Pendekar Budiman jilid 10

Pendekar Budiman Jilid 10

SEBULAN lebih setelah pernikahan dilangsungkan, Wan Kan minta diri dari isterinya untuk membereskan sisa sisa hartanya yang katanya hendak dibawa semua ke Biciu. Padahal sebetulnya, pangeran ini ingin pulang dulu karena sudah terlalu lama meninggalkan istana ayahnya, Ling In tentu saja menyatakan keinginan hatinya hendak turut, akan tetapi Wan Kan berkeras mencegahnya, menyatakan bahwa perjalanan itu amat sukar dan jauh dan bahwa ia tidak tega melihat isterinya menderita dalam perjalanan.

“Suamiku, kaukira aku seorang wanita yang amat lemah? Perjalanan jauh dan sukar sudah seringkali kulakukan. Mengapa kau tidak mau mengajakku?” Ling In membantah.

“In moi, isteriku yang manis,” Wan Kan menghibur dengan sikap mesra penuh cinta kasih.

“Aku pergi takkan lama, dan dalam waktu yang tidak aman ini, lebih baik kau menanti saja di Biciu. Paling lama dua pekan aku pasti akan kembali.”

Kata kata suaminya ini mengherankan Ling In. Pada waktu itu, di daerah selatan amat aman dan tidak pernah terjadi kekacauan. Memang tentu saja Ling In tidak tahu akan maksud suaminya. Wan yen Kan maksudkan keadaan di utara yang pada waktu itu memang amat tidak aman. Pemberontakan pemberontakan terhadap Kerajaan Kin meletus di mana mana. Akhirnya, karena dibujuk bujuk pun tetap tidak mau menyerah kalah, Ling In menarik napas panjang dan dua butir air mata mengalir turun di pipinya.

“Asal saja tidak terlalu lama kau meninggalkan aku,” katanya perlahan.

Wan Kan memeluknya dan menghiburnya. “Bodoh, siapa mau berpisah terlalu lama dengan isterinya yang demikian cantik dan mencinta?”

Demikianlah, Wan Kan berangkat ke utara, meninggalkan Ling In yang merasa kecewa sekali karena tidak diajak. Ling In merasa amat kesunyian ditinggalkan suaminya. Suaminya yang tampan, peramah, dan amat mencintanya itu benar benar telah mengisi hidupnya dan membuat dunianya nampak ramai gembira. Sekarang, seperginya suaminya, ia selalu duduk termenung di halaman rumahnya, menanti nanti kembalinya orang yang dicintanya itu.

Dua hari kemudian, datang seorang muda memasuki halaman rumah itu, akan tetapi bukan Wan Kan yang datang, melainkan Lie Bu Tek! Pemuda Hoa san pai ini dengan hati panas dan penuh amarah, datang kepada Ling In dengan maksud menegur sumoinya itu yang telah begitu merendahkan diri untuk menikah dengan seorang pangeran Bangsa Kin yang menindas rakyat bangsanya!

Untuk sesaat Ling In berseri wajahnya karena mengira bahwa yang datang adalah suaminya. Akan tetapi ternyata dugaannya keliru. Sebetulnya perawakan Bu Tek lebih besar dari pada Wan Kan, akan tetapi pada waktu itu Bu Tek amat kurus sehingga mendekati perawakan Wan Kan. Ketika Ling In melihat bahwa yang datang adalah Bu Tek, wajahnya berobah merah dengan tiba tiba dan ia merasa terkejut, malu dan jengah. Akan tetapi, segera semua perasaan ini terganti oleh rasa kasihan ketika ia melihat betapa kurusnya suhengnya ini.

“Suheng... kau…?” perhatian Ling In tertarik oleh kekurusan pemuda itu dan entah mengapa, melihat pemuda itu menderita karena dia, selain perasaan kasihan, juga ada perasaan puas! Sebagai seorang wanita, dia tetap saja memiliki perasaan suka kalau melihat laki laki menderita karena mencinta dia! Melihat betapa besar dan hebat pengaruh dirinya terhadap laki laki yang mencintanya! Kalau saja Ling In tidak tenggelam dalam laut kebanggaannya, tentu ia akan dapat melihat betapa muka Bu Tek memperlihatkan sikap mengancam dan galak sekali.

Sebaliknya, laki laki yang disohorkan amat kuat dan jauh lebih kuat daripada hati wanita, di dalam persoalan cinta ternyata sebaliknya! Wanitalah yang jauh lebih kuat menguasai hatinya, dan sebaliknya, hati laki laki yang bagaimana kuatpun, menghadapi kekasihnya, akan merobah menjadi sepotong gumpalan darah yang tak berdaya. Menjadi lemah sekali dan demikian pula Bu Tek.

Ketika dia melihat wajah Ling in, bentuk tubuhnya, dan pakaiannya yang kini jauh berbeda daripada dahulu, wajah yang kini nampak segar kemerahan dan bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya, bentuk tubuhnya yang kini tidak bercorak “jantan” seperti dahulu akan tetapi dengan jelas membayangkan kewanitaannya yang menimbulkan kemesraan di hati, ditambah pula dengan pakaian dan bentuk sanggul serta hiasan rambutnya yang indah menarik, seketika itu juga cairlah kekerasan hati Bu Tek.

Inilah Ling In seperti yang seringkali ia impikan. Bukan Ling In pendekar wanita yang kasar dan keras. Inilah Ling In seratus prosen wanita, penuh kehalusan, penuh kelembutan dan kemesraan.

“Sumoi...” katanya dan suaranya tersendat di dalam kerongkongannya.

Ling In lebih dulu dapat menguasai hati nya dan dengan muka girang ia lalu tersenyum dan berkata, “Ah, Lie suheng, terima kasih kau mau mengunjungiku. Silakan duduk di dalam, suheng!”

Makin lemah dan lenyap kemarahan hati Bu Tek mendengar suara ini, dan timbul pula kehangatan dalam hatinya. Betapapun juga Ling In adalah sumoinya yang telah bertahun tahun belajar ilmu silat di Hoa san dengan dia! Bagaimana ia dapat melukai hati sumoinya ini? Bagaimana ia dapat mencela dan menegurnya berhubung dengan pernikahannya dengan pangeran Kerajaan Kin itu? Tentu ada sesuatu yang membuat sumoinya ini mau menjadi isteri pangeran itu. Ia tidak percaya bahwa sumoinya ini membuta mau menjadi isteri Wan yen Kan.

“Tak usah, sumoi. Biarlah, cukup di sini saja.”

Baru sekarang Ling In melihat sikap Bu Tek yang dingin dan mukanya yang tidak memperlihatkan kemarahan. Ia mengerutkan kening, lau bertanya dengan hati timbul kecurigaan, “Suheng, kedatanganmu ini, hanya ingin mengunjungi aku ataukah... ataukah ada keperluan lain?”

“Aku hendak melihat keadannmu, sumoi. Syukur kau nampak bahagia...”

“Aku memang berbahagia, suheng,” kata Ling In sambil menundukkan mukanya yang menjadi merah.

“Ling In, mana suamimu?”

Kembali Ling In merasa gembira ketika diingatkan kepada suaminya. Sepasang matanya berseri dan mukanya menjadi merah. “Ah, kau tentu akan senang kalau berkenalan dengan dia, suheng. Kami telah merencanakan untuk mengunjungi Hoa san pai, dan memperkenalkan suamiku kepada para suhu di sana. Ia seorang baik hati dan mulia suheng.”

Lie Bu Tek hanya memperdengarkan suara “hmm... hmm...” saja, kemudian ia memandang tajam sambil bertanya, “Sumoi, sebetulnya siapakah suamimu itu? Dia orang apa dan dari mana? Aku ingin sekali bertemu dengan dia. Di mana dia sekarang?”

Kembali berobah sikap Ling In. Kini air mukanya memperlihatkan sikap menentang. “Kau mau apa, suheng? Apakah setelah dia menjadi suamiku kau masih saja hendak melampiaskan nafsu jahatmu? Apakah kau hendak menyerangnya? Terus terang saja, suheng. Kau takkan menang menghadapi dia! Wan Kan adalah seorang yang berkepandaian tinggi, jauh lebih tinggi daripada kepandaianmu atau kepandaianku. Dia murid seorang pandai, Suheng. Maka lebih baik hilangkanlah saja rasa iri hati dan cemburu di dalam dadamu yang tak berdasar itu. Aku menjadi isterinya karena aku memang mencintanya.”

“Hm… jadi namanya Wan Kan? Putera siapakah dia, sumoi?”

“Ayah bundanya sudah tidak ada lagi. Dia yatim piatu dan perantau seperti engkau, suheng. Dia seorang baik baik, sungguh! Harap kau suka sadar dan janganlah mencari perkara dengan kami. Karena, kalau kau memusuhi dia, berarti pula bahwa kau memusuhi aku, suheng!”

Tahulah sekarang Bu Tek bahwa sumoinya ini sungguh tidak tahu bahwa suaminya adalah seorang pangeran Kin! Akan tetapi ia merasa tidak tega untuk membuka rahasia ini di depan sumoinya.

“Di mana dia sekarang, sumoi?”

“Dia sedang pergi, sejak dua hari yang lalu. Kenapakah?”

“Ah, tidak apa apa, sumoi” kata Bu Tek sambil mengeluarkan potongan sabuk dari kantongnya. “Aku takkan mengganggu, sumoi, selama hidupku tak mungkin aku mau mengganggumu. Nah, ini terimalah kembali sabuk ini. Tak perlu lagi bagiku.” Bu Tek tak usah bertanya ke mana Wan Kan atau Wan yen Kan, karena ia dapat menduga bahwa pangeran itu tentu kembali ke utara dan ia bermaksud hendak menyusulnya tanpa memberi tahu kepada sumoinya.

Ling In menerima potongan sabuk itu dan hatinya terharu. “Suheng, kaumaafkanlah aku, suheng. Pernikahan ini… pembatalan hubungan kita…. semua adalah kesalahanku…. suamiku tidak ada hubungannya dengan ini, dia tidak boleh dipersalahkan.”

“Aku tidak menyalahkan siapapun juga dalam hal pernikahanmu, sumoi. Kalau ada orang yang kupersalahkan, orang itu adalah... aku sendiri. Aku seorang bodoh tak tahu diri, tak tahu malu! Nah, selamat tinggal sumoi.”

“Suheng, kau masih bersikap marah kepadaku…!”

“Tidak, sumoi. Semoga Thian melindungimu. Selamat tinggal!” Maka pergilah Bu Tek dengan cepat, meninggalkan Ling In yang memandangnya dengan air mata berlinang. Ling In merasa kasihan sekali kepada suhengnya yang ia ketahui amat menderita hatinnya itu.

********************

Karena melakukan perjalanan siang malam dengan cepat sekali, Lie Bu Tek hampir dapat menyusul Wan yen Kan. Pagi harinya Wan yen Kan tiba di kota Cin an, sedangkan pada hari itu juga, menjelang senja, Lie Bu Tek juga tiba di kota itu!

Pemuda ini hatinya penuh dendam yang membuatnya menjadi nekad dan berani mati. Ia bukan tidak tahu bahwa kota Cin an merupakan sarang naga gua harimau bagi orang orang gagah seperti dia, dan ia telah mendengar pula bahwa selain di situ terdapat Sam Thai Koksu yang kosen, juga masih terdapat orang orang gagah yang sengaja didatangkan oleh Sam Thai Koksu untuk membantu pemerintah Kin. Akan tetapi, nafsunya untuk membunuh Pangeran Wan yen Kan demikian besar dan alangkah girangnya ketika ia menyelidiki, ia dapat mendengar bahwa pangeran itu memang betul berada di dalam gedung Sam Thai Koksu pada hari itu!

Malam hari itu, sambil membawa pedangnya, Lie Bu Tek meloncat ke atas genteng dan bagaikan seekor kucing gesitnya, ia berlari lari di atas genteng rumah orang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga karena ginkangnya memang sudah cukup tinggi. Tak lama kemudian, tibalah ia di atas genteng sekelompok rumah gedung yang dijadikan markas oleh Sam Thai Koksu, di mana orang orang gagah yang membantu pemerintah Kin berkumpul. Dengan amat hati hati Lie Bu Tek meloncat loncat di atas genteng dan menyelidiki untuk mencuri tahu di mana adanya pangeran yang dibencinya itu!

Betapapun tinggi kepandaian Lie Bu Tek, namun ia masih tidak tahu bahwa semenjak tadi sesosok bayangan yang bagaikan setan saja gerakannya telah mengikutinya dan kini bayangan itu bersembunyi di balik wuwungan dan mengintai sambil memperhatikan gerak geriknya.

“Pemuda goblok,” bayangan itu berkata seorang diri di dalam hatinya, “orang dengan kepandaian seperti dia, bagaimana berani mati sekali mendatangkan sarang harimau?”

Benar saja dugaan bayangan yang aneh ini karena baru saja Lie Bu Tek menurunkan kakinya di atas genteng yang berada di tengah tengah kelompok rumah gedung itu, dari bawah melayang naik tubuh seorang tosu yang membentak keras.

“Bangsat dari mana berani datang mengantar kematian?”

Lie Bu Tek sudah siap sedia dan secepat kilat ia mencabut pedangnya menghadapi tosu itu. Ia tidak mengenal siapa adanya tosu ini, maka ia berkata, “Aku datang bukan untuk berurusan dengan totiang, akan tetapi hendak mencari Wan yen Kan pangeran mata keranjang itu. Suruh dia keluar untuk menghadapi Lie Bu Tek dan mengadu nyawa di sini!”

Tosu itu tertawa bergelak. “Ha, ha, ha! Kau ini orang macam apakah berani buka mulut besar hendak menantang siauw ongnya? Di hadapan Giok Seng Cu jangan kau menjual kesombongan! Hayo lekas berlutut minta ampun agar kuhadapan kepada siauw ongya!”

Lie Bu Tek marah sekali. Ia tidak mengenal siapa adanya Giok Seng Cu, yang seperti pembaca masih ingat adalah murid dari Pak Hong Siansu yang lihai. Dengan seruan keras Lie Bu Tek lalu menggerakkan pedangnya menyerang dengan hebat. Giok Seng Cu tertawa mengejek dan ketika tubuhnya bergerak, Bu Tek terkejut sekali karena gerakan kakek itu benar benar cepat sekali seperti berkelebatnya burung terbang. Namun hati Lie Bu Tek sudah nekad dan ia melanjutkan serangannya secara bertubi tubi, memutar pedangnya sehingga berobah menjadi segulung sinar putih menyilaukan mata.

Namun yang ia hadapi adalah murid dari Pak Hong Siansu yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya. Jangankan baru Lie Bu Tek, biarpun guru gurunya sendiripun takkan mungkin dapat menangkan Giok Seng Cu! Tosu ini mempergunakan telapak tangannya, untuk menangkis atau menyampok pedang Lie Bu Tek. Seorang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, mana berani menyampok pedang tajam hanya dengan telapak tangan? Bu Tek maklum akan hal ini dan iapun sudah putus harapan untuk memperoleh kemenangan menghadapi tosu itu, akan tetapi ia berlaku nekad dan menyerang membabi buta.

Dengan amat hati hati dan garang, Bu Tek lalu menggunakan ilmu pedang yang paling lihai dari Hoa san pai. Ia menyerang dengar gerak tipu To goat jio seng (Menyangga Bulan Merampas Bintang). Gerakannya cepat dan kuat sekali, kaki kirinya diangkat, tangan kirinya membuat gerakan seperti menahan atau menyangga sesuatu di atas kepalanya untuk mengimbangi gerakan pedangnya yang ditusukkan ke ulu hati lawannya! Gerak tipu To goat jio seng ini sesungguhnya amat berbahaya bagi lawan yang kurang pandai karena akan disusul oleh serangan serangan lain dan juga dengan tendangan berantai.

