Dara Baju Merah Jilid 15

ANG I NIOCU

DARA BAJU MERAH

Karya Kho Ping Hoo

JILID 15

PADA saat itu, Im Giok sedang berada dalam keadaan gembira dan bahagia, maka tentu saja muka cemberut dari dua orang gadis itu tidak terlihat olehnya. Sebaliknya, dengan senyum manis ia lalu menjura kepada mereka sambil berkata, “Selamat bertemu di tempat ini! Apakah Sam-wi baru pulang dari rumah Suma-taijin?”

Nenek itu menjawab cepat-cepat, “Kau bermalam di rumah Suma-taijin. Kami bermalam di rumah penginapan.”

Im Giok menggerakkan alis agak heran melihat sikap ini, akan tetapi tetap tersenyum dan melanjutkan katanya dengan ramah, “Ah, maaf. Maksudku, tentu Sam-wi baru meninggalkan Tiang-hai dan hendak ke mana?”

Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu, yang ada tahi lalatnya di dagu, membentak, “Siapa sudi bicara dengan segala perempuan gila lelaki!”

Tiauw Ki menjadi pucat saking marahnya, dan Im Giok menjadi merah mukanya. Kedua matanya yang indah itu kini menyambar bagaikan cahaya kilat ke arah gadis itu. Meski suaranya tetap halus dan ramah, akan tetapi di dalam suara ini terkandung sesuatu yang dingin dan tajam menembus jantung.

“Cici yang baik, kau bilang apa?”

“Aku bilang kau perempuan cabul, gila lelaki!” Gadis bertahi lalat dagunya itu membentak lagi sambil mengangkat hidungnya, mengejek.

Im Giok masih tersenyum lebar.

“Alasannya?”

“Dari semula kau datang, kau sudah berdua dengan pemuda ini, sungguh memalukan. Kemudian kau bermanis-manis terhadap Suma-huciang, bahkan kau mencoba pula untuk memikat hati Lie-kongcu. Menyebalkan sekali!”

Im Giok memang cerdik luar biasa. Dari ucapan ini saja dia sudah dapat menerka apa yang menyebabkan gadis ini marah-marah seperti kemasukan setan. Senyumnya makin lebar dan sinar matanya berseri.

“Ahh, Cici yang baik, kau memutar balikkan kenyataan. Jelas sekali kulihat bahwa kaulah yang tergila-gila kepada Lie-kongcu, akan tetapi ia tidak memperhatikan tahi lalatmu yang menjijikkan itu, kau jadi marah-marah kepadaku!”

Mendengar ini, wajah gadis itu menjadi pucat, tetapi sebentar kemudian berubah merah. Mulutnya terbuka, matanya terbelalak, dan saking marahnya ia sampai-sampai tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Sesudah menenangkan hatinya, akhirnya dapat juga suaranya keluar. Diangkatnya cambuknya ke atas, dipukulkan kepala Im Giok didahului makiannya,

“Perempuan rendah, kau berani sekali memaki aku! Tidak tahu kau sedang berhadapan dengan siapa?”

“Hei, jangan pukul dulu!” Im Giok membentak, suaranya demikian berpengaruh sehingga wanita bertahi lalat itu menjadi kaget dan otomatis cambuk yang sudah diangkat itu tidak dipukulkan! “Teruskan dulu keteranganmu, sebenarnya siapakah kalian ini yang bersikap demikian tengik?”

Wanita itu menahan marahnya dan sengaja memperkenalkan nama dengan maksud agar Im Giok menjadi ketakutan. “Buka telingamu lebar-lebar, kami berdua adalah Kim-jiauw Siang-eng Kwan Ci-moi (Kakak Beradik Kwan yang Berjuluk Sepasang Garuda Berkuku Emas)! Dan dia itu adalah ibu kami Koai-tung Toanio. Siapa yang tidak mengenal kami dari Kong-thong-pai?”

Im Giok merasa geli sekali melihat gadis yang dogol dan otak-otakan ini, akan tetapi dia mengangkat kedua mata seakan-akan orang terkejut dan ketakutan.

“Aduh... tak tahunya aku berhadapan dengan tiga orang sakti dari Kong-thong-pai...,” kata Im Giok.

“Ji Kim, jangan menyombong!” tegur nenek itu yang mengerti bahwa Im Giok tadi hanya pura-pura saja ketakutan, sebetulnya sikap gadis baju merah itu adalah ejekan belaka.

“Hayo lekas berlutut dan minta ampun kepadaku!” gadis bertahi lalat yang bernama Kwan Ji Kim itu membentak, masih belum mengerti bahwa Im Giok hanya pura-pura takut saja.

“Kau datang-datang lantas memaki orang dan bersikap sombong, bagaimana aku harus berlutut? Jangankan kau baru Garuda berkuku emas, biar pun tahi lalatmu berubah emas aku tetap tak sudi berlutut!” jawab Im Giok, kini tidak berpurap-pura lagi.

Ji Kim marah sekali dan kini cambuk kudanya diayun cepat menghantam kepala Im Giok. Akan tetapi, Ang I Niocu Kiang Im Giok hanya miringkan tubuh dan secepat kilat tangan kirinya menyambar, dan pada lain saat cambuk itu telah berpindah ke tangannya. Sambil tersenyum Im Giok mempergunakan cambuk itu menghajar kedua kaki depan kuda yang ditunggangi oleh Kwan Ji Kim sehingga kuda itu roboh bertekuk lutut dan terpaksa Kwan Ji Kim melompat untuk menjaga diri agar tidak jatuh terjungkal!

“Kudamu lebih tahu adat!” Im Giok mengejek. “Tahu akan kesalahan nonanya sehingga mintakan maaf kepadaku.”

Kwan Ji Kim marah bukan main. Dicabutnya pedang yang tergantung pada pinggangnya, lalu diserangnya Im Giok dengan sengit. Namun, melihat gerakan nona ini, Im Giok hanya tersenyum dingin. Dengan gerakan indah sekali tubuhnya melenggok ke kiri, kemudian tangannya menyambar ke arah pipi lawan.

“Plakk...!”

Pipi gadis bertahi lalat itu telah kena ditampar sehingga ia terhuyung-huyung ke belakang setelah mengeluarkan jerit kesakitan. Sesudah ia dapat menguasai keseimbangan badan dan kembali berdiri tegak, ternyata pipi kanan Kwan Ji Kim telah bengkak menggembung sehingga muka yang manis itu kini menjadi lucu dan jelek!

“Setan betina, kau berani menyakiti adikku?!” Gadis ke dua melompat turun dari kuda dengan pedang terhunus pula.

Gerakan pedang ini jauh lebih cepat dari pada Kwan Ji Kim dan tusukan pedangnya lebih kuat lagi. Namun ia bukan lawan Im Giok, karena dengan amat mudahnya Im Giok dapat menghindarkan diri dari tusukan pedang itu. Tiba-tiba saja Im Giok merasa ada sambaran angin dingin dari kanan. Cepat ia melompat ke belakang dan tahu-tahu sebatang tongkat menyambar dengan dahsyatnya.

Im Giok maklum bahwa nenek yang memegang tongkat itu mempunyai kepandaian tinggi dan merupakan lawan berat, maka cepat ia pun mencabut pedangnya sambil berkata,

“Koai-tung Toanio! Kalau kau betul-betul seorang tokoh kang-ouw yang mengerti aturan dan seorang ibu yang baik, mengapa kau tidak menegur anak-anakmu yang kurang ajar sebaliknya bahkan ikut-ikut menyerangku? Ada permusuhan apakah di antara kita maka kalian begini mendesak padaku?”

Nenek itu menyeringai, kemudian berkata, suaranya tinggi serak, “Kemarin kau begitu sombong memamerkan kepandaian dan aku tidak sempat membuktikan. Sekarang ingin aku melihat sampai di mana kelihaianmu, jangan kau hanya berani menghina dua anakku yang bodoh. Majulah!”

Im Giok mengerti bahwa nenek ini bukan hanya hendak menjajal kepandaiannya, akan tetapi jika tidak membela anaknya yang sudah ia tampar tadi, tentu tersembunyi maksud lainnya. Ia pun tidak sudi memperlihatkan kelemahannya. Setelah orang menantangnya, ia harus melayani dan memperlihatkan kepandaiannya. Apa lagi di situ ada Tiauw Ki yang menyaksikan. Dicabutnya pedangnya dan dengan tenang dia berdiri memandang kepada tiga orang lawannya.

“Kalian hendak mencari perkara? Boleh saja, Ang I Niocu Kiang Im Giok bukan seorang pengecut dan tak pernah menolak tantangan.”

Im Giok menanti serangan, tidak mau ia mendahului bergerak karena memang ia tidak mempunyai permusuhan dengan tiga orang ini.

Koai-tung Toanio mengeluarkan seruan keras, lantas tongkatnya diputar bagaikan kitiran cepatnya dan diterjangnya gadis baju merah yang berdiri tenang di hadapannya. Anaknya yang sulung, Kwan Twa Kim, juga maju menyerang dengan pedangnya.

Sekilas pandang saja tahulah Im Giok bahwa kepandaian nenek itu memang lihai, jauh lebih lihai dari pada puterinya, maka menghadapi pengeroyokan dua orang ini, lebih dulu ia harus mengalahkan yang lemah agar seluruh perhatiannya dapat dicurahkan kemudian kepada yang kuat.

Oleh karena itu pedangnya segera bergerak, merupakan tarian indah dan dengan halus gerakannya itu terbagi dua, yakni bersifat lembek apa bila menghadapi serangan tongkat Koai-tung Toanio, akan tetapi keras dan kuat menghadapi Kwan Twa Kim. Siasatnya ini berhasil baik sekali karena sebentar saja Kwan Twa Kim telah terdesak hebat, sedangkan tongkat Koai-tung Toanio belum juga dapat mendesaknya, bahkan beberapa kali tongkat di tangan nenek itu terbetot dan ‘diselewengkan’ sehingga membentur pedang anaknya sendiri apa bila bertemu dengan pedang Im Giok!

Beberapa jurus kemudian, terdengar suara keras dan pedang di tangan Kwan Twa Kim terlempar, disusul pekik kesakitan dari gadis ini. Ternyata bahwa lengan kanannya sudah keserempet pedang dan mengeluarkan darah.

“Twa Kim, mundur kau...!” ibunya berkata marah dan memperhebat gerakan tongkatnya, menyerang Im Giok dengan mati-matian.

“Toanio, kita tidak bermusuhan, mengapa kau begini nekat?” Im Giok menegur, hatinya tak senang melihat sikap nenek yang terlalu mendesak ini.

“Tutup mulut dan lihat tongkatku!” bentak Koai-tung Toanio yang dari penasaran menjadi marah sekali mengapa begitu lama belum juga ia dapat mengalahkan gadis muda ini.

Timbul kemarahan di hati Im Giok. Tadinya ia tidak suka merobohkan nenek ini yang tak mempunyai permusuhan sesuatu dengannya. Seorang tokoh kang-ouw sangat menjaga nama besarnya dan tahu bahwa kalau nenek itu sampai kalah olehnya, hal ini merupakan penghinaan besar bagi nenek yang keras hati ini. Tadinya dia mengharapkan nenek ini akan melihat gelagat dan mundur sendiri setelah menyaksikan kelihaiannya, tak tahunya nenek ini bahkan berlaku nekad dan menyerang mati-matian.

“Kau tidak boleh diberi hati!” Im Giok mencela.

Kini tiba-tiba saja gerakan pedangnya berubah. Pedangnya menyambar-nyambar dalam gerakan yang amat indah dan halus. Namun di dalam kehalusan ini tersembunyi gerakan-gerakan menyerang yang dahsyat bukan main. Inilah Sian-li Kiam-hoat atau ilmu pedang bidadari yahg indah dilihat namun berbahaya sekali dilawan.

Koai-tung Toanio tidak mau menyerah kalah begitu saja. Sungguh pun dia terkesiap juga menyaksikan ilmu pedang yang aneh ini, namun dia memutar tongkat semakin cepat dan mengerahkan segala kepandaian untuk rnengalahkan lawan. Tetapi, betapa pun juga ia berusaha, tetap saja sinar pedang yang perubahannya sukar diduga-duga itu, makin lama makin mendesak sinar tongkatnya dan makin lama ia merasa makin terkurung oleh sinar pedang yang bergulung-gulung dan yang membuat pandangan matanya berkunang.

“Pergilah!” terdengar seruan Im Giok.

Dengan gerakan cepat tangan kirinya sudah berhasil mencengkeram tongkat lawannya dan jika saja ia mau, pedangnya dapat ditusukkan. Akan tetapi Im Giok tidak bermaksud membunuh lawannya, maka sebagai gantinya pedang, ia hanya menendang.

Tubuh Koai-tung Toanio terlempar dan tongkatnya terampas. Namun kepandaian nenek ini memang tinggi. Biar pun ia sudah terluka oleh tendangan itu dan tubuhnya terlempar, ia masih mampu menjaga diri sehingga jatuhnya berdiri! Ia memandang kepada Im Giok dengan mata melotot marah. Kemudian ia melompat ke atas kudanya, diikuti oleh kedua orang puterinya.

“Toanio, ini tongkatmu ketinggalan!” Im Giok tertawa sambil melontarkan tongkat itu ke arah Koai-tung Toanio.

Tanpa menoleh nenek itu menghantam tongkatnya sendiri dengan tangan kanan. Segera terdengar bunyi keras dan tongkat itu patah menjadi dua, meluncur ke bawah kemudian menancap di atas tanah!

Im Giok menarik napas panjang. “Kepandaiannya tinggi dan mengagumkan, tapi sayang wataknya tidak patut sekali.”

Tiauw Ki menghampiri Im Giok dan memegang lengannya.

“Moi-moi, bukan main hebatnya engkau ini. Benar-benar aku kagum sekali melihatmu dan makin terasalah olehku betapa tiada gunanya aku ini. Aku seorang laki-laki yang lemah, sedangkan kau... ahh, kau benar-benar seorang bidadari yang sakti...”

“Husshhh, Twako. Ada pasukan berkuda datang!” Suara Im Giok terdengar agar khawatir pada waktu mengucapkan kata-kata ini dan merenggut lengannya terlepas dari pegangan Tiauw Ki.

Pemuda itu menoleh dan benar saja, segera terlihat debu mengepul tinggi mengiringkan pasukan berkuda yang datang dengan cepat. Setelah dekat, Im Giok dan Tiauw Ki saling pandang dengan muka berubah melihat bahwa pasukan berkuda terdiri dari empat puluh orang lebih itu dipimpin oleh Lie Kian Tek, Ceng-jiu Tok-ong, dan juga terdapat banyak perwira-perwira pembantu Suma-huciang, di antaranya terlihat juga Sin-touw-ong Si Raja Copet. Mereka semua kelihatan marah dan sekarang mereka telah berhadapan dengan Im Giok dan Tiauw Ki.

“Pembunuh keji, menyerahlah supaya kami tak usah menggunakan kekerasan!” kata Lie Kian Tek sambil mencabut pedangnya.

“Eh, tikus, kau memaki siapakah?” Im Giok membentak dengan marah. Ia masih merasa benci kepada kongcu yang ceriwis ini.

Lie Kian Tek tertawa bergelak dan menengok kepada kawan-kawannya.

“Lihat, pandai benar perempuan ini bermain sandiwara, seakan-akan dia suci bersih dan tidak tahu apa-apa. Ha-ha-ha!” kemudian dia memandang kepada Tiauw Ki dan berkata, “Pengkhianat pengecut! Kau mengaku sebagai keponakan Suma-huciang, tidak tahunya kau adalah penjahat besar yang datang dengan niat buruk. Kau tidak segera menyerah dan mengakui dosamu?”

Tiauw Ki mengerutkan kening dan bertanya,

“Kedosaan apakah yang telah kuperbuat?” dan terhadap Sin-touw-ong Siauw Hap, Raja Copet yang kate itu ia pun bertanya, “Siauw-sicu, sebetulnya ada apakah maka kau juga datang menyusulku? Apakah ada pesanan sesuatu dari Suma taijin?”

Si Kate yang sudah dikenal sebagai pembantu setia dari Suma-huciang itu terlihat amat bingung menghadapi Tiauw Ki dan Im Giok. Kemudian dia berkata dengan suara duka, “Suma-taijin telah meninggal dunia, tadi kami mendapatkan beliau sudah rebah di lantai kamarnya dengan leher putus!”

“Apa katamu...?!” Tiauw Ki meniadi pucat mukanya dan juga Im Giok terkejut bukan main.

Terdengar suara ketawa dingin dari Lie Kian Tek. “Gan Tiauw Ki penjahat besar, jangan kau berpura-pura kaget. Kami bukan anak-anak kecil dan kami juga sudah tahu bahwa pembunuhan atas diri Suma-taijin adalah perbuatanmu dengan pengawalmu yang cantik. Malam tadi semua tamu pulang atau kembali ke rumah penginapan, hanya kau bersama pengawalmu saja yang bermalam di rumah Suma-taijin. Ada pula yang bermalam akan tetapi pada bagian lain, tidak seperti kalian yang bermalam di dekat kamar Suma-taijin di bawah satu wuwungan! Dan pula, kalau tamu-tamu lain masih ada pagi hari ini, kau dan pengawalmu tanpa pamit telah minggat pergi. Bukti-bukti sudah jelas apakah kau masih hendak menyangkal?”

“Bohong! Fitnah belaka!” Tiauw Ki memaki marah. “Siapa percaya akan tuduhan dusta ini? Aku dan nona ini sama sekali tidak tahu-menahu tentang pembunuhan itu dan malam tadi kami pun sudah berpamit kepada Suma-taijin!”

Lie Kian Tek tertawa bergelak. “Tidak ada pembunuh mengaku sudah membunuh orang, seperti juga tidak ada maling mengaku telah mencuri barang. Hayo tangkap orang ini, kita harus menyeretnya ke pengadilan!”

Didahului oleh Ceng-jiu Tok-ong, pasukan itu lalu bergerak menyerang. Gerakan Ceng-jiu Tok-ong cepat sekali dan sekali kakek ini melompat turun dari kudanya menubruk, di lain saat Tiauw Ki sudah diringkusnya dan sebuah totokan membuat pemuda itu lemas tidak berdaya lagi.

“Lepaskan dia!” Im Giok berseru.

Gadis ini marah sekali melihat perlakuan orang terhadap kekasihnya. Ia menerjang dan menyerang Ceng-jiu Tok-ong.

Kakek ini cepat-cepat menggerakkan tangan menangkis sambil mencabut goloknya yang bersinar hijau. Juga orang-orang lain sudah mencabut senjata, sedangkan Lie Kian Tek berteriak,

“Perempuan pemberontak, kaulah yang membunuh Suma-taijin!” Kata-kata ini membuat Im Giok marah sekali dan pada lain saat ia telah dikurung oleh banyak orang.

“Nona, lebih baik kau menyerah!” kata Sin-touw-ong Siauw Hap.

Dia merasa sayang sekali kalau sampai gadis ini terluka. Sebetulnya Raja Copet ini pun meragukan bahwa Im Giok telah membunuh Suma-huciang, akan tetapi bukti-buktinya memang memberatkan Tiauw Ki dan Im Giok sehingga sebagai alat negara ia pun harus ikut membantu menangkap pembunuh Suma-huciang.

Im Giok mengamuk. Gadis ini maklum bahwa keselamatan Tiauw Ki terancam bahaya besar sesudah terjatuh ke dalam tangan orang seperti Lie Kian Tek, karena itu ia hendak menolong pemuda kekasihnya itu dengan kekerasan.

Sebentar saja ia dikurung hebat sekali oleh Ceng-jiu Tok-ong, Sin-touw-ong dan perwira-perwira lain yang cukup tinggi kepandaiannya. Akan tetapi Im Giok tidak gentar. Untuk menolong Tiauw Ki, dia rela mengorbankan nyawa. Lebih baik mati bersama dari pada dia membiarkan kekasihnya dibikin celaka orang.

Akan tetapi keadaan lawan terlampau berat. Menghadapi seorang Ceng-jiu Tok-ong saja masih sulit ia mengalahkan, apa lagi dikeroyok pula oleh belasan orang. Memang, selain Ceng-jiu Tok-ong dan Sin-touw-ong, yang lain-lain hanya menyerang dari jarak jauh dan tidak berani terlalu mendekat, akan tetapi cara ini bahkan melelahkan Im Giok.

Gadis ini tak dapat merobohkan mereka yang mengeroyoknya dari jarak jauh, sedangkan untuk mengerahkan kepandaian melayani Ceng-jiu Tok-ong dan Sin-touw-ong, dia selalu diganggu oleh para pengeroyok yang menyerangnya dari jauh, baik dari kanan, kiri mau pun belakang.

“Giok-moi, menyerah saja, Giok-moi. Kita tidak berdosa, biar mereka membawa kita ke pengadilan!” Tiauw Ki berseru kepada Im Giok karena pemuda ini merasa gelisah sekali melihat kekasihnya dikeroyok oleh banyak orang dan terdesak hebat.

Mendengar ini, Im Giok pikir betul juga. Belum tiba saatnya buat melakukan pertempuran mati-matian. Mereka hanya diduga menjadi pembunuh dan di depan pengadilan mereka dapat menyangkal. Kalau nanti mereka tetap saja difitnah dan tidak ada jalan keluar lagi, barulah dia akan mempergunakan pedangnya. Maka cepat dia melompat keluar kalangan pertempuran dan membentak,

“Aku akan menyerah dengan syarat bahwa Gan-twako dan aku diberi kebebasan ikut ke tempat pengadilan. Aku tidak sudi dijadikan tawanan dan diikat!”

“Enak saja kau bicara!” Ceng-jiu Tok-ong membentak dan hendak menyerang lagi.

Akan tetapi Lie Kian Tek berkata, “Locianpwe, biar kita menerima syaratnya!”

Mendengar ini, Ceng-jiu Tok-ong membatalkan niatnya dan memandang dengan muka merah. Lie Kian Tek lalu menghadapi Im Giok dan berkata,

“Kami menerima syaratmu. Mari kau ikut dengan kami. Aku berjanji bahwa kalian berdua akan diperiksa dengan adil.”

Sambil berkata demikian, Lie Kian Tek tersenyum ramah kepada Im Giok. Dia berusaha mengambil hati gadis ini dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang manis. Akan tetapi Im Giok sama sekali tidak tertarik.

“Bebaskan Gan-twako terlebih dahulu!” katanya sambil menunjuk ke arah Tiauw Ki yang lemas terduduk di atas tanah. Pemuda ini sudah tertotok dan biar pun dapat bicara, akan tetapi tak mampu menggerakkan kaki tangannya!

“Locianpwe, harap bebaskan dia!” kata Lie Kian Tek kepada Ceng-jiu Tok-ong.

Kakek ini nampak ragu-ragu. Maka, Im Giok lalu melompat maju menghampiri Tiauw Ki dan sekali menepuk punggung pemuda itu, Tiauw Ki terbebas dari pengaruh totokan dan dengan bantuan Im Giok dapat berdiri lagi.

Wajah Tiauw Ki merah sekali karena diam-diam pemuda ini menyesal mengapa ia begitu lemah. Ia memandang kepada Im Giok dan meski pun mulutnya tidak berkata sesuatu, tapi sinar matanya menyatakan bahwa ia akan menyelamatkan mereka berdua apa bila mereka dihadapkan ke depan pengadilan. Im Giok maklum pula akan hal ini sebab ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah kepercayaan Kaisar dan tentu saja mempunyai pengaruh terhadap para hakim.

