Sekutu Iblis

Pendekar Rajawali Sakti

SEKUTU IBLIS


SATU
JALAN menuju Desa Watu Jajar melalui sebelah utara tampaknya memang tak begitu bagus. Lagi pula terlihat sempit, seperti membatasi sebuah sungai yang lebar dengan hutan yang lebat di sebelah kiri. Tak heran, karena itu hanyalah jalan setapak. Namun jalan itu adalah jalan pintas menuju daerah utara. Meskipun demikian, tampaknya jalan yang hanya cukup dilalui pedati itu, banyak juga dilalui orang.

Memang pemandangan di sekitar tempat ini cukup mempesona. Jauh di depan sana, terlihat barisan gunung yang menjulang tinggi. Sedangkan di seberang sungai, akan terlihat sawah-sawah menghijau bagai permadani yang amat luas.

Siang ini, matahari tak terlalu menyengat. Sedangkan angin bertiup sepoi-sepoi, membuat seorang pemuda yang tengah menunggang kuda tampak terkantuk-kantuk. Jalan tampak sepi. Dan sejak tadi, dia hanya berjalan seorang diri, tanpa berpapasan dengan siapa pun. Pemuda tampan berambut panjang terurai itu memakai baju rompi putih. Tampak sebilah pedang tersampir di punggungnya.

"Hm.... Indah sekali pemandangan di tempat ini. Dan padi-padi yang subur itu tentu menandakan kalau penduduk desa ini hidup lebih makmur." gumam pemuda itu.

Pemuda itu terus menjalankan kudanya dengan kecepatan sedang. Kini dia memasuki daerah perkampungan. Dan tampak orang-orang mulai ramai. Sesungguhnya, penduduk Desa Watu Jajar itu cu­kup padat. Dan bentuk rumah tiap penduduknya, bisa terlihat bahwa mereka cukup makmur. Pendu­duknya juga sehat-sehat. Tak ada anak-anak menangis di tengah jalan karena kelaparan. Tak ada keributan atau perkelahian yang memperebutkan sekerat makanan.

"Hm.... Sungguh beruntung kerajaan di negeri ini, jika setiap wilayahnya seperti desa ini. Di Karang Setra saja, belum tentu aku mampu membuat seluruh rakyatku hidup makmur serta damai," lanjut pemuda yang kalau melihat ciri-cirinya adalah Rangga yang lebih dikenal sebagai Pendekar Raja­wali Sakti.

Rangga lalu menghentikan lari kudanya. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Namun beberapa saat kemudian, terlihat sesuatu yang aneh dan tak dirasakan Pendekar Rajawali Sakti sejak awal. Ada suatu hal yang amat menarik perhatiannya. Rangga jadi bertanya-tanya sendiri, karena lama-kelamaan dirinya merasa asing di tempat ini. Agaknya penduduk desa ini tak begitu ramah terhadap orang asing. Mereka seolah tak mempedulikan kehadirannya. Bahkan ada kecurigaan lain yang dirasakan pemuda itu. Ternyata wajah mereka banyak menunjukkan rasa putus asa, ketakutan dan tak tenang. Seolah-olah ada kejadian hebat. Entah berupa bencana, atau yang lainnya. Tapi sepanjang yang diperhatikannya, Pendekar Rajawali Sakti tak melihat bencana apa yang menimpa desa ini.

"Ada baiknya aku menanyakan hal ini pada mereka!" bisik Pendekar Rajawali Sakti dalam hati. Rangga kemudian turun dari punggung kuda hitamnya yang bernama Dewa Bayu. Dituntunnya Dewa Bayu sambil berjalan memasuki desa lewat jalan utama, seperti membelah desa menjadi dua bagian. Tak lama, Rangga berpapasan dengan seorang laki-laki setengah baya.

"Maaf, Ki. Bolehkah aku bertanya?"

Laki-laki setengah baya itu tak menyahut. Di pandanginya Pendekar Rajawali Sakti dengan seksama dari ujung kaki hingga kepala. Sebentar ke­mudian, dia seperti enggan. Bahkan berusaha untuk berlalu, tanpa mempedulikan pemuda itu. Hal itu amat mengherankan Rangga. Dan laki-laki sete­ngah baya itu segera berlalu, begitu Rangga bergerak ke samping, memberi jalan. Pendekar Rajawali Sakti kemudian melangkah kembali, setelah mengangkat bahu dengan kening berkerut dalam. Tak lama, dia berpapasan kembali dengan seorang laki-laki tua. Rasa penasaran, membuat Rangga kembali mengungkapkan rasa ingin tahunya. Namun sikap orang itu pun sama. Bahkan kelihatan takut sekali, dan langsung berlalu dari situ. Tentu saja hal itu semakin menimbulkan keheranan di hati pemuda itu.

"Kenapa mereka? Apa yang telah terjadi di desa ini...?" tanya Rangga pada diri sendiri dengan wajah semakin heran.

Rangga segera melangkahkan kaki ke sebuah kedai kecil yang terletak beberapa tombak di depannya. Begitu tiba di depan pintu kedai, Rangga melihat tak terlalu banyak orang. Paling tidak, ha­nya terdapat sekitar lima orang di dalam kedai ini. Pendekar Rajawali Sakti segera melangkah ke da­lam, menghampiri seorang laki-laki agak tua yang sepertinya pelayan kedai ini.

"Kisanak, numpang tanya. Apakah di desa ini tengah terjadi bencana? Kenapa orang-orang di sini takut berbicara?"

Pelayan kedai itu terkejut. Kemudian dipandanginya pemuda itu dalam-dalam dengan wajah takut. Matanya segera melirik ke kiri dan kanan, kemudian kembali memandang pemuda itu dengan wajah tak senang.

"Kisanak, maaf... Kami tak bisa melayani. Sebaiknya, lekaslah pergi dari tempat ini," kata pelayan itu, tegas.

Kini Rangga yang kaget. "Kenapa? Apakah kedai ini tak menjual makanan?" tanya Rangga dengan kening berkerut.

"Maaf, sudah habis," sahut pelayan itu singkat, sambil berlalu ke belakang dan tak kembali lagi.

Dengan perasaan kesal, Rangga segera berbalik dan keluar dari kedai itu. Dia tahu, pelayan kedai tadi berdusta. Buktinya ketika sudah berada di pintu depan kedai, matanya sempat melirik salah seorang pengunjung kedai yang tengah menambah makanannya. Dan matanya juga bisa melihat kalau persediaan makanan di kedai ini masih banyak. Hanya saja pemuda itu tak mau ribut-ribut, meskipun hatinya kesal dibohongi begitu.

"Gila! Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa mereka takut untuk membicarakannya? Apakah desa ini tengah dilanda bencana hebat yang dilakukan seseorang? Hm... Aku harus mencari tahu, apa yang terjadi di sini. Tapi pada siapa? Mereka semua takut berbicara padaku," gumam Rangga dalam hati sambil terus berjalan menghampin kuda­nya.

Mendadak saat itu seseorang lewat di dekatnya.

"Kisanak, aku bisa menjawab pertanyaanmu. Ikuti aku. Dan, jangan membuat curiga orang lain," bisik orang itu, tanpa menoleh.

"Heh?!"

Rangga langsung merubah sikapnya, dan pura-pura tak melihat laki-laki bertubuh sedang berkumis tipis yang terus berjalan ke arah yang berlawanan. Pendekar Rajawali Sakti sendiri terus berjalan ke depan. Setelah jaraknya agak jauh, tubuhnya berbalik. Langsung dibuntutinya laki-laki itu dari jarak jauh dengan perlahan-lahan.

Ketika mereka tiba di ujung desa, laki-laki itu memasuki sebuah rumah yang berada paling ujung, dan sedikit jauh dari yang lain. Rangga juga sudah tiba di depan rumah tua itu. Ditunggunya sesaat, sebelum masuk.

"Kisanak, silakan masuk!" ujar laki-laki itu sambil membukakan pintu ketika Rangga mengetuknya.

Bola mata laki-laki itu melirik ke sekelilingnya, kemudian melangkah ke luar. Dituntunnya kuda tunggangan pemuda itu.

"Maaf, kudamu harus kusembunyikan di belakang," lanjut laki-laki itu.

Rangga mengangguk setuju, melihat kewaspadaan laki-laki itu. Segera kakinya melangkah ma­suk. Tak lama kemudian, laki-laki tadi sudah muncul lagi, menyusul Rangga yang sudah ada di da­lam.

Ternyata, di dalam sudah ada seorang wanita setengah baya, tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Wajahnya manis, kulitnya kuning langsat. Dia memakai baju putih agak lusuh.

"Dia istriku. Namanya, Laksmi," kata laki-laki itu, ketika Rangga agak terpaku, tidak menyangka di dalam rumah ini ada seorang wanita.

Pendekar Rajawali Sakti lalu membungkukkan tubuhnya sedikit disertai senyum manis. Sementara wanita itu membalas penghormatan Rangga dengan anggukan kepala yang lembut.

"Kisanak, maafkan atas cara-caraku mengajakmu ke sini...," ucap laki-laki itu.

"Mari silakan duduk."

"Ah, tidak apa. Nah, katakanlah. Mengapa kau mengajakku ke sini?" tanya Rangga, setelah duduk di bangku dekat jendela yang sedikit terbuka.

Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu tak buru-buru menjawab. Malah diperhatikannya pemuda itu dengan seksama, beralih pada istrinya. Sebentar dia memberi isyarat dengan kepala agar istrinya segera ke belakang.

"Kisanak..., eh! Ng...," laki-laki itu membuka suara, setelah istrinya menghilang di balik pintu.

"Namaku Rangga...."

"Eh, aku Widura. Rangga, kulihat kau membawa-bawa pedang. Kalau tak salah, kau pasti seo­rang pendekar berkepandaian tinggi. Hm.... Bila kuceritakan sesuatu padamu, maukah kau menolong kami?"

Rangga tersenyum mendengar kata-kata laki-laki yang ternyata bernama Widura.

"Paman Widura, aku hanya seorang pengembara. Dan kalau aku punya kepandaian, tidak se­perti yang kau duga. Namun, dengan senang hati aku akan menolong jika memang amat diperlukan. Nah, apakah yang bisa kubantu?" tanya Rangga, merendah. Dan dia juga sudah memanggil paman pada Widura.

"Desa ini...!" desis Paman Widura, murung.

"Kenapa dengan desa ini, Paman?" tanya Rangga tertarik.

"Aku tadi sempat melihatmu tengah bertanya-tanya tentang keadaan desa ini pada orang-orang. Aku tahu, mereka takut bicara. Tapi begitu melihat­mu, aku lantas berharap mudah-mudahan kau bisa membebaskan kami dari ulah dewa keparat itu!" geram Paman Widura, sambil menggerutkan geraham.

"Dewa? Dewa apa, Paman?"

"Beberapa bulan lalu, ada orang asing yang datang ke desa ini. Dan dia mengaku sebagai utusan dewa. Bila kami menuruti kata-katanya, maka desa ini akan makmur dan sentosa. Namun bila membantah, maka bencana akan menimpa. Tentu saja hal itu amat menggelikan. Malah, tak seorang pun penduduk desa ini yang mempercayai ocehannya. Tapi beberapa hari kemudian, terjadi peristiwa aneh yang amat mengejutkan. Beberapa penduduk desa ditemukan tewas dengan tubuh membusuk dan kulit terkelupas, setelah menderita sakit terlebih dahulu. Peristiwa ini terus berlanjut, sehingga menimbulkan ketakutan bagi seluruh penduduk desa ini," tutur Paman Widura.

"Lalu, apa tindakan penduduk desa?"

"Beberapa tabib telah didatangkan untuk mengobati mereka yang sakit. Dan beberapa orang dukun pun berusaha melawan setan jahat yang menguasai desa ini. Tapi, justru merekalah yang ke­mudian tewas. Kemudian bencana lain kembali menimpa. Sumur-sumur di setiap rumah mulai tak aman, karena mengandung racun. Akibatnya, sebagian besar penduduk desa ini lemah tak berdaya, dan dibayangi ketakutan hebat. Akhirnya, jalan kami memang buntu. Maka, terpaksa kami minta pada orang asing itu agar menghentikan kutukan dewanya...," lanjut Paman Widura.

"Apakah dewa itu berhasil menghentikan kutukan?" tanya Rangga semakin tertarik. Paman Widura mengangguk.

"Apa keinginan dewa itu?"

"Setiap purnama kami wajib menyerahkan seorang perawan berwajah cantik, serta benda-benda berharga sebagai persembahan. Siapa saja yang tak setuju, bisa dipastikan akan tewas dalam waktu singkat..."

Rangga mengangguk-angguk mengerti. "Paman Widura, di mana aku bisa menjumpai dewa itu?"

"Tak seorang pun penduduk desa ini yang mengetahuinya. Kami hanya memberikan persembah­an pada utusannya yang sering berkeliaran di te­ngah desa, dengan mengadakan sedikit upacara di kaki Bukit Belimbang, di sebelah barat desa ini," jelas Paman Widura.

"Hm.... Kalau begitu, tunjukkan padaku dimana keberadaan utusan dewa itu berada."

"Maaf, Rangga Aku tak bisa mempertemukanmu dengannya. Ini sangat berbahaya bagi keselamatanmu sendiri. Tapi, kau bisa menemui seorang laki-laki berkulit hitam. Tubuhnya pendek. Telinganya agak lebar dengan hidung pesek besar. Dia memakai penutup kepala berwarna coklat, dan rompi putih sepertimu. Pokoknya, dia sering berkeliaran di keramaian desa," jelas Paman Widura lagi.

"Baiklah. Aku akan mencarinya sendiri nanti...."

"Rangga! Betulkah kau sudi menolong kami untuk menghancurkan dewa keparat itu?" Paman Widura seperti tak percaya.

Rangga mengangguk disertai senyum ramah di bibir.

"Dan jika kau membutuhkan penginapan selama berada di desa ini, anggaplah rumahku seperti rumahmu sendiri. Pintuku selalu terbuka untukmu. Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih atas kesediaanmu membantu kami," tambah laki-laki bertubuh kecil itu.

"Paman Widura, sudahlah. Jangan terlalu repot-repot atau sungkan denganku. Bukankah kewajiban setiap manusia adalah saling tolong-menolong?" Rangga jadi tak enak sendiri, karena terlalu dihormati oleh Paman Widura.

Paman Widura tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dan mereka terus berbincang-bincang panjang lebar tentang keadaan desa ini, sambil makan singkong rebus dan kopi hangat. Sehingga, Rangga dapat mengetahui lebih banyak tentang keadaan Desa Watu Jajar ini.

********************

Menjelang sore hari, Rangga sudah berada kembali di tengah-tengah Desa Watu Jajar. Diperhatikannya dengan seksama orang-orang yang lalu lalang di sekitar desa. Pendekar Rajawali Sakti berusaha mencocokkan ciri-ciri orang yang dianggap sebagai utusan dewa itu, seperti yang dituturkan Paman Widura. Benar saja tak berapa lama, orang yang tengah dicari tampak sedang ber­bicara dengan sekelompok orang. Laki-laki itu persis seperti yang digambarkan Paman Widura. Usianya sekitar lima puluh tahun. Rambutnya yang tipis telah memutih sebagian. Jubahnya hitam, agak lusuh. Di tangannya, tampak tergenggam sebatang tongkat panjang yang pangkalnya berbentuk bulat.

Pendekar Rajawali Sakti diam-diam segera mengerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara' dari jarak sekitar sepuluh tombak, untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Tak ada seorang pun yang tahu, kalau pemuda itu sedang mencuri dengar.

Pemuda itu mengerutkan keningnya ketika orang yang mengaku sebagai utusan dewa itu membicarakan tentang persembahan yang harus dilakukan penduduk desa pada bulan purnama yang tinggal beberapa hari lagi saja. Setelah pembicaraan selesai, laki-laki berjubah hitam itu segera berlalu diikuti yang lainnya. Sementara Rangga segera mengikuti utusan itu dari jauh sambil menuntun ku­danya. Namun agaknya utusan itu mengerti kalau tengah diikuti seseorang. Terbukti beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang.

Belum begitu lama membuntuti, Rangga sudah terperangkap dalam keramaian orang yang lalu-lalang di jalan utama desa itu. Akibatnya, buruannya jadi hilang. Rangga menjulurkan lehernya sambil memandang ke sekelilingnya. Dia tahu betul laki-laki berjubah hitam itu belum begitu jauh. Dugaannya, orang itu pasti bersembunyi di suatu tempat. Rangga terus melangkah pelan sambil menajamkan pandangannya. Dan begitu sampai, di sebatang pohon besar, langkahnya terhenti. Sebentar ditepuk-tepuknya leher kuda hitam tunggangannya.

"Dewa Bayu! Kau pasti sudah letih sekali, bukan? Nah, sebaiknya kita beristirahat dulu di sini. Nanti kita mencari air untuk menghilangkan dahaga," ujar Rangga, mengajak bicara kudanya.

Sedangkan Dewa Bayu langsung mengangguk-angguk, seperti mengerti. Pendekar Rajawali Sakti segera menambatkan tunggangannya di salah satu cabang pohon. Kembali ditepuk-tepuknya leher kuda hitam itu, lalu duduk tenang di atas sebuah batu besar, yang terdapat di bawah pohon. Dan belum juga Rangga melepaskan lelahnya, mendadak sesosok tubuh meluncur ringan dari atas pohon. Ringan sekali kakinya mendarat, pertanda kepandaiannya sudah cukup tinggi. Kini jelas, siapa yang baru turun dari atas pohon itu.

"Kisanak! Apa yang kau inginkan, sehingga membuntutiku sampai ke tempat ini?" tanya orang yang tak lain laki-laki berjubah hitam. Dialah yang mengaku sebagai utusan dewa. Rangga bangkit dari duduknya sambil tersenyum. Kemudian diberikannya salam penghormatan pada laki-laki berjubah hitam di depannya.

"Kisanak! Aku hanya ingin minta petunjuk, bagaimana caranya agar bisa bertemu dewamu..."

"Apa yang kau inginkan?" tanya laki-laki itu, masih curiga.

"Bukankah seorang hamba akan merasa bahagia sekali dan merasa mendapat anugerah, bila bisa bertemu dengan dewanya? Dan salahkah aku bila ingin mendapat kemuliaan bila dapat bertemu dengannya?" kata Rangga, mulai bersiasat.

"Hm.... Kau kelihatannya bukan orang bodoh, Kisanak. Lagi pula kau bukan orang sini. Kulihat, di hatimu tersimpan niat-niat busuk. Bahkan isi kepalamu berisi kegelapan yang akan digunakan un­tuk menghina dewa kami. Kau masih belum bisa bertemu dengannya! Nanti jika hati dan pikiranmu sudah bersih, barulah bisa bertemu," sahut utusan itu tegas.

"Tapi, Kisanak. Bukankah hanya dewa yang bisa demikian? Aku hanya seorang hamba hina, lagi papa. Jadi, mana mampu membuat hati dan pikiranku bersih tanpa bantuan dewa. Tolonglah, Kisanak. Aku ingin mensucikan diri...."

"Maaf. Aku tak bisa membantu. Bersihkanlah hatimu dahulu dari niat-niat buruk. Dan, jernihkanlah pikiranmu dari kekeruhan. Setelah itu, barulah aku bisa membantumu agar bisa bertemu dengan­nya," kata laki-laki berjubah hitam itu, segera berlalu.

Rangga hanya tersenyum. Dibiarkannya laki-laki itu pergi. "Hm.... Aku tahu. Hanya dewa gadungan saja yang tak mau menolong hambanya!" ejek Rangga langsung, ketika utusan dewa itu telah berjalan beberapa langkah.

Laki-laki berjubah hitam itu kontan menghentikan langkahnya, dan berbalik. Ditatapnya Rangga dengan sorot mata penuh kebencian.

"Kisanak! Apa maksudmu bicara begitu, heh?!" bentak utusan itu.

"Hm.... Ternyata dewamu tak bisa memberi anugerah agar telingamu mampu mendengar lebih tajam. Dan itu semakin memperkuat dugaanku, ka­lau dewa yang kau katakan itu pasti gadungan," sahut Rangga seenaknya.

