Kemelut Blambangan Jilid 20

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Kemelut Blambangan

Jilid 20

SEMENTARA itu, guru Dartoko, Kyai Kasmalapati yang terkenal sebagai seorang datuk Blambangan walaupun sudah tua dan tubuhnya bongkok, namun sepak terjangnya menggiriskan. Banyak perajurit Mataram roboh oleh tongkat bambu kuningnya, yang dipegang tangan kanan, atau oleh tasbihnya yang dipegang tangan kiri, atau gerengannya yang menggetarkan jantung. Tiba-tiba kakek itu dihadapi Parmadi dengan senjata Suling Gading yang ampuh. Kakek itu sudah tahu akan kesaktian si Seruling Gading, maka dia merasa gentar sekali.

Namun dia memaksa diri untuk melawan sambil terkadang menyelinap di antara para perajurit. Sementara itu, pasukan Blambangan didesak terus sehingga mundur memasuki kota dan terjadilah pertempuran yang kacau balau di dalam kota. Melihat pasukannya terdesak mundur, Kyai Kasmalapati menyelinap ke dalam rombongan pasukan sehingga Parmadi kehilangan lawan dan tiba-tiba tampak asap hitam mengepul tebal dan menyebar ke seluruh kota!

Inilah aji sihir yang datang dari kuasa kegelapan, dikerahkan oleh Kyai Kasmalapati yang memang ahli dalam ilmu sihir pengaruh daya iblis. Tentu saja panik dan banyak di antara mereka yang roboh diserang pasukan Blambangan yang tidak dipengaruhi asap hitam. Tiba-tiba terdengar bunyi seruling melengking-lengking. itulah suara suling yang ditiup Parmadi dan bagaikan ada angin yang kuat bertiup, asap hitam itu membuyar dan diterbangkan pergi.

Setelah terbebas dari asap hitam, pasukan Mataram mendapatkan kembali semangat mereka dan banyak perajurit musuh yang bergelimpangan. Akan tetapi Kyai Kasmalapati, Dartoko, dan Ki Randujapang telah pergi. Orang-orang yang curang dan pengecut ini melarikan diri begitu keadaan tidak menguntungkan bahkan membahayakan keselamatan diri mereka. Bukan hanya mereka, juga ada beberapa orang senopati Gelgel yang melarikan diri meninggalkan pasukan, keluar dari kota mencari selamat.

Setelah Ki Tabanan dan Ki Pacung, dua orang senopati Gelgel Bali tewas, pasukan lalu menjadi kocar-kacir tidak ada yang memimpin lagi. Banyak yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai. Kota Kadipaten Pasuruan dapat dirampas kembali oleh Pasukan Mataram dan sang Adipati Pasuruan menempati kembali istana kadipaten yang sudah kehilangan banyak barang berharga, dirampok oleh pihak musuh dan penjahat-penjahat yang menggunakan kesempatan untuk mencuri barang-barang berharga. Pasukan Mataram lalu memperkuat perbentengan di Pasuruan.

Pangeran Silarong tidak berani melanjutkan gerakan pasukannya sebelum menerima petunjuk dan perintah dari Sultan Agung. Penyerangan ke daerah Blambangan, bukan merupakan tugas ringan. Blambangan yang bersekutu dengan Bali dan Madura, juga didukung daerah-daerah Jawa timur, memiliki pula banyak orang sakti, amat kuat dan perlu perhitungan masak sebelum Mataram berani melakukan penyerangan besar-besaran.

Apalagi mereka tahu bahwa diam-diam, Kumpeni Belanda mendukung Blambangan sebagai siasat mereka untuk mengadu domba. Menurut para penyelidik, beberapa buah kapal besar Kumpeni Belanda sudah tampak mondar-mandir disekitar pantai Blambangan! Untuk sementara perang selesai dengan direbutnya kembali Pasuruan. Kedua pihak menyusun kekuatan, melakukan persiapan untuk perang selanjutnya.

********************

Wanita itu berpakaian sederhana, seperti pakaian wanita petani biasa. Akan tetapi kalau ada orang bertemu dengannya dan melihat wajah yang cantik jelita itu, tubuh yang langsing padat, dan kulit yang halus dan putih mulus, tentu akan menduga bahwa wanita dusun itu pasti bukan seorang wanita dusun biasa, melainkan seorang wanita bangsawan! Ia adalah Nyi Maya Dewi! Orang yang dulu mengenalnya, kalau melihat ia sekarang, tentu akan merasa terheran-heran. Terjadi perubahan besar pada diri wanita ini, baik keadaan lahir maupun batinnya.

Sekitar lima tahun yang lalu Maya Dewi adalah seorang wanita yang kecantikannya merangsang, sikapnya genit, lincah dan matanya menyinarkan kecabulan, juga kekejaman yang luar biasa. Pakaiannya selalu indah dengan hiasan emas permata yang serba mewah. Lima tahun yang lalu, dalam usia tiga puluh dua tahun, ia masih tampak seperti seorang wanita seusia dua puluh tahun. Baik wajah, mata, mulut, bentuk tubuh, sikap dan gerak geriknya ketika itu menggairahkan hati setiap orang pria sehingga banyak sekali yang tergila-gila kepadanya.

Sekarang, dalam usianya yang tiga puluh tujuh tahun, Maya Dewi memang masih tampak cantik jelita seolah usianya belum lewat dua puluh lima tahun. Awet mudanya ini berkat dahulu minum jamu langka Suket Sungsang, kemudian secara kebetulan sekali ia makan separuh dari Jamur Dwipa Suddhi. Tubuhnya masih langsing dan padat berisi berkat sejak kecil ia mempelajari ilmu kanuragan. Akan tetapi terjadi perubahan yang mencolok sekali dalam diri wanita ini.

Hanya kecantikannya saja yang masih sama, walaupun dulu kecantikannya menggairahkan dan sekarang kecantikannya anggun membuat orang merasa segan dan hormat. Matanya yang terkadang mencorong itu tajam namun teduh, penuh kesabaran dan pengertian. Berbeda sama sekali dengan sinar matanya yang dulu selalu menyinarkan kekerasan dan terkadang membayangkan gejolak nafsu dan selalu menantang. Mulutnya dulu kalau tersenyum tampak genit memikat dan terkadang penuh ejekan, akan tetapi sekarang senyumnya tulus dan jujur.

Suaranya yang dulu lantang galak, terkadang manja dan merayu, kini suaranya tenang lembut. Sikap yang dulu lincah dan genit, kini pendiam dan penuh sopan santun. Pakaiannya yang dulu gemerlapan mewah, kini sederhana sekali tanpa ada perhiasan sepotong pun. Akan tetapi sinar mata yang dalam dan tenang itu, terkadang menjadi sayu diliputi kepedihan hati. Pengalamannya selama ia mengubah jalan hidupnya penuh kepahitan, terkadang membuat ia bingung dan hampir putus asa.

Dulu, ketika ia masih menjadi tokoh sesat, setidaknya masih mempunyai sahabat. Dulu ia musuh para pendekar dan sahabat para golongan sesat. Akan tetapi sekarang? Bertemu dengan para pendekar, ia dimaki dan dihina, tidak dipercaya dan dimusuhi karena dianggap tetap sesat dan semua kebaikannya dianggap palsu dan pura-pura! Bertemu dengan golongan sesat, ia dicemoohkan dan diejek habis-habisan. Dari kanan kiri ia tetap saja dihina. Ia merasa terbuang, tidak ada teman, seorang diri di dunia ini dan dimusuhi semua orang!

Kalau sudah begitu, ia merasa kesepian, kehilangan, dan teringat kepada Bagus Sajiwo. Betapa ia amat merindukan Bagus Sajiwo! Rindu akan tatapan sinar matanya yang penuh pengertian, penuh kasih dan selalu membangkitkan semangat hidup dan pengharapan. Rindu akan senyum pemuda itu, yang menyejukkan hatinya, mendatangkan rasa tenteram dan tenang. Terutama sekali suaranya, begitu lembut, apalagi kalau suara itu mengucapkan kata-kata yang menyegarkan hati akal pikiran, yang mendatangkan kesadaran dan pengertian sehingga meresap dan menyejukkan jiwa.

Segala macam perasaan dan kesan yang terbaik memenuhi hatinya kalau ia teringat kepada Bagus Sajiwo. Dalam pribadi Bagus Sajiwo ia menemukan kasih sayang murni seorang guru, orang tua, saudara, sahabat yang amat setia dan yang selalu membimbingnya tanpa pamrih untuk dirinya sendiri, tanpa mengharapkan imbalan jasa. Setelah setahun lebih berpisah dari Bagus Sajiwo, hidup dalam kesepian dan penuh perenungan, barulah ia mulai mengerti akan kasih sayang murni dari pemuda itu kepadanya.

Selama ini ia telah salah sangka, salah memahami kasih sayang Bagus Sajiwo. Kasih sayang Bagus Sajiwo kepadanya sama sekali tidak mengandung berahi! Dan salahnya sendiri kalau ia membalasnya dengan cinta asmara dan menganggap pemuda itu sebagai suaminya, mengharapkan untuk hidup berdampingan selamanya sebagai suami isteri! Sekarang ia maklum bahwa perasaan cintanya kepada Bagus Sajiwo itu muncul karena sejak gadis remaja, biarpun ia telah dicinta oleh banyak sekali pria, namun cinta semua pria itu hanyalah cinta nafsu berahi belaka.

Semua laki-laki itu hanya mencinta keindahan tubuhnya, kecantikannya! Maka, begitu bertemu Bagus Sajiwo ia merasakan suatu kasih sayang yang lain sama sekali, dan kehausannya akan cinta sejati membuat ia mengiara bahwa Bagus Sajiwo mencintanya sebagai seorang calon suami mencinta calon isterinya! Ia terjebak dalam harapannya sendiri. Sekarang ia mengerti bahwa Bagus Sajiwo dapat menjadi segalanya, kecuali menjadi suaminya. Ia menyadari bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Usianya sekarang sudah tiga puluh tujuh tahun sedangkan usia Bagus Sajiwo baru sekitar dua puluh satu tahun! Maya Dewi melangkah perlahan dan menghela napas. Kesadaran itu telah menghilangkan nafsu berahi dari kasih sayangnya terhadap Bagus Sajiwo. Kasih sayangnya kini terasa bahkan lebih halus, kerinduannya terhadap anak muda itu bukan lagi kerinduan jasmani, melainkan kerinduan rohani. Seperti seorang kakak merindukan adiknya, seperti seorang ibu merindukan anaknya, seperti seorang sahabat merindukan sahabatnya. Ia menghela napas lagi.

"Bagus..." ia mengeluh lirih, keluhan yang keluar dari dalam lubuk hatinya. Maya Dewi tadinya melakukan perjalanan menuju Pasuruan. Ia mendengar bahwa Pasuruan telah diduduki Pasukan Blambangan akan tetapi kini baru saja direbut kembali oleh Pasukan Mataram. Pasti Bagus Sajiwo berada di sana, pikirnya. Ia sudah mengambil keputusan untuk membela dan membantu Mataram menghadapi Kumpeni Belanda.

Sebetulnya, ia bukanlah kawula Mataram. Mendiang ayahnya, Resi Kalayitmo, berasal dari Parahiyangan, lalu pindah ke Banten dan ia dilahirkan di Banten. Kalau ia kini mengambil keputusan untuk membantu Mataram, hal itu adalah untuk menebus semua dosanya terhadap Mataram. Ia pernah membantu Kumpeni Belanda memusuhi Mataram. Kini ia menyadari kesalahannya, sadar betapa jahatnya Kumpeni Belanda terhadap bangsanya, bangsa di seluruh Nusa Jawa.

Ia yang pernah menjadi tokoh telik sandi (mata-mata) Belanda maklum bahwa Kumpeni Belanda selalu mempergunakan siasat mengadu domba antara kadipaten dan penguasa-penguasa daerah. Kalau tidak berhasil menggunakan kekerasan, Kumpeni menggunakan siasat halus dan licik, pura-pura membantu Mataram. Siasat ini dipergunakan agar mereka yang saling perang sendiri itu menjadi lemah sehingga akhirnya mudah bagi Kumpeni untuk menundukkan mereka yang telah menjadi lemah dan cerai berai karena perang saudara.

Ia telah berhutang banyak kepada Mataram, telah melakukan banyak kejahatan yang merugikan Mataram. Oleh karena itu, ia kini bertekad untuk membantu dan membela Mataram untuk menebus dosa-dosanya. Dengan pikiran ini, ia pergi ke Pasuruan, untuk menawarkan bantuannya sebagai sukarelawan, bergabung dengan para pendekar. Hanya Bagus Sajiwo yang diharapkannya akan ia temukan di Pasuruan.

Tanpa adanya Bagus Sajiwo, besar bahayanya ia tidak akan diterima para pembesar Mataram yang tentu mencurigai dan tidak sudi menerima bantuannya. Kalau ada Bagus Sajiwo, pemuda itu tentu mau membela dan menjadi penanggung jawabnya. Akan tetapi jauh di luar Kadipaten pasuruan, di jalan umum yang sepi, ia berhenti berjalan ketika melihat tubuh lima orang malang melintang di atas jalan dalam keadaan mandi darah!

Cepat ia menghampiri dan setelah memeriksa, ternyata empat dari mereka telah tewas dan yang seorang hanya pingsan. luka di pundaknya mengeluarkan banyak darah akan tetapi tidak terlalu berbahaya. agaknya yang menyerang mereka mengira dia juga tewas maka ditinggalkannya. Padahal orang itu hanya pingsan. Maya Dewi cepat menolong dan menyadarkannya. Setelah sadar orang itu mengeluh dan bangkit duduk, memandang kepada Maya Dewi dengan heran dan juga takut.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Jangan takut, Kisanak. Aku bukan musuh." Maya Dewi menenangkan sambil membalut pundak orang itu dengan kain yang dirobek dari baju orang itu sendiri.

"Ceritakan apa yang telah terjadi di sini dan siapa yang membunuh dan melukai kalian."

"Kami berlima adalah perajurit Mataram. Induk pasukan kami berada di Benteng Pasuruan. Kami bertugas memeriksa keadaan sekeliling dan kami agak terlalu jauh meninggalkan kota Kadipaten Pasuruan. di tengah perjalanan itu kami melihat seorang wanita duduk di atas kuda dengan kedua tangan kaki terikat. Agaknya ia menjadi tawanan seorang laki-laki yang kami kenal sebagai seorang senopati Blambangan karena dia pernah ikut menyerbu ketika pasukan Blambangan dulu menyerang dan menduduki Pasuruan. Kami melakukan pengejaran sampai di sini dan laki-laki muda itu berhenti lalu menyerang kami. Ternyata dia sakti mandraguna sehingga kami berlima dalam waktu singkat roboh. Empat orang rekan saya tewas dan entah mengapa saya masih hidup, agaknya dia mengira sata tewas pula."

"Hemm, tahukah Andika siapa laki-laki itu dan siapa pula yang ditawan?"

Orang itu menunjuk ke arah timur, "Ke sana."

"Hemm... Aku akan mengejarnya. Andika carilah bantuan di dusun terdekat untuk mengurus mayat kawan-kawan Andika ini."

Setelah berkata demikian, Maya Dewi lalu berlari cepat melakukan pengejaran ke arah timur.

********************

Siapakah gadis yang ditawan dan siapa pula penawannya seperti yang diseritakan perajurit Pasuruan itu? Gadis itu adalah Niken Darmini dan penawannya adalah Tejakasmala! Seperti kita ketahui, Niken Darmini yang menyamar menjadi pemuda bernama Joko Darmono dengan marah, penuh cemburu dan kebencian, meninggalkan Bagus Sajiwo dan Ratna Manohara setelah ia tidak berhasil membunuh kedua orang itu. Ia melarikan diri dengan hati terasa nyeri karena cemburu dan kebencian.

Sejak pertama kali bertemu Bagus Sajiwo yang mengenalnya sebagai Joko Darmono, Niken Darmini telah jatuh cinta kepada Bagus Sajiwo. Ia bertekad untuk menjadi isteri pemuda itu dan pada suatu saat yang baik ia akan membuka rahasianya bahwa ia seorang wanita. Dari sikap Bagus Sajiwo yang amat baik itu ia pun yakin bahwa Bagus Sajiwo pasti akan menerima dan membalas cintanya kalau diketahuinya bahwa ia seorang gadis jelita!

Ketika ia bertemu Ratna Manohara yang tentu saja mengenalnya sebagai seorang gadis, ia minta agar gadis puteri Ketua Driya Pawitra itu menyimpan rahasianya dan terus terang ia katakan bahwa ia mencinta Bagus Sajiwo dan akan membunuh wanita yang berani merebut pemuda itu darinya. Lalu, pada pagi hari itu, ketika ia masih tidur, Ki Sarwaguna mengetuk daun pintu kamarnya dan minta tolong agar ia membantu mencari Ratna Manohara yang menurut ayah gadis iru lenyap sejak semalam.

Ketika ia bertanya di mana adanya Bagus Sajiwo, Ki Sarwaguna juga mengatakan bahwa pemuda itu tidak tampak pula, hilang seperti halnya Ratna Manohara. Ia lalu membantu Ki Sarwaguna mencari, dan ditugaskan mencari ke arah bukit di mana terdapat banyak gua. Dan pada pagi hari itu, ia melihat Ratna Manohara dan Bagus Sajiwo keluar dari dalam sebuah gua sambil bergandengan dan berangkulan, dan pakaian Ratna Manohara tidak karuan! Tidak sukar diduga apa yang mereka lakukan semalam dalam gua itu!

