Dedemit Pintu Neraka

DEDEMIT PINTU NERAKA

SATU

MATAHARI sudah rebah di kaki langit. Sinarnya telah pudar, membuat lereng Gunung Simeru berubah menjadi gelap. Dari bagian utara lereng, dua sosok tampak menggebah kuda masing-masing melintasi jalan setapak. Kuda-kuda itu tampak telah mendengus-dengus dengan lidah terjulur, tanda telah kelelahan. Kulitnya berkeringat. Jelas binatang-binatang itu baru saja melakukan perjalanan jauh.

"Hiya..."

"Hiyaaa....!"

Walaupun kedua orang itu telah menggebah sekuat-kuatnya, namun kuda-kuda yang sudah sangat kelelahan tetap bergerak lambat dengan sisa-sisa tenaganya.

“Suiiiittt...!”

Belum hilang gema suara mereka, tiba-tiba terdengar siulan yang tidak beraturan. Kedua ekor kuda berbulu hitam itu entah mengapa berubah liar dan marah. Kaki depannya terangkat tinggi-tinggi ke udara. Dua penunggangnya nyaris terpelanting dari pelana kuda masing-masing, kalau tidak cepat mengendalikannya.

"Ha ha ha....!"

Belum hilang rasa terkejut mereka, suara siulan tiba-tiba berganti suara tawa panjang yang disusul berkelebatnya tiga buah benda berwarna hitam dari kegelapan ke arah dua penunggang kuda ini.

"Awas, Bayu Tirta...!" teriak salah seorang penunggang kuda.

Set! Set!

Crab! Crab!

"Heieekh...!"

Beruntung, kedua penunggang kuda itu cepat melenting, sehingga kuda-kuda mereka yang menjadi sasaran. Kuda-kuda itu kontan melonjak dan meringkik keras. Hanya sebentar saja, kedua binatang itu tergelimpang mati dengan mulut mengeluarkan darah. Sementara kedua penunggang kuda berhasil mendarat. Namun seketika wajah mereka berubah pucat seperti mayat.

"Cabut senjatamu, Narata!" ujar penunggang kuda yang dipanggil Bayu Tirta.

Kedua orang yang bernama Bayu Tirta dan Narata segera bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.

Wusss...!

Baru saja mereka bersiap, kembali meluruk desir angin tajam, satu sosok bayangan hitam berjubah panjang yang langsung mengibaskan tangannya. Maka seketika meluruk dua buah sinar keperakan ke arah mereka. Dengan gerakan cepat, Bayu Tirta dan Narata mengebutkan pedangnya.

Wut! Wut!

Tring! Tring!

Dua sinar keperakan ternyata senjata rahasia berupa bintang segi lima membentur pedang di tangan Bayu Tirta dan Narata. Namun bersamaan itu sosok berjubah hitam itu kembali mengibaskan tangannya.

Set! Set!

Kali ini kedua orang yang jadi sasaran harus membuang diri ke kanan dan kiri, membuat bintang segi lima itu hanya merabas angin kosong.

­“Huh..! Ternyata kau, si Jubah Hitam Bermuka Hijau! Pantas, kekejamanmu sama dengan Dedemit Pintu Neraka! Akan kulaporkan kejadian ini pada Guru kami, Ki Pandhu Wilantara...!” desis laki-laki yang bernama Bayu Tirta geram, begitu bangkit berdiri. Sementara Narata pun telah bersiap kembali.

"Usaha kalian hanya sia-sia! Karena, kalian segera kukirim ke neraka!" sahut laki-laki berjubah hitam yang dipanggil si Jubah Hitam Bermuka Hijau, dingin.

Dalam kegelapan itu Bayu Tirta dan Narata memang tidak dapat melihat bagaimana rupa si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Tapi dari gerakan dan cara menyerangnya, sudah dapat diduga siapa orang itu

"Hiyaaa!”

Bet! Bet!

Bayu Tirta dan Narata segera memutar pedang ketika kembali melesat sinar putih keperakan.

Trang! Trang!

“Heh...?!"

Kedua laki-laki berbaju putih ini terkejut setengah mati. Karena baru saja menangkis, bintang-bintang segi lima Itu kembali meluruk Bukan main cepat serangan ini. Sehingga....

Crep! Crep!

"Aa­a...!"

Bayu Tirta dan Narata kontan terlempar, saat senjata-senjata rahasia itu menembus tenggorokkan. Jeritan segera lenyap ketika mereka ambruk dan menggelepar sesaat kemudian. mereka terdiam untuk selama-lamanya.

"Bayu Tirta...! Narata...! Ohh...?!"

Seorang laki-laki tua berambut putih keperakan kontan terbangun dari tidurnya dengan peluh membasahi wajah.

“Oh...? aku bermimpi? Tapi.., mimpi itu begitu jelas...?”desah laki-laki tua ini. “Mungkinkah Bayu Tirta dan Narata telah tewas...?”

“Ayah...! kau tidak apa-apa?!”

Mendadak dari pintu kamar menerobos masuk seorang gadis cantik berpakaian serba putih. Gadis itu langsung menghampiri laki-laki tua yang baru saja mengalami mimpi buruk.

“Aku tidak apa-apa, Warsih. Hanya mimpi... Tapi...”

“Tapi apa, Ayah?” potong gadis bernama Warsih ini seperti penasaran.

“Mimpi itu seperti dekat, Warsih. Mengerikan sekali. Rasanya, benar-benar terjadi...," ujar laki-laki tua ini.

"Iya..., tapi mimpi apa?" desak Warsih tak sabar.

"Aku mimpi, Bayu Tirta dan Narata tewas dibantai sosok berjubah hitam. Kau tahu bukan kalau malam ini kedua murid kesayanganku kutugaskan untuk mencari beberapa muridku yang hilang tak tentu rimbanya, ketika tengah menyelidiki sepak terjang Si Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tutur laki-laki tua yang tak lain Ki Pandhu Wilantara.

"Tapi itu kan hanya mimpi, Ayah...?" tukas Warsih.

"Kurasa bukan, Anakku. Sebelum kematian itu yang secara aneh, aku juga sering mendapat firasat seperti itu.... Dan kenyataannya...? Ibumu tewas. Murid-muridku pun hilang tak tentu rimbanya. Dan kini....?"

Ki Pandhu Wilantara seperti tak kuasa meneruskan kata-katanya. Hatinya seperti terpukul.

"Tapi kuharap, Ayah tidak perlu menceritakan hal ini pada murid-murid yang lain. Aku khawatir mereka akan cemas...," ujar Warsih.

"Tentu, Anakku...."

Sejenak suasana jadi hening, ketika belum lagi ada yang bersuara.

"Untuk membuktikan kebenaran mimpi itu, bagaimana jika kita minta bantuan Paman Banyu Raga, Ayah?" usul gadis berpakaian putih itu seraya memandang ayahnya dengan sinar mata tajam dan penuh perhatian.

"Pamanmu juga selalu sibuk mengurusi padepokannya. Mana punya waktu datang kemari," sahut Ki Pandhu Wilantara tegas.

"Kita belum mencobanya. Kalau Ayah mau dan mengizinkan, besok pagi-pagi sekali aku berangkat ke Desa Randu Doyong untuk menjumpai Paman Banyu Raga."

"Niatmu memang bagus, Warsih. Sebagai orang tua, Ayah tidak mau kehilangan anak satu-satunya. Kita belum tahu, siapa yang bunuh murid-muridku. Apa benar Si Jubah Hitam Bermuka Hijau atau Dedemit Pintu Neraka? Apa tujuannya, kita pun tidak tahu. Orang-orang sesat itu hingga saat itu tetap berkeliaran. Sedangkan kita tidak mampu berbuat apa-apa!" tukas laki-laki berusia hampir enam puluh tahun itu.

"Ayah belum berbuat apa-apa! Mengapa sekarang bersikap seperti orang lemah?!" tegur Warsih tidak senang.

­"Bukannya begitu, Warsih. Aku hanya menganggap pembunuh dan penyebar petaka itu adalah manusia pengecut! Jika dia memang punya persoalan denganku, mengapa tidak muncul secara terang-terangan...?!" dengus Ki Pandhu Wilantara kesal. "Sudahlah.... Jangan kita memanjangkan persoalan. Sekarang sudah larut malam. Istirahatlah, Warsih! Biarkan Ayah mengawasi para penjaga di luar sana. "

Gadis cantik berkulit kuning langsat ini menganggukkan kepala. Tidak lama, ditinggalkannya kamar pribadi ayahnya dengan sikap gagah.

********************

Rupanya, sepak terjang si Jubah Hitam Bermuka Hijau dalam membuat petaka di rimba persilatan makin liar saja. Begitu melihat ada beberapa murid padepokan terkenal, langsung dibantai. Maka begitu melihat serombongan pemuda berpakaian serba ungu dengan lambang bergambar kipas di dada, si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung menyerang. Laki-laki berjubah hitam ini tahu kalau para pemuda itu berasal dari Padepokan Kipas Sakti yang di kalangan persilatan cukup terkenal.

"Serang! Jangan biarkan si Jubah Hitam Bermuka Hijau lolos!" teriak seorang pemuda berpakaian serba ungu.

"Baik, Kakang Wiranata...!"

Dan, benar saja. Belasan murid-murid Padepokan Kipas Sakti langsung menyerang orang berjubah hitam dengan senjata kipas.

"Kalian hanya keroco-keroco. Tapi aku senang hati bersedia mengirim kalian ke neraka!" desis laki-laki berjubah hitam itu, seraya mengibaskan tangannya.

Set! Set!

Beberapa sinar putih berkilauan melesat ke arah murid-murid perguruan itu.

"Heaaa!"

Namun penyerang tentu saja tidak tinggal diam. Senjata kipas mereka mengebut cepat, melakukan tangkisan

Trak! Trak!

"Aaaghh...!"

Kendati demikian, tetap saja ada beberapa yang tak tertangkis kontan tertembus senjata rahasia berupa bintang segi lima yang ternyata sangat beracun. Sedangkan lainnya masih mampu memukul balik.

­"Uts!" Secepatnya laki-laki berjubah hitam itu melompat ke samping. Dalam hati dia memaki, sekaligus memuji kehebatan lawan-lawannya.

"Aku telah memberi kesempatan pada kalian untuk melapor pada Banyu Raga. Tapi, rupanya kalian lebih suka mati! Kuberi kalian hidup, malah minta racun!" desis si Jubah Hitam Bermuka Hijau dingin menggidikkan.

"Kurang ajar! Kedatanganmu tahu-tahu sudah membuat onar. Dan kami tidak bisa tinggal diam!" sahut seorang murid.

Maka semakin bertambah marahlah laki-laki berjubah hitam itu. Begitu dia melengos, tampak seluruh wajahnya berwarna hijau.

Sambil melengos, si Jubah Hitam Bermuka Hijau mengibaskan tangannya kembali setelah tadi berada di balik jubahnya.

Set! Set!

Kali ini beberapa benda sepanjang sejengkal berwarna hitam meluncur deras. Bukan main cepat luncuran benda-benda itu. Sehingga, hampir semua murid Padepokan Kipas Sakti tidak sempat lagi ­menghindarinya. Dan....

"Aaa...!"

Jerit ke­matian terdengar di sana-sini. Hampir semua murid jatuh bergelimpangan dengan wajah dan sekujur kulit langsung berubah hangus.

"Ha ha ha...! Tidak percuma! Ternyata kelabang hitam yang selalu menemaniku dalam penderitaan dan kesengsaraan, kini dapat dijadikan senjata andalan. Buktinya, mampu membunuh mereka hanya sekedipan mata!" kata si Jubah Hitam Bermuka Hijau, puas.

Kini yang tertinggal hanya seorang pemuda berpakaian serba ungu yang tadi memberi perintah. Dialah Wiranata. Nampaknya, pemuda ini menjadi berang atas kematian kawan-kawannya. Sehingga...

Sring!

"Aku bersumpah akan membunuhmu Bangsat keji!” teriak Wiranata penuh amarah, seraya mencabut senjata andalannya yang berupa pedang.

“Huh...!" dengus si Jubah Hitam Bermuka Hijau. “Kau boleh bicara sombong. Tapi kurasa, kau tidak dapat bertahan lebih dari satu jurus!"

"Hiyaaa....!"

Bet! Bet!

Tanpa menghiraukan ucapan laki-laki berjubah hitam itu, Wiranata melompat menerjang. Pedang di tangannya meluruk deras, mengincar bagian-bagian yang mematikan.

Tapi lawan yang dihadapi adalah si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang tak bisa dianggap sembarangan. Selain gerakannya cepat seperti setan juga dapat melakukan serangan-serangan balik yang berbahaya. Apalagi ketika pedangnya yang tipis dan berwarna hitam dicabut

"Uts...!" Sambil berkelit ke samping menghindari pedang Wiranata, si Jubah Hitam Bermuka Hijau mengebutkan pedang tipisnya dengan gerakan cepat

"Hiih!"

Crasss!

"Aaa...!" Laksana kilat, pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau telah membabat putus tangan kanan Wiranata. Pemuda itu kontan menjerit kesakitan. Darah mengucur deras dari luka-luka di pangkal lengannya.

Dengan cepat pemuda itu menotok urat untuk menghentikan darah pada bagian lukanya ini, Sementara, laki-laki berjubah hitam itu memandangi dengan sinar mata dingin menusuk

"Pergilah kau dari hadapanku! Sampaikan salamku pada Banyu Raga, bahwa kematian kawan-kawanmu hanya kejadian kecil yang tidak ada artinya! Katakan padanya, suatu waktu aku akan menjemput nyawanya...!" ujar si Jubah Hitam Bermuka Hijau, sombong.

Wiranata yang memang merasa tidak akan unggul, tanpa menoleh-noleh lagi langsung meninggalkan mayat-mayat kawannya di tengah jalan.

"Wiranata?!" Seorang laki-laki berjubah ungu berseru kaget, ketika melihat pemuda yang dipanggil Wiranata muncul dan jatuh terduduk di hadapannya.

Laki-laki berusia sekitar lima puluh lima itu tak lain dari Ki Banyu Raga, Ketua Padepokan Kipas Sakti.

"Apa yang telah terjadi padamu...?" lanjut KI Banyu Raga.

Wiranata merintih. Sementara, Ki Banyu Raga segera menghampiri. Segera dibopongnya Wiranata ke pembaringan sekaligus untuk mengobati tangan kanannya yang buntung.

Ki Banyu Raga cepat mengambil ramuan yang selalu tersimpan di lemari kamar pribadinya. Setelah minum ramuan pembelian gurunya, barulah Wiranata bisa menceritakan segala apa yang terjadi di tengah jalan.

Ki Banyu Raga jadi terdiam mendengarkan semua, sampai selesai. Dia heran, karena sama sekali tidak punya persoalan terhadap orang-orang dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan muridnya. Dan seingatnya pula, Dedemit Pintu Neraka yang pernah menyerang Kota Gede delapan tahun lalu, ciri-cirinya tidak seperti yang diterangkan Wiranata.

"Jadi kau belum sampai ke Kota Gede untuk memberi kabar pada Ki Pandhu Wilantara uwak gurunya?" tanya Ki Banyu Raga.

Laki-laki berjubah ungu ini, seperti tidak sabar menunggu jawaban muridnya. Namun dia jadi merasa maklum dengan kesehatan Wiranata yang sangat memprihatinkan.

"Aku dan saudara-saudara seperguruan yang lain sama sekali belum sampai di Kota Gede. Kami baru berada di perbatasan. ketika si Jubah Hitam Bermuka Hijau menyerang kami!"

"Singkatnya, jika dia menginginkan nyawamu, tentu kau tewas bersama saudara-saudaramu yang lain saat itu juga? Begitu?!" tukas Ki Banyu Raga menandaskan. Mukanya berubah merah menahan marah.

"Kurasa Guru lebih tahu artinya!" sahut Wiranata, pelan.

Memang, Ketua Padepokan Kipas Sakti ini tahu arti yang dituturkan muridnya. Tapi yang tidak dimengerti, mengapa orang-orang bermuka hijau itu memusuhinya? Padahal, dia merasa tidak pernah mengenalnya sama sekali. Apalagi untuk bersilang sengketa.

Bahkan kini yang lebih mengherankan lagi, si Jubah Hitam Bermuka Hijau mengancam ingin membunuh Ki Banyu Raga? Siapakah si Jubah Hitam bermuka Hijau itu? Apakah dia musuh Ki Pandhu Wilantara, saudaranya yang kini mengetuai Padepokan Merak Kayangan di Kota Gede? Sekali lagi Ki Banyu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bagaimanapun, bahaya ini harus dibicarakan pada Ki Pandhu Wilantara.

Namun untuk. berangkat malam begini rasanya tidak mungkin. Terlalu berbahaya meninggalkan Padepokan Kipas Sakti pada saat-saat genting seperti sekarang ini. Ketika Ki Banyu Raga sedang bingung memikirkan jalan terbaik yang harus diambil....

