Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 04

04: HABIS BUNGA SETAMAN!

Akan tetapi tangis bayi yang menggembirakan itu segera disusul tangis para wanita yang membantu kelahiran dalam kamar itu. Alangkah jauh bedanya antara kedua tangis ini. Isak tangis para wanita itu mendatangkan haru dan pilu, mendatangkan awan hitam menutup sinar matahari.

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Thio-ma keluar sambil memondong seorang bayi yang sudah dibungkus selimut. Bayi merah itu membuka mulut lebar dalam tangisnya. Thio-ma memberikan bayi itu kepada Suma Tiang Bun tampak wanita itu menangis. Air mata bercucuran di kedua pipinya.

“Ia begitu muda... begitu cantik... ahh, sayang....” Thio-ma terisak-isak lalu kembali ke dalam kamar.

Suma Tiang Bun memondong bayi itu dengan kedua tangan gemetar. Dia melangkah masuk kamar dan sekilas pandang saja dia tahu bahwa nyonya muda yang baru saja melahirkan itu sudah tidak bernyawa lagi, menggeletak telentang di atas pembaringannya dengan muka putih pucat, kedua mata terpejam akan tetapi bibir yang manis dan indah bentuknya itu tersenyum.

Melihat senyum itu, Suma Tiang Bun menutup kedua matanya sejenak dan terbayanglah dia betapa nyonya muda itu bertemu dan berpelukan dengan suaminya di alam lain. Tiba-tiba Suma Tiang Bun tertawa bergelak. Suara tawanya bukan suara tawa biasa, melainkan suara tawa yang keluar dari dasar hatinya, yang disuarakan dengan pengerahan sin-kang sehingga semua orang yang berada di situ terkejut bukan main. Pondok itu seolah-olah tergetar dan suara tawa itu terdengar sampai jauh, terdengar bergelombang dan mengerikan!

“Ha-ha-ha-ha! Mati diantar tangis, lahir disambut tawa! Ha-ha-ha, manusia memang buta. Thio-ma, apakah hal ini tidak terbalik? Bukankah seharusnya mati diantar tawa dan lahir disambut tangis? Lihat, bayi menangis ketika dilahirkan, pertanda dia memasuki alam yang penuh pertentangan! Yang mati itu tampak tersenyum dan tenang, pertanda ia memasuki alam yang penuh kedamaian!”

Entah mengapa, mungkin karena terkejut mendengar tawa yang dahsyat menggetarkan tadi, bayi yang tadinya menangis keras itu tiba-tiba saja berhenti menangis. Suma Tiang Bun menundukkan mukanya sehingga jenggotnya yang putih menutupi dada bayi itu. Dia tertawa lagi, kini tawanya biasa, dan dia berkata,

“Ha-ha-ha, anak yang baik! Orang lain terlahir disambut tawa gembira, akan tetapi engkau terlahir di tengah-tengah tangis. Begitu terlahir engkau sudah mengalami kepahitan hidup pertama, dengan meninggalnya ibumu! Biarlah, manis, terimalah saja. Siapa tahu kelak engkau akan menjadi seorang manusia yang berguna bagi Thian, bagi manusia dan dunia!”

Dengan wajah tampak gembira sekali, Suma Tiang Bun berjalan-jalan dalam ruangan itu sambil mengayun-ayun bayi dalam pondongannya.

“Thio-ma dan saudara-saudara sekalian, dengarlah. Bocah ini kuberi nama Cun Giok, Suma Cun Giok! Ya, dia memakai she (marga) Suma, seperti aku, dan dia menjadi anakku. Thio-ma menjadi ibu angkatnya, dan kalian menjadi saksinya!”

“Kasihan ibunya...” kembali Thio-ma berkata lirih. “Suma Lojin, apakah engkau tidak merasa kasihan kepada ibunya? Mengapa engkau begitu tega minta kepadaku untuk menyelamatkan anaknya sehingga ibunya tewas?”

Suma Tiang Bun memberikan bayi itu kepada Thio-ma. “Rawatlah dia baik-baik. Semua biaya aku yang menanggungnya. Engkau bertanya tentang ibunya? Thio-ma dan semua saudara, ketahuilah. Aku kasihan sekali kepada nyonya muda itu. Aku yang menolongnya dari Sungai Huai. Akan tetapi, sebagai seorang ahli pengobatan aku tahu bahwa nyawanya tidak akan dapat ditolong lagi, karena selain keracunan, ia kehilangan banyak darah dan batinnya terguncang hebat. Tahukah kalian apa artinya ini? Andaikata ia tertolong dalam kelahirannya ini dan anaknya yang tewas, hal itu tidak akan ada gunanya karena ia pun akan meninggal karena keadaannya itu. Maka ketika dihadapkan dua pilihan, aku minta agar anak ini yang diselamatkan. Dengan menolong anak ini berarti kita menolong kelanjutan keluarganya. Kalau anak ini tidak ditolong, berarti keduanya akan binasa! Tidak, lebih baik salah satu tewas dan berkorban untuk yang lain!”

Kini mengertilah semua orang dan mereka membenarkan tindakan yang diambil Suma Tiang Bun. Memang, kalau sudah mengetahui bahwa nyonya muda itu terluka parah dan tidak dapat disembuhkan lagi, lebih baik menyelamatkan anaknya. Tak seorang pun di antara mereka tahu bahwa pada saat itu, pada saat di dalam kamar Suma Tiang Bu banjir air mata, air mata gembira menyambut Suma Cun Giok dan air mata duka mengantar keberangkatan Tan Bi Lian ke alam baka, terdapat seorang gadis yang juga menangis dengan sedihnya.

Nun jauh di kota raja, dalam sebuah kamar yang indah sekali, kamar yang terletak di gedung dalam lingkungan istana, gadis itu menangis sedih dan pilu. Gadis cantik jelita itu bukan lain adalah Pouw Sui Hong, adik mendiang Pouw Keng In, bibi dari bayi yang lahir di rumah Suma Tiang Bun itu.

Tangis sedih seorang gadis yang putus asa, seperti juga tangis yang ratusan kali terdengar di kamar-kamar seperti itu, tangis para gadis seperti Pouw Sui Hong, gadis-gadis cantik jelita yang terjatuh ke dalam tangan para pangeran dan bangsawan lain di dalam atau di luar istana kaisar!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

“Pengantin..! Pengantin...!” Anak-anak bersorak dan tertawa-tawa mengikuti ronnbongan pengantin diarak. Suara tambur, canang dan suling mengiringi rombongan arak-arakan ini.

Sudah menjadi kebiasaan para penduduk kota Lan-hui, apabila ada pernikahan, selain dirayakan di rumah, juga diadakan perayaan di kelenteng Kwan Im Bio yang letaknya di tengah kota. Kini pengantin wanita yang duduk dalam tandu dan dipikul empat orang berpakaian seragam, juga dibawa ke kelenteng itu, di mana pengantin pria telah menanti untuk menyambutnya.

Dalam kelenteng itu akan diadakan upacara sembahyang oleh sepasang pengantin mohon berkat dari Kwan Im Pouwsat sebelum pengantin wanita diboyong ke rumah suaminya. Para pengiring pengantin kelihatan gembira, tertawa-tawa dan mengucapkan kata-kata yang sifatnya menggoda ke arah joli (tandu) pengantin.

“A Liuk, kau lihat, pengantinnya sekarang tidak mengeluarkan suara. Kau pikir ia sedang apa?” bertanya seorang pengiring kepada kawannya, sengaja bicara di dekat tandu agar terdengar oleh pengantin wanita yang duduk di dalamnya.

Orang yang bernama A Liuk itu tertawa keras dengan sengaja, karena kalau percakapan itu tidak dilakukan keras-keras, tentu tidak akan terdengar oleh pengantin wanita, tertutup oleh bunyi canang dan tambur.

“Ha-ha-ha, A Sam, masa engkau tidak mendengarnya? Aku mendengar ia tertawa-tawa gembira dan kulihat ia tersenyum-senyum!”

“Bohong kau!” kata A Sam sambil menyeringai. “Pengantin secantik dewi mana suaranya dapat terdengar? Dan tirai tandu demikian rapatnya, mana kau bisa melihatnya?”

Keduanya tertawa-tawa dan yang lain-lain juga ikut tertawa.

“A Liuk, A Sam, kalian jangan terlalu menggoda pengantin! Apa kalian ingin ia menangis lagi seperti tadi?”

Memang teguran yang diucapkan orang ketiga ini tidak bohong. Sejak meninggalkan rumahnya di kota Ci-bun beberapa mil jauhnya dari kota Lan-hui dan sejak memasuki tandu, pengantin wanita itu terus-menerus menangis. Akan tetapi setelah tiba di pintu gerbang kota Lan-hui, tangisnya terhenti dan tidak terdengar lagi pengantin mengeluarkan suara.

“Ha-ha, kau bodoh!” A Liuk mencela orang yang menegur tadi. “Tidak tahukah kau bahwa sudah sepatutnya bagi seorang pengantin yang muda dan cantik untuk menangis kalau diangkut dengan tandu? Agaknya kelak calon isterimu, kalau diangkut tandu dan menjadi pengantin, akan tertawa terbahak-bahak di sepanjang jalan!”

Kembali semua orang tertawa riuh mendengar kelakar ini, dan iring-iringan itu menjadi semakin gembira dengan adanya anak-anak dan penduduk Lan-hui yang menonton dan ikut mengiring di belakang rombongan menuju. kelenteng Kwan Im Bio. Setelah tiba dekat kelenteng, musik dibunyikan semakin gencar dan makin riuh pula teriakan dan sorakan para penonton.

Sambil menanti dimulainya upacara dan persiapan penyambutan, tandu diturunkan dari pundak empat orang pemikulnya dan diletakkan di atas tanah. Menurut kebiasaan, pengantin wanita tidak boleh keluar dulu, tidak boleh terlihat mata orang lain sebelum bertemu dengan calon suaminya dan biasanya setelah persiapan selesai, tandu akan digotong terus ke dalam kelenteng di mana sudah dipersiapkan meja sembahyang bagi sepasang pengantin untuk melakukan sembahyang bersama.

Akan tetapi ketika rombongan pengantin pria keluar dari kelenteng menyambut, dan pengantin pria tampak gagah dan tampan dengan pakaiannya yang gemerlapan, pengantin pria ini tampaknya tidak sabar lagi untuk segera dapat memandang wajah calon isterinya yang cantik. Sambil tersenyum-senyum dia melangkah ke depan, lalu tangan kanannya meraih dan menyingkap tirai hijau yang menutup joli.

“Hayaaaa...!” Tiba-tiba dia menjerit dan melepaskan lagi tirai itu. Matanya terbelalak lebar, mukanya berubah pucat sekali dan jelas tampak dia menggigil. Semua orang terkejut, baik para pengiring pengantin wanita maupun para penyambut dan pengiring pengantin pria.

