menjadi pembela keluarga Ciong karena penasaran pribadi, melainkan ia menganggapnya sebagai kelanjutan tugasnya terhadap Tiong-gi-pai dan karenanya juga tugas terhadap rakyat, terhadap cita-cita orang gagah pembela rakyat.
Ciong Thai sudah menyanggupinya untuk kelak membantu pergerakan Tiong-gi-pai mengabdi raja muda di utara dan sebagai balas jasa, sudah sepatutnya kalau ia berjuang mencarikan obat bagi mereka. Han Sin melangkah maju menghadapi kakek she Bu itu, sikapnya hormat akan tetapi sepasang mata yang tajam itu menyinarkan cahaya penuh ketabahan dan kejujuran.
"Bu-locianpwe, modal seorang pejuang adalah kejujuran, kenekatan dan keyakinan. Jujur dalam membela kewajibannya dan yakin akan kebenaran apa yang diperjuangkannya. Aku yang bodoh tidak memiliki kepandaian dan tentu saja tidak mungkin sekali aku dapat minta obat dari locianpwe mengandalkan ilmu pukulan. Akan tetapi aku mempunyai tiga syarat itu. maka aku tidak mundur sebelum locianpwe mempertimbangkan permintaanku untuk menolong nyawa keluarga Ciong."
Bu Kam Ki tersenyum dan ia mulai kagum melihat pemuda itu. "Lihat, Siang-ji, beginilah aku ketika muda! He, orang muda, memang pendirian orang berbeda-beda. Akan tetapi seorang gagah memang tidak akan mundur untuk memegang teguh pendiriannya. Kau gagah dan berani, juga patut menjadi seorang pejuang. Sayang kau masih terlampau hijau, kurang pandai membedakan mana hijau mana merah, mana hitam mana putih. Biarpun sikapmu ini kuanggap gagah, tetap saja kau buta kalau hendak membela Ciong Thai dan mengajaknya bersekutu. Aku tetap kepada pendirianku, asal kau atau suruhan Ciong Thai sanggup mengalahkan aku dengan ilmu pukulan, dengan suka rela aku menyerahkan obat dan akan menghabiskan semua perkara."
"Kalau begitu, maafkan aku yang muda berlaku kurang ajar. Tentu saja aku bukan tandingan iocianpwe, akan tetapi menang atau kalah adalah hal yang sewajarnya, seperti mati atau hidup. Bagiku yang terpenting adalah kebenaran!" Sambil berkata demikian, tanpa ragu-ragu dan sama sekali tidak takut, pemuda ini mencabut keluar kipas dan pitnya, sepasang senjata yang amat ia andalkan sebagai warisan gurunya.
Untuk kedua kalinya Lee Ing memandang kagum. Pemuda ini benar-benar hebat. Gagah berani dan bersemangat baja. Seorang jantan yang jarang tandingannya. Juga Bu Kam Ki kagum bukan main. Dia sendiri dahulunya seorang pejuang yang gigih membela rakyat yang ditindas oleh penjajah, sekarang melihat seorang pemuda seperti Han Sin, tentu saja hatinya tergerak dan diam-diam ia membandingkan pemuda ini dengan Lai Seng yang telah tewas, kalau saja anaknya bisa menjadi isteri pemuda seperti ini atau lebih tepat lagi, Kalau saja ia bisa mempunyai seorang mantu seperti Han Sin!
"Orang muda, sebelum aku melayanimu, hendak aku bertanya. Kalau aku kalah dalam pertandingan ini, sudah tentu obat kuberikan. Akan tetapi bagaimana kalau kau yang kalah?"
"Kalau aku kalah, tiada jalan lain aku akan kembali kepada keluarga Ciong dan menyatakan terus terang akan kegagalanku. Betapapun juga, asal tugas sudah kulakukan dan kalau perlu kubela dengan nyawa, bagiku sudah cukup. Akan tetapi menyuruh aku kembali sebelum berusaha sedapatku, tak mungkin aku mau melakukannya," jawab Han Sin.
Tiba-tiba Bu Lee Siang yang sejak tadi mendengarkan saja percakapan antara ayahnya dan pemuda ganteng itu, menjadi tak sabar dan melompat maju.
"Bocah sombong! Kalau mau menjual kepandaian majulah siapa sih takut padamu?"
"Lee Siang, mundurlah," ayahnya menegur, "Liem-sicu ini hatinya demikian baiknya sampai mau menolong keluarga Ciong. Eh, orang muda, Ciong Thai menjanjikan untuk kelak membantu Tiong-gi-pai dan kau membalas jasanya dengan mati-matian minta obat dariku. Kalau sekarang aku dengan suka hati memberikan obat itu kepadamu, kemudian akupun minta balas jasa, maukah kau menolongku pula?"
Wajah kakek ini berseri dan sepasang matanya berkilat-kilat cerdik, agaknya ada pikiran yang amat baik memasuki otaknya. Liem Han Sin menjura dan menjawab, suaranya sungguh-sungguh, "Bu-locianpwe, mengingat dan membalas budi adalah satu di antara kewajiban-kewajiban seorang kuncu (budiman). Biarpun aku tidak berani mengaku seorang baik, namun setidaknya aku selalu berusaha mengikuti jejak orang-orang baik. Kalau locianpwe sudi mengalah dan menolongku memberikan obat itu, sudah tentu aku bersedia untuk melakukan apa saja untuk membalas kebaikan locianpwe."
"Bagus, kulihat kau seorang yang baik, tentu keturunanmu juga merupakan tunas yang patut dipelihara. Aku akan memberikan obat itu kepadamu tanpa pertandingan, akan tetapi kau harus menyerahkan anakmu untuk menjadi muridku selama lima tahun "
Tiba-tiba terdengar suara Lee Ing tertawa geli dan wajah Han Sin menjadi merah sekali seperti kepiting direbus. "Menyesal sekali, locianpwe. Aku.... aku tidak punya anak."
