Kisah Sepasang Naga Jilid 14

KISAH SEPASANG NAGA JILID 14

Pada suatu hari mereka melepaskan lelah di dalam sebuah hutan yang lebat dan penuh dengan pohon-pohon besar dan bunga-bunga indah. Mereka duduk di dekat serumpun tanaman bunga yang sedang mekar kembangnya dan menyebar bau harum menyedapkan.

“Giok Ciu, ketika kita bertempur membinasakan Siauw-San Ngo-Sinto dulu, ternyata bahwa ilmu pedangmu sangat hebat dan maju sekali,” Sin Wan menyatakan pendapatnya memuji.

Tapi Giok Ciu memandangnya tak puas, “Aah, dikata majupun susah, engko Sin Wan. Buktinya masih belum melebihi kemajuanmu, kau berhasil pula membunuh dua orang musuh dan yang seorang terakhir mati di tangan kedua pokiam kita!”

Sin Wan memandang gadis itu dengan heran, “Itu bukan berarti bahwa kau masih kalah olehku, moi-moi. Kita seri, sama-sama kuat hingga seorang berhasil menewaskan dua setengah orang musuh!”

Mendengar kelakar Sin Wan ini, Giok Ciu tersenyum.

“Giok Ciu,” kata Sin Wan pula dengan suara halus sambal memandang wajah gadis yang manis itu, “Kalau kita dapat bertemu dengan Cin Cin Hoatsu, pasti kau dan aku akan dapat membunuhnya.”

Giok Ciu menghela napas. “Mudah-mudahan kita akan lekas bertemu dengan bangsat tua itu, kalau aku belum membunuh mati orang tua itu, selamanya hatiku dan pikiranku takkan tenteram dan tenang.”

“Jangan kau kuatir, moi-moi, bukankah ada aku yang selalu akan berada disampingmu dan membelamu?” kata Sin Wan mengulurkan tangan dan memegang tangan gadis itu.

Giok Ciu diam saja dan tidak menarik tangannya karena tempat yang indah itu dengan hawanya yang nyaman rupanya juga mempengaruhi hatinya, maka ia hanya memandang saja wajah Sin Wan yang tampan dan terkasih itu dengan lirikan mesra. Keduanya diam tak bergerak hanya merasakan nikmat dan bahagia ayunan asmara melalui denyutan tangan mereka yang saling berpegang dan melalui pandang mata mereka yang menyampaikan seribu satu kalimat bisu yang mesra! Akhirnya terdengar elahan napas perlahan Sin Wan,

“Giok Ciu, setelah kita berhasil membalas sakit hati dan menewaskan Cin Cin Hoatsu, kita… kita akan kemanakah?”

Untuk beberapa saat Giok Ciu tak dapat menjawab, hanya menekan tangan Sin Wan dengan erat dan penuh arti. “Aku… aku hanya menurut saja padamu, Koko."

Sin Wan menjadi girang sekali dan menarik tubuh Giok Ciu hingga kepala gadis dengan rambutnya yang harum itu bersandar di dada Sin Wan yang bidang. “Benarkah? Kalau begitu, setelah kita berhasil, kau… Kita… akan… kawin?”

Merahlah wajah Giok Ciu, tapi ia hanya meramkan mata dan berbisik, “Terserahlah, Koko, bukankah aku memang calon jodohmu…?”

Giok Ciu yang bersandar di dada Sin Wan tiba-tiba merasa sesuatu mengganjal kepalanya. Segera ia mengangkat kepalanya yang bersandar dan memandang Sin Wan karena teringat sesuatu,

“Koko, apakah… Sepatuku dulu itu masih tergantung di lehermu?”

Sin Wan tersenyum malu dan ia mengeluarkan sepatu kecil itu. “Tentu saja!” jawab Sin Wan pasti.

“Koko, kau simpan baik-baik sepatu itu dan belum pernah terpisah dari tubuhmu. Kalau… Kalau kita sudah suami isteri, apakah kau juga masih akan menyimpan terus sepatu itu?”

“Tentu saja!” jawab Si Wan pasti. “Untuk… untuk dipakai oleh kaki kecil kelak!”

Gok Ciu masih belum mengerti. “Kaki kecil? Kaki siapa, Koko?” di dalam suaranya terdengar cemburu.

Sin Wan tertawa besar. “Kaki siapa lagi? Kaki anak kita, tentu!”

“Ah, kau ceriwis!” kata Giok Ciu sambil mencubit lengan pemuda itu, tapi Sin Wan hanya tertawa saja.

“Dan sulingku itu kau kemanakan, moi-moi?”

Giok Ciu mencabut suling itu dari ikat pinggang. “Apakah hanya kau yang bisa berlaku setia?” katanya.

Sin Wan mengambil suling itu dan segera mainkan dengan tiupannya yang merayu. Tapi kali ini ia meniup lagu gembira yang menyatakan betapa bahagia rasa hatinya saat itu, sedangkan Giok Ciu lalu menyandarkan kepalanya di dada itu lagi, karena dalam bersandar ini ia merasa seakan-akan dirinya aman sentosa dan mendapat sandaran yang teguh kuat hingga mengamankan hatinya. Memang ia menganggap pemuda itu sebagai tiang sandaran hidup yang selamanya akan melindunginya!

Pada saat kedua anak muda itu dimabuk anggur asmara, tiba-tiba terdengar suara tertawa menghina di belakang mereka! Karena asyik mendengar suling yang ditiup oleh Sin Wan, maka keduanya sampai tidak mendengar bahwa di belakang mereka berdiri dua orang Kakek!

Sin Wan dan Giok Ciu mencelat bangun dengan muka merah karena malu. Tapi setelah melihat siapa adanya kedua orang yang menertawakan mereka itu, terkejutlah mereka, berbareng merasa marah sekali. Ternyata bahwa yang datang adalah Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu, dua pertapa lihai yang pernah bertempur dengan mereka!

Diam-diam kedua anak muda itu terkejut juga melihat betapa dua orang saudara dari Cin Cin Hoatsu berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam. Untuk Keng Kong Tosu mereka tak perlu takut, walaupun Tosu itupun memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan, tapi karena disitu terdapat Kwi Kai Hoatsu yang telah mereka ketahui memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada Keng Kong Tosu. Maka kali ini mereka berdua benar-benar merupakan lawan yang jauh lebih berat daripada Siauw-San Ngo-Sinto!

Ternyata bahwa ketika dikalahkan oleh Sin Wan, Keng Kong Tosu lalu ke kota raja dan menemui Kwi Kai Hoatsu. Tapi kebetulan sekai, mereka bertemu di jalan, karena Kwi Kai Hoatsu juga sedang menuju ke Siauw-San untuk membela kelima Tosu ini dari pembalasan musuh-musuhnya yang ia dapat menduga pasti akan mengunjungi Siauw-San pula.

Kwi Kai Hoatsu terkejut sekali ketika mendengar bahwa ia terlambat dan bahwa kedua anak muda yang lihat itu telah datang ke Siauw-San bahkan telah mengalahkan Keng Kong Tosu. Ia segera mengajak Keng Kong Tosu cepat-cepat ke Siauw-San, tapi disitu ia hanya menemui makam kelima golok sakti itu yang ternyata telah terbunuh oleh Sin Wan dan Giok Ciu!

Marahlah Kwi Kai Hoatsu dan ia melakukan pengejaran dengan Keng Kong Tosu. Karena kepandaian mereka memang tinggi, pula mereka tiada hentinya melakukan pengejaran, mereka dapat menyusul kedua anak muda itu. Kedua pertapa itu merasa sakit hati sekali karena telah dikalahkan hingga mendapat malu oleh sepasang anak muda itu, maka alangkah girang hati mereka dapat menyusul Sin Wan dan Giok Ciu. Mereka yakin bahwa dengan maju berdua, pasti sakit hati itu dapat terbalas. Pula mereka telah mendengar bahwa kedua anak muda itu adalah musuh-musuh suheng mereka, ialah Cin Cin Hoatsu!

Sebenarnya, ketiga pertapa ini bukanlah saudara seperguruan, tapi ketiganya telah merupakan persekutuan pemimpin paderi Lama di Tibet, yakni sekumpulan paderi yang memberontak dan mengingkari hak kekuasaan pemerintah Lama pusat di Tibet. Karena sikap memberontak ini, maka terjadi pertempuran dan perebutan kekuasaan di Tibet dan ternyata dalam pertempuran hebat itu, Cin Cin Hoatsu, Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu dapat dikalahkan dan diusir dari Tibet dan lari ke Tiong-Gwan.

Dalam hal tingkat ilmu silat dan ilmu sihir, Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu menduduki tingkat ketiga, hingga dapat diduga betapa tinggi kepandaian mereka. Tingkat kepandaian Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu hampir sama, hanya mereka memiliki ke istimewaan masing-masing. Memang senjata Kwi Kai Hoatsu berupa kebutan dan tongkat ular itu lebih menyeramkan dan lebih berbahaya, karena kedua senjata itu dapat menyemburkan senjata-senjata rahasia yang tak terduga datangnya dan lihai sekali.

Tapi dalam hal kepandaian lweekang, agaknya Cin Cin Hoatsu lebih lihai, sedangkan dalam pertempuran, selalu Cin Cin Hoatsu menggunakan ujung lengan baju yang tidak kalah berbahayanya dengan senjata tajam yang bagaimanapun juga. Keng Kong Tosu sebenarnya adalah seorang murid dari Cin-San-Pai yang sesat jalan dan sudah lama mengekor saja kepada kedua pendeta berilmu tinggi itu, bahkan mempelajari ilmu hitam dan ilmu sihir dari mereka.

Keng Kong Tosu mempunyai semacam penyakit, yakni ia tidak boleh melihat wanita cantik. Maka, sekali bertemu dan melihat Giok Ciu yang cantik jelita, timbullah niat jahat didalam batinnya yang kotor. Kini, setelah melihat betapa mesra hubungan antara gadis itu dengan Sin Wan, cemburulah hatinya.

“Bangsat kecil tak tahu malu!” ia memaki hudtimnya lalu menyerang Giok Ciu!

Ia terlalu cerdik untuk menyerang Sin Wan yang pernah merobohkannya, maka ia hendak menyerahkan pemuda yang lihai itu kepada suhengnya saja, sedangkan ia sendiri ingin menghadapi Giok Ciu yang jelita! Tidak disangka sedikitpun olehnya, ketika Giok Ciu berseru nyaring dan mencabut Ouw Liong Pokiam dan menangkisnya, ternyata pedang pendeknya terpental karena tenaga lweekang gadis itupun luar biasa sekali!

Ia lalu berlaku hati-hati dan melempar semua pikiran-pikiran yang nyeleweng untuk dapat memusatkan perhatian dan kepandaian gadis yang ternyata merupakan lawan yang tangguh ini. Sementara itu, dengan senyum menyindir Kwi Kai Hoatsu berkata kepada Sin Wan.

“Kau hendak mencari dan membunuh Cin Cin Hoatsu? Ha, jangan kau mimpi terlalu jauh, anak muda. Untuk menghadapi kami saja tak mungkin kau menang, apalagi jika ada saudaraku itu disini! Bersiaplah kau menerima pembalasanku terhadap hinaanmu yang melukai kulit pundakku dulu!” Sambil berkata demikian, pendeta itu lalu mencabut keluar kebutan hudtim dan tongkat ularnya yang lihai telah siap di tangan!

Sin Wan tahu benar bahwa lawan ini adalah sangat tangguh dan kepandaiannya masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia tidak mau didahului, lalu berkelebat dan menyerang hebat dengan Pek Liong Pokiam!

“Bagus!” Kwi Kai Hoatsu berseru menyindir dan iapun menggerakkan tongkatnya di tangan kanan yang diputarnya sedemikian rupa hingga merupakan sinar bundar yang hitam warnanya dan mengeluarkan hawa dingin dan bau amis. Ular yang telah kering dan menjadi tongkat itu kini seolah-olah hidup lagi dalam tangan pendeta itu hingga Sin Wan harus berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan Pek Liong Kiam-Sut untuk melayaninya.

Memang dalam hal lweekang, Sin Wan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Kwi Kai Hoatsu yang telah berpengalaman dan telah memiliki tenaga batin yang kuat, biarpun tenaga itu berasal dari ilmu hitam. Baiknya ilmu Pedang Naga Putih yang dimainkan oleh pemuda itu adalah semacam ilmu yang jarang bandingannya di permukaan bumi, hingga ia masih dapat melayani pendeta lihai itu dengan ulet.

Sebaliknya permainan Ouw Liong Kiam-Sut dari Giok Ciu juga telah membuat Keng Kong Tosu repot sekali dan hanya dapat menangkis saja. Tosu ini dalam sibuknya lalu memusatkan tenaga batinnya dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, kemudian ia mengeluarkan suara siulan keras sekali hingga Giok Ciu merasa jantungnya berdebar dan merasa ada hawa yang dingin menyerangnya dari depan.

Dalam pandangan matanya, tiba-tiba Tosu itu telah berubah menjadi pucat sekali bagaikan seorang mayat hidup yang mengerikan hingga ia menjadi terkejut sekali. Baiknya ia masih dapat teringat bahwa Tosu ini pandai ilmu siluman dan tentu ini adalah sebuah dari pada ilmu hitamnya itu, maka cepat sekali gadis itu lalu mengumpulkan lweekangnya dan meloncat keatas sambil mementang kedua tangannya dan mengeluarkan siulan-siulan tinggi dan nyaring sekali.

Inilah Sin-Tiauw Kiam-Hwat Ilmu Pedang Rajawali Sakti, kepandaian tunggal dari Ayahnya yang telah dipelajari baik-baik. Memang ilmu ini gerakan-gerakannya mengandung tenaga lweekang tinggi dan gerakan-gerakan tangannya mempunyai pengaruh untuk memunahkan segala cengkeraman ilmu sihir dan ilmu hitam.

Biarpun dalam hal ilmu lweekang, gadis itu masih kalah sedikit jika dibandingkan dengan Keng Kong Tosu, namun berkat ilmu pedangnya yang luar biasa dan keteguhan hatinya yang membaja, ia tak usah menyerah kalah terhadap seorang pendeta ilmu hitam semacam Keng Kong Tosu saja!

Keng Kong Tosu terkejut sekali karena setelah berkali-kali gadis itu menyerang dari atas dengan gerakan-gerakan aneh dibarengi siulan-siulan nyaring, maka buyarlah semua tenaga yang dipusatkan, bahkan ia lalu terhuyung-huyung kebelakang. Dengan gemas ia lalu mengebutkan lengan bajunya dan dari situ mengebul keluar asap tebal warna hijau!

Giok Ciu dapat menduga bahwa itu tentu semacam racun yang berbahaya sekali. Maka cepat ia meloncat mundur menjauhinya, lalu menggunakan ginkangnya meloncat tinggi sekali di atas asap itu dan menyerang lawannya dari atas! Gerakannya bagaikan seekor naga sakti terjun dari awan dan terdengarlah teriakan ngeri karena ujung Ouw Liong Pokiam berhasil melukai pundak Keng Kong Tosu!

Baiknya Tosu ini mempunyai ilmu kebal, yakni yang disebut 'Kim-Ciong-Ko' hingga pedang yang seharusnya membinasakannya itu, hanya melukai pundaknya saja. Tapi ini cukup membuat ia gugup dan jerih sekali. Sedangkan Kwi Kai Hoatsu mendengar teriakan ini lalu menengok. Marahlah ia setelah melihat bahwa kawannya telah terluka. Ia sendiri, biarpun dengan tongkat ular dan kebutan hudtimnya dapat melayani Sin Wan dengan baik, namun ternyata bahwa pemuda itu benar-benar tangkas dan gagah perkasa.

Sin Wan telah mainkan Pek Liong Pokiam sedemikian sempurnanya, hingga sinar putih dari pedangnya merupakan gelombang ombak yang kuat dan besar sekali dan menahan segala serangan kedua senjata lawannya. Namun lawan ini terlalu tangguh hingga ia tidak dapat balas menyerang, biarpun sebaliknya Kwi Kai Hoatsu sendiripun tidak berdaya untuk melukai lawannya yang masih muda itu!

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Kini marahlah Kwi Hoatsu. Kalau tadi ia masih merasa malu untuk mengeluarkan ilmu hitamnya, kini terpaksa ia gunakan. Diam-diam ia menyimpan kebutannya dan kini tangan kirinya telah memegang segulung tali sutera hitam yang dibuat dari semacam ular. Sin Wan tidak mengerti apa maksud lawannya itu dan senjata apakah yang dipegangnya, maka berlaku sangat hati-hati. Pada saat itu, Kwi Kai Hoatsu membentak,

“Awas jarum!”

