Datuk Pulau Ular

DATUK PULAU ULAR

SATU
UDARA dingin menyapu pelataran lembah subur di kaki Bukit Ular. Hari belum lagi terlalu sore. Namun mendung tebal yang menyelimuti langit sejak siang tadi, membuat suasana terlihat remang-remang. Dan, dalam keadaan begini, siapa pun rasanya enggan keluar rumah. Tidak heran bila suasana di perkampungan di dekat bukit itu sepi seperti di pekuburan.

Jauh di sebelah tenggara Bukit Ular, tampak lautan lepas yang membentang luas. Jika menyusuri jalan kaki bukit yang seperti ular ini, maka akan terlihat bibir pantai yang berkelok-kelok ditumbuhi tanaman bakau yang lebat serta pohon api-api. Tempat itu memang jarang didatangi manusia. Bahkan tidak terlihat seorang pun yang mau tinggal di situ. Bukan saja daerah itu angker, tapi juga banyak dihuni binatang buas dan melata.

Sebagian besar daerah itu pun kelihatan kering dan tandus, serta sesekali diselingi semak-semak berduri. Padahal di kaki bukit yang berjarak lebih kurang setengah harian bila ditempuh dengan berjalan kaki, terdapat daerah subur yang di-tumbuhi tanaman beraneka ragam. Tidak heran kalau di situ banyak terdapat perkampungan. Bahkan di tempat itu terdapat sebuah padepokan yang cukup ternama, seperti Desa Sedayu ini. Namanya, Padepokan Silat Awan Putih.

Walaupun ketua padepokan ini yang bernama Ki Sawangan bukanlah tokoh terkenal, namun banyak muridnya yang membantu kaum lemah dan tertindas. Mereka tidak segan-segan mengulurkan tangan untuk membantu sesama yang dilanda kesusahan. Sejak dulu apa yang diperoleh di perguruan itu selalu diamalkan sebaik-baiknya. Itulah sebabnya, maka Padepokan Awan Putih cukup dikenal di kalangan persilatan.

Dari hari ke hari. murid-murid yang berdatangan ke padepokan itu selalu berlipat jumlahnya. Dan sejauh ini, Ki Sawangan selalu menerima dengan hati terbuka. Walaupun, segala kebutuhan mereka di sini selalu apa adanya. Ki Sawangan memang arif lagi bijaksana. Selain me-nekankan ilmu kedigdayaan, dia pun selalu memberi petuah-petuah yang berguna dalam kehidupan.

Seperti sekarang ini. Orang tua itu tampak tengah duduk di beranda depan, sementara murid-muridnya duduk bersila di hadapannya beralaskan bumi. Duduk di sisi kiri dan kanannya adalah empat orang murid utamanya. Masing-masing, Singalodra, Umblauran, Taji Momongan, dan Ni Sekar Wangi. Merekalah yang selama ini menjadi tangan kanannya. Sekaligus giat membantu melatih murid-murid yang lain.

"Seperti kalian ketahui sebelumnya, hari ini kita mengadakan kembali upacara pelepasan murid-murid padepokan yang telah lulus menuntut ilmu. Aku berpesan pada kalian semua, hendaknya ilmu yang diperoleh di sini bisa berguna dan diamalkan sebaik-baiknya. Ketahuilah! Segala yang ada di atas dunia ini tak ada yang sempurna, sesuai kodrat kita sebaagai manusia. Maka jagalah sikap untuk selalu merendahkan hati. Sesungguhnya rendah hati itu merupakan obat yang baik bagi kehidupan. Sedangkan sebaliknya, sikap sombong serta mengagungkan diri sendiri akan membawa kerugian. Bahkan selalu mencelakakan kita ke jurang kenistaan...!" tutur Ki Sawangan dengan nada rendah, namun terdengar cukup lantang.

Para murid mengangguk-angguk. Tidak ada seorang pun yang berbisik-bisik untuk menimpali kata-kata si Orang Tua. Mereka memang terbiasa bersikap tertib dan teratur. Selesai memberi petuah, semua murid Ki Sawangan bangkit berdiri. Lebih dari dua puluh murid perguruan ini, satu persatu memberi salam hormat seraya mencium punggung telapak tangan kanan gurunya. Adat yang sederhana itu telah menjadi kebiasaan bagi setiap murid yang hendak meninggalkan perguruan sebagai tanda bakti terhadap gurunya.

"Aku mohon pamit, Eyang...!"

Ki Sawangan tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung muridnya. "Baik-baiklah menjaga diri, Jaka. Dan, sampaikan salam hormatku pada orang tuamu," orang tua itu.

Pemuda bertubuh tegap yang dipanggil Jaka mengangguk, lalu kembali memberi hormat pada gurunya. Kemudian dia memberi tempat pada yang lainnya untuk satu persatu bersimpuh di kaki Ki Sawangan.

Dua puluh lima orang kini telah berbaris rapi dan siap meninggalkan padepokan. Ki Sawangan tersenyum sekali lagi. Ada perasaan bangga campur haru dalam hatinya. Tidak sia-sia mereka dididik jika kelak bisa membawa harum pada depokan ini. Dan khususnya, pada diri mereka diri. Suasana tampak hening, ketika memasuki acara pelepasan murid-murid padepokan yang persatu meninggalkan tempat ini. Namun mendadak saja suasana hening itu dipecahkan satu teriakan panjang menyayat.

"Aaa...!"

"Hei?!" Ki Sawangan terkejut. Begitu juga keempat murid utamanya serta murid-murid lain. Suara itu dekat sekali persis di depan pintu gerbang padepokan. Seketika sebagian murid lain yang masih berada di ruangan ini mencemaskan beberapa murid yang telah lebih dulu meninggalkan perguruan.

"Apa itu?! Apa yang terjadi...?!" tanya Ki Sawangan, langsung melompat dari kursinya.

Namun belum lagi bergerak lima langkah, kembali terdengar jeritan kesakitan dari mulut pintu gerbang. Kali ini tampaknya agak jelas, apa yang telah terjadi. Tampak beberapa murid perguruan yang tadi keluar lebih dulu, melayang ke halaman depan dalam keadaan sudah menjadi mayat. Sekujur tubuh mereka hancur bermandikan darah!

Begitu berada di depan bangunan utama padepokan ini Ki Sawangan menggigil geram. Juga yang lainnya. Mereka segera mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Tidak usah repot-repot mencari! Kami ada di sini!"

Tiga sosok bayangan tiba-tiba saja berkelebat, lalu mendarat ringan di muka pintu gerbang perguruan. Mereka terdiri dari dua laki-laki bertampang seram, dan seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Di kedua pundaknya melilit selendang biru.

"Kisanak bertiga, siapa kalian...?!" sentak Ki Sawangan lantang.

"Kami bertiga yang disebut penghuni Pulau Ular...!" sahut seorang laki-laki yang bertubuh agak pendek dan berkulit hitam, sambil mendengus sinis. Di pinggangnya tergantung sebuah kapak besar bermata dua berwarna hitam. Sepasang biji matanya tampak melotot keluar. Hidungnya pesek serta agak besar. Dan dia dikenal sebagai Kolo Denowo.

Ki Sawangan terkejut bukan main begitu mendengar tempat asal ketiga orang ini. Siapa yang tidak kenal penghuni pulau itu? Di sana bercokol seorang datuk sesat yang memiliki kepandaian laksana dewa. Dan kalau ketiga orang ini mengaku sebagai penghuni pulau itu, maka siapa lagi kalau bukan murid tokoh sakti dari Pulau Ular?

"Kisanak! Di antara para penghuni Pulau Ular dengan Perguruan Awan Putih tidak ada permusuhan apa-apa. Kenapa kalian berbuat begitu telengas pada murid-muridku?" tanya Ki Sawangan minta penjelasan.

"Huh! Kau benar. Tua Bangka! Tapi secara tidak langsung kalian telah menciptakan permusuhan dengan kami!" sahut laki-laki yang bertubuh agak kurus dan berwajah lonjong. Sepasang matanya agak menyipit. Seluruh permukaan kulitnya berwarna coKiat kusam seperti ber-sisik. Dan dia dikenal sebagai Ki Sanca Ireng. Senjata andalannya adalah sebuah tongkat dari tubuh ular yang telah dikeringkan. Kehebatannya, tongkat itu mengandung bisa ular yang amat mematikan.

"Apa maksud kata-katamu?" sahut Ki Sawangan dengan dahi berkerut.

"Jangan pura-pura bodoh!" dengus yang wanita.

Nama wanita ini adalah Nyi Ayu Supraba. Wajahnya dingin dan nyaris tanpa senyum. Meski begitu, bekas kecantikannya di masa muda masih terlihat. Dia terlihat tidak bersenjata. Namun sesungnya selendang yang dikenakannya merupakan senjata yang amat menakutkan. Tenaga dalamnya mampu dikerahkan pada selendang yang lemas itu, sehingga menjadi kaku dan tajam laksana mata pedang. Dan bila dikebutkan ke arah lawan, maka akan tercium bau harum yang amat memabukkan.

"Kisanak! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kalian bicarakan? Kami sama sekali tidak pernah mengusik penghuni Pulau Ular. Bagaimana kalian bisa mengatakan kalau secara langsung kami sudah menciptakan permusuhan?" tanya Ki Sawangan lagi.

"Dengarlah, Orang Tua bau tanah! Sesungguhnya bukan hanya perguruanmu saja yang menciptakan permusuhan dengan kami. Tapi, juga seluruh perguruan serta tokoh silat di daratan ini! Ingatkah kalian pada Dewi Tangan Darah? Kalian langsung mengadakan pesta besar-besaran menyambut kematiannya. Itu penghinaan besar bagi kami. Apalagi dia adalah salah satu adik seperguruan kami! Kalian boleh mendapat pengampunan jika bisa menunjukkan di mana pemuda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?!" tegas Ki Kolo Denowo disertai rasa kegeramannya pada tokoh papan atas yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.

Ki Sawangan mengangguk pelan, mulai mengerti apa maksud ketiga penghuni Pulau Ular itu. "Kisanak! Boleh saja kalian mendendam pada Pendekar Rajawali Sakti. Namun membinasakan murid-muridku secara seenaknya, sungguh perbuatan sewenang-wenang yang tidak bisa kuterima begitu saja!" ujar Ki Sawangan.

"Hm... Jadi benar kalau kau memang cari urusan dengan kami?!" dengus Ki Sanca Ireng.

"Kisanak! Kalianlah yang membuat urusan denganku. Aku sama sekali tidak tahu-menahu soal Pendekar Rajawali Sakti yang telah membinasakan adik seperguruan kalian. Juga, tidak pernah ikut-ikutan dalam urusan itu. Lalu, tiba-tiba saja kalian mengamuk di tempatku. Apa namanya kalau bukan mencari gara-gara?!" balas Ki Sawangan dengan suara lantang.

"Orang Tua Busuk! Tutup mulutmu! Kau kira bisa ber-buat apa pada kami, he?! Jangan karena kami beri hati, maka kau bisa bicara seenak perut!" desis Nyi Ayu Supraba geram.

"Hm... Penghuni Pulau Ular memang sombong dan merasa dirinya paling hebat hingga merasa bisa berbuat apa saja pada orang lain. Kisanak! Aku memang orang tua lemah. Namun bila kepalanya diinjak, semut pun akan menggigit!"

"Bagus! Kau telah menentukan nasibmu. Orang Tua. Nah! Sekarang, lihatlah akibatnya!"

Bersamaan dengan itu, Nyi Ayu Supraba langsung mencelat menyerang Ki Sawangan. Ketua Padepokan Awan Putih itu jadi terkesiap. Demikian pula semua muridnya. Gerakan wanita itu cepat bukan main. Bahkan rasanya sulit dielakkan. Kecuali dengan menjatuhkan diri. Seketika Ki Sawangan membuang diri ke tanah, dan langsung bergulingan.

"Yeaaat..!" Nyi Ayu Supraba telah kembali mencelat menyerang, sebelum orang tua itu sempat bangkit berdiri.

Sambil bergulingan, Ki Sawangan secara untung-untungan mencoba menangkis dengan tangannya.

Plak!

Namun kesudahaannya, orang tua itu mengeluh sendiri. Pergelangan tangannya linu seperti menghantam besi baja saat menangkis tendangan Nyi Ayu Supraba. Dan sebelum sempat menyadari, tendangan kaki kanan wanita itu kembali meluncur ke arah dada.

Blagh!

"Aaahh...!" Orang tua itu menjerit kesakitan. Tubuhnya makin deras bergulingan di tanah, begitu tendangan Nyi Ayu Supraba telak menghantam dadanya. Darah segar tampak menetes dari sudut bibirnya.

Wanita itu agaknya tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Ki Sawangan. Belum juga orang tua itu bangkit, sudah langsung diberi pukulan maut jarak jauh berisi tenaga dalam tinggi yang cepat menggeledek.

"Mampus! Hih!"

"Oh...." Ki Sawangan hanya mampu terkesiap dengan mata melotot lebar. Dan....

Prak! "Aaah...!"

Wanita itu memang lihai bukan main. Kepala Ketua Padepokan Awan Putih itu kontan hancur remuk terkena hantamannya. Dan nyawanya melayang saat itu juga.

"Wanita Iblis! Tindakanmu benar-benar di luar batas kemanusiaan!" desis Singalodra dengan wajah geram dan tubuh gemetar. Sementara itu, ketiga saudara seperguruan serta murid-murid lain menghambur menghampiri tubuh Ki Sawangan.

"Mau apa kau?! Mau menyusulnya? Ayo, ke sini!" sahut Nyi Ayu Supraba enteng sambil berkacak pinggang.

"Wanita Jahanam! Kami tidak akan tinggal diam, setelah perbuatan terkutukmu ini!" bentak Sekar Wangi tajam.

"Hei?! Tidak usah banyak mulut! Kalau kalian mau balas dendam, ayo maju! Sekalian semua maju bersama!" sentak Nyi Ayu Supraba, galak.

"Iblis Sombong! Jangan dikira kami takut. Huh!" Taji Momongan segera menghunus pedangnya.

Sring!

Tindakan laki-laki itu kemudian diikuti murid-murid yang lain. Mereka segera mengurung Tiga Penghuni Pulau Ular dengan wajah penuh dendam dan nafsu membunuh. Kematian Ki Sawangan yang amat mengenaskan, sudah cukup membuat hati mereka bagai diiris-iris.

"Huh! Sekumpulan kerbau-kerbau dungu sudah hendak berlagak pada penghuni Pulau Ular. Kalian hanya menemui kematian secara sia-sia!" dengus ki Kolo Denowo dingin.

Beda dari dua saudaranya yang lain, Nyi Ayu Supraba agaknya sudah tidak sabar. Wanita itu sudah langsung melompat menerjang.

"Yeaaat..!" Bruaaak! "Aaaa...!"

Nyi Ayu Supraba memang wanita berhati kejam dan sama sekali tidak mengenal kasihan. Pukulan mautnya langsung menyambut, membuat murid-murid Padepokan Awan Putih yang mengurungnya terpental dan binasa dengan tubuh remuk. Sedang yang memiliki kepandaian cukup lumayan, terhindar dari bahaya, karena sudah buru-buru melompat menghindar.

"Hiyaaat..!" Trang! Breeet! "Aaaa...!"

Meski korban di pihak murid-murid Padepokan Awan Putih berjatuhan terus dalam waktu singkat, namun semangat mereka bukannya mengendor. Malah sebalik-nya, semakin menyala-nyala. Agaknya mereka tidak mem-pedulikan nyawa sendiri lagi karena tidak mau harga dirinya diinjak-injak.

Tapi mana mungkin semua itu dipedulikan penghuni Pulau Ular? Mereka adalah tokoh-tokoh berhati kejam yang mampu membunuh manusia tanpa berkedip. Dan pembantaiannya yang dilakukan saat ini begitu menyenangkan mereka, seperti anak kecil mendapatkan mainan kesuka-annya. Ketiga penghuni Pulau Ular memang bukan tandingan murid padepokan. Jika Ki Sawangan saja bisa mudah dibinasakan dalam waktu singkat, maka sesungguhnya perlawanan mereka sama sekali tidak ada artinya. Padahal ketiga tokoh itu saat belum lagi menggunakan senjata.

"Manusia Keparat! Tahan seranganku ini!" desis Singalodra geram, langsung menyerang Ki Kolo Denowo yang berada dekat dengannya.

Wuuut!

Dengan mudah Ki Kolo Denowo menunduk, sehingga golok Singalodra luput dari sasaran.

Plak!

Lalu tangan kanannya bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan Singalodra. Dan bersamaan dengan itu. tangan murid Padepokan Awan Putih ini dipelintir ke belakang. Sedangkan kaki kirinya menghantam seorang murid Perguruan Awan Putih yang hendak membantu Singalodra.

Kraaak!

Singalodra menjerit kesakitan begitu tangan dipelintir ke belakang. Tulang lengannya kontan patah. Sementara, murid perguruan yang bermaksud membantu Singalodra langsung terjungkal dengan dada remuk. Begitu ambruk di tanah dia tewas seketika.

Duk! "Aaakh...!"

Ki Kolo Denowo agaknya tak ingin bertindak kepalang tanggung. Langsung saja tengkuk Ki Singalodra dihajar dengan pukulan keras. Sekali lagi, orang itu menjerit tertahan. Lalu, begitu jatuh menggeloso di tanah, dia tewas dengan leher patah!

Pada saat yang hampir bersamaan, Umblauran pun tewas di tangan Ki Sanca Ireng. Dan saat ini, terlihat Nyi Ayu Supraba tengah mendesak Taji Momongan serta Sekar Wangi.

"Heaaat...!"

Kedua murid utama Padepokan Awan Putih itu membentak nyaring dan menghantam Nyi Ayu Supraba dengan mengerahkan segenap tenaga.

Tapi, Nyi Ayu Supraba hanya tersenyum dingin. Tubuhnya cepat melejit ke atas menghindari serangan lawan, lalu balas menghantam dengan pukulan maut.

"Hiiih!" Prak!

Seberkas sinar kehitaman seketika melesat ke arah Taji Momongan. Namun murid padepokan ini cepat membuang diri ke samping, langsung bergulingan. Akibatnya, sungguh malang bagi Sekar Wangi yang ada di belakang. Wanita itu kontan menjerit begitu jadi sasaran pukulan lawan.

Blesss...! "Aaakh...!"

Tubuh wanita itu terjungkal ke tanah, dalam keadaan remuk bermandikan darah. Dia hanya sempat mengeluarkan keluhan tertahan, sebelum nyawanya lepas dari raga!

"Sekar Wangi?! Oh, tidak! Tidaaak...!"

Taji Momongan tersentak kaget melihat keadaan itu. Buru-buru dikejarnya tubuh Sekar Wangi, dan dipangkunya dengan pahanya. Wajahnya tampak muram bercampur kelam. Dan untuk sesaat, hatinya seperti hancur berkeping-keping.

Selama ini secara diam-diam, memang telah terjalin hubungan intim antara Taji Momongan dengan Sekar Wangi. Dan secara diam-diam pula semua murid yang lain telah mengetahui. Bahkan mereka mempunyai rencana akan memohon restu Ki Sawangan pada hari ini, setelah usai pelepasan murid-murid, untuk mengikat hubungan ke dalam tali perkawinan. Tapi sekarang, semua itu hanya tinggal mimpi. Dan Taji Momongan tidak kuasa menahan perasaan sedih dan haru. Tubuhnya bergetar hebat ketika berbalik dan memandang tajam ke arah wanita yang telah membunuh kekasihnya.

"Iblis Keparat! Kau akan kubunuh dengan kedua belah tanganku!" desis laki-laki itu geram.

"Huh! Banyak mulut! Lakukanlah kalau mampu! Sengaja kudiamkan kau sejenak untuk memberi napas dan sekaligus berdoa untuk kematianmu!" dengus Nyi Ayu Supraba sinis.

Taji Momongan memutar pedangnya, lalu merapatkannya dengan wajah. Sepasang matanya seperti tidak berkedip memandang ke arah wanita itu. Telinganya dibuka lebar-lebar untuk mendengar segala sesuatu gerak yang mencurigakan seandainya lawan yang lain bermaksud membokong.