Tentu saja ia menjadi marah bukan main, hampir gila karena cemburu. Ia merasa yakin bahwa Ratna Manohara dan Bagus Sajiwo, semalam berada di dalam gua itu, berhubungan gelap, berjina! Maka diserangnya Ratna Manohara, akan tetapi serangannya gagal oleh Bagus Sajiwo. Karena merasa tidak mungkin dapat mengalahkan Bagus Sajiwo, ia lalu melarikan diri membawa kemarahan, cemburu, dan kebencian. Semakin dipikir dan dibayangkan, semakin panas hatinya.

Demikian besar perasaan benci mencengkeram hatinya sehingga yang ia inginkan hanya membunuh Bagus Sajiwo dan Ratna Manohara! Niken Darmini melepaskan pakaian pria dan ia sudah berganti pakaian wanita, tidak ingin menyamar lagi. Hatinya merasa semakin sedih kalau ia ingat betapa ia sudah membantu Driya Pawitra, bahkan gurunya sendiri, Nini Kuntigarba, tewas dalam pertempuran membela Driya Pawitra. Akan tetapi apa yang ia dapatkan dengan pembelaan dan pengorbanan itu? Kekasih hatinya, pujaannya telah direbut Ratna Manohara!

Pada suatu pagi, ketika ia melangkahkan kaki dalam keadaan melamun dan masih tenggelam ke dalam kesedihan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda berlari mendatangi dari arah belakangnya. Ketika penunggang kuda tiba dekat dan ia menoleh untuk memandang siapa penunggang kuda itu, matanya terbelalak dan kulit mukanya seketika merubah merah. Ia segera mengenal Tejakasmala, pemuda berpakaian Bali yang pernah ikut menyerbu Driya Pawitra dan pemuda inilah yang telah membunuh gurunya, Nini Kuntigarba!

"Jahanam keparat, jangan lari!" bentaknya dan ia cepat melompat dan mengejar. Penunggang kuda itu memang Tejakasmala. Pemuda dari Bali yang mewakili Kerajaan Klungkung di Bali untuk membantu Blambangan itu ikut merasa kecewa mendengar bahwa Pasuruan telah direbut kembali oleh Pasukan Mataram. Persekutuan itu lalu meningkatkan kegiatan para telik sandi untuk menyelidiki keadaan daerah dan menggalang persatuan yang lebih kokoh untuk mengulang serangan mereka yang lebih kuat dan besar.

Tejakasmala tidak mau ketinggalan. Dia lalu seringkali mengadakan penyelidikan sendiri dan pagi hari itu dia sedang melakukan perjalanan, menyelidiki daerah di sekitar luar Kadipaten Pasuruan. Maka, ketika ada wanita berteriak memakinya, dia terkejut dan menahan kudanya lalu menoleh.

"Syuuuuttt...!" Sinar kemerahan meluncur dan menyambar ke arah tubuhnya. Tejakasmala terkejut bukan main. Cepat dia mengelak dengan melompat dari atas pelana kudanya. Namun ujung sabuk merah yang digerakkan Niken Darmini untuk menerjangnya itu masih mengenai ujung bahunya sehingga bajunya terobek dan kulit pundaknya terkelupas sedikit. Dia berjungkir balik dan ketika tiba di atas tanah dia berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya.

"Eh, gilakah engkau? Tiada hujan tiada angin, tanpa sebab tiba-tiba menyerangku? Apa kesalahanku maka engkau menyerangku seperti orang gila?"

Tejakasmala menegur marah. Karena tidak ingin kehilangan kudanya, dia menghampiri kudanya, menenangkannya dan melepas kendali dari mulut kuda agar binatang yang sudah lelah dan lapar itu dapat makan rumput hijau di tepi jalan.

"Kamu yang gila!" Niken Darmini membentak dan tangan kanannya mencabut sebatang keris dari ikat pinggang. Sabuk merah yang tadi ia pergunakan untuk menyerang berada di tangan kirinya. "kamu telah membunuh Guruku dan hari ini aku akan mencabut nyawamu agar dapat menghadap roh Guruku di alam baka!"

Kini Tejakasmala dapat memandang wajah gadis itu penuh perhatian dan dia pun teringat! Dia pernah melihat gadis ini! Ketika Adipati Santa Guna Alit di Blambangan mengadakan pertemuan yang pertama, gadis ini juga hadir. Bahkan gadis ini dan seorang gadis lain, yaitu Ratna Manohara dari Driya Pawitra menolak untuk bekerja sama dengan Blambangan menentang Mataram. Gadis ini adalah utusan yang datang dalam rapat itu mewakili gurunya, Nini Kuntigarba!

Dan belum terlalu lama ini, sebelum Pasukan Blambangan menyerbu Pasuruan dia bersama rombongan dari Blambangan menyerang Driya Pawitra dan dalam perkelahian itu dia telah terluka oleh Nini Kuntigarba, akan tetapi nenek itu pun roboh tewas!

"Ah, aku ingat sekarang! Andika adalah murid Nini Kuntigarba dan ketika terjadi pertempuran, Nini Kuntigarba membantu Driya Pawitra dan tewas. Akan tetapi, ia tewas dalam pertempuran yang dapat menimpa siapa saja yang melibatkan diri dalam perang. Aku sendiri pun terluka olehnya. Gurumu tak mempunyai permusuhan pribadi dengan aku, kita berempur karena membela pihak masing-masing. Aku tidak membunuhnya. Perang yang menyebabkan ia tewas. Di antara kita tidak ada permusuhan apa-apa!"

"Tak perlu banyak cakap lagi! Bersiaplah untuk mati di tanganku!" bentak Niken Darmini.

"Nanti dulu, aku Tejakasmala dari Bali dwipa tidak ingin bermusuhan dengan seorang wanita!"

"Huh, kita pernah bertanding di Perguruan Driya Pawitra, sudah lama kita menjadi musuh!"

"Ahh? Aku tidak ingat lagi... seingatku yang bertanding denganku adalah seorang pemuda yang kemudian dibantu Nini Kuntigarba.... eh, Andikalah pemuda itu?"

"Tidak keliru! Akulah Niken Darmini yang dulu menyamar sebagai Joko Darmono!" Ia lalu menggerakkan sabuk merahnya yang meledak di udara seperti sebuah cambuk.

"Nanti dulu, Niken Darmini! Kalau engkau sekarang ini bertindak sebagai seorang pembela Mataram, maka engkau adalah musuhku. Akan tetapi kalau engkau tidak membela Mataram, aku tidak ingin bermusuhan denganmu!"

Niken Darmini membentak. "Tutup mulutmu dan sambut seranganku ini!"

Ia lalu menerjang dengan sambaran sabuk merahnya dari atas. Ujung sabuk itu menyambar seperti kilat ke arah kepala Tejakasmala, disusul keris yang meluncur ke arah dada pemuda itu. Dahsyat bukan main serangan ini, serangan kilat yang kalau mengenai sasaran pasti mendatangkan maut. Akan tetapi kini Tejakasmala telah siap. Pemuda ini adalah murid utama Bhagawan Ekabrata, pendeta pertapa di Gunung Agung Bali yang amat sakti mandraguna. Maka tingkat kepandaian Tejakasmala ini sudah tinggi sekali.

Biarpun Niken Darmini sudah mewarisi semua aji kanuragan yang dikuasai mendiang Nini Kuntigarba dan telah diajarkan kepadanya, namun dibandingkan tingkat kepandaian Tejakasmala, ia masih kalah tinggi. Pemuda ini tingkat kepandaiannya sudah tingg sekali, maka dia tidak pernah membawa senjata. Kaki tangannya sudah merupakan empat batang senjata yang ampuh, belum lagi aji kesaktian yang dahsyat seperti Aji Pukulan Condromowo yang kalau dipergunakan tangannya berubah merah membara dan mendatangkan angin pukulan yang amat panas.

Aji Bayutantra yang mendatangkan angin pukulan bagaikan badai menyambar. Dengan pengerahan tenaga sakti dalam suaranya dia mampu merobohkan lawan yang kurang kuat tenaga dalamnya dengan Aji Singabairawa yang membuat gerangannya seperi auman singa yang dapat melumpuhkan lawan. Selain itu, dia juga dapat mempergunakan sihir dengan membuat dirinya berubah menjadi Nagakala. Pendeknya, Tejakasmala merupakan lawan yang amat tangguh bagi Niken Darmini.

Gadis itu pun sudah maklum akan kesaktian lawan yang pernah menjatuhkannya dan bahkan hampir membunuhnya kalau saja tidak muncul gurunya yang menangkis pukulan pemuda itu. Akan tetapi ketika itu Niken Darmini berada dalam kemarahan besar, bukan saja mengingat akan kematian gurunya, melainkan terutama karena marah kepada Bagus Sajiwo dan Ratna Manohara. Kemarahan ini mendatangkan keberanian dan kenekatan. Maka iapun menyerang Tejakasmala, menggunakan senjata sabuk dan keris, menyerang dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena ia bertekad untuk membunuh atau terbunuh.

"Haiiiiittttt... !" Niken Darmini menyerang lagi ketika tadi serangannya yang beruntun dapat dielakkan oleh Tejakasmala. Sabuknya menyambar dan dengan penyaluran tenaga sakti, sabuk dari kain sutera lemas itu berubah manjadi kaku seperti sebatang tongkat dan menusuk ke arah mata lawan. Tejakasmala menghindarkan diri dengan menggeser kaki ke kiri. Akan tetapi Niken membentak dan tiba-tiba sabuknya menjadi lemas kembali dan kini menyambar ke arah leher pemuda itu. Kalau terkena tentu sabuk itu akan menjerat leher dan mencekik! Namun Tejakasmala cepat melompat ke belakang sehingga sambaran sabuk itu luput. Niken melompat ke depan, kerisnya menusuk lambung.

"Aahhh!" Tejakasmala mengibaskan tangannya menangkis.

"Cringgg....!" Seperti dua batang baja bertemu ketika tangan itu menepis keris dari samping. Kemudian, kaki kanan tejakasmala mencuat, mejadi tendangan dari samping mengarah pinggang dara perkasa itu. Niken menghindar cepat sambil mengebutkan sabuknya untuk membelit kaki. Akan tetapi Tejakasmala cepat menarik kembali kakinya dan kini tangan kirinya meluncur cepat menotok ke arah pundak lawan.

Niken menangkis totokan itu dengan kerisnya dan kembali keris bertemu tangan yang demikian kuatnya sehingga Niken merasa tangannya tergetar. Mereka serang menyerang dengan seru. Niken Darmini mengamuk dan serangannya dilakukan untuk membunuh lawan. Sebaliknya, Tejakasmala menyerang dengan tenaga terkendali karena dia tidak ingin membunuh gadis itu. Jauh lebih baik mencoba untuk membujuk Niken Darmini agar mau menjadi sekutu daripada mejadi lawan. Sayang pula kalau dibunuh. Gadis ini cantik jelita dan cukup sakti. Dia ingin mengalahkannya tanpa membunuh.

Akan baik kiranya kalau dia mampu menawannya, membawa ke Blambangan dan disana akan dicarikan cara untuk membujuk Niken Darmini agar mau membantu Blambangan menentang Mataram. Karena tidak ingin membunuh inilah maka perkelahian itu berlangsung cukup lama. Tak mudah bagi Tejakasmala untuk mengalahkan gadis ini tanpa melukai berat atau bahkan membunuhnya. Hebatnya, gadis itu benar-benar nekat dan agaknya tidak mempedulikan keselamatan sendiri.

Akhirnya, Tejakasmala menemukan akal untuk dapat menangkap gadis itu tanpa membunuh atau melukai dengan parah. kalau dia melukai dengan parah, tentu sukar membujuknya untuk bekerja sama. Ketika sabuk merah itu sekali lagi meluncur ke arah lehernya, Tejakasmala sengaja bergerak lamban sehingga ujung sabuk itu berhasil membelit lehernya!

Niken girang dan cepat ia mengerahkan tenaga untuk memperkuat belitannya agar mencekik leher lawan. Akan tetapi Tejakasmala malah melangkah maju mendekatjan tubuhnya. Niken Darmini menyambutnya dengan tusukan keris kearah dada lawan. Inilah yang dinanti-nanti Tejakasmala. Cepat tangan kirinya menangkap lengan tangan kanannya menyambar kearah pundak. Niken mengeluh dan pada saat itu. Tejakasmala mengeluarkan pekik Singabairawa.

Tubuh Niken menjadi lemas dan dengan mudah Tejakasmala menangkapnya dan mengikat kedua pergelangan tangannya ke belakang tubuhnya, menggunakan sabuk merah yang terbuat dari sutera amat kuat.

"Nah, Niken Darmini, engkau sudah kalah dan engkau harus menurut semua kehendakku."

"Keparat! Bunuh saja aku! Aku tidak takut mati, lebih baik mati daripada menurut kehendakmu!" bentak Niken Darmini, akan tetapi hanya suaranya saja yang kuat karena tubuhnya lemas dan tidak berdaya.

"Ha-ha-ha! Mau tidak mau engkau harus menuruti kehendakku. Engkau tidak dapat menolak!"

Setelah berkata demikian, dia menghampiri kudanya, memasang kendali. Ketika pemuda itu menghampiri kuda, Niken berusaha untuk melarikan diri namun ia nyaris terguling karena kedua kakinya lemas. Tekanan pada pundaknya membuat ia lemas. Tejakasmala menghampirinya dan tiba-tiba dia mengangkat tubuh Niken ke atas, didudukkannya di atas pelana kuda itu!

"Heii, mau apa engkau!" Niken Darmini membentak.

Akan tetapi Tejakasmala hanya tersenyum lalu mengikat kedua kaki gadis itu, melalui bawah perut kuda. Tejakasmala lalu menuntun kuda itu setelah tersenyum kepada niken Darmini. Niken adalah seorang gadis perkasa yang sudah bisa menunggang kuda. Maka biarpun kedua tangannya terikat ke belakang, ia dapat duduk tegak di atas pelana kuda.

"Tejakasmala jahanam keparat, apa yang hendak kau lakukan? Ke mana aku akan kau bawa pergi?"

"Aku akan membawamu ke Kadipaten Blambangan."

"Aku tidak sudi! Lepaskan aku atau bunuh aku!"

"Ha-ha-ha, engkau lupa, Niken Darmini. Engkau kalah dan menjadi tawananku, terserah kepadaku apakah engkau hendak kubawa ke Blambangan, kulepaskan atau kubunuh. Akan tetapi aku memilih untuk membawamu pergi ke Blambangan. Dan engkau tidak dapat menolak karena engkau sudah kalah dan menjadi tawananku."

Pemuda itu tertawa dan melanjutkan perjalanannya menuntun kuda yang ditunggangi gadis itu. Niken Darmini adalah seorang gadis yang cerdik. Tadinya ia merasa khawatir kalau-kalau Tejakasmala akan berbuat keji dan cabul pada dirinya. Hal ini membuatnya takut dan ngeri. Jauh lebih baik dibunuh daripada diperkosa! Akan tetapi melihat sikap dan kata-kata pemuda sakti dari Bali itu, mulai timbul harapannya bahwa ia tidak akan mengalami nasib mengerikan itu. Pemuda itu tidak bersikap kurang ajar, bahkan membiarkan ia naik kuda dan pemuda itu berjalan kaki sambil menuntun kuda. Kalau memang dia berniat kotor, tentu langsung saja ia diperkosa dan dihina. Ia pun mulai mengubah sikap dan tidak lagi mencaci maki seperti tadi.

Tiba-tiba terdengar derap kaki beberapa ekor kuda dan muncul lima orang perajurit Mataram. Mereka adalah lima di antara para perajurit yang melakukan perondaan di sekitar benteng Pasuruan untuk menyelidiki gerak-gerik musuh dan melakukan pembersihan kalau perlu.

"Berhenti dulu!" teriak mereka dari belakang, mengejar Tejakasmala yang menuntun kuda yang diduduki Niken Darmini. Ketika lima orang perajurit itu sudah berhadapan dengan Tejakasmala, mereka terkejut dan mengenal pemuda itu sebagai seorang di antara pimpinan pasukan Blambangan yang pernah menyerbu dan menduduki Pasuruan. Maka tanpa banyak cakap lagi, mereka berloncatan turun dari punggung kuda dan mengepung Tejakasmala yang sudah menjauhi kuda yang diduduki Niken Darmini sehingga yang dikepung hanya dia seorang. Tejakasmala tersenyum mengejek melihat lima orang perajurit Mataram yang mengepungnya itu.

"Meneyerahlah menjadi tawanan kami atau akan kami bunuh!" teriak seorang perajurit.

"Ha-ha, kalian berlima datang antar nyawa!" kata Tejakasmala.

Lima orang perajurit itu menyerang dengan pedang mereka, akan tetapi tubuh Tejakasmala bergerak cepat, berkelebatan dan lima orang perajurit itu hanya mampu mengeluarkan satu kali teriakan lalu roboh. Melihat lima orang lawannya roboh tewas, Tejakasmala tertawa, lalu dia mengambil seekor kuda terbaik dan ditungganginya sambil menuntun kendali kuda yang ditunggangi Niken Darmini.