Dulu pernah Sin Wan menghadapi serangan jarum pendeta ini dan maklum betapa bahayanya serangan itu, maka ia berlaku waspada. Dari mulut tongkat ular itu menyembur benda warna hitam dan tahu-tahu benda itu terpecah menjadi puluhan jarum-jarum kecil sekali yang menyambar ke seluruh tubuhnya dari mata sampai ke kaki! Karena menyambarnya jarum ini cepat sekali, maka sukar untuk dikelit, juga kalau ditangkis dengan pedang, mungkin tidak semuanya akan tertangkis. Terpaksa Sin Wan lalu jengkangkan tubuh ke belakang dan setelah tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan pergi cepat sekali!

Maka selamatlah ia, karena jarum-jarum kecil berwarna hitam yang menyambarnya tadi semua adalah jarum berbisa yang luar biasa berbahayanya. Tapi pada saat itu ia menjadi terkejut sekali. Ternyata setelah melihat Sin Wan bergulingan dan untuk sementara waktu tidak berdaya, Kwi Kai Hoatsu lalu meloncat ke arah Giok Ciu yang masih mendesak Keng Kong Tosu dan sambil mengeluarkan bentakan keras, Kwi Kai Hoatsu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam panjang menyambar bagaikan ular hidup dan tahu-tahu sutera hitam panjang yang lemas itu telah membelit pedang dan tangan Giok Ciu!

Gadis itu terkejut sekali karena benda yang halus lemas itu datangnya tidak mengeluarkan suara apa-apa dan tahu-tahu pedangnya telah dibelit, sedangkan tangannya yang terbelit benda hitam itu merasa kesemutan dan tak berdaya. Juga dari sutera hitam itu keluarlah bau wangi sekali yang menusuk hidungnya dan membuat kepalanya terasa pening hingga ia tidak dapat menguasai tenaga lweekangnya lagi untuk mempertahankan ketika sabuk sutera itu disendal. Pedangnya Ouw Liong Pokiam kena terampas dan kini terpegang oleh Kwi Kai Hoatsu yang tertawa bergelak-gelak!

Sin Wan terkejut dan marah sekali. Sambil berseru nyaring ia meloncat menerjang Kwi Kai Hoatsu, tapi pada saat itu Keng Kong Tosu berseru sambil mengeluarkan asap hijaunya ke arah Sin Wan, sedangkan Kwi Kai Hoatsu meloncat ke samping dan kembali menggerakkan tangan kirinya dan pedang Sin Wan seperti halnya pedang Giok Ciu tadi, kini kena terampas pula! Sin Wan terpaksa melepaskan Pek Liong Pokiam, karena ia tahu akan hebatnya racun asap hijau yang mengancamnya, maka ia meloncat pergi sambil melepaskan pedangnya.

“Ha ha ha! Kalian seperti harimau-harimau muda kehilangan kuku dan gigi! Mau ke mana lagi?”

Kwi Kai Hoatsu mengejek dan mengirim serangan dengan tongkatnya. Juga Keng Kong Tosu segera menyerang Giok Ciu yang kini bertangan kosong! Memang tadi kedua anak muda itu dapat melawan dengan baik dan berada di pihak penyerang karena mereka mengandalkan pokiam dan permaian pedang mereka yang hebat. Tapi kini, bertangan kosog saja menghadapi dua lawan yang sedemikian tangguhnya, membuat mereka sibuk sekali dan harus berkelit ke sana kemari!

“Mari kita pergi, moi-moi!” Sin Wan berteriak.

Mereka lalu menggunakan ginkang mereka yang tinggi untuk meloncat jauh dan lari. Tapi mereka menahan kaki mereka karena ternyata kedua pendeta itu tidak mengejar, hanya tertawa bergelak-gelak sambil memandang. Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang dan kertak gigi karena marah dan gemas, tapi apa yang dapat mereka lakukan? Melawan dengan nekad berarti mengantarkan nyawa sia-sia belaka, sedangkan musuh besar mereka belum juga dapat dibalas!

Dengan hati hancur mereka melihat betapa kedua orang tua itu sambil tertawa-tawa membawa pedang mereka meninggalkan tempat itu. Memang Kwi Kai Hoatsu maklum akan kelihaian ginkang kedua anak muda itu hingga kalau ia memaksa mengejar, takkan berhasil dan berarti mencapaikan diri dengan sia-sia.

Melihat betapa pedangnya dibawa pergi, tiba-tiba Giok Ciu menangis sambil menutup mukanya dengan tangan. Ia menangis karena gemas dan penasaran sekali dan karena tidak berdaya. Tapi tiba-tiba Sin Wan memegang tangannya dan berbisik,

“Moi-moi, kau lihat disana itu!”

Giok Ciu mengangkat muka dan memandang dan iapun terbelalak heran dan mereka lalu tak merasa pula gerakkan kaki dan perlahan-lahan menghampiri kedua musuh mereka. Sebenarnya apakah yang telah terjadi? Ketika kedua pertapa itu sambil tertawa-tawa membawa pedang rampasan meninggalkan tempat itu dan belum jauh pergi dengan heran mereka tiba-tiba melihat seorang pengemis tua yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam sedang tidur melintang di tengah jalan di depan mereka.

Pengemis itu sudah tua dan hampir telanjang, karena pakaiannya compang-camping, rambutnya panjang, hingga dengan mukanya yang hitam itu ia tampak bagaikan setan berkeliaran! Mukanya kurus penuh keriput menandakan usia tua, tapi rambutnya yang panjang itu masih hitam mulus. Ia tiduran di jalan kecil itu hingga sama sekali menghalangi jalan yang hendak dilewati kedua pertapa. Melihat si jembel itu, Keng Kong Tosu membentak,

“Hei, pengemis tua! Pergilah jangan menghalangi jalan kami.”

Mendengar bentakan ini, pengemis jembel itu memalingkan mukanya yang tadi sebagian tertutup tangan dan lengannya, dan terkejutlah Keng Kong Tosu melihat wajah itu, karena benar-benar menyerupai setan! Matanya lebar memandangnya dan sepasang mata itu berputar-putar aneh mengerikan, sedangkan mulutnya yang berbibir merah sekali itu menyeringai menakutkan. Ini bukanlah wajah seorang biasa yang sehat! Kwi Kai Tosu dapat menduga bahwa jembel tua yang tinggi besar itu tentu berotak miring, karena sinar mata orang waras tidak demikian! Maka ia mencegah Keng Kong Tosu mengganggu orang itu lebih jauh.

“Kita lompati saja dia!” katanya. Tapi kata-katanya ini bahkan membuat orang gila itu menjadi marah, walaupun ia sama sekali tidak bergerak untuk bangun, hanya tubuhnya yang tadinya miring kini menjadi telentang memandang ke langit dengan matanya yang merah jelalatan. Bibirnya masih tetap menyeringai, tapi sama sekali ia tidak melihat kepada dua Tosu itu. Kini tangan kanannya mengambil batu-batu kecil dan ia bawa batu-batu itu di depan matanya, dipandangi sambil tertawa ha-ha hi-hi, lalu batu-batu itu diciuminya!

Kwi Kai Hoatsu tertawa geli dan berkata, “Kau tidak mau pergi, baiklah, kami pergi!” Ia lalu menggerakkan tubuh hendak meloncati gembel gila itu.

Tapi tiba-tiba si jembel menggerakkan kakinya yang panjang dan ia melonjorkan kedua kakinya ke udara sambil tertawa ha-ha hi-hi! Gerakan ini seperti tidak disengaja, tapi kebetulan sekali ujung kakinya bergerak sedemikian rupa merupakan tendangan-tendangan maut ke arah perut dan dada Kwi Kai Hoatsu yang sedang meloncat, hingga pendeta itu terkejut sekali lalu meloncat kembali ke tempat semula!

Ia hendak marah, tapi melihat betapa si jembel itu mempermainkan kedua kakinya ke atas bagaikan laku seorang kanak-kanak sambil tertawa, ia mengurungkan marahnya karena tahu bahwa orang gila itu tidak sengaja menggunakan kaki untuk menghalang-halanginya ketika meloncat tadi. Setelah memandang kepada Keng Kong Tosu sambil tersenyum untuk menghilangkan kekesalan hatinya, Kwi Kai Hoatsu kembali meloncat, kini tinggi sekali agar jangan sampai melanggar kedua kaki orang gila itu.

Tapi tiba-tiba orang gila itu berseru girang, “Ada burung besar! Ada burung besar!” Suaranya serak dan besar sekali, sedangkan tangannya lalu melempar batu-batu kecl itu ke atas!

Kwi Kai Hoatsu yang sedang melayang diatas terkejut sekali karena batu-batu kecil itu menyambar ke arah jalan-jalan darah di kedua kaki dan kedua pundaknya! Cepat sekali ia poksai berjumpalitan untuk menghindarkan batu-batu itu dan kembali meloncat turun di sebelah Keng Kong Tosu. Kini wajahnya berubah merah dan ia marah sekali karena tahu bahwa orang gila itu sengaja mempermainkannya.

“Bangsat gila, bangun kau!” Bentaknya, tapi orang gila itu tidak mengindahkannya dan tertawa ha-ha hi-hi sambil bergulingan di atas tanah.

“Coba lihat, kau mau bangun tidak!” kata Kwi Kai Hoatsu sambil menggunakan ujung kaki mengorek-ngorek tanah hingga debu tebal mengepul ke arah muka dan tubuh, orang gila itu tetap tidak mau bangun dan membiarkan muka dan tubuhnya berleporan debu tebal dan kotor.

Tiba-tiba kedua mata yang merah dari si jembel itu memandang ke arah sepasang pedang Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam yang dipegang oleh kedua Tosu itu, dan matanya memancarkan sinar yang ganjil dan terkejut. Sejak melihat kedua pedang itu, ia tidak mau melepaskan pandangan matanya dari kedua pedang itu lagi. Kemudian ia bangun berdiri dan tubuhnya benar-benar tinggi besar hingga kedua Tosu itu hanya sampai dibawah lehernya. Urat-urat di tubuhnya melingkar-lingkar bagaikan belut dan rambutnya yang panjang terurai ke depan dan belakang. Sungguh ia mengerikan sekali.

“Kau manusia kurang ajar! Siapakah kau yang berani mengganggu kami?” Kwi Kai Hoatsu menahan napsu marahnya dan bertanya, karena ia kuatir kalau-kalau orang ini adalah tokoh kang-ouw yang ternama dan tidak ia kenal.

Si gila itu tertawa bekakakan. “Aku siapa! Siapa aku... Coba kau katakan aku siapa? Aku sendiri sering bertanya-tanya siapakah aku ini! Aku adalah aku dan habis perkara. Kau sudah tahu bahwa aku ini aku, mengapa pakai bertanya-tanya lagi?” Dan ia lalu tertawa ha-ha hi-hi tak karuan.

Kwi Kai Hoatsu dan Keng Kong Tosu kini percaya betul bahwa mereka sedang menghadapi orang gila. “Kau pergilah dan jangan mengganggu kami. Ketahuilah, aku adalah Kwi Kai Hoatsu dan tidak boleh dibuat permainan. Kau pergilah!”

Suara Kwi Kai Hoatsu berpengaruh sekali ketika ia memerintah ini. Aneh sekali, tiba-tiba sikap si gila itu menjadi penurut. Ia menundukkan kepala sebagai seorang kanak-kanak yang ketakutan sekali mendengar perintah ini, lalu keluar jawaban dari mulutnya.

“Aku tidak kenal segala Hoatsu, tapi baiklah aku akan pergi, jangan kau ganggu aku. Tapi… tapi… kedua pedang itu… berikan padaku!”

“Kurang ajar! Pedang ini pedang kami, kau tidak boleh memintanya!”

“Bohong!” tiba-tiba terdengar teriakan Sin Wan yang sementara itu sudah datang mendekat. “Pedang itu pedang kami yang mereka rampas!”

Orang gila itu tertawa keras. “Nah, nah! Kalau begitu harus dikembalikan kepada orang-orang muda ini. Kembalikanlah dulu, nanti aku pergi!” Ia mendesak Kwi Kai Hoatsu yang kini sudah habis sabarnya lagi.

Ia maju dan mengirim pukulan keras ke dada orang gila itu untuk mendorongnya ke pinggir. Pukulan itu mengenai dada si gila dengan tepat sekali, tapi aneh sekali, si otak miring itu tidak roboh, bahkan menyeringai sambil berkata berkali-kali,

“Jangan pukul aku... jangan pukul aku...!” kemudian terdengar pula suara ketawanya yang menggema di hutan itu.

Bukan main terkejutnya Kwi Kai Hoatsu. Dorongannya tadi sedikitnya mengandung tenaga lima ratus kati, tapi si gila itu tidak terpental bahkan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa sakit! Juga Keng Kong Tosu dan kedua anak muda yang berdiri di situ menjadi bengong terheran.

“Kau ingin mampus!” teriak Kwi Kai Hoatsu yang segera mengayun hudtimnya menyambar ke arah leher si gila itu.

Ujung hudtim itu menotok ke arah leher dan tepat mengenai jalan darah, tapi lagi-lagi Kwi Kai Hoatsu terkejut sampai pucat mukanya, karena jangankan roboh, berkejap mata juga tidak si gila yang aneh itu. Hanya kali ini ia memandang Kwi Kai Hoatsu dengan mata heran dan berkata,

“Kenapa berkali-kali kau pukul aku?”

Kwi Kai Hoatsu tidak menjawab, tapi dengan gemas sekali lalu pencet tekanan di gagang hudtimnya dan dari tengah bulu hudtim itu melayang keluar tujuh buah jarum kecil yang menyambar ke arah leher dan dada si gila!

Giok Ciu hampir berteriak ngeri karena merasa bahwa kali ini si gila pasti akan mampus! Juga Sin Wan merasa kuatir sekali. Tapi si jembel gila itu tidak menjadi gugup. Ia moncongkan bibirnya yang merah seperti darah itu lalu meniup dan sekalian jarum-jarum kecil yang terkenal kelihaiannya itu runtuh ke bawah semua tak berdaya!

Kini Kwi Kai Hoatsu benar-benar terkejut dan maklum bahwa gila atau tidak, orang tinggi besar di depan ini bukanlah sembarang orang dan memiliki ilmu yang tinggi! Ia lalu berkemak-kemik dan menggunakan ilmu sihirnya, karena tak mungkin orang ini dapat bertahan menghadapi ilmu hoatlek. Setelah tenaganya terkumpul, ia menggerakkan kedua tangan ke depan dan dengan suara yang sangat berpengaruh ia membentak,

“Kau rebahlah!”

Si jembel itu cepat membarengi bentakan Kwi Kai Hoatsu dan berseru lebih keras lagi dengan suaranya yang serak dan besar,

“Mari kita sama-sama rebah!” dan aneh sekali Kwi Kai Hoatsu tak dapat mempertahankan tenaga gaib yang memaksanya untuk menggulingkan diri, hingga lalu rebah di tanah!

Kwi Kai Hoatsu jengkel dan marah mendengar betapa Sin Wan dan Giok Ciu terkekeh melihat pemandangan lucu itu, bahkan Keng Kong Tosu sendiri yang menganggap kawannya sedang main gila, berkata,

“Suheng, apa penyakit otak si gila itu menular padamu?”

Tapi Kwi Kai Hoatsu juga berbareng merasa terkejut dan jerih, karena entah dengan ilmu apa, si gila telah berhasil menampar kembali tenaga gaibnya hingga senjata makan tuan! Melihat Kwi Kai Hoatsu bangun si gila juga ikut bangun sambil tertawa menyeringai.

“Sobat, sebenarnya kau siapakah dan apa maksudmu menggangu kami?” Kwi Kai Hoatsu bertanya.

“Kau sudah tahu, aku ya aku, dan siapa menganggu kalian? Kaulah yang mengganggu mereka, maka pulangkanlah pedang mereka itu!”

“Kau sungguh keterlaluan!” Keng Kong Tosu membentak marah dan ia lalu menggerakkan pedang pendeknya untuk menyerang.

Tapi tiba-tiba ia terkejut sekali karena sekali berkelebat saja si gila itu telah lenyap dari pandangannya dan tahu-tahu suara ketawanya yang ha-ha hi-hi telah terdengar di belakang telinganya! Ia membalikkan tubuh dan menyerang lagi bertubi-tubi, tapi sia-sia, karena gerakan si gila yang tak teratur itu sungguh cepat sekali dan membingungkannya...

Kisah Sepasang Naga Jilid 13

KISAH SEPASANG NAGA JILID 13

Maka kini mendengar obrolan Hui Tat, ia dapat menduga bahwa orang ini hanya mengaku-aku saja cabang Kun-Lun sebagai cabangnya untuk mengangkat diri, atau boleh jadi juga ia seorang murid cabang itu, karena memang murid cabang Kun-Lun-Pai banyak sekali jumlahnya dan tersebar kemana-mana. Maka berubahlah sikapnya, karena tadipun ia hanya ingin main-main saja, sedangkan ada dugaan tidak baik terhadap orang sombong ini.

