Raja Pedang Jilid 09

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJA PEDANG JILID 09

Beng San yang menduga bahwa orang ini tentulah guru lawannya, segera melangkah maju dan memukul. Namun orang itu menggerakkan lengan kirinya dan tahu-tahu kedua tangan Beng San sudah terlibat ujung lengan, seperti dibelenggu tak dapat terlepas pula.

Kakek yang luar biasa ini adalah seorang sakti, seorang di antara beberapa tokoh yang dianggap merajai dunia persilatan, disebut orang Siauw-ong-kwi (Raja Iblis Kecil). Untuk daerah utara nama ini amat ditakuti orang. Memang kepandaian Raja Iblis Kecil ini hebat sekali, terutama ilmunya menggunakan ujung tangan bajunya yang dapat menangkap, menusuk, menyabet, sungguh senjata yang lebih ampuh dari pada senjata-senjata pilihan.

Beng San masih kanak-kanak. Meski pun di dalam dirinya terkandung tenaga dahsyat dan ilmu silat tinggi sekali, namun dia memiliki semua itu di luar kesadarannya sehingga dia belum dapat mengatur dan menggunakannya sebagaimana mestinya. Bagaikan sebuah intan cemerlang, Beng San adalah intan yang masih mentah, belum digosok. Maka tentu saja berhadapan dengan seorang tokoh besar seperti Siauw-ong-kwi ini, dia tidak berdaya sama sekali.

Siauw-ong-kwi menoleh kepada muridnya. Ketika mendapat kenyataan bahwa Giam Kin tidak terluka apa-apa, hanya benjut-benjut saja dan benjol-benjol saja, dia bernapas lega. Dipandangnya Beng San sekali lagi, sekarang dengan mata membayangkan kekaguman dan keheranan.

Sudah sepatutnya kalau di dalam hati tokoh besar ini timbul kekaguman kepada bocah ini, bocah yang kini mukanya menjadi merah hangus kehitaman akibat kemarahan di dalam hatinya. Muridnya, Giam Kin, jika dibandingkan dengan bocah-bocah sepantarnya, sudah merupakan seorang anak yang luar biasa cerdik dan pandainya. Apa lagi sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi apa bila dibandingkan dengan anak-anak sepantarnya. Mengapa sekarang Giam Kin kalah dan dipukuli oleh bocah muka hitam ini?

"Kau siapa?" tanyanya tanpa melepas ujung tangan baju yang mengikat dua pergelangan tangan Beng San. Akan tetapi ikatan itu tidak terlalu erat sehingga Beng San juga tidak mengalami rasa sakit, hanya bocah ini amat marah saja.

"Beng San!" jawabnya berani sambil menatap muka kakek itu dengan mata melotot.

Memang menakutkan juga muka bocah ini kalau begitu. Biar pun raut wajahnya tampan, matanya lebar dan alisnya hitam berbentuk pedang, akan tetapi kalau wajah itu berwarna merah kehitaman dan matanya yang lebar dipelototkan, tentu mukanya ini akan membikin takut setiap orang di waktu malam gelap!

"Mukamu seperti iblis!" Siauw-ong-kwi tertawa mengejek.

"Memang aku iblis!" jawab Beng San, kini sambil menyeringai karena dia mengucapkan kata-kata itu bukan dengan marah, melainkan bermaksud menggoda kakek itu.

Akan tetapi Siauw-ong-kwi tidak marah, malah tertawa bergelak dan makin kagum kepada anak ini.

"Kau anak siapa?"

Tanpa ragu-ragu Beng San menjawab, "Aku anak Iblis Huang-ho."

Siauw-ong-kwi menggeleng-geleng kepalanya. Benar-benar bocah ini aneh sekali dan luar biasa keberaniannya.

"Siapa gurumu? Tentu bukan iblis juga, kan?" tanyanya.

Beng San memang belum pernah membohong, kecuali kalau dia sedang main-main. Dan sekarang dia hendak menghadapi kakek guru Giam Kin yang lihai ini dengan main-main. Diam-diam dia marah kepada kakek ini yang masih saja membelenggu kedua tangannya dengan ujung lengan baju. la menganggap kakek ini jahat, dan apa salahnya membohongi dan mempermainkan seorang jahat?

Ketika dahulu dididik di kelenteng, dia memang selalu diajarkan agar jangan membohong, jangan menipu dan merugikan orang lain. Sekarang dia, andai kata benar membohong, toh tak akan merugikan kakek ini, sebaliknya dia yang telah dibikin rugi, dibelenggu tanpa dapat melepaskan diri.

"Guruku lihai sekali. Kalau dia datang, sekali ketok kepalamu akan benjut-benjut!"

Siauw-ong-kwi tertawa bergelak. Tentu saja dia berani mengejek karena di dunia ini, siapa orangnya yang akan mampu sekali ketok membikin kepalanya benjut? Sedangkan yang kepandaiannya boleh disejajarkan dengan dia pun hanya beberapa gelintir manusia saja.

"Ha-ha-ha, kenapa kau bisa pastikan dia akan menang dari aku?"

"Guruku biar pun iblis, tapi amat lihai dan gagah, tidak seperti kau ini kakek tua beraninya hanya menyerang dan membelenggu seorang anak kecil!"

Merah wajah Siauw-ong-kwi disindir begini. Di dunia ini, jarang sekali ada orang berani membantah kata-katanya, apa lagi mengeluarkan ejekan dan sindiran seperti bocah ini!

"Bocah edan, siapa sih gurumu itu?"

"Kakek pikun!" Beng San balas memaki. "Lepaskan dulu kedua tanganku, baru aku mau memberi tahu."

"Kalau tidak kulepas?"

"Biar kau bunuh aku, takkan sudi aku mengenalkan nama besar guruku kepada seorang kakek pengecut yang beraninya hanya kepada anak-anak kecil."

"Suhu, kenapa melayani monyet gila itu? Gasak saja kepalanya, habis perkara!" tiba-tiba Giam Kin berseru melihat suhu-nya bercakap-cakap dengan Beng San.

Beng San tertawa mengejek. "Gurunya pengecut, muridnya lebih pengecut lagi. Kalau kau memang berani, hayo kita bocah sama bocah mengadu kepalan tangan, dan biar gurumu menandingi guruku."

Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh besar dunia persilatan, tentu saja selain ilmunya tinggi, juga batinnya sudah amat kuat. Akan tetapi sekarang menghadapi Beng San dan mendengar sindiran-sindiran dan ejekan-ejekannya, perutnya terasa panas juga.

Beberapa kali dia disebut pengecut. Kalau yang mengucapkan kata-kata ini seorang tokoh kang-ouw, tentu dia takkan mau mengampuninya lagi. Aka tetapi terhadap Beng San dia kewalahan. Makin dia turun tangan, tentu pandangan bocah ini terhadapnya juga makin rendah. Apa bila dipikir-pikir memang memalukan sekali bahwa dia, seorang tokoh besar, membelenggu seorang bocah yang masih ingusan.

"Bocah keparat, siapa pengecut?" la menggerakkan tangannya dan sekaligus terlepaslah kedua tangan Beng San dari libatan ujung tangan baju. "Nah, kau sudah terlepas, hayo sekarang datangkanlah itu gurumu yang berbau tahi anjing! Siapa cecunguk yang menjadi gurumu itu?"

Semenjak tadi Beng San sudah berpikir mengenai ini. Sebetulnya dia mempunyai banyak guru, pikirnya. Pertama-tama tentu saja para hwesio di Kelenteng Hok-thian-si di Propinsi Shan-si yang menjadi gurunya karena telah mengajarkan tentang membaca dan menulis. Kemudian dia pernah pula belajar tiga macam ilmu dari Hek-hwa Kui-bo sehingga nenek itu boleh juga disebut gurunya. Setelah itu, yang terakhir dan yang sudah mengakuinya sebagai murid, adalah kedua orang suhu-nya yaitu Phoa Ti dan The Bok Nam. Akan tetapi, Beng San adalah seorang bocah yang cerdik.

Dia tidak mau menyebut nama kedua orang gurunya ini karena maklum bahwa keduanya mempunyai rahasia, yaitu keduanya menyimpan sepasang kitab Im-yang Sin-kiam yang sudah terampas oleh Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi. Kalau dia menyebut nama Phoa Ti dan The Bok Nam, jangan-jangan kakek aneh ini akan memaksa membawanya kepada dua orang yang sudah mati itu dan buntutnya akan menjadi panjang. Maka dia mengambil keputusan dan menjawab.

"Guruku yang kau anggap berbau tahi anjing itu berjuluk Song-bun-kwi!"

Berubah wajah Siauw-ong-kwi ketika mendengar disebutnya nama ini. Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia segera tertawa bergelak.

"Kakek tua bangka baju putih itu gurumu? Hah, jangan kau bohong. Dia yang hampir gila karena anaknya yang goblok, mana dia punya murid lagi? Andai kata benar, aku pun tidak takut pada..."

"Siauw-ong-kwi, dia tidak bohong, dia benar muridku!" Tiba-tiba terdengar suara dari jauh. Suara ini seperti suara guntur terdengar dari jauh sekali, akan tetapi tiba-tiba bertiup angin dan sebelum gema suara lenyap, orang yang bicara tadi sudah berdiri di situ.

Inilah Song-bun-kwi, kakek baju putih yang mukanya masih merah segar padahal usianya sudah tujuh puluh tahun itu. Inilah si Setan Berkabung, tokoh besar dari dunia barat yang amat ditakuti orang, bukan hanya karena kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi terutama sekali karena hatinya yang kejam tak kenal ampun.

Cepat sekali tangan Siauw-ong-kwi bergerak dan tahu-tahu kedua lengan tangan Beng San sudah dicengkeramnya.

"Song-bun-kwi, mau apa kau muncul di dunia? Kalau niatmu buruk, muridmu pasti akan kubunuh lebih dulu, baru kau akan kukirim ke neraka!" kata Siauw-ong-kwi mengancam.

Song-bun-kwi mengeluarkan suara yang mirip suara wanita menangis seperti yang pernah didengar oleh Beng San ketika manusia aneh ini dahulu datang merampas Yang-sin-kiam dari The Bok Nam kemudian bertempur melawan Hek-hwa Kui-bo. Mendadak saja tubuh kakek itu melayang ke arah Giam Kin.

Anak yang sudah banyak juga pengalamannya di dunia kang-ouw ini tahu bahwa kakek yang menangis itu adalah seorang lawan, maka ia pun memapaki dengan pukulan tangan kanannya.

"Kin-ji (Anak Kin), jangan!" teriak Siauw-ong-kwi.

Akan tetapi terlambat. Pukulan tangan kanan Giam Kin sudah bersarang ke dalam perut Song-bun-kwi dan... tangan kecil itu seperti sudah menancap ke dalam perut, tidak dapat dicabut pula! Giam Kin berdiri dengan mata mendelik. Tubuhnya kaku tak dapat bergerak. Ternyata dia telah ‘ditangkap’ oleh perut manusia aneh itu.

"He-he-heh, Siauw-ong-kwi. Dulu di puncak salju Gunung Altai-san kita sudah bertanding dua hari dua malam, sedikitnya sehari penuh aku baru akan dapat mengalahkanmu. Aku tak ada waktu untuk melayani kau orang buruk. Bocah setan bernama Beng San itu bukan muridku, akan tetapi aku membutuhkannya. Hayo kau lempar dia kepadaku, akan kutukar dengan muridmu yang tidak becus apa-apa ini. Satu... dua... tiga...!"

Siauw-ong-kwi maklum bahwa manusia seperti Song-bun-kwi tidak pernah main-main dan ucapannya harus dianggap sebagai keputusan terakhir. Sebab itu cepat dia melemparkan tubuh Beng San ke arah kakek itu. Berbareng pada saat itu juga, perut Song-bun-kwi melembung dan terlemparlah tubuh Giam Kin ke arah Siauw-ong-kwi.

Beng San melayang ke arah Song-bun-kwi dan dengan mudahnya kakek ini menangkap lengannya, terus sambil mengeluarkan suara menangis kakek ini membawanya lari seperti terbang cepatnya pergi dari tempat itu. Ada pun Siauw-ong-kwi ketika menerima tubuh Giam Kin, sangat terkejut dan mengutuk.

“Song-bun-kwi iblis jahat!"

la melihat bahwa tubuh Giam Kin mati separoh yaitu bagian kanan. Ternyata bahwa ketika melemparkan anak ini dari perut, kakek itu mengalir hawa pukulan melalui tangan kanan Giam Kin sehingga membuat tubuh Giam Kin bagian kanan menjadi lumpuh dan mati!

Inilah kekejaman hati Song-bun-kwi yang memang luar biasa. Walau pun Siauw-ong-kwi juga termasuk orang aneh yang tidak peduli akan kejahatan, akan tetapi masih tidak mau melukai Beng San ketika dia melemparkan anak itu.

Melihat keadaan muridnya, segera Siauw-ong-kwi menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan kiri muridnya. Dengan pengerahan lweekang-nya dia ‘mendorong’ keluar hawa pukulan Song-bun-kwi dari sebelah kanan tadi, keluar dari tubuh muridnya. Setelah berusaha kurang lebih lima menit barulah dia berhasil. Keadaan Giam Kin normal kembali dan sambil menggeleng kepala menyusuti peluh di keningnya, Siauw-ong-kwi mengeluh.

"Berbahaya sekali setan tua bangka itu..." Kemudian tanpa banyak cakap ia lalu mengajak muridnya pergi dari situ.

Tua bangka itu sekarang lihai luar biasa, pikirnya, jangan-jangan dia telah mendapatkan sumber Im-yang. Dia merasa khawatir dan berjanji akan menyelidiki akan hal ini, dan jika ternyata dugaannya betul, dia harus berusaha merampasnya….

**********

Di puncak Tai-hang-san terdapat sebuah dataran yang luas. Tanahnya subur akan tetapi seperti dibuat oleh manusia. Dataran itu tidak ditumbuhi pohon, namun hanya diselimuti rumput-rumput pendek yang hijau dan segar. Di atas rumput inilah Beng San diturunkan oleh Song-bun-kwi setelah melalui perjalanan ratusan li jauhnya.

