Pendekar Tanah Seberang

Cerita silat serial pendekar pulau neraka
Episode Pendekar Tanah Seberang

Karya Teguh S
Gambar: Tony G
Penerbit pertama Cintamedia, Jakarta



Cerita silat online Pendekar Pulau Neraka



SATU

Seorang muda tampak memacu kencang kudanya melewati pinggiran hutan. Rambutnya yang panjang dan diikat sehelai pita kuning, berkibar-kibar ditiup angin. Melihat cara berpakaian dan pedang besar yang tersandang di punggung, sekilas saja sudah bisa diduga kalau pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun ini berasal dari kalangan persilatan.

Pakaian biru dengan sulaman gambar naga dan pedang yang tertera di dadanya, menandakan kalau pemuda itu murid Perguruan Pedang Naga Sembilan yang diketuai orang tua sakti bernama Ki Bagus Lamtara. Di kalangan rimba persilatan Ki Bagus Lamtara adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan amat disegani baik kawan maupun lawan.

"Heaaa...!" pemuda itu berteriak keras, memacu kudanya agar berlari kian kencang.

Agaknya murid Perguruan Pedang Naga Sembilan itu tak sabar untuk sampai tujuan. Memang selama menjadi murid perguruan itu, baru hari ini mempunyai kesempatan untuk bertemu orangtuanya. Wajahnya terlihat cerah, dan sesekali senyum kecilnya mengembang. Akan ditujukkan pada orangtua dan saudara-saudaranya bahwa apa yang dipelajarinya selama ini tak sia-sia dan patut dibanggakan. Namun baru saja kuda itu mulai berlari kencang, mendadak dua sosok tubuh melayang menghadang jalannya. Begitu ringan mereka mendarat, sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun.

"Hoooup...!"

Pemuda itu tersentak kaget. Buru-buru tali kekang kudanya ditarik. Hampir saja tubuhnya terlempar dari punggung kuda yang mendadak mengangkat dua kaki depannya tinggi-tinggi, kalau saja tak sigap melompat.

"Apa-apaan kalian menghadang perjalanan Permadi?! Siapa kalian?!" tanya pemuda yang mengaku bernama Permadi sambil menaikkan alis dan memandang pada kedua orang asing itu dengan wajah bingung.

Kalau Permadi agak bingung, memang beralasan. Kedua orang yang menghadangnya jelas bukan penduduk negeri ini. Kulit dan cara mereka berpakaian sangat berbeda. Yang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Bagian depan kepalanya pitak. Sementara bagian belakang tumbuh rambut panjang yang dikuncir sampai sebatas punggung. Pada ujung rambutnya diikat pita merah.

Kumis dan jenggotnya yang panjang menjuntai melambai-lambai ditiup angin. Bajunya terbuat dari sutera berwarna merah darah dan celananya berwarna hijau tua. Di pinggangnya terselip sepasang golok bergerigi. Sementara yang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun. Di pinggangnya terselip sebuah suling perak. Wajahnya sangat cantik, namun terkesan galak dan berangasan.

"Kulihat kau membawa pedang. Apakah kau seorang tokoh persilatan negeri ini?" Laki-laki asing itu balik bertanya dengan nada dingin.

"Kalau memang betul, kalian mau apa?" sahut Permadi seenaknya. Permadi memang kesal melihat sikap dan mendengar kata-kata orang asing itu, yang terkesan sombong dan menantang.

"Bagus! Cabutlah pedangmu!" tantang laki-laki asing itu sambil berjalan tiga langkah mendekati. Seketika dibukanya jurus pertama.

Permadi tak sempat bertanya lebih lanjut ketika lelaki bermata sipit itu telah melompat menyerang.

"Yeaaah...!"

"Hup! Setan!" sambil menundukkan kepala menghindari tendangan lawan, murid Perguruan Pedang Naga Sembilan itu memaki geram. Baru kali ini Permadi bertemu orang seaneh mereka. Tak ada sebabnya, tiba-tiba menyerang orang. Tentu saja hal itu membuatnya geram. Maka sambil mengkertak rahang, tubuhnya berbalik.

"Kalau memang itu keinginanmu, baiklah. Lihat serangan!" bentak Permadi nyaring, berusaha membalas serangan. Kepalan tangan kanan pemuda itu menyodok ke dada lawan. Namun orang asing itu lebih cepat menge-goskan badannya ke kiri. Maka dengan cepat tubuh Permadi berputar sambil melakukan tendangan ketika serangan pertamanya gagal.

"Hiyaaa...!"
Plak!

Bukan main terkejutnya pemuda itu, karena berani-beraninya orang asing ini menangkis serangannya dengan tangan kiri. Bahkan pergelangan kakinya sempat ditangkap dan ditarik sekuat-kuatnya. Permadi bermaksud menarik pulang kakinya, namun kepalan tangan kanan orang asing itu lebih cepat lagi menghajar dadanya.

Des!
"Akh...!"

Tanpa sempat berkelit, pemuda itu terpekik. Tubuhnya kontan terjungkal sambil memuntahkan darah segar.

"Kurang ajar! Kau akan mampus, Keparat!" geram Permadi seraya bangkit. Kedua tangannya tampak mendekap dada yang terasa nyeri bukan main. Namun tak lama kemudian....

Sring....

Permadi mencabut pedangnya. Dan dengan sorot mata tajam penuh kemarahan, kembali dibukanya jurus berikut. Jelas, pemuda itu telah siap menghajar lawan.


***


Sebaliknya orang asing itu memperhatikan Permadi sambil menyipitkan matanya yang sudah sipit dengan sikap menganggap enteng lawan.

"Hm.... Kulihat kau seperti orang yang baru belajar ilmu silat satu dua jurus. Siapa gurumu? Apakah dia seorang tokoh persilatan negeri ini?"

"Huh! Kau belum sederajat untuk bertemu guruku! Dia seorang tokoh persilatan terkenal yang berjuluk Pedang Naga Sembilan. Kalau kau hendak menantangnya, lupakan saja. Dengan sekali hajar, kau akan jungkir balik dibuatnya!" dengus Permadi.

"Ha ha ha...! Begitukah?! Baiklah. Sekarang, pergilah padanya. Dan katakan, Daeng Mapparewang menantangnya duel!" kata laki-laki asing yang ternyata bernama Daeng Mapparewang jumawa.

"Huh! Sudah kukatakan, kau tak sederajat untuk berhadapan dengannya. Sebaiknya, jaga kepalamu dari tebasan pedangku!" bentak Permadi sambil melompat menyerang lawan.

Wut!
"Yeaaah...!"

Dengan amarah meluap-luap, Permadi mengerahkan segenap kemampuannya untuk menjatuhkan lawan secepat mungkin. Bahkan sekaligus membalas kekalahannya tadi. Namun agaknya hal itu tak mudah. Dengan gerakan gesit dan ringan, Daeng Mapparewang mampu menghindari setiap serangannya sambil terkekeh-kekeh kecil seperti mengejek.

"Kau bukan lawanku, Bocah. Nah Keluarkanlah seluruh kemampuanmu sebelum kukirim ke akherat!" ujar Daeng Mapparewang meremehkan, seraya menghindar. Sepertinya laki-laki asing itu ingin memamer-kan kepandaiannya, sekaligus mengejek lawan.

"Ayo, keluarkanlah seluruh kepandaianmu Lawanlah aku! Mana omong besarmu itu?!" bentak Permadi kalap.

"Hm.... Kalau itu memang keinginanmu, baiklah. Lihat serangan!"

Tiba-tiba Daeng Mapparewang membentak keras. Tubuhnya melompat ke atas kepala Permadi sambil mencabut sepasang goloknya yang tajam bergerigi. Permadi tersentak kaget melihat Daeng Mapparewang bergerak cepat. Dan karena kedua golok laki-laki asing itu memantulkan sinar matahari yang mengenai mata Permadi, akibatnya pemuda itu kelabakan untuk beberapa saat. Tapi dengan cepat pedangnya diputar sedemikian rupa untuk menangkis serangan lawan.

Trang!

Permadi berhasil menangkis satu golok Daeng Mapparewang. Namun golok yang satunya lagi luput dari perhatiannya. Sehingga....

Cras!
Breeet!
"Aaa...!"

Permadi kontan menjerit menyayat begitu golok bergerigi Daeng Mapparewang menyambar perutnya dari atas ke bawah. Isi perutnya seketika terurai keluar, disertai darah segar. Pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang, untuk kemudian ambruk tak berdaya. Setelah meregang sesaat, nyawanya seketika melayang. Sementara pedang yang masih tergenggam di tangannya telah patah.

"Huh! Bocah tak berguna! Menyesal aku bertemu dengannya!" dengus laki-laki asing itu kecewa.

"Kenapa harus marah-marah, Kak? Kita baru tiba di negeri ini. Jadi, belum tahu banyak, mana pendekar hebat dan mana pendekar picisan. Tak lama lagi tentu kita akan bertemu tokoh-tokoh hebat negeri ini. Sebaiknya, mari tinggalkan tempat ini dan melanjutkan perjalanan," ajak wanita di dekat Daeng Mapparewang yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.

"Kau benar, Mamparini. Kita memang tak perlu terburu-buru. Masih banyak yang harus kita kerjakan, selain menaklukkan pendekar negeri ini. Ha ha ha...!"

Daeng Mapparewang tertawa terbahak-bahak. Tak berapa lama, kedua orang asing yang memang suami istri itu melesat meninggalkan tempat ini dengan gerakan ringan dan gesit, Sedikit pun mereka tak mempedulikan korbannya yang mati secara mengenaskan!

Tepian hutan ini kembali sepi. Hanya desir angin saja yang menyapu dedaunan. Namun, kesunyian itu kembali pecah oleh suara langkah-langkah beberapa orang, menuju tempat terbujurnya mayat Permadi.

Dan begitu melewati tempat itu, mereka tersentak kaget ketika melihat sesosok mayat tergeletak di jalanan. Salah seorang dari mereka mendekati, dan terkejut ketika melihat mayat itu.

"Astaga! Ini Den Permadi anak Saudagar Sumanta. Kenapa jadi begini? Dan siapa orang yang telah begitu tega dan kejam membunuhnya?" seru orang itu dengan wajah ngeri.

"Jangan berdiri saja, Karta. Cepat angkat dan kita bawa mayat ini pulang!" teriak seseorang yang berpakaian kuning.

Serentak Karta bersama dua orang pemuda dari rombongan itu mengangkat mayat Permadi dan membawanya pulang ke rumah orangtuanya.


***


Tak seorang pun di Desa Lobak Sari yang tak mengenal Saudagar Sumanta. Selain kaya raya, dia juga terkenal karena kedermawanannya. Sehingga seluruh penduduk desa itu sangat menghormatinya. Maka ketika mendengar kematian seorang putranya, tentu saja penduduk desa itu sangat terkejut. Dan mereka pun berduyun-duyun menuju rumah Saudagar Sumanta untuk mengucapkan turut belasungkawa.

"Pembunuhnya harus mendapat pembalasan yang setimpal!" kata seorang yang turut menyatakan bela sungkawa pada Saudagar Sumanta.

"Betul! Kita tak bisa mendiamkannya begitu saja. Den Permadi adalah orang yang sangat baik dan tak pernah menyakiti orang lain," timpal yang lain.

"Tapi pada siapa kita akan menuntut balas? Sedangkan kita sendiri tak tahu, siapa orang yang telah membunuhnya!"

Suara-suara bersemangat yang keluar dari mulut penduduk Desa Lobak Sari yang tengah berkumpul itu menjadi sunyi. Mereka hanya bisa menyimpan amarah dan dendam yang tak tahu harus ditujukan pada siapa. Memang tidak seorang pun yang tahu, siapa pembunuh Permadi.

"Apakah tidak sebaiknya menghubungi perguruan, tempat Den Permadi belajar, Juragan? Siapa tahu ada permusuhan antara Perguruan Pedang Naga Sembilan dengan perguruan lain. Dan ketika melihat Den Permadi berjalan sendirian, mereka langsung mencegat dan membunuhnya. Dengan begitu, kita akan mengetahui pembunuh Den Permadi," usul salah seorang.

Saudagar Sumanta tak langsung menjawab. Sebenarnya laki-laki berusia enam puluh dua tahun itu sakit hati dan dendam sekali melihat keadaan anaknya. Tapi orang tua itu berusaha menahan diri. Dia menganggap, kematian anaknya sudah suratan takdir. Tapi ketika banyak penduduk desa mendesaknya, akhirnya disetujui juga untuk mengusut kematian anaknya sampai tuntas.

"Ayah, izinkan aku pergi ke Perguruan Pedang Naga Sembilan untuk menanyakan hal ini pada Ki Bagus Lamtara!" pinta salah seorang anaknya yang bernama Permana. Dia adalah kakak dari Permadi, dan, sekaligus anak tertua Saudagar Sumanta.

"Yah.... Kalau itu sudah menjadi tekadmu, aku tak kuasa menolaknya. Hati-hati kau di jalan...," "sahut orang tua itu.

"Jangan khawatir, Ayah. Aku akan membawa lima orang pengawal," sahut Permana.


***


Di sebuah ruangan, di dalam Perguruan Pedang Naga Sembilan, seorang laki-laki tua, tampak memancarkan wajah keterkejutan. Laki-laki tua berusia sekitar enam puluh tahun itu benar-benar tak mengerti, mendengar kabar kematian Permadi. Padahal, baru kemarin Permadi meninggalkan perguruan.

"Demikianlah, Ki. Kedatangan kami ke sini atas perintah ayahanda untuk menanyakan, apakah perguruan ini memiliki musuh. Atau, barangkali Permadi sendiri yang mempunyai musuh. Kami akan mengejar orang itu sampai dapat, kemanapun bersembunyi," jelas Permana setelah bertemu Ki Bagus Lamtara.

Wajah orang tua itu tampak tegang. Urat-urat di pelipisnya mengembang. Dan saat itu pula rahangnya bergeletuk, mendengar berita yang dibawa Permana. Ditatapnya wajah pemuda itu untuk beberapa saat.

"Hm... Kalian tak perlu turun tangan. Aku sendiri yang akan mencari pembunuh keparat itu!" sergah laki-laki tua yang memang Ki Bagus Lamtara.

"Ki...."

"Aku tahu!" potong Ki Bagus Lamtara.

"Permadi anak baik. Dan dia adalah muridku yang sangat berbakat. Anak itu selama di sini tidak punya musuh. Bahkan sangat disukai kawan-kawannya. Aku sendiri heran, siapa pembunuh kejam itu. Tapi yang jelas kami akan membuat perhitungan dengannya!"

"Terima kasih atas kesediaan Ki Bagus. Tapi terus terang, kami tak akan surut dengan niat semula. Permadi adalah adikku. Dan aku berhak menuntut balas atas kematiannya!" kata Permana, geram.

"Aku mengerti perasaanmu, Permana...."

"Syukurlah, Ki...."

Untuk beberapa saat ruangan itu sunyi. Masing-masing tenggelam dalam pikiran yang sama, tentang malangnya nasib Permadi. Namun, mendadak saja mereka dikejutkan oleh kemunculan seorang murid perguruan yang masuk secara tergesa-gesa.

"Maaf, Eyang. Ada dua orang asing yang ingin bertemu Eyang," ucap pemuda tanggung, murid. Perguruan Pedang Naga Sembilan.

"Siapa mereka?"

"Yang laki-laki bernama Daeng Mapparewang, sedangkan yang perempuan bernama Nyai Mamparini," jelas murid itu.

Dahi Ki Bagus Lamtara jadi berkerut begitu mendengar dua nama yang baru hari ini didengarnya. Jelas laki-laki tua itu belum pernah mengenal mereka sebe-lumnya. Namun meski demikian, terpaksa ditinggalkannya Permana dan lima orang pengawalnya untuk menemui kedua orang tamunya.

Begitu tiba di depan beranda ruangan utama ini, Ki Bagus Lamtara melihat kedua orang yang bertampang asing sedang berdiri tegak di tengah halaman depan perguruan. Ki Bagus Lamtara dan beberapa orang murid terpandainya segera menyambut mereka.

"Kisanak, silakan masuk ke dalam," sambut orang tua itu sambil memberi salam penghormatan.

"Terima kasih. Kurasa itu tak perlu. Kedatangan kami ke sini bukan untuk bertamu, melainkan ingin menantangmu bertarung. Kaukah orangnya yang berjuluk Pedang Naga Sembilan?" tanya laki-laki bermata sipit yang tak lain Daeng Mapparewang, jumawa.

Ki Bagus Lamtara tersenyum kecil mendengar tantangan tamunya.

"Betul. Akulah si Pedang Naga Sembilan. Dari mana kau mengetahui julukanku?"

"Apakah muridmu tak memberitahukan dari akherat sana?" tanya Daeng Mapparewang sinis.

"Jadi kaukah yang telah membunuh muridku?!" sentak Ki Bagus Lamtara dengan wajah kaget dan amarah menyala-nyala.

"Hm.... Agaknya kau mulai mengerti. Nah, cabutlah pedangmu dan pertahankan selembar nyawamu!" dingin sekali suara Daeng Mapparewang.

Orang asing itu sama sekali tak mempedulikan seluruh murid Perguruan Pedang Naga Sembilan yang langsung mencabut pedang begitu mengetahui kalau pembunuh Permadi ada di depan mereka. Wajah mereka terlihat marah dan tak bersahabat. Agaknya mereka memang, tak suka melihat cara kedua orang asing yang sombong dan menganggap remeh itu.

"Kisanak, di antara kita tak ada saling permusuhan. Tapi, kenapa kau membunuh muridku dengan kejam?"

"Aku tak perlu saling bermusuhan lebih dulu untuk membunuh lawan. Silakan kau cabut pedangmu. Perlihatkanlah padaku, kalau kau pantas bertarung denganku!"

"Baiklah. Aku memang harus membalas kematian muridku," sahut Ki Bagus Lamtara tenang sambil memberi isyarat pada murid-muridnya untuk tidak ikut campur.

Setelah melihat orang tua itu menerima sebilah pedang yang disodorkan seorang murid, Daeng Mapparewang langsung membuka jurus dan bersiap menyerang lawan.

"Yeaaah...!"

Sambil membentak nyaring Daeng Mapparewang melompat menyerang lawan disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Ki Bagus Lamtara tersentak kaget melihat angin serangan lawan yang demikian kuat. Sambil mendengus geram, pedangnya segera diputar dalam permainan jurus 'Sembilan Naga Menggiring Gunung'. Jurus ini memang sangat hebat, karena mampu mengurung pertahanan lawan sedemikian rupa. Sehingga, tak terlihat sedikit pun celah yang ada untuk meloloskan diri.

