Seruling Gading Jilid 18

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 18

"YA, hanya begitulah."
"Hemm, sama!"

Parmadi mengerutkan alisnya. Seorang pendengar cerita yang sama sekali tidak menyenangkan hati yang bercerita, celanya dalam hati. "Sama apanya lagi?" dia bertanya, agak ketus.

"Sama tidak menariknya dengan cerita tentang aku."

"Aku tidak percaya. Cerita tentang dirimu pasti menarik hati sekali. Hayo ceritakanlah, kini tiba giliranmu."

"Baik, dengarlah. Namaku kau sudah tahu. Usiaku sampai hari ini delapan belas tahun."

"Aku lebih tua lima tahun. Usiaku dua puluh tiga tahun!"

"Sejak usia sepuluh tahun aku ditinggal mati ayah ibuku. Aku lalu hidup bersama kakekku yang bernama Kyai Jayawijaya. Kakek juga menjadi guruku dan kami tinggal di Puncak Gunung Wilis sampai tiga bulan yang lalu. Kakek mengajak aku turun gunung dan tinggal di tepi bengawan ini sampai sekarang. Hari ini aku bermain-main di sini, melihat perahumu dibawa pusaran air, kulemparkan pengait dan kutarik ke tepi. Kau usir setan di randu alas dan kuusir buaya putih lalu kita duduk di sini bercakap-cakap..."

"Wah, ceritamu benar-benar kering!" Parmadi mencela.

"Apalagi cerita tentang dirimu! Kering kerontang!" balas Ayu.

"Mending mendengar cerita tentang Srikandi, seperti Srikandi Belajar Memanah, Srikandi Mengejar Maling, dan sebagainya."

"Cerita tentang Raden Permadi lebih bagus lagi, seperti Permadi Merebut Puteri, Permadi Merampas Isteri Palgunadi dan lain-lain."

"Akan tetapi Permadi kan laki-laki gagah perkasa, satria utama arif bijaksana!" Parmadi membela tokoh yang namanya mirip dengan namanya sendiri itu.

"Srikandi juga wanita gagah perkasa, tidak gentar melawan siapa saja, termasuk laki-laki yang sombong dan mau menang sendiri, seperti engkau misalnya!"

Parmadi terbelalak dan melompat turun dari atas batu, berdiri tegak memandang gadis itu. "Apa maksudmu? Engkau... engkau menantang aku?" tanyanya penasaran karena ucapan dan suara gadis itu terdengar semakin menggatalkan kepala dan memanaskan telinga.

Ayu juga melompat turun dan berdiri berhadapan dengan pemuda itu, sikapnya menantang. "Aku tidak menantang siapapun, akan tetapi kalau dianggap menantang, jangan dikira aku takut!"

Parmadi tertarik. Gadis ini sungguh luar biasa. Hatinya sekeras baja, kepalanya sekeras besi. Timbul keinginan hatinya untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu kanuragan yang dimiliki gadis ini. "Baiklah. Engkau tidak takut, akupun tidak takut. Memang perkenalan tanpa pertandingan terasa hambar. Mengenal keadaan masing-masing termasuk kedigdayaannya, itu baru mematangkan perkenalan. Mari, mari kita saling menguji sampai dimana kemampuan kita masing masing," kata Parmadi.

"Baik! Aku sudah siap!" kata Ayu Puspa dan ia sudah membuat gerakan pembukaan yang indah dan gagah sekali. Tubuhnya miring, kedua kaki ditekuk lututnya, tangan kiri diangkat keatas punda dengan jari-jari terbuka melengkung, tangan kanan menyilang pusar dengan jari-jari terbuka pula. "Mulailah!"

"Aku juga sudah siap. Mulailah lebih dulu!" kata Parmadi.
"Kau dulu!" bentak Ayu.
"Kau dulu!" kata Parmadi.
"Tidak, kau dulu!" Ayu berkukuh.

Hemm, bocah ini, segalanya tak mau kalah, pikir Parmadi. "Baik, kau sambutlah seranganku ini!" Dia lalu melangkah maju, tangan kirinya menampar ke arah pundak kanan Ayu.

Gadis itu dengan gerakan ringan dan gesit sekali sudah mengelak dengan merendahkan tubuh dan menggeser kaki kesamping, lalu dari samping kakinya yang mungil mencuat, menyambar sebagai tendangan kilat ke arah lambung Parmadi. Parmadi dapat pula mengelak dengan kagum karena tendangan itu merupakan serangan balasan yang tepat, kuat dan cepat sekali. Dia lalu membalas lagi dengan pukulan bertubi, menggunakan kedua tangannya, yang kanan menampar ke arah leher, yang kiri mencengkeram ke arah pundak. Serangan ini juga cepat dan gerakannya mendatangkan angin tanda bahwa serangan didukung tenaga kuat.

Namun kembali Ayu memperlihatkan kelincahannya. Ia dapat menghindarkan diri dari dua serangan itu dengan gerakan tubuhnya yang lentur, mengelak dengan indah sekaligus mencari posisi yang tepat untuk melancarkan serangan balasan berupa tonjokan dengan tangan kanan terkepal kearah ulu hati lawan sedangkan kembali kakinya menyusulkan tendangan yang cepat dan kuat sekali, yang dituju lutut lawan yang kalau mengenai sasaran dengan tepat tentu dapat membuat sambungan tulang terkilir.

Parmadi sekali ini tidak mengelak Dia ingin mengukur kekuatan gadis itu maka dia sengaja menangkis pukulan ke arah dadanya dan menangkis pula tendangan itu dengan kakinya yang bergerak dari samping. Tentu saja dia membatasi tenaganya, karena dia tidak ingin membuat gadis itu malu, apalagi sampai cidera.

"Plakk! Dukkk...!!" Parmadi merasaka betapa tenaga sakti gadis itu cukup kuat dan diam-diam dia merasa kagum. Gadis ini, baik kecepatan, tenaga maupun keindahan permainan silatnya, jauh berada di atas kemampuan Muryani ketika dia meninggalkan Muryani kurang lebih enam tahun yang lalu! Di lain pihak, Ayu Puspa menggigit bibir bawahnya. Tangkisan pada tangan kanannya hanya membuat tangan itu terpental, akan tetapi ketika kakinya bertemu dengan kaki Parmadi beradu tulang betis, ia merasa tulang betisnya nyeri, kiut-miut rasanya seperti tulang betisnya itu bertemu dengan besi! Ia menjadi penasaran dan marah.

"Heeiiiiittt!!" Ia menyerang dan kini agaknya ia mempergunakan aji pukulan yang mengandung hawa sakti sepenuhnya sehingga angin yang dahsyat mendahului pukulan itu menerpa ke arah perut Parmadi! Parmadi kini melawan dengan Aji Sunya Hasta (Tangan Kosong) dan ke manapun lawan menyerang, secara otomatis tangannya sudah menyambut dengan sentuhan lembut, bukan tangkisan yang menggunakan tenaga keras melawan keras. Ayu Puspa terkejut bukan main, terkejut dan heran. Semua pukulannya bertemu dengan tangan Parmadi seperti bertemu dengan kapas yang lembut, atau lebih tepat seperti bertemu dengan air saja. Pukulannya itu "tenggelam" dan kehilangan tenaganya!

Namun, dasar ia seorang gadis yang berhati baja, ia semakin penasaran dan menyerang terus sehingga kalau ada orang biasa menonton pertandingan itu, tentu akan mengira bahwa ia yang mendesak lawan, karena ia yang terus-terusan menyerang. "Hua-ha-ha-ha! Kalau sudah kalah maju terus, itu namanya nekat tapi bodoh! Ayu, mundurlah, orang ini bukan lawanmu, lebih pantas melawan aku!"

Mendengar ucapan itu, Ayu Puspa melompat ke belakang dan wajahnya berubah kemerahan. Tadinya ia masih penasaran, akan tetapi setelah mendengar ucapan kakeknya ini, barulah ia sadar betul bahwa ia benar-benar bukan tandingan Parmadi dan bahwa sejak tadi pemuda itu selalu mengalah.

Sementara itu, Parmadi memandang kakek itu dengan kagum. Seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh lima tahun, bertubuh sedang, berwajah bersih tampan tanpa kumis atau jenggot, dan wajah itu tampak menarik karena cerah dan gembira sekali, penuh senyum. "Orang muda, mari kita main-main sebentar. Sambut seranganku ini!" Orang tua itu menerjang ke depan, tangan kirinya menampar dan Parmadi merasa betapa ada angin yang amat dahsyat menyambar ke arahnya.

Dia maklum bahwa penyerangnya seorang yang sakti dan agaknya inilah kakek Ayu yang diceritakannya tadi. Diapun cepat memainkan Aji Sunya Hasta dengan pengerahan kekuatan yang lebih besar. "Plak-plak-plak...!" Tiga pukulan berlurut-turut kakek itu ditangkisnya dengan telapak tangan dan kakek itu terkejut bukan main ketika merasa betapa serangannya seperti bertemu air ketika ditangkis tangan pemuda itu.

Dia mundur empat langkah, lalu berseru, "Orang muda, kau sambutlah ini!" dan diapun mendorongkan kedua tangannya yang terbuka ke depan. Parmadi maklum bahwa kakek itu menyerangnya dengan pukulan jarak jauh, mengandalkan tenaga sakti yang menyambar kearahnya dengan amat kuat. Diapun mendorongkan kedua tangan menyambut tentu saja dengan membatasi tenaga dan hanya menggunakan tenaga untuk bertahan, bukan menyerang karena sama sekali dia tidak ingin mencelakai kakek yang dia tahu hanya ingin mengujinya itu.

"Wuuuttt... desss!!" Kakek itu mengeluarkan suara tawa kaget ketika dia terhuyung kebelakang, terdorong oleh tenaga yang lembut namun kuat bukan main.

"Lhadalah...! Aku berani bertaruh bahwa andika tentu keturunan dari Sang Resi Tejo Wening!" kata kakek itu sambil membelalakkan matanya.

"Benar, eyang (kakek)! Kakang Parmadi ini murid Resi Tejo Wening!" kata Ayu Puspa.

"Apa?" Kakek itu terbelalak memandang kepada Parmadi. "Namanya Permadi? Raden Janoko atau Arjuna?"

Parmadi mau tidak mau tersenyum, Kakek dan cucunya ini sama saja, seperti tidak bisa serius. "Bukan, paman. Nama saya Parmadi dan bagaimana paman dapat menduga bahwa saya mempunyai hubungan dengan Eyang Resi Tejo Wening?

"Ha-ha, mudah saja. Siapa lagi kalau bukan Kakang Resi Tejo Wening yang mampu menurunkan kesaktian seperti itu kepadamu?"

"Kalau begitu, paman..."

"Hei, Kakang Parmadi! Apa kaukira engkau ini sudah tua betul? Usiamu hanya berselisih lima tahun dariku. Sepantasnya engkau menyebut eyang kepada kukekku!" tiba-tiba Ayu memotong. Parmadi menjadi bingung dan salah tingkah.

"Ha-ha!" kakek itu tertawa. "Ayu benar, lebih menyenangkan hatinya kalau andika menyebut eyang padaku."

"Kalau engkau menyebut paman kepada kakekku, akupun akan menyebut pakde (uwa) padamu!" kata lagi Ayu.

Parmadi tersenyum. "Baiklah, aku akan menyebut eyang kepada kakekmu. Eyang, kalau begitu eyang tentu telah mengenal guru saya."

"Mengenal Kakang Resi Tejo Wening? Ha-ha-ha, dia itu penolongku, dan gurumu yang membuka mataku melihat kenyataan dunia dan kehidupan. Kalau aku tidak bertemu dia, tentu aku masih terus berlomba dengan semua orang untuk mengejar kesenangan melalui kedudukan, harta, dan wanita. Dialah yang menganjurkan agar aku meninggalkan semua kesia-siaan itu dan mengasingkan diri di puncak Gunung Wilis. Dia itu boleh dibilang guruku, Parmadi, guru olah batin. Akan tetapi, yang mengherankan hatiku, mengapa kalian tadi berkelahi? Ayu, kenapa tadi engkau bertanding melawan Parmadi?"

Ayu cemberut dan mengerling ke arah Parmadi. "Habis dia sih...!" katanya manja, bibirnya cemberut akan tetapi malah menjadi manis.

"Maaf, eyang. Ayu... ia tadi menantang, terpaksa saya layani bertanding."

"Bohong! Tidak, eyang. Dia yang menantang. Malah katanya, perkenalan tanpa bertanding rasanya hambar. Memangnya aku takut?"

"Ha-ha-ha-ha! Maklumlah, Parmadi. Ayu memang begitu, kepala batu, hatinya keras, tukang membantah dan berdebat, seperti aku dulu! Ha-ha-ha, seperti aku dulu. Akan tetapi hatinya tidak seperti aku, hatinya baik sekali."

"Saya tahu, eyang, dan saya kagum dan senang sekali melihat Ayu yang terbuka, jujur, polos, biarpun berwatak keras, namun hatinya selembut kapas dan baik sekali. Ia bijaksana dan gagah. Tadipun ketika perahu saya terbawa pusaran air, Ayu yang menolong saya dengan mengait perahu saya dan menariknya dari seretan pusaran air."

"Ha-ha-ha, sudah beberapa kali cucuku ini menyelamatkan tukang perahu yang terancam bahaya di Kedung Srengeng juga dengan cara yang sama."

"Akan tetapi sekali ini aku kecelik eyang. Kakang Parmadi mempermainkan aku. Tidak tahunya dia seorang yang sakti mandraguna, kalau dia kehendaki, tentu dapat lolos dari pusaran air. Ketahuilah, eyang. Tadi dengan suara sulingnya, eh... dia dijuluki Seruling Gading, eyang. Dengan seruling gadingnya itu dia memainkan lagu aneh dan setan penghuni randu alas itu diusirnya. Sebelum minggat setan itu menumbangkan pohon randu alas itu, hampir saja menimpa Kakang Parmadi. Dan muncul buaya putih raksasa. Aku melukai matanya dengan patremku dan buaya putih itu lari ke air dan lihat sekarang pusaran air itu kecil dan lemah saja, tidak ada bahaya lagi mengancam tukang perahu yang lewat Kedung Srengeng."

Parmadi dengan heran melihat kakek itu tampak terkejut bukan main. Mata kakek itu terbelalak lebar dan wajahnya yang selalu cerah gembira itu tampak hawatir. "Apa katamu? Benarkah itu, Parmadi, bahwa andika telah mengusir penunggu kedung yang berada di dalam randu alas, dan Ayu telah melukai mata seekor buaya putih raksasa?"

"Eyang, buaya itu kebal sekali. Serangan patremku tidak mampu menembus kulitnya. Untung Kakang Parmadi mengigatkan aku agar menyerang matanya dan aku berhasil melukai matanya sehingga dia melarikan diri kesungai," kata Ayu.

"Benar apa yang dikatakan Ayu, eyang. Melihat bahwa randu alas ini ada penghuninya yang suka mengganggu orang, maka terpaksa saya menggunakan suara seruling gading untuk mengusirnya. Kemudian muncul buaya putih raksasa itu dan Ayu segera menandinginya dengan gagah berani."

"Aduh celaka! Celaka sekali ini!" Kakek itu mengeluh dan mengangkat kedua tangan ke atas.

"Eh, eyang ini kenapakah? Apanya yang celaka? Bukan kita, melainkan setan penghuni randu alas dan buaya putih sialan itu yang celaka!" kata Ayu Puspa

"Eyang, ada apakah? Harap eyang suka menjelaskan, mengapa eyang merasa khawatir?" tanya pula Parmadi dengan heran. Kakek itu seorang sakti mandraguna, kenapa tampak demikian ketakutan?

"Oh, kalian tidak tahu. Akupun baru saja mendengar dan belum sempat menceritakan kepada Ayu. Lihat di sana itu!" Dia menuding ke arah pohon randu alas. Di dekat batang pohon yang tinggal beberapa jengkal tingginya karena tumbang tadi tampak tumpukan abu meninggi dan ada pula beberapa buah anglo kecil yang biasa dipergunakan orang untuk kutu (membakar kemenyan). Juga terdapat tumpukan bunga-bunga yang telah membusuk. Jelas bahwa tempat itu dikeramatkan orang dan dipuja-puja dengan kembang-menyan.

