Asmara Berdarah Jilid 11

PEMUDA itu menangis sampai tersedu-sedu sambil berlutut. Dia mengepal tinju dan ingin dia meraung-raung, akan tetapi ditahannya sehingga dia hanya tersedu dan terisak. Pria setengah tua yang duduk bersila di depannya membuka mata memandang dan menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara halus namun mengandung wibawa.

"Hentikan tangismu, hapus air matamu. Tidak pantas membiarkan perasaan dipengaruhi pikiran sehingga menimbulkan kelemahan. Tidak ada gunanya semua itu."

Pemuda itu berhenti terisak dan mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, lalu dia memandang wajah ayahnya dengan sinar mata penuh tanya dan penasaran. Pemuda itu adalah Cia Sun, sedangkan yang bersila di depannya adalah ayahnya, Cia Han Tiong.

Baru saja Cia Sun pulang ke Lembah Naga sesudah melakukan perantauan ke selatan. Ketika pagi hari itu dia sampai di lembah, dia merasa heran mengapa keadaan demikian sunyinya dan mengapa pula pandangan mata para petani gunung kepadanya demikian ganjil dan penuh rasa iba. Hetinya merasa tidak enak dan dia menghampiri seorang kakek petani lalu bertanya mengapa mereka memandangnya seperti itu.

"Kakek Phoa, aku adalah Cia Sun, apakah kakek beserta saudara sekalian sudah lupa? Ha-ha, baru saja aku pergi merantau selama satu tahun dan kalian memandangku seperti aku ini orang asing bagi kalian."

Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat beberapa orang petani wanita menangis dan pergi meninggalkannya. Juga kakek itu memandang kepadanya dengan mata basah oleh air mata.

"Kakek Phoa, apakah yang sudah terjadi?" Dia memegang lengan kakek itu dan bertanya dengan mata terbelalak, hatinya gelisah sekali.

Dan kakek itulah yang bercerita. Betapa orang tuanya didatangi penjahat, betapa banyak murid Pek-liong-pai tewas oleh para penjahat, juga ibunya turut tewas. Ibunya! Tewas di tangan orang jahat! Mendengar ibunya tewas, Cia Sun tidak menunggu sampai kakek itu melanjutkan ceritanya. Dia sudah meloncat dan lari menuju ke pondok orang tuanya.

Didapatkannya rumah itu sunyi dan kotor. Sesudah dia masuk, nampak ayahnya sedang duduk bersila di dalam kamar. Ayahnya nampak menjadi sangat tua dan kurus. Maka dia langsung menjatuhkan diri berlutut dan menangis sampai ayahnya menyuruhnya berhenti menangis.

“Ayah, siapakah yang membunuh ibu?" Hanya itu yang dapat dikatakan setelah tangisnya dihentikannya.

Ayahnya tidak menjawab, hanya memandang padanya. Sejenak ayah dan anak ini saling pandang.

"Anakku, apakah maksudmu dengan pertanyaan itu? Hanya sekedar ingin tahu, apakah di baliknya tersembunyi dendam sakit hati?"

Cia Sun sudah mengenal watak ayahnya, bahkan sejak kecil dia bukan hanya digembleng ilmu silat dan sastera, akan tetapi juga tentang filsafat kehidupan. Akan tetapi pada waktu itu hatinya terlampau sakit dan sedih mendengar bahwa ibunya tewas oleh musuh, maka dia tidak mampu lagi mengendalikan perasaannya.

"Akan tetapi, ayah. Sebagai seorang anak, aku mendengar bahwa ibuku dibunuh orang. Apakah aku harus diam saja menerima nasib? Lalu menjadi anak macam apakah aku ini? Mana kebaktianku terhadap ibu kandungku, ayah?"

"Hemm, dengan lain kata-kata, engkau hendak menanyakan pembunuh ibumu agar dapat mencarinya lalu membalas dendam, membunuhnya untuk membalas sakit hatimu?"

"Bukankah hal itu sudah wajar saja, ayah? Sebagai anak ibu, apa bila aku tidak mencari pembunuhnya kemudian membalaskan sakit hatinya, apakah ibu tak akan menjadi setan penasaran?"

"Cia Sun!" Ayahnya membentak dan di dalam suara pendekar ini terkandung wibawa yang kuat. Nadanya bukan kemarahan, namun memperingatkan dan tegas sekali. "Dengarlah baik-baik, buang dulu semua nafsu yang memenuhi batinmu. Cia Sun, bukalah mata dan lihatlah. Apakah engkau mengira bahwa ibumu yang sudah meninggal dunia itu sekarang menjadi setan penasaran yang haus darah, yang akan menyeringai kegirangan melihat anak kandungnya menjadi pembunuh? Serendah itukah engkau menilai ibumu?"

Tentu saja Cia Sun terkejut sekali dan dia mengangkat muka memandang wajah ayahnya dengan mata terbelalak. "Tidak...! Tentu saja tidak! Bukan begitu maksudku, ayah!"

"Kalau bukan begitu maksudmu, maka jangan membawa-bawa nama ibumu jika engkau berniat membunuh orang! Apa yang hendak kau lakukan itu tidak ada sangkut-pautnya dengan ibumu, akan tetapi keluar dari gejolak batinmu yang diracuni dendam kebencian! Engkau hanya akan menodai dan mengotorkan jiwa ibumu kalau engkau menyeret ibumu ke dalam alam pikiranmu yang penuh dendam kebencian itu."

Getaran dalam suara ayahnya meredakan kemarahan yang tadi berkobar di dalam batin Cia Sun. Sejenak dia termenung, diam-diam mengakui bahwa memang kemarahannya itu timbul akibat ia merasa kehilangan ibunya yang tercinta, jadi dialah yang sakit hati, dialah yang mendendam karena orang merenggutkan sesuatu yang mendatangkan rasa senang di hatinya.

"Baiklah, ayah. Akan kucoba untuk mengerti apa yang ayah maksudkan tadi. Akan tetapi apakah yang telah terjadi? Apakah kesalahan ibu maka dia sampai dibunuh orang?"

Cia Han Tiong lalu menarik napas panjang. "Dendam... dendam... balas membalas, baik membalas budi mau pun membalas sakit hati, dendam dan kebencian telah mengotorkan batin manusia dan membuat dunia menjadi sekeruh ini. Mereka datang karena dendam terhadap keluarga kita, dendam kepada kakekmu dan kamilah yang menerima akibatnya. Mereka datang menyebar maut karena dendam, lalu ibumu serta belasan orang muridku menjadi korban. Nah, bagaimana pendapatmu mengenai mereka itu, anakku? Bukankah mereka itu merupakan orang-orang tersesat yang mabok dendam kebencian yang hanya ingin memuaskan nafsu kebencian di hati mereka saja dengan melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang sama sekali tidak mereka kenal?"

Cia Sun mengepal tinju dan mengangguk. "Mereka itu orang-orang jahat!" jawabnya.

"Bagus!" kata ayahnya. "Dan sekarang engkau pun ingin menjadi seperti mereka, hendak mencari orang-orang yang tak kau kenal untuk kau bunuh hanya untuk memuaskan nafsu kebencianmu?"

Cia Sun terkejut, tak menyangka bahwa ke situ maksud ayahnya. "Tapi, ibu telah mereka bunuh, juga para suheng!"

"Rasa penasaran dalam pemikiran seperti itulah yang menimbulkan dendam mendendam dan bunuh membunuh, lalu menciptakan lingkaran setan dari mata rantai karma. Apakah engkau menghendaki dirimu terikat oleh rantai itu, sampai ke cucumu, terbelenggu rantai karma, terus-menerus dicekam dendam balas membalas tiada akhirnya? Mata rantai itu sekarang berada di tanganmu, mau kau patahkan ataukah mau kau sambung, terserah kepadamu. Kalau engkau hendak menyambungnya, engkau mendendam, lantas mencari pembunuh ibu dan para suheng-mu, kemudian engkau membunuh mereka. Apakah kau kira sudah selesai sampai di sana saja? Kalau murid atau keturunan mereka mempunyai batin yang sama denganmu, pasti mereka pun akan mendendam dan akhirnya mencarimu untuk membalas dendam kepada muridmu atau keturunanmu. Terus menerus begitu, tak ada habisnya. Sebaliknya, kalau engkau hendak membebaskan diri dari lingkaran setan karma itu, engkau diam dan menghapus dendam sekarang juga maka rantai belenggu itu pun patah."

Cia Sun termenung, lalu menarik napas panjang. "Ayah, dari ajaran ayah yang lalu, aku dapat mengerti tentang penjelasan ayah tadi. Akan tetapi bagaimana pun juga, aku yang masih muda ini, hanyalah seorang manusia biasa ayah, yang tidak terlepas dari perasaan senang susah malu marah dan takut. Menghadapi kematian ibu dan para suheng seperti ini, melihat orang-orang menyebar maut di dalam keluarga kita, bagaimana mungkin aku melupakannya dan mendiamkannya begitu saja?"

"Andai kata engkau berada di sini ketika peristiwa itu terjadi dan engkau membela ibumu serta suheng-suheng-mu, seperti yang kulakukan juga, hal itu adalah wajar. Akan tetapi, menanam kebencian di dalam hati merupakan racun bagi batin sendiri, anakku."

"Biarkan aku melihat kenyataan yang tumbuh dalam batin sendiri, ayah. Harap ayah suka menceritakan bagaimana peristiwa ini dapat terjadi, bagaimana asal mulanya."

"Mereka yang datang menyerbu itu berjuluk Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo. Mereka adalah cucu murid dari mendiang Hek-hiat Mo-li, seorang datuk sesat yang dahulu tewas di tangan kakekmu. Mereka berdua jauh-jauh datang dari negeri Sailan hendak mencari mendiang ayah Cia Sin Liong, untuk membalas dendam. Akan tetapi karena ayah yang mereka cari-cari telah meninggal dunia, mereka lalu menimpakan dendam mereka kepada keturunan ayah yaitu aku sekeluarga. Dan di dalam perkelahian itu, para suheng-mu dan ibumu jatuh sebagai korban dan tewas."

"Dan kedua iblis itu?"

"Mereka telah pergi dalam keadaan luka."

"Tapi kenapa mereka tidak membunuh ayah? Bukankah ayah merupakan musuh utama, sebagai putera kongkong? Kenapa mereka hanya membunuh ibu dan para suheng, dan melepaskan ayah?"

Cia Han Tiong menghela napas. "Mereka tidak mampu melakukan hal itu karena mereka terluka olehku dan tidak mampu melawan lagi."

Cia Sun memandang dengan mata terbelalak. "Ayah telah mengalahkan mereka?"

Ayahnya mengangguk. "Memang mereka itu lihai bukan main, akan tetapi aku berhasil mengalahkan mereka."

"Dan melukai mereka? Kalau mereka kalah dan terluka... bagaimana mereka dapat lolos dan pergi dari sini?"

"Aku telah melepaskan mereka dan membiarkan mereka pergi."

"Apa?" Cia Sun terlonjak berdiri, memandang kepada ayahnya dengan muka pucat. "Ayah berhasil mengalahkan dan melukai mereka, akan tetapi ayah... membiarkan mereka pergi begitu saja selagi jenazah ibu dan para suheng masih menggeletak di depan kaki ayah?"

Ayahnya mengangguk. "Aku sendiri pun hanya seorang manusia biasa, anakku, dan aku pun tak luput dari pada nafsu amarah dan sakit hati. Akan tetapi aku melihat dengan jelas betapa aku sekeluarga akan terperosok semakin dalam kalau aku hanya menuruti nafsu kebencian, maka aku sengaja membiarkan mereka pergi."

"Dan dengan perbuatan itu ayah merasa yakin bahwa ikatan dendam itu akan terputus? Bagaimana kalau dua iblis itu masih penasaran karena ayah dan aku masih belum tewas dan mereka masih berusaha untuk membunuh kita? Apakah kita pun harus diam saja dan menyerahkan nyawa untuk dibunuh?" Di dalam pertanyaan pemuda ini masih terkandung rasa penasaran yang amat besar.

Mendengar pertanyaan puteranya itu, Cia Han Tiong menahan senyum, menghela napas dan menggeleng kepala. "Aku percaya bahwa mereka pun sudah insyaf akan kebodohan mereka dan merasa amat menyesal. Dan andai kata benar seperti yang kau katakan tadi, andai kata mereka itu pada suatu hari datang kembali dan berusaha untuk menyerang dan membunuh kita, tentu saja kita akan melawan mereka."

"Hemmm, bukankah hal itu sama saja namanya, ayah? Kita pun akan mempergunakan kekerasan apa bila diserang dan kalau mereka itu sangat lihai, berarti mereka atau kita yang akan tewas di dalam perkelahian itu?"

"Tidak, anakku. Hal itu sudah menjadi berbeda dan lain lagi. Apa bila kita diserang orang, berarti kita terancam bahaya dan sudah menjadi hak dan kewajiban kita untuk melindungi dan membela diri, berusaha melepaskan diri dari ancaman bahaya. Dalam pembelaan diri ini tidak terkandung kebencian."

Han Tiong menatap tajam wajah puteranya dan merasa prihatin karena dia dapat melihat betapa rasa penasaran yang sangat besar mencekam hati puteranya dan bahwa dendam masih meracuni hati puteranya.

"Ingat, anakku. Kegagahan sejati berarti bisa mengalahkan cengkeraman hawa nafsu diri sendiri yang meracuni batin. Tak ada orang lain yang akan dapat membersihkan batinnya sendiri dari cengkeraman racun nafsu dendam kalau bukan kewaspadaan dan kesadaran sendiri."

Cia Sun tidak membantah lagi, akan tetapi dia masih merasa amat penasaran dan untuk melapangkan hatinya, dia segera berpamit dan meninggalkan ayahnya untuk menghirup udara segar di luar rumah yang kini kehilangan keindahan dan daya tariknya baginya itu. Dia pergi ke kuburan ibunya dan di hadapan kuburan yang masih baru itu dia tidak dapat menahan lagi kesedihannya. Menangislah pemuda yang biasanya tabah ini tersedu-sedu.

Mengingat betapa ibunya masih segar bugar dan bergembira ketika dia meninggalkannya setahun yang lalu dan kini tiba-tiba sudah tiada, apa lagi mengingat betapa ibunya yang dianggapnya sebagai seorang wanita paling lembut, paling baik dan paling mulia di dunia ini tewas terbunuh oleh orang jahat, hatinya terasa sakit sekali dan dendam pun semakin tumbuh dalam hatinya.

Memang, kedukaan, kemarahan yang menimbulkan kebencian, semua itu muncul dalam batin apa bila pikiran mengingat-ingat segala hal yang telah lewat, menghidupkan segala peristiwa dan pengalaman yang lalu itu dalam ingatan, memperbesar rasa iba diri melalui penonjolan si aku yang dibikin susah atau tidak disenangkan. Makin mendalam pikiran mengingat-ingat, makin berkobarlah nafsu kedukaan dan amarah, membuat kebencian menjadi semakin subur pula. Kebencian timbul dari ingatan. Kebencian adalah ingatan itu sendiri yang disalah gunakan oleh si aku. Tanpa adanya ingatan, tanpa adanya si aku yang mengingat-ingat, maka takkan ada kebencian.

Sampai hari berganti malam, Cia Sun belum juga meninggalkan makam ibunya dan para suheng-nya yang tewas dalam tangan musuh. Dia duduk bersila, tidak menangis lagi akan tetapi hatinya diliputi penuh duka dan dendam. Makin dia membayangkan kehidupan yang silam di samping ibunya, dan makin dia mengingat-ingat akan kematian orang yang disayangnya, maka semakin besar pula penderitaan batinnya.

Dia tidak tahu bahwa sore tadi ayahnya sempat menjenguknya dan memandangnya dari jauh tanpa mengganggunya. Orang tua itu hanya memandang dengan sinar mata terharu, kemudian Cia Han Tiong meninggalkan puteranya, kembali ke dalam kamarnya di mana dia lantas duduk bersemedhi dengan tenang. Dia harus membiarkan puteranya itu sadar sendiri dan dia dapat menduga bahwa pada saat itu sedang terjadi perang batin dalam diri puteranya.

Malam itu langit tak berbintang, akan tetapi bulan purnama menerangi permukaan bumi dengan cahayanya yang lembut. Cia Sun masih tetap duduk di hadapan makam ibunya. Hatinya terasa seperti ditusuk ketika secara tiba-tiba dia teringat akan Sui Cin, gadis yang sudah menjatuhkan hatinya, membuatnya mengalami perasaan cinta untuk pertama kali dalam hidupnya.

Ketika dia melakukan perjalanan pulang, sudah terkandung rencana dalam hatinya bahwa ibunya akan merupakan orang pertama yang akan diberi tahu tentang rahasia hatinya itu. Dia hendak menceritakan tentang Sui Cin kepada ibunya dan meminta nasehat ibunya, bahkan mengharapkan ibunya akan dapat mengatur dan menyampaikan kepada ayahnya tentang hasrat hatinya terhadap puteri Pendekar Sadis.

Dia percaya bahwa ayah ibunya akan merasa girang dan akan menyetujui kalau dia minta dilamarkan Sui Cin. Bukankah di antara ayahnya dan Pendekar Sadis terdapat pertalian batin yang amat erat? Teringat akan semua itu, hatinya menjadi hancur. Kini ibunya telah tiada dan dia merasa malu kalau harus bicara tentang gadis itu kepada ayahnya. Dengan kematian ibunya, dia kehilangan banyak sekali.

Selagi Cia Sun tenggelam ke dalam lamunannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara orang di belakangnya, "Uhh-uhhh, membiarkan diri tenggelam dalam duka hanya dilakukan oleh orang-orang lemah. Kalau seorang pemuda selemah ini batinnya, tidak dapat diharapkan lagi!"

Cia Sun melompat berdiri sambil membalikkan tubuhnya. Dia terkejut sekali mendengar suara orang itu dan kini dia terbelalak memandang kepada seorang kakek yang tahu-tahu telah berdiri di hadapannya. Seorang kakek yang sangat menyeramkan, dengan tubuhnya yang tinggi besar, wajahnya hitam penuh dengan cambang bauk dan sepasang matanya melotot galak, pakaiannya jubah pendeta yang nampak bersih bahkan mewah, sepatunya baru mengkilap.

Diam-diam Cia Sun merasa heran melihat betapa kakek tinggi besar ini tahu-tahu berada di belakangnya tanpa dia mendengar sama sekali. Hal ini saja membuktikan bahwa tentu kakek ini memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi keheranannya ini tidak mengurangi kemarahannya. Hatinya tengah dipenuhi kemarahan dan rasa dendam, maka kemunculan orang asing yang begitu saja mencelanya langsung membuat pandang mata pemuda ini mengandung api berkilat.

"Iblis dari mana berani datang mengganggu ketenteramku?!" bentaknya marah.

"Ha-ha-ha!" Kakek itu tertawa mengejek. "Kiranya masih ada juga sisa api dalam hatimu. Siapa mengganggu ketenteramanmu? Hatimu jelas tidak tenteram. Apakah kalau engkau menangis seperti itu maka yang mati akan dapat bangkit kembali? Biar engkau menangis sampai mengeluarkan air mata darah sekali pun, ibumu tetap saja akan tinggal di dalam kuburnya, tidak akan dapat bangkit hidup kembali, ha-ha-ha!"

