Asmara Berdarah Jilid 08

TIBA-TIBA terjadi hal aneh yang membuat mereka semua merasa terkejut sekali. Ada angin keras bertiup dari arah kiri ruangan sehingga api lilin-lilin besar di atas meja sembahyang bergoyang seperti hendak padam dan menimbulkan banyak bayangan hitam menari-nari di atas dinding putih. Juga asap dupa beterbangan ke arah kanan. Ini bukan angin biasa, pikir mereka.

Sebelum mereka sempat bertanya-tanya, tiba-tiba saja ada angin bertiup dari arah yang berlawanan. Kini api lilin tenang kembali, seperti dihimpit dua tenaga atau tertiup dari dua arah, membuat api tergetar-getar. Asap dupa yang tertiup dari dua arah menjadi berputar seperti anak-anak domba kebingungan diancam dua ekor harimau dari dua jurusan.

Han Tiong tahu akan hal ini, akan tetapi dia bersikap tenang, bahkan segera menggeser duduknya ke belakang peti jenazah isterinya, tepat di belakang menghadap ke arah meja sembahyang. Pendekar ini dapat menduga bahwa tentu akan muncul orang-orang pandai yang belum diketahuinya siapa dan apa maksud kunjungan mereka di saat seperti itu.

Dia tidak mengharapkan tamu pihak luar. Para muridnya telah dipesan agar mengundang murid-murid Pek-liong-pang saja dan jika mungkin mencari Cia Sun puteranya, dan agar peristiwa itu tidak dikabarkan kepada orang luar. Dia tak ingin mala petaka yang menimpa dirinya itu diketahui oleh dunia kang-ouw. Dan rahasia ini sangat mungkin dipegang rapat mengingat bahwa Lembah Naga adalah sebuah tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang luar. Akan tetapi, mengapa kini muncul orang-orang pandai?

Tidak ada seorang pun murid Pek-liong-pang yang mengira bahwa peristiwa angin ganjil itu dilakukan orang pandai. Mereka saling pandang dan merasa ngeri, menyangka bahwa hal itu tentu dilakukan oleh makhluk-makhluk halus, atau mungkin oleh arwah-arwah yang mati penasaran itu. Mereka merasa ngeri sehingga bulu tengkuk mereka meremang.

Tiba-tiba saja ada suara terkekeh. Para murid Pek-liong-pang tersentak kaget, kemudian memandang terbelalak kepada seorang kakek yang tiba-tiba saja muncul di depan meja sembahyang.

Usia kakek itu tentu sudah enam puluh tahun lebih. Tubuhnya tinggi besar dan mukanya hitam kasar, matanya bundar besar. Seorang kakek dengan wajah angker, mengingatkan orang akan tokoh jaman Sam-kok yang bernama Thio Hwi! Mukanya dipenuhi cambang bauk yang terpelihara rapi sehingga dia tetap terlihat bersih, dan pakaiannya seperti jubah pendeta, akan tetapi cukup mewah dan mahal. Sepatunya baru mengkilap.

"Ha-ha-ha-ha...! Menyembunyikan rasa takut di balik filsafat dan kebajikan, itu namanya pengecut. Si jembel membela si pengecut, itu namanya berhati lemah. Aku turut berduka cita atas malapetaka yang menimpa keluarga Cia!" Sesudah berkata demikian, kakek ini lalu menjura ke arah meja sembahyang.

Han Tiong sudah cepat bangkit berdiri. Selama beberapa hari ini dia selalu minum obat dan merawat diri sehingga luka tidak parah yang dideritanya dalam perkelahian melawan Hek-hiat Lo-mo dan Lo-bo itu sudah sembuh. Kini dia melihat munculnya orang aneh dan mendengar kata-kata tadi, dia pun bisa menduga bahwa kekek ini muncul bukan sebagai sahabat.

Ketika kakek itu menjura ke arahnya, dia terkejut dan cepat mengerahkan sinkang lantas balas menjura untuk menangkis serangan jarak jauh itu. Akan tetapi, alangkah kagetnya pada saat dia merasakan kehebatan tenaga sakti yang menyambar ke arahnya. Dia telah mengerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi tetap saja tidak mampu menahan dorongan kuat yang membuat dadanya terasa sesak terhimpit!

Selagi Han Tiong hendak menghentikan adu tenaga ini dengan jalan menghindar dengan loncatan ke samping, tiba-tiba terdengar suara terkekeh lain lagi di sebelah belakangnya. Para murid Pek-liong-pang juga melihat seorang kakek lain yang tahu-tahu sudah berada di belakang suhu mereka.

Kakek ini pun sudah tua, sudah enam puluh tahun lebih usianya. Tubuhnya tinggi kurus, tangan kirinya memegang sebuah tongkat bambu dan di punggungnya tergantung sebuah ciu-ouw (guci arak).

"He-he-he...! Dasar orang hutan liar! Mana tahu akan filstafat yang indah? Tahunya hanya mengandalkan kekuatan memaksakan kehendaknya. Keluarga Cia yang gagah perkasa dan budiman, mana dapat dibandingkan dengan orang gunung yang buta huruf?" Sambil berkata demikian, kakek tinggi kurus yang bajunya penuh tambalan ini pun menjura dari belakang Han Tiong lantas pendekar ini merasa betapa ada tenaga mukjijat mendorong kekuatannya sendiri dari belakang dan menolak tenaga dorongan kakek tinggi besar itu.

Sementara itu, seorang murid Pek-liong-pang yang tidak tahu akan terjadinya adu tenaga sakti itu, menyangka bahwa dua orang kakek itu memang tamu yang datang dan hendak bersembahyang, lalu menyalakan beberapa batang hio dan dengan sikap hormat segera menyerahkan dupa lidi membara itu kepada kedua orang kakek tadi, masing-masing tiga batang.

Agaknya murid yang tak tahu gelagat ini menganggap bahwa dua orang kakek itu adalah sahabat-sahabat suhunya, kerena dia memang tahu bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak sekali orang-orang yang berwatak aneh. Dia tidak menyadari bahwa di antara dua orang kakek itu diam-diam telah terjadi adu tenaga sakti yang sangat seru!

Kedua orang kakek itu menerima tiga batang hio sambil tersenyum. Kakek bercambang bauk lalu bersembahyang di depan meja dan asap dari tiga batang hio yang dipegangnya itu tiba-tiba saja meluncur ke depan dan mengeluarkan suara mendesis seperti tiga ekor ular yang hendak menyerang Han Tiong dan kakek jembel!

Barulah para murid Pek-liong-pang terkejut. Juga Han Tiong terkejut sekali, dan dia siap mengelak atau menangkis serangan asap hio itu. Akan tetapi pada saat itu, asap dari tiga batang hio di tangan kakek jembel juga sudah meluncur ke depan, menyambut tiga jalur asap pertama.

Terjadilah pemandangan yang sangat menarik, aneh serta menegangkan. Dari satu pihak terdapat tiga jalur asap dan kini enam jalur asap itu bergulung, saling belit, saling dorong, laksana enam ekor ular sakti bermain-main di angkasa! Pengendalinya adalah dua orang kakek itu yang berdiri memegangi tiga batang hio. Tetapi anehnya, bara api pada hio-hio itu nyalanya amat besar seperti ditiup terus-menerus sehingga tak lama kemudian hio-hio itu pun habis terbakar dan padam. Ular-ular asap itu pun membuyar lantas pertandingan berhenti.

"Ha-ha-ha-ha! Si jembel pemabok ternyata semakin kuat saja!" kakek tinggi besar tertawa gembira.

"Dan engkau orang gunung liar semakin binal saja!" kakek jembel itu pun tertawa.

"Kau masih menganggap kelemahan orang she Cia ini benar?" tanya kakek tinggi besar.

"Tentu saja! Hidup haruslah bebas, baru dapat menikmati hidupnya!" kata kakek jembel.

"Huh! Hidup tanpa adanya sesuatu yang mengikat, lalu apa artinya? Tidak ada isi, hampa belaka!" kata kakek tinggi besar.

"Itu pendapatmu! Hidup harus bebas dari pendapat..."

"Ha-ha-ha, jembel mabok! Ucapanmu itu pun merupakan suatu pendapat, bukan?"

Wajah kakek jembel itu berubah merah dan sejenak dia seperti kebingungan. "Sudahlah!" Dia mengetukkan tongkat bambunya ke atas lantai. "Kita bukan nenek-nenek bawel yang suka berdebat. Kalau engkau ingin mengadu kepandaian, hayoh! Di mana pun dan kapan pun akan kulayani. Sudah lama tongkatku tak pernah menggebuk anjing tinggi besar dari gunung!"

Akan tetapi kakek tinggi besar yang disindir itu hanya tertawa saja. "Engkau tahu bahwa ucapanmu itu hanya gertak sambal! Aku pun tahu bahwa aku takkan mudah mengalahkan engkau jembel busuk. Kita sudah semakin tua, tiada gunanya membuang tenaga sia-sia. Mari kita berlomba membuktikan kebenaran filsafat lemah pengecut dari orang she Cia ini!"

"Baik, bagaimana caranya?"

"Kita didik murid menurut cara masing-masing, engkau boleh mencontoh filsafatnya dan aku sebaliknya. Tiga tahun kemudian kita adu murid kita!"

"Baik!"

Kedua orang kakek itu lalu berkelebat lenyap! Cia Han Tiong cepat menjura dan mencoba menahan. "Ji-wi locianpwe, harap duduk dulu...!"

"Ha-ha-ha!" Terdengar suara kakek jembel. "Kau mau tahu. Aku hanya jembel tua Ciu-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Arak)!"

"Dan aku adalah Go-bi San-jin (Orang Gunung Gobi)!" terdengar suara kakek tinggi besar. Suara mereka terdengar dari jauh sekali, dan dari dua jurusan!

Cia Han Tiong duduk kembali, menarik napas panjang dan menghapus keringatnya.

"Suhu, siapakah dua orang aneh itu?" tanya seorang murid.

Han Tiong menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya. "Sungguh aku seorang yang harus malu melihat kepandaian sendiri yang tiada artinya dibandingkan mereka. Melihat sinkang mereka, agaknya mereka memiliki tingkat yang tak kalah tingginya dibandingkan tingkat mendiang ayahku sendiri! Dan mereka itu jauh lebih lihai dari pada Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo! Akan tetapi, baik kedua Lo-mo dan Lo-bo mau pun kedua kakek tadi, sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw! Terbuktilah kini bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang pandai, jauh lebih pandai dari pada orang yang terkenal!"

"Apakah maksud kedatangan mereka itu, suhu?"

"Entahlah. Entah kedatangan mereka itu ada hubungannya dengan kemunculan Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo itu atau tidak. Akan tetapi bila orang-orang sakti seperti mereka muncul, biasanya tentu akan terjadi hal-hal yang penting."

Setelah mengubur peti-peti jenazah itu, Han Tiong lalu membubarkan Pek-liong-pang! Dia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Peristiwa yang terjadi baru-baru ini telah membuka matanya bahwa memperkuat diri sendiri dan kelompoknya berarti mengundang datangnya lawan yang tak mau kalah kuat.

"Kalian jalanlah sendiri-sendiri dan peganglah teguh semua ajaran yang telah kalian dapat di sini. Akan teetapi jangan lagi sebut-sebut namaku atau Pek-liong-pang. Pek-liong-pang telah bubar sehingga segala perbuatan kalian merupakan urusan pribadi yang harus kalian pertanggungkan sendiri. Jika ada yang bertemu dengan Cia Sun, beri tahukan segalanya dan suruhlah dia pulang. Selanjutnya, aku tak mau diganggu dengan persoalan-persoalan dunia lagi."

Tentu saja para murid menjadi sangat berduka. Akan tetapi mereka telah mengenal watak suhu mereka yang keras. Beberapa hari kemudian, Lembah Naga menjadi sunyi senyap setelah ditinggalkan semua murid Pek-liong-pang. Untuk selanjutnya Cia Han Tiong hidup menyendiri sebagai seorang pertapa!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sui Cin masih menyamar sebagai seorang pemuda jembel. Ia merasa cocok dan senang sekali melakukan perjalanan bersama Hui Song. Pemuda ini berandalan, jenaka, gembira dan nakal, suatu sifat yang cocok dengan wataknya sendiri.

Pada saat melakukan perjalanan bersama Sim Thian Bu menuju ke telaga sesudah gagal nonton pertemuan para pendekar yang urung diadakan, mula-mula dia pun merasa cocok. Sim Thian Bu seorang pemuda ganteng pesolek yang pandai memikat hati. Akan tetapi, baru sehari melakukan perjalanan bersama, dia telah melihat bahwa keramahan pemuda itu pura-pura dan pandang matanya, tutur sapanya, semakin berani mengarah cabul.

Maka, pada malam harinya ketika mereka bermalam di rumah penginapan, diam-diam Sui Cin meninggalkan tanpa pamit. Ia lalu menyamar sebagai pemuda jembel yang merantau sendirian, bebas gembira sampai akhirnya dia bertemu dengan Hui Song.

Dan seperti yang sudah kita ketahui, Sui Cin yang menyamar sebagai pemuda jembel lalu melakukan perjalanan bersama Hui Song menuju ke kota raja. Dia mengatakan hendak mencari enci-nya!

Dan Hui Song juga pergi ke kota raja dengan alasan hendak menyelidiki Hwa-i Kai-pang yang bekerja sama dengan pasukan pemerintah. Padahal sesungguhnya dia ingin sekali berkenalan dengan enci dari pemuda jembel itu yang ternyata adalah dara yang pernah dijumpainya dan yang amat menarik hatinya itu.

Di sepanjang perjalanan, keduanya merasa cocok sekali. Akan tetapi setiap kali malam tiba, Sui Cin tak pernah mau diajak bermalam di rumah penginapan, melainkan mengajak bermalam di kolong-kolong jembatan atau di emper-emper toko! Dan pada saat Hui Song memprotes, Sui Cin menjawab.

"Song-twako, engkau tahu bahwa aku sudah biasa hidup sebagai pengemis. Maka, aku pun lebih leluasa tidur di kolong jembatan dari pada di kamar hotel. Kalau engkau mau tidur di hotel, silakan. Aku di emper toko sini saja."

Hui Song terpaksa menurut meski pun dia mengomel karena dia tahu bahwa pemuda ini bukan jembel asli melainkan putera Pendekar Sadis yang kaya raya dan suka membagi-bagikan uang kepada para jembel! Dia tidak tahu bahwa Sui Cin sendiri jarang tidur di tempat kotor itu. Jika sekarang dia memilih tidur di emper adalah untuk menghindari tidur sekamar dan seranjang dengan Hui Song!

Pada suatu malam mereka terpaksa tidur di bawah pohon dalam sebuah hutan. Kota raja sudah dekat dan hawa udara malam itu dingin sekali. Melihat betapa pemuda jembel itu tidur meringkuk kedinginan, Hui Song lalu membesarkan api unggun. Akan tetapi agaknya api unggun itu masih belum cukup dapat mengusir dingin, bahkan dalam tidurnya Sui Cin nampak menggigil. Karena khawatir kalau-kalau pemuda jembel itu jatuh sakit, maka Hui Song melepaskan jubahnya dan menyelimuti tubuh Sui Cin yang sudah tidur nyenyak.

Akan tetapi pemuda jembel itu masih nampak meringkuk kedinginan sedangkan Hui Song sendiri juga merasa dingin sekali setelah menanggalkan jubahnya. Maka pemuda ini lalu merebahkan dirinya dekat Sui Cin dan untuk mengurangi rasa dingin bagi mereka berdua, dia lalu merangkul tubuh Sui Cin dan merapatkan diri. Benar saja, dia merasa hangat dan nyaman. Juga Sui Cin mengeluarkan suara lega. Akan tetapi hanya sebentar saja karena tiba-tiba Sui Cin meronta kemudian siku lengannya menyodok ke belakang.

"Hekkk...!"

Hui Song merasa dadanya sesak karena tersodok siku lantas dia memandang terbelalak kepada Sui Cin yang sudah meloncat berdiri. Pemuda jembel itu bertolak pinggang sambil memandang kepadanya dengan marah sekali.

"Apa... apa yang kau lakukan tadi?" bentaknya.

Hui Song bangkit duduk termangu-mangu, merasa keheranan. "Apa...? Mengapa...? Aku tidak melakukan apa-apa...," jawabnya bingung.

"Kenapa engkau... memelukku tadi?"

Hui Song mengangkat alis dan pundaknya. "Supaya kita berdua tidak kedinginan. Cin-te. Engkau sungguh aneh, apa salahnya kalau aku memelukmu?"

Barulah Sui Cin sadar akan keadaannya, akan penyamarannya. Dia pun duduk dekat api unggun. "Maaf, Song-twako. Engkau tadi mengagetkan aku yang sedang tidur dan... dan engkau mengingatkan aku akan pengalaman tidak enak beberapa bulan yang lalu ketika tadi engkau merangkul aku."

"Pengalaman apakah, Cin-te? Kurasa tidak ada salahnya kalau dua orang laki-laki yang sudah bersahabat saling merangkul." Hui Song mengomel karena dadanya masih terasa memar.

"Ada seorang pria yang juga merangkulku... ihh, aku masih jijik dan ngeri membayangkan perbuatannya itu!"

"Aihh..., engkau seperti wanita saja, Cin-te. Apa salahnya laki-laki itu merangkulmu kalau memang dia sahabatmu?"

"Dia bukan hanya merangkul, akan tetapi... hendak... hendak mencium dan mengajakku melakukan... hal yang tidak senonoh..." Sui Cin tidak membohong ketika menceritakan ini karena memang dalam penyamarannya sebagai seorang pemuda jembel, dahulu pernah ada seorang jembel pria lainnya yang berbuat seperti itu kepadanya sehingga dia menjadi marah, menghajar jembel itu sampai babak belur dan pingsan baru meninggalkannya.

"Ahh...!" Sekarang Hui Song terbelalak, kemudian menepuk pahanya sambil tertawa geli. Sui Cin melirik dengan hati mendongkol.

"Kenapa kau mentertawakan aku?" bentaknya.

"Aku tidak mentertawakan kau, Cin-te. Aku hanya merasa geli sendiri. Aku sudah pernah mendengar tentang pria yang suka berjinah dengan pria lain, juga mengenai wanita yang lebih suka bercinta dengan sesama wanita. Akan tetapi, wah, sialan benar! Apakah kau hendak menyamakan aku dengan pria itu?"

"Bukan begitu, akan tetapi pengalaman itu membuat aku merasa jijik setiap kali ada pria memelukku. Itulah sebabnya mengapa aku tadi terkejut sekali."

"Maaf... maaf... aku tidak tahu dan tidak sengaja..."

"Sudahlah, asal mulai sekarang engkau jangan sekali-kali lagi mengulang perbuatan itu."

"Aku tidak berani...!" Hui Song tertawa.

"Awas kalau hal itu kau ulangi lagi, aku akan bilang kepada enci-ku bahwa engkau adalah soorang pemuda kurang ajar yang sukanya kepada sesama pria."

"Wah, gawat! Sungguh mati, aku tidak berani lagi. Ehh, Cin-te, siapakah nama enci-mu itu?"

Sui Cin tidak segera menjawab, membesarkan nyala api unggun. "Enci akan marah kalau aku lancang memperkenalkan namanya. Engkau tanya sendiri saja kalau sudah bertemu dengannya."

Pada keesokan harinya mereka berdua sudah memasuki pintu gerbang kota raja. Ketika Hui Song bertanya di mana adanya enci sahabatnya itu, Sui Cin menjawab, "Soal enci-ku mudah. Akan tetapi aku ingin sekali mengikutimu dan melihat bagaimana caranya engkau menyelidiki Hwa-i Kai-pang itu."

Terpaksa Hui Song mengajak Sui Cin melakukan penyelidikan. Setelah mereka mendapat keterangan di mana adanya gedung perkumpulan Hwa-i Kai-pang, mereka segera menuju ke sana.