Melihat ini, Parmadi tersenyum. Sulit dipercaya bahwa kakek yang sakti mandraguna ini, bahkan pernah mendapat bimbingan dalam hal olah batin dari Resi Tejo Wening, menjadi seorang yang takhyul dan takut kepada segala macam roh jahat! "Hal itu sudah biasa, eyang. Justeru karena dikeramatkan orang dan dipuja-puja, dikutuki, maka roh jahat yang menghuni pohon randu alas itu menjadi semakin kuat. Tentu para penduduk dusun yang melakukannya."

Kyai Jayawijaya menggeleng kepalanya kuat-kuat. "Bukan, bukan para penduduk dusun, akan tetapi sebuah perkumpulan gerombolan yang berbahaya. Tadinya aku mendengar dari penduduk dekat sini bahwa ada segerombolan orang aneh yang sering melakukan pemujaan dibawah pohon randu alas, terutama pada malam Jumat dan Selasa Kliwon. Karena kabarnya pernah ada lima orang penduduk dusun yang berani mengintai gerombolan itu ditemukan tewas di sini dan tubuh mereka luka-luka seperti diserang binatang buas, maka aku menjadi penasaran dan melakukan penyelidikan sendiri. Ketika aku mengintai dan melakukan penyelidikan, aku mendapat kenyataan bahwa mereka adalah gerombolan yang menamakan diri mereka Warga Bajul Petak (Warga Buaya Putih) dan mereka menyembah buaya putih dan randu alas yang tumbuh di sini. Mereka mempraktekkan ilmu-ilmu hitam yang amat berbahaya dan jumlah merekapun tidak kurang dari lima puluh orang, dipimpin ketua mereka yang bernama Bajul Sengoro yang kabarnya sakti mandraguna dan ahli sihir dan ilmu hitam yang berbahaya. Menurut penyelidikanku, gerombolan itu suka berkeliaran di sepanjang Bengawan Solo, akan tetapi sarang mereka adalah di daerah Pegunungan Kendeng tak jauh dari Randu Blatung. Sekarang, Parmadi telah membikin randu alas tempat pemujaan mereka itu tumbang, bahkan Ayu telah melukai mata buaya putih raksasa. Hal ini pasti, akan menimbulkan akibat. Warga Bajul Petak pasti tidak akan tinggal diam saja tempat pujaan mereka dirusak dan bahkan makhluk pujaan mereka dilukai."

"Aih, eyang ini. Begitu saja mengapa hawatir? Kalau memang mereka datang hendak membalas dendam, di sini ada kita bertiga yang akan menghancurkan para pemuja setan dan iblis itu!" kata Ayu dengan sikap gagah.

"Benar, eyang. Penunggu randu alas dan buaya putih itu jelas tidak benar. Mereka mengganggu orang-orang berperahu yang lewat di sini maka sudah sepatutnya kalau mereka itu ditentang dan diusir dari tempat ini. Kalau ada perkumpulan gerombolan pemuja randu alas dan buaya putih hendak menuntut balas, berarti mereka itu jahat pula dan saya siap membantu eyang untuk menghadapi mereka," kata Parmadi dengan tenang.

Kyai Jayawijaya yang biasanya selalu tersenyum gembira itu kini memaksa diri tersenyum, walaupun sinar matanya masih membayangkan kegelisahan hati. "Parmadi dan Ayu, ketahuilah bahwa yang tua ini sama sekali tidak merasa takut dan khawatir. Aku percaya bahwa kita akan mampu menghadapi tantangan dari manapun datangnya, apalagi ada Parmadi di sini. Akan tetapi bukan itu yang kukhawatirkan. Aku teringat akan nasihat Kakang Resi Tejo Wening. Beliau yang mengajarku mendapatkan ketenangan hidup sehingga aku mengasingkan diri selama lima tahun di Puncak Gunung Wilis lalu pindah ketempat sunyi di Lembah Bengawan Solo ini. Semata-mata untuk menikmati kedamaian dan menjauhkan diri dari permusuhan yang pernah kulakukan dulu sebagai jagoan. Siapa kira, hari ini aku malah menyebar bibit permusuhan dengan Warga Bajul Petak yang banyak jumlahnya. Apakah aku harus terpaksa mengandalkan kedigdayaan lagi dan membunuh banyak orang? Ah... mengerikan sekali!"

"Maaf, eyang, kalau perbuatan saya dan Ayu membuat eyang berduka karena merasa terpaksa bermusuhan dengan Warga Bajul Petak yang hendak membalas dendam. Akan tetapi saya juga memenuhi ajaran eyang guru Resi Tejo Wening ketika saya menumbangkan randu alas dan ketika kami melawan buaya putih, hal itu kami lakukan bukan semata-mata karena kami membenci mereka. Akan tetapi karena jelas bahwa penghuni randu alas dan buaya putih itu suka menganggu orang berperahu yang lewat di sini. Yang kami tentang adalah perbuatan mereka yang jahat bukan karena membenci orangya. Demikian pula, kalau gerombolan Warga Bajul Petak itu datang menyerang kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang mereka. Tugas kita adalah menundukkan mereka dan sedapat mungkin menyadarkan mereka dari perbuatan mereka yang jahat. Demikianlah satu di antara pelajaran yang saya terima dari eyang guru Resi Tejo Wening."

"Andika benar, Parmadi," kata kakek itu sambil mengangguk-angguk dan kini wajahnya menjadi cerah kembali.

"Awas...!!" tiba-tiba Ayu Puspa menjerit. Kyai Jayawijaya dan Parmadi juga telah melihat luncuran beberapa buah benda hitam kearah mereka. Tiga orang ini cepat melompat jauh berlindung ke belakang sekumpulan batu besar.

"Darr-darr-darr-darrr...!!" Asap mengepul tebal menyelimuti tempat itu. Alat peledak itu tidak mengenai tiga orang yang sudah berlindung di balik batu-batu besar. Setelah asap membubung ke atas dan keadaan disitu terang kembali, Kyai Jayawijaya, Parmadi dan Ayu Puspa melihat segerombolan orang yang jumlahnya kurang lebih dua puluh orang berada situ, bergerombol dekat pohon randu alas yang telah tumbang. Ayu Puspa memandang dengan mata terbelalak. Di antara dua puluh lebih orang yang berwajah bengis itu, terdapat empat "makhluk" aneh yang bertubuh manusia akan tetapi kepalanya kepala buaya!

Mata mereka mencorong dan moncongnya kadang bergerak terbuka memperlihatkan gigi-gigi runcing. Mereka semua berpakaian serba putih. Yang kepalanya kepala manusia biasa mengenakan pengikat kepala berupa kain putih pula dan di tangan mereka tampak senjata seperti golok, akan tetapi golok itu bergigi seperti ekor buaya! Mereka kini mendekati pohon randu alas yang telah tumbang, mengelilingi dan bicara dengan sikap marah.

Ayu tidak dapat menahan diri lagi. Ia melompat keluar dari balik batu dan membentak. "Hei, gerombolan pemuja setan dan iblis yang terkutuk! Tempat pemujaan kalian telah kami hancurkan. Iblis yang kalian puja sudah minggat! Kami nasihatkan agar kalian kembali ke jalan benar, baru kami akan mengampuni kalian!"

Parmadi dan Kyai Jayawijaya terpaksa berlompatan keluar karena gadis itu sudah memperlihatkan diri. Gerombolan orang-orang itu terkejut sekali dan semua memutar tubuh menengok dan menghadapi tiga orang itu. Seorang di antara mereka yang berkepala buaya itu tiba-tiba melemparkan tiga buah benda hitam sebesar kepalan tangan ke arah Parmadi, Ayu dan kakeknya. Maklum betapa bahayanya alat peledak yang dilemparkan itu, Ayu dan kakeknya cepat mengelak sehingga dua buah benda itu meluncur lewat. Akan tetapi Parmadi cepat menyambar dan menangkap benda itu dengan tangan kirinya lalu melemparkan kembali kepada penyerangnya.

Terdengar tiga kali ledakan, dua jauh dibelakang Ayu dan yang sebuah lagi meledak ditengah-tengah kumpulan gerombolan itu. Asap membubung tinggi dan tiga orang anggota gerombolan roboh! Gegerlah gerombolan itu. Mereka marah sekali. Didahului empat orang berkepala buaya itu, mereka segera menyerbu dan menyerang Parmadi, Ayu Puspa dan Kyai Jayawijaya, menggunakan golok bergigi mereka.

Gerakan mereka rata-rata tangkas dan bertenaga, terutama empat orang berkepala buaya itu. Agaknya mereka memandang rendah kepada Ayu yang hanya seorang gadis muda, maka empat orang berkepala buaya itu berpencar, dua orang mengeroyok Parmadi dan dua orang lagi mengeroyok Kyai Jayawijaya! Selain dikeroyok dua orang berkepala buaya, Parmadi dan kakek itu masih dikeroyok oleh banyak anak buah gerombolan yang rata-rata ganas. Sedangkan Ayu dikepung dan dikeroyok oleh delapan orang anak buah gerombolan yang wajah dan sepak terjangnya beringas dan menyeramkan!

Terjadilah perkelahian yang amat seru. Parmadi yang dikeroyok sembilan orang termasuk dua orang berkepala buaya, bergerak lincah dan dengan kedua tangan dia menangkisi golok-golok bergigi itu dan membagi tamparan dan tendangan yang merobohkan beberapa orang pengeroyok. Dia membatasi tenaganya karena tidak ingin melakukan pembunuhan. Demikian pula Kyai Jayawijaya. Kakek perkasa ini agaknya juga berpendapat sama dengan Parmadi. Dia merobohkan beberapa orang tanpa membunuh mereka. Dan ternyata kakek ini memang gagah perkasa. Hal ini tidaklah mengherankan karena sesungguhnya Kyai Jayawijaya mewarisi aji kesaktian peninggalan mendiang Sunan Kalijogo.

Tamparan tangan dan tendangan kakinya seperti geledek menyambar. Yang mengamuk hebat adalah Ayu Puspa. Gadis ini lain dengan kakeknya dan Parmadi. Ia marah melihat ulah gerombolan yang mengeroyoknya. Mereka tidak menggunakan golok, melainkan kedua tangan mereka seperti berebut hendak menangkapnya, dengan terkaman-terkaman yang tidak sopan. Agaknya mereka itu seperti berlomba untuk dapat mencengkeram dan mendekapnya dan mulut mereka menyeringai menjemukan. Maka Ayu mengerahkan tenaganya dan setiap kali kaki atau tangannya menyambar mengenai sasaran, tentu ada tulang patah dan orangnya roboh terpelanting.

Selagi ramai-ramainya pertempuran berlangsung, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi nyaring memekakkan telinga menggetarkan jantung. Kemudian berkelebat bayangan putih dan muncullah seorang berkepala buaya lain. Orang bertubuh tinggi besar, pakaiannya juga putih dan bukan hanya kepala buaya yang berkulit putih, akan tetapi kulit tangan dan kaki orang itupun putih, bahkan rambutnya juga putih agak kekuningan. Dia adalah seorang bule!

Gerakannya cepat bukan main. Tahu-tahu dia sudah melompat dekat Ayu yang masih sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang. Tangan kiri orang berkepala buaya yang bule itu menyambar ke arah muka Ayu. Jari-jari tangan itu besar dan telapak tangannya lebar. Ayu terkejut bukan main ketika tahu-tahu ada tangan lebar sudah mendekati mukanya. Ia mencium bau harum seperti cendana yang membuat kepalanya terasa pening. Cepat ia menggerakkan tangan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Wuuuttt... dukkk!" Tangkisannya bertemu dengan lengan yang lunak dan lentur seperti karet. Ayu terkejut dan sebelum ia dapat menghindarkan diri, tahu-tahu pinggangnya yang ramping telah dilibat lengan kanan orang bule berkepala buaya itu. Ia meronta, akan tetapi orang itu sudah melompat sambil membawa tubuhnya dan terdengar air berjebur, air muncrat ke atas ketika Ayu dibawa terjun ke tengah Kedung Srengenge dan tubuh mereka berdua terseret pusaran air, atau lebih tepat lagi, orang bule itu telah menyelam sambil membawa tubuh Ayu Puspa!

"Ayu...!" Parmadi dan Kyai Jayawijaya berteriak hampir berbareng ketika mereka melihat kejadian itu. Mereka berdua mengamuk dan para pengeroyok mereka mundur lalu mereka semua berlompatan terjun ke Kedung Srengenge, juga mereka yang terluka dibawa terjun dan mereka semua menyelam dan tidak muncul kembali!

Parmadi dan Kyai Jayawijaya berlari ke tepi kedung sungai itu, tertegun memandang ketengah kedung dan muka pucat. Semua itu rasanya seperti dalam mimpi. Bagaimana mungkin Ayu diseret masuk ke dalam kedung? Dan mereka semua tadi, bagaimana mereka dapat terjun dan lenyap dalam air seolah-olah mereka semua itu tadi bukan manusia melainkan segerombolan buaya? Dua orang laki-laki itu berdiri di tepi sungai dengan bingung dan akhirnya Kyai Jayawijaya membanting kaki kanannya keatas tanah dengan hati gundah.

"Mereka itu iblis, bukan manusia! Ah... sudah terasa olehku bahwa hal ini tentu berakibat buruk. Ayu, cucuku...?"

"Eyang, saya tidak percaya kalau mereka itu setan. Mereka tentu juga manusia biasa seperti kita. Tadi telah saya lihat dengan jelas bahwa kepala buaya itu hanyalah sebuah topeng yang menutup kepala mereka dan beberapa orang dapat saya robohkan dengan tamparan. Mereka itu manusia biasa, eyang, bukan iblis."

"Kalau bukan iblis, bagaimana mereka semua dapat lenyap dalam air kedung ini? Lalu bagaimana dengan cucuku Ayu?"

"Jangan khawatir, eyang. Kalau mereka itu sebagai manusia-manusia biasa dapat menyelam dan lenyap, maka saya kira sayapun dapat. Saya akan menyelidiki dasar kedung ini, pasti ada rahasianya, eyang."

"Ah, mungkin andika benar, Parmadi. Akan tetapi sayang, aku sendiri tidak pandai berenang, kalau saya terjun ke air tentu akan tenggelam."

"Biar saya saja yang melakukan penyelidikan, eyang." Setelah berkata demikian, Parmadi lalu melompat ke dalam sungai. Untung baginya bahwa ketika dia masih kanak-kanak, dia sering bermain-main di air sehingga biarpun bukan seorang ahli yang pandai, dia dapat berenang dan menyelam. Apalagi dia telah melatih pernapasan sehingga dia dapat bertahan agak lama di dalam air.

Dengan gerakan kaki tangannya, dia menyelam dan membuka mata melihat ke sekeliling kedung itu. Pusaran air menariknya, akan tetapi tidak berapa kuat dan ketika dia menyelidiki kesebelah kiri, hatinya berdebar girang dan tegang karena seperti yang telah diperkirakannya, dibagian kiri kedung itu terdapat sebuah gua dalam air yang cukup lebar. Tak salah lagi, pikirnya. Mereka tentu menghilang lewat lubang gua itu! Parmadi cepat meluncur memasuki gua yang gelap pekat. Dia meraba-raba dan maju terus. Tak lama kemudian dia melihat sinar terang didepan dan ke sanalah dia berenang.

Ketika dia muncul di permukaan air, ternyata dia berada didalam sungai bawah tanah yang merupakan ruangan yang luas dan sinar terang tadi ternyata adalah sinar obor-obor yang banyak terdapat di ruangan itu. Dengan hati-hati, setelah melihat bahwa di daratan bawah tanah itu tidak tampak ada orang, Parmadi lalu berenang ke tepi dan mendarat. Tampak banyak tapak kaki di situ yang menuju ke depan sana. Terowongan sungai bawah tanah itu ternyata panjang juga dan di depan sana masih tampak sinar terang dan terdengar gemuruh suara orang banyak.

