Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 10

Kedatangan Tang Gun di kota Yu-sian dilakukan secara diam-diam. Bagaimana pun juga dia tidak berani secara terang-terangan memperlihatkan diri kepada umum pada saat dia mengunjungi kekasihnya, yaitu Hwee Lan dan A Sui yang kini sudah membuka sebuah toko kain di kota itu. Dia datang pada malam hari, melalui genteng rumah seperti seorang pencuri! Akan tetapi kedatangannya itu langsung disambut dengan mesra dan manis oleh Hwee Lan dan A Sui yang sudah merasa rindu sekali kepada pria ini.

Tetapi kemesraan itu diliputi mendung. Tang Gun yang juga merasa rindu kepada mereka, nampak diam dan murung. Tentu saja hal ini membikin dua orang wanita itu menjadi amat khawatir.

"Koko, apakah yang menyebabkan engkau terlihat murung dan tidak senang?" Hwee Lan merangkul dan duduk di atas pangkuan kekasihnya. Tang Gun menghela napas.

"Aku telah membunuh dayang A Cui..."

"A Cui....?!" A Sui terkejut sekali mendengar bahwa kekasih majikannya, juga kekasihnya sendiri itu, telah membunuh A Cui, seorang dayang istana yang menjadi sahabat baiknya.

"Membunuh A Cui? Mengapa...?" Hwee Lan juga berseru kaget dan dia segera turun dari atas pangkuan kekasihnya, akan tetapi masih merangkulnya dan mengamati wajah yang tampan itu dengan khawatir .

"Dia telah mengetahui rahasia kita, dan dia memerasku untuk melayaninya. Sebab itu aku lalu membunuhnya." Diceritakannya peristiwa dalam taman itu kepada dua orang wanita yang mendengarkan dengan wajah berubah pucat.

"Dan apa bila A Cui sampai mengetahui rahasia kita itu, sudah pasti bahwa salah seorang di antara kalian yang sudah membocorkannya dan menceritakannya kepada A Cui. Hayo, siapa yang telah bicara dengan A Cui? Mengaku saja!"

Hwee Lan memandang kekasihnya yang sudah bangkit berdiri itu dengan mata terbelalak, lantas dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sama sekali tak pernah bicara tentang hubungan kita kepada siapa pun juga. Aku cukup mengetahui betapa berbahayanya kalau hal itu kulakukan. Akan tetapi A Sui...! Engkau..., tentu engkau yang telah bicara dengan A Cui, bukan? Aku tahu bahwa engkau adalah sahabat karib A Cui!" Bekas selir kaisar yang cantik jelita itu kini memandang kepada pelayannya.

Wajah A Sui menjadi semakin pucat. Ia menundukkan mukanya, kemudian dia berlutut di atas lantai dan menangis. "Ampun... saya kira... hal itu tidak ada bahayanya karena dia... dia adalah seorang sahabat baik yang biasanya setia... dan..."

"Goblok! Engkau lancang mulut!" Tang Gun dengan marah segera menggerakkan kakinya menendang.

"Bukkk!" Tubuh selir yang mungil itu terlempar dan menabrak dinding lalu terbanting jatuh. Dia menangis dan pipinya yang tertabrak dinding membiru, juga mulutnya berdarah.

"Kau... kau akan membikin celaka kita semua!" Tang Gun membentak lagi dan perasaan marahnya masih berkobar.

"Ampun... ampunkan saya..."

Bekas dayang itu merintih ketakutan. Sebelum Tang Gun kembali turun tangan menghajar atau mungkin membunuh bekas dayang yang menjadi kekasihnya itu, mendadak nampak bayangan berkelebat dibarengi suara seorang laki-laki,

"Tang Gun, apakah engkau hendak membunuh pula wanita ini seperti engkau membunuh dayang A Cui?"

Tentu saja tiga orang itu amat terkejut, terutama sekali Tang Gun. Dia cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata di ruangan itu sudah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali. Seorang pria yang usianya sudah lima puluh lima tahun, pakaiannya sangat rapi, tubuhnya sedang dan setua itu masih nampak tampan menarik. Melihat bahwa pria itu hanya orang biasa saja, tidak membawa senjata, Tang Gun bersikap garang.

Sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka pria itu, dia membentak lantang, "Heh, siapakah engkau yang datang memasuki rumah kami tanpa diundang?" Walau pun suara dan sikapnya garang, akan tetapi hatinya berdebar tegang mendengar betapa pria ini telah tahu akan rahasianya yang ke dua, yaitu membunuh A Cui!

Pria setengah tua itu tersenyum mengejek dan kedua matanya mengeluarkan sinar tajam. "Aku adalah utusan kaisar yang datang untuk menangkap kalian bertiga lantas membawa kalian kembali ke istana!"

Wajah Tang Gun seketika pucat mendengar ucapan ini. Akan tetapi, melihat betapa orang itu hanya seorang diri saja dan tidak bersenjata, maka dia pun menjadi nekat. Dia harus membunuh orang ini apa bila ingin selamat. Secepat kilat dia sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya ke arah dada orang itu.

"Singggg...!"

Pedang berdesing saking cepat gerakannya, tapi hanya meluncur lewat karena orang itu sudah dapat mengelak dengan amat mudahnya. Akan tetapi, dengan lompatan ke kanan Tang Gun sudah cepat membalikkan tubuh, kemudian pedangnya menyambar ganas, kini membacok ke arah leher dan gerakan pedang ini segera disusul dengan tendangan kaki kirinya ke arah bawah pusar lawan.

Serangan ini sangat hebat karena Tang Gun sudah memainkan jurus Li-kong Sia-ciok (Li Kong Memanah Batu), gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga yang dahsyat. Namun ternyata lawannya adalah seorang yang lihai sekali. Dia tak pernah mimpi bahwa lawannya ini adalah orang yang dicari-carinya semenjak dia kecil, yaitu ayah kandungnya sendiri yang berjuluk Ang-hong-cu!

Ang-hong-cu Tang Bun An menghadapi serangan dahsyat itu dengan sangat tenang. Dia melangkah mundur sehingga bacokan tidak mengenai lehernya, dan ketika tendangan itu menyambar lewat, tangannya cepat bergerak menyentuh bawah kaki kemudian sekali dia menggerakkan tenaga ke arah tumit itu, tubuh Tang Gun lantas terlempar dan terjengkang ke belakang!

"Brukkk!"

Tubuh Tang Gun terbanting, akan tetapi orang muda inl sudah cepat meloncat bangun lagi dan menyerang lebih ganas. Dia kini dapat mengerti bahwa lawannya sangat pandai, maka dia menjadi nekat. Dia harus dapat mengalahkan orang itu, atau dia akan celaka!

Pedangnya lantas menyambar-nyambar, berubah menjadi cahaya yang bergulung-gulung, yang menyambar-nyambar bagaikan maut kelaparan mencari nyawa. Namun tingkat ilmu kepandaian silat yang dikuasai Tang Gun jauh berada di bawah tingkat Ang-hong-cu yang di samping ilmunya tinggi, juga sudah memiliki pengalaman luas, maka semua sambaran pedangnya tidak pernah mengenai sasaran.

Kalau Si Kumbang Merah itu menghendaki, bahkan dalam beberapa jurus saja Tang Gun tentu sudah roboh dan dikalahkan. Akan tetapi, mengingat bahwa perwira muda ini adalah puteranya sendiri seperti yang sudah diakui oleh Tang Gun dan yang dipercayanya pula, agaknya Si Kumbang Merah hendak menguji sampai di mana ketangguhan pemuda yang mengaku sebagai anaknya itu.

Setelah puas mempermainkan Tang Gun dengan elakan-elakan yang membuat tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara cahaya pedang, tiba-tiba saja Si Kumbang Merah mengeluarkan seruan nyaring.

"Heiiiittttt...!"

Kedua tangannya bergerak, yang kiri menotok ke arah siku kanan lawan dan yang kanan mencengkeram pundak, dan di lain saat tubuh Tang Gun sudah menjadi lemas kemudian pedangnya dengan mudah berpindah tangan! Si Kumbang Merah cepat menyusul dengan totokan ke arah jalan darah thian-hu-hiat, maka tubuh perwira itu pun terkulai lemas tidak mampu bergerak lagi!

Dua orang wanita itu menjadi ketakutan sampai hampir terkencing-kencing. Akan tetapi Si Kumbang Merah tersenyum ramah dan berkata kepada mereka,

"Hayo kalian berdua ikut bersamaku. Kereta sudah menunggu di luar. Jangan sampai aku harus mempergunakan kekerasan terhadap kalian dua orang nona manis!"

Hwee Lan dan A Sui tak berani membantah pula biar pun mereka ketakutan dan maklum bahwa mala petaka menanti mereka. Ang-hong-cu menarik tubuh Tang Gun bangun, lalu memapahnya keluar sambil menggiring dua orang wanita itu yang berjalan dengan tubuh menggigil ketakutan. Ternyata di luar sudah tersedia sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda! Ang-hong-cu yang membayangi Tang Gun dan mengetahui tempat persembunyian perwira dengan dua orang kekasihnya itu telah mempersiapkan kereta untuk memboyong para tawanan itu kembali ke kota raja!

Setelah ketiga orang itu berada di dalam kereta, Tang Gun tertotok lemas dan dua orang wanita itu menangis lirih, Ang-hong-cu segera melarikan keretanya menuju ke kota raja. Penangkapan terhadap ketiga orang itu merupakan peristiwa yang aneh karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya!

Dua orang wanita itu pun merasa tak berdaya, hanya mampu menangis ketakutan karena mereka dapat membayangkan bahwa mereka pasti akan menerima hukuman. Orang yang mereka percaya kini telah duduk setengah rebah di dalam kereta, tak dapat bergerak lagi dan hanya mampu memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata putus asa dan ketakutan.

********************

"Cepat laksanakan penangkapan itu kalau benar engkau mampu melakukannya! Selama ini, seluruh pasukan pengawal tidak mampu menangkap dua orang perempuan itu. Sebab itu Tang Bun An, jika engkau melanggar janji kesanggupanmu dan mengecewakan kami, jika engkau gagal melakukan penangkapan, maka kami akan memberikan hukuman berat! Sebaliknya, kalau engkau berhasil memenuhi janji, yaitu dalam waktu sehari akan mampu menghadapkan dua orang wanita itu dan biang keladinya yang membuat mereka minggat dari istana, maka kami akan mengangkatmu menjadi kepala seluruh pasukan pengawal, baik yang di dalam mau pun yang di luar istana!" Demikianlah kata kaisar ketika Tang Bun An diperkenankan menghadapnya.

Tang Bun An menyatakan kesanggupannya untuk menangkap serta menyeret dua orang wanita, yaitu selir Hwee Lan dan dayang A Sui, kembali ke istana dalam waktu satu hari saja. Bahkan juga dia bersedia menangkap orang yang telah melarikan dua orang wanita itu dari dalam istana.

Mendengar ini, tentu saja semua pengawal menjadi terkejut dan heran sekali. Bagaimana mungkin orang setengah tua ini akan mampu menangkap buronan itu dalam waktu sehari saja, pada hal para pengawal yang pandai telah gagal sama sekali?

Tentu saja hal itu tidaklah terlalu mengherankan kalau saja mereka ketahui bahwa ketika Tang Bun An menghadap kaisar, tiga orang itu sudah menjadi tawanannya dan sekarang dia sembunyikan dalam sebuah kuil tua di dalam hutan sebelah utara kota raja!

Dengan sikap hormat dan gagah Tang Bun An segera menolak ketika kaisar menawarkan bantuan pasukan pengawal. Dia pun berangkat dan tepat pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah kembali ke istana membawa tiga orang tawanan itu yang telah dibelenggu kedua tangan mereka dan dirantai kaki mereka.

Semua orang tentu saja menjadi bengong dan terkejut sekali melihat bahwa komandan pengawal muda itu menjadi tawanan, apa lagi pada saat mereka mendengar bahwa yang melarikan Hwee Lan dan A Sui adalah Tang Gun, perwira pengawal yang amat dipercaya oleh kaisar. Gegerlah seluruh penghuni istana mendengar bahwa Tang Gun tidak hanya melarikan selir dan dayangnya itu, akan tetapi juga dia yang telah membunuh A Cui yang disangka mati membunuh diri di Pondok Sarang Madu.

Kaisar sendiri tentu saja menjadi marah bukan kepalang. Dengan muka merah dan mata melotot dia mendengarkan pengakuan ketiga orang tawanan itu, kemudian dengan suara lantang kaisar menjatuhkan hukumannya. Hwee Lan dan A Sui dijatuhi hukuman menjadi nikouw (pendeta wanita), harus mencukur gundul rambut mereka dan selanjutnya mereka diharuskan menjadi nikouw, hidup di kuil untuk menebus dosa selama hidup mereka. Ada pun Tang Gun, karena mengingat akan jasa-jasanya yang pernah dilakukannya terhadap kaisar, perwira pengawal ini dihukum buang sesudah menerima cambukan sebanyak lima puluh kali!

Tentu saja Tang Bun An menerima hadiah seperti yang dijanjikan kaisar. Dia kemudian diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pengawal! Suatu kedudukan yang tinggi!

Akan tetapi tentu saja kedudukan itu tidak diterimanya dengan begitu mulus dan mudah. Seorang di antara para menteri, yaitu menteri bagian keamanan, segera memperingatkan kaisar bahwa semestinya dalam menerima seseorang untuk menjadi komandan pasukan pengawal istana tidak dilakukan semudah itu,

"Ampun, Sribaginda, memang sudah ada bukti akan kesetiaan dan jasa dari Tang Bun An sehingga sudah sepantasnya bila dia menerima anugerah dari paduka. Akan tetapi, akan lebih bijaksana kiranya kalau dia diuji lebih dulu. Bagaimana pun juga, tingkat kepandaian seorang komandan seharusnya lebih tinggi dari pada tingkat semua perwira pasukan itu sehingga takkan menimbulkan perasaan iri di antara para prajurit mau pun perwira! Juga hal ini akan mempertebal ketaatan seluruh anak buah terhadap komandannya," demikian antara lain menteri itu mengemukakan pendapatnya.

Kaisar dapat menerima pendapat ini dan demikianlah, sebelum menerima pengangkatan dirinya sebagai seorang panglima, kepala seluruh pasukan pengawal istana, Tang Bun An diharuskan melewati ujian. Pengujinya adalah seseorang yang sangat disegani di seluruh pasukan pengawal, yaitu Coa-ciangkun (Panglima Coa) yang tadinya menjabat sebagai kepala pasukan pengawal tetapi kini harus menjadi orang ke dua setelah Tang Bun An!

Coa Ciangkun ini terkenal memiliki tenaga gajah dan juga ilmu silatnya tinggi, maka boleh dibilang dia adalah jagoan istana nomor satu yang selama ini sukar dicari tandingannya! Dia baru berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar menyeramkan.

Kaisar sendiri langsung tertarik ketika melihat sikap Tang Bun An yang sedikit pun tidak menyatakan ketakutan ketika dikabarkan bahwa dia akan diuji oleh Coa Ciangkun yang terkenal itu. Oleh karena itu kaisar berkenan hendak menyaksikan sendiri ujian atau adu kepandaian itu.

Mendengar bahwa kaisar sendiri hendak menyaksikan, legalah hati Tang Bun An. Kalau junjungan itu menyaksikan sendiri, sudah pasti perwira Coa itu tak akan berani melakukan kecurangan dan tentu adu kepandaian itu akan berlangsung dengan jujur dan adil. Hal ini melegakan hatinya yang tadinya merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau nantinya dia akan dicurangi oleh para pembesar istana yang tentu merasa iri hati kepadanya. Dan dia pun maklum betapa lihainya para jago istana sehingga kalau sampai dia dikeroyok, hal itu akan berbahaya juga baginya.

Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, sebuah lian-bu-thia (ruang berlatih silat) telah dipersiapkan dan kaisar sudah hadir bersama beberapa orang selir dan dayang yang suka akan ilmu silat. Juga para pembesar militer hadir untuk menilai hasil ujian itu.

Sesudah memberi hormat dengan berlutut di hadapan kaisar, Tang Bun An dan lawannya menuju ke tengah ruangan. Tang Bun An kemudian memandang kepada calon lawan itu dengan penuh perhatian.

Seorang raksasa berusia empat puluh tahun yang biar pun tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya keihatan gesit. Seorang lawan yang tangguh, pikirnya, akan tetapi sedikit pun dia tidak merasa gentar. Dia percaya kepada kemampuan dirinya.

Sekelebatan saja dia tahu bahwa dalam menghadapi lawan seperti itu, amat bodoh kalau dia harus mengadu tenaga. Jelas bahwa orang itu memiliki tenaga yang sangat kuat, baik tenaga otot mau pun tenaga dalam. Karena itu, satu-satunya cara untuk menghadapinya hanyalah mengandalkan kecepatan dan dia merasa yakin akan bisa mengatasi lawannya dalam hal kecepatan. Memang dia terkenal sebagai seorang ahli ginkang yang hebat, dan karena mengandalkan ginkang-nya inilah maka selama puluhan tahun ini tidak ada yang mampu menangkap Ang-hong-cu!

Pertandingan ujian itu akan segera dimulai. Untuk mentaati perintah kaisar yang khawatir kalau dua orang yang sangat berguna baginya itu mengalami cidera, maka pertandingan dilakukan dengan tangan kosong.

