Asmara Berdarah Jilid 13

KETIKA Hui Song dan Sui Cin tiba di depan kakek itu, si kakek katai yang tadinya seperti orang bersemedhi itu kini membuka kedua matanya dan begitu sepasang mata itu dibuka, mau tidak mau Sui Cin menahan ketawanya. Dari sepasang matanya ini saja sudah dapat diketahui bahwa kakek ini adalah seorang aneh yang berwatak riang gembira, terbukti dari sepasang mata yang bersinar-sinar dan wajah yang berseri-seri lucu itu.

"Heh-heh-heh-heh!" Kakek katai itu mendahului mereka, terkekeh geli. "Apakah kalian ini sepasang pendekar muda yang hendak mencari penculik pengantin wanita? Heh-heh!"

Tentu saja Hui Song dan Sui Cin terkejut, merasa ditodong ketika kakek itu mendadak saja bertanya seperti itu. Hui Song hanya dapat mengangguk ada pun Sui Cin melangkah maju dan dialah yang menjawab,

"Benar, kek. Engkau ini kakek pendek lucu, bagaimana bisa tahu bahwa kami mencari penculik pengantin?"

Sejenak kakek itu memandang wajah Sui Cin, matanya semakin bersinar dan wajahnya semakin berseri "Heh-heh, nona manis, apa sukarnya? Kalian berlari-larian mendaki bukit dengan mempergunakan ilmu berlari cepat seperti dua orang pendekar, berkeliaran ke sini mau apa lagi kalau bukan mencari penculik pengantin? Heh-heh-heh."

Kini Hui Song sudah dapat menduga bahwa kakek ini tentulah memiliki kepandaian tinggi, maka dia bersikap hormat dan menjura. "Maaf jika kami menggangumu, locianpwe. Kami berdua bukanlah pendekar, akan tetapi benar dugaan locianpwe tadi bahwa kami berdua sedang mencari pengantin wanita yang lenyap diculik orang. Dapatkah kiranya locianpwe membantu kami..."

"Membantu apa?" kakek itu memotong.

"Hi-hi-hik, engkau ini aneh, kek. Tentu saja membantu kami memberi tahu apakah engkau tahu di mana adanya pengantin wanita yang diculik itu," kata Sui Cin, tidak mau bersikap terlalu hormat dan menyebut locianpwe kepada kakek lucu ini.

Anehnya, ketika menghadapi sikap Sui Cin yang bebas dan seenaknya itu, si kakek katai kelihatan lebih senang dan dia pun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Nona manis, engkau sungguh menyenangkan hati. Tentu saja aku tahu di mana adanya pengantin wanita itu karena akulah orangnya yang telah menculik dia!"

"Uhhh...! Heiiiittt...!" Hui Song demikian kaget mendengar pengakuan langsung seperti itu sehingga dia pun telah meloncat ke belakang sambil memasang kuda-kuda karena ketika bicara tadi si kakek botak mengakhiri pengakuannya sambil menggerakkan kedua tangan ke depan yang disangkanya sebagai gerakan hendak menyerang.

Melihat ini, kakek itu memandang kepada Hui Song dengan mata terbelalak, lalu dia pun tertawa bergelak sambil menepuk-nepuk perut. "Hua-ha-ha, orang muda, apakah engkau hendak menari monyet? Ha-ha-ha!"

Wajah Hui Song menjadi merah karena malu. Dia sendiri adalah seorang pemuda jenaka dan periang, juga suka menggoda orang, akan tetapi sekali ini dia bertemu batunya dan sebaliknya malah digoda dan menjadi bahan ejekan orang.

Akan tetapi Sui Cin yang sejak semula sudah merasa suka dan menganggap kakek itu lucu, segera mencela. "Wah, siapa yang percaya omonganmu, kek? Engkau tentu hanya membual saja. Mana bisa orang tua renta lemah sepertimu ini mampu melarikan seorang gadis pengantin? Dan pula, untuk apa bagimu? Engkau membual dan aku tidak percaya kentut itu!"

Kakek itu bangkit berdiri dan begitu melihat betapa kakek itu tingginya hanya sampai ke dadanya, Sui Cin merasa semakin geli. "Wah, kau ini anak kecil beruban ataukah kakek bertubuh kecil?" Ia menggoda.

"Kentut! Siapa yang kentut? Yang bertelur itulah yang berkotek, dan tentu engkau yang kentut, bukan aku, karena mana mungkin aku menjadi ayam biang? Aku jantan, sedang engkau betina, maka engkaulah yang menjadi ayam biang dan engkau pula yang kentut berbau busuk!"

Mendengar omongan yang tidak karuan dan ugal-ugalan itu, Sui Cin lantas terkekeh dan terpingkal-pingkal, membuat kakek itu semakin penasaran lagi.

"Ehh, nona, berani engkau mentertawakan aku dan mengira aku membual, ya? Nah, lihat sendiri, itulah mempelai wanita yang sudah kuculik dari rumah lurah Coa. Hei, anak-anak, keluarlah dan perlihatkan diri kalian kepada nona tukang kentut dan penari monyet ini!"

Sui Cin dan Hui Song memandang ke dalam goa dan mereka pun terbelalak heran ketika melihat munculnya seorang dara manis yang bergandeng tangan dengan seorang pemuda yang bajunya robek-robek dan kulit tubuhnya juga menunjukkan bekas-bekas cambukan.

Sui Cin yang tadinya menyangka kakek itu membual, kini memandang penuh perhatian. Inikah mempelai wanita yang dikabarkan hilang diculik orang itu? Dan kakek ini adalah penculiknya? Lalu siapa pemuda yang kelihatan jujur, seperti kebanyakan pemuda dusun atau petani itu?

"Eh, enci, benarkah engkau puteri lurah Coa yang akan menjadi pergantin lalu diculik oleh kakek ini? Dan siapa temanmu itu?" Sui Cin bertanya.

Gadis itu memang benar Coa Lan Kim adanya, dan pemuda itu adalah kekasihnya yang bernama Lo Seng. Mendengar pertanyaan Sui Cin, dia lantas mengangguk.

"Aku adalah Coa Lan Kim, puteri lurah Coa yang akan menjadi pengantin, dan memang aku diculik oleh locianpwe ini dan dia ini adalah Lo Seng, calon suamiku," katanya dengan tabah dan sikap menentang. Memang kini dia akan menentang siapa saja yang hendak menghalangi niatnya hidup bersama Lo Seng yang dicintainya.

"Suamimu? Calon suamimu? Bagaimana pula ini? Kalau engkau mau dikawinkan dengan pemuda ini, kenapa engkau diculik ke sini dan bersama calon suamimu..." Sui Cin berkata bingung.

"Aku bukan akan dikawinkan dengan dia!" kata Lan Kim. "Aku hendak dikawinkan menjadi isteri ke lima seorang pembesar di Sin-yang, tetapi aku tidak mau. Dia ini... pilihan hatiku dan aku ingin hidup bersama dia..."

"Ahhh, jadi engkau penculiknya!" Hui Song menudingkan jari telunjuknya kepada Lo Seng, "Engkau menculik pengantin untuk kau kawini sendiri? Sungguh berani dan..."

"Hushh, penari monyet ini benar-benar menjengkelkan!" sekarang kakek katai turut bicara. "Dengarkan terlebih dahulu penuturan pengantin wanita dan jangan cerewet dulu seperti perempuan!"

"Wah, kek, jangan begitu! Tidak semua perempuan cerewet!" Sui Cin menegur, agak tak senang karena Hui Song dipermainkan oleh kakek itu.

"Aku tidak peduli kalau perempuan cerewet, memang sudah pembawaannya. Akan tetapi kalau laki-laki cerewet, aku tidak suka."

Lan Kim mengerti bahwa dua orang muda yang kelihatannya pantas itu tentu bukan orang jahat dan agaknya terjadi kesalah pahaman mengenai penculikannya, maka dia pun maju melangkah lagi sambil menggandeng tangan kekasihnya. "Harap ji-wi suka mendengarkan penuturanku agar jangan salah sangka. Semenjak dulu antara aku dan Lo Seng ini terjalin hubungan akrab dan kami mengharapkan kelak menjadi suami isteri. Apa lagi orang tuaku juga sudah setuju untuk mengambil Lo Seng sebagai mantu, setelah Lo Seng membantu mengurus sawah ladang ayah selama beberapa tahun. Namun pada suatu hari datanglah pinangan pembesar di kota Sin-yang terhadap diriku. Ayah tidak berani menolak, bahkan merasa beruntung menerimanya. Dan Lo Seng yang menentang lantas dipecat, bahkan dicambuki. Nah, dalam keadaan seperti itu, selagi aku putus asa, muncullah locianpwe ini membawa aku lari dari rumah dan mempertemukan aku dengan kekasihku di goa ini."

Kini terdengar Lo Seng bercerita. "Aku sudah hampir putus asa dan mengambil keputusan hendak membunuh diri saja dari pada melihat kekasihku menikah dengan orang lain dan aku sendiri kehilangan pekerjaan dan dimusuhi. Tapi muncul locianpwe ini menyelamatkan aku dan sesudah aku bercerita tentang keadaanku, locianpwe ini lalu membawaku ke sini, menyuruh aku menunggu di dalam goa ini dan tidak lama kemudian dia sudah kembali membawa Lan Kim. Kini kami berdua sepakat untuk hidup bersama atau mati berdua. Harap ji-wi dapat mengerti keadaan kami dan tidak memaksa kami untuk kembali."

Hui Song dan Sui Cin saling pandang dan hati mereka merasa terharu. Ternyata kakek katai itu sama sekali bukan orang jahat, melainkan seorang penolong budiman.

"Ahhh, ternyata engkau benar-benar seorang yang baik, kakek tua," kata Sui Cin gembira dan Hui Song segera menjura.

"Harap locianpwe maafkan kalau tadi kami telah menyangka buruk."

"Heh-heh-heh, orang-orang muda baru mempunyai kepandaian sedikit saja sudah takabur dan ingin berlagak seperti pendekar-pendekar jagoan. Orang-orang muda, andai kata aku benar-benar menculik gadis itu untukku sendiri, dengan niat busuk, habis apa yang akan kalian lakukan?"

"Tentu saja akan menentangnya!" kata Hui Song.

"Kau akan kugempur dan gadis itu kurampas untuk kukembalikan kepada orang tuanya, kek," sambung Sui Cin.

"Bagus, kalau begitu kalian majulah, hendak kulihat sampai di mana kelihaian kalian."

"Tapi locianpwe tidak berniat buruk dan tidak bersalah...!" Hui Song membantah.

"Hemm, andai kata aku penjahat, apakah engkau juga masih ragu-ragu. Nah, majulah dan anggap saja aku pencuilk gadis. Ingin kulihat sampai di mana kelihaian kalian. Atau, aku sebagai penjahat medahului kalian karena tak ingin diganggu!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja kakek itu melangkah maju dan begitu tangannya bergerak, tangan itu sudah menampar ke arah dada Hui Song.

"Eeiiitttt...!" Hui Song segera mengelak dengan mundur selangkah, akan tetapi tamparan yang luput itu sudah disambung dengan totokan ke arah pundak. Gerakan kakek itu cepat sekali sehingga mengejutkan hati Hui Song yang kini mempergunakan tangan menangkis totokan.

"Dukkk!"

Tubuh Hui Song terhuyung ke belakang. Pemuda ini terkejut bukan main karena tadi dia hanya mempergunakan sebagian sinkang-nya, khawatir akan melukai kakek tua renta itu, akan tetapi akibatnya, dia terhuyung-huyung dan lengannya tergetar hebat. Kiranya kakek ini memiliki sinkang yang hebat.

Akan tetapi, sambil terkekeh-kekeh kakek itu sudah menyerangnya lagi dan gerakannya cepat bukan main. Tubuh yang kecil itu berkelebat seperti terbang saja dan tahu-tahu dia sudah mencengkeram ke arah pundak Hui Song.

"Lihat seranganku!" Mendadak terdengar Sui Cin membentak dari samping dan dia sudah menggerakkan tangan kirinya menotok ke arah iga bawah ketiak dari lengan kakek yang mencengkeram itu.

Totokan ini amat hebat dan cepat datangnya, membuat kakek itu terpaksa membatalkan cengkeramannya pada pundak Hui Song, lalu menekuk lengan untuk menangkis sekalian menangkap pergelangan tangan gadis itu. Namun Sui Cin sudah menarik pulang tangan kirinya dan sekarang tangan kanannya menampar dan dari telapak tangan itu keluarlah uap putih tipis. Itulah Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih), sebuah ilmu pukulan yang amat ampuh, satu di antara ilmu-ilmu ampuh yang pernah diajarkan Pendekar Sadis kepada puteri tunggalnya itu.

"Ehh...!" Kakek itu terkejut sekali menyaksikan ilmu pukulan yang hebat ini dan begitu dia berkelebat, Sui Cin menjadi bengong karena orang yang baru diserangnya tiba-tiba saja lenyap dan tahu-tahu sudah berada di belakang tubuhnya, dan sambil terkekeh kakek itu kini menotok ke arah tengkuknya. Sui Cin merasa adanya angin menyambar ini, maka dia pun mempergunakan ginkang-nya lantas tubuhnya mencelat ke depan untuk mengelak.

Akan tetapi, pada saat itu pula Hui Song yang sudah tahu betapa lihainya kakek itu, telah menerjang ke depan tepat pada saat Sui Cin diserang sehingga andai kata Sui Cin tidak menggunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak sekali pun, maka serangan kakek itu akan dapat digagalkannya karena kini Hui Song juga tak sungkan-sungkan lagi. Begitu menyerang, pemuda ini sudah mempergunakan jurus Thai-kek Sin-kun dan mengerahkan tenaga sakti Thian-te Sinkang!

Kembali kakek itu terkejut. Agaknya dia pun tidak menyangka bahwa dua orang muda itu benar-benar merupakan dua orang muda yang berilmu tinggi, dua orang pendekar muda tulen! Apa lagi ketika dia melihat betapa ilmu-ilmu yang dipergunakan dua orang muda ini bukanlah ilmu-ilmu silat biasa saja, melainkan ilmu-ilmu yang amat tinggi mutunya.

"Nantl dulu, tahan dulu...!" Tiba-tiba saja kakek itu berhenti dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke belakang menjauhi dua orang muda itu.

"Kek, kami belum kalah, kenapa berhenti?" Sui Cin yang sudah merasa gembira dengan pertandingan itu, mencela.

Bagaimana pun juga, di dalam hatinya gadis ini merasa benar bahwa kakek itu bukanlah orang jahat dan pertandingan itu hanya merupakan pengujian kepandaian saja. Ia bahkan merasa suka kepada kakek itu yang memiliki wajah jenaka dan selalu gembira.

"Heh-heh-heh, aku pun belum kalah. Aku hanya minta berhenti sebentar untuk berbicara. Agaknya kalian berdua memiliki sedikit ilmu silat, maka pantas saja kalian begitu takabur hendak berperan sebagai pendekar-pendekar. Sekarang begini. Kalian melawan aku, dan kalau dalam waktu dua puluh jurus aku masih belum mampu mengalahkan kalian, anggap saja aku kalah dan aku akan menyebut kalian suhu dan subo!"

Sui Cin tertawa geli. "Wah, kalau engkau menyebut subo kepadaku, berarti usiaku tentu sudah seratus tahun lebih. Tapi itu merupakan penghormatan besar. Baik, aku setuju!"

Diam-diam Hui Song merasa sangat terkejut. Begini takaburkah kakek ini? Dia tahu akan kemampuan diri sendiri dan dia pun sudah tahu betapa tinggi ilmu gadis puteri Pendekar Sadis itu. Menandingi mereka satu lawan satu saja jarang dapat ditemukan orangnya, dan kakek ini menantang mereka berdua maju mengeroyok dan bertaruh dapat mengalahkan mereka dalam waktu dua puluh jurus! Tentu saja hatinya merasa penasaran karena dia merasa dipandang rendah.

"Baik, locianpwe, kami setuju. Akan tetapi bagaimana kalau... kalau ternyata kami berdua yang kalah dalam dua puluh jurus itu?"

"Ha-ha-ha, orang muda yang berhati-hati, tentu engkau telah menduga buruk lagi padaku, ya? Dengarlah, kalau aku kalah, aku akan menyebut kalian suhu dan subo, namun kalau sebelum dua puluh jurus kalian yang kalah, maka kalian harus membantuku menolong pengantin ini."

"Menolong dengan cara bagaimana?" tanya Sui Cin.

"Kita harus menggagalkan pernikahan itu dan juga menghajar pembesar mata keranjang itu agar kapok. Akan tetapi, kalian harus menurut semua rencana siasat yang kuatur dan sama sekali tidak boleh menolak."

Tentu saja Sui Cin dan Hui Song menyetujui karena apa salahnya kalau hanya itu saja taruhannya? Tanpa bertaruh sekali pun, bukankah mereka berdua sekarang juga sedang berusaha menolong pengantin wanita yang tadinya mereka cari karena menyangka diculik penjahat?

"Baik, baik, kami berjanji," kata mereka dengan gembira.

"Nah, bersiaplah. Jurus pertama!" kakek itu berseru, lalu tubuhnya bergerak secara aneh, tahu-tahu dalam satu jurus saja dia sudah menendang ke arah lutut Hui Song dan tangan kirinya menyambar ke arah pundak Sui Cin. Gerakannya selain aneh dan kuat, juga cepat sekali, mendatangkan angin bersuitan sehingga mengejutkan dua orang muda yang cepat menghindarkan diri.

Hui Song adalah seorang pemuda cerdik. Dia maklum bahwa kakek ini memang lihainya bukan main, akan tetapi kalau dalam waktu dua puluh jurus saja, mana mungkin sanggup mengalahkan dia dan Sui Cin, apa lagi kalau mereka berdua mengerahkan seluruh daya hanya untuk melindungi diri? Jika mereka membagi perhatian untuk menyerang, mungkin mereka akan terlengah sehingga dapat dikalahkan.

"Cin-moi, pergunakanlah daya tahan Thai-kek Sin-kun!"

Gadis itu pun cerdik dan dia mengerti apa yang dimaksudkan Hui Song, maka seperti juga pemuda itu, dia segera mainkan Thai-kek Sin-kun, mencurahkan segala perhatian untuk mempertahankan atau melindungi dirinya. Keadaan kedua orang muda itu tiada ubahnya dua buah benteng baja yang sangat kuat dan tidak ada bagian lemah yang akan dapat ditembus!

Sejenak kakek itu terbelalak, kemudian mengeluarkan seruan keras dan sampai beberapa jurus lamanya dia berusaha mendobrak benteng pertahanan itu dengan berbagai macam serangan yang aneh-aneh. Tetapi semua serangannya ternyata kandas dan tidak mampu membobolkan benteng-benteng pertahanan dari Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun itu.

"Wah, hebat, hebat... Thai-kek Sin-kun yang amat hebat...!" Berkali-kali kakek itu berseru dengan suara mengeluh ketika ke mana pun juga dia menyerang, dia selalu gagal karena yang diserang itu pasti berhasil mengelak atau menangkis. Padahal dia sudah menyerang selama dua belas jurus, tinggal delapan jurus lagi!

Dia termangu-mangu sejenak dan Sui Cin mengejek. "Hik-hik, kakek lucu, bersiap-siaplah menyebut subo kepadaku. Sudah lewat dua belas jurus, tinggal delapan jurus lagi, jangan mengurangi hitungan!"

"He-heh-heh, siapa hendak mengurangi hitungan? Masih ada delapan jurus, cukup untuk mengalahkan kalian!" Tanpa menanti jawaban lagi, tiba-tiba saja kakek itu mengeluarkan suara melengking nyaring.

Dua orang muda itu terkejut karena suara melengking itu mengandung khikang yang amat kuat, yang masuk melalui telinga lantas dengan tajam menusuk jantung. Cepat mereka memasang kuda-kuda sambil mengerahkan sinkang melindungi tubuh bagian dalam dari serangan suara penuh khikang ini. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh kakek itu melesat dan lenyap, kini yang tampak hanyalah bayangan berkelebatan mengitari mereka, makin lama semakin cepat sehingga tidak lagi nampak jelas bayangannya, menjadi kabur!