Lie Kian Tek berkata kepada Sin-touw-ong dan beberapa orang perwira yang datang dari Tiang-hai untuk pulang saja dan memberi laporan kepada para pembesar di Tiang-hai bahwa dua orang pembunuh sudah menyerah.

“Aku hendak membawa mereka ke kota raja,” berkata Lie Kian Tek. “Urusan membunuh Suma-huciang adalah urusan besar dan karenanya mereka harus diadili di kota raja!”

Karena kalah pengaruh dan kalah kedudukan, Sin-touw-ong serta para perwira menurut saja. Mereka lalu kembali ke Tiang-hai seperti yang diperintahkan oleh Lie Kian Tek.

Lie Kian Tek bersama Ceng-jiu Tok-ong dan anak buahnya lalu membawa Im Giok dan Tiauw Ki melanjutkan perjalanan. Tiauw Ki beserta Im Giok menunggang kuda di tengah-tengah rombongan sehingga mereka seakan-akan dikurung terus.

Wajah Tiauw Ki nampak berseri dan beberapa kali ia memandang kepada Im Giok sambil tersenyum geli. Im Giok membalas senyumnya. Gadis ini juga merasa geli akan ketololan Lie Kian Tek. Tiauw Ki datang dari kota raja dan menjadi kepercayaan Kaisar. Sekarang pemuda ini ditangkap dan hendak dihadapkan di depan pengadilan di kota raja! Ini sama halnya dengan menangkap seekor ikan dari kolam untuk dilepaskan di sungai besar!

Oleh karena inilah maka Im Giok juga tidak peduli ketika dia dikurung rapat-rapat dan memang sukar kalau sekaligus para pengurung itu menyerangnya. Juga dia tidak peduli ketika kurang lebih lima li kemudian, di sebuah persimpangan jalan muncul serombongan pasukan terdiri darl lima puluh orang lebih yang temyata adalah anak buah dari Lie Kian Tek pula dan yang kini menggabungkan diri menjadi barisan besar.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di persimpangan jalan lagi dan Lie Kian Tek memimpin pasukannya membelok ke kiri, Tiauw Ki berseru keras,

“Hee! Mengapa ke kiri? Jalan ke kota raja adalah terus ke utara!”

Tiba-tiba pasukan itu bergerak dan lebih dari lima puluh batang tombak panjang sudah ditodongkan ke arah Im Giok! Terdengar Lie Kian Tek tertawa bergelak.

“Gan Tiauw Ki, kalau kau ingin selamat, keluarkan surat dari Suma-huciang untuk Kaisar dan berikan kepadaku!” kata putera gubemur itu.

Im Giok terkejut. Ia kini dapat menduga semuanya. Tak salah lagi bahwa Suma-huciang tentu dibunuh oleh kaki tangan orang she Lie ini dan kini teringatlah dia akan tiga orang wanita yang sudah bertempur dengannya tadi. Besar sekali kemungkinannya bahwa tiga orang wanita itulah yang membunuh Suma-huciang dan mereka itu tentulah kaki tangan orang she Lie ini pula.

Kemudian Lie Kian Tek sengaja menuduh Gan Tiauw Ki dan dia sehingga para perwira di Tiang-hai dapat ditipunya dan diajaknya menangkap Tiauw Ki. Kemudian putera gubernur yang amat licin itu sengaja menyuruh Sin-touw-ong dan lain perwira dari Tiang-hai untuk kembali ke Tiang-hai dan memberi tahu bahwa dia hendak mengantar Tiauw Ki ke kota raja untuk diadili! Hemm, kalau dilihat begini, ternyata bukan Lie Kian Tek yang bodoh, melainkan Tiauw Ki dan dia yang mudah ditipu dan sebaliknya orang she Lie itu ternyata cerdik dan penuh siasat!

Im Giok mencabut pedangnya, akan tetapi segera belasan ujung tombak yang runcing telah menempel pada tubuhnya dari kanan kiri dan depan belakang, demikian pula tubuh Tiauw Ki telah ditodong oleh belasan mata tombak!

Kembali terdengar Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.

“Ha-ha-ha, Nona manis! Sebelum kau bergerak, kau dan sahabatmu ini lebih dahulu akan menjadi mayat. Gan Tiauw Ki, lekaslah kau menjawab, pesanan apa yang kau dapat dari Suma-huciang untuk Kaisar?!”

Sudah gatal-gatal mulut Tiauw Ki untuk mengumpat cacian kepada putera gubernur itu. Ia tidak takut mati dalam menunaikan tugasnya. Akan tetapi pemuda ini menengok ke arah Im Giok dan gemetarlah seluruh tubuhnya.

“Lie Kian Tek, kau bebaskan dahulu Nona itu. Biarkan dia pergi dari sini. Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kita dan dia bersamaku hanya kebetulan saja. Bebaskan dia dan aku akan mengaku semuanya kepadamu.”

“Bebaskan dia? Ha-ha-ha, kau kira aku begitu bodoh? Jika dia dibebaskan tentu dia akan menimbulkan keributan lagi.”

“Tidak! Aku yang tanggung kalau dia tidak akan menimbulkan keributan,” kata Tiauw Ki cepat-cepat dan pemuda ini menoleh kepada Im Giok sambil berkata, “Giok-moi, kuminta dengan sangat agar kau jangan mencampuri urusanku dan lebih baik kau segera pulang ke tempatmu sendiri.”

Im Giok menjadi pucat mukanya. Ia merasa menyesal dan kecewa sekali melihat betapa pemuda pujaan hatinya kini tiba-tiba menjadi begitu lemah, mudah saja hendak mengaku seolah-olah sudah takut akan kematian. Pemuda macam ini tak patut menjadi kekasihnya dan dia merasa kecewa bukan main. Dua titik air mata membasahi matanya dan sudah akan menetes turun kalau saja dia tidak lekas-lekas mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan.

“Jadi kau hendak mengaku semuanya? Hemm, baiklah, dan antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi...,” katanya dengan suara sayu sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang.

Hatinya sakit sekali. Ia siap sedia mengorbankan nyawa untuk melindungi kekasihnya ini yang sedang menunaikan tugas penting dan mulia. Tidak tahunya sekarang kekasihnya menggigil menghadapi ancaman tombak!

“Lie Kian Tek, lekas kau bebaskan dia!” kata Tiauw Ki kepada putera gubemur itu tanpa mempedulikan sikap Im Giok.

Lie Kian Tek ragu-ragu. Ia tergila-gila kepada Im Giok dan mengaku di dalam hatinya bahwa ia jatuh cinta kepada gadis baju merah itu yang memiliki kecantikan begitu luar biasa sehingga baginya baru pertama kali ini selama hidupnya ia bertemu dengan gadis sejelita ini. Akan tetapi, dia pun perlu sekali memancing keterangan dari mulut Tiauw Ki tentang pesanan Suma-huciang.

“Lie Kian Tek, kalau kau tak mau membebaskannya, jangan harap kau dapat mendengar pengakuanku!” kata pula Gan Tiauw Ki kepada Lie Kian Tek.

Tiba-tiba Im Giok menjadi marah dan ia memandang kepada Tiauw Ki dengan mata yang berapi-api.

“Orang she Gan! Apakah kau kira aku takut mati? Tak perlu keselamatanku ditebus oleh pengakuanmu! Kalau aku mau pergi, siapa berani menghalangiku?”

Sambil berkata demikian, Im Giok menggerakkan kepala kudanya, lantas menerjang para pengepungnya sehingga para anggota pasukan itu cepat-cepat menyingkir.

Mereka semua merasa lega bahwa Lie Kian Tek tidak memberi aba-aba sesuatu, karena semua pengepung, kecuali Ceng-jiu Tok-ong, merasa kagum dan sayang sekali apa bila mereka harus turun tangan melukai gadis yang demikian cantik jelita. Ketika tadi mereka diharuskan menodongkan mata tombak kepada gadis itu, mereka merasa seolah-olah bersiap untuk disuruh merusak setangkai bunga yang amat cantik dan indah dipandang, bunga yang harum dan menimbulkan kasih sayang.

Sebaliknya, Im Giok merasa makin mendongkol karena Lie Kian Tek ternyata diam saja. Ia sengaja berlaku begini untuk memancing supaya Lie Kian Tek mengeluarkan aba-aba menangkapnya dan dia akan mengamuk mati-matian.

Memang Im Giok maklum bahwa seorang diri saja tidak mungkin ia dapat menang dalam menghadapi Ceng-jiu Tok-ong yang dibantu oleh lima puluh orang prajuritnya. Akan tetapi untuk melindungi dan membela Tiauw Ki, ia siap mengorbankan nyawanya.

Kedongkolannya terutama sekali dikarenakan sikap Tiauw Ki yang seakan-akan hendak menolongnya dengan jalan menjadi pengkhianat! Memang sikap ini dapat dilakukan oleh seorang pemuda yang amat mencintanya, tetapi oleh Im Giok dianggap bukan perbuatan seorang gagah.

Membela kekasih boleh saja dengan taruhan nyawa, akan tetapi sama sekali tidak boleh mempertaruhkan kesetian terhadap negara dan mempertaruhkan nama kehormatan! Bila Tiauw Ki hendak menolongnya dengan jalan berkhianat, baginya itu bukan pertolongan, akan tetapi penghinaan besar!

Sebagai seorang kepercayaan Kaisar, seorang pemuda yang berjiwa patriot, seharusnya Tiauw Ki mengerti baik akan hal ini. Maka dengan hati marah dan mendongkol Im Giok lalu membalapkan kuda meninggalkan tempat itu!

Untuk sejenak Tiauw Ki memandang ke arah bayangan merah di atas kuda itu dengan muka pucat dan wajah muram. Akan tetapi setelah bayangan Im Giok tidak kelihatan lagi, wajahnya menjadi tenang dan pemuda ini kelihatan lega dan puas. Tadinya dia memang merasa sakit hati sekali melihat betapa Im Giok marah kepadanya, akan tetapi sesudah gadis itu pergi, hatinya sedikit terhibur.

Biarlah, pikirnya, apa pun juga yang menimpaku, asal dia itu selamat. Ia lalu memandang kepada Lie Kian Tek dengan mata bersinar dan mulut tersenyum mengejek.

“Gan Tiauw Ki, dia sudah kami bebaskan. Hayo kau lekas membuat pengakuanmu!” kata putera gubemur itu. Ia ingin Tiauw Ki menjawab cepat-cepat karena masih ada harapan di dalam hatinya untuk nanti mengejar dan menawan bunga cantik itu!

Sebaliknya dari menjawab cepat-cepat, Tiauw Ki tertawa bergelak.

“Lie Kian Tek, kau telah menyuruh orang membunuh Suma-huciang, lalu kau menangkap aku dan hendak memaksa aku mengaku tentang pesan Suma-huciang. Perbuatanmu ini benar-benar sudah melewati batas. Tidak tahukah kau, apakah hukuman untuk seorang pemberontak?”

“Bangsat besar!” Lie Kian Tek memaki dan tangannya menampar hingga Tiauw Ki yang pipinya kena ditampar hampir saja jatuh terguling dari kudanya. “Jangan banyak cakap, kau ingin hidup atau mampus? Kalau ingin hidup, lekas kau mengaku!”

Kembali Tiauw Ki tertawa. Bekas tamparan yang membuat pipinya menjadi matang biru itu tak dirasakannya. ”Pemberontak she Lie, kau kira aku tidak mengetahui akal bulusmu? Biar pun aku mengaku, kau tetap akan membunuhku juga.”

“Jahanam, apakah benar-benar kau tidak mau mengaku? Tadi kau sudah berjanji hendak mengaku bila aku membebaskan perempuan itu. Aku sudah membebaskannya, dan kau tidak bisa melanggar janji.”

“Siapa yang melanggar janji? Lie-siauwjin (manusia rendah she Lie), aku seorang laki-laki sejati, tidak biasa melanggar janji. Dengarlah, Suma-huciang berpesan kepadaku supaya terhadap manusia macam engkau aku menutup mulut dan jangan mengatakan apa-apa. Nah, begitulah pesannya kepadaku!”

“Keparat, kau menipuku!”

“Kau berani bicara tentang menipu? Kiranya aku hanya mencontoh perbuatanmu, orang she Lie. Kau membunuh Suma-huciang kemudian menghasut para perwira Tiang-hai dan menuduhku, kemudian kau menyuruh mereka kembali ke Tiang-hai dan pura-pura akan membawaku ke kota raja, semua itu bukankah akal busuk dan tipuan jahat? Aku hanya minta kau membebaskan Kiang-siocia agar supaya ia selamat dari tanganmu yang kotor dan jahat! Sekarang kau mau apa? Mau membunuhku? Bunuhlah, memangnya aku takut mampus? Mau siksa? Hayo, kau boleh lakukan apa saja. Pendeknya yang nyata, Kiang-siocia selamat dan rahasia Suma-huciang dengan Kaisar juga selamat!”

Bukan main marahnya Lie Kian Tek. Tangannya yang memegang cambuk kuda diayun. Terdengar ledakan keras dan Tiauw Ki terguling dari kudanya. Ketika ia merayap bangun, jidat dan lehernya terdapat bekas cambukan, merah biru dan mengalirkan darah.

Akan tetapi bibir pemuda ini masih tetap tersenyum, matanya bersinar-sinar dan ia berdiri tegak menanti datangnya siksaan selanjutnya yang akan mengantar nyawanya ke tempat asal. Sedikit pun ia tidak mengeluh dan sedikit pun tidak takut.

“Jahanam she Gan, kau masih tidak mau mengaku!”

Lie Kian Tek melompat turun dari kuda, diikuti oleh para pembantunya. Kini pasukan itu mengundurkan kuda-kuda yang berada di situ dan duduk menonton mengelilingi Tiauw Ki merupakan lingkaran yang lebar.

Tiauw Ki hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Lie Kian Tek menggulung lengan baju sebelah kanan dan menggenggam erat-erat gagang cambuknya.

“Kau mau mengaku atau tidak?” sekali lagi putera gubemur ini membentak.

Tiauw Ki yang berdiri di depannya hanya menggeleng kepala sambil tersenyum tabah. Lie Kian Tek mengangkat dan mengayun cambuknya.

“Tar! Tar! Tar!”

Tiga kali bertubi-tubi cambuk itu mengenai muka Tiauw Ki dan darah muncrat dari bibir serta hidung pemuda she Gan itu, namun dia masih berdiri tegak dan sedikit pun tidak mengeluh.

“Jahanam, kau masih keras kepala?” Sekali lagi Lie Kian Tek mengayun cambuknya, kini ke arah mata Tiauw Ki.

Tiauw Ki terhuyung. Sepasang matanya tak dapat dibuka lagi, pelupuk matanya menjadi bengkak! Lie Kian Tek terus memukul, bahkan kini tangan kirinya ikut pula meninju, maka robohlah Tiauw Ki.

Walau pun menggeliat-geliat saking sakitnya, tidak sedikit pun pemuda ini mengeluh dan masih mencoba untuk berdiri. Akan tetapi dia terjatuh lagi dan menunjang tubuh dengan kedua lengannya yang ditahan pada tanah.

Pukulan cambuk masih menghujani tubuhnya dan pakaiannya bagian atas sudah robek dan hancur. Nampak kulit punggung dan dadanya yang putih dan kini darah memenuhi kulit itu, membasahi pakaiannya yang compang-camping.

Akhirnya Lie Kian Tek menghentikan siksaannya. Diam-diam ia merasa ngeri juga melihat kekerasan hati Gan Tiauw Ki. Ia merasa lelah dan melempar cambuknya.

“Bedebah, benar-benar menggemaskan!” gerutunya. “Ceng-jiu Tok-ong Locianpwe, harap kau gantikan aku memaksa jahanam ini mengaku. Periksa dulu semua isi sakunya!”

Ceng-jiu Tok-ong melangkah maju dan cepat mengeluarkan semua isi saku baju Tiauw Ki. Akan tetapi dia tidak mendapatkan sesuatu yang penting. Isi saku pemuda ini hanya dua buah kitab sajak serta beberapa helai kertas dan alat tulis. Dan akhirnya dari saku baju bagian dalam dikeluarkannya sebuah tusuk konde perak.

“Kembalikan itu kepadaku!” Tiauw Ki berseru marah sambil mengulurkan tangan hendak merampas tusuk konde itu, benda keramat pemberian Im Giok.

Akan tetapi mana dapat dia merampas benda yang berada di tangan Ceng-jiu Tok-ong? Sekali saja kakek itu menggerakkan tangan, Tiauw Ki telah didorong roboh dan benda itu diberikan kepada Lie Kian Tek yang menerimanya sambil tersenyum mengejek,

“Hemm, agaknya kau punya kekasih, ya? Bagus, apakah kau tidak ingin hidup untuk bisa bertemu lagi dengan kekasihmu itu?” Sambil berkata demikian, Kian Tek menekuk-nekuk tusuk konde dan agaknya hendak ia patahkan.

Terdengar gerengan marah dan tahu-tahu Tiauw Ki telah menubruknya dan secara nekat merampas kembali tusuk konde itu! Saking nekatnya, dia menjadi lupa akan segala dan kekuatannya bertambah. Hal ini tidak disangka oleh Lie Klan Tek dan kawan-kawannya sehingga Tiauw Ki yang lemah itu berhasil merampas kembali tusuk konde pemberian Im Giok.

“Kau boleh saja merampas segala yang ada padaku, akan tetapi benda ini hanya akan berpisah denganku bersama nyawaku!” kata Tiauw Ki sambil memegang tusuk konde itu dengan kedua tangannya dan menekannya di dekat dada kiri. Melihat kelakukan pemuda ini, Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.

“Locianpwe, kaulah yang memaksa dia bicara. Kau tentu ada akal yang baik!” katanya.

Ceng-jiu Tok-ong menyeringai sambil menghampiri Tiauw Ki. Kakek ini lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan ternyata bahwa yang dikeluarkannya itu ialah seekor ular berwarna hitam! Ular itu menggeliat-geliat di antara jari-jari tangannya dan lidah berwarna kemerahan terjulur keluar masuk.

“Orang she Gan, sekali aku melepas ular ini dan menggigitmu, kau akan mengalami rasa nyeri yang tak pernah dialami orang lain. Tubuhmu akan sakit-sakit semua selama sehari penuh dan kau akan menderita sepenuhnya karena kau tidak akan pingsan atau pun mati sebelum sehari penuh. Maka lebih baik kau mengaku, rahasia apakah yang harus kau sampaikan kepada Kaisar. Kau hanya mengaku saja, tak seorang pun akan melihat atau mendengar pengakuanmu ini. Apa sih sukarnya?”

“Siluman tua, aku tidak takut mati! Sejak semula aku tidak takut akan ancaman kalian dan tadi aku bersikap lemah hanya untuk memberi kesempatan kepada Giok-moi menjauhkan diri. Setelah dia selamat, keberanianku lebih besar lagi. Kau mau siksa, mau bunuh, mau apa pun, sesukamulah, aku tetap pada pendirianku. Aku seorang laki-laki dan kematian hanya berarti kebebasan dari pada berdekatan dengan siluman-siluman semacam kalian ini!”

Wajah Ceng-jiu Tok-ong menjadi merah dan ia marah sekali.

“Kau memang tidak boleh dikasihani. Rasakanlah hukumanku!”

Akan tetapi, pada saat itu pula terdengar beberapa orang menjerit dan dua orang prajurit roboh ketika ada bayangan merah berkelebat menerjang lingkaran itu. Bayangan merah ini dengan gerakan luar biasa cepatnya sudah tiba di dalam lingkaran dan sinar pedang yang berkilauan menyerang Ceng-jiu Tok-ong. Kakek ini terkejut dan dalam gugupnya ia menangkis dengan ular hitam tadi.

“Crakk!” Tubuh ular itu terbabat putus dan Ceng-jiu Tok-ong berseru marah.

“Ang I Niocu, kau berani datang lagi?”

Memang, yang datang itu adalah Im Giok. Dengan cepat gadis ini lalu melompat ke dekat Tiauw Ki dan berlutut. Air matanya mengucur deras ketika ia melihat keadaan pemuda itu yang memandangnya dengan bibir tersenyum.

“Koko...,” katanya perlahan.

“Giok-moi, mengapa kau kembali...?”

“Koko, aku akan mencarikan kebebasan untuk kita berdua, kalau tidak... kita akan mati bersama.”

Im Giok cepat merangkul leher pemuda yang sudah berlepotan darah itu dan Tiauw Ki mengeluarkan suara sedu sedan yang tadi ditahan-tahannya. Ia terharu bukan main dan berbisik,

“Terima kasih, Moi-moi, hati-hatilah…”

Im Giok melepaskan pelukannya, lalu mendukung tubuh kekasihnya yang sudah lemas itu, disandarkannya di batang pohon yang tumbuh di situ. Semua orang melihat gerakan gadis ini dengan senjata siap-siap di tangan. Ada pula yang terharu menyaksikan adegan ini.

Kemudian Im Giok berdiri, pedang melintang di dada, mata berapi-api dan ia berkata, “Sudah kulihat dan kudengar semua semenjak tadi. Lie Kian Tek, kau ternyata seorang pengkhianat dan pemberontak yang berhati buas laksana srigala. Lekas kau bebaskan Gan-twako, atau aku akan membuka jalan darah! Andai kata usahaku gagal, maka aku dan Gan-twako akan mati bersama di tempat ini, tetapi kiraku tidak sedikit orang-orangmu yang akan menghadap Giam-kun (Malaikat Maut) terlebih dulu sebelum aku roboh!”

Memang, tadi setelah dengan hati gemas dan mendongkol Im Giok meninggalkan Tiauw Ki bersama pasukan Lie Kian Tek, di tengah jalan Im Giok merasa tidak enak hati dan menyesal. Dia sudah menyerahkan hatinya kepada Tiauw Ki dan dia sudah percaya betul akan sifat jantan dalam diri kekasihnya itu. Mengapa tiba-tiba Kiauw Ti berubah menjadi seorang pengecut? Mengapa Tiauw Ki tidak percaya kepadanya dan apakah artinya mati kalau tidak mati berdua? Mengapa Tiauw Ki menyuruhnya dan membiarkannya pergi dan mengalah hendak membuka rahasia, hendak menjadi seorang pengkhianat?

“Tidak mungkin! Tidak mungkin dia mau berbuat itu,” pikir Im Giok dan ia menghentikan larinya kuda.

Setelah berpikir sejenak ia lalu melompat turun dari kudanya, menambatkan kendali kuda itu pada sebatang pohon dan berlarilah Im Giok ke tempat tadi. Ia mempergunakan ilmu lari cepat, dengan kepandaiannya yang luar biasa ia dapat mendekati pasukan itu sambil bersembunyi dan menyelinap di antara pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu.

Ia sempat menyaksikan Tiauw Ki disiksa dan sempat mendengarkan kata-kata Tiauw Ki, melihat pula betapa kekasihnya secara nekat merampas kembali tusuk konde pemberian darinya. Melihat semua ini, Im Giok tak dapat menahan mengalirnya air matanya.

Tepat seperti yang diduganya semula, Tiauw Ki tadi hanya menipu Lie Kian Tek untuk memberikan kesempatan kepadanya menyelamatkan diri. Pemuda itu sama sekali bukan seorang pengecut dan sama sekali bukan pengkhianat pula, bahkan telah membuktikan bahwa dia seorang yang berani mati, seorang gagah dan yang mencintanya sampai di saat terakhir!