Tentu saja Cia Sun menjadi marah sekali mendengar kata-kata yang kasar dan nadanya mengejek ini. Andai kata dia tidak sedang diracuni kemarahan dan kebencian, kata-kata ini tentu masih dapat diterimanya. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ucapan kakek ini membuatnya marah sekali.

"Orang asing, cepat pergilah dan jangan ganggu aku. Apa hubunganmu dengan urusan kematian ibuku?"

"Ha-ha-ha, engkau belum tahu siapa pembunuh ibumu, hanya mendengar namanya saja. Siapa tahu pembunuhnya itu adalah orang macam aku, ha-ha-ha!"

Cia Sun terbelalak. Menurut ayahnya, pembunuh ibunya adalah dua orang yang berjuluk Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo. "Apakah engkau berjuluk Hek-hiat Lo-mo?" tanyanya dengan suara membentak.

"Ha-ha-ha, boleh saja aku disebut Lo-mo (Iblis Tua), akan tetapi apakah aku mempunyai Hek-hiat (Darah Hitam) ataukah tidak, haruslah dibuktikan lebih dahulu. Akan tetapi aku tahu benar bahwa engkau adalah putera seorang pendekar yang berhati lemah, yang tak memiliki kegagahan, membiarkan diri dihina dan diinjak-injak oleh orang lain. Engkau pun seorang pemuda yang lemah dan tidak dapat diharapkan."

"Iblis tua, engkau terlalu menghina orang!" Cia Sun marah sekali dan dia sudah mengepal kedua tinjunya dan siap untuk menerjang.

"Ha-ha, engkau hendak menyerangku? Engkau memiliki keberanian itu? Cobalah, orang muda, memang aku ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan keturunan Pendekar Lembah Naga!"

Mendengar ini, semakin besar kecurigaan hati Cia Sun. Siapa tahu kakek ini benar-benar musuh besar keluarganya yang datang lagi, untuk menyempurnakan pekerjaannya yang terkutuk itu, yakni membasmi habis keluarga Pendekar Lembah Naga.

Maka, dengan kemarahan meluap Cia Sun segera menerjang ke depan dan menyerang kakek berjubah pendeta itu. Karena dia sudah dapat menduga bahwa lawan ini tentu lihai sekali, maka dia pun tidak bersikap sungkan lagi dan begitu menyerang, Cia Sun sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang kemudian begitu tangannya meluncur dia sudah meluruskan telunjuknya yang menjadi kaku seperti baja melakukan totokan bertubi-tubi ke arah tujuh jalan darah utama pada bagian depan tubuh lawan. Terdengar bunyi bercuitan ketika tangannya bergerak dan totokan-totokan itu sungguh amat dahsyat!

Biar pun tubuhnya tinggi besar, namun ternyata kakek itu dapat bergerak dengan amat cepat. Tubuhnya bergerak ke sana-sini mengelak dari sambaran jari tangan Cia Sun dan mulutnya mengeluarkan kata-kata seruan, "Ah, inikah yang disebut totokan It-sin-ci (Satu Jari Sakti)? Hebat, akan tetapi masih mentah!" Dan ucapannya ini bukan hanya sekedar membual karena tujuh kali totokan itu lewat saja dan tidak satu pun dapat mengenai tubuh kakek itu.

Diam-diam Cia Sun terkejut bukan main. Jurus-jurus serangannya tadi adalah jurus-jurus simpanan. Lawan mungkin dapat menangkisnya, akan tetapi menghindarkan diri dari tujuh kali totokan bertubi-tubi itu hanya dengan cara mengelak, sungguh amat luar biasa! Selain resikonya terlalu besar, juga gerakan tangannya amat cepat sehingga kalau bukan orang yang sudah matang ilmunya sehingga gerakannya sudah otomatis dan mendarah daging, kiranya tidak akan mungkin menghindarkan diri semudah itu dari serangkaian totokannya.

Dia juga merasa penasaran sehingga kini mendesak dan menyerang lagi dengan Hok-mo Cap-sha-ciang! Inilah ilmu dari ayahnya yang paling dirahasiakan. Hok-mo Cap-sha-ciang (Tiga Belas Jurus Penakluk Iblis) adalah ilmu yang amat luar biasa dan mukjijat. Biar pun hanya tiga belas jurus, akan tetapi setiap jurus mengandung kehebatan yang sulit ditahan atau ditandingi lawan.

Apa bila tidak berada dalam kesulitan, mendiang Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong sendiri pun jarang menggunakan ilmu dahsyat itu. Juga Cia Han Tiong hampir tak pernah menggunakannya dalam perkelahian. Tetapi kali ini Cia Sun yang berada dalam keadaan sedih dan sakit hati, tak dapat menahan dirinya dan telah mempergunakan ilmu simpanan terakhir yang paling hebat di antara ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari ayahnya.

"Wuuuttt...! Singgg...!" Angin yang amat kuat menyambar dan suara berdesing terdengar ketika tangan pemuda itu menyambar ke depan.

Kakek itu mengeluarkan suara kaget dan tak berani main-main lagi, segera mengerahkan tenaga kemudian menyambut dorongan kedua telapak tangan pemuda itu dengan kedua tangannya sendiri. Dia maklum bahwa serangan sedahsyat itu tidak mungkin dielakkan tanpa membahayakan nyawanya. Satu-satunya jalan adalah menyambut pukulan dahsyat itu.

"Plakk! Plakk!"

Tubuh Cia Sun terdorong ke belakang dan dia merasa betapa tenaganya bertemu dengan sesuatu yang lembut, kedua tangannya bertemu dengan telapak tangan lawan yang amat lunak akan tetapi dia merasa seolah-olah semua tenaganya masuk ke dalam air sehingga hilang kekuatannya.

Namun, di balik kelembutan itu ternyata ada tenaga yang sedemikian halus dan kuatnya sehingga justru tubuhnyalah yang malah terdorong ke belakang. Dan begitu dia berhasil menghentikan tubuhnya yang terdorong, tiba-tiba saja kedua kakinya gemetar dan terasa lemas sehingga dia hampir terguling. Sebaliknya, kakek itu pun membelalakkan sepasang matanya yang melotot lebar.

"Ihh, ilmu setan apakah itu? Setahuku Pendekar Lembah Naga adalah seorang pendekar gagah yang tidak pernah tersesat, akan tetapi bagaimana cucunya mempunyai ilmu sesat macam itu tadi?" Berkata demikian, kakek itu lalu menubruk maju hingga jubahnya yang lebar itu berkembang.

Cia Sun merasa seakan-akan dia diserang oleh seekor kelelawar raksasa yang terbang dan menyambar ke arahnya. Kedua kakinya masih terasa lemas, maka kini terpaksa dia pun mengerahkan Thian-te Sin-ciang untuk melindungi dirinya, menangkis ke depan dari samping sambil mengerahkan tenaga sinkang.

"Desss...!"

Sekali ini, pertemuan antara lengan mereka bahkan membuat tubuh Cia Sun terpelanting! Belum hilang rasa kaget pemuda itu, kakek yang sangat lihai itu sudah menubruk dengan cengkeraman kedua tangannya ke arah kepala dan dada Cia Sun.

"Hehh!" Cia Sun yang masih terpelanting itu terkejut melihat dua buah lengan yang besar dan panjang menyambar dengan cengkeraman maut. Dia menggulingkan tubuhnya untuk mengelak lalu meloncat bangun.

Dua tangan kakek itu ternyata masih melanjutkan serangannya secara aneh dan dahsyat. Akan tetapi Cia Sun cepat memainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-ciang untuk membela dan melindungi dirinya sehingga semua serangan kakek itu dapat dielakkan atau ditangkis!

"Bagus!" Kakek itu memuji. "Thai-kek Sin-ciang yang baik sekali!"

Sungguh pun mulutnya memuji, akan tetapi kakek itu melanjutkan serangan-serangannya yang ternyata selain aneh sekali gerakannya, juga amat cepat dan kuat sehingga Cia Sun menjadi amat repot dibuatnya. Pemuda ini segera merubah gerakannya, berturut-turut dia memainkan San-in Kun-hoat dan semua ilmu yang sudah dipelajarinya. Akan tetapi kakek itu dapat mengenal semua gerakannya dan memuji-muji setengah mengejek!

"Ha-ha-ha, ilmu-ilmu silat yang tinggi dan hebat, akan tetapi masih mentah. Mana Thi-khi I-beng? Hayo keluarkan, biar kucoba kelihaiannya!"

Cia Sun kini merasa yakin bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai dan telah mengenal ilmu-ilmunya, kecuali Hok-mo Cap-sha-ciang tadi. Hal ini membuatnya merasa gugup dan ketika kakek itu menerjangnya dengan tendangan-tendangan berputar yang amat dahsyat, pahanya kena tendangan dan dia pun terguling lagi. Dan sekali ini, sebelum dia sempat bangkit berdiri, tahu-tahu kakek itu sudah menempelkan jari-jari tangannya ke ubun-ubun kepalanya!

Cia Sun memejamkan mata, menanti datangnya maut karena dia yakin bahwa jika kakek itu menggerakkan jari-jari tangannya, maka dia tak akan tertolong lagi. Akan tetapi jari-jari tangan itu tak kunjung terasa oleh kepalanya sehingga dia pun membuka mata. Dilihatnya bahwa jari-jari tangan itu masih menempel di ubun-ubunnya, akan tetapi kakek itu hanya memandang sambil menyeringai.

"Iblis busuk, apa bila engkau hendak membasmi kelurga kami, lakukanlah. Bunuhlah, aku tidak takut mati!"

"Ha-ha-ha!" kakek itu menarik tangannya lantas melangkah mundur. "Orang muda, kalau aku ini Hek-hiat Lo-mo, apa kau kira engkau masih hidup sekarang ini?"

Sadarlah Cia Sun bahwa kakek ini sebenarnya bukanlah musuh, melainkan seorang aneh yang agaknya tadi sengaja hendak menguji ilmu kepandaiannya. Dia tahu bahwa banyak sekali orang pandai di dunia ini yang berwatak aneh dan agaknya kakek ini pun seorang di antara orang-orang aneh itu yang tidak dikenalnya. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun lalu bangkit duduk dan berlutut menghadap kakek itu.

"Maaf kalau saya sudah keliru menilai orang. Siapakah locianpwe sebenarnya?" tanyanya dengan sikap hormat.

"Orang muda, siapa adanya aku tidaklah begitu penting dan baru akan kujawab sesudah engkau mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku."

Kini hilang sudah rasa marah dalam hati Cia Sun terhadap orang aneh yang dia percaya adalah seorang sakti ini. "Silakan bertanya, locianpwe."

"Engkau adalah putera dari keluarga gagah perkasa yang selalu mengutamakan kebaikan. Ibumu adalah seorang wanita gagah yang berhati mulia, dan murid-murid Pek-liong-pai pun adalah pendekar-pendekar yang baik hati. Akan tetapi, pada suatu hari malapetaka datang menimpa. Dua orang manusia berhati iblis datang menyebar maut, menewaskan ibumu dan para suheng-mu yang sama sekali tidak bersalah terhadap dua orang itu. Nah, kini aku hendak bertanya padamu. Apakah engkau ingin membiarkan saja kejahatan itu, sama sekali tidak mendendam dan tidak ingin mencari lantas membunuh kedua orang itu untuk membalas dan juga untuk membasmi orang-orang yang demikian jahatnya?"

Cia Sun mengepal tinju, hatinya terasa seperti api disiram minyak, semangatnya semakin berkobar. "Tentu saja, locianpwe! Saya akan berusaha mencari dan membunuh kedua iblis jahat itu!"

Kakek itu mengangguk-angguk. "Benarkah itu? Bukankah ayahmu, ketua Pek-liong-pai yang berhati mulia dan suka mengalah itu tidak menghendaki demikian?"

Diam-diam Cia Sun terkejut. Orang aneh ini agaknya tahu segala-galanya, bukan hanya yang menimpa keluarganya saja, akan tetapi juga tahu akan watak ayahnya. Tentu saja hatinya memberontak karena dia ingin mempertahankan kehormatan dan nama ayahnya, ingin membenarkan dan membela pendirian ayahnya. Akan tetapi pada saat itu batinnya sudah terlalu panas oleh dendam sehingga pertanyaan itu bahkan membuat dia melihat lebih jelas lagi akan kesalahan dalam pendapat ayahnya itu.

"Mungkin ayah berpendapat demikian, akan tetapi saya tidak! Saya tidak ingin menjadi orang selemah itu dan membiarkan kejahatan berlangsung tanpa memberi hukuman dan tanpa membalas!"

"Jadi engkau ingin membelas dendam? Tahukah engkau siapa pembunuh ibumu?"

"Mereka adalah Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo."

"Tahukah pula engkau di mana adanya mereka?"

Cia Sun memandang bingung dan menggeleng kepala. "Saya tidak tahu, locianpwe, tetapi saya akan mencari mereka sampai dapat!"

"Orang muda, semangatmu cukup besar, akan tetapi jangan mengira bahwa akan mudah saja mencari mereka. Mereka itu adalah pendatang dari Sailan dan kini menyembunyikan diri. Pula, andai kata dapat bertemu, belum tentu engkau sanggup mengalahkan mereka. Sekarang begini. Aku tertarik kepadamu, kagum akan kelihaian dan kegagahanmu. Ilmu silatmu sudah hebat dan jarang ada yang akan dapat menandingimu kalau ilmu-ilmu yang kau miliki itu sudah dapat kau kuasai sampai matang. Ibarat buah engkau ini masih belum matang benar, dan ibarat batu giok engkau belum lagi digosok. Maukah engkau menjadi muridku dan membiarkan aku membimbingmu selama satu tahun kemudian kutunjukkan kepadamu di mana adanya dua orang musuh besarmu itu?"

Bukan main girangnya hati Cia Sun. Tanpa banyak sangsi lagi dia cepat memberi hormat sambil berlutut dan menjawab. "Saya bersedia dan saya mau, locianpwe!"

"Nah, kalau begitu, ketahuilah bahwa aku adalah Go-bi San-jin, seorang pertapa usil yang tak terkenal dan mulai sekarang engkau harus ikut bersamaku tanpa memberi tahu pada ayahmu."

"Baik, suhu. Teecu mentaati perintah suhu," kata Cia Sun.

Dan malam hari itu juga, dari makam ibunya dia langsung saja pergi mengikuti gurunya tanpa memberi tahukan ayahnya! Dendamnya sudah sedemikian besarnya sehingga dia bersedia melakukan apa saja untuk dapat membalas kematian ibunya dan para suheng-nya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Rumah besar di Ta-tung itu tentu akan dianggap sebagai rumah seorang hartawan atau setidaknya rumah bangsawan oleh orang-orang yang baru datang di kota itu. Penduduk Ta-tung juga hanya mengetahui bahwa rumah besar itu adalah milik seorang hartawan kaya raya ber-she (marga) Siangkoan.

Akan tetapi hartawan yang kabarnya usianya telah lanjut sekali dan sakit-sakitan itu amat jarang kelihatan orang, kabarnya selalu bersembunyi di dalam kamarnya dan dilayani oleh belasan orang pelayan! Hanya kadang-kadang saja orang sempat melihat kakek hartawan ini keluar rumah memasuki sebuah kereta yang mewah, entah pergi ke mana.

Pendeknya, pemilik rumah besar itu dikenal orang sebagai Siangkoan-wangwe (Hartawan Siangkoan) yang sudah tidak terlihat aktip berdagang lagi, agaknya hanya seorang kakek pensiunan yang sedang menghabiskan sisa hidupnya dengan harta kekayaannya. Namun kalau saja orang dapat melihat tembus tembok tebal itu dan menyaksikan apa yang sering kali terjadi di dalam rumah itu, orang itu akan terheran-heran dan terkejut bukan main.

Kiranya kakek hartawan yang kabarnya sakit-sakitan ini sebetulnya adalah seorang datuk kaum sesat yang ditakuti oleh hampir semua anggota dunia hitam. Juga para pendekar di dunia kang-ouw merasa seram kalau mendengar namanya. Dia adalah Siangkoan Lo-jin (Kakek Siangkoan) yang lebih terkenal dengan julukan Iblis Buta!

Dengan menyamar sebagai seorang hartawan tua renta yang sakit-sakitan, Siangkoan Lo-jin dapat terbebas dari gangguan. Dia pun lolos dari pengamatan para pendekar dan juga dari pemerintah yang pada waktu itu sedang sibuk mencarinya sehubungan dengan aksi gerakan pembersihan yang dilakukan oleh para petugas pemerintah atas perintah dari kaisar sendiri.

Siangkoan Lo-jin diketahui sebagai pemimpin semua gerakan rahasia, persekutuan yang bekerja untuk kepentingan Liu-thaikam yang sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman mati itu. Akan tetapi, alat pemerintah tidak berhasil menemukannya, bahkan tidak berhasil pula menemukan para tokoh sesat Cap-sha-kui lain yang menjadi para pembantu utama dari Siangkoan Lo-jin. Pemerintah hanya mampu membasmi anak buah penjahat saja seperti perkumpulan pengemis Hwa-i Kai-pang dan lain-lain.

********************

Pada suatu malam sesudah gerakan pembersihan dari pasukan pemerintah agak mereda di kota Ta-tung yang dekat dengan kota raja, pada sebelah dalam rumah besar itu terjadi kesibukan. Kalau tahu apa yang terjadi di dalam rumah besar itu maka para komandan keamanan di kota Ta-tung bisa mati berdiri.

Kiranya pada malam hari itu, seluruh tokoh pemberontak yang dicari-cari pemerintah telah berkumpul di rumah itu. Di malam gelap itu, laksana iblis-iblis gentayangan, berturut-turut datang berkelebatan bayangan-bayangan hitam yang memasuki rumah besar itu. Mereka adalah tokoh-tokoh sesat dari Cap-sha-kui yang terilbat dalam pemberontakan di bawah pimpinan Liu-thaikam, yang kini datang untuk memenuhi panggilan Siangkoan Lo-jin yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka dalam persekutuan itu.

Menjelang tengah malam, pada waktu kota Ta-tung menjadi sunyi karena sebagian besar penduduknya sudah tidur nyenyak, lengkaplah sudah para tamu aneh yang berdatangan ke rumah besar menghadap Siangkoan Lo-jin. Dan di dalam ruangan belakang, di sebuah ruangan yang luas, mereka duduk berkumpul mengelilingi sebuah meja besar panjang.

Para pelayan Siangkoan Lo-jin yang sebetulnya bukan orang-orang biasa melainkan anak buah yang rata-rata memiliki ilmu silat tangguh, kini mengadakan penjagaan ketat walau pun mereka yakin bahwa rumah itu aman dan tak pernah dicurigai orang. Ruang itu cukup luas dan terang sekali sehingga tampak jelas wajah mereka yang duduk mengelilingi meja besar panjang.