"Jangan biarkan lolos! Bunuh dia...!"

Saat itu pula di bagian depan terdengar teriakan-teriakan murid-murid penjaga. Secepat kilat, Ki Banyu Raga berkelebat dari kamar pribadinya, menuju halaman depan. Begitu sampai, dia melihat beberapa muridnya tengah mengurung seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Sebilah pedang bergagang kepala burung tampak tersampir di punggung.

"Heaaa...!"

"Serang...!" teriak seorang murid Padepokan Kipas Sakti sambil memutar kipas.

Dan secara serentak, murid-murid itu menyerang. Namun dengan ringannya, pemuda itu menghindari setiap serangan yang cukup mematikan. Bahkan tidak lama setelah itu, dia melompat ke atas pagar kayu yang mengelilingi bangunan besar perguruan ini

"Siapapun kau, kami harap lebih baik menyerah daripada mati sia-sia!" teriak seorang murid utama Padepokan Kipas Sakti penuh semangat.

DUA

­ Namun pemuda itu malah tersenyum. Sikapnya tenang. Bahkan tatapan matanya berkesan penuh wibawa.

"Aku datang kemari ingin menemui ketua Padepokan ini, Kisanak semua! Tapi kalau kalian tidak mengizinkan, tentu aku tidak akan memaksa!" jelas pemuda berompi putih itu kalem.

Pemuda itu segera berbalik. Namun baru saja hendak melompat...

"Siapa yang ingin berjumpa denganku? Harap datang kemari!"

Terdengar suara teguran yang berasal dari mulut Ki Banyu Raga. Tanpa merasa curiga sedikit pun Ketua Padepokan Kipas Sakti ini melangkah menuju halaman. Lain halnya para murid-muridnya yang terus bersiaga.

"Huup!" Dengan gerakan sangat mengagumkan, pemuda tampan berompi putih itu melesat dan berjumpalitan di udara. Cepat bukan main gerakannya, sehingga tahu-tahu telah berdiri di depan Ki Banyu Raga

"Jelaskan siapa namamu!" ujar Ketua Padepokan Kipas Sakti.

­Pemuda berompi putih ini menjura hormat. Sikapnya gagah dan berwibawa sekali. "Aku Rangga. Apakah aku sedang berhadapan dengan Ketua Padepokan Kipas Sakti?" tanya pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti.

"Tidak salah," sahut Ki Banyu Raga. "Kau datang pada malam-malam begini. Ada keperluan apakah?"

"Aku sedang melakukan perjalanan menuju Kota Gede. Di tengah perjalanan, aku melihat murid-murid sebuah padepokan tewas bergelimpangan. Apakah kau tahu tentang ini Paman?" tanya Rangga. Matanya menatap tuan rumah yang berumur sekitar lima puluh lima tahun ini dengan tatapan menyelidik.

"Apakah mereka tanda-tanda tertentu? Senjata misalnya? "

"Mereka berpakaian putih, bersenjata pedang!" jelas Rangga.

"Celaka...!" desis Ki Banyu Raga dengan raut wajah sulit dilukiskan.

"Ada apa, Paman?" tanya pemuda berompi putih, ini terheran-heran.

Ki Banyu Raga segera memerintahkan pada murid-muridnya untuk tetap bersiaga pada tempat masing-masing. Kemudian kepalanya berpaling pada Rangga.

"Sebaiknya masalah ini dibicarakan di dalam saja!" ajak Ketua Padepokan Kipas Sakti, sambil mempersilakan tamunya berjalan memasuki bangunan padepokan. Dan Ki Banyu Raga langsung mengajak ke sebuah ruangan khusus.

"Jika kau bermaksud pergi ke Kota Gede, sebaiknya bermalam di sini dulu! Akhir-akhir ini, keadaan semakin rawan. Kulihat kau orang baik-baik," ujar Ki Banyu Raga.

"Apa sebenarnya yang terjadi di sini?" tanya Rangga, penuh perhatian.

Ki Banyu Raga menggelengkan kepala berulang-ulang. Dihembuskannya napas dalam-dalam, seakan ingin membuang beban berat yang menyesakkan dada.

"Begitu banyak kelainan yang terjadi. Sampai saat ini pun, aku belum tahu siapa yang telah melakukan pembunuhan keji itu. Dia menamakan dirinya Si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Kemunculannya tiba-tiba, dan melakukan pembunuhan terhadap murid-murid padepokan dengan sebab-sebab tidak jelas!" keluh Ki Banyu Raga, menjelaskan.

Melihat nada ucapan itu, Rangga dapat menduga telah terjadi sesuatu yang tidak beres di sekitar Padepokan Kipas Sakti.

"Dapatkah Paman cerita pada ku, siapa si Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tanya Rangga pelan.

"Sulit mengatakannya! Yang diketahui selama ini, memang ada gembong tokoh sesat berjuluk Dedemit Pintu Neraka! Mereka tinggal di sebelah barat lereng Gunung Simeru! Orang ini pernah memporak-porandakan Kota Gede dan membunuh adipatinya. Sekarang Kota Gede dipimpin saudaraku yang bernama Pandhu Wilantara. Dia juga mendirikan sebuah padepokan di sana. Mungkin mayat-mayat yang kau temui adalah murid-murid Kakang Pandhu Wilantara, " Jelas Ki Banyu Raga panjang lebar.

"Jadi, Paman tidak tahu siapa si Jubah Hitam Bermuka Hijau itu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, ingin kepastian.

"Hingga sampai sekarang, aku sendiri belum mengetahuinya, secara pasti. Boleh jadi, dia adalah Dedemit Pintu Neraka yang merubah julukan dengan si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

"Kalau begitu sulit menentukannya," desah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti seperti kehilangan arah untuk menentukan sikap. Rangga tidak ingin terlibat begitu saja, sebelum jelas benar persoalannya.

"Satu-satunya yang dapat kukatakan padamu, seperti penuturan muridku yang selamat, si pembunuh itu mempunyai senjata rahasia berupa kelabang hitam dan juga bintang persegi lima. Dia juga mempunyai jurus-jurus pedang sangat hebat. Kecepatannya dalam mempergunakan senjata, sama dengan kedipan mata. Sedangkan Dedemit Pintu Neraka tidak pernah mempergunakan pukulan beracun!" jelas Ki Banyu Raga, lagi.

Kemarahan Ketua Padepokan Kipas Sakti ini meluap kembali bila teringat pada peristiwa delapan tahun lalu. Ketika itu, Dedemit Pintu Neraka melakukan pembantaian besar-besaran di Kota Gede. Sangat disayangkan, kedatangannya terlambat. Sementara pada waktu itu, Ki Pandhu Wilantara dan istrinya sedang mengasingkan diri di tempat lain.

Menurut kabar yang didengarnya ketika itu, ada seorang pendekar yang berusaha mati-matian melawan Dedemit Pintu Neraka bersama anak buahnya. Tapi perlawanannya kandas setelah mendapat pukulan beracun. Seluruh keluarga pendekar itu terbantai. Bahkan istri dan anak gadisnya diperkosa, lalu dibunuh secara keji di depan matanya. Pendekar ini kabarnya tewas, setelah mati-matian menyelamatkan keluarganya.

"Apa yang Paman pikirkan?" tanya Rangga, setelah melihat Ketua Padepokan Kipas Sakti hanya diam saja.

"Masalah ini sebenarnya menyangkut keluargaku. Dedemit Pintu Neraka dulu adalah penduduk Kota Gede juga. Orangtuanya gembong perampok yang berhasil mendirikan kerajaan kecil. Karena selalu mengancam kehidupan orang banyak, maka Adipati Kota Gede bersama orang-orang persilatan menghancurkan kerajaan gembong ini. Sayang, salah seorang putranya yang berusia dua puluh dua tahun berhasil menyelamatkan diri. Beberapa tahun kemudian, anak itu menyerang Kota Gede. Dialah Dedemit Pintu Neraka!" jelas Ki Banyu Raga secara panjang lebar.

"Jadi siapa si Jubah Hitam Bermuka Hijau, tidak seorang pun yang tahu?" tebak Rangga.

"Benar," jawab Ketua Padepokan Kipas Sakti mengakui.

­"Apa rencana Paman selanjutnya?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

Rupanya pemuda ini sangat tertarik untuk terlibat di dalam masalah rumit yang sedang dihadapi Ki Banyu Raga. Sehingga dia tidak berpikir lagi bahwa sebenarnya baik si Jubah Hitam Bermuka Hijau maupun Dedemit Pintu Neraka sama berbahayanya.

"Aku sebenarnya ingin ke Kota Gede, untuk memberi kabar pada kakangku. Tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, mustahil padepokan ini kutinggalkan. Aku takut, si Jubah Hitam Bermuka Hijau datang dan membunuhi semua muridku. Sekarang, kebetulan kau datang. Dan kalau kau mau, aku ingin minta tolong agar mewakiliku menyampaikan kabar buruk ini pada kakangku," pinta Ki Banyu Raga penuh permohonan.

Rangga tentu saja tidak merasa keberatan. Apalagi memang hendak pergi ke Kota Gede pula.

"Pesan apa yang akan Paman sampaikan?"

"Seperti yang kukatakan tadi, aku ingin menyampaikan masalah gawat ini pada Pandhu Wilantara jika tidak keberatan, aku mohon padamu untuk menyelidiki masalah ini hingga tuntas!"

"Aku tidak keberatan. Selama aku mampu memikulnya, maka aku bersedia membantumu dari kesulitan ini. Tapi, aku tidak dapat menjanjikan yang muluk-muluk. Kita lihat saja nanti, bagaimana hasilnya...!" jawab Rangga, merendah.

"Aku memahami dan menghormati jasa baikmu. Aku sendiri tidak mungkin berpangku tangan menunggu nasib. Mungkin, aku akan berusaha menyingkap tabir ini dengan caraku sendiri!" tegas Ki Banyu Raga dengan wajah muram.

Malam itu Rangga terpaksa menginap di tempat padepokan milik Ki Banyu Raga. Keesokan paginya dia akan menuju Kota Gede.

********************

Seorang pemuda terus berlari tanpa menghiraukan caci maki seorang laki-laki tua yang juga berlari di belakangnya. Terkadang pemuda itu bersembunyi untuk mengecoh. Namun ke mana pun dia bersembunyi, laki-laki tua berambut putih ini selalu menemukannya.

"Hei..., bocah edan, Joko Tawang! Kau mau ke mana? Berhenti!" teriak laki-laki tua itu dengan suara keras.

Pemuda bernama Joko Tawang tetap tidak mau berhenti. Bahkan malah mempercepat langkahnya. Hingga membuat laki-laki tua itu garuk-garuk kepala kehilangan akal.

"Jadi kau tetap tidak mau melayani aku bermain catur?"

"Tidak!" sahut Jaka Tawang, tegas. "Aku sudah letih memikirkan teka-teki catur. Memusingkan. Bahkan membuat kepala Guru sendiri menjadi botak. Aku tidak mau berkepala botak gara-gara catur. Mana ada nanti gadis yang sudi padaku!"

"Ah.... Sebentar saja. Sebentar saja! Aku pasti keluar sebagai pemenang!" sahut kakek berambut putih itu yang dikalangan persilatan dikenal sebagai KI Sabda Gendeng. Tokoh ini memang paling keranjingan dengan permainan catur.

"Guru...! Mana pernah kau mau mengalah! Setiap main, selalu maunya menang melulu. Itu tidak adil namanya!" seru Jaka Tawang sambil cemberut.

"Ha ha ha...! Apakah kau mau kupecat jadi muridku? Kalau sudah bosan menjadi murid, memang lebih baik membangkang perintah Guru. Nanti biar kucari murid yang lebih baik dan penurut!" ancam Ki Sabda Gendeng.

Murid dan guru yang sama konyolnya ini kemudian sama-sama menyeringai. Lalu, sama-sama pula menggaruk kepala.

"Siapa sudi menjadi murid orang gila catur sepertimu. Orang tolol pun pasti tidak sudi!" sahut Jaka Tawang, tidak mau kalah.

Ki Sabda Gendeng malah tertawa. Diambilnya papan catur dari balik pakaian. Tanpa menghiraukan ocehan Jaka Tawang, papan catur itu mulai digelarnya. Bahkan seenaknya dia duduk berselonjor di bawah sebatang pohon rindang, mengangkangi papan caturnya. Segera disusun bidak-bidak catur di atas papan.

"Hei..., Jaka Tawang murid gendeng! Cepat kemari temani gurumu ini main catur. Setelah itu, baru nanti kuajari jurus-jurus baru yang hebat!" panggil laki-laki tua ini.

"Sudah dua minggu Guru janji melulu. Sampai kapan Guru akan mengajari aku jurus baru? Mana mungkin ilmuku bertambah bila diajak main catur melulu! Sudahlah, Guru! Aku ingin istirahat!" tolak pemuda yang sama konyol dengan gurunya ini, sambil mencari tempat teduh.

Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Jaka Tawang merebahkan badannya di atas rerumputan hijau di bawah pohon rindang. Sama sekali tidak dipedulikannya oleh Jaka Tawang. Kedua telinganya ditutup rapat-rapat agar suara gurunya tidak mendengar.

Jaka Tawang menarik napas dalam-dalam, sambil bangkit dari berbaringnya. Pada saat itu pula, hidungnya mengendus bau sesuatu yang sangat busuk.

"Aku seperti mencium bau bangkai!" gumam Jaka Tawang. Pemuda ini mencari-cari. Sampai kemudian matanya melihat lembah yang tidak begitu dalam di bawahnya, Semakin terkejut Jaka Tawang ketika melihat ada beberapa sosok tubuh bergelimpangan.

"Apakah bau busuk berasal dari sana?" gumam Jaka Tawang lagi, bertanya pada diri sendiri. Tanpa sepengetahuan gurunya yang terus sibuk dengan anak-anak caturnya, pemuda ini segera menuruni bukit Gerakannya sangat hati-hati, pertanda berusaha bersikap waspada.

"Jaka! Kau jangan membuatku kesal, ya...? Sekarang bidak-bidak catur telah siap dijalankan. Kau tunggu apa lagi kalau tidak bergabung dengan gurumu? Ayo, kalahkan aku.... Ayo, murid gendeng...!" ajak Ki Sabda Gendeng tanpa pernah mengalihkan perhatian dari papan caturnya yang mementang di depan mata.

Karena ucapannya tidak mendapat jawaban dari Jaka Tawang, Ki Sabda Gendeng jadi uring-uringan.

"Anak edan! Pergi ke mana lagi kau?" teriak laki-laki gila catur itu dengan suara keras.

Jaka Tawang yang sudah berada di bawah lembah itu sebenarnya mendengar panggilan gurunya. Namun sudah tidak digubrisnya sama sekali.

Kini perhatian Jaka Tawang sepenuhnya tertuju pada mayat-mayat yang telah membusuk di depannya. Sambil memencet hidung untuk menghindari bau busuk yang menyengat, pemuda ini berusaha memikirkan apa yang telah terjadi pada mayat-mayat itu sebelumnya. Bukan karena apa-apa, sebab ini adalah kedua kalinya mereka menemukan mayat-mayat seperti itu dalam perjalanan.

Begitu sibuknya Jaka Tawang memikirkan kematian orang lain, sampai-sampai tidak melihat kedatangan gurunya. Ki Sabda Gendeng langsung menjewer telinga dan menyeretnya kembali naik ke atas bukit.

Jaka Tawang mencoba meronta. Tapi, usahanya hanya membuat daun telinganya menjadi semakin bertambah sakit.

"Apa saja kerjamu di bawah sana. Orang mati diurusi! Aku teriak-teriak mengajak main, malah tidak digubris sama sekali...!" maki Ki Sabda Gendeng bersungut-sungut.

­"Aku mau dibawa ke mana, Guru?" tanya Jaka Tawang. "Pasti main catur lagi, bukan? Apakah Guru tidak ingin tahu mengapa orang-orang itu dibunuh. Dan, siapa yang membunuh mereka?"

"Orang mati biarkan mati itu berarti takdir dan nasibnya sedang apes. Kita yang hidup harus teruskan pertandingan!" sergah Ki Sabda Gendeng tidak mau peduli

"Seharusnya Guru mengajari aku jurus baru. Sewaktu-waktu jika kepandaianku sudah hebat, aku tidak akan mendapat nasib seperti mereka!"

"Hhh.... Mati saja ditakutkan...! Sudahlah.... Coba kalahkan aku. Bila menang, hadiahnya aku akan mengajarimu jurus baru yang bernama' Anak Kepompong Keluar Sarang'," ujar Ki Sabda Gendeng, seenaknya.

Tentu saja hal ini membuat jengkel Jaka Tawang. Gurunya jelas-jelas mau menang sendiri dan tidak sudi dikalahkan. Walau Jaka Tawang punya peluang untuk menang, tapi terpaksa mengalah. Karena kalau tidak begitu, dia tidak akan mendapat jurus-jurus baru.