“Mengapa...?”

“Ada apakah...?”

Orang-orang bertanya heran. Pengantin pria menunjukkan telunjuknya ke arah tandu, bibirnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara, akhirnya dapat juga dia berkata gagap.

“I... itu... ia... darah... telah mati..!”

Orang-orang terkejut. Seorang yang agak tabah cepat menyingkap tirai hijau penutup tandu dan menggantungkan tirai itu di ujung tandu sehingga tidak turun lagi. Kini semua mata memandang ke dalam tandu, ingin melihat apa gerangan yang membuat pengantin pria terkejut seperti itu. Dan mereka sendiri terkejut bukan main melihat pengantin wanita yang duduk dalam tandu sudah terkulai lemas. Sebuah pisau belati menancap di dadanya!

Darah membasahi pakaian dan bagian dalam tandu melihat keadaan tubuh gadis itu, mudah diduga bahwa ia sudah mati. Suasana menjadi gempar. Orang-orang bicara simpang siur dengan bermacam-macam komentar dan pendapat. Jenazah pengantin wanita itu segera diangkat ke dalam kelenteng. Pengantin pria tampak marah sekali.

“Ini penghinaan namanya!” ia berteriak sambil membanting-bantingkan kaki, lalu dia berteriak memanggil kepala pengawalnya. “Theng-kauwsu, cepat bawa teman-teman pergi ke rumah keluarga Siok, beritahukan bahwa Ji-siocia (Nona Kedua) telah membunuh diri dalam tandu dan agar Sam-siocia (Nona Ketiga) menggantikan cicinya menjadi pengantin. Hanya dengan penggantian itu kita akan terhindar dari penghinaan dan upacara pernikahan dapat dilangsungkan. Bawa tandu baru, boyong Sam-siocia ke sini, sekarang juga!”

Setelah memberi perintah dan marah-marah, pengantin pria ini kembali masuk ke ruangan dalam kelenteng itu. Yang dipanggil Theng-kauwsu (Guru Silat Theng) adalah seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh tahun, berperawakan tinggi besar dan tegap.

Begitu mendengar perintah dari pengantin pria, dia segera memimpin anak buahnya untuk membersihkan tandu dari noda darah. Setelah joli itu bersih, rombongan yang tadi mengantar pengantin wanita segera melakukan perjalanan cepat, kembali ke kota Ci-bun. Kini rombongan dikawal oleh Theng-kauwsu dan limabelas orang anak buahnya yang semua berpakaian seperti jago-jago silat.

Para penonton menjadi gempar. Mereka membicarakan peristiwa aneh itu, akan tetapi tentu saja tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani mencela sikap pengantin pria secara berterang. Pengantin pria itu adalah Bhong-kongcu (Tuan Muda Bhong) putera seorang hartawan besar di Lan-hui yang amat berpengaruh karena bukan saja dengan harta bendanya dia berhubungan erat dengan para pembesar, juga terutama sekali karena seorang pamannya menjabat kedudukan tinggi di kota raja!

“Kasihan sekali keluarga Siok, akan habislah bunga setaman, dipetik semua oleh tangan raja muda kota Lan-hui,” kata seorang penonton dengan berbisik kepada kawannya.

Di antara para penonton terdapat seorang kakek tua yang tadi datang bersama seorang pemuda. Baik kakek maupun pemuda itu agaknya merupakan orang-orang yang biasa disebut dengan poyokan 'kutu buku', yaitu orang-orang yang tekun menyenangi dan mempelajari kesusastraan di waktu itu. Hal ini tidak saja tampak dari cara mereka berpakaian, akan tetapi juga dari sikap dan gerak-gerik mereka yang halus.

Seperti juga orang-orang lain yang berada di depan kelenteng, kakek dan pemuda itu tadi juga melihat pengantin wanita yang telah menjadi mayat di dalam tandu dari mereka saling pandang dengan sinar mata heran dan penasaran. Kemudian, setelah mendengarkan ucapan-ucapan para penonton, lalu mendengar pula ucapan pengantin pria dan melihat sikapnya yang angkuh dan keras, diam-diam kakek itu menyentuh lengan pemuda itu, lalu keduanya meninggalkan tempat itu.

Kota Ci-bun hanya sembilan mil jauhnya dari kota Lan-hui, akan tetapi betapapun cepatnya orang berjalan, sedikitnya satu jam baru dapat sampai di kota itu. Akan tetapi, suatu keanehan terjadi. Lama sebelum rombongan Theng-kauwsu tiba di Ci-bun, kakek dan pemuda tadi telah lama berada di rumah keluarga Siok dan bercakap-cakap dengan Siok Kan, ayah pengantin wanita yang mati dalam tandu tadi!

Keluarga Siok terdiri dari Siok Kan yang berusia sekitar empatpuluh tahun lebih. Dia sudah kehilangan isterinya yang meninggal dunia dua tahun lalu dan dia hidup bertiga dengan dua orang anak perempuannya, yaitu Siok Li yang telah membunuh diri dalam tandu dan Siok Eng. Mereka ini merupakan anak kedua dan ketiga maka disebut Ji-siocia dan Sam-siocia. Adapun puteri sulungnya telah menikah dengan seorang yang tinggal di sebuah kota di Propinsi San-thung.

Kedatangan kakek dan pemuda itu disambut oleh Siok Kan dan puteri bungsunya, Siok Eng. Gadis berusia limabelas tahun itu menangis tersedu-sedu ketika mendengar bahwa encinya telah membunuh diri dalam tandu. Siok Eng adalah seorang gadis remaja yang cantik manis, dan melihat gadis ini menangis tersedu-sedu, pemuda yang datang bersama kakek itu merasa terharu.

Siok Kan menjadi pucat sekali wajahnya mendengar akan kematian puterinya yang kedua, dan tidak tahulah dia apa yang harus dia lakukan ketika mendengar betapa Bhong-kongcu marah-marah dan hendak memaksa Siok Eng menjadi pengganti encinya yang membunuh diri.

“Harap jangan takut dan bingung, Siok-sianseng (Tuan Siok),” kata kakek itu dengan sikap tenang. “Kami sengaja datang ke sini bukan hanya untuk menyampaikan berita duka ini, akan tetapi kami juga ingin menolong keluargamu. Sekarang masih banyak waktu karena mereka yang hendak menjemput puterimu masih jauh. Harap engkau suka menceritakan kepada kami mengapa engkau menyerahkan puterimu kepada Bhong-kongcu sehingga puterimu itu membunuh diri.”

Siok Kan tidak dapat menahan kesedihannya dan bercucuranlah air matanya. Setelah dapat menenangkan diri dan menghentikan tangisnya, dia berkata,

“Apa yang dapat kami lakukan? Kami keluarga miskin, dan satu-satunya yang dapat kami andalkan, hanyalah anak sulung dan mantu kami yang berada jauh di Shan-tung. Apalagi ketika isteriku sakit, sebelum meninggal dua tahun yang lalu, ia membutuhkan perawatan selama beberapa tahun sehingga terpaksa aku tenggelam dalam lautan hutang. Sawah habis terjual, rumah pun digadaikan dan akhirnya kami terjatuh ke dalam cengkeraman Bhong-kongcu. Aku pasti akan dituntut dan masuk penjara kalau aku tidak mau menyerahkan Siok Li sebagai selirnya, karena hutangku amat banyak dan semua surat hutang itu sudah jatuh ke dalam tangannya. Kalau sampai aku dihukum, bagiku sendiri tidak apa-apa, akan tetapi bagaimana dengan anak-anakku yang tidak berdaya? Mereka tentu akan diganggu orang kalau tidak ada aku di samping mereka.”

Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan pemuda yang pendiam dan tampan itu sebentar-sebentar melirik ke arah Siok Eng yang menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Karena itulah maka aku tidak berdaya menolak ketika Bhong-kongcu melamar Siok Li. Di depanku Siok Li menyatakan rela berkorban demi keselamatan keluarganya. Tidak tahunya anak itu... anak itu mengambil jalan nekat... dan sekarang... sekarang Bhong-kongcu hendak merampas Siok Eng pula...”

Siok Kan menangis, kemudian tiba-tiba dia bangkit berdiri, mengepalkan tinjunya dan berseru. “Tidak bisa! Tidak boleh dia bertindak sewenang-wenang. Aku akan mempertahankan puteri bungsuku dan akan melawan sampai mati!” Kemudian dia menubruk dan merangkul puterinya yang tinggal seorang lagi itu. Ayah dan anak bertangisan dalam keadaan yang memilukan.

“Siok-sianseng, harap tenang dan jangan putus asa. Ada kami di sini yang akan menolong. Percayalah, si jahat itu pasti akan menemui kegagalan dan kehancuran, dan puterimu yang telah membunuh diri pasti akan dapat terbalas sakit hatinya,” kata kakek itu dengan suara lembut.

Siok Kan memandang kepada tamunya dengan mata merah dan basah, akan tetapi muncul harapan dalam pandang matanya. “Bagaimana kami dapat menghadapi Bhong-kongcu yang amat besar pengaruh dan kekuasaannya itu? Kaki-tangannya banyak dan terkenal kejam, semua pembesar setempat adalah sahabat baiknya dan...”

“Serahkan saja kepada kami,” kakek itu memotong. “Nanti kalau mereka datang, sambutlah baik-baik dan terima saja permintaan mereka. Akan tetapi minta agar tandu dibawa masuk ke dalam kamar, katakan bahwa Sam-siocia masih terlalu muda dan pemalu sehingga tidak mau terlihat orang lain. Setelah puterimu memasuki tandu, baru boleh digotong keluar dengan tirai tertutup rapat.”

Kakek itu lalu bicara panjang lebar mengatur siasat yang didengarkan oleh Siok Kan dan puterinya dengan hati berdebar tegang. Dalam hatinya Siok Kan masih merasa ragu, akan tetapi karena semua itu dilakukan untuk menyelamatkan puteri bungsunya, dia menyatakan setuju. Siasat telah diatur dan mereka sudah siap menyambut datangnya rombongan utusan Bhong-kongcu.

Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 03

03: PENYELAMATAN TURUNAN KELUARGA POUW

ORANG yang karena rambutnya sudah putih sehingga tampak seperti seorang kakek tua dan kini duduk di perahu sambil membaca kitab itu juga seorang pendekar yang mengasingkan diri. Namanya Suma Tiang Bun dan pada jaman Kerajaan Sung masih jaya, namanya cukup terkenal. Suma Tiang Bun adalah seorang Bun-bu-enghiong (Pendekar Sastra dan Silat), akan tetapi sejak dahulu tidak pernah mau terikat oleh kedudukan.