Dia sama sekali tidak mengira bahwa seorang di antara lima orang perajurit itu belum tewas, hanya pingsan dan terluka pundaknya saja. Tadi dia menggunakan jari-jari tangannya untuk menampar dan mencengkeram. Empat orang terkena cengkeraman atau tamparan di bagian kepala sehingga tewas seketika. Akan tetapi yang seorang lagi meleset dan pundaknya yang teluka. Karena orang itu pun roboh seketika pingsan, Tejakasmala mengira semua lawan itu tewas dan dia melanjutkan pejalanannya.

Melihat Tejakasmala merobohkan lima orang perajurit tadi, Niken Darmini memandang dan merasa kagum. Pemuda itu memang benar-benar sakti dan gagah. Bahkan wajahnya pun tampan, tubuhnya tegap dan sikapnya pun tidak kasar, membayangkan bahwa dia seorang pemuda bersusila. Tidak kalah tampan atau gagahnya dibandingkan Bagus Sajiwo. Akan tetapi bedanya, kalau Tejakasmala dalam sikap dan gayanya mengandung kecongkakan dan kekerasan, sebaliknya Bagus Sajiwo seutuhnya membayangkan kesabaran dan kelembutan yang mendatangkan perasaan damai tenteram di hatinya selama ini.

"Tejakasmala, kemanakah engkau hendak membawaku?" tiba-tiba Niken Darmini bertanya setelah beberapa lamanya mereka menunggang kuda berdampingan dan kendali kuda Niken Darmini dipegang pemuda itu.

Pemuda yang tadinya seperti melamun itu menoleh dan tersenyum. Dia tidak mengira gadis itu dapat bicara baik-baik, tanpa mengandung makian dan kemarahan.

Aku adalah seorang yang dipercaya menjadi utusan kerajaan Klungkung untuk memimpin pasukan dan membantu Blambangan menghadapi Mataram. Karena engkau membela musuh Blambangan, maka engkau kutawan dan akan kuhadapkan kepada Sang Adipati Blambangan yang akan memberi keputusan mengenai dirimu."

Mendengar jawaban itu, Niken Darmini termenung. Setelah beberapa lamanya, ia bertanya, kini suaranya mengandung penasaran.

"Tejakasmala, aku menyerangmu karena engkau telah membunuh guruku! Mengapa engkau membunuh guruku?"

"Mengapa aku membunuh gurumu? Aku tidak membunuh gurumu. Gurumu tewas dalam sebuah pertempuran. Dalam pertempuran antara kadipaten tidak ada siapa membunuh siapa. Adanya hanya pertempuran yang mengakibatkan luka atau kematian. Semua peristiwa yang terjadi tidak terlepas dari rangkaian karma, Niken Darmini. Ada akibat tentu ada sebabnya. Si sebab juga merupakan akibat dari sebab sebelumnya. Si akibat juga akan menjadi sebab yang menelurkan akibat lain. Mengapa gurumu membantu Driya Pawitra? Mengapa Driya Pawitra tidak mau bekerja sama dengan Blambangan? Mengapa aku berada di sini membantu Blambangan? Semua pertanyaan itu pasti ada jawabannya atau sebab dan alasannya. Kalau ditelusuri terus, pertanyaan terakhir mungkin begini : Mengapa aku dihidupkan di dunia ini? Yang jelas, aku hanya melaksanakan tugasku sebagai utusan raja di Klungkung untuk membantu Blambangan."

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan nada serius itu, Niken Darmini termenung. Memang, tidak dapat disangkal kebenaran kata-kata Tejakasmala pemuda Bali ini. Segala peristiwa dapat dipertanyakan. mengapa Blambangan memusuhi Mataram dan sebagainya. Dan semua pertanyaan itu tentu mendapat jawaban dengan alasan masing-masing yang diyakini benar oleh yang menjawab. Siapa yang benar? Kalau kedua pihak yang saling bertentangan merasa diri sendiri benar, maka siapa sebetulnya yang benar? Apakah kebenaran itu?

"Hemm... antara Blambangan dan Mataram, siapakah yang benar dan siapa pula yang salah?"

Pertanyaan yang terucapkan ini merupakan gema dari suara hatinya sehingga terdengar oleh Tejakasmala yang merasa bahwa pertanyaan itu diajukan kepadanya. Tertegun juga Tejakasmala mendengar pertanyaan ini. Bagi dia yang bertugas membantu Blambangan, tentu saja Blambangan yang benar dan Mataram yang salah. Akan tetapi bagi orang-orang Mataram dan mereka yang membela Mataram, tentu saja Mataram yang benar dan Blambangan yang salah.

"Menurut pendapatku, keduanya itu benar karena masing-masing tentu membenarkan diri sendiri. Akan tetapi di samping benar, mereka juga salah karena mereka saling menyalahkan.

"Mendengar jawaban itu, Niken Darmini menjadi bingung, akan tetapi ucapan pemuda itu pun tidak dapat dibantah. Biarpun demikian, tetap saja jawaban itu belum memberi penjelasan kepadanya tentang apa itu kebenaran. Tiba-tiba ia teringat kepada Bagus Sajiwo. Kalau Bagus berada di situ, mungkin sekali Bagus akan mampu menjawab dan memeberi penjelasan seperti biasa. Akan tetapi ia benci Bagus! Kalau dulu, ketika ia masih menyamar sebagai Joko Darmono, ia cinta setengah mati kepada Bagus Sajiwo, kini ia berbalik merasa benci setengah mati kepada pemuda itu! Cinta benci, cinta benci... beginilah sifat perasaan yang dikemudikan nafsu.

Cinta nafsu sama saja dengan ulah nafsu yang lain, mementingkan diri sendiri, mencari kesenangan diri sendiri. Cinta nafsu selalu menuntut imbalan segala macam keinginan untuk menyenangkan diri sendiri. Ingin memiliki yang dicinta, ingin menguasai, ingin memperoleh kesenangan, kenikmatan, kepuasan dari yang dicinta. Karena itu, begitu yang dicinta itu tidak memberi kesenangan, bahkan mendatangkan kekecewaan, cinta berubah menjadi benci!

Cinta Sejati adalah Cinta Illahi, adanya hanya memberi dan memberi, tanpa pamrih bagi dirinya sendiri, tanpa keinginan memperoleh imbalan atau balasan. Rela, ikhlas, sabar, mengalah karena merasa bahwa dirinya hanya merupakan alat penyalur Cinta Illahi. Mampukah kita mencinta seperti itu? Tanpa adanya penguasaan nafsu atas cinta kita?

Manusia tidak dapat terbebas dari nafsu yang memang menjadi peserta kita, sehingga tidak ada manusia yang sempurna kebersihannya. Manusia condong mengandung dosa, condong dikuasai nafsu-nafsunya. Hanya Kekuasaan Gusti Allah yang mampu menyingkirkan kekuasaan nafsu atas rohani dan jasmani manusia.

Akan tetapi kalau kita menyadari akan hal ini dan dapat melihat jelas betapa kotornya cinta yang kita agung-agungkan itu, setidaknya hal itu akan dapat mengurangi pengaruh nafsu atas diri kita. membuat kita merasa demikian lemah dan bodoh sehingga kita mau bertekuk lutut berserah diri kepada Gusti Allah, mohon pengampunan dan bimbingannya.


"Tejakasmala, engkau hendak menyerahkan aku kepada Adipati Blambangan agar aku dihukum mati? aku tidak takut mati, aku hanya ingin tahu apa yang menjadi kehendakmu."

"Tidak, Niken Darmini, kukira tidak! Yang sudah pasti, sang Adipati Blambangan, kami semua, akan senang sekali kalau engkau mau bekerja sama membantu Blambangan menghadapi Mataram. Bagaimanapun juga, engkau adalah kawula Blambangan sehingga sudah sepatutnya kalau engkau membela Blambangan."

Hening sejenak. Ucapan pemuda itu menjadi bahan petimbangan dalam hati Niken Darmini. Sebetulnya, ia tidak peduli akan permusuhan antara Blambangan dan Mataram. Ia tidak ingin membantu salah satu pihak. Akan tetapi ia telah bermusuhan dengan orang-orang pendukung Blambangan karena ia membela perguruan Driya Pawitra. Ini pun karena ia terbawa oleh Bagus Sajiwo. Dahulu, demi Bagus Sajiwo ia mau berbuat apa saja, kalau perlu ia siap pula diajak membantu Mataram. Akan tetapi sekarang, setelah ia merasa dikhianati Bagus Sajiwo yang bermain gila dengan Ratna Manohara, ia mendapat kesempatan melampiaskan kebenciannya terhadap Bagus Sajiwo dengan memusuhi Mataram dan membantu Blambangan!

"Bagaimana mungkin kalian menginginkan aku membantu Blambangan kalau sekarang aku kalian anggap musuh?"

"Kami tidak menganggap engkau sebagai musuh, Niken. Engkau hanya terlibat membantu Driya Pawitra, belum membantu Mataram dan belum memusuhi Blambangan secara pribadi."

"Huh, kalau bukan dianggap musuh, mengapa aku diikat seperti ini?"

Tejakasmala cepat menghentikan kudanya, melompat turun dan menghampiri gadis yang duduk di atas kuda dengan kaki tangan terbelenggu itu.

"Niken, kalau tadi aku membelenggumu, karena engkau bersikap memusuhi aku dan menyerangku. Sungguh mati, aku sama sekali tidak bermusuhan dengan gurumu dan tidak berniat membunuh gurumu. Kami terlibat pertempuran dan ia terluka dan tewas. Di antara kita sebetulnya tidak ada permusuhan. Apakah sekarang engkau tidak lagi memusuhi aku dan mau menghadap Adipati Blambangan secara sukarela? Aku yang menanggung bahwa engkau tidak akan dimusuhi. Kalau engkau bersedia, aku akan membuka belenggumu."

"Baiklah, sekarang aku melihat bahwa engkau dengan sengaja membunuh guruku. menang atau kalah, selamat atau tewas dalam pertempuran merupakan hal yang wajar."

Dengan wajah berseri Tejakasmala lalu membuka ikatan kedua tangan dan kaki gadis itu. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan berkuda menuju ke kota Kadipaten Blambangan. Niken Darmini yang merasa sakit hati dan menaruh dendam kebencian kepada Ratna Manohara dan Bagus Sajiwo, mengambil keputusan untuk membantu Blambangan memusihi Mataram sebagai pelampiasan dendamnya.

Benar seperti telah dijanjikan Tejakasmala, ketika mereka tiba di istana Kadipaten Bambangan dan Adipati Santa Guna Alit mendengar laporan Tejakasmala bahwa Niken Darmini bersedia membantu Blambangan menghadapi Mataram, gadis itu diterima dengan ramah dan gembira oleh Sang Adipati dan para tokoh dan sekutunya. Terutama sekali Dhirasani, saudara kembar tertua putera Sang Adipati yang memang telah jatuh hati kepada Niken Darmini sejak pertemuan pertama kali.

Dia merasa girang sekali bertemu kembali dengan Niken Darmini, apalagi sekarang gadis yang membuatnya tergila-gila sejak semula itu telah mau bekerja sama dan membantu Blambangan menghadapi Mataram. Dhirasani bersikap baik sekali, ramah, manis budi, penuh perhatian terhadap Niken Darmini sehingga gadis ini tidak merasa canggung dan mulai merasa suka sekali berada di istana Kadipaten Blambangan. Apalagi sikap sang Adipati Santa Guna Alit dan isterinya juga ramah, seolah orang tua itu setuju dengan pilihan hati putera kembarnya yang tertua itu.

Niken Darmini adalah seorang gadis yang sejak kecil dipelihara dan dididik Nini Kuntigarba, seorang datuk wanita yang berwatak aneh dan keras. Biarpun ia telah mewarisi aji kesaktian yang cukup tinggi, namun Niken Darmini adalah seorang gadis biasa, seorang wanita yang tiada bedanya dengan wanita pada umumnya. Gadis dewasa yang sudah sewajarnya mulai tertarik kepada pria. Ada beberapa kelemahan umum terdapat pula pada diri Niken Darmini sebagai seorang gadis dewasa.

Pertama, ia lebih condong mengikuti perasaannya daripada penalaran pikirannya sehingga ia mudah saja mengambil keputusan membantu Blambangan karena perasaannya terpengaruh bujukan Tejakasmala kemudian diperkuat oleh sikap Sang Adupati Blambangan yang baik kepadanya, terutama sekali sikap Dhirasani.

Ke dua, ia memiliki kelemahan seperti pada wanita umumnya, yaitu suka akan rayuan yang memujinya, mudah terpikat sikap laki-laki yang ramah dan menghargainya, ingin melihat bahwa ia disayang dan dicinta, ingin diperhatikan dan dimanja, ingin melihat bahwa ia disayang dan dicinta, ingin diperhatikan dan dimanja. Wajah tampan memiliki daya tarik baginya, namun yang lebih kuat menarik hatinya adalah sikap yang baik, ramah, menyayang dan mengalah dari pria.

Dan Dhirasani yang tergila-gila kepadanya memenuhi semua daya tarik ini. Tidaklah mengherankan kalau Niken Darmini mudah jatuh hati kepada Dhirasani dan melupakan pria-pria yang pernah menarik hatinya seperti Bagus Sajiwo dan yang terakhir Tejakasmala. Apalagi Bagus Sajiwo sudah membuat ia kecewa, cemburu, dan benci. Tejakasmala memang seorang pemuda yang menarik pula, akan tetapi sikapnya angkuh dan tidak pandai merayu seperti Dhirasani. Dhirasani lebih unggul kalau dibandingkan dengan yang lain.

Pemuda ini, biarpun tidak sesakti Tejakasmala atau Bagus Sajiwo, namun juga bukan pemuda sembarangan. Dia masih adik seperguruan Tejakasmala, murid Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung, Bali. Selain wajahnya tampan dan masih muda, juga Dhiarasani adalah putera Adipati Blambangan, seorang pangeran yang kelak akan menggantikan ayahnya menjadi adipati. Kaya raya dan dihormati semua orang.

Hubungan antara Niken Darmini dan Dhirasani menjadi semakin akrab. Kalau tadinya Niken Darmini masih bingung setiap kali bertemu Dhirasanu yang memang serupa benar dengan kakaknya, namun setelah berada di istana Kadipaten Blambangan selama kurang lebih satu bulan saja ia sudah dapat membedakan antara dua orang saudara kembar itu. Sinar mata dan senyum mereka yang membedakan. Dhirasani berwatak gembira, mudah tersenyum cerah dan sinar matanya jenaka. Sebaliknya Dhirasanu sang adik kembar, wataknya pendiam dan pandang matanya serius. Hanya dalam keadaan gembira sekali maka dia serupa benar dengan kakaknya karena senyum dan sinar mata mereka pada waktu demikian tak dapt dibedakan.

********************

Maya Dewi merasa heran ketika ia melakukan pengejaran sampai memasuki daerah Blambangan ia mendengar keterangan dari orang-orang di perjalanan akan keadaan gadis yang menurut perajurit tadi diculik seorang pemuda. Mula-mula mereka memang melihat seorang gadis terikat di atas punggung seekor kuda yang didudukinya, dituntun seorang pemuda yang juga menunggang kuda. Akan tetapi setelah ia mengejar terus, ia mendengar keterangan lain dari orang-orang yang melihat gadis dan pemuda itu.

Menurut mereka, gadis itu menunggang kuda dan sama sekali tidak dibelenggu, melainkan berdampingan dengan seorang pemuda tampan yang juga menunggang kuda. bahkan tampaknya mereka akrab. Mendengar keterangan ini, Maya Dewi menghentikan niatnya untuk melakukan pengejaran dan pencarian terhadap gadis yang diculik orang seperti yang ia dengar dari perajurit yang terluka di tepi jalan itu. Ia tidak tahu siapa gadis itu, siapa pula penculiknya dan apa urusan yang terjadi di antara mereka. Ia melakukan pengejaran hanya karena mendengar ada gadis diculik orang, dengan niat untuk menolong gadis itu.

Akan tetapi keterangan terakhir yang ia dapatkan mengatakan bahwa gadis dan pemuda itu telah bergaul akrab, tidak ada tanda sama sekali bahwa gadis itu diculik atau dibawa dengan paksa. Ia akan mendapat malu sendiri kalau nanti dapat menyusul mereka dan melihat bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka! Akan tetapi karena ia sudah berada di daerah Blambangan, ia teringat akan berita yang didengarnya dalam perjalanannya. Ia mendengar bahwa pasukan Blambangan telah menyerbu dan menduduki Pasuruan.

Akan tetapi tak lama kemudian pasukan Mataram telah berhasil merebutnya kembali. Ia mendengar pula bahwa Blambangan diperkuat oleh bantuan dari pasukan Bali dan Madura. Dan yang membuat ia tak senang adalah ketika ia mendengar bahwa Blambangan juga dibantu oleh Kumpeni Belanda yang memberi banyak senjata api. Ia harus membantu Mataram, demi menebus kesalahannya yang sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Mataram di masa lalu. Ia akan menyelidiki pihak Belanda yang berada di Blambangan, mencegah mereka memberi bantuan selanjutnya.

Setelah mengambil keputusan dengan cara itu ia akan membantu Mataram. Maya Dewi lalu pergi menuju pantai Blambangan dan ia pun berjalan menyusuri pantai karena ia tahu bahwa biasanya, untuk membantu suatu daerah yang menentang Mataram, pihak Kumpeni Belanda tentu menggunakan kapal sehingga dengan leluasa mereka dapat mendatangi daerah itu tanpa banyak gangguan seperti kalau melakukan perjalanan darat. Juga mereka mengandalkan keampuhan kapal mereka yang diperlengkapi dengan meriam-meriam, dan awak kapal dipersenjatai senjata-senjata api.