“Jadi kau adalah seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang ternama? Aku telah lama sekali mendengar bahwa ilmu pedang dari Kun-Lun-Pai adalah luar biasa sekali, dan diantaranya terdapat gerakan-gerakan seperti Pek-Hong Koan-Jit dan Tiang-Khing King-Thian. Sukakah kau menambah pengetahuanku yang dangkal dan memperlihatkan kedua gerakan ini?”

Memang watak Hui Tat sangat sombong dan jumawa, dan kini ia kena di 'bakar' oleh Giok Ciu yang nakal. Gadis ini sengaja menyebutkan gerakan ilmu pedang yang mudah hingga tentu saja Hut Tat girang mendengar ini. Dengan lagaknya yang jumawa ia berkata,

“Kau baru mendengar sebutannya saja sudah tertarik, apa lagi kalau melihat gerakan itu dimainkan olehku! Lihatlah, ini yang disebut Pek-Hong Koan-Jit!”

Ia menggerakkan pedangnya dan diputar sedemikian rupa hingga pedang itu mengeluarkan sinar putih yang besar dan bulat di atas kepala dan melindungi bagian atas dari serangan musuh. Memang gerakan ini bagus sekali karena dilihat sekelebatan seakan-akan Hui Tat sedang memegang sebuah payung putih di atas kepalanya!

“Dan inilah yang disebut Tiang-Khing King-Thian!” Ia lalu mengubah gerakan tangannya yang tadi memutar-mutar pedang dan kini tubuhnya ikut berloncatan ke kanan kiri dan pedangnya mendatangkan sinar panjang berkelebatan.

Giok Ciu yang telah mempelajari Kun-Lun Kiam-Hoat dengan baik dan kenal semua tipu gerakan ilmu pedang cabang ini, mendapat kenyataan bahwa biarpun gerakan si sombong ini cukup cepat, namun hanya merupakan latihan luar saja dan kepandaiannya yang bagus ditonton itu sebenarnya tidak berisi. Maka ia segera tertawa nyaring hingga Hut Tat menjadi makin sombong. Ia mengangkat dada dan berkata sambil tersenyum girang,

“Bagaimana nona? Bukankah hebat gerakan ilmu pedangku?”

Tiba-tiba Giok Ciu memandangnya dengan mata tajam dan menghina. “Hui Tat, hayo kau lekas berlutut di depanku!” bentaknya.

Bukam main kagetnya Hui Tat mendengar perubahan sikap gadis cantik ini. Juga semua tamu dan tuan rumah yang semenjak tadi melihat mereka menjadi terkejut. “Eh, apa... apa maksudmu?” Hui Tat bertanya.

“Jangan banyak cerewet, hayo lekas memberi hormat kepadaku. Kau hanyalah cucu muridku kalau dipandang dari sudut kepandaianmu!”

“Apa? Kau juga anak murid Kun-Lun?”

“Mungkin gurumu baru pantas menjadi murid keponakanku. Maka hayo lekas kau berlutut!”

Marahlah Hui Tat. “Kau jangan kurang ajar seperti kawanmu itu. Memang kalian pemberontak-pemberontak yang harus dibasmi. Jangan kau sembarangan hendak menghina Kun-Lun-Pai!”

“Siapa yang menghina Kun-Lun-Pai? Bukan aku, tapi kau sendirilah! Akulah benar-benar anak murid Kun-Lun sedangkan kau ini hanya mengaku-aku saja! Kau kira kedua gerakan tadi betul? Ha ha ha! Dalam satu dua jurus saja aku bisa mainkan Tiang-Khing King-Thian dan merobohkanmu jika kau menangkis dengan gerakanmu Pek-Hong Koan-Jit yang tak karun tadi.”

“Boleh kau coba!” tantang Hui Tat yang merasa dihina sekali.

“Betulkah? Nah, lihat baik-baik, dalam satu jurus saja aku akan merampas pedangmu dan merobek bajumu yang terlalu mewah itu!” Sambil berkata begitu Giok Ciu mencabut pedangnya dari punggung.

“Awas, kau gunakan Pek-Hong Koan-Jit baik-baik!” Seru gadis itu dan dengan cepat.

Hui Tat telah bersiap dan pasang kuda-kuda, Giok Ciu lalu bersuit keras dan mengerahkan ginkangnya meloncat menyerbu ke arah lawan itu. Hui Tat melihat lawannya menyerang dari atas segera memutar pedangnya dengan tipu gerakan Pek-Hong Koan-Jit tadi untuk melindungi kepalanya. Dan benar saja, Giok Ciu bergerak menjalankan serang dengan tipu Tiang-Khing King-Thian atau Pelangi Panjang Melengkung di Langit. Pedangnya bergerak cepat dan dari mulutnya masih melengking suitannya yang membuat Hui Tat tiba-tiba merasa keder dan gugup sekali.

Karena Giok Ciu memang memiliki tingkat kepandaian dan lweekang yang jauh diatasnya, maka sekali kedua pedang menempel, Hui Tat kehilangan keseimbangan badan dan tangannya. Ketika Giok Ciu menggunakan tangan kiri mengetuk pergelangan tangannya maka pedangnya telah pindah tangan tak terasa pula! Pada saat tubuh gadis itu turun di sebelah kiri lawan, gadis itu menggerakkan pedangnya dan...

"Brebeett” ujung pedang itu merobek baju Hui Tat hingga terbukalah baju itu dari batas leher sampai pinggang!

“Nah, tidak lekas berlutut mau tunggu kapan lagi?” Giok Ciu membentak sambil mengayunkan pedang rampasan itu keatas dan pedang itu bagaikan anak panah menancap di balok melintang hingga hampir setengahnya!!

Hui Tat merasa malu dan terkejut sekali. Tanpa berkata apa-apa ia lalu lari pergi dan menggunakan tangan kanan unuk memegang bajunya yang robek. Sedikitpun ia tidak berani menoleh dan lari bagaikan dikejar setan karena ia merasa malu sekali! Giok Ciu dan Sin Wan tertawa bergelak-gelak.

“Siauw-San Ngo-Sinto! Janganlah berlaku pengecut, dan keluarlah kalian untuk mengadu kepandaian! Apakah kalian takut pada kami?”

Kelima Golok Sakti dari Siauw-San yang telah puluhan tahun membuat nama besar itu, tentu saja tidak sudi menelan hinaan kedua anak muda itu, dan berbareng mereka berlima meloncat menghadapi Sin Wan dan Giok Ciu, sedangkan golok andalan mereka telah berada di tangan masing-masing!

“Hm, anak muda sombong. Kalian terlau mengandalkan kepandaian sendiri dan tidak pandang sebelah mata kepada semua orang berada disini! Tidak tahukah kalian bahwa kami sedang melakukan pesta perjamuan dan bahwa kalian tidak kami undang? Tapi kalian sengaja datang mengacau dan karena ini selain kalian menghina kami berlima orang-orang tua, juga kalian telah memandang rendah dan tidak menghargai semua tamu-tamu kami yang terhormat!” kata Twa-Sinto sambil memandang kepada semua tamu.

Sin Wan terkejut dan mengagumi kecerdikan dan kelicinan orang tua itu. Ucapan yang dikeluarkan seakan-akan menegurnya itu sebenarnya adalah semacam hasutan untuk menarik semua tamu di pihak mereka agar semua tamu dipandang rendah oleh Sin Wan dan Giok Ciu sehingga menjadi marah. Maka buru-buru Sin Wan menjura ke sekelilingnya dan berkata dengan suara yang lebih keras lagi dari pada suara Twa-Sinto.

“Cuwi yang terhormat! Ketahuilah bahwa kami berdua orang muda tidak sekali-kali berani memandang rendah kepada cuwi yang gagah perkasa. Siauwte telah cukup mendapat didikan Kakekku Kang Lam Ciuhiap untuk berlaku hormat kepada sahabat-sahabat dari kalangan kang-ouw dan para Lo-Cianpwe, sedangkan adikku inipun cukup mendapat didikan dari Ayahnya yang bukan lain adalah Kwie Cu Ek si Harimau Terbang! Kami berdua adalah keturunan orang-orang gagah yang binasa dalam keadaan mengandung penasaran karena penghinaan orang-orang semacam Ngo-Sinto ini! Kini kami datang ke sini semata-mata hendak membalas sakit hati atas terbunuhnya orang-orang tua kami, dan urusan kami hanyalah dengan Ngo-Sinto, sedikitpun tiada sangkut paut dengan cuwi sekalian!”

Mendengar kata-kata Sin Wan ini, semua tamu diam-diam mengangguk-angguk karena nama-nama besar seperti Kang Lam Ciuhiap dan Hui-Hauw Kwie Cu Ek memang telah mereka dengar dengan baik. Maka sebagian besar daripada mereka ini lalu duduk dan tidak hendak mencampuri urusan orang lain yang sebenarnya adalah urusan pribadi dan balas dendam perseorangan yang sedikitpun tiada sangkut paut dengan mereka.

Tapi seorang pertapa rambut panjang yang digelung ke atas dan memakai tusuk rambut emas dan jubahnya berwarna merah, berdiri dari tempat duduknya dan lalu tubuhnya yang jangkung kurus itu berjalan tenang dan menghampiri Sin Wan dan Giok Ciu. Ia mengangguk ke arah tuan rumah lalu berkata kepada Sin Wan,

“Eh, anak muda! Kau pandai sekali menggunakan nama Kakekmu Kang Lam Ciuhiap dan nama Hui-Hauw Kwie Cu Ek untuk menakut-nakuti para tamu! Tapi ketahuilah, nama-nama yang kau sebut itu tidak berada di atas kedudukan dan tingkatku, maka aku tidak berlaku lancang kalau mengajukan diri untuk membereskan urusan ini!”

Sin Wan melihat seorang Tosu tinggi kurus yang bermata tajam itu datang-datang membela tuan rumah, segera mengerti bahwa urusan akan menjadi hebat, maka buru-buru ia mengangkat tangan memberi hormat,

“Totiang dari mana dan siapakah maka sudi mencapekkan diri mengurus kami yang muda-muda?”

Tosu itu tertawa sambil mengdongakan kepalanya ke atas hingga lehernya memanjang bagaikan leher merak. “Aku adalah Keng Kong Tosu. Kau tadi bilang bahwa urusanmu dengan Siauw-San Ngo-Enghiong tiada sangkut pautnya dengan para tamu, tapi mengapa kawanmu telah menghina seorang tamu, yakni Hui Tat Enghiong tadi? Apakah kalian benar-benar hendak mengagulkan kepandaian disini?” Atas pertanyaan ini Giok Ciu yang maju menjawab.

“Bukankah Totiang tadi juga melihat bahwa orang she Hui adalah seorang sombong yang hendak menggunakan nama Kun-Lun-Pai untuk menjual muka? Aku sebagai keturunan seorang tokoh Kun-Lun tentu takkan membiarkan nama Kun-Lun-Pai dipermainkan orang macam itu!”

“Hm, sungguh masih muda tapi sudah mempunyai suara besar! Kulihat kepandaian nona ini cukup bagus, maka tentu kepandaianmu lebih kuat lagi, anak muda! Sebenarnya kau murid siapakah?”

“Guru kami adalah Bu Beng Sianjin.” Tapi nama ini tak dikenal oleh Tosu itu maka ia keluarkan suara ejekan.

“Ketahuilah anak muda. Siauw-San Ngo-Enghiong bukanlah anak-anak kecil yang boleh kau ajak berkelahi begitu saja. Itu berarti kalian menghina padanya, sedangkan aku pada saat ini menjadi tamu, maka bagaimana aku bisa membiarkan orang luar menghina tuan rumahku? Biarlah kuukur dulu kepandaianmu apakah sudah cukup pantas untuk digunakan melayani Ngo-Enghiong. Kalau kepandaianmu masih terlampau rendah, maka pulanglah saja dan belajar barang sepuluh tahun lagi sebelum memberanikan diri mencari Siauw-San Ngo-Enghiong!”

Sambil berkata begini, Tosu ini mengeluarkan sebuah hudtim, yakni kebutan pertapa dan sebatang pedang pendek, lalu menghadapi Sin Wan sambil berkata,

“Nah, keluarkanlah senjatamu dan kalian berdua boleh maju berbareng.”

Sin Wan dan Giok Ciu marah sekali melihat lagak orang ini yang terang-terangan memandang rendah kepada mereka. Tapi Sin Wan memberi isyarat kepada Giok Ciu dan sambil mencabut pedangnya ia berkata kepada Keng Kong Tosu,

“Totiang, ketahuilah! Kami berdua bukanlah orang-orang berjiwa pengecut yang mudah digerak untuk menarik kembali niat kami membalas dendam. Jangankan baru kau yang menghalangi kami, biarpun menghadapi lautan api akan kami terjang untuk mencari dan membalas dendam ini! Kalau kau orang tua hendak merendahkan diri dan mengotorkan tangan mengikut campuri urusan yang tiada sangkut pautnya dengamu, maka silahkan maju dan jangan kira kami takut padamu!”

Melihat ketabahan anak muda yang bersikap tenang ini, Keng Kong Tosu yang sudah banyak pengalaman maklum bahwa anak muda ini tentu memiliki kepandaian tinggi. Apapula ketika melihat sinar pedang Pek Liong Pokiam yang mengeluarkan hawa mujijat dan sinar mengerikan! Diam-diam Keng Kong Tosu terkejut sekali dan menjadi keder menghadapi pokiam yang benar-benar jarang dicari keduanya itu.

Namun sebagai seorang yang mempunyai tingkat dan disebut Lo-Cianpwe oleh kebanyakan orang kang-ouw, Keng Kong Tosu menenangkan hatinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara ketawa menyeramkan yang nyaring dan panjang. Suara ini memang terdengar aneh dan serem hingga semua orang yang berada di situ merasa bulu tengkuk mereka berdiri, karena selain kedengarannya menyeramkan, juga suara ketawa itu mengandung pengaruh yang kuat sekali!

Memang Tosu itu sedang mengluarkan kepandaian Hoat-Sutya, yakni semacam sihir atau ilmu hitam. Dengan mukjizat ia dapat menyebarkan pengaruh yang kuat di dalam suara ketawa itu untuk membuat Sin Wan lemah semangat dan terpengaruh olehnya. Memang benar Sin Wan yang terkena tenaga yang sebenarnya ditujukan sepenuhnya kepadanya itu merasa seakan-akan ada sesuatu memukul dari dalam tubuhnya, yakni tenaga yang memasuki telinganya dan terbawa oleh suara ketawa yang menyeramkan itu.

Tapi, sebelum ia merasa mabuk dan pening, tiba-tiba jari tangan kanannya yang memegang pedang merasakan seperti ada air hangat yang menjalar ke seluruh tubuh dan mengusir pergi pengaruh Mukjizat itu! Sin Wan menduga bahwa tentu pokiamnya yang memang ampuh dan mukjizat itu menolongnya dan dari Pokiamnya itulah datangnya tenaga hawa aneh yang melenyapkan pengaruh ilmu hitam! Maka ia selalu tersenyum dan dengan hati tetap berkata,

“Majulah, Totiang!”

Keng Kong Tosu heran dan terkejut sekali melihat betapa Sin Wan tenang-tenang saja seakan-akan tidak terpengaruh oleh suaranya, bahkan ketika Giok Ciu juga mencabut pedangnya yang hitam mulus bersinar-sinar, iya merasa betapa cahaya pedang itu tajam menusuk matanya hingga ia mundur dua tindak! Segera ia dapat menguasai dirinya dan dengan seruan keras ia maju menyerang dan mengayunkan pedang dan hudtim dari dua jurus yang bertentangan menyerang tempat-tempat berbahaya di tubuh anak muda itu!

“Bagus!” seru Sin Wan yang segera melibatkan pokiamnya dan menangkis.

Keng Kong Tosu biarkan pedang pendeknya tertangkis, karena pedang pendeknya itu pun pedang pusaka yang ampuh dan tajam, tapi dia tidak berani membiarkan hudtimnya menjadi putus oleh pedang lawan yang hebat itu, maka cepat sekali ia kelebatkan kebutannya dan kini meluncurlah ujung kebutan itu dengan cepatnya ke arah darah di leher Sin Wan! Inilah serangan maut yang sangat berbahaya dan disebut gerak tipu Hio-Te Hoan-Hwa atau Dibawah Daun Cari Bunga.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Namun Sin Wan telah berlaku waspada. Cepat ia merubah bhesi (bhesi=kuda-kuda) dengan memiringkan kepala dan leher hingga ia dapat berkelit dari ujung kebutan lalu balas menyerang dengan pokiamnya yang tak kalah hebat dan berbahayanya.

Serangan balasan ini demikian hebatnya hingga Keng Kong Tosu berseru kaget dan meloncat mundur sambil putar pedang pendeknya di depan tubuhnya sebagai pelindung. Tapi ketika Sin Wan memutar pula pedangnya ke arah yang bertentangan, kedua pedang itu beradu keras dan hampir saja pedang pendek Keng Kong Tosu terlepas karena kuatnya serangan lweekang anak muda itu. Keng Kong Tosu merasa telapak tangannya panas dan ia menjadi pucat karena timbul rasa jerih terhadap anak muda yang tenang ini!