"Yeaaat..!" "Uts!"

Pedang murid Padepokan Awan Putih itu berkelebat menyambar ke arah leher dan langsung ke pinggang. Kelihatannya cepat dan hebat sekali. Namun hal itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Nyi Ayu Supraba. Wanita itu cepat melejit ke atas, lalu bergulungan mendekati Taji Momongan. Dan, tiba-tiba pukulan dihantamkan dengan telapak tangan kanan terkembang.

"Hiiih!" "Uhhh...!"

Taji Momongan cepat menjatuhkan diri, dan ber-gulingan menghindar. Namun jantungnya terasa berdegup kencang dan tidak beraturan. Kulitnya terasa panas terbakar. Mendadak saja satu tendangan Ki Sanca Ireng menyusul, dan begitu angin pukulan lewat di sisinya memaksa Taji Momongan melompat ke belakang. Namun seketika hantaman telapak tangan kiri Nyi Ayu Supraba telah menantinya. Dan....

Begkh!

Taji Momongan langsung menjerit keras, begitu pukulan Nyi Ayu Supraba mendarat telak di dadanya. Tubuhnya kontan ambruk di tanah dalam keadaan bermandikan darah. Tewas!

"Aaaa...!"

"Huh! Dikira bisa berbuat apa pada kita!" dengus Nyi Ayu Supraba sinis.

"Sia-sia kita ke sini. Lebih baik kita cari ke tempat yang lain!" sahut Ki Kolo Denowo, setelah menghabisi lawanlawannya yang terakhir.

"Betul! Tanganku sudah gatal untuk menghancurkan batok kepala Pendekar Rajawali Sakti keparat itu!" desis Ki Sanca Ireng geram.

"Tapi ke mana kita harus mencarinya?"

"Kenapa mesti bingung-bingung. Ayu? Orang itu katanya terkenal. Dan kurasa semua tokoh silat pasti tahu, di mana dia berada. Kecuali kalau mereka berusaha menyembunyikannya!"

"Betul apa yang kau katakan, Ireng! He, siapa pun yang berusaha melindunginya akan mampus!"

"Hua ha ha...! Dia kira bisa bermain-main dengan penghuni Pulau Ular!" sambut Ki Sanca Ireng, diringi tawa terbahak.

"Sudah, jangan banyak mulut! Lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepatnya!" ajak Ayu Supraba seraya mencelat cepat dari situ.

Ki Sanca Ireng dan Ki Kolo Denowo mengikuti dari belakang. Ketiganya memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. Gerakan mereka juga luar biasa. Maka dalam waktu singkat saja, bayangan mereka telah lenyap tanpa bekas!

********************

DUA

Dua orang pemuda tengah berjalan tenang di sebuah jalan di pinggir sebuah desa. Sesekali salah seorang menendang kerikil-kerikil yang menghalangi jalan. Tendangan itu kelihatan remeh saja. Namun, kerikil itu ternyata mencelat dan menghantam batang kayu. Bahkan membuat kulit kayu itu somplak.

"Gila! Kalau kena aku bagaimana, Soma?" rutuk salah seorang pemuda dengan wajah gondok. Dia memang berjalan agak kedepan.

Pemuda berusia dua puluh lima tahun yang dipanggil Soma hanya terkekeh kecil. "Mana mungkin, Kemong! Kau kira batu kerikil itu ketendang ke arahmu?!" kilah pemuda yang sebenarnya bernama Somadipura. Langsung disusulnya pemuda yang dipanggil Kemong itu. Lalu ditepuk-tepuknya pundak kawannya.

"Iya, memang tidak. Tapi kalau meleset?" Somadipura terkekeh kecil.

"Apa kau kira aku selengah itu?"

"Hm.... Murid Eyang Anggadita ternyata juga pintar bersilat lidah!" sahut Kemong sambil menggeleng pelan.

"Sudahlah. Kau ini bisa saja bicara. Hari ini aku tengah bergembira, karena kedua orang tua Lestari telah menyetujuiku sebagai calon menantunya. Kau dengar, Mong?! Lima tahun aku menanti saat seperti ini. Dan baru sekarang kesampaian!" Kata Somadipura dengan wajah tampak cerah dan mata berbinar-binar.

"Aku iri padamu, Soma. Lestari gadis setia. Padahal saat kau berguru, ada seorang juragan kaya yang melamar. Orang tuanya setuju saja, kalau Lestari setuju. Tapi Lestari malah menolak habis-habisan!"

Somadipura kembali terkekeh senang. "Hei? Kau sendiri, bagaimana? Sudah menemukan calon pilihan?"

Kemong tersenyum pahit sambil menggeleng lemah. "Hmmm... Mana ada gadis yang mau denganku?" sahut Kemong putus asa. "Wajahku tidak setampanmu. Lagipula, aku bukan orang berada. Tidak ada gadis yang mau jadi kekasihku...," desah Kemong.

"Hei? Jangan berkata begitu, Sobat. Dunia tidak selebar daun kelor. Masih banyak gadis lain di dunia ini yang bisa dipilih asal kau tidak takut-takut mendekati mereka...!" hibur Somadipura.

"Aku hanya malu pada diriku sendiri...," sahut Kemong lesu.

"Itulah kelemahanmu. Wajahmu tidak terlalu buruk. Dan soal kaya, bukan menjadi ukuran setiap gadis. Kau harus yakin! Tumbuhkan rasa percaya diri dan jangan cepat putus asa!" kata Somadipura memberi semangat Kemong menghela napas pendek. Lalu kepalanya menoleh pada kawannya.

"Ya, mungkin kau benar juga...," kata Kemong lemah.

Somadipura kembali menepuk pundak kawannya sambil tersenyum lebar. "Percayalah. Kau pasti bisa...." lanjut Somadipura kembali meyakinkan hati kawannya.

"Aku naksir si..."

"Kokom, bukan?!" tebak Somadipura memotong pembicaraan Kemong. Kemong tersipu malu.

"Nah! Tidak perlu takut. Kau harus berani bicara terus terang. Dan katakan, bahwa kau suka padanya!" tandas Somadipura.

"Tapi Ki Ganda pun sepertinya suka padanya..."

"Alaaah! Apa urusannya dengan tua bangka tukang kawin itu? Mana mungkin si Kokom mau dengannya!"

"Tapi si Kokom mau!"

"Dari mana kau tahu?"

"Banyak yang bilang begitu.... "

Kemong terdiam dan terus melangkah pelan. Wajahnya tampak lesu, meski Somadipura menghiburnya berkali-kali.

"Sudahlah. Kalau memang dia tidak suka, eh...!" Somadipura menghentikan kata-katanya ketika melihat seorang gadis berjalan pada arah yang berlawanan. Bola matanya berbinar dan senyumnya terkembang.

Agaknya Kemong pun melihatnya. Dan wajahnya pun tampak berbinar seraya menepuk pundak sobatnya.

"Nah, kalau bisa yang seperti ini!" kata Kemong. "Hus, sial! Jangankan kau. Aku pun mau!"

"Sial! He, apa kau langsung lupa pada Lestari?"

Somadipura tidak mempedulikan. Langsung langkahnya dipercepat. Segera dihadangnya jalan gadis itu. Sedang Kemong mengikuti dari belakang dengan jantung berdegup kencang.

"Mau ke mana Nisanak? Bolehkah mengantarkanmu pulang...?" sapa Somadipura sambil cengar-cengir.

Gadis itu mengangkat wajahnya. Dipandanginya Somadipura dengan kening berkerut. Kemudian bibirnya tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.

"Tidak, terima kasih. Aku bisa berjalan sendiri...," tolak gadis itu halus.

"Amat berbahaya bagi seorang gadis secantikmu jalan seorang diri...," bujuk Somadipura.

"Aku sudah biasa...."

Somadipura mendecah disertai gelengan kecil. Sesaat matanya mengamati pedang di punggung gadis cantik ini, lalu berbalik merendengi langkahnya.

"Hm.... Bisa jadi memang sudah biasa. Tapi dengan membawa-bawa pedang begitu, bukan berarti semua laki-laki iseng bisa ditakut-takuti," sindir Somadipura.

Gadis itu tersenyum, lalu memandang Somadipura kembali.

"Hm.... Kau kira pedangku ini sebagai hiasan belaka?" kata gadis itu disertai senyum sinis.

"He, bagaimana menurutmu, Mong...?" tanya Somadipura seraya tersenyum lebar dan menyikut lengan kawannya.

"Eh! Aku... aku...." Kemong jadi tergagap, tak tahu harus berkata apa.

"Apa kau kira laki-laki iseng akan takut melihat pedang itu?"

"Mana kutahu...," sahut Kemong, gugup. Kata-kata Kemong terhenti, ketika sikut Somadipura kembali menyodok dadanya. Wajah Somadipura tampak kurang senang sambil mengedipkan mata untuk sekelebatan. Lalu wajahnya kembali dipasang cerah ketika berhadapan dengan gadis itu.

"Nah, betul kan kataku? Tapi bila kau berjalan dengan seorang laki-laki sepertiku misalnya, maka tidak ada seorang pun yang berani mengganggumu!" kata Soma-dipura, agak menyombongkan diri.

"Begitukah?" sahut gadis itu seraya tersenyum kembali.

Namun tiba-tiba gadis ini mencabut pedangnya. Bahkan raut wajahnya pun berubah. "Coba buktikan kata-katamu. Dan, tahan seranganku! Sekiranya kau mampu bertahan kurang dari tujuh jurus ilmu pedangku, maka tawaranmu kuterima!" ujar gadis itu lagi.

"He, benarkah...?!" Wajah Somadipura berbinar. Agaknya dia merasa yakin, mampu melakukan apa yang ditawarkan gadis itu. Sama sekali kemampuan gadis itu dianggap remeh.

"Lihat serangan!" bentak gadis itu sudah langsung mengarahkan pedang ketenggorokan Somadipura.

"Uts!" Bukan main terkejutnya Somadipura melihat gerakan gadis ini yang cepat bukan main. Kepalanya cepat mengegos. Dan ketika pedang gadis ini membabat pinggang, tubuhnya cepat melompat ke atas.

"Hup!" "Yeaaat!"

Baru saja kaki Somadipura menyentuh tanah, gadis itu langsung melepaskan satu tendangan keras. Untung saja pemuda itu masih mampu menghindari dengan menggeser tubuhnya ke kiri. Namun, bersamaan dengan itu, ujung pedang gadis ini terus menyambar ke arah lambung. Cepat bagal kilat, Somadipura meliukkan tubuhnya. Agaknya gadis itu tidak berhenti begitu saja. Serangannya segera disusul dengan menyodokkan kepalan tangan ke arah dada. Kembali Somadipura harus melompat kebelakang. Namun, gadis itu terus mencecarnya. Baru saja kaki Somadipura mendarat, pedang gadis itu telah berkelebat ke perut. Dan...

Breeet! "Uhhh...."

Untung saja ujung pedang itu hanya menyambar baju di bagian perut Somadipura. Namun itu cukup membuat pemuda ini tersentak kaget. Dan dia segera bergerak ke kiri, untuk menghindari serangan selanjutnya. Namun kaki kiri gadis ini telah keburu menghantam perutnya. Maka....

Duk! "Uhhh...." Somadipura mengeluh tertahan begitu tendangan kaki kiri gadis itu mendarat telak di perutnya. Langkahnya kontan terhuyung-huyung ke belakang. Dia berusaha memperbaiki keseimbangan tubuhnya, namun ujung pedang gadis itu telah menempel di tenggorokannya. Wajah Somadipura kontan pucat. Dan tanpa sadar, keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuhnya.

"Hm. Hanya seginikah kemampuanmu?" dengus gadis itu dingin, sambil menekan ujung pedangnya.

"Eh! Aku... aku...."

"Huh!" dengus gadis itu. Lalu pedangnya disarungkan kembali. "Kalau baru punya kepandaian setahi kuku, jangan coba-coba sok jadi pahlawan." Setelah berkata begitu, gadis ini segera meninggalkan Somadipura dengan langkah tenang.

Sementara, pemuda itu menghela napas lega. Namun, kerongkongannya masih terasa kering dan lidahnya sedikit kelu. Masih sulit dipercaya kalau gadis cantik yang kelihatannya lemah dan tidak berdaya itu mampu menundukkannya dalam waktu singkat!

"Apa kataku! Kau terlalu yakin dan memandang enteng!" gerutu Kemong sambil mengeleng lemah. "Lagipula, kau kena kutukan Lestari. Berani-beraninya mencoba menyeleweng. Padahal, sebentar lagi kau akan kawin!"

"Alaaah! Diam kau!" sentak Somadipura kesal.

Kemong langsung terdiam. Namun, perlahan-lahan mengembangkan senyum. Tampaknya Somadipura masih penasaran betul dengan gadis tadi. Buktinya meski dengan langkah tertatih-tatih, pandangan mata pemuda itu masih terus memandangi gadis tadi dengan perasaan gemas.

"Suatu saat, dia akan tahu siapa aku!" desisnya Somadipura geram.

"Coba lihat! Langkah gadis itu kelihatan tenang sekali. Hm... kelihatannya dia sama sekali tidak takut pada siapa pun. Seharusnya kau mengerti dan tidak meremehkannya begitu saja," ujar Kemong.

"Kemong! Sekali lagi kau memanasi aku, akan kuhajar kau!" geram Somadipura, semakin kesal saja mendengar ocehan kawannya.

Kemong kembali terdiam. Namun, dia masih saja belum bisa menahan rasa geli dihatinya.

"Hei, siapa itu?!" sentak Somadipura. Di depan sana, Somadipura melihat dua orang laki-laki berwajah seram tengah menghadang gadis yang tadi digodanya. Melihat gelagat yang tidak baik, segera diajaknya Kemong untuk mendekat.

"Lebih baik kita tidak usah mencampuri urusannya. Nanti kau kena getahnya lagi," sahut Kemong memperingatkan.

"Gadis itu dalam bahaya. Dan kita harus membantunya!"

"Apa yang bisa kita bantu? Dia bisa menjaga dirinya sendiri!"

"Alaaah, sudah! Ayo...!" sentak Somadipura, langsung melangkah lebar mendekati.

Mau tidak mau Kemong terpaksa mengikuti. Apa yang diduga Somadipura memang tepat. Karena tiba-tiba saja, salah seorang dari laki-laki berwajah kasar itu telah menyerang gadis tadi sambil menyeringai lebar penuh nafsu.

"Ha ha ha...! Gadis Manis! Kau kira bisa lari begitu saja dariku, he?! Hari ini Prapanca alias Macan Loreng Hutan Mauk akan mendapatkan gundik yang menarik, sebagai penghias istananya. Ha ha ha...!" kata laki-laki yang bernama Prapanca dan berjuluk Macan Loreng Hutan Mauk ini.

"Manusia Buruk, cis! Kau boleh hanyut dalam mimpimu itu...!" sentak gadis itu.

"He!? Kenapa tidak? Kau kira aku tidak bisa menangkapmu?!"

"Huh!" Gadis itu mendengus dingin seraya melompat ke atas.

Sementara Macan Loreng Hutan Mauk mengejar dengan gesit. Tubuh Prapanca yang gemuk, mestinya hanya bisa bergerak lamban dan kaku. Namun yang terlihat justru sebaliknya. Dia mampu bergerak gesit. Dan dari desir angin serangannya, terasa kalau tenaganya amat kuat.

"He he he...! He, Prapanca! Apa kau mau terus main kejar-kejaran dengannya? Sudah! Cepat tangkap dia. Aku sudah tidak sabar ingin mendekap gadis liar ini!" teriak laki-laki bertubuh kekar, kawan dari Prapanca.

"Tutup mulut, Dasgiwa! Dia milikku. Dan kau tidak boleh menyentuhnya sedikit pun, sebelum aku benar-benar bosan!" teriak Macan Loreng Hutan Mauk geram.

"Ha ha ha...!" Dasgiwa tertawa lebar. Namun nada tawanya jelas mengejek. Karena telah dua jurus berlangsung, tapi Prapanca belum juga mampu menaklukkan gadis itu. Dan itu dirasakannya betul oleh Prapanca sendiri. Bahkan sudah membuat kemarahannya meluap-luap. Wajahnya kelihatan geram. Lalu dengan satu bentakan nyaring. Macan Loreng Hutan Mauk mengamuk hebat.

"Yeaaat...!" Sring!

Gadis itu bukannya tidak mengerti gelagat. Maka pedangnya sudah langsung dicabut.

Bet! Bet! "Uhhh...."

Senjata gadis itu berkelebat hebat, menyambar ke seluruh tubuh Prapanca dengan kecepatan sulit diikuti pandangan mata biasa. Namun begitu, Prapanca mampu menghindarinya dengan gesit. Bahkan sesekali telapak tangannya menghantam, sehingga menimbulkan desir angin kuat bagai hantaman gada.

Wuuut!

Dalam suatu kesempatan, pedang di tangan gadis itu menyambar ke depan. Dan tahu-tahu, tubuh Prapanca berkelebat cepat hingga seperti lenyap dari pandangan. Gadis itu jadi terkejut. Dan mendadak saja pergelangan tangannya tercekal.

Plak! "Uhhh...."

Dengan sekali sentak, pedang gadis itu terlepas. Lalu tahu-tahu tangannya terpelintir ke belakang. Gadis itu mencoba menyikut dengan tangan yang satu lagi. Namun dengan tangkas, Prapanca menangkap dan mencekalnya erat-erat.

"Ouw...!" jerit gadis itu kesakitan.

"He he he...! Sekarang kau bisa berbuat apa? Kalau kau menurut tentu tidak akan begini jadinya!"

Sementara dari kejauhan, Somadipura dan Kemong tersentak. Keberanian mereka yang tadi bangkit pelan-pelan, kini semakin ciut dan terus menyusut.

"Bagaimana ini, Mong?" tanya Somadipura dari balik semak-semak lebat.

"Mana kutahu?! Tadi kau yang mengusulkan kita ke sini...."

"Aduuuh, kasihan gadis itu. Tapi kita bisa berbuat apa? Kalau orang itu mampu meringkusnya dalam waktu singkat, tentu kepandaiannya amat hebat. Dan kawannya, paling tidak memiliki kepandaian yang tidak berbeda. Kita berdua tidak ada artinya sama sekali kalau coba menolong," keluh Somadipura.

"Makanya...!" gerutu Kemong kesal.

"Hei, coba lihat! Ada orang datang!" sentak somadipura tiba-tiba.

"Mana? Mana?!" Kemong menegaskan pandangan. Dan di depan sana, tampak seorang pemuda berbaju rompi putih di atas seekor kuda berbulu hitam telah berada di tempat itu!

"Kisanak, lepaskan gadis itu!" bentak pemuda berbaju rompi putih itu.

"Heh?!" Prapanca mendengus geram. Demikian juga kawannya.

Sebaliknya, gadis itu terkejut. Wajahnya seketika begitu gembira, melihat orang yang baru muncul. "Kau..., kau...."

Pemuda berbaju rompi putih itu tersenyum, kemudian kembali mengalihkan perhatian pada kedua laki-laki bertampang seram. "Kisanak! Akan kau apakan adikku ini? Lepaskan dia!" ulang pemuda itu.

"Bocah ingusan tidak tahu diri! Hei?! Kau kira dirimu siapa, berani bertingkah di depanku? Bapak moyangmu sendiri belum tentu berani mencegah keinginanku. Pergi kau dari sini! Atau, kutendang sampai mampus!?" geram Prapanca semakin geram.

"Hua ha ha...! Kau dengar itu, Prapanca? Katanya gadis liar ini adiknya. Nah, hati-hatilah. Jangan-jangan dia akan menyembelihmu dengan pedangnya jika kau berbuat semaumu pada adiknya!" teriak Dasgiwa, bernada mengejek.

"He he he...! Ini semakin membuatku girang, Dasgiwa. Apa tidak sebaiknya kita dekap adiknya yang cantik ini di depan hidungnya?" sahut Prapanca disertai tawa lebar.