Setelah berhari-hari ia melakukan perjalanan menyusuri pantai dan bertemu dengan nelayan yang tinggal di dusun-dusun pantai, ia mendapat petunjuk di mana adanya kapal-kapal Belanda yang tampak dari pantai. Karena pantai itu penuh dengan batu karang, maka kapal tidak berani mendekat pantai dan awak kapal yang ingin ke pantai menggunakan perahu-perahu kecil. Setelah mendapat keterangan itu, Maya Dewi cepat menuju ke pantai yang dimaksudkan nelayan itu.

Pada suatu pagi yang cerah, ketika matahari mulai melukis jalur kemerahan di atas permukaan laut yang airnya tenang, Maya Dewi tiba di pantai dari mana tampak sebuah kapal Belanda berlabuh agak jauh dari pantai. Pantai itu sunyi saja, tak tampak seorang pun manusia. Juga tidak ada perahu nelayan seperti dipantai-pantai lain. Biasanya, para nelayan memang merasa takut kalau ada kapal Belanda. Mereka takut dicurigai dan para serdadu Belanda itu kalau merasa curiga lalu main tangkap, siksa, bahkan bunuh!

Tiba-tiba Maya Dewi melihat sebuah perahu kecil meluncur ke arah pantai. Agaknya perahu itu datang dari kapal dan perahu itu didayung dua orang. Di tengah perahu tampak duduk dua orang lagi. Maya Dewi menyelinap dan bersembunyi di balik batu besar yang terdapat di tepi pantai. Setelah perahu itu tiba dekat pantai, dari tempat ia mengintai. Maya Dewi dapat melihat jelas bahwa dua orang yang mendayung itu adalah anak buah kapal dan yang seorang lagi seorang opsir. Akan tetapi yang seorang lagi berpakaian jubah longgar, bukan serdadu.

Mereka berempat adalah orang-orang kulit putih dan Maya Dewi yang sudah hafal akan pakaian para anggota pasukan Kumpeni Belanda mengenal bahwa yang tiga orang adalah seorang perwira dan dua orang perajurit Kumpeni Belanda yang bertugas menjadi anak buah kapal. Setelah perahu itu mendarat, ia merasa heran bukan main melihat bahwa perwira Belanda itu memegang sebuah pistol yang ditodongkan ke arah orang kulit putih berpakaian jubah longgar itu. Agaknya orang itu ditawan!

Kalau yang ditodong adalah seorang Jawa, ia tidak akan merasa heran. Akan tetepi kini yang ditodong adalah seorang Belanda, sedangkan penodongnya seorang perwira Belanda pula! Maya Dewi memandang penuh perhatian kepada orang yang ditodong itu. Dia seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Rambutnya kelabu dan Maya Dewi sejak dahulu memang tidak pernah mengerti apakah kelabu itu memang warna rambutnya ataukah rambut hitam bercampur uban. Kulit muka laki-laki itu merah dan berseri tanda sehat dan anehnya, sikapnya begitu santai dan tenang, sama sekali tidak tampak takut menghadapi moncong senjata api yang ditodongkan ke arahnya sejak mereka berada di perahu tadi.

Sepasang mata yang kebiruan itu bersinar terang, mulutnya mengandung senyum penuh kesabaran. Wajah yang tampan. Tubuhnya tinggi agak kurus dan pakaiannya agak kusut. Setelah perahu menempel di pantai, perwira Belanda itu bangkit dan menghardik tawanannya dalam bahasa Belanda yang tidak dimengerti artinya oleh Maya Dewi. Akan tetapi melihat orang itu bangkit lalu melangkah keluar dari perahu dalam keadaan tetap ditodong, ia dapat menduga bahwa hardikan itu adalah perintah agar orang itu keluar dari perahu.

Dua orang perajurit yang mendayung perahu tetap berada di perahu, memandang ke arah perwira dan tawanannya itu sambil tersenyum mengejek. Mereka lalu mengeluarkan rokok dengan santai. Sementara itu, si perwira menggunakan ujung senjata apinya untuk mendorong tawanannya agar maju lebih jauh dari air. Tanpa mereka ketahui, mereka kini mendekati batu besar di balik mana Maya Dewi mengintai. Perwira dan tawanannya itu berhenti melangkah dan mereka lalu bicara dalam bahasa Belanda. Maya Dwi tidak mengerti, akan tetapi dari suara dan sikap mereka saja ia tahu bahwa opsir yang membentak-bentak itu marah-marah, sedangkan tawanannya itu bicara dengan tenang dan sabar.

Tiba-tiba perwira itu membentak dan tawanannya menghela napas, mengangkat kedua pundaknya lalu berbalik membelakangi opsir itu, menjatuhkan diri berdiri di atas pasir, menengadah dan membentangkan kedua lengan ke atas, lalu berkata-kata dalam bahasa Belanda. Maya Dewi dapat merasakan getaran penuh perasaan terkandung dalam suara orang itu dan biarpun ia tidak mengerti artinya, ia dapat menduga bahwa orang itu agaknya sedang berdoa!

Tiba-tiba Maya Dewi menggerakkan tangan kanan yang sejak tadi sudah menggenggam sebuah batu karena memang ia sudah berniat untuk menolong orang yang ditodong sungguhpun ia tidak tahu urusannya. Begitu melihat perwira Belanda itu mengangkat pistolnya dan siap menembak orang itu dari belakang, Maya Dewi menyambitkan batu itu ke arah tangan yang memegang pistol itu.

"Syuuuutttt... darrr!" Pistol itu meledak ke arah atas sebelum terlepas dari tangan pemegangnya dan perwira Belanda itu menyumpah-nyumpah dalam bahasa Belanda sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah dengan tangan kiri.

Maya Dewi yang ingin melindungi laki-laki Belanda yang hendak dibunuh tadi sudah melompat keluar dari balik batu besar. Sementara itu, dua orang perajurit yang berada di perahu kecil, melihat peristiwa itu terkejut dan marah sekali. Mereka tidak membawa senjata api, akan tetapi di pinggang mereka tergantung pedang. Mereka cepat keluar dari perahu, mencabut pedang dan lari menghampiri perwira yang masih kesakitan itu. Perwira itu memberi perintah dalam bahasa Belanda dan dua orang serdadu itu lalu lari menghampiri Maya Dewi dan langsung saja menyerang dengan pedang mereka.

Tawanan yang berdoa tadi berteriak-teriak. agaknya melarang, namun dua orang serdadu itu tidak peduli dan sudah menyerang kalang kabut, pedang mereka menyambar-nyambar ke arah tubuh Maya Dewi. Akan tetapi Maya Dewi yang memang merasa tidak suka kepada bangsa Belanda karena ia tahu benar betapa liciknya Kumpeni Belanda mengadu domba bangsa pribumi dan berambisi besar untuk menguasai seluruh nusa, menyambut dengan gerakan cepat.

Tubuhnya berkelebatan seperti berubah menjadi bayang-bayang dan tahu-tahu dua orang perajurit itu berteriak dan roboh dengan pangkal lengan berdarah-darah, terluka oleh pedang-pedang mereka sendiri yang telah berpindah ke tangan Maya Dewi! Perwira itu terkejut dan marah sekali. Dia lari ke arah pistolnya yang tadi terlempar ke atas tanah. Maksudnya untuk mengambil senjata api itu. Akan tetapi bayangan Maya Dewi berkelebat mendahuluinya, lalu menyambar pistol itu dan membuangnya jauh sekali ke tengah lautan!

Perwira Belanda itu menjadi semakin marah. Agaknya saking marahnya dia melupakan tangan kanannya yang terluka karena sambaran batu yang dilemparkan Maya Dewi tadi. Dia mencabut pedangnya lalu menyerang dengan ganas. Perwira ini bertubuh tinggi besar dan tentu memiliki tenaga besar. Akan tetapi, gerakan perwira itu bagi Maya Dewi terlalu lamban sehingga dengan mudah ia mengelak ke kiri lalu tangannya membuat gerakan membacok ke arah pundak kanan lawan.

"Wuuuttt... krekkk!" Perwira itu berseru kesakitan dan tubuhnya terhuyung dan roboh dekat robohnya dua orang anak buahnya, mengerang dan tidak mampu bangkit kembali. Maya Dewi yang masih memegang pedang rampasan dengan tangan kirinya menghampiri mereka. Tiga orang Belanda itu adalah musuh Mataram dan ia juga mempunyai dendam pribadi dengan Kumpeni Belanda. Maka timbul niatnya untuk membunuhnya saja tiga orang ini sebagai bukti pembelaannya kepada Mataram.

"Nona, harap jangan bunuh mereka! Jangan melakuan dosa yang demikian besar. semoga Tuhan mengampunimu!"

Maya Dewi terkejut dan membatalkan niatnya. Ia membuang pedang itu dan menoleh kepada orang Belanda yang tadi hendak dibunuh perwira itu. Orang itu tersenyum kepadanya, bangkit berdiri lalu menghampirinya, lalu mengangkat tangan kanan ke atas.

"Syukur engkau tidak melanjutkan niatmu membunuh mereka, Nona. Semoga Tuhan memberkatimu!"

Setelah berkata demikian, dia cepat menghampiri tiga orang itu, berjongkok memeriksa mereka dan.... dengan ramah dan lembut orang itu lalu memberi pertolongan kepada mereka bertiga. Ia menurunkan sebuah tas gendong dari punggungnya lalu mengeluarkan alat-alat pengobatan sepeerti sebotol bubuk putih, kapas, kain pembalut dan lain-lain. kemudian, tanpa berkata apa pun dia merawat mereka yang terluka, mencuci luka dengan cairan dari botol, lalu memberi obat bubuk dan membalutnya dengan kapas dan kain pembalut putih. Bukan hanya Maya dewi yang memandang dengan bengong, bahkan tiga orang itu pun tampak terheran-heran.

"Vader (bapak, sebutan pendeta), mengapa engkau begini baik kepada kami? Kami hendak membunuhmu dan engkau..." kata perwira itu.

"Sssttt, Boeder (Saudara), jangan banyak bicara dan bergerak. Lukamu cukup parah. Engkau cepat kembalilah ke kapal dan beristirahatlah." kata laki-laki itu dengan senyum ramah.

"Akan tetapi, Vader Van Huisen.... (Bapak Van Huisen), kalau engkau kelak melapor kepada atasan, kami bertiga tentu akan celaka..." kata pula perwira itu.

Pendeta Van Huisen itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Tidak, jangan khawatir. Aku akan melaksanakan tugasku seperti biasa dan melupakan semua peristiwa tadi."

"Akan tetapi, bagaimana kami harus menerangkan tentang keadaan kami yang terluka ini?" perwira itu berkata pula dengan wajah agak pucat dan tampak gelisah.

"Ceritakan sesukamu, Kopral...!"

Kemelut Blambangan Jilid 19

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Kemelut Blambangan

Jilid 19

MENDENGAR ini, semua orang terdiam dan mengerutkan alis, menyadari kebenaran kekhawatiran wanita sakti itu. Parmadi lalu berkata dengan sikap hormat kepada sang Adipati Pasuruan.

"Maaf, Kanjeng Adipati, kalau menurut pendapat hamba, semestinya sejak lama kita minta bantuan pasukan dari Mataram untuk memperkuat pertahanan di sini." Sang Adipati menghela napas panjang.

"Seharusnya begitu. Hal ini baru kami sadari sekarang. Tadinya kami terlalu memandang rendah gerakan Kadipaten Blambangan yang memberontak. Kekuatan Blambangan tidaklah berapa besar. Akan tetapi, ternyata mereka dibantu pasukan yang amat kuat dan banyak dari Bali dan Madura. Juga mereka mempunyai senjata api. Akan tetapi ketika pasukan kita terpaksa ditarik mundur ke dalam kota, kami sudah mengirim utusan untuk memberi laporan dan mohon bantuan dari Gusti Sultan di Mataram."

"Semestinya utusanitu sudah kembali bersama bala bantuan," kata Senopati Aryo.

"Akan tetapi mengapa belum juga kembali dan tidak ada kabar dari Mataram."

"Hemm, saya tahu bahwa banyak orang yang tangguh dan berbahaya membantu Blambangan dan mereka disebar dimana-mana. Siapa tahu utusan itu mereka hadang sehingga tidak dapat mengirim laporan dan minta bantuan?" kata Muryani.

"Wah, itu mungkin juga!" Seru Sang Adipati.

"Celakalah kalau terjadi begitu!" Kembali semua orang dicekam kegelisahan membayangkan kemungkinan ini.

Parmadi lalu berkata, "Hamba kira lebih baik kalau sekarang kita kirim lagi beberapa orang utusan untuk menyusulkan pelaporan dan permohonan bala bantuan, kalau-kalau utusan pertama menemui kegagalan."

"Akan tetapi, Anakmas Parmadi, bagaimana mungkin menyelundupkan utusan keluar dari kepungan yang demikian ketat? Utusan itu pasti akan tertangkap dan usaha kita itu akan sia-sia saja." kata seorang senopati tua lain.

"Benar itu! Bagaimana utusan baru dapat diselundupkan keluar kepungan?" Sang Adipati menyambung.

"Begini, Kanjeng Adipati. Biarlah hamba bersama isteri hamba yang menjadi utusan. Kami berdua akan menyusup keluar dari kepungan dan langsung menuju ke kota raja Mataram untuk mohon bantuan."

Para senopati menangguk-angguk menyetujui, akan tetapi sang Adipati menggeleng kepala kuat-kuat dan menggoyang tangan kanannya. "Tidak, hal itu tidak tepat! Andika berdua dibutuhkan di sini untuk memperkuat pertahanan kita! Harus diatur agar orang-orang lain saja yang menjadi utusan! Kalian berdua harus memperkuat pertahanan!"

"Akan tetapi bagaimana caranya...?" Semua orang bertanya-tanya dengan bingung.

"Saya mengetahui cara itu!" Tiba-tiba Muryani berkata lantang. "Sekarang sudah senja, sebentar lagi malam tiba dan malam ini tidak ada bulan. Dalam kegelapan malam ini kita dapat menyelundupkan beberapa orang utusan untuk keluar. Saya dan suami saya, dibantu beberapa orang yang memiliki keberanian dan memiliki kedigdayaan, akan keluar di malam gelap dan mengamuk, membuat keributan, menyerang musuh yang berada di luar. Nah, dalam keributan itu para utusan diselundupkan keluar benteng dan mengingat bahwa pihak musuh terdiri dari orang-orang Blambangan, Bali, dan Madura, maka hal ini akan memudahkan para utusan untuk membaur di antara mereka tanpa dicurigai atau diketahui. Para utusan dipilih mereka yang pandai menyamar sebagai orang Bali atau Madura. bagaimana pendapat Andika sekalian?"

"Plakk!" Sang Adipati menepuk meja di depannya dan wajahnya berseri.

"Wah, bagus sekali siasat itu! Kakang Senopati Aryo, cepat laksanakan siasat Mas Ajeng Muryani itu!"

Para senopati dan jagabaya yang hadir juga merasa kagum dan mereka lalu mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan penyelundupan para utusan itu. Pertama-tama, mereka memilih dua orang yang penah lama tinggal di Madura sehingga dapat menyamar sebagai orang Madura dengan baik, dan dua orang yang dapat menyamar sebagai orang Bali dengan baik. Mereka termasuk perajurit-perajurit setengah tua yang setia dan memiliki kecerdikan dan kedigdayaan.

Malam hari itu, tepat seperti dikatakan Muryani tadi, langit tidak dihias bulan. Dan agaknya alam membantu usaha itu karena bintang-bintang terhalang mendung hitam sehingga malam itu gelap gulita. Dalam keadaan gelap seperti itu, tentu saja pasukan Blambangan tidak melakukan serangan, bahkan mereka agak mundur, menjauhi dinding kota untuk menjaga agar tidak mendapat serangan gelap yang mendadak.

Akan tetapi, biarpun agak mundur, mereka tetap melakukan pengepungan ketat sehingga biarpun orang dapat keluar dari pintu gerbang, dia tidak akan mampu keluar dari kepungan itu. Setelah semua dipersiapkan, Parmadi dan Muryani, diikuti lima orang senopati yang memiliki aji kanuragan yang cukup tangguh, keluar dari pintu gerbang. Mereka bertujuh langsung lari ke depan dan ketika bertemu dengan perajurit-perajurit musuh yang berjaga di lapisan terdepan, mereka lalu mengamuk.

Tentu saja keadaan menjadi gempar. Para perajurit musuh menyalakan obor dan tujuh orang itu segera dikeroyok. Mereka mengamuk dan sebentar saja belasan orang peajurit musuh roboh terkena pukulan atau hantaman senjata tujuh orang itu. Ketika para senopati Blambangan mulai berdatangan terdengarlah kentungan dari dalam benteng Pasuruan. Itulah isyarat bahwa empat orang utusan yang diselundupkan sudah keluar dan dengan mudah, dalam keadaan kacau itu mereka berempat dapat membaur dan pura-pura hendak ikut mengeroyok tujuh orang pengacau itu.

Mendengar ini, Parmadi membentak nyaring. Para pengeroyok berpelantingan dan bentakan itu pun merupakan isyarat bagi Muryani dan lima orang senopati untuk berlari kembali ke pintu gapura yang segera ditutup kembali setelah tujuh orang itu menyelinap masuk. Siasat itu berhasil dengan baik dan hanya ada seorang senopati yang terluka ketika terjadi pengeroyokan, luka ringan di pundaknya karena terkena bacokan golok para pengeroyok.

