Cerita Silat Keris Pusaka Sang Megatantra Jilid 01

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

CERITA SILAT KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 01

Bulan Purnama memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang. Bulan purnama kalangan (ada garis bundar mengelilinginya). Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting.

Pantai segara laut kidul itu putih berkilauan tertimpa sinar bulan. Pasir putih yang bersih halus terhampar luas. Laut tampak tenang. Ombak kecil yang menipis hanya sempat menjilat tepi pantai. Suara air laut yang biasanya menggelora itu kini hanya terdengar berbisik-bisik lembut. Tebing-tebing terjal disebelah barat itu seolah merupakan bendungan untuk mencegah lautan membanjir ke darat. Perbukitan batu karang dan kapur itu tampak bagaikan raksasa-raksasa yang berdiri dengan kokoh kuat melakukan penjagaan. Sunyi senyap, yang terdengar hanya desah air laut dan yang tampak hanya buih-buih air diatas ombak-ombak kecil yang beriringan menuju ke pantai. Akan tetapi semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keheningan yang khidmat itu. Tiada awan di langit. Kenyataan itu suci dan agung. Tidak ada indah atau buruk. Yang ada hanya kenyataan. Indah atau buruk baru muncul setelah ada penilaian dan penilaian inilah yang mendatangkan pertentangan.

Bau keharuman dupa dan kemenyan yang datang dari dusun Karang Tirta yang berada tidak jauh dari pantai Pasir Putih iru mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang bagi para penduduk dusun itu dianggap sebagai malam keramat yang menakutkan karena menurut kepercayaan mereka pada malam itu semua lelembut, siluman, setan dan segala macam iblis keluar dan keluyuran, gentayangan di permukaan bumi mencari korban!. Segala macam wewe gombel, brekasakan, kuntilanak, banaspati, tetakan dan tuyul keluar untuk mencari mangsa. Karena itu orang-orang membakar dupa dan kemenyan untuk dihidangkan kepada mereka agar setelah menghirup keharuman itu mereka menjadi puas dan tidak mengganggu si penyuguh asap yang harum itu.

Di jajaran tebing terjal yang berada di sebelah barat pantai pasir putih itu terdapat sebuah guha yang luasnya sekitar tiga meter persegi dan luarnya sekitar dua meter lebih. Di tengah guha itu nampak seorang pria duduk bagaikan sebuah arca. Dia duduk dengan kedua kaki bersilang diatas paha, kedua lengan juga bersilang dan kedua matanya terpejam. Duduknya tegak lurus. Agaknya pria ini sedang bersamadhi. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah berwarna dua disanggul keatas dan tusuk sanggulnya sederhana sekali terbuat dari bambu. Tubuhnya yang tinggi kurus itu hanya dilindungi sehelai kain hitam yang dilibat-libatkan dari leher ke lutut.

Kakinya telanjang. Seorang kakek yang sederhana sekali. Dari keadaan pakaiannya dan cara dia duduk bersamadhi dapat diduga dia tentu seorang pendeta atau pertapa. Wajahnya yang kurus itu seolah bercahaya. Alis, kumis dan janggutnya yang menutupi lehernya juga sudah penuh uban. Wajahnya masih membayangkan bekas ketampanan dan mulutnya mengembangkan senyum pengertian.

Kakek itu adalah Empu Dewamurti. Dia terkenal sebagai empu ahli pembuat keris pusaka. Juga dia terkenal sebagai seorang sakti mandraguna dan ahli tapabrata yang tekun dan sering kali dia menghabiskan waktu untuk bertapa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi untuk memohon petunjuk dan bimbingannya.

Malam itu adalah malam ketiga dia bertapa dalam guha di tepi segara kidul. Empu Dewamurti adalah empu yang terkenal dijaman Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikrama Utunggadewa atau yang lebih mudah diingat dengan sebutan Raja Erlangga.

Tiba-tiba Empu Dewamurti seperti tergugah dari samadhinya. Pendengarannya menangkap jerit suara wanita dan teriakan pria yang datangnya dari hamparan pasir putih. Kalau saja suara lain yang mengganggunya, dia tentu tidak mau mengacuhkan. Akan tetapi dalam jeritan dan teriakan tadi dia menanggkap suara yang ketakutan dan mengharapkan pertolongan. Empu Dewamurti adalah seorang yang sejak muda berwatak kesatria, tidak pernah menolak untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Maka dia jadi sadar sepenuhnya dan dia segera bangkit dan keluar dari dalam guha. Dibawah sinar bulan purnama dia dapat melihat adanya dua bayangan orang, masing-masing memanggul tubuh seorang yang meronta-ronta muncul di pantai pasir putih itu.

Empu Dewamurti lalu melompat dan berlari cepat menuju kesana. Larinya cepat sekali walaupun kedua kaki yang telanjang itu nampaknya seperti melangkah seenaknya. Kecepatannya terbukti dari berkibarnya kain yang melibat-libat tubuhnya dari leher sampai ke lutut. Sebentar saja dia sudah berhadapan dengan dua orang itu.

Ternyata mereka adalah seorang wanita dan seorang lakilaki. Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam dan mukanya penuh brewok, rambutnya hitam panjang dibiarkan berjuntai di belakang kepalanya, hanya diikat kain merah. Pakaiannya serba mewah, seperti pakaian seorang bangsawan. Di pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) bergagang gading dan ujung pecut yang panjang itu digulung dan digantung di pinggang. Wajahnya kasar dan bengis.

Adapun orang kedua adalah seorang seorang wanita yang sukar ditaksir usianya karena ia masih nampak cantik jelita dan genit seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja. Mukanya yang sudah cantik itu dirias dengan bedak dan pemerah pipi dan bibir seperti riasan muka waranggana yang hendak bertembang dan berjoged. Pakaiannya mewah sekali, dengan gelang emas pada pegelangan tangan dan kaki. Di pinggang yang ramping itu tergantung sebatang pedang dengan sarungnya yang terukir indah. Wanita itu sungguh cantik menarik, terutama sekali matanya yang bersinar tajam dan senyumnya yang semanis madu.

Melihat dua orang ini, Empu Dewamurti diam-diam terkejut dan dia memperhatikan orang-orang yang berada dalam pondongan mereka itu. Laki-laki tinggi besar itu memanggul tubuh seorang gadis remaja yang usianya tiga belas tahun. Sanggul rambut gadis itu terlepas dan rambutnya yang panjang itu terurai kebawah. Ia kini tidak mampu bergerak atau menjerit lagi, agaknya sudah dibuat pingsan oleh laki-laki yang memanggulnya. Wanita cantik itu juga memanggul seseorang dan ketika Empu Dewamurti mengamati, ternyata yang dipanggulnya itu seorang pemuda remaja berusia sekitar lima belas tahun. Pemuda remaja ini sama eloknya dengan gadis remaja itu, dan dia juga kini diam saja dan lemas seperti orang pingsan atau tidur.

“Jagat Dewa Bhatara!, kiranya andika Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker dan Nyi Dewi Durgakumala dari kerjaan Wurawari!, Apa kehendak andika berdua muncul di pantai Segara Kidul wilayah Kahuripan ini dan siapa pula anak-anak remaja yang andika tawan itu?” tegur Empu Dewamurti sambil mengamati mereka berdua dengan sinar mata tajam menyelidik.

“Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki tinggi besar yang bernama Resi Bajrasakti itu tertawa bergelak-gelak sehingga seluruh tubuhnya berguncang. “Tak kusangka di sini aku bertemu dengan Empu Dewamurti, pandai besi tukang membuat pacul, arit dan pisau dapur!” Dia tertawa lagi, merasa geli dengan gurauannya sendiri yang memperolok-olok Empu Dewamurti sebagai ahli pembuat keris pusaka.

“Hik-hik, Empu Dewamurti. Senang hatiku bertemu denganmu. Aku hendak memesan sepasang gelang kaki perak, dapatkah engkau membuatkan untukku?” Wanita cantik pesolek yang bernama Nyi Durgakumala itupun tertawa dan ucapannya tadipun bermaksud menghina Empu Dewamurti.

Kalau Resi Bajrasakti merupakan Datuk Kerajaan Wengker yang sakti mandraguna, Nyi Dewi Durgakumala yang sesungguhnya telah berusia empat puluh lima tahun itu adalah seorang tokoh besar Kerajaan Wurawari dan menjadi kepercayaan Raja.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang berlari menuju ke pantai itu. Dari jauh dia melihat Empu Dewamurti dan dia berteriak. “Eyang Empu Dewamurti ......!”

Tiga orang sakti itu memandang dan Empu Dewamurti segera mengenal pemuda remaja berusia sekitar enam belas tahun yang berpakaian sederhana seperti seorang petani biasa. Dia memandang wajah yang cerah itu dengan alis berkerut. Pemuda itupun kini baru tahu bahwa di situ terdapat dua orang asing yang masing-masing memanggul seorang gadis remaja dan seorang pemuda. Maka dia lalu berkata gugup. “Maafkan saya, eyang, saya tidak tahu bahwa eyang sedang sibuk. Saya hanya menyerahkan ini. Saya temukan keris ini ketika sore tadi saya menggali kebun......” Pemuda itu membuka sebuah buntalan kuning dan terkejutlah tiga orang sakti itu ketika melihat sebatang keris yang mengeluarkan sinar kilat ketika tertimpa sinar bulan.

Tiba-tiba Nyi Dewi Durgakumala berseru dengan melengking nyaring, “Serahkan keris itu kepadaku!” Dalam suaranya terkandung pengaruh yang demikian kuat sehingga mau tidak mau pemuda petani itu mengulurkan kedua tangan yang membawa keris itu kepada wanita itu.

“Tidak! Berikan kepadaku!” terdengar bentakan lantang yang keluar dari mulut Resi Bajrasakti. Teriakan inipun mengandung pengaruh yang kuat bukan main, sehingga pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak menyerahkan kerisnya kepada Resi Bajrasakti. Akan tetapi ketika datuk dari kerjaan wengker yang tinggi besar itu menjulurkan tangannya hendak mengambil keris, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tangan Nyi Dewi Durgakumala sudah menangkisnya. Ketika kedua orang ini sedang bersitegang, tubuh Empu Dewamurti melayang ke arah pemuda itu. Dia berdiri membelakangi pemuda itu dan berkata. “Nurseta, cepat engkau duduk bersandar batu dibelakangku!”

Pemuda yang bernama Nurseta itu terbebas dari pengaruh suara dua orang yang hendak memaksa dia menyerahkan keris. Dia lalu duduk bersila di dekat batukarang yang berada di belakang Empu Dewamurti dengan hati yang berdebar tegang karena dia dapat merasakan bahwa dua orang asing itu tentu bukan orang baik-baik. Buktinya mereka agaknya menguasai gadis dan pemuda yang mereka panggul.

“Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala! Kalian berdua adalah orang-orang asing yang menjadi tamu di sini. Harap kalian tidak membuat gara-gara!”

“Empu Dewamurti, keris itu harus menjadi milikku!” teriak Nyi Dewi Durgakumala sambil menuding telunjuk kanannya ke arah Nurseta.

“Tidak, harus diberikan kepadaku!” bentak Resi Bajrasakti.

“kalau tidak, akan kurampas dengan kekerasan!”

“Babo-babo, Resi Bajrasakti, Apa kau kira aku ini patung hidup? Engkau tidak akan dapat merampasnya selama aku masih berada di sini!” teriak Nyi Dewi Durgakumala.

Melihat dua orang itu agaknya saling berebut sendiri, Empu Dewamurti tersenyum.

“Sadhu...Sadhu...Sadhu...! Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala, ketahuilah bahwa keris itu ditemukan di tanah yang menjadi wilayah kahuripan, oleh karena itu menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan. Selain daripada itu, agaknya andika berdua tidak mengenal pusaka itu. Sekali pandang saja aku mengenalnya. Keris pusaka itu adalah Sang Megatantra dan pusaka dibuat oleh mendiang Empu Bramakendali di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang menjadi nenek moyang Kerajaan Kahuripan. Oleh karena itu, kalian berdua dari Kerajaan Wengker dan Wurawari sama sekali tidak berhak memilikinya. Selain itu, muda-mudi yang kalian culik itu tentu kawula Kahuripan, maka bebaskan mereka dan pulanglah kalian ke tempat kalian masing-masing dengan damai”.

“Babo-babo, empu keparat! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dia yang berhak memiliki Keris Pusaka Sang Megatantra!” bentak Resi Bajrasakti.

“Sang Resi, keris pusaka merupakan hak milik Kerajaan Kahuripan, tidak mungkin diperebutkan. Kalau andika memperebutkannya, berarti andika hendak merampok.”

“Heh, Empu konyol! Apakah engkau tidak tahu akan hokum alam bahwa siapa yang menang, dia berkuasa? Engkau hendak menentang hukum alam?”

“Resi Bajrasakti, wawasanmu itu salah sama sekali. Hukum alam adalah hukum sebab akibat yang seadil-adilnya. Hukummu tadi bukan hukum alam, melainkan hukum yang dibuat manusia sesat yang diperbudak nafsu. Nafsu selalu ingin menang dan kalau menang dia harus berkuasa dan yang berkuasa selalu harus benar! Yang berkuasa menindas yang lemahpun dibenarkan oleh nafsu angkara murka.” kata Empu Dewamurti dengan sikap tenang.

“Jangan banyak cerewet, Empu Dewamurti! Serahkan Keris Megatantra itu kepadaku atau aku akan menggunakan kekerasan!” bentak Nyi Dewi Durgakumala.

“Jagat Dewa Bhatara! Manusia diciptakan hidup di permukaan ini memang diberi wewenang untuk memilih, apakah dia ingin menjadi alat iblis ataukah ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, membela kebenaran dan menentang kejahatan. Terserah kepada kalian berdua.”

Resi Bajrasakti lalu melangkah belasan tindak dan menurunkan gadis remaja yang dipanggulnya. “Bocah ayu, engkau berdiamlah di sini dulu sebentar ya? Nanti setelah kubereskan Empu konyol itu, kupondong lagi dan kita bersenang-senang.”

Gadis remaja itu ketika diturunkan rebah terlentang, agaknya untuk bangkit dudukpun ia tidak kuat. Nyi Dewi Durgakumala tidak mau kalah. Iapun menurunkan pemuda remaja yang tadi dipanggulnya itu agak jauh dari situ. Pemuda itupun rebah terlentang dan tanpa malu-malu Nyi Dewi Durgakumala menciumnya. “Cah bagus, engkau kutinggalkan sebentar!”

Kini Empu Dewamurti berhadapan dengan dua orang datuk itu. Nyi Dewi Durgakumala bersikap cerdik. Ia maklum untuk memperebutkan Keris Pusaka Megatantra, ia harus dapat mengalahkan dua orang lawan yang tangguh. Sebetulnya kedatangan ke wilayah Kahuripan itu, seperti juga Resi Bajrasakti adalah untuk melaksanakan tugas masing-masing yang diperintahkan raja mereka, yaitu untuk melakukan penyelidikan terhadap kerajaan Kahuripan dan kalau ada kesempatan menimbulkan kekacauan di kerajaan musuh itu. Karena keduanya memang saling mengenal sejak dahulu, maka ketika saling berjumpa, segera terjalin hubungan akrab dan mesra antara mereka.

Akan tetapi dua orang manusia cabul yang menjadi hamba nafsu mereka sendiri itu sebentar saja sudah merasa bosan dan malam itu mereka masing-masing menculik seorang gadis dan pemuda remaja untuk menyalurkan gairah nafsu mereka yang kotor. Kebetulan sekali mereka menculik dua orang muda remaja dari dusun Karang Tirta pula dan ketika mereka membawa korban calon mangsa mereka ke pantai pasir putih untuk bersenang-senang melampiaskan nafsu disana, Empu Dewamurti memergoki mereka. Kebetulan pula Nurseta, pemuda petani dari Dusun Karang Tirta pula, datang untuk menyerahkan penemuannya kepada Empu Dewamurti yang dikenalnya sehingga kini yang menjadi persoalan bukan hanya orang-orang muda yang diculik, melainkan perebutan Keris Megatantra. Nyi Dewi Durgakumala sengaja diam saja dan membiarkan Resi Bajrasakti untuk lebih dulu bertanding melawan Empu Dewamurti agar ia memperoleh kesempatan yang dapat menguntungkannya.

Resi Bajrasakti juga ingin secepatnya merobohkan Empu Dewamurti yang merupakan penghalang pertama. Setelah empu ini roboh, baru dia akan menghadapi Nyi Dewi Durgakumala yang mungkin akan diajaknya berdamai demi keuntungan mereka berdua. Hal ini akan dipikirkan nanti saja setelah dia berhasil mengalahkan Empu Dewamurti. Kini dia berkemak-kemik membaca mantera, mengerahkan tenaga sihirnya, kemudian cepat dia membungkuk dan mengambil segenggam pasir lalu melontarkannya ke atas sambil berseru lantang. “Bramara Sewu (Seribu Lebah)!!”

Pasir yang dilontarkan itu tiba-tiba menjadi asap dan asap itu berubah pula menjadi lebah banyak sekali. Lebah-lebah itu beterbangan menyerbu Empu Dewamurti sambil mengeluarkan bunyi mendengung. Akan tetapi Empu Dewamurti tadi meniru perbuatan lawan mengambil segenggam pasir putih dan melihat banyak lebah yang menyerangnya, dia lalu menyabitkan segenggam pasir putih itu sambil membentak, “Asal pasir kembali menjadi pasir!!”

“Wuuuttt ..... blar .....!!”

Ketika rombongan lebah itu dihantam pasir yang disambitkan Empu Dewamurti, terdengar ledakan, asap mengepul dan pasir berhamburan ke bawah. Lebah=lebah itupin lenyap.

“Jahanam!” Resi Bajrasakti berteriak memaki, lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Empu Dewamurti maklum bahwa lawan akan menyerangnya dengan ilmu lain. Dia sudah tahu bahwa Resi Bajrasakti terkenal sakti mandraguna, ahli sihir dan memiliki banyak aji yang berbahaya. Ketika Datuk dari Wengker itu merasa betapa tenaga saktinya telah terpusat di kedua tangannya, dia lalu melakukan pukulan mendorong ke arah Empu Dewamurti sambil membentak nyaring.

“Aji Sihung Naga .....!!!” pukalan sakti ini dahsyat bukan main. Terdengar suara bercuitan dan getaran amat kuat menerjang ke arah Empu Dewamurti. Kakek ini sudah siap. Kedua tangannya merangkap menjadi sembah sujud di atas dahinya, kemudian kedua tangan itu dari situ dikembangkan dan dengan telapak tangan terbuka menyambut dorongan lawan.

“Syuuuuttt ..... desss ...!!”

Tubuh Empu Dewamurt i bergoyang-goyang, akan tetapi Resi Bajrasakti terdorong ke belakang sampai terhuyung dan hampir roboh. Resi Bajrasakti menjadi semakin marah dan penasaran. Dia segera melompat ke depan dan mencabut cemeti (cambuk) yang tergulung dan terselip di p inggangnya. Inilah Pecut Tatit Geni (Halilintar Api) yang sudah amat terkenal dan ditakuti lawan karena Resi Bajrasakti sudah marah sekali dan bahwa dia menganggap lawannya terlalu tangguh sehingga terpaksa dia menggunakan senjata pamungkas itu.