Di kepala meja duduk Siangkoan Lo-jin sendiri, seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi kurus dengan pakaian hitam sederhana, pakaiannya sebagai Si Iblis Buta, berbeda dengan pakaian hartawan yang dikenakannya bila mana dia kebetulan keluar sebagai pemilik rumah. Kini pakaian hitamnya sangat sederhana dan longgar.

Kedua matanya mengerikan, nampak putihnya saja dan tidak pernah berkedip. Di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat kayu cendana hitam yang selain menjadi alat bantunya dalam meraba-raba mencari jalan, juga merupakan sebuah senjatanya yang amat ampuh.

Sebetulnya kakek buta ini memiliki sebuah rumah di kota Pao-ci, di Propinsi Shen-si, akan tetapi semenjak kegagalan persekutuannya yang mengabdi kepada Liu-thaikam, terpaksa dia bersembunyi di Ta-tung ini, di mana dia dikenal sebagai seorang hartawan yang tidak melakukan kegiatan apa-apa lagi.

Di sebelah kirinya duduk seorang pemuda, yaitu Siangkoan Ci Kang, putera tunggalnya. Ci Kang tak dapat mengingat ibu kandungnya dengan baik. Seingatnya, pada saat masih kecil pernah dia diasuh oleh seorang wanita yang menurut ayahnya adalah ibunya yang tewas ketika dia masih kecil.

Dia hidup bersama ayahnya, digembleng oleh ayahnya yang buta namun harus diakuinya bahwa ayahnya amat mencintanya, biar pun dengan caranya sendiri yang aneh. Seluruh ilmu kepandaian ayahnya diwariskan kepadanya dan karena memang dia amat berbakat, biar pun kini usianya baru delapan belas tahun lebih, akan tetapi dia telah dapat mewarisi kepandaian itu.

Siangkoan Ci Kang duduk diam bagai arca, ada pun wajahnya membayangkan hati yang dingin dan tidak pedulian. Pakaiannya seperti ayahnya, amat sederhana, malah jubahnya terbuat dari kulit harimau yang kuat. Usianya baru delapan belas tahun, tetapi tubuhnya tinggi tegap.

Pada waktu itu dia duduk dengan sepasang alis berkerut seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan membuat dia merasa tidak gembira. Dan memang sesungguhnya demikianlah. Sejak semula dia sudah tidak setuju ketika mendengar ayahnya memimpin Cap-sha-kui dan para tokoh sesat untuk menjadi antek pembesar korup Liu-thaikam.

Memang dia tidak setuju, namun betapa pun juga, sebagai seorang anak yang mencinta ayahnya, dia selalu turun tangan membantu ayahnya, walau pun bantuan itu lebih berupa perlindungan karena dia tidak pernah mau membantu bila mana kawan-kawan ayahnya melakukan kejahatan.

Dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang datuk sesat, akan tetapi dia juga tahu, bahkan merasa yakin, bahwa sebenarnya ayahnya bukanlah orang jahat, melainkan orang yang diracuni dendam sesudah kedua matanya menjadi buta. Ayahnya hanya ingin menonjol, ingin menjadi orang nomor satu dalam dunia sesat.

Dia merasa kasihan melihat ayahnya yang buta, juga kagum bahwa ayahnya yang buta itu ternyata masih dapat menguasai dan memimpin orang-orang sesat yang jahat seperti iblis macam gerombolan Cap-sha-kui itu.

Berturut-turut mereka datang dan kini sudah berkumpul di sana dengan lengkap. Semua tokoh Cap-sha-kui yang pernah bekerja sama membantu Siangkoan Lo-jin. Mereka adalah Koa-i Hek-mo, Hwa-hwa Kui-bo, Kiu-bwe Coa-li, Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo, dan Tho-tee-kwi Si Setan Bumi. Memang hanya enam orang ini saja dari Cap-sha-kui (Tiga Belas Iblis) yang tersangkut dalam gerakan membantu Liu-thaikam yang dipimpin oleh Siangkoan Lo-jin.

Sebenarnya Cap-sha-kui bukan merupakan suatu gerombolan dari tiga belas orang datuk sesat, tetapi mereka itu masing-masing memiliki nama besar dan keistimewaan sehingga dunia kang-ouw mengenal mereka sebagai Tiga Belas Iblis. Oleh karena nama sebutan ini maka mereka, tiga belas orang tokoh sesat, merasa seakan-akan ada sesuatu yang mengikat mereka satu sama lain, yaitu nama itulah. Sedikit banyak nama sebutan Tiga Belas Iblis itu mendatangkan semacam perasaan setia kawan di dalam hati mereka. Akan tetapi, kecuali yang enam orang ini, yang lain dari mereka tidak merasa tertarik dan tidak mau mencampuri urusan pemberontakan itu.

Mereka tengah bercakap-cakap dengan wajah muram dan lesu, membicarakan kegagalan mereka dan juga hancurnya persekutuan mereka dengan ditangkap dan dihukum matinya Liu-thaikam yang merupakan sumber uang dan harapan mereka untuk kelak dapat meraih kedudukan. Terutama sekali Siangkoan Lo-jin menjadi kecewa dan penasaran sekali.

"Brakkkk…!" Dia menggebrak meja sampai ruangan itu tergetar oleh hawa pukulan yang keluar dari gerakannya.

"Sungguh membuat orang bisa mati penasaran! Bagaimana untuk pekerjaan membunuh dua orang pejabat saja sampai gagal, dan bukan saja gagal, bahkan membuat usaha kita hancur dan Liu-thaikam sampai terhukum mati pula. Kegagalan itu sendiri tidaklah begitu menyedihkan, akan tetapi telah menyeret nama kita ke dalam lumpur. Masakah kita yang sudah dikenal seluruh dunia sebagai tokoh-tokoh utama sampai gagal dan hancur dalam usaha membunuh dua orang pejabat saja?"

Kui-kok Lo-mo yang mewakili kawan-kawannya berkata dengan suara lirih, jelas bahwa dia pun jeri terhadap kakek buta itu. "Lo-jin, harap maafkan kami. Bukan sekali-kali karena kami kurang hati-hati. Semua rencana sudah kami atur sebaik-baiknya, bahkan kami juga dibantu oleh tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang. Akan tetapi pemuda Cin-ling-pai itu benar-benar menjemukan! Kini dia pula yang menggagalkan rencana kita. Dia yang dahulu menyamar sebagai Menteri Liang, dan ia pula yang menyelamatkan Jenderal Ciang dari dalam pesta Ang-kauwsu. Dan ternyata bahwa pesta itu pun agaknya sudah diatur oleh pemuda itu untuk menjebak dan memancing kami. Kalau tidak ada pemuda itu, tentu tugas kami telah berhasil dengan baik semua."

“Pemuda keparat itu pula yang telah menyelamatkan ketua Kang-jiu-pang Song Pak Lun ketika aku dan Hwa-hwa Kui-bo menyerbu!" kata Koai-pian Hek-mo dengan suara lantang dan marah.

"Bukan hanya pemuda putera ketua Cin-ling-pai, bahkan juga anak setan puteri Pendekar Sadis itu yang menghalangi pekerjaan kita!" Suara Kiu-bwe Coa-li melengking ketika dia ikut bicara. Semua orang menengok kepadanya dan ada yang terkejut.

"Anak Pendekar Sadis? Yang mana?" Kui-kok Lo-bo bertanya, terkejut ketika mendengar disebutnya nama Pendekar Sadis oleh rekannya itu. Juga suaminya nampak kaget.

"Hi-hik, sungguh lucu kalau sampai ketua Kui-kok-pang dapat dikibuli dan tidak mengenal dia. Aku sudah menyelidiki dan aku tahu rahasianya. Dia adalah puteri atau anak tunggal Pendekar Sadis, kadang-kadang dia memakai pakaian wanita biasa, tapi kadang-kadang menyamar sebagai seorang pemuda jembel. Ilmu kepandaiannya sangat tinggi, agaknya sudah mewarisi semua kepandaian ayah ibunya," kata Kiu-bwe Coa-li, agaknya gembira karena suami isteri Kui-kok-san itu belum tahu akan rahasia itu sehingga dia yang sudah tahu berarti lebih waspada dan lebih cerdik dari pada mereka.

"Aihhh, perempuan setan itukah yang kau maksudkan?" Hwa-hwa Kui-bo berseru kaget. "Apakah dia yang pernah kita jumpai di kuil Dewi Laut di kota Ceng-tao?" Ia memandang kepada Koai-pian Hek-mo dengan mata terbelalak dan rekannya itu mengangguk-angguk, merasa ngeri.

Kakek iblis ini bersama Hwa-hwa Kui-bo pernah bertemu kemudian bertanding melawan seorang gadis yang luar biasa lihainya sehingga mereka berdua kalah. Kiranya gadis itu adalah puteri Pendekar Sadis! Memang demikian, di antara para tokoh sesat yang dijuluki Cap-sha-kui, dua orang tokoh ini mempunyai tingkat kepandaian yang paling rendah maka biar pun mengeroyok, mereka itu masih belum mampu menandingi Sui Cin.

"Brakkk!" kembali Siangkoan Lo-jin menggebrak meja.

Diam-diam dia menyesal sekali mengapa kedua matanya buta sehingga biar pun dia lihai akan tetapi dia tak dapat menyaksikan sendiri semua itu dan tidak dapat mengenal kedua orang muda yang sudah menggagalkan semua usahanya. Kini Liu-thaikam telah dihukum mati dan semua hartanya telah disita, ini berarti bahwa usaha yang dipupuknya selama ini berantakan sama sekali.

"Sungguh amat menjemukan! Campur tangan dua orang muda saja telah membuat semua usaha kita gagal. Ci Kang, apakah engkau juga tidak mampu menandingi dua orang muda itu?" tiba-tiba ayah itu menoleh ke kiri, bertanya kepada puteranya.

Sejak tadi Ci Kang mendengarkan percakapan mereka dengan alis berkerut. Mendengar pertanyaan ayahnya, dia pun menarik napas panjang. "Aku sudah pernah bertemu dengan mereka dan menurut penglihatanku, sungguh pun mereka itu merupakan dua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi, namun tidaklah luar biasa!"

"Kalau begitu, mengapa usaha kita sampai gagal?" bentak ayahnya.

"Karena mereka berada pada pihak yang benar dan di belakang mereka terdapat pasukan pemerintah!" jawab pemuda itu dengan singkat.

"Keparat! Tanpa sebab Cin-ling-pai dan Pendekar Sadis memusuhi kita. Kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita harus membalas dendam atas gangguan mereka ini!"

Enam orang tokoh Cap-sha-kui itu mengangguk-angguk, akan tetapi tiba-tiba Tho-tee-kwi yang sejak tadi diam saja mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. Biar pun kasar dan liar, akan tetapi raksasa yang tinggi besar dengan ukuran satu setengah kali orang biasa ini amat cerdik dan cukup berpengalaman sehingga dia tak mau melakukan hal-hal yang sembono tanpa perhitungan.

“Heh, bukan aku takut menghadapi mereka, akan tetapi jika memusuhi ketua Cin-ling-pai dan terutama sekali Pendekar Sadis tanpa perhitungan, bukankah itu sama saja dengan menabrak batu karang dan kita mencari mati konyol?" Suaranya itu segera membuat para rekannya saling pandang dengan muka berubah agak pucat.

Memang, bagaimana pun juga mereka sudah mendengar tentang kehebatan tokoh-tokoh yang hendak mereka gempur itu, dan terutama sekali nama besar Pendekar Sadis yang membuat mereka harus berhitung sampai seratus kali sebelum benar-benar turun tangan memusuhinya.

"Dalam hal ini, nama Cap-sha-kui ikut tersangkut. Jika kalian semua sebanyak tiga belas orang maju bersama, apakah masih takut juga? Dan aku sendiri pun tidak akan tinggal diam. Setidaknya, anakku Ci Kang akan mewakili aku untuk menghadapi anak-anak ketua Cin-ling-pai dan Pendekar Sadis."

"Tidak, ayah, aku tidak mau!"

Ucapan Ci Kang ini membuat semua orang sangat terkejut hingga para tokoh Cap-sha-kui memandang dengan mata terbelalak kepada pemuda yang berani membantah ayahnya itu. Suasana menjadi sunyi sekali selama beberapa detik setelah Ci Kang mengeluarkan bantahannya, kesunyian yang mendebarkan hati.

"Apa...? Apa kau bilang tadi, Ci Kang?" Akhirnya terdengar suara Siangkoan Lo-jin, lirih dan lambat, akan tetapi penuh dengan kemarahan yang ditahan-tahan.

Siangkoan Ci Kang tetap tenang saja walau pun dia tahu bahwa ayahnya beserta sekutu ayahnya itu tentu akan marah menghadapi pembangkangannya. "Aku tidak mau mewakili ayah untuk memusuhi Cin-ling-pai dan keluarga Pendekar Sadis."

Terdengar suara keras disusul meluncurnya sinar hitam dan tahu-tahu dinding di belakang tempat Ci Kang duduk berlubang disambar ujung tongkat kayu cendana. Kalau bukan Ci Kang, agaknya bukan dinding yang berlubang, melainkan tubuh orang yang sudah berani membantah dan membangkang terhadap kehendak Si Iblis Buta itu.

Melihat betapa tongkat itu menyambar cepat hingga sulit diikuti pandang mata dan betapa besar bahaya maut mengancam apa bila diserang oleh kakek buta itu, diam-diam enam orang Cap-sha-kui itu bergidik. Hebat bukan main kepandaian kakek buta itu dan mereka merasa gentar untuk menghadapinya sebagai lawan, walau pun mereka juga tahu bahwa dengan majunya mereka berenam, apa lagi kalau lengkap tiga belas orang, kakek buta itu pun belum tentu akan mampu melawan mereka.

"Ci Kang, apa artinya ucapanmu itu? Apakah engkau hendak menjadi anak durhaka dan mengkhianati ayahmu sendiri?"

"Tidak, ayah. Akan tetapi semenjak dulu pun aku sudah tidak setuju dengan persekutuan ini. Ayah bermain api terlalu besar dan berbahaya. Kegagalan yang lalu sudah semestinya menjadi peringatan supaya ayah menghentikan semua kegiatan yang tidak sehat itu. Aku tidak senang melihat ayah melakukan kejahatan dan mengumpulkan orang-orang jahat untuk bekerja sama."

"Brakkk!"

Ujung tepi meja itu hancur luluh dicengkeram tangan Siangkoan Lo-jin, sedangkan tangan sebelah yang memegang tongkat nampak gemetar. Kakek buta ini marah bukan main.

"Ci Kang, aku sudah tua dan aku telah mempunyai rencana untuk mengundurkan diri dan mengangkat engkau sebagai penggantiku, memimpin para rekan di dunia hitam. Engkau harus lebih berhasil dari pada aku, anakku, dan..."

"Maaf, ayah. Aku tidak sanggup, dan aku tidak mau melumuri hidupku dengan kejahatan dalam bentuk apa pun juga. Aku tidak mau mengganggu orang lain..."

"Tutup mulutmu! Kau kira selama ini engkau makan apa kalau tidak dari hasil pekerjaan ayahmu? Kau kira dari mana kita memperoleh semua harta kekayaan..." Kakek itu cepat menahan diri karena baru dia teringat bahwa di situ terdapat orang-orang lain yang turut mendengarkan sehingga tidak semestinya dia membuka semua rahasia keluarganya.

"Ayah, aku tidak menghendaki semua harta itu. Jauh lebih baik aku hidup miskin dan tidak mempunyai apa-apa dari pada harus mendapatkan harta kekayaan melalui kejahatan."

"Sombong engkau! Katakan saja bahwa engkau jeri dan takut terhadap Cin-ling-pai dan Pendekar Sadis, engkau takut menghadapi manusia-manusia sombong yang menamakan diri mereka kaum bersih, golongan putih atau para pendekar. Engkau memang pengecut, penakut..."

"Aku tidak takut kepada siapa juga, ayah. Akan tetapi kurasa penghidupan para pendekar itu jauh lebih bersih dari pada penghidupan kaum sesat..."

"Anak durhaka...!" Tongkat hitam itu kini berkelebat menyambar ke arah kepala Ci Kang dengan pukulan maut yang amat dahsyat.

Akan tetapi pemuda itu sudah mampu mengelak dan melempar diri ke belakang sehingga dia terjengkang, akan tetapi dengan berjungkir balik dia telah meloncat bangun dan berdiri kembali. Akan tetapi ayahnya yang menjadi semakin marah karena serangannya gagal, segera menerjangnya lagi dengan tongkatnya, kini melakukan serangan yang lebih hebat lagi.

Biar pun buta, namun Siangkoan Lo-jin memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya, jauh lebih tajam dari pada orang lain sehingga dalam menghadapi lawan, dia sepenuhnya bergantung kepada pendengarannya untuk mengikuti gerakan lawan serta mengetahui di mana lawan berada! Melihat ayahnya telah nekat dan menyerangnya secara mati-matian, kembali Ci Kang mengelak dan meloncat agak jauh ke dekat pintu.

"Ayah!" teriak Ci Kang penasaran. "Ayah sendiri dahulu menentang kejahatan dan karena dibikin buta, ayah kemudian berubah dan menjadi pemimpin para datuk sesat. Kalau ayah hendak memaksaku menjadi penjahat, tidak cukup ayah membikin buta, akan tetapi harus lebih dulu membunuhku!"

"Keparat, kalau begitu aku akan membunuhmu!" Siangkoan Lo-jin yang merasa kecewa dan menjadi marah sekali itu sudah meloncat ke arah puteranya, kemudian menusukkan tongkatnya.

Akan tetapi Ci Kang sudah menguasai semua ilmu ayahnya, maka dia pun tahu akan kehebatan serangan itu. Tiba-tiba saja tubuhnya mencelat ke kiri dan ketika dia turun ke atas lantai, kedua kakinya tidak mengeluarkan bunyi. Pemuda ini sudah mempergunakan ginkang yang paling hebat sehingga tubuhnya menjadi ringan sekali dan di situ dia berdiri tegak, sama sekali tak bergerak, bahkan pernapasannya pun ditahan dan diatur sehingga tidak mengeluarkan bunyi.

Dia tahu akan kelemahan ayahnya yang hanya mengandalkan pendengaran. Maka kini, sesudah dia tidak mengeluarkan bunyi, ayahnya juga berdiri bingung, tidak tahu ke mana perginya Ci Kang!

"Anak durhaka, jangan lari kau! Di mana engkau? Kurang ajar! Heii, apakah kalian sudah berubah menjadi patung semua? Hayo bantu aku untuk menangkap dan membunuh anak durhaka itu!" Teriakan ini ditujukan kepada enam orang Cap-sha-kui yang sejak tadi hanya duduk diam saja dengan penuh perhatian dan kegembiraan melihat bentrokan antara ayah dan anak itu.

Kini, mendengar bentakan Siangkoan Lo-jin mereka serentak bangkit. Akan tetapi mereka merasa ragu-ragu. Mereka mengenal Ci Kang, dan selalu mereka segan kepada pemuda remaja putera Iblis Buta yang selain amat lihai juga pendiam dan tidak banyak cakap itu. Sekarang pemuda itu memandang kepada mereka dengan wajah dingin dan mata berkilat membuat mereka menjadi gentar juga. Kalau mereka maju, kemudian ayah dan anak itu bersatu, mereka tentu akan mati konyol.