Gedung itu besar dan megah, sungguh tidak pantas jika menjadi pusat perkumpulan para pengemis. Di pintu gerbang terlihat pengemis-pengemis muda bertampang seram sedang melakukan penjagaan dengan lagak seperti pasukan tentara menjaga pintu gerbang saja. Dan nampak pula beberapa kali orang-orang berpakaian seperti pejabat pemerintah naik kereta memasuki halaman gedung itu sebagai tamu.

Sui Cin sudah tak sabar dan hendak menyerbu saja, akan tetapi Hui Song mencegahnya. "Kita datang bukan untuk menyerbu, melainkan untuk menyelidiki rahasia mereka. Nanti malam saja kita kembali dan melakukan pengintaian."

Malam itu sunyi dan dingin. Setelah makan malam Hui Song bersama Sui Cin berangkat menuju ke gedung perkumpulan pengemis Hwa-i Kai-pang. Gedung itu megah dan besar, dikelilingi tembok tinggi dan satu-satunya pintu masuk pekarangan hanya pintu gerbang yang terjaga ketat siang malam itu. Akan tetapi tak sukar bagi Hui Song dan Sui Cin untuk memasuki pekarangan belakang dengan meloncati pagar tembok bagian belakang.

Agaknya Hwa-i Kai-pang demikian percaya akan kebesaran nama serta pengaruh mereka sehingga menganggap mustahil ada orang yang bosan hidup berani memasuki halaman gedung mereka tanpa ijin, maka bagian belakang tidak dijaga. Bagaikan dua ekor kucing, Hui Song dan Sui Cin menyelinap lantas naik ke atas genteng bangunan dan bersembunyi di balik wuwungan. Tidak lama kemudian mereka sudah membuka genteng dan mengintai ke bawah, ke dalam sebuah ruangan di bagian belakang gedung itu.

Ruangan itu luas dan melihat gambar-gambar orang bersilat yang berada di atas dinding, juga adanya rak penuh bermacam senjata di sudut, mudahlah diduga bahwa ruangan itu tentu sebuah lian-bu-thia (ruangan berlatih silat). Di sebuah sudut ruangan nampak empat orang duduk seenaknya di atas lantai. Keadaan empat orang kakek itu menyeramkan.

Keempatnya mengenakan baju tambal-tambalan dan berkembang-kembang seperti baju pengemis akan tetapi kainnya masih baru. Yang sangat menyeramkan adalah wajah serta sikap mereka.

Orang pertama duduk hampir rebah karena tubuhnya gendut sekali dengan perut seperti gentong, kepala botak dan rambutnya dikuncir lucu seperti ekor babi. Alisnya tebal, mata hidung dan mulutnya besar-besar.

Orang kedua di sebelah kirinya adalah seorang kakek tinggi kurus yang berambut panjang riap-riapan, kepalanya memakai kopiah pendeta, tangan kanan memegang pipa tembakau berbentuk ular. Dia tampak kurus sekali ketika bersanding kakek pertama yang kegerahan lantas membuka bajunya, atau mungkin juga karena perutnya terlampau gendut sehingga kancing bajunya tak dapat ditutup.

Orang ketiga lebih menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar nampak kuat. Mata kirinya ditutup dengan penutup mata berwarna hitam. Rambutnya sangat sedikit, bahkan hampir gundul dan wajah yang bermata satu ini membayangkan kebengisan yang kejam.

Orang keempat berwajah buruk, dengan mulut yang bentuknya monyong, punggungnya bongkok dan dia memegang sebatang tongkat bulat. Agaknya mereka berempat sedang bercakap-cakap dengan santai, menghadapi arak wangi dan sepiring ayam panggang utuh berada di antara mereka.

Hui Song dan Sui Cin yang mengintai merasa heran. Melihat pakaian mereka berempat itu, agaknya tak salah lagi bahwa empat orang itu tentu tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang. Akan tetapi sikap dan wajah mereka sama sekali tidak pantas menjadi tokoh jembel. Lebih patut kalau menjadi kepala-kepala rampok!

"Kurang ajar sekali, kini di Cin-an muncul dua orang muda yang berani menentang kita!" si perut gendut berkata sambil mengembangkan lengan kanan.

"Kalau mereka tidak lari dan kuketahui tempatnya, tentu keduanya takkan kuampuni lagi, akan kupatahkan kaki tangan mereka lantas kukeluarkan isi perut mereka!" kata si mata satu dengan suara penuh geram.

Kakek tinggi kurus mengisap huncwe-nya sehingga mengepulkan asap, dan tercium bau harum yang memuakkan. "Hemm, sebaiknya diselidiki benar-benar siapa pemuda jembel yang membagi-bagi uang itu. Sungguh kedengaran aneh sekali."

"Kalian tak perlu khawatir," sekarang kakek buruk rupa yang memegang tongkat berkata. "Kewajiban kita hanya menjaga kota raja dan sekitarnya, bekerja sama dengan pasukan pemerintah, mencegah pengaruh buruk mendekati sri baginda. Peristiwa di kota Cin-an itu telah membuktikan adanya kerja sama yang baik antara anak buah kita dengan pasukan pemerintah. Itu sudah cukup menguntungkan kita. Rakyat juga melihatnya dan kita tentu akan semakin ditaati sebagai pembantu pemerintah."

"Akan tetapi, Lo-eng (Pendekar Tua), dua pemuda itu kabarnya lihai sekali. Kalau tidak dicari dan dibasmi, bisa berbahaya, kelak hanya akan mendatangkan kesulitan saja," kata si gendut.

Mendengar percakapan itu, Sui Cin mengepal tinju. Ingin sekali dia turun dan mengamuk menghajar mereka, terutama si perut gendut. Akan tetapi agaknya Hui Song telah dapat merasakan gerakannya. Pemuda itu menyentuh tangannya dan berbisik, "Hati-hati, ada orang datang!"

Tiba-tiba ada dua bayangan berkelebat. Sui Cin terkejut bukan main karena bayangan itu memiliki gerakan yang amat cepat dan ringan, tanda bahwa mereka memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Untung Hui Song sudah mengetahui kedaaan mereka terlebih dahulu sehingga dia tak jadi turun tangan.

Bagaikan dua ekor burung, bayangan dua orang itu telah melayang turun dan memasuki ruangan itu. Empat orang yang sedang bercakap-cakap itu amat terkejut dan berlompatan bardiri, siap menggempur musuh. Sepasang orang muda yang mengintai di atas melihat betapa gerakan mereka amat hebat, membayangkan kepandaian tinggi.

Akan tetapi ketika empat orang itu mengenal kakek dan nenek yang muncul laksana iblis itu, wajah mereka menjadi girang. Kakek bertongkat yang menjadi ketua Hek-i Kai-pang, yaitu yang menamakan diri Hwa-i Lo-eng, cepat menjura dengan hormat.

"Aihhh..., ternyata Kui-kok Pang-cu berdua yang datang berkunjung! Selamat datang dan silakan duduk!" Juga tiga orang kakek yang menjadi pembantu-pembantunya memberi hormat.

Kakek dan nenek itu adalah Kui-kok Lo-mo dan isterinya Kui-kok Lo-bo, sepasang suami isteri yang berpakaian putih-putih dan bermuka pucat seperti mayat itu. Mereka adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui dan karena Cap-sha-kui juga sudah diperalat oleh Liu-thaikam, seperti halnya Hwa-i Kai-pang, maka tentu saja mereka terhitung rekan dan sudah saling mengenal.

Melihat betapa kakek dan nenek yang bermuka putih pucat itu masih berdiri saja, ketua Hwa-i Kai-pang kembali mempersilakan mereka duduk. "Ji-wi, silakan duduk."

"Nanti dulu, Kai-pang-cu, kami masih menunggu munculnya tamu lain!" Kemudian Kui-kok Lo-bo melambaikan tangan ke atas sambil membentak, "Apakah kau masih juga belum mau turun?"

Sui Cin terkejut sekali, mengira bahwa dialah yang disuruh turun karena nenek bermuka pucat itu memandang ke arah tempat dia bersembunyi. Tentu saja dia tidak takut sedikit pun dan hendak turun. Akan tetapi kembali Hui Song mencegahnya dengan memegang lengannya.

Dan pada saat itu pula terdengarlah bunyi ledakan cambuk disusul melayangnya seorang nenek bongkok kurus ke dalam ruangan itu. Kiranya Kui-bwe Coa-li, salah satu di antara Cap-sha-kui yang dimaksudkan oleh kakek dan nenek iblis itu!

"Hi-hik, matamu masih tajam sekali Lo-bo!" kata Kui-bwe Coa-li dengan nada mengejek.

"Coa-li, tidak perlu ketajaman mata untuk mengetahui kehadiranmu, cukup mencium bau yang amis seperti ular itu pun cukuplah, ha-ha-ha!" Kui-kok Lo-mo mengejek.

"Huh! Hidung kerbau ini masih besar kepala juga!" Nenek iblis itu balas memaki. Tidaklah aneh sikap antara para iblis Cap-sha-kui ini. Memang mereka adalah datuk-datuk sesat yang kasar.

Akan tetapi Hwa-i Lo-eng gembira sekali kedatangan tamu-tamu lihai ini. Dengan hormat dia lalu mempersilakan mereka duduk di ruangan tanpa kursi itu. Lantai mengkilap bersih, maka mereka lantas duduk di lantai begitu saja. Ketua pengemis itu membunyikan genta kecil dan muncullah lima orang gadis cantik menyuguhkan arak dan daging.

"Ha-ha-ha! Para pelayanmu cantik-cantik, Lo-eng!" kata Kui-kok Lo-mo sambil mencolek pinggul seorang di antara mereka.

Hui Song dan Sui Cin memandang dengan heran. Perkumpulan pengemis akan tetapi mempunyai pelayan-pelayan yang terdiri dari gadis-gadis cantik yang berpakaian indah seperti perkumpulan orang-orang bangsawan atau hartawan saja! Akan tetapi sepasang orang muda ini tetap mengintai dengan hati-hati sekali karena mereka kini maklum bahwa datuk-datuk sesat dari Cap-sha-kui ternyata sudah bersekongkol dengan Hwa-i Kai-pang dan agaknya mereka diperalat oleh pemerintah! Betapa pun aneh kedengarannya, namun agaknya memang demikianlah kenyataannya karena bukankah tadi ketua Hwa-i Kai-pang menyebut tentang adanya kerja sama antara mereka dengan pemerintah?

Sambil makan minum Kui-kok Lo-mo lalu menuturkan maksud kedatangannya. "Sebagai sesama rekan, kini kami membuka rahasia kami. Kami menerima tugas untuk membunuh Jenderal Ciang."

"Ahh...! Beliau adalah panglima kedua di kota raja! Bukan hal mudah untuk mendekatinya, apa lagi membunuhnya!" kata kakek yang mengisap pipa tembakau.

Hui Song dan Sui Cin juga kaget bukan main! Dan mereka merasa bingung. Para datuk sesat ini bekerja sama dengan pemerintah, akan tetapi mengapa iblis muka pucat malah mendapat tugas membunuh Jenderal Ciang, panglima kedua dari kerajaan? Sungguh sulit untuk dimengerti. Akan tetapi mereka mendengarkan terus.

"Kami mengerti akan beratnya tugas kami ini, karena itulah sekarang kami datang ke sini mengharapkan bantuan kawan-kawan yang tentu lebih tahu tentang kebiasaan-kebiasaan panglima itu sehingga kami bisa turun tangan pada saat yang tepat," kata Kui-kok Lo-bo.

"Sebaiknya kalau kita bekerja sama!" Tiba-tiba Kui-bwe Coa-li berseru. "Kalian membantu aku membunuh Menteri Kebudayaan Liang, barulah kemudian aku akan membantu kalian menyingkirkan Ciang-goanswe. Dengan majunya kita bertiga, mustahil kita takkan mampu membunuh jenderal itu!"

Suami isteri itu saling pandang, kemudian mengangguk setuju. Membunuh Menteri Liang merupakan pekerjaan amat mudah kalau dibandingkan dengan tugas mereka membunuh Jenderal Ciang. Dan bantuan Kiu-bwe Coa-li tentu saja amat berharga.

"Bagus, kami setuju dengan kerja sama itu," kata Kui-kok Lo-mo.

"Nah, kini kita minta bantuan sahabat-sahabat dari Hwa-i Kai-pang bagaimana sebaiknya untuk dapat menyerang Menteri Liang!" kata Kui-bwe Coa-li.

"Mencari kesempatan baik untuk menyerang Menteri Liang memang jauh lebih mudah dari pada Jenderal Ciang!" kata Hwa-i Lo-eng yang tentu saja lebih banyak mengenal keadaan para pembesar di kota raja. Apa lagi dia sudah banyak menerima tugas mengamati dan memata-matai para pembesar yang menjadi lawan Liu-thaikam termasuk Jenderal Ciang dan Menteri Liang.

"Ceritakan yang jelas, pangcu," kata Kiu-bwe Coa-li dengan girang karena merasa betapa tugasnya akan menjadi ringan setelah mendapat bantuan rekan-rekannya.

"Begini, Menteri Liang mempunyai suatu kegemaran, yaitu berlayar dan memancing ikan di Telaga Emas di sebelah selatan kota raja. Sebulan dua tiga kali dia pergi ke telaga itu dan itulah saat yang terbaik untuk turun tangan. Pertama, dia berada di luar kota raja dan kedua, biasanya dia tidak disertai banyak pengawal. Nah, cu-wi tinggal bersiap-siap saja, kalau dia pergi ke telaga itu, cu-wi turun tangan. Kami sendiri sudah banyak dikenal, tentu saja tidak mungkin dapat membantu turun tangan sendiri. Akan tetapi di sini ada saudara Bhe Hok ini yang merupakan tokoh baru dan belum banyak dikenal di daerah telaga itu, maka dialah yang akan membantu cu-wi untuk mengamati dan memata-matai lebih dulu sehingga akan tahu keadaan pembesar itu begitu sampai di telaga." Ketua perkumpulan pengemis itu menunjuk kepada kakek berperut gendut yang turut hadir di sana dan kakek gendut ini mengangguk-angguk sambil terkekeh girang menerima tugas penting ini.

Ketua Hwa-i Kai-pang itu berbicara lirih ketika mengatur siasatnya, sama sekali tidak tahu bahwa semua percakapan itu didengarkan oleh Hui Song dan Sui Cin!

********************

Pagi itu sangat indahnya di tepi telaga. Masih sunyi karena hari masih amat pagi, belum ada orang datang ke tempat itu. Sui Cin sejak tadi sudah berada di tepi telaga seorang diri dan dia terpesona oleh keindahan pemandangan pagi hari itu.

Pagi yang cerah sekali. Sinar matahari masih lemah, kuning emas membentuk garis-garis mengkilap pada permukaan air telaga yang tenang dan halus bagaikan sutera kehijauan berkeriput. Kicau burung-burung di antara daun-daun pepohonan menambah meriahnya suasana.

Langit bersih, hanya ada awan putih yang berkelompok-kelompok membentuk beraneka macam makhluk khayali. Indah sekali awan-awan itu, tidak pernah diam mati melainkan setiap detik berubah secara halus, seperti juga permukaan air telaga yang selalu bergerak menimbulkan perubahan-perubahan. Seperti mengalirnya air kehidupan yang setiap saat selalu berubah.

Suasana hening sekali. Keheningan agung yang menyelimuti seluruh permukaan telaga dan sekitarnya, keheningan total di mana Sui Cin juga termasuk. Keheningan yang terasa benar pada saat itu oleh Sui Cin. Keheningan yang menenteramkan, sama sekali bukan rasa kesepian yang menggelisahkan.

Semenjak tadi dara itu berdiri tanpa bergerak bagai patung, memiliki keindahan tersendiri walau pun dia juga menjadi bagian dari keindahan total itu. Seorang dara yang menjelang dewasa, cantik jelita dan sangat manis dalam kesederhanaannya. Pakaiannya sederhana, bersahaja dan lebih diutamakan sebagai pelindung tubuh dari pada sebagai hiasan seperti kebanyakan wanita.

Rambutnya yang hitam panjang itu terurai ke belakang, hanya diikat dengan sutera hijau dan agak awut-awutan karena tak diminyaki dan kurang sisiran, juga karena dipermainkan angin pagi sejak tadi. Anak rambut terjuntai di dahi dan pelipis menjadi penambah manis. Wajah yang berkulit halus dan berbentuk ayu itu tak dilapisi bedak. Akan tetapi kulit muka itu sudah halus putih dan kedua pipinya segar kemerahan.

Tiba-tiba patung cantik jelita itu bergerak, menggerakkan kepalanya hingga dua gumpalan rambut itu bergerak pula, yang satu pindah dari punggung ke dada. Terdengar tawa kecil dan sekilas terlihat deretan gigi rapi berkilauan tertimpa cahaya matahari, mata yang jelita itu agak menyipit ketika ia tertawa kecil.

Yang memancing dia tertawa kecil sehingga tersadar dari lamunannya adalah tingkah dua ekor burung gereja yang sedang berkasih-kasihan. Yang jantan selalu mengejar dan yang betina lari, jinak-jinak merpati seperti menggoda tapi akhirnya menyerah dan ketika yang jantan hinggap di atas punggungnya, yang betina terpeleset sehingga keduanya lalu jatuh tunggang-langgang ke bawah. Akan tetapi, sebagai burung yang memiliki sayap, dengan indahnya mereka bisa menghindarkan diri dari kejatuhan itu dan di lain saat mereka telah berkejaran lagi sambil berteriak-teriak bersendau-gurau dalam bahasa mereka.

Sui Cin sama sekali tidak tahu bahwa selagi dia terpesona oleh keindahan pemandangan di telaga itu, ada sepasang mata orang lain juga terpesona, bukan oleh keindahan telaga melainkan keindahan dirinya. Seorang lelaki yang sejak tadi menyembunyikan diri di balik semak-semak sambil mengamati setiap gerak-geriknya.

Setelah mendapat banyak keterangan penting ketika mengintai di sarang Hwa-i Kai-pang, Hui Song dan Sui Cin lalu mengadakan perundingan. Mereka bersepakat untuk mencegah usaha jahat kaum sesat yang hendak membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang.

Dari percakapan rahasia antara para datuk sesat itu mereka juga tahu bahwa para kaum sesat itu diperalat oleh Liu-thai-kam. Dua orang pembesar yang hendak dibunuh adalah musuh-musuh Liu-thaikam sebab mereka merupakan pembesar-pembesar jujur yang bisa membahayakan kedudukannya.

Sekarang Hui Song dan Sui Cin juga tahu mengapa kaum sesat melindungi kaisar. Bukan karena kesetiaan Liu-thaikam terhadap kaisar, namun karena pembesar korup ini merasa aman tenteram selama kaisar muda yang mempercayanya itu berkuasa. Melindungi serta mempertahankan kaisar muda ini berarti melindungi dan mempertahankan kedudukannya sendiri. Semua ini mereka ketahui dari percakapan antara para datuk sesat malam itu.

Hui Song kemudian membagi pekerjaan. Dia minta agar Sui Cin yang dikenalnya sebagai pemuda jembel lihai itu melakukan pengamatan di telaga yang disebut Telaga Emas, ada pun Hui Song sendiri akan menghubungi Menteri Liang dan Jenderal Ciang. Mereka lalu berpisah.

Kini, setelah berpisah dari Hui Song, Sui Cin yang telah merasa bosan menyamar sebagai pemuda jembel lantas berganti pakaian menjadi dara cantik sederhana seperti biasa dan pagi itu dia sudah menikmati keindahan alam di pinggir telaga. Kini dia mengerti mengapa telaga itu dinamakan Telaga Emas. Memang setiap pagi sinar matahari merubah air telaga menjadi keemasan.