Begitu mereka bergebrak dan saling serang, tahulah Si Kumbang Merah bahwa lawannya memang amat tangguh dan mempunyai ilmu silat yang pada dasarnya adalah aliran silat Siauw-lim-pai namun gerakannya telah bercampur dengan silat dari utara dan barat. Akan tetapi, yang amat merepotkannya adalah kekuatan yang dahsyat dari lawan itu.

Meski pun dia sendiri memiliki sinkang yang kuat, namun setelah beberapa kali mencoba tenaga lawan dan mengadu tenaga, lengannya terasa agak nyeri karena dia kalah muda sehingga tulang-nya juga kalah kuat! Sebab itu mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An mempergunakan kecerdikannya.

Tubuhnya berkelebatan amat cepatnya dan benar seperti dugaannya. Biar pun si raksasa itu juga memiliki gerakan yang cepat, tetapi masih jauh kalah cepat jika dibandingkan dia. Coa Ciangkun mulai merasa pening karena lawannya lenyap, berubah menjadi bayangan yang terus berkelebatan di sekeliling dirinya! Lawannya itu seperti seekor kumbang yang beterbangan mengitarinya, membuat Coa Ciangkun kini terdesak dan repot sekali.

Setelah lewat lima puluh jurus dan membuat lawan benar-benar pening, dengan kecepatan kilat ketika tubuhnya berkelebat di belakang lawan, Tang Bun An mempergunakan ujung kakinya menendang cepat mengarah tekukan lutut kedua kaki Coa-ciangkun. Tidak keras tendangan itu, akan tetapi karena yang ditendang adalah bagian yang lemah, maka tanpa dapat dipertahankan lagi, kedua kaki perwira raksasa itu pun tertekuk dan dia berlutut!

Tang Bun An yang cerdik tidak ingin menambah musuh, maka cepat dia menjura kepada perwira itu sambil berkata, "Ciangkun, engkau sungguh hebat, maafkan aku."

Perwira Coa bangkit berdiri lantas balas menjura. Hatinya kagum sekali. Orang ini sangat lihai, pikirnya, akan tetapi pandai pula merendahkan diri. Meski pun dia tadi kalah, namun lawannya sengaja tidak membikin malu padanya. Dia tahu bahwa kalau lawan yang amat lihai itu menghendaki, dia dapat dikalahkan dalam cara yang lebih keras lagi.

Kaisar merasa puas dan para pembesar militer juga menyatakan kekaguman mereka. Semua orang tahu belaka bahwa pria setengah tua yang masih ganteng dan simpatik itu memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan boleh diharapkan menjadi komandan pengawal yang dapat dipercaya.

Mulai hari ini resmilah Tang Bun An menjadi Tang-ciangkun, dan kedudukannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada Tang Gun. Lalu bagaimana dengan nasib Tang Gun? Bagi dua orang kekasihnya sudah jelas. Hari itu juga mereka digunduli dan diserahkan kepada para nikouw pengurus kuil, dan dua orang wanita muda itu dipaksa menjadi nikouw, setiap hari kerjanya hanya berdoa dan mempelajari kitab-kitab agama untuk menebus dosa mereka!

Ada pun Tang Gun sendiri, dengan punggung yang masih penuh babak belur serta terasa perih, lehernya dikalungi papan berlubang dan dikawal oleh dua orang petugas penjara, dibawa keluar dari kota raja dalam perjalanannya ke tempat pembuangan, jauh ke utara di mana terdapat tempat pembuangan dan di sana para terhukum itu dijadikan pekerja rodi, memperbaiki dinding dari Tembok Besar yang rusak, melayani pasukan penjaga dan lain-lain pekerjaan kasar, sampai mereka itu mati atau habis masa hukumannya.

Sesudah Tang Gun dikawal dua orang petugas penjara keluar dari kota raja, pada malam harinya Tang Bun An merasa gelisah di dalam kamarnya. Ia terkenang kepada Tang Gun, teringat akan percakapan antara Tang Gun dan Hwee Lan di dalam kuil sebelum mereka dia serahkan kepada kaisar. Dua orang itu bertangisan dan dalam keluh kesahnya itulah dia mendengar Tang Gun berkata dengan suara penuh duka.

"Aih, aku telah melupakan pesan ibuku, dan seperti juga ibuku, aku menjadi korban nafsu. Ibuku pernah bercerita bahwa karena terbuai oleh nafsu, dahulu ibuku telah menyerahkan diri kepada seorang pria. Ibuku mengandung dan pria itu pergi begitu saja. Ibu melahirkan aku lantas hidup merana dan itu semua adalah korban nafsu yang hanya beberapa waktu saja! Aku lupa akan pengalaman ibu, dan aku pun sudah tergoda oleh nafsu sehingga kita melakukan hubungan dan sekarang akibatnya sungguh pahit, sama sekali tidak sepadan dengan kesenangan sejenak yang kita nikmati..."

"Akan tetapi, koko. Kita saling mencinta... ," bantah Hwee Lan.

"Hemm, benarkah hal itu? Apa bila kita saling mencinta, tentu kita tidak akan melakukan hubungan yang akibatnya hanyalah mencelakakan kita sendiri. Kita saling mencelakakan. Yang mendorong hubungan kita bukanlah cinta, tapi nafsu birahi! Peringatan ibu sungguh tepat. Kita harus senantiasa waspada terhadap nafsu kita sendiri karena nafsu kita yang akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan. Apa bila kita lengah, nafsu akan menerkam kita. Untuk kenikmatan yang hanya beberapa saat kita rasakan, mungkin akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan selama hidup!"

Pemuda itu menangis dan merintih-rintih memanggil ibunya! Itulah yang selalu mengiang di dalam telinga Si Kumbang Merah pada malam hari itu. Dia sendiri tidak tahu siapa ibu pemuda itu, namun dia percaya bahwa Tang Gun adalah puteranya. Sudah terlalu banyak wanita dia permainkan sehingga dia tidak ingat lagi, wanita yang mana yang menjadi ibu pemuda itu! Dan dia pun tidak mempunyai hasrat untuk mengetahuinya.

Namun betapa pun juga Tang Gun adalah anak kandungnya! Dia tidak memiliki rasa cinta terhadap pemuda itu, akan tetapi, mengingat bahwa Tang Gun tidak bersalah kepadanya, dan juga tidak mengecewakan menjadi puteranya, pandai menjatuhkan hati wanita, maka hatinya merasa tidak tega.

Demikianlah, pada keesokan harinya ketika Tang Gun dan dua orang pengawalnya tiba di jalan sunyi di lereng sebuah bukit, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam pula. Tanpa banyak cakap, si kedok hitam ini menyerang dua orang pengawal itu.

Mereka mencabut golok lalu melakukan perlawanan. Namun percuma saja, hanya dalam beberapa jurus keduanya sudah terjungkal tewas dan si kedok hitam lantas menendangi mayat mereka sampai terlempar ke dalam jurang yang sangat dalam. Sesudah itu, masih tanpa bicara, si kedok hitam membikin pecah "Pang' (alat papan berlubang mengalungi leher), mematahkan semua rantai, kemudian menyerahkan sebuah buntalan kain kuning kepada Tang Gun. Buntalan kain itu ternyata berisi uang emas!

Tang Gun terheran-heran namun si kedok hitam meloncat pergi. Pemuda itu hanya dapat berteriak, "Kedok hitam, aku Tang Gun tidak akan melupakan pertolonganmu ini selama hidupku!"

Si Kedok Hitam itu tentu saja bukan lain adalah Si Kumbang Merah Tang Bun An. Setelah menolong dan membebaskan putera kandungnya serta memberi emas yang cukup untuk bekal hidup pemuda itu, dia lalu kembali ke kota raja dan hatinya merasa lega dan puas.

Tang Gun adalah anak keturunannya yang patut dibanggakan! Hanya sayang ilmu silatnya tak begitu tinggi, tidak seperti Hay Hay atau Tang Hay itu. Begitu teringat akan Tang Hay, diam-diam Si Kumbang Merah bergidik.

Anak itu sungguh luar biasa. Amat lihai dan memiliki ilmu sihir yang mengerikan pula. Dan timbul kekhawatiran di dalam hatinya bahwa anak kandungnya yang satu itu sekali waktu akan dapat menemukannya! Apakah dia akan sanggup menandingi anaknya itu? Apakah dia akan mampu menyelamatkan dirinya?

"Aku tidak perlu takut!" Akhirnya dia mengeluh.

Bukankah tidak seorang pun di antara mereka, termasuk Tang Hay sendiri, mengetahui bahwa dia kini sudah menjadi seorang panglima di istana? Panglima, komandan seluruh pasukan pengawal yang amat kuat! Maka, apa artinya musuh-musuh dari golongan para pendekar itu? Dalam kedudukannya sekarang, mereka takkan mampu berbuat sesuatu!

Sejak itu mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An menikmati kehidupannya yang baru. Seorang panglima yang ditakuti dan disegani, yang memiliki kekuasaan di istana, luar dan dalam. Dialah yang mengatur semua penjagaan, dia pula yang bertanggung jawab akan keamanan dan keselamatan istana, akan keamanan dan keselamatan kaisar sekeluarga!

Dia berkedudukan tinggi serta terhormat, juga hidup dalam kemewahan. Sebentar saja di dalam gedungnya yang megah telah dimeriahkan dengan adanya belasan orang pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik. Bahkan karena pengalamannya dalam urusan wanita, Si Kumbang Merah memilih gadis-gadis yang cantik dengan segala macam sifat dan pembawaan, ada sesuatu yang khas dan menjadi daya tarik bagi setiap para pelayan itu. Dia memilih dengan amat teliti sehingga sebentar saja para pejabat tinggi di kota raja mendengar atau melihat sendiri bahwa panglima baru ini mempunyai gadis-gadis pelayan yang hebat, yang tidak kalah dibandingkan dengan para dayang di istana kaisar!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Apakah Si Kumbang Merah Tang Bun An sudah merasakan bahagia di dalam hidupnya? Apakah dia sekarang sudah merasa puas dengan keadaan hidupnya yang baru, di mana dia bergelimang dengan kehormatan, kekayaan dan kemuliaan?

Orang-orang menghormatinya, rumahnya besar dan dilayani pelayan-pelayan wanita yang muda-muda lagi cantik, dijaga pasukan pengawal dan hidup sebagai seorang pembesar yang otomatis menjadi bangsawan yang kaya raya. Apakah hidupnya bahagia? Memang senang, namun kesenangan bukanlah kebahagiaan.

Kesenangan hanyalah merupakan keadaan sepintas saja, selewat saja, bahkan ada pula kesenangan yang umurnya amat pendek. Setelah saat senang itu lewat, maka muncullah kebosanan dan kekecewaan. Kesenangan hanya sekedar pemuasan nafsu keinginan dan sesudah tercapai, maka kepuasan itu pun ternyata hanya sekelumit saja dan baru terasa bahwa apa yang dicapainya itu, kesenangan yang diidamkan itu, tidaklah sebesar ketika dikejarnya.

Kesenangan adalah muka yang lain dari kesusahan, ada suka tentu ada duka, ada puas tentu ada kecewa. Kesenangan hanyalah merupakan permainan perasaan yang dikuasai oleh nafsu. Sedangkan kebahagiaan bukanlah keadaan badan, melainkan keadaan jiwa! Keadaan jiwa yang bebas dari pada cengkraman nafsu. Jiwa yang tidak lagi terbungkus dan tertutup nafsu, jiwa yang sudah terbuka, sudah bersatu dengan Tuhan!

Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membersihkan jiwa dari kurungan nafsu! lkhtiar manusia melalui pikiran dan akal budi tidak mungkin menundukkan nafsu, karena pikiran dan akal budi pun sudah bergelimang nafsu. Tidak mungkin nafsu dapat menundukkan nafsu. Hanya kekuasaan Tuhan yang akan bisa membersihkan jiwa yang bergelimang nafsu, atau jiwa yang tertutup oleh kekuasaan gelap, kekuasaan nafsu yang memikat manusia dengan segala macam bentuk kesenangan badani atau kesenangan pikiran dan hati.

Panca indera, pikiran, hati dan akal budi hanyalah alat pelengkap hidupnya jiwa dalam badan. Namun sungguh sayang, karena badan diperalat nafsu dan daya rendah, maka jiwa bagaikan tertutup dan terbungkus. Bagaimana mungkin kita membersihkan jiwa kita, betapa mungkin kita menundukkan nafsu kalau kita sudah bergelimang dengan nafsu?

Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jiwa kita, dan satu-satunya ikhtiar yang dapat kita lakukan hanyalah menyerah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih! Penyerahan yang berarti keimanan yang mutlak, penyerahan total, dengan penuh ikhlas, kesabaran, dan ketawakalan.


Orang seperti Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah manusia yang tak mau mengenal Tuhan, tak mau mengakui bahwa ada Yang Maha Kuasa di alam semesta ini. Dia mengira bahwa dirinya adalah sang penentu bagi dirinya sendiri, baik atau buruk berada di telapak tangannya.

Orang seperti inilah yang akhirnya akan terpeleset, tersesat ke dalam lembah kejahatan, tanpa merasa bahwa dia tersesat. Kalau sudah tertimpa mala petaka sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, orang seperti ini baru mengeluh, lantas mencari-cari sasaran untuk dijadikan biang keladi mala petaka itu, dijadikan sebagai kambing hitam untuk melempar kesalahannya.

Orang yang tak mau mengakui kekuasaan Tuhan selalu menyombongkan diri sendiri bila berhasil, dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain kalau gagal. Sebaliknya, orang yang percaya kepada kekuasaan Tuhan, dalam keadaan berhasil dengan rendah hati dia berterima kasih atas berkah Tuhan, dalam keadaan gagal dia mohon pengampunan atas segala kesalahannya kepada Tuhan.

Si Kumbang Merah Tang Bun An lantas merayakan kemenangan serta keberhasilannya, seakan-akan mabok dalam keberhasilannya. Namun segala kesenangan yang diraihnya melalui nafsu yang dilampiaskan tanpa batas lagi ini, hanya sebentar saja terasa nikmat olehnya. Dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah mulai merasa bosan!

Belasan orang pembantu wanita, gadis-gadis cantik jelita dan manis itu sudah kehilangan daya tarik baginya, seperti sekumpulan bunga yang sudah tidak menarik lagi bagi seekor kumbang yang telah menghisap madu bunga-bunga itu sampai sepuasnya. Dan mulailah matanya menjadi jalang mencari-cari bunga lain!

Si kumbang Merah yang tadinya merasa bosan dengan cara hidupnya yang liar, lantas merindukan kekuasaan dan kedudukan yang dianggapnya akan mendatangkan kemuliaan dan kemewahan, kini sesudah memperoleh semua itu, bahkan rindu akan cara hidupnya yang lalu! Dan sekali ini, dia tidak perlu lagi mencari-cari ke kota-kota atau dusun-dusun seperti dahulu lagi. Kini wanita-wanita cantik seolah-olah berserakan di depan hidungnya!

Bagaimana tidak? Dia adalah panglima yang mengepalai pasukan pengawal istana, baik di dalam mau pun di luar istana. Karena itu, para thai-kam pengawal yang selalu berjaga di sebelah dalam istana, di bagian para puteri, juga menjadi anak buahnya. Dan di dalam istana bagian para puteri itu terdapat banyak wanita pilihan, wanita-wanita tercantik dari seluruh negeri! Maka mulailah si kumbang merah beraksi.

Biar pun usianya sudah lima puluh lima tahun, namun Tang Bun An menjadi seperti muda kembali, menjadi seekor kumbang merah yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang mekar dengan indahnya di taman istana, hinggap dari satu ke lain kembang untuk menghisap madu manis sepuas hatinya!

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tentu saja dengan mudah Si Kumbang Merah dapat menyelinap ke dalam kamar seorang selir atau dayang tanpa di ketahui orang lain. Baginya, tidak peduli wanita itu selir kaisar, atau bahkan puteri kaisar, atau dayang, asal muda dan cantik, tentu akan dirayunya.

Dia memang pandai merayu wanita, dengan rayuan maut yang membuat setiap wanita menjadi lemas dan bertekuk lutut, menyerahkan diri tanpa melawan lagi, bahkan dengan suka rela, dengan kehausan seorang wanita yang menjadi isteri atau selir kaisar dengan puluhan orang saingan! Maka dalam waktu beberapa bulan saja hampir seluruh selir dan dayang telah membiarkan diri dihisap oleh Si kumbang Merah. Bahkan banyak pula gadis puteri kaisar yang menyerah!

Namun Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah seorang pria yang berpengalaman dan cerdik sekali. Dia tidak lagi berani melakukan paksaan atau pemerkosaan terhadap wanita di dalam istana seperti yang dahulu sering kali dia lakukan ketika dia masih liar sebagai Ang-hong-cu yang ditakuti orang. Tidak, dia tidak ingin mengorbankan kedudukannya.

Dia berlaku hati-hati dan hanya merangkul wanita yang menanggapi rayuannya sehingga selalu terjadi hubungan yang suka sama suka. Dia kini dapat menjaga pula agar jangan sampai ada puteri kaisar yang masih gadis menjadi hamil akibat perjinahan mereka. Dan dia pun tidak mau jatuh cinta seperti Tang Gun yang dianggapnya bodoh. Hubungannya dengan para wanita itu hanyalah hubungan nafsu semata, saling meminta dan memberi, setelah itu habis sudah, tidak ada ikatan dalam hati.