Akan tetapi, dengan enak saja Giok Seng Cu lalu miringkan tubuh ke kanan tanpa merobah kedudukan kakinya dan ketika pedang Bu Tek meluncur di samping tubuhnya sebelah kiri, tosu ini secepat kilat menggerakkan tangan kanan mencengkeram pergelangan tangan Bu Tek, yang memegang pedang! Pemuda ini merasa tangan kanannya lumpuh dan tak terasa pula pedangnya terlepas dari pegangan! Sebelum ia sempat bergerak, Giok Seng Cu sudah menggerakkan tangan kirinya, menotok jalan darah di bawah lengan kanannya sehingga tak dapat dicegah lagi tubuh Lie Bu Tek roboh lemas tak berdaya sedikitpun juga. Ia roboh dalam keadaan lumpuh seluruh tubuhnya, mendekam di atas genteng!

“Ha, ha, ha! Orang dengan kepandaian macam ini berani mengganggu Enghiong Hwee koan (Rumah Perkumpulan Orang orang Gagah)?” kata Giok Seng Cu sambil tertawa bergelak. Memang rumah itu adalah kelompok rumah rumah yang dijadikan markas oleh Sam Thai Koksu yang membentuk Enghiong Hwe atau Perkumpulan Orang orang Gagah seperti yang pernah dikemukakan di hadapan para orang gagah dalam pertemuan di taman kota Cin an dahulu.

Pada saat Giok Seng Cu masih tertawa bergelak, tiba tiba menyambar sesosok bayangan cepat dan ringan sekali gerakannya. Tahu tahu bayangan itu telah menyambar tubuh Lie Bu Tek dan sebelah tangannya menyambar pedang Lie Bu Tek yang berada di atas genteng pula. Giok Seng Cu terkejut sekali dan cepat ia mengulur tangan menyerang pundak bayangan hitam itu. Bayangan itu dengan tangan kirinya mengempit tubuh Lie Bu Tek dan tangan kanannya memegang pedang, kini melihat orang menyerang pundaknya, ia melontarkan pedang yang dipegangnya ke atas untuk memberi kesempatan kepada tangan kanannya menangkis pukulan Giok Seng Cu, kemudian ketika pedang itu meluncur turun, ia menyambut pedang lalu melompat jauh sekali lenyap dari pandangan mata Giok Seng Cu!

Tosu ini terkejut bukan main karena tadi ketika lengan tangannya bertemu dengan tangkisan tangan bayangan itu, ia merasa seakan akan ada api memasuki tangannya yang menyerang dan cepat ia menarik kembali tangannya. Ia masih dapat menyaksikan betapa bayangan itu sengaja tidak mau mempergunakan pedang mencelakainya, dan melihat betapa lompatan bayangan yang menolong pemuda yang menyerangnya tadi demikian ringan dan gesit, ia tak terasa lagi berseru,

“Tangkap penjahat!”

Sebentar saja, beberapa bayangan orang melompat naik, di antaranya terdapat Pek Hong Siansu. Ba Mau Hoatsu, Sam Thai Koksu dan masih banyak orang orang gagah lagi.

“Ada apakah ribut ribut?” tanya Pak Hong Siansu dengan kening dikerutkan. Tentu saja orang tua ini merasa kurang senang melihat betapa muridnya sampai minta tolong menangkap penjahat, karena hal itu menandakan bahwa muridnya ini tidak sanggup menghadapi penjahat itu seorang diri!

Merahlah wajah Giok Seng Cu, ia lalu bercerita bahwa tadi datang seorang pemuda yang menurut ilmu pedangnya tentu seorang anak murid Hoa san pai. Ia berhasil merobohkan pemuda itu, akan tetapi tiba tiba sesosok bayangan menolongnya dan ia tidak keburu menangkap bayangan itu. Janganlah menangkap, mengenal siapa orangnyapun tidak!

“Hm, siapa lagi kalau bukan murid Pak Kek Siansu itu!” kata Ba Mau Hoatsu dengan suara gemas.

Teringatlah Giok Seng Cu. “Bisa jadi….” ia mengangguk anggukkan kepalanya. “Sekarang aku ingat, biarpun gerakannya cepat sehingga aku tidak sempat mengenal mukanya namun bajunya berkembang...!”

“Tentu pemuda she Go itu yang datang menolong murid Hoa san pai!” kata pula seorang pendeta atau hwesio gundul yang ikut pula naik ke atas genteng. “Orang orang Hoa san pai sudah patut dibasmi, selalu mendatangkan kekacauan!” Orang yang bicara ini adalah seorang hwesio gundul dari Go bi dan ia ternyata adalah Bu It Hosiang yang dulu pernah ribut ribut dengan Bi Lan di taman kota Cin an! Kini Bu It Hosiang juga menjadi sahabat dari Sam Thai Koksu karena ia menaruh dendam kepada Hoa san pai dan mengharapkan bantuan orang orang gagah dari negeri Kin!

Dengan sikap mendongkol, orang orang itu lalu turun lagi dari atas genteng dan marilah kita ikuti keadaan Bu Tek. Pemuda ini ketika tertotok oleh Giok Seng Cu tadi, telah lumpuh tubuhnya, namun panca inderanya masih berjalan baik. Ia tahu bahwa seorang yang berkepandaian tinggi sekali telah menolongnya dan ia melihat seorang pemuda tampan yang menolongnya, akan tetapi ia tidak kenal siapa adanya pemuda ini. Karena gerakan pemuda ini cepat sekali, ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas, dan ia kagum sekali ketika pemuda itu membawanya berlari luar biasa cepatnya melalui genteng genteng rumah penduduk kota Cin an. Selama hidupnya, belum pernah Bu Tek menyaksikan ilmu lari cepat seperti dilakukan oleh pemuda penolongnya ini, yang berlari seakan akan terbang saja cepatnya. Setelah tiba di luar kota Cin an, di tempat yang gelap pemuda itu menepuk pundaknya dan seketika itu juga pulihlah kesehatan Bu Tek dan totokan dari Giok Seng Cu yang mempengaruhi lenyap sama sekali.

“Kau jangan bertindak secara bodoh dan sembarangan, sahabat,” pemuda itu berkata di dalam gelap. “Andaikata ada sepuluh orang seperti kau, masih belum cukup kuat untuk menyerbu Sam Thai Koksu dan kawan kawannya. Bukan perbuatan gagah berani untuk berlaku nekad dan menyerbu musuh tanpa memperhitungkan kekuatan sendiri. Paling baik, kalau kau memang seorang hohan (orang gagah), atau menggabungkan diri dengan para patriot lain untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman orang orang Kin!”

Sebelum Bu Tek sempat menjawab atau bertanya, sekali berkelebat saja orang itu lenyap dari hadapannya. Untuk beberapa lama Bu Tek berdiri ternganga, kemudian ia menghela napas dan tahu betapa rendahnya tingkat kepandaiannya kalau dibandingkan dengan penolongnya tadi. Juga ia merasa malu sendiri. Dengan kepandaiannya yang tidak berarti itu, bagaimana ia berani mencari Wan yen Kan di sarang harimau? Sungguh bodoh dan lucu. Sudah sepatutnya ia ditertawai oleh orang gagah di dunia. Lie Bu Tek segera pergi, dan ia mengambil keputusan untuk menggabungkan diri dengan patriot patriot yang sedang memberontak hendak menumbangkan kekuasaan pemerintah Kin di Tiongkok utara.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Siapakah pemuda yang luar biasa lihainya, yang menolong Li Bu Tek? Tepat seperti dugaan para tokoh yang membantu Sam Thai Koksu, pemuda ini bukan lain adalah Hwa I Enghiong (Pendekar Baju Kembang), Go Ciang Le!

Telah dituturkan di bagian depan bahwa Ciang Le menerima gemblengan ilmu silat dari Pak Kek Siansu di puncak Bukit Luliang san. Dengan amat tekun dan rajinnya ia menerima latihan ilmu silat Pak Kek Sin ciang hoat yang amat sukar dipelajari itu. Berkat ketekunannya dan kekerasan hati serta bakatnya yang luar biasa, akhirnya dapat juga ia menguasai ilmu silat ini. Alangkah girangnya bahwa ia berhasil mempelajari ilmu silat yang aneh ini, kepandaiannya meningkat secara luar biasa sekali. Baik ginkang maupun khikang dan lweekangnya telah mencapai tingkat yang melebihi ketiga murid Pak Kek Siansu, yaitu Luliang Ciangkun. Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin!

Pada suatu hari, datanglah Luliang Siucai menghadap kepada gurunya dan menceritakan tentang keadaan di utara. Ketika Pak Kek Siansu yang tadinya mendengarkan dengan acuh tak acuh itu mendengar bahwa Pak Hong Siansu didatangkan oleh Sam Thai Koksu untuk membantu pemerintah Kin, ia menaruh perhatian dan sepasang alisnya yang putih itu dikerutkan.

“Siancai, siancai!” ia menyebut perlahan. “Bagaimana sute (adik seperguruan) demikian bodoh dapat diperalat oleh pemerintah Kin?” Untuk sehari lamanya kakek sakti ini tidak mau bicara lagi dan duduk termenung seakan akan menyesalkan sesuatu yang amat mengganggu hatinya. Kemudian ia memanggil Ciang Le menghadap.

“Ciang Le, sekarang tiba saatnya kau harus berjuang demi kebenaran. Kau telah dapat menamatkan Pak kek Sin ciang dan akan sia sialah semua jerih payahmu mempelajari ilmu itu apabila kau tidak dapat mempergunakan pada saat penting seperti sekarang ini. Pak Hong Siansu itu adalah susiokmu sendiri, namun ia ternyata telah tersesat jalan. Sudah menjadi kewajibanmu untuk menginsyafkannya dan untuk menolong para patriot bangsa yang memperjuangkan nasib mereka. Kau pergilah ke utara dan temui susiokmu itu, membawa suratku kepadanya. Kalau dia menurut nasihatku, itu lebih baik lagi. Kalau tidak, terpaksa kau harus mempergunakan kepandaian untuk mencegah pemerintah Kin menghancurkan para patriot yang berjuang demi kebenaran dan kesucian.

Pak Kek Siansu lalu membuat sehelai surat untuk Pak Hong Siansu, kemudian berangkatlah Ciang Le membawa surat itu. Dengan amat cepat Ciang Le lalu menuju ke Cin an, karena dari Luliang Siucai ia mendapat petunjuk bahwa orang orang gagah yang membantu pemerintah Kin bermarkas di kota ini.

Demikianlah, dengan perjalanan yang cepat sekali, Ciang Le tiba di Cin an. Tanpa ragu ragu lagi ia segera menuju ke Enghiong Hwe koan. Rumah perkumpulan ini sebetulnya masih menjadi kelompok dengan rumah kepala daerah di Cin an dan karenanya, di situ terjaga oleh sepasukan pengawal yang berpakaian seperti tentara menghadapi peperangan!

Di halaman depan dari Enghiong Hwekoan terjaga oleh pasukan yang dikepalai oleh seorang panglima yang menjadi pembantu Sam Thai Koksu. Panglima ini sudah setengah tua, dan ia dibantu oleh dua orang perwira yang amat gagah, dua orang yang terkenal memiliki kepandaian tinggi karena menerima latihan ilmu silat dari Sam Thai Koksu sendiri! Seorang diantara dua perwira ini bertubuh tinggi besar, seorang ahli gwakang (tenaga kasar) bernama Ban Kui yang selain ilmu silatnya yang tinggi, juga terkenal ahli dalam ilmu gulat. Orang ke dua adalah seorang perwira bertubuh kecil pendak bermata tajam. Dia ini seorang ahli lweekang yang memiliki tenaga lweekang yang amat terkenal.

Selain tenaga lweekangnya sudah mahir, juga ia pandai mempergunakan senjata rahasia berupa jarum jarum perak yang diberi nama Hui gin ciang (Jarum Perak Terbang). Perwira ke dua ini bernama Lee Gai. Dua orang perwira ini boleh dibilang menjadi jago jago yang diandalkan dalam penjagaan kelompok rumah pembesar di Cin an dan yang bertanggung jawab atas penjagaan Enghiong Hwekoan.

Ketika Ciang Le tiba di Enghiong Hwekoan, ia dibawa oleh penjaga menghadap ke kantor penjagaan yang berada di ruang depan dari Enghiong Hwekoan itu. Ban Kui dan Lee Gai tengah berunding dengan komandannya yaitu panglima ahli perang yang sudah setengah tua bernama Kim Ti.

Melihat seorang pemuda berbaju kembang, berwajah tampan dan tersenyum senyum datang menghadap tanpa memheri hormat, Kim ciangkun menjadi marah! Ia menggebrak meja. “Orang liar dari manakah datang menghadap di sini? ? Apakah kau tidak tahu cara bagaimana memberi hormat kepada pembesar?”

Ciang Le memperlebar senyumnya dan ia lalu menjura sambil berkata. “Aku datang bukan hendak menghadap melainkan hendak bertemu dengan Pak Hong Siansu.”

Terkejut juga Kim Ti dan dua orang perwira pembantunya mendengar bahwa pemuda ini hendak bertemu dengan Pak Hong Siansu. Akan tetapi pemuda ini terang adalah seorang Han, tentu saja mereka menjadi bercuriga dan Kim ciangkun membentak lagi, “Kau ini masih pernah apakah dengan Pak Hong Siansu?”

Ciang Le menggelengkan kepalanya karena ia tidak perlu memperkenalkan diri terhadap pembesar Kim yang sombong ini, “Disebut pernah apa, bertemupun belum pernah. Disebut tidak ada hubungan, sekarang aku datang khusus untuk bertemu dengan dia. Lebih baik lekas minta Pak Ho Siansu keluar menemuiku, atau… apakah dia tidak berada di sini?”

Pembesar she Kim itu marah sekali. “Kau orang Han benar benar kurang ajar sekali. Menghadap di sini kau harus berlutut!” Sambil berkata demikian, Kim Ti memberi tanda dengan tangannya kepada dua orang penjaga yang tadi mengantar Ciang Le masuk agar dua orang itu memaksa Cian Le berlutut. Dua orang itu segera melangkah maju dan sebentar saja kedua pundak Ciang Le dipegang dan ditekan kanan kiri.

“Berlutut kau!” seru penjaga penjaga itu Akan tetapi, ketika mereka menekan pundak pemuda itu, sama sekali pemuda itu tidak bergeming seakan akan mereka menekan sebuah batu karang saja. Bahkan sambil tersenyum, Ciang Le lalu membalikkan tubuh dan kini dia yang memegang belakang leher dua orang penjaga itu sambil berseru, “Kau dua ekor anjing keluarlah!” Entah bagaimana, agaknya Ciang Le tidak mempergunakan tenaganya, namun ternyata dua tubuh penjaga itu terlempar keluar pintu, jatuh bergulingan bagaikan dua ekor anjing ditendang!

Melihat peristiwa ini, Kim ciangkun menjadi makin marah. Akan tetapi ia adalah seorang yang cerdik dan suka berlaku hati hati. Kalau dia bodoh dan ceroboh, tidak nanti ia diangkat untuk menjadi komandan penjaga dari Enghiong Hwekoan. Ia tahu bahwa Pak Hong Siansu adalah seorang sakti yang aneh dan tentu saja mempunyai kawan kawan yang aneh pula di dunia kang ouw. Ia belum tahu apakah pemuda yang berpakaian lucu ini kawan atau lawan, maka tidak pada tempatnya kalau ia berlaku ceroboh. Pula, pemuda ini terang memiliki kepandaian tinggi dan kalau seandainya ia berlaku kasar kemudian ternyata pemuda ini kawan baik Pak Hong Siansu, ia tentu akan mendapat teguran dari Sam Thai Koksu. Oleh karena itu, ia lalu berkata,

“Aha, tidak tahunya kau adalah seorang enghiong muda yang gagah! Ah, kau tentu seorang tamu yang terhormat. Lee ciangkun, ada tamu terhormat datang, mengapa tidak menyuguh sepotong daging dan secawan arak?”

