Cerita Silat Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 19

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 19

Kerajaan Wengker geger! Pasukan Kahuripan yang besar jumlahnya dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama datang menyerbu bagaikan banjir bandang! Ki Patih Narotama menyerbu Kerajaan Wengker dengan semangat yang menggebu-gebu, bagaikan api berkobar menyala dan membakar apa saja yang menghalangi. Dia ingin cepat-cepat menguasai Wengker agar dapat mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap penyelamatan puteranya yang berada di tangan para pimpinan Parang Siluman, kemudian setelah puteranya dapat dirampas kembali, menundukkan Kerajaan Parang Siluman.

Namun ternyata Kerajaan Wengker tidak seperti Kerajaan Wura-wuri dan Kerajaan Siluman Laut Kidul yang mudah ditaklukkan. Kerajaan Wengker melakukan perlawanan mati-matian! Biarpun jumlah pasukan Wengker kalah banyak, namun Wengker mengerahkan seluruh kekuatan dan melakukan perlawanan dengan gigih. Dewi Mayangsari, Adipati Linggawijaya, dan Resi Bajrasakti merupakan tiga orang sakti yang pandai memimpin pasukan mereka. Pandai pula memberi dorongan semangat sehingga pasukan Wengker melawan dengan nekat.

Pertempuran antara kedua pasukan terjadi sampai berhari-hari. Pertempuran yang amat dahsyat, ganas dan buas! Yang ada hanya membunuh atau dibunuh! Mayat-mayat kedua pihak berserakan memenuhi lapangan pertempuran di luar tembok Kota Raja Wengker!

Semua serangan yang dilakukan Dewi Mayangsari, Linggawijaya, dan Resi Bajrasakti melalui ilmu pertempuran, aji kesaktian, bahkan sihir ilmu hitam, semua dapat digagalkan Ki Patih Narotama. Mereka bertiga memang jerih untuk berhadapan langsung melawan Ki Patih Narotama dan hanya mempergunakan berbagai muslihat untuk menghancurkan Pasukan Kahuripan. Namun, pasukan Kahuripan bertempur penuh semangat walaupun banyak pula di antara mereka yang terluka atau tewas.

Senopati Tanujoyo yang diperbantukan kepada Ki Patih Narotama, juga memperlihatkan keahliannya memimpin pasukan. Demikian pula para perwira pembantu, dengan penuh semangat mendorong pasukan sehingga setelah berhari-hari bertempur, akhirnya pasukan Kahuripan dapat mendesak pasukan Wengker sehingga mereka terpaksa mundur dan memasuki kota raja, menutup pintu gerbang dan melakukan pertahanan dari dalam benteng kota raja.

Ternyata pertahanan Wengker memang kuat sekali. Benteng itu kuat dan usaha pasukan Kahuripan untuk mendekat benteng, selalu disambut hujan anak panah beracun. Terpaksa pasukan Kahuripan menjauh, berlindung di balik perisai dan membalas dengan serangan anak panah. Pertempuran anak panah berlangsung berhari-hari. Akan tetapi Ki Patih Narotama memperketat pengepungan sehingga tidak memungkinkan Wengker mendatangkan ransum dari luar.

Sementara itu, banyak penyelidik diselundupkan. Di antara mereka banyak yang tertangkap dan dibunuh, akan tetapi masih ada beberapa orang berhasil menyusup masuk dan mereka lalu mengadakan aksi pembakaran gudang-gudang ransum. Mereka memang tertangkap dan terbunuh, namun mereka berhasil membakar sebagian besar persediaan ransum.

Tidak adanya penambahan bahan pangan membuat para pimpinan Wengker menjadi panik. Juga sisa pasukannya menjadi gentar dan turun semangatnya. Melihat berkurangnya semangat pasukan Wengker yang tampak dari semakin melemahnya penjagaan mereka, juga serangan balasan anak panah mereka kini hanya jarang dan semakin berkurang, tanda bahwa mungkin mereka kehabisan anak panah, setelah mengepung beberapa pekan lamanya, Ki Patih Narotama lalu memberi komando kepada pasukannya untuk menyerbu!

Di iringi suara bende (canang), genderang, tambur dan diikuti sorak sorai gemuruh, pasukan Kahuripan menyerbu dan mendobrak pintu gerbang yang kokoh dan tebal itu, mempergunakan batang pohon yang panjang dan besar, diangkat ratusan orang perajurit dan ditumbukkan ke pintu gerbang. Terdengar suara menggelegar beberapa kali dan akhirnya daun pintu gerbang itu pun runtuh! Kini pasukan kedua pihak bertempur mati-matian di pintu gerbang. Pasukan Kahuripan menyerbu masuk dan pasukan Wengker mempertahankan.

Melihat betapa pihaknya terancam bahaya dan berada di ambang kehancuran, Dewi Mayangsari, Linggawijaya dan Resi Bajrasakti menjadi panik. Akan tetapi Linggawijaya membesarkan hati isteri dan gurunya.

"Bapa Guru Resi Bajrasakti, saya harap Bapa Guru memimpin pasukan pengawal istana untuk membantu pertahanan pasukan kita. Pertahankan sekuatnya agar musuh jangan sampai dapat menyerbu masuk. Diajeng Dewi Mayangsari, sebaiknya kalau engkau membantu Bapa Resi untuk memperkuat pertahanan. Aku akan melakukan persiapan dan penjagaan terakhir untuk mempertahankan istana kita!"

Keadaan sudah mendesak. Teriakan-teriakan menggenggap gempita sudah menggetarkan istana, maka Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari tidak mempunyai waktu untuk memperbincangkan soal pertahanan lebih lama lagi. Mereka berdua segera berlari keluar, memanggil semua pasukan pengawal istana yang merupakan pasukan istimewa dan memimpin mereka keluar menuju pintu gerbang dan membantu pasukan mempertahankan pintu gerbang agar musuh tidak dapat menyerbu masuk.

Bantuan dua orang sakti ini membuat pertempuran menjadi lebih seru karena selain sepak terjang mereka berdua dapat merobohkan banyak perajurit Kahuripan, juga masuknya dua orang ini membangkitkan semangat para perajurit Wengker. Pasukan Kahuripan yang berada di bagian depan menjadi gempar ketika Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari muncul dan mengamuk. Dalam waktu sebentar saja dua orang ini telah merobohkan dan menewaskan puluhan orang perajurit Kahuripan!

Segera seorang perwira lari melapor kepada Ki Patih Narotama yang mengatur pasukan. Mendengar tentang dua orang sakti yang mengamuk itu, Ki Patih Narotama cepat menuju ke depan dan dia sudah berhadapan dengan Resi Bajrasakti dan Dewi Mayangsari. Memang sepak terjang dua orang pimpinan Wengker ini amat menggiriskan. Dengan Aji Wisa Langking, pukulan yang mengeluarkan asap beracun hitam, Dewi Mayangsari menewaskan perajurit yang berani mendekatinya. Resi Bajrasakti lebih menyeramkan lagi. Dia membawa sebatang cambuk bergagang gading. Cambuknya meledak-ledak dan ujungnya mengeluarkan asap. Perajurit yang terkena lecutan cambuknya, seolah disayat pisau tajam. Kulit daging tersayat, tulang pun remuk terkena lecutan cambuk itu!

"Tar-tar-tarrr... plakk...!"

Tiba-tiba Resi Bajrasakti terkejut sekali ketika gerakan cambuknya yang meledak-ledak dan menyambar-nyambar itu bertemu sesuatu yang amat kuat sehingga cambuknya itu terpental dan membalik, ketika dia melihat orang yang menangkis cambuknya itu, dia mengenal Ki Patih Narotama! Tahulah dia bahwa kini dia berhadapan dengan tokoh Kahuripan yang memang dia takuti. Akan tetapi dalam pertempuran yang mati-matian itu, dia tidak mungkin dapat menghindar lagi, maka dia pun cepat melakukan penyerangan dengan dahsyat.

"Tar-tarrr....!" pecutnya menyambar-nyambar.

"Jahanam Narotama, mampuslah engkau!" Dewi Mayangsari juga membentak sambil menyerang dengan kedua tangannya yang mengandung hawa beracun. Ki Patih Narotama menghindar dari sambaran cambuk dengan lompatan ke kiri dan sengaja menyambut tamparan tangan Dewi Mayangsari sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Wuuuttt.... dessss....!!"

Tubuh Dewi Mayangsari terlempar sampai tiga tombak lebih dan wanita perkasa ini cepat menggulingkan tubuh sehingga tidak terluka ketika terbanting. Ia bangkit berdiri dengan wajah pucat dan gelung rambutnya terlepas. Ia melihat betapa Resi Bajrasakti yang dibantu empat orang perwira mengepung dan mengeroyok Ki Patih Narotama, namun mereka tetap saja terdesak oleh sepak terjang patih yang sakti mandraguna itu. Hati Dewi Mayangsari menjadi jerih, apalagi melihat kini para perajurit Kahuripan mulai menerobos masuk dan pertahanan di luar pintu gerbang sudah jebol. Hanya tinggal menunggu waktu saja istana Wengker tentu akan diserbu.

Ia pun merasa heran mengapa suaminya, Adipati Linggawijaya belum juga tampak membantu. Karena melihat keadaan gawat dan bahaya mengancam, Dewi Mayangsari lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan pertempuran, memasuki istana yang di sebelah dalamnya sepi karena para pelayan yang lemah melarikan dan menyembunyikan diri, sedangkan para perajurit pengawal istana sudah berkumpul semua di depan istana untuk menjaga Istana dari serbuan musuh. Dewi Mayangsari mencari-cari suaminya, namun Adipati Linggawijaya tidak tampak. Ia memanggil-manggil dan mencari ke semua ruangan istana.

"Kakangmas Adipati...!" teriaknya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Bayangan suaminya tidak tampak. Ia merasa heran lalu menuju ke belakang. Ketika bertemu seorang pelayan yang bersembunyi di dapur, ia bertanya, "Ke mana perginya Gusti Adipati?"

Pelayan yang ketakutan itu menuding ke arah belakang dan menjawab, "Hamba tadi melihat Gusti Adipati pergi ke kandang kuda, membawa buntalan kain besar berwarna hitam."

Dewi Mayangsari cepat berlari ke belakang. Setibanya di belakang, dekat kandang kuda, ia melihat suaminya, Adipati Linggawijaya dan Tumenggung Suramenggala, ayah suaminya itu, sedang melompat ke atas dua ekor kuda dan mereka berdua membawa buntalan kain yang tampak berat. Mudah saja bagi Dewi Mayangsari untuk menduga bahwa yang mereka bawa itu tentulah barang-barang berharga, perhiasan dari emas permata. Agaknya ayah dan anak itu hendak melarikan diri!

Melihat mereka mulai melarikan kuda, agaknya hendak mengambil jalan belakang untuk keluar dari istana melalui pintu rahasia yang berada di bagian belakang kompleks istana, Dewi Mayangsari berseru, "Kakangmas, tunggu....!!"

Akan tetapi, Linggawijaya sama sekali tidak mempedulikannya. Menoleh pun tidak bahkan membalapkan kudanya. Melihat ini, Dewi Mayangsari mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah sekali. Tahulah ia bahwa laki-laki yang menjadi suaminya itu, adalah seorang yang rendah budi. Kini hendak melarikan diri meninggalkan Istana dan tidak mempedullkan ia lagi, hendak mencari keselamatan bagi diri sendiri dan ayahnya, dengan membawa pergi harta kekayaan dari istananya!

"Kakangmas, tunggu aku....!" Dewi Mayangsari cepat melompat ke atas seekor kuda dan melakukan pengejaran.

Agaknya Linggawijaya dan Suramenggala yang sudah panik melihat keadaan istana gawat itu, melarikan diri tanpa menengok lagi, tidak tahu kalau Dewi Mayangsari melakukan pengejaran, Mereka berdua hanya mempunyai satu keinginan, yaitu cepat keluar dari istana dan dari Kota Raja Wengker dengan selamat.

Setelah berhasil mengejar dekat, Dewi Mayangsari berseru nyaring, "Kakangmas Linggawijaya, berhentilah. Kita harus membela Wengker dengan taruhan nyawa!"

Tanpa menoleh Linggawijaya berseru, "Engkau boleh tinggal di sini membela Wengker sampai titik darah penghabisan. Aku tidak ingin mati konyol!" jawaban ini terdengar seperti ejekan yang amat menyakitkan hati Dewi Mayangsari.

"Jahanam....!" Hatinya memaki dan ia pun mempercepat larinya kuda sehingga dapat mengejar suaminya. Setelah jaraknya cukup dekat Dewi Mayangsari menggerakkan tangan kanannya dan sinar hitam menyambar ke arah punggung Linggawijaya!

"Aduh....!!"

Linggawijaya berteriak dan roboh terjungkal dari atas punggung kudanya yang terus berlari ketakutan. Biarpun Linggawijaya memiliki kesaktian yang cukup tangguh, akan tetapi diserang dari belakang secara tiba-tiba dan dia sama sekali tidak menduga itu, maka dia tidak dapat menghindarkan diri. Pasir Sakti yang merupakan senjata rahasia ampuh sekali dari Dewi Mayangsari menembus kulit punggungnya dan memasuki rongga dada. Pasir itu mengandung racun yang amat kuat karena senjata rahasia itu merupakan senjata rahasia andalan Nini Bumigarbo yang telah diajarkan nenek itu kepada Dewi Mayangsari.

Melihat Linggawijaya roboh dari atas kudanya, Tumenggung Suramenggala terkejut, akan tetapi dia malah makin membalapkan kudanya. Mayangsari yang marah sekali kepada suaminya, tidak peduli akan larinya Ki Suramenggala. Ia melompat turun dari atas kudanya, lalu menghampiri Linggawijaya yang roboh miring sambil mencabut sebatang pedang yang tergantung di punggungnya.

"Jahanam keparat! Laki-laki pengecut, pengkhianat hina, manusia rendah....!" Dewi Mayangsari memaki-maki sambil menghampiri dan ia sudah mengangkat pedangnya.

Akan tetapi pada saat itu, secara tiba-tiba Linggawijaya membalik, mengeluarkan gerengan seperti binatang buas, tangan kanannya menggerakkan Pecut Tatit Geni yang telah dia persiapkan, menyerang ke arah dada Dewi Mayangsari.

"Tar-tarrr...!"

Tampak kilatan api dari pecut itu dan dada Dewi Mayangsari yang sama sekail tidak menyangka akan ada serangan mendadak yang amat dahsyat itu, dihantam ujung pecut. Dewi Mayangsari mengeluh akan tetapi dengan sisa tenaga yang ada ia menubruk dan menusukkan pedang di tangannya ke arah dada Linggawijaya yang terkulai setelah tadi mengerahkan tenaga terakhir untuk menyerang Dewi Mayangsari.

"Blesss...!"

Pedang itu menancap ulu hati Linggawijaya sampai menembus punggung. Tubuh Dewi Mayangsari terkulai dan roboh di atas tubuh Linggawijaya. Kedua orang itu tewas dalam saat yang bersamaan, tubuh mereka tumpang tindih berlepotan darah keduanya.

