Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 11

TAHULAH Cun Sek bahwa benda runcing itu tentu mengadung racun yang berbahaya, juga bubuk hitam yang ditaburkan itu tentu racun yang sangat jahat! Hatinya menjadi tegang, dan secara diam-diam dia harus mengakui bahwa orang-orang ini merupakan lawan yang amat curang dan berbahaya sekali.

Setelah menebarkan bubuk hitam pada semak-semak dan benda-benda runcing di jalan setapak, mereka semua lantas menuruni lereng dan kini di sebelah bawah, tidak jauh dari tempat yang ditebari racun itu, mereka mengumpulkan ranting dan daun kering kemudian membakar setumpuk daun dan ranting kering! Kini mereka semua bersembunyi di kanan kiri, dekat api yang mereka buat itu, setiap orang siap dengan senjata di tangan!

Cun Sek mengangguk-angguk. Orang-orang ini benar-benar licik. Agaknya mereka tidak berani menyerbu naik, maka menggunakan siasat ini. Mereka membakar tempat itu untuk memancing pihak musuh menuruni puncak, namun sebelum tiba di tempat yang mereka bakar, tentu pihak musuh akan melalui jalan setapak yang telah penuh dengan benda dan bubuk beracun. Celakalah kiranya pihak musuh yang berada di puncak itu, pikirnya.

Namun dia tidak ingin mencampuri. Bukan urusannya. Dia hanya ingin menjadi penonton dan ada kenikmatan tersendiri di dalam hatinya menonton peristiwa yang menegangkan hati ini.

Tepat seperti yang diduga oleh Cun Sek, tidak lama kemudian dari tempat sembunyinya dia melihat lima orang laki-laki berlarian dari atas, turun dari puncak menuju ke tempat kebakaran. Mereka adalah lima orang laki-laki yang mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan, terbukti dari cara mereka berlari yang cukup cepat biar pun harus melalui jalan setapak yang cukup sukar dengan adanya batu-batu yang berserakan. Kalau tidak hati-hati maka kaki mereka akan terpeleset dan jika sampai terjatuh di atas jalan setapak berbatu-batu itu, maka akan membuat kulit mereka babak belur.

Makin dekat lima orang itu datang ke jalan setapak yang dipasangi racun, makin kencang debar jantung Cun Sek karena tegang. Sedikit pun dia tidak ingin memperingatkan kelima orang itu. Dia tak ingin berpihak, karena dia tidak mengenal kedua pihak itu. Apakah lima orang itu akan mampu menghindarkan diri dari ancaman malapetaka?

Sementara itu, sesudah mereka sampai dekat api yang nampak dari atas, tentu saja lima orang yang datang dari puncak itu mempercepat larinya dan kini mereka memasuki jalan setapak yang telah ditaburi dengan benda berduri tadi. Berturut-turut terdengar mereka itu berteriak kaget.

Akan tetapi benda runcing yang menembus sepatu mereka hingga melukai telapak kaki, agaknya mengandung racun yang sangat hebat sehingga sekali berteriak, tubuh mereka lantas terguling. Tentu saja mereka jatuh menimpa benda-benda runcing beracun itu, dan begitu terjatuh, mereka tidak dapat bergerak lagi, merintih pun tidak mampu dan nampak beberapa bagian tubuh mereka menjadi hitam!

Dari tempat persembunyiannya, Cun Sek bergidik. Racun hitam itu ampuhnya luar biasa! Begitu terjatuh, lima orang itu tewas seketika sehingga mayat mereka malang melintang menutup jalan setapak.

Pada saat itu pula Cun Sek melihat lima bayangan orang berlari cepat menuruni puncak. Sebentar saja lima sosok bayangan itu sudah tiba di sana dan dia melihat bahwa mereka adalah lima orang wanita yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, rata-rata memiliki wajah cantik dan tubuh yang ramping padat.

Dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian karena dari gerakan mereka itu, dia dapat menduga bahwa mereka lebih lihai dari pada lima orang pertama yang menjadi korban racun. Apakah mereka akan mampu melewati tempat yang merupakan perangkap maut itu?

Lima orang itu menghentikan lari mereka dan mereka terbelalak memandang ke arah lima orang yang telah tewas dan malang melintang di jalan setapak itu. Mereka mengamati ke arah tanah dan saling berbisik, agaknya mereka maklum bahwa lima orang pria itu sudah menjadi korban benda-benda kecil beracun yang bertebaran di atas jalan setapak.

"Ikuti aku!" kata seorang di antara mereka dengan nada memimpin.

Dia lalu mencabut pedang, menggunakan pedangnya untuk membacok putus dua batang ranting pohon. Teman-temannya cepat meniru perbuatannya sehingga kini masing-masing mereka memegang dua buah kayu ranting yang besarnya selengan tangan mereka. Lalu, didahului oleh pemimpin mereka, lima orang wanita itu mempergunakan dua batang kayu untuk menyeberangi jalan setapak yang penuh dengan benda-benda runcing beracun itu tanpa menyentuhkan kaki ke atas tanah.

Akan tetapi begitu mereka melewati jalan setapak itu, melangkahi lima sosok mayat yang malang melintang dan mereka tiba di seberang jalan berbahaya itu, mereka mengaduh-aduh lantas lima orang wanita itu pun terpelanting jatuh dari atas dua batang tongkat yang tadi mereka pergunakan untuk menyeberang sebagai pengganti kaki.

Cun Sek tak merasa heran. Lima orang wanita itu ternyata memang dapat menghindarkan kaki mereka sehingga tidak tertusuk benda runcing dan keracunan, namun mereka tidak tahu bahwa semak-semak di kanan kiri jalan itu telah ditebari bubuk hitam beracun. Ketika mereka lewat, tangan mereka terkena daun-daun yang sudah mengandung racun, maka ketika tiba di seberang, mereka merasa betapa kedua tangan mereka gatal dan panas.

Rasa gatal dan panas itu menjalar ke seluruh tubuh dan lima orang wanita itu kemudian bergulingan, menggunakan kedua tangan untuk mencakari tubuh sendiri hingga pakaian mereka koyak-koyak dan mereka berlima itu sampai telanjang bulat, namun tidak berhenti menggaruk dan tubuh mereka segera penuh dengan guratan merah dan hitam.

Mereka pun tewas dalam keadaan tersiksa sekali, tidak seperti lima orang pria tadi yang tewas seketika. Sebelum tewas, lima orang wanita itu harus menderita siksaan rasa gatal dan panas yang menjalar dari tangan mereka yang terkena bubuk racun hitam sampai ke seluruh tubuh!

Kembali Cun Sek bergidik ngeri. Sungguh hebat sekali! Sungguh bukan main kejamnya orang-orang Hek-tok-pang itu! Akan tetapi dia tetap hanya menjadi penonton dan tinggal tidak berpihak. Akan tetapi kini dia semakin tertarik. Agaknya yang menjadi korban racun itu, lima orang pria dan lima orang wanita, hanyalah anak buah saja.

Rombongan yang masih bersembunyi itu agaknya masih menunggu musuh mereka yang tadi mereka sebut-sebut, yaitu iblis betina! Sementara itu Cun Sek sendiri pun ingin sekali tahu bagaimana macamnya iblis betina itu dan bagaimana lihainya sehingga dua puluh delapan orang itu masih saja bersembunyi dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk mengeroyok musuh yang ditunggu-tunggu itu.

Ketika Cun Sek memperhatikan tiga orang yang dibayanginya dari kota tadi, tiba-tiba dia melihat mereka menuding ke arah puncak bukit dan sikap mereka tegang sekali. Dia pun langsung memandang ke arah puncak dan nampaklah sesosok bayangan sedang berlari cepat seperti terbang menuju ke tempat itu. Dia merasa betapa hatinya tegang sekali.

Agaknya itulah orang yang mereka nanti-nanti, yang disebut iblis betina! Tentu orangnya sangat menakutkan, seperti iblis, mungkin sudah nenek-nenek, yang lihainya bukan main. Akan tetapi, semakin dekat sosok tubuh itu, semakin terbelalak lebar mata Cun Sek! Apa lagi sesudah wanita itu tiba di dekat jalan setapak yang beracun, dan memandangi mayat lima orang pria dan lima orang wanita di seberang jalan, Cun Sek melongo.

Dia adalah seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya serba indah dan mewah sehingga nampak ganjil sekali seorang wanita berpakaian seindah itu berada di dalam hutan! Dan cantiknya! Bentuk tubuhnya! Seorang wanita yang telah matang dan penuh daya tarik, menggairahkan! Kalau saja tidak nampak gagang sepasang pedang di balik pundaknya, tentu tidak ada seorang pun yang dapat menduga bahwa wanita cantik yang lemah-gemulai ini adalah seorang ahli silat yang amat pandai!

Wajah itu bulat dan kulitnya putih kemerahan, dan kecantikan itu masih ditambah dengan bedak serta pemerah pipi dan bibir. Pandang matanya amat tajam, dan kerlingnya begitu memikat sehingga akan sukar ditemukan pria yang mampu bertahan bila disambar kerling mata seperti itu.

Begitu melihat wanita itu, seketika timbul rasa sayang dan suka di dalam hati Cun Sek, maka tanpa ditanya lagi otomatis hatinya sepenuhnya berpihak kepadanya! Oleh karena itu, ketika melihat wanita itu agaknya ragu-ragu dan hendak menyeberang melewati jalan setapak yang mengandung ancaman maut itu, tanpa disadarinya sendiri dia lalu berseru,

"Hati-hati, nona! Jangan lewat jalan itu, tanah dan semak-semaknya sudah ditaburi racun jahat!"

Tiba-tiba saja wanita itu meloncat ke samping, tinggi sekali dan bagaikan seekor burung terbang, tubuhnya sudah melayang lantas hinggap di atas cabang pohon, terus diayunnya tubuhnya itu hingga melayang ke atas lagi, lalu hinggap lagi di cabang lain dan demikian seterusnya sehingga dalam waktu beberapa detik saja dia sudah hinggap di atas cabang pohon di depan Cun Sek!

Cun Sek memandang terbelalak kagum bukan main. Kiranya wanita itu bukan saja cantik manis, akan tetapi juga memiliki ginkang yang demikian hebatnya hingga nampak bagai seekor burung yang sangat indah, yang kini berdiri di atas cabang sambil memandang kepadanya dengan sinar matanya yang jeli indah dan mulutnya yang tersenyum manis.

"Siapakah engkau dan mengapa engkau memperingatkan aku tentang bahaya racun itu?" Wah, bukan hanya wajahnya cantik tubuhnya menggairahkan, sinar mata dan senyumnya memikat, juga suaranya amat merdu.

Tanpa menyembunyikan kekaguman pada pandang matanya, Cun Sek menjawab sambil tersenyum. "Tadinya aku memang hanya menjadi penonton, tak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, melihat engkau yang begini cantik jelita terancam bahaya maut yang demikian mengerikan, aku merasa tidak tega sehingga tanpa kusadari aku sudah berteriak memberi peringatan."

Di dalam hatinya dia masih merasa heran mengapa yang muncul seorang wanita yang demikian cantiknya. Bukankah yang dinanti oleh orang-orang di bawah itu adalah seorang iblis betina?

Kini dua puluh delapan orang itu sudah bermunculan dari tempat persembunyian mereka dan mereka telah siap dengan senjata di tangan. Terdengar raksasa brewok tadi berteriak sambil mengacungkan golok besarnya ke arah pohon.

"Iblis betina, turunlah! Mari kita membuat perhitungan!"

"Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), bersiaplah engkau untuk menebus nyawa sute Yauw Kwan!" orang pertama dari Kwi-san Su-kiam-mo juga berteriak sambil menudingkan pedangnya ke arah wanita yang masih di atas cabang pohon itu.

Kini Cun Sek semakin kaget. Kiranya benar wanita ini yang disebut Iblis Betina. Wah, bagi dia, wanita ini lebih pantas disebut bidadari kahyangan!

Semua penilaian melahirkan pendapat yang palsu, karena penilaian selalu didasari pada perhitungan untung rugi si penilai. Bila mana yang dinilai itu menguntungkan, dan berarti menyenangkan, tentu dinilainya baik, sebaliknya jika merugikan atau tak menyenangkan, maka akan dinilainya buruk.

Para anggota Hek-tok-pang telah dirugikan oleh Tok-sim Mo-li, banyak anggotanya yang tewas di tangan wanita itu, maka tentu saja menganggap wanita itu jahat sekali, bahkan kecantikan wanita itu tidak lagi menarik karena telah timbul kebencian dan dendam dalam hati mereka. Seperti itu pulalah perasaan tiga orang di antara Kwi-san Su-kiam-mo yang menaruh dendam karena sute mereka tewas di tangan wanita itu.

Akan tetapi sebaliknya, Cun Sek sama sekali tidak pernah merasa dirugikan oleh wanita itu, dan ketika melihat kecantikan wanita itu, dia menilainya sebagai seorang wanita yang menarik dan patut dibela! Orang seperti Cun Sek ini tentu saja hanya menilai seseorang hanya dari kulitnya. Dia lupa bahwa kecantikan hanya setipis kulitnya, hanya merupakan pembungkus belaka, pembungkus tengkorak dan rangka yang sama pada setiap orang manusia.

Memang sungguh sayang sekali. Pada umumnya kita lebih senang memperhatikan dan memperindah badan dari pada batin kita. Kita mencuci badan kita setiap hari, dua tiga kali, akan tetapi ingatkah kita untuk mencuci batin kita? Mencuci batin berarti ingat pada Tuhan dan menyerah dengan seluruh pemasrahan, karena hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu membersihkan batin kita yang dipenuhi kekotoran.

Tentu saja Cun Sek tidak tahu siapa sebenarnya wanita cantik itu. Kalau dia sudah benar-benar mengenalnya, maka dia akan semakin terkejut. Wanita ini bernama Ji Sun Bi, yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Tok-sim Mo-li. Dari julukan ini saja sudah bisa diketahui bahwa dia adalah seorang wanita yang hatinya beracun, berarti memiliki watak yang amat jahat.

Dia pernah menjadi murid juga kekasih dari mendiang Min-sa Mo-ko, seorang datuk sesat yang pernah menjadi tokoh Pek-lian-kauw. Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat dari gurunya, dan selain lihai dan cantik manis, juga dia mempunyai suatu penyakit, yaitu gila laki-laki!

Dia seorang penjahat cabul yang selalu timbul birahinya ketika melihat seorang pria muda yang tampan dan ganteng. Oleh karena itu, begitu melihat Cun Sek yang tinggi tegap dan tampan, tentu saja seketika hatinya tertarik sekali. Apa lagi begitu berjumpa pemuda itu sudah berpihak kepadanya dan berusaha menyelamatkannya dari ancaman bahaya!

Kurang lebih satu tahun yang lalu, Ji Sun Bi bersama mendiang gurunya, Min-san Mo-ko, membantu gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh mendiang Lam hai Giam-lo serta seorang bangsawan Birma yang bernama Kulana. Akan tetapi pemberontakan itu berhasil dihancurkan oleh pasukan Menteri Cang Ku Ceng yang dibantu oleh para pendekar gagah perkasa. Hampir semua tokoh pemberontak tewas. Hanya ada beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, di antaranya termasuk Tok-sim Mo-li li Sun Bi.

Ketika terjadi pertempuran, Ji Sun Bi bertanding melawan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai yang sudah digembleng oleh Pendekar Sadis dan isterinya, yaitu kakek neneknya sendiri. Ji Sun Bi terdesak hebat dan pada saat terakhir dia dapat membuang dirinya ke bawah tebing.

Kui Hong mengira bahwa Ji Sun Bi yang jahat tentu tewas karena tebing itu amat curam. Akan tetapi ternyata tidak! Ji Sun Bi sudah memperhitungkan ketika dia melempar diri ke bawah tebing itu. Dia maklum benar bahwa di bawah tebing, tepat di bawah dia melempar tubuh, terdapat sebuah danau kecil yang dalam. Karena itu, ketika dia sampai di bawah, bukan batu atau tanah yang menerima tubuhnya, melainkan air! Biar pun dia hampir saja pingsan ketika terbanting ke air danau, namun dia dapat menyelamatkan dirinya dan tidak tewas!

Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi kemudian melarikan diri dan bersembunyi sampai berbulan-bulan, takut kalau-kalau ada pengejaran dari para pendekar. Dan di dalam perantauannya sambil sembunyi-sembunyi ini Ji Sun Bi bertemu dengan seorang pria muda yang membuatnya girang bukan main. Siapakah pria muda itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, seorang di antara para pembantu utama dalam pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu!

Pemuda itu adalah salah seorang di antara mereka yang berhasil menyelamatkan diri dan pemuda itu amat lihainya, bahkan tingkat kepandaiannya lebih lihai dari Ji Sun Bi sendiri. Dan yang lebih dari segalanya, pemuda itu adalah bekas kekasih atau seorang di antara para kekasih wanita cabul itu!

Ketika dua orang bekas rekan dan kekasih itu saling berjumpa, tentu saja mereka merasa gembira bukan main. Bukan saja gembira dalam melepas kerinduan masing-masing, akan tetapi terutama sekali gembira karena mereka kini merasa lebih kuat. Dengan kerja sama di antara mereka tentu saja mereka merasa kuat dan mampu melakukan hal-hal besar!