Memang di atas meja di depan pembesar ini masih penuh dengan mangkok mangkok terisi masakan dan cawan cawan arak, tanda bahwa tiga orang perwira tadi tengah makan minum ketika Ciang Le dihadapkan. Mendengar ucapan atasannya ini, Lee Gai mengerti maksudnya, maka ia lalu berdiri dari tempat duduknya dengan muka tersenyum senyum ia menghadapi Ciang Le lalu menjura dan berkata,

“Enghiong yang gagah perkasa memang perlu mendapat penghormatan. Baiklah siauwte memberi hormat dengan sepotong daging empuk !” Ia lalu mengambil sepasang sumpit dari atas meja dan sekali ia menggerakkan sumpitnya, ia telah menyumpit sepotong daging besar, lalu dengan gaya dibuat buat ia meluncurkan daging di ujung sumpit itu ke arah mulut Ciang Le!

Diam diam Ciang Le merasa mendongkol sekali. Kalau ia mengelak atau menolak, tentu dianggap takut, maka terpaksa ia lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ia melihat datangnya sumpit itu cepat dan kuat sekali dan maklum bahwa perwira kecil pendek ini bermaksud buruk terhadapnya, bukan sekedar mencoba kepandaian atau menghormat, akan tetapi sumpit dan daging itu merupakan serangan ke arah mulut yang berbahaya sekali! Namun, dengan tenang Ciang Le membuka mulutnya dan ketika daging berikut sumpit memasuki mulutnya, ia menyambar daging itu dengan giginya lalu miringkan kepalanya sehingga sumpit yang menusuk mulut itu lewat didekat pipinya. Akan tetapi daging itu telah memasuki mulutnya sedangkan sumpit itu sedikitpun tidak melukainya!

Ciang Le tentu saja tidak sudi makan daging itu, maka ia lalu meniupkan mulutnya dan daging itu menyambar ke tembok dan terus amblas masuk ke dalam tembok!

Lee Gai menjadi merah mukanya, akan tetapi kini ia mempunyai alasan untuk menjadi marah. “Kau tidak mau menerima daging suguhanku, sungguh tidak menghormat!” Sepasang sumpit di tangannya kini meluncur lagi dan menusuk ke arah Ciang Le!

Pemuda ini cepat mengelak dan berlaku mengalah. Akan tetapi ternyata orang itu tidak tahu diri dan terus menyerang secara bertubi tubi dan sepasang sumpit itu kini mengancam jalan darah di leher, dada, dan pundak!

Ciang Le mengebutkan lengan bajunya untuk menangkis. Akan tetapi tentu saja ia kewalahan kalau terus menerus diserang tanpa membalas, maka tiba tiba ia mengulur tangan kanannya menyambar sepasang sumpit dari atas meja. Ia menanti sampai sumpit ditangan lawannya menyerang lagi, lalu tiba tiba, bagaikan sepasang ular hidup, sumpitnya menyambut tangan Lee Gai dan tahu tahu sepasang sumpit ditansan Ciang Le menjepit pergelangan tangan Lee Gai!

Kalau dilihat benar benar amat aneh dan sukar dipercaya. Berapakah kuatnya jepitan sepasang sumpit yang dipegang tangan? Apalagi pergelangan tangan Lee Gai yang berbaju perang itu terlindung oleh kulit tebal, akan tetapi begitu pergelangan tangan ini terkena jepitan sumpit Ciang Le, perwira pendek kecil ini tiba tiba menjadi pucat dan ia menjerit kesakitan! Ia merasa betapa jepitan itu mendatangkan rasa sakit yang demikian hebat sampai menusuk ke sumsum dan jantung. Ia mencoba mempertahankankan diri, namun ia tidak kuat dan tanpa terasa lagi ia jatuh berlutut dengan tangan masih terjepit!

“Ciangkun, kau lepaskanlah sumpitmu, baru akupun hendak melepaskan sumpitku!” kata Ciang Le sambil tersenyum. Pemuda ini berdiri dan nampaknya tidak menggunakan tenaga sama sekali sehingga melihat hal ini, Ban Kui yang berdiri disebelah kiri Kim Ti berdiri bengong dan memandang dengan mulut ternganga. Adapun Kim Ti menjadi terkejut dan wajahnya pucat.

Mendengar ucapan Ciang Le, maklumlah Lee Gai bahwa pemuda ini menganggapnya keterlaluan telah mempergunakan sumpit sebagai senjata, maka kini dialah yang harus melepaskan “senjata” lebih dulu. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia merasa jari jari tangan kanannya kaku dan ia tidak dapat melepaskan sumpit yang dipegangnya itu! Ia terkejut bukan main karena sebagai seorang ahli lweekeh (tenaga dalam), ia maklum bahwa pemuda aneh ini sedang mempergunakan lweekang untuk menguasai jalan darahnya! Ia mengerahkan lweekangnya untuk melawan tenaga lawan ini, namun begitu ia mengerahkan lweekangnya, kembali ia menjerit kesakitan karena tubuhnya terasa panas dan sakit sakit. Terpaksa ia merintih rintih.

“Taihiap (pendekar besar), harap kau sudi memaafkan aku yang bodoh dan lancang!”

Ciang Le juga tidak ingin mempermainkan orang lebih lama lagi. Ia melepaskan sumpit itu dan melemparkan sumpit secara sembarangan di atas meja, namun sumpit itu menancap sampai setengah lebih di depan Kim Ti. Sepasang sumpit bambu itu menembus papan, meja yang demikian tebalnya! Ternyata pemuda ini telah memperlihatkan kepandaiannya untuk menundukkan orang orang sombong itu. Akan tetapi ia keliru kalau menganggap bahwa dengan demonstrasi itu ia akan menundukkan mereka, ia tidak tahu bahwa orang orang Kin amat sombong dan mengandalkan kekuatan fihak sendiri. Baru saja Lee Gai diberi kesempatan berdiri, tiba tiba perwira yang curang ini menggerakkan tandannya dan tahu tahu belasan Hui gio ciam (Jarum Perak Terbang) menyambar ke arah tubuh Ciang Le dari belakang! Jarak diantara mereka hanya dua tombak lebih maka tentu saja serangan ini amat berbahaya bagi Ciang Le!

Akan tetapi, dengan tenang seperti gunung akan tetapi cepat laksana angin lalu, Ciang Le membalikkan tubuh sambil mengebutkan lengan bajunya yang lebar dan semua jarum itu tersampok runtuh! Kemudian, tahu tahu tubuhnya berkelebat dan sebelum tiga orang itu tahu bagaimana pemuda ini bergerak, tiba tiba Lee Gai menjadi kaku dan berdiri dengan tangan kanan masih terulur bekas menyambit dan tangan kiri masih menggenggam jarum jarum yang lain! Dia telah terkena totokan yang luar biasa lihainya dari Ciang Le!

Melihat ini Ban Kui segera menubruk maju dan menyerang Ciang Le dengan pukulannya yang dilakukan keras sekali. Kepalan tangan Ban Kui besarnya sama dengan kepala Ciang Le dan kerasnya seperu pelor besi. Tenaganya pun seperti tenaga kerbau, maka kalau sekiranya pukulan yang diarahkan kepada kepala Ciang Le itu mengenai sasaran, agaknya kepala itu akan pecah!

Akan tetapi, apakah yang dilakukan oleh Ciang Le? Pemuda ini tidak mengelak, hanya secepat kilat tangannya menotok dari bawah dan memapaki pukulan tangan lawan ini. Sebelum pukulan itu mengenai kepalanya, pergelangan tangan lawannya telah kena ditotok oleh jari telunjuknya, benar benar menggelikan kalau melihat betapa Ban Kui yang tinggi besar itu tiba tiba merendahkan diri berjongkok sambil mengaduh aduh dan memegangi tangannya. Sebentar saja tangannya membengkak dan sambil mengurut urut tangan kanannya dengan tangan kiri, ia mengaduh aduh terus seperti babi disembelih!

Ciang Le kehilangan kesabarannya. Ia membungkuk memegang kaki meja di depan Kiat Ti dan sekali menggerakkan tangan, ia mengangkat meja besar itu di atas kepalanya dan mengancam hendak menimpakan meja itu kepada Kim Ti sambil membentak. “Manusia sombong! Lekas kaukatakan, di mana adanya Pak Hong Siansu? Kau sebagai kepala penjaga ternyata tidak menghormat tentu yang datang hendak bertemu dengan tuan rumah!”

Kim Ti menjadi pucat dan dengan ketakutan ia berseru. “Tolong...! Tolong ada penjahat!” Akan tetapi suaranya lenyap ketika meja itu benar benar menimpanya, akan tetapi tidak begitu keras karena Ciang Le masih memegang kaki meja, namun cukup keras untuk membuat Kim Ti terpelanting dalam keadaan pingsan. Beberapa orang berlari dari dalam gedung dan ternyata mereka ini adalah Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu, Suma Kwan Eng dan beberapa orang pembesar dan tokoh pemerintah Kin yang membantu Sam Thai Koksu. Pada waktu itu Pak Hong Siansu sedang keluar kota bersama Sam Thai Koksu.

“Siapakah kau ini berani mengacau di sini?” bentak Ba Mau Hoatsu ketika melihat keadaan di situ dan melihat pula Ciang Le yang berdiri dengan muka merah akan tetapi sikapnya tenang sekali.

Ciang Le memandang semua orang itu, lalu menjura dan bertanya. “Di mana adanya Pak Hong Siansu? Aku datang dengan maksud bertemu dengan dia, akan tetapi siapa tahu anjing anjing penjaga ini bahkan menghinaku!”

Giok Seng Cu yang mendengar bahwa pemuda ini hendak bertemu dengan suhunya, lalu melangkah maju dan bertanya, “Siapakah kau dan ada keperluan apakah hendak bertemu dengan suhu?”

Mendengar ini, Ciang Le memandang kepada tosu ini dengan penuh perhatian. Ia tahu bahwa kalau tosu ini murid susioknya, betapapun juga tingkatnya dalam perguruan lebih tinggi, maka ia tidak memberi hormat dan hanya berkata tenang. “Aku datang hendak bertemu dengan orang tua itu untuk memberikan sepucuk surat yang dialamatkan kepadanya.”

“Surat? Dari siapa? Dan siapa kau?” Giok Seng Cu mendesak dan memandang penuh kecurigaan.

“Siapa adanya aku, tak perlu kalian ketahui karena tidak ada sangkut pautnya. Juga dari siapa surat itu tak perlu kusebutkan. Lebih baik biarkan aku bertemu dengan orang tua itu agar segala sesuatu berjalan beres tanpa ada salah pengertian,” jawab Ciang Le. Jawaban yang singkat ini menang terdengar agak sombong, maka tentu saja Giok Seng Cu menjadi marah sekali.

“Orang muda di hadapan Giok Seng Cu murid Pak Hong Siansu kau tidak boleh berlaku sombong. Suhu tidak berada di sini dan kau berikanlah saja surat itu kapadaku. Akan tetapi kalau kau tidak mau mengaku siapa adanya dirimu dan dari siapa surat itu, tentu saja kau tidak boleh pergi dari sini sebelum suhu datang.”

“Ah, jadi Pak Hong Siansu tidak berada di sini? Sayang sekali. Kalau begitu kedatanganku percuma saja. Baik lain kali saja aku kembali.” Tanpa mempedulikan omongan Giok Seng Cu tadi, Ciang Le lalu memutar tubuhnya dan hendak pergi meninggalkan Enghiong Hwekoan.

Bukan main marahnya Giok Seng Cu melihat sikap orang muda ini yang sama sekali tidak memandang mata kepadanya. “Kau tidak boleh pergi dari sini!” bentaknya dan serentak ia melompat maju dengan tangan kiri diulur ke arah pundak Ciang Le. Sekaligus murid Pak Hong Siansu ini menyerang Ciang Le dengan sebuah totokan kearah jalan darah kian goan hiat di pundak kiri!

Serangan ini berbahaya sekali karena dilakukan oleh seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi. Baru angin serangan saja sudah dapat menginsyafkan Ciang Le bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan begitu saja.

“Maaf, kau yang mulai lebih dulu!” serunya dan cepat ia mengelak dengan merendahkan pundak itu, kemudian sambil membalikkan tubuh ia membalas serangan lawan dengan gerak tipu Tan hong lian sim (Burung Hong Membelah Hati). Tangan kanannya dengan jari jari terbuka ditusukkan ke arah dada kiri Giok Seng Cu.

Melihat gerakan ini, terkejutlah Giok Seng Cu. Hanya orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi saja dapat membalas serangannya dengan cara demikian cepat dan juga berbahaya datangnya. Ia cepat manangkis sambil mengerahkan tenaganya dengan maksud membuat lengan tangan lawannya yang masih muda itu patah atau setidaknya sakit. Akan tetapi ia kecele, karena begitu kedua tangan beradu, pemuda itu nampaknya tidak apa apa, sebaliknya dia mencelat mundur dengan tubuh terhuyung!

Giok Seng Cu berlaku hati hati. Kepandaian pemuda ini sudah demikian tinggi tingkatnya, maka ia merasa kuatir kalau kalau salah tangan terhadap orang pandai. “Siapakah kau? Mengakulah, barangkali kita dapat mendamaikan urusan ini,” katanya.

“Giok Seng Cu, percuma saja kau memakai jubah pendeta dan menjadi murid Pak Hong Siansu kalau kau tidak bisa mengendalikan nafsumu yang terdorong kesombongan itu!” Ciang Le mengejek dan kembali ia membalikkan tubuh hendak pergi dari situ. Ba Mau Hoatsu marah dan merasa tersinggung. Cepat ia meloncat menghadapi Ciang Le.

“Nanti dulu, anak muda! Ketahuilah bahwa aku adalah Ba Mau Hoatsu dari Tibet. Kalau kau belum pernah mendengar namaku, itu tidak mengapa. Akan tetapi aku mewakili Sam Thai Koksu dan boleh dibilang pada saat ini aku menjadi tuan rumah. Kau telah datang sebagai tamu, maka sebelum menyambut mu, aku merasa tidak patut sebagai tuan rumah.”

Ciang Le mengangguk angguk dan tersenyum. “Ah, tidak nyana begitu banyak tokoh besar berkumpul di sini. Ba Mau Hoatsu, seperti telah kunyatakan tadi, kedatanganku ini hanya ada urusan dengan Pak Hong Siansu. Karena aku mendengar bahwa Pak Hong Siansu berada di sini, maka aku berada di tempat ini. Sekarang Pak Hong Siansu tidak berada di sini, untuk apa berdiam lebih lama lagi? Aku akan kembali kalau orang tua itu sudah berada di sini.”

Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak. “Anak muda, siapapun juga kau, dan siapapun juga adanya gurumu yang besar, kiranya tidak patut kalau kau bersikap demikian sombong. Sebagai tamu dari rumah di mana aku menjadi wakil tuan rumah, tentu saja kau haru memberitahukan namamu. Kalau tidak bagaimana kelak aku memberi laporan kepada Pak Hong Siansu?”

“Tak perlu memperkenalkan nama kalau Pak Hong Siansu tidak ada di sini.” Ciang Le berkukuh.

“Kalau begitu, terpaksa aku menghalangi kau pergi dari sini!” kata Ba Mau Hoatsu sambil mengeluarkan sepasang senjatanya yang aneh, yaitu sepasang roda (siang lun) terbuat dari pada emas dan perak. Tangan kanannya memegang kim lun (roda emas) dan tangan kiri memegang gin lun (roda perak).

Melihat senjata ini saja, tahulah Ciang Le bahwa dia berhadapan dengan lawan berat yang berilmu tinggi. Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak gentar sedikitpun juga. Dengan sikapnya yang tenang, pandang mata tajam dan bibir tersenyum, Ciang Le menghadapi Ba Mau Hoatsu yang melarangnya pergi meninggalkan Enghiong Hwekoan. Pendeta Tibet yang bertubuh tinggi besar itu berdiri memagang kuda kuda dengan kedua tangan memegang senjatanya siang lun (sepasang roda) yang hebat.