"Hm.... Agaknya kalian kepala batu juga! Nah! Lakukanlah sesuatu terhadap adikku sesuka hatimu. Tapi, ingat. Jangan salahkan kalau tindakanku terlalu keras pada kalian," sahut pemuda berbaju rompi putih itu, enteng.

"Hei, kurang ajar...!" Dasgiwa kontan melotot mendengar kata-kata muda itu.

"Kunyuk tidak tahu diri!" maki Prapanca. "Kau kira berhadapan dengan siapa, he?!" Mata Prapanca juga sampai melotot lebar, bahkan urat-urat di pelipisnya bertonjolan.

"Kenapa tidak tahu? Bukankah saat ini aku tengah berhadapan dengan manusia rendah berotak kotor?!" sahut pemuda itu enteng sambil tersenyum mengejek.

"Bangsaaat...! Kurang ajar!" maki Prapanca.

Dibanding kawannya, Prapanca memang lebih cepat naik darah dan lebih cepat pula melampiaskannya. Dia merasa, harga dirinya betul-betul terinjak-injak mendengar ocehan pemuda yang betul-betul tidak memandang sebelah mata terhadapnya. Padahal, nama Macan Loreng Hutan Mauk sudah terkenal di delapan penjuru angin. Dan hari ini, seorang pemuda yang tidak dikenalnya sudah seenaknya menganggap rendah dirinya. Mana mungkin bisa didiamkan begitu saja! Begitu cekalan pada gadis itu dilepaskan, dia langsung berkelebat.

"Yaaat...!" "Heup!" Plak!

Macan Loreng Hutan Mauk sudah langsung melompat ke arah pemuda itu disertai pengerahan tenaga dalam tinggi pada kibasan tangannya. Agaknya dia ingin menunjukkan kehebatannya pada pemuda itu. Tapi yang dihadapinya malah tersenyum kecil tanpa bergeming sedikit pun. Dan begitu pukulan Prapanca dekat, telapak kiri pemuda itu menangkapnya. Lalu tanpa turun dari punggung kudanya, kaki kirinya menghantam ke dagu Prapanca.

Plak!

"Heh?!" Bukan main terkejutnya Prapanca, ketika merasakan kepalan tangannya seperti menghantam dinding baja. Dan kalau saja tidak buru-buru menghindar ke samping, bukan tidak mungkin tendangan pemuda itu bisa merontokkan rahangnya. Dari angin serangannya saja bisa diduga betapa kuatnya tendangan itu.

"Siapa kau sebenarnya. Bocah?!" bentak Prapanca garang.

"Manusia-manusia busuk! Tidak tahukah saat ini tengah berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti!"

"Apa?! Pendekar Rajawali Sakti...?!"

Prapanca dan Dasgiwa tersentak kaget begitu mendengar kata-kata gadis itu yang terakhir. Langsung dipandangnya pemuda berbaju rompi putih itu dengan wajah kurang yakin.

"Kisanak! Apakah kau pendekar besar yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...?" tanya Dasgiwa lirih dan hatihati sekali.

TIGA

"Pendekar Rajawali Sakti bukanlah pendekar besar...," sahut pemuda yang memang Rangga, enteng.

"Ah! Kalau begitu kami keliru. Maafkan kelancangan kami, Kisanak...." sahut Dasgiwa, bernada menyesal.

Sedang Prapanca hanya merapat ke tubuh kawannya dengan kepala tertunduk. Kedua orang itu agaknya sadar betul kalau tetap berkeras untuk ribut dengan pemuda itu, akhirnya akan babak belur sendiri. Mereka sadar siapa yang tidak kenal dengan kedigdayaan Pendekar Rajawali Sakti?

"Sudahlah... kuharap, kalian tidak mengulangi perbuatan seperti tadi. Ketahuilah. Tidak baik menyiksa perasaan orang lain. Kalian akan membuat penderitaan seumur hidup pada korban-korban yang kalian lakukan!"

Keduanya mengangguk hampir bersamaan.

"Baiklah. Aku tidak akan memperpanjang urusan. Kalian boleh pergi sekarang juga...," lanjut Pendekar Rajawali Sakti.

"Eh! Terima kasih, Kisanak..." sahut keduanya serentak. Lalu mereka segera berlalu dari tempat itu dengan langkah terburu-buru.

Sementara, gadis yang hampir saja menjadi korban keberingasan Prapanca dan Dasgiwa itu melangkah mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Sesaat dia membisu sambil menundukkan kepala. Lalu pelan-pelan wajahnya terangkat dan memandang Rangga.

"Terima kasih atas pertolonganmu..."ucap gadis itu.

"Kau Ambarwati, bukan...?" tebak Pendekar Rajawali Sakti sambil tersenyum.

Gadis itu mengangguk pelan.

"Hm.... Jauh sekali perjalananmu. Apakah ada yang kau cari di wilayah timur ini...?" tanya Rangga.

Gadis yang bernama Ambarwati hendak menggeleng. Namun, kemudian kepalanya mengangguk, meski terlihat samar sekali.

"Mengunjungi kerabatmu?" tanya Rangga lagi.

"Ya...."

"Hm... Kalau begitu kau bisa melanjutkan perjalanan kembali. Hati-hatilah...."

"Kakang Rangga...!" panggil Ambarwati perlahan, ketika melihat Rangga hendak meninggalkannya begitu saja.

"Hm.... Ada apa, Ambarwati...?"

"Eh! Aku... aku..." Gadis itu tampak sedikit gugup. Dan untuk sesaat, dia tidak tahu harus berbuat apa.

"Ada apa, Ambar? Adakah sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Rangga ramah.

"Aku masih asing dengan daerah ini. Sedangkan tempat tinggal kerabatku amat sulit. Aku..., aku...."

Rangga menghela napas pendek dan sedikit mengembangkan senyum. Dipandanginya Ambarwati untuk beberapa saat. Meski tidak meneruskan kata-katanya, namun bisa diketahui maksud gadis itu. Usianya muda dan wajahnya cantik. Tentu akan membuat laki-laki hidung belang sering mengganggunya. Dan yang paling terpenting adalah, gadis ini tidak memiliki pengalaman bertarung. Apalagi dalam menghadapi orang-orang seperti Macan Loreng Hutan Mauk!

Sementara itu, di kejauhan mendadak terdengar derap langkah beberapa ekor kuda. Rangga dan Ambarwati langsung berpaling ke arah suara. Dan kini kelima orang yang menunggang kuda dengan kencang melewati tempat Somadipura dan Kemong bersembunyi. Somadipura yang juga melihat kedatangan kelima orang penunggang kuda itu tersentak dan bergegas bangkit.

"Kakang Kencana Wungu...!" Somadipura berteriak kencang, memanggil salah seorang penunggang kuda.

"Heh?!" Penunggang kuda yang paling depan terkejut. Segera laju kudanya dihentikan. Ketika berbalik, dia melihat Somadipura berlari-lari kecil menghampiri bersama Kemong.

"Somadipura! Apa yang kau lakukan di sini? Dan, siapa mereka?" tunjuk laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun yang dipanggil Kencana Wungu, pada Pendekar Rajawali Sakti dan Ambarwati.

"Ssst..! Dia Pendekar Rajawali Sakti...!" sahut Somadipura.

"Oh, benarkah?!"

Somadipura mengangguk. "Aku pun baru mendengarnya tadi. Kakang, ada apa kau berada di sini? Apakah hendak menemui Eyang Anggadita?"

"Betul, Soma! Sesuatu telah terjadi pada perguruan kami...!" sahut Kencana Wungu bernada sedih.

"Hm... Wajahmu murung. Demikian juga yang lain. Pasti ada sesuatu yang hebat telah terjadi. Ada apa, Kakang Kencana Wungu?" tanya Somadipura, curiga.

"Orang-orang Pulau Ular telah mengacau dan menghancurkan perguruan kami. Mereka telah membunuh Eyang Pradipta!" jawab Kencana Wungu.

"Apa?! Orang-orang Pulau Ular? Bagaimana mungkin?!" sentak Somadipura kaget setengah mati.

"Mereka sebenarnya mencari Pendekar Rajawali Sakti..."

"Mencari Pendekar Rajawali Sakti? Ada urusan apa...?" tanya Somadipura heran.

"Entahlah. Mana kutahu! Sungguh kebetulan kami bisa bertemu. Sebentar, Soma. Aku harus menyampaikannya sendiri pada pendekar itu," sahut Kencana Wungu.

Kencana Wungu lantas turun dari punggung kudanya. Kakinya segera melangkah, menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Ketika telah beberapa tombak dari Rangga, dia merangkapkan kedua tangan, memberi salam penghormatan.

"Maaf, Kisanak. Apakah betul kau yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Kencana Wungu sambil terus melangkah dan tersenyum.

Rangga membalas salam hormat laki-laki itu. "Betul, Kisanak. Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu?" tanya pemuda itu.

Kencana Wungu mendesah lega. "Aku Kencana Wungu, murid Ki Pradipta dari Perguruan Merak Angin. Kami membawa kabar kalau orang-orang dari Pulau Ular telah datang dan mengacau perguruan kami. Mereka membinasakan guru kami dan semua murid. Beruntung, kami berlima bisa selamat. Dan guru sempat berpesan kalau peristiwa pembantaian itu harus segera disebarluaskan pada tokoh persilatan golongan putih," tutur Kencana Wungu.

"Orang-orang Pulau Ular? Ada urusan apa mereka mengacau perguruan kalian? Apakah kalian mempunyai urusan dengan mereka?" tanya Pendekar Rajawali Sakti heran.

"Justru itu yang tidak dimengerti guruku. Selama perguruan kami berdiri, belum pernah sekali pun berurusan dengan mereka. Kisanak! Orang-orang Pulau Ular itu sebenarnya tengah mencarimu. Dan menekan kami untuk memberitahukan di mana kau berada!"

"Gila! Apa maksud mereka?! Mana mungkin gurumu tahu, sedangkan aku sama sekali belum pernah mengenal beliau secara langsung," desis pemuda itu semakin heran.

"Entahlah. Agaknya mereka tidak pilih bulu. Mereka sengaja membantai siapa saja yang ditemui untuk memancing kehadiranmu," sahut Kencana Wungu.

"Lalu, ke mana mereka saat ini..?" tanya Rangga geram.

"Entahlah, Kisanak. Kami pergi untuk menemui Eyang Anggadita, adik seperguruan guru kami. Pada saat itu, pertarungan tengah berkecamuk hebat..."

"Hm, baiklah. Terima kasih. Aku akan ke sana menemui mereka," sahut Rangga langsung berbalik. Segera dihampirinya kuda hitam yang bernama Dewa Bayu. Dan dengan gerakan manis sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas punggung Dewa Bayu.

"Hup!" Bersamaan dengan itu, Ambarwati pun ikut melompat di belakangnya. "Kakang, aku ikut..!" pinta Ambarwati enteng.

"Ambar! Ini berbahaya...."

"Aku tidak takut!" potong gadis itu cepat.

"Hhh..." Rangga menghela napas pendek. Lalu kudanya dihela sekuatnya setelah berpamitan dengan yang lain.

"Eeeh...!" Somadipura yang baru saja berdiri di samping Kencana Wungu terkejut ketika melihat tindakan gadis itu. Dia bermaksud mencegah, namun kuda hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti mencelat cepat.

"Ada apa, Soma?" tanya Kencana Wungu heran.

"Eh, tidak ada apa-apa...," sahut pemuda itu seraya tersipu malu.

"Hm," gumam Kencana Wungu pelan. "Soma! Ayo antar kami ke tempat gurumu!"

"Eh, iya! Baik...," sahut Somadipura melompat ke belakang laki-laki itu.

Sementara Kemong melompat ke belakang yang lainnya. Tidak lama kemudian, mereka segera memacu kencang kuda-kudanya, meninggalkan tempat ini.

********************

Sementara itu, Rangga merasa sedikit risih berjalan bersama Ambarwati. Semula dia ingin menolak, namun gadis itu langsung melompat ke belakangnya. Di depan orang banyak tadi, mana mungkin dia bisa bersikap keras. Lagipula belum tentu kalau gadis itu menurut. Kalau sampai berkeras maka dia sendiri yang akan malu.

Tidak heran bila selama dalam perjalanan, Rangga lebih banyak membisu. Lebih-lebih ketika kuda yang ditunggangi berlari demikian kencang, hingga menimbulkan takut di hati Ambarwati. Gadis itu memeluk pinggang Rangga. Dan itu sudah cukup membuat Rangga semakin bertambah risih, sehingga terpaksa melambatkan lari kudanya.

"Begitu lebih baik, Kakang. Aku takut sekali. Kuda ini lain daripada kuda-kuda lainnya yang pernah kutemui. Larinya kencang sekali..." keluh Ambarwati.

Rangga tersenyum tanpa menyahut barang sepatah kata pun.

"Kakang...?"

"Hmm...?"

"Eh! Maaf, kalau aku menyebutmu Kakang. Karena... ya, karena kau lebih tua saja dibandingku...."

"Tidak mengapa..." sahut Rangga singkat

"Kakang marah padaku...?"

"Ah, tidak...."

"Jawaban itu tidak tulus, dan seperti berdusta."

Rangga diam saja. Ketika kuda yang ditunggangi berlari kencang, Ambarwati langsung memeluk pinggang Rangga. Dan itu membuat Rangga semakin bertambah risih, sehingga terpaksa melambatkan lari kudanya.

"Begini lebih baik, Kakang. Tadi aku takut sekali. Kuda ini beda dari kuda-kuda lain. Larinya kencang sekali...," ujar Ambarwati seperti berbisik.

"Berarti Kakang marah padaku, bukan?"

Rangga kembali tidak menjawab, tapi malah melompat turun dari tunggangannya. Gadis itu mengikuti dengan wajah masam.

"Kita telah dekat dengan perguruan itu. Setidaknya hati-hati..." ujar Rangga memperingatkan.

Ambarwati memberengut. Tapi, Rangga tidak memperhatikannya. Dan Pendekar Rajawali Sakti kini menajamkan pendengaran dan penglihatannya. Jalan menuju Perguruan Merak Angin agak menanjak. Dan satu-satunya jalan yang sering dilalui adalah lewat undakan tanah yang memang sengaja dibuat. Kalaupun ada jalan lain, itu mesti berputar. Dari situ mereka harus menerobos hutan kecil. Baru kemudian mereka akan bertemu bagian belakang perguruan. Jalan itulah yang agaknya ditempuh saat ini. Agaknya pemuda itu tidak ingin langsung berhadapan, melainkan ingin membuktikan lebih dulu kebenarannya.

"Jalan ini sedikit jauh. Tapi, mungkin lebih aman...," kata Rangga singkat sambil menoleh gadis itu sekilas. Tapi Ambarwati diam saja. "Kau capek?"

Gadis itu menggeleng. Kini mereka telah tiba di depan pagar tinggi yang merupakan bagian belakang perguruan. Rangga memandang tajam dengan wajah curiga. Namun tidak terdengar sesuatu yang mencurigakan.

"Ambar, kau di sini dulu. Aku akan melihat apa yang terjadi di dalam sana," ujar Rangga.

Tanpa meminta jawaban gadis itu, Pendekar Rajawali Sakti telah mencelat ke salah satu cabang pohon. Begitu mendarat ringan di atas pohon Rangga terpaku sejenak, memperhatikan keadaan di dalam perguruan. Lalu dia melompat turun dengan ringan bagai sehelai bulu, melewati pagar kurang lebih setinggi dua tombak. Dengan sedikit gelisah Ambarwati menunggu. Namun tidak lama Pendekar Rajawali Sakti telah muncul kembali. Wajahnya tampak pucat bercampur kesal.

"Kurang ajar! Mereka telah membinasakan semuanya!" desis Pendekar Rajawali Sakti, dengan mendaratkan kakinya di depan gadis itu.

Segera Pendekar Rajawali Sakti melompat ke punggung Dewa Bayu dan hendak menyentaknya. Namun kali ini tidak seperti tadi. Rangga segera menoleh ke arah Ambarwati yang diam saja terpaku. "Ambar, ayo naik...!"

Gadis itu sama sekali tidak menoleh. Sedang Rangga jadi menarik napas panjang. Lalu dia lompat turun.

"Kenapa denganmu, Ambar. Ayo, naik. Kita akan segera pergi dari sini. Bukankah kau ingin ikut denganku?" bujuk Pendekar Rajawali Sakti.

"Kakang, tentu aku hanya memberatkan saja bukan?" tanya gadis itu lirih.

Pemuda itu tersenyum lebar, karena tahu kenapa Ambarwati bersikap seperti itu. "Maaf, pikiranku sedang ruwet. Tapi, bukan berarti aku marah padamu..," desah Rangga.

Gadis itu masih tetap membisu. Kali ini wajahnya tidak tertunduk, tapi memandang Rangga seperti ingin meyakinkan kata-katanya. Dan ketika Rangga tersenyum seraya mengangguk, baru gadis itu ikut tersenyum. Dia segera melompat kebelakang punggungnya ketika Rangga sudah berada di atas Dewa Bayu kembali. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti menghela Dewa Bayu kencang-kencang.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Tiga sosok bayang berkelebat cepat dengan gerakan sulit diikuti pandangan mata biasa. Seolah-olah, mereka tengah melayang terbang. Jelas ilmu meringankan tubuh mereka amat sempurna. Beberapa orang yang sempat berpapasan kontan tersentak kaget.

"Hei, apa itu?!" tanya salah seorang yang berkepala gundul langsung menghentikan langkahnya.

"Apa?!" tanya kawannya dengan wajah bingung.

"Tidakkah kau melihat sesuatu yang berkelebat tadi?" tanya laki-laki berkepala gundul itu.

"Melihat apa? Aku hanya merasakan tiupan angin kencang. Jangan mengigau kau, Temon!"

"Sungguh! Aku seperti melihat orang-orang yang berlari kencang. Jalu!" tegas laki-laki gundul yang dipanggil Temon.

"Hm, sudahlah. Barangkali kampung ini banyak setannya." desis laki-laki yang dipanggil Jalu.

"Hus, kamu ini ada-ada saja!"

Wuuut!

Kembali mereka dibuat terkejut. Kali ini mereka melihat jelas lima orang laki-laki bertubuh besar yang berlari kencang menyusul tiga orang yang tadi berkelebat cepat.

"Apa kataku..!" dengus Temon.

Sementara Jalu hanya bisa mendecak kagum dengan wajah takjub. "Di dunia ini aneh-aneh saja bisa terjadi. Sudah banyak kulihat orang-orang hebat. Tapi, yang satu ini benar-benar luar biasa!" kata Jalu kagum seraya menggeleng beberapa kali.

Apa yang mereka lihat memang amat menakjubkan. Kelima orang yang berlari kencang tadi bergerak amat ringannya. Namun begitu, belum juga mampu menyusul ketiga orang yang hendak dikejar. Bahkan lambat laun, mereka kehilangan jejaknya. Dan hal itu jelas membuat mereka menjadi kesal bukan main.

Kini kelima orang itu menghentikan larinya. Dan kali ini. terlihatlah sosok mereka. Salah seorang dari kelima orang itu adalah wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Sementara, lainnya berusia rata-rata lima puluh tahun.

"Keparat! Kita kehilangan jejak!" dengus laki-laki yang bertubuh gempal dan berjenggot tebal. Senjatanya berupa sebuah golok panjang yang ujungnya bercagak. Melihat ciri-cirinya, kaum rimba persilatan akan segera tahu kalau dia adalah tokoh yang amat disegani di wilayah selatan. Namanya, Ki Rancuh Bustira.

"Apa mungkin mereka tidak merasakan kehadiran kita?" tanya laki-laki berkepala botak, bersenjatakan rantai panjang yang melilit di pinggangnya. Dia pun berasal dari wilayah selatan dan termasuk jajaran tokoh silat yang amat disegani. Orang mengenalinya sebagai Ki Kala Gemet.

"Sudah pasti! Kalau tidak, mana mungkin mereka akan diam saja!" sahut laki-laki berkulit hitam. Tubuhnya sedikit kurus dengan mata cekung. Sepintas badannya terlihat lemah. Namun sesungguhnya memiliki kepandaian yang setara dengan keempat kawannya. Di wilayah barat, dia amat disegani. Dan di wilayah itu pula dia dikenal dengan nama Ki Manuk Bedong.