Sim Ki Liong adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang berwajah tampan dan sikapnya halus lagi sopan. Dia sesungguhnya putera dari mendiang Sim Thian Bu, seorang seorang tokoh sesat yang tewas di tangan suheng-nya sendiri, yaitu Siangkoan Ci Kang.

Sim Ki Liong yang cerdik ini kemudian berhasil menyusup ke Pulau Teratai Merah. Karena dia memang pandai mengambil sikap, dia pun berhasil menarik perhatian Pendekar Sadis dan isterinya yang berkenan mengambil dia sebagai murid! Sebagai murid terkasih dari Pendekar Sadis dan isterinya, tentu saja Sim Ki Liong menjadi lihai bukan main!

Akan tetapi, pada saat Cia Kui Hong berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, Sim Ki Liong yang tergila-gila kepada Kui Hong itu seperti membuka kedok sendiri. Maka dia pun kemudian melarikan diri, minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa pedang pusaka pulau itu, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam!

Sim Ki Liong kemudian ikut bergabung dengan gerakan pemberontakan Lam-hai Giam-lo, menjadi salah seorang di antara para pembantu yang dipercaya selain Ji Sun Bi. Pada waktu gerombolan pemberontak itu diserbu oleh para pendekar dan pasukan pemerintah, seperti juga Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang ternyata sangat cerdik itu dapat menyelamatkan diri juga.

Demikianlah, setelah Ji Sun Bi berjumpa dengan Sim Ki Liong, tentu saja kedua orang ini merasa girang bukan main. Keduanya lalu memilih Kim-lian-san (Bukit Terati Emas) itu sebagai tempat tinggal dan dengan kerja sama mereka sebentar saja mereka berdua telah mampu membangun tempat itu sebagai sarang dari perkumpulan yang mereka dirikan bersama, yang mereka beri nama Kim-lian-pai (Perkumpulan Teratai Emas)! Tentu saja ketuanya adalah Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi menjadi wakil ketua.

Mereka berdua lalu menundukkan tokoh-tokoh sesat di sekitar daerah itu dan memaksa mereka untuk mengakui kekuasaan Kim-Iian-pai. Kalau ada tokoh atau golongan yang tak mau mengakui, maka Ji Sun Bi lalu turun tangan mengalahkan tokoh itu atau mengobrak-abrik gerombolan yang melawan. Dalam waktu beberapa bulan saja hampir seluruh tokoh kang-ouw dan gerombolan penjahat sudah dapat ditundukkan!

Mereka berdua lalu memilih pemuda-pemuda atau para pria yang memiliki kepandaian, juga wanita-wanita tangkas untuk menjadi anggota Kim-Iian-pai. Keduanya lantas melatih mereka sehingga tak lama kemudian Kim-lian-pai telah menjadi suatu perkumpulan yang anggotanya berjumlah lebih dari seratus orang dan rata-rata mereka memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh.

Nama besar Kim-Iian-pai mulai dikenal dunia kang-ouw. Kelompok-kelompok yang sudah mengakui kekuasaan Kim-lian-pai tentu saja mulai menyumbangkan hasil kekayaan atau kejahatan mereka kepada perkumpulan baru itu.

Baik Sim Ki Liong mau pun Ji Suri Bi tidak mempunyai niat untuk mengulangi apa yang dilakukan oleh gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Tidak, mereka sudah cukup berpengalaman dan cerdik. Melawan pemerintah adalah perbuatan yang tolol. Kekuatan pemerintah tidak mungkin dapat dilawan.

Mereka hanya ingin mendirikan perkumpulan yang kuat dan berkuasa karena dari dunia kang-ouw mereka dapat mengharapkan sumbangan yang akan membuat perkumpulan mereka cukup kuat untuk hidup mewah. Selain itu, kalau mereka kuat, para pendekar juga tidak akan berani mengganggu mereka.

Di samping itu semua, Sim Ki Liong yang menjadi ketua Kim-lian-pai juga memiliki suatu cita-cita, yaitu membalaskan dendam sakit hatinya kepada pendekar Siangkoan Ci Kang yang telah membunuh ayahnya. Dengan adanya perkumpulan kuat yang dipimpinnya ini, tentu tidak akan sukar baginya untuk mencari di mana adanya musuh besar itu.

Di samping memupuk kekuatan untuk perkumpulannya, Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi tidak menghentikan kesenangan mereka. Dua orang ini memang cocok sekali. Mereka memiliki kesukaan yang sama, yaitu bila Sim Ki Liong tiada bosannya mencari gadis-gadis cantik untuk menemaninya, juga Ji Sun Bi tidak pernah merasa puas dengan pria-pria tampan yang hampir setiap hari berganti-ganti melayaninya!

Hampir semua anggota Kim-lian-pai yang bertubuh kekar dan berwajah tampan pernah dikeram di dalam kamar wakil ketua yang cantik itu. Akan tetapi watak Ji Sun Bi memang pembosan. Biar di puncak itu sudah ada Sim Ki Liong dan banyak anggota perkumpulan yang pria, tapi dia masih suka berkeliaran turun dari bukit untuk melampiaskan nafsunya dengan pria-pria baru!

Demikianlah, perbuatannya itulah yang mendatangkan keributan pada hari itu. Ia bertemu dengan Yauw Kwan, pemuda berusia dua puluh lima tahun yang menjadi anggota termuda dari Kwi-san Su-kiam-mo, empat orang tokoh kang-ouw yang kenamaan.

Bertemu dengan pemuda yang gagah dan tampan ini, Ji Sun Bi segera merayunya. Yauw Kwan dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan wanita cabul itu. Akan tetapi celakanya, Yauw Kwan yang belum banyak pengalaman itu benar-benar jatuh cinta kepada Ji Sun Bi dan tidak ingin berpisah lagi. Bahkan dia membujuk Ji Sun Bi agar suka menjadi isterinya.

Seperti biasa, setelah bermesraan dengan Yauw Kwan selama beberapa hari lamanya, Ji Sun Bi mulai bosan dan sikap Yauw Kwan yang rewel, yang hendak memaksanya supaya suka menjadi isteri pemuda itu, telah membuat Ji Sun Bi menjadi marah. Dia menganggap pemuda itu terlalu banyak rewel sehingga akan merepotkan saja, maka dia memaki-maki dan mengusir Yauw Kwan.

Pemuda itu terkejut, marah dan tahu bahwa wanita itu hanya mempermainkannya. Lalu terjadilah perkelahian dan Yauw Kwan melarikan diri membawa luka parah. Akhirnya dia tewas dalam rangkulan ketiga orang suheng-nya sesudah menceritakan tentang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang menjadi wakil ketua Kim-lian-pai di puncak Kim-lian-san.

Bukan hanya dengan Kwi-san Su-kiam-mo saja Ji Sun Bi menanam permusuhan. Juga dengan Hek-tok-pang. Perkumpulan Hek-tok-pang ini adalah perkumpulan para nelayan. Mereka merupakan ahli-ahli racun dan dengan kepandaian itu mereka menangkap ikan, menggunakan bubuk racun yang tidak begitu keras.

Akan tetapi, selain mencari ikan mereka dikenal pula sebagai penguasa pada sepanjang sungai Huang-ho dan dengan kekerasan sering menuntut sumbangan dari para saudagar yang perahunya lewat di tempat itu. Juga bajak-bajak sungai tunduk kepada mereka dan suka memberi bagian hasil kejahatan mereka.

Mendengar tentang perkumpulan ini, Ji Sun Bi mewakili Kim-lian-pai untuk menundukkan perkumpulan itu. Namun ketuanya, Hek-tok Pangcu Cui Bhok, tidak sudi tunduk kepada seorang wanita yang mewakili sebuah perkumpulan baru. Dia membuat perlawanan dan mengerahkan anak buahnya.

Dihadapi puluhan orang anggota Hek-tok-pang, tentu saja Ji Sun Bi menjadi kewalahan, akan tetapi ketika terjadi perkelahian, dia sempat menyebar maut di antara para anggota Hek-tok-pang. Tidak kurang dari tujuh orang tewas dan banyak yang terluka. Inilah yang membuat Hek-tok Pangcu Cui Bhok merasa sakit hati. Karena itu, dengan dibantu oleh dua puluh empat anggotanya yang pilihan, dia bergabung dengan tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan pada hari itu melakukan penyerbuan ke Kim-lian-san.

Ketika dua puluh delapan orang itu mengepung pohon besar di mana Sun Bi dan Cun Sek berada, wanita ini tersenyum sambil matanya mengerling ke arah pemuda gagah perkasa yang kini juga telah berdiri di atas cabang pohon itu. Diam-diam dia pun mengagumi tubuh yang kokoh kekar itu dan Ji Sun Bi lalu menelan ludah seperti seekor harimau kelaparan melihat segumpal daging yang segar.

"Sobat yang gagah perkasa, siapakah namamu?" tanya Ji Sun Bi dengan suara merdu.

Cun Sek semakin kagum. Wanita ini memang hebat. Di bawah itu ada dua puluh delapan orang lihai yang menunggu dan menantangnya, akan tetapi dia masih bersikap demikian tenang dan enak-enakan saja seakan-akan tidak ada ancaman apa pun. Dia pun segera mengimbangi dan bersikap santai dan tenang. Sambil mengamati wajah cantik manis itu, dia pun menjawab sambil tersenyum ramah.

"Namaku Tang Cun Sek, dan siapakah engkau, Nona? Mengapa pula mereka semuanya memusuhimu?"

"Namaku Ji Sun Bi," jawab wanita itu sambil memperlebar senyumnya sehingga sekarang nampak deretan giginya yang putih bersih. "Mereka di bawah itu adalah orang-orang tolol. Aku menjadi wakil ketua Kim-lian-pai yang ada di puncak Kim-lian-san ini, dan kami ingin agar mereka itu tunduk dan membantu kami. Ehh..., mereka malah melawanku! Saudara Tang Cun Sek, kalau menurut pendapatmu, bagaimana? Apakah aku harus membunuh mereka semua?"

Cun Sek menjadi semakin kagum. Wanita ini bukan khawatir bahkan mengatakan dapat membunuh mereka semua, seakan-akan dua puluh delapan orang di bawah itu tidak ada artinya baginya. Akan tetapi dia memikirkan pertanyaan itu dengan serius.

"Kalau engkau ingin menundukkan mereka, apa gunanya kalau mereka dibunuh semua? Kalahkan saja pemimpin mereka, maka yang lain-lain akan menakluk dengan sendirinya." Dia mengerutkan alis kemudian memandang ke bawah. "Alangkah baiknya kalau engkau mampu menarik mereka menjadi pembantu. Mereka itu amat pandai menggunakan racun. Lihat, sepuluh orang yang menjadi korban itu, sungguh mengerikan. Siapakah mereka?"

"Mereka adalah para anggota perkumpulan kami."

"Wah, kalau begitu maka lebih penting lagi untuk menundukkan mereka agar mereka mau membantumu sehingga kerugianmu kehilangan sepuluh orang anggota itu dapat ditebus."

Ji Sun Bi mengangguk-angguk. Memang pendapat pemuda ini sangat tepat. Kim-lian-pai adalah sebuah perkumpulan baru yang sedang menyusun kekuatan. Kalau Hek-tok-pang dapat ditundukkan dan membantu, berarti Kim-lian-pai akan menjadi semakin kuat. Kalau mereka semua dibunuh, tidak ada untungnya bagi Kim-lian-pai.

"Saudara Tang Cun Sek, tadi engkau sudah menolongku, memperingatkan aku mengenai racun. Dan sekarang maukah engkau membantuku menghadapi mereka? Atau kelirukah penilaianku bahwa engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Cun Sek tersenyum. "Terus terang saja aku pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi jika dibandingkan denganmu tentu saja aku masih kalah jauh!"

"Hik-hik, aku tahu bahwa orang yang merendahkan diri itu justru merupakan lawan yang berbahaya. Tong kosong nyaring bunyinya sebaliknya tong yang penuh tidak berbunyi!"

"Aihh, jadi engkau hanya menganggap aku ini sebagai sebuah tong saja?"

"Apa salahnya menjadi tong?"

"Kalau tong beras atau tong anggur memang cukup berguna, akan tetapi tong sampah?" kelakar Cun Sek yang timbul kegembiraannya melihat sikap wanita yang lincah jenaka dan genit ini.

"Tong sampah juga berguna sekali. Akan tetapi siapa menyamakan engkau dengan tong? Engkau seorang pemuda yang begini gagah perkasa dan ganteng. Hanya saja aku ingin melihat apakah engkau mampu menghadapi seorang di antara mereka."

Cun Sek merasa kejantanannya ditantang. Kalau tadi dia bersikap tak peduli dan tak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, dengan mudah saja kini dia berpihak. Tentu saja dia memilih pihak wanita yang cantik menarik ini!

"Iblis betina! Apa bila engkau tidak mau turun, terpaksa kami memaksamu turun bersama antekmu itu!" terdengar lagi suara dari bawah.

Dan tiba-tiba dari bawah tampak sinar berkelebat ketika dua batang hui-to (pisau terbang) meluncur ke arah Cun Sek dan Ji Sun Bi. Pisau-pisau terbang itu dilempar oleh Thio Su It, orang ke tiga dari Kwi-san Su-kiam-mo yang mempunyai keahlian menggunakan pisau ini sebagai senjata rahasia.

Sebelum Ji Sun Bi menggerakkan tubuhnya, Cun Sek lebih dahulu menggerakkan kedua lengannya. Kedua tangannya menyambar ke bawah dan ternyata dia sudah menyambut dua batang pisau itu! Kalau saja yang melemparkan pisau itu adalah orang Hek-tok-pang, tentu saja dia tak akan berani menyambut dengan tangan begitu saja karena ada bahaya keracunan. Akan tetapi yang menyambitkan pisau adalah salah satu di antara tiga orang yang dibayangi dari kota tadi, maka dia berani menyambutnya.

Tanpa berkata apa pun, Cuk Sek memandang ke bawah dan melihat salah satu anggota Hek-tok-pang mengacung-acungkan goloknya, diikuti oleh seorang anggota lain dan kini mereka berdua mendekati batang pohon di mana dia dan Ji Sun Bi berada. Dia lantas melemparkan dua batang pisau terbang tadi ke bawah, namun membidik ke arah pundak kedua orang itu.

Dua sinar menyambar turun, dibarengi suara mencuit nyaring dan dua orang anggota Hek-tok-pang itu lantas roboh sambil berteriak kesakitan. Pundak mereka sudah tertusuk pisau terbang tanpa mereka dapat mengelak saking cepatnya dua pisau itu menyambar. Melihat hal ini, Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Dengan mesra dan lembut dia memegang tangan Cun Sek dan berbisik dengan suara merdu,

"Bagus sekali! Ternyata engkau adalah seorang yang sangat lihai. Saudara Tan Cun Sek yang gagah, mari kau bantu aku menundukkan mereka dan selanjutnya aku akan menjadi sahabatmu yang amat manis. Engkau akan kuhadapkan kepada pangcu kami dan engkau akan bisa menjadi pembantu kami yang utama. Coba kau perlihatkan kepandaianmu dan kau kalahkan ketua Hek-tok-pang itu!"

Cun Sek tersenyum. Memang lebih enak jika memihak wanita cantik ini dari pada mereka yang berada di bawah. Lagi pula dia sendiri perlu mendapat kedudukan yang kuat untuk memulai hidup baru. Bila dia bersekutu dengan wanita yang lihai ini, agaknya bukan saja kedudukannya kuat, akan tetapi dia juga memperoleh kehangatan dan kemesraan yang tentu akan amat menyenangkan.

Dia memandang ke bawah. Ketua Hek-tok-pang itu memang terlihat amat menyeramkan. Seorang raksasa brewok yang kasar dan dia tahu juga amat lihai, apa lagi dengan racun-racun berbahaya. Namun tentu saja dia tidak merasa takut, maka dia pun mengangguk.

"Baiklah, aku memang ingin sekali mencobanya. Mari kita turun dan kita hadapi mereka!" Berkata demikian, Cun Sek lalu melayang turun dari atas pohon itu seperti seekor burung garuda besar menyambar.

Dengan senyum girang Ji Sun Bi memandang dan dari cara pemuda itu melayang turun saja dengan mudah dia dapat menduga bahwa memang pemuda itu bukan orang biasa, melainkan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tidak disangkanya bahwa dalam menghadapi musuh yang telah menewaskan sepuluh orang anak buahnya ini dia akan bertemu dengan seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan suka membantunya! Dia pun segera melayang turun untuk mendampingi pemuda itu menghadapi musuh-musuhnya.

Tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan Hek-tok Pangcu juga terkejut melihat cara kedua orang itu melayang turun. Mereka tidak tahu kalau Cun Sek adalah orang luar yang hanya kebetulan saja bertemu dengan iblis betina itu tetapi mengira bahwa Cun Sek tentu rekan dari Tok-sim Mo-li yang pandai.

cerita silat online karya kho ping hoo

Sebelum mereka mengerahkan anak buah untuk mengeroyok, lebih dahulu Tok-sim Mo-Ji Ji Sun Bi berkata dengan nada suara mengejek. Tentu saja dia tahu kenapa orang-orang itu datang menyerbu Kim-lian-san, namun dia sengaja ingin agar Cun Sek mendengarkan percakapan mereka supaya pemuda itu tahu mengenai duduknya perkara dan bagaimana selanjutnya sikap Cun Sek, apakah tetap ingin membantu padanya atau tidak, ingin sekali dia mengetahuinya.