“Hm, BaMau Hoatsu, agaknya dengan cara seperti ini pula kau dapat merampas kedudukan yang tinggi di mana mana.”

“Pemuda sombong jangan banyak cakap, tandingilah senjataku ini kalau kau memang lihai!” kata Ba Mau Hoatsu sambil menggerakkan kedua roda di tangannya. Sepasang roda perak dan emas itu terputar cepat sekali dan menerbitkan angin serta mengeluarkan suara mendesing. Senjata ini memang luar biasa sekali dan lebih lebih lagi di tangan Ba Mau Hoatsu yang telah melatih diri berpuluh tahun, sepasang senjata ini benar benar amat lihai. Dalam penyerangannya. Ba Mo Hoatsu dapat mempergunakan senjata roda ini untuk dilontarkan kepada lawan dan sambil terputar putar, roda ini dapat mengejar lawan dan dapat kembali pula ke tangannya seperti roda roda terbang. Atau dapat juga dipegang untuk dipergunakan sebagai senjata amat kuat.

Ciang Le maklum bahwa menghadapi kim lun dan gin lun ini, tak mungkin bertangan kosong saja. Maka iapun menggerakkan tangan meraba ke balik jubahnya yang berkembang itu dan di lain saat tangan kanannya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning emas.

“Kim kong kiam!” seru Suma Kwan Eng ketua Hui eng pai yang mengenal baik pedang ini. “Dia ada hubungan dengan Thian Te Siang mo!”

“Benarkah kau ada hubungan dengan Sepasang Iblis Kembar itu? Apakah kau muridnya, anak muda?”

Ciang Le tersenyum. “Memang pernah aku menjadi murid Thian Te Siang mo dan pedang ini memang pemberian mereka. Apakah salahnya itu?”

“Bagus! Memang kami sedang mencari iblis kembar itu dan sekarang lebih dulu aku akan menangkap muridnya!” kata Ba Mau Hoatsu dan secepat kilat roda peraknya menyambar ke arah kepala Ciang Le.

Pemuda ini cepat mengelak dan ketika roda emas menyusul menyambar dengan kuat dan cepat ke arah dadanya, ia menangkis dengan Kim kong kiam.

“Traaang...!”

Roda emas itu berputar kembali ke arah pemiliknya sedangkan Ciang Le cepat menggetarkan pedangnya agar tenaga benturan tadi tidak mempengaruhi tangannya. Pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi dan berkat latihan dari Pak Kek Siansu, ia telah dapat mengatur tenaga di dalam tubuhnya dan tidak mengherankan apabila kini ia kuat menghadapi benturan kim lun, bahkan dapat membuat roda emas itu terputar kembali ke arah Ba Mau Hoatsu! Sebaliknya, pendeta Tibet itu kaget bukan main menyaksikan kehebatan tenaga lawan yang masih muda ini. Ia memang maklum akan kelihaian Thian Te Siang mo dan untuk menghadapi Sepasang Iblis Kembar itu ia memang merasa jerih. Akan tetapi apakah untuk menghadapi murid dari iblis kembar itu saja ia harus kalah? Tentu saja ia merasa penasaran sekali dan cepat ia menyerbu lagi sambil menggerakkan kedua rodanya dengan cepat.

“Ha Mau Hoatsu, kau telah menjadi buta karena nafsu marah!” Ciang Le menegur sambil menggerakkan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang pernah ia pelajari dari Thian Te Siang mo. Memang ilmu pedang ini hebat sekali, ditambah pula oleh tenaganya yang besar dan gerakannya yang cepat, maka kini pedang itu berobah menjadi segulung sinar kuning emas yang amat panjang dan yang bergulung gulung seperti seekor sinar kuning!

Adapun sepasang roda di tangan Ba Mau Hoatsu juga tidak kurang hebatnya. Sepasang senjata itu diputar sedemikian rupa sehingga yang nampak hanyalah bundaran sinar kuning dan putih yang menyilaukan mata. Bagi orang orang yang menonton pertempuran ini, benar benar mereka melihat pemandangan yang luar biasa dan indah. Kalau sinar pedang di tangan Ciang Le merupakan seekor naga kuning yang gagah, adalah dua roda itu seakan akan menjadi sepasang mustika yang berkejaran dengan naga itu!

Pertempuran berjalan puluhan jurus, namun tetap saja sepasang roda itu tidak dapat mendesak Ciang Le. Pemuda ini tetap berlaku sabar dan tenang, tidak mau ia mempergunakan Pak kek Sin ciang untuk merobohkan lawan, karena memang ia tidak berniat membunuh atau melukai Ba Mau Hoatsu tanpa alasan. Sebaliknya, Ba Mau Hoatsu menggigit bibirnya dengan hati penasaran dan mendongkol sekali. Tak pernah disangkanya bahwa menghadapi murid dari Thian Te Siang mo saja ia tidak becus mengalahkannya! Kemarahannya memuncak dan ia makin ganas. Sepasang rodanya diputar sedemikian rupa sehingga kini setiap serangannya mengarah nyawa lawan.

Ciang Le merasa betapa lawannya ini benar benar keterlaluan dan tidak mau mengerti bahwa sebetulnya ia telah banyak mengalah. Oleh karena itu ia berseru keras dan tiba tiba pedangnya berubah gerakannya dan ia mulai mempergunakan gerakan dari Pak kek Sinciang! Bukan main kagetnya hati Ba Mau Hoatsu ketika tiba tiba ia merasa sambaran angin yang aneh dan kuat sekali keluar dari sambaran pedang lawan dan tiba tiba roda perak di tangan kirinya telah dapat dimasuki pedang lawan dan sekali gertak, rodanya itu telah terlepas dari pegangannya! Ciang Le menggerakkan pedangnya dan roda itu kini terputar putar oleh pedang.

“Ba Mau Hoatsu, terimalah kembali roda perakmu!”

Pada saat itu, Ba Mau Hoatsu yang menjadi marah sedang melontarkan roda emasnya ke arah kepala Ciang Le dan ketika pemuda ini menggerakkan pedang sehingga roda perak itu meluncur ke arah pemiliknya, maka sepasang roda itu saling bertemu di udara dan mengeluarkan suara nyaring sekali seperti gembreng dipukul. Sepasang roda itu runtuh dan jatuh di atas lantai!

“Bangsat muda, kau benar benar berani mati!” seru Ba Mau Hoatsu yang cepat menggerakkan tubuh menyambar kembali sepasang rodanya dan tanpa mengenal malu pendeta Tibet ini menyerang lagi.

Akan tetapi, pada saat itu, dari pintu depan berkelebat bayangan putih dan tahu tahu tubuh Ba Mau Hoatsu tertarik ke belakang oleh sebuah lengan tangan yang halus dan nampak lemah.

“Ba Mau Hoatsu, tahan dulu!” terdengar suara halus menegur dan ternyata bahwa yang datang itu adalah seorang kakek tua renta berpakaian seperti pendeta, bertubuh bongkok dan berkepala botak. Kakek ini bukan lain adalah Pak Hong Siansu yang baru saja kembali dari perjalanannya. Ba Mau Hoatsu cepat meloncat mundur dan kini Pak Hong Siansu berdiri menghadapi Ciang Le dengan mata penuh selidik.

Adapun Ciang Le ketika melihat kakek bongkok dan botak ini, tahu bahwa tentu inilah Pak Hong Siansu. Ia lalu menyimpan kembali pedangnya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Pak Hong Siansu sambil berkata, “Teecu Go Ciang Le datang menghadap susiok atas perintah suhu.”

Mendengar ini semua orang terkejut. Pemuda ini menyebut susiok kepada Pak Hong Siansu dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda ini adalah murid dari Pak Kek Siansu! Juga Pak Hong Siansu tercengang mendengar ini.

“Hm, suheng masih mempunyai seorang murid baru yang begini muda dan gagah? Ada keperluan apa kau disuruh menghadapku di sini?”

Ciang Le mengeluarkan surat dari suhunya lalu memberikan surat itu kepada Pak Hong Siansu. “Suhu menyuruh teecu menghaturkan surat ini kepada susiok,” katanya penuh hormat.

Pak Hong Siansu suka juga melihat sikap Ciang Le yang amat sopan ini, maka sambil tersenyum ia menerima surat dari suhengnya. Telah belasan tahun ia tidak bertemu dengan suhengnya, juga tidak pernah mendengar berita dari Pak Kek Siansu. Sekarang tiba tiba suhengnya itu menulis surat, ada keperluan apakah?

Begitu membuka surat itu, Pak Hong Siansu tersenyum. Ia mengenal baik tulisan tangan suhengnya, tulisan yang bertenaga akan tetapi yang kelihatan indah dan halus, tulisan seorang ahli surat yang pandai, yang bagaikan lukisan indah sekali. Akan tetapi, setelah ia mulai membaca isi surat, berobahlah wajahnya. Mukanya yang putih bersih dan yang tadinya berseri dengan senyumnya, tiba tiba menjadi merah dan keningnya berkerut kerut. Nyata bahwa ia kelihatan marah sekali. Tiba tiba kakek sakti ini tertawa. Suara ketawanya halus, akan tetapi di dalamnya mengandung getaran yang mempengaruhi semua orang yang berada di situ karena suara ketawa ini mengandung tenaga yang menggetarkan hati orang.

“Aha, suheng benar benar masih sombong dan lancang! Menganggap diri sendiri selalu betul!” Ia lalu melemparkan surat itu ke atas dan biarpun surat itu terbuat dari pada kertas yang ringan, namun ketika dilemparkan ke atas, kertas itu meluncur dan Pak Hong Siansu menyusul dengan gerakan tongkatnya yang merah dan panjang.

“Bret!” ujung tongkat itu menusuk kertas sehingga terobeklah surat itu dan kini berada di ujung tongkat. Kembali kakek itu menggerakkan tongkatnya dan kertas yang sudah bolong dan berada di ujung tongkat kini melayang cepat sekali ke arah Ciang Le. Pemuda ini mengangkat tangan menyambut surat itu dan terkejutlah ia ketika merasa betapa telapak tangannya terasa sakit ketika menerima kertas yang meluncur tadi. Alangkah hebatnya tenaga susioknya yang dapat membuat kertas seringan itu seperti sebuah senjata rahasia yang berat!

“Kembalilah kepada gurumu. Katakan bahwa ia sudah pikun dan selalu bersembunyi di puncak gunung, ia tidak melihat kenyataan di atas dunia ini! Kerajaan Kin adalah kerajaan yang kuat dan jaya, yang akan dapat menjadi pemerintah yang adil di Tiongkok. Mengapa aku tidak membantunya?”

Tanpa banyak cakap lagi, sambil menahan gelora hatinya yang merasa mendongkol sekali, Ciang Le lalu bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu. Ba Mau Hoatsu merasa penasaran melihat betapa Pak Hong Siansu hendak membebaskan begitu saja pemuda yang telah berani menghina Enghiong Hwee.

“Jangan harap bisa pergi dari sini!” serunya dan ia mengejar. Akan tetapi terdengar Pak Hong Siansu mencegah.

“Tahan, Ba Mau Hoatsu! Dia seorang utusan, tak boleh diganggu!”

Ciang Le menoleh dan memandang kepada Ba Mau Hoatsu dengan sikap mengejek, lalu ia menjura ke arah mereka semua dan sekali berkelebat, ia lenyap dari situ!

“Kau tadi terburu nafsu,” kata Pak Hong Siansu kepada Ba Mau Hoatsu, “kulihat kepandaian anak itu tidak berada di sebelah kepandaianmu sendiri. Kalau dilanjutkan pertempuran tadi, kau akan kalah.”

Ba Mau Hoatsu memperlihatkan muka tidak puas. “Belum tentu, Siansu. Betapapun juga, biar ia murid dari Pak Kek Siansu, rasanya tak mungkin aku akan kalah oleh seorang bocah.”

Pak Hong Siansu tertawa. “Kau masih belum melihat kekalahanmu? Ha, coba lihatlah jubahmu di dekat dada.”

Ba Mau Hostsu melirik ke arah jubahnya dan pucatlah mukanya. Ternyata bahwa jubahnya tepat yang melindungi jantung, telah bolong bekas tertusuk pedang! Ternyata bahwa pemuda lawannya tadi telah melobangi jubahnya, yang berarti bahwa pemuda itu masih mengampuninya, karena kalau pedang itu diteruskan tusukannya, tentu nyawanya tak tertolong lagi. Karena itu, ia tidak dapat mengeluarkan suara lagi dan diam diam semua orang memuji kepandaian pemuda tadi yang benar benar lihai sekali.

********************

Demikianlah pengalaman Ciang Le yang kemudian berhasil menolong Lie Bu Tek yang tertawan oleh Giok Seng Cu, karena Ciang Le memang masih berada di Cin an. Sesuai dengan perintah gurunya ketika ia turun dari Luliang.san, melihat sikap Pak Hong Siansu, Ciang Le berdiam dikota ini secara diam diam dan melakukan penyelidikan untuk membantu sepak terjang para orang gagah yang berjuang untuk membebaskan rakyat daripada tindasan pemerintah Kin. Selama ia berdiam dikota ini, ia mengalami banyak hal hebat yang akan di tuturkan kemudian. Sekarang lebih baik kita menengok lebih dulu keadaan Bi Lan yang lama kita tinggalkan.

Bi Lan yang ikut merantau dengan guru gurunya yang baru yaitu Thian Te Siang mo, mempelajari ilmu silat dengan amat tekunnya. Thian Te Siang mo merasa amat gembira melihat kemajuan Bi Lan dan ternyata oleh mereka bahwa Bi Lan murid yang cerdik dan berbakat sekali. Oleh karena itu, kedua orang tua ini lalu menurunkan seluruh kepandaian mereka kepada Bi Lan, bahkan menurunkan pula Ilmu Silat Thian te kun hoat yang paling lihai.

Betapapun juga, Thian Te Siang mo masih merasa penasaran dan kecewa kalau mereka terkenang kepada Ciang Le. Pada suatu hari, Bi Lan bertanya keprda mereka, “Suhu, apakah sebelum menerima teecu sebagai murid, jiwi suhu belum pernah mempunyai seorang murid lain? Apakah teecu tidak mempunyai saudara seperguruan yang menjadi murid jiwi suhu?”

Thian Lo mo menarik napas panjang. “Ada seorang suhengmu (kakak seperguruan). Anak itu semenjak kecil kami didik dan setelah besar dan pandai, ternyata ia menyakitkan hati kami dan menjadi murid orang lain!”

Bi Lan merasa tertarik. “Siapakah dia, suhu? Dan di mana sekarang dia berada?”

“Kalau kelak bertemu dengan dia, kau harus memberi hajaran kepadanya sebagai wakil kami. Kalau perlu, kau boleh bunuh dia!” kata Te Lo mo yang lebih keras wataknya.

“Siapakah namanya, suhu?”

“Namanya Go Ciang Le, dia lebih tua beberapa tahun dari padamu,” jawab Thian Lo mo.

Diam diam Bi Lan terkejut sekali dan kalau saja ia belum mempelajari ilmu batin yang membuat hatinya kuat menahan getaran, tentu ia sudah menjadi pucat dan berobah air mukanya. Ia menahan gelora hatinya dan dengan suara biasa ia bertanya, “Apakah dia bukan putera dari mendiang Go Sik An, pahlawan yang kenamaan itu?”

“Eh, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Te Lo mo.

Bi Lan tersenyum. “Dia adalah cucu dari Tan Seng, tokoh Hoa san pai sedangkan teecu adalah seorang murid Hoa san pai pula, mengapa teecu tidak tahu?”

“Memang benar, dia adalah Go Ciang Le putera dari mendiang Go Sik An.” Kemudian Thian Lo mo lalu menceritakan tentang pertolongan mereka kepada anak itu dan betapa mereka mendidik Ciang Le semenjak kecil.