Biarpun tidak suka pangkat, dia adalah seorang patriot sejati yang setiap saat siap menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi negara dan bangsa. Ketika terjadi perang melawan penyerbuan pasukan Mongol, dia membantu Kerajaan Sung melawan musuh. Akan tetapi balatentara Mongol amat kuat, memiliki banyak panglima yang sakti dan pasukannya besar sekali dan lebih celaka lagi, banyak orang pandai yang menjadi pengkhianat bangsa mempergunakan kesempatan untuk menjual negara, membantu bangsa Mongol demi memperoleh kedudukan dan harta benda.

Suma Tiang Bun ikut dengan rombongan pahlawan yang menyelamatkan Pangeran Sung lari ke selatan setelah Kaisar Sung ditawan musuh. Setelah merasa kecewa dan penasaran membuatnya berduka sehingga rambutnya berubah putih, Suma Tiang Bun lalu pergi mengasingkan diri. Sebelum itu, dia membunuh banyak pengkhianat bangsa yang menghambakan diri kepada bangsa Mongol. Bahkan di antara mereka, ada dua orang sutenya (adik seperguruannya) yang dia bunuh karena mereka juga merendahkan diri menjadi antek bangsa Mongol.

Demikianlah, laki-laki berambut putih di atas sampan itu bukan orang sembarangan. Suma Tiang Bun adalah ahli waris terakhir dari ilmu silat keluarga Suma yang semenjak jaman Sam Kok amat terkenal. Setelah kini mengasingkan diri, kegiatannya hanyalah membaca kitab dan hidup sebagai seorang pendekar yang berkelana, setiap saat siap menjulurkan tangan menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas menentang yang kuat jahat.

Sejak siang tadi dia berperahu sambil membaca kitab dengan asyiknya. Tiba-tiba Suma Tiang Bun terkejut dan menghentikan bacaannya. Dia merasa betapa perahunya menyentuh sesuatu, tertumbuk sesuatu. Dia cepat menjulurkan badannya keluar perahu, memandang ke air.

“Siancai (damai)…!” serunya ketika dia melihat bahwa yang menumbuk perahunya itu ternyata adalah tubuh seorang wanita yang agaknya dihanyutkan arus air sungai!

Dengan gerakan yang amat cepat, terlalu cepat dan tak mungkin rasanya dilakukan seorang kutu-buku yang tampak lemah itu, kitab yang tadi dibacanya sudah lenyap ke dalam saku bajunya dan dayung diletakkan dalam perahu. Kemudian sekali kedua tangannya digerakkan ke samping perahu, tubuh wanita itu telah diangkatnya ke dalam perahu.

“Thian Yang Maha Agung...!” Dia terkejut bukan main ketika melihat bahwa orang itu adalah seorang wanita muda yang sedang mengandung! Cepat dirabanya pergelangan tangan dan leher wanita itu.

“Bagus, masih belum terlambat!” Wajah Suma Tiang Bun berseri dan dengan hati-hati dia menjungkirkan tubuh wanita itu, menotok beberapa jalan darah dan menekan lambung.

Wanita itu muntahkan air. Setelah itu, tubuh wanita itu dibaringkan telentang dan dia menotok dan mengurut kedua pundak, uluhati, telapak tangan dan tengkuk. Kemudian dia meletakkan tangan kanannya di atas dada wanita itu dan mengerahkan tenaga sakti untuk membantu wanita itu mendapatkan kembali kekuatan dan kesadarannya. Perlahan-lahan pernapasan wanita itu mulai membaik, muka yang tadinya pucat seperti mayat mulai merah kembali

“Tertolong...! Thian Yang Maha Kasih...!”

Suma Tiang Bun Inenarik napas panjang, hatinya lega. Kini dia mulai memperhatikan wajah yang sebagian tertutup rambut yang hitam, halus, dan panjang itu. Seorang wanita muda yang cantik sekali, dan melihat pakaian yang basah kuyup itu, Suma Tiang Bun dapat menduga bahwa ia tentu anggauta sebuah keluarga kaya atau bangsawan.

“Mengapa ia hanyut di sungai?” Suma Tiang Bun bertanya dalam hatinya.

Setelah wanita itu terhindar dari maut, Suma Tiang Bun segera mendayung perahunya dengan cepat. Dia tahu bahwa wanita itu perlu mendapatkan perawatan secepatnya. Setelah tiba di sebuah dusun di tepi sungai, dia mendayung perahu ke tepian. Dia lalu memondong tubuh wanita itu dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang ujung perahu, kemudian dia membuat gerakan melompat. Bukan main hebatnya gerakan Suma Tiang Bun!

Dengan beban tubuh wanita dan perahu itu, dia dapat meloncat dengan ringan. Setelah meletakkan perahunya di darat, dia lari memasuki dusun sambil memondong tubuh wanita itu. Mudah diduga siapa adanya wanita muda itu. Ia adalah Tan Bi Lian atau Nyonya Pouw Keng In yang pundaknya terluka oleh anak panah kemudian pingsan dan tubuhnya hanyut terbawa arus air.

Menurut penalaran manusia, ia tentu mati. Akan tetapi penalaran manusia tidak mungkin dapat menembus mujijat Tuhan. Kalau belum menghendaki seseorang mati, betapapun hebatnya maut mengancam, ia akan selamat juga. Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, tidak ada kekuasaan apa pun yang dapat mengubahnya.

Ternyata Bi Lian tidak lama pingsan. Ia siuman dengan cepat dan nyonya muda yang pandai berenang itu segera menggerakkan kaki tangannya agar jangan tenggelam. Ia membiarkan dirinya dihanyutkan air dan melihat anak panah yang masih menancap di pundak kirinya dan terasa nyeri sekali apabila anak panah itu digerakkan air, ia lalu nekat mencabutnya dengan tangan kanan. Ia menjerit gagang anak panah patah dan kepala anak panah masih tertinggal dalam daging pundaknya!

Beberapa kali dicobanya untuk berenang ke pinggir, namun tidak pernah berhasil, bahkan membuat ia semakin lemah dalam pergulatannya dengan arus air yang kuat. Akhirnya ia menyerahkan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa dan menyimpan tenaga, membiarkan dirinya hanyut dan ia hanya menjaga agar jangan sampai tenggelam. Ia kuat bertahan sampai senja.

Kalau saja rasa dingin tidak menggerogoti tulang-tulangnya dan membuat kulitnya kaku dan urat-uratnya seakan membeku, kiranya ia dapat bertahan lebih lama lagi. Ia pergunakan tenaga terakhir untuk berenang ke tepi, karena maklum bahwa ia sudah tidak kuat bertahan lebih lama lagi. Namun tenaganya habis dan ia pingsan untuk kedua kalinya.

Kita terbiasa menganggap hal yang terjadi secara aneh sebagai hal yang kebetulan saja. Padahal, yang kebetulan itu adalah yang sesuai dengan rencana Tuhan!

Kebetulan sekali tidak terlalu lama setelah Bi Lian pingsan, tubuhnya bertumbuk dengan perahu yang ditunggangi Suma Tiang Bun sehingga ia tertolong dan kini dibawa lari ke dalam dusun. Dusun itu sebuah dusun terpencil dan untuk sementara waktu Suma Tiang Bun tinggal di dusun itu, dalam sebuah pondok sederhana.

Begitu memasuki dusun, dia berseru memanggil beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya karena dia merasa kurang enak kalau harus merawat seorang wanita muda seorang diri dalam pondoknya. Apalagi wanita yang sedang dipanggulnya ini sedang mengandung.

Melihat Suma Tiang Bun datang memanggul tubuh seorang wanita yang basah kuyup, tiga orang wanita tetangganya datang berlari-lari. Para tetangga laki-laki hanya berdiri di depan pintu rumah dan ramai membicarakan kejadian itu. Dusun kecil itu hanya dihuni belasan keluarga petani merangkap nelayan.

Suma Tiang Bun merebahkan tubuh Bi Lian di atas tempat tidur kayu sederhana. Seorang wanita tetangga menyalakan lampu. Terdengar mereka bertiga berseru heran dan kagum melihat kecantikan wajah dan keindahan pakaian Bi Lian.

Suma Tiang Bun minta kepada para wanita tetangga itu untuk memberi pinjam seperangkat pakaian kering dan mengganti pakaian Bi Lian yang basah kuyup. Sementara permintaannya itu dilakukan, dia keluar dari kamar. Melihat para tetangga sudah memenuhi ruangan depan pondoknya, dia menghampiri mereka dan menceritakan apa yang telah terjadi.

cerita silat online karya kho ping hoo

Ramai penduduk dusun itu saling menyatakan dugaan mereka siapa adanya wanita muda cantik yang ditolong Suma Tiang Bun itu. Seorang wanita tetangga keluar dari kamar memberitahu Suma Tiang Bun bahwa wanita muda itu sudah diganti pakaiannya dengan pakaian kering. Suma Tiang Bun memasuki kamar dan wanita itu bercerita kepada para tetangga yang berkumpul di ruangan depan.

“Wah, Suma Lojin (Orang Tua Suma) telah menolong seorang puteri! Ia pasti puteri bangsawan agung dari kota. Wajahnya cantik seperti dewi dan pakaiannya terbuat dari sutera yang indah dan mahal!”

Suma Tiang Bun kini memeriksa dengan teliti dan dia menghela napas panjang sambil menggeleng kepalanya. Baru sekarang dia melihat adanya sebuah kepala anak panah yang masih mengeram dalam pundak kiri nyonya muda itu. Luka di pundak itu kini menghitam, menandakan bahwa anak panah itu mengandung racun!

“Jahanam rendah manakah yang begitu keji dan berhati iblis memanah seorang wanita yang mengandung tua!” hatinya berbisik penasaran.

Dia lalu minta kepada para wanita tetangga untuk menyiapkan air panas dan kain bersih, juga merebus rempah-rempah yang memang selalu dia sediakan. Setelah semua itu dikerjakan dengan cepat dan sudah disiapkan, Suma Tiang Bun lalu menggunakan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar emas ketika dicabut dari sarungnya.

Kemudian dengan cekatan namun disambut dengan jerit tertahan karena ngeri melihatnya. Suma Tiang Bun mencokel kepala anak panah itu dari pundak Bi Lian dengan ujung pedangnya. Dia lalu menempelkan koyo (obat tempel) pada luka itu setelah luka dicucinya dengan air panas.

Akhirnya Bi Lian bergerak perlahan, pelupuk matanya dan bibirnya gemetar, kemudian kaki tangannya bergerak seperti orang berenang! Suma Tiang Bun memegang pergelangan kedua tangan wanita itu dan memberinya minum air rebusan obat berwarna kecoklatan.

“Koko... kau tunggulah aku...!” Bi Lian mengigau.

Dan Tiang Bun merasa betapa wanita itu makin lama terasa semakin panas. “Hemm, ia terserang demam,” bisik Suma Tiang Bun dan alisnya berkerut karena dia merasa cemas. “Keadaannya lemah dan buruk sekali...”

“Koko... Hong-moi... mari kita lawan anjing Mongol itu... kita lawan sampai mati, nama keluarga Pouw harus dipertahankan...!” Bi Lian mengigau.