“Tar-tar-tarrr .....!” Begitu cambuk itu digerakkan, ujungnya yang panjang meluncur ke atas dan mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan nyaring dan mengeluarkan asap dari bunga api yang berpijar di ujung cambuk. Hebat bukan main cambuk ini! Empu Dewamurti memutar tubuh menghadap tebing dimana terdapat guha yang untuk sementara waktu menjadi tempat tinggalnya. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali dan tampak sinar meluncur dari dalam guha ke arah tangannya dan ketika Empu Dewamurti menggunakan tangan kanannya menangkap, ternyata sebatang tongkat Pring Gading (Bambu Kuning) telah berada di tangannya! Ini merupakan satu diantara kesaktian sang Empu, yaitu menguasai senjatanya yang hanya sebatang tongkat bambu kuning namun ampuhnya mengiriskan dia mampu “memanggil” dari jauh.

“Resi Bajrasakti, sekali lagi aku peringatkan andika. Bebaskan gadis remaja itu dan pulanglah ke tempat asalmu. Aku tidak ingin bermusuhan secara pribadi denganmu!”.

Melihat cara Empu Dewamutri menguasai senjatanya tadi, hati Resi Bajrasakti menjadi gentar juga, akan tetapi dasar orang yang terbiasa diagungkan dan disanjung sehingga dia merasa diri sendiri paling hebat, mana dia mau mengalah begitu saja!. Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya dan seketika tempat itu diselimuti semacam halimun yang membuat malam terang bulan purnama menjadi berkabut. Diapun menerjang setelah aji panglimunan berhasil baik.

“Tar-tar-tarrr .....!” Pecut Tatit Geni meledak-ledak, mengeluarkan pijaran api dan menyambar-nyambar ke arah kepala Empu Dewamurti. Namun dengan tenang sang Empu menangkis dengan tongkat bambu kuningnya dan kedua orang sakti itu segera bertanding dengan serunya. Nyi Dewi Durgakumala juga menonton dengan penuh perhatian. Harus dia akui bahwa empu itu memang sakti mandraguna dan ia merasa sangsi apakah ia akan mampu mengalahkan Empu Dewamurti. Karena tidak ada yang memperhatikan, dan menggunakan selagi cuaca diliputi kabut, diam-diam Nurseta menghampiri gadis remaja yang berada paling dekat dengan dirinya. Dia tentu saja mengenal anak perempuan itu yang memang tinggal sedusun dengannya, yaitu di Dusun Karang Tirta.

Sambil memegangi Keris Pusaka Megatantra dengan tangan kanan, Nurseta mengguncang pundak anak perempuan itu yang bernama Puspa Dewi. “Dewi ....., Dewi ....., bangunlah .....!” katanya sambil mengguncang pundak anak perempuan itu.

Puspa Dewi membuka mata dan seolah baru terbangun dari tidurnya. Padahal ia tadi dalam keadaan tak berdaya oleh pengaruh sihir. Di luar pengetahuan dua orang anak itu Puspa Dewi dapat terbebas dari pengaruh sihir karena keampuhan Keris Pusaka Megatantra yang dibawa Nurseta!.

“Apa ..... apa yang terjadi? Ah, engkau Kakang Nurseta .....! Apa yang terjadi? Tadi ..... kakek yang jahat itu .....”

“Stttt, lihat dia sedang bertanding melawan Eyang Empu Dewamurti. Diam saja di sini, aku hendak melihat pemuda di sana itu.” Nurseta meninggalkan Puspa Dewi dan berlari dalam kabut dan menghampiri pemuda remaja yang dipanggul Nyi Dewi Durgakumala. Setelah dekat dia berjongkok dan kini tahulah dia bahwa pemuda remaja itu adalah Linggajaya, putera kepala dusun Karang Tirta yang terkenal sombong karena merasa dia putera kepala dusun Karang Tirta yang berkuasa, kaya raya dan juga memiliki wajah tampan.

Sebetulnya Nurseta tidak begitu suka kepada pemuda sombong ini, bahkan dia seringkali sebagai seorang pemuda yatim piatu mendapat ejekan dan olok-olok dari Linggajaya. Akan tetapi kini melihat keadaan pemuda itu, dia merasa iba dan seperti tadi ketika menggugah Puspa Dewi, kini diapun mengguncang pundak Linggajaya dengan tangan kirinya.

“Jaya ....., Linggajaya ..... bangunlah .....!” Kembali keampuhan keris pusaka Megatantra bekerja dan seketika pemuda putera lurah itu terbebas dari pengaruh sihir Nyi Dewi Durgakumala atas dirinya. Dia terbangun menggosok-gosok kedua mata dengan tangan karena keremangan kabut membuat penglihatannya tidak begitu terang. Akhirnya dia melihat wajah Nurseta dan dia bangkit duduk.

“Eh, engkau ini Nurseta? Mau apa engkau di sini? Ah ya, apa yang terjadi? Dimana wanita cantik yang membawa lari aku tadi ? »

“Ssttt ….. jangan berisik Jaya. Mereka sedang bertempur. Sebaiknya mari cepat ajak Puspa Dewi lari dari sini.” Bisik Nurseta.

Linggajaya bangkit berdiri. “Puspa Dewi? Di mana dia? Mengapa pula ia ada di sini?”

“Iapun diculik orang. Mari kita ajak ia lari.” kata Nurseta dan mereka pergi menghampiri Puspa Dewi.

Puspa Dewi adalah Gadis remaja yang amat cantik dan hampir semua pemuda remaja di Karang Tirta gandrung kepadanya, termasuk Linggajaya. Setelah bertemu dengan Puspa Dewi, Linggajaya lalu memegang tangan anak perempuan itu dan ditariknya, diajak lari dari tempat itu.

“Puspa Dewi, hayo cepat kita lari pulang!” katanya sambil menarik tangan anak perempuan itu.

Karena ketakutan terhadap kakek yang menculiknya tadi, Puspa Dewi menurut saja dan keduanya lari meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Nurseta lagi. Pemuda ini hanya berdiri memandang. Dia tidak perlu berlari, bahkan dia harus berlindung kepada Empu Dewamurti yang sedang bertanding melawan kakek tinggi besar itu. Akan tetapi sekarang dia melihat Empu Dewamurti bahkan dikeroyok olek dua orang penculik itu. Teringat akan pesan Empu Dewamurti, Nurseta lalu menyelinap dan duduk lagi di dekat batu karang. Kini dengan penuh perhatian dia menonton pertarungan itu.

Anehnya, kabut yang tadi menyelimuti temmpat itu sudah menipis dan cahaya bulan purnama tampak berseri lagi. Tadi pertandingan antara Resi Bajrasakti dan Empu Dewamurti berlangsung tak seimbang. Betapapun saktinya Resi Bajrasakti namun ternyata tingkatannya masih berada dibawah tingkat Empu Dewamurti yang memiliki aji-aji yang kuat sekali karena semua ajiannya selalu dipergunakan untuk membela kebenaran. Juga hidupnya selalu penuh dengan keprihatinan, berserah diri dan selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi, tidak seperti Resi Bajrasakti yang selalu melakukan kejahatan terdorong oleh nafsu-nafsunya sendiri yang memperbudaknya. Beberapa kali cambuknya terpental membentur tongkat bambu kuning, bahkan sempat terdorong dan terhuyung sehingga dalam waktu singkat saja dia hampir kehabisan tenaga.

Melihat ini, timbul kekhawatiran dalam hati Nyi Dewi Durgakumala. Tingkat kepandaiannya sendiri seimbang dengan tingkat yang dikuasai Resi Bajrasakti. Berarti dia sendiri juga tidak akan mampu menandingi ketangguhan Empu Dewamurti. Lebih baik kalau Empu Dewamurti disingkirkan terlebih dahulu, pikirnya. Ia lalu mencabut Candrasa Langking (Pedang Hitam) yang merupakan senjata pusakanya dan melompat ke depan mengeroyok sang empu.Pedangnya menjadi gulungan sinar hitam yang menerjang kearah Empu Dewamurti.

Setelah dikeroyok dua, Empu Dewamurti merasa kewalahan juga. Bertanding satu lawan satu, dia pasti dapat mengalahkan mereka, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang digjaya itu, dia harus mengeluarkan aji kesaktian yang lebih tinggi. Tiba-tiba Empu Dewamurti memutar tongkat bambu kuning dengan tangan kanannya. Tongkat itu membentuk gulungan sinar kuning yang melingkar-lingkar, bagai sebuah perisai yang kokoh kuat melindungi dirinya. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri dan dua kali mendorongkan telapak tangan kirinya itu ke arah sua orang pengeroyoknya.

“Hyaaahhh ..... yaaaahhh ...!!”

Angin dahsyat menggempur datuk Wengker dan datuk Wurawari itu. Biarpun mereka berdua mencoba bertahan, namun tetap saja mereka terdorong ke belakang dan terhuyung sampai jatuh! Mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa lawannya benar-benar sakti mandraguna dan kalau lawannya mempergunakan tangan kejam mungkin mereka berdua takkan mampu bertahan. Apalagi melihat Nurseta yang menemukan keris pusaka Megatantra berlindung di belakang sang empu. Mereka menjadi putus harapan dan melihat betapa dua orang anak remaja yang mereka culik tadi lenyap, mereka semakin marah dan penasaran lalu mereka melakukan pengejaran, meninggalkan Empu Dewamurti yang berdiri sambil mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi banyak dihamburkan untuk melawan dua orang tangguh itu.

“Hei, ke mana dua orang bocah yang mereka culik tadi?”

Empu Dewamurti baru melihat bahwa dua orang anak itu sudah tidak ada dan dia melihat betul bahwa dua orang datuk tadi melarikan diri tanpa membawa dua orang bocah yang tadi diculiknya.

“Maaf, eyang. Tadi saya menggugah dan menyuruh mereka melarikan diri karena saya merasa kasihan dan khawatir akan keselamatan mereka.”

“Engkau? Menggugah meraka?” Empu Dewamurti merasa heran. Dia dapat menduga bahwa dua orang bocah remaja tadi tentu tidak mampu bergerak atau berteriak karena pengaruh sihir! Bagaimana mungkin anak ini dapat menyadarkan mereka? Akan tetapi dia tiba-tiba teringat akan keris pusaka Megatantra yang berada dalam buntalan kain kuning yang dibawa nurseta dan dia mengangguk-angguk. Mengertilah empu ini bahwa tentu daya kekuatan keris ampuh itu yang memunahkan pengarus sihir atas diri dua orang bocah remaja itu.

“Kenalkah engkau kepada dua orang anak itu?”

Nurseta mengangguk. “Saya mengenal mereka, eyang. Mereka asalah Puspa Dewi dan Linggajaya dari dusun Karang Tirta. Kami sedusun eyang.”

“Dari dusun Karang Tirta? Ah jangan-jangan dua orang sesat itu melakukan pengejaran ke sana. Hayo Nurseta, kita menyusul mereka ke Karang Tirta! Pegang erat-erat tanganku!.”

Nurseta menurut. Tangan kirinya masih mendekap buntalan kuning dan tangan kanannya memegang tangan kiri kakek itu erat-erat. Tiba-tiba Nurseta merasa betapa tubuhnya meluncur seperti terbang dengan cepatnya! Kedua kaki agak terangkat sehingga tidak menginjak tanah lagi. Kiranya kakek itu mengangkat tangannya keatas sehingga tubuhnya agak terangkat dan kakek itu membawanya lari secepat terbang!

Nurseta terbelalak, kagum dan heran. Sudah kurang lebih sebulan dia mengenal Empu Dewamurti, yaitu ketika secara kebetulan dia melewaati guha itu. Dia merasa kasihan kepada kakek yang bertapa itu dan melihat tubuh yang tinggi kurus itu, Nurseta mencari buah-buahan dan menghidangkan kepada Empu Dewamurti. Mereka berkenalan dan sang empu juga kagum melihat pemuda yang budiman itu. Mereka tiba di dusun Karang Tirta dan Nurseta mengajak sang empu lebih dulu mengunjungi rumah Nyi Lasmi, seorang janda berusia tiga puluh satu tahun yang hanya hidup berdua dengan anaknya yaitu Puspa Dewi. Alangkah terkejut dan herannya hati Nurseta ketika dia dan sang empu mendapatkan janda muda itu menangis terisak-isak, dirubung beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya.

Ketika Nurseta dan Empu Dewamurti datang, semua orang menatapnya dengan heran. Akan tetapi Nurseta tidak mengacuhkan mereka, langsung dia menghampiri Nyi Randa (Janda) Lasmi dan bertanya, “Bibi Lasmi, apakah Puspa Dewi sudah pulang?”

Mendengar pertanyaan ini Nyi Lasmi menyusut air matanya yang sudah hampir habis dan ia memandang Nurseta dengan mata merah... “Bagaimana engkau ini, Nurseta? Semua orang geger meributkan anakku yang diculik penjahat, engkau malah bertanya apakah dia sudah pulang!”

“Saya sudah tahu, Bibi Lasmi. Malah tadi saya yang menggugah dan menyuruhnya cepat melarikan diri ketika penculiknya sedang bertanding dengan eyang empu ini. Apakah ia belum tiba di sini?”

cerita silat online karya kho ping hoo

Semua orang terheran mendengar ini dan Nyi Lasmi menjadi semakin gelisah.

“Tidak, ia belum pulang sejak diculik. Ah, anakku Puspa Dewi .....!” Lalu janda muda itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah Empu Dewamurti yang tidak dikenalnya. Mendengar bahwa kakek itu bertanding melawan penculik anaknya, maka timbul harapan di hatinya bahwa kakek itu akan dapat menyelamatkan puterinya.

“Aduh paman.... saya mohon, tolonglah anak saya Puspa Dewi .....!”

“Tadi Dewi melarikan diri bersama Linggajaya, mungkin mereka lari ke rumah Bapak Lurah Suramenggala. Mari eyang, kita mencari kesana!” kata Nurseta.

Empu Dewamurti mengangguk dan mereka berdua segera keluar dari rumah itu dan mereka menuju ke rumah ki lurah. Akan tetapi sekali ini semua orang termasuk Nyi Lasmi juga mengikuti mereka karena Nyi Lasmi dan para tetangganya ingin sekali melihat apakah benar Puspa Dewi selamat dan kini berada di rumah Ki Lurah Suramenggala! Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, keluarga Ki Lurah Suramengggala juga sedang kebingungan dan kesedihan. Banyak penduduk berkumpul di situ. Ketika Ki Lurah Suramenggala mendengar bahwa Nurseta mengetahui tentang puteranya yang diculik wanita cantik, dia segera melangkah ke luar menemui Nurseta.

Empu Dewamurti memandang penuh perhatian. Ki Lurah Suramenggala adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah bengis, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dibelakangnya berjalan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang berwajah cantik dan matanya merah karena kebanyakan menangis.

“Nurseta, benarkah engkau melihat Linggajaya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?” Tanya wanita yang menjadi isteri ketiga dan ibu Linggajaya itu dengan suara serak.

“Nurseta, hayo ceritakan semuanya dan jangan bohong engkau!” Ki Lurah Suramenggala membentak galak.

Nyi Lasmi, janda ibu Puspa Dewi juga mendekat dan mendengarkan. Semua orang tidak ada yang bersuara, ingin mendengarkan cerita Nurseta. Nurseta menelan ludah, tampak gugup, siapa diantara para penduduk Karang Tirta yang tidak akan gugup menghadapi Ki Lurah yang bengis galak itu? Apalagi nurseta adalah seorang pemuda remaja yatim piatu yang pekerjaannya hanya menjadi buruh tani. Karena tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki secuilpun tanah maka dia hanya membantu bertani di sawah ladang mereka yang memiliki tanah dan menerima upah sekadarnya untuk dapat makan setiap harinya.

“Malam tadi saya pergi ke pantai pasir putih untuk menemui eyang ini ... “

“Siapa dia?” Ki Lurah Suramenggala bertanya sambil memandang ke arah Empu Dewamurti, seolah seorang jaksa sedang memeriksa seorang terdakwa.

“Eyang ini adalah Empu Dewamurti yang sedang bertapa di dalam gua di bawah tebing dekat pantai pasir putih.” Nurseta menjelaskan.

“Hemm, lanjutkan ceritamu!”

“ketika saya tiba si pantai pasir putih, saya melihat eyang empu sedang berhadapan dengan dua orang. Seorang kakek tinggi besar yang memanggul tubuh Puspa Dewi dan seorang wanita cantik yang memanggul tubuh Linggajaya.”

“Anakku Dewi ....!” Nyi Lasmi menangis.

“Diam kau, Nyi Lasmi!” Ki Lurah membentak. “Hayo lanjutkan, Nurseta, akan tetapi awas, jangan bohong kau!”

“Kemudian eyang minta agar mereka melepaskan Puspa Dewi dan Linggajaya yang mereka tawan, akan tetapi mereka menolak dan setelah menurunkan tubuh kedua orang anak itu, mereka lalu bertanding melawan Eyang Dewamurti. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menggugah Puspa Dewi dan Linggajaya yang keliatannya seperti tertidur, lalu menganjurkan mereka untuk cepat melarikan diri dan pulang. Setelah eyang empu berhasil mengalahkan dua orang penculik itu dan mereka melarikan diri dan kuceritakan kepada eyang empu tentang Puspa Dewi dan Linggajaya, kami berdua datang ke sini untuk melihat apakah kedua orang anak itu sudah pulang. Akan tetapi ternyata belum …..”

“Nurseta, jangan bohong kau! Kalau memang benar engkau membujuk kedua orang anak itu untuk lari dan pulang, kenapa engkau sendiri tidak mengantar mereka? Lalu engkau Pergi kemana?” Hardik Ki Lurah dengan suara galak dan matanya melotot menatap wajah Nurseta.

“Saya kembali berlindung di belakang eyang empu seperti yang diperintahkannya.”

“Semua itu bohong! siapa percaya omongan seorang yatim piatu terlantar seperti engkau? Ceritamu itu bohong! Engkau tentu menjadi antek penculik anakku! Hayo katakan, berapa engkau dibayar untuk membantunya?”

Nurseta memandang lurah itu dengan mata terbelalak. ”Saya tidak membantu para penculik itu. Saya malah mencoba untuk menolong Linggajaya dan Puspa Dewi!”

“Bohong! mana mungkin kakek kurus kering ini mampu menandingi dua orang penculik itu? Baru penculik wanita itu saja memiliki kesaktian luar biasa. Lima orang jagabaya ia robohkan seketika dan ia memondong tubuh Linggajaya dan berlari seperti terbang. Engkau pasti berbohong dan kakek ini tentu temanmu yang bersekongkol dengan penculik itu!”

“Tidak, sungguh saya tidak membohongi siapa-siapa …!” kata Nurseta.

“Diam! Engkau pasti bersekongkol dengan para penculik. Engkau dan kakek ini. Kalian akan kami tahan sampai anakku kembali dengan selamat. Tangkap bocah dan kakek ini!” Ki lurah Suramenggala dengan mata melotot menudingkan telunjuknya kepada Nurseta, memerintah kepada para jagabaya (penjaga keamanan) untuk menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti.