Dengan hati berdebar Bi Lan mendengarkan pembukaan rahasia ini dan diam diam ia merasa girang luar biasa karena cucu dari Tan Seng yang dianggap sebagai kakeknya sendiri itu ternyata masih hidup dan tanpa disangka sangka ternyata adalah suhengnya sendiri!

“Kepandaiannya tentu hebat, bukan, suhu?” tanyanya kepada Te Lo mo.

Akan tetapi dengan muka sungguh sungguh, Thian Te Siang mo menggelengkan kepala. “Kau akan menang menghadapi dia. Kami sengaja menciptakan Ilmu Silat Thin te kun hoat dan ilmu ini belum kami ajarkan kepadanya. Oleh karena anak itu mengecewakan hati kami, maka sekarang kau harus berjanji untuk memberi hajaran kepadanya kalau kau kelak bertemu dengan dia!”

“Bagaimana kalau teecu kalah!” tanya Bi Lan.

“Tak mungkin, kau takkan kalah? Berjanjilah.”

“Teecu berjanji untuk bertanding dengan dia,” kata Bi Lan sungguh sungguh, bukan terdorong oleh benci dan hendak membalaskan sakit hati kedua gurunya ini, melainkan terdorong oleh keinginan tahunya sampai dimana kepandaian pemuda yang menjadi suhengnya dan juga menjadi cucu dari Tan Seng itu.

Setelah yakin betul kepandaian gadis itu sudah sempurna dan semua ilmu telah mereka turunkan kepada murid ini, Thian Te Siang mo lalu memberi kesempatan kepida Bi Lan untuk memisahkan diri dan melakukan perjalanan seorang diri. Gadis ini menjatuhkan diri berlutut, di depan kedua orang gurunya, menghaturkan terima kasih atas semua pimpinan dan pelajaran yang diterimanya selama itu. Kemudian Bi Lan lalu melakukan perjalanan cepat. Tempat pertama tama yang ditujunya adalah Hoa san, karena ia ingin sekali cepat cepat bertemu dengan Tan Seng kakeknya untuk menceritakan tentang Ciang Le! Juga anak ini tidak mempunyai keluarga lain kecuali Tan Seng yang dianggap sebagai kakeknya sendiri, maka orang pertama yang dirindukan adalah Tan Seng dan saudara saudara seperguruannya seperti Lie Bu Tek, Gan Hok Seng, Thio Ling In dan tokoh tokoh Hoa san pai seperti Liang Gi Cinjin, Liang Tek Sianseng dan Liang Bi Suthai.

Dengan hati ringan dan gembira Bi Lan berlari lari mendaki Bukti Hoa san, tempat di mana ia tinggal semenjak kecil. Betapa hatinya takkan girang? Kepandaiannya telah maju dengan pesat sekali, terbukti dari cara ia mendaki gunung dan meloncati jurang jurang yang menghadang perjalanannya. Ginkangnya telah menjadi berlipat ganda lebih maju daripada dahulu. Dan selain ini, ia akan bertemu dengan orang orang yang dicintanya, membawa berita menggembirakan tentang Ciang Le kepada Tan Seng.

Akan tetapi setelah ia tiba di puncak Bukit Hoa san tiba tiba mukanya menjadi pucat dan dadanya berdebar. Ia berdiri bagaikan patung memandang ke arah tempat di mana dahulu berdiri bangunan yang kini telah menjadi abu dan melihat kayu kayu yang masih hangus itu agaknya baru beberapa hari saja tempat itu dimakan api! Tak seorangpun kelihatan berada di tempat itu. Suasana amat sunyi dan menyeramkan dan Bi Lan merasa seakan akan ada sesuatu yang hebat telah terjadi di tempat itu. Suasananya demikian sunyi dan menyedihkan.

“Apakah yang telah terjadi?” katanya perlahan dan ia lalu berlari lari mengelilingi tempat itu, mencari cari, akan tetapi tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menjelaskan kepadanya tentang arti semua ini.

Bi Lan benar benar menjadi bingung sekali. Kepada siapa harus bertanya? Di sekitar tempat ini tidak ada dusun, hanya di lereng gunung sebelah bawah terdapat dusun dusun kecil. Tidak ada lain jalan baginya, setelah sekali lagi memeriksa tumpukan puing tanpa mendapatkan sesuatu tanda, ia lalu turun dari puncak, menuju ke kelompok dusun yang berada di lereng bukit. Tiba tiba ia melihat bayangan orang berlari di sebelah depan. Bi Lan mempercepat larinya dan sebentar saja ia dapat menyusul orang itu.

“Gan suheng...!” serunya girang

Orang itu terkejut dn berhenti berlari lalu menoleh. Benar saja, dia adalah Gan Hok Seng. Ketika melihat Bi Lan, tiba tiba Gan Hok Seng lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis sedih!

“Suheng, apa… apakah yang telah terjadi…?” tanya Bi Lan dengan hati makin tidak enak.

Akhirnya Gan Hok Seng dapat juga menegangkan hatinya, lalu ia memandang sumoinya dengan mata merah dan muka suram. “Ah, sumoi… banyak macam malapetaka terjadi semenjak kau pergi dibawa oleh Coa ong Sin kai,” kata Hui houw Gan Hok Seng, Si Macan Terbang itu kepada sumoinya sambil menarik napas panjang.

“Malapetaka apakah, suheng? Lekas kauceritakan padaku!” Bi Lan mendesak tak sabar lagi.

“Baru saja tiga hari yang lalu, Hoa san pai diserbu oleh Sam Thai Koksu dan guru guru kita telah ditawan dan tempat kita dibakar habis.”

Bukan main terkejutnya hati Bi Lan mendengar warta ini juga ia merasa marah sekali. “Mengapa …? Apa sebabnya Sam Thai Koksu dari negeri Kin memusuhi guru guru kita?”

“Entahlah, sumoi. Aku kebetulan sekali sedang menuju ke Hoa san ketika aku bertemu dengan mereka di tengah jalan. Tentu saja aku terkejut sekali melihat rombongan Sam Thai Koksu yang membawa empat orang guru kita di tengah tengah mereka sebagai orang orang tahanan. Akan tetapi apakah dayaku menghadapi mereka? Aku cepat lari ke sini untuk melihat keadaan dan ternyata tempat tinggal suhu sekalian telah dibakar habis.”

“Siapa saja yang berada dengan Sam Thai Koksu?” tanya Bi Lan dengan wajah beringas. Dan kemanakah mereka membawa suhu sekalian?”

“Aku melihat Sam Thai Koksu dan seorang tua berkepala botak yang nampakaya lemah akan tetapi yang selalu mereka hormati, kemudian aku melihat pula Bu It Hosiang dari Go bi pai dan mereka ini masih diikuti pula oleh beberapa orang perwira Kerajaan Kin dan diantar oleh pembesar Sung setempat.”

“Hm, kalau begitu tentu orang orang Go bi pai yang menghasut dan sengaja minta bantuan Sam Thai Koksu untuk membalas dendam kepada fihak kita! Dan aku dapat menduga kemana suhu suhu kita dibawa, tentu ke kota Cin an, sarang dari Enghiong Hwee bentukan Sam Thai Koksu! Suheng, dalam perjalananku ke sini, aku telah mendengar bahwa pemerintah Kin telah mengumpulkan orang orang berkepandaian tinggi dengan maksud menggempur semua patriot yang sedang berjuang hendak membebaskan Tiongkok Utara dari cengkeraman pemerintah Kin Sekarang pemerintah Kin telah memperlihatkan kekejaman terhadap Hoa san pai maka kita tidak boleh tinggal diam saja. Aku sendiri akan mengejar ke Cin an, berusaha menolong guru guru kita. Sedangkan kau lebih baik mencari Lie Bu Tek suheng dan Thio Ling In suci untuk diajak bersama sama dengan para hohan, menggempur pemerintah Kin demi nusa dan bangsa kita!”

Akan tetapi, mendengar disebutnya Lie Bu Tek dan Thio Ling In, Hok Seng kelihatan makin sedih. “Kau tidak tahu, sumoi. Diantara Lie suheng dan Thio suci, juga telah terjadi hal yang hebat dan amat menggelisahkan hati.”

“Apa pula terjadi pada mereka?” “Thio suci sudah menikah…”

“Itu baik sekali!” kata Bi Lan girang. “Mengapa hal yang baik itu suheng sebut menggelisahkan hati?”

“Nanti dulu, sumoi, dengar dulu penuturanku. Thio suci bukan menikah kepada Lie suheng sebagaimana yang kita semua duga dan harapkan, melainkan keprda Pangeran Wanyen Kan dari Kerajaan Kin!”

“Apa...??” Bi Lan benar benar tercengang dan tetkejut mendengar berita yang tak pernah disangka sangkanya itu.

“Kau tentu suduh dapat membayangkan betapa hancur hati Lie suheng.” Hok Seng melanjutkan. “Aku sudah bertemu dengan dia dan keadaannya amat menyedihkan. Tidak saja ia parah hati karena cinta kasihnya kepada Thio suci dihancurkan orang, juga ia merasa sengsara hati karena Thio suci justeru memilih suami seorang pangeran Bangsa Kin! Lie suheng di hadapanku bersumpah untuk mencari dan membunuh Pangeran Wanyen Kan itu, bukan hanya disebabkan karena telah merebut Thio Suci, akan tetapi juga ia menganggap pangeran itu sebagai musuh rakyat dan patut dibinasakan. Ah, sumoi, benar benar banyak hal yang menyedihkan telah terjadi dan sekarang dengan tertawannya guru guru kita, apakah yang dapat kita lakukan? Bagaimana kita dapat menghadapi kekuasaan dan pengaruh pemerintah Kin yang dibantu oleh orang orang pandai?”

“Suheng, dalam keadaan seperti sekarang ini, tiada gunanya berkeluh kesah. Paling baik kita berdaya upaya dengan segala tenaga yang ada pada kita. Kau jangan khawatir, tentang guru guru kita, biarlah aku yang akan membebaskan mereka dari tangan Sam Thai Koksu. Adapun kau sendiri, lebih baik kau mengumpulkan kawan kawan dan kalau mungkin juga Lie suheng, untuk menggabungkan diri dengan pasukan pasukau gerilya dan rakyat yang sudah lama bergerak di bawah tanah menghadapi tentara tentara Kin penindas rakyat jelata.”

Mendengar kata kata Bi Lan, terbangun pula semangat Hok Seng dan ia mengangkat dadanya. “Kata katamu benar, sumoi! Kita sebagai murid murid Hoa san pai, harus memperlihatkan kegagahan kita. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri, sumoi? Aku masih belum mendengar tentang pengalamanmu dibawa oleh Coa ong Sin kai dahulu itu. Tentu kau telah mengalami hal yang hebat, sumoi.”

“Gan suheng, sekarang bukan waktunya bagi kita untuk bercakap cakap panjang lebar, oleh karena itu cukup kiranya kauketahui bahwa aku telah menjadi murid Coa ong Sin kai untuk beberapa lama, kemudian akupun menjadi murid dari jiwi suhu Thian Te Siang mo. Nah, biarlah aku segera menyusul Sam Thai Koksu, takut kalau kalau guru guru kita akan menghadapi bahaya!” Setelah berkata demikian sekali berkelebat saja Bi Lan telah lenyap dari hadapan suhengnya!

Gan Hok Seng berdiri bengong saking heran dan kagumnya. “Aduh, sumoi yang dulu juga telah memiliki kepandaian paling lihai diantara anak murid Hoa san pai, sekarang telah memiliki kepandaian yang agaknya tidak di bawah kepandaian guru guru Hoa san pai!” pikirnya dengan hati girang dan kagum. Pengertian bahwa sumoinya memiliki kepandaian yang amat tinggi ini menambah semangatnya dan ia lalu turun dari Hoa san pai mengambil keputusan untuk sementara waktu, membubarkan perusahaan piauw kioknya (ekspedisi) dan membawa kawan kawannya menggabungkan diri dengan para gerilyawan rakyat.

Sebelum kita mengikuti perjalanan Bi Lan dara perkasa itu, baiklah kita menjenguk dulu peristiwa pada tiga hari yang lalu, yang terjadi di puncak Hoa san pai. Setelah mengalami kekalahan dan bersama Lu siang Siucai dirobohkan oleh Coa ong Sin kai di padang pasir, Liang Lek Sianseng yang menjadi girang sekali melihat Bi Lan telah menjadi murid Thian Te Siang mo, lalu cepat-cepat pulang ke Hoa san. Ia disambut oleh saudara saudaranya dan bukan main girang hati mereka, terutama sekali Tan Seng, ketika mendengar bahwa Bi Lan masih selamat, bahkan menjadi murid guru guru yang pandai.

Akan tetapi, di samping kegirangan ini, mereka juga merasa gelisah dan marah mendengar bahwa pemerintah Kin dibantu oleh orang orang yang sakti dan bahkan Ba Mau Hoatsu dan Pak Hong Siansu dari Tibet juga diundang oleh pemerintah Kin untuk membantu.

“Kita tidak boleh tinggal diam saja,” kata Tan Seng, “Sudah terang pemerintah Kin memeras rakyat menghisap habis kekayaan bumi kita dan sekarang mereka bahkan hendak membasmi para patriot kita. Bagaimana kita bisa tinggal diam saja! Kita harus kumpulkan kawan kawan sehaluan dan membantu pergerakan para gerilyawan, mengusir penjajah itu dari tanah air kita!”

Saudara saudaranya, baik yang berwatak sabar dan tenang seperti Lang Gi Cinjin maupun yang berwatak keras seperti Liang Bi Suthai, ketika mendengar kata kata ini serentak terbangun semangatnya dan mereka seakan akan kembali menjadi muda lagi dan perasaan cinta tanah air timbul di dalam dada masing masing.

Akan tetapi, sebelum empat orang tokoh Hoa san pai ini meninggalkan gunung untuk ikut berjuang melawan penjajah Kin yang menindas rakyat dan bangsa mereka, dari bawah gunung naik serombongan orang yang sama sekali tak pernah mereka sangka akan datang di tempat itu. Rombongan ini bukan lain adalah Pak Hong Siansu yang datang bersama Sam Thai Koksu, Bu It Hosiang dan lain lain perwira Kin sebagaimana telah diceritakan oleh Gan Hok Seng kepada Bi Lan karena pemuda murid Hoa san pai ini melihat mereka di tengah jalan.

Semenjak Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo mengacau pertemuan di taman kota Cin an, Bu It Hosiang menjadi makin sakit hati terhadap Hoa san pai. Ia diam diam mengadakan persekutuan dengan Sam Thai Koksu dan menjanjikan tenaganya dan tenaga semua kawan kawannya di Go bi san untuk membantu pemerintah Kin apabila Sam Thai Koksu suka pula membantunya untuk membalaskan sakit hatinya terhadap Hoa san pai! Oleh karena itulah, maka pada hari itu Bu It Hosiang dengan bantuan Sam Thai Koksu, bahkan dengan bantuan Pak Hong Siansu naik ke Hoa san pai dengan maksud hendak membalas dendamnya!

Dapat dibayangkan betapa heran dan juga kagetnya empat orang tokoh Hoa san pai itu ketika melihat siapa adanya rombongan orang yang naik ke Hoa san! Akan tetapi dengan tenang dan sama sekali tidak merasa jerih, mereka keluar menyambut. Liang Gi Cinjin mengenal baik siapa adanya Sam Thai Koksu, akan tetapi ia tidak mengenal kakek botak yang kelihatannya lemah itu. Ia lalu memimpin adik adiknya menyambut mereka dan menjura kepada Sam Thai Koksu tanpa memperdulikan Bu It Hosiang.

“Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa Hoa san yang buruk mendapat kunjungan Sam Thai Koksu dari Negeri Kin,” kata Liang Gi Cinjin. “Tidak tahu ada kepentingan yang manakah sehingga Sam wi sampai memerlukan datang ke sini?”