Inilah berbahaya, pikir mereka. Tanpa dapat mengikuti gerak-gerik kakek itu yang ternyata mempergunakan ginkang yang sukar dipercaya apa bila tidak melihat sendiri, begitu cepat seperti terbang, bahkan seperti menghilang saja, tentu mereka tidak akan percaya kalau ada ginkang sehebat itu. Maka mereka pun bersikap waspada, tak berani berkedip karena sekali berkedip cukuplah bagi kakek itu untuk memasukkan serangannya dengan tepat.

Benar saja! Dua kali kakek itu menerjang sambil berputar, akan tetapi karena dua orang muda itu sudah bersiap-siap dengan kuda-kuda yang sangat kuat, mereka berdua mampu menangkis. Kakek itu agaknya merasa penasaran, lantas menyerang lagi sampai empat jurus, akan tetapi semua serangannya gagal.

"Hi-hik, tinggal dua jurus lagi dan engkau menyebutku subo!" Sui Cin tak dapat menahan kegembiraan hatinya mengejek.

Tiba-tiba bayangan yang berputaran itu mengeluarkan uap putih lalu terciumlah bau arak wangi. Kiranya sambil berputaran semakin cepat tadi kakek itu sudah menyerang dengan menggunakan semburan arak yang agaknya diminumnya sambil berlari berputar-putar itu.

Sui Cin dan Hui Song terkejut bukan kepalang. Sambaran arak itu mengenai kulit mereka laksana jarum-jarum halus saja, dan yang membuat mereka repot adalah semburan yang mengarah muka mereka! Tentu saja mereka gelagapan dan melindungi muka, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba saja mereka merasakan lutut mereka lemas kehilangan tenaga dan betapa pun mereka bertahan, tetap saja kaki mereka tertekuk sehingga keduanya roboh berlutut!

"Hoa-ha-ha-ha, tepat dua puluh jurus dan kalian mengaku kalah. Akan tetapi tidak perlu berlutut, jangan sungkan-sungkan, aku tidak bisa menerima penghormatan berlebihan ini, ha-ha-ha!"

Sui Cin dan Hui Song saling berpandangan. Lutut mereka tadi tertotok, akan tetapi tidak parah, hanya cukup membuat mereka terpaksa berlutut saja. Kini pengaruh totokan sudah lenyap lagi dan mereka bangkit berdiri. Tahulah mereka bahwa kakek itu selain amat lihai juga tidak berniat buruk, hanya ingin menang tanpa berniat mencelakakan mereka. Akan tetapi Sui Cin cemberut.

"Kakek buruk, engkau telah menang dengan menggunakan akal busuk!"

"Ha-ha-ha, anak manis, di dalam pertandingan memang diperlukan akal dan siasat. Siapa kalah kuat harus menggunakan akal. Nah, kalian telah kalah, maka sekarang kalian harus membantuku. Waktunya hanya tinggal setengah hari ini. Sore hari nanti pengantin wanita she Coa ini akan dijemput kemudian dibawa ke Sin-yang, yaitu ke rumah calon suaminya, si bangsawan keparat itu. Siapakah nama kalian?"

"Saya bernama Cia Hui Song, locian-pwe."

"Namaku Ceng Sui Cin."

"Hemm, she Cia mengingatkan aku kepada Cin-ling-pai dan she Ceng...? Apakah bocah nakal yang dijuluki Pendekar Sadis itu juga she Ceng?"

Karena maklum bahwa kakek ini tentu seorang tokoh sakti yang selama ini tidak pernah muncul di dunia kang-ouw sehingga dia tidak pernah mendengar tentang kakek katai ini, Hui Song merasa tak perlu menyembunyikan diri. "Pendekar Sadis adalah ayah kandung nona ini dan ketua Cin-ling-pai adalah ayah saya, locianpwe."

Kakek itu membelalakkan matanya, mengelus-elus jenggot panjangnya dan tertawa-tawa. "Hua-ha-ha, pantas, pantas...! Sekarang aku tidak penasaran lagi mengapa hanya untuk mengalahkan dua orang bocah ingusan macam kalian saja, aku tadi harus mengerahkan seluruh tenaga sampai dua puluh jurus. Kalau bukan kalian, ha-ha-ha, baru muncul saja aku sudah jatuh nama. Nah, Sui Cin dan Hui Song, kini kalian dengar baik-baik rencanaku untuk menolong gadis itu dan menghajar pembesar mata keranjang itu. Sui Cin, sekarang engkau harus mengantar gadis Coa itu pulang ke rumahnya karena di situ telah disiapkan segala sesuatu untuk mengantar pengantin wanita ke Sin-yang sore nanti."

"Ehh, bagaimana ini? Bukankah gadis itu akan dipaksa kawin sedangkan engkau hendak mencegah terjadinya hal itu, kek?" tanya Sui Cin yang tetap menyebut 'kakek' dan tidak bersikap hormat seperti Hui Song.

"Ingat, kalian sudah kalah dan berjanji akan mentaati semua perintakku untuk menolong pengantin."

"Baiklah, kek, aku tidak membantah, hanya bertanya," kata Sui Cin bersungut-sungut.

Kakek itu tertawa, agaknya gembira dapat menggoda Sui Cin. "Engkau mengantar gadis Coa itu kembali karena engkau tadi telah berjanji untuk mencarinya. Katakan saja kepada keluarga itu bahwa gadisnya diculik penjahat dan engkau berhasil merampasnya kembali, dan katakan pula bahwa engkau akan mengawal sendiri pengantin ini menuju ke Sin-yang agar jangan diganggu penjahat di tengah perjalanan. Mengerti?"

"Wah, kakek buruk, agaknya engkau sengaja ingin mengejekku, ya? Sudah jelas bahwa aku gagal merampas kembali pengantin yang kau culik!" Sui Cin mengomel.

"Dan apakah tugas saya, locianpwe?" tanya Hui Song yang terbawa oleh percakapan itu. "Sudahlah, Cin-moi, kita mentaati saja karena sudah kalah. Lagi pula kita pun tahu bahwa locianpwe ini bukan orang jahat. Andai kata demikian, tentu kita tidak akan menurut begitu saja."

"Heh-heh, putera Cin-ling-pai ini sukar mempercaya orang, dan selalu menyangka buruk. Untukmu aku sudah mempunyai tugas yang sangat tepat. Engkau akan kudandani, ingat, engkau harus taat kepadaku. Heiii, orang muda, kau bawa ke sini pakaian pengantin itu!" kata kakek itu kepada Lo Seng.

Lo Seng mengambil sebuah bungkusan di sudut goa kemudian menyerahkannya kepada si kakek yang segera membuka bungkusan dan keluarlah seperangkat pakaian pengantin berikut penghias rambut dan sebagainya, milik nona pengantin Coa yang disangka lenyap dicuri orang itu! Melihat ini, Hui Song terbelalak dan mukanya berubah merah.

"Locianpwe, apa maksudmu?"

Akan tetapi kakek itu telah menghampirinya, membentang pakaian pengantin wanita yang lebar dan berwarna indah dengan hiasan huruf-huruf yang berbunyi 'Bahagia' itu. "Engkau harus mentaati perintahku, menjalankan siasatku. Lekas pakai pakaian ini. Engkau harus menyamar sebagai pengantin wanita, menggantikannya kelak untuk diboyong ke rumah pejabat itu."

"Wah...! Ini... ini..." Hui Song tergagap dan bingung.

"Hik-hik! Twako, kita sudah kalah dan berjanji mentaatinya. Engkau juga harus mentaati perintahnya." Sui Cin tertawa-tawa gembira dan geli ketika kakek itu memaksa Hui Song memakai jubah pengantin di luar pakaiannya sendiri.

Karena pakaian pengantin itu memang besar kedodoran dan tubuhnya pun sedang saja, maka pakaian itu dapat juga menutupi tubuhnya dan tentu saja kelihatan lucu. Apa lagi sesudah kakek itu memaksanya memakai rangkaian bunga di kepalanya. Sui Cin melihat ini sambil tertawa-tawa geli, sampai memegangi perutnya saking gelinya. Apa lagi melihat betapa Hui Song menjadi bengong dan melongo saja dengan muka yang ketololan, dia pun menjadi semakin geli.

"Wajahmu cukup tampan, akan tetapi kurang halus untuk menjadi wajah pengantin wanita yang halus putih," kakek itu berkata, lantas mengeluarkan bedak dan menggunakan jari tangannya mengoleskan bedak di muka Hui Song yang terpaksa berdiri tak bergerak dan mendorong muka ke depan, hanya pasrah tanpa berani membantah. Sui Cin yang berdiri di belakangnya tertawa gembira.

"Wah, sulit amat. Membungkuklah, Hui Song, wah, alismu terlalu tebal, jadi harus dicukur bersih dan dibikin kecil," kakek itu tertawa-tawa.

"Wah, jangan, locianpwe...!" Hui Song berkata khawatir.

Melihat ini, Sui Cin cepat turun tangan. "Kakek nakal, biarkan aku saja yang mendandani Song-twako, ditanggung akan kelihatan lebih cantik menarik dari pada kalau engkau yang merusak mukanya."

Sui Cin memang ahli dalam melakukan penyamaran dan sesudah dia turun tangan, maka wajah Hui Song memang kelihatan cantik, walau pun tentu saja alisnya masih terlalu tebal dan juga tubuhnya sangat kaku. Kakek itu lalu menjelaskan siasatnya. Gadis Coa akan diantar pulang oleh Sui Cin, dan selanjutnya mereka akan bergerak menukar pengantin lantas memberi hajaran kepada pembesar itu. Sementara itu pemuda Lo Seng diharuskan menanti di dalam goa.

Maka berangkatlah mereka. Sui Cin mengantar gadis Coa pulang ke dusunnya. Coa Lan Kim tidak merasa takut ketika dibawa pulang ke dusun oleh Sui Cin, sebab gadis itu telah diberi tahu bahwa para orang gagah itu akan menolongnya dan akan melepaskannya dari cengkeraman pembesar di Sin-yang agar dia dapat hidup bersama Lo Seng.

Lurah Coa dan orang-orangnya menyambut kedatangan mereka dengan gembira sekali. Dengan gayanya yang sangat menarik, Sui Cin menceritakan bahwa Lan Kim diculik oleh gerombolan penjahat yang berilmu tinggi, akan tetapi dia berhasil merampasnya kembali.

"Lanjutkanlah upacara pernikahan, dan aku sendiri yang akan mengawal enci Lan Kim ke kota Sin-yang agar dapat membasmi para penjahat yang hendak mencoba menghadang di tengah perjalanan."

Tentu saja keluarga Coa menjadi gembira sekali dan Sui Cin disambut dan dijamu seperti seorang tamu agung yang sangat dihormati. Kepada lurah Coa, Sui Cin memberi tahukan bahwa sekarang kawannya masih menyelidik gerombolan itu, membayangi mereka ketika mereka melarikan diri.

Lan Kim lalu didandani dan kini gadis itu tidak menolak lagi, tidak rewel sehingga ibunya merasa lega dan senang. Walau pun pakaian pengantin yang dikenakan nona pengantin itu dibuat tergesa-gesa dan tidak seindah pakaian pengantin yang hilang, namun Lam Kin nampak cantik dan anggun dalam pakaian pengantin.

Setelah saatnya tiba maka muncullah jemputan dari Sin-yang, utusan pengantin pria yang mengirim joli dan barang-barang hadiah. Pengantin pria sendiri tidak muncul. Bukankah dia seorang pejabat tinggi di Sin-yang dan Lan Kim hanya menjadi isteri ke lima?

Kedudukannya terlampau tinggi untuk merendahkan diri turun ke dusun menjemput sendiri calon isteri kelimanya. Para utusannya saja sudah cukup membuat keluarga Coa merasa terhormat sekali, apa lagi para utusan itu datang membawa hadiah-hadiah yang luar biasa banyaknya bagi keluarga lurah itu.

Setelah lurah Coa menceritakan kepada para utusan bahwa di dusun itu baru saja terjadi gangguan dari gerombolan penjahat, dan bahwa Sui Cin adalah seorang pendekar wanita yang akan mengawal pengantin, para pesuruh dari kota itu pun merasa gembira. Siapa tidak akan gembira melakukan perjalanan dikawal seorang pendekar wanita secantik itu?

Berangkatlah rombongan pengantin, diiringi suara musik dan petasan, juga suara tangisan ibu pengantin dan para keluarga wanita lainnya. Tangis para keluarga wanita mengantar pengantin ini sudah merupakan semacam kebiasaan dan tradisi yang tidak mungkin dapat ditinggalkan lagi. Sukar lagi membedakan mana tangis yang sungguh-sungguh dan mana tangis buatan, seperti juga ratap tangis yang terdengar pada peristiwa perkabungan.

Memang menyedihkan kalau kita benar-benar mau membuka mata dengan waspada dan melihat betapa kepalsuan-kepalsuan semakin tebal menghiasi kehidupan kita. Tawa kita, tangis kita, kebanyakan merupakan perbuatan yang palsu dan pura-pura untuk menutupi atau menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya dari batin kita.

Dengan dalih demi sopan santun, demi tata susila dan lain sebagainya, banyak hati yang sedang berduka memaksa mulutnya supaya tersenyum atau sebaliknya, batin yang tidak sedang prihatin memaksa mata supaya menangis. Bahkan setiap hari kita selalu seperti terpaksa untuk berpura-pura, berpalsu-palsu, bersikap atau pun berbuat yang berlawanan dengan batin!

Tidak adanya persamaan atau keserasian antara batin dan ucapan, antara batin, ucapan dan perbuatan, merupakan konflik-konflik yang setiap hari terjadi dalam diri kita. Semua itu bahkan seperti sudah menjadi suatu keharusan, suatu kebiasaan bagi kita.

Dapat kita selidiki pada diri sendiri. Kalau kita berhadapan dengan orang lain, kalau kita bersikap manis, tersenyum, menangis, benarkah semuanya itu sesuai dengan suara hati kita? Ataukah hanya pura-pura saja, sekedar memenuhi syarat umum supaya dianggap sopan, beradab dan sebagainya? Mengapa harus begini? Tidak dapatkah kita bersikap wajar dan selalu ada keserasian antara batin, ucapan dan perbuatan?

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Rombongan pengantin itu hanya melewati sebuah hutan kecil karena jarak antara dusun Lok-cun dan kota Sin-yang juga tidak begitu jauh, hanya perjalanan kurang lebih dua jam saja. Sebab itu para pengawal atau utusan Su-tikoan (jaksa Su) sama sekali tidak merasa khawatir, bahkan agak geli melihat betapa keluarga pengantin wanita sudah menyediakan seorang pendekar wanita untuk mengawal pengantin.

Sudah bertahun-tahun tidak pernah terjadi pencegatan oleh perampok atau penjahat lain di hutan itu. Tadi pun ketika mereka berangkat ke dusun membawa barang-barang hadiah pengantin yang berharga, sama sekali tak terjadi gangguan. Lagi pula, siapa yang berani mengganggu rombongan pengantin Su-tikoan? Mencari mati saja namanya!

Ketika mereka tiba di dalam hutan, sore telah larut dan senja mendatang, membuat cuaca di dalam hutan itu menjadi remang-remang karena cahaya matahari yang sudah condong ke barat itu terhalang daun pohon-pohon. Ketika mereka sedang enak berjalan, tiba-tiba saja dari samping kiri terdengar teriakan yang amat nyaring, teriakan yang menggetarkan jantung dan menusuk telinga mereka.

"Berhenti dan serahkan nona pengantin!"

Mendengar ini, wajah para utusan dan para pengawal yang jumlahnya belasan orang itu mendadak menjadi pucat dan mata mereka terbelalak. Akan tetapi dengan memberanikan hati mereka mencabut senjata masing-masing, dan mereka memandang kepada Sui Cin yang menurut keluarga mempelai sudah ditunjuk sebagai pengawal serta pelindung nona pengantin.

Sui Cin juga memperlihatkan sikap gugup. "Kalian semua bertahan di sini, biar aku yang menyelamatkan pengantin. Aku tunggu kalian di luar hutan ini!" Berkata demikian, Sui Cin lalu mengambil joli atau gerobak dorong itu lantas mendorongnya sendiri sambil berlari keluar dari hutan.

Tiba-tiba muncullah seorang yang melihat pendeknya tubuh tentu seorang remaja, akan tetapi dia memakai kedok lebar yang menutupi seluruh wajahnya, hanya memperlihatkan sepasang mata yang bersinar mencorong dari balik lubang-lubang kedok kayu itu. Sambil mementangkan kedua lengannya, orang yang bertubuh kecil pendek seperti anak-anak ini berkata,

"Hayo tinggalkan semua senjata dan pakaian kalian di sini kalau ingin selamat!"

Jika tadi semua orang itu merasa takut, kini mereka malah tersenyum mengejek. Kiranya yang menghadang mereka hanyalah seorang anak kecil saja, yang ingin menakut-nakuti mereka dengan kedok setan, seolah-olah mereka semua dianggap sebagai serombongan anak-anak penakut saja.

"Heh, bocah setan, apa kau sudah bosan hidup?" bentak kepala rombongan. "Hayo buka kedokmu dan cepat berlutut minta ampun karena telah mengejutkan hati kami!"

"Heh-heh-heh, rombongan tikus. Lekas lakukan perintahku tadi atau kalian harus berlutut delapan kali dan menyebut aku kong-couw!"

Tentu saja rombongan itu menjadi marah. Seorang di antara mereka melangkah maju dan mengayun tangan menampar ke arah muka anak bertopeng itu dengan keras. Orang ini tinggi besar dan tangannya pun lebar, ketika menampar seperti kipas saja mendatangkan angin.

"Plakkk!"

Sungguh aneh sekali. Anak pendek berkedok itu hanya mengangkat tangan menangkis, tepat mengenai lengan si tinggi besar, akan tetapi seketika si tinggi besar mengaduh dan berjingkrak sambil memegang lengan kanannya yang terasa panas dan sakit seperti tadi bertemu dengan tongkat baja saja. Melihat ini, semua orang menjadi marah dan dengan senjata di tangan mereka serentak menerjang.

"Heh-heh, kalian harus berlutut semua, berlutut semua!" Orang berkedok itu tertawa-tawa dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap, disusul teriakan-teriakan lantas belasan orang itu roboh satu demi satu, roboh berlutut karena tiba-tiba saja mereka merasa kaki mereka seperti lumpuh.

Akan tetapi ketika mereka semua memandang, orang berkedok yang bertubuh pendek itu telah lenyap dari situ, entah ke mana dan agaknya orang itu tidak melakukan sesuatu lagi, buktinya barang-barang mereka masih utuh, juga mereka itu semua tidak terluka dan kini dapat berdiri lagi.

Tentu saja pengalaman aneh ini membuat mereka merasa amat ketakutan. Belum pernah selama hidup mereka bertemu dengan orang yang sehebat itu kepandaiannya, dan tanpa menanti perintah lagi mereka segera berlomba melarikan diri keluar hutan untuk menyusul larinya Sui Cin yang telah pergi lebih dahulu menyelamatkan nona pengantin itu.

Ketika mereka tiba di luar hutan, rombongan itu melihat Sui Cin berdiri menanti bersama joli dorong yang diselamatkannya tadi. Maka giranglah hati mereka karena ternyata gadis pendekar itu dalam keadaan selamat dan terutama sekali pengantin wanita ternyata tidak terganggu.

Sui Cin pura-pura heran melihat mereka berlari-lari dengan sikap ketakutan itu dan cepat menyongsong mereka dengan pertanyaan heran, "Ehh, mengapa kalian berlari-lari seperti orang ketakutan?"

Dengan suara mengandung ketegangan dan napas masih terengah-engah, mereka lantas menceritakan betapa mereka telah diserang oleh seorang penjahat bertubuh kecil seperti kanak-kanak yang memakai kedok. Tentu saja diam-diam Sui Cin merasa geli karena dia dapat menduga siapa adanya anak kecil berkedok yang lihai itu.

"Kalau begitu, mari kita cepat pergi dari sini menyelamatkan pengantin sebelum setan itu melakukan pengejaran," katanya.

Rombongan itu tentu saja setuju dengan ucapan ini dan dengan tergesa-gesa mereka lalu mendorong joli pengantin yang merupakan gerobak kecil beroda itu. Saking tegang hati mereka, para pendorong gerobak itu tak menyadari bahwa joli atau gerobak yang mereka dorong itu jauh lebih berat dari pada tadi.

Ketika rombongan yang menjemput nona pengantin sampai di gedung Su-tikoan, ternyata rumah itu tidak dirias dan penyambutan tidak semeriah upacara yang diadakan di rumah nona pengantin. Dan memang hal itu tidak mengherankan.