"Haiiii! Kalian ini apakah orang-orang gila yang tiada hujan tiada angin berani menyerbu Kim-lian-san dan telah membunuh sepuluh orang anggota Kim-lian-pai kami?"

Mendengar pertanyaan itu gerombolan orang yang tadinya sudah siap mengeroyok cepat menunda gerakan mereka. Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kasar itu menggereng seperti seekor singa terluka, matanya melotot merah dan dia lalu berteriak lantang.

"Tok-sim Mo-li, tak perlu engkau berpura-pura dan bertanya lagi. Engkau telah menyerbu tempat tinggal kami di lembah Huang-ho dan menewaskan banyak anak buah kami, tetapi sekarang engkau masih bertanya lagi mengapa kami datang menyerbu. Tentu saja untuk membalas dendam dan membunuhmu!"

Sun Bi tersenyum lebar, manis sekali. "Hek-tok Pangcu, aku datang ke tempatmu untuk memperkenalkan Kim-lian-pai kami dan minta kepadamu agar mengakui kekuasaan kami, akan tetapi engkau malah mengerahkan orang-orangmu sehingga aku pun terpaksa turun tangan memberi hajaran. Jika aku menghendaki, pada saat itu juga aku dapat membunuh kalian semua. Akan tetapi kami dari Kim-lian-pai tak bermaksud memusuhi golongan lain, melainkan hendak mengajak kerja sama. Engkau dan orang-orangmu secara curang telah membunuh sepuluh orang anggota kami, biarlah hal itu sebagai imbangan kematian anak buahmu di tanganku tempo hari. Dan sekarang tentu engkau suka menyerah dan mau membantu kami"

"Tidak sudi! Aku tidak akan menyerah sebelum orang mengalahkan aku!" bentak ketua Hek-tok-pang itu.

"Baiklah. Ada sahabatku ini, Tang Cun Sek yang akan mengalahkanmu. Dan kalian ini, bukankah tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo? Ada apakah kalian juga ikut-ikutan datang menyerbu ke tempat tinggal kami?"

Giam Sun, orang tertua dari mereka cepat melangkah maju, mukanya merah padam dan matanya melotot. "Iblis betina, kami datang untuk minta tebusan nyawa sute kami, Yauw Kwan! Masihkah engkau pura-pura bertanya lagi?"

"Aihh, Yauw Kwan? Pemuda bodoh yang tidak tahu diuntung itu? Dia hendak memaksaku untuk menikah! Tentu saja aku tidak mau terikat dengan pernikahan tolol itu. Maka kami bertengkar, lalu berkelahi. Di dalam perkelahian itu dia kalah dan roboh tewas. Apa pula yang harus diributkan? Dia tewas dalam perkelahian yang adil dan tidak penasaran. Dan sekarang kalian bertjga datang hendak mengeroyokku? Lebih baik kalian cepat insyaf dan menyadari kesalahan sute kalian, lalu bekerja sama dengan kami dari Kim-lian-pai..."

"Tak perlu banyak cakap lagi! Engkau atau kami yang harus mampus!" bentak Giam Sun marah.

"Aha, begitukah ? Kalian hendak main keroyok? Ataukah sebaliknya kalau kita bertanding seperti orang-orang gagah? Kalau begitu biar sahabatku Tang Cun Sek ini yang lebih dulu menghadapi ketua Hek-tok-pang."

Hek-tok Pangcu Cui Bhok memang sudah tidak sabar mendengar percakapan antara Ji Sun Bi dan Giam Sun tadi. Semenjak tadi dia telah memandang kepada Cun Sek dengan sepasang mata merah. Pemuda itu memang bertubuh tinggi tegap, akan tetapi selebihnya tidak mendatangkan kesan apa-apa maka dia pun memandang rendah.

Biar pun calon lawan itu tinggi tegap, namun nampak kecil ringkih dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Agaknya, dengan sekali tangkap saja dia akan mampu mematahkan tulang punggung pemuda itu. Kini, mendengar ucapan si iblis betina, tanpa banyak cakap lagi dia pun segera menerjang dan menyerang Cun Sek dengan goloknya yang lebar dan panjang!

"Singgg...!" Golok itu menyambar lewat dekat kepala Cun Sek saat pemuda ini mengelak dengan lincah sekali.

Gerakan ketua Hek-tok-pang itu memang cepat bukan main dan hal ini saja membuktikan alangkah besar tenaganya sehingga dia mampu memainkan golok yang sangat berat itu bagaikan sebatang senjata yang sangat ringan saja.

Namun bagi Cun Sek kecepatan itu masih nampak terlalu lambat. Pemuda yang pernah mempelajari banyak macam ilmu silat, bahkan secara beruntung sudah dapat menguasai pula ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai ini memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari tingkat lawan. Oleh karena itu bacokan golok yang pertama tadi bisa dielakkannya dengan amat mudah. Bahkan pada waktu mengelak ke samping dia masih sempat mengirim pukulan ke arah lambung lawan.

"Wuutttttt...!"

Ketua Hek-tok-pang terkejut bukan main. Dia yang menyerang dengan goloknya, namun kini malah dia yang terancam bahaya. Pukulan itu mendatangkan angin yang sangat kuat sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, lalu berjungkir balik dan hampir saja terpelanting jatuh!

Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya Ji Sun Bi yang bertepuk tangan memuji.

"Hebat, engkau hebat, saudara Tang Cun Sek!" Wanita itu memuji dengan kagum dan juga girang bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu mempunyai ilmu kepandaian sehebat itu sehingga dalam segebrakan saja hampir dapat membuat ketua Hek-tok-pang itu roboh!

Akan tetapi hal itu terjadi karena Hek-tok Pangcu memandang rendah lawannya sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan pertahanan diri. Kini dia marah bukan main. Akan tetapi, di samping marah dia juga penasaran dan lebih waspada karena dia mulai dapat menduga bahwa lawannya ini ternyata jauh lebih lihai dari pada nampaknya.

Tiba-tiba Hek-tok Pangcu Cui Bhok mengeluarkan gerengan yang sangat dahsyat. Itulah ilmu khikang yang disalurkan melalui suara sehingga lawan yang tidak mempunyai tenaga sakti yang kuat akan dapat dilumpuhkan oleh serangan suara ini yang disebut Sai-cu Ho-kang (Auman Singa), seperti yang suka dilakukan binatang buas seperti beruang, singa, harimau dan lain-lain.

Seekor singa bisa melumpuhkan calon korban hanya dengan auman yang menggetarkan jantung calon korbannya atau lawannya, malah sudah banyak pula manusia yang menjadi korban binatang buas, belum apa-apa sudah merasa lumpuh dan tidak mampu melarikan diri begitu mendengar auman binatang buas itu.

Kini Hek-tok Pangcu itu agaknya juga menggunakan ilmu semacam itu. Suara aumannya menggetarkan jantung. Akan tetapi yang sekarang dihadapinya adalah seorang pemuda gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Cun Sek juga merasa betapa auman itu sudah menggetarkan jantungnya, namun dengan pengerahan sinkang-nya dia bisa menolak pengaruh itu dan hanya tersenyum mengejek. Keika auman berhenti, golok besar itu sudah menyambar-nyambar dan berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata. Agaknya raksasa brewok itu telah menggunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan serangan. Tiba-tiba, tangan kirinya bergerak dan nampak uap hitam menyambar ke arah Cun Sek!

Hal inilah yang dinanti-nantikan oleh Cun Sek. Dia tahu bahwa Hek-tok-pang merupakan perkumpulan ahli racun, karena itu tentu saja ketuanya pandai sekali memainkan senjata beracun. Maka, begitu tangan itu bergerak dan nampak uap hitam menyambar, tahulah dia bahwa lawannya sudah menyebar bubuk racun yang amat berbahaya dan yang sudah rnenewaskan lima orang wanita anggota Kim-lian-pai tadi.

Dia pun cepat-cepat mengumpulkan pernapasannya, lalu meniup ke arah asap atau uap hitam Itu. Uap hitam itu langsung membuyar dan bahkan tiga orang Kwi-san Sun-kiam-mo berloncatan menyingkir agar jangan terkena uap hitam yang menyebar. Demikian pula Ji Sun Bi yang cepat meloncat mundur ke belakang.

"Hek-tok Pangcu bukan seorang laki-laki jantan, belum apa-apa sudah mengandalkan uap beracun!" Cun Sek mengejek. Kini uap itu sudah menjauhi dirinya, terpukul dan terdorong oleh tiupan mulutnya tadi.

Raksasa brewok itu marah sekali. Goloknya mengeluarkan suara berciutan dan berubah menjadi segulung sinar yang menerjang dengan dahsyatnya ke arah Cun Sek.

Pemuda ini maklum betapa berbahayanya serangan itu, maka dia pun cepat meraba ke bawah jubahnya. Tiba-tiba saja nampak sinar emas yang mencorong dan tahu-tahu pada tangannya sudah nampak sebatang pedang yang mengeluarkan sinar emas. Itulah Hong-cu-kiam, pedang pusaka Cin-ling-pai yang bersinar emas dan yang sangat tipis sehingga dapat digulung dan disembunyikan di bawah jubah, bahkan dapat dipakai sebagai sabuk! Ketika dia mengintai di atas pohon, diam-diam dia mengambil pedang itu dari buntalannya dan memakainya sebagai sabuk, sedangkan kini buntalan pakaiannya itu dia gantungkan di atas pohon.

Melihat ini Ji Sun Bi terkejut dan kagum, akan tetapi alisnya berkerut karena dia teringat bahwa pedang itu benar-benar mirip dengan pedang Hong-cu-kiam, pedang pusaka milik Cin-ling-pai! Apa lagi ketika Cun Sek memainkan pedangnya untuk menyambut serangan golok besar dari lawannya, maka Ji Sun Bi yang tadinya kagum kini terkejut dan matanya terbelalak!

Dia adalah seorang tokoh sesat yang telah banyak pengalaman, dan dia sangat mengenal ilmu gaya Cin-ling-pai itu! Pemuda itu adalah murid Cin-ling-pai! Padahal orang-orang Cin-ling-pai adalah para pendekar yang memusuhi golongannya.

Akan tetapi kini Ji Sun Bi hanya bersikap waspada saja dan diam-diam dia memutar otak untuk mencari siasat apa yang akan dia lakukan nanti untuk menghadapi Tang Cun Sek yang mungkin sekali adalah seorang tokoh Cin-ling-pai yang termasuk musuh besarnya itu!

Dia masih ingat benar saat terjadi perang antara gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo di mana dia menjadi seorang pembantu utamanya. Dia berhadapan dengan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai dan hampir saja dia tewas di tangan gadis itu! Cin-ling-pai adalah musuh besarnya!

Akan tetapi sebelum menghadapi Cun Sek sebagai musuh, dia akan mempergunakannya lebih dahulu sebagai pembantu menghadapi pihak musuh yang menyerbu Kim-lian-san ini. Memang tidak sukar baginya untuk mengirim tanda ke puncak, minta bala bantuan. Akan tetapi dia merasa malu kepada Sim Ki Liong, ketua Kim-lian-pai kalau untuk menghadapi pengacau-pengacau itu dia harus minta bantuan sang ketua!

Tepat seperti yang diduga dan diharapkan oleh Ji Sun Bi, pedang Hong-cu-kiam di tangan Cun Sek membuat raksasa brewok itu menjadi kalang kabut dan terdesak hebat! Sesudah lewat tiga puluh jurus, Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanya sanggup menangkis saja, tanpa mampu lagi menggunakan goloknya untuk balas menyerang. Bahkan dia pun tak sempat menggunakan tangan kiri untuk melakukan serangan dengan senjata rahasianya. Begitu hebatnya gulungan sinar emas itu mendesaknya!

Akan tetapi Cun Sek memang tidak ingin membunuh ketua Hek-tok-pang ini. Dia sudah mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan Tok-sim Mo-li, dan dia pun tahu bahwa orang seperti ketua Hek-tok-pang ini bersama anak buahnya akan merupakan pembantu yang amat berguna.

"Haiiitttttt...!"

Tiba-tiba Cun Sek merubah ilmu pedangnya dan kini dia mengeluarkan sebuah jurus dari Siang-bhok Kiam-sut, ilmu pedang yang amat hebat dan langka dari Cin-ling-pai! Ilmu ini sebenarnya merupakan ilmu simpanan, dan untung bagi Cun Sek dia sempat mempelajari beberapa jurus pilihan ilmu pedang itu dari kakek Cia Kong Liang yang dulu menjanjikan bahwa kalau dia sampai dapat menjadi ketua Cin-ling-pai, barulah dia berhak mempelajari seluruh ilmu pedang ini. Namun jurus yang dikeluarkan itu sudah lebih dari cukup.

Terdengar suara nyaring ketika golok besar itu terlepas dari tangan ketua Hek-tok-pang. Cui Bhok. Ketua itu mengeluarkan seruan kaget sambil tangan kirinya memegang tangan kanan yang luka berdarah akibat tergores ujung pedang lawan hingga membentuk guratan memanjang sampai ke siku, dan lengan bajunya juga robek. Pada saat itu pula Cun Sek sudah menodongkan pedangnya ke dadanya, membuatnya tidak berdaya sama sekali!

"Nah, Pangcu, kuharap engkau mengerti bahwa di antara kita tidak ada permusuhan. Kim-lian-pai berniat baik. Memang beberapa orang anggotamu sudah tewas di tangan toanio (nyonya) ini, akan tetapi engkau sudah membalas dengan membunuh sepuluh anggota Kim-lian-pai. Berarti engkau tidak kehilangan muka dan sudah tidak ada perhitungan lagi, bukan? Sekarang, kalau engkau mau menyatakan tunduk kepada Kim-lian-pai, aku akan menganggap engkau sebagai sahabat dan tidak akan membunuhmu."

Biar pun kasar namun Cui Bhok bukan seorang yang tolol. "Baik, aku maklum bahwa aku berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih pandai. Kalau Kim-lian-pai mempunyai banyak pembantu selihai engkau, maka sudah sepatutnya bila Hek-tok-pang berlindung di bawah pengaruh dan kekuasaannya. Aku menyerah! Hayo, kalian lepaskan senjata kalian dan berlutut!"

Dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang itu melepaskan golok mereka dan semua berlutut tanda menyerah. Melihat ini, tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo menjadi marah sekali.

"Bagus kiranya Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanyalah seorang pangecut besar!" teriak Giam Sun, kemudian bersama dua orang sute-nya dia sudah mencabut senjatanya dan mereka bertiga berloncatan ke depan. "Akan tetapi kami bertiga tetap hendak menuntut balas atas kematian sute kami! Tok-sim Mo-li, majulah engkau untuk menerima kematian di tangan kami!"

Tok-sim Mo-li- Ji Sun Bi mengerling ke arah Cun Sek, lalu dengan sikap manja dan suara merdu dia berkata, "Saudara Tang Cun Sek, relakah engkau melihat aku tewas di tangan tiga orang yang hendak mengeroyokku ini?"

Cun Sek tersenyum dan melintangkan pedang Hong-cu-kiam di depan dadanya. "Jangan khawatir, nona. Aku tidak membiarkan mereka main keroyokan dan aku yakin bahwa Hek-tok Pangcu juga akan membuktikan kesungguhan tekadnya untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pai!"

Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok melihat kesempatan untuk membuat jasa yang pertama. Dia seorang yang cerdik dan tahu bahwa yang paling menguntungkan adalah kalau berpihak kepada golongan yang lebih kuat. Maka,tanpa mempedulikan luka guratan bekas pedang Cun Sek pada tangan kanannya, dia sudah menggerakkan golok besarnya yang tadi sudah dipungutnya.

"Kwi-san Su-kiam-mo terlampau sombong! Biar aku Cui Bhok mencoba sampai di mana kelihaian pedang mereka yang begitu disombongkan!"

Kwi-san Su-kiam-mo yang kini tinggal tiga orang itu maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang tangguh dan mereka harus mengadu nyawa. Mereka adalah orang-orang yang telah terlanjur memandang diri mereka sebagai orang-orang gagah, dan juga menganggap bahwa ilmu pedang mereka selama ini tidak ada tandingannya. Karena itu kematian sute mereka telah membuat mereka marah dan sakit hati sekali, karena terutama sekali hal ini menghancurkan bayangan mereka tentang ketangguhan diri mereka berempat.

Giam Sun mengeluarkan teriakan melengking, kemudian bersama adiknya dia pun sudah menggerakkan pedang menerjang ke depan. Giam Sun menyerang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, dan adiknya, Giam Kun menyerang Cun Sek, sedangkan orang ketiga, yaitu Thio Su It, menyerang ketua Hek-tok-pang. Serangan mereka langsung disambut sehingga terjadilah perkelahian yang amat hebat, seru dan mati-matian.

Sementara itu, dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang sekarang menjadi penonton. Tanpa perintah ketua, mereka tidak berani ikut-ikutan turun tangan biar pun mereka terus memusatkan perhatian kepada perkelahian antara ketua mereka dengan Thio Su It, dan mereka pun siap dengan golok di tangan untuk membantu ketua mereka apa bila mereka diperintah atau apa bila mereka melihat ketua mereka terdesak dan terancam bahaya.

Sambil melayani Giam Kun yang terus menyerangnya dengan sengit, diam-diam Cun Sek memperhatikan Ji Sun Bi yang diserang oleh orang pertama dari tiga orang jagoan itu. Dia pun memandang kagum. Wanita itu selain cantik manis, juga amat lihai dan kini wanita itu telah memainkan sepasang pedang secara amat indah.