Sebelum Sam Thai Koksu menjawab, Bu It Hosiang dengan sikap galak karena merasa mendapat bantuan orang orang pandai, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya sambil berkata, “Kalian ini orang orang Hoa san pai benar benar jahat! Beberapa kali anak muridmu mengacau, bahkan mengandalkan bantuan orang orang jahat seperti Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo untuk mencelakakan orang lain. Sungguh tidak memandang mata kepada orang orang gagah sedunia. Kami orang orang dari Go bi pai sudah seringkali menerima hinaanmu maka sekarang kami datang, kamu masih bertanya lagi ada kepentingan apa? Sungguh tidak kenal malu, hendak menutupi kesahihan dengan omongan manis!”

Tentu saja tokoh tokoh Hoa san pai menjadi marah mendengar omongan ini, kalau Liang Gi Cinjin masih dapat bersikap sabar, adalah Liang Bi Suthai yang terkenal berwatak keras, menudingkan jarinya ke muka hwesio dari Go bi pai itu sambil membentak.

“Bangsat gundul! Kau yang berwatak sombong dan mencari perkara, sekarang kau datang hendak mengoceh tidak karuan! Hm, agaknya kau datang untuk membalas kekalahanmu, akan tetapi kini kau mengandalkan bantuan bantuan orang gagah dan dengan lidahmu yang beracun itu kau agaknya berhasil pula menggerakkan hati orang orang seperti Sam Thai Koksu ini untuk menyerbu kami!”

Mendengar ini, Sam Thai Koksu menjadi merah mukanya. Kim Liong Hoat ong lalu berkata dengan suara keren, “Liang Bi Suthai, harap kau jangan bicara sembarangan saja! Kami bukan sekali kali datang hanya karena hendak membantu Bu It Losuhu. Ketahuilah bahwa seorang anak muridmu yang bernama Bi Lan pernah mengacau di kota Cin an dan mengandalkan bantuan Coa ong Sin kai, dia telah mendatangkan banyak kerusakan dan kematian. Oleh karena ini, kami anggap semua itu adalah tanggung jawab kalian dan sekarang, harap kalian berempat menurut saja kami bawa ke Cin an sebagai tawanan. Kami tahu bahwa kalian berempat bermaksud memberontak kepada pemerintah kami terbukti dari perbuatan anak murid mu itu...!”

Pendekar Budiman jilid 09

Pendekar Budiman Jilid 09

KALAU saja Luliang Siucai bukan seorang yang berbatin tinggi dan amat penyabar, tentu ia sudah menjadi marah dan merobohkan lawannya ini dengan pukulan maut. Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak mau membunuh orang, dan ia berlaku amat hati hati, dengan maksud merobohkan Coa ong Sin kai tanpa membahayakan nyawanya. Akan tetapi hal ini bukanlah mudah, karena kepandaian Coa ong Sin kai sudah terlalu tinggi untuk dapat dirobohkan dengan mudah begitu saja.

Ketika Coa ong Sin kai membalas serangan Luliang Siucai dengan sebuah tusukan yang berbahaya sekali ke arah lambung tokoh Luliang san ini, tiba tiba Luliang Siucai berderu keras dan tahu tahu ujung tongkat bambu itu terjepit oleh sampul kitab di tangan kirinya. Jepitan ini demikian kuatnya sehingga Coa ong Sin kai tak berdaya untuk mencabutnya kembali!

“Coa ong Sin kai, kau menyerahlah!” seru Luliang Siucai.

Akan tetapi Coa ong Sin kai mengerahkan tenaganya untuk mencabut kembali tongkatnya yang terjepit oleh sampul kitab sehingga dua orang kakek lihai ini saling betot dan keadaan menjadi tegang. Tentu saja kalau Luliang Siucai mau, ia dapat menggerakkan tangan kanannya dan dapat menyerang lawannya dengan pit bulunya yang lihai. Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak mau berlaku demikian. Pada saat itu, tiga bayangan orang sudah tiba di situ dan terdengar bentakan halus.

“Luliang Siucai, jangan menghina orang dengan kepandaianmu yang tidak seberapa itu!”

Ucapan ini dibarengi dengan menyambarnya sehelai sinar putih yang ternyata adalah seikat mutiara putih yang dibuat seperti tasbeh. Ketika tasbeh mutiara ini menyentuh tongkat dan sampul kitab, baik Coa ong Sin kai maupun Luliang Siucai merasa tubuh mereka gemetar dan dengan kaget sekali mereka melompat mundur. Cepat mereka memandang kepada tiga orang yang baru datang itu.

Orang yang tadi menegur dan menggerakkan tasbeh secara hebat dan luar biasa sekali adalah seorang kakek tua sekali dengan tubuh bengkok sehingga kelihatan pendek, berkepala botak dan kulit mukanya putih sekali. Sepasang matanya lebar, pakaiannya seperti seorang pertapaan, tangan kirinya memegang sebatang tongkat panjang berwarna merah dan tangan kanannya memegang seuntai tasbeh terbuat dari pada batu mutiara putih yang mengeluarkan cahaya gemilang.

Orang ke dua adalah seorang pendeta tinggi besar bermuka hitam dan nampaknya sombong sekali. Adapun orang ke tiga adalah seorang yang usianya kurang lebih limapuluh tahun, berpakaian seperti seprang tosu, sepasang matanya nampak cerdik dan juga kejam.

Siapakah mereka ini? Mereka bukan orang orang sembarangan, karena orang pertama yang memegang tasbeh bukan lain adalah Pak Hong Siansu, orang yang paling lihai dan amat berkuasa di Tibet. Ilmu kepandaian Pak Hong Siansu sukar diukur sampai di mana tingginya, dan dari gerakan tasbehnya tadi saja sudah dapat dilihat bahwa kepandaiannya beberapa kali lipat lebih pandai dari pada Luliang Siucai atau Coa ong Sin kai!

Orang ke dua itu adalah Ba Mau Hoatsu, juga seorang tokoh Tibet dan sebagaimana para pembaca sudah mengenalnya, Ba Mau Hiatsu ini adalah guru dari Pangeran Wanyen Kan. Adapun orang ke tiga itu adalah Giok Seng Cu, murid dari Pak Hong Siansu, seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi pula dan sudah banyak merantau ke dunia barat.

Ketika Luliang Siucai melihat orang orang yang datang ini, ia terkejut sekali dan cepat cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan Pak Hong Siansu sambil berkata, “Susiok, mohon maaf sebanyaknya bahwa teecu tidak tahu akan kedatangan susiok sehingga terlambat memberi hormat.”

Sementara itu, Coa ong Sin kai yang tahu bahwa orang orang yang datang itu adalah orang orang lihai, ia lalu tertawa tawa dan pergi meninggalkan tempat itu sambil berkata, “Banyak benar orang orang lihai di dunia ini...! Hebat, aku mesti melatih diri baik baik!”

Ba Mau Hoatsu yang tadinya melihat Coa ong Sin kai dan hendak memberi hajaran kepada orang aneh yang pernah mengacau dan menghina Sam Thai Koksu ketika diadakan pertemuan orang orang gagah, terpaksa menunda niatnya dan tidak mengganggu kepergian Coa ong Sin kai karena melihat betapa orang berpakaian sasterawan yang kepandaiannya tinggi dan bertempur dengan Coa ong Sin kai tadi kini berlutut di depan Pak Hong Siansu. Ia pernah mendengar tentang suheng (kakak seperguruan) dari Pak Hong Siansu, yaitu yang bernama Pak Kek Siansu, dan mendengar pula bahwa Pak Kek Siansu mempunyai tiga orang murid yang lihai. Ketika mendengar disebutnya nama Luliang Siucai oleh Pok Hong Siansu tadi, tahulah Ba Mau Hoatsu bahwa yang mengalahkan Coa ong Sin kai tadi adalah seorang murid dari Pak Kek Siansu.

Memang benar, Pak Hong Siansu adalah sute (adik seperguruan) dari Pak Kek Siansu, maka tidak mengherankan apabila kepandaiannya amat tinggi. Kedua orang sakti ini telah berpuluh tahun bertapa di kutub utara dan keduanya memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya. Akan tetapi Pak Hong Siansu memiliki cita cita sehingga akhirnya ia menjadi seorang yang paling tinggi di Tibet, didewa dewakan oleh para Lama sehingga hidupnya sama dengan seorang raja! Sebaliknya, Pak Kek Siansu menyembunyikan diri di puncak Bukit Luliang san, bertapa dan tidak mencampuri urusan duniawi.

Pak Hong Siansu sendiri sebetulnya juga sudah malas untuk berurusan dengan orang lain, karena hidupnya sudah aman, tenteram, dan makmur di Tibet. Akan tetapi, Ba Mau Hoatsu adalah seorang sahabat baiknya, seorang tokoh Tibet pula yang berkedudukan tinggi dan yang telah banyak berjasa membantunya memperoleh kedudukan yang paling mulia di Tibet, maka ketika Ba Mau Hoatsu datang minta bantuannya menolong negara Kin menghadapi orang orang seperti Thian Te Siang mo, ia memenuhi juga. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Thian Te Siang mo memiliki kepandaian tinggi sekali dan oleh Ba Mau Hoatsu dikabarkan sebagai Sepasang Iblis Kembar yang sombong dan menjagoi daratan Tiongkok.

Memang, berbeda dengan Pak Kek Siansu, Pak Hong Siansu ini adatnya keras dan tidak mau kalah oleh siapapun juga dalam hal kepandaian ilmu silat. Maka ia lalu menyanggupi Ba Mau Hoatsu untuk turun dari Tibet, ikut ke negara Kin dan berjanji hendak mengalahkan Thian Te Siang mo. Tentu saja Ba Mau Hoatsu merasa girang sekali. Ba Mau Hoatsu tidak takut kepada siapapun juga dan yang membuat ia jerih hanya menghadapi Thian Te Siang mo.

Maka dengan adanya Pak Hong Siansu yang membantu, apalagi di situ ada pula murid dari Pak Hong Siansu, yaitu Giok Seng Cu yang kepandaiannya juga setingkat dengan Ba Mau Hoatsu. tentu saja Ba Mau Hoatsu berbesar hati sekali. Dari Tibet, tiga orang tua yang lihai ini melakukan penjalanan berkuda ke Cining, sebuah kota di sebelah selatan dari Mongolia dalam karena Pak Hong Siansu hendak mengunjungi seorang sahabatnya. Kemudian, dari Cining mereka ke selatan dengan berjalan kaki melintasi padang pasir karena Pak Hong Siansu tidak suka naik unta.

Demikianlah, secara kebetulan sekali rombongan dari tiga orang ini bertemu dengan Luliang Siucai yang tengah bertanding silat dengan Coa ong Sin kai dan berkat campur tangan Pak Hong Sian su, maka selamatlah Coa ong Sin kai yang berhku cerdik dan segera pergi dari situ. Biarpun Pak Hong Siansu tidak tahu siapa orangnya yang bertempur melawan Luliang Siucai, namun melihat murid keponakannya itu mendesak seorang pengemis tua yang sudah kewalahan, tanpa banyak pikir lagi ia turun tangan dan menegur, “Luliang Siucai,” kata Pak Hong Siansu melihat murid keponakannya itu berlutut di depannya, “agaknya biarpun suheng telah lama tidak muncul, namun dia masih mengumbar nafsunya melalui murid muridnya. Ini namanya turun tangan secara tidak langsung!”

Luliang Siucai adalah seorang yang amat tenang dan sabar, akan tetapi ada pantangannya, yaitu kalau suhunya dicela orang lain, akan naik darah nya. Kini mendengar Pak Hong Siansu mengucapkan tuduhan yang sifatnya menyinggung dan sedikit menghina suhunya, ia menjawab tak senang, “Susiok, pertempuran teecu menghadapi Coa ong Sin kai tadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan Siansu yang bertapa di puncak Gunung Luliang san. Suhu benar benar telah mencuci tangan dan segala tanggung jawab dalam sepak terjang teecu adalah tanggung jawab teecu sendiri!”

Mendengar jawaban ini, tahulah Pak Hong Siansu bahwa murid keponakannya ini marah, maka ia tertawa sambil berkata lagi, “Aha, Luliang Siucai, kau agaknya sudah mendapat banyak kemajuan sehingga berani mengeluarkan kata kita di depanku. Sebagai paman gurumu, aku hendak bertanya, mengapakah kau tadi mendesak dan menyerang pengemis tua itu? Apa alasanmu?”

Luliang Siucai menunjuk ke arah Liang Tek Sianseng yang masih duduk bersila di atas pasir tanpa bergerak, “Teecu bertempur untuk membela sahabat teecu itu.”

“Siapakah dia?”

“Dia adalah Liang Tek Sianseng dari Hoa san pai. Karena muridnya diculik oleh Coa ong Sin kai, maka dia minta tolong kepada teecu untuk membujuk Coa ong Sin kai, agar suka mengembalikan murid perempuannya, akan tetapi siapa kira, Coa ong Sin kai bahkan menyerang dan melukainya. Ketika teecu menegur dan minta supaya pengemis ular itu mengembalikan murid Hoa san pai, Coa ong Sin kai bahkan menentang teecu. Oleh karena itulah maka teecu sampai bertempur dengan dia.”

Tiba tiba terdengar Bu Mau Hoatsu tertawa bergelak, “Ha ha ha, benar orang orang Hoa san pai selalu menimbulkan keributan belaka di mana saja mereka berada! Sam Thai Koksu dari negeri Kin ketika mengadakan perayaan di Cin an, juga terjadi keributan yang ditimbulkan oleh orang orang Hoa san pai! Sangat meragukan apakah orang orang Hoa san pai ini benar benar orang orang yang baik dan patut dibela!”

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Pak Hong Siansu mengerutkan keningnya sehingga matanya yang lebar itu nampak makin bundar. “Luliang Siucai, apakah kau sudah tahu betul mengapa murid perempuan Hoa san pai itu diculik? Apakah kau sudah yakin betul mana yang benar dan mana yang salah dalam persoalan antara Coa ong Sin kai dan orang orang Hoa san pai?” tanya kakek sakti itu.

Luliang Siucai menggeleng kepalanya. “Teecu tidak mengetahui sedalam dalamnya tentang urusan itu. Yang teecu ketahui bahwa Liang Tek Sianseng dari Hoa san pai adalah seorang sahabat teecu yang baik dan boleh dipercaya kemuliaan hatinya, sedangkan Coa ong Sin kai, siapakah yang tidak mengenal kebusukan hatinya?”

“Kau berat sebelah!” Pak Hong Siansu membentak marah. “Tidak boleh mendasarkan benar tidaknya seseorang dalam satu urusan atas watak mereka! Bulan tidak selamanya bundar dan matahari tidak selamanya terang! Orang pintar sekali kali melakukan kebodohan dan orang bodoh sekali waktu akan melakukan kebenaran. Kau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga tidak memandang kepada orang lain. Sekarang hendak kulihat sampai di mana sih kepandaanmu sehingga kau berani bertindak demikian sembrono dan sombong? Giok Seng Cu, coba kaulayani Luliang Siucai ini beberapa jurus untuk mengukur kepandaiannya!”

Dengan sikapnya yang tenang dan gerakan kakinya yang kuat, Giok Seng Cu melangkah maju menghadapi Luliang Siucai yang juga sudah bangun sendiri.

“Luliang Siucai, beranikah kau melawan pinto (aku)?” tanya Giok Seng Cu kepada Luliang Siucai yang memandang dengan penuh perhatian. Tokoh Luliang san ini belum pernah melihat tosu yang menjadi murid susioknya itu. Memang Giok Seng Cu bukan murid semenjak kecil. Dia adalah seorang tosu perantau yang tadinya memang telah memiliki kepandaian tinggi. Pada suatu waktu, ia bentrok dengan Pak Hong Siansu dan setelah kena dikalahkan, dia mengaku guru kepada Pak Hong Siansu yang suka menerimanya sebagai murid karena memang Giok Seng Cu berbakat baik sekali. Semenjak menjadi murid Pak Hong Siansu, kepandaian Giok Seng Cu meningkat cepat sekali.