Menikahi seorang wanita untuk menjadi isteri ke lima, apa lagi kalau wanita itu hanyalah seorang gadis desa, tidak dianggap sebagai peristiwa yang patut dirayakan secara besar-besaran oleh pejabat tinggi itu. Bahkan dianggapnya sebagai suatu kesenian atau hiburan pribadi saja, maka di sana tidak terdapat pesta penyambutan, tidak banyak tamu kecuali beberapa belas orang anak buah pembesar itu.

Apa lagi ketika para penjemput itu dengan bermacam-macam gaya menceritakan tentang pencegatan orang aneh yang sangat lihai, Su-tikoan sendiri yang merasa khawatir lantas tergesa-gesa memerintahkan agar pengantin perempuan langsung saja bersama jolinya itu dibawa ke dalam gedung dan langsung ke dalam kamar pengantin!

Hanya empat orang yang memanggul joli dorong itu, dengan dikawal oleh Sui Cin. Ketika Su-tikoan mendengar bahwa gadis cantik jelita yang turut bersama rombongan itu adalah seorang pengawal yang melindungi nona pengantin, tentu saja dia mengijinkan pengawal cantik ini ikut masuk pula.

Hati pembesar bertubuh gendut yang mata keranjang itu segera tertarik kepada Sui Cin. Dia sudah pernah melihat Lan Kim dan kini dia melihat betapa wanita gagah itu jauh lebih cantik dari pada gadis desa yang telah diangkatnya menjadi isteri kelima, maka tentu saja matanya sudah melirak-lirik dan mulutnya tersenyum-senyum ceriwis. Apa lagi ketika dia melihat betapa wanita perkasa yang cantik jelita itu bersikap manis dan selalu tersenyum kepadanya.

Pembesar yang usianya telah enam puluh tahun ini memang terkenal mata keranjang dan agaknya dia beranggapan bahwa semua wanita besi dibeli dengan harta dan kedudukan. Baginya, wanita tentu akan tunduk dan mau kalau dipameri harta dan kedudukan tinggi, walau pun dia sudah tua dan wajahnya buruk, dengan muka kasar menghitam dan perut gendut seperti perut babi.

Maka, ketika joli tiba di depan kamar yang sudah dipilihnya sebagai kamar pengantin bagi calon isterinya yang ke lima, dia menyuruh empat orang pemikul joli itu pergi. Joli lantas diturunkan dan kini didorong oleh Sui Cin sendiri memasuki kamar atas isyarat pembesar itu. Lima orang pelayan wanita yang muda-muda dan cantik dengan suara ketawa ditahan yang genit turut pula memasuki kamar dan mereka ini segera mempersiapkan hidangan yang lezat dan mewah di atas meja dalam kamar.

"Nona tentu lelah dan baru saja mengalami peristiwa yang menakutkan. Silakan duduk, nona," kata pembesar itu.

Tanpa banyak pura-pura lagi Sui Cin lalu duduk di atas kursi, menghadapi meja makan sampai semua hidangan diatur di atas meja dan pembesar itu menyuruh semua pelayan keluar dari dalam kamar.

"Tinggalkan kami dan jangan ganggu atau masuk kalau tidak dipanggil," kata pembesar gendut itu.

Sambil cekikikan para pelayan itu kemudian berlarian keluar. Tentu saja pembesar yang mata keranjang itu tidak pernah membiarkan wanita begitu saja dan semua pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik itu di samping bertugas sebagai pelayan, kadang kala juga memperoleh giliran menemaninya di dalam kamar. Karena itulah maka mereka bersikap genit dan berani.

Sesudah semua pelayan keluar dan daun pintu kamar itu ditutup dari luar, pembesar itu cengar-cengir mendekati Sui Cin. Kali ini dia memperhatikan wajah wanita gagah ini dan jantungnya berdebar tegang. Inilah wanita cantik, pikirnya. Belum pernah dia memperoleh seorang wanita secantik ini, apa lagi kalau wanita ini mempunyai kegagahan, seorang ahli silat pandai yang selain menjadi miliknya sebagai kekasih juga dapat bertugas menjadi seorang pengawal pribadi yang setia dan menyenangkan!

"Nona, siapakah namamu?"

Sui Cin mengerutkan alisnya, akan tetapi tidak memperlihatkan rasa jijik dan marahnya. Pembesar ini adalah seorang laki-laki tua yang buruk rupa juga buruk watak. Mana ada seorang pengantin pria yang sedang dipertemukan dengan calon isterinya dan belum juga melihat calon isteri yang masih dibiarkan di dalam joli, sudah main mata dan berusaha merayu seorang wanita lain yang baru dijumpainya? Benar-benar seorang buaya darat, seorang hidung belang yang mata keranjang! Akan tetapi dia pura-pura tersenyum manis dan melirik manja.

"Taijin, nona pengantin sedang menanti dalam joli."

"Ehh...? Ohh... ya, aku lupa..."

"Biarlah saya keluar dari kamar dan pulang, taijin."

"Ehh, jargan dulu... jangan dulu, kita makan minum dulu, bersama nona pengantin. Aihh, aku sampai lupa kepada nona pengantin. Nona pengantin, keluarlah dan mari kita makan minum!" katanya sambil tersenyum menyeringai dan membuka joli yang tertutup itu. Akan tetapi ketika nona pengantin itu keluar dari joli, Su-tikoan terbelalak, matanya yang besar itu melotot seperti meloncat keluar dari tempatnya.

"Ini... ini... bukan gadis anak lurah itu...! Ehh, siapa engaku, berani mati mempermainkan aku?" Dia membentak dan melotot ke arah Hui Song yang berdiri di hadapannya dalam pakaian pengantin wanita!

Hui Song yang memang berwatak jenaka dan suka menggoda orang itu kini berlenggak-lenggok genit menirukan lagak seorang perempuan, tentu saja dengan gayanya yang lucu dan kaku, menggigit bibir dan mengerling tajam. "Hayaa... mengapa pengantin pria calon suamiku marah-marah kepadaku pada malam pertama ini? Aihhh..., kakanda, aku adalah mempelai wanita, calon isterimu yang tercinta. Mari peluklah aku, pondonglah aku ke atas pembaringan itu... aihhh..."

Pembesar itu langsung menggigil karena jijik mendengar suara nona pengantin itu besar laksana suara pria dan kini nona pengantin itu melangkah menghampirinya dengan sikap merayu.

"Hiiihh...!" Su-tikoan terbelalak ngeri sambil mundur-mundur ketakutan bercampur marah. "Pergi engkau! Keparat, berani engkau mempermainkan aku? Pengawal...!"

Akan tetapi suara tikoan itu langsung terhenti karena tiba-tiba jari tangan Hui Song sudah menotoknya, tepat pada jalan darah di leher sehingga membuat tikoan itu tak mampu lagi mengeluarkan suara. Kemudian, sekali menggerakkan kakinya, Hui Song menendang dan tubuh yang gendut itu terlempar ke atas pembaringan.

Dengan muka ketakutan dan mata terbelalak pembesar itu memandang ke arah Sui Cin, mengharapkan bantuan pengawal ini. Akan tetapi wajahnya menjadi semakin pucat ketika dia melihat gadis itu tersenyum mengejek. Maka tahulah dia sekarang bahwa orang yang menyamar sebagai mempelai puteri ini tentunya sekutu gadis itu! Dan jantungnya hampir berhenti saking takutnya ketika dia melihat Hui Song menanggalkan pakaian pengantin, menghapus penyamarannya dan menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah.

"Tua bangka mata keranjang, dengar baik-baik. Sekali engkau berteriak, maka aku akan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, Hui Song menepuk leher Su-tikoan hingga dia mampu lagi bicara.

"Ampunkan aku... kalian ini mau apa? Mengapa menyamar pengantin dan... dan di mana pengantinku...?"

"Keparat! Engkau hendak menggunakan harta dan kedudukanmu untuk memaksa gadis orang menjadi isteri ke lima. Nona Coa adalah milik kami dan akan pergi bersama kami. Kami melarikannya dari tangan orang tuanya yang mata duitan, supaya tidak terjatuh ke tangan serigala tua semacam engkau. Nah, cepat keluarkan uang saratus tail emas untuk bekal pengantin dan berjanji selamanya tidak akan melakukan paksaan mempergunakan harta dan kekuasaan!"

Tubuh pembesar itu menggigil. "Baik... baik...," katanya.

Akan tetapi dari pandangan matanya yang berkilat itu tahulah Hui Song bahwa orang ini merasa penasaran dan marah, hanya tunduk karena terpaksa saja. Sui Cin juga dapat menduga hal ini, maka gadis itu pun segera menghardik.

"Engkau adalah seorang pejabat tinggi, seorang pembesar yang seharusnya merupakan pelindung rakyat dan menjadi teladan bagi rakyat. Akan tetapi engkau lupa bahwa engkau pun seorang manusia biasa, seorang di antara rakyat. Setelah memegang jabatan tinggi, engkau lupa diri dan gila kekuasaan, mabok kemuliaan, sehingga engkau sering berbuat sewenang-wenang. Mengawini seorang gadis di luar kehendak gadis itu, mempergunakan harta dan kekuasaan untuk memaksa orang tua gadis itu. Orang seperti engkau ini layak dilenyapkan dari muka bumi. Akan tetapi kami masih mengampuni asal engkau insyaf dan mulai sekarang menjadi seorang pemimpin rakyat sejati."

Pembesar itu menundukkan mukanya, seperti seorang anak kecil yang dimarahi ibunya.

"Hayo cepat keluarkan seratus tail emas!" bentak Hui Song.

"Baik... baik...!" Kakek gendut itu cepat menghampiri sebuah lemari yang berada di sudut kamar. Di dekat lemari itu terdapat sebuah jendela yang tertutup. Tiba-tiba saja pembesar itu membuka daun jendela kemudian berteriak, "Pengawal...! Toloonggg...!"

"Keparat!" Hui Song berseru sambil tangannya menyambar kursi lalu dilontarkan ke arah pembesar yang hendak melarikan diri keluar dari jendela itu.

"Brukkk...!" Kursi itu menghantam muka si pembesar yang mengeluh dan roboh dengan muka berlumuran darah karena hidungnya telah remuk kena hantaman kursi itu.

"Cepat, ambil uangnya!" kata Hui Song.

Sui Cin menghampiri lemari itu dan mendobrak daun pintu lemari. Akan tetapi isinya tidak begitu banyak, hanya sepuluh tail emas dan beberapa belas potong perak. Sui Cin cepat mengambil emas dan perak itu, lantas membungkusnya dengan kain sutera yang banyak terdapat di dalam lemari.

Pada saat itu pula terdengar suara ribut-ribut di luar. Hui Song yang sedang berjaga-jaga di pintu tidak melihat adanya pengawal datang dan di luar seperti terdengar suara orang berkelahi.

"Cin-moi, cepat kita keluar!" teriaknya dan mereka pun berloncatan keluar setelah Sui Cin menyimpan uang rampasan itu.

Kiranya di ruangan dalam yang menuju ke kamar itu sudah terjadi perkelahian yang seru. Kakek katai itu sambil tertawa-tawa sedang dikepung dan dikeroyok oleh dua puluh lebih pengawal dan penjaga yang tadi mendengar teriakan majikan mereka. Walau pun para pengepung itu menggunakan segala macam senjata, namun kakek katai yang bertangan kosong itu menghadapi mereka sambil terkekeh-kekeh.

Enak saja dia mengelak dan menangkis semua senjata yang datang kepadanya bagaikan hujan. Beberapa buah senjata bahkan beradu dengan sepasang lengan yang pendek dan kecil dari kakek itu. Akan tetapi jelas bahwa kakek itu tidak mau melukai orang, apa lagi membunuh, hanya mempermainkan mereka seperti seekor kucing yang mempermainkan segerombolan tikus.

Melihat kakek itu bermain-main, Sui Cin lalu berseru. "Kakek, jangan main-main, mari kita pergi!"

"Heh-heh-heh, kalian telah selesai?" Kata kakek itu dan tiba-tiba saja para pengeroyoknya mengeluarkan seruan kaget ketika tiba-tiba saja kakek yang mereka keroyok itu lenyap seperti berubah menjadi asap dan menghilang.

Gegerlah gedung pembesar Su itu, apa lagi ketika para penjaga itu memeriksa ke dalam mereka menemukan Su-tikoan pingsan dalam kamarnya dengan hidung remuk sehingga dari hidung yang rusak itu mengalir darah yang melumuri seluruh mukanya. Melihat muka berlumuran darah itu, semua orang terkejut dan merasa ngeri, mengira bahwa pembesar itu tentu sudah terluka parah pada mukanya. Akan tetapi, sesudah muka itu dibersihkan, ternyata hanya hidungnya saja yang remuk.

Walau pun demikian, akan tetapi selamanya Su-tikoan akan menjadi orang cacat karena hidungnya hanya akan dapat sembuh dari lukanya, tapi tidak dapat pulih kembali, menjadi hidung yang melesak sehingga membuat mukanya buruk menakutkan. Dan pengalaman itu ternyata membuat Su-tikoan menjadi ketakutan dan bertobat. Dia hanya mengerahkan pasukannya untuk mencari penjahat-penjahat yang melarikan gadis Coa itu.

Juga lurah Coa berusaha mencari puterinya, namun sia-sia karena puterinya telah pergi jauh sekali, ke propinsi lain bersama laki-laki yang dicintanya, yaitu Lo Seng dan membina rumah tangga yang berbahagia, dengan modal uang emas dan perak yang diberikan oleh Sui Cin kepadanya, uang emas dan perak yang dirampas dari dalam lemari Su-tikoan.

Sesudah melarikan diri dari gedung Su-tikoan, Hui Song, Sui Cin serta kakek itu berlari kembali ke dalam hutan di mana kini telah menunggu Lo Seng dan Lan Kim. Seperti bisa kita duga, ketika kakek itu menggoda para pengawal di hutan dan Sui Cin menyelamatkan pengantin wanita, Lan Kim keluar dari dalam joli dan digantikan oleh Hui Song dan kini Lo Seng bersama Lan Kim menanti di dalam kuil tua. Mereka berdua langsung menjatuhkan diri dan berlutut di depan tiga orang penyelamat mereka itu, dan akhirnya mereka berdua dinasehatkan untuk pergi jauh ke propinsi lain dan diberi bekal uang yang dirampas dari Su-tikoan.

Setelah dua sejoli itu pergi, kakek itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, senang hatiku bahwa urusan ini berakhir dengan baik berkat pertolongan kalian berdua."

"Ahh, engkau terlampau merendahkan diri, kek. Untuk urusan sepele seperti ini saja, biar tanpa bantuan kami pun engkau tentu akan sanggup membereskannya sendiri." Sui Cin mencela.

"Heh-heh-heh, belum tentu! Mana aku mampu bergaya menjadi pengantin wanita seperti Hui Song ini? Ha-ha-ha, setidaknya aku dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian dua orang muda yang hebat, keturunan ketua Cin-ling-pai dan Pendekar Sadis."

"Locianpwe telah mengenal kami berdua, akan tetapi kami belum mengetahui siapa nama locianpwe yang mulia."

"Benar, engkau harus memperkenalkan namamu kepada kami, kek."

"Namaku? Ha-ha, apa sih artinya nama? Hanya sebutan kosong saja. Nama sama sekali tidak menunjukkan isinya, dan kalau mau bicara tentang isi, sekarang perutku kosong dan lapar bukan main!"

"Jangan khawatir, kek. Aku akan memasakkan makanan untukmu, namun engkau harus memperkenalkan nama," kata Sui Cin sambil mengeluarkan bungkusan-bungkusan kecil dari buntalan pakaiannya. Bungkusan-bungkusan itu terisi bumbu-bumbu masakan.

"Kau bisa masak?"

Mendengar pertanyaan yang nadanya tidak percaya dan memandang rendah ini, Sui Cin bangkit berdiri kemudian bertolak pinggang. "Jangan memandang rendah orang sebelum engkau mengujinya, kek. Kalau tidak pandai masak, perlu apa aku membual? Ibuku telah mengajarkan masakan-masakan yang luar biasa, masakan model selatan yang pasti akan membuat lidahmu menari-nari!"

"Ibumu? Aihh..., bukankah isteri Pendekar Sadis itu datuk yang pernah berjuluk Lam-sin? Ha-ha-ha, jangan-jangan hanya namanya saja yang besar akan tetapi isinya melompong. Jangan-jangan kalau engkau masak, hasilnya hanya masakan gosong dan pahit!" Kakek itu tertawa bergelak. "Ha-ha, bocah sombong, tentang masak-memasak, kiranya engkau harus belajar dulu dari Wu-yi Lo-jin (Kakek dari Gunung Wu-yi)!"

"Hemm, dan siapa itu Kakek Gunung Wu-yi?"

"Siapa lagi kalau bukan ini orangnya!" Kakek itu menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuknya. "Aku bertapa selama puluhan tahun di puncak Gunung Wu-yi, dan sekarang aku menjadi seorang kakek, maka apa lagi namaku kalau bukan Wu-yi Lo-jin? Ha-ha-ha!"

"Huhh, ternyata engkau seorang pertapa, paling-paling bisanya makan rumput dan daun muda, mana bisa memasak? Mari kita bertaruh. Kalau masakanku kalah olehmu, biar aku mengangkatmu sebagai guru memasak. Akan tetapi kalau masakanku lebih enak, engkau harus memberi hadiah kepadaku."

"Ha-ha-ha-ha!" Kakek itu mengelus jenggot yang panjangnya sampai ke perut itu, nampak gembira sekali. "Bagus, coba kau masak untukku, hendak kulihat apakah benar engkau pandai memasak ataukah hanya membual saja. Jika benar-benar masakanmu lebih enak dari pada masakanku, engkau boleh minta hadiah, sebut apa saja, tentu akan kuberikan padamu!"

"Benarkah itu? Apa saja yang kuminta akan kau berikan? Song-twako ini menjadi saksi hidup!"

"Tentu saja, selamanya aku tidak pernah bohong."

"Ahh, batal saja, aku tidak jadi masak." kata Sui Cin. "Orang seperti engkau ini banyak akalnya, tentu aku akan kalah karena engkau menggunakan akal."

"Akal begaimana?" Kakek yang mengaku bernama Wu-yi Lo-jin itu mendesak.

"Bagaimana pun enaknya, bisa saja engkau bilang tidak enak, tentu saja aku akan kalah!"

"Ahh, tidak mungkin. Perutku lapar begini, bila mana ada masakan enak, mana tega aku mengatakan tidak enak? Kalau aku terus makan, berarti enak, kalau tidak enak tentu tidak akan kumakan, padahal perutku lapar sekali."

"Baik, aku akan mencari bahan masakan!" Berkata demikian, Sui Cin meloncat dan sekali berkelebat, gadis itu telah lenyap keluar goa.

Kakek itu mengangguk-angguk dan kini, setelah Sui Cin pergi, sikapnya yang tadi jenaka itu berubah serius. "Hui Song, ginkang gadis itu hebat bukan main. Kabarnya ibunya yang mempunyai ginkang istimewa dan ternyata memang benar. Dan dara itu... sungguh hebat. Aku pasti akan jatuh cinta kalau aku sebaya denganmu."

Wajah Hui Song berubah merah sekali. Tadi dia termenung dan diam-diam menganggap betapa bodohnya Sui Cin. Bertaruh melawan kakek ini apa gunanya? Andai kata menang, apa yang dapat diharapkan dari kakek yang hanya memiliki satu-satunya pakaian mewah yang menempel di badannya berikut guci arak besar itu?

Tak lama kemudian Sui Cin sudah datang lagi membawa sebuah rebung (bambu muda), seekor ayam hutan serta seekor kadal yang gemuk! Hui Song sudah pernah menikmati masakan Sui Cin ketika mereka melakukan perjalanan bersama dan dia tahu bahwa gadis itu memang pandai memasak, bahkan agaknya binatang apa saja dapat disulap menjadi masakan yang lezat olehnya. Biar pun dia belum pernah makan daging kadal, akan tetapi dia percaya bahwa gadis itu tentu dapat memasak daging binatang itu menjadi santapan yang nikmat.

"Kakek, pernahkan engkau makan masak rebung campur hati dan daging naga ditambah kepala dan kaki burung Hong? Dan juga, panggang daging burung Hong muda?" Sui Cin bertanya kepada kakek itu sambil melempar rebung, ayam hutan dan kadal yang sudah mati itu ke atas lantai. Tanpa diperintah lagi Hui Song segera mencari kayu bakar lantas membuat api unggun.

