Kisah Sepasang Naga Jilid 18

KISAH SEPASANG NAGA JILID 18

Sementara itu, Sin Wan sudah merubah gerakannya dan kini menyabet dengan tipu Naga Putih Sabetkan Ekor! Mana bisa Keng Kong Tosu mempertahankan dirinya terhadap serangan-serangan dari kedua anak muda yang mengeluarkan tipu-tipu terlihai dari Pek-Liong Kiam-Sut dan Ouw-Liong Kiam-Sut!

Biarpun ia menggunakan pedang pendek dan hudtimnya untuk menjaga diri, tak urung kedua pedang lawan itu dengan berbareng telah menusuk tembus dada dan lambungnya sehingga tanpa dapat berteriak lagi Keng Kong Tosu roboh tak bernyawa pula!

Giok Ciu merasa penasaran karena lagi-lagi ia tak dapat mendahului Sin Wan dan boleh dikata Tosu jahanam itu terbunuh oleh mereka berdua dengan berbareng! Dalam gemasnya ia hendak menyerang kedua murid Keng Kong Tosu yang berdiri terkejut dan kesima, tetapi Sin Wan menegur,

“Jangan, Giok Ciu, jangan bunuh mereka!”

“Peduli apa kau dengan urusanku sendiri?” bentak gadis tiu dan melanjutkan serangannya kepada dua orang murid Tosu yang telah mati itu. Tapi tiba-tiba sinar putih berkelebat cepat dan pedang Sin Wan telah menangkis Ouw-Liong Pokiam.

“Moi-moi, ingatlah pesan Suhu. Jangan sembarangan membunuh orang, kalau tidak terpaksa dan mempunyai asalan yang kuat! Sudah cukup kita bunuh Keng Kong yang memang jahat, jangan ganggu muridnya.”

Giok Ciu mencibirkan mulutnya, “Cih, pandai benar bermain mulut, bisa saja berpura-pura alim dan suci, coba kau pandang mukamu sendiri. Tak malu menyebut-nyebut orang lain jahat!”

“Moi-moi, dengarlah dulu keteranganku...”

“Siapa sudi mendengarkan kata-katamu yang palsu!” Dengan ucapan ini Giok Ciu lalu meloncat pergi.

Sin Wan tidak mengejarnya karena ia maklum bahwa gadis itu benar-benar telah membencinya dan tak mungkin mau diajak berbicara. Kalaupun ia dapat memberi penjelasan, belum tentu gadis yang keras hati itu suka mempercayainya. Ah, sungguh serba susah dan Sin Wan menghela napas panjang. Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa menyindir. Ia melihat betapa kedua murid Keng Kong Tosu masih berdiri di situ dan memandangnya dengan senyum sindir.

Marahlah Sin Wan dan sekali tubuhnya bergerak, tahu-tahu dua orang itu kena diterjangnya dan roboh di atas genteng sambil merintih-rintih. Ternyata sekali bergerak saja Sin Wan telah berhasil menotok mereka hingga roboh tak berdaya dan biarpun mereka takkan mati karenanya, namun dalam waktu dua belas jam, kalau tidak ada orang pandai yang melepaskan totokan itu, mereka akan lemas tak dapat bergerak, hanya dapat merintih-rintih saja. Kemudian Sin Wan meloncat pergi dari situ dengan hati mengkal.

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Marilah kita ikuti perjalan Suma Li Lian, gadis bangsawan yang cantik jelita, tapi yang tertimpa nasib malang itu. Setelah mendengar dari mulut Sin Wan kenyataan-kenyataan yang sangat pahit dan menikam ulu hatinya, gadis cantik ini hampir menjadi gila! Jiwanya memang telah tertekan oleh rasa terhina dan malu karena sebagai seorang gadis baik-baik keturunan bangsawan, adalah hal yang lebih hebat dan lebih rendah daripada mati ketika mengandung dan melahirkan seorang anak tanpa mempunyai suami!

Sebetulnya ketika merasa bahwa dirinya mengandung, ia telah mengambil keputusan hendak membunuh diri, tapi wajah Sin Wan yang tampan dan gagah selalu terbayang di muka matanya, maka ia lalu menetapkan hatinya. Ia nekad untuk menghadapi semua hinaan dan nistaan karena betapapun juga, ia diam-diam mengakui bahwa ia tidak menyesal mengandung seorang keturunan dari Sin Wan!

Ia cinta pemuda itu, cinta dengan cinta murni, dan ia bersedia mengorbankan apa saja untuk pemuda itu. Jangankan baru hinaan dari dunia luar, aah, ia takkan merasa terhina, bahkan ia akan merasa bangga kalau anaknya telah lahir, anak mereka, anaknya dan anak Sin Wan. Demikian besar rasa cintanya terhadap Sin Wan hingga Li Lian rela dirinya mendapat hinaan karena sebagai seorang gadis yang melahirkan seorang anak tak ber Ayah.

Ia bahkan sempat diusir oleh ibunya dan keluarganya dan hidup terlunta-lunta di sebuah kampung kecil. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari dan menyusul Sin Wan, karena bukankah dulu Sin Wan pernah bilang bahwa jika hendak mencari dirinya, harus pergi ke puncak Kam-Hong-San? Maka, ia lalu jual semua perhiasannya untuk dipakai biaya mencari suaminya itu.

Dan akhirnya setelah bersusah payah, ia berhasil membawa anaknya yang baru berusia lima bulan itu ke puncak Kam-Hong-San. Tapi disana ia hampir saja menjadi kurban keganasan dan kejahatan empat orang pemikul tandu, dan baiknya datang Giok Ciu yang menolongnya. Dan akhirnya ia bertemu dengan Sin Wan, suaminya! Tapi alangkah remuk rendam hatinya, hancur luluh kalbunya. Segala penderitaan, segala perngorbanan yang dilakukan itu sia-sia belaka! Bukan Sin Wan pemuda idaman itulah yang sebenarnya menjadi Ayah anak itu, tapi Gak Bin Tong!

Gak Bin Tong pemuda muka putih yang dibencinya, karena semenjak dulu pemuda itu selalu menggodanya, selalu memperlihatkan sikap ceriwis dan menjemukan. Pemuda yang pernah ia tolak lamarannya! Pemuda yang bahkan telah ia laporkan kepada para pengawal agar ditangkap dan dibunuh, karena ia sungguh-sungguh membencinya!

Dan kini... dari mulut Sin Wan sendiri, dari mulut laki-laki yang tadinya telah dianggap sebagai suaminya, ia mendengar bahwa suaminya bukanlah Sin Wan, tapi... Orang she Gak itu! Ketika ia melahirkan, segala hinaan yang didengarnya tak dapat menggoyahkan kalbunya, tak dapat merobah pendiriannya.

Tapi kenyataan yang didengarnya ini merupakan penghinaan yang sebesar-besarnya baginya, dan kenyataan ini membuat ia tak sanggup memandang wajah Sin Wan lagi, membuat ia begitu membenci Gak Bin Tong hingga seakan-akan hendak dicekiknya dan dibunuhnya pada saat itu juga pemuda muka putih yang telah menodai dan merusak hidupnya itu!

Demikianlah, ia lari bagaikan gila menuruni lereng bukit. Beberapa hari kemudian, Suma Li Lian yang tadinya cantik jelita, telah berubah menjadi seorang wanita yang menakutkan. Rambutnya yang riap-riapan menutupi sebagian wajahnya yang kotor penuh debu dan lumpur. Matanya merah dan liar dan bibirnya yang biasanya tersenyum manis menarik hati, kini tertarik menyeringai penuh kebencian.

Pakaiannya yang tadinya indah dan rapi, kini robek disana-sini dan kotor sekali hingga tak tampak pula bekas-bekasnya yang terbuat dari bahan mahal. Kakinya tak bersepatu lagi, hanya berkaus yang sudah dekil dan hitam penuh tanah. Sungguh mengenaskan nasib manusia ini. Ketika ia memasuki sebuah dusun kecil, semua anak-anak lari ketakutan dan menggodanya dari jauh sambil melempar-lemparinya dengan batu.

Dimana saja ia angsurkan tangan untuk minta makanan pengisi perutnya yang sudah lapar sekali, orang-orang mengusirnya dengan kata-kata menyatakan jijik. Dengan tindakan kaki limbung dan terhuyung-huyung, terpaksa Li Lian meninggalkan dusun itu. Tubuhnya lemas, perutnya terasa perih sekali, dan pandang matanya berkunang-kunang.

Karena terik matahari membuat kepalanya berdenyut-denyut, ia lalu menghampiri sebuah pohon besar yang tumbuh dipinggir jalan untuk meneduh, tapi ketika tiba di bawah pohon, tubuhnya tak tertahan lagi dan tubuh itu limbung hendak roboh, matanya meram dan kedua tangannya diulurkan meraba-raba mencari pegangan diudara!

Pada saat ia pingsan, sebelum tubuhnya roboh di tanah, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun sebuah tali yang secara aneh dan cepat bagaikan ular telah membelit kedua pergelangan tangan Li Lian dan tahu-tahu tubuh Li Lian telah mencelat ke atas pohon bagaikan disendal oleh tenaga yang luar biasa besarnya!

Ketika tubuh gadis yang malang itu terapung ke atas, sebuah lengan yang panjang dan besar lagi hitam dan kotor terulur dan tubuh Li Lian ditangkapnya pada bajunya. Terdengar suara ketawa yang aneh, karena bunyinya seperti setengah tertawa setengah menangis dan sebuah jari yang kotor menyentil belakang kepala Li Lian sehingga gadis itu siuman dari pingsan dan membuka matanya.

Alangkah herannya ketika Li Lian melihat bahwa ia sudah duduk di atas sebatang cabang pohon yang tinggi. Kalau saja hal ini terjadi padanya dahulu, tentu ia akan berteriak-teriak minta tolong karena takutnya melihat tanah sebegitu jauh di bawahnya. Tapi agaknya rasa takut telah lenyap di telan ombak samudera kesedihannya, hingga jangan kata baru tempat tinggi, biarpun berada di depan mulut harimau, agaknya gadis itu takkan merasa takut lagi. Maut akan disambutnya dengan senyum dan lambaian tangan karena baginya hidup ini tak berarti lagi.

Tapi ketika ia menengok dan memandang orang yang duduk di atas sebuah dahan lain dan sedang memandangnya pula, ia terkejut sekali dan tanpa disengaja ia membelalakan matanya. Di atas sebatang dahan duduk seorang laki-laki tua yang tinggi besar dan kurus sekali tapi keadaannya menyatakan bahwa orang itu bukanlah orang yang berotak waras!

Orang itu memegang segulung tali yang ujungnya diputar-putar seperti lagak seorang kanak-kanak yang sedang bermain-main. Ia memandang Li Lian sambil tertawa ha-ha hi-hi. Suma Li Lian menahan tubuhnya yang lemas dan gemetar karena lelah dan lapar, lalu berkata,

“Lopek, kau siapakah dan mengapa kau menolong aku?”

Orang yang berpakaian jembel itu memandangnya dengan heran, lalu pada wajahnya yang berkulit kotor hitam itu terbayang seri gembira ketika ia menjawab, “Siapa aku?” ia garuk-garuk kepalanya, “Aku adalah aku dan siapa yang menolong siapa? Aku tidak menolong juga tidak ditolong. Nona sakit, maka kubawa naik ke sini.”

Suma Li Lian maklum bahwa orang yang menolongnya ini benar-benar gila dan otaknya tidak waras namun ia heran sekali bagaimanakah orang gila ini dapat membawanya ke atas? Melihat wajah dan sinar mata orang tua tinggi besar itu, agaknya tidak berwatak jelek, bahkan ketika tadi tersenyumpun tampak baik hati benar, maka ia lalu berterus terang,

“Lopek, aku tidak sakit, hanya lelah dan lapar.”

“Lapar? Bagus! Akupun lapar!” jawabnya sambil tertawa terkekeh.

Mau tak mau, Suma Li Lian terpaksa ikut tertawa geli, hingga ia sendiri merasa heran mengapa ia dapat tertawa! Agaknya pada saat itu semua kesedihannya lenyap dan kegilaan orang tua itu menjalar kepadanya hingga iapun merasa sangat geli mendengar kata-kata si jembel gila yang lucu dan gila itu. Celaka dua belas, pikirnya. Dalam keadaan sedemikian menderita, bertemu dengan orang berotak miring.

Tapi tiba-tiba si jembel gila itu gerakkan tangannya yang memegang tali dan tali itu meluncur panjang dan bergerak-gerak bagaikan seekor ular terbang, ujung tali itu telah menyelusup diantara daun-daun pohon dan ketika di tarik kembali, diujung tali itu telah terbelit setangkai ranting yang ada buahnya beberapa butir. Tali kecil itu agaknya dapat disuruh mencarikan makan! Si gila itu memetik beberapa butir buah dan memberikan kepada Suma Li Lian.

“Kalau lapar, enak sekali makan. Makanlah buah ini.”

Suma Li Lian memandang jembel gila itu dengan pandangan berterima kasih sekali. Ia maklum bahwa orang gila ini adalah seorang sakti yang berkepandaian tinggi. Dengan lahapnya ia lalu makan buah-buah itu bersama-sama si jembel yang mencari buah-buah lagi. Sambil makan buah, mereka saling pandang tanpa bercakap-cakap. Kemudian, Li Lian berkata lagi,

“Lo-Suhu, sebenarnya siapakah Lo-Suhu ini dan mengapakah kau begini baik kepadaku?”

Kakek gembel itu tertawa lagi dengan geli. “Dunia ini memang lucu, tapi kau tidak lucu, nona. Kau berwajah gelap diliputi kemurungan, menimbulkan rasa sakit dalam dada kiriku.”

Setelah berkata demikian, jembel gila itu meringis-ringis seperti menahan sakit dan tangan kirinya meraba-raba dadanya. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya,

“Aku adalah aku, kau tak usah bertanya karena aku sendiripun tidak tahu! Tapi kau mengapa bermuram durja? Siapa yang mengganggumu, anakku manis?”

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba diucapkan dengan suara sangat menyayang ini, hati Li Lian menjadi sedih sekali hingga tubuhnya limbung dan ia terjungkal dari dahan pohon yang didudukinya dan tubuhnya melayang ke bawah. Tapi sedikitpun Li Lian tidak menjerit, hanya meramkan mata menanti datangnya maut. Tapi, tubuhnya tidak terbanting ke atas tanah keras, bahkan merasa seakan-akan tubuhnya diayun-ayun dan tiba-tiba ia merasa kakinya menginjak tanah. Ketika ia membuka mata, ternyata ia telah berdiri di atas tanah dengan selamat, sedangkan empek gila tadi telah berdiri pula di depannya seakan-akan tidak terjadi sesuatu.

“Nona, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapakah yang mengganggumu?”

Suma Li Lian tidak menjawab, tapi lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis. Jembel gila itu mengangkat kepala dan sambil memandang langit ia tertawa bergelak-gelak.

“Ha ha ha! Kau memang pantas menjadi muridku. Pantas, pantas!”

Dengan ujung kakinya ia mencokel tubuh Li Lian dengan perlahan, tapi cukup membuat tubuh gadis itu mencelat mumbul ke atas, berputaran beberapa kali di udara sebelum jatuh lagi kebawah, tapi Li Lian sama sekali tidak merasa takut! Kembali kakek jembel itu tertawa bergelak-gelak dan menyambar baju Li Lian untuk mencegah tubuh gadis itu terpelanting.

“Bagus, bagus! berdirilah muridku!”

Sebenarnya, sekali-kali bukan maksud Li Lian untuk mengangkat guru kepada orang gila ini ketika berlutut tadi, tapi karena kakek aneh itu telah menerimanya sebagai murid, ia tidak berani menolak atau membantah. Pula, di dunia ini tidak ada orang yang berlaku baik kepadanya hingga ia benci kepada dunia dan penduduknya, kini tiba-tiba ada seorang berotak miring yang sangat baik kepadanya, maka diam-diam timbul pikiran baru dalam otaknya.

Kakek ini mempunyai kepandaian luar biasa, maka kalau ia menjadi muridnya dan mempunyai kepandaian tinggi, tak mungkin manusia-manusia macam Gak Bin Tong itu berani menghinanya. Gak Bin Tong! Teringat akan nama ini, mata Suma Li Lian memancarkan cahaya kemarahan. Kalau ia memiliki kepandaian tinggi, bahkan ia akan dapat membalas dendamnya kepada pemuda muka putih yang jahanam itu!

“Muridku, sekarang juga kau harus mulai belajar!” kata kakek gila itu.