“Giok Seng Cu, sebetulnya menurut tingkat perguruan kita. kau masih terhitung saudara muda atau masih menjadi suteku. Kalau susiok hendak memberi pengajaran kepadaku, tentu aku tidak berani melawan. Akan tetapi kalau kau yang hendak mencoba kepandaianmu kepadaku, silahkan!”

Giok Seng Cu meraba pinggangnya di mana ia memakai senjatanya sebagai sabuk, yaitu sehelai rantai perak, lalu berkata, “Luliang Siucai, apakah kau menghendaki di pergunakannya senjata dalam permainan ini?”

“Giok Seng Cu, kita masih saudara seperguruan. Mengapa harus bersikap seperti dua orang musuh? Mari kita main main dengan tangan kosong saja.”

“Baik, sambutlah seranganku.”

“Hati hatilah, Giok Seng Cu!”

Giok Seng Cu mulai dengan serangannya. Ia mengirim pukulan dengan tangan kiri dimiringkan dan jari jari tangannya diluruskan. Pukulan ini mendatangkan sambaran angin dan mengarah leher Luliang Siucai. Dari gerakan pertama ini saja Luliang Siucai maklum bahwa ilmu silat dari lawannya amat lihai serta tenaga dalamnya juga luar biasa. Ia berlaku tenang akan tetapi cepat. Dengan gerakan halus Luliang Siucai mengelak ke kiri lalu membalas serangan Giok Seng Cu dengan totokan ke arah dada. Giok Seng Cu menarik kembali jangan kirinya dan dari samping, tangan kanannya menyampok pukulan lawan. Dua tangan beradu dan keduanya merasa bahwa tenaga lawan sebanding kuatnya.

Setelah bertempur lima puluh jurus, tahulah Luliang Siucai bahwa kepandaian tosu ini hanya sedikit saja di bawah tingkatnya dan agaknya tak mungkin ia akan dapat menang tanpa menggunakan serangan yang dapat melukai Giok Seng Cu. Sedangkan ia tidak mau melukai murid susioknya ini, karena ia tahu akan kekerasan hati susioknya. Kalau ia merobohkan Giok Seng Cu sehingga luka berat, tentu susioknya akan merasa tersinggung hatinya.

Setelah berpikir masak masak, ia lalu berobah gerakannya dan kini ia mainkan ilmu Silat Pak kek Sin ciang! Ilmu sitat ini hanya sedikit saja ia pelajari dari Pak Kek Siansu, karena ia terpaksa harus menyerah dan tidak sanggup melanjutkan pelajaran ilmu silat yang aneh dan amat berat syarat syaratnya itu. Namun, biarpun ia baru mempelajari sedikit saja, ketika ia menggerakkan kaki tangannya menurutkan ilmu silat ini, Giok eng Cu mengeluarkan suara tertahan saking kaget dan bingungnya dan pada suatu saat, Luliang Siucai berhasil menangkap kedua pergelangan tangannya!

Pak Hong Siansu juga terkejut melihat gerakan Luliang Siucai itu, dan tanpa terasa pula ia mengepal tinjunya dan berkata perlahan, “Hm, inikah ilmu silat yang baru dari suheng!”

Luliang Siucai merasa tidak enak, maka katanya, “Sute Giok Sengcu, sudahlah. Cukup kiranya main main ini!”

Ia mengharapkan dari mulut Giok Seng Cu untuk mengakui kekalahannya, akan tetapi siapa kira Giok Seng Cu masih merasa penasaran dan tosu ini mengerahkan tenaga lweekang dan diam diam melalui pergelangan tangan yang terpegang ia menyalurkan tenaga untuk melukai Luliang Siucai yang memegangnya. Tentu saja Luliang Siucai menjadi terkejut ketiga merasa betapa telapak tangannya yang memegangi pergelangan tangan lawan itu menjadi panas. Ia cepat mengerahkan tenaganya dan pegangannya makin mengeras. Ia menjadi bingung. Kalau diteruskan, urat nadi Giok Seng Cu akan menjadi putus, dan kalau ia lepaskan, benar sekali bahayanya ia akan menerima serangan yang tiba tiba dari lawannya yang tidak mau mengaku kalah itu.

“Giok Seng Cu, apakah kau sudah gila? lepaskan perlawananmu dan mari kita sudahi pertempuran gila ini!”

Namun Giok Seng Cu sebagai jawaban malah makin memperhebat tenaganya sehingga terpaksa Luliang Siucai juga memperhebat tenaga gencetannya. Untuk menjaga diri. terpaksa Luliang Siucai tidak mau melepaskan tangan lawannya yang tak tahu diri itu. Muka Giok Seng Cu sudah mulai berpeluh dan nyata sekali tosu ini menahan kesakitan. Pegangan kedua tangan Luliang Siucai bukan sembarang pegangan, karena yang dipegang adalah tepat jalan darah bagian urat nadi!

Pada saat itu, terdengar Pak Hong Siansu berkata perlahan, “Hm, Giok Seng Cu ternyata kau masih belum mendapat kemajuan!” Setelah berkata demikian, kakek sakti ini melangkah maju dan berdiri di belakang muridnya, kemudian dengan tangan kirinya ia menepuk perlahan ke arah punggung muridnya itu.

Tepukan itu perlahan saja, akan tetapi akibatnya hebat bagi Luliang Siucai. Ternyata bahwa kakek sakti ini sambil menepuk telah, menyalurkan tenaganya yang luar biasa sehingga tenaga ini membantu kekuatan muridnya dan seketika itu juga, Luliang Siucai merasa betapa kedua telapak tangannya seperti ditusuk jarum. Sambil menjerit “celaka!” ia melepaskan pegangannya dan melompat mundur, akan tetapi ia terhuyung huyung lalu roboh dengan mulut menyemburkan darah. Ternyata bahwa dia telah menderita luka hebat di sebelah dalam tubuhnya!

Melihat ini, Pak Hong Siansu merasa tidak enak hati juga, karena biarpun tidak terlihat secara menyolok mata sesungguhnya ia telah berlaku curang, diam diam membantu muridnya dan merobohkan Luliang Siucai. Maka ia lalu berkata, “Sudahlah, mari kita pergi dari sini!”

Sebentar saja, Pak Hong Siansu, Giok Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu telah pergi dari tempat itu meninggalkan Luliang Siucai dan Liang Tek Sianseng yang terluka parah. Dua orang sasterawan gagah ini tak berdaya dan luka yang diderita oleh Luliang Siucai bahkan lebih parah daripada Liang Tek Sianseng. Keduanya duduk di atas pasir, bersila untuk mengerahkan tenaga menolak daya luka di dalam tubuh yang dapat merenggut nyawa. Melanjutkan perjalanan bagi keduanya tak mungkin. Kalau mereka memaksa diri melakukan perjalanan di terik panas matahari di atas padang pasir itu, tentu sebentar saja mereka akan kehabisan tenaga dan akan roboh binasa. Akan tetapi, sebaliknya sukar pula memulihkan tenaga mereka untuk mengatasi luka di bagian dalam yang parah itu. Nasib mereka agaknya sudah dapat ditentukan, yaitu mati di padang pasir yang luas dan panas!

“Aku merasa menyesal sekali telah membawamu sehingga kau menderita luka hebat,” kata Liang Tek Sianseng dengan suara lemah kepada Luliang Siucai.

Tokoh Luliang san itu tersenyum. “Mengapa menyesal? Mati atau hidup hanya sebutan saja, siapakah yang dapat menguasai hidup dan mati? Yang penting bagi kita, tiada ruginya harus mati dalam membela kebenaran! Pula, kalau kita mati bersama di tempat ini, bukankah kita akan berangkat bersama pula dan tidak akan merasa kesepian?”

Diam diam Liang Tek Sianseng merasa kagum atas sikap kawannya ini, yang dalam menghadapi maut masih bersikap gembira dan tenang. Ucapan tokoh Luliang san ini membesarkan hatinya dan melenyapkan kekecewaan dan penyesalannya. Memang ucapan Luliang Siucai itu benar belaka. Manusia yang manakah di dunia ini dapat menguasai mati. Dilihat begitu saja agaknya sudah tiada harapan lagi bagi mereka untuk menghindarkan diri dari bahaya maut. Siapa yang dapat menolong mereka di padang pasir yang sunyi itu? Akan tetapi, kalau Thian menghendaki, ada saja jalan bagi mereka untuk dapat hidup terus.

Secara kebetulan sekali, pada saat itu, dari jurusan timur datang tiga orang yang tepat menuju ke tempat itu. Bagaikan dituntun oleh tangan Thian Yang Kuasa, tiga orang itu kebetulan sekali mengambil jalan di tempat itu sehingga mereka dapat melihat dua orang kakek yang sedang duduk meramkan mata dan tidak bergerak sedikitpun juga.

“Susiok...!” seorang diantara ketiga orang ini berseru kaget ketika ia melihat Tiang Tek Sianseng. Tokoh Hoa san pai ini mengenal suara orang yang menegurnya, maka cepat ia membuka matanya dan alangkah girang dan herannya melihat orang yang baru datang ini.

“Bi Lan! Kau…? Di sini…??” Setelah berkata demikian, saking menahan gelora hatinya yang memang sudah lemah karena dikerahkan untuk menahan lukanya. Liang Tek Sianseng roboh pingsan di atas pasir!

Memang, orang ke tiga ini adalah Liang Bi Lan anak murid Hoa san pai yang tadinya diculik oleh Coa ong Sin kai dan kemudian menjadi murid Thian Te Siang mo. Adapun dua orang yang datang bersama dia itupun bukan lain adalah Thian Te Siang mo gurunya. Sepasang Iblis Kembar ini setelah mendapatkan murid baru yang cerdik dan rajin ini, segera membawa Bi Lan merantau sambil tiada hentinya menggembleng nona itu dengan ilmu silat mereka yang baru diciptakan, yaitu Thian Te Kun hwat (Ilmu Silat Langit dan Bumi) Dan di dalam perantauan mereka ini, Bi Lan banyak sekali mendapat kemajuan dan pengalaman. Ia dapat mempelajari Thian Te Kun hwat dengan amat baiknya dan beberapa kali ia oleh guru gurunya dicoba menghadapi tokoh tokoh persilatan dan selalu mendapat kemenangan. Oleh karena ini, Bi Lan banyak bertemu dengan tokoh tokoh kang ouw dan namanya sebagai murid Thian Te Siang mo dan juga sebagai Sian li Eng cu (Bayangan Bidadari) cukup terkenal.

Bi Lan demikian maju kepandaiannya sehingga ia bahkan telah mempelajari pula Ilmu Ciang siang ci hoat (Ilmu Mengobati Luka Pukulan Tangan) dari kedua gurunya. Oleh Karena itu, ketika melihat bahwa yang berada di padang pasir dan sedang terluka hebat adalah susioknya sendiri dari Hoa san, Bi Lan cepat cepat maju mendekati dan diam diam ia lalu mengumpulkan seluruh perhatian dan mengerahkan tenaga lweekangnya. Kedua telunjuknya kanan kiri telah siap sedia untuk melakukan Ciang siang ci hoat setelah ia melihat bahwa susioknya ini terluka di dalam tubuh oleh pukulan tangan lawan yang ampuh. Akan tetapi sebelum gadis perkasa ini menggerakkan tangannya, tiba tiba Thian Lo mo membentaknya,

“Bi Lan, jangan gunakan Ciang siang ci hoat!” Karena maklum bahwa gurunya amat aneh dan keras wataknya, Bi Lan menunda niatnya dan berpaling kepada suhunya.

“Suhu, ini adalah susiokku sendiri, Liang Tek Sianseng dari Hoa san pai. Dia terluka hebat, bagaimana teecu tidak akan menolongnya?”

Kini Te Lo mo yang mencelanya, “Anak bodoh! Kami bersusah payah melatihmu dan kau sendiri telah melatih Ciang siang ci hoat selama beberapa bulan dengan tekun. Apakah kau hendak melenyapkannya begitu saja dan bahkan membahayakan dirimu sendiri?”

“Suhu, untuk menolong orang, apalagi susiok sendiri, teecu rela kehilangan tenaga.”

“Bodoh!” Sepasang Iblis Kembar itu mencela marah.

Memang, penggunaan Ciang siang ci hoat atau ilmu pengobatan luka bekas pukulan tangan yang diajarkan oleh Thian Te Siang mo, berdasarkan kepandaian ilmu dalam yang amat tinggi tingkatnya. Ilmu ini sebetulnya merupakan latihan untuk memperkuat keadaan di dalam tubuh sendiri, akan tetapi kalau dipergunakan untuk mengobati orang lain yang menderita luka parah karena pukulan yang lihai dari lawan, maka akibatnya akan berbahaya sekali bagi si penolong. Ciang siang ci hoat dipergunakan dengan pengerahan tenaga lweekang dan pengerahan seluruh perhatian sambil menahan napas. Yang dipergunakan hanya dua jari telunjuk untuk menotok, menutup dan membuka jalan jalan darah tertentu di seluruh tubuh. Dengan jalan ini maka aliran aliran darah yang teratur membangkitkan daya tahan dan kekuatan di dalam tubuh orang yang terluka sehingga luka itu akan terobati sendiri oleh daya tahun di dalam tubuhnya sendiri.

“Hayo kita pergi! Jangan berlaku bodoh, dan jangan mencampuri urusan orang lain!” kata Thian Lo mo kepada muridnya sambil memegang tangan Bi Lan untuk mencegah gadis itu mempergunakan Ciang siang ci hoat untuk menolong Liang Tek Sianseng yang masih rebah pingsan.

“Tidak, suhu! Teecu tidak bisa pergi sebelum susiok ditolong!” kata Bi Lan dan sikapnya yang keras kepala itu membuat dua orang gurunya saling pandang.

“Jangan begitu, Bi Lan. Kita tak perlu bercampur tangan dengan urusan lain. Jangan jangan kita hanya akan terbawa dalam urusan permusuhan yang memusingkan belaka. Hayo kita pergi saja,” mendesak Te Lo mo.

Akan tetapi Bi Lan tetap berkeras kepala. “Kalau suhu berdua tidak mau menolong susiok. terpaksa teecu mengobatinya sendiri!”

Guru guru dan murid ini bersitegang dan tiba tiba terdengar suara ketawa halus. Yang tertawa ini adalah Luliang Siucai yang sudah membuka matanya.

“Lain guru lain murid! Sungguh aneh dunia ini.”

“Luliang Siucai, kau sudah menculik murid kami! Sekarang kami tidak turun tangan membunuhmu masih boleh dianggap beruntung sekali bagimu!” kata Te Lo mo marah.

“Siapa hendak mencampuri urusan kalian dengan murid kalian ini? Aku hanya hendak mencegah percekcokan antara guru dan murid. Kedua luka Liang Tek Sianseng memang berat, akan tetapi kalau kalian mau membawanya keluar dari pedang pasir ini, tentu ia akan dapat beristirahat dan dapat pulih kesehatannya. Dengan berbuat demikian, kalian akan mendatangkan tiga macam kebaikan. Pertama, Liang Tek Sianseng akan selamat. Kedua, muridmu akan puas, dan ke tiga, kalian sendiri berarti tidak menolong sepenuhnya, hanya setengah setengah saja. Bukankah itu baik sekali.”

Dari bicaranya ini, dapat dimengerti bahwa Luliang Siucai benar benar seorang yang berhati mulia dan ia sama sekali tidak memperdulikan keadaannya sendiri. Baginya, kalau Liang Tek Sianseng sudah tertolong, cukuplah. Thian Te Siang mo ketika mendengar ini, lalu tertawa dan Thian Lo mo berkata. “Ucapan itu ada isinya juga, kutu buku! Akan tetapi, jangan kaukira kami begitu gila untuk bersusah payah membawa kawanmu ini keluar dari padang pasir.”