Akan tetapi terjadi hal yang amat aneh sehingga mengherankan semua orang yang berada di situ. Baik Ki Lurah Suramenggala, lima orang jagabaya belasan orang anak buahnya dan siapa saja yang berniat menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti sama sekali tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. Bahkan Ki Lurah Suramenggala masih berdiri melotot dan menudingkan telunjuknya ke arah Nurseta, tidak mampu bergerak lagi, seolah berubah menjadi arca. Tentu saja dia merasa kaget dan heran sekali. Dia berusaha meronta dan mengggerakkan tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil, bahkan bibirnya tak mampu bergerak untuk mengeluarkan suara!

Mereka yang tidak berniat buruk terhadap Empu Dewamurti dan Nurseta dapat bergerak seperti biasa dan melihat betapa kakek itu berkata kepada Nurseta dengan suara tenang.

“Mari Nurseta, mari kita tinggalkan lurah yang bodoh dan suka mengandalkan kedudukan bersikap sewenang-wenang ini”. Lalu kakek itu melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu,diikuti Nurseta.

Lama setelah dua orang itu pergi, barulah KiLurah Suramenggala mampu bergerak kembali. Demikian pula mereka yang tadi berniat menangkap Nurseta dan kakek itu. Begitu sapat bergerak, Ki Lurah Suramenggala berseru, “Tangkap bocah dan kakek itu! Tangkap mereka!”

Seorang carik yang sudah tua segera berkata, “Kilurah, saya harap andika menyadari bahwa kakek tadi bukan orang sembarangan. Tentu dia membuat kami tidak mampu bergerak maupun bersuara. Kalau dia berniat jahat, mungkin selamanya kami tidak dapat bergerak lagi.”

Mendengar ini, belasan orang yang tadi berniat menangkap dan tidak mampu bergerak atau bersuara menjadi ketakutan. Juga Ki Lurah menjadi takut membayangkan betapa dia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi dengan tubuh kaku seperti berubah menjadi arca batu!

“Tapi..... tapi ..... bagaimana dengan anakku si Linggajaya?” katanya dengan cemas.

“Ki lurah, kalau apa yang diceritakan Nurseta tadi benar-benar terjadi, tentu kedua orang anak yang diculik itu terjatuh kembali ketangan penculiknya atau mungki juga masih berkeliaran karena takut, bersembunyi di sekitar pantai. Lebih baik kita berpencar dan mencari.” Kata carik tua itu.

Semua orang setuju dan berhamburanlah mereka keluar dari dusun karang tirta untuk mencari kedua anak yang hilang itu. Akan tetapi sampai keesokan harinya, usaha para penduduk Karang Tirta itu tidak berhasil. Akhirnya, terpaksa mereka kembali ke dusun dan dua keluarga yang kehilangan anak itu hanya dapat menangis.

Nurseta mengikuti Empu Dewamurti meninggalkan daerah pantai laut kidul menuju utara. Mereka berjalan terus melalui bukit-bukit kapur. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berhenti mengaso di puncak sebuah bukit kecil. Empu Dewamurti yang minta anak itu berhenti mengaso, melihat nurseta tampak kelelahan. Diam-diam dia mengagumi pemuda remaja yang tahan uji itu, berjalan sepanjang malam tanpa henti dan sama sekali tidak mengeluh walaupun kelelahan. Mereka duduk di atas batu. Nurseta masih tetap memegang buntalan kain kuning berisi keris pusaka itu.

“Nurseta, berikan keris itu padaku.” Kata Empu Dewamurti sambil menyodorkan tangannya.

Pemuda itu menyerahkannya dan Empu Dewamurti membuka buntalan kain kuning. Tampak sinar kilat ketika sinar matahari pagi menimpa keris itu. Empu Dewamurti memegang gagang keris, mengangkat dan mengamatinya. Lalu dia mengangguk-angguk.

“Tidak salah lagi. Inilah Sang Megatantra, buatan empu Bramakendali yang hidup ratusan tahun yang lalu di jaman Medang Kamulan. Pusaka ini dikabarkan hilang tanpa bekas puluhan tahun yang lalu setelah dijadikan rebutan para raja muda yang mengirim orang-orang sakti. Sungguh luar biasa sekali bahwa akhirnya pusaka ini ditemukan olehmu, Nurseta. Ini hanya berarti bahwa engkau berjodoh dengan pusaka ini, dan mulai saat ini, Keris Pusaka Megatantra menjadi milikmu.”

Kakek itu mengembalikan keris. Nurseta menerimanya dan membungkusnya kembali dengan kain kuning.

“Akan tetapi eyang, saya justru hendak menyerahkan keris ini kepada eyang.”

“Tidak, Nurseta. Engkau yang menemukan. Hal itu sudah merupakan kehendak Sang Hyang Widhi dan engkau pula yang berhak memilikinya.”

“Eyang, saya tidak tahu apakah yang harus saya lakukan dengan keris ini. Bagi saya keris ini tidak ada gunanya. Sebatang arit atau pacul jauh lebih berguna karena dengan alat-alat itu saya dapat bekerja di sawah ladang. Akan tetapi sebatang keris? Untuk apa? Saya tidak dapat mempergunakannya.”

Kakek itu tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengamati wajah pemuda itu, lalu mengangguk-angguk. “Bagus!, kewajaran dan kejujuranmu itu merupakan modal utama bagimu untuk melangkah sepanjang jalan kebenaran dan mencegahmu agar tidak tersesat jalan. Jangan khawatir, Nurseta. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu kanuragan dan aji kesaktian agar engkau dapat memanfaatkan kegunaan keris pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, juga agar engkau dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”

Mendengar ini, Nurseta tertegun. Teringat dia bahwa kakek ini adalah seorang yang sakti mandraguna seperti Dewa saja. Teringat ketika kakek ini bertanding melawan dua orang penculik yang sakti itu dan ketika kakek ini membawanya “terbang” dalam berlari. Dia menjadi muridnya?

“Maksud paduka... hendak mengambil saya menjadi murid? Mengajari saya aji kesaktian, juga cara berlari seperti terbang?”

Melihat kegembiraan membayang pada wajah pemuda yang tegang itu Empu dewamurti tersenyum dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa kagum. Bocah ini biarpun menjadi anak desa dan yatim piatu, pekerjaannya hanya sebagai seorang buruh tani namun memiliki wajah yang cerah, bersih, sepasang mata yang sinarnya tajam cerdik namun penuh kejujuran dan kebaikan budinya tercermin pada pandang matanya. Wajah seorang pemuda remaja yang mempunyai daya tarik amat kuat, walaupun tak dapat disebut tampan sekali. Wajah biasa saja namun menyembunyikan sesuatu yang pasti menarik hati orang untuk mengenalnya lebih dekat. Dia teringat betapa bocah ini mula-mula lewat di depan goa dan melihatnya. Tak lama kemudian bocah ini membawa sesisir pisang raja yang kuning masak dan memberikan pisang itu kepadanya! Dan sejak hari itu Nurseta sering datang membawa bermacam makanan seperti buah-buahan, jagung bakar, ketela bakar, bahkan kelapa muda untuk dihidangkan kepadanya. Mereka seperti menjadi sahabat. Namun hanya sebatas begitu saja. Belum pernah dia mendengar tentang keadaan pemuda itu. Dan tadi dia mendengar kemarahan Ki Lurah yang mengatakan bahwa Nurseta adalah seorang anak yatim piatu. Setelah teringat bahwa dia kini menjadi murid kakek itu, Nurseta segera meletakkan buntalan keris di atas batu dan dia sendiri lalu turun dari atas batu.

“Eyang guru .....!” katanya sambil berlutut dan menyembah, sungkem dengan penuh hormat didepan kaki kakek itu.

“Bagus, Nurseta muridku. Sekarang duduk dan bersila di atas batu itu agar lebih leluasa kita bicara.”

Biarpun Nurseta ingin menghormati gurunya dengan duduk bersila di atas tanah, di sebelah bawah, namun mendengar ucapan itu, dia menyembah lagi lalu kembali duduk bersila di atas batu.

“Nah, sekarang aku ingin mendengar riwayatmu. Ceritakan keadaanmu sejak kecil dan tentang orang tuamu!. Aku harus mengenal benar siapa sesungguhnya anak yang menjadi muridku.”

Nurseta menarik nafas panjang, menenangkan hatinya lalu mulai bercerita tentang dirinya. “Seingat saya, ayah bernama Darmaguna dan ibu bernama Sawitri. Menurut ibu, mereka mulai tinggal di Karang Tirta ketika saya berusia tiga tahun, akan tetapi ayah dan ibu tidak pernah bercerita dari mana mereka berasal. Di Dusun ini ayah terkenal sebagai seorang sastrawan. Banyak orang yang datang kepada ayah untuk mempelajari sastra, tembang maupun untuk minta pengobatan karena ayah seorang ahli pengobatan. Sejak saya berusia lima tahun, ayah mengajarkan sastra kepada saya.”

“Jagat Dewa Bhatara! Kalau begitu engkau pandai membaca dan menulis” tanya Empu Dewamurti heran bukan main.

Pada masa itu, jangankan seorang bocah desa, bahkan para remaja kota rajapun banyak yang tidak bisa baca tulis. Nurseta mengangguk dan mukanya kemerahan. Dia merasa malu karena merasa tidak pantas dikagumi orang seperti gurunya.

“Ketika saya berusia sepuluh tahun pada suatu pagi sehabis bangun tidur, saya tidak menemukan ayah dan ibu di rumah. Juga mereka tidak berada di ladang, tidak dapat saya temukan di luar rumah. Mereka telah pergi... mereka pergi meninggalkan saya tanpa pamit.” Nurseta menekan perasaan yang tiba-tiba bersedih agar tidak terdengar dalam suaranya.

“Pergi begitu saja? Pergi kemana dan kenapa?”

Nurseta menggeleng kepalanya. “Saya tidak tahu eyang. Mereka tidak meninggalkan pesan dan pakaian merekapun tidak ada. Sampai sekarang mereka tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar.”

“Hemm, lalu engkau yang dulu berusia sepuluh tahun hidup seorang diri? Apakah engkau tidak memiliki sanak keluarga?”

“Tidak eyang, ayah dan ibu merupakan pendatang baru dan orang asing di Karang Tirta. Saya hidup seorang diri. Ki Lurah Suramenggala mengurus semua peninggalan orang tuaku. Tidak banyak hanya pondok kecil dan sedikit ladang. Ki Lurah membelinya sendiri dan memberikan uangnya sedikit demi sedikit kepada saya. Saya diperbolehkan tinggal membantu pengembala mengurus hewan ternaknya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, uang hasil penjualan rumah dan ladang itu kata Ki Lurah sudah habis untuk biaya hidup saya. Mulailah dalam usia tiga belas tahun saya hidup sebagai buruh tani. Sampai sekarang, selalu berpindah-pindah ke rumah pemilik sawah yang saya bantu.”

Empu Dewamurti mengangguk-angguk. Anak ini memiliki latar belakang yang penuh rahasia. Entah darimana datangnya orang tuanya dan rahasia apa yang tersembunyi di balik kehilangan mereka yang aneh.

“Jadi kalau begitu engkau hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga dan tiada rumah atau tempat tinggal sama sekali”.

“Benar eyang, akan tetapi mulai sekarang saya tidak sebatang kara lagi. Saya hidup bersama eyang guru, saya mempunyai eyang dan saya dapat melayani eyang!” kata Nurseta dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.

“Baik Nurseta, engkau akan hidup bersamaku sampai engkau dapat menguasai ilmu-ilmu yang akan kuajarkan kepadamu. Kulihat engkau masih membawa arit di ikat pinggangmu. Nah, sekarang carilah sebatang kayu batang pohon nangka untuk membuat sarung untuk Keris Pusaka Megatantra itu.”

“Baik eyang.” Nurseta lalu mencari kayu untuk membuat warangka (sarung keris). Setelah mendapat kayu yang cukup baik dia kembali dan duduk di atas batu di depan gurunya, lalu mulai membentuk sebuah sarung keris. Sambil membuat sarung keris, Nurseta bertanya kepada gurunya.

“Eyang, mengapa dua orang penculik itu begitu ngotot untuk merebut keris megatantra ini?”

“Keris pusaka ini adalah sebuah keris yang ampuh dan bertuah, Seta! Engkau telah membuktikannya sendiri. Ketika engkau menggugah dua orang bocah yang terculik itu, karena engkau memegang keris ini, maka engkau membebaskan mereka dari pengaruh sihir. Mereka ingin memiliki keris pusaka ini yang akam membuat mereka menjadi semakin kuat dan sakti.

“Dan kalau boleh saya bertanya, eyang. Mengapa pula eyang mempertahankan keris ini mati-matian?”

Empu Dewamurti tersenyum lebar. "memang aku melawan mereka, akan tetapi bukan semata-mata untuk mempertahankan keris, melainkan terutama sekali agar mereka membebaskan dua bocah yang mereka culik itu."

"Eyang, apakah gunanya sebatang keris diperebutkan sampai mengadu nyawa? Saya masih ingat akan satu diantara nasehat ayah dahulu. Ketika saya membaca sebuah kitab Weda, ayah menerangkan bahwa setiap alat apapun juga tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Kata ayah, baik dan buruknya suatu alat tergantung sepenuhnya kepada cara kita yang mempegunakan alat itu. Contohnya arit ini, eyang. Kalau dipergunakan untuk bekerja, menyabit rumput, menebang pohon, termasuk membuat warangka keris ini, maka ini menjadi alat yang baik. Sebaliknya kalau dipakai untuk membacok, melukai atau membunuh orang, maka jelas arit ini menjadi alat yang tidak baik. Lalu untuk apa keris diperebutkan mati-matian?"

"Bagus kalau engkau masih ingat akan wejangan ayahmu itu, Nurseta. Ayahmu benar. Memang baik atau buruk itu tidak ada, baik atau buruk baru muncul setelah ada pandangan dan perbuatan. Agar mudah kau ingat, segala yang sifatnya membangun, menjaga keindahan, mendatangkan manfaat bagi orang-orang lain adalah baik dan segala sesuatu yang sifatnya merusak, menyebabkan keburukan, mendatangkan manfaat hanya kepada diri sendiri, adalah buruk dan jahat. Mengapa aku mencegah keris ini jatuh ke tangan mereka?, karena aku mengenal siapa mereka dan aku yakin bahwa kalau keris ini jatuh ke tangan mereka, maka keris ini akan menjadi alat yang jahat dan mendatangkan malapetaka kepada orang banyak."

"Siapakah sebenarnya orang sakti itu eyang?"

"Yang laki-laki adalah Resi Bajrasakti, dia itu seorang penasehat kerajaan Wengker. Karena kerajaan itu memusuhi Sang Prabu Erlangga, maka tentu kedatangannya di wilayah Kahuripan ini hanya akan melakukan perbuatan yang mendatangkan kekacauan. Mungkin dia melakukan penyelidikan di wilayah Kahuripan ini. Adapun yang perempuan itu bernama Nyi Dewi Durgakumala. Ia seorang tokoh kerajaan Wurawari yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Tentu kedatangannya juga tidak bermaksud baik, tiada bedanya dengan Rsi Bajrasakti. Mereka berdua itu sakti mandraguna, selain dahsyat ilmu silatnya, juga mereka itu ahli-ahli sihir dan segala macam ilmu hitam. Lihat saja Nyi Dewi Durgakumala itu. Usianya seingatku sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi ia masih nampak muda belia dan cantik. Ah orang-orang sesat itu hanya mementingkan keindahan dan kesenangan jasmani saja, sama sekali melupakan keadaan rohani."

"Akan tetapi apa perlunya mereka itu menculik linggajaya dan Puspadewi, eyang?"

Kakek itu menarik nafas panjang. "Hal itu ada hubungannya dengan syarat ilmu sesat mereka. Ilmu sesat itu selalu ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu apa saja. Akan tetapi dalam hal mereka berdua, yang menjadi syarat adalah pemuasan nafsu daya rendah birahi. Resi Bajrasakti suka menculik dan memperkosa perawan-perawan cantik demi memperkuat ilmu sesatnya, Nyi Dewi Durgakumala sebaliknya menculik para perjaka yang tampan."

"Aduh, kasihan sekali kalau begitu Lingggajaya dan Puspa dewi" seru Nurseta.

Empu Dewamurti menghela nafas panjang."Kita sudah berusaha menolong mereka, akan tetapi gagal. Segala upaya itu dapat berhasil atau gagal sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Yang penting, upaya kita itu berlandaskan kebenaran. Berhasil atau gagal berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Kita semua masing-masing terikat oleh karmanya sendiri-sendiri. Tidak ada yang perlu disesalkan!"

Setelah Nurseta selesai membuat warangka keris, Empu Dewamurti lalu memasukkan keris pusaka itu kedalam sarung keris yang sederhana itu lalu menyuruh Nurseta menyelipkan keris dan warangkanya itu di pinggangnya. Kemudian dia mengajak muridnya melanjutkan perjalanan.

"Kita akan tinggal di sebuah goa diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna." Kata kakek itu. Dan pergilah mereka ke gunung Arjuna yang terkenal wingit (angker/menakutkan) itu.

*******************

Kemanakah perginya Linggajaya dan Puspa Dewi? Mereka sudah dapat melarikan diri, kenapa tidak tiba di rumah masing-masing di dusun Karang Tirta dan ketika dicari oleh para penduduk dusun itu tidak dapat ditemukan?

Tidak salah apa yang dikatakan Empu Dewamutri kepada Nurseta tadi bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia sudah diatur dan ditentukan oleh kekuasaan Sang Hyang Widhi sesuai dengan karma masing-masing. Manusia memang wajib berusaha, wajib berdaya upaya sekuat tenaga, namun semua itu tidak akan mengubah apa yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi. Adapun baik buruknya karma itu tergantung sepenuhnya kepada keadaan hati dan perbuatan manusia itu sendiri. Sang Hyang Widhi Maha Adil, manusia bijak pasti menerima kebaikan dan manusia jahat pasti menerima keburukan. Siapa menanam benihnya, dia akan memetik buahnya.

Ketika Linggajaya dan Puspa Dewi melariak diri di malam bulan purnama itu, memang mereka bermaksud untuk pulang ke Karang Tirta. Akan tetapi, sebelum tiba di dusun yang sudah dekat itu, mereka mendengar teriakan lembut namun jelas terdengar oleh telinga mereka.

"Bocah bagus, kemana engkau hendak lari?" Jelas itu adalah suara Nyi Dewi durgakumala. Suara itu memang tidak nyaring karena wanita itu takut kalau-kalau terdengar oleh Empu Dewamurti, akan tetapi suara itu didorong oleh tenaga sakti dan melengking ke arah depan sehingga terdengar oleh Linggajaya dan Puspa Dewi.

"Cah Ayu manis, denok moblong-moblong, berhentilah!" terdengar pula suara Resi Bajrasakti.

Mendengar dua suara ini, tentu saja dua orang itu menjadi takut dan panik. Tadinya memang mereka lari berbareng, akan tetapi ketika mendengar suara itu, saking bingungnya mereka berpencar. Linggajaya berlari ke arah kanan meninggalkan Puspa Dewi dan bocah perempuan itu dengan ketakutan berlari ke kiri.