Kakek itu memandang terbelalak sesudah mendengar nama masakan-masakan aneh itu, tidak mampu menjawab hanya menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menelan ludah dan bertanya, "Anak baik, bagaimana mungkin engkau akan memasak daging binatang-binatang suci itu? Mana naganya dan burung Hong-nya?"

Sui Cin tersenyum, lalu mengambil bangkai ayam dan kadal. "Inilah burung Hong dan ini naganya!"

"Kadal itu? Hihh, menjijikkan! Lebih baik masak daging ayam itu saja!"

Sui Cin cemberut dan melemparkan dua bangkai binatang itu ke atas lantai, lalu berkata dengan nada suara ngambek, "Sudahlah, kalau belum apa-apa dicela, lebih baik aku tidak jadi masak!"

"Wah, jangan begitu, aku sudah lapar sekali!" kata si kakek terkejut.

"Biar kau kelaparan, siapa peduli?"

"Aih, anak baik, jangan marah dulu. Masaklah, masaklah apa saja, hendak kulihat apakah engkau benar-benar pandai masak."

"Baik, akan tetapi engkau harus membantuku mencarikan kebutuhan masak yang saat ini kuperlukan."

"Boleh, boleh! Apa saja?"

Sui Cin menghitung-hitung dengan jarinya sambil mengerutkan kedua alisnya. "Pertama tentu saja adalah panci tanggung berisi air jernih, lalu fetsin, dua jari jahe, kulit jeruk serta bawang. Nah, itulah yang kuperlukan. Cepat, kek, aku pun ingin melihat apakah engkau benar-benar memiliki ilmu berlari cepat yang hebat."

"Tunggu sebentar!" Suaranya masih bergema namun kakek itu sudah lenyap dari situ!

Sui Cin melongo, juga Hui Song yang sudah kembali membawa kayu bakar itu bengong.

"Song-ko, dia seperti bukan manusia, seperti iblis yang pandai merghilang saja!"

"Cin-moi, kenapa engkau mengadakan pertaruhan dengan dia seperti itu? Kalau engkau menang seperti yang kupercaya, lalu apa yang dapat kau minta darinya?"

Sui Cin tertawa. "Song-twako, ke mana larinya kecerdikanmu dan kenapa sejak bertemu dengan kakek itu engkau kehilangan rasa gembira dan kejenakaanmu? Aku dapat minta diajari ginkang-nya itu!"

Hui Song mengangguk-angguk, akan tetapi dia mengerutkan alisnya.

"Kenapa engkau nampak tidak gembira, twako? Engkau tidak seperti biasanya, kocak dan gembira?"

"Entahlah, Cin-moi, akan tetapi... sejak dia muncul" aku seperti merasa tak enak hati..."

Pemuda ini merasa bingung sendiri di dalam hatinya mengapa dia bisa merasa cemburu terhadap kakek tua renta itu! Melihat betapa Sui Cin bergembira dengan kakek itu, sikap Sui Cin yang demikian akrab, dia merasa cemburu! Padahal dia sendiri maklum bahwa Wu-yi Lo-jin adalah seorang kakek yang sakti dan tidak ada alasan sedikit juga baginya untuk merasa cemburu.

Pemuda ini tidak sadar bahwa yang dideritanya bukanlah sekedar cemburu, melainkan iri hati melihat betapa gadis yang dicintanya itu bersikap baik kepada orang lain, walau pun orang lain itu adalah seorang kakek tua renta! Dan hatinya merasa lebih tidak enak lagi mendengar bahwa Sui Cin akan minta diajari ginkang oleh kakek yang sakti itu. Kalau hal ini terjadi, berarti tidak lama lagi dirinya akan tertinggal jauh oleh Sui Cin dan dia khawatir bahwa kalau sampai terjadi demikian, gadis itu akan memandang rendah kepadanya.

Terdengar suara kakek itu. "Hah-hah, sudah dapat semua yang kau butuhkan!"

Dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di situ, membawa sebuah panci yang terisi air penuh. Juga dia membawa semua bumbu-bumbu yang dibutuhkan Sui Cin tadi. Sungguh sangat mengherankan sekali betapa kakek ini dapat berlari cepat membawa panci terisi air penuh yang nampaknya sama sekali tidak tumpah karena air itu masih penuh sampai ke bibir panci.

Dengan girang Sui Cin menerima semua bumbu dan panci berisi air itu, lalu mulailah dara itu mempersiapkan masakannya, dibantu oleh Hui Song. Ada pun Wu-yi Lo-jin sendiri lalu duduk bersila menanti di sudut goa, memejamkan mata dan sebentar saja telah terdengar suara mendengkur!

Dari pernapasannya, kedua orang muda yang juga mempunyai ilmu kepandaian tinggi itu merasa yakin bahwa kakek itu memang benar sudah tidur, maka kembali mereka kagum. Orang yang dapat tidur pulas secara seketika hanyalah orang yang batinnya sudah amat kuat, yang begitu mengosongkan batin segera tenggelam dalam kepulasan. Kepandaian seperti ini hanya dimiliki orang yang sudah mendalam latihannya dalam ilmu semedhi.

Sui Cin memang seorang dara yang ahli dalam hal memasak. Bukan hanya karena ibunya telah mengajarkan ilmu memasak kepadanya, akan tetapi karena memang dara ini gemar memasak sehingga selama dalam perantauan, dia selalu mempelajari ilmu ini dan terus memperdalamnya. Tiap kali mencicipi masakan yang lezat, umpamanya di dalam sebuah restoran, dia tentu segera menghubungi kokinya dan dia tak segan-segan mengeluarkan uang untuk membeli resep masakan atau mempelajarinya.

Dengan mengumpulkan berbagai cara masakan dari bermacam-macam daerah, akhirnya dia pandai sekali mencampur-campur bumbu sehingga menjadi masakan yang lezat, biar pun yang dimasaknya hanya sayur atau daging seadanya saja. Dia tahu betul bagaimana caranya menghilangkan bau amis pada daging, membuat daging yang alot menjadi lunak, melenyapkan rasa pahit pada beberapa macam sayur, bahkan membebaskan daging atau sayur dari pengaruh racun.

Dengan dibantu Hui Song yang memandang kagum melihat pandainya Sui Cin memasak, maka tak lama kemudian terciumlah bau sedap ketika masakan-masakan itu matang. Dan sungguh luar biasa sekali, kakek yang tadinya tidur nyenyak mendengkur itu tiba-tiba saja mengeluarkan suara!

"Wah, harumnya...! Sedap... sedap...!"

Dia langsung saja membuka matanya lalu bangkit berdiri, seperti orang yang tadinya tidak pernah tidur saja. Sambil mengucek mata kakek itu memandang lantas menghampiri Sui Cin, menelan ludah dan menjilati bibirnya sendiri.

"Nah, sudah matang, kek. Cobalah masakanku ini dan aku menantangmu apakah engkau berani mengatakan bahwa masakanmu lebih enak dari pada masakanku!"

Wu-yi Lo-jin segera duduk menghadapi dua macam masakan itu. Seperti main sulap saja, dari dalam jubahnya yang kedodoran itu dia mengeluarkan sebuah mangkok yang masih baru dan mengkilap serta sepasang sumpit yang terbuat dari gading tua yang mahal! Dan mulailah kakek itu menyumpit masakan itu.

Tidak lama kemudian nampak dia mengunyah makanan dengan mata meram-melek, jelas sekali nampak dia menikmati masakan yang lezat itu. Hui Song memandang hampir tidak pernah berkedip dan kalamenjingnya turun naik. Dia sendiri sedang merasa lapar, maka melihat orang makan dengan sedemikian lahap dan enaknya, tentu saja seleranya timbul. Sui Cin juga memandang sambil tersenyum girang.

"Bagaimana, kek? Bagaimana pendapatmu? Bukankah masakanku enak sekali?" Sui Cin bertanya tak sabar lagi sesudah kedua macam masakan itu habis lenyap ke dalam perut kakek katai itu.

Sambil mengunyah-ngunyah masakan terakhir, kakek itu mengangguk-angguk, menunggu sampai dia menelan makanan itu baru menjawab, "Lumayan, akan tetapi aku belum yakin benar jika masakanmu lebih enak dari pada masakanku. Mana... masih ada lagikah?" Dia mengulur tangan memberi panci kosong kepada Sui Cin. Melihat ini, Sui Cin tidak dapat menahan ketawanya.

"Hi-hi-hik, kakek curang, kau kira aku tidak tahu isi hatimu? Kau kira aku dapat kau bodohi begitu saja? Kalau tidak lezat, mana mungkin engkau makan begitu lahapnya dan engkau sikat semua sampai habis sehingga engkau lupa akan sopan santun, makan sendiri tanpa menawarkan kepada kami berdua yang juga sudah lapar sekali? Cih, dan engkau masih tidak malu untuk menyangkal bahwa masakanku sangat lezat?"

Ditegur begitu, agaknya kakek itu baru sadar dan dia pun menoleh kepada Hui Song, lalu terkekeh. "He-heh-heh, baiklah... tapi mana, apakah masih ada lagi? Jangan kau bohongi aku, aku tahu bahwa masih ada daging panggang yang belum kau hidangkan!" Kakek itu mengusap bibirnya dengan sapu tangan sutera, kemudian membuka tutup guci arak dan minum arak dengan suara menggelogok.

Sui Cin tersenyum. "Jadi, engkau sudah mengaku kalah?"

"Sudah, kau memang anak yang baik dan pandai masak. Mana panggang ayam itu?"

"Nanti dulu, kek. Kalau engkau sudah mengaku kalah, engkau tentu mau memberikan apa saja yang kuminta seperti janji kita, bukan? Ataukah engkau juga tidak malu-malu untuk menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkan?"

"He-heh-heh, anak nakal! Katakan, mau minta apa? Aku hanya punya guci arak ini, boleh kau minta setelah araknya habis kuminum nanti!"

"Aku tidak butuh guci arakmu, kek!"

"Apa...?!" Kakek itu membelalakkan matanya. "Anak bodoh, kau tahu harganya guci ini? Guci ini terbuat dari emas murni dan sudah seribu tahun umurnya. Tak ternilai harganya! Juga, segala macam makanan atau minuman beracun kalau dimasukkan ke dalam guci ini akan berubah hitam! Belum lagi kalau dipergunakan sebagai senjata, ampuhnya bukan main!"

"Biar pun begitu, bukan itu yang kuminta darimu."

"Hemm, lalu apa yang kau minta? Aku tidak punya apa-apa lagi. Mangkok dan sumpit ini? Ataukah pakaianku? Aihh..., kurasa engkau tidak begitu kejam untuk merampas sandang panganku!"

"Bukan! Aku hanya minta agar engkau suka mengajarkan ginkang kepadaku sampai aku dapat bergerak secepat engkau, kek!"

Kini sepasang mata kakek itu terbelalak dan mukanya agak berubah, dan... aneh sekali, dia menoleh ke kanan kiri seolah-olah merasa khawatir kalau-kalau percakapan mereka terdengar orang lain.

"Ahh, tidak bisa... tidak bisa...!"

"Nah, ketahuan sekarang belangmu!" Sui Cin berseru. "Sesudah menelan habis semua masakan dengan lahap dan enak, lalu lupa dengan janji. Baru begitu saja sudah hendak mengingkari janji, apa lagi kalau janji-janji penting!"

"Wahh... berabe... sstttt. Jangan keras-keras...!" Dia lalu berbisik, "Baiklah, akan tetapi hal ini harus dirahasiakan dan engkau tidak boleh menyebut guru kepadaku."

"Aku tidak peduli sebutan guru itu asal dapat mewarisi ilmu ginkang-mu."

"Baik, baik... aku bukan orang yang suka mengingkari janji, tapi hati-hati, jangan ketahuan orang lain. Sudah, kesinikan panggang daging itu."

"Kami sendiri pun belum makan, kek."

"Biarlah, Cin-moi, berikan saja kepada locianpwe. Aku masih mempunyai sisa roti kering," kata Hui Song, lalu mulai mengeluarkan roti kering dari buntalannya.

Sui Cin pun terpaksa memberikan daging ayam panggang kepada kakek itu yang segera makan lagi dengan lahapnya, matanya meram-melek keenakan tanpa merasa sungkan sedikit pun kepada dua orang muda yang kini makan roti kering untuk mengurangi rasa lapar.

Setelah semua daging panggang itu amblas, disusul belasan teguk arak, kakek itu tampak amat kekenyangan, menutup gucinya dan menggantung kembali guci itu di punggungnya, mengusap bibir dengan sapu tangannya yang indah. Mukanya merah segar dan wajahnya berseri memandang dua orang muda di depannya itu.

"Kalian anak-anak muda yang baik. Tidak rugi aku bertemu dengan kalian. Kalian menjadi sekutu yang baik sekali."

"Wu-yi Lo-jin, kau telah berjanji akan mengajarkan ginkang kepadaku." Sui Cin masih saja memperingatkan, khawatir kalau-kalau kakek yang wataknya ugal-ugalan ini akan kabur setelah makan kenyang. Siapa yang dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh kakek aneh ini.

Kakek itu mengangguk-angguk sambil kembali melirik ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat mengherankan hati Sui Cin dan Hui Song.

"Kek, kenapa engkau kelihatan takut kalau aku bicara tentang belajar ilmu darimu. Siapa yang kau takuti?"

"Ssttt... mari kita keluar dari goa dan akan kuceritakan semua kepada kalian," kata kakek itu dan sekali berkelebat, tubuhnya lenyap dari dalam ruangan goa itu. Sui Cin yang takut kakek itu kabur segera mengejar, diikuti pula oleh Hui Song. Ternyata Wu-yi Lo-jin sudah duduk di atas batu depan goa, sedang menanti mereka.

"Nah, di sini kita bicara agar tidak ada orang yang ikut mendengarkan tanpa kita ketahui. Anak-anak, ketahuilah bahwa kalau tidak ada terjadi sesuatu yang amat hebat, mau apa tua bangka seperti aku ini keluar ke dunia ramai? Tentu kalian tidak pernah mendengar apa lagi melihat aku yang hanya tinggal menanti datangnya kematian di dalam tempat pertapaanku di Wu-yi-san. Akan tetapi, seperti kukatakan tadi, telah terjadi sesuatu yang sangat hebat, yang mengancam kehidupan dan keselamatan manusia. Maka, bagaimana pun juga, terpaksa aku harus keluar dari tempat partapaanku hingga akhirnya di sini aku bertemu dengan kalian."

Hui Song dan Sui Cin terkejut bukan main. Keduanya saling pandang, kemudian kembali memandang kepada kakek katai ini. Miringkah otak kakek ini? Mereka tidak mengerti apa yang baru saja dimaksudkan oleh kakek itu, yang mereka anggap menceritakan hal yang bukan-bukan dan aneh-aneh saja.

"Apakah yang sudah terjadi, kek? Siapa yang mengancam kehidupan dan keselamatan manusia?"

Kakek itu memandang ke kanan kiri, lalu menarik napas panjang. "Kalau diingat memang memalukan sekali. Terjadinya sudah puluhan tahun yang lalu. Kami, sekelompok delapan jagoan yang dulu menjadi datuk-datuk dunia persilatan, sebelum kemunculan datuk-datuk seperti See-thian-ong sebagai datuk barat, Tung-hai-sian sebagai datuk timur, Pak-san-kui sebagai datuk utara dan Lam-sin sebagai datuk selatan, kami delapan orang yang merajai delapan penjuru dunia. Pada waktu itu usiaku baru sekitar tiga puluh tahun. Akan tetapi, tiba-tiba muncullah pasangan Raja dan Ratu Iblis itu!"

Kembali kakek katai itu kelihatan gelisah dan memandang ke kanan kiri. Kalau seorang sakti seperti Wu-yi Lo-jin saja kelihatan ketakutan, tentu saja hal ini mendatangkan rasa seram di hati dua orang muda itu sehingga mereka ikut pula menoleh ke kanan kiri.

"Siapakah mereka itu, kek?" Sui Cin bertanya lirih.

"Raja Iblis itu seorang pangeran asli yang melarikan diri dari istana. Dia bersama isterinya lalu terjun ke dunia kang-ouw dan segera kami delapan orang jagoan yang menjadi datuk mereka kalahkan secara mutlak, termasuk juga aku. Kepandaian mereka memang hebat bukan main, mirip iblis-iblis saja mereka itu. Kami delapan orang datuk lalu bersumpah di depan suami isteri iblis itu untuk tidak muncul lagi di dunia kang-ouw, bahkan kami semua telah menyerahkan tanda takluk kami kepada mereka. Dengan tanda itu, selama hidup kami tidak akan berani melawan mereka lagi, dan kalau kami melanggar, maka kami akan dihukum mati menurut sumpah kami. Juga murid-murid kami secara otomatis terikat oleh sumpah itu. Kami semua terpaksa setuju karena itulah jalan satu-satunya untuk menebus nyawa kami yang sudah berada di tangan mereka."

Bukan main dahsyatnya cerita ini, membuat Sui Cin dan Hui Song melongo. Peristiwa itu tentu terjadi puluhan tahun yang lalu, mungkin ketika orang tua mereka masih kecil, akan tetapi kenapa mereka tidak pernah mendengar cerita itu dari orang tua mereka? Agaknya semua itu terjadi diam-diam dan tidak sampai menghebohkan dunia kang-ouw maka tidak terdengar oleh keluarga mereka. Memang dalam dunia persilatan terdapat banyak sekali orang-orang sakti yang lebih suka menyembunyikan diri.

"Jadi selama puluhan tahun ini locianpwe selalu bersembunyi dan bertapa?" tanya Hui Song, tertegun.

"Benar, aku tak pernah melihat dunia ramai lagi, bahkan jarang bertemu dengan manusia. Hanya bertemu manusia kalau ada pemburu tersesat sampai ke puncak Wu-yi-san."

"Akan tetapi sekarang engkau keluar dari pertapaan, kek."

"Itulah! Aku tidak dapat menahan diri lagi ketika aku mengetahui bahwa raja dan ratu iblis itu juga keluar! Semenjak mereka memaksa kami bersumpah, mereka pun turut bertapa dan kabarnya bahkan memperdalam ilmu kepandaian mereka yang sudah amat hebat itu. Kami mengira bahwa seperti kami, mereka itu akan mengundurkan diri sampai mati. Akan tetapi ternyata kini mereka keluar! Dan hal ini berbahaya sekali. Mereka menaruh dendam kepada istana, juga mereka merasa benci kepada semua pendekar. Jadi tentu dapat kau bayangkan apa yang akan terjadi kalau mereka itu keluar. Mendengar mereka keluar, aku pun lalu meninggalkan pertapaanku. Biarlah, jika perlu aku berkorban nyawa, akan tetapi dalam usiaku yang lanjut ini, dalam hari-hari terakhirku, aku harus berusaha membendung kejahatan yang akan mereka lakukan."

"Sudah berapa lama locianpwe meninggalkan pertapaan?"

"Sudah tiga bulan. Selama ini aku menyelidiki jejak mereka, lalu mendengar berita yang amat mengejutkan. Kiranya mereka itu benar-benar telah mulai menghimpun datuk-datuk golongan sesat, bukan hanya untuk membasmi para pendekar akan tetapi bahkan untuk menyerbu istana!"

"Wahhh... gawat...!" Sui Cin berseru. "Di mana mereka itu, kek?"

"Gerakan mereka seperti iblis, mana dapat diketahui di mana mereka berada? Akan tetapi aku telah mendengar bahwa para datuk itu, juga termasuk Cap-sha-kui, pada akhir bulan depan akan menghadap mereka di sumber mata air Sungai Huai, di lereng Pegunungan Ta-pie-san, tak jauh dari sini. Karena itulah aku berada di sini dan kebetulan aku bertemu kalian ketika menyelamatkan nona pengantin. Sungguh girang hatiku sebab kalian adalah orang-orang muda perkasa keturunan pendekar-pendekar sakti yang patut menjadi sekutu kami menghadapi iblis-iblis itu. Karena itulah aku tidak dapat menerimamu sebagai murid walau pun aku akan mengajarkan ginkang kepadamu, Sui Cin. Apa bila aku menerimamu sebagai murid, berarti engkau akan terikat pula oleh sumpah kami kepada kedua iblis itu."