"Hi-hi, orang tua she Bu, kau ini benar lucu dan aneh. Dia seorang laki-laki mana bisa punya anak?" kata Lee Ing yang nakal sambil tertawa tawa menutupi mulut dengan saputangan.
Melihat sikap Lee Ing yang wajar lucunya, bukan genit atau dibuat-buat, Bu Kam Ki mau tidak mau terpaksa tersenyum juga. "Kau betul, nona. Kumaksudkan isterimu dan anakmu juga. Kalau sekarang belum punya anak, berjanjilah kalau kelak isterimu melahirkan anak, anak itu harus diserahkan kepadaku mulai berusia sepuluh tahun sampai lima belas tahun."
Hampir tidak kedengaran saking perlahannya jawaban Han Sin, "Locianpwe, aku tak berani berjanji karena..... karena aku belum mempunyai isteri."
"Eh, begitukah? Sayang sekali! Tapi tentu sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah....."
"Juga belum!" jawab Han Sin cepat-cepat.
Wajahnya tidak membayangkan sesuatu, namun di dalam hatinya kakek she Bu ini girang sekali. Syaratnya tadi hanya merupakan "jalan memutar" untuk mengetahui apakah pemuda ini sudah beristeri ataukah bertunangan. Ternyata sekarang bahwa pemuda ini masih belum ada ikatan Kalau saja ia dapat menarik pemuda ini sebagai mantunya, akan puas dia dan perkara memberi cbat kepada keluarga Ciong merupakan hal yang tak penting lagi.
"Kalau begitu sukar," katanya mengerutkan kening. "Akan tetapi melihat kesungguhanmu hendak menolong mereka, juga mengingat bahwa kau adalah murid Im-yang Thian-cu yang kukenal baik, mengingat lagi bahwa kau adalah utusan Tiong-gi-pai yang berarti kawan seperjuangan, biarlah aku mengalah dan boleh kau membawa obatku untuk diberikan kepada mereka. Adapun tentang balas jasa, aku hanya akan minta tolong darimu setelah kau memberikan obat itu kepada mereka. Berjanjilah untuk datang kembali ke sini dan akan memenuhi permintaanku dengan suka hati."
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Han Sin. Saking girang dan terima kasih, ia lalu menyimpan senjatanya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. "Locianpwe berpemandangan luas, dan sudi mengalah, benar-benar menjadi bukti bahwa locianpwe seorang gagah yang berbudi luhur. Tentu saja saya akan memenuhi undangan locianpwe dan akan memenuhi segala permintaan locianpwe, suatu hal yang dapat saya lakukan mengingat kebodohan saya."
"Akupun takkan minta yang bukan-bukan atau yang tak dapat kau lakukan," kata Bu Kam Ki. Kemudian iapun memberikan tiga bungkus obat bubuk kepada Han Sin.
Pemuda ini menerimanya dengan girang, lalu berpamit mengundurkan diri. Lee Ing diam saja, hanya mengikuti pemuda itu dan sekarang mereka terpaksa harus berjalan kaki karena kuda mereka sudah tewas oleh Bu Lee Siang.
"Nona Souw... semua ini adalah rejekimu. Tak kusangka akan semudah itu kesudahannya," kata Han Sin girang sekali.
"Kau tolol....!"
Han Sin sampai meloncat karena ujung kakinya tertumbuk batu saking kagettnya mendengar ucapan ini. "Apa....? Mengapa?" Ia bertanya gagap, memandang wajah nona itu dengan muka merah. Lee Ing cemberut, benar-benar marah.
"Kau terlalu baik hati, karenanya tolol. Orang yang lemah dari terlalu baik hatinya suka melakukan perbuatan tolol. Baru satu kali bertemu dengan kakek tua bangka she Bu itu. begitu saja kau berjanji akan memenuhi sebala permintaannya. Hemm...!"
Han Sin tersenyum lega. Tadinya ia sudah khawatir sekali kalau kalau terjadi sesuatu yang hebat sampai nona itu perlu memakinya tolol. Kiranya hanya urusan itu saja.
"Nona Souw yang baik. Bukankah menolong sesama hidup adalah tugas utama orang gagah? Kau sendiri hanya pada lahirnya saja seperti yang tidak acuh akan tetapi bukankah kau sudah menolong nyawaku beberapa kali tanpa kuminta.? Ciong-enghiong minta tolong kepadaku maka aku berusaha menolongnya, sedangkan Bu-locianpwe juga minta tolong, tentu saja aku bersedia menolong. Jangankan diminta, kau yang tidak pernah dimintai tolong selalu bersiap sedia menolong sesamanya. Nona Souw, bukankah kaupun setali tiga uang, sama saja dengan aku dalam hal ini, malah lebih hebat lagi?"
"Tentu saja aku suka menolong orang. mengapa tidak? Akan tetapi tidak membuta seperti kau! Aku menolong orang setelah melihat apa macam orangnya dan bagaimana duduk perkaranya. Tidak seperti kau... belum tahu apa yang akan diminta oleh tua bangka Bu lebih dulu sudah berjanji memenuhinya."
"Jangan khawatir, nona. Bu lo-cianpwe adalah seorang gagah perkasa yang ternama, tentu ia tak kan minta yang bukan-bukan."
"Hemm... kita sama lihat saja, hmmm, dia punya anak gadis..."
"Apa maksudmu, nona?" Han Sin memandang heran.
Akan tetapi Lee Ing sudah melanjutkan perjalanannya, malah menggunakan ilmu lari cepat sehingga Han Sin terpaksa mengerahkan tenaga untuk mengimbangi kecepatan nona yang luar biasa itu.
"Dia punya anak gadis...." kembali Lee Ing bersungut-sungut "...anak gadis yang sudah menjadi janda kembang sebelum kawin... hemmm...!"