"Kakek Song-bun-kwi, aku bukanlah muridmu dan aku mengaku di depan Siauw-ong-kwi hanya untuk menakut-nakuti dia. Apakah kesalahan begitu saja membuat kau bingung sampai tidak tahu harus berbuat apa terhadap aku?" Beng San mencela kakek itu dengan suara kesal. Memang hatinya mengkal dan dia kesal melihat kakek itu di sepanjang jalan diam saja dan tidak memberi tahu mengapa dia dibawa ke tempat sejauh itu.

Untuk beberapa lamanya kakek baju putih itu memandang dengan mata liar berputaran, mata orang yang tidak waras otaknya. Dan tiba-tiba dia tertawa dengan suara menangis. "Hi-hi-hi, kau takut aku membunuhmu?"

Dengan suara tetap Beng San menjawab, "Tidak! Mengapa aku harus takut? Kau tidak akan membunuhku!"

Mata Song-bun-kwi melotot lebar penuh ancaman. "Bocah! Janganlah kau main-main di depan Song-bun-kwi. Nyawa manusia bagiku tidak ada bedanya dengan nyawa semut, apa lagi nyawamu...!"

"Hanya nyawa seekor semut kecil, bukan? Terima kasih!" ejek Beng San dengan berani. "Akan tetapi aku juga tidak main-main. Kau sendiri yang memberi tahu bahwa kau tidak akan membunuhku."

"Apa? Aku yang memberi tahu? Setan, bilanglah dengan jelas, jangan main teka-teki."

Beng San tetap tertawa menggoda. "Ini bukan teka-teki. Kau mau mencoba menebaknya? Tak mungkin bisa. Hayo tebak, ada orang yang segala-galanya besar sendiri, siapa itu?"

Karena terbawa hanyut oleh kegembiraan Beng San, atau mungkin karena Song-bun-kwi sudah terlalu tua sehingga cocok dengan kata-kata orang bahwa orang yang sudah terlalu tua kembali seperti kanak-kanak, Song-bun-kwi bersorak.

"Ahh, gampang saja itu. Orang yang besar sendiri adalah raksasa. Hayo, betul tidak?"

Beng San meruncingkan bibirnya. "Uuuhhh, salah sama sekali! Bukan begitu jawabnya."

"Ahh, kalau begitu orang utara. Tubuhnya besar-besar melebihi orang selatan."

Beng San tetap menggelengkan kepalanya.

"Orang dari Shan-tung! Tinggi-tinggi!" kata pula Song-bun-kwi.

Akan tetap Beng San menggeleng lagi.

"Habis orang apa? Terima kalah aku.”

"Orang yang besar sendiri?" berkata Beng San. "Kau inilah, atau aku, pendeknya setiap orang!"

Song-bun-kwi melongo, lalu marah. "Jangan main-main kau, jangan tipu aku.”

"Siapa main-main? Kaulah orang yang besar sendiri, juga aku dan setiap orang tentu besar sendiri. Kalau kau tidak besar sendiri, siapa yang membesarkanmu? Apa ada yang meniup lubang hidungmu sambil menyumpal lubang-lubang lain di tubuhmu supaya kau melembung dan membesar?" Beng San tertawa terkekeh-kekeh.

Song-bun-kwi tiba-tiba tertawa pula sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Sekarang lain lagi. Thian (Tuhan) membuat semua anggota tubuh kita dengan sempurna. Akan tetapi mengapa Thian membuat hidung kita dengan dua lubangnya menghadap ke bawah. Hayo kalau kau memang pintar, jawablah!”

Song-bun-kwi mengerutkan keningnya. Wah, soal pelik nih, pikirnya. Hanya teka-teki tapi sampai membawa-bawa nama Thian. Setelah memutar otak, akhirnya dia menjawab juga dengan suara sungguh-sungguh.

"Hidung memiliki dua lubang, kiranya Thian berkehendak untuk membuat keseimbangan. Ada yang kiri, tentu ada yang kanan sebagai wakil dari Im dan Yang. Dengan menghadap ke bawah lubangnya, maka manusia dapat menggunakannya lebih baik untuk mencium, karena jika lubangnya tidak di bawah, tentu sulit dipergunakan untuk membedakan bau." Dia berhenti dan berpikir lagi, tapi tak dapat melanjutkan.

"Hanya begitu?" Beng San mendesak, senyumnya tidak membesarkan hati si penebak.

"Ya, habis apa lagi? Tebakanku sekali ini pasti betul, bukan?" tanya Song-bun-kwi penuh harap.

"Betul apanya? Kau ngawur!"

Song-bun-kwi melengak, kecewa. "Jadi salah lagi? Habis, bagaimana jawabannya?"

"Dengarlah baik-baik," kata Beng San dengan lagak seorang dewasa yang memberi tahu seorang anak-anak. "Thian memberi hidung dengan dua lubangnya menghadap ke bawah dengan maksud yang amat baik. Jika hidungmu diberi lubang yang menghadap ke atas, di waktu hari hujan dan kau sedang kehujanan, bukankah air hujan akan membanjiri lubang hidungmu sehingga membuat kau tersedak, lalu berbangkis dan pilek terus-terusan? Nah, itulah sebabnya makanya lubang hidungmu dihadapkan ke bawah.”

Beng San tertawa. Setelah membayangkan orang dengan lubang hidung menghadap ke atas dan kehujanan, Song-bun-kwi lalu tertawa juga terkekeh-kekeh sambil berkata, "Kau benar... kau benar..."

"Sekarang ada sebuah lagi pertanyaan yang sangat gawat," kata Beng San, wajahnya bersungguh-sungguh. Wajahnya yang kini sudah putih lagi itu berseri, sepasang matanya memancarkan kenakalan, akan tetapi keningnya berkerut.

"Sebuah teka-teki yang menyangkut rahasia Thian!"

Song-bun-kwi kaget dan memandang heran, tak percaya, "Bocah, anak manusia bernama Beng San, janganlah kau keluarkan omongan gila. Aku sendiri tidak berani mengutik-utik rahasia Thian."

"Aku bersungguh-sungguh, Song-bun-kwi. Kalau kau bisa menjawab teka-teki yang satu ini berarti kau telah bertemu dengan rahasia Thian!"

"Ehh, bocah aneh. Lekas keluarkan teka-tekimu yang hebat itu."

"Kakek Song-bun-kwi, kau sendiri sudah tua bangka dan tidak lama lagi tentu kau akan mengalami hal yang sama, yaitu kematian. Sebagai Song-bun-kwi (Setan Berkabung), kau tentu sudah tahu apa artinya orang mati, dan sudah sering kali melihat keluarga yang kematian. Nah, sekarang teka-tekinya begini. Apa sebab orang mati sebelum dimasukkan peti mati selalu dimandikan lebih dahulu! Nah, pikirlah baik-baik, karena kau sendiri kelak juga akan mati dan dimandikan orang."

Kini Song-bun-kwi benar-benar mengerahkan otaknya untuk mencari jawaban teka-teki yang terdengar amat pelik. la menghubung-hubungkan jawaban dari teka-teki ini dengan Agama Buddha, dengan ajaran Nabi Locu dan Nabi Khong-cu. Setelah mengumpulkan semua bahan-bahan yang dia ingat, dia lalu menjawab.

"Pertama, badan manusia yang mati ditinggalkan rohnya pasti kotor dan agar roh itu dapat memasuki nirwana dengan baik, badannya harus pula dibersihkan dari segala kotoran. Kedua, badan manusia bila mati berarti kembali ke asalnya. Karena ketika dilahirkan dari tempat asal badan manusia dalam keadaan bersih, maka kembalinya harus pula bersih. Ketiga, badan manusia mati dimandikan sampai bersih sebagai tanda bahwa si mati telah dibersihkan dari segala dosa dan kesalahan. Keempat, mayat manusia dimandikan hingga bersih untuk memberi penghormatan kepada Dewa Bumi yang akan menerima mayat itu. Ke lima, mayat dimandikan sampai bersih untuk mengusir semua penyakit serta hawa busuk agar tidak sampai menular kepada orang-orang yang masih hidup. Keenam, mayat itu dimandikan untuk menyatakan bahwa betul-betul dia telah mati, karena kalau belum, terkena siraman air tentu dia akan siuman kembali. Ke tujuh, memang semenjak dahulu mayat dimandikan sampai bersih sebelum dimasukkan peti dan dikubur, oleh karena itu sampai sekarang pun orang harus melanjutkan kebiasaan itu dan inilah yang dinamakan mentaati peraturan." Sampai di sini Song-bun-kwi berhenti karena sudah habis semua pengertiannya, dikuras untuk menjawab teka-teki itu.

Mendengarkan jawaban ini, makin lama semakin bersinar mata Beng San, nampaknya girang sekali. Ketika kakek itu berhenti, dia mendesak. "Hanya tujuh jawabnya? Apakah masih ada lagi? Boleh tambah kalau masih ada!"

"Sudah habis. Tentu salah satu dari tujuh jawabanku itu benar. Hayo, sekarang katakan, apakah jawaban-jawaban itu ada yang cocok?!"

Beng San tertawa. "Benar kata dalam kitab kuno bahwa mencari sesuatu haruslah dicari di tempat yang dekat-dekat dulu, baru mencari ke tempat yang jauh. Kalau tidak demikian dan langsung mencari di tempat jauh padahal yang dicari itu dekat saja, kau akan tersasar makin jauh dari pada yang kau cari. Nah, kau juga begitu, Kakek Song-bun-kwi. Jawaban itu dekat dan sederhana, akan tetapi kau melantur sampai jauh dan memberi jawaban bertele-tele."

"Apa tidak ada yang cocok?" tanya Song-bun-kwi cemas.

"Bukan tidak cocok saja, malah menyeleweng jauh dari jawaban teka-teki yang dimaksud. Semua jawabanmu salah!"

Agak berubah wajah Song-bun-kwi, kini penuh penasaran. "Betulkah semua salah? Bocah siluman, kalau begitu hayo katakan apa jawabnya yang betul. Kalau kau menipu, sekali tampar otakmu akan hancur cerai-berai!"

"Siapa sudi menipumu? Dengarlah baik-baik, Song-bun-kwi. Teka-teki itu bunyinya begini: Apa sebabnya orang mati sebelum dimasukkan peti mati selalu dimandikan lebih dulu? Nah, sekarang jawabannya, sederhana saja, begini: Orang mati sebelum dimasukkan peti mati selalu dimandikan lebih dahulu karena 'Dia tidak bisa mandi sendiri!' Kalau dia bisa mandi sendiri, tentu tidak dimandikan orang, dan dengan begitu dia belum mati. Nah, betul tidak?"

Song-bun-kwi menjadi pucat mukanya yang merah itu, tangannya sudah diangkat hendak menampar kepala Beng San. Akan tetapi tiba-tiba tangannya itu dia selewengkan, tidak memukul kepala Beng San, melainkan memukul sebuah batu di dekat Beng San. Batu itu meledak dan hancur. Beng San tidak merasa takut, hanya kaget dan kagum.

"Anak setan, anak iblis, anak siluman," Song-bun-kwi memaki, kemudian kakek itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. "Beng San, kau tadi bilang bahwa kau tahu aku tidak akan membunuhmu. Malah kau bilang aku sendiri yang memberi tahumu. Nah, sekarang kau jawablah teka-teki dariku. Mengapa kau kubawa ke sini? Hayo jawablah, taruhannya kepalamu!"

"Kau menculikku sampai ke sini karena kau menghendaki sesuatu dari aku, menghendaki sesuatu yang ada hubungannya dengan kitab Yang-sin-kiam yang kau rampas dari suhu The Bok Nam."

Mendengar jawaban ini, Song-bun-kwi mencelat sampai beberapa meter jauhnya saking herannya. Kemudian dia mendekat lagi, wajahnya membayangkan keheranannya. "Bocah siluman, bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau sendiri yang telah memberi tahu, Kakek, bukan melalui mulutmu akan tetapi melalui perbuatanmu. Orang macam kau ini, kalau hendak membunuhku mengapa harus susah payah, jauh-jauh membawaku ke sini? Bila mau membunuhku tentu aku sudah kau bunuh begitu saling bertemu. Nah, karena kau belum juga membunuhku, malah membawaku jauh-jauh ke tempat ini, sama saja dengan kau memberi tahu kepadaku bahwa kau takkan membunuhku, akan tetapi menghendaki sesuatu dari aku. Mengingat bahwa aku Beng San selama hidupku tidak pernah ada urusan denganmu, kecuali pertemuan kita ketika kau merampas kitab Yang-sin-kiam dulu, sudah tentu sekali bahwa kau membawaku ini ada hubungannya dengan kitab itu."

Song-bun-kwi memandang kagum. "Kau bocah yang luar biasa. Kau cerdik sekali. Bicara dengan kau sama saja dengan bicara kepada orang tua. Baiklah, kini aku berterus terang kepadamu. Dalam dunia kang-ouw terkenal adanya sepasang ilmu pedang yang disebut Im-yang Sin-kiam. Ilmu pedang Im dan Yang ini adalah ciptaan Pendekar Sakti Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu sebagai pecahan dari Ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Sudah tentu Im-yang Sin-kiam ini menarik perhatian semua tokoh persilatan yang kemudian berusaha mendapatkannya. Akhirnya aku mengetahui bahwa sepasang kitab itu berada di tangan Phoa Ti dan The Bok Nam yang terkenal dengan julukan Thian-te Siang-hiap. Aku tahu bahwa pada akhir-akhir ini mereka saling berlawanan sendiri, maka aku mempergunakan kesempatan itu untuk mencari mereka. Akhirnya aku berhasil merampas Yang-sin-kiam dari The Bok Nam seperti yang telah kau saksikan pada waktu itu. Celakanya sebelum aku sempat mendapatkan Im-sin-kiam dari tangan Phoa Ti, aku telah didahului oleh nenek siluman Hek-hwa Kui-bo yang sudah memukul Phoa Ti dan merampas kitabnya."

Sampai di sini Song-bun-kwi menarik napas panjang. Dia nampak kecewa dan menyesal. Beng San mengangguk-angguk.

"Sayang aku masih belum mampu mengalahkannya sehingga dia dapat lari membawa kitab Im-sin-kiam. Mencoba untuk merampas kitab itu dari tangannya bukanlah hal yang mudah, pula dia tidak bodoh dan tak akan mau memperlihatkan diri. Nah, aku lalu ingat kepadamu, Beng San. Kau yang berada di sana bersama Phoa Ti dan The Bok Nam. Kau tentu mendapat warisan ilmu silat dari mereka. Siapa tahu Im-sin-kiam telah kau warisi dari Phoa Ti. Sekarang kau harus buka rahasia Im-sin-kiam itu kepadaku, Beng San."