Parmadi cepat menyelinap di antara batu-batu dan bergerak maju. Di sebuah tikungan dia mengintai dan melihat betapa ditikungan itu terdapat sebuah ruangan yang luas, diterangi obor-obor dan puluhan orang yang tadi mengeroyok dia, Kyai Jayawijaya dan Ayu berkumpul di situ. Orang-orang itu sibuk. Ada yang mengganti pakaian yang basah kuyup dengan pakaian kering, ada yang sedang menolong kawan-kawan yang tadi terluka. Akan tetapi Parmadi tidak melihat Ayu di situ. Juga orang berkepala buaya yang kulitnya bule itu tidak tampak.

cerita silat online karya kho ping hoo

Dia menjadi penasaran dan cepat dia masuk ke dalam air, menyelam dan meluncur dalam air melewati ruangan di mana para anak buah gerombolan itu berkumpul. Setelah ruangan itu dia lewati, dia muncul dipermukaan air lagi dan tibalah dia di sebuah ruangan lain yang tidak seluas ruangan pertama. Akan tetapi jantungnya berdebar tegang ketika dia melihat apa yang tampak di bawah sinar penerangan obor-obor yang tertancap di dinding ruangan itu. Ayu rebah telentang di atas lantai ruangan itu dengan kedua tangan dan kaki terbelenggu.

Yang membuat Parmadi mengepal tinju dengan marah adalah melihat keadaan gadis itu yang amat menyedihkan. Gelung rambutnya terlepas sehingga rambut yang panjang hitam itu terurai, sebagian menutupi dadanya yang hampir telanjang karena letak pakaiannya sudah awut-awutan. Agaknya gadis itu tadi meronta dan melawan sehingga pakaiannya kacau dan ia berada dalam keadaan setengah telanjang!

Di sudut ruangan itu tampak buaya putih raksasa yang tadi dilukai matanya oleh Ayu. Buaya itu menelungkup, putih panjang, dan mata kirinya masih luka berdarah dan terpejam. Dan didepan buaya putih itu, duduk berlutut seorang laki-laki bule yang kepalanya tertutup topeng kepala buaya. Dari bawah topeng, di belakang leher tampak tersembul rambut orang itu yang berwarna putih kekuningan. Parmadi mendekat, menyelinap di antara batu-batu sungai yang berada di tepi dan di luar ruangan itu. Dia melihat laki-laki itu dengan suaranya yang parau dan dalam berkata-kata kepada buaya putih raksasa.

"Duh rama Bajul Petak, maafkan saya dan anak buah yang terlambat datang hingga tidak dapat menghindarkan rama dari malapetaka ini, terluka parah. Akan tetapi kesalahan kami itu telah kami tebus, beberapa orang anak buah kami terluka. Harap rama legakan hati karena saya telah berhasil menawan perawan yang telah melukai mata rama. Sekarang perawan itu berada disini, saya serahkan kepada rama agar rama dapat bersenang-senang dan membalas dendam."

Setelah berkata demikian, orang bule itu lalu menyembah dan keluar dari ruangan itu agaknya hendak pergi ke ruangan di mana anak buahnya berkumpul, meninggalkan buaya putih raksasa itu berdua saja dengan Ayu! Parmadi siap siaga. Dia menyelinap semakin dekat, siap melindungi Ayu yang agaknya akan dikorbankan, kepada buaya putih, menjadi mangsanya! Bergidik dia membayangkan tubuh yang denok mulus itu dikoyak-koyak moncong buaya yang lebar, lalu ditelannya satu demi satu potongan daging-daging yang berdarah-darah!

Parmadi sudah siap dengan sebuah batu runcing yang pasti akan disambitkan ke arah mata kanan buaya itu yang masih sehat. Dan dia yakin bahwa sambitannya pasti akan mengenai sasaran. Maka, Parmadi masih tenang saja ketika buaya putih raksasa itu mulai menggerakkan keempat kakinya menghampiri tubuh Ayu. Gadis itu terbelalak ketakutan. Parmadi dapat memakluminya. Hati siapakah yang tidak akan merasa takut dan ngeri melihat binatang buas itu merayap menghampiri dirinya yang terbelenggu kaki tangannya?

Kini buaya putih itu sudah tiba didekatnya dan Parmadi tertegun. Binatang itu tidak membuat gerakan untuk menyerang Ayu, baik dengan moncongnya maupun dengan ekornya! Mata yang tinggal satu itu menatap tubuh Ayu dan mengeluarkan sinar mencorong. Ekornya bergerak-gerak dan buaya itu dengan gerakan lambat menyambar ujung kain gadis itu, merenggut kain itu sehingga terlepas dari tubuh Ayu Puspa.

"Aaiiiiiihhhh...!" Ayu Puspa menjerit dengan suara melengking dan pada saat itu, Parmadi mengayun tangannya. Batu runcing itu menyambar, tepat mengenai mata kiri buaya putih itu.

"Grottt...!" Darah muncrat dan buaya putih itu terpelanting. Parmadi cepat melompat, menutupkan kain pada tubuh Ayu. Sebelum memondong dan membawanya melompat, menjauhi buaya putih lalu dia memutus tali pengikat kaki tangan gadis itu. Dengan isak tertahan Ayu lalu membereskan pakaiannya sambil menonton apa yang terjadi di depan matanya.

Parmadi marah sekali. Dasar binatang jadi jadian yang telah dirasuki iblis! Buaya putih raksasa itu bukan hanya buas akan tetapi juga memiliki gairah nafsu yang tidak wajar, seperti seorang laki-laki yang berwatak keji dan cabul. Binatang itu kini mengamuk. Kedua matanya telah buta dan dia lalu mengamuk dengan ekornya, menghantam kesana-sini, moncongnya juga menyerang secara membabi-buta, sambil mengeluarkan gerengan dan dengus aneh. Parmadi melompat mendekat dan setelah mendapat kesempatan, dia menangkap ujung ekor buaya itu dengan kedua tangannya mengerahkan tenaganya dan mengangkat tubuh buaya yang amat berat itu lalu membantingkan kepala buaya itu diatas lantai batu yang keras.

"Wuuuttt... blarrr...!!" Kepala binatang jadi-jadian itu pecah dan binatang itu tewas seketika. Parmadi menoleh dan menghampiri Ayu Puspa yang kini sudah merapikan pakaiannya yang robek di sana-sini. Melihat pemuda yang menyelamatkannya dari maut itu telah dapat membunuh binatang buas itu, saking girang dan terharu hatinya Ayu menyambut Parmadi dengan kedua lengan terpentang dan ia pun merangkul pemuda itu sambil terisak isak.

"Kakang...!" Jantung Parmadi berdebar. Sudah dua kali gadis ini merangkulnya seperti itu. Diapun mengelus rambut kepala yang terurai itu.

"Sudah, tenanglah, Ayu. Buaya laknat itu telah mati. Akan tetapi para pemujanya itu masih mengancam kita."

Pada saat itu terdengar gerengan yang menggetarkan seluruh ruangan itu. Parmadi dan Ayu cepat memutar tubuh dan mereka melihat manusia berkepala buaya yang kulitnya bule telah berdiri di situ. Sepasang mata di balik lubang topeng itu mencorong penuh kemarahan. Dia menoleh ke arah bangkai buaya putih yang telentang dengan kepala pecah, lalu menoleh kepada Parmadi dan Ayu yang kini saling melepaskan rangkulan.

Parmadi meraba pinggangnya. Dia teringat bahwa mereka berdua menghadapi bahaya padahal Ayu tidak memegang senjata lagi. Ia teringat akan patrem pemberian Muryani dahulu yang selalu berada di ikat pinggangnya. Diambilnya patrem itu dan diserahkannya kepada Ayu Puspa. Gadis itu menerima patrem itu dengan girang sekali. "Kau pergunakan ini untuk membela diri," bisik Parmadi dan Ayu mengangguk, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpanya.

"Aarrgghhh...! Engkau yang telah memunuh Rama Bajul Petak?" terdengar orang bule itu bertanya dengan suara menggereng menyeramkan.

"Benar, akulah yang membunuh binatang buas pengganggu manusia itu. Juga aku yang telah mengusir lelembut (setan) pujaan kalian yang menghuni randu alas di tepi sungai." Parmadi sengaja mengakui hal ini dengan maksud agar semua kemarahan dan dendam ditumpahkan kepaanya, bukan kepada Ayu.

"Babo-babo, keparat! Engkau sudah bosan hidup! Katakan siapa namamu agar jangan engkau mati tanpa nama!"

"Namaku? Orang menyebutku Seruling Gading, Bajul Sengoro," jawab Parmadi.

"Engkau tahu namaku?" Orang bule itu membentak.

"Siapa tidak mengenal Bajul Sengoro ketua Gerombolan Warga Bajul Petak yang tersesat, penyembah setan dan iblis, pengganggu manusia untuk memuaskan nafsu rendah yang keji. Sekarang Bajul Peta (Buaya Putih) sudah mati, juga randu alas telah tumbang. Sebaiknya engkau membubarkan gerombolanmu dan selanjutnya menebus semua dosamu dengan hidup yang baik dan benar, bermanfaat bagi manusia dan dunia," kata Parmadi dengan sikap tenang namun matanya bersinar seperti kilat dan berwibawa sekali.

"Jahanam keparat! Engkau telah berani menentang Bajul Sengoro, berarti engkau harus mati!" Berkata demikian orang itu menggunakan kedua tangannya untuk mencopot kepala buaya putih yang menutupi kepala dan mukanya itu. Tentu hal ini dia lakukan karena dia maklum bahwa sekali ini dia menghadapi seorang lawan tangguh dan amat tidak leluasa baginya berkelahi menggunakan kedok kepala buaya itu. Kini dia berhadapan dengan Parmadi dan sepasang matanya mencorong menatap wajah pemuda itu.

Parmadi juga memandang penuh perhatian. Wajah orang itu menyeramkan. Sukar ditaksir berapa usianya, yang jelas belum tua sekali. Sebetulnya bentuk wajah itu cukup tampan, akan tetapi segalanya serba putih. Rambutnya, kumis dan jenggotnya yang pendek, alisnya, bahkan bola matanya. Semuanya putih, putih kekuningan sehingga tampak lucu dan juga menyeramkan. Parmadi teringat akan cerita yang pernah didengarnya tentang orang Kumpeni Belanda yang kini berada di Jayakarta. Kata orang, orang Belanda juga bule seperti ini.

"Hemm, kiranya Bajul Sengoro itu seorang Belanda? Pantas andika memimpin gerombolan penjahat. Sudah kudengar bahwa Bangsa Belanda itu jahat, hendak menguasai tanah air dan bangsa kami!" kata Parmadi.

"Ngawur!" Bajul Sengoro membentak marah. "Aku memang bule, akan tetapi aku seorang Jawa, bukan Belanda. Engkau malah berani menghinaku! Terimalah kematianmu!" Orang bule itu berkemak-kemik membaca mantera, lalu kedua tangannya yang terbuka mendorong ke arah Parmadi sambil mulutnya mengeluarkan bentakan yang menyeramkan.

"Aaarrgghhhh...!!" Tampak asap hitam terbawa serangkum angin yang dahsyat menyambar ke arah Parmadi. Pemuda ini hanya melipat kedua lengan di depan dada, menyambut serangan angin berasap hitam itu dengan sikap tenang.

"Wuuussshhhh...!" Asap dan angin itu menyambar lewat tubuhnya seperti angin lalu biasa saja, hanya mengibarkan ujung pakaian dan rambutnya. Melihat ini, Bajul Sengoro terbelalak Matanya mencorong seperti mata harimau di dalam gelap, penuh rasa keheranan, penasaran dan kemarahan. Bagaimana mungkin ini? Kalau pemuda itu menghindarkan diri dengan mengelak atau menangkis serangannya tadi, dia masih dapat mengerti. Akan tetapi pernuda lawannya itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan menyambut serangannya begitu saja dan serangannya itu tidak berbekas apa-apa! Padahal serangannya tadi mengandung kekuatan sihir yang dapat merobohkan seorang lawan yang sakti sekalipun!

Bajul Sengoro mengeluarkan pekik melengking dan ini merupakan isyarat bagi semua anak buahnya karena segera bermunculan anak buahnya yang tinggal empat belas orang karena sebagian tadi sudah roboh terluka oleh Parmadi dan Kyai Jayawijaya, bahkan ada dua orang yang tewas di tangan Ayu Puspa. Melihat empat belas orang ini berlompatan memasuki ruangan bawah tanah yang cukup luas itu, Ayu Puspa yang sudah cancut taliwanda (siap siaga) dengan patrem di tangan, segera membentak dengan suara nyaring melengking, menyambut mereka dengan terjangan.

Gadis perkasa ini mengamuk bagaikan seekor banteng dikeroyok belasan anjing srigala! Sepak terjangnya menggiriskan. Bukan hanya patrem di tangan kanannya yang menyambar-nyambar mengintai nyawa, juga tangan kirinya membagi-bagi tamparan yang dahsyat sehingga sekali saja seorang pengeroyok terkena tamparan tangan kirinya, tentu akan terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali. Belum lagi kedua kakinya yang mungil. Setiap kali kaki kiri atau kanan mencuat mengirim tendangan, tubuh seorang pengeroyok tentu terpental jauh bagaikan sebuah bola karet ditendang kaki seorang anak-anak!

Ketika Bajul Sengoro melihat anak buahnya sudah muncul dan kini mengeroyok Ayu Puspa, dia kembali menghadapi Parmadi. Dia merasa menyesal sekali harus menghadapi lawan tangguh ditempat terbatas seperti itu sehingga dia sendiri maupun anak buahnya tidak dapat mempergunakan bahan peledak untuk menyerang lawan karena kalau mereka menggunakan senjata ini, tentu akan melukai teman-teman sendiri. Dia masih penasaran melihat serangan sihir pertamanya tadi tidak berhasil. Kini dia mengerahkan seluruh kekuatan sihir dan tenaga saktinya, berkemak-kemik membaca mantera, kemudian sekali lagi mendorongkan kedua tangannya yang terbuka ke arah Parmadi. Sekali ini, ada sinar berapi menyambar dari kedua tangan itu ke arah dada Parmadi! Melihat ini, dengan gerakan ringan Parmadi melompat ke samping untuk mengelak.

"Syuuuutt... darrr!" Bola api menghantam dinding batu karang di belakang Parmadi dan sebagian dinding itu pecah dan hancur! Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan jarak jauh orang bule itu. Melihat Parmadi mengelak, Bajul Sengoro mengeluarkan suara tawa meringkik yang nadanya mengejek. Dia mengira bahwa lawannya kini gentar menghadapi serangannya yang diberi nama Aji Guntur Geni (Halilintar Api).

Kemudian dia mengulang pukulannya yang berapi dan dahsyat itu ke arah tubuh Parmadi sambil membentak. "Mampus kau oleh Aji Guntur Geni!!" Kembali Parmadi mengelak dengan melompat sehingga sambaran bola api itu luput dan menghancurkan permukaan dinding batu karang. Sampai empat kali Parmadi mengandalkan kecepatan gerakan menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu dengan cara mengelak.

"Ha-ha-ha! Heh, keparat Parmadi. Kalau engkau bukan seorang pengecut, jangan hanya lari dan mengelak, sambut pukulanku Guntur Geni ini!"

"Bajul Sengoro, kalau aku menyambut pukulanmu, engkau akan celaka dan aku tidak ingin mencelakai orang, walau sejahat engkau sekalipun," kata Parmadi tenang.

"Babo-babo, keparat! Katakan saja engkau pengecut, tidak berani menyambut karena kalau engkau melakukan itu bukan aku yang celaka, melainkan engkau yang mampus terbakar! Ha-haha!

"Aarrgg!!!" Kembali Bajul Sengoro menyerang, sekali ini lebih dahsyat daripada tadi. Akan tetapi kini Parmadi tidak mengelak lagi. Dia tadi selalu mengelak bukan karena takut menyambut pukulan lawan. Hanya karena dia maklum bahwa tangkisannya mengandung daya untuk mengembalikan serangan lawan. Makin dahsyat pukulan lawan, makin hebat pula serangan itu kembali menghantam penyerangnya sendiri dan hal itu dapat mencelakai si penyerang sendiri. Akan tetapi karena dia sudah memberi peringatan dan Bajul Sengoro masih nekat, bahkan agaknya menyerangnya lebih hebat lagi dan menganggap dia takut, kini terpaksa Parmadi mendorongkan kedua tangannya menyambut dengan Aji Sunya Hasta (Tangan Kosong).