Han Sin merasa heran mengapa gadis ini membawa-bawa puteri Bu Kam Ki. Akan tetapi melihat gadis itu cemberut dan kelihatannya tak senang hati, ia tidak berani bertanya-tanya lagi, tahu bahwa toh ia takkan mendapat penjelasan yang memuaskan. Belum lama berdekatan dengan gadis ini, ia seperti telah mengenal baik wataknya yang aneh dan sulit dimengerti.
Ketika mereka tiba di rumah keluarga Ciong yang letaknya terpencil di tengah-tengah daerah berhutan, hari telah mulai gelap dan mereka mempercepat lari mereka ketika baru saja memasuki hutan pertama. Untung mereka dapat sampai di rumah keluarga itu, karena tadinya dua orang muda-mudi ini kehilangan jalan di dalam hutan dan tidak tahu ke mana jurusan rumah Ciong Thai.
Sampai lama mereka berputar-putar di dalam hutan dan beberapa kali melompat naik ke atas pohon besar, namun tidak kelihatan sinar api dari rumah yang mereka pergunakan sebagai penunjuk jalan. Tiba-tiba kelihatan api bernyala sebentar di jurusan kanan. Mereka memburu ke arah tempat itu, akan tetapi kembali ada sinar api di depan, agak jauh.
"Barangkali kalau benar di dunia ini ada setan, itulah agaknya," Han Sin mengomel, mendongkol juga karena merasa dipermainkan oleh api itu.
"Hanya orang-orang sial bertemu dengan setan dan kalau benar itu setan, memang kita ini sedang sial!" kata Lee Ing dan di dalam suara gadis itu. Han Sin mendengar suara hati gadis itu yang menimpakan kesalahannya kepadanya seakan-akan ia mendengar bisikan hati gadis itu mencelanya. "Kau yang membawa sial, tahu?"
Diam-diam ia mengakui hal ini dan memang sudah sepatutnya gadis ini marah dan mendongkol kepadanya. Kalau tidak karena dia, tentu Lee Ing tidak akan bertemu dengan keluarga Ciong, takkan ikut ke rumah Bu Kam Ki dan tidak akan kehilangan jalan malam-malam di dalam hutan yang gelap lagi dingin Semuanya karena dia. Karena dia?? "Nona Souw....."
"Eh, saudara Han Sin, kau kenapakah?" Lee Ing terkejut dan heran mendengar suara pemuda itu tergetar. Sayang ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu yang memandang ke arah dia dengan muka sebentar merah sebentar pucat.
"Nona Souw yang mulia, entah bagaimana aku kelak dapat membalas budimu. Biarlah di dalam penghidupan yang akan datang kelak aku menjelma menjadi kuda atau anjing untuk dapat melayanimu."
Pada masa itu, ucapan seperti kalimat terakhir ini memang sering digunakan orang di Tiongkok. Orang-orang semua percaya akan kelak akan kembali (reincarnation) maka untuk menyatakan terima kasih atas hutang budi, orang berjanji kelak akan menjelma menjadi kuda atau anjing untuk membalas budi.
"Aku.... aku tidak butuh kuda, biar dilain penjelmaan sekalipun. Apa lagi di dalam hutan malam-malam gelap seperti ini. kuda untuk apa sih?" Lee Ing berjenaka, sama sekali tidak tahu bahwa pemuda di depannya itu bicara dengan sepenuh hatinya dan dengan sungguh-sungguh sekali.
"Anjing juga tidak butuh?" tanya Han Sin penuh harap.
"Aku biasanya tidak suka anjing, biar di lain penjelmaan juga tidak suka, akan tetapi sekarang aku akan lebih merasa girang kalau kau berobah menjadi anjing karena binatang itu biasanya pandai sekali mencari jalan kalau kita kehilangan jalan. Eh, Liem twako, kau ini apa sudah kemasukan siluman di hutan ini? Kok bicara tentang anjing dan kuda segala macam. Lebih baik lekas kita berusaha mencari jalan keluar kalau tidak kita akan terpaksa bermalam di dalam hutan bergelap-gelap!"
"Nona Souw, kau mengganggap aku main-main. Biarlah aku bersumpah, dalam penghidupan sekarang aku akan bersetia kepadamu sampai mati, setia melebihi anjing atau kuda."
"Sudahlah, gelap-geap kau bicara aneh-aneh, membikin bulu tengkukku meremang semua. Lihat, tuh di sana nyala api yang nampak lagi."
Han Sin memandang ke depan dan benar saja, nyala api yang aneh itu nampak lagi. Cepat mereka menuju ke tempat itu, nyala api itu maju terus dan mereka menjadi amat girang ketika mendapat kenyataan bahwa nyala api itu membawa mereka ke jalan atau lorong di hutan itu yang mereka lalui tadi ketika ke rumah Bu Kam Ki!
Setelah mengikuti nyala api itu beberapa lama, tiba-tiba apinya padam dan mereka mendapatkan kenyataan bahwa mereka telah berada di depan rumah keluarga Ciong. Terhyata api tadi sengaja menjadi petunjuk jalan bagi mereka.
"Agaknya Ciong-enghiong sudah tahu bahwa kita berhasil maka dia sengaja memberi petunjuk jalan kepada kita," kata Han Sin. Lee Ing diam saja dan mengikuti pemuda itu memasuki halaman rumah. Akan tetapi Han Sin menjadi ragu-ragu ketika di depan pintu ia disambut oleh Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek yang berdiri dengan muka pucat dan lesu.
Dengan penuh gairah Ciong Thai bertanya. "Bagaimana, Liem-hiante? Berhasilkah? Maukah Bu-lohiap menolong kami?"
"Bu lohiap telah demikian baik hati untuk menolong nyawa sam-wi (saudara bertiga) dan telah memberikan obat itu kepadaku." jawab Han Sin, agaknya tak senang hatinya karena orang yang ditolongnya itu datang-datang menanyakan kepentingan dan kebutuhan sendiri dan sama sekali tidak perduli orang lain yang setengah mati mencari obat.