Beng San mengerutkan keningnya. Biar pun baru belasan tahun usianya, akan tetapi dia sangat cerdik dan pada akhir-akhir ini sudah sering kali berhadapan dengan orang-orang jahat sehingga membuat dia waspada dan hati-hati.

"Kakek tua, mengapa kau begitu serakah? Kau sudah mendapatkan kitab Yang-sin-kiam, kenapa masih ingin mendapatkan kitab Im-sin-kiam pula?”

"Bocah bodoh, masa kau tidak tahu? Yang-sin-kiam memang hebat dan sukar ada tokoh lain yang akan dapat mengalahkan aku. Akan tetapi celakanya, Yan-sin-kiam tidak akan berdaya kalau bertemu dengan Im-sin-kiam, sebaliknya Im-sin-kiam juga takkan berdaya menghadapi Yang-sin-kiam. Ibarat api dan air, baru berguna kalau keduanya disatukan dan bekerja sama. Hayo, Beng San anak baik, kau beri tahukan kepadaku bagaimana pelajaran Im-sin-kiam yang kau terima dari Phoa Ti."

Beng San menggelengkan kepala. “Sayang, Kakek Song-bun-kwi. Aku tidak bisa."

Ia tidak mau menjawab berterang, karena anak ini memang agak sukar apa bila disuruh membohong. Dengan jawaban ‘aku tidak bisa’, di dalam hatinya dimaksudkan bahwa dia tidak bisa membuka rahasia itu, bukannya tidak bisa menceritakan isi Im-sin-kiam!

Song-bun-kwi memandangnya dengan mata liar dan amat tajam menusuk, seperti hendak menjenguk isi hati Beng San. Tiba-tiba dia membentak, "Berdiri!"

Beng San bangkit berdiri dan tiba-tiba kakek itu menyerangnya dengan pukulan tangan kanan yang dikepal keras dan menumbuk ke arah dadanya. Penyerangan ini dilakukan sungguh-sungguh, akan tetapi gerakannya sengaja diperlambat sehingga mudah diikuti. Namun demikian, andai kata dibiarkan saja, dada Beng San tentu akan pecah berantakan kalau terkena pukulan itu.

Beng San sudah mempelajari Yang-sin-kiam dengan tekun. Tubuhnya sudah mempunyai daya tahan dan daya gerak yang otomatis. Apa lagi setelah matanya melihat bahwa serangan itu adalah sebuah jurus dari Yang-sin-kiam, dengan amat mudahnya dia tahu bagaimana harus melawan dan melayaninya. Untuk melayani serangan Yang-sin-kiam, paling tepat memang menggunakan jurus Im-sin-kiam, karena dengan demikian segala daya serangan itu selalu lumpuh, juga akan membuka kelemahan-kelemahan.

Akan tetapi Beng San tidak mau berlaku bodoh. Dengan mengumpulkan semangat dia ‘menutup’ pikiran dan ingatannya akan Im-sin-kiam, dan mencurahkan ingatannya kepada Yang-sin-kiam sehingga menghadapi penyerangan ini, dia kemudian menggunakan jurus Yang-sin-kiam yang sesuai untuk menghindarkan diri.

Karena dia sudah hafal benar akan seluruh gerakan Yang-sin-kiam, maka tidaklah terlalu sukar bagi Beng San untuk menghindarkan serangan itu karena dia sudah tahu ke mana serangan itu akan menuju dan bagaimana perkembangan selanjutnya. Tentu saja andai kata kakek itu mempergunakan kecepatan, amat sukar bagi Beng San yang masih belum berpengalaman dan belum terlatih itu untuk menghadapinya.

Setelah menyerang sebanyak tiga jurus yang semuanya dapat dihindarkan oleh Beng San dengan mudahnya, Song-bun-kwi menjadi makin kagum dan juga amat penasaran. Tiga macam jurus yang dia gunakan tadi, walau pun dia lakukan dengan lambat yang memang dia sengaja, tapi belum tentu ada tokoh persilatan yang akan mampu memecahkannya. Hanya orang yang telah mengenal betul Ilmu Silat Yang-sin-kiam baru bisa memecahkan semudah yang dilakukan Beng San.

Dari kagum dan heran ia menjadi penasaran sekali, lalu ia melanjutkan penyerangannya secara bertubi-tubi, mengeluarkan seluruh jurus Yang-sin-kiam yang kesemuanya hanya memiliki delapan belas jurus pokok.

Sebetulnya, baik Yang-sin-kiam mau pun Im-sin-kiam setiap jurus pokoknya masih dapat pula dipecah menjadi tiga sehingga jumlah seluruhnya adalah lima puluh empat jurus. Akan tetapi oleh karena hanya ingin melihat apakah betul-betul bocah itu sudah hafal akan jurus-jurus Yang-sin-kiam, kakek ini hanya mengeluarkan jurus-jurus pokok saja. Hebatnya, delapan belas jurus pokok itu dengan amat mudahnya dapat dihindarkan dan dipecahkan oleh Beng San!

Serangan-serangan yang dilakukan oleh Song-bun-kwi ini bukan semata-mata hendak melihat apakah Beng San betul-betul sudah hafal akan Yang-sin-kiam, tetapi maksudnya yang tersembunyi adalah hendak memancing supaya bocah ini dalam keadaan terdesak mau menggunakan Im-sin-kiam. Sesudah dia melihat bahwa semua gerakan yang dipakai Beng San untuk menghindarkan serangan-serangan itu adalah jurus-jurus Yang-sin-kiam pula, dia baru percaya akan keterangan anak itu tadi bahwa Beng San hanya mewarisi Yang-sin-kiam saja.

Hatinya mengkal sekali. Tiba-tiba dia tertawa bergelak, lalu menangis.

"Ha-ha-ha-hi-hi! Tebakanmu tadi keliru, Beng San. Aku membawamu ke mari memang hendak membunuhmu. Kau hafal akan Yang-sin-kiam, ini tidak baik. Hanya aku seorang yang boleh tahu akan Yang-sin-kiam, maka kau harus mati saat ini juga! Sayang kau tak becus Im-sin-kiam..." Kakek ini mengangkat tangannya ke atas dan Beng San sudah siap sedia hendak menyelamatkan diri sedapat mungkin.

Tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di sana telah berdiri seorang bocah perempuan berusia kurang lebih sepuluh tahun. Beng San sampai bengong terlongong melihat bocah ini. Bukan karena bocah baju merah itu cantik manis dan mungil sekali, dengan sepasang mata seperti bintang, dengan rambut hitam panjang yang bergantung di pundak, akan tetapi dia bengong saking kagum menyaksikan gerakan yang bukan main cepatnya itu.

Bocah itu berdiri memandang kepadanya dan tersenyum! Senyumnya membuat matahari seakan-akan bersinar semakin terang. Tidak hanya bibir dan gigi yang mengambil peran dalam senyum ini, bahkan mata dan hidungnya juga ikut tersenyum. Beng San tak dapat menahan hatinya untuk tidak membalas dengan senyum lebar.

Song-bun-kwi menurunkan tangannya dan menghela napas. "Bocah edan, mengganggu orang tua saja." la lalu menoleh dan memandang kepada anak perempuan baju merah itu, lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya, sepuluh jari tangan itu bergerak-gerak pula.

Anak perempuan itu kembali tersenyum, melirik ke arah Beng San, mengangguk kepada Song-bun-kwi lalu meloncat pergi, cepat dan cekatan laksana burung walet.

"Kurang ajar, tentu anak penggembala itu yang mengajaknya main-main sampai ke sini!" Song-bun-kwi bersungut-sungut dan betul saja dari jauh terdengar bunyi kerbau menguak. "Keparat, harus mampus semua!" Sekali Song-bun-kwi berkelebat kakek ini sudah lenyap dari situ.

Semua kejadian ini membuat Beng San duduk terlongong. Bocah perempuan| yang aneh dan ternyata gagu itu, yang begitu cepat gerakan-gerakannya, lalu kakek yang aneh ini. Benar-benar dia terheran-heran dan amat kagum sampai lupa bahwa dia belum lolos dari ancaman bahaya besar dari si kakek yang seperti gila itu. la hanya mendengar suara kerbau-kerbau menguak beberapa kali disusul jerit menyeramkan, lalu sunyi.

Tiba-tiba dia mencium bau harum dan ketika menengok… di belakangnya sudah berdiri Hek-hwa Kui-bo, wanita tua yang masih cantik itu, dengan sapu-tangan suteranya yang beraneka warna sedang dibuat main-main di tangan kiri.

"Kui-bo...!" tak terasa lagi Beng San berseru untuk menyembunyikan rasa kagetnya.

Wanita itu tersenyum manis. "Bagus, anak baik. Kau masih ingat kepadaku yang menjadi gurumu?"

"Kau bukan guruku," jawab Beng San, suaranya dingin.

Hek-hwa Kui-bo memandang tajam. Di dalam hatinya wanita ini sudah amat heran melihat bocah ini masih belum mati, padahal dahulu dia sengaja memberi pelajaran tiga macam ilmu menguasai tenaga Yang-kang untuk membunuh Beng San.

"Hei bocah yang tidak kenal budi. Bukankah dahulu aku pernah memberi pelajaran ilmu kepadamu?"

"Memang betul, kau memberi pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee padaku. Akan tetapi itu bukan berarti bahwa kau adalah guruku karena aku tak pernah mengangkat kau sebagai guru. Pula aku tidak tahu apa gunanya pelajaran-pelajaran itu."

Sepasang mata Hek-hwa Kui-bo bersinar dan senyumnya melebar. Hatinya girang sekali karena sekarang ia merasa yakin bahwa anak ini tidak tahu akan maksud buruknya ketika menurunkan tiga macam ilmu itu.

"Anak baik, kau tidak tahu bahwa pelajaran yang kuturunkan padamu itu adalah pelajaran yang menjadi dasar ilmu silat tinggi. Aku suka kepadamu, Beng San, dan aku suka punya murid seperti kau ini. Kalau aku tidak suka kepadamu, masa aku turunkan ilmu-ilmu itu kepadamu? Justru kedatanganku ini juga karena perasaan sukaku kepadamu itulah. Kau sedang terancam bahaya, bila Song-bun-kwi iblis itu kembali, kau tentu akan dibunuhnya. Karena itu, hayo kau ikut aku pergi sekarang juga."

Tanpa menanti jawaban Beng San, Hek-hwa Kui-bo menangkap tangan bocah itu dan di lain saat Beng San merasa dirinya melayang, persis seperti ketika dia dibawa pergi oleh Song-bun-kwi. la tidak melawan dan menyerahkan diri saja, maklum bahwa melawan pun tidak akan ada gunanya.

Lagi pula, dia belum tahu apa maksud sebenarnya wanita ini, meski pun dia merasa pula bahwa memang dia terancam oleh Song-bun-kwi. Kiranya dibawa pergi Hek-hwa Kui-bo belum tentu bahayanya sebesar kalau dia berada bersama Song-bun-kwi.

Tiba-tiba Hek-hwa Kui-bo menarik tangan Beng San sambil meloncat ke belakang sebuah batu besar yang berada di pinggir jalan. Nenek ini bersembunyi di belakang batu sambil memegang tangan Beng San erat-erat.

"Kui-bo, ada apa...?" Suara Beng San terhenti ketika tangan nenek itu yang sebelah lagi menotok lehernya dari belakang.

Beng San marah dan hatinya mendongkol sekali. Dia tidak dapat bergerak, tidak dapat membuka suara, hanya mampu mendengar dan melihat.

Pada saat itu dia mendengar suara melengking dari jauh, suara tangis memilukan. Segera dia mengenal suara ini ketika makin lama suara itu makin mendekat. Bukan lain suara yang aneh dari Song-bun-kwi! Sebentar saja kakek aneh ini sudah lewat jalan itu, dekat batu tanpa menoleh ke kanan kiri. Wajahnya muram, mukanya tunduk dan tubuhnya yang kecil kurus itu seperti bongkok.

Setelah kakek ini lewat jauh dan tak kelihatan lagi, Hek-hwa Kui-bo menarik lagi tangan Beng San sambil menepuk belakang lehernya membebaskan totokan.

"Kui-bo, kenapa kau takut pada Song-bun-kwi?" Beng San mengejek untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya. la sudah maklum akan watak nenek ini yang tak mau dikatakan takut, maka dia sengaja berkata demikian.

"Bodoh, siapa takut? Aku sedang tidak ada waktu bermain-main dengan tua bangka itu. Hayo ikut!"

Hek-hwa Kui-bo lalu membawa lari lagi anak itu, kini ia sengaja menuju ke arah dari mana Song-bun-kwi tadi datang. Jelas bahwa ia memang sengaja hendak menjauhkan diri dari Song-bun-kwi.

"Kui-bo, apa itu?" Beng San menuding ke arah lereng gunung yang mereka lalui.

"Apa lagi kalau bukan bekas tangan si tua bangka?" jawab Hek-hwa Kui-bo dingin, malah ia lalu terkekeh dan berkata. "Tua bangka sudah mau mampus tetapi masih suka main bunuh orang. Heh-heh-heh!"

Ketika melihat lebih dekat dan lebih jelas, Beng San bergidik. Yang tadi dari jauh dia lihat bertumpuk-tumpuk dan disambari burung-burung hitam di lereng itu bukan lain adalah bangkai belasan ekor kerbau dan mayat tiga orang anak penggembala yang baru berusia belasan tahun seperti dia.

Tidak salah lagi, tentu dalam kemarahannya tadi Song-bun-kwi telah pergi meninggalkan dia sebentar untuk membunuhi tiga orang penggembala dengan kerbau-kerbau mereka ini. Alangkah kejamnya hati si Setan Berkabung itu.

"Tua bangka keji si Song-bun-kwi!" Beng San tak terasa memaki.

Hek-hwa Kui-bo tertawa. Giginya yang masih kuat itu putih berkilat sebentar.

"Apa kau bilang? Keji? Hi-hi-hi, tidak ada artinya itu. Dulu, puluhan tahun yang lalu, untuk merampas seorang mempelai wanita dia membunuh mempelai pria, seluruh keluarga dan semua tamu yang hadir pada malam pesta pernikahan itu."

Beng San melototkan matanya, ngeri dia membayangkan. ”Mengapa para tamu dibunuh semua?"