"Syuuuuutttt... blarrrr!" Bola api besar yang tadinya meluncur dan menyambar kearah Parmadi itu, bertemu dengan hawa yang keluar dari kedua telapak tangan Parmadi segera meluncur kembali ke arah Bajul Sengoro dengan kecepatan tinggi. Bajul Sengoro terkejut, terbelalak dan mengeluarkan pekik mengerikan ketika terdengar ledakan dan bola api itu menghantam dirinya sendiri. Tubuhnya terpelanting dan dia tewas seketika dengan tubuh hangus, terkena aji pukulannya sendiri yang amat dahsyat tadi.

"Duh Gusti... ampuni hamba..." Parwadi berbisik sambil memandang ke arah mayat Bajul Sengoro yang rebah telentang dengan wajah bulenya kini menjadi hitam arang. Akan tetapi tidak lama Parmadi tertegun. Dia melihat Ayu Puspa masih dikeroyok banyak orang. Gadis ini mengamuk hebat dan sudah ada lima orang pengeroyok roboh. Parmadi segera turun tangan, bukan takut kalau gadis itu terancam bahaya. Tidak, dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, semua pengeroyok itu akhirnya akan tewas semua di tangan dara perkasa itu.

"Bajul Sengoro telah tewas! Apakah kalian semua ingin mati pula?" bentaknya nyaring.

Semua anak buah yang tinggal sembilan orang itu terkejut. Mereka sejak tadi memang sudah gentar menghadapi dua orang muda yang sakti mandraguna itu. Kini mereka memandang dan benar saja. Mereka melihat Bajul Sengoro sudah rebah dengan muka hangus. Mereka menjadi ketakutan dan cepat mereka melompat dan terjun ke air yang mengalir di tepi terowongan bawah tanah dan menyelam.

Parmadi tidak ingin lebih lama tinggal di ruangan bawah tanah yang menyeramkan itu. Dia memegang tangan Ayu Puspa, bertanya, "Engkau dapat berenang dan menyelam?"

"Tentu saja! Percuma aku tinggal di tepi bengawan kalau tidak bisa berenang dan menyelam!" kata Ayu Puspa.

"Hemm... kusangka tidak bisa karena kakekmu juga tidak pandai berenang."

"Kakek sudah terlalu tua, dia selalu takut dengan air. Aku sih tidak! Aku berani berlomba renang melawanmu."

Parmadi merasa heran. Gadis ini luar biasa. Dalam keadaan bagaimanapun juga tidak kehilangan kelincahan dan kenakalannya, berkepala batu, sikapnya menggemaskan dan juga menyenangkan!

"Sudahlah, bukan saatnya bergurau. Mari kita keluar dari terowongan ini. Kita harus berenang menentang arus, kemudian menyelam dan keluar dari gua di bawah permukaan air dikedung. Eyangmu masih menunggu di tepi kedung, tentu gelisah memikirkan dirimu."

"Mari!" kata gadis itu dan teringat dalam pikiran Parmadi betapa gadis itu, setelah baru saja nyaris mengalami kematian yang amat mengerikan dan telah diselamatkannya, tak sepatahpun menyatakan rasa syukur atau terima kasihnya Bukan dia haus akan pujian dan balas budi, hanya dia merasa heran bagaimana di dunia ini ada gadis ugal-ugalan dan tak acuh namun tetap menarik hati dan menyenangkan seperti Ayu Puspa!

Mereka lalu masuk ke air dan berenang menentang arus. Untung arus air itu lemah saja sehingga mereka dapat berenang dengan mudah dan laju. Setelah tiba di mulut gua mereka mengumpulkan napas panjang lalu menyelam dan keluar dari guha bawah air itu. Tarikan pusaran air menyeret mereka, akan tetapi karena pusaran air itu kini tidak berapa kuat, mereka dapat meluncur naik ke permukaan air. Begitu dua kepala orang muda itu muncul di permukaan air mereka disambut seruan gembira.

"Ayu! Ah, engkau masih hidup. Terima kasih, Gusti!!" Kyai Jayawijaya yang masih menanti di tepi kedung dengan wajah muram dan khawatir itu kini memandang dengan wajah berseri gembira sekali.

Ayu Puspa berenang ke tepi, mengerahkan seluruh tenaga untuk mendahului Parmadi, untuk pamer bahwa ia pandai berenang, lebih cepat dari pemuda itu. Setelah mendarat, Kyai Jayawijaya meyambut dengan rangkulan, tidak perduli bahwa pakaiannya menjadi basah semua terkena air yang membasahi seluruh paman dan tubuh cucunya.

"Ayu, cucuku! Ketika tadi engkau dibawa terjun ke kedung dan lenyap, aku hampir putus harapan, mengira engkau tentu akan mati. Bahkan ketika Parmadi terjun dan menyelam untuk mencarimu, hatiku masih diliputi kekhawatiran. Apalagi begitu lama kalian tidak muncul kembali, aku mengira kalian berdua sudah mati! Ah, bagaimana mungkin kalian berada di dalam air sampai begitu lamanya?" Kakek itu memandang Parmadi dan cucunya dengan terheran-heran. Sukar dia dapat percaya dua orang muda itu dapat berada di dalam air sampai hampir satu jam lamanya. Bagaimana mereka bernafas.

"Wah, eyang. Aku dan kakang Parmadi mengamuk di bawah sana dan kami telah membasmi habis gerombolan Warga Bajul Petak! Senang sekali, eyang!" kata Ayu.Puspa.

"Begitukah? Ah, kalian berdua basah kuyup. Bisa masuk angin. Mari, Ayu dan engkau Parmadi, mari kita pulang agar kalian dapat berganti pakaian dan nanti saja kalian ceritakan apa yang terjadi."

Parmadi hanya tersenyum mendengar ucapan Ayu tadi. Dia mengambil buntalan pakaiannya yang masih berada diperahunya. Melihat perahunya, Parmadi menjadi ragu apakah dia harus ikut ke rumah gadis dan kakeknya itu dan meninggalkan perahunya disitu.

"Jangan khawatir, Parmadi. Perahumu sudah tertambat di sini dan kalau engkau tinggalkan, perahu itu tidak akan hilang. Siapa berani mencuri perahu yang berada di kedung ini? Tinggalkan saja, Parmadi dan mari ikut ke pondok kami. Banyak yang harus kauceritakan dan kita bicarakan. Marilah."

"Mari, kakang Parmadi. Apakah engkau tidak sudi berkunjung ke gubuk kami yang butut? Kalau begitu engkau sombong!" Ucapan gadis inilah yang membuat Parmadi tidak mampu menolak lagi dan keraguannya pun lenyap. Sambil tersenyum dia mengangguk.

"Baiklah, saya akan ikut dan berkunjung ke rumah eyang."

Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Kyai Jayawijaya. Ternyata pondok itu tidak terlalu jauh dari Kedung Srengenge, hanya sekitar dua kilometer. Pondok itu, terbuat ciari kayu dan biarpun bentuknya sederhana, namun cukup besar dan kokoh. Setelah masuk pondok, Ayu segera berlari ke dalam kamarnya untuk bertukar pakaian yang bersih dan kering. Kyai Jayawijaya mempersilakan Parmadi memasuki kamarnya dan bertukar pakaian dikamar itu.

Setelah selesai bertukar pakaian, Parmadi keluar dari kamar, membawa pakaiannya yang basah. Tak lama kemudian Ayu juga keluar dan agaknya gadis ini telah mandi. Ia tampak segar dan cantik sekali walaupun wajahnya tidak dihias. Rambutnya yang masih basah itu dibiarkan terurai agar cepat kering. Senyumnya segar dan matanya berbinar-binar kedua pipinya kemerahan. Seperti sekuntum mawar bermandi embun. Melihat Parmadi sudah duduk berhadapan dengan eyangnya, dan ada pakaian basah dibawah meja, Ayu segera mengambil pakaian itu.

"Eh, mau dibawa ke mana pakaianku itu, Ayu?"

"Mau kurendam di belakang, nanti akan kucuci."

"Eh, tidak usah. Biar kucuci sendiri" kata Parmadi akan tetapi Ayu sudah lari membawa pakaian itu ke belakang. Terpaksa Parmadi yang sudah bangkit berdiri itu duduk kembali.

"Sudahlah, Parmadi. Biarkan ia nanti mencucinya. Cucuku itu kalau sudah mempunyai kehendak, siapapun tidak akan dapat mengubahnya. Pula, sudah sepatutnya kalau seorang wanita mencuci pakaian. Apalagi ia baru saja engkau selamatkan!

Ayu kembali sambil tersenyum manis, duduk di dekat eyangnya, berhadapan dengan Parmadi. "Nah, sekarang kalian ceritakan, apa yang telah terjadi di bawah kedung itu," kata Kyai Jayawijaya.

"Kau ceritakanlah, Ayu," kata Parmadi.

"Engkau yang menceritakan!" jawab Ayu.

Parmadi tersenyum. Dia sudah menduga akan jawaban gadis berkepala batu itu. "Baiklah. Begini, eyang. Ketika saya terjun ke kedung dan menyelam, seperti yang sudah saya duga, di bawah saya menemukan sebuah gua. Saya memasuki gua yang merupakan terowongan itu dan akhirnya saya dapat muncul di permukaan air, disebelah dalam terowongan dan ternyata di situ terdapat terowongan dan ruangan di bawah tanah yang lebar dan luas. Kemudian saya melihat Ayu berada di sebuah ruangan yang luas. Ia rebah telentang dengan kaki tangan terbelenggu. Di sudut ruangan itu terdapat pula buaya putih besar yang telah dilukai

matanya oleh Ayu dan orang bule yang menangkap dan melarikan Ayu berada di situ pula berlutut di depan buaya putih dan bercakap-cakap kepada buaya itu, menyerahkan Ayu kepada binatang raksasa itu!"

"Hemm, keparat!" Kyai Jayawijaya mengutuk, menoleh ke arah cucunya. "Engkau tentu takut sekali, Ayu."

"Bukan takut lagi, eyang. Aku merasa ngeri dan serem. Habis mata buaya yang tinggal sebelah itu seperti mata laki-laki yang kurang ajar! Coba pikir, gila tidak dia! Dia menggunakan ekornya untuk merenggut lepas kainku. Aku menjerit, ngeri setengah mati! Lanjutkan, kakang."

"Melihat Ayu terancam bahaya, saya lalu menyambitkan batu ke arah mata buaya putih yang tinggal sebelah. Dia kesakitan dan mengamuk, akan tetapi syukur saya dapat membanting dan membunuhnya, eyang. Saya lalu membebaskan Ayu dari belenggu kaki tangannya dan menyerahkan patremku kepadanya untuk membela diri. Kemudian Bajul Sengoro menyerang saya dan kami berkelahi. Anak buahnya yang jumlahnya belasan orang bermunculan, akan tetapi disambut amukan Ayu. Akhirnya saya berhasil merobohkan Bajul Sengoro yang terbakar oleh aji pukulannya sendiri dan para anak buah gerombolan itu banyak yang roboh dan sisanya melarikan diri, diamuk oleh Ayu."

"Wah, berbahaya sekali!" seru Kyai Jayawijaya dengan kagum dan lega hatinya mendengar cerita Parmadi itu. "Ayu, sekarang ceritakan apa yang kau alami sebelum Parmadi datang dan menolongmu."

Gadis itu memandang kepada Parmadi lalu menjawab, "Uh, ceritanya sudah diborong oleh kakang Parmadi, eyang. Apalagi yang dapat kuceritakan? Ketika aku dikeroyok anak buah gerombolan itu dan sudah hampir dapat menghajar mereka semua, dengan licik dan curang sekali Bajul Sengoro itu menyerangku secara mendadak. Tangannya berbau harum yang aneh dan membuat aku pening. Dalam keadaan seperti itu dia menyergap, menangkap aku lalu membawaku terjun ke kedung. Tentu saja karena tidak bersiap lebih dulu, aku gelagapan dan hampir pingsan ketika dia membawaku ke ruangan bawah tanah itu dan membelenggu kaki tanganku. Lalu jahanam busuk itu hendak membuat aku menjadi santapan buaya putih siluman itu. Untung kakang Parmadi datang."

"Bukan main! Ayu, tahukah engkau bahwa Parmadi telah menyelamatkan nyawamu? Kalau tidak ada dia, mustahil engkau dapat selamat. Aku sendiri tidak berani terjun ke kedung, dan kalau nekat terjun tentu aku akan mati tenggelam. Engkau berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada Parmadi. Kita berdua berhutang budi yang amat besar kepada Parmadi. Dengan cara bagaimana kita dapat membalasnya?"

Sebelum gadis itu menjawab, Parmadi sudah mendahuluinya. "Eyang, mengapa eyang bicara tentang budi? Siapa yang melepas budi dan siapa yang berhutang budi? Kalau ada yang menolong dan menyelamatkan, maka hanya Gusti Allah sajalah yang melakukan itu. Hanya Gusti Allah Maha Penolong dan Maha Penyelamat! Karena itu, saya kira, eyang, kita wajib mensyukuri pertolongan-Nya, penyelamatan-Nya, dan segala berkah-Nya kepada kita."

"Nanti dulu, kakang!" Ayu memprotes. "Yang tadi menolongku di bawah kedung, yang membunuh buaya putih dan yang membunuh Bajul Sengoro adalah engkau, bukan Gusti Allah!"

Parmadi tersenyum sabar. Dia tahu bahwa gadis itu berkata seperti itu karena tidak mengerti dan memerlukan penjelasan. "Ketahuilah, Ayu dan yakinlah bahwa yang tadi menyelamatkanmu bukan orang adalah Gusti Allah. Benar bahwa dalam hal itu. Dia mempergunakan diriku sebagai alat dan pelaksana saja. Tidak tahukah engkau bahwa segala kemampuan yang ada pada diri kita semua ini datang dari Gusti Allah? Tanpa kekuasaan-Nya, kita ini mampu apakah? Kita ini hanya seonggokan darah daging yang tak berdaya. Hanya karena adanya kekuasaan-Nya sajalah maka kita mampu melakukan segala sesuatu yang berarti."

"Alhamdullilah!" seru Kyai Jayawijaya. "Puji syukur kepada Gusti Allah bahwa aku masih diberi kesempatan mendengarkan wejangan ini, seolah aku mendengar sendiri wejangan itu keluar dari mulut kakang Resi Tejo Wening!"

"Bagaimana sih artinya semua ini, eyang? Aku bingung dan tidak mengerti. Bukankah segala hal yang kita lakukan itu datang dari hati akal pikiran kita?" tanya Ayu Puspa.

"Baik sekali kalau engkau mau bertanya dan membantah, Ayu. Dengan membantah dan bertanya, engkau akan memperoleh jawaban yang akan menambah pengertianmu. Menjadi orang muda haruslah selalu menyangkal dan bertanya kalau dia belum mengerti, barulah pengertianmu akan berkembang dan jiwa menjadi matang. Parmadi, harap jangan sungkan. Tolong beri jawaban dan penjelasan kepada Ayu Puspa."

Parmadi tersenyum. Dia ingat akan dirinya sendiri dahulu ketika masih menjadi murid Resi Tejo Wening. Dia juga selalu mengajukan segala macam pertanyaan kepada gurunya sampai dia memperoleh jawaban yang jelas. "Akan kucoba memberi keterangan sebatas kemampuanku, Ayu. Engkau benar ketika mengatakan bahwa segala perbuatan kita itu bersumber dari hati akal pikiran kita. Akan tetapi apakah hati akal pikiran kita itu, Ayu? Bukankah semua itu juga hanya alat yang dapat dipergunakan apabila perlu? Buktinya bahwa bahwa akal pikiran itu alat, selagi orang pingsan atau tertidur, maka hati akal pikiran kita sama sekali tidak bekerja, padahal orangnya masih hidup. Jadi sesungguhnya, jiwa ini bukan hati akal pikiran, bukan aku yang suka mengAku-AKU. Semua anggota badan ini, luar dalam, termasuk hati akal pikiran, hanya merupakan alat belaka. Bahkan kalau kepala ini terpukul atau terbentur keras, akal pikiran bisa rusak sehingga orang akan kehilangan ingatan, kehilangan akal, menjadi tidak bisa apa-apa. Sekali lagi, kita ini hanya sekadar alat, Ayu. Akan tetapi Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Maha bijaksana dan Maha Pemurah. Kita masih diberi kebebasan untuk memilih, apakah kita ini suka dijadikan alat Gusti Allah ataukah lebih suka dijadikan alat Setan! Kalau menjadi alat Gusti Allah, maka hidup kita pasti bermanfaat bagi manusia dan dunia, sebaliknya kalau menjadi alat Setan, hidup kita penuh berlepotan dosa dan kejahatan. Nah, mengertikah engkau sekarang bahwa yang menyelamatkan tadi adalah kekuasaan Gusti Allah yang "meminjam" diriku sebagai alat untuk menyelamatkan mu?"