"Bagus sekali! Aku sudah menduga kalau kau yang pergi pasti berhasil! Mana obat itu, Liem-hiante?" Ciong Thai segera menghampiri Han Sin dengan wajah girang, juga Giam Loan melompat dekat sambil tersenyum senyum manis, sedangkan Ciong Sek tertawa lebar. Ketiga orang yang tadinya muram seperti lampu kehabisan minyak sekarang berseri-seri mendapat tambahan minyak baru.
"lni obatnya." Han Sin menyerahkan bungkusan tiga buah itu yang cepat diterima oleh Ciong Thai dan langsung dibagikan kepada isteri dan adiknya, seorang sebungkus.
Bukan main girangnya hati Ciong Thai, la merangkul Han Sin dan pemuda ini merasa betapa lehernya menjadi basah oleh air mata jago Lembah Yang ce ini. Hati pemuda yang baik ini seketika menjadi lemas dan lenyaplah rasa mendongkolnya tadi, terganti rasa terharu.
"Thio Sam! Kai Beng, Lekas siapkan pesta penghormatan bagi Liecm-taihiap dan lihiap!" Secara mendadak Ciong Thai menyebut taihiap (pendekar besar) kepada Han Sin dan lihiap (pendekar wanita) kepada Lee Ing, Kemudian ia menarik lengan Han Sin sedangkan Giam Loan menarik lengan Lee Ing diajak ke ruangan dalam yang lebih lebar dan diterangi oleh banyak lilin besar yang penuh hidangan! Orang telah menanti kedatangan mereka dan siap menyambut dengan pesta!
Akan tetapi Lee Ing masih bersikap kaku, dengan sekali renggut saja ia telah melepaskan lengannya dari tarikan Giam Loan Akan tetapi nyonya muda itu tidak menjadi tak senang, malah sambil tersenyum ramah ia membungkuk-bungkuk mempersilahkan Lee Ing jalan dulu ke ruang dalam. Karena melihat Han Sin telah berjalan masuk, terpaksa Lee Ing juga mengikutinya. Kalau menurutkan perasaan hatinya, ia lebih suka segera meninggalkan rumah orang-orang ini pada malam itu juga, biar malam dingin gelap.
Entah mengapa, di dalam hatinya Lee Ing amat tidak suka kepada tiga orang ini, terutama sekali Giam Loan. Akan tetapi, kejengkelannya berkurang ketika ia melihat Ciong Swi Kiat, bocah gundul mata gede itu sudah menanti di dalam ruangan itu, berdiri di sudut dengan sikap seperti seorang pelayan. Kebalikan dari orang tuanya, bocah ini mendatangkan rasa kasihan dalam hati Lee Ing.
"Taihiap dan lihiap tentu lelah dan lapar setelah melakukan perjalanan jauh dan tugas berat, silahkan makan sekedarnya dan minum arak sebagai penghormatan dan ucapan terima kasih kami," kata Ciong Thai mempersilahkan dua orang muda-mudi itu yang kini diperlakukan seperti dua orang tamu agung.
Sibuklah tuan rumah melayani dua orang itu dibantu oleh Thio Sam dan Ho Kai Beng yang sudah agak sembuh dari luka-lukanya. Juga Ciong Swi Kiat tadinya bantu melayani, akan tetapi melihat anak itu kadang-kadang memandang ke arah masakan dengan mata melotot dan mulut komat kamit kadang-kadang menelan ludah, Lee Ing lalu menarik tangannya disuruh duduk ikut makan minum.
Ciong Thai hanya tersenyum saja melihat ini, akan tetapi mata Lee Ing yang tajam dapat melihat kilat mata kemarahan terpancar keluar dari sepasang mata Giam Loan yang biasanya genit dikerling ke arah Han Sin itu. Dengan secara terbuka sekali nyonya muda yang genit itu melempar senyum dan kerling tajam, mengajak main mata kepada Han Sin. Hal ini saja sudah mempertebal rasa tak suka dalam hati Lee Ing.
Dengan gaya dibuat-buat Ciong Sek menuangkan arak dari guci ke dalam cawan Han Sin dan Lee Ing, lalu berdiri menjura dan mengangkat cawannya sendiri setelah ia dengan sikap hormat memberikan cawan-cawan yang diisinya tadi kepada Han Sin dan Lee Ing.
"Ji-wi yang sudah menolong nyawa siauwte dari bahaya maut, harap sudi menerima penghormatan siauwte dengan secawan arak ini!" Matanya menatap wajah Lee Ing dengan penuh kekaguman dan senyumnya senyum memikat, akan tetapi biarpun wajah pemuda ini tampan juga, dalam pandang mata Lee Ing yang membencinya nampak seperti muka monyet cengar-cengir.
"Sudah terlalu banyak aku minum," katanya mencela dan hendak menolak akan tetapi melihat Han Sin tanpa ragu-ragu minum araknya, iapun lalu meneguknya habis. Arak yang disuguhkan oleh tuan rumah memang enak, manis dan harum.
"Akupun tidak mau ketinggalan. Ji-wi yang mulia harap sudi minum secawan arak penghormatanku!" kata Giam Loan sambil tersenyum- senyum, lalu cepat-cepat ia menuangkan arak dari sebuah guci putih ke dalam cawan Lee Ing dengan cepat, kemudian iapun menuangkan arak ke dalam cawan di depan Han Sin. la mengambil cawan-cawan itu dan menyodorkan kepada Lee Ing dan Han Sin. matanya basah memandang Han Sin dan bibirnya yang merah itu tersenyum memikat.
Ingin Lee Ing menampar cawan itu, akan tetapi sebagai tamu tentu saja ia dapat menahan hatinya, hanya menolak dan berkata, "Sudah cukup, aku tidak mau minum lagi. Sekarang kau yang menawarkan arak, nanti tentu suamimu lagi! Apa orang kira kami ini gentong arak yang bisa begitu saja diisi arak sampai sepenuhnya?" kata Lee Ing setengah marah setengah berkelakar, dan tidak mau menerima cawan yang disodorkan oleh Giam Loan.