Siasat yang dilaksanakan atas usul Muryani dan Parmadi ini memang baik dan cerdik. Akan tetapi pihak Blambangan mempunyai banyak tokoh yang tidak kalah cerdiknya. Peristiwa malam itu membuat Tejakasmala dan Satyabrata menjadi curiga.

"Tidak mungkin orang-orang seperti Parmadi dan Muryani hanya keluar dari benteng sekadar mengamuk dan membuat kekacauan saja. Tentu ada maksud tertentu di balik perbuatan mereka itu." kata Satyabrata kepada Tejakasmala, didengarkan oleh Bhagawan Kalasrenggi.

"Dugaan itu benar sekali, raden Satyabrata" kata tejakasmala yang menghormati wakil Kumpeni Belanda ini karena dia sudah merasakan kesaktian orang setengah bule ini.

"Saya pun merasa curiga, tentu itu merupakan siasat, mungkin untuk memancing perhatian kita."

:Benar, Adi Tejakasmala. Aku mempunyai dugaan bahwa mungkin mereka menggunakan waktu terjadi keributan itu untuk menyelundupkan orang-orang keluar dari benteng dan menyusup di antara para perajurit kita. Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang bertugas mencari bala bantuan dari Mataram."

"Wah, kalau begitu gawat sekali! Kita harus mencegah mereka pergi mencari bantuan ke Mataram. Kita harus dapat menguasai Pasuruan sebelum bala tentara Mataram datang menyerang." kata Bhagawan Kalasrenggi.

"Jangan khawatir, Paman Bhagawan. Saya akan menyuruh dua orang pembantu saya, Cakrasakti dan Candrabaya untuk membawa seregu perajurit Bali pilihan untuk melakukan pengejaran dan membinasakan para utusan yang diselundupkan itu."

Demikianlah, malam itu juga, dua orang senopati Bali itu membawa dua losin perajurit Bali untuk melakukan pengejaran dan pencarian terhadap orang-orang yang diselundupkan keluar. Akhirnya, pada keesokan harinya, mereka dapat menemukan empat orang utusan Kadipaten Pasuruan itu. Empat orang itu melawan ketika hendak ditangkap dan akhirnya mereka berempat tewas dikeroyok dua losin perajurit Bali yang dipimpin oleh Cakrasakti dan Candrabaya.

Sang Adipati Pasuruan dan para pembantunya sama sekali tidak tahu bahwa utusannya yang kedua kali ini pun gagal dan terbunuh. Mereka hanya menanti sambil mempertahankan benteng kota Kadipaten Pasuruan dari serbuan yang setiap hari dilakukan musuh. Akan tetapi setiap hari mereka kehilangan banyak perajurit, apalagi ketika pihak musuh mulai mempergunakan meriam sumbangan Kumpeni Belanda.

Semua itu ditambah lagi dengan ransum yang mulai menipis dan semangat para perajurit menurun. Rakyat penduduk kota kadipaten itu juga mulai gelisah dan ketakutan sehingga suasana di kota itu mulai gempar dan panic. Parmadi dan Muryani berusaha untuk membangkitkan semangat para perajurit dengan contoh perlawanan mereka yang gigih. Pada suatu malam yang sunyi setelah siang tadi mereka mempertahankan kota dari serbuan msuh, para perajurit Pasuruan beristirahat. Hanya mereka yang mendapat giliran jaga saja yang tidak tidur.

Suasana sunyi dan malam itu bulan sepotong muncul seolah melayang diantara awan tipis sepotong-sepotong. Makin larut, malam itu semakin sunyi dan udaranya amat dingin. Sekitar seratus orang perajurit yang mendapat giliran tugas berjaga pada malam itu berjalan hilir mudik melakukan penjagaan di sekitar benteng merasakan kedinginan itu. Juga malam yang sunyi itu terasa lain daripada malam yang lain.

Mungkin karena banyaknya orang yang tewas dan terluka dalam pertempuran selama beberapa hari ini mendatangkan suasana yang menyeramkan. Ditambah lagi bau amis darah yang banyak tertumpah membasahi bumi. Burung-burung malam yang terbang lewat mengeluarkan bunyi seolah meratapi mereka yang tewas. Kutu-kutu walang atogo, segala macam jangkerik, belalang dan lain-lain agaknya merasa ngeri menyaksikan kekejaman manusia yang saling bantai, saling bunuh tanpa alasan pribadi, hanya sekadar menaati perintah atasan.

Seolah merasa ngeri dan takut, semua serangga yang biasanya setiap malam berdendang ria itu, kini diam sehingga suasana menjadi sunyi, sunyi yang mencekam dan menimbulkan perasaan ngeri dalam hati para penjaga. Angin malam berhembus perlahan, semilir membangkitkan bulu di lengan dan tengkuk.

"Kulik! Kulik! Uhu... uhu... uhuuu...!" Kelepak yang terdengar menunjukkan bahwa ada beberapa ekor burung malam terbang lalu smbil mengeluarkan suaranya yang menambah keseraman suasana.

Tiba-tiba datang angin bertiup kuat. Angin yang tadinya hanya semilir lembut, tiba-tiba menjadi kuat dan berpusing. Udara yang tadinya diterangi bulan sepotong tiba-tiba menjdi gelap dan ada awan atau asap hitam bergulung-gulung melayang ke dalam benteng. Kemudian, tiba-tiba terdengar kelepak banyak kelelawar dengan suaranya yang bercicit nyaring. Mereka yang berjaga di atas tembok benteng dan di gardu-gardu tempat penjagaan, terkejut karena tiba-tiba ratusan kelelawar menyambar-nyambar ke arah mereka sambil bercuitan nyaring!

Pada saat itu, di bagian bawah, para perajurit jaga juga terkejut dan merasa ngeri karena ada ratusan ekor ular menyerbu ke dalam benteng. Binatang-binatang itu mendesis-desis dan tercium bau amis! Dari sinar lampu-lampu gantung, dapat dilihat ular-ular itu sehingga para perajurit terkejut dan berlompatan. Dalam keadaan panik itu, terdengar suara auman singa yang menggetarkan seluruh benteng.

Dua bayangan manusia berkelebat dari dalam. Mereka adalah Parmadi dan Muryani yang sudah mendengar akan penyerangan aneh yang membuat para perajurit yang bertugas jaga menjadi panik ketakutan itu. Begitu keluar dari istana kadipaten di mana mereka mondok memenuhi permintaan Sang Adipati, suami isteri itu segera mengerti bahwa ada orang-orang ahli sihir mengadakan serangan melalui ilmu hitam ke arah para perajurit yang sedang bertugas jaga. Hal ini berbahaya sekali, maka keduanya segera berlompatan dan berlari cepat menuju ke pintu gerbang.

Begitu tiba di situ dan melihat ratusan kelelawar beterbangan menyambar-nyambar dan ratusan ekor ular mendesis-desis membuat para perajurit ketakutan, dan melihat pula awan gelap menyelimuti tempat itu disertai angin lesus (angin berpusing) dan mendengar auman singa, Parmadi cepat berkata kepada isterinya.

"Diajeng, usir kelelawar dan ular-ular itu. Aku akan mengusir awan, angin, dan suara itu!"

Muryani mengangguk dan tubuhnya berkelebat cepat ketika ia mengerahkan Aji Kluwung Sakti. Bagaikan seekor burung garuda ia menyambar-nyambar, didahului gulungan sinar pedangnya, mengamuk dan membacoki ular-ular yang menyerang dari bawah, juga kelelawar-kelelawar yang menyambar-nyambar dari atas. Parmadi naik ke atas menara yang dibangun di atas tembok benteng. Para perajurit yang tadinya berjaga di situ sudah lari turun semua sehingga menara itu kosong.

Dari tempat yang tinggi itu dia melihat jauh ke depan dan di dekat perkemahan pihak musuh dia melihat empat orang sedang duduk bersila dan dari empat orang itulah datangnya serangan sihir yang dahsyat itu. Memang penyerangan itu sengaja dilakukan sebagai siasat Blambangan untuk mengacaukan para penjaga benteng Pasuruan. Kalau para perajurit yang menjaga benteng sudah kacau dan panik, malam itu juga mereka akan menyerbu!

Yang mengirim ratusan ular itu adalah Ki Kaladhama dan pencipta kelelawar jadi-jadian itu adalah Ki Kalajana, dua orang murid Bhagawan Kalasrenggi. Bhagawan Kalasrenggi sendiri menyerang dengan ilmu sihirnya yang menyebabkan awan gelap dan angin lesus, sedangkan suara auman singa yang menggetarkan jantung itu adalah Aji Singabairawa yang dikeluarkan Tejakasmala.

Tiba-tiba terdengar suara seruling yang melengking-lengking, suara lembut namun mengandung getaran yang dapat menembus hawa sihir yang dahsyat karena tenaga empat orang disatukan untuk menyerang. Begitu terdengar alunan suara seruling yang melengking-lengking, serangan sihir itu semakin menghebat! Agaknya empat orang itu yang merasa ada kekuatan hebat menentang, memperkuat serangan mereka. Awan gelap semakin melebar dan menekan, angin lesus bergemuruh, dan auman singa itu semakin menggelegar.

Namun, makin lama suara seruling semakin nyaring dan perlahan-lahan awan hitam membuyar, angin lesus menyurut dan auman singa melemah. Juga ratusan kelelawar dan ular yang sudah dibuat kocar-kacir oleh amukan Muryani, kini surut. Yang terkena sambaran pedang lenyap menghilang dan kini sisanya melarikan diri. Tak lama kemudian suasana malam menjadi sunyi kembali dan dari atas menara, Parmadi melihat empat bayangan itu lenyap di antara perkemahan musuh.

"Sudah selesai, Kakangmas?" Muryani yang menyusul ke atas menara bertanya.

"Puji sukur kepada Gusti Allah, semua telah dapat diatasi, Diajeng. Mari kita beritahu para perajurit jaga agar mereka tenang kembali dan tidak takut."

Keduanya turun dari menara dan ternyata di bawah sudah berkumpul Senopati Aryo dan para senopati Pasuruan lainnya. Ketika tadi mereka mendengar laporan tentang serangan aneh itu, mereka berdatangan dan sempat mendengar suara suling yang menolak pengaruh sihir itu, juga melihat betapa Muryani mengusir ratusan kelelawar dan ular jadi-jadian.

"Ah, untung ada Anakmas Parmadi dan Mas Ajeng Muryani yang telah dapat menolak serangan itu!" kata Senopati Aryo memuji. Juga para senopati memandang kagum suami isteri itu.

"Paman Senopati, penyerangan itu dapat menjadi tanda bahwa mereka tentu akan melakukan serangan besar-besaran dan lebih dulu mereka hendak menimbulkan rasa takut kepada para perajurit. Keadaan sudah berbahaya sekali. Kita menunggu bala bantuan belum juga datang, sedangkan ransum sudah menipis dan semangat para perajurit menurun, terbukti tadi ketika terjadi serangan sihir mereka semua menjadi panik dan lari meninggalkan penjagaan mereka."

"Hemm, keadaannya memang demikian, Anakmas Parmadi. Karena itu, mulai malam ini penjagaan harus diperketat dan para perwira tidak boleh lengah. Harus secara bergilir melakukan pengawasan terhadap pasukan yang bertugas jaga." kata Senopati Aryo.

"Kami tahu bahwa pihak musuh mempunyai banyak ahli sihir dan orang-orang yang sakti mandraguna dan pandai mempergunakan ilmu hitam. Kalau saja para pendekar sakti yang setia kepada Mataram dapat berkumpul di sini, pasti kita dapat menanggulangi kekuatan musuh." kata Muryani yang teringat akan tokoh-tokoh yang dikenalnya dengan baik seperti Ki Tejomanik berdua Retno Susilo, Bagus Sajiwo, Lindu Aji berdua Sulastri, dan masih banyak lagi.

"Sebetulnya di sini terdapat seorang yang sakti mandraguna yang dapat memperkuat daya pertahanan kita." kata Senopati Aryo.

"Siapa dia, Paman Senopati?" tanya Parmadi.

"Siapa lagi kalau bukan Raden Wangsakartika..."

"Ah, dia...?" Parmadi dan Muryani berseru lirih dan kecewa.

Mereka berdua mengenal siapa yang dimaksudkan Senopati Aryo. Sejak kurang lebih setahun yang lalu, Raden Wangsakartika dibuang oleh Kerajaan Mataram karena laki-laki ini membuat banyak keonaran di Mataram. Dia dikenal sebagai seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu-nafsunya, bergaul dengan orang-orang sesat, mengejar kesenangan dengan berjudi, melacur, dan suka mabuk-mabukan. Juga dia suka mencari keonaran dan kerana dia memang sakti mandraguna, tidak ada yang berani menentangnya.

Memang dia belum dapat dibilang seorang penjahat, akan tetapi wataknya sungguh buruk dan suka mencari perkara. Kalau sudah mabuk pun dia amat sukar diatur, mengambil milik siapa saja kalau dia membutuhkan sesuatu. Hanya karena dia putera mendiang Pangeran Pringgalaya yang sudah banyak jasanya kepada Mataram, maka dia tidak dihukum oleh Sultan Agung, hanya dibuang atau diasingkan ke Pasuruan dengan harapan dia akan mengubah wataknya yang buruk.

Akan tetapi di Pasuruan dia masih tetap menjadi seorang pemabukan, penjudi, gila perempuan dan bergaul dengan orang-orang yang sesat dan tidak karuan. Tentu saja Parmadi dan Muryani tidak suka berkenalan dengan orang seperti itu, walaupun Raden Wangsakartika itu putera mendiang Pangeran Pringgalaya yang terkenal gagah perkasa dan berjasa besar bagi Mataram.

Ketika pasukan Blambangan dan sekutunya mengepung Kadipaten Pasuruan, Raden Wangsakartika juga tidak memperlihatkan diri. Dia tidak peduli dan tetap bersenang-senang, berjudi, mabuk-mabukan dan pelesir. Apa yang dikhawatirkan Parmadi dan Muryani akhirnya terjadi.

Pada suatu hari, saat fajar menyingsing, pasukan gabungan Blambangan menyerbu. Biarpun Senopati Aryo sudah siap siaga dan pasukannya melakukan perlawanan mati-matian, namun karena jumlah perajurit Blambangan jauh lebih besar, ditambah lagi semangat para perajurit Pasuruan yang menanti-nanti bala bantuan yang belum datang juga itu menjadi menurun dan lemah, maka setelah pertempuran yang hebat, akhirnya benteng itu dapat dibobol dan pasukan Blambangan menyerbu masuk kota kadipaten!

Parmadi dan Muryani tadinya mempertahankan benteng. Akan tetapi pihak musuh terlampau kuat sehingga akhirnya suami isteri ini mengerahkan tenaga mereka untuk melindungi Sang Adipati sekeluarga yang melarikan diri mengungsi lewat bagian belakang kota kadipaten. Juga bersama rombongan Sang Adipati, sisa pasukan mundur dan keluar dari Kadipaten Pasuruan, bersama sebagian besar rakyat yang lari mengungsi berbondong-bondong.

Para perajurit Blambangan dengan sekutu mereka dari bali dan Madura, mabuk kemenangan. Mereka menjarah rayah (merampok) kota Kadipaten Pasuruan, membunuh dan memperkosa wanita, kekejaman yang selalu dilakukan oleh mereka yang menang perang. Orang yang berlari paling akhir adalah Parmadi dan Muryani setelah mereka berdua berhasil mengawal Sang Adipati keluar dari kota. Mereka masih sempat melihat kekejaman yang terjadi di kota Kadipaten Pasuruan.

Tentu saja hati mereka terasa sakit dan sedih, akan tetapi mereka yang hanya berdua tidak mungkin dapat melawan ribuan orang perajurit gabungan Blambangan yang berpesta pora mabuk kemenangan itu. Pasukan Blambangan tidak melakukan pengejaran. Mereka lebih mementingkan penyusunan kekuatan di Pasuruan karena musuh utama mereka adalah Pasukan Mataram yang tentu akan datang melakukan pembalasan.

Adipati Pasuruan bersama pasukannya yang masih bersisa kurang lebih empat ribu orang, sebagian ada yang melarikan diri meninggalkan induk pasukannya, juga diikuti banyak penduduk Pasuruan yang melarikan diri, tiba di Wonokitri, sebuah perbukitan. Senopati Aryo memerintahkan pasukan membuat perkemahan darurat di tempat itu.

Dari para perajurit bagian penyelidik Sang Adipati mendapat keterangan bahwa setelah berhasil meloloskan diri dari kota Pasuruan yang telah diserbu dan diduduki pasukan Blambangan, ada beberapa orang perajurit yang bergegas menunggang kuda menuju ke Mataram untuk melaporkan keadaan dan minta bantuan. Maka diharapkan bala bantuan akan segera datang.

Pada suatu hari Parmadi dan Muryani berjalan-jalan di tempat daerah perbukitan Wonokitri yang dijadikan tempat perkemahan darrat, untuk meneliti kalau-kalau ada puhak musuh yang menyusup dan membikin kacau. hati mereka trenyuh (sedih terharu) melihat penduduk yang ikut lari mengungsi membawa keluarga dan anak-anak yang masih kecil, dalam keadaan sengsara karena yang dapat mereka bawa hanyalah benda-benda milik mereka yang kecil, dan sedikit pakaian. Wajah mereka sedih dan seperti kehilangan harapan.