Seruling Gading Jilid 17

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 17

"BOCAH kementus! Aku sudah siap dari tadi! Majulah!" kata Muryani dan iapun memasang kuda-kuda kembangan. Kedua kakinya berjingkat, tubuh agak bungkuk dan kedua lengan dikembangkan, sikapnya seperti seekor burung hendak terbang. Inilah pernbukaan ilmu silat perguruan Bromo Dadali yang dikenal semua murid yang berada di situ, yaitu yang disebut jurus Dadali Anglayang (Walet Melayang)! Gerakannya demikian luwes dan manis, namun gagah juga. Apalagi Muryani seperti mengejek, mulutnya tersenyum manis, matanya mengerling ke arah lawan karena kepalanya dimiringkan seperti kepala burung walet yang memandang dari angkasa!

Melihat gerakan pembukaan yang dianggapnya lemah itu, Dibyasakti lalu membuat gerakan dengan kedua tangannya. "Sambut ini! Hyaaaaahhhh!!" Kedua tangan itu seperti dua ekor kepala ular, dibuka dan mencengkeram ke arah dada Muryani.

Semua orang terkejut dan juga marah karena serangan pertama ini saja sudah menunjukkan betapa kurang ajar dan tidak sopannya pemuda raksasa itu, karena kedua tangan itu jelas dipergunakan untuk mencengkeram ke arah sepasang buah dada gadis itu!

"Hmmm, gerakan lambat seperti kura-kura!" Muryani mengejek dan dengan mudah saja ia mengelak ke samping. Gerakannya amat tangkas dan cepat sehingga tahu-tahu tubuhnya sudah berada di sebelah kiri Dibyasakti dan sebelum raksasa muda itu memutar tubuhnya, Muryani sudah membuat gerakan cepat sehingga kini ia berada di belakang tubuh lawan. Tangan kanannya dengan jari terbuka kini menghantam ke arah punggung yang lebar dan tebal itu.

Dibyasakti tertawa mengejek. Tubuhnya memiliki kekebalan, apalagi di bagian dada dan punggung. Apalagi hanya tamparan tangan lembut seorang gadis rupawan, bahkan bacokan senjata tajam pun tidak akan dapat melukai kulitnya. Andaikata Muryani menyerangnya dengan senjata tajam, tentu dia akan menangkis atau mengelak karena walaupun punggungnya yang diserang tidak akan terluka, namun bajunya tentu robek. Akan tetapi kalau hanya dipukul tangan kosong, biar pemukulnya seorang laki-laki bertenaga gajah sekalipun, dia akan sanggup menerimanya. Pula, disamping hendak mengejek, diapun hendak memamerkan kekebalannya kepada gadis itu dan para murid Bromo Dadali.

"Terima kasih sebelumnya atas pijatan tanganmu yang lembut dan lunak seperti gudir (agar-agar)! Heh-heh!" Dia mengejek lalu mengerahkan aji kekebalannya menerima pukulan telapak tangan kanan Muryani.

"Wuuuttt... plakk!" Telapak tangan kanan Muryani bertemu dengan punggung yang dilindungi baju dari kain tebal itu. "Ha-ha-ha... heh-heh-heh... aduuhhh...adduhhh!" semua orang terbelalak keheranan.

Pemuda raksasa yang tadinya tertawa itu tiba-tiba berjingkrak-jingkrak dan menepuk-nepuk kearah punggung. Di punggungnya, tampak baju itu terdapat tanda hangus dan berlubang dengan cap lima jari tangan! "Aduuhhh... panas...!" Dibyasakti maklum bahwa lawan menggunakan tenaga sakti yang amat panas dan ampuh.

Dia cepat mengerahkan tenaga saktinya untuk melawan sehingga rasa panas itu berangsur hilang. Akan tetapi baju di punggungnya sudah berlubang dengan cap tangan. Dibyasakti menyesali diri sendiri. Dia terlalu memandang rendah lawannya. Sama sekali tidak pernah dia mengira bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti panas yang demikian ampuhnya. Dia tahu bahwa perguruan itu memang memiliki aji pukulan yang disebut Aji Bromo Latu dan berhawa panas, akan tetapi pukulan macam itu yang dilakukan para murid perguruan itu sebelumnya tidaklah seberapa kuat. Akan tetapi pukulan gadis ini benar-benar dahsyat dan dia menjadi lengah, termakan kesombongannya sendiri.

Kini dia tahu bahwa dia harus menghadapi gadis ini dengan sungguh-sungguh karena ternyata lawannya sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sementara itu, para murid Bromo Dadali juga terkejut dan heran. Mereka tahu bahwa raksasa muda itu kebal dan sakti, akan tetapi mengapa pukulan yang tidak keras dari Muryani tadi membuat bajunya berlubang dan raksasa muda itu mengaduh kepanasan? Ki Ageng Branjang sendiri juga heran. Jelas bahwa Muryani menggunakan Aji Bromo Latu, akan tetapi tak disangkanya sedemikian hebat kekuatan aji tersebut.

"Keparat, engkau tidak bisa dikasih hati!" bentak Dibyasakti marah dan melotot memandang kepada gadis itu.

"Huh, siapa sudi mendapatkan hatimu yang kotor dan busuk itu? Diberi cuma-cuma pun aku tidak sudi!" Muryani berkata sambil mengernyitkan hidung seolah-olah mencium bau busuk.

Mendengar ini dan melihat sikap Muryani yang begitu tabah mempermainkan lawan, para murid Bromo Dadali mulai berkurang kekhawatiran mereka, bahkan sudah ada beberapa orang yang mengeluarkan suara tawa lirih karena geli hatinya. Mendengar ucapan gadis itu yang disusul ketawa cekikikan di sana-sini, hati Dibyasakti menjadi semakin panas.

"Perempuan sombong, bersiaplah menghadapi kematianmu!" bentaknya dan kini tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dan sekali ini dia menyerang cepat disertai tenaga dalam dan dia tidak menyerang seperti tadi untuk mempermainkan, melainkan menyerang dengan maksud membunuh!

Tahu bahwa musuhnya mulai menyerang sungguh-sungguh dan sedang dilanda kemarahan besar, Muryani tidak berani main-main lagi. Ia pun cepat mengerahkan Aji Kluwung Sakti, yaitu ilmu meringankan tubuh untuk dapat bergerak cepat sekali dan dengan amat mudahnya ia mengelak dari serangan Dibyasakti yang bertubi-tubi. Raksasa muda itu merasa penasaran dan marah sekali. Dia tidak ingin memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas, serangannya susul-menyusul, bertubi-tubi dan yang menjadi sasaran adalah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan kalau terkena pukulan dapat mematikan.

Namun, gerakan Muryani amat lincahnya, tubuhnya tidak tampak jelas, bagaikan telah berubah menjadi bayang-bayang dan semua pukulan dan tendangan yang dilontarkan Dibyasakti bagaikan mengenai bayang bayang saja, tidak ada bekasnya! Tentu saja Dibyasakti terkejut bukan main. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa ditempat ini dia akan bertemu tanding sedemikian hebatnya, apalagi lawannya itu hanya seorang gadis muda!

Ki Ageng Branjang juga tertegun dan dia mengangguk-angguk. Pantas saja Muryani berani bersikap demikian meremehkan lawan. Kiranya gadis itu memang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna! Memang gadis itu masih mempergunakan gerakan ilmu silat perguruan Bromo Dadali, akan tetapi kecepatan gerakannya itu jelas merupakan aji kesaktian yang lain, yang aneh dan hebat sekali. Dan pukulannya yang mengakibatkan baju di punggung lawan tadi hangus, biarpun itu merupakan Aji Bromo Latu, namun memiliki kekuatan yang luar biasa, jauh melampaui tingkat kekuatannya sendiri. Gadis itu sudah pasti telah mempelajari aji kesaktian dari orang lain selama lima tahun ini.

Kini para murid Bromo Dadali mulai percaya bahwa Muryani mampu menandingi Dibyasakti. Merekapun melihat betapa tubuh gadis itu berubah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan di seputar lawannya dan mulailah mereka bertepuk dan bersorak. Sebaliknya, dua losin anak buah Dibyasakti mulai gelisah. Mereka juga bukan orang bodoh dan melihat betapa pemimpin mereka bertemu tanding yang sakti. Mereka tidak berani bergerak, pertama karena tidak ada perintah Dibyasakti, kedua karena kini semua anak buah Bromo Dadali sudah berkumpul dan jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Mereka semua sudah turun dari atas kuda, hanya menonton sambil memegang kendali kuda masing-masing.

Dibyasakti menjadi semakin penasaran dan marah. Dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya, menyerang dengan ganas, dahsyat dan setiap pukulannya mematikan, namun gadis itu selalu dapat menghindarkan diri, bahkan kadang menangkis dari samping dan dia mendapat kenyataan mengejutkan betapa berat dan kuat lengan putih halus mulus kecil yang menangkisnya itu. Beberapa kali tamparan tangan Muryani mengenai pundaknya, bahkan satu kali mengenai dadanya, namun Dibyasakti kini sudah siap siaga dan mengerahkan seluruh tenaga sakti melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan sehingga tamparan itu tidak merobohkannya, hanya membuatnya terhuyung sedikit. Kemarahannya kini memuncak.

"Haiiiiiittt.... pecah kepalamu!" Dia membentak nyaring dan kepalan tangannya sudah menyambar bagaikan kilat ke arah kepala gadis itu. Bayang-bayang lincah itu berkelebat dan tahu-tahu lenyap dari depan Dibyasakti. Raksasa muda itu, terkejut bukan main, namun dia cukup cerdik untuk dapat menduga bahwa gadis itu tentu telah menyelinap ke belakangnya, maka cepat tubuhnya membalik, kakinya mencuat mengirim tendangan yang dahsyat sekali.

Akan tetapi Muryani telah siap siaga. Dengan miringkan tubuh, kaki yang menendang itu lewat di samping tubuhnya dan selagi kaki itu menyambar ke atas, ia cepat menggunakan tangan kanan menyambar tumit kaki yang besar itu dan mengerahkan tenaganya mendorong ke atas. "Heiiiiitt...!" bentak Muryani dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuh Dibyasakti yang terdorong oleh kekuatan tendangannya sendiri ditambah dorongan tangan Muryani, melayang ke atas dan ke belakang! Masih untung pemuda raksasa ini memang tangkas dan digdaya.

Biarpun tubuhnya terlempar ke atas, ketika turun dia dapat membuat salto jungkir balik sehingga dia tidak sampai terbanting jatuh, walaupun kedua kakinya hinggap di atas tanah tubuhnya terhuyung-huyung kebelakang. Melihat ini, semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Ki Ageng Branjang juga tersenyum penuh kagum dan gembira melihat kemenangan muridnya.

Bukan Raden Dibyasakti putera tunggal Ki Harya Baka Wulung kalau dia menerima kalah begitu saja. Tidak, dia sama sekali tidak merasa kalah. Dia tadi hanya mempergunakan ilmu silat biasa saja usahanya membunuh gadis yang telah menghinanya itu. Dia masih belum mempergunakan aji pamungkasnya yang paling hebat dan ampuh karena aji-aji ini biasanya hanya dia keluarkan kalau dia menghadapi lawan yang sakti mandraguna. Sekarang ternyata gadis itu benar-benar tangguh maka terpaksa dia harus mengeluarkan aji-aji pamungkasnya.

Tiba-tiba mulut Dibyasakti berkemak-kemik membaca mantera, kemudian dia menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah hampir berjongkok, sikapnya seperti seekor katak raksasa, dari dalam perutnya terdengar bunyi kok-kok-kok dan tiba-tiba dia menyalurkan semua tenaga dari bawah pusar melalui kedua lengannya lalu mendorong ke arah Muryani dengan kedua telapak tangan terbuka. Hawa yang amat dahsyat keluar dari kedua telapak tangan itu menyambar ke arah lawan. Inilah Aji Cantuka Sakti (Katak Sakti) yang merupakan satu di antara pukulan jarak jauh yang diandalkan oleh Ki Harya Baka Wulung dan yang hanya diajarkan kepada puteranya.

Muryani sudah waspada. Gadis perkasa ini sudah mendapat banyak pelajaran dari mendiang Nyi Rukmo Petak. Ia mengenal aji dahsyat yang dipergunakan lawan untuk menyerangnya dari jarak jauh. Maka cepat tubuhnya sudah melesat ke atas dan sebaliknya kini gadis itu menyerangnya dengan aji pukulan jarak jauh yang tidak kalah dahsyatnya, menyambar dari atas bagaikan halilintar! Cepat diapun mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan itu.

"Wuuuuttt... blaaarrrr!" Dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara dan semua orang merasakan guncangan hebat! Akibat bertemunya dua tenaga dahsyat itu, tubuh Muryani terlontar kembali ke atas. Bagaikan seekor burung walet yang gesit, tubuh itu membuat salto, berjungkir balik sampai lima kali baru turun ke atas tanah dengan tegak. Hanya mukanya saja menjadi agak pucat namun mulutnya tersenyum. Sebaliknya, Dibyasakti tidak terdorong mundur karena tenaga lawan tadi menyerangnya dari atas. Dia dapat menyambut dan mendorong lawan terlontar ke atas, akan tetapi dia sendiri terhimpit dan untuk mempertahankan diri, kedua kakinya sampai tertekan masuk ke dalam tanah sebatas lutut!

Mukanya juga menjadi pucat, akan tetapi dia cepat mencabut kedua kakinya dan sudah berdiri lagi berhadapan dengan Muryani yang menatapnya dengan senyum mengcjek. "Heh, kodok buduk, apalagi ilmumu selain ilmu kodok budukan tadi? Keluarkan semua kebisaanmu kalau engkau masih berani!" ejek Muryani dan semua murid Bromo Dadali tertawa lega dan gembira bahkan tetapi diam-diam mereka keheranan dan kagum bukan main. Bagaimana murid muda guru mereka itu kini dapat menjadi seorang yang demikian sakti mandraguna?

Diejek demikian, Dibyasakti menjadi nekat. Kini dia tahu bahwa gadis itu benar-benar sakti mandraguna, mampu menandingi Aji Cantuka Sakti yang selama ini jarang menemukan tandingan. Dia menjadi nekat. Dia menggosok-gosok ketika telapak tangannya dan membaca mantra. Dia hendak menggunakan aji pamungkas yang terakhir dan yang paling hebat, aji pukulan yang bukan hanya mengandalkan tenaga sakti, akan tetapi juga didukung kekuatan sihir yang ampuh, yaitu Aji Kukus Langking (Ilmu Asap Hitam). Perlahan-lahan, ketika dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya, tampak asap hitam mulai mengepul dari kedua telapak tangannya itu.

Pada saat itu, tiba-tiba saja tampak sinar terang dan ketika semua murid menengok, mereka melihat betapa bagian belakang rumah induk perguruan mereka telah berkobar dimakan api! "Kebakaran! Kebakaran...!!" Semua orang berteriak dan para murid Bromo Dadali berlari-lari menuju ke tempat kebakaran untuk memadamkan api sebelum menjalar lebih luas.

Pada saat itu, Dibyasakti yang sudah mengerahkan tenaga Kukus Langking, sudah menyerang dan mendorongkan kedua, telapak tangan yang mengeluarkan asap hitam tebal kearah Muryani. Gadis inipun maklum akan hebatnya aji lawannya. Dengan mengandalkan kecepatan gerakannya, tubuhnya berkelebat lenyap dan ia sudah mendahului serangan asap hitam tebal itu dan menyusup sampai ke sebelah kanan lawan, kemudian ia sudah menyerang dengan cengkeraman kedua tangannya yang membentuk cakar menyambar ke arah leher dan perut!

