Jago Pedang Tak Bernama Jilid 03

JAGO PEDANG TAK BERNAMA JILID 03

Lui Im yang terkenal dengan sebutan Golok Setan karena memang permainan goloknya sangat ditakuti kaum persilatan, meminpin sebuah perkumpulan yang berpengaruh yaitu perkumpulan Cung lim pang. Telah lama perkumpulannya menanam bibit permusuhan dengan perkumpulan Hong bu pang yang berada di kota itu juga.

Permusuhan itu sebenarnya dibangkitkan oleh soal yang kecil saja. Mula-mula terjadi perkelahian pribadi antara seorang anggota perkupulan Cung lim pang dan seorang anggota Hong bu pang. Tentu saja rasa setia kawan dari masing-masing pihak mudah saja terbakar oleh perkelahian ini dan rasa permusuhan menjalar begitu dalam hingga Lui Im sendiri dan ketua Hong bu pang yang bernama Tan tek Seng seorang jagoan cabang atas, ikut-ikut terseret.

Kedua jago tua ini sebenarnya memiliki kepandaian tinggi dan mempunyai kesabaran yang besar, tapi desakan api permusuhan yang dikobarkan oleh anak buah masing-masing demikian besar hingga pada suatu hari kedua jago-jago tua itu bertemu untuk mengadu tenaga!

Dalam perkelahian yang hebat itu Tan Tek Seng dapat dikalahkan oleh Lui Im. Tentu saja kekalahan ini tidak ditelan mentah-mentah oleh pangcu dari Hong bu pang itu. Ia menaruh dendam hati yang ditahan-tahan.

Beberapa bulan kemudian. Lui Im menerima surat tantangan dari Tan Tek Seng untuk mengadu tenaga di hutan Hek san lim di luar kota. Dalam surat itu disebutkan bahwa masing-masing tidak boleh membawa teman. Lui Im adalah seorang jagoan tua yang gagah berani. Menerima surat itu, walaupun dalam hatinya terbit curiga, namun ia merasa malu jika ia tidak berani datang ke hutan itu seorang diri. Demikianlah, pada hari itu ia pergi seorang diri ke hutan tersebut.

Di tengah hutan telah menanti Tan Tek Seng, tapi pangcu yang licik itu ternyata tidak datang seorang diri. Ia mempunyai seorang kawan yang disembunyikan. Maka, ketiaka mereka sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba saja muncul seorang pendeta memelihara rambut panjang memisahkan mereka dan pura-pura menanya persoalan mereka.

Sebenarnya imam itu adalah orang bawaan Tan Tek Seng. Untuk membuktikan bahwa Tan Tek Seng datang seorang diri, maka imam itu diminta datang belakangan. Dalam keputusan dan pengadilan yang berat sebelah Lui Im menjadi marah dan akhirnya ia bertarung dengan imam itu yang mengaku bernama Ang Hwat Tojin. Ternyata imam itu hebat sekali hingga akhirnya Lui Im kena totok roboh dan tak berdaya.

Tahu-tahu ia telah dibawa oleh lawannya kedalam pondok itu, sedangkan kedua lawannya makan minum hidangan yang telah disediakan dalam pondok. Dalam keadaan tidak berdaya inilah Lui Im dapat menangkap pembicaraan mereka dan tahu bahwa Ang Hwat Tojin memang sengaja diundang oleh Tan Tek Seng untuk menjatuhkannya.

Sehabis bercerita. Lui Im menghela napas lagi. “Bu Beng hiante, mereka sangat menghinaku. Ketika hendak pergi, imam itu berkata bahwa jika aku hendak menuntut balas aku boleh datang ke rumah Tan Tek Seng pangcu karena ia akan berdiam disana selama satu bulan. Sungguh sakit sekali hatiku. Biarpun aku harus mengakui bahwa ia lebih unggul dariku, tapi aku lebih baik mati daripada menerima hinaan ini. Sekarang juga aku harus pergi kesana mengadu tenaga!”

Sambil mengucapkan kata-kata ini, Lui Im berdiri dan dengan tangan mengepal ia kertakan gigi, kedua matanya bersinar menyala-nyala. Bu Beng juga merasa panas akan kecurangan Tan pangcu. Lebih-lebih jika diingat bahwa Lui Im adalah sahabat baik suhengnya, Kim Kong Tianglo. Sebelum ia berkata sesuatu, Lui Im berkata lagi dengan suara sedih.

“Ah sayang sekali, kalau saja sahabatku Kim Kong Tianglo berada disini, belum tentu aku yang tua ini sampai terhina demikian rupa!”

Bu Beng merasa akan sindiran ini, ia maklum bahwa bagaimanapun juga, Lui Im tidak percaya bahwa ia cukup kuat untuk membelanya. Maka dengan tenang ia berkata,

“Loenghiong, aku sebagai sute dari Kim Kong Tianglo, mana dapat berpeluk tangan melihat saja semua kejadian ini? maka jika kau sudi menerimanya, aku tawarkan tenagaku yang tak berati ini untuk mewakili suhengku membantumu dalam persoalan ini.”

Lui Im berdiri dengan wajah girang. “Terima kasih hiante, terima kasih. Kalau kau suka membantu, pasti sakit hatiku ini dapat dicuci bersih.”

“Jangan terlalu berbesar harap, loenghiong, tapi aku akan bekerja sekuat tenaga. Bilakah kita akan kesana?”

“Mari kita makan dulu, hiante. Bangsat-bangsat itu sengaja meninggalkan makanan diatas meja agar aku merasa sengsara dan menderita. Mari kita beristirahat dulu semalam ini. besok pagi-pagi kita berangkat.”

Keduanya lalu makan dan Bu Beng yang telah merasa lapar sekali makan dengan lahapnya. Kemudian mereka mengaso dalam kamar itu dimana terdapat sebuah tempat tidur batu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berangkat dan langsung manuju ke kampong Hong bu pang. Perkampungan itu terdiri dari beberapa petak rumah yang semuanya milik anggota-anggota perkumpulan itu. Kampong itu dikelilingi oleh tembok tinggi yang dipasang besi-besi runcing diatasnya. Empat pintu besar di tiap penjuru dibuka lebar-lebar dan beberapa gerobak hilir mudik melaluinya. Pintu itu masing-masing dijaga oleh enam orang bersenjata tombak dan golok. Sikap mereka galak dan angkuh.

Lui Im dan Bu Beng menghampiri pintu selatan. Mereka dihentikan oleh penjaga-penjaga disitu dan ditanya keperluan mereka.

“Kami berdua hendak menjumpai Tan pangsu.”

Ketika penjaga-penjaga itu mendengar bahwa yang datang adalah pangcu dari Cung lim pang, berubahlah wajah mereka dan dua orang diantaranya segera lari masuk memberi laporan.

Tak lama kemudian, dari dalam perkampungan kecil itu keluar orang setengah tua yang bertubuh tegap dengan tindakan kaki tetap, menandakan bahwa ia adalah seorang ahli silat. Ketika melihat Lui Im, ia menjuru dengan hormat.

“Maafkan, Lui pangcu, pangcu kami kebetulan sedang keluar kampong. Tapi ia tadi memberi pesan padaku, bahwa jika ada orang datang mencarinya, diminta agar kembali lagi malam nanti.”

Lui Im kenal bahwa yang datang itu adalah seorang jagoan di Hong bu pang yang bernama A Liat si Angin Ribut. Maka ia balas menjuru dan berkata kecewa. “Ah, sayang sekali. Sebenarnya aku datang memenuhi undangan Ang Hwat Tojin.”

“Ang Hwat Tojin juga keluar bersama-sama pangcu. Sebaiknya Lui Im pangcu kembali saja malam nanti.”

Ketika berkata demikian A Liat mengerling kearah Bu Beng sambil mengamat-amati, seakan-akan sedang mengukur-ukur kekuatan orang itu. Ketika itu Lui Im duduk diatas sebuah bangku yang terdapat ditempat jaga itu dan melihat Bu Beng berdiri saja, si Angin Ribut segera menghampiri bangku batu di sudut dan dengan sekali congkel dengan kaki bangku itu melayang keatas dan diterima olehnya seakan-akan bangku batu yang beratnya ada seratus kati itu hanya merupakan bangku bambo saja. Kemudian ia membawa bangku itu kepada Bu Beng dan berkata,

“Silakan duduk, tuan muda,” ucapan 'tuan muda' ini mengandung sindiran, karena Bu Beng yang ketika itu belum mengganti pakaian kuning penuh tambalan sesungguhnya sebutan 'tuan muda' itu tidak pantas dan menggelikan.

Bu Beng maklum bahwa orang itu sedang menunjukkan kekuatan tenaganya. Maka ia pura-pura kaget dan termangu. “Ah, tenaga tuan sungguh mengkagumkan! Terima kasih!” kemudian ia duduk di bangku batu yang tebal itu, tapi diam-diam ia kerahkan tenaga dalamnya dan “krak!” kaki bangku itu patah menjadi empat.

“Sayang bangkumu lapuk sekali, tuan,” kata Bu Beng tersenyum dan berdiri tegak. Bukan main kaget A Liat melihat hal ini. diam-diam ia kagum sekali, maka ia menjuru dan berkata, “Maaf.”

“Nah, kalau begitu, biarlah kami kembali malam nanti pada kentungan sembilan kali. Katakanlah kepada pangcumu agar ia bersikap demikian pula kepada Ang Hwat Tojin,” kat a Lui Im yang segera mengajak Bu Beng pergi.

Mereka berdua lalu menuju ke kampong Lui Im. Semua anggota perkumpulan Cung Lim pang yang tadinya telah merasa cemas dan khawatir karena pangcu mereka semalam tidak pulang, kini menjadi girang melihat pangcu mereka kembali dalam keadaaan sehat. Istri Lui Im dan Kui hwa anak gadisnya menyambut kedatangan mereka dengan ramah tamah.

Lui Im membuat perjamuan untuk menghormati tamunya. Ketika mendengar bahwa anak muda yang berpakaian kuning penuh tambalan itu adalah sute dari Kim Kong Tianglo yang mereka kenal baik, nyonya Lui Im makin manis sikapnya dan lebih-lebih Kui hwa. Lui Im merasa gembira sekali, karena ia yakin bahwa Bu Beng pasti dapat membersihkan namanya. Maka ia makan minum sepuas -puasnya sampai mabuk. Di tengah-tengah perjamuan ia berkata kepada tamunya.

“Bu Beng hiante, maafkan kalau aku berlaku lancang. Berapakah usia hiante tahun ini dan apakah sudah mempunyai hujin?”

Merah wajah Bu Beng mendengar pertanyaan ini. karena pertanyaan dari seorang yang mempunyai anak gadis yang diajukan seperti ini bukannya tak mengandung arti. Maka dengan malu-malu ia berkata,

“Siauwte berusia dua puluh enam tahun dan belum kawin, tapi….” Ia menyambung cepat, “siauwte sudah bertunangan.”

Biarpun ditahan-tahan, nampak juga kekecewaan menggores wajah Lui Im. “Siapakah nona tunanganmu itum hiante?”

“Ia adalah puteri dari mendiang Lui Pa San loenghiong.” Katanya dan tiba-tiba ia teringat akan penyakit yang diderita Cin Eng hingga tak terasa menghela napas.

Demikianlah, hari itu mereka lewati dengan makan minum dan bercakap-cakap. Lui Im suka sekali kepada pemuda yang bersikap sopan dan pandai membawa diri itu. Bu Beng mendapat sebuah kamar istimewa dan ketika ia dipersilakan mengaso, ia buka bungkusan pemberian Cin Eng. Ternyata bungkusan itu berisi dua stel pakaian warna kuning yang masih baru dan sehelai selimut.

Bu Beng kagum sekali betapa cepatnya gadis pujaannya itu mempersiapkan pakaian untuknya. Ah, tentu sepulangnya dari hutan itu, tunangannya terus menjahit hingga pagi! Ia lepaskan pakaiannya yang lapuk dan mengenakan pakaian baru itu. Ternyata pas benar! Ia makin kagum kepada kekasihnya. Kemudian ia berbaring dan tidur. Pada kira-kira pukul tujuh malam, ia jaga dari tidurnya dan terus duduk bersemedhi menentramkan semangat karena ia harus menghadapi kemungkinan bertempur melawan orang-orang lihai.

Beberapa jan kemudian terdengar panggilan Lui Im perlahan. Bu Beng yang sudah siap lalu membuka pintu. Orang tua itu telah berpakaian ringkas dan pinggangnya tergantung goloknya. Ia nampak gagah dan sigap.

“Sudah siap, hiante?” tanyanya perlahan.

“Sudah, marilah.”

Ternyata Lui Im tidak memberitahukan persoalannya kepada anak istrinya agar mereka jangan merasa khawatir. Maka diam-diam kedua orang itu meninggalkan kampung dan menuju kearah Hong bu pang. Ketika mereka tiba di depan pintu gerbang Hong bu pang, ternyata pintu itu tertutup rapat. Bu Beng mencoba mendorongnya, tapi pintu itu terbuat daripada besi tebal dan terkunci dari dalam, kuat sekali.

“Eh, kenapa mereka menutup pintu? Takutkah mereka?” Tanya Bu Beng.

“Tidak mungkin mereka demikian pengecut!” seru Lui Im keras-keras dengan sengaja agar dapat terdengar dari balik tembok.

Tiba-tiba Bu Beng memperingatkan. “Awas senjata gelap!”

Tapi Lui Im dapat mendengar juga suara angin menyambar kearah mereka. Ia meloncat dan tiga batang piauw menyambar lewat. Bu Beng mengulurkan kedua tangannya menangkap dua batang pelor yang menyambar kearahnya.

“Ha ha ha ! Lui Im! kau berani datang mencari mampus! Masuklah kalau kau dapat dan berani.” Terdengar suara Tan Tek Seng menertawakan mereka dari atas tembok.

“Orang she Tan pengecut! Biar kukejar sampai dimana juga!” teriak Lui Im dengan marah dan ia siap meloncat keatas, tapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Bu Beng. Lui Im merasakan pegangan itu kuat sekali hingga tak mungkin baginya untuk melepaskan diri dan meloncat.

“Sabar, Lui loenghiong biarlah siauwte yang naik dulu untuk melihat suasana. Aku khawatir mereka memasang jebakan diatas, sebagaimana yang telah mereka lakukan dengan mengirim senjata gelap tadi.”

Sebelum Lui Im dapat menjawab, anak muda itu mengayunkan tubuhnya dan melayang keatas tembok. Bagi orang lain, biarpun ia mempunyai kepandaian tinggi, jika meloncat tembok itu tentu sesampainya diatas akan berpegangan kepada besi runcing. Tapi Bu Beng mempunyai ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang sempurna dan gerakannya gesit sekali.

Maka dengan sengaja ia perkeras loncatannya hingga tubuhnya melayang keatas besi-besi itu dan menginjakkan kedua kakinya diujung besi! Tubuhnya dengan tetap dan ringan bagaikan seekor burung berdiri diatas besi itu sambil memandang kebawah dengan tajam.

Benar saja, dari bawah menyambar beberapa belas piauw dan pelor besi kearahnya. Secepat kilat Bu Beng mencabut pedang pendek wee liong kiam dari punggungnya dan memutarnya untuk melindungi tubuh. Semua senjata rahasia itu terpental kembali dengan suara berderincingan. Maka pemuda yang tajam itu melihat beberapa bayangan tubuh di bawah tembok. Ia segera mengayunkan tangannya dan melepaskan dua buah pelor yang tadi disautnya ketika ia mula-mula mendapat serangan. Terdengar suara teriakan orang kesakitan dibawah tembok.

“Tan pangcu! Ang Hwat Tojin! Tidakkah sambutan ini sangat memalukan dan bukan perbuatan orang-orang gagah? Atau kalian takut kepada Lui pangcu?” seru Bu Beng dari atas.

“Orang gagah darimana yang datang ini. turunlah dan bawa orang she Lui itu masuk. Kami ingin memandang mukamu dan mempersilakan kamu masuk,” terdengar suara Tan Tek Seng.

Bu Beng segera memberi isyarat kepada Lui Im yang masih berdiri dibawah. Lui Im menggerakkan kakinya dan meloncat keatas. Ia tidak berani meniru perbuatan dan gerakan Bu Beng tadi, tapi menggunakan tangan kirinya memegang sebuah besi untuk menahan tubuhnya. Kemudian dengan Bu Beng mendahuluinya, mereka turun ke dalam.

Mereka disambut oleh tiga orang yang berdiri di tengah-tengah lapangan. Di sekitarlapangan itu ditaruh obor yang membuat tempat itu terang sekali bagaikan siang. Di belakang obor-obor itu berdiri berpuluh orang dengan pakaian ringkas dan senjata di pinggang merupakan barisan. Keadaan mereka kelihatan perkasa sekali dan rupa-rupanya mereka telah melakukan persiapan sejak tadi. Tan Tek Seng yang bertubuh gemuk pendek melangkah maju, dan menjuru kepada Lui Im.

“Lui pangcu. Sungguh beruntung hari ini aku dapat bertemu kembali dengan kau dalam keadaan sehat.”

“Aku tidak ada urusan apa-apa lagi dengan kau, Tan pangcu. Bukankah kau adalah pecundangku? Aku datang menagih janji dan memenuhi undangan Ang Hwat Tojin.” Ia melirik kearah orang pendeta kurus tinggi yang memegang kebutan putih berdiri tenang sambil memandang kearah tamu-tamu itu dengan acuh tak acuh.

“Siancai, siancai!” pendeta itu berkata dengan lagak seorang alim. “Rupanya Lui pangcu mendapat bantuan orang pandai hingga berani berlagak setelah pinto ampuni jiwanya.”

“Hm, pendeta jahat! Selama hidupku belum pernah bermusuhan dengan orang seperti kau. Tapi mengapa kau berani-berani mencampuri urusan kami tanpa mengetahui duduk perkaranya? Apakah ini pantas disebut perbuatan seorang yang mencucikan diri dan telah memakai jubah pendeta? Kau bilang aku membawa teman, memang betul, tapi siapakah yang melanggar perjanjian lebih dahulu? Aku datang seorang diri di hutan malam tadi, tapi ternyata Tan pangcu diam-diam mengundang kau. Sekarang aku datang membawa seorang kawanku, bukankah ini cukup adil?”

“Orang she Lui! Jangan kau lancang mulut menyebut-nyebut tentang kedudukanku. Kau sudah nyata bukan tandinganku, apakah kau mencari mampus? Tentang kawanmu, janganlah hanya seorang, biar kau bawa beberapa orang lagi, aku tidak ambil pusing. Jangan kira kami takaut padamu dan pada kawan-kawanmu,” jawab Ang Hwat Tojin sambil menuding-nudingkan kebutannya.

“Lui loenghiong,” kata Bu Beng dengan suara mengandung ejekan, “mereka bilang tidak takut kepada kita yang tak mempunyai kepandaian apa-apa, tapi lihatlah dia itu, bukankah dia itu agaknya orang yang siang tadi mereka cari untuk diminta bantuannya?”

Lui Im memandang kearah orang yang dituding pemuda itu dan melihat seorang kate yang berpakaian seperti penegmis sambil memegang tongkat. Orang itu duduk diatas tanah dengan tak acuh sama sekali tentang pembicaraan mereka, tapi hanya menggunakan tongkatnya menggaris-garis tanah. Bu Beng tertarik sekali oleh goresan tongkat itu karena biarpun hanya ditekan lemah tapi goresannya dalam sekali menunjukkan adanya tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi. Ia jadi memperhatikan apa yang dituliskan oleh si kate itu. Teernyata dibaris pertama adalah ujar-ujar nabi Khong Hu Cu yang berbunyi,

“Su Hai Lwee Kai Heng Tee Ya” yang artinya, “Di empat penjuru lautan semua orang adalah saudara,” lalu dibawa kedua disambung uajar-ujar lain yang berbunyi. Janganlah kau lakukan kepada orang lain sesuatu yang kau sendiri tidak mau dilakukan oleh orang lain kepadamu.”

Orang kate itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, rambutnya terdapat banyak uban dan awut-awutan tak terurus. Mukanya kotor penuh daki dan wajahnya menunjukkan watak sembarangan dan tidak pedulian, tapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam berpengaruh yang tertutup oleh pelupuk mata yang selalu tampak seperti orang mengantuk. Bu Beng diam-diam heran dan menduga-duga siapakah pengemis tua yang luar biasa ini.

Sementara itu, mendengar ejekan Bu Beng, Ang Hwat Tojin menjadi malu dan mukanya berubah merah. Ia kibas-kibaskan kebutannya dan berkata,

“Sudahlah jangan banyak mengobrol kata-kata busuk yang tak berharga. Sekarang kalian sebagai tamu yang sudah datang maka kami sebagai tuan rumah hendak bertanya apakah kehendak kalian? Apakah kau masih sakit hati dan hendak mengadu tenaga dengan pinto, orang she Lui?” ia menantang sikapnya sombong dan memandang rendah.