”Goblok kau! Song-bun-kwi tidak sebodoh kau. Tentu saja untuk menutup mulut mereka."

Beng San bergidik. Dua orang ini, kakek Song-bun-kwi dan nenek Hek-hwa Kui-bo, selain setingkat ilmu kepandaiannya, agaknya setingkat pula kekejamannya. Mulailah ia berpikir tentang diri Hek-hwa Kui-bo. Kenapa wanita iblis ini membawanya pergi? Betulkah hanya untuk menolongnya dari ancaman Song-bun-kwi? Mustahil! Orang sekeji ini hatinya mana bisa mempunyai maksud baik?

Beng San terkejut ketika dia teringat bahwa yang mencuri kitab Ilmu Im-sin-kiam adalah Hek-hwa Kui-bo ini! Celaka, pikirnya. Manusia jahat ini tentu tidak akan jauh bedanya pula dengan Song-bun-kwi. Tentu akan mencoba untuk mendapatkan isi kitab yang satu lagi darinya.

Benar saja dugaannya. Pada waktu mereka tiba di tempat yang sunyi, di tengah sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon tua, Hek-hwa Kui-bo melepaskan tangannya, lalu tersenyum-senyum dan memandang kepada Beng San.

"Beng San, aku tahu bahwa kau telah menjadi ahli waris dari Phoa Ti dan The Bok Nam, telah mempelajari dua macam ilmu silat, Yang-sin-kiam dan Im-sin-kiam. Kau memang anak baik dan patut menjadi murid orang pandai. Karena itu aku ingin sekali memimpinmu lebih lanjut agar kelak kau menjadi seorang jagoan yang tak terlawan di dunia ini. Nah, sekarang coba kau hadapi serangan-seranganku ini dengan Yang-sin-kiam yang sudah kau pelajari dari The Bok Nam!"

Tanpa menanti jawaban Beng San, Hek-hwa Kui-bo yang amat bernafsu untuk segera melihat Ilmu Silat Yang-sin-kiam, segera menyerang anak itu dengan jurus-jurus dari Ilmu Silat Im-sinkiam, yang kitabnya dia rampas dari Phoa Ti.

Biar pun amat terdesak, Beng San yang memang cerdik itu maklum bahwa dia hendak dipancing. Dia segera menghadapi serangan-serangan itu dengan ilmu yang sama, yaitu Im-sin-kiam, dan sengaja menutup semua ingatannya akan Ilmu Silat Yang-sin-kiam, juga sebaliknya dari yang dia lakukan ketika dia berhadapan dengan Song-bun-kwi.

Akan tetapi Hek-hwa Kui-bo tidak kecewa, malah tersenyum manis dan berkata, "Aha, kau hendak menggunakan Im-sin-kiam lebih dulu? Baik, lakukanlah dengan sempurna supaya aku dapat membimbingmu kalau keliru."

Setelah berkata demikian, ia menyerang terus dengan Im-sin-kiam sampai delapan belas pokok jurus Im-sin-kiam ia mainkan seluruhnya. Diam-diam Hek-hwa Kui-bo kagum sekali melihat gerakan-gerakan Beng San yang biar pun kurang terlatih namun amat sempurna.

"Hayo sekarang kau gunakan Yang-sin-kiam, ingin kulihat apakah juga sebaik Im-sin-kiam yang kau pelajari!" serunya sambil mendesak lagi dengan Im-sin-kiam.

Akan tetapi Beng San tetap menghadapinya dengan ilmu silat yang sama. Beberapa kali Hek-hwa Kui-bo membentaknya, akan tetapi dia tetap tidak mau mengubah ilmu silatnya. Akhirnya Hek-hwa Kui-bo menjadi jengkel dan berhenti menyerang.

”Ehh, bocah kepala batu, kenapa kau tetap tldak mentaati perintahku?"

”Kau ini aneh-aneh saja, Kui-bo. Bisaku ya cuma itu tadi.”

”Apa kau tidak mempelajari Yang-sin-kiam dari The Bok Nam.”

Beng San tidak mau menjawab pertanyaan ini, bahkan jawabannya menyimpang, "Aku hanya bisa melayanimu dengan yang tadi, yang lain-lain tidak bisa.”

Keparat, pikir Hek-hwa Kui-bo. Kalau begitu anak ini hanya mempelajari Im-sin-kiam. Ah, untung dia kurampas tadi dari Song-bun-kwi, kalau tidak, tentu Song-bun-kwi akan dapat menguras Im-sin-kiam dari anak ini. Di dunia ini mana boleh ada orang lain kecuali dia sendiri yang mengenal Im-sin-kiam?

”Setan kecil, jika begitu kau harus mampus di depan mataku.” Hek-hwa Kui-bo kemudian mengangkat tangan memukul kepala Beng San.

Bocah ini mana mau menerima mati begitu saja. Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang, lalu meloncat dan lari.

Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa terkekeh, kemudian mengejarnya. Beberapa loncatan saja sudah cukup bagi Hek-hwa Kui-bo untuk menyusul Beng San. Sekali lagi ia memukul, kini menggunakan sapu tangan suteranya yang menyambar ke arah belakang kepala Beng San.

Ujung sapu tangan itu mengancam jalan darah maut. Dalam detik-detik selanjutnya tentu Beng San takkan dapat terlepas dari cengkeraman maut kalau saja pada saat itu tidak terdengar seruan keras.

"Tahan!" Ujung sapu tangan itu tertangkis oleh sebatang suling dan keduanya terhuyung mundur.

Hek-hwa Kui-bo kaget sekali melihat kelihaian lawan, akan tetapi ia menjadi lebih kaget ketika melihat bahwa yang menangkis sapu tangannya dengan suling tadi ternyata adalah Song-bun-kwi! Celaka, pikirnya. Kalau anak ini dapat terampas lagi oleh kakek ini, berarti Im-sin-kiam akan terjatuh ke dalam tangan Song-bun-kwi dan kalau terjadi hal demikian, takkan berarti pulalah Im-sin-kiam di tangannya.

Dengan penuh kemarahan Hek-hwa Kui-bo menerjang lagi, sekali ini dia menggerakkan sapu tangannya hendak menghancurkan kepala Beng San yang berdiri bengong melihat tahu-tahu Song-bun-kwi sudah berada di situ menolongnya.

"Plak! Plakkk!"

Dua kali ujung sapu-tangan bertemu dengan ujung suling. Pada saat keduanya terhuyung mundur lagi karena dorongan tenaga dahsyat dari masing-masing lawan, Song-bun-kwi meloncat ke depan dan sulingnya menusuk ke arah leher Beng San. Bocah ini tak dapat mempertahankan dirinya lagi, demikian cepatnya tusukan itu.

"Aihhh, tahan!"

Hek-hwa Kui-bo mengerakkan sapu tangannya yang panjang dan kembali nyawa Beng San tertolong, kali ini oleh sapu tangan Hek-hwa Kui-bo. Dan keduanya bertanding lagi.

Memang aneh pertandingan itu. Mungkin orang takkan percaya bila tidak melihat sendiri. Mana di dunia ini ada orang bertanding karena seorang anak kecil, bukan memperebutkan anak itu melainkan berdulu-duluan... membunuhnya!

Beberapa kali Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi kaget dan heran melihat betapa lawan masing-masing selalu hendak menyerang Beng San. Akan tetapi, karena curiga dan salah sangka, mengira bahwa masing-masing itu ingin menjadikan Beng San sebagai pembuka rahasia masing-masing, maka mereka dengan sungguh-sungguh dan sengit saling serang sehingga terjadilah pertempuran yang amat hebat. Pertempuran ini merupakan kelanjutan dari pertempuran saat mereka memperebutkan kitab dan masing-masing dapat merampas kitab dari dua orang kakek Phoa Ti dan The Bok Nam.

Sementara itu, melihat betapa dua orang tua yang aneh dan kejam itu saling serang, Beng San mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Baru saja dia lari belum jauh, Song-bun kwi sudah membentak.

"Anak iblis, kau hendak lari ke mana?!" Secepat kilat tubuhnya melayang dan sulingnya menyerang dari belakang.

Akan tetapi serangan ini kembali digagalkan oleh ujung sapu tangan di tangan Hek-hwa Kui-bo.

"Bukan orang lain, akulah yang akan membunuhnya!" Hek-hwa Kui-bo membentak sambil memandang kepada Song-bun-kwi dengan mata melotot.

"Kau?! Membunuhnya? Apakah sebabnya kau hendak membunuhnya?" Pikiran kakek ini seakan-akan baru terbuka, dan dia pun bertanya heran.

"Dia tidak boleh hidup di bawah satu kolong langit denganku. Mungkin bagimu berguna, tetapi bagiku tidak!" jawab Hek-hwa Kui-bo marah. Akan tetapi nenek ini pun bertanya heran, "Dan kau... mengapa pula hendak membunuhnya?"

Song-bun-kwi tersenyum gemas, merasa diejek. Dikiranya nenek ini sudah tahu bahwa Beng San hanya mempelajari Ilmu Silat Yang-sin-kiam saja dan sudah mencuri ilmu ini. "Bocah setan itu tidak boleh hidup di atas satu permukaan bumi denganku, tiada gunanya bagiku dibiarkan hidup!"

Heran dan kagetlah Hek-hwa Kui-bo mendengar ini. Tadinya ia pun sebaliknya mengira bahwa Beng San hanyalah mempelajari Im-sin-kiam saja dan ilmu ini sudah dioper oleh Song-bun-kwi, mengapa sekarang kakek ini bicara sebaliknya? Dia memang cerdik, maka tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh.

"Bocah iblis, dia mau memperdayakan kita!" Sambil berkata demikian tubuhnya melesat ke depan untuk mengejar Beng San.

Song-bun-kwi juga bukan seorang bodoh. Sekilas saja dia seperti telah disadarkan. Kalau Hek-hwa Kui-bo tadinya tidak membutuhkan anak itu dan hendak membunuhnya, tentu akibat anak itu mengaku hanya mempelajari Im-sin-kiam saja. Tapi sebaliknya, kepadanya membohong hanya mempelajari Yang-sin-kiam. Celaka, anak itu harus dia tangkap!

la pun melesat ke depan dan kini dua orang sakti itu berlomba untuk memperebutkan Beng San, bukan untuk membunuhnya seperti tadi!

Kasihan sekali Beng San. Biar pun dia tanpa disengaja dan disadarinya telah mewarisi sepasang ilmu silat pedang yang luar biasa hebatnya, namun sebagai seorang anak kecil menghadapi dua orang sakti itu, apakah dayanya? Beng San melarikan diri secepatnya, menyelinap di antara pohon-pohon raksasa yang amat tua.

Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon sehingga tubuhnya terguling. Beng San merasa terjatuh di atas sesuatu yang lunak dan ketika dia dengan terengah-engah memandang, ternyata dia jatuh ke atas pangkuan seorang kakek yang duduk bersila dengan kedua mata meram.

Kakek ini berpakaian serba hitam, karena itu tadi hampir tidak kelihatan. Di punggungnya nampak gagang sepasang pedang yang tipis. Jenggot kakek ini luar biasa, panjang sekali sampai ke perutnya. Telinganya lebar seperti telinga gajah, tubuhnya kurus dan mulutnya sudah ompong sama sekali, tidak ada sebuah pun giginya, Nampaknya sudah tua sekali.

Selagi Beng San bengong dan lupa bahwa dua orang pengejarnya sudah amat dekat di belakangnya, kakek itu berkata, suaranya halus lirih seperti berbisik.

"Anak, kau peganglah sepasang pedang ini, dengan tangan kiri mainkan Im-sin-kiam dan tangan kanan mainkan Yang-sin-kiam, tentu kau dapat menahan mereka."

Beng San sudah putus asa menghadapi dua orang sakti yang mengejarnya. Melawan dengan nekat pun dia tidak punya harapan. Akan tetapi sekarang, setelah mendengar bisikan kakek ini dan tangannya tahu-tahu telah memegang sepasang pedang, hatinya menjadi berani dan besar. Apa lagi ketika dia melihat bahwa sepasang pedang yang tidak sama panjangnya itu berkilau-kilauan seperti mengeluarkan api.

Pada saat itu, hampir berbareng, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi tiba di depan Beng San. Baiknya mereka sekarang bukan berlomba untuk membunuhnya, namun berlomba untuk menangkapnya, maka keduanya tidak mau menggunakan senjata masing-masing yang ampuh.

Melihat dua orang itu sudah datang dan tangan mereka diulur untuk mencengkeramnya, Beng San meloncat. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tubuhnya tak dapat terlepas dari tubuh kakek tua renta itu.

Terdengar bisikan di belakang kepalanya, "Lawanlah mereka dengan tenang, pergunakan Im-yang Sin-kiam, aku yang mendorongmu dengan tenaga serta mengatur kecepatan gerakan-gerakanmu."

Sudah terlalu sering Beng San bertemu dengan tokoh-tokoh besar yang berwatak aneh dan berkepandaian tinggi, maka biar pun keadaan kakek tua renta ini amat aneh, tetapi tidak amat mengherankan Beng San. Serta merta bocah cerdik ini dapat menduga bahwa kakek ini pun seorang sakti, maka dia pun mentaati semua petunjuknya.

Begitu mendengar bisikan ini, dia lalu mempersiapkan sepasang pedangnya, dan dengan gerakan-gerakan Im-sin-kiam di tangan kiri dan Yang-sin-kiam di tangan kanan, dia lalu memainkan ilmu silat pedang yang sudah dihafalkannya benar-benar itu dengan kedua tangan.
cerita silat karya kho ping hoo

Hasilnya luar biasa sekali. Segera terdengar seruan-seruan kaget, dan Hek-hwa Kui-bo bersama Song-bun-kwi meloncat mundur. Hampir saja tangan mereka berdua terbabat oleh pedang-pedang yang berkilauan dan mendatangkan hawa panas dan dingin sekali itu.

Beng San merasa betapa kedua pundaknya ditempel oleh kedua telapak tangan kakek itu tadi dan betapa di dalam kedua lengannya seperti ada tenaga lembut yang menjalar sampai ke tangannya. Semangatnya menjadi besar dan dia tersenyum mengejek ketika melihat dua orang lawannya itu sudah menggerakkan suling dan sapu tangan. Kedua pedangnya bergerak dengan jurus-jurus terlihai Im-yang Sin-kiam, pedang kiri bertemu dengan suling Song-bun-kwi sedangkan pedang tangan kanan beradu dengan ujung sapu tangan Hek-hwa Kui-bo.