Bukan main kagetnya Dibyasakti. Sebelum serangannya mengenai lawan tahu-tahu lawannya telah berada di samping kanannya dan menyerang dengan cengkeraman yang amat ganas itu. Dia mencium bau amis dan wangi yang aneh keluar dari kedua tangan gadis itu. Dengan hati panik dia tahu bahwa cengkeraman itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya, maka dia cepat membuang diri ke kiri untuk mengelak.

"Brettt�.. breeettt !" Sarung dan baju Dibyasakti tiba-tiba terobek dan tertepas dari tubuhnya sehingga tubuhnya kini hanya memakai sebuah celana hitam setinggi lutut saja. Bukan hanya itu, juga pundaknya tergores kuku. Hanya lecet sedikit, akan tetapi rasa panas dan gatal membakar bagian yang tergores itu, tanda bahwa luka kecil itu keracunan. Hal ini tidak aneh karena tadi Muryani telah mempergunakan Aji Wiso Sarpo (Racun Ular), sebuah aji pukulan yang amat ganas yang ia pelajari dari mendiang Ny Rukmo Petak!

"Huh, kamu telanjang? Manusia tak tahu malu, menjijikkan!" ejek Muryani.

"Kebakaran...! Hayo semua membantu, padamkan api...!" terdengar suara Ki Ageng Branjang. Mendengar ini, Muryani menengok dan ia melihat betapa api berkobar memakan bagian belakang rumah gurunya. Melihat ini, Muryani khawati kalau-kalau ada musuh yang melakukan pembakaran di sana dan mengancam keselamatan para warga, maka iapun segera melompat, meninggalkan Dibyasakti menuju ke belakang rumah yang terbakar.

Sementara itu, Dibyasakti berdiri dengan muka pucat. Dia kebingungan, masih terkejut karena pakaiannya terobek dan terlepas dari tubuhnya dan pundaknya tergores kuku beracun. Pada saat itu, dia melihat gadis itu dan semua murid Bromo Dadali sudah lari meninggalkan dia untuk memadamkan kebakaran. Tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan. Pemuda itu menyergapnya. Dibyasakti hendak melawan, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu telah menangkap kedua lengannya dan sekali dorong, tubuhnya sudah terlempar dan tepat jatuh terduduk di atas punggung kudanya yang kendalinya dipegang seorang anak buahnya.

"Andika tidak menggunakan kesempatan ini pergi secepatnya dari sini, mau tunggu kapan lagi?" kata pemuda tampan itu dan ketika Dibyasakti bertemu pandang dengannya, senopati muda itu, terkejut dan merasa ngeri karena sinar mata pemuda itu bagaikan mengandung api yang membakarnya! Dia lalu memberi aba-aba pendek kepada anak buahnya.

"Kita pergi!" Lalu dia mengeprak kudanya dan melarikan kudanya cepat-cepat meninggalkan tempat itu, diikuti oleh dua losin anak buahnya!

Muryani membantu gurunya dan para murid Bromo Dadali yang berusaha memadamkan api yang membakar bagian belakang bangunan itu. Semua orang bertanya-tanya apa yang menyebabkan kebakaran itu sambil berusaha memadamkan api dengan menggunakan air yang disiramkan ke arah kobaran api yang mengancam ke arah bangunan tengah. Tiba-tiba Muryani teringat akan Satyabrata dan selagi ia hendak bertanya-tanya ke mana perginya temannya itu, tiba-tiba semua orang terkejut melihat sesosok bayangan orang melompat naik ke atas wuwungan rumah bagian tengah, dekat tempat yang sedang terbakar.

"Kakangmas Satyabrata!" Muryani berseru ketika mengenal orang itu.

Satyabrata melambaikan tangan kepadanya, lalu pemuda itu mulai menggunakan kaki dan tangannya untuk membongkar bagian bangunan yang terdekat dengan tempat kebakaran. Tembok-tembok dia runtuhkan dengan tendangan kakinya. Semua orang memandang dengan mata terbelalak kagum. Betapa kuatnya kaki tangan pemuda itu, meruntuhkan tembok dan melempar-lemparkan balok kayu yang besar dijauhkannya dari api. Reruntuhan tembok itu menimpa kobaran api dan ini banyak menolong. Kobaran api yang ditimbuni reruntuhan tembok itu makin mengecil sehingga ketika para murid Bromo Dadali menyiramkan air, kebakaran itu tak lama kemudian dapat dipadamkan.

Semua orang bersorak gembira dan juga kagum ketika Satyabrata dengan gerakan indah melompat turun dari atas atap rumah. Ki Ageng Branjang dan Muryani cepat menghampiri Satyabrata dan Muryani memperkenalkan pemuda itu kepada gurunya, "Bapa guru, ini adalah sahabat saya bernama Satyabrata yang sudah berkali-kali menolong saya."

Ki Ageng Branjang memandang kepada pemuda itu dan Satyabrata cepat memberi hormat dengan sembah di depan dada. "Maafkan kalau kedatangan saya ini mengganggu, paman."

Ki Ageng Branjang memandang tajam. Dia terkejut melihat sinar mata yang mencorong itu dan dia yang berpengalaman luas melihat ketidakwajaran, seolah sikap hormat dan merendah pemuda itu berlebihan. Akan tetapi pemuda itu sahabat Muryani dan tadi telah membantu secara luar biasa sehingga kebakaran itu dapat mudah dipadamkan, maka diapun berkata dengan ramah. "Anakmas Satyabrata, andika sama sekali tidak mengganggu, bahkan menolong kami memadamkan kebakaran tadi. Terima kasih, anakmas. Marilah kita ajak anakmas Satyabrata masuk dan bicara di dalam, Muryani. Banyak sekali yang harus kau ceritakan kepadaku semenjak kita saling berpisah. Mari, silakan, anakmas Satyabrata."

Ki Ageng Branjang lalu mengajak Muryani dan Satyabrata untuk masuk keruangan dalam dan setelah Muryani menjumpai keluarga Ki Ageng Branjang dan Satyabrata diperkenalkan kepada mereka. Ketua Perguruan Bromo Dadali itu lalu mengajak dua orang muda itu bercakap-cakap. "Nah, sekarang engkau harus menceritakan semua pengalaman sejak engkau meninggalkan Gunung Muria setelah nenekmu meninggal dunia dan engkau diajak pergi oleh ayahmu, Muryani. Kini, lima tahun lebih kemudian, engkau muncul sebagai seorang wanita yang sakti mandraguna! Apa saja yang terjadi denganmu?"

"Cerita saya panjang, bapa. Akan tetapi harap bapa lebih dulu menjelaskan siapakah sebenarnya Dibyasakti yang datang membuat keributan tadi dan mengapa dia memusuhi Bromo Dadali?"

Ki Ageng Branjang menghela napas panjang. "Dia itu senopati muda Kadipaen Arisbaya di Madura dan dia juga putera Ki Harya Baka Wulung, datuk dari Madura yang amat terkenal itu. Sebetulnya Bromo Dadali tidak mempunyai urusan dengan dia atau dengan Kadipaten Arisbaya, akan tetapi orang kasar itu hendak memaksa agar Bromo Dadali membantu Kadipaten Arisbaya untuk memberontak dan melawan Mataram. Tentu saja kami tidak sudi dan dia lalu menantang."

Muryani tidak begitu tertarik hatinya mendengar tentang urusan pemberontakan terhadap Mataram. Ia tidak mengerti akan hal-hal yang menyangkut kerajaan Mataram dan para kadipaten di daerah-daerah. Mendiang ayahnya tidak pernah bicara tentang hal itu, bahkan gurunya yang kedua, yaitu mendiang Nyi Rukmo Petak, juga tidak meninggalkan pesan tentang hal itu. Nenek itu sebelum meninggal dunia hanya meninggalkan empat pesan atau syarat yang harus dilakukan Muryani sebagai muridnya, yaitu pertama, ia harus merahasiakan keadaan Nyi Rukmo Petak sebagai guru selagi nenek itu masih hidup. Kedua, ia tidak boleh mempergunakan ilmu-ilmunya untuk melakukan kejahatan. Ketiga, ia tidak boleh jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak mencintainya dengan tulus, dan keempat, ia harus membantu murid Nyi Rukmo Petak yang lain, yaitu wanita yang bernama Retno Susilo dan suami wanita itu yang bernama Sutejo, membantu suami isteri itu dalam segala hal seperti ia membantu gurunya sendiri. Karena itu, yang menjadi sebab permusuhan antara gurunya dan Dibyasakti tadi tidak menarik hatinya.

"Manusia itu sombong sekali. Sayang tadi aku belum sempat membunuhnya!" katanya dan mendengar ini, Ki Ageng Branjang agak terkejut dan heran. Dahulu, dia mengenal muridnya ini sebagai seorang gadis yang memang lincah dan galak, namun berhati lembut. Akan tetapi, sekarang, ia mengatakan ingin membunuh orang dengan nada suara yang begitu dingin? Benarkah muridnya itu kini menjadi ganas dan dingin, mudah membunuh orang? "Ini disebabkan kebakaran itu, bapa. Saya menjadi terkejut dan cepat meninggalkan dia untuk membantu memadamkan kebakaran. Akan tetapi siapakah yang melakukan pembakaran itu?"

"Mungkin teman Dibyasakti itu, diajeng Muryani. Tadi aku melihat berkelebatnya bayangan orang. Aku mengejarnya dan dia melarikan diri melalui belakang bangunan ini. Larinya cepat bukan main dan dia menghilang di balik puncak, dalam hutan lebat itu. Karena melihat api berkobar aku lalu kembali dan membantu memadamkan kebakaran. Orang itu mempunyai banyak kawan yang pandai, diajeng."

Ki Ageng Branjang mengangguk-angguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan kagum. "Sudahlah, aku kira Raden Dibyasakti itu tidak akan berani muncul kembali. Niatnya hanya hendak mencari kawan untuk membantu Arisbaya menghadapi Mataram, bukan untuk menambah musuh. Bagaimanapun juga, andika berdualah yang telah menyelamatkan Perguruan Bromo Dadali. Sekarang ceritakanlah, Muryani, apa saja yang kau alami sehingga engkau dapat memiliki aji kedigdayaan yang begitu hebat."

Muryani lalu menceritakan semua pengalamannya dengan singkat. Tentang, permusuhannya dengan Ki Demang Wiroboyo yang berlarut-larut sehingga akhirnya Wiroboyo dan Darsikun berhasil membunuh ayahnya, yaitu Ki Ronggo Bangak dan melukainya.

"Ah, jadi ayahmu, sasterawan dan seniman yang baik hati itu terbunuh?" sela Ki Ageng Branjang kaget.

Muryani mengangguk. "Benar, bapa. Saya yang hidup sebatangkara lalu mencari Wiroboyo untuk membalas kematian, ayah. Akhirnya saya dapat menemukannya, akan tetapi karena dia dibantu Darsikun, saya malah tertawan oleh mereka dan dalam keadaan yang gawat dan berbahaya itu muncul guru saya yang kedua yang kemudian mengajarkan semua aji kedigdayaannya kepada saya."

"Siapakah nama besar gurumu itu?" tanya Ki Ageng Branjang.

"Mendiang guru saya itu berjuluk Nyi Rukmo Petak. Ia menyelamatkan saya dan memaksa kedua orang itu melarikan diri dan sejak itu saya ikut dengannya, menjadi muridnya selama empat tahun lebih. Pada suatu hari, guru saya meninggal dunia karena usia tua. Saya hidup seorang diri lagi dan merantau. Pertama-tama yang saya usahakan adalah mencari musuh besar saya, yaitu Wiroboyo dan Darsikun. Akhirnya, saya berhasil membunuh Darsikun dan juga si jahanam Wiroboyo, berkat bantuan Kakangmas Satyabrata ini, bapa."

"Wah, bukan main. Kiranya engkau telah bertemu dengan seorang yang sakti mandraguna dan dapat menimba ilmu yang tinggi darinya. Aku ikut merasa gembira, Muryani. Dan andika, anakmas Satyabrata, kalau boleh kami mengetahui, andika dari manakah, siapa orang tua andika dan siapa pula guru andika yang mulia?"

Ditanya demikian, tiba-tiba wajah yang tampan itu menjadi muram, menunduk dan tampak sedih sekali. Ki Ageng Bran jang terkejut dan cepat berkata, "Ah maafkan aku kalau pertanyaanku tadi membuat andika berduka, anakmas. Bukan maksudku untuk menyinggung perasaanmu..."

"Bapa guru, Kakangmas Satyabrata adalah seorang yang hidup sebatang kara seperti saya, tidak mempunyai keluarga lagi," kata Muryani menerangkan.

"Ahh, maafkan aku kalau begitu, anakmas," kata Ketua Perguruan Bromo Dadali itu.

"Tidak mengapa, paman. Sungguh, pertanyaan paman itu wajar saja, hanya saya yang lemah setiap kali teringat akan diri saya yang sebatang kara ini. Saya berasal dari Cirebon, paman. Orang tua saya... sudah tidak ada. Adapun guru saya... ah, tadinya saya hanya belajar dengan teman-teman, kemudian... alhamdullilah... terima kasih kepada Gusti Allah yang memberi berkah kepada saya... ketika saya bertapa di Pegunungan Careme dalam keadaan hampir mati kelaparan tiba-tiba saya melihat sinar terang keluar dari sebuah gua kecil. Sambil merangkak saya mendatangi gua itu dan di sana saya menemukan kitab-kitab tua yang ternyata mengandung pelajaran aji-aji kanuragan. Saya lalu mempelajarinya dan berlatih dengan tekun selama bertahun-tahun. Setelah selesai baru saya turun gunung, lewat beberapa tahun."

"Wah, Kakangmas Satyabrata, baru sekarang aku mendengar ceritamu yang amat menarik itu!" kata Muryani. "Dan di mana sekarang kitab-kitab itu?"

"Sebelum turun gunung, kitab-kitab yang sudah lapuk dan rusak itu kubakar agar jangan sampai terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat, diajeng," jawab pemuda itu.

"Andika benar, anakmas. Memang sungguh berbahaya sekali kalau kitab-kitab pelajaran aji kesaktian terjatuh ke tangan orang jahat. Akan tetapi, kalau boleh aku bertanya; kitab-kitab itu merupakan peninggalan orang sakti mandraguna yang manakah?"

"Saya tidak tahu jelas, paman. Aka tetapi kalau saya tidak salah duga, mungkin sekali kitab-kitab itu peninggalan mendiang Eyang Sunan Gunung Jati."

"Wah, kalau begitu andika seoran pemuda yang beruntung sekali, anakmas Satyabrata dan aku percaya bahwa andika pasti memiliki kedigdayaan seoran sakti mandraguna."

Malam itu Perguruan Bromo Dadali mengadakan penyambutan meriah kepada Muryani dan Satyabrata. Kambing dan ayam disembelih dan pesta diadakan. Suasana menjadi gembira sekali walaupun tadi nyaris rumah induk terbakar. Untung hanya bagian dapur dan gudang saja yang terbakar. Semua murid Bromo Dadali merasa kagum terhadap Muryani. Tiada hentinya mereka membicarakan pertandingan hebat melawan dan mengalahkan Dibyasakti tadi. Yang tadinya memandang rendah gadis itu merasa malu kepada dirinya sendiri. Muryani tidak tega menolak permintaan Ki Ageng Branjang agar ia dan Satyabrata tinggal selama beberapa hari di perguruan Bromo Dadali sebelum melanjutkan perjalanan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kali Solo, demikian sungai itu dinamakan orang ketika mengalir dari mata airnya yang bersumber di pegunungan di dekat daerah selatan, dan kemudian disebut Kali Solo pula setelah mengakhiri alirannya yang amat jauh itu di pantai Laut Jawa di utara, di Ujung Pangkal daerah Kadipaten Bojonegoro, dalam perjalanannya disebut pula Bengawan Solo. Sungai ini merupakan sungai yang amat panjang dan menampung banyak air dari sungai-sungai lain sehingga terkenal sebagai sungai yang besar dan selalu menimbulkan bencana banjir di musim hujan.