Bu Beng mewakili Lui Im menjawab, “Ang Hwat Tojin maafkan aku yang muda ikut bicara. Kalau dipikir dalam-dalam kau sebenarnya tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan Lui Im. Maka, jika kiranya Tan pangcu masih belum puas, ia boleh ada tenaga dengan Lui pangcu. Tetapi sebenarnya menurut pikiranku yang bodoh, tak perlu permusuhan ini dilanjutkan berlarut-larut, mengingat bahwa kedua-duanya adalah ketua dari perkumpulan besar yang seharusnya dapat memberi teladan baik bagi semua anggotanya dan mejauhi pertikaian yang tiada guna. Adapun kau sendiri karena kau menjadi orang undangan Tan pangcu, jika kau hendak main-main, sudah terang bahwa Lui pangcu bukan tandinganmu. Bukannya aku yang muda mau berlaku sombong, tapi kasihan kalau Lui pangcu yan sudah tua itu harus menjadi korban totokanmu lagi, biarlah ia kuwakili denan tubuhku yang lebih muda.”

“Sudah kusangka, sudah kusangka. Lui Im takkan berani datang kesini kalau tidak ada orang yang diandal kan. Tentu kau mempunyai kepandaian yang lebih tinggi daripada orang she Lui itu. Nah, majulah, majulah anak muda biar kita main-main sebentar.”

Bu Beng maju dua langkah dan setelah menjuru kepada lawannya, ia mencabut pedang pendeknya dari punggung. Ang Hwat Tojin melihat pedang itu menjadi kaget dan berseru,

“Tahan dulu! siapakah namamu?”

“Orang sebut aku Bu Beng.”

“Bu Beng Kiamhiap? Kaukah ini? ha ha ha! ini namanya ular dicari-cari kemana-mana tidak terdapat, tahu-tahu ular itu merayap kearah kaki! Hm, jadi kaukah yang telah membinasakan suteku dan merampas pedangnya? Hayo kembalikan Hwe hong kiam itu padaku!”

Bu Beng memutar-mutar pedang pendeknya dan tersenyum. “Gampang saja kau mau minta pedang ini. jadi kau ini suheng dari Kong Bouw? sungguh heran, seorang pendeta mempunyai sute kepala penjahat yang kejam dan ganas! Ketahuilah, Ang Hwat Tojin, sutemu biarpun mati di tanganku tapi sebenarnya ia mati karena kejahatan dan dosanya sendiri. Kalau ia tidak jahat dan penuh dosa, masakan dia dapat bertempur dengan aku? Dan kalau tidak bertempur dengan aku, masakan dia dapat tewas? Tenang Hwe hong kiam ini, aku dapatkan setelah bertempur mati-matian dikeroyok oleh Kong Bouw dan komplotannya. Maka sekarang, kalau kau hendak memilikinya, ambillah dari tanganku. Pedang ini tidak pantas dimiliki untuk melakukan kejahatan. Sudah cukup pedang ini menderita karena siraman darah orang-orang yang tidak berdosa, kini aku harus mencuci segala noda itu dengan darah orang-orang jahat yang layak menjadi korbannya.”

Bukan main marahnya Ang Hwat Tojin mendengar uraian itu. Ia menggerakkan tangan kanan mencabut pedang yang terselip di punggungnya. Kemudian sambil menggeram keras ia maju menyerang.

Bu Beng berlaku hati-hati karena dulu ia telah bertanding dengan Kong Bouw yang ternyata ilmu silatnya hebat juga. Kini berhadapan dengan suheng kepala penjahat itu, ia harus berhati-hati karena tentu saja suhengnya lebih hebat daripada sutenya. Serangan lawan itu ditangkisnya dan cepat ia balas menyerang dengan tipu berbahaya dari Kim liong kiam hoat. Pedang Hwe hong kiamnya berkilat seperti kilat menusuk dada lawan.

Ang Hwat Tojin terkejut melihat ini dan cepat cepat ia gunakan kebutannya yang dipegang tangan kiri untuk menyabet pedang itu dengan gerakan Ular Putih Melilit Dahan. Kebutan itu benar saja telah melilit pedang Bu Beng dengan kuatnya. Bu Beng kaget juga melihat kehebatan imam itu. Ia mencoba manarik pedangnya, tapi makin ditarik makin keras saja libatan itu. Mereka berdua mengerahkan tenaga, Bu Beng menarik dan lawannya menahan.

Tiba-tiba Ang Hwat Tojin menusukkan pedangnya ketenggorokan Bu Beng. Bukan main hebat dan berbahayanya serangan ini justru pada saat Bu Beng sedang mengerahkan tenaga kearah pedangnya yang terlibat! Anak muda itu memutar pergelangan tangannya untuk membalikkan mata pedang dengan maksud menggunakan mata pedang itu membabat kebutan itu sambil ia berkelit merendahkan tubuhnya menghindari tusukan lawan.

Ang Hwat Tojin merasakan lilitan kebutannya tiba-tiba mengendur dan ketika ia lihat, bukan main rasa panas dan marahnya karena ternyata kebutannya telah putus oleh tajamnya pedang hwe hong kiam. Dengan marah ia ayunkan gagang kebutan yang terbuat dari besi itu kearah Bu Beng. Bu Beng maklum akan kerasnya ayunan itu, maka ia tidak berani menerimanya, dan mengelakkannya.

Gagang kebutan itu terlempar kesisi dan menancap diatas tanah hingga tak kelihatan lagi. Demikian hebatnya tenaga imam itu, hingga kalau gagang kebutan itu mengenai tubuh, maka dapat dibayangkan betapa hebat akibatnya.

“Bangsat kecil lihat pedang!” Ang Hwat Tojin berseru marah. Ia memutar pedangnya demikian rupa sehingga sinarnya berkilauan karena cahaya api obor. Ia menggunakan ilmu pedangnya Halilintar Mengamuk menyerang dengan tiba-tiba dan mematikan.

Tapi Bu Beng menghadapinya dengan gagah. Pemuda ini memainkan Kim liong kiam hoat dicampur denagn tipu-tipu pedang dari Hoa san pai yang hebat hingga sinar pedangnya bergulung-gulung menindih sinar pedang imam itu, pertempuran berjalan ramai sekali, mereka merupakan sepasang naga yang sedang bercanda, mendatangkan angina dingin bersiutan karena gerakan mereka yang didorong oleh tenaga iweekang yang tinggi.

Semua orang melihat jalannya pertempuran dengan bengong dan kagum. Bahkan orang tua kate yang kini berdiri dengan tongkat terjepit dibawah lengan turut menonton. Berkali-kali terdengar bisikan di mulutnya yang kecil.

“Bagus, bagus…”

Pada satu saat, ketika Ang Hwat Tojin menusuk karah ulu hati Bu Beng, pemuda itu m enggerakkan pedangnya menangkis, tapi ia terus gunakan tenaga iweekangnya menempel pedang lawan, memutar lenganya dengan cepat hingga Ang Hwat Tojin terpaksa mengikuti gerak putaran itu dan sekali menyentakkan pedang pendeknya keatas, Ang Hwat Tojin berteriak kaget dan pedangnya terlepas dari tangannya terbang ke udara.

Ketika pedangnya mengikuti putaran tadi, Ang Hwat Tojin merasa telapak tangannya kesemutan dan pedangnya seakan-akan menempel ke pedang lawan, dan ketika ia sedang kebingungan untuk melepaskan pedangnya dari tempelan, tiba-tiba tenaga keras menarik pedangnya dan sentakan lawan membuat ia tak dapat menahan lagi hingga pedangnya terpelanting keatas.

Sebelum Ang Hwat Tojin hilang kagetnya, jari tangan Bu Beng secepat kilat menusuk dan menotok jalan darah di pundaknya. Pendeta itu jatuh terduduk dan tak dapat bangun kembali, karena totokan yang hebat itu membuatnya lumpuh dan mati setengah tubuhnya.

“Bangunlah, Ang Hwat ojin, bangunlah,” tiba-tiba pengemis kate itu berkata dan menggunakan tangannya memegang pundak Ang Hwat Tojin sambil membantunya bangun. Tapi diam-diam orang kate itu menggunakan tangannya menekan pundak dengan gerakan Capung Melayang Memukul Air untuk menyembuhkan totokan Bu Beng.

Ang Hwat Tojin segera dapat bangun berdiri dengan wajah merah dan sepasang matanya memandang lawan yang muda itu dengan melotot. Orang kate itu menghadapai Bu Beng dan bertindak maju sampai hanya tiga kaki terpisah dari Bu Beng. Ia masih mengempit tongkatnya dan menjuru sambil merangkapkan kedua tangan.

“Bu Beng Taihiap, kau sungguh hebat dan membuat aku sangat kagum.” Katanya dengan senyum.

Bu Beng merasa betapa dari kedua lengan itu menyambar tenaga besar hingga ia sangat terkejut. Buru-buru ia rangkapkan kedua tangan sambil mengerahkan iweekangnya dan balas menjuru.

“Losuhu terlalu memuji. Mohon keterangan siapakah losuhu ini?” si kate yang sedang mencoba kehebatan anak muda itu merasa tenaganya terpukul kembali hingga diam-diam ia makin mengagumi Bu Beng.

“Ha ha ha, sungguh hebat. Sungguh hebat. Masih semuda ini, tapi memiliki kepandaian yang tak tercela. Dengarlah anak muda, lohu disebut orang Pengemis Kecil tongkat Wasiat. Namaku Lo Sam dan pekerjaanku mengemis.”

Kembali Bu Beng terkejut. Tak heran bahwa pengemis kate ini demikian hebat, sebab ia adalah ketua perkumpulan pengemis dari daerah barat yang sangat terkenal namanya! Tapi, menurut Kim Kong Tianglo, suhengnya, Lo Sam adalah seorang yang sangat mengutamakan budi kebaikan, bahkan ia berlaku sangat bengis terhadap anggota-anggota perkumpulannya, karenanya ia sangat dipuji kaum persilatan. Tapi kini ia membantu orang semacam Ang Hwat Tojin dan Tan Tek Seng.

Bu Beng menjuru dengan hormat. “Tidak kusangka Lo enghiong yang kuhadapi. Maaf, maaf, kalau aku yang muda berlaku kurang hormat. Dengan adanya loenghiong disini, siauwte yakin bahwa urusan ini pasti dapat diselesaikan dengan damai dan sempurna, karena siauwte sudah mendengar tentang keadilan loenghiong.”

“Hm, hm, kau pandai membawa diri, anak muda. Bolehkah aku mengetahui siapa gurumu yang mulia?‟

“Kiranya akan cukup jika siauwte katakan bahwa siauwte adalah adik seperguruan dari Kim Kong tianglo.”

“Oo… begitukah? Tak heran kau begitu hebat! Tak kusangka kau adalah murid dari Hun San Tojin almarhum.”

Sementara itu Ang Hwat Tojin pun terkejut ketika mengetahui bahwa pemuda itu adalah sute dari Kim Kong Tianglo, karena ia sendiri pernah jatuh dalam tangan hwesio yang lihai itu.

“Bu Beng Taihiap, karena kau masih muda, maka biarpun sifat-sifatmu baik, namun kau masih juga dikuasai oleh nafsu berkelahi. Ketahuilah kedatanganku ini walaupun memenuhi undangan Ang Hwat Tojin tapi bukan sekali-kali untuk mengadu kepandaian. Aku sengaja datang untuk mendamaikan urusan ini. Sebetulnya telah kuketahui bahwa Tan pangcu maupun Lui pangcu kedua-duanya adalah orang-orang baik dan jujur. Sayang mereka berdua kurang luas pandangannya dan mudah saja terbakar oleh murid-murid atau anggota-anggota mereka hingga terjadi bentrokan ini. Sebenarnya apakah untungnya untuk berkelahi antara kita sendiri? Kita di kurniai kepandaian bukanlah dimaksudkan untuk mencari permusuhan, tapi bahkan sebaliknya, membinasakan segala kejahatan, bukankah demikian? Kalau permusuhan didendamkan makin mendalam hingga terjadi balas membalas, siapakah yang rugi? Tak lain kita sendiri karena di dunia ini tidak ada orang terpandai!”

Bu Beng heran mendengar kata-kata yang lancer dan berisi itu, karena melihat orangnya yang kecil pendek itu tak tersangka dapat bicara demikian panjang lebar dan penuh isi. Dan terpaksa ia membenarkan uraian tadi dan berkata,

“Loenghiong benar sekali, siauwte juga akan merasa gembira sekali jika hal ini dapat dibereskan secara damai.”

Melihat perkembangan urusan ini hati Tan Tek Seng menjadi lemah. Sejak tadipun, setelah melihat betapa Ang Hwat Tojin yang ia andalkan dapat dijatuhkan oleh tangan kawan Lui Im, ia sudah merasa putus harapan untuk mempertahankan namanya. Harapan satu-satunya tinggal kepada Lo Sam yang ia tahu betul kehebatannya. Tapi kini mendengar kata-kata pengemis pendek kecil itu, lenyaplah harapan satu-satunya. Ia tahu diri maka segera ia maju dan menjuru kepada Lo Sam sambil berkata,

“Memang ucapan loenghiong tadi sangat tepat. Aku mengaku salah telah terlibat dalam pertempuran anggota-anggotaku yang tak berarti hingga terjadi bentrokan dengan Lui pangcu. Tapi karena kesalahan terletak dikedua pihak yang tidak mau mengalah hingga aku meminta bantuan Ang Hwat Tojin dan loenghiong sendiri sedangkan di pihak Lui pangcu juga minta bantuan Bu Beng Taihiap yang tinggi ilmu kepandaiannya ini, hatiku merasa sangat penasaran sebelum menyaksikan pihak manakah yang lebih hebat kawannya. Ang Hwat Tojin sudah terkalahkan tapi aku masih ada loenghiong yang datang kesini atas undanganku. Maka aku yang bodoh mohon dengan sangat untuk menambah pengetahuanku yang rendah, sudilah loenghiong melayani Bu Beng Tahiap bermain-main sebentar secara sahabat. Jika Bu Beng Tahiap yang masih muda tapi sangat hebat ini ternyata lebih unggul daripada loenghiong, maka dengan rela aku akan minta maaf lebih dulu kepada Lui pangcu. Sebaliknya jika Bu Beng Taihiap tak dapat mengalahkan kepandaian loenghiong, sudah sewajarnya kalau Lui pangcu yang minta maaf lebih dulu dan kami berdua selanjutnya menghabiskan permusuhan ini dan melanjutkan persahabatan semula. Bagaimana pendapatmu Lui pangcu?”

Lui Im yang sejak tadi sangat kagum melihat kehebatan Bu Beng, dan ia mengerti pula bahwa Lo Sam bukanlah orang sembarangan, maka iapun ingin sekali melihat kedua orang ini mengadu ilmu agar ia dapat menyaksikan untuk menambah pengalaman. Melihat sikap Tang Tek Seng yang tiba-tiba berubah manis, iapun bergembira dan sambil tersenyum ia berkata,

“Setuju, setuju! Tapi tentu saja saya tidak dapat dan tidak berani memaksa Bu Beng Taihiap saya hanya mengharapkan persetujuannya saja.”

Lo Sam tertawa tergelak-gelak. “Ah, ah memang kedua pangcu ini jahat dan usilan! Memaksa aku yang tua dan Bu Beng Taihiap yang hebat ini akan dijadikan jago aduan dan mereka berdua dengan enak bertaruhan? Ah, tak beres, tak beres!”

Bu Beng tersenyum dan sambil menggeleng-gelengkan kepala berkata, “Ah, mana berani siauwte berlawan tangan dengan Lo Sam loenghiong? Sudah lama siauwte mendengar kehebatannya, bagaimana siaute dapat menandinginya? Lui pangcu sebaiknya kau saja yang mengalah dan minta maaf lebih dulu untuk menjaga mukaku!”

“Ha ha ha kau sungguh tahu diri dan pandai merendahkan diri, sobat muda,” kata Lo Sam. “Belum tentu lohu dapat mengalahkanmu. Kulihat kepandaianmu lebih tinggi daripada Kim Kong Tianglo suhengmu itu. Mari, biarlah kita menjadi dua pelawak sebentar dan memenuhi kehendak kedua pangcu yang jahat ini.”

Bu Beng terpaksa maju menghampiri dan memasang bheksi pertahanan dengan sikap mem persilakan orang tua itu bergerak dulu. tapi Lo Sam sambil memperdengarkan suaranya yan nyaring menggoyang-goyangkan tongkatnya dan berkata,

“Anak muda, kiam hoat mu tadi kulihat hebat sekali, kalau tidak salah itu adalah Kim liong kiam hoat maka cabutlah pedangmu, biar kucoba dengan tongkat usangku ini.‟”

Bu Beng terpaksa mengeluarkan pokiamnya dan lagi-lagi memasang kuda-kuda pertahanan. Lo Sam tidak sungkan-sungkan lagi, dengan seruan 'awas' ia ayun tongkatnya menyerang, dengan cepat Bu Beng memperlihatkan kelincahannya, dan berkelit kesamping sambil menggunakan pedangnya mengait ujung tongkat dan pedang saling serang bagaikan menjadi satu bundaran hingga menyilaukan mereka yang menonton.

Tak percuma Lo Sam digelari orang Tongkat Wasiat, karena permainan tongkatnya betul-betul hebat. Dan Bu Beng harus mengeluarkan seluruh kegesitan dan keahliannya untuk dapat mengimbangi permainan pengemis kate ini. tapi sambaran tongkat mendatangkan angin tajam mengiris kulit.

Setelah bertempur lebih lima puluh jurus dengan tak tentu siapa yang lebih unggul Bu Beng segera merubah gerakannya dan kini mencampur ilmu pedangnya dengan pukulan-pukulan Hoa san pai. Dalam menyerang ia gunakan Kim liong pai dengan dengan campuran Hoa san pai, sedangkan ketika menangkis ia gunakan campuran Kim liong pai dan Go bi pai.

Lo Sam mengeluarkan seruan 'hebat' karena kagum dan heran. Ia kagum sekali melihat ilmu pedang campuran yang hebat dan tak terduga gerakan-gerakannya itu dan heran bagaimana cara menggabungkan ilmu-ilmu itu demikian mahirnya. Tak ia sangka bahwa pemuda itu akan dapat bertahan demikian lamanya melawan ilmu tongkat tunggalnya yang telah menjagoi di seluruh daratan Tiongkok berpuluh-puluh tahun lamanya.

Lo Sam merasa penasaran juga, maka kalau tadinya ia hanya menggunakan ilmu tangkisan dengan gerakan Dinding Tebal Ribuan Laksa hingga tongkatnya berputar menutupi seluruh tubuhnya hingga tak memungkinkan pedang Bu Beng dapat melukainya, kini ia robah gerakannya bersilat dengan ilmu toya dan tongkat Pat kwa mui yang diandalkan. Gerakan-gerakannya tidak kalah hebatnya ddari gerakan Bu Beng, bahkan serangan-serangannya berubah-ubah dari delapan penjuru sambil menangkis serangan pemuda itu dari manapun.

Namun biarpun Bu Beng masih muda tapi sudah terlatih hebat dan ilmu silat Pat kwa mui itupun pernah ia pelajari jalan-jalannya dibawah petunjuk gurunya, hingga kini setelah menghadapi ilmu itu ia tak menjadi gentar dan dapat menduga gerakan-gerakan lawan. Hanya saja, belum pernah ia menemukan seorang lawan yang demikian mahir dalam ilmu ini dan gerakan-gerakannya banyak terdapat kembangan-kembangannya yang diciptakannya sendiri, maka tak heran kalau Bu Beng harus berlaku hati-hati agar jangan sampai tertipu. Makin lama pertempuran berjalan makin hebat hingga ratusan jurus.

Pada suatu saat, ketika pedangnya ditangkis oleh Lo Sam dengan gerakan Dewa Arak Keluar dari Pintu Selatan. Bu Beng teruskan ujung pedangnya yang tergempur kesamping itu untuk membabat pinggang lawan dengan sepenuh tenaga. Serangan ini hebat sekali karena pemuda itu menggunakan tenaga dalamnya diiringi bentakan “lihat pokoam” untuk menambah tenaga semangatnya.

Melihat datangnya serangan hebat ini Lo Sam terkejut sekali karena saat itu tongkatnya sedang terdorong maju dalam melakukan gerakan tangkisan tadi, maka secepat kilat ia membalikkan tangannya hingga tongkatnya menyambar kesamping, terus ia gunakan tenaga sekuatnya untuk menangkis pergi pedang lawan. Dua buah senjata pusaka yang ampuh digerakkan oleh dua tangan raksasa yang mengandung tenaga iweekang tinggi beradu di tengah-tengah udara.

Terdengar suara keras sekali dan kedua lawan itu masing-masing merasakan telapak tangan mereka tergetar hebat hingga kedua-duanya tak dapat menahan pula, dan kedua senjata itu terlepas dari pegangan. Pada saat itu pula masing-masing meloncat mundur beberapa kaki dan berdiri diam untuk menarik napas.

Lo Sam masih berdiri diam sambil memejamkan mata ketika pemuda itu berjalan maju untuk memungut kedua senjata itu. Ketika pengemis kate itu membuka matanya, ia melihat pemuda lawannya telah brdiri di hadapananya sambil menyerahkan tongkatnya dengan sikap hormat sekali.