Sementara itu Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala yang kecewa sekali karena tidak berhasil merampas keris Megatantra dan dikalahkan oleh Empu dewamurti kini mencurahkan perhatian mereka kepada dua orang anak yang mereka culik dan kini entah bagaimana telah melarikan diri. Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi mereka mengejar dengan hati gentar pula kalau-kalau Empu Dewamurti juga mengejar mereka. Dalam kegugupan mereka itu, kini merekapun berpencar dan melakukan pengejaran. Dan terjadilah hal yang sama sekali diluar kehendak dan perhitungan dua orang datuk itu. Resi Bajrasakti lari mengejar ke kanan dan Nyi Dewi Durgakumala lari mengejar ke kiri. Dengan sendirinya Resi Bajrasakti dapat menyusul Linggajaya dan sebaliknya Nyi Dewi Durgakumala dapat menyusul Puspa Dewi.

Dalam keremangan malam karena bulan purnama sudah condong ke barat dan tertutup awan tipis, Resi Bajrasakti hanya melihat bayangan Linggajaya yang berlari di depannya. Dia mengira bahwa itu adalah Puspa Dewi. Setelah dia menyambar tubuh anak itu, dibuatnya tidak mampu bergerak dan bersuara lalu dipanggulnya, barulah dia menyadari bahwa telah salah tangkap. Akan tetapi sudah kepalang, dia tidak peduli dan mempercepat larinya meninggalkan tempat itu karena merasa takut terhadap Empu Dewamurti, apalagi setelah kini ia berpisah dengan Nyi Dewi Durgakumala.

Resi Bajrasakti berlari mempergunakan ilmu lari cepat, melarikan diri seperti terbang saja sambil memanggul tubuh Linggajaya. Pemuda remaja berusia lima belas tahun ini kembali merasa tidak berdaya, tidak mampu menggerakkan tubuh dan tidak mampu mengeluarkan suara. Akan tetapi diapun tahu bahwa kini yang melarikan bukanlah wanita cantik tadi, melainkan kakek tinggi besar yang menyeramkan. Diam-diam dia merasa menyesal. Bagaimanapun juga dia lebih senang kalau diculik wanita cantik itu. Baru baunya saja, ketika dia dipanggul wanita itu, harum semerbak. Tidak seperti kakek ini yang baunya apek!


BERSAMBUNG KE JILID 02


Jaka Lola Jilid 25

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

JAKA LOLA JILID 25

Yo Wan membalas dengan pandang mata mesra dan tersenyum pula. Senyum dan sinar mata itu sudah cukup mewakili hatinya, menyampaikan seribu satu macam bahasa yang penuh madu asmara.

"Ah, kita melamun sampai melupakan urusan!" kata Cui Sian, wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya. Dia memasukkan pedangnya dan berkata, "Hatiku masih bingung memikirkan keadaan Swan Bu dan Siu Bi si gadis liar itu. Aku berjumpa dengan mereka sedang berdua, dan agaknya Swan Bu merasa berat untuk berpisah dari Siu Bi. Padahal ayah bundanya tentu saja mengharapkan agar Swan Bu dapat mencuci segala kesalah pahaman dan noda akibat fitnah jahat dengan jalan mengawini Lee Si..."

Yo Wan mengangguk-angguk kemudian menarik napas panjang. "Kita tak mungkin dapat menyalahkan Swan Bu. Moimoi, kalau hati sudah menyerah kepada kasih, apa lagi yang dapat menjadi halangan? Sudah banyak contoh-contohnya yang bisa kita petik dari cerita lama. Tentu kau tahu akan riwayat ayahmu sendiri yang dulu diombang-ambingkan oleh asmara, kemudian riwayat suhu yang juga sudah menjadi korban kasih tak sampai. Aku maklum benar bahwa gadis-gadis seperti Siu Bi dan Yosiko pada dasarnya bukan jahat. Hanya karena mereka sejak kecil terdidik dalam suasana yang kasar dan liar, mereka menjadi orang yang berwatak liar dan keras pula. Soal Swan Bu dan Siu Bi, biarlah nanti kita urus perlahan-lahan dan kita bicarakan bersama dengan orang-orang tua bagaimana baiknya."

Cui Sian mengangguk-angguk. Dia sendiri sedang diamuk cinta, tentu saja ia pun dapat merasakan keadaan Siu Bi sehingga rasa bencinya berkurang.

"Akan tetapi bagaimana mengenai Yosiko? Meski pun dia itu masih keponakanku sendiri, bagaimana aku dapat membenarkannya kalau dia menjadi ketua gerombolan bajak laut? Apakah kita harus mendiamkannya saja? Kurasa hal ini amat tidak sejalan dengan sikap yang harus diambil orang gagah menghadapi kejahatan. Biar pun keluarga sendiri, kalau jahat, harus ditentang!"

Yo Wan memandang kekasihnya dengan bangga. "Kau seorang pendekar wanita sejati, Moimoi. Memang harusnya demikian. Akan tetapi, sebelum mengambil jalan kekerasan, marilah kita mencari jalan yang lebih halus dan agaknya aku melihat jalan yang sangat baik untuk mengatasi hal ini. Jika kita bisa mengaturnya..."

Yo Wan lalu bercerita tentang pertemuan dan pertandingan antara Bun Hui dan Yosiko, menyatakan dugaannya bahwa Bun Hui tertarik dan suka pada ketua Kipas Hitam yang cantik itu. Sambil berjalan perlahan kembali ke perkemahan bersama Yo Wan, Cui Sian mendengarkan cerita kekasihnya. Pertemuan antara Yo Wan dan orang-orang gagah di sana amatlah menggembirakan, terutama Swan Bu dan Tan Hwat Ki. Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam, akan tetapi tidak sepatah kata pun Yo Wan atau Cui Sian bicara tentang diri Siu Bi….

**********

"Apakah kalian tidak percaya lagi kepadaku?" terdengar Yosiko membentak marah dan meloncat turun dari atas batu yang tadi ia duduki. Di depannya, puluhan bajak laut yang dipimpin oleh empat orang laki-laki tampak bersungut-sungut.

Empat orang ini adalah empat orang kepala bajak yang kini menggabungkan diri dengan Kipas Hitam untuk secara bersama-sama menghadapi dan melawan pasukan kota raja yang dipimpin Bun Hui dan teman-temannya. Orang pertama adalah si cambang bauk yang bernama Bong Ji Kiu dan memiliki julukan Kim-bwee-liong (Naga Berekor Emas). Julukan ini dia dapatkan karena dia bersenjatakan sebatang golok besar yang bergagang emas, golok yang diukir dengan gambar naga dan ekornya tiba di gagang yang terbuat dari emas. la tadinya seorang kepala bajak Sungai Kuning dan terkenal akan kelihaian dan kekejamannya.

Tiga orang yang lainnya adalah kepala-kepala bajak laut yang selama ini mengganas di pantai selatan. Seorang di antara mereka, yang kurus pucat adalah adik kandung Bong Ji Kiu bernama Bong Kwan, ada pun yang dua lagi adalah teman-teman yang sudah saling mengangkat saudara. Mereka ini juga bukan orang-orang lemah. Apa bila Bong Kwan, seperti kakaknya, pandai pula bermain golok, adalah dua orang temannya yang bernama Tio Khong dan Yauw Leng merupakan ahli-ahli bermain pedang.

Empat orang pimpinan bajak itu kini menghadapi Yosiko yang kelihatan marah-marah. Mula-mula adalah Bhong Ji Kiu si cambang bauk yang menyatakan rasa tidak puasnya terhadap pimpinan ini karena Yosiko melarang Bong Ji Kiu beserta para anak buahnya mengeroyok Yo Wan dan Cui Sian.

"Kenapa Pangcu (Ketua) kelihatan memihak musuh? Sudah jelas bahwa mereka adalah sahabat-sahabat pimpinan pasukan musuh, mengapa tidak menangkap atau membunuh mereka?" Bong Ji Kiu yang mewakili tiga orang temannya dan juga puluhan orang anak buahnya mengajukan pertanyaan ini dengan suara menantang sehingga Yosiko menjadi marah dan membentak apakah mereka tidak percaya lagi kepadanya.

"Kalau kami tidak percaya lagi kepada Pangcu, kiranya kita tak akan berkumpul di sini," jawab Bhong Ji Kiu. "Sayang toanio (nyonya besar) tidak berada di sini, kalau ada tentu dapat kami mintai pertimbangan. Hendaknya Pangcu ingat bahwa anak buah Pangcu kini tinggal sedikit, sudah banyak yang tewas, tertinggal dua puluh orang lebih saja. Apakah Pangcu tak merasa sakit hati? Jika tidak ada kami yang membantu dengan orang-orang kami yang semua mendekati seratus orang jumlahnya, bagaimana kita dapat melawan pasukan pemerintah?"

"Hemmm, Bong-twako! Apa perlunya kau bersikap mengancam? Habis, apa yang kalian kehendaki? Apa yang kalian ingin lakukan?"

"Kami hanya menghendaki agar supaya Pangcu sungguh-sungguh berdaya upaya untuk menghancurkan mereka, bukan melindungi mereka. Buktikan bahwa Pangcu tidak miring hatinya terhadap pimpinan pasukan pemerintah atau kalau tidak demikian, kami terpaksa akan meninggalkan Pangcu dan tidak mau lagi bekerja sama menghadapi musuh."

"Boleh! Kalian boleh meninggalkan aku, aku juga masih memiliki anak buah yang setia!" bentak Yosiko marah.

Mendadak Kamatari, jagoan Kipas Hitam, bangsa Jepang yang terkenal dengan samurai Cakar Naga, maju dan memberi hormat kepada Yosiko, sikapnya tenang namun tegas, kata-katanya nyaring.

"Pangcu, terus terang saja kami melihat gejala-gejala tak baik dari diri Pangcu. Agaknya Pangcu memilih musuh untuk menjadi sahabat, malah Pangcu hendak mengambil jodoh dari golongan musuh. Hal ini mengecewakan hati kami dan kami membenarkan ucapan Bong-twako bahkan kami pun akan berpihak kepadanya kalau terjadi perpecahan."

Pucatlah wajah Yosiko. Baru kali ini semenjak ia kecil, anak buahnya berani mencelanya. Kalau tidak ingat akan jasa-jasa Kamatari, tentu ia sudah turun tangan membunuhnya di saat itu juga. Melihat keadaan Yosiko ini, Siu Bi maju menghampiri dan berkata perlahan,

"Sudahlah, Yosiko, biarkan saja mereka semua pergi. Apa sih enaknya menjadi kepala bajak?"

Ucapan ini membuat para bajak menjadi marah. Mereka sudah berdiri dan sikap mereka mengancam, seakan-akan mereka siap untuk mengeroyok kedua orang nona cantik itu. Melihat gelagat tidak baik ini, Yosiko lalu mengangkat tangannya dan berkata nyaring,

"Baiklah, kalian orang-orang tidak ada guna! Kalian berani menghinaku, berani mengira bahwa Yosiko memihak musuh? Biar kubuktikan bahwa aku tidak takut terhadap musuh. Kamatari, kau sampaikan surat tantanganku kepada panglima pasukan musuh. Biar akan kutantang dia maju dan bertanding satu lawan satu denganku, sampai dia atau aku yang mampus. Selama dia bertanding denganku, karena mereka tidak punya pimpinan, tentu pasukannya juga lengah. Nah, ketika itu boleh Bong-twako memimpin orang-orangnya mengadakan serbuan besar-besaran. Bagaimana?"

Wajah semua orang di situ menegang. Kamatari yang diam-diam menaruh rasa sayang kepada Yosiko berkata, "Tapi... tapi... bukankah itu berbahaya sekali? Pemimpin mereka, panglima muda itu, kabarnya lihai bukan main."

"Siapa takut dia? Lakukah perintahku, habis perkara!"

Yosiko lalu menyuruh anak buahnya menyediakan alat tulis. Dengan huruf-huruf tebal ia kemudian menulis surat tantangan yang ditujukan kepada ‘Panglima muda she Bun’ dari Tai-goan! Panglima muda itu ditantang mengadakan ‘duel’ di tepi laut untuk menentukan siapa yang lebih unggul antara pemimpin bajak laut dan pemimpin pasukan kota raja.

Malam hari yang gelap gulita menyembunyikan gerak-gerik Kamatari yang menancapkan surat tantangan itu dengan sebatang anak panah di batang pohon besar yang tumbuh di luar perkemahan pasukan pemerintah. Keesokan harinya, para pasukan pemerintah baru ribut ketika melihat surat ini dan cepat-cepat mereka menyampaikan kepada Bun Hui. Bukan main bingungnya hati panglima muda ini ketika membaca surat tantangan Yosiko. Dia ingin mencari jalan damai dengan gadis kepala bajak yang telah merebut hatinya itu, siapa kira si gadis malah menantangnya untuk melakukan pertandingan secara terbuka!

Dia maklum bahwa gadis itu mempunyai kepandaian tinggi, dan bahwa belum tentu dia sanggup menang. Hal ini bukan merupakan hal yang mengecilkan hatinya, akan tetapi dengan adanya surat tantangan ini, habislah jalan untuk dapat mengadakan perdamaian, untuk dapat menginsyafkan Yosiko.

Kalau surat tantangan macam itu tidak dia terima, tentu dia akan menjadi bahan ejekan orang. Kalau dia terima dan mereka bertanding, tentulah seorang di antara mereka akan tewas! Selagi Bun Hui kebingungan dan termenung di dalam kamarnya, mendadak pintu kamarnya diketuk orang dan ternyata orang ini adalah Yo Wan. Bun Hui cepat membuka pintu dan mempersilakan pendekar ini dengan ramah.

"Saudara Bun, mengapa bingung memikirkan pertandingan melawan Yosiko? Ragu?” Yo Wan berkata sambil tersenyum.

Muka Bun Hui menjadi merah ketika dia menjawab dengan pertanyaan pula. "Yo-twako, bagaimana kau tahu bahwa aku bingung memikirkan pertandingan itu?"

"Ah, aku tahu semua, saudara Bun. Jangan khawatir, aku mendapat akal agar kau dapat mengalahkan Yosiko dengan mudah seperti yang terjadi kemarin dulu."

Sejenak Bun Hui melongo, kemudian dia tersenyum maklum dan meloncat dari tempat duduknya, memegang tangan Yo Wan.

"Wah, kiranya kau yang telah membantuku, Yo-twako? Ahhh, pantas saja begitu mudah aku mendapat kemenangan! Mengapa kau lakukan itu, Yo-twako?"

"Bun-lote, ada sebabnya mengapa aku membantumu. Seperti juga engkau, aku merasa sayang melihat Yosiko dan tidak ingin melihat dia tersesat lebih jauh lagi. Dia sebetulnya adalah seorang gadis yang baik, keturunan keluarga Raja Pedang, berdarah pendekar. Sayangnya dia terdidik dalam lingkungan liar. Oleh karena itu, aku akan merasa girang sekali kalau kau berhasil menundukkan dia, Bun-lote, lalu membujuknya kembali ke jalan benar dan membubarkan anak buahnya. Kau hadapilah dia dan kau akan menang!"

"Tapi... aku belum yakin bahwa aku akan bisa menang, Yo-twako. Ilmu pedangnya hebat dan karenanya aku tahu bahwa yang menjatuhkannya kemarin dulu bukanlah aku. Tanpa bantuanmu, belum tentu aku menang, atau andai kata bisa mendapatkan kemenangan, kiranya harus melalui pertandingan mati-matian dan seorang di antara kami harus tewas di ujung pedang!"

Keperihan hati Bun Hui terbayang pada wajahnya yang tampan dan diam-diam Yo Wan merasa geli. Cinta kasih memang tidak pilih bulu, tidak memandang pangkat, kedudukan, atau pun keadaan orang yang dicinta. Kalau melihat kedudukannya, semestinya Bun Hui menganggap Yosiko sebagai musuh besar yang harus dibasminya, akan tetapi bahkan rintangan berat ini dapat dilalui dengan mudah oleh cinta kasih.

"Bun-lote, kau cinta kepada Yosiko, bukan?"

Ditanya begini langsung Bun Hui rasa seakan-akan diserang oleh tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya. Wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya, dan dengan gagap dia menjawab, "Aku... aku tertarik kepadanya..."

"Kau cinta padanya?"
"Aku... aku suka..."
"...dan cinta padanya?"
Akhirnya Bun Hui mengangguk.

"Nah, karena itu kau harus memenangkan dia, Lote. Yosiko adalah seorang gadis yang cukup pantas dilindungi. Dia memang berwatak aneh dan hanya akan tunduk kalau kau dapat memenangkannya. Karena itu, kau harus menang."

"Bagaimana caranya? Aku belum tentu dapat..."

"Waktu yang ia tentukan untuk bertanding masih tiga hari lagi. Biarlah aku menurunkan beberapa jurus ilmu pedang kepadamu. Aku sudah hafal akan ilmu pedang Yosiko. Aku pernah bertanding melawan dia dan aku tahu di mana letak kelemahan-kelemahannya. Memang dia pandai, ilmu pedangnya adalah Sian-li Kiam-sut yang sudah tercampur ilmu lain, juga dia pandai Ilmu Langkah Hui-thian Jip-te. Akan tetapi dengan ilmu pedangmu Kun-lun Kiam-sut, kau tentu dapat menghadapnya dan mempertahankan diri. Kemudian, jika kau melihat kesempatan baik, nah, kau gunakan jurus-jurus yang kuajarkan, tentu dia akan roboh. Kau perhatikan baik-baik, Lote. Bila mana kau melihat dia berada dalam kedudukan langkah seperti ini, nah, kau lalu pergunakan jurus ini sebagai pancingan, dan tentu dia akan bergerak begini, maka kau cepat-cepat menekan pedangnya kemudian menyapu kakinya dengan jurus ini." Sambil bicara Yo Wan lalu memberi contoh gerakan yang diperhatikan baik-baik oleh Bun Hui.

Yo Wan menurunkan lima jurus serangan, disesuaikan dengan keadaan atau posisi yang akan dilakukan Yosiko. Dengan tekun Bun Hui mempelajarinya selama tiga hari sehingga dia hafal betul.

"Kau pasti akan berhasil, Bun-lote. Andai kata tidak, percayalah, aku takkan berada jauh dan akan menggunakan akal lain. Kalau dia sudah mengaku kalah, kau bujuk dia supaya membubarkan anak buahnya dan mengusir mereka dari wilayah ini, kemudian kau ajak dia pergi ke Tai-goan menghadap ayahmu untuk kau mintakan ampun. Mengenai bagai mana kau membujuk ayahmu supaya mengambilnya sebagai mantu, terserah..." Yo Wan tertawa melihat Bun Hui menjadi merah mukanya.

"Terima kasih, Yo-twako. Baru satu kali aku bertemu denganmu, akan tetapi kau sudah begini baik kepadaku..."

"Bukan satu kali, Bun-lote. Beberapa bulan yang lalu aku pernah mengunjungi gedung ayahmu, mengunjungi tempat tahanan untuk membebaskan adik Siu Bi.”