Demikianlah, Im Giok lalu menghunus pedang dan menerjang masuk, dan kini dia sudah menghadapi Lie Kian Tek dan pasukannya dengan sikap tenang dan gagah. Ia tidak takut apa-apa karena maklum bahwa andai kata ia gagal, ia akan mati bersama kekasihnya!

“Kepung dan tangkap dia! Boleh lukai jangan bunuh!” Lie Kian Tek berseru.

Serentak Im Giok dikepung, didahului oleh Ceng-jiu Tok-ong yang menyerang dengan golok hijaunya.

Sekali lagi Im Giok mengamuk. Tubuhnya berkelebat merupakan sosok bayangan merah, pedangnya menyambar-nyambar lebih dahsyat dari pada amukannya yang sudah-sudah karena sekarang di samping hati gadis ini amat sakit melihat kekasihnya tersiksa, juga ia nekad untuk mati bersama kekasihnya.

Para pengeroyoknya menjadi kewalahan. Terlena sedikit saja atau terlalu dekat sedikit saja, pasti pedang di tangan Im Giok mendapatkan mangsa dan seorang pengeroyok langsung roboh. Mereka mengepung dari jauh dan Lie Kian Tek memberi aba-aba.

Maka tombak-tombak panjang dan jaring lebar segera dikeluarkan. Dengan dua macam senjata yang biasanya dipergunakan untuk menangkap harimau atau lain binatang buas ini, Im Giok kini dikepung! Timbul kegembiraan para prajurit itu dan seperti kalau mereka menangkap harimau, kini mereka bersorak-sorak dan mendesak Im Giok dengan tombak-tombak panjang dan jaring yang amat kuat itu.

Lie Kian Tek memang suka sekali memburu binatang, bukan untuk dibunuh akan tetapi ditangkap hidup-hidup. Maka setiap kali pergi dengan pasukannya, selalu anak buahnya tidak lupa membawa alat-alat menangkap binatang buas ini, yakni jaring serta tombak-tombak panjang.

Menghadapi serangan istimewa ini, Im Giok menjadi marah sekali, juga amat bingung. Ia mengamuk bagaikan singa betina, pedangnya menyambar-nyambar dan banyak tombak telah dapat ia patahkan dengan pedangnya. Akan tetapi pihak pengeroyok terlalu banyak.

Im Giok merasa gugup juga menghadapi pengeroyok yang bersorak-sorak itu. Karena itu, setelah melawan mati-matian, akhirnya ia tidak dapat mengelak lagi ketika jaring yang lebar dan kuat dilempar dan menimpanya dari atas. Bagaimana ia dapat mengelak kalau di depan belakang dan kanan kirl belasan tombak menghadangnya?

Ia membabat dengan pedangnya, akan tetapi jala atau jaring kedua kembali menimpa sehingga gadis itu kini benar-benar seperti seekor singa betina tertangkap! Saat Im Giok meronta terdengar suara kain robek dan terkejutlah gadis ini ketika mendapat kenyataan bahwa di sebelah dalam jaring ini dipasangi kaitan-kaitan kecil dari baja sehingga kalau ia berani meronta, tentu pakaiannya akan robek semua dan juga kulitnya akan terkait dan luka-luka. Oleh karena itu, terpaksa dia tidak berani bergerak dan memasang kuda-kuda setengah duduk, di atas tanah, di dalam jaring-jaring itu.

Para prajurit bersorak-sorak gembira sekali. Terdengar pula suara Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.

“Keluarkan dia dan ikat kaki tangannya!” perintahnya dan suaranya terdengar gembira sekali.

Akan tetapi perintah ini hanya mudah diucapkan, sebaliknya sangat sukar dilaksanakan. Para prajurit yang ingin sekali memegang dan membelenggu gadis jelita itu tadinya pada berebut maju. Celaka bagi mereka, lima orang menjerit roboh dan tak dapat bangun lagi. Seorang roboh ditendang, seorang terpukul oleh tangan kiri dan tiga orang lagi tertusuk pedang! Biar pun berada di dalam jaring, namun Im Giok masih tetap lihai dan sangat sukar didekati.

Melihat ini, Ceng-jiu Tok-ong menjadi marah sekali. Dia melompat maju dan secepat kilat tangannya bergerak mengirim totokan ke arah jalan darah di punggung Ang I Niocu Kiang Im Giok. Dia mengira bahwa kalau diserang dari belakang, gadis yang berada di dalam jaring itu tentulah sukar mengelak lagi. Akan tetapi, akibatnya dia sendiri yang memekik kesakitan dan telapak tangannya terluka mengeluarkan darah.

Dalam keadaan terjepit seperti itu, hanya dengan mendengarkan suara angin pukulan, Ang I Niocu dapat menyusupkan pedangnya melalui bawah lengan kiri dan menyambut totokan lawan itu dengan ujung pedang!

Karuan saja telapak tangan Ceng-jiu Tok-ong menjadi terluka dan kakek ini berjingkrak-jingkrak saking marahnya. Ia lupa akan pesan Lie Kian Tek agar supaya gadis itu jangan dibunuh. Dalam kemarahannya, Ceng-jiu Tok-ong mencabut golok hijaunya yang beracun dan mengayun golok itu ke arah tubuh Ang I Niocu!

“Traaang...!”

Golok di tangan Ceng-jiu Tok-ong terpental membalik, bahkan hampir saja terlepas dari tangannya, membuat kakek ini melompat mundur dengan terkejut sekali. Pada saat itu, seorang nenek tua yang entah dari mana datangnya dan yang tadi telah menangkis golok Ceng-jiu Tok-ong dengan sepasang pedang yang berkilauan tajamnya, kini membabat jaring yang menutupi tubuh Im Giok.

Gadis ini sendiri pun dengan bersemangat lalu mengerjakan pedangnya, membabat dari dalam sehingga sebentar saja jaring itu rusak dan ia dapat melompat keluar. Di beberapa bagian tubuhnya terluka oleh kaitan, akan tetapi Im Giok tidak mempedulikannya.

Baik Im Giok mau pun Ceng-jiu Tok-ong dan semua orang yang berada di situ tak ada yang mengenal siapa gerangan nenek yang memegang sepasang pedang ini. Wajahnya keriputan, rambutnya sudah putih semua, namun gerakan-gerakannya masih sangat gesit dan lincah.

“Serbu...! Bunuh siluman ini!” Lie Kian Tek berseru keras.

Akan tetapi dia cepat mengangkat pedangnya ketika tiba-tiba nenek itu menyambar dan menyerangnya dengan pedang kiri, sedangkan pedang kanannya merobohkan dua orang prajurit yang menghalang di jalan! Lie Kian Tek cepat menangkis, tapi tangannya tergetar dan pedangnya terlempar! Sinar putih meluncur ke arah lehernya dan putera gubernur ini sudah meramkan mata.

Baiknya Ceng-jiu Tok-ong cepat datang menolong. Ditusuknya lambung nenek itu dengan golok hijaunya sehingga nenek itu terpaksa menarik kembali serangannya pada Lie Kian Tek, kemudian menghadapi Ceng-jiu Tok-ong. Mereka segera bertempur dengan hebat.

Ada pun Im Giok kini sudah dikepung lagi. Para prajurit sekarang maklum bahwa kalau tidak dibunuh, nona baju merah yang cantik jelita ini amat berbahaya, apa lagi sekarang tiba bantuan seorang nenek yang seperti setan. Mereka lalu beramai mengeroyok, yang pandai maju di depan, yang kurang pandai hanya membantu di belakang dengan tombak atau toya panjang.

Im Giok memutar pedangnya, kini dia menyerang dengan ganas dan sebentar saja lima orang pengeroyok roboh bergelimpangan. Oleh karena Ceng-jiu Tok-ong tidak dapat ikut mengeroyok, tentu saja bagi Im Giok para pengeroyok itu merupakan makanan lunak! Apa lagi gadis ini merasa sakit hati dan marah sekali telah menerima hinaan, sekarang pembalasan yang ia lakukan benar-benar hebat sehingga membuat para pengeroyoknya kalang kabut.

Pertempuran antara nenek itu melawan Ceng-jiu Tok-ong yang dibantu oleh enam orang perwira juga dahsyat sekali. Kepandaian nenek itu tinggi bukan main, kedua pedangnya menyambar-nyambar amat ganasnya. Telah banyak orang yang roboh olehnya dan para perwira yang membantu Ceng-jiu Tok-ong sudah beberapa kali berganti orang.

Diam-diam Ceng-jiu Tok-ong amat kaget ketika memperhatikan permainan pedang nenek ini. Ia mengenal gerakan-gerakan ilmu pedang itu, akan tetapi jika ia melihat wajah yang keriputan ini, ia menjadi ragu-ragu.

“Tahan! Toanio, siapakah kau dan mengapa engkau memusuhi kami?” Ceng-jiu Tok-ong berseru.

Terdengar nenek itu tertawa dan semua orang menjadi terheran-heran mendengar suara ketawanya, begitu merdu seperti suara ketawa seorang gadis belasan tahun!

“Ceng-jiu Tok-ong, kini kau sudah menjadi kaki tangan pemberontak dan berani sekali menghina muridku. Benar-benar keterlaluan!” Seperti juga suara tawanya, kata-katanya ini diucapkan dengan suara yang merdu sekali!

Mendengar suara ini, Ceng-jiu Tok-ong dan Ang I Niocu hampir berbareng berseru,

“Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat...”

Nenek yang berambut putih dan berwajah keriputan itu sekali lagi tertawa merdu, namun nadanya mengejek.

“Pek Hoa... mengapa kau menyerangku? Dia itu muridmu, akan tetapi mengapa berani sekali melawanku? Biar pun demikian, kalau kau menghendaki, aku bisa mengampunkan dia. Mari kita bicara baik-baik, Pek Hoa...”

Akan tetapi Pek Hoa Pouwsat atau nenek buruk itu hanya tertawa terkekeh-kekeh dan tiba-tiba saja sepasang pedangnya bergerak secara aneh sekali! Gerakan ini disusul oleh seruan kaget dari para pengeroyoknya dan dalam beberapa gebrakan saja empat orang pengeroyoknya telah roboh dan tewas!

Ceng-jiu Tok-ong kaget setengah mati, apa lagi ketika ia menyaksikan sepasang pedang dari bekas muridnya ini yang benar-benar luar biasa sekali, gerakannya demikian indah dan halus, dan nenek yang tubuhnya masih nampak langsing itu bergerak-gerak seperti orang menari secara amat menggairahkan!

Meski hal ini nampak lucu karena nenek itu tua, namun tetap saja masih mendatangkan pengaruh yang luar biasa terhadap para pengeroyoknya. Inilah ilmu pedang ciptaan Pek Hoa Pouwsat yang dinamakan ilmu pedang Bi-jin Khai-i, ilmu pedang yang mengandung kekuatan sihir dan bahkan sudah berhasil merobohkan pendekar sakti seperti Han Le!

Juga Im Giok terheran-heran. Tidak salah lagi pendengarannyag suara itu adalah suara bekas gurunya, Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat. Akan tetapi dahulu Pek Hoa Pouwsat adalah seorang wanita yang amat cantik jelita bagai bidadari, kenapa sekarang menjadi seorang nenek-nenek tua sekali yang buruk?

Betapa pun juga, melihat kelihaiannya, kedatangan nenek yang membantunya ini sudah membuat hati Im Giok menjadi besar dan pedangnya menjadi cahaya bergulung-gulung bagai naga mengamuk. Untuk mengimbangi keindahan permainan sepasang pedang Pek Hoa Pouwsat, Ang I Niocu lalu mainkan limu pedangnya yang seperti tarian indah, akan tetapi kehebatannya luar biasa sekali sehingga tiap kali berkelebat tentu ada lawan yang roboh!

Betapa pun juga sepak terjang Im Giok masih belum ada artinya apa bila dibandingkan dengan Pek Hoa Pouwsat. Nenek ini benar-benar mengerikan sekali sepak terjangnya. Tiap kali pedang kanan atau kiri di tangannya berkelebat, bukan satu orang yang roboh, sedikitnya ada tiga orang yang roboh tak bernyawa lagi. Sebentar saja tempat itu berubah menjadi tempat yang mengerikan, di mana nampak mayat bertumpuk-tumpuk dan darah membanjir.

Ceng-jiu Tok-ong semakin terdesak hebat oleh sepasang pedang bekas muridnya sendiri itu. Ngeri dia memikirkan betapa dia terancam bahaya maut di tangan bekas muridnya sendiri. Terbayanglah semua peristiwa yang terjadi dahulu pada waktu Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat masih menjadi muridnya.

Pek Hoa adalah seorang anak perempuan yatim-piatu, oleh karena ayah bundanya yang menjadi kepala penyamun sudah tewas di dalam tangan Ceng-jiu Tok-ong. Melihat bocah perempuan yang berkulit halus putih dan berbibir merah itu, Ceng-jiu Tok-ong tertarik lalu membawanya pulang dan bocah berusia tujuh tahun ini diambil menjadi muridnya.

Pek Hoa lalu menjadi dewasa dalam asuhan orang yang berwatak bejat, bahkan Ceng-jiu Tok-ong tidak malu untuk mempermainkan muridnya sendiri sehingga semenjak kecil Pek Hoa telah diajarkan segala macam perbuatan buruk dan tak tahu malu. Akhirnya Pek Hoa pergi meninggalkannya dan kemudian ia mendengar bahwa bekas murid, dan juga bekas kekasihnya itu sudah menjadi murid Thian-te Sam-kauwcu dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Sekarang teringat akan ini semua, Ceng-jiu Tok-ong lantas mengeluarkan keringat dingin. Sangat boleh jadi bahwa Pek Hoa yang kini sudah kenyang dengan pengalaman di dunia kang-ouw, dapat menduga bahwa dialah yang dulu telah membunuh ayah bunda dari Pek Hoa. Boleh jadi sekali bekas muridnya ini sekarang datang untuk membalas dendam!

Teringat akan semua ini, Ceng-jiu Tok-ong lalu berlaku nekad dan secara diam-diam dia mengeluarkan jarum-jarumnya yang beracun, juga mengeluarkan Cheng-tok-see (Pasir Hijau Beracun). Ia maklum bahwa ia tidak akan mendapat ampun dan pula tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri lagi.

Maka, ketika Pek Hoa Pouwsat kembali merobohkan empat orang kawannya sehingga yang lain-lain menjadi gentar dan menjauhkan diri, Ceng-jiu Tok-ong cepat menggunakan kesempatan selagi Pek Hoa mencabut pedangnya dari tubuh lawan yang dirobohkan, segera menyerang bertubi-tubi. Jarum dan pasir beracun disambitkannya dan semua ini dibarengi dengar serangan golok Cheng-tok-to secara nekad dan mati-matian.

Pek Hoa Pouwsat terkejut juga menghadapi serangan ini. Dia berhasil menangkis golok dan mengelak ke kiri, terus menusukkan pedangnya yang tepat mengenai ulu hati bekas gurunya. Akan tetapi tiga batang jarum juga tepat mengenai leher, pundak, dan dadanya!

Tiga batang jarum ini adalah Cheng-tok-ciam dan Pek Hoa tahu bahwa nyawanya takkan tertolong lagi. Ia membiarkan jarum-jarum ini menelusup memasuki dagingnya dan sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat gurunya berkelojotan lalu tewas, ia mengamuk terus!

Di lain pihak, dalam amukannya Im Giok melihat Lie Kian Tek berlari mendekati Tiauw Ki dengan pedang terangkat tinggi. Gadis ini maklum akan maksud putera gubemur ini, pasti hendak membunuh kekasihnya yang masih duduk tak berdaya karena luka-lukanya.

Cepat ia melompat laksana terbang dan tepat sekali datangnya ini. Terlambat sedikit saja tentu kekasihnya tidak dapat ditolong pula. Dengan perasaan gemas ia menangkis sambil mengerahkan tenaga.

Terdengar suara keras dan pedang di tangan Lie Kian Tek terbabat putus. Pada lain saat tubuh putera gubernur itu terlempar jauh terkena tendangan kaki Im Giok! Im Giok masih marah dan hendak mengejar tubuh Lie Kian Tek yang sudah pingsan itu supaya dapat dibunuhnya, akan tetapi ia dihadang oleh belasan orang perwira sehingga ia mengamuk lagi.

Para prajurit dan perwira-perwiranya melihat betapa Lie Kian Tek telah terluka hebat dan Ceng-jiu Tok-ong sudah tewas, menjadi lenyap semangat mereka. Apa lagi sudah terlalu banyak teman mereka yang tewas. Karena itu, sambil membawa tubuh Lie Kian Tek yang pingsan, mereka segera melarikan diri ke atas kuda dan membalapkan kuda tunggangan mereka!

Im Giok sudah merasa terlalu lelah untuk mengejar mereka. Sebaliknya, dia melihat Pek Hoa Pouwsat mengeluh, melepaskan sepasang pedangnya dan terhuyung-huyung mau roboh. Cepat Im Giok melompat dan memeluk wanita itu.

Melihat betapa Pek Hoa kini telah menjadi seorang wanita yang mukanya tua dan buruk seperti iblis, dan melihat pula betapa bekas gurunya ini sekarang menderita luka berat dalam usahanya menolong nyawanya, hati Im Giok menjadi terharu sekali. Kini semua kebencian yang timbul di hatinya terhadap bekas guru ini lenyap, berganti dengan kasih sayang yang hangat seperti yang dulu terkandung di hatinya terhadap bekas guru ini.

“Enci Pek Hoa...” bisiknya sambil memondong tubuh bekas gurunya itu, dibawa ke tempat yang bersih dari tumpukan mayat. Tiauw Ki menguatkan tubuh dan setengah merangkak ia pun menghampiri tempat itu.

Pek Hoa Pouwsat membuka matanya. Terlihatlah oleh Im Giok bahwa nenek ini memang benar-benar Pek Hoa Pouwsat gurunya. Sepasang mata yang bersinar-sinar dan bening bagus itu memang mata Pek Hoa. Tidak ada wanita kedua yang memiliki mata sebagus mata Pek Hoa, demikian pikir Im Giok. Ketika pandang matanya melihat luka pada leher, pundak, dan dada yang mengeluarkan darah hijau, Im Giok menahan isak.

“Enci Pek Hoa...!” bisiknya lagi.

Pek Hoa tersenyum dan terbukalah mulutnya yang ompong. Im Giok bergidik. Dahulu gigi Pek Hoa bukan main indahnya, berderet rapi dan putih bersih laksana mutiara.

“Im Giok, anak baik, kau makin cantik saja...”

Kemudian ia muntahkan darah yang wamanya hijau pula.

“Im Giok..., aku... aku takkan lama lagi dapat bertahan... kau cantik, sayang sekali kalau lenyap kecantikanmu... kau pergilah ke Pek-tiauw-san (Gunung Rajawali Putih), carilah telur Pek-tiauw... campur dengan obat ini... kau minum setengah tahun sekali... selama hidup kau akan tinggal muda dan cantik...”

Pek Hoa menghentikan kata-katanya dan tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan, kemudian ia tertawa ha-ha-hi-hi, tampaknya geli dan seperti ada sesuatu yang amat lucu, tertawa terus akan tetapi suara ketawanya makin lama makin lemah sehingga akhirnya terhenti sama sekali!

“Enci Pek Hoa, kau mati karena aku... terima kasih...” bisik Im Giok di dekat telinga bekas gurunya dan tak tertahan pula dua titik air mata menetes di kedua pipinya.

Sayang sekali Im Giok tidak sempat mendengar tentang pengalaman Pek Hoa, tidak tahu mengenai riwayatnya sehingga dia menyimpan obat pemberian bekas gurunya itu tanpa ragu-ragu lagi. Kalau saja ia tahu... kiranya ia akan membuang obat itu jauh-jauh dengan ngeri hati.

Sebagaimana sudah dituturkan di bagian depan, setelah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan terusir dari Pulau Pek-le-to, Pek Hoa Pouwsat pergi dengan hati perih sekali. Dia tidak berdaya menghadapi Bu Pun Su kakek sakti itu dan betapa pun sakit hatinya, ia tak dapat berbuat apa apa.

Yang lebih menyakitkan hatinya adalah karena ia sudah mengandung. Ia mendekati dan menggoda Han Le bukan sekali-kali karena ia mencinta pada pengemis sakti itu. Tadinya ia bermaksud menundukkan Han Le agar cita-citanya membalas dendam tercapai, agar ia mendapat pembantu yang lihai.

Memang ia berhasil, karena bukankah ia sudah berhasil menewaskan Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang dua orang tokoh Siauw-lim-pai, dan juga menewaskan Cin Giok Sianjin tokoh Kun-lun-pai atas bantuan Han Le! Sayang sekali bahwa biar pun mendapat bantuan dari Han Le, tetap saja ia tidak mampu mengalahkan Bu Pun Su yang amat lihai itu. Dan semua itu dibelinya dengan penghinaan hebat.

Tadinya ia hendak mengganggu Han Le, tidak tahunya ada juga rasa kasih sayang di dalam lubuk hatinya terhadap Han Le, apa lagi ia telah mengandung! Dan kini ia terusir dari pulau itu, terpisah dari Han Le dan sama sekali tidak dapat membalas dendamnya.

Bukan main marah dan kecewanya hati Pek Hoa. Ia bersembunyi di dalam hutan lebat, menanti saat kelahiran anak yang dikandungnya. Wanita ini memang berhati keras dan merupakan seorang yang luar biasa sekali. Tanpa bantuan siapa-siapa, dan hanya berkat lweekang-nya yang tinggi serta kepandaiannya yang sudah sampai di tingkat puncak, dia dapat melahirkan anak yang dikandungnya dengan selamat.

Akan tetapi apa yang terjadi? Setelah anaknya terlahir, terjadilah perubahan hebat pada dirinya! Kulitnya mengeriput, rambutnya yang hitam panjang berubah menjadi putih, dan sebaliknya kulitnya yang putih menjadi hitam dan tubuhnya menjadi kurus kering!

Sejak kecil Pek Hoa Pouwsat mengutamakan kecantikan. Untuk menjaga kecantikannya dia bahkan setengah tahun sekali makan telur Pek-tiauw yang dicarinya dengan susah payah. Dengan obat ini dia memang tidak pemah menjadi tua dan selalu tetap cantik dan muda.

Sekarang dia berubah menjadi sedemikian tua dan buruk, tentu saja hal ini merupakan pukulan yang hebat sekali baginya. Dia tidak mengira sama sekali bahwa khasiat obat itu akan musnah, bahkan sebaliknya merusak semua kecantikannya apa bila dia mempunyai anak!

Kini baru dia tahu dan saking marah dan sedihnya, Pek Hoa Pouwsat seperti orang gila lalu membanting mati anaknya sendiri! Kemudian ia lalu berlari-larian seperti orang gila, merantau ke sana ke mari sampai akhimya ia bertemu dengan Im Giok yang dikeroyok oleh Ceng-jiu Tok-ong dan orang-orangnya.

Melihat Ceng-jiu Tok-ong, timbullah kenang-kenangan lama yang membuat hatinya sakit, maka ia mengambil keputusan untuk membunuh bekas gurunya ini. Juga melihat Im Giok yang cantik jelita, Pek Hoa tersenyum seorang diri dan berkata,

“Dia harus menggantikan aku..., ha-ha, anak Kiang Liat harus merasai seperti aku pula...”