"Nanti kalau sudah selesai main catur kita berangkat ke Kota Gede. Kita selidiki, siapa yang telah melakukan pembunuhan itu? Kurasa mayat-mayat itu murid-murid itu dari sebuah padepokan. Ayolah.... Sekarang temani aku main catur," desak Ki Sabda Gendeng.

Mau tak mau, pemuda itu menuruti kata-kata gurunya.

Ki Sabda Gendeng dan muridnya terus menelusuri jalan menuju Kota Gede. Sementara Ki Sabda Gendeng tidak henti-hentinya mengajak Jaka Tawang untuk melanjutkan permainan catur yang selalu tertunda.

"Aku tidak mau main dulu, Guru," tolak Jaka Tawang yang sama gendengnya. "Main catur aku disuruh mengalah melulu!"

"Aku tidak menyuruhmu mengalah. Kalau mau menang..., ya menang saja. Ha ha ha...!" bantah Ki Sabda Gendeng seenaknya.

"Memang.... Tapi kalau aku yang menang, Guru berhenti menurunkan jurus-jurus terbaru!" sahut Jaka Tawang serba salah.

Watak Ki Sabda Gendeng yang angin-anginan itu memang mau menangnya sendiri. Kalau sudah berhadapan dengan papan catur, seharian dia tahan. Lupa makan dan lupa pada kewajibannya yang seharusnya mengajari muridnya dengan jurus-jurus baru. Sebaliknya Jaka Tawang juga murid sableng. Kalau sudah kesal, dimainkannya bidak-bidak catur seenaknya. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan gurunya.

"Di depan kita dapat istirahat dan melanjutkan permainan kita. Aku yakin, kali ini kau kalah lagi!" usik Ki Sabda Gendeng lagi sambil tersenyum-senyum.

"Aku sudah lapar, Guru. Sebaiknya jangan bicarakan soal catur. Bukankah kita datang ke Kota Gede ini untuk mencari tahu tentang pembunuhan-pembunuhan itu?" Jaka Tawang mengingatkan.

Ki Sabda Gendeng hanya tertawa. "Persetan dengan orang-orang yang mati Buat kita, yang penting urusan catur harus dilanjutkan. Setelah itu, baru kita urusi orang yang telah melakukan pembunuhan itu," sahut laki-laki tua ini tetap ngotot.

Jaka Tawang memang selalu merasa kehabisan akal bila bicara dengan gurunya. Ada saja cara Ki Sabda Gendeng untuk menarik perhatian Jaka Tawang dalam bermain catur. Tapi bukan tak jarang pemuda itu juga mengerjai gurunya. Dasarnya memang sama-sama sableng, maka tak heran kalau punya kecocokan satu sama lain.

********************

TIGA

­Glar! Glar!

Ledakan-ledakan dahsyat terdengar menggelegar dari puncak Gunung Simeru, membuat tempat di sekelilingnya seakan-akan bergetar. Bukan dari kawah gunung itu sumber ledakan, tapi dari sebuah telaga berwarna merah yang terdapat di dalam gua bawah tanah yang tak jauh dari puncak gunung itu.

Bersama ledakan yang membuat air telaga berhamburan ke segala arah, tersentak satu sosok. Sementara beberapa orang yang menunggu di sekitar telaga segera berlarian, mencari pelindungan.

"Aku bebas! Bebas, sebebas-bebasnya! Ha ha ha...!" teriak sosok lelaki yang ternyata tak memakai pakaian, kecuali sebuah cawat disertai tawa menggiriskan. "Dua tahun berada di telaga api darah, akan membuat musuh-musuhku menjadi bingung. "

Lelaki ini bermuka angker. Matanya besar dan nyalang. Rambutnya kaku bagai ijuk. Mulutnya lebar. Tubuhnya besar dengan otot-otot bertonjolan. Waktu mendarat di pinggir kolam tadi, kaki-kakinya yang kokoh bagai ingin meruntuhkan gua ini

"Selamat datang kembali di dunia nyata, Pangeran Kegelapan Dedemit Pintu Neraka! Kami adalah pengikutmu. Dan kami siap menjalankan perintah apa saja!"

Saat itu juga orang-orang bersembunyi tadi menampakkan diri. Mereka langsung bersujud, menyambut kedatangan sosok seram berjuluk Dedemit Pintu Neraka.

"Kuterima bakti kalian! Hm...! Aku mendapat firasat kalau kita kedatangan musuh besar. Namanya, si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Dia berjubah hitam dan berwajah hijau. Hadang dia. Dan, bunuh...!" perintah Dedemit Pintu Neraka tegas.

Sebagian dari belasan laki-laki yang ternyata berwajah rusak itu langsung menunduk. Setelah itu mereka berbalik meninggalkan gua pualam ini

********************

Suara ledakan-ledakan dari telaga di dalam perut Gunung Semeru terus terdengar walaupun sudah mulai mereda. Pada bagian lereng gunung, tampak berkelebat satu sosok bayangan hitam. Gerakannya cepat bagai kilat. Bibirnya yang berwarna hijau tersenyum-senyum yang justru mirip seringai.

Tidak lama kemudian, entah mengapa sosok berjubah hitam ini yang ternyata seorang laki-laki bermuka hijau itu menghentikan langkahnya. Hulu pedang yang selalu berada dalam genggaman tangan diperhatikan sejenak.

''Hm.... Dedemit Pintu Neraka pasti telah berhasil menguasai ajian 'Telaga Geni'. Artinya aku harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengalahkannya!" gumam sosok berjubah hitam ini.

Sosok berjubah hitam itu tetap diam di tempatnya berdiri. Telinganya sejenak dimiringkan ke kiri dan kanan.

"Hm.... Aku mendengar sesuatu yang mencurigakan. Huh...! Aku jadi ingin tahu, sampai di mana kehebatannya!" gumam sosok ini lagi penuh kegeraman.

Seperti dugaan dan firasat laki-laki berjubah hitam. Tidak lama berlompatan beberapa sosok tubuh dari semak-semak di sekelilingnya yang langsung mengurungnya.

"Hmm.... Kaukah yang bergelar si Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tegur salah satu sosok penghadang, begitu mengenali ciri-cirinya.

"Ha ha ha...! Apa aku tak salah? Ternyata yang kuhadapi cecunguk-cecunguk busuk!" sahut sosok yang tak lain si Jubah Hitam Bermuka Hijau, sombong. "Katakan pada Dedemit Pintu Neraka. Aku telah datang!"

Rupanya si Jubah Hitam Bermuka Hijau tahu kalau para penghadangnya adalah pengikut-pengikut Dedemit Pintu Neraka. Karena memang firasatnya berkata demikian.

"Bangsat rendah! Bunuh dia!" perintah penghadang yang berbadan gemuk tinggi pada ketiga kawannya.

"Hiyaaa..!"

Wut! Wut! Wut!

Dalam gebrakan pertama saja para pengikut Dedemit Pintu Neraka sudah mempergunakan senjata berbentuk cakram yang bergerigi seperti mata gergaji. Begitu kompaknya serangan mereka, sehingga secara serentak terdengar deru angin dari tempat penjuru mengancam keselamatan si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

"Hup...!" Walau demikian, laki-laki berjubah hitam itu sama sekali tidak gugup. Seketika tubuhnya melenting ke udara. Sambil berputaran dirogohnya benda-benda putih berbentuk bintang segi lima dari balik jubahnya. Dan saat tubuhnya meluncur deras ke bawah, tangannya dikibaskan.

Set! Set!

Tring! Tring!

Namun senjata-senjata rahasia itu berpentalan tertangkis senjata berbentuk seperti cakram milik para pengikut Dedemit Pintu Neraka.

"Hmm " gumam si Jubah Hitam Bermuka Hijau tidak jelas, begitu mendarat di tanah. Laki-laki berjubah hitam ini menatap tajam ke arah para pengeroyoknya. Otaknya berputar, mencari Jalan untuk merobohkan pengikut-pengikut Dedemit Pintu Neraka yang ternyata cukup tangguh.

"Kau tidak bakal unggul menghadapi kami, Jubah Hitam Bermuka Hijau...!" desis salah seorang pengeroyok disertai senyum mengejek.

"Takdir kalian mati di tanganku, seperti halnya Dedemit Pintu Neraka!" gertak si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

Saat berkata demikian, laki-laki berjubah hitam ini menerjang. Kali ini gerakannya benar-benar cepat luar biasa. Langsung dilepaskannya tendangan dahsyat

­Wuuttt...!

Namun pada saat itu. salah satu senjata seorang pengeroyok meluruk deras ke bagian leher. Maka mau tak mau si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung menarik balik serangan. Cepat kepalanya dimiringkan ke kiri, sehingga senjata itu lewat di atas kepalanya.

Pada saat itu, si Jubah Hitam Bermuka Hijau melihat sebuah kesempatan baik. Tanpa disia-siakan, langsung saja tangannya menyodok dada salah satu lawan yang berada paling dekat

Desss...!

Krak!

"Aaa...!"

Terdengar jerit kematian disertai bunyi berderaknya tulang dada orang itu. Darah kontan menyembur dari mulut Tubuhnya terpelanting, dan tidak bangun untuk selama-lamanya

Melihat kematian kawannya, para pengikut Dedemit Pintu Neraka lainnya bukan menjadi takut sebaliknya sambil berteriak penuh kemarahan, mereka kembali melancarkan serangan gencar.

Kini ini serangan mereka benar-benar hebat luar biasa. Senjata-senjata berbentuk cakram terus melesat membelah udara mencari sasaran, begitu dikibaskan. Hal ini membuat si Jubah Hitam Bermuka Hijau tampak kewalahan juga menghindarinya. Tapi keadaan ini tidak berlangsung lama.

"Heaaa!" Mendadak, si Jubah Hitam Bermuka Hijau berteriak melengking tinggi. Suaranya menggetarkan tanah dan mengguncang isi dada: Bersamaan dengan itu pula dikerahkannya jurus andalan. Hanya dalam waktu singkat, tubuhnya telah berkelebat lenyap, membuat serangan-serangan para pengeroyok tidak mengenai sasaran.

Rupanya para pengikut Dedemit Pintu Neraka merasa penasaran. Seketika, satu sama lain segera memberi isyarat.

"Jala Pintu Neraka!" teriak para pengikut Dedemit Pintu Neraka, hampir berbarengan. Saat itu juga, tiga buah tangan bergandengan saling menyatu. Selanjutnya, terlihat cahaya merah laksana bara memancar dari bagian telapak tangan mereka.

Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tahu benar arti semua ini. Jika mereka telah menyatukan tenaga dan pikiran, berarti tidak ada jalan untuk menghancurkan mereka. Dan bukan mustahil dia segera binasa terkena pukulan salah satu lawannya.

"Hanya Pedang Kala Hitam yang dapat menghancurkan mereka!" desis si laki-laki berjubah hitam dengan wajah beringas.

Sring!

"Hiya!" Sambil berteriak keras, si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung melompat ke depan. Pedang Kala Hitam di tangannya meluncur deras ke arah tiga tangan para pengikut Dedemit Pintu Neraka yang masih saling berpegangan. Cepat sekali gerakannya. Sehingga, orang-orang itu tidak sempat lagi menghindar dan menarik tangan yang saling menempel.

Cras! Cras! Crasss...!

"Aaagkh!"

Tiga tangan kontan terbabat putus dan jatuh di bawah kaki. Para pengikut Dedemit Pintu Neraka berteriak kesakitan, dan berusaha menotok bagian-bagian sekitar luka untuk menghentikan darah yang terus mengucur keluar.

Selagi mereka sibuk menghentikan darah si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang berdarah dingin kembali menyerang. Hanya sekedipan mata saja ujung pedangnya telah menembus perut tiga orang lawannya.

Crab! Crab! Crab!

­"Aaa...!"

Kembali terdengar jerit kematian saling susul, memecah keheningan malam. Mereka jatuh bergelimpangan tanpa nyawa.

********************

Si Jubah Hitam Bermuka Hijau memandang nyalang ke atas puncak Gunung Semeru. Tidak ada cahaya di sana. Kesunyian terasa sangat mencekam.

"Dedemit Pintu Neraka!" teriak si Jubah Hitam Bermuka Hijau dengan suara lantang. "Apakah kau begitu pengecut untuk berhadapan denganku?! Berapa banyak kesalahan yang telah kau lakukan terhadapku?! Keluarlah kau dan singgasana busukmu itu!"

"Ha ha ha...! Para pengawalku rata-rata mempunyai kepandaian tinggi. Tapi, rupanya kau dapat merobohkan mereka dalam waktu singkat. Kuakui, kau sangat hebat! Tapi, bukan berarti sudah pantas berhadapan denganku!" sahut sebuah suara dan celah puncak gunung. Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tahu itu adalah suara Dedemit Pintu Neraka.

"Praba Kesa.... Aku datang menghendaki nyawamu Mengapa kau tidak berani muncul menemuiku?! " teriak si Jubah Hitam Bermuka Hijau, memanggil nama asli Dedemit Pintu Neraka.

"Hhh...! Rupanya kau kenal namaku. Baiklah kalau kau memang menginginkan nyawaku Sekarang, bersiap-siaplah untuk menerimanya! " balas Praba Kesa yang berjuluk Dedemit Pintu Neraka.

Tanpa diduga-duga oleh si Jubah Hitam Bermuka Hijau, saat itu juga melayang puluhan batu besar berapi ke arah si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

Laki-laki berjubah hitam ini sempat terkesiap. Dengan gesit, dia menghindari serangan sambil terus berkelebat menuju puncak. Namun batu-batu menyala yang datang seakan tidak pernah ada habis-habisnya.

"Ha ha ha...! Mengapa kau malah menghindarinya, Jubah Hitam Bermuka Hijau? Bukankah kau menghendaki nyawaku?" ejek Praba Kesa, penuh kemenangan. "Sekarang belum saatnya bagiku turun tangan menghadapimu! Pergilah dari sini!"

Sementara batu berapi terus menghujani si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Namun sambil terus berkelebat, kini laki-laki berjubah hitam ini tak tinggal diam. Secepat kilat tangannya mengibas ke arah batu-batu itu.

­Set..! Set..!

Seleret sinar putih laksana perak disertai desiran halus meluncur ke arah batu-batu menyala. Lalu....

Glar! Glar...!

Batu-batu itu kontan hancur dan menjadi serpihan bola api yang membuat terang kegelapan di sekitarnya.

Praba Kesa terkejut melihat kehebatan si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang kini berada tak jauh lagi dari gua yang ditempatinya. Maka segera diperintahnya para pengikutnya untuk menutup jalan utama masuk gua ini. Dan pintu batu itu pun menutup bersamaan waktunya dengan si Jubah Hitam Bermuka Hijau sampai di depannya pada jarak dua tombak.

"Hiya!" Sambil berteriak si Jubah Hitam Bermuka Hijau menghentakkan kedua tangannya disertai tenaga dalam tinggi untuk menghancurkan pintu batu.

Wuuttt!

Blam...!

Namun usaha yang dilakukan si Jubah Hitam Bermuka Hijau hanya sia-sia saja, karena pintu batu hanya bergetar saja. Berkali-kali dia melepaskan pukulan, tapi tetap tidak memiliki arti sama sekali.

"Dedemit Pintu Neraka!" teriak si Jubah Hitam Bermuka Hijau marah. "Hari ini kau lolos dari kematian. Tapi kelak bila urusanku telah selesai aku akan kembali untuk memenggal kepalamu!" '

Tidak terdengar suara apa-apa. Begitu gema suara laki-laki berjubah hitam lenyap, suasana berubah menjadi sunyi kembali. Dengan perasaan jengkel, si Jubah Hitam Bermuka Hijau melangkah pergi menuruti Gunung Simeru.

********************

Sesampainya di Kota Gede, Rangga ternyata tidak berhasil menjumpai Ketua Padepokan Merak Kayangan. Tapi kehadirannya disambut seorang gadis cantik berbaju putih berambut panjang yang tak lain Warsih putri satu-satunya Ki Pandhu Wilantara.

"Apa tujuanmu ingin menemui ayahku?" tanya gadis berbaju putih itu, ramah namun berkesan tegas.

"Namaku, Rangga. Kedatanganku kemari ingin menyampaikan pesan yang dititipkan Paman Banyu Raga padaku, " sahut Rangga, ramah pula.

Dalam hati Rangga mengakui bahwa putri Ketua Padepokan Merak Kayangan ini memang cantik dan ramah.

"Rangga.... Rasanya, aku pernah mendengar nama itu. Tapi aku lupa kapan dan di mana?" desah Warsih. "Aku, Warsih. Sekarang ini, Ayah sedang pergi. Kalau ada perlu apa-apa, kau boleh menyampaikannya. Sebab saat ini, Ayah tidak berada di tempat Mungkin beberapa hari lagi baru pulang!" jelas gadis itu, bersahabat

"Tapi apa yang ingin kusampaikan ini sangat penting, Warsih. Semuanya menyangkut masalah Kota Gede," tandas Rangga.