Terdengarlah suara keras dan Hek-hwa Kui-bo memekik kaget, sedangkan Song-bun-kwi melompat ke belakang. Ternyata bahwa ujung sapu tangan Hek-hwa Kui-bo dan ujung suling Song-bun-kwi telah terbabat oleh pedang-pedang itu.

"Liong-cu Siang-kiam (Sepasang Pedang Mustika Naga)...!" Hek-hwa Kui-bo berseru.

"Ayaaaaa! Kalau begitu dia ini Lo-tong (Bocah Tua) Souw Lee...!" Song-bun-kwi berteriak kaget sambil memandang kepada kakek tua renta yang berdiri di belakang Beng San.

Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, lalu berkata, "Betul sekali! Ehh, Song-bun-kwi, agaknya kita berdua yang selalu mujur. Hayo kita gempur dia dan segala yang kita dapat nanti kita bagi rata dan adil."

"Bagus! Kui-bo, dengan Liong-cu Siang-kiam dan Im-yang Sin-kiam-sut kita pasti akan menjagoi dunia. Ha-ha-ha!"

Dua orang itu kemudian menggerakkan suling dan sapu tangan, menerjang maju dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya. Ujung sapu tangan itu mengeluarkan bunyi berdetar-detar seperti sebuah cemeti sedangkan suling itu mengeluarkan suara tangisan yang mengerikan.

Tergetar juga hati Beng San menghadapi kedahsyatan dua orang itu. Sepasang pedang di tangannya hampir saja terlepas kalau tidak ada tenaga mukjijat mengalir masuk melalui pundaknya yang dipegang oleh kakek tua renta itu.

"Anak baik, ingat...," bisik kakek itu di belakangnya, "kita harus dapat mengusir mereka... bukan hanya demi keselamatanmu, apa lagi keselamatanku, akan tetapi demi... demi keamanan dunia... Jangan sampai terjatuh ke tangan dua iblis ini..." Terpaksa kakek itu menghentikan kata-katanya karena dua orang itu sudah mulai dengan terjangan mereka yang dahsyat.

Beng San menggerakkan kedua pedang di tangannya. la belum pernah bertempur, juga ilmu Silat Pedang Im-yang Sin-kiam-sut yang dia miliki hanya dia latih dan hafalkan secara teorinya saja, belum pernah dipergunakan untuk bertempur.

Memang tidak dapat disangkal bahwa anak ini bakatnya baik sekali. Gerakan-gerakannya dalam memainkan semua jurus Im-yang Sin-kiam yang digabungkan itu luar biasa dan amat tepat.

Namun menghadapi dua orang kawakan seperti Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo, tentu saja dia merupakan sebuah timun melawan dua buah duren! Andai kata dia sendiri harus melawan mereka, biar pun dia diberi sepasang pedang Liong-cu-kiam, dalam satu jurus saja dia pasti akan terjungkal tanpa nyawa lagi.

Baiknya dalam pertandingan ini Beng San tidak maju sendiri, atau dapat dikatakan bahwa dia ‘dipakai’ oleh kakek tua renta itu, dipergunakan pengetahuannya mengenai Im-yang Sin-kiam-sut. Beng San hanya mempergunakan Im-yang Sin-kiam dan tentu saja tanpa disadarinya sendiri, dia pun menggunakan tenaga Im dan Yang, dua tenaga ampuh yang memang sudah bersarang di dalam tubuhnya.

Dua hal yang dimilikinya ini, Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam dan tenaga Im Yang, sekarang dengan hebat digunakan oleh kakek yang mendorongnya itu sehingga sepasang pedang di tangan Beng San berkeredepan dan menyambar-nyambar laksana dua ekor naga sakti yang bermain-main di angkasa raya.

Ketika bertemu dengan pedang, berkali-kali sapu tangan dan suling di tangan Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi membalik. Dua orang itu terkejut bukan main.

Mereka maklum bahwa anak ini ‘dipergunakan’ oleh kakek itu. Akan tetapi sama sekali mereka tak pernah mengira bahwa anak itu dapat mainkan Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam yang digabung menjadi satu sehingga mereka yang hanya mengerti sebagian-sebagian saja dari ilmu pedang pasangan itu menjadi sibuk dan kewalahan. Mereka maklum bahwa tentu saja dalam hal ini bukan Beng San yang berjasa, melainkan kakek tua renta itu.

Memang kakek tua renta itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Akan tetapi andai kata di sana tidak ada Beng San yang menambah kehebatan kakek itu dengan Im-yang Sin-kiam, dua orang sakti tadi yakin bahwa mereka berdua pasti akan dapat mengalahkan kakek itu.

Beng San betul-betul bingung ketika melihat bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh dua orang tua itu selalu berubah-ubah, bahkan kemudian sama sekali dia tidak mengenal gerakan-gerakan itu. Hal ini memang betul demikian, karena dua orang itu sengaja tidak memainkan Ilmu Silat Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam yang dikenal baik oleh Beng San. Andai kata dia sendiri harus menghadapi jurus-jurus yang sama sekali asing baginya itu, tentu dia akan terjungkal dengan sendirinya karena pusingnya.

Baiknya dengan ‘tuntunan’ kakek itu melalui penyaluran hawa pada kedua pundaknya, dia masih mampu dengan cepat dan tepat memainkan Im-yang Sin-kiam untuk menghadapi semua serangan lawan, bahkan balas menyerang dengan tak kurang dahsyatnya.

Pertempuran itu berjalan seru dan hebat. Apa bila Beng San terdesak, tiba-tiba kakek di belakangnya berseru nyaring dan... jenggotnya yang panjang melambai sampai ke perut itu lalu bergerak menyambar-nyambar ke depan, mengeluarkan suara angin bersiutan dan rambut ini yang tadinya halus sekali seakan-akan telah berubah menjadi cemeti baja yang menyambar ke arah kedua lawannya!

Setelah hari mulai menjadi gelap, Beng San melihat dua orang lawannya berpeluh dan uap keputihan mengebul di atas kepala mereka. Ia pun mendengar kakek di belakangnya terengah-engah napasnya, dua tangan yang mencengkeram pundaknya mulai menggetar. Napas kakek itu mulai meniup-niup kepalanya, terasa panas sekali.

Dia sendiri belum lelah, maklum karena semenjak pertempuran dimulai, dia seakan-akan selalu ‘menggunakan’ tenaga kakek itu. Peranannya sendiri hanyalah sebagai orang yang mengeluarkan Im-yang Sin-kiam saja.

Song-bun-kwi mulai tertawa-tawa dan mengejek. "Heh-heh-heh, Lo-tong, napasmu sudah empas-empis, jangan-jangan akan putus nanti."

"Souw Lee, kau sudah tua bangka mau mampus, lebih baik menyerah dan mati dengan tubuh utuh dari pada harus mati dengan kepala remuk," kata Hek-hwa Kui-bo.

Dua orang tokoh ini mau mengajak berbicara dan membujuknya, bukan karena mereka merasa amat kagum kepada kakek tua renta yang ternyata masih amat lihai ini. Memang, betapa pun jahat dan kejam hati seorang tokoh kang-ouw yang sakti dan aneh, namun ciri khas orang-orang kang-ouw masih ada kepadanya, yaitu mengagumi serta menghargai kegagahan dan kelihaian orang.

"Song-bun-kwi! Hek-hwa Kui-bo…!” Kakek ini berkata terengah-engah. "Sebelum leherku patah, jangan harap kalian berdua akan mendapatkan Liong-cu Siang-kiam dan Im-yang Sin-kiam-sut. Tanpa yang dua itu pun kalian sudah cukup jahat dan sudah terlalu banyak menyebar kekejaman di dunia."

Song-bun-kwi mengeluarkan bentakan marah dan sulingnya mendesak makin hebat. Juga Hek-hwa Kui-bo memutar sapu tangannya yang mengeluarkan beberapa macam warna yang bersinar-sinar, mengurung diri Beng San dan kakek itu.

Tiba-tiba Beng San merasa betapa kedua tangan kakek di pundaknya itu menjadi dingin sekali. Dia tidak mengerti apa sebabnya, tidak tahu bahwa dalam kelihaiannya kakek tua renta itu sudah berlaku cerdik, menggunakan tenaga Im untuk menarik keuntungan dari pertempuran itu.

Beng San mulai mengerti akan maksud kakek itu ketika dia meminta kepadanya supaya jangan mengalah. Dia sekarang tahu bahwa Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut yang sudah dia pelajari dari dua orang gurunya yang telah meninggal dunia, ternyata amat dirindukan oleh tokoh-tokoh kang-ouw, seperti halnya sepasang pedang ini. Ia mengerti bahwa dua orang tua yang kini mengeroyoknya itu adalah orang-orang jahat yang kalau sampai dapat merampas ilmu dan pedang, akan menjadi makin ganas dan jahat lagi.

Sekarang saja sudah dapat membayangkan kekejian hati mereka. Dua orang tokoh besar dalam dunia persilatan, tetapi tidak segan-segan dan tidak malu-malu untuk mengeroyok dan mendesak seorang anak-anak dan seorang kakek tua!

"Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo, kalian benar-benar keji dan jahat!" Baru saja Beng San mengeluarkan kata-kata ini, kakek di belakangnya mengeluarkan teriakan keras lalu roboh telentang, mulutnya mengeluarkan darah, matanya mendelik dan tak sadarkan diri.

Beng San menjadi merah kehitaman mukanya. la kaget dan menoleh, mukanya menjadi makin hitam saking marah. la mengira bahwa kakek itu tentu telah jatuh karena pukulan dari dua orang lawannya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sesungguhnya kakek sakti di belakangnya itu roboh oleh karena dia!

Ketika tadi dia memaki Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo, tanpa dia sadari, Beng San yang marahnya memuncak itu sudah menyalurkan hawa ‘Yang’ di tubuhnya, membuat mukanya menjadi merah hitam. Tenaga Yang di badannya memang hebat sekali, tidak sewajarnya. Tenaga inilah yang memukul kakek itu melalui kedua tangan yang diletakkan di pundaknya. Kakek itu sedang menggunakan tenaga Im, maka pukulan tenaga Yang dari tubuh Beng San yang amat kuat itu tak tertahankan olehnya, membuat dia terjungkal dan pingsan.

Andai kata tenaga dahsyat dari tubuh Beng San ini tadi dikeluarkan pada waktu kakek itu mempergunakan tenaga Yang, tentu kehebatan kakek ini akan bertambah dan mungkin sekali mereka berdua mampu mengusir Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo. Namun, apa hendak dikata, anak itu memang belum mengerti akan keadaan dirinya sendiri dan belum tahu bagaimana caranya untuk memanfaatkan kekuatan dan kepandaian yang dia miliki secara kebetulan itu.

Untung bagi Beng San bahwa dua orang sakti di depannya itu memang tidak mempunyai maksud untuk membunuhnya pada saat itu, karena keduanya membutuhkannya. Hek-hwa Kui-bo dengan suara ketawanya yang menyeramkan sudah maju menubruknya.

"Kui-bo, perlahan dulu," Song-bun-kwi berseru dan juga menubruk ke depan, mendorong tubuh Hek-hwa Kui-bo.

Wanita tua itu marah sekali. Dengan bentakan keras dia membalik badan dan menyerang Song-bun-kwi dengan sapu tangannya.

Tentu saja Song-bun-kwi tidak rela kepalanya terancam hancur oleh ujung sapu tangan yang amat ampuh itu. Cepat sulingnya digerakkan menangkis dan di lain saat dua orang ini sudah saling gempur.

Kalau tadi dua tokoh ini bersatu dalam menghadapi sepasang pedang di tangan Beng San yang dibantu oleh kakek Lo-tong Souw Lee, sekarang mereka bertempur satu sama lain. Bertempur mati-matian untuk saling memperebutkan Beng San berikut sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam.

Pertandingan itu makin lama semakin seru dan dahsyat, sedangkan cuaca makin lama semakin menjadi gelap. Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo memang sama-sama memiliki ilmu kepandaian yang setingkat, apa lagi masing-masing telah mendapat kitab Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam. Berulang kali mereka menukar ilmu untuk merobohkan lawan, namun selalu sia-sia.

Yang terheran-heran adalah Beng San. Kadang-kadang dia tidak dapat melihat dua orang itu yang lenyap ditelan gulungan sinar senjata mereka, akan tetapi ada kalanya pula dia melihat mereka dengan jelas karena mereka itu berkelahi dengan gerakan-gerakan yang luar biasa, amat lambat seperti orang main-main saja.

Akhirnya dia tidak dapat melihat mereka sama sekali ketika matahari sudah bersembunyi dan cuaca telah menjadi hitam gelap. Hanya desir angin pukulan mereka saja yang masih terdengar dan terasa.

Tiba-tiba Beng San merasa tangannya dipegang orang dari belakang, kemudian dia ditarik perlahan ke belakang. Ketika dia menengok, di dalam gelap itu dia masih melihat tubuh kakek tua renta yang sekarang telah berdiri dan mengajak dia pergi dari tempat itu.

Beng San maklum akan maksud hati kakek ini. Tentu melihat dua orang sakti itu sedang saling gempur sendiri, kakek itu lantas mengajaknya menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri di dalam gelap.

Benar saja dugaannya. Tidak lama kemudian dia merasakan tubuhnya seperti terbang, sedangkan tangannya masih terus digandeng oleh kakek itu. Diam-diam dia kagum sekali. Ternyata bahwa kakek tua ini dalam berlari cepat tidak kalah oleh Song-bun-kwi mau pun Hek-hwa Kui-bo.

Beng San mendengar teriakan-teriakan marah dari Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo. Lapat-lapat dia mendengar mereka memaki-maki dan menyuruh dia berhenti. Akan tetapi suara dua orang yang mengejarnya itu makin lama semakin jauh, agaknya mereka sesat jalan, tidak tahu ke mana larinya Beng San bersama kakek tua itu.

Barulah lega hati Beng San setelah suara mereka tidak terdengar lagi. Juga kakek tua itu kini tidak berlari terlalu cepat lagi, hanya mengajak Beng San berjalan melalui hutan-hutan yang besar.

"Apakah bulan sudah keluar, anak yang baik?" tanya kakek itu, berhenti dan berdongak ke atas.

Beng San terheran. Apakah kakek itu tak dapat melihat sendiri? Kenapa harus bertanya?