Namun Daeng Mapparewang memang bukan tokoh sembarangan. Di tanah tumpah darahnya, dia dikenal sebagai tokoh tingkat tinggi. Tak heran kalau laki-laki bermata sipit ini hanya terkekeh pelan seraya berkelit dengan gesit. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari sambaran pedang lawan, seperti sedang menari. Dua jurus telah berlalu, tetapi orang tua itu belum juga berhasil mendesak Daeng Mapparewang. Dan Ki Bagus Lamtara betul-betul merasa penasaran dan sangat geram.

"Hanya seginikah kemampuan mu, Orang Tua?! Kau sungguh membuat malu saja," ejek Daeng Mapparewang.

"Keparat!" Ki Bagus Lamtara mendengus garang, seraya kembali melancarkan serangan. Tapi dengan cepat, tokoh dari tanah seberang itu menangkis dengan tangan kanannya. Maka secara mendadak pedang di tangan kanan Ketua Perguruan Pedang Naga Sembilan itu berputar dan meliuk menyambar ke arah leher. Melihat hal ini Daeng Mapparewang melenting ke atas. Dan pada saat itu, Ki Bagus Lamtara tak mau menyia-nyiakan kesempatan, langsung tubuhnya melompat mengejar sambil berteriak nyaring.

"Yeaaah...!"

Namun Daeng Mapparewang tak kalah sigap. Tubuhnya cepat berbalik, seraya mencabut golok bergeriginya. Langsung dibabatnya pedang laki-laki tua itu.

Trak! Trak!

Pedang Ki Bagus Lamtara kontan patah menjadi empat bagian, begitu berbenturan dengan senjata Daeng Mapparewang. Bahkan cepat sekali golok bergerigi itu menyambar ke arah dada hingga perut dengan gerakan melintang.

Breeet!
"Aaa...!"

Ki Bagus Lamtara kontan memekik tinggi. Tubuhnya langsung terjungkal ke tanah bermandikan darah. Setelah menggelepar sebentar, nyawanya putus saat itu juga.

"Eyang Guru...!"

Serentak murid-murid Perguruan Pedang Naga Sembilan berteriak kaget, langsung menghampiri orang tua itu dengan wajah sedih. Namun sebagian dari mereka tak menerima. Bahkan langsung mengurung kedua orang asing itu.

"Keparat! Kalian harus membayar kematian guru kami!"

"Hentikan perbuatan kalian!" bentak salah seorang murid tertua.

"Kakang Sadewo, kenapa kau menghentikan kami?

Tidakkah hatimu tersentuh melihat kematian Eyang Guru?" kata salah seorang yang tadi hendak menyerang kedua orang asing itu.

"Eyang Guru tewas dalam pertarungan jujur. Dan kita tak berhak membalasnya dengan cara pengeroyokan begini," kilah murid yang dipanggil Sadewo itu.

"Lalu apa yang dilakukannya terhadap Permadi?" sahut orang itu sengit, seraya menunjuk Daeng Mapparewang.

"Tidak. Biar bagaimanapun, kita tak boleh membalasnya secara keroyokan begini. Dan aku akan mewakili Eyang Guru untuk menuntut kematiannya lewat pertarungan adil!" sahut Sadewo tegas.

"Bukan kalian yang akan menuntutnya. Tapi, aku. Biar dia akan kutantang bertarung, untuk membalas kematian adikku Permadi!" sambung sebuah suara.

Orang itu tak lain Permana, yang sejak tadi kemarahannya tak terbendung lagi melihat pembunuh adiknya berada di tempat ini. Perlahan-lahan pemuda itu melangkah mendekati Daeng Mapparewang dan Istrinya dengan sorot mata tajam.

"Kisanak! Kutantang kau bertarung atas nama adikku Permadi yang telah kau bunuh!" sentak Permana dingin.


***


DUA

"Kisanak! Kau adalah tamu kami di sini. Maka tak sepatutnya kami membiarkanmu menantangnya. Lagi pula, Permadi adalah murid perguruan ini juga. Kami juga perlu menuntut balas atas kematiannya," selak Sadewo, datar.

Permana hanya melirik sekilas kepada Sadewo.

"Kisanak aku tak bermaksud meremehkan kalian, juga tak bermaksud bersikap tak sopan. Tapi kematian adikku, sangat memukul keluargaku. Maka sudah sepatutnya aku yang menuntut balas, karena siapa pun yang membalaskan dendam adikku aku tak akan merasa puas," sahut Permana.

"Ha ha ha...! Sungguh hebat kalian ini! Tapi sayang, aku sama sekali tak tertarik meladeni kalian. Menurutku, kalian bukanlah lawanku!" kata Daeng Mapparewang sambil tertawa keras. Sikapnya benar-benar memandang rendah pada mereka.

"Bangsat! Meski kau memiliki kemampuan bagai dewa, jangan harap aku takut!" dengus Permana sambil melompat menyerang lawan.

"Hiyaaa...!"

"Uts! Hm.... Boleh juga ilmu silatmu," puji Daeng Mapparewang, setelah menghindar dari dua serangan lawan dengan mudah.

Permana memang memiliki sedikit kepandaian ilmu silat yang dipelajarinya pada salah satu perguruan yang tak jauh dari desanya, beberapa tahun silam sebelum Permadi berguru di sini. Namun Permana dalam menuntut ilmu tak berlanjut lama, karena harus mengurus usaha ayahnya. Sehingga bila Daeng Mapparewang berkata demikian, jelas sama artinya dengan menghina. Karena menyadari kemampuannya seperti itu, Permana seperti anak ayam menghadapi rajawali.

"Bocah! Pulanglah, karena kau bukan tandinganku. Lagi pula, aku merasa terhina bila harus berhadapan denganmu!"

"Puiiih! Tutup mulutmu. Aku akan menghadapimu, meskipun nyawaku menjadi taruhannya!" geram Permana sengit.

"Kalau kau memang sudah bosan dengan nyawamu, baiklah!" sahut Daeng Mapparewang dingin.

Sambil mendengus kesal, tubuh orang asing itu melompat ke atas kemudian jungkir balik menuju ke arah Permana. Langsung dilepaskannya satu sodokan keras yang ke arah ulu hati Permana. Namun dengan cekatan, pemuda itu berusaha menghindar. Bahkan berusaha cepat balas menyerang dengan satu ayunan kaki ke perut lawan.

Sayang, kepalan tangan Daeng Mapparewang lebih cepat lagi meluruk ke arah tubuh pemuda itu tanpa bisa dicegah. Dan....

Desss!

Kepalan tangan Daeng Mapparewang tepat mengenai dada kiri Permana. Dan pemuda itu hanya sempat mengeluh pelan. Tubuhnya kaku tak bergerak dalam keadaan kaki kanan terangkat ke atas. Tak lama, tubuhnya ambruk ke tanah dengan nyawa melayang.

"Astaga! Apa yang terjadi?" seru seseorang sambil berlari kecil mendekati tubuh pemuda itu.

Maka seketika orang-orang yang berada di situ tersentak kaget dan bergerak menghampiri.

"Tubuhnya membiru dan dingin!" desis seorang lagi yang telah lebih dulu tiba dan memeriksa keadaan Permana.

"Keparat! Dia harus mendapat pembalasan yang setimpal!" sahut yang lain.

Dan ketika orang-orang berpaling, kedua orang asing itu sudah tak ada di tempat Namun....

"Kalian bukan tandinganku. Kalau masih penasaran, panggillah pendekar terhebat di negeri ini. Dan, carilah kami untuk menuntut balas!" tantang Daeng Mapparewang dan Nyai Mamparini, yang menggunakan ilmu pengirim suara. Memang, saat itu dua orang asing tadi telah melesat pergi entah ke mana.

"Setan! Apa yang harus kita lakukan sekarang?!" geram salah seorang murid perguruan, sambil mengepalkan kedua kuku jari-jari tangannya.

"Kakang Sadewo! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah seorang.

Pemuda berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu terdiam beberapa saat.

"Kita tak akan berhasil membalaskan kematian Eyang Guru...," desah Sadewo.

"Apa maksudmu?"

"Mereka memang hebat. Dan aku melihatnya sendiri. Meskipun kita maju bersama, belum tentu mereka dapat dikalahkan," kilah Sadewo.

"Kakang telah merendahkan kemampuan kita. Apa Kakang putus asa?" tanya adik seperguruannya itu.

Sadewo memandang adik seperguruannya itu lekat-lekat. Kemudian mengalihkan perhatian pada yang lainnya dan tersenyum pahit.

"Aku tak berputus asa. Tapi aku menyadari keadaan, setelah melihat kenyataan. Kita harus mencari orang yang sepadan bagi mereka. Tujuan orang asing itu sudah jelas, bukan hanya kita yang akan menjadi korban. Tapi seluruh pendekar negeri ini. Nah, sudah sepatutnya kita mencari tokoh yang sepadan sebagai lawannya," jelas Sadewo.

Seluruh adik seperguruan Sadewo menganggukkan kepala mendengar penjelasan itu.

"Tapi menurutmu, siapakah di negeri ini yang mampu menandinginya?" tanya salah seorang adik seperguruannya.

"Entahlah. Kita akan mencari sambil memikirkannya. Barangkali Pendekar Pulau Neraka...," sahut Sadewo setengah bergumam.

"Pendekar Pulau Neraka? Di mana kita bisa menemukannya?" tanya yang lain.

Sadewo menggeleng. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Tanpa ada yang menjawab pertanyaan itu, mereka segera mengurus pemakaman mayat guru mereka. Sementara, mayat Permana dibawa pulang oleh kelima orang pengawal yang menyertainya tadi.


***


Juragan Sudira memang bukan hanya hartawan biasa di kota ini. Bahkan orang terkaya di seluruh Kadipaten Asem Bagus. Rumahnya besar dan dijaga puluhan pengawal yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan. Sehingga sepintas lalu, dia terlihat sebagai raja kecil di daerahnya. Meski tak terlalu suka meng-hambur-hamburkan dengan hartanya, namun semua orang yang bekerja padanya mendapat upah besar.

Sehingga tak heran banyak sekali yang berminat bekerja padanya. Sebenarnya, dulu jumlah pengawal rumahnya tak banyak seperti sekarang. Namun sejak peristiwa perampokan yang terjadi sekitar dua tahun lalu di rumahnya, maka sejak itulah Juragan Sudira terus menambah jumlah pengawalnya. Sehingga mereka mirip pasukan prajurit kerajaan saja.

Malam telah larut ketika Juragan Sudira masuk ke kamarnya, setelah memeriksa semua pintu rumah. Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu memang selalu berbuat demikian, meskipun para pengawalnya telah melaksanakan tugas itu. Memang ia tak bisa se-penuhnya mempercayakan urusan pada orang lain.

Sikapnya sangat hati-hati dan selalu waspada. Namun baru saja mengunci pintu dari dalam, mendadak terdengar jeritan kecil dari arah depan. Tak lama beberapa derap langkah kaki para pengawalnya terdengar menyerbu. Namun kembali terdengar jeritan kecil menyusul. Wajah Juragan Sudira mulai tegang. Mulai bisa diduga apa yang terjadi di depan sana.

"Mau ke mana, Kang?" tanya seorang wanita. setengah baya dengan wajah cemas, ketika melihat Juragan Sudira hendak keluar kamar.

"Kau tenang saja di sini Nyai, aku akan melihat, apa yang terjadi di luar sana," ujar Juragan Sudira.

"Kang! Aku takut!" ratap wanita itu, yang rupanya istri Juragan Sudira. Wanita itu nyaris memekik kecil, ketika secara bersamaan terdengar jeritan panjang dari arah luar.

Wajah Juragan Sudira yang tegang, kini tampak pucat ketika mendengar suara ribut seperti pintu dan jendela yang hancur berantakan dihantam benda keras

"Kang...!" panggil Nyi Sudira seraya bangkit dari tempat tidur dan memeluk suaminya.

Tiba-tiba....
Bruak!
"Ouuuw...!"

Bukan main terkejutnya suami istri itu, ketika mendadak pintu kamar mereka melayang terbang menghajar dinding. Di pintu tampak tegak berdiri sesosok laki-laki dan perempuan yang sangat asing.

"Si..., siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan...?" tanya Juragan Sudira memberanikan diri dengan suara gemetar.

Laki-laki bermata sipit itu menyeringai lebar.

"Kaukah yang bernama Juragan Sudira?" tanya laki-laki bermata sipit, yang memang Daeng Mapparewang. Sementara wanita di sebelahnya adalah Nyai Mamparini.

"Be..., betul..!"

"Kami datang ke sini untuk meminta sedikit harta bendamu yang begitu melimpah. Tapi sayang, anjingmu terlalu banyak dan menghalangi kami. Maka terpaksa mereka kami kirim ke akherat..."

Belum lagi habis bicara laki-laki itu, mendadak terdengar bentakan nyaring dari arah belakang.

"Perampok keparat! Mampuslah kau, yeaaa...!"

Ciet! Cieeet!

Tanpa menoleh, Nyai Mamparini tiba-tiba melemparkan senjata rahasia ke arah pengawal-pengawal Juragan Sudira yang hendak menyerang.

Crab!
"Aaa...!"

Senjata rahasia itu seketika menghantam tubuh para pengawal. Maka seketika itu pula terdengar jeritan panjang, begitu tubuh mereka ambruk ke lantai.

"Itulah anjing-anjing mu yang terakhir. Agaknya mereka tak menyukai kehadiran kami di sini. Tapi, mereka telah menerima bagiannya. Nah, Juragan Sudira. Bolehkah kami meminta sedikit hartamu yang melimpah ruah ini?" tanya Daeng Mapparewang sambil tersenyum kecil.

"Dan sebaiknya kalian istirahat dulu," tambah Nyai Mamparini. Seketika itu pula, istri Daeng Mapparewang ini menggerakkan tangannya. Lalu....

Tuk! Tuk!

Juragan Sudira dan istrinya kontan ambruk dilantai dengan tubuh lemas, setelah menerima totokan dari wanita asing itu. Sama dengan istrinya, dia hanya bisa mengawasi kedua tamunya yang tak diundang itu dalam menguras habis harta bendanya.

Kemudian setelah merasa cukup menguras harta berharga di rumah ini, suami istri itu mengumpulkannya dalam tiga buah karung. Sebentar kemudian kembali menjumpai tuan rumah, sambil tersenyum mengejek.

"Juragan Sudira! Terima kasih atas kemurahan hatimu yang telah merelakan harta bendamu untuk disedekahkan pada kami. Aku, Daeng Mapparewang dan istriku, Nyai Mamparini tentu tak akan melupakan budi baikmu ini. Kapan-kapan kau tentu tak keberatan bila kami kembali lagi ke sini," kata Daeng Mapparewang.

Setelah berkata begitu, keduanya segera melesat cepat keluar dari rumah Juragan Sudira yang megah dan mewah. Tinggal Juragan Sudira terkesima untuk beberapa saat lamanya. Namun ketika kesadarannya kembali timbul....

"Tolooong...!"


***


Sepasang anak muda tampak menjalankan kudanya perlahan seperti ingin menikmati pemandangan indah yang ada di sekitarnya itu. Memang pemandangan di Kadipaten Asem Bagus ini begitu indah. Di kejauhan terlihat Gunung Muntang yang menjulang seperti menantang langit berwarna biru kehitam-hitaman.

"Kalau saja bukan kau yang mencegahku, ingin rasanya aku menetap di kota itu, Kakang Bayu," gumam gadis yang menunggang kuda di sebelah pemuda berwajah tampan, berbaju kulit harimau. Sementara, pemuda yang tak lain Bayu alias Pendekar Pulau Neraka itu hanya tersenyum kecil.

"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Bayu.

Wanita di sebelah Pendekar Pulau Neraka yang sebenarnya bernama Wulandari tertawa sambil memandang pemuda itu dengan seksama.

"Di kota itu, semua memungkinkan bila aku tinggal di sana. Walaupun, terkadang aku merasa rindu dengan hijau dan segarnya pegunungan. Kau seperti tak memberi kesempatan padaku!" suara Wulandari agak meninggi.

"Wulandari! Kau bicara tentang apa?" tanya Bayu, bingung.

"Kau terlalu berlebihan dalam bertindak untukku. Padahal, aku bisa melakukannya!"

Pendekar Pulau Neraka menggeleng lemah sambil tersenyum.

"Lalu kau mau apa?"

"Aku ingin kau pun percaya, kalau aku bisa melakukan segalanya untukku sendiri."

"Misalnya apa?" pancing Bayu.

"Ya..., misalnya seperti...,' aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa harus bergantung padamu," kata Wulandari.

"Aku tak mengatakan kalau kau harus bergantung padaku. Tapi mana mungkin aku membiarkanmu berada dalam bahaya. Kau sendiri tahu hal itu!"

"Nah! Itu sama artinya mengecilkan keberadaanku. Di sampingmu, aku seperti tak ada guna. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku bisa melakukan apa saja yang baik menurutku," bela Wulandari.

Bayu tak menimpali ocehan gadis yang kelihatannya sedang kesal. Bibirnya tersenyum dan terus mendengarkan ocehan Wulandari.

"Aku ingin semua orang tahu bahwa tanpa bantuanmu, aku pun bisa hidup mandiri di kota!"

"Kau ingin begitu?"
"Iya!"

"Baiklah. Kau boleh melakukannya sekehendak hatimu. Tapi, jangan di kota kadipaten. Kau sendiri tahu, kota itu terlalu ganas untukmu. Seorang gadis belia yang cantik di tengah-tengah kota yang penduduknya sebagian besar lebih suka berjudi dan meminum minuman keras, tak pantas berdiam di sana."

"Maafkan aku, Kakang. Kukira Kakang tak menyukai kalau aku sedikit bersenang-senang di-kota Itu. Atau mungkin kau iri melihatku, karena bisa hidup di tempat yang kuinginkan. Tidak seperti Kakang, yang selalu berkelana," kata Wulandari pelan.

Bayu tak menyahut. Dia tahu gadis itu berwatak baik dan periang. Sayang nasibnya begitu buruk dan harus kehilangan orangtua kandungnya yang belum cukup memberinya kasih sayang.

Namun belum juga Bayu berpikir lebih jauh, mendadak meluruk dua sosok tubuh dari atas sebuah cabang pohon. Dan kedua sosok itu langsung menghadang mereka, dengan golok tajam berkilat di tangan. Wajah mereka ditutupi topeng hitam. Namun hanya sekali pandang saja, Bayu tahu kalau kedua orang itu pasti laki-laki.