"Apakah itu berhubungan dengan sepak terjang si Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tanya Warsih.

Pendekar Rajawali Sakti cepat menganggukkan kepala. Dan berhubung gadis ini sudah mengetahui persoalan yang ingin disampaikan, maka Pendekar Rajawali Sakti langsung saja menceritakan pesan yang dititipkan Ki Banyu Raga.

Warsih mendengarkan penuh perhatian. Kiranya si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang tidak jelas asal usulnya dan telah membunuh murid-murid Padepokan Merak Kayangan ini juga mulai membunuh murid-murid Padepokan Kipas Sakti yang dipimpin Ki Banyu Raga. Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus segera diambil tindakan.

Namun pada siapa Warsih harus membicarakannya? Ayahnya hingga sampai kini belum kembali. Apakah pemuda berompi putih ini bisa dipercaya?

"Hm..., si keparat itu juga telah membunuhi murid-murid ayahku!" desis Warsih.

"Bagaimana ceritanya, Warsih?" tanya Rangga.

­Secara singkat pula putri Ki Pandhu Wilantara menceritakan tentang hilangnya murid-murid padepokan yang mengadakan penyelidikan. Sampai akhirnya, ayahnya sendiri terpaksa turun tangan untuk melakukan penyelidikan.

"Hm," gumam Rangga tidak jelas.

"Apa yang kau pikirkan, Rangga?" usik gadis ini. ­Warsih rupanya gampang akrab dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sehingga, Pendekar Rajawali Sakti tidak merasa canggung lagi.

"Ayahmu sekarang ini terancam bahaya...," tukas Rangga, khawatir.

"Bagaimana kau tahu?" tanya gadis baju putih merasa perasaan cemas.

"Aku melihat korban-korban akibat ulah si Jubah Hitam Bermuka Hijau adalah murid-murid padepokan yang ada hubungannya dengan ayahmu. Terutama padepokan di Kota Gede ini. Dan kurasa, si Jubah Hitam Bermuka Hijau atau siapa pun dia, punya dendam kesumat pada ayahmu dan rakyat Kota Gede ini!"

"Lalu apa yang harus kulakukan! Menyusul ayahku bisa saja kulakukan. Tapi, bagaimana dengan perguruan ini? Mustahil kutinggalkan begitu saja," tukas Warsih bingung.

"Serahkan itu padaku! Sekarang, katakan ke mana arah perginya ayahmu?" tanya Rangga.

"Dia menuju Padang Neraka. Tempat itu terletak di sebelah selatan Gunung Semeru. Aku yakin, dia sekarang berada di sana," jelas Warsih, yakin.

"Baiklah. Sekarang aku harus mengejar waktu menyusul orangtuamu. Mudah-mudahan, aku belum terlambat," desah Pendekar Rajawali Sakti.

"Mengapa harus tergesa-gesa? Sekarang hari sudah sore. Kau bisa kemalaman di perjalanan?" tanya Warsih.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Keselamatan ayahmu termasuk sangat penting artinya bagiku!" sahut Pendekar Rajawali Sakti. "Sekarang aku mohon diri...."

********************

EMPAT

­Seorang laki-laki tua menghentikan kudanya di sebuah padang tandus berbukit-bukit Tidak ada kehidupan di tanah ini, terkecuali kegersangan dan tulang, belulang manusia yang bertebaran di mana-mana.

Di tengah-tengah suasana panas menyengat siang hari, laki-laki berpakaian serba putih ini mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu kudanya digebah kembali menapaki bukit-bukit di sekitarnya. Entah apa yang dicarinya di tempat itu. Namun, sikapnya sangat waspada.

Sampai di punggung bukit, kembali laki-laki tua ini menarik tali kekang kudanya hingga berhenti seketika. Matanya kembali memperhatikan sekelilingnya. Sejauh-jauh mata memandang hanya kegersangan saja yang terlihat. Namun baru saja dia hendak menjalankan kudanya....

"Ha ha ha...!"

Laki-laki tua ini tersentak ketika mendengar tawa yang disertai pengerahan tenaga dalam. Bahkan tak lama berhembus angin kencang menebarkan bau bangkai.

"Akhirnya kau datang juga, Pandhu Wilantara. Kau tentu saja merasa senang bisa mendirikan padepokan, sekaligus memerintah Kota Gede. Kau hanya tinggal menikmati hasilnya. Sementara ketika Dedemit Pintu Neraka melakukan penyerbuan ke kota itu, kau malah berpura-pura mengasingkan diri!" lanjut suara yang belum jelas jasadnya, kuat menggelegar.

Laki-laki tua yang ternyata Ki Pandhu Wilantara ini malah mengerahkan tenaga dalam untuk menolak guncangan pada dadanya akibat serangan tawa itu. Dan dia terkejut juga, karena tidak mengira kalau orang yang barusan bicara tadi kenal namanya. Bahkan tahu betul ketika Dedemit Pintu Neraka mengadakan penyerbuan ke Kota Gede.

"Siapa kau?!" teriak Ketua Padepokan Merak Kayangan ini.

Blam...!

Sebelum ada jawaban, tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat sepuluh tombak di depan Ki Pandhu Wilantara. menimbulkan asap pekat Ledakan itu disertai munculnya sosok tubuh berjubah hitam.

Laki-laki berpakaian serba putih ini terbelalak. ­Dia terkejut ketika melihat wajah laki-laki berjubah hitam ini.

"Turunlah dari kudamu. Pandhu Wilantara! Kau sekarang telah berada dalam genggamanku! Hidupmu berada di tanganku!" perintah sosok yang tak lain si Jubah Hitam Bermuka Hijau, dingin.

Sebagai tokoh persilatan yang cukup disegani, tentu Ketua Padepokan Merak Kayangan ini tidak mau patuh begitu saja. Laksana kilat diambilnya sesuatu dari balik pakaiannya. Namun pada saat yang bersamaan, si Jubah Hitam Bermuka Hijau menjejak permukaan tanah di sebelahnya yang terdapat sebuah tombak kayu sepanjang setengah tongkat

Bruuuk!

"Heh?!"

"Hieeekh...!"

Saat itu juga, tanah tempat kuda tunggangan, KI Pandhu Wilantara berdiri amblas, terperosok ke dalam lubang rahasia yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kuda itu kontan meringkik terkejut. Apalagi di dasar lubang besar ini terdapat bambu-bambu runcing yang siap menembus perut kuda.

Creb...!

"Heekh...!"

Sebelum kuda itu tertancap bambu-bambu runcing sehingga menimbulkan ringkikan memelas, Ki Pandhu Wilantara telah melenting ke atas disertai ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat sempurna.

"Haiiit!"

Setelah berputaran beberapa kali, dengan gerakan manis Ketua Padepokan Merak Kayangan itu menjejakkan kedua kakinya dua tombak di depan si Jubah Hitam Bermuka Hitam.

"Kepandaianmu lumayan juga, Pandhu. Namun tidak cukup berarti bagiku. Ketahuilah.... Dulu aku mati-matian menyelamatkan Kota Gede dari kehancuran. Anak istriku tewas. Dan aku kehilangan segala-galanya. Kau yang kini memimpin Kota Gede dulu hanya melihat penderitaanku. Kalian tidak berbuat apa-apa. Sekarang, pantaskah kau menamakan dirimu sebagai pelindung dan pendekar di Kota Gede? Padahal, akulah yang berjuang bersama adipati. Tapi meski aku hidup sampai sekarang, meski nasibku tidak sebaik nasibmu!"

"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu sama sekali!" bantah Ki Pandhu Wilantara terheran-heran.

"Kau tidak usah berpura-pura. Hasil yang kau nikmati adalah hasil tetesan darah keluargaku Sekarang, aku meminta untuk membubarkan padepokan yang kau pimpin. Dan kuharap, kau dan anakmu segera meninggalkan Kota Gede!" tukas si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

Ketua Padepokan Merak Kayangan ini benar-benar kaget. Dia berusaha mengingat kejadian yang telah berlalu. Tapi rasanya, memang tidak pernah mengenal orang bermuka hijau ini.

"Sungguh.... Aku sama sekali tidak mengenalmu. Sekarang katakan padaku, Kisanak! Benarkah kau berjuluk si Jubah Hitam Bermuka Hijau?" tanya laki-laki berbaju putih ini tegas.

"Iya.... Akulah orangnya," sahut laki-laki berjubah hitam itu, tegas.

Seketika marahlah Ki Pandhu Wilantara. Kiranya orang bermuka hijau ini yang telah membunuh beberapa orang muridnya. Rasanya, dia tidak perlu lagi bicara lebih banyak.

"Kau membunuh secara membabi-buta, Dendammu telah berkarat tanpa sebab. Sekarang kau harus menyerah untuk diadili di Kota Gede!" ujar Ki Pandhu Wilantara keras sambil menghunus pedangnya.

Kata-kata Ketua Padepokan Merak Kayangan itu hanya membuat si Jubah Hitam Bermuka Hijau tertawa. Rupanya, Ki Pandhu Wilantara tidak sadar kalau tempat yang dikenal sebagai Padang Neraka ini seribu jebakan yang dibuat laki-laki bermuka hijau itu.

"Kupersiapkan kuburmu di sini! Rahasiamu ada di tanganku Dan suatu saat kelak, aku akan menceritakannya di depan orang-orang yang sangat mencintai keadilan!"

"Omong kosong! Heaaa...!" Disertai jeritan melengking, Ki Pandhu Wilantara menerjang dengan pedang terhunus. Namun sebelum serangannya sampai, si Jubah Hitam Bermuka Hijau telah mengibaskan tangannya dengan kecepatan sulit diikuti mata.

Set! Set!

Ki Pandhu Wilantara terkesiap ketika merasakan desiran angin halus dan berkelebatnya tiga buah benda hitam ke arahnya. Cepat pedangnya diputar untuk menghindari serangan benda-benda hitam yang tak lain kelabang hitam.

Tes!

Satu dari tiga ekor kelabang hitam berbisa yang mematikan berhasil ditebas pedang Ki Pandhu Wilantara hingga putus. Sedangkan dua lainnya terus meluncur menuju leher dan mata. Untuk menangkisnya dengan pedang lagi, sudah tidak ada kesempatan.

Demi keselamatan diri, terpaksa Ketua Padepokan Merak Kayangan ini melempar tubuhnya ke samping sambil berguling-guling. Maka dua ekor kelabang hitam lewat sejengkal di atas kepalanya.

Brosss... !

"Heh...?!"

Tapi baru saja Ki Pandhu Wilantara selamat, tanah yang dijadikan tempat berguling-gulingan amblas. Tidak ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan diri. Dia berusaha bangkit, namun tubuhnya sudah terus meluncur turun ke dalam lubang perangkap.

Sret! Sret!

"Akh!"

Di dalam lubang itu ternyata ada jaring yang dapat bekerja dengan sendiri. Sehingga begitu tubuh Ki Pandhu Wilantara masuk ke dalamnya telah terjerat begitu kuat. Dia meronta dan berusaha membebaskan diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya, hingga tingkat tinggi. Namun usahanya hanya sia-sia. Karena jaring-jaring itu pun agaknya terbuat dari bahan khusus dan juga telah dilapisi kekuatan dahsyat

"Ha ha ha...! Percuma kau berontak, Pandhu Wilantara. Jaring-jaring itu telah kulapisi ajianku yang bernama aji 'Urat Dewa'. Nikmatilah perangkapku. Dan kalau kau punya seribu murid, maka seribu perangkap telah menanti kalian. Padang Neraka adalah padang kematian bagi orang-orang berjiwa serakah seperti kau!" kata si Jubah Hitam Bermuka Hijau lantang.

"Manusia rendah! Aku tidak tahu menahu dengan segala ocehanmu. Bebaskan aku! Mari kita bertarung seribu jurus!" teriak Ki Pandhu Wilantara penuh tantangan.

Si Jubah Hitam Bermuka Hijau sama sekali tidak menghiraukan ocehan Ketua Padepokan Merak Kayangan yang sudah dikeluarkan dari jaring dalam keadaan tertotok. Diseretnya Ki Pandhu Wilantara. Dan, segera dibawanya ke salah satu pohon kering berumur puluhan tahun dalam keadaan kaki dan tangan terikat

Tanpa mengenal belas kasihan, si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung menggantung Ki Pandhu Wilantara dengan kaki di atas dan kepala ke bawah.

"Lepaskan aku, Bangsat! " maki Ki Pandhu Wilantara tanpa mampu menggerakkan tubuhnya.

"Kau manusia biadab yang tak akan kulupakan seumur hidup...!"

"Kau bebas bicara sesukamu, Pandhu. Walaupun dunia tidak mengetahui kebusukanmu, tapi kebenaran dapat melihat walaupun dalam kegelapan. Kau sekarang harus menerima buah dari apa yang kau tanam dahulu. Seperti halnya, Dedemit Pintu Neraka! Dia juga tidak akan lolos dari kematian!" dengus si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

Apa yang diucapkan laki-laki berjubah hitam hanya Ki Pandhu Wilantara saja yang mengetahui salah dan benarnya. Namun mulutnya tetap bungkam, walaupun ketika itu si Jubah Hitam Bermuka Hijau mulai mencambuki tubuhnya,

Ctar...! Ctarr...!

“Aaakh...!" Pakaian Ketua Padepokan Merak Kayangan ini hanya dalam waktu sekejap telah tercabik-cabik. Sekujur tubuhnya mulai mengalirkan darah. Ki Pandhu Wilantara terus menjerit dan meronta-ronta, tapi si Jubah Hitam Bermuka Hijau rupanya lelah menulikan hati dan telinganya. Bahkan kemudian dikeluarkannya beberapa ekor kelabang hitam yang sangat berbisa.

Binatang-binatang itu langsung menyengat Ki Pandhu Wilantara. Dan akibatnya, sungguh sangat mengerikan. Kulit Ketua Padepokan Merak Kayangan itu berubah menghitam. Wajahnya nyaris tidak dapat dikenali lagi. Tubuhnya menggelepar sekarat. Dan pada waktu itulah si Jubah Hitam Bermuka Hijau menghentikan siksaannya.

"Penderitaan yang kau rasakan belum seberapa, Pandhu! Jika nasibmu baik, kau akan berhadapan dengan burung pemakan bangkai. Dan riwayatmu tidak akan berbeda dengan tengkorak-tengkorak yang bertebaran di atas tanah ini...!" desis laki-laki berjubah hitam itu.

Laki-laki bermuka hijau ini kemudian meninggalkan Ketua Padepokan Merak Kayangan begitu saja. Dengan mantap, kakinya melangkah menuju Kota Gede. Di dalam benaknya terkandung niat, bahwa Padepokan Merak Kayangan yang sangat disegani akan diporak-porandakan.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

­"Hieekh...!" Seekor kuda berbulu hitam mengkilat yang berlari seperti dikejar setan, tiba-tiba saja mengangkat kakinya tinggi-tinggi ke udara. Sementara penunggangnya yang ternyata seorang pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung hampir terpental, kalau tak cepat menguasai diri.

"Hei.... Tenanglah, Dewa Bayu...!" ujar pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti, berusaha mengendalikan kudanya yang berubah liar.

Wusss...!

Baru saja Rangga bisa mengendalikan Dewa Bayu terasa ada suara desiran halus membelah angin. Seketika kepalanya berpaling ke arah datangnya suara.

"Hup...!" Dengan cepat, Pendekar Rajawali Sakti melompat dari punggung kuda ketika melihat sinar merah meluncur deras ke arahnya.

Jdar!

"Heh?!" Pendekar Rajawali Sakti terkejut melihat sinar merah itu menghantam sebuah pohon hingga hancur berantakan. Dan sebelum keterkejutannya hilang, seketika berlompatan tujuh orang laki-laki berwajah mengerikan dengan senjata tombak. Sementara hanya ada seorang yang wajah dan tubuhnya lebih mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kepalanya berambut seperti ijuk dengan kedua mata besar. Mulutnya lebar.

“Mengapa kau menahan perjalananku?” tegur Rangga, kalem.

Enam orang yang bertampang mengerikan hanya diam. Hanya mata mereka saja tampak liar mengawasi dengan sikap siap menyerang. Sedangkan laki-laki berpenampilan seram yang hanya menggunakan cawat melompat ke depan sambil memperhatikan Rangga dengan sorot mata menyelidik.

“Melihat arahmu, kau seperti baru meninggalkan Kota Gede! Apa hubunganmu dengan Pandhu Wilantara?” tanya laki-laki seram ini.

“Kisanak sendiri siapa?” Rangga balik bertanya.

Laki-laki bercawat ini tampak merah mukanya. Belum pernah dia merasa diremehkan orang lain. Apalagi oleh seorang pemuda.

“Aku Dedemit Pintu Neraka,” desis laki-laki yang tak lain Dedemit Pintu Neraka menggertak. “Sekarang katakan siapa kau. Dan, apakah benar dari Kota Gede?”