"Lihiap apakah tidak sudi menerima penghormatan sebagai tanda terima kasih dari seorang yang telah lihiap tolong nyawanya?" Kata-kata ini dikeluarkan oleh Giam Loan dengan suara sedih dan mata nyonya muda ini telah pula menitikkan air mata. Namun Lee Ing tetap tidak mau menerima.
"Nona Souw, tak baik menolak penghormatan orang. Lagi pula, tambah satu dua cawan saja sih apa artinya? Hitung-hitung kita ikut merayakan keluarga Ciong yang hari ini terbebas dari kematian berkat kebaikan hati Bu-locianpwe." kata Han Sin yang sudah menerima cawannya.
Lee Ing mengerutkan kening, lalu menyambar cawan itu dari tangan Giam Loan dan berkata kepada Han Sin, "Biarlah aku sekali lagi menurut, akan tetapi setelah minum-minum arak sampai mabok kita harus segera melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat ini. Kalau kau tidak mau kau boleh tinggal selamanya di sini, aku akan pergi sendiri!"
Han Sin terkejut. Tidak mengira bahwa gadis itu akan marah sekali seperti itu. Ia tidak tahu betapa hati Lee Ing sudah panas melihat lagak Giam Loan yang genit dan melirik-lirik Han Sin sambil tersenyum tak tahu malu.
"Cici... mengapa memaksa nona ini minum Pek-in-ciu? Kalau dia tidak mau, sudahlah jangan dipaksa!" tiba-tiba terdengar Ciong Swi Kiat berkata.
"Tutup mulutmu!" Giam Loan membentak.
"Swi Kiat, jangan mencampuri urusan orang tua!" Ciong Thai juga menegur puteranya.
"Pek-in-ciu? Arak apakah ini?" tanya Lee Ing sambil bergantian memandang wajah tiga orang di depannya. Lee Ing memang belum pernah mendengar tentang arak Pek-in-ciu (Arak Awan Putih). Hatinya yang penuh kecurigaan merasa tidak enak, menyangka arak itu dicampuri racun. Cepat tangan kirinya mencabut sebuah peniti perak dan dicelupkannya ke dalam cawan. Akan tetapi peniti itu tidak berubah hitam, tanda bahwa di dalam arak tidak ada racunnya, juga arak itu baunya harum biasa saja.
Ciong Thai tertawa. "Harap lihiap jangan curiga. Disebut Pek-in-ciu oleh karena kesempurnaan arak istimewa ini terdapat dari hawa awan putih. Membuatnya adalah menjemur arak ini di waktu udara terang dan awan putih memenuhi angkasa raya. Arak ini baik sekali dan sudah puluhan tahun usianya! Mari kita minum!"
Han Sin sudah mengangkat cawannya ke mulut, dan Lee Ing menjadi merah mukanya karena ia merasa malu juga sudah memperlihatkan keraguan dan kecurigaan. Diapun sudah mengangkat cawannya. akan tetapi tiba-tiba ia menunda lagi dan menoleh karena mendengar suara di jurusan jendela.
"Tahan, jangan diminum arak itu!" terdengar suara dari luar jendela dan muncullah kepala.... Bu kam Ki dari balik jendela. Wajah kakek itu nampak sungguh sungguh dan marah. "Arak Pek-in-ciu akan membikin kalian mabok. Dasar orang-orang muda hijau mana bisa menghadapi bangsat-bangsat seperti keluarga Ciong?"
"Bu-locianpwe... arak ini tidak apa-apa..." kata Han Sin karena dia sendiri tadi melihat Lee Ing telah memeriksa arak itu.
"Bodoh, coba suruh Ciong Thai dan bininya minum arak iiu. Hayo!"
Akan tetapi di luar dugaan, ketika melihat munculnya orang tua ini. Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek sudah menuangkan bungkusan obat yang dibawa Han Sin tadi ke dalam cawan arak mereka lalu meminumnya sekali teguk.
Melihat ini, Lee Ing hendak menghalangi, kalau betul mereka hendak meracuninya tak pantas mereka diberi obat, pikirnya.
"Biarkan saja mereka minum obat!" Bu Kam Ki mencegah melihat Lee Ing bergerak. Setelah minum obat, Ciong Thai tersenyum menghadapi Bu Kam Ki.
"Bu-lohiap benar-benar hendak membusukkan nama kami. Arak Pek-in-ciu memang arak keras dan mungkin sekali jiwi taihiap ini akan mabuk meminumnya. Akan tetapi apa salahnya itu? Mereka tidak akan binasa!"
Lee Ing sudah menaruh lagi cawan araknya ke atas meja. Juga Han Sin mulai curiga, karena kalau hanya memberi hormat untuk pernyataan terima kasih, mengapa harus menggunakan arak yang dapat memabokkan orang? la lalu teringat akan sinar mata Ciong Sek yang penuh gairah dan kecabulan kalau pemuda itu memandang kepada Lee Ing, dan diam-diam Han Sin mengeluarkan keringat dingin.
Benar-benarkah dia telah dikhianati oleh orang-orang yang telah ditolong nyawanya ini? Betulkah ucapan Bu Kam Ki bahwa tiga orang ini bukanlah manusia-manusia yang patut ditolong dan dijadikan sekutu? Sementara itu, mendengar omongan Ciong Thai, Bu Kam Ki tertawa bergelak. Tubuhnya bergerak dan dengan ringannya ia telah melompat ke dalam ruangan itu.