"Ahhh...!" Bun Hui berseru kagum. "Kiranya kau yang melakukan hal itu, Yo-twako? Kau benar-benar lihai! Tetapi... mengapa kau menolong nona Siu Bi?" Bun Hui mengerutkan kening lalu menyambung, "Kau adalah muridnya Pendekar Buta, sedangkan nona Siu Bi bermaksud membalas dendam kepada Pendekar Buta sekeluarga, bahkan kini berhasil membuntungi lengan Swan Bu."

Yo Wan menarik napas panjang. "Dia hidup sebatang kara, seperti aku, patut dikasihani. Tentang dendam dan balas membalas itu, ahhh... bukan salah Siu Bi. la hanya menjadi korban pendidikan keliru seperti... Yosiko. Kasihan Siu Bi, dan kasihan Swan Bu..."

Bun Hui paham apa yang dimaksudkan oleh Yo Wan, maka keduanya berdiam sejenak, tenggelam dalam keharuan hati masing-masing. Kemudian Bun Hui kembali melatih diri dengan jurus-jurus yang dia terima dari Yo Wan sampai Yo Wan merasa puas karena gerakan Bun Hui sudah boleh dibilang cukup memenuhi syarat.

Saat pertandingan antara pimpinan bajak dan pimpinan pasukan pemerintah tiba, seperti yang diajukan dalam surat tantangan Yosiko. Tempatnya di tepi laut, di mana tiga hari yang lalu Bun Hui sudah mengadu ilmu melawan Yosiko.

Pagi hari itu, Bun Hui dengan ditemani Tan Hwat Ki, Kwa Swan Bu, Tan Cui Sian, dan Bu Cui Kim, mendatangi tempat itu dengan langkah kaki tenang. Tentu saja Bun Hui besar hati dan sangat tabah karena di sebelahnya berjalan empat orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, sehingga andai kata nanti terjadi pengeroyokan, dia tak usah merasa khawatir.

Sesungguhnya, andai kata para bajak laut itu melakukan pertempuran secara terbuka, dia dengan bantuan empat orang muda perkasa ini, apa lagi ditambah dengan Yo Wan sudah cukup untuk membasmi para bajak laut. Akan tetapi celakanya, para bajak laut itu tidak pernah melakukan pertempuran terbuka, akan tetapi melakukan serangan tiba-tiba secara diam-diam dan curang pada waktu malam! Ini yang menyebabkan sulitnya usaha pembasmian para bajak itu.

Di lain pihak, Yosiko sudah muncul pula dengan pakaian yang serba putih dan ringkas. Sikapnya gagah dan wajahnya cantik sekali, membuat jantung Bun Hui makin berdebar kencang, seakan dia merasa bahwa pertemuannya dengan Yosiko ini bukan pertemuan untuk bertanding, melainkan pertemuan sebagai pengantin! Yosiko diiringkan oleh empat orang pula, yaitu empat orang kepala bajak, sedangkan belasan orang anggota bajak pilihan kelihatan agak jauh di belakang, merupakan pasukan pengawal.

Swan Bu sudah mendengar bahwa Siu Bi berada bersama Yosiko. Karena kini dia tidak melihat kekasihnya itu muncul bersama-sama Yosiko, dia tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi lalu melangkah maju dan bertanya,

"Kaukah pangcu dari Hek-san-pang? Aku mendengar bahwa Siu Bi bersamamu. Di mana kau menahan dia? Lekas bebaskan dia dan jangan bawa-bawa dia dalam kejahatanmu!"

Yosiko hanya memandang tajam dan sebelum ia sempat menjawab, dari sebelah kirinya terdengar Bong Kwan si kepala bajak pucat kurus membentak marah, agaknya hendak menunjukkan wibawa.

"Bocah buntung mengapa banyak mulut? Tutup mulutmu, atau aku akan membuntungi lenganmu yang sebelah lagi!"

Penghinaan yang tak tersangka-sangka ini membuat Yosiko dan pihak Bun Hui terkejut sekali sehingga mereka tak dapat berkata-kata.

Dengan muka tenang seperti biasa, akan tetapi sepasang matanya memancarkan api, Swan Bu bertanya, "Kau siapakah, orang gagah?"

Bong Kwan yang pucat kurus membusungkan dadanya, karena ucapan Swan Bu yang merendah itu dia anggap sebagai tanda bahwa pemuda itu gentar terhadap dirinya. "Aku Bhong Kwan berjuluk Si Ular Terbang!"

"Dengan apa kau hendak membuntungi lenganku yang sebelah ini?" Swan Bu bertanya lagi, wajahnya masih tenang seperti biasa, hanya suaranya agak gemetar, tanda bahwa dia menahan kemarahan yang meluap-luap.

"Dengan apa? Hah, tentu dengan golokku ini!" kembali Bong Kwan menyombong sambil mencabut goloknya.

Inilah agaknya yang dikehendaki Swan Bu. Terdengar ucapannya, "Bersiaplah!"

Dan tubuhnya berkelebat lenyap, yang tampak hanya gulungan sinar pedang berkelebat bagaikan halilintar menyambar ke depan, ke arah Bong Kwan. Kejadian ini begitu cepat sehingga tidak ada yang dapat mencegah.

Bong Kwan sendiri segera menggerakkan goloknya membacok sinar berkeredepan yang menyambarnya itu.

“Tranggg!” terdengar bunyi nyaring diiringi pekik kesakitan.

Ketika semua orang memandang, ternyata Swan Bu sudah melesat kembali dan berdiri seperti biasa, pedangnya masih tergantung di dalam sarung pedang, wajahnya biasa seperti tadi. Akan tetapi di pihak sana, Bong Kwan berkelojotan dan mengerang-erang kesakitan, golok berikut lengan kanannya telah terbabat buntung!

Kejadian ini terjadi amat cepatnya sehingga semua orang melongo dan kaget. Pasukan bajak laut lalu berlarian datang, dan atas perintah Bong Ji Kiu si cambang bauk yang marah sekali melihat adiknya menjadi buntung, mereka menggotong pergi Bong Kwan dari tempat itu.

Diam-diam Yosiko kagum bukan main. Ilmu pedang si pemuda buntung kekasih Siu Bi itu hebat bukan main, membuat ia merasa gentar juga. Dia sendiri merasa yakin bahwa dia bukanlah lawan pemuda buntung putera Pendekar Buta yang luar biasa itu, dan ia pun bergidik kalau mengingat betapa Bun Hui didampingi orang-orang yang begitu lihai.

Alangkah banyaknya orang lihai di dunia ini dan ia teringat akan ucapan Yo Wan betapa kelirunya kalau ia memilih jodoh orang yang terlihai kepandaiannya. Di dunia ini kiranya sukar dicari orang yang paling pandai, karena tentu ada saja yang melebihinya.

"Ahh, tidak keliru Siu Bi memilih!" Ucapan ini tak terasa keluar dari mulut Yosiko. "Kau putera Pendekar Buta yang bernama Swan Bu? Jangan khawatir, Siu Bi tidak ditahan, ia tidak ikut muncul karena takut kepada dia ini!" la menudingkan telunjuknya ke arah Cui Sian sambil mengerling nakal. "Dia galak benar sih! Akan tetapi Siu Bi titip pesan bahwa dia selalu menantimu dengan setia."

Wajah Swan Bu berseri mendengar ini, akan tetapi dia hanya mengangguk, merasa agak malu untuk menjawab.

"He, Bun-ciangkun, kau datang bersama begini banyak orang lihai, apakah kau merasa jeri terhadap aku dan hendak mengandalkan pengeroyokan mereka untuk mengalahkan aku?"

"Ihhh, sombongnya!" Cui Sian membentak. "Aku sendiri pun cukup untuk membereskan orang seperti kau ini, masa harus mengeroyok?"

Yosiko tersenyum kepadanya. "Aku bicara dengan Bun-ciangkun, siapa minta kau turut campur? Ehh, Bun-ciangkun, bagaimana jawabmu?"

"Mereka hanya menemaniku sebagai saksi," jawab Bun Hui. "Kulihat kau juga membawa teman, apa bedanya?"

"Kalau begitu biarlah kita suruh mereka menyingkir mundur yang jauh. Aku hanya ingin bicara dan bertanding denganmu, yang lain-lain tak boleh mencampuri!"

Tanpa diminta Cui Sian kemudian mengajak Swan Bu, Hwat Ki, serta Cui Kim untuk mengundurkan diri dan berdiri dari kejauhan, hanya untuk menjaga kalau-kalau musuh mempergunakan tipu curang. Dari tempat mereka berdiri, mereka hanya dapat melihat, akan tetapi tidak dapat mendengar kata-kata mereka berdua. Juga Bong Ji Kiu dan dua orang temannya lantas mengundurkan diri ke tempat pasukan anak buah mereka, juga cukup jauh dari tempat pertandingan.

"Nah, sekarang kita hanya berdua bebas untuk bicara. Nona Yosiko, sebetulnya apakah maksudmu mengadakan tantangan seperti ini? Sudah kukatakan dahulu bahwa aku tidak ingin bermusuhan denganmu, malah ingin menawarkan perdamaian."

"Hemmm, pertandingan antara kita tempo hari belum selesai. Sekarang kita selesaikan dengan perjanjian, apa bila kau kalah, kau harus menarik pulang pasukanmu dan jangan mengganggu kami lagi."

"Kalau kau yang kalah?"

"Kalau aku yang kalah, aku tetap memegang janjiku lima hari yang lalu, aku menyerah dan menurut segala kehendakmu."

"Nona..., betulkah itu? Kau tidak akan melanggar janji?"

"Janji lebih berharga dari pada nyawa."

Gemetar suara Bun Hui ketika dia berkata, "Nona, kalau Thian mengabulkan dan aku berhasil menangkan engkau, aku hanya minta supaya kau membubarkan semua bajak, melarang mereka melakukan perbuatan jahat lagi, kemudian kau harus ikut bersamaku ke Tai-goan, kuhadapkan ayah, kumintakan ampun... bagaimana, setujukah engkau?"

Yosiko mengangguk. "Aku sudah berjanji, dan aku menurut segala kehendakmu."

"Bagus! Mari kita mulai, mudah-mudahan aku akan menang," Bun Hui berkata gembira. Mereka mencabut pedang masing-masing dan memasang kuda-kuda.

"Akan tetapi kau harus menggunakan ilmu pedang, tidak boleh menggunakan ilmu sihir seperti dahulu," kata Yosiko sebelum mulai.

Bun Hui tersenyum. Yang disangka ilmu sihir itu tentu bantuan Yo Wan yang dilakukan secara diam-diam.

"Tidak, aku hanya akan menggunakan ilmu silatku, akan tetapi kuharap kau pun jangan menggunakan senjata gelap dan segala racun."

"Baik, mulailah!"

Bun Hui menggerakkan pedangnya menyerang dan beberapa menit kemudian mereka sudah saling terjang dengan hebat dan seru sekali. Sebetulnya hanya Yosiko yang terus menerus melakukan penyerangan. Karena mentaati pesan Yo Wan, Bun Hui tidak mau menyerang. Dia hanya melindungi tubuhnya dengan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang amat kuat. Pedangnya membentuk benteng baja yang sukar ditembus sehingga makin penasaranlah hati Yosiko. Namun, biar pun hanya mempertahankan diri, Bun Hui selalu mengincar kedudukan kaki Yosiko untuk menunggu kesempatan seperti yang diajarkan oleh Yo Wan.

Kesempatan pertama terbuka pada saat Yosiko menyerangnya dengan mengembangkan lengan kiri sambil menusukkan pedang ke dadanya. Kedudukan kaki dan posisi badan gadis itu persis seperti yang diajarkan Yo Wan kepadanya. Cepat dia miringkan tubuh ke kiri seperti yang diajarkan Yo Wan, kemudian pedangnya berkelebat menyabet lengan kiri gadis yang dikembangkan itu dengan cepat sekali.

Kagetlah Yosiko menghadapi serangan balasan ini. Lengan kirinya terancam bahaya dan serangan balasan yang tiba-tiba ini sama sekali tidak pernah ia sangka karena justru kelemahan kedudukannya adalah pada lengan kiri itu.

Tepat seperti diperhitungkan dan diajarkan Yo Wan kepada Bun Hui, gadis itu menarik lengan kirinya kemudian melangkah mundur satu tindak dengan kaki kiri pula. Bun Hui cepat-cepat menggunakan kesempatan itu untuk mencengkeram dengan tangan kirinya ke arah pedang si gadis sambil berseru, "Lepaskan pedang!"

Kembali Yosiko terkejut sekali. Cepat ia menarik gagang pedangnya sambil menggoyang pergelangan tangan untuk menangkis cengkeraman itu dengan mata pedangnya. Akan tetapi ternyata cengkeraman itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu yang betul-betul menyerang adalah pedang di tangan kanan Bun Hui. Pedang itu berkelebat bagai kilat dan... putuslah sabuk sutera yang mengikat pinggang Yosiko, putus di kedua ujungnya yang berkibar-kibar!

"Ihhh...!" Yosiko meloncat lagi air mukanya menjadi merah sekali.

"Maaf... tidak sengaja..." kata Bun Hui sambil tersenyum.

"Aku belum kalah!" kata Yosiko menutupi rasa malunya dan pedangnya berkelebat lagi melakukan serangan yang lebih hebat.

Bun Hui yang sudah siap cepat memutar pedangnya melindungi tubuhnya dan kembali mereka bertanding dengan serunya. Pedang mereka berkali-kali bertemu mengakibatkan bunyi nyaring dan percikan bunga api.

Kesempatan kedua datang ketika Bun Hui melihat posisi menyerang lawannya dengan tubuh miring. Cepat ia ‘memasuki’ lowongan dengan memukulkan tangan kirinya ke arah pundak sambil menangkis pedang Yosiko.

Tepat seperti yang diajarkan Yo Wan, Yosiko mengelak sambil menusukkan pedangnya dari samping. Karena sudah menduga akan perubahan atau perkembangan kaki Yosiko, cepat bagaikan kilat Bun Hui menekan pedang lawannya ke bawah dan selagi gadis itu mengerahkan tenaga untuk menarik pedangnya, kaki Bun Hui menyapu dan..., Yosiko pun terjungkal!

Namun gadis itu dapat cepat melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak. la terheran-heran karena seakan-akan pemuda itu sudah mengenal baik jurus-jurusnya dan tahu pula akan perubahannya, apa bila tidak demikian bagaimana dapat tahu bahwa pada saat itu kelemahannya terletak pada kedudukan kakinya sehingga dapat melakukan penyerangan yang begitu tepat?

"Maaf...!" untuk kedua kalinya Bun Hui berkata perlahan.

"Aku tetap belum mengaku kalah!" kata Yosiko pula yang merasa penasaran dan cepat menerjang lagi.

Diam-diam Bun Hui menarik napas panjang. Tepat betul tafsiran Yo Wan tentang gadis ini, keras dan liar wataknya, tetapi gerak-geriknya benar-benar telah mencengkeram hati Bun Hui.

Dia sudah melakukan pesan Yo Wan dengan baik. Menurut petunjuk Yo Wan, dia tidak boleh sekaligus merobohkan gadis ini, karena hal itu akan melukai harga dirinya. Maka setelah dua kali memperlihatkan keunggulannya, baru Bun Hui menanti kesempatan baik untuk mengalahkannya.

Kesempatan itu datang sesudah Yosiko mulai mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh. Memang sudah diperhitungkan oleh Yo Wan bahwa setelah berturut-turut dua kali menderita kekalahan, pasti Yosiko yang keras hati itu akan mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat. Oleh karena inilah, untuk menjatuhkan Yosiko, dia sengaja mengajar Bun Hui untuk menghadapi jurus yang paling berbahaya.

Pada saat Yosiko menerjang dengan bacokan pedang ke arah leher diteruskan sabetan ke bawah mengarah pinggang dibarengi dengan dorongan-dorongan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan jarak jauh, terbukalah kesempatan ketiga itu bagi Bun Hui.

Tepat seperti ajaran Yo Wan yang sudah dilatihnya baik-baik, karena tahu bahwa pedang lawan yang membacok leher itu akan terus menyabet pinggang, otomatis pedang Bun Hui menjaga leher dan pinggangnya sehingga dua serangan itu otomatis gagal. Ada pun pukulan atau dorongan tangan kiri Yosiko itu oleh Bun Hui sengaja diterimanya dengan pundak kanannya.

Girang sekali hati Yosiko karena ia melihat bahwa kali ini ia bakal menang, karena sekali pukulannya mengenai pundak, tidak dapat tidak pemuda itu tentu akan roboh, sedikitnya terhuyung-huyung sehingga memudahkan dia untuk mendesak terus.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pada saat pukulannya mampir ke pundak, tangan kiri Bun Hui dengan kecepatan luar biasa telah menotok bawah siku kanannya, membuat lengan kanannya setengah lumpuh. Sebelum ia dapat mencegahnya, tangan kiri pemuda itu sudah berhasil merampas pedangnya dari tangan kanan yang setengah lumpuh itu.

Memang betul pukulan kirinya tepat mengenai pundak Bun Hui dan membuat pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang dengan muka pucat, akan tetapi pedangnya telah berada di tangan kiri pemuda itu. Hal ini berarti ia kalah mutlak!

Dengan pandang mata penuh kekaguman Yosiko berdiri memandang Bun Hui. Dia tidak mungkin melawan terus setelah pedangnya terampas. Jelas bahwa pemuda ini lebih lihai dari padanya!

"Kau lihai sekali, Nona. Pundakku telah terluka oleh pukulanmu!" kata Bun Hui merendah sambil mengangsurkan pedang rampasannya kepada Yosiko.

"Tidak, aku telah kalah dan aku pun mengaku kalah. Tidak dapat aku menerima kembali pedangku. Aku sudah berjanji dan sekarang biarkan aku kembali untuk membubarkan mereka, besok baru aku akan datang kepadamu dan selanjutnya terserah."

Saking girangnya Bun Hui tak dapat berkata-kata, hanya memandang dengan sinar mata penuh kebahagiaan. Dia hanya dapat menjura ketika nona itu mengundurkan diri. Dari tempat dia berdiri, dia melihat Yosiko memberi tanda dengan tangan kepada para anak buahnya dan mereka lalu menghilang di balik semak-semak di hutan.

Cui Sian dan yang lain-lain segera lari menghampiri.

"Selamat, saudara Bun Hui, kau telah menang!" kata Tan Hwat Ki girang.

"Setelah ia kalah, apa yang akan ia lakukan?" tanya Cui Sian.

"la sudah berjanji akan membubarkan anak buahnya, dan ia sendiri besok menyerahkan diri untuk menjadi tawanan dan dibawa ke kota raja," kata Bun Hui. "Semua ini adalah jasa Yo-twako. Ehhh.., Yo-twako mengapa tidak muncul?"

la menoleh ke arah belakang di mana terdapat banyak pohon besar. la menduga bahwa Yo Wan tentu bersembunyi di situ dalam persiapan membantunya apa bila rencananya gagal. Benar saja, Yo Wan muncul dari balik pohon dan tertawa girang.

"Kau berhasil baik, Bun-lote. Bagus sekali! Kurasa orang seperti Yosiko akan memegang janjinya. Alangkah baiknya urusan ini berhasil dibereskan dengan jalan damai sehingga daerah ini akan bebas dari gangguan bajak laut tanpa banyak banjir darah."