"Aku Rangga! Memang benar dari Kota Gede. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Pandhu Wilantara. Aku baru saja mengenalnya!" sahut Rangga dengan sikap tenang.

"Kau pasti berusaha membantunya, bukan?" tebak Dedemit Pintu Neraka yang bernama asli Praba Kesa.

"Kalau benar kenapa, dan kalau tidak kenapa?"desis Rangga penuh tantangan.

"Ha ha ha...! Ketua Padepokan Merak Kayangan adalah manusia bunglon. Dia pasti akan mengkhianatimu, sebagaimana mengkhianati aku sekarang! Menyesal aku telah membiarkannya menikmati kemakmuran selama bertahun-tahun. Tapi sekarang, dia akan membayar mahal pengkhianatannya! Kota Gede akan kuhancurkan kembali seperti waktu dulu!" teriak Dedemit Pintu Neraka sambil tertawa.

Sebenarnya Rangga terkejut juga mendengar kata-kata Praba Kesa. Dia tidak tahu, rahasia apa yang ada di antara Dedemit Pintu Neraka dengan Ki Pandhu Wilantara. Siapa yang salah dan siapa yang benar? Apakah si Jubah Hitam Bermuka Hijau juga berada di pihak yang salah? Atau dia malah berada di pihak yang benar? Mengapa Warsih tidak menceritakan segala sesuatunya secara jujur?

Mengapa Dedemit Pintu Neraka mengatakan kalau Ki Pandhu Wilantara adalah manusia bunglon? Pengkhianat pula? Rangga jadi semaki tidak mengerti saja.

"Kau tidak dapat menghancurkan Kota Gede Karena, aku akan menghalangimu," kata Pendekar Rajawali Sakti, tenang.

"Lebih baik jangan ikut campur utusan ini jika ingin selamat!" ancam Praba Kesa marah

"Maaf, Kisanak. Aku tidak bisa digertak. Dan aku harus membongkar, apa yang kau rahasiakan dengan Ketua Padepokan Merak Kayangan itu " tegas Rangga.

Dedemit Pintu Neraka tampaknya memang tidak ingin bicara lagi. Segera diberinya isyarat pada enam orang laki-laki bertampang mengerikan untuk membunuh pemuda berompi putih

Serentak enam batang tombak meluncur deras hendak mencincang tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun Rangga tidak tinggal diam. Segera dikerahkannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk dapat menghindari serangan tombak. Tubuhnya berkelit lincah di antara sambaran tombak.

Dengan penasaran, para pengeroyok berbalik. Kembali Rangga diserang dengan kecepatan berlipat ganda. Tapi Pendekar Rajawali Sakti terus meliuk-liukkan tubuhnya yang ditunjang kelincahan kaki dalam menghindari setiap serangan. Melihat kenyataan ini, membuat para pengeroyok makin penasaran.

"Menutup Jalan Ke Neraka!" teriak salah seorang pengeroyok.

Bet! Bet!

Kini pola serangan mereka benar-benar berubah. Tidak lagi sama-sama melancarkan serangan dalam waktu bersamaan, tapi saling susul tidak ada habis-habisnya. .

Rangga tampak kerepotan juga melihat serangan yang sedemikian anehnya. Cepat tubuhnya digenjot hingga langsung melesat ke udara. Setelah membuat putaran beberapa kali tubuhnya meluncur deras ke bawah dalam jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'!

Dua orang berusaha menusukkan tombaknya selagi Pendekar Rajawali Sakti masih mengapung ke udara. Tapi Rangga yang telah mempergunakan salah satu dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' itu telah mengebutkan tangannya untuk menangkis. Sedangkan kakinya menghantam kepala.

Trak!

Prak! Prakkk!

­"Aaa...!"

Kedua orang itu menjerit kesakitan. Tombak di tangan mereka terpental, menyusul ambruknya dua sosok tubuh dengan kepala remuk dan nyawa melayang.

********************

LIMA

Praba Kesa terkesima melihat kejadian yang sangat sulit dipercaya. Sama sekali tidak disangka kalau pemuda berompi putih ini dapat menjatuhkan dua orang pengawalnya yang diketahuinya mempunyai kepandaian tinggi. Untuk turun tangan, rasanya memang belum waktunya bagi Dedemit Pintu Neraka. Karena, dia memang punya urusan yang tidak dapat ditunda-tunda di Kota Gede. Untuk itu, dimanfaatkan kesempatan saat Pendekar Rajawali Sakti lengah untuk segera pergi dari tempat ini secara diam-diam.

Sementara itu pertempuran terus berlanjut. Melihat dua kawannya tewas hanya dalam waktu dua puluh lima jurus, empat orang anak buah Dedemit Pintu Neraka tampak gusar sekali.

"Hhh. Kau harus menebus darah kawan-kawanku dengan nyawamu!" dengus laki-laki berwajah, mengerikan yang kepandaiannya paling tinggi ketimbang yang lainnya.

Begitu kata-katanya lenyap, laki-laki berwajah mengerikan itu memutar-mutar tombaknya.

Bet! Bet!

"Heaaa...!" Sambil berteriak nyaring, anak buah Dedemit Pintu Neraka ini menerjang ke depan mendahului kawan-kawannya. Tombak di tangannya meluncur ke arah perut Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti segera menggeser kakinya ke samping kiri. Badannya agak dicondongkan pula. Sehingga senjata itu hanya lewat sejengkal di samping perutnya. Namun luncuran tombak yang tidak mengenai sasaran ini tidak dibiarkan begitu saja. Rangga cepat menjulurkan tangannya. Dan....

Tap!

"Agkh!" Pergelangan tangan orang itu berhasil dicekal Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan cepat pula sikut Rangga menghantam wajah. Sedangkan kakinya, menghantam bagian perut.

Diekh! Desss...!"

"Aaakh...!" Laki-laki berbadan tegap ini walaupun kesakitan, masih dapat melakukan serangan balasan. . Tangan kirinya yang bebas cepat menyodok ke perut. Dan tanpa bisa dielakkan lagi...

Buk!

"Hugkh!" Rangga mengeluh saat perutnya terhantam sodokan telak hingga terasa mual. Dengan demikian cekalannya pada tangan orang itu terlepas. Baik Rangga maupun laki-laki itu sama-sama terhuyung. Pendekar Rajawali Sakti menyeka darah yang. menetes di sudut-sudut bibirnya. Sementara laki-laki berwajah mengerikan ini berusaha menghentikan darah yang terus mengucur dari bagian hidungnya yang hancur.

Bersamaan waktunya tiga serangan lain datang bergelombang mengancam Pendekar Rajawali Sakti Tampaknya serangan-serangan itu kali ini lebih berbahaya. Rangga sekali lagi dibuat kewalahan.

Tapi, rupanya Pendekar Rajawali Sakti tidak mau mengulur waktu lagi. Segera tenaga dalamnya dikempos ke bagian telapak tangan. Kemudian sambil menghindari tusukan maupun sodokan tombak, tangannya mengibas ke seluruh penjuru dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Wesss...!

Dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti saat itu juga menderu sinar merah menyala, ke arah lawan-lawannya. Karena datangnya serangan begitu cepat, maka....

Glar! Glam...!

­"Aaa...!"

Tiga orang langsung menjerit setinggi langit ketika pukulan jarak jauh Pendekar Rajawali Sakti dalam jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' menghantam. Seketika mereka jatuh terpelanting dengan tubuh hangus dan tewas.

Rangga menatap mayat-mayat itu sejenak, lalu berpaling pada laki-laki yang tersisa. Seorang pengikut Dedemit Pintu Neraka, yang berkepandaian di atas teman-temannya.

"Siapa kau?" tanya laki-laki itu gugup.

"Aku Rangga yang akan menghentikan sepak terjang Dedemit Pintu Neraka...," sahut Pendekar Rajawali Sakti, dingin.

"Kau? Hiyaaa!"

Rangga kembali mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' ketika mendapat serangan. Tubuhnya terus meliuk-liuk menghindari setiap serangan.

"Hiyaaa...!" Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara. Dua kali tubuhnya berputaran lalu meluruk dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya bertubi-tubi mengibas.

Sementara laki-laki berwajah mengerikan ini tampak terkesiap. Sebisanya dia melakukan tangkisan.

Plak!

Tubuh laki-laki itu kontan bergetar dengan tangan terasa nyeri. Dan belum juga dia bisa menguasai keadaan, Pendekar Rajawali Sakti telah melepas tendangan berputar disertai tenaga dalam tinggi. Dan....

Prak!

"Aaa...!" Kepala laki-laki itu langsung pecah terhantam kaki Pendekar Rajawali Sakti. Disertai jeritan perlahan tubuhnya ambruk bergelimang darah.

Rangga memandang ke sekeliling. Ternyata Dedemit Pintu Neraka sudah tidak tampak lagi.

********************

Padepokan Merak Kayangan sedang terjadi kekacauan. Murid-murid padepokan ini tampak sedang bertarung melawan seorang laki-laki berjubah hitam.

Pertarungan tak seimbang ini berlangsung seru. Dan ternyata laki-laki berjubah hitam itu tidak membunuhi murid-murid padepokan itu. Mereka yang menyerang langsung mendapat totokan, sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya sama sekali.

Sementara di sekitar Padepokan Merak Kayangan di bagian belakangnya terlihat sesosok tubuh tinggi besar berkelebat memasuki jendela kamar yang ditempati Warsih, putri tunggal Ki Pandhu Wilantara.

Orang yang hanya memakai cawat dan berkulit merah seperti darah ini nampak gembira begitu melihat sesosok yang dicarinya tergeletak di sudut ruangan dalam keadaan tanpa daya.

"Tidak kusangka, Pandhu mempunyai anak yang begini cantik. Aku sekarang tidak perlu bersusah payah mengotori tangan membunuh murid-murld Padepokan Merak Kayangan ini, karena kebetulan ada orang yang melakukannya. Lebih baik, aku bersenang-senang dulu dengan gadis ini. Setelah itu, baru kucari Pandhu dan kubunuh si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang telah membuat resah hidupku!" desis sosok ini disertai senyum penuh gairah.

Lelaki seram yang tak lain Dedemit Pintu Neraka kemudian menghampiri Warsih yang sejak tadi memang sudah dilumpuhkan oleh si Jubah Hitam Bermuka Hijau dengan beberapa totokan. Warsih yang dalam keadaan tertotok pada urat gerak dan pita suaranya tentu saja tidak dapat berbuat banyak, ketika Dedemit Pintu Neraka membopong tubuhnya dan membawanya pergi meninggalkan Kota Gede.

Di bagian depan, si Jubah Hitam Bermuka Hijau terus menjatuhkan lawan-lawannya. Serangan dan sepak terjangnya memang tidak seorang pun yang dapat menahannya. Padahal murid-murid Padepokan Merak Kayangan telah berusaha mati-matian.

"Jangan beri dia kesempatan untuk meloloskan diri!" teriak seorang murid utama pada dua orang saudara seperguruannya yang tersisa.

''Kalian boleh mimpi untuk menangkapku! Tapi kalau mimpi kalian itu tidak segera menjadi kenyataan, maka sebentar lagi kalian akan mengalami mimpi lebih buruk dan sangat menakutkan..!" dengus si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

"Hiyaaa...!"

Tanpa menghiraukan ancaman, murid-murid Padepokan Merak Kayangan yang tidak takut mati, segera mereka melakukan serangan kembali. Pedang di tangan mereka berkelebat kian kemari, mencari sasaran.

Namun berkat jurus-jurus dari Padang Neraka yang telah berhasil dikuasai, membuat si Jubah Hitam Bermuka Hijau berhasil meloloskan diri dari tusukan-tusukan pedang.

Rupanya murid utama Padepokan Merak Kayangan menjadi penasaran sekali. "Terimalah jurus 'Tarian Burung Merak'! Heaaa...!"

Wuut! Wuutlt...!

Murid utama yang mengarahkan jurus 'Tarian Burung Merak' segera memutar-mutar pedangnya sambil meliuk-liukan tubuhnya. Sementara dua orang saudara seperguruannya terus berusaha menyerang dari samping dan belakang.

"Haiiit!"

Si Jubah Hitam Bermuka Hijau cepat membungkukkan tubuhnya serendah mungkin, ketika senjata pedang meluncur deras mengancam dadanya. Begitu serangan itu luput, laki-laki berjubah hitam itu cepat memutar tubuhnya sambil melepaskan totokan.

Tuk!

"Ohh..!" Murid utama padepokan itu kontan ambruk dengan tubuh lemas tak bertenaga. Sementara begitu melepas totokan, si Jubah Hitam Bermuka Hijau langsung berkelebat sambil melepaskan pukulan dan tendangan secara berbarengan.

Deess...! Desss...!

"Aaakh...!"

"Aaa...!"

Dua murid padepokan itu kontan ambruk begitu serangan si Jubah Hitam Bermuka Hijau mendarat telak di dada. Darah kontan mengucur deras dari mulut. Dan mereka tak bangun-bangun lagi Si Jubah Hitam Bermuka Hijau segera mengeluarkan segulung tali dadung. Lalu murid-murid Padepokan Merak Kayangan yang dalam keadaan tertotok itu diikat dan digantung dengan kepala menghadap ke bawah dan kaki ke atas.

Mereka tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa, terkecuali menjerit-jerit kesakitan ketika cambuk di tangan laki-laki berkulit hijau ini mendera tubuh.

"Lepaskan...! Lebih baik bunuh saja kami!" teriak murid-murid Ki Pandhu Wilantara yang sedang mendapat siksaan ini.

"Terlalu enak bagi kalian mati begitu saja. Kalian harus menanggung dosa Guru kalian! Ha ha ha...!"

"Sungguh perbuatan keji yang tidak berperikemanusiaan. Tindakanmu benar-benar biadab!"

"Heh?!" Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tersentak kaget, begitu terdengar suara makian. Langsung dia berbalik ke arah datangnya suara. Tampak seorang laki-laki tua bersama seorang pemuda tahu-tahu sudah berdiri tegak tidak jauh di belakangnya.

Kedua orang yang baru datang terus tersenyum seperti orang kurang waras. Bahkan pemuda yang berdiri di samping laki-laki tua itu terus garuk-garuk kepala.

"Jangan coba-coba mencampuri urusanku jika ingin selamat!" desis si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

"Ha ha ha...! Guru! Lihatlah manusia muka hijau ini mengancam kita. Apa yang harus kulakukan?" tanya pemuda yang tak lain Jaka Tawang.

"Seharusnya kita main catur saja. Tapi, kurasa tidak ada salahnya jika menjajal kepandaian orang jelek ini!" sahut laki-laki tua yang memang Ki Sabda Gendeng.

Si Jubah Hitam Bermuka Hijau merasa panas juga hatinya. Namun pada dasarnya dia memang tidak punya persoalan dengan orang-orang konyol ini. Sehingga, dia tidak begitu meladeni.

"Pergilah kalian! Sebelum kesabaranku benar-benar habis, " perintah laki-laki berjubah hitam tidak sabar.

"Ee.... Mana bisa? Kau telah menyiksa orang secara sewenang-wenang. Bukan mustahil kau pula yang telah membunuh mayat-mayat yang kami temukan. Sekarang, mengaku saja untuk menerima gebukan!" tukas Ki Sabda Gendeng.

"Orang-orang gila! Kalian hanya menghambat pekerjaanku saja. Hiyaaa...!"

Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tanpa mengulur-ulur waktu lagi langsung melakukan serangan. Namun murid dan Guru yang selalu kompak itu pun tidak tinggal diam. Mereka langsung membalas serangan.

Namun betapapun hebat serangan mereka, jurus-jurus dari Padang Neraka yang dimiliki laki-laki berjubah hitam itu memang tidak dapat dianggap main-main. Bahkan pertahanan si Jubah Hitam Bermuka Hijau pun sukar ditembus.

"Melihat di antara kita tidak ada permusuhan, dan kau sendiri tidak tahu persoalan yang sebenarnya, sebaiknya mundur!" ujar si Jubah Hitam Bermuka Hijau setengah mengingatkan.

"Kutu busuk! Kami tidak mundur sebelum dapat mengalahkanmu...!" desis Ki Sabda Gendeng.

"Baiklah..., kalau itu yang kau inginkan. Aku akan menurutinya!" sahut laki-laki berjubah hitam ini. "Heaaa...!"

Tiba-tiba, si Jubah Hitam Bermuka Hijau memasukkan tangannya ke balik jubah dan mengibaskannya.

Set! Set!

Seketika lima buah benda berwarna putih mengkilat melesat cepat. Senjata-senjata rahasia yang berupa bintang segi lima itu langsung meluncur deras ke arah Jaka Tawang dan Ki Sabda Gendeng.

"Uts...!"

­Tak!

Laki-laki tua ini cepat melenting sambil memutar papan catur di tangannya. Sedangkan Jaka Tawang terpaksa menjatuhkan diri dan terus berguling-guling. Maka senjata rahasia si Jubah Hitam Bermuka Hijau tidak mengenai sasaran. Satu di antaranya menancap di kotak catur Ki Sabda Gendeng.