"Kalau memang sepasang iblis itu benar-benar mengancam keselamatan dunia, kami siap membantumu, locianpwe," kata Hui Song dengan sikap gagah.

"Benar, aku pun siap membantumu, kek. Sudah sepatutnya bila iblis-iblis itu dihadapi dan dibasmi. Mereka tentu jahat, apa lagi kalau sampai dapat memperalat Cap-sha-kui yang jahat."

Wu-yi Lo-jin tersenyum geli. "Meski pun aku bangga dan kagum terhadap sikap kalian dua orang muda, akan tetapi aku juga merasa geli. Kalian seperti anak-anak ayam mencoba untuk menantang serigala! Namun semangat kalian itulah yang kita perlukan. Bagaimana pun juga, kita memang harus bersatu menentang kejahatan. Kalau kalian memang sudah siap membantu, marilah kita pergi untuk melakukan penyelidikan. Akan tetapi kalian harus berhati-hati dan jangan bertindak sendiri-sendiri, harus selalu menurut petunjukku."

Maka berangkatlah tiga orang itu menuju ke lereng Ta-pie-san, mencari sumber air Sungai Huai di mana kabarnya akan dijadikan tempat pertemuan bagi datuk-datuk sesat untuk menghadap Raja dan Ratu Iblis.

********************

Asmara Berdarah Jilid 12

PADA saat itu pula, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di belakang Ci Kang berdiri seorang kakek tinggi kurus. Kakek ini bajunya tambal-tambalan, tangan kanan memegang sebatang tongkat bambu kuning dan di punggungnya nampak sebuah ciu-ouw (guci arak). Kakek yang usianya kurang lebih enam puluh lima tahun ini memperhatikan perkelahian sambil mengelus jenggotnya, lalu mengomel,

"Terlalu, terlalu...! Suami isteri tua bangka mengeroyok seorang bocah ingusan. Sungguh terlalu...!"

Kemudian, tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya sambil terus berbicara, "Nah, anak baik, bagus begitu! Lawanlah dan jangan mau kalah terhadap sepasang mayat itu. Pukul, nah, bagus, begitu haittt... begini... bagus!"

Seperti orang gila, kakek jembel ini lalu meniru-niru gerakan Ci Kang bersilat. Akan tetapi karena tangannya memegang tongkat, maka tongkatnya bergerak pula dengan lucunya. Dia bukan mengajari Ci Kang, melainkan menirukan gerakan Ci Kang yang berloncatan ke sana-sini mengelak dari serangan suami isteri itu.

Dan terjadilah hal yang luar biasa sekali. Tiba-tiba saja suami isteri itu merasa betapa tangkisan tangan Ci Kang menjadi sedemikian kuatnya sehingga mereka merasa lengan mereka nyeri kemudian tubuh mereka terpelanting! Ada angin pukulan dahsyat keluar dari kedua tangan Ci Kang. Pemuda ini sendiri merasa heran, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek jembel aneh itu telah membantunya dengan tenaga sakti yang luar biasa.

Empat orang tokoh Cap-sha-kui yang lainnya bukan orang-orang tolol. Kemunculan kakek jembel yang aneh ini dan terdesaknya suami isteri Kui-kok-san tentu ada hubungannya, pikir mereka. Karena itu, tanpa banyak cakap lagi mereka berempat lalu maju menyerang kakek jembel yang masih mencak-mencak menirukan gerakan Ci Kang karena kini suami isteri itu sudah menyerang lagi.

Hwa-hwa Kui-bo menyerang dengan pedangnya yang beracun, ditemani Koai-pian Hek-mo yang menggerakkan senjatanya, yaitu seutas pecut baja yang ujungnya berpaku. Kiu-bwe Coa-li meledakkan cambuk hitam berekor sembilan, menyerang dari arah depan bersama Thio-tee-kui yang menggerakkan kedua lengannya sehingga dua buah gelang emas yang berat di kedua lengannya itu saling beradu mengeluarkan bunyi nyaring. Dikepung empat orang tokoh sesat yang lihai ini, kakek jembel itu malah tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus!" Dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah berkelebatan di antara sinar senjata empat orang pengeroyoknya yang bergulung-gulung itu.

Tentu saja empat orang pengeroyok itu terkejut bukan main. Tak pernah mereka sangka bahwa kakek jembel itu sedemikian lihainya dan seperti pandai menghilang saja saking cepatnya dan ringannya gerakan tubuhnya.

Ternyata kakek ini bukan hanya mampu menghindarkan diri dari sambaran senjata-senjata ampuh itu, bahkan dengan gerakan-gerakannya seperti tadi masih dapat pula membantu Ci Kang sehingga kini pemuda itu dapat membalas serangan kedua orang pengeroyoknya karena setiap serangan kedua suami isteri itu selalu tertumbuk pada tenaga yang tidak nampak akan tetapi memiliki kekuatan yang besar sekali.

"Ha-ha-ha, sungguh menggembirakan sekali!" kakek itu menari-nari ketika senjata-senjata lawan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan menyambar-nyambar.

"Tar-tar-tarrr...!" Senjata cambuk hitam ekor sembilan dari Kiu-bwe Coa-li meledak-ledak, diselingi ledakan satu-satu dan nyaring dari cambuk baja di tangan Koai-pian Hek-mo.

"Singg...! Tring-tringgg...!" Suara pedang di tangan Hwa-hwa Kui-bo dan sepasang gelang emas di lengan Tho-tee-kui juga terdengar nyaring membuat kakek jembel yang dikeroyok itu menjadi semakin girang seperti seorang anak kecil melihat permainan yang menarik.

"Tar-tarr-tarrrr...!" Cambuk ekor sembilan di tangan Kiu-bwe Coa-li meledak-ledak di atas kepala kakek itu. Sembilan ekor cambuk itu seperti hidup, seperti sembilan ekor ular yang menyambar-nyambar turun.

Akan tetapi kakek itu mempergunakan jari tangannya menyentil setiap kali ujung cambuk menyambar. Tiga kali dia menggunakan telunjuk tangannya menyentil maka ekor cambuk itu menyeleweng dan melesat amat cepatnya ke arah tiga orang pengeroyok lain.

Hal ini sama sekali tidak diduga-duga dan tahu-tahu Hwa-hwa Kui-bo, Koai-pian Hek-mo, dan Tho-tee-kwi berteriak kaget kemudian tubuh mereka terpelanting berturut-turut karena tahu-tahu tubuh mereka telah tertotok oleh ujung cambuk Kiu-bwe Coa-li yang tadi disentil sehingga menyeleweng. Melihat robohnya tiga orang itu, kakek jembel tertawa kemudian mengangkat kedua tangan di depan dada, menjura ke arah Kiu-bwe Coa-li.

"Terima kasih, engkau baik sekali telah menolongku dengan cambukmu!"

Saking kagetnya, Kiu-bwe Coa-li terbelalak ketika melihat betapa ujung cambuknya malah menotok dan merobohkan tiga orang kawannya sendiri. Dan pada saat kakek itu menjura, tiba-tiba saja dia merasa ada sambaran angin dari arah depan. Dengan cepat dia hendak mengelak, akan tetapi tidak keburu dan ketika dia mengerahkan tenaga untuk melawan, segera tubuhnya terjengkang dan dadanya terasa sesak, seperti baru saja dipukul orang dengan keras!

Empat orang itu merangkak bangun dengan mata terbelalak. Mereka adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui, bagaimana mungkin dapat dirobohkan semudah itu oleh kakek jembel ini? Si kakek jembel tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha-ha, kalian memang sangat baik hati, pantas kalau kusuguhi arak!" Dan dia pun menurunkan guci araknya, mendekatkan bibir guci itu ke mulutnya dan minum beberapa teguk, lalu dia menyemburkan arak di mulutnya itu ke arah empat orang bekas lawan.

Empat orang datuk itu terkejut dan berusaha menghindar, akan tetapi masih terasa oleh mereka betapa kulit tubuh mereka yang terkena percikan arak yang disemburkan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum. Bahkan percikan arak itu menembus baju mereka dan mengenai kulit.

Sementara itu, sesudah memperoleh bantuan rahasia dari kakek aneh, sekarang Ci Kang mulai mendesak kedua lawannya dan akhirnya dialah yang berada di pihak menyerang. Tiba-tiba terdengar suara kakek itu,

"Tendang pantat mereka! Tendang pantat mereka!"

Aneh sekali, dalam suara itu seperti terkandung tenaga mukjijat yang membuat Ci Kang tak dapat menahan diri lagi lalu kakinya pun menyambar dan menendang berturut-turut ke arah pinggul dua orang lawannya. Hebatnya, dua orang suami isteri itu tidak kuasa untuk mengelak seolah-olah tubuh mereka terhalang sesuatu.

"Bukk! Bukk!"

Dua kali kaki Ci Kang menendang lantas dua orang suami isteri itu pun terbanting ke atas tanah. Mereka berloncatan bangun sambil meringis dan sesudah saling pandang dengan rekan-rekannya, mereka lalu melarikan diri tanpa berani mengeluarkan kata-kata lagi.

Peristiwa tadi terlalu hebat bagi mereka. Belum pernah selama hidup mereka dikalahkan orang secara ini. Akan tetapi, ketika kakek tadi menyembur dengan arak, wajah mereka pucat karena mereka teringat akan nama seorang yang selama ini dikabarkan sudah mati atau telah menjadi dewa, yaitu Ciu-sian Lo-kai (Jembel Tua Dewa Arak).

Memang orang sakti ini tidak pernah muncul di dunia kang-ouw, akan tetapi ada beberapa orang tokoh kang-ouw pernah melihat kesaktiannya sehingga namanya dikenal sebagai seorang di antara tokoh-tokoh rahasia yang amat sakti. Maka, enam orang datuk sesat itu segera mengambil langkah seribu. Biar pun mereka itu telah menjadi datuk yang memiliki kedudukan tinggi, akan tetapi karena mereka adalah golongan sesat, maka melarikan diri bukanlah hal yang dipantang oleh mereka.

Ci Kang berdiri memandang sambil bertolak pinggang, sama sekali tidak bergerak untuk melakukan pengejaran.

"Orang muda, kenapa engkau tidak mengejar mereka?"

Ci Kang menoleh kepada kakek jembel itu. "Mengapa aku harus mengejar mereka?" dia balas bertanya sambil memandang tajam kepada kakek jembel yang sakti itu, yang entah mengapa telah mencampuri urusannya dan membantunya. Namun harus diakuinya dalam hati bahwa kakek ini telah menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut akibat dikeroyok orang-orang Cap-sha-kui tadi.

"Loh! Bukankah mereka tadi mati-matian hendak membunuhmu?"

"Benar, akan tetapi aku tidak ingin membunuh mereka."

Kakek jembel itu bertindak mendekat dan memandang sambil tersenyum lebar, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. "Orang muda, apakah engkau tidak menaruh dendam kepada mereka yang hendak membunuhmu?"

"Tidak, mereka suka kekerasan dan suka membunuh, tetapi aku tidak."

"Bagus! Andai kata mereka itu membunuh ayahmu, apakah engkau juga tidak sakit hati dan mendendam?"

Ci Kang teringat akan ayahnya yang hidup sebagai datuk sesat. Kalau ayahnya terbunuh orang, hal itu hanya terjadi karena kesalahan ayahnya sendiri. Orang yang suka bermain dengan api seperti ayahnya, kalau sekali waktu terbakar, tidak perlu penasaran lagi. Maka dia pun menggelengkan kepalanya.

Kakek jembel itu kelihatan semakin girang. "Wah, inilah orangnya yang kucari selama ini. Orang muda, engkau bernama Siangkoan Ci Kang, bukan? Engkau adalah putera tunggal Siangkoan Lo-jin?"

Pemuda itu menjadi semakin heran, akan tetapi dia mengangguk.

"He-he-heh, bagus! Ayahnya menjadi pimpinan kaum sesat mengumbar nafsu, puteranya malah bebas dari nafau dendam. Siangkoan Ci Kang, kalau tadi tidak ada aku, engkau tentu sudah mati di tangan badut-badut itu. Nah, untuk membalas budi itu, apa yang ingin kau lakukan untukku?"

Ci Kang mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Locianpwe, walau pun locianpwe sudah mengusir orang-orang yang mengeroyokku dan menyelamatkan diriku, hendaknya locianpwe ingat bahwa aku tidak pernah minta tolong kepadamu. Jadi aku tidak berhutang budi atau apa pun kepada locianpwe."

Orang lain tentu akan merasa penasaran serta marah sekali mendengar jawaban orang yang pernah diselamatkan nyawanya seperti itu, akan tetapi sungguh kakek itu berwatak aneh. Dia malah tertawa senang!

"Ha-ha-ha-ha, cocok! Bagus! Tidak pernah hutang budi dan tidak pernah menghutangkan budi, berarti tidak pernah mendendam pula. Ha-ha-ha, orang muda, engkaulah orang yang kucari-cari!"

Ci Kang merasa semakin heran. Kakek ini benar-benar luar biasa, tidak saja mengetahui keadaannya, akan tetapi juga omongannya aneh dan sikapnya luar biasa.

"Mengapa locianpwe berkata demikian? Mengapa locianpwe mencari-cari aku?"

"Aku sedang mencari murid dan engkaulah orangnya yang paling cocok. Orang muda, tak kusangkal bahwa engkau telah memiliki ilmu silat yang tinggi dan jarang ada orang dapat menandingimu. Akan tetapi sayang, ilmu-ilmumu masih amat mentah. Tadi pun andai kata ilmumu sudah matang, tanpa kubantu sekali pun tentu engkau akan menang menghadapi para pengeroyokmu."

Ci Kang menggeleng kepala. "Tidak mungkin, locianpwe. Mereka itu adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang berilmu tinggi. Bahkan ayah sendiri pun agaknya tidak akan kuat kalau harus menghadapi pengeroyokan mereka."

"Ha-ha-ha, engkau tadi sudah melihat betapa dengan mudahnya aku menghadapi mereka. Siangkoan Ci Kang, mari kau ikut bersamaku setahun saja dan aku akan mamatangkan ilmumu."

Ci Kang mengerutkan alisnya, mempertimbangkan. Dia yang sejak kecil belajar silat, tentu saja merasa gembira kalau sampai dapat menjadi murid kakek yang dia tahu mempunyai kepandaian hebat ini. Akan tetapi dia pun memiliki watak yang bebas, tidak mau terikat.

"Apakah locianpwe hendak mengambil murid kepadaku sebagai balas budi?"

"Ha-ha-ha, seperti engkau, aku pun seorang yang suka bebas dari pada segala macam hutang budi. Aku ingin mengambil engkau sebagai murid karena kulihat engkau berbakat sekali, dan karena aku merasa cocok dengan watakmu."

Giranglah rasa hati Ci Kang mendengar ucapan ini. Tanpa ragu-ragu lagi dia pun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jembel itu. "Baiklah, suhu, teecu terima dengan gembira sekali."

Kakek itu juga merasa gembira bukan main. Sambil tertawa-tawa dia lalu menarik tangan Ci Kang dan diajaklah pemuda itu pergi dari situ untuk mulai menggemblengnya sebagai murid. Kakek itu adalah Ciu-sian Lo-kai, tokoh sakti aneh yang tak pernah muncul di dunia kang-ouw dan yang pernah mengunjungi Lembah Naga tempo hari.

Seperti kita ketahui, Ciu-sian Lo-kai berbeda pendapat hingga berbantahan dengan Go-bi San-jin tentang sikap Pendekar Cia Han Tiong mengenai dendam dan ikatan. Dan karena mereka merasa sudah terlalu tua untuk saling gempur, keduanya kemudian berjanji untuk mencari murid dan mendidik murid itu menurut pandangan hidup mereka masing-masing, tentu saja dengan maksud untuk kemudian diuji siapa yang lebih berhasil. Go-bi San-jin lalu berhasil membujuk Cia Sun yang sedang dicekam dendam karena kematian ibu dan para suheng-nya, sedangkan Ci Kang yang jemu dengan dunia hitam dan kejahatan, kini menjadi murid kakek jembel itu.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pulau Teratai Merah adalah sebuah di antara pulau-pulau kecil yang terdapat di Lautan Tiongkok Timur, beberapa li jauhnya dari pantai. Kalau dilihat dari pantai, hanya nampak beberapa bintik kecil di sebelah timur yang tidak menarik perhatian. Bahkan para nelayan hanya mengenal pulau-pulau kecil itu sebagai pulau-pulau kosong yang sebagian besar hanya berupa pulau-pulau batu karang yang tak ada gunanya karena tidak memiliki tanah subur dan tidak memiliki air tawar. Akan tetapi ada beberapa buah pulau yang ditumbuhi pohon-pohon liar dan di antara pulau-pulau inilah yang dinamakan Pulau Teratai Merah.

Pulau ini mempunyai tanah yang cukup subur, bahkan ada sumber airnya, dan ada bukit kecilnya. Dulu, puluhan tahun yang lalu, pulau ini pun selalu hanya dilewati saja oleh para nelayan karena hanya berisikan pohon-pohon liar dan binatang-binatang berbahaya.

Akan tetapi pulau ini sudah dipilih oleh Pangeran Toan Su Ong, pangeran pelarian yang meninggalkan kota raja, seorang bangsawan yang menentang keluarga kaisar sendiri, dan seorang ahli silat yang amat pandai. Di pulau inilah Pangeran Toan Su Ong bersembunyi, hidup bersama isterinya yang tercinta, yang bernama Ouwyang Ci.

Isterinya itu memiliki kitab pusaka peninggalan Panglima The Hoo yang terkenal dan di tempat sunyi ini, Pangeran Toan Su Ong dan Ouwyang Ci yang menjadi isterinya, tekun memperdalam ilmu silat, bahkan berhasil menciptakan Ilmu Hok-mo Sin-kun yang hebat. Di tempat itu pula mereka mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Toan Kim Hong yang kemudian menjadi datuk selatan Lam-sin dan akhirnya kini menjadi isteri Pendekar Sadis.

Pangeran bersama isterinya itu membabat hutan di pulau itu, menanami tanah pulau itu dengan pohon-pohon yang ada gunanya, sayur-sayuran, bahkan akhirnya mereka berdua juga menanam bunga-bunga, membuat telaga kecil dari air sumber yang dialirkan ke situ dan sebentar saja mereka dapat memperkembang biakkan bunga teratai merah. Pulau itu berubah menjadi tempat yang indah dan subur dan mereka memberi nama Pulau Teratai Merah. Demikianlah riwayat singkat Ang-lian-to (Pulau Teratai Merah) itu yang sekarang menjadi tempat tinggal Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya, Lam-sin Toan Kim Hong.

Sesudah Pendekar Sadis bersama isterinya yang memang ahli waris pulau itu tinggal di situ, pulau itu menjadi makin indah dan terawat baik. Apa lagi karena pendekar ini sudah mempergunakan belasan orang pelayan untuk merawat pulau, tempat itu menjadi sebuah pulau yang mewah.

Ceng Thian Sin telah menjadi seorang yang kaya raya, memiliki sebuah bangunan gedung laksana istana di atas pulau. Para pembaca cerita serial Pendekar Sadis tentu maklum, betapa suami isteri pendekar ini sudah memperoleh harta karun Jenghis Khan yang amat besar nilainya dan yang membuat suami isteri itu menjadi kaya raya.

Biar pun sudah lama suami isteri pendekar ini tidak mencampuri urusan dunia kang-ouw, melainkan hidup makmur dan tenteram di Pulau Teratai Merah, akan tetapi hal ini bukan berarti mereka mengasingkan diri dari pergaulan. Sama sekali tidak!

Keluarga Ceng ini mengadakan hubungan dengan kota Ning-po, kota pelabuhan terbesar di daratan yang terdekat dengan Pulau Teratai Merah. Para penghuni kota Ning-po, mulai dari pembesar sampai kepada para pelayannya, tahu belaka di mana letaknya pulau itu dan siapa keluarga yang tinggal di sana. Bahkan Pangeran Can Seng Ong yang menjadi gubernur di Propinsi Ce-kiang dan daerah selatan, berkenan datang berkunjung beberapa hari ke pulau indah itu dan menjadi tamu kehormatan keluarga Ceng.