Ia lalu memutuskan sepotong tali dan gunakan itu untuk mengikat ujung celana Li Lian di bagian pergelangan kaki kiri, demikianpun dengan ujung celana dipergelangan kaki kanan muridnya. Lalu ia pergi ke bawah pohon dan berjungkir balik dengan kepala di atas tanah dan kaki ke atas.

“Kau tiru ini, dan sandarkan kedua kakimu di batang pohon!” katanya kepada Li Lian.

Semenjak kecil memang Li Lian belum pernah belajar silat hingga ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara orang bersilat, maka mendapat perintah demikian itu, dengan membuta ia turut dan taat. Sebentar saja ia merasa kepalanya pening dan berdenyut-denyutan ketika ia berdiri dengan kepala di bawah macam itu. Kalau tidak ada batang pohon yang menahan tubuhnya, tentu sudah tadi-tadi ia terguling!

Tapi karena hati dan perasaan Li Lian telah dibikin kaku dan membatu oleh penderitaan batin yang dipikulnya, ia bulatkan kemauannya dan biarpun andaikata sampai matipun tak nanti ia menyerah dan mundur! Agaknya gurunya yang gila itupun maklum akan kekerasan hati muridnya, maka ia lalu membuka rahasia pelajaran mengatur napas dan latihan lweekang yang sangat luar biasa, karena di kalangan persilatan tidak ada latihan-latihan yang kesemuanya dilakukan secara aneh dan terbalik macam yang diajarkan oleh si gila ini.

Demikianlah, berhari-hari Suma Li Lian, gadis bangsawan yang sopan santun terpelajar, dan halus budi pekertinya itu, kini menjadi murid seorang gila yang sakti dan mempelajari ilmu-ilmu yang sakti yang mujijat sekali! Karena Li Lian telah mendapat pukulan batin yang hebat sehingga keadaannya boleh dikata tidak sewajarnya lagi, dan kini mendapat seorang orang guru yang gila pula, maka sikapnyapun makin tidak karuan dan ketidak acuhannya akan keadaan diri sendiri membuat ia lebih mendekati kegilaan!

Latihan-latihan aneh dilakukan tiada hentinya di dalam sebuah hutan yang tak pernah dikunjungi manusia, dan mereka hanya berhenti berlatih apabila perut terasa lapar dan tak tertahan atau mata merasa ngantuk sekali. Selain keperluan khusus yang tak dapat ditahan atau ditunda lagi, mereka siang malam terus berlatih mati-matian!

Kakek tua jembel yang berotak miring ini sebetulnya dahulu adalah seorang gagah yang berwatak berani, jujur, dan jantan. Tapi karena tersesat seorang diri dalam sebuah gua siluman, ia mendapatkan ilmu mujijat yang penuh mengandung hawa siluman dan tanpa sadar mempelajarinya. Ilmu yang dipelajarinya itu demikian mujijat hingga setelah keluar dari gua itu ia menjadi gila tapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa anehnya pula, karena gerakan-gerakannya demikian aneh, sesuai dengan orangnya yang menjadi gila!

Pengalaman-pengalaman hebat di waktu mudanya, dapat diikut dalam cerita Bu Beng Kiam-hiap yang ramai. Entah apakah yang menggerakkan jiwa empek gila itu untuk merasa sangat tertarik dan sayang kepada Suma Li Lian sehingga ia menerima gadis sengsara itu sebagai muridnya dan menurunkan ilmu mujijat yang dimilikinya kepada murid ini.

Setelah mereka berdua bersembunyi di dalam hutan itu selama sebulan lebih, maka si jembel gila lalu mengajak muridnya keluar untuk ikut dalam perantauannya yang tiada tentu tujuan itu. Kecantikan Li Lian lenyap tertutup oleh kekotoran yang menutupi mukanya dan oleh rambutnya yang riap-riapan mengerikan. Tapi sepasang matanya tetap bening dan jeli, hanya sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang seakan-akan merasa jemu melihat segala yang berada di sekelilingnya. Di sepanjang jalan tiada hentinya dan bosannya, Li Lian berlatih silat dan lweekang yang aneh-aneh.

********************

Kita kembali kepada Giok Ciu, gadis jelita yang patah hati karena kecewa kepada Sin Wan kekasihnya. Ia tetap menganggap bahwa pemuda itu telah terpikat oleh kecantikan Li Lian dan telah bermata gelap hingga melakukan perbuatan rendah, maka perasaan cintanya terhadap pemuda itu berubah benci sekali, benci bercampur kecewa dan memandang rendah.

Setelah berpisah dari Sin Wan pada malam itu, yakni sesudah berhasil membunuh Keng Kong Tosu bersama-sama dengan Sin Wan seakan-akan mereka sekali lagi berlumba dan tidak mau kalah dalam hal mengeluarkan kepandaian membasmi musuh-musuh mereka, Giok Ciu lari cepat di malam gelap.

Setelah keluar dari dusun itu dan memasuki sebuah hutan, ia melihat sebuah Kelenteng kecil atau Bio yang berdiri terpencil di pinggir jalan. Bio tua itu tampak sunyi terpencil hingga menarik perhatian Giok Ciu. Ia lalu masuk ke dalam Bio itu. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah patung Dewi Kwan Im yang sudah luntur catnya. Melihat patung kecil itu berada di tempat terpencil dan sunyi, biarpun di dalam keadaan remang-remang dan gelap.

Namun Giok Ciu seakan-akan melihat betapa patung itu merasa kesunyian dan sengsara karena tiada kawan, sebatang kara di dunia ini, maka sedihlah rasa hatinya. Ia lalu menangis dan mencurahkan semua kedukaan hatinya. Di depan patung kecil itu sambil berlutut. Sampai fajar menyingsing, gadis itu berlutut di depan patung Kwan Im. Kemudian ia lalu duduk bersila dan menjalankan siulian untuk menenangkan pikiran dan istirahat.

Untuk beberapa lama ia bersamadhi, kemudian ia merasa seakan-akan ada orang yang memandangnya, maka sadarlah ia lalu membuka mata. Ternyata, seperti dulu ketika di puncak Kam-Hong-San, tak jauh di depannya tampak Gak Bin Tong duduk pula memandangnya dengan sepasang mata yang sangat kagum dan tertarik. Seketika itu juga naiklah warna merah di kedua pipi Giok Ciu dan ia lalu meloncat berdiri.

“Eh, kau lagi! Mau apa kau mengganggu aku?” bentaknya sambil mencabut pedangnya.

Tapi Gak Bin Tong buru-buru berdiri dan mengangkat kedua tangannya menyabarkannya. “Maafkan aku, Lihiap. Aku tidak mempunyai maksud jahat terhadapmu, hal ini kau tahu dengan baik. Kalau dulu-dulu aku pernah mengeluarkan kata-kata kurang ajar, maka lupakanlah itu dan aku mohon maaf sebesar-besarnya.”

“Jangan bicarakan lagi hal dulu-dulu!” Giok Ciu membentak pula, tapi ia agak sabar melihat sikap pemuda itu.

“Baiklah, Lihiap. Aku selalu ingin sekali bersahabat dengan engkau, sama sekali tak ingin menjadi lawan. Bukankah dulu aku telah memperingatkan kau dari segala keburukan? Aku pernah mengatakan bahwa Li Lian dan Sin Wan...”

“Tutup mulutmu! Sekali lagi kau menyebut hal mereka, terpaksa pedangku ini yang akan berbicara!” Gak Bin Tong tersenyum dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.

“Maaf! Baiklah, aku takkan mengulangi hal itu. Agaknya kau masih saja tidak percaya dan membenciku, Lihiap, sungguh hal itu sangat kusesalkan, karena sebetulnya aku ingin menolongmu dalam segala hal.” Giok Ciu menjadi tidak sabar.

“Sudahlah, katakan saja apa maksudmu mengikuti aku dan datang kesini mengganggu istirahatku?”

Gak Bin Tong memperlihatkan muka terkejut. “Aku tidak mengikutimu, Lihiap. Hanya kebetulan saja aku lewat disini. Alangkah girang hatiku melihat kau berada dalam Bio ini. Aku... aku mempunyai dugaan bahwa mungkin sekali kau akan mencari musuh besarmu, bukan? Nah, kalau betul dugaanku ini, agaknya aku akan dapat menolongmu.”

Tiba-tiba lenyaplah segala kegalakkan Giok Ciu. Wajahnya yang tadi muram kini tampak berseri dan penuh semangat, “Betulkah? Tahukah dimana tempat tinggal siluman itu? Beritahukanlah padaku!”

Diam-diam Gak Bin Tong tersenyum. Ia telah menggunakan senjata terampuh dalam menghadapi gadis ini. “Begini, Lihiap. Aku sendiri pada saat sekarang ini tidak dapat menentukan di mana ia tinggal, tapi karena aku kenal semua tempat dan orang-orang di kota raja, mudah sekali bagiku untuk menyelidikinya. Aku tanggung, jika kau ikut aku ke kotaraja, pasti dalam waktu beberapa hari saja aku akan memberi tahu padamu dimana tempat sembunyinya siluman tua itu!”

Giok Ciu adalah seorang gadis yang biarpun memiliki kepandaian tinggi sekali namun masih hijau dan belum banyak mengenal kepalsuan dan kelicinan muslihat orang. Mendengar kata-kata Gak Bin Tong ini, ia percaya penuh dan merasa bersyukur sekali. Lenyaplah sebagian besar rasa tidak sukanya kepada pemuda muda putih yang tampan itu. Ia lalu mengangkat kedua tangan di dada dan menjura.

“Saudara Gak, sungguh kau ternyata seorang sahabat yang baik. Maafkan kelakuan kasarku yang sudah-sudah karena aku bercuriga kepadamu.”

“Sama-sama, Kwie Lihiap, akupun sebagai seorang muda tentu banyak kekhilapan, maka harap dari pihakmu juga yang banyak memaafkan segala kesalahanku yang sudah-sudah.” Demikianlah, dengan kata-kata yang halus, sopan, dan manis, Gak Bin Tong memasang perangkapnya

Dan Giok Ciu si dara muda yang masih bodoh ini bagaikan seekor lalat yang tanpa merasa mendekati jaring laba-laba yang berbahaya. Namun, Giok Ciu yang mempunyai kepercayaan besar sekali kepada diri sendiri, sedikitpun tidak merasa betapa pemuda muka putih itu sedang memasang perangkap untuknya. Hal ini sebenarnya dapat terjadi demikian mudahnya karena sikap Giok Ciu yang memandang rendah kepada pemuda itu.

Ia menganggap bahwa betapapun juga, pemuda itu takkan berdaya menghadapinya dan ia tahu betul bahwa kepandaiannya masih jauh lebih tinggi hingga tak perlu berkuatir apa-apa. Ia tidak tahu bahwa disamping kelihaian ilmu silat, masih ada kepandaian yang lebih hebat dan lebih berbahaya lagi, yakni tipu muslihat yang banyak digunakan orang untuk menjatuhkan lawan yang lihai dan tangguh!

“Saudara Gak, menurut dugaanmu dimanakah adanya Cin Cin Hoatsu pada waktu ini?”

“Kalau tidak salah tentu ada di kota raja, tapi entah di gedung mana. Kita harus berlaku hati-hati sekali, karena pada waktu ini di kota raja terdapat seorang yang sangat tangguh dan sakti, yakni Beng Hoat Taisu, seorang utusan dari Tibet yang masih paman guru dari Cin Cin Hoatsu sendiri. Aku mendengar berita bahwa kepandaian Taisu ini tinggi sekali, maka kau harus waspada dan berhati-hati Lihiap.”

“Aku tidak takut, marilah kita berangkat mencari mereka!”

Di dalam hatinya, Gak Bin Tong merasa girang sekali karena ternyata muslihatnya berhasil baik. Ia telah dicap sebagai pengkhianat oleh para pengawal kota raja semenjak rahasianya dibuka oleh Suma Li Lian dulu itu hingga ia dikejar-kejar sampai di puncak Kam-Hong-San. Kini ia mendapat kesempatan untuk menebus kedosaannya. Kalau saja ia dapat menjebak gadis pemberontak ini dan dapat menyerahkannya kepada Cin Cin Hoatsu, tentu ia akan mendapat muka terang dan mendapat jasa! Tentu saja Giok Ciu sedikitpun tak pernah menyangka akan apa yang terpikir di dalam kepala pemuda tampan muka putih ini.

Di sepanjang jalan dalam perjalanan mereka ke kota raja dan mencari tahu akan keadaan Cin Cin Hoatsu, Gak Bin Tong berlaku sopan santun dan baik hingga sedikit kecurigaan yang masih bersisa di dalam hati Giok Ciu dan membuatnya berlaku waspada terhadap pemuda itu, kini lenyap sama sekali, terganti kepercayaan besar.

Berhari-hari mereka melakukan perjalanan dan setelah masuk ke kota raja, Gak Bin Tong mengajaknya secara sembunyi-sembunyi tinggal di dalam sebuah rumah di pinggir kota. Dari tempat itu, tiap malam mereka keluar melakukan penyelidikan. Kadang-kadang mereka berpisah, untuk melakukan penyelidikan masing-masing. Pada hari kelima setelah mereka berada di kota yang besar itu, Gak Bin Tong berkata dengan wajah girang setelah kembali dari penyelidikannya.

“Nah, terpeganglah sekarang olehku! Aku telah menemukan tempat tinggal siluman itu, Lihiap!”

Bukan main girang hati Giok Ciu mendengar ini. Dengan wajah berseri-seri ia segera menanyakan di mana tempat itu.

“Kita harus berhati-hati, Lihiap. Sekali-kali tidak boleh berlaku lancang dan sembrono. Cin Cin Hoatsu sendiri kepandaiannya tinggi, sedangkan aku belum tahu jelas siapa saja yang tinggal di gedung besar itu. Mungkin Beng Hoat Taisu juga berada di situ pula, dan ini berbahaya sekali. Lebih baik malam nanti kita berdua pergi menyelidiki ke sana dan kalau kiranya ada kesempatan baik, kita turun tangan!”

Giok Ciu memandang wajah pemuda itu dan menghela napas. “Saudara Gak, kau sungguh baik hati kepadaku. Pekerjaan ini tiada sangkut-pautnya dengan kau dan sangat berbahaya, maka janganlah kau membahayakan keselamatanmu untuk urusanku. Biarlah aku pergi sendiri malam nanti.”

Gak Bin tong membalas pandangan nona itu dan tersenyum menjawab, “Lihiap harap jangan sungkan, Lihiap telah tahu betul akan perasaanku terhadapmu. Maaf Lihiap, aku tidak berani mengulang-ulangi hal itu karena kau tidak suka mendengarnya. Tentu kau tidak percaya kepadaku, maka biarlah kesempatan ini kugunakan untuk membuktikan betapa murninya perasaanku itu. Biarlah kalau perlu aku mengorbankan jiwa dalam membelamu.”

Giok Ciu merasa terharu mendengar ucapan ini, tapi ia tidak berkata apa-apa karena kembali bayangan Sin Wan terbayang di depan matanya dan membuatnya merasa sangat sedih. Melihat keadaan gadis itu, Gak Bin Tong lalu meninggalkan gadis itu untuk mengadakan persiapan guna penyelidikan mereka malam nanti.

Malam hari itu udara gelap sekali. Udara hanya diterangi oleh sinar ribuan bintang yang berkelap-kelip. Di dalam kegelapan malam itu, tampak dua bayangan hitam berkelebat di atas genteng-genteng rumah yang tinggi. Mereka ini adalah Giok Ciu dan Gak Bin Tong. Seperti biasa Giok Ciu mengenakan pakaiannya yang serba hitam dan Ouw Liong Pokiam tergantung di pinggangnya.

Rambutnya yang hitam dan bagus itu diikat ke atas degan pengikat kepala dari sutera merah. Gak Bin Tong mengenakan pakaian serba biru dan tampaknya gagah sekali. Mereka menggunakan ilmu lari cepat dan berloncat-loncatan di atas wuwungan rumah. Akhirnya tibalah mereka di atas sebuah gedung yang tinggi besar.

“Lihiap, inilah gedungnya. Lebih baik kita berpencar, aku masuk dari kiri dan kau dari kanan.”

Giok Ciu mengangguk. Mereka lalu berpencar dan Giok Ciu dengan gesit sekali loncat ke atas wuwungan bangunan sebelah kanan. Ia melihat betapa di bawah masih terang sekali, tanda bahwa penghuni gedung itu belum tidur. Hatinya berdebar keras karena ia ingin sekali lekas-lekas bertemu dengan musuh besarnya dan membuat perhitungan.

Ketika ia sedang mengintai ke dalam, telinganya yang tajam mendengar sesuatu di atas genteng sebelah belakangnya. Cepat-cepat ia menengok dan melihat bayangan yang berkelebat cepat sekali tapi terus lenyap! Ia kaget sekali karena orang itu memiliki kepandaian tinggi dan gerakan yang cepat sekali...