Bagaikan menari saja dia melayani lawan yang menggunakan pedang. Sepasang pedang di tangan wanita itu menyambar-nyambar, cepat sekali hingga membentuk dua gulungan cahaya yang melingkar-Iingkar dan menutup semua jalan penyerangan lawan! Indah akan tetapi juga cepat dan mengandung tenaga yang amat kuat.

Maka legalah hati Cun Sek karena melihat sepintas lalu saja dia pun merasa yakin bahwa wanita itu tidak akan kalah menghadapai lawannya. Dia pun segera mencurahkan seluruh perhatiannya kepada lawan yang terus mendesaknya dengan serangan-serangan ampuh. Harus diakuinya bahwa lawannya memang mempunyai ilmu pedang yang sangat lihai dan berbahaya. Tidak mengherankan kalau orang-orang ini memakai julukan kiam-mo (setan pedang) karena memang ilmu pedang mereka amat berbahaya.

Namun tingkat kepandaian Giam Kun masih jauh sekali dibandingkan tingkat kepandaian Tang Cun Sek. Setelah menghadapi belasan jurus serangan lawan, Tang Cun Sek sudah dapat mengukur sampai di mana ketangguhan Giam Kun dan kini mulailah dia memutar pedang Hong-cu-kiam untuk membalas. Giam Kun langsung merasa terkejut sekali begitu dia memainkan pedangnya dengan cepat.

Kini Giam Kun merasa repot sekali menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Dia tidak mampu membalas lagi, hanya memutar pedang sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya.

Pada saat Cun Sek melirik untuk melihat keadaan Ji Sun Bi, ternyata wanita itu pun telah mendesak lawannya yang terhuyung-huyung! Cun Sek tersenyum dan dia pun tidak mau kalah. Dia harus dapat memperlihatkan kepandaiannya dan jangan sampai dia dikalahkan oleh wanita yang menarik hatinya itu. Dia pun mempercepat gerakan pedangnya.

Terdengar teriakan beruntun dan Cun Sek secepat kilat mencabut pedangnya yang tadi menancap di dada lawan, hampir berbareng dengan gerakan pedang Ji Sun Bi yang juga mencabut pedangnya dari leher lawannya. Secara berbareng mereka itu saling memutar badan dan saling pandang, keduanya tersenyum melihat bahwa perlombaan itu ternyata berakhir dengan tidak ada yang lebih cepat atau lebih lambat. Mereka merobohkan lawan pada detik yang sama.

Kini tinggallah Thio Su It yang masih bertanding melawan ketua Hek-tok-pang. Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang walau pun Hek-tok Pangcu Cui Bhok mulai berhasil mendesaknya. Melihat betapa kedua orang suheng-nya telah roboh, tentu saja Thio Su It menjadi terkejut, berduka akan tetapi juga gentar sekali. Dia maklum bahwa tak mungkin dia dapat menyelamatkan dirinya, maka dengan nekat dia lalu melawan terus. Kenekatan Thio Su It inilah yang membuat dia menjadi lawan yang tangguh.

Melihat betapa Hek-tok Pangcu bersungguh-sungguh melawan Thio Su It, hati Ji Sun Bi sudah merasa girang bukan main. Orang ini boleh dipercaya dan boleh diharapkan untuk menghadapi tokoh Cin-ling-pai itu, pikirnya. Tiba-tiba dia menggerakan tangan kirinya dan sinar halus berwarna hitam menyambar ke arah dua orang yang sedang berkelahi itu.

Thio Su It mengeluarkan seruan lirih, lantas dia terhuyung. Pada saat pula itu ujung golok di tangan Cui Bhok telah mengenai pundaknya sehingga dia pun roboh dan dalam waktu beberapa detik saja tubuhnya berubah hitam dan dia pun tewas seketika. Golok besar itu mengandung racun yang amat hebat!

Kini tiba-tiba Ji Sun Bi merubah sikapnya yang tadi tersenyum-senyum kepada Cun Sek. "Pangcu, bantu aku menangkap mata-mata ini. Dia seorang pendekar tokoh Cin-ling-pai, musuh golongan kita!"

Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok terkejut sekali, akan tetapi dia segera meloncat ke dekat Cun Sek sambil menodongkan golok besarnya dan memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya. Mereka itu segera mengepung Cun Sek, sedangkan Ji Sun Bi sendiri sudah berdiri di samping Cui Bhok, sepasang pedangnya di tangan dan dia memandang kepada Cun Sek yang terheran-heran itu dengan senyum mengejek.

"Wah, saudara Tang Cun Sek, tak perlu engkau berpura-pura lagi. Engkau seorang tokoh Cin-ling-pai, katakan apa maksudmu datang ke tempat kami ini. Apakah engkau datang sebagai mata-mata, sebagai musuh? Katakan terus terang sebelum kami turun tangan karena aku tak akan segan-segan membunuhmu sebagai seorang murid Cin-ling-pai yang selama ini menjadi musuh besar kami."

Tentu saja Tang Cun Sek terkejut bukan main melihat perubahan ini. Namun pemuda ini sangat cerdik dan sebentar saja otaknya yang bekerja cepat itu sudah dapat memaklumi keadaan, juga dia dapat menduga apa yang menyebabkan wanita cantik itu kini berbalik memusuhinya.

Tentu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini pernah bermusuhan dengan pihak Cin-ling-pai dan tadi, ketika dia mengeluarkan pedang Hong-cu-kiam lantas memainkan ilmu silat Cin-ling-pai, wanita cantik itu mengenalnya sehingga tidak mengherankan jika wanita itu kini menaruh curiga kepadanya.

Tang Cun Sek tertawa. "Ha-ha-ha-ha, ternyata Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang cantik jelita dan lihai tidak mampu mengenali sahabat dan juga masih belum terlalu cerdik sehingga tidak mampu membedakan mana kawan mana lawan, ha-ha-ha!"

Ji Sun Bi mengerutkan alisnya dan sepasang matanya yang jeli itu berkilat, akan tetapi dia masih belum tersenyum. "Tang Cun Sek, apa alasannya engkau menganggap aku tidak mengenal sahabat dan tidak cerdik?"

"Pertama, engkau masih saja mencurigaiku walau pun aku telah membantu menarik Hek-tok-pang menjadi sekutu dan membunuh tiga orang musuh yang hendak membunuhmu. Ini namanya tidak mampu mengenal sahabat! Dan ke dua, kalau benar aku ini mata-mata Cin-ling-pai dan hendak memusuhimu, bukankah tadi aku memiliki kesempatan yang baik sekali dengan membantu mereka mengeroyokmu? Apa kau kira akan mampu menandingi kami kalau aku tadi membantu mereka? Nah, bukankah itu menunjukkan bahwa engkau kurang cerdik dan salah menilai orang?"

Kini Ji Sun Bi tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia lantas menoleh kepada Hek-tok Pangcu Cui Bhok dan berkata lembut, "Pangcu, mundurlah dan kita harus dapat percaya keterangannya itu." KetuaHek-tok-pang itu pun mengangguk-angguk dan memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya untuk mundur.

Ji Sun Bi lalu menghampiri Cun Sek. Sejenak mereka saling berpandangan dan keduanya saling kagum. "Tang Cun Sek, keteranganmu tadi memang dapat kami terima, akan tetapi untuk lebih meyakinkan hati kami sebelum engkau kami hadapkan kepada Pangcu kami, terlebih dahulu ceritakanlah mengapa engkau yang mempunyai ilmu silat Cin-ling-pai dan memegang pedang pusaka Cin-ling-pai, tiba-tiba saja kini berpihak kepada kami!"

Sebetulnya Cun Sek segan menceritakan riwayatnya, akan tetapi ia maklum bahwa kerja sama dengan orang-orang seperti mereka itu adalah suatu keuntungan baginya, terutama sekali akan memudahkan dia dalam mencari serta menemukan ayah kandungnya, yaitu Ang-hong-cu! Apa lagi yang berada di situ hanyalah Ji Sun Bi dan Cui Bhok, sedangkan para anak buah Hek-tok-pang sudah disuruh menjauhkan diri.

Dengan singkat namun jelas dia kemudian menceritakan betapa semenjak kecil dia sudah mempelajari ilmu silat dan setelah dewasa dia ingin menambah pengetahuannya dengan masuk menjadi anggota Cin-ling-pai.

"Hanya beberapa tahun saja aku menjadi anggota Cin-ling-pai, tetapi aku beruntung dapat mempelajari ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai dari ketua lamanya. Akan tetapi aku gagal menjadi ketua baru, lalu aku melarikan diri dari Cin-ling-pai sambil membawa Hong-cu-kiam yang dihadiahkan ketua lama Cia Kong Liang kepadaku." Tentu saja bagian terakhir ceritanya itu adalah kebohongan sebab pedang pusaka itu bukan hadiah pemberian melainkan hasil pencurian!

Ji Sun Bi minta kepada ketua Hek-tok-pang untuk memerintahkan anak buahnya supaya menguburkan jenazah sepuluh orang anggota Kim-lian-pang yang tewas keracunan dan membersihkan kembali tempat yang tadi mereka taburi racun. Setelah itu, maka Ji Sun Bi menjadi petunjuk jalan dan mereka pun naik ke puncak Kim-lian-san.

Dalam perjalanan ini barulah orang-orang Hek-tok-pang melihat betapa besar bahayanya jika mereka menyerbu ke atas. Perjalanan itu mengandung banyak sekali tempat rahasia, jebakan-jebakan yang mengerikan. Tanpa petunjuk jalan, sebelum tiba di puncak mereka semua tentu akan menjadi korban perangkap yang banyak dipasang di sepanjang jalan menuju ke puncak.

Bahkan Hek-tok Pang-cu Cui Bhok sendiri bergidik dan diam-diam dia girang bahwa dia sudah dikalahkan oleh Tang Cun Sek sehingga dia menakluk. Apa lagi sesudah nampak banyak anggota Kim-lian-pang yang mulai menyambut, berdiri berjajar di sepanjang jalan, laki-laki dan wanita-wanita yang semuanya berwajah tampan dan cantik, bersikap gagah dan jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang.

Kemudian barulah dia tahu bahwa seluruh anggota Kim-lian-pang berjumlah seratus orang lebih, sebagian ada yang bertugas di bawah gunung dan tersebar ke kota-kota dan dusun-dusun sekitar daerah itu, bertugas sebagai mata-mata.

Baik Cui Bhok mau pun Tang Cun Sek merasa heran dan kagum sekali ketika mereka diajak oleh Ji Sun Bi menghadap orang yang disebut pangcu atau ketua dari perkumpulan Kim-lian-pang. Sama sekali mereka tak pernah membayangkan bahwa pangcu itu kiranya hanyalah seorang pemuda yang masih sangat muda, tidak akan lebih dari dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun saja usianya! Cun Sek memperhatikan orang yang menerima kedatangan mereka dengan berdiri dari tempat duduknya dan yang mengamati mereka dengan pandang mata tajam menyelidik itu.

Dia adalah seorang pria muda yang bertubuh sedang, gerak-geriknya halus dan sopan, pakaiannya seperti seorang terpelajar, wajahnya tampan dan kedua matanya mencorong penuh wibawa!

Ji Sun Bi segera memperkenalkan dua orang tamu itu sesudah memberi bisikan kepada Cui Bhok untuk memerintahkan anak buahnya yang ikut memasuki ruangan luas itu agar berlutut semua. Sambil tersenyum Ji Sun Bi mendekati ketua Kim-lian-pang yang menjadi rekan, kekasih, juga ketuanya itu dan dia sendiri menjabat wakil ketua.

"Pangcu, dia adalah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kini sudah menakluk kepada kita dan membawa dua puluh empat orang anak buahnya menakluk dan siap untuk bekerja sama dengan kita."

Orang muda tampan itu memandang kepada Cui Bhok dengan sinar mata penuh selidik, alisnya berkerut dan dia berkata dengan halus, "Hemm... , aku mendengar bahwa sepuluh orang anak buah kita tewas karena racun yang disebarkan mereka?"

Diam-diam Tang Cun Sek merasa kagum. Kiranya peristiwa di lereng tadi telah diketahui oleh ketua ini, tentu ada mata-mata yang lebih dahulu melapor ke atas sebelum mereka tiba di situ.

"Benar, mereka tewas karena kurang waspada," jawab Ji Sun Bi.

Walau pun bagi Cui Bhok keadaan ketua Kim-lian-pang itu kurang menyakinkan, hanya seorang pemuda yang nampaknya tidak begitu hebat, namun mengingat bahwa pemuda itu adalah ketua Kim-lian-pang dan Tok-sim Mo-li yang demikian lihainya hanya menjadi pembantunya, dia pun tidak berani memandang rendah.

"Saya Hek-tok Pangcu Cui Bhok menghadap pangcu dari Kim-lian-pang dan menyatakan bersedia untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pang!" katanya sambil memberi hormat.

"Hemmm...!" Kim-lian Pangcu Sim Ki Liong tersenyum dingin, namun suaranya terdengar halus saat dia berkata kepada Cui Bhok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya brewok menyeramkan itu. "Hek-tok Pangcu, janji penyerahan diri dan kerja sama membutuhkan kesetiaan dan kesetiaan harus dibuktikan. Anak buahmu telah membunuh sepuluh orang anak buah Kim-lian-pang, padahal enci Ji Sun Bi hanya membunuh tujuh orang anak buah Hek-to-pang. Dengan demikian, Hek-to-pang masih berhutang tiga nyawa terhadap Kim-lian-pang. Nah, apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan kesetiaanmu?"

Mendengar pertanyaan ini, wajah yang kasar penuh brewok itu berubah menjadi pucat, lalu merah padam dan matanya terbelalak. Cui Bhok paham apa yang dimaksudkan ketua Kim-lian-pang yang masih sangat muda itu dan dia merasa penasaran. Bagaimana pun juga, kalau ketuanya hanya seorang pemuda ingusan seperti ini, dia harus melihat bukti dulu bahwa ketua yang amat muda ini memang pantas untuk menjadi atasannya sebelum dia melaksanakan segala perintahnya. Dia pun tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, sungguh tuntutan yang wajar dari seorang ketua besar sebuah perkumpulan yang besar pula! Akan tetapi, Pangcu, bagaimana pun juga, saya juga harus melihat bukti bahwa Pangcu adalah orang yang pantas untuk saya taati. Mohon petunjuk!" katanya dan pria tinggi besar ini segera memasang kuda-kuda.

Dia tidak mencabut senjata karena dia maklum bahwa dia berada di sarang harimau dan kedudukannya amat berbahaya. Dia hanya ingin menguji kelihaian ketua yang amat muda itu, lain tidak. Dia sama sekali tak ingin menentang karena dia sudah takluk kepada orang muda yang membantu Tok-sim Mo-li tadi.

Mendengar ucapan ketua Hek-tok-pang itu, Sim Ki Liong tersenyum dan wajahnya yang tampan itu nampak cerdik dan licik sekali. Tang Cun Sek memandang dengan hati tegang akan tetapi juga gembira. Ketua yang masih amat muda itu tadi hanya memandang acuh saja kepadanya, dan kini ketua itu ditantang atau diuji oleh Cui Bhok. Suatu kesempatan baik baginya untuk melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketua ini.

Dia sudah mengukur kepandaian Cui Bhok, dan dari perlawanan ketua itu terhadap Cui Bhok, dia akan dapat mengukur sampai di mana kelihaiannya. Kalau melihat betapa Tok-sim Mo-li, yang tadi dia lihat pula kehebatannya, hanya menjadi pembantu ketua Kim-lian-pang, maka dapat diduga bahwa kepandaian ketua yang masih amat muda ini tentu hebat bukan main.

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 10

Kedatangan Tang Gun di kota Yu-sian dilakukan secara diam-diam. Bagaimana pun juga dia tidak berani secara terang-terangan memperlihatkan diri kepada umum pada saat dia mengunjungi kekasihnya, yaitu Hwee Lan dan A Sui yang kini sudah membuka sebuah toko kain di kota itu. Dia datang pada malam hari, melalui genteng rumah seperti seorang pencuri! Akan tetapi kedatangannya itu langsung disambut dengan mesra dan manis oleh Hwee Lan dan A Sui yang sudah merasa rindu sekali kepada pria ini.

Tetapi kemesraan itu diliputi mendung. Tang Gun yang juga merasa rindu kepada mereka, nampak diam dan murung. Tentu saja hal ini membikin dua orang wanita itu menjadi amat khawatir.

"Koko, apakah yang menyebabkan engkau terlihat murung dan tidak senang?" Hwee Lan merangkul dan duduk di atas pangkuan kekasihnya. Tang Gun menghela napas.

"Aku telah membunuh dayang A Cui..."

"A Cui....?!" A Sui terkejut sekali mendengar bahwa kekasih majikannya, juga kekasihnya sendiri itu, telah membunuh A Cui, seorang dayang istana yang menjadi sahabat baiknya.

"Membunuh A Cui? Mengapa...?" Hwee Lan juga berseru kaget dan dia segera turun dari atas pangkuan kekasihnya, akan tetapi masih merangkulnya dan mengamati wajah yang tampan itu dengan khawatir .