Sementara itu, Resi Bajrasakti kewalahan sekali melawan Ki Patih Narotama. Dengan repot dia mencoba untuk bertahan, mengeluarkan segala macam ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya. Akan tetapi tetap saja dia kewalahan dan semakin terdesak hebat. Ki Patih Narotama yang maklum bahwa kakek ini yang memperkuat Kerajaan Wengker dan datuk ini sejak dulu terkenal sebagai seorang datuk sesat yang jahat, kemudian menjadi guru Linggawijaya yang kemudian juga terkenal jahat, terus mendesaknya.

"Hyaaaaahhhhh....!"

Tiba-tiba dia mengeluarkan pekik melengking dan dengan nekat dia mengerahkan seluruh tenaganya, menggunakan pukulan Aji Gelap Sewu dan mendorongkan kedua tangannya ke arah dada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama menyambut dengan sikap tenang, mendorongkan kedua tangan dan juga mengerahkan tenaga saktinya.

Syuuuutttt... blarrr...!"

Sekali ini, Ki Patih Narotama mengerahkan seluruh tenaganya. Pertemuan hebat kedua tenaga sakti itu terasa getarannya oleh semua perajurit yang sedang bertempur di sekeliling tempat itu, bahkan yang terdekat terpelanting roboh disambar getaran itu. Tubuh Resi Bajrasakti sendiri terpental jauh, terjengkang dan terbanting roboh, tak bergerak lagi. Dari hidung dan mulutnya mengalir darah segar dan dia tewas seketika oleh tenaga saktinya sendiri yang membalik dan merusak isi dada dan perutnya.

Melihat Resi Bajrasakti yang menjadi andalan mereka itu roboh dan tewas, semua perwira Wengker menjadi panik dan ketakutan. Banyak di antara mereka lalu meninggalkan pertempuran dan melarikan diri. Melihat ini, tentu saja anak buah mereka, para perajurit juga kehilangan semangat dan ketakutan. Dengan sendirinya pasukan Kahuripan mendapat angin dan mereka terus menyerbu ke dalam. Setelah Ki Patih Narotama memimpin para perwira pembantu dan pasukan memasuki istana, dia tidak menemukan perlawanan sama sekali. Mereka semua merasa heran karena tidak melihat adanya Adipati Linggawijaya dan Dewi Mayangsari di dalam istana. Akan tetapi seorang perajurit datang melaporkan kepada Ki Patih Narotama bahwa suami isteri itu ternyata telah tewas dalam keadaan mengerikan di dekat kandang kuda.

Ki Patih Narotama cepat pergi ke belakang dan dia menemukan mayat kedua orang itu bertumpang tindih mandi darah. Linggawijaya masih memegang senjata pecutnya, dan Dewi Mayangsari masih memegang gagang pedangnya yang menembus dada Linggawijaya. Di dekat mereka terdapat buntalan berisi perhiasan emas permata berserakan.

Ki Patih Narotama menghela napas panjang. Sekali lagi dia menjadi saksi akan datangnya akibat dari perbuatan buruk yang menjadi sebabnya. Lebih jelas lagi bukti terjadinya hukum karma ini ketika seorang perwira melaporkan bahwa Ki Suramenggala yang melarikan diri menunggang kuda melalui jalan rahasia di belakang istana, bertemu dengan para perajurit Wengker yang sedang melarikan diri pula dan para perajurit itu melihat Ki Suramenggala lari membawa harta benda, lalu mengeroyok dan membunuhnya, dan buntalan harta benda itu menjadi rebutan!

"Tidak ada kejahatan yang mendatangkan kebahagiaan." katanya lirih, didengarkan oleh para perwira dalam ruangan istana itu. "Cepat atau lambat, hukum itu pasti datang menuntut pelakunya. Hukuman akibat perbuatan jahat yang datang selagi masih hidup, masih amat ringan dibandingkan dengan hukuman sebagai akibat yang datang setelah pelakunya mati. Perbuatan jahat hanya mendatangkan kesenangan lahiriah, kesenangan jasmani yang sifatnya fana. Sebaliknya perbuatan yang baik akan mendatangkan kebahagiaan kekal walaupun mungkin di waktu hidupnya si pelaku belum menikmati hasilnya."

Semua yang mendengarkan menundukkan kepala karena mereka semua yakin akan kebenaran ucapan Ki Patih Narotama dan apa yang terjadi itu merupakan contoh dan pelajaran yang baik sekali bagi mereka. Namun Ki Patih Narotama sekali ini tidak dapat menikmati kemenangan yang telah dicapainya dengan menalukkan Wengker karena dia melihat demikian banyaknya korban manusia yang tewas oleh pertempuran dahsyat itu.

Kerajaan Wengker merupakan lawan yang paling gigih selama operasi ini dan menimbulkan banyak korban, baik di pihak Wengker maupun di pihak Kahuripan. Selain itu, dia juga merasa prihatin karena kini tinggal Kerajaan Parang Siluman yang harus dia talukkan. Akan tetapi sampai sekarang belum juga ada berita tentang puteranya yang disandera para pimpinan Parang Siluman!

Dia lalu mengumpulkan sisa pasukannya dan mengirim berita kepada Sang Prabu Erlangga di Kahuripan tentang Wengker yang sudah ditalukkan dan mohon kiriman pasukan bantuan untuk memperkuat pasukannya yang sudah berkurang banyak, menghadapi musuh terakhir, yaitu Parang Siluman.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Seorang pemuda tampan melewati para perajurit yang berjaga di pintu gerbang Kota Raja Parang Siluman. Seandainya Nurseta belum tertawan, tentu para penjaga itu akan merasa curiga melihat pemuda tampan yang tidak dikenal sebagai penduduk Kota Raja Parang Siluman itu. Akan tetapi Nurseta sudah tertawan, maka para penjaga membiarkan pemuda tampan itu lewat tanpa curiga. Siapa yang mencurigai seorang pemuda yang tampan, bertubuh kecil dan tampak lemah itu?

Pemuda itu adalah Puspa Dewi yang menyamar. Dengan menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan tampak masih remaja, la dapat memasuki Parang Siluman dengan mudahnya. Puspa Dewi bersikap seolah-olah ia seorang pemuda dusun yang baru pertama kali melihat Kota Raja Parang Siluman. Ia memperlihatkan sikap terkagum-kagum dan terheran-heran melihat bangunan kompleks istana yang besar, indah dan megah.

Tampaknya ia seorang pemuda dusun yang melihat-lihat istana dan mengaguminya, padahal tentu saja ia mengelilingi perumahan istana itu untuk melakukan penyelidikan dan untuk melihat apakah ada jalan masuk yang baik baginya. Ia harus memasuki istana kalau ingin menemukan tempat disembunyikannya Joko Pekik putera Ki Patih Narotama. Ia pun tidak tahu di mana adanya Nurseta yang lebih dulu melakukan tugas menyelamatkan Joko Pekik. Apakah Nurseta sudah berhasil memasuki istana? Entah sudah berapa kali ia mengelilingi istana sejak masuknya ke kota raja pagi tadi. Hari sudah siang dan Puspa Dewi masih belum menemukan jalan terbaik untuk memasuki kompleks istana.

Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian seorang perwira menghampirinya. Perwira itu berusia empat puluh tahun lebih, wajahnya seperti tikus dan matanya tampak cerdik dan licik sekali. Tubuhnya juga kurus, namun dia berjalan dengan dada diangkat dan dibusungkan sehingga tampak lucu. Akan tetapi Puspa Dewi tidak memandang remeh dan ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Dengan wajah tenang dan sinar mata penuh pertanyaan ia berhenti melangkah dan memandang perwira yang bergegas menghampirinya itu. Kebetulan siang itu panas sekali dan di tempat mereka bertemu ini agak sunyi, tidak banyak orang berlalu-lalang.

"Kisanak, aku sejak tadi memperhatikanmu dan melihat betapa Andika sudah tiga kali lewat di sini. Mengapa Andika berputar-putar mengelilingi istana?"

Diam-diam Puspa Dewi terkejut akan kejelian mata orang ini. Akan tetapi ia bersikap tenang dan menjawab dengan suara sungguh-sungguh. "Baru satu kali ini saya melihat bangunan istana yang begini indahnya. Saya senang dan mengaguminya, tiada bosannya melihat sejak tadi. Apakah ini tidak boleh Kisanak?"

"Hush...! Jangan aku sebut Kisanak. Namaku Raden Kaloka dan engkau harus menyebut aku Raden Kaloka, aku perwira terkenal dari pasukan pengawal istana. Tahu?"

"Maaf, Raden Kaloka...!"

"Nah, sekarang jawab, siapa namamu?" tanya perwira itu dengan nada bangga dan angkuh setelah dia disebut Raden. "Dari mana asalmu?"

Puspa Dewi memang sudah siap dengan nama dan tempat asalnya untuk menjaga kalau-kalau ada yang bertanya dan harus dijawab. Maka suaranya datar dan wajar ketika ia menjawab. "Nama saya Sakri, saya tinggal di daerah Kadipaten Siluman Laut Kidul di pesisir. Ketika tempat saya diserbu dan diduduki pasukan Kahuripan, saya melarikan diri mengungsi dan hari ini tiba di sini untuk mencari pekerjaan."

"Hemm, bagus...! Kebetulan sekali, Sakri. Ada pekerjaan yang amat baik untukmu, engkau akan hidup berbahagia sekali, berenang di lautan kenikmatan dan kemewahan, maukah engkau kuberi pekerjaan itu?"

"Wah, tentu saja mau, Raden! Pekerjaan apakah itu?"

"Pekerjaan itu mudah dan menyenangkan, sama sekali tidak berat atau kotor. Bahkan engkau akan selalu mengenakan pakaian yang indah dan bersih, tinggal di kamar yang indahnya belum pernah engkau bayangkan dalam mimpi sekalipun."

"Wah, Raden Kaloka, saya mau mendapatkan pekerjaan itu! Pekerjaan apakah itu?"

"Nanti dulu, berapa usiamu sekarang?"

"Sekitar.... delapan belas tahun."

"Engkau masih perjaka?"

Wajah pemuda itu menjadi kemerahan, akan tetapi Puspa Dewi mengangguk dan menjawab sambil tersenyum. "Tentu saja saya masih perjaka, Raden."

"Bagus, itulah yang mereka inginkan. Perjaka tulen, tampan, sikapnya lembut, kulitnya halus bersih. Wah, engkau akan memenuhi selera mereka dan akan menjadi anak emas, Sakri!" Perwira itu tampak gembira sekali, menggosok-gosok kedua tangannya. "Akan tetapi, aku mau memberi pekerjaan itu asalkan engkau mau berjanji bahwa segala yang kau terima dari mereka, akan kau berikan kepaku separuhnya. Bagaimana, setuju?"

"Saya setuju, Raden. Akan tetapi siapakah mereka itu dan pekerjaan apa yang harus saya lakukan?"

"Engkau harus bersumpah dulu akan membagi penghasilanmu dengan aku, masing-masing separuh."

"Aku bersumpah!" kata Puspa Dewi dengan suara meyakinkah karena ia ingin sekali mengetahui pekerjaan apa yang ditawarkan perwira ini. Siapa tahu pekerjaan itu akan memungkinkan ia melaksanakan tugasnya membantu Nurseta untuk membebaskan Joko Pekik.

"Bagus...! Nah, sekarang dengarlah baik-baik. Engkau akan kuantar dan kuserahkan kepada dua orang puteri yang cantik seperti bidadari, yaitu bukan lain kedua orang puteri istana, Puteri Lasmini dan Puteri Mandari."

Puspa Dewi tak dapat menahan kegembiraan hatinya yang terpancar pada wajah dan sinar matanya.

"Ahhh...! Apa maksudmu, Raden? Kenapa saya akan diserahkan kepada mereka? Apa yang harus saya kerjakan di sana?"

"Ha-ha-ha... Engkau benar-benar masih hijau! Seorang perjaka ting-ting (tulen)! Mereka akan senang sekali menerimamu! Engkau akan bekerja di istana, menjadi pelayan dua orang puteri itu, menjadi penghiburnya, menjadi kekasih mereka dan engkau taati saja semua perintahnya yang pasti akan menyenangkan hatimu, menikmatkan tubuhmu dan engkau akan berenang dalam kemewahan, bahkan kekuasaan karena sebagai kekasih dua orang puteri itu, tidak ada seorang pun berani mengganggumu. Bagaimana?"

Tentu saja Puspa Dewi girang bukan main. Ia akan dimasukkan ke istana! Tentu saja hal ini akan memudahkan tugasnya menyelidiki di mana adanya Joko Pekik! Akan tetapi bulu tengkuknya meremang ketika ia membayangkan bahwa dirinya harus melayani dua orang puteri itu. Pelayanan apalagi kalau bukan bercumbu rayu kalau ia akan dijadikan kekasih mereka? Huh! Andaikata ia benar-benar seorang pemuda sekalipun, ia merasa ngeri dengan janji pekerjaan macam itu! Apalagi ia seorang wanita! Tentu penyamarannya akan ketahuan dan keselamatannya terancam berat!

"Wah, saya... saya takut, Raden! Bagaimana mungkin saya dapat diterima di dalam istana kedua orang Gusti Puteri itu? Andika sendiri pun mungkin akan mendapat marah besar dan menerima hukuman karena lancang membawa saya ke sana. Kita berdua akan dihukum berat. Saya takut, Raden Kaloka!"

"Ha-ha-ha, jangan takut, Sakri. Dua orang Gusti Puteri itu tidak akan marah kepadaku, malah mereka akan senang sekali. Kau tahu, akulah satu-satunya perwira pasukan pengawal istana yang mendapatkan kepercayaan dari mereka berdua. Hanya aku yang berhak membawakan pemuda-pemuda tampan yang menjadi penghibur mereka. Sudah sering aku membawa pemuda-pemuda tampan kepada mereka, akan tetapi rasanya belum pernah ada yang seperti engkau. Engkau pasti akan sangat menyenangkan hati mereka dan ini merupakan keuntungan kita berdua, Sakri."

Puspa Dewi melihat kesempatan baik sekali. Ia sengaja memperlihatkan keraguan, lalu berkata. "Tentu saja saya akan senang sekali mendapatkan pekerjaan itu, Raden Kaloka. Akan tetapi, agar aku dapat bekerja dengan baik dan dapat memuaskan hati kedua orang Gusti Puteri, maka saya perlu mempelajari tentang keadaan dan kebiasaan dalam istana, terutama tentang keadaan dua orang puteri itu. Kalau saya tidak tahu apa-apa, saya akan tampak bodoh sekali dan saya takut melakukan apa-apa."

"Tentu saja...! Juga engkau harus berganti pakaian yang bersih dan indah agar tampak tampan dan menarik sekali. Mari kita pergi ke rumahku yang khusus kupergunakan untuk mempersiapkan para pemuda calon pelayan Gusti Puteri Lasmini dan Gusti Puteri Mandari."