"Lo-jin, puteramu berada di sebelah kananmu, dekat pintu keluar!" tiba-tiba Kui-kok Lo-mo berseru sehingga teman-temannya menjadi lega.

Memang mereka tadi ragu-ragu dan kini mereka hendak melihat sikap anak dan ayah itu sebelum mereka turun tangan membantu Siangkoan Lo-jin. Begitu mendengar ucapan ini, tiba-tiba Siangkoan Lo-jin melompat ke kanan, dengan kecepatan luar biasa tongkatnya diputar dan dihantamkan ke arah kepala puteranya. Ketika Siangkoan Ci Kang mengelak, gerakannya terdengar oleh ayahnya dan ayah yang sudah marah ini lalu mengulur tangan kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala puteranya.

Sebuah serangan yang sangat berbahaya dan cepat, mengandung maut! Sungguh amat berbahaya bila mengelak dari serangan ini selagi tongkat itu mengancam dari jurusan lain, maka jalan satu-satunya hanyalah menangkis, pikir Ci Kang. Sebenarnya dia tidak ingin menghadapi ayahnya dengan kekerasan, akan tetapi untuk melindungi dirinya dari tangan maut yang mencengkeram, terpaksa dia harus mengerahkan tenaganya menangkis.

"Dukkk!"

Dua tenaga besar itu bertemu dan akibatnya, Siangkoan Lo-jin berusaha melompat ke belakang untuk mematahkan tenaga yang membuat dia terdorong ke belakang, ada pun Ci Kang sendiri terlempar keluar pintu ruangan itu!

Melihat betapa Siangkoan Lo-jin benar-benar hendak membunuh puteranya, enam orang Cap-sha-kui itu menjadi berani dan mereka pun melakukan pengejaran keluar ruangan.

"Orang muda, perlahan dulu!" teriak Kui-kok Lo-mo yang melompat paling depan sambil mengirim serangan dengan kedua tangannya. Angin keras menyambar disertai uap tipis putih keluar dari sepasang telapak tangan ketua Kui-kok-pang ini ketika dia menyerang ke arah Ci Kang.

"Jangan kalian mencampuri urusan pribadiku!" bentak Ci Kang dan dia pun mengerahkan tenaganya, membalik dan mendorong untuk menyambut serangan lawan.

"Desss...!"

Keduanya terpental dan Kui-kok Lo-mo terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa tenaga pemuda remaja itu benar-benar amat hebat dan mampu membuat dirinya terpental. Juga isterinya yang datang menyusul di belakangnya, terkejut melihat suaminya sampai terpental. Karena suami isteri ini kelihatan tercengang dan ragu-ragu, para tokoh sesat lainnya yang mempunyai tingkat lebih rendah, menjadi ragu-ragu sehingga Ci Kang memperoleh kesempatan untuk meloncat keluar rumah kemudian melarikan diri.....

Marahlah hati Siangkoan Lo-jin ketika mendapatkan kenyataan bahwa puteranya berhasil lolos. "Kalian ini sungguh sekelompok orang yang tidak berguna. Kalian membiarkan anak durhaka itu lolos begitu saja, tanpa mengejar?"

“Jangan salah mengerti, Lo-jin. Kami masih ragu-ragu untuk mengejar, karena betapa pun juga dia adalah putera tunggalmu, kami masih belum yakin benar apakah engkau hendak melihat dia terbunuh oleh kami," kata Kui-kok Lo-mo dengan cerdik.

"Bodoh! Siapa main-main?! Dari pada melihat anakku sendiri durhaka dan menentangku, lebih baik melihat dia mampus. Sekarang kuperintahkan kepada kalian, semua anggota Cap-sha-kui, untuk selain memusuhi Cin-ling-pai dan Pendekar Sadis, juga mencari dan menyeret anak durhaka itu ke depan kakiku agar aku dapat menghukumnya sendiri! Nah, pergilah kalian, aku tak ingin diganggu lagi!"

Enam orang itu lalu berkelebatan pergi sehingga kakek buta itu kini berada seorang diri di dalam ruangan. Dia berdiri seperti patung, termenung, dan dia membayangkan puteranya sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan selalu menentang kejahatan sehingga namanya dipuja serta dikagumi semua pendekar di dunia kang-ouw.

Tanpa terasa lagi, bibirnya yang kering itu tersenyum. Teringatlah dia akan dirinya sendiri. Menjadi seorang gagah yang dikagumi oleh seluruh dunia adalah cita-citanya, dan karena cita-cita itu tidak dapat terlaksana melalui kebaikan, dia hendak mengejar nama besar itu melalui kejahatan dengan memimpin kaum sesat dan menjadi orang jahat nomor satu di dunia! Kalau puteranya bisa menjadi orang yang paling menonjol dan terkenal, tak peduli sebagai penjahat nomor satu atau pendekar nomor satu, dia akan merasa bangga!

Akan tetapi dia sudah memerintahkan Cap-sha-kui untuk memusuhi anaknya! Tidak apa, memang seharusnya begitu. Jika anakku itu ingin menjadi pendekar nomor satu di dunia, maka dia harus sanggup menghadapi Cap-sha-kui, bahkan dia harus mampu membasmi Cap-sha-kui! Apa bila anaknya yang tidak mau menjadi penjahat nomor satu itu tidak bisa menjadi pendekar nomor satu, biarlah anaknya mati saja dari pada menjadi manusia yang tidak terkenal sama sekali!

Pemikiran seperti yang berada dalam batin Siangkoan Lo-jin itu mungkin akan kita anggap gila dan tidak lumrah. Akan tetapi, kalau kita mau membuka mata mengamati kehidupan di sekeliling kita, akan kita temui bahwa hampir setiap orang tidak jauh bedanya dengan Siangkoan Lo-jin ini.

Kita semua ini haus akan kehormatan, haus akan penonjolan diri, bahkan watak ini telah mendarah daging sehingga tidak terasa lagi oleh kita. Lihatlah betapa banyaknya orang yang dengan nada suara penuh kebanggaan menuturkan betapa kakeknya dulu adalah seorang maling terbesar, seorang jagoan nomor satu, seorang penjudi paling hebat dan sebagainya? Mereka ini bercerita dengan nada suara sama bangganya dengan mereka yang menceritakan betapa kakek mereka dulunya seorang yang paling terhormat, paling kaya atau tertinggi kedudukannya.

Juga hampir semua orang bercerita dengan bangga bahwa anaknya adalah yang paling nakal, paling bandel, dan sebagainya, sama bangganya dengan mereka yang bercerita dengan suara malu-malu dan rendah hati bahwa anak mereka adalah yang paling patuh, paling pintar dan sebagainya. Kita sudah berwatak ingin menonjolkan diri, baik diri sendiri atau perkembangan dari diri sendiri yang dapat menjadi anakku, keluargaku, bangsaku dan selanjutnya.

Membayangkan betapa puteranya akan menjadi seorang yang sangat terkenal, kakek itu terkenang akan keadaan dirinya sendiri yang serba gagal. Dia lalu meraba-raba dengan tongkatnya, menemukan sebuah kursi, menjatuhkan dirinya di atas kursi itu dan menutupi muka dengan kedua tangan untuk menyembunyikan dua tetes air mata yang jatuh ke atas pipi.

********************

Restoran itu cukup ramai dan besar, dan malam hari itu restoran ini dikunjungi banyak tamu. Restoran Ban Lok memang merupakan sebuah restoran yang terkenal mempunyai masakan enak, paling terkenal di seluruh kota Cin-an. Ketika Ci Kang memasuki restoran itu, untung baginya dia masih kebagian meja yang paling sudut.

Dia memasuki restoran, tidak peduli akan pandangan orang kepadanya. Memang pakaian pemuda ini agak menyolok, tidak mewah seperti pakaian para tamu lain. Pakaian Ci Kang yang amat sederhana, dengan jubah kulit harimau, membuatnya tampak sebagai seorang pemburu, tidak ada keduanya di restoran itu.

Ketika dia melewati serombongan orang yang duduk mengelilingi meja bundar besar, ada empat pasang mata yang memandangnya dengan senyum mengejek dan hidung sering dikembang-kempiskan seperti orang sedang mencium bau busuk, akan tetapi ada pula dua pasang mata halus yang memandang kepadanya, ke arah wajahnya, dengan pandang mata kagum.

Empat pasang mata yang terutama memandang kepada bajunya itu adalah mata empat orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Mereka berpakaian mewah, akan tetapi dengan sekali pandang saja tahulah Ci Kang bahwa mereka adalah orang-orang yang tergolong penjahat yang suka melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencari uang.

Ada pun dua pasang mata halus itu adalah mata dua orang wanita yang juga berpakaian mewah. Mereka itu adalah dua orang wanita muda yang usianya antara dua puluh tahun, cantik manis akan tetapi melihat sikap mereka yang genit dengan gaya yang dibuat-buat untuk memikat hati orang, Ci Kang juga mengenal sifat berandalan pada dua orang wanita itu sehingga bisa menduga bahwa mereka tentu pelacur-pelacur yang dibawa ke restoran untuk pesta oleh empat orang itu yang agaknya baru saja memperoleh hasil banyak dari pekerjaan kotor mereka.

Akan tetapi Ci Kang tak peduli, kemudian duduk memesan nasi, sayur dan air teh panas. Sudah menjadi wataknya untuk tidak mencampuri urusan orang dan tidak memperhatikan orang lain. Dengan sekali pandang saja dia sudah dapat melihat keadaan. Kalau tadi dia memandang ke arah enam orang itu hanyalah karena kewaspadaan saja, bukan karena ingin tahu.

Setelah hidangan yang dipesannya datang, diantar oleh seorang pelayan, ketika Ci Kang mengangkat muka untuk menerima hidangan itu, kembali dia melihat betapa dua orang wanita cantik yang genit-genit itu memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum dan melemparkan kerling. Bahkan keduanya cekikikan sambil saling berbisik dan memandang kepadanya, jelas sekali mereka itu sedang membicarakan dirinya.

Melihat ini, Ci Kang segera menundukkan muka dan menghindarkan pertemuan pandang mata dengan mereka. Hatinya sedang murung, ada pun sikap dua orang wanita cantik itu menambah kemurungan hatinya. Dia masih belum dapat melupakan peristiwa yang terjadi di dalam pertemuan antara ayahnya dengan para tokoh Cap-sha-kui itu.

Dia benar-benar menyesali sikap ayahnya yang demikian keras dan kejam, bahkan tega hendak membunuhnya. Dia yakin benar akan nafsu membunuh ayahnya ketika ayahnya menyerang dalam keadaan marah dan hal ini sungguh amat menyakitkan hatinya.

Dia merasa benar betapa ayahnya amat mencintanya, amat sayang kepadanya dan telah mencurahkan kasih sayangnya itu sejak dia masih kecil. Akan tetapi dia juga tahu bahwa ayahnya mengejar ambisi, dan untuk itu ayahnya bisa bersikap dan berbuat kejam seperti yang telah ditunjukkannya, yaitu dengan cara hendak membunuhnya, putera kandungnya sendiri.

"Heii, kalian melihat siapa sih? Kenapa lirak-lirik dan senyam-senyum saja kepada orang itu?" terdengar seorang di antara empat pria itu menegur.

Ci Kang mendengar ini dan sudah dapat menduga bahwa yang ditegur tentulah dua orang pelacur itu dan yang dimaksudkan dengan ‘orang itu’ tentulah dia sendiri. Akan tetapi dia terus makan minum dan tidak peduli.

"Percuma kami keluarkan banyak uang kalau kalian main mata dengan pria lain!" tegur suara orang ke dua.

"Apakah pelacur-pelacur masih mata keranjang melihat orang muda dan tampan?" orang ke tiga berkata.

"Uhhh, biar muda dan tampan, kalau kotor seperti itu, sungguh menjijikkan. Agaknya tak pernah berganti pakaian dan siapa tahu makanan itu tak akan dibayarnya!" ejek orang ke empat dan mereka berempat tertawa-tawa. Dua orang pelacur itu pun ikut tertawa walau pun suara ketawa mereka itu paksaan atau terdorong oleh kegenitan mereka.

Tentu saja Ci Kang mendengar semua itu dan tahu bahwa mereka molontarkan hinaan-hinaan kepada dirinya, bahkan mendengar suara mereka meludah-ludah ketika orang ke empat mengatakan bahwa dia kotor dan menjijikkan. Akan tetapi di dalam batin Ci Kang tersenyum, mentertawakan orang-orang itu karena dari sikap mereka itu, mereka seperti memperlihatkan kepada umum orang-orang macam apa adanya mereka.

Dia tidak mau melayani dan melanjutkan makan nasi dan sayur dengan cepat, lalu minum sedikit arak dan teh. Setelah semuanya selesai, dia pun cepat membayar harga makanan dan hendak meninggalkan restoran yang masih banyak pengunjungnya itu.

Empat orang itu memang jagoan-jagoan yang terkenal bengis dan ditakuti orang di kota Cin-an. Karena itu, biar pun semua orang juga mendengar ucapan-ucapan mereka yang menghina orang, tapi tidak ada yang mau mencampuri karena mencampuri urusan empat orang itu berarti mencari penyakit. Sedangkan empat orang jagoan itu memang sengaja melontarkan kata-kata tadi untuk menghina dan memancing kemarahan Ci Kang.

Pemuda itu makan di restoran ini tanpa mengganggu siapa pun juga, bahkan tidak pernah menoleh kepada mereka, maka tak ada alasan bagi mereka untuk mengganggu Ci Kang. Maka, karena hati mereka panas melihat betapa dua orang pelacur yang mereka bawa itu nampaknya tertarik kepada Ci Kang, mereka lantas melontarkan kata-kata hinaan untuk memancing supaya pemuda itu marah-marah sehingga mereka mempunyai alasan untuk menghajarnya. Siapa sangka pemuda itu sama sekali tidak mau menyambut atau saking tolol atau takutnya tidak berani menjawab.

Melihat betapa pemuda itu sudah bangkit dan hendak pergi, dan kini dua orang pelacur itu mendapat kesempatan untuk menatap wajah pemuda itu dengan pandang kagum, empat orang itu tidak dapat menahan kemarahan dan iri hati mereka. Sesudah saling pandang dan mengangguk, mereka lantas bangkit dari kursi mereka dan berloncatan menghadang Ci Kang yang hendak keluar dari restoran.

Melihat hal ini, para tamu yang telah mengenal empat orang jagoan itu menjadi ketakutan sehingga sebagian di antara mereka cepat menyingkir ke tempat yang agak jauh sambil memandang dengan hati khawatir.

Melihat empat orang itu berdiri menghadangnya, Ci Kang mengerutkan alisnya. Jelaslah bahwa empat orang yang menyeringai ini sengaja mencari keributan. Dia masih mencoba untuk menghindar dan mencari jalan keluar lain, akan tetapi gerakan ini oleh empat orang itu dianggap sebagai tanda takut, maka mereka segera mengurungnya sambil tersenyum lebar. Ci Kang kehabisan jalan, dan terpaksa dia mengangkat muka memandang mereka satu demi satu.

Empat orang itu amat terkejut melihat sinar mata yang mencorong itu, akan tetapi karena sejak tadi sikap pemuda itu yang tidak pernah memperlihatkan perlawanan, membuat hati mereka menjadi besar. Mereka sengaja hendak berlagak di depan dua orang pelacur itu dan ingin membikin malu kepada pemuda yang agaknya sudah menarik hati dan dikagumi oleh dua orang pelecur yang mereka sewa.

"Ha-ha-ha, bocah petani busuk, bersihkan dulu sepatu kami baru engkau boleh pergi dari sini!" kata seorang di antara mereka yang kumisnya lebat. Tiga orang temannya tertawa sambil bertolak pinggang dengan sikap angkuh dan memandang rendah.

Ci Kang tidak marah, hanya merasa muak dengan sikap mereka. Tanpa mempedulikan mereka, dia lalu melangkah maju dan ketika si kumis tebal yang berada di hadapannya itu mengangkat tangan ingin memukul, dia tidak mempedulikan dan melangkah terus hendak menabrak tubuh si kumis tebal.

Tentu saja si kumis tebal menjadi marah dan melanjutkan pukulannya ke arah kepala Ci Kang dan melihat ini, tiga orang kawannya juga sudah menggerakkan tangan menyerang Ci Kang dari kanan kiri dan belakang. Sekaligus, pemuda remaja itu diserang oleh empat orang dari empat jurusan, akan dipukuli begitu saja tanpa salah apa-apa.

Sejenak empat orang itu mengira bahwa pemuda itu tak akan melawan dan akan mandah saja mereka pukuli karena tubuh Ci Kang sama sekali tak nampak bergerak atau bersiap melawan. Akan tetapi, ketika tangan empat orang itu sudah tiba dekat tubuhnya, tiba-tiba saja Ci Kang menggerakkan tubuhnya, mengangkat kedua tangan sambil memutar tubuh menggeser kaki lantas terdengarlah suara tulang patah berturut-turut dan empat orang itu mengaduh-aduh sambil terpelanting ke belakang, jatuh dan memegangi tangan yang tadi dipakai menyerang karena lengan tangan itu telah patah-patah tulangnya ketika disambar tangan pemuda itu.

Ci Kang sama sekali tidak mempedulikan mereka lagi. Seperti tak pernah terjadi sesuatu, dengan wajah dingin dan langkah tenang pemuda ini lalu meninggalkan restoran itu, diikuti pandang mata semua orang yang terbelalak penuh keheranan dan kekaguman.

Empat orang itu bagaikan empat orang anak kecil, yang karena tololnya memukul benda keras sehingga tangan mereka sakit sendiri. Akan tetapi mereka langsung maklum bahwa pemuda berwajah dingin yang tadinya hendak mereka jadikan korban penghinaan mereka itu ternyata adalah seorang pemuda yang sakti, maka akhirnya mereka pun hanya berani memandang dengan muka pucat karena gentar dan karena menahan rasa nyeri dan tidak berani mengejar.

Peristiwa di dalam restoran itu tentu saja menjadi buah bibir para tamu sesudah mereka meninggalkan restoran. Akan tetapi, karena Ci Kang tidak pernah memperkenalkan nama, bahkan di dalam peristiwa itu tidak pernah mengeluarkan sepatah pun kata, orang-orang hanya dapat menduga-duga siapa gerangan pemuda remaja berwajah dingin tetapi amat lihai itu.

Sementara itu Ci Kang terus melanjutkan perjalanannya, meninggalkan kota Cin-an pada malam hari itu juga karena dia tidak ingin dirinya terlibat lagi dalam keributan lain sebagai lanjutan dari peristiwa di dalam restoran tadi. Sebagai putera seorang datuk sesat yang sudah banyak mengenal watak para penjahat, Ci Kang pun mengerti bahwa orang-orang macam penjahat-penjahat kecil seperti yang beraksi di restoran tadi tentu memiliki kepala atau pemimpin.