"Kisanak! Cabutlah kata-katamu kalau tak ingin celaka dikutuk dewata!" bentak laki-laki berjubah hitam itu keras. Wajahnya tampak semakin merah, menahan amarah bercampur geram.

"Ingin kulihat, apakah dewa yang kau katakan itu mampu mencegahku untuk menghajar dan membunuhmu!" gertak Rangga, dingin. Pendekar Rajawali Sakti mulai melangkah tenang, mengham­pin laki-laki itu.

Laki-laki berjubah hitam itu mulai bersiap-siap menjaga segala kemungkinan. Tubuhnya mulai menggeletar, mendengar kata-kata pemuda itu. Apalagi ketika jarak mereka semakin dekat saja.

Srak!
"Hm...."

Rangga terpaksa langsung mengalihkan perhatiannya begitu mendengar suara gesekan semak-semak. Memang, mendadak saja melesat sesosok tubuh dari arah semak-semak. Sosok tubuh itu lang­sung menerjangnya dengan gerakan cepat. Dari angin serangan yang datang, disadari kalau orang yang baru datang ini tak bisa dianggap enteng. Sehingga, dipapaknya serangan yang meluncur da­tang ke arahnya.

Plak! Plak!

DUA

Seketika terdengar benturan dahsyat, begitu Rangga memapak serangan dahsyat ke arah penyerangnya.

"Uhhh...!"

Sosok yang menyerang Pendekar Rajawali Sakti kontan terjajar beberapa langkah, begitu habis berbenturan disertai keluhan kesakitan. Rangga membiarkan orang itu mengatur pernapasannya, sambil menunggu kalau kalau mendapat serangan kembali. Sosok yang menyerang Rangga adalah laki-laki dengan pakaian dari lilitan kain hitam. Hampir seluruh tubuhnya tak terlihat, kecuali bagian mata­nya yang menyorot tajam ke arah Pendekar Raja­wali Sakti.

Pada mulanya, Rangga tak ingin meladeni orang itu kembali. Dan dia bermaksud untuk menangkap orang yang mengaku sebagai utusan dewa itu. Namun begitu matanya melirik, laki-laki ber­jubah hitam itu telah tidak ada lagi. Dan belum juga Rangga menduga ke mana arah kepergiannya, tiba-tiba...

"Yeaaaah...!"

Orang yang tubuhnya terbalut kain hitam itu cepat melesat, sambil melepaskan pukulan dahsyat.

"Uts, sial!" maki Rangga seraya memutar tubuhnya ke kiri. Sehingga, pukulan itu dapat dihindarinya.

"Kaulah yang sial hari ini, Kisanak. Kematianmu telah dekat! dengus laki-laki bertubuh sedang itu, setelah menjejak kembali di tanah.

"Hm... Hubunganmu agaknya dekat sekali dengan dewa yang disebut laki-laki berbaju hitam temanmu tadi. Apakah kau pun utusan yang lain?" kata Rangga, bertanya.

"Phuih! Apa pedulimu?! Berdoa-lah untuk keselamatanmu, karena sebentar lagi kau akan mampus!" dengus orang yang wajahnya terbalut kain hitam itu.

"Bicaramu sungguh hebat, Kisanak. Aku justru ingin menangkap dan menghukummu, agar dewamu datang dan menyelamatkanmu!" sahut Rangga, enteng.

"Keparat!" dengus orang bertopeng kain hitam itu.

"Uts...!"

Rangga cepat-cepat melenting ke atas ketika satu sapuan dilepaskan laki-laki bertopeng kain hitam itu ke arah perutnya. Tubuhnya langsung berputaran dan cepat meluncur turun dengan sebuah tendangan keras tanpa tenaga dalam ke arah wajah. Orang bertopeng itu terlihat gugup. Memang, gerakan Pendekar Rajawali Sakti cepat bukan main. Bahkan tak ada waktu lagi untuk menghindar. Maka....

Begk!
"Aaakh...!"

Orang bertopeng itu kontan menjerit kesakitan begitu tubuhnya terjungkal terhantam tendangan Pendekar Rajawali Sakti pada wajahnya. Dan belum lagi dia dapat menarik napas, Rangga sudah melesat cepat dengan satu pukulan keras tanpa tenaga dalam. Melihat hal ini, laki-laki bertopeng hitam itu semakin kaget saja. Maka dengan untung-untungan, dia menyelamatkan diri. Tubuhnya dijatuhkan ke tanah. Tapi ternyata saat itu juga kaki kiri Pendekar Rajawali Sakti langsung menyambutnya.

Dugk!
"Aaakh...!"

Diiringi pekik kesakitan, orang bertopeng hitam itu terpental beberapa tombak ke belakang. Lalu, tubuhnya keras sekali menghantam tanah. Dan Pendekar Rajawali Sakti kembali telah melesat mengejar. Terpaksa orang bertopeng itu bergulingan, menghindari diri. Kemudian, tubuhnya cepat melenting ke atas. Tapi pada saat yang sama, Pen­dekar Rajawali Sakti juga melenting sambil melepaskan serangan cepat ke arah lawan. Begitu cepatnya, sehingga kedua telapak kaki Pendekar Ra­jawali Sakti kembali menghantam keras dada orang bertopeng hitam itu.

Desss!
"Aaakh...!"

Kembali orang bertopeng itu terjungkal, dan jatuh keras di tanah. Tampak darah menembus kain hitam yang menutupi wajahnya, tepat di bagian mulut. Agaknya orang bertopeng itu telah terluka. Meskipun begitu, Rangga tak bermaksud menghabisinya. Dia butuh keterangan dari orang itu tentang dewa gadungan yang sedang dicarinya. Itulah sebabnya, serangan yang dilakukan tidak menggunakan tenaga dalam penuh. Dan hanya cukup untuk melukai saja.

"Sekarang, rasakanlah. Yeaaa...," gertak Pendekar Rajawali Sakti.

Tubuh Rangga cepat bagai kilat melesat ke arah orang bertopeng yang belum siap bangkit. Kali ini agaknya sulit bagi orang bertopeng itu untuk menyelamatkan diri. Namun sebelum hal itu terjadi, tiba-tiba melesat dua sosok tubuh bertopeng lain. Dan mereka langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti de­ngan pedang.

"Hiyaaa...!"
"Uts, sial..!"

Rangga terpaksa menghentikan serangannya, karena harus menghindari kelebatan pedang-pedang lawan yang mengincar tubuhnya. Dan kini, Pendekar Rajawali Sakti terpaksa melayani serangan pedang dari kedua lawannya.

Namun, kesempatan itu cepat digunakan oleh orang bertopeng yang pertama untuk kabur. Pende­kar Rajawali Sakti bermaksud mengejar, namun kedua orang bertopeng yang baru datang seakan tak memberi kesempatan sedikit pun. Gerakan me­reka begitu gesit. Dan agaknya, kepandaian mereka lebih tinggi setingkat dibanding orang bertopeng sebelumnya. Apalagi, kini mereka berdua bersenjata. Sehingga, semakin mempersulit gerakan Pen­dekar Rajawali Sakti saja.

"Yeaaa...!"
Bet! Bet!
"Sial!" dengus Rangga.

Memang, serangan yang dilakukan kedua orang itu amat cepat dan kompak. Agaknya mereka betul-betul telah terlatih untuk menyerang secara bersamaan. Ujung kedua pedang masing-masing te­rus berputar-putar, membentuk gulungan. Pende­kar Rajawali Sakti terpaksa harus bergerak cepat menghindar ke sana kemari, karena ujung-ujung pedang itu terus mengejar. Belum lagi, Pendekar Rajawali Sakti juga harus menghadapi tendangan-tendangan yang membuatnya agak sulit untuk bertarung pada jarak pendek.

Namun dengan pengerahan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', sampai saat ini belum ada pukulan maupun sabetan pedang yang mampir di tubuhnya. Dalam satu kesempatan, Rangga mencelat jauh ke belakang untuk menghindari jangkauan se­rangan lawan. Tubuhnya melayang ringan bagai sehelai daun kering. Namun ketika kedua kakinya menjejak tanah, kedua orang bertopeng yang menyerangnya telah hilang dari tempat itu.

"Sial!" dengus Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti langsung mencari-cari ke sekeliling tempat itu. Namun yang dicari tak juga ditemuinya. Orang-orang itu lenyap seperti ditelan bumi. Dengan langkah lesu akhirnya Rangga kem­bali ke tempat kediaman Paman Widura

********************

Senja baru saja berlalu ketika Pendekar Rajawali Sakti tiba di tempat kediaman Paman Widura. Laki-laki setengah baya itu menyambutnya dengan wajah suka cita.

'Bagaimana, Rangga? Apakah kau telah bertemu dengannya?" tanya Paman Widura, ketika me­reka telah duduk-duduk di ruang tengah.

"Ya. Tapi, tadi kulihat dia memakai jubah hitam. Sehingga, agak terkecoh. Tampaknya dia tadi sedang memberikan penjelasan tentang persembahan korban di bulan purnama ini...," jelas Rangga sambil mengangguk pelan.

"Ya. Aku lupa kalau hari ini dia akan memberitahukan tentang acara persembahan itu. Lalu, apa yang kau lakukan terhadapnya?" tanya Paman Wi­dura kembali.

Rangga pun segera menceritakan semua yang dialaminya, tanpa ditambah-tambahi. Sedangkan Paman Widura mengangguk-angguk, mendengarkan dengan seksama penuturan pemuda itu.

"Oh! Apakah kau terluka, Rangga?" tanya Paman Widura, cemas.

Rangga menggeleng, lalu tersenyum kecil ketika istri Paman Widura keluar. Wanita bernama Laksmi itu menghidangkan kopi hangat dan kue-kue.

"Aku tak apa-apa, Paman... "

"Ah! Aku hanya menyusahkan kau saja jadinya. Persoalan ini memang berat. Dan salah-salah bisa mencelakakan dirimu sendiri," kata Paman Wi­dura gundah.

"Paman! Bukankah aku telah mengatakan, kalau masalah ini adalah kewajibanku untuk saling tolong-menolong? Nah! Janganlah bersikap menyesali diri seperti itu," sanggah Rangga, bijaksana.

"Tapi, apa jadinya jika kau sampai tewas dalam persoalan ini?"

Rangga hanya tersenyum melihat kecemasan laki-laki setengah baya itu. "Paman! Persoalan hidup dan mati ada di tangan Yang Maha kuasa. Kalau memang aku ditakdirkan untuk mati dalam persoalan ini, apa boleh buat. Dan aku tak akan mati penasaran. Bahkan aku merasa bangga karena selagi hidup bisa berbuat sesuatu bagi orang banyak kilah Rangga, tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Paman Widura memandang pemuda itu dengan seksama, kemudian tersenyum tulus. "Hm... Rasanya, seluruh penduduk desa ini akan merasa malu mendengar kata-katamu, Rangga. Termasuk juga aku. Rasanya semangatku sekarang mulai bangkit. Dan kini, aku tak takut mati demi membela kebenaran. Nah, Rangga.... Adakah sesuatu yang dapat kubantu dalam persoalan ini?"

Rangga kembali tersenyum mendengar kata-kata laki-laki itu. "Paman, tentu aku akan suka sekali bila kau bisa membantu. Hanya saja untuk sementara ini, sebaiknya kau diam saja dulu di rumahmu. Tapi kau harus selalu waspada. Siapa tahu, ada mata-mata utusan dewa itu. Jika mereka sampai tahu ka­lau kau telah menceritakan persoalan di desa ini pada orang luar, tentu bisa celaka...," ujar Rangga.

"Hm... Sekarang aku tak takut lagi, Rangga. Aku siap mati untuk membereskan persoalan ini! seru Paman Widura dengan wajah bersemangat.

"Aku bangga dengan tekadmu, Paman. Namun ada hal yang perlu diingat. Manusia tak boleh mati sia-sia. Artinya, janganlah membabi buta dalam menghadapi persoalan gawat yang bisa mencelakakan jiwa. Sebaiknya, pikirkanlah masak-masak sebelum bertindak."

"Betul, Rangga. Aku pun setuju dengan pendapatmu itu!" sahut Paman Widura cepat.

Pendekar Rajawali Sakti kembali tersenyum kecil sambil memperbaiki duduknya. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah. Bahkan langsung memberi isyarat pada laki-laki itu untuk tidak ribut dengan tangannya. Memang, pendengaran Pendekar Rajawali Sakti yang tajam, telah menangkap suara-suara mencurigakan di luar sana.

"Ada apa?" bisik Paman Widura dengan wajah tegang.

Ranggga menempelkan jari telunjuknya ke bibir, kemudian bangkit. Kakinya segera melangkah ke arah pintu dan membuka perlahan-lahan.

"Paman! Waspadalah. Sebaiknya berjaga-jaga...," bisik Rangga lirih.

"Kau mau ke mana, Rangga?"

"Ada tamu tak diundang yang mengintai kita. Aku ingin mengajaknya masuk," desis Rangga.

Wajah Paman Widura jadi tegang. Begitu pula istrinya yang sejak tadi diam saja. Buru-buru laki-laki itu mencabut golok yang terselip di pinggang. Dia langsung bangkit, dan bersiaga di depan pintu rumahnya. Rangga yang sejak tadi mendengar suara mencurigakan di luar rumah, segera keluar. Matanya langsung merayapi sekelilingnya dengan seksama.

"Kisanak yang bersembunyi di balik pohon, keluarlah! Percuma terus bersembunyi. Lebih baik, mari kita berbincang-bincang. Mari masuk saja kedalam. Dan kau bisa menceritakan maksudmu!" teriak Rangga.

Krosak!

Baru saja Rangga selesai bicara, mendadak me­lesat sesosok bayangan dari balik cabang pohon yang berada di samping rumah Paman Widura. Bayangan itu bukannya mendekat ke arah Pende­kar Rajawali Sakti, melainkan terus melesat menjauhi. Melihat hal ini tentu saja Rangga tak membiarkannya lolos begitu saja. Seketika kakinya digenjot, mengejar bayangan itu.

"Huh! Kau pikir bisa seenaknya kabur setelah menguping pembicaraan orang?!" dengus Rangga jengkel.

Tapi agaknya sesosok bayangan itu mampu bergerak cepat dan lincah sekali. Seluk-beluk tem­pat ini diketahuinya betul, sehingga agak sulit bagi Rangga mengikutinya. Bahkan tiba di sebuah perempatan jalan, pemuda itu betul-betul kehilangan buruannya. Meskipun Rangga telah mengerahkan ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara', namun sedikit pun tak terdengar tanda-tanda adanya sosok ba­yangan tadi di tempat itu. Dia menghilang bagaikan setan saja. Maka dengan perasaan jengkel bercampur geram, Rangga kembali ke rumah Paman Wi­dura yang belum begitu jauh ditinggalkannya.

Namun belum juga Rangga tiba, mendadak dikejutkan jeritan yang melengking dari rumah Paman Widura. Seketika, Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat rnemburu ke arah rumah sederhana itu.

"Keparat! Kalau memang terjadi apa-apa terhadap Paman Widura, mereka tak akan kuberi ampun!" geram Rangga dengan amarah meluap.

Dugaan Rangga memang tepat. Ternyata rumah Paman Widura sebagian seperti akan ambruk. Sebagian dindingnya yang terbuat dari bilik bambu sudah hancur berantakan. Sementara di bagian atapnya, seperti habis dilanda topan. Ketika Pende­kar Rajawali Sakti menerobos masuk ke dalam, tampak Paman Widura dan istrinya tergeletak tak bernyawa dalam keadaan menyedihkan. Darah mereka berceceran di seluruh ruangan rumah. Agak­nya, hal itu memang disengaja oleh pembunuhnya. untuk memberi peringatan pada Rangga. Rangga memandang ke sekeliling. Dan matanya langsung tertumbuk pada tulisan yang terbuat dari darah di dinding rumah Paman Widura.

Siapa pun yang mencoba ikut campur urusan dewa kami, akan mengalami nasib seperti kedua orang ini.

"Keparat! Orang-orang biadab!" desis Rangga dengan wajah memerah menahan geram dan ama­rah.

Pendekar Rajawali Sakti lalu melangkah keluar dari rumah ini. Matanya segera merayapi sekelilingnya. Seketika dikerahkannya aji 'Pembeda Gerak dan Suara'. Dan mendadak telinganya menangkap sesuatu yang mencurigakan di atas pohon, tepat di depan rumah ini. Kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti sudah terkepal erat. Dan dengan mata beringas dia kembali memandang tajam ke sekeliling. Sebentar kakinya melangkah, kemudian mendadak melesat ke atas sebatang pohon.

"Yeaaa...!"
Brusss!

Benar saja. Dari pohon yang dituju Pendekar Rajawali Sakti, melesat sesosok bayangan yang mencoba kabur. Namun tentu saja Rangga tak mau membiarkan buruannya lepas begitu saja. Begitu mendarat di salah satu cabang pohon, Pendekar Rajawali Sakti kembali melesat cepat, mendahului buruannya. Seketika kepalan tangannya yang bertenaga dalam kuat diayunkan.

"Heh...?!"

Bayangan itu terkejut setengah mati. Sungguh tak dikira kalau pengejarnya mampu bergerak secepat itu. Maka dengan untung-untungan kepalanya dimiringkan. Serangan Pendekar Rajawali Sakti memang berhasil dihindari. Tapi serangan berikut, rasanya sulit bagi orang itu untuk menghindar. Begitu serangannya luput Pendekar Rajawali Sakti cepat sekali menyapu perut orang itu dengan kaki kanannya. Begitu cepatnya sehingga...

Begkh!
"Akh!"

Sosok itu kontan menjerit keras dan tubuhnya terjungkal beberapa langkah, begitu perutnya terhantam sapuan kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti. Kini Rangga telah kembali melayang di atas kepala lawannya yang tengah berusaha bangkit. Pendekar Rajawali Sakti memang tak akan memberi kesempatan sedikit pun. Tangan kanannya cepat diayunkan ke arah kepala orang itu, walau tanpa pengerahan tenaga dalam.

Des!
"Aaakh...!"

Sosok bayangan yang ternyata juga bertopeng itu kembali menjerit keras ketika tangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam pelipis kanannya. Tubuhnya seketika ambruk dan menggelepar di tanah sambil menjerit kesakitan. Tapi Rangga tak berhenti sampai di situ. Langsung dijambaknya leher orang itu. Seketika disingkapnya topeng di wajah laki-laki berpakaian serba hitam ini dengan kasar.

"Kau akan mampus saat ini juga, kalau tak mengatakan padaku tempat dewa keparat itu berada! Dia harus bertanggung jawab atas kematian Paman Widura dan istrinya!" dingin suara Rangga.

"Ekh...! Aku..., aku tak tahu! Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak orang itu sambil berusaha melepaskan diri.

Tapi Rangga yang memang tengah diamuk amarah, jadi tak sabar melihat sikap orang itu. Kepalan tangan  kanannya langsung melayang menghajar perut.

Des!
"Aaakh...!"

Laki-laki yang topengnya telah terbuka itu kontan menjerit kesakitan.

"Katakan! Kalau tidak, kau akan mampus sekarang juga!" gertak Rangga sambil mengayunkan tangan, siap menghajar batok kepala laki-laki yang ternyata berusia setengah baya itu.

"He he he..! Kau boleh berkata apa saja, Pemuda Tolol. Aku lebih suka mati daripada bicara denganmu. Di mulutku telah kusimpan racun yang dapat mengakhiri hidupku," kata laki-laki setengah baya itu.

Rangga terkejut bukan main mendengar penuturan laki-laki di hadapannya. Dia bermaksud mencegah, namun laki-laki setengah baya itu telah lebih dulu menelan racunnya. Maka sebentar kemu­dian...

"Akh...!"

Orang itu kontan menjerit tertahan. lalu ambruk ke tanah. Wajahnya seketika menegang dan urat-urat di tubuhnya bertonjolan. Kemudian terlihat seluruh permukaan kulitnya membiru serta mulutnya mengeluarkan busa berbau busuk. Setelah menggelepar sesaat, orang itu telah tewas tanpa dapat dicegah lagi. Kini terlihat kulit orang itu perlahan-lahan membusuk seperti bangkai.

"Kurang ajar!" rutuk Rangga.

Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti kembali ke dalam rumah Paman Widura yang hampir ambruk. Segera diurusnya mayat suami istri itu untuk dikuburkan.

********************

TIGA

Malam merangkak jauh. Debur ombak sayup-sayup terdengar dari sini. Dan tempat ini termasuk Pantai Walet. Kalau memandang pantai dari bukit ini akan terasa indah sekali. Namun keindahan itu jadi tak terasa, ketika terlihat dua orang bertampang seram tengah berjaga-jaga di depan sebuah goa. Mereka berpakaian serba hitam dengan pedang terselip di pinggang masing-masing. Wajah mereka yang berkilat karena cahaya obor yang terpancang di dinding goa, tampak tegang.

Sementara di ruangan yang paling dalam dari goa itu, suasana tampak begitu tegang. Duduk di bangku yang paling besar dan indah adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, kekar, dan berotot menonjol. Sepasang matanya tajam bagai mata elang. Di pinggangnya tampak sebuah senjata cakra yang tajam berkilatan. Jubahnya besar berwarna biru gelap yang pada ujungnya terdapat garis kuning. Rambutnya panjang diikat merah. Wajahnya kasar dengan bibir tebal dan kulit hitam kecoklatan.

Di hadapan laki-laki bertampang seram itu, duduk bersila beberapa orang yang juga berwajah seram. Rata-rata mereka mengenakan pakaian hitam. Sementara persis di hadapannya, bersila seorang laki-laki berkulit legam. Tubuhnya pendek dengan kepala tertunduk dalam. Wajahnya yang berhidung pesek, tampak memancarkan rasa bersalah.

"Hm.... Jadi kau tak tahu siapa dia, Darwoto?" tanya laki-laki bertubuh besar yang duduk di atas kursi besar dan indah.

"Ampun, Gusti Datuk Kraeng. Hamba benar-benar tak tahu. Dia orang asing. Tapi, ilmu olah kanuragannya cukup hebat..," jelas orang yang dipanggil Darwoto itu.

"Hm. Apa benar begitu?" desak laki-laki bertampang seram dengan jubah biru, yang dipanggil Datuk Kraeng itu.

"Gusti.... Hamba tak berani berbohong. Bukankah kawan-kawan yang lain telah membuktikan hal itu, ketika mencoba mencegahnya? Kalau saja mereka tak buru-buru kabur, aku tak tahu nasib mereka...."

Datuk Kraeng termenung beberapa saat la manya sambil memandang orang-orang yang ada di ruangan itu satu persatu. Kepala mereka semakin tertunduk, tak berani melawan tatapan Datuk Kraeng.

"Dia telah membunuh salah seorang kawan ka­lian. Maka, kalian harus menangkapnya hidup-hidup. Atau, bunuh saja kalau tak mampu menang­kapnya," ujar Datuk Kraeng, dingin.

Orang orang yang berada di ruangan itu jadi diam membisu.

"Apa kalian takut?" tegur Datuk Kraeng, sinis. Sepertinya dia bisa menangkap arti kebisuan anak buahnya.

"Ti..., tidak. Datuk. Ta... tapi...," sahut beberapa orang, tergagap.

"Diam!" bentak Datuk Kraeng garang.

Kata-kata mereka langsung terhenti, dan kepala tertunduk penuh ketakutan. Datuk Kraeng lalu bangkit dari kursinya, dan berdiri tegak sambil me­mandang anak buahnya satu persatu. Wajahnya tampak menyiratkan kemarahan yang amat sangat.

"Kalian memandang rendah padaku, heh?!" tegur Datuk Kraeng.

"Bukan begitu, Datuk. Tetapi...."

Belum juga salah seorang menuntaskan bicaranya, Datuk Kraeng telah lebih cepat menerjang ke salah seorang yang tengah bersimpuh. Seketika, senjatanya yang berupa arit dengan gagangnya yang panjang mengarah ke orang yang mencoba bicara tadi. Maka...

Wuttt!
Cras!
"Aaa...!"

Orang itu kontan menjerit keras dan menyayat, begitu senjata yang semula berada di pinggang Datuk Kraeng tiba-tiba menyambar lehernya. Tu­buhnya langsung ambruk dengan leher terluka le­bar. Tampak darah mengucur deras ke lantai. Tepat ketika orang itu tak bergerak lagi, senjata cakra Da­tuk Kraeng melesat kembali ke arahnya. Dengan gerakan manis sekali, ditangkapnya senjata itu, dan kembali diselipkan di pinggang. Maka tentu saja hal itu membuat yang lain tersentak dan semakin ketakutan saja.

"Kalian tahu? Sebagai anak buahku, tak seorang pun yang bersikap pengecut. Daripada kalian membuatku malu, lebih baik mampus. Nah! siapa lagi yang akan menyusul?" dengus Datuk Kraeng. Semua diam membisu, tak memberi jawaban.

"Nah! Sekarang, pikirkanlah cara untuk menangkap pemuda itu. Bawa dia hidup-hidup ke si­ni, atau bunuh di tempat jika melawan. Bawa mayatnya ke sini! Mengerti kalian?!" ujar Datuk Kraeng.

"Mengerti, Datuk!" sahut mereka serentak.

"Pergilah. Oh, ya. Buang mayat ini ke hutan agar menjadi santapan anjing liar!"

"Baik, Datuk!"

"He, Darwoto! Ke sini kau!" teriak Datuk Kraeng ketika melihat laki-laki berkulit legam itu hendak berlalu.

Dengan wajah ketakutan, Darwoto menghampiri Datuk Kraeng. Langsung dia bersimpuh di hadapan junjungannya.

"Ampun, Gusti Datuk Kraeng. Apakah yang bisa hamba lakukan?"

"Hm... Bagaimana dengan upacara persembahan itu?"

"Mudah-mudahan besok berjalan lancar, Gusti."

"Hm, bagus. Ingat! Jika sampai terjadi keributan. Kaulah yang bertanggung jawab. Mengerti?"

"Me… , mengerti, Datuk."

"Katakan pada yang lain. Sebaiknya bunuh diri saja jika tak berhasil menjalankan tugas. Demikian juga kau! Jika tidak, mereka akan mampus di tanganku. Mengerti?!"

"Me..., mengerti, Gusti Datuk Kraeng!" sahut Darwoto cepat.

Datuk Kraeng lalu melangkah ke arah kursinya kembali. Kemudian diambilnya sebuah gulungan kecil terbuat dari kulit hewan, yang terletak di meja sebelah kursinya.

"Hm.... Antarkan suratku kepada Ki Ageng Sukoco hari ini juga!" ujar Datuk Kraeng sambil menyerahkan gulungan di tangannya.

"Baik, Gusti Datuk Kraeng. Apakah ada pesan lain yang harus hamba katakan pada beliau?" lanjut Darwoto, sambil menerima gulungan itu.

Datuk Kraeng berpikir sesaat. "Tidak perlu. Dia akan tahu, apa yang harus dikerjakannya," sergah laki-laki berjubah biru itu.

"Baiklah. Kalau demikian, hamba pamit dulu, Gusti Datuk Kraeng."

"Pergilah...," sahut Datuk Kraeng, menganggukkan kepala.

Darwoto langsung berbalik, setelah memberi salam penghormatan.

"Sebentar!"

"Eh! Ada lagi yang harus hamba kerjakan, Gusti Datuk Kraeng?" sahut Darwoto cepat sambil berbalik.

"Ingat! Tak boleh seorang pun yang mengetahui surat itu selain kau!"

"Hamba mengerti dan akan hamba ingat, Gusti Datuk Kraeng! Amanat ini akan hamba junjung tinggi dengan taruhan nyawa!" tegas Darwoto.

"Hm... Ya..., bagus! Kalau begitu, kau boleh pergi...."

"Terima kasih, Gusti Datuk Kraeng!" sahut Darwoto sambil berlalu dari tempat itu.

"Hm.... Siapa sebenarnya pemuda itu? Rasa-rasanya aku pernah mendengar seorang tokoh yang memiliiki ciri-ciri demikian. Apakah dia orangnya...?" gumam Datuk Kraeng ragu-ragu, ketika Darwoto telah menghilang di balik pintu.

Beberapa saat lamanya Datuk Kraeng bergumam sambil termenung sendiri. Kemudian perlahan dia masuk ke dalam sebuah pintu yang ber­ada di ujung ruangan, dan lenyap seketika.

********************

Seorang laki-laki berusis sekitar lima puluh tahun tengah berjalan mondar-mandir di dalam sebuah ruangan besar. Dia seperti gelisah, menanti sesuatu. Rambutnya yang panjang, dan digulung ke atas, sebagian telah memutih. Tubuhnya tinggi dan agak kurus. Kumis dan jenggotnya panjang. Kulitnya coklat kekuning-kuningan.

Sepasang ma­tanya agak sipit namun memancarkan wibawa yang kuat. Tangan kirinya tak lepas menggenggam sebatang pedang yang tersimpan dalam warangka indah penuh ukiran dari bahan kuningan bercampur baja. Di hadapannya, duduk bersila beberapa orang laki-laki berpakaian kuning keemasan. Masing-masing menggenggam sebilah pedang. Di kalangan persilatan, dia dikenal sebagai Ketua Perguruan Kelabang Emas. Namanya, Ki Ageng Sukoco.

"Eyang! Sekarang kami telah berkumpul. Apakah gerangan yang hendak Eyang bicarakan?" ta­nya salah seorang murid yang melihat gurunya seperti gelisah.

"Aku mendapat kabar dari Datuk Kraeng, Sumanto. Katanya, desa kita telah kedatangan seorang pemuda asing yang ingin mengacau. Maka, kuminta kalian harus waspada dan selalu mengawasi segala tindakannya," ujar Ki Ageng Sukoco.

"Eyang! Aku pun memang pernah melihatnya. Tapi kupikir, bagaimana mungkin dia bisa menga­cau desa kita?" tanya salah seorang murid lain.

"Hm.... Kau pernah melihatnya, Bajanegara? Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Ki Ageng Sukoco.

"Dia masih muda. Rambutnya panjang, dan wajahnya tampan. Bajunya rompi berwarna putih dengan pedang bergagang kepala burung tersampir di punggungnya. Dan dia menunggang kuda hitam. Memang kelihatannya dia bukan orang kebanyakan. Tapi paling tidak, mengerti ilmu silat. Lalu, kenapa kita harus mengawasinya, Eyang?" jelas pemuda yang dipanggil Bajanegara.

"Pemuda itu telah menewaskan seorang anak buah Datuk Kraeng," sahut Ki Ageng Sukoco.

"Hm... Sungguh gegabah dia!" desis salah seorang murid lain.

"Tapi juga cukup hebat. Seperti kita ketahui bersama, anak buah Datuk Kraeng memiliki kepandaian sangat tinggi. Jadi kalau sampai bisa dibinasakannya, pastilah pemuda asing itu bukan orang sembarangan!" lanjut seorang murid yang bernama Sumanto sambil mendesah kecil.

"Kita tak tahu, apa yang diinginkannya di desa ini. Tapi cepat atau lambat, jelas dia telah menanamkan bibit permusuhan dengan kita. Orang seperti itu tak bisa dikasih hati. Dia harus dihukum dan diberi pelajaran!" tandas Ki Ageng Sukoco, geram.

"Apakah Eyang akan menugaskan kami untuk menangkapnya?" tanya seorang muridnya yang bernama Wijaya.

Ki Ageng Sukoco tersenyum. "Tadi kalian katakan, dia hebat dan berkepandaian tinggi. Apakah kalian mampu menangkap­nya?"

"Kenapa tidak? Kalau memang Eyang menugaskan, mana kami bisa membantah," sahut Wijaya cepat.

Murid-murid yang lain pun menyatakan setuju tentang rencana ini. Tapi, Ki Ageng Sukoco tak buru-buru menjawab. Beliau malah tersenyum sambil menggeleng-geleng.

"Kalian tak perlu melakukan hal itu..."

"Kenapa tidak, Eyang? Kenapa tidak kita tangkap saja kalau tindakannya memang mencurigakan?!" tanya Wijaya bernafsu.

"Tak perlu tergesa-gesa, Wijaya. Lagi pula, hal itu telah dikerjakan anak buah Datuk Kraeng. Kita cukup mengawasi saja dan melaporkan setiap tindakannya," jelas Ki Ageng Sukoco.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan selain mengawasinya, Eyang?" tanya Wijaya kembali.

      "Tugas kita yang paling utama adalah mengawasi daerah pantai utara dari orang-orang yang coba-coba usil ikut campur tangan dalam urusan kita bersama Datuk Kraeng. Mengertikah kalian?"

"Mengerti, Eyang!" sahut semua murid Ki Ageng Sukoco nyaris bersamaan.

"Nah! Kalau demikian, urusan mengenai pemuda asing itu kita selesaikan sampai di sini. Dan sekarang kita lanjutkan pembicaraan mengenai urusan kita dengan orang-orangnya Datuk Kraeng," lanjut Ki Ageng Sukoco.

"Eyang! Ada hal yang membuat kami merasa tak enak mengenai orang-orang asing itu...," pelan suara Bajanegara.

"Kenapa?"

"Mereka seolah memandang rendah terhadap kita. Bahkan menganggap diri mereka hebat," sahut Bajanegara.

"Betul, Eyang. Hal itu pun kurasakan dan kulihat sendiri. Beberapa hari lalu, adik Banujaya sempat berkelahi dengan salah seorang di antara mereka!" sambung Wijaya, geram.

"Hm, begitukah? Persoalan apa yang membuatnya sampai demikian?"

"Mereka merendahkan ilmu silat yang kita miliki!"

"Katanya ilmu silat dari negeri mereka lebih hebat dan tak satu pun yang mampu menyamainya. Hal itulah yang menyebabkan adik Banujaya mera­sa marah. Dan kemudian, dia bertarung dengannya," jelas Sumanto, ikut membela.

"Hm, ya.... Sebaiknya, kalian tak meributkan masalah itu. Kelak mereka akan tahu, siapa sebenarnya yang lebih rendah," sahut Ki Ageng Sukoco tenang.

"Tapi kita tak bisa terus-menerus hanya diam saja, Eyang. Lambat laun, mereka akan berbuat sesuka hati!" desak Wijaya.

Ki Ageng Sukoco memandang sekilas pada muridnya. "Kita masih memerlukan mereka. Selagi kita masih memerlukannya, sudah sepatutnya jika bersikap mengalah. Tapi jika kita tak memerlukannya lagi, mereka akan kita tendang jauh-jauh. Dan kalau mereka hendak membuat keributan lebih dulu, aku akan serahkan pada Datuk Kraeng. Dialah yang membawa mereka ke sini. Nah! Jelas su­dah persoalannya, bukan?" kata orang tua itu, pelan.

Semua muridnya diam membisu. Kebanyakan, mereka tak puas mendengar jawaban gurunya. Ta­pi, mereka tak bisa berbuat apa-apa, selain menyetujui sikap Ki Ageng Sukoco.

"Aku tahu, apa yang kalian rasakan. Tapi untuk sementara waktu, jangan mengambil tindakan apa-apa terhadap mereka. Aku tahu, apa yang harus kulakukan. Nah! Pertemuan ini selesai. Kembalilah menjalankan tugas masing-masing," lanjut Ki Ageng Sukoco.

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka segera beranjak dan pergi dari ruangan itu, setelah memberi salam penghormatan pada orang tua itu. Sementara Ki Ageng Sukoco hanya menggelengkan kepala sambil menghela napas pendek, sampai semua muridnya hilang dari hadapannya.

********************

Hampir seharian Pendekar Rajawali Sakti berkeliling desa, namun orang yang dicarinya tak kunjung tiba. Hal itu semakin membuatnya geram bukan main.

"Hm.... Mungkin utusan dewa gadungan itu tak berani menunjukkan diri pada hari ini. Tapi, aku tak bisa menunggu sampai esok hari!" desis Rang­ga, bergumam kecil.

Kehidupan orang-orang di Desa Watu Jajar berjalan seperti biasa. Kebanyakan dari mereka ma­sih mencurigai Rangga. Bahkan tak seorang pun yang mau mendekatinya untuk sekadar menyapa. Dan memang, mereka cenderung tak menyukai kehadiran Pendekar Rajawali Sakti. Setiap pemilik ke­dai makanan selalu menolak kehadirannya. Demi­kian pula rumah-rumah penginapan. Bahkan orang-orang yang berpapasan dengan Rangga lebih suka mencari jalan lain atau menyingkir jauh-jauh. Seolah-olah pemuda berbaju rompi putih itu membawa wabah penyakit yang amat menjijikkan.

Melihat keadaan itu, Rangga tak bisa menunggu lebih lama lagi. Segera kudanya dipacu ke ru­mah kepala desa yang terletak di tengah-tengah desa. Memang tidak begitu jauh. Karena sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah tiba di depan sebuah rumah yang luas, memiliki halaman lebar. Tampak beberapa tukang pukul yang bersenjata lengkap, berjaga-jaga di tiap sudut dan depan ru­mah itu. Dan begitu melihat kehadiran Rangga, me­reka kontan berdiri. Langsung dihadangnya pemuda itu.

"Kisanak! Apa perlumu ke sini?! Pergilah jauh-jauh dari desa ini!" bentak salah seorang tukang pukul.

"Beginikah cara kalian memperlakukan seorang tamu?" Rangga mencoba tenang.

"Kami tahu, siapa kau! Kau bukan tamu, tapi pengacau! Kami sudah terlalu baik terhadapmu. Nah, pergilah sebelum kami bertindak keras!" sahut tukang pukul yang berpakaian biru tua itu, semakin kesal.

"Aku tak akan pergi sebelum bertemu kepala desamu dan bicara dengannya. Tolong sampaikan kalau aku bermaksud baik. Dan aku bukan seorang pengacau seperti yang dituduhkan," tegas Rangga dingin.

"Kisanak! Aku sudah terlalu banyak bicara padamu. Tapi, kau tak juga mengerti gelagat. Jangan salahkan kami bila bertindak kasar padamu!" dingin suara tukang pukul itu seraya memberi isyarat pada kawan-kawannya.

Bersamaan dengan itu beberapa tukang pukul lain yang sudah berkumpul langsung mengurung Pendekar Rajawali Sakti dengan golok terhunus. Rangga memandang sekilas, kemudian kembali menatap orang yang tadi bicara dengannya. Lalu Pendekar Rajawali Sakti segera turun dari kudanya, dan melangkah mendekati orang itu. Kini jarak me­reka hanya dua tindak saja.

"Kisanak! Kedatanganku ke sini secara baik-baik. Lalu kenapa kalian memaksaku untuk bertin­dak kasar?" tanya Rangga halus.

"Keparat! Kau pikir, siapa dirimu hingga berani mengancamku?! Huh! Ingin kulihat sampai di mana kehebatanmu! Serang dia!" perintah tukang pukul berpakaian biru tua yang bertampang seram itu. Rupanya, dialah yang bertindak sebagai pemimpin.

"Yeaaat…!"

Begitu selesai dengan kata-katanya, laki-laki bertampang seram itu sendiri langsung mencabut goloknya. Langsung dibabatnya perut Rangga, diikuti kawan-kawannya. Rangga segera melompat ke belakang untuk menghindari babatan golok laki-laki bertampang seram di depannya. Tubuhnya langsung melenting ke atas sambil mengangkat kaki kanan. Dan begitu mendarat manis di tanah kepalanya langsung direndahkan, karena dua orang lawan mengincar lehernya. Bersamaan dengan itu, kaki kirinya melepaskan tendangan, menghantam pergelangan ta­ngan lawan yang berada di dekatnya, yang dibarengi kibasan tangan kiri. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Plak! Duk!
"Akh...!"

Kedua orang itu kontan mengeluh kesakitan, dan langsung terjajar beberapa langkah ke belakang. Kedua golok mereka terlepas dari genggaman. Namun dua orang lainnya langsung menerkam Rangga dengan amarah meluap, disertai babatan goloknya.

"Yeaaah...!"
"Mampus...!"
"Uts, ha...!"

Namun dengan gesit, Rangga mengelak. Tubuhnya diputar dan dimiringkan sedikit ke kanan. Dan seketika, ujung kaki kirinya cepat bergerak menghantam rahang kedua lawannya.

Begk!
"Akh...!"
"Ugkh!"