Sementara laki-laki yang bertubuh agak bungkuk dan berambut telah penuh uban itu hanya terdiam sambil mendecah kesal beberapa kali. Laki-laki ini dengan busur dan anak panahnya telah malang melintang di delapan penjuru angin. Anak panahnya jarang luput dari sasaran. Makanya, jarang tokoh persilatan yang tak mengenal Ki Danang Mangun.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya satu-satunya wanita dalam rombongan ini. Namanya, Nyai Manik Sari.

Yang lainnya terdiam. Dan perlahan-lahan Nyai Manik Sari menoleh ke arah Ki Danang Mangun, orang tertua di antara mereka.

"Di sini ada dua jalan yang memungkinkan. Ke utara terdapat Perguruan Kinjeng Loreng. Sedang di timur ada Perguruan Kupu-Kupu Perak. Mereka pasti menuju salah satu perguruan itu," sahut Ki Danang Mangun.

"Hm.... Kalau begitu, lebih baik kita bagi tugas," usul Ki Rancah Bustira.

"Itu usul yang baik. Kalau Nyai Manik Sari setuju, kami akan menuju ke tempat Nyai Kundia yang mengetuai Perguruan Kupu-Kupu Perak. Sedang yang lain menuju tempat Ki Abiasa, Ketua Perguruan Kinjeng Loreng!" kata Ki Manuk Bedong.

"Begitu pun bagus!" timpal Ki Danang Mangun.

"Tapi, ingat! Bila di salah satu tujuan ternyata mereka tidak ada, maka yang lain harus menyusul ke tujuan kedua," kata Nyai Manik Sari.

Tampaknya keempat orang itu mengangguk setuju.

"Hm... Kalau demikian, sebaiknya kita lekas bergerak. Jangan sampai mereka membuat korban lebih banyak lagi!" Ki Rancuh Bustira agaknya sudah tidak sabar betul.

"Hm... Aku sudah tidak sabar ingin melumat mereka!" dengus Ki Kala Gemet, geram.

"Hati-hatilah. Jangan bertindak gegabah, orang-orang Pulau Ular memiliki kepandaian hebat!" ingat Nyai Manik Sari. "Jangan bertindak gegabah dan memandang enteng lawan."

"Sudah! Sudah! Ayo, cepat kita berangkat!" sahut Ki Danang Mangun, langsung melesat cepat diikuti kedua kawannya.

Bersamaan dengan itu. Nyai Manik Sari dan Ki Manuk Bedong telah pula bergerak ke arah yang berbeda, sesuai kesepakatan.

********************

EMPAT

Hari belum sore ketika dua sosok anak muda tiba di Desa Sendang Sari. Beberapa anak muda desa itu sempat melirik. Bahkan ada yang mencoba menarik perhatian gadis yang berjalan bersama pemuda berbaju rompi putih itu. Namun sedikit pun gadis itu tidak peduli.

"Hm.... Sudah seharian kita mencari jejak mereka. Namun sampai kini belum juga bertemu...," gumam pemuda yang berbaju rompi putih itu.

"Kakang Rangga! Sebaiknya kita lebih sering bertanya pada orang-orang," usul gadis berwajah cantik yang duduk di belakang pemuda yang menunggang kuda hitam. Dan dia tak lain dari Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

"Terlalu banyak pembunuhan yang mereka lakukan..." desah Rangga.

"Persis seperti saudara seperguruannya, si Dewi Tangan Darah itu, bukan?" tanya gadis yang tak lain Ambarwati.

Rangga mengangguk. Sementara Ambarwati terdiam beberapa saat.

"Kau lapar, Ambar?" usik Pendekar Rajawal Sakti. Dengan ekor matanya, dia melirik Ambarwati.

Gadis itu tersenyum malu.

"Baiklah. Kita mampir dulu di kedai itu. Siapa tahu di sana ada keterangan yang bisa didapat..," tunjuk Rangga ke sebuah kedai yang tidak jauh di depan.

Seketika Pendekar Rajawali Sakti menggebuk kudanya, untuk lebih cepat sampai di depan kedai. Dan Rangga langsung melompat turun, begitu menarik tali kekang kudanya, saat tiba di depan kedai Ambarwati bergegas turun mengikuti. Setelah menambatkan kuda, kedua anak muda ini melangkah masuk ke dalam, dan disambut dengan pandangan menyelidik dari beberapa pengunjung kedai.

Kebanyakan dari mereka mendecah kagum, melihat kecantikan gadis yang bersama Pendekar Rajawali Sakti. Namun melihat senjata yang dibawa kedua anak muda itu, hati mereka yang coba berniat iseng jadi ciut juga. Namun, rupanya ada juga seorang laki-laki brangasan yang bergerak menghampiri.

"He he he...! Gadis Manis. Lebih baik kau duduk saja di sini!" kata laki-laki itu langsung menangkap pergelangan tangan Ambarwati yang hendak duduk bersama Rangga.

"Hei, kurang ajar!" sentak Ambarwati garang dengan mata melotot lebar.

"He he he...! Kau galak juga rupanya, Cah Ayu!" Orang bertubuh gemuk bercambang bawuk tebal itu bukannya menghentikan perbuatannya. Malah dia semakin berani hendak menangkap pinggang gadis itu.

Namun sebelum tangan laki-laki itu sempat berbuat usil, secepat kilat Rangga menangkap pergelangan tangannya. Seketika laki-laki gemuk itu mendengus gusar. Bahkan kepalan tangan kirinya menghantam ke muka Rangga. Bersamaan dengan itu pergelangan tangan kanannya yang dicekal Rangga segera ditariknya.

"Hiiih!" Dengan tangkas Rangga menahan tangan kiri yang bergerak ke arahnya. Sedangkan telapak tangan kanannya langsung mencengkeram kuat-kuat.

Plak! Tap!

"Uhhh...." Laki-laki gemuk itu mengeluh kesakitan. Namun, dia masih terus berusaha berontak. Sementara Rangga memperkuat cengkeramannya.

"Aaakh...!" Kembali laki-laki gemuk itu menjerit kesakitan. Buku-buku jarinya berderak patah. Tubuhnya meringkuk dan bergetar hebat. Namun, Rangga tidak juga melepaskan cengkeramannya.

"Bocah Setan, lepaskan dia...!"

Mendadak kedengaran bentakan keras, yang disusul berkelebatnya seseorang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Rupanya kawan laki-laki gemuk itu mengirimkan satu tendangan keras ke arah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti yang menangkap sekelebatan bayangan itu, langsung bergerak cepat. Sambil tetap mencengkeram kaki kanannya menyambut tendangan orang itu.

Plak!

Dan dengan kecepatan yang sulit diimbangi, ujung kaki Pendekar Rajawali Sakti terus bergerak menghantam.

Des! "Aaakh...!" Bruaaak!

Orang itu kontan terjungkal sambil menjerit kesakitan. Seketika tubuhnya menimpa beberapa buah meja dan kursi hingga hancur berantakan.

"Kurang ajar...!"

Para pengunjung kedai lainnya mendengus geram. Mereka memandang pemuda berbaju rompi putih itu dengan sorot mata mengandung ancaman.

"Hei, Bocah! Apa kau ingin pamer kekuatan di sini?!" bentak salah seorang yang merasa terganggu selera makannya.

"Kisanak! Apakah tidak melihat! Orang inilah sesungguhnya mengganggu kami. Apakah aku harus mendiamkannya saja?" sahut Rangga enteng, tanpa melepaskan cengkeramannya.

"Aduuuh, lepaskan! Lepaskan...!" teriak laki-laki gemuk itu kesakitan.

"Huh!" Rangga mendengus geram. Langsung didorongnya tubuh laki-laki gemuk itu sampai terjajar dan menghantam sebuah meja lain.

Bruaaak!

"Bangsat!" maki pengunjung kedai yang duduk di situ.

Tangan pengunjung kedai ini segera menghantam tubuh laki-laki gemuk. Akibatnya, tubuh gemuk itu kembali terpental ke sudut yang lain.

Sambil merapikan baju, pengunjung kedai berkumis tipis itu berdiri tegak memandang pemuda yang dianggap telah membuat ulah. "Hm.... Apakah dengan membawa-bawa pedang dan pamer kehebatan, kau kira bisa berbuat seenaknya di sini? Kalau kau memang hebat, ayo keluar! Tunjukkan padaku kehebatanmu!" dengus laki-taki berkumis tipis yang mejanya berantakan kehantam tubuh laki-laki gemuk tadi. Dia segera melangkah lebar, keluar dari kedai ini.

"Kakang...." Wajah Ambarwati kelihatan mulai cemas. Paling tidak kekhawatiran gadis itu beralasan. Karena hampir separuh dari pengunjung kedai ini, kemudian keluar mengikuti laki-laki berkumis tipis yang menyandang pedang di punggungnya itu. Bahkan yang lainnya satu persatu beranjak dan ingin menyaksikan tontonan yang bakal menarik.

Mau tidak mau Rangga terpaksa mengikuti. Kakinya melangkah lebar menyusul diikuti Ambarwati. Sementara laki-laki berkumis tipis dan berbaju serba hitam itu telah menunggu dengan tatapan tajam sambil berkacak pinggang.

"Bocah Bau Kencur! Lagakmu selangit seperti merasa hebat sendiri. Ayo, cabut pedangmu dan tunjukkan kebisaanmu!" bentak laki-laki itu garang.

Rangga menepis tangan Ambarwati. Kemudian melangkah, dan berhenti pada jarak lima langkah di depan laki-laki berkumis tipis ini. "Kisanak! Aku tidak mencari urusan kalau tidak terpaksa. Dan aku tidak bermaksud pamer kekuatan. Kalau saja orang itu tidak mengganggu adikku, mana mungkin aku menghajarnya. Sementara, kau tersinggung dan menantangku. Berarti kau memang setuju dengan perbuatan orang itu?" tanya Rangga, kalem.

"Tidak usah banyak mulut! Jelas, apa yang kau lakukan membuat gemas semua pengunjung kedai. Dan kau bermaksud mengelak pula. Hei Bocah! Gagak Lumayung bisa saja mengampunimu, asal kau merangkak dan mencium kakiku tiga kali sambil memohon ampun!" sahut laki-laki berkumis tipis yang mengaku bernama Gagak Lumayung.

Mendengar itu mereka yang berada di sekitarnya tertawa mengejek.

"Ha ha ha...! Baru tahu rasa dia! Lagaknya selangit. Dan sekarang, kena batunya!" teriak satu suara.

"Ayo, merangkak dan cium kakinya!" timpal yang lain.

"He he he...! Dasar pengecut! Dikira semua orang bisa digertak dengan kepandaiannya ya setahi kuku itu!" teriak yang lain.

Rangga mendengus dingin. Lalu dipandangnya lelaki di hadapannya dengan tajam. Rasanya kesabarannya pun ada batasnya. "Kisanak! Kau yang memulai semua ini. Silakan...."

"Huh!" Gagak Lumayung mendengus geram. Kemudian tubuhnya melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. "Yaaat..!"

"Hup!" Rangga cepat bergerak menangkis serangan kepalan tangan Gagak Lumayung yang mengarah ke muka. Kemudian tubuhnya sedikit miring ke kiri, ketika laki-laki berkumis tipis itu menyusuli dengan pukulan ke dada.

Gagak Lumayung agaknya penasaran betul. Seketika kakinya melepaskan tendangan kilat dua kali berturut-turut ke arah rahang dan leher. Namun dengan pengerahan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' Rangga cepat mengegoskan kepala. Bahkan dia segera balas menyerang melepaskan satu pukulan ke arah perut.

"Yeaaat!"

Serangkum angin kencang menderu kencang ke arah Gagak Lumayung. Mendapat serangan balasan ini, laki-laki berkumis tipis itu terkejut juga. Cepat bagai kilat, dia melompat gesit ke samping. Namun, tendangan kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti cepat bergerak mengikuti. Maka dicobanya untuk menangkis dengan tangan kiri.

Plak!

"Uhhh...!" Laki-laki berpakaian serba hitam itu mengeluh kesakitan merasakan nyeri dan linu ketika berbenturan tadi. Belum lagi dia sempat menguasai diri, mendadak Rangga mencelat menyambar ke arah leher. Cepat-cepat Gagak Lumayung menunduk dengan tubuh bergerak ke kanan untuk menghindarinya.

Wuuut!

Tendangan pertama Pendekar Rajawali Sakti berhasil dihindari Gagak Lumayung. Tapi, tubuh Rangga terus berputaran dengan kedua kaki ikut terayun. Dan gerakan ini memang tidak diperhitungkan Gagak Lumayung. Akibatnya....

Desss! "Aaakh...!"

Telak sekali dada Gagak Lumayung terhantam tendangan Rangga. Seketika dia menjerit tertahan dengan tubuh terhuyung-huyung ke belakang.

Rangga sendiri tidak meneruskan serangan. Dia berdiri tegak sengaja tidak mengejarnya. Pendekar Rajawali Sakti seperti memberi kesempatan pada lawan untuk kembali bersiap.

"Bangsat...!" Gagak Lumayung mendengus geram. Sorot matanya liar dan wajahnya berkerut menahan amarah. Tampak sekali dia sangat penasaran dapat dihajar lawan.

Sring!

"Cabut pedangmu! Dan, tahan seranganku ini!" lanjut Gagak Lumayung garang sambil mencabut pedang.

"Pedangku belum waktunya digunakan...!" sahut Rangga kalem.

"Sombong! Huh! Aku tidak peduli apakah kau bertangan kosong atau tidak. Jangan salahkan kalau celaka!"

Rangga tersenyum sinis. Dan dia masih berdiri tegak saat Gagak Lumayung melompat menyerang.

"Heaaat...!" Wuuuk! Wuuuk!

Pedang di tangan Gagak Lumayung mengurung Pendekar Rajawali Sakti dengan ketat! Kilatan sinarnya seperti menyambar ke seluruh permukaan tubuh Rangga.

Sementara orang-orang yang menonton pertarungan berdecak kagum melihat permainan pedang laki-laki berbaju serba hitam itu. Mereka menduga, dalam waktu singkat, pemuda berbaju rompi putih itu pasti akan celaka. Tapi, Rangga telah bertekad tidak akan memberi hati lagi pada laki-laki berkumis ini. Dengan manis Pendekar Rajawali Sakti selalu mampu mengelak dari setiap sambaran pedang dengan tetap menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya terus bergerak lincah diiringi gerakan kedua kaki dan tangannya. Dan kini keadaan menjadi terbalik. Orang-orang mulai menahan napas, karena sedikit pun ujung senjata Gagak Lumayung tak mampu menggores permukaan kulit pemuda berbaju rompi putih itu.

"Hiyaaa..!" Mendadak saja Rangga membentak nyaring. Tubuhnya melenting ke atas. Sementara Gagak Lumayung langsung mengejarnya dengan senjata berputar menanti kelengahan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, tiba-tiba Rangga bergerak cepat dan seperti lenyap dari pandangan. Lalu....

Tap!

Gagak Lumayung tersentak ketika mendadak aja pergelangan tangannya tercekal. Dia bermaksud berontak, namun tangannya terasa lemas bukan main. Bahkan tahu-tahu pedangnya lepas dari genggaman. Dan belum sempat dia berpikir lebih jauh, satu tendangan keras mendarat di dadanya.

Begkh! "Aaakh!"

Gagak Lumayung kontan terjungkal dan menjerit keras. Dengan wajah berkerut menahan rasa sakit dia berusaha bangkit. Namun, tahu-tahu lehernya terasa tertekan oleh ujung pedangnya sendiri yang kini berada dalam genggaman Pendekar Rajawali Sakti.

"Apakah cara ini yang kau inginkan...?" tanya Pendekar Rajawali Sakti dingin.

"Eh, ekh...." Gagak Lumayung jadi salah tingkah sendiri. Tidak terasa jantungnya berdegup kencang dan keringatnya mulai mengucur perlahan membasahi tubuh. Pikirannya kosong tidak menentu. Karena yang ada di dalam benaknya hanya satu pertanyaan, apakah pemuda ini akan terus meneruskan ujung pedang itu hingga menembus tenggorokannya, atau tidak?

"Hua ha ha... Dasar Gagak Lumayung Sinting! Agaknya kali ini kau kena batunya. Kau bertindak tanpa periksa, siapa lawan sesungguhnya!" Mendadak saja terdengar satu suara disertai tawa nyaring. "Hei, Kampret Sok Jago! Tidak tahukah kau bahwa pemuda itu adalah si Pendekar Rajawali Sakti?!" lanjut suara itu.

"Heh?!"

"Apa?!" Gagak Lumayung dan lainnya terkejut ketika mendengar julukan Pendekar Rajawali Sakti disebut. Langsung dipandangnya pemuda berbaju rompi putih itu dengan seksama.

Sementara Rangga melemparkan pedang yang digenggamnya, dan mendarat tepat di ujung kaki Gagak Lumayung. Kemudian kepalanya berpaling memandang laki-laki tua bertubuh kecil dengan rambut pendek awut-awutan yang baru saja mencelat mendekatinya. Di tangan kanannya tergenggam batang tongkat pendek berwarna hitam. Dialah yang tadi bersuara.

"Salam hormatku padamu. Orang Tua. Matamu sungguh jeli...!" sahut Rangga disertai senyum manis.

"Hei?! Siapa yang tidak kenal Pendekar Rajawali Sakti? Selain memiliki kepandaian hebat, dia juga terkenal murah hati. Apalagi terhadap seorang gembel kelaparan seperti ku ini!" oceh orang tua itu sambil tersenyum lebar.

"Hm ... Kalau begitu, kebetulan sekali. Mari, Kisanak. Kuundang kau makan bersama kami. Sekalian aku terpaksa mengganti kerusakan perabotan kedai ini yang rusak tidak sengaja," sahut Rangga, mengajak orang tua itu ke dalam kedai. Sementara Ambarwati mengikuti di samping kanan pemuda itu.

Orang tua itu terkekeh-kekeh kecil. Dan dia segera memesan segala makanan yang enak-enak dalam porsi yang cukup banyak. Rangga hanya tersenyum, sementara Ambarwati menggeleng sambil mendecah kesal.

"Kisanak. Kalau boleh tahu, siapakah kau ini...?" tanya Rangga di sela-sela kesibukan orang tua itu mengunyah makanan.

"He he he...! Apakah itu perlu?"

"Paling tidak aku tidak memanggilmu sesuka hatiku," sahut Rangga.

"Ha ha ha...! Pintar kau bicara. Bocah. Tapi apa Ki Sangga Langit punya arti di hadapan Pendekar Rajawali Sakti...?" tanya orang tua bernama Ki Sangga Langit, merendah.

"Ah! Kalau demikian, Kisanak adalah orang tua yang amat mengagumkan dari wilayah timur itu. Nama besarmu telah membuat mataku silau, dan selalu ingin bertemu denganmu!" seru Pendekar Rajawali Sakti, juga merendah.

"He he he...! Apalah artinya namaku dibanding nama besarmu?" Ki Sangga Langit kembali ketawa lebar. Namun mendadak terlihat matanya mendelik. "Tapi kau harus hati-hati!"

"Hati-hati kenapa?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, tak mengerti.

"Ada orang-orang hendak merontokkan nama besarmu!"

"Hm, siapa mereka?"

"Apakah kau betul-betul tidak tahu?" Rangga menggeleng. Wajahnya dibuat sedemikian rupa, agar terlihat benar-benar terkejut.

Orang tua itu mendekatkan jarak, sehingga wajahnya sedikit disorongkan ke muka. "Orang-orang itu...," kata Ki Sangga Langit dengan suara perlahan sekali.

Rangga jadi mengerutkan dahi. Pendekar Rajawali Sakti memang pernah mendengar nama Ki Sangga Langit walaupun tak pernah bertemu orangnya. Berita yang didengarnya mengenai watak orang tua aneh yang bernama Ki Sangga Langit ini agaknya tidak berlebihan. Dan ini terbukti dengan sendirinya.