Tidak lama kemudian, semua selir dan dayang yang menjadi kekasihnya sudah rnenjadi sekutunya. Mereka itu beramai-ramai selalu melindungi dan menyembunyikan rahasia Si Kumbang Merah. Bagi mereka, Tang-ciangkun yang satu ini sungguh merupakan seorang pria yang amat menyenangkan!

Dan mereka semua tahu bahwa sekali rahasia itu terbuka, bukan hanya panglima jantan itu yang akan celaka, akan tetapi mereka semua pun akan menjadi korban. Mereka masih teringat akan nasib selir Hwee Lan dan dayang A Sui, dan mereka tidak ingin menjadi nikouw!

Karena hampir semua selir dan dayang terlibat, maka Si Kumbang Merah merasa aman. Bunga-bunga harum itu bukan hanya suka menyerahkan madu manis kepadanya, bahkan melindunginya pula.

Betapa pun juga, masih ada juga satu hal yang kadang-kadang mengkhawatirkan hati Si Kumbang Merah, yaitu permaisuri! Wanita berusia empat puluh tahun lebih yang masih tampak cantik dan amat berwibawa ini merupakan ganjalan dan juga merupakan ancaman bahaya bagi dia dan semua kekasihnya di dalam harem kaisar itu.

Permaisuri ini amat anggun dan juga angkuh. Sebagai seorang pria yang berpengalaman dia maklum bahwa tidak mungkin merayu dan menundukkan hati seorang wanita seperti permaisuri itu. Kalau saja tarikan mulutnya tidak sekeras itu, atau pandang matanya tidak setajam dan sedingin itu, mau rasanya dia mencoba merayu sang permaisuri. Walau pun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun dia juga merupakan seorang wanita yang amat menarik, setangkai bunga yang sama sekali belum layu.

Namun Ang-hong-cu Tang Bun An tidak berani mencoba hal ini karena sekali gagal, dia akan celaka. Walau pun dia mampu melarikan diri andai kata terjadi sesuatu, yang jelas dia akan kehilangan kedudukannya dan akan menjadi seorang buruan pemerintah. Berat!

Kekhawatiran Ang-hong-cu ini memang tidak meleset. Diam-diam, permaisuri yang juga memiliki kecerdikan itu sudah bisa 'pencium' bau rahasia ketidak beresan yang terjadi di dalam istana bagian puteri itu. Walau pun para selir dan dayang, juga para thai-kam (pria kebiri) pengawal yang bertugas di sana semua membantu Ang-hong-cu, akan tetapi ada beberapa orang thai-kam yang menjadi orang-orang kepercayaan sang permaisuri! Mereka inilah yang membocorkan rahasia itu kepada permaisuri!

Pada saat permaisuri mendengar bahwa banyak selir dan dayang yang telah 'mengotori' istana dengan perbuatan jinah mereka besama Panglima Tang, maka secara diam-diam permaisuri marah bukan main.

"Hemm, pelacur-pelacur itu...!" dia mengepal tangannya. "Awas, akan kubongkar semua ini!"

Tanpa adanya bukti yang nyata, sang permaisuri tidak berani melapor begitu saja kepada suaminya, yaitu kaisar. Kaisar harus dapat menangkap basah mereka itu, dan tentu saja hal itu dapat diatur dengan bantuan para thai-kam pengawal yang menjadi pembantunya yang setia!

Demikianlah, diam-diam permaisuri yang cerdik ini sudah mengatur siasat bersama para pembantunya yang setia. Dan laksana seekor laba-laba betina, dia telah menenun sarang yang penuh jebakan dan perangkap. Hal ini dilakukan dengan penuh rahasia sehingga sama sekali tak mencurigakan Si Kumbang Merah dan para wanita yang menjadi kekasih Ang-hong-cu itu.

Pada suatu malam, seperti biasa Si Kumbang Merah berada di kamar salah seorang selir kaisar. Selir itu masih muda, usianya tak lebih dari tiga puluh tahun, cantik jelita dan amat menarik, juga merupakan seorang di antara para selir yang tersayang oleh kaisar. Seperti biasa pula, dayang selir itu yang juga telah menjadi kekasih Si Kumbang Merah, melayani mereka berdua yang berpesta pora di dalam kamar.

Ang-hong-cu Tang Bun An demikian mabok kesenangan sehingga sesudah lewat tengah malam, dia pun sudah tertidur nyenyak dalam kamar itu, dalam pelukan dua kekasihnya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sejak memasuki bagian puteri itu gerak-geriknya sudah diamati oleh para thai-kam pengawal yang menjadi mata-mata permaisuri.

Untunglah bahwa selama ini Ang-hong-cu selalu bersikap baik dan royal sekali terhadap para pengawal. Para thai-kam pengawal yang tidak menjadi mata-mata permaisuri, masih setia kepada Ang-hong-cu. Panglima Tang ini adalah seorang atasan yang royal dengan hadiah, bahkan sering pula mengajarkan satu dua jurus ilmu silat tinggi kepada mereka. Maka, sebelum jerat yang dipasang sang permaisuri mengena, pintu kamar selir itu telah digedor dari luar oleh beberapa orang pengawal yang setia kepada Ang-hong-cu.

"Ciangkun..., Ciangkun... cepat buka pintu !" kata mereka.

Tentu saja Si Kumbang Merah terkejut sekali, apa lagi sesudah dia membuka pintu dan mendengar laporan seorang anak buahnya yang setia. "Ciangkun, sungguh celaka sekali. Entah apa yang terjadi, tahu-tahu Sribaginda datang berkunjung dan anehnya, kini semua jalan keluar telah dijaga oleh pengawal-pengawal kepercayaan Sang Permaisuri! Agaknya rahasia ciangkun sudah ada yang membocorkan. Cepat, mereka akan menuju ke sini!"

Setetah berkata demikian, para pengawal itu cepat mengundurkan diri karena tentu saja mereka tidak ingin terlibat. Mendengar laporan itu, selir dan dayangnya sudah menangis dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan. Akan tetapi Si Kumbang Merah tenang saja. Dia menutupkan pintu kamar itu, lalu merangkul selir itu sambil berbisik,

"Kau pura-pura sakit, lekas berselimut!" Dan kepada dayang itu, dia pun berkata, "Engkau rawat majikanmu, memijat-mijat kakinya dan laporkan bahwa sejak sore tadi majikanmu merasa pening dan badannya lesu. Kalian berdua bersikap tenang saja, dan pura-pura kaget kalau ada yang menggedor pintu. Mengerti?"

Setelah berkata demikian, Si Kumbang Merah mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya kemudian mulailah dia berhias muka. Sebentar saja mukanya telah berubah menjadi wajah seorang wanita setengah tua! Dayang itu membantunya dengan pakaian yang lusuh dan tua sehingga kini dia pun telah menjadi seorang wanita tua yang berwajah lembut! Dan sekali berkelebat, dia sudah keluar dari jendela kamar itu. Daun jendela lalu ditutup kembali oleh sang dayang.

Dan benar saja, tak lama kemudian pintu kamar itu digedor dari luar, keras sekali. "Cepat buka pintu! Perintah Sribaginda!" terdengar teriakan itu.

Karena perasaan takut, selir itu menggigil ketakutan, mukanya pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. la bersembunyi ke dalam selimut dan dayangnya segera membuka daun pintu itu, dengan perasaan takut yang ditahan-tahan pula. Setelah daun pintu dibuka dan melihat Sribaginda Kaisar di ambang pintu, dayang itu lalu menjatuhkan diri berlutut.

Kaisar tidak memperhatikan dayang itu, melainkan memandang ke seluruh kamar dengan sinar mata penuh selidik, lalu bertanya, "Apa yang dilakukan majikanmu?"

"Ampun..., Paduka. Nyonya... nyonya sedang sakit, sejak sore tadi terus tiduran..., hamba merawatnya..."

Mendengar ini, kaisar segera melangkah mendekati pembaringan, kemudian menyingkap kelambu. Kaisar melihat selir terkasih itu rebah terlentang, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.

"Engkau sakit... ?" Kaisar meraba dahi serta lehernya dan memperoleh kenyataan betapa tubuh itu panas dingin dan basah oleh keringat. "Ah, engkau benar sedang sakit. Tidurlah, besok biar diberi obat oleh tabib istana."

Kaisar menutup kembali kelambu, lantas keluar dari kamar itu dengan wajah bersungut-sungut. Tadi permaisuri menyindir bahwa mungkin peristiwa Hwee Lan sekarang terulang kembali, dan kaisar dipersilakan untuk berkunjung ke kamar selir itu lewat tengah malam.

"Kalau tidak ada pria di sana, tentu pria itu sudah melarikan diri dan harus dicari sampai dapat, Jangan sampai nama baik paduka menjadi ternoda aib akibat peristiwa tidak tahu malu seperti itu." Demikian sang permaisuri berkata.

Lewat tengah malam, kaisar lalu melakukan pemeriksaan dengan hati dipenuhi perasaan cemburu, membawa pasukan pengawal yang dipilih oleh permaisuri. Akan tetapi ternyata kamar itu kosong, malah selir terkasih yang dituduh menyimpan kekasih itu sedang rebah dalam keadaan sakit!

"Geledah seluruh kamar di sini, cari dan tangkap apa bila sampai terdapat seorang asing!" Demikian perintah kaisar yang merasa penasaran, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

Dia sendiri hendak mencari permaisuri di dalam kamarnya, untuk menegur permaisurinya itu kalau memang ternyata tidak ditemukan sesuatu. Untuk ini dia telah membuang waktu dan tidak tidur, namun semua untuk percuma saja!

Akan tetapi, di kamar permaisuri terjadi hal yang amat aneh. Ketika itu permaisuri sedang rebah sambil tersenyum-senyum penuh kemenangan dan membayangkan betapa selir itu tentu ditangkap dan dijatuhi hukuman, dan dayangnya terkasih sedang memijati kakinya sambil mengantuk. Tiba-tiba saja tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di kamar itu telah berdiri seorang wanita setengah tua.

Dayang itu hendak berteriak, akan tetapi wanita itu telah meraba tengkuknya dan dia pun menjadi lemas tak mampu berteriak atau bergerak lagi. Wanita itu lalu merenggut gelang yang dipakai oleh dayang itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya. Kemudian dia menghampiri permaisuri yang juga sudah bangkit duduk dan memandang dengan kedua mata terbelalak.

Melihat permaisuri itu hendak menjerit pula, nenek yang bukan lain adalah Si Kumbang Merah cepat berbisik, "Harap jangan berteriak kalau Paduka sayang akan nyawa Paduka! Dengar baik-baik, hamba adalah seorang laki-Iaki... sstt, Paduka tidak perlu takut. Hamba tidak akan mengganggu Paduka, dan malam ini Paduka harus rnelindungi hamba. Hamba akan berada di sini dan Paduka katakan kepada sribaginda bahwa hamba adalah seorang ahli pijat yang sengaja Paduka panggil ke sini. Ingat, apa bila Paduka membuka rahasia sehingga hamba ketahuan kalau hamba laki-Iaki, maka hamba akan membuat pengakuan bahwa hamba adalah kekasih paduka."

Sepasang mata itu terbelalak, apa lagi pada saat itu tangan Si Kumbang Merah bergerak cepat dan tahu-tahu kalung yang berada di lehernya telah dirampas oleh nenek itu.

"Kalung ini, seperti juga gelang milik dayang ini, akan menjadi bukti bahwa hamba sudah menjadi kekasih Paduka yang Paduka selundupkan ke dalam kamar ini."

"Kau... kau sungguh tak tahu malu, hendak melempar fitnah kepadaku! Siapakah engkau sebenarnya?"

"Paduka tidak perlu tahu. Hamba hanya minta supaya malam ini dilindungi dan besok diperbolehkan keluar dengan aman atau... nama baik Paduka akan ternoda. Semua orang akan percaya pada hamba, dan semua selir akan suka bersumpah bahwa hamba adalah kekasih paduka!"

"Ihh...! Kau... kau... jahanam yang menodai istana, berjinah dengan para selir dan dayang itu! Engkau Tang-ciangkun!" Wanita bangsawan itu tiba-tiba menjadi pucat. "Jangan kau berani menggangguku! Aku akan menjerit, aku akan bunuh diri, aku..."

"Jangan khawatir. Hamba tidak akan mengganggu Paduka. Selama ini hamba juga tidak pernah mengganggu para selir dan dayang. Bahkan hamba telah menolong mereka yang kehausan..."

"Tutup mulutmu yang kotor!"

"Sekali lagi, kalau Paduka membuka rahasia hamba, maka hamba pasti akan bersumpah menjadi kekasih Paduka. Mungkin hamba akan dihukum mati, akan tetapi nama Paduka akan menjadi cemar sampai tujuh turunan!"

Pada saat itu pula terdengar suara di luar dan Si Kumbang Merah cepat membebaskan totokan pada dayang itu, lantas berbisik, "Engkau sudah mendengar semuanya. Hayo kau tidur di sudut sana, dan kau akui bahwa aku adalah seorang ahli pijat yang dipanggil oleh majikanmu!"

Dayang itu hanya mampu mengangguk-angguk, lantas dia cepat merebahkan diri di sudut kamar itu dan pura-pura tidur. Ia takut bukan main, akan tetapi dia pun tahu bahwa seperti juga majikannya, kini dia sudah berada dalam cengkeraman pria yang menyamar sebagai wanita itu, pria yang dia tahu adalah Tang Ciangkun! Gelangnya telah dirampas dan kalau pria itu tertangkap lalu membuat pengakuan bahwa dia telah menerima gelang itu sebagai hadiah dari kekasih, tentu dia akan celaka, akan digunduli dan dipaksa menjadi nikouw!

Ketika kaisar memasuki kamar permaisurinya dengan wajah muram dan bersungut-sungut karena hatinya tidak senang, dia merasa heran saat melihat seorang wanita setengah tua memijati pinggul permaisurinya.

Dapat dibayangkan betapa marah rasa hati permaisuri itu pada waktu 'nenek' itu memijati pinggulnya dengan tekanan-tekanan dua tangannya, hangat dan mesra. Namun terpaksa dia menekan kemarahannya karena harus diakuinya bahwa tekanan-tekanan itu memang pijitan seorang ahli sehingga otot-otot pinggul dan punggungnya kini terasa nyaman!

Wanita setengah tua itu cepat-cepat berlutut saat kaisar memasuki kamar dan mendekati pembaringan.

"Hemm, siapakah wanita ini?" Kaisar bertanya kepada permaisurinya yang sudah bangkit dan memberi hormat pula kepadanya.

Si Kumbang Merah yang masih berlutut itu sudah bersiap-siap untuk meloncat kemudian melarikan diri kalau permaisuri itu membuka rahasianya. Akan tetapi hatinya merasa lega ketika permaisuri itu menjawab dengan suara sambil lalu.

"Ahh, dia adalah seorang ahli pijat dari luar istana yang kabarnya sangat pandai. Karena hamba sedang merasa lelah dan tak enak badan, maka hamba memanggilnya ke sini dan memang dia pandai sekali." Permaisuri lalu menggandeng tangan kaisar dan dibawanya duduk di atas kursi kesukaan Sribaginda, di dekat meja. Dengan lembut dia lalu bertanya, "Bagaimanakah dengan penyelidikan Paduka?"

"Hemm, tidak kutemukan siapa-siapa di kamarnya. Malah dia rebah dalam keadaan sakit! Agaknya engkau hanya menduga yang bukan-bukan saja!"

Permaisuri itu segera memberi hormat dan berkata dengan suara lembut, "Kalau begitu, ampunkan hamba. Sesungguhnya hamba selalu merasa khawatir kalau peristiwa seperti yang dilakukan oleh Hwee Lan sampai terulang kembali. Hamba khawatir jika nama besar Paduka sampai ternoda."

"Hemm, jangan bicara dulu jika belum ada bukti yang nyata. Engkau hanya mengganggu pikiranku saja dan kini aku menjadi lelah karena kurang tidur. Ahhh, benarkah dia pandai memijit? Biar kau suruh dia memijati tubuhku yang terasa lelah sekali," kata Kaisar sambil menuding ke arah wanita setengah tua yang masih berlutut di atas lantai.

Tentu saja permaisuri merasa khawatir sekali, akan tetapi dia pun tak berani membantah karena khawatir kalau rahasia nenek itu ketahuan. Maka terpaksa dia lalu membereskan pembaringan dan setelah membantu kaisar rebah di atas pembaringan, dia lalu menyuruh nenek itu memijati tubuh kaisar .

Akan tetapi Si Kumbang Merah sama sekali tak merasa khawatir. Dia adalah seorang ahli silat tinggi, pandai ilmu menotok jalan darah dan sudah hafal tentang kedudukan otot-otot dan urat-urat, tahu betul cara pengobatan dengan urut dan pijit. Maka tanpa ragu-ragu dia pun lalu memijati tubuh kaisar, dimulai dari kedua kaki, terus naik ke pinggul, punggung, kedua lengan dan leher.

Lega rasa hati permaisuri setelah mendengar Sribaginda mengeluarkan kata-kata memuji dan merasa keenakan, bahkan tidak lama kemudian Sang Kaisar sudah tertidur nyenyak sekali!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, permaisuri menyuruh Si Kumbang Merah untuk menghentikan pijitannya. "Engkau boleh pergi sekarang, biar diantar keluar oleh pengawal kepercayaanku," katanya.

Si Kumbang Merah tersenyum sambil memberi isyarat berkedip kepada permaisuri dan dayangnya, lalu memberi hormat dan mengikuti dua orang thai-kam pengawal yang sudah diberi perintah oleh permaisuri itu. Dengan aman, karena dikawal oleh dua orang thai-kam pengawal kepercayaan permaisuri, dia telah keluar dari daerah terlarang itu.