Puspa Dewi mengikuti perwira itu dan ternyata rumah milik perwira itu adalah sebuah rumah hanya ditunggu dan dijaga seorang pelayan laki-iaki tua dan di rumah itu tersedia pakaian pemuda yang banyak dan serba indah.

Puspa Dewi disuruh keramas dan mandi sampai bersih, lalu diberi pakaian baru yang indah. Setelah ia mempersiapkan diri, kini menjadi seorang pemuda yang benar-benar amat tampan menarik, Kaloka yang sebetulnya bukan raden dan bukan keturunan bangsawan itu, lalu memberi keterangan sejelasnya tentang kebiasaan dua orang puteri itu. Dengan cerdik Puspa Dewi memancing dalam pembicaraan itu sehingga Kaloka menceritakan segalanya. Bahkan dia menceritakan pula betapa Puteri Lasmini dan Puteri Mandari sedang kecewa, penasaran dan membutuhkan penghibur karena mereka berdua dikecewakan seorang pemuda yang ditawan akan tetapi pemuda itu menolak untuk menjadi kekasih mereka!

Biarpun jantungnya berdebar, namun Puspa Dewi bertanya secara sambil lalu dan acuh tak acuh. "Hemm, Andika bilang bahwa dua orang puteri cantik seperti bidadari. Akan tetapi mengapa seorang pemuda tawanan menolak mereka."

"Hemm, engkau mana tahu? Tawanan itu bukan sembarang orang. Dia adalah Nurseta, jagoan muda dari Kahuripan yang terkenal itu!"

Puspa Dewi tidak mengejar lebih lanjut mengenai Nurseta yang menjadi tawanan agar tidak mendatangkan kecurigaan. Sebaliknya ia memancing agar perwira itu menceritakan lebih jelas keadaan dalam istana, ruangan-ruangannya, lorong-lorong dan taman-tamannya. Ia mencatat dan menggambar dalam hatinya keadaan di dalam istana itu. Bahkan tanpa curiga sedikit pun Kaloka menceritakan di mana adanya tempat tahanan istana dengan jelas.

Menjelang senja, setelah sinar matahari melembut karena Raja Siang itu sudah bersembunyi di balik bukit barat, Puspa Dewi mengikuti Kaloka pergi ke istana Parang Siluman. Kaloka memang tadi menanti sampai cuaca remang-remang karena biarpun dia merupakan orang kepercayaan kedua orang puteri untuk mencarikan pemuda-pemuda tampan sebagai penghibur, namun dia masih merasa sungkan kepada para petugas lain. Karena itu, dia tidak ingin tampak mencolok kalau membawa pemuda tampan memasuki istana walaupun tentu saja tidak akan ada perajurit pengawal atau orang lain berani melarangnya.

Begitu memasuki perumahan istana yang luas itu, dia membawa Sakri memasuki taman bunga yang luas karena dia akan langsung menuju ke keputren yang letaknya di bagian belakang kompleks bangunan istana. Taman yang luas itu menyambung ke daerah keputren, dan malam itu kebetulan gelap dan sunyi karena angin malam bertiup kencang sehingga hawanya amat dingin. Ketika mereka tiba di tengah taman di mana tumbuh banyak pohon pisang emas, Puspa Dewi melihat keadaan disitu amat sunyi. Cepat ia menggerakkan tangan kirinya. Jari-jari tangan yang lentik itu menyambar tengkuk dan Kaloka mengeluh lalu terguling, tubuhnya terasa lumpuh!

"Diam...!" Puspa Dewi menghardik sambil berjongkok dan mencengkeram leher perwira itu.

"Hayo katakan di mana putera Ki Patih Narotama disembunyikan!"

Kaloka ketakutan. Baru dia menyadari bahwa pemuda ini adalah seorang sakti, agaknya utusan Ki Patih Narotama mencari puteranya yang ditawan di Parang Siluman.

"Aku.... aku... tidak tahu..."

"Jangan bohong!" Puspa Dewi memperkuat cekikannya. "Hayo mengaku, di ruangan mana anak itu ditahan!"

"Tidak... sungguh mati.... tidak disimpan di istana... telah dibawa keluar... akan tetapi entah di mana... karena dirahasiakan...."

Puspa Dewi teringat akan cerita Kaloka tentang Nurseta. Sebaiknya menolong Nurseta lebih dulu lalu bersama-sama nanti mencari Joko Pekik, pikirnya. Ia lalu bangkit berdiri dan menggerakkan tangan ke arah dada Kaloka tanpa menyentuhnya. Akan tetapi perwira itu terkulai dan tewas seketika karena dia telah terkena pukulan jarak jauh yang amat ampuh. Puspa Dewi terpaksa membunuhnya karena kalau tidak dibunuh, Kaloka merupakan bahaya besar bagi dirinya, Nurseta, dan mungkin Joko Pekik. Kaloka dapat menggagalkan kesemuanya kalau sampai dapat sadar dan menceritakan tentang sepak terjangnya kepada para pimpinan Parang Siluman.

Setelah menewaskan Kaloka, Puspa Dewi cepat menyusupkan mayat perwira itu ke dalam semak yang tumbuh disitu, kemudian ia segera mencari tempat tahanan yang sudah ia ketahui dari keterangan Kaloka tadi. Ia melihat sebuah ruangan yang terang dan terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap. Ia mengintai dan melihat para pimpinan Parang Siluman sedang mengadakan rapat pertemuan dalam ruangan itu. Tampak Ratu Durgamala, Lasmini, Mandari, Ki Nagakumala, dan beberapa orang senopati. Melihat ini, Puspa Dewi cepat menyelinap pergi. Kebetulan sekali, pikirnya. Para pimpinan yang sakti mandraguna berkumpul di ruangan itu sehingga ia dapat bergerak lebih bebas.

Tak lama kemudian, Puspa Dewi sudah berada di luar tempat tahanan. Ia melihat tiga orang menjaga di depan pintu besi di mana Nurseta tampak duduk bersila, dan di sekeliling rumah tahanan itu masih ada belasan orang perajurit yang melakukan penjagaan. Terlalu banyak penjaga, pikirnya. Kalau ia menggunakan kekerasan merobohkan mereka, sebelum mereka semua dapat ia robohkan, tentu ada yang berteriak dan ia akan gagal karena harus menghadapi semua tokoh sakti tadi, ditambah pasukan yang ribuan orang banyaknya!

Puspa Dewi segera melompat ke atas dan ternyata di atap tempat tahanan itu tidak terjaga orang. Ia membuka atap sehingga berlubang dan dari atas ia dapat melihat Nurseta yang bersila di atas lantai. Puspa Dewi lalu mengerahkan tenaga saktinya dan berbisik dari atas.

"Nurseta...., mengapa engkau tidak segera meloloskan diri? Ini aku... Puspa Dewi....!"

Bisikan ini tidak dapat terdengar oleh orang lain karena hanya merupakan bisikan lirih, namun digetarkan oleh tenaga sakti dan dikirim langsung ke arah Nurseta sehingga hanya pemuda ini yang dapat menangkapnya.

Mendengar ini, Nurseta maklum bahwa gadis perkasa itu telah datang hendak menolongnya dan berada di atas atap. Akan tetapi untuk menjawab dengan bisikan yang sama, dia tidak dapat karena begitu mengerahkan tenaga saktinya, racun dalam tubuhnya akan menyerangnya dan dapat menewaskannya. Dia maklum akan keheranan Puspa Dewi. Tentu saja gadis itu merasa heran mengapa dia diam saja dijadikan tawanan, tidak cepat membebaskan diri. Gadis itu tentu saja tidak tahu akan keadaan tubuhnya yang terancam maut oleh racun yang jahat sekali. Dia memperoleh akal lalu berkata-kata dengan suara bisikan, cukup lantang sehingga terdengar oleh Puspa Dewi yang berada di atas atap, juga oleh para penjaga yang berada di luar pintu kamar tahanan Itu.

"Hei...!, Kisanak yang menjaga di luar" dia memanggil.

Dua muka orang tampak di antara terali pintu kamar itu.

"Andika mau apa?" tanya seorang di antara mereka.

"Tolonglah Andika pergi ke kamar Gusti Puteri Lasmini dan sampaikan permintaanku agar tongkat hitam milikku dikembalikan padaku. Tanpa adanya tongkat hitamku itu, aku akan mati di sini."

Dua orang penjaga itu tertawa.

"Ha-ha, Nurseta. Engkau sungguh manusia rewel dan tak tahu diri. Gusti Puteri sudah memerintahkan agar kami memperlakukanmu baik-baik, menghidangkan makanan yang enak-enak dan tidak menganggumu. Sekarang engkau malah minta yang bukan-bukan. Mana kami berani mengganggu Gusti Puteri dengan permintaanmu itu!"!

Puspa Dewi terkejut dan merasa heran sekali mendengar ucapan Nurseta. Mengapa pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya melalui suara yang didorong tenaga sakti? Ia memandang dan melihat Nurseta menggunakan kedua tangan menekan ke arah dada lalu mengembangkan kedua tangan dengan gerakan seorang yang tidak berdaya. Lalu jari telunjuknya membuat gerakan menggores ke atas lantai. Puspa Dewi memperhatikan. Ternyata Nurseta membuat gerakan menulis dan ia memperhatikan dengan seksama.

"Pusaka Tunggul Manik." demikian bunyi tulisan itu.

Seketika Puspa Dewi maklum. Dia mendengar akan tongkat pusaka hitam bernama Tunggul Manik itu. Itu adalah tongkat pusaka milik Ki Patih Narotama yang ampuh dan kabarnya dapat menolak segala macam racun. Nurseta membutuhkan tongkat itu yang berarti bahwa dia keracunan hebat. Pantas saja tidak mampu menjawab pertanyaannya dengan suara yang dikerahkan tenaga sakti. Dan tongkat itu berada di kamar Lasmini! Agaknya tongkat itu tadinya dibawa Nurseta, kemudian dirampas Lasmini. Gadis yang cerdik ini segera mengetahui maksud Nurseta. Ia harus mencari tongkat itu untuk menyembuhkan Nurseta yang keracunan sehingga tidak berdaya meloloskan diri! Cepat ia berkelebat dan pergi mencari kamar tidur Lasmini.

Untung Puspa Dewi sudah mendapatkan gambaran yang jelas dari Kaloka tentang kamar-kamar dan ruangan di istana itu sehingga tidak sukar baginya untuk dapat menemukan kamar tidur Puteri Lasmini. Sekitar kamar mewah itu sepi, tidak ada perajurit pengawal yang berjaga. Hal ini dapat dimaklumi karena Lasmini adalah seorang wanita yang sakti, maka tentu saja ia tidak membutuhkan pengawalan para perajurit. Selain itu, puteri yang suka menerima pemuda di dalam kamarnya, tidak ingin ada orang lain mendekati kamarnya dan mengganggu kesenangannya. Maka kamar itu pun sepi dari penjagaan sehingga memudahkan Puspa Dewi untuk memasukinya. Dengan girang ia dapat menemukan tongkat pusaka hitam itu dan cepat ia membawa tongkat itu kembali ke atas atap kamar tahanan Nurseta.

"Nurseta,... Tunggul Manik sudah kudapatkan!" Ia berbisik melalui lubang di atap.

Nurseta bersikap tetap tenang walaupun hatinya merasa girang sekali. Ia lalu menulis lagi di atas lantai dengan goresan ujung jarinya, diperhatikan dan dibaca oleh Puspa Dewi dari atas.

"Kerik Tunggul Manik dan lemparkan bubuk kerikannya ke bawah." demikian bunyi tulisan yang dilakukan satu demi satu dan perlahan-lahan sehingga Puspa Dewi dapat mengikuti dan membacanya.

Setelah mengetahui maksudnya, Puspa Dewi segera mengambil patrem (keris kecil) Sang Cundrik Arum pemberian Erlangga dan menggunakan senjata pusaka kecil itu untuk mengerik tongkat kayu hitam itu. Untung ia memiliki Cundrik Arum, kalau tidak, akan sulit sekali untuk dapat mengerik tongkat pusaka yang amat kuat itu. Akan tetapi Sang Cundrik Arum juga merupakan pusaka ampuh, maka ia dapat mengerik tongkat hitam itu. Ia membungkus bubuk kerikan hitam itu dengan ujung sabuk yang dipotongnya, lalu ia melemparkan bungkusan itu ke bawah.

Lemparannya tepat mengenai pangkuan Nurseta yang segera mengambilnya. Dengan tenang Nurseta bangkit berdiri dan menghampiri bangku di sudut ruangan dekat pintu di mana para penjaga selalu menyediakan tempat air minum dan cawannya. Nurseta menuangkan bubuk hitam ke dalam cawan lalu diisi air minum dan diminumnya. Dua orang pengawal yang mendengar gerakannya, menjenguk dari balik terali akan tetapi melihat Nurseta hanya mengambil air minum, mereka duduk kembali sambil mengobrol melewatkan malam.

Nurseta kembali duduk bersila dan dia merasa betapa pengaruh obat bubuk tongkat sakti itu mulai bekerja. Ada hawa panas muncul dari dalam perutnya, menjalar ke seluruh tubuh dan tulang-tulangnya, pada buku-buku dan sambungan, mengeluarkan bunyi berkerotokan!

Puspa Dewi melihat dari atas dan ia maklum bahwa setelah minum bubuk kerikan tongkat itu, kini Nurseta sedang mengumpulkan hawa murni untuk membantu bekerjanya obat itu. Ia menanti dengan sabar dan penuh harapan. Beberapa lama lewat dengan menegangkan. Tiba-tiba Puspa Dewi mendengar suara bisikan.

"Dewi, terima kasih... Sekarang aku siap meloloskan diri. Bantulah dari luar!"

"Baik, Nurseta!"

Puspa Dewi gembira sekali karena kini Nurseta bicara melalui pengerahan tenaga sakti, berarti kesehatan pemuda itu telah pulih! Ia lalu berkelebat turun dan memasuki lorong menuju kamar tahanan itu. Begitu masuk, empat orang perajurit penjaga menyambutnya dengan bentakan dan ketika mereka melihat Puspa Dewi sebagai seorang pemuda yang tidak mereka kenal, mereka segera menyerang dengan golok mereka. Akan tetapi begitu Puspa Dewi menggerakkan kaki tangannya, empat orang itu terpelanting roboh. Puspa Dewi berlari masuk dan tiga orang penjaga di luar pintu besi kamar tahanan itu pun sudah roboh terpukul oleh Nurseta yang menggunakan pukulan jarak jauh.

Melihat munculnya Puspa Dewi, Nurseta terbelalak. Penerangan di situ memang tidak cukup maka dia tidak mengenal pemuda yang berada di luar pintu tahanan itu.

"Siapakah Andika...?" Nurseta bertanya.

Puspa Dewi tertawa. "Hi-hik, engkau juga tidak mengenalku?"

"Puspa Dewi...!"