Mendengar ini, berubah wajah Suma Tiang Bun dan dia memberi isyarat kepada para wanita tetangga itu untuk meninggalkan kamar. Semua orang tidak ada yang membantah dan sambil ramai membicarakan wanita cantik itu mereka keluar dari kamar. Mereka semua, seluruh penghuni dusun itu, menghormati Suma Tiang Bun yang mereka tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan budiman, selalu siap menolong mereka.

Dengan tekun, penuh kesabaran Suma Tiang Bun menggunakan seluruh kepandaiannya tentang pengobatan untuk merawat dan menjaga Bi Lian semalam suntuk. Dia duduk bersila dan mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), disalurkan ke dalam tubuh Bi Lian untuk membantu wanita itu memperkuat daya tahan tubuh dan mengusir hawa beracun yang ditinggalkan anak panah. Luka itulah yang menimbulkan demam. Akhirnya dia berhasil.

Menjelang pagi demam itu turun dan Bi Lan dapat tidur nyenyak. Suma Tiang Bun turun dari pembaringan, membuka daun pintu dan keluar dari pondok memasuki kabut pagi yang dingin. Dia berjalan-jalan di depan rumahnya, kadang-kadang memandang ke arah Sungai Huai, menghela napas panjang berulang-ulang dan melamun.

Ketika dia mendengar igauan nyonya muda tadi, dia menduga-duga siapa adanya wanita yang ditolongnya itu. Jelas bahwa wanita itu adalah mantu dari keluarga Pouw, akan tetapi keluarga Pouw yang manakah?

Sebagai seorang pendekar pejuang, tentu saja dia mengenal riwayat keluarga Pouw yang tinggal di So-couw. Apakah wanita itu mantu keluarga Pouw yang tinggal di So-couw itu? Hatinya merasa bimbang. Kalau saja dia tidak melihat bahwa keadaan nyonya muda itu gawat sekali, ingin rasanya dia lari ke So-couw untuk menyelidiki hal ini.

Tiba-tiba dia mendengar jeritan lirih dari dalam pondoknya. Dengan cepat Suma Tiang Bun melompat dan memasuki kamarnya. Dia melihat nyonya muda itu menggeliat-geliat dan meraba-raba perutnya, mengaduh-aduh dan merintih lemah. Melihat Suma Tiang Bun memasuki kamar, Bi Lian berkata lirih memohon.

“Aduh... tolonglah... panggilkan seorang bidan... aku... aku tidak kuat lagi... akan melahirkan...”

Mendengar ini, Suma Tiang Bun untuk beberapa detik tertegun tak tahu harus berkata dan berbuat apa. Baru sekali ini seumur hidupnya dia merasa bingung dan ngeri. Dia pernah menghadapi keroyokan puluhan orang penjahat, pernah menghadapi perang dahsyat, melihat manusia bergelimpangan menjadi mayat, melihat banjir darah dalam pertempuran dan semua itu tidak membuat hatinya bingung dan ngeri. Akan tetapi sekarang, melihat nyonya muda itu merintih dan menggeliat hendak melahirkan manusia baru, dia merasa bingung dan takut!

Suma Tiang Bun yang selama hidupnya tidak pernah menikah dan tidak pernah menjadi ayah itu, segera melompat dan berlari keluar seperti dikejar setan, lalu mengedor pintu rumah Thio-ma (Ibu Thio), seorang janda yang tinggal di ujung dusun kecil itu. Seperti biasanya penduduk dusun itu, pagi-pagi sekali Thio-ma sudah bangun dan sedang menjarang air. Mendengar pintunya digedor, ia terkejut dan berlari keluar.

“Eh, Suma Lojin, ada apakah...?”

Akan tetapi pendekar itu tidak menjawab. Dengan cepat dia menangkap tangan Thio-ma dan di lain saat wanita itu menjerit ketakutan ketika merasa tubuhnya melayang seperti burung terbang!

Para tetangga berlari keluar dan mereka bengong melihat tubuh Thio-ma berlari cepat sekali, dipegang lengannya oleh Suma Tiang Bun yang berlari seperti terbang menuju ke rumahnya. Otomatis para tetangga ikut berlari mengejar, hendak melihat apa yang terjadi.

Setelah tiba di depan rumahnya, Suma Tiang Bun berhenti dan mendorong Thio-ma memasuki rumahnya. “Cepat... ia mau melahirkan, cepat tolong...” kata pendekar itu.

Thio-ma mengerti dan ia pun cepat memasuki kamar di mana masih terdengar suara Bi Lian merintih dengan lemah.

Ketika para tetangga datang dan mendengar bahwa nyonya muda dalam rumah Suma Tiang Bun itu hendak melahirkan, beberapa orang wanita segera memasuki rumah dan menyiapkan segala keperluan orang melahirkan dan membantu Thio-ma.

Thio-ma adalah seorang wanita berusia lima puluh tahun lebih. Ia seorang janda yang sudah banyak pengalamannya dalam hal menolong kelahiran. Ia sendiri mempunyai tiga belas orang anak yang sudah berumah tangga dan meninggalkan dusun itu. Akan tetapi Thio-ma tetap tinggal di situ, hidup seorang diri dengan tenang. Para penduduk pedusunan di sekitar situ selalu mengandalkan bantuan Thio-ma kalau ada ibu yang hendak melahirkan.

Akan tetapi sekali ini, Thio-ma sampai mandi keringat ketika menolong nyonya muda yang hendak melahirkan dalam kamar Suma Tiang Bun itu. Ia mengalami kesulitan karena selain tubuh wanita muda itu amat lemah, juga kandungan itu baru delapan bulan dan bayi dalam kandungan itu tidak betul letaknya!

Suma Tiang Bun duduk di luar pintu kamar itu, diam tak bergerak seperti patung dan mukanya pucat sekali. Selama hidupnya dia tidak menikah dan belum pernah dia mendekati orang melahirkan. Bagi yang belum mengenal pendekar ini dengan baik, kegelisahan itu tidak sangat mengherankan.

Akan tetapi bagi mereka yang tahu siapa adanya Suma Tiang Bun, sastrawan pendekar yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi itu, yang tidak gentar menghadapi ancaman maut sekalipun, keadaannya itu tentu saja sangat aneh. Orang akan merasa heran melihat pendekar itu kini duduk dengan muka pucat penuh kegelisahan seperti seorang calon ayah yang untuk pertama kalinya menunggu isterinya melahirkan anak pertama!

Apalagi pendekar ini memiliki pendengaran yang amat tajam, jauh lebih peka daripada pendengaran manusia biasa. Semua suara dalam kamar itu terdengar jelas olehnya. Keluhan dan rintihan nyonya muda itu memasuki telinganya, langsung menusuk-nusuk jantungnya sehingga kadang-kadang dia mempergunakan jari tangannya untuk menutupi telinga.

Setelah melewati waktu yang seolah tidak ada akhirnya itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Suma Tiang Bun melompat saking kagetnya. “Bagaimana?” tanyanya cepat.

Wanita janda itu menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut.

“Thio-ma, bagaimana?” Suma Tiang Bun mengulang.

“Payah sekali, Suma Lojin. Kandungannya terbalik dan tubuhnya lemah sekali. Kalau dipaksa keluar, ibunya tidak akan kuat bertahan, sebaliknya kalau tidak dipaksa keluar, anaknya yang tidak akan tertolong. Bagaimana baiknya?”

Thio-ma menghadapi keadaan yang amat sulit. Kalau anaknya tertolong, ibunya akan tewas, sebaliknya kalau ibunya ditolong, anaknya yang akan mati!

Suma Tiang Bun tidak perlu berpikir panjang, segera dia menjawab. “Tolong anaknya! Kewajibanmu adalah menolong kelahiran. Engkau bukan ahli pengobatan dan keadaan ibunya memang sudah parah. Selamatkan anaknya!”

Kembali Thio-ma didorong masuk kamar oleh Suma Tiang Bun yang kemudian duduk sambil bersedakap. Dia tampak letih dan prihatin sekali. Para tetangga berkumpul dalam rumah Suma Tiang Bun. Mereka hanya saling pandang, tidak berani bicara.

Keadaan amat menegangkan dan semua orang mencurahkan perhatian mendengarkan setiap suara yang keluar dari dalam kamar. Semenit terasa sehari, sejam terasa sebulan bagi mereka yang berada di luar kamar.

Suma Tiang Bun sudah merasa tidak enak diam. Dia berdiri lalu berjalan hilir mudik seperti seekor harimau dalam kerangkeng. Setiap gerakannya diikuti oleh pandang mata para tetangga yang berkumpul di situ. Tiba-tiba terdengar jerit tangis nyaring sekali.

Tangis seorang bayi, suara pertama yang murni dari seorang manusia begitu dia turun ke dunia ini. Mengapa menangis dan tidak tertawa? Apakah itu pertanda bahwa hidup sebagai manusia di dunia akan lebih banyak diisi tangis daripada tawa? Hanya Tuhan yang mengetahui!

Suma Tiang Bun melompat ke pintu, akan tetapi undur kembali dan menjatuhkan diri di atas bangku, lemas seluruh tubuhnya, akan tetapi mulutnya tersenyum, wajahnya berseri.

Tangis biasanya menyeret orang lain untuk merasa terharu dan ikut menangis. Akan tetapi tangis seorang bayi mendatangkan perasaan gembira bagi mereka yang mendengarnya...

Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 02

02: KEHANCURAN KELUARGA PATRIOT

SAMPAI matahari naik tinggi, tiga orang itu melarikan diri ke arah selatan. Mereka sudah mulai merasa lega karena sejak tadi tidak kelihatan ada orang mengejar.

“In-ko, (Kakak In), kita secara membuta percaya omongan dua orang tadi. Bagaimana kalau mereka itu membohongi kita? Bagaimana kalau sebetulnya tidak ada apa-apa? Aku kasihan sekali melihat So-so (Kakak Ipar) harus melakukan perjalanan begini jauh dan sukar,” kata Sui Hong.

“Agaknya tidak mungkin mereka itu berbohong, Hong-moi. Apa sih perlunya dan untungnya bagi mereka kalau berbohong? Pula, memang hal seperti ini sudah lama kuduga pasti akan datang. Lambat-laun pasti anjing-anjing Mongol itu tahu bahwa kita keluarga Pouw sebetulnya adalah musuh-musuh mereka. Akan tetapi biarlah, Adikku, penderitaan seperti ini memang sudah sewajarnya dialami oleh keluarga Pouw!” Ketika mengucapkan kata-kata itu, Keng In tampak bangga dan bersemangat.

“Bagi kita bertiga memang tidak mengapa,” Bi Lian berkata lemah, “akan tetapi... anakku yang dalam kandungan ini... ah, dia tidak berdosa... aduh, ah, dia meronta... kakinya menendang-nendang! Koko, apakah tidak sebaiknya kalau kita beristirahat dulu? Kasihan dia yang berada dalam perutku...”