Kisah Sepasang Naga Jilid 17

KISAH SEPASANG NAGA JILID 17

Kini wajah suma Li Lian menjadi pucat sekali, dan ia lalu berkata dengan suara yang hampir tidak kedengaran,

“Apa...? Kalau begitu... siapakah... siapakah...?” ia lalu menggunakan kedua tangan menutupi mukanya yang pucat dan terlihat oleh Sin Wan betapa sepuluh jari itu menggigil hingga timbul hati iba di dalam hatinya terhadap nasib gadis yang malang ini.

“Siocia, biarpun tidak ada bukti, namun aku berani pastikan bahwa yang menganggu engkau tentu bukan lain orang ialah Gak Bin Tong!”

“Apa katamu?” Li Lian berteriak keras.

Sin Wang mengangguk-angguk. “Kau tentu tidak mengetahui bahwa pada malam itu, pemuda muka putih itu bermalam di Kelenteng. Ia memiliki ilmu silat yang tinggi juga dan tentang potongan tubuh, memang ia sama dengan aku agaknya. Pula, ia memang terkenal sangat cerdik dan licin, juga aku tahu bahwa ia mempunyai adat yang buruk, maka sudah pasti ia meniru-niru suaraku untuk mengelabui engkau!”

Mendengar kata-kata ini, tiba-tiba Li Lian berteriak dan roboh pingsan! Sin Wan cepat sekali menyambar tubuh nona itu, lalu mengambil anak kecil dari gendongan Li Lian dan merebahkan tubuh itu perlahan di atas rumput. Anak itu menangis keras dan Sin Wan terpaksa gendong anak itu sambil mengayun-ayunnya di dalam lengannya. Ia merasa kasihan sekali melihat Li Lian dan di dalam hati ia bersumpah hendak membunuh Gak Bin Tong manusia keparat itu! Ketika Li Lian sadar dari pingsannya, ia menangis menggerung-gerung dan memukul-mukul kepala sendiri. Rambutnya menjadi awut-awutan dan berkali-kali ia mengeluh,

“Ya Tahun, Engkau tidak adil! Sungguh tidak adil! Mengapa aku harus menderita semua ini? Koko Sin Wan, biarpun perbuatanku itu rendah dan hina, tapi agaknya aku masih sanggup mempertahankan hidupku bahkan sanggup mencapai kebahagiaan jika kiranya engkaulah orang itu! Tidak kusangka... dia itu... Gak Bin Tong keparat, manusia iblis terkutuk... aduh, aduh... nasib diriku... dosa apakah yang telah kuperbuat maka terhukum sehebat ini...? Gak Bin Tong, kau... kau... bangsat!! Tunggu, aku harus bunuh kau untuk perbuatanmu yang terkutuk itu!”

Tiba-tiba Suma Li Lian, gadis bangsawan cantik jelita yang biasanya halus itu, menjadi liar dan ganas. Rambutnya awut-awutan, matanya yang bening terputar-putar dan mulutnya mengeluarkan busa! Ia lalu lari turun gunung, tersaruk-saruk, jatuh dan bangun lagi, terus lari sambil memaki-maki nama Gak Bin Tong seakan-akan pemuda muka putih itu telah berada di depannya dan sedang dikejar-kejarnya untuk dibunuh!

Sin Wan kaget melihat bahwa Suma Li Lian agaknya telah berubah pikiran dan menjadi gila! Ia hendak mengejar, tapi tiba-tiba anak perempuan yang baru berusia lima bulan dan berada di dalam gendongannya itu menangis keras! Ia menjadi serba salah, karena dengan cara kikuk dan kaku sekali ia menggendong anak kecil itu dan tidak berani lari sambil menggendong. Untuk tinggalkan anak itu iapun tidak tega. Lagi pula, untuk apa ia mengejar Li Lian?

Maka akhirnya ia hanya berdiri bingung sambil memandang anak yang menangis keras di dalam pelukannya itu. Setelah ditimang-timang beberapa lama tapi anak itu tidak juga mau diam seakan-akan menangisi ibunya yang lari pergi meninggalkannya, Sin Wan menjadi bingung sekali. Kemudia ia meletakkan anak itu di atas rumput kering, lalu ia meloncat memetik buah yang telah masak.

Setelah ia memberi makan anak itu dengan buah, diamlah tangis anak itu hingga Sin Wan yang tadinya bingung sekali sampai mengeluarkan peluh dingin di dahinya, kini tersenyum girang karena anak itu makan buah sambil tertawa-tawa lucu! Sin Wan memutar-mutar otaknya. Mengapa ia harus mengalami peristiwa yang aneh dan membingungkan ini?

Kala teringat kepada Giok Ciu, ia merasa sedih sekali dan hatinya terasa perih, apalagi kalau mengingat betapa gadis kekasihnya itu telah menghancurkan suling pengikat jodoh mereka! Kalau teringat kepada Li Lian, hatinya terharu dan ia merasa kasihan sekali akan nasib gadis cantik itu.

Ayahnya telah terbunuh olehnya, sedangkan ia sendiri mengalami nasib memalukan dan yang menghancurkan namanya dan nama keluarganya. Teringat akan hal ini, memuncaklah kegemasan Sin Wan kepada Gak Bin Tong! Kemudia ia teringat kembali kepada anak Li Lian yag ditinggalkan oleh ibunya ini. Apa yang harus ia lakukan? Memelihara anak ini? Ah, ia tak sanggup dan juga tidak mau. Habis bagaimana?

Tiba-tiba ia teringat akan kampung ibunya. Wajahnya menjadi terang, dan ia lalu angkat anak itu dalam dukungannya dan berangkatlah ia turun gunung menuju ke perkampungan Ibu dan kakeknya. Kedatangannya disambut girang oleh para penduduk kampung, tapi alangkah heran mereka ketika melihat bahwa pemuda pahlawan mereka itu datang sambil mendukung seorang anak perempuan yang masih bayi!

Dengan singkat Sin Wan menuturkan riwayat anak kecil itu, tentu saja tanpa membongkar-bongkar rahasia Ibu anak itu, kemudian ia menyerahkan anak itu kepada seorang janda she Thio untuk dirawat. Kepada janda itu Sin Wan memberi beberapa potong emas sebagai bekal membiayai pemeliharaan anak itu. Kemudian, ia pun pergi hendak mencari Giok Ciu.

Ia pikir bahwa gadis itu tentu pergi mencari musuh besarnya, yakni Cin Cin Hoatsu. Asal saja ia pergi mencari Pendeta Tibet itu, banyak harapan ia akan bertemu dengan Giok Ciu. Ia ingin sekali segera bertemu dengan gadis itu menjelaskan segala hal tapi apa boleh buat, ia harus bersabar, karena ia tak tahu jurusan mana yang diambil oleh gadis itu!

Beberapa hari kemudian ketika Sin Wan tiba di luar sebuah kampung, ia melihat bayangan seorang yang dikenalnya baik, karena dari belakang ia kenal bahwa orang itu adalah Kwi Kai Hoatsu! Pertapa lihai itu sedang keluar dari kampung itu dan berlari keras sekali. Sin Wan juga merasa penasaran dan marah karena pernah terjatuh dalam tangan imam dari Tibet ini segera mengejar.

Juga, selain hendak membalas kekalahan dulu, iapun tahu bahwa ini adalah saudara seperguruan dari Cin Cin Hoatsu, maka kalau mungkin ia hendak mendapat keterangan tentang musuh besar itu dari Kwi Kai Hoatsu. Karena kepandaiannya memang tinggi, Kwi Kai Hoatsu segera tahu bahwa dirinya dikejar orang, maka segera ia 'Tancap Gas' dan membalap sekerasnya! Tapi Sin Wan telah mempunyai ginkang yang mendekati puncak kesempurnaan, maka ia tidak tertinggal, bahkan lambat laun tapi pasti, ia makin dekat dengan Pendeta yang dikejarnya itu.

Diam-diam ketika menengok, Kwi Kai Hoatsu terkejut sekali melihat betapa orang yang mengejarnya itu makin dekat. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa pengejarnya demikian lihai. Tadinya ia menyangka bahwa yang mengejarnya hanyalah orang biasa saja, maka ia hendak mempermainkannya, tidak tahunya, setelah mengerahkan tenaga larinya, ternyata jarak antara ia dan pengejarnya itu makin dekat saja.

Karena marah dan penasaran, ketika tiba di tempat sunyi dan kanan kiri hanya terdapat sawah kosong, ia berhenti dan menanti dengan mata melotot. Tapi ketika pengejarnya dengan cepat sekali telah tiba di depannya, ia memandang pemuda tampan yang sedang tersenyum di depannya itu dengan heran, karena ia mengenal pemuda ini.

“Eh, ternyata engkaukah ini?” katanya dengan senyum sindir karena ia hendak tetapkan hati sendiri dengan memandang rendah pemuda itu.

Tak mungkin pemuda ini dapat memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya karena biarpun andaikata pemuda ini belajar lagi, namun waktunya hanya setahun dan dalam masa waktu sependek itu tak mungkin pemuda ini akan dapat melawan kepandaian lweekang dan hoatsut yang telah dipelajarinya berpuluh tahun lamanya. Sin Wan menjawab dengan tenang.

“Ya, akulah!” Pertapa itu memandang ke kanan kiri, seakan-akan hendak mencari-cari apakah pemuda ini berteman, karena kalau gadis yang lihai dulu itu ikut datang, maka mereka berdua merupakan lawan yang berat juga. Hatinya merasa lega ketika mendapat kenyataan bahwa Sin Wan memang hanya seorang diri saja.

“Anak muda, apa maksudmu mengejarku? Apakah pelajaran yang kau terima dulu itu belum membikin kau merasa kapok?”

Sin Wan tersenyum mengejek. “Maksudmu, engkau atau akukah yang menerima pelajaran dan merasa kapok? Kwi Kai Hoatsu, sesungguhnya antara kita tidak terdapat sesuatu permusuhan yang menyebabkan kita saling membenci, kecuali barangkali sifat-sifat sombong dan tidak mau kalah dari kita masing-masing. Aku mengejarmu bukanlah dengan niat hendak mengajak kau bertempur, kecuali kalau kau sendiri yang memaksaku!”

Kwi Kat Hoatsu memandang kepada Sin Wan dengan heran. “Kalau bukan untuk bertempur, mengapa kau mengejarku?”

Sin Wan tersenyum sabar. “Aku hanya ingin bertanya di manakah gerangan adanya Cin Cin Hoatsu pada waktu ini?”

Tiba-tiba Kwi Kai Hoatsu tertawa besar. “Enak saja kau bicara. Kau mencari saudaraku itu untuk mengajak berkelahi dan mengadu jiwa, bukan? Dan kau katakan bahwa kita tidak ada permusuhan?”

“Memang saudaramu itu musuh besarku. Ia telah membunuh mati Suhuku, yakni Hui-Houw Kwie Cu Ek, maka aku harus membalas dendam ini. Bukankah ini suatu hal yang lajim dan pantas?”

“Anak muda, jangan banyak ribut. Dengan kepandaianmu serendah ini mana kau dapat melawan Cin Cin Hoatsu? Kau boleh mencoba-coba kepandaianmu padaku, coba kulihat apakah kau cukup pantas untuk bertanding melawan saudaraku itu!”

Sambil berkata demikian Kwi Kai Hoatsu mencabut keluar tongkar ular dan hudtimnya yang terkenal lihai itu dan mendahului menyerang. Sin Wan juga telah mencabut keluar Pek Liong Pokiam dan melayani Tosu itu. Ketika tongkat ularnya beradu dengan pedang pusaka berwarna putih itu, terkejutlah si Tosu, karena dari bentrokan kedua senjata ini saja ia tahu betapa hebat tenaga lweekang pemuda itu!

Sungguh luar biasa betapa dalam waktu setahun saja tenaga lweekang pemuda itu yang dulu jauh dibawahnya, kini boleh dikata telah mencapai kedudukan setingkat dengan dia, kalau tidak lebih tinggi malah! Karena inilah maka ia menjadi jerih. Memang, dalam hal ilmu silat, setahun yang lalupun ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut telah membuat Tosu itu sibuk.

Hanya pada waktu itu lweekangnya masih menang jauh hingga ia berhasil merobohkan Sin Wan. Maka, kini setelah pemuda itu mendapat gemblengan khusus dari Bu Beng Lojin dalam hal tenaga lweekang dan batin, tentu saja kepandaian pemuda itu jauh lebih hebat lagi. Sin Wan juga merasa betapa sampokan-sampokan senjata lawannya tak terasa berat lagi baginya, hingga ia menjadi girang dan mendesak hebat dengan sinar pedang.

Dulu ia merasa betapa dari tongkat ular itu keluar bau amis yang memuakkan, tapi sekarang ia dapat melawan hawa itu dengan mengatur napasnya dan mengusir hawa jahat yang menyerang mulut dan hidungnya dengan tiupan napas. Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih. Ia berhasil membabat putus kebutan lawannya hingga Tosu itu berseru kaget.

Kalau saja Sin Wan berlaku kejam, agaknya ia akan berhasil membunuh Kwi Kai Hoatsu, tapi pemuda itu tidak bermaksud membunuhnya, hanya ingin mengalahkannya saja sebagai pembalasan tahun lalu. Maka cepat sekali pedangnya mengurung dan maksudnya hendak membuat senjata lawan terlepas dari pegangan.

Kwi Kai Hoatsu yang tidak tahu akan kehendak pemuda itu dan menyangka bahwa Sin Wan tentu akan mendesak dan membunuhnya, menjadi sibuk sekali dan tiba-tiba ia berseru keras sambil mencabut keluar sabuk sutera hitam yang dulu digunakan untuk merampas pedang Sin Wan. Kini agaknya iapun hendak menggunakan lagi senjata luar biasa itu. Sambil membentak keras dan mengerahkan tenaga ilmu hitamnya, ia menggerakkan tangan kiri dan sutera hitam itu bagaikan ular yang hidup menyambar pedang Sin Wan.

Pemuda ini girang sekali melihat senjata aneh ini dikeluarkan, karena ia memang hendak mencoba kelihaian senjata yang dulu pernah merampas pedangnya. Ia berlaku tabah dan bahkan membiarkan senjatanya dibelit benda itu. Setelah ujung Pek Liong Pokiam terlibat erat, ia lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk menolak serangan pengaruh bentakan lawan dan membarengi menggunakan lweekangnya untuk menggerakkan pedang itu.

Terdengarlah suara kain robek dan ternyata sutera hitam yang sangat diandalkan oleh Kwi Kai Hoatsu telah terputus oleh pedang Pek Liong Pokiam! Kwi Kai Hoatsu menjerit kaget karena ia tahu bahwa kini ia akan tewas dalam tangan pemuda yang kosen ini, maka tanpa malu-malu lagi ia lalu meloncat jauh untuk melarikan diri. Tapi Sin Wan segera meloncat pula mengejar sambil berseru.

“Kwi Kai Hoatsu! Nanti dulu, jangan kau pergi sebelum memberi tahu padaku tempat tinggal Cin Cin Hoatsu!” tapi Tosu tidak memperdulikan teriakannya dan lari makin cepat. Sin Wan terus saja mengejar dengan lebih cepat.

Biarpun ilmu lari cepat dari Tosu itu sudah cukup tinggi, tapi mana ia dapat melawan Sin Wan yang selain mendapat didikan seorang suci dan berilmu tinggi, juga ia telah makan buah-buah mujijat yang membersihkan darahnya dan membuat tubuhnya menjadi ringan. Lambat laun jarak antara mereka makin dekat. Tapi, ketika Kwi Kai Hoatsu tiba di dalam sebuah hutan dan Sin Wan telah dekat benar dengannya, tiba-tiba Tosu itu mengeluarkan sebuah benda dan membantingnya ke belakang.

Benda itu pecah dan mengeluarkan asap hitam tebal bergulung-gulung di belakangnya dan membuat ia lenyap dari pandangan mata pengejarnya. Sin Wan merasa terkejut dan cepat ia membelokkan arah jalannya agar jangan sampai menerjang asap hitam itu karena ia menduga tentu asap itu adalah asap berbisa yang berbahaya. Tapi, ternyata Tosu itu telah dapat melenyapkan diri di belakang tabir asap itu karena tanpa diketahui oleh Sin Wan ke mana arah yang ditempuh imam itu.

Sin Wan merasa penasaran dan kecewa sekali mengapa tidak ia robohkan saja imam jahat itu tadi agar dapat ia paksa untuk mengaku dimana tempat tinggal Cin Cin Hoatsu. Kini ia kehilangan pegangan dan tidak tahu harus mencari kemana. Tapi ia pikir bahwa keadaan Giok Ciu juga sama dengan dia sendiri yakni tidak mempunyai tujuan yang tetap dalam mencari musuh besarnya.