"Bagaimana pun juga, aku sangsi apakah jalan ini cukup baik dan menjamin keamanan. Andai kata para bajak itu benar-benar mau pergi dari sini, kiranya masalah belum tentu selesai karena mereka pasti akan mengganas di tempat lain," kata Cui Sian menyatakan pendapatnya.

"Setuju sekali dengan ucapan Bibi," sambung Hwat Ki, "membasmi pohon jahat harus sampai ke akar-akarnya, kalau tidak tentu akan tumbuh kembali. Penjahat-penjahat itu kalau tidak dibasmi habis, kelak tentu akan melakukan kejahatan pula."

Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya, kemudian berkata, suaranya sungguh-sungguh, "Kurasa tidak demikian persoalannya. Kejahatan bukanlah suatu sifat dari jiwa. Tidak ada manusia yang lahir sudah jahat atau selama hidupnya setiap saat dia jahat. Kejahatan hanyalah kebodohan atau penyelewengan dari kesadaran hati nurani oleh keadaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu keduniawian. Memang sudah menjadi kewajiban kita yang mempelajari ilmu dan mengabdi kebenaran dan keadilan untuk memberantas kejahatan-kejahatan, akan tetapi bukanlah cara yang sempurna kalau kita harus membunuhi setiap orang yang melakukan kejahatan yang sesungguhnya hanya kebodohan itu. Hal ini akan merupakan pekerjaan sia-sia belaka, malah membunuh sendiri pun termasuk kebodohan yang berdasarkan kepada kebencian, jadi pada umumnya juga disebut jahat! Yang kita musnahkan bukan orangnya melainkan kebodohannya itulah." Yo Wan berhenti sebentar mengumpulkan ingatannya tentang filsafat yang pernah dia pelajari ketika dia bertapa di Himalaya.

Orang-orang muda yang gagah mendengarkan dengan tertarik.

"Yo-twako, teruskanlah, aku masih belum dapat memahami filsafatmu ini," kata Bun Hui.

"Anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap jahat akan menjadi jahat selamanya, dan anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap baik akan menjadi baik selamanya, adalah anggapan yang sempit. Apa yang disebut jahat mau pun baik hanyalah akibat dari kesadaran si orang itu pada saat itu. Apa bila dia lupa dan lemah, bodoh menghambakan diri pada hawa nafsu, maka dia melakukan perbuatan yang dianggap jahat. Sebaliknya apa bila pada saat itu ia sadar dan kuat menghadapi godaan nafsu, dia akan ingat dan menjauhi perbuatan yang dianggap jahat. Jadi semua hanya akibat sementara saja dari kesadaran. Tidak akan selamanya begitu. Yang sadar mungkin lain waktu akan lupa, dan sebaliknya yang sekarang lupa mungkin sekali lain waktu akan menjadi sadar. Saudara-saudaraku yang baik, pada hakikatnya, apakah itu yang disebut baik atau pun jahat? Dari mana timbulnya sebutan ini? Ingat, banyak sekali di antara kita yang menyalah tafsirkan istilah baik dan jahat ini, bahkan banyak yang menyeleweng dari kebenaran dan keadilan dalam menentukan tentang orang baik dan orang jahat,"

"Bagaimana ini? Baru sekarang aku mendengarnya. Yo-koko, coba kau beri penjelasan," kata Cui Sian dengan hati amat tertarik sehingga ia lupa bahwa ia menggunakan sebutan mesra sekali, yaitu sebutan ‘koko’. Baiknya semua orang pun sedang dalam keadaan tertarik oleh filsafat Jaka Lola sehingga tidak ada yang memperhatikan sebutan itu.

"Sebelumnya maaf. Kalian adalah putera-puteri para pendekar sakti yang berilmu tinggi, tentu telah menerima gemblengan-gemblengan batin yang mendalam. Akan tetapi, tiada salahnya apa bila sekarang kita bertukar pikiran untuk memperlengkapi ilmu dan mencari kesesuaian pendapat. Yang aku maksudkan penyelewengan dalam penilaian seseorang terhadap orang lain yang dianggap baik dan jahat adalah karena sebagian besar orang menilai manusia lain berdasarkan nafsu kokati..."

"Nanti dulu, Yo-twako. Apa artinya kokati?" tanya Hwat Ki.

"Nafsu kokati adalah nafsu mementingkan diri pribadi, demi kesenangan sendiri, demi keuntungan sendiri, demi kepentingan sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Orang menilai orang lain sebagai orang baik kalau orang lain itu mendatangkan keuntungan atau kesenangan kepadanya. Dan orang menilai orang lain sebagai orang jahat kalau orang lain itu mendatangkan kerugian atau kesusahan kepadanya."

"Tentu saja, bukankah itu wajar?" Bun Hui berkata.

Yo Wan mengangguk. "Wajar bagi penilaian yang berdasarkan kokati. Memang hal ini menjadi kesalahan atau penyelewengan yang tak terasa lagi oleh manusia yang dalam setiap geraknya dikendali oleh nafsu kokati. Akan tetapi sesungguhnya tidak wajar bagi orang yang mengabdi kepada kebenaran dan keadilan!"

"Mengapa begitu?" tanya Hwat Ki.

"Agaknya persoalan ini sulit dimengerti. Baiklah aku menggunakan contoh. Ada seorang yang menjadi perampok, merampasi barang lain orang dengan jalan kekerasan. Orang ini pada umumnya disebut jahat, bukan? Akan tetapi orang ini amat baik kepadamu, tidak merampokmu, bahkan membantumu, menolongmu dengan ikhlas. Nah, saudara Hwat Ki, bagaimana penilaianmu terhadap orang ini? Tentu kau akan sulit sekali menganggap dia orang jahat, dan akan menerima dia sebagai seorang yang baik karena memang ia amat baik terhadapmu. Sebaliknya, andai kata ada seseorang yang oleh umum dianggap baik, suka menolong orang lain, tetapi justru kepadamu orang itu berbuat hal yang merugikan, misalnya menghina atau menyusahkan. Bukankah kau akan sukar sekali menilai dia sebagai orang yang baik, Bun-lote? Kiranya akan lebih mudah bagimu untuk menilai dia sebagai seorang yang jahat karena ia kau anggap amat jahat kepadamu. Nah, bukankah jelas bahwa penilaian saudara Hwat Ki dan Bun-lote ini menyeleweng dari kebenaran dan keadilan? Karena penilaian ini hanya mendasarkan kepada untung atau rugi bagi dirinya sendiri! Bagaimana pendapat kalian?"

"Betul sekali! Baru sekarang aku dapat mengerti!" berkata Cui Sian, sepasang matanya berseri penuh kekaguman.

"Memang betul apa yang dikatakan Yo-twako. Aku pun pernah mendengar filsafat seperti ini diwejangkan oleh ayah," kata Swan Bu.

Yo Wan mengangguk. "Suhu adalah seorang yang sangat bijaksana. Sungguh pun suhu kehilangan kedua alat penglihatannya, akan tetapi mata batinnya terbuka lebar sehingga suhu tak mudah terperosok ke dalam jurang penyelewengan. Banyak orang yang kedua matanya awas, akan tetapi mata batinnya seperti buta sehingga terjadilah di dunia ini perebutan kebenaran, dan yang diperebutkan itu adalah kebenaran palsu, kebenaran diri sendiri yang bukan lain hanyalah penyamaran dari nafsu kokati juga. Kebenaran sejati tidak diperebutkan orang, karena sesungguhnyalah bahwa siapa yang merasa diri tidak benar, dialah yang paling dekat kepada kebenaran sejati! Perasaan bahwa diri sendiri tidak benar ini menghilangkan atau setidaknya mengurangi nafsu yang amat buruk, yaitu nafsu membencl orang lain. Tentu saja orang lain dibenci karena dianggap jahat. Kalau kita merasa bahwa diri kita sendiri pun tidak benar, maka tidak mudah menilai orang lain jahat dan karenanya berkuranglah rasa benci. Hapuskan rasa benci dari dalam lubuk hati dan kita akan mudah menerima cahaya kasih, yaitu kasih sayang pada sesama manusia, dan ini merupakan jembatan yang akan membawa kita kepada kebenaran sejati."

Hening sejenak karena orang-orang muda itu seakan-akan terpesona dan terpengaruh hikmat kata-kata yang mengandung filsafat hidup itu. Filsafat kokati. Kemudian dengan perasaan kagum dan bangga Cui Sian tertawa, memecah suasana yang tercekam oleh kesunyian itu.

"Wah-wah, mengapa kita jadi menyimpang jauh dari persoalan pokok? Bukankah kita tadi bicara tentang bajak-bajak itu?"

Yo Wan juga tertawa. Hatinya gembira karena dia dapat menangkap suara kekasihnya yang mengandung kekaguman dan kebanggaan.

"Kita tidak menyimpang karena apa yang kita bicarakan tadi juga ada hubungannya dengan para bajak. Aku tidak membenci mereka, namun kasihan terhadap kebodohan dan penyelewengan mereka. Aku akan merasa lebih bersyukur apa bila mereka itu dapat diinsyafkan dan dapat ditunjukkan jalan benar. Kalau hal ini tidak berhasil, tentu saja kita harus mencegah mereka melakukan kejahatan, mempergunakan kepandaian kita. Tetapi baiknya kalau tidak terpaksa sekali untuk mempertahankan diri, tak perlu membunuh lain orang."

"Wah, nasehat Yo-twako sama benar dengan nasehat ayah,” kata Swan Bu lagi.

"Memang aku murid ayahmu, tentu saja sependirian."

Malam itu tidak terjadi sesuatu, tetapi pada keesokan harinya pagi-pagi sekali menjelang subuh, di waktu ayam hutan ramai berkokok, tiba-tiba terjadi penyerbuan besar-besaran dari pihak bajak laut. Para penjaga malam di perkemahan pasukan kota raja yang hanya berjumlah dua puluh orang lebih, tak dapat menahan serbuan ratusan bajak itu sehingga dalam waktu beberapa puluh menit saja dua puluh orang lebih penjaga itu telah tewas. Ributlah keadaan pasukan ketika dalam keadaan masih nanar karena baru bangun tidur secara mendadak menghadapi musuh-musuh menyerbu itu.

"Wah, agaknya Yosiko tidak memegang janjinya!" seru Cui Sian marah sambil mencabut pedangnya setelah para orang muda gagah itu berkumpul di ruangan depan.

"Belum tentu," jawab Yo Wan. "Mari kita berpencar. Kita menahan serbuan mereka dari empat penjuru, membantu Bun Hui yang sudah pergi lebih dulu mengatur pasukannya."

Orang-orang muda itu lalu berloncatan ke luar di dalam cuaca yang masih gelap itu. Hwat Ki dan sumoi-nya berlari ke arah barat untuk menahan gelombang serangan bajak laut dari arah ini. Cui Sian berlari ke arah utara sedangkan Yo Wan berlari ke selatan. Swan Bu sendiri yang semenjak malam tadi gelisah memikirkan Siu Bi, kini menghilang seorang diri dengan tujuan untuk mencari kekasihnya di antara para bajak laut.

Hebat perang kecil yang terjadi pada pagi buta yang masih gelap itu. Banyak anggota pasukan pemerintah roboh karena hujan anak panah, akan tetapi sesudah orang-orang muda perkasa itu keluar turun tangan, keadaan berubah dan banyak bajak laut yang roboh dan banyak pula yang mengundurkan diri.

Akan tetapi tidak seorang pun di antara para muda perkasa itu melihat Yosiko. Bahkan pimpinan bajak laut yang lain hanya dua orang yang muncul, yaitu Thio Kong dan Yauw Leng, sedangkan yang dua orang lagi, Bong Ji Kiu dan adiknya Bong Kwan yang lengan kanannya kemarin buntung oleh serangan kilat Swan Bu juga sama sekali tidak tampak batang hidungnya.

Bun Hui memimpin anak buahnya mengamuk dan mengejar bajak-bajak yang melarikan diri. Karena tidak melihat Yosiko memimpin mereka, setelah merobohkan Thio Kong, Bun Hui membentak kepala bajak yang terluka ini, "Hayo katakan, di mana adanya Hek-san Pangcu Yosiko?"

Biar pun sudah terluka parah, Thio Kong masih tertawa mengejek, "Kau takkan melihat dia hidup lagi! Dia menjadi tawanan Bong Ji Kiu di dalam goa di tepi laut!"

Bukan main kagetnya hati Bun Hui. Di samping terkejut dan khawatir akan keselamatan Yosiko, diam-diam dia juga merasa lega. Ternyata gadis itu tidak mengingkari janji, tidak mengkhianatinya, melainkan menjadi tawanan bawahannya sendiri yang memberontak!

"Hayo kau tunjukkan aku di mana goa tempat ia ditawan!" bentaknya sambil mengempit tubuh Thio Kong yang terluka dan membawanya lari.

Pasukannya itu ikut pula mengejar para bajak, dan selebihnya lalu mengikuti komandan mereka ke tepi laut. Di depan sebuah goa yang besar dan gelap, Bun Hui berhenti.

Dengan napas empas-empis Thio Kong berkata, "Di sanalah tempatnya... Bong-twako berpesan bahwa kau sendiri harus memasuki goa melawannya kalau kau ingin bertemu dengan Yosiko. Jika kau membawa pasukanmu menyerbu, dia akan dibunuh...” Setelah berkata demikian, Thio Kong roboh pingsan.

Bun Hui memerintahkan anak buahnya untuk menawan Thio Kong. Dia lalu menghampiri mulut goa. Goa ini lebar, akan tetapi gelapnya bukan main. Dari luar tidak tampak apa pun, hanya hitam gelap menyeramkan, agaknya ada terowongannya. Goa batu karang itu merupakan mulut naga yang mengerikan dan tahulah Bun Hui bahwa memasuki goa ini merupakan bahaya besar. Akan tetapi mengingat akan nasib Yosiko di tangan Bong Ji Kiu, tak mungkin dia berdiam diri saja di luar goa.

Pada saat itu, Yo Wan dan Hwat Ki berlari-lari menghampiri Bun Hui. Dua orang muda ini tadinya bersama Cui Kim dan Cui Sian yang saling bertemu sesudah mereka berhasil mengundurkan para bajak laut. Akhirnya Yo Wan mengajak Hwat Ki untuk membantu Bun Hui, sedangkan Cui Sian mengajak Cui Kim untuk mengejar ke lain jurusan sambil mencari Swan Bu yang belum tampak.

Pada waktu Yo Wan dan Hwat Ki sampai di tempat itu, Bun Hui sudah mulai meloncat memasuki goa setelah dia memerintahkan anak buahnya menjaga di luar.

"Bun-lote! Mau ke mana kau?" Yo Wan berteriak heran.

Akan tetapi Bun Hui yang khawatir kalau-kalau Yo Wan dan Hwat Ki akan merintanginya jika mendengar bahwa Yosiko tertawan di dalam dan hanya dia seorang diri yang boleh masuk, tidak mempedulikan seruan ini dan terus melompat ke dalam.

Yo Wan bukan seorang sembrono. Segera dia menghampiri seorang kepala regu dan bertanya apa maksudnya semua itu.

"Siauw-ciangkun masuk goa untuk menolong nona Yosiko yang menjadi tawanan bajak!" Orang itu menerangkan cepat. "Orang lain tak boleh masuk..."

Yo Wan cepat melompat ke depan goa, lalu berteriak, "Bun-lote! Kembalilah cepat, kau terjebak...!"

Akan tetapi terlambat sudah. Terdengar suara keras dan dari sebelah atas di dalam goa itu mendadak runtuhlah batu-batu karang yang besar dan berat menutupi mulut goa di mana tadi Bun Hui berlari masuk! Debu mengebul tinggi keluar dari goa disertai pecahan-pecahan batu yang berhamburan ke sana ke mari.

Yo Wan menggerakkan kakinya melompat keluar sehingga terhindar dari hujan batu kecil yang hancur beterbangan tertimpa batu karang besar dari atas itu.

Selagi Yo Wan, Hwat Ki dan para perajurit tertegun dan gelisah, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari belakang, "Apa yang terjadi? Mana Yosiko anakku?"

Ketika Yo Wan menengok, ternyata yang datang ini adalah wanita setengah tua yang pernah menguji kepandaiannya, yaitu Tan Loan Ki, ibu dari Yosiko. Wanita ini wajahnya pucat, agaknya sudah mendengar tentang perang antara pasukan pemerintah dengan anak buah bajak laut, dan kini mencari Yosiko.

"Dia tertawan oleh Bong Ji Kiu dan berada di dalam goa ini. Bun-ciangkun, komandan pasukan sedang berusaha menolongnya, akan tetapi dia terjebak ke dalam goa," kata Yo Wan.

Wanita itu mengeluarkan seruan marah keras sekali, lalu tiba-tiba ia lari dari tempat itu! Yo Wan tidak mempedulikannya lagi, lalu maju dan bersama Hwat Ki memimpin para prajurit untuk membongkar runtuhan batu-batu dari atas yang menutup goa….

cerita silat karya kho ping hoo

Bagaimanakah Yosiko bisa tertawan oleh Bong Ji Kiu? Betulkah ia tertawan? Memang sebetulnya begitu. Setelah kalah bertanding melawan Bun Hui, hati gadis ini marasa kagum sekali dan dia sudah mengambil keputusan untuk membubarkan orang-orangnya dan mencuci tangan, menyerah kepada Bun Hui yang bersikap baik terhadap dirinya.

Dia tidak pedulikan anak buahnya yang tampak tidak puas. Dengan kata-kata singkat ia berkata kepada Bong Ji Kiu dan yang lain-lain,

"Aku lelah sekali. Biarlah malam ini aku mengaso dan besok pagi kau kumpulkan semua kawan, aku mau bicara penting sekali. Jangan bergerak dan jauhkan diri dari pasukan kota raja agar tidak terjadi bentrokan."

Yang kelihatan tidak puas sekali adalah Bong Ji Kiu. Adik kandungnya sudah kehilangan lengan kanan dan kini pemimpin ini tampaknya tidak mempedulikan, bahkan tadi dalam pertandingan kelihatan mengalah terhadap musuh!

Malam itu Yosiko tidur di dalam pondoknya, bersama Siu Bi. Gadis ini tak dapat tidur, apa lagi ketika ia tadi mendengar dari Yosiko tentang Swan Bu yang masih berada bersama pasukan kota raja. Bahkan Yosiko memuji-muji Swan Bu dan juga menceritakan betapa pemuda buntung itu dengan hebatnya sudah membuntungi lengan kanan Bong Kwan yang menghinanya.

"Pilihanmu tak keliru, Siu Bi. Putera Pendekar Buta itu hebat. Akan tetapi, Bun-ciangkun lebih hebat. Mereka memang orang-orang yang mengagumkan," demikian kata Yosiko menutup ceritanya sebelum gadis kepala bajak itu pulas.

Siu Bi tidak dapat pulas, hatinya gelisah. Mungkin sekali kekasihnya akan salah sangka, mengira bahwa dia sekarang menjadi bajak pula membantu Yosiko. Padahal ia bersama Yosiko karena tadinya hendak bersama-sama memusuhi Cui Sian. Aku harus pergi dari sini, pikirnya. Tidak ada gunanya lagi berkumpul dengan Yosiko.