"Dia telah mengetahui rahasia kita, dan dia memerasku untuk melayaninya. Sebab itu aku lalu membunuhnya." Diceritakannya peristiwa dalam taman itu kepada dua orang wanita yang mendengarkan dengan wajah berubah pucat.

"Dan apa bila A Cui sampai mengetahui rahasia kita itu, sudah pasti bahwa salah seorang di antara kalian yang sudah membocorkannya dan menceritakannya kepada A Cui. Hayo, siapa yang telah bicara dengan A Cui? Mengaku saja!"

Hwee Lan memandang kekasihnya yang sudah bangkit berdiri itu dengan mata terbelalak, lantas dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sama sekali tak pernah bicara tentang hubungan kita kepada siapa pun juga. Aku cukup mengetahui betapa berbahayanya kalau hal itu kulakukan. Akan tetapi A Sui...! Engkau..., tentu engkau yang telah bicara dengan A Cui, bukan? Aku tahu bahwa engkau adalah sahabat karib A Cui!" Bekas selir kaisar yang cantik jelita itu kini memandang kepada pelayannya.

Wajah A Sui menjadi semakin pucat. Ia menundukkan mukanya, kemudian dia berlutut di atas lantai dan menangis. "Ampun... saya kira... hal itu tidak ada bahayanya karena dia... dia adalah seorang sahabat baik yang biasanya setia... dan..."

"Goblok! Engkau lancang mulut!" Tang Gun dengan marah segera menggerakkan kakinya menendang.

"Bukkk!" Tubuh selir yang mungil itu terlempar dan menabrak dinding lalu terbanting jatuh. Dia menangis dan pipinya yang tertabrak dinding membiru, juga mulutnya berdarah.

"Kau... kau akan membikin celaka kita semua!" Tang Gun membentak lagi dan perasaan marahnya masih berkobar.

"Ampun... ampunkan saya..."

Bekas dayang itu merintih ketakutan. Sebelum Tang Gun kembali turun tangan menghajar atau mungkin membunuh bekas dayang yang menjadi kekasihnya itu, mendadak nampak bayangan berkelebat dibarengi suara seorang laki-laki,

"Tang Gun, apakah engkau hendak membunuh pula wanita ini seperti engkau membunuh dayang A Cui?"

Tentu saja tiga orang itu amat terkejut, terutama sekali Tang Gun. Dia cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata di ruangan itu sudah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali. Seorang pria yang usianya sudah lima puluh lima tahun, pakaiannya sangat rapi, tubuhnya sedang dan setua itu masih nampak tampan menarik. Melihat bahwa pria itu hanya orang biasa saja, tidak membawa senjata, Tang Gun bersikap garang.

Sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah muka pria itu, dia membentak lantang, "Heh, siapakah engkau yang datang memasuki rumah kami tanpa diundang?" Walau pun suara dan sikapnya garang, akan tetapi hatinya berdebar tegang mendengar betapa pria ini telah tahu akan rahasianya yang ke dua, yaitu membunuh A Cui!

Pria setengah tua itu tersenyum mengejek dan kedua matanya mengeluarkan sinar tajam. "Aku adalah utusan kaisar yang datang untuk menangkap kalian bertiga lantas membawa kalian kembali ke istana!"

Wajah Tang Gun seketika pucat mendengar ucapan ini. Akan tetapi, melihat betapa orang itu hanya seorang diri saja dan tidak bersenjata, maka dia pun menjadi nekat. Dia harus membunuh orang ini apa bila ingin selamat. Secepat kilat dia sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya ke arah dada orang itu.

"Singggg...!"

Pedang berdesing saking cepat gerakannya, tapi hanya meluncur lewat karena orang itu sudah dapat mengelak dengan amat mudahnya. Akan tetapi, dengan lompatan ke kanan Tang Gun sudah cepat membalikkan tubuh, kemudian pedangnya menyambar ganas, kini membacok ke arah leher dan gerakan pedang ini segera disusul dengan tendangan kaki kirinya ke arah bawah pusar lawan.

Serangan ini sangat hebat karena Tang Gun sudah memainkan jurus Li-kong Sia-ciok (Li Kong Memanah Batu), gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga yang dahsyat. Namun ternyata lawannya adalah seorang yang lihai sekali. Dia tak pernah mimpi bahwa lawannya ini adalah orang yang dicari-carinya semenjak dia kecil, yaitu ayah kandungnya sendiri yang berjuluk Ang-hong-cu!

Ang-hong-cu Tang Bun An menghadapi serangan dahsyat itu dengan sangat tenang. Dia melangkah mundur sehingga bacokan tidak mengenai lehernya, dan ketika tendangan itu menyambar lewat, tangannya cepat bergerak menyentuh bawah kaki kemudian sekali dia menggerakkan tenaga ke arah tumit itu, tubuh Tang Gun lantas terlempar dan terjengkang ke belakang!

"Brukkk!"

Tubuh Tang Gun terbanting, akan tetapi orang muda inl sudah cepat meloncat bangun lagi dan menyerang lebih ganas. Dia kini dapat mengerti bahwa lawannya sangat pandai, maka dia menjadi nekat. Dia harus dapat mengalahkan orang itu, atau dia akan celaka!

Pedangnya lantas menyambar-nyambar, berubah menjadi cahaya yang bergulung-gulung, yang menyambar-nyambar bagaikan maut kelaparan mencari nyawa. Namun tingkat ilmu kepandaian silat yang dikuasai Tang Gun jauh berada di bawah tingkat Ang-hong-cu yang di samping ilmunya tinggi, juga sudah memiliki pengalaman luas, maka semua sambaran pedangnya tidak pernah mengenai sasaran.

Kalau Si Kumbang Merah itu menghendaki, bahkan dalam beberapa jurus saja Tang Gun tentu sudah roboh dan dikalahkan. Akan tetapi, mengingat bahwa perwira muda ini adalah puteranya sendiri seperti yang sudah diakui oleh Tang Gun dan yang dipercayanya pula, agaknya Si Kumbang Merah hendak menguji sampai di mana ketangguhan pemuda yang mengaku sebagai anaknya itu.

Setelah puas mempermainkan Tang Gun dengan elakan-elakan yang membuat tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara cahaya pedang, tiba-tiba saja Si Kumbang Merah mengeluarkan seruan nyaring.

"Heiiiittttt...!"

Kedua tangannya bergerak, yang kiri menotok ke arah siku kanan lawan dan yang kanan mencengkeram pundak, dan di lain saat tubuh Tang Gun sudah menjadi lemas kemudian pedangnya dengan mudah berpindah tangan! Si Kumbang Merah cepat menyusul dengan totokan ke arah jalan darah thian-hu-hiat, maka tubuh perwira itu pun terkulai lemas tidak mampu bergerak lagi!

Dua orang wanita itu menjadi ketakutan sampai hampir terkencing-kencing. Akan tetapi Si Kumbang Merah tersenyum ramah dan berkata kepada mereka,

"Hayo kalian berdua ikut bersamaku. Kereta sudah menunggu di luar. Jangan sampai aku harus mempergunakan kekerasan terhadap kalian dua orang nona manis!"

Hwee Lan dan A Sui tak berani membantah pula biar pun mereka ketakutan dan maklum bahwa mala petaka menanti mereka. Ang-hong-cu menarik tubuh Tang Gun bangun, lalu memapahnya keluar sambil menggiring dua orang wanita itu yang berjalan dengan tubuh menggigil ketakutan. Ternyata di luar sudah tersedia sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda! Ang-hong-cu yang membayangi Tang Gun dan mengetahui tempat persembunyian perwira dengan dua orang kekasihnya itu telah mempersiapkan kereta untuk memboyong para tawanan itu kembali ke kota raja!

Setelah ketiga orang itu berada di dalam kereta, Tang Gun tertotok lemas dan dua orang wanita itu menangis lirih, Ang-hong-cu segera melarikan keretanya menuju ke kota raja. Penangkapan terhadap ketiga orang itu merupakan peristiwa yang aneh karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya!

Dua orang wanita itu pun merasa tak berdaya, hanya mampu menangis ketakutan karena mereka dapat membayangkan bahwa mereka pasti akan menerima hukuman. Orang yang mereka percaya kini telah duduk setengah rebah di dalam kereta, tak dapat bergerak lagi dan hanya mampu memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata putus asa dan ketakutan.

********************

"Cepat laksanakan penangkapan itu kalau benar engkau mampu melakukannya! Selama ini, seluruh pasukan pengawal tidak mampu menangkap dua orang perempuan itu. Sebab itu Tang Bun An, jika engkau melanggar janji kesanggupanmu dan mengecewakan kami, jika engkau gagal melakukan penangkapan, maka kami akan memberikan hukuman berat! Sebaliknya, kalau engkau berhasil memenuhi janji, yaitu dalam waktu sehari akan mampu menghadapkan dua orang wanita itu dan biang keladinya yang membuat mereka minggat dari istana, maka kami akan mengangkatmu menjadi kepala seluruh pasukan pengawal, baik yang di dalam mau pun yang di luar istana!" Demikianlah kata kaisar ketika Tang Bun An diperkenankan menghadapnya.

Tang Bun An menyatakan kesanggupannya untuk menangkap serta menyeret dua orang wanita, yaitu selir Hwee Lan dan dayang A Sui, kembali ke istana dalam waktu satu hari saja. Bahkan juga dia bersedia menangkap orang yang telah melarikan dua orang wanita itu dari dalam istana.

Mendengar ini, tentu saja semua pengawal menjadi terkejut dan heran sekali. Bagaimana mungkin orang setengah tua ini akan mampu menangkap buronan itu dalam waktu sehari saja, pada hal para pengawal yang pandai telah gagal sama sekali?

Tentu saja hal itu tidaklah terlalu mengherankan kalau saja mereka ketahui bahwa ketika Tang Bun An menghadap kaisar, tiga orang itu sudah menjadi tawanannya dan sekarang dia sembunyikan dalam sebuah kuil tua di dalam hutan sebelah utara kota raja!

Dengan sikap hormat dan gagah Tang Bun An segera menolak ketika kaisar menawarkan bantuan pasukan pengawal. Dia pun berangkat dan tepat pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah kembali ke istana membawa tiga orang tawanan itu yang telah dibelenggu kedua tangan mereka dan dirantai kaki mereka.

Semua orang tentu saja menjadi bengong dan terkejut sekali melihat bahwa komandan pengawal muda itu menjadi tawanan, apa lagi pada saat mereka mendengar bahwa yang melarikan Hwee Lan dan A Sui adalah Tang Gun, perwira pengawal yang amat dipercaya oleh kaisar. Gegerlah seluruh penghuni istana mendengar bahwa Tang Gun tidak hanya melarikan selir dan dayangnya itu, akan tetapi juga dia yang telah membunuh A Cui yang disangka mati membunuh diri di Pondok Sarang Madu.

Kaisar sendiri tentu saja menjadi marah bukan kepalang. Dengan muka merah dan mata melotot dia mendengarkan pengakuan ketiga orang tawanan itu, kemudian dengan suara lantang kaisar menjatuhkan hukumannya. Hwee Lan dan A Sui dijatuhi hukuman menjadi nikouw (pendeta wanita), harus mencukur gundul rambut mereka dan selanjutnya mereka diharuskan menjadi nikouw, hidup di kuil untuk menebus dosa selama hidup mereka. Ada pun Tang Gun, karena mengingat akan jasa-jasanya yang pernah dilakukannya terhadap kaisar, perwira pengawal ini dihukum buang sesudah menerima cambukan sebanyak lima puluh kali!

Tentu saja Tang Bun An menerima hadiah seperti yang dijanjikan kaisar. Dia kemudian diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pengawal! Suatu kedudukan yang tinggi!

Akan tetapi tentu saja kedudukan itu tidak diterimanya dengan begitu mulus dan mudah. Seorang di antara para menteri, yaitu menteri bagian keamanan, segera memperingatkan kaisar bahwa semestinya dalam menerima seseorang untuk menjadi komandan pasukan pengawal istana tidak dilakukan semudah itu,

"Ampun, Sribaginda, memang sudah ada bukti akan kesetiaan dan jasa dari Tang Bun An sehingga sudah sepantasnya bila dia menerima anugerah dari paduka. Akan tetapi, akan lebih bijaksana kiranya kalau dia diuji lebih dulu. Bagaimana pun juga, tingkat kepandaian seorang komandan seharusnya lebih tinggi dari pada tingkat semua perwira pasukan itu sehingga takkan menimbulkan perasaan iri di antara para prajurit mau pun perwira! Juga hal ini akan mempertebal ketaatan seluruh anak buah terhadap komandannya," demikian antara lain menteri itu mengemukakan pendapatnya.

Kaisar dapat menerima pendapat ini dan demikianlah, sebelum menerima pengangkatan dirinya sebagai seorang panglima, kepala seluruh pasukan pengawal istana, Tang Bun An diharuskan melewati ujian. Pengujinya adalah seseorang yang sangat disegani di seluruh pasukan pengawal, yaitu Coa-ciangkun (Panglima Coa) yang tadinya menjabat sebagai kepala pasukan pengawal tetapi kini harus menjadi orang ke dua setelah Tang Bun An!

Coa Ciangkun ini terkenal memiliki tenaga gajah dan juga ilmu silatnya tinggi, maka boleh dibilang dia adalah jagoan istana nomor satu yang selama ini sukar dicari tandingannya! Dia baru berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar menyeramkan.

Kaisar sendiri langsung tertarik ketika melihat sikap Tang Bun An yang sedikit pun tidak menyatakan ketakutan ketika dikabarkan bahwa dia akan diuji oleh Coa Ciangkun yang terkenal itu. Oleh karena itu kaisar berkenan hendak menyaksikan sendiri ujian atau adu kepandaian itu.

Mendengar bahwa kaisar sendiri hendak menyaksikan, legalah hati Tang Bun An. Kalau junjungan itu menyaksikan sendiri, sudah pasti perwira Coa itu tak akan berani melakukan kecurangan dan tentu adu kepandaian itu akan berlangsung dengan jujur dan adil. Hal ini melegakan hatinya yang tadinya merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau nantinya dia akan dicurangi oleh para pembesar istana yang tentu merasa iri hati kepadanya. Dan dia pun maklum betapa lihainya para jago istana sehingga kalau sampai dia dikeroyok, hal itu akan berbahaya juga baginya.

Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, sebuah lian-bu-thia (ruang berlatih silat) telah dipersiapkan dan kaisar sudah hadir bersama beberapa orang selir dan dayang yang suka akan ilmu silat. Juga para pembesar militer hadir untuk menilai hasil ujian itu.

Sesudah memberi hormat dengan berlutut di hadapan kaisar, Tang Bun An dan lawannya menuju ke tengah ruangan. Tang Bun An kemudian memandang kepada calon lawan itu dengan penuh perhatian.

Seorang raksasa berusia empat puluh tahun yang biar pun tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya keihatan gesit. Seorang lawan yang tangguh, pikirnya, akan tetapi sedikit pun dia tidak merasa gentar. Dia percaya kepada kemampuan dirinya.

Sekelebatan saja dia tahu bahwa dalam menghadapi lawan seperti itu, amat bodoh kalau dia harus mengadu tenaga. Jelas bahwa orang itu memiliki tenaga yang sangat kuat, baik tenaga otot mau pun tenaga dalam. Karena itu, satu-satunya cara untuk menghadapinya hanyalah mengandalkan kecepatan dan dia merasa yakin akan bisa mengatasi lawannya dalam hal kecepatan. Memang dia terkenal sebagai seorang ahli ginkang yang hebat, dan karena mengandalkan ginkang-nya inilah maka selama puluhan tahun ini tidak ada yang mampu menangkap Ang-hong-cu!

Pertandingan ujian itu akan segera dimulai. Untuk mentaati perintah kaisar yang khawatir kalau dua orang yang sangat berguna baginya itu mengalami cidera, maka pertandingan dilakukan dengan tangan kosong.

Begitu mereka bergebrak dan saling serang, tahulah Si Kumbang Merah bahwa lawannya memang amat tangguh dan mempunyai ilmu silat yang pada dasarnya adalah aliran silat Siauw-lim-pai namun gerakannya telah bercampur dengan silat dari utara dan barat. Akan tetapi, yang amat merepotkannya adalah kekuatan yang dahsyat dari lawan itu.

Meski pun dia sendiri memiliki sinkang yang kuat, namun setelah beberapa kali mencoba tenaga lawan dan mengadu tenaga, lengannya terasa agak nyeri karena dia kalah muda sehingga tulang-nya juga kalah kuat! Sebab itu mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An mempergunakan kecerdikannya.

Tubuhnya berkelebatan amat cepatnya dan benar seperti dugaannya. Biar pun si raksasa itu juga memiliki gerakan yang cepat, tetapi masih jauh kalah cepat jika dibandingkan dia. Coa Ciangkun mulai merasa pening karena lawannya lenyap, berubah menjadi bayangan yang terus berkelebatan di sekeliling dirinya! Lawannya itu seperti seekor kumbang yang beterbangan mengitarinya, membuat Coa Ciangkun kini terdesak dan repot sekali.

Setelah lewat lima puluh jurus dan membuat lawan benar-benar pening, dengan kecepatan kilat ketika tubuhnya berkelebat di belakang lawan, Tang Bun An mempergunakan ujung kakinya menendang cepat mengarah tekukan lutut kedua kaki Coa-ciangkun. Tidak keras tendangan itu, akan tetapi karena yang ditendang adalah bagian yang lemah, maka tanpa dapat dipertahankan lagi, kedua kaki perwira raksasa itu pun tertekuk dan dia berlutut!