"Husssh...! Mari kita buka pintu besi ini!" Mereka lalu menggabungkan tenaga sakti mereka. Nurseta menarik dan Puspa Dewi mendorong. Jebollah pintu itu dan terbuka ke sebelah dalam. Nurseta melompat keluar.

"Nih, pusaka mu!" Puspa Dewi menyerahkan tongkat pusaka Tunggul Manik itu kepada Nurseta.

"Terima kasih, Dewi...!"

"Nanti saja terima kasihnya. Masih banyak yang harus kita lakukan."

Pada saat itu, dari luar, belasan orang perajurit berlari masuk menyerbu dua orang itu. Nurseta dan Puspa Dewi menerjang ke depan. Dengan mudah mereka merobohkan perajurit yang berani menghadang. Sebentar saja mereka sudah berlari keluar dari rumah tahanan.

"Mari kita keluar dulu dari tempat ini!" kata Nurseta.

"Akan tetapi, kita harus mencari Joko Pekik!"

"Tidak ada di sini...! Mari kita pergi cepat!" kata Nurseta.

Sudah terdengar kentongan tanda bahaya ditabuh orang. Mereka berkelebat lewat taman dan sebentar saja mereka sudah keluar dari dinding yang mengelilingi kompleks istana. Begitu melompat turun keluar dinding istana, beberapa sosok bayangan berkelebat dan terdengar seruan berbisik.

"Cepat, Andika berdua ikuti kami!"

"Witarto...!" Seru Nurseta yang mengenal suara telik sandi Kahuripan itu.

Puspa Dewi yang tadinya sudah siap siaga hilang kecurigaannya dan bersama Nurseta ia berlari mengikuti bayangan tiga orang itu. Mereka menuju ke sebuah rumah bilik di daerah pinggiran kota raja, daerah yang sepi karena itu merupakan persawahan. Dalam rumah itu terdapat sepuluh orang laki-laki. Mereka adalah para telik sandi Kahuripan yang sudah lama menyusup dan bertugas di Parang Siluman, dipimpin oleh Witarto yang biarpun usianya baru dua puluh dua tahun, namun terkenal cerdik dan memiliki keahlian menyamar.

"Wah, beruntung sekali Andika dapat melepaskan diri, Denmas Nurseta. Kami semua sudah menjadi gelisah sekali mendengar bahwa Andika tertawan dan tidak tahu bagaimana harus menolong karena istana terkepung penjagaan yang amat ketat. Siapakah Kisanak ini?" Witarto menunjuk ke arah Puspa Dewi.

Nurseta tersenyum. "Ia yang telah menolong dan membebaskanku. Andika sebagai ahli penyamaran benar-benar tidak mengenalnya, Witarto?"

"Nanti dulu...!" Witarto mengambi lampu dari atas meja dan mendekati Puspa Dewi sehingga dia dapat meliha jelas wajah gadis yang menyamar itu.

"Ah...! Hebat sekali! Bukankah Andika ini Den Roro Puspa Dewi?"

"Hemm, penglihatanmu tajam sekali! Nurseta, siapakah Kisanak ini?" tanya Puspa Dewi kagum.

"Dewi, dia adalah Witarto yang memimpin para telik sandi yang dikirim Gusti Patih Narotama menyusup ke sini."

"Akan tetapi aku tidak mengenal dia! Bagaimana dia dapat mengetahui bahwa aku..."

"Den Roro, Andika dan Denmas Nurseta adalah dua orang tokoh muda yang dikenal semua perajurit Kahuripan. Biarpun saya baru satu kali melihat Andika, tentu saja saya dapat mengenal Andika. Sekarang, marilah kita berangkat dan membebaskan Raden Joko Pekik Satyabudhi!"

"Witarto, Andika sudah tahu di mana anak itu disembunyikan?"

"Saya sudah mengetahui. Dia disembunyikan dalam sebuah gua yang terjaga ketat di luar kota raja. Tempat itu berbahaya sekali. Ketika menyelidiki ke sana, kami telah kehilangan dua orang rekan sehingga kini jumlah kami tinggal sepuluh orang."

"Hemm, menjadi selusin lagi ditambahi kami berdua." Kata Nurseta. "Mari kita berangkat, anak itu harus cepat-cepat dapat kita rampas dari tangan mereka."

Mereka semua lalu keluar dari rumah dan dalam kegelapan waktu lewat tengah malam itu mereka keluar dari kota raja melalui dinding yang tidak terjaga, yang sudah dikenal oleh Witarto yang sudah lama menjadi telik sandi di situ. Mereka dapat lolos tanpa diketahui para perajurit. Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di bukit di mana terdapat gua besar yang menjadi tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi itu.

Gua itu besar dan dari jauh tampak sebagai mulut raksasa yang ternganga, siap mencaplok siapa saja yang berani memasukinya. Di depan gua terdapat rumpun bambu yang lebat dan untuk menghampiri gua itu orang harus melalui lapangan rumput yang luas. Di luar lapangan rumput, agak jauh dari gua, tampak sebuah gardu dan di situ terdapat dua belas orang perajurit melakukan penjagaan. Melihat adanya selusin perajurit berjaga, Nurseta dan Puspa Dewi mulai timbul harapan besar dan semakin percaya akan keterangan Witarto bahwa gua itu dijadikan tempat disembunyikannya Joko Pekik Satyabudhi.

Setelah mengintai beberapa saat lamanya dari kejauhan dan mendapat kenyataan bahwa yang tampak berjaga hanya dua belas orang perajurit itu, sedangkan di seberang lapangan rumput depan gua hanya tampak bayangan beberapa orang saja, Nurseta lalu berbisik kepada Puspa Dewi dan sepuluh orang telik sandi.

"Aku dan Dewi akan menghadapi dua belas orang perajurit itu. Karena di gua itu tampaknya hanya ada tiga atau empat orang saja, maka Andika sekalian sepuluh orang harap langsung saja lari menyerbu ke gua, merobohkan beberapa orang itu dan cepat mencari Joko Pekik Satyabudhi. Setelah membereskan selusin perajurit itu, kami akan segera menyusul ke sana."

Siasat ini dianggap paling tepat. Nurseta dan Puspa Dewi akan menghadapi dua belas orang perajurit itu agar mereka tidak dapat menghalangi Witarto dan rekan-rekannya menyerbu ke gua sehingga mereka yang berada di dalam gua tidak mendapat kesempatan untuk melarikan atau menyembunyikan Joko Pekik.

Setelah semua paham akan rencana itu, Nurseta dan Puspa Dewi lalu melompat dan lari ke arah gardu. Dua belas orang perajurit Parang Siluman yang melakukan penjagaan adalah perajurit-perajurit pilihan. Mereka segera berloncatan dan menyambut dua orang itu dengan serangan pengeroyokan dengan menggunakan senjata golok mereka. Gerakan mereka gesit dan bertenaga. Namun, mereka berhadapan dengan Nurseta dan Puspa Dewi. Dalam beberapa gebrakan saja, walaupun hanya menggunakan tangan dan kaki tanpa senjata, empat orang perajurit telah terpelanting roboh.

Sementara itu, sepuluh orang telik sandi yang terdiri dari para perajurit dan perwira Kahuripan itu cepat berlari melintasi padang rumput menuju ke gua. Setelah empat orang perajurit penjaga roboh lagi, sisanya tinggal empat orang, lalu berlari melintasi lapangan rumput menuju ke gua pula, seolah melakukan pengejaran terhadap sepuluh orang telik sandi Kahuripan.

Nurseta dan Puspa Dewi setelah merobohkan delapan orang pengeroyok dan melihat sisa para pengeroyok yang tinggal empat orang itu lari melintasi lapangan rumput, memandang ke arah gua. Mereka terbelalak, terkejut bukan main melihat Witarto dan sembilan orang rekannya itu roboh bergelimpangan ? di depan gua, dan tampak empat orang pengejar itu dan empat orang laki-laki yang memang sudah berada di gua, kini menggunakan golok menyerang para telik sandi yang sudah tak berdaya!

BERSAMBUNG KE JILID 20


Cerita Silat Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 18

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 18

Puspa Dewi tinggal di situ sebagai wakil Senopati Tanujoyo untuk memimpin dan mengawasi pasukan. Beberapa kali ia menemui Ki Patih Narotama dan membicarakan urusan itu. Akan tetapi mereka tidak menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah rumit itu.

"Tidak ada lain jalan bagiku, Puspa Dewi. Aku harus menepati janjiku kepada Lasmini karena aku tidak ingin melihat anakku dibunuh. Pula, aku sudah melepas janji bahwa selama anakku ditahan di Parang Siluman, aku tidak akan menyerangnya. Tidak mungkin aku melanggar janji dan lebih lagi, tidak mungkin aku membiarkan anakku dibunuh."

"Ah, saya ikut merasa prihatin sekali, Gusti Patih."

"Sudahlah, Puspa Dewi, jangan memikirkan urusanku ini. Biar nanti Gusti Sinuwun saja yang mengambil keputusan."

Beberapa hari kemudian seregu pengawal istana dating menunggang kuda, mengiringkan Sang Prabu Erlangga yang diikuti Senopati Tanujoyo dan para senopati lainnya. Senopati Tanujoyo yang merasa sakit hati karena di depan para pasukan dia dirobohkan Ki Patih Narotama, telah melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa Ki Patih Narotama sengaja melarang pasukan menggempur Parang Siluman untuk membela dan melindungi bekas selirnya, yaitu Lasmini! Bahkan Ki Patih Narotama telah memukul roboh dia dan para perwira lainnya, yang hendak mencegah dia memberontak.

Tentu saja Sang Prabu Erlangga marah bukan main. Dia maklum bahwa kalau Narotama memberontak, tidak akan ada yang mampu menandinginya kecuali dia sendiri. Karena itu, Sang Prabu Erlangga segera berangkat ke tempat berhentinya pasukan Kahuripan yang dihadang Narotama itu. Setelah tiba di situ dia mendengar bahwa Narotama berada di balik batu-batu besar yang berada di depan. Sang Prabu Erlangga yang masih marah segera turun dari kudanya, melompat ke depan lalu berseru sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar menggelegar.

"Kakang Narotama....! Andika seorang satria, seorang jantan, mengapa bersembunyi? Keluarlah dan hadapi aku!!"

Perlahan-lahan Ki Patih Narotama keluar dari batu besar dan melangkah tenang menghampiri Sang Prabu Erlangga. Pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan, dan mukanya pucat, matanya redup dan sayu. Setelah berhadapan dengan Sang Prabu Erlangga, dia lalu menyembah dengan kedua tangan di depan hidungnya.

"Gusti Sinuwun..." Dia hanya menyapa dengan hormat, suaranya gemetar.

"Kakang Narotama, Andika berani berkhianat dan memberontak melawan aku demi untuk membela Lasmini yang telah berkhianat dan berbuat jahat terhadap kita? Untuk perempuan berwatak iblis itu engkau sampai hati mbalelo (memberontak) terhadap aku?"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Hamba tidak sekali-kali hendak memberontak terhadap Sinuwun. Paduka, hamba tetap setia kepada Kahuripan, siap mempertaruhkan nyawa demi membela Paduka dan Kahuripan."

"Hemm, kalau engkau tidak mbalelo, mengapa engkau menghalangi pasukan Kahuripan yang akan menyerang Parang Siluman?"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Hamba hanya menghendaki agar pasukan kita menyerang Wengker lebih dulu."

Sang Prabu Erlangga marah. Dia sudah mendapatkan laporan dari Senopati Tanujoyo akan keinginan Narotama menyerang Wengker lebih dulu. Dia mengira bahwa hal itu sengaja dilakukan Narotama untuk menghindarkan Parang Siluman dari serangan, tentu saja karena Narotama masih mencinta Lasmini dan ingin melindunginya.

"Kakang Narotama, jelas bahwa engkau berani melanggar perintahku! Agaknya engkau mengandalkan kedigdayaanmu untuk menentangku! Kalau begitu mari, kita sama-sama laki-laki jantan, kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita berdua!" Sang Prabu Erlangga menantang. "Kecuali kalau engkau mau mengaku salah dan tidak lagi menghalangi pasukan yang hendak menyerang Parang Siluman!"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Untuk hal lain, hamba akan menaati semua perintah Paduka. Akan tetapi untuk yang satu ini, yaitu kalau pasukan hendak menyerang Parang Siluman, terpaksa hamba akan menghalangi."

"Keparat! Kalau begitu terpaksa aku tega kepadamu!" Sang Prabu Erlangga sudah marah sekali dan tubuhnya gemetar mengeluarkan hawa sakti yang menggiriskan. Akan tetapi pada saat itu, Puspa Dewi melompat ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sang Prabu Erlangga.

"Duh Gusti Sinuwun, hamba mohon Paduka bersabar dulu dan sudi mendengarkan keterangan hamba."

Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya memandang kepada Puspa Dewi dengan sinar mata mencorong.

"Engkau juga, Puspa Dewi? Engkau hendak membela pengkhianat ini yang melindungi Parang Siluman?"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Sesungguhnya Gusti Patih Narotama sama sekali tidak melindungi Parang Siluman ataupun Lasmini, akan tetapi beliau hendak melindungi keselamatan nyawa putera beliau, Joko Pekik Satyabudhi..."

"Puspa Dewi...!" seru Ki Patih Narotama.

"Biarlah saya menjelaskannya, Gusti Patih. Semua ini hanya salah paham saja. Gusti Sinuwun, seperti telah diketahui, Joko Pekik Satyabudhi telah diculik orang. Gusti Patih Narotama sudah melakukan pencarian ke Parang Siluman dan ternyata Joko Pekik berada di tangan Lasmini. Lasmini dan para tokoh Parang Siluman mengancam bahwa kalau Gusti Patih Narotama mengerahkan pasukan menyerang Parang Siluman, maka putera beliau akan lebih dulu dibunuh! Mereka memaksa Gusti Patih Narotama berjanji tidak akan membawa pasukan menyerang Parang Siluman dan demi melindungi keselamatan putera beliau, Gusti Patih Narotama terpaksa berjanji dan tentu saja menghalangi kalau pasukan Kahuripan hendak menyerang Parang Siluman sebelum puteranya dapat direbut kembali."

Kemarahan Sang Prabu Erlangga menguap seperti embun terpanggang sinar matahari pagi. Dia memandang ke arah Ki Patih Narotama yang berdiri dengan kepala tunduk.

"Kakang Narotama, benarkah apa yang dikatakan Puspa Dewi itu?"

"Benar, Gusti Sinuwun." kata Ki Patih Narotama lirih.

"Akan tetapi, mengapa engkau tidak mengatakan hal itu kepadaku, dan tidak memberitahukan kepada Kakang Senopati Tanujoyo?".

"Ampun, Gusti. Hamba merasa malu dan takut untuk menceritakan kelemahan hamba kepada Paduka."

"Ah, Kakang Narotama, engkau ini bagaimanakah? Melindungi keselamatan anak bukan suatu kelemahan. Apa kau kira aku sendiri akan tega mengorbankan nyawa Joko Pekik Satyabudhi? Kalau aku mengetahui persoalannya, aku pun tentu akan melarang untuk menyerang Parang Siluman dan menundanya untuk sementara waktu sampai puteramu itu dapat direbut kembali. Dan sekarang apa usahamu untuk merebut puteramu itu?"