“Loenghiong sungguh gagah, siauwte tunduk sekali.”

Lo Sam menghela napas. “Memang gurunya naga muridnyapun naga. Seumur hidupku dalam perantauan beribu-ribu Li belum pernah aku menjumpai lawan semuda dan sehebat kau, anak muda. Kau betul-betul membuat lohu merasa seperti seekor katak melawan ular. Kiam hoatmu luar biasa sekali. Nah, kini berlakulah murah untuk melayaniku dalam ilmu silat tangan kosong beberapa jurus saja.”

Bu Beng menjuru “Siauwte bersedia melayanimu, loenghiong.”

Demikianlah, jago tua itu kembali bertanding dengan Bu Beng, dan hanya menggunakan kepalan dan tendangan. Tapi dalam ilmu silat tangan kosong, setelah bertempur kurang lebih lima puluh jurus dengan hebat, ternyata bagi Bu Beng bahwa Lo Sam tak berapa kuat dan gerakan-gerakannya tidak semahir ilmu tongkatnya. Hanya orang tua itu memiliki keuletan dan kematangan berlatih saja. Kalau ia mau, dengan mudah ia dapat melanjutkan serangan maut dan menjatuhkan pengemis kate itu, tapi Bu Beng tidak tega berlaku kejam terhadap orang tua itu. Maka, ia hanya melayani saja permainan Lo Sam sambil mengunakan ginkangnya yang luar biasa sehingga lama-lama Lo Sam merasa lelah dan pening.

Dalam keadaan lelah Lo Sam menggunakan kedua telapak tangannya memukul dada Bu Beng dengan tipu Dewa Menyuguh Dua Buah Tho, ialah gerakan sederhana tapi mengandung tenaga dalam yang kuat sekali. Bu Beng yang melihat bahwa lawannya telah lelah, mengambil keputusan untuk mengakhiri pertandingan ini. Dan mereka lalu mengeluarkan kedua tangan mereka dengan kepalan terbuka dan berjabat. Empat tangan beradu tanpa mengeluarkan apa-apa, tapi karena gerakan itu mengandung tenaga dalam, Lo Sam terhuyung ke belakang sampai lima langkah! Raja pengemis kate itu menjuru kearah Bu Beng dan berkata,

“Bu Beng Taihiap sungguh hebat, lohu mengaku kalah.”

Bu Beng segera membalas memberi hormat. “Loenghiong sengaja mengalah, siauwte yang sebenarnya kalah.”

Mendengar kata-kata kedua orang itu. Tan pangcu dan Lui Im saling pandang, karena mereka sesungguhnya tidak mengerti siapakah yang lebih unggul. Di waktu Lo Sam terhuyung lima langkah tadi, Bu Beng sengaja mundur juga sampai lima langkah! Maka kedua pangcu itu segera saling menjuru menyatakan maaf dan damailah kedua pihak.

“Ha ha ha! puas hatiku melihat hal ini dapat dibereskan secara damai! Lebih puas lagi karena aku telah menemukan seorang pendekar muda yang gagah perkasa. Cuwi, contohlah Bu Beng Taihiap yang masih muda ini tapi yang patut dibuat teladan. Ia demikian hebat tapi selalu berlaku mengalah menjauhi permusuhan. Biarlah dengan jalan ini lohu mengundang cuwi sekalian untuk pada permulaan musim Cun tahun depan ini mengunjungi pondokku di Lok Leng Ceng, turut merayakan pesta kecil yang akan lohu adakan guna memperingati tahun ketiga belas dari pendirian perserikatan pengemis seluruh daratan timur. Waktu itu sungai Yang-Ce sedang tenang dan cuwi tentu akan menikmati pemandangan indah disana.”

Semua orang menjuru menyatakan terima kasih.

“Kini taihiap hendak pergi kemanakah?” tiba-tiba Lo Sam bertanya.

Dengan singkat Bu Beng menuturkan maksudnya hendak ke pulau Ang coat ho atau pulau ular merah. Lo Sam mengerutkan jidat dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Perjalanan berbahaya. Ah, betapapun juga lohu percaya bahwa kau pasti akan berhasil mendapatkan obat itu. Tahukah taihiap cara pengobatan dengan mustika ular itu?”

Mendapat pertanyaan itu Bu Beng menjadi bingung karena sesungguhnya ia belum tahu cara bagaimana menggunakan obat yang tengah dicari-carinya itu. “Baiknya lohu pernah mendengar tentang penggunaan obat mustika ular untuk menyembuhkan berbagai penyakit beracun. Baiklah lohu tuliskan resepnya untuk dicampur dengan obat itu.”

Tan pangcu segera mengambil kertas dan alat tulis dan Lo Sam segera menulis resep itu.

“Taihiap belilah obat menurut resep ini di took obat dan campurkan dengan mustika ular itu untuk dimakan oleh yang sakit.”

Bu Beng menerima resep sambil mengaturkan terima kasih. Kemudian Lo Sam meninggalkan tempat itu sungguhpun ditahan oleh pangcu dari Hong bu pang, Bu Beng juga bermohon diri untuk melanjutkan perjalanannya.

Karena menghadapi urusan Lui Im tadi, Bu Beng terlambat dan tertahan tiga hari. Maka kini ia percepat tindakan kakinya. Ia berjalan langsung kearah utara dan dua hari kemudian tibalah ia di kampung Po Teng dimana mengalir sungai Yang-ce-kiang yang lebar dan melintasi kampong itu bagaikan seekor naga raksasa. Airnya mengalir perlahan tapi jika musim hujan tiba, air itu akan berubah besar dan deras sekali, merupakan bencana yang dalam beratus-ratus tahun telah membinasakan entah berapa ratus ribu jiwa rakyat. Beberapa perahu tampak hilir mudik, karena di dalam air telah terkenal menjadi gudang ikan yang menjadi sumber penghasilan para nelayan.

Ketika mencari perahu, ternyata Bu Beng tak bisa mendapatkan seorangpun yang sanggup membawanya ke samudra.

“Ke laut? Ah, tuan muda siapa yang berani menempuh perjalanan demikian jauh? Jaman sekarang sedang kacau balau dan dimana-mana ada orang jahat. Perjalanan itu jauh sekali dan memakan waktu berminggu-minggu. Semua perahu disini hanya sanggup menyeberangkan ke tepi sana atau mengantarkan ke kampong yang berdekatan saja. Biar dibayar berapapun, saya rasa tiada seorangpun yang akan berani harus menempuh segala macam bahaya dan meninggalkan keluarga untuk berminggu-minggu,” demikian keterangan yang ia dapat dari seorang nelayan tua itu.

“Habis, apa yang harus kulakukan untuk dapat mencapai laut?” Tanya Bu Beng dengan suara sedih dan perlahan, seakan-akan tengah berbicara kepada diri sendriri.

Nelayan tua itu agaknya kasihan melihat Bu Beng. “Tuan muda, kalau saja kau bisa membujuk Hek Ho uw barangkali kau dapat melanjutkan niatmu. Kalau tidak jangan harap kau bisa berlayar ke samudra.”

“Hek Houw? Siapakah dia?” Tanya Bu Beng yang mendapat harapan baru.

“Hek Houw nelayan muda. Tapi adatnya sukar diladeni. Sekarang ia tentu sedang membuang-buang uangnya di kedai arak lagi,” kata orang tua itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah mengetahui dimana letak kedai arak itu, Bu Beng segera menujukan langkahnya kesitu. Ketika tiba di luar kedai, ia mendengar suara seorang yang kasar dan parau tapi cukup nyaring tengah berteriak -teriak marah.

“Kalian ini semua orang apa! Tak lain dari orang-orang lemah penjilat, dan tak tahu arti hidup! Lihat aku, biar namaku Hek Houw, tapi hatiku tidak kalah tabahnya dengan seekor Hek houw (harimau hitam) tulen. Aku cari uang untuk minum arak, aku bekerja dengan tenaga tak mengandalkan kelicikan seperti kalian. Apakah kalau tidak mencampur arak dengan air kalian tidak bisa hidup kaya? Apakah kalau tidak kaya karena uang tipuan kalian tidak puas? Hayo jawab, kalau tidak akan kuhancurkan kepalamu seorang demi seorang!”

“Jangan marah, Hek twako,” terdengar suara lemah. “Kami tidak menipumu. Arak ini memang arak tulen yang kami beli dari Lo bee chung di barat sana. Entah kalau arak ini dicampur air oleh perbuatnya, karena bukan kami yang membikinnya.”

“Ah, alasan saja! Dulu pernah aku beli arak dari sana tapi semua arak tulen, tidak seperti ini. Arak palsu, apakah uangku ini juga palsu?”

Bu Beng bertindak masuk dan melihat seorang tinggi besar yang bermuka hitam tengah berdiri bertolak pinggang sambil memandang ke kanan kiri dengan mata melotot. Beberapa orang berdiri di sudut dengan takut-takut. Si muka hitam itu masih muda, paling banyak berusia dua puluh tahun.

“Sekarang begini saja. Ganti arakku ini dan keluarkan arak yang tulen, kalau tidak, kalian enam orang ini harus keluar dengan aku dan berkelahi mengeroyokku agar dapat kupersen pukulan satu-satu.”

“Kami tidak punya arak tulen selain ini Hek twako.”

“Bohong!” dan kepalan tangan di hitam itu memukul meja hingga meja kayu itu menjadi pecah.

“Sabar, saudara, tidak sepatutnya orang beli dengan main paksa?”

Hek Houw berpaling cepat dan memandang penegurnya dengan mata melotot. Bu Beng kini dapat melihat wajah orang hitam itu dengan jelas. Wajah yang jujur tapi bodoh, pikiranya.

“Apa? Siapa kau berani menegurku?”

Bu Beng tidak menyahut, tapi menghampiri tempat arak dan menggunakan telunjuknya untuk mencoba rasanya. “Hm, benar-benar bercampur air,” katanya sambil memandang kepada tukang warung. “Tidak adakah yang lebih baik?”

Tukang warung yang setengah tua berkata perlahan. “Ada sih ada, tapi Hek Houw hanya mempunyai uang dua chi sedangkan hutangnya yang kemarinpun belum dibayar. Bagaimana ia dapat kami beri arak tulen yang mahal harganya?”

Bu Beng tersenyum. “Keluarkan arak tulen satu guci biar aku yang bayar. Ini uangnya.” Dilemparnya potongan uang perak diatas meja.

Dengan tindakan lebar Hek Houw menghampiri Bu Beng. “Eh, orang sombong! Kau juga orang kaya yang jumawa ya? Kau kira aku sudi minum arakmu? Kau mau andalkan uangmu untuk bertingkah?” tinjunya yang segede buah kelepa diayun-ayunkan di depan hidung Bu Beng.

“Siapa yang menyombong? Aku sengaja datang kesini untuk mejumpaimu dan mengajak minum arak. Apakah itu sombong namanya?”

“Sabar, Hek twako,” kata tukang kedai, “tuan ini rupanya mengajak bersahabat denganmu. Bukankah itu baik sekali?”

“Hm, hm,” Hek Houw mengeluarkan suara ejekan dari hidung. “apa maksudmu mencari aku? Ingin membeli ikan? Menyewa perahu?”

Bu Beng mengangguk. “Aku hendak menyewa perahumu.”

“Tidak bisa!”

Bu Beng heran mendengar jawaban tegas dan singkat ini. Benar-benar seorang yang aneh adatnya, ia pikir. “Mengapa tidak bisa?”

“Tidak bisa, habis perkara. Jangan banyak cakap seperti perempuan!”

Tiba-tiba Bu Beng tertawa. Hek houw memandang mukanya dengan tercengang.

“Mengapa kau tertawa?”

“Karena melihat kekhawatiranmu. Kau khawatir aku tak dapat membayar sewanya? Jangan takut, kawan, berapa saja uang sewanya akan kubayar.”

“Hm, aku tak butuh uang!”

Bu Beng makin heran tapi ia tertawa lagi, kini lebih keras.

Hek Houw maju setindak. “Hati-hati, kawan, kalau sekali lagi kau ketawa, alamat hancur kepalamu kutinju. Mengapa kau tertawa lagi?”

“Karena ternyata kau penakut. Kau takut bertemu bajak sungai.”

“Kenapa begitu?”

“Karena aku hendak menyewa perahumu menuju ke laut.”

Hek Houw terkejut. “ke laut?? kau…??” Ia maju lagi selangkah, kini tepat di depan Bu Beng. “Jangan main-main kawan, aku Hek Houw tidak takut siappun juga. Aku tidak takut bajak sungai atau bajak laut yang manapun juga. Tapi... kau sendiri, orang kurus kering dan lemah ini, berani mengatakan aku takut, apakah kau sendiri berani menghadapi bajak sungai?”

Bu Beng angkat dada. “Mengapa aku tidak berani?”

“Ha, agaknya kau mengerti ilmu silat maka berani menghadapi bajak sungai!”

“Sedikit-sedikit aku mengerti,” jawab Bu Beng dengan hati geli.

Tiba-tiba Hek Houw menepuk-nepuk pundaknya. “Bagus, bagus! Nah, mari kita adakan perjanjian. Kau yang kurus kering ini mengadu tenaga dengan aku, kalau kau kalah, maka bawalah kesombonganmu itu ke lain tempat dengan segera.”

“Kalau kau yang kalah?”

“Aku? kalah olehmu? Ha ha ha kalau aku kalah, baiklah kuantar kau. Jangankan ke laut, ke neraka jahanampun akan kuantar. Dan semua itu tanpa ongkos satu chi pun!”

“Baik, mari kita keluar,” tantang Bu Beng.

Mereka keluar kedai itu, dibuntuti oleh enam orang tadi yang memandang Bu Beng dengan keheranan. Apakah orang itu mencari mampus? Pikir mereka.

Bu Beng berdiri sambil bertolak pinggang. “Bagaimana kita harus mengadu tenaga? Berkelahi?”

“Tidak. Kalau berkelahi kau akan mampus. Begini saja kita saling pukul tiga kali. Kau pukul dulu padaku tiga kali dan kemudian aku akan memukulmu tiga kali. Siapa yang jatuh ia kalah.”

Bu Beng maju dan menggunakan tangan kanannya meraba-raba dada Hek Houw yang bulat dan keras. “ah, dadamu begini lunak. Lebih baik kau saja yang memukul aku dulu. kalau aku memukul dulu, maka kau tentu takkan kuat membalas lagi.”

Hek Houw terheran-heran, demikian juga enam orang itu yang memperdengarkan suara ketawa. Hek Houw menengok kearah mereka. “Ada apa kau tertawa? Orang ini berhati tabah, tidak seperti kamu!” lalu ia menghadapi Bu Beng lagi. “jangan kau sungkan begitu kawan. Lebih baik kau yang memukul dulu.”

“Tidak , kalau kau tidak mau memukul dulu, tidak jadi saja dan kuanggap kau takut.”

“Apa katamu? Baik, kalau kau mencari mampus sendiri. Mari bersiaplah!”

Bu Beng memasang kuda-kuda dan pasang dadanya. “Nah, pukullah yag keras.”

Hek Houw mengayunkan pukulan kanannya kearah dada Bu Beng. Ia hanya menggunakan sebagian tenaganya karena khawatir kalau-kalau orang itu terpukul mampus. “Duk!” dan Hek Houw heran sekali karena ia rasakan bagaikan memukul karet hingga kepalanya terpental kembali.

“Ah, pukulanmu seperti bakpauw saja. Empuk dan lunak,” Bu Beng mengejek.

Enam orang itu tertawa ditahan. Muka Hek Houw merah dan ia kepalkan tangannya makin keras. “Awas, terimalah pukulan kedua.”

Hek Houw memukul lagi, kini sepenuh tenaga. “Bluk!” dan orang muka hitam ini makin heran karena dada yang terpukul itu bagaikan kapas hingga pukulannya tak berbekas! Ia memandang heran dan menyangka orang itu menggunakan ilmu sihir. Tapi ia masih penasaran dan berkata, “Hm, coba rasakan pukulan ketiga ini!”

Kini ia mengerahkan seluruh tenaga tubuhnya dan memukul sekuatnya. “Duk!” dan heran sekali, pemuda muka hitam itu meringis-ringis kesakitan sambil memegangi tangan kananya karena ia melihat seakan-akan memukul besi! Ketika ia melihat tangannya ternyata tangan itu menjadi merah biru!.

“Sudah puas?” Tanya Bu Beng. “Nah, kini tiba giliranku memukul, tidak tiga kali, cukup sekali saja.” Mendengar kata-kata sombong ini Hek Houw menjadi marah.

“Boleh, boleh!” kata Hek Houw menahan sakit tangannya. “Pukullah, pukullah dadaku dengan kepalan tahumu! Jangan tiga kali, boleh kau pukul enam kali.”

Hek Houw membuka kancing bajunya memperlihatkan dada yang bidang dan berotot, nampak kuat sekali. Sambil tersenyum Bu Beng maju selangkah dan menggunakan tangan kanannya memukul kearah dada kanan pemuda muka hitam itu perlahan.

Semua orang yang kini pada datang menonton pada heran karena seketika itu juga Hek Houw menjerit kesakitan dan jatuh terguling. Kedua tangannya memegang dadanya dan ia mengerang-erang kesakitan.

“Aduh... aduh…” kemudian sambil menahan sakitnya, Hek Houw merangkak dan berlutut di depan Bu Beng.

“Suhu... ampunkan aku yang tak mengenal orang pandai. Suhu akan kuantar kemana saja, biarlah aku korbankan jiwa kalau perlu, asal suhu suka memberi pelajaran padaku tentang cara memukul tadi!”

Bu Beng tertawa geli dan merasa kasihan, ia menggunakan telapak tangannya menepuk pundak kanan pemuda hitam itu yang segera membuat sembuh sakit dadanya. Kemudian Bu Beng mengurut tangan yang bengkak matang biru itu hingga perlahan-lahan tangan itu sembuh kembali.

“Nah, jadi orang janganlah sombong. Hayo kita minum dulu sepuasnya, baru berangkat menuju ke laut.”

Hek Houw tak berani membantah lagi. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baik suhu.”

Ia mengikuti Bu Beng masuk ke dalam kedai lalu makan minum sepuasnya. Ternyata Hek Houw adalah seorang yatim piatu tak bersanak dan hidup sebatang kara. Ia memiliki sebuah perahu yang sederhana tapi kuat. Maka setelah makan minum berangkatlah mereka berdua diikuti pandang mata kagum oleh para nelayan di kampong itu.

Air sungai Yang ce kiang pada waktu itu tenang. Perahu terbawa aliran air ditambah dengan tenaga pendayung yang kuat dari Hek Houw, maka perahu yang berujung runcing itu meluncur cepat sekali. Lima hari lima malam mereka berlayar dengan cepat, hanya berhenti untuk membeli makanan dan bermalam di kampong- kampong sepanjang sungai.

cerita silat online karya kho ping hoo

Pada hari kelima mereka tiba di kampong Cin hu chung! Kampong itu besar juga, terlihat dari banyaknya perahu-perahu besar yang berlabuh di tepi sungai.

Ketika perahu mereka sampai di situ. Bu Beng tertarik melihat keadaan disitu seakan-akan orang tengah berpesta. Rumah-rumah di tepi sungai dihias dan orang-orang nampak gembira. Bu Beng menyuruh Hek Houw berhenti.

“Kalau suhu sering berhenti, kapankah kita bisa sampai ke laut?” Hek Houw mengomel panjang pendek, tapi Bu Beng tersenyum saja.

Mereka mendarat dan Hek Houw menambatkan perahunya pada sebuah tonggak. Bu Beng lalu bertanya kepada seorang nelayan yang sedang menggulung jala apakah yang sedang dirayakan di kampong itu.

“Kongcu tidak tahu, kami sedang bergembira ria menyambut kedatangan seorang pendekar wanita yang telah berhasil membunuh harimau besar yang sering mengganggu penduduk kampong Cin hu chung. Bahkan chungcu sendiri mengeluarkan semua biaya keramaian ini. lihat panggung itu, sebentar lagi nona pendekar kita akan diarak kesitu menerima penghormatan.”

Bu Beng makin tertarik dan ingin sekali melihat wajah lihiap yang gagah perkasa itu. “Siapakah lihiap itu? Darimana datangnya? Tanyanya.

“Namanya kami tidak tahu, karena ia hanya seorang yang sedang lewat disini. Tapi tentang kehebatannya.” Nelayan itu memperlihatkan ibu jarinya. “Ia membunuh harimau ganas itu hanya dengan dua buah uang tembaga dan beberapa pukulan dan tendangan saja. Ketika lihiap lewat di hutan sebelah barat kampong ini, tiba-tiba terdengar deruman hebat dan harimau itu menerkam tanpa permisi.”

Nelayan itu meniru gerakan harimau dan dengan kedua tangan merupakan cakar ia hendak menubruk kearah Hek Houw yang mendelikkan matanya hingga nelayan itu terkejut dan mengurungkan gerakannya.