Entah apa yang menyebabkannya demikian. Tapi sedikitnya, orang tua ini pasti tidak waras. Meski, terkadang ucapannya terbukti. Dan yang lebih aneh lagi, dia akan marah jika lawan bicaranya menanggapi segala ucaapannya dengan main-main. Dan kalau sudah begitu, tidak ada ampun lagi. Dia akan segera menghajar lawan bicaranya habis-habisan.

Namun bila lawan bicaranya bersikap seperti apa yang diinginkannya, yakni menanggapi ceritanya dengan penuh perhatian, maka orang tua ini akan merasa senang betul. Pendekar Rajawali Sakti barangkali tidak takut dengannya. Karena paling tidak, dia tidak ingin mencari urusan.

Dan memang tidak ada salahnya menyenangkan hati orang tua ini, dengan memperlihatkan wajah kesungguhan dalam menyimak ceritanya, meski dalam hati sedikit geli. Bahkan lambat laun Ambarwati pun mulai merasakannya Rangga memberi isyarat agar gadis itu tidak tertawa atau tersenyum-senyum.

"Orang-orang mana...?" tanya Rangga dengan suara halus sekali.

"Betul-betul kau tidak tahu?"

Rangga menggeleng.

"Orang-orang Pulau Ular?"

Pendekar Rajawali Sakti kembali menggeleng pura-pura tidak tahu.

"Tiga orang dari mereka telah datang ke daratan ini, dan mencarimu. Hati-hati. Mereka berkepandaian tinggi dan senantiasa menggunakan senjata rahasia yang amat beracun!"

"Hm..., begitukah? Aku tidak akan melupakan budimu, Ki. Terima kasih! Terima kasih...!" bisik pemuda itu kembali.

"Husss! Tunggu dulu! Mereka kini berada di utara...?"

"Utara? Tempat siapa...?"

"Apakah kau betul-betul tidak tahu?"

Rangga kembali menggeleng.

"Abiasa! Ketua Padepokan Kinjeng Loreng itu pasti akan binasa!"

"Astaga! Kalau begitu, aku harus cepat-cepat ke sana. Kasihan mereka!" Rangga hendak bangkit berdiri, namun orang tua itu langsung menangkap pergelangan tangannya.

"He, tunggu dulu...!"

"Ada apa, Ki Sangga Langit?"

"Kau yakin bisa mengalahkan ketiga orang itu?"

"Akan kucoba!"

"Hus! Jangan begitu! Mereka sangat hebat dan memiliki senjata-senjata beracun. Kau akan celaka bila menghadapinya seorang diri!"

"Lalu, apakah kau hendak membantuku?"

"Enak saja!" desis si Orang Tua dengan wajah gusar. "Mereka mencarimu. Maka kau harus menghadapinya seorang diri. Bukankah aku telah menunjukkan tempat mereka? Nah! Ayo, hadapi dan gajar mereka!"

"Ya, ya. Aku akan menghajarnya!" kata Rangga.

"Itu baru jawaban seorang pendekar!" Ki Sangga Langit langsung mengacungkan jempol. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak, seraya meninggalkan kedai begitu saja tanpa pamit. "Ha ha ha...! Terima kasih, Bocah. Hati-hatilah..."

Rangga menarik napas lega, kemudian tersenyum sambil menggeleng lemah.

"Dasar orang gila...!" gumam Ambarwati. "Dan yang diajak bicara pun sama gilanya!"

"Siapa? Kau mengatakan aku gila?!" dengus Rangga sambil melotot ke arah gadis itu.

Ambarwati terkejut dan cepat menundukkan wajah. Namun pemuda itu malah tertawa girang. "Sudahlah. Aku hanya bercanda. Ayo, kita harus buru-buru menuju utara sebelum mereka membantai perguruan itu," ajak Rangga bergegas bangkit. Setelah membayar semua harga makanan dan menggantikan kerusakan barang-barang akibat keributan tadi, mereka segera meninggalkan tempat ini.

********************

LIMA

Padepokan Kinjeng Loreng terletak di sebuah bibir tebing dengan jurang-jurang dalam yang menganga lebar. Alamnya pun tidak bersahabat. Selain penuh bebatuan, tanahnya pun gampang longsor. Apalagi, banyak ular yang amat berbisa. Bila salah melangkah, tidak mustahil akan tergelincir ke dalam jurang. Atau, terpatuk ular hingga binasa dalam waktu singkat.

Jalan menuju padepokan itu pun berkelok, dan terus menanjak. Di kanan kiri tebing pun ditumbuhi semak-semak berduri yang bergerumbul. Sehingga merupakan penyamaran bagus bagi jurang-jurang yang tersembunyi, atau lobang-lobang besar yang menganga dan tembus ke perut bumi.

Agaknya, Ki Abiasa yang merupakan Ketua Padepokan Kinjeng Loreng pun bukannya tidak sengaja menempatkan padepokannya di situ. Semasa mudanya, wataknya terkenal keras dan pantang menyerah. Dan dia berharap murid-muridnya menurunkan wataknya. Dengan ditunjang keadaan alam yang tidak ramah, akan semakin memperkuat watak keras murid-muridnya. Tak ada tempat bagi mereka yang lemah, karena akan binasa sebelum mencapai padepokannya. Hanya mereka yang berwatak keras dan berhati tabah saja yang mampu tiba di sana.

Sesungguhnya padepokan milik Ki Abiasa itu amat terkenal di kalangan persilatan. Murid-muridnya tangguh dan tidak kenal kompromi terhadap lawan-lawannya. Dengan mengandalkan ilmu silat tangan kosong, banyak muridnya yang telah membawa nama harum bagi padepokan ini.

Sementara tiga sosok bayangan tampak melesat kencang ke arah padepokan itu. Mereka sama sekali tidak menemui kesulitan untuk mendaki tebing terjal. Sedikit pun mereka tak pernah mengurangi kecepatan. Seolah alam yang tidak menguntungkan itu sama sekali bukan hambatan. Sehingga sebentar saja tiga sosok bayangan itu telah tiba di depan Padepokan Kinjeng Loreng.

Salah satu sosok itu tampak berdiri dengan kedua kaki menentang. Sebentar dia menarik napas dalam-dalam dengan tangan membuat gerakan saling bersilangan. Agaknya, dia tengah mengeluarkan tenaga dalam ke tangannya. Dan ketika kedua tangannya berada di sisi pinggang....

Wuuut! Bruaaak!

Tanpa basa-basi lagi, orang itu menghantam pintu gerbang padepokan hingga hancur berantakan. Akibatnya, murid-murid padepokan yang ada di dalamnya kontan kaget setengah mati.

"Bangsat! Siapa kalian..?!" bentak salah seorang murid dengan nada lantang.

Ketiga orang yang baru muncul ini tersenyum sinis. Lalu salah seorang maju dua langkah seraya menuding sinis. "Panggil guru kalian!"

"Setan! Apa hakmu menyuruhku? Datang tanpa diundang, tahu-tahu membuat kekacauan. Heh! Sebaiknya lekas pergi sebelum semua murid di sini menghajar kalian!" desis murid itu geram.

Apa yang dikatakan murid itu memang tidak berlebihan. Karena dalam waktu singkat, semua murid Padepokan Kinjeng Loreng telah berkumpul. Bahkan rata-rata menunjukkan sikap tidak senang atas kehadiran ketiga orang yang tidak sopan ini.

"Hi hi hi...! Tikus-Tikus busuk tidak tahu diri! Sebaiknya menyingkir, dan panggil gurumu. Katakan padanya kalau para penghuni Pulau Ular ingin bertemu!" sentak seorang wanita yang mengaku sebagai penghuni Pulau Ular.

Dan memang, ketiga orang ini adalah penghuni Pulau Ular yang tengah membuat kekacauan di mana-mana dengan maksud mencari Pendekar Rajawali Sakti. Siapa lagi ketiga orang ini kalau bukan Ki Kolo Denowo, Ki Sanca Ireng, dan Nyi Ayu Supraba.

"Bangsat! Agaknya kalian memang perlu diberi pelajaran!" geram murid yang berada paling depan.

Agaknya murid itu sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Langsung dia melompat menghajar Nyi Ayu Supraba. "Yeaaat!"

"Huh!" Nyi Ayu Supraba hanya mendengus sinis, namun sama sekali tidak bergeming menghadapi tendangan murid padepokan ini. Lalu dengan kedua tangannya, ditangkisnya serangan itu.

Plak!

Dan bersamaan dengan itu, tangan Nyi Ayu Supraba cepat bergerak kembali ke arah dada. Begitu cepat gerakannya sehingga....

Desss...! "Aaakh...!"

Murid ini kontan memekik kesakitan. Tubuhnya terjajar sambil mendekap dadanya yang remuk, lalu mulutnya tampak muncrat darah segar. Begitu ambruk di tanah dia tewas seketika.

"Heh?!"

"Kurang ajar!"

Beberapa orang murid padepokan tersentak kaget dan menggeram marah. Serentak lima orang langsung melompat menyerang dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Yeaaa...!"

Namun kini Nyi Ayu Supraba tidak bertindak kepalang tanggung lagi. Langsung disambutnya serangan para murid padepokan itu dengan hantaman pukulan jarak jauh yang bertenaga kuat. Seketika mendesir angin kencang bukan main membuat kelima orang itu tersentak kaget. Namun, mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Karena....

Des! Bugh! "Aaa...."

Kelima orang itu kontan terpental sambil memuntahkan darah segar begitu dada mereka terhantam pukulan Nyi Ayu Supraba. Begitu ambruk di tanah, tubuh mereka tidak bergerak sedikit pun. Mati...

"Bangsat Terkutuk! Kalian harus mampus untuk menebus dosa-dosa kalian!" geram murid-murid Padepokan Kinjeng Loreng, semakin geram dan penuh amarah. Tanpa menunggu perintah lagi, seluruh murid langsung mengepung dan menyerang ketiga penghuni Pulau Ular dengan serentak.

"Yeaaat!"

Bersamaan dengan itu pula, Ki Kolo Denowo dan Ki Sanca Ireng bergerak cepat. Sambil tertawa lebar, mereka memapak serangan-serangan yang datang.

"He he he...! Keledai-Keledai Busuk yang ingin mampus! Terima kematian kalian!" "Heaaat..!"

Desss! Bruaaak! "Aaa...!"

Seperti Nyi Ayu Supraba, Ki Kolo Denowo dan Ki Sanca Ireng bertindak tidak kepalang tanggung. Boleh jadi murid-murid Padepokan Kinjeng Loreng memiliki ilmu silat hebat dan tenaga kuat. Tapi yang dihadapi sekarang ini bukanlah tokoh sembarangan. Mereka adalah manusia-manusia kejam yang berkepandaian amat tinggi. Sehingga bagaikan sekumpulan nyamuk yang berduyun-duyun mendatangi perapian, satu persatu mereka terjungkal dan tewas dihantam pukulan tokoh-tokoh hitam yang amat mengerikan ini. Jerit kematian saling susul-menyusul diiringi ambruknya sosok-sosok tubuh dengan luka mengenaskan!

"Cukup! Hentikan pembantaian ini...!"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara berkumandang lantang, karena diiringi tenaga dalam tinggi.

"Hmmm...."

Pertarungan telah terhenti. Sementara semua murid yang tersisa menyingkir, ketika seorang laki-laki tua berjanggut tebal dan memakai baju rompi hitam berdiri tegak di beranda depan. Perlahan-lahan mereka memberi hormat, ketika orang tua gagah itu melangkah mendekati ketiga tamu tak diundang yang telah membuat keonaran.

"Guru..., mereka datang tiba-tiba dan menghancurkan pintu gerbang. Kakang Randu berusaha memperingatkan, namun mereka membunuhnya dengan kejam. Jadi..."

Belum lagi habis kata-kata salah seorang muridnya, orang tua itu telah mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk diam. Orang tua itu berhenti pada jarak empat langkah dari ketiga tamunya. Matanya memandang mereka dengan sorot tajam. Terasa dari tatapannya kalau dia tidak suka pada ketiga orang yang mengaku penghuni Pulau Ular ini.

"Aku Abiasa, ketua padepokan ini. Dan apa yang kalian inginkan, sehingga membunuhi murid-muridku dengan kejam?" tanya orang tua yang memang Ki Abiasa.

Ki Kolo Denowo maju ke depan, langsung menuding sinis. "Katakan pada kami, di mana Pendekar Rajawali Sakti! Orang-orang Pulau Ular hendak memenggal batok kepalanya!" sahut Ki Kolo Denowo lantang.

"Hm.... Itu bukan urusanku. Aku bahkan tidak kenal dengan Pendekar Rajawali Sakti. Dan semua kalangan silat tahu hal itu. Lalu, kenapa kalian mencarinya ke sini?" dengus Ki Abiasa.

"Tidak peduli apa alasanmu! Kau harus menunjukkan. di mana bangsat itu berada!" desis Nyi Ayu Supraba.

"Nyisanak! Boleh saja kau berkata begitu. Tapi, ingat! Ini wilayah kekuasaanku. Dan kalian telah berbuat seenaknya Mestinya, kalian harus terima hukuman dariku!"

"Puiiih! Segala Keledai Dungu sepertimu mau macam-macam?!" dengus Ki Sanca Ireng geram.

"Orang-orang Pulau Ular memang sudah terkenal mau menang sendiri dan memandang rendah orang lain. Heh! Semua orang boleh takut pada kalian! Tapi, jangan harap aku akan gentar mendengar nama itu!" balas Ki Abiasa.

"Tidak usah banyak mulut! Majulah! Dan, tunjukkan kebisaanmu!" sahut Ki Sanca Ireng menantang.

"Hm...." Geraham Ki Abiasa bergemeletuk mendengar tantangan ini. Matanya memandang tajam ke arah Ki Sanca Ireng "Kau yang memulai. Silakan!"

"Heaaat..!" Ki Sanca Ireng agaknya tidak mau buang-buang waktu lagi. Langsung tubuhnya mencelat menerjang Ki Abiasa. Sementara Ki Abiasa pun menyambut dengan mantap.

Plak! Wuuut!

Tendangan Ki Sanca Ireng ditangkis kibasan tangan kiri Ketua Padepokan Kinjeng Loreng itu. Namun tangkisan itu justru membuat Ki Abiasa mengeeluh sendiri karena tangannya terasa seperti menangkis batang besi. Padahal tenaga dalamnya telah dikerahkan pada tingkat tertinggi. Dan dia memang sadar kalau orang-orang Pulau Ular bukanlah tokoh sembarangan.

Kini Ki Sanca Ireng menyusuli dengan sodokan kepalan tangan kanannya ke ulu hati. Maka cepat bagai kilat Ki Abiasa bergerak ke samping menghindarinya. Namun, orang bertubuh gempal itu telah melepaskan hantaman pukulan jarak jauh yang bertenaga kuat ke arah Ketua Padepokan Kinjeng Loreng itu.

"Yeaaat..!"

Bukan main terkejutnya Ki Abiasa merasakan sambaran angin kencang yang mampu meremukkan tubuhnya. Tubuhnya cepat melenting ke belakang membuat beberapa putaran. Sambil bertindak demikian, dia melepaskan pukulan jarak jauhnya yang bertenaga dalam kuat.

Ki Sanca Ireng mendengus dingin. Dengan cepat tubuhnya bergerak lincah ke atas. Begitu berada di udara, tangan kirinya disorongkan ke arah Ki Abiasa. Seketika, dari tangannya mencelat beberapa ekor ular kecil berbisa ke arah Ketua Padepokan Kinjeng Loreng ini.

Weeer!

"Gila..!" Ki Abiasa mendengus geram dengan bulu kuduk merinding dan wajah pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mulai keluar satu persatu, setelah berhasil menyelamatkan diri dari ular-ular berbisa dengan bergulingan ke arah kiri.

"Shaaah...!"

Sementar Ki Sanca Ireng tidak membiarkannya begitu saja. Langsung dilepaskannya pukulan maut ke arah Ki Abiasa.

"Yaaat!" Ki Abiasa tidak punya pilihan selain memapaki dengan hantaman pukulan jarak jauhnya pula. Sambil menggeram marah, seluruh tenaga dalamnya dihimpun. Dan seketika kedua tangannya disentakkah ke depan. Begitu dari telapak tangannya melesat angin berkesiutan....

Jder!

"Hiyaaat!"

Terdengar ledakan agak keras ketika kedua pukulan mereka beradu. Tubuh Ki Abiasa terlempar ke belakang sambil memuntahkan darah segar. Sementara, Ki Sanca Ireng terus memburunya sambil melepaskan ular-ular kecil peliharannya yang melesat cepat. Begitu cepat gerakan ular-ular itu, sehingga Ki Abiasa tak bisa menghindarinya. Dan....

Crab! Crab!

Ki Abiasa kontan menjerit keras ketika dahi, tenggorokan, jantung, dan perutnya tertancap ular-ular berbisa. Tubuhnya seketika ambruk dan tewas dalam keadaan membiru.

"Setan Alas! Bunuh mereka...!" teriak murid-murid Padepokan Kinjeng Loreng yang tersisa begitu melihat kematian gurunya.

"Yeaaat!"

Serentak mereka menyerang ketiga tokoh hitam itu. Namun yang diserang hanya tersenyum. Bahkan langsung membalas serangan para murid itu.

"Heaaat..!" Begkh! Bleeer! "Aaaa...!"

Dan begitu tiga tokoh hitam ini mengamuk, maka tak ada yang sanggup membendungnya, mereka memang tidak akan tanggung-tanggung melenyapkan lawannya dengan mengumbar pukulan-pukulan maut. Akibatnya, murid-murid padepokan ini terpental ke sana kemari dengan tubuh remuk dan nyawa melayang.

"Ha ha ha...! Ayo, maju cepat! Terima kematianmu...!" teriak Ki Kolo Denowo sambil tertawa girang.

"Hi hi hi...! Keledai-Keledai Dungu ini memang pantas mampus!" sahut Nyi Ayu Supraba diiringi tawa nyaringnya. Namun belum lagi ketiga tokoh hitam ini mengumbar nafsu....

"Setan-setan Pulau Ular, hentikan perbuatan kalian!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang membuat ketiga tokoh hitam ini tersentak kaget. Segera saja mereka menoleh ke arah datangnya suara tadi. Padahal sisa murid-murid padepokan ini tinggal lima orang lagi. Namun Ki Sanca Ireng ternyata masih sempat melepaskan lima ekor ular kecil ke arah mereka, sebelum menoleh ke arah datangnya suara. Akibatnya kelima murid padepokan itu tewas dalam keadaan membiru!

Tiga sosok tubuh melayang ringan di belakang tiga penghuni Pulau Ular pada jarak sepuluh langkah. Mereka tidak lain dari Ki Rancuh Bustira, Ki Kala Gemet, dan Ki Danang Mangun. Orang tua bertubuh sedikit bungkuk dan kepala penuh uban itu maju dua langkah sambil menuding tajam.

"Bangsat-Bangsat Pulau Ular! Perbuatan kalian sudah melewati batas dan amat terkutuk...!" desis laki-laki bungkuk itu geram.

"Monyet Buduk! Siapa kau berani berkata begitu?" sahut Nyi Ayu Supraba seraya berkacak pinggang. Wajahnya tampak berkerut menahan geram.

"Aku Danang Mangun. Dan kedua kawanku ini Kala Gemet dan Rancuh Bustira. Kami mewakili kaum persilatan golongan putih untuk membuat perhitungan dengan kalian!"

"He he he...! Lucu...! Amat lucu. Apa kau kira kepandaianmu sudah setingkat dewa, sehingga berani bicara seperti itu? Hei, Monyet Tua! Lebih baik pulang dan rawat dirimu. Karena siapa tahu, bisa berumur panjang!" ejek Ki Sanca Ireng.

"Bangsat! Kalian memang tidak bisa dikasih hati. Huh! Aku bersumpah akan memenggal kepalamu!" desis Ki Kala Gemet geram.

"Mau apa kau, Botak?! Ke sinilah cepat, biar mudah aku menghajar kepalamu!" sahut Nyi Ayu Supraba sengit.

"Ki Danang! Biar kuhajar wanita iblis ini lebih dulu!" ujar Ki Kala Gemet tanpa menunggu persetujuan orang tua itu.