Tiba-tiba, di bawah sebatang pohon Randu dekat serumpun bambu, mereka melihat seorang laki-laki sedang duduk bersandar batang pohon randu. Kedua lengannya memeluk lutut dan mukanya disembunyikan di antara kedua lutut yang diangkat dan pundaknya bergoyang-goyang. Laki-laki itu menangis! Menangis tanpa suara. suami isteri itu merasa heran. Laki-laki itu bukan perajurit, dan melihat pakaiannya yang cukup bagus, tentu dia bukan seorang peduduk yang miskin.

Tubuhnya tinggi besar, sebagian rambutnya sudah berwarna putih. Lengan yang merangkul kedua pundak itu pun besar berotot dan lehernya serta pundaknya kekar. Parmadi dan Muryani saling pandang. Parmadi mengangkat pundak dan karena merasa tidak enak untuk menganggu orang yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka ketahui mengapa ada laki-laki yang tampak gagah itu menangis seorang diri di situ, mereka berdua hendak pergi meninggalkannya.

Akan tetapi baru belasan langkah mereka berjalan pergi, tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara teriakan melengking yang menggetarkan jantung. "Terkutuk...! Orang-orang Balmbangan terkutuk...!!"

Parmadi dan Muryani memutar tubuh dan mereka melihat orang tadi kini telah bangkit berdiri. Mereka segera mengenal bahwa orang itu adalah Raden Wangsakartika yang walaupun tidak mereka kenal namun pernah mereka lihat. Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu berdiri tegak dan wajahnya yang gagah berkumis lebat itu menyeramkan sekali. Matanya merah melotot memandang ke arah pohon randu di depannya.

"Keparat, jahanam terkutuk kamu!" Tiba-tiba orang itu berteriak lantang dan tangan kanannya menyamabr ke depan. memukul ke arah batang pohon randu yang besarnya sepelukan orang.

"Wess... kraaakkkk...!" Pohon randu yang tinggi dan besar itu patah dan tumbang, menimbulkan suara berisik! Aneh, setelah merobohkan pohon. Raden Wangsakartika menjatuhkan diri di atas tanah lalu menangis lagi dengan sedihnya. Kini dengan suara yang mengeluh penuh kesedihan, penasaran dan kemarahan.

Parmadi dan Muryani merasa iba. Parmadi lalu memberi isyarat kepada isterinya dan mereka lalu menghampiri laki-laki yang masih menangis itu. mereka berdiri dalam jarak dua tombak akan tetapi tidak mau mengganggu orang yang sedang menangis itu. Agaknya Raden Wangsakartika, masih belum kehilangan kepekaannya, karena dia merasakan kehadiran suami isteri itu lalu tiba-tiba dia menghentikan tangisnya dan ketika melihat mereka dia lalu bangkit betdiri, gerakannya gesit.

"Mau apa kalian? pergi, jangan ganggu aku!" setelah berkata demikian, orang tinggi besar itu mendorongkan tangan kanannya ke arah suami isteri itu. Dia tidak bermaksud membunuh, akan tetapi karena dorongan tangannya mengandung hawa sakti yang amat kuat, maka orang biasa yang terkena angin dorongan ini tentu akan terlempar dan terjengkang!

Melihat orang itu mendorong dan ada angin dorongan yang kuat, Parmadi dan Muryani mengerahkan tenaga dan angin dorongan itu lewat saja, sedikit pun tidak membuat mereka bergoyang, seperti angin melewati dua bongkah batu karang yang kokoh. Raden Wangsakartika terbelalak, lalu mengerutkan alisnya.

"Hemm, siapakah Andika berdua?"

"Raden Wangsakartika, saya bernama Parmadi dan ini Nyi Muryani, Isteri saya."

"Hemm. jadi Andika yang berjuluk Si Seruling Gading? Percuma saja nama Andika yang tersohor. Ternyata tidak mampu membela Pasuruan dari serangan para jahanam Blambangan!" katanya dengan suara mengandung penasaran dan kemarahan.

Parmadi tidak menjadi marah, bahkan tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa orang ini memiliki watak yang butuk dan kasar. "Raden Wangsakartika, pihak Blambangan memiliki pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan pasukan Pasuruan dan mereka pun dipimpin banyak orang yang sakti mandraguna. Kami semua telah melawan mati-matian untuk mempertahankan Pasuruan, namun kami kalah kuat sehingga Pasuruan diserbu dan diduduki musuh. Akan tetapi, kalau kami semua mati-matian membela Pasuruan, mengapa Andika yang memiliki kepandaian sama sekali tidak membantu melawan musuh? Mengapa kini Andika hanya menangisi kekalahan Pasuruan? Apa gunanya keluh kesah dan tangisan Andika? Bukan randu alas itu yang seharusnya Andika robohkan, melainkan orang-orang Blambangan"

"Raden Wangsakartika mengerutkan alisnya. "Huh, kalian tidak tahu bisanya hanya mencela! Aku tidak takut mati dan aku berani mengorbankan diri untuk membela Mataram dan Pasuruan. Akan tetapi Andika tahu siapa aku? Aku ini orang buangan! Orang yang tidak berguna dan sudah diusir dari Mataram, tidak dipercaya lagi dan tinggal di Pasuruan sebagai orang buangan! Aku sudah dianggap orang rendah, orang kotor, penjahat tidak ada gunanya. Aku tidak berhak lagi untuk membela Mataram!" Kata-katanya mengandung keprihatinan yang mendalam.

Permadi merasa iba. Orang ini sebetulnya bukan orang jahat. Mungkin agak lemah terhadap tekanan nafsunya sendiri. juga mungkin saja sebagai putera pangeran, dahulu ketika kecil terlalu dimanja sehingga apa pun yang dikehendakinya harus terlaksana. setelah dibuang oleh Kerajaan mataram, mungkin dia menjadi putus asa dan nekat, setengah sengaja melanjutkan kehidupannya yang hanya bersenang-senang untuk menutupi kekecewaannya yang mendalam.

"Raden Wangsakartika, sudah lama kami mendengar akan nama besar mendiang Pangeran Pringgalaya sebagai seorang priyagung (bangsawan agung) yang gagah perkasa dan setia kepada Mataram. Mungkin karena Andika terlalu mengejar kesenangan dunia, maka Andika mendatangkan kemarahan kepada Gusti Sultan dan menerima hukuman. Akan tetapi, saya kira sekarang ini saatnya bagi Andika untuk mencuci bersih nama dan kehormatan keluarga ayahanda Andika yang ternoda oleh perbuatan Andika yang lalu. Kalau Andika sekarang diam saja, bukankah hal itu akan menambah buruk dan mencoreng nama besar dan kehormatan mendiang ayahanda Andika? Marilah, Raden Wangsakartika, marilah kita bersama para pendekar membela Kerajaan Mataram dan menentang Blambangan bersama sekutunya yang angkara murka."

Biarpun ucapan Parmadi itu tajam, namun diucapkan dengan suara lembut dan agaknya baru sekarang Raden Wangsakartika mendengar ucapan seperti itu. Dia mengerutkan alisnya, berpikir dan wajahnya perlahan-lahan mulai berseri, kedua matanya bersinar dan dia pun mengangguk. "Andika benar! Biarlah kalau perlu aku mengorbankan nyawa yang tak berharga ini untuk membersihkan nama dam kehormatan keluarga mendiang Kanjeng Rama!"

"Tidak perlu mengorbankan nyawa, Raden karena kita dapat saling bantu dan siapa bilang kalau nyawa Andika tidak berharga? Nyawa adalah milik Gusti Allah dan sudah sempurna sejak semula. Mari kita menghadap kanjeng Adipati Pasuruan."

Raden Wangsakartika tidak membantah dan mereka lalu menghadap Sang Adipati yang tentu saja menerima janji bantuan Raden Wangsakartika dengan gembira. Beberapa hari kemudian datanglah bala bantuan dari Mataram! Gegap gempita daerah Wonokitri itu dengan datangnya pasukan besar dari Mataram yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Silarong sebagai senopatinya, dan Gandek Padurekso diberi kekuasaan oleh Sang Sultan untuk menjadi pengawas.

Pangeran Silarong dibantu oleh beberapa orang senopati tua, yaitu Senopati Suroantani dan Tumenggung Alap-alap yang keduanya sudah berusia lebih dari enam puluh tahun. Setelah disambut dengan gembira dan hormat oleh Sang Adipati Pasuruan dan para senopati, Pangeran Silarong mengadakan rapat pertemuan dengan para senopati dan perwira. Hadir pula Raden Wangsakartika yang masih keponakan Pangeran Silarong.

Pangeran ini merasa gembira melihat keponakan yang tadinya hanya mengumbar nafsu dan tidak mempedulikan urusan Negara, kini mau membantu Mataram. Dalam pertemuan itu baru diketahui bahwa dua kali utusan Pasuruan yang dikirim ke Mataram itu tidak sampai ke tempat tujuan dan terbunuh oleh orang-orang Blambangan di tengah perjalanan. Ketika mereka merencanakan penyerbuan balasan ke Pasuruan untuk merebut kembali kota kadipaten itu, tiba-tiba Raden Wangsakartika menghadap Pangeran Silarong dan berkata dengan suara lantang dan tegas, namun seperti menjadi kebiasaannya, tidak pakai basa-basi.

"Paman Pangeran, aku minta perkenan Paman untuk memasuki Pasuruan. Aku mempunyai hutang kepada Pasuruan, yaitu ketika Pasuruan diserbu para jahanam Blambangan, aku diam saja tidak ikut membela. Sekarang, aku hendak membayar hutangku, aku akan memasuki Pasuruan dan membikin kacau di sana. Aku tidak menjanjikan sesuatu, akan tetapi aku akan membawa hadiah untuk Andika semua."

Pangeran Silarong mengerutkan alisnya. Dia mengenal keponakan ini sebagai seorang yang hidupnya tidak teratur, keluyuran dengan orang-orang jahat, tukang judi, mabuk-mabukan, pelesir dengan para wanita jalang. Dia khawatir kalau dia memberi persetujuan, Raden Wangsakartika malah akan membikin kacau rencana penyerbuan pasukannya ke Pasuruan.

"Hemm, Wangsa, Andika hanya seorang diri, bagaimana mungkin akan mampu menghadapi sekian banyaknya perajurit dengan para senopati mereka? Aku khawatir usahamu itu bukan saja akan mendatangkan malapetaka bagi dirimu, akan tetapi juga akan mengacaukan rencana penyerbuan kita."

"Tidak, Paman. Andaikata aku gagal dan terbunuh sekalipun, aku tidak akan membuka rahasia pasukan Mataram kepada musuh." bantah Raden Wangsakartika dengan suara mantap membayangkan kenekatan.

"Maaf, Paman Pangeran, saya kira niat Raden Wangsakartika itu ada benarnya. Sebelum penyerbuan besar dilakukan, ada baiknya kalau terjadi kekacauan di sebelah dalam agar penjagaan dan pertahanan mereka menjadi lemah. Saya dan isteri saya akan menemani Raden Wangsakartika menyusup ke dalam kota Kadipaten Pasuruan."

Pangeran Silarong sudah mengenal Parmadi dan Muryani, juga sudah mendengar akan kesaktian suami isteri ini, maka dia pun mulai menaruh perhatian.

"Hemm, kalau Andika bertiga yang maju, memang lebih baik. Akan tetapi, kota Pasuruan kini telah menjadi benteng pasukan Blambangan, tentu dijaga amat ketat. Bagaimana mungkin andika bertiga dapat memasuki kota ini tanpa ketahuan perajurit penjaga?"

"Gusti Pangeran" kata Senopati Aryo" Hal itu mudah diatur. Anakmas Parmadi telah minta nasihat kami dan ada sebuah jalan setapak yang dapat membawa mereka bertiga memasuki Pasuruan tanpa diketahui."

"Bagus, kalau begitu, Ananda Wangsa, dan kalian Anakmas Parmadi berdua, kami setuju kalau Andika bertiga hendak masuk kesana, membikin kacau dan sekalian menyelidiki keadaan pertahanan mereka."

Demikianlah, setelah mendapat persetujuan, malam itu juga tiga bayangan orang, yaitu Raden Wangsakartika, Parmadi dan Muryani menyusup ke dalam kota Kadipaten Pasuruan melalui rawa-rawa dan dapat masuk tanpa ketahuan para perajurit jaga yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang dapat memasuki kota melalui jalan yang amat sukar dan berbahaya itu.

Pasukan Blambangan yang menyerbu dan menduduki Pasuruan hanya merupakan sebagian saja dari seluruh pasukan gabungan di Blambangan. Memang, pada waktu penyerbuan, pasukan yang jumlahnya hanya belasan ribu orang itu sudah lebih dari dua kali lipat jumlah pasukan Pasuruan.

Namun dalam penyerbuan itu, pasukan yang terutama terdiri dari pasukan Bali yang dipimpin Panji Buleleng dan Macan Kuning, dua orang senopati yang memimpin pasukan yang dikirim Raja Dewa Agung dari Gelgel, diperkuat pula oleh Bhagawan Kalasrenggi, Kaladhama, Kalajana, bahkan Tejakasmala juga ikut memperkuat karena mereka mengkhawatirkan kalau-kalau Pasuruan sudah diperkuat tokoh-tokoh sakti pembela Mataram.

Setelah Pasuruan berhasil diduduki, empat orang tokoh sakti ini kembali ke Blambangan. Pertahanan kota Pasuruan diserahkan kepada Panji Buleleng dan Macan Kuning dibantu oleh beberapa orang tokoh persekutuan Blambangan, antara lain Ki Sarwatama adik seperguruan Ki Sarwaguna, Ketua Driya Pawitra, Kyai Ngurah Pacung, senopati dari Klungkung, Bali, pembantu Made Sukasada, Randujapang, tokoh Madura, Kyai Kasmalapati tokoh Blambangan bersama muridnya Dartoko, dan beberapa orang tokoh lain.

Persekutuan Blambangan itu tidak mengerahkan atau memusatkan seluruh pasukan mereka di Pasuruan karena mereka khawatir kalau-kalau pihak musuh, yaitu Mataram akan menyerang Blambangan lewat jalan lain. Mereka lebih mementingkan penjagaan dan pertahanan di Blambangan, dan hanya akan menggunakan sebagian, paling banyak separuh kekuatan pasukan mereka untuk melakukan serangan sampai ke Mataram.

Panji Buleleng dibantu Macan Kuning yang memimpin pasukan yang menduduki Pasuruan, berbesar hati karena mereka diperlengkapi dengan sepuluh buah meriam dan seratus buah senapan sumbangan dari Kumpeni Belanda melalui Satyabrata. Raden Wangsakartika sudah mengatur siasat bersama Parmadi dan Muryani sebelum mereka menyelinap ke dalam benteng Pasuruan.

Maka, setelah berhasil menyelinap ke dalam benteng Pasuruan, mereka langsung saja menuju sasaran, yaitu tiga buah gudang terisi ransum tumpukan padi dan lain-lain. Ketika merebut Pasuruan, pasukan Blambangan merampas hasil sawah ladang rakyat di dusun-dusun dan mengangkut padi-padi itu dimasukkan ke dalam tiga gudang ransum. Yang bertugas menyelidiki keadaan pertahanan benteng Pasuruan adalah Parmadi.

Maka ketika dia menyelinap ke sebuah di antara gudang-gudang itu, dan melihat seorang perajurit yang membawa tombak lewat seorang diri, dia menyergapnya dan membuatnya tidak berdaya dan tidak mampu berteriak. Parmadi lalu menghardik dengan bisikan, mengancam orang itu agar menceritakan kekuatan yang menjaga Pasuruan. Dengan menekan punggung perajurit itu, Parmadi membuat orang itu menggeliat kesakitan dan terpaksa mengaku dan menceritakan tentang kekuatan pasukan yang berada di situ.

Parmadi memaksanya menceritakan tentang letak sepuluh buah meriam dan pasukan mana yang diperlengkapi senjata api. Juga siapa para senopati dan tokoh sakti yang memperkuat pertahanan di situ. Karena tidak kuat menahan nyeri ketika Parmadi menekan pundaknya, perajurit itu menceritakan semua yang ditanyakan Parmadi. Setelah mendapat keterangan secara terperinci, Parmadi lalu menepuk tengkuk orang itu yang roboh pingsan berat.

"Mau apa kalian? pergi, jangan ganggu aku!" setelah berkata demikian, orang tinggi besar itu mendorongkan tangan kanannya ke arah suami isteri itu. Dia tidak bermaksud membunuh, akan tetapi karena dorongan tangannya mengandung hawa sakti yang amat kuat, maka orang biasa yang terkena angin dorongan ini tentu akan terlempar dan terjengkang!

Melihat orang itu mendorong dan ada angin dorongan yang kuat, Parmadi dan Muryani mengerahkan tenaga dan angin dorongan itu lewat saja, sedikit pun tidak membuat mereka bergoyang, seperti angin melewati dua bongkah batu karang yang kokoh. Raden Wangsakartika terbelalak, lalu mengerutkan alisnya.

"Hemm, siapakah Andika berdua?"

"Raden Wangsakartika, saya bernama Parmadi dan ini Nyi Muryani, Isteri saya."

"Hemm. jadi Andika yang berjuluk Si Seruling Gading? Percuma saja nama Andika yang tersohor. Ternyata tidak mampu membela Pasuruan dari serangan para jahanam Blambangan!" katanya dengan suara mengandung penasaran dan kemarahan.