Maka besar kemungkinan gadis itu akan mencari di kota raja, karena di situlah pusat para pembatu Kaisar berkumpul dan disitu pula akan dapat dicari keterangan tentang musuh besar itu. Karena pikiran ini, maka Sin Wan segera menuju ke kota raja. Pikiran Sin Wan yang berotak cerdas ini memang tidak keliru.

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Giok Ciu dengan hati sedih dan kalbu hancur lari turun dari Kam-Hong-San. Gadis itu berlari-lari sambil tiada hentinya menangis. Kini ia tidak pedulikan segala apa dan tujuan hidupnya hanya satu, yakni mencari Cin Cin Hoatsu dan membunuh orang yang telah membunuh Ayahnya itu. Ia merasa bingung sekali karena tidak tahu harus mencari kemana, maka ia lalu menuju ke kotaraja, karena teringat bahwa selain dari tempat itu, agaknya sukar untuk mencari tahu tempat tinggal Pendeta Tibet itu.

Karena sedihnya, ia tidak mau berhenti berlari dan lupa makan lupa tidur. Setelah sehari semalam lari cepat tanpa berhenti sedikitpun, ia tiba di kota Ang-Len dan karena merasa kepalanya pening sekali dan tubuhnya panas, terpaksa ia mencari sebuah rumah penginapan dan minta sebuah kamar. Begitu tutup pintu kamar dan merebahkan diri di atas pembaringan, ia jatuh pingsan.

Ternyata karena mendapat serangan dari dalam dan luar, gadis itu tidak kuat menahan lagi. Dari dalam ia mendapat pukulan hebat sekali karena hatinya merasa hancur dikecewakan oleh kenyataan betapa Sin Wan, pemuda kekasihnya dan orang satu-satunya di dunia ini yang dicintanya dan dijadikan sandaran hidupnya telah mencemarkan kesucian ikatan jodoh mereka.

Dan ternyata pemuda itu telah melakukan perbuatan yang hina dina dan yang tak mungkin dapat ia maafkan lagi. Dari luar ia mendapat serangan penyakit panas yang tentu akan dapat dilawan oleh kekuatan tubuhnya kalau saja ia tidak memaksa tubuhnya berlari terus-menerus sehari semalam tanpa mengaso dan tanpa makan. Akhirnya tubuhnya tak kuat bertahan lagi dan jatuh sakit!

Setelah sadar dari pingsannya, Giok Ciu merasakan tubuhnya sangat lemah dan kepalanya pusing sekali. Juga tubuhnya terasa panas seakan-akan ada api yang membakar tubuhnya dari dalam. Ia maklum bahwa gangguan kesehatan ini terjadi karena kesalahannya sendiri, terjadi karena kacaunya keadaan hati dan pikirannya, juga karena ia tidak memperhatikan pemeliharaan tubuhnya. Ia teringat betapa Suhunya, Bu Beng Lojin yang sakti itu, pernah berkata demikian.

“Alam telah mempunyai hukum-hukum tertentu dan siapa saja yang tidak menyesuaikan dirinya dengan hukum alam, pasti akan mengalami bencana dan hukuman. Siapa yang melanggar hukum alam, pasti akan terhukum dan menderita, sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum alam itu sendiri. Sebagai contoh, sebuah daripada hukum-hukum alam itu ialah hukum kesehatan, misalnya ketentuan bahwa manusia harus makan pada saat tubuhnya membutuhkan makanan, harus beristirahat pada waktu tubuh lelah dan membutuhkan istirahat. Kalau kita paksakan diri dan melanggar ketentuan hukum ini, tak dapat tidak pasti akan menderita hukumannya, yakni mendapat sakit! Penyakit bukan datang dari luar, tapi terjadi karena pelanggaran hukum itu tadilah! Demikian pula dengan hukuman-hukuman yang lain, yang kesemuanya terjadi karena pelanggaran-pelanggaran hukum alam yang kita lakukan sendiri, bagaimana macamnya hukuman dan penderitaan itu. Maka hati-hatilah menghadapi percobaan dalam hidupmu, karena sekali kau salah tindak, bukan orang lain yang akan menerima hukumannya tapi kau sendiri. Inilah keadilan alam!”

Mengingat akan semua nasihat-nasihat dan petuah-petuah Suhunya yang sangat berharga, agak terobatlah luka di hati Giok Ciu. Ia menjadi tenang, walaupun rasa bencinya kepada Sin Wan masih menghebat. Ia lalu turun dari pembaringan dengan perlahan dan memanggil pelayan. Ketika pelayan datang, ia minta dibelikan makanan dan makan dengan hati-hati, kemudian ia memerintahkan pelayan untuk membeli obat pelawan panas dan setelah merawat diri baik-baik dan membantu pekerjaan obat itu dengan bersamadhi dan mengatur napas, maka dua hari kemudian sembuhlah ia.

Setelah merasa sembuh betul, barulah ia melanjutkan perjalanannya. Malam hari berikutnya ia bermalam di sebuah kota kecil, di dalam sebuah hotel. Menjelang tengah malam, ia terjaga dari tidurnya oleh suara kaki orang yang dengan hati-hati sekali berjalan di atas hotel itu! Giok Ciu dengan telinga terlatih dan tajam, dapat menduga bahwa yang berjalan di atas genteng itu hanyalah seorang yang memiliki kepandaian yang tidak seberapa tinggi.

Namun tindakan orang itu cukup mencurigakan dan karena menduga akan terjadinya kejahatan, Giok Ciu segera berganti pakaian dan meloncat keluar dari jendela, terus melayang naik ke wuwungan rumah. Ia melihat bayangan hitam meloncat dan berlari-lari di atas genteng rumah di depan maka ia segera mengejarnya. Giok Ciu sengaja mengikuti orang itu untuk melihat apakah yang hendak dilakukan olehnya.

Ternyata setelah berputar-putar di atas rumah-rumah orang, bayangan hitam itu meloncat turun ke dalam sebuah rumah. Giok Ciu cepat mengejar dan meloncat turun pula. Ia melihat betapa bayangan hitam itu menggunakan goloknya membuka jendela sebuah kamar dan meloncat masuk. Terdengar teriakan tertahan dan suara laki-laki yang kasar membentak,

“Diam kalau tak ingin mampus!”

Giok Ciu marah sekali karena teriakan itu adalah teriakan seorang wanita. Ia dapat menduga bahwa bayangan hitam itu tentulah seorang penjahat. Kalau bukan Jai-Hwa-Cat atau Penjahat Pemetik Bunga, tentulah seorang pencuri atau perampok! Maka ia segera membentak dari luar jendela,

“Bangsat hina yang berada di dalam kamar orang. Ayo lekas kau keluar kalau tidak ingin kepalamu kutabas putus!”

Dari dalam kamar terdengar seruan marah dan heran dan pada saat selanjutnya bayangan hitam itu meloncat keluar dari dalam kamar sambil memutar-mutarkan goloknya ketika melalui jendela agar jangan sampai disergap musuh. Tapi Giok Ciu hanya tertawa menyindir sambil bertolak pinggang dan menanti di atas genteng.

Ketika penjahat itu telah berada di atas genteng, ia heran sekali melihat di bawah sinar bulan bahwa yang mengganggunya hanyalah seorang dara berpakaian serba hitam yang cantik sekali. Dalam pakaiannya yang hitam itu, Giok Ciu tampak cantik dan gagah, sedangkan kulit muka dan kedua tangannya tampak putih sekali. Bayangan hitam itu ternyata seorang laki-laki yang masih muda dan mempunyai sepasang mata bangsat yang liar. Kini, menghadapi Giok Ciu, ia menyeringai dan berkata,

“Aduh, nona yang cantik seperti bidadari! Apa kehendakmu maka kau memanggil aku kemari?”

Giok Ciu marah sekali mendengar kata-kata orang ini mengandung kekurangajaran. Ia berkata dingin, “Kau mencari celaka sendiri! Tadinya kusangka kau hanya seorang penjahat rendah yang patut dikasihani dan diberi ampun dengan menerima peringatan keras saja, tidak tahunya kau seorang yang lancang mulut pula! Untuk kelancanganmu ini, kau harus meninggalkan sebelah tanganmu!”

Marahlah orang itu dan ia lalu menerjang dengan goloknya setelah berseru, “Bagus! Perlihatkan kepandainmu, nona cilik!”

Tapi Giok Ciu dengan sekali sabet saja telah membuat golok penjahat itu terbabat putus, kemudian cepat bagaikan kilat Ouw-Liong Pokiam berkelebat dan sebelum kuasa menghilangkan kagetnya karena goloknya terbabat putus, tahu-tahu orang itu merasa tangan kirinya perih dan dingin. Ketika ia melihat, ternyata tangannya sebelah kiri telah terpotong pula pada sebatas pergelangan tangan itu! Ia membelalakan mata dan lari sambil berteriak-teriak,

“Aduh... aduh tolong... Suhu... Tolong… Suhu...!”

Demikian tajamnya Ouw-Liong Pokiam sehingga hampir saja penjahat itu tidak merasa bahwa tangan kirinya telah terbabat putus! Giok Ciu merasa puas telah memberi pelajaran kepada penjahat itu, tapi begitu mendengar penjahat itu menyebut-nyebut gurunya, ia segera mengejar.

Kalau penjahat itu mempunyai seorang guru di kota ini, maka gurunya tentu bukan seorang baik-baik pula dan perlu dan dibasmi agar jangan merupakan pengganggu dan pengacau rakyat di kota itu. Penjahat itu, terus menuju ke sebuah rumah yang tinggi gentengnya sambil terus berteriak-teriak minta tolong kepada gurunya.

Tiba-tiba dari dalam rumah itu melayang keluar bayangan seorang yang mempunyai gerakan gesit sekali. Giok Ciu siap dengan pedangnya karena dari gerakan orang itu ia dapat menduga bahwa lawannya ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi juga. Ketika bayangan orang itu tiba di depannya dan membentak nyaring, Giok Ciu merasa terkejut berbareng girang karena ternyata bahwa orang itu bukan lain ialah Keng Kong Tosu!

“Ha, jadi kaukah guru penjahat itu? Pantas saja muridnya jahat, tidak tahunya gurunya seorang penjahat besar!”

Keng Kong Tosu lebih kaget lagi ketika melihat bahwa orang yang melukai dan mengejar muridnya bukan lain adalah gadis lihai yang dulu pernah bertempur dengannya! Ia masih ingat betapa lebih setahun yang lalu gadis itu telah memiliki kepandaian tinggi, apalagi sekarang, maka diam-diam ia merasa jerih juga. Akan tetapi, karena lawan itu telah berada disitu, pula ia dapat mengharapkan bantuan tiga murid lain yang berada di bawah ia lalu membentak,

“Pemberontak perempuan, tidak tahunya kaukah yang lagi-lagi menghina kami dan melukai muridku? Kau agaknya telah bosan hidup!”

“Jangan banyak cakap, kau majulah Tosu palsu!”

Giok Ciu lalu menyerang hebat dengan pokiamnya, hingga Keng Kong Tosu buru-buru meloncat dan mengeluarkan pedang pendek dan hudtimnya yang digerakkan secara istimewa untuk menangkis dan balas menyerang. Ia berlaku hati-hati sekali karena dulu pernah merasakan kelihaian dari pendekar ini dan pernah dilukai pundaknya oleh pedang pusaka yang ampuh itu. Tapi baru saja bertempur beberapa jurus, makin kuncup dan jerih hati Tosu itu karena ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lweekang dan permainan pedang dara itu kini telah maju hebat sekali!

Ia lalu bersuit nyaring untuk memanggil murid-muridnya dan sambil membentak keras ia mengeluarkan senjata-senjata rahasia jarum hitam dari dalam kebutannya. Jarum-jarum itu jumlahnya lebih dari sepuluh batang dan kecil sekali sehingga ketika menyambar di dalam gelap itu, sama sekali tidak tampak.

Tetapi Giok Ciu memiliki tenaga pendengaran, yang halus sekali dapat menangkap angin gerakan hudtim itu maka ia dapat menduga bahwa dari gerakan itu tentu keluar senjata rahasia. Ia lalu menggunakan pedangnya yang diputar dalam gerak tipu Naga Hitam Menutup Gua untuk melindungi tubuhnya dan benar saja, terdengar suara tring-tring nyaring sekali ketika jarum-jarum itu terpukul oleh pedangnya.

Pada saat itu, dari bawah meloncat naik tiga bayangan yang juga memiliki gerakan gesit. Mereka ini adalah murid-murid Keng Kong Tosu yang tadi sibuk menolong Sute mereka yang terbabat tangannya oleh pedang Giok Ciu. Kini mereka mendengar tanda siutan Suhu mereka, ketiga orang itupun mengambil senjata masing-masing dan naik untuk membantu Keng Kong Tosu.

Sekali-kali Keng Kong Tosu berseru keras dan asap hitam menyambar kearah tubuh Giok Ciu. Tapi Giok Ciu sekarang bukanlah dara setahun yang lalu, yang takut akan segala ilmu hitam dan senjata-senjata mujijat. Ia telah memiliki tenaga lweekang dan tenaga batin yang kuat sekali dan membuatnya waspada dan tenang. Melihat datangnya asap hitam yang berbau busuk itu, ia lalu menggunakan mulutnya meniup ke depan dari atas ke bawah.

Tenaga tiupan ini demikian besar sehingga asap itu tertiup berbalik, dan kini bahkan menyerang Keng Kong Tosu dan murid-muridnya! Tosu sesat itu cepat menggunakan kebutannya diputar untuk mendatangkan angin mengusir asap itu, juga dua orang muridnya meloncat menyingkir, tapi seorang murid tidak menyangka sama sekali akan tiupan Giok Ciu maka ia terserang oleh asap hitam itu.

Ia kena sedot asap itu sehingga terbatuk-batuk dan tubuhnya lalu terguling roboh di atas genteng! Keng Kong Tosu terkejut dan marah sekali. Ia cepat mengeluarkan obat pemunah dan memasukkan obat itu ke dalam mulut muridnya. Seorang murid lain lalu memondong tubuh kawannya itu dan meloncat ke bawah sedangkan gurunya dan seorang kawannya yang masih berada disitu lalu maju mengeroyok gadis yang lihai itu.

Giok Ciu memutar pokiamnya dan memainkan ilmu pedang Ouw-Liong Kiam-Sut yang luar biasa dan ganas. Sebentar saja sinar pedangnya yang hitam dan membuat ia lenyap dari pandangan mata kedua lawannya, telah mengurung dan mendesak kedua lawannya. Pada saat itu murid yang tadi menolong kawannya terkena asap berbisa dari Suhunya sendiri, telah naik pula dan maju mengeroyok dengan pedangnya. Tapi Giok Ciu tidak takut, bahkan tertawa menyindir.

“Keng Kong Tosu, Tosu busuk! Kau agaknya hendak mampus sambil membawa dua orang pengiring!”

Keng Kong Tosu marah sekali, tapi ia tidak berdaya, maka ia lalu berkelahi dengan nekad dan mati-matian! Pada saat itu, tampak berkelebat bayangan putih dan sebuah sinar putih yang terang sekali meluncur dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran serta langsung membantu Giok Ciu.

“Moi-moi, mari kita musnahkan manusia jahat ini!” terdengar seruan Sin Wan dengan suara gembira karena tanpa dinyana ia dapat bertemu dengan gadis itu di tempat ini! Tapi Giok Ciu menjawab marah.

“Siapa butuh pertolonganmu? Jangan kau ikut mencampuri urusanku!”

Sin Wan merasa mendongkol juga mendengar betapa keng Kong Tosu dan kedua muridnya sengaja memperdengarkan suara ketawa untuk menghinanya. Ia merasa betapa gadis itu merendahkannya dimuka musuh-musuhnya, maka dengan suara dingin ia berkata,

“Siapa yang hendak membantu engkau? Akupun mempunyai sedikit urusan dengan Tosu jahanam ini!”

Sambil berkata demikian, Sin Wan lalu menggunakan pedangnya yang bersinar putih menyerang hebat dengan tipu Naga Putih Menembus Awan. Gerakannya hebat dan cepat sekali sehingga Keng Kong Tosu menjadi terkejut dan cepat berkelit. Tapi pada saat itu Giok Ciu yang tidak mau 'didului' Sin Wan, segera menyerangnya dengan gerakan Naga Hitam Terjun ke Laut...!

Kisah Sepasang Naga Jilid 16

KISAH SEPASANG NAGA JILID 16

“Sin Wan, kau panggil Giok Ciu ke sini,” kata Bu Beng Lojin.

Sin Wan lalu berdiri dan setelah menahan napas, ia segera memanggil. “Giok Ciu…!”