"Hamba sudah minta tolong kepada Nurseta untuk berusaha merampas Joko Pekik, Gusti."

"Bagus kalau begitu. Sekarang begini saja, Kakang Patih Narotama. Pimpinlah pasukan dengan bantuan Kakang Senopati Tanujoyo, sedangkan Puspa Dewi kami minta untuk menyusul Nurseta, menyusup ke Parang Siluman dan membantu dia merampas Joko Pekik!"

"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti." Kata Ki Patih Narotama dengan wajah berseri.

"Hamba juga siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti Sinuwun!" kata Senopati Tanujoyo, lalu dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata lirih, "Gusti Patih Narotama, saya mohon maaf sebesarnya atas sikap saya yang menuduh Paduka berkhianat karena saya tidak tahu duduknya perkara."

"Tidak mengapa, Kakang Senopati Tanujoyo. Salahku sendiri yang tidak bicara terus terang."

"Bagaimana dengan engkau, Puspa Dewi? Sanggupkah engkau membantu Nurseta merebut kembali putera Kakang Patih Narotama?"

"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, walaupun hamba kira tidak akan mudah bagi hamba untuk menyusup ke Parang Siluman. Mereka di sana tentu sudah mengenal hamba sehingga hamba tidak dapat bergerak dengan leluasa."

"Puspa Dewi, mengapa engkau tidak menyamar saja sebagai seorang pria? Dengan demikian engkau tidak akan dikenali orang di sana." kata Ki Patih Narotama.

Mendengar usul itu, Puspa Dewi mengangguk sambil tersenyum. "Gagasan itu baik sekali, Gusti Patih. Akan saya laksanakan!"

Berangkatlah pasukan itu, dipimpin Ki Patih Narotama dan Senopati Tanujoyo, menuju Kerajaan Wengker. Sang Prabu Erlangga dikawal pasukan pengawal kembali ke Kahuripan, dan Puspa Dewi seorang diri lalu berangkat ke Parang Siluman dengan menyamar sebagai seorang pemuda ganteng.

*******************


Sebelum memenuhi permintaan Ki Patih Narotama untuk menyusup ke Parang Siluman dan berusaha membebaskan putera patih itu dari tangan Lasmini, Nurseta telah diberitahu oleh Ki Patih Narotama bahwa dia telah menyebar belasan orang telik-sandi (mata-mata) ke dalam Kerajaan Parang Siluman.

"Mereka adalah perwira-perwira menengah, para pembantuku yang setia dan mereka semua sudah pernah melihatmu. Tentu mereka akan mengenalmu dan dapat membantumu di sana." Demikian Ki Patih Narotama memberitahu kepadanya.

Tidak sukar bagi Nurseta untuk memasuki daerah Parang Siluman. Para penduduk pedusunan di daerah itu tidak mengenalnya. Yang sukar, bahkan amat berbahaya baginya adalah memasuki Kota Raja Parang Siluman. Selain penjagaannya ketat, terdapat banyak orang sakti di sana dan mereka semua telah mengenal wajahnya.

Pada suatu senja, Nurseta memasuki sebuah dusun yang sudah tak jauh letaknya dari Kota Raja Parang Siluman. Dusun itu cukup ramai karena sawah ladang di sekitar dusun itu subur sehingga dusun Werdoyo ini menjadi pemasok sayur-sayuran dan hasil bumi yang cukup besar bagi kota raja. Untuk memperkecil bahaya kemungkinan dikenal orang. Nurseta menjauhi tempat yang ramai dan menyusup di pinggir dusun. Dia bermaksud melewatkan malam di dusun itu. Tubuhnya lelah dan perutnya lapar, akan tetapi dia tidak berani sembrono (gegabah) mencari makan di warung nasi karena tempat seperti itu tentu dikunjungi banyak orang. Ketika dia melihat sebuah rumah sederhana berdiri terpencil di tepi dusun, agak jauh dari tetangga karena rumah itu memiliki kebun dan di sekelilingnya penuh dengan tanaman sayur, dia lalu memasuki pekarangan yang luas dan menghampiri rumah yang sederhana itu.

Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh kokoh kuat dan berkulit kecoklatan hitam karena setiap hari terbakar sinar matahari, pakaiannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang petani, keluar dari pintu depan menyambutnya.

"Kisanak, apakah Andika hendak membeli sayuran? Akan tetapi, mana keranjang dan pikulanmu?"

"Maaf, Paman. Aku tidak ingin membeli sayur, akan tetapi ingin mohon diperbolehkan beristirahat dan melewatkan malam di rumah Paman. Biar aku beristirahat di bangku itu pun cukuplah." Nurseta menunjuk ke arah bangku panjang yang terdapat di emper rumah. Dia sengaja bicara dengan bahasa sederhana seperti biasa dipergunakan penduduk dusun.

Orang itu mengerutkan alisnya dan menatap wajah Nurseta penuh perhatian. "Andika siapakah, dari mana dan hendak kemana?"

"Namaku Baroto, Paman, datang dari Kidul Gunung. Aku hendak mencari Pamanku bernama Martoyo yang sebulan lalu katanya hendak pergi ke sini akan tetapi sampai sekarang belum pulang. Bibiku menyuruh aku mencarinya. Barangkali Paman mengenalnya?"

Orang itu menggelengkan kepalanya, memandang Nurseta penuh perhatian, lalu dia tersenyum ramah sekali.

"Aku tidak mengenalnya, akan tetapi tentu saja Andika boleh melewatkan malam ini di sini. Bukan di bangku luar, mari masuk. Aku masih mempunyai sebuah kamar kosong di bagian belakang rumahku. Mari, Baroto, masuk saja dan jangan sungkan. Namaku Juhari, duda yang hidup bersama dua orang keponakanku di sini."

Nurseta merasa girang dan ketika dia memasuki rumah yang telah diterangi lampu gantung dia melihat bahwa di ruangan yang cukup luas itu terdapat banyak tumpukan jagung, ada pula keranjang-keranjang berisi wortel dan buncis. Agaknya semua itu hasil perkebunan yang cukup luas di sekitar rumah sederhana namun ternyata cukup besar itu. Juhari ternyata seorang yang ramah. Dia menyuruh dua orang keponakannya, dua orang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun lebih yang tadi sibuk mengisi keranjang kosong dengan buncis yang masih ditumpuk di atas lantai, agar menyediakan makan malam.

Nurseta lalu diajak makan bersama tiga orang itu. Makanan sederhana dengan sayur dan sambal, namun cukup nikmat bagi Nurseta yang memang sedang lapar. Nurseta lega karena tuan rumah yang baik itu tidak banyak bertanya. Maka untuk memulihkan tenaganya yang banyak terkuras melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, dia pamit untuk mengaso lalu memasuki kamar kecil sederhana yang diberikan kepadanya untuk mengaso malam itu. Kamar itu kecil saja, dengan sebuah dipan kayu tua tanpa prabot lain lagi. Ada sebuah jendela kayu dan Nurseta menutupkan daun pintu, lalu merebahkan diri di atas dipan.

Baru saja dia layap-layap mendekati pulas, telinganya mendengar suara orang bicara ramai diselingi tawa di luar kamarnya. Nurseta membuka matanya, masih rebah akan tetapi kini dia mendengarkan percakapan itu.

"He, Kartowi, mengapa malam-malam begini engkau datang? Biasanya besok pagi-pagi sekali engkau kulakan (beli untuk dijual lagi) ke sini!"

"Heh-heh-eh, sekali ini aku tidak mau didahului mereka. Kakang Juhari! Sekarang aku hendak mendahului mereka, maka malam-malam aku datang, kulakan dan dapat memilih sayur lebih dulu sehingga mendapatkan yang terbaik, kemudian besok pagi-pagi sekali sebelum mereka datang kesini mengambil sayur, aku sudah lebih dulu memasuki kota raja menjual daganganku, ha-ha-ha!"

"Ha-ha, engkau cerdik, Kartowi! Tentu engkau akan dapat menjual dengan harga tinggi karena sainganmu belum ada. Dan dua keranjangmu ini... wah, besar amat, dua kali lebih besar dari yang biasa!"

"He-he-heh, Kakang Juhari, setelah berhasil mendahului para penjual sayur lainnya, tentu saja aku harus membawa sebanyak mungkin dagangan agar sekali pikul dapat untung lumayan... Betul tidak?"

Dua orang itu lalu tertawa-tawa lagi.

"Akan tetapi Kakang Juhari, engkau tentu tidak tega membiarkan aku malam-malam begini memikul dagangan yang begini berat, bukan? Kalau boleh, aku akan tidur di sini, biar tidur di lantai beralaskan jerami juga tidak mengapa agar besok pagi-pagi benar, sebelum mereka datang kulakan ke sini, aku sudah bisa berangkat."

"Wah, masa sama langganan yang sudah lama aku tega begitu? Tentu saja boleh. Kebetulan sekali, Kartowi. Sebetulnya kamar di belakang itu ditempati seorang tamu, akan tetapi baiknya malam ini dua orang keponakanku ada keperluan keluar rumah sehingga malam ini engkau boleh tidur di kamar mereka."

Nurseta tidak mendengarkan lagi karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya, apalagi setelah pedagang sayur itu mendapatkan kamar untuk bermalam. Lewat tengah malam, tiba-tiba Nurseta terbangun oleh suara yang tidak wajar yang datang dari arah pintu kamar.

Penerangan lampu yang redup masih membuat dia dapat melihat sehelai kertas putih melayang masuk ke kamar itu. Agaknya kertas itu dimasukkan dengan cara menyisipkan di antara celah-celah daun pintu. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Nurseta turun dari pembaringan. Naluri kependekarannya menyadarkannya bahwa tentu terjadi sesuatu yang amat penting, yang membuat dia waspada. Dia mengambil kertas itu dan membawanya ke dekat lampu. Ternyata ada tulisannya, singkat saja namun cukup jelas.

JUHARI ADALAH PENYELIDIK PARANG SILUMAN. ANDIKA SUDAH DIKETAHUI. CEPAT PERGI KE BARAT DUSUN, TUNGGU AKU DI TEPI ANAK SUNGAI...!

Nurseta terkejut. Dia percaya akan isi surat itu. Kalau pengirim surat berniat buruk, untuk apa dia mengirim surat gelap ini? Entah siapa yang mengirim surat ini, akan tetapi yang penting, dia harus cepat pergi meninggalkan rumah ini dan pergi menuju tepi anak sungai seperti yang ditunjuk oleh surat itu. Dia akan hadapi apa pun yang akan terjadi. Dengan cepat Nurseta keluar dari kamarnya melalui jendela. Menutupkan daun jendela kembali dari luar lalu berjalan dalam kegelapan yang remang-remang karena mendapatkan sedikit sinar dari bintang-bintang di langit, menuju ke arah barat setelah keluar dari dusun. Tak lama kemudian dia memasuki sebuah hutan kecil dan akhirnya tibalah dia di tepi sebuah anak sungai yang mengalir deras. Dia berhenti lalu duduk di atas sebuah batu di tepi sungai, menanti dengan sikap waspada yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara itu, tidak lama setelah Nurseta pergi, menjelang fajar, belasan orang perajurit yang dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala, Senopati Parang Siluman, kakak Sang Ratu Durgamala yang gagah dan tampan, guru Lasmini dan Mandari, berkuda dan memasuki pekarangan rumah Ki Juhari, diikuti pula oleh dua orang muda keponakan Ki Juhari yang semalam meninggalkan rumah itu. Kiranya dua orang muda itu oleh Ki Juhari disuruh pergi melapor ke kota raja tentang kedatangan Nurseta di dusun Werdoyo.

Ternyata Ki Juhari adalah seorang mata-mata Parang Siluman yang disebar untuk menjaga keamanan dan menyelidiki kalau-kalau ada musuh menyusup ke daerah Parang Siluman. Biarpun dia sendiri belum pernah melihat Nurseta, namun dia telah mendapat gambaran oleh atasannya tentang orang-orang yang perlu diperhatikan, termasuk Nurseta. Maka, begitu dia bertemu Nurseta, dia sudah menaruh curiga dan cepat menyuruh dua orang keponakannya untuk melapor malam Itu juga ke Kota Raja Parang Siluman. Mendengar laporan bahwa mungkin sekali yang bernama Nurseta muncul di dusun Werdoyo, Ki Nagakumala sendiri lalu memimpin pasukan pengawal pilihan dan malam itu juga pergi ke dusun Itu membalapkan kuda mereka. Menjelang fajar mereka tiba di pekarangan rumah itu.

Ki Kartowi, pedagang sayur yang bermalam di rumah Juhari itu sedang mempersiapkan dua buah keranjang besar yang berisi sayur-sayuran dan sudah hendak dipikulnya ketika dia mendengar derap kaki kuda di pekarangan rumah itu. Dia menunda pekerjaannya dan memutar tubuh memandang kepada Ki Juhari yang juga keluar dari kamarnya.

"Kakang Juhari. siapa yang datang itu?"

Akan tetapi Juhari tidak menjawab. Dia bergegas ke depan dan membuka daun pintu. Ki Nagakumala diikuti belasan orang perajurit memasuki rumah. Melihat Kartowi, dia memandang tajam dengan sinar mata penuh selidik dan bertanya kepada Juhari dengan suara keren.

"Juhari, siapakah orang ini?"

Ki Juhari menyembah dengan sikap hormat!

"Gusti, ini adalah Kartowi, seorang pedagang sayur yang menjadi langganan hamba."

Mendengar Juhari menyebut Gusti kepada pendatang yang gagah dan berpakaian mewah itu, Kartowi menjadi takut dan dia pun membungkuk-bungkuk.

"Hamba... hamba... pedagang sayur Gusti..." katanya dengar suara gemetaran.

"Mana dia, Juhari?"

"Di kamar belakang, Gusti."

Ki Nagakumala segera masuk ke bagian belakang diikuti belasan orang perajurit pengawalnya, disertai Juhari dan dua orang keponakan yang sesungguhnya adalah rekan-rekan atau anak buahnya. Daun pintu kamar yang semalam ditempati Nurseta didorong terbuka, akan tetapi tentu saja mereka hanya menemukan sebuah kamar kosong! Ki Juhari berseru kaget, lari memasuki kamar dan membuka daun jendela.

"Ah, keparat...! Dia telah melarikan diri!"

"Bodoh kamu! Bagaimana dapat melarikan diri? Mengapa tidak kau jaga semalam?" Ki Nagakumala membentak.

"Tapi... tapi.... dia sama sekali tidak tampak curiga dan sudah masuk kamar ini untuk tidur, Gusti..." kata Juhari bingung dan takut.

"Hayo kita cari!" Dengan marah Ki Nagakumala keluar dari kamar. Setibanya di ruangan depan, dia berseru, "He, di mana pedagang sayur tadi?"