Tang Bun An yang cerdik tidak ingin menambah musuh, maka cepat dia menjura kepada perwira itu sambil berkata, "Ciangkun, engkau sungguh hebat, maafkan aku."

Perwira Coa bangkit berdiri lantas balas menjura. Hatinya kagum sekali. Orang ini sangat lihai, pikirnya, akan tetapi pandai pula merendahkan diri. Meski pun dia tadi kalah, namun lawannya sengaja tidak membikin malu padanya. Dia tahu bahwa kalau lawan yang amat lihai itu menghendaki, dia dapat dikalahkan dalam cara yang lebih keras lagi.

Kaisar merasa puas dan para pembesar militer juga menyatakan kekaguman mereka. Semua orang tahu belaka bahwa pria setengah tua yang masih ganteng dan simpatik itu memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan boleh diharapkan menjadi komandan pengawal yang dapat dipercaya.

Mulai hari ini resmilah Tang Bun An menjadi Tang-ciangkun, dan kedudukannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada Tang Gun. Lalu bagaimana dengan nasib Tang Gun? Bagi dua orang kekasihnya sudah jelas. Hari itu juga mereka digunduli dan diserahkan kepada para nikouw pengurus kuil, dan dua orang wanita muda itu dipaksa menjadi nikouw, setiap hari kerjanya hanya berdoa dan mempelajari kitab-kitab agama untuk menebus dosa mereka!

Ada pun Tang Gun sendiri, dengan punggung yang masih penuh babak belur serta terasa perih, lehernya dikalungi papan berlubang dan dikawal oleh dua orang petugas penjara, dibawa keluar dari kota raja dalam perjalanannya ke tempat pembuangan, jauh ke utara di mana terdapat tempat pembuangan dan di sana para terhukum itu dijadikan pekerja rodi, memperbaiki dinding dari Tembok Besar yang rusak, melayani pasukan penjaga dan lain-lain pekerjaan kasar, sampai mereka itu mati atau habis masa hukumannya.

Sesudah Tang Gun dikawal dua orang petugas penjara keluar dari kota raja, pada malam harinya Tang Bun An merasa gelisah di dalam kamarnya. Ia terkenang kepada Tang Gun, teringat akan percakapan antara Tang Gun dan Hwee Lan di dalam kuil sebelum mereka dia serahkan kepada kaisar. Dua orang itu bertangisan dan dalam keluh kesahnya itulah dia mendengar Tang Gun berkata dengan suara penuh duka.

"Aih, aku telah melupakan pesan ibuku, dan seperti juga ibuku, aku menjadi korban nafsu. Ibuku pernah bercerita bahwa karena terbuai oleh nafsu, dahulu ibuku telah menyerahkan diri kepada seorang pria. Ibuku mengandung dan pria itu pergi begitu saja. Ibu melahirkan aku lantas hidup merana dan itu semua adalah korban nafsu yang hanya beberapa waktu saja! Aku lupa akan pengalaman ibu, dan aku pun sudah tergoda oleh nafsu sehingga kita melakukan hubungan dan sekarang akibatnya sungguh pahit, sama sekali tidak sepadan dengan kesenangan sejenak yang kita nikmati..."

"Akan tetapi, koko. Kita saling mencinta... ," bantah Hwee Lan.

"Hemm, benarkah hal itu? Apa bila kita saling mencinta, tentu kita tidak akan melakukan hubungan yang akibatnya hanyalah mencelakakan kita sendiri. Kita saling mencelakakan. Yang mendorong hubungan kita bukanlah cinta, tapi nafsu birahi! Peringatan ibu sungguh tepat. Kita harus senantiasa waspada terhadap nafsu kita sendiri karena nafsu kita yang akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan. Apa bila kita lengah, nafsu akan menerkam kita. Untuk kenikmatan yang hanya beberapa saat kita rasakan, mungkin akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan selama hidup!"

Pemuda itu menangis dan merintih-rintih memanggil ibunya! Itulah yang selalu mengiang di dalam telinga Si Kumbang Merah pada malam hari itu. Dia sendiri tidak tahu siapa ibu pemuda itu, namun dia percaya bahwa Tang Gun adalah puteranya. Sudah terlalu banyak wanita dia permainkan sehingga dia tidak ingat lagi, wanita yang mana yang menjadi ibu pemuda itu! Dan dia pun tidak mempunyai hasrat untuk mengetahuinya.

Namun betapa pun juga Tang Gun adalah anak kandungnya! Dia tidak memiliki rasa cinta terhadap pemuda itu, akan tetapi, mengingat bahwa Tang Gun tidak bersalah kepadanya, dan juga tidak mengecewakan menjadi puteranya, pandai menjatuhkan hati wanita, maka hatinya merasa tidak tega.

Demikianlah, pada keesokan harinya ketika Tang Gun dan dua orang pengawalnya tiba di jalan sunyi di lereng sebuah bukit, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam pula. Tanpa banyak cakap, si kedok hitam ini menyerang dua orang pengawal itu.

Mereka mencabut golok lalu melakukan perlawanan. Namun percuma saja, hanya dalam beberapa jurus keduanya sudah terjungkal tewas dan si kedok hitam lantas menendangi mayat mereka sampai terlempar ke dalam jurang yang sangat dalam. Sesudah itu, masih tanpa bicara, si kedok hitam membikin pecah "Pang' (alat papan berlubang mengalungi leher), mematahkan semua rantai, kemudian menyerahkan sebuah buntalan kain kuning kepada Tang Gun. Buntalan kain itu ternyata berisi uang emas!

Tang Gun terheran-heran namun si kedok hitam meloncat pergi. Pemuda itu hanya dapat berteriak, "Kedok hitam, aku Tang Gun tidak akan melupakan pertolonganmu ini selama hidupku!"

Si Kedok Hitam itu tentu saja bukan lain adalah Si Kumbang Merah Tang Bun An. Setelah menolong dan membebaskan putera kandungnya serta memberi emas yang cukup untuk bekal hidup pemuda itu, dia lalu kembali ke kota raja dan hatinya merasa lega dan puas.

Tang Gun adalah anak keturunannya yang patut dibanggakan! Hanya sayang ilmu silatnya tak begitu tinggi, tidak seperti Hay Hay atau Tang Hay itu. Begitu teringat akan Tang Hay, diam-diam Si Kumbang Merah bergidik.

Anak itu sungguh luar biasa. Amat lihai dan memiliki ilmu sihir yang mengerikan pula. Dan timbul kekhawatiran di dalam hatinya bahwa anak kandungnya yang satu itu sekali waktu akan dapat menemukannya! Apakah dia akan sanggup menandingi anaknya itu? Apakah dia akan mampu menyelamatkan dirinya?

"Aku tidak perlu takut!" Akhirnya dia mengeluh.

Bukankah tidak seorang pun di antara mereka, termasuk Tang Hay sendiri, mengetahui bahwa dia kini sudah menjadi seorang panglima di istana? Panglima, komandan seluruh pasukan pengawal yang amat kuat! Maka, apa artinya musuh-musuh dari golongan para pendekar itu? Dalam kedudukannya sekarang, mereka takkan mampu berbuat sesuatu!

Sejak itu mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An menikmati kehidupannya yang baru. Seorang panglima yang ditakuti dan disegani, yang memiliki kekuasaan di istana, luar dan dalam. Dialah yang mengatur semua penjagaan, dia pula yang bertanggung jawab akan keamanan dan keselamatan istana, akan keamanan dan keselamatan kaisar sekeluarga!

Dia berkedudukan tinggi serta terhormat, juga hidup dalam kemewahan. Sebentar saja di dalam gedungnya yang megah telah dimeriahkan dengan adanya belasan orang pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik. Bahkan karena pengalamannya dalam urusan wanita, Si Kumbang Merah memilih gadis-gadis yang cantik dengan segala macam sifat dan pembawaan, ada sesuatu yang khas dan menjadi daya tarik bagi setiap para pelayan itu. Dia memilih dengan amat teliti sehingga sebentar saja para pejabat tinggi di kota raja mendengar atau melihat sendiri bahwa panglima baru ini mempunyai gadis-gadis pelayan yang hebat, yang tidak kalah dibandingkan dengan para dayang di istana kaisar!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Apakah Si Kumbang Merah Tang Bun An sudah merasakan bahagia di dalam hidupnya? Apakah dia sekarang sudah merasa puas dengan keadaan hidupnya yang baru, di mana dia bergelimang dengan kehormatan, kekayaan dan kemuliaan?

Orang-orang menghormatinya, rumahnya besar dan dilayani pelayan-pelayan wanita yang muda-muda lagi cantik, dijaga pasukan pengawal dan hidup sebagai seorang pembesar yang otomatis menjadi bangsawan yang kaya raya. Apakah hidupnya bahagia? Memang senang, namun kesenangan bukanlah kebahagiaan.

Kesenangan hanyalah merupakan keadaan sepintas saja, selewat saja, bahkan ada pula kesenangan yang umurnya amat pendek. Setelah saat senang itu lewat, maka muncullah kebosanan dan kekecewaan. Kesenangan hanya sekedar pemuasan nafsu keinginan dan sesudah tercapai, maka kepuasan itu pun ternyata hanya sekelumit saja dan baru terasa bahwa apa yang dicapainya itu, kesenangan yang diidamkan itu, tidaklah sebesar ketika dikejarnya.

Kesenangan adalah muka yang lain dari kesusahan, ada suka tentu ada duka, ada puas tentu ada kecewa. Kesenangan hanyalah merupakan permainan perasaan yang dikuasai oleh nafsu. Sedangkan kebahagiaan bukanlah keadaan badan, melainkan keadaan jiwa! Keadaan jiwa yang bebas dari pada cengkraman nafsu. Jiwa yang tidak lagi terbungkus dan tertutup nafsu, jiwa yang sudah terbuka, sudah bersatu dengan Tuhan!

Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membersihkan jiwa dari kurungan nafsu! lkhtiar manusia melalui pikiran dan akal budi tidak mungkin menundukkan nafsu, karena pikiran dan akal budi pun sudah bergelimang nafsu. Tidak mungkin nafsu dapat menundukkan nafsu. Hanya kekuasaan Tuhan yang akan bisa membersihkan jiwa yang bergelimang nafsu, atau jiwa yang tertutup oleh kekuasaan gelap, kekuasaan nafsu yang memikat manusia dengan segala macam bentuk kesenangan badani atau kesenangan pikiran dan hati.

Panca indera, pikiran, hati dan akal budi hanyalah alat pelengkap hidupnya jiwa dalam badan. Namun sungguh sayang, karena badan diperalat nafsu dan daya rendah, maka jiwa bagaikan tertutup dan terbungkus. Bagaimana mungkin kita membersihkan jiwa kita, betapa mungkin kita menundukkan nafsu kalau kita sudah bergelimang dengan nafsu?

Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jiwa kita, dan satu-satunya ikhtiar yang dapat kita lakukan hanyalah menyerah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih! Penyerahan yang berarti keimanan yang mutlak, penyerahan total, dengan penuh ikhlas, kesabaran, dan ketawakalan.


Orang seperti Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah manusia yang tak mau mengenal Tuhan, tak mau mengakui bahwa ada Yang Maha Kuasa di alam semesta ini. Dia mengira bahwa dirinya adalah sang penentu bagi dirinya sendiri, baik atau buruk berada di telapak tangannya.

Orang seperti inilah yang akhirnya akan terpeleset, tersesat ke dalam lembah kejahatan, tanpa merasa bahwa dia tersesat. Kalau sudah tertimpa mala petaka sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, orang seperti ini baru mengeluh, lantas mencari-cari sasaran untuk dijadikan biang keladi mala petaka itu, dijadikan sebagai kambing hitam untuk melempar kesalahannya.

Orang yang tak mau mengakui kekuasaan Tuhan selalu menyombongkan diri sendiri bila berhasil, dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain kalau gagal. Sebaliknya, orang yang percaya kepada kekuasaan Tuhan, dalam keadaan berhasil dengan rendah hati dia berterima kasih atas berkah Tuhan, dalam keadaan gagal dia mohon pengampunan atas segala kesalahannya kepada Tuhan.

Si Kumbang Merah Tang Bun An lantas merayakan kemenangan serta keberhasilannya, seakan-akan mabok dalam keberhasilannya. Namun segala kesenangan yang diraihnya melalui nafsu yang dilampiaskan tanpa batas lagi ini, hanya sebentar saja terasa nikmat olehnya. Dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah mulai merasa bosan!

Belasan orang pembantu wanita, gadis-gadis cantik jelita dan manis itu sudah kehilangan daya tarik baginya, seperti sekumpulan bunga yang sudah tidak menarik lagi bagi seekor kumbang yang telah menghisap madu bunga-bunga itu sampai sepuasnya. Dan mulailah matanya menjadi jalang mencari-cari bunga lain!

Si kumbang Merah yang tadinya merasa bosan dengan cara hidupnya yang liar, lantas merindukan kekuasaan dan kedudukan yang dianggapnya akan mendatangkan kemuliaan dan kemewahan, kini sesudah memperoleh semua itu, bahkan rindu akan cara hidupnya yang lalu! Dan sekali ini, dia tidak perlu lagi mencari-cari ke kota-kota atau dusun-dusun seperti dahulu lagi. Kini wanita-wanita cantik seolah-olah berserakan di depan hidungnya!

Bagaimana tidak? Dia adalah panglima yang mengepalai pasukan pengawal istana, baik di dalam mau pun di luar istana. Karena itu, para thai-kam pengawal yang selalu berjaga di sebelah dalam istana, di bagian para puteri, juga menjadi anak buahnya. Dan di dalam istana bagian para puteri itu terdapat banyak wanita pilihan, wanita-wanita tercantik dari seluruh negeri! Maka mulailah si kumbang merah beraksi.

Biar pun usianya sudah lima puluh lima tahun, namun Tang Bun An menjadi seperti muda kembali, menjadi seekor kumbang merah yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang mekar dengan indahnya di taman istana, hinggap dari satu ke lain kembang untuk menghisap madu manis sepuas hatinya!

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tentu saja dengan mudah Si Kumbang Merah dapat menyelinap ke dalam kamar seorang selir atau dayang tanpa di ketahui orang lain. Baginya, tidak peduli wanita itu selir kaisar, atau bahkan puteri kaisar, atau dayang, asal muda dan cantik, tentu akan dirayunya.

Dia memang pandai merayu wanita, dengan rayuan maut yang membuat setiap wanita menjadi lemas dan bertekuk lutut, menyerahkan diri tanpa melawan lagi, bahkan dengan suka rela, dengan kehausan seorang wanita yang menjadi isteri atau selir kaisar dengan puluhan orang saingan! Maka dalam waktu beberapa bulan saja hampir seluruh selir dan dayang telah membiarkan diri dihisap oleh Si kumbang Merah. Bahkan banyak pula gadis puteri kaisar yang menyerah!

Namun Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah seorang pria yang berpengalaman dan cerdik sekali. Dia tidak lagi berani melakukan paksaan atau pemerkosaan terhadap wanita di dalam istana seperti yang dahulu sering kali dia lakukan ketika dia masih liar sebagai Ang-hong-cu yang ditakuti orang. Tidak, dia tidak ingin mengorbankan kedudukannya.

Dia berlaku hati-hati dan hanya merangkul wanita yang menanggapi rayuannya sehingga selalu terjadi hubungan yang suka sama suka. Dia kini dapat menjaga pula agar jangan sampai ada puteri kaisar yang masih gadis menjadi hamil akibat perjinahan mereka. Dan dia pun tidak mau jatuh cinta seperti Tang Gun yang dianggapnya bodoh. Hubungannya dengan para wanita itu hanyalah hubungan nafsu semata, saling meminta dan memberi, setelah itu habis sudah, tidak ada ikatan dalam hati.

Tidak lama kemudian, semua selir dan dayang yang menjadi kekasihnya sudah rnenjadi sekutunya. Mereka itu beramai-ramai selalu melindungi dan menyembunyikan rahasia Si Kumbang Merah. Bagi mereka, Tang-ciangkun yang satu ini sungguh merupakan seorang pria yang amat menyenangkan!

Dan mereka semua tahu bahwa sekali rahasia itu terbuka, bukan hanya panglima jantan itu yang akan celaka, akan tetapi mereka semua pun akan menjadi korban. Mereka masih teringat akan nasib selir Hwee Lan dan dayang A Sui, dan mereka tidak ingin menjadi nikouw!

Karena hampir semua selir dan dayang terlibat, maka Si Kumbang Merah merasa aman. Bunga-bunga harum itu bukan hanya suka menyerahkan madu manis kepadanya, bahkan melindunginya pula.

Betapa pun juga, masih ada juga satu hal yang kadang-kadang mengkhawatirkan hati Si Kumbang Merah, yaitu permaisuri! Wanita berusia empat puluh tahun lebih yang masih tampak cantik dan amat berwibawa ini merupakan ganjalan dan juga merupakan ancaman bahaya bagi dia dan semua kekasihnya di dalam harem kaisar itu.

Permaisuri ini amat anggun dan juga angkuh. Sebagai seorang pria yang berpengalaman dia maklum bahwa tidak mungkin merayu dan menundukkan hati seorang wanita seperti permaisuri itu. Kalau saja tarikan mulutnya tidak sekeras itu, atau pandang matanya tidak setajam dan sedingin itu, mau rasanya dia mencoba merayu sang permaisuri. Walau pun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun dia juga merupakan seorang wanita yang amat menarik, setangkai bunga yang sama sekali belum layu.