"Huh!" Nyi Ayu Supraba mendengus dingin. Bahkan masih tetap berdiri tegak, sementara Ki Kala Gemet telah membentak nyaring dan melompat menyerang.

"Yeaaat..!"

Sementara, Ki Sanca Ireng sudah menuding sinis ke arah Ki Danang Mangun. "Hei, Orang Tua! Coba tunjukkan kebisaanmu?!"

"Hm...!" Ki Danang Mangun langsung menggenggam busur. Dia bersiaga penuh untuk menanti serangan. Tapi, Ki Sanca Ireng memang tidak mau membuang waktu lama-lama. Sejurus kemudian, tubuhnya telah melayang ringan menghantam ke arahnya. Persis pada saat itu pula, Ki Kolo Denowo mencelat menyerang Ki Rancuh Bustira.

"Heaaat..!" Wuuut! Bet! Bet!

Ketiga orang tokoh golongan putih ini menyadari kalau orang-orang penghuni Pulau Ular tidak bisa dipandang enteng. Sehingga, mereka tidak sudi bertindak gegabah dan berlaku lengah. Maka tidak heran bila mereka langsung mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Tapi ketiga penghuni Pulau Ular itu sama sekali tidak peduli. Bagi mereka, menghadapi siapa saja selalu sama. Menghabisi lawan secepatnya! Tidak heran kalau mereka terus menyerang bertubi-tubi.

Criiing!

Ki Kala Gemet mulai mengeluarkan senjata rantainya untuk meringkus wanita lawannya. Namun Nyi Ayu Supraba terlalu cerdik untuk masuk ke dalam perangkapnya. Cepat dia melompat ke belakang sambil meloloskan selendangnya.

"Haiiit!" Rrrrt!

"Huh!"Ki Kala Gemet mendengus geram ketika selendang wanita itu melibat rantai besinya. Dengan sekali sentak, dia yakin wanita itu akan terjerembab. Maka saat itulah akan dihabisinya. Namun yang terjadi sungguh membuatnya terkejut. Seketika hidungnya kembang kempis mencium wewangian yang amat menusuk di seputar tempat itu.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan, heh?!" desis Ki Kala Gemet kesal.

Langsung tangan kiri Ki Kala Gemet menyelusup ke balik lipatan ikat pinggangnya. Lalu diambilnya obat pulung dan segera ditelannya.

"Oh, apa ini? Kepalaku terasa berdenyut dan pusing, dan tubuhku lemas sekali..." keluh Ki Kala Gemet sambil memijit-mijit kening dan melangkah terhuyung-huyung. Rupanya obat pulungnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap kekuatan yang terkandung dalam wewangian yang dikeluarkan Nyi Ayu Supraba.

"Yeaaat!"

Belum sempat Ki Kala Gemet bertindak sesuatu, Nyi Ayu Supraba sudah membentak nyaring. Senjata Ki Kala Gemet langsung ditariknya, sehingga lepas dari genggaman. Lalu pada saat yang bersamaan, tendangan kakinya menyusul menghantam ke dada laki-laki ini. Ki Kala Gemet cepat menyadari kalau keadaannya amat parah. Maka dia berusaha menghindar sebisanya, dengan menjatuhkan diri dan bergulingan.

"Yaaat!"

Tendangan wanita itu luput dari sasaran. Namun bersamaan dengan itu, ujung selendang Nyi Ayu Supraba memburu bagaikan kilat ke arahnya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Ctaaar! "Aaakh!"

Ki Kala Gemet hanya bisa memekik tertahan, begitu tubuhnya terhantam ujung senjata Nyi Ayu Supraba. Dalam keadaan masih bergulingan, nyawanya melayang saat itu juga.

"Huh!" Nyi Ayu Supraba mendengus dingin. Sementara itu Ki Danang Mangun dan Ki Rancuh Bustira terkejut bukan main.

Keadaan mereka semakin payah saja, karena kedua lawannya sama sekali tidak memberi kesempatan sedikit pun. Dan dalam keadaan terkejut melihat kematian kawannya, mereka jadi lengah. Dan itu benar-benar dipergunakan sebaik-baiknya oleh dua dari penghuni Pulau Ular itu.

"Yaaat..!"

Ki Kolo Denowo langsung mencabut kampaknya. Tubuhnya segera berkelebat bagaikan kilat ke arah Ki Rancuh Bustira sambil mengayunkan senjatanya. Sedangkan Ki Rancuh Bustira hanya bisa terkesiap. Maka sebisanya menangkis dengan senjata golok bercagaknya.

Trang!

Ki Rancuh Bustira kontan terkejut merasakan tangannya sakit bukan main ketika beradu dengan senjata Ki Kolo Denowo. Bahkan senjatanya nyaris terlepas dari genggaman. Dan belum lagi dia mampu berbuat apa-apa, satu hantaman keras menghantam ke arah dada.

Duk! "Aaakh!" Ki Rancuh Bustira langsung menjerit kesakitan begitu tendangan lawannya mendarat di dada. Tulang dadanya remuk dan darah segar muncrat dari mulutnya. Tubuhnya terjajar beberapa langkah. Sementara Ki Kolo Denowo agaknya tidak diam sampai di situ saja. Kampaknya langsung berkelebat menyambar Ki Rancuh Bustira yang masih terhuyung-huyung.

Wuuut!



Crasss! "Aaakh...!" Kampak Ki Kolo Denowo kontan menebas leher Ki Rancuh Bustira sampai putus! Tanpa dapat bersambat lagi, tubuh Ki Rancuh Bustira ambruk di tanah disertai semburan darah dari lehernya yang hampir buntung.

"Rancuh Bustira...!" Ki Danang Mangun terkejut bukan main melihat keadaan kawannya.

"Yaaat!" Namun Ki Danang Mangun tidak bisa lengah barang sekejap pun, menghadapi serangan Ki Sanca Ireng yang menderu kencang ke arahnya. Orang tua itu mencelat ke atas menghindari, dan langsung melepaskan anak-anak panahnya.

"Iblis Keparat Mampuslah kalian semua...!" bentak Ki Danang Mangun nyaring penuh amarah.

Set! Set!

Seketika anak panah yang dilepaskan Ki Danang Mangun melesat kencang menyerang ketiga lawannya.

"Hup! Yeaaa!" Namun Ki Sanca Ireng mampu menghindari dengan gesit Bahkan balas menyerang dengan melepaskan senjata rahasia berupa ular-ular kecil yang amat berbisa!

"Uhhh...." Ki Danang Mangun jadi terkejut dan cepat nenghindar sambil mengibaskan busur di tangannya. Pada saat yang sama, Ki Sanca Ireng mencelat ke arahnya sambil mengayunkan tongkat aneh dalam genggaman tangan kanannya. Tongkat bersisik yang sesungguhnya terbuat dari seekor ular, yang telah dikeringkan sepanjang enam jengkal itu memiliki racun yang amat ganas.

Bet! Bet!

Ki Danang Mangun melompat ke belakang sambil mendekap hidung dan menghentikan beberapa kali jalan napasnya. Asap tipis yang keluar dari ujung tongkat Ki Sanca Ireng memang menebar bau busuk menyengat. Orang tua itu sadar kalau tempat di sekitarnya telah penuh hawa racun dan membuatnya tidak leluasa bergerak. Sedang saat itu, lawannya semakin hebat menyerang.

"Hiyaaat..!" Dengan gerakan dahsyat, Ki Danang Mangun mengibaskan busur untuk menangkis serangan. Namun terkejut bukan main orang tua itu ketika merasakan hantaman tongkat Ki Sanca Ireng yang keras bukan main. Bahkan sempat membuat busur di tangannya patah. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika uap racun menyembur dari ujung tongkat Ki Sanca Ireng. Untung saja dia cepat menjatuhkan diri sambil bergulingan untuk menyelamatkan diri. Tangannya yang menggenggam erat beberapa anak panah dilemparkan ke arah Ki Sanca Ireng.

"Huh! Yeaaa!" Diiringi dengusan geram, Ki Sanca Ireng mengebutkan tongkatnya. Maka, anak panah Ki Danang Mangun langsung rontok berpentalan begitu tersambar tongkat itu. Dan, pada saat yang bersamaan telapak tangan kirinya menghantam pukulan maut yang bertenaga dalam tinggi

. "Uhhh...." Disertai suara lenguhan, Ki Danang Mangun terus bergulingan menghindari pukulan Ki Sanca Ireng yang mampu membuat kulit tubuhnya panas.

Jder!

Terdengar ledakan dahsyat ketika pukulan Ki Sanca Ireng tak mengenai sasaran. Bongkahan tanah yang terkena pukulan itu kontan hancur beratakan. Meski mampu mencelat menghindari, namun tidak urung desir angin pukulan itu menyesakkan dada Ki Danang Mangun. Dan belum juga Ki Danang Mangun hendak bangkit berdiri, Ki Sanca Ireng telah siap menghajar kembali. Akibatnya, Ki Danang Mangun terkejut bukan main. Jelas kali ini dia pasti tidak akan mampu mengelak. Untung saja....

"Kisanak! Hentikan penbuatanmu!" bentak sebuah suara lantang, sehingga membuat tiga penghuni Pulau Ular tersentak. Bahkan Ki Sanca Ireng langsung menghentikan serangan.

"Hemmm...." Ki Sanca Ireng berpaling ke arah sumber suara dua setengah tombak dari samping kirinya. Demikian juga kedua kawannya.

Dan tahu-tahu, pemuda berbaju rompi putih telah berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Di punggungnya terlihat sebatang pedang berhulu kepala burung. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin. Tidak jauh dari tempat itu, terlihat seorang gadis cantik menunggang kuda bertubuh besar berbulu hitam.

"Siapa kau?!" dengus Ki Sanca Ireng garang

"Bukankah kalian tengah mencari-cariku...?"

"Hem... Jadi kau yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...?!" tanya ketiga penghuni Pulau Ular serentak

"Begitulah orang-orang menjuluki."

"Bagus! Akhirnya kau muncul juga!" desis Ki Sanca Ireng geram.

"Keparat Busuk! Hari ini roh Ayu Puspita Sari akan melihat kematianmu!" timpal Nyi Ayu Supraba.

"Kematian Ayu Puspita Sari adalah kehendaknya. Karena, dia telah berbuat keonaran seperti kalian!" kilah pemuda yang memang Pendekar Rajawali Sakti.

"Huh! Mengocehlah sesuka hatimu! Orang-orang Pulau Ular pantang dihina begitu rupa. Hutang darah, maka harus dibayar dengan darah pula!" lanjut wanita itu.

"Dan hutang darah belasan pendekar serta ratusan murid yang tidak bersalah apa-apa, akan kalian tanggung dengan darah busuk kalian!" sahut Rangga tidak kalah lantang.

"Bocah Busuk! Tidak usah banyak bicara. Bersiaplah untuk mampus!" geram Ki Kolo Denowo seraya melompat mendekati Rangga.

"Yaaat...!" Ki Sanca Ireng sudah langsung menyerang meng-gunakan ular-ular berbisanya. Dan bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat menyusul melepaskan satu tendangan keras.

"Heup!" Pendekar Rajawali Sakti melompat menghindari ularular berbisa yang dilepaskan Ki Sanca Ireng. Sementara dua orang penghuni Pulau Ular lainnya langsung menyerang dengan pukulan-pukulan maut.

"Yeaaat..!" Rangga sadar tidak akan diberi kesempatan sedikit pun untuk menyerang, karena ketiga lawannya bermaksud hendak segera menghabisinya. Tidak heran bila lawan-lawannya telah mengerahkan kemampuannya pada tingkat tertinggi. Dan hal ini membuat Pendekar Rajawali Sakti tidak boleh berlaku ayal-ayalan. Tubuhnya segera mencelat ke sana kemari dengan ringan, mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib.'

Weeer! Bet! Bet!

"Pendekar Rajawali Sakti, hati-hati!" teriak Danang Mangun memperingatkan, ketika Nyi Ayu Supraba mulai mempergunakan selendang mautnya. "Senjata wanita iblis itu amat berbahaya, karena mengandung racun yang melemaskan tanganmu!"

"Terima kasih, Kisanak!"

"Huh!" Nyi Ayu Supraba mendengus sinis. Selendang mautnya berkibar-kibar menyambar Pendekar Rajawali Sakti. Dan sesekali, selendang itu terlihat mengeras kaku bagai sebilah pedang. Lalu, kembali berubah lentur.

"Uhhh..." Rangga memutar telapak tangan kanannya. Maka seketika berhembus angin kencang berputar-putar, membuyarkan hawa beracun yang berbau harum dari kelebatan selendang wanita itu.

"Yeaaat..!"

"Keparat! Mampuslah kau...!" desis Ki Sanca Ireng geram.

Kembali ular-ular kecil yang amat beracun melesat ke arah Pendekar Rajawali Sakti begitu Ki Sanca Ireng mengecutkan tangannya. Dan bersamaan dengan itu, tokoh Pulau Ular ini telah bersiap menghantamkan pukulan mautnya bila Pendekar Rajawali Sakti menghindar. Ke mana pun hal yang sama dilakukan Ki Kolo Denowo. Pukulan mautnya telah dihantamkan dengan kampak di tangan kanan. Sedangkan selendang maut Nyi Ayu Supraba yang menebar bau harum-haruman amat memabukkan, telah membuat pusaran angin kencang yang mengurung Pendekar Rajawali Sakti.

Weeer!

"Yeaaa...!" Rangga benar-benar kewalahan menerima tiga buah serangan yang bersamaan ini. Tanpa terasa, hatinya mengeluh. Namun kemudian, tangannya cepat bergerak ke punggung. Lalu....

Sring!

Pendekar Rajawali Sakti langsung mencabut pedang Pusaka Rajawali Sakti. Sehingga, suasana di tempat sekitarnya jadi terang benderang oleh sinar biru berkilauan. Pedang pusaka di tangan Rangga yang mengandung pamor dahsyat membuat lawan terkesiap. Apalagi ketika senjata itu berkelebat memapak ular-ular berbisa yang dilepaskan Ki Sanca Ireng hingga rontok bersamaan. Kemudian pemuda itu berkelebat menghindari pukulan maut Ki Kolo Denowo, dan langsung membabatkan pedangnya ke arah selendang Nyi Ayu Supraba.

Brueeet!

"He, Keparat" Nyi Ayu Supraba menggeram hebat ketika selendang kesayangannya putus menjadi tiga bagian tertebas pedang Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan dengan gerakan mengagumkan, Rangga membuat putaran tubuh beberapa kali, lalu melepaskan tendangan keras ke arah dada wanita itu.

Dukkk! "Aaakh...!"

Nyi Ayu Supraba kontan menjerit keras dengan tubuh terjajar beberapa langkah, begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti telah mendarat di dadanya.

"Yeaaa...!" Ki Sanca Ireng dan Ki Kolo Denowo sudah langsung menyerang bersamaan, sebelum si Pendekar Rajawali Sakti melanjutkan serangan pada wanita itu.

Set! Set!

"Uhhh...."

Ular-ular kecil yang dilepaskan Ki Sanca Ireng kembali melesat cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' Rangga melenting dan melayang ringan, menghindari ular-ular beracun itu. Sementara pedang di tangannya menyambar habis hewan-hewan melata itu.

Pras! Breeet!

Baru saja Rangga mendarat di tanah, Ki Kolo Denowo telah melesat cepat dengan kebutan kampaknya. Tak ada pilihan lain bagi Pendekar Rajawali Sakti, selain memapak kampak yang mengarah ke lehernya.

Trasss!

Bukan main terkejutnya Ki Kolo Denowo, ketika kampak di tangannya putus dibabat pedang, bahkan pedang itu terus kembali berkelebat mengancam lehernya. Dan....

Crasss! "Aaaa...! Ki Kolo Denowo menjerit memilukan begitu lehernya tersambar pedang Pendekar Rajawali Sakti hingga nyaris putus. Tubuhnya langsung ambruk di tanah bermandikan darah. Mati. Sementara pada saat yang bersamaan, ujung senjata Ki Sanca Ireng yang amat berbisa mengancam punggung kanan si Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepat gerakan senjata itu, sehingga Rangga sampai-sampai tak menyadari desir angin kaku yang mengiringinya. Daa...

Crap!

"Uhhh...!" Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget ketika senjata itu bersarang di punggungnya. Wajahnya berkerut menahan rasa sakit. Dan belum lagi Rangga bersiap, sebuah pukulan jarak jauh dari Ki Sanca Ireng yang bertenaga dalam tinggi meluruk ke arahnya. Tak ada kesempatan bagi Rangga selain menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan.

Jdeeer!

Pinggiran tebing yang terkena hantaman pukulan jarak jauh Ki Sanca Ireng hancur berantakan. Sementara Pendekar Rajawali Sakti terus bergulingan.

"Yeaaa...!"

Nyi Ayu Supraba yang baru saja selesai menyalurkan hawa murni untuk menghilangkan rasa sakit akibat tendangan Rangga tadi, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti yang baru saja bangkit berdiri dengan potongan selendangnya.

Ki Sanca Ireng terkejut bukan main melihat kenekatan wanita itu. Disadari betul, meski keadaannya sangat kepayahan, tapi Pendekar Rajawab Sakti bukanlah tokoh sembarangan yang bisa dianggap enteng. Namun, untuk mencegah sudah terlambat. Begitu potongan selendang Nyi Ayu Supraba hampir menyambar kepalanya, Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas. Seketika itu pula tubuhnya meliuk menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', disertai ayunan pedangnya.

Bresss...!

"Aaaa...!" Wanita itu hanya bisa berteriak tertahan ketika pedang Pendekar Rajawali Sakti menyambar pinggangnya. Tubuhnya kontan ambruk bergulingan disertai semburan darah. Tanpa disadari, gulingan tubuhnya justru mendekati jurang yang tidak jauh didekatnya. Seketika itu pula tubuh wanita itu tertelan jurang yang menganga lebar.

"Keparat! Kau akan merasakan balasannya, Pendekar Rajawali Sakti!" lanjut Ki Sanca Ireng mendesis garang.

Sementara itu Rangga hanya mengeluh tertahan. Tubuhnya bergetar hebat, akibat racun yang tertanam di tubuhnya mulai bekerja. Sehingga membuat semua persendiannya menjadi kaku. Tubuhnya terasa panas seperti dipanggang api. Untung saja pemuda ini pernah makan sejenis jamur yang tumbuh di Lembah Bangkai, ketika pertama kali digembleng ilmu olah kanuragan. Sehingga, racun itu tidak sampai mematikan dirinya.

Namun demikian keadaan Pendekar Rajawali Sakti benar-benar dibuat loyo. Untuk berdiri pun langkahnya terasa limbung. Hanya karena jamur yang pernah dimakan-nyalah, racun itu tidak mematikannya. Sedikit demi sedikit, racun itu memang berhasil dipunahkan.

Sementara pada saat itu Ki Sanca Ireng telah mencelat ke arahnya dengan serangan maut yang akan menghabisi hidupnya. "Hiyaaat...!"

"Kakang...! Awas!"

Ambarwati yang melihat keadaan itu jadi tidak tega. Seketika tubuhnya langsung melompat, untuk melindungi Pendekar Rajawab Sakti. Segera dipapaknya serangan Ki Sanca Ireng.

"Ambar, jangaaan...!" teriak Rangga lemah. Pendekar Rajawali Sakti tahu betul kalau tindakan ini hanya akan mencelakakan gadis itu saja, Maka dengan sekuat tenaga ditubruknya Ki Sanca Ireng sambil mengibaskan pedang.

Dengan gerakan mengagumkan Ki Sanca Ireng merendahkan tubuhnya. Lalu seketika tongkat ularnya dikebutkan ke perut Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepat gerakannya sehingga tak mungkin lagi dihindari Rangga. Maka....

Crasss! "Aaakh...!"

Ujung tongkat ular Ki Sanca Ireng kontan merobek perut Pendekar Rajawali Sakti. Pada saat yang nyaris bersamaan tokoh dari Pulau Ular itu melepaskan tendangan berputar ke arah dada Ambarwati.

Digh! "Aaakh!" Gadis itu kontan terpental disertai jerit kesakitan.