Saat Ki Sabda Gendeng masih di udara, si Jubah Hitam Bermuka Hijau sudah berkelebat meninggalkan tempat ini. Begitu cepat gerakannya, sehingga sebentar saja sudah lenyap sebelum Ki Sabda Gendeng menyadari.

"Murid tolol! Cepat bangun! Orang itu melarikan diri,” ujar Sabda Gendeng dengan perasaan tidak puas. begitu mendarat di tanah.

Laki-laki tua ini segera memerintahkan muridnya untuk melepaskan murid-murid Padepokan Merak Kayangan yang dalam keadaan sekarat. Ki Sabda Gendeng sebenarnya merasa heran melihat keganjilan-keganjilan ini. Siapakah si Jubah Hitam Bermuka Hijau? Mengapa tindakannya begitu kejam terhadap orang-orang Kota Gede.

Jika Ki Sabda Gendeng heran dengan sepak laki-laki berjubah hitam, maka si Jubah Hitam bermuka Hijau lebih terkejut lagi ketika tidak menjumpai Warsih yang telah ditotoknya berada ­dalam kamar. Padahal totokan itu jelas sulit dibebaskan. Lalu, siapa yang telah melarikan tawanannya?

********************

ENAM

Panasnya sengatan matahari tidak dihiraukan lagi oleh Pendekar Rajawali Sakti. Dewa Bayu terus dipacu di atas jalan berbatu, sehingga debu tampak mengepul di udara.

Padang Neraka memang sebuah tempat yang cukup angker. Dan Rangga mengakuinya. Di mana-mana tulang-belulang berserakan. Rasanya tidak ada tempat yang aman di Padang Neraka.

Walaupun begitu Rangga berusaha mengesampingkan semua ini. Baginya keselamatan Ketua Padepokan Merak Kayangan lebih penting agar dapat mengungkap rahasia yang terjadi akhir-akhir ini.

Setelah lama menelusuri Padang Neraka dan tidak menemukan apa yang dicarinya, pemuda berompi putih ini tiba-tiba menghentikan kudanya.

"Hmm.... Tempat ini, begitu luas. Dan, aku tidak melihat ada tanda-tanda kalau Paman Pandhu Wilantara di sini!" keluh Rangga kecewa.

Pendekar Rajawali Sakti segera mengeterapkan aji" Netra' sebagai pilihan terakhir. Dengan ajian ini Pendekar Rajawali Sakti bisa melihat dari jarak cukup jauh ataupun gelap pekat. Rangga mengedarkan pandangannya.

"Heh?! Apa itu?" Tiba-tiba di suatu tempat Rangga melihat sesuatu tampak tergantung. Melihat wujudnya memang seperti manusia Dan ini membuat Rangga. Apalagi setelah melihat burung-burung pemakan bangkai melayang-layang di udara.

"Heaaa...!”

Saat itu juga Rangga memacu kudanya. Namun kira-kira seratus tombak jaraknya dan tempat yang mencurigakan tadi, Pendekar Rajawali Sakti terpaksa turun dari kudanya.

"Hm.... Begitu banyak jebakan yang dipasang di sini. Kalau kurang awas, bisa-bisa jiwa melayang," gumam Pendekar Rajawali Sakti.

Dengan hati-hati disertai ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tinggi, Rangga mendekati mayat yang tergantung di atas pohon kering. Keadaannya sungguh mengerikan. Sebab mayat itu suda­ tidak utuh lagi. Sebagian dagingnya hilang. Isi perutnya keluar. Tulang rusuknya kelihatan. Mungkin burung-burung pemakan bangkai itulah yang telah menyantapnya.

­Walaupun bagian wajah mayat ini hanya tinggal tengkorak saja, namun setelah melihat cabikan-cabikan pakaian berwarna putih, Rangga segera mengenali kalau yang tergantung menyedihkan itu tidak lain dari Ki Pandhu Wilantara, Ketua Padepokan Merak Kayangan.

"Hm.... Si Jubah Hitam Bermuka Hijau telah menyiksanya hingga binasa. Aku tidak mengerti, dendam apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Tapi tindakan yang begini biadab tidak boleh dibiarkan berjalan terus!" desis Rangga

Pendekar Rajawali Sakti segera memeriksa keadaan mayat. Rasanya mustahil bagi Rangga membawa mayat Ki Pandhu Wilantara ke Kota Gede.

Sebab, hal itu hanya membuat Warsih bisa kehilangan kendali diri. Atau bahkan menjadi gila. Jalan satu-satunya adalah dengan menguburkan mayat yang sudah tidak utuh ini di tempat ini juga.

Saat Pendekar Rajawali Sakti hendak menurunkan tali yang menggantung mayat, terlihat selembar daun lontar terselip di antara ikatan yang membelenggu Ki Pandhu Wilantara. Dengan penasaran diambilnya daun lontar itu, dan dibukanya.

Ternyata di atas daun lontar tertulis pesan yang ditandatangani langsung oleh si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Dengan hati-hati dan teliti sekali Rangga membacanya.

“Dendamku pada Pandhu Wilantara dan seluruh keluarganya rasanya tidak pupus dimakan zaman. Walaupun darah seluruh keturunannya menganak sungai, rasanya mata pedangku tidak berhenti meminta nyawa. Mati-matian aku berjuang mempertahankan Kota Gede bersama adipati, tidak tahunya dia bersekutu dengan Dedemit Pintu Neraka. Dia berpura-pura mengasingkan diri bersama sanak keluarganya.

Istri dan anakku diperkosa dan dibunuh. Semuanya begitu menyedihkan. Dalam pertarungan hidup dan mati, aku terkena pukulan beracun milik Dedemit Pintu Neraka. Perubahan pada kulitku tidak akan tersembuhkan. Hatiku lebih sakit lagi, karena kini seluruh kekayaan Kota Gede jatuh ke tangan pengkhianat.

­Rana Elang”


Seakan tidak percaya, Rangga membaca ulang tulisan yang terdapat di atas daun lontar. Kini persoalannya mulai jelas. Secara tidak sengaja. Jadi, Rangga telah membantu pihak yang mungkin bersalah. Namun, bila memang tuduhan si Jubah Hitam Bermuka Hijau memang benar.

­Tapi membiarkan si Jubah Hitam Bermuka Hijau melakukan pembunuhan yang sewenang-wenang, juga sesuatu yang mustahil. Kini satunya adalah mencari Dedemit Pintu Neraka dan si Jubah Hitam bermuka Hijau yang ternyata bernama asli Rana Elang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rangga segera menggali sebuah lubang untuk mengubur Pandhu Wilantara.

********************

­"Lebih baik kau bunuh saja aku, Dedemit Keparat!”

Warsih memaki-maki penuh amarah, lalu tangisnya meledak begitu menyadari kalau miliknya yang paling berharga bagi seorang gadis telah direnggut paksa oleh laki-laki seram berjuluk Dedemit Pintu Neraka.

Sementara, laki-laki seram itu tersenyum penuh kepuasan memandangi gadis yang masih setengah telanjang itu.

“Ha ha ha...! seharusnya peristiwa seperti ini tidak pernah terjadi. Tapi karena ayahmu telah mengkhianati perjanjian lama, maka mau tak mau harus merasakan pembalasanku!" desis Dedemit Pintu Neraka, kalem.

Sebaliknya Warsih yang memang tidak tahu antara ayahnya dengan Dedemit Pintu Neraka punya perjanjian tertentu jadi terheran-heran. Menurut gadis ini, mustahil ayahnya yang sangat dikagumi menjalin hubungan atau kerja sama dengan tokoh sesat seperti Praba Kesa. Karena, pernah pada suatu waktu ayahnya secara terang-terangan menyatakan bermusuhan dengan Dedemit Pintu Neraka. Adakah semua itu hanya kepura-puraan saja?

"Kau pasti telah berdusta, Manusia Rendah! Ayahku tidak mungkin sudi menjalin hubungan dengan manusia sesat sepertimu!" bantah Warsih di sela-sela tangisnya.

"Hm.... Kau masih terlalu polos, Gadis Manis. Mungkinkah selama ini Kota Gede bisa aman dalam pimpinan ayahmu jika di antara kami tidak ada perjanjian?" tukas Dedemit Pintu Neraka. "Agar kau tahu, dulu antara aku dan ayahmu terjalin persahabatan rahasia. Semua orang pasti tidak pernah tahu masalah ini. Ayahmu tidak suka pada adipati. Dan kebetulan, aku pun bermusuhan dengan adipati pula karena telah membunuh orang tuaku. Ketika aku dan anak buahku bermaksud mengadakan penyerbuan ke Kota Gede, ayahmu kusuruh mengungsi dengan alasan mengasingkan diri. Semua penghalang dapat kusingkirkan. Dan ayahmu kembali ke Kota Gede dengan segala peninggalan dan kekayaan kadipaten. Dia dapat menikmati segala yang ada. Aku tidak pernah mengusiknya selama itu. Tapi kemudian, muncul si Jubah Hitam Bermuka Hijau ke tempat ini. Orang itu tidak mungkin tahu tempat tinggalku, jika bukan karena pengkhianatan ayahmu..!"

"Aku tidak percaya! Kau pasti mengada-ada. Ayahku tidak pernah bersekutu dengan siapa pun! Bahkan hingga kini sedang mencari si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang telah membunuh beberapa muridnya!" bantah Warsih berapi-api, walaupun masih sesenggukan.

"Seorang Ayah biasanya menjadi contoh anaknya. Percaya atau tidak percaya, ayahmu telah menjadi pemimpin dan mendirikan padepokan di Kota Gede adalah karena bantuanku!"

"Kalaupun benar, ayahku tidak pernah berkhianat!"

Gadis ini rupanya sangat kecewa, setelah mengetahui ayahnya yang selama ini sangat dibanggakan ternyata menjalin hubungan dengan tokoh sesat seperti Dedemit Pintu Neraka. Jika itu memang benar; tentu tidak mengherankan jika selama ini iblis yang telah memperkosanya tidak pernah mengganggu ketenteraman Kota Gede.

"Kau iblis menjijikkan! Lebih baik bunuh saja aku!" teriak Warsih putus asa.

"Ha ha ha...! Aku tidak akan membunuhmu! Kau pantas menjadi pendampingku di sini," sahut Dedemit Pintu Neraka seraya menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Aku sudah telanjur merasakan kehangatanmu. Selain itu, aku memang sengaja memancing ayahmu kemari untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."

"Kurang ajar! Ayahku tidak pernah menjalin hubungan dengan si Jubah Hitam Bermuka Hijau," teriak gadis itu tetap membangkang.

"Memang benar. Karena, si Jubah Hitam Bermuka Hijau adalah musuh ayahmu dan berarti juga musuh ku. Tapi, aku merasa yakin ayahmu pasti telah diancam dan dipaksa untuk memberitahukan tempat tinggalku!" sanggah Praba Kesa dingin.

Warsih terdiam. Dia merasa muak dan benci pada Dedemit Pintu Neraka. Dalam keadaan diam seperti itu, tiba-tiba gadis ini teringat pada Rangga. Pemuda yang telah dimintanya untuk menyusul orangtuanya. Betapa malunya dia nanti jika Rangga sampai mengetahui kalau sebenarnya Ki Pandu Wilantara adalah seorang penjahat berkedok pahlawan?

********************

­Sisa-sisa murid Padepokan Merak Kayangan yang masih bertahan hidup diperintahkan Ki Sabda Gendeng untuk melaporkan kejadian itu ke Desa Randu Doyong. Apalagi mengingat Padepokan Kipas Sakti pimpinan Ki Banyu Raga masih adik kandung Ki Pandhu Wilantara.

Sementara Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang terus berusaha menyembuhkan murid-murid Padepokan Merak Kayangan yang menderita luka parah. Tentu saja pertolongan yang diberikan sesekali diselingi permainan catur yang konyol bersama muridnya.

Menjelang tengah hari, seorang pemuda dengan kuda berbulu hitam memasuki padepokan yang luas. Ki Sabda Gendeng semula menyangka kalau yang datang adalah murid yang diutusnya untuk menjumpai Ki Banyu Raga, Ketua Padepokan Kipas Sakti. Tapi ketika keluar betapa terkejutnya dia, karena yang datang tidak lain Pendekar Rajawali Sakti yang telah dikenalnya.

Rangga sendiri tampak kaget juga melihat kehadiran murid dan guru yang sama-sama gendengnya.

"Pendekar Rajawali Sakti! Panjang betul umurmu. Dulu kita berjumpa. eh..., sekarang ketemu lagi Dasar nasib memang sedang mujur...!" sambut Ki Sabda Gendeng dengan perasaan kagum.

"Selamat datang, Rangga," timpal Jaka Tawang. "Rumah ini bau bangkai. Maaf, kami tidak sempat membersihkannya. Guruku yang gendeng ini terus mengajakku main catur!"

Rangga tersenyum seraya turun dari punggung kudanya. Sebaliknya Ki Sabda Gendeng memelototi muridnya. Kini Pendekar Rajawali Sakti segera mengikuti Ki Sabda Gendeng menuju ke ruangan dalam. Pendekar Rajawali Sakti terkejut, ketika melihat begitu banyak murid Padepokan Merak Kayangan yang terluka parah.

"Apa yang telah terjadi di sini?" tanya Rangga ingin tahu.

Ki Sabda Gendeng secara singkat menceritakan segala sesuatunya yang telah terjadi di Kota Gede.

"­Jadi, sekarang di mana Warsih?" tanya Rangga lagi

"Tidak seorang pun yang tahu siapa yang menculiknya. Aku hanya melihat si Jubah Hitam Bermuka Hijau itu saja. Bahkan kami sempat terlibat perkelahian sengit. Sayang, dia melarikan diri!" jelas Ki Sabda Gendeng.

Laki-laki tua gendeng ini menurunkan bumbung tuaknya. Setelah meminumnya beberapa tegukan, dia menatap Rangga.

"Menurut murid-murid di sini, kau pergi ke Padang Neraka. Bagaimana? Apakah kau berhasil menemukan Pandhu Wilantara?" usik Ki Sabda Gendeng.

"Sudah kutemukan," jawab Rangga dengan muka muram. "Tapi, aku datang terlambat. Aku hanya menjumpai kerangka mayatnya dan juga menemukan ini."

Rangga segera menyerahkan daun lontar berisi tulisan si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Ki Sabda Gendeng dan Jaka Tawang segera membacanya.

Selesai membaca, napas Ki Sabda Gendeng langsung sesak. Dan tuaknya diteguk lagi.

"Jadi kita telah membela orang yang salah?" tanya Ki Sabda Gendeng.

"Benar salahnya, kita tidak tahu, jika saja Warsih bisa ditemukan, tentu bisa ditanyai. Penjelasan sepihak bagiku kurang begitu kuat," jawab Rangga.

Dan sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti sendiri memang masih ragu-ragu tentang kebenaran yang ditulis si Jubah Hitam Bermuka Hijau. Tapi sepak terjangnya tetap tak bisa dibiarkan.

"Bagaimana, Rangga? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ki Sabda Gendeng gelisah.

"Apakah kau sudah menghubungi Ketua Padepokan Kipas Sakti, Ki?" tukas Rangga.

"Sudah. Mungkin dalam waktu dekat, mereka akan kemari," jawab Ki Sabda Gendeng tegas.

"Kalau begitu, aku harus mencari Warsih," putus Rangga.

­"Kami sendiri, bagaimana? Apakah harus menunggui rumah ini sampai tua?" tanya Ki Sabda Gendeng.

"Tentu saja, jika kau mau. Tapi kalau tidak silakan bantu aku dengan cara sendiri-sendiri!” sahut Rangga sambil tersenyum.

"Lebih baik kita membantunya, Guru." tandas Jaka T awang.

********************

TUJUH

­Dengan membawa seluruh muridnya yang berjumlah dua belas orang, Ki Banyu Raga sudah berangkat menuju ke Kota Gede. Laporan salah seorang murid kakangnya benar-benar membuat Ketua Padepokan Kipas Sakti ini menjadi marah. ­Apalagi dikabarkan kalau Warsih keponakannya juga diculik.

Ki Banyu Raga harus menyelidiki, siapa sebenarnya yang telah menculik Warsih. Maka walaupun sebenarnya jarak Desa Randu Doyong dengan Kota Gede cukup jauh juga, Ki Banyu Raga tidak ingin beristirahat melepas lelah.

Setengah harian mereka telah melakukan perjalanan. Ketika jaraknya semakin dekat dengan Kota Gede, tiba-tiba dari tikungan muncul satu sosok tinggi besar mengenakan cawat. Dia memanggul seorang gadis yang dalam keadaan kaku. Sekujur pakaiannya tampak berlumuran darah. Sesaat masing-masing menghentikan langkah dengan tatapan tajam.

"Siapa kau?! Dan kau apakah keponakanku?!" bentak Ki Banyu Raga berang, begitu mengenali sosok gadis di bahu laki-laki bertampang seram.