Dia tidak perlu melakukan pengamatan sambil bersembunyi. Kini dia merupakan seorang gadis perantau yang tengah berkelana dan melancong di telaga ini. Cukup wajar sehingga dia dapat pesiar sambil memasang mata. Dia pun tidak merasa takut andai kata Kiu-bwe Coa-li muncul dan nenek iblis ini menyerangnya,!

Akan tetapi ketika pagi itu dia datang ke tepi telaga, keadaan di situ sangat sepi dan yang muncul bukan Kiu-bwe Coa-li atau tokoh sesat lainnya, namun seorang pemuda tampan pesolek yang sudah dikenalnya, yaitu Sim Thian Bu! Dia sama sekali tidak sadar bahwa sejak tadi pemuda ini telah mengamati semua gerak-geriknya dari tempat tersembunyi.

Tiba-tiba saja Sim Thian Bu muncul sambil berseru gembira dengan ramah, "Nona Ceng! Aih, akhirnya kita saling berjumpa juga. Memang kita ada jodoh! Tempo hari aku memang mengajakmu pesiar ke telaga ini akan tetapi di tengah perjalanan diam-diam engkau pergi. Tak kusangka kita justru saling jumpa di Telaga Emas ini. Bukankah ini jodoh namanya?"

Tentu saja Sui Cin merasa kaget melihat munculnya pemuda ini dan ia pun agak tertegun mengingat bahwa dia pernah meninggalkan pemuda ini malam-malam tanpa pamit. Akan tetapi dia pun teringat akan sikap kurang ajar pemuda ini, bahkan sekarang pun pemuda ini berkali-kali berbicara tentang jodoh!

"Saudara Sim, pergilah dan jangan ganggu, aku ingin sendirian," katanya singkat.

Akan tetapi pemuda tampan pesolek itu hanya tersenyum dan memandang ke kanan kiri. Tempat itu amat sepi pada saat itu permukaan telaga pun masih sunyi sekali, hanya ada sebuah perahu kecil yang terlihat jauh di tengah telaga dengan seorang saja di dalamnya, agaknya seorang nelayan yang kesiangan. Sim Thian Bu sama sekali tak mempedulikan nelayan dengan perahunya yang jauh itu.

"Nona Ceng, mengapa sikapmu begitu terhadapku? Bukankah kita sudah berkenalan dan menjadi sahabat baik? Pertemuan yang tak disangka-sangka ini merupakan tanda bahwa kita memang berjodoh. Marilah kita pelesir dan bersenang-senang berdua, nona. Jangan kau tinggalkan aku lagi. Semenjak pertemuan pertama kita, aku... aku sudah tergila-gila padamu, nona..."

"Tutup mulutmu!" Sui Cin membentak marah.

"Ahhh...! Salahkah kalau seorang pemuda seperti aku tergila-gila dan jatuh cinta kepada seorang gadis sepertimu? Engkaulah yang salah, siapa suruh engkau begini cantik manis menggairahkan?"

Wajah Sui Cin yang putih halus itu menjadi merah. Belum pernah selama hidupnya ada laki-laki berbicara seperti itu kepadanya. Rasa malu dan marah, membuatnya sulit bicara. Namun sebagai seorang gadis bebas yang jujur, harus diakuinya bahwa ucapan pemuda itu tak dapat disebut kurang ajar pula. Bukankah Sim Thian Bu mengeluarkan isi hatinya secara jujur? Pendapat ini menyabarkan hatinya sehingga dia pun tersenyum.

"Saudara Sim, cepat pergilah dan jangan menggangguku kalau kau tidak ingin kuanggap sebagai musuh."

Thian Bu tersenyum lebar kemudian matanya dipicingkan, memandang dengan gaya lucu memikat, dan akhirnya dia bertepuk tangan tertawa. "Ha-ha-ha! Aku mengerti sekarang. Engkau belum dapat menerima cintaku karena engkau belum mengetahui kepandaianku, bukan? Seorang dara pendekar tentu hanya mau bergaul dengan seorang pemuda yang lihai pula ilmu silatnya. Nah, di sini merupakan tempat yang baik sekali untuk menguji ilmu kepandaian, nona Ceng. Silakan!" Pemuda itu lantas memasang kuda-kuda dengan gaya dibuat-buat.

Sui Cin tersenyum mengejek. Bagaimana pun juga, terasa olehnya ketidak wajaran dalam sikap Thian Bu. Hui Song juga nakal dan jenaka, akan tetapi selalu menjaga kesopanan dan tidak pernah menyinggung perasaan. Sebaliknya, di dalam kata-kata, pandang mata dan senyum Sim Thian Bu terkandung suatu sikap cabul dan kurang ajar yang membuat Sui Cin merasa ngeri dan juga marah.

"Aku tak ingin mengujimu melainkan hendak menghajarmu!" hardiknya dan Sui Cin sudah menerjang maju dengan tamparan-tamparan kedua tangannya.

"Heiiiitttttt... perlahan dulu...! Wah, jangan galak-galak, nona manis!" Thian Bu mengelak, bahkan berusaha menangkap pergelangan tangan Sui Cin.

Tentu saja Sui Cin tidak sudi ditangkap, maka dia segera menarik kembali tangannya lalu menerjang dengan dahsyat mempergunakan pukulan dan tendangan.

"Aihhh, engkau bersungguh-sungguh, manis?" Thian Bu mengejek dan dia pun mengelak, menangkis dan membalas tak kalah dahsyatnya.

Sim Thian Bu sudah tahu bahwa dia berhadapan dengan puteri Pendekar Sadis yang lihai sekali, maka dia tak berani memandang ringan dan segera mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaiannya. Sebaliknya, baru sekarang Sui Cin benar-benar berkenalan dengan ilmu kepandaian pemuda itu dan diam-diam dia terkejut karena ternyata Thian Bu sangat lihai!

Melihat ketangguhan lawan, Sui Cin cepat mainkan Ilmu Silat Hok-mo Sin-kun (Silat Sakti Penakluk Iblis) dari ibunya. Ilmu silat ini sangat cepat dan ganas, maka jarang ada orang yang mampu menandinginya. Akan tetapi ternyata Thian Bu dapat melawan dengan baik, bahkan keceriwisan pemuda itu membuat Sui Cin merasa malu, kikuk dan gugup.

"Ha-ha-ha, manis. Bagaimana pun engkau harus menyerahkan diri kepadaku!" Pemuda itu menyerang sambil main colek ke arah dada dan dagu Sui Cin secara kurang ajar sekali.

Kini barulah gadis itu sadar dengan orang macam apa dia berhadapan. Seorang pemuda cabul yang agaknya biasa menggoda, mempermainkan dan menghina wanita. Dia sudah mendengar mengenai seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) dan kini dia menduga bahwa tentu pemuda yang disangkanya pendekar ini sebetulnya adalah seorang penjahat cabul!

"Bangsat jai-hwa-cat!" Sui Cin memaki.

"Heh-heh, baru sekarang engkau tahu? Ha-ha-ha!" Thian Bu tidak marah dimaki begitu, malah tertawa-tawa dan mempercepat gerakannya.

Kini Sui Cin benar-benar kaget. Kiranya pemuda tampan yang tadinya dianggap seorang pendekar yang berkunjung ke pertemuan para pendekar di Bukit Perahu itu, ternyata betul seorang jai-hwa-cat seperti pengakuannya tadi. Seorang penjahat cabul! Berarti dia juga merupakan kaki tangan kaum sesat yang menyusup dan kini muncul pula di tepi telaga. Tentu ada hubungannya dengan usaha pembunuhan Menteri Liang.

"Jahanam busuk, manusia palsu! Engkau tentu kaki tangan kaum sesat!" bentaknya dan dengan tenaga sakti Thian-te Sin-ciang dia menerjang. Kemarahan membuat tenaga dara ini menjadi berlipat ganda.

Sim Thian Bu memang berwatak sombong dan selalu memandang rendah terhadap orang lain. Maka dia kurang waspada sehingga terjangan dahsyat Sui Cin itu ditangkis dengan seenaknya saja.

"Dessss...!" Akibatnya, tenaga Thian-te Sin-ciang yang dahsyat itu melanda ke arah Thian Bu dan membuatnya terlempar ke belakang dan terbanting keras!

Akan tetapi, tepat pada saat Sui Cin berhasil membuat lawan terjengkang, ketika itu pula ada angin keras menyambar dari arah kiri. Sui Cin yang tadinya sudah siap menyusulkan pukulan pada Thian Bu, cepat memutar tubuh hendak menangkis.

"Plakk!" Tongkat itu tertangkis, akan tetapi bukan mental malah meluncur ke samping dan menotok punggung Sui Cin.

"Tukkk!" Dara itu merasa betapa tubuhnya menjadi lemas dan ia pun roboh terkulai.

Sejak tadi, perahu kecil yang nampak dari jauh tadi sudah bergerak menuju ke pantai itu. Kakek yang duduk sendirian di perahu kecil itu bukanlah nelayan karena dia duduk sambil memainkan sebuah alat yang-kim (semacam siter). Ketika kakek itu melihat robohnya Sui Cin, dia pun langsung menghentikan permainan musiknya.

Kakek penabuh yang-kim ini adalah Shan-tung Lo-kiam. Seperti telah kita ketahui, kakek sasterawan pendekar ini pernah muncul pula dalam pertemuan antara para datuk sesat. Dia ikut mendengar rencana kaum sesat untuk membunuh Menteri Liang yang sejak lama menjadi sahabat baiknya, karena itu dia selalu mengamati.

Hari itu dia mendengar bahwa Menteri Liang akan berpesiar di Telaga Emas. Oleh karena itulah maka dia menanti di sana untuk ikut melindunginya. Ketika pagi hari itu dia melihat seorang gadis yang tidak dikenalnya dirobohkan orang, tentu saja pendekar tua ini tidak mau tinggal diam dan segera mendayung perahunya ke pantai.

"Siancai...! Di tempat hening seperti ini masih saja terjadi kejahatan!" Shan-tung Lo-kiam meloncat naik ke darat sambil membawa alat musik yang-kim yang tadi ditabuhnya.

Melihat munculnya seorang kakek tua renta membawa yang-kim, orang yang merobohkan Sui Cin dengan totokan itu memandang galak. Dia adalah seorang kakek yang perutnya gendut sekali. Dan kakek ini pernah dilihat oleh Sui Cin pada saat dia mengintai di gedung Hwa-i Kai-pang bersama Hui Song.

Kakek inilah yang bernama Bhe Hok, tokoh Hwa-i Kai-pang baru yang menjadi pembantu ketua perkumpulan pengemis ini. Dia cukup lihai dengan tongkatnya dan juga sangat licik sehingga Sui Cin berhasil ditotoknya ketika tadi dara itu lengah setelah berhasil membuat Sim Thian Bu terjengkang.

"Hemmm, tua bangka bosan hidup dari mana berani mencampuri urusan kami?" bentak kakek berperut gendut itu.

"Bhe-lopek, dia adalah Shan-tung Lo-kiam, musuh kita!" Tiba-tiba Sim Thian Bu berseru. Kiranya pemuda ini tidak terluka parah, tadi hanya terjengkang karena dahsyatnya tenaga dara itu.

Mendengar nama ini, kakek perut gendut terkejut sekali dan cepat dia menyerang dengan tongkatnya, menghantam ke arah kepala lawan. Shan-tung Lo-kiam segera mengangkat alat musiknya dan menangkis.

"Trangg...! Cringg...!" Terdengar suara nyaring ketika tongkat bertemu yang-kim.

Dua orang kakek itu lantas berkelahi dengan seru. Sementara itu, sambil tersenyum licik, Sim Thian Bu menyambar tubuh Sui Cin yang lemas, memanggulnya dan membawanya lari dari situ.

Perkelahian antara dua orang kakek itu berlangsung cepat dan seru, akan tetapi si gendut segera mengerti bahwa kakek yang menjadi lawannya itu terlampau kuat baginya. Melihat Sim Thian Bu sudah melarikan gadis tadi, dia pun meloncat dan melarikan diri memasuki hutan di tepi telaga.

Kakek pemegang yang-kim itu tak mengejar, melainkan mencari-cari dengan pandangan matanya. Ketika dia tidak dapat melihat ke mana dara tadi dilarikan, kakek itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, kemudian dia pun melompat kembali ke dalam perahunya dan mendayung perahunya ke tengah telaga. Dia memiliki tugas yang dianggapnya lebih penting dari pada mencari dara yang dilarikan orang itu.

Orang-orang mulai berdatangan ke tepi telaga. Nelayan dan pelancong. Keadaan tenang dan biasa saja, seolah-olah tidak pernah dan tidak akan terjadi sesuatu yang luar biasa di tempat itu.

Kemudian tibalah saat yang ditunggu-tunggu dengan hati tegang oleh orang-orang yang bersembunyi. Sebuah kereta yang dikawal oleh enam orang prajurit datang ke tepi telaga. Dengan pengawalan ketat, seorang pria berpakaian pembesar bergegas menuruni kereta dan masuk ke dalam sebuah perahu besar yang memang sudah siap di pantai itu. Itulah Menteri Kebudayaan Liang, pejabat tinggi yang gemar memancing ikan di telaga itu.

Perahu itu lalu berlayar ke tengah telaga. Peristiwa ini tidak menarik perhatian orang yang asyik dengan kesibukan masing-masing dan sebentar saja perahu besar yang kini berada di tengah telaga itu sudah dilupakan orang.

Sementara itu terjadilah kesibukan-kesibukan rahasia di sekitar tempat itu. Sebuah perahu hitam dengan bilik tertutup didayung cepat oleh dua orang dan meluncur ke tengah telaga menuju perahu besar Menteri Liang. Setelah perahu hitam sampai di dekat perahu besar, tiba-tiba tiga orang berlompatan naik ke atas perahu besar dengan kecepatan luar biasa. Mereka itu adalah Kiu-bwe Coa-li, Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo! Serentak mereka menyerbu pembesar yang asyik duduk memegang tangkai pancing itu.

"Tar-tarr-tarrr...!"

"Pembesar Liang, bersiaplah engkau untuk mampus!" Kiu-bwe Coa-li yang sudah ditugasi untuk membunuh pembesar itu cepat menerjang sambil menggerakkan cambuknya yang berekor sembilan. Sinar hitam menyambar ke arah pembesar itu dari belakang.

Kakek dan nenek Kui-kok itu pun telah berhantam melawan enam orang prajurit pengawal dan terkejutlah mereka ketika mendapatkan kenyataan bahwa para pengawal itu ternyata rata-rata memiliki ilmu silat tinggi. Segera terjadilah perkelahian hebat antara suami isteri Kui-kok-pang itu melawan pengeroyokan enam orang pengawal istimewa.

Akan tetapi yang paling kaget adalah Kiu-bwe Coa-li. Pada saat cambuknya menyambar, tiba-tiba Menteri Kebudayaan Liang itu menggerakkan tangkai pancingnya ke belakang.

"Wuuuttttt...!"

"Ayaaaa...! Aduuuhh...!" Kiu-bwe Coa-li berteriak kesakitan.

Tali pancing yang panjang itu menangkis dan membelit cambuk, membuat sembilan ekor cambuk itu lumpuh dan ujung tali kail masih menyambar dan mengait pangkal lengan kiri nenek iblis itu, masuk ke dalam daging tua! Bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya dan nenek itu cepat mencengkeram lantas membikin putus tali pancing sehingga mata kail itu tertinggal di daging pangkal lengannya.

Pembesar itu sudah bangkit berdiri dan membalikkan tubuh. Kiranya dia seorang pemuda tampan yang tertawa gembira, dengan nada mengejek.

"Wah, tak kusangka pancingku mendapat seekor ikan siluman berekor sembilan!"

Kiu-bwe Coa-li memandang dengan mata mendelik dan kemarahannya memuncak ketika dia melihat bahwa orang yang memakai pakaian pembesar ini adalah seorang pemuda, sama sekali bukan Menteri Kebudayaan Liang. Dia dan teman-temannya telah tertipu dan terjebak. Ada orang yang telah sengaja menyamar dan menggantikan pembesar itu untuk menyambut serangan mereka.

"Kita tertipu!" teriaknya mengingatkan dua orang kawannya. "Dia bukan Menteri Liang!" Kemudian dia menggerakkan senjatanya dan menyerang pemuda itu dengan ganas.

Pemuda itu adalah Hui Song. Seperti kita ketahui, pemuda ini membagi tugas dengan Sui Cin. Dia sendiri mengunjungi Menteri Liang untuk melaporkan bahaya yang mengancam keselamatan menteri itu. Lalu diaturlah jebakan. Hui Song menyamar dan menggantikan sang menteri dalam kereta menuju ke perahu di telaga, dikawal oleh enam orang jagoan yang menyamar sebagai prajurit-prajurit biasa. Padahal mereka adalah perwira-perwira pilihan!

Akan tetapi enam orang pengawal itu masih kewalahan menghadapi amukan kakek dan nenek Kui-kok-pang, sedangkan Hui Song sendiri memperoleh kenyataan betapa lihainya nenek bercambuk ekor sembilan ini. Dia bisa menduga bahwa nenek ini tentulah seorang tokoh Cap-sha-kui yang berjuluk Kiu-bwe Coa-li.

Diam-diam dia harus mengakui kelihaian nenek ini. Masih untung bahwa mereka berkelahi di atas perahu, bukan di darat. Kabarnya nenek ini pandai memanggil dan mengerahkan ular-ular untuk mengeroyok lawan.

Kedua pihak yang berkelahi mengharapkan bantuan masing-masing. Para penyerbu tentu saja merasa heran sekali mengapa dua orang kawan yang boleh mereka andalkan itu tak juga muncul. Mereka telah bertemu dengan Sim Thian Bu yang sudah berjanji membantu, bahkan pemuda cabul itu hendak melakukan pengamatan bersama seorang tokoh Hwa-i Kai-pang yang bernama Bhe Hok itu. Tentu saja para iblis Cap-sha-kui tidak tahu bahwa Bhe Hok tak kuat menandingi Shan-tung Lo-kiam sehingga melarikan diri, sedangkan Sim Thian Bu setelah memperoleh mangsa, lupa akan janjinya.

Pada pihak lainnya, Hui Song juga terheran-heran mengapa pemuda jembel yang menjadi sahabatnya itu, Sui Cin, tak kunjung muncul untuk membantunya. Tiba-tiba saja terdengar suara yang-kim, lantas muncullah seorang kakek lihai yang bukan lain adalah Shan-tung Lo-kiam. Begitu naik ke atas perahu di mana sedang terjadi perkelahian, kakek ini segera membantu enam orang pengawal yang terdesak.

Melihat betapa para penjahat itu terjebak oleh seorang pemuda perkasa yang menyamar sebagai Menteri Liang yang dibantu oleh enam orang pengawal pilihan, kakek ini tertawa. "Ha-ha-ha-ha! Para tokoh Cap-sha-kui terjebak seperti tiga ekor tikus dalam perangkap, ha-ha-ha."

Dan dia pun segera menggerakkan senjatanya yang sebenarnya, yaitu sebatang pedang, sedangkan yang-kim di tangan kirinya hanya dipergunakan sebagai perisai. Dan ternyata, sesuai dengan julukannya, yaitu Lo-kiam (Pedang Tua), begitu memainkan pedangnya, kakek ini langsung memperlihatkan kelihaiannya.

Tiga orang tokoh Cap-sha-kui merasa terkejut bukan main melihat kemunculan Shan-tung Lo-kiam yang sudah mereka ketahui kelihaiannya. Kemunculan kakek ini tentu saja akan menambah kekuatan lawan dan sebaliknya membahayakan diri mereka. Namun tiba-tiba terdengar suara berdesir nyaring dan segera terasa getaran perahu disusul teriakan para anak buah perahu besar.

"Perahu terbakar...!"