Demikianlah, Pek Hoa Pouwsat lalu menyerbu dan berhasil membunuh Ceng-jiu Tok-ong juga berhasil memberikan obatnya kepada Im Giok, sungguh pun untuk tercapainya dua maksud ini dia harus mengorbankan nyawanya.

Setelah Pek Hoa Pouwsat meninggal, Im Giok lalu menghampiri kekasihnya. Keduanya berpelukan dan keduanya mengeluarkan air mata.

“Aduh, Giok-moi, sama sekali aku tak mengira bahwa kita dapat bertemu dalam keadaan hidup,” kata Tiauw Ki.

Im Giok meraba muka Tiauw Ki yang penuh dengan luka-luka kecil akibat cambukan Lie Kian Tek, menjamah luka-luka itu dengan jari-jarinya yang halus, penuh kasih sayang.

“Kasihan sekali kau, Koko... kau maafkan aku yang telah meninggalkanmu seorang diri...”

“Tidak ada yang harus dimaafkan, adikku sayang. Aku memang sengaja membikin kau marah dan pergi, agar kau selamat...”

“Aku tahu, Koko, aku mengerti... alangkah besarnya kasih sayangmu kepadaku.”

“Aku mencintamu lebih dari mencinta jiwaku sendiri, Giok-moi...“

Sesudah keharuan mereka mereda, Tiauw Ki bertanya, “Nenek yang menolong kita itu, siapakah dia?”

“Dahulu, di waktu kecil, dia pemah menjadi guruku. Tadinya dia yang berjalan sesat, akan tetapi selalu aku tahu bahwa di dalam hatinya, ia sangat sayang kepadaku. Dan ternyata benar...” Suara Im Giok menjadi lambat penuh keharuan. “Dia mengorbankan nyawanya untukku... Aku harus merawat jenazahnya baik-baik, Twako. Ia harus dikubur baik-baik...”

Tiauw Ki menyetujui dan sibuklah mereka menggali lubang untuk mengubur mayat Pek Hoa Pouwsat.

“Bagaimana dengan mereka itu? Sudah sepatutnya mereka itu dikubur pula, bukankah mereka juga manusia?” Tiauw Ki menuding ke arah tumpukan mayat yang berserakan di sana-sini dan suaranya gemetar. Ngeri dia melihat mayat manusia yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu. Benar-benar hebat amukan Ang I Niocu dan Pek Hoa Pouwsat.

Im Giok memandang dan menarik napas panjang. “Tak mungkin, Koko. Bagaimana kita berdua sanggup mengubur mayat sebanyak itu? Apa lagi tanpa ada alat untuk menggali lubang.”

“Akan tetapi hatiku tidak menginginkan kalau mereka itu ditinggalkan begitu saja menjadi makanan binatang buas...,” Tiauw Ki membantah.

“Jangan khawatir, Koko. Penduduk di sekitar tempat ini tentu akan mengurusnya. Pula, mereka itu adalah anggota pasukan dari Lie Kian Tek, tentu kawan-kawan mereka akan datang kembali untuk mengurus mayat mereka. Terlebih lagi, kita harus cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini. Apa bila mereka datang lagi membawa bala bantuan, celakalah kita. Aku sudah kehabisan tenaga dan tak mungkin dapat melawan lagi...”

Kebetulan sekali mereka masih dapat menemukan dua ekor kuda yang tadinya telah lari kacau-balau. Maka, cepat mereka menunggang kuda ini dan melarikan kuda menuju ke utara, ke kota raja.

Di tengah perjalanan, Tiauw Ki berkata,

“Giok-moi, aku ingin sekali lekas-lekas menyelesaikan tugasku dan bersamamu pergi ke Sian-koan menemui ayahmu. Kalau... kau sudah menjadi isteriku, kau harus membuang jauh-jauh pedangmu dan selanjutnya kita hidup dalam damai dan tenteram. Aku tak bisa membiarkan isteriku merenggut nyawa manusia sedemikian banyaknya...!”

Im Giok tersenyum. Hatinya membantah, sebab dalam hal pertempuran, membunuh atau terbunuh adalah hal biasa. Akan tetapi ia tidak mau membantah dengan mulut karena maklum bahwa kekasihnya yang lemah itu baru saja terlepas dari bahaya maut dan baru mengalami sesuatu yang betul-betul menakutkan.

Perjalanan kemudian dilakukan secara cepat. Pada saat mereka lewat di sebuah kota, Im Giok membeli obat di toko obat untuk mengobati luka-luka kecil pada tubuh Tiauw Ki.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
*****

Kiang Liat yang melakukan perjalanan ke Go-bi-san untuk menyampaikan surat dari Bu Pun Su kepada Ketua Go-bi-pai tidak mengalami rintangan dan sampai di puncak gunung itu dengan selamat. Ia menghadap ciangbunjin dari Go-bi-pai, yakni Twi Mo Siansu, yaitu seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih dan sikapnya halus, tubuhnya tinggi kurus dan alisnya putih semua. Setelah membaca surat dari Bu Pun Su, kakek ini mengangguk dan tersenyum.

“Bu Pun Su benar-benar mengagumkan sekali. Sudah tua masih berhati muda, bergelora dan bersemangat. Jatuh-bangunnya sebuah kerajaan berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa, orang-orang seperti kita ini mau bisa apakah?”

Mendengar kata-kata ini, di dalam hatinya Kiang Liat tidak setuju sama sekali. Alangkah lemah dan pikunnya ketua Go-bi-pai ini, pikirnya. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani bilang apa-apa, hanya terus mendengarkan lebih lanjut. Juga para murid Go-bi-pai yang berada di situ, yang jumlahnya belasan orang, tidak ada yang mengeluarkan suara.

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dan mengandung tenaga.

“Maafkan teecu, Susiok. Teecu sudah berani berlancang mulut dan ikut-ikutan berbicara dalam urusan yang sama sekali teecu tak berhak mencampuri. Akan tetapi, sungguh pun teecu tunduk dan setuju akan kata-kata Susiok tadi bahwa apa pun yang diusahakan oleh manusia, akhirnya keputusan berada di tangan Thian. Akan tetapi, sebagai manusia yang berakal budi, apa lagi yang menjunjung tinggi keadilan dan kegagahan seperti kita, teecu rasa sudah sepatutnya kalau kita berusaha demi keadilan dan kebajikan. Ada pun akibat dan keputusannya, memang terserah kepada Thian Yang Maha Kuasa. Maafkan kalau pendapat teecu keliru dan selanjutnya mohon petunjuk, Susiok.”

Semua orang memandang kepada pembicara ini, juga Kiang Liat. Ia melihat bahwa yang berbicara itu adalah seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah, patut sekali menjadi seorang pendekar. Pakaiannya amat indah, pedangnya tergantung di pinggang, alisnya hitam dan matanya berapi-api. Usianya paling banyak dua puluh lima tahun.

Jika Kiang Liat memandang dengan kagum dan tertarik kepada pemuda ini, adalah murid lain-lain Go-bi-pai yang berada di sana memandang dengan muka merah dan ada yang khawatir. Mereka menduga bahwa Twi Mo Siansu pasti akan marah sekali, karena sudah merupakan peraturan perguruan di situ bahwa para anak murid tidak sekali-kali boleh ikut mencampuri percakapan antara guru besar ini dengan tamu yang datang. Apa lagi untuk urusan yang besar dan yang belum dimengerti oleh para anak murid.

Akan tetapi pemuda ini sudah berlancang mulut. Dia tidak saja mencampuri percakapan, bahkan terang-terangan berani mencela pendirian Twi Mo Siansu!

Suasana menjadi sunyi…..

Tadinya Twi Mo Siansu menjadi merah mukanya, sepasang mata yang masih amat tajam berpengaruh itu memandang pada pemuda gagah itu dengan marah. Akan tetapi, ketika bertemu dengan wajah yang tampan terbuka, mata yang berani menentangnya penuh pengertian itu, wajah kakek ini melembut kembali dan ia tersenyum.

“Bagus sekali, Liem Sun Hauw. Meski pun pendirianmu itu pikiran orang muda dan tidak sejalan dengan pikiranku, akan tetapi aku setuju sekali! Kau murid Go-bi-pai dari luar kuil, tentu tidak tahu akan peraturan di dalam kuil, karena itu kelancanganmu itu masih dapat kumaafkan. Sayang Suheng sudah meninggal, kalau tidak tentu dia akan bangga sekali mendengar ucapan muridnya di depanku.” Kakek ini lalu tertawa dengan girang.

“Harap maafkan, Susiok. Sebenarnya teecu tadi sudah lancang bicara tanpa dipikir dulu, harap banyak maaf.”

“Tidak apa, tidak apa. Bahkan kebetulan sekali. Aku sedang berpikir-pikir siapa gerangan orangnya yang dapat mewakili aku. Sudah kukatakan tadi bahwa biar pun tidak sejalan dengan pikiranku, tapi aku setuju sekali dengan pendirianmu. Karena itu aku pun setuju dengan pendapat Bu Pun Su. Pendekar Sakti itu minta bantuanku agar supaya kita dari Go-bi-pai ikut mengamati-amati kalau-kalau ada pihak penyerang mendatangi dari utara, karena menurut pendapat Bu Pun Su, negara berada dalam bahaya dari ancaman musuh berbagai pihak. Hal ini bisa dilakukan oleh semua anak murid yang berada di sini dengan melakukan penjagaan di sepanjang tapal batas sebagai pengawas. Akan tetapi tentang permintaan yang kedua dari Bu Pun Su agar supaya aku turun gunung dan menghubungi kawan-kawan untuk memperkokoh persatuan dan melenyapkan pertikaian antara kawan sendiri, sungguh tidak dapat kulakukan. Kaulah, Sun Hauw, kau yang harus mewakili aku turun gunung!”

“Teecu siap sedia menjalankan perintah Susiok. Mohon nasehat dan petunjuk selanjutnya agar teecu dapat melakukan tugas dengan baik,” jawab pemuda itu dengan suara tegas dan bersemangat.

“Kau hubungi semua tokoh besar dunia kang-ouw dan katakan bahwa aku sendiri sudah menyatakan setuju sekali dengan pendapat Bu Pun Su bahwa pada saat seperti ini kita semua harus bersatu. Jangan sampai ada perpecahan di antara kita dan kalau misalnya ada, urusan itu harus diselesaikan dengan cara damai. Persatuan harus ditujukan untuk melindungi negara dan rakyat dari bahaya. Apa bila benar-benar terjadi perang, tentu akan muncul manusia-manusia jahat dan perlu sekali kita melindungi rakyat jelata dari penindasan mereka ini. Sampaikanlah salamku kepada mereka dan pertama-tama lebih tepat kalau kau pergi ke Bu-tong-san mengingat bahwa partai Bu-tong-pai pada waktu ini sedang ada urusan percekcokan dengan Kim-san-pai. Katakan kepada Lo Beng Hosiang ciangbunjin dari Bu-tong-pai bahwa jika dia mau mengadakan pertemuan damai dengan pihak Kim-san-pai, boleh mempergunakan kuil kita di Go-bi-san sini.”

“Teecu sudah ingat akan semua pesan dari Susiok dan akan mentaati,” kata Sun Hauw, pemuda gagah itu.

Seorang di antara para anak murid Go-bi-pai yang duduk di sana, tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara lantang,

“Maaf, Suhu. Teecu merasa kurang puas dengan diangkatnya Liem-sute sebagai wakil Suhu. Hal ini menyangkut nama baik partai kita, maka teecu merasa ragu-ragu apakah kelak nama baik partai kita tidak akan terancam bahaya. Liem-sute baru saja datang di Go-bi-pai, baru tiga hari, dan Suhu tahu bahwa dia adalah murid Thian Mo Siansu Supek hanya menurut pengakuannya sendiri. Bagaimana kalau dia itu sebenamya bukan murid Supek? Sungguh pun andai kata dia itu benar-benar murid Supek, masih belum boleh dia dianggap sebagai anak murid Go-bi-pai, mengingat bahwa antara Suhu dan Supek...”

“Cukup!” Twi Mo Siansu membentak.

Murid yang bicara tadi, yaitu seorang tosu pula yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, tak berani melanjutkan kata-katanya dan duduk kembali.

“Tek Sin, aku mengerti akan maksud kata-katamu. Tapi kita telah menerima tugas untuk menjadi tukang menggalang persatuan, bagaimana kita masih teringat akan perpecahan sendiri? Tidak, bagaimana pun juga, murid Suheng adalah murid Go-bi-pai pula. Ada pun keraguanmu tentang kemampuan Sun Hauw, memang tepat. Baiklah kau kuserahi tugas mengujinya apakah benar dia itu anak murid Go-bi-pai, dan apakah kiranya dia sudah cukup kuat untuk melakukan tugas mewakili aku.”

Tek Sin Tojin terkejut. Tak disangkanya bahwa ucapannya tadi membuat suhu-nya marah dan dia kini diharuskan menguji Liem Sun Hauw! Tek Sin Tojin adalah murid pertama dari Twi Mo Siansu dan tadi mendengar tugas mewakili suhu-nya diberikan kepada pemuda itu, tentu saja ia merasa tidak senang. Sekarang, ada jalan baginya untuk menunjukkan bahwa pandangannya tepat dan bahwa gurunya telah berlaku keliru menyerahkan tugas sepenting itu kepada seorang pemuda seperti Liem Sun Hauw yang baru saja datang dan mengaku sebagai murid Thian Mo Siansu.

“Teecu tidak berani menolak perintah Suhu,” katanya sambil berdiri, lalu katanya kepada Liem Sun Hauw. “Liem-sute, tentunya kau telah mendengar sendiri perintah Suhu bahwa pinto harus mengujimu. Oleh karena itu, marilah kita pergi ke lian-bu-thia (tempat berlatih silat).”

Liem Sun Hauw tersenyum dan menjura kepada tosu yang tubuhnya tinggi besar ini.

“Twa-suheng, siauwte mana berani menolak? Hanya mengharap belas kasihan Suheng supaya jangan berlaku terlalu keras terhadap siauwte yang masih hijau.” Sambil berkata demikian, Liem Sun Hauw lalu bersiap mengikuti Tek Sin Tojin pergi ke lian-bu-thia.

“Tidak usah ke lian-bu-thia, ruangan ini pun sudah cukup lebar jika hanya untuk menguji kepandaian saja, Tek Sin, kau coba kepandaian Sun Hauw ini di sini saja,” kata Twi Mo Siansu.

Semua anak murid Go-bi-pai lalu mengundurkan diri dan berdiri di pinggir untuk memberi tempat yang lega bagi dua orang yang hendak mengadu kepandaian itu. Juga Kiang Liat yang sebagai tamu tidak berani turut bicara lalu minggir.

Ia melihat Tek Sin Tojin sebagai seorang tosu tinggi besar yang jelas sekali mempunyai tenaga kuat dan dari pandang mata tosu ini dia dapat mengetahui bahwa Tek Sin Tojin mempunyai lweekang dan kepandaian yang tinggi. Maka diam-diam ia mengkhawatirkan keadaan pemuda tampan itu. Kiang Liat yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa Tek Sin Tojin merasa iri hati kepada Sun Hauw dan dalam ujian silat ini tentu saja tosu itu akan berusaha untuk membikin malu dan merobohkan Sun Hauw.

Liem Sun Hauw menanggalkan jubah luarnya dan kini ia berpakaian ringkas, menambah kegagahannya karena nampaklah bentuk tubuhnya yang bidang dan tegap. Dia berdiri di tengah ruangan menghadapi Tek Sin Tojin dengan tubuh sedikit direndahkan dan kepala ditundukkan, tanda menghormat kepada saudara tua.

“Liem-sute, pinto melihat ada pokiam (pedang pusaka) tergantung di pinggangmu. Dalam ujian ini, apakah kau hendak mempergunakan pedang?”

Liem Sun Hauw cepat menjura. “Siauwte menyerahkan pada kebijaksanaan Suheng saja, bagaimana cara Suheng hendak menguji, siauwte siap mentaati perintah.”

“Hemm, kalau begitu cabut pedangmu. Biar aku menghadapi pedangmu dengan tangan kosong saja.”

Liem Sun Hauw patuh. Dia menghunus pedangnya dan nampak sinar putih berkilauan, tanda bahwa pedang itu adalah pedang yang baik. Dia lalu memutar pedangnya dengan gerakan indah dan cepat, tahu-tahu pedang itu kini sudah dipegang di bagian pucuknya dan gagangnya disodorkan ke arah Tek Sin Tojin, tangan kiri dibuka terpentang di depan dada.

Melihat ini, Kiang Liat tahu bahwa meski pun kelihatannya aneh sekali memegang ujung pedang secara terbalik, akan tetapi gerakan ini bukanlah gerakan sembarangan dan tentu saja mempunyai arti tertentu.

“Ketika Suhu memberikan gin-kiam (pedang perak) ini kepada siauwte, Suhu berpesan supaya siauwte jangan sekali-kali mempergunakan pedang ini untuk menghina orang dan melawan orang bertangan kosong dalam pibu,” kata pemuda itu dengan sikap hormat.

Twi Mo Siansu mengangguk-angguk girang. “Ah kiranya Suheng masih ingat akan pesan Sucouw, masih ingat untuk mengajarkan peraturan ini kepada muridnya.”

Memang Go-bi-pai terkenal keras dengan peraturan-peraturannya. Di antaranya, seorang murid sama sekali tak boleh memamerkan ilmu pedangnya, juga tidak boleh menghadapi lawan dalam pibu (pertandingan persahabatan) yang bertangan kosong dengan pedang. Kalau terjadi lawan itu bertangan kosong menantang, ia harus menyerahkan pedang itu dengan sikap dan gerakan tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh Sun Hauw ini. Tadi memang Tek Sin Tojin menguji apakah pemuda ini mengerti akan peraturan ini dan ternyata Sun Hauw mengerti baik!

“Kau hendak memberikan pedangmu padaku? Baik, kuterima dan awas terhadap caraku mengembalikannya!” kata Tek Sin Tojin.

Tangan kanannya menyambar dan pada lain saat pedang itu sudah berpindah ke dalam tangannya. Tosu tinggi besar itu lalu membuat gerakan melompat ke belakang, berjungkir balik tiga kali, kemudian pada jungkiran terakhir, ia menggerakkan tangannya dan pedang itu meluncur seperti anak panah menyambar ke arah dada Liem Sun Hauw!

Pemuda itu cepat meloloskan sarung pedangnya dan dengan gerakan yang indah namun cepat sekali ia menyambut pedang yang meluncur ke dadanya itu dengan sarung pedang dan... tepat sekali pedang itu masuk ke dalam sarungnya sehingga mengeluarkan suara keras! Indah sekali gerakan dua orang itu.

Tek Sin Tojin melakukan gerakan menyambit yang merupakan jurus terakhir dari ilmu pedang Go-bi-pai, yakni gerakan yang disebut Sin-liong Kian-hwe (Naga Sakti Mengulur Ekor) yang dimaksudkan untuk dipergunakan pada saat terakhir atau pada saat sudah amat terdesak oleh lawan yang lebih tangguh. Timpukan pedang yang tidak terduga-duga ini akan dapat menolong diri, kalau tidak berhasil merobohkan lawan, sedikitnya memberi kesempatan untuk melarikan atau menjauhkan diri!

Ada pun Sun Hauw yang sudah menduga lebih dulu, telah meloloskan sarung pedangnya dan cepat memperlihatkan kelihaiannya sebagai anak murid Go-bi-pai, melakukan jurus ilmu silat yang disebut Sin-liong Siu-cu (Naga Sakti Menyambut Mustika). Memang, dari gerakan ini saja sudah dapat dilihat bahwa Sun Hauw benar-benar seorang anak murid Go-bi-pai yang jempol.

Ada pun Kiang Liat yang juga seorang ahli pedang terkemuka, melihat petunjukan ilmu pedang ini, diam-diam dia merasa kagum sekali. Ia sudah tahu bahwa Go-bi-pai memang sebuah perguruan yang memiliki ilmu pedang indah dan aneh-aneh, maka menyaksikan demonstrasi tadi, ia merasa gembira dan memuji,

“Bagus sekali!”

Ia tidak tahu bahwa memang di dalam ilmu pedang cabang Go-bi-pai terdapat pelajaran terakhir, yaitu bersilat dengan sarung pedang. Hal ini dipelajari untuk berjaga kalau-kalau pedang terampas lawan, maka biar pun dengan sarung pedang, masih dapat anak murid Go-bi-pai melakukan perlawanan hebat.

Sementara itu, sekarang Tek Sin Tojin dan Liem Sun Hauw sudah mulai bertempur dengan tangan kosong. Gerakan mereka cepat dan indah, setiap pukulan ditangkis atau dielakkan dengan tepat dan cepat. Dilihat sepintas lalu, mereka seakan-akan dua orang anak murid Gobi-pai yang sedang berlatih silat, akan tetapi sebenarnya bukan demikian, karena Tek Sin Tojin mendesak dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Sekali saja Liem Sun Hauw meleset dalam menangkis atau mengelak, dia akan terpukul dan mendapat luka di dalam tubuh yang tidak ringan! Akan tetapi ternyata Liem Sun Hauw hafal akan semua jurus serangannya sehingga pemuda ini dapat menangkis atau mengelak dengan tepat, kemudian melakukan serangan balasan sebagaimana mestinya dalam jurus dan gerak yang dilakukannya menghadapi suheng-nya ini.

Kalau tadi Kiang Liat merasa kagum melihat demonstrasi ilmu pedang, sekarang melihat ilmu silat tangan kosong yang diperlihatkan, ia tidak merasa heran atau kagum. Ilmu silat itu memang cepat dan indah, lagi kuat gerakannya, akan tetapi tidak terlalu hebat dan Kiang Liat merasa bahwa ilmu silatnya sendiri, ilmu silat keturunan keluarga Kiang atau ilmu silat yang ia dapat dari Han Le dan Bu Pun Su, tidak usah kalah menghadapi ilmu silat yang dimainkan oleh kedua orang itu.



Dara Baju Merah

Ang I Niocu (Dara Baju Merah) adalah episode kedua dari rangkaian cerita silat karya Kho Ping Hoo Serial Pendekar Sakti Bu Pun Su. Kisah ini merupakan lanjutan langsung dari cerita Pendekar Sakti.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

01. Dara Baju Merah JILID 01

02. Dara Baju Merah JILID 02

03. Dara Baju Merah JILID 03

04. Dara Baju Merah JILID 04

05. Dara Baju Merah JILID 05

06. Dara Baju Merah JILID 06

07. Dara Baju Merah JILID 07

08. Dara Baju Merah JILID 08

09. Dara Baju Merah JILID 09

10. Dara Baju Merah JILID 10

11. Dara Baju Merah JILID 11

12. Dara Baju Merah JILID 12

13. Dara Baju Merah JILID 13

14. Dara Baju Merah JILID 14

15. Dara Baju Merah JILID 15

16. Dara Baju Merah JILID 16

17. Dara Baju Merah JILID 17

18. Dara Baju Merah JILID 18

19. Dara Baju Merah JILID 19

20. Dara Baju Merah JILID 20

Seri Ke-3 Serial Bu Pun Su: Pendekar Bodoh

Dara Baju Merah Jilid 14

ANG I NIOCU

(DARA BAJU MERAH)

Karya Kho Ping Hoo

JILID 14

DUA orang muda itu melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Tiang-hai. Tidak lama kemudian mereka memasuki kota itu, sebuah kota yang besar dan ramai. Setelah mereka memasuki kota, nampak makin banyak orang yang agaknya datang dari luar kota, ada yang berkuda, berkereta, banyak pula yang berjalan kaki.