"Berhenti...!" bentak salah seorang ketika Bayu dan Wulandari tidak menghentikan langkah kudanya.

Baru setelah itu, Bayu dan Wulandari menghentikan langkah kudanya, kedua bola mata mereka menyorot tajam penuh ancaman.

"Turun!" bentak orang yang satu lagi.

Wulandari memandang sekilas pada Bayu, kemudian bergerak turun. Baru saja gadis itu mendaratkan kakinya di tanah, Pendekar Pulau Neraka juga segera turun.

"Ini bagianku, Kakang...!" ujar Wulandari, ketika Bayu telah berada di sampingnya.

"Coba-coba melawan, kugorok leher gadis ini!" ancam orang bertopeng yang berada di dekat Wulandari.

"Kalian mau apa?" tanya Bayu tenang.

"Serahkan semua barang berharga yang kalian miliki!" ujar penghadang yang tubuhnya agak tinggi.

"Kalian lihat? Kami tak membawa barang berharga. Kalaupun ada, hanya ini!"

Belum juga gema kata-katanya lenyap, Wulandari cepat mengayunkan kaki kanannya ke arah perampok yang tengah mengancam Bayu.

"Heh?!"
Plak!
"Aaakh...!"

Gerakan Wulandari memang cepat tak terduga. Langsung dihantamnya pergelangan tangan orang yang berada di dekat Bayu. Hingga menjerit kesakitan.

Sementara orang yang berada dekat Wulandari terkejut bukan kepalang. Dia hendak menyabetkan goloknya, tapi Wulandari lebih cepat menggerakkan sikutnya. Maka....

Des!
"Aaakh...!"

Orang itu kontan terjajar lima langkah ke belakang.


***


TIGA

Ketika kedua perampok bermaksud menyerang kembali, Wulandari telah lebih dulu mencabut pedang tipis dari warangkanya. Matanya terus mengawasi sambil tersenyum mengejek.

"Nah, Kisanak. Kalian telah mengetahui benda berharga yang kami miliki, bukan? Apakah kalian masih bermaksud mengambilnya?"

Kedua perampok itu saling berpandangan satu sama lain. Kemudian seperti memberi isyarat, mereka se-rentak menyerang Wulandari.

"Yeaaah...!"

"Huh, bandel!" Wulandari mendengus kesal.

Tubuh gadis itu membungkuk, ketika dua bilah golok itu menyambar kepalanya. Kemudian tubuhnya jungkir balik ke depan sambil mengayunkan kakinya.

Duk! Des!
"Aaakh...!"

Tendangan beruntun yang dilakukan Wulandari, tepat menghajar dada kedua orang perampok itu hingga tersungkur. Kalau saja gadis ini bertindak telengas, bisa saja kedua perampok itu menemui ajalnya. Namun, agaknya hal itu tak disadari kedua perampok itu.

Dengan amarah meluap, mereka bangkit. Dan mereka kembali menyerang gadis itu dengan amarah menggelegak dalam dada.

"Oh! Belum surut juga nyalimu? Baiklah. Akan kubuat kalian jera untuk selama-lamanya," sinis suara Wulandari dengan nada geram.

"Hiyaaa...!"

Wulandari cepat menunduk untuk menghindari sambaran kedua golok lawan. Pada saat yang bersamaan, pedangnya menyambar. Rasanya, sulit bagi kedua perampok itu untuk menghindar. Mereka terkejut setengah mati, dan berusaha mengelak sebisanya. Namun....

Bet! Bet!
Bret..!

Topeng kedua perampok itu kontan robek, dan membuat goresan kecil di wajah, begitu tersambar pedang tipis Wulandari. Dan belum lagi habis rasa terkejutnya, satu tendangan beruntun segera dilepaskan Wulandari.

Des! Des!

Kedua perampok itu langsung menjerit kesakitan, begitu tubuh masing-masing mendapat bagian. Mereka terpental beberapa tombak. Dan dari sudut bibirnya, tampak menetes darah kental. Wulandari tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuhnya cepat melompat ke arah mereka yang belum bersiap.

"Yeaaah...!"

"Ampun, Dewi! Ampuni kami...!" teriak kedua orang perampok itu sambil bersujud dengan suara memelas.

Wulandari segera menarik pulang serangannya. Tubuhnya berputaran dua kali dan berdiri tegak di depan kedua perampok itu.

"Kali ini kalian kuampuni. Tapi sekali lagi bertemu kalian masih dalam keadaan begini, jangan harap aku akan mengampuni!" tegas Wulandari.

"Ba..., baik, Dewi...," sahut keduanya serentak.

"Nah! Pergilah sebelum amarahku bangkit lagi!" bentak gadis itu.

Tanpa diperintah dua kali, perampok perampok itu langsung bangkit dan mengambil langkah seribu. Sambil tersenyum-senyum kecil, Wulandari melompat ke atas punggung kudanya. Kemudian pedangnya disarungkan kembali. Matanya melirik sekilas pada Bayu sambil menghela kudanya perlahan.

"Lihat Kakang! Bukankah Kakang tak perlu mencemaskanku? Aku mampu menjaga diriku sendiri...," ujar gadis itu bangga.

"Begitukah?" sahut Bayu sambil tersenyum.
"Hm.... Kakang lihat sendiri, bukan?"

"Ya, aku melihatnya...," sahut Bayu acuh tak acuh.

Dan sepanjang perjalanan Wulandari seolah membusungkan dada sambil tersenyum-senyum kecil. Kini mereka terus memacu kudanya, hingga akhirnya sampai di sebuah desa.

"Kakang, aku lapar. Sebaiknya kita makan dulu," ujar Wulandari.

Mata gadis itu melirik Pendekar Pulau Neraka sesaat. Wajah Bayu tampak kecut, namun berusaha tersenyum.

"Kenapa tersenyum?" tanya Wulandari.

"Kau ingin makan di kedai itu? Nah, pergilah ke sana lebih dulu. Aku ada urusan yang tak dapat ditunda!" sahut Bayu sambil senyum-senyum.

"Urusan apa, Kakang?" tanya Wulandari penuh selidik.

Bayu menunjuk perutnya. Dengan air wajah berkerut begitu, Wulandari cepat mengerti apa yang dimaksud pemuda itu.

"Jangan lama-lama!" sungut Wulandari sambil memacu kudanya terus menuju ke kedai yang tadi ditunjuk Bayu.

Sedangkan pemuda berpakaian dari kulit harimau itu segera menggebah kudanya ke arah yang berlawanan, mencari anak sungai untuk melepaskan hajatnya yang sejak tadi ditahan.


***


Wulandari duduk tenang di dalam kedai setelah memesan makanan yang di inginkannya. Bola matanya merayapi ke sekeliling. Tak begitu banyak pengunjung yang datang. Namun melihat dari cara berpakaian serta beberapa buah senjata yang terselip di pinggang dan punggung, bisa dipastikan kalau di antara pengunjung kedai ada yang dari kalangan persilatan.

"Silakan, Nisanak...," ujar pelayan kedai sambil menghidangkan makanan yang dipesan Wulandari.

Wajah laki-laki tua pelayan kedai terlihat heran. Beberapa kali matanya mencuri pandang ke arah gadis itu. Mulanya Wulandari tak begitu mempedulikannya. Namun ketika pelayan itu tak juga beranjak, gadis itu tersenyum sambil berpaling.

"Kenapa? Adakah sesuatu yang aneh pada diriku?"

"Eh! Tidak, Nisanak. Maaf aku hanya heran, kenapa Nisanak memesan makanan untuk dua orang. Apakah Nisanak yang akan makan semuanya?"

Wulandari kembali tersenyum sambil menggeleng.

"Tidak. Yang satu untuk kawanku. Sebentar lagi dia akan kemari, setelah menyelesaikan urusannya," Jelas Wulandari.

Pelayan tua bertubuh kurus itu menganggukkan kepala, ketika mendengar penjelasan itu, lalu langsung berlalu dari tempat itu. Wulandari menunggu beberapa saat lamanya, dan membiarkan makanan yang terhidang di depannya begitu saja. Dia memang sengaja menunggu Bayu untuk makan bersama. Namun setelah sekian lama ditunggu, ternyata pemuda itu belum juga muncul.

Hatinya kini mulai kesal. Pandangannya kembali merayapi sekeliling. Kebetulan juga di dekatnya terlihat beberapa orang berkumpul pada satu meja. Dan sejak tadi, mereka terlibat pembicaraan menarik. Semula, Wulandari tak begitu mempedulikannya. Tapi lama kelamaan, dia tertarik juga untuk mendengarkannya.

"Wan! Kasihan Juragan Sudira itu. Sekarang seperti orang gila. Sejak harta bendanya ludes dihabisi kedua orang asing itu, dia melamun terus sepanjang hari di teras rumahnya!" tutur seorang yang bertubuh kurus.

"Kabarnya kedua orang asing itu berilmu sangat tinggi?" timpal seseorang yang memakai baju hitam.

"Ya! Mereka memang orang asing dari tanah seberang. Bahkan tak hanya harta benda Juragan Sudira yang ludes. Tapi, juga banyak hartawan lain yang dirampok. Bahkan banyak pula tokoh persilatan yang tewas di tangan mereka!" jelas pemuda bertubuh kurus itu lagi.

"Dari mana kau tahu kalau mereka yang melakukannya?" tanya kawannya yang memiliki mata lebar seperti orang melotot.

"Kenapa tidak? Semua orang tahu, kedua orang asing itu sangat sombong! Dengan perbuatan mereka, seakan-akan tak ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Mereka selalu berkata pada semua korbannya, agar mendatangkan tokoh persilatan hebat untuk menantang mereka setelah menyebutkan namanya."

"Siapa nama tokoh dari tanah seberang itu?" tanya laki-laki bermata bulat itu, makin tertarik.

"Kalau tak salah..., Daeng Mapparewang dan istrinya Nyai Mamparini...," sahut laki-laki bertubuh kurus sambil mengingat-ingat.

"Huh! Kalau mereka dibiarkan terus, pasti akan banyak jatuh korban. Mereka bukan saja pembuat keonaran, tapi juga perampok. Apakah tak ada tokoh persilatan yang mau turun tangan untuk menghentikan sepak terjang mereka?" tanya laki-laki berbaju hitam dengan nada bergumam.

"Suami istri itu tampaknya tak perlu menunggu tokoh-tokoh persilatan untuk mencari mereka. Tapi, merekalah yang akan mendatangi kediaman tokoh-tokoh persilatan dan menantangnya bertarung. Kemudian sambil lalu di perjalanan, mereka mengincar harta benda orang-orang kaya dan merampoknya!" jelas yang bertubuh ceking, dengan suara kesal bercampur geram.

"Huh! Kalau saja aku memiliki kemampuan hebat, sudah kuhajar kedua orang asing itu!" dengus kawannya yang bermata bulat.

"Ha ha ha...! Mana mungkin kau bisa mengalahkannya? Dengan binimu saja, kau takut!" ejek kawannya yang berbaju hitam itu.

"Sial kau...!" maki laki-laki bermata bulat sambil cengar-cengir.

Pembicaraan mereka memang menarik perhatian Wulandari.

"Dua tokoh asing menantang jago-jago persilatan negeri ini, itu hal biasa. Tapi perbuatan mereka merampok harta benda orang-orang kaya tak bisa dibiarkan," ucap Wulandari dalam hati.

"Huh! Akan kuhajar kedua orang asing itu. Dikiranya hanya mereka saja yang memiliki kepandaian!" geram Wulandari.

Wulandari berpikir sesaat, kemudian beranjak dari tempat itu. Dia terus melangkah ke luar kedai, menuju selatan. Wulandari merasa inilah kesempatan baginya untuk menunjukkan pada Bayu kalau dia mampu menyelesaikan persoalan seorang diri. Selama ini namanya memang selalu dikaitkan dengan keperkasaan Bayu. Seolah-olah, segala urusannya akan beres bila Pendekar Pulau Neraka selalu berada di dekatnya.

Tak lama setelah Wulandari berlalu dari tempat itu, Bayu pun tiba. Pemuda berpakaian dari kulit harimau itu memandang heran ke seluruh ruangan kedai. Namun, Wulandari tak terlihat berada di tempat ini. Kudanya pun tak ditambatkan di depan. Otaknya mulai berpikir, pasti Wulandari tak jadi menunggunya di situ. Dan baru saja Bayu akan meninggalkan kedai, sekonyong-konyong seorang pelayan tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Aden! Apakah Aden kawan gadis cantik berbaju merah muda itu?"

"Ya, kenapa? Apakah dia tadi di sini?"

"Betul, Den. Tapi sekarang, dia telah pergi entah ke mana. Katanya, Aden tak usah menyusulnya. Karena, dia pergi tak lama. Begitu katanya," kata pelayan itu menjelaskan.

"Ke arah mana dia tadi pergi?"

Pelayan kedai itu menunjuk ke arah selatan. Maka setelah mengucapkan terima kasih, Bayu menghampiri kudanya. Dia melompat naik, dan menggebah kudanya ke arah yang ditunjukkan pelayan tadi.


***


Ki Jumeneng adalah seorang tokoh persilatan dari kalangan tua. Sejak sepuluh tahun terakhir, namanya memang jarang terdengar lagi. Meskipun demikian, semua tokoh persilatan telah mengakui kalau dia masih memiliki pamor yang membuatnya tetap disegani sampai saat ini. Dan hal itu tak terlepas dari sepak terjang beberapa orang muridnya, yang selalu menolong siapa saja yang mengalami kesulitan.

Mereka tak segan-segan membasmi kejahatan yang selalu meresahkan masyarakat. Sehingga, orang akan selalu teringat sepak terjang orang tua berusia sekitar enam puluh tahunan itu. Belakangan ini, sedikit sekali yang mengetahui tempat tinggal orang tua itu. Karena selama sepuluh tahun belakangan ini, dia selalu berpindah-pindah tempat. Kalaupun ada yang mengetahuinya, pastilah jumlahnya sedikit sekali. Tapi, ternyata masih ada juga orang lain yang berhasil menemuinya.

"Orang tua! Keluarlah kau dari pondokmu!" teriak seorang laki-laki bermata sipit dengan suara nyaring.

Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang juga berma-ta sipit. Beberapa saat kemudian, terlihat seorang laki-laki kurus terbungkuk-bungkuk tengah keluar dari dalam pondok. Wajahnya penuh kerut-kerut. Rambutnya yang jarang-jarang, telah memutih semuanya. Bajunya lusuh bergaris-garis coklat pudar. Sambil membawa tongkat di tangannya, dia memandang heran pada dua orang asing di depan rumahnya.

"Siapakah kalian? Dan, ada keperluan apa memin-taku keluar?" tanya orang tua itu dengan suara berwibawa.

"Kaukah yang bernama Ki Jumeneng?" tanya orang asing itu dengan wajah tak yakin.

"Benar. Siapakah kalian?"

"Aku Daeng Mapparewang. Dan ini, istriku Mamparini...," jelas laki-laki bermata sipit itu hambar.

Laki-laki yang ternyata Daeng Mapparewang itu memang tak menyangka kalau orang tua yang didengarnya hebat, ternyata telah tua renta. Bahkan sama sekali tak mengesankan sebagai seorang tokoh gagah perkasa yang dibayangkannya semula.

"Hm.... Lantas, apa maksud kalian ke tempat-ku ini?"

"Kudengar kau tokoh gagah perkasa. Tapi, ternyata yang kulihat hanya seorang tua renta yang telah bau tanah. Sia-sia aku datang ke sini. Huh! Setelah sekian banyak tokoh persilatan di negeri ini yang kubunuh, tak seorang pun yang memiliki kepandaian berarti," kata Daeng Mapparewang menghina.

"Orang muda! Kudengar dari nada bicaramu, sepertinya kau menantangku?" dengus Ki Jumeneng sinis.

"Kalaupun betul, apa yang bisa kau lakukan? Dengan sekali dorong, tubuhmu pasti akan tersungkur di liang kubur!" sahut Daeng Mapparewang sambil mendongakkan kepala, jumawa.

"Hm... Kau boleh mencobanya," sahut Ki Jumeneng singkat.

Orang tua itu pada mulanya tak ingin meladeni kesombongan Daeng Mapparewang. Namun lama kelamaan, telinganya tak tahan mendengar kata katanya yang berbau penghinaan. Maka dengan jawaban singkatnya, jelas dia menyambut tantangan orang asing itu. Sebaliknya bagi Daeng Mapparewang yang mendengar jawaban orang tua itu malah terkekeh kecil. Sikapnya masih merendahkan. Seolah-olah orang tua di hadapannya kini telah lumpuh sama sekali.

"Ingin kulihat, apakah kau mampu melangkahkan kakimu...!"

"Hup!"

Belum lagi selesai kata-katanya, Ki Jumeneng telah melompat ringan ke arah lawan sambil memutar tongkat di tangan. Daeng Mapparewang tersentak kaget. Buru-buru dia melompat ke atas, begitu mengetahui angin serangan yang deras menerpa tubuhnya, akibat serangan orang tua itu.

"Hih!"

Sambil menggeram marah, Daeng Mapparewang mencabut sepasang golok bergeriginya yang tajam berkilat dan memantulkan cahaya matahari. Langsung dia balas mendesak lawan. Namun ujung tongkat Ki Jumeneng berkelebat cepat menghantam kedua golok itu.

Trak!

Nyaris Daeng Mapparewang terpental kalau saja tak memiliki tenaga dalam kuat, begitu senjatanya
berbenturan. Tapi itu sudah cukup membuktikan ka-

lau Ki Jumeneng memang tak bisa dipandang enteng. Apalagi ketika tiba-tiba datang serangan kembali dari orang tua itu. Tongkatnya tampak berputar cepat. Sementara ujungnya yang lain menyodok ke dada. Daeng Mapparewang tersentak, dan buru-buru melompat ke belakang. Namun, terlambat. Karena....

Duk!

Tetap saja dada Daeng Mapparewang terhajar, meskipun tak sekeras seandainya tak melompat tadi. Tapi itu cukup membuat dadanya terasa nyeri. Dan dia hanya terjajar beberapa langkah saja.

"Apakah pelajaran itu masih belum cukup bagimu?" tanya Ki Jumeneng sambil tersenyum sinis.

"Huh! Jangan merasa menang dulu, Orang Tua! Aku belum kalah. Mari kita lanjutkan kembali permainan kita!" dengus Daeng Mapparewang dengan sorot mata tajam penuh kemarahan.