Hui Song, enam orang pengawal serta Shan-tung Lo-kiam terkejut sekali melihat betapa ujung perahu terbakar. Mereka meloncat ke tepi dan melihat sebuah perahu kecil tak jauh dari sana. Ada dua orang yang berada di dalam perahu itu, yakni seorang kakek kurus memegang tongkat bersama seorang pemuda remaja yang berdiri tegak di atas perahu. Pemuda ini memegang sebuah busur dan dialah yang tadi telah melepaskan anak panah berapi yang kemudian membakar perahu besar.

Melihat peristiwa ini, tiga orang datuk Cap-sha-kui bergerak cepat. Mereka pun meloncat meninggalkan lawan dan melihat perahu kecil itu mereka langsung berlompatan turun dari perahu besar menuju ke perahu kecil itu. Kui-kok Lo-mo dan Lo-bo dapat hinggap di atas perahu kecil itu, namun membuat perahu terguncang.

Lompatan Kiu-bwe Coa-li tidak tepat. Nenek ini tentu terjatuh ke air kalau saja pemuda itu tidak cepat mengulur tangan kiri menyambar ujung baju si nenek dan sekali tarik dengan sentakan, tubuh nenek itu lalu tertahan dan dapat turun ke atas perahu dengan selamat! Gerakan pemuda yang memegang busur ini sungguh cekatan dan amat kuatnya sehingga diam-diam Hui Song harus mengakui bahwa pemuda itu merupakan lawan yang sangat tangguh.

Ketika para pengawal dan Hui Song hendak mengejar, tiba-tiba pemuda di atas perahu kecil itu kembali meluncurkan dua buah anak panah berapi yang tepat mengenai layar dan bilik perahu besar sehingga terjadi kebakaran besar. Sementara itu, tiga orang tokoh Cap-sha-kui langsung bergerak mendayung perahu tanpa diperintah lagi sehingga perahu kecil itu meluncur pergi dengan cepatnya.

Terpaksa Hui Song, para pengawal serta Shan-tung Lo-kiam sibuk membantu para anak buah perahu memadamkan api dan membiarkan perahu kecil yang membawa lima orang sesat itu melarikan diri. Dengan kecepatan luar biasa, perahu kecil yang didayung oleh orang-orang kuat itu sebentar saja lenyap.

Hui Song kecewa sekali. Tadinya dia mengharapkan untuk dapat menangkap seorang di antara mereka agar rahasia kejahatan Liu-thaikam dapat terbongkar. Tanpa adanya bukti, sukar untuk menjatuhkan pembesar korup yang amat dipercaya oleh kaisar itu. Kalau ada bukti dan saksi, barulah kejahatan pembesar itu dapat terbongkar dan kemudian diketahui oleh kaisar.

Para pengawal serta anak-anak buah perahu besar ternyata sudah mengenal baik kakek pembawa yang-kim itu dan mereka semua bersikap hormat. Memang kakek ini tidak asing bagi para pembantu dan keluarga Menteri Liang yang menjadi sahabat baiknya. Hui Song segera maju memberi hormat kepada Shan-tung Lo-kiam.

"Terima kasih atas bantuan locianpwe."

Kakek itu tersenyum sambil memandang kagum kepada pemuda itu. "Orang muda, aku Shan-tung Lo-kiam, sejak dahulu adalah sahabat baik Menteri Liang maka tidak aneh jika aku membela beliau. Akan tetapi engkau seorang muda sudah berani menghadapi para datuk sesat dari Cap-sha-kui, benar-benar amat mengagumkan. Siapakah engkau, orang muda?"

Mendengar bahwa kakek ini adalah Shan-tung Lo-kiam yang terkenal sebagai seorang pendekar angkatan tua, Hui Song menjadi kagum. Dia menjura dan memperkenalkan diri, "Saya bernama Cia Hui Song, locianpwe."

"She (marga) Cia? Adakah hubungannya dengan keluarga Cia dari Cin-ling-pai?"

Hui Song agak meragu. Akan tetapi pada waktu dia menghadap Menteri Liang, terpaksa dia memperkenalkan diri sehingga enam orang pengawal itu sudah mengetahui keadaan dirinya. Kini salah seorang dari mereka menyela, "Locianpwe, Cia-taihiap ini adalah putera ketua Cin-ling-pai."

"Ah, pantas begini gagah perkasa!" kakek itu memuji kagum, kemudian dia menarik napas panjang. "Sayang para penjahat itu dapat melarikan diri..."

"Siapakah pemuda yang melepas anak panah dan kakek bertongkat di dalam perahu kecil tadi, locianpwe? Saya melihat pemuda itu lihai sekali," tanya Hui Song.

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan kakek itu, akan tetapi aku yakin bahwa tentu dia yang kini memimpin para tokoh sesat dan dialah agaknya yang bernama Siangkoan Lo-jin dan berjuluk Si Iblis Buta."

"Ahhh...!" Enam orang perwira pengawal itu terkejut mendengar nama ini. Akan tetapi Hui Song tidak mengenalnya.

"Dan pemuda itu?" tanyanya.

"Entahlah," jawab Shan-tung Lo-kiam, "Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa Si Iblis Buta mempunyai seorang putera yang kabarnya sudah mewarisi semua kepandaiannya. Mungkin juga pemuda tadi puteranya. Sayang, kalau saja kita tadi bisa menawan seorang saja di antara mereka, tentu akan memperoleh banyak keterangan."

Hui Song teringat akan sahabatnya yang tidak pernah muncul. "Locianpwe, saya memiliki seorang kawan, seorang pemuda jembel yang berada di sini lebih dulu untuk mengamati. Dia cukup lihai, dan apa bila dia tadi membantu, mungkin kita berhasil. Akan tetapi saya merasa heran sekali mengapa dia tidak muncul. Apakah barang kali locianpwe tadi ada melihatnya?"

Kakek itu mengingat-ingat, lantas menggelengkan kepala. "Seorang pemuda jembel? Aku tak pernah melihatnya. Pagi tadi di sini aku hanya melihat seorang gadis cantik berkelahi melawan seorang pemuda dan seorang tokoh Hwa-i Kai-pang gendut. Aku turun tangan membantunya, akan tetapi iblis Hwa-i Kai-pang itu melarikan diri dan nona itu ditawan lalu dilarikan si pemuda. Sayang aku tidak dapat mengejar mereka, karena aku harus menanti datangnya Menteri Liang."

"Siapakah pemuda itu dan siapa pula gadis yang dilarikannya itu, locianpwe?" tanya Hui Song dengan alis berkerut dan hati terasa tidak enak.

"Aku tidak mengenal mereka akan tetapi harus diakui bahwa mereka berdua bukan orang muda sembarangan. Gadis itu lihai, tetapi roboh akibat dibokong dan dikeroyok. Pemuda itu pun lihai sekali dan melihat gerak-geriknya, sepantasnya dia seorang pendekar. Akan tetapi pandang matanya cabul. Aku sedang menanti Menteri Liang untuk melindunginya, maka menyesal sekali aku tidak sempat melakukan pengejaran terhadap pemuda yang melarikan gadis itu."

Hati Hui Song terasa semakin tidak enak. Dia teringat akan enci dari Sui Cin. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia menghubungkan peristiwa itu dengan enci-nya Sui Cin. Akan tetapi ketidak munculan pemuda jembel itu membuat hatinya merasa gelisah sekali.

"Biar saya yang akan mencarinya, locianpwe," kata Hui Song sambil menanggalkan jubah menteri yang menutupi pakaiannya sendiri, kemudian dia pun melompat ke atas sebuah perahu nelayan yang berdekatan dan minta kepada nelayan itu supaya mengantarnya ke pantai.

Sekarang banyak perahu mendekati perahu pembesar itu. Shan-tung Lo-kiam bersama enam orang perwira pengawal tadi tak berani menahan Hui Song karena mereka maklum bahwa sudah menjadi kewajiban seorang pendekar semacam putera ketua Cin-ling-pai itu untuk menolong gadis yang diculik penjahat.

********************

Bagaimanakah dengan nasib Sui Cin? Apakah yang menimpa diri gadis pendekar itu? Dia masih tetap sadar ketika roboh tertotok oleh tongkat Bhe Hok tokoh baru Hwa-i Kai-pang, hanya lemas dan dia sama sekali tidak dapat meronta ketika dirinya dipanggul kemudian dilarikan Sim Thian Bu.

Baru sekarang terbukti bahwa pemuda ini sama sekali bukanlah seorang pendekar gagah perkasa seperti yang disangkanya pada pertemuan pertama mereka di Bukit Perahu. Sim Thian Bu ini seorang penjahat, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang cabul dan keji.

Sui Cin sejak kecil digembleng ayah bundanya menjadi seorang gadis yang selain berilmu tinggi, gagah perkasa dan juga tak pernah mengenal rasa takut. Akan tetapi sekali ini dia merasa ngeri sesudah terjatuh ke dalam tangan seorang jai-hwa-cat dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Dia pernah mendengar dari ibunya tentang jai-hwa-cat yang senang memperkosa wanita. Akan tetapi dia pun ingat akan pesan dan nasehat ibunya bagaimana harus menghadapi bahaya seperti itu.

Pertama dia harus tenang dan tidak panik. Dalam keadaan tak berdaya untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan, ia harus pura-pura menyerah. Menurut ibunya, jai-hwa-cat akan menjadi lunak hatinya apa bila korbannya menyerah dan dalam cengeraman nafsu, penjahat itu akan menjadi lengah. Saat itulah paling tepat untuk tiba-tiba menyerangnya.

Ia pernah bertanya kepada ibunya bagaimana kalau ia diperkosa dalam keadaan tertotok atau terbelenggu. Ibunya menjawab bahwa kalau tidak ada jalan lain menghindarkan mala petaka itu, satu-satunya jalan hanya mematikan rasa dan menutup pikiran. Kelak masih ada kesempatan untuk membalas perbuatan terkutuk itu berikut bunganya yang berlipat ganda. Bagaimana pun juga, hampir saja Sui Cin menangis kalau membayangkan betapa dia harus membiarkan dirinya diperkosa orang tanpa dapat melawan.

Diam-diam dia menghimpun hawa murni. Kalau saja totokan itu dapat dia punahkan, tentu dengan sekali pukul kepala pemuda yang memondongnya ini akan pecah dan dia akan dapat membunuhnya dengan mudah. Sekali ini dia akan melanggar pesan ayahnya. Dia tak akan segan-segan membunuh jai-hwa-cat ini!

Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu berhenti berlari, menurunkannya ke atas tanah, kemudian menotok jalan darah di punggungnya hingga membuat dia terkulai kembali dengan lemas, dan pemuda itu sambil tersenyum-senyum bahkan membelenggu kaki tangannya dengan tali sutera halus yang amat ulet dan tidak akan mungkin terputuskan. Agaknya jai-hwa-cat ini sudah berpengalaman dan sudah mempersiapkan segalanya.

"Ha-ha-ha-ha! Menghadapi seorang gadis lihai sepertimu harus berhati-hati!" kata pemuda itu sambil mencolek dagu Sui Cin yang hanya dapat memandang dengan mata mendelik. Tapi mata itu tak basah dengan air mata. Pemuda itu kini memondongnya dan membawa lari dirinya dengan amat cepatnya.

Sambil melarikan gadis itu, di dalam otak pemuda itu pun terjadi kesibukan. Sim Thian Bu bukan seorang pemuda ceroboh dan bodoh yang hanya menurutkan dorongan nafsunya saja. Tidak, dia tidak bodoh karena dia adalah murid utama dari Siangkoan Lo-jin alias Si Iblis Buta! Karena kecerdikannya itulah dia merupakan satu-satunya murid datuk itu yang dapat mewarisi hampir semua ilmu kepandaian Si Iblis Buta. Dan karena kecerdikannya dia diberi tugas untuk menyusup sebagai seorang pendekar ke Bukit Perahu.

Dia begitu cerdik sehingga selama ini, walau pun dia mempunyai kesukaan memperkosa wanita dan membunuhnya, kejahatannya tidak dicurigai dan tidak dikenal. Bahkan dalam pertemuannya yang pertama dengan Sui Cin dan Cia Sun, Sim Thian Bu begitu cerdiknya mengelabui mata mereka.

Yang membunuh tiga orang muda dan seorang gadis yang lebih dulu diperkosanya adalah dia sendiri. Akan tetapi dengan cerdiknya dia mampu memaksa seorang laki-laki kasar, seorang penjahat rendahan biasa, agar mengakui perbuatan itu kemudian membunuh diri. Dengan demikian, dalam pandangan Sui Cin dan Cia Sun dalam pertemuan itu, dia bukan saja bebas dari tuduhan, bahkan dia menjadi seorang pendekar!

Pada saat bertemu Sui Cin yang cantik jelita, jenaka dan segar, tentu saja jai-hwa-cat ini merasa tertarik sekali dan bangkitlah nafsunya. Andai kata Sui Cin adalah seorang gadis biasa, tentu pada saat itu pula langsung dia kerjakan! Akan tetapi Sui Cin adalah seorang gadis yang sangat lihai, apa lagi dia adalah puteri Pendekar Sadis! Maka Sim Thian Bu mempergunakan siasat lain.

Mula-mula ia hendak menjatuhkan hati dara itu dengan rayuannya untuk memikat hatinya, mengandalkan ketampanan wajah serta kematangan pengalamannya dalam menghadapi wanita. Akan tetapi Sui Cin adalah seorang dara pendekar yang tak mudah terpikat oleh rayuan. Usahanya gagal sama sekali ketika pada suatu malam dara itu meninggalkannya begitu saja. Hatinya kecewa, penasaran dan juga marah.

Kedatangannya di Telaga Emas adalah sehubungan dengan tugas rahasia yang diterima dari suhu-nya untuk melakukan pengintaian di telaga itu, bersama seorang tokoh Hwa-i Kai-pang. Maka, bukan main girang hatinya ketika dia melihat Sui Cin di situ.

Pertemuan yang sama sekali tak disengaja, bahkan tak pernah disangka-sangkanya. Dan dia pun tak mau membuang kesempatan baik itu untuk menjumpainya sehingga terjadilah perkelahian dan akhirnya, dengan bantuan Bhe Hok tokoh gendut Hwa-i Kai-pang itu, dia berhasil merobohkan dan melarikan Sui Cin.

Tentu saja dia sudah lupa sama sekali akan tugasnya untuk membantu suhu-nya setelah dia berhasil melarikan dara yang membuatnya tergila-gila itu. Dan kini dia memutar otak mencari akal. Dia tahu ke mana harus membawa gadis itu. Ke dalam sebuah goa rahasia yang menjadi satu di antara tempat-tempat persembunyian suhu-nya. Tempat itu kosong dan di situ dia tak akan terganggu oleh siapa pun. Tempat sepi dan terpencil yang aman baginya.

Tak mungkin dia memperlakukan gadis ini seperti para korban lainnya, yaitu memperkosa dan mempermainkan hingga puas lalu membunuhnya untuk merahasiakan perbuatannya. Tidak! Gadis ini terlampau penting untuk sekedar dinikmati lalu dibunuh. Dia harus dapat memanfaatkan gadis ini, memperoleh keuntungan sebanyaknya.

Gadis ini adalah puteri Pendekar Sadis! Baru mengingat nama ini saja dia sudah merasa ngeri. Kalau dia memperkosa lalu membunuh Sui Cin seperti yang dilakukannya terhadap wanita-wanita lain, lantas hal itu sampai terdengar oleh Pendekar Sadis, dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Terlalu mengerikan!

Akan tetapi, kalau dia dapat menjadi suami Sui Cin, menantu Pendekar Sadis? Amboi...! Betapa hebatnya! Dia tentu akan menjadi terkenal, ditakuti, dan lebih lagi, dia mendengar bahwa keluarga Pendekar Sadis amat kaya raya, hidup di Pulau Teratai Merah.

Pada waktu Sim Thian Bu tiba di lembah sunyi itu, di mana goa tempat persembunyian gurunya berada, hari sudah menjelang senja. Dia berhenti di pinggir jurang, merebahkan tubuh Sui Cin di atas tanah berumput, lalu membebaskan totokannya.

Kini Sui Cin bisa bergerak kembali. Akan tetapi karena kedua kaki tangannya terbelenggu kuat, tetap saja dia tidak berdaya. Dia hanya memandang marah, lalu memaki, "Jahanam busuk!"

Thian Bu tersenyum. "Nona Ceng, mengapa engkau tidak mau melihat kenyataan? Aku cinta padamu, nona. Sungguh, sejak pertemuan kita yang pertama, aku sudah jatuh hati dan tergila-gila padamu. Aku sungguh-sungguh, bukan main-main dan hidupku baru akan berbahagia kalau engkau dapat menjadi isteriku yang sah."

"Lebih baik aku mati!" Sui Cin membentak marah.

"Nona, kau pikirlah baik-baik. Sekali aku melemparmu ke jurang ini, engkau akan tewas dengan tubuh hancur dan tak seorang pun akan dapat menemukanmu. Atau engkau lebih suka diperkosa dan dihina lantas dibunuh? Ingatlah, engkau masih muda. Tidakkah lebih baik engkau menjadi isteriku yang terhormat? Kurang apakah diriku? Aku cukup tampan dan masih muda, memiliki ilmu silat yang cukup, dan amat mencintamu."

Pura-pura menyerah mencari kelengahannya, pikir Sui Cin. Biar pun dadanya seperti mau meledak saking marahnya, ia menekan kemarahannya dan berkata halus, "Tentu saja aku tidak ingin begitu, akan tetapi beginikah sikapmu yang katanya mencinta? Lepaskan dulu belenggu-belenggu ini, baru kita bicara dan kupertimbangkan usulmu."

Akan tetapi Thian Bu tersenyum dan menggelengkan kepala. "Hemmm, lihat, bukankah di samping semua kelebihanku, masih ditambah kenyataan bahwa aku cerdik sekali dan tak tertipu muslihatmu? Kecerdikanku membikin aku makin berharga untuk menjadi suamimu. Nona, engkau bersumpahlah dahulu bahwa engkau tak akan melawan dan menentangku, bahwa engkau akan suka menjadi isteriku, lalu kita akan bersatu badan sebagai suami isteri, barulah aku akan melepaskan belenggumu. Maaf, semua itu hanya untuk menjamin dan meyakinkan hatiku."

Sui Cin membuang muka, menahan mulutnya yang hendak memaki-maki. Melihat sikap gadis itu, Thian Bu melakukan siasatnya yang pertama, yaitu membujuknya dengan jalan menakut-nakutinya.

"Nona, benarkah engkau begitu tega, memilih mati dan menghancurkan hatiku dari pada hidup berbahagia bersamaku?"

"Jahanam keparat, tidak perlu banyak cerewet lagi. Mati jauh lebih mulia dari pada hidup bersama seorang manusia berwatak iblis macammu ini. Bunuhlah, siapa takut mati?"

"Hemmm, perempuan sombong. Hendak kulihat sampai di mana keberanianmu!" Dia lalu memondong tubuh Sui Cin dan dibawanya ke pinggir jurang. "Lihat, lihat dasar jurang tak terukur dalamnya yang akan menerima tubuhmu ini!"

Tiba-tiba dia melepaskan tubuh Sui Cin dengan kepala lebih dulu ke dalam jurang! Tubuh itu melayang ke bawah dan Sui Cin memejamkan mata, menutup mulutnya rapat-rapat agar jangan menjerit. Tiba-tiba tubuhnya berhenti meluncur dan ternyata pemuda itu telah menangkap kedua kakinya sehingga tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah.

Keadaan ini segera mengingatkan dia akan latihan semedhi sambil berjungkir balik ketika dia mempelajari ilmu menghimpun tenaga istimewa dari ayahnya. Maka, begitu tubuhnya tergantung membalik seperti itu, dari pusarnya terhimpun hawa panas dan sebentar saja aliran darahnya sudah menjadi lancar dan normal kembali, bekas totokan pemuda jahat itu lenyap sama sekali.