Ki Juhari cepat mejawab. "Dia tentu sudah pergi untuk menjual sayurnya ke kota, Gusti."

"Tolol kau...! Orang itu harus diperiksa. Mungkin dia mempunyai hubungan dengan Nurseta!"

"Hamba kira tidak, Gusti. Ki Kartowi itu langganan hamba, dia benar-benar pedagang sayur..."

"Diam kau, bodoh...! Cari dia dan tangkap!"

Mereka semua lalu keluar dari rumah untuk mencari dua orang itu. Pemuda yang mengaku bernama Baroto. Akan tetapi yang diduga adalah Nurseta orangnya, dan Ki Kartowi pedagang sayur yang dicurigai Ki Nagakumala sebagai orang yang ada hubungan dengan Nurseta. Akan tetapi mereka tidak mencari ke arah barat karena siapa yang mengira orang-orang yang dicari itu akan memasuki hutan yang sunyi itu? Mereka menduga bahwa tentu dua orang yang dicurigai itu akan menuju ke Kota Raja Parang Siluman. Karena itu Ki Nagakumala kembali ke kota raja untuk memperketat penjagaan di sana agar tidak memungkinkan orang yang bernama Baroto dan diduga Nurseta adanya itu dapat menyelundup ke kota raja.

Sementara itu, Nurseta duduk di tepi anak sungai sampai datang fajar. Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki memikul dua buah keranjang berisi sayur-sayuran. Setelah orang itu tiba dekat, dia melihat bahwa orang itu seorang laki-laki bertubuh sedang, berusia sekitar empat puluh tahun dan begitu tiba di depannya, langsung menurunkan pikulannya dan menyeka keringat.

Nurseta terkejut. "Andika mengenal saya, Paman?"

"He-he-he, jangan sebut saya Paman, Denmas!" Orang itu tertawa lalu menggosok-gosok muka dan rambutnya dengan sehelai kain. Nurseta terbelalak ketika melihat betapa orang yang tadinya tampak setengah tua, berusia sekitar empat puluh tahun itu kini berubah menjadi seorang pemuda yang sebaya dengan dia!

"Hemm, siapakah Andika, Kisanak?"

"Saya bernama Witarto, Denmas..."

"Jangan sebut aku Denmas!"

"Ah, tentu saja Andika harus disebut Denmas karena Andika adalah cucu mendiang Gusti Senopati Sindukerta, Denmas Nurseta. Juga saya tahu bahwa Andika telah membuat banyak jasa terhadap Kerajaan Kahuripan, kepercayaan Gusti Sinuwun dan Gusti Patih!"

"Hemm, agaknya Andika mengenal betul keadaanku, Witarto. Sebenarnya siapakah Andika dan tentu Andika yang semalam mengirim surat peringatan kepadaku itu, bukan?"

"Benar, Denmas. Dahulu saya menjadi perwira muda membantu mendiang Gusti Senopati Sindukerta dan tugas saya adalah menjadi telik sandi (mata-mata). Sekarang saya ditugaskan oleh Gusti Patih Narotama untuk memata-matai Parang Siluman. Saya sudah menduga bahwa Gusti Patih Narotama pasti tidak mendiamkan saja puteranya dijadikan sandera di sini. Ternyata sekarang Andika yang agaknya diutus untuk berusaha merampas Denmas Joko Pekik, bukan?"

"Benar sekali dugaanmu. Witarto. Tahukah Andika di mana anak itu disimpan?"

"Saya bersama sebelas orang rekan saya sudah beberapa bulan bertugas di kota raja dan kami telah mengetahui bahwa Denmas Joko Pekik disembunyikan dalam sebuah gua yang dijaga ketat sekali. Bahkan kami tidak tahu dengan pasti apakah benar anak itu dikeram di situ, atau itu hanya palsu dan pancingan belaka. Mungkin saja putera Gusti Patih itu masih berada di istana. Kami dua belas orang tidak ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan penyelidikan di istana, Denmas. Kebetulan Andika datang dan kiranya hanya Andika yang akan mampu menyusup ke dalam istana."

"Aku akan masuk kota raja, akan tetapi nanti malam karena rasanya tidak mungkin memasuki kota raja pada siang hari. Semua orang akan mengenalku."

"Jangan memasuki kota raja dalam keadaan biasa begitu, Denmas. Hal itu berbahaya sekali dan akan menggagalkan usaha Andika. Tadi pun, biar Andika sudah berganti nama, tetap saja Juhari mengenal Andika. Hampir saja kita celaka karena baru saja Andika pergi, pasukan Parang Siluman muncul dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala yang sakti dan cerdik. Kalau saya tidak cepat-cepat pergi, tentu saya akan ditangkap karena dicurigai. Denmas harus menyamar, dan untuk itu, sayalah ahlinya, Denmas. Saya biasa menyamar sebagai Kartowi yang setengah tua, dan rekan-rekan saya semua menyamar, sehingga kami tidak dikenal. Mari, saya akan mendandani Andika dan percayalah, tak seorang pun akan mengenal Andika sebagai Denmas Nurseta kalau sudah saya dandani."

Nurseta setuju dan di tepi anak sungai itu, Witarto yang ahli menyamar itu lalu mengeluarkan sekantung alat-alatnya mendandani Nurseta. Tak lama kemudian Nurseta sudah berubah menjadi seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dengan rambut berwarna dua dan mukanya dihias keriput! Setelah selesai dan dia melihat bayangannya sendiri di air, Nurseta merasa kagum bukan main. Dia sendiri pun tidak mengenal wajah tua itu!

Witarto menerangkan banyak hal kepadanya. Keadaan di kota raja dan terutama di istana. Juga bagaimana dapat menghubungi dia dan rekan-rekannya. Nurseta dianjurkan menggunakan nama Ki Kambana, sebuah nama yang umum dan tidak mencolok, berasal dari sebuah dusun kecil di pesisir Kidul. Setelah itu, Witarto membagi sayur-sayuran menjadi dua pikul dan dia sudah menyiapkan pikulan dan keranjang sayuran di tepi anak sungai.


cerita silat online karya kho ping hoo

"Nah, sekarang Andika dan saya menjadi dua orang pedagang sayuran, berjualan ke kota raja. Takkan ada orang yang mencurigai kita."

"Akan tetapi engkau sendiri? Mengapa engkau tidak menyamar lagi?"

"Wah, penyamaran saya sebagai Ki Kartowi sudah dikenal orang, bahkan sudah dicurigai oleh para telik sandi Parang Siluman, Denmas. Malah dengan keadaanku yang asli seperti ini, tidak akan ada yang mengenalku. Kalau nanti ada orang bertemu dengan kita selagi berdua, saya akan mengaku sebagai keponakan Denmas dan mulai sekarang agar terbiasa, saya akan menyebutmu Pakde, dan Andika menyebut saya Tarto."

"Baiklah, Tarto." kata Nurseta dan orang lain tidak akan mengenal suaranya itu karena dia sudah dilatih oleh Witarto untuk bicara seperti seorang tua, agak serak, agak gemetar, dan tenang perlahan. Keduanya lalu memikul pikulan keranjang sayur mereka dan berangkat menuju Kota Raja Parang Siluman.

Tepat seperti yang telah diperhitungkan Witarto, telik sandi Kahuripan yang biarpun masih muda namun amat cerdik itu, mereka berdua dapat lolos melewati gapura Parang Siluman yang terjaga ketat. Para perajurit penjaga memang memeriksa semua orang yang lewat melalui pintu gapura. Akan tetapi yang mereka cari adalah Nurseta, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang berwajah tampan dan Ki Kartowi, seorang laki-laki setengah tua berusia sekitar empat puluh tahun. Akan tetapi Witarto pada saat lewat di situ merupakan pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun yang matanya juling mulutnya agak perot dan pundaknya tinggi sebelah! Sedangkan Ki Kambana adalah seorang kakek berusia sekitar lima puluh tahun yang rambutnya penuh uban dan kakinya timpang (pincang)! Tentu saja keduanya jauh berbeda dari gambaran dua orang yang mereka cari dan dengan mudah mereka berdua lolos masuk ke dalam Kota Raja Parang Siluman. Jangankan para petugas jaga, para perajurit yang tidak mengenal wajah aseli Nurseta. Bahkan para tokohnya yang sudah mengenal betul wajah itu pun tidak akan menduga bahwa kakek berambut ubanan dan kakinya pincang itu adalah Nurseta!

Setelah memasuki kota raja, sesuai dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya, Nurseta berpisah dari Witarto. Dia hendak menyelidiki ke dalam istana untuk memastikan apakah Joko Pekik Satyabudhi dikeram dalam istana ataukah tidak. Adapun Witarto bersama sebelas orang rekannya akan melakukan penyelidikan ke guna yang mereka duga menjadi tempat untuk menyembunyikan putera Ki Patih Narotama itu.

Biarpun dia sudah menyamar menjadi Ki Kambana dan tidak akan ada yang dapat menduganya bahwa dia sebetulnya Nurseta, namun Nurseta tentu saja tidak mau bersikap sembrono. Dia tahu bahwa tidaklah mudah untuk dapat menyusup ke dalam istana yang selain terjaga ketat oleh banyak perajurit pengawal, juga di dalamnya terdapat orang-orang sakti mandraguna. Di antara mereka yang sungguh merupakan lawan-lawan yang berat dan berbahaya adalah Durgamala sendiri yang kini menjadi Ratu Parang Siluman menggantikan mendiang ayahnya Raja Dirgabaskara. Lalu kakak kandung Ratu Durgamala yang bernama Ki Nagakumala dengan tingkat kepandaian yang bahkan lebih tinggi daripada tingkat Ratu Durgamala. Kemudian ada dua orang puteri Sang Ratu. atau yang menjadi murid Ki Nagakumala, yaitu Lasmini dan Mandari, dua orang puteri yang cantik jelita masih muda karena usia Lasmini baru dua puluh empat tahun dan Mandari dua puluh dua tahun. Selain memiliki wajah yang luar biasa cantik jelita, kedua orang puteri ini juga memiliki bentuk tubuh yang indah menggairahkan.

Selain cantik jelita dan menggairahkan, mereka berdua memiliki kesaktian yang bahkan melampaui kesaktian ibu mereka dan sudah hampir menandingi kesaktian guru mereka karena keduanya pernah mendapat bimbingan Sang Prabu Erlangga yang mengambil Mandari sebagai selir, dan Ki Patih Narotama yang menjadikan Lasmini sebagai selir terkasihnya. Empat orang sakti mandraguna tinggal di istana itu dan mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan, baik oleh Nurseta sekalipun! Di samping mereka berempat, dalam istana itu terdapat pasukan pengawal istimewa, terdiri dari lima losin perajurit pilihan!

Akan tetapi Nurseta harus mengambil keputusan untuk nekat menyusup ke dalam istana yang megah dan penuh bahaya itu karena kalau dia tidak berani nekat, bagaimana dia dapat memastikan apakah putera Ki Patih Narotama berada di istana ataukah tidak? Dia menunggu sampai datangnya malam gelap tanpa bulan.

Setelah malam gelap tiba, Nurseta mempergunakan kesaktiannya untuk menyelinap ke dalam istana Parang Siluman. Dengan Aji Sirna Sarira dan menggunakan kecepatan Aji Bayu Sakti, dia berhasil melewati para penjaga di luar istana. Tubuhnya berkelebat seperti bayangan sehingga dia dapat masuk tanpa terlihat oleh para penjaga yang banyak dan yang melakukan penjagaan ketat.

Malam itu gelap sekali. Dengan gerakan yang amat ringan dan gesit, seperti seekor monyet, Nurseta berlompatan ke atas wuwungan bangunan istana, mengintai dari atas dan memeriksa keadaan. Malam itu istana sudah sepi. Agaknya para penghuninya sudah tertidur karena waktu sudah tengah malam. Yang tampak hanya para perajurit pengawal yang mengadakan perondaan.

Nurseta tidak mau menangkap perajurit pengawal, untuk memaksanya mengaku di mana adanya Joko Pekik Satyabudhi. Dia maklum bahwa mereka yang diangkat menjadi perajurit pengawal istana pastilah orang yang memiliki kesetiaan tebal dan menaati atasannya sampai mati. Orang-orang seperti para perajurit pengawal istana itu tidak mungkin dapat dibujuk atau diancam. Dan kalau dia sudah menangkap seorang lalu gagal mengancamnya, hal itu bahkan merugikannya, dan mungkin akan menggagalkan penyelidikannya. Maka dia menanti dengan sabar, mencari kesempatan untuk turun ke bawah tanpa diketahui dan melanjutkan penyelidikannya di bawah, yaitu di sebelah dalam istana. Memang berbahaya baginya, akan tetapi kiranya tidak ada jalan lain.

Tiba-tiba mata Nurseta bersinar. Dia melihat seorang wanita setengah tua, dari pakaiannya dapat diduga bahwa wanita itu tentu seorang pelayan istana. Wanita ini lewat dengan perlahan, membawa sebuah baki berisi sebuah poci minuman dan cangkir. Nah, inilah kesempatan terbaik, piker Nurseta. Lebih mudah memaksa wanita pelayan Ini membuka mulut dan memberitahu kepadanya di mana adanya anak yang diculik itu daripada memaksa seorang perajurit pengawal.

Ketika wanita itu melewati sebuah lorong di mana tidak ada perajurit pengawal yang menjaga, tiba-tiba ia disergap oleh kedua tangan Nurseta yang kuat. Sekali tekan pada tengkuknya, wanita pelayan itu terkulai lemas, tidak mampu bersuara maupun meronta lagi. Nurseta cepat mengambil baki agar jangan jatuh menimbulkan suara. Dia memanggul tubuh wanita itu dan membawanya melompat lagi ke atas wuwungan yang gelap. Setelah, menaruh baki dengan poci dan cangkir ke sudut wuwungan, dia menurunkan tubuh pelayan wanita itu, mendudukkan di atas wuwungan dan berkata lirih dekat telinganya.

"Jangan berteriak dan aku tidak akan mengganggumu. Kalau engkau berteriak, akan kulemparkan ke bawah sana!"

Wanita itu menggigil kengerian dan tidak berani menjerit ketika Nurseta mengurut tengkuknya sehingga ia mampu besuara dan bergerak lagi.

"Ampunkan hamba..." rintihnya lirih ketakutan.

"Katakan terus terang, di mana adanya putera Ki Patih Narotama yang diculik? Di mana dia dikeram? Hayo jawab sejujurnya kalau engkau ingin seIamat" hardik Nurseta sambil memegang kedua lengan wanita itu seolah-olah siap hendak melemparkan ke bawah!

"Ampun... anak itu... anak itu berada di sana..." Wanita itu menudingkan telunjuknya yang menggigil ke bawah.

"Di mana? Yang jelas!"

"Melalui lorong itu ke depan, lalu ada tikungan ke kanan dan dia berada di dalam sebuah kamar yang pintunya bercat hijau terbuat dari besi dan berterali. Anak itu tampak dari luar, akan tetapi dijaga ketat..."