Semenjak terjadinya peristiwa itu, Si Kumbang Merah semakin leluasa mengaduk-aduk daerah terlarang itu, bagaikan seekor kumbang yang dengan bebasnya beterbangan di antara bunga-bunga pilihan di taman istana, menghisap madu dari satu ke lain kembang sesuka hatinya! Permaisuri sama sekali tak berdaya, bahkan permaisuri itu sudah merasa berterima kasih bahwa Si Kumbang Merah tidak memaksa dia untuk rnenjadi kekasihnya pula! Akan tetapi dayangnya tidak terlepas dari sengatan kumbang rnerah yang nakal itu.

Bahkan para thai-kam pengawal yang tadinya setia kepada permaisuri, kini semua telah tunduk di bawah kekuasaan Si Kumbang Merah dan tentu saja hal ini pun terjadi melalui sang permaisuri yang merasa tidak berdaya di bawah ancaman Si Kumbang Merah yang telah rnenguasainya dengan menyimpan kalung dan beberapa barang perhiasan lainnya.

Benda-benda ini merupakan senjata ampuh, membuat sang permaisuri bertekuk lutut tak berdaya karena sekali saja Si Kumbang Merah memperlihatkannya kepada orang lain dan mengatakan bahwa dia menerimanya dari sang permaisuri sebagai hadiah, maka istana, bahkan seluruh negeri akan geger! Tentu nama permaisuri itu akan langsung terseret ke dalam lumpur sebagai seorang permaisuri yang menyimpan seorang kekasih gelap!"

********************

Kita tinggalkan dahulu Si Kumbang Merah Tang Bun An yang sedang mabok kesenangan dan menjadi seperti ayam jantan tunggal di antara ayam ayam betina di harem kaisar! Dia telah kembali pada kehidupannya yang dulu lagi, walau pun terdapat banyak perbedaan.

Dulu dia suka merusak wanita, memperkosa, membunuh, lalu meninggalkannya sesudah wanita itu mengandung, sambil di dalam hati mentertawakan wanita yang pada dasarnya menimbulkan rasa dendam kebencian padanya. Kini, agaknya dia hanya menuruti nafsu, mencari senang tanpa rasa benci kepada wanita-wanita itu.

Kita tinggalkan dulu tokoh itu dan mengikuti perjalanan seorang di antara puteranya, yaitu Tang Cun Sek. Setelah melarikan diri dari Cin-ling-san, pemuda yang usianya sudah tiga puluh tahun itu lalu mengembara. Dia seorang pemuda tinggi besar dan gagah. Wajahnya yang berkulit putih itu nampak tampan. Kedua matanya tajam mencorong, sikapnya halus dan dia adalah seorang yang sangat pendiam.

Seperti sudah kita ketahui, Tang Cun Sek juga mengalami nasib yang sama dengan para keturunan Si Kumbang Merah. Dahulu ibunya menyerahkan diri karena rayuan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) itu, dan setelah ibunya mengandung, maka Si Kumbang Merah meninggalkan ibunya dan tidak pernah muncul lagi.

Ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan Thio dan menjadi selirnya. Sebagai anak tiri hartawan Thio, kehidupan Cun Sek cukup baik, menerima pendidikan dan tidak sampai terlantar. Akan tetapi, dasar dia memiliki watak yang kotor, ketika dia berusia enam belas tahun dia bergaul dengan para pemuda yang tidak karuan dan dia berani berjinah dengan dua orang selir ayah tirinya sendiri. Dia tertangkap basah lalu diusir. Tang Cun Sek pergi setelah berhasil mencuri banyak emas dari gudang harta ayah tirinya.

Akan tetapi dia sangat cerdik sehingga akhirnya dia berhasil menyelundup ke Cin-ling-pai lalu menjadi murid dan anggota perkumpulan para pendekar itu. Bahkan bukan itu saja, dia mampu merayu dan menundukkan hati kakek Cia Kong Liang sehingga dia disayang dan dari kakek itu dia menerima banyak ilmu silat tinggi dari Cin-ling-pai.

Demikian pandainya dia mengambil hati orang tertua dari Cin-ling-pai itu sehingga bukan saja dia disayang, akan tetapi oleh kakek itu juga dicalonkan sebagai ketua Cin-ling-pai yang baru. Namun usahanya menguasai kedudukan ini digagalkan oleh Cia Kui Hong, gadis lihai dan cerdik itu sehingga dia bukan saja tidak dapat terpilih menjadi ketua baru Cin-ling-pai, bahkan menderita malu. Sebab itu dia pun minggat meninggalkan Cin-ling-pai sambil membawa pergi pedang pusaka Hong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka dari Cin-ling-pai.

Demikianlah, Cun Sek tak berani berhenti berlari cepat. Selama berbulan-bulan dia terus menjauhi Cin-ling-san karena dia maklum bahwa mungkin sekali pihak Cin-ling-pai akan melakukan pengejaran karena dia melarikan pedang pusaka.

Hampir empat bulan telah lewat sejak dia melarikan diri dari Cin-ling-pai dan pada suatu pagi dia tiba di sebuah kota. Kota Tian-cu-an merupakan sebuah kota yang cukup besar. Musim panas telah tiba dan hawa udara lumayan panasnya biar pun matahari belum naik terlalu tinggi.

Tang Cun Sek yang semalam tinggal di sebuah kuil To-kauw (Agama To) yang berada di luar kota, memasuki kota dengan sikap tenang. Dia memiliki banyak uang, sisa dari emas yang dulu dicurinya dari rumah ayah tirinya, maka dia bersikap tenang dan dapat membeli pakaian dalam perjalanan itu.

Kini dia memasuki kota Tian-cu-an sebagai seorang pria muda yang berpakaian rapi dan bersih, membawa buntalan kain kuning dan sikapnya seperti seorang terpelajar. Pedang Hong-cu-kiam yang tadinya merupakan pedang pusaka Cin-ling-pai dan menjadi milik Cia Hui Song, ketua Cin-ling-pai, kini tersimpan di dalam buntalan pakaian itu. Pedang pusaka Hong-cu-kiam adalah sebatang pedang yang dapat digulung saking tipis dan lenturnya.

Cun Sek merasa perutnya sangat lapar setelah hidungnya mencium bau masakan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan. Ia kemudian memasuki rumah makan yang masih belum banyak pengunjungnya itu, dan memesan bubur ayam kepada seorang pelayan.

Pada saat dia sedang makan bubur ayam yang sedap dan panas, pendengarannya yang tajam mendengar percakapan yang dilakukan oleh tiga orang laki-laki yang duduk di meja sebelah belakang. Mereka bercakap-cakap dengan suara lirih sekali, namun cukup jelas bagi pendengaran Cun Sek yang tajam.

"Kita harus berhati-hati sekali. Iblis betina itu lihai bukan main."

"Tentu saja dia lihai, kalau tidak mana mungkin sute (adik seperguruan) sampai tewas di tangannya."

"Hemm, meski pun begitu, kalau kita bertiga maju bersama, mustahil kita tidak akan dapat membinasakan iblis betina itu," kata orang ke tiga dengan suara penasaran.

"Sstttttt...!" Kawannya agaknya memberi isyarat sambil memandang ke arah Cun Sek dan tiga orang itu tak lagi melanjutkan percakapan mereka dan pada saat itu, pelayan datang membawa pesanan mereka.

Cun Sek melanjutkan makan bubur seolah-olah dia tidak pernah mendengar percakapan bisik-bisik tadi, namun secara diam-diam dia memperhatikan. Ketiga orang itu berpakaian seperti orang-orang dari dunia persilatan. Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan dari gerak gerik mereka mudahlah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu silat. Tubuh mereka kelihatan kokoh dan gerak gerik mereka pun sigap, pandang mata mereka tajam. Bahkan di balik jubah mereka nampak gagang pedang.

Kalau saja mereka tadi tidak menyebut iblis betina, tentu Cun Sek tidak tertarik dan tidak mau peduli sebab dia pun tak ingin mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi disebutnya iblis betina membuat dia tertarik. Siapakah yang mereka maksudkan dengan iblis betina itu dan mengapa seorang wanita disebut iblis?

Karena dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu dan memiliki banyak waktu terluang, juga karena hatinya tertarik, maka dia pun mengambil keputusan untuk membayangi tiga orang itu dan melihat sendiri siapa sebenarnya iblis betina itu dan wanita macam apakah sampai dijuluki iblis betina.

Demikianlah, pada saat tiga orang itu meninggalkan rumah makan, tanpa disadari mereka sudah dibayangi oleh Cun Sek. Ketiga orang itu keluar dari kota melalui gerbang selatan. Begitu keluar dari pintu gerbang, mereka lalu mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke sebuah bukit yang tidak jauh dari kota Tian-cu-an, sebuah bukit yang kelihatan subur penuh hutan lebat.

Ketika tiga orang itu sampai di luar sebuah hutan di lereng bukit itu, mereka berhenti dan seorang di antara mereka bersuit nyaring. Segera terdengar jawaban, yaitu suitan-suitan yang sama dari berbagai penjuru dan tidak lama kemudian dari balik semak belukar, balik pepohonan, bahkan ada pula yang melayang turun dari atas pohon, bermunculan banyak sekali orang yang kesemuanya mengenakan seragam hitam.

Diam-diam Tang Cun Sek terkejut. Biar pun mungkin lihai, namun tiga orang laki-laki tadi belum merupakan lawan yang terlalu tangguh. Akan tetapi dengan munculnya dua puluh orang lebih ini yang kesemuanya berpakaian hitam-hitam serta sikap mereka bengis dan kejam, sungguh mereka ini merupakan pasukan kecil yang berbahaya. Hatinya semakin tertarik. Demikian banyaknya orang laki-laki hendak mengeroyok seorang wanita? Kalau begitu, wanita yang di sebut iblis betina itu tentu luar biasa lihainya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Cun Sek melayang naik ke atas pohon besar yang amat lebat daunnya, tepat di atas sekumpulan orang itu sehingga dia bisa mendengarkan dan melihat dengan jelas. Ada dua puluh empat orang berpakaian seragam hitam.

Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang mukanya penuh dengan cambang, kumis dan jenggot. Matanya melotot bengis dan sesudah mendengar bahwa orang-orang menyebutnya pangcu (ketua), maka mudah diduga bahwa si brewok itu adalah ketua dari gerombolan orang berseragam hitam itu.

Dan melihat sikap ketua gerombolan seragam hitam itu terhadap tiga orang yang datang dari kota Tian-cu-an tadi, dapat diduga bahwa mereka merupakan sekutu. Antara ketua dan tiga orang itu nampak hubungan yang saling menghargai, berbeda dengan sikap para anggota kelompok seragam hitam yang bersikap amat hormat kepada ketua mereka dan juga kepada tiga orang itu.

Karena sejak muda berada di Cin-Iing-pai dan sudah lama tidak berkecimpung di dunia kang-ouw, maka Tang Cun Sek sama sekali tidak tahu bahwa dia sudah bertemu dengan tokoh-tokoh kangouw yang kenamaan!

Gerombolan seragam hitam yang sedang berkumpul di situ adalah para anggota pilihan dari perkumpulan Hek-tok-pang (Perkumpulan Racun Hitam)! Dari nama perkumpulan ini saja mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam penggunaan racun berbahaya di samping mereka memiliki pula ilmu silat kaum sesat yang amat berbahaya.

Nama Hek-tok-pang selalu mendatangkan perasaan takut pada semua orang yang sering melakukan pelayaran di sepanjang Sungai Kuning, karena mereka yang tinggal di lembah Huang-ho itu merupakan perkumpulan yang mengangkat diri sendiri sebagai penguasa di sepanjang Huang-ho. Mereka suka menuntut pajak atau sumbangan dari para pedagang yang menggunakan perahu, dan mereka tidak segan-segan untuk membunuh siapa saja yang berani menentang mereka. Ketua mereka, yaitu pria yang tinggi besar dan brewok itu bernama Cu Bhok dan terkenal memiliki ilmu silat golok yang amat dahsyat.

Ada pun tiga orang yang dibayangi oleh Cun Sek sejak dari kota Tian-cu-an itu pun bukan orang-orang sembarangan. Mereka bertiga tadinya terdiri dari empat orang dan terkenal dengan julukan mereka Kwi-san Su-kiam-mo (Empat Setan Pedang dari Kwi-san). Orang pertama bernama Giam Sun, lalu yang ke dua ialah adik kandungnya bernama Giam Kun. Orang ke tiga bernama Thio Su It, dan yang keempat bernama Yauw Kwan. Akan tetapi, karena yang termuda telah tewas di tangan 'Iblis betina', maka kini mereka hanya tinggal tiga orang saja.

Cun Sek yang mengintai dari atas pohon melihat mereka itu mengadakan perundingan di bawah pohon. Ketua Hek-tok-pang itu bersama tiga orang pria yang dibayanginya tadi kini bercakap-cakap di bawah pohon, ada pun dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang kemudian menyebarkan diri di sekitar tempat itu, siap untuk melakukan perlindungan dan penjagaan agar jangan sampai ada orang luar mendengarkan percakapan ketua mereka dengan tiga orang tokoh sekutu mereka itu.

Sungguh tak seorang pun di antara mereka yang pernah menduga bahwa semenjak tadi sudah ada seorang yang nongkrong di atas pohon dan melihat semua kegiatan mereka, bahkan mendengar semua percakapan yang berlangsung di bawah pohon itu.

"Pangcu," kata seorang di antara tiga orang Kwi-san Su-kiam-mo, yaitu orang pertama yang bernama Giam Sun itu, "Sebelum kita menyerbu ke Bukit Teratai Emas itu, terlebih dahulu kita harus mengetahui jelas akan kedudukan kita dan sifat kerja sama kita. Pangcu maklum bahwa meski pun kita sama-sama menentang iblis wanita itu, namun alasan kita berbeda. Kami menentang dia karena hendak membalaskan kematian seorang sute kami, sedangkan Pangcu karena Hek-tok-pang pernah dirugikan oleh iblis betina itu. Akan tetapi kami kira bukan itu yang menjadi alasan terpenting."

"Benar sekali ucapanmu tadi, kawan," kata ketua Hek-tok-pang itu dengan suaranya yang berat. "Selama ini di antara kita tidak pernah ada persekutuan walau pun kita juga tidak pernah saling bertentangan. Kita mengambil jalan masing-masing dan tidak pernah saling mengganggu. Akan tetapi mendadak iblis betina itu muncul dan jelas bahwa dia hendak menjagoi, tidak memandang mata kepada pihak lain. Tapi, betapa pun lihainya dia hanya seorang perempuan dan kami tentu saja tidak sudi tunduk kepada seorang wanita! Kalau dia tidak dibasmi, tentu hanya akan merendahkan nama besar kita sebagai laki-laki yang gagah perkasa."

Tiga orang itu mengangguk-angguk tanda setuju. "Akan tetapi kita harus berhati-hati. Jika perhitungan kami tidak salah, dia mempunyai banyak pembantu yang pandai. Kalau nanti kita berhasil memancing mereka keluar dari sarang mereka di Kim-lian-san (Bukit Teratai Emas), harap Pangcu serta para saudara Hek-tok-pang menghadapi para pembantunya. Ada pun kami sendiri akan menghadapi iblis betina itu."

Setelah mengadakan perundingan, empat orang ini diikuti oleh dua puluh empat anggota Hek-tok-pang lalu menuruni lereng dan kini mereka menuju ke sebuah bukit lainnya yang bersambung dengan bukit itu. Sebuah bukit yang lebih besar dan lebih liar karena penuh dengan hutan-hutan lebat, di mana nampak bagian-bagian yang berbatu, akan tetapi ada pula bagian yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa serta semak belukar penuh duri yang amat liar dan tempat itu tidak pernah didatangi manusia.

Para pemburu binatang hutan pun agaknya segan untuk berburu binatang di Bukit Teratai Emas, karena hutan itu memang sangat berbahaya. Apa lagi sejak kurang lebih setahun yang lalu ada desas desus bahwa bukit itu dihuni segerombolan iblis yang amat lihai dan jahat!

Bahkan penduduk dusun yang tadinya mencoba memperbaiki nasib dengan membangun dusun di situ dan bertani, kini beramai-ramai meninggalkan dusun mereka dan pindah ke tempat lain yang lebih aman sesudah berkali-kali mereka diganggu oleh iblis-iblis yang amat jahat!

Dengan hati semakin tertarik, Cun Sek membayangi serombongan orang itu dari jauh. Dia merasa semakin penasaran. Jelaslah bahwa serombongan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang hendak menentang orang yang mereka sebut iblis betina. Tentu seorang wanita yang lihai, yang agaknya juga mempunyai anak buah dan mungkin wanita itu dan anak buahnya bersarang di bukit yang bernama Bukit Teratai Emas itu. Tentu akan ramai, pikirnya, dan tanpa ada keinginan mencampuri urusan itu, dia hanya membayangi untuk menjadi penonton.

Semenjak meninggalkan Cin-ling-pai, dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu. Satu-satunya tujuan perjalanannya hanyalah mencari ayah kandungnya, yaitu seorang tokoh yang menurut ibunya amat lihai dan berjuluk Ang-hong-cu. Selama ini dia sudah bertanya-tanya, namun biar pun ada pula orang-orang kang-ouw yang pernah mendengar nama Si Kumbang Merah, namun tak seorang pun mengetahui di mana adanya tokoh yang sudah lama tidak pernah muncul di dunia kang-ouw itu.