Laki-laki dari tanah seberang itu melangkah maju dan membuka jurus. Sementara, Ki Jumeneng berdiri tegak memperhatikan dengan seksama. Dilihatnya wanita yang bersama orang asing itu mencabut suling perak yang terselip di pinggang. Kemudian suling perak itu mulai ditiup perlahan-lahan membentuk irama mendayu-dayu.

"Orang tua, lihat serangan!" bentak Daeng Mapparewang nyaring.

Bersamaan dengan itu, laki-laki dari negeri asing itu melompat menyerang lawan sambil mengayunkan kedua golok bergeriginya yang tajam berkilat. Ki Jumeneng cepat menangkis.

Trang!

Benturan kedua senjata itu menimbulkan bunyi berdentang yang sangat nyaring. Maka semakin sadarlah Daeng Mapparewang, kalau tongkat di tangan orang tua yang kelihatan butut dan rapuh, ternyata merupakan senjata menakjubkan! Belum lagi tenaga dalam orang tua itu yang disalurkan lewat serangan tongkatnya terasa sangat hebat dan luar biasa.

"Hih!"

Daeng Mapparewang kembali menyerang lawan dengan pengerahan segenap kemampuan bergeraknya yang sangat hebat. Berkali-kali senjatanya menyambar-nyambar, seolah mengurung dan mengunci orang tua itu. Namun sejauh ini, Ki Jumeneng masih mampu meladeninya. Dan rasanya, kalau pertarungan itu berlanjut dengan jujur, maka orang tua itu akan sulit dijatuhkan.

Jelas terlihat, tenaga dalamnya berada setingkat di atas lawannya. Bahkan kemampuan bergerak orang tua itu juga sangat mengagumkan. Jurus-jurus yang dimainkan sangat hebat, penuh gerak tipu yang sangat membahayakan lawan. Hanya karena Daeng Mapparewang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna, setiap serangan gencar orang tua itu masih mampu dihindarinya.


***


EMPAT

Tapi lama kelamaan Ki Jumeneng merasakan jurus-jurusnya semakin kacau. Bahkan berkali-kali lawan berusaha mencuri kesempatan untuk melukainya dengan senjata golok bergerigi itu. Tapi mana dia tahu kalau hal itu karena pengaruh irama suling yang sedang dimainkan Nyai Mamparini. Iramanya memang terdengar aneh. Bahkan suaranya seperti dikerahkan lewat tenaga batin yang telah sempurna, sehingga mampu mempengaruhi jiwa seseorang yang diinginkannya.

Dalam hal ini jelas sedang mempengaruhi jiwa Ki Jumeneng, agar suaminya leluasa menghajar lawan. Orang tua itu sendiri menyadari, setelah keadaan agak terlambat Daeng Mapparewang telah mencecarnya habis-habisan, dan seolah tak memberi kesempatan sedikit pun juga. Sedangkan semangat bertarungnya terus menurun. Dia seperti kehilangan separo tenaganya dan terus berkurang perlahan-lahan.

"Huh! Hanya sampai di sinikah kemampuanmu, Orang Tua?" ejek Daeng Mapparewang seraya menyambar leher dan pinggang lawan dengan se-pasang goloknya.

Ki Jumeneng mengibaskan tongkatnya, sehingga kedua ujungnya masing-masing menangkis dua senjata lawan.

Trak! Trak!
"Hih!"

Terdengar bunyi yang hebat, ketika senjata mereka berbenturan. Tangan orang tua itu kontan bergetar hebat, dan kepalanya mulai terasa pening. Samar-samar masih terasa olehnya, lawan tengah mengayunkan satu tendangaan. Maka Ki Jumeneng telah melompat ke belakang sambil memutar tongkatnya untuk berjaga-jaga dari serangan Daeng Mapparewang selanjutnya.

Dan hal itu memang terjadi. Daeng Mapparewang mengejar dengan sengit. Golok bergeriginya menyambar cepat ke arah tongkat orang tua itu. Sementara, sebuah lagi ke arah kaki.

Trak!

Ki Jumeneng langsung merasakan tangannya mendadak terasa nyeri, begitu habis berbenturan senjata. Dan belum lagi menyadari apa yang terjadi, golok bergerigi Daeng Mapparewang yang meluncur ke arah kaki, kelihatannya sulit dihindari. Sehingga....

Cras!
"Aaakh...!"

Ki Jumeneng kontan mengeluh kesakitan, begitu kaki kirinya tersambar senjata lawan, hingga putus sebatas lutut! Darah seketika mengucur deras dari kakinya yang buntung sebatas lutut. Serangan Daeng Mapparewang tak berhenti sampai di situ. Tubuhnya telah kembali melompat sambil mengayunkan kedua goloknya. Sebisanya Ki Jumeneng menangkis dengan tongkatnya.

Tras!

Namun kali ini tak berarti banyak. Sekali tebas, tongkat di tangan Ki Jumeneng patah menjadi dua bagian. Terpaksa orang tua itu membuang diri ke samping untuk menghindari sambaran golok yang satu lagi. Tubuhnya terus berguling-gulingan untuk menghindari tebasan golok lawan yang terus mengejarnya. Dan tanpa sadar, tubuhnya bergerak mendekati Nyai Mamparini. Maka tiba-tiba....

Des!
"Aaakh...!"

Tanpa mengenal rasa belas kasihan lagi, kaki kanan Nyai Mamparini langsung menghajar perut orang tua itu tanpa menghentikan irama sulingnya. Tubuh Ki Jumeneng kontan terangkat tiga jengkal dari tanah. Dan belum lagi sempat menyadari apa yang terjadi, kedua golok Daeng Mapparewang telah meluncur ke arah leher dan pinggang orang tua itu.

Cras!
Bret!
"Oookh...!"

Tanpa dapat berkelit sedikit pun, leher dan pinggang Ki Jumeneng tertebas dua golok bergerigi Daeng Mapparewang. Orang tua itu hanya mengaduh terta-han, dengan mata mendelik. Se-bentar tubuhnya menggelepar, lalu diam tak berkutik lagi. Dia mati ber-simbah darah dengan keadaan mengerikan.

"Phuih! Hanya sampai di situ saja kemampuannya!" dengus Daeng Mapparewang sambil meludahi tubuh lawan yang terpotong menjadi tiga bagian.

Sementara, Nyai Mamparini tersenyum sinis.

"Jangan gegabah, Kak. Kalau saja bertarung secara jujur, kau pasti bisa dijatuhkannya. Kepandaian orang tua itu memang hebat" puji Nyai Mamparini.

"Huh! Kata siapa begitu? Aku belum sempat mengeluarkan seluruh kemampuanku. Apalagi kalau dia sempat merasakan jurus-jurus ampuhku. Tentu dia akan lebih menderita lagi!"

"Hi hi hi...! Pukulanmu yang berhawa dingin itu memang hebat. Dan sejauh ini, belum ada tandingan-nya," kata Nyai Mamparini memuji kehebatan suaminya.

"Kau pun hebat Istriku. Permainan sulingmu tiada tertandingi, sehingga mampu mengacaukan kesadaran siapa pun juga. Apalagi, ilmu totokanmu. Belum ada yang menandingi sampai saat ini."

"Kak, tugas kita belum selesai di negeri ini. Masih ada tokoh-tokoh persilatan yang harus ditemui. Aku masih belum puas kalau belum membinasakan orang itu," desis Nyai Mamparini.

"Siapa yang kau maksud? Bukankah sudah banyak tokoh ternama di negeri ini yang mati di tangan kita?" tanya Daeng Mapparewang, heran.

"Kau betul. Tapi, ingatkah kau pada ocehan beberapa orang yang kita temui?"

"Maksudmu?"

"Tokoh yang diagung-agungkan di negeri ini."

"Maksudmu Pendekar Pulau Neraka?"

"Ya...."

Wajah Daeng Mapparewang tampak kelam, begitu mendengar nama yang disebutkan istrinya. Kedua tangannya terkepal dan dengus napasnya terasa kasar.

"Sayang, tak seorang pun yang mengetahui di mana keberadaannya saat ini. Kalau saja kita tahu tem-patnya, akan kupatahkan batang lehernya. Agar orang-orang di sini tahu, pendekar yang diagung-agungkan itu hanya cecurut busuk yang tak berdaya. Lalu, kepalanya akan ku tendang di tempat orang yang ramai berkumpul," dengus Daeng Mapparewang geram.

Laki-laki bermata sipit itu seperti menaruh dendam kesumat yang hebat terhadap Pendekar Pulau Neraka. Padahal, bertemu orangnya saja belum pernah. Memang tak seorang pun boleh melebihi kehebatannya. Di tanah seberang sana, Daeng Mapparewang memang tokoh nomor satu. Itu sebabnya, ketika tidak ada seorang pun yang sanggup menandinginya, dia bersama istrinya pergi ke negeri ini. Tujuannya, menantang bertarung pendekar setempat!


***


Kematian Ki Jumeneng yang mengenaskan itu, tentu saja menimbulkan kemarahan bagi tokoh-tokoh persilatan lainnya. Selama ini, orang tua itu tak pernah mencampuri urusan orang. Bahkan sengaja mengasingkan diri untuk menghindari diri dari urusan ke-duniaan. Dan kini, orang tua itu malah tewas menjadi korban kedua pendekar asing dari tanah seberang. Lebih-lebih bagi ketiga murid Ki Jumeneng.

Mereka telah bersumpah di depan makam orang tua itu, untuk membalaskan kematian gurunya yang mengenaskan. Kini, telah seharian mereka berjalan, mencari jejak kedua orang asing itu. Dan ketiga orang itu semakin dekat saja dengan orang yang dicari, ketika menemu-kan korban-korban lain. Kalau tidak tewasnya tokoh-tokoh persilatan, maka berita mengenai ludesnya harta benda orang-orang kaya yang semakin sering terdengar.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah desa yang cukup ramai dan bermaksud untuk bermalam. Namun mendadak terdengar ribut-ribut di ruang atas rumah penginapan yang akan dimasuki. Mulanya, ketiga pemuda berusia rata-rata sekitar dua puluh tahun itu tak begitu ambil peduli. Tapi....

"Daeng Mapparewang, mampuslah kau!"

Seseorang terdengar berteriak keras. Maka mendengar teriakan yang menyebutkan nama orang yang tengah dicari, ketiganya langsung melompat ke atas. Begitu sampai di atas, tampak di sebuah ruangan yang telah porak-poranda seorang laki-laki setengah baya bermata sipit tengah berhadapan dengan seorang laki-laki tegap dan bertubuh pendek yang bernafsu sekali menyerang.

Sementara, di lantai tergeletak dua sosok mayat dalam keadaan kaku persis patung. Ketiga murid Ki Jumeneng itu menduga, laki-laki bertubuh pendek tegap inilah yang tadi berteriak. Mereka memandang ke sekeliling, dan melihat banyak penghuni rumah penginapan ini yang kabur terburu-buru mengetahui adanya keributan. Tapi beberapa orang terlihat menonton pada jarak dekat

"Yeaaa...!"

Sambil membentak nyaring, laki-laki pendek itu menyerang laki-laki bermata sipit yang tak lain Daeng Mapparewang, sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Daeng Mapparewang tampak tersenyum sinis. Sambil mengangkat sebelah kaki, kepalanya menunduk, lalu bergerak mundur selangkah. Sambil berputar sebelah tangannya menghantam pergelangan tangan laki-laki bertubuh pendek yang sedang memegang senjata.

Plak!

Pada saat yang bersamaan satu tendangan keras Daeng Mapparewang menghajar dada lawan.

Des!
"Aaakh!"

Orang bertubuh pendek itu kontan terjengkang ke belakang sambil menjerit kesakitan. Dan sebelum orang bertubuh pendek itu jatuh ke lantai, Daeng Mapparewang melesat sambil mengayunkan kepalan tangannya.

Des!
"Hukh...!"

Pukulan maut Daeng Mapparewang tepat menghajar perut orang bertubuh pendek itu hingga jatuh ber-debam di lantai. Setelah meregang nyawa, orang bertubuh pendek itu tewas seketika dalam kaku! Sementara sambil mengibas-ngibaskan kedua tangan, laki-laki bermata sipit itu memandang ke sekeliling.

"Ada lagi yang mencoba-coba mengganggu ketenangan kami?" tanyanya dengan suara nyaring dan wajah menunjukkan kesombongan.

Tak seorang pun ada yang menyahut. Satu persatu mereka berpaling dan meninggalkan tempat itu. Namun seorang gadis berbaju merah muda bersama tiga orang pemuda maju mendekati dengan sorot mata tajam.

"Kaukah yang bernama Daeng Mapparewang?" tanya salah seorang dari ketiga pemuda itu.

"Siapa kalian?! Dan aku memang Daeng Mapparewang," sahut laki-laki bermata sipit itu.

"Bagus. Kami adalah murid Ki Jumeneng. Namaku Bambang Perkasa. Dan ini kedua adik seperguruanku.

Sukma Dewantara dan Wahyu Sudana," kata pemuda yang membawa tongkat pendek itu memperkenalkan diri. "Dan kau adalah murid Ki Jumeneng juga?" tanya Daeng Mapparewang, menatap kepada gadis berbaju merah muda yang berwajah cantik itu. Gadis itu tersenyum sinis.

"Bukan. Kedatanganku ke sini untuk memenuhi undanganmu yang akan menantang tokoh-tokoh persilatan di negeri ini," sahut gadis berbaju merah yang tak lain adalah Wulandari.

"Oh, begitu? Lalu siapa kau sebenarnya?! Kalau kau tak punya pengalaman apa-apa di dunia persilatan negeri ini, lebih baik mundur. Huh! Hanya mengotori tanganku saja," sahut, Daeng Mapparewang sombong.

"Daeng Mapparewang! Apakah kau pikir si Dewi Maut terlalu rendah bagimu?" tanya Wulandari dingin.

"Hm.... Dewi Maut? Boleh juga. Pernah kudengar namamu...."

"Hei, Orang Asing! Kami datang ke sini untuk menuntut balas atas kematian Ki Jumeneng yang kau bunuh secara kejam. Bukan untuk mendengar ocehanmu itu!" bentak Bambang Perkasa yang berangasan, dengan suara nyaring.

Daeng Mapparewang memalingkan muka. Kemudian dipandanginya mereka sambil tersenyum kecil. Sikapnya sama sekali tak memandang sebelah mata pada ketiga orang itu.

"Guru kalian saja mampus di tanganku. Apa yang kalian bisa lakukan sekarang? Sebaiknya, kalau memang ingin buru-buru mampus, majulah kalian bersama. Biar lebih cepat bagiku untuk membereskan kalian," kata Daeng Mapparewang semakin jumawa.

"Keparat! Apa kau pikir kami tak mampu membereskan cecunguk sepertimu?!" bentak Bambang Perkasa geram.

"Hei?! Kenapa banyak ribut segala? Buktikan-lah segera. Ayo, majulah bersama-sama!"

"Setan! Mari, Kakang! Kita buktikan kalau kita tak bisa dianggap enteng. Biar dia mampus sekalian!" dengus murid Ki Jumeneng yang bernama Sukma Dewantara. Langsung pedangnya yang terselip di pinggang dicabut.

"Hiyaaa...!"


***


Ketiga pemuda itu langsung melompat menyerang lawan dengan sengit. Sementara Daeng Mapparewang masih tersenyum sinis. Namun dengan sekali berputar, tubuhnya lenyap dan luput dari serangan lawan-lawannya. Kemudian mendadak, dari atas dia menukik tajam sambil memutar golok bergeriginya yang telah tergenggam di tangan.

"Yeaaah...!"
Trak! Trak!
"Hih!"

Bambang Perkasa dan Sukma Dewantara terkejut ketika senjata mereka dihantam sepasang golok bergerigi lawan. Terasa sekali himpitan tenaga dalam yang kuat, sehingga membuat mereka mengeluh menahan sakit. Belum lagi habis rasa terkejutnya, kedua ujung golok Daeng Mapparewang telah berkelebat menyambar ke arah leher-leher lawannya. Tapi pada saat itu pula, Wahyu Sudana melemparkan dua bilah pisau kecil senjata andalannya.

"Yeaaah...!"
Ser! Ser!
"Huh!"

Daeng Mapparewang menggeram marah. Tubuhnya cepat jungkir balik di udara menghindari lemparan pisau-pisau itu.

"Hiyaaa...!"

Bambang Perkasa tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Langsung tongkatnya diputar hebat, menghajar lawan dengan mengerahkan tenaga dalam kuat. Angin serangannya terasa menderu, sehingga membuat pakaian Daeng Mapparewang berkibar-kibar.

Namun Daeng Mapparewang cukup gesit untuk memapak serangan. Tangan kirinya cepat bergerak menyambarkan golok untuk menangkis terjangan pedang Sukma Dewantara.

Trak!

Kemudian dengan cepat kaki kanan Daeng Mapparewang menyapu ke depan.

"Uts!"

Untung Bambang Perkasa dan Sukma Dewantara cepat melompat ke belakang, menghindari tendangan keras laki-laki bermata sipit itu. Sementara, Daeng Mapparewang pun langsung mengikuti gerakan lawan, dengan melompat ke atas, sekaligus menghindari sambaran pisau-pisau terbang yang kembali dilemparkan Wahyu Sudana.

"Yeaaah...!"

Gerakan Daeng Mapparewang memang cepat bukan main. Bahkan kedua saudara seperguruan itu belum sempat menjejakkan kaki ke lantai, ketika Daeng Mapparewang mengikuti gerakan mereka dengan kedua golok yang menyambar ke arah mereka. Terpaksa mereka menangkis dengan untung-untungan karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk membuat kuda-kuda yang mantap.

Trang!

Sekali kelebatan golok Daeng Mapparewang yang satu berhasil ditangkis. Namun golok yang sebuah lagi menyambar ke arah bahu Bambang Perkasa tanpa bisa dihindari.

Cras!
"Aaakh...!"

Bambang Perkasa menjerit kesakitan, ketika bahunya mendapat luka yang dalam. Sukma Dewantara tersentak kaget. Langsung pedangnya di-putar dengan kalap menyambar pinggang dan leher lawan. Tapi Daeng Mapparewang cepat meliuk-liuk menghindari. Sementara itu, kepalan tangan Wulandari meluncur ke arah dada kiri Daeng Mapparewang.

"Hiyaaa...!"

Sambil membentak nyaring, Daeng Mapparewang cepat mengebutkan sepasang goloknya balik menyambar ke leher Wahyu Sudana. Maka cepat-cepat pemuda itu menundukkan kepala. Namun bukan main kagetnya dia, ketika merasakan kelebatan golok lawan yang keras bukan main akibat pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan belum habis rasa terkejutnya, tiba-tiba golok Daeng Mapparewang menebas lehernya.