"Engkau tidak bohong? Awas, kalau engkau bohong, aku akan kembali ke sini dan melemparmu ke bawah!"

"Hamba tidak berani berbohong..." Wanita itu meratap.!

Nurseta percaya bahwa wanita itu pasti tidak akan berani membohonginya, maka dia lalu menepuk lagi tengkuknya sehingga wanita itu terkulai, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak dapat bergerak lagi. Nurseta meninggalkannya di atas wuwungan, lalu dia melayang turun di bagian yang gelap. Kemudian dengan kecepatan Aji Bayu Sakti, Nurseta berkelebat mengikuti lorong seperti yang dikatakan pelayan tadi. Dia tiba di lorong yang berbelok. Dia menuju ke kanan dan benar saja, dari jauh dia melihat lima orang perajurit pengawal duduk di atas bangku panjang di depan sebuah kamar yang pintunya terbuat dari besi bercat hijau dan di bagian atasnya ada teralinya! Dengan jalan memutar dia dapat melihat kamar itu dari depan, agak jauh.

Dalam kamar yang tampak dari terali daun pintu tampak remang-remang karena hanya ada sebuah lampu kecil dalam kamar itu. Akan tetapi dia dapat melihat dengan jelas sebuah pembaringan kecil dan seorang anak kecil tidur di atas pembaringan itu, berselimut merah. Hatinya lega melihat ini. Joko Pekik Satyabudhi, putera Ki Patih Narotama, ternyata masih hidup dan dalam keadaan selamat dan melihat dia tertidur, tentu dia sehat-sehat saja.

Nurseta lalu membuat perhitungan masak sebelum bertindak lebih lanjut. Dia harus melumpuhkan lima orang perajurit yang berjaga di depan kamar tahanan itu. Dan hal ini harus dia lakukan dengan cepat dan tidak menimbulkan suara gaduh, karena kalau sampai terdengar oleh para tokoh sakti di istana dan mereka keburu datang, usahanya tentu akan gagal. Dia harus sudah dapat membawa anak itu sebelum para lawan tangguh muncul!

Nurseta lalu mengerahkan Aji Sirna Sarira sekuatnya dan tubuhnya lalu berkelebat ke depan kamar tahanan. Lima orang perajurit itu hanya melihat bayangan berkelabat. Mereka terkejut dan bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba mereka roboh satu demi satu daiam keadaan pingsan tanpa sempat berteriak! Nurseta cepat mencari dan mengambil kunci dari saku baju seorang dari mereka, dan membuka gembok besar pada pintu besi itu. Dengan mudah dibukanya gembok itu, dibukanya pintu besi dan dia cepat masuk ke dalam kamar tahanan itu. Dia menghampiri pembaringan dan matanya terbelalak kaget ketika dia melihat bahwa yang tidur di atas pembaringan tertutup selimut merah itu hanya sebuah boneka!

"Ha-ha-ha-ha...!"
"He-he-heh...!"
"Hi-hi-hi-hik...!"

Nurseta menoleh dan membalikkan tubuhnya ke pintu mendengar suara tawa beberapa orang itu. Dia melihat betapa daun pintu besi itu ditutup dari luar dan digembok kembali. Dari terali pintu besi dia melihat mereka berempat berdiri di luar pintu sambil tertawa-tawa. Ratu Durgamala, Ki Nagakumala, Lasmini dan Mandari! Seketika mengertilah dia kini. Semua itu ternyata merupakan pancingan dan jebakan saja! Wanita pelayan tadi pun tentu dipergunakan sebagai pancingan dan mereka berhasil memancing dan menjebaknya! Di belakang empat orang tokoh Parang Siluman yang tertawa-tawa itu berdiri seregu pasukan pengawal, lengkap dengan senjata tombak, pedang, dan busur!

"He-he-he-heh! Nurseta, sejak engkau melewati gapura istana, kami sudah mengamati dan mengikuti semua gerak-gerikmu! He-he-heh!" Ratu Durgamala berkata sambil tersenyum mengejek. Ratu wanita yang sudah janda dan berusia empat puluh tahun lebih itu. masih tampak cantik jelita, berdiri di samping kedua puterinya itu ia tampak seperti kakak mereka saja.

Nurseta menjadi lemas! Kiranya mereka bukan saja berhasil menjebaknya, bahkan penyamarannya pun tidak dapat mengelabuhi mereka. Mereka sudah mengenalnya! Dia merasa penasaran sekali, namun dapat bersikap tenang ketika dia bertanya, "Hemm... harus ku akui bahwa Andika sekalian memang cerdik sekali. Akan tetapi bagaimana Andika dapat mengetahui siapa diriku?"

Ki Nagakumala yang menjawab. "Hmmm, apa sukarnya? Permainan anak kecil...! Biarpun penyamaranmu memang bagus sekali dan mula-mula kami tidak mengenalmu, akan tetapi ketika engkau bergerak, kami mengenal Aji Bayu Sakti dan Aji Sirna Sarira, bahkan kami dapat mengetahui bahwa engkau adalah utusan Ki Patih Narotama karena kami melihat Tongkat Pusaka Kyai Tunggul Manik yang berada di pinggangmu itu, Nurseta!"

Nurseta merasa kagum. Mereka itu cerdik dan licik, juga sakti mandraguna. Dia merasa seperti harimau dalam kurungan dan dapat menduga bahwa ruangan tahanan itu pasti kokoh kuat sekali. Pintu besi itu tampak kokoh dan dia menduga bahwa dinding tembok itu pun tentu dilapis besi. Kiranya tidak mungkin menjebol kamar tahanan itu. Mereka memang sudah mempersiapkan segalanya!

"Sudahlah, Kakang Nagakumala, untuk apa berpanjang cerita dengan orang ini? Dia terlalu berbahaya, sebaiknya dibinasakan sekarang juga!" kata Ratu Durgamala tak sabar karena ratu ini sudah maklum akan kesaktian Nurseta yang akan membahayakan kerajaannya.

"Engkau benar, Yayi Ratu." kata Ki Nagakumala lalu dia memberi perintah kepada dua lusin perajurit pengawalnya.

"Kalian kepung tempat ini dan pasang anak panah beracun. Hujani dia dengan anak panah beracun!"

Dua lusin perajurit itu maju dan bersiap di depan pintu besi yang lebar itu. Mereka mengambil posisi, ada yang berjongkok, ada yang berlutut dan ada yang berdiri menodongkan anak panah, merupakan tiga lapis, bawah, tengah, dan atas. Mereka sudah memasang anak panah yang ujungnya berwarna hijau kehitaman tanda racun yang amat kuat, pada busur mereka, siap untuk menarik tali busur dan melepas anak panah.

"Tahan...!!" Tiba-tiba Lasmini berseru.

"Jangan bunuh dia sekarang!"

"Lasmini...! Mengapa engkau melarang?" tanya Ratu Durgamala heran. Juga Ki Nagakumala memandang Lasmini dengan alis berkerut. Seperti juga adiknya, dia berpendapat bahwa Nurseta merupakan ancaman bahaya besar bagi Parang Siluman, maka lebih cepat dibunuh lebih baik.

"Kanjeng Ibu, Mbakayu Lasmini benar...! Orang ini jangan dibunuh begitu saja. Terlalu enak dia kalau dibunuh begitu saja!"

"Hemm..., Lalu seharusnya bagaimana?" tanya Ratu Durgamala.

"Begini, Kanjeng Ibu." kata Lasmini sambil tersenyum simpul, "Lumpuhkan dia dengan asap pembius. Nanti aku dan Mandari yang akan menangani dan membereskan dia!"

Ratu Durgamala tentu saja maklum dan dapat membaca senyum simpul yang berkembang di bibir manis Lasmini dan Mandari. Kedua orang puterinya itu bukan hanya mewarisi kecantikannya, akan tetapi juga kelemahannya terhadap gairah nafsunya sendiri yang membuat wataknya menjadi mata keranjang. Ia pun tersenyum maklum dan segera memerintahkan kepada para perajurit.

"Lumpuhkan dia dengan asap pembius!"

Dua lusin perajurit itu mengganti busur anak panah mereka dengan alat penyemprot dari bumbung bambu. Nurseta tak dapat menemukan jalan untuk menghindar dari serangan. Dia tidak berdaya dan maklum bahwa menggunakan kekerasan takkan menolongnya. Dia tidak takut mati, bahkan dia lalu menghapus penyamarannya karena kalau dia sampai mati, dia ingin mati sebagai Nurseta, sebagai dirinya yang asli, bukan dalam penyamaran. Menyamar pun sekarang tidak ada gunanya lagi karena rahasianya sudah ketahuan. Segera setelah dua lusin perajurit itu menyemprotkan asap pembius yang berbau harum menyengat, dia melompat ke atas pembaringan kecil, duduk bersila dan memejamkan kedua matanya. Dia menahan panas agar tidak keracunan pembius.

Namun, segera kamar itu penuh asap dan kurang lebih satu jam kemudian, dia tidak dapat lagi menahan pernapasannya. Dia bernapas dan asap pembius memasuki rongga dadanya. Kepalanya terasa pening, semua gelap dan dia pun tidak ingat apa-apa lagi. Namun, badannya yang terlatih itu tetap duduk bersila walaupun dia pingsan!

Ketika siuman dari pingsannya, dan membuka matanya, Nurseta mendapatkan dirinya rebah telentang di atas sebuah pembaringan yang besar, lunak dan indah, dalam sebuah kamar yang mewah dan berbau harum. Dia memandang ke sekeliling. Di sebelah kiri terdapat sebuah jendela yang terbuka dan menembus ke sebuah taman yang penuh tanaman bunga. Ketika dia meraba dengan tangannya, dia mendapatkan badannya memakai pakaian baru yang indah. Mukanya dan rambutnya bersih bekas dicuci dan penyamarannya sudah hilang sama sekali. Dia teringat. Dia telah terjebak dalam kamar dan diserang asap pembius! Diraba pinggangnya. Tongkat Pusaka Tunggul Manik juga telah hilang! Tiba-tiba terdengar suara tawa di belakangnya.

"Hi-hi-hi-hik...!"

Nurseta cepat memutar tubuh dan dia melihat Lasmini dan Mandari muncul di pintu sambil memandang kepadanya dan terkekeh-kekeh. Dia marah sekali lalu melompat turun dengan niat menyerang dua orang wanita itu. Akan tetapi dia mengeluh dan tubuhnya terpelanting, terhuyung dan dia cepat menjatuhkan diri di atas pembaringan karena kalau tidak, dia tentu akan terbanting roboh di atas lantai. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi ketika dia tadi mengerahkan tenaga sakti untuk menyerang dua orang wanita itu!

"He-he-he-heh! Bocah bagus (anak tampan), engkau akan mati kalau mencoba untuk mengerahkan tenaga dan melawan kami!" kata Mandari sambil tersenyum manis.

Sekali lagi Nutseta mencoba untuk mengerahkan tenaganya, namun rasa nyeri yang luar biasa membuat dia terpaksa duduk bersila di atas pembaringan dan menarik napas panjang.

"Apa yang telah kalian lakukan terhadap diriku?" tanyanya, tetap tenang walaupun dia tahu bahwa dia telah keracunan secara hebat sekali.

"Engkau ingin mengetahui, Nurseta? Tubuhmu telah kemasukan racun Perusak Tulang. Kalau engkau mau menaati kami, engkau akan kami beri obat penawar. Akan tetapi kalau engkau tidak mau menurut, dalam waktu satu bulan, tulang-tulangmu akan hancur dan tidak ada obat apa pun di dunia ini yang akan dapat menyelamatkanmu!" kata Lasmini sambil tersenyum dan mengerling penuh daya pikat.

Nurseta kini maklum mengapa Tongkat Pusaka Tunggul Manik mereka ambil darinya. Kalau tongkat itu masih tergantung di pinggangnya, tentu racun itu akan kehilangan dayanya.

"Menaati dan menurut bagaimana maksud kalian?" tanyanya, sikapnya tetap tenang.

Kakak beradik yang sama-sama cantik jelita itu saling padang dengan tersenyum. Mereka berdua sama-sama cantik walaupun kecantikan mereka berbeda, Lasmini berwajah bulat berkulit putih mulus, mata dan mulutnya penuh gairah, rambutnya panjang hitam dan lekuk-lengkung tubuhnya nyaris sempurna. Mandari berwajah agak lain, dengan dagu meruncing wajahnya menjadi bulat telur, anak rambut melingkar-lingkar di dahi dan pelipis, mulutnya kecil matanya lebar, hidungnya mancung indah. Biarpun kulitnya tidak seputih kulit Lasmini, namun halus dan jernih. Bentuk tubuhnya juga amat ramping dan padat. Sukar mengatakan siapa lebih menarik di antara kedua kakak beradik ini. Daya tarik kecantikan mereka sama-sama kuat dan menggairahkan karena sikap mereka yang menantang dan genit.

"Pertama, engkau harus membantu kami, memperkuat Kerajaan Parang Siluman." Kata Mandari sambil tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih seperti mutiara tersusun rapi.

"Hemm, kalau untuk melakukan kebaikan, mendatangkan kesejahteraan dan ketenteraman kehidupan rakyat, aku siap membantu kerajaan manapun juga. Akan tetapi kalau untuk mengumbar angkara murka, apalagi untuk memusuhi Kahuripan, tak mungkin aku dapat membantui kalian." jawab Nurseta tegas.

"Urusan pertama itu boleh ditunda dulu, akan tetapi sekarang engkau harus menuruti keinginan kami yang kedua, yaitu kita berpesta dan bersenang-senang dalam kamar kami ini. Engkau tentu akan suka menemani kami bersenang-senang, bukan?"

Nurseta sudah mengenal dua orang wanita itu, maklum bahwa kedua orang wanita bekas selir Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama ini adalah hamba-hamba nafsu berahi. Dia maklum bahwa mereka mengajak dia berzina! Sambil mengerutkan alisnya dia menjawab dengan lembut agar tidak menyinggung hati mereka. "Aku sama sekali tidak tertarik. Maafkan kalau aku menolak ajakan itu."

Dua orang puteri itu tidak menjadi marah. Mereka malah tersenyum lebar sehingga tampak rongga mulut mereka dan lidah mereka yang kemerahan. "Hi-hi-hik, engkau tidak akan dapat menolak kami, Nurseta!" kata Mandari, lalu disambung ucapan Lasmini dengan suara lembut manis namun mengandung wibawa dan daya pikat amat kuatnya. "Pandanglah kami, Nurseta!"