Terjalin persahabatan antara keluarga Ceng dan keluarga Can, apa lagi setelah pangeran yang masih berdarah keluarga kaisar di kota raja itu mengetahui bahwa isteri Pendekar Sadis adalah keturunan Pangeran Toan Su Ong yang sangat terkenal itu. Bagaimana pun juga, biar pun jauh, antara keluarga Can Seng Ong dan isteri Pendekar Sadis masih ada hubungan keluarga. Di samping itu, telah beberapa kali suami isteri majikan Pulau Teratai Merah itu berjasa dengan beberapa kali mengusir dan membasmi penjahat-penjahat yang berani merajalela di kota Ning-po dan sekitarnya, yang tak dapat ditanggulangi oleh para petugas keamanan.

Pada suatu siang yang panas, sebuah perahu kecil meluncur meninggalkan Pantai kota Ning-po menuju ke timur, ke arah pulau-pulau kecil yang terlihat seperti titik-titik hitam itu. Perahu itu didayung oleh gadis berpakaian sederhana dan setelah agak ke tengah, gadis itu lalu mengembangkan layar yang segera menangkap angin dan meluncurlah perahu itu dengan lajunya, dikemudikan tangan-tangan kecil halus dengan sikap cekatan.

Jelaslah bahwa gadis ini tidak asing dengan lautan dan perahu. Hal ini tidaklah aneh bila diketahui bahwa gadis itu lahir dan dibesarkan di Pulau Teratai Merah. Gadis itu adalah Ceng Sui Cin!

Setelah selesai membongkar rahasia Liu-thaikam di istana kemudian pembesar korup itu ditangkap dan dihukum mati, Sui Cin bersama Cia Hui Song pergi meninggalkan kota raja. Tadinya Hui Song hendak mengantarkan Sui Cin sampai ke Pulau Teratai Merah karena pemuda yang sudah jatuh cinta ini selain ingin memperpanjang perjalanannya bersama dara itu, juga ingin berkunjung ke pulau itu bertemu dengan Pendekar Sadis dan isterinya yang sudah lama dia kagumi namanya itu. Akan tetapi Sui Cin mencegahnya.

"Twako, harap kau jangan dulu berkunjung ke rumah kami. Ayah ibuku tentu akan marah kepadaku kalau membawa teman tanpa memberi tahu lebih dahulu. Tidak begitu mudah untuk mendatangi Pulau Teratai Merah tanpa mendapat perkenan dari ayah ibu. Aku telah lama pergi merantau meninggalkan mereka. Bila aku pulang membawa teman tanpa lebih dahulu mendapat ijin, aku tentu akan kena marah. Lain kali saja engkau datang kalau aku sudah menceritakan tentang dirimu kepada mereka."

Hui Song merasa kecewa akan tetapi tidak berani memaksa. "Cin-moi, aku pun tidak akan berani lancang mengunjungi Pulau Teratai Merah tanpa ijin kedua orang tuamu. Biarlah aku mengantarmu sampai ke pantai dan engkau lebih dahulu menyeberang ke pulau dan melaporkan kepada orang tuamu. Kalau mereka sudah setuju, baru aku akan ke sana. Bagaimana?"

Tentu saja tidak ada alasan bagi Sui Cin untuk menolak. Apa lagi dara ini memang suka kepada pemuda yang jenaka dan lincah akan tetapi gagah perkasa dan berbudi ini. Dia tahu benar bahwa Hui Song mencintanya dan hal ini mendatangkan rasa senang di dalam hatinya, walau pun dia sendiri tidak tahu pasti apakah dia pun mencinta pemuda ini.

Dia suka kepada Hui Song, sebagai seorang sahabat, hal ini sudah jelas. Senang bekerja sama dengan pemuda yang gagah perkasa itu, melakukan perjalanan bersama, bersenda gurau dan bicara tentang ilmu silat. Dan bagaimana pun juga harus diakuinya bahwa cinta pemuda itu kepadanya mendatangkan semacam rasa bangga dalam hatinya.

Mereka lalu melakukan perjalanan ke selatan dan setelah mereka sampai di kota Ning-po, Sui Cin berkata, "Song-twako, harap engkau suka menanti di kota ini lebih dahulu. Paling lambat tiga hari aku pasti akan memberi kabar kepadamu, entah aku datang sendiri atau menyuruh pelayan, mengabarkan kepadamu apakah engkau sudah boleh menyeberang ke pulau ataukah tidak."

"Baik, Cin-moi. Aku menanti di penginapan ini, mudah-mudahan orang tuamu berkenan menerima kunjunganku. Selamat jalan, Cin-moi."

鈥淪elamat tinggal, sampai jumpa kembali."

Sui Cin lalu meninggalkan pemuda itu dan berlayar seorang diri menuju ke Pulau Teratai Merah. Wajahnya gembira sekali, berseri-seri dengan senyum menghias bibirnya. Hatinya terasa nyaman dan gembira sebab begitu dia berlayar menuju ke pulaunya, barulah terasa betapa sesungguhnya dia merasa sangat rindu kepada ayah bundanya, kepada pulaunya, bahkan rindu kepada air laut di mana semenjak kecil dia biasa bermain-main.

Sekarang, sesudah dia mengemudikan perahunya yang melaju kencang menuju ke timur, hatinya riang sekali. Dalam keriangannya itu teringatlah dia akan sajak yang dibuat ibunya dan yang dihafalnya ketika dia masih kecil. Kini, tanpa terasa lagi bibirnya bergerak lantas terdengar alunan suaranya yang nyaring merdu di antara suara percikan air pecah karena dibelah ujung perahunya.

Laut! Hidupmu penuh rahasia airmu luas tak terjangkau mata bergerak berubah tiada hentinya tak berdaya namun penuh kuasa! Kadang marah liar mengganas kadang lembut halus dan lemas kadang riang gembira penuh tawa kadang meraung menangis penuh duka! Laut! Penuh segala kemungkinan rahasia cermin batin setiap manusia!

Dahulu, di waktu dia masih kecil, meski pun dia hafal akan kata-kata nyanyian itu, namun dia tidak mengerti apa yang termaksud dalam sajak itu. Memang penggambaran lautan itu dapat dimengerti. Lautan selalu berubah. Kalau sedang tenang halus, amat mentakjubkan karena indahnya, bagaikan sutera biru terhampar, atau bagai padang rumput segar tertiup angin, seolah-olah melambai mengajak orang menikmati keindahannya.

Akan tetapi ada kalanya laut membuat dia berlari menjauh, bersembunyi aman di dalam rumah karena laut mengamuk, mengganas, mengeluarkan suara yang mengerikan sekali, gelombang menderu meraung-raung dan kadang menangis mendesis-desis, menggelegar menghantam batu karang di pantai, demikian perkasa dan menyeramkan.

Akan tetapi hanya sampai di situ saja batas kemampuannya untuk menyelami arti sajak buatan ibunya itu. Malah setahun yang lalu ketika dia meninggalkan pulau, dia masih tak peduli dengan isi sajak itu, tidak berminat untuk menyelami artinya lebih mendalam. Akan tetapi sekarang, pada waktu dia bernyanyi, artinya meresap ke dalam kalbu sehingga dia pun mengerti sepenuhnya akan isi kalimat terakhir dari sajak itu.

'Laut! Penuh segala kemungkinan rahasia, cermin batin setiap manusia!'

Memang ada gerakan tiada hentinya dalam batin manusia, seperti lautan. Kadang-kadang manusia dapat bersikap lembut, kadang kala ganas dan kejam, dan selama ini dia sudah melihat alangkah banyaknya manusia melakukan kekejaman-kekejaman serta kebuasan yang lebih mengerikan dari pada kebuasan lautan!


Baru saja Sui Cin menghentikan nyanyiannya, perhatiannya tertarik oleh beberapa buah perahu yang agaknya baru saja pergi meninggalkan Pulau Teratai Merah. Sebuah perahu besar mewah dikawal oleh empat buah perahu kecil.

Begitu melihat perahu besar itu, Sui Cin pun tersenyum. Tentu saja dia mengenal perahu mewah yang berbendera besar itu. Perahu siapa lagi kalau bukan perahu Pangeran Can Seng Ong yang menjadi gubernur atau Raja Muda dan mempunyai rumah di Ning-po itu!

Dia mengenal keluarga itu, juga mengenal putera tunggal raja muda itu, seorang pemuda yang usianya lima enam tahun lebih tua dari pada usianya dan yang tak disukainya sebab pemuda bangsawan yang bernama Can Koan Ti itu wataknya ceriwis, suka menggodanya dengan sikap yang kurang ajar! Akan tetapi di dalam pergaulan biasa, tentu saja dia tidak menyatakan sikap tidak senang itu, karena dia pun maklum bahwa orang tuanya adalah sahabat baik keluarga Can.

Agaknya yang membuat dia tidak suka adalah kemewahan yang terlampau berlebihan itu. Ibunya sendiri seorang wanita cantik jelita yang pesolek dan suka mengenakan pakaian-pakaian indah, demikian pula ayahnya. Dan keluarga Can itu seolah-olah berlomba dalam menonjolkan kekayaan mereka. Hal-hal inilah yang tidak disukai Sui Cin.

Entah bagaimana dia tidak suka bersolek, tidak suka menonjolkan kekayaan, dan ketika dia kecil, kadang-kadang dia ngambek kalau oleh ibunya dipaksa mengenakan pakaian-pakaian indah. Dia lebih mengutamakan keenakan pakaian yang menempel di tubuh dari pada keindahannya. Karena inilah maka Sui Cin sering memakai pakaian yang aneh-aneh dan nyentrik, semata-mata dilakukan bukan untuk menarik perhatian, melainkan karena dia mengutamakan keenakan pada pakaian yang dipakainya itu.

"Haiii... Ceng Siocia...!" Tiba-tiba terdengar seruan dari perahu besar dan seorang laki-laki menjenguk dari atas pagar besi di tepi geladak perahu.

Orang itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun. Wajahnya tidak berapa tampan akan tetapi karena dia seorang pesolek, dengan kulit muka biasa dibedaki, rambut tersisir rapi dan mengkilat karena minyak, juga pakaiannya mewah sekali, maka dia nampak sebagai seorang pria yang ganteng.

Sui Cin langsung mengenalnya karena pemuda itu bukan lain adalah Can Koan Ti, putera tunggal Raja Muda Can Seng Ong atau gubernur Ce-kiang itu. Berjumpa dengan orang yang sudah dikenalnya setelah lebih dari setahun berpisah mendatangkan kegembiraan. Sui Cin segera melupakan sifat-sifat yang tidak disukanya pada diri putera pembesar itu dan dia pun melambaikan tangan.

"Heiii, Cong-kongcu... selamat berjumpa!" teriaknya riang.

Pemuda itu melambaikan tangan dengan gembira, lantas terdengar suaranya nyaring dan sengaja dinyaringkan karena perahu mereka sudah meluncur berpapasan, "Haiii... engkau semakin cantik saja..."

Sui Cin cemberut. Kiranya penyakit laki-laki itu belum sembuh juga, pikirnya. Dia hendak memaki dan telah mengerahkan khikang untuk berteriak agar terdengar sampai ke perahu besar yang sudah jauh, akan tetapi pada saat itu, banyak kepala nongol di tepi perahu itu sehingga dia melirihkan suaranya supaya tidak terdengar oleh banyak orang, "Engkau... ceriwis dan brengsek...!"

Karena gadis itu tidak mempergunakan khikang ketika berteriak, tentu saja suaranya tidak dapat mencapai perahu besar yang sudah lewat agak jauh. Can Koan Ti merasa sangat penasaran tidak mendengar apa yang diucapkan dara jelita itu, maka dia pun berteriak,

"Apaaaa...?! Kau bicara apa, nona...?!"

Akan tetapi Sui Cin hanya memoncongkan mulut dan mencibirkan bibir saja. Melihat ini, pemuda bangsawan itu menjadi gemas. Awas kau, pikirnya, kalau sudah menjadi milikku, akan kugigit bibirmu itu!

Sui Cin tertawa-tawa kecil, senang hatinya sudah dapat menggoda pemuda bangsawan itu. Aneh, mengapa aku menjadi marah karena dipuji cantik? Ahh, bukan pujiannya yang membuatnya marah, melainkan sikap pemuda itu, dan mungkin juga tergantung dari siapa yang memujinya.

Kalau hati memang sudah tidak suka, biar dipuji pun mungkin saja dianggap melakukan kekurang ajaran. Sebaliknya jika hati suka, biar dikurang ajari sekali pun mungkin akan dianggap sebagai pujian yang menyenangkan!

Sui Cin sengaja memutar perahunya, lantas menghampiri Pulau Teratai Merah dari arah selatan karena pada bagian selatan dari pulau itu terdapat sebuah taman laut yang amat indah. Di waktu air laut sedang tenang, dari atas perahu dapat nampak ikan-ikan di bawah permukaan air yang tidak terlampau dalam dan dasar laut itu pun penuh dengan batu dan bunga karang yang amat indah dan beraneka warna.

Ketika tiba di tempat ini, Sui Cin tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk menikmati tempat itu. Dia menoleh ke kanan kiri. Sunyi. Memang tidak ada nelayan berani mendekat Pulau Teratai Merah tanpa seijin orang tuanya, dan ayah bundanya telah melarang para nelayan mendatangi taman laut itu.

Setelah merasa yakin bahwa di situ tidak ada orang lain, Sui Cin lalu membuang jangkar, menggulung layar, menanggalkan pakaian luarnya dan kemudian juga pakaian dalamnya. Dengan bertelanjang bulat dia mengikat rambutnya di atas kepala lantas terjunlah dia ke dalam air.

Dia menyelam dan segera dia memasuki keadaan yang hanya dapat dibayangkan dalam impian. Sebuah alam yang sangat indah, beraneka warna, ada bintang-bintang berwarna, ada bunga-bunga raksasa dengan warna-warni menyolok, ada ikan-ikan yang warnanya berkilauan dan bentuknya beraneka macam, ada yang teramat aneh dan menyeramkan.

Sui Cin menyelam, hanya sesekali timbul untuk berganti napas dan menyedot hawa murni sebanyaknya, menyelam lagi dan tanpa dirasakan sudah satu jam lebih dia bermain-main di tempat itu, suatu kebiasaan yang dahulu menjadi kesukaannya sebelum dia merantau.

Setelah dia merasa lelah dan puas, baru dia naik ke perahunya, mengeringkan tubuh dan rambut, lantas mengenakan pakaiannya kembali. Dan hatinya kini menjadi semakin riang, wajahnya semakin cerah ketika dia mengemudikan perahunya menuju ke Pulau Teratai Merah.

Biar pun Pulau Teratai Merah tidak pernah dijaga ketat karena keluarga Ceng tidak takut akan ancaman bahaya, namun para pelayan mereka yang rata-rata memiliki kepandaian silat lumayan itu selalu bersikap waspada. Oleh karena itu, tidak mengherankan apa bila mereka sudah tahu akan kedatangan nona mereka dan hal ini segera mereka laporkan kepada majikan mereka. Itulah sebabnya ketika Sui Cin muncul di ruangan depan rumah gedung keluarganya, ayah ibunya telah berdiri menyambut dengan senyum gembira.

"Ayah...!" Sui Cin berlari dan memeluk ayahnya, sejenak menempelkan mukanya di dada yang bidang itu.

Jari-jari tangan ayahnya mengelus rambutnya, mendatangkan rasa senang dan tenteram di hati. Ia lalu mengangkat mukanya, memandang wajah ayahnya yang masih ganteng itu sambil tersenyum.

"Engkau baik saja, bukan?" Ayahnya bertanya halus.

Sui Cin mengangguk, lalu melepaskan diri dan menghampiri ibunya, terus merangkulnya, "Ibu...!"

Toan Kim Hong memeluk anaknya dan menciumi pipinya. "Anak bengal, terlalu lama kau pergi, membuat kami merasa rindu sekali."

Sui Cin juga menciumi muka ibunya yang amat cantik itu.

"Ihh, rembutmu basah! Bau air laut pula! Dan pakaianmu ini... hemm, mengapa engkau memakai pakaian seperti... seperti jembel...!" Wanita itu menegur dan alisnya berkerut.

Sebagai seorang ibu yang senang akan pakaian indah, tentu saja hati nyonya ini merasa kecewa saat melihat puteri tunggalnya berpakaian yang dianggapnya jorok dan terlampau sederhana, pantasnya pakaian wanita petani miskin.

Sui Cin melepaskan rangkulannya, melangkah mundur tiga tindak dan memandang ayah ibunya. Baru sekarang dia melihat betapa pakaian orang tuanya amat mewah, lebih indah dari pada biasanya dan teringatlah dia bahwa tentu ayah ibunya belum berganti pakaian setelah tadi menerima tamu agung, yaitu keluarga Raja Muda Can itu. Timbul rasa tidak senangnya akan kemewahan ayah bundanya dan dia berkata dengan nada mengejek dan senyum dibuat-buat.

"Wah, pakaian ibu dan ayah indah bukan main, baru dan mewah seperti pakaian kaum bangsawan saja!"

Memang pakaian yang dikenakan suami isteri itu indah dan mewah. Ceng Thian Sin yang telah berusia empat puluh enam tahun itu masih terlihat muda dan gagah, tubuhnya tegap dan sehat, wajahnya berseri dan kepalanya memakai sebuah topi yang indah, dihias bulu. Pakaiannya dari sutera halus biru dan putih, rapi dan mewah bagaikan pakaian seorang hartawan asli, sepatunya mengkilap dan baru.

Toan Kim Hong lebih mewah lagi. Rambutnya disanggul di atas, dihias emas dan permata berbentuk sebuah mainan naga kecil, kedua telinganya dihias anting-anting mutiara besar, juga kalung batu-batu permata bergantungan di luar bajunya yang sangat indah. Gaun itu disulam dengan gambar seekor burung hong dari benang emas, sesuai dengan namanya 'Kim Hong' yang berarti burung hong emas!

Wajah wanita yang sebetulnya dua tahun lebih tua dari pada suaminya ini masih nampak bagaikan wanita tiga puluh tahunan saja, cantik manis dan kulitnya putih halus. Sungguh sukar dipercaya bahwa wanita yang demikian cantik jelita pernah menjadi Lam-sin, datuk selatan yang ditakuti semua golongan hitam.

Toan Kim Hong merasakan nada suara mengandung ejekan itu. Sepasang alisnya yang indah berkerut ketika dia berkata, "Sui Cin! Tidak pantas engkau mengejek orang tuamu! Tidak pantas pula jika engkau mengenakan pakaian macam ini! Engkau tentu tahu siapa ayahmu, dan dari mana asalnya nama keluarga Ceng. Ayahmu masih berdarah keluarga kaisar! Kakek ayahmu adalah mendiang Kaisar Ceng Tung, maka memang sudah pantas jika keluarga kita termasuk keluarga bangsawan. Apa lagi ayahku sendiri adalah seorang pangeran yang tidak rendah kedudukannya. Keluarga Toan adalah keluarga bangsawan pula. Maka, tidak perlu engkau mengejek."

Thian Sin memegang lengan isterinya dan merangkul pundak puterinya. "Sudahlah, masa anak baru datang sudah dimarahi. Dan engkau, Cin, tidak baik bersikap seperti itu kepada ibumu. Mari kita berbicara di dalam. Kami ingin menyampaikan berita yang penting sekali mengenai dirimu."

Mereka bertiga lalu berjalan masuk, ada pun suasana antara ibu dan anak itu sudah pulih kembali. Mereka masuk ke ruangan dalam di mana tidak ada pelayan yang berani masuk tanpa dipanggil kemudian duduklah keluarga yang terdiri dari tiga orang itu.

"Dalam perjalanan pulang tadi, di tengah lautan aku bertemu dengan perahu Raja Muda Can. Agaknya dia berkunjung ke sini, benarkah, ayah?" Sui Cin bertanya, teringat akan perjalanannya tadi.

"Benar," jawab ayahnya. "Memang keluarga Can tadi berkunjung ke sini dan justru urusan dengan mereka itu yang ingin kami ceritakan kepadamu!"

Sui Cin mengerutkan alis. "Tadi ayah bilang akan menyampaikan berita penting mengenai diriku...?"

"Ada hubungannya dengan kunjungan keluarga Raja Muda Can...," kata ibunya.

Sui Cin memandang kepada ayah ibunya, akan tetapi mereka kelihatan ragu-ragu untuk bicara. "Apakah yang terjadi? Apa hubunganku dengan keluarga Can? Ayah, katakanlah!"

Suami isteri itu saling pandang dan dalam pertemuan pandang mata itu tahulah Pendekar Sadis bahwa isterinya sedang dalam keadaan terharu dan menghendaki supaya dia yang menyampaikan berita itu kepada anak mereka.