Untung Gadis itu tidak maju mengeroyoknya, kalau terjadi hal ini, tentu ia takkan dapat bertahan, karena ia tahu bahwa pokiam di tangan Gadis itu mukjizat sekali dan tidak kalah ampuhnya dengan pokiam putih di tangan pemuda ini! Diam-diam Keng Kong Tosu heran sekali mengapa tiba-tiba di dunia kang-ouw bisa muncul jago-jago luar biasa yang semuda ini dan ia mulai memikir siapa gerangan Suhu mereka ini yang tadi disebut Bu Beng Sianjin!

Tapi serangan dan desakan Sin Wan membuat ia tidak dapat berpikir karena ia harus memusatkan seluruh perhatiannya kepada senjata musuh agar tidak sampai di robohkan. Setelah bertempur hampir dua ratus jurus dengan hebat sekali, mulailah Keng Kong Tosu terdesak hebat tak berdaya. Ia segera mengerahkan kekuatan gaibnya dan sambil semburkan Tenaga dari dada dan perutnya ke arah lawan, membentak dengan suara menggeledek,

“Robohlah kau!”

Tenaga ilmu hitam ini hebat sekali karena Sin Wan merasa betapa tenaga raksasa yang tidak kelihatan mendorongnya ke belakang hingga ia terhuyung-huyung dan bhesi kakinya tergempur, tapi aneh! Kembali ada tenaga hangat yang menjalar dari telapak tangan yang memegang pedang hingga ia tertolong dari bahaya maut karena pada saat itu Keng Kong Tojin yang heran sekali melihat lawannya tidak roboh terkena ilmu hitamnya tapi hanya terhuyung saja, segera maju menerjang dan mengirim serangan maut dengan pedang pendek dan hudtimnya!

Ketika itu Ujung hudtim telah dekat sekali dengan urat di leher Sin Wan yang jika terkena akan menghentikan jalan pernapasannya. Tapi untung sekali pemuda itu telah tertolong oleh hawa pedangnya hingga ia bisa menggulingkan diri ke samping dan menggunakan pokiamnya menyabet keras ke arah lengan lawan yang memegang hudtim!

Keng kong Tosu berteriak kaget dan menarik lengannya tapi Pek Liong Pokiam telah berhasil membabat kebutannya itu hingga putus di dekat gagangnya! Kemudian dengan gemas Sin Wan maju menyerang dan mengeluarkan Pek Liong Kiam-Sut yang jarang terdapat keduanya di dunia ini! Payahlah Keng Kong Tosu mempertahankan diri, maka dengan terpaksa sekali dan lupa akan rasa malu, ia meloncat mundur keluar dari kalangan pertempuran sambil berkata,

“Kau hebat sekali! Biar Lain kali kita bertemu pula!” kemudian Tosu itu lalu kabur dengan cepat sekali turun gunung karena merasa tidak ada muka untuk bertemu dengan semua orang yang menyaksikan kekalahannya tadi!

Sin Wan dan Giok Ciu dengan pedang di tangan kini menghadapi kelima musuh besarnya yang sementara itu telah bersiap sedia, walaupun hati mereka gentar sekali melihat kehebatan Sin Wan tadi. Namun betapa pun juga, mereka masih mengandalkan Ngo-Heng-Tin mereka yakni barisan lima elemen yang diatur oleh kelima golok mereka itu. Selamanya belum pernah mereka dapat dikalahkan musuh dalam barisan hebat ini.

“Ngo-Sinto, bersiaplah terima binasa!” kata Giok Ciu.

Twa-Sinto tersenyum, “Kalian anak muda sungguh sayang sekali, setelah memiliki kepandaian tinggi akhirnya harus mampus di tangan kami.”

Setelah Twa-Sinto berkata demikian maka ia dan keempat saudaranya lalu berdiri berjajar, yang tertua di depan, kedua di belakangnya demikian seterusnya hingga mereka merupakan barisan seekor ular, memang mereka sengaja membentuk Kim-Coa-Tin atau Barisan Ular Emas.

“Bersiaplah kalian terima binasa!” Twa-Sinto berkata keras dan Ia lalu maju menyerang Sin Wan dengan goloknya.

Harus diketahui bahwa golok kelima orang tua ini, selain indah dipandang dan bergagang emas, juga terbuat dari baja tulangan yang baik sekali hingga merupakan senjata mustika yang ampuh dan tajam, kenapa senjata itu berani menghadapi Pek Liong dan Ouw Liong, tanpa kuatir tertabas putus. Dan golok itu berat dimainkan dengan gerakan gerakan golok yang khusus mereka pelajari untuk digunakan dalam barisan mereka ini hingga gerakan mereka bagaikan dilakukan oleh satu orang saja!

Melihat datangnya serangan, Sin Wan menangkis dan balas menyerang, tapi Twa-Sinto yang merupakan kepala barisan ular, menjauhinya dan serangan itu disambut Ji-Sinto, lalu Diteruskan oleh serangan Sam-Sinto! Demikianlah, tiap kali gebrakan, Sin Wan menghadapi orang lain dan kelima orang itu bergerak bergerak teratur sekali bagaikan seekor ular merayap rayap!

Sin Wan menjadi bingung dan pada saat itu Giok Ciu berseru keras lalu menyerbu. Pertempuran menjadi lebih ramai. Karena kini dua pedang melawan lima golok! Dengan masuknya Giok Ciu ke dalam pertempuran, maka Kim-Coa-Tin dapat dibikin bubar dan kacau karena kalau Sin Wan menyerang kepalanya, Giok Ciu membarengi menghantam lehernya atau orang kedua gerakan barisan ular itu tidak bisa otomatis lagi dan terpotong-potong!

Karena inilah maka Twa-Sinto yang selalu merupakan pimpinan karena Ia memang paling cerdik, juga kepandaiannya paling tinggi, bersuit dua kali dan tiba-tiba barisan ular itu bergerak-gerak dan berubah menjadi barisan ombak samudra! Tiga orang menyerang Sin Wan dan Giok Ciu sedangkan yang dua lagi menyerang sambil bergulingan dan selalu menunjukkan golok mereka ke arah kaki kedua anak muda itu. Golok kedua orang ini menyambar-nyambar dan sekali saja kaki terbabat, maka akan putuslah kaki anak-anak muda itu!

Sin Wan dan Giok Ciu tak dapat mendesak kedua orang yang bergulingan sambil menyerang kaki mereka itu karena tiga orang lawan menjaga dengan kuat tiap serangan ke arah dua orang penyerang bawah itu dilindungi oleh tiga orang penyerang atas! Barisan ini bahaya sekali dan membingungkan Sin Wan dan Giok Ciu yang tiap kali harus berloncat-loncatan melindungi kaki mereka!

Tiba-tiba Giok Ciu bersuit keras dan Ia menggunakan ginkangnya untuk berkelebat ke atas dan menyerang orang-orang yang bergulingan itu dengan menyambar-nyambar dari atas! Sin Wan melihat gerakan ini teringat akan ilmu silat garuda terbang yang dulu diajarkan oleh Kwie Cu Ek. Maka iapun lalu menggunakan ginkangnya untuk melayani barisan aneh ini!

Diserang oleh dua anak muda yang sangat gesit dan memiliki ginkang tinggi ini hingga merupakan sepasang Garuda menyambar-nyambar, barisan ombak Samudra menjadi kacau balau. Maka kembali Twa-Sinto bersuit keras tiga kali dan kali ini kelima Tosu itu mengeluarkan kepandaian mereka yang paling hebat, yakni Ngo-Heng-Tin atau Barisan Lima Elemen merupakan segi lima yang kadang-kadang berubah menjadi Bundaran. Mereka lari berputar dan menyerang Sin Wan dan Giok Ciu dari lima jurusan yang teratur sekali! Golok mereka yang berat dan tajam itu bergerak dengan cepat dan pergerakan kelima golok itu demikian teratur dengan otomatis mereka itu saling membantu kawan setiap serangan merupakan serangan berantai!

Misalnya Twa-Sinto menyerang, maka musuh yang berkelit segera disambut serangan golok kedua dan demikian seterusnya hingga apabila lawan dapat sebuah serangan, berarti ia harus dapat pula kelit empat serangan golok lain! Karena mereka berlima menyerang dan bersilat sambil berputaran dan mengurung Sin Wan dan Giok Ciu yang berada di tengah, maka kedua anak muda itu tak dapat bergerak leluasa.

Kemudian Giok Ciu memberi seruan keras dan pokiamnya itu mendengung mengeluarkan suara ketika digerakkan dengan hebatnya! Ternyata Gadis itu telah menggunakan pokiamnya bersilat dengan ilmu Pedang Naga Hitam yakni Ouw Liong Kiam-Sut yang menjadi kepandaian simpanannya!

Melihat betapa kawannya telah mulai bersungguh-sungguh, Sin Wan tidak mau kalah dan setelah berseru keras, ia menggerakkan pedangnya yang putih dalam ilmu Pedang Naga Putih atau Pek Liong Kiam-Sut! Sebentar saja kedua pemuda-pemudi itu lenyap dalam gulungan dua sinar pedang hitam dan putih yang mengeluarkan hawa dingin dan panas secara mukjizat sekali!

Yang menonton pertandingan ini diam-diam meleletkan lidah melihat kehebatan permainan pedang kedua anak muda itu! Pedang hitam dan putih itu kini seakan-akan telah berubah menjadi sepasang naga hitam dan putih yang melayang-layang dan menyambar-nyambar menerbitkan angin, gerakan yang indah tapi buas sekali. Sin Wan dan Giok Ciu setelah mainkan Ouw Liong Kiam-Sut dan Pek Liong Kiam-Sut menjadi demikian gembira hingga seakan-akan mereka berlomba memperebutkan pahala!

Sebentar saja terdengar jeritan ngeri ketika pada saat hampir berbaring sepasang pokiam itu menyambar leher dua orang Tosu hingga leher mereka terbabat dan kepalanya terpental jauh! Tiga Tosu lagi menggertak gigi dan melawan dengan nekad, tapi dibarengi teriakan nyaring, kembali pedang hitam Giok Ciu telah menembus dada Sam-Sinto hingga Tosu ini menjerit ngeri dan roboh binasa.

Melihat hasil Giok Ciu , Sin Wan tidak mau kalah, dengan gerak tipu Pek Liong Cut-Tong atau Naga Putih Keluar Gua, iya berhasil menusuk mati Ji-Sinto! Tinggal Twa-Sinto seorang yang masih melawan mati-matian, tapi karena kedua anak muda itu agaknya benar-benar bersaing dalam membunuh musuh mereka, kedua pedang itu dengan secara hebat sekali dan tak terduga datangnya, tahu-tahu keduanya telah tembus perutnya!

Saudara tertua dari Siauw-San Ngo-Sinto ini roboh tak dapat bersuara lagi! Melihat betapa kelima musuh besar telah menggeletak dalam darah mereka sendiri, Sin Wan dongakkan kepala keatas dan berseru keras,

“Ibu, Kong-kong! Lihatlah, musuh-musuhmu telah dapat kami binasakan!”

Kemudian ia tertawa bergelak-gelak dan sebentar kemudian disusul dengan suara tangisnya terisak-isak. Giok Ciu lalu ikut menangis tersedu-sedu di samping Sin Wan, karena ia teringat akan kematian Ayahnya sendiri yang sampai saat itu belum juga terbalas! Musuh besar gadis ini ialah Cin Cin Hoatsu, yakni pendeta Tibet yang telah membunuh Ayahnya, sedangkan pada saat itu ia belum dapat bertemu dengan musuh besar itu.

Para tamu yang tadinya merasa ngeri dan kagum melihat betapa dua orang muda yang konsen dan lihai sekali itu dapat menewaskan kelima golok sakti dari Siauw-San dengan mudah, kini merasa heran sekali melihat betapa keduanya berdiri sambil menutup muka dan kucek-kucek mata dengan kedua tangan dalam tangisan sedih!

Mendengar tangis Giok Ciu makin keras saja, Sin Wan menunda tangis dan memandang ke arah gadis itu dengan heran. Ia sendiri tadi menangis karena terharu dan girang, terharu teringat akan Ibunya dan Kakeknya yang tercinta dan girang karena akhirnya ia berhasil membasmi semua musuh besar, Tapi kini mendengar tangis Giok Ciu, ia memandang heran dan kuatir.

“Eh, moi-moi kau kenapakah?” tangannya sambal memegang pundak orang.

Mendengar pertanyaan ini, Giok Cu makin memperhebat tangisannya dan ia kipatkan tangan Sin Wan yang memegang pundaknya! Sin Wan makin heran dan bertanya mendesak.

“Eh, moi-moi, kenapakah? Mengapa kau ngambek? Katakanlah?"

Sementara itu para tamu melihat tontonan ini merasa heran sekali, karena kedua anak muda yang lihai itu ternyata bersikap seolah-olah disitu hanya ada mereka berdua saja! Benar-benar sepasang orang muda yang berilmu tinggi dan bersikap luar biaa dan aneh!

“Kau… kau murid tidak setia! Sudah lupakah kau akan terbunuhnya Ayah? Atau… atau kau tak mau ambil perduli lagi??”

“Moi-moi, jangan berkata begitu! Sakit hati Ayahmu adalah sakit hatiku juga, penderitaanmu adalah penderitaanku juga! Mari kita mencari Cin Cin Hoatsu untuk membalas kematian hati Ayahmu!”

Kemudian Sin Wan memandang ke sekeliling dan menjura, “Dengan sangat menyesal kami mengharap cuwi suka memberi maaf kepada kami orang-orang muda yang datang untuk menagih hutang kelima orang yang kini telah tewas ini. Sekali lagi kami tekankan bahwa kami tiada urusan apa-apa dengan cuwi. Mungkin diantara cuwi ada yang tahu dimanakah seorang Tibet yang bernama Cin Cin Hoatsu?”

Tiba-tiba dari sudut kiri terdengar suara orang bertanya, “Jiwi mencari Cin Cin Hoatsu ada urusan apakah?”

Sin Wan menengok dan Giok Ciu segera keringkan air matanya lalu ikut berpaling juga. Ternyata yang bertanya adalah seorang tua yang gundul dan Hwesio ini tampaknya gagah dan berkepandaian. Melihat sikap orang yang ramah tamah dan pandangan matanya yang menyatakan simpati kepada mereka itu, Sin Wan lalu maju dan menjura,

“Lo-Suhu apakah dapat menolong kami memberitahukan tempat Cin Cin Hoatsu? Orang tua penjilat Kaisar itu adalah musuh kami juga, karena ia telah membunuh mati Suhu kami, Kwie Cu Ek.”

Hwesio itu mengangguk-angguk, “Mencari Cin Cin Hoatsu bukanlah perkara mudah, karena selain Lo-Cianpwe itu berkepandaian tinggi sekali juga kemana ia pergi tak seorangpun dapat mengetahuinya. Khabarnya ia mendapat tugas dari Kaisar untuk melawat ke Tibet membawa pesan rahasia dan penting. Tahukah kalian bahwa Keng Kong Tosu yang kau kalahkan tadi juga seorang diantara saudara-saudaranya?”

Alangkah kecewa dan menyesalnya Sin Wan dan Giok Ciu. Kalau tadi mereka tahu bahwa Keng Kong Tosu adalah sute atau saudara Cin Cin Hoatsu, tentu mereka takkan melepaskan begitu saja! Melihat kekecewaan kedua anak muda itu, si Hwesio segera menambahkan,

“Tapi yang pasti ialah bahwa waktu ini Cin Cin Hoatsu telah pergi ke Tibet!”

Sin Wan dan Giok Ciu menghaturkan terima kasih dan mereka segera meninggalkan tempat itu untuk menyusul ke Tibet! Giok Ciu sangat bernafsu untuk lekas-lekas bertemu dengan musuh besarnya itu hingga ia medesak Sin Wan untuk terus-menerus melakukan perjalanan cepat...!

Kisah Sepasang Naga Jilid 12

KISAH SEPASANG NAGA JILID 12

Karena memang semalam tidak tidur, maka cepat sekali Giok Ciu pulas di atas pembaringannya. Dari jauh masih terdengar suara ayam jantan menyambut datangnya pagi.

Sementara itu, Sin Wan seorang diri lari menyusul dan mencegat musuh besarnya di dalam hutan sebelah selatan. Ternyata pemberitahuan Gak Bin Tong terbukti. Karena belum lama ia menanti, dari jauh terdengar suara kaki kuda dan tak lama kemudian muncullah sebuah kendaraan yang diiringi empat orang berkuda.

Dari tempat persembunyiannya, Sin Wan melihat bahwa empat orang yang berkuda itu adalah Suma-Cianbu sendiri dan tiga orang lain yang kelihatan gagah, sedangkan ia dapat menduga bahwa yang berada di dalam kereta itu tentu Nyonya Suma. Setelah rombongan tiba dekat, ia meloncat keluar dengan pedang Pek Liong Pokiam berkilau di tangan.