Namun Ang-hong-cu Tang Bun An tidak berani mencoba hal ini karena sekali gagal, dia akan celaka. Walau pun dia mampu melarikan diri andai kata terjadi sesuatu, yang jelas dia akan kehilangan kedudukannya dan akan menjadi seorang buruan pemerintah. Berat!

Kekhawatiran Ang-hong-cu ini memang tidak meleset. Diam-diam, permaisuri yang juga memiliki kecerdikan itu sudah bisa 'pencium' bau rahasia ketidak beresan yang terjadi di dalam istana bagian puteri itu. Walau pun para selir dan dayang, juga para thai-kam (pria kebiri) pengawal yang bertugas di sana semua membantu Ang-hong-cu, akan tetapi ada beberapa orang thai-kam yang menjadi orang-orang kepercayaan sang permaisuri! Mereka inilah yang membocorkan rahasia itu kepada permaisuri!

Pada saat permaisuri mendengar bahwa banyak selir dan dayang yang telah 'mengotori' istana dengan perbuatan jinah mereka besama Panglima Tang, maka secara diam-diam permaisuri marah bukan main.

"Hemm, pelacur-pelacur itu...!" dia mengepal tangannya. "Awas, akan kubongkar semua ini!"

Tanpa adanya bukti yang nyata, sang permaisuri tidak berani melapor begitu saja kepada suaminya, yaitu kaisar. Kaisar harus dapat menangkap basah mereka itu, dan tentu saja hal itu dapat diatur dengan bantuan para thai-kam pengawal yang menjadi pembantunya yang setia!

Demikianlah, diam-diam permaisuri yang cerdik ini sudah mengatur siasat bersama para pembantunya yang setia. Dan laksana seekor laba-laba betina, dia telah menenun sarang yang penuh jebakan dan perangkap. Hal ini dilakukan dengan penuh rahasia sehingga sama sekali tak mencurigakan Si Kumbang Merah dan para wanita yang menjadi kekasih Ang-hong-cu itu.

Pada suatu malam, seperti biasa Si Kumbang Merah berada di kamar salah seorang selir kaisar. Selir itu masih muda, usianya tak lebih dari tiga puluh tahun, cantik jelita dan amat menarik, juga merupakan seorang di antara para selir yang tersayang oleh kaisar. Seperti biasa pula, dayang selir itu yang juga telah menjadi kekasih Si Kumbang Merah, melayani mereka berdua yang berpesta pora di dalam kamar.

Ang-hong-cu Tang Bun An demikian mabok kesenangan sehingga sesudah lewat tengah malam, dia pun sudah tertidur nyenyak dalam kamar itu, dalam pelukan dua kekasihnya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sejak memasuki bagian puteri itu gerak-geriknya sudah diamati oleh para thai-kam pengawal yang menjadi mata-mata permaisuri.

Untunglah bahwa selama ini Ang-hong-cu selalu bersikap baik dan royal sekali terhadap para pengawal. Para thai-kam pengawal yang tidak menjadi mata-mata permaisuri, masih setia kepada Ang-hong-cu. Panglima Tang ini adalah seorang atasan yang royal dengan hadiah, bahkan sering pula mengajarkan satu dua jurus ilmu silat tinggi kepada mereka. Maka, sebelum jerat yang dipasang sang permaisuri mengena, pintu kamar selir itu telah digedor dari luar oleh beberapa orang pengawal yang setia kepada Ang-hong-cu.

"Ciangkun..., Ciangkun... cepat buka pintu !" kata mereka.

Tentu saja Si Kumbang Merah terkejut sekali, apa lagi sesudah dia membuka pintu dan mendengar laporan seorang anak buahnya yang setia. "Ciangkun, sungguh celaka sekali. Entah apa yang terjadi, tahu-tahu Sribaginda datang berkunjung dan anehnya, kini semua jalan keluar telah dijaga oleh pengawal-pengawal kepercayaan Sang Permaisuri! Agaknya rahasia ciangkun sudah ada yang membocorkan. Cepat, mereka akan menuju ke sini!"

Setetah berkata demikian, para pengawal itu cepat mengundurkan diri karena tentu saja mereka tidak ingin terlibat. Mendengar laporan itu, selir dan dayangnya sudah menangis dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan. Akan tetapi Si Kumbang Merah tenang saja. Dia menutupkan pintu kamar itu, lalu merangkul selir itu sambil berbisik,

"Kau pura-pura sakit, lekas berselimut!" Dan kepada dayang itu, dia pun berkata, "Engkau rawat majikanmu, memijat-mijat kakinya dan laporkan bahwa sejak sore tadi majikanmu merasa pening dan badannya lesu. Kalian berdua bersikap tenang saja, dan pura-pura kaget kalau ada yang menggedor pintu. Mengerti?"

Setelah berkata demikian, Si Kumbang Merah mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya kemudian mulailah dia berhias muka. Sebentar saja mukanya telah berubah menjadi wajah seorang wanita setengah tua! Dayang itu membantunya dengan pakaian yang lusuh dan tua sehingga kini dia pun telah menjadi seorang wanita tua yang berwajah lembut! Dan sekali berkelebat, dia sudah keluar dari jendela kamar itu. Daun jendela lalu ditutup kembali oleh sang dayang.

Dan benar saja, tak lama kemudian pintu kamar itu digedor dari luar, keras sekali. "Cepat buka pintu! Perintah Sribaginda!" terdengar teriakan itu.

Karena perasaan takut, selir itu menggigil ketakutan, mukanya pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. la bersembunyi ke dalam selimut dan dayangnya segera membuka daun pintu itu, dengan perasaan takut yang ditahan-tahan pula. Setelah daun pintu dibuka dan melihat Sribaginda Kaisar di ambang pintu, dayang itu lalu menjatuhkan diri berlutut.

Kaisar tidak memperhatikan dayang itu, melainkan memandang ke seluruh kamar dengan sinar mata penuh selidik, lalu bertanya, "Apa yang dilakukan majikanmu?"

"Ampun..., Paduka. Nyonya... nyonya sedang sakit, sejak sore tadi terus tiduran..., hamba merawatnya..."

Mendengar ini, kaisar segera melangkah mendekati pembaringan, kemudian menyingkap kelambu. Kaisar melihat selir terkasih itu rebah terlentang, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.

"Engkau sakit... ?" Kaisar meraba dahi serta lehernya dan memperoleh kenyataan betapa tubuh itu panas dingin dan basah oleh keringat. "Ah, engkau benar sedang sakit. Tidurlah, besok biar diberi obat oleh tabib istana."

Kaisar menutup kembali kelambu, lantas keluar dari kamar itu dengan wajah bersungut-sungut. Tadi permaisuri menyindir bahwa mungkin peristiwa Hwee Lan sekarang terulang kembali, dan kaisar dipersilakan untuk berkunjung ke kamar selir itu lewat tengah malam.

"Kalau tidak ada pria di sana, tentu pria itu sudah melarikan diri dan harus dicari sampai dapat, Jangan sampai nama baik paduka menjadi ternoda aib akibat peristiwa tidak tahu malu seperti itu." Demikian sang permaisuri berkata.

Lewat tengah malam, kaisar lalu melakukan pemeriksaan dengan hati dipenuhi perasaan cemburu, membawa pasukan pengawal yang dipilih oleh permaisuri. Akan tetapi ternyata kamar itu kosong, malah selir terkasih yang dituduh menyimpan kekasih itu sedang rebah dalam keadaan sakit!

"Geledah seluruh kamar di sini, cari dan tangkap apa bila sampai terdapat seorang asing!" Demikian perintah kaisar yang merasa penasaran, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

Dia sendiri hendak mencari permaisuri di dalam kamarnya, untuk menegur permaisurinya itu kalau memang ternyata tidak ditemukan sesuatu. Untuk ini dia telah membuang waktu dan tidak tidur, namun semua untuk percuma saja!

Akan tetapi, di kamar permaisuri terjadi hal yang amat aneh. Ketika itu permaisuri sedang rebah sambil tersenyum-senyum penuh kemenangan dan membayangkan betapa selir itu tentu ditangkap dan dijatuhi hukuman, dan dayangnya terkasih sedang memijati kakinya sambil mengantuk. Tiba-tiba saja tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di kamar itu telah berdiri seorang wanita setengah tua.

Dayang itu hendak berteriak, akan tetapi wanita itu telah meraba tengkuknya dan dia pun menjadi lemas tak mampu berteriak atau bergerak lagi. Wanita itu lalu merenggut gelang yang dipakai oleh dayang itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya. Kemudian dia menghampiri permaisuri yang juga sudah bangkit duduk dan memandang dengan kedua mata terbelalak.

Melihat permaisuri itu hendak menjerit pula, nenek yang bukan lain adalah Si Kumbang Merah cepat berbisik, "Harap jangan berteriak kalau Paduka sayang akan nyawa Paduka! Dengar baik-baik, hamba adalah seorang laki-Iaki... sstt, Paduka tidak perlu takut. Hamba tidak akan mengganggu Paduka, dan malam ini Paduka harus rnelindungi hamba. Hamba akan berada di sini dan Paduka katakan kepada sribaginda bahwa hamba adalah seorang ahli pijat yang sengaja Paduka panggil ke sini. Ingat, apa bila Paduka membuka rahasia sehingga hamba ketahuan kalau hamba laki-Iaki, maka hamba akan membuat pengakuan bahwa hamba adalah kekasih paduka."

Sepasang mata itu terbelalak, apa lagi pada saat itu tangan Si Kumbang Merah bergerak cepat dan tahu-tahu kalung yang berada di lehernya telah dirampas oleh nenek itu.

"Kalung ini, seperti juga gelang milik dayang ini, akan menjadi bukti bahwa hamba sudah menjadi kekasih Paduka yang Paduka selundupkan ke dalam kamar ini."

"Kau... kau sungguh tak tahu malu, hendak melempar fitnah kepadaku! Siapakah engkau sebenarnya?"

"Paduka tidak perlu tahu. Hamba hanya minta supaya malam ini dilindungi dan besok diperbolehkan keluar dengan aman atau... nama baik Paduka akan ternoda. Semua orang akan percaya pada hamba, dan semua selir akan suka bersumpah bahwa hamba adalah kekasih paduka!"

"Ihh...! Kau... kau... jahanam yang menodai istana, berjinah dengan para selir dan dayang itu! Engkau Tang-ciangkun!" Wanita bangsawan itu tiba-tiba menjadi pucat. "Jangan kau berani menggangguku! Aku akan menjerit, aku akan bunuh diri, aku..."

"Jangan khawatir. Hamba tidak akan mengganggu Paduka. Selama ini hamba juga tidak pernah mengganggu para selir dan dayang. Bahkan hamba telah menolong mereka yang kehausan..."

"Tutup mulutmu yang kotor!"

"Sekali lagi, kalau Paduka membuka rahasia hamba, maka hamba pasti akan bersumpah menjadi kekasih Paduka. Mungkin hamba akan dihukum mati, akan tetapi nama Paduka akan menjadi cemar sampai tujuh turunan!"

Pada saat itu pula terdengar suara di luar dan Si Kumbang Merah cepat membebaskan totokan pada dayang itu, lantas berbisik, "Engkau sudah mendengar semuanya. Hayo kau tidur di sudut sana, dan kau akui bahwa aku adalah seorang ahli pijat yang dipanggil oleh majikanmu!"

Dayang itu hanya mampu mengangguk-angguk, lantas dia cepat merebahkan diri di sudut kamar itu dan pura-pura tidur. Ia takut bukan main, akan tetapi dia pun tahu bahwa seperti juga majikannya, kini dia sudah berada dalam cengkeraman pria yang menyamar sebagai wanita itu, pria yang dia tahu adalah Tang Ciangkun! Gelangnya telah dirampas dan kalau pria itu tertangkap lalu membuat pengakuan bahwa dia telah menerima gelang itu sebagai hadiah dari kekasih, tentu dia akan celaka, akan digunduli dan dipaksa menjadi nikouw!

Ketika kaisar memasuki kamar permaisurinya dengan wajah muram dan bersungut-sungut karena hatinya tidak senang, dia merasa heran saat melihat seorang wanita setengah tua memijati pinggul permaisurinya.

Dapat dibayangkan betapa marah rasa hati permaisuri itu pada waktu 'nenek' itu memijati pinggulnya dengan tekanan-tekanan dua tangannya, hangat dan mesra. Namun terpaksa dia menekan kemarahannya karena harus diakuinya bahwa tekanan-tekanan itu memang pijitan seorang ahli sehingga otot-otot pinggul dan punggungnya kini terasa nyaman!

Wanita setengah tua itu cepat-cepat berlutut saat kaisar memasuki kamar dan mendekati pembaringan.

"Hemm, siapakah wanita ini?" Kaisar bertanya kepada permaisurinya yang sudah bangkit dan memberi hormat pula kepadanya.

Si Kumbang Merah yang masih berlutut itu sudah bersiap-siap untuk meloncat kemudian melarikan diri kalau permaisuri itu membuka rahasianya. Akan tetapi hatinya merasa lega ketika permaisuri itu menjawab dengan suara sambil lalu.

"Ahh, dia adalah seorang ahli pijat dari luar istana yang kabarnya sangat pandai. Karena hamba sedang merasa lelah dan tak enak badan, maka hamba memanggilnya ke sini dan memang dia pandai sekali." Permaisuri lalu menggandeng tangan kaisar dan dibawanya duduk di atas kursi kesukaan Sribaginda, di dekat meja. Dengan lembut dia lalu bertanya, "Bagaimanakah dengan penyelidikan Paduka?"

"Hemm, tidak kutemukan siapa-siapa di kamarnya. Malah dia rebah dalam keadaan sakit! Agaknya engkau hanya menduga yang bukan-bukan saja!"

Permaisuri itu segera memberi hormat dan berkata dengan suara lembut, "Kalau begitu, ampunkan hamba. Sesungguhnya hamba selalu merasa khawatir kalau peristiwa seperti yang dilakukan oleh Hwee Lan sampai terulang kembali. Hamba khawatir jika nama besar Paduka sampai ternoda."

"Hemm, jangan bicara dulu jika belum ada bukti yang nyata. Engkau hanya mengganggu pikiranku saja dan kini aku menjadi lelah karena kurang tidur. Ahhh, benarkah dia pandai memijit? Biar kau suruh dia memijati tubuhku yang terasa lelah sekali," kata Kaisar sambil menuding ke arah wanita setengah tua yang masih berlutut di atas lantai.

Tentu saja permaisuri merasa khawatir sekali, akan tetapi dia pun tak berani membantah karena khawatir kalau rahasia nenek itu ketahuan. Maka terpaksa dia lalu membereskan pembaringan dan setelah membantu kaisar rebah di atas pembaringan, dia lalu menyuruh nenek itu memijati tubuh kaisar .

Akan tetapi Si Kumbang Merah sama sekali tak merasa khawatir. Dia adalah seorang ahli silat tinggi, pandai ilmu menotok jalan darah dan sudah hafal tentang kedudukan otot-otot dan urat-urat, tahu betul cara pengobatan dengan urut dan pijit. Maka tanpa ragu-ragu dia pun lalu memijati tubuh kaisar, dimulai dari kedua kaki, terus naik ke pinggul, punggung, kedua lengan dan leher.

Lega rasa hati permaisuri setelah mendengar Sribaginda mengeluarkan kata-kata memuji dan merasa keenakan, bahkan tidak lama kemudian Sang Kaisar sudah tertidur nyenyak sekali!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, permaisuri menyuruh Si Kumbang Merah untuk menghentikan pijitannya. "Engkau boleh pergi sekarang, biar diantar keluar oleh pengawal kepercayaanku," katanya.

Si Kumbang Merah tersenyum sambil memberi isyarat berkedip kepada permaisuri dan dayangnya, lalu memberi hormat dan mengikuti dua orang thai-kam pengawal yang sudah diberi perintah oleh permaisuri itu. Dengan aman, karena dikawal oleh dua orang thai-kam pengawal kepercayaan permaisuri, dia telah keluar dari daerah terlarang itu.

Semenjak terjadinya peristiwa itu, Si Kumbang Merah semakin leluasa mengaduk-aduk daerah terlarang itu, bagaikan seekor kumbang yang dengan bebasnya beterbangan di antara bunga-bunga pilihan di taman istana, menghisap madu dari satu ke lain kembang sesuka hatinya! Permaisuri sama sekali tak berdaya, bahkan permaisuri itu sudah merasa berterima kasih bahwa Si Kumbang Merah tidak memaksa dia untuk rnenjadi kekasihnya pula! Akan tetapi dayangnya tidak terlepas dari sengatan kumbang rnerah yang nakal itu.

Bahkan para thai-kam pengawal yang tadinya setia kepada permaisuri, kini semua telah tunduk di bawah kekuasaan Si Kumbang Merah dan tentu saja hal ini pun terjadi melalui sang permaisuri yang merasa tidak berdaya di bawah ancaman Si Kumbang Merah yang telah rnenguasainya dengan menyimpan kalung dan beberapa barang perhiasan lainnya.