“Tapi lihiap waspada, ia berkelit kesamping. Harimau yang terkenal jahat dan berkulit keras dapat menahan senjata tajam itu, kemudian menubruk lagi secepat kilat hingga lihiap sibuk juga meloncat kesana kemari menghindari terkaman harimau. Kemudian lihiap menjadi marah dan meloncat pergi beberapa tombak jauhnya dan ketika harimau menubruk kembali, lihiap telah siap dengan dua butir uang tembaga di tangan. Dua kali tangannya terayun dan butalah harimau itu. Kedua matanya ditembusi peluru uang. Nah, setelah buta, harimau itu dengan buas menerkam kekanan kekiri secara serampangan. Saat itu digunakan oleh lihiap untuk memperlihatkan tenaganya. Dua kali tendangan and dua kali pukulan cukup membikin harimau itu roboh tak bergerak dan mampus! Bukan main hebatnya!”

Ketika Bu Beng akan mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba terdengar tambur riuh berbunyi dan dari arah barat datang serombongan orang mengarak seorang gadis, berbaju putih. Kalau yang mengarak rata-rata berwajah gembira dan tertawa-tawa riang, adalah gadis yang diarak itu berwajah muram dan tampak berduka.

“Eng moi!” Bu Beng tiba-tiba berseru keras dan lari ke rombongan itu.

“Ko ko!” gadis itu yang ternyata tidak lain adalah Cin Eng sendiri, lari pula kearah pemuda itu dan mereka saling pegang tangan dengan penuh perasaan haru.

“Eng moi, mengapa kau sampai datang kesini?”

Tiba-tiba Cin Eng menangis dengan sedih. Orang-orang kampong yang tadinya mengarak gadis itu menjadi terheran-heran dan mereka merasa tidak senang kepada pemuda baju kuning itu. Lebih-lebih melihat gadis itu kini menangis, mereka menyangka tentu pemuda itu telah mengganggu pahlawan wanita mereka. Maka dengan muka mengancam mereka menghampiri Bu Beng yang masih memegangi tangan kekasihnya.

Hek Houw yang memburu juga kesitu dengan heran, melihat sikap orang-orang kampong itu, lalu menghadang mereka sambil mendelikkan kedua matanya, kedua tangan terkepal dan dadanya diangkat bagai lakunya jagoan yang hendak bertanding.

“Kalian mau apa?” tanyanya mengancam.

Melihat sikap hebat dari pemuda tinggi besar muka hitam ini yang mengingatkan mereka kepada Thio Hwie pahlawan di jaman Sam Kok, semua orang menahan langkah mereka dengan ragu-ragu. Seorang diantaranya yakni kepala kampong sendiri, bertanya kepada Cin Eng,

“Lihiap siapakan orang ini? Apakah mereka mengganggu lihiap?”

Cin Eng mengusap air matanya dan memaksa diri tersenyum. “Tidak, tidak. Orang ini adalah keluargaku sendiri.”

Semua orang gembira kembali, bahkan beberapa orang segera menjuru memberi hormat kepada Bu Beng dan Hek Houw. Melihat sikap mereka yang sungguh dan jujur ini. Bu Beng segera berbisik kepada Cin Eng untuk menerima saja kehendak mereka agar jangan sampai mereka menjadi kecewa. Cin Eng menurut dan naik keatas panggung dimana ia menerima penghormatan dari mereka. Kemudian Bu Beng mengajak kekasihnya ke perahu dan mereka bercakap-cakap.

“Eng moi, kini kau harus menceritakan padaku bagaimana kau sampai berada disini?”

Cin Eng menghela napas dan menahan air matanya yang mau keluar saja. “Koko, aku sengaja menyusul kau. Di kampong Po teng aku mendengar bahwa kau telah menyewa perahu sehari yang lalu. Maka untuk dapat mengejarmu, aku sengaja membeli kuda yang baik dan memacunya siang malam melalui jalan darat yang lebih dekat. Ternyata aku sampai di kampong ini kemarin dan kau belum lewat. Kebetulan aku bertemu dengan harimau pengganggu kampong dan berhasil membinasakannya. Orang-orang kampong memaksaku untuk menerima pernyataan terima kasih hingga aku tak tega untuk menolaknya.”

“Tapi mengapa kau susul aku, Eng moi?” Tanya Bu Beng yang sama sekali tidak ambil peduli tentang Cin Engrita harimau itu.

Ditanya demikian, tiba-tiba Cin Eng menundukkan muka dan menangis sedih.

“Kenapa, adikku? Kenapa kau menangis?”

“Koko... bencana besar menimpa rumahku...! ibu... bu telah mati terbunuh…”

Bu Beng meloncat bangun. “Siapa yang membunuhnya?”

“Yang membunuhnya adalah tiga saudara dari kelima macan dari Tiang-an yang membunuh ayah dulu. mereka sengaja datng mencari jejak ayah, kalau-kalau ayah masih hidup ketiak ditolong oleh Kim Kong Tianglo dulu, tapi ketika mendapat tahu bahwa ayah telah meninggal, mereka bermaksud membasmi seisi rumah…”

“Cin Han… Cin Lan... bagaimana mereka? Dan suheng bagaimana?” Tanya Bu Beng dengan hati penuh kekhawatiran.

“Kedua adikku itu diselamatkan oleh Kim Kong suheng dan dibawa pergi, sedangkan aku sendiri lari karena kami tidak kuat menaham amukan mereka. Karena putus asa maka aku menjadi nekat dan bermaksud menyusulmu. Ibu dan dua pelayan mati terbunuh.” Sehabis bercerita, Cin Eng menangis l agi.

Bu Beng terharu. Alangkah malangnya nasib kekasihnya ini. menderita penyakit hebat, baru saja ditinggal mati ayah, kini ibu tiri yang sudah menjadi ibu sendiripun terbunuh musuh.

“Adikku, sudahlah jangan bersedih. Soal sakit hatimu ini di belakang hari saja kita balas bersama. Sekarang yang paling perlu mencari obat untukmu. Jika sudah sembuh maka kurasa takkan sukar mencari kelima musuh yang kejam itu.”

Kemudian Bu Beng memperkenalkan Hek Houw kepada Cin Eng. Setelah tahu bahwa nona itu adalah tunangan suhunya. Hek Houw berkata dengan wajah bingung.

“Suhu, haruskah aku menyebut nona ini subo (ibu guru)?”

Muka Cin Eng merah dan Hek Houw buru-buru berkata lagi. “Biarlah sebelum kawin dengan suhu, aku sebut saja kouwnio, nanti setelah kawin baru kusebut subo.”

Bu Beng hanya tersenyum dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan perahu. Berkat kejenakan Hek Houw dan hiburan-hiburan Bu Beng, Cin Eng tak lama kemudian terhibur juga dan dapat melupakan kesedihannya. Bepergian degan perahu di sepanjang sungai yang indah pemandangan alam di kanan kirinya itu memang sangat menarik hati. Mereka seakan-akan tak merasa lelah dan dimana terdapat kampong yang besar, mereka singgah sebentar untuk membeli ini itu.

Beberapa hari kemudian, perahu mereka memasuki daerah hutan yang lebat. Pohon-pohon besar menutup arus sungai hingga air sungai tampak hitam dan keadaan agak gelap. Setelah memasuki hutan itu beberapa puluh li jauhnya, tiba-tiba di satu tikungan tampak lima buah perahu berbaris mencegat mereka.

“Wah, bajak sungai!” kata Hek Houw, tapi dia tidak takut, bahkan berkata dengan sombong. “Suhu, biarlah kuperlihatkan bahwa aku tidak takut kepada segala cecunguk sungai ini.” dan dia terus mendayung perahunya dengan tabah.

“He, tamu yang lewat berhenti dulu! kalian harus bayar uang jalan di daerah kami ini, kalau tidak, jangan harap bisa terus dan jangan harap bisa kembali hidup-hidup.” Kata kepala bajak yang masih muda dan berwajah cakap serta berkulit putih.

“Apa katamu?” jawab Hek Houw dengan suara keras. “Jangan kurang ajar, minggir kamu, kalau tidak, dayungku ini akan menghancurkan kepalamu!”

Bajak-bajak yang terdiri dari dua puluh orang lebih diatas lima perahu itu tertawa mengejek. “Lihat itu tingkahnya orang hutan hitam,” seorang diantara mereka menghina.

Hek Houw menjadi marah dan dengan berseru keras ia meloncat ke perahu yang terdekat dan mengamuk dengan dayungnya. Sebentar saja ia dikeroyok oleh bajak-bajak yang bersenjatakan golok.

Kepala bajak melihat bahwa perahu yang dirampok itu hanya diduduki oleh seorang pemuda yang kelihatan lemah dan seorang nona muda, ia memandang remeh sekali dan dengan satu loncatan cepat ia sudah berada di perahu Bu Beng.

“Anak muda, serahkan semua barang-barangmu dan kau akan dapat lewat dengan selamat.”

“Eh, mudah amat, kawan. Kau mempunyai kepandaian apa maka berani menjadi kepala perampok?” tiba-tiba Cin Eng yang beradat lebih galak dari Bu Beng segera menegur dan mencabut siang kiamnya.

“Ha ha ha“ kepala bajak muda itu tertawa geli. “Kiranya kau juga dapat main-main dengan pedang?” ia menyerang dengan goloknya dan ditangkis oleh Cin Eng.

Sebentar saja mereka bertarung dengan sengit. Beberapa orang bajak meloncat pula ke perahu itu hingga perahu menjadi goncang. Bu Beng menggerakkan kaki tangannya dan beberapa orang penjahat terpental masuk kedalam air. Tapi lain penjahat mendatangi hingga mereka terkepung.

Cin Eng tak dapat bersilat dengan baik diatas perahu yang bergoyang-goyang itu maka permainannya kalut. Baiknya Bu Beng dengan gesit bergerak kesana sini, dimana kepalan tangannya menyambar atau kakinya terangkat, terdengar suara mengaduh dan tubuh seorang bajak jatuh tercebur ke air. Dengan sekali loncatan Bu Beng berada di depan kepala bajak itu.

Melihat pemuda itu dengan mudah dapat menjatuhkan orang-orangnya dengan tangan kosong saja, kepala bajak menjadi marah dan berbalik menyerang Bu Beng. Bu Beng berkelit hingga golok lewat disampingnya, kemudian dia mengangkat kaki kirinya dan menendang. Dengan mudah penjahat cakap itu terpental dan masuk ke dalam air.

Bu Beng melihat Hek Houw terkepung dan berteriak-teriak. “Tolong, suhu tolong!” segera meloncat ke perahu itu dan dengan beberapa kali gerak tangan, semua bajak berjatuhan dan ada yang sebelum terpukul segera meloncat ke dalam air.

Bu Beng lalu mengajak Hek Houw kembali ke perahu mereka sendiri. Tapi ketika menginjakkan kaki di perahu itu, tiba-tiba menjadi miring dan air masuk kedalamnya.

“Celaka mereka menggulingkan perahu dari bawah!” Teriak Hek Houw yang segera menyambar dayung dan menggunakannya untuk memukul sebuah kepala seorang bajak yang tampak muncul di pinggir perahu.

Orang itu berteriak kesakitan dan tenggelam. Perahu makin bergoyang-goncang dan sebentar lagi tentu terbalik, Bu Beng memegang tangan Cin Eng dan mengajak gadis itu meloncat ke salah sebuah perahu yang terdekat dan kosong. Hek Houw ikut meloncat tapi kurang jauh hingga ia tercebur ke dalam air. Untung ia pandai berenang dan segera naik ke perahu di mana Bu Beng dan Cin Eng telah berada dengan selamat. Tapi usaha mereka ini tak banyak menolong, karena kawanan bajak bagaikan kura-kura berenang di bawah permukaan aira dan kini mencoba menggulingkan perahu itu.

“Loncat ke sana Eng moi!" kata Bu Beng dengan gugup karena perahu itu telah miring. Dengan cepat Cin Eng meloncat ke perahu terdekat, tapi malang baginya, kakinya menginjak pinggiran perahu yang basah dan licin hingga ia terpeleset dan jauh ke air. Hek Houw meloncat mengejar dan berenang hendak menolong, ia dihalang-halangi oleh seorang bajak hingga sebentar kemudian mereka berdua bergulat dalam air.

Kepala penjahat yang muda itu segera menolong Cin Eng dan membawanya berenang. Bu Beng menjadi bingung sekali, karena kalau ia menggunakan senjata rahasia menyambit kearah kepala bajak itu sampai mati, bagaimana nanti nasib Cin Eng? Ia sendiri tak pandai berenang. Maka ia hanya dapat melihat dengan hati bingung dan khawatir lalau meloncat ke perahu sendiri yang telah ditinggalkan bajak.

Hek Houw yang dihalang-halangi oleh seorang bajak bertubuh besar, menjadi marah sekali. Lebih-lebih ketika dilihatnya betapa Cin Eng dibawa berenang oleh kepala bajak, ia makin marah. Ia gunakan seluruh kepandaiannya di air dan mencekik leher bajak itu. Tapi ternyata lawannya seorang yang kuat dan kedua tangannya menjambak rambut Hek Houw dengan keras. Karena saling cekik dan saling jambak, keduanya tak dapat menggunakan kaki tangan mereka untuk berenang, dan kedua-duannya lalu tenggelam. Mereka saling meronta-ronta hendak melepaskan pegangan lawan, tapi tak dapat. Maka sudah beberapa kali mereka terpaksa membuka mulut untuk bernapas hingga banyak air sungai memasuki perut.

Hek Houw sudah merasa lemas. Ia lalu mencari akal. Ketika merasa bergulat menjadi seru dan mukanya berada dekat dengan perut lawan, ia gunakan mulutnya menggigit kulit perut yang gendut itu. Karuan saja bajak itu merasa kesakitan sekali dan melepaskan pegangannya untuk menolong perutnya. Saat itu digunakan oleh Hek Houw untuk muncul ke permukaan air dan mengambil napas dengan terengah-engah.

Ketika bajak itupun muncul juga di dekatnya, ia segera memukul kepalanya hingga bajak itu kembali tenggelam. Tiap sekali muncul, Hek Houw mengetuk kepalanya hingga lama-lama bajak itu menjadi lemas karena tak dapat bernapas. Akhirnya ia tenggelam lagi untuk tidak timbul kembali. Dengan lemas Hek Houw berenang ke perahunya dan naik keatasnya. Bu Beng telah berdiri disitu dengan termenung. Pada waktu itu tak nampak lagi seorang bajakpun di air.

“Bagaimana kouwnio suhu?”

Bu Beng hanya mengeleng-gelengkan kepada dan mereka lalu mendayung perahu ke seberang kanan sungai atas kehendak Bu Beng. Karena keadaan agak gelap dengan tenggelamnya matahari, Bu Beng tak berdaya mengejar larinya penjahat. Namun ia dapat melihat bahwa semua bajak lari kearah pantai kanan. Kemudian ia memesan kepada Hek Houw agar menjaga perahu dan menanti disitu karena ia hendak menyusul dan mencari jejak para bajak sungai yang membawa lari Cin Eng.

Sedang keadaan Cin Eng sendiri sangat menyedihkan. Karena tak pandai berenang, ia menjadi lemas dan pingsan dalam pondongan Kwee Ciang, kepala penjahat yang masih muda itu. Kwee Ciang mengumpulkan anak buahnya dan beramai-ramai mereka lari kearah sarang mereka yang berada di tengah-tengah hutan.

Ketika sadar, Cin Eng mendapatkan dirinya terbaring diatas tempat tidur kayu dengan tangan dan kaki terikat. Kwee Ciang dan seorang pemuda lain yang berpakaian menterang duduk tak jauh dari tempatnya. Melihat Cin Eng sudah sadar. Kwee Ciang berkata dengan senyum.

“Maaf nona kami terpaksa mengikat kau, karena kau ternyata pandai silat hingga berbahaya kalau tak diikat. Jangan kau khawatir kami takkan mengganggumu. Kau hanya kami tahan untuk menanti datangnya kawanmu itu yang harus menebusmu dengan barang-barang berharga. Ketahuilah kami telah kehilangan banyak anggota, maka kau harus ditebus dengan mahal.”

“Hm, kalau dia datang, kamu semua tentu terbunuh mampus,” Cin Eng berkata gemas.

“Ha ha ha sudah cantik, kalau marah bertambah manis,” kata pemuda berbaju menterang itu sambil menyeringai.

“Kwee Liang! Jangan bicara sembrono!” tegur Kwee Ciang. “Nona jangan marah. Adikku hanya berkelakar saja. Ketahuilah, aku adalah Kwee Ciang yang memimpin bajak di sini dan ini adalah Kwee Liang misanku.”

Tapi Cin Eng tak pedulikan perkataan itu dan memalingkan mukanya. Tiba-tiba seorang bajak berlari masuk.

“Tai ong orang tadi telah datang dan mengamuk!”

Kwee Ciang mencabut goloknya dan berkata kepada Kwee Liang. “Kau menjaga disini jangan sampai nona ini terlepas. Biar kubereskan orang itu dan minta uang tebusan.”

Kepala bajak yang muda dan cakap itu segera lari keluar membawa goloknya, diikuti oleh bajak yang melaporkan tadi. Kwee Ciang lari keluar dan melihat perkelahian yang hebat dan membuat hatinya berdbar penuh kekhawatiran. Ia melihat betapa Bu Beng dengan tangan kosong dikeroyok bajak empat puluh orang lebih, tapi pemuda itu bagaikan seekor naga terlepas dari kurungan, mengamuk hebat sekali.

Dengan kedua tangan kosong ia menyambar kesana sini dan dimana tubuhnya berkelebat, tentu rebah seorang bajak dengan tak berkutik karena telah tertotok jalan darahnya! Tubuh para bajak bergelimpangan bertumpuk-tumpuk dan teriakan ngeri terdengar disana-sini!

Kwee Ciang kaget sekali karena ia mnyangka kawan-kawannya yang roboh itu terbinasa, maka ia segera mengumpulkan kawan-kawannya yang pandai menggunakan senjata rahasia dan beramai-ramai menyambit pemuda itu dengan pisau, pelor besi dan anak panah!

Tapi dengan berseru keras Bu Beng mencabut Hwee hong kiam dari punggung dan memutarnya hingga tampak sinarnya berkilau kilauan seperti perak. Semua senjata rahasia dapat dipukul jatuh dan berserakan kesana kemari. Kemudian tubuh Bu Beng berkelebat kembali ia menggunakan tangan kirinya menotok tiap penjahat yang dapat terpukul olehnya.

Bu Beng benar-benar mengamuk hebat, tapi ia masih ingat akan perikemanusianan dan tak mau menjatuhkan tangan maut. Hanya membuat bajak-bajak itu tak berdaya dan lumpuh dengan totokannya yang diwarisinya dari Hoa san pai yang hebat.

Melihat kejadian hebat ini, Kwee Ciang putus asa dan tak berani melawan. Ia segera kembali ke pondoknya untuk membawa lari Cin Eng. Alangkah terkejutnya ketika ia mendengar jeritan seram dari arah pondoknya itu. Buru-buru ia menolak daun pintu, tapi pintu terkunci dari dalam, ia gunakan kakinya menendang pintu, pintu terbuka dan pemandangan di dalam pondok membuat wajahnya menjadi merah karena marah.

Ternyata ketika ditinggalkan seorang diri untuk menjaga Cin Eng, Kwee Liang yang memang berwatak cabul dan jahat tertarik sekali akan kecantikan Cin Eng dan timbullah maksud buruk hendak mengganggunya. Didekatinya nona itu dan ia mengulurkan tangan.

Cin Eng menjerit tapi Kwee Liang segera menekap mulut nona itu dan menyumbatnya. Cin Eng meronta-ronta, tali ikatan kaki tangannya sangat kuat. Nona itu takut sekali, air matanya mengalir dan ia bertekat lebih baik mati daripada terganggu oleh binatang berwajah manusia ini.

Dengan beringas Kwee Liang memegang baju Cin Eng dan merenggutkannya dengan sekali sentakan. Baju nona itu robek dan tampaklah pundaknya yang berkulit putih halus Cin Eng makin marah dan memberontak keras, dan Kwee Liang makin gila nampaknya. Pemuda bermoral bejat itu segera menuju ke pintu dan menguncinya.

“Nona jangan takut, aku takkan berlaku kasar padamu,” katanya menyeringai.

Kemudian ia maju menghampiri. Tapi, belum ia bertindak lebih jauh yang melanggar batas-batas perikesopanan dan kesusilaan tiba-tiba pintu ditendang dari luar dan Kwee Ciang berdiri di ambang pintu dengan golok di tangan dan wajah merah sekali.

Kwee Liang tersenyum. “Twako, jangan ganggu aku. Berlakukah baik kali ini dan biarlah aku mendapatkan nona itu. Aku cinta padanya, twako.”

“Bangsat rendah! Kau membikin malu aku, membikin malu abu leluhur kita! Biarpun menjadi bajak, tak pernah nenek moyangku menjalankan perbuatan terkutuk itu. Hayo keluar.”