Tiba-tiba saja Siu Bi mencium sesuatu yang harum sekali. la menjadi curiga dan cepat ia mengerahkan sinkang menahan nafas. Dilihatnya Yosiko bernapas panjang dan tenang dalam tidurnya.

Ada asap kekuningan memasuki kamar itu dari celah-celah dinding. Siu Bi makin curiga. Dengan masih menahan napasnya, ia mengguncang-guncang tubuh Yosiko. Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Yosiko membuka sedikit matanya akan tetapi gadis itu lemas dan tidak mampu bangun.

"Asap beracun!" bisik Siu Bi kaget.

Cepat ia mencabut pedangnya dan meloncat turun dari pembaringan, terus menerjang ke arah pintu. Ternyata di depan pintu sudah menunggu banyak anak buah bajak, dipimpin oleh Bong Ji Kiu yang langsung menyerangnya dengan pengeroyokan.

Siu Bi memutar pedangnya, akan tetapi karena ia memang sudah mengambil keputusan untuk pergi dari tempat itu, sesudah berhasil merobohkan dua orang pengeroyok, ia lalu melompat ke dalam gelap, terus melarikan diri. Kemudian dia mendengar keributan dan perang tanding antara bajak-bajak laut melawan pasukan pemerintah di dalam hutan itu. la tetap bersembunyi.

Ada pun Yosiko yang sudah menjadi korban asap beracun itu, sama sekali tidak dapat melawan ketika Bong Ji Kiu membelenggu dan memanggulnya pergi. Andai kata gadis ini tidak berada dalam keadaan tidur pulas, seperti halnya Siu Bi, tentu ia takkan menjadi korban. Akan tetapi dalam keadaan pulas, ia telah menyedot asap beracun dan terbius dalam keadaan setengah pingsan.

Ketika melihat anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang tewas, akhirnya Bong Ji Kiu maklum bahwa pihaknya akan kalah. Maka dia lalu menibawa Yosiko lari ke dalam goa rahasia dan berhasil menjebak masuk Bun Hui. Dia hendak menggunakan Bun Hui dan Yosiko untuk menjadi jaminan menyelamatkan diri.

Sementara itu, Swan Bu yang lebih dulu menyerbu ke daerah musuh dalam usahanya mencari Siu Bi, menjadi gelisah karena dia tidak melihat gadis itu di antara para bajak. Juga dia tidak melihat Yosiko. Pemuda ini mengamuk dan setiap orang bajak yang berani menghadangnya tentu roboh dengan sekali gerakan.

Banyak sudah dia merobohkan anak buah bajak, menangkap mereka dan bertanya di mana adanya kekasihnya, Siu Bi. Akan tetapi para bajak itu tidak ada yang tahu, atau tidak ada yang mau memberi tahu sehingga Swan Bu menjadi makin bingung.

Akhirnya dia dikepung oleh belasan orang bajak yang dipimpin oleh kepala bajak Yauw Leng yang bertubuh tinggi besar dan memegang sepasang pedang. Yauw Leng kemarin ikut dengan rombongan Yosiko, oleh karena itu dia mengenal pemuda buntung ini yang kemarin telah membuntungi lengan kanan temannya, Bong Kwan. Maka melihat pemuda ini, marahlah Yauw Leng dan ingin membalas dendam sahabatnya. la lalu mengerahkan anak buahnya mengepung.

Akan tetapi kasihan bajak-bajak kecil itu. Mereka seakan-akan merupakan serombongan laron yang menerjang api lilin. Api itu hanya bergoyang-goyang, sama sekali tak padam, akan tetapi laron-laron itu satu demi satu roboh!

Swan Bu berpikir bahwa sebagai pemimpin bajak, tentu orang tinggi besar yang kemarin datang bersama Yosiko ini sedikitnya tahu akan Siu Bi. Maka dia segera mempercepat permainan pedangnya, merobohkan para bajak dan dengan gerakan yang tak tersangka-sangka dia meloncat ke depan Yauw Leng yang tadinya hanya memberi komando dari jarak aman.

Bajak laut itu kaget luar biasa. Tak disangkanya pemuda buntung itu dengan mudahnya dapat menembus kepungan belasan orang anak buahnya dan tahu-tahu telah berkelebat di depannya. Dia cepat menggerakkan sepasang pedangnya menyerang, pedang kanan menyerang tubuh lawan, pedang kirinya menyerang bagian atas. Gerakannya cepat dan ganas bukan main, tenaganya besar sehingga sepasang pedangnya mengeluarkan bunyi berdesingan.

Akan tetapi bajak laut dengan sepasang pedang yang dahsyat itu, yang biasanya jarang menemukan lawan, sekarang menemui lawan yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya. Walau pun Swan Bu sudah kehilangan lengan kirinya, namun kalau baru lawan setingkat bajak laut ini, biar pun ada sepuluh orang macam Yauw Leng kiranya dia takkan kalah.

Pedang Kim-seng-kiam berkelebat bagaikan halilintar menyambar, dari mulutnya keluar bentakan yang menggetarkan jantung, kemudian terdengar bunyi nyaring dan tahu-tahu sepasang pedang di tangan Yauw Leng telah patah-patah, disusul pekik kesakitan ketika bajak itu tertotok roboh oleh gagang pedang Swan Bu.

Para anak buah bajak berteriak-teriak menyerbu, namun sekali memutar pedang, empat orang bajak laut roboh. Kemudian Swan Bu menyambar tubuh Yauw Leng dan sekali dia berkelebat, lenyaplah dia dari depan para bajak laut yang menjadi kebingungan karena kehilangan pimpinan. Akhirnya mereka lari cerai-berai ketika melihat pasukan pemerintah sudah berlari-lari dari lain jurusan dengan senjata diacung-acungkan penuh ancaman!

"Hayo katakan, di mana adanya nona Siu Bi yang tadinya bersama ketuamu Yosiko? Lekas katakan yang sebenarnya, kalau tidak... akan kucincang hancur tubuhmu!" Swan Bu mengancam sesudah dia berada di tempat sunyi dan membanting tubuh bajak itu ke bawah.

Yauw Leng mengeluh panjang, lalu berkata, "Dia... dia tertawan oleh... Bong Kwan yang kemarin kau buntungi lengannya! Dia tentu akan tewas oleh Bong Kwan yang sakit hati kepadamu kalau tidak lekas kau tolong..."

"Di mana dia? Di mana bangsat itu dan di mana Siu Bi ditawan?" tanya Swan Bu dengan gugup.

"Apa gunanya aku memberi tahu kalau kau akhirnya toh membunuhku? Berjanjilah dulu bahwa kau tak akan membunuhku, baru aku mau menunjukkan tempatnya."

Karena amat khawatir akan keadaan Siu Bi, Swan Bu segera berkata, "Baiklah kau akan kubebaskan. Lekas tunjukkan tempatnya."

Swan Bu menotok bebas bajak itu dan menyeret tangannya diajak lari ke tempat yang ditunjukkan oleh Yauw Leng. Tibalah mereka di depan batu-batu karang di pinggir laut, di mana terdapat banyak sekali goa-goa batu karang yang liar. Kadang kala kalau ombak laut besar, air laut sampai di mulut goa-goa ini, sehingga batu-batu karang di tempat ini amat runcing, tajam dan licin.

"Di sinilah tadi malam Bong Kwan membawa Siu Bi. Kau carilah sendiri ke dalam goa itu, aku tidak berani," kata Yauw Leng.

Cepat bagaikan kilat menyambar, tangan kanan Swan Bu menotok Yauw Leng roboh. “Akan kubuktikan, kalau kau tidak membohong, kau kubebaskan. Akan tetapi awas kalau kau bohong!"

Dengan pedang di tangan, Swan Bu segera meloncat memasuki goa itu dengan gerakan tangkas. la meloncat ke atas batu-batu karang yang runcing, terus memasuki goa yang amat dalam itu.

"Siu Bi...!” la memanggil.

Tidak ada jawaban kecuali gema suaranya dari dalam goa. Swan Bu meloncat ke atas batu karang sebelah dalam lagi.

"Siu Bi...!"

Mendadak telinganya menangkap suara yang terdengar dari jauh.

"Swan Bu...!"

Itulah suara Siu Bi! Tidak salah lagi! Gemetar kaki Swan Bu mendengar suara ini, suara yang sulit diketahui dari mana datangnya, akan tetapi terpengaruh oleh keterangan Yauw Leng tadi, dia menduga bahwa suara itu pasti datang dari dalam goa ini. Dengan cepat dia meloncat terus, memasuki bagian yang gelap.

Tiba-tiba saja terdengar angin menyambar dari kanan kiri. Swan Bu terkejut, pedangnya bergerak cepat, diputar sedemikian rupa sehingga dia berhasil menangkis banyak anak panah yang beterbangan dari kanan kiri menyambarnya. Anak-anak panah itu runtuh ke bawah dan dia kembali meloncat ke depan. Sekali lagi dia menangkis sambaran senjata-senjata gelap yang terbang dari depan.

Mendadak terdengar suara keras dan asap hitam tebal memenuhi tempat itu. Swan Bu terbatuk-batuk dan cepat menahan napas, maklum bahwa asap itu beracun. Akan tetapi karena tempat itu gelap bukan main, saat meloncat ke atas batu karang di sebelah kanan yang kelihatan hanya hitam saja, dia pun tergelincir.

Pada saat itu pula dia merasa pundak kanannya sakit. Sebatang senjata piauw sudah menancap di pundaknya. Tak tertahan lagi Swan Bu roboh terguling, tubuhnya terbanting di atas batu-batu karang yang runcing dan tajam. Lalu sunyi senyap!

Bagaikan terbang cepatnya, Siu Bi datang berlari-lari. la tadi mendengar suara Swan Bu yang memanggil dirinya dan dia sudah menjawab dengan menyerukan nama pemuda itu sambil berlari ke arah datangnya suara. Pada saat dia tiba di depan goa, dari dalam goa berlompatan empat orang bajak yang tadi bersembunyi di situ dan menghujankan anak panah kepada Swan Bu. Siu Bi marah sekali. Melihat Yauw Leng menggeletak dalam keadaan tertotok, pedangnya menyambar dan putuslah leher kepala bajak itu.

Empat orang bajak menjadi marah, beramai mereka menyerbu. Namun Siu Bi memutar pedangnya dan hanya dalam beberapa menit saja empat orang bajak itu sudah roboh tanpa bernyawa lagi, tubuh mereka mandi darah!

"Swan Bu!” Siu Bi menjerit ke dalam goa.

Tiba-tiba dari dalam goa itu terdengar suara orang tertawa bergelak, menyeramkan suara ini.

"Ha-ha-ha, Manis! Kau mencari kekasihmu? Si buntung lengan? Ha-ha-ha, dia ada di sini. Masuklah!" Siu Bi terkejut. Itulah suara Bong Kwan yang katanya kemarin dibuntungi lengannya oleh Swan Bu. la tidak percaya dan memanggil lagi.

"Swan Bu...!"

"Ha-ha-ha, kau tidak percaya? Lihat, apakah ini?"

Dari dalam goa itu lalu melayang sebatang pedang yang mengkilap putih, menyambar ke arah Siu Bi. Dengan amat cekatan Siu Bi menyambar pedang itu dengan tangan kirinya. Tangannya menggigil. Itulah pedang Kim-seng-kiam, pedang kekasihnya!

"Swan Bu...!"

"Masuklah kalau hendak menemui kekasihmu!" kembali suara Bong Kwan mengejek.

Pada saat itu, Cui Sian dan Cui Kim datang berlari-lari. Melihat Siu Bi dengan sepasang pedang sedang berdiri di depan goa, timbullah kemarahan mereka berdua. Gadis liar ini telah bersekutu dengan Yosiko dan terang bahwa Yosiko sudah bersikap curang, sudah melanggar janji secara diam-diam melakukan penyerbuan yang akhirnya menewaskan banyak perajurit. Terang bahwa Siu Bi ini membantu penyerbuan Yosiko.

"Gadis jahat!" Cui Sian melompat maju hendak menyerang, tapi kemudian dia mengenal pedang Kim-seng-kiam di tangan Siu Bi.

"Ehh, itu pedang Kim-seng-kiam milik Swan Bu! Di mana dia? Kau apakan dia?!" Cui Sian membentak.

Muka Siu Bi pucat sekali. "Dia... dia... entah bagaimana keadaannya, tapi... dia... dia di dalam goa ini, ditawan...!" Sambil berkata demikian, Siu Bi lalu melompat memasuki goa dengan sepasang pedang di tangan.

"Swan Bu...!" Dia berseru lagi sambil berlari dan berloncatan dari batu karang ke batu karang sebelah dalam.

Mendadak terdengar ledakan keras dan asap hitam memenuhi tempat di sebelah dalam goa di mana Siu Bi sedang berdiri. Gadis ini menjadi limbung, pandang matanya gelap dan dalam keadaan matanya gelap dan dalam keadaan setengah sadar itu, tiba-tiba dia merasa dadanya sakit sekali. la pun terhuyung-huyung dan terbanting roboh di samping Swan Bu yang menggeletak pingsan di antara batu-batu karang.

"Swan Bu...," Siu Bi merintih lemah, merangkak dan merangkul pemuda itu.

Cui Sian dan Cui Kim terkejut sekali. Mereka lalu meloncat masuk pula dengan pedang terhunus, bergerak hati-hati sekali. Cui Sian di depan, Cui Kim di belakangnya.

"Mundur...!" Ciui Sian berteriak sambil melompat keluar lagi ketika dia mencium bau yang memuakkan, bau asap hitam yang masih tergantung tebal di dalam goa. Terpaksa dua orang gadis ini melompat keluar lagi dan berdiri bingung.

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di depan goa itu sudah berdiri sepasang suami isteri yang gagah perkasa. Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Buta sendiri bersama isterinya. Kedatangan mereka ini sebetulnya bersama Tan Loan Ki.

Seperti kita ketahui, Tan Loan Ki mencari Pendekar Buta untuk memaksa pendekar ini menjodohkan muridnya, Yo Wan dengan puterinya, Yosiko. Mendengar permintaan yang aneh ini, Pendekar Buta yang kebetulan bertemu di jalan dengan Tan Loan Ki sepulang mereka dari Thai-san, segera ikut dengan wanita aneh itu.

Perjalanan dilakukan cepat bukan main karena biar pun sudah setengah tua, Tan Loan Ki masih berwatak keras dan tidak mau kalah. Maka dia seakan-akan mengajak suami isteri dari Liong-thouw-san itu berlomba adu lari cepat!

Setibanya di daerah Po-hai, melihat kekacauan dan peperangan, Tan Loan Ki merasa khawatir sekali dan cepat-cepat dia mencari puterinya sehingga dia bertemu Yo Wan di depan goa di mana puterinya tertawan. Sedangkan Pendekar Buta dan isterinya, sudah mendengar keterangan dari para perajurit bahwa Swan Bu putera mereka juga berada di situ, malah ikut bertempur. Atas petunjuk para prajurit inilah mereka berdua mencari dan akhirnya mereka bertemu dengan Cui Sian dan Cui Kim yang sedang berloncatan keluar dari dalam goa yang penuh asap hitam beracun!

"Cui Sian... apa yang terjadi? Apakah kau melihat Swan Bu?" tanya Hui Kauw, isteri Pendekar Buta, tak sabar lagi.

"Saya khawatir... Swan Bu berada di dalarn goa... dan Siu Bi baru saja meloncat masuk untuk mencarinya, akan tetapi agaknya... agaknya dia mengalami kecelakaan. Goa ini penuh asap hitam beracun..."

"Ahhh...!" Hui Kauw mencabut pedangnya dan bergerak hendak meloncat masuk, akan tetapi cepat Kwa Kun Hong si Pendekar Buta menyambar lengan isterinya.

"Tunggu! Biarlah aku yang masuk!" katanya dan sebelum isterinya sempat membantah, tubuhnya sudah bertindak ke depan, dengan hati-hati sekali kakinya melangkah masuk, meraba-raba dengan kedua kakinya. Segera dia mencium bau asap hitam yang beracun.

"Bahan ledak berbahaya..." katanya perlahan.

Pendekar Buta kemudian menggerak-gerakkan kedua tangannya, mendorong ke dalam goa. Asap hitam itu yang tadinya mengambang di dalam goa menjadi buyar, terdorong oleh angin pukulan dahsyat yang memenuhi goa. Karena dorongan ini, asap itu segera terbang keluar goa dan sebentar saja habislah asap hitam itu.

Lalu dari dalam goa menyambar senjata-senjata rahasia piauw, bagaikan hujan lebatnya. Namun, hanya dengan gerakan kedua tangannya yang mengeluarkan angin pukulan luar biasa, semua piauw itu terpental, ada pula yang membalik dan menyambar lebih cepat lagi ke dalam goa. Terdengar pekik kesakitan ketika piauw-piauw beracun itu menyambar tubuh Bong Kwan sendiri yang segera terjungkal dari atas batu karang di sudut goa dan tewas seketika itu juga.

Pada saat itu, matahari telah naik tinggi dan sinarnya memasuki goa. Hui Kauw, Cui Sian dan Cui Kim sudah berani memasuki goa setelah asap hitam itu buyar semua.

"Swan Bu...!" Hui Kauw menjerit ketika melihat puteranya yang sekarang sudah buntung lengannya itu menggeletak bagaikan mayat, dipeluki oleh Siu Bi yang tubuhnya mandi darah.

Sekali lagi Kun Hong mencegah isterinya, malah dia segera berjongkok dan memeriksa puteranya dengan rabaan tangannya. Hati lega karena luka pada pundak puteranya tidak berbahaya. Swan Bu hanya pingsan karena ketika tadi terguling, kepalanya tertumbuk oleh batu. Hanya keadaan Siu Bi yang payah. Ketika Kun Hong memeriksanya sebentar, pendekar ini mengerutkan keningnya.

"Biarkan dia sebentar...," katanya, hatinya penuh keharuan. Tiga batang piauw beracun yang menancap di dada Siu Bi tak mungkin dapat dicegah pengaruhnya lagi.

"Swan Bu...," Siu Bi berbisik, tetap merangkul leher pemuda itu erat-erat.

"Swan Bu... aku hanya punya engkau..."

Ucapan ini terdengar gemetar dan lemah, mendatangkan rasa haru pada mereka yang menyaksikan dan mendengar. Mata gadis itu penuh air mata, akan tetapi sinarnya sudah redup. Jari-jari tangannya dengan lemah meraba-raba muka Swan Bu yang masih rebah pingsan.

"Swan Bu... aku tidak punya apa-apa lagi... hanya ingin punya engkau... masa tidak boleh...? Swan Bu... kenapa diam saja...? Kau marah kepadaku? Swan Bu... ah, kau... kau terluka... kau mati? Aku pun ikut... Swan Bu... aku ikut!" Gadis itu lalu berkelojotan, menjerit-jerit, "Aku ikut! Aku ikut!"

Pelukannya mengeras, akan tetapi hanya sebentar. Tubuhnya lalu menjadi lemas dan kata-kata terakhir yang keluar dari bibirnya hanya helaan napas dan bisikan, "Swan Bu kekasihku... aku... ikut..."