Kedua orang itu langsung menjerit kesakitan dengan tubuh sempoyongan ke belakang. Melihat kesempatan itu, Rangga cepat melesat meninggalkan mereka menuju ke dalam rumah ke­pala desa. Sedikit pun dia tidak mempedulikan para tukang pukul itu.

"Keparat! Ayo kejar dia!" bentak salah seorang, geram.

"Huh! Akan kutebas lehernya kalau kena!" dengus yang lain.

Tanpa mendapat kesulitan sedikit pun, Rangga sudah menerobos ke dalam rumah lewat jendela yang terkuak lebar, karena pintu depan kelihatan terkunci. Begitu tiba di dalam, terdengar teriakan terkejut dari beberapa orang perempuan serta anak-anak.

"Jangan takut! Aku tak bermaksud menyakiti kalian. Aku hanya ingin bertemu kepala desa. Tapi, orang-orang di luar sana menghalangiku!" teriak Rangga, keras.

Orang-orang di dalam ruangan itu masih menunjukkan wajah ketakutan. Sementara, Rangga memandang mereka satu persatu, hingga pandangannya tertuju pada seorang laki-laki berpakaian mewah warna hitam, yang bagian tepinya bersulam kain emas. Kepalanya memakai blangkon warna coklat berkembang-kembang hitam. Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun dengan perut buncit itu langsung mencabut kerisnya, dengan sikap mengancam.

"Kaukah Kepala Desa Watu Jajar?" tanya Rangga menyelidik.

"Mau apa kau?!" bentak laki-laki setengah baya itu, garang.

"Sebelum kujawab pertanyaanmu, jawablah dulu pertanyaanku. Apakah kau kepala desa ini?"

"Kalau betul, apa yang kau kehendaki?!"

"Aku hanya ingin bicara. Dan, bukan bermaksud mengacau... "

Belum selesai bicara pemuda itu, keempat tukang pukul yang tadi berada di luar, telah melompat masuk ke dalam. Dan mereka langsung mengurung pemuda itu dengan golok terhunus. Wajah mereka tampak memancarkan kemarahan yang amat sangat.

"Orang asing tak tahu diri! Menyerahlah sekarang juga! Kalau tidak, kau akan mampus sekarang juga! Kuhitung sampai tiga. Satu...!"

EMPAT

"Kisanak! Kuharap jangan memaksaku kembali...," ujar Rangga perlahan sambil tersenyum kecil.

Tapi, keempat tukang pukul itu agaknya tak mempedulikan.

"Dua!"

Tukang pukul yang menjadi pimpinan itu kem­bali menghitung. Sementara Rangga memandang ke arah kepala desa itu dengan sinar mata penuh kekesalan.

"Huh! Rupanya kau tak patut menjadi kepala desa. Wilayahmu terancam dan wargamu menderita, tapi kau diam saja. Bahkan kau tak punya keberanian sedikit pun untuk menanggulanginya. Kau halangi orang lain untuk membantu demi harga dirimu. Atau, barangkali kau menjadi bagian dari persoalan ini sendiri?"

Setelah berkata demikian, Rangga melesat bagai kilat dari tempat itu. Begitu cepat melesatnya, sehingga bayangannya sudah tak terlihat lagi. Se­mua orang yang berada dalam ruangan itu terhenyak kaget, tidak menyangka kalau pemuda tadi begitu cepat berkelebat. Sementara laki-laki berpa­kaian mewah yang merupakan Kepala Desa Watu Jajar hanya memandang bengong, tak tahu harus berbuat apa.

"Kau tak apa-apa, Ki Wangsa?" tanya salah seorang tukang pukul, sambil menghampiri.

Kepala Desa Watu Jajar itu menggeleng lesu sambil menyarungkan keris di tangannya. Wajahnya tampak menyiratkan kebingungan.

"Kalau begitu, kami akan segera mengejarnya, Ki. Dia telah membuat resah banyak penduduk," kata tukang pukul itu. Kemudian tubuhnya berbalik, hendak berlalu dari rumah itu, diikuti teman-temannya.

Kepala desa yang ternyata bernama Ki Wangsa, hendak mencegah, namun suaranya seperti tersekat di tenggorokan. Sedangkan keempat tukang pukulnya telah cepat berlalu. Sambil menghela napas pendek, Ki Wangsa menghempaskan diri di kursi tepat di belakangnya.

"Kakang! Lebih baik hentikan semua ini. Bertindaklah secara tegas. Dan jangan lagi diperbudak saudaramu yang nyata-nyata menyesatkan dirimu serta seluruh penduduk desa ini," desah seorang wanita berusia setengah baya sambil duduk di dekat Ki Wangsa.

Walaupun telah berumur, namun gurat-gurat kecantikan pada wajahnya masih kentara. Kulitnya juga putih bersih, terbungkus pakaian biru dari sutera halus dengan hiasan kembang kembang warna putih. Dia memang Nyai Wangsa, istri Kepala Desa Watu Jajar.

Ki Wangsa memandang istrinya sebentar, kemudian memberi isyarat pada dua orang pembantunya agar membawa ketiga.anaknya keluar dari ruangan itu. Segera dua orang wanita agak tua itu menggiring tiga anak kepala desanya yang masih kecil-kecil. Setelah mereka tak terlihat lagi, kembali kepala desa itu menghela napas berat.

"Aku tak bisa...," desah Ki Wangsa sambil menggelengkan kepala.

"Kenapa? Bukankah kau adalah kepala desa? Kau berkuasa menentukan sesuatu atas desa ini! Apa kau tidak malu melihat orang lain yang sama sekali bukan penduduk desa ini, mau berjuang un­tuk orang-orang yang justru tak menyukai kehadirannya? Apakah keadaan ini memang kau harapkan akan berlangsung terus, sehingga kehancuran desa ini akan semakin cepat? Kau lihat, orang-orang mu­lai malas bekerja! Sementara, korban berjatuhan semakin bertambah, akibat kebiasaan baru mereka menghisap benda laknat itu?!" sentak Nyai Wangsa kesal.

"Sudah! Sudah! Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang tak mampu kulakukan!" bentak laki-laki setengah baya itu garang.

"Huh! Kau hanya seorang pengecut rendah! lnikah tanggung jawabmu sebagai kepala desa? lnikah yang akan kau banggakan pada anak-anakmu kelak?!" sahut Nyai Wangsa seolah tak mempedulikan kemarahan suaminya.

Ki Wangsa yang sejak tadi memang mulai tak tenang dan sedikit bingung, kini terlihat kesal mendengar ocehan-ocehan istrinya. Wajahnya terlihat garang. Dan dengan geram, tangannya mela­yang ke mulut istrinya.

Plak!
"Aouw...!"

Perempuan itu menjerit kesakitan, seraya mendekap bibir dengan telapak tangannya. Tubuhnya terhuyung-huyung, hampir jatuh ke belakang.

"Diam kataku! Diam! Kau tak perlu mencampuri urusanku! Apa yang kau ketahui dan apa yang kau pikirkan, tak semudah apa yang bisa kau lakukan. Ini urusanku! Dan akulah yang akan bertanggung jawab!" bentak Ki Wangsa garang.

"Huh! Itu memang urusanmu. Tapi kau tak bisa melihat kenyataan, bahwa bukan hanya pendu­duk yang menjadi korban. Bahkan juga aku dan anak-anakmu! Matamu buta dan hatimu busuk! Se­hingga, akalmu menjadi buntu. Kau kelihatan men­jadi binatang liar yang pengecut!" sentak Nyai Wangsa, tak mengenai rasa takut.

Laki-laki setengah baya itu melotot garang, dan sudah hendak kembali menampar mulut istrinya. Namun tanpa kenal rasa takut, Nyai Wangsa menyodorkan wajahnya.

"Kau ingin menamparku lagi, karena aku bicara benar? Nah, lakukanlah! Ayo, lakukan!"

"Huh!" Ki Wangsa mendengar geram, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan tempat itu dengan langkah-langkah lebar.

Melihat suaminya berlalu, perempuan itu segera memanggil salah seorang penjaga rumah. Tak lama, muncul seorang laki-laki kurus berkulit sawo matang. Dengan tubuh membungkuk, dia menghadap Nyai Wangsa.

"Kau tadi melihat pemuda berbaju rompi itu, Patijan?"

Laki-laki kurus yang bernama Patijan itu mengangguk cepat.

"Nah! Temui dia, dan katakan kalau aku mengundangnya ke sini!"

"Tapi...," Patijan berusaha menolak.

"Patijan! Kau berani membantah perintahku?!" bentak Nyai Wangsa kesal.

"Eh! Tentu saja aku tak berani, Nyai!"

"Nah! Kalau demikian, segera kerjakan!"

"Tapi, bagaimana kalau Den Wangsa mengetahuinya? Dia pasti menghukumku, Nyai..."

"Katakan, kalau ini perintahku."

"Baiklah kalau demikian. Hamba pamit dulu, Nyai."

Patijan segera berbalik, dan melangkah cepat. Sebentar saja, dia sudah keluar dari ruangan itu.

"Hm...!" perempuan itu hanya menggumam sambil mengangguk.

Ekor mata Nyai Wangsa memperhatikan Patijan sampai lenyap di balik pagar depan. Kemudian, terlihat dia menghela napas pendek sebelum berlalu ke belakang.

********************

Sementara itu, di sebuah jalan di Desa Watu Jajar, Pendekar Rajawali Sakti tengah berjalan tenang sambil menuntun kudanya. Sengaja Dewa Bayu tak ditungangi, karena dia ingin lebih seksama lagi memperhatikan keadaan desa ini. Dan sejak keluar dari rumah Kepala Desa Watu Jajar tadi, Rangga bukannya tak menyadari kalau dirinya diikuti keempat tukang pukul Ki Wangsa. Tapi dia pura-pura tidak tahu, dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Namun mendadak langkahnya terhenti, ketika dari semak-semak yang ada dipinggir jalan, bermunculan lima orang la­ki-laki bertubuh besar. Dan mereka langsung berdiri tegak menghalangi jalannya. Pendekar Rajawali Sakti langsung menatap tajam ke arah mereka, de­ngan kening agak berkerut.

"Kisanak semua, menepilah. Aku ingin lewat di jalan ini," pinta Rangga, sopan.

"Lewatlah kalau memang kau ingin lewat. Siapa yang melarangmu?" dengus salah seorang yang berbaju merah.

Rangga hanya tersenyum kecil karena mengetahui kalau kelima orang ini sengaja mencari gara-gara. Meskipun salah seorang berkata begitu, tapi tak seorang pun yang mau beranjak. Mereka tetap berdiri tegak dengan sikap mengancam.

"Baiklah, kalau kalian memang mengizinkan. Terima kasih...," sahut Rangga sambil mengambil jalan menyamping.

"Awas! Di situ berbahaya!" teriak salah seorang yang berbaju biru tua sambil menendang sebuah kerikil yang cukup besar ke arah pemuda itu.

Werrr!
"Hup!"

Rangga yang sudah menangkap gejala tak enak, cepat mengangkat kaki kirinya ke atas, dengan tubuh miring ke belakang. Sehingga, kerikil itu lewat satu jengkal saja di depan perutnya. Dan belum juga Rangga memperbaiki keadaan tubuh­nya...

"Di sini juga tak aman. Sebaiknya, berhati-hati!" lanjut orang memakai baju hitam. Laki-laki itu cepat mengayunkan satu tendangan keras ke batok kepala Rangga.

"Uts!"

Rangga cepat-cepat berdiri tegak dengan tangan kiri menangkis tendangan laki-laki berbaju hitam itu.

Plak!
"Ugkh...!"

Orang berbaju hitam itu kontan terjajar beberapa langkah, dengan mulut meringis. Tampaknya, tenaga dalam yang tidak seberapa dikeluarkan Rangga, cukup membuatnya kesakitan.

Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti cepat menundukkan kepala, ketika laki-laki berbaju merah di sebelah kanannya sudah mengayunkan ta­ngan menghantam pelipis. Sehingga, serangan itu hanya menyambar angin saja. Dan Pendekar Ra­jawali Sakti cepat memutar tubuhnya, lalu terus melompat ke atas. Ternyata, benar. Dua orang yang masing-masing berpakaian hijau dan coklat ber­samaan mengayunkan tendangan ke arahnya.

"Maaf, Kisanak semua. Aku tak bisa lama-lama melayani kalian!" sahut Rangga begitu terbebas dari dua serangan. Dan dengan gerakan cepat, Pen­dekar Rajawali Sakti langsung melenting ketika ke­dua kakinya baru saja menjejak tanah. Sebentar dia berputaran, lalu hinggap di punggung Dewa Bayu.

"Hiyaaa...!"

Pendekar Rajawali Sakti langsung menggebah kudanya, sehingga Dewa Bayu seketika mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi lalu melesat cepat bagai kilat dan pergi dari situ.

"Keparat! Kau pikir bisa seenaknya kabur begitu saja?!" bentak orang yang berbaju merah, kalap.

"Jangan biarkan dia lolos! Ayo kejar!" teriak yang lain.

Dengan kemarahan yang meluap, mereka mengerahkan segenap ilmu meringankan tubuh untuk mengejar Pendekar Rajawali Sakti yang terus kabur dengan Dewa Bayu. Sementara itu, keempat tukang pukul Kepala Desa Watu Jajar mengurungkan niat untuk menge­jar Pendekar Rajawali Sakti. Karena, mereka meli­hat pemuda itu sudah dikejar oleh lima orang yang menghadangnya tadi.

"Sudahlah. Lebih baik, kita kembali Pemuda itu sudah ada yang mengurusnya," kata salah satu tukang pukul dengan wajah sedikit lega.

"Menurutmu, siapa kira-kira mereka?" tanya laki-laki yang berkumis tipis.

"Mana kutahu! Yang pasti, mereka bermusuhan. Biar saja sekalian berkelahi. Jadi, kita tak repot-repot membekuknya!" desis laki-laki yang men­jadi pemimpin tukang pukul kepala desa itu.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Rangga harus kabur dari tempat itu, karena tidak ingin terjadi keributan di tengah-tengah desa. Malah bisa-bisa menjadi tontonan banyak orang. Namun sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti tidak kabur terlalu jauh. Karena begitu telah berada di daerah sepi dan banyak ditumbuhi pepohonan, ku­danya seketika dihentikan. Dengan gerakan manis, Rangga melompat dari punggung kudanya dan mendarat empuk di tanah. Kini, Pendekar Rajawali Sakti berdiri dengan sikap menanti.

"Huh! Akhirnya kau tak bisa lari ke mana mana!" dengus salah seorang pengejar yang berba­ju hijau, begitu mereka tiba di tempat Rangga ber­diri.

"Sudah, jangan banyak omong! Lebih baik secepatnya pemuda ini dibereskan!" lanjut yang berbaju merah, geram.

"Hm... Kelihatannya kalian bernafsu sekali untuk melenyapkan nyawaku. Apa sebenarnya yang kalian ingini dariku?" tanya Rangga tenang.

"Kau terlalu banyak ingin tahu di desa ini. Untuk itulah kau patut mati!" desis orang yang berbaju coklat.

Rangga menatap tajam satu persatu orang di depannya. Kini matanya terpaku pada laki-laki yang berbaju merah. Wajah orang itu terlihat keras, de­ngan sepasang mata tajam. Kulitnya hitam kecoklatan. Usianya sekitar empat puluh tahun. Di tangannya tampak tergenggam sebilah pedang besar.

"Hm... Kalian pasti ada sangkut-pautnya dengan dewa gadungan itu," lanjut Rangga, menyelidik.

"Kau tak perlu banyak omong, Bocah! Bersiaplah menghadapi kematianmu di tangan Lima Utusan Setan!"

"Serang dia dan jangan dikasih hati!" lanjut yang lain sambil terus melompat menyerang Rangga.

Rangga menundukkan kepala, ketika tendangan salah seorang dari kelompok yang ternyata berjuluk Lima Utusan Setan itu menghantam ke arah wajahnya. Sementara tangan kanannya bergerak menangkis tendangan serangan lain.

Plak!

Orang yang tendangannya tertangkis itu kontan terjajar beberapa langkah dengan mulut meringis kesakitan. Begitu terbebas dari serangan, Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat ke depan. Karena saat itu salah seorang dari Lima Utusan Setan de­ngan geram mengayunkan pedangnya membabat ke arah perut.

Pendekar Rajawali Sakti kembali melenting ke depan, menjauhi lawan-lawannya. Namun Lima Utusan Setan seperti tak sudi memberi kesempatan. Mereka langsung merangsek pemuda itu. Maka seketika pertarungan sengit kembali terjadi.

Serangan-serangan Lima Utusan Setan memang amat deras dan bertenaga kuat. Jelas sekali kalau mereka menginginkan kematian Rangga. Se­hingga tanpa tanggung-tanggung lagi, segenap kemampuan mereka dikerahkan. Dalam beberapa jurus saja, Rangga amat kerepotan menghindari serangan-serangan gencar Lima Utusan Setan. Me­mang saat itu Rangga baru mengeluarkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Namun demikian, belum ada satu pukulan pun yang mendarat di tubuhnya.

"Huh! Kalian hanya memancing kemarahanku saja. Baiklah. Aku akan memberi pelajaran yang tak akan kalian lupakan! Yeaaa...!" dengus Rangga. Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat menyerang salah seorang lawannya yang terdekat. Seketika jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' dikerahkannya, walaupun masih pada tingkat permulaan.

Wuttt!

Salah satu dari Lima Utusan Setan kontan terkejut dan cepat melempar tubuhnya ke belakang, begitu tangan Rangga yang bergerak bagai sayap menyambar ke arahnya. Namun Rangga tak meneruskan serangannya, karena ada serangan dari arah belakang. Cepat bagai kilat tubuhnya berputar sam­bil mengibaskan tangan kanannya yang terus ber­gerak seperti sayap. Dan...

Plak!

Begitu tangan kanannya menangkis, cepat sekali kepalan tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti menyodok ke perut pembokongnya dengan keras.

"Hih!"
"Uts..!"
Orang itu tersentak dan cepat mengelak ke kanan. Untung saja Rangga tak meneruskan serang­an. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti bahkan lang­sung melenting ke atas dan berputar beberapa kali. Tapi di luar dugaan, Pendekar Rajawali Sakti telah merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Mem­belah Mega', disertai tendangan keras ke arah salah satu dari Lima Utusan Setan. Sementara, laki-laki berbaju merah yang menjadi sasaran Pendekar Rajawali Sakti dalam kea­daan belum siap. Maka sebisa mungkin ditangkisnya tendangan itu dengan tangan kanannya.

Plak!
"Akh!"

Lelaki berbaju merah itu kontan menjerit kesakitan, merasakan tulang tangannya retak akibat benturan dengan kaki Rangga. Dan belum lagi disadari apa yang terjadi, kaki Pendekar Rajawali Sakti yang satu lagi menghantam dadanya.

Degkh!
"Aaakh...!"

Kembali orang itu memekik kesakitan ketika dadanya seperti dihantam palu besar. Tubuhnya kontan terjungkal ke tanah beberapa beberapa tombak seraya memuntahkan darah kental kehitaman. Napasnya tampak megap-megap, seperti tercekik.

Dan baru saja Rangga menjejak manis di tanah, datang bahaya lain. Sebuah tendangan dari laki-laki berbaju coklat menderu keras dari arah belakang. Seketika Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan diri, sehingga serangan lawan luput. Kemudian dengan cepat dia bangkit. Dan seketika tubuhnya melenting ke atas sambil berputaran, ketika melihat salah seorang yang berbaju hijau melompat dengan satu tendangan keras. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti dalam memapak serangan itu, sehingga...

Duk!
Begkh!
"Wuaaa...!"

Laki-laki berbaju hijau itu kontan menjerit kesakitan, ketika kaki kanannya dihantam papakan bertenaga dalam lumayan dari Pendekar Rajawali Sakti. Tulang kakinya terasa patah, tanpa dapat digerakkan lagi. Dan begitu mereka sama-sama mendarat di tanah, Rangga dengan leluasa bergerak menghantam pinggang kirinya.

Degkh!
"Aaakh...!"

Kembali orang itu menjerit kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke samping dan jatuh ke tanah, sambil memegangi tulang pinggangnya yang patah, akibat tendangan keras Pendekar Rajawali Sakti.