“Suhu, teecu tetap tidak mau pergi kalau suhu tidak mau mengobati atau menolong susiok.” Bi Lan berkata dengan suara tetap.

“Baiklah, baiklah! Akan tetapi jangan kira aku mau diganggu oleh orang yang kausebut susiok ini sehingga terpaksa kita harus merobah haluan perjalanan. Biar susiokmu ini kuberi obat sehingga ia kuat untuk melanjutkan perjalanan seorang diri, kemudian ia dapat berobat di kota yang berdekatan,” kata Thian Lo mo yang segera mengeluarkan sebungkus besar obat obat yang selalu dibawa di dalam saku bajunya. Ia memilih sebungkus kecil yang setelah dibuka berisi beberapa butir pel merah. Dengan amat hati hati seakan akan obat itu didapatkannya dari sorga, Thian Lo mo mengambil tiga butir dan memberikannya kepada Bi Lan. Muridnya menerima dengan wajah girang.

“Masukkan dua butir ke dalam perutnya dan yang sebutir lagi untuk bekal di jalan sebelum ia dapat tiba di kota,” kata Thian Lo mo sambil membungkus kembali, obat obatnya dan memasukkan ke dalam kantongnya.

Bi Lan melakukan perintah gurunya. Ia menghampiri Liang Tek Sianseng yang masih pingsan dengan muka pucat dan napas terengah engah. Karena mulut orang tua ini terbuka saking kepanasan dan menahan sakit, dengan mudah Bi Lan dapat memasukkan dua butir pel merah ke dalam mulut susioknya dan dengan sedikit tenaga, gadis ini dapat melontarkan pel itu melalui kerongkongan dan turun ke dalam perut. Tak lama kemudian, siumanlah Liang Tek Sianseng. Ia bangkit dan memandang kepada Bi Lan dengan muka girang sekali.

“Bi Lan, sampai aku bertempur dan mengejar ngejar Coa ong Sin kai karena mengira kau masih dibawanya.”

“Jadi susiok terluka oleh Coa ong Sin kai?” tanya Bi Lan.

Liang Tek Sianseng mengangguk, kemudian ia bertanya. “Apakah Thian Te Siang lo enghiong ini yang menolongku?”

“Benar, susiok. Mereka ini sekarang telah menjadi guru guruku.”

Bukan main girangnya hati Liang Tek Sianseng. Ia menghampiri dua orang iblis kembar itu dan memberi hormatnya.

“Banyak terima kasih atas pertolongan jiwi, terutama sekali atas kesediaan jiwi memberi pimpinan kepada Bi Lan,” kata Liang Tek Sianseng.

“Kalau tidak karena anak keras kepala ini, siapa sudi bersusah payah?” jawab Thian Lo mo acuh tak acuh.

Bi Lan memberikan pel merah yang sebutir lagi kepada susioknya. “Susiok, ini obat dari suhu masih ada sebutir lagi, harap kautelan di dalam perjalanan.”

“Kedua suhumu baik sekali, Bi Lan, Kau belajarlah baik baik dan rajin agar tidak mengecewakan pengharapan mereka. Aku akan kembali ke Hoa san dan mengabarkan tentang keadannmu yang selamat.” Kemudian Liang Tek Sianseng berjalan menghampiri Luliang Siucai yang masih duduk bersila.

“Sahabat baik, kita mendapat pertolongan dari dua orang lo enghiong, kautelanlah obat ini,” katanya sambil menyerahkan pel merah.

Akan tetapi Luliang Siucai menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tiada guna, Liang Tek Sianseng. Pel itu untuk bekalmu di jalan. Aku tak perlu kau pikir, pergilah sendiri.”

“Apa? Tak mungkin. Kau sudah membelaku mencari Bi Lan dan menghadapi Coa ong Sin kai, bagaimana aku bisa meninggalkanmu begitu saja? Kalau kau tidak mau makan obat ini, akupun tidak akan pergi dari sampingmu,” kata Liang Tek Sianseng dengan suara keras.

“Kau benar benar sahabat sejati,” kata Luliang Siucai yang terpaksa menerima dan menelan pel merah itu. Sebentar saja mukanya yang pucat telah berobah merah.

“Ah, obat yang bagus. Patut sekali berada di tangan Thian Te Siang mo,” katanya memuji sambil mengangguk anggukkan kepalanya. “Akan tetapi, lukaku terlampau berat dan aku masih belum kuat berlari. Aku hanya akan menghambat perjalananmu, Liang Tek Sianseng, dan mungkin sekali sebelum keluar dari padang pasir ini, aku akan roboh dan kau juga.”

“Akan tetapi aku sudah kuat, aku akan menggendongmu!” Tanpa menanti jawaban lagi, Liang Tek Sianseng sudah menyambar tubuh Luliang Siucai dan terus digendong. Kemudian ia menjura kepada Thian Te Siang mo dan berkata, “Sekali lagi terima kasih banyak. Bi Lan, kau belajarlah baik baik dan yang pandai menjaga diri!” Setelah berkata demikian, Liang Tek Sianseng yang menggendong tubuh Luliang Suicai lalu berjalan cepat.

“Susiokmu benar benar orang aneh,” kata Te Lo mo kepada Bi Lan sambil menggeleng gelengkan kepalanya. “Tidak saja memberikan sebutir pel merahnya, bahkan kini menggendongnya. Mana dia kuat keluar dari padang pasir kalau begitu?”

“Tidak ada gunanya sama sekali,” menyambung Thian Lo mo, “sebelum keluar, keduanya akan mati. Percuma saja kita kehilangan tiga butir Ang kim tan (Pel Emas Merah).”

“Belum tentu, suhu,” bantah Bi Lan dan tiba tiba gadis ini berlari cepat mengejar Liang Tek Sianseng.

“Eh, anak gila, kau mau ke mana?” Te Lo mo berteriak.

“Teecu akan mewakili susiok menggendong Luliang Siucai!” kata Bi Lan sambil berlari terus.

Thian Te Siang mo mendongkol sekali dan cepat mengejar, akan tetapi sementara itu, Bi Lan telah dapat menyusul Liang Tek Sianseng yang tidak berani berlari terlalu cepat.

“Susiok, kau takkan kuat menggendongnya keluar dari padang pasir. Biarkan teecu yang menggendongnya!” kata gadis ini kepada Liang Tek Sianseng.

Tokoh Hoa san pai ini berhenti dan sementara itu, Thian Te Siang mo telah berada di situ pula.

“Bi Lan, anak berkepala batu! Kau tidak boleh menggendongnya, mari kita pergi melanjutkan perjalanan kita!” kata Thian Lo mo.

Bi Lan menggelengkan kepalanya. “Tidak, suhu. Sebelum susiok dan sahabatnya tertolong, teecu takkan mau pergi.”

“Anak setan!” memaki Te Lo mo.

Akan tetapi, biarpun memaki, Thian Lo mo mengeluarkan bungkusan obatnya dan mengambil tiga butir Ang kim tan lagi. “Celaka, gara gara bocah ini, terpaksa hari ini aku harus kehilangan enam butir kim tan!” katanya sambil menyerahkan tiga butir pel itu kepada Bi Lan yang cepat memberikannya pula kepada Luliang Siucai.

Luliang Siucai menelan sebutir pel lagi dan kini dia mempunyai sisa dua untuk bekal di jalan sehingga ia dan Liang Tek Sianseng akan dapat keluar dari padang pasir itu. Luliang Siucai tertawa geli, “Thian Te Siang mo, kalian adalah sebaliknya dari pada pel pel merah ini. Pel ini luarnya kelihatan merah dan bagus, akan tetapi dalamnya pahit sekali. Adapun kalian ini pada luarnya kelihatan ganas dan jahat, akan tetapi di dalam hatimu adalah orang orang yang budiman. Mengapa berpura pura jahat? Ha ha ha!”

“Luliang Siucai, mengapa kau tidak mampus saja sehingga tidak membikin susah kepada kami?” bentak Thian Lo mo, akan tetapi Luliang Siucai tertawa dan setelah menjura mengucapkan terima kasihnya, ia lalu mengajak Liang Tek Sianseng pergi dari situ. Kini ia tidak perlu digendong lagi karena setelah menelan sebutir kim tan lagi, tubuhnya menjadi kuat kembali.

Sambil mengomel panjang pendek. Thian Te Siang mo lalu mengajak Bi Lan melanjutkan perjalanan. Gidis ini tersenyum senyum dan berlaku gembira. Akan tetapi ia tiba tiba terkejut sekali ketika melihat kedua orang suhunya berlari cepat mengejar Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai. Bi Lan cepat mengejar pula. Ia maklum akan watak yang aneh dari kedua suhunya dan khawatir kalau kalau suhu suhunya ini berobah pikiran dan mengandung maksud buruk terhadap dua orang tua. Juga Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai heran melihat dua iblis kembar itu mengejar, maka mereka itu berdiri menanti.

“Thian Te Siang mo, kalian mengejar apakah hendak menyatakan menyesal karena telah menyelamatkan nyawa kami?” tegur Luliang Siucai.

“Siapa perduli akan nyawamu?” bentak Thian Lo mo. “Kami hanya merasa tertipu olehmu.”

“Siapa yang menipu? Apa maksudmu?” tanya Luliang Siucai.

“Kau tadi bilang bahwa Liang Tek Sianseng terluka oleh Coa ong Sin kai, ini mungkin benar! Akan tetapi, apakah kau juga terluka olehnya? Kami tidak percaya!”

Luliang Siucai hanya tertawa sehingga Sepasang Iblis Kembar ini menjadi makin penasaran. “Jiwi lo enghiong, harap tenang. Sahabatku ini mana bisa terluka oleh Coa ong Sin kai? Ia terluka oleh sutenya sendiri, yakni Giok Seng Cu murid dari Pak Hong Siansu atau sebenarnya ia terluka oleh susioknya itulah yang membantu Giok Seng Cu.”

Thian Te Siang mo mengerutkan kening. “Apa? Orang tua bangkotan itu bisa berada di sini? Apakah Tibet sudah terlalu panas untuknya?”

“Dia memang telah turun bersama muridnya itu. Agaknya ikut dengan Ba Mau Hoatsu yang berada diantara mereka pula,” jawab Luliang Siucai.

“Hm, Sam Thai Koksu agaknya tidak mau bekerja kepalang tanggung,” kata Te Lo mo seperti bicara kepada diri sendiri. “Dengan bantuan Pak Hong Siansu, keadaannya akan kuat sekali,”

“Apa?” Luliang Siucai bertanya, “Apakah mereka itu membantu Sam Thai Koksu? Apakah Ba Mau Hoatsu pembantu pemerintah Kin?”

Thian Lomo mengeluarkan suara mengejek. “Kau belum tahu? Hm, sungguh bodoh !” Sebelah berkata demikian. Thian Te Siang mo lalu mengajak pergi Bi Lan dari situ.

Juga Luliang Siucai dan Liang Tek Sianseng cepat pergi, karena setelah mendengar bahwa Sam Thai Koksu mengundang Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu, mereka menjadi gelisah sekali. Liang Tek Sianseng hendak buru buru pulang ke Hoa san pai dan juga Luliang Siucai hendak cepat cepat menyampaikan warta ini kepada saudara dan kepada gurunya.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Mari kita mengikuti perjalanan Lie Bu Tek, pemuda murid Hoa san pai pertama, pemuda yang harus dikasihani karena menderita luka di hatinya, karena patah hatinya. Sumoinya, Ling In, gadis yang telah bertahun tahun menjadi bayangan yang selalu mengisi dan memenuhi lubuk hatinya, telah direbut orang!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lie Bu Tek mengunjungi Ling In dan merampas sepotong dari sabuk sutera, yakni barang tanda mata dari Wan Kan yang diberikan kepada Ling In yang menjadi calon isterinya. Dengan hati remuk rendam, tubuh lemah lunglai, Bu Tek meninggalkan rumah sumoinya yang amat dikasihinya itu sambil membawa sepotong sabuk yang amat dibencinya. Ia ingin sekali bertemu muka dengan orang yang bernama Wan Kan itu. Ingin ia mengadu kepandaian, bertanding pedang dan ia baru mengalah dan memberikan Ling In kepada orang lain melalui darahnya!

Lie Bu Tek mulai dengan penyelidikannya, hendak tahu siapa adanya Wan Kan yang telah merebut kekasihnya itu. Akhirnya ia mendengar tentang perbuatan Ling In di kota An keng, yaitu bagaimana sumoinya itu menolong seorang petani muda yang terjatuh ke dalam cengkeraman Liok taijin kepala daerah kota An keng. Maka ia segera menuju ke kota An keng dan dengan mendatangi Liok taijin pada malam harinya dan mengancam dengan pedangnya, akhirnya tahulah dia siapa adanya Wan Kan itu. Dan bukan main kagetnya ketika ia mendengar bahwa Wan Kan sesungguh nya adalah Wan yen Kan, Pangeran Kerajaan Kin!

Kemarahan yang mengamuk di dalam dada Lie Bu Tek hampir saja membuatnya pingsan. Bagaimana sumoinya bisa terpikat hatinya oleh seorang pangeran Kin? Inilah pengkhianatan terhadap bangsa, pengkhianatan terhadap cita cita dan jiwa kepatriotan sendiri! Ia harus menegur sumoinya, kalau perlu, ia harus melupakan cinta kasihnya dan memberi hajaran kepada sumoinya dan juga berusaha membunuh Pangeran Wan yen Kan itu!

Dengan rasa marah yang meluap luap, Bu Tek segera menuju ke Biciu, hendak menegur dan mencela sumoinya. Akan tetapi, penyelidikan yang ia lakukan itu makan waktu dua bulan lamanya dan sementara itu, Thio Ling In telah menjadi isteri dari Wan yen Kan!

Memang, sepekan kemudian setelah Wan yen Kan meninggalkan Biciu, ia datang kembali membawa banyak perbekalan dan keperluan upacara pernikahan. Tentu saja Nyonya Thio sekeluarga girang bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa calon mantunya itu ternyata adalah seorang yang kaya raya. Upacara pernikahan dilakukan dengan meriah dan setiap orang memuji mantu Nyonya Thio tapi yang selain tampan sekali, juga cukup kaya untuk membiayai semua peralatan pernikahan.

Dan bagaimana dengan Ling In sendiri? Ia cukup puas dan bahagia. Suaminya benar benar amat mencintanya, berlaku penuh cinta kasih, lemah lembut, dan amat menghormatinya. Jatuhlah hatinya terhadap suami ini dan iapun membalas cinta kasih suami dengan sepenuh hati. Kalau tadinya masih ada perasaan membekas di dalam lubuk hatinya terhadap Bu Tek, kini perasaan itu lenyap sama sekali dan terganti oleh cinta kasih sepenuhnya kepada suaminya yang masih dikenalnya sebagai Wan Kan, seorang pemuda gagah yang hidup sebagai perantau.

Hanya sedikit yang mengecewakan hati Ling In atau setidaknya yang mengganggu kebahagiaannya, yakni bahwa pernikahannya tidak dihadiri oleh seorangpun keluarga Hoa san pai. Hal ini karena pernikahannya dilakukan dengan amat cepat dan terburu buru. Hanya ada waktu sepekan dan mana bisa ia memberi kabar kepada tokok tokoh Hoa san pai? Dan pula, kalau ia mengingat kepada Bu Tek yang memperlihatkan sikap bermusuh, ia menjadi sedih juga.

Akan tetapi, sikap suaminya yang manis budi melenyapkan kekecewaan dan kesedihannya. Mereka hidup sebagai suami isteri yang saling mencinta dan pekan pekan mendatang merupakan hari hari bermadu yang manis. Suaminya belum bercerita tentang keadaan dirinya, maka sebegitu jauh Ling In tetap mengira bahwa suaminya adalah seorang terpelajar yang berkepandaian tinggi seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara akan tetapi yang menerima warisan banyak dari mendiang orang tuanya...