Mata Im Giok yang tajam dapat melihat betapa banyak orang-orang yang kelihatannya berkepandaian tinggi, seperti orang-orang kang-ouw. Akan tetapi karena ia sendiri belum terkenal, maka ia tidak dikenal orang dan hal ini melegakan hatinya.

“Gan-twako, mengapa kau tidak bilang bahwa hari ini Suma-huciang sedang merayakan hari lahirnya yang ke enam puluh tahun?” Im Giok menegur kawannya.

“Aku sendiri pun baru tadi mendengar dari mulut Lie Kian Tek,” jawab Tiauw Ki. “Akan tetapi hal ini lebih baik, aku dapat menghadap Suma-huciang dengan dalih menghaturkan selamat serta menghaturkan barang persembahan tanpa dicurigai orang lain. Agaknya Suma-huciang sengaja mengadakan pesta untuk mengumpulkan orang-orang, dan untuk mengetahui siapa lawan siapa kawan.”

Im Giok memuji kecerdikan Gan Tiauw Ki. “Kalau begitu, kurasa kau akan menghadapi banyak bahaya, Gan-twako. Kulihat orang-orang yang datang ke kota ini hampir semua adalah orang-orang kang-ouw, dan di antaranya tentu banyak yang jahat. Ada baiknya kalau aku pun menghadiri pesta itu dan untuk memberi hormat dan selamat pula kepada Suma-huciang. Ada pun untuk barang hantaran, biarlah aku memberikan ini.”

Im Giok mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari emas dihias kemala indah. Melihat barang ini, Tiauw Ki berubah air mukanya dan kulit mukanya menjadi merah sekali. Im Giok tertegun.

“Ehh, Gan-twako, kau kenapakah?” tanyanya.

Muka Tiauw Ki makin merah. “Kiang-moi, alangkah tajamnya pandang matamu. Sedikit saja ada apa-apa terasa dalam hatiku, kau sudah tahu!”

Im Giok tertawa. “Kau pun tajam pandang matamu, Twako. Ketika aku marah dan hendak mendamprat orang she Lie, kau menyentuh tanganku dan melarangku marah-marah.”

“Mudah saja, kulihat ujung hidungmu bergerak-gerak, aku sering kali melihat kau berhal seperti itu kalau merasakan sesuatu, maka aku dapat menyangka bahwa kau tentu akan marah terhadap orang she Lie itu.”

“Begitukah? Apakah ujung hidungku suka bergerak-gerak? Alangkah lucu dan anehnya. Tentu seperti hidung kuda!”

“Ahh, tidak Kiang-moi, bahkan lucu dan... dan manis sekali,” kata Tiauw Ki.

“Aah, sudahlah. Kau memang pandai memuji. Kau sendiri pun mudah dilihat. Mukamu merah seperti udang direbus, bagaimana aku tidak tahu bahwa kau memikirkan sesuatu? Lebih baik sekarang kau mengaku, kau sedang berpikir apakah?”

“Tusuk kondemu itu, Kiang-moi. Sayang sekali kalau diberikan kepada Suma-huciang.”

“Ahh, ini benda tidak begitu berharga, Twako.”

“Mungkin harganya tidak begitu tinggi, akan tetapi selama ini sudah menghias rambutmu, jadi... jadi... begitulah, amat berharga dalam pandanganku. Karena itu jangan diberikan sebagai hadiah, kalau hendak memberi hadiah, lebih baik kita beli saja di toko emas di kota ini, aku membawa bekal banyak uang Kiang-moi.”

Tiba-tiba muka Im Giok menjadi merah dan gadis ini merasa amat girang.

“Twako, aku sendiri tidak membawa uang. Tetapi aku tidak mau kalau kau membelikan barang hadiah itu untukku. Aku lebih suka memberikan tusuk konde ini dari pada aku harus menyusahkanmu membeli di toko.”

“Begini saja, Kiang-moi. Kalau kau begitu angkuh dan tidak mau menerima uangku untuk membeli barang tanda mata, bagaimana kalau... kalau... aku tukar saja tusuk kondemu itu? Sebagai gantinya aku membelikan barang hadiah yang jauh lebih mahal harganya untuk diberikan kepada Suma-huciang?”

Kembali dua pasang mata beradu dan keduanya bermerah muka.

“Sesukamulah, bagiku benda ini jatuh di tangan siapa saja pun tidak ada bedanya. Tentu saja… kalau berada di tanganmu lebih baik lagi.”

“Mengapa lebih baik, Kiang-moi?” Tiauw Ki mendesak.

“Mengapa? Ahh... kau mendesak dengan pertanyaan yang bukan-bukan.”

“Mengapa, Kiang-moi? Mengapa lebih baik?” kembali pemuda itu mendesak.

“Sstt, lihat, banyak orang memperhatikan kita. Mari kita pergi ke rumah penginapan dan berganti pakaian, lalu mengunjungi rumah Suma-huciang.”

Keduanya lalu mencari rumah penginapan, menyewa dua buah kamar, lalu berkemas. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dengan pakaian sudah ditukar pakaian bersih. Mereka pun mandi lebih dahulu sehingga sepasang orang muda itu nampak bersih dan tampan, benar-benar merupakan pasangan yang amat sedap dipandang.

Dengan diantar oleh Tiauw Ki, Im Giok mencari barang hadiah di toko emas dan akhirnya setelah memilih-milih lalu membeli sebuah kotak kuno berukir yang indah sekali dari toko perhiasan. Ia hendak memberikan tusuk kondenya kepada Tiauw Ki, akan tetapi pemuda itu menolak dan mengatakan nanti saja.

Kemudian dua orang muda itu pergi ke gedung pembesar Suma-huciang yang berada di tengah kota. Gedung itu besar dan bentuknya kuno, sebab semenjak beberapa keturunan Suma-huciang memang sudah menjabat pangkat dan berjasa kepada Kaisar. Jadi bukan semata karena kedudukannya maka Suma-huciang disegani oleh para pembesar lainnya, akan tetapi terutama sekali karena nama keluarganya yang semenjak dulu menjadi tokoh besar yang disayang oleh Kaisar karena setia dan berani mati membela negara.

Ketika mereka tiba di situ, ternyata sudah banyak sekali tamu memenuhi ruangan depan. Keadaan sungguh ramai dan meriah. Tambur, canang, suling dibunyikan orang, didahului suara biduan pria yang parau dan nyaring.

Di ruangan depan sebelah kiri ramai orang bermain judi, di sebelah kanan serombongan orang-orang tua bertanding minum arak sehingga suasana di kanan kiri ruangan itu amat ramai. Hanya di ruang tengah yang luas sekali itu berkumpul orang-orang muda yang duduk mengobrol sambil menghadapi makanan dan minuman.

Tuan rumah, Suma-huciang yang sudah berusia enam puluh tahun namun nampak masih gagah bermuka merah bagai muka Kwan Kong (tokoh Sam Kok yang terkenal), bertubuh tinggi besar, memakai pakaian kebesaran dengan pedang pemberian Kaisar tergantung pada pinggangnya, duduk di ruangan sebelah dalam di mana berkumpul tamu-tamu yang dipandang sebagai golongan tinggi dan terhormat.

Banyak sekali pelayan hilir mudik mengatur kelancaran pesta itu. Setiap orang tamu yang datang tentu disambut oleh pelayan yang berpakaian indah. Tamu baru ini dibawa masuk dan diantar menghadap Suma-huciang yang duduk di ruangan dalam, kemudian tamu ini menghaturkan selamat sekalian memberi hormat serta memberikan barang hadiah yang dibawanya, kemudian oleh pelayan ia dipersilakan duduk di ruangan yang tepat baginya. Pelayan penyambut ini adalah orang yang berpengalaman luas dan mengenal hampir semua tamu sehingga ia maklum ke mana ia harus membawa tamunya duduk.

Barang-barang sumbangan diletakkan di atas sebuah meja besar panjang yang ditilami sutera merah, diatur berjajar seakan-akan berlomba keindahannya dan kemahalannya. Tamu-tamu wanita yang jumlahnya paling banyak dua puluh lima orang, amat sedikit apa bila dibandingkan dengan jumlah tamu pria, duduk di dekat tempat sumbangan.

Ada pula beberapa orang tamu wanita yang duduk semeja dengan tamu-tamu pria. Tamu wanita seperti ini pasti orang-orang kang-ouw dan para ahli silat, mudah dilihat dari gerak gerik mereka, pakaian, dan pedang mereka. Bagi wanita yang sudah biasa merantau di dunia kang-ouw, tidak ada lagi pantangan hubungan dalam pergaulan dengan kaum pria, sungguh pun hubungan ini amat terbatas oleh tata susila yang tetap dipegang teguh.

Tiauw Ki dan Im Giok disambut oleh pelayan penyambut yang menjura dengan senyum ramah-tamahnya.

“Selamat datang, Tuan Muda beserta Nona. Harap Ji-wi (Tuan Berdua) sudi memberi tahukan nama dan alamat agar dapat melaporkan kedatangan Ji-wi kepada Taijin.”

“Terima kasih, Lopek. Tolong beri tahukan kepada Suma-taijin bahwa keponakannya she Gan dari kota raja datang berkunjung bersama seorang sahabat, yaitu Nona Kiang. Kami datang dari jauh sengaja hendak menghaturkan selamat,” jawab Tiauw Ki dengan suara tenang sewajarnya.

Pada saat pelayan itu mendahului mereka menuju ke ruangan dalam, Tiauw Ki berbisik kepada Kiang Im Giok sebagai jawaban atas pandang mata keheranan dari nona ini.

“Agar Suma-taijin mengerti bahwa yang datang tentu seorang yang istimewa dari kota raja.”

Diam-diam Im Giok memuji ketabahan dan kecerdikan pemuda ini mengatur siasat. Tiap meja yang dikelilingi tamu terdiam apa bila mereka lewat dekat, baru kemudian terdengar bisikan-bisikan disertai suara ketawa ketika mereka sudah lewat, tanda bahwa mereka menjadi pusat perhatian.

Baik Tiauw Ki mau pun Im Giok maklum bahwa lagi-lagi yang menjadi pusat perhatian para tamu pria ini, tentu Im Giok yang cantik! Akan tetapi gadis itu tak ambil peduli sama sekali, hanya ketika ia mulai masuk ke ruang dalam, sepasang matanya bergerak penuh perhatian dan terlihatlah olehnya putera gubernur yang bernama Lie Kian Tek bersama kawan-kawannya berada di dalam ruangan ini.

Ruangan ini paling lebar dan luas, dan di tengah-tengah terdapat sebuah panggung yang menempel pada dinding, dihias dengan kain sutera dan langkan-langkan indah. Agaknya akan diadakan pertunjukan di atas panggung, pikir Im Giok yang kemudian memindahkan perhatiannya kepada seorang tua yang berdiri mendengarkan laporan pelayan, kemudian menyambut kedatangan Tiauw Ki dengan wajah berseri dan melambaikan tangan.

“Aha, kiranya Gan-hiantit yang baru datang! Bagaimana keadaan ayahmu di kota raja? Baik-baik sajakah?”

Im Giok sampai menahan berdebarnya jantung ketika mendengar ini. Apakah Tiauw Ki betul-betul keponakan Suma-huciang, ataukah pembesar tua itu yang ikut-ikutan bermain sandiwara secara cerdik sekali?

“Terima kasih, Paman, terima kasih. Ayah baik-baik saja dan dari jauh menghaturkan selamat atas ulang tahun Paman disertai doa semoga Paman panjang usia dan hidup bahagia. Ada pun siauwtit sendiri pun menghaturkan selamat dan membawa sebuah benda tak berharga untuk sekedar sumbangsih dari siauwtit, mohon diterima.”

Pemuda itu mengeluarkan bungkusan dari saku bajunya, bungkusan sutera kuning yang besarnya hanya dua tiga kepalan tangan orang. Suma-huciang tertawa sambil menerima bungkusan itu.

“Aah, kau terlalu sungkan, Gan-hiantit, akan tetapi terima kasih atas kebaikanmu.”

Suma-huciang lalu memberikan bungkusan itu kepada seorang pelayan yang memang sudah berdiri di situ dan bertugas menerima barang-barang hadiah, kemudian pelayan itu menaruh bungkusan itu di tengah-tengah meja bersama dengan lain-lain hadiah.

Im Giok yang berpendengaran tajam sekali tiba-tiba saja merasa aneh. Suara berisik dari orang-orang bercakap-cakap di ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi sejenak, dan ketika ia menyapu ruangan dengan kerling matanya, ia melihat betapa semua orang mengarahkan pandang mata kepada bungkusan itu!

Akan tetapi dia mendengar suara Tiauw Ki memperkenalkannya kepada Suma-huciang, maka cepat dia menjura kepada pembesar itu dan berkata,

“Saya yang bodoh kebetulan sekali bertemu dengan Saudara Gan di tengah perjalanan. Mendengar bahwa Suma-taijin hendak merayakan hari ulang tahun ke enam puluh, saya memberanikan diri ikut dengan Saudara Gan dan ikut pula menghaturkan sedikit tanda mata yang tidak berharga.”

Dia mengeluarkan bungkusannya, yakni kotak kayu yang indah yang dibelinya dari toko perhiasan. Kembali kotak itu diterima oleh Suma-huciang dan segera dioperkan kepada pelayannya lalu disimpan di atas meja.

“Terima kasih, Kiang-siocia. Kau sungguh baik sekali. Silakan kalian orang-orang muda memilih tempat duduk yang enak. Maafkan aku tidak dapat melayani lebih lama karena harus menerima tamu-tamu baru yang datang.”

Tiauw Ki dan Im Giok menjura, lalu mengundurkan diri. Pelayan hendak mempersilakan mereka duduk di ruangan luar, akan tetapi Tiauw Ki berkata,

“Aku ingin duduk di ruangan ini, di dekat pamanku.”

Pelayan itu tak berani membantah karena betapa pun juga pemuda ini adalah keponakan Suma-huciang dan kiranya seorang keponakan sudah patut disejajarkan dengan ‘orang-orang besar’ di situ. Juga Im Giok sudah memilih tempat di sudut yang masih kosong dan kebetulan sekali, kursi yang dia duduki itu berada tepat di depan panggung yang masih kosong. Tiauw Ki duduk di seberang meja.

“Kau lihat kalau-kalau bungkusan tadi diambil orang,” bisiknya perlahan kepada Im Giok.

Nona ini maklum dan mengangguk dengan pandang matanya. Baginya hal ini mudah saja karena memang dia duduk dengan muka menghadap meja besar tempat menaruh barang-barang sumbangan.

Tamu-tamu baru masuk memberi selamat dan barang-barang sumbangan makin banyak sehingga memenuhi meja. Akhirnya habis juga aliran tamu, ada pun semua tempat sudah penuh oleh tamu. Hidangan-hidangan lezat dan arak-arak wangi dikeluarkan.

Kemudian salah seorang pengawal dari Suma-huciang angkat bicara mewakili pembesar itu menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas kedatangan para tamu, kemudian mengumumkan bahwa untuk menghibur para tamu, akan dimainkan tari-tarian oleh para penari yang sengaja datang dari kota raja sebagai sumbangan dari Kaisar!

Pengumuman ini mendapat sambutan gempar dari semua hadirin, karena hal ini adalah sesuatu yang istimewa. Tidak sembarang orang pernah menonton pertunjukan luar biasa ini, yaitu para penari cantik jelita dari dalam istana!

Suma-huciang menjadi gembira sekali melihat sambutan para tamu maka pembesar tua ini bangkit berdiri, menjura dan berkata,

“Saudara-saudara sekalian, memang hal ini amat menggembirakan. Aku telah menerima karunia besar sekali dari Hongsiang, karunia yang sangat mengharukan hatiku dan yang selama hidup tidak akan kulupa. Dalam keadaan seperti ini Hongsiang masih mengingat hambanya yang sudah tua seperti aku, benar-benar hal yang amat menggembirakan dan mengharukan. Alangkah mulia hati Hongsiang.”

Suma-huciang menghentikan kata-katanya untuk menahan suaranya yang mulai bergetar saking harunya. Kemudian disambungnya lagi, kini air mukanya berseri.

“Ada kabar yang baik sekali, Saudara sekalian. Sebelum tari-tarian dari kota raja dimulai, Lie-kongcu putera dari Paduka Gubernur di Shansi, berkenan memberi hiburan dengan menyumbangkan tarian silat di hadapan suadara-saudara. Kiranya semua orang sudah mengenal atau mendengar betapa pandainya Lie-kongcu bermain silat. Nah, Lie-kongcu, silakan!”

Suma-huciang membungkuk ke arah Lie Kian Tek yang sudah bangkit berdiri disambut tepuk-sorak oleh para hadirin yang berada di situ. Kini semua tamu wanita memandang ke arah pemuda tampan ini dengan mata bersinar dan bibir tersenyum-senyum.

“Sebetulnya siauwte merasa amat malu menunjukkan kebodohan, akan tetapi demi untuk meramaikan pesta Suma-taijin, apa boleh buat!” katanya tersenyum manis.

Mendadak, sekali dia bergerak, tubuhnya melayang naik ke atas panggung! Jarak antara tempat dia berdiri dengan panggung ada enam puluh tombak, dan dia dapat melompat sedemikian rupa melewati kepala para tamu, betul-betul merupakan demonstrasi ginkang yang tak boleh dipandang ringan!

Tukang pemukul tambur, canang dan suling sudah siap dan kini terdengar suara musik dipukul gencar. Akan tetapi Lie Kian Tek memberi isyarat dengan tangan ke belakang sehingga tiba-tiba suara musik dipukul perlahan sekali.

“Cuwi sekalian, perkenankan siauwte masuk dulu untuk berganti pakaian,” kata pemuda ini dengan lagak dibuat-buat, kemudian dia berlari masuk melalui pintu sutera di dekat rombongan pemain musik.

Para tamu menjadi ribut, berebutan memilih tempat dekat panggung.

“Tamu wanita di depan!” terdengar suara orang.

Terpaksa tamu-tamu pria mengalah dan sebentar saja terciumlah bau harum serta suara berkereseknya pakaian ketika tamu-tamu wanita berlari-lari kecil memilih tempat duduk di depan panggung. Tentu saja otomatis Im Giok terkurung di tengah-tengah.

Sebelum para tamu wanita itu datang Tiauw Ki sudah berbisik, “Adik Im Giok, aku hendak mendekati Suma-huciang.”

Dan pemuda ini segera berdiri lalu pergi dari situ ketika para tamu wanita datang di depan panggung. Tidak hanya Tiauw Ki yang meninggalkan tempat itu, juga banyak tamu-tamu pria yang meninggalkan tempat duduknya lalu diberikan pada para tamu wanita, kecuali beberapa orang laki-laki yang bermuka tebal dan tidak tahu malu, tetap saja duduk di situ bahkan merasa kebetulan sekali! Oleh sebab itu, maka kepergian atau kepindahan Tiauw Ki ini tidak menarik perhatian orang.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dengan kerling matanya Im Giok melihat bahwa Tiauw Ki benar-benar sudah dapat duduk di dekat Suma-huciang, bahkan juga di dekat panggung, sebelah kiri panggung di mana orang menyediakan tempat khusus bagi tuan rumah.

Sementara menanti munculnya Lie Kian Tek yang jelas sekali pada malam itu menarik hati orang banyak, terutama sekali hati para wanita yang hadir di sana, para penabuh musik membunyikan alat musik masing-masing sehingga keadaan menjadi ramai sekali.

Secara diam-diam Im Giok memperhatikan Tiauw Ki. Ia melihat pemuda itu menggerak-gerakkan tangan sambil bercakap-cakap asyik sekali dengan Suma-huciang yang tampak mengangguk-angguk.

Karena semua orang, atau hampir semua, boleh dibilang sedang mempercakapkan Lie Kian Tek yang menjadi populer itu, tentu orang mengira bahwa Tiauw Ki juga berbicara tentang pemuda itu dengan Suma-huciang. Apa lagi dalam kebisingan suara tambur dan canang, suara mereka sama sekali tidak dapat terdengar oleh orang lain.

Tidak lama kemudian terdengar tepuk tangan ketika Lie Kian Tek muncul dari belakang pintu sutera. Im Giok memandang dan diam-diam gadis ini harus mengakui bahwa Lie Kian Tek kelihatan gagah dan tampan sekali.

Dandanan Lie Kian Tek sebagai seorang pendekar besar pada jaman dulu benar-benar pantas sekali untuk wajahnya yang gagah tampan dan potongan tubuhnya yang tegap berisi. Pendeknya, pemuda she Lie itu potongan pendekar benar, pendekar seperti yang sering kali dijadikan kembang mimpi oleh para gadis remaja.

Irama musik berubah setelah pemuda ini muncul. Sekarang semua orang terdiam dan hanya memandang penuh perhatian ketika Lie Kian Tek memulai pertunjukannya dengan menjura ke arah Suma-huciang, kemudian kepada semua hadirin. Ketika pandangan matanya tertuju ke arah para penonton wanita, ia memberi kedipan mata kepada Im Giok.

Gadis ini membuang muka, akan tetapi dia melihat semua wanita muda yang berada di sana tertawa cekakak-cekikik sambil saling cubit, bersikap genit sekali. Im Giok menjadi sebal. Dia tahu bahwa Lie Kian Tek secara kurang ajar berkedip kepadanya dan para wanita itu masing-masing merasa diajak bermain mata oleh Lie Kian Tek sehingga timbul suasana yang menggelikan dan menjemukan itu.

Musik ditabuh dengan irama lambat dan Lie Kian Tek mulai bersilat. Pada mulanya dia bergerak lambat, ada pun pedangnya masih tergantung di pinggang. Pemuda ini memang pandai sekali dan berbakat sehingga setiap gerakannya merupakan tarian indah. Kadang kala tangannya memegang atau menyambar ujung ikat pinggang berkembang kemudian bergerak amat gagahnya.

Im Giok secara terus terang harus mengakui bahwa dia sangat tertarik dan suka melihat gerak-gerik pemuda itu, juga ilmu silat yang dimainkan itu bukanlah ilmu silat biasa, akan tetapi ilmu silat yang mempunyai dasar tinggi. Namun digerakkan secara lembut-gemulai sedap dipandang.

Dasar Im Giok sendiri seorang ahli seni atau seorang seniwati yang suka akan tari-tarian, kini menonton orang bermain silat seperti menari, karuan saja ia tertarik sekali. Ketika Lie Kian Tek kebetulan menghadap ke arah tempat dia duduk, pemuda itu kembali berkedip dan tersenyum kepadanya.

Im Giok mendongkol sekali, mengerutkan kening dan tanpa terasa tangan kirinya naik ke mulutnya untuk menahan bibirnya yang sudah hendak memaki marah. Akan tetapi dia dapat menekan perasaan mendongkolnya, bahkan dapat memaksa bibirnya tersenyum seakan-akan dia tertarik seperti orang-orang lain dan tidak melihat adanya isyarat-isyarat kurang ajar dari pemuda itu.

Lie Kian Tek bersilat semakin cepat dan tidak lama kemudian di atas panggung bagaikan ada beberapa orang yang bersilat. Gerakannya cepat sekali, dan semua itu tambah indah menarik karena diiringi suara musik yang gencar dan ramai. Tepuk tangan menyambut permainannya yang memang indah.

Lie Kian Tek makin bangga. Tiba-tiba dia berseru keras dan orang melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata. Ternyata pemuda itu sudah mencabut pedangnya dan kini bersilat pedang dengan gerakan indah dan cepat. Pedang di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti seluruh tubuhnya.