Akhirnya, menjelang tengah hari, rombongan itu tiba di lereng Bukit Teratai Emas. Mereka tadi mendaki dengan amat hati-hati, dan setelah tiba di lereng yang terjal, tak begitu jauh lagi dengan puncak dan nampak tertutup pohon-pohon raksasa, mereka lantas berhenti. Cun Sek menyelinap dekat dan mengintai dari balik semak belukar.

Dia melihat betapa kini para anggota Hek-tok-pang itu menyebar bubuk hitam di antara semak-semak di kanan kiri jalan setapak. Selain bubuk hitam yang disebarkan pada daun dan duri semak-semak, juga ketua mereka menebarkan benda-benda kecil runcing seperti paku berwarna hitam di atas tanah. Bukan sembarang paku, melainkan benda bulat kecil yang mempunyai banyak duri seperti ujung paku pada permukaannya sehingga setelah disebar di atas tanah, maka ada saja duri runcing yang mencuat ke atas sehingga siapa saja yang lewat di jalan setapak itu tentu akan menginjak benda itu dan karena benda itu runcing sekali, maka mungkin saja dapat menembus sepatu dan melukai kulit telapak kaki!

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 09

INILAH pemuda yang semalam melindungi Gui Lok, mengalahkan dua orang pengawalnya dan membikin malu padanya di depan umum! Dan kini pemuda ini berani muncul, bahkan menurut laporan Siok Bi tadi, pemuda ini mengalahkan semua jagoannya dan tentu akan merobohkan puluhan orang pengawal kalau tidak segera diundang masuk.

Siok Bi mengatakan bahwa pemuda itu datang bukan hendak membikin kacau, melainkan untuk menyerahkan uang sebanyak lima puluh tail emas! Dan dia pun sudah mendengar bahwa pemuda ini pula yang sudah mengeduk lima puluh tail emas dari rumah judinya, mengalahkan semua bandar judi yang tangguh.

Meski hatinya diliputi keraguan dan perasaan takut, terpaksa dia menyetujui ketika Siok Bi menyatakan hendak mengundang saja pemuda itu masuk supaya dapat bicara baik-baik. Menghadapi seorang pemuda yang selihai itu memang lebih baik dilakukan dengan cara damai. Bahkan, akan sangat menguntungkan kalau pemuda selihai itu mau menjadi kaki tangannya!

"Duduklah, orang muda yang gagah perkasaa," kata Hartawan Coa.

Para pelayan wanita segera mengundurkan diri sehingga di dalam kamar itu hanya tinggal Hartawan Coa, Hay Hay dan Siok Bi bertiga saja. Para pengawal kini bergerombol di luar kamar itu, siap melindungi majikan mereka kalau diperlukan.

"Terima kasih, Coa Wan-gwe,” kata Hay Hay sederhana dan dia pun lantas menurunkan buntalannya dari atas punggung, meletakkannya di atas meja dan dia sendiri lalu duduk di atas bangku dekat meja.

Siok Bi juga turut duduk di antara mereka, dengan wajah berseri dan kedua pipi merah. Matanya yang indah itu bersinar-sinar karena dia tahu bahwa pemuda itu menepati janji, membawa lima puluh tail emas itu untuk membeli kebebasannya! Tadi malam dia sudah memberi kabar kepada pemuda yang mencintainya itu supaya pagi ini siap menantinya di depan gedung, siap pergi bersamanya untuk menjadi suami isteri dan memulai hidup baru yang cerah!

"Anak muda, semalam engkau berkata kepadaku akan datang berkunjung. Dan sekarang, pagi-pagi engkau benar-benar datang berkunjung dan mengatakan kepada para pengawal bahwa engkau datang sambil membawa lima puluh tail emas untuk diberikan kepadaku. Benarkah itu dan apakah maksudmu? Apakah engkau hendak mengembalikan lima puluh tail emas yang kau bawa dari rumah judi itu?"

Melihat sikap hartawan jtu, Hay Hay tersenyum. Tentu saja hartawan ini bersikap angkuh karena pada saat itu dia menjadi tuan rumah dan selain itu, juga di luar kamar ini terdapat puluhan orang pengawal dan di dekatnya ada Siok Bi yang tentu dianggapnya sebagai seorang pengawal yang setia. Dan memang sebenarnya Siok Bi seorang pengawal yang setia, kalau saja dia tidak merasa begitu sengsara menjadi kekasih hartawan yang tidak dicintanya itu.

"Coa Wan-gwe, rumah judi itu milikmu, bukan? Pernahkah engkau mengembalikan uang kekalahan dari para penjudi selama ini? Beberapa ratus ribu tail saja yang dimenangkan rumah judi itu dari para penjudi?"

Hartawan itu tersenyum. "Dalam perjudian, menang dan kalah merupakan hal yang biasa, bukan?"

"Benar begitu. Karena itu, kemenanganku di rumah judimu juga bukan hal aneh, mengapa sekarang kau berharap aku mengembalikan uang kemenanganku dari rumah judi itu?"

Hartawan yang tinggi besar dengan muka hitam bopeng itu tertawa. "Ha-ha-ha, aku pun tidak mengharapkan, hanya aku tadi mendengar bahwa engkau hendak memberikan lima puluh tail emas kepadaku. Benarkah itu, dan apa maksudmu dengan itu?"

"Aku hendak menebus kebebasan nona Siok Bi!"

Wajah yang tadinya tertawa itu tiba-tiba menjadi kaku, dan matanya terbelalak ketika dia menoleh dan memandang pada Siok Bi. Gadis ini menundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi lalu diangkatnya mukanya itu dan dia menentang pandang mata Coa Wan-gwe dengan berani.

"Dulu tai-ya membeliku dari mendiang ayah, jika sekarang ada yang hendak menebusku kembali, anehkah itu?" Siok Bi berkata dengan suara yang tegas.

"Tapi... tapi... uang tebusan itu banyak sekali sekarang!" kata Coa Wan-gwe yang merasa sayang kepada Siok Bi untuk dua hal.

Pertama, sebagai seorang di antara selirnya, Siok Bi tetap merupakan seorang kekasih yang istimewa, tidak genit seperti para wanita lain sehingga kadang terasa menjemukan, dan ke dua gadis ini memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga dapat menjadi pengawal pribadi yang boleh diandalkan. Rumah judi miliknya itu maju pesat setelah Siok Bi menjadi pengurusnya.

"Aku tahu, tai-ya. Pernah tai-ya mengatakan bahwa harga diriku kini telah mencapai lima puluh tail emas, bukan?" kata Siok Bi.

"Nah, untuk urusan itulah aku datang, Coa Wan-gwe. Ini adalah lima puluh tail emas itu, untuk menebus kebebasan diri nona Siok Bi!" kata Hay Hay sambil mendorong buntalan emas itu ke arah tuan rumah.

Sepasang alis yang tebal itu berkerut, kemudian Hartawan Coa menoleh kepada Siok Bi. Teringatlah dia betapa sudah selama hampir satu bulan ini Siok Bi selalu menjauhkan diri darinya, dengan dalih tidak enak badan dan sebagainya!

"Ahh, kiranya engkau jatuh cinta kepada pemuda ini dan hendak menikah dengan dia?" tanyanya.

"Jangan salah mengerti, Wan-gwe," kata Hay Hay cepat, sedangkan Siok Bi menggeleng kepalanya. "Aku hanya ingin menolongnya supaya dia bebas dari sini dan dapat memilih jodohnya sendiri. Engkau tidak perlu tahu siapa yang dipilihnya, tetapi yang jelas bukan aku. Nah, bagaimana jawabanmu, Coa Wan-gwe?”

Hartawan itu merasa serba salah. Uang lima puluh tail emas memang sangat banyak bagi kebanyakan orang, tapi bagi dia tak ada artinya. Dia tidak ingin uang sebanyak itu karena uangnya sudah jauh lebih banyak lagi. Dia juga sayang kepada Siok Bi. Terutama sekali, dia tidak rela harus mengalah terhadap pemuda yang pernah membuat dia malu ini. Akan tetapi menentang kehendak pemuda lihai ini? Dia pun ragu-ragu!

Tiba-tiba saja dia tersenyum karena mendapat pikiran yang dianggapnya baik dan sangat menguntungkan. Di dunia ini terdapat banyak wanita, bahkan yang lebih cantik menarik dari pada Siok Bi dan yang mudah dia dapatkan kalau dia menghendaki.

"Aku tidak berkeberatan jika Siok Bi hendak menikah dengan seorang pria pilihan hatinya. Akan tetapi aku tidak rela kalau harus kehilangan seorang pembantu yang cakap. Begini saja, orang muda. Bagaimana kalau engkau menggantikan kedudukannya? Bukan hanya kedudukannya sebagai pemimpin rumah judi, bahkan akan kuserahkan kepadamu semua pimpinan para pasukan keamanan serta pengawal! Kuangkat engkau menjadi pembantu utama dan berapa saja gaji yang kau kehendaki, akan kupenuhi! Bagaimana?"

Wajah pemuda itu berubah menjadi merah. Kurang ajar, pikirnya. Dia hendak dijadikan antek hartawan ini! "Coa Wan-gwe, urusan itu adalah urusan antara kita berdua dan boleh kita bicarakan nanti. Sekarang, beri dulu keputusan mengenai kebebasan nona Siok Bi!"

Tidak ada pilihan lain bagi Hartawan Coa untuk mempertimbangkannya lagi kecuali harus menyetujui. Dia tahu betapa bahayanya menentang pemuda ini, apa lagi setelah kini Siok Bi berpihak kepadanya! Apa bila terjadi keributan, maka dapat dipastikan bahwa Siok Bi yang akan dibebaskan oleh pemuda itu tentu akan membantunya.

Dia menarik napas panjang dan menyentuh buntalan uang emas. "Baiklah, aku menerima lima puluh tail emas ini sebagai penebus kebebasan Siok Bi. Mulai saat ini engkau bebas, Siok Bi."

Mendengar ini, Siok Bi mengeluarkan seruan lirih dan dia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Hay Hay lantas merangkul kaki pemuda itu. "Ahhh, taihiap, terima kasih... terima kasih atas budimu ini yang takkan kulupakan selama hidupku....” Suaranya mengandung isak.

Hay Hay tersenyum dan sekali tarik dia telah memaksa gadis itu bangkit berdiri kemudian merangkulnya. Dengan lembut sekali diciumnya dahi gadis itu, lalu dua pipinya sehingga ada air mata yang memasuki mulut melalui hisapan bibirnya.

"Siok Bi, engkau memang pantas mendapatkan kebahagiaan. Nah, semoga engkau hidup berbahagia bersama suamimu dan ini, aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali bekal ini, agar engkau dan suamimu dapat memulai hidup baru dan memiliki modal."

Hay Hay mengambil sebuah guci arak, menaruhnya di atas meja di depan Coa Wan-gwe dekat buntalan emas, lalu dia meraih buntalan emas lima puluh tail itu dan menyerahkan emas itu kepada Siok Bi.

Gadis itu terbelalak. "Tapi... tapi...”

Dia memandang ke arah Hartawan Coa yang agaknya sudah berubah menjadi arca atau tidak melihat atau tak peduli bahwa buntalan emas itu diambil oleh Hay Hay dan sebagai gantinya, di depannya kini berdiri sebuah guci arak itu, yang telah kosong pula.

"Bawalah, Siok Bi, disertai doaku. Ini milikmu! Ingat, bukankah engkau yang telah berhasil menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu? Nah, bawalah dan cepat kau pergi dari sini!"

Gadis itu menahan isak, lalu merangkul Hay Hay dan tanpa mempedulikan Coa Wan-gwe yang berada di sana dan duduk seperti patung, Siok Bi mencium bibir pemuda itu dengan sepenuh perasaan hatinya, penuh kemesraan, kehangatan, keharuan, disertai rasa syukur yang tidak terukur dalamnya. Kemudian, sambil menahan isak dia pun menerima buntalan emas itu dari tangan Hay Hay dan berbisik, "Selamat tinggal, sampai jumpa pula, taihiap." Dia lalu keluar dari kamar dengan langkah yang cepat.

"Selamat jalan, sampai jumpa kembali, Siok Bi," Hay Hay berkata lirih sambil tersenyum. Masih terasa kehangatan dan kelembutan bibir gadis itu akan tetapi dia segera mengusir lenyap kenangan indah itu.

"Coa Wan-gwe, lebih baik kita bungkus dulu emas ini dan suruh orangmu menyimpannya, baru kita bicara," katanya kepada hartawan yang tadi duduk seperti patung itu. Sekarang dia seperti baru sadar dari tidur.

"Ahh, engkau benar sekali, sebaiknya kusuruh simpan dulu," katanya, sementara itu Hay Hay mengambil kain tilam meja yang lebar dan membungkus guci itu.

Coa Wan-gwe bertepuk tangan dan muncullah dua orang gadis pelayan yang cantik genit. Tepukan tangan tadi adalah tepukan khas untuk memanggil dua orang selir terkasih ini.

"Simpan dahulu buntalan emas ini di dalam almari dan jangan bilang kepada siapa pun bahwa di situ disimpan emas lima puluh tail," katanya.

Dua orang gadis itu lalu mengambil buntalan guci dari atas meja, membawanya ke almari di sudut dan menyimpannya. Mereka lalu meninggalkan kamar lagi saat mendapat isyarat dari majikan mereka. Walau pun mereka adalah selir, akan tetapi kedudukan mereka tidak lebih sebagai pelayan yang melayani majikan mereka, bukan sebagai isteri.

"Nah, sekarang kita berada berdua saja di dalam kamar ini, Coa Wan-gwe. Terus terang saja, bila aku menjadi pembantumu maka dalam waktu beberapa bulan saja tentu engkau akan jatuh bangkrut dan seluruh harta bendamu akan habis!"

"Mengapa begitu?" tanya hartawan itu terkejut.

"Pertama, karena aku tidak suka melihat orang menjadi korban perjudian. Ke dua, karena aku selalu menentang perbuatan jahat dan kejam yang dilakukan oleh anak buahmu atas perintahmu. Ke tiga, karena aku tidak suka melihat orang bersikap sewenang-wenang dan memaksa wanita muda untuk menjadi miliknya. Dan ke empat, aku tak dapat tinggal diam saja melihat orang-orang hidup melarat dan tidak dapat makan, dan hartamu tentu akan kubagi-bagikan kepada mereka!"

Sepasang mata hartawan itu terbelalak. "Wah, wah, kalau begitu, tidak jadi saja! Aku tak mau mempunyai pembantu seperti itu!" Hartawan Coa menjadi marah, lalu bangkit berdiri. "Orang muda, segera kau pergi tinggalkan rumahku ini dan jangan lagi menggangguku!"

"Kalau aku tetap mengganggumu, kau mau apa?"

Hartawan itu masih belum mau menyerah dan tiba-tiba dia menyambar sebuah tali yang tersembunyi di antara kain-kain sutera yang menghias kamar itu. Segera terdengar suara kelenengan di luar, lantas daun pintu kamar itu terbuka.

Muncullah tiga orang gadis pelayan cantik yang bertubuh kuat, bersama tiga orang jagoan yang tadi sudah dirobohkannya! Tiga orang jagoan itu nampak gentar sekali sungguh pun mereka cepat-cepat datang ketika mendengar kelenengan yang berarti tanda bahaya bagi majikan mereka itu. Di luar pintu masih berdiri puluhan orang pengawal yang siap dengan senjata di tangan.

"Nah, engkau masih berani menggangguku?" bentak hartawan itu.

Hay Hay tersenyum lebar. Hartawan Coa ini harus diberi hajaran yang cukup keras untuk melunakkan hatinya yang keras.

"Hemmm, kau mengandalkan para pengawalmu? Engkau tidak tahu bahwa setiap waktu para tukang pukul dan pengawalmu itu bisa saja berbalik memusuhimu, bahkan mungkin pula engkau akan dibunuh oleh mereka."

"Tidak mungkin! Mereka adalah para pembantuku yang setia!"

"Setia? Karena terpaksa dan karena uang, seperti halnya nona Siok Bi tadi. Heiiii, kau....!” Hay Hay menggapai salah seorang di antara ketiga gadis itu. "Kau ke sinilah dan beri satu kali tamparan pada pipi Hartawan Coa!"

Semua orang terkejut, juga Hartawan Coa. Akan tetapi sungguh aneh. Gadis yang tadinya terbelalak kaget mendengar perintah itu, sekarang melangkah maju mendekati Hartawan Coa.

"Plakkk!"

Tangannya menampar dan pipi hartawan itu sudah ditamparnya! Tidak begitu nyeri, akan tetapi Hartawan Coa menjadi terkejut dan marah bukan main. Wajahnya sebentar pucat dan sebentar merah.

"Tangkap perempuan kurang ajar ini!"

Hay Hay melangkah maju. "Siapa yang berani menangkapnya?! Kalau aku tidak memberi perintah, maka tak seorang pun boleh mengganggu dia!" Dan aneh, mendengar teriakan Hay Hay ini, tak seorang pun berani maju, walau pun Hartawan Coa berkali-kali memberi perintah.

"Kau! Majulah dan tampar pipi hartawan ini supaya dia tidak berteriak-teriak lagi!" kata Hay Hay pada gadis ke dua. Gadis itu pun tadinya terbelalak, akan tetapi dia melangkah maju dan tangannya menampar. Hartawan itu hendak menangkis, namun kalah cepat.

"Plakkk!" Dan untuk kedua kalinya pipinya kena ditampar oleh gadis kesayangannya yang biasanya amat patuh kepadanya.