Orang-orang semacam itu tidak pernah mau mengenal kelemahan sendiri. Mereka tentu tidak mau sudah begitu saja, melapor kepada kepala mereka atau mengumpulkan semua kawan mereka kemudian mencarinya untuk melakukan pembalasan. Orang-orang seperti itu tidak mempunyai kejantanan sedikit pun juga, dan mereka tidak akan malu-malu untuk mengandalkan pengeroyokan serta kecurangan lain.

Oleh karena dia tak ingin direpotkan oleh urusan tetek bengek macam itu, maka lebih baik malam itu juga dia pergi meninggalkan kota Cin-an, bukan karena takut melainkan karena segan berurusan dengan penjahat-penjahat kecil itu.

Ci Kang tidak pernah menyangka bahwa urusan kecil di rumah makan itu memang tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan mendatangkan akibat yang amat besar. Peristiwa itu menjadi buah bibir orang di kota Cin-an karena disebar oleh para tamu restoran yang menyaksikan keributan itu sehingga terdengar pula oleh enam orang tokoh Cap-sha-kui yang pada keesokan harinya kebetulan tiba di kota itu.

"Heh, tak salah lagi, pemuda berjubah kulit harimau itu tentulah Siangkoan Ci Kang," kata Kiu-bwe Coa-li.

"Benar, dan kita harus cepat mengejarnya!" kata Kui-kok Lo-mo.

"Mengapa? Apa perlunya kita mengejarnya?" tanya Tho-tee-kwi dengan suara tak acuh.

Yang lain-lain juga segera memandang kepada kakek jubah putih itu. Di samping tingkat kepandaiannya paling tinggi, juga Kui-kok Lo-mo selalu tampil bersama dengan isterinya yang juga amat lihai sehingga suami isteri ini dianggap sebagai pemuka oleh empat orang rekannya.

"Apa perlunya? Tentu saja untuk menangkapnya lantas menyeretnya kepada Siangkoan Lo-jin, hidup atau mati." jawab Kui-kok Lo-mo.

"Mengapa kita harus mencampuri urusan ayah dan anak itu?"

Kembali yang bertanya itu adalah Tho-tee-kwi. Di antara empat orang rekan suami isteri dari Kui-kok-san itu, hanya raksasa inilah yang kelihatan tidak gentar menentangnya dan sikapnya selalu kasar, liar dan tak acuh. Tiga orang rekan yang lain menunggu jawaban pertanyaan ini yang mereka anggap mampu mewakili keraguan hati mereka sendiri untuk mencampuri urusan keluarga Siangkoan.

"Begitu bodohkah engkau maka hal demikian saja engkau tidak mengerti? Apakah kalian merasa senang kalau selalu diperkuda oleh Siangkoan Lo-jin? Cap-sha-kui yang selama ini merajalela dan merajai dunia persilatan, kini harus tunduk kepada seorang kakek buta! Lihat, di antara kita tiga belas orang, hanya kita berenam saja yang tolol sehingga mau diperkuda olehnya. Kalau kita tempo hari merendahkan diri dan mau membantunya, hal itu adalah karena harapan imbalannya yang amat besar, selain harta benda juga mungkin kedudukan tinggi yang akan kita terima dari Liu-thaikam. Namun sekarang? Liu-thaikam sudah tidak ada, untuk apa kita masih terus merendahkan diri di bawah kekuasaan kakek buta itu lagi?"

"Nah, jika begitu, kenapa sekarang kita masih harus mentaati perintahnya untuk menyeret pemuda itu ke depan kakinya?" Hwa-hwa Kui-bo bertanya heran.

"Kakek buta itu tentu takkan mengampuni kita jika mendengar bahwa kita menentangnya. Dan kakek itu sendiri sesungguhnya hanya seorang tua bangka buta, betapa pun lihainya. Yang membuat dia kuat adalah puteranya itu. Kalau dia dan puteranya itu maju bersama, sungguh sukar untuk ditundukkan. Sekarang mereka itu saling bentrok, maka kita harus dapat mempergunakan kesempatan yang baik ini untuk menghancurkan kekuatan ayah dan anak itu. Kalau kita sudah berhasil membunuh anaknya, apa sukarnya bagi kita untuk menghadapi tua bangka buta itu? Dia sudah menyeret kita semua ke dalam persekutuan, berarti sudah merugikan kita, dan sudah cukup lama dia meremehkan dan merendahkan kita sebagai pembantu-pembantunya. Sekarang tibalah saat pembalasan kita!"

Memang kehidupan para kaum sesat selalu dipengaruhi oleh nafsu angkara murka serta dendam kebencian, maka pendapat Kui-kok Lo-mo ini segera mendapatkan persetujuan seluruh rekannya dan berangkatlah mereka bergegas untuk mencari jejak Siangkoan Ci Kang dan melakukan pengejaran.

Tidaklah mengherankan kalau pada keesokan harinya, selagi Ci Kang berjalan sendirian di luar sebuah dusun yang sunyi, di bawah terik matahari, tiba-tiba saja dia mendengar orang-orang berteriak memanggil namanya dan ketika dia berhenti, dia langsung tersusul oleh enam orang tokoh Cap-sha-kui yang kini sudah berdiri di hadapannya dan setengah mengepungnya.

Ci Kang memandang heran sambil mengerutkan alisnya. Sejak pertama kali orang-orang ini membantu ayahnya, dia memang sudah tidak suka kepada mereka. Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kui-bo amat menjemukan hatinya karena kedua orang kakek dan nenek ini seolah-olah berlomba untuk memikat dirinya. Kiu-bwe Coa-li adalah seorang nenek kejam yang mengerikan dengan tubuh serta wajahnya yang buruk, ditambah lagi nenek ini suka bermain-main dengan ular, menjijikkan. Suami isteri dari Kui-kok-san itu pun menimbulkan rasa muak karena mereka berdua itu seperti mayat hidup saja. Ada pun Tho-tee-kwi yang suka makan daging manusia itu memang menjemukan hatinya.

"Ada keperluan apakah cu-wi memanggil-manggil dan menyusulku?" tanyanya singkat.

Yang menjawab adalah Kui-kok Lo-mo, dia mewakili rekan-rekannya, "Siangkoan Ci Kang, kami disuruh ayahmu untuk membawamu pulang."

Ci Kang mengangkat muka dan memandang kakek itu. Dia tahu akan adanya perubahan sebab kakek itu biasanya tidak memanggil namanya begitu saja. Biasanya mereka semua menyebutnya Siangkoan kongcu atau Siangkoan sicu dengan sikap dan nada yang amat menghormat.

"Kalau aku tidak mau?" tanyanya sebagai jawaban.

"Kami sudah diberi wewenang untuk memaksamu dan membawamu pulang, hidup atau mati. Kalau engkau menolak maka kami akan menggunakan kekerasan!"

Tanpa menanti jawaban Ci Kang, begitu Kui-kok Lo-mo berkata demikian, isterinya sudah menerjang pemuda itu dengan tamparan tangannya. Serangan ini dilakukan oleh Kui-kok Lo-bo dari samping kiri dan tangan kanannya yang mengandung hawa panas menyambar ke arah pelipis kiri Ci Kang.

Pemuda ini maklum betapa ampuhnya tamparan nenek itu, maka dia pun cepat mengelak dengan menggeser kaki ke belakang dan menarik tubuh atasnya ke belakang. Tamparan itu luput dan lewat di depannya sehingga terasa hawa panas menyambar mukanya. Pada saat itu, Kui-kok Lo-mo yang melihat isterinya sudah mulai menyerang, juga menerjang ke depan dan melakukan serangan yang tak kalah ampuhnya. Ci Kang cepat menangkis dan segera pemuda itu dikeroyok dua oleh suami isteri dari Kui-kok-san itu. Maka terjadilah perkelahian yang amat seru.

Tak dapat disangkal lagi bahwa Siangkoan Ci Kang adalah seorang pemuda remaja yang istimewa. Bakatnya menonjol sekali sehingga dalam usia delapan belas tahun dia sudah berhasil menguasai semua ilmu ayahnya. Akan tetapi, dibandingkan dengan suami isteri itu, tentu saja dia kalah pengalaman dan kalah latihan, atau ilmu silatnya kalah matang.

Mengingat bahwa Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang tinggi ilmunya, tentu saja Ci Kang menjadi repot dan terdesak hebat ketika dikeroyok dua. Andai kata suami isteri itu maju satu demi satu, agaknya tidak akan mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkan Ci Kang.

Akan tetapi begitu maju bersama, suami isteri yang tentu saja dapat bekerja sama secara baik sekali di dalam serangan-serangan mereka, maka Ci Kang terdesak hebat dan lewat lima puluh jurus saja dia sudah terus mundur dan hanya mampu mengelak ke sana-sini sambil kadang kala menangkis, tanpa mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Bahkan tubuhnya telah menerima beberapa hantaman dan tendangan, akan tetapi berkat kekebalannya membuat dia belum juga dapat dirobohkan.

Ci Kang yang keras hati itu tidak pernah mengeluh dan sama sekali tidak berniat untuk melarikan diri. Dia bertekad untuk melawan sampai mati. Pula, apa gunanya lari? Di sana terdapat enam orang tokoh Cap-sha-kui sehingga lari pun, dalam keadaan terluka-luka, akan percuma saja. Dan dia pun tahu bahwa tidak ada harapan baginya untuk lolos. Baru suami isteri Kui-kok-san saja sudah begini hebat, apa lagi kalau empat orang tokoh lain itu ikut maju mengeroyok.

Melihat cara kedua orang suami isteri itu menyerang dengan pukulan-pukulan maut, maka tahulah Ci Kang bahwa mereka menghendaki kematiannya. Karena itu dia pun membela diri sebaik mungkin, segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya, mengerahkan seluruh tenaganya.

Hebat bukan main sepak terjang pemuda ini. Meski pun terdesak hebat, akan tetapi tidak mudah bagi suami isteri itu untuk merobohkannya. Lengah sedikit saja maka pemuda itu akan membalas dengan serangan maut yang berbahaya.

Asmara Berdarah Jilid 10

DARA Cin-ling-pai itu dipersilakan duduk dan gadis itu kelihatan lega karena memperoleh teman duduk yang cukup sopan dan yang usianya sekitar tiga puluhan, belum tua benar. Dia memperkenalkan diri sebagai Tan Siang Wi dan segera bercakap-cakap dengan tiga orang semeja itu.

Tidak jauh dari meja di mana Tan Siang Wi duduk, terdapat pula tiga orang pria sedang duduk bercakap-cakap. Sukar dikatakan apakah mereka itu dari golongan bersih ataukah golongan sesat. Pakaian mereka cukup rapi, dan jelas menunjukkan pakaian ahli-ahli silat karena ringkas dan sikap mereka pun gagah.

Salah seorang di antara mereka sudah tua, jenggot kumis dan alisnya sudah putih namun tubuhnya masih tegap dan nampak kuat. Dua orang lainnya yang duduk di kanan kirinya berusia empat puluh tahun lebih, rambut mereka dikuncir tebal dan wajah mereka nampak gagah dengan jenggot terpelihara rapi.

Akan tetapi, sikap tiga orang ini agak congkak dan hal ini dapat nampak pada pandang mata mereka yang ditujukan kepada para tamu yang hadir. Bahkan setiap kali ada tamu datang, terutama tamu yang menunjukkan bahwa mereka ini datang dari golongan hitam, mereka bertiga bicara sambil tertawa-tawa. Pandang mata mereka yang ditujukan kepada tamu baru itu ketika tertawa-tawa menunjukkan bahwa tentu tamu baru itu yang menjadi bahan tertawaan mereka.

Demikian pula ketika Tan Siang Wi muncul, mereka berbisik-bisik sambil melirik ke arah gadis itu, tersenyum-senyum menyeringai dengan sikap kurang ajar sekali. Karena Siang Wi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, gadis ini pun tidak peduli. Akan tetapi setelah dia duduk bersama tiga orang tamu dan kebetulan duduknya menghadap ke arah meja tiga orang itu, mulailah Siang Wi mengerutkan alisnya.

Dia melihat betapa tiga orang itu, terutama dua orang yang termuda, selalu memandang padanya dan sengaja mainkan mata mereka seperti lagak lelaki yang hendak menggoda wanita. Tentu saja Siang Wi menjadi mendongkol.

Pada mulanya dia memang membuang muka saja dan tak mau balas memandang. Akan tetapi telinganya mulai bisa menangkap percakapan mereka itu di antara berisiknya suara para tamu lain. Maka marahlah gadis ini.

Tan Siang Wi adalah murid tunggal dari Bin Biauw, isteri ketua Cin-ling-pai. Seperti sudah kita ketahui, Bin Biauw atau nyonya Cia Kong Liang ini adalah puteri bekas datuk sesat Tung-hai-sian, seorang bangsa Jepang. Sesudah dia berbesan dengan ketua Cin-ling-pai, Tung-hai-sian mencuci tangan dan tidak lagi berkecimpung di dalam dunia sesat.

Puterinya, Bin Biauw, walau pun puteri seorang datuk sesat, adalah seorang gadis yang baik sehingga dapat menjatuhkan hati Cia Kong Liang. Akan tetapi sesudah kini memiliki seorang murid, ternyata muridnya ini sedikit banyak sudah mewarisi watak Tung-hai-sian. Tan Siang Wi ini berwatak keras sekali, tidak pernah mau mengalah, agak tinggi hati dan angkuh walau pun dia selalu bertindak gagah dan menentang kejahatan.

Selain sudah mewarisi ilmu dari Bin Biauw, dia juga menerima petunjuk-petunjuk dan ilmu silat dari ketua Cin-ling-pai sendiri, maka dapatlah dibayangkan betapa lihainya Siang Wi. Kelihaiannya itu membuat dara ini semakin tinggi hati, terutama terhadap golongan sesat yang dianggap musuhnya. Tangannya berubah ganas kalau dia berurusan dengan kaum sesat dan sedikit pun dia tidak mau mengalah atau memberi hati.

Maka, baru selama satu dua tahun saja memasuki dunia kang-ouw, gadis ini telah dijuluki orang Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa) karena keganasannya terhadap musuh-musuhnya. Agaknya karena kenyataan yang sudah didengarnya bahwa sukong-nya, yaitu Bin Mo To di Ceng-to, adalah seorang bekas datuk sesat, gadis ini hendak membuktikan kepada semua orang di dunia bahwa dia adalah murid isteri ketua Cin-ling-pai, jadi dia adalah seorang pendekar, bukan orang sesat!

Ada kecondongan di dalam hati kita untuk selalu menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan kita. Kita selalu ingin dianggap baik. Keinginan seperti ini selalu timbul karena kenyataan yang kita lihat bahwa keadaan kita adalah sebaliknya dari pada baik. Hanya orang yang berkulit hitam saja yang selalu ingin disebut putih. Hanya orang yang bodoh sajalah yang selalu ingin dianggap pintar, dan hanya orang yang melihat alangkah kotor dirinya sajalah yang selalu ingin dianggap bersih dan baik.

Kita lupa bahwa justru keinginan-keinginan untuk dianggap lain dari pada kenyataan ini yang sering kali mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang buruk dan bodoh. Kalau kita sadar dengan kekotoran kita, maka kita harus berusaha membersihkannya, bukan dengan cara menyembunyikan atau menutupinya. Apa bila kita sadar bahwa kita bersih, maka kita harus menjaga agar kebersihan itu tak ternoda kekotoran, bukan lalu menjadi tinggi hati dan merasa bersih dan baik sendiri karena perasaan demikian itu justru akan menodai kebersihan itu sendiri.

Kenapa kita kadang-kadang merasa ngeri untuk menghadapi dan melihat kenyataan apa adanya, walau betapa buruk dan kotor sekali pun kenyataan itu? Menutupi kenyataan, melarikan diri dari kenyataan, jelas tidak akan dapat merubah keadaan itu!


"Ha-ha-ha!" Seorang di antara tiga pria itu tertawa lagi sambil menyumpit dan makan kue yang mulai dihidangkan. Kini wajah mereka mulai merah oleh arak. "Agaknya Cin-ling-pai sudah kehabisan jago jantan maka mengeluarkan jago betina, heh-heh-heh!"

Kata-kata itu sebenarnya lebih berupa kelakar di antara mereka sendiri karena diucapkan perlahan dan dimaksudkan untuk mereka dengar sendiri, lalu ketiganya tertawa bergelak sambil melontarkan pandang ke arah meja Siang Wi.

Akan tetapi karena mencurahkan perhatian ke arah mereka, Siang Wi dapat menangkap kata-kata itu sehingga marahlah gadis ini. Dia tak mampu lagi mengendalikan dirinya dan sekali melompat, dia sudah meloncati mejanya dan tahu-tahu, seperti seekor burung saja dia sudah hinggap di atas lantai dekat meja tiga orang itu!

"Kalian tadi bilang apa?!" bentaknya sambil berdiri dengan dua tangan bertolak pinggang dan mata tajam penuh kemarahan menatap mereka.

Tiga orang itu terkejut sekali. Tak mereka sangka bahwa gadis itu akan dapat mendengar ucapan yang menghina Cin-ling-pai tadi, juga mereka terkejut melihat gadis itu demikian gesitnya meloncati meja dan kini berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam.

"Ehh, kami bilang apa? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu!" seorang di antara mereka menjawab dan melanjutkan jepitan sumpitnya pada kue di atas piring.

"Bagus! Kalian menghina Cin-ling-pai dan masih berani bilang tidak ada sangkut-pautnya denganku? Biar pun Cin-ling-pai diwakili seorang wanita setidaknya jauh lebih gagah dari pada kalian ini banci-banci pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya!"

Para tamu yang duduk di sekitar tempat itu menjadi kaget sehingga mereka pun menoleh dengan penuh perhatian dan wajah mereka tertarik sekali. Dalam pertemuan antara para orang-orang kang-ouw sudah lumrah apa bila terjadi keributan dan perkelahian. Bahkan sebagian besar dari mereka mengharapkan terjadinya hal ini, karena dalam pertemuan para ahli persilatan, terasa kurang sedap dan kurang bumbu kalau tidak terjadi keributan dan perkelahian.

Ketiga orang itu sesungguhnya bukan orang-orang sembarangan. Kakek yang berjenggot putih itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Huang-ho Lo-eng (Pendekar Tua Sungai Kuning) bernama Pui Tek. Ada pun dua orang laki-laki gagah yang duduk di sampingnya adalah dua orang muridnya, juga amat terkenal sebagai Huang-ho Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Kuning).

Mereka bukan penjahat dalam arti kata mempunyai pekerjaan jahat seperti perampok atau bajak, akan tetapi karena orang-orang takut kepada mereka, maka dengan mudah mereka memperoleh hasil dari hadiah yang mereka terima dari para pedagang demi keselamatan dan keamanan. Mereka adalah semacam tukang-tukang pukul yang disegani.