“Suma-Cianbu! Sekarang tibalah saatnya kau membayar hutangmu!”

Secepat kilat Sin Wan meloncat menubruk dan mengirim tusukan maut yang diteruskan dengan bacokan hebat. Suma-Cianbu terkejut sekali dan segera menggulingkan diri dari atas kudanya dan...

“Caapp!” pedang pemuda itu masuk ke dalam perut kuda dan hampir menabas potong tubuh kuda itu.

Suma-Cianbu dan tiga orang pengawalnya segera mengurung Sin Wan. Tiga orang pengawalnya itupun telah meloncat turun dari kuda masing-masing dan menyerang Sin Wan dengan hebat. Ternyata mereka itu memiliki kepandaian yang lihat juga hingga untuk sementara waktu Sin Wan belum juga berhasil merobohkan lawannya.

Dengan gemas sekali Sin Wan lalu mengeluarkan jurus-jurus dari Pek Liong Kiam-Sut yang paling hebat dan kini gerakannya berhasil. Sambil mengeluarkan teriakan ngeri seorang pengawal roboh dengan dada tertembus pedang! Tapi pada saat itu juga seorang pengawal lain yang tubuhnya tinggi besar menggerakkan tangan dan lima buah senjata berwarna hitam menyambar ke arah Sin Wan!

Pada saat itu senjata di tangan Suma-Cianbu, yakni Hong-Twi Siang-Kiam pedang sepasang yang lihai itu bergerak dengan nekad dan mati-matian mengirim dua serangan dari kanan kiri, maka dalam keadaan masih berkelit dan menangkis seragan ini, datangnya lima senjata rahasia yang menyambar tempat-tempat berbahaya itu sungguh mengejutkan!

Namun Sin Wan mempunyai gerakan yang lincah dan gesit sekali. Pedangnya yang tadi dipakai menangkis sengaja dipentalkan dan dapat menyampok pergi tiga batang senjata rahasia itu yang ternyata adalah piauw-piauw beracun!

Dua batang lagi yang menyambar ke arah leher dapat ia kelitkan sambil miringkan kepala, tapi pada saat itu datang lagi sebatang piauw dari belakang dan biarpun ia telah miringkan tubuh, senjata itu tetap masih menancap di pundak kirinya! Sin Wan marah sekali, ia meloncat menerjang dan pengirim piauw itu roboh dengan kepala terpisah dari tubuhnya!

Dengan beringas Sin Wan lalu mengamuk dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Pengeroyoknya yang hanya tinggal Suma-Cianbu dan seorang pengawal itu mana dapat menahan amukan murid Bu Beng Sianjin ini. Sebentar saja pengawal ke tiga itu roboh dengan nyawa melayang.

Biarpun hanya tinggal seorang diri menghadapi pemuda yang hebat mengerikan ini, Suma-Cianbu tidak mau mundur atau lari, karena selain ia harus melindungi isterinya yang berada di dalam kereta, iapun tahu bahwa sia-sia saja untuk lari. Ia melawan dengan nekad sekali, tapi karena kepandaian Sin Wan jauh lebih tinggi dari kepandaiannya, dengan tipu gerakan Pek Liong Chio-Sin atau Naga Putih Rebut Hati, pedangnya berhasil menusuk dada kiri Suma-Cianbu yang menjerit ngeri dan roboh dengan tak dapat berkutik pula.

Untuk beberapa saat Sin Wan memandang pada musuhnya yang mengucur keluar dan membasahi seluruh pakaiannya itu. Ia merasa puas, puas sekali! Kemudian ia mendengar teriakan ngeri dan dari dalam kereta itu keluarlah seorang wanita yang berlari-lari menghampiri tubuh Suma-Cianbu. Ia adalah Suma-Hujin yang menubruk jenazah suaminya dan memeluknya sambil menjerit-jerit.

Sin Wan sedikitpun tidak merasa terharu, bahkan ia lalu teringat betapa ia dulu juga seperti nyonya itu, menangis dan memeluki tubuh Ibu dan Kakeknya! Nyonya Suma lalu berdiri dan berpaling kepadanya,

“Kau... kau... semua ini telah demikian kejam! Kau sungguh orang rendah!”

Sin Wan tersenyum mengejek, “Tidak serendah suamimu yang membunuh mati Ibuku dan Kakekku!”

“Tapi... mengapa kau tidak hanya membalas suamiku saja? Mengapa kau menculik anakku? Li Lian kau bawa kemana?”

Sin Wan menjawab angkuh, “Jangan kuatir, anakmu takkan kuganggu. Ia pasti akan pulang ini hari juga. Sekarang aku telah membalas dendam dan tidak butuh lagi bantuan anakmu.”

“Kau... kau... bangsat hina! Kalau kau... mengganggu anakku... lebih baik kau bunuh dia dan kau bunuh aku juga!”

“Tutup mulutmu!” Sin Wan membentak marah. “Kau kira aku ini orang macam apakah? Aku adalah seorang yang mengutamakan kegagahan dan perbuatan rendah macam itu tak mungkin kulakukan. Kau pulanglah dan sebentar lagi aku lepaskan puterimu untuk pulang pula.”

“Kau... berani bersumpah bahwa kau tidak mengganggu Li Lian?”

Marahlah Sin Wan mendengar ini. Kalau yang bicara itu seorang laki-laki mungkin ia sudah mengirim tendangan atau pukulan! “Aku bersumpah demi kehormatanku!”

Kemudian ia membalikkan tubuh dan lari pergi meninggalkan nyonya yang masih menangisi suaminya itu. Ketika ia tiba di Kelenteng, hari telah agak siang dan ia disambut oleh Giok Ciu dan Gak Bin Tong. Ia melihat betapa wajah pemuda itu agak pucat dan datang-datang ia bertanya cepat,

“Saudara Bun, bagaimanakah hasilnya?”

“Ya, bagaimana Twako? Berhasilkah kau?”

Sin Wan membanting dirinya di atas bangku. Ia lelah sekali, karena semenjak ia mencabut piauw yang menancap di pundak kanannya, ia merasa betapa pundaknya merasa ngilu dan pegal sekali, juga ada rasa gatal-gatal sedikit. Tapi ia mengeraskan hati dan mempertahankan rasa sakitnya.

“Aku berhasil,” katanya sambil mengangguk, “Suma-Cianbu telah kubunuh mati bersama tiga orang pengawalnya!”

Giranglah wajah Giok Ciu mendengar ini, dan sambil mendongak ke atas ia berbisik, “Ayah, seorang musuh telah mampus!”

Pada saat itu Gak Bin Tong diam-diam memberi isyarat dengan kejapan mata kepada Giok Ciu. Gadis itu teringat lalu berkata kepada Sin Wan dengan perlahan,

“Twako, aku tidak mau bertindak kepalang tanggung. Aku juga bunuh mati gadis she Suma anak musuh kita itu.”

Tiba-tiba Sin Wan meloncat bangun. Wajahnya pucat bagaikan mayat dan kedua matanya terbelalak sedangkan bibirnya menggigil. “Kau... kau bunuh mati Suma Li Lian??”

Melihat sikap pemuda seperti ini, naiklah darah Giok Ciu. Sambil mengangkat dada ia menjawab, “Ya, aku bunuh dia! Kau sedih dan menyesal?”

Sin Wan tumbuh-tumbuk kepalanya dan berseru, “Celaka...!” dan hampir saja ia tampar muka gadis itu karena marahnya.

Ia tela bersumpah takkan mengganggu gadis itu, telah bersumpah demi kehormatannya kepada Ibu gadis itu, dan sekarang Giok Ciu membunuh gadis itu tanpa bertanya lebih dulu padanya. Celaka benar-benar! Dengan cepat dan bingung sekali Sin Wan meloncat ke dalam dan berlari-lari ke arah kamar Suma Li Lian.

Pintu kamar itu tertutup dan ia segera mendorong pintu itu terbuka dan meloncat masuk. Tapi, tiba-tiba ia berdiri diam bagaikan patung ketika melihat gadis cantik jelita itu bukannya rebah menjadi mayat di atas pembaringan, tapi sedang duduk dengan muka berseri-seri melihat kedatangannya!

Gadis itu mengenakan pakaian dalam yang ringkas dan memperlihatkan potongan tubuh yang menggairahkan, sedangkan sepasang matanya berseri-seri memandangnya dan sepasang pipinya kemerah-merahan! Tiba-tiba Suma Li Lian turun dari pembaringannya dan lari menghampirinya.

Sebelum Sin Wan hilang terkejutnya dan dapat menduga apa yang hendak dilakukan oleh gadis itu, tahu-tahu Suma Li Lian telah memeluknya dan merangkul lehernya! Muka gadis itu disembunyikan ke dada dalam rangkulan mesra sekali! Sin Wan menjadi bingung dan buru-buru ia melepaskan rangkulan orang, lalu bertindak mundur.

“Eh, eh... Siocia, jangan... jangan begitu!”

“Koko... kenapa kau sebut aku Siocia...?” Suma Li Lian berkata lirih dengan nada yang mesra sekali.

Makin terkejutlah hati Sin Wan melihat dan mendengar ini. Ia merasa kasihan sekali dan menyangka bahwa gadis itu tentu telah berubah menjadi gila! Maka ia hendak berlaku tegas dan cepat saja.

“Nona dengarlah baik-baik. Kau telah bebas kini. Aku tidak menahanmu lagi. Kau boleh pulang dan kau bisa minta Nikouw disini mengantarmu. Dan sebelum kita berpisah, lebih baik aku beritahukan dulu padamu. Aku telah berhasil membunuh Ayahmu, musuh besarku yang dulu membunuh Ibu dan Kakekku!”

Suma Li Lian menjerit lirih dan menutup muka dengan kedua tangannya. Ia terhuyung mundur dan menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil menangis.

“Ayah... Ayah...” demikian ratapnya.

Sin Wan hanya berdiri dan memandangnya dengan mata bersinar dingin. Kemudian ia berkata, “Nona Suma! Aku telah berjanji kepad Ibumu untuk membebaskan kau. Nah selamat berpisah. Aku akan pergi dulu dari sini dan kita takkan bertemu pula, kecuali kalau kau menaruh dendam kepadaku karena Ayahmu kubunuh. Kalau demikian halnya, maka sewaktu-waktu kau boleh membalas sakit hatimu dan mencari aku ke puncak Kam-Hong-San!”

“Koko... Koko... begitu kejamkah hatimu...? Sampai hatikah kau setelah apa yang terjadi pada waktu fajar tadi...Koko...?”

Gadis itu berdiri dan lari hendak memeluknya tapi Sin Wan segera meloncat keluar dan menutup daun pintu dengan keras. Ia hanya mendengar isak tangis gadis itu. Diam-diam ia merasa kasihan juga karena menganggap bahwa benar-benar gadis itu telah menjadi gila!

Ketika bertemu Giok Ciu, Sin Wan berkata, “Maafkan sikapku tadi, moi-moi! Tapi, sebenarnya apakah maksudmu dengan membohongi seperti itu?”

Kalau saja tadi Giok Ciu tidak mendengar kata-kata Sin Wan terhadap Suma Li Lian yang jelas menyatakan bahwa di dalam hati pemuda itu tidak ada perasaan apa-apa terhadap Li Lian, tentu Giok Ciu masih marah dan cemburu. Sekarang ia hanya balas bertanya,

“Coba kau jawab dulu, Twako. Mengapa ketika mendengar kematian gadis itu kau menjadi pucat sekali seakan-akan seorang yang hancur hatinya?”

“Moi-moi... kau... kau tidak tahu. Aku telah bersumpah kepada Ibu gadis itu bahwa aku takkan mengganggu Li Lian, maka tentu saja aku terkejut dan bingung ketika mendengar bahwa kau telah membunuhnya! Dan... dan tentang wajahku yang pucat... agaknya dari lukaku inilah... aku... sekarang juga aku merasa pening sekali...”

“Kau terluka, Koko? Mana yang terluka?”

Suara gadis itu penuh perhatian dan kecemasan hingga diam-diam Sin Wan merasa geli melihat watak gadis kekasihnya yang sebentar marah sebentar mesra sikapnya itu. Setelah memeriksa luka di pundak Sin Wan yang menjadi hitam, maka gadis itu berkata,

“Twako, luka di pundakmu adalah akibat senjata beracun, warnanya hitam sekali. Bukankah dulu Suhu pernah berkata bahwa pedangmu dapat digunakan untuk mengobati pengaruh bisa yang hitam bekasnya? Mari kita coba.”

Sin Wan juga teringat akan pesan Suhunya itu, maka dengan tangan lemah ia mencabut Pek Liong Pokiam dan memberikan pedang itu kepada Giok Ciu. Gadis itu lalu mencuci bersih ujung pedang putih itu, lalu merendam pedang di dalam arak untuk beberapa lamanya. Kemudian ia memberikan arak itu kepada Sin Wan yang lalu meminumnya sebagian dan sebagian pula dipakai mencuci luka itu.

Heran sekali, setelah terkena arak rendaman Pek Liong Pokiam, dari luka itu mengalir darah seakan-akan tersedot keluar. Darah itu hitam sekali warnanya. Setelah racun itu keluar dari pundaknya, Sin Wan memandang sekeliling dan bertanya,

“Eh, dimanakah saudara Gak? Sejak tadi aku tidak melihatnya!”

Giok Ciu cemberut dan teringat akan gara-gara yang ditimbulkan oleh pemuda muka putih.

“Entahlah, dia sudah pergi tadi, tanpa memberi tahu padaku. Agaknya ia tak enak hati melihat kita bertengkar tadi.”

“Giok Ciu, mari kia cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini. Karena Suma-Cianbu terbunuh olehku, tak lama lagi tentu datang pahlawan-pahlawan mencari kita di sini, sedangkan tenagaku masih lemah.”

“Memang seharusnya kita cepat-cepat pergi. Maksud membalas dendam telah tercapai, untuk apa lama-lama tinggal di kota ini?” Kata Giok Ciu yang sebenarnya ingin lekas-lekas mengajak Sin Wan pergi meninggalkan Suma Li Lian!

Mereka lalu pergi dan karena masih banyak musuh-musuh yang belum terbalas, mereka segera menuju ke Siauw-San untuk mencari musuh-musuh mereka nomor dua, yakni Siauw-San Ngo-Sinto Lima Golok Sakti dari Siauw-San!

Karena luka Sin Wan, biarpun setelah racunnya keluar hanya merupakan luka tidak berbahaya, namun atas desakan Giok Ciu, mereka melakukan perjalanan dengan seenaknya dan tidak tergesa-gesa. Dengan cara begini berangsur-angsur luka itu sembuh kembali.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sementara itu, tanpa terasa mereka telah melakukan perjalanan sepuluh hari lebih. Pada suatu hari mereka tiba di dusun Tung-Kwang yang berada di kaki bukit Siauw-San. Ketika memasuki pintu dusun itu, mereka melihat empat penunggang kuda membalapkan binatang tunggangan mereka ke dalam dusun.

Di punggung keempat orang itu tampak gagang pedang hingga Sin Wan dan Giok Ciu dapat menduga bahwa mereka tentu ahli-ahli silat, juga dari cara mereka duduk di atas kuda dapat diketahui bahwa mereka mempunyai kepandaian yang tidak rendah.

Ternyata dusun itu ramai juga dan kedua anak muda itu berhenti di sebuah kedai untuk mengisi perut mereka yang lapar. Penjaga kedai itu melirik ke arah gagang pedang mereka dan dengan senyum menghormat ia berkata,

“Ah, jiwi engku tentu akan mengunjungi Ngo Lo-Enghiong di puncak Siauw-San, bukan? Hari ini telah lebih dari dua puluh orang-orang gagah yang lewat disini perjalanan mereka ke sana.”

Sin Wan dan Giok Ciu dengan sikap acuh dan tak acuh lalu duduk memesan masakan.

“Apakah keempat orang gagah berkuda tadi juga kesana?” Tanya Sin Wan sambil lalu.

“Tentu saja, habis kemana lagi? Tapi mereka agaknya tergesa-gesa sekali hingga tidak singgah di warungku. Mereka hanya membeli bakpauw dan membawanya berkuda terus mendaki Siauw-San."

Sin Wan dan Giok Ciu menduga-duga. Ada terjadi apakah di puncak gunung Siauw-San hingga banyak orang gagah mengunjungi Ngo-Sinto?

“Tentu kali ini banyak yang datang mengunjungi Ngo Lo-Enghiong, bukan?” Tanyanya dengan cerdik untuk memancing keterangan. Ternyata pancingannya berhasil karena penjaga kedai yang doyan omong itu lalu berkata,

“Tentu saja! Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh, Twa Lo-Enghiong mengadakan pesta besar dan mengundang banyak orang gagah. Menurut penuturan Aliok yang dipanggil ke sana untuk membantu memasak, Ngo Lo-Enghiong membuat pesta besar dan memotong tiga ekor babi gemuk dan puluhan ekor ayam. Bahkan bumbu-bumbu telah di datangkan dari kota Cin-Lok-An sampai hampir satu gerobak banyaknya! Pendeknya, jiwi kali ini naik ke sana akan menikmati pesta besar!”