Akan tetapi sungai ini juga merupakan berkah bagi semua petani yang hidup di lembah Kali Solo yang gemah ripah loh jinawi, tanahnya subur sekali. Juga merupakan sarana penghubung antara kadipaten dan kademangan, antara kota dan desa. Dengan menggunakan perahu, orang dapat melakukan perjalanan jauh sekali tanpa banyak menggunakan tenaga seperti kalau berjalan kaki.

Pada suatu pagi yang cerah, sebuah perahu meluncur di atas permukaan Bengawan Solo. Penumpangnya hanya seorang saja, seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun. Melihat pakaiannya yang sederhana dan terbuat dari kain kasar, orang tentu menganggap dia seorang pemuda dusun. Namun ada beberapa keadaan pada dirinya yang mungkin membuat orang menjadi ragu. Wajahnya sungguh jauh berbeda dengan gerak-gerik dan sikapnya yang sederhana.

Wajah itu seperti wajah orang yang biasa disebut masih TRAHING KUSUMO REMBESINO MADU, yaitu berdarah bangsawan atau priyayi. Wajah tampan sederhana itu mengandung wibawa. Mata yang dihias bulu mata lentik dan alis hitam tebal itu bersinar lembut sekali. Hidungnya mancung dan wajah itu tampak selalu cerah karena mulutnya selalu mengembangkan senyum penuh keramahan dan kesabaran. Tubuhnya sedang saja. Perahu berwarna coklat itupun sederhana namun kokoh. Dia duduk santai dalam perahu. Sebuah bungkusan pakaian terletak di depannya dan dengan sebatang dayung kayu, dia mengatur arah perahu yang meluncur halus terbawa arus air bengawan.

Seperti biasa, air Bengawan Solo itu berwarna kecoklatan karena air bercampur tanah. Di musim hujan, air bengawan akan naik sampai tinggi, seringkali bahkan meluap dan menjadi banjir. Kalau sudah begitu, air menjadi semakin keruh, warnanya menjadi semakin coklat gelap. Pemuda itu tidak perlu mendayung perahunya. Agaknya dia tidak tergesa-gesa, membiarkan perahunya hanyut saja dan dia hanya mengemudikan perahunya. Pekerjaan ini amat mudah dilakukan karena perahu itu sudah meluncur sendiri dengan laju dan lurus. Hanya kadang-kadang saja dia membantu luncuran perahu agar tetap lurus dengan gerakan dayungnya, atau membelokkan arah perahu agar tidak menabrak batu yang besar dan yang muncul di permukaan air. Dia lebih banyak termenung.

Memandang air dan keadaan di kedua tepi bengawan yang sunyi dan ditumbuhi banyak pohon, pemuda, itu semakin tenggelam dalam lamunannya. Ketika di tepi sebelah kiri bengawan itu dia melihat beberapa ekor buaya berjemur diri, dia tersenyum dan tiba-tiba dia teringat akan kisah tentang Joko Tingkir yang menaklukkan segerombolan buaya yang menghadang dan mengganggu, ketika dia naik getek, yaitu alat penyeberangan terbuat dari bambu-bambu yang diikat berjajar. Joko Tingkir atau yang juga disebut Mas Krebet atau Panji Mas ini kemudian menjadi adipati di Pajang bernama Adiwijaya.

Perahunya tiba di sebuah tikungan sungai yang tajam. Parmadi masih menoleh ke arah buaya-buaya di tepi sebelah kiri itu ketika tiba-tiba perahunya terseret pusaran air yang kuat sekali. Perahunya tiba-tiba berputar ke kanan. Parmadi, pemuda itu, bagaikan terseret dari lamunannya dan kembali ke alam kenyataan. Dia terkejut dan cepat menggerakkan dayung untuk menahan tarikan air yang berputar itu.

Namun pusaran air itu bagaikan memiliki daya sedot yang amat kuat. Parmadi memperhatikan keadaan di situ. Pusaran air itu besar, berputar ke tengah sungai dibagian tikungan tajam yang merupakan kedung itu. Di tepi kanan, tepat ditikungan berdiri sebatang pohon randu alas yang besar dan tua, bagaikan seorang raksasa yang menunggui kedung dan agaknya pohon tua itu yang memiliki daya sakti dan membuat pusaran air itu. Parmadi merasa seolah pohon itu mengamati dan mentertawakannya.

Namun, keadaannya membuat dia tidak sempat memikirkan hal lain. Cepat di mengerahkan tenaga sakti untuk melawan pusaran air yang menyeret perahunya. Kedua tangannya yang memegang dayung merasa seolah dayungnya bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat. Kalau saja tidak ada tenaga sakti tersalur ke dalam dayung, tentu dayung kayu itu sudah patah. Daya sedot air berpusing itu amat kuatnya.

Walaupun pertahanan Parmadi dengan dayungnya dapat memperlambat lajunya perahu yang dipaksa berputaran mengelilingi pusaran air yang pusat ditengahnya tampak dalam mengerikan, namun tetap saja dia belum dapat membebaskan perahunya dari ulekan (pusaran) air itu. Dia merasa ngeri juga melihat potongan-potongan kayu yang tadinya hanyut di sungai itu kini ditarik pusaran air, sampai ke tengah ulekan dan disedot masuk ditelan air yang berputar putar itu. Kalau sampai perahunya ditarik kepusat ulekan, celakalah dia! Maka diapun mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan agar perahunya jangan tertarik ke tengah.

Tiba-tiba Parmadi melihat sinar hitam meluncur dari bawah pohon randu alas dan tahu-tahu sebuah besi kaitan sebesar lengan telah masuk ke dalam perahunya dan mengait pinggiran perahu. Besi kaitan itu ternyata bersambung dengan tali yang kuat dan ada yang menarik dari bawah pohon. Perahunya tertarik namun masih sukar untuk keluar dari cengkeraman air yang berputar. Parmadi maklum bahwa orang menolongnya, maka diapun menggerakkan dayung sekuat tenaga dan akhirnya kerja sama ini berhasil. Perahunya dapat tertarik keluar dari ulekan dan Parmadi segera mendayung perahunya ke tepi sungai, ke bawah pohon randu alas itu.

Ketika dia menoleh ke tengah, dia melihat seolah pusaran air itu menjadi marah dan mengamuk, ulekannya menjadi semakin besar dan kuat! Perahunya sudah tiba di tepi sungai, lalu berhenti. Dia memandang ke darat untuk melihat siapa orangnya yang telah menolongnya. Dan dia terbelalak, melongo seperti orang bodoh ketika melihat seorang gadis muda sedang mengikatkan tali pada sebuah batu besar. Kiranya tali dengan kaitan besi itu yang menahan perahunya sehingga dia tidak perlu menggunakan tali perahu lagi. Dia melompat ke darat, menghampiri gadis yang telah selesai mengikatkan tali pada batu. Gadis itu membalikkan tubuh, mereka berhadapan dan untuk kedua kalinya Parmadi melongo. Terpesona!

Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, tubuhnya bagaikan setangka bunga sedang mulai mekar, padat langsing dan kulitnya coklat bersih mengeluarkan cahaya mempesona. Wajahnya cantik jelita, dengan rambut hitam panjang yang pada saat itu dibiarkan terurai, tidak digelung seperti wanita yang habis mandi keramas. Rambut itu sebagian menutupi kedua pundaknya dan sebagian lagi terurai lepas di depan dada dan belakang punggung. Indah sekali.

Sepasang matanya amat indah, besar dan bening, pandang matanya tajam dan mata itu seolah selalu bersinar gembira. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya! Entah mana yang lebih kuat daya tariknya, antara matanya dan mulutnya. Bibir itu dihias senyum, akan tetapi seperti berjebi mengejek dan menantang. Parmadi segera dapat merasa bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang bukan merupakan seorang gadis dusun biasa. Ada sesuatu yang lain pada gadis ini. Entah apanya yang membedakannya dari gadis-gadis lain, mungkin sinar matanya yang tajam dan agaknya penuh pengertian itu. Kini mereka berdiri, saling berhadapnn dan gadis itu dengan beraninya membalas pandang mata Parmadi dengan sinar mata penuh selidik seperti sedang menilai sesuatu yang menarik.

Akhirnya Parmadi yang mendahului memberi salam, dengan senyum dan agak membungkukkan tubuhnya, lalu berkata, "Teja-teja sulaksana! Bolehkan aku tahu siapakah andika ini yang telah menolongku keluar dari ulekan itu?"

Deretan gigi putih dan rapi itu tampak. Manis bukan main sepasang bibir yang merekah itu. "Aku memang sering menanti di sini dengan tali kaitanku, siap menolong orang asing yang bodoh membiarkan perahunya diseret ulekan. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, sebaiknya engkau yang lebih dulu memperkenalkan diri kepadaku."

Parmadi tersenyum. Gadis ini pandai bicara, lincah, tidak pemalu dan agak angkuh! Diapun tidak ingin memperkenalkan namanya di sembarang tempat, maka dia lalu berkata sederhana, "Orang-orang menyebut aku Seruling Gading. Dan andika siapakah?"

Gadis itu tersenyum, matanya terbelalak memandang wajah Parmadi lalu menoleh ke arah pusaran air. "Andika lihat," telunjuknya yang mungil meruncing itu menuding ke arah pusaran air. "Tempat ini namanya Kedung Srengenge, lihat bentuk ulekan itu, seperti srengenge (matahari), bukan. Juga kalau tengah hari, bayangan matahari terpantul di air. Namamu Seruling Gading? Tentu karena itu!" Ia menuding ke arah suling terbuat dari gading, pusaka Parmadi pemberian gurunya. "Kalau begitu sebaiknya akupun menggunakan nama sandi (rahasia). Aku adalah... Puteri Kedung Srengenge! Nah, cocok, bukan? Si Seruling Gading bertemu dengan Puteri Kedung Srengenge!" Gadis itu tertawa geli, tawanya lepas dan tidak malu-malu, wajar dan tidak di buat-buat.

Mau tidak mau Parmadi juga ikut tertawa, terseret oleh tawa gadis itu. Gadis itu menahan tawanya, akan tetapi dadanya masih terguncang oleh geli hati, kedua matanya yang tadi besar bersinar itu kini menyipit, membuat wajah itu menjadi semakin manis. "atau... andika menghendaki yang lebih serem lagi? Bagaimana kalau..." Ia menengok dan memandang kepada randu alas besar yang berdiri di situ. "bagaimana kalau namaku Peri Randu alas? Hi-hik, menyeramkan sekali, bukan...?"

Tiba-tiba Parmadi mengerutkan alisnya dan dia memandang pohon randu alas yang tua dan besar itu, lalu memandang ke arah pusaran air di kedung. Terasa olehnya ada getaran yang aneh dan tahulah dia bahwa pohon randu alas besar itu memang ada "penunggunya" dan inilah agaknya yang membuat ulekan air itu menjadi tidak wajar, mengandung daya yang aneh luar biasa.

Tempat seperti ini amat berbahaya dan sudah menjadi kewajibannya untuk "membersihkannya". Lalu dia menatap tajam wajah gadis itu. Jangan-jangan...!?

"Hei, kenapa andika memandangku seperti itu?" Gadis itu menghentikan tawanya dan menegur sambil memandang de ngan sinar mata penuh selidik. Parmadi bernapas lega. Mata batinnya melihat bahwa gadis ini bukanlah mahluk halus, melainkan manusia biasa, bukan penunggu pusaran air atau randu alas seperti yang dicurigainya semula. Dia merasa bersalah dan untuk menebus kesalahannya, dia memperkenalkan dirinya dengan jujur.

"Maaf, aku tadi hanya main-main. Namaku adalah Parmadi."

Gadis itu tiba-tiba bersikap sungguh-sungguh, membuat gerakan seperti tokoh wayang Srikandi sedang berjoget, lalu mengeluarkan kata-kata yang nyaring dan genit seperti Srikandi sedang bergaya di atas panggung. "Wahai, Raden Parmadi! Apakah paduka datang ke sini untuk mencari Kakangmbok Woro Sembodro?"

Tingkahnya itu lucu dan kewes. Pasti indah sekali kalau gadis itu bermain sebagai Srikandi di panggung wayang orang, pikir Parmadi. "Andika memang pantas menjadi Srikandi, akan tetapi andika jelas bukan Srikandi dan akupun bukan pula Permadi atau Arjuna. Namaku Parmadi, bukan satria PANENGAHING PANDAW. Cukuplah main-main ini, kalau andika tidak mau memperkenalkan nama, sudahlah, akupun tidak memaksa. Akan tetapi harap jangan main-main dengan kedung dan pohon randu alas ini, karena tempat ini memang berhantu!"

Gadis ini membelalakkan matanya yang indah dan memandang ke arah kedung, lalu menoleh ke arah pohon. "Wahh... berhantu...??"

Parmadi mengangguk. "Ada penunggunya."

Gadis itu tiba-tiba merasa ngeri. "Ih, jangan nakut-nakuti orang, Kakang Parmadi! Maafkan kalau tadi aku mempermainkanmu, namaku adalah Ayu, Ayu Puspa."

"Aku tidak main-main atau menakut-nakutimu, Ayu. Memang tempat ini berhantu dan sudah menjadi kewajiban kita untuk membersihkan tempat ini agar jangan ada yang mengganggu perahu-perahu yang lewat di sini."

"Kita? Hih, mana bisa aku melawan hantu? Engkau sajalah, kalau engkau mampu!" kata Ayu Puspa sambil bergilik.

"Memang aku hendak membersihkan tempat ini, Ayu. Kalau engkau takut, mundur dan menjauhlah agar kalau pohon ini tumbang tidak dapat menjangkau dan menimpamu."

Ayu Puspa benar-benar merasa ngeri dan iapun cepat meninggalkan tempat itu sampai cukup jauh dari pohon randu alas. Ia bersembunyi di balik batu besar sambil memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang. Dengan terheran-heran dan memandang tanpa pernah berkedip Ayu Puspa melihat Parmadi sekarang duduk bersila di dekat pohon randu alas dan mengeluarkan sebatang suling gading yang tadi terselip di ikat pinggangnya. Setelah diam tak bergerak beberapa saat lamanya seperti orang bersamadhi, ia melihat pemuda itu mulai meniup sulingnya. Terdengar suara mendayu-dayu dan Ayu Puspa terpesona.

Suara suling itu sungguh luar biasa. Berbeda dengan suara suling yang sering ia dengar. Suaranya lembut, halus dan merdu, mengandung alunan sepert menimang-nimang hati, membuat ia yang mendengarnya merasa nyaman dan nikmat sehingga mengantuk. Akan tetap suara itu makin menguat sehingga melengking lengking seperti ada ribuan orang sedang bertempur, membuat hati Ayu Puspa menjadi miris dan iapun menutupi kedua telinganya dengan tangan.

Tiba-tiba Ayu terbelalak melihat pohon randu alas yang tinggi besar itu tumbang ke arah Parmadi. Ayu Puspa menurunkan kedua tangan yang tadi menutupi telinganya dan ia menjerit. "Kakang Parmadi... lari... cepat�.?!" Akan tetapi ia melihat dengan wajah pucat betapa pohon itu telah tumbang dengan suara berkerosakan dan tampaknya menimpa tubuh Parmadi!

"Kakang Parmadi ! Kakang...!" Ayu Puspa terisak menangis, akan tetapi masih takut untuk mendekati pohon yan tumbang, hanya kedua matanya yang basah air mata itu mencari-cari.

"Ayu, kenapa engkau menangis?" Suara lembut itu terdengar menegur di belakangnya. Ayu Puspa cepat membalik dan ternyata Parmadi telah berdiri di belakangnya. Gadis itu mengeluarkan seruan setengah tawa setengah tangis dan menubruk lalu merangkul pinggang Parmadi. Parmadi juga memeluk kedua pundak gadis itu. Mereka berpelukan dan sesaat kemudian Parmadi terbelalak, perlahan-lahan melepaskan rangkulan mereka. Dia terkejut dan heran. Dia telah berpelukan dengan seorang gadis yang baru saja dikenal dan dijumpainya!