Guru mereka, Huang-ho Lo-eng Pui Tek, dalam suatu perkelahian pernah dikalahkan oleh Cia Kong Liang ketua Cin-ling-pai. Walau pun bukan merupakan permusuhan pribadi dan tak ada dendam secara terbuka, akan tetapi kekalahan itu membuat Pui Tek mendongkol dan tidak suka terhadap Cin-ling-pai, menganggap ketua Cin-ling-pai yang memang keras wataknya itu terlalu sombong. Dengan sendirinya, kedua orang muridnya juga tidak suka kepada Cin-ling-pai, maka tidak heranlah kalau mereka tadi mengeluarkan kata-kata yang nadanya tak bersahabat terhadap Cin-ling-pai sehingga membuat Siang Wi menjadi amat marah.

Kini, di depan meja mereka berdiri seorang gadis Cin-ling-pai yang bertolak pinggang dan memaki mereka banci pengecut di hadapan begitu banyak orang. Tentu saja wajah ketiga orang itu menjadi merah sekali dan kemarahan mulai memenuhi hati mereka.

Akan tetapi, bagaimana pun juga mengingat akan julukan Pui Tek yang masih memakai Lo-eng (Pendekar Tua), dua orang harimau itu tentu saja lebih condong merasa bahwa diri mereka pendekar dari golongan bersih dari pada sebagai golongan hitam, maka ada rasa harga diri pada mereka yang membuat mereka merasa malu kalau harus ribut-ribut dan berkelahi melawan seorang gadis yang masih remaja, yang usianya tentu belum ada dua puluh tahun. Mereka adalah jagoan-jagoan di sepanjang Sungai Kuning, tentu sangat memalukan kalau harus berkelahi melawan seorang dara remaja. Akan tetapi didiamkan saja pun tidak mungkin setelah gadis itu memaki mereka sebagai banci pengecut.

"Bocah perempuan kurang ajar, makanlah ini!" Bentak orang yang menyumpit kue itu dan sekali tangan kanan yang memegang sumpit bergerak, kue sepotong yang disumpitnya itu meluncur ke arah muka Siang Wi dengan kecepatan kilat!

"Cappp...!"

Dara itu menggerakkan tangan kanan dan menjepit ke arah kue itu. Dengan tepat sekali telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sudah menjepit kue itu dan dia melakukan ini sambil tersenyum mengejek.

"Makanlah sendiri!" Dara itu membentak dan tiba-tiba tangannya bergerak.

Kue itu segera meluncur cepat ke arah muka orang yang menyambit tadi. Orang itu cepat menggerakkan sumpit untuk menjepit kembali, akan tetapi begitu bertemu sumpit, kue itu hancur dan tentu saja hancuran kue itu menyambar dan mengenai muka orang itu.

Ternyata sebelum membalas dengan timpukan, Siang Wi sudah lebih dulu menggunakan tenaga jari tangan membikin kue itu remuk di bagian dalamnya. Hancuran kue menyerang mata, hidung dan mulut, membuat orang itu repot membersihkan wajahnya sambil terus memaki-maki!

Melihat saudaranya mendapat malu, orang kedua sudah bangkit dan membentak marah, "Bocah perempuan, berani kau menghina orang?"

Sekali kepalanya bergerak, rambut yang dikuncir tebal itu langsung menyambar ke depan, mengeluarkan suara bersuitan dan memukul ke arah leher Siang Wi. Sungguh merupakan serangan yang sangat aneh akan tetapi juga berbahaya karena thouw-cang (kuncir) yang digerakkan dengan tenaga sinkang ini tak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata keras.

Orang itu sungguh terlalu memandang rendah pada Siang Wi maka dia berani selancang itu menyerang dengan kuncirnya. Kalau tidak begitu tentu dia tidak akan berani bergerak secara sembrono seperti itu.

"Wuuuuttt...!"

Kuncir itu meluncur lewat pada saat Siang Wi merendahkan tubuh mengelak dan begitu kuncir menyambar lewat, tangan kiri Siang Wi mencuat lantas tahu-tahu kuncir itu sudah dapat dicengkeramnya! Dengan sekali sentakan, terpaksa kepala orang itu tertunduk dan Siang Wi sudah mengangkat lutut untuk menghajar muka orang! Tentu sedikitnya hidung orang itu akan berdarah kalau saja saudaranya tidak segera menubruk dengan pukulan tangan ke arah punggung Siang Wi.

"Huh, pengecut curang!" bentak Siang Wi. Dia terpaksa harus melepaskan orang pertama dengan mendorongnya mundur, lalu sambil meloncat gadis itu membalik dan menangkis pukulan orang kedua.

"Dukkk!"

Dua tenaga besar bertemu dan akibatnya, orang berjenggot itu menyeringai kesakitan lalu meloncat ke belakang. Tak disangkanya pertemuan lengan itu sudah membuat lengannya kesakitan dan seperti lumpuh saking kuatnya lengan kecil milik nona itu. Kini tahulah dua orang Harimau Sungai Kuning itu bahwa lawannya, biar pun wanita, biar pun masih muda sekali, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang cukup hebat.

Kini para tamu menjadi semakin gembira, dan tuan rumah, yaitu Ang-kauwsu yang juga melihat pertikaian itu diam saja karena dia pun ingin melihat kesudahannya. Guru silat ini juga mempunyai penyakit yang sama dengan orang-orang dari kalangan persilatan, yaitu suka melihat adu silat.

Pula, diam-diam dia pun merasa tidak senang melihat sikap para jagoan Huang-ho yang terkenal kasar dan banyak lagak itu tadi menghina utusan Cin-ling-pai. Dia mengharapkan jagoan-jagoan sombong itu menemui batunya walau pun hatinya khawatir melihat bahwa di situ terdapat pula Huang-ho Lo-eng yang dia tahu amat lihai sekali.

"Budak perempuan kurang ajar! Berani engkau menghina kami di tempat umum? Hayo cepat berlutut minta maaf apa bila tidak ingin menerima hajaran kami!" bentak seorang di antara dua jagoan yang mukanya terkena hancuran kue tadi.

Betapa pun juga, dia dan kawannya masih sungkan melawan seorang gadis, apa lagi kini mereka berdua sudah memegang senjata andalan mereka, yaitu sebatang tombak besar gagang panjang. Kalau dara itu mau minta maaf, berarti muka mereka telah tercuci, atau kalau dara itu tetap hendak melawan, berarti mereka sudah memberi kesempatan kepada wakil Cin-lin-pai itu untuk minta maaf.

Seorang seperti Siang Wi, mana mengenal minta maaf? Hatinya terlalu keras untuk mau mengalah, apa lagi terhadap orang-orang yang sudah berani menghinanya dan menghina Cin-ling-pai. Dia tersenyum mengejek lantas mukanya menjadi semakin dingin, sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat.

"Dua monyet busuk, dengarlah baik-baik. Kalian yang telah menghina Cin-ling-pai dan jika kini kalian mau berlutut minta ampun, barulah nonamu akan mempertimbangkan apakah kalian dapat diampunkan. Kalau tidak, aku akan menghajar kalian!"

Kata-kata ini sungguh hebat sekali. Bukan hanya menantang terang-terangan di hadapan orang banyak itu, bahkan menghina. Mana bisa Huang-ho Siang-houw, dua jagoan itu mau menerima begitu saja?

"Bocah setan, engkau bosan hidup!" teriak seorang di antara mereka lantas golok besar bergagang panjang itu menyambar dahsyat ke leher Siang Wi.

Tentu saja dara perkasa itu tidak sudi lehernya dibabat begitu saja. Dia cepat mengelak sambil membalikkan tubuh menendang meja di depannya. Kakek Huang-ho Lo-eng yang duduk di belakang meja itu cepat menghindar dengan lompatan gesit ke kanan sehingga dia tidak sampai terkena tumpahan makanan dan arak.

Akan tetapi dia bukan hanya melompat begitu saja, melainkan cepat meraih dan dia telah berhasil menangkap kaki meja lalu menaruh meja itu di samping. Gerakan ini saja sudah membuktikan kecepatan dan kelihaian jago tua ini.

Kini terdapat ruang agak luas bagi Siang Wi yang menghadapi dua orang lawannya. Dua orang harimau itu mulai menyerang dengan golok gagang panjang mereka. Semua orang memandang dengan hati tegang dan juga agak khawatir karena Siang Wi tetap tidak mau mempergunakan pedangnya.

Dara ini tadi memang meloloskan sepasang pedangnya, akan tetapi bukan dicabut untuk melawan, melainkan dia letakkan di atas mejanya sendiri agar sepasang senjata itu tidak mengganggu gerakannya, kemudian dia kembali ke hadapan dua orang lawannya, hanya melawan dengan tangan kosong saja.

"Anak itu terlalu sembrono!"

"Terlalu sombong bisa merugikannya."

"Tapi dia kelihatan lihai sekali."

Demikianlah para penonton saling berbisik melihat betapa dara itu menghadapi Huang-ho Siang-houw hanya dengan tangan kosong, padahal kedua orang lawan itu menggunakan senjata tajam yang bergagang panjang. Dua orang jagoan itu sendiri merasa sangat kikuk dan sungkan.

"Bocah gila, hayo pergunakan pedangmu!" bentak mereka.

"Melawan dua ekor monyet tua macam kalian tidak perlu pakai pedang!" jawab Siang Wi yang memang tinggi hati.

Dua orang itu tak dapat lagi menahan kemarahan hati mereka. Keduanya lalu menyerang dengan golok mereka. Senjata itu mengeluarkan suara bercuitan dan berdesing-desing, lalu membentuk dua gulungan sinar lebar yang menyambar-nyambar.

Tetapi para tamu menjadi bengong ketika mereka melihat betapa dara itu menggerakkan tubuhnya dan seperti seekor burung walet saja gesitnya beterbangan di antara sambaran kedua golok itu! Bukan main indahnya gerakan dara itu dan tak terasa lagi keluar pujian dari mulut para tamu yang ilmunya sudah tinggi.

Hui Song dan Sui Cin baru saja menyelinap ke dalam rombongan tamu, memilih tempat di sudut. Mereka mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi kacau karena terjadi perkelahian itu, di mana semua tamu mencurahkan pandang mata dan perhatiannya ke arah perkelahian. Mereka lalu menyelinap masuk dan tanpa menemui tuan rumah mereka telah mengambil tempat duduk di sudut yang agak tersembunyi oleh salah satu di antara tiang-tiang penyangga bangunan darurat itu. Mereka juga tertarik dan menonton ke arah perkelahian.

"Hemm, berani benar gadis itu menghadapi keroyokan dua orang lawan yang bersenjata panjang dengan tangan kosong saja." Sui Cin berkata sesudah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa dua orang bersenjata golok panjang itu tak boleh dipandang ringan.

"Sumoi tak akan kalah," kata Hui Song lirih dan Sui Cin terkejut.

"Sumoi-mu...?"

Dia memandang lebih teliti dan kini dia pun bisa mengenal gerakan kaki dan tangan gadis itu, walau pun kadang-kadang gerakan itu berubah aneh. Masih ada dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai dalam gerakan silat gadis itu, akan tetapi sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang tidak dikenalnya.

Memang demikianlah. Sesudah menikah dengan Cia Kong Liang, Bin Biauw memperoleh banyak petunjuk dari suaminya dan dia pun mempelajari dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai yang kokoh kuat. Maka, ketika dia melatih Siang Wi, tentu saja dasar-dasar ilmu silat dari Cin-ling-pai juga diajarkan, bahkan Siang Wi juga telah menerima gemblengan dari ketua Cin-ling-pai sendiri.

"Ya, namanya Tan Siang Wi," jawab Hui Song sederhana.

Hui Song tidak merasa girang bertemu dengan sumoi-nya. Pemuda ini tahu benar bahwa sumoi-nya itu sudah sejak lama sekali menaruh perhatian kepadanya. Di dalam sikap dan gerak-gerik gadis yang pendiam itu terdapat tanda-tanda bahwa Siang Wi mencintanya. Hal inilah yang membuat dia merasa tidak enak kalau bertemu dengan sumoi-nya.

Dia pun menyayang sumoi-nya ini, akan tetapi sumoi-nya berwatak keras, terlalu berani dan agak angkuh. Tetapi dia tidak mencinta sumoi-nya, maka merasa semakin tidak enak setelah tahu bahwa sumoi-nya itu jatuh cinta kepadanya.

"Hemm, dia cantik dan gagah!" Sui Cin memuji. Memang gadis itu manis sekali, terutama pinggangnya amat ramping.

"Ya, tapi keras hati dan galak sekali."

Sui Cin menahan senyum sambil mengerling ke arah wajah pemuda itu, akan tetapi Hui Song tidak sedang bergurau melainkan memandang ke arah perkelahian dengan wajah serius dan hati tegang. Bagaimana pun juga, memang Sui Cin benar. Terlalu sembrono menghadapi dua lawan tangguh yang bersenjata panjang itu dengan tangan kosong.

"Haaaiiiittt...!" Tiba-tiba Siang Wi memekik, tangan kanan memukul gagang tombak lawan yang menyerang dari kanan sedangkan kaki kiri mendahului lawan kedua, menendang ke arah dada.

"Bukk...! Plakkk!"

Lawan pertama terpental goloknya sedangkan lawan kedua tak mampu menghindar lagi. Serangan atau gerakan Siang Wi memang sangat hebat, laksana seekor burung rajawali mementang sayap, kedua lengannya berkembang dan kaki kirinya menendang ke depan selagi tubuhnya masih melayang. Orang yang kena tendang dadanya itu terbanting roboh dan sebelum orang kedua hilang kagetnya, kaki kanan menggantikan kaki kiri yang turun untuk menyambar ke depan.

"Desss...!" Orang kedua juga terbanting karena perutnya dicium ujung sepatu Siang Wi.

Dua orang itu meringis kesakitan dan merayap bangun, sementara itu Huang-ho Lo-eng yang melihat betapa dua orang muridnya dirobohkan oleh seorang gadis muda, mukanya berubah merah sekali. Dia sudah bangkit berdiri, lantas mengebutkan ujung jubahnya dan melangkah maju menghampiri Siang Wi. Akan tetapi sebelum guru beserta kedua orang muridnya ini sempat bicara atau bergerak, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang segera menghadapi tiga orang itu sambil menjura.

"Sam-wi-eng-hiong, saya mewakili tuan rumah menyampaikan permohonan maaf, harap sam-wi suka menyudahi urusan ini sampai di sini agar tidak mengganggu jalannya pesta." Kemudian pemuda itu membalik dan menghadapi Siang Wi sambil menjura pula, "Nona, harap suka mundur dan mengakhiri keributan ini." Dan tanpa setahu orang, pemuda itu berkedip.

Sejenak Siang Wi terbelalak. Tentu saja dia mengenal suheng-nya! Akan tetapi sebeium dia menegur, Hui Song telah mengedipkan mata. Siang Wi yang cukup cerdik itu maklum bahwa suheng-nya tidak ingin dikenal orang. Maka dia pun mengangguk dan kembali ke mejanya, menggantung kembali siang-kiamnya di punggung lalu duduk tenang, bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tentu saja Huang-ho Lo-eng masih penasaran. Dua orang muridnya dirobohkan seorang anak perempuan di tempat pesta yang ramai, hal ini sungguh amat menyakitkan hati dan menjatuhkan martabat serta nama besarnya, maka dia harus turun tangan membersihkan noda itu. Akan tetapi kini muncul pemuda yang mewakili tuan rumah minta agar keributan jangan dilanjutkan. Selagi kakek ini merasa serba salah, tiba-tiba terdengar seruan di luar.

"Paduka Jenderal Ciang telah tiba...!"

Mendengar seruan ini, semua orang menengok keluar dan Ang-kauwsu sendiri bersama beberapa orang penyambut bergegas lari keluar untuk menyambut datangnya tamu agung ini. Seorang jenderal adalah seorang perwira yang berpangkat tinggi, apa lagi datang dari kota raja, maka tentu saja merupakan seorang tamu agung yang paling terhormat.

Hui Song dan Sui Cin sudah duduk lagi dan mereka berdua memandang dengan penuh kewaspadaan. Seperti telah mereka rencanakan pada waktu keduanya pergi menghadap Jenderal Ciang, mereka berdua bersama belasan orang pengawal pilihan menyelundup ke tempat pesta dan akan berjaga-jaga kalau-kalau ada orang melakukan serangan gelap.

Sementara itu, sang jenderal sendiri datang dikawal enam orang pengawal pilihan yang dipercayanya. Agaknya belum puas dengan semua ini, Jenderal Ciang juga mengenakan lapisan baja di balik baju kebesarannya sehingga tubuhnya akan kebal terhadap serangan senjata tajam.

Tibalah saat yang sudah dinanti-nantikan banyak orang ini! Tentu saja terjadi ketegangan hebat di dalam dada mereka yang memiliki kepentingan dengan kedatangan jenderal ini. Seperti telah mereka sepakati, Sui Cin memasang mata memandang ke kiri dan Hui Song ke kanan, siap untuk turun tangan kalau melihat orang yang hendak melakukan serangan gelap kepada jenderal itu.

Tadi pun mereka sudah memasang mata mencari-cari, akan tetapi mereka tidak melihat adanya tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang mereka kenal, biar pun mereka sudah melihat ada beberapa orang dari Hwa-i Kai-pang yang sedang menyelinap dalam pakaian biasa atau menyamar sebagai orang biasa, bukan sebagai pengemis. Mereka merasa yakin bahwa di antara banyak tamu itu terdapat tokoh-tokoh kaum sesat yang lihai.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu ketika jenderal itu datang sampai diantar oleh tuan rumah menuju ke kursi kehormatan di panggung yang agak tinggi. Sementara itu, Siang Wi yang tadi memandang ke arah suheng-nya, merasa heran dan alisnya segera berkerut ketika dia melihat suheng-nya berbisik-bisik dengan seorang gadis yang cantik jelita!

Mereka berbisik-bisik demikian akrabnya dan perasaan tidak senang memenuhi hati gadis yang jatuh cinta ini. Perasaan cemburu membakar dadanya dan biar pun tadi dia mengerti akan isyarat suheng-nya maka dia pun berdiam diri, kini perasaan cemburu membuat dia cepat bangkit berdiri, meninggalkan teman-teman semeja dan langsung saja menghampiri Hui Song dan Sui Cin yang duduk di sudut, di belakang sebuah tiang.

"Suheng, siapakah dia ini?" tanyanya sambil menuding ke arah muka Sui Cin dengan alis berkerut, mulut cemberut dan mata menantang.

"Sstttt... diamlah, sumoi..." Hui Song berbisik kaget, lalu cepat menarik tangan sumoi-nya sehingga gadis itu terduduk di kursi kosong di dekatnya. "Kau ikut menjaga keselamatan jenderal itu, jangan banyak tanya..."

"Tapi... tapi siapa perempuan ini...?" Siang Wi masih berbisik dan matanya mengerling ke arah Sui Cin dengan wajah membayangkan ketidak puasan.

"Diam kau, cerewet!" Sui Cin balas menghardik dengan suara berbisik.

Siang Wi terkejut setengah mati dan mukanya menjadi pucat lalu merah laksana dibakar. Hatinya panas mendengar ada orang berani bersikap seperti itu, menghardiknya dengan kasar. Tentu saja dia hendak membalas akan tetapi pada saat itu pula terdengar ledakan-ledakan keras dan api pun mulai berkobar!