Dia percaya bahwa kalau saat itu dia mengerahkan tenaga dan melakukan ilmu Hok-te Sin-kun, tenaganya akan mampu mematahkan belenggu sutera dan sekalian menendang lawan. Akan tetapi, biar pun berhasil, tidak urung tubuhnya akan terjatuh ke dalam jurang dan ini berarti bunuh diri! Tidak, ia tidak sebodoh dan senekat itu.

"Bagaimana, nona? Apakah engkau memilih aku melepaskan kakimu kemudian tubuhmu meluncur ke bawah, kepalamu menimpa batu di dasar jurang itu sampai remuk-remuk?" Suara Sim Thian Bu penuh ejekan dan ancaman.

Sui Cin juga seorang yang cerdik sekali. Dia tahu bahwa semua ini dilakukan jai-hwa-cat itu hanya untuk menggertaknya. Satu-satunya cara untuk menghentikan siksaan ini hanya memperlihatkan bahwa dia tidak takut.

"Pengecut busuk! Kau kira aku takut? Lepaskan saja dan aku akan terbebas dari binatang busuk macam kamu ini!"

Thian Bu merasa mendongkol sekali. Kalau dia tidak merasa sayang dengan kecantikan gadis ini dan mempunyai rencana yang sangat menguntungkan dirinya terhadap Sui Cin, tentu tubuh itu telah dilemparkannya ke dalam jurang. Belum pernah selama hidupnya ada wanita berani menolaknya, bahkan sebagian besar wanita atau gadis yang diculiknya bisa ditundukkan dengan rayuan dan ketampanannya. Akan tetapi gadis puteri Pendekar Sadis ini tidak mempan dengan dirayu, dan tidak takut diancam, membuat dia kehilangan akal.

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat dan membawa Sui Cin ke dalam sebuah goa besar yang tertutup semak-semak belukar. Diam-diam Sui Cin memperhatikan tempat ini. Sebuah goa tersembunyi. Tak mungkin akan ditemukan orang luar karena mulut goa yang tidak seberapa besar itu tersembunyi di balik semak-semak belukar yang penuh duri dan pantasnya hanya menjadi sarang ular-ular dan binatang-binatang buas.

Sesudah menguak semak-semak belukar dan nampak mulut goa, pemuda itu membawa Sui Cin memasuki goa lantas menutupkan kembali semak-semak di depan goa. Sesudah masuk ke dalam goa, ternyata goa itu berlorong lebar yang membawanya ke dalam satu ruangan yang cukup luas. Akan tetapi keadaan di situ amat kotor dan tidak terawat, tanda bahwa tempat itu sudah lama tidak didatangi orang.

Ruangan di dalam goa itu seperti ruangan rumah saja, di mana terdapat meja-meja tua, bangku-bangku dan juga sebuah dipan kayu yang nampak masih kokoh kuat. Sim Thian Bu menurunkan tubuh Sui Cin lalu mengikat kaki dan tangan dara itu, menelentangkannya di atas dipan.

"Ha-ha-ha, nona manis. Dengar baik-baik, aku telah mengajakmu hidup bersama sebagai suami isteri, akan tetapi engkau selalu monolak. Dan engkau bahkan lebih memilih mati dari pada hidup sebagai isteriku yang terhormat dan tercinta. Kebandelanmu ini membuat aku bingung maka sebaiknya kalau engkau kupaksa menjadi isteriku, baru kita bicara lagi, ha-ha-ha!"

Sim Thian Bu tersenyum-senyum dan memandang penuh nafsu kepada tubuh gadis yang sudah ditelentangkan di atas dipan dalam keadaan kaki dan tangan terikat itu. Dia lantas menanggalkan bajunya hingga nampaklah dadanya yang bidang. Memang selain memiliki wajah tampan pesolek, pemuda ini juga mempunyai bentuk tubuh yang baik. Sayangnya bahwa tubuh yang demikian baik dihuni oleh batin yang bobrok dan kejam.

Asmara Berdarah Jilid 07

"Hemm, selamanya belum pernah aku makan selezat ini!" Hui Song mengaku sejujurnya sambil mengelus-elus perutnya setelah mereka selesai makan dan minum air tawar yang segar. "Bukan main sedapnya! Sobat, engkau sungguh luar biasa sekali. Engkau pandai membuat masakan, seperti seorang wanita saja engkau!"

Sui Cin sedang mencuci kedua tangannya maka kepalanya menunduk sehingga Hui Song tidak melihat betapa muka yang kotor berdebu itu berubah merah sekali. "Biar pun lezat, daging kodok batu ini cukup amis. Kalau diberi air jeruk pada waktu makan amisnya akan berkurang. Maka tangan harus dicuci bersih betul, baru hilang bau amisnya. Aku memang mempelajari ilmu memasak."

"Ahh, pantas kalau begitu! Siapa gurumu memasak?"

"Guruku...? Dia... enci-ku sendiri."

Tiba-tiba Hui Song meloncat bangkit, kemudian memandang pemuda jembel itu dengan sepasang mata tajam penuh selidik akan tetapi mulutnya tersenyum. "Ha! Aku tahu siapa enci-mu!"

"Ehhh?" Pemuda jembel itu memandang heran. "Benarkah? Kalau tahu, siapakah nama enci-ku dan dari mana dia datang?"

"Wah, itu aku belum tahu. Akan tetapi, maksudku aku sudah mengenalnya, sudah pernah bertemu dengannya. Malah dia pernah menyelamatkan aku, membantuku pada saat aku dikeroyok oleh tiga orang dari Cap-sha-kui. Dan tadi di pasar engkau sudah membantuku, jadi kalian adik dan enci pernah membantuku. Sungguh aku patut untuk berterima kasih kepada kalian. Adik yang baik, pada saat aku bertemu dengan enci-mu, dia tidak sempat memperkenalkan diri. Maukah engkau memberi tahu, siapa nama enci-mu dan siapa pula orang tua atau gurunya? Aku melihat betapa ilmu silatmu dan ilmu silat enci-mu masih satu sumber dengan ilmu silatku."

Sui Cin diam-diam merasa geli sekali, lantas wataknya yang bengal membuat dia hendak mempermainkan pemuda ini. "Mana aku tahu bahwa engkau benar-benar pernah bertemu dengan enci-ku? Kalau benar pernah bertemu, hayo ceritakan bagaimana wajahnya dan apa keistimewaannya?"

"Ahhh, mudah sekali itu. Mana bisa aku melupakan dia?" kata Hui Song sambil menatap tajam ke wajah pemuda jembel itu. "Rambutnya hitam sekali, gemuk dan panjang, dengan anak rambut halus menutupi bagian atas dahinya yang halus. Mukanya bulat telur dengan dagu agak meruncing, potongan wajahnya manis, sepasang matanya lebar dan jeli, kedua ujungnya agak naik dan seperti ditambah guratan hitam, bulu matanya lentik dan panjang, hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah basah, bentuknya manis sekali, bila tertawa ada lesung pipit di pipi kirinya, kulit mukanya putih halus seperti salju..."

"Eh, kau ini sedang menggambarkan wajah enci-ku akan tetapi kenapa matamu terbelalak memandang aku?" pemuda jembel itu menegur. Dia merasa sungkan dan tak enak sekali melihat sepasang mata itu tanpa berkedip terus-menerus memandanginya.

"Habis, wajah enci-mu itu bagaikan pinang dibelah dua dengan wajahmu!" kata Hui Song sambil tersenyum lebar.

"Teruskan, teruskan...!"

"Pendeknya, enci-mu adalah seorang dara remaja yang belum pernah kulihat keduanya di dunia ini. Tubuhnya ramping padat, pakaiannya aneh-aneh dan nyentrik, selalu membawa payung butut yang dapat menjadi senjata yang ampuh, naik seekor keledai... ehhh, kuda yang mirip keledai karena kecil dan pendeknya..."

"Cukup, ternyata engkau memang sudah mengenalnya," kata pemuda jembel itu sambil menyembunyikan perasaan girang dan juga malu dalam hatinya. Bagaimana dia tak akan merasa girang akan tetapi juga jengah jika mendengar orang memuji-muji kecantikannya di depannya secara begitu terbuka sehingga kecantikannya diperinci?

"Memang aku telah mengenalnya, bahkan kami sudah berkelahi bahu-membahu melawan tiga orang tokoh Cap-sha-kui! Sayang aku belum mengenal namanya. Maka, sobat muda yang baik, kau beri tahukanlah aku siapa nama enci-mu itu dan bagaimana pula keadaan keluargamu."

"Nanti dulu, sobat. Engkau sendiri belum memperkenalkan dirimu. Terus terang saja, aku dan enci-ku tidak biasa memperkenalkan diri kepada orang lain. Maka, sebaiknya engkau bercerita tentang dirimu sebelum aku memperkenalkan enci-ku."

Hui Song adalah seorang pemuda yang lincah jenaka, bahkan senang sekali menggoda orang dan wataknya agak berandalan. Akan tetapi dia pun cerdik dan dia tahu bahwa dia tengah berhadapan dengan putera atau murid orang pandai yang masih ada hubungannya dengan Cin-ling-pai, maka dia pun tak segan-segan untuk bersikap hormat dan mengalah, walau pun dia merasa jauh lebih tua dari pada jembel muda ini.

"Baiklah, sobat muda. Aku bernama Cia Hui Song. Ayahku adalah ketua Cin-ling-pai dan aku adalah putera tunggal. Tadinya aku mewakili Cin-ling-pai untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang diadakan di Puncak Bukit Perahu. Pertemuan itu gagal dan tidak jadi, maka aku hendak kembali lagi ke Cin-ling-pai. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan tokoh-tokoh Cap-sha-kui dan aku dikeroyok, nyaris celaka bila tidak muncul enci-mu yang lihai dan yang membantuku itu sehingga kami berhasil mengusir tiga orang iblis itu. Nah, itulah keadaanku."

Sui Cin mengangguk-angguk. "Aih, kiranya putera ketua Cin-ling-pai! Pantas saja begini lihainya. Siapa tidak mengenal pendekar sakti Cia Kong Liang yang memiliki ilmu tinggi, kedudukannya setinggi langit menjadi ketua perkumpulan besar yang demikian terkenal di seluruh dunia, yaitu Cin-ling-pai? Benar-benar merupakan kehormatan besar sekali bagiku untuk dapat mengenalmu, Cia-taihiap!"

Sui Cin yang mendengar dari ayahnya mengenai ketinggian hati ketua Cin-ling-pai segera berdiri dan memberi hormat, sengaja menyebut taihiap kepada pemuda itu untuk menguji apakah pemuda itu pun memiliki kecongkakan seperti ayahnya.

"Aihh, adik yang baik, minta ampun, jangan menyebutku taihiap!"

"Mengapa? Bukankah engkau seorang pendekar besar, putera tunggal ketua Cin-ling-pai yang dihormati dan disegani orang-orang gagah di seluruh dunia?"

"Wah, aku tak kuat menerima sebutan itu. Selama hidup belum pernah aku disebut orang taihiap, dan aku tak pernah merasa menjadi taihiap. Jangankan pendekar besar, menjadi pendekar yang paling kecil pun aku bukan! Karena engkau jauh lebih muda dari pada aku, sebut saja aku kakak atau paman juga boleh!"

Sui Cin tertawa. Hatinya gembira sekali. Pemuda ini sama sekali tidak congkak. Apakah berita mengenai ketinggian hati ketua Cin-ling-pai itu tidak benar? Kalau benar bapaknya berhati congkak, mengapa putera tunggalnya demikian ramah, polos, jenaka dan rendah hati malah?

"Baiklah, aku akan menyebutmu kakak. Bagaimana pun engkau hanya lebih tua beberapa tahun saja dari pada aku."

"Beberapa tahun? Engkau paling banyak berusia empat belas tahun!"

"Aku sudah enam belas tahun... ehhh, hampir! Song-twako, engkau paling banyak berusia dua puluh empat tahun."

"Aku baru dua puluh satu tahun, karena tinggi besar, mungkin nampak lebih tua," kata Hui Song. "Dan sekarang ceritakanlah keadaan kalian..."

"Nanti dulu, Song-twako. Aku belum tahu benar mengenai keadaanmu. Apakah... apakah engkau sudah menikah?"

Hui Song tertawa. "Ha-ha-ha-ha, apakah aku kelihatan seperti orang yang telah menikah? Belum, adik yang baik. Aku belum menikah dan mungkin tak akan menikah!"

"Ehh, kenapa? Semua orang akan menikah kalau sudah berusia dua puluh tahun lebih."

"Apakah itu suatu keharusan? Aku tidak mau kalau dipaksa menikah, kecuali kalau hatiku memang ingin menikah."

"Sebagai putera tunggal ketua Cin-ling-pai, tentu sejak kecil engkau sudah ditunangkan dengan puteri seorang yang berkedudukan tinggi dan terkenal pula."

Hui Song tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala. "Tidak, aku belum bertunangan dan tidak akan ditunangkan di luar keinginanku. Nah, sekarang ceritakanlah, siapa nama enci-mu?"

"Hei, Song-twako. Engkau sedang berhadapan dan berkenalan dengan aku, kenapa yang kau tanyakan hanya enci-ku melulu?"

Hui Song tertawa menutupi rasa malunya. "Baiklah, aku tanyakan namamu dahulu. Siapa namamu, adik yang baik?"

"Namaku Ceng Sui Cin..."

Hui Song segera bangkit berdiri dan matanya terbelalak, wajahnya berseri. "She Ceng? Ahh, sudah kuduga di dalam hatiku. Engkau putera Pendekar Sadis Ceng Thian Sin yang amat terkenal itu!"

"Hemmm... jadi engkau sudah tahu banyak tentang ayahku?" Sui Cin bertanya, matanya memandang penuh selidik. Kalau memang benar pemuda ini sudah banyak mengetahui tentang keadaan ayahnya, tiada gunanya lagi permainannya menyamar sebagai adik Sui Cin yang bernama Sui Cin itu!

Akan tetapi hatinya lega ketika melihat pemuda itu menggeleng kepala. "Tentu saja aku tahu mengenai ayahmu dari penuturan ayahku. Akan tetapi yang kuketahui hanya bahwa ayahmu Ceng Thian Sin berjuluk Pendekar Sadis dan memiliki kepandaian sangat hebat. Selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi mengenai beliau karena ayah tidak menceritakan lebih banyak lagi, agaknya ayah memang tidak tahu banyak tentang ayahmu."

Memang ketua Cin-ling-pai itu benar-benar tinggi hati, pikir Sui Cin. Bagaimana pun juga ayahnya mempunyai hubungan dekat sekali dengan Cin-ling-pai, tetapi ketua Cin-ling-pai itu tidak banyak bercerita tentang ayahnya kepada puteranya.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa ketua Cin-ling-pai itu adalah orang yang congkak dan tinggi hati. Akan tetapi, bagaimana pun juga keadaan ini melegakan hatinya. Dia lebih senang keadaan keluarganya tidak diketahui oleh Hui Song sebab dengan demikian maka dia dapat mempermainkan pemuda itu sesuka hatinya.

"Sekarang ceritakan, siapa nama enci-mu itu, Cin-te (adik Cin)?"

Sui Cin tersenyum. "Song-twako, terus terang saja, aku tidak berani melanggar pantangan enci. Jika aku menceritakan tentu aku akan ditamparnya. Dia galak sekali lho. Sebaiknya kelak engkau tanyakan sendiri saja kalau berjumpa lagi dengannya, Song-twako."

Hui Song mengerutkan alisnya, akan tetapi dia sendiri sudah pernah bertemu dengan dara itu dan tahu akan watak yang aneh dan keras, maka dia pun tidak terlalu menyalahkan Sui Cin kalau takut dengan enci-nya yang galak itu. Karena memang wataknya terbuka dan ramah, Hui Song dapat membuang kekecewaannya.

Bagaimana pun juga dia sudah berkenalan dan bersahabat dengan adik dara itu, ini pun sudah merupakan suatu hal yang amat menguntungkan. Dan kalau dia sudah berkenalan dan bersahabat dengan adiknya, maka jalan menuju ke arah perkenalan dengan enci-nya tentu saja jauh lebih dekat dan mudah. Dan bagaimana pun juga, dia merasa bangga hati dapat berkenalan dengan seorang putera dari Pendekar Sadis yang sangat terkenal dan sudah lama dikaguminya itu.

"Cin-te, apakah sekarang engkau hendak pulang ke rumah orang tuamu? Dan di manakah mereka tinggal?" tanyanya.

"Kami tinggal jauh di selatan, di Pulau Teratai Merah. Akan tetapi aku belum mau pulang, aku hendak pergi ke kota raja untuk... ehhh, untuk mencari enci-ku di sana."

"Ah, bagus sekali! Aku hendak pergi ke kota raja. Kita dapat jalan bersama kalau begitu." Hui Song berseru gembira.

Sui Cin tersenyum menggoda. "Ehh, katanya tadi bilang hendak ke Cin-ling-pai? Kenapa sekarang tiba-tiba hendak pergi ke kota raja?"

Mendengar nada suara yang mentertawakan ini, Hui Song lalu tertawa. "Wah, terus terang saja, memang aku ingin sekali dapat segera bertemu dan berkenalan dengan enci-mu itu. Akan tetapi, selain keinginanku berkenalan dengan enci-mu, sebenarnya ada pula hal-hal penting yang mendorong aku pergi ke kota raja melakukan penyelidikan."

Sui Cin merasa tertarik. "Hal-hal penting apakah, twako?"

"Aku mengalami dua hal yang amat aneh di Cin-an. Pertama kali, saat aku melihat kaisar dalam penyamarannya dilindungi oleh datuk-datuk Cap-sha-kui, dan kedua kalinya melihat gerombolan ganas seperti Hwa-i Kai-pang itu bekerja sama dengan pasukan pemerintah. Bukankah hal itu penting dan aneh sekali? Aku hendak menyelidiki keanehan itu di kota raja. Pasti terjadi apa-apa yang luar biasa di kota raja, kalau tidak demikian, tak mungkin para penjahat keji bersekutu dengan pemerintah."

Sui Cin mengangguk-angguk. "Engkau benar. Tidak terpikirkan olehku tentang keanehan kerja sama antara penjahat dan petugas keamanan itu. Kalau begitu, mari kita berangkat dan kita selidiki bersama, twako."

"Baiklah, dan aku pun akan membantumu mencari enci-mu di kota raja," kata Hui Song dan Sui Cin hanya tertawa saja.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Istana tua di Lembah Naga itu dulu merupakan tempat yang amat sunyi. Akan tetapi sejak pendekar sakti Cia Han Tiong mendirikan perkumpulan Pek-liong-pai (Partai Naga Putih), tempat terpencil itu sudah tak begitu sunyi lagi. Pada kanan kiri gedung istana tua itu kini telah didirikan bangunan-bangunan pondok di mana murid-murid Pek-liong-pai tinggal dan tempat itu kini terawat baik dan bersih.

Selain belajar ilmu silat di tempat itu, para murid atau anggota Pek-liong-pai juga bekerja dengan rajin, menjaga baik-baik tempat itu. Ada pula yang bertani, memelihara ternak dan sebagainya.

Sudah banyak murid yang tamat belajar lalu meninggalkan Lembah Naga, terjun ke dunia ramai sebagai pendekar-pendekar budiman sehingga mereka inilah yang memperkenalkan serta mengharumkan nama Pek-liong-pai di dunia kang-ouw. Karena sepak terjang para murid lulusan Pek-liong-pai yang gagah perkasa, apa lagi mendengar bahwa Pek-liong-pai didirikan oleh putera Pendekar Lembah Naga yang dulu namanya pernah menggemparkan dunia persilatan, maka nama perkumpulan itu pun mendatangkan rasa hormat dan segan di hati para pendekar, dan ditakuti oleh para penjahat.