"Belum, hanya langit penuh bintang."

"Hemmm, coba kau lihat baik-baik, di mana letak Bintang Kak-seng (Bintang Terompet)?"

"Aku tidak tahu yang mana itu bintang Kak-seng," jawab Beng San.

"Kalau begitu, di mana letaknya Bi-seng (Bintang Ekor)?"

Beng San makin bingung. Matanya menatap bintang-bintang di langit yang tiada terhitung banyaknya.

"Yang mana Bi-seng aku pun tidak tahu."

Kakek itu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang. "Kiranya kau memang belum tahu apa-apa. Ahh, sudahlah. Katakan saja bintang apa yang kau ketahui?"

Beng San kemudian menuding ke atas dan berkata, "Bintang-bintang Gu-seng (Bintang Kerbau) itu aku kenal!"

Memang dahulu pernah dia mendengar dari seorang hwesio di Kelenteng Hek-thian-tong tentang Bintang Kerbau ini, sekumpulan bintang terdiri dari enam buah menyerupai kepala kerbau dengan tanduknya.

Kakek itu nampak girang. "Bagus! Coba kau tunjukkan, di mana Gu-seng itu?"

"Tuh, di sana!"

"Huh, aku tak dapat melihat. Kau pegang tanganku dan tunjukkan di mana arah letaknya."

Berdebar jantung Beng San. Kiranya kakek ini buta! la menatap wajah kakek itu. Tadinya dia menyangka bahwa kakek itu bermata sipit sekali, tidak tahunya memang selalu meram tak dapat dibuka, seorang buta!

Timbul rasa kasihan di dalam hatinya, akan tetapi juga kekagumannya makin membesar. Seorang kakek tua renta lagi buta, akan tetapi bukan main lihainya! Dia lalu memegang tangan kanan kakek itu dan menudingkan tangan itu ke arah kumpulan Bintang Gu-seng.

"Hemmm, kalau begitu kita harus ke kanan," kata kakek itu sambil menggandeng tangan Beng San dan berlari lagi. "Beng San, kau ikutlah aku. Biarkan aku menggosok intan yang masih mentah ini!"

Beng San tidak mengerti maksud kata-kata kakek itu dan hendak bertanya, akan tetapi kakek itu sudah berlari lagi dengan amat cepatnya. Karena maklum bahwa kakek ini tidak jahat seperti Song-bun-kwi atau Hek-hwa Kui-bo, maka dia tidak banyak membantah dan menurut saja dibawa lari secepatnya….

**********

Mereka duduk berhadapan di atas batu-batu hitam yang halus di atas puncak yang tinggi, demikian tingginya sehingga seolah-olah dengan tangannya orang akan dapat menyentuh bintang-bintang di langit. Inilah tempat sembunyi kakek itu yang disebut Ban-seng-kok (Puncak Selaksa Bintang), sebuah di antara puncak-puncak di Pegunungan Cin-ling-san. Akan tetapi puncak Ban-seng-kok ini adalah puncak yang tersembunyi karena di kelilingi jurang-jurang yang tak mungkin dilintasi manusia.

Hanya Lo-tong Souw Lee si anak tua itulah yang sudah mendapatkan jalan rahasianya dengan merayap melalui jurang-jurang yang sangat dalam. Tidak mengherankan apa bila orang tua ini mempergunakan Ban-seng-kok sebagai tempat bersembunyi atau tempat bertapa. Puncak ini memang indah sekali, penuh dengan pohon-pohon liar, bunga-bunga beraneka macam, hawanya sedang dan udaranya bersih.

Setelah melakukan perjalanan lima hari lima malam lamanya, pada senja hari tadi Beng San dan kakek itu tiba di tempat ini, dan malam ini mereka duduk di luar pondok kecil tempat tinggal Souw Lee. Beng San kagum bukan main menyaksikan pemandangan yang amat indah di waktu malam ini. Angkasa sedemikian bersihnya sehingga dia dapat melihat bintang-bintang yang memenuhi langit.

"Beng San, entah apa dosa-dosamu dahulu terhadap Thian maka sekecil ini kau sudah bernasib malang, menjadi perebutan tokoh-tokoh kang-ouw. Hemmm, kau si kecil dan aku si tua bangka benar tak ada bedanya, dibenci dan dicari oleh mereka yang selalu kurang puas...," demikianlah kakek tua yang buta itu berkata kepada Beng San.

Ketika mendengar ucapan kakek itu Beng San sadar dari lamunannya.

"Kakek Souw Lee, tak perlu diherankan kalau orang memperebutkan sepasang pedangmu yang hebat itu. Hanya anehnya, mengapa agaknya mereka juga hendak membunuhmu? Ada pun aku... ahh tak tahu aku mengapa mereka mati-matian hendak memperebutkan pelajaran-pelajaran yang tidak ada artinya itu?"

"Tidak ada artinya kau bilang, Heh-heh-heh, Beng San. Dalam hal ini kau lebih buta dari pada mataku. Aku mengikuti ketika kau berhadapan dengan Song-bun-kwi, kemudian kau menghadapi Hek-hwa Kui-bo. Kau cerdik sekali sudah menipu mereka. Kecerdikanmu itu menarik hatiku. Memang, tak salah kalau Phoa Ti dan The Bok Nam mewariskan Im-yang Sin-kiam-sut kepadamu." Kakek itu mengangguk-angguk dan Beng San membelalakkan matanya saking herannya.

"Kakek Souw, kenapa kau bisa mengetahui semua itu?"

Kakek buta itu tertawa lagi. "Siapa yang tidak tahu bahwa Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam terjatuh ke dalam tangan Thian-te Siang-hiap? Hanya tidak pernah kusangka sekarang sudah terjatuh ke dalam tangan sepasang iblis itu! Kebetulan sekali aku mendengar ketika kau diserang oleh Song-bun-kwi. Angin gerakannya dan angin gerakan tanganmu biar pun lemah dapat terdengar olehku, dan tahulah aku bahwa kalian memainkan ilmu silat yang belum pernah kudengar sebelumnya. Setelah kalian berbicara baru aku tahu bahwa itulah Yang-sin Kiam-sut. Pantas begitu hebat." Kembali dia mengangguk-angguk. "Kemudian kau dibawa pergi Hek-hwa Kui-bo. Aku diam-diam mengikuti dan sesudah melihat sikap iblis wanita itu kepadamu, baru aku dapat mengetahui bahwa dua orang itu ternyata telah merampas kitab-kitab itu, seorang satu."

"Betul sekali," Beng San menarik napas panjang. "Mereka sudah merampas kitab, bahkan membunuh dua orang kakek Phoa Ti dan The Bok Nam. Bagiku, apa sih gunanya kedua ilmu itu? Kalau lapar tidak bisa mengenyangkan perut, kalau haus tidak bisa memuaskan kerongkongan. Paling-paling bisa digunakan untuk menipu orang dan main gebuk!"

Kakek buta itu tertawa bergelak. "Ha-hah-hah! Ketahuilah Beng San. Dua atau tiga puluh tahun yang lalu, aku sendiri pun akan memaksa kau mengeluarkan dua ilmu itu kepadaku. Mungkin sekali aku pun akan memaksamu, kalau perlu menyiksa malah membunuhmu."

Beng San menjadi marah. Ternyata dia salah kira. Disangkanya kakek ini orang baik, tidak seperti Song-bun-kwi atau Hek-hwa Kui-bo, kiranya begini bicaranya!

"Huh, Kakek Souw. Tadinya aku kira hatimu melek, tidak tahunya sama butanya dengan kedua matamu. Kau yang sudah berilmu tinggi itu dan belum kau ketahui apa semua itu kegunaannya, masih saja menginginkan ilmu yang lain dengan cara memaksa orang lain? Hemmm, sebetulnya apa sih artinya memiliki ilmu silat setinggi langit?"

"Ho-ho-ho, anak bodoh. Apa bila aku tidak mempunyai ilmu silat tinggi, apakah tadi tidak mampus di tangan Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo? Kalau aku tidak memiliki ilmu silat lumayan, apakah dari dulu-dulu tidak sudah mampus? Kepandaian silat tinggi menjamin keselamatan kita, Beng San. Di dunia kang-ouw, ilmu kepandaian adalah hal yang paling penting dimiliki, karena hanya dengan kepandaian tinggi kita bisa terhindar dari kematian di tangan orang lain."

"Uhhh!" Beng San mencela. "Mana bisa ada aturan demikian? Kakek tua, mati atau hidup bagaimana bisa tergantung kepada ilmu silat? Kau yang pandai ilmu silat tinggi, apa bila sebentar lagi mati karena tua, apakah bisa bertukar kulit menjadi muda kembali? Salah, kakek Souw. Menurut kitab-kitab kuno yang pernah kubaca dan kupelajari, mati dan hidup bukanlah urusan kita untuk menentukan. Kalau Thian menghendaki kematian kita, walau pun kita memiliki nyawa rangkap selaksa, toh akan mati juga tak usah menanti orang lain membunuh kita. Sebaliknya, apa bila Thian menghendaki kita masih harus hidup, biar ada selaksa orang berusaha membunuh kita, kiranya tak akan ada yang berhasil.”

"Ya Tuhan...!" Kakek itu menangkap tangan Beng San dengan kedua tangan menggigil. "Anak baik... kau mengetahui semua itu dari mana?"

Ucapan yang penuh keheranan dan kekaguman ini membuat Beng San menjadi malu. "Dari hwesio-hwesio di Kelenteng Hong-thian-tong. Semenjak kecil aku menjadi pelayan di kelenteng itu dan menerima jejalan pelajaran filsafat dari kitab-kitab kuno."

Kakek buta itu menarik napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Alangkah ganjilnya. Seorang anak kecil mempelajari ilmu batin dan mendapatkan inti sarinya untuk dipakai dalam hidup. Manusia-manusia tua bangka seperti aku dan yang lain-lain, justru mempelajari ilmu kebatinan untuk mendapatkan kekuatan mempertinggi kepandaian silat. Benar-benar menyeleweng... benar-benar tersesat..." Kakek ini lalu merangkul Beng San dan menangis terisak-isak!

Tentu saja anak sekecil Beng San belum mengerti betul apa sebetulnya yang dipikirkan dan apa artinya kata-kata kakek ini. la malah mengira bahwa kakek itu telah melakukan perbuatan keliru dan kini merasa menyesal.

Maka untuk menghiburnya, dia mengutip ujar-ujar kuno lagi, "Kakek Souw, pernah para suhu mengatakan kepadaku bahwa insyaf dan menyesal terhadap kesesatan diri sendiri termasuk kebajikan pula. Jauh lebih baik insyaf dan menyesal dari pada membanggakan dan menyombongkan diri sendiri."

Kakek itu makin terharu, lalu mengusap-usap kepala Beng San. "Anak baik... anak baik... kuharap dalam beberapa pekan ini kau suka mengulang semua pelajaran yang pernah kau pelajari dari para suhu (guru) di Kelenteng Hok-thian-tong itu. Phoa Ti dan The Bok Nam benar ketika memilih kau sebagai ahli waris. Sayang mereka tidak ada waktu untuk menurunkan dasar-dasar ilmu silat. Beng San, kau harus menurut kata-kataku, kau harus tekun melakukan siulian (semedhi). Semua itu untuk memperkuat tubuh dalammu serta mengimbangi ilmu-ilmu tinggi yang sudah kau miliki. Bila tidak demikian, kau akan celaka, sebelah dalam tubuhmu akan rusak binasa."

Tadinya Beng San tidak begitu tertarik. Akan tetapi oleh karena kakek itu bermaksud baik dan memang di dunia ini dia sebatang kara, untuk menyenangkan hati kakek buta itu dia pun menyanggupi.

Demikianlah, mulai malam itu juga, Beng San mengeluarkan semua hafalannya tentang kitab suci di jaman dahulu. Sebaliknya, dia menerima petunjuk-petunjuk dari kakek sakti itu mengenai semedhi, latihan napas, Iweekang, khikang, dan lain-lain yang berhubungan dengan ilmu silat.

Terjadi perubahan amat besar pada diri kakek buta itu setelah setiap hari dia mendengar kata-kata filsafat dari kitab-kitab kuno yang diucapkan oleh Beng San. Dia nampak lebih tenang, wajahnya selalu berseri dan berkali-kali dia menyatakan bahwa sekarang dia rela mati, tidak takut mati lagi.

Beng San memang banyak menghafal kitab-kitab yang dulu pernah dia baca di Kelenteng Hok-thian-tong. Selain kitab-kitab Agama Buddha seperti Dhammapada dan lain-lain, dia juga membaca dan menghafal isi kitab Upanisad dan kitab-kitab Su-si Ngo-keng pelajaran Nabi Khong Cu.

Kurang lebih seratus hari kemudian, Beng San sudah mempelajari semua ilmu yang tiap hari diturunkan oleh kakek buta itu kepadanya. Tentu saja yang dia pelajari dan hafalkan hanya teorinya, ada pun mengenai prakteknya, baru sedikit-sedikit yang dia latih di bawah petunjuk kakek Souw Lee.

Pagi hari itu kakek Souw Lee berkata. "Beng San anak baik. Semua pengertianku tentang ilmu batin yang dihubungkan dengan ilmu silat, tentang siulian, Iweekang serta khikang, semua telah kuajarkan kepadamu. Hanya tinggal kau tekun melatih diri saja. Berkat hawa Im-Yang di dalam tubuhmu yang amat luar biasa, ditambah bakat dan ketekunanmu, kau tentu akan mendapat kemajuan pesat dan besar, jauh lebih besar dari pada aku sendiri. Mulai hari ini, kau harus pergi meninggalkan aku."

Beng San kaget. Dia sudah mulai betah tinggal di tempat sunyi itu bersama kakek Souw Lee. Mengapa sekarang disuruh pergi? Hampir Beng San menangis ketika dia berkata, "Kakek Souw, mengapa kau mengusirku? Apa salahku? Kakek yang baik, biarkanlah aku berada di sini mengawanimu..."

Kakek Souw Lee mengelus-elus kepala Beng San. "Anak baik, banyak persamaan nasib antara kita. Kau harus meninggalkan aku, demi untuk kebaikanmu sendiri, dan juga untuk kemajuanku. Aku hendak bertapa untuk menebus semua penyelewenganku yang dahulu, membersihkan pikiran dan hati. Dan kau, kau masih muda, kau harus mencari kemajuan dalam hidupmu. Kalau kau tinggal di sini, amat berbahaya. Kau tahu, banyak tokoh jahat yang amat lihai mencari aku.”