"Ha-ha-ha, orang she Ciong! Puteramu yang kau sia-siakan ini jauh lebih berharga dari pada kau, maka dia tadi mencegah binimu menyuguhkan Pek in-ciu. Memang betul arak ini hanya memabokkan, akan tetapi apa kau kira aku tidak pernah mendengar bagaimana kalian menggunakannya? Berapa banyaknya gadis-gadis tak berdosa yang menjadi korban arakmu ini di tangan adikmu Ciong Sek? Dan berapa banyak pula pemuda-pemuda vang jatuh oleh binimu karena arak ini? Hemmm. Ciong Thai... kau ini mengaku gagah akan tetapi tak lain hanya seekor kura-kura yang bodoh, membiarkan adik dan bini rnencoreng arang di mukamu, melumuri kotoran pada namamu. Dengan menyuguhkan arak kepada dua orang muda ini, kalian hanya hendak menghormati? Ha-ha-ha, anak kecil seperti anakmu inipun sudah dapat mengerti maksud-maksud jahat adik dan binimu!"
Lee Ing marah bukan main. Ia menyambar cawan itu dan sekali tangannya, bergerak, isinya telah muncrat menyerang muka tiga orang keluarga Ciong. Hanya Ciong Thai yang dapal mengelak, sedangkan Giam Loan dan Ciong Sek yang tadi merasa terkejut dan takut, merasa muka mereka ditusuk-tusuk jarum ketika tetesan-tetesan arak itu nengenai kulit muka.
Mereka bertiga terkejut dan seperti mendapat komando, mereka melompat dan melarikan diri dari pintu belakang. Menghadapi seorang Bu Kam Ki atau seorang Souw Lee Ing saja mereka takkan menang. apa lagi kalau kakek dan gadis ini maju bersama! Lee Ing hendak mengejar, akan tetapi Bu Kam Ki mencegah.
"Tak perlu dikejar, nona. Merekapun akan mampus dalam tiga hari lagi oleh pukulanku kemarin dulu. Obat yang dibawa dan diminum mereka tadi hanya bubuk gandum yang tidak ada artinya. Aku sudah dapat menduga bahwa mereka akan berlaku khianat maka aku sengaja diam-diam datang pula ke sini."
"Jadi tadipun kau orang tua yang memberi petunjuk jalan dengan nyala api?" tanya Lee Ing sambil tersenyum.
"Kau cerdik, lebih cerdik dari pada Liem-sicu ini." Kakek itu tertawa bergelak.
"Bu-locianpwe, saya melakukan kewajiban dengan sungguh hati, datang menghadap locianpwe dengan penuh kejujuran hati, mengapa locianpwe menipu saya dengan memberikan obal palsu?" Han Sin memprotes dengan kening berkerut. Pemuda ini wataknya gagah dan jujur, tentu saja tidak suka akan segala perbuatan yang tidak terus terang dan segala macam tipu-tipuan.
"Orang muda, hatimu terlalu baik, karenanya kadang-kadang lemah. Terhadap orang orang macam mereka, bagaimana kau suka memberi obat? Kecuali kalau mereka mau memenuhi syaratku. Sekarang, tinggal kau yang memenuhi janjimu untuk datang ke rumahku dan memenuhi permintaanku."
"Yang locianpwe maksudkan, datang ke rumah locianpwe?"
"Tentu, apa kau sudah melupakan janjimu?"
Han Sin diam saja, melirik ke arah Lee Ing. Bagi dia sendiri, tentu saja ia tidak menaruh keberatan untuk mengunjungi rumah kakek itu, apa lagi dia memang sudah berjanji hendak mengunjunginya. Akan tetapi mengajak Lee Ing sekali lagi keluyuran melalui hutan di tengah malam, benar-benar membuat hatinya tidak enak sekali.
"Kakek tua, kau cerewet benar, bawel seperti nenek-nenek!" Lee Ing mencela, hatinya mendongkol. "Masa sudah malam lagi gelap kau menyuruh kami melalui hutan belukar itu? Biarpun rumahmu tidak berapa jauh, setidaknya pada tengah malam baru akan sampai di sana. Kalau kau ada perlu dengan Liem-twako, katakan saja di sini apa sih salahnya?"
"Kau ini masih ada hubungan apakah dengan orang muda ini maka turut-turut mencampuri urusan?" Kakek Bu itu membentak tak senang.
Ditegur begini, muka Lee Ing menjadi merah dan ia gelagapan, tak tahu bagaimana harus menjawab. Memang kalau dipikir-pikir, ia sih tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Liem Han Sin kecuali sebagai teman seperjalanan! Melihat keadaan gadis ini serba salah dan gelagapan, Han Sin cepat menjawab pertanyaan ini.
"Bu-locianpwe, nona Souw hanyalah teman baik dan penolongku, tidak ada hubungan apa-apa. Akan tetapi karena nona Souw sudah banyak menolongku, tidak berani aku membikin dia repot lagi. Maka yang diusulkannya tadi memang betul, harap locianpwe suka menyampaikan di sini saja apa yang dapat saya lakukan untuk locianpwe."
Bu Kam Ki adalah seorang tokoh kang-ouw yang berwatak aneh, juga ia terlalu perduli akan aturan-aturan yang mengikat kebebasan seseorang. Oleh karena itu, iapun tidak ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk menyampaikan niatnya dengan kata-kata.
"Liem Han Sin, kau murid Im-Yang Thian-Cu dan anggauta Tiong-gi pai, benar amat cocok dengan keluargaku. Oleh karena itu, mengingat akan pengutaraanmu tadi bahwa kau belum beristeri dan belum bertunangan, maka aku mengambil keputusan untuk menarik kau sebagai jodoh anak perempuanku. Bu Lee Siang."
Saking kaget dan bingungnya mendengar usul yang sama sekali tidak disangkanya ini, Han Sin sampai berdiri bengong tak dapat menjawab, hanya memandang bengong kepada kakek itu.