"Keparat! Kau harus mampus, yeaaa...!" dengus orang yang memakai baju biru tua sambil mengayunkan pedangnya.

Sementara dua anggota Lima Utusan Setan yang berbaju hitam dan coklat mengurung dari samping kiri dan kanan. Namun sebentar kemudian salah seorang malah melemparkan senjata rahasia ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

Serrr! Serrr!
"Hup!"

Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat menundukkan kepalanya untuk menghindari tebasan pedang laki-laki berbaju biru tua itu. Lalu seketika tubuhnya berputar, dan langsung melenting ke atas untuk menghindari senjata rahasia yang hampir bersarang di tubuhnya. Maka senjata itu meluncur, menghantam pohon yang berada tepat di belakang Pendekar Rajawali Sakti.

Dalam keadaan masih di udara, Pendekar Rajawali Sakti meluncur turun disertai tendangan keras menderu ke arah batok kepala laki-laki berbaju biru tua. Namun dengan tangkas, tendangan Pendekar Rajawali Sakti ditangkisnya. Akibatnya, tangannya jadi terasa kesemutan. Maka sambil meringis kesa­kitan, dia bergerak ke samping. Namun Rangga yang sudah mendarat cepat memberikan satu sodokan keras menderu ke arahnya. Dengan agak terkesiap, laki-laki berbaju biru itu langsung menjatuhkan diri untuk menyelamatkan nyawanya.

Pendekar Rajawali Sakti yang berusaha mendesak, terpaksa harus melompat sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Karena salah seorang yang memakai baju hitam membabatkan pedang ke arahnya. Tubuhnya terus mencelat mengejar laki-laki berbaju biru, tanpa mempedulikan laki-laki yang berbaju hitam. Sedan Pendekar Rajawali Sakti tak memberi kesempatan sedikit pun bagi orang itu untuk memperbaiki kedudukan. Padahal, laki-laki berbaju biru itu baru saja bangkit berdiri.

Pendekar Rajawali Sakti langsung memberikan kepalan tangan kiri ke arah dada laki-laki berbaju biru itu. Namun, kepalannya dapat ditangkis. Maka Rangga menyusuli dengan satu tendangan kaki kanan ke arah ulu hati. Melihat hal ini laki-laki ber­baju biru itu bergerak ke kanan. Namun tanpa diduga sama sekali, Pendekar Rajawali Sakti memutar tubuhnya. Seketika tendangannya ditarik pulang, dan langsung menyapu ke arah punggung. Begitu cepat gerakannya, sehingga tak dapat dielakkan orang itu lagi.

Desss!
"Aaakh...!"

Laki-laki berbaju biru itu kontan memekik kesakitan, begitu punggungnya terhantam sapuan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya seketika terjerembab ke tanah keras sekali.

"Yeaaa...!"

Dari arah belakang, sebilah pedang membabat leher Pendekar Rajawali Sakti. Maka cepat-cepat Rangga menundukkan kepala. Dan tubuhnya sege­ra berputar menghadapi laki-laki berbaju hitam yang menyerangnya. Namun, saat itu meluncur sambaran senjata rahasia dari laki-laki berbaju coklat. Pendekar Rajawali Sakti cepat menekuk kedua lututnya. Dan dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa melesat ke atas. Dan begitu menukik turun, Rangga melepaskan dua pukulan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang berisi tenaga dalam lumayan. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga...

Duk! Duk!
"Aaakh...!"
"Aaa...!"

Kedua orang itu kontan menjerit kesakitan, begitu terhantam pukulan yang dilepaskan Pende­kar Rajawali Sakti. Tubuh mereka terjungkal ke tanah sambil mendekap tulang dahinya yang bocor. Mereka menggelepar-gelepar sambil bergulingan, dan terus menjerit kesakitan.

"Huh! Kalian cari penyakit sendiri! Masih untung hari ini aku masih bisa menahan sabar. Kalau tidak, kalian akan mampus hari ini juga!" dengus Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti hendak berlalu dari tempat itu, tapi tiba-tiba terdengar jeritan tertahan dari Lima Utusan Setan. Rangga buru-buru berba­lik. Tampak kelima orang itu tengah meregang me­nahan ajal.

"Heh?!" Rangga tersentak kaget dan buru-buru menghampiri.

Tampak dari mulut Lima Urusan Setan keluar cairan busa bercampur darah. Bola mata mereka melotot keluar, seperti dicekik. Selintas saja bisa ditebak kalau Lima Utusan Setan telah bunuh diri dengan jalan menelan racun ganas. Dia tak habis pikir, kenapa mereka bertindak senekat itu. Belum juga Rangga menemukan jawabannya, mendadak terdengar seseorang memanggilnya dari belakang.

"Kisanak...."

"Hm.... Siapa kau?" tanya Rangga dengan sikap waspada. Tampak dari balik sebatang pohon besar, muncul seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Bajunya lusuh, dengan celana sebatas betis.

"Aku penjaga rumah Kepala Desa Watu Jajar. Nyai Wangsa meminta Kisanak agar bertemu dengannya," jelas laki-laki bertubuh kurus itu, sambil menghampiri.

"Siapa Nyai Wangsa itu?"

"Istri Ki Wangsa, Kepala Desa Watu Jajar," jelas orang tua itu kembali.

"Hm.... Apa perlunya dia ingin bertemu denganku?"

"Aku tidak tahu, sebab hanya diperintahkan untuk mengatakan pesan itu saja."

Rangga berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Segera dihampirinya Dewa Bayu yang masih merumput tenang. Diambilnya tali kekang kuda itu, lalu diikutinya laki-laki ku­rus yang mengaku penjaga rumah Kepala Desa Watu Jajar itu.

********************

LIMA

Rangga dan penjaga rumah kepala desa itu belum sampai di tempat kediaman Ki Wangsa, namun sudah berpapasan dengan seorang perempuan setengah baya. Wajahnya cantik. Dan didampingi se­orang perempuan tua. Ketika telah beberapa tombak, laki-laki yang berada di sebelah Rangga menjura hormat.

"Nyai.... Aku telah membawa pemuda ini. Kenapa Nyai sampai keluar begini jauh.

"Terima kasih, Patijan. Kau di sini saja bersama Mbok Jayeng. Aku ingin bicara sebentar dengannya. Ingat! Jangan ceritakan hal ini pada suamiku!"

"Baik, Nyai," sahut kedua orang itu bersamaan.

Perempuan setengah baya itu kemudian berpaling ke arah Rangga, lalu tersenyum getir. Kemu­dian tubuhnya membungkuk, memberi salam penghormatan.

"Aku Nyai Wangsa, istri Kepala Desa Watu Jajar."

"Ya.... Aku pun telah tahu dari Patijan. Namaku Rangga, Nyai," sahut Rangga sopan.

"Rangga, aku ingin meminta pertolonganmu. Apakah kau bersedia?" tanya Nyai Wangsa.

"Pertolongan apa gerangan, Nyai?" tanya Rangga heran.

"Orang-orang desa mengatakan kalau kau adalah pengacau. Tapi aku tahu kalau sesungguhnya kau ingin berbuat baik pada kami. Sebenarnya, me­reka hanya takut akan malapetaka yang akan menimpa jika bercerita pada orang luar. Sebab, hal itu seringkali terjadi. Bagi siapa saja yang menceritakan kejadian di desa ini pada orang luar, tak lama ke­mudian kedapatan tewas. Sehingga, tak seorang pun yang berani membuka mulut. Terlebih-lebih suamiku yang menjabat kepala desa ini, ikut andil di dalamnya," jelas Nyai Wangsa lirih.

"Nyai, aku tak mengerti maksudmu...," kata Rangga, ragu mengutarakan kecurigaannya.

"Hm, ya. Aku sadar. Kau tentu curiga, karena aku istri kepala desa bukan? Ketahuilah. Aku telah lama menentangnya. Tapi, dia tak peduli. Dan lagi pula, aku tak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki keadaan di desa ini. Aku hanya seorang perempuan lemah" sahut wanita setengah baya itu lirih.

Rangga diam memperhatikan, seolah mencoba meyakini kebenaran kata kata wanita itu.

"Tolonglah kami, Rangga. Tak seorang pun warga desa ini yang mampu menolong dirinya sen­diri. Lepaskanlah kami dari belenggu yang tak mampu kami buka. Untuk saat ini, hanya kaulah satu-satunya harapan yang bisa menolong kami...." lanjut Nyai Wangsa.

"Nyai, aku akan berusaha semampuku. Yang penting berdoalah semoga aku berhasil. Nah! Tolong ceritakan, apa yang kau ketahui mengenai dewa gadungan itu," sahut Rangga dengan suara pelan.

"Hm.... Betul dugaanku. Ternyata kau pun sependapat kalau dewa itu memang gadungan. Namanya, Datuk Kraeng. Dia seorang tokoh hitam yang berkepandaian tinggi. Saat ini, orang itu sedang mempelajari ilmu hitam yang dahsyat sekali. Kau harus mencegahnya, sebab akan semakin ba­nyak korban yang berjatuhan!"

"Dari mana kau mengetahui semua itu?"

"Patijan itu orang kepercayaanku. Dan dia kusuruh menguntit suamiku, ketika sedang pergi ke rumah kakaknya."

"Lalu?"

"Ternyata, dia dan kakaknya sama saja! Mereka berkomplot!" dengus wanita itu geram.

Rangga memandang heran, dengan kening berkerut dalam.

"Siapa yang kau maksud dengan kakak suamimu, Nyai?"

"Siapa lagi kalau bukan Ki Ageng Sukoco!"

"Ki Ageng Sukoco? Siapa dia?" tanya Rangga, semakin heran.

"Ah, maaf Rangga. Tentu saja kau tak tahu, karena bukan orang sini. Ki Ageng Sukoco adalah Ketua Perguruan Kelabang Emas yang sangat terkenal dan ditakuti seluruh penduduk Desa Watu Jajar," jelas Nyai Wangsa seraya menunjuk letak perguruan yang berada di sebelah timur desa.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan itu.

"Ada hal lain yang perlu kau ketahui, Rangga..."

"Apa itu?"

"Dewa gadungan itu tidak hanya sekadar meminta korban. Mereka, melalui Ki Ageng Sukoco, berdagang benda terlarang di desa ini. Benda keparat itulah yang membuat penduduk Desa Watu Jajar sengsara, lemah, dan tak berdaya. Semangat mereka mati, sehingga mudah diperbudak," jelas Nyai Wangsa.

"Benda apa itu, Nyai?" tanya Rangga, semakin ingin tahu.

"Candu! Desa ini telah dipenuhi pemadat yang membuat pikiran sehat terlena," jelas Nyai Wangsa lagi.

"Astaga! Sungguh keji perbuatan mereka. Orang-orang seperti itu tak bisa dikasih hati!" geram Rangga.

"Rangga, bersungguh-sungguhkah kau ingin menolong kami?"

"Nyai, aku berjanji! Mereka tak akan kubiarkan begitu saja menyengsarakan orang banyak!" tegas Rangga.

"Tapi..., ada satu permintaan lagi," tambah wanita setengah baya itu sambil memalingkan wajah lesu.

"Apa itu?"

"Kalau kelak suamiku ikut terlibat, aku mohon jangan celakakan dia. Sebetulnya, dia bukan orang jahat..,," lirih suara Nyai Wangsa.

Rangga diam tak menjawab

"Rangga! Kau bersedia bukan, memenuhi permintaanku itu...?"

"Aku akan berusaha mengingatnya, Nyai..."

"Terima kasih. Kalau begitu, kami permisi dulu..." ucap Nyai Wangsa.

"Nyai, awasss...!" teriak Rangga.

Mendadak Pendekar Rajawali Sakti melesat ke arah wanita itu sambil mendorong tubuhnya. Hingga, wanita itu jadi terjajar beberapa langkah ke samping. Pendekar Rajawali Sakti lalu bergerak cepat, mengibaskan kedua tangannya ke depan. Dan.... Tap! Tap!

Wanita itu tersentak kaget dengan apa yang dilakukan Rangga, namun segera menyadari ketika beberapa bilah pisau menyambar ke arahnya. Kalau saja pemuda itu tak mendorongnya, niscaya pisau-pisau itu akan menembus tubuhnya!

Rangga telah menangkap dua bilah pisau yang tadi melesat, lalu setelah itu dilemparkannya pisau-pisau itu kembali pada sesosok tubuh yang hendak melesat pergi dari sebuah cabang pohon yang tak begitu jauh dari tempat mereka bicara tadi.

Wesss...! Wesss...!
"Hiyaaa...!"

Orang berpakaian serba hitam itu langsung berjumpalitan menghindari serangan balik Pendekar Rajawali Sakti. Tapi pada saat itu Rangga telah me­lesat cepat ke arahnya sambil mengirim pukulan jarak jauh lewat telapak tangan kanan.

"Heaaa...!"
Bukkk!
"Uhhh...!"

Tubuh orang berpakaian serba hitam itu kontan terlempar ke bawah sambil mengeluh kesakitan, be­gitu kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti meng­hantam dadanya. Dia terus bergulingan, kemudian langsung melenting bangkit berdiri. Pada saat yang sama, Rangga kembali melesat sambil melepaskan pukulan ke arah dada. Dengan gerakan mengagumkan, laki-laki berbaju serba hitam itu mengibaskan tangan kiri untuk menangkis, seraya mengayunkan satu tendangan keras.

Plak!

Sebuah benturan keras terjadi. Namun, tidak ada seorang pun yang terpengaruh oleh benturan itu. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti juga cepat menghindar ke samping untuk menghindar dari tendangan. Tubuhnya lalu berputar cepat, menga­yunkan tendangan setengah lingkaran ke pinggang lawan. Namun orang berpakaian serba hitam itu te­lah melompat ke belakang, sehingga terhindar dari nasib sial. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti terus melenting mengikuti. Agaknya, pemuda itu kali ini tak mau melepaskan lawannya. Bahkan tangannya cepat menyodok dada, sedang orang itu menangkis dengan tangan kiri.

Plak!
"Uhhh...!"

Tapi pada benturan kali ini, orang berpakaian serba hitam itu mengeluh kesakitan. Dan Rangga tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Tangan kirinya cepat bergerak, menotok jalan darah di tubuh lawan.

Tuk!
"Akh!"

Orang berpakaian serba hitam itu kontan ambruk ke tanah dengan tubuh tak berdaya. Matanya mendelik garang ketika Pendekar Rajawali Sakti melangkah dan berdiri di hadapannya.

"Pengecut! Bunuh saja aku daripada dilumpuhkan begini!" dengus orang itu geram.

Rangga tak langsung menjawab. Matanya malah memandang ke arah Nyai Wangsa beserta kedua pembantunya. Wajah mereka kelihatan ketakutan sekali. Rangga lalu menghampiri sambil tersenyum kecil berusaha meyakinkan mereka.

"Nyai, percayalah. Aku akan membereskan orang itu. Sekarang, kalian pulanglah. Orang itu tak akan membahayakanmu..."

"Tapi..."

Rangga kembali tersenyum. "Tidak. Aku berjanji, dia tak akan membahayakan keselamatanmu!" tegas Pendekar Rajawali Sakti.

Nyai Wangsa memandang sekilas pada orang berpakaian serba hitam dan bertopeng hitam pula. Kemudian matanya memandang ke arah Rangga sambil mengangguk pelan.

"Baiklah. Aku percaya kata-katamu. Kami permisi dulu. Oh, ya. Sekali lagi, kuucapkan terima kasih atas kebaikanmu mau membantu kami...," ucap Nyai Wangsa.

"Kau tak perlu berkata begitu. Membantu sesama adalah kewajiban setiap manusia. Silakan, Nyai...," sahut Rangga.

Nyai Wangsa dan dua orang yang membantunya segera berlalu dari situ. Langkah mereka tampak terburu-buru, seperti takut ada yang mengawasi. Rangga memandang ketiga orang itu beberapa saat lamanya, sampai ketiganya hilang di ujung jalan. Kemudian kakinya melangkah mendekati orang bertopeng hitam itu, dan kembali berdiri tegak di hadapannya.

"Lepaskan aku, Keparat!" dengus orang itu garang dengan mata melotot lebar.

"Apa yang akan kau lakukan jika kulepaskan...?" tanya Rangga tenang.

"Huh! Aku akan mengadukan wanita itu, biar suaminya menghukum kelancangannya! Baru setelah itu, membunuhmu!"

"Sadarkah kau bahwa aku bisa membunuhmu sekarang juga?" kata Rangga, sambil tersenyum kecil.

"Huh! Lakukanlah kalau memang itu maumu!"

"Membunuhmu adalah persoalan mudah, Kisa­nak. Tapi, itu amat enak bagimu. Kau akan mati dengan cara amat menyakitkan!" ancam Rangga, dingin.

"Apa maksudmu?!" sentak orang bertopeng itu.

"Maksudku begini... "

Rangga tak melanjutkan kata-katanya. Namun tiba-tiba ditendangnya perut orang itu dengan ujung kakinya.

Begkh!
"Aaakh...!"
"Dan begini...!"
Duk!
"Aaakh...!"

Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti menghantam dengan tendangan bertubi-tubi, sehingga tubuh orang itu terpental dan terjungkal beberapa kali sambil menjerit kesakitan. Kemudian Rangga menghentikan hantamannya ketika orang itu terlihat mulai megap-megap dan sulit bernapas. Dari mulutnya berkali-kali memuntahkan darah kental.

"Ini baru permulaan. Dan kau akan mendapatkan yang lebih hebat kalau tak memberi tahu orang yang menyuruhmu membunuh wanita itu...," kata Rangga dingin sambil memandang tajam pada lawannya.

"Keparat! Bunuhlah aku! Bunuhlah aku, daripada disiksa begini! Ayo, bunuh aku!" teriak orang itu dengan amarah meluap-luap.

"Bukankah telah kukatakan, kalau hanya untuk membunuhmu adalah soal mudah. Tapi, sebaik­nya nikmati dulu buah hasil dosa-dosamu selama ini!"

Setelah berkata demikian, Pendekar Rajawali Sakti berjongkok. Lalu dua buah jari kanannya kembali menotok beberapa jalan darah di tubuh orang bertopeng itu. Akibatnya, orang itu memekik kesakitan, karena aliran darahnya jadi tak beraturan. Maka tentu saja hal itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi, karena dia telah mengalami luka dalam yang cukup parah, akibat hajaran Rangga tadi.

"Nah! Selamat menikmati kematianmu sesaat lagi...," kata Rangga tenang, seraya bangkit dan berjalan meninggalkannya begitu saja.

"Keparat! Hei, mau ke mana kau?! Hentikan perbuatanmu! Hentikan! Aku akan mengatakannya padamu...!" teriak orang bertopeng itu.

Nah. katakanlah , sahut Rangga tenang sambil berbalik.

"Kembalikan keadaanku seperti semula, baru kukatakan padamu!"

"Hm.... Kau masih mempermainkanku, Kisanak. Kalau begitu, biarlah kau kutinggal saja di sini sampai menemui ajal," sahut Rangga kembali ber­balik.

"Baiklah, akan kukatakan...!"

"Katakan saja, dan jangan berbelit-belit. Siapa orangnya?!" bentak Rangga tanpa berbalik.

"Orang itu..., Ki Ageng Sukoco...."

"Hm, bagus. Kalau begitu, istirahatlah saja di sini dulu!"

Bersamaan dengan selesai kata-katanya. Rangga cepat menghampiri orang itu. Kemudian dikembalikannya aliran darah laki-laki berbaju hitam itu seperti semula. Namun, totokannya tak dibebaskan. Malah, ditambahkannya dengan totokan yang da­pat membungkam suara orang itu. Rangga lalu membawanya ke semak-semak yang tertutup, kemudian meninggalkannya di situ.

"Totokan itu akan membuatmu terbaring di sini seharian lamanya. Dan setelah itu, teman-temanmu akan kuringkus. Begitu juga dengan kau!" kata Rangga sebelum melesat ke satu arah. Sedangkan Dewa Bayu dibiarkannya merumput sendiri.