Sin Wan dan Giok Ciu tersenyum dan mempercepat makannya.

“Kalau aku tidak salah ingat, pesta itu diadakan besok pagi, bukan? Karena kami hanya mendengar dari teman-teman, mungkin keliru?”

Penjaga itu memandang mereka dengan wajah lucu. “Eh, bagaimana jiwi bisa keliru? Pesta itu diadakan sore hari ini, kalau datang besok pagi, tentu terlambat dan tidak mendapat bagian hidangan lezat!”

“Kalau begitu, kami harus pergi sekarang juga!” kata Sin Wan yang segera membayar harga makanan dan mengajak Giok Ciu meninggalkan warung itu.

Ketika mereka telah jauh dari situ, ditengah jalan Giok Ciu berkata, “Twako mengapa kau tergesa-gesa benar? Bukankah lebih baik kalau kita datang besok saja setelah semua tamu pergi? Kalau kita datang sekarang, jangan-jangan kita menimbulkan keributan dan mendapat musuh-musuh baru.”

Sin Wan memandang gadis itu. “Moi-moi, aku mengerti akan maksudmu, dan dipandang sepintas lalu memang benar sekali pendapatmu tadi. Tapi, ketahuilah bahwa Siauw-San Ngo-Sinto adalah orang-orang gagah yang ternama sekali walaupun mereka itu menjadi anjing-anjing penjilat Kaisar. Kalau kita diam-diam bunuh mereka, maka orang-orang gagah di kalangan kang-ouw akan bisa salah sangka terhadap kita. Tapi sekarang kebetulan sekali di sana banyak berkumpul orang-orang kang-ouw hingga biarlah mereka yang menjadi saksi bahwa kita membunuh mereka hanya untuk membalas dendam dan menagih hutang jiwa!”

Giok Ciu mengangguk-angguk. “Mungkin kau benar, Twako. Lagipula, bagiku sih sama saja, pokoknya asal kita bisa berhasil membunuh anjing-anjing tua itu. Ada banyak orang atau tidak, aku tidak takut!”

Sin Wan tersenyum melihat sikap yang tabah dan agak jumawa dari Giok Ciu itu. Mereka segera keluar dari dusun itu dan menggunakan ilmu lari cepat mereka untuk mendaki Gunung Siauw-San yang tidak seberapa besarnya tapi tanahnya sangat subur itu. Hari telah menjelang senja ketika mereka tiba di lereng puncak Siauw-San. Dari jauh telah nampak berkelap-kelipnya cahaya penerangan di atas puncak di mana terdapat sebuah bangunan besar, yakni sebuah Bio tua yang di cat indah dan menjadi tempat pertapaan Siauw-San Ngo-Sinto.

Pada saat itu, Siauw-San Ngo-Sinto sedang sibuk menyambut para tamu dan mengepalai para pelayan mengeluarkan hidangan. Kelima saudara itu berpencar dan masing-masing sibuk mendekati setiap tamu untuk diajak bercakap-cakap dan beramah tamah. Saudara tertua dari Ngo-Sinto itu yang kini sedang dirayakan hari kelahirannya yang ke enam puluh, adalah seorang tinggi besar dan disebut Twa-Sinto atau Golok Sakti Tertua.

Yang ke dua, yakni Ji-Sinto adalah seorang tinggi kurus dan bermuka pucat. Kelima saudara secabang ini memang ahli golok yang pandai, tapi di samping kepandaian bermain golok, masing-masing masih mempunyai kepandaian istimewa. Twa-Sinto atau yang tertua memiliki kepandaian melempar huito atau golok terbang yang melengkung dan jika dilempar ke arah lawan dapat terbang kembali dan menyambar pula, maka biarpun golok itu dapat dikelit, tapi ia akan memutar kembali dan melakukan serangan kedua!

Dan hebatnya, ia bisa melepas tiga buah golok sekali lempar! Yang kedua, yakni Ji-Sinto yag bermuka pucat itu, mempunyai ilmu Pasir Besi atau Tiat-See-Ciang, yakni kedua tangannya telah terlatih sedemikian rupa hingga sanggup menyambut senjata tajam. Dan juga dapat digunakan sebagai senjata yang cukup ampuh karena tangan itu telah berpuluh tahun digembleng dan dilatih dengan menggunakan bubuk besi atau pasir besi yang diremas-remas dan dipukul-pukul.

Yang ketiga atau Sam-Sinto yang pendek gemuk memiliki ilmu tendangan yang sangat berbahaya, yakni yang disebut Siauw-Cu-Twie, yang dapat dilakukan bertubi-tubi dan sangat berbahaya, terutama terhadap musuh yang tidak memiliki ginkang tinggi dan kegesitan pasti akan tertendang roboh!

Orang ke empat yang tubuhnya tinggi besar juga, memiliki ilmu weduk Kim-Ciong-Ko dan ia sanggup untuk menerima pukulan senjata tajam tanpa terluka kulitnya!

Sedangkan orang yang ke lima, yang bertubuh sedang dan berwajah cakap, juga usinya termuda, kurang lebih puluh lima tahun, adalah seorang ahli Liap-Kang Pek-Ko-Chiu atau ilmu keraskan tangan yang lebih berbahaya dari pada Tiat-See-Ciang. Karena dengan jari-jarinya yang dilempangkan dan keras laksana baja, ia sanggup menyerang lawan dengan Coat-Meh-Hoa atau ilmu totok dari Bu-Tong-Pai yang tak mencari urat atau jalan darah ketika digunakannya!

Karena mereka ini rata-rata lihai sekali, maka banyak orang-orang gagah yang kenal baik nama mereka dan jauh-jauh memerlukan datang untuk memberi selamat kepada saudara tertua atau Twa-Sinto dari Ngo-Sinto ini.

Memang sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini kelima jago tua yang lihai itu kena terpikat bujukan dan pikatan harta benda dan kemulian dunia oleh orang-orang kaki tangan Kaisar hingga mereka 'kesalahan tangan' dan membunuh mati Kang Lam Ciuhiap atau Kakek Sin Wan dan karenanya mereka berlima menanam bibit permusuhan dengan Sin Wan.

Bio atau Kuil tua di puncak Siauw-San itu sangat besar dan mempunyai ruang depan yang luas. Di situ berkumpul kurang lebih tiga puluh orang tamu dari macam-macam golongan, ada yang masih muda sekali, ada pula yang telah Kakek-kakek. Ada yang berpakaian sebagai piauwsu, sebagai guru silat, dan banyak juga yang berpakaian Hwesio berkepala gundul dan pertapa-pertapa lain, seperti Tosu dan sebagainya.

Ketika datang empat orang penunggang kuda yang tampaknya sangat tergesa-gesa, maka keempat orang tamu itu cepat menjumpai tuan rumah dan memberitahukan sesuatu. Kelima Ngo-Sinto terkejut sekali tampaknya dan mereka lalu menghadapi semua tamu sambil minta mereka tenang. Kemudian saudara tertua dari Ngo-Sinto berkata,

“Cuwi yang terhomat. Kami berlima sangat berterima kasih dan bergembira dengan kunjunga cuwi sekalian, tapi sayang sekali kami mendengar berita buruk yang baru saja datang dari kota raja! Ternyata bahwa beberapa orang anak pemberontak yang dulu di basmi oleh Suma-Cianbu dengan bantuan tenaga kami, kini telah mengacau di kota raja dan berhasil membunuh Suma-Cianbu yang gagah itu. Dan menurut pembawa berita, maka selain membunuh Suma-Cianbu dan menodai puterinya, juga dua orang pemberontak itu agaknya menuju ke sini untuk mencari kami!”

Terdengar suara marah di sana sini, yakni dikalangan orang-orang yang memang tidak menyetujui sepak terjang para orang gagah yang sengaja mengacau pemerintahan yang mereka anggap tidak adil. Tapi di kalangan beberapa orang gagah yang duduk di situ, berita itu di anggap biasa saja dan bukan urusan mereka.

“Ah mengapa Ngo-Wi Lo-Enghiong pusingkan pengacauan yang dilakukan oleh beberapa ekor tikus kecil saja!” kata seorang anak muda yang bersikap gagah dan berpakaian indah.

“Kami berlima bukannya merasa takut dan bingung, sama sekali tidak!” jawab Ji-Sinto. “Akan tetapi, setidak-tidaknya kalau mereka itu berani datang, tentu akan mengacaukan suasana pesta ini dan dengan demikian membikin tidak enak kepada cuwi sekalian yang mulia.”

“Biarkan mereka datang, nanti kami sambut mereka bersama. Sebagai tamu sudah sepantasnya kalau kita membela tuan rumah,” jawab seorang tamu lain.

Mendengar ini, kelima orang tuan rumah itu merasa lega dan senang. Mereka menjura keempat penjuru dan berkata, “Terima kasih banyak atas budi kecintaan dan rasa setia kawan cuwi, tapi agaknya kalau baru dua orang anak pemberontak saja, tulang-tulang kami yang tua masih sanggup untuk melayani mereka!”

Para tamu lalu melanjutkan pesta mereka dengan gembira. Tapi diam-diam Siauw-San Ngo-Sinto bersiap, bahkan lalu mereka menyuruh orang mengambil golok mereka untuk disediakan di situ dan Twa-Sinto sendiri diam-diam lalu memasang kantung huito di atas punggungnya. Mereka telah mendengar dari keempat tamu pembawa berita dari kota raja tadi bahwa pembunuh-pembunuh Suma-Cianbu memiliki kepandaian tinggi, juga ada pesan dari Cun Cun Hoatsu agar mereka berhati-hati!

Oleh karena inilah mereka berlaku waspada dan agak merasa lega karena banyak di antara para tamu adalah orang-orang gagah yang mereka bisa diharapkan bantuannya. Ketika pesta sedang berjalan ramai-ramainya, tiba-tiba api lilin di meja tengah bergoyang-goyang hampir padam dan tahu-tahu disitu telah berdiri dua orang anak muda, seorang pemuda tampan dan seorang dara jelita yang keduanya bersikap gagah sekali.

“Ngo-Sinto keluarlah untuk membuat perhitungan lama!” Pemuda itu berkata dengan suara nyaring dan tenang, sedangkan gadis jelita itu menggunakan sepasang matanya yang tajam bagaikan sepasang bintang pagi itu untuk menatap orang-orang di sekelilingnya!

Pada saat itu, tiba-tiba dari belakang mereka melayang tiga batang huito atau golok terbang yang menyambar cepat sekali! Biarpun tidak melihat datangnya senjata hebat ini, namun telinga Sin Wan dan Giok Ciu yang tajam dapat menangkap sambaran angin senjata itu, maka mereka lalu berkelit ke kiri dan kekanan sehingga tiga batang golok kecil itu terbang di samping mereka. Tapi golok itu segera membelok dan melayang kembali menyerang ke dua orang muda itu!

Sin Wan dan Giok Ciu walaupun merasa terkejut dan kagum melihat kehebatan senjata rahasia ini, berlaku tenang. Dengan gerakan cepat Sin Wan dapat menangkap sebuah senjata yang melayang ke arahnya, sedangkan Giok Ciu yang hendak pertontonkan kepandaiannya sambil meloncat berjungkir balik ia berhasil menyambut dua batang huito di tangan kanan kirinya.

Pada saat itu, kembali dari arah belakang, Twa-Sinto melepas tiga batang golok lagi. Tapi sekali ayunkan kedua tangannya, sepasang golok di tangan Giok Ciu melayang dan membentur dua batang golok yang datang menyambar itu hingga empat buah golok terbang jauh di tanah mengeluarkan suara berkerontangan.

Sedangkan Sin Wan menggunakan golok rampasannya unuk menyabet golok ketiga yang datang menyambar hingga golok itupun terpukul jatuh, kemudian dengan menggunakan dua jari tangannya, ia tekuk golok tiu patah menjadi dua potong! Tiba-tiba Sin Wan tertawa bergelak-gelak dengan suara mengandung penuh ejekan, lalu katanya,

“Aah, tak kusangka bahwa nama besar kelima golok Sakti dari Siauw-San tak lain hanya nama kosong belaka! Lima orang tua yang menyebut diri sebagai orang-orang gagah itu ternyata hanya lima orang pengecut yang menyambut kedatangan tamu dengan senjata gelap yang dilepas dari belakang pula!”

Ketika melihat kelihaian kedua orang muda itu, pelepas golok terbang, yakni Twa-Sinto sendiri, merasa terkejut sekali. Tapi ia tidak mau kehilangan muka di depan para tamunya, maka ia membentak keras,

“Sepasang tikus kecil, kalian sungguh kurang ajar berani mengacau pesta kami dan menghina serta tidak pandang sebelah mata kepada para tamu yang gagah perkasa! Apa kalian sudah bosan hidup?”

Sin Wan dan Giok Ciu memutar tubuh menghadapi pembicara ini yang ternyata seorang tua tingi besar yang sikapnya sangat jumawa dan gagah. Mereka belum menjawab dan menduga-duga ketika seorang muda yang berpakaian indah dan bersikap sombong meloncat dengan gerakan indah dan berdiri di depan Si Wan, lalu menuding dengan jari telunjuknya dan berkata,

“Kau ini siluman dari mana berani mengacau di sini dan tidak mengindahkan tuan rumah? Kepandaian apakah yang kau miliki maka kau berani membikin ribut-ribut?”

Sin Wan dengan tak acuh mengerling ke arah orang itu. Ternyata ia masih muda, paling banyak tiga puluh tahun, sikapnya gagah dan jumawa sekali, pakaiannya dari sutera yang atas kuning, yang bawah biru, dan lagaknya tengil sekali dengan mata liarnya yang saban-saban mengerling tajam ke arah Giok Ciu!

“Kau anak-anak tahu apa, jangan ikut campur. Pergilah!” kata Sin Wan.

Marahlah orang itu mendengar ejekan ini. Ia mencabut pedangnya dan meloncat mudur ke tempat lega sambil menggerak-gerakkan pedangnya dengan cepat dan bertenaga hingga pedang itu menerbitkan suara bersiutan. Katanya dengan suara keras.

“Kau bangsat pemberontak! Tak tahukah kau siapa aku? Aku adalah wakil cabang Kun-Lun-Pai dan kau tidak boleh pandang rendah padaku sesukamu saja. Lihat pedang Kun-Lun-Pai akan menghukum orang-orang sombong yang menghina kaumnya!”

Giok Ciu memberi isyarat kepada Sin Wan dengan matanya, lalu iapun meloncat menghadapi orang itu. Ia menjura dengan senyum manis lalu berkata,

“Maaf! Kalau kami tidak mengenal seorang tokoh dari Kun-Lun-Pai yang terbesar. Tidak tahu siapakah hohan dan apa pula gelarnya?”

Melihat sikap Giok Ciu yang sopan dan memuji-mujinya, si baju sutera menjadi girang sekali dan ia makin berlagak, bahkan kini angkat-angkat dadanya ke depan sebelum menjawab sambil melihat ke kanan kiri.

“Hem, kau jauh lebih sopan dan baik jika dibandingkan dengan kawanmu itu, nona. Sungguh heran bisa bersahabat dengan orang kasar itu! Ketahuilah, aku adalah Hui Tat dan disebut orang Eng-Jiauw-Kam atau Pedang Kuku Garuda! Kalau kau menyatakan maaf kepada tuan rumah, aku Hui Tat suka bikin habis perkara ini, tapi kawanmu yang kasar itu jangan harap akan dapat terlepas dari pedangku!”

Giok Ciu mengingat-ingat dan sepanjang pengetahuannya, tidak ada seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang bernama atau berjuluk seperti itu. Ia tahu betul akan nama-nama para tokoh Kun-Lun-Pai karena dulu seringkali Ayahnya yang juga seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang ternama menceritakannya.

Kisah Sepasang Naga Jilid 11

KISAH SEPASANG NAGA JILID 11

Pemuda itu dengan tenang menangkis keras dan Pangeran Lu dengan mata terbelalak memandang gagang pedangnya sendiri entah telah terlempar kemana. Sebelum ia hilang kagetnya, tahu-tahu pedang Sin Wan menyambar dan tanpa dapat berteriak lagi pangeran itu roboh dengan kepala terpisah dari lehernya!

Sebetulnya Pangeran Lu yang menjadi murid Kwi Kai Hoatsu, cukup memiliki kepandaian silat, tapi karena dalam gemasnya Sin Wan datang-datang menggunakan gerak tipu Naga Putih Menyambar Awan, mana Pangeran itu dapat menghindarkan diri dari maut!

Sin Wan cepat ketok-ketok dan mengurut-urut pundak dan punggung Giok Ciu dan sebentar saja lenyaplah pengaruh totokan yang melumpuhkan gadis itu. Pelayan yang ketakutan itupun lalu dirobohkan dengan totokan.