Segalanya terjadi begitu saja, seolah wajar. Padahal, tentu saja tidak wajar seorang pemuda berangkulan dengan seorang gadis, padahal mereka baru saja berkenalan. Semua ini mungkin digerakkan oleh rasa lega, girang, haru dan baru saja terlepas dari cengkeraman ketegangan. Melihat Parmadi melepaskan rangkulan dan memandang ke arah belakangnya dengan alis berkerut dan mata bersinar, Ayu Puspa cepat membalikkan tubuhnya dan iapun terbelalak.

Seekor buaya yang kulitnya berwarna putih, besar dan panjang sekali, berjalan cepat menghampiri mereka, kini berada dalam jarak empat meter dari mereka! "Hemm, ini penunggu Kedung Srengenge kiranya," Parmadi berbisik dan aneh sekali, kembali dia teringat akan kisah Joko Tingkir! Ada dua macam "penunggu" tempat angker, yaitu roh jahat yang tidak tampak dan mahluk jadi jadian seperti buaya putih ini. Untuk menghadapi roh jahat yang tidak tampak, suara sulingnya dengan Aji Sunyatmaka (Berjiwa Bebas) yang dibimbing oleh Kekuasaan Roh Suci cukup untuk mengusir roh-roh jahat. Akan tetapi untuk melawan mahluk jadi-jadian, selain kekuatan jiwa, diapun harus mempergunakan kekuatan jasmani.

Tiba-tiba Ayu Puspa dengan sigap melompat ke depan Parmadi seperti hendak melindungi, menghadapi buaya itu dan berkata, sikapnya gagah, tidak lagi ketakutan seperti tadi. "Mundurlah, Kakang Parmadi. Biarlah yang ini serahkan saja padaku!"

Tangan kanannya bergerak dan ia sudah mencabut sebatang patrem yang tajam mengkilat dan runcing. Senjata wanita ini tadi ia sembunyikan di balik bajunya, terselip di pinggangnya yang ramping. Agaknya ia menyangka bahwa Parrnadi hanya pandai mengusir setan dan tidak memiliki kedigdayaan untuk melawan binatang buas itu. Sebaliknya, melihat sikap gadis yang gerakannya cukup tangkas itu, Parmadi merasa kagum dari tersenyum, membiarkan gadis itu menghadapi buaya putih. Tentu saja diapun selalu siap siaga untuk melindungi, kalau-kalau gadis itu terancam bahaya!

Dengan langkah ringan, agak berjungkit Ayu Puspa menghampiri buaya itu. Matanya bersinar-sinar, bibirnya agak tersenyum dan wajahnya sama sekali tidak membayangkan rasa takut. Buaya itu panjangnya tidak kurang dari empat meter! Kini binatang itu tidak bergerak lagi, melainkan membuka moncongnya yang lebar, yang dapat memangsa manusia dengan sekali telan. Matanya tak pernah berkedip dan tampaknya seperti mati kalau saja tidak tampak ekornya yang panjang dan bergigi kokoh seperti gergaji itu tidak bergerak-gerak sedikit.

"Awas ekornya!" kata Parmadi yang merasa khawatir juga karena dia pernah mendengar bahwa serangan buaya yang amat berbahaya adalah apabila ia mempergunakan ekornya untuk memukul ke depan. Terpukul ekor seperti itu sampai saja dengan terpukul palu godam besi yang bergigi! Mendengar seruan Parmadi, Ayu Puspa menoleh dan tersenyum sambil mengibaskan tangan kirinya, seolah memberi isyarat kepada pemuda itu agar jangan khawatir. Seolah melawan seekor buaya putih raksasa ini merupakan permainan biasa saja baginya. Gadis itu memandang rendah binatang buas itu!

Hal ini mengkhawatirkan hati Parmadi. Tentu gadis itu tidak mengira bahwa mahluk yang ia hadapi itu bukan mahluk biasa melainkan seekor binatang yang sudah dikuasai roh jahat sehingga menjadi berbahaya sekali, jauh lebih berbahaya dari pada binatang buas biasa! Melihat gadis itu menghampirinya, buaya yang tadinya diam seperti sepotong kayu itu, tiba-tiba, tanpa tanda apapun, sudah menerkam ke depan dengan moncongnya yang terbuka sejak tadi. Moncong itu terbuka lebar, memperlihatkan gigi yang kokoh dan runcing, menyambar kearah tubuh Ayu Puspa.

"Aihhh...!" Ayu Puspa berseru lincah jenaka dan seperti bermain-main, suaranya melengking dan tubuhnya sudah mengelak ringan dan cepat ke samping sehingga gadis itu berada di samping kiri buaya itu. Akan tetapi pada saat itu juga, ekor buaya itu menyambar dari belakang dengan kekuatan yang akan mampu memecahkan batu karang yang besar.

"Heeiiiiiitt!" Tubuh gadis itu sudah melompat ke atas sehingga ekor buaya itu menyambar di bawah kakinya. Parmadi tersenyum dan hilang kekhawatirannya. Ternyata gadis itu memiliki gerakan yang cukup lincah dan cepat, terlalu cepat bagi gerakan buaya yang lamban dan hanya mengandalkan tenaga besar itu.

Tubuh Ayu Puspa mencelat ke atas dan ia turun sengaja ke atas punggung buaya yang bergigi seperti gergaji itu. Parmadi mengerutkan alis lagi. Betapa beraninya gadis itu! Ayu Puspa memang lincah dan gesit. Setelah kedua kakinya hinggap di atas punggung buaya yang lebar itu, ia berteriak, "Mampuslah kau!" Tangan yang memegang patrem itu bergerak kebawah, menusukkan patremnya yang runcing mengkilat ke arah kepala binatang itu.

"Nuuttt trakkk!!" Ayu Puspa menjerit kecil ketika senjatanya bertemu dengan kulit kepala yang keras dan kuat seperti baja! Patremnya membalik dan sama sekali tidak melukai kepala itu.

"Ayu...awas!" Parmadi kembali berseru karena dia melihat ekor buaya itu kembali menyerang dari belakang. Ekor itu menyambar ke atas lalu menghantam kearah gadis yang hinggap punggungnya!

"Blarrr...!" Ekor itu menghantam punggung buaya sendiri mengeluarkan suara keras ketika Ayu Puspa sudah melompat dan mengelak ke samping kiri. Akan tetapi buaya itu menggerakkan moncongnya ke kiri dan moncong itu menyambar ke arah kaki Ayu Puspa. Kembali gadis itu mengelak sambil melompat. Akan tetapi kini ia kewalahan juga karena kemana pun ia mengelak, ekor dan moncong buaya itu bergantian menyambar sehingga Ayu tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang. Pula, apa artinya serangannya? Kulit buaya itu amat kuatnya, tidak akan dapat ditembusi patremnya. Ia hampir kehilangan akal, akan tetapi dasar gadis pemberani, ia malu kalau harus mundur dan menyerah. Maka, ia pun sedapat-dapatnya membalas dengan tendangan-tendangan kakinya. Biarpun ia menggunakan tenaga dalam, tetap saja tubuh besar buaya itu tidak bergeming, bahkan kedua kakinya terasa panas dan nyeri kalau menendang dan bertemu dengan kulit buaya.

Biarpun gadis itu tidak mengeluarkan keluhan, namun Parmadi maklum bahwa gadis itu kewalahan dan merasa kedua kakinya nyeri, maka dia menjadi tidak tega. "Ayu, serang matanya! Matanya!"

Mendengar seruan Parmadi ini, Ayu menjadi girang. Baru ia teringat dan ketika ekor itu menyambar pula dari samping, ia melompat ke atas punggung binatang itu dan secepat kilat patremnya bergerak meluncur turun, tepat mengenai mata kanan binatang itu. Begitu patremnya melukai mata, Ayu cepat melompat jauh. Binatang itu mengeluarkan suara yang mengerikan. Tubuhnya berguling-guling, ekornya menyambar-nyambar ke kanan kiri, moncongnya menyerang dengan ngawur dan mata kanannya berdarah. Lalu dia meluncur ke arah sungai dan meluncur turun. Terdengar bunyi air muncrat ketika tubuh buaya besar itu menimpa air.

Ayu Puspa sudah berlari ke tepi sungai. Ia melihat buaya itu masih menongolkan kepala dipermukaan air dan matanya yang kanan terobek. "Awas kau!" kata gadis itu lantang sambil mengacung-acungkan patremnya. "Kalau engkau masih berani mengganggu perahu yang lewat di Kedung Srengenge ini, aku pasti akan mencarimu dan membunuhmu!" Buaya itu menyelam dan tidak tampak lagi. Parmadi sudah berdiri di sisinya.

"Mudah-mudahan dia takut mendengar ancamanmu tadi, Ayu," kata Parmadi serius.

"Eh, apa kau kira dia mengerti kata-kataku, Kakang Parmadi?"

"Tentu saja dia mengerti. Dia bukan buaya biasa, Ayu. Karena itulah dia begitu kuat dan cerdik."

"Ah, betapa bodoh aku ini. Tidak ingat bahwa kelemahan buaya itu pada matanya yang tidak kebal. Aku sungguh bodoh!"

"Engkau? Bodoh? Wah, baru sekali ini aku menyaksikan seorang gadis bertanding melawan buaya putih jadi-jadian dan berhasil melukai dan mengusir binatang itu. Sungguh engkau gagah perkasa, benar-benar seperti Srikandi!"

Ayu Puspa menyimpan patremnya, setelah membersihkan noda darah dengan air di tepi sungai, lalu memandang pemuda itu sambil tersenyum. "Mana mungkin aku seperti Srikandi? Srikandi itu kan cantik jelita, selain gagah perkasa?"

"Siapa bilang engkau tidak cantik jelita, Ayu? Baru namamu saja sudah ayu (cantik). Engkau bahkan lebih ayu manis merak ati ketimbang Srikandi!"

"Aih, rayuan gombal! Masa aku lebih cantik ketimbang Srikandi?"

"Aeh, tidak percaya? Srikandi itu kalau sudah tua dan menjadi nenek-nenek tentu tidak cantik lagi. Akan tetapi engkau, biar nanti sampai berusia seratus tahun sekalipun, masih tetap Ayu."

"Tentu saja! Memang namaku Ayu. Tapi Srikandi yang ini, kakang, kalau tadi tidak ada nasihat dari Raden Permadi, tentu sudah menjadi mangsa buaya putih!"

"Ah, sudahlah, tak mungkin menang aku berbantahan denganmu. Lihat itu, sudah terjadi perubahan, bukan?" Parmadi menunjuk ke arah pusaran air. Ayu Puspa memandang dan ia mengangguk senang. Air ulekan yang tadinya amat kuat dan tampak mengerikan itu, kini hanya merupakan pusaran air yang lemah dan biasa saja. Biasa terjadi pada air sungai yang menikung tajam.

"Hemm, Kedung Srengenge kini tidak merupakan tempat angker lagi bagi para nelayan dan tukang perahu." Ia berhenti sebentar, lalu memandang ke arah pohon randu alas yang tumbang, kemudian menoleh kepada Parmadi dan bertanya dengan suara penuh keheranan, kekaguman dan ingin tahu sekali. "Akan tetapi, Kakang Parmadi, ketika tadi engkau meniup sulingmu secara aneh, kenapa pohon besar itu tiba-tiba tumbang?"

Terpaksa Parmadi berterus terang karena kiranya tidak mungkin membohongi gadis yang cerdik ini. "Guruku mengajarkan aku meniup suling untuk mengusir setan yang biasa menggoda manusia. Pohon itu dihuni setan. Setelah aku meniup sulingku, dia tidak tahan, harus pergi dari sini dan untuk melampiaskan kemarahannya, dia menumbangkan pohon tempat tinggalnya itu."

"Bukan main! Kalau begitu, dia sengaja menumbangkan pohon itu ke arahmu, untuk menimpamu, kakang?"

Parmadi mengangguk. "Hanya itu yang dapat dia lakukan terhadap manusia. Untung aku dapat menghindar sebelum pohon itu menimpaku."

"Aku tadi khawatir dan takut sekali kakang. Aku tidak melihat engkau menghindar. Kukira engkau tertimpa pohon."

Parmadi teringat betapa gadis itu tadi merangkulnya. Masih terasa kehangatan tubuh yang lembut dan padat itu dan wajahnya menjadi kemerahan. Laki-laki mana yang tidak akan terguncang hatinya kalau dirangkul ketat seorang gadis sejelita Ayu Puspa?

"Terima kasih atas perhatianmu, Ayu."

"Sudahlah, di antara kita tidak ada terima kasih-terima kasihan, bukan? Kita sudah menjadi sahabat dan karena itu kita perlu lebih mengetahui keadaan masing-masing. Mari duduk, kakang, agar lebih enak kita bicara." Gadis itu duduk di atas batu besar dan Parmadi lalu duduk didepannya. Sejenak mereka saling pandang. Melihat sikap gadis itu demikian terbuka, tidak malu-malu menatapnya penuh selidik, membayangkan kejujuran yang wajar, Parmadi juga merasa cepat akrab dengan Ayu Puspa.

"Nah, sekarang siapa yang akan menceritakan keadaan dirinya lebih dahulu," kata Ayu.

"Kenapa kita harus saling menceritakan keadaan masing-masing?" tanya Parmadi.

"Lha, tentu saja! Tentu saja! Seorang sahabat harus mengetahui keadaan sahabatnya, kalau tidak begitu, perkenalan itu belum matang namanya dan mana bisa disebut sahabat kalau tidak tahu apa-anpa tentang sahabatnya?"

"Baiklah, kurasa engkau yang harus lebih dulu menceritakan keadaan dirimu karena engkau lebih muda dariku, Ayu."

"Wah, mana bisa begitu! Engkau laki-laki, kakang, dan sudah sepantasnya, bukan, kalau laki-laki itu harus selalu mengalah terhadap wanita? Apakah dalam mendahului menceritakan riwayat ini engkau sebagai laki-laki tidak mau mengalah terhadap aku?"

Gadis itu menegakkan kepalanya, membusungkan dadanya yang montok dan matanya berbinar-binar. Parmadi tertawa, tak berdaya menghadapi gadis yang pandai bicara dan pandai berdebat itu.

"Baiklah, akan tetapi engkau aka mengantuk mendengar cerita tentang diriku. Habis tidak ada apa-apanya yang menarik. Aku menjadi yatim piatu sejak usia sepuluh tahun..."

"Sama!" Ayu memotong.
"Heh? Apanya yang sama?"
"Yatim piatunya!"
"Ah, begitukah? Aku girang sekali!" kata Parmadi.

"Apa?" Ayu menteleng (memandang marah). "Kau girang sekali mendengar aku sudah yatim piatu? Sadis kau!"

"Eh, bukan, Ayu. Bukan yatim piatunya. Aku girang karena aku mempunyai sahabat senasib, jadi tidak menderita seorang diri."

"Huh, mementingkan diri sendiri itu namanya. Lanjutkan!"

"Mementingkan diri sendiri?" Parmadi mengejar.

"Tentu saja. Kalau senang, mau dinikmati sendiri. Kalau susah, ingin mengajak orang lain. Apa namanya itu kalau bukan mementingkan diri sendiri? Hayo, lanjutkan ceritamu. Takkan ada habisnya kalau putar-putar begitu."

"Baiklah. Sampai dimana ceritaku tadi."
"Engkau yatim piatu."
"Oya, aku yatim piatu. Namaku Parmadi."
"Sudah tahu!"

"Hemmm oya, ketika itu aku tinggal di dusun Pakis, di lereng Gunung Lawu, setelah kedua orang tuaku meninggal, aku bekerja mengurus kuda milik demang disana. Setelah aku berusia delapan belas, aku bertemu dengan guruku yang bernama Resi Tejo Wening dan aku hidup bersama guruku dipuncak Gunung Lawu bersama guruku..."

"Sama!"
"Apanya?"
"Akupun tinggal bersama kakekku di puncak gunung! Bukan Gunung Lawu, akan tetapi Gunung Wilis!"

"Selama lima tahun aku tinggal bersama guruku di Puncak Lawu. Kemudian aku disuruh turun gunung dan aku melakukan perjalanan merantau. Nah, hari ini kebetulan perantauanku membawa sampai di sini, perahuku diseret pusaran air dan engkau menolongku lalu kita berkenalan dan sekarang kita duduk di atas batu bercakap-cakap..."

"Sudah tahu! Cuma begitu saja kisah tentang dirimu?"