Suaranya ini tidak keras, tapi nyaring sekali. Anehnya, biarpun ia memanggil tidak keras, suaranya seakan-akan memenuhi dan menjalar-jalar di seluruh pucak, hingga terdengar sampai dimana-mana, bahkan Gak Bin Tong yang duduk jauh di dalam rimba itu juga mendengarnya! Sin Wan lalu berlutut kembali dan tak lama kemudian, benar saja, sesosok bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu Giok Ciu telah berada disitu dan berlutut di depan Suhunya.

“Sin Wan dan Giok Ciu, kini sudah tiba saatnya bahwa aku harus berpisah dengan kalian. Kalau ada jodoh, sepuluh tahun kemudian kita bertiga dapat bertemu pula di puncak ini. Sekarang kepandaian kalian sudah cukup tinggi hingga aku tidak usah merasa ragu-ragu melepaskan kalian. Asal kalian mempergunakan kepandaian itu dengan benar, maka agaknya di dunia ini hanya ada beberapa orang saja yang dapat menandingi kalian. Murid-muridku, harapanku tak lain mudah-mudahan segala petuahku selama kalian berada di sini takkan kalian lupakan. Pula, pesanku terakhir ini supaya diingat benar-benar, yakni sekali lagi kutegaskan. Pedang pusaka Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam tak boleh dimiliki oleh sepasang suami isteri, maka jika kalian melangsungkan perjodohan, kedua pusaka itu harus disimpan kembali ke dalam gua naga. Ingatlah benar-benar ini, karena kalau tidak, kalian akan mendapat bencana besar. Nah sekarang aku mau pergi.”

“Suhu, tunggu!” tiba-tiba Giok Ciu berseru dengan suara terharu. Entah mengapa, gadis ini merasa terharu sekali pada saat Suhunya hendak meninggalkannya.

“Ada apakah, Giok Ciu?” tanyanya dengan suara mengandung iba.

“Suhu...” gadis itu menahan isaknya, “Teecu... mohon doa restu agar... Teguh iman dan kuat hati, Suhu...”

Bu Beng Lojin tersenyum. Ia menggerakkan tangannya dan menaruh telapak tangannya di atas kepala Giok Ciu, mengusap rambut muridnya lalu berkata bagaikan seorang kakek kepada cucunya,

“Giok Ciu, segala apa akan berjalan baik asalkan kau ingat selalu bahwa kebahagiaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Alangkah mudahnya mencari kebahagiaan asal kau telah mengenal diri sendiri dan dapat melihat betapa kebahagiaan menanti-nantimu di situ. Selanjutnya... terserah kepadamu sendiri, muridku. Nah, Giok Ciu, Sin Wan, selamat berpisah!”

Baru saja habis kata-katanya ini, tubuhnya telah melayang ke bawah gunung, diikuti oleh pandang mata Sin Wan yang mengerutkan pelupuk mata dan Giok Ciu yang mengalirkan air mata. Setelah agak lama Suhunya pergi, Sin Wa memandang Giok Ciu yang masih berdiri bengong ke arah ke mana Suhunya turun gunung tadi. Pipi gadis itu masih basah air mata sedangkan wajahnya agak kepucat-pucatan, maka terbitlah hati yang sangat iba dan sayang dalam dada Sin Wan. Ia dekati kekasihnya itu dan memegang kedua pundaknya dari belakang dengan mesra.

“Giok Ciu, jangan kau bersedih. Bukankah masih ada aku di sampingmu?”

Giok Ciu merasa terhibur juga, ia memalingkan muka memandang kepada Sin Wan dan wajahnya mulai berseri kembali, dan bibirnya tersenyum, seakan-akan matahari mulai terbit mengusir kabut diwaktu pagi.

“Koko di manakah perginya manusia she Gak itu?” Sin Wan tersenyum.

“Mengapa kau agaknya benci sekali padanya, moi-moi?”

“Ah, ia bukan orang baik-baik. Jika dekat dengan ia, aku merasa seakan-akan dekat dengan seekor serigala berkedok muka domba.”

“Sudahlah jangan pikirkan soal dia. Dia tadi disuruh pergi ke rimba itu oleh Suhu, biarlah ia berlindung di tempat kita untuk beberapa hari lamanya. Kitapun harus menyelesaikan latihan lweekang yang terakhir, moi-moi, sesuai dengan perintah Suhu. Kurasa dalam tiga empat hari lagi aku akan berhasil. Bagaimana dengan kau, moi-moi?”

“Akupun sudah mendekati hasil baik. Api dalam tubuh terasa makin hangat dan gerakan-gerakan tenaga dalam tubuh makin besar hingga dapat kugerakkan ke seluruh bagian tubuh.”

“Bagus sekali kalau begitu. Biarlah kita berlatih tiga hari lagi, kemudian kita turun gunung melakukan tugas kita. Jangan ambil peduli orang she Gak itu.”

Mereka lalu pergi melatih diri, pertama-tama bersama-sama melatih ilmu silat, kemudian mereka bersamadhi di tempat masing-masing. Seperti biasa, semenjak mendapat latihan di udara terbuka oleh Suhu mereka, masing-masing telah memilih tempat latihan sendiri, Sin Wan memilih tempat di bawah sebatang pohon liu dimana terdapat sebuah batu hitam besar yang dipakai sebagai tempat duduk bersamadhi sedangkan Giok Ciu memilih tempat di dalam hutan pohon siong yang banyak ditumbuhi kembang-kembang yang harum baunya.

Ia selalu merasa tenteram jika bersamadhi di situ, karena selain bau bunga dan rumput menyegarkan pernapasannya, juga suara burung-burung di atas pohon merupakan nyanyian indah yang tambah menyempurnakan samadhinya. Ketika hari telah menjelang senja, Giok Ciu masih tenggelam dalam samadhinya. Tubuhnya bersila di atas rumput, diam tak bergerak sedikitpun bagaikan patung seorang dewi.

Wajahnya yang cantik jelita tampak bercahaya dan bibirnya serta kedua pipinya berwarna kemerah-merahan. Pada saat demikian itu ia tidak hanya tampak cantik, tapi juga agung sekali. Tiba-tiba Giok Ciu merasa seakan-akan tersendal turun dari atas dan ia sadar kembali. Otomatis sepasang matanya menatap ke depan dan bertemu pandanglah ia dengan sepasang mata yang telah lama sekali memandangnya dengan kagum dan terpesona. Agaknya pandangan mata inilah yang membuat ia terganggu dari samadhinya. Ketika gadis itu memperhatikan ternyata bahwa yang memandanginya itu adalah mata Gak Bin Tong yang duduk di depannya sambil tersenyum-senyum mengambil hati!

“Kwie Siocia, alangkah suci, agung dan cantik jelita kau! Melihat kau bersamadhi seperti ini, aku teringat akan patung Dewi Kwan Im di See-Coan, Kwie-Siocia...”

Giok Ciu merasa tidak senang sekali dan memandang tajam. “Sudah lamakah kau duduk di sini?” tanyanya dengan suara dingin.

“Sudah sejak tadi, Siocia aku mengagumi kecantikanmu, keindahan bentuk tubuhmu, keagungan yang bersinar keluar dari wajahmu...”

“Tutup mulut! Orang she Gak, kau sungguh kurang ajar sekali. Apa perlumu datang kesini menggangu samadhiku?”

Tiba-tiba Gak Bin Tong berlutut! Ya pemuda muka putih itu berlutut di depan Giok Ciu hingga gadis itu tercengang sekali dan heran. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan menyangka bahwa tiba-tiba pemuda itu menjadi gila. Memang pada saat itu Gak Bin Tong telah gila, gila asmara! Ia berlutut di depan kaki Giok Ciu yang masih bersih sambil berkata dengan suara merayu,

“Kwie-Siocia, tidak tahukah kau... aku... aku mengagumimu, aku... ah, kau kuanggap sebagai seorang dewi yang suci murni, dewi pujaan hatiku. Siocia, aku… aku cinta padamu, dengan sepenuh jiwa dan hatiku.”

Giok Ciu menjerit kecil dan tiba-tiba ia meloncat dan bangun berdiri. Ia marah dan malu sekali mendengar ucapan itu hingga ia merasa betapa kedua tangannya menggigil dan dadanya berdebar.

“Orang she Gak! Kau benar-benar tak tahu diri dan kurang ajar sekali! Kau... kau telah menghinaku dengan pernyatamu itu...!” karena marahnya, gadis itu tak dapat melanjutkan kata-katanya, bahkan dari kedua matanya mengalirlah air mata!

Gak Bin Tong dengan nekad melanjutkan kata-katanya, “Nona Giok Ciu... aku... aku cinta padamu! Aku tahu bahwa kau mempunyai hubungan yang erat dengan saudara Sin Wan, tapi... tapi tidak tahukah kau bahwa saudara Sin Wan itu telah menjadi... suami yang tidak syah dari nona Suma Li Lian?”

Terbelalak mata Giok Ciu yang bening itu mendengar kata-kata ini. “Bangsat bermulut jahat! Kau harus dibasmi dari muka bumi ini!” Giok Ciu mencabut Ouw Liong Pokiam dan menyerang pemuda itu yang segera meloncat dan berkelit cepat.

“Nona Giok Ciu... Percayalah padaku...”

“Bangsat keji!” Giok Ciu makin marah dan mengirim serangan-serangan maut.

Kalau bukan Gak Bin Tong yang di serang seperti itu, tentu sukar untuk menyelamatkan diri, tapi pemuda she Gak inipun memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, maka dalam tiga empat jurus saja Giok Ciu yang sedang marah itu belum dapat merobohkannya. Akan tetapi, segera keadaan pemuda itu berbahaya sekali karena Giok Ciu dapat mengendalikan marahnya dan menggerakkan pedangnya secara lihai sekali!

Pada saat yang sangat berbahaya, tiba-tiba Sin Wan muncul dan berseru, “Moi-moi, tahan pedangmu!” Tapi Giok Ciu tidak memperdulikan seruan Sin Wan, bahkan memperhebat serangannya hingga Gak Bin Tong sibuk sekali berloncatan menghindarkan diri.

“Moi-moi, segala hal bisa diurus, jangan menggunakan kekerasan.”

Tapi tetap saja gadis yang sudah panas dan naik darah itu tidak mau menghentikan serangannya hingga Sin Wan terpaksa mencabut Pek Liong Pokiamnya dan menangkis sebuah tusukan Giok Ciu yang mengarah tenggorokan Gak Bin Tong yang sudah kepepet sekali keadaannya.

“Kau mau membela dia?” kata Giok Ciu gemas sekali dan dengan ganasnya ia mengirim serangan lagi ke arah Gak Bin Tong. Sin Wan menangkiskan lagi dan berserulah dia.

“Moi-moi, lupakah kau akan pesan Suhu? Jangan sembarangan membunuh orang!”

Lemaslah tangan Giok Ciu mendengar peringatan ini. Ia memandang kepada Sin Wan dengan gemas, kemudia ia membentak kepada Gak Bin Tong. “Bangsat rendah, kau tidak lekas pergi?”

Gak Bin Tong menjura kepada mereka, lalu meloncat pergi sambil berkata, “Lihatlah saja, kelak akan terbuka matamu.” Dan secepat mungkin ia lari turun gunung, diikuti pandang mata marah dari Giok Ciu dan keheranan dari Sin Wan.

“Moi-moi apakah salahnya maka kau hendak membunuhnya?” tanya Sin Wan.

“Dia... Dia...” Giok Ciu hendak mengatakan bahwa pemuda muka putih itu menuduh Sin Wan menjadi suami tidak syah dari Suma Li Lian, tapi kata-kata ini ditelannya kembali, sebaliknya ia berkata, “Dia datang dan mengganggu ketika sedang bersamadhi, bahkan ia berkata kurang ajar!”

Sin Wan menghela napas karena ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu lupa akan kesopanan melihat Giok Ciu duduk bersamadhi karena ia sendiripun pernah melihat betapa ayu dan agung gadis itu tampaknya jika sedang bersamadhi. Maka ia menghela napas panjang.

“Sudahlah, moi-moi, untuk apa memperdulikan orang seperti dia? Dia sekarang sudah pergi, lebih baik kita mencurahkan perhatian kita kepada latihan-latihan kita, karena kita menghadapi urusan besar.”

“Siapa memperhatikan dia?” jawab Giok Ciu karena sesungguhnya ia sama sekali tidak perhatikan Gak Bin Tong, tapi yang mengganggu pikirannya ialah kata-kata pemuda muka putih tadi.

Ia yakin dan pasti bahwa orang she Gak itu tentu membohong, namun masih saja ada rasa tidak enak dan tidak senang di dalam hatinya. Selama tiga hari semenjak peristiwa itu, di tempat terpisah, Giok Ciu dan Sin Wan mengerahkan seluruh perhatian untuk berlatih hingga pelajaran latihan lweekang terakhir telah mereka lalui dengan hasil baik.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Pada hari keempatnya, Giok Ciu berdiri dari tempat siulian di bawah pohon siong itu, dan melemaskan kedua kaki dengan berjalan-jalan ke lereng puncak. Kedua kakinya terasa agak kaku dan perutnya lapar sekali. Ia tahu bahwa di sebuah hutan terdapat pohon-pohon buah yang lezat buahnya dan tempat ini telah merupakan 'Gudang makanan' bagi kedua anak muda itu serta guru mereka.

ketika Giok Ciu tengah makan buah yang baru saja dipetiknya dan rasanya segar dan enak sekali, tiba-tiba ia menunda makannya karena pada saat itu ia mendengar suara wanita menangis dan memaki-maki. Ia segera meloncat dan lari cepat menuju ke arah suara itu yang ternyata datang dari arah bawah. Ia menuruni lereng itu dengan cepatnya dan alangkah marahnya ketika melihat betapa empat orang laki-laki menarik-narik seorang wanita muda keluar dari sebuah tandu!

Ia tidak melihat jelas wajah wanita itu, hanya tahu bahwa wanita itu menggendong seorang anak kecil yang menangis keras. Agaknya keempat orang laki-laki itu tadinya adalah tukang-tukang pikul tandu yang kini hendak berbuat jahat.

“Bangsat-bangsat keji!”

Giok Ciu berseru keras dan tahu-tahu keempat laki-laki tinggi besar dan bertubuh kuat itu melihat bayangan berkelebat cepat dan sebelum mereka dapat melihat tegas. Bayangan itu telah tiba dan tahu-tahu seorang demi seorang, mereka terlempar ke dalam jurang yang sangat curam di dekat situ!

Keempat orang itu mengalami kematian tanpa mengetahui siapa yang membunuh mereka dan dengan cara bagaimana. Setelah menggunakan kegesitan dan ketangkasannya melempar-lempar keempat orang itu bagaikan melemparkan rumput-rumput saja, Giok Ciu lalu bertindak maju dan menyingkap kain sutera penutup tandu. Tiba-tiba tangannya yang pegang tandu itu gemetar dan dadanya berdebar keras, karena wanita muda yang ditolongnya itu bukan lain ialah nona Suma Li Lian!

Suma Li Lian ketika melihat bahwa yang menolongnya adalah Kwi Giok Ciu, gadis pendekar yang perkasa dan yang pernah dilihatnya dulu, tampak gembira sekali dan segera ia keluar dari tandu sambil memondong anak kecil itu.

“Kwie Lihiap! Kaukah itu? Syukurlah dan banyak-banyak terima kasih, Lihiap, karena kau ternyata telah menolong jiwaku dari ancaman empat binatang keparat tadi.”

Giok Ciu terima pernyataan terima kasih itu dengan senyum dingin saja. “Siapakah mereka itu dan hendak kemanakah kau sampai tersesat di gunung ini?” tanyanya.

“Kwie Lihiap, aku sengaja menyewa tandu ini untuk mendaki bukit ini. Aku telah membayar mahal sekali kepada empat orang itu. Siapa tahu, sampai ditempat ini mereka agaknya mengandung maksud buruk terhadap diriku. Untung sekali kau keburu datang!”

“Hmm, dengan maksud apakah kau mendaki bukit ini?” tanya Giok Ciu dengan sikapnya yang masih dingin.

Tiba-tiba Li Lian menangis sambil mendekap anak perempuan yang usianya kurang lebih enam bulan itu di dadanya!

“Eh, mengapa tiba-tiba kau menangis?” tanya Giok Ciu.

“Lihiap, kau... kau tolonglah, Lihiap. Aku sedang mencari Ayah anak ini, dan dia dulu pernah memberi tahu padaku bahwa jika aku hendak mencari padanya aku harus mendaki bukit Kam-Hong-San ini...”

Makin keras debar jantung Giok Ciu dan ia kini merasa betapa kedua kakinya menggigil, tapi sedapat mungkin ia menahan dan menindas perasaan ini.