Sementara dengan sisa-sisa tenaganya, Rangga berusaha tegak berdiri. Tangannya langsung membuat totokan di sekitar perutnya untuk menghentikan darah yang banyak keluar. Kemudian disertai suara geraman dahsyat, tubuhnya melesat ke arah Ki Sanca Ireng yang baru saja berbalik.

"Oh?!" Tokoh dari Pulau Ular itu hanya mampu mendelik, melihat lesatan tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang demikian cepat disertai sambaran pedangnya yang bersinar biru berkilauan. Bahkan untuk mengangkat tongkat ularnya sendiri, dia seperti tidak mampu. Memang, sungguh tak disangka kalau pemuda itu masih mampu menyerang dahsyat. Apalagi. Rangga kini mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Akibatnya....

Cras! "Aaakh...!"

Tepat sekali mata pedang Pendekar Rajawali Sakti membabat leher Ki Sanca Ireng. Tokoh dari Pulau Ular ini hanya mendelik dengan tubuh berdiri kaku. Sebentar kemudian, tubuhnya ambruk di tanah, hingga kepalanya menggelinding. Dan seketika, darah menyembur deras dari lehernya yang buntung. Sebentar dia menggelepar-gelepar. Lalu diam tak berkutik lagi.

Cukup lama Pendekar Rajawali Sakti memperhatikan keadaan lawannya yang kini telah terbujur kaku. Tapi tiba-tiba... "Hokh...!" Pendekar Rajawali Sakti memuntahkan darah kental. Tubuhnya terhuyung-huyung kebelakang dengan wajah pucat. Pandangannya mulai mengabur dan berkunang-kunang. Pikirannya mendadak kosong tidak menentu. Sementara otot-otot di tubuhnya mengejang dan sulit digerakkan. Belum juga dia menyadari apa yang terjadi, mendadak....

"Hua ha ha...! Hari ini adalah kematianmu, Keparat! Yeaaa...!"

Terdengar satu suara ketawa nyaring yang disusul berkelebatnya sesosok bayangan. Dan....

Jdeeer!

Sosok bayangan itu langsung menghantam Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan dahsyatnya. Rangga terkejut setengah mati. Dan dia mencoba menjatuhkan diri. Namun akibatnya sungguh parah. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, seketika tanah di sekitarnya longsor akibat hantaman pukulan jarak jauh sosok itu.

"aaah...!" Pendekar Rajawali Sakti menjerit panjang ketika tubuhnya meluncur deras ke dalam jurang yang menganga lebar. Begitu gema teriakan Pendekar Rajawali Sakti hilang dari pendengaran, seorang laki-laki tua berambut panjang yang telah memutih berdiri tegak di bibir jurang sambil berkacak pinggang dan tertawa keras. Jubahnya yang terbuat dari sisik ular berkibaran ditiup angin.

"Hua ha ha...! Hari ini tamatlah riwayat Pendekar Rajawali Sakti. Dia telah mampus di dasar jurang sana! Ha... ha... ha...!"

"Hieee...!" Baru saja laki-laki berjubah kulit ular itu menghentikan tawanya, terdengar sebuah ringkikan kuda.

"Heh?!" Laki-laki tua itu kontan tersentak kaget. Mendadak saja seekor kuda hitam dan berbadan gagah itu mengangkat kedua kaki depannya.

"Binatang Laknat! Rupanya kau tunggangan si Keparat itu, he?! Kau boleh menyusulnya ke akherat sana!" desis laki-laki berjubah kulit ular itu. Langsung kedua tangannya dihentakkan, melepaskan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.

"Hieee...!" Kuda berbulu hitam yang bernama Dewa Bayu meringkik keras, lalu binatang tunggangan Pendekar Rajawali Sakti ini melompat lincah menghindari hantaman pukulan itu.

Jdeeer!

"Hieee...!" Dewa Bayu terus meringkik keras, lalu berlari kencang menuruni bukit.

"Hei?! Hendak kabur rupanya? Kau kira semudah itu? Awas! Kau akan mendapat bagian yang sama dengan majikanmu!" bentak laki-laki tua itu. Langsung dikejarnya Dewa Bayu dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Namun, laki-laki tua itu jadi kesal sendiri. Tentu saja, karena Dewa Bayu memang bukan kuda sembarangan. Tunggangan Pendekar Rajawali Sakti ternyata mampu berlari kencang bagai angin topan.

Sementara itu, Ki Danang Mangun yang masih berada di tempat itu hanya mampu menatap takjub. Perlahan-lahan dia bangkit, dan memandang ka sekeliling yang telah sunyi. Dan ketika matanya tertumbuk pada sosok Ambarwati yang masih terbujur, dia segera melangkah mendekati.

"Hm.... Gadis ini masih terasa detak jantungnya. Mudah-mudahan masih sempat tertolong...," desah Ki Danang Mangun ketika memeriksa nadi Ambarwati.

Ki Danang Mangun segera membalikkan tubuh Ambarwati, sehingga tengkurap. Lalu, kedua tangannya ditempelkan ke punggung gadis itu. Sebentar orang tua itu menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Kini Ki Danang Mangun menyalurkan hawa murni perlahan-lahan. Tampak napasnya jadi megap-megap karena terlalu banyak menyalurkan hawa murni ke tubuh Ambarwati. Ki Danang Mangun segera menarik kedua tangannya, ketika telah melihat gerakan halus pada punggung Ambarwati. Memang, gadis itu mulai siuman meski dadanya terasa sakit sekali.

"Kakang Rangga...? Aaakh!" Ambarwati membalikkan tubuhnya dan langsung tersentak kaget. Dia hendak bangkit, namun rasa sakit di dadanya begitu menyentak dan membuatnya tidak berdaya.

"Nisanak. Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu...." ujar Ki Danang Mangun menasihati.

"Oh! Siapakah kau? Apa yang terjadi dengan Kakang Rangga...?!" tanya gadis itu, cemas. Ki Danang Mangun menunduk lesu.

"Kisanak! Katakan padaku! Apa yang telah terjadi dengannya...?"

"Kalau yang dimaksud si Pendekar Rajawali Sakti, dia..., dia telah tewas di bawah jurang sana...," sahut orang tua itu lemah.

"Apa? Oh, tidak! Tidaaak..!" sentak Ambarwati memilukan.

Ambarwati berusaha bangkit mendekati bibir jurang. Namun baru saja hendak bangkit, tubuhnya terjungkal. Dia tak kuasa menahan rasa sakit hebat di dada.

"Nisanak... Kau harus menjaga kesehatanmu sendiri. Terimalah kenyataan ini," hibur Ki Danang Mangun.

"Seandainya Pendekar Rajawali Sakti hidup pun, pasti tidak mungkin bisa bertahan lama dari racun Ki Sanca Ireng yang mengendap di tubuhnya...."

"Tidak! Tidak mungkin! Dia tidak akan mati! Dia pasti akan bertahan...!" sentak Ambarwati.

"Nisanak! Kita bisa saja berkata demikian. Dan siapa pun tahu Pendekar Rajawali Sakti amat hebat. Namun di atas semua itu, hanya Yang Maha Kuasa saja yang tahu nasibnya," hibur Ki Danang Mangun.

"Aku benci kata-katamu! Hentikan ocehanmu! Dia akan selamat! Dia akan selamat!" jerit gadis itu, makin memilukan.

Ki Danang Mangun hanya mampu menghela napas panjang sambil memandang Ambarwati. Sementara, gadis itu menunduk lesu dengan isak tangisnya.

********************

TUJUH

"Setan! Akan ku cincang tubuhmu sampai tidak berbentuk kalau kutemukan!" desis sosok berjubah kulit ular yang tengah mencari-cari kuda hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti yang bernama Dewa Bayu.

Sementara itu apa yang dilakukan Dewa Bayu memang cerdik sekali. Kuda hitam itu terus berlari kencang, jauh meninggalkan sosok yang mengejarnya. Dewa Bayu terus berlari seperti tidak mengenal lelah. Dan ketika tengah malam tiba, hewan itu berhenti dan meringkik keras di halaman depan sebuah pondok yang agak terpencil dari desa-desa di sektornya.

"Hieee...!" Ketika Dewa Bayu meringkik, tak lama lampu di pondok itu dinyalakan dari dalam. Kemudian, pintu pondok terbuka lebar-lebar. Kini di depan pondok berdiri seorang gadis cantik berbaju biru. Pedang pendek dan kipas bajanya tampak terselip di pinggang. Gadis itu buru-buru menghampiri Dewa Bayu. Sementara di belakangnya menyusul seorang laki-laki berusia lanjut dengan seorang bocah perempuan berusia sekitar delapan tahun.

"Pandan Wangi, hati-hati. .!" teriak orang tua itu memperingatkan.

"Jangan khawatir, Ki Wiranata. Aku kenal kuda ini..." sahut gadis yang ternyata Pandan Wangi dan berjuluk Si Kipas Maut. Sementara, Dewa Bayu terus meringkik-ringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi.

"Dewa Bayu, tenang! Hus, ayo tenang! Tenanglah...!" lanjut Pandan Wangi berusaha mendiamkan Dewa Bayu yang kelihatannya bersikap liar.

"Hieee...!"

"Ayo, tenang! Tenang! Tidakkah kau mengenalku? Kenapa kau bersikap seperti ini? Mana Kakang Rangga? Kenapa dia tidak bersamamu? Hus! Ayo tenang! Tenanglah...!"

Perlahan-lahan Dewa Bayu menghentikan tingkahnya. Lalu binatang ini meringkik halus seraya menyembur-nyemburkan napasnya dengan keras. Pandan Wangi mengusap-usap lehernya, lalu menepuk-nepuk pundaknya.

"Nah! Begini lebih baik. Sekarang katakan, apa yang terjadi dengan Kakang Rangga? Kenapa kau tidak bersamanya...?"

Hewan itu kembali meringkik dan melompat-lompat beberapa kali. Dia mengitari Pandan Wangi. Sementara si Kipas Maut memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya tampak cemas ketika Dewa Bayu menghampirinya. Bahkan binatang itu menggigit lengan bajunya dan menarik-nariknya seperti hendak menunjukkan sesuatu.

"Ada apa, Bi...?" tanya bocah perempuan berusia delapan tahun itu.

"Sepertinya Kakang Rangga sedang mengalami kesulitan, Diah," sahut Pandan Wangi cemas.

"Kesulitan? Mana mungkin! Paman Rangga orang hebat..." sanggah bocah yang sebenarnya bernama Diah Kumitir.

"Diah, kau belum mengerti. Di dunia ini masih nanyak lagi orang-orang yang lebih hebat dari pamanmu. Dan di antaranya adalah orang-orang jahat..," jelas Pandan Wangi, memberi pengertian pada bocah itu.

"Kesulitan bagaimana, Pandan ?" tanya laki-laki yang dipanggil Ki Wiranata.

"Entahlah, Ki. Aku sendiri tidak tahu. Tidak biasanya Dewa Bayu bertingkah seperti ini. Pasti ada sesuatu yang hebat terjadi pada diri Kakang Rangga. Aku harus segera mencari dan menemuinya esok pagi," sahut si Kipas Maut dengan wajah semakin cemas.

"Bibi, bolehkah aku ikut..?"

Pandan Wangi tersenyum pahit. Langsung dielusnya kepala bocah itu. "Diah harus tetap di sini menemani Kakek, ya? Lagipula. ingat pesan Paman. Diah harus rajin berlatih agar bisa menjadi anak yang hebat," tolak Pandan Wangi, halus.

Diah Kumitir kecewa mendengar jawaban Pandan Wangi. Wajahnya berubah mendung, seperti hendak menangis.

"Diah.... Apa yang dikatakan Bibimu benar, Lagipula, perjalanan ini amat berbahaya bagimu. Kau harus tetap di sini bersama Kakek," bujuk Ki Wiranata.

Gadis cilik itu menundukkan kepala. Meski sikapnya patuh, namun jelas amat kecewa. Lebih-lebih ketika kakeknya mengajaknya masuk ke dalam, sementara Pandan Wangi menggiring Dewa Bayu ke dalam kandang. Hewan itu berusaha berontak. Namun dengan sabar, Pandan Wangi membujuknya sambil mengelus-elus lehernya.

"Dewa Bayu, sabarlah. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi kau telah melakukan perjalanan jauh. Istirahatlah untuk memulihkan tenaga. Kebetulan di belakang banyak rumput segar. Besok, pagi-pagi sekali kita akan segera berangkat..," bujuk Pandan Wangi.

Seperti mengerti apa yang dikatakan gadis itu. Dewa Bayu meringkik halus. Dan sikapnya pun sedikit lebih tenang!

********************

Sementara di dasar jurang, di mana Pendekar Rajawali Sakti terjatuh, seorang pemuda tampak terbaring lemah di sebuah ruangan yang temaram. Samar-samar seberkas cahaya obor menerpa bola matanya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat, lalu ber-usaha bangkit dari pembaringan bambu. Namun tubuhnya bagai remuk. Tulang-belulangnya terasa sulit digerakkan. Bahkan kepalanya terasa sakit ketika mencoba mengingat-ingat apa yang telah menimpanya.

"Ohhh...."

"Hm... Kau mulai sadar, Nak..?" tanya sebuah suara yang begitu dekat di telinga pemuda itu.

Kembali pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Dan samar-samar, dia melihat orang tua berjenggot lebat telah memutih berada di dekatnya. Sambil tersenyum kecil, orang tua yang sebagian rambutnya telah rontok itu memijit-mijit keningnya.

"Si... siapa kau...?" tanya pemuda itu.

"Jangan terlalu berpikir dulu. Sebaiknya minum dulu ramuan yang telah kupersiapkan untukmu," sahut orang tua itu. Diangkatnya kepala pemuda itu. Lalu, dituangkannya isi cawan di tangannya ke mulut pemuda yang masih terbaring lemah ini. Pemuda itu memandang orang tua yang menolongnya dengan sinar mata curiga.

"Kau tidak perlu curiga dengan ramuan itu. Tidak mungkin aku menolongmu dengan menangkap tubuhmu, kalau sampai di sini ternyata hendak kuracuni," kata orang tua itu seperti mengerti apa yang tersirat di pikiran pemuda ini.

Pemuda tampan itu hanya diam saja, tidak menyahut. Dan kini, ramuan yang dicekoki orang tua itu bekerja sedikit lambat. Namun, hasilnya terasa perlahan-lahan mulai bekerja. Pemuda itu menggelinjang dengan wajah berkerut seperti menahan rasa sakit yang hebat

"Tahanlah. Ramuan itu mulai bekerja. Hawa panas yang kau derita sesungguhnya melancarkan peredaran darahmu, untuk memulihkan tenaga," jelas orang tua itu. Dan baru saja orang tua ini menyelesaikan kata-katanya....

"Aaakh...! Hoeeekh...!"

Pemuda tampan itu kontan menjerit kesakitan. Dan seketika dia memuntahkan darah kental beberapa kali. Bahkan beberapa di antaranya berbentuk bungkahan kecil berwarna hitam kebiru-biruan.

"Bagus! Keluarkan seluruhnya. Dan tahanlah rasa sakit yang menyiksamu...!" lanjut orang tua itu dengan wajah gembira.

Pemuda itu megap-megap seperti kehabisan napas. Beberapa kali dia muntah-muntah, sampai akhirnya yang keluar berupa setetes darah segar. Dengan sigap orang tua itu menangkap tubuh pemuda ini dan membuatnya duduk bersila. Kedua tangannya mengurut-urut punggung pemuda itu sehingga rasa mualnya perlahan-lahan sirna

"Tarik napas panjang-panjang. Lalu keluarkan napasmu perlahan-lahan selama beberapa kali!" perintah orang tua ini. Pemuda itu mengikuti petunjuk orang tua ini.

"Bagus! Nah, latihlah pernapasanmu untuk beberapa saat. Sementara, aku menyiapkan sop hangat untukmu!" lanjut orang tua itu segera berlalu dari tempat ini.

Pemuda tampan ini melakukannya tanpa banyak ribut. Sehingga, rasa sakit di seluruh tubuhnya mulai terasa berkurang secara berangsur-angsur. Dan persendian tulang-belulangnya pun kini terasa enteng.

Tak lama, orang tua tadi muncul kembali sambi membawa dua buah cawan di atas sebuah nampan. Sambil tersenyum lebar diletakkannnya nampan itu di atas sebuah batu datar. Lalu, dihampirinya pemuda itu. Begitu dekat, orang tua ini membalikkan tubuh pemuda itu. Sehingga kedudukannya dipunggungi.

"Pusatkan pikiranmu. Dan, kosongkan segala sesuatunya. Ingat! Walau apa pun yang kau rasakan, jangan mencoba melawan. Jika terasa sakit tahan saja!"

Pemuda itu belum sempat mengangguk, ketika mendadak orang tua itu menempelkan kedua telapak tangan-nya ke punggung.

Tap! Tap!

Pemuda tampan ini tersentak kaget. Sebagai orang yang mengerti ilmu silat, dia tahu orang tua ini pasti hendak menyalurkan hawa murni ke tubuhnya!

"Aaah...!"

********************

"Ini milikmu, ambillah...." Sambil berkata demikian, laki-laki tua itu menyerahkan pedang bergagang kepala burung kepada pemuda yang telah ditolongnya.

"Kisanak... Siapakah engkau ini sebenarnya? Aku terlalu banyak berhutang budi padamu. Dan, rasanya akan tidak sanggup kubayar meski dengan segunung emas sekalipun. Tapi hatiku akan lega jika aku tahu nama besarmu...?"

Orang tua itu tidak langsung menjawab. Malah dia menarik napas barang sesaat, lalu memandang pemuda yang ditolongnya sambil tersenyum. "Aku adalah sahabat lama gurumu...," kata orang tua itu pendek.

"Sahabat guruku...?" Pemuda itu mengerutkan dahi. "Dari mana kau bisa memastikannya?"

"Pedangmu."

Sadarlah pemuda itu kalau orang tua yang menolongnya bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Untuk beberapa saat mereka saling diam.

"Aku tidak akan pernah melupakan gurumu. Di masa mudanya, dia adalah tokoh besar yang tak terkalahkan. Bahkan aku tidak bisa disejajarkan dengannya. Suatu saat, aku pernah hampir tewas dikeroyok tiga orang datuk sesat. Untung saja gurumu muncul dan menolongku. Lama berpikir bagaimana caranya membalas hutang budi gurumu. Apalagi, dia bukanlah seorang yang senang akan pamrih. Sejak itu, kami jarang bertemu. Bahkan boleh dikatakan sampai saat ini. Lalu ketika kebetulan sekali aku berjalan di lembah ini, kulihat tubuhmu melesat jatuh dari ketinggian. Kalau saja tidak kukenali sinar pedang pusakamu, tentu saja kukira itu adalah mayat-mayat. Ditariknya napas dalam-dalam manusia yang memang sering tergelincir dari atas tebing...." Orang tua itu menghentikan ceritanya sejenak.

"Keadaanmu amat parah. Ternyata racun yang mengendap dalam tubuhmu sejenis racun yang mematikan. Tapi aku heran juga, ternyata racun itu sedikit-demi sedikit punah, walaupun bagian dalam tubuhmu sempat digerogoti. Dan ditambah ramuanku, maka sempurnalah pengobatanku. Kini, racun-racun itu telah keluar semua. Agaknya Yang Maha Kuasa belum berkenan untuk mencabut nyawamu. Oh, ya. Siapa namamu...?"

"Rangga!"

"Hm.... Rangga..., apa yang menyebabkan kau sampai berurusan dengan orang-orang Pulau Ular...?"

"Agaknya kau pun telah mengetahui, Ki..." sahut pemuda yang ternyata Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

Orang tua itu tertawa kecil. "Bagaimana tidak? Hampir segala jenis racun aku tahu. Termasuk racunnya orang-orang Pulau Ular itu!" sahut orang tua ini.