Kwee Liang menjadi marah. “Twako, bagus bener sikapmu ini! Kau selalu hendak menang sendiri dan aku selalu harus tunduk kepadamu. Tapi kali ini tidak! pendeknya aku harus mendapatkan nona ini, tak peduli kau melarangnya atau tidak. Aku mau keluar kalau tubuhku sudah terbaring diatas lantai ini.”

“Binatang kau!”

“Habis, kau mau apa?” kata Kwee Liang dan mencabut pedangnya yang ditaruh diatas meja.

Kwee Ciang menjadi marah dan meloncat menyerang. Kwee Liang menangkis dan mereka berkelahi dengan sengit. Sebenarnya dalam hal kepandaian, Kwee Ciang menang setingkat kalau dibandingkan dengan Kwee Liang. Lebih-lebih karena Kwee Liang jarang melatih diri. Maka setelah bertempur kurang lebih dua puluh jurus, tiba-tiba Kwee Ciang melayangkan tendangannya dan tepat mengenai dada Kwee Liang yang segera roboh dan pingsan!

Jago Pedang Tak Bernama Jilid 02

JAGO PEDANG TAK BERNAMA JILID 02

Bu Beng mendongkol juga melihat lagak lawan, maka ia tidak sungkan-sungkan lagi. Setelah berkata, “Maafkan aku bergerak terlebih dahulu,” ia memajukan kaki menyerang dengan tangan kiri, sedangkan pedang pendek di tangan kanannya masih disembunyikan di belakang lengan.

Si Huncwe Maut mencabut huncwenya dan dengan berseru. “Haya!” ia berkelit ke samping sambil gerakkan kaki. Gerakannya memang lemas sekali, tubuhnya melengkok-lengkok bagaikan tubuh seorang perempuan.

Bu Beng maklum bahwa si kurus itu sengaja berlagak atau sengaja hendak memanaskan hatinya. Tiba-tiba ia ingat bahwa si Huncwe maut adalah seorang ahli totok, maka kalau ia sampai tak dapat menahan perasaannya dan menjadi marah karena diejek itu, berbahaya sekali menghadapi lawan tangguh ini. karena itu, tiba-tiba ia mundur dua langkah an berdiri biasa dengan tubuh tegak, sedangkan kedua matanya menatap lawan bagaikan orang yang sedang nonton sesuatu yang lucu.

“Hei, ayo serang, anakku!” lawannya mengejek, tapi Bu Beng tiba-tiba tertawa geli.

“Ah, aku lebih senang menonton seorang badut yang berlagak,” jawabnya. “Sungguh gerakanmu lucu dan menarik. Biarlah kalau sudah main nanti aku ikut memberi hadiah beberapa potong uang perak.”

Song Leng Ho marah sekali dan tidak dapat menerima hinaan ini. kulit mukanya menjadi merah dan ia hentikan gerakan-gerakannya yang lemah gemulai. “Baiklah kau sendiri yang cari mampus,” katanya, lalu ia menyerang maju dengan hebat. Huncwenya diayun cepat mengarah leher Bu Beng.

Kini Bu Beng-lah yang mempermainkannya. Anak muda itu berkelit ke kiri dan menyampok huncwe itu dengan pedang pendeknya. Ia mendapat kenyataan bahwa tenaganya masih tidak kalah oleh lawannya, karena dalam bentrokan itu ia dapat mengukur tenaga lawan.

Sebaliknya bentrokan itu membuat Song Leng Ho sadar bahwa lawannya yang masih muda itu, selain bertenaga kuat, juga memiliki senjata pusaka, karena tidak sembarangan senjata dapat menahan huncwenya yang terbuat dari baja hitam. Maka ia tidak berani pandang ringan lawannya dan berkelahi dengan hai-hati.

Tapi setelah bergebrak lima enam jurus tahulah Bu Beng bahwa si kurus ini hanya lagaknya saja yang hebat. Tentang kepandaian, hanya sedikit lebih tinggi dari Sim Pangcu, maka ia tidak merasa khawatir dan gunakan kelincahan gerakannya mempermainkan lawan itu sambil berkelit gesit kesana kemari.

Karena ternyata sekian banyak serangan serangannya hanya mengenai angin, Song Leng Ho merasa penasaran dan gemas sekali. Tiba-tiba ia menyerang dengan totokan kearah jalan darah di rusuk kanan Bu Beng dan satu serangan itu dibarengi dengan tendangan maut kearah tubuh lawan!

Dua gerakan dalam serangan maut ini masih ditambah lagi dengan semburan asap hitam penuh racun kearah muka Bu Beng. Ini sungguh merupakan serangan hebat dan nekat. Melihat serangan kejam dan yang semata-mata dilakukan oleh orang yang menghendaki jiwanya, Bu Beng menjadi marah. Ia berseru keras dan menggunakan tenaga dalamnya meniup kearah asap yang menyambar mukanya hingga asap itu buyar dan terbang kembali.

Terhadap serangan huncwe dan tendangan Bu Beng berlaku lebih keras lagi. Ia gunakan pedang pendeknya menyampok dengan sepenuh tenaga sehingga terdengar suara keras dan huncwe itu terlepas dari tangan si Huncwe Maut yang merasa tangannya pedas dan panas, terlempar jauh dan jatuh ke atas lantai mengeluarkan suara berkerontangan, dan Bu Beng miringkan tubuh menghindarkan tendangan, berbareng majukan tangan kiri menghantam dada lawan, Song Leng Ho berteriak ngeri dan tubuhnya terpental ke belakang lalu jatuh berdebukan dengan mata terbalik dan dari mulut mengeluarkan darah!

Hut Bong Hwesio, Pok Thian Beng dan Lui Im yang sejak tadi melihat jalannya pertempuran dengan penuh rasa tegang, ketika melihat Song Lng Ho menggunakan tipu serangan maut tadi telah merasa menyesal dan terkejut sekali, tapi mereka tak sempat mencegah. Kini melihat betapa si Huncwe Maut itu terluka hebat, mereka cemas sekali.

Bu Beng juga merasa menyesal karena ia telah memberi pukulan demikian hebat. Segera ia meloncat mendekati tubuh Song Leng Ho yang terbujur di atas tanah. Ketika ia sedang membungkuk, tiba -tiba dari belakangnya menyambar angin dingin. Ia tahu bahwa ada orang yang menyerangnya dari belakang, tapi tanpa menoleh, ia angkat atangan kiri menyampok. Segera tangannya beradu dengan tangan Hut Bong Hwesio yang sebenarnya salah menyangka ia hendak mencelakakan Song Leng Ho dan turun tangan menceah.

Ketika kedua tangan beradu, Hut Bong Hwesio terhuyung ke belakang tiga tindak. Hwesio itu meramkan mata dan mengatur napas, dan mukanya menjadi merah karena malu ketika melihat betapa pemuda itu menggunakan jari telunjuknya menotok jalan darah hui hing ciat untuk meny embuhkan luka dalam Song Leng Ho yang terpukul olehnya tadi.

Setelah selesai menolong jiwa Song Leng Ho, Bu Beng berdiri memandang penyerangnya tadi. Hut Bong Hwesio rangkapkan kedua tangan lalu menghela napas.

“Ah, sungguh tak tersangka pemuda ini telah memiliki tenaga dan kepandaian sempurna. Pinceng mengaku kalah, harap Bu Beng Taihiap maafkan kesembronoan pinceng tadi.” Kemudian sambil menjuru kepada Sim pangcu, hwesio itu berkata,

“Sim pangcu, pinceng mohon diri, karena pinceng tak dapat membantu. Maafkanlah.”

Tanpa menanti jawab, hwesio itu segera tinggalkan tempat itu dengan tindakan cepat. Lim San yang melihat semua itu, segera maju dan menjuru kepada Sim Pangcu.

“Saudara Sim, aku mohon kau suka habiskan saja pertunjukan-pertunjukan ini. marilah masuk dan minum arak bersama agar hubungan kita baik kembali seperti sedia kala. Janganlah hendaknya soal salah paham kecil ini dijadikan dasar perkelahian yang membahayakan jiwa.”

Sim Boan Lip tersenyum lemah. “Kau benar, saudara Lim. Memang seharusnya kami mengalah karena kau mempunyai pelindung yang demikian gagahnya.” Ia berkata penuh sindiran tajam.

“Mengalah?” seru Sim Tek Hin sambil bertindak maju. “Tidak! Biar bagaimana juga orang tua she Lim harus pegang teguh janjinya. Kalau ayah dan para locianpwe tidak mau membelaku, sepantasnya aku menuntut balas atas penghinaan yang dijatuhkan kepada Song locianpwe! Song locianpwe adalah tamu kita, pembela dan kawan kita, kini setelah ia dihina oleh Bu Beng siauwcut itu, haruskah kalian tinggal peluk tangan belaka? Apakah ini boleh diartikan bahwa ayah dan jiwi cianpwe jerih dan takut padanya?”

Sambil berkata begitu Sim Tek Hin memandang tajam kepada ayahnya dan kepada Pok Thian Beng si Tangan Besi, lalu mengerling kepada Lui Im si Golok Setan.

Panas juga hati Pok Thian Beng mendengar sindiran Sim Tek Hin ini. Maka dengan langkah lebar ia menghampiri Bu Beng yang memandang semua itu dengan berdiri sambil berpeluk tangan.

“Anak muda, telah kulihat bahwa kau memiliki kepandaian tinggi dan tenaga besar. Berilah ketika padaku untuk mencobanya.”

Bu Beng menjuru dengan hormat. “Maaf, loenghiong. Bolehkah saya mengetahui nama dan gelaran loenghiong yang mulia?”

Melihat sikap dan kesopanan anak muda itu, hati Pok Thian Beng telah muali menyesal mengapa ia mudah saja dibakar oleh Sim Tek Hin. Tapi karena sudah terlanjur, ia menjawab juga.

“Aku adalah Pok Thian Beng.”

“Ah, jadi loenghiong adalah si Tangan Besi? Sungguh beruntung saya yang bodoh dapat berjumpa dengan loenghiong yang telah lama kukagumi.” Jawab Bu Beng.

Tapi Pok Thian Beng yang jujur tidak jadi sombong bahwa anak muda itu telah mendengar nama besarnya, bahkan ia khawatir kalau-kalau nama besar itu sebentar lagi akan hancur oleh anak muda yang agaknya baru saja muncul dalam kalangan kang ouw hingga namapun tidak punya!

“Anak muda, kita tak pernah bermusuhan maka marilah kita main-main sebentar, sekadar belajar kenal,” katanya demikian dan Sim Tek Hin yagn mendengar percakapan saling merendah ini menjadi tidak puas.

“Pok loenghiong. Apakah perlunya kita menonjolkan kepandaian? Saya sudah cukup percaya akan kelihaianmu dan haruskah perkenalan ini dikotori oleh adu tenaga? Bantah Bu Beng.

“Hm, hm, Bu Beng Kiamhiap. Agaknya kau jerih terhadap Pok cianpwe, ha ha ha!” Sim Tek Hin mengejeknya.

“Hayo, Bu Beng Taihiap, layanilah aku barang dua tiga jurus. Kalau tidak, maka tentu kau atau aku akan dianggap pengecut.”

Pok Thian Beng mendesak, hingga apa boleh buat Bu Beng siap melayaninya. Tapi karena ia maklum akan ketulusan Pok Thian Beng dan tahu bahwa orang itu hanya menjadi kurban kelicikan keluarga Sim, ia tidak hendak mencelakakan atau membikin malu kepadanya.

“Awas pukulan,” Pok Thian Beng berseru sambil maju menyerang dalam tipu Hong tan tiam cie atau burung Hong pentang sayap langsung memukul kearah iga Bu Beng.

Anak muda itu berkelit dengan gesit, tapi segera datang pula serangan dari si Tangan Besi dengan gerakan Hek houw to sim atau Macan hitam menyambar hati. Bu Beng adlah seorang pemuda yang penuh keinginan meluaskan pengalaman, maka tidak akan puas hatinya kalau belum mencoba sesuatu yang telah didengarnya. Telah lama ia mendengar akan kehebatan lengan tangan Pok Thian Beng yang dijuluki si Tangan besi, maka kini melihat tangan kanan lawan menyambar kearah ulu hatinya, ia segera kumpulkan tenga mengepul tangan dan gunakan tangannya itu memukul kedepan dan memapaki datangnya pukulan lawan.

Si Tangan Besi terkejut melihat kecerobohan lawan yang masih muda ini. Ia tidak mau membikin anak muda itu celaka dan ia yakin bahwa jika mereka beradu tangan, pasti anak muda itu sedikitnya akan terpatah lengnnya. Tapi, karena untuk menarik kembali kepalannya sudah tak sempat lagi, maka ia hanya dapat mengurangi tanaganya dan hanya gunakan setengah saja. Dua kepalan tangan bertemu dan...

“Dukkk!”

Kedua-duanya merasa betapa sebuah tangan besar bertemu dengan tangan masing-masing. Karena si Tangan Besi hanya gunakan setengah tenaganya dan berbareng itu Bu Beng sendiri yang sangat percaya akan tenaga sendiri juga kurangi tenaga pukulannya, maka si Tangan Besi lah yang kalah tenaga dan terhuyung-huyung mundur sampai lima tindak, sedangkan Bu Beng hanya mundur dua tindak.

Pok Thian Beng memandang kagum dan penasaran. Ia si Tangan Besi yang terkenal dan jarang terlawan kekuatannya kini terpukul mundur oleh anak muda ini ? ia menyesal mengapa tadi tidak kerahkan semua tenaganya! Dan masih menganggap bahwa kekalahannya itu karena ia tadi hanya menggunakan setengah tenaga. Maka ia merangsek kembali karena belum puas.

Bu Beng tidak mau dianggap tidak pandang sebelah mata kepada musuh yang dihormati itu, maka iapun balas menyerang. Ketika Bu Beng dengan pukulan Kim liong tam jiauw atau Naga mas mengulur kuku memukul kearah lambung, tibalah giliran si Tangan Besi untuk mengukur tenaga lawan. Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis.

Kembali dua telapak tangan beradu, kini lebih hebat karena Pok Thian Beng gunakan semua tenaga sedangkan Bu Beng juga pusatkan tenaganya di lengan. Akibat tumbukan tenaga itu, Pok Thian Beng rasakan lengannya kesemutan dan Bu Beng juga rasakan kulit tangannya panas. Anak muda itu segera barengi meloncat mundur sambil berkata,

“Pok loenghiong sungguh tidak percuma bergelar Tangan Besi. Siauwte mengaku kalah.” Katanya sambil memberi hormat.

Pok Thian Beng makin kagum melihat kesopanan pemuda itu. Ia tertawa dengan gembira. “Ha ha. Tidak kecewa aku datang kesini dan dapat mengagumi orang muda seperti kau. Tidak malu aku mengaku bahwa kalau kau mau, mudah saja bagimu untuk menjatuhkan aku. Kalau aku mempunyai tangan basi, maka kau mempunyai tangan baja, Bu Beng Kiamhiap!” kemudian kepada Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin ia menjura.

“Terima kasih atas undangan jiwi. Tapi aku yang bodoh dan tidak berguna ternyata tak dapat membantu apa-apa. Terserah kepadamu, jiwi, tapi menurut pendapatku yang bodoh, lebih baik persolan kecil ini dihabiskan saja.”

“Ah, Pok cianpwe mengapa merendahkan nama kita sendiri? Terang sekali Pok cianpwe berlaku mengalah terhadap pemuda sombong ini, tapi mengapa berkata demikian. Pula Lui Im losuhu juga berada disini apakah orang tidak pandang mata kepadanya,‟ berkata Sim Tek Hin.

Mendengar teguran ini, Pok Thian Beng memandang marah. “Hm, bagus, Sim hiante. Jadi undanganmu kepada kami dulu itu hanya untuk mengadu kami dengan orang-orang lain? Jadi hanya untuk memperalat kami. Terimakasih dan sampai jumpa pula.” Sambil berkata begitu, Pok Thian Beng balikkan tubuh hendak meninggalkan empat ini. tapi sekali loncat, Lui Im telah berada di sebelahnya dan pegang lengannya.

“Eh, Pok twako, jangan pergi dulu. Tunggu aku ajar kenal dulu dengan Bu Beng Kiamhiap.”

Si Tangan Besi memandang dan tersenyum lalu duduk di atas sebuah bangku dengan sikap tidak perduli kepada orang she Sim itu. Lui Im yang bertubuh pendek kecil itu segera mendekati Bu Beng.

“Bu Beng Kiamhiap, kau sebagai seorang hohan tentu suka berlaku adil. Kami semua datang kesini dan sudah belajar kenal dengan kelihaianmu, hanya aku seorang yang belum. Maka janganlah bikin aku penasaran dan berilah sedikit pengajaran padaku.”

Bu Beng memberi hormat, “Mana aku yang muda berani memberi pengajaran? Sebaliknya, siauwte masih mengharapkan petunjuk-petunjuk darimu.”

Lui Im cabut golok dari punggungnya dan kelebat-kelebatkan itu beberapa kali. Melihat ini, Bu Beng terkejut.

“Bukankah loenghiong ini pangcu dari Cung lim pang yang bernama Lui Im loenghiong?” tanyanya.

Lui Im terkejut juga. Bagaimana pemuda yang tak dikenalnya ini dapat mengenalnya? “Eh, darimana kau tahu nama dan kedudukanku, anak muda?”

Bu Beng memberi hormat. “Maaf, karena siauwte tadi tidak tahu berhadapan dengan siapa. Tidak tahunya berhadapan dengan seorang sahabat baik dari suhengku.”

“Siapa suhengmu itu?‟"

“Suhengku ialah Kim Kong Tianglo dari Liong san.”

Lui Im menggerakkan tangan kanannya dan tiba-tiba goloknya menancap diatas tanah dan gagangnya bergerak-gerak menggetar.

“Kim Kong Tianglo? Kau… sutenya? Aneh. Sungguh aneh! Kemudian ia berdiri termangu-mangu karena sesungguhnya ia pernah mendengar dari Kim Kong Tianglo sendiri bahwa pendeta tua itu mempunyai seorang sute yang gagah, tapi masakan sute itu semuda ini?

Bu Beng mengerti bahwa orang itu ragu-ragu, maka tiba-tiba ia mendapat pikiran untuk menaklukkan orang ini tanpa mengadu kepandaian. Ia berkata,

“Maaf” dan secepat kilat ia loncat menyambar dan tahu-tahu golok yan tertancap di tanah itu telah dicongkel dengan ujung kaki hingga terlempar keatas yang lalu diterima dengan tangan. Kemudian ia mulai bersilat sambil berkata,

“Sebagai sahabat suhengku, tentu loenghiong kenal permainan ini,” lalu diputar-putarnya golok itu dan ia mainkan ilmu golok dari Kim liong pai. Golok itu berubah menjadi sinar putih yang lebar dan yang menyelimuti tubuh anak muda itu. Lui Im berdiri ternganga dan tak disengaja mulutnya berkata memuji.

“Bagus, bagus.”

Setelah Bu Beng berhenti bersilat dan menancapkan kembali golok di tempat tadi, Lui Im menghampirinya dan menpuk-nepuk pundaknya dengan mesra.

“Tidak salah, tidak salah! Kau tentu sute dari Kim Kong, bahkan permainan golokmu lebih hebat dari padanya. Sungguh hebat. Sungguh beruntung kita belum bergebrak, kalau sudah ah tentu aku akan celaka. Ha ha ha!”

Kemudian ia berpaling kepada Pok Thian Beng yang masih duduk. “Saudara Pok, matamu sungguh awas dan mengenal barang baik. Kau benar, kita berdua tak usah mencampuri persoalan tetek bengek ini. Saudara Sim, pandanglah muka kami berdua dan habiskan saja pertempuran ini. mari, saudara Pok, sudah waktunya bagi kita untuk pergi.”

Kedua jagoan tua itu, setelah menjuru kearah Bu Beng dengan kata-kata. “Sampai bertemu lagi,” lalu berjalan cepat tinggalkan tempat itu.

Melihat bahwa ia sendiri berikut keempat kawannya yang diandalkan itu satu demi satu dibikin takluk oleh Bu Beng. Sim pangcu menjadi malu sekali. Ia menjuru kearah Lim San yang sejak tadi melihat pertunjukan-pertunjukan itu dengan penuh kekaguman, sambil berkata,

“Saudara Lim, biarlah kali ini aku mengaku kalah.”

Lim San balas menjuru. “Sim pangcu, kau tidak kalah dariku, maka sudahi sajalah urusan ini dan anggap saja bahwa kita tiada jodoh untuk berbesan. Biarlah kita menjadi sahabat baik.”

Sim pangcu menggoyang-goyang kepala. “Bagaimana juga aku sekawan telah dijatuhkan orang, dan aku harus berusaha mencuci bersih noda memalukan ini.”

Tiba-tiba Bu Beng meloncat kedepannya dan berkata keras dengan suara penuh ejekan. “Ha ha, Sim pangcu ternyata bersikap seperti anak kecil. Kalau sikapmu seperti ini, mana pantas kau menjadi seorang pangcu? Ketahuilah, kau adalah seorang pengecut besar kalau urusan hari ini kau taruh dendam kepada Lim San loenghiong. Kau hanya tujukan kepada orang yang kiranya tak dapat melawanmu agar kau dapat paksakan nafsu jahatmu. Kalau kau memang seorang gagah, lenyapkan semua urusanmu dengan Lim San loenghiong. Jika dalam hatimu masih ada dendam maka dendam itu tidak seharusnya ditujukan kepadanya, tapi seharusnya kepadaku, karena akulah orangnya yang telah menjatuhkan kalian.”