“Siapa... siapakah Ayah anak ini dan... Dan ini anak siapakah...?” Tanyanya gagap.

“Ini adalah anakku, Lihiap, dan Ayahnya... Adalah Bun Sin Wan...”

Biarpun tadi dengan kuatir sekali di dalam dada Giok Ciu telah ada yang menduga akan hal ini, namun keluarnya pernyataan dari bibir Suma Li Lian sendiri itu membuat ia merasa seakan-akan bumi yang dipinjaknya bergoyang-goyang hingga kedua matanya menjadi gelap dan kepalanya pening. Ia terhuyung-huyung, tapi segera ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaannya.

Setelah mengatur napas beberapa lama, barulah ia tenang kembali dan kegelapan yang menyelimuti dirinya berangsur-angsur lenyap. Ia lalu memandang wajah yang cantik tapi agak pucat dihadapannya itu, dan sedapat mungkin ia menekan suaranya hingga tidak terdengar ketus.

“Nona Suma, tidak salahkan pendengaranku tadi bahwa Ayah anakmu ini adalah Bun Sin Wan?” tanyanya.

Suma Li Lian memandang Giok Ciu dengan sinar mata penasaran hingga mata yang bening bagaikan mata burung Hong itu memancarkan cahaya.

“Kwie Lihiap, biarpun aku bukan seorang wanita gagah seperti engkau, namun tetap mempunyai kesetiaan dan kejujuran dalam hal ini. Kalau bukan kanda Sin Wan yang menjadi suamiku, untuk apakah aku mengatakan bahwa dia adalah Ayah anakku ini?” Dan setelah berkata demikian ia memandang Giok Ciu dengan sikap menantang.

“Kau bohong!” teriak Giok Ciu marah sekali. “Kau sengaja memfitnah orang! Kau perempuan hina yang harus mampus!”

Dengan pedang terhunus di tangan, Giok Ciu mengancam. Tapi Suma Li Lian tidak takut, bahkan tetap tersenyum tenang,

“Kwie Lihiap, mungkin kau mencinta kanda Sin Wan dan karenanya menjadi sakit hati kepadaku. Tapi jangan kau sebut aku pembohong karena aku sama sekali tidak bohong padamu. Anak ini adalah anak kanda Sin Wan dan aku! Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja hal ini kepadanya sendiri. Bukankah ia ada di sini?”

“Suma Li Lian! Kalau kau memfitnah, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku akan cincang hancur tubuhmu! Bun Sin Wan selalu bersamaku dan kami tak pernah berpisah. Bagaimana kau dapat berkata bahwa anak ini adalah anaknya?”

Kini Giok Ciu berubah pucat sekali dan bibirnya terasa kering. Sinar matanya seakan-akan memohon kepada Li Lian supaya menarik kembali kata-kata tuduhan tadi. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Li Lian yang tenang itu bagaikan sebilah pisau berbisa yang mengiris-iris jantungnya.

“Kwie Lihiap, memang benar kata-katamu itu, dan akupun hanya sekali saja bertemu dengan kanda Sin Wan. Tapi pertemuan yang sekali itu telah mengikat kami menjadi suami isteri dan bukti yang terutama ialah anak kami ini. Ingatkah kau ketika Sin Wan pergi seorang diri hendak mencegat Ayahku? Bukankah waktu itu kau tidak ikut dan tinggal di dalam Kelenteng? Nah, pada waktu itu, larut tengah malam menjelang fajar, pada waktu itulah kami bertemu, atau lebih tepat, kanda Sin Wan menemuiku. Ia memasuki kamarku dan menyatakan cintanya padaku. Pada saat itulah kami menjadi suami isteri.”

Giok Ciu maju dan memegang erat lengan Li Lian. “Kau... kau... katakanlah sebetulnya, apakah kau tidak bohong? Apakah hal ini terjadi betul-betul? Mengapa kau tidak berteriak pada waktu itu?”

Suma Li Lian menundukkan muka dengan wajah memerah, “Aku tidak membohong, Lihiap. Demi kehormatanku, demi Thian Yang Maha Kuasa, aku tidak membohong. Biarpun aku tidak dapat melihat wajahnya pada waktu itu dan keadaan gelap, namun aku dapat mengenal suaranya dan iapun mengaku bahwa ia adalah kanda Sin Wan sendiri. Dan aku... aku tentu akan berteriak minta tolong, kalau saja dia bukan kanda Sin Wan... aku, aku cinta padanya, Lihiap. Aku cinta kepada musuh Ayahku! Sekarang, sekarang... aku merasa malu dan hina sekali, tapi apa boleh buat... anak ini telah terlahir dan perlu bertemu dengan Ayahnya...”

Maka menangislah Li Lian tersedu-sedu dan Giok Ciu melepaskan pegangannya pada lengan tangan Ibu muda itu, dan gadis itu berdiri termenung seakan-akan semangatnya telah meninggalkan tubuhnya. Ia tidak measa betapa air matanya mengalir turun dari sepasang matanya yang suram, tidak tahu betapa wajahnya pada saat itu lebih menyerupai seorang mayat hidup! Kemudian ia teringat sesuatu.

“Benarkah kau telah mengkhianati seorang she Gak dan mengatakan kepada para pahlawan bahwa dia ini mempunyai hubungan dengan kami?”

“Benar, Lihiap. Aku benci sekali kepadanya. Telah beberapa kali ia bersikap tak patut terhadapku, maka aku segera mengadukan dia dan sepanjang yang kudengar, ia dikejar-kejar oleh para pengawal Kaisar. Lihiap, sekarang kau tolonglah aku, dimanakah adanya kanda Sin Wan?”

“Kau hendak bertemu padanya? Boleh! Memang kau harus bertemu padanya, kau harus bertemu sekarang juga! Hayo, kuantar kau!!”

Kemudian Giok Ciu mengajak Suma Li Lian naik ke lereng bukit itu. Ibu muda itu naik dengan sukar sekali, tapi Giok Ciu tidak memperdulikannya, bahkan berjalan mendahuluinya dengan tindakan bagaikan orang mabok.

Sin Wan yang baru saja sadar dari siulian, menyambut kedatangan Giok Ciu dengan senyum gembira. Tapi ia kaget sekali melihat wajah gadis itu. Ia segera maju hendak memegang tangan Giok Ciu, tapi gadis itu berkelit cepat dan memandangnya penuh kebencian. Nyata sekali betapa Giok Ciu menahan-nahan nafsunya hendak menyerang Sin Wan.

“Moi-moi... Kau kenapakah?” Sin Wan cemas sekali melihat keadaan Giok Ciu yang disangkanya sakit atau telah terjadi hal yang hebat.

Tapi Giok Ciu hanya menggigit bibir dan memandangnya dengan mata yang kini mulai digenangi air mata! Pada saat itu terdengar suara kaki orang menaiki jalan naik itu dengan susah payah. Sin Wan cepat memandang dan terkejutlah ia ketika melihat betapa Suma Li Lian sambil menggendong anak kecil sedang mendaki dengan napas terengah-engah karena sangat kelelahan!

Sebagai seorang berbudi halus, melihat keadaan Li Lian, Sin Wan tidak tega mendiamkannya saja, maka cepat ia maju dan mengulurkan tanggannya untuk membantu gadis itu menaiki sebuah batu. Tapi tak disangkanya sama sekali, ketika Suma Li Lian telah berdiri tetap didepannya, wanita itu segera menubruk dan memeluknya sambil berbisik tercampur isak.

“Kanda Sin Wan... alangkah banyak derita kualami dalam mencari engkau…” maka terdengarlah tangis mengharukan dibarengi dengan pekik tangis bayi dalam gendongan ibunya itu.

Sin Wan mendengar sebutan Li Lian padanya itu menjadi heran sekali. Ia mengangkat-angkat kedua alis matanya dan memandang dengan muka bodoh. Tak dapat ia berlaku kasar untuk mencegah pelukan Li Lian, karena ia tahu betapa gadis itu sangat lelah dan juga ia takut kalau-kalau anak dalam gendongan itu akan terjatuh.

“Suma-Siocia, kau tenanglah, jangan peluk-peluk aku seperti ini. Duduklah dan mari kita bicara baik-baik,” katanya dengan halus.

“Koko... kenapa kau masih sebut aku Siocia? Lihat... lihatlah! Ini adalah anakmu! Anak kami, terlahir lima bulan yang lalu! Koko... ternyata jodoh kita tak dapat direnggut putus demikian saja, lihat anak ini belum kuberi nama, sengaja kubawa kepadamu, kepada Ayahnya untuk menimangnya dan memberinya nama.”

Kalau ada geledek menyambar barangkali Sin Wan takkan sekaget ketika mendengar kata-kata Suma Li Lian ini. Ia merasa seakan-akan seluruh rambut dikepala dan tubuhnya berdiri dan meremang. Ia takut kalau-kalau wanita ini telah menjadi gila! Tak terasa pula ia mundur beberapa langkah dengan napas terengah-engah, lalu katanya,

“Suma-Siocia, apakah yang kau maksudkan dengan semua ini? Kau telah menjadi gila atau akukah yang sedang mimpi?” Kemudian Sin Wan berpaling kepada Giok Ciu yang masih memandangnya seperti tadi, bahkan kini di sudut bibir gadis itu membayang senyum menghina.

“Moi-moi, agaknya kau lebih tahu tentang hal ini. Coba terangkan, apakah artinya semua ini? Mengapa kau bawa Suma-Siocia ke sini dan anak ini anak siapakah?”

Tiba-tiba Giok Ciu menggunakan jari telunjuk menunding mukanya. “Siapa sudi kau sebut moi-moi? Laki-laki rendah, laki-laki hina, laki-laki pengecut! Tak tahu malu, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, bahkan masih berpura-pura bodoh pula sekarang! Sungguh tak kusangka sama sekali! Kau... orang yang tadinya kuanggap semulia-mulianya orang, yang kusangka sejantan-jantannya diantara sekalian yang jantan, tak tahunya hanyalah seorang hina dina!”

“Moi-moi tahan mulutmu!” bentak Sin Wan dengan marah sekali dan wajahnya memucat.

“Tidak! Aku hendak bicara terus, kau mau apa? Lihat, mulai saat ini aku Kwie Giok Ciu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan seorang rendah bernama Bun Sin Wan!”

Sambil berkata demikian gadis itu mencabut suling pemberian Sin Wan dulu dan mematahkan suling itu ke dalam tangan, lalu dua potong patahan suling itu ia remas-remas sampai hancur lebur sambil tertawa bekakakan.

“Moi-moi, diamlah!” Sin Wan membentak lagi dengan keras sekali karena ia merasa ngeri melihat betapa gadis itu berdongak sambil tertawa yang sangat aneh bunyinya dan pada saat itu ia tampak seperti mayat sedang tertawa menyeramkan.

Giok Ciu melempar-lemparkan hancuran suling itu ke atas dan angin gunung membawa bubukan itu bertebaran ke mana-mana, “Ha ha ha! Lihatlah, lihatlah, hai bunga dan pohon! Lihatlah betapa cita-cita itu telah lebur, telah cerai berai dan musnah terbawa angin. Lihatlah betapa semua telah hancur, telah hancur... sekarang tidak ada apa-apa lagi... hancur lebur... habis...”

Dan kembali ia tertawa menyeramkan, tapi suara ketawanya itu berangsur-angsur menjadi isak tangis sedih. Lalu Giok Ciu lari dari situ dengan cepat sekali sambil membawa suara tangisnya makin menjauh.

“Moi-moi...!” Sin Wan juga lari mengejar, tapi tiba-tiba Giok Ciu mencabut pedang Ouw Liong Pokiam dan membalikkan tubuh dengan pedang hitam itu melintang di dada. Sikapnya garang sekali dan ia membentak,

“Bangsat rendah! Kau mau apa? Jangan halang-halangi pergiku, kembalilah kepada isteri dan anakmu! Awas, satu tindak saja kau melangkah maju, aku akan mengadu jiwa denganmu!”

Tadinya Sin Wan hendak nekad maju, tapi ia pikir lagi bahwa Giok Ciu sedang panas hati dan mata gelap, maka tidak baik kalau dipaksa dan mungkin akan terjadi pertempuran mati-matian dan ia anggap ini bukanlah penyelesaian yang baik. Maka ia hanya memandang gadis itu dengan wajah sedih, lalu berkata,

“Baiklah, moi-moi. Kau menuduh aku yang bukan-bukan tanpa memberi kesempatan dan ketika kepadaku untuk membela diri!”

Tapi Giok Ciu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara terus karena gadis itu telah membalikkan tubuhnya dan lari ke bawah gunung dengan cepat sekali dan Ouw Liong Pokiam di tangannya berkilau-kilau ditimpa sinar matahari!

Akhirnya Sin Wan membalikkan tubuhnya setelah bayangan gadis itu tidak tampak lagi dan ia teringat kembali akan Suma Li Lian, maka dengan kertak gigi karena gemas, ia lari kembali ke tempat gadis bangsawan itu. Ia melihat betapa gadis itu berdiri sambil menyusui anak itu, maka wajah Sin Wan memerah. Ia memalingkan mukanya dan dalam keadaan malu dan jengah melihat betapa Li Lian di hadapannya tanpa malu-malu menyusui anak itu, timbullah keheranan besar dalam hati Sin Wan. Li Lian telah mempunyai anak dan mengaku bahwa anak itu adalah anaknya pula! Li Lian mengaku bahwa dia adalah suaminya! Sungguh gila, gila dan lucu. Sambil berdiri membelakangi Li Lian, Sin Wan berkata,

“Suma-Siocia, kalau kau sudah selesai menyusui anak itu, katakanlah agar kita bisa bicara dengan baik.”

Beberapa lamanya mereka berdiri dalam keadaan demikian. Li Lian berdiri menyusui anaknya sambil memandang tubuh belakang Sin Wan dengan mata sayu dan agak terheran melihat sikap pemuda itu, sedangkan Sin Wan berdiri memangku kedua lengan sambil memeras otaknya mengapa timbul perkara aneh dan gila ini! Tak lama kemudian terdengar Li Lian berkata kepadanya,

“Kanda Sin Wan, sungguh aku tidak mengerti akan sikapmu. Kau adalah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi tinggi. Benar-benarkah kau tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu sendiri?”

Sin Wan kertak giginya dengan marah dan gemas sekali. “Sudah selesaikah kau menyusui anakmu?” bentaknya.

“Sudah, biarpun aku tidak mengerti mengapa kau pura-pura tidak bisa melihat anakmu sendiri menyusu di dada ibunya!” jawab Li Lian penasaran.

Bagaikan kilat cepatnya Sin Wan meloncat sambil membalikkan tubuh dan ia berdiri di depan Li Lian. Gatal-gatal tangannya hendak menampar perempuan ini, tapi melihat betapa sepasang mata yang bening dan wajah yang ayu itu tampak sangat agung memandangnya tanpa rasa takut sedikitpun juga, ia menjadi lemas.

“Nona Suma, sekarang kau katakanlah yang sebenarnya. Mengapa kau lakukan hal keedan-edanan ini? Apakah salahku kepadamu maka kau memfitnah padaku?” Tiba-tiba Sin Wan menjadi pucat dan kedua matanya bersinar-sinar. Ia lalu tertawa dan berkata kepada Li Lian yang terheran-heran.

“Ha ha ha! Kau perempuan licin! Sungguh kau cerdik dan lihai! Kini aku tahu, tentu kau lakukan ini untuk membalas dendammu karena aku telah membunuh Ayahmu bukan? Ha ha ha! Benar-benar kau hebat dan lihai! Dengan tenaga kau tak mungkin dapat membalas, kini kau membalas, dengan akal jahatmu. Tapi hasil muslihatmu ini ternyata lebih hebat dan sakit rasanya daripada kalau kau membalas dengan pukulan maut! Ah, mengapa Giok Ciu tidak menginsafi hal ini...?”

“Koko Sin Wan! Jangan kau ngaco belo tidak karuan...” Dan tiba-tiba Li Lian menangis sedih. “Aku... mengapa pula aku harus membalas dendam? Bukankah aku sudah menjadi isterimu? Koko, biarpun kau hendak berlaku pengecut dan mengingkari janji dan membodohi semua orang, tapi kau tidak dapat menipu Thian Yang Maha Agung! Inilah buktinya! Lihatlah anak ini, inilah hasil pertemuan kita dulu! Atau kau pura-pura lupa ketika kau memasuki kamarku pada pagi hari dulu itu? Koko, kau tahu bahwa aku... aku mencinta padamu, kalau tidak demikian halnya, mungkinkah aku sudi melayanimu sedangkan aku tahu bahwa kau adalah musuh Ayahku? Aku telah korbankan Ayahku, korbankan namaku, korbankan perasaanku untuk membalas cintamu, tapi mungkinkah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi seperti engkau ini mempunyai hati palsu? Ah, tak mungkin! Aku takkan percaya! Wajahmu tak mungkin palsu tapi... mengapa sikapmu begini terhadapku, koko...” dan dengan sangat sedihnya Li Lian menangis dan menutupi mukanya sehingga ia tidak melihat betapa Sin Wan mendengarkan ucapannya dengan wajah makin terheran dan mata makin lebar terbelalak.