Dalam mengajarkan ilmu-ilmunya, Cia Han Tiong ketua Pek-liong-pai bersikap amat keras dan berdisiplin. Setiap orang murid yang mengajukan permohonan hendak belajar di sana akan mengalami ujian terlebih dulu, diteliti watak dan bakatnya. Setelah belajar, sebelum dinyatakan tamat, murid ini sama sekali tidak boleh meninggalkan lembah.

Pendekar ini maklum bahwa pelajar silat yang masih mentah sajalah yang belum mampu menguasai dirinya dan suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan ilmu silatnya. Di samping hal ini amat berbahaya, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain, juga akan menyeret nama Pek-liong-pai ke dalam lumpur.

Ketika dia mendirikan Pek-liong-pai belasan tahun yang lalu, ayah bundanya masih hidup. Ayahnya, mendiang Cia Sin Liong adalah seorang pendekar sakti yang di masa mudanya pernah menggegerkan dunia kang-ouw dan berjuluk Pendekar Lembah Naga, begitu pula mendiang ibunya adalah seorang pendekar wanita yang lihai.

Menjelang hari akhirnya, Cia Sin Liong dengan isterinya hidup tenang di lembah itu, lebih banyak bersemedhi dan menyendiri. Akan tetapi pendekar sakti ini sangat merestui niat puteranya untuk mendirikan perkumpulan agar ilmu keluarga mereka tidak punah, bahkan pendekar sakti Cia Sin Liong turut pula membantu puteranya untuk memberi gemblengan akhlak kepada para murid Pek-liong-pai dengan mempelajari ilmu kesusasteraan dan budi pekerti.

Setelah kemudian suami isteri Pendekar Lembah Naga meninggal dunia dalam usia tua, Han Tiong melanjutkan pendidikan budi pekerti itu dengan tekun dan berdisiplin. Semua anak murid Pek-liong-pai diharuskan bersumpah untuk tidak membunuh orang lain.

"Tiada gading yang tidak retak, tidak ada manusia tanpa cacad di dunia ini," demikianlah antara lain ia menasehati para murid Pek-liong-pai. "Dan kita sendiri pun adalah manusia, maka kita juga tidak terlepas dari pada cacad-cacad itu. Setiap orang manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, memiliki kebaikannya serta keburukannya masing-masing. Orang yang sedang tersesat atau melakukan perbuatan yang kita sebut jahat, hanyalah merupakan manusia yang sedang dihinggapi penyakit. Bukan jasmaninya yang sakit, melainkan batinnya. Akan tetapi, seperti juga penyakit badan, maka penyakit batin ini pun bisa sembuh. Orang yang hari ini sakit, besok atau lusa bisa sembuh, orang yang ini hari melakukan perbuatan sesat, besok atau lusa bisa saja bertobat. Sebaliknya orang yang sedang sehat, jangan sekali-kali takabur karena sewaktu-waktu bisa saja dia dihinggapi penyakit batin itu. Jadi, sebagai seorang pendekar yang mengetahui ini semua, yakin bahwa diri sendiri pun sewaktu-waktu bisa saja sakit, kita tidak boleh meremehkan dan memandang rendah pada orang-orang yang sedang sakit batinnya. Yang harus kita berantas adalah penyakit batinnya itu, bukan orangnya. Dan sebaiknya kita menyadarkan mereka, karena hal ini berarti mengusahakan pengobatan. Bila perlu memang kita dapat juga menggunakan ilmu silat kita untuk menundukkannya, menghajarnya supaya dia jera. Akan tetapi ingat, seorang yang bagaimana jahatnya pun adalah seorang manusia, sama dengan kita, maka tidak berhaklah kita untuk membunuhnya."

"Tapi, suhu," ada seorang murid yang memberanikan diri untuk membantah, "bagaimana kalau ada orang jahat yang walau pun sudah dihajar berkali-kali namun belum juga mau bertobat dan masih saja melanjutkan kejahatannya?"

Cia Han Tiong tersenyum lebar. "Ada juga penyakit badan yang sukar diobati. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita lalu boleh membunuh saja orang sakit yang tidak mudah diobati itu! Cepat atau lambatnya dia bertobat sangat tergantung dari keadaan badannya, tergantung dari berat ringannya penyakit yang dideritanya. Tidak ada istilah bosan dalam usaha pengobatan, baik pengobatan terhadap penyakit badan mau pun penyakit batin."

"Maaf, suhu," seorang murid lainnya membantah. "bagaimana kalau kita bertemu dengan orang jahat, atau yang suhu sebut sebagai orang yang sedang sakit batinnya, lalu orang itu menyerang dan hendak membunuh kita? Apakah kita harus membiarkan diri sendiri terbunuh olehnya karena kita tidak boleh membunuhnya?"

"Kalian jangan salah paham," Han Tiong menjawab. "yang disebut membunuh itu adalah perbuatan yang sengaja kita lakukan karena kebencian di hati. Menjaga serta melindungi diri sendiri dari kehancuran dan kematian merupakan suatu keharusan dalam hidup kita. Apa bila untuk membela diri, untuk melindungi diri, baik terhadap ancaman maut di tangan binatang atau manusia, terpaksa kita merobohkan penyerang itu sampai dia tewas, bukan pembunuhan yang kita lakukan dengan sengaja, maka hal itu bukan tindakan buruk. Aku tidak melarang perbuatan yang tidak disengaja seperti itu. Akan tetapi, sedapat mungkin, cegahlah serangan yang dapat mematikan lawan."

Demikianlah antara lain gemblengan batin yang diberikan oleh Cia Han Tiong kepada para muridnya. Oleh karena itulah, para murid yang sudah dinyatakan lulus kemudian terjun ke dalam dunia ramai sebagai seorang pendekar Pek-liong-pai, dengan pakaian serba putih mereka, selalu mendatangkan kagum di dunia kang-ouw.

Para pendekar sangat menghormati nama Pek-liong-pai yang menentang kejahatan tanpa rasa benci perorangan terhadap pelaku-pelaku kejahatan itu sendiri. Jarang sekali terjadi seorang penjahat tewas di tangan murid Pek-liong-pai, sungguh pun dengan ilmu silatnya yang tinggi murid Pek-liong-pai itu telah menekan si penjahat untuk segera menghentikan kejahatannya.

Cia Han Tiong dan isterinya hanya memiliki seorang putera saja, yaitu Cia Sun. Seperti juga para murid lain dari Pek-liong-pai, Cia Sun juga digembleng oleh ayahnya, bahkan tentu saja penggemblengan terhadap dirinya lebih hebat sehingga dalam usia dua puluh tahun saja Cia Sun sudah mewarisi semua ilmu kepandaian ayahnya. Juga dia mewarisi watak ayahnya yang pendiam, halus penuh perasaan, berwibawa, jujur dan setia, seorang kuncu atau budiman lahir batin seperti yang dimaksudkan dalam pelajaran Nabi Khong Cu.

Pada pagi hari yang cerah itu, Cia Han Tiong dan isterinya bercakap-cakap sambil duduk di serambi depan istana kuno yang menjadi tempat tinggal mereka. Pagi itu cerah sekali dan hawanya segar, membuat orang merasa tubuhnya sehat dan batinnya tenteram.

Kini Cia Han Tiong sudah berusia empat puluh tujuh tahun kurang sedikit, akan tetapi dia masih nampak gagah perkasa dan wajahnya membayangkan watak yang budiman, halus peramah. Tubuhnya yang tegap membayangkan tenaga yang kuat dan patutlah kalau dia menjadi ketua Pek-liong-pai yang gagah perkasa.

Isterinya, Ciu Lian Hong, kini sudah berusia empat puluh dua tahun, masih nampak muda dan cantik. Mereka bercakap-cakap dan membicarakan putera mereka yang sedang pergi mewakili Pek-liong-pai menghadiri pertemu-an para pendekar di Puncak Bukit Perahu.

"Mudah-mudahan tidak terjadi keributan di selatan sana," Cia Han Tiong berkata kepada isterinya. "Aku tidak ingin melihat Cia Sun terlibat dalam permusuhan yang tiada hentinya antara golongan hitam dan golongan putih. Kalau dia terlibat, berarti seluruh Pek-liong-pai akan terlibat pula."

Isterinya menghela napas panjang. "Aku selalu menghargai semua pendirianmu, suamiku, dan memang aku pun dapat melihat bahwa kekerasan tidak mungkin dapat melenyapkan kekerasan. Akan tetapi, golongan hitam dengan golongan putih merupakan dua golongan yang berdiri saling berhadapan dan saling bertentangan. Mana mungkin mencegah kedua golongan yang saling bertentangan itu untuk tidak bentrok dan bermusuhan?"

"Ahh, justru itulah yang kadang-kadang amat menyedihkan hati. Golongan hitam dianggap melakukan kejahatan dengan menggunakan kekerasan, lantas golongan putih menentang mereka dengan kekerasan pula. Kalau keduanya sudah menggunakan kekerasan maka sukarlah untuk dinilai siapa yang lebih baik dan siapa pula yang lebih buruk. Seyogianya mereka yang menamakan dirinya golongan putih itu melenyapkan dulu perasaan dendam dan benci dari dalam hati mereka sehingga tindakan mereka bukan dilandasi kebencian melainkan dilandasi cinta kasih..."

"Cinta kasih? Cinta kasih kepada kaum sesat yang jahat seperti iblis?" Isterinya bertanya, kaget sendiri akan kenyataan sikap suaminya yang dianggap tak masuk akal ini.

Suaminya menggeleng kepala. "Bukan terhadap golongan tertentu. Melainkan cinta kasih antara manusia. Dan manusia itu bisa siapa saja, tanpa memilih golongan. Dengan dasar inilah maka mereka yang merasa bersih itu akan bertindak dengan dasar menyadarkan, membersihkan, membimbing ke arah yang benar."

Ciu Lian Hong bangkit berdiri. Pusing dia kalau sudah bicara tentang kehidupan dengan suaminya. Pandangan suaminya berbeda dengan umum, karena itu kadang-kadang amat membingungkan dirinya.

"Ahh, kalau saja Cia Sun pulang...," katanya, kemudian dia pun berdiri di depan serambi, memandang ke depan, jauh ke arah hutan lebat yang membentang luas di depan istana Lembah Naga. Suaminya juga turut bangkit lalu menghampiri isterinya, berdiri di samping isterinya.

"Hong-moi, aku tahu bahwa engkau ingin sekali melihat Sun-ji menikah dan engkau ingin sekali menimang cucu. Biarlah kalau dia pulang aku akan bicarakan mengenai hal itu dan secepatnya aku akan mencari adik Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah..."

Ciu Lian Hong cepat menoleh kepada suaminya, "Jangan dulu, suamiku. Biarkanlah anak kita itu meluaskan pengalamannya. Siapa tahu dia akan berjumpa sendiri dengan calon jodohnya. Dalam perjodohan, kita tak boleh memaksa dan memperkosa hatinya. Biarkan dia memilih jodohnya sendiri. Setujukah engkau, suamiku?" Berkata demikian, isteri yang amat mencinta suaminya itu menaruh tangannya di pundak suaminya, menggelendot dan bersandar pada pundak suaminya yang kuat dengan sikap manja dan mesra.

Han Tiong menahan senyumnya dan menarik napas panjang sambil merangkul isterinya yang tercinta. Selalu isterinya mengatakan demikian kalau dia bicara tentang niat hatinya menjodohkan Cia Sun dengan puteri Ceng Thian Sin. Siapa pula nama anak perempuan Ceng Thian Sin, anak perempuan yang pada waktu kecilnya sudah nampak bengal dan berwatak keras itu? Ceng Sui Cin, ya, begitulah namanya.

Pernah anak itu ikut ayahnya ketika berkunjung kira-kira sepuluh tahun yang lalu! Dan dia tahu betul mengapa isterinya kelihatan tidak setuju dan tidak rela menjodohkan Cia Sun dengan Ceng Sui Sin. Bukan karena anak perempuan itu sendiri karena mereka berdua belum tahu bagaimana keadaan anak perempuan itu sekarang setelah dia dewasa, tetapi terutama sekali karena isterinya itu merasa enggan untuk berbesan dengan Pendekar Sadis!

Hal ini tidaklah aneh karena di waktu masih gadis dulu, hubungan antara Lian Hong dan Thian Sin erat sekali. Bahkan dia pun tahu benar betapa Thian Sin pernah mencinta Lian Hong setengah mati, dan seakan-akan terjadi perebutan di dalam hatinya antara dia dan Thian Sin terhadap Lian Hong. Sebenarnya dia bersedia mengalah, akan tetapi akhirnya ternyata bahwa Lian Hong memilih dia dan menjadi isterinya, sedangkan Ceng Thian Sin menikah, atau lebih tepat, hidup bersama sebagai suami isteri dengan Toan Kim Hong.

Salah satu di antara sebab yang membuat Lian Hong memilihnya adalah karena Thian Sin berwatak kejam, bahkan menjadi Pendekar Sadis yang sangat ditakuti orang. Hubungan itulah, juga watak Thian Sin yang kejam sebagai pendekar yang berjuluk Pendekar Sadis itulah yang membuat Lian Hong kini berkeberatan untuk menjodohkan puteranya dengan puteri Pendekar Sadis. Jadi bukan gadis itu yang memberatkan hatinya, melainkan dia tidak mau berbesan dengan Thian Sin!

Pada pagi hari itu, dari luar hutan yang menjadi batas terakhir dari Lembah Naga, nampak seorang kakek dan seorang nenek berjalan memasuki hutan. Kakek dan nenek itu tentu telah berusia enam puluh tahun lebih dan melihat keadaannya, mereka itu seperti seorang kakek dan seorang nenek petani biasa saja.

Keduanya berjalan dibantu oleh tongkat mereka. Kakek itu bertongkat hitam dan si nenek bertongkat putih. Baju mereka longgar dan kepala mereka dilindungi caping lebar dari kulit bambu. Ketika mereka tiba di tengah hutan itu dan melihat ada gundukan besar dari tiga batu bertumpuk, mereka berhenti, termenung sejenak.

"Benar di sinikah tempat itu, kanda?" si nenek itu bertanya dengan suara halus dan penuh kemesraan sambil memandang gundukan tiga bongkah batu bertumpuk itu. Kalau hanya mempergunakan tenaga orang biasa saja, agaknya akan dibutuhkan puluhan orang untuk mengangkat dan menumpuk tiga buah batu besar yang amat berat itu.

"Benar, adinda. Di sinilah. Lihat di permukaan batu paling bawah, bukankah di situ masih ada tulisannya?" jawab si kakek. Mereka berdua memandang tulisan huruf asing di atas permukaan batu paling bawah.

TEMPAT GUGURNYA BIBI GURU HEK-HIAT MO-LI

"Tidak salah lagi, suhu kita yang menumpuk tiga bongkah batu ini untuk memperingati kematian nenek guru Hek-hiat Mo-li. Ahh, tenaga suhu sudah begini hebat akan tetapi tak mampu mengalahkan musuh," kata lagi si nenek.

"Jangan keliru. Pada waktu itu suhu hanya mempunyai tenaga yang kuat saja akan tetapi belum menyempurnakan Ilmu Im-kan Sin-hoat (Ilmu Sakti Akhirat), dan sekarang setelah berhasil menyempurnakan ilmu itu, suhu kehabisan tenaga dan meninggal dunia sebelum dapat mencari ke sini."

"Engkau benar, kanda. Untunglah bahwa dia sudah mewariskan ilmu itu kepada kita dan setelah kita melatih diri dengan sempurna, kini tibalah saatnya bagi kita untuk membalas dendam kepada Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong!"

"Mau keturunannya atau pun muridnya, akan kita gempur dan basmi hingga habis seakar-akarnya!"

Mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan tumpukan tiga bongkah batu itu dan memberi hormat, kemudian sejenak mereka bersemedhi di tempat itu seperti orang hendak mohon berkah. Ketika akhirnya mereka bangkit berdiri lagi, wajah mereka penuh semangat lantas dengan langkah tegap mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Istana Lembah Naga.

Ketika mereka keluar dari hutan dan melihat bangunan kuno menjulang tinggi di depan, mereka berhenti kembali. Bagaimana pun juga, wajah mereka kelihatan tegang sekali dan kiranya mereka gentar juga melihat istana tua yang kokoh itu, seolah-olah melambangkan kekokohan serta kekuatan para penghuninya. Kemunculan mereka itu bukan dari depan istana, melainkan dari samping kanan, maka mereka tidak melihat bahwa pada waktu itu ketua Pek-liong-pai dan isterinya sedang berdiri di serambi depan.

Sebaliknya, empat anggota Pek-liong-pang yang tengah bertugas di sebelah kanan istana itu melihat munculnya kakek dan nenek yang berpakaian sederhana berwarna kuning itu. Tentu saja mereka merasa heran sehingga mereka segera menunda pekerjaan mereka. Dua orang di antara mereka cepat menghampiri dan melihat bahwa yang datang adalah dua orang tua, dua murid Pek-liong-pai cepat memberi hormat. Itulah satu di antara ajaran yang mereka peroleh di perguruan Pek-liong-pai, yaitu menghormat orang yang lebih tua.

"Maaf, lopek berdua hendak mencari siapa?" seorang di antara dua murid Pek-liong-pai itu bertanya.

Kakek dan nenek itu memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, baru kemudian si kakek bertanya, suaranya terdengar asing dan kaku, tanda bahwa dia adalah seorang asing, "Kami mencari Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong!"

Dua orang murid tingkat tiga dari Pek-liong-pai itu saling pandang dengan hati kaget dan heran. Kakek dan nenek ini mencari kakek guru mereka yang telah meninggal dunia!

"Tapi... beliau telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu..."

Kini kakek dan nenek itu saling pandang dan wajah mereka membayangkan kekecewaan. Kakek itu lalu menoleh ke arah istana tua dan bertanya, "Lalu, siapa yang tinggal di dalam istana itu?"

"Yang tinggal di situ adalah suhu dan subo..."

"Siapakah mereka?" tanya si nenek dengan cepat.

"Suhu adalah ketua Pek-liong-pai, perkumpulan kami..."

"Apa hubungannya dengan Pendekar Lembah Naga?"

Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu, dua orang murid Pek-liong-pai lalu mengerutkan alisnya. Jelas kakek dan nenek ini adalah orang asing, akan tetapi sungguh tidak sopan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi seperti hakim memeriksa pesakitan saja. Akan tetapi demi kesopanan terhadap orang yang jauh lebih tua, alhirnya mereka menjawab juga.

"Suhu adalah putera beliau."

Dua pasang mata tua itu memancarkan sinar yang mengejutkan hati dua orang murid Pek-liong-pai itu. "Jadi kalian adalah cucu murid Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong si jahanam?!" teriak si nenek marah.

Dua orang laki-laki yang usianya sudah mendekati tiga puluh tahun itu terkejut akan tetapi mengangguk. Tiba-tiba nampak sinar berkelebat saat kakek dan nenek itu menggerakkan tongkat mereka ke depan. Kedua orang murid Pek-liong-pai terkejut sekali dan berusaha menghindarkan diri dari serangan kilat itu, namun gerakan mereka jauh kalah cepat.

"Kekkk! Kekkk!"

Dua orang murid Pek-liong-pai itu terjengkang roboh dan tewas seketika dengan lubang tepat di tenggorokan mereka yang mengucurkan darah hitam! Mereka roboh dan tewas tanpa berkelojotan lagi. Sungguh mengerikan dan hebat bukan main serangan kakek dan nenek itu.

Dua orang murid lain yang melihat betapa dua orang saudara seperguruan mereka roboh dan tidak bangkit kembali, menjadi terkejut dan mereka pun cepat berlari menghampiri ke tempat itu. Saat mereka melihat kenyataan yang mengejutkan bahwa dua orang saudara mereka itu telah tewas dengan mata mendelik dan leher berlubang, tentu saja keduanya marah bukan main.

"Kenapa kalian membunuh dua orang sute kami?!" bentak seorang di antara mereka.