"Kenapakah, Kakek Souw Lee? Kenapa mereka mencarimu?"

Souw Lee mengeluarkan sepasang pedangnya. "Karena inilah, karena sepasang Liong-cu Siang-kiam inilah. Untuk jaman ini, sepasang pedang ini termasuk pedang keramat yang ampuh dan jarang bisa mendapatkan tandingnya. Pedang ini dahulu pusaka dari seorang pendekar besar bernama Sie Cin Han yang berjulukan Pendekar Bodoh. Kau lihat yang panjang ini dan pada gagangnya terdapat huruf JANTAN, nah, inilah yang dipakai oleh pendekar itu. Ada pun yang pendek dan berhuruf BETINA ini dulu dipakai oleh pendekar wanita yang terkenal berjuluk Ang I Niocu (Nona Baju Merah). Akan tetapi, hal itu sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Kemudian, setelah beberapa keturunan, sepasang pedang ini lenyap. Banyak tokoh kang-ouw mencari, akan tetapi tidak seorang pun tahu di mana lenyapnya pedang itu. Akhirnya akulah yang mendapatkannya, kucari dari gudang istana kaisar!"

"Ahhh...!" Beng San berseru kaget dan kagum.

"Semenjak itulah aku selalu dicari-cari oleh para tokoh kang-ouw. Yang lain-lain tidak ada artinya bagiku, tetapi orang-orang seperti Song-bun-kwi, Hek-Hwa Kui-bo, Siauw-ong-kwi dan Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, mereka itu amat berbahaya. Karena itu akhirnya aku menyembunyikan diri di sini. Aku pun sudah mendengar tentang Thian-te Siang-hiap yang telah mendapatkan Im-yang Sin-kiam dan ingin aku mencari mereka untuk merampasnya. Akan tetapi Thian menghukum aku, agaknya dosaku terlalu banyak. Aku sudah terlalu tua sampai kedua mataku buta, namun belum juga aku dibebaskan dari dunia ini."

Kakek itu menarik napas panjang dan dia lalu berdongak ke atas, seakan-akan dengan matanya yang buta dia hendak mencari-cari Thian di atas!

"Kakek Souw, biarlah aku menemanimu di sini. Aku suka tinggal di sini dan aku suka melayanimu."

Kembali Souw Lee mengelus-elus kepala Beng San. "Tidak bisa, Beng San. Hal itu akan berbahaya sekali. Tadinya Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo menyangka aku sudah mati karena tua. Setelah aku dilihat oleh mereka, apakah mereka dan yang lain-lain akan mau sudah begitu saja sebelum merampas Liong-cu Siang-kiam ini? Ahh, mereka tentu akan muncul sewaktu-waktu dan aku tidak mau melihat kau terbawa-bawa, apa lagi memang kau pun dikehendaki mereka."

”Pergi ke manakah? Aku sebatang-kara..." Suara Beng San terdengar sedih dan bingung.

"Tak perlu gelisah. Bukankah sebelum kau bertemu denganku, kau pun sudah sebatang kara? Aku akan memberi surat, kau berikan suratku ini kepada seorang sahabat baikku, yaitu Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai. Kau tentu akan mendapatkan perlindungan di sana dan kau akan aman. Akan tetapi ingat, biar pun terhadap seorang sahabat lama seperti Lian Bu Tojin, aku tak percaya kepadanya mengenai persoalan Im-yang Sin-kiam-sut dan tentang Liong-cu Siang-kiam. Ingat, semua pelajaran yang sudah kuturunkan kepadamu itu merupakan kunci untuk membuka pintu gerbang persilatan bagimu. Kau harus melatih siulian dan pernapasan. Dengan latihan yang tekun, kau akan mampu menguasai tenaga dalam Im dan Yang di dalam tubuhmu yang sangat kuat itu. Kau akan dapat mengatur tenaga itu menurut sesukamu dan disesuaikan dengan Ilmu Silat Im-yang Sin-kiam-sut. Akan tetapi, jangan sekali-kali kau perlihatkan kepada orang lain, kau simpan rahasia itu. Sekali-kali tidak boleh diketahui orang lain sebelum sempurna latihanmu. Apa bila engkau melanggar pesanku ini dan sampai rahasiamu diketahui orang, ahhh... sudah pasti kau akan menghadapi seribu satu macam bencana."

Beng San ragu-ragu. "Kakek Souw, aku tidak mengenal ketua Hoa-san-pai itu. Bagaimana kalau aku tidak betah tinggal di sana? Bagaimana kalau dia tidak mau menerimaku?"

“Mustahil dia takkan mau menerimamu. Dia orang baik dan suratku akan menjamin dirimu. Kau boleh bekerja apa saja di sana. Atau, andai kata kau tidak suka di sana setelah kau melihat keadaan, kau boleh saja pergi turun gunung, tapi jangan muncul di tempat umum. Lebih baik kau kembali menjadi kacung di Hok-thian-tong, bersembunyi sambil melatih diri sampai menjadi kuat betul. Setelah itu, baru kau boleh datang ke sini. Kau sudah kuberi tahu goa Ular yang berada di lereng itu. Nah, di sanalah kau cari pedang ini. Sementara ini sebelum kau kuat, kau tidak boleh membawa pedang ini. Apa lagi sekarang masih aku perlukan untuk menjaga diri. Kelak, pedang ini kuberikan padamu. Nah, kau berangkatlah, Beng San. Letak Hoa-san-pai sudah kuterangkan kepadamu.”

Sedih hati Beng San. Akan tetapi apa daya? la harus memenuhi permintaan kakek ini. la datang sebagai tamu, kalau tuan rumah sudah mengusirnya, apa yang dapat dia lakukan?

Setelah menerima sehelai surat yang ditulis secara cakar ayam oleh kakek buta ini, Beng San lalu pergi dari tempat itu. Dia turun melalui jalan rahasia yang ditunjukkan oleh kakek itu kepadanya….

**********

Setelah keluar dari tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee, Beng San lalu melakukan perjalanan cepat. Kebetulan dia lewat di dusun tempat tinggal hartawan Kwi di mana dia dahulu bersama Tan Hok menghadapi serbuan ular yang dikerahkan Giam Kin.

Heran sekali dia melihat dusun yang tiga bulan yang lalu sudah amat sunyi itu sekarang sama sekali kosong. Rumah gedung Kwi-wangwe? Sudah menjadi puing bekas terbakar! Dia menduga bahwa ini tentulah perbuatan Tan Hok yang merasa marah sekali kepada hartawan pelit itu. Dugaannya hanya sebagian saja betul.

Memang ketika Beng San dahulu mengejar Giam Kin, Tan Hok terus mengamuk. Betapa pun juga gagahnya, dia tentu akan celaka dikeroyok oleh tukang-tukang pukul yang amat banyak itu, jika saja tidak keburu datang serombongan orang Pek-lian-pai yang kebetulan lewat di situ.

Tentu saja para anggota Pek-lian-pai ini mengenal Tan Hok yang menjadi murid Tan Sam, seorang tokoh Pek-lian-pai. Segera mereka menyerbu dan membantu Tan Hok sehingga tuan tanah dan hartawan itu bersama semua kaki tangannya yang selalu mempraktekkan penindasan dan kekejaman dapat dibasmi, harta bendanya dirampas sedangkan rumah gedungnya dibakar. Tan Hok lalu pergi ikut rombongan ini meninggalkan dusun itu.

Memandangi rumah gedung hartawan Kwi yang sudah menjadi tumpukan puing itu, Beng San terkenang kepada Tan Hok. Dia amat suka kepada pemuda raksasa muda itu yang jujur dan gagah, apa lagi yang senasib pula dengannya, tiada orang tua dan tiada tempat tinggal. Akhirnya dia menghela napas dan meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba berkelebat bayangan merah di depannya. Mata Beng San terbelalak pada saat melihat seorang anak perempuan berpakaian merah berdiri di sana, tersenyum-senyum ramah dan matanya bersinar-sinar seperti bintang pagi. Beng San terbelalak bukan saking kagum melihat gadis cilik yang mungil ini sekarang, tetapi saking gelisah dan takutnya.

Dia maklum bahwa bocah ini ada hubungannya dengan Song-bun-kwi, entah muridnya entah anaknya atau pelayannya. Akan tetapi yang jelas, tiga bulan yang lalu bocah ini muncul, lalu muncul pula Song-bun-kwi.

"Kau siapakah? Siapa namamu dan kau datang ke sini mau apa?" Beng San bertanya, suaranya halus karena tak mungkin orang dapat bersikap galak terhadap seorang anak manis yang tersenyum-senyum ramah dengan matanya yang bersinar gemilang itu.

Anak berbaju merah itu tersenyum lebar dan seketika Beng San teringat akan wajah Kwa Hong. Biar pun ada perbedaan besar antara Kwa Hong dan anak ini, yaitu Kwa Hong galak sekali tapi anak ini ramah tamah dan penuh senyum, akan tetapi kalau tersenyum mereka ini itu sama. Sama manisnya, bahkan bentuk wajahnya hampir sama. Apa lagi pakaian mereka. Agaknya dua orang anak itu mempunyai kesukaan yang sama terhadap warna merah.

Ditanya oleh Beng San, anak itu hanya tertawa-tawa, kemudian ia menggandeng tangan Beng San, ditarik-tarik ke sebuah pohon. Memang di sekitar rumah gedung hartawan Kwi terdapat banyak pohon bunga yang beraneka warna. Sebagian besar dari pohon-pohon ini ikut terbakar, akan tetapi pohon besar di sebelah kanan gedung itu masih berdiri tegak dan pada saat itu di puncak pohon terdapat banyak kembangnya yang berwarna kuning.

Setelah tiba di bawah pohon itu, anak perempuan tadi melepaskan tangan Beng San, lalu sambil tersenyum ia menunjuk ke atas, ke arah kembang. Dengan jari-jari tangannya yang mungil serta terpelihara bersih itu, dia memberi tanda supaya Beng San mengambilkan bunga untuknya!

Ada rasa perih menusuk hati Beng San oleh gerakan-gerakan jari tangan ini. Ia menjadi terharu. Memang ketika pertama kali bertemu dengan anak perempuan ini serta melihat Song-bun-kwi memberi tanda dengan tangan, dia sudah menduga bahwa anak ini gagu.

Sekarang melihat anak ini mengajak dia ‘berbicara’ dengan gerakan-gerakan tangan, dia menjadi terharu sekali. Akan tetapi di samping keharuan ini, dia pun amat terheran-heran karena dia sudah pernah menyaksikan sendiri betapa gadis ini sangat lihai. Gerakannya cepat laksana burung, dan untuk mengambil bunga di pohon sedemikian saja tentu akan dapat dilakukannya sendiri, mengapa sekarang minta dia yang memetikkannya?

Betapa pun juga, melihat sepasang mata itu memandang penuh permintaan, dengan sinar yang lembut dan luar biasa itu, dia tidak kuasa menolaknya. la pun mengangguk sambil tersenyum, lalu seperti seekor kera, Beng San memanjat pohon itu naik ke atas.

Gerakannya ringan dan dia merasa amat mudah memanjat pohon Itu. Sebentar saja dia sudah sampai di puncak, lalu memetik setangkai bunga yang dianggapnya paling segar dan baik.

Sepasang mata anak itu bersinar-sinar ketika dia menerima kembang dari tangan Beng San. Dengan cekatan dipakainya kembang itu di atas rambutnya yang hitam, kemudian ia memasang gaya di depan Beng San, membalik ke sana ke mari seakan-akan hendak memamerkan kecantikannya dengan hiasan bunga di kepalanya itu. Setelah berputaran di depan Beng San, kemudian dia berdiri menghadapi Beng San, dan sepasang matanya seolah bertanya bagaimana pendapat Beng San setelah ia memakai kembang.

Mau tak mau Beng San tersenyum. Alangkah akan bahagianya kalau dia bisa mempunyai adik atau seorang teman semanis ini, semanja ini, yang begitu mengharukan sikap dan gerak-geriknya. Dia lalu tersenyum dan mengangkat ibu jari tangan kanannya tinggi-tinggi, tanda bahwa gadis cilik itu benar-benar jempol.

Gadis cilik itu mengerti gerakan ini. Sambil mengeluarkan suara yang mirip tawa, dia memegang kedua tangan Beng San, lalu mengajak Beng San berputar-putar menari di bawah pohon. Bukan main gembiranya gadis cilik itu, dia menari-nari dengan gerakan lincah sehingga mau tidak mau Beng San ikut pula menari-nari dan tertawa-tawa.

Selama hidupnya belum pernah dia merasakan kegembiraan seperti kali ini dan tak terasa pula dua butir air mata menitik turun ke atas pipinya. Kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa mendatangkan keharuan yang tak dapat ditahannya pula.

Tiba-tiba gadis itu berhenti, memandang kepada Beng San dengan matanya yang bening, penuh keheranan dan pertanyaan. Kemudian jari-jari tangannya diangkat ke atas, dengan halus diusapnya dua butir air mata itu dari pipi Beng San, lalu dia menggeleng-gelengkan kepala perlahan, seakan-akan hendak berkata bahwa Beng San tidak boleh menangis.

Dalam keadaan yang aneh ini, di mana tidak ada sepatah pun kata-kata keluar dari mulut kedua orang anak itu, Beng San seakan-akan dapat mengerti semua, seakan-akan dapat menjenguk isi hati dan membaca pikiran gadis cilik itu, bahwa gadis itu dapat pula merasai kesengsaraan dirinya, kesunyiannya, bahkan mereka itu senasib sependeritaan serta ada kecocokan yang membuat keduanya menaruh kasihan satu kepada yang lain.

Dari jauh terdengar suara melengking tinggi, suara tangisan. Gadis cilik berbaju merah itu menjadi pucat, tangannya dingin menggigil dan cepat sekali ia menarik tangan Beng San, diajaknya berlari-lari ke arah bekas rumah gedung yang sudah menjadi tumpukan puing. Dengan gerakan tiba-tiba gadis itu mendorong tubuh Beng Sang menerobos ke bawah tumpukan kayu-kayu hangus sambil menunjuk-nunjuk supaya anak itu bersembunyi.