“Bu Beng! Jangan kau sombong” teriak Sim pangcu sambil kertak giginya karena marah dan gemas. “Siapa yang taruh hati dendam kepada Lim enghiong? Puteraku ditampik adalah soal kecil. Masih banyak gadis lain di dunia ini. Dendam hatiku memang ditujukan padamu. Maka ingatlah pada suatu hari aku pasti akan mencarimu dan menagih hutang!” sehabis berkata demikian, Sim Pangcu segera mengambil langkah lebar dengan diikuti Sim Tek Hin yang berjalan dengan tunduk.

Lim San maklum bahwa ucapan sombong yang dikeluarkan oleh Bu Beng itu memang disengaja untuk memindahkan rasa dendam di hati pangcu itu dari Lim San kepada Bu Beng. Maka makin bertambahlah rasa terima kasihnya kepada pemuda itu. Namun Bu Beng tak memberi kesempatan kepada orang untuk menyatakan terima kasih, karena setelah menjuru ia cepat berkelebat dan bayangannya tak tampak lagi. Lim San sekeluarga hanya dapat menarik napas dalam dan geleng-geleng kepala.

********************

Bu Beng secepat terbang kembali ke pondok diatas bukit dan setelah membungkus barang-barangnya yang tak berapa banyak itu di dalam sebuah kain kuning, ia meninggalkan tempat itu dengan bungkusan terikat di punggung untuk melanjutkan perjalanannya merantau setelah berdiam di tempat sunyi itu hampir sebulan lamanya.

Disepanjang jalan tak habis-habisnya Bu Beng melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar, menolong yang lemah tertindas dan membasmi yang kuat sewenang-wenang. Tak heran nama Bu Beng Kiamhiap makin terkenal, ditakuti lawan diindahkan kawan.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Bu Beng telah berjalan kaki seorang diri dalam sebuah hutan di kaki bukit Lun ma san. Di kaki bukit Lun ma san terdapat beberapa kampong kecil dengan penduduk terdiri dari kaum petani. Tapi karena bukit itu mengandung tanah kapur, pertanian disitu tidak dapat subur. Maka disamping bertani, penduduk disitu menambah penghasilan dengan menjual hasil hutan dan kapur yang memang banyak terdapat disitu. Di beberapa hutan terdapat kayu besi yang hitam membaja dan banyak disukai oleh orang-orang kota untuk membuat bangunan karena kayu itu kerasnya bagaikan besi saja.

Ketika enak berjalan, tiba-tiba Bu Beng mendengar sura kanak-kanak yang tertawa-tawa dengan riangnya. Suara tawa anak-anak yang wajar ini membuat Bu Beng sadar dari lamunannya, karena sesungguhnya semenjak tadi Bu Beng melamun walaupun kedua kakinya berjalan maju. Ia merasa seakan-akan suara tawa riang dan bening itu merupakan cahaya dan membuatnya gembira sekali. Dengan cepat ia menuju kearah datangnya suara itu.

Ternyata olehnya bahwa yang tertawa-tawa gembira adalah dua orang anak laki-laki dan perempuan berusia kurang lebih enam tahun. Mereka sambil tertawa mengejar seekor kelinci yang lari kesana kemari dengan gesitnya. Tapi kedua anak itu lebih gesit, seorang mencegat disana, seorang pula mencegat disini, hingga akhirnya binatang berbulu putih itu kelelahan dan hanya mendekam di tengah-tengah sambil terengah engah dan tubuhnya menggil seakan-akan kedinginan. Sepasang telinganya yang panjang bergerak-gerak kebawah keatas dengan lucunya.

Bu Beng heran dan kagum melihat gerakan kedua anak itu. Jelas baginya bahwa kedua anak itu mempunyai gerakan yang terlatih dan pasti mereka adalah murid-murid seorang ahli silat yang pandai. Tiba-tiba anak perempuan itu meloncat dan tangannya menyambat. Sambil tertawa girang ia melihat betapa kelinci itu bergerak-gerak hendak meloloskan diri, tapi percuma karena tangan kecil yang memegang kedua telinganya itu kuat sekali hingga ia hanya dapat menggerak-gerakkan kedua kakinya yang tergantung dan kaki depannya bergerak-gerak seakan-akan orang main silat.

“Cin Lan, lepaskan ia, kasihan. Telinganya tentu sakit kau gantung demikian rupa,” tegur anak laki -laki itu.

“Mengapa kasihan? Tampaknya lucu!” jawab anak yang perempuan, “Biar kubawa pulang, kuberikan pada twaci agar dimasak. Hm, alangkah sedapnya nanti.”

“Jangan, Cin Lan. Kasihan dia. Aku tak suka daging kelinci. Lihat itu matanya seperti matamu. Sebentar lagi ia menangis.”

Digoda demikian, si gadis kecil melempar kelinci itu ke tengah gerombolan pohon kecil. Binatang itu segera lari cepat dan menghilang dibawah rumput alang-alang. Anak perempuan itu dengan muka merah menghadapi kakaknya.

“Kau ini bisanya menggoda saja. Awas nanti kuberitahukan cici agar kau dijewer sampai merah biru telingamu.”

“Sudahlah jangan marah. Lebih baik kita berlatih karena kalau cici datang melihat kita belum latihan, barangkali telinga kita berdua akan dijewer sampai putus. Kau tahu, bagaimana halusnya tangan cici, kalau sudah menjewer telinga ampun sakitnya bukan main.”

“Baiklah, Han ko tapi kau jangan nakal lagi. Mari kita latih pelajaran kemarin. Gerakan jurus keempat masih terasa sukar bagiku.”

Semenjak tadi Bu Beng mengintai dari belakang pohon dengan hati gembira. Ia suka sekali kepada kedua anak kecil yang mungil itu. Yang laki-laki cakap berwajah tampan, daun telinganya lebar dan matanya bersinar, tapi bibir dan pandangan matanya memperlihatkan kesabaran dan kebijaksanaan. Terang bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang yang mulia dan bijaksana.

Anak perempuan yang dipanggil Cin Lan itupun mungil sekali. Wajahnya cantik jelita dengan mata yang lebar, jika ketawa nampak dua lekuk manis di kanan kiri mulutnya. Tapi menurut pandangan Bu Beng, pandangan mata anak perempuan itu ketika marah tampak kejam dan jahat, sungguhpun setelah tertawa lenyaplah sifat itu dan terganti sifat yang halus menyenangkan.

Kini setelah melihat kedua anak itu bertanding main silat terkejutlah Bu Beng. Karena ternyata kedua anak itu mainkan tipu-tipu gerakan dari Kim liong pai! Murid siapakah kedua anak ini? Demikian Bu Beng tak habis terheran-heran. Kalau murid dari cabangnya yang mengajar kedua anak itu, mengapa gerakannya demikian kacau? Tipu-tipu gerakan ini walaupun banyak mengambil dari Kim liong pai, tapi harus diakui ada bedanya, atau beda dalam variasinya. Karena heran dan ingin sekali tahu, Bu Beng menghampiri mereka.

Dua anak itu berhenti main silat dan memandang Bu Beng dengan curiga. Pakaian Bu Beng memang dapat mencurigakan hati kanak-kanak, karena pakaian warna kuning itu sudah bertambal sana sini bahkan di bagian pundak kiri robek belum ditambal hingga nampak kulit pundaknya yang putih dengan tulang pundak menonjol.

“Anak baik, siapakah guru kalian? Bagus sekali permainanmu,” Tanya Bu Beng ramah.

Tapi anak perempuan itu segera mundur dan berbisik kepada kakaknya. “Han ko, hati-hati, ini tentu sebangsa penjahat seperti yang diceritakan cici.”

Bu Beng tertawa geli mendengar ini. “Eh aku bukan penjahat. Aku suka sekali melihat permainan silatmu tadi. Tapi ada beberapa bagian yang kaku dan salah. Tadi ketika kau mainkan tipu naga mas memburu mustika kaki kirimu salah duduknya, seharusnya agak ditarik serong ke kiri,” katanya kepada anak perempuan itu.

Kemudian ia berkata kepada anak laki-laki yang memandangnya dengan mata tajam. “Dan kau, siauw ko ketika kau menangkis dengan Naga Mas Sabetkan Ekor tadi, tangan kirimu yang menganggur seharusnya dikerjakan untuk balas menyerang dengan tipu Naga Mas Leletkan Lidah karena kedudukan lawanmu kosong bagian pinggang kanan.”

“Eh, orang kuarang ajar!” tiba-tiba gadis kecil itu mendamprat, “Kau lancang sekali berani mencela ilmu silat kami yang diturunkan oleh cici!”

Bu Beng ketawa gembira melihat kelincahan dan kegalakan nona cilik itu. “Oh, jadi kalian diberi pelajaran oleh cici kalian sendiri?”

“Apa kau berani bilang bahwa twaci kami salah pula dalam memberi pelajaran?” Tanya anak laki -laki itu penasaran.

“Memang salah. Kalau cicimu yang mengajar, maka ia juga salah.”

“Hm, sonbong benar kau! twaci mendapat pelajaran dari supek, apakah kalau begitu supek juga salah?” Tanya anak perempuan itu.

Bu Beng mengangguk sambil tersenyum. “kalau memang begini cara mengajarnya, supekmu itu juga salah!”

“Kurang ajar!” gadis kecil itu berteriak marah dan dengan cepat ia layangkan kepalannya yang kecil memukul perut Bu Beng.

Bu Beng tertawa geli dan timbul kegembiraannya. “Baik, baik mari berlatih agar dapat kemajuan.” Ia berkelit sambil berkata, “Nah, ini kelitan Naga Mas Putar tubuh.”

Anak laki-laki ketika melihat adiknya menyerang segera ikut membantu dan sebentar kemudian Bu Beng sikeroyok oleh kedua anak itu. Bu Beng sambil berkelit dengan mulut tersenyum gembira selalu memberi petunjuk. Ia sebutkan kesalahan-kesalahan gerakan anak-anak itu dan sebutkan nama gerakannya sendiri sambil mengelak atau menangkis perlahan.

Ternyata kedua anak itu bersemangat besar karena biarpun sudah merasa lelah, namun masih saja mendesak. Disamping menyerang, merekapun perhatikan petunjuk-petunjuk dari Bu Beng dan dasar otak mereka berdua cerdik merekan seakan-akan terbuka mata mereka dan dapat menangkap kesalahan-kesalahan sendiri.

Tiba-tiba terdengar seruan nyaring. “He, orang kasar darimana berani mengganggu kedua adikku?”

Mendengar seruan ini Bu Beng meloncat mundur dua kali dan memandang. Ia tertegun dan untuk sejenak seakan-akan napasnya berhenti. Bu beng bukanlah seorang pemuda yang mudah saja terpesona oleh paras cantik. Tapi ketika matanya memandang gadis berpakaian putih yang berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang dan matanya bercahaya tajam dan marah itu, ia rasakan semangatnya melayang-layang.

Wajah dan potongan tubuh gadis itu menarik hatinya benar dan diam-diam ia bandingkan gadis itu dengan gadis yang selalu memenuhi alam mimpinya. Karena sudah berusia lebih dari dua puluh lima tahun, sebagai seorang pemuda yang sehat, sering kali Bu Beng mengenangkan dan mimpikan seorang gadis yang sesuai dan cocok dengan selera hatinya. Dan gadis ini mememnuhi segala-galanya.

Gadis itu berusia paling banyak sembilan belas tahun, tubuhnya ramping padat, sepasang matanya merupakan bintang bercahaya indah, hidungnya mancung mulutnya kecil dengan bibir bagaikan gendewa terpentang dan berwarna merah, rambutnya terurai ke belakang dan diikat dengan kain putih, sebagian rambut terurai kejidat menambah kemanisannya. Baju dan celana putih dari kain kasar dan sepatu putih pula menutupi tubuhnya. Sungguhpun ia berdandan sederhana sekali namun kesederhanaannya ini bahkan menonjolkan kejelitaan yang asli.

Karena orang yang ditegurnya dari tadi bengong saja sambil memandang bagikan patung hidup, gadis itu merasa malu dan wajahnya menjadi merah. Ia marah sekali melihat kekurang ajaran orang.

“He, bangsat! Ada apa kau pandang orang saja dan tak menjawab kata-kataku. Apakah kesalahan kedua adikku ini hingga kau seorang dewasa sampai mengajak mereka berkelahi? Pengecut besar, tidak malu berkelahi dengan anak-anak kecil.”

Bu Beng makin kagum, karena setelah marah, ternyata wajah itu makin cantik saja. Tapi kata-kata yang pedas itu membuatnya sadar. Segera ia rangkapkan tangan memberi hormat.

“Siocia, maafkan aku seorang perantauan yang tak tahu adab. Harap jangan salah sangka, kedua adikmu tadi bukan sedang berkelahi dengan aku, tapi kami bertiga hanya sedang main-main dan berlatih saja.”

Gadis itu memandang adik perempuannya. “Cin Lan, benarkan kalian tidak berkelahi tadi!”

Dengan keringat di sekujur badan dan napas masih terengah-engah, Cin Lan menjebikan bibir kearah Bu Beng dan berkata. “Siapa yang main-main? Coba cici lihat, apakah aku kelihatan seperti orang main-main? Keringatku sampai membasahi semua pakaian, dan lihat Han ko itu, ia masih terengah-engah kelelahan! kalau cici tidak keburu datang memisah, sekarang kami berdua tentu telah dapat menggebuk mampus padanya!”

“Huh!” gadis itu menegur, tapi mau tak mau ia terpaksa bersenyum mendengar kejumawaan adiknya itu.

“Sungguh bukan maksudku mengajak mereka berkelahi nona. Coba kau tanya siauw ko ini benar-benarkah kami tadi berkelahi?”

Anak laki-laki itu memandang cicinya dengan matanya yang jujur dan berkata ragu-ragu. “Aku sendiri tidak tahu, tapi dia ini memberi petunjuk-petunjuk dan membetulkan kesalahan-kesalahan gerakan kami.”

“Membetulkan kesalahan gerakanmu?” cicinya bertanya heran.

“Ya, ci, bahkan kau sendiri juga dicelanya, juga supek dikatakannya salah mengajar!” kata nona cilik yang nakal itu.

“Apa katamu?‟ gadis itu memandang marah kepada Bu Beng.

“Ah, bukan begitu maksudku, nona…” membela Bu Beng.

“Jangan banyak cakap. Kalau kau ada kepandaian dan dapat mencela ilmu silatku, cobalah kau terima dan sambut seranganku ini!”

Bu Beng hendak membantah, tapi gadis baju putih itu tak memberi kesempatan padanya untuk bicara, langsung maju menyerang secepat kilat. Pukulannya selain cepat juga berat dan antep sekali hingga Bu Beng buru-buru berkelit. Dalam gerakan-gerakan pertama gadis itu gunakan ilmu silat Kim liong pai hingga ia makin heran. Ternyata gadis itu walaupun gerakannya gesit dan tenaganya besar, juga membuat kesalahan - kesalahan dalam gerakannya atau mungkin juga, ilmu silat Kim liong pai telah tercampur aduk dengan ilmu silat lain yang tidak kalah lihainya.

Menghadapi ilmu silat cabang sendiri, Bu Beng dengan mudah sekali dapat memunahkan setiap serangan. Gadis itu menjadi penasaran dan segera merobah gerakannya. Kini ia menyerang dengan lebih cepat dan tahulah kini Bu Beng bahwa sebenarnya gadis itu mahir sekali ilmu silat Bie jin kun yang gerakan-gerakannya lemas tapi mengandung tenaga dalam yang berbahaya. Mungkin gadis ini baru sedikit mempelajari ilmu silat Kim liong pai dan kepandaian aslinya ialah Bie jin kun itu.

Karena dalam hal ilmu silat Bu Beng sudah digembleng oleh gurunya dan ia mempelajari pula segala macam ilmu silat, maka menghadapi serangan-serangan inipun ia hanya tersenyum sambil berkelit dengan gesitnya. Tak pernah ia menangkis atau balas menyerang, seakan-akan hatinya tidak tega melukai gadis itu. Diam-diam ia gembira karena iapun ingin sekali menjajal kepandaian gadis itu. Kini ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang lumayan juga.

Gadis baju putih itu ketika menyerang berpuluh jurus tapi belum juga dapat menyentuh ujung baju Bu Beng, dan mendengar sorakan-sorakan adik-adiknya yang memang gemar menonton orang bersilat, dengan dibarengi teriakan-teriakan

“Pukul, ci! Robohkan ia! ah, meleset lagi! Sayang, tidak kena lagi, ci! Hayo pukul roboh!” maka ia menjadi marah dan gemas bukan main. Dengan seruan keras ia cabut sepasang pedangnya yang terselip di punggung dan gunakan siang kiam itu menyerang hebat!.

“Tahan pedangmu, nona. Aku tidak ingin berkelahi,” mencegah Bu Beng.

“Hm, kalau dengan kanak-kanak berani ya? Kalau benar-benar laki-laki keluarkan senjatamu.”

Bu Beng buka kedua lengannya sambil angkat pundak. “Aku tidak ingin berkelahi nona.”

“Jangan banyak cakap. Kalau kau tidak mau melayaniku maka kau akan kuanggap laki-laki pengecut.”

Bu Beng tersenyum. “Kau memaksa nona. Apa boleh buat aku bukan pengecut. Majulah!”

Gadis itu segera buka serangannya dengan gerakan Burung Kepinis Menyambar Ikan. Pedang kanannya menusuk kearah tenggorokan Bu Beng sedangkan pedang kiri terputar mengancam untuk membingungkan lawan. Tapi Bu Beng ganda tertawa saja, dan loncat berkelit. Gadis itu merangsek maju dengan hati panas, dan Bu Beng terpaksa gunakan ilmu ginkangnya yang hebat untuk melayaninya dengan tangan kosong.

Pemuda itu mengandalkan keringan tubuh dan kegesitan gerakannya untuk meloloskan diri dari bayangan pedang. Sebenarnya permainan siang kiam gadis itu hebat dan telengas sekali. Kalau bukan Bu Beng, jangankan bertangan kosong biar bersenjatapun, tidak sembrangan orang dapat menangkan gadis itu. Tapi kali ini ia bertemu dengan Bu Beng Kiamhiap yang tingkatnya masih jauh diatasnya, maka dengan mudah saja ia dipermainkan.

Pada saat itu dari jauh datang berlari seorang wanita tua yang membawa tongkat. Tindakan kakinya ringan dan larinya cepat sekali hingga diam-diam Bu Beng terkejut. Ia melihat orang tua itu duduk diatas sebuah akar pohon di dekat mereka dan diam saja menonton perkelahian itu. Gadis yang menyerangnya dengan sengit itu agaknya tak melihat kedatangan orang tua itu karena gerakannya memang ringan sekali. Tapi kedua anak kecil itu ketika melihat perempuan tua bertongkat tahu-tahu duduk disitu segera lari menghampiri dan memeluknya.

Hati Bu Beng bimbang juga. Ternyata perempuan tua yang berkepandaian tinggi itu masih keluarga mereka. Ah, ia harus menyimpan tenaga untuk menghadapinya jika hal itu terjadi nanti. Pada saat ia berpikir demikian, tiba-tiba gadis baju putih itu menggerakkan kedua pedangnya menusuk dada dengan tipu Wanita Cantik Tawarkan Arak. Sepasang pedangnya yang meluncur ke dada Bu Beng, sebuah ditusukkan dan yang satu lagi dibacokkan kebawah!.

Menghadapi serangan ini, Bu Beng berlaku cepat. Tubuhnya berkelit kesamping dan sekali menggerakkan tangan kearah pergelangan gadis itu, sekejap kemudian pedang kanan gadis itu pindah tangan!

“Bagus, bagus!” terdengan wanita tua itu memuji.

Tapi gadis itu menjadi penasaran sekali. Dengan nekat ia gunakan sebilah pedangnya untuk menyerang kembali. Bu Beng menggunakan pedang yang dirampasnya untuk menangkis dengan main mundur. Tiba-tiba sebuah sinar hitam menyela diantara mereka dengan membawa angin keras dibarengi bentakan orang.

“Cin Eng, mundurlah. Seharusnya kau tahu diri dan tidak berlaku nekat!”

Mendengar bentakan ini, gadis itu berloncat mundur dan berdiri dengan tunduk dan wajah merah. Melihat keadaannya itu, timbul rasa iba di hati Bu Beng, maka segera ia maju menghampiri dan memberi hormat, lalu sambil mengangsurkan pedang yang dirampasnya kepada pemiliknya, ia berkata halus,

“Nona, maafkan aku yang rendah telah berlaku kurang ajar. Terimalah pedangmu kembali, nona.”

Cin Eng mengangkat kepala memandangnya, tapi ia tertunduk kembali dengan muka merah dan mulut cemberut.