“Kau tidak apa-apa, moi-moi?” Tanyanya.

Giok Ciu tersenyum manis sambil geleng-geleng kepala. “Aku tadi juga sama sekali tidak percaya obrolan pangeran rendah ini tentang matimu,” katanya.

“Hayo kita serbu Pendeta binatang itu!” Sin Wan berkata gemas.

“Baik, Koko, memang aku hendak mencari dia, karena pokiamku juga berada ditangannya.”

“Apa? Ah, kita harus rampas kembali,” kata Sin Wan. “Biarlah kita menggunakan siasat. Aku bikin panas hatinya dan kau boleh tantang serta maki-maki dia untuk bertanding lagi dan jangan menggunakan ilmu curang!”

Dengan cepat keduanya lalu meloncat ke atas genteng dan langsung menuju tempat dimana Kwi Kai Hoatsu dan Gak Bin Tong sedang main catur. Tanpa ragu-ragu lagi, Sin Wan dan Giok Ciu meloncat turun dan menuju ke ruang itu. Kwi Kai Hoatsu tahu akan kedatangan mereka, tapi ia sedang asyik memikirkan jalan untuk menghindari serangan Gak Bin Tong dalam permainan itu, ia sengaja diam saja. Demikianlah kesombongannya yang menganggap rendah tiap orang yang datang padanya.

“Tosu siluman hayo kita bertanding lagi sampai seribu jurus tanpa menggunakan ilmu siluman rendah dan hina!” Giok Ciu menantang sambil memandang ke arah pedang Ouw Liong Pokiam yang benar saja terletak di atas meja di dekat papan catur.

Gak Bin Tong memandang ke arah mereka dan pura-pura merasa kaget. Tapi Kwi Kai Hoatsu dengan tenang menggerakkan biji caturnya dulu sebelum menengok ke arah mereka. Matanya yang lebar dapat melihat Sin Wan yang berdiri di sebelah Giok Ciu dengan pedang putih berkilauan di tangan, maka ia lalu mengerti bahwa gadis itu telah tertolong.

“Hm, kalau tertangkap lagi olehku, tentu aku akan menotok jalan darah Tai-Wi-Hiat agar kau takkan tertolong lagi,” katanya menghina.

“Pendeta bangsat jangan banyak mulut, kalau kau memang orang gagah, marilah kita bertempur untuk menetapkan kepandaian siapa yang lebih unggul!” Giok Ciu berseru.

“Moi-moi, aku mendengar bahwa Kwi Kai Hoatsu adalah seorang tokoh di Tibet yang menduduki kelas tiga. Tapi ternyata ia hanya mengandalkan ilmu siluman. Sedangkan terhadap kau seorang muda saja ia sudah ketakutan setengah mati hingga mana ia berani menghadapimu, apalagi kalau pedangmu berada di tanganmu kembali!” Sin Wan berkata kepada Giok Ciu, cukup keras hingga terdengar oleh Kwi Kai Hoatsu.

“Anak muda sombong! Siapakah kau berani menghina Kwi Kai Hoatsu? Apakah kau sudah bosan hidup?” teriak Pendeta itu dengan marah.

Tapi Sin Wan memandangnya dengan mengejek. “Kwi Kai Hoatsu! Aku adalah suheng dari nona ini. Tadi kau telah mendengar sendiri tantangannya, dan aku ingin sekali melihat apakah benar-benar kau bisa mengalahkan sumioku ini. Aku tidak percaya kau begitu becus mengalahkan ilmu pedang sumoiku. Sayang kau begitu pengecut hingga pedang sumoiku kau sembunyikan! Kalau kau bisa mengalahkan sumoiku, barulah kau ada harga untuk mencoba kepandaianku!"

Lagak Sin Wan dalam kata-katanya demikian jumawa hingga membuat Kwi Kai Hoatsu marah sekali! Ia adalah seorang tokoh kenamaan dan biasanya dihormati orang, apalagi oleh yang muda-muda. Sekarang di depan Gak Bin Tong ia dihina oleh dua anak muda tentu saja ia murka luar biasa. Lebih-lebih ketika Gak Bin Tong yang mengerti maksud Sin Wan, berkata kepada Kwi Kai Hoatsu,

“Kwi Totiang, anak muda itulah yang mencari-cari Suma-Cianbu untuk dibunuhnya. Ilmu silatnya lihai sekali.”

Kwi Kai Hoatsu berdiri dan membanting papan caturnya. “Baiklah, aku akan menghancurkan kepala dua binatang kecil ini!”

“Majulah kau, Pendeta palsu. Biar aku lawan kau dengan tangan kosong!” Giok Ciu menyombong.

Tiba-tiba Kwi Kai Hoatsu memungut pedang Ouw Liong Pokiam dan sekali ia ajukan tangan, sambil berseru, “Nah terimalah kembali pedangmu!”

Pedang itu meluncur bagaikan anak panah cepatnya ke arah dada Giok Ciu, merupakan sinar hitam yang luar biasa! Tapi Giok Ciu dengan tenang miringkan tubuh dan ulur tangannya dan dengan cepat pedang itu telah berada di tangannya. Inilah gerakan hebat untuk menyambut timpukan senjata rahasia yang disebut Kwan-Imsiu-Hwa atau Dewi Kwan Im Sambut Bunga.

“Bagus!” Kwi Kai Hoatsu berseru dan sekejap kemudian ia telah meloncat menyerang Giok Ciu dengan tongkat ularnya yang lihai.

Sebaliknya Giok Ciu setelah mendapatkan kembali pedangnya, terdorong oleh hati yang sakit karena pernah dijatuhkan dengan kecurangan oleh Tosu itu, segera menyerang dengan sengit dan ganas sekali. Sin Wan melihat betapa Tosu itu betul-betul kosen dan gerakan-gerakannya berbahaya hingga Giok Ciu hanya dapat mengimbanginya saja. Kalau Tosu itu keluarkan serangan-serangan gelap yang tak terduga, tentu gadis itu akan menjadi kurban lagi. Maka ia segera meloncat maju sambil kelebatkan Pek Liong Pokiam dan berseru,

“Tosu siluman, kau cukup berharga untuk mampus di tanganku!”

Melihat Sin Wan maju, Gak Bin Tong merasa tidak pantas kalau tinggal diam, lagi pula ia kuatir kalau-kalau dicurigai maka iapun meloncat sambil menyerang Giok Ciu dan membentak,

“Jangan menghina Kwi Totiang!”

Sebetulnya orang she Gak ini hendak menggunakan kesempatan itu untuk menjajal ilmu pedang Giok Ciu, tapi tidak disangka, Kwi Kai Hoatsu berkata padanya,

“Gak Kongcu, jangan ikut campur. Aku masih belum perlu dibantu untuk menghadapi dua orang anak kecil ini saja!”

Demikianlah kesombongan Kwi Kai Hoatsu hingga ia menolak bantuan orang biarpun dirinya dikeroyok! Terpaksa Gak Bin Tong mundur kembali dan berdiri di pinggir sambil menonton. Majunya Sin Wan mendatangkan perubahan besar, karena biarpun dalam hal ilmu pedang, pemuda ini tidak lebih jauh dari pada Giok Ciu tingkatannya, namun mempunyai perbedaan gerakan yang besar sekali. Dan kini karena dua macam ilmu pedang yang kedua-duanya hebat itu dimainkan berbareng, maka mendatangkan serangan yang luar biasa, tidak terduga-duga dan yang tak mungkin dihadapi oleh seorang saja!

Pendeta itu terdesak dan dengan repot memutar-mutar tongkat ular dan kebutan yang kini telah digunakan di tangan kirinya untuk menangkis datangnya serangan yang bertubi-tubi itu. Beberapa kali hampir saja tubuhnya terluka oleh pedang lawan dan jubah merahnya telah robek terkena sambaran pedang Giok Ciu, maka ia menjadi terkejut, marah dan berbareng kagum sekali.

Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi lawan-lawan yang segini lihai dan memiliki Kiam-Hwat yang luar biasa. Ia ingin menggunakan senjata-senjata rahasianya tapi merasa malu, maka diam-diam ia mengerahkan tenaga batinnya untuk merobohkan lawannya dengan sihir. Setelah tenaga batinnya terkumpul ia lalu berkata, suaranya menggetar dan mendatangkan pengaruh menyeramkan hingga Giok Ciu merasa bulu tengkuknya berdiri ketika Tosu itu berkata,

“Haa, kalian anak-anak muda hendak melawan aku? Pasti kalah, pasti roboh. Lihatlah, aku siapa, lihat, pandanglah dan roboh!”

Karena kata-kata itu memang aneh Giok Ciu memandang heran tapi begitu pandang matanya bertemu dengan sinar mata Kwi Kai Hoatsu, ia tiba-tiba merasa kepalanya pusing dan berat hingga tubuhnya menjadi limbung!

“Haaa! Pasti roboh, pasti roboh!” Sin Wan terkejut sekali, lalu dengan tangan kiri ia memegang lengan Giok Ciu dan menyendalkan sambil berseru keras,

“Moi-moi, jangan pandang matanya! Lekas gunakan lweekang melawan kepusingan dan atur napasmu!”

Giok Ciu memang telah hampir berada dalam pengaruh sihir Pendeta itu, tapi karena suara Sin Wan adalah suara orang yang selalu dekat di hatinya, pula pemuda itu memang menggunakan suara batinnya yang kuat. Maka dengan ucapannya itu Sin Wan dapat merampas kedudukan si Pendeta, dan dialah yang pegang pengaruh atas diri Giok Ciu.

Maka seketika itu juga gadis itu lalu menurut dan taat atas perintah Sin Wan, dan melakukan apa yang diperintahkan tadi. Segera ia sembuh kembali dan menyerang lagi dengan lebih sengit. Juga Sin Wan menyerang sengit tetapi selalu berhati-hati. Ia tahu bahwa tongkat ular itu mengandung senjata-senjata rahasia yang tersembunyi.

Melihat betapa ilmu sihirnya telah terpukul punah sebelum menjatuhkan kurban, Kwi Kai Hoatsu marah sekali. Terpaksa ia harus menggunakan senjata rahasia untuk melawan dua anak muda yang kosen ini. Tapi ia tak mau menggunakannya dengan diam-diam karena takut disangka curang. Ia segera membentak,

“Awas jarum!” tiba-tiba dari ujung kebutannya itu menyambar keluar sembilan batang jarum halus ke arah jalan darah tubuh Sin Wan dan Giok Ciu.

Baiknya kedua anak muda itu telah berjaga-jaga, maka ketika mendengar desir jarum itu menyambar, mereka memutar pedang dengan cepat hingga jarum jarum terpukul pergi semua. Dan pada saat itu, pedang Sin Wan berhasil pula menabas pundak Kwi Kai Hoatsu yang cepat menggulingkan diri kebawah, tapi tidak urung sedikit kulit dan daging pundaknya telah terkelupas! Ia berseru marah sekali dan berkata,

“Gak Kongcu, sekarang majulah!”

Gak Bin Tong segera memutar pedangnya membantu, disambut oleh Giok Ciu dengan hebat, karena gadis itu belum tahu akan pertolongan pemuda itu. Ia hanya menganggap bahwa pemuda itu adalah seorang pahlawan istana juga. Tapi ia segera terkejut melihat betapa pedang pemuda muka putih itu dapat menahan Ouw Liong Pokiam, sedangkan ilmu pedang pemuda itu tidaklah lemah! Pada saat mereka bertempur hebat, dari belakang muncul banyak pahlawan yang maju mengurung kedua anak muda itu.

“Moi-moi, lari!” ajak Sin Wan yang mengerahkan tenaga menyerang Kwi Kai Hoatsu yang terpaksa meloncat mundur.

Kemudian kedua anak muda itu menggunakan ilmu loncat mereka menerjang ke luar sambil memutar pokiamnya sehingga terlepas dari kurungan. Dengan hati murung dan penasaran serta kecewa, Sin Wan dan Giok Ciu pulang ke Kelenteng Nikouw di luar kota tu. Setelah bersusah payah sedemikian lama, belum juga mereka dapat membalas dendam, bahkan hampir saja terkena celaka! Di sepanjang jalan Sin Wan menghibur gadis yang diketahuinya sedang murung itu.

“Biarlah kita besok menyerang lagi dan mencari jalan yang baik,” kata Sin Wan.

Ketika mereka tiba di Kelenteng, Giok Ciu melihat Suma-Siocia duduk di ruang belakang sambil menangis. Ia heran sekali dan bertanya kepada Sin Wan. Lalu dengan ringkas Sin Wan menuturkan pengalamannya ketika berpisah dengan Giok Ciu siang tadi dalam mengejar Suma-Cianbu. Mendengar bahwa gadis itu adalah anak perempuan Suma-Cianbu, Giok Ciu maju dan membentak,

“Coba angkat mukamu!”

Suma-Siocia terkejut mendengar suara orang membentaknya, maka ia segera mengangkat muka memandang. Giok Ciu melihat betapa gadis itu sangat cantik maka timbul rasa cemburu di dalam hatinya.

“Siapa namamu?” Tanyanya dengan kasar, Suma-Siocia tidak senang sekali melihat sikap orang dan ia anggap gadis cantik yang masih muda ini kasar dan galak, tidak tahu aturan. Maka iapun tidak mau menjawab dan menundukkan mukanya lagi. Marahlah Giok Ciu.

“Jawablah kalau tak ingin aku pukul mukamu!”

Sin Wan mendekati mereka, “Suma-Siocia, ini adalah Kwie Giok Ciu, sumoiku. Harap kau terangkan namamu kepadanya.”

Suma-Siocia mengangkat mukanya dan memandang Sin Wan. Alangkah halusnya sikap pemuda yang telah menculiknya ini. Halus dan sopan santun! Ia sangat tertarik dan kagum melihat Sin Wan, dan menyesali nasibnya mengapa pemuda seperti itu justru menjadi musuh dan hendak membunuh Ayahnya! Kini mendengar kata-kata itu, ia berkata,

“Namaku Suma Li Lian dan tolong beritahu kepada Lihiap ini bahwa aku tidak perlu dibentak-bentak. Kalau kalian mau bunuh, boleh bunuh saja.” Melihat sikap Sin Wan yang agaknya ramah tamah dan sopan santun terhadap gadis cantik puteri musuhnya itu, Giok Ciu makin cemburu saja, kini mendengar kata-kata Suma Li Lian, ia makin marah.

“Minta mati, sekarang juga kau mati!” dan cepat sekali pedangnya menyambar.

“Tahan, moi-moi!” Sin Wan menggunakan pedangnya menangkis sehingga sepasang pedang hitam dan putih itu beradu dengan keras mengeluarkan titik-titik bunga api.

Giok Ciu penasaran sekali. “Koko, lupakah kau bahwa perempuan ini adalah anak bangsat she Suma yang telah membunuh Ibu dan Kakekmu?”

“Sabar, moi-moi. Benar ia anaknya, tapi ia tidak berdosa dalam hal itu. Ia tidak tahu apa-apa!”

“Kalau begitu, mengapa kau bawa ia kemari? Apa maksudmu? Katakanlah!”

“Moi-moi, dia kubawa ke sini hanya untuk memancing keluar Ayahnya!” Tapi Giok Ciu menganggap alasan ini terlalu lemah dan tak masuk di akal dan tetap ia merasa sangat cemburu. Maka ia segera mengirim serangan kembali ke arah Li Lian sambil berseru,

“Kalau kau tidak memusuhinya, biar aku yang menjadi musuhnya. Dia anak seorang jahat dan tetap jahat.”

Serangannya hebat sekali dan cepat Sin Wan mengangkat senjata menangkis tapi tidak urung pundak Sum Li Lian masih terkena sedikit oleh ujung pedang Giok Ciu hingga gadis yang malang itu menjerit perlahan dan roboh pingsan.

“Moi-moi!”

“Kau mau bela padanya? Baik belalah!” Kemudian Giok Ciu menyerang lagi ke arah tubuh yang sudah rebah di lantai, tapi Sin Wan kembali menangkis.

Giok Ciu menjadi marah dan kini menujukan serangannya kepada Sin Wan! Maka terjadilah pertempuran di ruang itu. Sebetulnya bukanlah pertempuran, karena Sin Wan tak pernah membalas serangan Giok Ciu, hanya menangkis saja sambil berusaha menyabarkan hati gadis yang kalap itu. Akhirnya Giok Ciu menghentikan serangan sambil menangis karena tidak dapat menahan marahnya lagi. Ia mencabut sesuatu dari dalam saku bajunya dan menyambitkan barang itu ke arah Li Lian.

Sin Wan cepat meloncat dan menyambar benda itu yang ternyata adalah suling kecil tanda perjodohan mereka! Sin Wan terkejut dan hendak mengembalikan suling itu, tapi Giok Ciu sudah meninggalkan dia dengan lari keluar Kelenteng. Ketika Sin Wan mengejar, gadis itu membalikkan tubuh dan membentak,

“Aku tidak sudi tidur serumah dengan anak musuhku dan hendak tidur di luar Kelenteng, apakah ini juga tidak boleh?” Ia memandang Sin Wan dengan mata tertutup air mata.