"Kebakaran! Kebakaran...!"

Para tamu menjadi panik. Semua orang bangkit berdiri, ada yang mulai lari ke sana-sini, berdesak-desakan dan keadaan menjadi semakin kacau-balau setelah terjadi perkelahian di sana-sini.

Sui Cin dan Hui Song sudah melompat ke tengah, mendekati Jenderal Ciang. Ternyata para pengawal sudah mulai berkelahi melawan beberapa orang di antara para tamu dan kini dari luar bermunculan tokoh-tokoh Cap-sha-kui! Sui Cin mengenal Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kui-bo, Kiu-bwee Coa-li, Kui-kok Lo-mo, Kui-kok Lo-bo dan Tho-tee-kwi.

Tadi mereka ini menerjang maju bagaikan berlomba hendak membunuh Jenderal Ciang. Akan tetapi para pengawal, baik yang enam orang mau pun belasan orang lainnya yang menyamar, segera menyambut mereka. Betapa pun juga, saking lihainya para penyerang, masih ada senjata rahasia menyambar hingga mengenai dada sang jenderal, akan tetapi karena pembesar itu memakai perisai di balik bajunya, senjata itu mental kembali.

Sebelum para penyerang yang jumlahnya ada dua puluh orang itu dapat mengepung sang jenderal, Hui Song, Sui Cin dan diikuti pula oleh Siang Wi sudah tiba di situ. Hui Song dan Sui Cin yang bertangan kosong mengamuk melindungi Jenderal Ciang yang juga sudah mencabut pedang panjangnya.

"Goanswe, mari kita keluar!" Hui Song berteriak sambil menggandeng tangan jenderal itu dengan tangan kirinya. "Sui Cin, engkau jaga di sebelah kirinya." Dara itu pun menggamit tangan kiri jenderal itu dengan tangan kanannya.

"Sumoi, kau lindungi kami keluar!" teriak pula Hui Song kepada sumoi-nya.

Siang Wi tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun dengan patuh dia mentaati perintah suheng-nya. Dia cepat mencabut sepasang pedangnya, lantas melindungi mereka berdua yang berusaha untuk membawa Jenderal Ciang keluar dari tempat itu.

Akan tetapi, Huang-ho Lo-eng sudah meloncat dan menghadapi Siang Wi. "Hemm, bocah sombong, sekarang tibalah saatnya aku membalas kekalahan dua muridku!" katanya dan kakek ini menerjang ke depan.

Melihat hal ini, Hui Song menjadi marah. Kakek ini tidak peduli akan keributan dan hanya mengingat keperluan sendiri saja, keperluan dendam! Demikian pula Sui Cin juga marah melihat lagak kakek ini. Mereka berdua seperti telah bersepakat saja, tiba-tiba menerjang maju dan menampar ke arah Huang-ho Lo-eng. Kakek itu kaget sekali ketika merasa ada angin menyambar dari kanan kiri, maklum bahwa dia sedang diserang oleh dua orang secara hebat sekali.

"Uhhhhh...!" Dia mengerahkan tenaga ke dalam dua lengannya lantas menangkis sambil mendorong.

"Dessss...!"

Akibatnya, tubuh kakek itu terjengkang dan menimpa meja kursi. Dia memandang dengan bengong, melongo melihat bahwa yang merobohkan dia tadi adalah seorang pemuda dan seorang gadis lain yang kini kembali menggamit Jenderal Ciang untuk keluar, dilindungi oleh Siang Wi yang memutar sepasang pedangnya.

Beberapa orang penjahat, agaknya anggota Hek-i Kai-pang karena di antaranya terdapat Bhe Hok si gendut, hendak mencegah Hui Song membawa jenderal itu keluar. Siang Wi menyerang mereka dan dara ini pun segera dikeroyok.

Maklum akan besarnya bahaya bagi sang jenderal apa bila tidak cepat-cepat ke luar, Hui Song dan Sui Cin cepat menarik tangan jenderal itu menyelinap di antara banyak orang, menangkis semua serangan hingga akhirnya mereka pun berhasil keluar. Sesudah tiba di luar, Jenderal Ciang mengeluarkan terompet kemudian ditiupnya terompet itu berkali-kali. Bagaikan datangnya air bah, bermunculanlah barisan pendam yang memang sudah sejak tadi dipasang oleh jenderal yang berpengalaman itu di sekeliling tempat itu dan tempat itu pun sudah terkurung rapat!

Jenderal Ciang dengan dikawal oleh Hui Song dan Sui Cin, kini berdiri di atas batu besar, berteriak dengan suara lantang, "Hentikan semua perkelahian di dalam! Semua penyerbu agar menyerah!"

Akan tetapi, para penjahat yang tadi menyerbu dan hendak membunuh jenderal itu, malah semakin mengamuk karena mereka merasa penasaran sekali bahwa rencana yang sudah mereka atur dengan rapi itu menemui kegagalan. Oleh karena tempat itu penuh dengan orang-orang dari dunia persilatan, maka begitu terjadi pertempuran, orang-orang itu pun banyak pula yang terseret dan berkelahi sendiri!

Tentu saja orang-orang dari golongan sesat membantu rekan-rekan mereka tanpa mereka ketahui sebab-sebab perkelahian itu, dan orang-orang yang merasa dirinya pendekar atau yang menentang kaum sesat segera pula melawan mereka. Hal ini membuat tokoh-tokoh lihai seperti rombongan Cap-sha-kui itu mendapat banyak kesempatan untuk merobohkan dan membunuh orang.

"Kalian telah dikepung ratusan orang pasukan! Kalau tidak mau menyerah dan melempar senjata, maka akan diambil tindakan kekerasan!" Kembali terdengar suara jenderal itu.

Ketika para tokoh sesat yang mengamuk di dalam itu tak mau juga mentaati perintahnya, Jenderal Ciang kemudian mengeluarkan aba-aba memerintahkan pasukannya menyerbu ke dalam. Hui Song, Sui Cin, dan Siang Wi juga ikut menyerbu bersama pasukan karena Hui Song ingin menangkap hidup-hidup beberapa orang tokoh sesat untuk dijadikan saksi tentang pengkhianatan Liu Kim atau Liu-thaikam.

Ketika para prajurit menyerbu, suasana menjadi semakin kacau dan geger. Pada saat itu pula terdengar suara melengking panjang dari luar tempat pesta yang berubah menjadi tempat pertempuran itu. Suara lengkingan panjang dari luar ini disusul dengan ledakan-ledakan benda yang dilempar dari luar. Begitu meledak, benda-benda yang dilempar dari luar itu mengeluarkan asap hitam yang tebal sehingga suasana menjadi semakin kacau.

"Cepat loloskan diri dari atas...!" Terdengar teriakan suara yang nyaring, mengatasi suara kegaduhan itu. Mendengar seruan ini, enam orang tokoh Cap-sha-kui berloncatan naik ke atas atap yang sudah dibuka dari atas.

Hui Song, Sui Cin serta Siang Wi melihat pula hal ini dan melihat bahwa di atas berdiri bayangan dua orang, seorang kakek tinggi kurus bertongkat dan seorang pemuda tinggi tegap. Pemuda itulah yang membantu enam orang Cap-sha-kui lolos dengan menyambar tangan mereka dan menariknya ke atas setelah mereka itu berloncatan dan hampir tidak mencapai tempat yang amat tinggi itu. Apa lagi atap itu adalah atap darurat yang terbuat dari bambu sehingga tidak begitu kuat dan ada bahayanya mereka akan terjeblos lagi ke bawah. Untung ada pemuda itu yang menyambut mereka dan menarik mereka keluar.

"Kejar...!" Hui Song yang merasa sangat penasaran itu lalu berlompatan keluar diiringkan sumoi-nya dan Sui Cin dan dari luar mereka lalu berloncatan naik ke atas atap. Hui Song tidak begitu bodoh untuk menyusul naik dari lubang atap itu selagi musuh-musuh yang lihai itu berada di luar lubang karena tentu mereka itu akan mudah menyambutnya dengan serangan berbahaya.

Pada saat ketiga orang muda perkasa itu sampai di atas atap, sebagian dari tokoh-tokoh Cap-sha-kui berloncatan ke atas genteng rumah-rumah lainnya, ada pun di atas atap itu masih terdapat kekek kurus, pemuda itu dan Kiu-bwe Coa-li bersama ketua Kui-san-kok dan isterinya.

"Penjahat-penjahat keji, kalian hendak lari ke mana?" Hui Song membentak dan segera menyerang ke arah pemuda tinggi tegap itu.

"Kau...?! Kau seorang tokoh sesat...?" Sui Cin juga berseru ketika dia mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang dulu pernah menyelamatkannya dari mala petaka saat dia akan diperkosa oleh Sim Thian Bu. Akan tetapi dia hanya meloncat mendekat dan tidak berani menyerang seperti yang dilakukan Hui Song.

Sementara itu Siang Wi juga sudah kembali mencabut sepasang pedangnya dan segera menyerang Kiu-bwe Coa-li.

"Singgg...! Singgg...! Tarrrrr...!" Sepasang pedang yang menyambar-nyambar itu tertahan oleh ledakan pecut ekor sembilan di tangan nenek ular yang lihai itu.

Sementara itu, pemuda yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang, menyambut serangan Hui Song dengan tenang, menangkisnya dari samping.

"Dukkkk!" Tangkisan itu tepat menyambut pukulan Hui Song dan akibatnya, dua pemuda itu terjeblos ke dalam atap yang menjadi jebol di bawah kaki mereka!

Hui Song kaget bukan kepalang dan cepat melempar tubuh ke belakang lantas berjungkir balik beberapa kali baru dia dapat mencegah tubuhnya tidak terjatuh ke bawah, ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran. Dan ketika Siangkoan Ci Kang terjeblos lalu tubuhnya jatuh ke bawah, tiba-tiba saja kakek tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya dan tongkat itu dapat mengait kaki pemuda itu lantas menempelnya sehingga pemuda itu terhindar dari jatuh ke bawah.

Bukan main cepatnya gerakan kakek tinggi kurus itu ketika tiba-tiba dia menggerakkan tongkat lagi. Tongkatnya menyelonong di antara Kiu-bwe Coa-li dan Siang Wi dan ketika sebatang pedang di tangan kiri Siang Wi bertemu tongkat, gadis ini berteriak kaget karena ada getaran hebat yang membuat tangannya hampir saja melepaskan pedang. Terpaksa dia pun melangkah mundur dan kesempatan ini digunakan oleh kakek itu untuk berseru,

"Kita pergi!"

Hui Song menahan napas. Dia tidak mau mengejar pada saat melihat kakek tinggi kurus, pemuda perkasa, Kiu-bwe Coa-li dan sepasang suami isteri Kui-san-kok itu berloncatan pergi. Dia tahu alangkah lihainya mereka itu, terutama pemuda dan kakek tinggi kurus. Mereka berdua itu dan ditambah tiga orang tokoh Cap-sha-kui sungguh merupakan lawan yang terlalu berat bagi dia, Sui Cin dan Siang Wi.

Juga Sui Cin diam saja karena dia masih tertegun melihat betapa pemuda yang pernah menyelamatkannya itu kiranya merupakan seorang tokoh sesat dan agaknya tepat seperti yang pernah diceritakan Hui Song kepadanya. Kakek tinggi kurus yang matanya terbuka tanpa berkedip itu tentulah yang bernama Siangkoan Lo-jin alias Si Iblis Buta dan pemuda itu tentulah puteranya.

Akan tetapi Siang Wi yang sudah hilang kagetnya, melihat mereka melarikan diri, segera berseru, "Iblis-iblis busuk, kalian hendak lari ke mana?" Dia pun meloncat ke depan untuk melakukan pengejaran.

"Sumoi, jangan dikejar...!" Hui Song berseru sambil meloncat ke depan untuk mencegah sumoi-nya.

Mendengar suara suheng-nya yang setengah membentak, Siang Wi merasa terkejut dan segera menahan kakinya. Pada saat itu pula, serombongan prajurit yang berada di bawah melepaskan anak panah ke arah para penjahat yang melarikan diri. Akan tetapi, mereka itu hanya mengebutkan tangan dan semua anak panah runtuh ke bawah!

Sebentar saja, para penjahat itu sudah berhasil meloloskan diri. Dengan bantuan pemuda itu bersama ayahnya yang buta, kembali enam orang tokoh Cap-sha-kui dapat lolos dari kepungan pasukan yang amat kuat!

Hui Song merasa kecewa, akan tetapi dia teringat bahwa di bawah masih terdapat banyak penjahat, terutama orang-orang Hwa-i Kai-pang yang menyamar. Mereka pun dapat juga dijadikan saksi, pikirnya, maka dia lalu mengajak Sui Cin dan Siang Wi untuk kembali ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran hebat.....

Akan tetapi tanpa adanya para tokoh Cap-sha-kui di situ, akhirnya para penjahat itu dapat dirobohkan kemudian ditangkap. Sui Cin, Hui Song dan Siang Wi masing-masing berhasil menangkap seorang penjahat anggota Hwa-i Kai-pang, bahkan Hui Song menotok roboh Bhe Hok, tokoh Hwa-i Kai-pang gendut yang bertongkat dan cukup lihai itu. Sui Cin juga menampar seorang anggota Hwa-i Kai-pang sehingga roboh pingsan sementara Siang Wi yang berpedang itu merobohkan seorang tokoh sesat dengan membacok pahanya hingga hampir buntung.

Jenderal Ciang memerintahkan supaya semua tawanan itu dikumpulkan untuk dibawa ke kota raja. Gerobak-gerobak tawanan dipersiapkan dan semua tawanan, kecuali Bhe Hok si gendut, dijebloskan ke dalam gerobak-gerobak kerangkeng dengan kaki tangan mereka dibelenggu.

Hui Song sudah menemui Jenderal Ciang dan minta supaya tawanan yang satu ini tidak dimasukkan gerobak kerangkeng, melainkan hendak dikawalnya sendiri ke kota raja. Usul ini timbul di dalam hati Hui Song ketika membayangkan kemungkinan tokoh sesat akan berusaha membebaskan para tawanan. Padahal, para tawanan itu merupakan saksi-saksi penting sekali, terutama Bhe Hok yang tahu tentang semua persekutuan busuk di istana, seperti yang pernah dia dengar bersama Sui Cin ketika di gedung Hwa-i Kai-pang sedang diadakan pertemuan dan percakapan di antara para tokohnya, termasuk Bhe Hok itu.

"Sumoi, kalau engkau lebih dahulu pergi ke Cin-ling-san, tolong beri tahukan ayah bahwa sesudah selesai urusan di kota raja, aku akan pergi berkunjung ke Pulau Teratai Merah, baru akan pulang ke Cin-ling-san." Hui Song berkata kepada sumoi-nya.

Wajah yang manis itu tampak semakin keruh dan matanya mengerling ke arah Sui Cin. Ia belum tahu siapa adanya dara yang bersama suheng-nya ini, akan tetapi dari pertempuran tadi ia melihat bahwa Sui Cin adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.

"Akan tetapi, aku..." Ia merasa sungkan dan malu untuk menyatakan keinginannya agar dapat selalu bersama suheng-nya.

"Engkau pergilah lebih dulu dan aku akan menyelesaikan tugas kami berdua yang sudah melibatkan diri kami sejak lama."

Kembali Siang Wi memandang kepada Sui Cin dengan alis berkerut. Hui Song sangat mengenal watak sumoi-nya maka dia kini tahu pula betapa hati sumoi-nya tidak senang karena dia melakukan perjalanan berdua dengan seorang gadis lain.

"Sumoi, engkau belum berkenalan. Nona ini adalah nona Ceng Sui Cin, yaitu puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin."

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi lalu menyipit kembali dan dua alisnya berkerut lebih dalam, wajahnya dibayangi kekhawatiran yang lebih besar. Kiranya dara cantik yang lihai sekali ini adalah puteri pendekar yang namanya sudah amat dikenalnya itu. Sungguh merupakan saingan yang sangat kuat! Akan tetapi, sebagai murid isteri ketua Cin-ling-pai dia pun cukup tahu akan peraturan, maka cepat dia menjura ke arah Sui Cin.

"Ternyata enci adalah puteri Ceng-locianpwe yang terkenal itu. Maaf kalau aku bersikap kurang hormat karena tadi belum mengenalmu."

Sui Cin tertawa geli dan mengibaskan tangannya. "Wah, sudahlah, di antara kita tak perlu banyak memakai sungkan-sungkan lagi."

Hui Song juga tersenyum, lega melihat sikap Siang Wi yang menghormat dan geli melihat sikap wajar Sui Cin. Dia pun lalu tertawa. "Sumoi, nona Ceng ini baru berusia enam belas tahun, jadi, sebaiknya kalau engkau menyebutnya adik, bukan enci."

Setelah berpamit dari sumoi-nya dan juga dari Jenderal Ciang yang sibuk sekali mengatur sendiri pasukannya untuk membawa para tawanan, Hui Song lalu mengajak Sui Cin pergi sambil menggiring si gendut Bhe Hok, pergi ke kota raja melalui jalan memotong. Sui Cin tetap menunggang kudanya, Bhe Hok berjalan di belakang kuda dan Hui Song berjalan di belakangnya.

Sui Cin dan Hui Song tidak merasa khawatir kalau-kalau tawanan itu akan lari atau akan memberontak karena Hui Song sudah monotok jalan darah pada kedua pundaknya yang membuat kedua lengan si gendut itu tak dapat digerakkan lagi, hanya tergantung lumpuh di kanan kiri tubuhnya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Begitu mereka tiba di kota raja dengan selamat, Hui Song dan Sui Cin membawa tawanan itu ke markas Jenderal Ciang. Para perwira di markas itu telah mengenal Hui Song, maka mereka menyambut pemuda itu dan dengan gembira mendengarkan penuturan Hui Song tentang peristiwa pertempuran di rumah Ang-kauwsu.

Si gendut Bhe Hok dimasukkan ke dalam kamar tahanan dan dijaga dengan ketat. Sesuai dengan permintaan Hui Song, si gendut yang menjadi tawanan penting ini diperlakukan dengan baik. Hui Song sendiri mengancam bahwa kalau si gendut ini tidak mau membuat pengakuan di depan kaisar nanti apa bila dibutuhkan, maka dia akan disiksa.

"Terutama engkau akan dibiarkan kelaparan sampai satu bulan lamanya. Akan tetapi jika engkau mengaku, aku akan mintakan ampun untukmu, dan engkau akan mendapatkan makanan enak, bahkan mungkin juga dibebaskan."

Tak ada siksaan lain yang lebih menakutkan bagi si gendut Bhe Hok dari pada kelaparan! Baginya, makan enak sekenyangnya merupakan kenikmatan nomor satu di dunia ini, dan tanpa itu, hidup tidak ada artinya lagi. Maka, mendengar ancaman Hui Song itu, dia sudah mengangguk-angguk seperti burung kakak tua diberi hidangan.