“Ha, ha!” wanita tua itu tertawa terkekeh-kekeh. “Cin Eng, orang telah berlaku mengalah dan baik kepadamu, hayo terima kembali pedangmu!”

Dan gadis itu kembali mentaati perintah itu dan terima kembali pedangnya dari tangan Bu Beng tanpa berani memandang pemuda itu.

“Anak muda, kau gagah juga dan kepandaianmu lumayan. Majulah dan coba kau tahan tongkatku yang lapuk ini.”

Bu Beng menjuru hormat. “Aku yang muda mana berani berlaku tidak sopan.”

“Hm, jangan sungkan-sungkan, anak muda. Dengan mudah kau dapat mengalahkan puteriku. Maka, mau tak mau kau harus melayani aku yang tua ini beberapa jurus. Aku hanya ingin mengukur dalamnya kepandaianmu, jangan kau takut. Aku takkan berlaku kejam padamu.”

Panas juga hati Bu Beng karena terang sekali orang memandang ringan kepadanya, bahkan ia disangka takut! Maka ia majukan kaki selangkah dan setelah berkata,

“Maaf,” ia cabut pedang pendeknya yang disembunyikan di belakang punggung dalam bajunya. Pedang pendek ini bukanlah pedang sembarangan. Ia dapat merampasnya dari seorang kepala perampok kenamaan setelah mengadu jiwa mati-matian. Pedang ini disebut Hwee hong kiam dan tajamnya luar biasa serta terbuat daripada logam yang jarang terdapat dan keras melebihi baja tulen. Kalau tidak terpakasa, jarang sekali Bu Beng keluarkan senjata ini. tapi kali ini ia tahu bahwa wanita tua ini bukanlah orang sembarangan dan bahwa tongkatnya itu tentu lihai sekali.

“Ha, bagus! Nah sambutlah tongkatku!” wanita tua itu tak sungkan lagi maju menyerang. Tongkatnya yang berwarna hitam menyambar berat mendatangkan angin dingin.

Bu Beng gunakan pedangnya menangkis dan merasa betapa berat tenaga dalam wanita tua itu. Namun wanita itupun diam-diam terkejut karena anak muda itu ternyata bertenaga tidak lebih bawah darinya. Wanita itu gunakan tipu-tipu ilmu toya Siauw lim si yang hebat dicampur dengan gerakan ilmu golok Kun lun. Biarpun ia mempunyai ilmu silat yang hebat sekali dan pengalamannya yang berpuluh tahun itu mebuat gerakannya tetap dan kuat, namun baru bergebrak beberapa jurus saja ia merasa heran dan kaget.

Karena ilmu pedang Bu Beng sangat membingungkannya. Bu Beng keluarkan tipu-tipu Kim liong pai yang sudah dikombinasikan sedemikian rupa dengan tipu-tipu Hoa san pai hingga merupakan gerakan-gerakan tersendiri yang sangat lihai dan tak terduga datangnya! Tak heran bahwa sebentar saja perempuan itu terdesak dan hanya dapat menangkis saja.

Pada suatu desakan, Bu Beng menggunakan pedang pendeknya menusuk dada lawan. Tusukan ini cepat sekali, tapi biarpun terdesak, nenek itu masih dapat memutar tongkatnya menangkis pedang yang ujungnya sudah hampir mengenai kulitnya itu. Tak tersangka-sangka Bu Beng cepat sekali merobah arah pedangnya ke kiri dan membabat lengan lawan!

Nenek itu menjerit kaget dan menggunakan jaln satu-satunya yang masih mungkin ia lakukan, yakni melepaskan tongkat dan menggelinding pergi sejauh dua tombak lebih.

Bu Beng rangkapkan kedua tangan. “Maaf, maaf.”

Nenek itu berdiri cepat dengan muka pucat. Ia belum bebas sama sekali dari rasa terkejut. Tiba-tiba wajahnya berubah girang dan dengan terkekeh-kekeh ia jemput tongkatnya lalu menghampiri Bu Beng.

“Anak muda, kau sungguh gagah perkasa. Ketahuilah, aku adalah Hun Gwat Go yang disebut orang si Tongkat Terbang. Tapi sekarang aku sudah tua hingga tak pandai memainkan tongkat lagi, buktinya dengan begitu saja aku terpaksa melepaskan tongkatku. Hi hi hi!”

Bu Beng tak senang mendengar suara tertawa terkekeh-kekeh ini, tapi karena orang berkata dengan ramah, ia terpaksa tersenyum juga.

“Dan ini adalah Cin Eng, anakku. Kedua anak kecil itu Cin Lan dan Cin Hai. Dan kau sendiri siapakah anak muda?”

“Saya bernama Bu Beng.”

Kedua anak kecil itu tertawa mendengar nama Tak Benama ini dan nenek sendiri memandang heran. Tapi karena Bu Beng memandangnya dengan wajah bersungguh-sungguh dan sinar matanya menyambar tajam, ia tak berani bertanya lagi.

“Bu Beng Taihiap, kami persilakan mampir dipondok kami,” katanya kemudian, “Perkenalan ini harus kita pererat. Sudah lama aku ingin berjumpa dengan seorang hohan di jaman ini. Dan kebetulan ini hari berjumpa dengan kau yang pantas sekali kami hormati.”

Sebenarnya Bu Beng tidak suka mampir, tapi demi melihat kearah Cin Eng yang menggunakan mata burung hongnya memandang dengan tajam padanya, ia menyanggupi dan beramai-ramai mereka menuju ke rumah nenek itu yang berada di sebelah kampong tak jauh dari situ. Ketiak mereka memasuki sebuah rumah pondok besar tapi yang keadaanya miskin, si nenek berkata kedalam rumah.

“Tianglo silakan keluar, ini ada tamu agung datang!” Bu Beng memandang ke pintu tengah dengan tajam dan waspada. Ia tetap belum percaya kepada nenek aneh ini dan siap menghadapi lain lawan. Tapi ketika tampak tubuh seorang pendeta yang tinggi kurus keluar dari pintu itu, ia segera meloncat menghampiri dan memberi hormat.

“Suheng!” katanya heran dan gembira.

“Eh, eh, kau sute? Pantas saja ada orang yang dengan mudah dapat mengetahui kesalahan-kesalahan Cin Lan dan Cin Han, tak tahu kaulah orangnya!”

“Bagaimana suheng dapat tahu?”

Kim Kong Tianglo tertawa lebar. “Kau sangka aku tidak tahu juga bagaimana kau berhasil membuat Hun toanio lepaskan tongkatnya?”

Karena semua pendengarnya merasa heran, Kim Kong Tianglo bercerita bahwa tadi karena khawatir akan keselamatan tuan rumahnya yang lama tidak kembali, ia menyusul ke hutan dan sembunyi sambil menonton pertempuran-pertempuran itu. Hun Gwat Go tertawa dengan suara terkekeh-kekeh yang tak disuka oleh Bu Beng itu, lalu berkata,

“Ha ha ha, kukira siapa, tidak tahunya orang sendiri. Jadi Bu Beng Taihiap ini sute mu sendiri? Ah, aku makin tidak penasaran telah jatuh dalam tangannya.”

Kemudian nenek yang aneh itu setelah perinthakan Cin Eng keluarkan arak, meninggalkan kedua saudara seperguruan itu di ruang tamu.

Setelah berada berdua saja. Bu Beng melampiaskan rasa kangennya dan memeluk suhengnya. Ia memang menganggap suhengnya ini sebagai kakak sendiri. Mereka berbicara asyik sekali dan saling menuturkan pengalaman semenjak berpisah. Kemudian Bu Beng bertanya mengapa Kim Kong Tianglo dapat tinggal di rumah nenek itu.

Kim Kong Tianglo menarik napas dalam dan menuturkan pengalamannya dan keadaaan yang aneh itu. Menurut cerita Kim Kong Tianglo, nenek itu bernama Hun Gwat Go berasal dari Kilam. Sebelum kawin, ia adalah seorang puteri seorang bajak laut yang terkenal kejam. Agaknya adat ayahnya menurun, karena Hun Gwat Go juga beradat jelek sekali, tapi ia sangat cantik hingga menarik banyak rasa cinta pemuda.

Diantaranya terdapat seorang pendekar yang menjalankan tugas menolong sesamanya dengan cara menjadi pencuri budiman. Ia bernama Liu Pa San. Rumah hartawan-hartawan kikir dan pembesar-pembesar jahat ia santroni dan banyak harta haram ia curi untuk kemudian dibagi-bagikan kepada petani miskin. Karena ia berkepandaian tinggi dan cakap juga, maka pilihan Gwat Go jatuh padanya.

Sebenarnya ketika kawin dengan Gwat Go, Lui Pa San telah menjadi duda dengan seorang perempuan, karena belum lama istrinya meninggal dunia karena sakit. Anak perempuannya itu ialah Cin Eng yang tadi dikagumi oleh Bu Beng.

Dengan Gwat Go. Liu Pa San setelah kawin puluhan tahun, barulah mempunyai anak, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yakni Cin Han dan Cin Lan. Cin Eng mendapat didikan ilmu silat dari ayahnya, dan biarpun adatnya buruk, namun Gwat Go tidak merupakan seorang ibu tiri yang kejam. Ia sayang Cin Eng seperti anak sendiri, hanya adatnya yang kasar dank eras membuat gadis itu takut padanya. Bahkan ibu tiri inipun mendidik Cin Eng mempunyai kepandaian yang lihai juga.

Kim Kong Tianglo kenal baik dengan Liu Pa San. Beberapa bulan yang lalu, ketika Kim Kong Tianglo sedang merantau di kota Hiebun, pada suatu malam ia mendengar suara ribut-ribut diatas genteng tikoan di kota itu. Ia segera loncat keatas dan melihat betapa Liu Pa San dikeroyok beberapa orang jagoan yang sengaja diundang oleh tikoan itu untuk menjaga harta bendanya. Ternyata diantara jagoan-jagoan terdapat Ngo houw atau lima hariamau dari Tiang san yang terkenal kosen.

Ketika Kim Kong Tianglo tiba di tempat pertempuran. Liu Pa San telah terluka hebat tapi masih melakukan perlawanan dengan gigih. Kim Kong Tianglo berhasil menolong dan membawanya pergi. Tapi malam hari itu juga Liu Pa San si maling budiman menghembuskan napas terakhir dihadapan Kim Kong Tianglo. Hwesio ini terharu sekali karena ia tahu benar akan sepak terjang dan kebaikan hati maling perkasa itu.

Sebelum mati, Liu Pa San meninggalkan permohonan kepadanya untuk mendidik ilmu silat kepada anak-anaknya. Ia minta Kim Kong Tianglo bersumpah untuk memenuhi permohonannya ini, dan sebagai seorang suci dan seorang sahabat baik, hwesio ini tidak tega untuk menolak permintaan seorang yang telah berada diambang pintu kematiannya.

Demikianlah, setelah mengubur jenazah Liu Pa San baik-baik, Kim Kong Tianglo mencari rumah Liu Pa San. Ia sangat kecewa dan tidak senang melihat sikap janda Liu Pa San yaitu Hun Gwat Go, tapi setelah melihat Cin Eng, Cin Han dan Cin Lan, timbul kegembiraannya karena Cin Eng merupakan seorang gadis yang baik hati, sedangkan Cin Han dan Cin Lan mempunyai bakat baik. Semenjak itu ia tinggal di rumah itu untuk memenuhi permintaan mendiang sahabatnya. Rencananya, setelah mendidik Cin Eng beberapa lama, maka gadis itu akan dapat mewakilkan ia mendidik kedua adiknya.

“Sute” berkata Kim Kong Tianglo setelah sudah selesai bercerita, “Umur berapakah kau sekarang?” tiba-tiba saja pertanyaan ini hingga Bu Beng memandang suhengnya dngan heran karena tidak mengerti maksudnya. Tapi ia menjawab juga.

“Dua puluh enam tahun, suheng. Ada apakah?”

Kim Kong Tianglo tertawa. “Tidakkah kau pikir usia sedemikian itu sudah cukup untuk menjadi seorang suami?”

Untuk sejenak Bu Beng memandang muka suhengnya, kemudian ia tunduk dan mukanya menjadi merah. Kim Kong Tianglo tertawa geli melihat laku pemuda itu.

“Sebenarnya memang sukar mendapatkan jodoh yang sesuai, sute. Tapi percayalah, aku adalah seorang yang telah cukup pengalaman, dan menurut penglihatanku, Cin Eng adalah seorang gadis yang baik sekali, baik mengenai rupa dan tabiatnya maupun mengenai ilmu silatnya. Bagaimana pikiranmu sute, kalau aku berlaku lancang menjadi wakilmu untuk mengajukan lamaran?”

Dengan masih tunduk dan hati berdebar-debar Bu Beng berkata. “Suheng, beribu terima kasih kuhaturkan untuk budi kecintaanmu ini. Memang, bagiku di dunia ini setelah suhu meninggal dunia, hanya suhenglah yang menjadi orang tuaku, saudaraku dan juga guruku. Aku ini orang macam apakah untuk menampik seorang seperti nona Cin Eng itu? Tapi, yang menjadi persoalan ialah, sudikah dia atau ibunya menerima aku orang sebatang kara yang miskin dan hina dina ini menjadi suami dan mantu? Kalau sampai ditolak, aku akan merasa malu dan rendah sekali, suheng. Baiknya janganlah coba-coba, karena sembilan bagian pasti akan ditolak!”

Kim Kong Tianlo berdiri dan menepuk-nepuk pundak sutenya. “Jadi kau suka padanya? Baik, baik, sute. Soal yang lain serahkan saja padaku. Ketahuilah olehmu, Hun Gwat Go pernah menyatakan padaku bahwa ia dan gadisnya itu hanya ingin mendapatkan seorang yang berkepandaian melebihi si gadis sendiri dan melebihi ibunya pula! Dan sekarang kaulah orangnya! Tahukah kau mengapa Hun toanio mengundang kau mampir di rumahnya? Biasanya tidak sembarangan ia mengundang seseorang begitu saja. Tentu ada maksudnya. Ha ha ha!”

Bu Beng hanya menyerahkan saja urusan itu kepada suhengnya dan ketika Kim Kong Tianglo pergi kedalam untuk menjumpai Hun Gwat Go dan membicarakan urusan ini, ia hanya menanti di ruang tam u sambil saban-saban minum araknya untuk memenangkan hatinya yang bergoncang. Ia bangkit dengan segera dan berdebar-debar ketika tak lama kemudian suhengnya balik kembali bersama Hun Gwat Go dengan tersenyum girang.

“Selamat, sute. Kionghi, kionghi,” kata hwesio itu dengan gembira dan wajah berseri-seri. Bu Beng angkat tangan membalas ucapan selamat itu. Setelah Hun wat Go duduk diatas sebuah bangku, Kim Kong Tianglo segera berkata,

“Eh, sute, tunggu apa lagi? Hayo beri hormat kepada gakbomu.”

Dengan muka merah karena malu Bu Beng segera berlutut dan memberi hormat kepada calon ibu mertuanya yang diterima oleh Gwat Go dengan terkekeh-kekeh kegirangan.

“Ah, tercapai kini cita-citaku dan keinginan anakku Cin Eng, dapat seorang mantu yang gagah melebihi ayahnya.”

Sampai disini, tiba-tiba Gwat Go menangis tersedu-sedu dan air mata membasahi kedua pipinya yang kempot karena ia eringat suaminya yang telah mati.

“Kau... kau harus balaskan sakit hati ini…” katanya kepada Bu Beng yang hanya mengangguk sambil tundukkan kepala. Tiba-tiba kegembiraan Gwat Go timbul kembali, ia berkaok memanggil Cin Eng dan ketika gadis itu datang, Bu BEng segera tundukkan kepala lebih dalam dan tak berani berkutik.

Cin Eng berdiri bingung karena melihat wajah ibunya dan gurunya Kim Kong Tianglo tampak berseri-seri gembira. Ia mengerling kearah Bu Beng dan bertambah keheranannya melihat pemuda itu tunduk saja dengan malu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan diam-diam ia dapat menduga hingga tak terasa lagi warna merah menjalar keseluruh muka dan telinganya.

“Ada apa, ibu?” tanyanya.

“Eng, sediakan makanan lezat. Ini hari kita harus berpesta sepuasnya. Tambah lagi arak wangi kepada… gurumu... eh, sekarang kau tak boleh panggil guru lagi, tapi suheng dan beri hormat juga kepada calon suamimu,” berkata demikian ini sambil menunjuk kepada Bu Beng yang makin berdebar dan duduk dengan serba tidak enak.

Cin Eng yang biasanya sangat takut dan taat kepada ibunya, kini terpaksa membangkang. Ia hanya memberi hormat kepada Kim Kong Tianglo saja, sedangkan kepada Bu Beng ketika ia telah berdiri dihadapan pemuda itu yang memandangnya dengan malu, tiba-tiba ia membalikkan tubuh dan lari masuk sambil gunakan kedua tangan menutupi mukanya! Gwat Go tertawa terkekeh-kekeh dan Kim Kong Tianglo tertawa tergelak-gelak hingga tinggal Bu Beng sendiri yang duduk diam dengan muka merah.

Tak lama kemudian, meraka semua, tak ketinggalan Cin Han dan Cin Lan, menghadapi meja dan makan bersama. Cin Lan yang nakal tiada hentinya menggoda cicinya, karena iapun sudah mendengar perihal pertunangan itu. Beberapa kali ia melirik kerah cicinya dan mengejap-ngejapkan mata sambil menggunakan sumpit menuding kearah Bu Beng, hingga Cin Eng menjadi gemas dan mencubitnya. Cin Lan berteriak.

“Ah, ah, cici nakal sekali, awas nanti kuberitahukan kepada cihu!”

Semua orang tertawa dan Cin Eng makin malu hingga sukar rasanya baginya untuk menelan makanan. Bu Beng juga hampir tak dapat makan karena malu. Sebenarnya didalam hatinya terbit dua macam perasaan pada saat itu. Rasa bahagia dan rasa sedih. Ia merasa girang dan berbahagia sekali karena di dalam hati ia cinta dan kagum kepada Cin Eng. Tapi karena teringat akan kedua orang tuanya yang telah tidak ada, ia menjadi sedih dan merasa bahwa ia benar -benar sebatang kara di dunia ini.

Menurut keputusan perundingan antara Gwat Go dan Kim Kong Tianglo, perkawinan akan dilangsungkan sebulan lagi, yaitu menanti sampai Cin Eng menghabiskan mata perkabungannya atas kematian ayahnya.

Pesta kecil itu berjalan dengan gembira sampai jauh malam dan berakhir dengan mabuknya Kim Kong Tianglo dan Gwat Go yang lalu pergi ke kamar masing-masing. Cin Han dan Cin Lan pergi tidur dan Cin Eng sibuk membersihkan sisa pesta, sedangkan Bu Beng yang diharuskan tidur bersama suhengnya, tidak pergi ke kamar itu tapi lalu keluar seorang diri membawa sulingnya. Ketika hendak keluar dari rumah itu ia bertemu dengan Cin Eng. Mereka saling pandang dan gadis itu tertunduk lebih dulu.

“Nona, kalau suheng mencariku tolong beritahu bahwa aku hendak pergi mencari hawa sejuk di hutan.”

Cin Eng hanya mengangguk tapi diam-diam ia mengerling karena mendengar suara Bu Beng yang terdengar parau seperti suara orang bersedih.

Setelah tiba di hutan, Bu Beng jatuhkan diri diatas rumput hijau dengan hati sedih. “Aku tak dapat kawin, tak mungkin…” keluhnya. Tapi tiada seorangpun mendengar keluhan itu, hanya angin malam saja berbisik diantara daun-daun seakan-akan menjawab keluhannya itu.

“Aku seorang diri di dunia ini, sebatang kara, miskin dan sengsara. Kalau Cin Eng menjadi isteriku, apakah ia juga harus hidup sengsara seperti aku? Ah, tidak, kasihan kalau ia hidup tak tentu tempat tingal seperti aku ini. Pula, aku belum tahu siapa orang tuaku, dimana tempat makamnya dan belum dapat membalas sakit hati mereka. Beban yang sudah berat ini apakah hendak kutambah pula dengan merusak dan membikin sengsara gadis yang kucinta sepenuh jiwa ini? tidak... tidak.”

Bu Beng berdongak memandang Dewi Malam yang pada saat itu tengah tersenyum simpul diantara gulungan awan. Ia bangun dan duduk tanpa pedulikan pakaiannya yang menjadi basah karena ruput. Setelah duduk melamun beberapa lama, ia mencabut sulingnya dari ikat pinggang dan mulai meniup suling itu dalam lagu merayu dan sedih, Bu Beng memang ahli dalam main suling, ditambah pula perasaannya sedang perih oleh rasa duka, maka suara sulingnya menjadi halus dan penuh getaran jiwanya, seakan-akan merupakan jeritan bathinnya minta perlindungan dan pembelaan Tuhan. Tiba-tiba terdengar suara lemah dibelakangnya,

“Koko…”

Bu Beng yang sedang tenggelam di dalam suara sulingnya yang dimainkan sepenuh jiwa dan hatinya, tak mendengar suara ini tapi terus menyuling dengan asyiknya. Lambat laun suara sulingnya merendah dan perlahan-lahan berhenti. Kedua lengannya terkulai dan sulingnya terpegang dalam tangan kanan yang gemetar.