Sin Wan hanya menghela napas dengan sedih dan meninggalkan dia masuk. Ia minta kedua Nikouw yang ketakutan itu menolong dan membalu luka di pundak Suma Li Lian yang telah sadar dan menangis terisak-isak, kemudian ia masuk kamarnya dengan hati gelisah. Ternyata segala-galanya berjalan tiadk menurut rencananya. Musuh belum terbalas, Giok Ciu telah tertawan dan hampir saja celaka.

Sekarang usahanya memancing Suma-Cianbu keluar dengan menculik Li Lian bahkan menimbulkan keributan antara dia dan Giok Ciu sendiri. Ah, ia menyesal sekali! Ia tahu bahwa Giok Ciu melakukan keganasan itu hanya karena merasa cemburu padanya, timbul dari hati kuatir kalau-kalau ia jatuh cinta kepada gadis lain!

Ia tidak persalahkan Giok Ciu, karena sudah sepantasnya gadis itu marah-marah karena hampir saja kena celaka oleh tipu muslihat Suma-Cianbu dan kawan-kawannya! Untuk membalas dendam belum tentu bisa, maka tentu saja melihat anak perempuan dari musuh itu, ia menjadi marah sekali kepada anak gadis itu dan hendak melampiaskan rasa dendamnya kepada anak gadis itu. Yang membikin ia sangat sedih ialah sulingnya yang dilempar itu! Ah, sampai demikian hebatnya marah yang menggelora dalam dada Giok Ciu?

Karena pikiran ini, biarpun tubuhnya sangat lelah, namun Sin Wan tidak dapat meramkan matanya. Ia gelisah sekali dan berguling di atas pembaringannya. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali pada waktu ayam jantan berkeruyuk nyaring, Sin Wan telah turun dari pembaringannya dimana ia tidak tidur sama sekali dan berjalan keluar dari kamarnya menuju ke pekarangan belakang.

Suling hitam kecil yang semenjak terpegang olehnya tak pernah dilepaskannya lagi itu dibawahnya ke belakang. Pekarangan belakang itu lebar sekali, karena dari situ orang terus dapat menuju ke bukit kecil di belakang sawah ladang. Sin Wan berjalan melalui jalan kecil di antara ladang dan batu. Kemudian berdiri memandang ke depan dengan bengong.

Embun pagi mendatangkan pemandangan yang makin menyedihkan hati. Semua tampak kabur dan abu-abu, seakan-akan seluruh dunia berkabung dan menyedihi sesuatu. Bahkan suara ayam berkeruyuk juga terdengar menyedihkan dan bagaikan suara tangis yang mengharukan. Maka sedihlah hati Sin Wan. Terbayang segala kesedihan di ruang kepalanya.

Terbayanglah ia akan segala yang telah lalu dan terkenang kembali kepada Ibu dan Kakeknya. Tak terasa lagi naik sedu-sedan dari ulu hatinya yang berhenti dari kerongkongannya karena ia tekan dari atas. Kemudian bagaikan dalam mimpi tak terasa lagi ia angkat suling kecil itu ke arah bibirnya. Sebentar kemudian terdengarlah suara tiupan suling yang halus itu mengiris kesunyian pagi. Suara itu terdengar mengalun di antara embun pagi yang melayang-layang, merayu-rayu dan indah sekali bunyinya.

Tanpa merasa lagi Sin Wan meniup lagu ciptaannya sendiri ketika ia masih kecil. Dalam tiupannya sekali ini, tercurahlah seluruh kesedihan hatinya yang tadi naik dari ulu hatinya. Ia main dengan penuh perasaan, seakan-akan jiwanya ikut melayang-layang dengan suara itu, seakan-akan seluruh perasaannya mengemudi lagu yang dimainkannya itu.

Halus merdu, nyaring melengking, naik turun, sedih dan menyayat hati tiap pendengarnya. Bahkan ayam jantan di belakang Kelenteng yang tadi tiada hentinya berkeruyuk menyambut datangnya pagi, kini terdiam seakan-akan terpesona dan ikut mengagumi suara yang mengalun bagaikan turun dari angkasa itu. Sin Wan tidak tahu betapa di dalam kamarnya di Kelenteng itu, Suma Li Lian duduk dari tempat tidurnya dan mendengarkan dengan penuh keheranan.

Kemudian gadis itu tekap mukanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu. Ia teringat akan peristiwa tadi dan menjadi sedih sekali. Ia dapat menduga bahwa yang bermain suling itu tentu Sin Wan karena iapun telah sadar dan melihat ketika Giok Ciu menyambitnya dengan suling yang disambar oleh Sin Wan tadi.

Ia tahu bahwa pemuda yang halus dan sopan itu mencinta Giok Ciu dan ia menyesali diri sendiri bahwa dengan adanya dia disitu maka timbullah pertentangan dan perselisihan faham antara Sin Wan dan Giok Ciu yang kasar, tapi hatinya tak dapat menyangkal lagi bahwa ia jatuh hati kepada Sin Wan, pemuda yang tampan dan gagah itu. Maka kini tak tertahan lagi olehnya mendengar tiupan suling Sin Wan dan tangisnya menjadi-jadi hingga kedua Nikouw itu terbangun dan cepat menghiburnya, karena disangkanya bahwa gadis itu menangis karena luka dipundaknya terasa sakit.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sementara itu, Sin Wan juga tidak tahu bahwa pada saat ia meniup suling dengan asiknya itu, di sebuah tikungan jalan kecil itu tampak tubuh seorang gadis mendatangi. Gadis itu adalah Giok Ciu yang datang bagaikan tidur sambil berjalan. Kedua matanya basah air mata dan ia merasakan bagaikan dirinya ditarik oleh suara lagu itu.

Ia juga satu malam tak dapat tidur, bahkan tidak berganti pakaian, hanya menambahkan sehelai mantel diluar pakaiannya karena malam sangat dingin. Kini ia mendatangi ke arah suara tiupan suling dengan hati terharu sekali. Semalam penuh ia gunakan untuk berpikir dan setelah kemarahannya agak mereda, ia dapat berpikir secara dingin dan sehat. Ia merasa telah berlaku agak terlalu terburu nafsu hingga sampai terjadi pertempuran dengan Sin Wan hanya karena gadis itu saja!

Memang tidak ada bukti-bukti bahwa Sin Wan cinta kepada gadis anak musuh itu, dan mungkin juga pemuda itu menculiknya hanya untuk memancing musuhnya keluar dari persembunyiannya. Ah, kenapa ia begitu terburu nafsu sehingga suling tanda perjodohan yang keramat itu dilempar? Dapatkah Sin Wan memaafkannya?

Ketika mendengar suara suling itu, ia terkejut. Kemudian, perlahan-lahan air matanya jatuh menitik ketika ia kenali lagu itu. Lagu yang dulu pernah dimainkan oleh Sin Wan dengan suling itu juga di rumahnya, dan lagu yang telah membuat mendiang Ayahnya menangis. Maka ia segera bangun dan menghampiri tempat suara itu, dimana ia dapatkan Sin Wan berdiri sambil meniup sulingnya.

Dalam keadaan biasa Sin Wan tentu akan mendengar suara tindakan kaki Giok Ciu dengan telinganya yang sudah terlatih baik, tapi pada saat itu ia seperti orang tak sadar dan seluruh perhatian dan perasaannya terbawa oleh suara suling itu, maka ia tidak tahu bahwa Giok Ciu telah berdiri di belakangnya. Setelah suara suling makin merendah dan melambat hingga akhirnya berhenti, Sin Wan menurunkan tangannya yang memegang suling dan menghela napas.

“Koko!” tiba-tiba terdengar suara halus merdu di dekat telinganya. Ia menengok dan sepasang mata bertemu saling tangkap.

“Moi-moi!”

“Koko, kau memaafkan aku, bukan?” suara Giok Ciu mengandung isak.

Sin Wan girang sekali dan semua rasa sedihnya lenyap seketika. Ia maju dan memegang tangan Giok Ciu dengan mesra. Mereka berdiri berhadapan dan berpegang tangan sambil saling pandang dengan penuh perasaan. Entah berapa lama mereka berdiri dalam keadaan seperti itu, dan tiba-tiba keduanya melepaskan pegangan masing-masing karena mendengar tindakan kaki orang mendatangi!

Melihat orang yang datang sambil tersenyum itu, Giok Ciu segera mencabut pedang dan siap menghadapinya. Tapi Sin Wan tersenyum dan berkata perlahan,

“Moi-moi, simpanlah pedangmu. Dia adalah saudara Gak Bin Tong yang telah menolongmu.”

“Menolongku? Bukankah ia malam tadi membantu Kwi Kai Hoatsu?” tanya Giok Ciu terheran.

Sementara itu, Gak BinTong sudah tiba disitu dan disambut dengan girang oleh Sin Wan. “Gak-Lotee, terima kasih atas petunjukmu hingga sumoiku dapat tertolong,” kata Sin Wan dengan wajah berseri. Hati pemuda itu sekarang sudah seperti biasa, bahkan gembira sekali.

Kemudian Sin Wan menceritakan Giok Ciu bagaimana orang she Gak itu telah membantu dan menolong mereka. Giok Ciu lalu menjura dan menyatakan terima kasihnya kepada pemuda tampan bermuka putih itu.

“Tidak apa, tidak apa!” Gak Bin Tong balas menjura. “Kwie Lihiap janganlah terlalu sungkan. Orang-orang seperti kita memang sudah sepantasnya bantu membantu dan tolong menolong, bukan? Sayang aku terlahir dalam keluarga hamba Kaisar, hingga tak mungkin dapat membantu jiwi secara berterang.”

Sebetulnya, biarpun harus mengakui bahwa pemuda muka putih itu telah berjasa dan membantunya menolong Giok Ciu, namun Sin Wan tidak suka bergaul rapat dengan Gak Bin Tong. Ia diam-diam tidak merasa suka kepada pemuda ini karena dianggapnya bahwa pemuda ini mempunyai watak palsu dan tidak setia. Kalau tidak demikian, mengapa pemuda ini membantu orang luar dan mengkhianati golongan sendiri? Kalau misalnya ia tidak suka kepada golongannya, mengapa tidak secara terus terang saja ia keluar dari situ? Sikap berpura-pura dari pemuda itu terhadap golongan pahlawan Kaisar membuat Sin Wan diam-diam bercuriga dan tidak suka padanya.

“Saudara Gak, pagi-pagi sekali telah datang mengunjungi kami, tentu ada sesuatu yang sangat penting bukan?” Kata Sin Wan dengan suara manis dan ramah.

“Benar katamu, Bun-Lauwte, ada berita baik sekali. Suma-Cianbu pagi ini pergi melarikan diri ke Cee-Tong-An, hanya dengan tiga orang pengawal. Kau dapat mencegatnya di hutan sebelah selatan kota raja karena ia pasti mengambil jalan itu.”

Girang sekali Sin Wan mendengar ini, lebih-lebih Giok Ciu yang segera berkata, “Hayo kita berangkat sekarang juga, Koko.”

“Kukira Kwie Lihiap jangan ikut pergi,” tiba-tiba Gak Bin Tong berkata hingga gadis itu terkejut dan heran, demikianpun Sin Wan.

“Mengapa begitu?” Sin Wan bertanya.

“Mereka telah mengetahui bahwa Suma-Siocia dibawa ke tempat ini, maka aku kuatir kalau-kalau ada orang menyerbu kesini. Lebih baik Lihiap tinggal di sini menjaga Suma-Siocia, pula Suma-Cianbu hanya dikawal oleh tiga orang yang tidak berapa tinggi kepandaiannya, sehingga agaknya tidak akan menyukarkan saudara Bun.”

Sin Wan menganggap omongan ini betul juga, maka setelah memesan agar Giok Ciu berhati-hati, ia lalu pergi ke hutan yang berada di sebelah selatan tembok kota. Sementara itu, setelah Sin Wan pergi, Giok Ciu mempersilahkan Gak Bin Tong masuk Kelenteng dan duduk di ruang tamu, dimana mereka bercakap-cakap dengan asik, karena Gak Bin Tong memang pandai berkata-kata.

Pemuda ini selain tinggi kepandaian silatnya, juga sudah berpengalaman dan ia menarik perhatian Giok Ciu dengan ceritanya tentang berbagai tempat yang ramai. Kemudia pembicaraan mereka tertuju kepada persoalan yang mereka hadapi dan mereka membicarakan Suma-Cianbu.

“Memang kapten she Suma itu cukup banyak mengurbankan jiwa orang-orang gagah hingga banyak orang gagah sakit hati kepadanya,” kata Gak Bin Tong dengan gemas, kemudian suaranya melembut ketika ia melanjutkan kata-katanya.

“Tapi puterinya Suma-Siocia, berbeda jauh dengan Ayahnya itu. Ia adalah seorang gadis terpelajar tinggi, cantik jelita, dan berbudi baik, hingga ia terkenal sebagai seorang Ciankim-Siocia yang harum sekali namanya.”

“Saudara Gak, apa perlunya kau membicarakan hal gadis itu kepadaku? Aku tidak tertarik sama sekali!” kata Giok Ciu dengan sikap murung karena hatinya panas sekali mendengar gadis yang dibencinya itu dipuji-puji orang didepannya.

Gak Bin Tong tersenyum dan pura-pura tidak tahu akan sikap gadis itu. Ia menghela napas. “Tapi puteri itu terlalu angkuh dan tinggi hati. Tiada seorang pemuda diacuhkannya, agaknya memang saudara Bun saja yang pantas untuk memetik bunga harum itu!”

Mata Giok Ciu menyambarnya dengan tajam, “Apa katamu? Apa... Apa maksudmu?”

Gak Bin Tong memandang dengan kaget dan heran terbayang nyata di mukanya yang cakap. “Eh, kau belum tahukah, Kwie Lihiap?”

“Tahu apa?”

“Saudara Bun jatuh hati kepada gadis cantik itu.”

Giok Ciu menahan debaran jantungnya dengan menggigit bibir, “Aah masak, Bun Twako tidak semudah itu jatuh hati!”

“Ha ha ha! Memang, saudara dekat tak mungkin mengetahui isi hati kakak seperguruannya yang tiap hari dekat dan merupakan seperti saudara sendiri. Mungkin juga Bun-Lauwte malu-malu untuk mengaku padamu, tapi apakah kau tidak dapat menduga? Kalau dia tidak cinta kepada gadis itu, tak perlu ia menculiknya, bukan?”

“Sudahlah jangan bicarakan soal ini!” kata Giok Ciu dengan gemas dan tak senang.

“Maaf, Lihiap. Tapi sungguh aku heran melihat sikapmu. Apakah kau tidak ikut gembira melihat kakak seperguruanmu mendapat jodoh seorang gadis yang demikian cantik dan bijaksana seperti Suma Li Lian itu? Aku sendiri yang hanya menjadi kawan barunya, ikut merasa gembira dan girang!”

Terpaksa Giok Ciu menyembunyikan perasaannya dan menjawab, “Bukan aku tidak girang, tapi itu bukanlah urusanku, dan pula, aku masih tidak percaya bahwa Bun Twako mencinta gadis anak musuh kami itu. Sungguh tak masuk akal dan mustahil!” Gak Bin Tong bangun dan berdiri dari bangku yang didudukinya.

“Kwi Lihiap, aku Gak Bin Tong tidak biasa membohong. Kalau kau hendak membuktikan kebenaran bicaraku, coba kau buktikan dan baik kita sama-sama lihat siapa yang lebih tepat dugaannya. Kalau ternyata aku memang keliru sangka , aku bersedia meminta maaf kepadamu, dan kepada saudara Bun!”

Giok Ciu tersenyum dan sebetulnya ia tak ingin melayani orang yang cerewet seperti pemuda ini, namun di dalam hatinya telah menyala api yang dicetus oleh kata-kata Gak Bin Tong tadi. Ia lalu bertanya,

“Dengan cara bagaimanakah kita membuktikan itu?”

“Mudah saja. Kalau saudara Bun datang, coba kau beritahu padanya bahwa kau telah membunuh mati nona Suma itu, coba kita bagaimana sikapnya terhadapmu. Bukankah ini ujian yang baik sekali? Kalau ia mencinta Suma-Siocia, pasti ia akan marah dan sedih sekali.”

Giok Ciu mengangguk-angguk dan anggap bahwa ujian itu baik dan tepat sekali, maka ia merasa setuju. Setelah bercakap-cakap lagi beberapa lama, beberapa kali Gak Bin Tong menutup mulut dengan tangan dan menguap.

“Saudara Gak. Kalau kau lelah dan mengantuk, tidurlah di kamar Bun Twako. Akupun hendak beristirahat di kamarku sambil menanti kembalinya Bun Twako.”

Gak Bin Tong menyatakan setuju dan ia lalu menuju ke kamar Sin Wan dan gadis itupun lalu memasuki kamarnya.