“In-ko, sebaiknya kita istirahat dulu. Kasihan So-so,” kata Sui Hong.

“Tidak boleh kita istirahat sebelum malam tiba...” kata Keng In sambil memeluk isterinya semakin erat. Tangan kirinya melingkari perut isterinya dan jari-jari tangan kirinya ikut menahan perut itu agar anak di dalamnya tidak terlalu terguncang. Hatinya merasa pilu dan kasihan kepada isterinya, akan tetapi dia maklum betapa besar bahayanya kalau mereka berhenti.

“In-ko, mereka kan tidak mengejar, mengapa takut?” tanya Sui Hong.

Belum sempat Keng In menjawab, tiba-tiba terdengar derap kaki banyak datang dari belakang! Keng In dan adiknya saling pandang. Sui Hong menjadi pucat sekali dan tangannya yang memegang kendali kuda gemetar.

“Balapkan kuda!” seru Keng In sambil menggebrak kudanya. Sui Hong juga membedal kudanya sehingga debu mengebul dan tiga ekor kuda itu membalap lagi.

“Belok kiri, tinggalkan jalan besar!” kembali Keng In berseru setelah tiba di sebuah jalan simpangan, jalan yang kecil dan sukar.

Memang hal ini perlu sekali dilakukan. Kalau mereka mengikuti jalan besar, pasti mereka akan dapat disusul oleh para pengejar. Sebaliknya jalan simpangan yang kecil itu merupakan usaha untung-untungan. Kalau tidak diketahui mereka bisa selamat, sebaliknya kalau diketahui dan para pengejar juga mengejar lewat jalan kecil itu, apa boleh buat!

Akan tetapi, alangkah cemas dan khawatir hati tiga orang buronan itu ketika mereka masih juga mendengar derap kaki kuda di belakang mereka. Ternyata mereka tahu bahwa yang mereka kejar mengambil jalan kecil itu! Bahkan kini derap kaki banyak kuda mengejar itu semakin dekat!

“Koko... tidak nyana kita akan berpisah dalam... dalam... keadaan begini...” Isteri Keng In sudah mulai menangis perlahan.

“Sstt, mengapa putus asa? Thian (Tuhan) akan melindungi orang yang tidak bersalah, isteriku,” kata Keng In untuk menghibur hati isterinya, padahal dia sendiri sudah tidak dapat menemukan jalan keluar dari ancaman bahaya itu.

“In-ko, So-so, tidak usah takut!” kata Sui Hong gagah. “Kalau kita tersusul, kita melawan mati-matian sampai saat penghabisan!”

Diam-diam Keng In bangga mendengar ucapan adiknya itu, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang lemah dan tidak menguasai ilmu silat, namun bersemangat gagah perkasa, seperti nenek moyang mereka di jaman dahulu!

Setelah membalapkan kuda beberapa lamanya, perjalanan mereka terhalang sebuah sungai yang cukup lebar. Tiga orang itu segera turun dari atas punggung kuda.

“Kita cari sampan!” seru Keng In setelah membantu isterinya turun dari kuda. Lalu dia mencari-cari dengan pandang matanya ke sekitar tempat itu. Demikian pula Sui Hong dan Bi Lian ikut mencari-cari.

“Kita harus dapat menyeberang. Kalau dapat sampai di seberang sana, kita akan selamat!” kata Sui Hong.

Sudah terkenal di masa itu bahwa rakyat di daerah selatan Sungai Huai, yaitu di seberang sana merupakan pejuang-pejuang anti pemerintah Mongol yang gagah berani dan gigih. Biarpun berulang kali balatentara Mongol melakukan aksi pembersihan, namun semangat rakyat di daerah ini tidak pernah padam. Sebagai keturunan patriot bangsa, Sui Hong dan Keng In tentu saja sudah mendengar akan hal itu, maka timbul harapan mereka itu untuk mendapat pertolongan rakyat di seberang sana apabila mereka berhasil menyeberangi Sungai Huai ini.

Akan tetapi agaknya nasib baik sedang menjauhi mereka. Mereka mencari-cari dengan sia-sia. Tidak ada sebuah perahu pun tampak di situ, tidak ada tukang perahu dan tidak ada sampan untuk dipakai menyeberang. Jalan satu-satunya untuk menyeberangi Sungai Huai yang airnya sedang pasang itu hanyalah berenang! Sedangkan derap kaki kuda para pengejar semakin jelas terdengar, bahkan kini terdengar pula teriakan-teriakan mereka.

“Tangkap pemberontak!”

“Tawan Bunga So-couw!”

“Basmi keluarga Pouw!”

Teriakan-teriakan penuh ancaman yang terdengar oleh tiga buronan itu tentu saja membuat mereka menjadi panik. Akan tetapi mereka mengambil keputusan bulat untuk menyeberangi sungai dengan berenang. Di waktu kecil mereka, Keng In dan Sui Hong pernah tinggal bersama ayah bunda mereka di tepi Sungai Yang-ce.

Sedangkan Tan Bi Lian adalah puteri seorang pembesar Kerajaan Sung di kota Seng-hai-lian yang letaknya dekat laut, maka nyonya muda ini pun tidak takut air dan pandai berenang. Keadaan sudah gawat dan mendesak sekali dan tidak ada jalan lain untuk meloloskan diri dari bahaya kecuali berenang ke seberang.

Ketika mereka menengok ke belakang, tampak seorang penunggang kuda mendahului pasukan kuda di belakangnya. Orang itu jelas merupakan komandan pasukan karena pakaian perangnya sudah tampak nyata dari jauh, berkilauan tertimpa sinar matahari.

“Pouw Keng In, pemberontak rendah! Berhenti dan menyerah!” teriak perwira itu dan biarpun jaraknya masih jauh, namun suara orang itu menggeledek nyaring sekali. Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa perwira itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

“Tidak ada jalan lain, mari kita berenang!” kata Pouw Keng In sambil menggandeng tangan isterinya dan membuang barang bawaan mereka ke dalam air karena tidak ada gunanya lagi. Daripada ditinggal dan diambil oleh pasukan Mongol, lebih baik hilang dan hanyut terbawa air sungai, atau mungkin dapat ditemukan penduduk di hilir sungai sana.

Sui Hong mendahului kakaknya, melompat ke dalam air dengan gerakan loncatan indah. Memang gadis ini pandai sekali berenang. Keng In dan Bi Lian juga melompat ke dalam air. Air hanya muncrat sedikit karena mereka melompat dan terjun ke air dengan kedua tangan lurus lebih dulu. Bagaikan tiga ekor ikan yang aneh bentuknya, mereka mulai berenang ke tengah melawan arus yang datang dari arah kanan mereka menuju ke timur.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa aneh dan lantang di tepi sungai dan sehelai tali hitam meluncur bagaikan sinar hitam ke sungai. Tali itu mengeluarkan suara bersiutan dan tahu-tahu tali hitam yang ternyata terbuat dari sutera halus yang amat kuat itu telah membelit tubuh Sui Hong!

Tali itu bagaikan seekor ular hidup, berputaran di atas kepala gadis itu, kemudian menyambar ke bawah dan tahu-tahu Sui Hong merasa betapa tubuhnya terbelit tali dan ia ditarik ke pinggir! Sui Hong terkejut dan jijik karena mengira ada ular membelit tubuhnya. Ia meronta-ronta sekuat tenaga namun libatan tali itu kuat bukan main, bahkan ketika ia meronta, libatannya menjadi semakin erat sehingga gadis itu tidak dapat berkutik, hanya dapat menggerak-gerakkan kedua kakinya untuk mencegah agar ia tidak tenggelam.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dengan kumis dan jenggot lebat, sikapnya gagah dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang panglima perang, berdiri di tepi sungai dengan kedua kaki terpentang. Panglima perang inilah yang tadi melempar tali sutera hitam yang menangkap Sui Hong.

Ketika dua orang pembantunya yang baru turun dari kuda menghampirinya sambil tertawa-tawa dan menunjuk ke arah gadis yang tampak seperti seekor ikan terkait pancing itu, Sang Komandan lalu memberikan ujung tali sutera hitam dan memerintahkan mereka untuk menarik gadis yang sudah tak berdaya itu ke pantai.

“Jaga jangan sampai ikan tangkapanku itu terlepas,” katanya sambil tertawa. “Dan lihat anak panahku menamatkan riwayat pemberontak Pouw!”

Setelah ber-kata demikian panglima perang yang bertubuh tinggi besar muka hitam ini mengambil busur dan anak panah yang tergantung di punggungnya dan sekali pasang dia menaruh dua batang anak panah pada busurnya.

Beberapa belas orang perajurit Mongol kini berada di belakangnya, menonton dengan kagum karena mereka semua yakin akan kehebatan panah komandan mereka ini. Tali busur ditarik, busur melengkung lalu tali busur dilepas.

“Swingggg...!” Busur menjepret diiringi suara sorak sorai para tentara Mongol yang tahu bahwa dua orang pelarian yang masih berenang di tengah sungai itu pasti akan tewas.

Memang hebat kepandaian memanah panglima muka hitam itu. Begitu kedua batang anak panah itu meluncur, terdengar pekik kesakitan dari tengah sungai. Sebatang anak panah tepat sekali menancap di belakang kepala Pouw Keng In sehingga Keng In tidak sempat menjerit dan seketika tewas. Anak panah kedua dalam saat yang sama, menancap di pundak Bi Lian.

Nyonya muda itulah yang memekik, bukan karena rasa nyeri dan panas yang hebat pada pundaknya, melainkan terutama sekali melihat anak panah menancap di belakang kepala suaminya dan melihat suaminya tenggelam. Semua ini hanya tampak dalam sekejap mata saja karena Bi Lian jatuh pingsan! Tubuhnya hanyut di bawah permukaan air sungai, terbawa aliran sungai yang kuat.

Panglima perang itu adalah Kong Tek Kok, seorang panglima Mongol yang gagah perkasa. Dia merupakan pemimpin barisan yang selalu berhasil melakukan operasinya sehingga dikagumi semua pembesar Mongol. Bahkan Kaisar Kubilai Khan sendiri memujinya dan memberinya hadiah bintang kehormatan.

Dunia kangouw segera mengenalnya sebagai Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) dan dengan sepasang pedangnya yang terbuat dari kayu besi yang hanya tumbuh di dekat kutub, dia sudah menyebar maut di antara ribuan orang penduduk dari kota dan dusun yang diterjang pasukannya. Selain lihai dan kejam, dia juga sombong sekali. Kesombongannya itulah yang membuat dia lengah. Dia merasa yakin bahwa sekali lepas dua batang anak panah, dia pasti menewaskan Pouw Keng In dan Tan Bi Lian, maka dia tidak lagi menyelidiki atau memperhatikan lebih lanjut hasil serangan anak panahnya tadi.