********************

Senja telah berlalu, ketika Rangga tiba di depan pintu gerbang Perguruan Kelabang Emas. Dengan mengendap-endap, Pendekar Rajawali Sakti berusaha mengintai apa yang terjadi di dalamnya. Per­guruan yang halamannya luas dan dipagari oleh jajaran batang kayu rapat-rapat setinggi satu tombak itu terlihat sepi. Di depan rumah terlihat beberapa penjaga saja yang hilir mudik. Dan agaknya mereka mulai tugas jaga malam.

Pendekar Rajawali Sakti lalu melompat ke atas, dan mendarat manis di sebuah cabang pohon di atasnya. Dia terus meloncat dari cabang pohon ke cabang pohon lain, menuju arah samping bangunan utama yang terletak di tengah-tengah halaman. Kini Pendekar Rajawali Sakti telah berada di dalam lingkungan bangunan itu. Di sebelah rumah utama yang besar itu masih terdapat barak-barak tempat tinggal para murid. Rangga terus menerobos masuk sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Dia mendarat di atas genteng, dan langsung merapatkan tubuhnya.

"Hm, sepi sekali. Jangan-jangan mereka te­lah mengetahui kedatanganku...," gumam Rangga perlahan, terus tiarap di atas salah satu atap sebuah bangunan.

Sambil mengerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara' yang dimilikinya, Pendekar Rajawali Sakti terus mendekati bangunan utama dengan hati-hati sekali. Begitu tiba di bangunan utama, Rangga segera membuka sebuah genteng dan melihat ke bawah. Tak terlihat siapa-siapa. Suasana terlihat sepi, sehingga pemuda itu semakin curiga saja jadinya. Di periksanya ruangan lain, tapi juga hanya terlihat beberapa orang saja. Tak ada satu ciri-ciri pun yang dikatakan Nyai Wangsa tentang orang tua bernama Ki Ageng Sukoco. Pemuda itu tak habis pikir.

Dan kecurigaannya semakin menjadi-jadi saja. Maka dia bermaksud mencari tahu keadaan di tempat itu. Dan tentu saja dia harus menanyai salah seorang murid Perguruan Kelabang Emas. Rangga lalu segera turun dari atap, dengan gerakan tanpa suara. Tubuhnya langsung menyelinap di balik sebuah dinding bangunan ketika salah seorang murid Perguruan Kelabang Emas berjalan mendekati tempat itu. Begitu telah dekat, Rangga cepat melumpuhkan orang itu.

Tuk!
"Ohhh....!"

Begitu orang itu ambruk, Rangga menahan. Lalu Pendekar Rajawali Sakti menyeretnya ke tempat gelap sambil mendekap mulut orang itu.

"Jangan berteriak! Kalau tidak, kupecahkan kepalamu!" ancam Rangga.

Orang itu memelototkan matanya dengan geram. Sementara, tangan kanan Rangga langsung mencekik keras lehernya.

"Aku tak ada waktu! Katakan, di mana Ki Ageng Sukoco?! Atau, kau mampus sekarang juga?!" desis Rangga geram.

"Eeekh... kekh...!"

"Kalau kau mau menjawabnya, cukup memberi isyarat dengan berdiam diri. Tapi kalau kau tak ingin mampus, jangan coba-coba berteriak!" ancam Rangga lagi.

Orang itu diam tak bersuara, sehingga Rangga melepaskan dekapan mulutnya. Namun, cekikan dari belakang leher orang itu tak dilepaskan. Hanya dikendurkan saja sedikit.

"Nah! Katakan, di mana Ki Ageng Sukoco?" "Dia tak di sini..."

"Jadi di mana?"

"Di pantai. Menjemput barang yang datang bersama beberapa orang murid utama..." sahut orang itu.

"Pantai? Pantai apa? Dan, di mana tepatnya mereka berada?"

"Dekat dua buah karang yang tinggi dan besar, serta di tengahnya bolong mirip sarang burung walet. Nama tempat itu, adalah Pantai Walet," jelas orang itu lagi.

"Satu lagi. Siapa yang memberi perintah agar Nyai Wangsa dibunuh?"

"Eh! Aku..., aku tak tahu...."

"Jangan berbohong!" Rangga mengancam dengan mengencangkan cekikannya.

"Ekh...! Hek..., lepaskan dulu. A..., aku tak berdusta...."

"Katakan yang benar!" sentak Rangga kembali mengendurkan cekikannya.

"Sungguh! Aku tak berdusta! Aku sama sekali tak tahu, siapa yang akan membunuh Nyai Wangsa. Ki Ageng Sukoco tak mungkin melakukannya, karena dia adalah adik iparnya sendiri!"

"Keparat! Orang itu mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan topeng hitam pula. Dan dia mengaku, kalau Ki Ageng Sukoco telah membe­ri perintah padanya untuk membunuh Nyai Wang­sa!" geram Rangga.

"Astaga! Itu pasti orang-orangnya Datuk Kraeng! Kisanak! Aku berkata yang sesungguhnya. Ki Ageng Sukoco tak mungkin hendak membunuhnya. Lagi pula, kami tak pernah berkeliaran di desa dengan menggunakan pakaian serba hitam. Itu adalah seragam anak buah Datuk Kraeng...," sahut orang itu, terkejut.

"Hm.... Di mana Datuk Kraeng berada?"

"Di bukit kecil dekat Pantai Walet. Di situ terdapat sebuah goa yang menghadap ke utara. Di sanalah tempat tinggalnya."

"Bagus. Nah, sekarang istirahatlah dulu!"

Tuk!

Rangga cepat menotok urat suara orang itu, sebelum membuka dekapan pada mulut. Dan Pen­dekar Rajawali Sakti cepat melesat menuju Pantai Walet.

********************

ENAM

Pendekar Rajawali Sakti memacu Dewa Bayu bagai dikejar setan saja. Untung saja, kuda hitam itu mampu berlari lebih cepat dari kuda biasa. Apalagi, kuda itu bukan kuda sembarangan. Seekor kuda yang memiliki daya tahan luar biasa! Sehingga tak heran bila sekarang Pantai Walet sudah kelihatan. Kini Pendekar Rajawali Sakti mengendurkan lari kudanya. Dari kejauhan terlihat sebuah perahu layar yang berlabuh di pantai. Dan ketika Pendekar Rajawali Sakti memandang ke sekeliling, tampaklah sebuah bukit yang tak terlalu tinggi. Letaknya memang tak begitu jauh dari karang bolong yang berbentuk sarang burung walet itu.

"Hm… Ternyata murid Ki Ageng Sukoco itu berkata benar. Tapi, aku mesti hati-hati. Jangan-jangan dia berdusta. Bisa saja ketika aku memasuki goa, ternyata sebuah perangkap..." kata Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti menghentikan laju kudanya, lalu melompat turun dengan gerakan indah. Kemudian kudanya ditambatkan di sebuah pohon nyiur, dan perlahan-lahan mendekati arah pantai. Tampak perahu-perahu kecil di bibir pantai. Beberapa orang juga tengah membongkar isi perahu-perahu, dan membawanya ke atas bukit.

"Hm… Kalau begitu, apa yang dikatakan orang itu ternyata benar. Aku harus bertindak sekarang...!" desis Rangga pelan.

Pendekar Rajawali Sakti langsung bergerak dengan pengerahan ilmu meringankan tubuhnya yang telah sempurna, menuju ke bukit kecil itu. Sementara berbagai macam pertanyaan terus bergayut di benaknya.

"Apakah peti-peti yang dibawa orang tadi berisi candu? Apa benar Ki Ageng Sukoco yang merupakan ketua perguruan silat justru malah meracuni penduduk Desa Watu Jajar dengan candu? Mengapa dia begitu tega?"

Rangga belum bisa menjawabnya. Sementara, kakinya terus melangkah. menaiki bukit kecil yang kini menghadang. Namun baru saja Rangga menemukan goa yang dimaksud...

"Heh, siapa kau?!" Terdengar bentakan keras, sehingga membuat langkah Pendekar Rajawali Sakti terhenti.

"Dia pasti memata-matai kegiatan kita di sini! Sebaiknya tangkap dan bunuh saja!" sambut sebuah suara lagi.

Maka mendadak saja dua sosok tubuh langsung melesat ke arah Rangga. Mereka langsung mengayunkan pedang yang ujungnya melengkung. Pen­dekar Rajawali Sakti terkejut sejenak, lalu buru-buru menundukkan kepala. Maka serangan dahsyat dari dua penyerangnya dapat dihindari.

Untuk beberapa saat kening Rangga jadi berkerut, menyaksikan ilmu olah kanuragan mereka yang aneh. Bahkan sama sekali berbeda dengan yang terdapat di negeri ini. Diperhatikannya jurus-jurus itu secara seksama. Pendekar Rajawali Sakti juga melihat kalau wa­jah mereka berbentuk agak persegi empat, dengan kedua rahang menonjol. Mereka memakai ikat ke­pala berwarna merah dan bergaris-garis hijau.

Rompi yang mereka kenakan juga berwarna hijau lusuh. Bagian tepinya, terdapat garis berwarna merah. Sementara mereka juga bercelana pendek, sebatas paha. Kalau diperhatikan, usia mereka masih terhitung muda. Sekitar dua puluh lima tahun. Mungkin karena ditempa oleh kehidupan yang keras, membuat mereka tampak jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

"Hiyaaa...!"

Kembali dua buah serangan sekaligus menyambar leher Pendekar Raiawali Sakti. Maka cepat-cepat Rangga menundukkan kepala. Namun salah se­orang cepat mengayunkan satu tendangan keras. Akibatnya, Rangga harus memiringkan tubuh untuk menghindarinya. Sementara pada saat yang sama, lawannya yang seorang lagi mengayunkan satu ten­dangan ke arah dada. Terpaksa Rangga menangkis dengan tangan kiri.

Plak!
"Heh?!"

Pendekar Rajawali Sakti sedikit terkejut ketika merasakan kalau tangannya seperti menghantam besi baja ketika menangkis tadi. Namun Rangga tak bisa terus-menerus terpaku dengan keterkejutannya. Tubuhnya langsung melenting ke atas, ke­tika dari arah belakang terasakan adanya satu sambaran senjata mengincar punggungnya. Rangga cepat berbalik. Dan tangannya langsung bergerak ke atas, untuk memapak tebasan pa­da punggungnya.

Plak.

Begitu Rangga berhasil memapak pergelangan tangan orang yang membokongnya, dia jadi terkejut sendiri. Seperti tadi, tangannya seperti menghantam benda keras saja!

"Ha ha ha...! Ayo! Pilihlah sesuka hatimu, bagian tubuh yang kau sukai!" ejek pembokongnya, sambil tertawa keras.

"Heh?!"

Rangga menatap tajam pembokongnya. Pada jarak kira-kira sepuluh langkah, tampak berdiri seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap. Rambutnya pendek dan berdiri kaku. Sepasang ma­tanya agak sipit. Rahangnya yang menonjol, memperlihatkan kebengisannya. Dadanya bidang, de­ngan otot bertonjolan di balik baju rompi berwarna hijau dan bergaris merah itu. Seperti kedua lawannya tadi, orang ini pun mengenakan celana pendek. Namun, sedikit lebih tinggi di atas lutut dengan ukuran agak ketat. Di pinggangnya terlihat sabuk kulit yang tebal dan berbulu hitam kasar. Di pinggang kirinya terselip senjata yang mirip kedua lawannya tadi.

Ketika Rangga merayapi ke sekeliling, tampak tempat itu telah dikepung. Mereka bersikap tenang, memandang orang yang tadi tertawa mengejek.

"Siapa kau?" tanya Rangga pelan.

"Namaku Sompong Suchinda, kepala perompak dari Negeri Siam. Nah, sekarang giliranmu. Siapa kau, dan apa kerjamu di sini?!" sahut orang yang mengaku bernama Sompong Suchinda de­ngan suara keras.

"Aku Rangga. Dan aku hanya kebetulan lewat..."

"Ha ha ha....! Jangan coba-coba mengelabuiku, Kisanak. Tempat ini bukan jalan umum yang biasa dilalui orang. Lagi pula, gerak-gerikmu mencurigakan. Orang-orangku tak pernah menangkap orang yang salah jalan sepertimu!"

"Hm... Orang-orangmu? Sejak kapan kau berkuasa dengan menangkapi orang yang lewat di se­kitar tempat ini? Dan, apa yang kau lakukan malam-malam begini di tepi pantai, lalu menurunkan barang-barang dari perahu? Kalau bukan sedang menyelundupkan barang terlarang, kau tentu sedang bersiap hendak menggempur negeri ini!" balas Rangga, enteng.

"Ha ha ha...! Kau pintar membalikkan kata-kata, Kisanak. Tapi aku tak tertarik untuk menjawabnya. Yang kutahu, kau telah mencelakakan dua anak buahku. Untuk itu, kau harus mendapat balasan setimpal. Baru setelah itu, kau kuserahkan pada Datuk Kraeng. Terserah, apakah dia akan membunuhmu atau membuangmu ke tengah lautan," kata Sompong Suchinda.

"Bicaramu seperti orang berkuasa sekali, Kisanak," sindir Rangga sambil tersenyum sinis.

"Kenapa tidak? Aku bisa berbuat apa saja yang kusuka. Dan tak seorang pun boleh menghalanginya!" sahut Sompong Suchinda sambil terkekeh mengejek.

"Ya! Seperti dewa gadungan yang kau sebut Datuk Kraeng itu, bukan?" kata Rangga, bernada mengejek.

"Huh! Aku tak peduli dengan segala kegiatannya! Kedatanganku ke sini hanya untuk berdagang. Dan kalau di sini menguntungkan, kenapa tidak kujalani? Dan kalau ada seseorang yang menguntungkanku, maka kepadanya kami berkawan. Dan se­orang kawan, sudah seharusnya dibela!" sahut Sompong Suchinda enteng.

"Huh! Kalian memang keparat-keparat terkutuk! Hm.... Jadi selama ini kalianlah yang mem­bawa candu-candu itu ke sini, sehingga penduduk Desa Watu Jajar menjadi lemah akalnya," geram Rangga.

"Ha ha ha...! He? Kenapa kau, Kisanak. Agaknya kau tak senang dengan usaha kami? Bukankah ini lebih baik daripada merampok? Lagi pula, apa urusannya dengan penduduk Desa Watu Jajar? Orang-orang Perguruan Kelabang Emaslah yang menyebarkan candu-candu itu. Kami ke sini karena Datuk Kraeng yang memintanya. Kalau kau ingin jadi pahlawan kesiangan, pada Datuk Kraeng dan pada orang-orang Perguruan Kelabang Emaslah urusanmu!"

"Keparat! Kalian memang sama terkutuknya!" bentak Rangga semakin geram saja.

"He! Kau tak perlu marah-marah padaku. Sebentar lagi, kau boleh marah sepuas-puasmu di depan Datuk Kraeng. Itu pun kalau kau mampu menerima hajaranku!" sahut Sompong Suchinda sambil menyeringai lebar.

Setelah berkata demikian, Sompong Suchinda bersiap memasang jurus untuk menyerang lawan. Tapi belum juga ada serangan...

"Sompong! Apa yang kau lakukan di sini?"

Orang asing itu menoleh ke arah sumber suara. Tampaklah seorang laki-laki tua berusia sekitar enam puluh tahun. Tangannya menggenggam sebilah pedang yang masih tersimpan dalam warangka. Beberapa orang lagi di belakangnya, tampak berjalan mengiringi.

"Hm... Ki Ageng Sukoco, kau kiranya. Kukira siapa..." sahut Sompong Suchinda perlahan.

"Apa yang terjadi? Dan, siapa pemuda itu?"

"Dia memata-matai kita!"

"Hm...," orang tua itu bergumam sambil memandangi pemuda berbaju rompi putih di depannya. Perlahan-lahan, didekatinya pemuda itu.

"Jadi, kaukah yang bernama Ki Ageng Sukoco?" tanya Rangga dingin.

"Oh! Rupanya kau mengetahui juga diriku! Kaukah orang yang belakangan ini mengacau Desa Watu Jajar? Hm.... Sungguh gegabah berani datang ke sini," tanya Ki Ageng Sukoco, sinis.

"Sungguh hebat bicaramu, Ki. Siapakah sebenarnya yang pengacau? Kau atau aku?"

"Kau pintar bicara, Anak Muda. Tapi, bicaramu justru akan mencelakakanmu. Kau terlalu ingin tahu urusan orang. Maka, kau akan menerima akibatnya," sahut Ki Ageng Sukoco, seraya berbalik. Ditinggalkannya pemuda itu, lalu berpaling ke arah Sompong Suchinda.

"Hm..... Agaknya kau mengenalnya juga, Ki Ageng Sukoco?" tanya Sompong Suchinda.

"Tidak. Tapi, beritanya banyak kudengar belakangan ini. Dia pengacau yang tak boleh diberi hati!" sahut orang tua itu.

"Ha ha ha...! Aku mengerti. Kau pun tentu berurusan dengannya, dan ingin menggunakan ta­nganku untuk menghajarnya. Tentu saja, tawaran ini kuterima, Ki Ageng Sukoco. Mudah-mudahan kau bisa melampiaskannya, setelah dia menjadi bangkai!" sahut Sompong Suchinda.

Ki Ageng Sukoco hanya tertawa kecil. Sedangkan Sompong Suchinda sudah melangkah mendekati Rangga dengan wajah keras dan sorot mata tajam.

"Rangga! Keluarkan seluruh kemampuanmu, jika tak ingin cepat mampus di tanganku!" ancam Sompong Suchinda, jumawa.

"Sompong! Kau boleh bicara apa saja. Tapi kukira, bicaramu tak lebih dari tempayan kosong," sahut Rangga enteng.

"Kurang ajar! Yeaaa...!"

Sambil membentak nyaring, Sompong Suchinda melompat cepat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Angin serangannya terasa deras dan kuat. Jelas, tenaga dalamnya cukup kuat. Sementara kedua tangannya yang terpentang membentuk cakar, siap mengancam pertahanan Pendekar Rajawali Sakti dalam pengerahan lima rangkaian jurus 'Raja­wali Sakti'.

Plak!

Tangkas sekali Pendekar Rajawali Sakti menangkis serangan itu dengan tangan kiri. Dan Rangga kembali merasakan kalau tangan lawannya begitu keras bagai baja. Untung saja seluruh tenaga dalamnya dikerahkan ke seluruh bagian tubuhnya. Sehingga, benturan tadi tidak terlalu banyak mempengaruhinya. Dan ketika tangan kiri Sompong Su­chinda kembali menghantam bagian dada, tangan kanannya menangkis ke atas.

"Hiyaaa...!"
Plak!

Begitu habis berbenturan, Sompong Suchinda bergerak cepat berputaran sambil mengayunkan satu tendangan keras ke arah perut. Maka, Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat ke atas, mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Me­ga'. Kaki kanannya cepat diangkat ke atas, karena tangan kiri lawan cepat menyapu bagian kakinya. Namun tanpa diduga sama sekali, tubuh Sompong Suchinda langsung melenting ke atas. Dan tubuhnya cepat berbalik, lalu meluncur ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang sudah mendarat di tanah. Kaki kanan Sompong Suchinda yang berisi tenaga dalam mengincar dada Pendekar Rajawali Sakti. Semen­tara, Rangga tak punya pilihan, selain memapak. Begitu cepat gerakan mereka, sehingga tanpa dapat dihindari benturan keras kembali terjadi.

Blarrr!
"Hup!"
"Yeaaa...!"

Kedua orang itu sama-sama terlempar ke belakang, namun cepat berputar ringan dan menjejakkan kaki di tanah dengan mantap. Sompong Su­chinda telah langsung kembali melompat menyerang, dengan satu tendangan menggeledek. Nyaris tendangan itu memecahkan batok kepala, kalau sa­ja Rangga tak cepat menunduk. Begitu Sompong Suchinda menjejakkan kakinya setelah serangannya hiput, Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa.

Tubuhnya langsung melesat ke arah Sompong Suchinda, dengan kedua kaki bergerak menyilang menghantam kepala. Orang asing itu terkejut bukan main melihat perubahan jurus yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. Maka tubuhnya cepat bergulingan untuk menghindarinya. Dan begitu bangkit berdiri, Rang­ga sudah melenting dan mencegat di depannya. Langsung diayunkannya satu tendangan keras bertenaga dalam tinggi.