Kemudian, tepat seperti yang sudah dikhawatirkan Hui Song, datang berita mengagetkan bahwa pada senja hari itu pasukan Jenderal Ciang yang membawa rombongan tawanan menuju ke kota raja, di tengah perjalanan sudah dihadang dan diserang oleh gerombolan penjahat, dan sebagian besar para tawanan dapat dibebaskan oleh para penyerang, ada pun yang tidak dapat dibebaskan, telah kedapatan mati di dalam gerobak masing-masing! Tidak ada sisa seorang pun!

Ternyata para penjahat yang lihai itu telah membunuh teman-teman sendiri yang tertawan, tentu saja dengan maksud agar tawanan-tawanan itu tidak sampai membocorkan rahasia. Rahasia besar bahwa Liu-thaikam yang berada di balik semua kejahatan ini!

Begitu memasuki benteng dengan wajah muram, Jenderal Ciang lalu menemui Hui Song dan hatinya menjadi sangat lega mendengar bahwa Bhe Hok, satu-satunya tawanan yang tersisa, kini sudah aman berada di dalam kamar tahanan.

"Harus dijaga keras agar dia jangan sampai mendengar bahwa tidak ada tawanan lainnya kecuali dia, bahwa dialah satu-satunya saksi di depan sri baginda kaisar," kata jenderal itu kepada Hui Song. "Bila dia mendengar tentang nasib para tawanan yang tidak sempat dibebaskan, tentu dia akan ketakutan dan tidak mau mengaku."

Hui Song lalu mendatangi Bhe Hok. Dengan sikap tenang dan wajar dia pun menanyakan bagaimana perlakuan para penjaga tahanan terhadap dirinya. "Engkau adalah tawananku, karena itu akulah yang akan bertanggung jawab atas dirimu. Tawanan-tawanan lain yang ditawan oleh pasukan dipisahkan, namun keadaan mereka tidaklah begitu menyenangkan dibandingkan dengan keadaanmu."

"Apakah... apakah Hwa-i Lo-eng juga... ikut tertangkap?" Bhe Hok bertanya dengan penuh keinginan tahu.

Hui Song telah mendengar berita mengejutkan lainnya, yaitu bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu ternyata sudah kedapatan tewas di dalam gedung perkumpulan itu, tidak lama setelah rombongan Jenderal Ciang tiba. Dan dia tahu apa artinya itu. Agaknya para tokoh jahat, tentu saja atas perintah Liu-thaikam, telah melakukan persiapan supaya rahasianya tidak terbuka, dengan jalan membunuhi semua tawanan, dan ketua Hwa-i Kai-pang juga harus dibunuh agar pemerintah tidak akan menangkap dan memaksanya mengaku!

"Dia? Tentu saja dia pun ditangkap sebab anak buahnya banyak yang terlibat. Akan tetapi pemeriksaan akan dilakukan secara terpisah dan satu demi satu. Maka engkau tak perlu khawatir, mengakulah saja seperti apa adanya. Jika engkau menyesali pengkhianatanmu dan mengaku terus terang tentang persekongkolan di bawah pimpinan Liu-thaikam, tentu engkau akan mendapat keringanan."

"Apa? Apa... Liu-thaikam...? Aku tidak... tidak mengerti..."

Hui Song tersenyum. "Ahh, tidak perlu engkau berpura-pura lagi. Kami sudah mendengar semua mengenai persekutuan itu, tentang bagaimana Hwa-i Kai-pang dipergunakan oleh Liu-thaikam, juga tentang Cap-sha-kui sudah menjadi antek-antek pembesar itu di bawah pimpinan seorang datuk yang bernama Siangkoan Lo-jin berjuluk Iblis Buta. Kami sudah tahu semua, dan engkau hanya tinggal membuat pengakuan sejujurnya saja. Ingat, kalau engkau membohong dan tidak mau mengaku, kami pun sudah mengetahui persoalannya dan akibatnya engkau akan disiksa."

Bhe Hok mengangguk-angguk meyakinkan sehingga legalah hati Hui Song. Pengakuan si gendut ini di depan sri baginda kaisar berarti berhasilnya tugas membongkar persekutuan jahat di dalam istana yang dikepalai oleh Liu-thaikam.

Sementara itu, Jenderal Ciang segera mengadakan hubungan dengan dua orang menteri lain yang pandai dan termasuk sebagai menteri-menteri setia yang juga dianggap sebagai saingan sehingga ditentang oleh Liu-thaikam. Mereka adalah Menteri Ting Hoo dan Cang Ku Ceng.

Di dalam sejarah tercatat bahwa kedua orang menteri ini kelak akan menjadi pembantu-pembantu yang sangat setia dan pandai dari Kaisar Cia Ceng pengganti Kaisar Ceng Tek. Jenderal Ciang mengadakan perundingan dengan dua orang menteri ini, kemudian pada keesokan harinya, berkat usaha dari kedua orang menteri ini, sri baginda kaisar berkenan menerima Jenderal Ciang yang diikuti pula oleh Menteri Liang serta kedua orang menteri Ting dan Cang itu.

Tentu saja sri baginda kaisar menjadi terkejut sekali ketika mendengar laporan Jenderal Ciang mengenai persekutuan yang hendak membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang, terlebih lagi sesudah dengan terus terang jenderal itu mengatakan bahwa persekutuan itu dipimpin oleh Liu-thaikam sendiri!

"Mustahil!" Sri baginda kaisar berseru sambil menepuk lengan kursi. "Dia adalah seorang pembantuku yang paling setia. Dan apa sebabnya dia hendak membunuh kalian berdua? Tentu ada permusuhan pribadi!"

Pada saat mendengar betapa kaisar agaknya malah berpihak kepada thaikam itu, wajah Jenderal Ciang menjadi pucat. Menteri Liang yang berlutut itu lalu berkata, "Mohon beribu ampun, sri baginda. Sesungguhnya tidak terdapat permusuhan apa pun antara hamba dan Liu-thaikam, akan tetapi dia menganggap hamba dan Jenderal Ciang serta banyak hamba paduka yang lain sebagai saingannya karena hamba sekalian tak mau tunduk kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dia hendak membunuh hamba."

"Sudah banyak pembesar dibunuhnya, sri baginda. Dia tidak segan-segan menggunakan para penjahat sebagai antek-anteknya. Pada waktu hendak membunuh Menteri Liang dan hamba, dia malah memperalat datuk-datuk sesat seperti Cap-sha-kui, juga menggunakan orang-orang Hwa-i Kai-pang yang ikut pula bersekongkol dan menjadi anteknya."

Alis Sri Baginda Kaisar Ceng Tek berkerut, hatinya merasa tidak senang. "Jenderal Ciang, kami tahu bahwa engkau adalah seorang jenderal yang gagah dan setia, dan juga Menteri Liang adalah seorang menteri lama yang sangat setia. Tahukah kalian betapa hebat dan berbahayanya semua cerita kalian ini? Kalau tidak benar, ini merupakan fitnah yang akan dapat membuat kalian terpaksa harus dihukum seberat-beratnya!"

"Hamba bersedia dihukum kalau pelaporan hamba tidak benar, sri baginda!" kata sang jenderal.

"Hamba juga bersedia menyerahkan nyawa jika hamba menjatuhkan fitnah kepada siapa pun juga," sambung Menteri Liang dengan suara tegas.

Mulailah Kaisar Ceng Tek merasa bimbang. Sebenarnya sudah lama banyak pembesar yang mencoba untuk menyadarkannya akan kepalsuan Liu-thaikam, akan tetapi karena thaikam itu selalu bersikap baik dan menyenangkan hatinya, juga karena tidak pernah ada bukti penyelewengannya, maka kaisar merasa terlalu sayang kepada pembantu itu untuk melakukan penyelidikan secara mendalam.

Lagi pula, kaisar yang masih amat muda itu, baru sembilan belas tahun usianya, merasa banyak dibantu oleh Liu-thaikam. Pada waktu dia melakukan perjalanan keluar dari istana secara diam-diam, thaikam itulah yang selalu membantunya, dan semua urusan di dalam istana dapat diselesaikan dengan baik oleh thaikam itu.

"Bagaimana kalian dapat memastikan bahwa laporan kalian ini bukannya fitnah belaka?" kaisar mendesak.

"Penyerangan terhadap Menteri Liang di telaga disaksikan oleh banyak orang, sedangkan penyerangan terhadap hamba di dalam pesta Ang-kauwsu lebih banyak saksinya," jawab Jenderal Ciang.

"Kalian adalah pejabat-pejabat pemerintah, maka tidaklah aneh kalau dimusuhi oleh kaum penjahat. Akan tetapi apa buktinya bahwa Liu-thaikam yang berdiri di belakang semua itu?"

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Jenderal Ciang. Dengan suara lantang tetapi tetap hormat dia menjawab. "Sri baginda, hamba sudah menangkapi sebagian dari para penjahat, akan tetapi ketika hamba menggiring para penjahat itu ke kota raja, di tengah perjalanan para datuk sesat menghadang, merampas tawanan dan membunuh mereka yang tidak dapat mereka rampas. Akan tetapi masih ada seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang berhasil hamba bawa sebagai saksi. Jika paduka berkenan, hamba dapat menyuruh dia membuat pengakuan di hadapan paduka." Jenderal itu berhenti sebentar, kemudian menyambung, "Selain itu, juga hamba dibantu oleh seorang pendekar muda yang pernah menyelamatkan paduka pada saat paduka diserang oleh orang-orang Kang-jiu-pang, yaitu putera ketua Cin-ling-pai bersama seorang temannya, pendekar wanita Ceng Sui Cin."

"Hemm, bawa mereka semua menghadap!" Kaisar memerintah.

Jenderal Ciang lalu memberi isyarat kepada para penjaga di luar dan tak lama kemudian muncullah Hui Song dan Sui Cin mengiringkan Bhe Hok sebagai tawanan. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan tubuh Bhe Hok gemetar ketakutan.

Jenderal Ciang memperkenalkan dua orang muda pendekar itu, tetapi kaisar masih ingat kepada Hui Song yang gagah. "Hai, engkau orang muda yang gagah perkasa itu! Urusan apa lagi yang membawamu terlibat sehingga kini dihadapkan di istana?" Kaisar menegur dengan suara ramah.

"Ampun, sri baginda. Hamba melihat ada persekutuan busuk mengancam para pembesar setia. Dan karena persekutuan itu dapat pula membahayakan keselamatan paduka, maka hamba berdua nona Ceng berusaha membantu Jenderal Ciang untuk membuka rahasia ini dan menghaturkannya kepada paduka."

Kaisar teringat lagi akan tuduhan terhadap thaikam yang amat disayangnya, maka alisnya berkerut lagi, hatinya kesal dan dia pun berkata kepada Jenderal Ciang. "Nah, suruhlah saksi bercerita. Awas, kalau dia berbohong, kalian semua takkan bebas dari hukuman!"

Sebenarnya ucapan kaisar itu ditujukan untuk mengancam mereka yang telah memusuhi Liu-thaikam, akan tetapi malah membuat si gendut Bhe Hok semakin ketakutan dan tidak berani berbohong. Dia terus berlutut dan tak berani berkutik sampai dihardik oleh Jenderal Ciang.

"Penjahat Bhe, lekas membuat pengakuan apa adanya dan jangan berbohong!"

"Hamba... hamba bernama Bhe Hok dan hamba menjadi seorang di antara para pembantu Hwa-i Lo-eng ketua Hwa-i Kai-pang. Bersama rekan-rekan Cap-sha-kui, hamba menjadi anggota kelompok yang dipimpin oleh Siangkoan Lo-jin, dan hamba semua bekerja untuk Liu-taijin. Hamba menerima tugas untuk membantu para tokoh Cap-sha-kui, pertama-tama untuk membunuh Menteri Liang, kemudian membunuh Jenderal Ciang. Hamba membuat pengakuan yang sesungguhnya, berani disumpah juga berani mempertanggung jawabkan kebenaran pengakuan hamba."

Wajah kaisar telah menjadi merah sekali. Haruskah dia mempercayai pengakuan seorang penjahat macam ini?

"Tangkap dan seret ketua Hwa-i Kai-pang ke sini!" bentaknya.

"Ampun sri baginda. Hwa-i Lo-eng telah dibunuh oleh tokoh-tokoh sesat, mungkin karena mereka merasa takut kalau-kalau ketua Hwa-i Kai-pang itu akan membuat pengakuan dan membuka rahasia kejahatan Liu-thaikam."

"Hemm, kalau begitu tangkap dan bawa Liu-thaikam ke sini!" perintah kaisar.

"Hamba akan melaksanakan perintah paduka. Akan tetapi tanpa adanya leng-ki (bendera tanda utusan kaisar), tentu dia tidak akan percaya dan akan melawan."

"Nih, bawa tanda dari kami!" Berkata demikian kaisar muda itu melepaskan pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada Jenderal Ciang.

Benda itu adalah pusaka tanda kekuasaan kaisar, maka tentu saja telah merupakan bukti kekuasaan yang cukup. Dengan gembira sekali Jenderal Ciang menerima pedang, lantas membawa pasukan pengawal pergi menuju ke gedung tempat tinggal Liu-thaikam dan menangkapnya. Melihat pedang di tangan jenderal itu, Liu-thaikam tidak berkutik lagi dan dengan muka pucat tak lama kemudian dia sudah menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki kaisar.

"Mohon paduka sudi mengampuni semua kesalahan hamba, akan tetapi sungguh hamba merasa terkejut sekali menerima panggilan paduka seperti ini. Apakah yang telah terjadi? Apakah yang dapat hamba lakukan untuk paduka?" Tentu thaikam itu hanya berpura-pura saja.

Dia sudah mendengar akan semua yang telah terjadi, tentang kegagalan-kegagalan para anteknya dan dialah yang memerintahkan supaya semua tokoh Hwa-i Kai-pang dibunuh, juga para tawanan yang tidak sempat dibebaskan agar dibunuh. Sungguh pun demikian, hatinya masih selalu dalam keadaan was-was maka dia telah bersiap untuk melarikan diri, walau pun dia masih percaya akan pengaruhnya terhadap kaisar. Kedatangan Jenderal Ciang yang menangkapnya sama sekali tidak disangkanya.

"Orang she Liu, apakah yang telah kau lakukan selama ini? Mengapa engkau memperalat orang-orang jahat dan menyuruh orang-orang jahat itu mencoba untuk membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang?!" Kaisar membentak.

Dengan mimik muka yang pandai, thaikam itu terbelalak lantas memprotes dengan sikap wajar orang yang merasa difitnah. "Ampun, sri baginda! Hal itu sama sekali tidak benar! Hamba telah difitnah orang! Banyak sekali orang yang merasa iri dan ingin menjatuhkan hamba karena paduka sudah melimpahkan kepercayaan yang besar kepada hamba. Ini adalah fitnah penasaran! Hamba berani bersumpah bahwa hamba selalu setia terhadap paduka sampai mati!"

"Hemm, setia dan memelihara penjahat-penjahat sebagai kaki tanganmu?"

"Tidak, sama sekali tidak benar. Hamba bersumpah..."

"Apakah persekutuan penjahat-penjahat Hwa-i Kai-pang dan Cap-sha-kui yang dipimpin oleh datuk bernama Siangkoan Lo-jin itu bukan antek-antekmu?"

"Tidak, hamba sama sekali tidak pernah mendengar nama-nama itu, hamba bahkan tidak mengenalnya. Memang hamba merasa tidak suka pada Menteri Liang dan Jenderal Ciang karena hamba melihat bahwa mereka itu menentang paduka, tidak taat..."

Kaisar menghardiknya kemudian berkata kepada Bhe Hok. "Hai, kamu! Katakan apakah ini orangnya yang memimpin seluruh persekutuan busuk itu?!"

Bhe Hok memandang pada Liu-thaikam dengan muka pucat. Tadi dia mendengar betapa Hwa-i Lo-eng telah dibunuh dan sekarang agaknya tinggal dia yang harus berani menjadi saksi. Akan tetapi dia tadi telah mengucapkan pengakuannya, tidak mungkin mengingkari kembali, maka dia pun berkata dengan suara gemetar,

"Benar, sri baginda. Dia adalah Liu-taijin yang dibantu oleh kelompok hamba semua..."

Liu-thaikam menengok dan begitu melihat wajah Bhe Hok, dia terkejut dan marah bukan main. "Kau... kau...!" Bentaknya sambil menudingkan telunjuknya. "Engkau pengkhianat busuk! Berani engkau membawa-bawa namaku di sini? Akan kusuruh mencincang hancur kepalamu..."

"Cukup!" Kaisar membentak. "Tangkap pengkhianat ini dan seret ke pengadilan tinggi!"

Para pengawal lalu maju dan menangkap Liu-thaikam yang berteriak-teriak dan meronta-ronta, memaki-maki Bhe Hok, Menteri Liang, Jenderal Ciang dan akhirnya memaki-maki kaisar pula sehingga para pengawal membungkam mulutnya dan menyeretnya keluar.

Dengan wajah murung kaisar lalu mengucapkan terima kasihnya kepada Jenderal Ciang, Menteri Liang, juga kepada Hui Song dan Sui Cin, lalu kaisar membubarkan persidangan darurat itu.

Pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada Liu-thaikam. Saat diadakan pemeriksaan dan penggeledahan, kaisar sendiri sampai tertegun melihat tumpukan harta hasil korupsi dan penindasan yang dilakukan bekas pembantunya yang tadinya sangat disayang serta dipercayanya itu. Harta benda yang ditumpuk oleh Liu Kim atau Liu-thaikam itu sungguh amat besar jumlahnya.

Menurut catatan sejarah, emas dan perak yang diperoleh sebanyak 251.583.600 tail, batu permata sebanyak lebih dari sepuluh kilo, dua stel pakaian perang dari emas, 500 piring emas, 300 pasang gelang dan cincin emas, 4000 ikat pinggang emas permata. Istananya di kota raja bahkan melebihi kemewahan istana kaisar sendiri!

Penumpukan harta yang dilakukan oleh Liu-thaikam melalui korupsi dan penindasannya itu memang sungguh luar biasa. Tiada keduanya dalam sejarah. Kerakusannya dalam hal menumpuk harta sukar dicari bandingannya sehingga menjadi buah bibir rakyat sampai sepanjang sejarah. Padahal, sebelum menjadi thaikam, Liu Kim adalah seorang anak dari keluarga yang miskin dan rendah.

Sesudah komplotan itu berhasil dibongkar, Kaisar Ceng Tek baru menjadi panik sehingga kaisar ini cepat-cepat melakukan pembersihan di kalangan para pejabat tinggi. Juga dia segera memerintahkan Jenderal Ciang agar mengerahkan pasukan untuk membasmi para penjahat yang tadinya menjadi antek Liu-thaikam.

Hwa-i Kai-pang diserbu, semua anggotanya ditangkap dan dihukum, gedungnya dirampas pemerintah. Akan tetapi tak mudah bagi Jenderal Ciang untuk dapat mencari tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang selalu bergerak laksana setan. Dengan tertangkapnya Liu-thaikam dan hancurnya komplotan itu, barulah pemerintahan Kaisar Ceng Tek yang muda itu menjadi bersih dan barulah kaisar muda itu mulai memperhatikan roda pemerintahan.

********************