“Ha-ha-ha-ha! Sekali ini aku puas! Dapat membasmi seluruh keluarga Pouw dan dapat menangkap Kembang So-couw yang begini cantik jelita! Tidak sia-sia jerih payahku melakukan pengejaran jauh, ha-ha-ha!”

Panglima berusia sekitar tiga puluh tahun itu memandang kepada Sui Hong yang sudah ditarik ke pantai dan kini rebah miring dengan tubuh basah kuyup sehingga pakaiannya menempel ketat mencetak seluruh tubuhnya yang tampak lekuk lengkung tubuh yang menggairahkan.

Gadis itu terengah-engah karena tadi menggunakan seluruh tenaga untuk meronta namun sia-sia, dan kini ia merasa takut dan maklum bahwa ia terjatuh ke tangan orang-orang yang berhati iblis.

Kong Tek Kok menelusuri wajah dan tubuh Sui Hong dengan pandang matanya dan dia merasa girang bukan main. Dia memang sudah mendengar bahwa diantara keluarga Pouw yang hendak dibasminya itu terdapat Bunga So-couw yang kabarnya amat cantik jelita. Kini setelah menyaksikan dengan mata sendiri, diam-diam dia merasa beruntung sekali.

“Cepat ambil pakaian pengganti! Kasihan sekali ia kedinginan!” perintahnya sambil menyingkap rambut hitam halus yang menutupi muka gadis itu.

Sui Hong yang sudah ketakutan dan kehabisan tenaga itu tak sadarkan diri ketika melihat muka hitam menyeramkan itu begitu dekat!

Setelah pembantunya memberikan pengganti pakaian, Kong Tek Kok lalu membawa gadis itu ke balik semak-semak, jauh dari penglihatan para perajurit, dan dia sendiri menukar pakaian basah yang menempel di tubuh Sui Hong dengan pakaian kering. Biarpun dia melihat tubuh yang amat menggairahkan itu namun Kong Tek Kok bukanlah seorang laki-laki yang bodoh.

Dia telah memiliki banyak selir yang muda dan cantik, dan biarpun dia akan senang sekali kalau dapat mengambil gadis ini sebagai selir termudanya, namun dia mempunyai rencana yang jauh lebih menguntungkan baginya. Kalau dia mengambil gadis itu sebagai selir, dia harus selalu waspada karena gadis she Pouw ini pasti akan merasa sakit hati dan dendam kepadanya, akan selalu menjadi ancaman baginya. Kalau gadis itu menjadi selirnya, maka akan selalu dekat dengannya dan hal ini berbahaya sekali.

Sebagai seorang panglima dan ahli silat yang banyak pengalamannya, dia maklum bahwa kalau dia sampai memaksa gadis Pouw ini menjadi selirnya, kelak dia akan selalu terancam pula oleh orang-orang dunia kang-ouw yang pasti akan membalas dendam keluarga Pouw. Selain ini, dia mempunyai rencana yang dianggapnya baik sekali.

Dia akan mempersembahkan gadis ini kepada seorang pangeran yang mempunyai kedudukan tinggi dan kuat di istana. Dengan jalan menghadiahkan gadis cantik jelita ini kepada pangeran itu, dia dapat mengambil hatinya. Kalau sudah demikian, soal naik pangkat baginya adalah soal mudah, karena pangeran itu mempunyai pengaruh besar dan dipercaya oleh kaisar yang masih terhitung paman dari pangeran itu.

Demikianlah, dengan amat girang dan bangga, Kong Tek Kok memimpin baris-annya kembali ke So-couw untuk kemudian kembali ke kota raja membuat laporan. Sebelum dia melakukan pengejaran terhadap Pouw Keng In, Tan Bi Lian, dan Pouw Sui Hong, lebih dulu dia telah membasmi keluarga Pouw, membunuh Kakek dan Nenek Pouw Bun, membunuh pula seluruh pelayan yang berada dalam gedung itu.

Tidak hanya itu saja, bahkan dia membiarkan anak buahnya merampok semua harta benda dalam gedung, kemudian dia menyuruh anak buahnya menutup dan menyegel rumah itu sebagai rampasan. Tidak lupa pula Kong Tek Kok memberi bagian kepada jaksa, memberi sebagian harta yang dirampoknya. Dengan girang jaksa membuat laporan dalam bukunya sesuai dengan keinginan Kong Tek Kok, yaitu bahwa seluruh anggauta keluarga Pouw berikut para pelayannya, telah dibunuh.

Seluruh keluarga pemberontak itu telah dibasmi habis. Tentang Pouw Sui Hong, sedikit pun tidak disebut-sebut dalam laporan itu, karena mengambil wanita keluarga pemberontak menjadi selir merupakan larangan kaisar yang tidak boleh dilanggar.

Sebetulnya jaksa juga merasa khawatir karena laporannya sama sekali tidak menyebut soal Pouw Sui Hong yang menjadi tawanan Kong Tek Kok. Akan tetapi, selain dia takut kepada Kong-ciangkun (Panglima Kong), dia juga sudah menerima pembagian harta. Baginya, Pouw Sui Hong hendak dibunuh atau diambil selir, masa bodoh!

Setelah barisan yang dipimpin Kong Tek Kok itu kembali ke kota raja, jaksa tidak melupakan jasa Can Sui yang melapor tentang sajak anti pemerintah yang ditulis Pouw Keng In. Dipanggilnya bekas pelayan keluarga Pouw itu dan diberinya hadiah uang.

Biarpun di luarnya Can Sui menerima dengan terima kasih dan gembira, namun dalam hatinya dia menangis melihat betapa Nona Pouw Sui Hong yang dikasihaninya itu terjatuh ke dalam tangan panglima yang kejam seperti Kong Tek Kok. Ngeri dia membayangkan nasib gadis itu, bagaikan seekor kelinci terjatuh ke dalam cengkeraman harimau yang ganas!

Dia mulai menyesal akan pengkhianatannya. Akan tetapi semua telah terlanjur, telah terjadi, dan dia sama sekali tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong gadis yang dia cinta. Dia telah melakukan pengkhianatan karena dorongan nafsu, dan kini dia menyesal sekali melihat akibat dari perbuatannya.

Dialah yang menyebabkan Kakek Nenek Pouw dan pelayan terbunuh, juga menyebabkan Pouw Keng In dan isterinya terbunuh, lalu menyebabkan Pouw Sui Hong terjatuh dalam cengkeraman Panglima Mongol itu! Kini hatinya berdarah, penuh penyesalan.

Segala perbuatan jahat merupakan buah dari kekuasaan nafsu yang telah memperbudak manusia. Nafsu adalah Setan yang selalu menggoda manusia dengan pikatan berupa kesenangan dan kenikmatan, dan kalau sampai kita terseret ke dalam lembah dosa dan melakukan kejahatan, bukanlah kesalahan Setan.

Memang sudah menjadi tugas kewajiban Setan untuk menggoda manusia. Bukanlah Setan namanya kalau tidak jahat dan tidak menggoda manusia. Memang pekerjaannyalah di dunia ini untuk membujuk sebanyak mungkin manusia agar masuk ke dalam kerajaan kegelapan.

Kalau sampai kita dikuasai dan melakukan kejahatan, semua itu dapat terjadi hanya karena kita lemah, hanya karena kita mau dikuasai, hanya karena kita tidak tahan uji dan tidak mampu menolak semua bujukan untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan jasmani.

Hanya orang yang teguh beriman kepada Thian (Tuhan) saja yang akan mendapat kekuatan dari Tuhan sehingga memiliki kemampuan untuk tetap tegar dan tidak terpikat oleh semua bujukan Setan yang serba menyenangkan.


********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Air Sungai Huai mengalir terus sepanjang masa. Semenjak jaman sebelum ada catatan sejarah, sebelum jaman Sam Kok (Tiga Negara), jaman Kerajaan Sui, permulaan Kerajaan Tang, sejak jatuhnya Kerajaan Han sampai sekarang, air Su-ngai Huai tiada hentinya mengalir, menuju ke asalnya, yaitu Lautan.

Seperti juga kehidupan ini tiada hentinya mengalir menuju kematian, menuju ke asalnya, sumbernya. Kalau saja riak air itu dapat bercerita, kita akan mendapatkan cerita sejarah yang tiada habisnya, yang hebat dan penuh dengan kengerian, penuh kepahitan dan sedikit saja kemanisan.

Air Sungai Huai dengan tenang dan sabarnya membawa segala apa yang jatuh ke dalamnya, membawa diam-diam tanpa banyak rewel, kalau perlu dibawa terus sampai ke permukaan laut.

Pada senja hari itu, di bawah langit yang hijau kemerahan tanda bahwa matahari mulai mengundurkan diri melaksanakan tugasnya menerangi belahan dunia yang lain, di atas air sungai yang mengalir tenang, meluncur sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang kakek kurus kering jangkung berambut dan berjenggot putih.

Sebetulnya orang ini belum tua benar, usianya baru sekitar empatpuluh tahun. Rambut dan jenggotnya mendadak menjadi putih semua setelah bangsa Mongol menyerbu ke selatan dan mengalahkan Kerajaan Sung yang terpaksa mengungsi ke sebelah selatan Sungai Yang-ce.

Keadaan orang ini kalau dilihat wajah dan pakaiannya yang kuning itu, tidak menarik dan amat bersahaja, tidak ada bedanya dengan nelayan biasa. Akan tetapi melihat gerak-geriknya di tempat sunyi itu, orang akan terheran-heran. Tangan kiri kakek itu memegang dayung yang digerakkan secara aneh.

Kiranya tidak pernah ada nelayan mendayung sampan seperti itu, hanya menggerakkan dayung dengan tangan kiri secara sembarangan, didorong-pukulkan ke air, akan tetapi anehnya, sampan itu meluncur cepat melawan arus air sungai!

Lebih mengherankan lagi, tangan kanannya memegang sebuah kitab yang agaknya tengah dibacanya. Membaca kitab pada senja hari hanya dengan penerangan sinar matahari senja yang hampir tenggelam, pasti membutuhkan sepasang mata yang awas sekali.

Pada masa itu memang terdapat banyak orang pandai yang hidup mengasingkan diri. Mereka itu sebagian besar terdiri dari bekas pembesar Kerajaan Sung yang melarikan diri ke selatan setelah tidak mampu menahan serbuan bangsa Mongol. Karena berduka mereka melarikan dan mengasingkan diri, tidak sudi bekerja di bawah perintah bangsa Mongol, walaupun kalau mereka mau mereka akan memperoleh kedudukan tinggi dan kemuliaan seperti yang dilakukan banyak pengkhianat bangsa di masa itu.