"Ha ha ha...! Warsih memang keponakanmu. Sayang, dia nekat bunuh diri dalam tawananku. Rupanya dia kecewa setelah melihat kenyataan kalau ayahnya pernah bekerja sama denganku, " tegas laki-laki tinggi besar yang tak lain Dedemit Pintu Neraka.

“Mustahil!" bantah Ki Banyu Raga tidak percaya. "Kau hanya memfitnah saudaraku! Kau hanya mengada-ada!"

"Aku tidak mengharap agar kau percaya padaku. Tapi, karena akulah dia dapat memerintah Kota Gede dengan tenang tanpa gangguan siapa pun!" jelas Praba Kesa, enteng.

"Lalu, siapa yang berjuluk si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang telah menyebar petaka selama ini? Apakah bukan kau juga yang memang sengaja memakai gelar lain?" cecar Ki Banyu Raga, curiga.

"Aku tidak akan sepengecut itu! Si Jubah Hitam Bermuka Hijau tidak lain adalah Pendekar Rana Elang, yang dulu membantu adipati dalam melawanku. Kini, dia mengumbar maut dan membalas dendam. Aku sendiri merasa dikhianati saudaramu itu. Makanya aku terpaksa menculik anaknya. Sayang, dia telah bunuh diri karena tidak tahan mendengar penjelasanku!" jelas Praba Kesa.

"Aku tidak percaya dia bunuh diri hanya karena mendengar penjelasanmu Aku yakin kau pasti telah menodainya!" tuduh Ki Banyu Raga menjadi marah.

Dedemit Pintu Neraka sama sekali tidak membantah. Sebaliknya dia malah tersenyum-senyum. Ada kepuasan terpancar lewat tatapan matanya.

"Bangsat! Berarti sumber malapetaka semua ini, kau juga dalangnya. Pantas si Jubah Hitam Bermuka Hijau begitu membenci kami!" desis Ki Banyu Raga.

Sekejap saja Ketua Padepokan Kipas Sakti telah memberi isyarat pada murid-muridnya untuk menyerang. Sementara Dedemit Pintu Neraka langsung melempar sosok Warsih yang telah menjadi mayat ke arah para penyerangnya.

Tap!

Ki Banyu Raga langsung menangkapnya. Sementara itu, murid-murid Padepokan Kipas Sakti terus menyerbu ke depan. Menyadari kalau Dedemit Pintu Neraka berkepandaian tinggi, mereka langsung mempergunakan kipas.

­Bet! Bet!

Dedemit Pintu Neraka tertawa dingin melihat serangan yang datang. Seketika tubuhnya berjumpalitan dengan gerakan sangat ringan. Namun hujan serangan seakan tidak putus-putusnya. Sehingga. membuat Praba Kesa jadi kerepotan juga. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna, dia mengelak ke sana ke mari.

"Hiya!"

Wut! Wut!

Lima serangan murid-murid Ki Banyu Raga sekaligus mengancam bagian-bagian mematikan. Praba Kesa terpaksa melompat ke samping sejauh satu tombak. Tapi dari arah belakang, datang serangan yang tidak disangka-sangka. Maka terpaksa ditangkisnya seraya berbalik.

Trak!

Kipas-kipas maut itu seperti membentur batu karang saja. Tiga murid Ki Banyu Raga terhuyung-huyung. Bahkan terpaksa memegangi tangan yang terasa panas seperti tersengat api.

Kesempatan yang hanya sekejap ini tidak disia-siakan Praba Kes. Segera dia melompat ke depan dengan tangan meluncur dan menghantam dada tiga orang sekaligus.

Des...! Des...! Desss...!

"Akh...!"

Tiga orang kontan terjengkang disertai teriakan kesakitan. Mereka kontan ambruk dengan dada remuk dan kulit langsung berubah hijau. Jelas, mereka terkena pukulan beracun yang sangat mematikan. Dari hidung dan mulut tampak mengucur darah kental yang juga telah berwarna hijau.

''Pukulan Pembasmi Iblis?" desis Ki Banyu Raga, terkejut sekali.

"Ha ha ha...! Racun ini pula yang hampir membunuh Rana Elang. Sayang, aku tidak tahu ternyata dia mampu bertahan hidup. Dan kini, menjadi duri dalam daging!" sahut Praba Kesa bangga.

"Bunuh...!" perintah Ketua Padepokan Kipas Sakti pada seluruh muridnya.

Tanpa menghiraukan rasa takut sedikit pun, murid-murid Ki Banyu Raga kembali melancarkan serangan. Namun kali ini Dedemit Pintu Neraka sudah tidak memberi kesempatan lagi.

"Hup...!" Tiba-tiba laki-laki tinggi besar ini melompat mundur. Seketika kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Maka saat itu juga kedua tangannya berubah memerah.

Melihat perubahan in­ Ki Banyu Raga bermaksud memberi peringatan pada seluruh murid-muridnya untuk menghindar. Namun....

"Heaaa!" Disertai teriakan menggelegar, sambil berputar. Dedemit Pintu Neraka menghentakkan kedua tangannya. Maka seketika kekuatan dahsyat yang berupa cahaya merah meluncur dari tangan Praba Kesa. Hanya dalam waktu singkat cahaya merah itu telah menghantam tepat pada sasaran di delapan penjuru arah.

Blar! Blar!

"Wuaagkh...! "

Beberapa sosok tubuh kontan terpental seperti daun-daun kering yang ditiup angin dalam keadaan hangus mengerikan. Jerit kesakitan terdengar di sana-sini

Ketua Padepokan Kipas Sakti hanya terkesima melihat kedahsyatan pukulan beracun yang dilepaskan Dedemit Pintu Neraka. Lebih terkejut lagi ketika melihat tidak satu pun dari murid-muridnya yang selamat. Semuanya tewas dengan kulit hangus dan mata melotot.

"Kau benar-benar iblis!" bentak Ki Banyu Raga kalap.

"Huh...! Sekarang, kau benar-benar membuktikannya sendiri kalau Dedemit Pintu Neraka tidak dapat dianggap remeh!" dengus Praba Kesa dengan senyum dingin.

"Aku ingin mengadu jiwa denganmu!" desis Ki Banyu Raga.

Saat itu juga, Ketua Padepokan Kipas Sakti mengerahkan jurus-jurus silat yang cukup ampuh. Namun, lawannya kali ini adalah seorang tokoh sesat yang sulit dicari tandingannya.

Sret...!

Ki Banyu Raga segera mengeluarkan kipas berwarna kuning keemasan yang terselip di pinggang. Dengan senjata di tangan, mulai dilancarkannya serangan-serangan ganas. Dan Dedemit Pintu Neraka meladeninya tak kalah sengit.

"Jurus 'Tarian Kipas Emas'...! Heaaa...!"

Perkelahian kedua orang ini berlangsung begitu seru. Apalagi Ki Banyu Raga mengerahkan jurus 'Tarian Kipas Emas'. Inilah salah satu di antara sekian jurus 'Kipas Sakti' yang dikuasai Ki Banyu Raga.

"Heaaa...!" Tiba-tiba sambil berteriak nyaring, Ki Banyu Raga menghantamkan tinjunya ke wajah Dedemit Pintu Neraka. Sedangkan kipas di tangannya yang dapat mengembang dan menguncup menghantam dada.

Melihat serangan bertubi-tubi yang datangnya begitu cepat dan tiba-tiba, Praba Kesa terpaksa menarik kepalanya ke belakang. Sedangkan kipas lawan ditangkisnya dengan ujung jubah.

Tak!

"Heh?!" Ki Banyu Raga terdorong mundur begitu jubah hitam itu membentur kipasnya.

Saat itu juga, Praba Kesa melihat sebuah kesempatan baik yang tak mungkin disia-siakan. Saat itu juga dilepaskannya tendangan keras disertai tenaga dalam tinggi.

Diegkh...!

"Hugkh!" Ki Banyu Raga mengeluh tertahan sambil memegangi dada yang terasa nyeri. Sementara darah mengucur dari sudut-sudut bibirnya.

­Melihat lawannya terhuyung-huyung, Praba Kesa menjadi girang. Dia bermaksud segera menyudahi perlawanan. Seketika diterjangnya Ki Banyu Raga disertai seluruh tenaga dalamnya.

"Hiyaaa...!"

Walaupun dalam keadaan terluka dalam, Ketua Padepokan Kipas Sakti ketika melihat bahaya mengancam jiwanya tidak dapat tinggal diam. Secepat kilat, kipas di tangannya digerakkan ke arah kaki Dedemit Pintu Neraka.

Praba Kesa sama sekali tidak menyangka kalau ketua padepokan itu masih mampu melepaskan serangan balik. Sehingga, kakinya yang terus meluncur tidak sempat lagi ditarik.

Bret!

"Aakh!" Praba Kesa memekik kesakitan. Celana dan betisnya robek mengucurkan darah tersambar kipas Ki Banyu Raga. Dengan terpincang-pincang, kakinya melangkah mundur. Mukanya yang merah semakin bertambah merah terbakar kemarahan.

Tiba-tiba Dedemit Pintu Neraka mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu memutarnya dengan cepat

Ketua Padepokan Kipas Sakti menyadari sepenuhnya kalau tokoh sesat itu telah bersiap-siap dengan ajian pamungkasnya. Maka dia tidak tinggal diam. Segera pula disiapkannya pukulan pamungkas.

­"Heaaa...!"

"Hiaaa...!"

Sebentar saja teriakan-teriakan menggelegar terdengar. Baik Ki Banyu Raga maupun Dedemit Pintu Neraka sama-sama melompat ke depan seraya menghentakkan kedua tangannya dalam waktu bersamaan.

Wess...! Wesss...!

Saat itu juga dua pukulan sakti dan sama-sama berbahaya meluncur deras. Lalu..

Glarr...!

Sebuah ledakan dahsyat terdengar disertai guncangan keras. Daun-daun berhamburan. Debu membubung ke udara. Dua sosok tubuh tampak berpelantingan ke belakang.

Dedemit Pintu Neraka walaupun terluka dalam segera bangkit secepatnya. Sebaliknya Ki Banyu Raga yang menderita luka dalam cukup parah tidak dapat bangun lagi. Dia mengerang kesakitan. Suaranya lemah pertanda ajalnya sudah hampir tiba.

"Kini kau benar-benar telah merasakannya sendiri, betapa aku tidak ada yang mampu menandingi!" desis Dedemit Pintu Neraka jumawa.

Wettt...!

Laki-laki bermuka merah ini kemudian bersiap hendak mendorongkan kedua tangannya ke arah Ki Banyu Raga. Namun niatnya urung ketika....

"Tahan...!" Terdengar suara mencegah tanpa terlihat orang yang mengucapkannya. ini membuktikan betapa orang itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi dan sukar dijajaki Tidak lama kemudian, barulah terlihat seorang laki-laki berjubah hitam berdiri tidak jauh di depan Dedemit Pintu Neraka.

"Adalah perbuatan pengecut membunuh lawan yang sudah tidak berdaya!" cibir sosok itu disertai senyum dingin mengejek.

Setelah memperhatikan orang yang menegurnya barusan, sekarang Praba Kesa tahu siapa orang berjubah hitam dan bermuka hijau ini. Tawanya pun meledak.

"Rupanya sesuai julukanmu, kau sangat menderita selama ini, Rana Elang. Yang tidak habis ku mengerti, bagaimana kau dapat bertahan hidup hingga sekarang? Padahal waktu itu, selain terluka parah, kau juga telah terkena pukulanku, 'Pukulan Racun Pembasmi Iblis' dan 'Pukulan Serat Kematian'!" desis Dedemit Pintu Neraka setengah kagum.

Bila dalam kesehariannya tatapan mata sosok yang tak lain si Jubah Hitam Bermuka Hijau terasa dingin dan menyimpan duka, maka mata itu sekarang berkilat-kilat diwarnai dendam lama yang mulai berkobar kembali. Pada saat bicara, suaranya terasa bergetar pertanda berusaha menahan marah.

"Praba Kesa! Aku lama mencarimu untuk menagih hutang lama yang sampai saat ini belum kau bayar. Kini kuketahui, anak sekutumu telah kau perkosa. Sedangkan ayahnya mati di tanganku, menebus semua dosa-dosanya yang pernah diperbuat bersamamu. Banyak orang menduga, akulah yang bersalah. Dan, bencana di Kota Gede dulu hanya kau pelakunya bersama anak buahmu. Tapi kebenaran tidak dapat ditutupi. Aku mengetahui rahasia kalian berdua. Hingga hari ini atau sampai kau mati nanti, mungkin rakyat di Kota Gede tidak tahu kalau Ketua Padepokan Merak Kayangan sebenarnya adalah manusia busuk berhati culas! Kakekku, istriku, anakku, semuanya tewas di tanganmu. Dan aku tahu, di balik semua ini yang paling bertanggung jawab adalah Pandhu Wilantara...!" kata si Jubah Hitam Bermuka Hijau, lantang.

"Bagus! Kurasa sampai hari ini hanya kau saja yang mengetahui rahasia yang sangat penting ini. Aku yakin, jika aku telah membunuhmu, semua rahasia baik yang menyangkut Pandhu Wilantara akan terkubur kembali selama-lamanya. Penduduk Kota Gede tak akan tahu, apa yang terjadi dulu dan sekarang. Dan aku bisa berkuasa menggantikan Pandhu Wilantara. Kepada penduduk Kota Gede dapat kukatakan bahwa si Jubah Hitam Bermuka Hijau dan Dedemit Pintu Neraka cuma satu. Yaitu, kau...!" kata Praba Kesa tenang.

"Fitnah keji! Kau memang tidak pantas hidup lebih lama di kolong langit inif" sahut Rana Elang murka.

Seketika si Jubah Hitam Bermuka Hijau melompat ke depan, melepaskan serangan kilat, kedua tangannya dihentakkan, membuat angin kencang meluruk deras.

"Hup...!" Praba Kesa berjumpalitan ke belakang. Lalu begitu mendarat di tanah, kedua tangannya dihentakkan ke arah angin kencang yang menderu ke arahnya.

­Blam...!

Dua kekuatan besar saling bertemu, sehingga menimbulkan ledakan keras mengguncangkan tanah dan membuat rontok daun-daun di sekitarnya.

Wajah si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang hijau semakin bertambah hijau. Sebaliknya Dedemit Pintu Neraka sempat bergetar juga tubuhnya. Sadarlah mereka ini bahwa kekuatan mereka sebenarnya sangat berimbang.

Apa yang terjadi di tempat itu sesungguhnya tidak luput dari perhatian sepasang mata. Sekarang pemilik sepasang mata yang .tak lain Pendekar Rajawali Sakti segera keluar dari tempat persembunyiannya. Tubuhnya cepat berkelebat cepat untuk menolong Ki Banyu Raga yang dalam keadaan terluka parah itu.

Tanpa menghiraukan perkelahian yang sedang seru-serunya, Rangga berusaha membawa Ki Banyu Raga ke tempat yang aman.

DELAPAN

­Rangga mulai mengurut-urut bagian tubuh Ki Banyu Raga yang terus mengerang kesakitan. Lama kelamaan, jalan darah Ketua Padepokan Kipas Sakti menjadi lancar kembali. Matanya bahkan membuka. Ki Banyu Raga terkejut begitu melihat siapa yang telah menolongnya.

"Pendekar Rajawali Sakti!" seru laki-laki ini dengan perasaan haru.

"Jangan bergerak, Paman. Luka dalammu belum sembuh benar," ujar Rangga mengingatkan.

Ketua Padepokan Kipas Sakti ini menggelengkan kepala. Matanya sayu, pertanda sedang dirundung kesedihan.

"Aku sudah terlambat, Rangga. Sungguh aku tidak tahu ulah saudaraku itu. Dia mungkin sudah mati di Padang Neraka. Sedangkan putri satu-satunya juga binasa di tangan Dedemit Pintu Neraka. Rasanya aku tidak dapat hidup tenang lagi, sebelum dapat membunuh manusia keji yang berjuluk Dedemit Pintu Neraka!" ungkap Ki Banyu Raga dengan suara bergetar.

"Bersabarlah, Paman. Mereka kini sedang terlibat pertempuran. Siapa pun yang jadi pemenangnya, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya...," desis Rangga tenang.

"Syukurlah, Rangga. Ternyata kau mau menolongku dari kesulitan yang kuhadapi," desah Ki Banyu Raga pelan.

"Paman tetap beristirahat saja. Kita harus menunggu!" ujar Pendekar Rajawali Sakti, seraya mengarahkan pandangannya pada pertarungan yang tak jauh dari tempat ini

Ketua Padepokan Kipas Sakti yang seluruh muridnya tewas di tangan Dedemit Pintu Neraka mengangguk setuju. Ketika mereka sedang memperhatikan jalannya perkelahian sengit yang banyak mengumbar pukulan maut itu, tiba-tiba...