"Tiat-ci Thio Kang, jarimu sudah patah, karena itu pergunakan kakimu menendang pantat Hartawan Coa! Hayo cepat, jangan keras-keras, biar dia tahu rasa saja!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja Tiat-ci Thio Kang mempertahankan diri sekuatnya untuk menentang perintah yang berlawanan dengan kemauan hatinya itu. Akan tetapi, entah apa yang mendorongnya untuk melangkah maju dan kakinya lantas terayun.

"Bukkk!”

Hartawan Coa jatuh tersungkur, lalu bangkit sambil meringis dan menggosok pinggulnya yang ditendang. Sekarang mukanya pucat dan matanya terbelalak ketakutan memandang kepada Hay Hay.

"Bagaimana? Haruskah aku lanjutkan? Bila aku memerintahkan mereka menyembelihmu, maka sekarang juga akan mereka laksanakan, Wan-gwe!"

"Tidak.... Tidak...! Hentikan permainan setan ini !" katanya meratap ketakutan.

“Kalau begitu, perintahkan mereka itu mundur."

"Mundur! Kalian semua mundur, terkutuk kalian!" Hartawan Coa membentak dan mereka semua segera keluar dari dalam kamar, menutupkan daun pintu kamar dengan khawatir ketika melihat betapa majikan mereka marah-marah.

"Nah, Wan-gwe. Begjtulah kalau engkau memelihara harimau-harimau liar. Sekali waktu mereka akan membalik dan mencelakai dirimu sendiri. Sekarang aku minta agar engkau tak lagi mempergunakan kekayaan dan kekuasaanmu untuk berbuat sewenang-wenang. Apabila aku mendengar engkau masih melanjutkan perbuatanmu yang jahat, maka aku akan segera kembali ke kota ini lantas akan kuperintahkan anak buahmu membunuhmu, atau mungkin juga keluargamu sendiri akan kuperintahkan membunuh dan menyiksamu lebih dulu!"

"Aku... aku tidak berani lagi...”

"Engkau juga tidak akan mengganggu lagi Gui Lok dan puterinya, Gui Ai Ling yang kau inginkan itu?"

"Tidak, tidak... tidak lagi."

"Dan engkau tidak akan menyuruh orang-orangmu mencari Siok Bi untuk kau ganggu?"

"Tidak, aku tidak berani."

"Bagus, akan tetapi jangan mencoba-coba untuk membohongi dan menipuku. Bila perlu, aku dapat menyuruh siapa saja atau apa saja untuk menghukum dan membunuhmu. Kau lihat tombak dan pedang di sudut kamar itu? Aku dapat memerintahkan mereka itu untuk membunuhmu!"

Sekali ini, di dalam pandang mata hartawan yang tadinya ketakutan itu, kini berkilat sinar tidak percaya, walau pun mulutnya tidak berani mengatakan hal itu.

"Engkau tidak percaya, Coa Wan-gwe? Nah, lihat baik-baik! Pedang dan tombak milikmu sendiri itu akan menyerangmu!"

Tiba-tiba mata hartawan itu terbelalak, lantas mukanya yang hitam itu menjadi berkurang hitamnya karena pucat sekali. Dia melihat betapa pedang yang berada dalam sarungnya dan tergantung di tembok, sekarang meninggalkan sarung lalu melayang-layang bersama dengan tombak yang juga meninggalkan rak senjata. Kedua senjata itu melayang-layang ke atas lalu keduanya meluncur ke arah dirinya!

Dia terkejut, ketakutan dan melompat menjauhi, akan tetapi ke mana pun dia mundur, dua batang senjata itu terus mengejar. Tombak itu bagaikan hendak menusuk-nusuk perutnya dan pedang yang tajam itu mengancam untuk membacok lehernya! Tentu saja dia mandi keringat dingin.

"Tidak...! Tidak...! Jangan... ahh, ampunkan aku... ampunkan...” dia jatuh berlutut dan tak berani mengangkat lagi mukanya, tidak berani melihat dua senjata yang seperti hidup dan mengancamnya itu.

"Mereka sudah kuperintahkan kembali ke tempat masing-masing, Wan-gwe."

Hartawan Coa mengangkat mukanya dan benar saja. Dua buah senjata itu sudah berada pada tempatnya masing-masing, tidak bergerak dan mati seperti biasanya. Dia mengeluh dan menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.

"Nah, kau lihat sendiri, Wan-gwe. Sedangkan benda mati saja dapat berkhianat padamu, apa lagi manusia hidup. Sekali waktu, mungkin saja pelayanmu sendiri meracunimu atau membunuhmu selagi engkau tidur. Sebab itu bertobatlah dan tinggalkan semua perbuatan jahat, baru Tuhan akan mengampunimu."

Hartawan itu masih berlutut dan dia mengangguk-angguk. "Baik, baik... aku minta ampun, aku bertobat... tidak berani lagi...”

Ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ! Pada saat para pelayan dan pengawal memasuki kamar, mereka menemukan hartawan itu masih berlutut dalam keadaan seperti tidak bersemangat lagi!

Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa sepeninggalnya, dia tak hanya membuat hartawan itu menjadi bertobat, bahkan lebih dari itu dan amat menyedihkan. Hartawan Coa menjadi seperti orang gila yang selalu ketakutan, takut terhadap isterinya, anak-anaknya, pelayan, bahkan takut kepada benda-benda di dalam kamarnya. Dia selalu berteriak-teriak bahwa mereka semua hendak membunuhnya.

Akhirnya, karena dia selalu marah-marah dan minta agar semua benda disingkirkan dari kamarnya, maka kamar itu menjadi gundul dan kosong. Bahkan dia tidur begitu saja di atas lantai karena takut kalau segala macam ranjang, kelambu, meja kursi, bantal guling, akan membunuhnya di tengah malam!

Hartawan Coa menjadi seperti orang gila. Akan tetapi kota itu menjadi tenang dan para penduduknya bernapas lega karena setidaknya, seorang yang tadinya amat ditakuti dan mengganggu ketenangan hidup mereka kini telah mati kutu.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Malam yang gelap karena malam itu gelap bulan. Langit hanya dihiasi laksaan bintang, atau jutaan atau bahkan lebih. Tak terhitung! Biar pun tidak ada bulan, namun sinar lemah dari bintang-bintang itu bergabung dan mampu pula mengurangi kepekatan malam, bukan menjadi gelap gulita lagi melainkan remang-remang.

Akan tetapi, kompleks bangunan dalam lingkungan istana sama sekali tidak pernah gelap! Banyak sekali lampu-lampu gantung besar kecil, beraneka warna dan bentuk, menerangi bagian dalam dan luar istana. Bahkan di taman-taman bunga yang teratur indah terdapat lampu penerangan.

Malam itu sunyi sekali karena hawa malam itu amat dingin. Musim semi telah mulai, akan tetapi sisa musim salju masih meninggalkan hawa dingin yang menyengat tulang. Karena dinginnya, maka malam itu amat sunyi meski di lingkungan istana sendiri. Para penghuni istana, yaitu kaisar serta semua keluarganya, juga para dayang, para selir, para pelayan dan bahkan para pengawal, lebih suka berada di dalam bangunan dari pada di luar!

Di udara terbuka hawa dingin sungguh tak tertahankan. Para pengawal luar yang sedang melakukan penjagaan di luar kompleks bangunan lebih suka berkelompok di dalam gardu-gardu penjagaan di mana mereka dapat menghangatkan tubuh di dekat arang membara, atau perapian yang sengaja dibuat untuk sekedar menghangatkan badan melawan hawa dingin. Para penjaga menjadi malas untuk meronda sebab meronda berarti meninggalkan gardu dan memasuki tempat terbuka di mana mereka akan disambut oleh dekapan hawa yang amat dingin.

Lagi pula, siapakah yang akan berani mengganggu ketentraman istana? Berarti mencari mati konyol! Maling? Sebelum memperoleh sesuatu dia sudah akan mati kedinginan lebih dulu! Malam itu, malam yang dingin sunyi sehingga para penjaga menjadi lengah.

Akan tetapi, bagi seseorang yang sedang dimabok cinta dan dendam birahi, yang sedang menderita rindu, berkencan dengan kekasih yang dirindukan merupakan kewajiban yang harus dilakukan dengan sepenuh hati, dengan nekat dan kalau perlu mengorbankan diri! Jangankan hanya hawa dingin di malam sunyi itu, biar harus menghadapi rintangan yang lebih berat sekali pun, seorang yang sedang merindukan pertemuan dengan kekasihnya tidak akan mundur selangkahpun!

Demikian pula bagi pria yang kini sedang menunggu di dalam taman bunga sebelah barat istana itu. Dia bersembunyi di balik rumpun-rumpun bunga yang tumbuh lebat di sebelah kiri depan pondok indah itu. Pondok yang bercat merah dan diberi nama 'Sarang Madu' di depannya, nama itu tertulis indah di papan yang tergantung di depan pondok.

Nama ini diberikan kaisar karena dia merasa seolah-olah berada di sarang madu ketika sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang yang muda-muda dan cantik jelita di pondok merah itu. Nama Sarang Madu itu ada riwayatnya.

Ketika itu, pondok merah ini baru saja selesai dibangun dan belum ada namanya. Ketika kaisar bersama para selir tercinta tengah bersenang-senang di situ, kaisar melihat sebuah sarang lebah tergantung pada dahan pohon dekat pondok. Sarang lebah itu sudah penuh madu, nampak ada madu menetes-netes turun. Kaisar segera menyuruh pengawal untuk mengusir lebah-lebahnya dan menurunkan sarang lebah itu. Ternyata sarang itu memang penuh dengan madu! Tentu saja kaisar menjadi girang sekali, lalu bersama para selir dan dayang minum madu yang manis.

Karena peristiwa itulah maka pondok ini diberi nama Sarang Madu. Bukan hanya karena madu itu memang manis. Akan tetapi berpesta pora dengan para dayang dan selir yang cantik-cantik itu memang amatlah manisnya!

Dan bagi pria yang kini bersembunyi di dekat pohon Sarang Madu itu, memang pondok itu merupakan sarang madu yang sangat manis baginya. Semua kenangan manis, indah dan menggembirakan berada di dalam pondok itu sejak dia bertemu dan berhubungan dengan Hwee Lan!

Sekarang laki-laki itu menyelinap dekat tembok pondok yang lebih melindungi dirinya dari hembusan angin lembut sehingga sinar lampu gantung yang halus dapat menyentuhnya. Dia seorang laki-laki muda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang perwira dan dia nampak gagah sekali dalam pakaian yang cemerlang ini.

Sebuah pedang tergantung pada pinggangnya, dan topi bulunya nampak bersih. Bulu itu kelihatan putih sekali di atas rambutnya yang hitam panjang. Wajahnya tampan menarik dan jantan. Wajah yang disuka oleh kaum wanita. Tubuhnya jangkung dengan pinggang ramping, tubuh yang juga menjadi idaman wanita. Pendeknya, pemuda berusia dua puluh lima tahun ini amat menarik bagi wanita.

Seorang yang tampan, gagah dan memiliki kedudukan baik. Seorang perwira pengawal! Dari pangkatnya ini saja, yakni perwira pengawal dalam istana, mudah diduga bahwa dia bukanlah seorang pemuda lemah, melainkan seorang pemuda gemblengan yang memiliki kegagahan dan ilmu silat tinggi.

Perwira muda ini bernama Tang Gun. Baru dua tahun dia menjadi perwira di dalam istana dan dipilih oleh kaisar sendiri karena dia telah berjasa saat membantu pasukan pengawal membasmi perampok yang berani memberontak dan mengusik ketenangan kaisar ketika kaisar berburu binatang di hutan. Pemuda yang gagah perkasa dan yang pekerjaannya sebagai seorang pemburu itu lalu membantu para pengawal, bahkan dialah yang berhasil membunuh kepala perampok.

Mendengar tentang kegagahan pemuda ini, kaisar memanggilnya dan karena gembiranya kaisar lantas menganugerahkan pangkat perwira pengawal kepadanya. Bukan pengawal luar, akan tetapi pengawal dalam istana, sebuah pangkat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya oleh kaisar!

Tadinya Tang Gun hidup berdua saja dengan ibunya yang telah berusia empat puluh tiga tahun. Mereka hidup berdua dalam keadaan miskin karena ibunya adalah seorang janda dan kehidupan mereka hanya mengandalkan hasil buruannya. Bila dia berhasil membunuh seekor dua ekor kijang atau beberapa ekor kelinci, dagingnya lantas dibuat daging kering oleh ibunya, kemudian kulit dan daging kering itu dijual dan di tukar dengan beras, terigu dan bumbu-bumbu masak, juga untuk membeli pakaian. Mereka hidup di tempat terpencil, di dekat hutan.

Sejak kecil Tang Gun memang suka mempelajari ilmu silat. Dari kawan-kawannya, para pemburu, dia belajar silat dan mencari guru-guru silat yang pandai. Karena tekunnya dan tidak mengenal lelah, juga rajin mencari guru yang pandai, akhirnya dia menjadi seorang pemuda gemblengan yang pandai silat dan menjadi jago di antara para pemburu.

Ibunya selalu mengatakan bahwa ayah kandungnya telah meninggalkan mereka sejak dia masih kecil sekali. Menurut ibunya, ayah kandungnya adalah seorang pria she Tang dan ibunya menyerahkan sebuah benda berbentuk ukiran seekor kumbang yang terbuat dari emas dan batu permata. Si Kumbang Merah atau Ang-hong-cu, demikianlah julukan ayah kandungnya. Demikian menurut ibunya.

Dia tidak pernah mengenal ayahnya, hanya tahu bahwa ayahnya she Tang dan berjuluk Ang-hong-cu. Menurut ibunya, ayahnya adalah seorang yang sangat sakti dan kalau dia kelak melihat seorang pria yang mempunyai tanda mainan seperti yang dimilikinya, maka itulah ayahnya!

Tang Gun telah mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Ang-hong-cu. Akan tetapi, dengan kecewa dia mendengar bahwa sudah bertahun-tahun dunia kang-ouw tidak lagi mendengar nama Ang-hong-cu. Si Kumbang Merah itu seakan telah lenyap atau mungkin juga sudah mati! Maka Tang Gun menjadi putus asa dan tidak mencari lagi.

Pada saat dia masih menjadi seorang pemburu biasa, kenyataan bahwa dia tidak berayah lagi, bahkan dia tidak tahu di mana ayahnya, sudah mati atau belum, tidak merupakan hal yang perlu dirisaukannya benar. Dia hanyalah seorang pemburu miskin. Siapa yang akan memperhatikan dirinya dan siapa yang ingin mengetahui siapa ayahnya?

Akan tetapi, setelah dia menjadi seorang perwira pengawal di istana, hal itu menjadi amat penting! Ia kini seorang yang berkedudukan, dihormati dan disegani, bahkan cukup dekat dengan keluarga kaisar! Untuk mengangkat harga dirinya, terutama di kalangan pasukan dan juga di dunia persilatan, maka mulailah dia mengaku bahwa dia adalah putera Ang-hong-cu yang dikabarkan memiliki kesaktian hebat itu! Berita yang dibangga-banggakan inilah yang akhirnya sampai ke telinga Hay Hay lewat Siok Bi.

Karena dia memiliki wajah tampan menarik, tubuh yang kokoh kuat sehingga dia nampak gagah dan jantan, sejak remaja Tang Gun disukai oleh banyak wanita. Dan dia pun sadar akan ketampanannya, sadar bahwa banyak wanita menyukainya. Oleh karena itu, walau pun ibunya yang menjanda itu sering mendesaknya supaya segera menikah, Tang Gun selalu menolak. Dia merasa rugi kalau harus menikah.

Pertama, untuk menikah dia harus memiliki uang namun dia seorang yang miskin. Setelah menikah, berarti tanggungannya bertambah, tadinya hanya dua orang menjadi tiga orang, belum lagi kalau isterinya melahirkan anak. Ke dua, sesudah dia beristeri tentu rasa suka para wanita terhadap dirinya akan berkurang. Jauh lebih senang kalau dia masih bebas, dia dapat berpacaran dengan wanita mana pun yang suka kepadanya dan disukainya.

Maka mulailah Tang Gun dikenal sebagai seorang pemuda yang mata keranjang, selalu diburu wanita dan selalu berganti-ganti pacar! Betapa pun juga dia tak pernah melakukan pelanggaran. Tidak pernah dia memperkosa wanita, tak pernah pula dia mempermainkan isteri orang. Dia hanya menyambut uluran cinta seorang gadis atau seorang janda muda.

Sesudah dia berusia dua puluh tiga tahun dan diangkat menjadi perwira pengawal dalam istana, nafsu birahi yang selama ini memperhamba batin dan tubuhnya menjadi terkekang dan tak mudah dapat disalurkan. Dia kini telah menjadi seorang perwira pengawal dalam istana. Tentu saja dia tidak boleh sembarangan mengumbar nafsu seperti ketika dia masih tinggal di dusun. Dia harus menjaga namanya dan kini dia tinggal di kompleks perumahan para perwira yang berada di lingkungan istana, meski pun di bagian luar akan tetapi masih berada di belakang tembok yang mengelilingi istana.

Dia tinggal bersama ibunya di dalam sebuah rumah yang cukup indah walau pun sedang saja. Ada pula dua orang lainnya, lelaki dan wanita, yang menjadi pelayan rumah mereka. Dia hanya bisa mencari hiburan dan bersenang-senang apa bila dia sedang memperoleh giliran cuti. Dia sering pergi ke rumah pelesir yang jauh berada di sudut kota, menyamar sebagai seorang pemuda biasa.