Para pendekar yang berjiwa patriot lebih suka hidup miskin dan sebagian dari mereka menggabungkan diri dengan para pemimpin pejuang rakyat yang menentang Kerajaan Goan dan membuat para pembesar Mongol tak dapat tidur nyenyak. Ada pula yang seolah putus asa dan kehilangan semangat, sengaja tidak mau mencampuri urusan dunia lagi dan hidup di gunung-gunung atau di tempat sunyi dan ada pula yang hidup di pedusunan menjadi petani, nelayan atau pertapa...

Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 01

01: PENGKHIANATAN SEORANG PELAYAN

SEMENJAK sejarah berkembang, Tiongkok kenyang oleh pengalaman perang saudara yang timbul tiada hentinya dari masa ke masa. Daerahnya yang amat luas, rakyatnya yang amat banyak, ditambah pula dengan perbedaan iklim dan taraf hidup antara satu dan lain daerah, terutama antara daerah utara dan selatan, selalu menimbulkan pertengkaran dan peperangan antara raja yang satu dengan raja yang lain.

Wangsa atau dinasti (kerajaan) timbul tenggelam dan tidak pernah ada kebangkitan suatu kerajaan yang tidak disambut pemberontakan-pemberontakan di sana sini. Pemberontakan yang dilakukan oleh pihak yang tidak setuju dengan kerajaan baru atau oleh kerajaan sebelumnya yang dijatuhkan. Akan tetapi setiap kali perang berkobar, rakyat kecillah yang paling menderita.

Tiap kali terjadi perang, berarti pemerintah yang berkuasa sibuk dengan pertahanan daerah dari serbuan musuh dari luar sehingga pemerintah kurang memperhatikan keadaan di dalam, di mana kekacauan selalu timbul tiap ada kesempatan. Pasukan keamanan pemerintah dikerahkan untuk menghadapi musuh sehingga penjaga keamanan hanya sedikit atau lemah sekali.

Kesempatan ini dipergunakan orang-orang jahat, perampok-perampok dan maling untuk beraksi dengan beraninya dan di waktu seperti itu, hukum rimbalah yang berlaku. Dalam keadaan seperti ini, para ahli silat yang lebih beruntung karena mereka memiliki kepandaian bela diri yang dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan keluarga dan harta benda mereka.

Penderitaan paling hebat yang dialami rakyat dalam waktu peralihan kekuasaan adalah dalam masa kebangkitan bangsa Mongol. Semenjak bangsa Mongol bangkit dan menyerang Cina sampai hancurnya Kerajaan Sung dan berdirinya Kerajaan Goan pada tahun 1279, rakyat menderita hebat akibat kekejaman sepak terjang pasukan Mongol. Tidak hanya penderitaan lahir saja yang dialami rakyat, siksaan, pembunuhan semena-mena, perampasan harta benda, akan tetapi juga penderitaan batin.

Sebelumnya, kaisar-kaisar yang jatuh bangun selama ini adalah kaisar bangsa sendiri atau paling banyak hanya suku bangsa yang berlainan, akan tetapi tetap bangsa Han juga. Baru sekarang Cina diduduki oleh penjajah dari luar, oleh bangsa lain, yaitu bangsa Mongol yang tinggal jauh di sebelah utara dan hal ini tentu saja merupakan penderitaan batin yang amat menyakitkan bagi rakyat.

Oleh karena itu, perlawanan rakyat yang membantu sisa tentara Kerajaan Sung lama, tidak pernah berhenti dan peperangan tidak pernah padam. Namun, bala tentara Mongol memang amat kuat, bahkan sempat menjelajah dan menalukkan negara-negara di Timur Tengah dan Europa!

Selain memiliki bala tentara yang amat kuat, juga celaka bagi rakyat, tidak sedikit jumlahnya para pengkhianat dan anjing-anjing penjilat penjajah yang mempergunakan kesempatan itu untuk menjual negara dan bangsa demi mengejar kesenangan dan kekayaan.

Dengan telunjuk mereka yang hitam, para pengkhianat rendah itu menunjuk para pejuang dan melapor kepada penjajah sehingga para patriot bangsa itu ditangkap, disiksa, digantung atau disembelih di hadapan rakyat untuk melemahkan semangat perlawanan mereka. Dengan mulut mereka yang berbisa, para pengkhianat itu berbisik di telinga para pembesar Mongol dan di lain saat, keluarga para patriot ditangkap, dibunuh, bahkan para wanitanya diperkosa dan semua harta benda mereka dirampas.

Tidak dapat disangkal bahwa kaisar pertama dalam Kerajaan Goan, yaitu Kubilai Khan, telah berjasa memperindah kota raja yang baru, Peking. Istana yang indah didirikan di atas pundak rakyat. Terusan-terusan digali antara Sungai Yang-ce dan Sungai Huang-ho sehingga air sungai dapat dihubungkan untuk mengangkut segala keperluan yang diperlukan, akan tetapi air sungai semenjak itu pun mengalir bersama keringat dan darah rakyat.

Untuk dapat melaksanakan semua pekerjaan besar ini, rakyat Cina, terutama yang miskin tidak mampu menyogok pembesar, diperas dan ditindas, dikerja-paksakan dengan teramat kejam, melebihi kuda atau kerbau, sehingga akibatnya banyak sekali rakyat yang tewas karena penyakit atau karena kelaparan dalam kerja paksa yang kejam itu.

Tidak akan ada habisnya kalau diceritakan betapa hebat penderitaan rakyat di waktu tanah air berada dalam kekuasaan penjajah asing. Sampai beberapa tahun semenjak pemerintahan Goan berdiri menguasai Cina, kekejaman dan kebuasan para pembesar Mongol terjadi setiap hari di seluruh negeri.

Kota So-couw terletak di perbatasan Propinsi Kiang-si dan An-hui, di sebelah barat terusan yang sedang digali oleh rakyat yang melakukan kerja paksa. Karena penggalian terusan itu membutuhkan tenaga jutaan manusia, maka pemerintah menjulurkan tangannya sampai jauh ke pedalaman dan menyeret orang-orang kota dan dusun untuk dikerja-paksakan. Kota So-couw tidak terkecuali. Apalagi kota ini letaknya tidak jauh dari terusan, maka penduduk kota inilah yang lebih dulu terkena operasi atau garukan.

Di kota So-couw tinggal keluarga Pouw yang amat dikenal. Semua orang di So-couw menghormati keluarga itu yang bukan saja merupakan keluarga tertua di So-couw, melainkan juga karena keluarga Pouw yang kaya raya selalu membantu rakyat jelata, menyumbangkan harta, tenaga, maupun pikiran.

Siapa tidak mengenal Pouw Goan Keng yang dahulu pernah menjadi Menteri Kesusastraan dari Kerajaan Sung? Siapa tidak tahu. bahwa adiknya, Pouw Cong Keng, telah gugur sebagai pahlawan ketika memimpin barisan Song menggempur Kerajaan Kin di utara?

Kemudian ada lagi, Pouw Bun yang sekarang telah menjadi seorang kakek tua dan tinggal di gedungnya yang terletak di kota So-couw, dahulu pernah menjabat pangkat Kok-hoa (Kepala Pengawas) yang amat jujur dan adil. Pekerjaannya adalah menentukan lulus tidaknya seorang yang mengikuti ujian kesusastraan untuk mencapai gelar siucai (sastrawan) di kota raja.

Padahal pada waktu jaman Kerajaan Sung, seperti juga pada waktu kerajaan-kerajaan lain yang terdahulu, amat sukar menjadi pejabat pemerintah yang jujur. Kebejatan akhlak para pejabat pemerintah, atau lebih tepat lagi para penguasa, membuat rakyat beranggapan bahwa mencari pejabat yang jujur dan adil, sama sukarnya dengan mencari intan, sedangkan menemukan penguasa yang korup dan sewenang-wenang, sama mudahnya dengan menemukan batu di sungai saking banyaknya! Pendeknya, keluarga Pouw terkenal sebagai keluarga yang sejak dulu kaya raya, terpelajar, patriotik dan cinta tanah air dan bangsa, juga amat dermawan!

Pada waktu itu, di dalam rumah gedung besar yang bentuknya kuno dari keluarga Pouw di So-couw, yang menjadi penghuninya adalah Pouw Bun yang sudah berusia sekitar tujuhpuluh tahun, isterinya yang sudah tua pula, Pouw Keng In dan isterinya, lalu adiknya, Pouw Sui Hong yang cantik jelita berusia delapanbelas tahun dan belum menikah. Pouw Keng In dan Pouw Sui Hong adalah cucu dari Pouw Bun. Baru setahun Pouw Keng In menikah dengan Tan Bi Lian yang cantik dan yang pada waktu itu telah mengandung tua.

Ayah Keng In dan Sui Hong telah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu karena sakit. Pouw Seng Ki, ayah mereka itu, terlalu berduka dan sakit hatinya melihat serbuan orang-orang Mongol yang mengganas dengan kejam. Batinnya tertekan hebat sehingga dia jatuh sakit dan meninggal. Isterinya menyusul suaminya tiga tahun kemudian, meninggalkan dua orang anaknya, Keng In dan Sui Hong, dalam peliharaan kakek dan nenek mereka yang sudah tua.

Karena Kakek Pouw Bun adalah seorang yang terpelajar, ahli sastra yang banyak pengetahuannya, maka Keng In dan Sui Hong mendapat pendidikan kesusastraan yang cukup mendalam. Mereka hidup dalam suasana yang damai dan tenteram. Setiap hari kalau tidak menulis syair, membaca kitab, tentu bermain musik atau bercakap-cakap tentang sejarah kuno atau tentang agama. Selain itu, Pouw Keng In juga mengurus sawah ladang milik kakeknya.

Pada waktu itu, harta kekayaan keluarga Pouw sudah banyak menyusut karena ketika terjadi perang penyerbuan barisan Mongol ke daerah itu, keluarga Pouw telah mempergunakan sebagian besar harta mereka untuk menolong para korban perang, menyumbang biaya pengobatan, makan, pakaian, bahkan mendirikan pondok-pondok sebagai pengganti mereka yang kehilangan rumah karena dibakar pasukan Mongol. Biarpun kini tidak kaya raya, namun sebagian dari hasil sawah ladang itu masih mereka berikan kepada orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan agar tidak mati kelaparan.

Biarpun kini bukan hartawan yang hidup dalam kemewahan, namun Kakek dan Nenek Pouw, Pouw Keng In dan isterinya Tan Bi Lian, dan Pouw Sui Hong, hidup dalam keadaan tenang tenteram. Akan tetapi segala apa pun di dunia ini tidak kekal keadaannya. Apabila saatnya tiba, atau dengan lain perkataan apabila Tuhan menghendaki demikian, pasti akan terjadi perubahan, baik itu perubahan ke arah kesengsaraan maupun perubahan ke arah kebahagiaan.

cerita silat online karya kho ping hoo

Pouw Sui Hong adalah seorang gadis remaja berusia delapan belas tahun yang cantik jelita dan menggairahkan. Juga ia amat pandai menulis sajak, menulis huruf berkembang, melukis, memainkan alat musik yang-kim (kecapi) dan mengerjakan kerajinan tangan lain. Suara nyanyiannya pun amat merdu, dan semua itu ditambah lagi sikapnya yang lemah lembut, tutur sapanya yang halus dan wajahnya yang cerah.