Benda-benda ini merupakan senjata ampuh, membuat sang permaisuri bertekuk lutut tak berdaya karena sekali saja Si Kumbang Merah memperlihatkannya kepada orang lain dan mengatakan bahwa dia menerimanya dari sang permaisuri sebagai hadiah, maka istana, bahkan seluruh negeri akan geger! Tentu nama permaisuri itu akan langsung terseret ke dalam lumpur sebagai seorang permaisuri yang menyimpan seorang kekasih gelap!"

********************

Kita tinggalkan dahulu Si Kumbang Merah Tang Bun An yang sedang mabok kesenangan dan menjadi seperti ayam jantan tunggal di antara ayam ayam betina di harem kaisar! Dia telah kembali pada kehidupannya yang dulu lagi, walau pun terdapat banyak perbedaan.

Dulu dia suka merusak wanita, memperkosa, membunuh, lalu meninggalkannya sesudah wanita itu mengandung, sambil di dalam hati mentertawakan wanita yang pada dasarnya menimbulkan rasa dendam kebencian padanya. Kini, agaknya dia hanya menuruti nafsu, mencari senang tanpa rasa benci kepada wanita-wanita itu.

Kita tinggalkan dulu tokoh itu dan mengikuti perjalanan seorang di antara puteranya, yaitu Tang Cun Sek. Setelah melarikan diri dari Cin-ling-san, pemuda yang usianya sudah tiga puluh tahun itu lalu mengembara. Dia seorang pemuda tinggi besar dan gagah. Wajahnya yang berkulit putih itu nampak tampan. Kedua matanya tajam mencorong, sikapnya halus dan dia adalah seorang yang sangat pendiam.

Seperti sudah kita ketahui, Tang Cun Sek juga mengalami nasib yang sama dengan para keturunan Si Kumbang Merah. Dahulu ibunya menyerahkan diri karena rayuan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) itu, dan setelah ibunya mengandung, maka Si Kumbang Merah meninggalkan ibunya dan tidak pernah muncul lagi.

Ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan Thio dan menjadi selirnya. Sebagai anak tiri hartawan Thio, kehidupan Cun Sek cukup baik, menerima pendidikan dan tidak sampai terlantar. Akan tetapi, dasar dia memiliki watak yang kotor, ketika dia berusia enam belas tahun dia bergaul dengan para pemuda yang tidak karuan dan dia berani berjinah dengan dua orang selir ayah tirinya sendiri. Dia tertangkap basah lalu diusir. Tang Cun Sek pergi setelah berhasil mencuri banyak emas dari gudang harta ayah tirinya.

Akan tetapi dia sangat cerdik sehingga akhirnya dia berhasil menyelundup ke Cin-ling-pai lalu menjadi murid dan anggota perkumpulan para pendekar itu. Bahkan bukan itu saja, dia mampu merayu dan menundukkan hati kakek Cia Kong Liang sehingga dia disayang dan dari kakek itu dia menerima banyak ilmu silat tinggi dari Cin-ling-pai.

Demikian pandainya dia mengambil hati orang tertua dari Cin-ling-pai itu sehingga bukan saja dia disayang, akan tetapi oleh kakek itu juga dicalonkan sebagai ketua Cin-ling-pai yang baru. Namun usahanya menguasai kedudukan ini digagalkan oleh Cia Kui Hong, gadis lihai dan cerdik itu sehingga dia bukan saja tidak dapat terpilih menjadi ketua baru Cin-ling-pai, bahkan menderita malu. Sebab itu dia pun minggat meninggalkan Cin-ling-pai sambil membawa pergi pedang pusaka Hong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka dari Cin-ling-pai.

Demikianlah, Cun Sek tak berani berhenti berlari cepat. Selama berbulan-bulan dia terus menjauhi Cin-ling-san karena dia maklum bahwa mungkin sekali pihak Cin-ling-pai akan melakukan pengejaran karena dia melarikan pedang pusaka.

Hampir empat bulan telah lewat sejak dia melarikan diri dari Cin-ling-pai dan pada suatu pagi dia tiba di sebuah kota. Kota Tian-cu-an merupakan sebuah kota yang cukup besar. Musim panas telah tiba dan hawa udara lumayan panasnya biar pun matahari belum naik terlalu tinggi.

Tang Cun Sek yang semalam tinggal di sebuah kuil To-kauw (Agama To) yang berada di luar kota, memasuki kota dengan sikap tenang. Dia memiliki banyak uang, sisa dari emas yang dulu dicurinya dari rumah ayah tirinya, maka dia bersikap tenang dan dapat membeli pakaian dalam perjalanan itu.

Kini dia memasuki kota Tian-cu-an sebagai seorang pria muda yang berpakaian rapi dan bersih, membawa buntalan kain kuning dan sikapnya seperti seorang terpelajar. Pedang Hong-cu-kiam yang tadinya merupakan pedang pusaka Cin-ling-pai dan menjadi milik Cia Hui Song, ketua Cin-ling-pai, kini tersimpan di dalam buntalan pakaian itu. Pedang pusaka Hong-cu-kiam adalah sebatang pedang yang dapat digulung saking tipis dan lenturnya.

Cun Sek merasa perutnya sangat lapar setelah hidungnya mencium bau masakan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan. Ia kemudian memasuki rumah makan yang masih belum banyak pengunjungnya itu, dan memesan bubur ayam kepada seorang pelayan.

Pada saat dia sedang makan bubur ayam yang sedap dan panas, pendengarannya yang tajam mendengar percakapan yang dilakukan oleh tiga orang laki-laki yang duduk di meja sebelah belakang. Mereka bercakap-cakap dengan suara lirih sekali, namun cukup jelas bagi pendengaran Cun Sek yang tajam.

"Kita harus berhati-hati sekali. Iblis betina itu lihai bukan main."

"Tentu saja dia lihai, kalau tidak mana mungkin sute (adik seperguruan) sampai tewas di tangannya."

"Hemm, meski pun begitu, kalau kita bertiga maju bersama, mustahil kita tidak akan dapat membinasakan iblis betina itu," kata orang ke tiga dengan suara penasaran.

"Sstttttt...!" Kawannya agaknya memberi isyarat sambil memandang ke arah Cun Sek dan tiga orang itu tak lagi melanjutkan percakapan mereka dan pada saat itu, pelayan datang membawa pesanan mereka.

Cun Sek melanjutkan makan bubur seolah-olah dia tidak pernah mendengar percakapan bisik-bisik tadi, namun secara diam-diam dia memperhatikan. Ketiga orang itu berpakaian seperti orang-orang dari dunia persilatan. Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan dari gerak gerik mereka mudahlah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu silat. Tubuh mereka kelihatan kokoh dan gerak gerik mereka pun sigap, pandang mata mereka tajam. Bahkan di balik jubah mereka nampak gagang pedang.

Kalau saja mereka tadi tidak menyebut iblis betina, tentu Cun Sek tidak tertarik dan tidak mau peduli sebab dia pun tak ingin mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi disebutnya iblis betina membuat dia tertarik. Siapakah yang mereka maksudkan dengan iblis betina itu dan mengapa seorang wanita disebut iblis?

Karena dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu dan memiliki banyak waktu terluang, juga karena hatinya tertarik, maka dia pun mengambil keputusan untuk membayangi tiga orang itu dan melihat sendiri siapa sebenarnya iblis betina itu dan wanita macam apakah sampai dijuluki iblis betina.

Demikianlah, pada saat tiga orang itu meninggalkan rumah makan, tanpa disadari mereka sudah dibayangi oleh Cun Sek. Ketiga orang itu keluar dari kota melalui gerbang selatan. Begitu keluar dari pintu gerbang, mereka lalu mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke sebuah bukit yang tidak jauh dari kota Tian-cu-an, sebuah bukit yang kelihatan subur penuh hutan lebat.

Ketika tiga orang itu sampai di luar sebuah hutan di lereng bukit itu, mereka berhenti dan seorang di antara mereka bersuit nyaring. Segera terdengar jawaban, yaitu suitan-suitan yang sama dari berbagai penjuru dan tidak lama kemudian dari balik semak belukar, balik pepohonan, bahkan ada pula yang melayang turun dari atas pohon, bermunculan banyak sekali orang yang kesemuanya mengenakan seragam hitam.

Diam-diam Tang Cun Sek terkejut. Biar pun mungkin lihai, namun tiga orang laki-laki tadi belum merupakan lawan yang terlalu tangguh. Akan tetapi dengan munculnya dua puluh orang lebih ini yang kesemuanya berpakaian hitam-hitam serta sikap mereka bengis dan kejam, sungguh mereka ini merupakan pasukan kecil yang berbahaya. Hatinya semakin tertarik. Demikian banyaknya orang laki-laki hendak mengeroyok seorang wanita? Kalau begitu, wanita yang di sebut iblis betina itu tentu luar biasa lihainya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Cun Sek melayang naik ke atas pohon besar yang amat lebat daunnya, tepat di atas sekumpulan orang itu sehingga dia bisa mendengarkan dan melihat dengan jelas. Ada dua puluh empat orang berpakaian seragam hitam.

Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang mukanya penuh dengan cambang, kumis dan jenggot. Matanya melotot bengis dan sesudah mendengar bahwa orang-orang menyebutnya pangcu (ketua), maka mudah diduga bahwa si brewok itu adalah ketua dari gerombolan orang berseragam hitam itu.

Dan melihat sikap ketua gerombolan seragam hitam itu terhadap tiga orang yang datang dari kota Tian-cu-an tadi, dapat diduga bahwa mereka merupakan sekutu. Antara ketua dan tiga orang itu nampak hubungan yang saling menghargai, berbeda dengan sikap para anggota kelompok seragam hitam yang bersikap amat hormat kepada ketua mereka dan juga kepada tiga orang itu.

Karena sejak muda berada di Cin-Iing-pai dan sudah lama tidak berkecimpung di dunia kang-ouw, maka Tang Cun Sek sama sekali tidak tahu bahwa dia sudah bertemu dengan tokoh-tokoh kangouw yang kenamaan!

Gerombolan seragam hitam yang sedang berkumpul di situ adalah para anggota pilihan dari perkumpulan Hek-tok-pang (Perkumpulan Racun Hitam)! Dari nama perkumpulan ini saja mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam penggunaan racun berbahaya di samping mereka memiliki pula ilmu silat kaum sesat yang amat berbahaya.

Nama Hek-tok-pang selalu mendatangkan perasaan takut pada semua orang yang sering melakukan pelayaran di sepanjang Sungai Kuning, karena mereka yang tinggal di lembah Huang-ho itu merupakan perkumpulan yang mengangkat diri sendiri sebagai penguasa di sepanjang Huang-ho. Mereka suka menuntut pajak atau sumbangan dari para pedagang yang menggunakan perahu, dan mereka tidak segan-segan untuk membunuh siapa saja yang berani menentang mereka. Ketua mereka, yaitu pria yang tinggi besar dan brewok itu bernama Cu Bhok dan terkenal memiliki ilmu silat golok yang amat dahsyat.

Ada pun tiga orang yang dibayangi oleh Cun Sek sejak dari kota Tian-cu-an itu pun bukan orang-orang sembarangan. Mereka bertiga tadinya terdiri dari empat orang dan terkenal dengan julukan mereka Kwi-san Su-kiam-mo (Empat Setan Pedang dari Kwi-san). Orang pertama bernama Giam Sun, lalu yang ke dua ialah adik kandungnya bernama Giam Kun. Orang ke tiga bernama Thio Su It, dan yang keempat bernama Yauw Kwan. Akan tetapi, karena yang termuda telah tewas di tangan 'Iblis betina', maka kini mereka hanya tinggal tiga orang saja.

Cun Sek yang mengintai dari atas pohon melihat mereka itu mengadakan perundingan di bawah pohon. Ketua Hek-tok-pang itu bersama tiga orang pria yang dibayanginya tadi kini bercakap-cakap di bawah pohon, ada pun dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang kemudian menyebarkan diri di sekitar tempat itu, siap untuk melakukan perlindungan dan penjagaan agar jangan sampai ada orang luar mendengarkan percakapan ketua mereka dengan tiga orang tokoh sekutu mereka itu.

Sungguh tak seorang pun di antara mereka yang pernah menduga bahwa semenjak tadi sudah ada seorang yang nongkrong di atas pohon dan melihat semua kegiatan mereka, bahkan mendengar semua percakapan yang berlangsung di bawah pohon itu.

"Pangcu," kata seorang di antara tiga orang Kwi-san Su-kiam-mo, yaitu orang pertama yang bernama Giam Sun itu, "Sebelum kita menyerbu ke Bukit Teratai Emas itu, terlebih dahulu kita harus mengetahui jelas akan kedudukan kita dan sifat kerja sama kita. Pangcu maklum bahwa meski pun kita sama-sama menentang iblis wanita itu, namun alasan kita berbeda. Kami menentang dia karena hendak membalaskan kematian seorang sute kami, sedangkan Pangcu karena Hek-tok-pang pernah dirugikan oleh iblis betina itu. Akan tetapi kami kira bukan itu yang menjadi alasan terpenting."

"Benar sekali ucapanmu tadi, kawan," kata ketua Hek-tok-pang itu dengan suaranya yang berat. "Selama ini di antara kita tidak pernah ada persekutuan walau pun kita juga tidak pernah saling bertentangan. Kita mengambil jalan masing-masing dan tidak pernah saling mengganggu. Akan tetapi mendadak iblis betina itu muncul dan jelas bahwa dia hendak menjagoi, tidak memandang mata kepada pihak lain. Tapi, betapa pun lihainya dia hanya seorang perempuan dan kami tentu saja tidak sudi tunduk kepada seorang wanita! Kalau dia tidak dibasmi, tentu hanya akan merendahkan nama besar kita sebagai laki-laki yang gagah perkasa."

Tiga orang itu mengangguk-angguk tanda setuju. "Akan tetapi kita harus berhati-hati. Jika perhitungan kami tidak salah, dia mempunyai banyak pembantu yang pandai. Kalau nanti kita berhasil memancing mereka keluar dari sarang mereka di Kim-lian-san (Bukit Teratai Emas), harap Pangcu serta para saudara Hek-tok-pang menghadapi para pembantunya. Ada pun kami sendiri akan menghadapi iblis betina itu."

Setelah mengadakan perundingan, empat orang ini diikuti oleh dua puluh empat anggota Hek-tok-pang lalu menuruni lereng dan kini mereka menuju ke sebuah bukit lainnya yang bersambung dengan bukit itu. Sebuah bukit yang lebih besar dan lebih liar karena penuh dengan hutan-hutan lebat, di mana nampak bagian-bagian yang berbatu, akan tetapi ada pula bagian yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa serta semak belukar penuh duri yang amat liar dan tempat itu tidak pernah didatangi manusia.

Para pemburu binatang hutan pun agaknya segan untuk berburu binatang di Bukit Teratai Emas, karena hutan itu memang sangat berbahaya. Apa lagi sejak kurang lebih setahun yang lalu ada desas desus bahwa bukit itu dihuni segerombolan iblis yang amat lihai dan jahat!

Bahkan penduduk dusun yang tadinya mencoba memperbaiki nasib dengan membangun dusun di situ dan bertani, kini beramai-ramai meninggalkan dusun mereka dan pindah ke tempat lain yang lebih aman sesudah berkali-kali mereka diganggu oleh iblis-iblis yang amat jahat!

Dengan hati semakin tertarik, Cun Sek membayangi serombongan orang itu dari jauh. Dia merasa semakin penasaran. Jelaslah bahwa serombongan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang hendak menentang orang yang mereka sebut iblis betina. Tentu seorang wanita yang lihai, yang agaknya juga mempunyai anak buah dan mungkin wanita itu dan anak buahnya bersarang di bukit yang bernama Bukit Teratai Emas itu. Tentu akan ramai, pikirnya, dan tanpa ada keinginan mencampuri urusan itu, dia hanya membayangi untuk menjadi penonton.

Semenjak meninggalkan Cin-ling-pai, dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu. Satu-satunya tujuan perjalanannya hanyalah mencari ayah kandungnya, yaitu seorang tokoh yang menurut ibunya amat lihai dan berjuluk Ang-hong-cu. Selama ini dia sudah bertanya-tanya, namun biar pun ada pula orang-orang kang-ouw yang pernah mendengar nama Si Kumbang Merah, namun tak seorang pun mengetahui di mana adanya tokoh yang sudah lama tidak pernah muncul di dunia kang-ouw itu.

Akhirnya, menjelang tengah hari, rombongan itu tiba di lereng Bukit Teratai Emas. Mereka tadi mendaki dengan amat hati-hati, dan setelah tiba di lereng yang terjal, tak begitu jauh lagi dengan puncak dan nampak tertutup pohon-pohon raksasa, mereka lantas berhenti. Cun Sek menyelinap dekat dan mengintai dari balik semak belukar.

Dia melihat betapa kini para anggota Hek-tok-pang itu menyebar bubuk hitam di antara semak-semak di kanan kiri jalan setapak. Selain bubuk hitam yang disebarkan pada daun dan duri semak-semak, juga ketua mereka menebarkan benda-benda kecil runcing seperti paku berwarna hitam di atas tanah. Bukan sembarang paku, melainkan benda bulat kecil yang mempunyai banyak duri seperti ujung paku pada permukaannya sehingga setelah disebar di atas tanah, maka ada saja duri runcing yang mencuat ke atas sehingga siapa saja yang lewat di jalan setapak itu tentu akan menginjak benda itu dan karena benda itu runcing sekali, maka mungkin saja dapat menembus sepatu dan melukai kulit telapak kaki!