"Anakku, tahukah engkau berapa usiamu tahun ini?" tanyanya, ingin menyampaikan berita itu secara halus dan memutar.

"Usiaku?" Sui Cin memandang heran. "Ayah tentu tahu, kini usiaku hampir enam belas tahun..."

"Hemm, sekarang anakku sudah dewasa," Toan Kim Hong berkata.

"Apa hubungannya aku dan usiaku dengan keluarga Raja Muda Can? Ahhh... aku tahu... ahh, si keparat, agaknya mereka datang untuk meminang aku, begitukah ayah dan ibu?"

"Sui Cin, hati-hati dengan mulutmu itu!" Ibunya segera menghardik. "Keluarga Can adalah keluarga bangsawan dan pembesar yang terhormat, maka merupakan suatu kehormatan yang sangat besar bagi kita jika mereka datang meminangmu. Bagaimana engkau berani mengeluarkan kata makian?"

"Sui Cin, bersikaplah tenang dan hadapi segalanya dengan pikiran yang matang, jangan terlalu mudah menurutkan perasaan suka atau tidak suka dan dengarkan kata-kata kami," suara Pendekar Sadis terdengar tegas dan Sui Cin menunduk.

"Maafkan, ayah." Dia pun insyaf bahwa sikapnya memang tidak sepatutnya. Kini dia telah dewasa, bukan anak kecil lagi maka dia harus dapat menghadapi segala sesuatu dengan tenang seperti yang dimaksudkan ayahnya.

"Sui Cin, keluarga Can memang tadi datang berkunjung untuk mengajukan pinangan atas dirimu. Engkau tahu bahwa keluarga itu adalah keluarga yang terhormat, seorang wakil kaisar untuk daerah selatan, seorang pangeran yang menjadi raja muda, selain berdarah bangsawan tinggi, juga kaya raya dan kedudukannya tinggi terhormat. Dan puteranya itu, Can-kongcu, adalah seorang pemuda yang terpelajar dan halus budi. Tentu aku tak perlu bercerita banyak karena engkau pun sudah mengenalnya."

"Dan ayah ibu sudah menerimanya?" tanya Sui Cin, jantungnya berdebar tegang.

"Kami menyambutnya dengan baik dan biar pun di dalam hati kami merasa setuju sekali, namun kami ingin menanti sampai engkau pulang, jadi kami belum mengambil keputusan menerimanya. Keluarga Can yang bijaksana mengerti akan keadaan kami karena engkau tidak berada di rumah dan mereka bersedia menanti sampai engkau pulang."

"Terima kasih, ayah dan ibu, dan memang pinangan itu tidak perlu diterima karena aku tidak mau."

"Apa?" Ceng Thian Sin bangkit berdiri. "Engkau tidak mau? Mengapa?"

Sui Cin menentang pandang mata ayahnya yang kelihatan tidak senang. "Tidak apa-apa, hanya aku tidak suka dan tidak disuka menjadi isteri Can Koan Ti yang ceriwis itu!"

"Sui Cin, engkau jangan sesombong itu!" Kini ibunya bangkit berdiri dengan sikap marah. "Can-kongcu orangnya baik hati dan ramah, dan engkau malah memakinya ceriwis! Kami hendak mengangkatmu menjadi seorang yang terhormat dan mulia, akan tetapi engkau menolaknya mentah-mentah! Apakah engkau ingin menjadi perawan tua? Apakah engkau hendak membikin malu orang tuamu dengan penolakan ini, padahal kami sudah bersikap menerima dan setuju terhadap mereka?"

Melihat ayah ibunya bangkit berdiri dengan sikap marah, Sui Cin juga bangkit berdiri dan menghadapi mereka. Hatinya terasa panas karena dia merasa dipojokkan. "Ibu sekarang sudah berusia empat puluh tahun lebih dan aku baru enam belas tahun, berarti bahwa ibu pun tentu bukan berusia muda ketika menikah dengan ayah. Mengapa hendak memaksa aku menikah dalam usia enam belas tahun dan khawatir aku menjadi perawan tua?"

"Jangan bawa-bawa masa muda ibumu!" Kini Toan Kim Hong menudingkan telunjuknya dengan sikap marah. "Memang aku telah berusia dua puluh tiga tahun pada saat menjadi isteri ayahmu, akan tetapi justru kami tidak ingin melihat engkau seperti kami pada masa muda. Kami ingin melihat engkau kembali kepada kedudukan yang wajar dan pantas bagi seorang keturunan bangsawan seperti engkau, menjadi orang yang terhormat dan mulia. Dan menjadi menantu Raja Muda Can merupakan kedudukan yang paling baik yang akan pernah dapat kau miliki, kecuali jika engkau dapat menjadi menantu kaisar yang tak akan mungkin terjadi!"

Sui Cin menjadi semakin tak senang. Perut dan dadanya terasa panas hingga darahnya bergolak. Dia pun bertolak pinggang sambil kedua alisnya berkerut ketika dia memandang ayah ibunya. "Jadi... ayah dan ibu hendak memaksaku?"

Melihat ketegangan makin memuncak, Thian Sin cepat melerai. "Bukan sekali-kali kami hendak memaksamu, anakku. Kami hanya minta agar engkau suka memikirkan secara mendalam semua kata-kataku dan kata-kata ibumu. Tentunya engkau tahu betapa besar cinta kami terhadap dirimu, dan kami hanya berusaha untuk membuatmu berbahagia," kata-katanya halus menghibur, membuat Sui Cin rasanya ingin menangis.

"Kalau ayah dan ibu ingin melihat aku berbahagia, janganlah memaksaku kawin dengan siapa pun juga. Tunggu sampai aku berusia dua puluh tahun lebih, seperti ibu dahulu. Aku tidak suka, ayah, aku tidak mau menikah dengan orang she Can itu. Pendeknya, aku tak suka menikah dengan orang bangsawan."

"Ehhh...?!" Toan Kim Hong berseru marah.

Dia sendiri adalah puteri dari seorang pangeran, walau pun pangeran pengasingan atau buangan, dan sejak kecil dia sudah merindukan kemuliaan itu yang kini hampir tercapai kalau puterinya menjadi mantu Raja Muda Can. Tapi kini puterinya itu malah mengatakan tidak suka menikah dengan orang bangsawan!

"Mengapa engkau tidak suka menikah dengan orang bangsawan? Mengapa? Hayo jawab, tentu ada alasannya."

"Karena aku benci! Aku benci pada orang-orang bangsawan. Mereka itu sombong, tinggi hati dan korup! Aku benci kepada pembesar-pembesar yang korup semacam Liu-thaikam sehingga aku membantu para penentangnya sampai akhirnya dia jatuh."

"Hemmm, jadi engkaukah satu di antara mereka yang berhasil menjatuhkan orang she Liu itu?" Toan Kim Hong yang tadinya marah-marah kini berkata lunak karena hatinya merasa girang dan bangga sekali.

Berita mengenai kejatuhan Liu-thai-kam ini sudah mereka dengar dari keluarga Can yang memuji-muji para pendekar yang membantu pemerintah membongkar persekutuan jahat yang dipimpin oleh Liu-thaikam dan kini ternyata bahwa satu di antara orang-orang gagah itu adalah Sui Cin.

"Sui Cin, tidak semua bangsawan berwatak tinggi hati dan sombong. Engkau tidak boleh menilai orang dari keadaan atau kedudukannya, karena keadaan apa pun juga tentu ada kecualinya. Banyak pula bangsawan tinggi yang rendah hati dan orang-orang biasa yang tinggi hati. Juga banyak orang-orang hartawan yang berwatak pendekar tetapi sebaliknya orang-orang miskin yang berwatak penjahat. Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Engkau baru saja pulang dari kepergianmu yang setahun lebih itu."

"Ayahmu benar, Cin. Mari kita beristirahat dahulu dan berganti pakaian, lalu engkau harus ceritakan semua pengalamanmu, terutama perjuanganmu meruntuhkan Liu-thaikam yang sangat menggemparkan itu," kata Toan Kim Hong yang kini sudah memperoleh kembali kesabarannya, merangkul puterinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.

Sui Cin lalu menuturkan semua pengalamannya kepada ayah ibunya, juga pertemuannya dengan tokoh-tokoh sesat Cap-sha-kui, dengan Cia Sun dan Cia Hui Song. Semuanya itu diceritakan dengan jelas kecuali bahwa saat ini Hui Song sedang menanti di kota Ning-po, menanti 'lampu hijau' darinya agar pemuda itu diperbolehkan mengunjungi Pulau Teratai Merah untuk berkenalan dengan orang tuanya.

Pada saat Sui Cin bercerita tentang murid Cin-ling-pai yang bernama Tan Siang Wi yang tinggi hati, angkuh dan galak, ibunya segera mengerutkan alis. "Ahh, ketua Cin-ling-pai itu bernama Cia Kong Liang dan memang wataknya angkuh dan memandang rendah semua orang. Pantas jika dia mempunyai seorang murid seperti itu. Terus terang saja, aku tidak suka kepada Cin-ling-pai!"

"Memang wataknya agak tinggi hati, akan tetapi harus diakui bahwa keluarga Cin-ling-pai adalah keluarga gagah perkasa yang selalu menjunjung tinggi kebenaran. Bagaimana pun juga, aku sendiri pun terhitung murid Cin-ling-pai."

"Memang benar ayah," kata Sui Cin. "Meski pun Tan Siang Wi itu berwatak angkuh, akan tetapi Cia Hui Song, putera ketua Cin-ling-pai itu sama sekali tidak sombong, bahkan dia ramah dan baik sekali di samping ilmu silatnya yang tinggi. Dialah yang berkeras untuk menentang kelaliman Liu-thaikam dan aku membantunya."

Sui Cin lalu menceritakan semua mengenai pemuda itu, tentu saja sambil mencari jalan untuk menyampaikan keinginan pemuda itu yang kini masih menanti di kota Ning-po.

"Cia Hui Song juga menyatakan kekagumannya terhadap ayah dan dia ingin sekali datang ke sini menghadap dan berkenalan dengan ayah dan ibu." Akhirnya dia memancing.

"Hemm, tidak usah ke sini... aku sudah merasa tidak suka kepada keluarga itu, lebih baik tidak ada hubungan sama sekali," kata Kim Hong dan mendengar ucapan ibunya itu, tentu saja Sui Cin tidak berani lagi mendesak.

Munculnya urusan dengan keluarga Can tentu saja merupakan halangan besar baginya untuk memperkenalkan Hui Song. Dia menolak pinangan keluarga Can dan hal itu tentu mengesalkan hati ayah ibunya yang telah setuju menerima, maka jika dia membawa Hui Song ke pulau tentu hanya akan makin menjengkelkan hati orang tuanya. Tidak, saatnya tidak tepat bagi Hui Song untuk datang berkunjung dan dia harus segera memberi tahu kepada pemuda itu agar tidak menunggu dengan sia-sia di Ning-po.

Pada keesokan harinya, selagi Sui Cin termenung di taman belakang gedung dan masih bingung memikirkan tentang Hui Song yang menantinya di seberang sana, ibunya datang menghampiri, memeluk dan duduk di sampingnya, di atas sebuah bangku batu di taman itu.

"Anakku, maafkan sikap ibu kemarin. Aku sudah marah-marah kepadamu, aku menyesal sekali menyambut pulangmu yang sudah sangat kurindukan dengan kemarahan." Ibu itu dengan sikap lembut dan sayang mencium pipi anaknya.

Sui Cin balas mencium dan merangkul ibunya. "Tidak, ibu. Akulah yang minta maaf sebab sesudah lama pergi meninggalkan ibu, aku malah pulang tidak membawa oleh-oleh yang menyenangkan, hanya mendatangkan kejengkelan di hati ibu dan ayah saja. Kalau saja aku tahu begini, aku tidak akan pulang dulu dan melanjutkan perantauanku."

"Hushhh, sudahlah. Kita lupakan saja peristiwa kemarin dan mari kita bicara dengan hati terbuka. Sui Cin, sekarang katakanlah terus terang, engkau menolak keras lamaran dari putera Raja Muda Can, apakah dalam perantauanmu itu engkau bertemu dengan pemuda yang telah menjatuhkan hatimu?"

Dara itu memandang wajah ibunya dengan mata terbelalak. Kim Hong menatap sepasang mata yang bening itu penuh selidik, akan tetapi dia tidak melihat sesuatu pada sepasang mata itu dan memang anaknya ini benar-benar heran dan terkejut, tidak menyembunyikan sesuatu. Kim Hong adalah seorang wanita yang amat tinggi ilmunya, luas pengalamannya dan sangat cerdik, maka andai kata Sui Cin menyembunyikan sesuatu perasaan tertentu sudah pasti ibunya akan dapat mengetahuinya atau setidaknya mencurigainya.

"Ibu, apa yang kau maksudkan? Menjatuhkan hatiku?" Pertanyaan yang polos dan jujur karena memang Sui Cin belum paham akan lika-liku dan istilah tentang cinta.

"Maksudku, apakah ada pemuda yang menarik hatimu dan kau suka?"

Sui Cin masih bersikap biasa saja. Keheranan pada pandang matanya lenyap setelah dia paham bahwa pengertian yang tadinya tidak diketahuinya itu ternyata keliru.

"Ahh, kiranya itukah yang ibu maksudkan? Tentu saja ada dan banyak. Banyak kujumpai orang-orang pandai dan lihai, gagah perkasa dan sangat menyenangkan. Terutama sekali Cia Sun dan Cia Hui Song. Mereka adalah pemuda-pemuda gagah perkasa yang sangat mengagumkan."

"Bukan begitu maksudku."

"Lalu bagaimana?" Kembali keheranan membayang di mata dara itu.

"Maksudku, apakah ada pemuda yang... ehhh, kepada siapa engkau jatuh cinta?"

"Ohh...!" Wajah Sui Cin berubah merah dan sejenak dia termangu-mangu, akan tetapi dia segera menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti apa yang ibu maksudkan. Aku... aku tidak tahu apakah aku mencinta seseorang, tetapi kurasa aku hanya suka saja, ibu, suka bersahabat, terutama kepada... Cia Hui Song."

"Hemm, terutama kepada putera ketua Cin-ling-pai itu? Hati-hati, Sui Cin, jangan sampai engkau jatuh cinta kepadanya. Aku tidak suka mempunyai mantu putera Cin-ling-pai!"

Sudah menjadi watak Sui Cin tidak bisa dikerasi. Kalau dihadapi dengan kekerasan, maka dia akan menentang. Maka kini mendengar ucapan ibunya, dia berkata, "Ibu, terus terang saja, aku suka kepada Hui Song, akan tetapi aku tidak tahu apakah aku mencintanya. Andai kata aku mencinta, siapa pun juga tidak akan dapat melarangku!"

Wajah ibunya berubah dan matanya terbelalak, akan tetapi melihat sikap puterinya yang demikian tegas dan keras, tiba-tiba nyonya ini tersenyum, teringat akan kekerasan hatinya sendiri. Ia mengangguk dan merangkul puterinya. "Baiklah, akan tetapi engkau tidak cinta kepadanya, bukan?"

Sui Cin menggeleng kepala. "Aku suka kepadanya karena dia gagah perkasa, ramah dan baik budi, ibu. Akan tetapi aku... aku tidak tahu apakah aku cinta kepadanya atau kepada siapa pun juga. Kini aku masih suka hidup bersama ayah dan ibu, atau hidup seorang diri, pergi merantau dan memperluas pengalaman. Aku tidak ingin terikat oleh pernikahan dan menggantungkan hidupku pada seseorang, mengurung diri dalam sebuah rumah tangga. Ngeri aku apa bila membayangkan betapa aku menjadl nyonya rumah yang tidak pernah meninggalkan rumahnya, bagaikan seekor anjing yang dirantai di dalam kandangnya. Aku masih ingin bebas, ibu, seperti burung di udara..."

Ibunya mengangguk. "Aku mengerti perasaanmu, Cin-ji. Agaknya jiwa petualangan ayah ibu menurun kepadamu. Akan tetapi ingat, anakku. Usiamu sudah enam belas tahun dan sudah sepatutnya engkau mempunyai ikatan dengan seseorang yang kelak akan menjadi suamimu. Kulihat Can-kongcu merupakan calon yang paling baik dan tepat bagimu. Kelak dia tentu akan menduduki pangkat yang tinggi sehingga hidupmu akan terhormat, mulia, terjamin dan bahagia. Soal pernikahan bisa saja diundur, akan tetapi asal engkau setuju, ikatan perjodohan dapat diadakan lebih dulu."

"Tidak, ibu, aku tidak mau! Aku tidak cinta kepada orang itu, aku tidak suka, bahkan aku benci padanya!"

Wajah Toan Kim Hong menjadi keruh, kemudian dia bangkit berdiri. "Ahh, engkau hanya mengecewakan hati orang tua saja, Sui Cin."

Ibu yang kecewa ini lantas meninggalkan anaknya yang duduk termenung dengan muka berubah merah dan hampir menangis. Akan tetapi Sui Cin tidak menangis, walau pun dia ingin melepaskan kemarahan dan kejengkelan hatinya melalui tumpahan air mata. Tidak, dia tidak akan menangis.

Dia akan menentang kalau harus dijodohkan dengan pemuda bangsawan she Can yang ceriwis itu! Dia sudah bisa membayangkan kalau menjadi isteri bangsawan. Mengenakan pakaian indah-indah dan tebal yang tidak nyaman dipakai, harus bersikap agung-agungan menerima penghormatan orang, harus bersopan-sopan dan berpatut-patut di depan orang banyak, kemudian akan merenungi nasib sendiri di dalam kamar karena suaminya sang bangsawan pergi ke kamar selir-selir yang tak terhitung banyaknya!

Tidak, dia tidak mau. Kalau dia menjadi isteri bangsawan, tentu kelak dia akan menjadi pembunuh, membunuh suaminya beserta selir-selir suaminya. Dia ingin bebas, meski pun bersuami, akan tetapi bebas menjelajahi hutan dan gunung bersama suaminya, tak hanya menjadi boneka-boneka hidup di dalam gedung besar dan pengap!

Dia langsung teringat akan kesenangan ketika melakukan perjalanan bersama Hui Song. Menentang orang-orang jahat, menggoda dan menumpas mereka, menghadapi bahaya-bahaya yang menegangkan, mengatasi banyak ancaman bahaya maut, dan tidur di alam terbuka. Bebas! Betapa senangnya. Itulah hidup dan itulah kehidupan yang disenanginya. Bukan menjadi boneka hidup di samping seorang bangsawan yang menjadi suaminya, dan sekaligus juga majikannya.

Hui Song! Dia masih menanti di Ning-po. Sui Cin cepat bangkit berdiri dan meninggalkan taman itu, menuju ke pantai dan tidak lama kemudian dia pun sudah melayarkan perahu kecil itu menuju ke seberang, ke daratan besar.

Hari telah senja ketika dia meninggalkan pulau tanpa setahu ayah ibunya dan pada waktu perahunya mendarat di pantai, cuaca sudah mulai gelap. Akan tetapi ketika dia meloncat ke daratan dan menarik perahunya, tiba-tiba saja muncul sesosok bayangan hitam yang menghampirinya.

"Cin-moi...! Ahh, betapa girang hatiku melihatmu!"

"Song-twako, engkau di sini?" tanya Sui Cin ketika mendengar suara pemuda itu.

"Aku tidak pernah meninggalkan pantai ini sejak kita saling berpisah..."

"Ehh? Engkau... tidak kembali ke penginapan?"

Pemuda itu membantunya menarik perahu ke darat dan mengikatkan tali pada tonggak. Wajahnya berseri dan nampaknya gembira bukan main dapat melihat kembali gadis itu. "Tidak, Cin-moi. Aku... aku tidak berani meninggalkan pantai ini, takut kalau-kalau tidak melihat engkau kembali."

Sui Cin menahan tawanya. "Ihhh, engkau ini aneh sekali, twako. Seperti anak kecil. Masa aku tidak kembali? Bukankah aku sudah berjanji akan memberi kabar kepadamu?"

"Lalu bagaimana, Cin-moi? Bolehkah aku menyeberang? Apakah engkau datang ini untuk mengabarkan bahwa aku boleh menghadap orang tuamu?"

Wajah yang cantik manis itu berubah muram dan dia menggelengkan kepala.

"Ahh, orang tuamu... menolak kunjunganku?"