Sin Wan benar-benar tak berdaya karena herannya. Setelah menggunakan lidahnya membasahi bibirnya yang kering, ia akhirnya berkata dengan halus, “Nanti dulu, nona, tenanglah dulu. Coba kau ceritakan padaku tentang pagi hari itu, pada waktu mana kau bilang aku memasuki kamarmu. Coba ceritakanlah hal itu dengan terus terang.”

Suma Li Lian memandangnya heran dan seakan-akan tak percaya akan apa yang didengarnya dari mulut pemuda itu. Akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Baiklah kalau kau kehendaki itu. Dulu ketika mendengar bahwa kau mencari-cari Ayahku untuk kau bunuh, hatiku hancur dan sedih sekali, karena sesungguhnya aku tidak suka melihat kau membunuh Ayah. Pertama-tama memang sebagai seorang anak tentu saja aku tidak rela kalau Ayah dibunuh orang, kedua, di lubuk hatiku aku sangat tertarik dan suka kepadamu yang biarpun menjadi musuh Ayahku, namun kau telah berlaku sopan dan jujur terhadapku, bahkan kau telah membela aku dari kemarahan Kwie Lihiap. Semenjak itulah maka timbul rasa cinta di dalam hatiku. Malam ketika kau pergi itu aku tak dapat tidur. Menjelang fajar, aku melihat bayangan orang memasuki kamarku dari jendela. Karena lampu telah padam, maka aku tak dapat mengenal mukamu, hanya dapat menduga karena potongan tubuhmu kukenal baik dan bayangan itu potongan tubuhnya memang sama dengan engkau. Kemudian kau membuka suara memanggilku, maka aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kaulah yang datang. Kau menyatakan cintamu tanpa banyak kata dan aku... aku tak berdaya menolakmu karena... memang aku cinta padamu...! Ah, kanda Sin Wan, perlukah hal ini disebut-sebut lagi? Atau apakah ketika itu kau hanya pura-pura saja dan sengaja mempermainkan aku?”

Tiba-tiba Sin Wan mengangkat tangan dan meramkan mata karena ia sedang memikir keras. “Nanti dulu... ketika hal itu terjadi, yakni ketika bayangan itu memasuki kamarmu, apakah waktu itu sudah terdengar ayam berkokok?”

Suma Li Lian mengingat-ingat lalu berkata tetap, “Belum koko, karena aku ingat betul bahwa setelah kau pergi meninggalkan aku, barulah aku mendengar suara ayam berkokok memasuki jendela kamarku yang terbuka karena kau agaknya lupa menutup kembali.”

Sin Wan mengangguk-angguk, “Hmm, aku tahu sekarang mengapa kau dulu ketika hendak berpisah dengan aku, mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti sama sekali, yakni kau sesalkan aku yang tidak ingat akan kejadian pagi itu. Kini aku mengerti. Ketahuilah, Suma-Siocia. Pada saat itu aku masih belum kembali ke Kelenteng, dan datangku ke Kelenteng adalah pada waktu matahari telah naik tinggi! Pada saat ada orang memasuki kamarmu itu aku tengah mencegat seorang diri di hutan, mencegat kendaraan Ayahmu!”

Kisah Sepasang Naga Jilid 15

KISAH SEPASANG NAGA JILID 15

Melihat kawannya dipermainkan, Kwi Kai Hoatsu juga lalu menggerakkan tongkat dan kebutan hudtimnya untuk menyerang, hingga sebentar saja orang gila itu dikeroyok oleh kedua Tosu yang bersenjata dan lihai itu. Tapi kesudahannya sungguh-sungguh membuat Sin Wan dan Giok Ciu diam-diam dan tak terasa saling berpegangan tangan dan menahan napas!

Dengan tangan kosong, orang gila itu melayani kedua Tosu itu dan saban-saban ada kesempatan, ia menggunakan kedua telapak tangannya yang kotor dan bau itu untuk diusapkan di muka kedua lawannya, hingga setelah kena diusap beberapa kali, muka Kwi Kai Hoatsu dan Kang Keng Tosu menjadi kotor dan hitam!

Tentu saja perbuatan si gila ini tampak lucu sekali dan merupakan hal yang sangat menghina kedua tokoh itu. Ah, kalau saja ada kawan-kawan mereka melihat hal ini, alangkah akan malunya. Dipermainkan sedemikian rupa oleh seorang gila yang bertangan kosong, sedangkan mereka mengeroyok berdua!

Sebaliknya Sin Wan dan Giok Ciu merasa kagum karena tak mereka sangka di dunia ini banyak sekali orang-orang pandai. Mereka taksir bahwa kepandaian orang yang seperti gila itu setidak-tidaknya setingkat dengan kepandaian guru mereka, Bu Beng Sianjin! Maka timbul harapan di dalam hati mereka, karena agaknya orang gila itu membantu mereka untuk merampas kembali kedua pokiam mereka.

Sementara itu, karena makin lama makin sering tangan si gila itu mengusap muka mereka, Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu merasa geli dan ngeri. Kalau saja si gila ini bermaksud jahat, tentu sudah tadi-tadi mereka menjadi mayat. Maka mereka lalu meloncat pergi dengan maksud kabur. Tapi alangkah terkejut mereka ketika tahu-tahu si gila telah menghadang di depan pula!

“Sebenarnya kau mau apakah?” teriak Kwi Kai Hoatsu dengan gemas sekali.

“Pedang mereka... pedang mereka... kembalikan!” kata si gila sambil melanjutkan gerakan-gerakan silatnya yang luar biasa anehnya dan yang selama hidupnya belum pernah dilihat oleh kedua Tosu itu.

“Kau mau pedang ini? Nah, terimalah!”

Kwi Kai Hoatsu lalu sambitkan Pek Liong Pokiam ke arah si gila itu yang disambut dengan mudahnya oleh orang gembel itu. Juga Keng Kong Tosu lalu sambitkan Ouw Liong Pokiam ke arah lawannya. Kini si gila itu menggunakan Pek Liong Pokiam untuk menerima luncuran Ouw Liong Pokiam.

Ketika pedang hitam itu meluncur dan hendak menancap di dadanya, ia menggunakan pedang putih untuk menempel pedang hitam hingga kedua pedang menempel lalu diputar sedemikian rupa dengan cepat sekali hingga pedang hitam terputar-putar di sekeliling pedang putih dengan ujung saling tempel!

“Bukankah itu gerakan Naga Sakti Putar Ekor yang diajarkan oleh Suhu?” Tiba-tiba Giok Ciu berbisik sambil menekan tangan Sin Wan.

“Memang betul, agaknya orang itupun kenal ilmu silat kita. Mari kita hampiri dia.”

Si Gila itu masih memutar-mutar pedang itu ketika Sin Wan dan Giok Ciu tiba di situ dan kedua anak muda itu tanpa ragu-ragu lagi lalu menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Si gila sambil memutar-mutar pedang melihat ke arah depan di mana Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu berlari-lari cepat meninggalkan orang yang aneh dan membuat mereka jerih dan ketakutan itu, karena selama hidup belum pernah mereka bertemu dengan orang yang seaneh dan sehebat itu kepandaiannya. Mereka merasa beruntung tidak terbunuh olehnya.

“Mereka itu kutu-kutu busuk!” si gila berkata berulang-ulang. Kemudian ia melihat kedua anak muda yang berlutut di depannya, maka iapun berlutut dan melihat-lihat tanah di depan Sin Wan dan Giok Ciu. “Eh, eh, kalian sedang mencari apakah? Apa sedang mengintai jangkrik?”

Maka iapun lalu mencari-cari dan menyingkap-nyingkap rumput di situ! Sin Wan dan Giok Ciu saling melirik.

“Lo-Cianpwe, teecu berdua menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan Lo-Cianpwe kepada kami,” kata Sin Wan dengan suara menghormat.

Orang aneh itu bangun berdiri dan sekali sentak dengan sebelah tangannya, tubuh Sin Wan terangkat naik hingga anak muda itu terpaksa berdiri.

“Kau berdirilah, tak enak bicara sambil berlutut!” katanya kepada Giok Ciu yang segera berdiri.

Mereka berdua berdiri dengan sikap hormat sekali.

“Siapakah yang tolong siapa? Mereka merampas pedangmu dan aku ambilkan itu dari mereka untukmu!”

“Lo-Cianpwe sudilah kiranya memberitahukan teecu berdua nama yang mulia dari Lo-Cianpwe agar teecu berdua tak mudah melupakan budi Lo-Cianpwe ini.”

“Bicaramu sulit dimengerti,” kata si gila setelah memeras otak memikir-mikir untuk memahami kata-kata Sin Wan.

“Namaku ya aku, dan nama kalian siapa akupun tak perlu tahu. Nah, ini terima pedangmu!”

Dengan tak acuh ia angsurkan kedua pedang itu yang disambut oleh Sin Wan dan Giok Ciu dengan girang sekali dan membungkukkan tubuh.

“Pedang ini baik sekali, sayang kalau terjatuh di tangan mereka. Lain kali jangan sampai kena dirampas orang pula!” Tiba-tiba saja suara si gila ini terdengar terang dan waras.

“Mohon petunjuk dari Lo-Cianpwe, karena teecu berdua memang masih dangkal pengetahuan,” kata Sin Wan.

Orang tinggi besar itu tertawa lalu tiba-tiba ia berjungkir balik, kedua tangannya di bawah dan kedua kaki di atas! Dalam keadaan begini, agaknya orang itu meraa lebih enak, lalu tertawa ha-ha hi-hi dan berkata,

“Petunjuk apakah? Kalau kalian bisa meniru kepandaianku ini, tak mungkin dua imam itu mampu merampas pedangmu!”

Hampir saja Giok Ciu tertawa geli, karena apakah susahnya untuk berdiri dengan kaki di atas seperti itu? Jangankan dengan kedua tangan, biar dengan sebelah tanganpun ia sanggup melakukannya dengan mudah sekali. Tapi Sin Wan segera berkata,

“Lo-Cianpwe, kenalkah Lo-Cianpwe kepada Suhu kami? Suhu disebut Bu Beng Sianjin! Kenalkah Lo-Cianpwe padanya?”

Sepasang mata yang berada di bawah itu berputar-putar cepat, tanda bahwa otaknya yang telah hampir beku itu dikerjakan keras. “Bu Beng...? Bu beng...? Ah, aku kenal... aku kenal...!” Tiba-tiba ia berseru keras sekali.

“Heh...!” dan tahu-tahu tubuhnya yang tadi berdiri terbalik itu membal ke atas tinggi sekali! Di atas masih terdengar suaranya. “Bu... Beng…?” Dan sekali lagi di atas ia berseru “Heh...!”

Tahu-tahu tubuh yang masih berada di atas itu mencelat jauh dan lenyap dari pandangan mata kedua anak muda itu. Sin Wan dan Giok Ciu bengong Mereka terkejut, heran, dan kagum sekali melihat kehebatan orang gila itu! Sin Wan menghela napas dan berkata,

“Ah, sungguh di dunia ini banyak orang-orang berilmu tinggi, hingga jika dibandingkan, kita ini bukan apa-apa.”

“Tadi ketika ia berdiri jungkir balik, ia bilang bahwa kalau kita bisa menirunya, maka kedua Tosu itu takkan mungkin dapat merampas pedang kita. Apakah maksudnya, koko? Apakah artinya kepandaian jungkir balik macam itu?”

“Aku juga sedang memikirkan itu, moi-moi. Memang kelihatannya itu bukan kepandaian yang berarti, tapi kau ingatkah ketika ia meloncat ke atas tadi? Ia mempergunakan bentakan dalam dada dan tahu-tahu tubuhnya telah mumbul ke atas tinggi sekali, bahkan di ataspun ia dapat gunakan tenaga mujijat itu untuk melesat pergi jauh sekali! Kurasa ia melatih lweekang dan ginkang yang tinggi dengan cara bersamadhi sambil berdiri jungkir balik!”

Giok Ciu mengangguk-angguk. “Mungkin juga, bukankah Suhu juga sering bersamadhi dengan cara yang aneh-aneh?” Maka teringatlah Sin Wan.

“Agaknya orang aneh tadi kenal kepada Suhu, tapi mungkin juga tidak, karena sikapnya sungguh-sungguh aneh hingga aku hampir percaya bahwa ia benar-benar gila! Giok Ciu, kita harus akui bahwa kepandaian kita masih dangkal sekali. Baru menghadapi dua orang saudara Cin Cin Hoatsu saja kita hampir mengalami bencana, apalagi kalau harus menghadapi Cin Cin Hoatsu yang lihai. Memang sebenarnya pelajaran kita belum tamat dan dahulu kita terpaksa berpisah dari Suhu. Kurasa lebih sempurna lagi kalau kita sekarang kembali dulu dan mohon kepada Suhu untuk memberi pelajaran selanjutnya kepada kita sampai tamat. Setelah itu, barulah kita berdua pergi mencari Cin Cin Hoatsu. Bagaimana pendapatmu, moi-moi?”

Sebenarnya, gadis itu ingin lekas-lekas mencari musuh besarnya dan membalas dendam, tapi setelah dipikir-pikir bahwa kata-kata Sin Wan betul, pula mengingat betapa baru saja mereka gagal melawan Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu ia lalu menyetujui ajakan Sin Wan. Maka mereka lalu kembali dan menuju ke Kam-Hong-San untuk mencari Suhu mereka dan minta pimpinan lebih jauh.

Ketika mereka tiba di kaki bukit Kam-Hong-San, Sin Wan tidak lupa untuk mampir di kampungnya. Penduduk kampung dengan gembira ria menyambut pemuda pemudi itu dan memaksa mereka bermalam di situ. Sin Wan didesak untuk menceritakan pengalamannya dan ketika mendengar bahwa pembunuh-pembunuh Kang Lam Ciuhiap dan Ibu Sin Wan telah dapat terbalas dan dibinasakan, mereka bersorak-sorak girang dan merasa puas sekali, karena ini berarti bukan hanya pembalasan sakit hati kedua orang itu, tapi juga pembalasan sakit hati para orang-orang yang dulu dengan gagah menolong Kang Lam Ciuhiap tapi juga terbunuh oleh para kaki tangan Kaisar itu.

Pada keesokan harinya Sin Wan dan Giok Ciu menengok makam Kang Lam Ciuhiap dan Ibu Sin Wan, dimana pemuda itu bersembahyang dengan hati terharu. Ia merasa berterima Kasih kepada orang-orang kampung yang ternyata merawat makam itu dengan baik-baik hingga rumputnya terbabat rapih dan tampaknya bersih. Kemudia mereka berdua mendaki bukit Kam-Hong-San untuk mencari Suhu mereka. Di sepanjang jalan, pemandangan-pemandangan di gunung yang telah mereka kenal baik itu membuat mereka terharu dan membongkar kenangan-kenangan lama. Ketika mereka tiba di sumur naga tempat pertapaan Suhu mereka, dari jauh mereka sudah melihat Bu Beng Sianjin duduk di pinggir sumur seorang diri! Alangkah girang hati mereka dan cepat-cepat mereka berlari lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menyebut,

“Suhu...!”

“Kalian sudah kembali? Berhasilkah usahamu?” kakek yang kurus kering dengan rambut putih panjang terurai ke belakang itu bertanya halus.

Sin Wan dan Giok Ciu lalu menuturkan pengalaman mereka bergantian, betapa mereka telah berhasil membunuh Suma-Cianbu dan Siauw-San Ngo-Sinto, tapi betapa mereka hampir celaka di tangan Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu kalau saja tidak ditolong oleh seorang aneh yang adatnya seperti orang gila. Bu Beng Sianjin mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketika mendengar tentang orang-orang aneh itu, ia tertarik sekali.

“Coba ceritakan, bagaimana rupa orang itu?” Sin Wan lalu melukiskan keadaan orang gila yang sakti itu sedapat mungkin.

Kakek itu mengangguk-angguk. “Hem, hm, tinggi sekali dan besar, rambut hitam, mukanya hitam, matanya bundar dan besar? Ya, ya, tak salah lagi, dialah itu…”

“Siapakah orang itu, Suhu? Ketika teecu menanyakan namanya, ia hanya menjawab bahwa dia adalah dia, sama sekali tidak menyebut nama, entah lupa entah memang tidak punya nama. Ketika teecu menyebut nama Suhu, ia kelihatan seperti orang mengingat-ingat dan lalu pergi.”