Terdengar sedu-sedan dari kerongkongan Hui Kauw yang memeluk dua tubuh itu, tubuh Siu Bi yang sudah tak bernyawa lagi dan tubuh Swan Bu yang masih pingsan. Juga Cui Sian menangis terisak-isak, ingat betapa tadinya ia membenci Siu Bi. Baru kini dia sadar betapa Siu Bi patut dikasihani, seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini, tidak punya apa-apa, tidak punya orang yang dikasihinya, tidak punya harapan. Sekali lagi ia sadar betapa benar pendapat kekasihnya, Yo Wan. Ada pun Cui Kim berdiri bengong, air matanya juga membasahi pipinya.

"Sudahlah, mari kita angkat keluar mereka. Swan Bu perlu diobati," kata Pendekar Buta.

Hui Kauw memondong tubuh puteranya, Cui Sian memondong mayat Siu Bi dan mereka keluar dari goa itu, terus menuju ke perkemahan di dalam hutan. Di sepanjang jalan Hui Kauw menangis sesunggukan, menangisi puteranya yang sudah kehilangan lengan kiri, dan menangisi Siu Bi yang betapa pun juga sampai di akhir hidupnya membuktikan cinta kasih dan pengorbanan yang besar kepada Swan Bu.

Hanya Pendekar Buta yang berjalan dengan muka tunduk itu diam-diam berterima kasih kepada Tuhan bahwa Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa demi kebaikan. Memang sebaiknya begini. la tahu bahwa puteranya mencintai Siu Bi, tetapi dia tahu pula bahwa demi kebenaran, demi menjaga kerukunan keluarga, demi mencuci bersih nama serta kehormatan keluarga Raja Pedang, Swan Bu harus berjodoh dengan Lee Si.

Dengan pengerahan tenaga para prajurit, dan dia sendiri pun menggunakan kepandaian dirinya untuk menggulingkan batu-batu yang besar dan berat, akhirnya sejam kemudian Yo Wan berhasil membongkar batu-batu karang yang tadi telah menutupi goa. Cepat dia menerjang masuk dan apa yang dia lihat?

Tempat itu kini sudah terang, diterangi oleh dua buah obor yang dipasang di kanan kiri. Di atas sebuah batu karang halus tampak duduk seorang wanita yang bukan lain adalah Tan Loan Ki, duduk sambil tersenyum-senyum. Di depannya berlutut dua orang yang bergandeng tangan, Bun Hui dan Yosiko! Ada pun di sudut ruangan goa itu menggeletak mayat si cambang bauk Bong Ji Kiu, lehernya putus! Yo Wan berdiri tertegun, namun hatinya merasa lega.

Apakah yang terjadi? Kiranya pada waktu Bun Hui memasuki goa itu, Bong Ji Kiu cepat menggerakkan sebuah alat rahasia sehingga runtuhlah batu-batu dari atas menutupi goa. Sebagian dari batu-batu itu menimpa Bun Hui yang cepat melompat ke dalam akan tetapi karena keadaan gelap, dia tidak dapat menghindarkan serangan Bong Ji Kiu.

Sambaran golok Bong Ji Kiu melukai pahanya dan sebuah tendangan tepat mengenai dadanya membuat Bun Hui terpelanting dan roboh tidak dapat bangun pula. Kemudian Bong Ji Kiu menyalakan obor dan dengan hati penuh kegelisahan Bun Hui kini melihat betapa Yosiko benar benar berada di situ, terbelenggu kaki tangannya!

"Ha-ha-ha, kau berani datang untuk melihat kekasihmu? Kau mencinta Yosiko, bukan? Ha-ha, bagus sekali. Kau saksikanlah betapa nona manis ini menjadi isteriku, kemudian kau mampus! Kau kira akan dapat mengalahkan Kim-bwee-liong Bong Ji Kiu? Ha-ha-ha!" Kemudian secara kasar kepala bajak ini memeluk dan menciumi Yosiko.

"Bangsat! Kalau kau memang laki-laki, jangan mengganggu wanita! Hayo kita bertanding secara laki-laki, jangan menggunakan kecurangan!" Bun Hui memaki sambil merangkak bangun dengan susah payah. Dia berhasil berdiri sesudah mengambil pedangnya, lalu meloncat menggunakan sebelah kaki menyerang kepala bajak itu.

Sambil tertawa Bong Ji Kiu menangkis dengan goloknya. Tangkisannya keras sekali dan karena Bun Hui masih pening, luka di pahanya parah, serta dadanya masih membuat napasnya sesak, tangkisannya ini saja cukup membuat pedangnya terlepas dan kembali dia terguling roboh karena tendangan lawan.

"Ha-ha-ha, macam kau berani melawan aku?" Bong Ji Kiu melangkah maju dengan golok di tangan.

"Bong Ji Kiu!" Yosiko berseru keras. "Jika kau bunuh dia, aku bersumpah akan mencari kesempatan menghancurkan kepalamu sampai lumat!"

"Ha-ha-ha, kiranya kau benar-benar mencinta bocah ini? Ahh, Yosiko, kau benar-benar aneh sekali dan mengecewakan hati. Sepatutnya kau, anak bajak laut, berjodoh dengan bajak laut pula. Akan tetapi kau memang tak kenal budi, tak menghargai kawan sendiri. Dulu Shatoku, murid ayahmu sendiri tewas di tangan Tan Hwat Ki dan kau tidak peduli, padahal Shatoku amat mencintamu. Juga kau tak mau pedulikan lamaranku, sebaliknya kau malah mencinta bocah ini, padahal dia ini adalah komandan pasukan kerajaan yang sengaja datang hendak membasmi kita! Ahh, di mana kegagahan ayahmu? Mana rasa setia kawanmu?" Setelah berkata demikian, Bong Ji Kiu menggunakan sehelai tambang untuk mengikat kaki tangan Bun Hui yang sudah tidak berdaya lagi kemudian dia meraih hendak memeluk Yosiko lagi untuk menyiksa hati Bun Hui.

"Jangan sentuh aku! Dengar, Bong Ji Kiu, aku hanya bersedia menjadi isterimu kalau kau membebaskan Bun Hui dan jangan menyentuhku di depannya. Bila kau tetap melanggar pantangan ini, walau pun kau akan memaksaku, pasti akan tiba waktunya aku merobek dadamu dan mengeluarkan jantungmu!"

"Ha-ha-ha, baiklah, Manisku. Akan tetapi tidak bisa aku membebaskan dia sekarang. Dia harus ikut dengan kita ke pantai dan ke perahu. Aku akan membawamu lari ke pulau selatan di mana kita dapat membuat sarang baru yang aman, sebagai suami isteri bajak laut. Dia harus menjamin keselamatan kita sampai kita berlayar, barulah dia kubebaskan. Mari, mari kita pergi, Manisku!"

Bong Ji Kiu memondong tubuh Yosiko dan menyeret tubuh Bun Hui melalui terowongan yang kasar sehingga dapat dibayangkan betapa tersiksanya Bun Hui.

Diam-diam Yosiko cemas sekali. Terowongan rahasia ini adalah peninggalan kakeknya dahulu, tak ada yang tahu kecuali dia dan ibunya, dan anak buahnya. Agaknya Kamatari telah membocorkan rahasia ini sehingga kini digunakan oleh Bong Ji Kiu untuk menjebak Bun Hui dan untuk melarikan diri melalui terowongan rahasia. Kalau sampai Bong Ji Kiu dapat menggunakan Bun Hui sebagai jaminan, agaknya apa yang dikatakan bajak ini akan terlaksana!

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang menyeramkan. Bong Ji Kiu terkejut bukan main sehingga pondongannya terlepas dan tubuh Yosiko terguling ke dekat tubuh Bun Hui. Bajak laut itu menghunus golok besarnya dan membentak,

"Siluman dari mana berani mengganggu Kim-bwee-liong?"

"Bong Ji Kiu, kematian sudah di depan mata masih berani berlagak?"

Suara itu terdengar aneh karena bercampur dengan kumandangnya, seperti suara yang datang dari alam lain.

"Keluarlah dan makan golokku ini...!" Tiba-tiba suara Bong Ji Kiu terhenti dan matanya terbelalak lebar ketika dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Tan Loan Ki telah berdiri di depannya dengan pedang di tangan!

"Toa... Toanio...! Saya terpaksa menangkap Yosiko karena dia berkhianat dan bersekutu dengan pasukan kota raja, dan... dan ini... komandan pasukan juga sudah saya… saya tangkap..."

"Setan kaul Keparat! Anakku boleh memilih jodoh siapa pun juga, peduli apa dengan kau? Hayo berlutut menerima kematian!"

Menggigil sepasang kaki Bong Ji Kiu. “Tidak, Toanio... ini tidak adil! Aku... aku..." Akan tetapi terpaksa dia menghentikan kata-katanya.

Dengan amarah yang meluap-luap Tan Loan Ki sudah menerjangnya dengan serangan kilat. Terpaksa Bong Ji Kiu melawan dengan memutar goloknya. Terjadilah pertempuran mati-matian yang amat seru di dalam ruangan goa yang kini diterangi obor itu.

Bong Ji Kiu berlaku nekat, akan tetapi mana mungkin dia bisa menandingi Tan Loan Ki? Belum tiga puluh jurus, sambaran pedang merobek kulit lengan dan hampir membuntungi pergelangan tangannya sehingga golok besarnya terbang.

"Ti... tidak... Toanio... ampun...”

Bong Ji Kiu meloncat ke belakang dengan tubuh gemetaran dan muka pucat. Akan tetapi Tan Loan Ki menghampirinya dengan mata yang berapi-api dan langkah-langkah lambat sampai akhirnya Bong Ji Kiu tak dapat lari lagi karena punggungnya menyentuh dinding di sudut. Pedang Tan Loan Ki berkelebat, hanya tampak cahayanya dan tahu-tahu tanpa dapat sambat lagi Bong Ji Kiu terguling dengan kepala terpisah dari tubuh!

Tan Loan Ki cepat membebaskan dua orang muda itu dan dengan gembira sekali Yosiko menceritakan semuanya kepada ibunya. "Ibu, aku memilih dia ini menjadi suamiku. Kalau tidak dijodohkan dengan Bun Hui, aku lebih baik mati! Ibu, hanya sekali ini permintaanku kepadamu, aku harap kau suka untuk mengabulkan."

"Hemmm... kau bocah aneh. Mula-mula Tan Hwat Ki, kemudian Yo Wan, dan sekarang Bun Hui komandan pasukan kota raja. Bagaimana ini?"

"Dulu aku tidak tahu, Ibu. Kukira hanya laki-laki yang dapat mengalahkan aku saja yang patut menjadi jodohku, tetapi setelah mendengarkan nasehat Yo Wan, dan mendengar pula penuturan Siu Bi, aku... aku tahu bahwa tanpa cinta tidak mungkin menjadi isteri orang. Dan aku... aku mencinta Bun Hui!"

Bukan main girang hati Bun Hui mendengar pengakuan ini, pengakuan yang begini terus terang, terbuka, membayangkan kejujuran dan kepolosan hati gadis ini. Yo Wan benar, pikirnya, gadis ini jujur dan baik, hanya liar karena pengaruh pendidikan dan lingkungan.

"Bun Hui, kau anak siapa?"

"Ibu, dia itu cucu ketua Kun-lun-pai, bukan sembarang pemuda!" Yosiko yang menjawab cepat.

"Ehhh?" Tan Loan Ki tercengang. "Kalau begitu, kau ini putera Bun Wan?"

"Betul, Bibi," jawab Bun Hui, girang dan heran bahwa ibu Yosiko ini kiranya mengenal ayahnya.

"Hemmm, dia juga baik dan boleh saja. Tapi... eh, Bun Hui, anakku mencintamu, apakah kau juga cinta kepadanya?"

"Tentu saja dia cinta kepadaku, Ibu, dia... dia membujukku untuk insyaf dan dia hendak membawaku ke Tai-goan...”

"Diam kau! Harus dia sendiri yang menjawab. Bagaimana, Bun Hui? Apakah kau benar mencinta Yosiko?"

"Saya... saya mencintanya, Bibi."

Yosiko meloncat dan memegang tangan Bun Hui, wajahnya berseri-seri gembira dan ia mengguncang-guncang lengan itu. "Betulkah itu, Bun Hui? Ahhh, alangkah bahagia dan leganya hatiku. Tadinya... tadinya kukira kau tidak mencintaiku... dan aku sudah khawatir sekali..."

Tan Loan Ki tertawa dan berkata, "Anak-anakku, aku girang melihat kalian bahagia. Bun Hui, kau tidak memberi hormat kepada ibu mertuamu?"

Bun Hui dengan muka merah, dengan tangan masih digandeng Yosiko, segera berlutut di depan wanita itu. Mereka berbahagia, tidak peduli akan suara hiruk-pikuk dari Yo Wan dan para prajurit yang membongkar batu-batu di depan goa. Demikianlah, ketika akhirnya Yo Wan menerjang masuk dengan hati penuh kekhawatiran menyaksikan adegan yang tenteram bahagia, yang membuatnya bengong terlongong keheranan!

Bajak laut menjadi kocar-kacir setelah kehilangan pimpinan. Apa lagi ketika Tan Loan Ki dan Yosiko keluar dan menyerukan perintah agar mereka menyerah, sebagian besar di antara mereka lalu membuang senjata dan berlutut, menyerah. Bun Hui cukup bijaksana untuk menyerahkan urusan mereka kepada Yosiko dan ibunya yang membubarkan Hek-san-pang dan perkumpulan bajak laut yang lain. Selanjutnya harta kekayaan yang ada oleh Yosiko dibagi-bagikan kepada mereka dengan peringatan agar mereka memulai hidup baru, jangan melakukan kejahatan lagi.

Ada pun Swan Bu setelah sadar dan melihat kekasihnya, Siu Bi, telah meninggal karena membelanya, menjadi berduka sekali. Akan tetapi sebagai seorang yang telah menerima gemblengan batin dari orang tuanya, apa lagi di situ terdapat pula Pendekar Buta yang menasehati dan menghiburnya, dia dapat menerima kenyataan pahit yang menimpa dan mendukakan hatinya. Sejak saat itu, Swan Bu berubah menjadi seorang yang pendiam, seorang yang masak jiwanya, dan biar pun dia kehilangan lengan kiri dan kehilangan Siu Bi yang dikasihinya, dia mendapatkan pengalaman hidup yang membuatnya menjadi seorang yang kuat lahir batin.

Orang-orang gagah ini berpisahan dari daerah pantai Po-hai ketika para bajak laut sudah dibubarkan. Bun Hui kemudian memimpin sisa pasukannya ke kota raja, tentu saja selain membawa kemenangan lahir juga kemenangan batin, karena di sebelahnya turut pula Yosiko serta ibunya, sedangkan di dalam sakunya terdapat sebuah surat dari Pendekar Buta untuk ayahnya, surat yang membantu dan mengusulkan supaya Bun Wan dapat memperkenankan perjodohan antara Bun Hui dan Yosiko.

Tan Hwat Ki bersama sumoi-nya, yang masing-masing menyimpan rahasia kebahagiaan sendiri, yang dalam perjalanan kali ini telah menemukan cinta kasih mereka satu kepada yang lain, buru-buru kembali ke Lu-liang-san dengan pengharapan besar mendapat restu ayah dan guru mereka, dengan lamunan dan cita-cita yang muluk-muluk!

Pendekar Buta bersama isteri serta puteranya kembali ke Liong-thouw-san. Tentu saja Swan Bu membawa keperihan hati karena dia harus meninggalkan Siu Bi di dalam gundukan tanah kuburan di dalam hutan tepi pantai. la merasa kasihan sekali kepada kekasihnya ini. Sampai mati pun harus bersunyi sendiri, dikubur di tempat sunyi. la baru mau pergi bersama ayah bundanya setelah menemani kuburan Siu Bi semalam suntuk, di mana dia duduk bersemedhi di dekat gundukan tanah kuburan baru itu.

Masih terngiang di telinganya ketika dia mulai sadar, dia sempat mendengar jeritan Siu Bi berkali-kali, "Swan Bu, aku ikut... aku ikut...!"

Kenangan ini akhirnya membesarkan hatinya karena ketika dia melakukan perjalanan pulang, dia merasa seakan-akan Siu Bi benar-benar mengikutinya. Biar pun bukan Siu Bi dalam kenyataan, atau bayangannya, akan tetapi setidaknya cinta kasih gadis itu selalu mengikutinya!

Sebelum pergi, Pendekar Buta memanggil Yo Wan, lalu berkata di depan Cui Sian yang menundukkan mukanya karena jengah. "Muridku, Yo Wan. Sebagai wakil orang tuamu, aku telah membicarakan urusan perjodohanmu dengan Tan Beng San locianpwe. Beliau berkenan menjodohkan Cui Sian denganmu. Segala hal sudah kami rundingkan dengan masak-masak, dan sekarang, kau ajaklah calon isterimu itu kembali ke Thai-san. Kelak pada saat pernikahan kalian, sudah pasti aku akan datang ke sana menghadirinya. Yo Wan, aku merasa bangga kepadamu dan aku sungguh-sungguh merasa bahagia bahwa dahulu aku ikut mendidikmu sehingga sekarang kau menjadi seorang yang benar-benar tak mengecewakan. Arwah ibumu akan ikut bahagia, muridku."

Yo Wan tak dapat menjawab, hanya berlutut dan memeluk kaki gurunya itu dengan air mata bertitik yang cepat dihapusnya. "Banyak terima kasih atas budi kebaikan Suhu dan Subo. Semoga Thian yang akan membalasnya kalau teecu tidak mampu membalas."

Maka berangkatlah Yo Wan dan Cui Sian berdua, sebagai orang-orang terakhir yang meninggalkan tempat itu menuju ke Thai-san, tentu saja dengan hati penuh kebahagiaan dan perjalanan itu menjadi perjalanan yang paling menyenangkan selama hidup mereka, karena bukankah di depan mereka terbentang masa depan yang penuh madu?

Memang bagi orang muda tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain kebahagiaan menghadapi hidup baru berdampingan, membina rumah tangga bersama, mendayung biduk rumah tangga mengarungi samudera hidup, menempuh gelombang dan ombak samudera bersama-sama, menuju pantai cita-cita yaitu keluarga bahagia. Susah sama diderita, senang sama dirasa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Biarlah kita mendoakan mereka itu, Bun Hui dan Yosiko, Hwat Ki dan Cui Kim, Swan Bu dan Lee Si, serta Yo Wan dan Cui Sian, semoga orang-orang muda yang gagah perkasa, pengabdi kebenaran dan keadilan itu, akan menjadi pasangan suami isteri yang rukun dan menurunkan manusia-manusia yang selalu akan sadar dan ingat. Sadar sebagai manusia yang harus bertindak dengan dasar peri kemanusiaan, dan ingat selalu pada Yang Maha Kuasa. Hanya manusia yang sadar dan ingat demikianlah yang akan menjadi manusia-manusia berguna bagi dunia dan akhirat….


SERIAL RAJA PEDANG TAMAT SAMPAI DI SINI

UNTUK CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO LAINNYA, SILAHKAN BACA DI SINI