Akan tetapi Im Giok yang bermata tajam dapat mengikuti setiap gerakannya dan biar pun ia harus memuji bahwa ilmu pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi tidak begitu lihai kalau dilawan, atau pendeknya ia sanggup untuk menandingi pemuda itu dalam ilmu silat.

Mendadak Lie Kian Tek berseru keras dan mengakhiri ilmu pedangnya dengan gerakan menyambit. Inilah gerakan Sin-liong Hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Ekornya) semacam gerakan yang sukar dilakukan dan biasanya di dalam pertempuran hanya dilakukan oleh orang yang sudah sangat terdesak atau sudah terluka sehingga gerakan terakhir adalah dengan menimpukkan pedangnya. Pedang di tangan Lie Kian Tek meluncur cepat sekali dan tahu-tahu telah menancap di atas tiang yang berada di depan Suma-huciang, kurang lebih satu kaki di atas kepala pembesar itu!

Tadinya semua orang terkejut karena menyangka bahwa pedang itu ditimpukkan ke arah Suma-huciang, akan tetapi segera meledak tepuk tangan memuji ketika Suma-huciang tertawa-tawa sambil bertepuk tangan pula! Tiauw Ki yang duduk di dekat pembesar itu menjadi pucat dan dia kagum bukan main melihat ketenangan Suma-huciang yang masih dapat bertepuk tangan memuji, padahal baru saja dia mengalami kekagetan yang cukup menegangkan hati. Ia sudah biasa dan memiliki kepandaian silat tinggi pula, akan tetapi Tiauw Ki yang belum melihat kepandaiannya bersangsi apakah pembesar yang sudah tua ini mampu menandingi kepandaian Lie Kian Tek yang muda dan lihai.

“Kepandaian hebat, Lie-kongcu.” Suma-huciang berkata sambil tertawa kepada Lie Kian Tek yang masih membungkuk-bungkuk menerima pujian dan tepuk tangan. “Akan tetapi sayang, timpukanmu kurang keras sehingga pedang hanya menancap setengahnya saja pada tiang kayu. Apa bila dipergunakan dalam perang, kiranya tak akan dapat menembus baju perang musuh yang terbuat dari besi!”

Sambil berkata demikian, pembesar ini berdiri dari kursinya, menggunakan dua buah jari tangan kanan, yakni jari tengah dan telunjuk menjepit pedang yang menancap di tiang itu dan sekali betot pedang itu telah tercabut keluar! Lalu sambil tertawa ia memuji,

“Pedang bagus! Pedang bagus!”

Kemudian sambil menjura ia mengembalikan pedang itu kepada Lie Kian Tek, lalu duduk kembali di kursinya.

Tepuk tangan riuh menyambut demonstrasi tenaga lweekang yang hebat ini. Tiauw Ki memandang dengan melongo dan hampir saja pemuda ini menjulurkan lidahnya saking kagum dan heran. Im Giok tertegun. Tenaga lweekang seperti itu tidak mudah dilakukan oleh sembarang orang, pikirnya dan ia gembira bahwa pembesar yang menjadi ‘sahabat’ Tiauw Ki itu ternyata bukanlah orang lemah dan kiranya tidak kalah kalau dibandingkan dengan Lie Kian Tek.

Lie Kian Tek mengerutkan kening dan wajahnya yang tampan itu mulai berubah muram. Ia lalu menerima pedangnya dari tangan Suma-huciang, kemudian sambil menyeringai ia berkata, menjura kepada pembesar itu,

“Ahhh, nama besar Suma-taijin bukanlah nama kosong belaka, membuat siauwte takluk sekali. Hari ini adalah hari gembira sekaligus hari baik, maka untuk menambah meriah suasana, aku sangat mengharapkan supaya Taijin sudi menunjuk seorang jagoan untuk menunjukkan kepandaiannya di panggung ini. Selain untuk menambah pengalaman kami orang-orang Shansi, juga untuk sekedar perbandingan kegagahan antara kawan-kawan kita.”

Kata-kata ini sebenarnya bukan semata untuk menyatakan ketidak senangan hati putera Gubernur ini sebab tadi telah menerima celaan dari Suma-huciang, tapi pada hakekatnya mengandung segi politis yang mendalam.

Suma-huciang adalah seorang pembesar yang sangat setia kepada Kaisar, dan yang di daerah ini merupakan satu-satunya orang yang disegani oleh para pembesar yang korup dan yang hendak memberontak, karena mereka tahu bahwa Suma-huciang akan menjadi penghalang besar dan akan membela negara dengan nyawa. Dan para pemberontak itu pun tahu bahwa selain diri sendiri lihai. Suma-huciang mendapat dukungan banyak orang pandai di dunia kang-ouw, karena itu sejauh ini para pemberontak belum berani turun tangan mengganggu Suma-huciang.

Ada pun Lie Kiang Tek adalah putera Gubernur Shansi, gubernur di samping gubernur Propinsi Honan, merupakan orang terkemuka dan tokoh besar yang anti Kaisar! Tidak mengherankan kalau di dalam hati mereka terkandung rasa permusuhan besar, sungguh pun pada lahirnya kedua pihak belum berani berterang menyatakan rasa kebencian dan permusuhan.

Kini mendapatkan kesempatan baik, Lie Kian Tek sengaja mengeluarkan kata-kata untuk memancing keluarnya jago pembela Suma-huciang sehingga di samping untuk mengenal siapa pembela pembesar setia raja ini, juga untuk mengukur sampai di mana kelihaian mereka! Dilihat dari sini, ternyata bahwa Lie Kian Tek bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga cerdik dan licin.

Suma-huciang bukan seorang pembesar kawakan yang sudah banyak pengalaman kalau kalau ia tidak mengerti akan maksud hati putera Gubernur ini. Sambil senyum ia berkata,

“Terima kasih kepada Lie-kongcu yang sudah begitu memperhatikan untuk memeriahkan pestaku ini.”

Suma-huciang lalu memberi isyarat kepada seorang tamu yang cepat berdiri dan menjura kepadanya. Orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, sikapnya tenang dan matanya bersinar tajam.

Dia ini adalah seorang piauwsu (pengawal barang) di kota Tiang-hai yang sangat terkenal dan juga amat setia terhadap Kaisar, karena itu selalu membela Suma-huciang. Sesudah memberi hormat kepada Suma-huciang, dia segera berjalan menghampiri panggung dan dengan gerakan ringan melompat naik, menjura kepada Lie Kian Tek lalu berkata,

“Hamba Chi Liok menerima tugas dari Suma-huciang untuk memenuhi usul Lie-kongcu. Harap saja kebodohan hamba tak akan menjadi tertawaan para Enghiong dari Shansi.”

Lie Kian Tek tersenyum mengejek, “Aha, kiranya Chi-piauwsu yang akan menjadi wakil Tiang-hai. Bagus, sudah lama kami ingin menyaksikan kelihaian Chi-piauwsu. Silakan.”

Sesudah berkata begitu, Lie Kian Tek melepaskan penghias kepala dan melompat turun, memilih tempat duduk tidak jauh dari tempat duduk Im Giok, menoleh atau melirik sambil tersenyum kepada gadis itu, kemudian melepaskan jubah luarnya sehingga sekarang dia kembali memakai pakaiannya yang tadi sebelum ia bermain di atas panggung.

Para wanita melirik-lirik, kerling memikat menyambar-nyambar ke arahnya dan senyum simpul menghujani pemuda itu! Kian Tek melempar senyum dan membagi kerling kepada para wanita yang mengaguminya itu, lalu duduk dengan sikap angkuh, memandang ke arah panggung.

Sementara itu, musik sudah dibunyikan pula dan Chi Liok mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya lambat saja dan jauh kalah menarik kalau dibandingkan dengan pertunjukan Lie Kian Tek tadi, maka di sana-sini lantas terdengar suara ejekan. Bahkan di antara para penonton wanita ada yang terkekeh menertawakan. Akan tetapi Im Giok melihat bahwa piauwsu itu adalah seorang ahli lweekeh yang tak boleh dipandang ringan.

Setiap gerak tangan mengandung tenaga lweekang yang cukup kuat, sedangkan bhesi kakinya bukan main. Sesudah menyelesaikan babak permainan ilmu silat tangan kosong, Chi-piauwsu segera mengeluarkan senjatanya, yakni sebatang joan-pian (ruyung lemas) yang berwarna hitam.

Dia lalu bersilat dengan joan-pian ini. Kembali gerakannya lembut dan perlahan, namun joan-pian itu kadang-kadang mengeluarkan suara mengiuk, tanda bahwa gerakan senjata itu cepat dan mengandung tenaga besar.

Setelah selesai bersilat, Chi-piauwsu menjura kepada penonton dan berkata, ”Aku orang she Chi sudah memperlihatkan kebodohan, harap jangan ditertawakan mengingat bahwa aku naik ke panggung ini atas perintah Suma-taijin.” Ia lalu melompat turun dan kembali duduk di tempatnya semula.

Lie Kian Tek memberi isyarat dengan tangannya kepada seorang bermuka kuning yang tadi ikut mengantar ia datang, yakni salah seorang di antara lima orang kawannya. Orang bermuka kuning ini mengangguk sambil menyeringai, kemudian berseru keras,

“Suma-taijin, hamba mohon diberi kesempatan mewakili Shansi!”

Sebelum Suma-huciang menjawab, tubuhnya sudah melayang ke atas panggung dengan gerakan indah. Ternyata orang ini datang-datang mendemonstrasikan ginkang yang lihai.

Suma-huciang tertawa. “Boleh, boleh! Tak usah bertanya lagi, karena memang tiba giliran pihak Shan-si,” jawabnya.

Si Muka Kuning tersenyum lalu menjura kepada penonton, kemudian berkata, suaranya lantang tinggi.

“Siauwte bernama Coa Keng, menerima titah Lie-kongcu mewakili Shansi. Akan tetapi, siauwte bukanlah seorang yang suka pamer. Ada banyak orang yang suka memamerkan sedikit kepandaian yang tak berarti, sebaliknya banyak pula orang yang tak perlu banyak pamer. Kalau orang berkepandaian seperti Lie-kongcu, patutlah jika diperlihatkan kepada orang banyak, karena memang indah dan mengagumkan, sedap dipandang. Akan tetapi ketika melihat Saudara Chi Liok tadi bersilat, betul-betul siauwte diam-diam menggeleng kepala. Siauwte tak mau berlaku seperti Saudara Chi Liok, mempertontonkan keburukan dan kebodohan sendiri.”

“Eh, Coa-kauwsu, kau naik ke panggung mau bersilat atau berpidato?” terdengar Chi Liok menegur. Orang-orang tertawa dan kali ini yang ditertawakan adalah Coa Keng sehingga muka yang kuning itu menjadi hijau.

“Chi-piauwsu, bermain silat seorang diri kurang menggembirakan. Untuk membuktikan bahwa kau tadi hanya menjual keburukan dan kebodohan sendiri, silakan kau naik ke sini dan mengawani aku bermain-main sebentar. Tentu akan lebih menggembirakan suasana, bukan? Ataukah, kau... takut?”

Inilah tantangan hebat. Chi Liok mendongkol sekali, akan tetapi piauwsu ini tidak berani sembarangan bergerak. Sikap Si Muka Kuning itu dia anggap kurang ajar sekali, akan tetapi ia tidak berani bersikap seperti itu di depan Suma-huciang. Maka ia memandang ke arah pembesar ini.

Bukan saja Chi Liok tidak berani bersikap kurang ajar, juga ia tahu siapa adanya Lie Kian Tek dan kawan-kawannya. Ribut dengan mereka hanya berarti memancing kekacauan besar, dan memancing timbulnya pertentangan besar antara mereka yang anti Kaisar dan pihaknya yang pro Kaisar yang memang sudah lama sekali diam-diam saling membenci.

Semenjak tadi sebelum keadaan meruncing, Suma-huciang telah bertukar pikiran dengan Tiauw Ki, bahkan sudah menerima pesanan Kaisar dan para pembesar tinggi di istana. Di antara beberapa nasehat yang dibawa oleh Tiauw Ki, juga pemuda ini menyampaikan kehendak kaum berkuasa di istana bahwa Suma-huciang diberi tugas untuk memancing sampai di mana tingkat pemberontakan Gubernur Shansi dan Honan terhadap Kaisar dan sampai di mana pula kekuatan mereka.

Kini dia menghadapi tantangan, tantangan untuk timbulnya keributan hebat, yang dia tahu sengaja dicetuskan oleh Lie Kian Tek. Agaknya memang pemuda putera gubernur itu datang hanya berdalih memberi selamat, akan tetapi sebetulnya sudah mendapat tugas dari ayahnya.

Inilah kesempatan baik, pikir Suma-huciang. Kesempatan untuk menguji serta melihat ‘isi hati’ musuh-musuhnya tanpa menimbulkan kesan bahwa keributan itu terjadi dikarenakan perasaan pribadi. Maka ia lalu mengangguk kepada Chi Liok.

Setelah melihat isyarat dari Suma-huciang bahwa dia boleh melayani Coa Keng, piauwsu itu menjadi gembira sekali. Tidak seperti tadi ketika mendemonstrasikan kepandaian di atas panggung ia bermain lambat-lambatan, kini sekali melompat dia sudah melayang ke atas panggung menghadapi Coa Keng!

Ia menjura, dibalas oleh Coa Keng. Dua jago berhadapan dan saling mengukur ‘isi’ lawan dengan pandangan mata. Penonton memandang tegang.

“Saudara Coa Keng, betulkah kau mengundang aku naik ke panggung untuk melayanimu bermain silat?” tanya Chi Liok, suaranya masih tenang.

Coa Keng tersenyum mengejek. “Kenapa tidak betul? Untuk meramaikan suasana pesta dan sebagai penghormatan kepada Suma-taijin, sudah sepatutnya bila kita bermain-main sebentar. Asal saja kau tidak takut, karena dalam permainan silat bersama kita berdua pasti maklum bahwa kemungkinan terluka besar sekali, bahwa ada kemungkinan terpukul tewas.”

“Ini sebuah tantangan!” Chi Liok menegur gemas.

“Kau takut?” Coa Keng menggerakkan alis, menghina.

“Orang sombong, kau sajakah yang memiliki keberanian? Baik, kuterima tantanganmu. Di sini banyak sekali yang melihat alangkah kurang ajarnya sikapmu, dan bahkan aku hanya membela diri, membela kepentingan nama taijin, nama daerah dan namaku sendiri. Kau mulailah!”

Coa Keng mengeluarkan suara nyaring dan mendadak dengan suara licik, sambil masih tertawa, ia langsung mengirim pukulan kilat ke arah lambung Chi Liok!

“Bukkk!”

Tubuh Chi Liok terpental dan hampir saja piauwsu ini roboh apa bila ia tidak lekas-lekas berpoksai dan berdiri lagi. Mukanya agak berubah, tapi pukulan tadi tidak mendatangkan luka dalam yang hebat karena ia masih keburu mengerahkan lweekang ke arah bagian yang akan terpukul.

“Kau curang!” bentaknya.

“Bukankah kau menyuruh aku mulai? Baru sekali pukul saja hampir roboh. Ha-ha-ha!”

“Rasakan ini!” Chi Liok menyerang tiba-tiba sebelum lawannya berhenti tertawa.

Pukulannya hampir saja mengenai leher di bagian yang berbahaya kalau saja Coa Keng tidak lekas-lekas miringkan tubuh sehingga yang terpukul hanya pundaknya. Namun ini cukup membuat Coa Keng terhuyung ke samping sebanyak tiga tindak sambil meringis karena pundaknya terasa sakit sekali.

“Kurang ajar kau!” bentaknya.

Dan di lain saat dua orang ini sudah saling gebuk, saling tendang dan bertanding secara kasar sekali.

Sebetulnya ilmu silat mereka juga tidak terlalu rendah akan tetapi oleh karena watak Coa Keng amat kasar, cara berkelahinya juga kasar sehingga mereka lebih sering memukul tanpa membahayakan lawan dari pada mengirim serangan yang betul-betul berbahaya bagi keselamatan lawan.

Pertempuran itu berjalan seru. Bagi orang-orang yang tidak tahu ilmu silat atau yang ilmu kepandaiannya masih rendah, memang pertandingan itu terlihat ramai dan menegangkan sekali. Akan tetapi bagi orang-orang yang kepandaiannya tinggi, makin lama pertempuran itu nampak makin menjemukan. Akhirnya terdengar suara teriakan sakit dan tubuh Coa Keng terlempar terkena tendangan Chi Liok dan menggelundung keluar dari panggung!

Orang-orang wanita yang tadinya masih menonton dengan muka khawatir mengeluarkan jeritan dan cepat-cepat mereka berbondong pergi meninggalkan panggung untuk duduk di tempat semula, menjauhi panggung. Hanya ada empat orang wanita termasuk Im Giok yang tidak beranjak pergi dan karena ini Im Giok dapat menduga bahwa tiga orang wanita di dekatnya itu tentulah orang-orang yang mengerti ilmu silat.

Dia melirik dan melihat bahwa tiga orang ini adalah seorang wanita tua yang memegang tongkat dan rambutnya diikat kain putih, sedangkan dua orang lainnya adalah gadis-gadis yang berpakaian sederhana akan tetapi cukup manis. Sikap mereka memang tak seperti orang-orang sembarangan dan Im Giok ingin sekali tahu siapa gerangan mereka bertiga ini.

Sementara itu, di atas panggung terjadi hal lain yang menggemparkan. Begitu tubuh Coa Keng terguling meninggalkan tempat itu, lantas berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di hadapan Chi-piauwsu sudah berdiri seorang kakek. Kakek ini satu kali menggerakkan tangan ke depan, Chi Liok langsung memekik dan terlempar keluar panggung!

“Orang-orang macam ini berani betul menjual lagak di atas panggung, benar-benar tidak menghormat kepada Suma-taijin, harap disuruh keluar tokoh Tiang-hai yang betul-betul memiliki kepandaian untuk bermain-main dengan aku. Barangkali Taijin sudah lupa lagi, aku adalah Ceng-jiu Tok-ong dari barat dan kini mewakili Shansi.”

Im Glok terkejut bukan main. Tadi ia tidak melihat kakek ini dan tiba-tiba kakek itu naik ke panggung, tentu untuk mengacau. Teringat olehnya bahwa Giam-ong-to Kam Kin, murid kakek ini pun sudah menjadi seorang komandan pasukan, tentu pasukan dari Gubernur Shansi! Kalau demikian, tentu Ceng-jiu Tok-ong menjadi kaki tangan Lie Kian Tek.

Mengingat sampai di sini, Im Giok lalu menengok ke arah Kian Tek. Akan tetapi ia tidak melihat pemuda itu dan kursinya kosong. Otomatis Im Giok teringat akan bungkusan yang disumbangkan oleh Tiauw Ki kepada Suma-huciang, maka dia menengok ke arah meja tempat menaruh barang-barang sumbangan.

Pada lain saat, tubuh Im Giok sudah lenyap, yang tampak hanya bayangan merah yang amat cepat. Gadis ini tadi melihat Lie Kian Tek berada di dekat meja dan tengah menegur seorang laki-laki yang dengan gerakan cepat sekali mengulur kedua tangan mengambil barang-barang berharga yang kecil-kecil dari atas meja!

Kedatangan Im Giok tak terlihat oleh mereka dan tahu-tahu orang laki-laki yang bertubuh kecil pendek itu berseru kaget ketika pundaknya ditotok orang. Akan tetapi dia ternyata lihai bukan main karena dia masih sempat mengelak dan walau pun totokan itu masih mengenai pundaknya, akan tetapi tidak berakibat apa-apa.

Im Giok yang tadi menotok merasa kaget dan sama sekali tak mengira orang itu demikian lihai, maka ia menyerang terus sambil membentak,

“Bangsat kecil, kau hendak mencuri apa?”

Dua kali lm Giok menyerang dan dua kali gagal karena Si Kate Kecil itu dengan amat lincahnya dapat mengelak dan hendak melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba Lie Kian Tek menendangnya sambil berseru,

“Kau hendak lari ke mana?”

Kembali secara mengagumkan sekali Si Kate itu mengelak dan mencoba untuk lari terus. Dua kali lagi Im Giok berusaha menangkapnya, sedangkan Lie Kian Tek sudah tiga kali mencoba untuk merobohkannya dengan serangan maut, namun semua dapat dielakkan oleh Si Kate itu.

“Copet, kau bikin gara-gara saja, tidak tahu kalau sedang kucari-cari!” tiba-tiba terdengar teguran orang.

Mendengar suara ini Si Kate lalu melesat dan tahu-tahu ia telah berada di belakang orang ini dan mencari perlindungan di belakang tubuhnya! Pada saat Im Giok dan Lie Kian Tek menengok, ternyata orang yang datang ini adalah Suma-huciang!

“Lie-kongcu, apakah kesalahan dia maka kau serang dia?” tanya Suma-huciang kepada Lie Kian Tek.

“Aku melihat dia menggeratak di meja dan hendak mencuri barang-barang sumbangan,” kata putera gubernur itu.

Suma-huciang menengok kepada Im Giok, “Dan kau, Nona, mengapa pula kau hendak menangkapnya?”

“Aku melihat dia mengambil barang-barang dari atas meja, Taijin,” jawab In Giok sambil mengerling ke arah Tiauw Ki yang juga menengok dan memandang ke arah mereka dari tempat duduknya di belakang panggung.

Suma-huciang tertawa. “Harap kalian memaafkan dia ini. Dia dijuluki Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti) dan di Tiang-hai sudah terkenal. Dia nakal akan tetapi tak pernah membawa pergi barang orang lain. Copet, kau mengambil apa saja? Hayo lekas keluarkan!”

Sin-touw-ong yang kate sekali tubuhnya itu tersenyum-senyum gembira seperti seorang pelawak, kemudian dia mengeluarkan banyak sekali benda dari sakunya yang ternyata banyak pula.

Benda-benda itu lalu dikeluarkan satu demi satu seperti tukang sulap dan Im Giok sendiri sampai terheran-heran karena sukar dipercaya bagaimana seorang kate seperti itu dapat menyimpan benda sebanyak itu tanpa kelihatan dari luar. Juga, yang membikin ia cemas, di antara benda-benda itu tidak terdapat bungkusan sumbangan Tiauw Ki yang ternyata telah lenyap dari atas meja!

“Segera kembalikan barang-barang itu, dan mari kau wakili Tiang-hai di atas panggung, Touw-ong,” kata Suma-huciang yang tidak pedulikan semua itu dan tidak memperhatikan barang apa yang mungkin hilang.

Sin-touw-ong cepat mengembalikan barang-barang itu di atas meja, kemudian ia berjalan menuju ke panggung bersama Suma-huciang. Im Giok memandang kepada Lie Kian Tek dengan penuh curiga, akan tetapi mukanya menjadi merah ketika dia melihat pemuda itu tengah memandangnya sambil tersenyum penuh arti!

“Nona, kau betul-betul gagah. Kau benar-benar mengagumkan dan dibandingkan dengan engkau, semua wanita yang berada di sini, juga yang berada di mana saja, semua tiada artinya! Nona, pertemuan ini benar-benar dapat dinamakan jodoh. Kau dan aku berjodoh, maukah kau ikut aku keluar dari tempat ini dan kita bercakap-cakap di tempat yang lebih sunyi dan dingin? Hubungan kita perlu dipererat dan...”