Maka, tidak aneh kalau ia dijadikan buah mimpi oleh semua pemuda di So-couw dan dijuluki Bunga So-couw. Tidak hanya para pemuda bangsawan dan hartawan yang tergila-gila kepadanya, akan tetapi juga para pemuda petani, para pemuda miskin biarpun tidak mempunyai harapan sama sekali, tetap memujanya dan seringkali bermimpikan gadis itu. Di antara mereka ini terdapat seorang pemuda yang menjadi pelayan rumah keluarga Pouw sendiri.

Pemuda ini bernama Can Sui dan sejak kecil dia sudah bekerja sebagai pelayan di rumah itu maka sejak kecil dia telah mengenal Sui Hong. Akan tetapi sebagai seorang pelayan, dia tidak berani menyatakan cintanya kepada Sui Hong sungguhpun dalam hatinya dia sudah tergila-gila kepada gadis itu dan seringkali dia menyesali keadaan dirinya sendiri.

"Bukankah aku juga seorang manusia? Apa bedanya antara aku dan Siocia (Nona) sebagai manusia? Hanya kebetulan saja aku menjadi pelayannya, akan tetapi aku dilahirkan menjadi seorang miskin bukan atas kehendakku, seperti juga Siocia terlahir menjadi puteri keluarga kaya juga bukan atas kehendaknya..." Demikian pelayan itu mengeluh.

Setelah dewasa, cintanya terhadap Sui Hong menjadi berahi yang berkobar-kobar dan akhirnya dia tidak kuat lagi menahan desakan gelora nafsu berahinya dan dia menjadi mata gelap dan lupa diri. Bagaikan seorang maling pada suatu saat, lewat tengah malam, dia membongkar daun pintu kamar Sui Hong dan memasuki kamar itu!

Ketika dia menjulurkan tangan meraba tubuh Sui Hong, gadis itu menjerit-jerit ketakutan dan seisi rumah terbangun. Pouw Keng In yang berlari memasuki kamar adiknya, melihat Can Sui di situ dan Sui Hong yang duduk di atas pembaringannya, tampak pucat dan menggigil ketakutan. Dia dapat menduga apa yang terjadi. Akan tetapi Keng In memang cerdik sekali. Dia harus dapat menjaga kehormatan nama adiknya, maka ketika semua pelayan bermunculan di situ sambil membawa lentera, dia cepat menampar pipi Can Sui sambil memaki.

"Bangsat rendah! Sejak kecil setiap hari engkau makan nasi di rumah keluarga kami, siapa kira selama ini kami memelihara seorang maling! Baiknya Pouw Siocia melihatmu, kalau tidak tentu engkau akan berhasil menggondol barang-barang berharga lalu minggat! Bangsat, kalau tidak ingat bahwa engkau sejak kecil bekerja di sini, tentu aku akan memukulmu sampai mati. Sekarang, bawa semua barangmu dan pergi dari saat ini, jangan engkau berani menginjakkan kaki di pekarangan kami lagi!"

Demikianlah, berkat kecerdikan Pouw Keng In, urusan itu dilupakan orang dan nama baik keluarga itu tidak ternoda. Semua orang membicarakan peristiwa malam itu sebagai usaha pencurian yang hendak dilakukan Can Sui dan sama sekali tidak ada yang menyangka bahwa pemuda itu memasuki kamar Pouw Siocia dengan niat lain sama sekali!

Tidak hanya para pelayan dan orang luar yang mengira bahwa perkara itu adalah kecil dan sudah habis sampai di situ saja, bahkan semua anggauta keluarga Pouw sendiri sudah melupakan urusan itu. Akan tetapi siapa kira bahwa urusan yang dianggap sepele itu akan berekor panjang, bahkan akan menjadi sebab dari perubahan hebat yang akan terjadi pada keluarga Pouw.

Memang sudah mengalir dalam darah keturunan keluarga Pouw, juga Pouw Keng In biarpun sejak kecil hanya belajar sastra, ternyata dia pun memiliki darah patriot yang cukup kuat. Dia merasa penasaran dan juga berduka kalau ingat betapa tanah air bangsanya dikangkangi oleh penjajah Mongol.

Perasaan ini mudah sekali dilihat dari percakapan sehari-hari, atau dari sajak-sajak yang ditulis Keng In dan digantungkan dalam kamarnya. Tentu saja Keng In tidak berani berterang menyatakan kebenciannya terhadap pemerintah Kerajaan Goan, dan hanya menyatakan kebenciannya itu di depan para sahabat, anggauta keluarga, terkadang kepada para pelayan dalam rumah.

Bahkan ketika tidak jauh dari So-couw timbul pemberontakan terhadap pemerintah Mongol, Keng In menulis sajak banyak sekali dan dibagikan kepada para pejuang untuk membakar semangat mereka. Hal ini dilakukannya dengan diam-diam. Yang mengetahuinya hanyalah anggota keluarga, sahabat baik dan para pelayan yang sudah dipercaya saja.

Sudah barang tentu Can Sui pelayan yang tergila-gila kepada Sui Hong itu pun tahu akan hal ini, bahkan dia dipercaya karena dahulu dia pun merupakan seorang di antara mereka yang kagum dan suka akan sajak tulisan Pouw Keng In dan menyimpannya pula beberapa helai.

Malapetaka itu datang tepat sepuluh hari sejak Can Sui diusir dari rumah keluarga Pouw. Pada pagi hari itu, dua orang dengan muka pucat memasuki gedung keluarga Pouw lewat pintu belakang dan mereka berbisik-bisik kepada para pelayan. Tidak lama kemudian Pouw Keng In muncul dan mengajak dua orang itu masuk.

Mereka adalah dua orang Han (pribumi) yang bekerja sebagai pelayan rumah dan kantor pembesar kota So-couw. Mereka datang secara sembunyi dan setelah berada di dalam ruangan dalam gedung bersama Keng In, mereka berkata dengan lirih.

"Pouw Kongcu (Tuan Muda Pouw), celaka...! Lekas melarikan diri, cepat...! Ah, celaka sekali...!"

Wajah Pouw Keng In yang tampan berubah agak cemas, akan tetapi dia masih dapat bersikap tenang dan bertanya lembut. "Apakah yang telah terjadi? Tenanglah kalian dan ceritakan dengan jelas..."

"Tepat lari! Bawa semua keluarga. Tak lama lagi tentu pasukan pemerintah datang untuk menangkap Pouw Kongcu sekeluarga!"

"Apa...?" Keng In terbelalak. "Mengapa? Apa alasannya?"

"Keluarga Pouw akan ditangkap, dituduh pemberontak!"

Kini Keng In mengerti bahwa hal ini bukanlah mustahil, maka segera dia bertanya. "Siapa orangnya yang mengadukan kepada pemerintah?"

"Can Sui, dia membawa sajak-sajak buatan Kongcu beberapa bulan yang lalu. Harap lekas lari, Kongcu, kami berdua tidak dapat lama berada di sini..." Dua orang itu lalu pergi meninggalkan gedung mengambil jalan dari pintu belakang.

Dapat dibayangkan betapa cemas dan bingung rasa hati Pouw Keng In. Pada masa itu, semua orang, biar anak kecil sekalipun, tahu belaka apa artinya ditangkap pasukan pemerintah, apalagi kalau dituduh sebagai pemberontak. Siksa, hukum mati, rampas harta benda!

Ketika Keng In mengabarkan hal ini kepada keluarga Pouw, Tan Lian dan Sui Hong menangis dan tubuh mereka menggigil ketakutan. Akan tetapi Kakek Pouw Bun dan isterinya, menerima berita itu dengan sikap tenang. Sepasang mata kakek dan nenek itu mencorong penuh api kemarahan.

"Keng In, kau bawa isterimu dan adikmu pergi ke selatan, ke kota Nan-king. Cepat, di sana kau cari Liu Bok Eng atau keluarganya, mereka pasti akan menolongmu!" kata Pouw Bun.

"Akan tetapi bagaimana dengan Kong-kong (Kakek) sendiri dan Nenek...?"

"Kami sudah tua, Keng In. Aku bahkan akan merasa bangga kalau di samping kakekmu dapat menghadapi anjing-anjing Mongol itu dan mati di tangan mereka bagi kami lebih terhormat dan menyenangkan. Biarlah kami yang mengorbankan tubuh tua renta ini demi keselamatan anak cucu dan bangsa!"

Benar-benar ucapan yang gagah sekali yang keluar dari bibir nenek yang sudah ompong itu. Memang, keluarga Pouw sejak dahulu berjiwa patriotik dan gagah berani.

Dengan hati pilu, karena keadaan mendesak dan dia pikir memang permintaan kakek dan neneknya ini tepat untuk menyelamatkan yang muda-muda, Keng In lalu mempersiapkan tiga ekor kuda, membawa pakaian sekadar pengganti dan uang bekal. Kemudian dengan tergesa-gesa dan cepat, setelah mereka berlutut dan menangis di depan kaki Kakek Pouw Bun dan isterinya, Keng In, Bi Lian, dan Sui Hong menunggang kuda melarikan diri keluar kota menuju ke selatan.

Masih untung bahwa Bi Lian dan Sui Hong bukanlah wanita-wanita yang tidak biasa menunggang kuda. Seringkali mereka belajar menunggang kuda dari Keng In, maka kini mereka tidak ragu-ragu lagi untuk membalapkan kuda melarikan diri. Akan tetapi yang patut dikasihani adalah Bi Lian.

Nyonya muda ini sedang mengandung delapan bulan, maka dapat dibayangkan betapa sengsaranya melarikan diri seperti itu. Tangan kanan memegang kendali kuda, tangan kiri menekan dan melindungi perut, wajahnya pucat sekali dan kadang-kadang ia menggigit bibir sendiri menahan rasa nyeri akibat guncangan-guncangan di atas kuda.

Pilu rasa hati Keng In melihat keadaan isterinya itu dan terpaksa dia memperlambat larinya kuda. Dia melarikan kudanya berendeng dengan kuda isterinya dan melihat betapa keadaan isterinya semakin payah, dia menghentikan kudanya dan menyuruh isterinya dan adiknya berhenti pula.

Kemudian dia pindah ke atas kuda isterinya dan duduk di belakangnya. Dengan memeluk tubuh isterinya yang duduk di depan, kini Keng In dapat membalapkan kuda itu lebih cepat. Sui Hong memegang kendali kuda Keng In karena kuda itu perlu dibawa untuk menggantikan kuda yang membawa dua orang manusia itu, yang tentu saja tidak akan dapat bertahan lama.