Tiba-tiba Lee Ing tertawa cekikikan, menutupi mulutnya dengan tangan akan tetapi tetap saja suara ketawanya membanjir keluar tak dapat dicegah lagi. Han Sin menoleh dan kini memandang kepada Lee Ing, tidak bengong lagi melainkan penuh permohonan tolong dalam pandang matanya. Juga Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki menoleh dan memandang kepada gadis itu, akan tetapi dengan pandang mata marah.
"Hi-hi-hi, sudah kuduga... sudah kuduga...!" kata Lee Ing menahan ketawanya sambil memandang pemuda itu.
"Apa yang kau duga? Apa yang kau ketawai?" Bu Kam Ki membentak marah kepada Lee Ing.
Sejak tadi Lee Ing selalu bersikap dan bicara kasar kepadanya, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar dunia kang-ouw, ia sudah biasa dengan sikap yang aneh-aneh, maka ia tidak mengambil perduli. Akan tetapi sekarang, ia berada dalam keadaan sungguh-sungguh dan ia merasa tidak senang kalau ada orang mentertawainya.
Kalau Bu Kam Ki tidak mengerti mengapa gadis itu tertawa. adalah Han Sin yang sekarang teringat akan kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu di dalam hutan, dalam gelap-gulita tadi tentang gadis dan janda kembang!
Memang benar gadis ini telah dapat menduga bahwa Bu Kam Ki tentu akan minta dia menerima pinangannya menjadi jodoh anaknya, gadis yang belum menikah akan tetapi sudah janda kembang itu karena ditinggal mati oleh tunangannya. Bagaimana Lee Ing bisa tahu? Benar-benar ajaib sekali gadis pujaannya, gadis yang sekaligus merampas hatinya, yang tiada keduanya di dunia ini.
Kawin dengan puteri Bu Kam Ki? Tidak, biarpun dengan seorang bidadari dari kahyangan sekali, ia tak mau menikah setelah dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang dara seperti Lee Ing! Bukankah tadi di dalam gelap ia telah bersumpah akan bersetia sampai mati kepada Lee Ing? Bagai mana dia bisa menikah dengan orang lain?
"Maaf, Bu-lecianpwe. Bukannya saya tidak menghargai budi kecintaan dan kepercayaan locianpwe kepada saya, akan tetapi tentang perjodohan..."
Angin malam yang menerobos masuk dari jendela membuat lilin-lilin di dalam ruangan itu bergerak-gerak apinya sehingga wajah Bu Kam Ki sukar dilihat, tertutup bayangan yang bergerak-gerak. Akan tetapi mendengar suaranya mudah diduga bahwa ia marah sekali. Tadi ia sudah marah karena merasa ditertawai oleh Lee Ing, sebelum ia mendapat jawaban dari Lee Ing tentang apa yang diketawainya. sekarang Han Sin secara terang-terangan menolak mentah-mentah pinangannya!
"Ingat janjimu, orang muda..."
"Saya masih ingat baik-baik locianpwe. Saya bersedia memenuhi permintaan locianpwe untuk urusan yang dapat saya lakukan, bukankah demikian? Dan perkara perjodohan, betul-betul saya tidak sanggup melakukan. Kalau urusan lain yang locianpwe minta, biar kerja keras dan jalan jauh kiranya masih akan dapat saya lakukan."
"Jangan plintat-plintut bicara di hadapanku, tahu? Bukankah tadi kau bilang bahwa kau belum punya isteri atau tunangan, berarti kau masih bebas? Sekarang, aku hendak menjodohkan kau dengan anakku, apa halangannya maka kau menolak? Hayo katakan apakah anakku kurang cantik? Kurang pandai?" Benar-benar kakek itu sudah marah.
Mendengar ucapan ini, kembali Lee Ing tertawa kecil. Sekali lagi naik darah dalam kepala Bu Kam Ki. Kalau gadis itu tertawa di saat lain, masih tidak mengapa, akan tetapi pada saat itu benar-benar suara ketawa ini merupakan minyak bakar dalam api menyala.
"Kau ketawa lagi ada apakah, monyet betina?"
"Lutung tua... ketawa atau menangis tidak dikenakan pajak, siapa melarang? Kau yang ditolak pinanganmu boleh menangis sepuasmu, aku yang melihat kelucuan ini boleh ketawa sesukaku, kau mau apa? Orang lain yang menolak pinanganmu kok kau marah-marah kepadaku, apa kau sudah sinting?"
"Bocah sinting! Apa kau tidak tahu bicara dengan siapa, berani kurang ajar seperti itu?" Bu Kam Ki melangkah maju, kedua lengannya sudah gemetar karena ia menahan-nahan nafsunya hendak memukul. Kalau tidak ingat bahwa Lee Ing hanya seorang gadis muda yang sebaya dengan anaknya, tentu tadi-tadi ia sudah menjatuhkan tangan besi.
"Tua bangka!" Suara Lee Ing sekarang juga terdengar sungguh-sungguh dan ketus sekali. "Aku bicara dengan Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, seorang tua bangka yang mengaku-aku sebagai bekas pahlawan, bekas patriot bangsa pembela rakyat yang gagah perkasa dan budiman, akan tetapi ternyata setelah tua menjadi seorang yang tak tahu malu, mengandalkan kepandaian untuk menindas orang lain dan tidak saja menjatuhkan tangan maut kepada keluarga Ciong yang belum diketahui kesalahannya, akan tetapi juga memaksa seorang pemuda menjadi mantunya. Cih, tak tahu malu betul!"
Kemarahan hati Bu Kam Ki tak dapat ditahannya lagi. Kalau yang memakinya itu seorang yang sederajat atau setingkat, kiranya ia yang biasanya berwatak jujur tentu akan mempertimbangkan ucapan itu. Akan tetapi yang menegur dan memakinya sekarang hanya seorang gadis muda, ini penghinaan sebesar-besarnya!
"Bocah tak tahu aturan, kau agaknya sudah bosan hidup!" Bu Kam Ki melompat maju hendak menyerang.
"Jangan, Bu locianpwe.....!" Han Sin juga melompat, menghadang dan mencegah kakek itu turun tangan.