Akan tetapi dia tidak dapat berkutik apa bila dia sedang bertugas atau berada di rumah,. Sebagai seorang perwira pengawal, apa lagi pengawal di dalam istana, dia harus selalu sopan dan menjaga kesusilaan. Sebagian besar para perwira pengawal, juga para prajurit pengawal yang mengawal bagian dalam istana, apa lagi yang mengawal bagian keluarga puteri kaisar, adalah para thai-kam (laki-laki kebiri). Dia sendiri tidak diharuskan menjadi thai-kam karena kaisar percaya kepadanya.

Karena tugasnya sebagai komandan pengawal dalam istana, maka sering kali Tang Gun memimpin rombongan pengawal melakukan perondaan di waktu malam. Bahkan sering pula dia mendapat giliran berjaga di dalam taman yang berhubungan dengan tempat para puteri. Karena itu sering pula dia melihat kaisar kalau Sribaginda ini sedang berjalan-jalan di dalam taman atau sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang di pondok-pondok indah. Tentu saja dia selalu bersikap hormat, berlutut sambil menundukkan muka, tidak berani mengangkat muka memandang Sribaginda dan para wanita cantik itu.

Biar pun matanya tidak dapat melihat, namun hidungnya masih bisa mencium keharuman yang keluar dari pakaian para wanita, juga telinganya bisa menangkap suara tawa merdu sekali, sepatah dua patah kata yang keluar dengan halus lembut seperti nyanyian merdu. Karena dia berwatak mata keranjang, maka jantungnya langsung terguncang hebat.

Lambat laun, setelah hampir dua tahun dia terbiasa dengan kesempatan seperti itu, maka mulailah dia berani bermain mata. Biar pun kepalanya ditundukkan, akan tetapi matanya mengerling ke atas. Makin kagumlah dia ketika melihat wanita-wanita cantik jelita dalam pakaian yang serba indah itu.

Tadinya dia hanya mampu melihat bagian bawah tubuh saja, dari kaki-kaki mungil sampai lutut yang tertutup sutera beraneka warna. Tapi kini dia dapat melihat wajah para pemilik kaki mungil itu. Ternyata dia tidak menemukan wanita yang angkuh dan tinggi hati seperti di dalam dongeng tentang puteri-puteri dan keluarga kaisar, melainkan wajah-wajah cantik jelita dan manis yang memandang kepadanya dengan penuh gairah! Mata yang jeli itu, mulut yang segar kemerahan itu, dengan jelas sekali menunjukkan betapa mereka sangat kehausan!

Tang Gun yang telah banyak bergaul dengan para wanita dapat melihat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kebanyakan dari para wanita muda itu, para selir serta dayang dari Kaisar, memandang kepadanya dengan penuh birahi!

Memang demikianlah keadaan para wanita muda dan cantik itu. Mereka melihat seorang perwira pengawal yang muda, tampan, ganteng, gagah dan jantan. Apa lagi mereka juga mendengar dari para thai-kam yang selalu bermuka-muka terhadap mereka bahwa Tang-ciangkun (Perwira Tang) ini, yang pernah menyelamatkan kaisar, adalah seorang perwira yang benar-benar jantan dan laki-laki tulen, bukan thai-kam! Tentu saja hal ini membuat mereka tertarik dan mereka selalu timbul birahi dan gairah setiap kali melihat perwira itu.

Memang seperti itulah keadaan para wanita muda yang menjadi penghuni istana raja di mana pun juga. Seorang kaisar sudah lajim mempunyai banyak sekali selir dan dayang, bisa sampai puluhan orang banyaknya. Hal ini tentu saja merupakan keadaan yang tidak seimbang.

Puluhan orang selir dan dayang itu adalah wanita-wanita yang masih muda, bagai bunga-bunga di taman yang sedang segar-segarnya, sedang mekar indah dan membutuhkan banyak sekali siraman dan curahan kasih sayang dan kemanjaan pria. Sebaliknya, kaisar yang sudah setengah tua itu tentu saja tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan badan dan batin mereka. Kaisar hanya mampu memberikan kedudukan dan kemewahan saja.

Para wanita itu mendambakan perhatian, pencurahan kasih sayang yang lebih sering dan lebih banyak. Mereka rata-rata merasa kesepian, seperti burung-burung dalam kurungan. Maka tidaklah mengherankan dan bukan semata karena watak mereka yang genit kalau mereka itu segera tertarik kepada Tang Gun yang muda, tampan, gagah dan mempunyai kerling mata tajam serta senyuman menggairahkan hati mereka itu. Akan tetapi bagi Tang Gun, yang paling membuat dirinya tergila-gila adalah seorang selir kaisar yang bernama Hwee Lan.

Mula-mula pertemuannya dengan Hwee Lan merupakan hal yang kebetulan saja dan tidak disengaja. Pada suatu malam, beberapa bulan yang lalu, malam terang bulan yang amat indah. Tang Gun yang kebetulan dinas jaga, memimpin para pengawal dalam istana dan membagi-bagi tugas jaga, merasa iseng sehingga dia pun memasuki taman istana bagian barat yang indah. Sambil meronda dia pun sekalian menikmati malam yang sangat indah itu. Malam yang hawanya tidak begitu dingin, terang bulan pula dan karena pada saat itu bunga-bunga di taman sedang mekar, maka keadaan taman itu benar-benar amat indah, romantis dan penuh dengan keharuman bunga.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh gerakan dan suara orang di belakang pondok Sarang Madu yang merah itu. Menduga terjadi sesuatu yang mencurigakan, ia pun cepat menyelinap di antara semak-semak dalam taman dan mengintai dari balik batang pohon. Kiranya yang berada di antara bunga mawar yang ditanam di bagian belakang pondok itu adalah salah seorang di antara para selir yang paling jellta!

Selir itu memang sangat menarik dan mempesona hati Tang Gun setiap kali melihatnya, dengan kulit muka yang bukan hanya putih mulus seperti para selir lain, melainkan putih bercampur warna merah segar, seperti kulit bayi yang montok. Selir yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu ditemani oleh seorang dayang pelayan yang juga usianya masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun dan cantik pula. Namun, dibandingkan dengan selir itu, kecantikan dayang ini tidak ada artinya lagi.

“A Sui, malam begini indah, taman penuh bunga, udara demikian sejuk dan harum. Aihh, alangkah indahnya malam ini..." Tang Gun yang mengintai, merasa jantungnya berdebar penuh kagum. Suara itu demikian merdu, dan kata-kata itu demikian halus dan indah.

Dayang itu tersenyum. "Aduh, kata-kata nona Hwee Lan selalu indah sekali, mirip seperti nyanyian, seperti sajak...,” dayang itu memuji.

"Memang aku suka bersajak, A Sui, apa lagi di dalam suasana yang begini indah...” Selir cantik itu mengangkat muka memandang ke arah bulan purnama.

Wajah itu sepenuhnya tertimpa cahaya bulan, nampak putih kemerahan laksana disepuh emas sehingga Tang Gun yang sedang mengintai menjadi terpesona. Selama hidupnya belum pernah dia melihat wanita secantik selir itu. Dan namanya Hwee Lan!

Dayang itu bertepuk tangan memuji. "Kalau begitu, mengapa Nona tidak membuat sajak tentang malam yang indah ini? Saya akan berbahagia sekali mendengarkannya, Nona."

Sikap dayang itu amat bersahabat, karena biar pun kedudukannya hanya sebagai dayang yang melayani selir itu, sebagai pelayan pribadi, namun dayang ini pun termasuk seorang di antara para dayang cantik yang menerima ‘kehormatan’ dari kaisar, yaitu pernah dan sewaktu-waktu menemani dan melayani kaisar di kamar tidurnya. Oleh karena itu, walau pun kedudukan mereka berbeda tapi keduanya merasa senasib dan seperti madu saja.

Hwee Lan kembali merenung memandang bulan, lalu beberapa kali dia menghela napas panjang. "A Sui, pada malam terang bulan seperti ini selalu mengingatkan aku akan masa remaja ketika aku belum dibawa ke dalam istana, bergembira ria bersama teman-teman di kampung. Dan malam sepertl ini selalu mengingatkan aku akan keadaanku sekarang. Aku akan mencoba bersajak, akan tetapi hanya untuk telinga kita berdua saja, A Sui."

Suasana menjadi hening. A Sui dan Tang Gun yang bersembunyi, menanti dengan penuh pesona. Bahkan kembang-kembang di taman itu seperti sedang menanti pula, dan semilir angin lembut tiba-tiba saja berhenti berhembus, seperti memberi kesempatan kepada si jelita untuk mengalunkan suaranya yang merdu.

Hwee Lan masih berdiri, demikian lembut gemulai seperti sebatang pohon yang-liu muda. Dia memandang bulan, kemudian terdengarlah suaranya lirih dan lembut seperti desahan bayu di antara daun pohon cemara.

"Malam syahdu penuh pesona Mencipta sajak memuja asmara Bulan gemilang bayu berdendang Taman mengharum mengapa hati bimbang? Mawar merah cantik jelita, Tiada belaian, sepi menderita Siapa peduli mawar sengsara Apa guna segala ratap hampa Mawar indah menangis sendiri Akhirnya layu... kering... mati...!"

Sajak itu diakhiri dengan isak tangis tertahan. A Sui segera bangkit berdiri, lalu merangkul Hwee Lan dan ikut pula menangis, akan tetapi disertai kata-kata menghibur.

"Sudahlah, nona, Tidak perlu membiarkan duka berlarut-larut menggerogoti hati. Memang beginilah nasib wanita-wanita seperti kita...”

"Wahai mawar merah nan suci ada taman sepotong hati dengan pupuk kesetiaan sejati dan siraman air cinta murni bersedia menampung jika sudi!"

Dua orang wanita itu terkejut dan menengok ke arah pohon besar di belakang pondok. Pada waktu melihat munculnya Tang Gun, Hwee Lan tidak menjadi ketakutan. Wajahnya berubah kemerahan dan kedua kakinya gemetar ketika perwira yang tampan itu berjalan menghampiri.

Mereka berdiri dan saling pandang, sedangkan A Sui sambil menahan senyumnya cepat mundur ke belakang nonanya. Kedua wanita ini sudah sering kali membicarakan tentang ketampanan dan kegagahan Tang Gun.

"Kiranya Tang-ciangkun...!" kata Hwee Lan, suaranya merdu dan lirih, tetapi agak gemetar karena jantungnya berdebar penuh ketegangan.

“Selamat malam, Tuan Puteri, dan maafkan jika hamba mengganggu. Hamba tadi sedang meronda lalu mendengar...”

"Sudahlah, ciangkun. Engkaukah yang menjawab sajakku tadi?"

Betapa beraninya wanita ini, pikir Tang Gun, betapa hausnya!

"Benar, Tuan Puteri, dan ampunkan hamba....”

"Benarkah apa yang kau katakan dalam sajak tadi? Engkau bersedia menampung mawar layu, bersedia menyirami dan menyegarkannya kembali?"

"Hamba bersedia dengan sungguh hati dan dengan segala kebahagiaan dan kehormatan, Tuan Puteri...”

Kini seluruh tubuh Hwee Lan gemetar dan dia pun menoleh ke sekelilihg. Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain di situ, dia melangkah maju, memegang tangan perwira itu lalu berkata lirih, "Mari kita bicara di dalam pondok, ciangkun. Tidak baik bila diketahui orang. A Sui, engkau menjaga di luar."

A Sui tersenyum gembira dan mengangguk, membayangkan bahwa kelak dia pun sudah pasti akan mendapat bagian karena bukankah rahasia mereka berdua berada di telapak tangannya? Tang Gun menjadi berani dan dia pun menggenggam tangan yang kecil lunak dan hangat itu, kemudian mereka bergandeng tangan memasuki pondok Sarang Madu.

Mudah dibayangkan apa yang terjadi malam itu di pondok Sarang Madu. Dua orang muda yang tengah dilanda dan dicengkeram nafsu birahi itu sepenuhnya menyerah dan menjadi permainan nafsu mereka sendiri yang tak pernah mengenal puas. Dan keduanya terkulai dan menyerah.

Bagi Hwee Lan yang sejak perawan dibawa ke dalam istana, selama ini hanya mengenal kaisar yang setengah tua sebagai satu-satunya pria yang menggaulinya. Dan kini, begitu bertemu dengan Tang Gun yang masih muda, gagah, tampan dan jantan, maka tidaklah mengherankan kalau dia menjadi tergila-gila.

Sebaliknya, biar pun Tang Gun sudah banyak bergaul aengan wanita, namun selama ini dia pun belum pernah bertemu dengan wanita secantik dan sepanas Hwee Lan, maka dia pun tergila-gila. Keduanya lantas saling melekat dan merasa bahwa mereka tak mungkin dapat saling kehilangan atau saling berpisah!

Tang Gun yang cerdik maklum bahwa keselamatan dia dan kekasihnya berada di tangan A Sui. Apa bila hal itu dibiarkan lewat begitu saja, tentu dia dan kekasihnya akan menjadi permainan dayang itu dan dapat diperas habis-habisan. Oleh karena itu, atas persetujuan Hwee Lan yang juga melihat ancaman bahaya ini, Tang Gun kemudian mempergunakan ketampanannya untuk merayu A Sui.

Dayang ini pun hanya seorang gadis yang tidak jauh bedanya dengan Hwee Lan, haus akan belaian dan kasih sayang pria, apa lagi kalau prianya setampan dan segagah Tang Gun. Dia pun kemudian menyerah dalam dekapan Tang Gun. Maka amanlah hubungan mereka karena semuanya terlibat.

Nafsu tidak pernah merasa puas. Bahkan semakin dituruti, nafsu menjadi semakin ganas, semakin kelaparan dan selalu menghendaki lebih! Karena itu pertemuan antara Tang Gun dan Hwee Lan yang ditemani A Sui dan kemudian berakhir dengan permainan cinta gelap sepanjang malam itu tidak berhenti sampai di situ saja. Pertemuan demi pertemuan diatur dan diadakan antara mereka, makin lama semakin sering seperti orang kecanduan!

Dua bulan telah lewat dan pada malam yang amat dingin itu, Tang Gun tidak undur oleh dinginnya hawa udara dan dia sudah menanti kekasihnya di dekat pondok Sarang Madu. Malam itu adalah malam yang penting sekali bagi mereka bertiga, karena pada malam itu mereka sudah mengambil keputusan hendak melarikan diri dari dalam istana! Atau lebih tepat, Hwee Lan akan dibantu kekasihnya melarikan diri keluar istana.

Tang Gun yang menjadi komandan pengawal sejak sore tadi sudah mengatur sedemikian rupa sehingga ada jalan terbuka yang tidak dijaga. Dan agaknya hawa udara yang dingin ikut pula membantu mereka sebab para pengawal lebih suka bersembunyi di dalam gardu penjagaan menghangatkan diri. Karena dia sendiri juga terlibat, maka tentu saja A Sui ikut pula melarikan diri.

Tang Gun bukan seorang bodoh. Dia tidak berani melarikan dua orang wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu ke rumahnya yang masih berada dalam lingkungan istana. Tidak, dia tidak setolol itu. Atas bantuan keuangan dari Hwee Lan yang menjual barang-barang perhiasan mahal, Tang Gun telah membeli sebuah rumah di kota Yu-sian, jauh di sebelah barat kota raja.

Menurut rencana mereka, jika dua orang wanita itu sudah dilarikan ke Yu-sian, kemudian keributan karena pelarian mereka itu sudah mereda, maka Tang Gun akan melepaskan jabatannya lalu menyusul ke Yu-sian di mana mereka akan hidup baru dengan berdagang menggunakan modal yang sudah mereka kumpulkan.

Tidak lama kemudian muncullah dua orang wanita muda itu sambil membawa buntalan. Tang Gun segera menyambut mereka dengan rangkulan dan mereka berciuman mesra, lalu ketiganya menyelinap di antara pohon-pohon dan rumpun bunga di taman, melarikan diri melalui jalan yang sudah di atur oleh Tang Gun. Sesuai rencana, mereka dapat keluar dari lingkungan istana tanpa diketahui orang.

Seorang paman, sanak dari ibunya, sudah menanti di luar tembok istana dengan sebuah kereta. Dua orang wanita itu segera naik ke dalam kereta. Sesudah mereka berangkulan sejenak dengan Tang Gun di dalam kereta untuk mengambil selamat berpisah, kereta lalu dilarikan dan Tang Gun menyelinap kembali ke dalam tembok istana, kembali ke gardu penjagaan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Pada keesokan harinya barulah para selir dan dayang menjadi ribut karena mereka tidak melihat adanya Hwee Lan dan A Sui di sana. Setelah melapor kepada Tang-ciangkun dan komandan ini mengerahkan semua anak buahnya mencari-cari di dalam kompleks istana tanpa hasil, barulah laporan disampaikan kepada kaisar tentang menghilangnya selir dan dayang itu.

Bagi kaisar, kehilangan seorang selir dan seorang dayang tidak ada artinya karena dalam sehari saja dia mampu mendapatkan sepuluh orang penggantinya yang lebih muda dan cantik. Namun yang membuat kaisar marah sekali adalah karena peristiwa itu merupakan tamparan dan merupakan hal yang memalukan. Larinya mereka itu seolah-olah memberi kesan bahwa para selir dan dayang merasa tidak beruntung hidup di dalam istana. Sebab itu kaisar memanggil Tang Gun dan mernarahinya.