Cras!
"Aaakh...!"

Sementara Sukma Dewantara tertegun melihat kematian Wahyu Sudana. Dan keterpakuannya itu harus dibayar mahal. Tiba-tiba saja satu tendangan yang dilancarkan lawan menghantam telak ke arah dadanya.

Des!
"Aaakh...!"

Pemuda itu memekik kesakitan. Tubuhnya kontan tersungkur menghantam dinding ruangan. Bahkan tulang rusuknya sampai melesak ke dalam!

"Sukma...! Wahyu...!" Bambang Perkasa tersentak kaget melihat kejadian yang berlangsung cepat itu. Dengan wajah tak percaya, pemuda itu menghampiri kedua adik seperguruannya yang telah tewas.

Jantung Sukma Dewantara pecah akibat tulang rusuknya yang menembus ke dalam. Sementara kepala Wahyu Sudana bergulir ke kaki wanita asing yang juga istri Daeng Mapparewang. Bahkan dengan tersenyum mengejek wanita itu malah menendang kepala Wahyu Sudana ke arah Bambang Perkasa.

"Huh! Tak tahu diri! Sebaiknya berpikir seribu kali dan lihat kemampuan kalau hendak menantang orang!" dengus wanita itu.

Amarah Bambang Perkasa yang menyala-nyala semakin menggejolak saja melihat penghinaan itu. Ditatapnya mereka secara bergantian dengan sorot mata tajam berkilat, seolah ingin menelan bulat-bulat.

"Jahanam keparat! Aku akan mengadu jiwa dengan kalian! Hiyaaa...!"

Sambil membentak nyaring bagai raungan harimau terluka, Bambang Perkasa menyambarkan tongkatnya dengan kemarahan meluap-luap.

Bet! Bet!
"Hih!"

Kedua ujung tongkat pemuda itu secara bergantian cepat mengurung Daeng Mapparewang dengan serangan-serangan gencarnya. Tapi, orang asing itu menghadapinya penuh percaya diri. Maka begitu ujung tongkat Bambang Perkasa menyodok ke arah dada, Daeng Mapparewang hanya sedikit memiringkan tubuh untuk menghindarinya. Dan sambil berbalik, cepat disambarnya leher serta pinggang lawan.

"Uts!"

Bambang Perkasa cepat meliuk-liuk menghindari, kemudian terus bergerak ke samping. Maka pada saat itulah satu tendangan lawan yang telah menunggu, menyambar deras.

"Yeaaah...!"
"Hup!"

Bambang Perkasa masih sempat melompat ke atas sambil mencoba bersalto ke belakang. Namun baru saja bergerak setengah, ujung golok Daeng Mapparewang lebih cepat menyambar perutnya.

Cras!
"Aaakh...!"

Kemudian sebuah lagi menebas leher pemuda itu.

"Okh!"

Bambang Perkasa sempat mengeluh pelan, dan ambruk di tanah, dan tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian. Darah mengucur deras mengiringi nyawanya yang melayang dari tubuh.

"Mampus!" dengus Daeng Mapparewang sambil meludah.

"Kini giliranmu yang akan mengalami nasib sepertinya!" sahut sebuah suara.

"Heh?!"
Srak!


***


LIMA

Daeng Mapparewang memandang tajam ke arah wanita cantik berbaju merah muda yang telah mencabut pedang tipis dari pinggangnya.

"Hm.... Sebaiknya berpikirlah kembali untuk menghadapiku, Bocah. Wajahmu yang cantik akan kusayat-sayat dengan golokku ini!" ancam Daeng Mapparewang.

"Kau boleh mencobanya," sahut gadis itu yang tak lain Wulandari atau lebih dikenal berjuluk Dewi Maut.

"Kakak! Biar kuhadapi anak bandel itu!" selak Nyai Mamparini seraya melangkah maju.

Daeng Mapparewang memandang istrinya sekilas, kemudian tertawa kecil.

"He he he...! Sebaiknya begitu. Nah! Berilah pelajaran pada gadis keras kepala ini supaya tidak penasaran di akheratnya," kata Daeng Mapparewang sambil mundur, memberi jalan pada istrinya untuk berhadapan dengan Wulandari.

"Silakan, Anak Manis!" ujar Nyai Mamparini.

"Hiyaaa...!"

Tanpa banyak basa-basi lagi, Wulandari membentak nyaring sambil melompat menyerang lawan. Bersamaan dengan itu, Nyai Mamparini mencabut suling peraknya, memapak sambaran senjata lawan.

Trak!
Werrr!

Ketika benturan terjadi, tangan masing-masing terasa kesemutan. Namun pedang tipis Wulandari masih sempat menyambar ke wajah Nyai Mamparini. Wanita asing itu terkejut, lalu buru-buru memiringkan kepalanya. Sehingga, serangan itu luput. Wulandari kembali melancarkan serangan susulan dengan satu tendangan keras ke perut lawan. Namun, Nyai Mamparini telah melompat ke belakang, sambil bersalto dengan gerakan ringan.

"Yeaaah...!"

Wulandari berusaha mengejar sambil mengibaskan pedangnya. Disertai geraman, kedua kaki Nyai Mamparini menggunting dengan gerakan menyilang untuk menghindari serangan lawan, sekaligus hendak menyambar pergelangan tangan Wulandari.

"Lepas!"

Tangan Wulandari cepat meliuk menghindari sambaran kedua kaki Nyai Mamparini. Kemudian dengan membuka kedua kakinya agak lebar, tubuhnya berputar ke arah lawan sambil menyerang perut Nyai Mamparini cepat mengangkat kaki kirinya, sehingga lututnya persis sejajar dengan perut. Sementara suling perak di tangan kanannya segera menangkis pedang gadis berpakaian merah muda itu.

Trak!

Benturan senjata terjadi, sehingga masing-masing terjajar mundur beberapa langkah.

"Hih!"

Mendapat perlawanan ini, dengan gemas Nyai Mamparini mengayunkan kakinya. Tapi, Wulandari begitu gesit menghindari dengan berputar ke samping. Sementara, Nyai Mamparini masih sempat mengayunkan suling peraknya, bermaksud untuk menotok lawan. Wulandari terkejut merasakan angin totokan lawan yang keras dan membuat kulit tubuhnya bergetar. Tapi hal itu tak menyurutkan niatnya untuk menyodok perut lawan dengan kepalan tangan kiri.

"Haaat!"
Des!
"Uh!"

Tubuh Nyai Mamparini langsung terjajar beberapa langkah ke belakang sambil mengeluh kesakitan.

"Huh! Kau perlu belajar sepuluh tahun lagi untuk menghadapiku!" dengus Wulandari. Bibirnya tersenyum mengejek sambil berkacak pinggang.

"Kurang ajar! Akan kupecahkan batok kepalamu, Bocah!" geram wanita bermata sipit itu sambil melompat menyerang lawan.

"Huh! Sebaiknya jangan banyak mulut. Buktikan ocehanmu!"

"Hiyaaa...!"

Kali ini Nyai Mamparini mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjatuhkan lawan secepat mungkin. Kejadian tadi sungguh membuat hatinya panas. Tadinya gadis itu dianggapnya remeh. Namun dia harus menelan pil pahit, begitu terkena hajarannya.

Maka kali ini dia bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang kedua kali. Jadi tak heran kalau gerakannya sungguh cepat dan sulit diikuti mata biasa. Tapi Wulandari bukannya tak menyadari. Dengan sigap diladeninya serangan-serangan lawan. Tubuhnya bergerak lincah, dan sesekali balas menyerang mendadak.

Tentu saja hal ini membuat Nyai Mamparini terkejut. Permainan pedangnya betul-betul mampu menguasai jalannya pertarungan. Dan ketika Nyai Mamparini mencoba menotok beberapa jalan darah Wulandari dengan suling peraknya, tapi pedang tipis di tangan gadis itu cepat berbalik. Sehingga ditangkisnya senjata lawan.

Trang!

Nyai Mamparini semakin geram saja. Kaki kanannya langsung menyodok ke arah perut, memberi serangan susulan. Tapi Wulandari cepat bergerak ke samping dengan ujung pedang menyambar pinggang lawan.

"Yeaaah...!"
"Uts!"

Nyai Mamparini berusaha melompat ke samping. Namun bagai gerakan gelombang air laut, pedang ditangan Wulandari lebih cepat bergerak mengikuti kelebatan tubuhnya. Sehingga....

Breeet!
"Akh...!"

Pedang Wulandari menyambar dada wanita asing itu. Sehingga Nyai Mamparini kontan menjerit kesakitan. Darah mengucur deras dari luka yang tersayat pedang.

Sementara kali ini, Wulandari bermaksud menghabisi lawannya. Tubuhnya langsung bergerak menyambar Nyai Mamparini sambil mengayunkan pedang. Tapi, wanita bermata sipit itu menyadari keadaannya yang terjepit. Tangannya cepat meraih sesuatu dari balik bajunya, lalu dilemparkannya ke arah Wulandari.

Pada saat yang bersamaan, Wulandari pun merasakan satu pukulan jarak jauh yang dilepaskan seorang dari arah belakangnya.

"Hiyaaat...!"

Dewi Maut cepat bergulingan ke lantai untuk menghindari kedua serangan yang datang ke arahnya. Segera pedangnya dikebutkan untuk menyambar bintang perak beracun yang dilemparkan Nyai Mamparini ke arahnya.

Tring!

Namun gadis itu agaknya tak bisa menghindar ketika selarik cahaya merah keputih-putihan yang dilancarkan Nyai Mamparini secara curang, terus-menerus menghajarnya. Sehingga....

Cras!
"Uh!"

Sinar merah itu sempat menyerempet pinggang kiri Wulandari Gadis itu mengeluh pelan. Dan seketika tubuhnya terasa dingin. Tapi untung saja pedangnya masih sempat dikibaskan ketika senjata rahasia yang dilontarkan Nyai Mamparini kembali melesat hendak menghabisinya.

Tring!

Namun sayang, tak urung satu dari senjata rahasia itu menyambar bahu kanannya. Tubuhnya seketika terjajar ke belakang. Namun bersamaan dengan itu, tubuhnya melenting melompat turun dari ruang atas itu.

"Hup!"

"Kurang ajar! Dia kabur!" maki Daeng Mapparewang geram. Laki-laki bermata sipit itu melompat mengejar ketika melihat tubuh Wulandari terus meluncur ke bawah, dan lari sekencang-kencangnya.

Nyai Mamparini pun ikut mengejar sambil mendekap perutnya yang masih mengucurkan darah akibat luka sambaran pedang Wulandari tadi.


***


Hari telah menjelang malam ketika suami istri dari tanah seberang itu kehilangan jejak Wulandari. Daeng Mapparewang geram bukan main melihat lawannya telah menghilang. Sambil mengepal kedua tangan, wajahnya membiaskan kegeraman dengan sorot mata tajam mengawasi ke sekeliling tempat itu.

"Sial! Dia dapat meloloskan diri. Huh! Kalau sampai ketemu, akan ku lumatkan tubuhnya!" dengus Daeng Mapparewang.

"Kita tak akan sempat lagi bertemu dengannya. Dia akan mampus oleh pukulanmu. Juga oleh senjata rahasiaku yang sangat beracun ini!" sahut Nyai Mamparini.

"Benar juga kata-katamu itu. Tapi..., he?! Tunggu dulu! Dia memiliki tenaga dalam yang kuat. Paling tidak, mampu bertahan kurang dari dua hari. Masih ada dua kemungkinan dia tertolong oleh orang lain," kata Daeng Mapparewang.

"Tidak mungkin, Kak! Senjata rahasiaku sudah terbukti kehebatannya. Selama ini, tak pernah ada yang selamat dari pengaruh racun pada senjata rahasiaku itu. Demikian juga 'Pukulan Racun Bidadari' yang kau lepaskan tadi. Dia pasti akan mampus malam ini juga!"

Daeng Mapparewang berpikir keras, kemudian mengangguk-angguk.

"Ya, kau benar. Dia mengalami dua luka dalam yang tak bisa dianggap ringan. Kalau tidak malam ini, tentu besok pagi sudah mampus. Kita tak perlu lagi susah payah mencarinya."

"Kalau begitu, mari kita kembali, Kak!" ajak Nyai. Mamparini sambil berbalik.

Daeng Mapparewang pun segera mengikuti langkah istrinya, dan berlalu dari tempat itu tanpa berpaling lagi.


***


Sementara itu keadaan Wulandari memang sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Peredaran darahnya yang kacau akibat pengaruh racun yang mulai bekerja di tubuhnya, menimbulkan rasa sakit yang hebat. Berkali-kali gadis itu tersungkur sambil memuntahkan darah kental berwarna kehitam-hitaman. Namun, semangat hidup dalam dirinya masih begitu kuat. Sehingga dengan segera, dia bangkit dan kembali berlari sekuat tenaga.

Setibanya di pinggir sebuah desa yang tak begitu ramai, Wulandari tersungkur. Seluruh tenaganya seperti terkuras habis. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Namun begitu, tubuhnya berusaha digerakkan dengan langkah terseret. Untung saja, saat itu melintas beberapa orang penduduk desa yang bertugas jaga malam. Salah seorang dari mereka melihat Wulandari.

"Coba lihat, siapa itu!" tunjuk orang itu.

Sementara yang lain segera mencabut golok. Mereka bersiaga, seraya mendekati sesosok tubuh yang terhuyung-huyung itu.

"Siapa kau?! Dan, apa yang kau kerjakan di situ?"

bentak salah seorang yang bertubuh besar dan berkumis lebat. Wulandari mendongakkan kepalanya sambil menatap ke arah mereka. Sementara tangannya menggapai-gapai.

"To..., tolong..."

Tubuh gadis itu kontan tersungkur ke tanah begitu mulutnya mendesah pelan. Kelima orang petugas jaga malam langsung melompat mendekatinya. Kemudian salah seorang memeriksa nadinya.

"Celaka! Nadinya berdenyut pelan. Gadis ini terluka parah. Kita harus mencarikan tabib untuk menolongnya!" desis orang itu dengan wajah terkejut.

"Kenapa dia kira-kira?" tanya kawannya.

Orang yang ditanya menggeleng lemah. Mereka melihat luka kecil di bahu gadis itu. Kelihatannya tak berarti. Namun, darah di sekitar luka itu telah menghitam.

"Mungkin dia terkena racun. Sebaiknya lekas kita carikan tabib. Kau, Parian. Tolong beri tahu Ki Walang. Kami akan membopongnya ke sana!" kata orang yang memeriksa Wulandari.

Salah seorang berlari cepat ke arah desa. Sementara, keempat kawannya menggotong tubuh Wulandari. Namun baru saja mereka melangkah kira-kira sepuluh langkah, mendadak seorang pemuda berbaju kulit harimau menghadang. Wajahnya tampak terkejut ketika mengenali wajah gadis itu.

"Wulandari!" jerit pemuda itu sambil melompat mendekati.

Namun keempat penduduk desa itu langsung mencegah. Golok mereka telah tercabut dengan sikap berjaga-jaga.

"Tahan! Siapa kau?!" bentak orang berkumis tebal dengan garang.

"Aku kawannya. Biarkan aku menolongnya!"

"Hm.... Apa kau pikir kami akan percaya begitu sa-ja? Sebaiknya pergilah dari desa ini, Orang Asing. Gadis itu tengah terluka parah. Barangkali kaulah penyebabnya."

Pemuda yang tak lain Bayu Hanggara itu semula ingin berkeras memaksa. Apalagi, melihat keadaan Wulandari yang tengah sekarat itu. Namun ketika melihat sikap keempat penduduk desa ini yang agaknya mencurigai dirinya, dia hanya menarik napas panjang. Kemudian ditatapnya mereka satu persatu.

"Hm.... Apakah Pendekar Pulau Neraka tak ada artinya bagi kalian...?" tanya Bayu datar.

"He?! Kaukah Pendekar Pulau Neraka?!" sentak keempat orang itu begitu mendengar pemuda itu menyebutkan julukannya.

"Percayalah, Kisanak semua. Aku mengerti maksud kalian itu. Tapi tak ada waktu lagi untuk berdebat saat ini. Gadis itu terluka parah. Aku harus mengobatinya segera," lanjut Bayu.

Meskipun setengah percaya, tapi mereka membiarkan saja ketika pemuda itu mendekat dan mengambil gadis berbaju merah muda. Bahkan salah seorang berbaik hati mengajak Bayu untuk membawa gadis itu ketempat Ki Walang, salah seorang tabib di desa ini.

Bayu pun menyetujuinya!


***


Wulandari tidak tahu, sudah berapa lama terbaring di tempat itu. Namun ketika kelopak mata nya bergerak-gerak, secercah cahaya matahari menerpa dan menyilaukan pandangannya. Dicobanya menoleh ke samping. Dan bola matanya menangkap seraut wajah yang sudah tidak asing lagi baginya.

"Kakang Bayu...."

"Hm.... Kau sudah agak baikan sekarang...?"

Wulandari berusaha bangkit, namun Bayu menahannya. Wulandari memandang ke sekelilingnya. Tampak seorang laki-laki tua berkulit hitam dan memakai baju jubah hitam yang sudah lusuh. Wajahnya penuh kerut, menandakan usianya yang sudah lanjut. Sementara tak jauh dari pintu, terlihat dua sosok tubuh memperhatikannya dengan seksama sambil tersenyum? Yang seorang bertubuh tegap dan berkumis tebal. Sementara yang seorang lagi bertubuh sedang dan agak lebih pendek.

"Orang tua ini bernama Ki Walang. Dia ikut membantu mengobati lukamu. Sementara, kedua orang itu adalah penduduk desa sini, yang semalam menolong mu," jelas Bayu.

Wulandari tersenyum kepada mereka. Mulut nya bergerak-gerak pelan.

"Terima kasih...."

"Untunglah kawanmu ini memiliki kemampuan hebat. Kalau tidak, nyawamu tak akan selamat," Nisanak. Darahmu yang bercampur racun hampir membeku. Dan obatku tak banyak berguna, kalau kawanmu ini tak menyalurkan hawa murninya ke tubuhmu," jelas Ki Walang sambil tersenyum kecil.

Wulandari tersenyum lebar pada Bayu.

"Terima kasih, Kawan...," kata gadis itu lirih dengan maksud menggoda pemuda itu.

"Siapa yang melakukan ini semua...?" tanya Bayu tak mempedulikan godaan gadis itu.

Wulandari terdiam sambil memalingkan muka. Wajahnya terlihat kesal bercampur dendam.