“Jahanam, tutup mulutmu!” Im Giok memaki marah.

Gadis ini lalu pergi ke tempat duduknya. Mukanya terasa panas sekali dan kedua pipinya merah sekali. Dia mendongkol bukan main. Kalau tidak ingat bahwa dia berada di tempat orang lain dan kalau saja ia tidak ingat akan tugasnya mengawal Tiauw Ki dan melakukan perintah Susiok-couw-nya, tentu dia tadi sudah memukul putera gubernur yang bermulut lancang itu.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
Sementara itu, di atas panggung Ceng-jiu Tok-ong sekarang sudah berhadapan dengan Sin-touw-ong. Ceng-jiu Tok-ong tertawa bergelak dan berkata lantang, “Ha-ha-ha, Suma-taijin bagaimanakah ini? Benar-benarkah Taijin mengajukan dia ini ke atas panggung?”

Ketika ia melihat pembesar itu mengangguk sambil tersenyum, Ceng-jiu Tok-ong menjadi marah. Dia merasa terhina sekali karena harus menghadapi seorang demikian tak berarti. Ditatapnya wajah Sin-touw-ong seperti seekor harimau menatap tikus.

“Kau ini manusia tiada guna, benar-benarkah kau sudah bosan hidup? Kau manusia tidak ternama, tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?”

Raja copet yang kate itu cengar-cengir laksana seorang badut. Ia memiliki bentuk muka yang lucu. Tubuhnya pendek kecil, matanya lebar dan hidungnya dapat bergerak-gerak. Apa lagi berhadapan dengan Ceng-jiu Tok-ong, benar-benar bagaikan seorang raksasa yang berhadapan dengan seorang katai.

“Aku memang tidak terkenal, akan tetapi kau... kau ini siapakah?” tanyanya memicingkan mata.

“Setan pendek, dengar baik-baik. Aku adalah Ceng-jiu Tok-ong!”

Si Kate menggerakkan kedua pundaknya. “Aku tidak ternama, kau pun tidak terkenal,” dia berkata acuh tak acuh.

“Bangsat, aku adalah tokoh besar dari barat. Di dalam dunia kang-ouw, siapakah yang tidak mengenal namaku?” Ceng-jiu Tok-ong membentak.

“Setan besar, kau tak mengenal namaku, aku pun tak mengenal namamu, siapa di antara kita yang paling tidak terkenal? Kau berjulukan Ceng-jiu Tok-ong (Raja Racun Bertangan Seribu), dan aku berjuluk Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti), sungguh kalau dibilang kita ini tidak terkenal, akan tetapi sebetulnya kau dan aku adalah raja-raja besar!”

Meledak suara ketawa para hadirin di situ mendengar kata-kata ini.

“Lo-enghiong, mengapa tidak lekas-lekas ratakan setan pendek itu dengan tanah? Injak saja kepalanya, habis perkara!” seorang kawan dari Lie Kian Tek berseru tak sabar lagi melihat jagonya dipermainkan oleh raja copet itu.

“Ya, ya, injaklah! Injaklah!” Sin-touw-ong mengejek.

Dia lantas memasang kuda-kuda rendah sekali di depan Ceng-jiu Tok-ong, seakan-akan mempersiapkan diri untuk diinjak. Kembali terdengar suara orang tertawa riuh, sungguh pun mereka yang telah mengenal kelihaian Ceng-jiu Tok-ong, juga merasa khawatir akan keselamatan Si Kate itu.

“Bangsat tukang copet, bersiaplah kau untuk mampus!” Ceng-jiu Tok-ong yang tak dapat menahan sabarnya lagi sudah maju menyerang.

Serangannya keras dan cepat sekali sehingga Sin-touw-ong terkejut setengah mati. Raja copet ini bukan orang biasa. Ia adalah seorang kang-ouw yang telah berpengalaman dan sebagai seorang maling dan copet, dia memiliki kepandaian istimewa, yakni kepandaian menjaga diri. Ia licin bagaikan belut dan gerakannya lincah, ditambah pula dengan bentuk tubuhnya yang pendek kecil, sukarlah bagi lawan untuk menyerangnya.

Tentu saja ia sudah pernah mendengar nama besar Ceng-jiu Tok-ong, akan tetapi ia tak mengira bahwa serangan lawannya akan sehebat itu. Cepat raja copet itu mengelak.

Akan tetapi Ceng-jiu Tok-ong adalah seorang tokoh besar dunia persilatan yang sudah lebih berpengalaman, maklum pula apakah yang diandalkan oleh lawannya. Maka ia tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Setiap serangannya merupakan pukulan atau tendangan maut. Jangankan baru seorang seperti Sin-touw-ong, biar pun lebih tinggi kepandaiannya tak akan kuat menerima pukulan ini.

Im Giok memandang semuanya ini dengan hati berdebar. Gadis ini pernah bertemu dan bertempur dengan Ceng-jiu Tok-ong, maka dia tahu sampai di mana kelihaian kakek ini. Dan menurut pandangannya, walau pun Si Raja Copet memiliki kegesitan luar biasa dan ilmu silat yang berdasarkan pertahanan dan penjagaan diri, akan tetapi bila dibandingkan dengan Ceng-jiu Tok-ong, dia masih jauh sekali.

Ia dapat menduga bahwa Si Kate itu biar pun seorang pencopet, tentulah termasuk orang atau pembela Suma-huciang, jadi masih segolongan dengan pemuda pelajar Tiauw Ki. Lagi pula dia ingin sekali menyelidiki siapakah yang mengambil bungkusan Tiauw Ki yang disumbangkan kepada Suma-huciang karena tadi sudah lenyap dari atas meja. Si Kate itulah yang mengambilnya dan belum mengembalikannya? Ataukah Lie Kian Tek?

Melihat Sin-touw-ong sudah terdesak hebat, Im Giok lalu berlari mendekati panggung dan melompat ke atas panggung. Sekali ia mengulur tangan, ia telah dapat memegang leher baju Sin-touw-ong dan membawanya lompat ke dekat tempat Suma-huciang. Gerakan ini cepat sekali.

Ceng-jiu Tok-ong yang mengenal gadis itu seketika menjadi berubah air mukanya. Kakek ini merasa sangsi. Kepada gadis itu biar pun ia tahu amat lihai, ia masih belum jeri. Akan tetapi kalau ia teringat akan Bu Pun Su yang pernah menolong gadis itu, bulu tengkuknya langsung berdiri!

Semua orang menjadi gempar pada waktu melihat seorang gadis baju merah yang cantik, secara aneh telah menahan Si Raja Copet dan membawanya ke dekat Suma-huciang. Akan tetapi Im Giok tidak mempedulikan semua itu dan kepada Suma-huciang ia berkata,

“Taijin, tadi kulihat barang sumbangan dari Gan-twako telah lenyap, mungkin sekali dicuri oleh tukang copet itu!”

Tiauw Ki dan Suma-huciang saling bertukar pandang, kemudian pembesar itu tersenyum kepada Im Giok.

“Terima kasih, Nona. Jika Nona tidak maju, kiranya nyawa pencopet ini sudah melayang. Touw-ong, lekas kau haturkan terima kasih kepada penolongmu!”

Sin-touw-ong cengar-cengir, kemudian ia menjura berkali-kali di hadapan Im Glok sambil berkata,

“Nona yang cantik dan gagah perkasa, mataku sungguh buta tidak dapat melihat Bukit Thai-san! Akan tetapi aku tidak kalah terhadap setan beracun itu.”

“Kau tidak kalah? Jangan main-main!” Suma-huciang berkata menegur orangnya.

Si Tukang Copet mengeluarkan sebuah benda dari sakunya yang aneh dan segera Im Giok terkejut. Ternyata bahwa pencopet ini sudah berhasil mencopet golok pusaka milik lawannya, yakni, Cheng-tok-ong (Golok Racun Hijau).

“Inilah buktinya bahwa tadi aku tidak kalah dan ini pula, Nona. Kiranya ini obat penolak racun!” Kembali dirogohnya saku bajunya dan. keluarlah obat bubuk dalam botol tanah.

Im Giok merasa kagum bukan main. Biar pun ilmu silatnya belum begitu tinggi akan tetapi dalam hal ilmu mencopet, kiranya orang kate ini memang patut disebut Raja Copet Sakti!

Sementara itu, di atas panggung terdengar Ceng-jiu Tok-ong berteriak-teriak, “Ha-ha-ha, begitu sajakah jagoan dari Tianghai? Segala tukang copet dan tukang maling! Ha-ha-ha. Hayo, mana lagi jago Tiang-hai? Suma-taijin, apakah pertunjukan silat disudahi sampai di sini saja dengan pengakuan kalah dari pihakmu? Kalau begitu, biarlah kini kita menikmati pertunjukan tari-tarian dari kota raja. Ha-ha-ha!”

“Hemm, manusia itu menghina sekali,” kata Sin-touw-ong.

“Biarlah, lebih baik kita sudahi keributan ini,” usul Tiauw Ki.

Suma-huciang menghela napas. “Kalau saja aku bukannya tuan rumah dan tidak pantas sekali apa bila aku sendiri yang naik ke panggung, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaian manusia sombong kaki tangan Gubernur Lie itu!”

Sambil berkata demikian, pembesar itu memandang kepada Im Giok. Gadis ini dapat menangkap arti pandang mata Suma-huciang. Kiranya pembesar ini bermata amat tajam. Sekali saja melihat bagaimana gadis itu menangkap Sin-touw-ong, ia maklum bahwa Im Giok memiliki kepandaian tinggi dan pasti dapat melawan Ceng-jiu Tok-ong. Akan tetapi karena baru saja dia kenal dengan gadis ini, apa lagi baru saja gadis ini telah bebaskan Sin-touw-ong dari ancaman bahaya maut di tangan lawannya, maka ia tidak berani minta kepada Im Giok untuk mewakilinya di atas panggung.

“Taijin, kalau memang Taijin menghendaki supaya aku mencuci nama Taijin yang dikotori oleh manusia itu, akan kulakukan sekarang juga.”

“Ahh, aku akan membikin repot saja, juga tidak enak terhadap Gan-siucai, karena kau dibawa olehnya,” kata pembesar itu.

“Tidak apa, Taijin. Justru karena Gan-twako mempunyai hubungan baik dengan Taijin, maka orang menghina Taijin seperti menghina Gan-twako dan berarti pula menghina aku sendiri,” kata Im Giok.

Ia kemudian cepat menghampiri panggung sambil membawa golok rampasan. Lebih dulu dengan sangat cepat gadis ini mengoleskan sedikit bubuk rampasan itu di bawah hidung sehingga ia lantas mencium aroma yang wangi sekali.

Dengan gerakan ringan Im Giok melompat ke atas panggung, disambut tepuk sorak para penonton. Dari atas panggung Im Giok dapat melihat muka Lie Kian Tek berubah pucat. Im Giok tidak pedulikan itu semua dan langsung dia menghadapi Ceng-jiu Tok-ong yang masih ragu-ragu karena mengira gadis ini datang dikawal oleh Bu Pun Su!

“Apa kau datang hendak melanjutkan pertandingan dahulu itu? Asal saja kau berani maju sendiri, jangan bawa-bawa orang tua!” katanya perlahan, hanya terdengar oleh Im Giok.

Gadis itu tersenyum, lalu berkata keras kepada orang banyak, “Si Sombong ini mengira bahwa dia telah menang dalam pertempuran melawan Sin-touw-ong. Padahal, kalau aku tidak datang dan membawa pergi Sin-touw-ong, kiranya Raja Copet itu kini telah berhasil mencopet isi perutnya tanpa ia mengetahui!”

“Bohong! Omongan apa ini? Dialah yang hampir saja mampus!” bantah Ceng-jiu Tok-ong marah.

Kiang Im Giok tersenyum manis. Dia lalu memperlihatkan golok yang dibawanya dengan mengacungkan senjata itu ke atas agar kelihatan oleh semua orang yang hadir.

“Tok-ong, kau lihat baik-baik, golok siapakah ini? Dan bungkusan obat penawar racun ini, punya siapa pula?”

Ceng-jiu Tok-ong kaget bukan main dan meraba pinggangnya, ternyata golok di pinggang dan bungkusan obat di dalam saku telah lenyap!

“Bagaimana bisa berada di tanganmu?” tanyanya heran dan mukanya berubah merah.

“Siapa lagi kalau bukan Sin-touw-ong yang mengambilnya? Nah, kalau dia menghendaki, apakah dia tidak sanggup mengambil nyawamu dari pada mengambil dua benda ini dari tubuhmu? Benar-benar kau tak tahu diri. Apakah masih saja kau tidak mau terima kalah?” Dalam kata-kata ini Im Giok mengancam, lalu ia melemparkan golok dan bungkusan obat itu ke atas lantai panggung.

Ceng-jiu Tok-ong ragu-ragu. Dia masih jeri menghadapi Im Giok yang ilmu pedangnya amat lihai, juga ia takut setengah mati kalau memikirkan apakah Bu Pun Su tidak sedang bersembunyi di tempat itu dan akan muncul kalau sampai dia mendesak Im Giok. Kini, secara aneh sekali Si Kate itu telah berhasil mencopet golok beserta bungkusan obatnya. Benarkah Si Copet itu yang melakukan hal aneh ini?

Dia tadi sudah mendesak hebat, apa mungkin Si Kate itu sempat mencuri senjatanya? Siapa tahu kalau-kalau ini pun perbuatan Bu Pun Su, kiranya tidak ada hal tak mungkin! Mengingat sampai di sini, Ceng-jiu Tok-ong bergidik dan dia pikir lebih baik cepat mundur sebelum celaka. Sekarang ada kesempatan baik baginya untuk mundur tanpa mendapat malu.

Ia lalu membungkuk, mengambil senjata dan obatnya, lalu berkata sambil menjura, bukan kepada Im Giok melainkan kepada Sin-touw-ong.

“Kepandaian Sin-touw-ong lihai sekali, sungguh membuat orang kagum!” Setelah berkata begitu, Ceng-jiu Tok-ong lalu melompat turun dari panggung.

Im Giok tersenyum puas. Memang dia tidak menghendaki kalau pesta ulang tahun dari Suma-huciang itu berubah menjadi gelanggang pertempuran yang akan mengorbankan nyawa. Baiknya ia dapat mengusir mundur Ceng-jiu Tok-ong hanya dengan kata-kata dan gertakan belaka, tanpa menurunkan tangan keras, karena ia maklum bahwa bila sampai terjadi pertempuran, walau pun ia tak akan kalah, akan tetapi juga bukan hal yang mudah untuk mengalahkan Ceng-jiu Tok-ong!

Gadis ini melompat turun dari panggung dan menghampiri Suma-huciang dan Gan Tiauw Ki. Pembesar itu menyambutnya dengan muka berseri.

“Baiknya ada Lihiap yang mencuci bersih nama kota Tiang-hai yang hendak dihina oleh orang lain,” katanya, kemudian pembesar ini berkata dengan suara lantang,

“Terima kasih kepada semua enghiong yang sudah menyumbangkan tenaga untuk turut meramaikan pesta ini. Sekarang tibalah gilirannya para penari yang akan memperlihatkan keindahan tarian mereka!”

Terdengar musik dibunyikan orang dan tak lama kemudian, tujuh orang gadis penari yang cantik jelita muncul di atas panggung, menari-nari dengan gerakan tubuh yang indah dan gemulai, membuat darah orang-orang muda yang hadir di sana tersirap ke muka serta denyut jantung menjadi cepat sekali. Perhatian semua tamu tercurah kepada para penari dari kota raja ini. Hal ini membuat Im Giok leluasa bicara dengan Tiauw Ki.

“Tidak apa, Giok-moi,” kata pemuda itu setelah mendengar akan kekhawatiran gadis itu tentang hilangnya bungkusan barang sumbangan.

“Bungkusan itu kosong tidak berisi suatu apa pun yang berharga. Surat dari Kaisar yang sesungguhnya tidak berada di situ, akan tetapi kuserahkan kepada Suma-huciang ketika kami bercakap-cakap tadi.”

Im Giok menjadi lega dan dia memandang dengan wajah berseri. Ia kagum sekali akan kecerdikan pemuda ini. Dengan demikian, surat rahasia itu tidak terampas oleh orang lain dan ini berarti tugas Im Giok mengawal pemuda serta suratnya berhasil baik. Kini surat sudah berada di tangan Suma-huciang, orang yang berhak, maka sudah tidak ada tugas apa-apa lagi di tempat itu.

“Kalau begitu, tugas kita sudah selesai. Kapan kita meninggalkan tempat ini?” tanyanya.

“Sebetulnya aku sendiri pun tidak suka tinggal terlalu lama di sini,” jawab Tiauw Ki sambil melempar kerling ke arah Lie Kian Tek seakan-akan hendak menyatakan bahwa ketidak senangan itu disebabkan oleh kehadiran putera gubernur itu. “Akan tetapi, Suma-taijin minta kepadaku untuk bermalam di sini malam ini dan besok hari baru kita meninggalkan tempat ini. Kuharap kau tidak keberatan, Adik Im Giok.”

“Keberatan sih tidak, asal saja malam ini tidak akan terjadi sesuatu atas dirimu,” kata Im Giok mengerutkan kening.

“Giok-moi yang baik, dengan adanya kau di sini, aku takut apakah?” Kata-kata ini disertai senyum dan pandang mata penuh arti, yang hanya dapat dimengerti oleh Im Giok.

Tiba-tiba gadis ini merasa jengah, mukanya kemerahan dan untuk sesaat ia tidak berani memandang langsung kepada Tiauw Ki.

“Aku hanya memenuhi perintah Susiok-couw...,” katanya kemudian perlahan.

Karena takut kalau-kalau keadaan mereka diperhatikan oleh orang lain, lalu mengalihkan pandang mata ke atas panggung di mana para penari sedang menunjukkan kepandaian mereka dengan indahnya.

Demikianlah, pesta berjalan terus dengan sangat lancar dan kejadian sebelum tari-tarian diadakan agaknya telah dilupakan orang. Bahkan dari pihak Lie Kian Tek sendiri agaknya tidak ada aksi-aksi selanjutnya.

Sesudah tari-tarian berhenti dan diganti dengan biduan-biduan istana yang menyanyikan lagu-lagu merdu, berangsur-angsur para tamu mengundurkan diri, berpamit kepada tuan rumah sambil menghaturkan terima kasih. Akhirnya Suma-huciang sendiri yang sudah tua merasa lelah dan minta maaf kepada para tamu yang masih hadir, mengundurkan diri untuk mengaso.

Setelah minta maaf kepada tamu-tamu yang tersisa tak berapa banyak lagi dan menjura, Suma-huciang lalu mengajak Gan Tiauw Ki masuk ke dalam. Kepada Im Giok ia berkata, “Nona, kalau Nona hendak mengaso, sebuah kamar sudah tersedia. Silakan.”

Im Giok menjura kepada tiga orang wanita yang masih berada di situ, yakni nenek yang duduk dengan dua orang wanita muda dan nampak bukan orang-orang sembarangan itu. Semenjak tadi mereka diam saja, maka Im Giok juga tak mempedulikan mereka dan tidak tahu siapakah gerangan mereka ini.

Ketika tiga orang ini berjalan menuju ke ruangan dalam, mereka melewati tempat duduk Lie Kian Tek dan kawan-kawannya. Pemuda putera gubernur Shansi ini nampak tengah bercakap-cakap dengan Ceng-jiu Tok-ong. Suma-huciang berhenti dan menjura.

“Lie-kongcu, maafkan aku tak dapat melayani lebih lama karena terlalu lelah dan hendak mengaso. Kamar untuk Lie-kongcu beserta rombongan telah dipersiapkan di penginapan terbesar di kota ini. Silakan Kongcu bersenang-senang menikmati nyanyian di sini dan bila mana Kongcu ingin beristirahat, perintahkan saja kepada pelayan untuk menyediakan kendaraan.”

Lie Kian Tek tersenyum dan menjura, akan tetapi matanya melirik ke arah Im Giok.

“Terima kasih, memang sebentar lagi kami pun hendak beristirahat pula. Selamat tidur, Suma-taijin.”

Suma-huciang yang diiringi oleh Tiauw Ki dan Im Giok melanjutkan langkahnya menuju ke ruang dalam. Setelah tiba di ruangan yang sunyi ini, pembesar itu lalu berkata kepada Tiauw Ki,

“Gan-siucai, tentu kau masih ingat akan semua pesanku, bukan? Ada sedikit pesanku lagi harap disampaikan kepada Hong-siang, yaitu bahwa bahaya yang datang dari Shansi tidak begitu besar apa bila dibandingkan dengan bahaya yang mengancam dari Honan. Karena itu, terhadap Honan (Propinsi Honan) hendaknya ditaruh perhatian sepenuhnya dan jangan diabaikan.”

Tiauw Ki mengerutkan keningnya dan matanya memandang heran. Namun sebelum dia mengeluarkan pertanyaan, ia telah didahului oleh pembesar itu.

“Aku tahu mengapa engkau merasa heran, Gan-siucai. Memang nampaknya keadaan di Honan tenang-tenang saja, akan tetapi percaya sajalah, di dalamnya terdapat pengaruh yang kelak akan membahayakan kedudukan Kaisar. Aku tak dapat bicara panjang lebar lagi, harap kau mengaso dan besok segera menyampaikan pesanku. Hong-siang akan mengerti apa yang kau maksudkan.”

Terpaksa Tiauw Ki tidak membantah. Ia menjura dan berkata, “Baiklah, Taijin, akan saya perhatikan dan sampaikan semua pesan Taijin. Besok pagi-pagi saya serta Kiang-lihiap akan berangkat. Kalau tidak sampai berpamit, harap Taijin sudi memaafkan.”

Suma-huciang menoleh kepada Im Giok, tersenyum berkata, “Kau amat mengagumkan, Kiang-lihiap. Aku harus berterima kasih kepadamu. Benar-benar kau patut menjadi cucu murid Bu Pun Su, seorang sakti yang semenjak dulu aku kagumi. Tolong kau sampaikan hormatku kepada pendekar sakti itu kalau kau bertemu dengan dia.”

Im Giok menjadi jengah mendengar pujian ini dan dia cepat memberi hormat. Kemudian pembesar itu memasuki kamarnya, sementara kedua orang muda itu pun pergi ke kamar masing-masing yang sudah disediakan, sesudah mereka berjanji akan berangkat besok pagi-pagi pada waktu ayam jantan berkokok.

Malam hari itu Im Giok tak dapat tidur. Dia gelisah di dalam kamarnya. Ada kekhawatiran kalau-kalau akan terjadi sesuatu pada malam hari itu, sesuatu yang akan menimpa diri Suma-huciang atau Gan Tiauw Ki.

Ancaman terhadap diri Suma-huciang masih belum menggelisahkan hatinya. Akan tetapi kalau dia teringat bahwa tugas yang dibawa oleh Tiauw Ki bukanlah tugas ringan dan keselamatan anak muda itu selalu terancam, Im Giok menjadi gelisah. Bagaimana kalau ada bahaya mengancam diri pemuda itu?

Malam itu ia selalu memikirkan Tiauw Ki. Tiap saat hanya pemuda inilah yang memenuhi pikirannya. Tanpa disengaja bayangan Tiauw Ki selalu tampak di depan matanya, gema suara pemuda itu selalu berdengung di telinganya!

“Aku harus melindunginya, biar pun aku harus bertaruh nyawa!” pikir gadis yang sedang tergoda asmara ini.