"Mengapa pula kau menahanku? Dia apamu?"
"Bu.... bukan apa apa, dia... dia penolongku."
"Kalau begitu minggir! Dia boleh menolongmu, akan tetapi telah menghinaku!" Secepat kilat Bu Kam Ki menerobos ke samping tubuh Han Sin, menerjang Lee Ing. Akan tetapi gadis itu sudah melompat mundur mencari tempat lega karena tempatnya tadi di dekat meja, sempit sekali.
"Jangan, locianpwe...!" Han Sin mencegah lagi. "Kau akan kalah...!" Pemuda ini yang sudah menyaksikan kepandaian Lee Ing, tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa gadis sakti ini tentu akan menang kalau sampai terjadi pertempuran, sungguhpun ia juga sudah dapat menduga akan kelihaian kakek ini. Kata-kata terakhir ini begitu saja terloncat dari mulutnya seperti ketika Lee Ing hendak bertanding melawan Ciong Thai. Di dalam hatinya sudah terdapat kepercayaan penuh bahwa gadis pujaannya ini memiliki kesaktian seperti Kwan Im Posat dan karenanya tidak terkalahkan!
Mendengar ini, mana Bu Kain Ki mau percaya? Ia mengeluarkan suara ketawa dingin, lalu menerjang terus sambil memukul dengan Pek-kong-siu-ciang. Diterangi cahaya api lilin, pukulan itu mendatangkan sinar putih yang menyilaukan ketika tangan itu meluncur seperti kilat menyambar ke arah tubuh Lee Ing. Biarpun mewarisi kepandaian sangat tinggi.
Lee Ing hanya seorang gadis muda yang belum banyak pengalaman. Apa lagi dia masih muda, darahnya masih panas dan keberaniannya berlebih-lebihan sampai ia kurang berhati-hati. Biarpun dari nama julukan kakek ini ia dapat menduga bahwa lawannya adalah ahli dalam ilmu Iweekang dan memiliki ilmu pukulan yang berbahaya.
Namun menghadapi pukulan Pek-kong-sin-ciang ini ia tidak menjadi gentar sama sekali, malah iapun menggerakkan tangan kanan mendorong ke arah pukulan lawannya itu, sedangkan tangan kirinya dibengkokkan dengan aneh ke atas seperti bukan gerakan ilmu silat. Padahal menurut ilmu silat yang ia pelajari dari Gua Siluman, gerakan ini adalah gerakan serangan yang amat lihai, disebut Si Gila Memuja Bulan!
"Werrr! Werrr!" Dua macam hawa pukulan dari dua orang itu menyambar dan saling bertemu dengan kekuatan yang dahsyat sekali. Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki melongo setelah ia dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan keseimbangan tubuhnya yang menjadi terguncang oleh pertemuan tenaga yang hebat.
Sebagai seorang kangouw yang ulung dan sudah banyak sekali pengalamannya, tentu saja sudah pernah ia bertemu dengan lawan tangguh, akan tetapi selama hidupnya baru sekali inilah ia bertemu dengan seorang gadis muda sebaya anaknya yang tidak saja dapat menahan pukulan jarak jauhnya Pek-kong-sin-ciang. malah dapat membuat kedudukan kakinya terguncang!
Dan yang terutama sekali membuat ia melongo adalah melihat gerakan pukulan gadis itu yang amat aneh dan lucu, selama hidupnya belum pernah ia menyaksikannya. Inilah yang hebat dan membuatnya tercengang, oleh karena Bu Kam Ki adalah seorang tokoh di dunia persilatan serba bisa.
Semenjak mudanya kakek ini tiada hentinya mempelajari ilmu silat maka boleh dibilang segala macam ilmu silat dan cabang yang manapun juga ia mahir, atau sedikitnya tentu ia dapat mengenalnya. Akan tetapi ilmu pukulan yang diperlihatkan gadis tadi, dengan tangan kiri membengkok aneh ke atas, benar benar belum pernah ia melihatnya.
"Hemmm, kau boleh juga. Siapa namamu?"
"Namaku souw Lee Ing, kau kakek tua tanya-tanya nama ada apa sih?"
"Hush, kurang ajar kau! Apa kau kira dengan sedikit kepandaianmu kau bisa membikin aku takut? Lihat serangan!"
Kembali Bu Kam Ki menyerang, karena penasaran kini ia melakukan pukulan-pukulan berat, berganti-ganti dari jarak jauh dan dekat sehingga angin menyambar-nyambar dan terputar-putar ke arah gadis itu. Setidaknya jauh lebih lihai dari pada tokoh-tokoh seperti Mo Hun atau Kui Ek kalau tak boleh dibilang setingkat dengan kepandaian Tok-ong Kai Song Cinjin. Pukulan Pek-kong-sin-ciang benar-benar mengandung angin pukulan yang dahsyat.
Kalau di fihak Lee Ing kagum, di fihak Bu Kam Ki tak dapat dilukiskan lagi kekagetannya ketika melihat gadis itupun membuat beberapa gerakan aneh, terhuyung-huyung dan meloncat ke sana ke mari sambil menggerakkan kedua tangannya dengan kacau-balau. Akan tetapi dari sepasang lengan gadis itu menyambar hawa pukulan yang demikian hebat sehingga semua pukulan, baik dari jarak jauh maupun jarak dekat, terpental kembali!
Lima pukulannya yang dilepas secara bertubi-tubi seperti menubruk benteng baja dan terpental kembali Inilah hebat! Orang yang dapat menghadapi pukulan-pukulannya tadi seperti yang dilakukan oleh gadis ini, demikian mudah dan sederhana, kiranya jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan.
"Lihai juga! Bocah, kau murid siapakah?" tanya Bu Kam Ki dengan muka berobah merah karena pertanyaannya ini merupakan pengakuan bahwa ia tidak dapat mengenal permainan silat gadis itu...