Parmadi tidak menjadi marah, bahkan tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa orang ini memiliki watak yang butuk dan kasar. "Raden Wangsakartika, pihak Blambangan memiliki pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan pasukan Pasuruan dan mereka pun dipimpin banyak orang yang sakti mandraguna. Kami semua telah melawan mati-matian untuk mempertahankan Pasuruan, namun kami kalah kuat sehingga Pasuruan diserbu dan diduduki musuh. Akan tetapi, kalau kami semua mati-matian membela Pasuruan, mengapa Andika yang memiliki kepandaian sama sekali tidak membantu melawan musuh? Mengapa kini Andika hanya menangisi kekalahan Pasuruan? Apa gunanya keluh kesah dan tangisan Andika? Bukan randu alas itu yang seharusnya Andika robohkan, melainkan orang-orang Blambangan"

"Raden Wangsakartika mengerutkan alisnya. "Huh, kalian tidak tahu bisanya hanya mencela! Aku tidak takut mati dan aku berani mengorbankan diri untuk membela Mataram dan Pasuruan. Akan tetapi Andika tahu siapa aku? Aku ini orang buangan! Orang yang tidak berguna dan sudah diusir dari Mataram, tidak dipercaya lagi dan tinggal di Pasuruan sebagai orang buangan! Aku sudah dianggap orang rendah, orang kotor, penjahat tidak ada gunanya. Aku tidak berhak lagi untuk membela Mataram!" Kata-katanya mengandung keprihatinan yang mendalam.

Permadi merasa iba. Orang ini sebetulnya bukan orang jahat. Mungkin agak lemah terhadap tekanan nafsunya sendiri. juga mungkin saja sebagai putera pangeran, dahulu ketika kecil terlalu dimanja sehingga apa pun yang dikehendakinya harus terlaksana. setelah dibuang oleh Kerajaan mataram, mungkin dia menjadi putus asa dan nekat, setengah sengaja melanjutkan kehidupannya yang hanya bersenang-senang untuk menutupi kekecewaannya yang mendalam.

"Raden Wangsakartika, sudah lama kami mendengar akan nama besar mendiang Pangeran Pringgalaya sebagai seorang priyagung (bangsawan agung) yang gagah perkasa dan setia kepada Mataram. Mungkin karena Andika terlalu mengejar kesenangan dunia, maka Andika mendatangkan kemarahan kepada Gusti Sultan dan menerima hukuman. Akan tetapi, saya kira sekarang ini saatnya bagi Andika untuk mencuci bersih nama dan kehormatan keluarga ayahanda Andika yang ternoda oleh perbuatan Andika yang lalu. Kalau Andika sekarang diam saja, bukankah hal itu akan menambah buruk dan mencoreng nama besar dan kehormatan mendiang ayahanda Andika? Marilah, Raden Wangsakartika, marilah kita bersama para pendekar membela Kerajaan Mataram dan menentang Blambangan bersama sekutunya yang angkara murka."

Biarpun ucapan Parmadi itu tajam, namun diucapkan dengan suara lembut dan agaknya baru sekarang Raden Wangsakartika mendengar ucapan seperti itu. Dia mengerutkan alisnya, berpikir dan wajahnya perlahan-lahan mulai berseri, kedua matanya bersinar dan dia pun mengangguk. "Andika benar! Biarlah kalau perlu aku mengorbankan nyawa yang tak berharga ini untuk membersihkan nama dam kehormatan keluarga mendiang Kanjeng Rama!"

"Tidak perlu mengorbankan nyawa, Raden karena kita dapat saling bantu dan siapa bilang kalau nyawa Andika tidak berharga? Nyawa adalah milik Gusti Allah dan sudah sempurna sejak semula. Mari kita menghadap kanjeng Adipati Pasuruan."

Raden Wangsakartika tidak membantah dan mereka lalu menghadap Sang Adipati yang tentu saja menerima janji bantuan Raden Wangsakartika dengan gembira. Beberapa hari kemudian datanglah bala bantuan dari Mataram! Gegap gempita daerah Wonokitri itu dengan datangnya pasukan besar dari Mataram yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Silarong sebagai senopatinya, dan Gandek Padurekso diberi kekuasaan oleh Sang Sultan untuk menjadi pengawas.

Pangeran Silarong dibantu oleh beberapa orang senopati tua, yaitu Senopati Suroantani dan Tumenggung Alap-alap yang keduanya sudah berusia lebih dari enam puluh tahun. Setelah disambut dengan gembira dan hormat oleh Sang Adipati Pasuruan dan para senopati, Pangeran Silarong mengadakan rapat pertemuan dengan para senopati dan perwira. Hadir pula Raden Wangsakartika yang masih keponakan Pangeran Silarong.

Pangeran ini merasa gembira melihat keponakan yang tadinya hanya mengumbar nafsu dan tidak mempedulikan urusan Negara, kini mau membantu Mataram. Dalam pertemuan itu baru diketahui bahwa dua kali utusan Pasuruan yang dikirim ke Mataram itu tidak sampai ke tempat tujuan dan terbunuh oleh orang-orang Blambangan di tengah perjalanan. Ketika mereka merencanakan penyerbuan balasan ke Pasuruan untuk merebut kembali kota kadipaten itu, tiba-tiba Raden Wangsakartika menghadap Pangeran Silarong dan berkata dengan suara lantang dan tegas, namun seperti menjadi kebiasaannya, tidak pakai basa-basi.

"Paman Pangeran, aku minta perkenan Paman untuk memasuki Pasuruan. Aku mempunyai hutang kepada Pasuruan, yaitu ketika Pasuruan diserbu para jahanam Blambangan, aku diam saja tidak ikut membela. Sekarang, aku hendak membayar hutangku, aku akan memasuki Pasuruan dan membikin kacau di sana. Aku tidak menjanjikan sesuatu, akan tetapi aku akan membawa hadiah untuk Andika semua."

Pangeran Silarong mengerutkan alisnya. Dia mengenal keponakan ini sebagai seorang yang hidupnya tidak teratur, keluyuran dengan orang-orang jahat, tukang judi, mabuk-mabukan, pelesir dengan para wanita jalang. Dia khawatir kalau dia memberi persetujuan, Raden Wangsakartika malah akan membikin kacau rencana penyerbuan pasukannya ke Pasuruan.

"Hemm, Wangsa, Andika hanya seorang diri, bagaimana mungkin akan mampu menghadapi sekian banyaknya perajurit dengan para senopati mereka? Aku khawatir usahamu itu bukan saja akan mendatangkan malapetaka bagi dirimu, akan tetapi juga akan mengacaukan rencana penyerbuan kita."

"Tidak, Paman. Andaikata aku gagal dan terbunuh sekalipun, aku tidak akan membuka rahasia pasukan Mataram kepada musuh." bantah Raden Wangsakartika dengan suara mantap membayangkan kenekatan.

"Maaf, Paman Pangeran, saya kira niat Raden Wangsakartika itu ada benarnya. Sebelum penyerbuan besar dilakukan, ada baiknya kalau terjadi kekacauan di sebelah dalam agar penjagaan dan pertahanan mereka menjadi lemah. Saya dan isteri saya akan menemani Raden Wangsakartika menyusup ke dalam kota Kadipaten Pasuruan."

Pangeran Silarong sudah mengenal Parmadi dan Muryani, juga sudah mendengar akan kesaktian suami isteri ini, maka dia pun mulai menaruh perhatian.

"Hemm, kalau Andika bertiga yang maju, memang lebih baik. Akan tetapi, kota Pasuruan kini telah menjadi benteng pasukan Blambangan, tentu dijaga amat ketat. Bagaimana mungkin andika bertiga dapat memasuki kota ini tanpa ketahuan perajurit penjaga?"

"Gusti Pangeran" kata Senopati Aryo" Hal itu mudah diatur. Anakmas Parmadi telah minta nasihat kami dan ada sebuah jalan setapak yang dapat membawa mereka bertiga memasuki Pasuruan tanpa diketahui."

"Bagus, kalau begitu, Ananda Wangsa, dan kalian Anakmas Parmadi berdua, kami setuju kalau Andika bertiga hendak masuk kesana, membikin kacau dan sekalian menyelidiki keadaan pertahanan mereka."

Demikianlah, setelah mendapat persetujuan, malam itu juga tiga bayangan orang, yaitu Raden Wangsakartika, Parmadi dan Muryani menyusup ke dalam kota Kadipaten Pasuruan melalui rawa-rawa dan dapat masuk tanpa ketahuan para perajurit jaga yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang dapat memasuki kota melalui jalan yang amat sukar dan berbahaya itu.

Pasukan Blambangan yang menyerbu dan menduduki Pasuruan hanya merupakan sebagian saja dari seluruh pasukan gabungan di Blambangan. Memang, pada waktu penyerbuan, pasukan yang jumlahnya hanya belasan ribu orang itu sudah lebih dari dua kali lipat jumlah pasukan Pasuruan.

Namun dalam penyerbuan itu, pasukan yang terutama terdiri dari pasukan Bali yang dipimpin Panji Buleleng dan Macan Kuning, dua orang senopati yang memimpin pasukan yang dikirim Raja Dewa Agung dari Gelgel, diperkuat pula oleh Bhagawan Kalasrenggi, Kaladhama, Kalajana, bahkan Tejakasmala juga ikut memperkuat karena mereka mengkhawatirkan kalau-kalau Pasuruan sudah diperkuat tokoh-tokoh sakti pembela Mataram.

Setelah Pasuruan berhasil diduduki, empat orang tokoh sakti ini kembali ke Blambangan. Pertahanan kota Pasuruan diserahkan kepada Panji Buleleng dan Macan Kuning dibantu oleh beberapa orang tokoh persekutuan Blambangan, antara lain Ki Sarwatama adik seperguruan Ki Sarwaguna, Ketua Driya Pawitra, Kyai Ngurah Pacung, senopati dari Klungkung, Bali, pembantu Made Sukasada, Randujapang, tokoh Madura, Kyai Kasmalapati tokoh Blambangan bersama muridnya Dartoko, dan beberapa orang tokoh lain.

Persekutuan Blambangan itu tidak mengerahkan atau memusatkan seluruh pasukan mereka di Pasuruan karena mereka khawatir kalau-kalau pihak musuh, yaitu Mataram akan menyerang Blambangan lewat jalan lain. Mereka lebih mementingkan penjagaan dan pertahanan di Blambangan, dan hanya akan menggunakan sebagian, paling banyak separuh kekuatan pasukan mereka untuk melakukan serangan sampai ke Mataram.

Panji Buleleng dibantu Macan Kuning yang memimpin pasukan yang menduduki Pasuruan, berbesar hati karena mereka diperlengkapi dengan sepuluh buah meriam dan seratus buah senapan sumbangan dari Kumpeni Belanda melalui Satyabrata. Raden Wangsakartika sudah mengatur siasat bersama Parmadi dan Muryani sebelum mereka menyelinap ke dalam benteng Pasuruan.

Maka, setelah berhasil menyelinap ke dalam benteng Pasuruan, mereka langsung saja menuju sasaran, yaitu tiga buah gudang terisi ransum tumpukan padi dan lain-lain. Ketika merebut Pasuruan, pasukan Blambangan merampas hasil sawah ladang rakyat di dusun-dusun dan mengangkut padi-padi itu dimasukkan ke dalam tiga gudang ransum. Yang bertugas menyelidiki keadaan pertahanan benteng Pasuruan adalah Parmadi.

Maka ketika dia menyelinap ke sebuah di antara gudang-gudang itu, dan melihat seorang perajurit yang membawa tombak lewat seorang diri, dia menyergapnya dan membuatnya tidak berdaya dan tidak mampu berteriak. Parmadi lalu menghardik dengan bisikan, mengancam orang itu agar menceritakan kekuatan yang menjaga Pasuruan. Dengan menekan punggung perajurit itu, Parmadi membuat orang itu menggeliat kesakitan dan terpaksa mengaku dan menceritakan tentang kekuatan pasukan yang berada di situ.

Parmadi memaksanya menceritakan tentang letak sepuluh buah meriam dan pasukan mana yang diperlengkapi senjata api. Juga siapa para senopati dan tokoh sakti yang memperkuat pertahanan di situ. Karena tidak kuat menahan nyeri ketika Parmadi menekan pundaknya, perajurit itu menceritakan semua yang ditanyakan Parmadi. Setelah mendapat keterangan secara terperinci, Parmadi lalu menepuk tengkuk orang itu yang roboh pingsan berat.

Parmadi lalu mempersiapkan segala ssuatu untuk membakar gudang ransum yang menjadi bagiannya. Dia menumpuk jerami kering di seputar gudang, akan tetapi dia bersembunyi, menanti sampai isterinya dan Raden Wangsakartika lebih dulu membakar dua gudang yang lain. Raden Wangsakartika merasa tidak puas kalau hanya membakar gudang ransum. Dia harus melakukan sesuatu yang menggemparkan dan membawa kejutan bagi pamannya, Pangeran Silarong dan Adipati Pasuruan.

Biar mereka semua tahu bahwa dia bukan seorang yang tidak ada gunanya, bahwa dia tidak percuma menjadi putera mendiang Pangeran Pringgalaya yang sakti dan gagah perkasa. Seperti聽juga suami isteri Parmadi dan Muryani, sebagai seorang penghuni kota Pasuruan tentu saja Raden Wangsakartika juga mengenal betul keadaan dan lika-liku kota itu.

Ketika menyelinap dari rumah ke rumah dan tiba di dekat gudang ransum yang menjadi bagiannya seperti telah direncanakan bersama Parmadi dan Muryani, Raden Wangsakartika tiba di dekat gudang pertama yang terbesar. Dia melihat dua orang perajurit Bali duduk di depan gudang. Melihat dua orang perajurit ini, timbul suatu gagasan dalam pikirannya. Yang membuat pasukan Blambangan menjadi kuat adalah karena dukungan orang Bali, pikirnya. Mereka harus diberi hajaran keras! Dia menyusup dekat dan dari tempat gelap dia berseru perlahan kepada dua orang penjaga itu.

"Sssttt... Andika berdua ke sinilah, penting...!" katanya dalam bahasa Bali yang fasih. Raden Wangsakartika memang memiliki bakat dalam hal berkata. Dia pandai menggunakan bahasa Bali, Madura, dan logat daerah lain. Kalau dia berbahasa Bali, semua orang tentu akan mengira dia orang Bali asli. Dua orang prajurit itu merasa heran akan tetapi mereka lalu menghampiri tempat gelap itu sambil membawa tombak mereka.

Begitu mereka tiba di depannya, sinar pedang di tangan Raden Wangsakartika berkelebat dan seorang perajuri roboh dan tewas. Sebelum perajurit kedua sempat bergerak atau berteriak, Raden Wangsakartika sedah menerkamnya dan lengan kirinya yang kuat sudah melingkari leher, mengempit dan mencekik.

"Cepat katakan di mana adanya pimpinan kalian!"

Dengan suara parau karena lehernya dijepit lengan yang kuat itu, perajurit kedua menjawab ketakutan. "Di... di... istana kadipaten... sayap kanan..."

"Siapa pemimpinmu?" bentak pula Raden Wangsakartika.

Perajurit itu hendak menggertak dan menakut-nakuti. "Mereka adalah dua orang senopati sakti mandraguna, Panji Buleleng dan Macan Kuning!"

Raden Wangsakartika mengerahkan tenaga pada lengannya yang menghimpit leher perajurit Bali itu.

"Krekk...!" Batang leher itu patah dan orangnya tewas seketika. Raden Wangsakartika menyeret mayat dua orang itu dan menyembunyikan mereka di bawah semak-semak yang tumbuh di belakang gudang. Dia tidak mempedulikan lagi gudang itu. Urusan kecil membakar gudang, pikirnya. Dia memilih urusan yang lebih besar lagi dan cepat tubuhnya bergerak menuju ke istana kadipaten, setelah dia mengenakan pakaian perajurit tinggi besar yang dibunuhnya.

Malam itu, para pimpinan pasukan Blambangan yang berhasil menduduki Pasuruan masih dalam keadaan pesta kemenangan, Panji Buleleng dan Macan Kuning, yang menjadi pimpinan tertinggi pasukan yang kini menduduki Pasuruan, menempati istana kadipaten bagian kanan yang paling luas dan mewah. Setelah beberapa hari mereka berdua itu bersenang-senang dengan para perwira lainnya, malam itu mereka berdua duduk di ruangan dalam, berbincang-bincang.

"Kakang Panji" kata Macan Kuning yang bertubuh sedang dan kokoh, kulitnya putih kekuningan, "Bagaimana rencana gerakan kita selanjutnya? Apa yang harus kita lakukan setelah kita berhasil menduduki Pasuruan?"

"Adi Macan Kuning," kata Panji Buleleng yang bertubuh tinggi kurus dan kumisnya tebal. "Tugas kita sekarang hanya menjaga benteng Pasuruan yang menjadi benteng terdepan persekutuan Blambangan untuk menyerang Mataram. Kita hanya tinggal menanti perintah selanjutnya dari para pimpinan di Blambangan."

"Apakah rencana selanjutnya dari para pimpinan Kakang?"

"Aku belum tahu benar, akan tetapi kukira sekarang sedang seluruh daerah Jawa Timur dan menyusun kekuatan. Setelah itu baru akan diadakan gerakan penyerangan ke Mataram, pemberangkatan bala tentara tentu dipusatkan di Pasuruan ini."