"Ha ha ha...! Sedang terjadi pertempuran rupanya di sini. Jaka Tawang! Lihat tidak, betapa hebatnya mereka? Setan melawan iblis. Lihat baik-baik, Jaka! Mereka benar-benar hebat!" seru seorang laki-laki tua pada pemuda yang dipanggil Jaka Tawang.

"Ini rupanya orang yang kita cari-cari, Guru! Melihat cepatnya gerakan mereka, kepalaku jadi pusing, Guru!" sahut Jaka Tawang.

"Ah..., Rangga. Rupanya kau sudah berada di sini. Maaf, atas keterlambatan kami," ucap kakek berbaju putih ini yang tak lain Ki Sabda Gendeng merasa serba salah, begitu melihat Pendekar Rajawali Sakti.

"Bukannya terlambat, Pendekar Rajawali Sakti! Guru mengajak aku main catur terus. Jadi, kami jarang bergerak," timpal Jaka Tawang, menyudutkan.

Ki Sabda Gendeng mendelik matanya pada Jaka Tawang. Rangga tersenyum saja melihat ulah murid dan Guru yang konyol itu.

"Perkenalkan! ini Paman Banyu Raga, Ketua Padepokan Kipas Sakti," kata Rangga, seraya menatap laki-laki di sebelahnya.

"Senang sekali berjumpa denganmu, Kisanak," ucap Ki Sabda Gendeng lalu menjura hormat. "Tampaknya kau menderita luka berat? Apakah orang itu yang telah melukaimu?"

Ki Banyu Raga mengangguk.

"Kalau begitu biar kami hajar mereka!" desis Ki Sabda Gendeng geram, seraya hendak bergerak mendatangi pertarungan.

­"Jangan, Ki. Bukannya aku menganggap remeh, tapi mereka cukup tangguh. Lebih baik kau dan Jaka T awang jaga di sini biarkan aku yang menyelesaikan urusan ini!" cegah Rangga, mantap.

Sebentar Ki Sabda Gendeng menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti, lalu kembali tatapannya beralih pada pertarungan. "Aku percaya dengan kehebatanmu, Rangga. Tapi kusarankan agar berhati-hati menghadapi mereka. Salah satu di antaranya saja sudah cukup berbahaya. Apalagi kalau kedua-duanya malah berbalik menyerangmu!" sahut Ki Sabda Gendeng, mencemaskan Pendekar Rajawali Sakti.

"Tentu aku akan menunggu kesempatan terbaik bagiku!" jawab Rangga.

Sementara itu pertempuran berjalan semakin seru saja. Baik si Jubah Hitam Bermuka Hijau maupun Dedemit Pintu Neraka sudah sama-sama mengerahkan jurus-jurus andalan yang sangat berbahaya!

"Maut sudah menantimu, Rana Elang!" teriak Dedemit Pintu Neraka.

"Omong kosong!" dengus si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

"Tujuh Jalan Darah!" teriak Praba Kesa. Tiba-tiba saja Dedemit Pintu Neraka memutar tubuhnya menghadap matahari terbit. Kedua tangannya melekat di depan dada. Wajahnya berubah tegang. Dan rambutnya yang tegak berdiri bagai ijuk, tampak mengeras seperti bulu landak. Di lain waktu, kedua tangannya yang paling melekat telah berubah hitam seperti arang. Ada asap tipis mengepul lewat celah-celah jemarinya.

Melihat Dedemit Pintu Neraka telah bersiap-siap melepaskan pukulan yang sangat ampuh, si Jubah Hitam Bermuka Hijau tidak tinggal diam. Segera tenaga dalamnya dikerahkan, membuat kedua tangannya berubah merah laksana bara.

"Tembang Padang Neraka!" teriak Rana Elang. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna, Rana Elang melesat ke depan sambil mendorongkan kedua tangannya.

Wut! Wut!

Segelombang angin panas disertai warna merah darah meluruk deras ke arah Praba Kesa. Sebaliknya dari ujung jemari Dedemit Pintu Neraka yang juga sudah meluruk pun menderu angin dingin berbau busuk. Masing-masing telah sama-sama melesat. Dan tampaknya adu tenaga dalam tidak dapat dihindari lagi. Lalu....

Blam...!

"Aaakh...!"

Terdengar ledakan dahsyat begitu benturan yang menciptakan percikan bunga api terjadi. Disertai jerit kesakitan, dua sosok tubuh terlempar jauh menerabas tebaran asap dan bunga api. Tempat itu sempat terguncang. Debu dan daun-daun kering berhamburan di udara. Begitu jatuh di tanah, dua sosok yang terjatuh berusaha bangkit Tampak jelas Dedemit Pintu Neraka dalam keadaan terluka dalam. Begitu juga si Jubah Hitam Bermuka Hijau.

Namun walau pukulan Praba Kesa mengandung racun jahat, Rana Elang sekarang tidak mempan lagi dengan beberapa jenis racun, berkat racun lama yang mengendap di tubuhnya. Dia segera bangkit berdiri. Disekanya darah yang menetes di sudut-sudut bibirnya. Dengan penuh rasa benci dipandanginya Dedemit Pintu Neraka.

"Aku tidak pernah puas sebelum salah satu di antara kita terkapar menjadi mayat!" desis Rana Elang marah, seraya mencabut pedangnya.

Sring!

­"Hmm," gumam Dedemit Pintu Neraka tidak jelas.

"Hiyaaa...!" Disertai jeritan tinggi melengking seakan merobek langit, si Jubah Hitam Bermuka Hijau memutar pedangnya dengan gerakan sedemikian cepat. Apalagi ketika itu ­ia melancarkan jurus-jurus maut yang dipelajari di Padang Neraka,

Seketika Rana Elang meluruk ke depan. Maka dalam waktu sekejap, sinar pedangnya telah mengurung jalan gerak Dedemit Pintu Neraka.

Namun ternyata selain cerdik, Praba Kesa licin dan lincah sekali. Ketika pedang di tangan si Jubah Hitam Bermuka Hijau meluncur deras menerobos bagian perut, tubuhnya berkelit ke samping. Sehingga serangan Rana Elang hanya mengenai tempat kosong. Namun secepat kilat, Rana Elang membelokkan ujung pedangnya.

Wut!

"Heh...?!" Dedemit Pintu Neraka terkesiap, lalu cepat melompat ke belakang. Tapi pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau terus memburunya ke manapun dia berusaha bergerak. Praba Kesa berusaha cari celah kosong di antara serangan pedang yang sangat hebat itu. Maka begitu si Jubah Hitam Bermuka Hijau menebaskan pedang ke leher, cepat tubuhnya merunduk seraya melepaskan tendangan ke perut

Des!

"Hugkh!" Si Jubah Hitam Bermuka Hijau terhuyung mundur begitu tendangan Praba Kesa mendarat telak di perutnya. Namun seakan dia tidak merasakan apa-apa. Bahkan kembali menerjang. Kali ini serangannya semakin menghebat. Hingga sambaran angin pedangnya saja terasa memedihkan mata.

Dedemit Pintu Neraka benar-benar terdesak. Dia hanya dapat mengelak, tanpa mampu melakukan serangan balasan.

Bret! Bret! Bret!

Praba Kesa mengeluh dalam hati. Untuk menyelamatkan diri, tubuhnya terus berjumpalitan menghindar. Namun Rana Elang berhasil menyabetkan pedangnya. Aneh! Bagian tubuhnya yang terserempet pedang sama sekali tidak terluka.

Hal itu tentu mengejutkan semua orang yang melihat pertarungan. Terlebih-lebih lagi Rana Elang. ­Bagaimana mungkin pedangnya yang cukup ampuh tidak dapat melukai lawannya? Sadarlah si Jubah Hitam Bermuka Hijau kalau ternyata Dedemit Pintu Neraka kebal senjata.

Rana Elang tidak putus asa. Kembali diserangnya Praba Kesa dalam jarak yang cukup dekat. Pedangnya menusuk, membabat, dan menebas ke bagian-bagian tertentu di tubuh lawannya.

Namun kali ini Dedemit Pintu Neraka melancarkan serangan balasan tidak kalah sengit. Ketika pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau kembali meluncur deras ke dada, Praba Kesa cepat menyampok dengan tangan kanan.

Tap!

Pedang si Jubah Hitam Bermuka Hijau berhasil ditangkap Dedemit Pintu Neraka. Rana Elang berusaha menarik pedangnya yang berada dalam genggaman, namun tidak berhasil. Bahkan tanpa diduga tangan kiri Praba Kesa menghantam dadanya.

Des!

­"Aaa...!" Si Jubah Hitam Bermuka Hijau kontan menjerit keras begitu pukulan beracun Praba Kesa bagai menghancurkan isi dadanya. Tubuhnya kontan terpental dan jatuh berdebuk di tanah, Sementara pedangnya berhasil dirampas Dedemit Pintu Neraka.

Melihat musuh bebuyutannya dalam keadaan tidak berdaya, Dedemit Pintu Neraka segera memutar pedang rampasannya. Lalu....

"Hiyaaa!" Disertai teriakan keras, Dedemit Pintu Neraka meluruk ke depan dengan pedang terarah pada si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang benar-benar dalam keadaan menderita luka dalam. Namun pada saat yang gawat, berkelebat sebuah bayangan memapak serangan Praba Kesa.

Trak!

"Ups...!" Dedemit Pintu Neraka langsung terlempar dan jatuh di tanah. Pedangnya lepas dari tangan. Sedangkan pergelangan tangannya yang terpapak terasa nyeri dan panas bukan main.

Karena merasa khawatir, Praba Kesa bangkit berdiri. Matanya menatap tajam pada orang yang memapak serangannya. Tiga tombak di depannya kini telah berdiri seorang pemuda tampan berompi putih. Di punggungnya tersampir sebilah pedang berhulu kepala burung rajawali

"Hm.... Apa hubunganmu dengan Rana Elang?" desis laki-laki bercawat itu.

"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Hanya aku paling tidak suka melihat orang masih tega membunuh lawannya yang sudah tidak berdaya!" sahut sosok pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

"Kepalang basah! Siapa pun yang berada di sekitar tempat ini akan kubunuh semuanya!" bentak Dedemit Pintu Neraka.

"Heaaa..!"

“Hiyaaa!­"

Pertarungan sengit pun kembali terjadi. Kali ini lawan yang dihadapi Dedemit Pintu Neraka adalah seorang pendekar tangguh yang mempunyai kesaktian luar biasa.

Sementara itu, si Jubah Hitam Bermuka Hijau yang dalam keadaan terluka parah segera ditolong Ki Sabda Gendeng. Dengan dibantu Jaka Tawang mereka mulai meneliti keadaan Rana Elang.

"Coba persiapkan sebuah cawan untuk arakku, Jaka!" perintah Ki Sabda Gendeng pada muridnya.

"Cawan? Untuk apa, Guru. Bukankah kalau Guru mau minum cukup meneguknya saja? Tukas Jaka Tawang tidak mengerti.

"Anak tolol! Gendeng dipelihara! Aku bukan mau minum, Goblok! Aku mau mengobati luka dalam orang ini!" bentak Ki Sabda Gendeng melotot.

Jaka Tawang segera menyediakan apa yang diminta gurunya. Sedangkan Ki Banyu Raga hanya memperhatikan dengan tatapan sulit ditafsirkan.

"Lukanya memang parah. Tapi, lebih berbahaya lagi karena dia telah terkena racun jahat!" kata Ki Sabda Gendeng pelan.

"Lalu, bagaimana, Guru?"

"Harapan baginya untuk hidup sangat tipis...."

"Biarkan dia mati, Kisanak!" sela Ki Banyu Raga, tiba-tiba. “Dosa-dosanya bertumpuk, walaupun dia berasal dari orang baik-baik!"

Rana Elang yang dalam sekarat membuka matanya. Setiap kali bergerak, maka darah kental akan menyembur dari mulutnya. "Aku memang orang jahat. Tapi paling tidak, aku pernah berbuat baik untuk Kota Gede. Malah, saudaramu itu ular berkepala dua. Kepada kalian berdua yang menolongku kuucapkan terima kasih. Aku..., tidak mungkin dapat bertahan hidup lebih lama. Tapi setidaknya aku merasa senang, karena di akhir kematianku dapat pula menunjukkan pada orang lain bahwa tidak semua kesalahan yang terjadi karena aku...!" kata Rana Elang tersendat-sendat. Tidak lama, kepala si Jubah Hitam Bermuka Hijau benar-benar terkulai. Dia tewas seketika dengan bibir dihiasi senyum.

"He.... Dia malah mati, Guru! Padahal, Guru belum berhasil mengobati mukanya yang hijau!" ujar Jaka Tawang. .

"Anak sableng! Mukanya memang sudah hijau," maki Ki Sabda Gendeng, sambil ­garuk-garuk kepala. "Tapi, sudahlah.... Untuk apa kita adu mulut. Toh, dia sudah mampus. Lebih baik kita. main catur dulu! Kalau Rangga perlu bantuan, nanti baru kita turun tangan!"

"Tidak mau! Silakan Guru main sendiri! Aku punya tugas untuk mengubur si Jubah Hitam Bermuka Hijau supaya tidak menderita," tolak Jaka Tawang.

"Eeh..., tunggu...!"

"Tidak!"

"Edan...! Biarkan kubantu kau menguburkan jenazah manusia itu!" sergah Ki Sabda Gendeng sambil memasukkan papan caturnya kembali ke balik pakaian.

Duk! Duk!

"Aaakh...!"

Sementara itu dalam pertarungan, Rangga terjengkang ketika beberapa hantaman Dedemit Pintu Neraka mendarat di dadanya. Dia jatuh terduduk. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya, pertanda menderita luka dalam tidak ringan.

Melihat kejadian ini, sebenarnya Ki Sabda Gendeng dan muridnya hendak turun membantu. Tapi hatinya merasa tidak enak. Apalagi, mengingat kalau Rangga adalah seorang pendekar ksatria yang tidak ingin bertarung secara keroyokan.

"Sebentar lagi aku akan mengirimmu ke neraka, Kisanak!" dengus Dedemit Pintu Neraka sambil tertawa penuh kemenangan.

"Aku ingin melihat, apakah ucapanmu sesuai dengan kemampuanmu!" balas Rangga dingin menusuk. Secepatnya Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri seraya menggerakkan tangannya ke punggung.

Sring...!

Begitu Rangga meloloskan pedang yang selalu tergantung di punggung, sinar biru berkilauan langsung memendar dari mata pedang.

­"Heaaa...!" Sambil berteriak nyaring, Pendekar Rajawali Sakti meluruk ke arah Dedemit Pintu Neraka dengan pedang berkelebat mencari sasaran disertai jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Hanya dalam berapa saat saja, Praba Kesa telah terkepung sinar biru dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

Praba Kesa saat itu merasa ada hawa aneh keluar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti. Semangat bertarungnya kontan kendor. Bahkan kini yang timbul adalah rasa takut luar biasa. Sehingga, keringat dingin mendadak mengucur deras.

"Hup...!" Tiba-tiba Dedemit Pintu Neraka melompat ke belakang. Namun pada waktu yang sama, Pendekar Rajawali Sakti meluruk dengan sabetan pedang yang cepat bukan main. Akibatnya, Praba Kesa yang baru mendarat di tanah tidak sempat menghindar. Dan...

Crasss...!

"Aaakh...!" Tepat sekali Pedang Pusaka Rajawali Sakti menebas kepala Dedemit Pintu Neraka hingga menggelinding jatuh. Darah kontan memancur dari leher yang terputus. Begitu ambruk, Praba Kesa tewas seketika dengan kepala terpisah. Rupanya kekebalan tubuhnya tidak mampu menahan ketajaman Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

Pendekar Rajawali Sakti segera memasukkan pedang ke dalam warangkanya. Sementara Ki Sabda Gendeng, Jaka Tawang, dan Ki Banyu Raga datang menghampirinya.

''Rangga! Kau telah menyelesaikan segalanya dengan baik. Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu!" ucap Ki Banyu Raga penuh rasa haru.

"Aku ikut sedih karena Paman kehilangan murid," sahut Pendekar Rajawali Sakti. "Semoga kejadian ini tidak terulang lagi di Kota Gede. Paman dapat memimpin kota itu mulai sekarang!" Pendekar Rajawali Sakti kemudian berbalik. Namun ketika baru melangkahkan kakinya....

"Hei..., tunggu!" cegah Ki Sabda Gendeng.

Rangga berbalik "Ada apa lagi, Ki?!" tanya Rangga.

"Ah, tidak... Aku hanya ingin mengajakmu bermain catur!"

"Maaf, Ki. Aku ada urusan lain," kilah Pendekar Rajawali Sakti terus melangkah menghampiri Dewa Bayu yang selalu setia menunggu di tempat tersembunyi.

­Ki Sabda Gendeng tampak kecewa. Tapi untuk menahan Pendekar Rajawali Sakti lebih lama lagi, dia tidak berani. Ketika laki-laki tua ini menoleh pada muridnya, Jaka Tawang hanya mengangkat bahu.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: KELELAWAR HIJAU