“Muridku, dia tidak mau dikenal untuk apa pusing-pusing dan memaksa-maksa? Dia adalah seorang gagah perkasa yang beradat keras dan jujur, tapi malang sekali ia menerima ilmu silat dari mahluk-mahluk halus, ia berguru kepada iblis sendiri, maka ilmu silatnya demikian lihai, tapi untuk kepandaian itu ia harus mengorbankan jiwanya karena ia menjadi gila! Maka muridku, sekarang tidak boleh terlalu mengandalkan kepandaian lahir untuk berlaku sewenang-wenang atau menyombong. Ketahuilah bahwa segala kepandaian itu hanya milik pinjaman saja dan akan lenyap dan musnah bersama raga kita. Maka selagi masih hidup harus dapat mempergunakan segala macam kepandaian yang dimiliki untuk mengerjakan sesuatu yang berguna bagi orang-orang lain, melakukan perbuatan-perbuatan baik demi perikemanusian dan dengan demikian maka takkan percumalah orang mengejar ilmu. Kalau mengejar ilmu dengan susah payah untuk kemudian dipergunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja, untuk menyenangkan diri sendiri tanpa memikirkan kesulitan dan kesengsaraan orang lain, maka kau berarti lebih gila daripada orang yang sebenar-benarnya gila! Mengertikah kalian?”

Sin Wan dan Giok Ciu mengangguk-angguk menyatakan bahwa mereka mengerti akan petuah ini.

“Kalian tadi mengatakan bahwa kalian dikalahkan oleh dua orang Tosu yang memiliki hoatsut? Apakah sebenarnya hoatsut? Bukan kepandaian yang mengherankan, karena sebenarnya orang yang menggunakan ilmu sihir bukanlah karena mereka memang mempunyai tenaga yang berlebihan, tapi mereka justeru menggunakan kelemahan lawan untuk menjatuhkannya. Ketahuilah bahwa alam ini digerakkan oleh kesatuan tenaga maha hebat dan di dalam tiap tubuh manusia terdapat sebagian daripada kesatuan tenaga dan dengan tenaga inilah maka segala hal mungkin dilakukan oleh manusia. Galilah dan carilah tenaga ini, maka kalian akan kuat menghadapi segala macam hoatsut dari orang-orang jahat!”

Demikianlah, semenjak saat itu Sin Wan dan Giok Ciu mendapat gemblengan ilmu batin yang hebat dari Suhu mereka dan mendapat latihan lweekang yang lebih tinggi. Juga di bawah pimpinan orang tua yang aneh itu mereka menyempurnakan latihan mereka dalam hal ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut dan Ouw-Liong Kiam-Sut. Tapi berbeda dengan dulu, kini mereka berlatih di udara terbuka, karena Bu Beng Lojin bersamadhi diluar sumur dan berkata untuk berlatih lweekang yang tinggi dan berlatih napas, maka lebih baik bagi kedua orang murid itu untuk bersamadhi di udara terbuka.

********************

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Setahun telah berlalu dengan cepat sekali semenjak Sin Wan dan Giok Ciu kembali ke Kam-Hong-San untuk mempertinggi ilmu silat mereka. Di dalam waktu setahun itu, mereka mendapat kemajuan pesat sekali. Hubungan mereka tetap mesra dan saling cinta, walaupun kini mereka dasarkan cinta mereka lebih mendalam, tanpa dikotori napsu.

Namun, betapapun mereka telah menerima gemblengan ilmu batin, jiwa muda mereka selalu dipanaskan oleh darah muda hingga mereka tetap bersemangat dan penuh hasrat hidup yang bernyala-nyala. Suhu mereka juga tahu akan eratnya hubungan kedua muridnya dan kakek yang aneh ini sering kali diam-diam menghela napas seakan-akan menderita sesuatu yang menyedihkan. Ia pernah panggil menghadap kedua muridnya dan berkata dengan perlahan dan tenang, tapi cukup mengejutkan hati kedua anak muda itu.

“Sin Wan dan Giok Ciu! Aku telah maklum sedalam-dalamnya apa yang terkandung dalam hatimu berdua, memang demikianlah seharusnya perasaan dua orang yang sudah terikat jodoh. Hanya pesanku, murid-muridku, jika kalian telah berhasil membalas sakit hati orang tuamu, maka sebelum kalian menjadi suami isteri, kalian harus membawa kembali kedua pokiam itu dan menyimpannya kembali ke dalam gua naga di dalam sumur. Karena kedua pokiam itu sudah cukup membersihkan karat mereka dengan darah orang-orang jahat, dan adalah menjadi pantangan besar bagi kedua pedang pusaka itu untuk dimiliki oleh sepasang suami isteri!”

Tentu saja Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang dengan muka berubah karena hati mereka terguncang, tapi mereka tak berani membantah, hanya berlutut dan menyanggupi kehendak Suhu mereka. Bu Beng Lojin menghela napas lagi dan berkata,

“Sin Wan dan Giok Ciu, hal jodoh adalah kehendak Tuhan, asal saja kalian selalu ingat bahwa sepasang suami isteri sama sekali tidak boleh memiliki kedua pedang itu!”

Pada suatu pagi, Sin Wan dan Giok Ciu berjalan-jalan di lereng-lereng bukit Kam-Hong-San. Mereka menikmati tamasya alam yang indah dan yang membuat mereka teringat akan peristiwa-peristiwa dulu. Bagi mereka, tempat ini merupakan tempat takkan dapat dilupa seumur hidup, karena disinilah mereka pertama kali bertemu.

“Koko, kurasa sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk berpamit kepada Suhu dan pergi mencari musuh besarku,” kata Giok Ciu.

“Kurasakan begitu, moi-moi. Baiklah kita tanyakan saja kepada Suhu, karena Suhu sakti dan waspada.”

Tiba-tiba Giok Ciu menunding ke bawah bukit dan berseru, “Koko, lihat!”

Dari bawah lereng tampak bayangan orang berlari-lari cepat sekali ke atas bukit, dan ternyata ilmu lari cepat orang itu boleh juga, hingga sebentar saja ia telah datang dekat dengan kedua anak muda itu.

“Gak Bin Tong!”

Giok Ciu berseru heran. Juga Sin Wan heran melihat datangnya pemuda muka putih yang berlari-lari ke atas dengan wajah ketakutan itu.

“Aduh, kebetulan sekali, tolonglah aku, saudara Bun! Kwie Lihiap, tolonglah aku!”

“Ada apakah, saudara Gak?” Sin Wan bertanya dengan heran, tapi jawaban pertanyaannya itu terdengar olehnya ketika dari bawah muncul bayangan banyak orang yang berlari-lari cepat sekali mengejar ke atas.

“Siapakah mereka yang mengejarmu?” tanya Sin Wan.

“Siapa lagi kalau bukan anjing-anjing istana!” jawab Gak Bin Tong. “Mereka hendak membunuhku. Tolonglah, saudara Sin Wan yang baik!”

Setelah berkata demikian, orang she Gak itu lalu melarikan diri di belakang Sin Wan dan Giok Ciu, agaknya ia takut sekali. Giok Ciu yang masih merasa marah karena sikap Gak Bin Tong yang dulu telah mengacaukan perhubungannya dengan Sin Wan, berkata kurang senang.

“Bukankah kau seorang gagah yang memiliki kepandaian tinggi? Mengapa harus berlari-lari terhadap mereka? Mengapa tak kau lawan dengan pedangmu?” kata-kata ini jelas sekali menyatakan bahwa ia enggan untuk membantu, tapi Gak Bin Tong berkata dengan suara memohon.

“Kwie Lihiap, mereka lihai sekali, bukan lawanku!” Giok Ciu memandang Sin Wan dan berkata perlahan.

“Koko, kurasa tak baik kita ikut campur urusan ini. Bukan urusan kita dan tidak ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Bukan demikian, moi-moi. Biarpun andaikata kita tidak membantu saudara Gak, sudah sepatutnya kita halau pergi pahlawan-pahlawan Kaisar itu. Mereka bukanlah manusia-manusia baik dan perlu diusir. Pula, saudara Gak pernah melepas budi kepada kita, masakan sekarang kita tidak mau menolongnya? Jangankan dia sendiri, bahkan siapa saja yang dikejar-kejar pengawal kraton dan hendak dibunuhnya, harus kita tolong bukan?”

Alasan-alasan yang dimajukan Sin Wan ini kuat sekali hingga Giok Ciu tak dapat membantah lagi sementara itu, pengejar-pengejar Gak Bin Tong telah tiba di situ dan ternyata mereka terdiri dari tujuh orang pahlawan-pahlawan kelas satu. Di antara mereka terdapat orang-orang yang pernah mengeroyok sin Wan dan Giok Ciu, maka begitu melihat kedua orang muda itu, mereka berteriak.

“Betul saja, binatang she Gak itu telah bersekutu dengan orang pemberontak ini. Hayo tangkap ketiga-tiganya!”

Mereka itu menjadi tabah karena di antara mereka terdapat jagoan-jagoan yang berilmu tinggi, maka segera mereka mengurung dan menyerbu dengan senjata di tangan. Gak Bin Tong menangkis serangan seorang pengawal dengan pedangnya dan Sin Wan bersama Giok Ciu memutar sepasang pokiam mereka melayani pengeroyok yang lain. Sin Wan dan Giok Ciu pada saat itu bukanlah Sin Wan dan Giok Ciu pada waktu setahun yang lalu. Kepandaian mereka telah maju pesat dan didorong oleh tenaga batin dan lweekang mereka yang tinggi, otomatis ilmu pedang mereka juga maju hebat.

Dulu ketika ilmu pedang mereka belum matang saja sudah sukar sekali dilawan, maka kini setelah kepandaian mereka matang dan mendekati kesempurnaan, tak dapat ditaksir kelihaiannya. Para pengeroyok itu hanya melihat sinar panjang hitam dan putih berputar-putar mengelilingi mereka dan mendengar sambaran pedang itu tapi hampir tak dapat mengikuti gerakan kedua anak muda yang menyambar-nyambar bagaikan sepasang naga sakti.

Baru beberapa gebrakan saja terdengar jeritan-jeritan mengaduh dari para pengeroyok yang kena pukul atau tendang. Masih untung bagi mereka bahwa Sin Wan dan Giok Ciu tidak mau menewaskan jiwa orang, maka mereka hanya kena pukulan yang biarpun cukup hebat hingga membuat mereka tak berdaya, namun tak sampai membahayakan keselamatan jiwa mereka. Setelah masing-masing menjatuhkan dua orang, Sin Wan membentak,

“Hayo pergilah kalian kalau sayang jiwa!”

Para pengeroyok yang belum terluka mendengar bentakan ini segera menarik kembali senjata mereka dan sambil membantu kawan-kawan yang terluka, mereka meninggalkan lereng itu dengan jalan terpincang-pincang, Gak Bin Tong menjura kepada dua orang anak muda itu,

“Terima Kasih banyak atas pertolongan jiwi. Kalau tidak tertolong oleh kalian, tentu Gak Bin Tong hari ini tinggal namanya saja. Sungguh merasa kagum sekali melihat kehebatan kalian, baru beberapa bulan saja berpisah. Sungguh membuat aku takluk dan tunduk”

Sambil tiada habisnya memuji-muji, pemuda muka putih itu menjura dengan hormatnya. Terpaksa Sin Wan balas menjura, sedangkan Giok Ciu memalingkan muka tak mengacuhkannya.

“Sudahlah, saudara Gak. Sebetulnya, mengapakah kau dikejar-kejar oleh mereka itu?” tanya Sin Wan.

Gak Bin Tong menghela napas panjang sebelum menjawab. “Kau tahu sendiri, saudara Sin Wan, bahwa biarpun aku tinggal di kota raja dan menjadi keluarga pembesar, namun aku berbeda dengan mereka. Aku bukanlah seorang pengawal, dan aku tidak mencampuri urusan mereka. Karena itulah maka mereka itu diam-diam membenciku. Kemudian datanglah hari celaka bagiku, ketika ada seorang membuka rahasiaku dan mengatakan bahwa dulu aku pernah menolong kalian!”

Terkejutlah Sin Wan mendengar ini. “Heran sekali, siapa yang dapat mengetahui hal itu?”

“Siapa lagi kalau bukan... Suma Siocia!”

Mendengar nama ini disebut-sebut sepasang mata Giok Ciu memancarkan sinar ketika ia memandang kepada pemuda muka putih itu.

“Jangan kau sebut-sebut nama orang itu disini!” bentaknya dengan tiba-tiba dan marah hingga tidak hanya Gak Bin Tong, tapi juga Sin Wan juga merasa terkejut dan heran. Tapi gadis itu tanpa perdulikan mereka, lalu memutar tubuhnya dan pergi dari situ.

“Saudara Gak, sekarang keadaan sudah aman dan kau boleh pergi tanpa kuatir lagi,” kata Sin Wan yang sebenarnya bermaksud mengusir dengan halus, karena sesungguhnya, iapun tidak suka kepada pemuda ini. Gak Bin Tong memandangnya dengan wajah kaget.

“Pergi? Kemana, saudara Bun? Lindungilah aku dan tolonglah untuk dua atau tiga hari lagi. Aku tahu bahwa mereka itu masih penasaran dan mereka tidak mengejarku hanya karena ada kau dan Kwie Lihiap di sini. Mereka tentu menanti di kaki bukit dan kalau melihat aku turun seorang diri, celakalah aku!”

“Habis, apa yang kau kehendaki, saudara Gak?”

“Ijinkanlah aku tinggal di tempatmu barang tiga hari. Biarlah, aku akan tidur di atas tanah saja, asal dekat dengan engkau hingga anjing-anjing itu takkan dapat menggangguku.”

Sin Wan ragu-ragu. “Tapi Suhu telah pesan bahwa orang luar tidak boleh memasuki dan tinggal di puncak dimana kami bertiga tinggal,” katanya.

“Suhumu?” mata pemuda muka putih itu berseri-seri, “Biarkan aku memohon padanya, biarlah kalau beliau marah, aku yang bertanggung jawab dan sedia dihukum.”

Setelah didesak-desak dengan alasan bahwa kalau dipaksa turun tentu akan mati terbunuh oleh pahlawan-pahlawan Kaisar, akhirnya Sin Wan dengan apa boleh buat mengabulkan permintaan Gak Bin Tong dan membawa pemuda itu kepada Suhunya. Bu Beng Lojin sedang duduk seorang diri di atas sebuah batu ketika Sin Wan menghadap diikuti oleh Gak Bin Tong di belakangnya. Giok Ciu tidak tampak di situ. Sin Wan berlutut di depan Suhunya dan Gak Bin Tong dengan hormat sekali juga berlutut.

“Suhu!” Sin Wan memanggil karena kakek tua itu diam saja seolah-olah tidak melihat mereka.

Mendengar panggilan muridnya, ia menggerakkan kepala memandang dengan matanya yang tua. “Eh, Sin Wan, kau datang dengan siapakah?” Gak Bin Tong buru-buru mengangguk-angguk kepala lalu berkata,

“Mohon beribu ampun, Lo-Cianpwe, teecu Gak Bin Tong datang menghadap. Karena di kejar-kejar dan hendak di bunuh oleh pengawal Kaisar, maka teecu lari ke sini dan mohon perlindungan Lo-Cianpwe yang mulia.”

Bu Beng Lojin mengerutkan alisnya lalu berkata dengan suara yang berpengaruh, “Coba kau angkat mukamu!”

Gak Bin Tong tak dapat membantah, lalu angkat mukanya dan memandang kepada kakek tua yang aneh itu. Bu Beng Lojin ketika melihat wajah Gak Bin Tong tiba-tiba entah mengapa, menjadi berubah mukanya dan ia mengangguk-angguk dan menghela napas, panjang berulang-ulang. Mendengar ini, sin Wan memandang gurunya dan kagetlah ia karena gurunya tampak seakan-akan bersedih sekali.

“Sin Wan, kaukah yang membawanya masuk ke tempat kita?”

“Benar, Suhu, karena tak dapat teecu biarkan saja dia terancam maut kalau turun gunung.”

“Lo-Cianpwe, mohon jangan persalahkan saudara Sin Wan, sebenarnya teecu lah yang mendesaknya dan...”

“Sudahlah, sudahlah... kau, orang she Gak, kau pergilah ke rimba itu, aku ingin bicara berdua dengan Sin Wan.”

Gak Bin Tong dengan takut-takut mengundurkan diri dan pergi ke rimba yang berada tak jauh dari situ, lalu duduk dibawah sebatang pohon besar sambil termenung memikirkan nasibnya...