Seolah di luar kehendaknya, Nurseta memandang mereka dan jantungnya berdegup keras. Dia melihat betapa Lasmini dan Mandarai tampak luar biasa cantiknya, seolah dua orang dewi kahyangan. Wajah mereka memancarkan cahaya indah, senyum mulut mereka mengandung lautan madu, kerling mata mereka seolah menarik-narik perasaan hatinya. Nurseta segera menyadari bahwa dua orang wanita itu telah mengerahkan Aji Pameletan Guna Asmara yang amat kuat yang kabarnya dapat meruntuhkan iman seorang pertapa sekalipun. Nurseta segera berlindung dalam Aji Sirna Sarira. Aji ini merupakan aji yang meniadakan diri jasmani sehingga tentu saja tidak dapat terpengaruh segala macam daya tarik nafsu yang menguasai jasmani. Dia tetap duduk bersila dan sungguhpun dia tidak perlu memejamkan matanya, namun matanya sama sekali tidak silau oleh daya tarik kecantikan dua orang wanita itu. Bahkan dia seolah melihat dua tengkorak terbungkus kulit yang menjijikkan!

Dua orang wanita yang berpengalaman itu segera mengerti bahwa aji pengasihan mereka tidak cukup kuat untuk meruntuhkan perasaan hati dan membangkitkan nafsu berahi Nurseta. Mereka merasa penasaran sekali dan kegagalan mereka itu bahkan merupakan senjata yang berbalik menyerang diri mereka sendiri. Penolakan pemuda itu justru membuat napsu mereka menjadi semakin menyala berkobar-kobar membakar diri mereka! Keduanya menjadi nekat dan mereka menyerbu ke atas pembaringan yang lebar itu.

Mereka berdua mulai merayu Nurseta dengan bisikan-bisikan, belaian dan melekatkan tubuh mereka yang panas penuh gairah itu ke tubuh Nurseta. Namun pemuda itu kini memejamkan mata dan dia seolah menjadi seperti ketika Arjuna digoda dan diuji keteguhan batinnya oleh tujuh dewi kahyangan! Arjuna juga sama sekali tidak terguncang seperti diceritakan dalam Kisah Mahabharata Episode Arjuna Mintaraga.

Dua orang wanita cantik itu seperti cacing terkena abu panas! Mereka menggeliat-geliat merintih-rintih, merayu dan membelai. Namun Nurseta tetap tak tergoyahkan sedikit pun. Lasmini menjadi semakin penasaran. Ia lalu mengerahkan tenaga sakti dan sihirnya, menggerakkan jari tangan menotok tengkuk Nurseta lalu mengurut tulang punggungnya dengan Aji Asmara Kingkin. Totokan ini biasanya amat ampuh, dapat membangkitkan gairah berahi orang yang ditotoknya.

Nurseta, sempat merasakan tubuhnya panas dingin, namun tubuhnya yang memang terbiasa kuat menguasai gejolak nafsu-nafsunya, kini juga teguh dan tidak goyah. Dia tetap duduk bersila memejamkan mata. Akhirnya dua orang wanita itu menjadi kelelahan sendiri. Napas mereka terengah-engah, wajah mereka merah padam dan senyum manis tadi berubah menjadi seringai penuh kekesalan, kekecewaan, kemarahan dan juga ada perasaan malu dan terhina.

"Jahanam...!" Lasmini menggerakkan tangan menampar.

"Plak...!"

Pipi kanan Nurseta ditampar. Pemuda yang tidak dapat mengerahkan tenaga sakti itu hampir terguling terkena tamparan yang membuat dia merasa nyeri, perih dan panas pada pipi kanannya.

"Keparat... plakk!" Tangan Mandari menampar pipi kiri Nurseta sehingga kedua pipi pemuda itu menjadi merah membengkak, ujung bibirnya di kanan kiri sedikit pecah dan berdarah. Akan tetapi wajah Nurseta tidak menunjukkan perasaan apa pun tidak ada kerut pada wajahnya, tetap tenang, bahkan kini dia membuka kedua matanya dan memandang kepada dua orang wanita itu seperti orang yang merasa iba!

"Nurseta, keparat sombong...! Engkau sudah menolak dua permintaan kami. Engkau sudah menghina kami! Sepatutnya sekarang juga engkau kami bunuh. Akan tetapi terlalu enak kalau engkau dibunuh sekarang, Maka, biarlah kau rasakan siksaan racun Perusak Tulang yang akan menggerogotirnu setiap saat selama satu bulan sampai engkau mati!" Lasmini berkata marah sambil turun dari atas pembaringan.

Mandari juga turun dan membetulkan letak pakaiannya yang kusut dan sebagian terbuka ketika tadi mereka membujuk rayu dan menggoda Nurseta.

"Kecuali kalau engkau berubah pikiran dan mau menaati perintah kami, tentu kami menyelamatkan mu!"

Setelah berkata demikian, dua orang wanita itu memanggil para perajurit pengawal yang berjaga di luar kamar itu. Empat orang perajurit pengawal yang bertubuh tinggi besar masuk dengan sikap hormat.

"Bawa dia ke kamar tahanan di belakang. Awas, jaga ketat jangan sampai dia lolos melarikan diri..! Bunuh saja kalau dia mencoba untuk melarikan diri!" kata Lasmini kepada mereka. "Nyawa kalian taruhannya kalau dia lolos!" kata pula Mandari. "Akan tetapi perlakukan dia baik-baik, jangan sekali-kali kalian menyiksanya. Mengerti?"

Empat orang itu menyatakan siap dan taat, lalu mereka berempat menuntun dan mengawal Nurseta keluar dari kamar itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar tahanan di belakang. Kamar tahanan ini kokoh kuat sekali karena dindingnya terbuat dari baja, daun pintunya juga dari besi dengan terali kokoh dari atas ke bawah sehingga keadaan dalam kamar tahanan itu selalu diawasi oleh para perajurit penjaga. Selusin orang perajurit berjaga secara bergiliran di sekitar luar kamar tahanan itu.

Begitu dimasukkan kamar tahanan dan daun pintu besi ditutup, Nurseta lalu duduk di atas dipan kayu yang berada di sudut kamar tahanan. Dia tahu bahwa tubuhnya keracunan dan mengerahkan tenaga merupakan hal tidak mungkin. Kalau dia paksakan, tentu tulang-tulangnya akan hancur dan dia tewas seketika. Maka dia membuat tubuhnya lemas, tidak mengeluarkan tenaga. Dia harus banyak beristirahat. Direbahkannya tubuhnya yang lemas dengan muka terasa panas dan pedih oleh tamparan kedua orang wanita tadi. Dia telentang dan merenungkan keadaannya yang terancam bahaya maut yang mengerikan.

Para tokoh Parang Siluman itu memang licik dan cerdik sekali. Mengatur jebakan dan pancingan sedemikian halusnya sehingga dia yang sudah berhati-hati itu tetap saja terjebak dan tertawan. Bahkan rasanya tidak ada harapan baginya untuk dapat meloloskan diri. Satu-satunya jalan untuk menghindarkan diri dari kematian yang menyiksa hanyalah kalau dia menuruti kehendak Lasmini dan Mandari!

Pikirannya mulai melayang-layang dan Nurseta membiarkan pikirannya bekerja sendiri tanpa dia kendalikan. Mulai terbayanglah dia akan segala yang baru dialaminya, sejak dia melakukan penyelidikan sampai kemudian tertawan dan pengalaman terakhir dalam kamar indah itu pun terbayang-bayang. Betapa cantiknya dua orang puteri Parang Siluman itu! Bukan saja wajah mereka yang cantik manis menggiurkan, bahkan Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama pernah terpikat oleh kecantikan mereka! Betapa indah bentuk tubuh mereka dan terbayanglah semua peristiwa tadi, betapa tubuh-tubuh yang lunak hangat lembut itu membelainya, betapa harum semerbak bau rambut dan tubuh mereka. Betapa akan menyenangkan kalau dia memenuhi permintaan mereka. Tidak, itu tidak benar sama sekali, terdengar bisikan halus namun penuh teguran dari dalam dadanya.

"Tidak,... Nurseta, hal itu tidak boleh kau lakukan." Hatinya berbisik.

"Uh, mengapa tidak boleh?" suara lain yang parau terdengar dari dalam kepalanya. "Engkau tidak akan menjadi manusia tolol, Nurseta! Engkau laki-laki, dan mereka itu begitu cantik menarik, bayangkan betapa indah mata dan mulut mereka, betapa mulus dan indah tubuh mereka, betapa akan berbahagianya engkau kalau engkau menerima dan membalas cinta kasih mereka!"

"Hemm,... itu bukan cinta kasih." cela suara dalam hatinya. "Itu hanya gairah nafsu birahi semata yang akan menyeretmu ke dalam dosa, Nurseta. Itu perzinaan namanya dan engkau membiarkan dirimu diseret dan diperbudak napsu birahi yang akan menyengsarakan dirimu sendiri. Seorang satria utama tidak akan sudi melakukan kesesatan itu."

Nurseta mengangguk-angguk. "Itu benar sekali, aku tidak boleh melakukan perbuatan sesat itu!" katanya lirih walaupun suara bisikannya itu tidak yakin dan tegas benar, masih bercampur keraguan.

"Phuah,... omong kosong! Siapa bilang berzina dan dosa? Ini merupakan usaha untuk menyelamatkan diri. Setiap orang manusia berhak untuk mencari keselamatan, menghindar diri dari ancaman maut! Sudah jelas engkau akan mati, tulang-tulangmu akan hancur dan kau tidak akan dapat tertolong lagi! Kalau jalan satu-satunya untuk menghindarkan kematian hanya menuruti kemauan dua orang wanita itu, apanya yang dosa? Itu bukan perzinaan, bukan dosa namanya! Itu hanya cara untuk mempertahankan hidup, hak setiap orang manusia! Bahkan kalau engkau tidak mempertahankan hidupmu, membiarkan dirimu mati tanpa berusaha mencari keselamatan, itu dosa besar namanya! Sudahlah, Nurseta, kau turuti saja kemauan Lasmini dan Mandari. Engkau akan memperoleh kenikmatan, kesenangan, dan juga luput dari kematian!" Suara parau dalam kepalanya semakin lantang.

"Jangan dengarkan bujuk rayu menyesatkan itu, Nurseta." bisikan dalam dadanya membantah. "Ingat, engkau seorang satria, engkau utusan Ki Patih Narotama dan engkau selalu berpendirian bahwa seribu kali lebih baik mati sebagai seorang satria daripada hidup sebagai seorang budak nafsu yang sesat berdosa!"

"Hua-ha-ha...!" Suara dalam kepalanya terbahak. "Siapa sih manusia hidup di dunia ini yang tidak berdosa? Melakukan dosa untuk mempertahankan hidup itu tidak salah, Nurseta!"

Namun jiwa Nurseta sudah tegar kembali, sepenuhnya menyadari akan kebenaran bisikan dari hatinya tadi. "Hemm, enyahlah kamu, Nafsu Setan!" bentaknya kepada pikirannya sendiri.

Terdengar suara dalam kepala tadi tertawa bergelak, menertawakan kebodohannya, akan tetapi juga terdengar bisikan suara dalam dadanya. "Puja-puji tertinggi bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Yang Maha Besar dan Maha Kuasa!"

Setelah dua suara yang bertentangan, suara yang muncul dalam pikiran di kepala dan suara dari hati sanubari, menghilang dan keseimbangan dirinya pulih kembali dan tenang, Nurseta termenung. Dia menyadari bahwa suara yang membujuk-bujuknya untuk tunduk memenuhi permintaan Lasmini dan Mandari tadi adalah suara nafsunya yang pada umumnya disebut suara Setan. Akan tetapi, jahatkah Setan yang selalu membujuk-bujuk manusia untuk menyimpang dari kebenaran, untuk melakukan perbuatan yang sesat dan jahat?

Nurseta tersenyum sendiri. Sudah tentu saja Setan itu jahat, kalau tidak jahat bukan Setan namanya! Setan itu adalah Si Jahat itu sendiri, maka setan itu tidak bisa jahat lagi karena sudah maha jahat sejak mulanya! Mana mungkin api dapat terbakar? Api dan nyalanya tidak terpisah, seperti setan dan jahatnya. Sudah ditentukan Sang Hyang Widhi bahwa Setan harus menggoda manusia, maka membujuk manusia menyeleweng dari kebenaran merupakan tugas-kewajiban Setan! Kalau Setan tidak menggoda manusia, lalu apa pekerjaannya? Lalu namanya pun bukan setan lagi!

Tidak, yang jahat bukanlah setan, melainkan tergantung kepada manusia sendiri bagaimana menghadapi godaan itu. Betapapun hebat setan menggoda, bagaimana kuat pun nafsu-nafsu dalam badan ini membujuk rayu, menjanjikan kesenangan dan kenikmatan yang kalau dituruti akan menyeret kita ke dalam dosa, namun kalau kita tidak menyerah, pasti tidak akan terjadi perbuatan sesat atau dosa!

Jelaslah bahwa dosa terjadi karena kelemahan manusia, bukan karena godaan setan. Sudah ditakdirkan bahwa manusia hidup di dunia harus menghadapi banyak sekali godaan dan tantangan, baik tantangan jasmani maupun rohani. Segala macam godaan jasmani mengancam kehidupan kita, misalnya binatang-binatang yang mengganggu seperti nyamuk, lalat, tikus dan masih banyak lagi. Banyak pula peristiwa alam yang mengganggu dan merupakan tantangan kita, seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, badai dan sebagainya. Akan tetapi Sang Hyang Widhi Wasa juga memberi bekal akal budi kepada kita sehingga kita dapat mempergunakannya untuk mengatasi semua gangguan itu.

Demikian pula dengan gangguan rohani yang pada umumnya disebut gangguan setan. Seperti juga kita tidak menyalahkan nyamuk yang mengganggu, mengisap darah kita, karena memang nyamuk sudah ditakdirkan harus hidup dari mengisap darah sehingga nyamuk tidak bersalah, tergantung kepada kita dapat menghindarkan diri atau tidak, maka setan juga tidak bisa disalahkan kalau kita sampai tergelincir ke dalam perbuatan dosa. Kita sendirilah yang bersalah, karena lemah.

Memang, melawan bujukan setan berarti melawan nafsu-nafsu diri kita sendiri dan hal ini amatlah sukar. Manusia sendiri tidak akan mampu melawan dan mengatasi musuh besar sepanjang hidup berupa keinginan-keinginan napsunya sendiri. Hanya Sang Hyang Wldhi Wasa yang akan mampu memperkuat kita untuk mengatasi semua godaan itu. Satu-satunya jalan hanyalah mohon kekuatan dari DIA YANG MAHA KUAT, dengan penyerahan diri secara total kepada-Nya sehingga kekuatan-Nyalah yang bekerja, bukan lagi kekuatan kita untuk meredam gairah nafsu yang berkobar-kobar.

Tuhan Maha Murah dan Maha Adil, segala ciptaan-Nya diberi kebebasan sepenuhnya. Juga manusia selain diberi perlengkapan hidup berupa nafsu-nafsu dan hati akal pikiran serta budi, diberi pula kebebasan. Manusia bebas untuk memilih, kepada siapa kita akan mengabdi. Bebas untuk mengabdi kepada nafsu-nafsu daya rendah Setan atau mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang kedua pengabdian itu mendatangkan akibat-akibat tertentu. Akibat lahir dari sebab ini tak dapat dihindarkan lagi, sudah adil dan sempurna!


********************


BERSAMBUNG KE JILID 19