"Mampuslah!" Kakek itu membentak dan kembali dua batang tongkat kakek dan nenek itu menyambar ke depan.

Akan tetapi, selain lebih tangkas dari pada dua orang sute mereka yang tewas, dua orang murid Pek-liong-pai itu juga mereka telah siap sedia karena sudah tahu bahwa kakek dan nenek itu adalah orang-orang yang memusuhi mereka, maka sambaran tongkat itu dapat mereka elakkan dengan cara melempar tubuh ke belakang.

Akan tetapi kakek dan nenek itu menyerang terus dengan gerakan yang sangat dahsyat. Mereka hanya sanggup mengelak beberapa kali dan ketika mereka terpaksa menangkis, terdengarlah suara nyaring dan tulang lengan mereka patah bertemu tongkat. Seorang di antara mereka sempat mengeluarkan pekik melengking untuk memperingatkan para murid Pek-liong-pai lainnya sebelum mereka berdua roboh, sekali ini bukan oleh tusukan ujung tongkat, melainkan karena tamparan tangan kiri kakek dan nenek itu.

Tamparan itu hebat bukan main karena sama sekali tidak dapat dielakkan lagi kemudian robohlah mereka dengan tubuh utuh. Mereka roboh dan tewas seketika. Tidak kelihatan adanya luka pada kepala mereka yang kena ditampar, hanya nampak tanda menghitam di pelipis kanan mereka bekas tangan kakek dan nenek itu. Ternyata isi kepala mereka telah terguncang dan rusak oleh tenaga tamparan yang amat ampuh itu!

Akan tetapi pekik melengking yang sempat dikeluarkan oleh salah seorang di antara dua murid Pek-liong-pai sebelum mereka tewas tadi, mengejutkan semua murid Pek-liong-pai. Pada waktu itu, di Lembah Naga terdapat tak kurang dari empat puluh orang murid, terdiri dari tingkat pertama, kedua dan ketiga.

Akan tetapi pada saat itu sebagian dari mereka sedang bekerja di sawah ladang, ada pula yang berburu binatang sehingga pada pagi hari itu, yang berada di sekitar istana hanya ada dua puluh lima orang termasuk empat yang tewas itu. Dan di antara dua puluh lima orang ini, yang tingkat satu dan hanya menunggu dinyatakan lulus hanya ada tiga orang, selebihnya adalah murid-murid tingkat dua dan tiga.

Kakek dan nenek itu menyeringai penuh ejekan ketika mereka melihat dua puluh orang murid Pek-liong-pai yang rata-rata mengenakan pakaian serba putih itu berdatangan dari segenap penjuru, ada yang masih membawa cangkul, sapu dan lain-lain.

Walau pun sudah melihat bahwa empat orang saudara mereka tewas dan pembunuhnya tentu kakek dan nenek itu, namun mentaati ajaran dan perintah guru mereka, dua puluh orang lebih murid-murid Pek-liong-pai itu tidak sembrono turun tangan mengeroyok, akan tetapi mengepung saja agar kakek dan nenek pemhunuh itu tidak dapat melarikan diri.

Tiga orang murid tingkat pertama yang berada di situ bertindak sebagai pemimpin. Mereka berdiri menghadapi kakek dan nenek itu, lantas seorang di antara mereka yang usianya sudah hampir empat puluh tahun, melangkah maju dan memberi hormat.

"Siapakah locianpwe berdua dan apa kesalahan adik-adik seperguruan kami maka ji-wi locianpwe (dua orang gagah) turun tangan membunuh mereka? Sekarang kami terpaksa menuntut agar ji-wi suka menyerah dan menghadap ketua kami!"

Kakek dan nenek itu saling pandang dan mereka kelihatan bergembira! Kakek itu tertawa bergelak sambil mengelus-elus jenggotnya yang jarang akan tetapi cukup panjang, tangan kanannya memegang tongkat yang didirikan di depan kakinya, sedangkan nenek itu pun tersenyum dan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Ha-ha-ha-ha, adinda yang baik, lihat, mereka ini semuanya sudah mengenakan pakaian berkabung, seolah-olah mereka sudah tahu bahwa hari ini mereka akan mati semua! Hayo kita berlomba, siapa di antara kita yang dapat membunuh musuh paling banyak!" Setelah berkata demikian, segera nampak dua sinar berkelebat dan dua batang tongkat itu sudah menyambar secepat kilat ke arah dua orang murid pertama Pek-liong-pai!

Hebat bukan main serangan itu, akan tetapi sekarang yang diserang adalah murid-murid Pek-liong-pai yang sudah hampir tamat. Tentu saja kedua orang itu sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, dan biar pun mereka kaget sekali, namun mereka berhasil menghindarkan diri dengan loncatan ke belakang.

Maklum bahwa kakek dan nenek itu mempunyai kepandaian yang amat tinggi, maka tiga orang murid pertama itu cepat mencabut pedang mereka dan seorang di antara mereka memberi komando, "Kurung dan tangkap mereka untuk dihadapkan kepada suhu!"

Suheng ini masih memperingatkan para sute-nya agar jangan sembarangan turun tangan, membunuh kakek dan nenek itu!

Terjadilah perkelahian yang amat hebat. Kakek dan nenek itu mengamuk dengan tongkat dan tangan kiri mereka. Entah mana yang lebih ampuh. Tongkat itu tidak dapat ditangkis. Senjata penangkis tentu patah dan kalau ujungnya sampai mengenai tubuh, tentu tembus dan yang terkena tewas seketika. Akan tetapi tangan kiri mereka juga hebat bukan main, membawa getaran aneh yang tidak dapat ditangkis, hanya dapat dielakkan saja, itu pun oleh para murid Pek-liong-pai yang cukup gesit.

Para murid itu menggunakan senjata seadanya. Yang memegang cangkul menggunakan alat ini untuk senjata, ada yang menggunakan pedang mereka, ada pula yang terpaksa mengeroyok dengan tangan kosong. Dan akibatnya sungguh mengerikan.

Kakek dan nenek itu menyebar maut sehingga dalam waktu singkat saja, di antara dua puluh lima orang murid itu, dikurangi empat orang yang tewas terlebih dahulu, kini tinggal sepuluh orang lagi saja! Lima belas orang murid sudah menggeletak tanpa nyawa, mayat mereka berserakan di tempat itu, termasuk seorang murid pertama!

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Tahan senjata...!"

Bentakan ini demikian penuh wibawa dan mengandung getaran khikang yang amat kuat sehingga kakek dan nenek itu terkejut. Mereka meloncat ke belakang, lalu melintangkan tongkat di depan dada sambil menatap ke depan.

Cia Han Tiong dan isterinya, Ciu Lian Hong, sudah berdiri di situ dengan muka pucat dan mata terbelalak. Ketua Pek-liong-pai itu merasa ngeri sekali ketika melihat belasan orang muridnya sudah tewas dan mayat mereka malang-melintang memenuhi tempat itu, ada pun yang sepuluh orang lagi kelihatan pucat dan gentar.

Dia segera memandang ke arah kakek dan nenek itu yang juga memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Mereka pun menduga-duga siapa adanya laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang gagah perkasa dan mempunyai wibawa yang amat kuat ini.

"Apakah engkau ketua Pek-liong-pai?" Kakek itu bertanya, matanya mengeluarkan sinar berapi.

Sinar mata yang penuh kebencian, pikir Han Tiong. Dia lantas mengangguk. "Benar, dan siapakah ji-wi locianpwe? Andai kata ada murid kami yang bersalah, mengapa ji-wi begitu tega untuk membunuh begini banyak orang? Permusuhan apakah yang ada antara ji-wi dengan Pek-liong-pai?" Pertanyaannya tidak mengandung kemarahan, akan tetapi tegas dan penuh nada teguran.

"Ha-ha-ha-ha, masih begini muda sudah menjadi ketua. Siapakah namamu dan benarkah engkau putera mendiang Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong?" kakek itu bertanya lagi.

Han Tiong mengerutkan kedua alisnya. "Benar, locianpwe. Nama saya adalah Cia Han Tiong dan Pendekar Lembah Naga adalah mendiang ayah saya."

"Bagus! Cia Han Tiong, jangan salahkan murid-muridmu dan kami juga tidak mempunyai permusuhan apa pun dengan Pek-liong-pai. Engkau salahkan saja nenek moyangmu dan terutama ayahmu yang dulu telah membunuh nenek guru kami, yaitu bibi dari guru kami. Nama nenek guru kami itu adalah Hek-hiat Mo-li, pendatang dari Sailan. Kami sebagai keturunan perguruannya melanjutkan usaha guru kami untuk mencari Pendekar Lembah Naga dan membalas dendam."

"Akan tetapi, ayah telah meninggal dunia beberapa tahun yang lampau! Kenapa ji-wi lalu membunuhi murid-murid kami yang tidak berdosa...?"

"Hemmm, puluhan tahun kami melatih diri, hidup sengsara agar dapat berbakti, kemudian melakukan perjalanan yang sangat jauh dari selatan, apakah semua itu harus sia-sia saja karena kematian ayahmu? Ayahmu boleh saja mati, akan tetapi masih ada puteranya dan cucu-cucu muridnya!"

Cia Han Tiong mengerutkan kedua alisnya. Hatinya diliputi penyesalan besar. Mendiang ayahnya tidak pernah bercerita tentang musuh-musuhnya di waktu dahulu, akan tetapi dia merasa yakin bahwa memang benar ayahnya tentu dahulu pernah menewaskan nenek guru dari dua orang ini. Dan dia pun yakin pula bahwa nenek guru mereka yang memakai julukan Hek-hiat Mo-li (Iblis Betina Darah Hitam) tentulah bukan orang baik-baik dan tidak mengherankan kalau ayahnya membunuhnya dalam perkelahian.

Makin terasa olehnya alangkah buruknya hidup dalam kekerasan. Sampai turun-temurun, dendam masih mengikatnya! Dia menarik napas panjang. Ikatan karma ini harus diakhiri. Manusia selalu dikejar ikatan karma karena ulah sendiri. Kini saatnya untuk menentukan apakah karma itu akan terus mengejar dirinya serta anak cucunya, sepenuhnya berada di telapak tangannya. Akan tetapi, apakah dia harus menyerahkan saja nyawanya?

Kakek dan nenek ini memiliki sinar mata penuh kebencian, tentu mereka tidak akan puas apa bila hanya dia yang menyerahkan diri. Mereka tentu akan membunuh pula isterinya, semua muridnya, bahkan mereka tentu akan mencari putera tunggalnya untuk dibunuh! Tidak, dia harus mempertahankan keluarganya. Dia harus membela diri serta melindungi keluarga dan para muridnya.

"Orang yang sedang dibebani dendam terkutuk! Siapakah namamu?" Akhirnya Han Tiong bertanya, suaranya penuh wibawa.

Kakek itu tertawa. "Nama kami tidak ada gunanya kau ketahui. Akan tetapi agar engkau ingat bahwa kami datang untuk membalaskan dendam nenek kami Hek-hiat Mo-li, biarlah engkau dan dunia kang-ouw mengenal kami sebagai Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo! Ha-ha-ha, akan tetapi apa gunanya? Sebentar lagi kalian semua akan menyusul mereka yang sudah mampus lebih dahulu!"

Cia Han Tiong melangkah maju. "Hek-hiat Lo-mo, marilah kita bereskan perhitungan lama secara jantan. Mari engkau dan aku menentukan dengan taruhan nyawa kita dan urusan dendam ini kita habiskan di sini, tidak perlu menyangkut orang lain."

"Enak saja engkau hendak menyelamatkan keluarga serta murid-muridmu. Tidak, kalian semua harus mampus di tangan kami, barulah kami merasa puas dan terlepas dari beban batin selama puluhan tahun!" Nenek yang diberi nama Hek-hiat Lo-bo itu berkata dengan suara melengking-lengking.

Ciu Lian Hong yang sejak tadi diam saja, kini melangkah maju mendekati suaminya dan berkata, "Mari kita hadapi mereka!" dengan sikap gagah nyonya ini pun mempersiapkan diri.

Akan tetapi suaminya menggeleng kepala dan menyuruhnya mundur dengan sikap halus. "Jangan engkau mencampuri, biarkan aku saja yang membereskan urusan ini," katanya.

"Ha-ha-ha, ketua Pek-liong-pang. Tidak perlu sungkan dan malu. Kami datang berdua dan kami telah mempersiapkan segalanya, termasuk pengeroyokan murid-muridmu. Nah, kau kerahkanlah semua tenagamu di sini, kami tidak akan takut, tidak akan mencelamu kalau kau melakukan pengeroyokan!" kata Hek-hiat Lo-mo.

Akan tetapi Cia Han Tiong adalah seorang pendekar lengkap, seorang yang menjunjung tinggi kehormatan. "Kami bukan pengecut yang suka main keroyokan dan mengandalkan banyak orang. Kalian hanya datang berdua, jika setuju, biarlah kulayani kalian satu demi satu."

"Kami datang berdua dan kami maju bersama. Kau boleh mengerahkan semua keluarga dan muridmu!" Hek-hiat Lo-bo membentak.

Nenek ini telah menerjang dahsyat menggunakan tongkatnya yang meluncur ke arah dada ketua Pek-liong-pang itu. Suaminya, Hek-hiat Lo-mo, juga menyerang dengan tongkatnya.

Menghadapi serangan beruntun yang dilakukan dua orang itu secara dahsyat dan susul menyusul, Han Tiong mengebutkan kedua lengan bajunya untuk menangkis ujung tongkat sambil meloncat ke belakang.

"Plak-plak...! Brettt...!"

Ujung lengan bajunya dapat menyampok terpental kedua senjata lawan, akan tetapi ujung lengan baju kiri yang menangkis senjata di tangan Hek-hiat Lo-mo itu terobek.

Kedua pihak terkejut. Kakek dan nenek itu dapat merasakan betapa kuat tangkisan ujung lengan baju tadi. Mereka bergerak dengan hati-hati dan kini mengambil posisi di kanan kiri lawan, lantas tongkat mereka membuat gerakan-gerakan aneh dan mengeluarkan suara berdesing seperti senjata tajam saja.

Melihat gerakan mereka yang amat teratur, Han Tiong bisa menduga bahwa kedua orang ini memang sudah mempelajari cara bersilat berdua yang merupakan semacam ilmu silat berpasangan. Ilmu ini amat kuat karena keduanya dapat bekerja sama secara teratur dan rapi, dapat saling bantu dan saling melindungi secara otomatis. Mengertilah dia mengapa mereka tidak mau maju satu demi satu, melainkan ingin maju bersama.

"Singgg...!"

Cia Han Tiong memang pantang membunuh, akan tetapi menghadapi lawan-lawan yang sangat tangguh itu, dia pun mencabut pedangnya untuk dapat membela diri dengan baik. Sebetulnya pendekar ini tidak pernah menggunakan pedang dan pedang yang dibawanya itu lebih merupakan hiasan saja. Akan tetapi, sekali ini dia membutuhkannya.

"Hiaaaat...!" Hek-hiat Lo-mo sudah menusukkan tongkatnya dari kanan.

"Ihhh...!" Hek-hiat Lo-bo juga menyerang dari kiri dengan totokan ke arah leher.

"Wuuutt...! Singgg...! Trang-tranggg...!"

Pedang berkelebat membentuk sinar terang dan menangkis kedua tongkat. Akan tetapi, begitu kedua tongkat terpental, kakek dan nenek itu langsung menggerakkan tangan kiri dan ternyata serangan tangan kiri mereka yang menyambar itu tidak kalah ampuhnya jika dibandingkan tongkat mereka!

Han Tiong cepat menggeser kaki dua kali, mengelak sambil menggunakan ujung lengan baju kiri untuk menangkis. Kini tahulah dia bahwa yang paling berbahaya adalah tangan kiri kedua lawan itu. Inti penyerangan mereka terletak pada kedua tangan kiri sedangkan tongkat-tongkat itu lebih bertugas sebagai pengacau kedudukan lawan dan mengalihkan perhatian agar tangan kiri mereka lebih banyak memperoleh kesempatan untuk mencuri kelengahan lawan.

Maka dia pun segera mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat kuat di tangan kirinya untuk menjaga diri dan balas menyerang. Kini terjadilah sebuah pertandingan yang amat seru.

Akan tetapi ternyata dua orang kakek dan nenek itu memiliki gerakan silat yang luar biasa dan asing bagi Han Tiong. Yang amat berbahaya dan tak terduga-duga datangnya adalah serangan kaki mereka. Kaki mereka itu bisa menyelingi serangan tongkat dan tangan kiri dengan tendangan-tendangan aneh yang dilakukan dalam berbagai posisi, baik tendangan langsung, miring ke belakang, bahkan tendangan dengan lutut.

Cara menendang gaya Sailan ini masih belum dikenal oleh Han Tiong. Berbeda dengan gaya tendangan dari daerah selatan yang mempergunakan seluruh panjang kaki dengan pengerahan kekuatan dan dilakukan dengan cepat dari jarak agak jauh, tendangan kakek dan nenek ini dapat dilakukan dari jarak dekat, dengan menggunakan lutut dan tiba-tiba datangnya. Bagaimana pun juga kematangan Han Tiong dalam ilmu silatnya membuat dia selalu dapat mengelak dan membalas dengan serangan-serangan dahsyat pula sehingga sering membuat kedua lawannya terkejut dan kesatuan gerakan mereka membuyar.

Ciu Lian Hong merasa penasaran ketika tadi suaminya menyuruh ia mundur. Apa lagi kini melihat suaminya dikeroyok dua dan kelihatan terdesak, dia merasa semakin penasaran. Karena merasa khawatir akan keselamatan suaminya, akhirnya Ciu Lian Hong tak dapat lagi menahan kemarahannya.

"Kakek nenek iblis curang!" bentaknya, lantas nyonya itu pun meloncat ke depan, sambil menyerang Hek-hiat Lo-bo dengan tamparan tangan kanannya.

"Plakkk...!"

Tubuh nyonya itu nyaris saja terpelanting saat tamparannya ditangkis oleh Hek-hiat Lo-bo dengan amat kuatnya.

"Heh-heh-heh, bagus! Engkau datang menyerahkan nyawamu!" nenek itu terkekeh-kekeh lalu menyerang Ciu Lian Hong dengan tongkatnya. Nyonya ini mengelak dan berloncatan ke sana-sini, akan tetapi ujung tongkat itu terus mengejarnya.

"Trangggg...!" Sinar pedang berkelebat dan ternyata Han Tiong sudah menangkis tongkat yang mengancam keselamatan isterinya itu.

"Hong-moi, mundurlah! Biar kuhadapi sendiri..."

"Tidak! Aku harus membantumu!" teriak Lian Hong.

Han Tiong khawatir akan keselamatan isterinya, maklum bahwa tidak mungkin Lian Hong bisa dicegah. Dia menyerahkan pedang di tangannya kepada isterinya lalu berbisik cepat, "Pergunakan pedang ini dan mainkan Thai-kek Sin-kun hanya untuk membela diri saja!"

Dua orang musuh mereka itu tertawa, lalu menyerang kembali, si kakek menyerang Han Tiong yang bertangan kosong sedangkan nenek itu memutar tongkatnya lalu menyerang Lian Hong.

Nyonya ini maklum akan kelihaian lawan. Maka dia pun cepat menggerakkan pedangnya dan bersilat dengan Ilmu Thai-kek Sin-kun, sesuai dengan pesan suaminya. Ilmu ini dapat dimainkan dengan pedang dan ilmu silat ini memang mengandung daya tahan yang amat hebat. Ketika Lian Hong memutar pedangnya dan mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun, tongkat lawannya tidak mampu menembus benteng pertahanan yang kokoh kuat itu.

Betapa pun juga, tenaga lawan lebih besar dan ilmu kepandaian nenek itu memang jauh lebih tinggi tingkatnya, maka biar pun Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun amat kokoh kuat, tetap saja Lian Hong terdesak dan tangannya yang memegang pedang terasa panas dan nyeri setiap kali pedangnya bertemu tongkat.