"Tang Gun! Engkaulah yang menjadi komandan jaga, komandan pengawal bagian dalam istana. Bagaimana sampai engkau dan pasukanmu kebobolan dan tidak tahu adanya dua orang wanita yang meloloskan diri dari istana?"

Tang Gun berlutut dan memberi hormat sampai dahinya menyentuh lantai. "Mohon beribu ampun, Sribaginda. Semalam hamba telah mengerahkan seluruh pasukan untuk berjaga-jaga, bahkan hamba sendiri ikut melakukan ronda. Akan tetapi tadi malam hawa demikian dinginnya sehingga para pengawal banyak yang berlindung di dalam gardu, Bahkan para pengawal di bagian luar istana pun banyak yang berada di dalam gardu sehingga tak ada seorang pun yang melihat dua orang wanita itu keluar dari dalam istana. Hamba menerima salah, dan hamba siap menerima hukuman dari paduka, bahkan hamba akan menerima andai kata hamba dihukum mati, buang atau dihentikan dari jabatan hamba sekali pun."

Ucapan terakhir itu bukan hanya untuk pemanis bibir atau untuk pengakuan salah belaka. Tang Gun akan bersyukur sekali kalau memang dia dihentikan dari jabatannya karena dia akan dapat segera menyusul kekasihnya ke kota Yu-sian.

Akan tetapi kaisar lantas mengampuninya karena kaisar masih teringat akan jasa perwira muda itu. Kaisar kemudian memerintahkan Tang Gun agar menghubungi para komandan pasukan pengawal di dalam dan di luar istana untuk melakukan penyelidikan dan mencari dua orang wanita yang lolos dari istana itu.

Untuk merangsang kerja mereka, kaisar menjanjikan kenaikan pangkat dan hadiah besar kepada siapa saja yang dapat berhasil membawa kembali dua orang wanita itu ke istana. Semua ini dilakukan kaisar bukan karena dia merasa sayang kepada dua orang wanita itu, melainkan karena dia ingin menghapus kesan buruk dan akan menghukum mereka.

Tentu saja usaha ini sia-sia belaka. Memang tidak mudah mencari dua orang wanita yang sudah pergi jauh itu, apa lagi ada Tang Gun yang selalu mengelabui dan menyesatkan arah penyelidikan dan pengejaran.

********************

Malam itu kembali Tang Gun berdinas jaga. Dia duduk termenung di dalam gardu jaga. Sudah lewat sebulan semenjak kekasihnya pergi melarikan diri. Selama itu baru satu kali dia sempat menengok ke kota Yu-sian dengan dalih mencari jejak mereka yang melarikan diri, sekalian cuti.

Hatinya lega bahwa Hwee Lan dan A Sui sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Dengan pamannya sebagai tuan rumah, kedatangan mereka sebagai penduduk baru tidak menimbulkan kecurigaan. Akan tetapi hanya sehari semalam saja dia dapat melepaskan rindunya kepada Hwee Lan dan A Sui.

Dia harus cepat mengundurkan diri dari jabatannya, pikirnya. Akan tetapi tidak sekarang, karena akibat pelarian itu sekarang masih menjadi buah bibir, juga kaisar masih belum melupakan peristiwa itu dan sering kali menanyakan berita pencarian dua orang wanita itu.

Tang Gun merasa gelisah. Dua orang kekasihnya di Yu-sian itu terlampau cantik. Mereka masih muda, juga mereka sampai nekat melarikan diri dari istana adalah karena merasa kesepian dan ingin menikmati hidup bersama dia. Sekarang, kembali mereka kesepian di Yu-sian dan hal itu amat berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Siapa tahu akan muncul penggoda di sana, seorang pemuda yang ganteng! Hatinya dipenuhi rasa cemburu dan dia semakin gelisah.

Dia bangkit dan memesan kepada anak buah yang berada di pintu supaya waspada. Dia sendiri lalu meninggalkan gardu dan memasuki taman. Dia ingin mencari angin dan hawa sejuk untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

Tanpa disengaja langkah-langkah kakinya membawanya menuju taman barat, kemudian tibalah dia di depan pondok Sarang Madu. Ia berhenti sejenak dan membayangkan semua pengalaman yang amat menyenangkan di pondok itu bersama Hwee Lan dan A Sui. Maka terkenanglah dia kepada mereka dan timbul perasaan rindu.

"Tang-ciangkun....”

Suara merdu seorang wanita yang memanggilnya itu membuat Tang Gun tersentak kaget. Hampir saja dia berseru memanggil nama A Sui ketika melihat munculnya seorang gadis berpakaian dayang dari balik semak-semak. Teringat bahwa A Sui sudah pergi bersama Hwee Lan, dia cepat menahan suaranya dan memandang penuh perhatian.

Ternyata wanita itu adalah A Cui, seorang dayang lain, pelayan dari selir ke lima kaisar. Karena banyaknya dayang di istana, tentu saja Tang Gun tidak mengenal mereka semua dan meski pun dia tahu bahwa wanita yang manis ini pun seorang dayang, tetapi dia tidak tahu siapa namanya.

"Ada apakah? Siapakah engkau dan mengapa memanggilku di sini?" tanyanya, pura-pura alim. Kalau saja tidak pernah terjadi peristiwa larinya Hwee Lan dan A Sui, tentu sikapnya berbeda dan dia akan lebih ramah dan manis terhadap dayang ini.

"Ssttt, Ciangkun, aku A Cui dan aku akan membicarakan urusan penting denganmu. Mari kita masuk ke dalam pondok dan bicara di dalam," kata wanita itu sambil melepas kerling tajam disertai senyum manis menantang.

Ketika itu Tang Gun sedang berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan setiap kecurigaan tentang menghilangnya selir kaisar dan dayangnya itu dari dirinya. Maka, biar pun dengan hati menyesal, terpaksa dia tidak berani melayani tantangan yang menggairahkan itu.

"Aihh, nona A Cui. Jangan main-main. Mana aku berani?" katanya menolak.

"Tang-ciangkun, tidak usah berpura-pura. Aku mau bicara tentang rahasia pondok Sarang Madu. Hayolah!" Dia lalu melangkah menuju ke pintu depan pondok.

Tang Gun mengerutkan alisnya. "Rahasia pondok Sarang Madu'?" jantungnya berdebar tegang. "Apa maksudmu?"

"Maksudku... hemmm, apa lagi kalau tidak mengenai Hwee Lan dan A Sui? Nah, maukah engkau ikut masuk? Atau engkau lebih suka kalau aku membicarakan urusan itu dengan orang lain?"

Mendengar ucapan itu, seketika pucat wajah Tang Gun. Tak perlu di jelaskan lagi, sudah cukup jelas, bahkan sudah terlampau jelas bahwa dayang ini mengetahui semua rahasia pelarian Hwee Lan dan A Sui! Maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengiringi wanita itu melangkah masuk ke dalam pondok Sarang Madu.

Setelah mereka tiba di dalam pondok, Tang Gun segera bertanya lirih, ”A Cui, sebetulnya apakah yang kau inginkan?”

A Cui membalik kemudian mendekati Tang Gun, matanya mengerling tajam dan mulutnya tersenyum. “Masih perlukah engkau bertanya lagi, orang muda yang tampan? Aku tidak membutuhkan apa-apa kecuali apa yang dibutuhkan Hwee Lan dan A Sui dan aku tidak menginginkan apa-apa darimu kecuali apa yang telah kau berikan kepada mereka.”

Wanita itu kemudian melingkarkan kedua lengannya ke leher Tang Gun. Dua buah lengan itu melingkari leher sekuat dua ekor ular dan yang terdengar kemudian hanya dengus dan rintih, disusul napas tersendat-sendat dalam kegelapan di pondok Sarang Madu itu.

Baik A Cui mau pun Tang Gun tidak tahu betapa semenjak tadi ada sepasang mata tajam mencorong yang mengintai perbuatan mereka, sejak mereka saling jumpa di luar pondok. Pemilik mata ini adalah seorang lelaki setengah tua, berusia sekitar lima puluh lima tahun, bertubuh sedang masih tegap, pakaiannya amat rapi. Tentu saja Tang Gun tak mengenal Tang Bun An, atau yang berjuluk Ang-hong-cu Si Kurnbang Merah!

Seperti yang telah kita ketahui, Tang Bun An pergi ke kota raja untuk memulai hidup baru sebab dia merasa telah tua dan mulai bosan dengan kehidupan petualangan seperti yang selama ini dialaminya. Musuhnya terlampau banyak, malah akhir-akhir ini dia dikejar-kejar orang-orang pandai sekali, termasuk puteranya sendiri yang bernama Tang Hay.

Dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja dan mencari kedudukan, untuk dapat mengembalikan kedudukan dan kemuliaan yang dahulu pernah dimiliki ayah kandungnya, yaitu mendiang Tang Siok yang menjadi pejabat tinggi di kota raja. Dia harus bisa meraih suatu kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang pernah dimiliki ayahnya.

Satu-satunya jalan untuk dapat memperoleh kedudukan tinggi itu hanyalah membuat jasa, kalau mungkin langsung terhadap Kaisar! Biar pun dia pandai ilmu silat dan mengerti juga ilmu sastera, tetapi tanpa memiliki hubungan yang baik dengan para pejabat tinggi, maka akan sukarlah untuk memperoleh kedudukan. Apa lagi bagi seorang setua dia.

Setelah berada di kota raja, Tang Bun An segera mendengar berita yang sangat menarik hatinya, yaitu tentang adanya seorang perwira pengawal muda yang menyebarkan berita bahwa perwira itu adalah putera dari Ang-hong-cu! Hal ini dirasakannya amat aneh.

Bukankah selama ini namanya dianggap jahat dan buruk, dibenci oleh para pendekar dan ditakuti di dunia kang-ouw? Bahkan andai kata dia memiliki anak kandung, seperti halnya Tang Hay, maka anak itu tentu akan malu mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Namun kenapa orang ini, seorang perwira pengawal pula, menyebarkan berita bahwa dia adalah putera Ang-hong-cu. Seolah-olah hal itu membanggakan hatinya?

Tadinya dia hanya tersenyum saja mendengar berita itu dan dia menganggap perwira itu adalah seorang pemuda tolol yang suka membanggakan diri meminjam ketenaran orang lain. Akan tetapi setelah dia mendengar bahwa perwira muda itu bernama Tang Gun, dia terkejut! She Tang? Dunia kang-ouw sudah sangat mengenal nama julukan Ang-hong-cu, namun tidak ada atau amat jarang sekali orang mengetahui bahwa Ang-hong-cu memiliki she (nama keturunan) Tang!

Berita itu amat menarik hati Tang Bun An. Apa lagi ketika dia mendengar bahwa perwira bernama Tang Gun itu kini bekerja sebagai seorang komandan pengawal dalam istana, sebuah kedudukan yang diterimanya sebagai hadiah dari kaisar karena Tang Gun pernah menolong rombongan kaisar dari gangguan pemberontak dua tiga tahun yang lalu!

Ahh, siapa tahu, dari orang yang mengaku puteranya inilah datang kesempatan baginya untuk meraih kedudukan! Dan memang dia harus dapat mendekati istana, tempat tinggal kaisar kalau dia ingin memperoleh pangkat yang tinggi.

Demikianlah, sesudah melakukan penyelidikan tentang keadaan istana, Tang Bun An lalu menggunakan ilmu kepandaiannya dan dengan tidak betapa sukar dia berhasil melewati pagar tembok lalu masuk ke dalam taman bunga di bagian barat, dan kebetulan sekali dia dapat melihat dan mendengar pertemuan antara perwira Tang Gun dan seorang dayang.

Ia belum sempat menyelidiki perwira yang mengaku puteranya itu, maka tadinya dia tidak tahu siapa perwira yang mengadakan pertemuan dengan seorang dayang istana itu. Akan tetapi dia menjadi terkejut dan juga merasa gembira sekali setelah mendengar dayang itu menyebut ‘Tang-ciangkun’. Tak salah lagi, pikirnya. Inilah perwira yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu itu!

Dari penerangan yang tidak begitu cerah, cukup baginya untuk bernapas lega. Setidaknya orang muda itu tidak mengecewakan untuk menjadi puteranya. Jangkung, tegap, tampan dan gagah. Apa lagi setelah dia mendengar percakapan antara mereka, hatinya merasa bangga sekali.

Pemuda yang mengaku sebagai puteranya ini ternyata seorang pria yang disukai wanita! Buktinya, dayang itu juga memikat cintanya, dan menggunakan semacam rahasia pondok Sarang Madu sebagai alat untuk memeras agar perwira muda itu suka memuaskan nafsu birahinya! Diam-diam Tang Bun An tersenyum bangga, dan melihat pemuda itu mengikuti si dayang memasuki pondok, dia pun cepat meloncat ke atas genteng untuk melakukan pengintaian. Di dalam kamar pondok itu hanya diterangi dua buah lilin, namun cukup bagi mata Tang Bun An yang tajam dan terlatih baik.

Mula-mula dia hendak melihat apakah orang yang mengaku sebagai puteranya itu cukup jantan melayani wanita dalam bercinta. Namun dia segera terbelalak ketika mengintai dari atas. Mula-mula hanya terdengar suara dengus napas dan rintihan, lantas disusul napas yang tersendat-sendat! Ia melihat perwira muda yang mengaku puteranya itu sama sekali tidak mencumbu rayu, tidak membelai mesra, tapi mencekik leher gadis itu menggunakan ikat pinggang dayang itu sendiri!

Betapa gilanya! Sayang kalau gadis muda semanis itu dibunuh begitu saja! Kalau perwira muda itu sudah menikmatinya, mau dibunuh atau tidak dia tidak akan peduli. Akan tetapi jelas bahwa mereka itu baru saja saling bertemu, lalu mengapa perwira itu membunuhnya tanpa membelai atau mencumbu sedikit pun?

Namun dia menahan diri, tidak mau mencampuri karena ingin sekali tahu perkembangan selanjutnya. Baginya, keadaan perwira muda yang mengaku puteranya itu tentu saja jauh lebih menarik dan lebih penting dari pada nyawa seorang gadis dayang istana!

Melihat cara perwira itu membunuh dayang, yang memakan waktu cepat sekali, Tang Bun An dapat menduga bahwa perwira muda itu sedikit banyak memiliki tenaga yang lumayan juga.

Sekarang Tang Gun melepaskan ikat pinggang dayang itu, mengikat ujung ikat pinggang ke atas tiang dan menggantung mayat dayang itu pada lehernya, mengatur sedemikian rupa sehingga sekali lihat saja orang akan menduga bahwa dayang itu mati akibat bunuh diri dengan cara menggantung. Dia juga membalikkan sebuah bangku di bawah mayat.

Dengan cermat dia mengukur dan memperhitungkan. Jika gadis itu membunuh diri, tentu menggunakan bangku itu untuk berdiri, kemudian mengikat ujung ikat pinggang ke tiang, mengikatkan ujung yang lain di lehernya dan menendang bangku itu sehingga tubuhnya tergantung dan mati tercekik. Tepat sekali. Sesudah merasa puas, dia pun meniup padam api lilin dan keluar dari dalam pondok, lalu menutupkan daun pintu pondok itu. Kemudian, dengan tenang dia pun kembali ke pos penjagaan seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Pada keesokan harinya, istana kaisar kembali menjadi gempar pada waktu mayat A Cui ditemukan dalam keadaan menyedihkan. Ia mati tergantung dalam Pondok Sarang Madu, lidahnya terjulur panjang, kedua matanya melotot dan tubuhnya kaku! Akan tetapi karena keadaannya jelas menunjukkan bahwa dia telah menggantung diri sampai mati, maka tak ada persoalan lain kecuali mengurus mayatnya dan selanjutnya tidak ada apa-apa lagi.

Meski pun Tang Gun sudah berhasil membunuh A Cui yang mengetahui rahasianya tanpa meninggalkan jejak, tetap saja hatinya merasa tidak tenteram. Dia dapat menduga bahwa kalau sampai A Cui mengetahui rahasia itu, berarti A Sui, dayang yang menjadi pelayan Hwee Lan itulah yang bermulut panjang dan membocorkan rahasia. Mungkin hanya untuk pamer dan membanggakan diri bahwa dia sudah berhasil menjadi kekasih perwira Tang yang banyak dikagumi para puteri itu!

Yang membuat dia gelisah, siapa saja yang sudah mengetahui akan rahasia itu? Apakah A Sui hanya bercerita kepada A Cui saja? Ataukah celotehnya didengar oleh lebih banyak dayang lagi? Celakalah kalau begitu!

Dia harus cepat-cepat pergi ke kota Yu-sian untuk minta keterangan A Sui, dan dayang yang panjang mulut itu perlu ditegur, atau bahkan dihajar supaya lain kali tidak berani lagi berlancang mulut menyebarkan rahasia yang seharusnya dipegang teguh karena sangat berbahaya kalau sampai terdengar oleh istana.

Pada keesokan harinya, Tang Gun mohon diri dari kaisar untuk keluar dari istana dalam usahanya menyelidiki sendiri kehilangan selir Hwee Lan dan pelayannya, A Sui. Untuk itu, dia minta cuti selama sebulan. Tentu saja permohonannya dikabulkan karena kaisar juga masih merasa amat penasaran dengan menghilangnya selir dan dayangnya itu, dan hal ini memang sepenuhnya menjadi tanggung jawab Tang Gun sebagai perwira pengawal dalam istana untuk dapat menangkap selir yang melarikan diri itu.

********************