"Inikah yang kau inginkan? Apakah kau sengaja mempermalukan dirimu dan sekaligus bertaruh nyawa demi harga diri yang seharusnya tak perlu dipersoalkan. Padahal, persoalan itu tak ada sangkut pautnya dengan harga diri," lanjut Bayu dengan kesal.

Wulandari masih tetap diam membisu. Namun melihat keadaan itu, Ki Walang dan kedua orang penduduk desa yang berada di tempat ini agaknya mengerti persoalannya, meskipun tak begitu jelas. Namun yang pasti, mereka menangkap gejala bahwa kedua orang ini bukan sekadar kawan biasa. Melainkan, sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Dan mereka merasa tak enak di tempat ini. Maka terlihat perlahan-lahan mereka keluar dari ruangan itu.

"Kisanak, kami ada urusan di luar. Sebaiknya kami permisi dulu," kata salah seorang dari mereka.

Setelah semua orang itu menghilang di depan pintu, Ki Walang pun ikut bangkit.

"Kurasa, aku pun ada sedikit keperluan di luar, Nak. Bicaralah kalian di sini dengan tenang."

"Silakan, Kisanak...," sahut Bayu.

Setelah ruangan itu hanya tinggal mereka berdua, tak seorang pun yang mulai bicara. Tempat itu sepi sesaat, sebelum Bayu buka suara.

"Dengan siapa kau bertarung...?" tanya Bayu lembut. "Kedua orang asing itu," sahut Wulandari.

"Siapa mereka?"

"Menurut orang-orang, namanya Daeng Mapparewang dan istrinya Nyai Mamparini..," sahut Wulandari lagi.

"Ya! Kudengar tentang mereka kemarin dari orang-orang yang kutemui. Mereka telah banyak menewaskan tokoh persilatan di negeri ini. Dan mereka juga seorang perampok."

"Kalau saja mereka tak berbuat curang, tentu keduanya sudah mati di tanganku!" rutuk Wulandari sambil bersungut geram.

"Bukan saja tubuhmu saat ini sangat lemah karena banyak keluar darah. Tapi untuk berjalan pun, barangkali kau tak akan kuat..."

"Huh! Aku masih mampu memenggal kepala mereka itu!"

Wulandari bersikeras dan bermaksud bangkit untuk membuktikan kata-katanya. Namun baru saja bermaksud menjejakkan kaki di lantai, sekonyong-konyong tubuhnya terasa ringan dan tak bertulang sama sekali. Kalau saja Bayu tak buru-buru menangkapnya, mungkin telah ambruk ke tanah.

"Aku hanya mengatakan apa yang terbaik untuk kau ketahui. Dan, jangan membandel Wulan! Kalau kau terus keras kepala, aku bisa marah!" suara Bayu mulai terdengar keras.

Wulandari terdiam sambil menatap kosong ke atas. Meskipun gadis itu keras kepala, tapi kalau sudah melihat gelagat pemuda itu yang mulai marah, dia tak berani bersikap sesuka hatinya lagi.

"Maaf! Aku tak bermaksud membentakmu. Hanya saja aku ingin kau tahu, kalau pendirianmu itu salah. Aku hanya tak ingin kehilanganmu. Banyak hal di dunia ini yang tak kau ketahui. Di samping itu, kau sering ceroboh serta melakukan sesuatu dengan kehendakmu sendiri. Aku hanya ingin melindungi mu karena aku mencintaimu. Apakah itu salah...?"

Wulandari masih terdiam dan masih tetap belum bertindak apa-apa ketika Bayu mengelus-elus rambutnya perlahan. Tak berapa lama, pemuda itu berdiri.

"Tunggulah di sini untuk beberapa waktu. Aku telah bicara dengan Ki Walang, sampai keadaanmu sehat kembali. Ada yang harus kukerjakan," ujar Bayu. Wulandari tetap tak menoleh, ketika pemuda Itu keluar meninggalkan ruangan itu.


***


ENAM

Bayu tersentak kaget ketika mendengar suara ribut-ribut di ruangan tempat Wulandari terbaring. Terpaksa langkahnya berbalik kembali ke dalam. Ternyata tubuh Wulandari sudah terjerembab ke lantai. Buru-buru diangkatnya Wulandari kembali ke atas.

"Kenapa kau tak mau menuruti kata-kataku...?" tanya Bayu sambil menggeleng lemah.

"Aku tak mau di sini...," lirih suara Wulandari.
"Tapi keadaanmu masih lemah."
"Aku tak peduli!"

Bayu menghela napas panjang.

"Kau tahu, apa yang harus kulakukan saat ini?" tanya Bayu pelan.

Wulandari tak langsung menjawab. Diliriknya wajah pemuda itu sekilas, kemudian kembali memalingkan pandangannya.

"Kakang akan mencari kedua orang asing itu, bukan?"

"Kau sendiri mungkin telah mengetahui. Sudah banyak tokoh persilatan yang tewas di tangan mereka. Dan aku tak bisa mendiamkan mereka berlaku seenak hatinya di negeri ini. Lagi pula, cepat atau lambat mereka pasti akan mencari dan menantangku pula. Kalau saja ini urusan pribadi, kutunggu kedatangan mereka. Tapi kalau aku menunggu, tentu korban akan terus berjatuhan. Bahkan perampokan akan berlangsung terus," sahut Bayu datar tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

"Berapa lama aku harus menunggu di sini, Kakang? Sehari, dua hari? Atau, seminggu? Apa yang harus kulakukan selama hari-hari itu? Tidak, Kakang. Aku tak bisa membayangkannya karena aku tak mampu melakukannya...," keluh Wulandari lirih.

Bayu terdiam beberapa saat lamanya sambil menghela napas panjang. Diliriknya kembali gadis itu sambil tersenyum hambar.

"Sekarang hari sudah sore, bukan?" tanya Wulandari meyakinkan penglihatannya, ketika mengintip lewat celah-celah dinding yang bolong.

Bayu mengangguk pelan.

"Kita pergi sama-sama esok hari saja, Kakang?"

Bayu tak langsung menjawab. Ditatapnya Wulandari lekat-lekat, kemudian bibirnya tersenyum kecil. Wulandari membalasnya dengan senyum hangat.

"Wajahmu terlihat pucat. Kau tentu banyak mengeluarkan tenaga untuk mengeluarkan racun di dalam tubuhku, bukan?"

"Keadaanmu gawat sekali. Racun orang asing itu memang hebat. Terlambat sedikit saja, nyawamu tak akan selamat."

"Kakang, maafkan aku...," lirih suara Wulandari penuh penyesalan sambil menundukkan wajahnya.

"Sudahlah. Mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran yang berguna bagimu," sahut Bayu tersenyum sambil menarik dagu gadis itu.

"Ehm! Ehm...!"

Kedua anak muda itu tersentak dan buru-buru mengalihkan perhatian, ketika Ki Walang masuk sambil mendehem-dehem kecil. Orang tua itu mengambil tempat duduk di antara mereka.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?" tanya orang tua itu.

"Syukurlah. Kelihatannya begitu...," sahut Wulandari sambil tersenyum.

"Hm.... Jadi, apa yang menyebabkan sehingga Nisanak terluka begini?" tanya Ki Walang lagi.

Wulandari memandang sekilas pada Bayu. Dan ketika melihat pemuda itu mengangguk pelan, terdengar helaan napas pendeknya. Kemudian diceritakannya yang telah dialami sehingga menderita luka dalam begitu.

"Hm.... Kedua orang asing itu lagi!" gumam Ki Walang dengan nada geram.

"Ki Walang sepertinya pernah mengenal mereka?" tanya Bayu.

"Tidak. Tapi sepak terjang mereka sungguh keterlaluan. Sudah sepatutnya ada yang menghentikan. Kalau tidak, kesombongannya akan semakin menjadi-jadi. Bahkan bisa seenaknya menginjak-injak semua tokoh persilatan di negeri ini!"

"Aku pun bermaksud demikian, Ki. Kalau kau tak keberatan, kami bermaksud menumpang menginap malam ini di sini. Karena, besok pagi kami mempunyai rencana untuk mencari kedua orang asing itu," sahut Bayu.

"Ah! Bagus sekali! Kudengar kau adalah seorang pendekar hebat. Dan aku yakin, kau mampu menghentikan kesombongan mereka. Tapi, kenapa mesti buru-buru? Kalian boleh tinggal di sini sampai kawanmu sembuh dan sehat seperti sediakala," kata Ki Walang setengah memaksa pada kedua anak muda itu.

"Terima kasih, Ki. Kau terlalu baik kepada kami. Tapi kalau dibiarkan, tentu akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Kepandaianku tak terlalu hebat. Tapi, harus ada orang yang menghentikan sepak terjang mereka. Dan kawanku ini besok tentu telah sehat kembali," sahut Bayu sambil tersenyum.

Ki Walang tak bisa berbuat apa-apa mendengar jawaban itu. Dia yakin, tekad kedua anak muda itu telah bulat dan tak seorang pun mampu menyurutkan langkahnya.


***


Bayu dan Wulandari memacu kuda meninggalkan desa itu dengan tenang. Wajah mereka tampak tegang.Terlebih-lebih Bayu yang sejak tadi tak banyak bicara. Sesekali Wulandari mencuri pandang. Namun sedikit pun pemuda itu tak menoleh. Wulandari menghela napas pendek, kemudian mengalihkan pandangannya.

"Untunglah si Putih penurut dan jinak. Agaknya dia mampu mencium bauku...," kata Wulandari seperti berkata pada diri sendiri.

Bayu menoleh sekilas.

"Apa tubuhmu sudah lebih segar sekarang?" tanya Bayu.
"Lumayan."

"Ingat! Kau yang memaksa untuk ikut. Maka, kau harus patuh pada segala perintahku. Kau tak boleh ikut campur urusanku," tegas Bayu.

"Iya, iya...!"

Bayu kembali diam sambil memacu kudanya sedikit lebih cepat dari semula. Wulandari jadi heran, karena melihat Bayu seperti yakin betul.

"Sekarang kita mau ke mana, Kakang?" tanya Wulandari.
"Mencari kedua orang asing itu," sahut Bayu.
"Ya! Tapi ke mana?"

Bayu memandang gadis itu, kemudian menggeleng pelan.

"Selama ini, yang mereka kerjakan hanya dua. Kalau tidak merampok, pasti menuju ke tempat tokoh persilatan yang ingin ditantangnya. Menurut pemilik rumah penginapan tadi, mereka menuju ke arah ini. Dan aku bertanya, di mana tokoh persilatan yang namanya terkenal dan bertempat tinggal tidak jauh dari desa ini. Lalu mereka menyebut Nyai Danang Sari alias Bidadari Bermata Emas. Pemilik rumah penginapan itu juga mengatakan kalau tak jauh dari desa mereka, yaitu Desa Sekarjaya, ada seorang hartawan yang sangat kaya raya. Itulah yang membuatku mengambil arah ini," jelas Bayu.

Sementara Wulandari tersenyum kecil sambil mengangguk-angguk.

"Aku tahu. Sekarang tujuan kita ke rumah hartawan itu, bukan?" kata Wulandari dengan wajah meyakinkan.

"Bagus. Kau mulai pintar sekarang," puji Bayu.

"Tapi, Kakang. Aku masih mendendam pada mereka. Kalau saja mereka tak berbuat curang, tentu tak akan begini jadinya!" gerutu Wulandari geram.

"Itu kesalahanmu. Kau tak cepat waspada. Padahal, tak semua orang berhati jujur. Sudahlah. Kau sudah berjanji tak akan ikut campur urusanku kali ini, bukan? Jangan membandel. Ingat itu!"

"Iya, iya...!" sahut Wulandari sedikit jengkel.

Setengah harian mereka memacu kuda. Hingga menjelang sore, mereka baru tiba di desa yang dimaksud. Keadaan Desa Sekarjaya memang ramai dan kelihatan banyak kesibukan. Tak sulit bagi mereka untuk mencari rumah hartawan yang dimaksudkan. Karena di desa ini, hanya orang itulah satu-satunya yang terkaya.

Begitu tiba di halaman depan rumah hartawan itu, keadaan terlihat sepi. Bayu memandang ke sekeliling, lalu melompat dari kudanya. Dia memang melihat beberapa mayat tergeletak dalam keadaan mengenaskan di kejauhan. Tanpa banyak bicara lagi, tubuhnya langsung melompat ke dalam dan hinggap di atas atap.

Kemudian, tubuhnya merangkak pelan menyusuri bagian tengah sambil mempertajam pendengarannya.

"Ouw, tolong...! Tolooong...!"

Terdengar jeritan suara seorang perempuan.

"Diam! Kalau kau berteriak, kutebas leher suami-mu ini!" bentak satu suara.

Tak terdengar teriakan perempuan itu lagi. Dan kini berganti isak tangis yang tersendat-sendat Bayu mencongkel sebuah genteng, lalu mengintip. Tampak sepasang suami istri berusia setengah baya tengah duduk bersimpuh di depan dua orang asing yang memanggul buntalan. Yang laki-laki tampak mengeluarkan sebilah golok bergigi, tengah mengancam pemilik rumah yang kelihatan menggigil ketakutan.

"Ampun, Tuan. Ampunilah selembar nyawa ini.

Bukankah kalian telah mengambil apa yang kalian inginkan...?" pemilik rumah itu memohon sambil merangkapkan kedua tangannya.

"Baik. Tapi, jaga mulut istrimu itu. Kalau berteriak lagi, bukan lehermu saja yang kugorok. Tapi, istrimu pula akan kubuat mampus. Kau mengerti?!" bentak orang asing itu.

"Me..., mengerti, Tuan."

"Nah! Sekarang, kami pergi dulu. Ingat! kalau harta bendamu tak suka diambil, kau boleh mengejarku.

Aku tak akan lari. Namaku Daeng Mapparewang. Dan istriku Mamparini!" dengus laki-laki asing itu sinis.

"Aku rela, Tuan. Asal jangan bunuh kami..," sahut pemilik rumah itu cepat.

"Bagus. Itu namanya masih sayang dengan nyawamu. Nah! Kalau hartamu sudah banyak lagi, aku akan datang untuk meminta sebagiannya. Kau tentu tak keberatan, bukan?"

"Nah! Sekarang, kami pergi dulu. Ingat! Kalau harta bendamu tak suka diambil, kau boleh mengejarku.

Aku tak akan lari. Namaku Daeng Mapparewang!" dengus laki-laki asing itu sinis.

"Kami rela, Tuan. Kami rela.... Asal jangan bunuh kami...," sahut pemilik rumah itu sambil menyembah-nyembah ketakutan.

"Tentu saja tidak, Tuan!"

"He he he...! Ingat baik-baik ucapanmu. Dan aku pasti akan datang lagi ke sini," sahut laki-laki asing yang memang Daeng Mapparewang sambil mengajak istrinya berlalu dari tempat itu. Sambil melangkah cepat, mereka bergegas keluar dari rumah itu lewat jalan depan sambil ter-kekeh-kekeh kecil. Namun mendadak langkah ke-duanya terhenti, ketika di halaman depan tak begitu jauh dari depan pintu, telah berdiri tegak sesosok tubuh yang membelakangi. Rambutnya panjang, diikat secarik kulit seperti warna bajunya yang dari kulit harimau. Tidak terlihat satu pun senjata tersandang. Hanya pada pergelangan tangan kanannya, terlihat sebuah cakra persegi enam.


***


"He he he...! Rupanya ada juga centengnya yang tersisa dan mau cari mati!" kata Daeng Mapparewang, terkekeh-kekeh. Segera buntalan yang dipegangnya di turunkan.

"Kakak! Biar aku yang bereskan!" selak istrinya sambil melangkah gusar mendekati orang itu. Daeng Mapparewang mendiamkan saja niat istrinya, karena yakin sekali dengan kemampuan Nyai Mamparini. Dia pasti mampu menjatuhkan orang itu dalam sekejap.

"Siapa pun adanya kau, kuperingatkan lebih baik pergi dari sini. Itu kalau masih sayang nyawamu!" dengus Nyai Mamparini sinis.

"Aku mencari sepasang pendekar dari tanah seberang yang katanya akan menantangku..."

Terdengar sahutan dingin dari orang yang berdiri tegak itu tanpa berpaling.

"Oh! Rupanya kau punya kepandaian juga? Nah! Kau kini tengah berhadapan dengan orang yang kau cari. Perkenalkan julukanmu, agar kami tahu apakah kau patut mampus di tangan kami!" sahut Nyai Mamparini dengan nada mengejek.

"Betulkah aku telah berhadapan dengan sepasang pendekar dari tanah seberang? Atau, barangkali mataku yang salah. Sebab yang kulihat saat ini, hanya sepasang perampok hina!"

"Huh! Apa pedulimu?! Apa kau pikir kau adalah abdi kerajaan yang akan menangkap kami?!"

"Tidak. Aku justru menginginkan kepala kalian."

"Nyai Mamparini, minggir kau! Biar kubereskan orang sombong ini!" Agaknya, Daeng Mapparewang tak sabar mendengar perang mulut itu. Dan dia sudah langsung melompat menyerang orang berbaju dari kulit harimau itu. Segera dilepaskannya satu tendangan geledek ke arah orang itu.

"Hup!"

Satu tendangan menggeledek yang dilancarkan Daeng Mapparewang cepat ditangkis tangan kiri orang berbaju kulit harimau itu.

Plak!

Dan rupanya, Daeng Mapparewang melanjutkan dengan sabetan kaki ke arah kepala. Namun, orang itu mudah menghindarinya, sambil merundukkan kepala. Bahkan ketika tubuhnya berbalik dengan satu pukulan keras, Daeng Mapparewang terkejut Maka buru-buru ditangkisnya dengan tangan kanan.

Plak!
"Uhhh...!"

Bukan main kagetnya Daeng Mapparewang ketika merasakan tangannya terasa perih akibat benturan itu. Belum lagi kedudukannya diperbaiki, tiba-tiba satu hantaman telak yang dilancarkan orang berbaju kulit harimau itu menghajar perutnya.

Desss!
"Aaakh!"

Daeng Mapparewang menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terjungkal ke belakang. Masih untung kedua kakinya mampu berpijak di atas tanah. Orang berbaju kulit harimau yang tak lain Bayu itu berbalik dan tersenyum kecil.

"Kesalahan yang paling banyak terjadi adalah menganggap enteng lawan...," kata Bayu setengah bergumam.

"Siapa kau?!" bentak Daeng Mapparewang garang.

"Kudengar kau mencari-cariku. Apakah itu benar?" sahut Bayu balik bertanya.

"Phuih! Kau pikir dirimu punya derajat lebih, sehingga aku mesti mencari-carimu?!" geram Daeng Mapparewang.