Bukan main kagetnya Som­pong Suchinda. Dengan cepat tubuhnya melenting ke atas. Namun Pendekar Rajawali Sakti yang telah membaca gerakannya cepat melesat ke atas pula, membawa sebuah pukulan maut dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali. Sehingga, tangan Rangga sudah berubah merah bagai besi terbakar. Melihat serangan ini, laki-laki bertubuh tinggi besar itu segera merangkapkan kedua tangannya untuk menangkis.

Plak!
Des!
"Uhhh...!"

Tubuh Sompong Suchinda terpental ke atas disertai keluhan kesakitan begitu pukulan Pendekar Rajawali Sakti telak menghantam dadanya. Sayang Pendekar Rajawali Sakti tidak melanjutkan serangannya, seperti ingin memberi kesempatan pada lawan untuk bersiap kembali. Begitu mendarat di tanah, hanya diperhatikannya keadaan laki-laki dari negeri seberang itu.

Sungguh sama sekali tak disangka, kalau Pendekar Rajawali Sakti mampu bergerak begitu cepat. Untung saja Sompong Suchinda mampu mengendalikan tubuhnya, sehingga waktu meluncur ke ta­nah, kakinya lebih dulu sampai walau agak terhuyung-huyung.

Melihat ketuanya terhuyung-huyung begitu rupa, anak buah Sompong Suchinda segera bergerak hendak menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Tahan...!" cegah Sompong Suchinda, membentak nyaring.

Anak buah Sompong Suchinda seketika menatap ke arah ketuanya, seperti ingin meyakinkan cegahan tadi. Tapi, Sompong Suchinda telah mengangkat telapak tangan kirinya ke atas, pertanda kalau anak buahnya tak boleh menyerang. Kemu­dian terlihat kakinya melangkah pelan mendekati pemuda berbaju rompi putih itu. Lalu, dia berhenti ketika jaraknya telah lebih kurang tiga langkah di depan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm... Belum pernah kulihat orang yang mampu menyerang sedemikian cepat, seperti apa yang kau lakukan tadi. Tentu kau bukan orang sembarangan. Siapakah kau sebenarnya?" tanya Sompong Suchinda.

"Aku hanya pengembara yang tersesat. Hm... Kalau boleh kusarankan, sebaiknya pulanglah ke negerimu. Jangan kembali lagi ke sini untuk berdagang barang-barang terlarang itu," ujar Rangga kalem.

Sring!

Nasihat Rangga ternyata dijawab Sompang Suchinda dengan mencabut senjatanya. Dan mata­nya langsung memandang tajam ke arah pemuda itu.

"Kisanak! Aku tak tertarik nasihatmu! Maaf. Nah, sekarang mari kita lanjutkan pertarungan dengan menggunakan senjata. Cabutlah pedangmu!"

"Pedangku tidak pantas berhadapan denganmu," sahut Rangga, enteng.

Dengan kata-kata itu, sama saja Pendekar Rajawali Sakti menganggap rendah lawannya. Maka sudah tentu Sompong Suchinda jadi naik darah. Matanya kian melotot lebar, dan kedua urat di pelipisnya mengembung. Bahkan rahangnya sudah berkerotokan menahan amarah. Hal itu memang disengaja Rangga, untuk membangkitkan amarah lawannya.

"Huh! Aku tak peduli kau bersenjata atau tidak! Hanya perlu diingat, aku tak segan-segan mencabut nyawamu! Jagalah kepalamu! Yeaaa...!"

Pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan Sompong Suchinda berlangsung semakin seru, ketika orang asing itu sudah menggunakan senjatanya yang demikian hebat. Dia mampu membuka pertahanan Rangga. Dan hal itu dirasakan betul oleh Pendekar Rajawali Sakti. Ujung senjata lawan yang melengkung terkadang nyaris membabat lehernya kalau tak cepat menghindar.

********************

TUJUH

Sementara itu, cukup jauh dari Pantai Walet, Nyai Wangsa dan dua orang pembantunya tampak berjalan terburu-buru menuju tengah Desa Watu Jajar. Nyai Wangsa bukannya tak khawatir setelah peristiwa percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Kini jiwanya betul-betul terancam. Kalau saja saat itu Rangga tak menyelamatkannya, entah apa jadinya. Mungkin tak dapat bernapas seperti saat ini. Tapi, apakah saat ini jiwanya betul-betul telah aman?

Bagaimana kalau ternyata ada orang berto­peng lain yang mengikuti dan tiba-tiba membunuhnya dari belakang? Wanita itu berkali-kali menoleh ke belakang, kemudian matanya menyapu ke se­keliling selama perjalanannya. Dia bersama dua orang pembantunya memang tengah menuju rumahnya di tengah-tengah Desa Watu Jajar.

"Ada apa, Nyai...?" tanya Patijan yang mengetahui perubahan wajah majikannya.

Nyai Wangsa memandang sekilas, kemudian mengalihkan perhatian ke sekeliling tempat itu lagi. Sementara, Patijan dapat merasakan kecemasan wanita itu. Juga ketika matanya melirik Mbok Jayeng, wanita tua itu pun menunjukkan wajah cemas. Laki-laki bertubuh kecil dan dekil itu meng­hela napas pendek.

"Nyai tak perlu cemas. Bukankah Nyai mempercayai pemuda itu? Dia pasti dapat melindungi kita," hibur Patijan, berusaha meredakan kece­masan hati wanita itu.

"Aku percaya padanya. Tapi saat ini, dia tak bersama kita. Bagaimana kalau tiba-tiba ada manusia bertopeng lain yang menghadang dan mem­bunuh kita semua?" tanya Nyai Wangsa cemas.

Patijan baru menyadari hal itu. Dia terdiam be­berapa saat lamanya. Wajahnya mulai pucat. Dilihatnya Mbok Jayeng yang membisu sejak tadi. Tapi, melihat wajah majikannya yang terus-menerus cemas, dia hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Seolah dia ingin menyalakan keberanian dan mengusir jauh-jauh rasa takut di hatinya.

"Nyai tak perlu cemas. Aku akan melindungimu dari siapa pun yang mencoba membunuhmu!" tegas Patijan, mantap.

Nyai Wangsa terdiam. Tampak sikap Patijan berusaha gagah. Dia terharu, sekaligus tertawa geli dalam hati. Bagaimana mungkin Patijan yang sela­ma ini penakut tiba-tiba saja bisa bicara lantang seperti itu?

"Terima kasih, Patijan. Kau memang baik...," sahut Nyai Wangsa.

"Oalah, Patijan! Lagakmu seperti pendekar saja. Melihat orang mencabut golok saja, kau sudah lari terbirit-birit!" timpal Mbok Jayeng yang sejak tadi diam saja.

"Eee... Jangan sembarangan omong, Mbok! Mbok belum tahu kalau aku punya jurus ampuh yang bisa diandalkan? Nih, lihat!" tangkis Patijan.

Kemudian laki-laki kerempeng itu memperagakan beberapa gerakan. Tapi dasar Patijan me­mang tak becus apa-apa soal ilmu silat, maka gerakannya kacau-balau dan asal jadi saja.

"Tuh! Hebat, kan?" kata Patijan, setelah selesai memperagakan gerakan-gerakannya. Laki-laki kerempeng itu mengibas-ngibaskan debu di tubuhnya sambil tersenyum-senyum kecil.

Mbok Jayeng hanya mencibir melihat tingkah laki-laki itu. Tapi Nyai Wangsa sepertinya terhibur, meski kecemasan hatinya tak sirna juga. Kim mereka melanjutkan perjalanan, hingga tak lama sudah tiba di rumah yang paling besar dan mewah di desa itu.

Mereka mengendap-endap, masuk lewat jalan belakang. Ki Wangsa agaknya belum kembali ke rumah. Maka wanita itu mengajak kedua pembantunya untuk langsung ke kamar.

"Patijan! Pergilah ke kotaraja. Katakan pada pihak kerajaan kalau desa ini dalam bahaya. Kita tak bisa membiarkan pemuda itu berjuang sendiri, sementara kita diam-diam saja menunggu hasilnya," ujar Nyai Wangsa.

Patijan terkejut, langsung memandang wanita itu seolah tak percaya.

"Kenapa? Takut?" tanya Nyai Wangsa.

"Nyai, selama ini tak seorang pun yang pernah berhasil tiba di kotaraja untuk melaporkan keadaan desa kita. Mereka semua tewas di tengah jalan...," sahut Patijan, cemas.

"Hm...  Kalau begitu, pergilah ke kadipaten. ceritakan semua persoalan ini pada adipati agar beliau membawa pasukannya ke sini untuk menghancurkan orang-orang itu!"

"Sama saja, Nyai. Ke kotaraja atau kadipaten, tak ada bedanya. Mereka menunggu orang desa mau keluar dari sini di perbatasan. Dan mereka langsung membunuhnya!" jelas Patijan.

"Patijan! Apakah kau selamanya ingin melihat desa kita begini terus? Tak tergerakkah hatimu untuk menolong dan membebaskan desamu sendiri?" tanya Nyai Wangsa mencoba menggugah semangat laki-laki kerempeng itu.

Patijan terdiam dan merenung beberapa saat. "Tapi, Nyai...," desah Patijan terputus.

"Kalau kita berusaha, pasti ada jalan untuk lolos!"

"Bagaimana aku bisa melewati mereka yang berjaga di tapal batas?"

"Bilang saja kalau kau utusan Ki Wangsa yang menyuruhmu pergi ke desa lain!"

"Ke desa lain? Dan..., memakai nama Ki Wangsa? Bagaimana kalau beliau tahu? Oh, Nyai. Aku bisa celaka!" kata Patijan.

"Tenang! Tenang dulu Patijan. Aku akan mengirim surat atas nama suamiku, yang ditunjukkan pada Kepala Desa Sukasari. Dia itu masih ada hubungan saudara dengan suamiku. Katakan kalau isi surat itu bersifat pribadi. Nah! Dengan begitu, kau akan lolos dari pemeriksaan mereka. Kemu­dian, pergilah ke kadipaten. Begitu sampai di sana, laporkan apa yang terjadi di sini Soal surat itu, aku yang bertanggung jawab pada suamiku," jelas wanita itu singkat.

Patijan menimbang-nimbang beberapa saat.

"Bagamiana. Patijan? Kau bisa bukan? Aku tahu, semangatmu besar dan keberanianmu hebat. Kau pasti mampu melakukannya," desak wanita itu lagi.

Laki-laki kerempeng itu memandang Nyai Wangsa beberapa saat lamanya. Tak lama, kepalanya mengangguk pelan.

"Aku percaya, kau memang pemuda berani. Tunggulah sebentar. Aku akan menuliskan suratnya. Ingat! Surat itu tak perlu disampaikan. Ini hanya untuk mengelabui para penjaga perbatasan, kalau mereka memeriksamu," Nyai Wangsa mengingatkan.

"Baik, Nyai...."

********************

Ki Wangsa menyesal bukan main setelah bertengkar dengan istrinya. Apalagi setelah menjatuhkan tangan pada wanita yang sebenarnya sangat dicintainya itu. Padahal, selama ini tak pernah dilakukannya. Memang, tadi Nyai Wangsa betul-betul membuatnya marah dan jengkel.

Kepala Desa Watu Jajar itu sore ini sedang menikmati makannya di sebuah kedai di desanya. Padahal untuk makan di luar, jarang dilakukannya. Dia lebih menyukai masakan istrinya sendiri. Setelah cukup kenyang, Ki Wangsa segera membayar makanannya. Dan dengan langkah gontai, dia ber­jalan ke luar kedai. Segera dihampiri kudanya yang tertambat di depan. Begitu naik, kudanya langsung digebah sekencang-kencangnya, tanpa tujuan pasti.

Menjelang malam, Ki Wangsa juga masih enggan kembali ke rumahnya. Dan dia segera menuju ke rumah saudaranya, Ki Ageng Sukoco, Ketua Perguruan Kelabang Emas. Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu seperti tersadar hati dari pikirannya. Selama menunggang kuda mengelilingi desa, tampak jelas kehidupan rakyatnya. Mereka menjadi malas dengan wajah pasrah penuh ketakutan, dibayang-bayangi sesuatu bencana yang amat mengerikan.

Sementara para pemuda desa telah diracun kesenangan baru, yaitu menghisap candu. Mereka tak mempedulikan lagi bahaya besar yang menimpa desanya. Para wanita pun sebagian mulai ikut-ikutan mencoba candu yang mudah diperoleh. Hanya sebagian kecil penduduk desa yang masih mempedulikan keadaan desanya. Namun, mereka tak mampu berbuat apa-apa Memang, bayangan ketakutan selalu melintas di depan mata. Begitu sampai di depan pintu gerbang Perguruan Kelabang Emas, Ki Wangsa segera turun dari kudanya. Dan belum juga dia masuk, seorang murid Perguruan Kelabang Emas sudah menyambutnya.

"Ki Ageng Sukoco belum kembali. Silakan masuk, Ki...," sambut penjaga pintu gerbang.

"Kemana?" tanya Ki Wangsa.
"Entahlah..."
"Boleh aku masuk dan menunggu?"
"Silakan, Ki...!"

Ki Wangsa melangkah pelan. Beberapa orang murid Perguruan Kelabang Emas yang melihat kehadirannya, segera memberi salam penghormatan. Orang tua itu membalasnya sambil tersenyum. Di bangunan utama, salah seorang murid mempersilakan untuk menunggu. Orang itu kemudian berlalu, setelah menyiapkan minuman dan makanan kecil.

Ki Wangsa memandang ke sekeliling sambil melangkah ke dekat jendela. Dari situ bisa terlihat dan mendengar pembicaraan beberapa orang mu­rid Perguruan Kelabang Emas yang sedang duduk-duduk tak jauh dari jendela. Mulanya, dia tak begitu tertarik. Namun ketika percakapan mulai terdengar seru, orang tua itu tergerak untuk menguping.

"Wah, siapa dia?! Sungguh hebat! Dia mampu ke sini tanpa diketahui seorang pun dari kita!" tanya salah seorang.

"Entahlah. Kata Sarwen, dia masih muda, tampan, dan memakai baju rompi putih. Serta..., membawa pedang di punggungnya," jelas kawannya.

"Jangan-jangan, pemuda yang belakangan ini berkeliaran di sini!" desis orang pertama.

"Bisa jadi!"

"Masih untung, si Sarwen selamat dan hanya ditotok saja. Kalau dibunuh. Wah, celaka dia!"

"lya! Eh! Ngomong-ngomong, aku tak yakin kalau pemuda itu bermaksud buruk terhadap pen­duduk desa ini!"

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Entahlah..."

"Percakapan kedua orang itu terhenti, ketika mendengar suara ribut-ribut dari arah luar. Ki Wangsa yang berada di dalam, tersentak dan buru-buru keluar menghampiri kerumunan beberapa orang murid Perguruan Kelabang Emas.

"Ada apa?" tanya orang tua itu pada salah seorang murid.

"Anu, Ki. Pemuda itu ," sahut murid itu ragu.

"Pemuda yang mana?"

"Pemuda berbaju rompi putih yang belakangan ini berada di desa kita," sahut murid perguruan itu lagi.

"Memangnya, ada apa dengan dia?"
"Dia membuat kekacauan!"
"Membuat kekacauan? Di mana?"

Murid Perguruan Kelabang Emas itu tak langsung menjawab. Dipandanginya kawan-kawannya terlebih dulu.

"Di Pantai Walet, sahut murid itu, setelah melihat beberapa kawannya mengangguk.

"Hm.... Apa yang dilakukannya di sana?"

"Mengacaukan hubungan dagang Ki Ageng Sukoco dengan orang-orang asing dari Siam itu Ki...."

"Hm.... Dari mana kalian tahu?"

"Aku baru saja dari sana. Ki Ageng Sukoco berpesan, agar aku membawa beberapa orang mu­rid perguruan ke sana untuk menangkap pemuda itu," sahut murid tadi.

"Hm... Ya..., ya," sahut Ki Wangsa seraya mengangguk-angguk.

"Maaf. Ki. Kami harus buru-buru," sahut murid itu sambil menyiapkan beberapa orang murid Per­guruan Kelabang Emas yang dapat diandalkan un­tuk ikut dengannya.

Ki Wangsa sendiri terdiam beberapa saat lamanya melihat kesibukan mereka. Kemudian dipanggilnya salah seorang murid perguruan itu, sebelum melangkah pulang.

"Tolong katakan pada Ki Ageng Sukoco, aku tak bisa lama-lama berada di sini. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan," pesan orang tua itu pada salah seorang murid.

"Baiklah. Ki!"

Tak lama, Ki Wangsa terlihat buru-buru menghampiri kudanya. Setelah berada di punggung kudanya, dia menggebah sekencang-kencangnya.

********************

Di Pantai Walet, pertarungan Pendekar Rajawali Sakti dengan orang asing dari Negeri Siam semakin meningkat dahsyat. Sudah puluhan jurus digelar, tapi belum ada tanda-tanda yang keluar sebagai pemenang. Padahal, Sompong Suchinda telah menggunakan senjata mirip sebilah pedang, dengan ujung sedikit melengkung.

Setiap sisi tajam senjatanya, silih berganti mengincar kulit Pendekar Ra­jawali Sakti. Jika dibabatkan ke arah leher, maka tangannya membabat ke kanan. Lalu, gerakan tangannya turun menghajar pinggang. Kemudian meliuk kembali menyambar ke arah kaki. Hal itu memang amat merepotkan Pendekar Rajawali Sak­ti.

Selain itu, pedang Sompong Suchinda juga mengandung daya sedot yang mampu menarik tubuh Pendekar Rajawali Sakti semakin mendekat, ketika senjata itu menyambar. Tak heran jika kali ini keadaan Rangga betul-betul terdesak hebat. Tubuh Sompong Suchinda terus melompat, ketika Pendekar Rajawali Sakti masih berada di udara, setelah menghindari serbuannya yang bertubi-tubi.

Memang, Sompong Suchinda tak mau melepaskannya begitu saja. Dalam keadaan masih di udara, ujung senjatanya disambarkan ke leher. Rangga cepat menukik ke bawah, sementara ujung pedang terus mencecarnya. Begitu sampai di tanah langsung dilepaskannya satu tendangan ke arah pergelangan tangan Sompong Suchinda yang menggenggam senjata. Sementara, kaki kanannya menyilang menghantam ke arah perut.

"Uts...!"
Plak!

Tangan kiri Sompong Suchinda menangkis ten­dangan kaki kiri Rangga yang mengarah ke perutnya. Sementara tangan kanannya yang memegang senjata ditarik pulang, tapi langsung dikelebatkan ke arah perut. Tak ada waktu lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk menghindar, selain menggunakan tena­ga dorongan tendangannya yang beradu dengan tangan kiri lawan, untuk melesat ke belakang. Namun itu pun tak cukup kuat Karena...

Crasss!

Tetap saja ujung pedang Sompong Suchinda menyambar dadanya.

"Akh!"

Pendekar Rajawali Sakti berteriak kesakitan, ketika senjata orang asing itu melukai dadanya. Me­mang, sakitnya terasa hingga ke tulang sumsum. Untung saja, Rangga masih sempat menguasai diri. Tubuhnya langsung melenting, menjauhi Sompong Suchinda yang siap mengirim serangan berikut. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat lima tombak, lalu kedua kakinya menjejak ringan di tanah. Sambil mendekap luka di dada dengan tangan kiri, Pendekar Rajawali Sakti memandang tajam ke arah lawannya. Tangan kanannya perlahan-lahan terangkat naik, memegang gagang pe­dang pusakanya. Melihat hal itu bukan main girangnya Sompong Suchinda. Dia tertawa lebih keras.

"Ha ha ha...! Akhirnya kau terpaksa harus menggunakan pedangmu juga, bukan!? Ayo, keluarkanlah seluruh kemampuan ilmu pedangmu, kalau ingin mati secara gagah!" ejek orang asing itu.

Cring!

Rangga sudah mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang tersandang dipunggung. Seketika cahaya biru menyilaukan mata menerangi tempat itu.