Keputusan ini membuat Im Giok tidak berani merebahkan diri. Ia lalu duduk bersila di atas pembaringan dan beristirahat dengan cara bersemedhi. Menjelang subuh dia mendengar suara berkeresekan di atas genteng. Ia cepat membuka mata dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa.

Dia pun tidak mau lancang mengejar keluar, takut kalau-kalau hanya akan menimbulkan keributan belaka. Sayang sekali gadis ini tidak keluar, kalau ia melakukan hal ini, mungkin ia akan mencegah terjadinya hal yang mengerikan!

Tak lama kemudian, terdengar ayam jantan berkokok, saling sahut ramai sekali. Im Giok melompat turun dari pembaringan, menggantungkan pedang di pinggang, mengikatkan buntalan pakaian di punggung dan siap untuk berangkat. Karena ia tidak tidur, maka ia dapat bersiap-siap dengan cepat, bahkan tanpa menyisir rambutnya yang digelung indah, cukup memperkuat tali dan tusuk rambutnya saja.

Dia mendengar langkah kaki di luar pintunya. Cepat daun pintu kamarnya dia buka dan ternyata Tiauw Ki sudah berdiri di situ, juga sudah siap untuk berangkat.

Dua orang pelayan menghampiri mereka dan menjura sambil berkata, “Selamat pagi, Siauw-ya dan Siocia! Apakah berangkat sekarang?”

“Benar, Lopek. Tolong suruh tukang kuda mengeluarkan kuda kami dan menyediakan di depan.”

“Baik, Siauw-ya,” jawab pelayan-pelayan itu dengan girang sambil menerima dua potong uang perak sebagai hadiah dari Tiauw Ki.

Dua orang muda ini lalu berjalan menuju ke luar dari gedung yang besar dan panjang ini.

“Enak tidurkah kau malam tadi, Giok-moi?” tanya Tiauw Ki kepada Im Giok.

“Enak juga. Dan kau?”

“Aku gelisah saja, entah mengapa. Agaknya karena hawa terlalu panas,” jawab Tiauw Ki.

Im Giok teringat akan bunyi di atas genteng. Kamar pemuda ini letaknya tidak jauh dari kamar Suma-huciang, maka dia lalu bertanya, “Twako, apakah kau tidak ada mendengar suara apa-apa malam tadi? Kalau kau tidak dapat tidur, tentunya kalau ada apa-apa kau mendengarnya.”

Tiauw Ki menggeleng kepala. “Tadinya aku pun takut kalau-kalau terjadi sesuatu, akan tetapi sukurlah, sampai aku tertidur, aku tidak mendengar apa-apa.”

Diam-diam Im Giok merasa lega, akan tetapi ia tidak puas dan masih curiga. Pemuda ini tidak mengerti ilmu silat, bagaimana ia dapat mendengar suara gerakan penjahat yang tinggi ilmu silatnya? Ia malam tadi mendengar suara yang ia tahu adalah suara kaki orang menginjak dan berjalan di atas genteng, orang yang ilmu ginkang-nya sudah tinggi sekali. Ataukah barangkali pendengarannya salah? Karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, ia tidak menyelidik lebih lanjut.

Sementara itu, pelayan-pelayan tadi sudah membawa kuda mereka ke depan gedung. Maka berangkatlah Tiauw Ki dan Im Giok pada pagi hari itu dalam keadaan cuaca masih remang-remang dan segala apa nampak berwarna kelabu.

Sampai lama mereka melarikan kuda berdampingan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Keduanya amat muram. Tanpa kata-kata mereka merasakan peristiwa duka yang mereka hadapi, yakni perpisahan.

Im Giok sudah selesai tugasnya mengawal pemuda itu menghadap Suma-huciang dan menyampaikan pesanan Kaisar, karenanya dia harus memisahkan diri. Tidak selayaknya seorang gadis seperti dia terus-terusan melakukan perjalanan bersama seorang pemuda tanpa ada alasan yang kuat. Sekarang dia harus pulang ke Sian-koan, sedangkan Tiauw Ki tentunya hendak ke kota raja. Terpaksa mereka harus berpisah. Tak ada alasan untuk melakukan perjalanan bersama karena berbeda tujuan.

Tanpa berkata-kata keduanya maklum bahwa perjalanan mereka bersama hanya akan sampai di sungai kecil yang berada kurang lebih lima belas li di depan, di mana terdapat jalan simpangan dan di sana keduanya akan berpisah untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing. Semakin dekat dengan sungai itu, otomatis keduanya memperlambat lari kudanya sehingga di lain saat kuda mereka hanya berjalan saja!

“Adik Im Giok, selanjutnya kau akan ke mana?” Tiauw Ki bertanya.

Sebuah pertanyaan yang aneh dan lucu karena keduanya sudah sama-sama mengetahui ke mana gadis itu akan pergi kalau tidak pulang ke rumah ayahnya di Sian-koan! Dan dari pertanyaan ini saja telah membayangkan keadaan hati pemuda itu, dan Im Giok maklum pula akan hal ini.

Memang cinta kasih itu aneh sekali. Biar pun pemuda dan gadisnya sama-sama selama hidupnya belum pernah mengalami buaian asmara dan baru kali itu mengalami perasaan yang amat aneh ini, akan tetapi keduanya seakan-akan sudah berpengalaman, keduanya sudah dapat menangkap maksud hati masing-masing hanya dengan rasa.

Kerling mata mengandung seribu bahasa mesra, senyum tipis membayangkan perasaan hati berdebar, gerak-gerik mengisyaratkan suara hati. Demikian tajamnya perasaan orang yang menghadapi pujaan hatinya, seakan-akan antara keduanya sudah ada kontak yang timbul oleh getaran-getaran perasaan.

Sungguh pun Im Giok maklum mengapa pemuda itu masih juga bertanya ke mana dia hendak pergi, ia menjawab juga perlahan sambil menundukkan muka,

“Aku hendak pulang ke Sian-koan. Dan kau... ke manakah, Twako?”

“Tentu ke kota raja... tugasku belum selesai. Sayang...”

Lama tidak terdengar mereka berkata-kata dan sunyi di pagi hari yang indah itu. Matahari belum kelihatan, akan tetapi cahayanya telah mulai mengusir kabut fajar dan menggugah alam yang terlelap dalam mimpi. Yang terdengar hanya suara kicau burung, diseling oleh derap kaki dua ekor kuda yang berjalan perlahan di atas jalan berbatu.

“Mengapa sayang, Twako?” Im Giok sudah membolak-balik pertanyaan ini beberapa kali di dalam hati sebelum ia mengeluarkan melalui bibirnya. Hatinya berdebar-debar menanti jawab, seperti seorang penjahat menanti pengucapan hukuman oleh hakim.

“Sayang karena... karena terpaksa kita harus berpisah.” Suara pemuda itu menggetar.

Tiba-tiba Im Giok menjadi merah mukanya, merah sampai ke telinganya. Mengingat akan keadaan dirinya sendiri, tiba-tiba Im Giok mengerahkan tenaga batinnya untuk mengusir perasaan malu dan jengah yang luar biasa ini, kemudian ketabahannya yang luar biasa dapat membuat dia menguasai diri lagi. Ia tersenyum dan dengan wajah ayu memandang Tiauw Ki.

“Twako, kau ini aneh. Ada waktu bertemu pasti ada pula waktu berpisah. Bukankah ada kata-kata para cerdik pandai di jaman dahulu bahwa bertemu itu artinya berpisah? Atau jelasnya bahwa pertemuan adalah awal perpisahan?”

Tiauw Ki yang tiba-tiba menjadi lemas melihat senyum yang demikian manisnya, wajah yang berseri dan mata bersinar-sinar sehingga membuat baginya seakan-akan matahari sudah muncul setinggi-tingginya, menjadi seperti orang linglung.

“Mengapa demikian?”

Pertanyaan ini tak karuan juntrungnya, padahal sebagai seorang sastrawan, sudah tentu pemuda ini hafal akan semua filsafat kuno, tidak kalah oleh Im Giok. Akan tetapi pada waktu itu, otaknya seakan-akan tertutup dan ia tidak sadar apa-apa, yang ada hanyalah wajah yang luar biasa cantik jelitanya dari gadis yang berada di sampingnya.

Melihat betapa pemuda itu duduk di atas kudanya sambil memandang bengong padanya seperti orang kena sihir, Im Giok tersenyum makin lebar.

“Mengapa? Ehh, Gan-twako, tentu saja pertemuan adalah awal perpisahan, karena kalau tidak bertemu lebih dulu, bagaimana bisa berpisah?”

Jawaban yang merupakan kelakar ini membikin sadar Tiauw Ki dari lamunan. Ia menarik napas panjang dan berkata,

“Tepat sekali kata-katamu, Giok-moi. Dan inilah yang menyakitkan hatiku. Bagiku... berat sekali perpisahan ini. Kalau boleh aku ingin membuang jauh-jauh ucapan kuno itu, ingin kuganti...”

Im Giok mengangkat alisnya dan memandang lucu. “Ehm, apa kau ingin menyaingi para pujangga kuno dan merubah kata-kata mereka?”

“Ya, khusus tentang pertemuan itulah. Dengar aku merubahnya, dan ini terutama sekali untuk kita berdua, Adikku. Pertemuan bukanlah awal perpisahan, akan tetapi pertemuan adalah awal persatuan abadi. Bagaimana kau pikir, bukankah ini lebih tepat dan lebih baik?”

Im Giok menutup mulutnya menahan ketawa, kemudian melarikan kudanya.

“Ada-ada saja kau ini, Twako,” katanya seperti marah.

Akan tetapi suara ketawanya berlawanan dengan kata-kata yang seperti marah ini, maka Tiauw Ki juga membalapkan kudanya mengejar.

“Adik Im Giok, tunggu...! Kita tidak akan berpisah selamanya!” Tiauw Ki berani berteriak menyatakan perasaan hatinya ini saking gembiranya. Akan tetapi Im Giok yang timbul kembali rasa malu dan jengah, tidak mau menghentikan kudanya.

Karena kuda dibalapkan, sebentar saja tahu-tahu sudah sampai di sungai yang melintang di depan. Im Giok tersentak kaget dan menghentikan kudanya dengan tiba-tiba. Melihat sungai itu ia tersadar bahwa semua tadi bukan main-main, melainkan sungguh-sungguh perpisahan telah berada di depan mata! Dan ia pun menjadi berduka.

Alisnya berkerut, kegembiraannya lenyap sama sekali. Dia telah merasakan kebahagiaan luar biasa di dalam hatinya selama dekat dengan Tiauw Ki. Sekarang perpisahan dengan pemuda itu mendukakan hatinya.

“Giok-moi...!” Tiauw Ki juga sudah tiba di situ. Pemuda ini melompat turun dari kudanya. “Giok-moi, harap jangan tergesa-gesa. Begitu girangkah hatimu untuk meninggalkan aku maka kau tergesa-gesa?”

Im Giok melompat turun dari kudanya pula dan berkata, “Twako, janganlah kau berkata begitu...” Dalam suaranya kini terkandung sedu-sedan.

“Marilah kita gunakan saat terakhir ini untuk bercakap-cakap dan memberi kesempatan kepada kuda kita beristirahat,” kata Tiauw Ki yang membawa kudanya ke pinggir sungai di mana terdapat rumput yang hijau dan gemuk.

Im Giok meniru perbuatannya dan sesudah kedua ekor kuda itu makan rumput dengan lahapnya, mereka lalu mencari tempat duduk. Kebetulan sekali tidak jauh dari sana, di pinggir sungai kecil terdapat sebatang pohon yang teduh dan di bawah pohon terdapat batu-batu sungai yang besar dan bersih licin. Ke situlah dua orang ini berjalan perlahan.

Tiauw Ki duduk di atas sebuah batu besar, merenung ke arah air sungai. Im Giok juga duduk di atas batu tak jauh dari tempat pemuda itu duduk, bermain-main dengan ujung daun pepohonan yang tumbuh di dekatnya.

“Adik Giok, rasanya janggal dan aneh sekali jika kita harus berpisah di sini. Benar-benar heran sekali, bagiku terasa seakan-akan kita telah berkumpul selamanya, telah semenjak kecil, semenjak lahir... Giok-moi, benar-benar berat untukku harus berpisah darimu, tak sampai hatiku...”

“Habis, bagaimana, Twako. Kita harus mengambil jalan masing-masing. Kau ke kota raja dan aku pulang ke Sian-koan.”

“Memang semestinya demikian. Akan tetapi... ahh, rasanya sedikit pun juga aku tidak ada keinginan sama sekali untuk pergi ke kota raja. Kalau saja kau dapat pergi bersamaku ke kota raja atau aku pergi bersamamu ke Sian-koan...”

Im Giok melirik, mukanya merah dan hatinya berdebar senang.

“Mana boleh begitu, Gan-ko? Kau mempunyai tugas penting. Apa sih sukarnya? Kau ke kota raja dahulu dan sesudah tugasmu selesai, bukankah kau dapat mengunjungi aku di Sian-koan?”

Di dalam kata-kata ini terkandung sindiran yang dalam, seolah-olah Im Giok menyatakan bahwa ia akan menanti kedatangan pemuda itu di Sian-koan! Tiauw Ki yang cerdik dapat mengerti arti yang terkandung dalam kata-kata ini, maka saking girang perasaannya, dia menangkap kedua tangan gadis itu.

“Giok-moi…,” suaranya gemetar.

Selama hidupnya baru kali ini Im Giok merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Menurut kata hatinya, ingin ia menarik kembali kedua tangannya yang dipegang oleh jari jemari tangan yang gemetar dari pemuda itu, akan tetapi ia tak kuasa menarik tangannya seakan-akan semua tenaganya telah hilang! Dia hanya menundukkan muka dan bibirnya tersenyum malu.

“Giok-moi, betulkah kau akan menerimaku bila aku sewaktu-waktu datang ke Sian-koan!” suara Tiauw Ki perlahan dan halus penuh perasaan.

“Mengapa tidak?” Im Giok hanya menjawab singkat karena dia sendiri takut untuk bicara terlalu panjang, mendengar betapa suaranya sendiri gemetar!

“Tidak… tidak ada halangannya kalau… kalau aku…” Tiauw Ki tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya.

“Ada apakah, Gan-twako? Lanjutkanlah, mengapa begitu sukar?”

Tiauw Ki makin gagap menerima teguran ini. Ia mengigit bibirnya menenangkan hatinya lalu berkata nekad, “Bagaimana kalau kelak aku datang ke Sian-koan... dan...”

“Dan apa...?”

“Aku... aku hendak... meminangmu!” Lega hatinya setelah kata-kata yang mengganjal di kerongkongannya ini akhirnya terlepas juga.

Im Giok sejak tadi sudah menduga, akan tetapi setelah kata-kata itu diucapkan, mukanya yang cantik itu menjadi merah sekali, membuat sepasang pipinya kemerahan bagai buah tho masak, membikin dia nampak makin cantik jelita. Memang jarang ada gadis secantik Im Giok, apa lagi kalau yang memandangnya seorang yang jatuh hati kepadanya, dia laksana bidadari dari kahyangan saja!

“Bagaimana, Giok-moi...?” tanya Tiauw Ki.

Dengan sudut matanya Im Giok mengerling kepada pemuda itu, bibirnya yang manis itu tersenyum malu, lalu ia menundukkan muka kembali sambil berkata lirih, “Entahlah...”

Tiauw Ki menjadi makin berani melihat sikap gadis itu. Ia menggenggam kedua tangan yang kecil halus itu dengan erat dan menarik Im Giok mendekat. Karena gadis itu duduk di atas batu yang lebih rendah, maka setelah ditarik ia bersandar kepada paha Tiauw Ki.

“Giok-moi, bagaimana? Apakah kau keberatan kalau kelak kupinang?”

Bukan main malunya Im Giok dan ia pun tidak dapat membuka mulut menjawab. Sambil tersenyum-senyum malu dan wajah ditundukkan, dia hanya menjawab dengan gelengan kepala perlahan.

Tiauw Ki merasa diayun di sorga ke tujuh. Ingin dia melompat turun dari atas batu dan menari-nari kegirangan atau ingin dia mengangkat tubuh Im Giok dalam pondongannya dan diputar-putar.

Akan tetapi sebagai seorang pemuda terpelajar yang sopan ia tidak berani melakukan hal ini. Sebagai seorang pemuda yang tahu akan arti kesopanan dan kesusilaan, Tiauw Ki hanya memandang kepada wajah kekasihnya dengan mata bersinar, wajah berseri dan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Moi-moi, terima kasih. Akan tetapi, bagaimana kalau saudara-saudaramu tidak suka kepadaku dan tidak mau menerima?” Di dalam ucapan ini terkandung suara yang penuh kecemasan.

Maka Im Giok cepat mengangkat muka dan berkata tegas,

“Aku tidak mempunyai saudara kandung. Aku anak tunggal. Yang ada hanya suci-ku Giok Gan Niocu Song Kim Lian!”

Tiauw Ki tersenyum lega, lalu tertawa kecil. “Ahh, suci-mu itu benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa dan berhati mulia, biar pun agak galak. Akan tetapi tentu saja tidak melawan kau baik dalam hal kegagahan, kemuliaan mau pun kecantikan.”

Im Giok hanya melempar senyum menghadiahi pujian kekasihnya ini.

“Akan tetapi, bagaimana kalau... kalau ayah bundamu tidak suka kepadaku? Ayahmu seorang gagah, tentu dia tidak suka mempunyai calon mantu seorang pemuda sekolah yang lemah...!” Kembali dalam suara pemuda itu terkandung kekhawatiran besar.

“Ibuku sudah tidak ada, dan Ayah... dia sangat sayang kepadaku, tidak mungkin Ayah membiarkan aku kecewa dan berduka.” Im Giok mengambil tusuk kondenya, kemudian memberikan benda itu kepada Tiauw Ki dengan suara halus, “Koko, inilah tusuk kondeku, harap kau simpan baik-baik.”

Tiauw Ki menerima benda itu dan menekannya di dada, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih, Moi-moi. Benda ini selamanya takkan berpisah dariku, akan kuanggap sebagai penggantimu. Dengan adanya tusuk konde ini, Moi-moi, hatiku akan terhibur. Hanya menyesal sekali, aku adalah seorang yang bodoh dan miskin pula, tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk diberikan kepadamu kecuali ini...”

Pemuda itu mengeluarkan sebuah kipas yang tidak begitu baik dari dalam saku bajunya. Sudah menjadi kebiasaan para siucai untuk selalu menyimpan kipas di sakunya.

“Kipas ini tadinya masih kosong, Moi-moi, seperti kosongnya hatiku. Sekarang kipas ini tidak seharusnya dibiarkan kosong seperti juga hatiku yang kini sudah penuh...”

Sambil berkata begitu, pemuda itu ‘menyulap’ keluar sebatang pit dan arang tintanya dari dalam saku bajunya. Diambilnya sedikit air dari sungai untuk membasahi arang tinta dan di atas batu itu dia menulis huruf-huruf indah di atas kipasnya yang putih bersih.

Im Giok hanya memandang saja semua yang dilakukan oleh kekasihnya ini dengan bibir tersenyum dan hati bungah. Dengan hati berdebar Im Giok membaca tulisan yang indah gayanya itu:

Tusuk konde dan kipas menjadi saksi bertemunya dua hati di bawah pohon, di tepi sungai...
Semoga cinta kasih kita kekal abadi takkan berpisah, sehidup semati
...

Tiauw Ki memberikan kipas itu kepada Im Giok yang menerimanya dengan wajah berseri.

“Aduh indahnya tulisanmu, Koko...” katanya.

Akan tetapi Tiauw Ki hanya menatap wajahnya, nampaknya berduka.

“Kau mengapa, Twako?”

“Sayang pertemuan seindah ini harus diputuskan oleh perpisahan...” kata Tiauw Ki sambil memegang pundak gadis itu, ditariknya sehingga kembali Im Giok bersandar kepadanya.

“Hanya untuk sementara waktu, Koko. Bukankah kau segera akan ke Sian-koan setelah tugasmu selesai? Aku selalu menantimu di sana, Koko...”

Kata-kata ini terdengar begitu manis dan merdu oleh Tiauw Ki sehingga saking terharu hatinya, kedua mata pemuda itu sampai basah. Didekapnya kepala gadis itu ke dadanya lebih erat lagi dan sampai lama mereka tak bergerak, tenggelam ke dalam lautan madu asmara.

Biar pun keduanya diam tak bergerak, biar pun suasana di sekitar mereka sunyi senyap, namun suara daun pohon tertiup angin dan air sungai mengalir bagi mereka seperti suara musik mengiringi nyanyian surga yang amat merdu. Pohon, daun, batu, apa saja yang nampak di sekeliling mereka seakan-akan tertawa-tawa dan ikut beriang gembira.

Tiauw Ki dan Im Giok bagaikan mabuk oleh buaian ombak perasaan yang paling indah di antara segala macam perasaan, tapi keduanya masih sadar sepenuhnya dan ingat akan kesopanan dan kesetiaan.

Sungguh mengagumkan mereka ini, teladan bagi muda-mudi beradab. Meski pun mereka juga diombang-ambingkan oleh ombak asmara yang memabukkan, akan tetapi mereka pantang melakukan pelanggaran dan mereka teguh bagaikan karang di pantai samudra.

Apa pun juga yang terjadi, mereka berpegang kepada semboyan nenek moyang mereka, yang bagaimana pun juga, ATURAN (Lee) di atas segala apa! Kesopanan dan kesusilaan termasuk dalam Lee ini dan karenanya mereka tetap sadar dan menjaga jangan sampai mengecewakan hati kekasihnya dengan pelanggaran tata susila yang dijunjung tinggi!

Dalam keadaan bagaikan setengah pulas itu, ternyata kelihaian Im Giok tidak berkurang. Pendengarannya memang amat tajam sehingga Tiauw Ki menjadi terheran ketika secara tiba-tiba Im Giok merenggutkan kepalanya yang tadinya bersandar pada dadanya sambil berkata,

“Koko, ada penunggang kuda datang...”

Tiauw Ki memperhatikan dan sampai lama setelah suara itu semakin mendekat baru dia mendengar derap kaki kuda.

“Ada tiga orang penunggang kuda,” kata pula Im Giok.

Dia sudah dapat membedakan suara itu sebelum orang-orangnya kelihatan, siap karena mengira bahwa yang datang ini tentu pihak musuh yang selalu mengancam keselamatan Tiauw Ki. Akan tetapi setelah tiga orang penunggang kuda itu muncul, ia bernapas lega.

Mereka itu ternyata adalah tiga orang wanita yang membalapkan kuda dan membuktikan bahwa ketiganya adalah ahli-ahli penunggang kuda yang mahir. Apa lagi ketika tiba di dekat Tiauw Ki dan Im Giok, ketiga orang penunggang kuda itu dapat menghentikan kuda mereka dengan serentak, hal ini lebih-lebih membuktikan bahwa mereka bertiga memiliki lweekang yang cukup kuat.

Setelah mereka mendekat, barulah Im Giok dan Tiauw Ki melihat dan mengenal mereka sebagai tiga orang wanita yang malam tadi ikut hadir pula dalam pesta yang diadakan di rumah Suma-huciang, yakni nenek yang pada kepalanya diikat kain putih dan memegang tongkat, bersama dua orang gadis manis yang sikapnya galak. Kini kedua orang gadis itu memandang kepada Tiauw Ki, lalu kepada Im Giok dengan pandangan mata terbelalak dan mengandung sinar kebencian.