"Hm.... Kalau begitu, biarlah aku yang mencari-carimu. Dan kini, kita telah bertemu."

"Aku tak ingin berhadapan dengan seorang yang tak punya kepandaian. Percuma hanya buang-buang waktu saja!" sinis ucapan Daeng Mapparewang.

"Betul! Kau tak salah bicara, Kisanak. Pendekar Pulau Neraka tak banyak dikenal. Juga, tak memiliki kepandaian hebat," sahut Bayu tenang.

"Oh! Jadi kau yang berjuluk Pendekar Pulau Nera-ka? Hm.... Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ku cari-cari ke mana-mana, malah kini kau mendatangiku di sini!" ucap Daeng Mapparewang tersenyum sinis.

"Syukurlah kalau memang kau telah mengenalku."

"Pendekar Pulau Neraka! Tak usah banyak bicara! Cabutlah senjatamu! Buktikan kalau kau memang patut menyandang gelar orang sakti yang tak terkalahkan di negeri ini!" teriak Daeng Mapparewang garang sambil mencabut sepasang golok bergeriginya.

Sring!

Bayu tersenyum ketika melihat lawan telah membuka jurus. Kaki orang asing itu melangkah perlahan mendekatinya dengan arah menyamping.

"Silakan, Kisanak...," sahut pemuda itu enteng seraya membuka jurus pula.

"Huh! Aku tak peduli kau memakai senjata atau tidak. Tapi sepasang golokku yang tak bermata, tak pernah gagal menghirup darah bila sudah keluar dari sa-rangnya!"

"Kenapa sungkan? Kau bebas menggunakan senjata apa saja yang kau miliki."

"Lihat serangan!" bentak Daeng Mapparewang langsung melesat cepat ke arah Bayu sambil menghu-nus kedua golok di tangannya.

Suara tebasan golok Itu bercuitan, dan melesat bagai ribuan senjata tajam yang mengurung Pendekar Pulau Neraka ke mana saja bergerak. Untuk sesaat Bayu terkejut dan terpaksa melompat ke sana kemari dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh sempurna. Sehingga, gerakannya cepat dan sulit diikuti pandangan mata biasa. "Hiyaaa...!"



"Heh?!"

Kali ini terlihat Daeng Mapparewang yang menjadi bingung serta penasaran, melihat sepasang goloknya seolah tak berarti menghadapi gerakan Pendekar Pulau Neraka yang cepat luar biasa. Bahkan dalam satu kesempatan, dia terkejut. Karena tiba-tiba saja, Pendekar Pulau Neraka menukik deras menyambar batok kepalanya. Buru-buru orang asing itu memapak dengan sebelah tangan. Namun, tiba-tiba Pendekar Pulau Neraka meliuk cepat, menyambar ke arah punggungnya.

Maka dengan untung-untungan Daeng Mapparewang membabatkan senjatanya yang satu lagi ke belakang.

Wut!
"Uts!"

Pendekar Pulau Neraka cepat menekuk tubuhnya untuk menghindari sabetan golok lawan. Dan dia terus menjatuhkan diri ke tanah sambil mengayunkan satu tendangan keras ke perut. Untung Daeng Mapparewang masih sempat menghindar ke belakang. Tapi, Pendekar Pulau Neraka agaknya telah menduga. Sehingga dengan cepat langsung dikirimkannya serangan berikut. Sambil bergulingan mengikuti gerakan Daeng Mapparewang, kaki kirinya bergerak menyapu pinggang. Begitu cepat gerakannya, sehingga tak mungkin dihindari.

Begkh!
"Aaakh...!"

Daeng Mapparewang menjerit keras. Tubuhnya kontan terlempar ke belakang dalam kedudukan yang tak menguntungkan. Bersamaan dengan itu, Bayu terus melompat untuk menghabisi lawannya. Namun....

Serrr! Serrr...!

Mendadak telinga Pendekar Pulau Neraka yang tajam merasakan sambaran angin deras datang dari arah belakang.

"Kakang Bayu, awasss...!"


Bersamaan dengan itu terdengar bentakan nyaring yang memperingatkan adanya bahaya bagi Pendekar Pulau Neraka.

"Hup!"
"Yeaaah...!"

Bayu cepat membuang tubuhnya ke samping. Dan seketika terasa hawa beracun yang sangat kuat begitu beberapa buah senjata rahasia berbentuk bintang keperak-perakan lewat dekat wajahnya.

Serrr! Serrr!
"Hup!"

Terpaksa Pendekar Pulau Neraka kembali melompat sambil bergulingan, ketika merasakan senjata rahasia itu kembali mengancam dirinya seperti tiada henti. Dalam keadaan demikian, Daeng Mapparewang merasa mendapat peluang. Dia langsung melompat menyerang dengan kedua golok kembarnya.

"Yeaaa...!"
Bet! Bet!


***


TUJUH

Pendekar Pulau Neraka cepat bergeser ke samping menghindari sambaran golok bergerigi Daeng Mapparewang. Namun agaknya golok bergerigi satu lagi yang mengarah ke punggung sulit dihindari Bayu. Sehingga....

Breeet!

Golok itu cepat sekali menyerempet punggung Bayu sehingga menimbulkan sedikit luka. Dan agaknya lawannya tak memberi kesempatan sedikit pun untuk bernapas. Bahkan Nyai Mamparini ikut-ikutan menyerang dengan senjata rahasianya. Sementara Daeng Mapparewang terus mendesak dengan segenap kemampuannya. Beberapa kali Pendekar Pulau Neraka dibuat jatuh bangun.

"Hiyaaa...!"

Dalam satu kesempatan, Pendekar Pulau Neraka membentak nyaring sambil bersalto ke atas.

"Hup!"

"Mampus...!" dengus Daeng Mapparewang.

Tubuh orang asing itu melompat, mengikuti dari belakang sambil mengibaskan kedua goloknya. Sementara saat itu pula senjata rahasia yang dilemparkan Nyai Mamparini mengurung ruang gerak Pendekar Pulau Neraka tanpa memberikan peluang sedikit pun untuk lolos.

Namun secepat kilat Pendekar Pulau Neraka mengebutkan tangan kanannya, untuk menghalau semua senjata yang mengarah kepadanya.

Trak! Trak!

Senjata rahasia yang mengelilingi seketika rontok terhantam pergelangan tangan kanan Pendekar Pulau Neraka. Sepasang suami istri ini tersentak kaget melihat senjata itu rontok begitu membentur pergelangan tangan lawan. Sehingga, serangan Daeng Mapparewang terhenti sesaat.

Namun waktu yang sekejap itu harus ditebus dengan mahal. Tangan kanan Pendekar Pulau Neraka langsung mengibas cepat. Sehingga cakra maut yang menempel di pergelangan tangan kanannya melesat dengan kecepatan bagai kilat ke arah kepala.

"Uts!"

Daeng Mapparewang cepat menundukkan kepala seraya mengayunkan kedua goloknya untuk menangkis.

Trang! Trang!

Cakra maut Pendekar Pulau Neraka langsung. membabat putus kedua golok bergerigi Daeng Mapparewang. Akibatnya orang asing itu terkejut bukan kepalang. Dan kesempatan itu digunakan Pendekar Pulau Neraka untuk melancarkan serangan.

Wut!

Kepalan tangan kiri Pendekar Pulau Neraka menderu ke arah wajah Daeng Mapparewang. Dan orang asing itu mencelat ke belakang sambil jungkir balik. Seketika Pendekar Pulau Neraka cepat menyusuli dengan kaki kanan ke arah pinggang orang asing itu.

"Hiyaaa...!"
Begkh!

Kembali sodokan keras kepalan kiri pemuda itu mendarat ketika tubuhnya berbalik.

Des!
"Aaakh...!"

Daeng Mapparewang menjerit keras. Tubuhnya kontan terpental beberapa langkah sambil memuntahkan darah segar. Tapi, Pendekar Pulau Neraka tak berhenti sampai di situ. Tubuhnya langsung berkelebat menyusul dengan kibasan tangan kanan. Tapi sayang....

Ser! Serrr...!
"Keparat...!"

Bayu memaki ketika beberapa senjata rahasia berbentuk bintang berwarna keperak-perakan yang dilempar Nyai Mamparini melesat cepat ke arah tubuhnya. Terpaksa serangannya dihentikan, lalu melenting menghindari serangan gelap itu.

"Hih!" Ser! Serrr...!
"Sial! Hup...!"

Kembali terdengar makian Pendekar Pulau Neraka ketika senjata-senjata rahasia itu berdesingan di seluruh bagian tubuhnya seperti tiada henti. Terpaksa dia terus berputaran beberapa kali sambil mengayunkan tangannya menghalau serangan gelap itu. Namun ketika kedua kakinya menjejak tanah, serangan tidak muncul kembali. Dan ternyata kedua orang asing itu telah melesat cepat meninggalkan tempat itu. Begitu cepat gerakan mereka, sehingga sebentar saja telah hilang dari pandangan.

"Sial!" dengus Bayu geram.

Wulandari menghampiri sambil berlari-lari kecil.

"Kakang! Kau tak apa-apa?" tanya gadis itu cemas.

Bayu menggeleng lemah. Segera digamitnya lengan gadis itu, begitu sudah dekat. Dan mereka pun segera berlalu meninggalkan halaman rumah besar itu.


***


"Ke mana kita sekarang, Kakang?" tanya Wulandari ketika mereka telah jauh meninggalkan desa itu.

"Entahlah. Tapi kita harus mengejar mereka sampai ketemu."

"Kenapa tak menuju tempat kediaman Nyai Danang Sari?"

"Tidak. Kurasa mereka tak pergi ke sana."

"Kenapa?"

"Orang asing yang laki-laki telah terkena pukulan-ku. Rasanya dia tak akan mampu bertarung lama. Paling tidak, saat ini mereka mencari tempat persembunyian, sehingga aman dari pengejaran kita."

Wulandari hanya mengangguk mendengar penjelasan itu.

"Aku hanya mengira-ngira, ke mana mereka akan pergi?"

"Ke mana?"

"Ke Pantai Utara...."

"Kakang menduga mereka akan berlayar meninggalkan negeri ini dan pulang ke negerinya?" tanya Wulandari cepat menduga.

"Itu dugaan pertama. Dugaan kedua, mereka bersembunyi dan menanti kesempatan untuk membalas kekalahan," jelas Bayu.

Kini mereka telah tiba di Desa Muara Singa yang cukup ramai. Memang tak jauh dari desa itu, terletak pelabuhan yang dikunjungi kapal-kapal besar.

"Kakang, perutku lapar. Sebaiknya kita mencari makanan dulu," keluh Wulandari.

"Baiklah. Kebetulan perutku mulai terasa perih," sahut Bayu.

Mereka pun segera melangkah menuju salah satu kedai. Berbeda dengan desa-desa lain, di desa ini banyak sekali ditemui kedai makan. Baik yang besar maupun bertingkat, dan banyak pula yang kecil serta berkesan sekadarnya saja. Kedai yang dipilih mereka cukup sederhana. Namun, bangunannya terkesan rapi dan bersih. Lagi pula pengunjungnya tak terlalu berjejal-jejal seperti di tempat lain.

"Aku paling tak suka kalau mereka memandang ki-ta seperti makhluk aneh!" gerutu Wulandari kesal ketika memasuki kedai, dan melihat beberapa pengunjung menoleh kepada mereka.

"Mereka hanya sekadar kagum...," sahut Bayu enteng.

"Huh! Kagum? Kagum pada siapa? Kenal pun mereka tidak!"

"Mereka kagum pada kecantikanmu," kata Bayu tersenyum menggoda, seraya duduk di belakang sebuah meja yang ditunjukkan seorang pelayan.

Wajah Wulandari tampak bersemu merah mendengar pujian pemuda itu. Dia terdiam beberapa saat, sampai hidangan yang dipesan tiba.

"Kakang, kurasa keadaanku sudah lebih baik sekarang," ujar gadis itu mengalihkan perhatian.

"Lalu?"

"Aku mampu menghajar mereka!"

Bayu tersenyum kecil sambil memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat garang ketika mengepalkan tangan. "Kau sudah berjanji, bukan?" sahut Bayu seperti mengingatkan.

"Kakang sudah merasakan kecurangan mereka, bukan?" balik bertanya Wulandari dengan nada kesal.

"Coba sekali ini kau turuti perintahku dan jangan membantah. Aku tahu, kau mampu melawan mereka. Tapi dalam keadaan tubuhmu yang masih lemah, kau hanya akan menambah penyakitmu saja."

"Kakang, iiih!" gadis itu merajuk dengan wajah kesal.

Bayu tersenyum-senyum melihat kemanjaan gadis itu. Kemudian matanya memandang ke sekeliling ruangan. Pendengarannya yang tajam mendengar beberapa orang pengunjung kedai membicarakan dua orang asing yang tengah mereka buru. Wulandari memandang sekilas pada Bayu, kemudian tersenyum kecil.

"Hm.... Aku mengerti. Kakang bermaksud mencari keterangan tentang kedua. orang itu sehingga berpura-pura lapar!"

"Kata siapa?"
"Jangan mengelak!"

"Kenapa mesti mungkir? Yang jelas adalah kedua-duanya. Cari keterangan dan juga lapar," sahut Bayu enteng.

"Huuu!"

Pemuda itu tersenyum-senyum melihat Wulandari pasang muka cemberut. Tengah nikmat-nikmatnya mereka melahap makanan...

"Lariii...! Ki Tabuk sedang mengamuk!"

Mendadak terdengar suara ribut dari arah luar kedai. Beberapa orang berlari-lari ketakutan menyelamatkan diri seperti dikejar banteng liar yang sedang mengamuk.

"Ki Tabuk mengamuk...!" teriak yang lain bersahu-tan. Tak berapa lama, di belakang orang-orang yang lari serabutan itu terlihat seorang laki-laki bertubuh besar dengan telanjang dada, membawa-bawa golok besar dan panjang. Wajahnya seram dan matanya melotot lebar sambil menggeram berkali-kali. Apa saja yang menghalangi, senjatanya langsung bicara menyabet ke sana kemari. Tak seorang pun yang berani mendekati laki-laki yang berotot besar itu. Semuanya menyingkir ketakutan.

Bahkan orang-orang yang berada di dalam rumah atau di dalam kedai, lari ketakutan sebelum orang yang dipanggil Ki Tabuk mendekat. Tak terkecuali, pengunjung kedai yang ada di tempat mereka itu. Pemilik kedai serta beberapa orang pelayannya telah kabur lebih dulu, ketika Ki Tabuk melangkah gusar mendekati kedainya.

"Kisanak! Lebih baik pergi menyelamatkan diri! Ki Tabuk orang gila. Dia tak segan-segan membunuh orang!" teriak pelayan itu memperingatkan Bayu dan Wulandari sebelum kabur lewat pintu belakang.

Tapi Pendekar Pulau Neraka dan Wulandari tenang-tenang saja. Di dalam kedai itu kini hanya mere-ka berdua, karena yang lain telah melarikan diri. Mereka sebenarnya sedikit heran. Karena yang diketahui, beberapa orang pengunjung kedai terlihat bukan orang sembarangan. Bahkan membawa-bawa senjata pula. Paling tidak, mereka memiliki ilmu silat yang lumayan untuk diandalkan. Tapi mendengar orang gila mengamuk, mereka malah ikut-ikutan kabur.

Orang gila itu melangkah masuk ke dalam kedai sambil menggeram keras. Beberapa buah kursi dan meja hancur dihantam senjatanya. Sementara yang lain berantakan dihajar pukulan serta tendangannya. Kini barulah Bayu dan Wulandari mengerti, sebab Ki Tabuk ternyata bukan orang gila sembarangan. Pukulan dan tendangannya mengandung tenaga dalam hebat, dan tak bisa dianggap enteng.

"Huaaah...!"

Ki Tabuk menggeram buas dengan mulut menyeringai lebar, ketika menghampiri kedua anak muda yang sama sekali tak peduli dengan kehadirannya.

"Kisanak dan Nisanak. Sebaiknya kalian cepat-cepat menyingkir dari situ!" teriak beberapa orang memperingatkan mereka dari luar.

Sementara yang lain malah memandang cemas ke arah mereka. Mereka menduga, keduanya akan tewas dihajar Ki Tabuk. Sehingga, yang melihat dari luar kedai tampak berwajah penuh kecemasan.


***


"Huaaah...!"
Bruak!
"Hup!"

Dengan kemarahan meluap senjata di tangan Ki Tabuk menghajar meja hingga terbelah dua. Kaki tangannya menyapu kursi-kursi yang tengah diduduki kedua anak muda itu hingga hancur berantakan. Kemudian dengan beringas, golok panjang di tangannya menyambar ke leher Bayu dan Wulandari.

"Hiaaah!"
Bet! Bet!

"Wulan, mundur kau!" perintah Bayu ketika golok di tangan Ki Tabuk nyaris menyerempet tubuh Wulandari.

Gadis itu buru-buru bergerak ke belakang Bayu. Wulandari sendiri memang merasakan angin serangan yang dahsyat, ketika golok itu menyambar-nyambar. Masih untung dia mampu menjatuhkan diri dan bergulingan menghindari kelebatan senjata lawan. Dan kalau saja saat itu Bayu tak merenggut pinggangnya dan mendorong ke samping, barangkali Wulandari akan mendapat sabetan golok orang gila itu. Gadis itu sendiri merasakan, gerakannya masih belum segesit semula.

"Hiyaaa...!" Ki Tabuk menggeram dan melompat ke arah Bayu yang berada di depannya sambil mengayunkan golok. Bayu bergerak cepat. Tubuhnya berbalik dan menyambar pedang Wulandari.

Trang!
"Hiiih!"
"Uts!

Terlihat wajah Ki Tabuk berkerut menahan rasa sakit, ketika senjatanya beradu. Namun tubuhnya masih sempat dimiringkan, ketika kaki Bayu menyambar ke arah perut dengan deras.

"Heaaa...!"

Dengan cepat Ki Tabuk mengayunkan senjatanya menyambar leher Pendekar Pulau Neraka. Kemudian golok itu terus meliuk ke dada, pinggang dan bagian bawah. Bayu melompat ke atas untuk menghindari. Kemudian pedang di tangannya menyambar deras ke arah batok kepala Ki Tabuk. Tapi, orang itu ternyata cukup cerdik. Tubuhnya cepat dimiringkan memapas pinggang Pendekar Pulau Neraka. Namun hal itulah yang diharapkan si Pendekar Pulau Neraka. Dengan jarak dekat begini, jelas akan leluasa menekan lawan.


Trang!