'"Pedang Pemecah Sukma'!" teriak Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti langsung melesat cepat, dengan jurus 'Pedang Pemecah Sukma' pada tingkat yang terakhir. Dia memang tak mau tanggung-tanggung lagi. Sementara Sompong Suchinda begitu terkejut melihat perbawa Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Dan belum lagi keterkejutannya lenyap, kibasan pedang Pendekar Rajawali Sakti hampir menyambar tubuhnya. Maka buru-buru dia menjatuhkan diri ke tanah sambil terus bergulingan.

Kini Sompong Suchinda terlihat pontang-panting menyelamatkan selembar nyawanya sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat ting­gi. Namun cahaya biru yang keluar dari batang pedang Rangga seperti tak memberi kesempatan sedikit pun. Apalagi, perbawa pedang itu seperti mempengaruhi jiwanya. Dan ketika tubuhnya me­lenting ke atas, cahaya biru itu menyambar bagian bawah tubuhnya.

Setelah berputaran beberapa kali, orang asing itu mendarat di tanah manis sekali. Dan itu ternyata memang sudah ditunggu Pendekar Rajawali Sakti. Dengan gerakan cepat bukan main, Rangga mele­sat sambil melepaskan tendangan dahsyat bertenaga dalam tinggi, lewat jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Begitu cepat gerakannya, sehing­ga Sompong Suchinda tak mampu mengelak lagi. Dan...

Desss!
"Aaakh...!"

Sompong Suchinda memekik keras, ketika satu tendangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam dadanya. Tubuhnya terjungkal ke tanah sejauh tiga tombak sambil memuntahkan darah kental berkali­-kali. Orang asing itu berusaha bangkit dengan sempoyongan dan tertatih-tatih. Tampak lawannya te­ngah berdiri tegak pada jarak lima langkah di depannya sambil memandang dengan sepasang mata tajam berkilat.

"Sia..., siapa kau sebenarnya? Ke..., kepandaianmu sungguh hebat...," lirih suara Sompong Suchinda sambil menahan sakit di dadanya.

"Pedangku telah keluar dari sarangnya. Dan itu, berarti kematian bagimu. Aku tak mampu mencegahnya, karena kaulah yang memintaku un­tuk mencabutnya!" dingin suara Rangga.

Wajah Sompong Suchinda menggigil ketakutan. Seumur hidupnya belum pernah dia melihat senjata sedahsyat itu. Dan kini, senjata itu pula yang akan mengakhiri hidupnya.

Anak buah Sompong Suchinda yang tadi hendak bersiap-siap membantu ketuanya, kini berpikir seribu kali untuk turun tangan. Mereka dibuat terkesima oleh tindakan pemuda itu. Demikian juga, Ki Ageng Sukoco beserta beberapa orang murid­nya. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Namun mendadak saja....

"Ha ha ha...! Dugaanku ternyata benar. Siapa sangka Pendekar Rajawali Sakti yang termahsyur itu ternyata sudi hadir di tempat terpencil ini...!" Terdengar suara tawa yang berisi tenaga dalam, sehingga memenuhi sekitarnya.

DELAPAN

Di atas sebuah batu besar, tak jauh dari tempat mereka berada, terlihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Badannya kekar dengan otot-otot menonjol. Wajahnya kasar dan bibirnya tebal, dengan sepasang mata menyorot tajam. Orang itu memakai jubah biru yang tiap tepinya terdapat garis kuning. Rambutnya yang panjang diikat pita merah. Di pinggangnya terlihat sebuah senjata cakra.

"Datuk Kraeng...!" seru mereka yang hadir di tempat itu.

"Ha ha ha...! Kalian sungguh gegabah menganggap enteng Pendekar Rajawali Sakti. Dia me­mang bukan tandingan kalian. Tak heran kalau anak buahku pun tak ada yang mampu menghadapinya!" kata laki-laki yang dipanggil Datuk Kraeng, seraya melompat dengan gerakan indah ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Dan kakinya men­darat beberapa tombak di depan Rangga.

"Hm... Jadi kaukah Datuk Kraeng, yang mengangkat dirimu sebagai dewa?" desis Rangga, sinis.

"Oh! Rupanya kau pun telah mengenalku. Hm.... Suatu perkenalan yang bagus sekali!" sahut Datuk Kraeng tenang.

"Kisanak! Perbuatanmu sudah di luar batas. Tapi, aku masih berusaha sebijak mungkin. Menyerahlah, atau kau harus mati di tanganku!" lantang suara Rangga.

"Ha ha ha...! Kesombongan Pendekar Rajawali Sakti yang kudengar ternyata memang benar. Tidak tahukah kau, kalau saat ini sedang berada di mana? Kau berada di wilayahku! Dan orang-orang ini, siap merencahmu! Lagi pula, perbuatan apa yang pernah kulakukan sehingga mesti menyerahkan diri," sahut Datuk Kraeng, mengejek.

"Hm.... Dewa macam apa yang bisanya hanya meminta korban gadis-gadis perawan, serta harta benda berharga?" kata Rangga, kalem.

"Ha ha ha...! Aku hanya membiasakan mereka untuk menghisap candu, agar tidak bodoh, malas, dan mempunyai semangat lagi," kata Datuk Kraeng.

"Huh! Kau mencoba lari dari tanggung jawab!"

"He he he...! Sebenarnya, kau salah, Kisanak. Aku tak pernah mengurusi hal sepele itu. Ki Ageng Sukoco-lah yang melakukannya. Sedangkan aku hanya menjaga keamanannya saja."

"Datuk Kraeng! Apa maksudmu?!" sentak Ki Ageng Sukoco.

"Hm… Kau lihat? Bukankah dia marah setelah kedoknya terbuka?" sinis nada suara Datuk Kraeng, sambil melirik ke arah Ki Ageng Sukoco.

"Datuk Kraeng! Jangan memutarbalikkan kenyataan. Kaulah yang semula menawarkan pada kami, untuk mendatangkan barang-barang terlarang itu ke sini! Bahkan kau minta persembahan gadis-gadis desa untuk dijadikan korban dalam memenuhi persyaratan mempelajari ilmu hitam! Dan kau juga yang meminta perlindungan padaku. Lalu, kuminta pada saudaraku, agar melindungimu dari kejaran tentara kerajaan yang akan menangkapmu. Aku tahu, kau adalah buronan kerajaan! Inikah balasanmu terhadapku?" geram Ki Ageng Sukoco.

"Ha ha ha...! Orang tua tolol, kau adalah orang tamak. Aku tak pernah ikut campur hasil keuntunganmu dalam berdagang candu. Malah, aku membantumu mendapatkan keuntungan besar, dengan mendatangkan orang-orang asing itu ke sini. Apakah kau pikir aku berhutang budi padamu?! Huh! Kini, aku tak membutuhkanmu setelah apa yang kuinginkan terpenuhi!" dingin suara Datuk Kraeng.

"Keparat! Aku harus membunuhmu lebih dulu!" sentak orang tua itu.

Sring!

Ki Ageng Sukoco segera mencabut pedangnya, dan melompat menyerang Datuk Kraeng.

"Yeaaa...!"

Datuk Kraeng hanya mendengus sinis. Dan tiba-tiba saja telapak tangannya dijulurkan ke arah Ki Ageng Sukoco.

"Hiyaaa...!"
Werrr!

Begitu cepat gerakannya, sehingga Ki Ageng Sukoco tak mampu mengelak lagi. Dan...

Desss!
"Aaa...!"

Ki Ageng Sukoco menjerit keras ketika tubuhnya terjungkal terhantam selarik sinar kuning yang menebarkan bau busuk ke seluruh tempat itu. Tubuh orang tua itu langsung jatuh ke tanah dan menggelepar-gelepar beberapa saat. Tak lama tu­buhnya diam, namun kulitnya mulai mengelupas. Bahkan dagingnya cepat sekali membusuk dan meleleh. Sehingga dalam beberapa saat saja, tubuh Ki Ageng Sukoco tinggal tulang-belulang saja!

"Biadab!" desis salah seorang murid Ki Ageng Sukoco.

"Huh, akan kubunuh kau! lanjut yang lain sambil melompat menyerang Datuk Kraeng. Tapi Datuk Kraeng telah memberi isyarat pada anak buahnya. Sehingga, beberapa orang berpakaian serba hitam langsung berlompat menghadapi beberapa orang murid Ki Ageng Sukoco. Sementara, Datuk Kraeng sendiri perlahan-lahan kembali melangkahkan kakinya menghampiri Pen­dekar Rajawali Sakti.

"Kisanak! Setelah mengetahui siapa yang paling bersalah, kau tentu mau melupakan persoalan ini, bukan? Kuharap kita bisa menjadi sahabat yang baik," bujuk Datuk Kraeng.

"Huh! Siapa yang sudi berkawan dengan manusia biadab sepertimu! Datuk Kraeng, menyerahlah! Serahkan dirimu pada kerajaan. Mereka tentu akan mengampuni kematianmu!" desis Rangga.

"Hm… Bicaramu seperti tak memandang sebelah mata sedikit pun padaku. Baiklah. Ingin kulihat, sampai di mana kepandaianmu yang diagung-agungkan orang itu!"

Setelah berkata demikian, Datuk Kraeng bersiap membuka jurus untuk menyerang lawan. Namun belum sempat menyerang Pendekar Rajawali Sakti, saat itu juga terdengar suara ribut ribut. Ternyata banyak orang kini berdatangan ke tempat itu.

"Kawan-kawan! Datuk Kraeng telah membunuh guru kita secara keji dan biadab! Bunuh dia! Cincang!" teriak salah seorang murid Ki Ageng Su­koco, ketika mengetahui siapa orang-orang yang datang itu.

Mendengar berita itu, bukan main kalapnya murid-murid Perguruan Kelabang Emas yang baru tiba di tempat itu. Maka tanpa pikir panjang lagi mereka langsung menyerang Datuk Kraeng dengan kemarahan yang meluap-luap. Sementara, sebagian lagi membantu kawan-kawannya yang terdesak tiga orang anak buah Datuk Kraeng yang memang berkepandaian tinggi.

"Cacing-cacing dungu! Mampuslah kalian, yeaaa...!"

Dengan geram Datuk Kraeng menggunakan senjata cakranya yang bisa berbalik lagi, setelah dilemparkan. Dan cakra itu langsung menghajar murid-murid Perguruan Kelabang Emas.

Cras!
Breeet!
"Aaa...!

Sesaat saja terdengar pekik kematian murid-murid Ki Ageng Sukoco. Mereka kontan ambruk dalam keadaan menyedihkan. Kini darah mulai menggenangi sekitar Pantai Walet.

Melihat keadaan itu tentu saja Pendekar Rajawali Sakti tak mau berpangku tangan. "Minggir kalian semua...!"

Bersamaan dengan itu pula, Pendekar Rajawali Sakti melompat menyerang Datuk Kraeng sambil menggunakan pedang yang masih dalam genggamannya sejak tadi. Datuk Kraeng terkesiap. Dia tahu betul, bagaimana hebatnya pedang Pendekar Rajawali Sakti. Itulah sebabnya, dia tak mau ber­tindak gegabah dengan melemparkan senjatanya. Salah salah, senjatanya sendiri yang akan putus dibabat pedang lawan. Datuk Kraeng sengaja terus mengelak dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai taraf sempurna.

Hal itu memang disengaja, untuk mencari peluang yang tepat dalam membalas serangan Pendekar Rajawali Sakti. Pendekar Rajawali Sakti bukannya tak menger­ti siasat Datuk Kraeng. ltulah sebabnya sedikit pun tak diberikannya kesempatan pada lawan untuk memperbaiki keadaan. Pengalamannya yang telah cukup matang dalam bertarung, membuatnya tak begitu mudah dikecoh lawan. Dan justru dialah yang sebaliknya bermaksud mengecoh, menggu­nakan siasat yang digunakan Datuk Kraeng.

"Hiyaaa...!" Datuk Kraeng membentak nyaring sambil mengerahkan segenap kecepatan geraknya ketika me­lihat ada peluang untuk itu.

Siiing!

Senjata cakranya melesat cepat, menyambar leher Pendekar Rajawali Sakti. Bersamaan dengan itu, tubuhnya sendiri mengikuti sambil melakukan tendangan menggeledek.

Wut!
"Uts...!"

Pendekar Rajawali Sakti yang telah menduga siasat Datuk Kraeng, gesit sekali mengelak dari sambaran senjata cakra dengan memiringkan kepala ke kiri. Dan dia terus melompat ke samping, menghin­dari tendangan berikutnya yang dilancarkan Datuk Kraeng. Bersamaan dengan itu, kaki kanannya menghantam pinggang kiri atas Datuk Kraeng. Sementara pedangnya dikibaskan ke belakang, memapak serangan balik senjata cakra yang menderu ke arahnya.

Duk! Trasss!
"Aaakh...!"

Datuk Kraeng menjerit keras begitu pinggangnya terhantam kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti dalam pengerahan jurus-jurus rangkaian lima jurus 'Rajawali Sakti'. Sementara senjata cakra kebanggaannya, terpecah menjadi beberapa bagian, begitu tersambar Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Tubuh­nya kontan terjungkal ke belakang menahan rasa sakit. Meskipun begitu, dia masih mampu berjumpalitan dan menjejakkan kedua kakinya dengan manis di tanah.

Tapi pada saat itu, tubuh Pendekar Rajawali Sakti telah melesat ke arahnya. Pedang Pusaka Ra­jawali Sakti telah tersilang di depan wajah, dan ta­ngan kiri memegang mata pedang. Datuk Kraeng mendengus geram, melihat kedahsyatan pedang lawan. Barusan senjatanya terbelah menjadi dua tertebas pedang itu. Dan kini, satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menghancurkan lawan adalah pukulan mautnya yang diperdalam selama ini!

"Huh! Kau akan merasakan pukulan Api Neraka Kematianku yang dahsyat tiada bandingannya!" geram Datuk Kraeng buas. Datuk Kraeng langsung menyorongkan telapak tangan kanannya ke depan. Maka seketika dari telapak tangannya melesat selarik sinar kuning yang menyebarkan bau busuk menyengat.

Pendekar Rajawali Sakti yang sejak tadi sudah menduga, telah bersiap pula memapakinya. Ma­ka... "Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" bentak Pende­kar Rajawali Sakti nyaring, seraya menyorongkan telapak tangan kiri ke depan, setelah mengusap batang pedang.

Dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti, seketika melesat selarik sinar biru yang mengeluarkan bunyi gemuruh bagai angin topan. Dan si­nar itu terus meliuk-liuk memapak pukulan Datuk Kraeng.

Glarrr!
"Aaa...!"

Seketika terdengar jeritan keras, ketika kedua pukulan berlawanan jenis bertemu. Kemudian disusul terpentalnya tubuh Datuk Kraeng ke belakang, saat sinar biru dari pukulan Pendekar Rajawali Sakti masih menyelubunginya.

Orang-orang yang sedang bertarung kontan terkejut mendengarnya. Mereka seketika menghentikan pertarungan, dan melihat tubuh Datuk Kraeng sudah terkapar terselubung sinar biru yang perlahan-lahan memudar. Kemudian, terlihat tubuh tuanya menghitam bagai arang. Mati! Ketika mereka melihat ke arah lainnya, tampak Pendekar Rajawali Sakti masih berdiri tegak. Perlahan-lahan pedang­nya disarungkan kembali ke dalam warangka. Maka seketika sinar biru yang menyilaukan lenyap.

"Datuk Kraeng telah tewas akibat kesombongannya dan kejahatan yang telah dilakukan. Kalian pun akan mengalami nasib yang sama, bila tak menyerahkan diri pada pihak kerajaan!" kata Rang­ga dengan suara lantang.

Orang-orang itu terdiam sesaat, sambil meman­dang satu sama lain. Namun mendadak saja...

"Kalian semua, menyerahlah! Tempat ini telah dikepung tentara kadipaten!" Mereka semua seketika berpaling ke arah sumber suara. Benar saja. Puluhan orang berpakaian seragam prajurit kadipaten dengan senjata tombak telah mengepung tempat itu. Karena tak punya harapan lagi, mereka meletakkan senjata satu persatu. Pasukan kadipaten itu mendekat perlahan-lahan.

"Kau juga! Buang senjatamu itu...!" bentak salah seorang prarjurit kadipaten pada Pendekar Rajawali Sakti.

Pemuda itu tersenyum.

"Jangan! Dialah yang membereskan orang-orang ini!" terdengar sebuah suara lantang, sebelum Pendekar Rajawali Sakti menjawab.

"Hm.... Kepala Desa Watu Jajar! Kau pun ada di sini!" kata Rangga sinis ketika melihat orang yang berkata lantang.

"Ya.... Maaf, atas sikapku yang keliru selama ini, Kisanak,' ucap laki-laki tua yang tak lain Ki Wangsa penuh penyesalan.

Rangga diam saja memperhatikan orang tua yang kini tengah menundukkan kepala dengan wa­jah tertunduk malu. Kemudian pandangannya dialihkan pada prajurit-prajurit kerajaan yang sedang meringkus ketiga anak buah Datuk Kraeng serta murid-murid Perguruan Kelabang Emas. Sedangkan Sompong Suchinda dan anak buahnya telah raib dari tempat itu, termasuk juga kapal-kapal mereka. Agaknya ketika terjadi pertarungan tadi, secara diam-diam mereka pergi menyelamatkan di­ri.

"Secara langsung, aku memang tak terlibat. Walaupun, hal itu kuketahui. Kakakku, Ki Ageng Sukoco adalah orang yang paling berpengaruh dan ditakuti di desa ini. Beliau pula yang memperjuangkan aku menjadi kepala desa. Sehingga, ke­tika dia datang dan memintaku agar merahasiakan kehadiran seorang buronan kerajaan, aku menyetujuinya saja. Tapi, ternyata yang diminta tidak hanya itu. Dia juga minta izin untuk melakukan perdagangan candu. Tak lama, dia juga memintaku untuk mengatakan pada penduduk, kalau Datuk Kraeng yang juga temannya itu adalah dewa yang harus diberi persembahan. Aku semakin tak berdaya ketika mereka dengan leluasa mengobrak-abrik desa ini, dan berbuat sesuka hati terhadap rakyat..," jelas Ki Wangsa.

"Hm... Lalu, kenapa tiba-tiba kau datang dengan membawa pasukan kadipaten segala?" tanya Rangga.

"Istriku yang memberitahukan mereka..."

"Nyai Wangsa?" lanjut Rangga kaget.

"Ya! Dia telah menceritakan semuanya padaku, ketika aku mengutarakan keprihatinanku, sete­lah melihat apa yang terjadi terhadap warga desaku ini. Aku sadar, bahwa aku telah membiarkan mereka menderita selama ini..."

Rangga terdiam. Sementara Ki Wangsa pun membisu.

"Kakakku telah menerima dosa akibat perbuatannya. Demikian juga Datuk Kraeng. Terima kasih, Rangga. Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan kalau kau tak membantu kami...," lanjut Ki Wangsa lirih.

"Sudahlah. Semua telah berlalu. Dan mereka yang bersalah telah mendapat ganjarannya. Tugasmu saat ini adalah membenahi rakyatmu. Bertindaklah tegas kalau memang itu benar," ujar Rang­ga.

"Aku akan mengingat pesanmu itu, Rangga."

Pemuda itu tersenyum kecil, kemudian bersuit nyaring. Dari kejauhan, terlihat seekor kuda berbulu hitam tengah berlari kencang ke arahnya. Kuda Dewa Bayu berhenti di dekat kedua orang itu. Dan Rangga langsung melompat ke punggungnya.

"Ki Wangsa! Tugasku di sini telah selesai. Aku mohon pamit dulu. Sampaikan salamku pada istrimu. Dia wanita terbaik yang pernah kutemui. Dia patut jadi contoh wanita-wanita di desa ini. Selamat tinggal!" kata Rangga, sebelum memacu kudanya yang berlari kencang meninggalkan tempat itu.

Ki Wangsa tak sempat menyahut, karena Rang­ga cepat sekali telah lenyap dari pandangannya. Dia hanya bisa melambaikan tangannya sambil mendesah pelan. "Selamat jalan, Kisanak. Selamat jalan, Pendekar Rajawali Sakti...."

Malam semakin larut. Dan angin mulai berhembus ketika titik-titik embun mulai menetes. Semua orang mulai melangkah pelan, meninggalkan pantai yang membawa sejarah baru bagi Desa Watu Jajar!

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: TEROR SI RAJA API