"Astaga! Tunggu dulu!" sentak Rangga dengan wajah kaget. Dipandanginya orang tua itu dengan seksama. "Hanya satu orang di dunia ini yang memiliki keahlian seperti itu. Tidak salah lagi! Kau pasti Tabib Malaikat Bertangan Perak! Tapi... ah! Mana mungkin? Jika guruku saja hidup pada seratus tahun yang lalu, tapi kau masih segar bugar seperti ini"

"Itulah, Rangga. Tak ada satu pun yang sanggup mencabut nyawa di dunia ini, selain Yang Maha Kuasa. Gurumu memang telah sangat lama mati. Tapi, ternyata aku masih dikasih hidup. Bahkan julukanku masih sempat kau dengar. Kau tidak salah menebak, Rangga. Akulah orang yang kau maksud," sahut orang tua itu sambil tersenyum.

"Ah! Kalau begitu benar?" Rangga buru-buru membungkuk seraya menjura hormat. "Ki Jayeng Perkasa, terimalah salam hormatku!" ucap Pendekar Rajawali Sakti memanggil nama asli orang tua itu.

"Ah.... Tak usah sungkan-sungkan. Rangga. Bangkitlah...," sahut Tabib Malaikat Bertangan Perak, memegang kedua bahu Pendekar Rajawali Sakti. "Nah! Ceritakan bagaimana kau sampai mengalami peristiwa seperti ini?"

Rangga pun mulai menceritakan peristiwa yang dialaminya. Ki Jayeng Perkasa mengangguk disertai senyum kecil.

"Hm.... Pasti si Tua Bangka Tunggal Kala Widyuta ikut campur urusan muridnya...," gumam Ki Jayeng Perkasa.

"Siapakah yang Eyang maksudkan...?"

"Siapa lagi kalau bukan majikan Pulau Ular, guru ketiga lawanmu itu? Dia sadar kalau lawan yang akan dihadapi ketiga muridnya bukanlah orang sembarangan. Dan selamanya, orang-orang Pulau Ular tidak suka dikalahkan. Dia pasti mengikuti muridnya, dan menyerangmu saat kau dalam keadaan tidak berdaya." jelas Ki Jayeng Perkasa.

"Hm.... Saat ini dia tentu akan menyombongkan diri telah membinasakanku!" dengus Rangga geram.

"Apakah kau tidak rela bila orang-orang tahu kalau kau binasa di tangannya?" tanya Ki Jayeng Perkasa, dengan senyum menyelidik.

"Eyang.... Aku tahu di atas langit masih ada langit lain. Demikian pula tingkat kehebatan seseorang. Tapi bila murid-muridnya mampu membunuh orang yang tidak bersalah tanpa berkedip, maka gurunya pasti akan lebih dari itu! Keadaan akan semakin kacau. Dan aku harus segera menghentikannya!" sahut Rangga mantap.

"Nah, kalau demikian pergilah. Lakukan tugasmu!"

Rangga segera bangkit dan kembali membungkuk hormat pada orang tua itu. "Eyang, aku berhutang budi padamu. Tapi suatu saat jika umur panjang, aku akan membalasnya. Sekarang aku mohon pamit!" ucap Rangga, haru.

"Rangga... Kau tidak perlu berkata begitu. Anggap saja aku gurumu. Dan sudah selayaknya aku berbuat demikian, sehingga kau tidak perlu merasa dibebani hutang budi..," tutur Ki Jayeng Perkasa, penuh kebijakan.

"Terima kasih. Eyang. Terimalah hormatku!" sahut pemuda itu. Baru saja Rangga hendak bersujud, Ki Jayeng Perkasa buru-buru menahannya.

"Tidak perlu, Anakku! Pergilah sekarang juga. Makin cepat langkahmu, maka semakin baik. Doaku selalau merestuimu!"

"Terima kasih, Eyang!" sahut Rangga langsung bangkit. Segera dia melangkah ke luar ditemani Ki Jayeng Perkasa.

Kini Pendekar Rajawali Sakti telah berada di luar, dan langsung menghirup udara luar sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya. Lalu matanya memandang ke sekeliling yang agaknya merupakan sebuah lembah subur.

"Mudah-mudahan dia bisa mendengar panggilanku...!" gumam Rangga berharap. Suiiit..!

Beberapa saat Pendekar Rajawali Sakti bersuit nyaring sambil menengadahkan wajah ke langit. Belum terlihat suatu. Dan pemuda itu kembali bersuit nyaring. Dan tak lama kemudian.

"Khraaaghk...!"

"Ah! Kau pasti datang, Sobat! Aku yakin kau mendengar panggilanku!" sambut Pendekar Rajawali Sakti dengan wajah berseri, begitu melihat titik hitam keperakan yang diyakini adalah Rajawali Putih. Dan sebentar kemudian, melesat seekor burung raksasa berbulu putih keperakan. Begitu besarnya, sehingga hampir menutupi lembah ini. Rangga langsung melompat ke lehernya begitu Rajawali Putih mendarat. Lalu sebentar kemudian rajawali raksasa itu melesat cepat bagai kilat setelah mengepakkan kedua sayapnya.

********************

DELAPAN

Berita kematian Pendekar Rajawali Sakti agaknya cepat tersebar. Dan entah apa yang menyebabkannya, kini di tempat jatuhnya Pendekar Rajawali Sakti ke dalam jurang, banyak tokoh silat pada keesokan harinya berduyun-duyun. Mereka ingin membuktikan sendiri kematian Pendekar Rajawali Sakti. Meski jalan ke tempat itu tidak mudah, namun rasa ingin tahu mereka sedemikian dalam. Sehingga rintangan alam jadi tidak berarti. Tidak heran di antara tokoh-tokoh persilatan, tampak juga Pandan Wangi. Gadis itu tampak merenungi bibir jurang tempat Rangga jatuh.

"Kakang Rangga...? Oh!?" Pandan Wangi tidak kuasa menahan air mata yang sejak tadi terus meleleh membasahi pipi.

"Nisanak.... Sudah semalaman kau berada di sini Kau hanya menyiksa dirimu saja. Lebih baik pulanglah. Percuma berharap kalau Pendekar Rajawali Sakti akan bangkit. Kau harus menerima kenyataan kalau dia telah tewas di bawah jurang sana...," terdengar sebuah suara dari seorang laki-laki tua.

Demi mendengar itu. Pandan Wangi tidak bisa menahan tangisnya. Setelah memandang orang tua itu, dia menekap wajahnya sendiri. Baru kemudian, kedua tangannya membersihkan air mata yang terus bergulir.

"Kisanak.... Apakah kau betul melihat Pendekar Rajawali Sakti tewas? Coba tolong ceritakan padaku," pinta Pandan Wangi. Orang tua itu memandangnya beberapa saat. Tampak wajah gadis ini sembab. Dia menduga, kalau gadis ini bertanya soal Pendekar Rajawali Sakti, paling tidak punya hubungan dengan pemuda itu. Tapi ketika melihat kuda berbulu hitam yang berada di belakang gadis ini, sesaat bola mata orang tua itu terlihat kaget.

"Nisanak! Siapakah kau?! Dan ku... da ini? Bukankah ini milik Pendekar Rajawali Sakti? Kemarin kuda ini bersamanya ketika Pendekar Rajawali Sakti terjatuh ke jurang akibat dibokong seseorang, kuda ini meringkik keras. Dan dia berlari menuruni bukit. Tapi orang itu mengejarnya. Bahkan kelihatan sangat bernafsu hendak membunuhnya. Hem... Kuda ini pasti bukan sembarangan, karena luput dari kemarahannya...."

"Kisanak! Kau bicara tentang siapa?"

"Itu, orang yang telah mencelakakan Pendekar Rajawali Sakti...."

"Apakah kau kenal?"

"Entahlah. Sepertinya, aku belum pernah melihat wajahnya. Tapi kalau bertemu sekali lagi, tentu saja aku ingat"

"Bagaimana ciri-ciri orang itu?"

"Apakah kau hendak membalaskan dendam Pendekar Rajawali Sakti, Nisanak? Sebaiknya urungkan saja niatmu. Karena, percuma saja. Aku melihat dan bisa merasakan sendiri kalau orang itu memiliki kepandaian tinggi!"

"Peduli dia setan sekalipun, tolong katakan padaku! Bagaimana tampang keparat itu!" desis Pandan Wangi geram.

"Ki Danang! Tidakkah kau tahu siapa gadis ini?" tanya salah seorang tokoh silat yang berada di tempat ini.

Orang tua yang tak lain Ki Danang Mangun, menggeleng lemah.

"Dialah si Kipas Maut!" timpal seseorang.

"Hm, Kipas Maut? Pantas saja. Aku pernah mendengarnya. Kalau tidak salah, kau ini kekasih Pendekar Rajawali Sakti, bukan?" tanya Ki Danang Mangun, ingin memastikan.

Pandan Wangi diam tidak menjawab. Dipandangnya orang tua itu dengan perasaan kesal.

"Maaf, Kipas Maut. Kami turut berduka atas kematiannya. Tapi jika kau hendak membalas dendam atas kematian Pendekar Rajawali Sakti, rasanya percuma saja...," sahut Ki Danang Mangun, bernada menyesal.

"Hm.... Begitukah jawabanmu? Begitukah jawaban kalian semua? Tidakkah kalian bisa membuka mata kalau apa yang selama ini diperjuangkan Pendekar Rajawali Sakti adalah untuk kepentingan orang banyak? Tidakkah kalian menyadari kalau apa yang dilakukannya terhadap ketiga iblis itu demi ketenteraman bersama, termasuk kalian yang ada di sini? Dan ketika dia tewas, mengapa kalian hanya diam? Mengapa hanya membisu...?!" sentak Pandan Wangi jadi kalap.

Semua orang-orang persilatan yang berada di tempat ini hanya terdiam dengan kepala tertunduk. Tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Dan Pandan Wangi yang saat itu tengah menanggung duka yang amat mendalam dicampur rasa dendam amarah, semakin kalap saja.

"Kenapa kalian diam?! Ataukah kalian semua ini sekumpulan pengecut yang hidupnya selalu bergantung padanya...?!" Sambil berkacak pinggang dan mata melotot garang, Pandan Wangi menatap mereka satu persatu.

"Nisanak..." Ki Danang Mangun buka suara. "Mungkin benar apa yang kau katakan. Tapi cobalah bijaksana dan berpikir tenang. Orang yang kau hadapi berkepandaian sangat tinggi. Kau akan membuang nyawa sia-sia jika bertindak nekat. Demikian pula kami. Bukannya kami takut mati. Tapi, kalau pun kami mati, belum tentu mampu membinasakan orang yang telah membunuh Pendekar Rajawali Sakti itu," kata Ki Danang Mangun.

"Lalu, apakah keberatannya untuk memberi keterangan padaku, bagaimana ciri-ciri orang itu?!"

Tapi sebelum Ki Danang Mangun menjawab...

"Kau tidak perlu repot-repot. Palingkan mukamu. Maka kau akan melihat wajahnya!" Terdengarlah sebuah suara lantang menggelegar, yang membuat semua orang mencari-cari sumber asalnya.

Pandan Wangi segera berpaling. Tampak seorang laki-laki berusia lanjut dengan jubah lebar dari kulit ular berwarna hitam telah berdiri di hadapannya. Sepasang matanya cekung bagai seekor elang buas. Tubuhnya agak kurus. Rambutnya yang putih panjang, dikuncir ke belakang. Wajahnya bersih tanpa kumis dan janggut. Kulitnya keriput, menandakan usianya paling tidak telah berkepala delapan.

"Siapa kau...?! Kaukah yang telah membunuh Pendekar Rajawali Sakti...?!" desis Pandan Wangi, geram.

"Hua ha ha...! Apakah ada yang mampu menghalangai keinginan majikan Pulau Ular?" sahut orang tua itu, tersenyum angkuh.

"Ki Tunggul Kala Widyuta...!" seru Ki Danang Mangun, dengan wajah kaget.

Semula Ki Danang Mangun sudah terkejut melihat kemunculan orang tua itu dengan tiba-tiba. Dan kini, lebih kaget lagi ketika mengetahui siapa dia sebenarnya. Rasa kaget yang dialami Ki Danang Mangun agaknya juga dirasakan yang lainnya. Selama ini, Ki Tunggul Kala Widyuta dikenal sebagai datuk sesat nomor wahid. Tidak seorang pun yang mampu bertahan lama bila berhadapan dengannya. Dan sampai akhirnya, orang tua itu menetap di Pulau Ular. Sejak saat itu, dia jarang muncul ke dunia persilatan. Namun, beberapa orang muridnya telah membuat geger karena sepak terjangnya yang ganas dan tidak tertahankan. Dan bila muridnya saja mampu berbuat seperti itu, maka bisa dibayangkan bagaimana hebatnya kepandaian orang tua ini.

'"Monyet Buduk, bagus! Akhirnya kau datang sendiri mencari mati di tanganku!" desis Pandan Wangi geram, langsung mencabut pedang dan kipas mautnya.

Sring! Srak!

"He he he...! Kenapa sungkan? Seranglah sebisamu. Dan dalam sekejap, aku akan mengirimmu ke dekat kekasihmu di akhirat sana!" sahut orang tua itu mengejek.

Bukan main geramnya Pandan Wangi mendengar ejekan laki-laki tua bernama Ki Tunggal Kala Widyuta. Namun sebelum dia melompat menyerang, mendadak melintas bayangan hitam di angkasa yang begitu besar. Seketika semua mata menengadah ke atas, dan melihat seekor rajawali raksasa tengah melayang dekat di angkasa. Wajah Pandan Wangi kontan berseri.

"Kakang Rangga...!"

"Pendekar Rajawali Sakti!" seru yang lain dengan wajah takjub. Mereka hampir tidak percaya kalau pemuda itu masih ada, jika tidak melihat sendiri.

Sementara Ki Danang Mangun juga tidak habis pikir. Lebih-lebih ketika melihat pemuda itu mencelat ke bawah, dan menjejak ke tanah dengan gerakan amat ringan.

"Kakang Rangga! Oh syukurlah kau selamat! Aku..., aku khawatir sekali mendengar berita orang-orang...!" seru Pandan Wangi, langsung menghambur memeluk pemuda itu dengan perasaan haru. Tidak dipedulikannya orang-orang yang berada di tempat ini.

Rangga menepuk pundak gadis itu, dan segera memberi isyarat agar Pandan Wangi tidak bersikap begitu. Barulah gadis ini tersentak sadar dan tersenyum tersipu.

"Pendekar Rajawali Sakti! Bagus! Kau belum mampus rupanya! Hari ini dengan disaksikan orang banyak, jasadmu akan kubuat terkapar tanpa daya!" dengus Ki Tunggul Kala Widyuta.

Rangga menoleh. Bibirnya mengembangkan senyum tipis dengan tatap mata tajam kepada tokoh nomor satu dari Pulau Ular. "Ki Tunggul Kala Widyuta! Mestinya sebagai tokoh besar aku menghormatimu. Tapi tindakanmu amat pengecut, dan tidak akan pernah kulupakan. Maka kau memang tak pantas hidup!" desis Pendekar Rajawali Sakti garang, langsung mencabut pedangnya.

Sriiing!

Begitu pedang Pusaka Rajawali Sakti tercabut, maka memancarlah sinar biru dari batang pedang. Mereka yang melihat berseru kagum. Bahkan Ki Tunggul Kala Widyuta sempat bergidik ngeri. Tapi mana mau dia menunjukkannya di depan pemuda itu.

"He he he...! Dengan senjata butut itu kau hendak menempurku. Bocah?! Lebih baik bunuh diri saja sebelum aku membuatmu malu!" ejek tokoh nomor satu dari Pulau Ular ini.

"Hiyaaat...!"

"Heh?!"

Tapi sebagai jawabannya, Pendekar Rajawali Sakti melompat bagaikan seekor kijang menyerang Ki Tunggul Kala Widyuta. Menyadari kalau lawannya adalah tokoh sakti, maka Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerah-kan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Orang tua itu terkejut. Dan dia merasakan angin serangan yang amat kuat berdesir kencang menghantamnya, buru-buru dia me-ompat ke samping.

Wuuung!

"Uuuh...!"

Pedang Pendekar Rajawali Sakti hanya menyambar angin kosong. Namun kelebatannya menimbulkan bunyi berdengung yang membuat jantung berdetak tidak menentu. Orang tua ini merasa aneh ketika tiba-tiba saja jurusnya jadi tidak beraturan. Bahkan jiwanya seperti terpecah-pecah dengan pikiran tak menentu.

"Yeaaa...!"

Namun dengan mengumpulkan semangatnya, Ki Tunggul Kala Widyuta mulai balas menyerang, menghantam Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan mautnya. Tapi Rangga mampu melompat gesit menghindari.

Jdeeer!

Tanah di tempat mereka berpijak bergetar begitu pukulan orang tua itu menghantam tanah tempat Rangga berdiri tadi. Bahkan beberapa bagian tampak terbelah. Orang-orang yang melihat pertarungan kontan berlarian ke sana kemari untuk menyelamatkan diri.

Tapi Rangga sudah tidak mempedulikan keadaan lagi. Pikirannya betul-betul terpusat untuk menyerang orang tua itu dengan kekuatan yang dimiliki. Dengan menggunakan jurus 'Pedang Pemecah Sukma' Pendekar Rajawali Sakti terus mengebut-ngebutkan pedangnya. Akibatnya, Ki Tunggul Kala Widyuta jadi tersentak mundur.

"Keparat! Huh! Kenapa pikiranku jadi bercabang?!" dengus tokoh nomor satu dari Pulau Ular itu.

"Heaaat..!"

Disertai bentakan nyaring, Ki Tunggul Kala Widyuta menghentakkan telapak tangannya beberapa kali, melepaskan pukulan mautnya. Namun, selalu saja pukulannya luput dari sasaran. Entah kenapa pikirannya selalu ter-ganggu. Sementara bebatuan di tempat itu hancur dan menggelinding ke bawah. Tanah tempat berpijak mulai merekah dan terbelah-belah akibat hantaman pukulan mautnya.

"Uh! Kenapa aku ini?!" desis orang tua itu, mulai goyah pikirannya.

Sepertinya, Ki Tunggul Kala Widyuta tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Begitu habis melepaskan pukulan maut dia hanya berdiri bengong dengan tatapan kosong. Dan Rangga pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Seketika Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat dengan kibasan pedang Pusaka Rajawali Sakti ke leher. Begitu cepat gerakannya dan orang tua dari Pulau Ular itu hanya terpaku saja. Maka....

Wuuut!

Cras!

"Aaakh!"

Orang tua itu hanya bisa terpekik tertahan begitu pedang Pendekar Rajawali Sakti menyambar lehernya. Kepalanya kontan menggelinding ke bumi ketika Rangga melepaskan pukulan dahsyat ke tubuhnya. Darah tampak muncrat mengotori sebagian baju Pendekar Rajawali Sakti, ketika tokoh sesat itu ambruk di tanah.

Rangga berdiri tegak dengan napas turun naik tak beraturan memperhatikan mayat lawannya. Satu hal yang membuat Pendekar Rajawali Sakti heran, dia merasa tubuhnya sangat enteng. Bahkan tenaganya jadi seperti berlipat ganda. Pemuda itu tersenyum, karena menyadari kalau ini adalah jasa baik Eyang Jayeng Perkasa yang telah memberinya ramuan pemulih tenaga.

"Kakang Rangga, kau tidak apa-apa...?!" seru Pandan Wangi menghampiri dengan wajah cemas.

Di belakang gadis itu berlari kencang Dewa Bayu sambil meringkik keras. Hewan itu langsung menghela napas panjang sambil mendekatkan mukanya pada pemuda itu.

"Kau pintar sekali, Sobat. Terima kasih...," ucap Rangga mengelus-elus leher Dewa Bayu.

Sikap Pandan Wangi pada Rangga tampak manja sekali. Dan Pendekar Rajawali Sakti pun menanggapinya dengan mesra pula. Dan tanpa sepengetahuan pemuda itu, sepasang mata memperhatikan mereka sejak tadi. Tatapannya kosong, dengan bola mata berkaca-kaca. Lalu..., beberapa kali air matanya menitik membasahi tanah kering! Dengan menundukkan kepala, gadis itu berlari kecil menuruni bukit tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya! Dialah Ambarwati...

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: MUSTIKA BERNODA DARAH