Sui Cin merasa rikuh dan serba salah. Ia adalah seorang gadis yang semenjak kecil biasa bersikap terbuka dan jujur. Akan tetapi kini dia merasa serba salah untuk mengaku bahwa ayah ibunya tidak suka kepada Cin-ling-pai, dan bukan hanya keberatan menerima putera ketua Cin-ling-pai datang berkunjung, bahkan tidak suka jika dia bergaul dengan pemuda itu.

"Maafkan, twako. Pada saat ini ayah dan ibu tidak suka menerima tamu, jadi... lebih baik lain kali saja kalau engkau ingin berkenalan dengan mereka."

"Ahh, sayang sekali..." Pemuda itu kelihatan kecewa bukan main.

Sebenarnya dia ingin sekali berkenalan dengan orang tua gadis ini, Pendekar Sadis yang namanya sudah dia dengar sejak kecil itu. Bukan hanya sekedar berkenalan biasa, akan tetapi dia sudah yakin akan cintanya terhadap Sui Cin dan pada suatu hari dia tentu akan datang bersama orang tuanya untuk meminang gadis itu. Maka alangkah baiknya kalau sebelumnya dia sudah berkenalan dengan orang tua Sui Cin.

Melihat betapa Hui Song nampak kecewa bukan main, Sui Cin merasa kasihan dan cepat dia berkata, "Bagaimana pun juga, aku sendiri tidak akan kembali ke sana, twako."

Tentu saja perkataan ini mengherankan hati Hui Song. "Apa? Apa maksudmu? Engkau tidak akan pulang?"

Sui Cin menggeleng. "Tidak, aku akan pergi merantau lagi."

Hui Song mengerutkan alisnya. "Ehh, mengapa begitu, Cin-moi? Bukankah engkau baru saja pulang dari perantauan? Baru dua hari pulang, masa hendak pergi lagi? Tentu orang tuamu akan melarangmu."

"Aku tidak perlu minta ijin mereka, aku memang hendak pergi tanpa pamit!" kata Sui Cin dengan nada suara tak senang.

Hui Song memandang khawatir. "Cin-moi... maaf, bukan aku hendak mencampuri urusan keluargamu, akan tetapi apakah yang telah terjadi? Engkau nampaknya tidak senang dan marah. Jika hanya karena aku tidak boleh menyeberang, hal itu tak ada artinya, Cin-moi, jadi tidak perlu membuatmu marah, apa lagi kepada orang tuamu sendiri."

"Bukan hanya karena itu, twako. Yang membuat hatiku kesal dan mendorongku pergi lagi meninggalkan rumah adalah karena aku... mau dijodohkan dengan putera gubernur!"

Hati Hui Song berdebar sesudah terasa nyeri seperti tertusuk. Dia memaksa senyum dan menjura. "Wah, selamat, Cin-moi."

"Selamat hidungmu itu!" Sui Cin membentak jengkel. "Engkau malah hendak menambah kejengkelan hatiku? Aku tidak sudi! Aku tidak sudi menjadi isteri bangsawan ceriwis itu!"

Hui Song merasa betapa ada kelegaan dan kegembiraan luar biasa menyelinap di hatinya mendengar kata-kata setengah teriakan dari gadis itu. Akan tetapi dia pura-pura terkejut dan bersikap serius. "Ahhh, kalau begitu maafkan aku, Cin-moi. Akan tetapi... mengapa engkau begitu marah dan menolak? Bukankah putera seorang gubernur itu merupakan calon suami yang amat baik, terpelajar, kaya raya dan berkedudukan tinggi? Hemm, aku tahu, Cin-moi. Aku tahu mengapa engkau menolaknya."

Sui Cin memang mudah marah, namun mudah bergembira. Orang seperti dia tidak dapat marah terlalu lama. Sifanya terlampau lincah gembira untuk dapat bertahan marah terlalu lama. Kini dia memandang pemuda itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum.

"Hemm, engkau seperti peramal saja, twako. Coba ingin kudengar tebakanmu sekarang, kalau memang engkau tahu mengapa aku menolaknya."

"Apa lagi kalau bukan karena engkau sudah mempunyai pilihan hati sendiri? Engkau tentu sudah mempunyai seorang calon dalam hatimu."

Wajah yang manis itu menjadi merah, akan tetapi bibirnya berjebi mengejek. "Ihh, engkau hanya ngawur saja! Tidak, aku tidak memiliki calon seperti yang kau terka itu. Sedikit pun aku belum memikirkan tentang itu. Cih, memalukan saja! Aku menolak karena memang aku tidak suka kepada pemuda bangsawan yang ceriwis itu, dan juga karena aku sama sekali belum mau terikat menjadi isteri orang. Aku masih ingin bebas seperti burung di udara, merdeka beterbangan ke mana pun yang ku kehendaki."

Sui Cin tidak menyadari betapa Hui Song telah memancing untuk mengetahui isi hatinya dan tentu saja pemuda ini merasa girang sekali karena sekarang dia tahu bahwa gadis ini masih kosong hatinya dan dia mengharapkan untuk mengisinya.

"Kalau engkau tidak mau pulang, lalu engkau hendak pergi ke mana, Cin-moi?"

"Ke mana saja asal tidak pulang, asal tidak mendengarkan bujukan orang tuaku supaya menerima tikus itu sebagai calon suamiku!"

"Jika begitu, marilah engkau ikut bersamaku, Cin-moi. Aku hendak pulang ke Cin-ling-pai dan mari kuperkenalkan engkau kepada orang tuaku."

Sui Cin mengangguk. "Aku tidak mempunyai tujuan tertentu, boleh saja kalau pergi ke sana. Sudah lama aku mendengar tentang Cin-ling-pai dan aku pun ingin berkunjung ke Pegunungan Cin-ling-san yang katanya amat indah. Akan tetapi jangan mengambil jalan darat. Lebih baik mempergunakan perahu menyusuri pantai ke utara lalu mendarat di kota Hang-couw, baru kita melanjutkan perjalanan melalui daratan."

"Kenapa begitu?"

"Engkau tidak tahu kelihaian orang tuaku. Sesudah mereka tahu aku pergi, tentu mereka akan melakukan pengejaran dan kalau aku mengambil jalan darat, jangan harap dapat lolos dari kejaran mereka. Akan tetapi kalau dari sini kita mengambil jalan laut, tentu tidak meninggalkan jejak dan betapa pun lihainya ayah, tentu dia tidak akan mampu mengikuti kepergianku."

Dengan kagum Hui Song menyetujui dan tak lama kemudian mereka pun sudah berlayar lagi menempuh gelombang menuju ke utara. Sementara itu, malam sudah tiba sehingga pelayaran mereka hanya diterangi bintang-bintang di langit.

"Song-twako, sekali ini aku benar-benar menjadi seorang kelana miskin. Aku pergi tanpa pamit, tanpa membawa bekal pakaian, apa lagi uang. Perantauanku yang dahulu direstui orang tuaku, karena itu aku membawa bekal banyak emas. Akan tetapi sekarang... aku benar-benar miskin."

"Kita bukan orang-orang hartawan yang sedang pelesir, Cin-moi. Perlu apa bekal uang banyak? Asal engkau tidak menyebar dan membagi-bagikan uang kepada para jembel di pasar, aku masih mempunyai bekal cukup kalau hanya untuk biaya di perjalanan saja."

"Kalau hanya untuk biaya perjalanan, apa sih sukarnya? Kalau memang kita memerlukan, mudah saja mengambil dari peti-peti uang orang lain!"

"Wah, engkau hendak mencuri? Dari para hartawan?"

Sui Cin menggelengkan kepala. "Ayah dan ibu akan marah kalau aku mencuri milik siapa pun. Akan tetapi kalau aku mengambilnya dari tempat judi misalnya, mereka tentu tidak akan marah." Keduanya tersenyum dan perahu meluncur dengan laju.

Indah bukan main pemandangan pada malam hari itu. Bintang-bintang bagai bercermin di permukaan air laut sehingga kadang-kadang orang akan terlupa dan menyangka bahwa benda-benda bercahaya yang jutaan banyaknya itu bukan berada di atas kepala, namun di bawah, jauh tak berdasar.

********************

Dusun Lok-cun di luar kota Sin-yang di tepi Sungai Huai pada pagi hari itu nampak ramai dan gembira. Para penghuni dusun yang tak berapa besar itu nampak sedang merayakan sesuatu dan sejak pagi tadi nampak sibuk sekali. Memang, pada hari itu mereka semua merayakan pernikahan anak perempuan dari kepala dusun mereka.

Seperti di dusun-dusun lainnya pada masa itu, seorang kepala dusun merupakan seorang raja kecil yang amat dihormati oleh para penghuni dusun yang menjadi rakyatnya. Maka, ketika kepala dusun Coa dari dusun Lok-cun itu merayakan pernikahan puterinya, seluruh penghuni dusun itu sibuk merayakannya.

Lurah Coa hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu anak perempuan yang kini sedang dirayakan hari pernikahannya. Seluruh keluarga Coa nampak gembira ria. Mereka merasa terhormat sekali karena puteri lurah itu akan menikah dengan jaksa di kota Sin-yang!

Walau pun jaksa itu usianya sudah hampir enam puluh tahun dan gadis itu menjadi isteri ke lima, akan tetapi semua orang tahu bahwa jaksa itu memiliki kekuasaan yang sangat besar di kota Sin-yang, bahkan juga mempunyai pengaruh dan kawan-kawan di kota raja. Maka, kalau gadis itu menjadi isterinya, biar pun isteri kelima, bukan hanya gadis itu akan terjamin hidupnya dan menjadi nyonya jaksa yang terhormat, akan tetapi kepala dusun itu juga akan naik derajatnya dan mungkin akan mudah naik pangkat!

Akan tetapi, kalau semua orang bergembira, sebaliknya Coa Lan Kim, gadis puteri kepala dusun itu sendiri, sejak beberapa hari yang lalu hanya menangis saja di dalam kamarnya. Dara ini setiap saat membayangkan seorang pemuda sederhana yang selama ini menjadi kekasihnya, seorang pemuda petani yang dahulu menjadi pembantu ayahnya, mengurus sawah ladang ayahnya.

Pemuda ini bahkan sudah disetujui oleh keluarga lurah Coa sendiri untuk menjadi calon menantu karena memang pemuda itu cukup tampan, rajin bekerja serta berbadan sehat. Akan tetapi, begitu datang lamaran dari jaksa itu, si pemuda langsung dilupakan, bahkan didepak keluar oleh lurah Coa.

Bagaimana hati Lan Kim tidak akan berduka apa bila dia memikirkan nasibnya dan nasib kekasihnya yang bernama Lo Seng itu? Kini dia dipaksa untuk menjadi isteri orang lain, padahal semenjak dahulu dia telah membayangkan kehidupan yang berbahagia bersama pemuda itu.

Sekarang dia harus menurut untuk dibawa pergi dari rumahnya, tidak akan dapat bertemu kembali dengan Lo Seng. Yang membuat dia amat berduka adalah karena dia mendengar bahwa selain dipecat, juga Lo Seng dipukuli karena hendak menentang pernikahannya dengan jaksa itu. Dan kini dia tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.

Pagi hari itu, selagi semua penghuni dusun sibuk membantu keluarga lurah Coa, Lan Kim menangis dalam kamarnya, tak mau mendengarkan bujukan-bujukan dan hiburan-hiburan ibunya serta beberapa orang wanita yang bertugas menemaninya.

"Sudahlah, Lan Kim. Kenapa engkau menangis terus? Nasibmu baik sekali, engkau akan menjadi nyonya jaksa yang dihormati orang banyak, bergelimang kemewahan, mengapa menangis? Nanti matamu akan bengkak-bengkak dan amat memalukan kalau pengantin matanya bengkak-bengkak. Pula, sebentar lagi engkau harus mulai dirias dengan pakaian pengantin dan nanti menjelang sore engkau akan dijemput lalu dibawa ke kota Sin-yang," demikian antara lain ibunya membujuk.

"Ibu, aku tidak suka... aku tidak mau..."

"Ahhhh... engkau memang keras kepala, Lan Kim! Apakah engkau ingin ayahmu marah? Aku tahu, engkau menolak hanya karena di sana ada Lo Seng, bukan?"

"Ibu... bagaimana dengan dia? Ibu, kasihan dia..."

"Hemm, sikapmu ini sama sekali tak akan menolongnya, bahkan akan mencelakakan Lo Seng karena engkau tetap bersikap keras seperti ini. Kau tahu, kalau ayahmu mengetahui bahwa engkau menolak karena Lo Seng, banyak kemungkinan Lo Seng akan dijebloskan ke dalam penjara atau dibunuh!"

"Ibu...!"

"Karena itu, engkau menurut saja. Dan kalau engkau sudah menjadi isteri jaksa, aku akan membujuk ayahmu supaya Lo Seng dipekerjakan lagi. Bukankah dengan demikian berarti engkau menolong dan menyelamatkannya?" demikian sang ibu membujuk puterinya yang kini hanya terisak perlahan. "Ambil pakaian pengantin itu, akan kucobakan dahulu, kalau ada yang kurang pas masih ada waktu untuk dibetulkan," sambung nyonya Coa.

Akan tetapi terdengar jeritan kaget, dan tukang rias itu kini datang membawa sebuah peti dengan mata terbelalak dan muka pucat. "Nyonya... celaka... pakaiannya hilang...!"

Wanita itu terkejut bukan main dan bangkit sambil membelalakkan matanya. "Apa? Hilang bagaimana maksudmu?"

"Hilang, nyonya. Peti tempat pakaian pengantin ini kosong!"

Keadaan menjadi geger. Pada waktu lurah Coa diberi tahu, dia marah-marah dan segera mengerahkan semua orangnya untuk mencari siapa pencuri pakaian pengantin itu. Tetapi isterinya lebih cerdik. Dia cepat-cepat memanggil tukang jahit untuk secara kilat membuat pakaian pengantin baru, walau pun pakaian yang dibuat tergesa-gesa ini tentu saja tidak akan seindah pakaian pengantin yang hilang.

Ketika keadaan menjadi kacau dan tidak seorang pun memperhatikan pengantin wanita, mendadak terjadi keributan lain yang lebih menggegerkan lagi. Tiba-tiba saja, seperti juga hilangnya pakaian pengantin tadi, kini Coa Lan Kim juga lenyap begitu saja dari dalam kamarnya!

Tak ada seorang pun yang melihat bagaimana lenyapnya, juga tak ada yang mendengar sesuatu. Tentu saja kini keadaan menjadi benar-benar kalut. Lurah Coa semakin marah dan seluruh pasukan keamanan segera dikerahkan, bahkan semua penduduk menjadi ikut gelisah dan ikut mencari-cari ke mana perginya pengantin wanita.

Kegembiraan yang lantas berganti menjadi kegelisahan dan kekacauan itu amat menarik perhatian Sui Cin dan Hui Song yang pada pagi hari itu kebetulan sekali tiba di tempat itu, memasuki dusun Lok-cun di dalam perjalanan mereka menuju ke barat, ke Pegunungan Cin-ling-san.

Tentu saja hati mereka merasa tertarik melihat betapa penduduk nampak begitu gelisah ketakutan, orang-orang mencari-cari sesuatu ke sana-sini sedangkan rumah kepala dusun terhias indah, akan tetapi kini tidak ada lagi orang yang melanjutkan pekerjaan menghias rumah yang belum selesai sepenuhnya itu. Juga adanya para penjaga berkeliaran dengan sikap cemas itu menarik sekali. Rasa heran mereka bertambah ketika tiba-tiba saja ada belasan orang penjaga keamanan mengepung mereka dengan senjata tajam di tangan.

"Hemm, kalian ini mau apakah mengepung kami?" Sui Cin bertanya dengan alis berkerut.

"Kalian adalah orang-orang asing yang baru memasuki dusun kami. Menyerahlah. Karena kami yakin bahwa kalian inilah yang kami cari-cari. Siapa lagi yang mengacau dusun kami kecuali dua orang asing?" bentak seorang yang bermata lebar dan bersikap bengis.

"Sabar dulu, sobat," kata Hui Song, mencoba untuk tersenyum ramah. "Apa yang terjadi dan kenapa kalian menuduh kami secara membabi-buta? Kami tidak tahu apa-apa. Kami baru saja tiba di dusun ini dan melihat kekacauan ini, malah kami bertanya-tanya kenapa kalian begini gelisah dan apa yang terjadi...?"

"Cukup! Ikut kami menghadap kepala dusun, tidak perlu membela diri di sini!" bentak si muka bengis dan dia sudah maju untuk menangkap lengan Sui Cin. Akan tetapi gadis itu menarik tangannya dan sekali kakinya bergerak, ujung sepatunya mencium lutut si mata lebar sehingga orang ini mengaduh dan jatuh berlutut.

"Nah, bagus! Minta ampun dahulu baru kita bicara," Sui Cin mengejek.

Melihat betapa seorang kawan mereka roboh oleh gadis itu, kecurigaan mereka semakin kuat bahwa tentu dua orang muda mudi inilah yang sudah mengacaukan dusun mereka. Maka serentak mereka maju menerjang dengan senjata mereka.

Hui Song dapat menduga bahwa tentu terjadi sesuatu dan orang-orang dusun ini salah duga. Tentu mereka akan semakin curiga lagi jika sikap Sui Cin dilanjutkan. Maka dia pun cepat menggunakan kepandaiannya, menyambut serangan itu dengan merampas semua golok dan pedang.

Gerakannya memang cepat bukan main sebab dia menggunakan jurus Kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok) sehingga para pengeroyok itu tidak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba saja senjata mereka terlepas dan terampas. Kiranya pemuda itu sudah merampas semua senjata mereka dan kini golok dan pedang itu telah ditumpuk di depan kaki si pemuda tampan.

"Tenanglah saudara-saudara. Kami bukan orang jahat dan beri tahukanlah kami jika ada urusan. Siapa tahu kami dapat membantu kalian," kata Hui Song.

Pada saat itu lurah Coa sudah tiba di situ, dan lurah ini pun tadi melihat betapa dengan mudahnya pemuda tampan itu merampas senjata orang-orangnya. Dia pun bisa menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pendekar, maka dia pun cepat maju menjura.

"Harap taihiap sudi memaafkan orang-orang kami yang kurang ajar. Dusun kami sedang dilanda kekacauan karena munculnya iblis yang mencuri calon pengantin wanita..."

"Ehh? Ada pengantin dicuri?" Sui Cin berseru kaget dan tertarik sekali.

"Pengantin itu adalah anak saya sendiri. Dia baru saja lenyap tanpa bekas sesudah lebih dahulu pakaian pengantin yang lenyap."

Lurah Coa kemudian menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi. Hui Song dan Sui Cin mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Kami akan mencoba untuk mencari penculiknya," kata Hui Song. "Mudah-mudahan kami dapat menemukan kembali puterimu itu."

Setelah mendengarkan penuturan itu, Hui Song dan Sui Cin mempergunakan kepandaian mereka berloncatan pergi meninggalkan dusun itu. Mereka mengambil keputusan hendak mencari penculik gadis itu dan tentu saja mereka tidak berharap akan dapat menemukan penculik itu di dalam dusun. Mereka mencari keluar dusun, mengelilingi dusun itu hingga akhirnya mereka mendaki sebuah bukit tidak jauh dari dusun itu karena bukit itu penuh dengan hutan, tempat yang baik sekali bagi para penjahat untuk menyembunyikan diri.

Dengan cepat sekali mereka mendaki bukit dan tibalah mereka di deerah berbatu di luar hutan, dan dari jauh mereka sudah melihat seorang kakek duduk bersila di depan sebuah goa yang besar. Tentu saja mereka menjadi curiga dan tertarik sekali karena keadaan kakek itu saja sudah amat mengherankan hati.

Seorang kakek tua renta yang kepalanya gundul tak ditumbuhi rambut lagi, alisnya amat lebat dan panjang, demikian pula jenggot dan kumisnya yang semuanya sudah berwarna putih. Sukar ditaksir berapa usia kakek ini, mungkin sudah seratus tahun.

Akan tetapi tubuh kakek itu pendek dan kecil, seorang kakek katai yang pakaiannya juga aneh. Kakek katai berjenggot panjang sampai ke perut ini memakai jubah yang mewah sekali! Jubah yang sepatutnya dipakai seorang pembesar atau seorang hartawan! Dan di punggungnya tergantung guci arak yang besar, sebesar kepalanya yang gundul, diikatkan dengan tali ke pundaknya. Sepatunya dari kulit, juga bagus dan masih baru.