Selagi mereka bercakap-cakap, tiba-tiba mereka mendengar suara gaduh di luar ruangan itu, suara beradunya senjata berdentingan disusul teriakan dan berdebuknya tubuh orang-orang yang roboh. Dua orang senopati Bali itu adalah panglima-panglima yang berpengalaman. Panji Buleleng sudah berusia hampir enam puluh tahun sedangkan Macan Kuning juga sudah berusia lima puluh tahun lebih. Mendengar suara gaduh itu, keduanya lalu berlompatan keluar sambil hunus keris mereka yang panjang.

Setelah tiba di ruangan itu agak gelap karena hanya sebuah lampu penerangan yang msij bernyala. Tiga buah lampu penerangan lain telah padam sehingga cuaca di situ remang-remang. Namun mereka berdua dapat melihat betapa lima orang perajurit yang menjaga di bagian itu telah roboh malang melintang tak bergerak lagi. Akan tetapi ada seorang perajurit yang bertubuh tinggi besar memegang tombak berdiri di sudut.

"Hei! apa yang terjadi di sini?" bentak Macan kuning kepada perajuritnya itu.

"...kami diserang... musuh..." Raden Wangsakartika berkata dan bersikap seperti orang gugup dan ketakutan. Mendengar ini, dua orang senopati itu terkejut dan mereka segera melihat ke sekeliling sambil memegang keris, siap menghadapi serangan gelap. Mereka berdua sama sekali tidak mengira bahwa yang berada di depan mereka justeru adalah musuh yang telah membunuh lima orang anak buah mereka itu. Karena Raden Wangsakartika memakai pakaian perajurit Bali dan bicaranya juga dalam bahasa Bali yang sempurna, dua orang senopati itu sama sekali tidak curiga.

"Wuuuttt...!" Tombak panjang itu meluncur cepat menghunjam ke arah dada Macan Kuning. Senopati ini sama sekali tidak pernah mengira akan diserang oleh perajurit bali itu dari dekat. Maka sama sekali dia tidak dapat mengelak atau menangkis dan tahu-tahu dadanya sudah ditembus tombak yang ditusukkan dengan tenaga dahsyat itu.

"Heiii...!" Panji buleleng berseru kaget melihat rekannya roboh dan tewas seketika dengan tombak masih menembus dadanya. Akan tetapi Raden Wangsakartika sudah mencabut pedangnya dan menyerangnya dengan hebat.

"Cring... tranggg...!!" bunga api berpijar ketika dua kali keris di tangan Panji Buleleng menangkis mata pedang yang menghunjam ke arah tubuhnya itu. Kemudian dia pun balas menyerang sehingga terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di ruangan remang-remang itu.

Panji Buleleng adalah seorang senopati Gelgel di Bali yang digdaya, akan tetapi sekali ini dia bertanding melawan putera mendiang Pangeran Pringgalaya dari Mataram yang sakti mandraguna. Pula, hatinya sudah gentar melihat lima orang perajurit dan rekannya, Macan Kuning, tewas di tangan lawannya ini. Ditambah lagi senjata Raden Wangsakartika jauh lebih panjang, besar dan berat daripada kerisnya. Juga tenaga lawan amat kuat sehingga setiap kali kerisnya bertemu pedang, dia merasa betapa lengannya tergetar dan terpental. Karena maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya, Panji Buleleng berteriak nyaring.

"Tolooonnngggg...!"

Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu terdengar pula teriakan-teriakan dari luar istana kadipaten. Teriakan banyak orang yang menggema sampai ke dalam istana.

"Tolooonnnggg....! Tolooonnnggg....! Kebakaran.... kebakaran...!"

Teriakan ini sambung menyambung dan terdengar suara gaduh seperti banyak orang berlarian dan berteriak-teriak. Juga di dalam istana menjadi geger dan agaknya para penghuni istana berhamburan keluar sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa di bagian kanan istana terjadi perkelahian mati-matian. Panji Buleleng menjadi panik dan maklum bahwa tidak ada gunanya lagi berteriak karena kegaduhan di luar istana akan menyelimuti suara teriakannya. Dia semakin terdesak, akan tetapi Panji Buleleng adalah seorang yang sudah banyak pengalaman berkelahi.

Dia cepat menjatuhkan diri ketika pedang di tangan lawan menyambar dengan bacokan. Tubuhnya lalu bergulingan dan tangan kirinya menyambar sebuah kursi. Sambil melompat bangun, dia melemparkan kursi itu dengan pengerahan tenaga ke arah kepala lawan yang mengejarnya. Melihat benda hitam melayang ke arahnya dan dia tidak tahu benda apa itu karena keadaannya agak gelap, Raden Wangsakartika membacokkan pedangnya ke arah benda hitam yang seolah-olah seekor harimau menerkamnya.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Singg.... crakkkk!" Kursi itu patah dan runtuh. Akan tetapi pada saat itu, Panji Buleleng yang sudah merenggut lepas sehelai tirai pintu yang lebar, sudah melemparkan tirai itu ke arah lawan yang baru saja menangkis kursi.

"Wuuuttt...!" Raden Wangsakartika gelagapan ketika tiba-tiba ada kain menimpa dan menutup kepalanya. Dia menggerakkan lengan kiri untuk menangkap dan menyingkirkan kain tirai itu. Pada saat itu, Panji Buleleng sudah menubruk maju dan menikamkan kerisnya ke arah lawan yang tubuh atasnya masih tertutup tirai.

"Cappp...!" Keris menembus kulit daging dan berhenti terhalang tulang pangkal lengan kiri Raden Wangsakartika.

"Aduhh....!" Raden Wangsakartika roboh terjengkang. Hal ini merupakan siasatnya. Memang tadi secara kebetulan pangkal lengan kirinya menyelamatkannya dan dapat menggantikan dadanya tertusuk keris. Luka itu sebetulnya tidak akan merobohkannya. Akan tetapi dia tahu bahwa keadaannya yang tertutup kain itu berbahaya sekali, maka sengaja dia mengaduh dan menjatuhkan diri ke belakang seolah terjengkang.

Ketika terjengkang inilah dia sempat menyingkap kain yang menutupi kepalanya dan pada saat itu, Panji Buleleng dengan girang menubruk untuk mengirim tusukan terakhir. Akan tetapi pedang di tangan Raden Wangsakartika lebih dulu menyambar bagaikan kilat, tepat menebas leher Panji Buleleng sehingga tubuh senopati itu jatuh menimpa tubuh Raden Wangsakartika dengan leher putus dan kepalanya menggelinding ke atas lantai!

Dengan muka, tangan dan pakaian berlepotan darah lawan, Raden Wangsakartika melompat berdiri dan tersenyum puas. Rasa nyeri di pangkal lengan kirinya tidak dia rasakan. Dia lalu memenggal leher Macan Kuning, kemudian menggunakan kain tirai untuk membungkus dua buah kepala itu dan membawanya keluar istana, mengambil jalan samping yang sepi.

Ketika tiba di luar, dia melihat kobaran api di dua tempat. maklumlah dia bahwa Parmadi dan Muryani telah melaksanakan tugas mereka dengan baik dan baru teringat dia bahwa dia pun bertugas membakar gudang pertama. Akan tetapi sekarang tidak ada kesempatan lagi. Kota telah penuh perajurit, sebagian berusaha memadamkan kebakaran, sebagian lagi sibuk mencari-cari musuh yang melakukan pembakaran. Dia tidak peduli. Apa yang dilakukannya jauh lebih berarti daripada sekadar membakar gudang ransum pertama, pikirnya.

Maka dia pun cepat menyelinap di antara para perajurit yang panik. Tidak ada yang mencurigainya karena dia pun berpakaian perajurit Bali dan perhatian semua orang lebih tertarik ke arah kebakaran-kebakaran itu. Ketika dia tiba di dekat tembok kota bagian selatan yang menembus ke daerah rawa yang menjadi tempat mereka tadi menyusup ke Pasuruan, dia mlihat orang-orang bertempur di bawah sinar beberapa buah obor yang diacungkan ke atas oleh perajurit-perajurit Blambangan.

ketika dia mendekat, Raden Wangsakartika terkejut karena yang bertanding adalah Parmadi dan Muryani, dikeroyok oleh tiga orang yang gerakannya berbahaya dibantu pula oleh belasan orang perajurit. Parmadi dan Muryani telah berhasil membakar gudang ransum kedua dan ketiga. Sia-sia mereka menunggu-nunggu terbakarnya gudang ransum pertama dan mereka sangsi. Jangan-jangan Raden Wangsakartika telah gagal melaksanakan tugas bagiannya. Karena terlalu lama menanti, akhirnya Muryani membakar gudang ransum dan melihat kebakaran itu, Parmadi juga membakar gudang yang menjadi bagiannya.

Setelah membakar gudang yang menimbulkan kegemparan, keduanya lalu melarikan diri ke arah bagian selatan kota untuk keluar dari sana. Akan tetapi, Muryani terlihat oleh sepasukan perajurit Blambangan yang segera mengepung dan mengeroyoknya. Muryani mengamuk dan merobohkan enam orang perajurit. akan tetapi, segera muncul Ki Randupajang, tokoh Madura yang tinggi besar dan brewok. Laki-laki berusia lima puluh tahun lebih ini memang diperbantukan dalam merebut dan menjaga Pasuruan.

Selain Ki Randujapang,juga聽muncul Kyai Kasmalapati yang berusia enam puluh lima tahun, datuk Blambangan yang sakti itu, bersama-sama muridnya, yaitu Dartoko berusia dua puluh lima tahun yang berwajah tampan namun wataknya sombomg dan jahat. Begitu tiga orang sakti ini muncul dan menyerang, Muryani menghadapi pengeroyokan mereka dengan pedangnya yang diputar cepat sehingga membentuk gulungan sinar berkeredepan tertimpa sinat obor yang dibawa para perajurit.

Namun, tiga orang itu adalah tokoh-tokoh yang sakti dan kuat, maka mulailah Muryani terdesak dan ia tidak melihat jalan keluar karena dirinya sudah terkepung. Jalan satu-satunya hanyalah mengamuk dan mempertahankan diri sampai saat terakhir. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara mendengung-dengung. Muryani merasa girang sekali karena itu adalah suara seruling gading yang dimainkan suaminya. Benar saja, kepungan itu mengendur karena Parmadi sudah menerjang masuk dan senjatanya yang ampuh, suling gadingnya, berubah menjadi sinar keemasan.

Semua senjata para perajurit yang bertemu sinar suling atau sinar pedang, tentu terpental. Akan tetapi tiga orang itu tetap menyerang mereka dan para perajurit mengepung agar suami isteri itu tidak dapat melarikan diri. Sedangkan beberapa orang perajurit cepat membunyikan kentungan untuk memanggil bala bantuan. Parmadi dan Muryani maklum bahwa keadaan mereka berbahaya sekali. Kalau sampai pasukan yang besar jumlahnya datang mengepung, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri keluar dari Kadipaten Pasuruan.

Akan tetapi selagi mereka berusaha mati-matian untuk memecahkan kepungan, tiba-tiba muncul Raden Wangsakartika. Melihat suami isteri itu dikeroyok, Raden Wangsakartika lalu menerjang dengan pedangnya dan gerakannya amat ganas. Tidak seperti Parmadi dan Muryani yang hanya merobohkan para perajurit dengan melukai mereka tanpa membunuh, sepak terjang Raden Wangsakartika nggegirisi (mengerikan). Darah muncrat-muncrat dari perut yang tertembus pedangnya, leher yang terpenggal atau pundak, kaki tangan terbabat putus!

Sepak terjang Raden Wangsakartika ini membuat para pengeroyok menjadi gentar sehingga kepungan mengendor dan kesempatan ini dipergunakan oleh tiga orang sakti itu untuk meloloskan diri melalui tembok dan tiba di daerah rawa, Para perajurit hanya berani mengejar keluar dinding, tak berani memasuki daerah rawa yang gelap dan berbahaya.

********************

Pangeran Silarong menyambut kembalinya Raden Wangsakartika, Parmadi dan Muryani dengan gembira. Dia memuji jasa mereka bertiga, terutama Raden Wangsakartika yang membawa "oleh-oleh" untuknya berupa dua buah kepala milik pimpinan pasukan Bali. Pangeran Silarong lalu memerintahkan perajurit untuk memasang dua buah kepala itu di atas galah dan ditancapkan di depan pintu benteng Pasuruan untuk membikin gentar hati para perajurit musuh.

Juga Pangeran Silarong girang mendapatkan keterangan yang jelas dari Parmadi tentang keadaan dan kekuatan pertahanan dalam benteng itu. Pengetahuan tentang kekuatan pertahanan musuh, terutama sekali tentang letak meriam-meriam itu amatlah penting karena dengan demikian Pasukan Mataram dapat menyusun siasat penyerangan agar terhindar dari ancaman peluru-peluru meriam dan dapat memperoleh kemenangan tanpa menderita terlalu banyak korban.

Sementara itu, peristiwa pembakaran dua gudang ransum dan terbunuhnya beberapa perajurit, terutama sekali matinya dua orang pimpinan yang kepalanya hilang, menggegerkan para perajurit di kota Kadipaten Pasuruan. Apalagi ketika pada keesokan harinya, dua buah kepala pemimpin mereka itu dipasang di atas galah dan ditancapkan di depan pintu gerbang benteng mereka, para perajurit menjadi gentar sekali.

Para perwira pembantu dua pemimpin yang tewas itu segera mengirim laporan dan minta bantuan ke Blambangan. Pangeran Silarong mengajak para perwira, termasuk Parmadi, Muryani, dan Raden Wangsakartika sebagai pembela sukarelawan. Mereka semua dapat menduga bahwa peristiwa malam itu tentu menggemparkan dan membuat gentar hati pasukan musuh dan menurunkan semangat mereka. Oleh karena itu, Pangeran Silarong segera mengatur barisan dan memerintahkan penyerbuan pada keesokan harinya agar jangan memberi kesempatan musuh memperkuat diri dengan bantuan yang datang dari Blambangan.

Para senopati Mataram yang sudah berpengalaman menghadapi gempuran musuh yang mengandalkan meriam dan senapan, ketika mereka beberapa kali menyerbu Batavia, kini menggunakan siasat penyerbuan lewat sayap kanan dan kiri, tidak langsung dari depan yang dapat menjadi sasaran lunak peluru-peluru meriam dan mendekati benteng dari kanan kiri, maju sambil berlindung di balik pohon-pohon dan batu-batu, juga rumah-rumah penduduk yang sudah kosong ditinggalkan para penghuninya yang lari mengungsi.

Mereka membentuk Pasukan Sapit Udang, menyerbu dari kanan kiri dan setengah bagian pasukan menyerbu lewat belakang, yaitu lewat daerah rawa, dipimpin oleh pemandu-pemandu jalan yang sudah hafal akan keadaan daerah yang sukar dan berbahaya itu. Pertempuran dimulai. Pasukan Blambangan melawan dengan seluruh kekuatannya. Sebagian besar perajurit dari Bali pimpinan Senopati Tabanan dan Pacung yang menggantikan Panji Buleleng dan Macan Kuning yang telah tewas, dibekali aji kanuragan yang cukup tangguh, bahkan banyak diantara mereka, terutama para perwira dan senopati dari Bali itu memiliki aji kekebalan, tidak dapat dilukai serangan senjata tajam biasa.

Dengan perlawanan mati-matian terjadilah pertempuran yang amat hebat. Banjir darah terjadi ketika pasukan campuran Blambangan yang mempertahankan kota Pasuruan itu menerjang keluar menyambut musuh, setelah peluru-peluru meriam dan senapan mereka tidak dapat menahan desakan pasukan Mataram. Perang campuh yang amat hebat sehingga korban di kedua pihak roboh dan mayat-mayat berserakan. Darah mereka membasahi bumi. Teriakan-teriakan kemarahan bercampur aduk dengan jerit-jerit kematian.

Ki Randujapang, datuk Madura yang sakti itu, mengamuk dan merobohkan banyak perajurit Mataram dengan senjatanya sepasang kapak yang besar dan berat. sepasang kapaknya sudah berlepotan darah, demikian pula pakaiannya. Akan tetapi tiba-tiba ketika kapak kanannya menyambar ke arah kepala seorang perajurit, ada sebatang pedang berkelebat menangkis. "Tranggg... !" Bunga api berhamburan ketika kapak ditangkis pedang. ki randujapang terkejut karena dia merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat.

Ketika melihat siapa yang menangkis kapaknya dengan pedang, dia marah sekali dan sepasang kapaknya menyambar-nyambar dahsyat ke arah Muryani. Wanita perkasa ini menggerakkan tubuhnya yang ringan dan dapat bergerak cepat seperti seekor burung kepinis, pedangnya berubah menjadi gulungan sinar putih berkilauan dan ia balas menyerang dengan dahsyat pula, Terjadilah perkelahian yang amat seru. para perajurit kedua pihak tidak berani membantu karena tingkat kepandaian mereka masih terlampau rendah sehingga membantu berarti membiarkan diri terancam maut.

Dartoko juga mengamuk dengan pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri. Banyak perajurit Mataram yang roboh disambar kedua batang senjatanya itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul Raden Wangsakartika menghadapinya dan kedua orang ini pun bertanding seru dan mati-matian. Juga dua orang jagoan ini bertanding tanpa ada yang membantu karena para perajurit juga tidak berani mendekati mereka yang amat tangguh ini...