Semenjak tadi Lian Hong hanya membela diri saja, sesuai dengan petunjuk suaminya, tak pernah membalas karena dia terus mencurahkan seluruh perhatian dan tenaganya untuk bertahan. Akan tetapi lama kelamaan nyonya ini merasa sangat penasaran. Dia didesak dan dihimpit dan meski pun ilmu silat itu ternyata mampu melindunginya sehingga selama hampir lima puluh jurus dia belum pernah terpukul, akan tetapi jika hanya bertahan terus, akhirnya pasti dia akan kalah juga. Rasa penasaran membuat Lian Hong kini menyelingi pertahanannya dengan serangan balasan. Dan inilah kesalahannya!

Tadi Han Tiong sempat melihat betapa tingkat kepandaian isterinya masih kalah jauh jika dibandingkan lawan, karena itu dia sengaja memberikan pedangnya dengan pesan agar isterinya memainkan Thai-kek Sin-kun untuk melindungi dirinya. Dengan demikian, walau pun isterinya tidak akan menang, setidaknya isterinya akan mampu melindungi diri sendiri sampai dia berhasil mengalahkan Hek-hiat Lo-mo kemudian membantu Lian Hong. Akan tetapi tak disangkanya sama sekali bahwa kakek itu benar-benar amat lihai.

Kini, tanpa memegang pedang, sebenarnya Han Tiong dapat mengeluarkan ilmu-ilmunya yang sakti. Sayang, hatinya yang bersih sama sekali tak menghendaki membunuh lawan. Dia merasa bahwa pihaknya yang berhutang. Maka dia hanya membela diri dan balasan serangannya mempergunakan batas-batas supaya jangan sampai dia membunuh lawan. Hal ini mengurangi daya serangannya dan sedemikian jauhnya dia masih belum mampu mengalahkan lawan. Pada saat itu pula, Lian Hong yang sudah amat penasaran itu mulai membalas dengan serangan hebat kepada Hek-hiat Lo-bo!

"Haiiitttttt...!" Lian Hong menusukkan pedangnya dengan cepat dan kuat ke arah perut nenek itu.

"Iiihhh...!" Nenek itu meloncat dan terhuyung ke belakang.

Nenek yang sudah berpengalaman ini memang licik sekali. Tadi dia sudah hampir putus asa menghadapi daya tahan yang kokoh kuat dari ilmu silat lawannya. Dia merasa amat penasaran dan kehabisan akal. Dia tahu bahwa dia menang segala-galanya dari lawan, akan tetapi semua ilmu sudah dia keluarkan namun belum juga dia mampu membobolkan sinar pedang yang membentuk benteng pertahanan lawan itu.

Ketika melihat lawan tiba-tiba mulai menyerang, dia menjadi gembira sekali. Begitu lawan menyerang, dia melihat ada lubang terbuka dalam benteng pertahanan itu! Akan tetapi dia tidak mau tergesa-gesa, bahkan memancing lawan agar menyerang terus sehingga akan terbuka lubang serta kesempatan yang lebih besar. Maka dia pura-pura terkejut, berseru sambil terhuyung ke belakang seakan-akan dia terdesak hebat oleh serangan lawan tadi. Dan Lian Hong terkena jebakan ini!

Melihat betapa nenek itu terhuyung oleh serangannya, Lian Hong menjadi gembira sekali, mengira bahwa serangannya ini berhasil. Dia lalu mendesak dan mengirimkan serangan susulan dengan pedangnya, menubruk ke depan sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher nenek itu dari samping.

"Hong-moi, mundur...!" Tiba-tiba terdengar Han Tiong berseru keras sekali.

Dia hendak meloncat ke depan untuk mencegah isterinya, namun Hek-hiat Lo-mo sudah menghadang dengan totokan tongkatnya. Dan juga seruannya tadi telah terlambat karena isterinya yang sudah merasa girang melihat kemenangannya di depan mata itu tidak mau menahan serangannya.

"Wuuuttt...! Srettt...!"

Pedang itu menyambar leher Hek-hiat Lo-bo yang mengelak dan ketika ia menggerakkan kepala, ikatan rambutnya yang penuh uban itu terlepas lalu gumpalan rambutnya bergerak seperti hidup, tahu-tahu sudah membelit dan menangkap pedang lawan.

Lian Hong mengerahkan tenaga untuk menarik pedangnya, akan tetapi sukar sekali dan selagi dia bersitegang, mendadak tongkat di tangan nenek itu meluncur di bawah lengan Lian Hong kemudian menotok dada, tepat di dekat ketiak.

"Tukkk...!" Nyonya itu mengeluh lirih, terkulai dan roboh tak dapat berkutik lagi.

Han Tiong mengeluarkan gerengan yang menggetarkan seluruh tempat itu, lalu menerjang kakek yang menghalang dengan tongkatnya. Karena marah dan khawatir melihat isterinya roboh, sekarang dia pun mengeluarkan ilmu simpanannya yang disebut Keng-lun Tai-pun. Dia melakukan sebuah jurus aneh, tubuhnya melayang ke depan sambil kedua lengannya dikembangkan dan dari kedua tangannya keluar hawa panas menyambar-nyambar.

"Tukk! Desss...!"

Tubuh Hek-hiat Lo-mo terjengkang, ada pun tubuh Han Tiong terguncang terkena totokan tongkat. Akan tetapi dia menerjang terus dan meloncat ke arah isterinya yang kini rebah miring. Melihat suaminya terjengkang, Hek-hiat Lo-bo mengeluarkan suara pekik nyaring melengking dan menyambut Han Tiong dengan tusukan tongkat dibarengi oleh hantaman telapak tangan kiri. Hebat bukan main serangan nenek yang tingkat kepandaiannya tidak di bawah suaminya ini.

"Tukk! Plak! Desss...!"

Tubuh Hek-hiat Lo-bo langsung terpelanting dan terguling-guling ke dekat tubuh suaminya. Keduanya dengan susah payah bangkit duduk, muka mereka pucat sekali, napas mereka memburu dan dari mulut serta hidung mereka keluar darah.

Maklum bahwa mereka telah terluka parah dalam pertemuan tenaga sakti melawan ketua Pek-liong-pang tadi, keduanya lantas duduk bersila menghimpun hawa murni dan menanti datangnya pukulan maut dari lawan. Mereka berdua tahu bahwa dalam keadaan seperti itu tidak mungkin melarikan diri, apa lagi melawan!

Han Tiong sendiri pun terluka, akan tetapi masih untung baginya bahwa tenaga Thian-te Sin-ciang yang ampuh tadi telah melindungi tubuhnya sehingga biar pun dalam tubuhnya terguncang hebat dan dari mulutnya mengalir darah segar pula, tapi totokan-totokan dan hantaman tangan kiri lawan yang amat ampuh tadi tak sampai mengakibatkan luka parah.

Dia tidak mempedulikan lagi kedua orang lawannya, melainkan menjatuhkan diri berlutut di dekat tubuh isterinya. Dia mengangkat dan memangku tubuh yang lunglai itu dan biar pun tubuh itu masih hangat, dia tahu bahwa isterinya telah tewas!

"Hong-moi... aihh, Hong-moi... engkau telah menjadi korban kekerasan keluargaku...," dia meratap dan mengeluh, penuh rasa duka dan terharu.

Kalau tadi para murid Pek-liong-pai tidak berani turun tangan menghadapi musuh tanpa perintah suhu mereka, kini melihat subo mereka tewas dan dua orang musuh itu agaknya telah terluka parah sehingga tinggal menyusulkan sebuah pukulan maut saja, mereka lalu bergerak menyerang kakek dan nenek itu untuk membalaskan kematian subo dan lima belas orang saudara seperguruan mereka.

Sebagai dua orang yang pandai, tentu saja kakek dan nenek itu tahu akan bahaya yang mengancam diri mereka. Mereka sudah terluka parah dan mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan berarti membunuh diri sendiri. Akan tetapi sebelum mati lebih baik mereka merobohkan lagi beberapa orang lawan yang tingkat kepandaiannya belum tinggi. Mereka lalu bangkit berdiri, terengah-engah menyeringai, bertopang pada tongkat mereka.

"Hah, majulah kalian, heh-heh...!" Hek-hiat Lo-mo menantang.

Isterinya juga siap di sebelahnya, tetapi tidak berani dan tidak kuat lagi membuka suara. Para murid Pek-liong-pang terkejut dan menjadi agak gentar, menunda serangan mereka dan kini maju mengepung, siap dengan senjata mereka.

"Tahan...!" tiba-tiba untuk kedua kalinya Han Tiong membentak. Semua muridnya terkejut, menahan senjata dan menoleh ke arah pendekar itu.

Dengan lembut Han Tiong menurunkan tubuh isterinya, merebahkan mayat yang masih hangat itu di atas tanah, lalu dia bangkit berdiri, mengusap darah dari tepi bibirnya, lalu melangkah maju menghampiri kakek dan nenek itu. Sejak tadi matanya menatap wajah mereka dengan tajam.

Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo memandang dengan muka pucat, maklum bahwa jiwa mereka berada di tangan pendekar ini karena tidak mungkin lagi bagi mereka yang sudah terluka parah untuk melawan pendekar ini.

Mendadak Hek-hiat Lo-mo terkekeh. Dia tertawa untuk menutupi rasa ngeri dan takutnya. "Heh-heh-heh, orang she Cia! Kami sudah kalah olehmu. Mau bunuh lekaslah lakukan itu. Kami tidak merasa rugi karena nyawa kami ditukar nyawa isterimu dan lima belas orang muridmu!"

Sinar berapi-api penuh kemarahan memancar dari sepasang mata pendekar ini, ada pun kedua tangannya mengepal tinju. Terdengar bunyi berkerotokan ketika dia mengerahkan tenaga sehingga dua orang tua itu merasa semakin seram.

Mereka tahu betapa dahsyatnya tenaga yang tersembunyi di dalam sepasang tangan itu sehingga sekali saja tangan itu bergerak, mereka takkan mampu mempertahankan nyawa mereka lagi. Juga para murid Pek-liong-pang memandang terbelalak, ingin sekali melihat guru mereka menurunkan tangan maut membunuh dua orang musuh besar itu.

Akan tetapi pukulan yang dinanti-nantikan itu tidak kunjung datang. Bahkan pendekar itu menoleh ke arah mayat isterinya, membalik memandang kakek dan nenek itu, lalu bicara, suaranya menggetar penuh duka.

"Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo, sesudah kalian membunuh isteriku serta lima belas orang muridku, keuntungan apa yang kalian peroleh dari kematian mereka? Dan apakah dengan kematian mereka itu lantas nenek guru kalian yang tewas oleh mendiang ayahku itu dapat hidup kembali?"

Mendengar pertanyaan yang aneh ini, kakek dan nenek itu saling berpandangan dengan bimbang, kemudian kakek itu yang menjawab, "Tentu saja nenek guru kami tidak mungkin hidup kembali, dan keuntungan yang kami dapat adalah rasa puas bahwa dendam kami sudah terbalas sebagian!"

"Benarkah itu? Benarkah kalian merasa puas? Ataukah akan timbul dendam lain karena kalian gagal membunuhku dan dengan sekali pukul aku akan dapat membunuh kalian?"

"Sudahlah, kami sudah kalah dan gagal, engkau boleh saja membunuh kami, kami tidak merasa takut!"

Akan tetapi Han Tiong menggeleng kepala dan menarik napas panjang lalu menundukkan mukanya. "Tidak, aku tidak akan mau memperpanjang dan menyambung karma buruk ini. Biarlah isteriku dan lima belas orang muridku menjadi penebus hutang mendiang ayahku dan kubikin putus rantai karma yang membelengguku. Harap kalian dapat menghabiskan permusuhan sampai di sini saja."

Kakek dan nenek itu kembali saling pandang seperti tidak percaya akan apa yang mereka dengar.

"Kau... kau tidak akan membunuh kami...?" tanya nenek itu, suaranya mengandung isak tertahan karena dia terlepas dari ketegangan hati seorang yang menghadapi maut yang nampaknya tak terelakkan lagi mengancam dirinya tadi.

Han Tiong mengangguk dan menarik napas panjang. "Benar, kalian boleh pergi..."

Kakek dan nenek itu merasa terharu sekali. Baru saja mereka membunuh isteri serta lima belas orang murid pendekar ini, akan tetapi pendekar ini mengampuni mereka! Selama hidup belum pernah mereka mendengar hal seganjil ini, apa lagi mengalaminya. Jantung mereka seperti ditusuk-tusuk rasanya dan sekarang pun mereka mulai merasa menyesal sekali.

Peristiwa pembunuhan ini selama hidup akan terus-menerus menghantui mereka dengan penyesalan. Jika pendekar ini merasa dendam dan hendak membalas atas pembunuhan-pembunuhan itu, tentu tidak akan terdapat penyesalan di dalam hati mereka. Akan tetapi sekarang sikap pendekar itu akan membuat mereka selama hidup menyesal sekali sudah melakukan pembunuhan pada hari ini. Mereka lebih suka kalau dibunuh saja.

Keduanya menjura dengan muka pucat dan mata basah. "Cia-taihiap, kami berhadapan dengan seorang mulia, kami takluk dan merasa menyesal sekali...," kata kakek itu.

"Pergilah kalian... pergilah...!" kata Han Tiong.

Dia lalu menghampiri mayat isterinya, dipondongnya jenazah itu dan dibawanya pulang. Para muridnya juga mengangkat mayat saudara-saudara mereka mengikuti suhu mereka dari belakang.

Kakek dan nenek itu mengikuti iring-iringan jenazah yang sangat menyedihkan itu dengan muka pucat dan pandang mata sayu, kemudian dengan tertatih-tatih mereka pun pergi meninggalkan Lembah Naga.

Sesudah belasan jenazah itu dimasukkan peti dan para murid Pek-liong-pang berkumpul dan berkabung, suasana menjadi sangat menyedihkan. Sisa para murid cepat memberi kabar kepada saudara-saudara seperguruan mereka, dan kemudian setiap kali ada murid Pek-liong-pang yang datang, maka meledaklah ratap tangis di antara mereka.

Hampir tiga puluh orang murid Pek-liong-pang berkumpul pada malam terakhir itu. Besok pagi, enam belas peti mati itu akan dikebumikan. Dan dalam kesempatan ini, para murid kepala lalu menyatakan rasa penasaran hati mereka terhadap sikap suhu mereka kepada kakek dan nenek yang memusuhi Pek-liong-pang dan yang menyebar maut itu.

"Suhu, teecu sekalian masih tetap merasa penasaran mengapa suhu membiarkan kakek dan nenek iblis itu pergi. Sepatutnya mereka dibunuh untuk membalaskan kematian subo dan enam belas murid Pek-liong-pang. Karena suhu mengampuni dan membebaskan dua iblis itu, apakah arwah subo dan sute tidak penasaran?" demikian seorang murid tua yang telah lulus dan baru saja tiba, mewakili saudara-saudara seperguruannya menyampaikan rasa penasaran hati mereka. Para murid lainnya mengangguk setuju, lantas semua mata ditujukan kepada pendekar itu.

Dalam beberapa hari ini, Cia Han Tiong seolah-olah sudah bertambah tua sepuluh tahun. Dia memandang para muridnya yang duduk bersila di depannya, dekat dengan peti-peti jenazah yang berjajar.

"Subo kalian dan para murid Pek-liong-pang tewas dalam perkelahian, bahkan pihak kita yang melakukan pengeroyokan. Mereka, juga subo kalian, tewas karena memang kalah pandai. Bukankah kalah menang adalah wajar saja dalam sebuah perkelahian? Juga luka atau tewas merupakan rangkaian dan akibat dari kekerasan yang dilakukan kedua pihak. Apa yang harus dibuat penasaran lagi?"

"Akan tetapi, suhu. Mereka yang datang menyerang, bukan kita yang mulai perkelahian itu."

"Mereka datang bukan tanpa sebab. Mereka datang sebagai akibat dari sebab lama, yaitu terbunuhnya nenek guru mereka oleh mendiang sukong kalian."

"Akan tetapi, suhu, mereka datang menyebar maut dan membunuh! Setelah suhu berhasil mengalahkan mereka, mengapa suhu melarang teecu sekalian membunuh mereka untuk membalas dendam, malah suhu membebaskan mereka. Hal ini sungguh dapat membuat orang mati penasaran!" kata seorang murid yang berwatak keras.

Han Tiong tersenyum duka dan timbul niatnya untuk mengajak para muridnya membuka mata untuk melihat betapa kenyataan hidup itu kadang-kadang pahit adanya.

"Kalian dengar dan camkanlah baik-baik. Kalian bilang bahwa mereka datang membalas dendam dan membunuh, lantas kalian menganggap mereka itu jahat. Akan tetapi kalian juga ingin membunuh mereka untuk membalas dendam. Lalu apa bedanya antara mereka dengan kita jika kita juga ingin membunuh karena dendam? Membunuh adalah perbuatan jahat, apa pun juga alasannya, apa lagi membunuh dengan dasar dendam dan kebencian. Andai kata kita membunuh mereka berdua, apakah enam belas jenazah ini akan dapat hidup kembali? Tidak! Maka tidak ada gunanya sama sekali jika kita membunuh mereka, bahkan kita menanam bibit permusuhan baru lagi. Mungkin bibit ini kelak berbuah dengan datangnya keturunan mereka yang akan membalas dendam kepada kita atau keturunan kita."

Keadaan menjadi hening sejenak. Semua kata-kata itu meresap di dalam hati sanubari para murid Pek-liong-pang karena mata mereka kini terbuka dan baru melihat kenyataan yang hebat.

"Lihatlah," ketua Pek-liong-pang itu melanjutkan, "bukankah tiap peristiwa yang menimpa diri kita hanya merupakan pemetikan buah saja dari pohon yang sudah kita tanam sendiri, sedangkan setiap perbuatan kita seperti menanam bibit yang kelak menjadi pohon lantas berbuah dan buahnya harus kita petik sendiri pula? Karena itu kita tidak perlu penasaran memetik buah pohon tanaman kita sendiri. Jadi kalau menanam bibit, tanamlah yang baik! Kalau aku menerima mala petaka ini sebagai pemetikan buah dari pohon lama tanaman ayah, kemudian aku tidak menanam bibit baru, berarti aku sudah mamatahkan belenggu mata rantai karma yang akan mengikat aku dan keluargaku."

"Akan tetapi suhu, dapatkah manusia hidup bebas dari karma?" tanya seorang murid.

"Setiap perbuatan yang didorong oleh nafsu dan pamrih, tentu akan mengikatkan diri kita kepada karma. Karma adalah hukum rangkaian sebab-akibat. Harus kalian ketahui bahwa sebab-sebabnya berada di telapak tangan kita sendiri. Jadi, terputus atau bersambungnya karma pun berada di tangan kita sendiri. Dendam-mendendam, hutang-pihutang budi atau dendam, menciptakan mata rantai karma yang sangat kuat. Apa bila setiap tindakan atau perbuatan kita dilandasi cinta kasih yang berarti wajar tanpa pamrih, maka perbuatan itu habis sampai di sana saja, bukan merupakan akibat mau pun sebab, tanpa dipengaruhi karma. Pamrih timbul karena kita mengharapkan jasa bagi kita dan kutuk bagi orang lain yang merugikan diri kita. Maka, murid-muridku, hiduplah bebas dari dendam dan hutang-pihutang budi, dan kalian akan bebas dari karma."

Malam sudah larut. Tengah malam baru lewat dan para murid mengganti lilin yang tinggal sedikit dengan lilin-lilin baru. Han Tiong sendiri menyalakan hio (dupa lidi) harum hingga ruangan itu dipenuhi asap dupa harum. Keadaan menjadi amat hening ketika mereka tak lagi bicara, keheningan yang mencekam, penuh duka dan keseraman.