“Kokoo…“ suara ini terdengar halus dibarengi isak.

Bu Beng segera sadar dari lamunannya dan sulingnya jatuh terlepas dari tangannya. Ia berdiri dan menengok ke belakang. Di depannya berdiri Cin Eng yang dalam pakaian putihnya tersinar bulan purnama merupakan dewi yang baru turun dari kayangan. Bu Beng memandang kagum dan perlahan-lahan ia bertindak maju.

“Moi-moi…“ katanya berbisik dan Cin Eng tundukan kepala.

Sebetulnya Bu Beng masih ragu-ragu untuk menyebut 'adik' pada gadis itu, tapi karena mendengar gadis itu menyebutnya 'kanda', ia jadi berani merobah sebutan 'nona' menjadi 'dinda'.

“Adik Eng… mengapa kaupun berada disini?” tanyanya halus.

“Aku… aku… mengapa suara sulingmu demikian sedih, koko?”

Bu Beng menghela napas. “Mungkinkah sulingku dapat terdengar dari rumah?”

“Tidak, koko. Hanya saja, tadi kau bicara dengan suara demikian sedih, maka aku merasa tak enak hati lalu menyusul disini...”

“Duduklah adik Eng,” kata Bu Beng dan mereka duduk diatas rumput hijau yang merupakan permadani indah dimalam terang bulan ini.

“Sebenarnya aku terkenang kepada orang tuaku adik Eng,” katanya dan ia lalu menceritakan riwayat hidupnya yang penuh kepahitan.

Cin Eng mendengar dengan terharu dan tak terasa matanya mengalirkan air mata ketika mendengar betapa Bu Beng sampai lupa akan nama sendiri!

“Jadi itukah yang membuatmu sedih? Kukira…”

“Kau kira apa, adikku?”

“Kukira bahwa kau… tak suka dengan perkawinan kita yang akan datang ini…”

Bu Beng menggerakkan tangan dan pegang tangan Cin Eng. Gadis itu terkejut tapi ia tidak menarik tangannya, hanya membiarkan tangan itu digenggam oleh Bu Beng yang merasa betapa tangan itu bergemetar.

“Jangan sangka yang tidak-tidak, adik Eng. Ketahuilah, ketika suheng majukan usul ini, aku hampir berjingkrak kegirangan karena sesungguhnya semenjak kita berjumpa, aku… aku... suka sekali kepadamu…”

Cin Eng hanya tundukkan kepala.

“Dan kau bagaimana adikku? Sukakah kau akan pilihan ibumu ini?”

Cin Eng mengangkat wajahnya yang jelita memandang mesra, kemudian ia tundukkan kepala sambil berkata lemah.

“Koko, semenjak pertempuran kita tadi, aku terpikat oleh ilmu silatmu dan oleh kesopananmu. Aku sebagai seorang anak yang puthauw tentu saja menurut segala kehendak ibu, dan pilihan ibu… Tentu saja aku setuju sekali…”

“Apakah kalau pilhan ibumu jatuh pada seorang yang kau tidak suka, kau juga akan menurut? Tanya Bu Beng.

Cin Eng gelengkan kepala keras-keras. “Tidak! dalam hal ini biarpun ibu sendiri akan kutentang.”

“Kalau begitu kau suka padaku? Tanya Bu Beng dan pegangan tangannya dipererat.

Cin Eng hanya tunduk. “Entahlah…” kemudian ia berkata.

“Cin Eng adiku, bilanglah terus terang. Cintakah kau padaku? Jawab saja dengan geleng atau angguk.”

Cin Eng mengangkat mukanya dan mengangguk.

“Betul betul kau cinta padaku? Ingat, aku seorang miskin. Lihat saja bajuku, penuh tambalan. Aku hidup sebatang kara, dan ingatlah, bahwa jika kau menjadi istriku, maka kau akan hidup serba kekurangan dan sengsara.”

Cin Eng pandang wajah Bu Beng dengan tajam. “Koko, jangan kau berkata begitu. Kau anggap aku ini gadis apa? Biarpun akan menderita hidup miskin, disampingmu aku akan berbahagia!”

Saking girangnya rasa hati Bu Beng, ia menarik tangan Cin Eng hingga gadis itu tersentak dan jatuh bersandar kedadanya.

“Adikku yang jelita, adikku yang tercinta! Tahukah kau bahwa barusan aku merasa sedih sekali dan bahkan mengambil keputusan untuk tidak kawin denganmu karena takut kalau-kalau kau akan menjadi sengsara? Kini hatiku puas. Aku menjadi berani, karena dengan kau disampingku aku berani menempuh gelombang penderitaan yang bagaimana hebatpun.”

Cin Eng meramkan matanya dan bersandar di dada yang bidang itu dengan hati memukul penuh kebahagiaan. Untuk beberapa lama mereka tenggelam dalam ombak asmara, mabuk alunan mesra. Sengguhpun kedua taruna itu diam saja tak bergerak, yang wanita bersandar ke dada dengan meramkan mata, yang pria duduk memegang kedua lengan dengan berdongak memandang dewi malam yang gemilang, dilamun pikiran penuh keindahan, tiba-tiba Cin Eng tersentak bangun. Ia berdiri memandang Bu Beng dengan mata dibuka lebar lalu berkata hampir berteriak,

“Tidak...! tidak...! Tidak mungkin…!” kemudian sebelum Bu Beng sadar dari terkejutnya gadis itu lari cepat masuk hutan.

“Adik Eng… adik Eng…!‟ Bu Beng loncat mengejar dengan cepat dan sebentar saja gadis itu telah berada dalam pelukannya.

“Adikku sayang… ada apa? Mengapa kau lari? Apa yang kau susahkan?”

Cin Eng menangis sedih dan geleng-gelengkan kepala bagaikan orang gila. Ia berontak-rontak dalam pelukan Bu Beng, tapi pemuda itu tak mau melepaskannya.

“Adik Eng, kalau ada kesukaran, beritahulah aku. Mari kita pecahkan bersama-sama.”

Tapi Cin Eng hanya geleng-geleng kepala dengan sedih. Tiba-tiba Bu Beng lepaskan pelukannya.

“Hm, agaknya ternyata bahwa kau tidak cinta padaku, ya? Memang lebih baik begitu aku orang miskin tak berharga. Nah, aku takkan mencegah dan menahanmu. Kau bebas, biar aku cinta sepenuh hati dan jiwaku padamu tapi aku sebagai orang laki-laki takkan gunakan kekerasan untuk memilikimu.”

Mata Cin Eng terbelalak, ia lalu menangis makin sedih. “Tidak, koko, bukan demikian, kau salah sangka! Dengarlah, koko kita tak mungkin menjadi suami-istri... karena… karena…”

Bu Beng pegang pundaknya. “Karena apa? Siapa yang melarang ? katakanlah... katakanlah!”

“Tidak ada yang melarang, koko… tapi… tapi... Kalau kita kawin, maka… itu berarti aku akan menjadi pembunuh…!”

Bu Beng terkejut dan tak mengerti. “Apa katamu? Pembunuh? Siapa yang akan kau bunuh?”

“Aku akan menjadi pembunuh… anakku…Anak kita…!”

Bu Beng makin heran. Ia mulai bersangsi. Gilakah gadis ini? “Cin Eng tenanglah. Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali. Jelaskanlah dan bicaralah dengan tenang. Kau kan wanita gagah? Mengapa begini lemah?”

“Begini koko” kata Cin Eng setelah susut air matanya, “Sebenarnya aku… aku mempunyai semacam penyakit dalam tubuh… kata ayah dulu, akibat penyakitku ini walaupun tidak mengganggu badanku sendiri, tapi akan merusak anak dalam kandungan. Anak yang kukandung akan dimakan penyakit itu dan akan lahir tak bernyawa lagi…”

Bu Beng terkejut dan untuk sejenak ia berdiri bagaikan patung dengan hati tak karuan rasa. “Tak dapatkah diobati?”

Cin Eng menahan isaknya. “Inilah soalnya yang sukar. Inilah mengapa ibu inginkan mantu yang mempunyai kegagahan diatas dia sendiri. Obat penyakit ini sukar sekali dicarinya. Obat ini hanya jantung seekor ular yang telah bertapa dan mempunyai mustika didalam kepalanya! Nah, bayangkan, betapa sukarnya mencari obat ini!”

Bu Beng benar-benar terpukul hatinya dan ia pandang wajah kekasihnya dengan putus asa. “Dimana… dimanakah orang bisa dapatkan ular demikian itu…?”

Cin Eng melihat wajah pemuda yang suram dan bersedih itu menjadi kasihan, maka buru-buru ia menerangkan. “Koko, dulu pernah ayah dan ibu berdua pergi ke tempat dimana terdapat ular macam itu, tapi ternyata mereka gagal dan bahkan hampir saja ayah dan ibu terbinasa karenanya, karena tempat gua dimana ular itu bersembunyi adalah sangat berbahaya. Biarpun ayah ibu berkepandaian tinggi, mereka tak berdaya. Maka, akhirnya kami putus asa dan aku hidup mengandung kedukaan dan kecemasan. Ibu dan aku sendiri lalu memutuskan bahwa orang yang diterima lamarannya terhadap diriku harus orang yang berkepandaian tinggi dan yang kiranya cukup kuat untuk dapat mencari obat itu.

Bu Beng mengangguk-angguk dan wajahnya menjadi gembira kembali. Ia yakin bahwa ia tentu akan dapat mencari obat itu. Segera ia berkata. “Adikku, tenangkan hatimu. Aku pasti dapat mencari obat itu. Katakanlah dimana tempat itu? Aku akan segera berangkat mencarinya.”

Cin Eng, pegang erat lengan Bu Beng, “Jangan, koko… Jangan…”

“Eh, mengapa jangan?” Tanya Bu Beng heran.

“Tempat itu sangat jauh dan berbahaya. Aku khawatir… kau… kau…!”

“Khawatir aku menemui bahaya? Ah, betapa besar bahayanya membunuh seekor ular? Jangankan baru harus menghadapi ular, biarpun disuruh menghadapi seekor naga sakti sekalipun, demi kebahagianmu, akan kutempuh juga dengan berani.”

Cin Eng sandarkan kepalanya ke dada Bu Beng. “Koko, kau… Kau seorang mulia. Sebenarnya aku akan bahagia sekali dapat hidup bersamamu di dunia ini yang penuh kegetiran ini. Tapi… Kalau kau pergi dan mendapat bencana di tempat berbahaya itu, ah… lalu aku bagaimana koko?” Air matanya menitik turun.

“Jangan khawatir, adikku. Rasa sedih dan doamu akan membuat aku tidak mempan oleh segala bahaya. Aku pasti akan kembali. Katakanlah dimana tempat ular itu?”

“Menurut kata ibu, tempatnya jauh sekali, karena bukan di daratan Tiongkok, tapi disebuah pulau sebelah timur pantai Tiongkok, yaitu di pulau Ang coat ho. Disitu terdapat sebuah gua di dalam gunung dan disitulah telah bertahun-tahun duduk bertapa seekor ular yang besar sekali. Kepalanya mengeluarkan cahaya dan ia berbahaya serta ganas. Hawa dari mulutnya saja dapat membakar kulit kita, kata ibu. Tapi, lebih baik kita tanya ibu, karena ia tentu dapat memberi petunjuk yang lebih nyata lagi.”

Tanpa membuang waktu lagi, Bu Beng menggandeng tangan Cin Eng dan mereka kembali ke kampong. Cin Eng langsung menuju kerumahnya dan Bu Beng duduk bersamadhi di ruang tamu karena untuk tidur sudah kepalang baginya.

Pagi-pagi sebelum fajar menyingsing, Bu Beng segera menjumpai Hun toanio yang ternyata sudah bangun pula. Kim Kong Tianglo juga sudah bagun, maka mereka bertiga bercakap-cakap. Bu Beng langsung ajukan pertanyaan kepada Hun toanio tentang pulau Ang coat ho.

“Ah, kau sudah tahu? Tentu dari Cin Eng! Memang hari ini aku hendak ceritakan padamu, mantuku. Entah dosa apa yang dilakukan oleh ayah atau ibu Cin Eng di waktu mudanya, maka Cin Eng menderita sakit terkutuk itu. Pulau yang kau tanyakan itu terletak di sebelah timur. Aku sendiri tidak tahu jelas. Tapi ada satu jalan yang takkan membawamu tersesat, yahni, dari sini kau menuju ke utara. Terus saja, setelah kira-kira empat lima ratus li, kau akan bertemu dengan sungai besar yang mengalir ke timur. Nah, dari situ kau bisa menggunakan perahu menurut aliran sungai sampai ke laut. Kau harus hati-hati, air sungai itu setelah mendekati laut menjadi sangat besar dan berbahaya. Setelah perahu sampai di permukaan laut, tepat dimana air sungai itu terjun, maka dari situ kau dapat melihat sebuah pulau yang panjang dan kecil bentuknya, agak arah timur laut dan warnanya hitam kehijau-hijauan. Pulau itu mudah dikenal diantara pulau-pulau lain, karena pulau-pulau panjang kecil hanya sebuah itu saja. Nah, dari situ kau dapat berlayar ke pulau itu. Di Ang coat ho terdapat sebuah bukit yang puncaknya meruncing keatas. Kau boleh mendarat disebelah selatan pulau itu dan naik bukit melalui sebuah hutan pohon siong yang terdapat di sebelah selatan bukit. Setelah melewati tiga buah hutan yang berbahaya, maka akan sampailah kau di mulut gua ular yang kumaksudkan itu. Nah, disitu kau harus bertindak hati-hati dan segala-galanya terserah kepada pertimbagnan dan kewaspadaanmu sendiri.”

Bu Beng mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Sute, Hun toanio dan suaminya yang terkenal gagahpun tidak berhasil membunuh ular itu. Kau harus tahu bahwa usahamu kali ini adalah berbahaya sekali dan bukan tidak mungkin jiwamu dalam bahaya pula. Maka, sudah bulat benar-benarkah hatimu untuk pergi kesana?”

Bu Beng memandaang suhengnya dengan sinar mata tetap, “Suheng, kau sendiri yang mengajar padaku supaya menjadi seorang laki-laki jantan dan memegang teguh kepercayaan. Kini, suheng begitu mencinta kepadaku dan mencarikan pasangan hidup. Maka setelah orang menaruh kepercayaan kepadaku sedemikian besarnya hingga rela menjadi istriku, pantaskah kalau aku mundur hanya karena rintangan ini? pantaskah kalau aku menjadi takut untuk berkorban, biar dengan jiwaku sekalipun? Tidak, suheng sendiri tentu akan mencelaku habis-habisan kalau aku mundur dan takut.”

Kim Kong Tianglo berdiri dan memegang pundak sutenya. “Bagus, bagus! Beginilah seharusnya sikap seorang jantan, kau pantas menjadi murid terkasih dari guru kita yang bijaksana. Dan dengan kata -katamu ini terbayanglah betapa besarnya cintamu terhadap calon istrimu. Sayang aku sudah tua dan lemah, sute. Kalau tidak tentu aku akan turut dan membantumu.”

“Terima kasih suheng. Aku tidak berani membawamu kedalam bahaya ini. Pula ini adalah tanggung jawab dan kewajibanku sendiri. Disamping itu, akupun ingin meluaskan pengalaman dan menjelajah tempat-tempat yang asing untuk menambah pengetahuanku.”

“Bilakah! Kapan kau akan berangkat, anakku?” Tanya Hun toanio dengan suara halus dan ramah.

“Sekarang juga, jawab Bu Beng dengan suara tetap.

Hun Gwat Go berteriak memanggil Cin Eng. Baru saja ia menutup mulutnya, gadis itu telah muncul dari pintu karena semenjak tadi telah mendengarkan di balik daun pintu. Sepasang matanya yang bagus itu berwarna kemerah-merahan bekas tangis dan tangannya membawa sebuah bungkusan.

Hun toanio berkata, “Anakku, kokomu hendak berangkat mencari obat untukmu, hayo haturkan selamat jalan!”

Cin Eng tak menjawab tapi menghampri Bu Beng tanpa kata-kata apa-apa hanya mengangsurkan bungkusan itu sambil memandang wajah pemuda itu dengan mata sayu.

“Apakah ini, adik Eng?” Tanya Bu Beng dengan terharu.

“Pakaian dan selimut penahan dingin,” jawab gadis itu perlahan sambil tundukkan kepala, lalu ia membalikkan tubuh lari ke pintu. Tapi setiba di ambang pintu, ia menengok memandang sekilas lagi kepada Bu Beng dan bibirnya berbisik perlahan, “Hati-hatilah koko...“

Hun Gwat Go dan Kim Kong Tianglo ikut terharu melihat perpisahan ini dan diam-diam mereka heran mengapa kedua taruna itu nampak telah demikian mesra seakan-akan sudah tak asing lagi.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Bu Beng berjalan cepat tiada hentinya sehari penuh. Karena daerah yang dilaluinya itu masih asing baginya, maka ia sendiri tidak tahu kemana ia sedang menuju! Ia hanya tahu bahwa ia harus mengambil jalan langsung kearah utara. Maka ia menjadi bingung juga ketika matahari telah tenggelam dan cuaca sudah mulai gelap, masih saja ia belum keluar dari sebuah hutan.

Ketika ia melihat dua ekor burung mendekam diatas dahan pohon yan rendah, maka tiba-tiba ia merasa letih. Tadi semangatnya yang berkobar-kobar hendak lekas-lekas tiba di tempat yang ditujunya membuat ia tak kenal lelah, tapi dua ekor burung yang sedang beristirahat dengan nikmatnya itu membuat kedua kakinya terasa lemas dan tiba-tiba ia ingat pula bahwa sehari itu ia belum makan apa-apa.

Ia pasang mata dan telinga kalau-kalau di dekat situ terdapat rumah makan atau rumah perkampungan. Tapi ternyata hutan itu liar dan hanya penuh dengan pohon-pohon besar. Bu Beng loncat keatas, dari mana ia memandang kesana kemari kalau-kalau ada, tentu ia akan dapat melihat sinar api pelita rumah orang. Betul saja, di jurusan selatan ia melihat sinar api berkelap-kelip. Segera ia meloncat turun dan menuju ke tempat itu.

Ternyata sinar pelita itu keluar dari sebuah pondok kecil yang sederhana. Pintu pondok itu tertutup rapat. Bu Beng maju mengetuk tapi tiada terdengar jawaban. Bu Beng mengetuk lagi sambil memanggil-manggil. Tetap tiada jawaban. Ia menjadi curiga dan segera mengintip dari celah-celah bilik dan daum jendela. Ia melihat rumah itu kosong dan tidak ada penghuninya, tapi diatas meja tampak makanan didalam beberapa buah mangkuk. Dan timbullah seleranya. Tanpa memperdulikan bahwa tindakannya itu tidak sopan, ia gunakan tenaganya untuk mendobrak daun pintu. Ketika ia memasuki rumah itu, bau arak wangi menambah laparnya dan langsung ia menuju ke meja yang penuh makanan itu.

Tiba-tiba terdengar suara dan seperti ada sesuatu bergerak-gerak di ruang sebelah kamar itu. Bu Beng segera berlaku waspada. Sekali meloncat ia lewati pintu tembusan dan berada dalam kamar sebelah itu. Alangkah kagetnya ketika melihat seorang tua rebah di lantai tak berdaya. Ketika ia melihat lebih cermat, ternyata bahwa orang laki-laki tua itu tidak lain adalah Lui Im si Golok Setan, ketua Cung lim pang yang telah ditemuinya di rumah Lim San dulu itu.

Orang tua gagah itu tak berdaya dan Bu Beng maklum Lui Im terkena totokan jari tangan seorang pendekar ulung. Ia segera mengulurkan tangannya dan menggunakan jari tengah untuk memulihkan jalan darah Lui Im. Setelah jalan darahnya baik kembali, Lui Im menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, lalu meloncat berdiri. Ia memandang Bu Beng dan merasa girang bercampur terkejut ketika mengenalnya. Segera ia menjuru.

“Ah, terima kasih, Bu Beng Taihiap. Sungguh hebat totokan yang membuatku tak berdaya tadi sehingga setelah mengumpulkan semangat, aku hanya mampu menggerak -gerakkan kakiku saja untuk menarik perhatian orang. Ternyata yang masuk rumah ini tadi adalah kau sendiri. Syukurlah, kalau tidak entah bagaimana jadinya dengan diriku.”

Bu Beng balas menghormat, “Aku juga girang sekali dapat berjumpa dengan loenghiong disini. Bagaimanakah terjadinya maka loenghiong sampai dalam keadaan begini dan ini rumah siapa?”

Lui Im menghela napas. “Kalau diceritakan, sungguh membuat aku malu. Kali ini hancurlah nama si Golok Setan dan sekaligus tercemar dan hina pulalah nama perkumpulanku,” kemudian ia bercerita...