Pedang di tangan Pendekar Pulau Neraka menangkis senjata orang gila itu. Seperti tadi, terlihat wajah orang bertubuh besar itu meringis kesakitan. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Pendekar Pulau Neraka untuk menyodok perut Ki Tabuk dengan menggunakan lutut kanan.

Duk!
"Aaah!"

Ki Tabuk mengeluh kesakitan. Tubuhnya kontan limbung ke belakang. Pada saat yang sekejap itu kaki kanan Bayu cepat menyambar ke arah rahang dan da-da dengan tendangan keras.

Digh! Digh!

Ki Tabuk menjerit kesakitan. Tubuhnya langsung terjungkal menghajar dinding kedai hingga jebol.

"Hup!"

Tubuh Bayu langsung mengejar, melepas totokan ke beberapa bagian tubuh Ki Tabuk.

Tuk! Tuk!

Ki Tabuk yang berusaha bangkit, langsung terkulai kembali. Bola matanya melotot garang sambil menggeram-geram buas ke arahnya.

"Hm... Kepandaianmu hebat, Ki sanak. Sayang otakmu miring, sehingga membuat susah orang sekampung. Kalau kau mau dengar kata-kataku dan tak akan mengamuk, tentu totokanmu akan kubebaskan," kata Bayu pelan.

Tapi Ki Tabuk bukannya menurut. Dia malah menggeram buas, seolah-olah ingin menelan bulat-bulat pemuda di hadapannya.

"Baiklah. Kalau kau merasa lebih senang begini, aku akan mengabulkannya. Dan karena kau merasa senang diperlakukan begini, aku akan menambahnya," kata pemuda itu sambil menotok dua kali ke tubuh Ki Tabuk.

Tuk! Tuk!

Wajah Ki Tabuk menggeram. Kerongkongannya seperti tersumbat dan tak mampu berkata sepatah pun.

"Kau akan begitu terus selama sehari semalam. Itulah upah dari perbuatanmu," kata Bayu enteng.

Beberapa orang yang melihat kejadian itu, mulai berani mendekat sambil memandang takjub pada pemuda itu. Dan satu persatu yang lain pun mendekat.

"Wah, hebat! Kisanak! Siapa kau sebenarnya? Selama ini tak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Ki Tabuk!" tanya seseorang.

"Aku hanya orang biasa. Hanya, Ki Tabuk agaknya hari ini sial," sahut Bayu sekenanya.

"Lho? Ki Tabuk kenapa? Kok seperti ayam keok begini?"

"Awas, dia masih galak! Salah-salah kau diterkamnya nanti!"

Beberapa orang yang mengerubungi orang berwajah seram itu tampak memperhatikan dengan segala macam ocehan-ocehannya ke arah Ki Tabuk. Namun tiba-tiba....

"Woooi...! Ada perkelahian di kapal Ki Sampan!" teriak seseorang sambil berlari ke arah kerumunan itu.

"Siapa?" tanya beberapa orang dengan wajah sungguh-sungguh.

"Tidak tahu. Tampaknya dua orang asing itu bukan penduduk kampung ini. Mereka hebat. Lawannya banyak yang mati!"

Tak lama kemudian, mereka berlari-lari kecil ke arah tempat yang ditunjuk orang itu. Sedangkan Bayu dan Wulandari lebih dulu menyelinap dari tempat itu, saat mendengar teriakan orang tadi.


***


DELAPAN

Di tepi pantai memang terlihat perkelahian yang tak seimbang. Dua orang asing yang berada di atas sebuah perahu layar berukuran sedang, tengah dikerubuti lebih dari tujuh orang laki-laki bersenjata lengkap.

Sementara beberapa perahu kecil yang bermuatan beberapa orang nelayan, semakin mendekat ke perahu layar itu. Dan ketika telah merapat, dengan sigap mereka melompat ke atas perahu layar. Bahkan ikut mengeroyok kedua orang asing itu.

"Hm.... Akhirnya kita temui juga mereka," gumam Bayu sambil tersenyum kecil.

"Kenapa Kakang tak langsung turun dan menghajar mereka?" tanya Wulandari.

"Aku tak bisa berbuat begitu, Wulan. Beberapa orang pengeroyok terlihat bukan nelayan biasa. Mereka adalah tokoh persilatan. Sedangkan yang lain mungkin anak buah pemilik perahu layar yang hendak dicuri itu," sahut Bayu tenang.

"Huh! Kakang memang selalu banyak basa-basi! Apakah Kakang akan menunggu korban berjatuhan lebih dulu, baru akan turun tangan?" dengus Wulandari mengejek.

"Apakah kau tak mengerti, Wulan? Para tokoh persilatan itu punya harga diri. Kalau aku turun tangan, mereka tentu akan merasa diremehkan. Padahal, kedatangan mereka ke sini untuk bertarung menghadapi dua orang asing itu. Mungkin ada yang kesal karena kesombongan orang asing itu, atau dendam karena guru atau saudara seperguruan mereka terbunuh di tangan orang asing itu. Dan mereka merasa punya hak untuk membinasakannya," kata Bayu menjelaskan.

Wulandari tak menyahut lagi. Pandangannya dipalingkan ke arah pertarungan itu. Sepintas lalu, memang kelihatannya tak seimbang. Namun kalau diperhatikan seksama, justru kedua orang asing itu berada di atas angin. Bahkan mereka mampu menewaskan beberapa orang pengeroyok yang langsung tercebur ke laut. Namun demikian, terlihat tak seorang pun yang takut melihat kehebatan lawan. Mereka malah menyerang semakin ganas dan gencar.

Kedua orang asing tidak lain suami istri Daeng Mapparewang dan Nyai Mamparini yang memang bermaksud meninggalkan negeri ini, setelah mendapatkan harta benda berharga hasil merampok selama ini. Namun sayang, ketika berusaha mencuri sebuah perahu layar, beberapa orang nelayan yang bera-da di situ mengetahui. Dan mereka sudah langsung dikeroyok.

Kedua suami istri itu tidak menyerah begitu saja. Tanpa mengenal belas kasihan, mereka langsung menghajar para nelayan hingga tewas. Tapi, ternyata keributan kecil itu berkembang menjadi besar, setelah para nelayan yang lain yang berada di sekitarnya berteriak-teriak memberitahukan kawan-kawannya.

Sehingga, beberapa tokoh persilatan yang lewat, dan memang sengaja mencari kedua orang asing itu, langsung turun tangan. Namun mereka pun agaknya tak banyak membantu. Karena satu persatu mereka sudah tewas di tangan Daeng Mapparewang dan Nyai Mamparini.

"Mampuslah kalian semua kecoa-kecoa tak berguna. Hiiih!"

Wer!
"Aaa...!"

Dengan geram bercampur amarah, Daeng Mapparewang tak tanggung-tanggung lagi menggunakan pukulan Gunung Es dari Tibet yang mampu membuat siapa saja menjadi beku karena seluruh aliran darahnya-berhenti. Agaknya, ini memang disengaja kedua orang asing itu. Mereka ingin menghabiskan lawan-lawannya secepat mungkin, agar bisa kabur dari tempat ini secepatnya. Memang, saat itu angin bertiup sangat kencang.

Dan layar perahu pun telah terbentang. Sehingga, perahu layar yang telah berjarak kurang lebih dua puluh tombak dari pantai, bergerak perlahan-lahan terus menjauhi pantai. Namun meskipun demikian, agaknya para nelayan tak mau membiarkan orang asing itu melarikan diri. Mereka mengejar menggunakan perahu-perahu kecil dengan membawa tambang-tambang besar. Sehingga perahu layar yang ditumpangi Daeng Mapparewang dan istrinya tersendat-sendat lajunya.

"Serang terus...! Jangan biarkan mereka melarikan diri!"

"Jangan takut...!" sahut yang lain memberi semangat. Namun meskipun mereka terus bersemangat, tindakan itu percuma saja. Karena satu persatu, mereka hanya mengantar nyawa sia-sia.

"Yeaaah...!"
Bret!
"Aaa...!"

Di tangan Daeng Mapparewang, golok bergeriginya melesat ke sana kemari mencari mangsa. Dua orang yang berada di dekatnya terjungkal ke laut bermandikan darah. Beberapa orang yang mendekat hendak menyerang Nyai Mamparini, kembali terpekik kesakitan disambar senjata rahasia.

Ketika jumlah para pengeroyoknya itu tinggal lima orang lagi, para nelayan pun jadi ragu-ragu untuk melompat ke perahu layar itu. Mereka telah melihat sendiri kehebatan ilmu silat kedua orang asing itu. Dan rasanya, tak ada harapan untuk menang. Sehingga, kelima orang itu pun ikut-ikutan menjadi ragu.

"Ayo, majulah! Apakah nyali kalian sudah ciut? Kalau begitu goroklah leher kalian sendiri, sebelum aku yang melakukannya!" dengus Daeng Mapparewang sambil menyeringai.

Baru saja selesai kata-katanya, mendadak melesat satu bayangan kuning yang bergerak cepat dari arah pantai. Daeng Mapparewang dan Nyai Mamparini yang melihat bayangan itu bergerak demikian cepatnya, jadi tersentak kaget.

"Celaka! Pendekar Pulau Neraka!" desis Daeng Mapparewang dan Nyai Mamparini nyaris bersamaan.


***


Dengan bantuan sepotong kayu yang agak lebar dan panjang, Pendekar Pulau Neraka meluncur cepat di atas laut menuju ke perahu layar dengan berdiri tegak di atas potongan kayu. Hal ini tentu saja sudah membuktikan kalau ilmu meringankan tubuh pemuda itu telah sampai tingkat sempurna. Tapi kedua orang asing itu tampaknya tak gentar. Bahkan Nyai Mamparini telah menyambutnya dengan sambaran senjata rahasia.

Ser!
"Hup!"

Pendekar Pulau Neraka melenting ke atas setelah menotol potongan kayu itu sebagai pijakan. Kemudian tubuhnya terus bersalto beberapa kali. Tapi serangan Nyai Mamparini tak berhenti sampai disitu saja. Senjata rahasianya kembali menyambar, sebelum tubuh lawan berpijak di atas sebuah perahu kecil yang merupakan penghubung ke perahu layar.

Beberapa buah senjata rahasia berhasil dihindari Pendekar Pulau Neraka. Tapi untuk yang lain sungguh sulit baginya untuk menghindar.

"Hiyaaa...!"
Tras!

Tak ada jalan lain bagi Pendekar Pulau Neraka untuk mempertahankan diri, selain menggunakan senjata Cakra Mautnya untuk mematahkan senjata-senjata rahasia lawan hingga terpotong-potong beberapa bagian.

"Hup!"

Dan begitu kedua kakinya berpijak di tepi sebuah perahu, tubuh Pendekar Pulau Neraka telah kembali melejit sambil melompat tinggi ke arah perahu layar yang ditumpangi kedua orang asing itu.

Daeng Mapparewang dan Nyai Mamparini agaknya tak mau tinggal diam. Sebelum lawan menyentuhkan kakinya di perahu layar itu, Nyai Mamparini telah menyambutnya dengan senjata rahasianya kembali. Sementara, Daeng Mapparewang melepaskan pukulan jarak jauhnya.

Pendekar Pulau Neraka telah memperhitungkan serangan itu. Sehingga ketika senjata rahasia yang dilemparkan Nyai Mamparini menyambar tubuhnya, langsung dipapaknya dengan gerakan tangan kanan yang menggenggam Cakra Maut. Sedangkan tangan kirinya menghantamkan satu pukulan maut untuk memapak pukulan yang dilepaskan Daeng Mapparewang.

Tras!
Glarrr!
"Uh...!"

Daeng Mapparewang mencelat mundur beberapa langkah, ketika kedua pukulan itu beradu. Seketika terasakan tekanan yang kuat dari pukulan yang dilepaskan pemuda itu.

"Yeaaah...!"

Dengan satu bentakan nyaring, Pendekar Pulau Neraka telah melompat ke atas kapal. Langsung tangan kanannya dikibaskan ke arah Daeng Mapparewang.

Bet! Bet!

Namun laki-laki asing itu masih sempat menyelamatkan diri sambil membuang tubuh ke samping. Dan tubuhnya terus bergulingan menghindari tendangan beruntun yang dilepaskan lawan.

Nyai Mamparini merasa kalau tak ada gunanya membokong lawan dengan menggunakan senjata rahasia. Karena, hasilnya selalu sia-sia. Maka dengan sigap dicabutnya suling peraknya. Seketika tenaga batinnya dikerahkan sambil meniup sending, memainkan lagu mendayu-dayu. Dan suara suling itu memang mengacaukan pikiran siapa saja yang mendengarkannya.

Pendekar Pulau Neraka tersentak kaget. Beberapa saat serangannya dihentikan sambil mengerahkan tenaga batinnya untuk melawan pengaruh irama suling yang sempat menggoncangkan kesadarannya.

Yeaaah...!"

Daeng Mapparewang tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung lawannya disergap dengan permainan ilmu goloknya yang hebat.

"Uts!"

Namun dengan sigap Pendekar Pulau Neraka memiringkan tubuhnya. Kedua kakinya menghentak, sehingga tubuhnya melejit ke atas. Sehingga golok Daeng Mapparewang menyambar bagian bawah kakinya.

Namun pada saat itu juga, Pendekar Pulau Neraka menghentakkan tangan kanannya. Sehingga Cakra Mautnya melesat cepat ke arah batok kepala Daeng Mapparewang. Melihat hal ini orang asing itu menjatuhkan diri sambil mengayunkan goloknya untuk memapaki.

Tras!

Begitu hebat benturan itu. Senjata di tangan orang asing itu kontan putus dibabat Cakra Maut. Namun hal itu tak membuatnya terkejut. Telah disadari kalau ternyata pemuda itu demikian hebat. Kembali Daeng Mapparewang melancarkan serangan utama yang terletak pada tendangan kaki secara beruntun ke arah dada dan perut. Namun dengan sigap, Pendekar Pulau Neraka menjatuhkan diri ke lantai kapal, dengan kaki menyapu bagian bawah tubuh lawan.

"Yeaaah....!"

Daeng Mapparewang membentak nyaring. Tubuhnya langsung berkelebat ke atas, dan tahu-tahu telah berada di belakang pemuda itu. Dan Pendekar Pulau Neraka pun cepat mengibaskan tangan, menyambar tubuh Daeng Mapparewang.

Daeng Mapparewang memang sengaja memancing lawan agar perhatiannya teralih ke belakang. Karena serangan sebenarnya adalah bagian pinggang lawan dengan jurus Gunung Es dari Tibet.

Tapi Pendekar Pulau Neraka agaknya sulit terkecoh. Sehingga keadaan kini jadi berbalik. Bahkan Cakra Maut di tangan kanan Bayu telah melesat cepat, menyambar-nyambar tubuhnya. Sedangkan Irama suling yang dimainkan istrinya, kini tak terlalu banyak membantu. Maka dengan nekat segenap kekuatan di tubuhnya dikerahkan untuk menyerang menggunakan pukulan mautnya.

"Hiyaaa...!"

Gemuruh angin bertiup kencang, sehingga menyebabkan beberapa tiang kapal hancur berantakan. Bahkan udara terasa membeku, ketika selarik cahaya merah keputih-putihan melesat dari kedua belah tangan Daeng Mapparewang yang menggunakan jurus Gunung Es dari Tibet.

Nyai Mamparini terkejut bukan main. Seumur hidupnya, belum pernah Daeng Mapparewang mengerahkan pukulan Gunung Es dari Tibet yang sampai pada taraf seperti itu. Wajahnya tampak cemas, karena tahu betapa berbahayanya bila mengerahkan pukulan itu. Dan itu sama artinya bunuh diri bersama lawan.

Sekali saja lawan berhasil luput dari pukulan itu, maka bisa dipastikan jiwa Daeng Mapparewang dalam bahaya. Ini karena pukulannya akan berbalik menghantam dirinya sendiri. Berpikir hal itu, tanpa pikir panjang lagi Nyai Mamparini melompat membantu suaminya untuk menyerang Bayu.

"Hiyaaa...!"

Pendekar Pulau Neraka melihat kalau keadaannya sangat tidak menguntungkan. Bahkan bisa membahayakan jiwanya. Maka tak ada pilihan lagi, pemuda itu membentak nyaring sambil mengusap-usap kedua tangannya. Lalu, tubuhnya berkelebat sambil mengayunkan tangan kiri ke arah lawan. Sementara, dari tangan kanannya melesat Cakra Maut secepat kilat yang menimbulkan desir angin bagai topan untuk memapak serangan.

"Yeaaa...!"
Glarrr...!

Seketika terdengar ledakan menggelegar hebat dan dahsyat, ketika pukulan jarak jauh Pendekar Pulau Neraka beradu dengan pukulan Daeng Mapparewang yang memakai jurus Gunung Es dari Tibet.

Pukulan Pendekar Pulau Neraka bukan saja berhasil menekan, bahkan juga menderu menyambar tubuh Daeng Mapparewang tanpa mampu ditahan.

Glarrr...!

Kembali terdengar ledakan dahsyat. Asap hitam tampak mengepul kembali. Dan di antara kepulan asap, tubuh Daeng Mapparewang tampak terlempar keluar dari perahu layar dalam keadaan hitam gosong. Sebentar saja tubuh yang telah tak bernyawa itu tercebur ke laut.

Bersamaan dengan itu, ujung Cakra Maut yang menyambar tubuh Nyai Mamparini tak mampu dibendung lagi. Kendati wanita itu masih mencoba menangkis, namun suling peraknya kontan patah dihantam senjata Cakra Maut. Bahkan tubuh wanita itu ikut tersambar Cakra Maut Pendekar Pulau Neraka pada lehernya.

"Aaakh!"

Terdengar jeritan panjang dan menyayat, ketika leher wanita itu tersambar Cakra Maut Pendekar Pulau Neraka. Bersamaan dengan terlemparnya Nyai Mamparini ke laut darah segar terus berceceran mengikuti tubuhnya.

Di atas perahu layar itu kini sunyi sesaat. Pendekar Pulau Neraka telah berdiri tegak sambil memandang ke arah laut tempat dua orang asing itu terkubur selama-lamanya.

"Hidup Pendekar Pulau Neraka...!" teriak seseorang seperti memberi aba-aba.

Teriakan itu diikuti yang lain sehingga makin gegap gempita, mengelu-elukan Pendekar Pulau Neraka. Bayu melambaikan tangan beberapa kali menyambut teriakan mereka, kemudian perlahan-lahan menuju pantai dengan menggunakan perahu kecil.


SELESAI

Episode Selanjutnya SENGKETA SEPASANG PENDEKAR