Tadinya Beng San bingung tidak mengerti, akan tetapi setelah suara melengking itu makin dekat, dia mengerti apa artinya itu. Song-bun-kwi datang! Cepat dia lalu menyelundup ke bawah kayu dan arang, bersembunyi di bawah puing. Akan tetapi dasar dia seorang anak yang tabah dan nakal, dalam bersembunyi dia mengintai ke luar.

Suara melengking seperti orang menangis itu makin lama makin keras, lalu tiba-tiba saja berhenti, dan tahu-tahu di depan gadis itu sudah berdiri seorang laki-laki, Song-bun-kwi dengan muka kelihatan tak senang! Mukanya merah dan matanya melotot, dua tangannya menggerak-gerakkan jari-jari tangan sambil menatap wajah gadis cilik itu.

Anak perempuan itu nampak takut-takut, berkali-kali menggeleng kepalanya. Kembang di rambutnya ikut bergoyang-goyang dan ini agaknya yang menarik perhatian Song-bun-kwi. Sekali renggut dia telah menjambak rambut anak itu dan ditariknya kembang tadi.

Anak itu terpelanting dan tentu akan terbanting keras kalau saja tidak cepat-cepat poksai (bersalto) sehingga ia hanya terhuyung-huyung dan kaget saja. Matanya memperlihatkan sinar duka ketika kembang tadi hancur di tangan Song-bun-kwi.

Agaknya Song-bun-kwi tertarik sesuatu. Tanpa mempedulikan lagi anak perempuan itu, ia memandang ke atas tanah. Tiba-tiba dia membanting kaki. Demikian kerasnya bantingan kaki ini sampai Beng San yang berada di tempat yang jauhnya ada sepuluh meter dari situ merasa betapa tanah di bawahnya tergetar sehingga reruntuhan kayu di atasnya rontok ke bawah.

Kakek itu nampak semakin marah. Sambil menuding-nuding ke bawah kembali dia bicara dengan gerakan jari tangannya, agaknya ia memarahi anak perempuan itu atau bertanya tentang sesuatu. Anak itu kembali menggeleng-geleng kepalanya sambil menggerakkan jari tangannya.

Mendadak Song-bun-kwi menjambak rambut anak itu, mengguncang-guncang kepalanya sampai rambut anak itu terurai lepas, dan setelah itu kepala itu ditempeleng keras. Anak itu terpelanting roboh, akan tetapi cepat meloncat bangun.

Kedua mata anak itu mencucurkan air mata, mulutnya mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh... Hampir tak tertahankan lagi oleh Beng San. Kemarahannya memuncak dan andai kata dia tidak ingat akan ajaran-ajaran Lo-tong Souw Lee, pasti dia sudah meloncat keluar dan membela anak perempuan itu.

Walau pun dia dipukul mampus, asal dia sudah dapat memaki-maki Song-bun-kwi atas kekejamannya terhadap anak itu, puaslah dia. Giginya dikertakkan, bibirnya digigit sampai terasa sakit.

Saking marahnya, Song-bun-kwi sampai lupa bahwa anak perempuan itu gagu, dan dia membentak, "Beng San, di mana dia?!" Kembali dia mengancam dengan tangan hendak menggampar anak itu.

Tiba-tiba anak itu mengedikkan kepala dan seakan-akan rasa takutnya telah lenyap sama sekali. Matanya mengeluarkan sinar berapi, mulutnya setengah terbuka, kedua tangannya dikepal, napasnya terengah-engah, dan dengan beraninya dia maju menantang kakek itu. Mulutnya mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh, akan tetapi nadanya berbeda dengan tadi, kini penuh tantangan!

Beng San tadinya kagum bukan main. Tapi sekarang dia melongo karena melihat betapa kakek itu mendadak menjadi lemas, menjatuhkan diri berlutut kemudian memeluk anak itu sambil menangis tersedu-sedu!

Dan anak perempuan itu pun hilang kemarahannya. Dia memeluk kepala kakek itu sambil menangis tanpa bersuara. Pemandangan yang luar biasa mengharukan melihat kakek itu berlutut memeluk si gagu sambil menangis mengeluarkan suara yang tidak karuan, akan tetapi sayup-sayup terdengar juga oleh Beng San.

"... kau seperti ibumu... seperti ibumu..."

Dan anak perempuan yang tadi dijambaki dan ditempeleng kakek itu, yang tadinya amat marah seperti hendak melawan, sekarang menangis dan memeluk kepala kakek itu penuh kasih sayang.

“Bi Goat, lekaslah beri tahu di mana adanya anak setan itu," Song-bun-kwi berkata sambil mengelus-elus kepala anak perempuan yang gagu itu.

Anak itu menggelengkan kepalanya. Kakek itu kemudian menudingkan telunjuknya di atas tanah seperti hendak mendesak dengan pertanyaan bahwa ada bekas kaki Beng San di situ.

Semua kejadian ini terlihat oleh Beng San dan dengan hati berdebar dia mengintai terus. Anak perempuan yang bernama Bi Goat itu menggerak-gerakkan tangannya, kemudian menuding ke arah selatan. Kakek itu pun berdiri, menatap wajah itu tajam penuh selidik, agaknya tidak percaya. Tetapi anak itu menentang pandang matanya dengan tabah dan berani. Akhirnya kakek itu menggandeng tangan Bi Goat dan diajak berjalan pergi dan situ ke arah selatan.

Diam-diam Beng San memperhatikan terus. Ia melihat kakek itu dengan sudut matanya memperhatikan Bi Goat. Anak itu menoleh dan memandang ke arah bunga-bunga di atas pohon, agaknya teringat ketika Beng San memetikkan bunga untuknya tadi. Akan tetapi lirikan ini cukup untuk membuat Song-bun-kwi curiga.

Tubuhnya berkelebat dan sulingnya diputar. Bunga dan daun terbang berhamburan dan ketika tubuh kakek itu sudah kembali ke sebelah Bi Goat, pohon tadi telah gundul dan andai kata di dalamnya bersembunyi Beng San, tentu akan kelihatan jelas. Kakek itu lalu mengangguk-angguk kepada Bi Goat dan melanjutkan perjalanan sambil menggandeng tangan anak gagu itu.

Beng San bergidik. Bukan main lihainya kakek itu. Kalau saja tadi Bi Goat melirik ke tempat dia bersembunyi, sekali saja, tentu kakek itu akan dapat menemukannya. Ia tahu bahwa dialah yang sedang dicari.

Bukan hanya Song-bun-kwi yang mencarinya dan membutuhkannya, juga bukan Hek-hwa Kui-bo. Menurut dugaan Lo-tong Souw Lee, setiap orang kang-ouw apa bila mendengar bahwa Beng San mewarisi Im-yang Sin-kiam-sut dan tahu di mana adanya Lo-tong Souw Lee, pasti akan berusaha menangkap anak ini.

Tidak hanya hendak memaksanya membuka rahasia Im-yang Sin-kiam-sut, akan tetapi juga hendak memaksanya membuka rahasia tempat persembunyian kakek yang buta itu. Untung anak gagu itu ternyata amat baik, dan sengaja melindunginya.

Diam-diam Beng San berterima kasih sekali kepada Bi Goat. Juga dia amat kasihan pada anak gagu itu yang agaknya diperlakukan dengan kejam dan keras oleh Song-bun-kwi Malah menurut dugaannya, anak itu dilarang bermain dengan siapa pun juga.

Buktinya, dahulu ketika anak itu diajak bermain-main oleh beberapa anak penggembala, Song-bun-kwi marah-marah. Penggembala-penggembala itu bersama kerbau-kerbaunya lantas dibunuhnya semua! Beng San menarik napas panjang dan diam-diam dia berjanji kepada diri sendiri bahwa kalau dia mempunyai kepandaian melawan Song-bun-kwi, dia akan menolong anak gagu itu.

Tentu saja Beng San sama sekali tidak tahu bahwa renungannya ini sebetulnya sangat menggelikan. Mengapa? Karena anak itu, yang bernama Kwee Bi Goat, bukan lain adalah anak Song-bun-kwi. Bukan murid, bukan pula anak angkat, melainkan anak kandung dari isterinya sendiri yang telah meninggal dunia, selagi Bi Goat berusia kurang dari tiga tahun.

Ternyata Bi Goat, anak cantik mungil berbaju merah itu, yang senyumnya begitu manis, ramah dan menawan, adalah anak kandung Song-bun-kwi, Setan Berkabung yang kejam luar biasa….


BERSAMBUNG KE Raja Pedang Jilid 10


Raja Pedang Jilid 08

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

RAJA PEDANG JILID 08

Sebelum mereka meninggalkan dusun itu, lebih dahulu Kwee Sin singgah di Sin-yang, ke rumah Bun Si Teng dan Bun Si Liong. Kim Li tidak mau turut dan hendak menanti di luar kampung. Hal ini malah dianggap suatu kebetulan oleh Kwee Sin, karena dia sendiri juga merasa sungkan dan malu terhadap kedua suheng-nya kalau mereka ini tahu bahwa dia hendak melanjutkan perjalanan bersama seorang gadis cantik.

Bun Si Teng dan Bun Si Liong yang sudah sembuh, merasa gembira dan lega melihat munculnya Kwee Sin. Tadinya dua orang suheng ini merasa amat khawatir karena sudah beberapa hari sute ini tidak muncul.

Bun Si Teng malah sudah menyusul ke dalam hutan dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika di tengah hutan itu dia mendapatkan mayat Thio Sian ditangisi oleh seorang anak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun! Selagi dia terlongong dan heran karena tidak melihat sute-nya di dekat tempat itu, terdengar suara keras, disusul berkelebatnya bayangan tinggi besar dan di lain saat, mayat bersama gadis cilik itu telah lenyap dari situ.

Bun Sin Teng kaget dan berlari mengejar ke arah berkelebatnya bayangan. Akan tetapi dia hanya melihat dari jauh seorang hwesio tinggi besar memondong gadis kecil itu sambil mengempit mayat Thio Sian, berjalan dengan langkah lebar akan tetapi cepat bagaikan terbang!

Melihat tangan kiri hwesio itu memanggul sebatang dayung, Bu Si Teng menjadi pucat karena dia pernah mendengar tentang seorang sakti yang menjadi orang nomor satu di dunia timur, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang. Apa betul pertapa yang puluhan tahun tak pernah turun gunung itu sekarang tiba-tiba muncul di situ?

Setelah mendengar cerita Kwee Sin yang sudah berhasil merobohkan Thio Sian dengan pertolongan seorang nona pendekar yang bernama Coa Kim Li, dua orang saudara Bun itu menarik napas lega.

"Sungguh sayang sekali bahwa kita dihadapkan dengan kenyataan yang mengecewakan dan amat pahit. Pek-lian-pai yang tadinya kita anggap sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang berjiwa patriotik, kini ternyata hanyalah merupakan perkumpulan orang-orang jahat belaka. Sute, kau harus memberi laporan yang jelas kepada suhu, agar orang tua itu tenang hatinya dan tidak akan menyalahkan kita kalau kita tidak membantu Pek lian-pai," kata Bun Si Teng kepada sute-nya.

Setelah menyatakan bahwa dia hendak lekas-lekas kembali Kun-lun-pai sesudah singgah di Lam-bi-chung seperti yang dipesankan suhu-nya, Kwee Sin pergi meninggalkan dusun Sin-yang, berjalan cepat sekali keluar kampung untuk menjumpai sahabat barunya, nona Coa Kim Li. Akan tetapi dia menjadi kaget dan kecewa, juga gelisah karena tidak melihat nona itu yang tadi duduk menantinya di bawah sebatang pohon.

"Aduh, celaka ke mana dia? Jangan-jangan aku sudah dia tinggalkan. Jangan-jangan dia kesal karena aku tadi terlalu lama di rumah suheng..."

la duduk di bawah pohon itu dengan kening berkerut. Mendadak terdengar suara ketawa dari belakang pohon. Kwee Sin cepat melompat dan menengok, wajahnya lantas berseri dan matanya bersinar-sinar.

“Kim Li...!" Saking girangnya melihat nona itu ternyata tidak pergi meninggalkannya, Kwee Sin memegang kedua lengannya dan hampir saja dia merangkulnya.

Kim Li tersenyum dan matanya bersinar-sinar.

"Kwee-koko, kenapa kau tadi bermuram di bawah pohon?" Kim Li menggoda.

"Kukira kau telah pergi meninggalkan aku."

“Ehh, jadi kau sedih kalau kutinggalkan?”

"Sedih...? Tentu saja... ehh, aku... aku..." Kwee Sin baru merasa bahwa tanpa disadarinya dia telah kena umpan sehingga perasaan hatinya sudah dipancing keluar.

Kim Li tertawa, menarik lengan Kwee Sin dan berkata, "Sudahlah, hayo kita melanjutkan perjalanan."

Kwee Sin tersenyum-senyum, membiarkan saja tangannya digandeng sehingga mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan, bagai sepasang kekasih. Tanpa dia sadari, Kwee Sin sudah mulai roboh, masuk ke dalam perangkap yang dipasang gadis cantik itu. Terlalu pandai Kim-thouw Thian-li memikat dengan wajahnya yang cantik ataukah terlalu hijau Kwee Sin dalam menghadapi kelihaian siasat wanita cantik?

Dengan melalui perjalanan yang penuh kegembiraan bagi Kwee Sin, kegembiraan hidup yang baru kali ini dia rasakan, akhirnya mereka tiba di Telaga Pok-yang. Mereka berdua, seperti sepasang pengantin baru, berpesiar naik perahu di telaga ini.

Sering kali Kwee Sin terheran-heran melihat bahwa gadis ini ternyata memiliki pengaruh besar di mana-mana. Pada waktu hendak memasuki daerah telaga, tampak serombongan tentara yang mencegat para pelancong, lalu memeriksa dengan teliti. Memang daerah ini terkenal sebagai daerah para tokoh pemberontak, maka pemerintah Mongol mengadakan penjagaan yang teliti. Akan tetapi ketika mereka ini melihat Coa Kim Li, mereka memberi hormat dan tidak mengganggu gadis itu bersama Kwee Sin.

Dalam keheranannya, Kwee Sin bertanya apa sebabnya gadis ini seakan-akan memiliki kekuasaan. Namun Kim Li hanya tersenyum dan berkata, "Cacing-cacing tanah macam mereka masih dapat mengenal orang baik-baik, itu masih untung. Andai kata tadi mereka berani mengganggu kita berdua, apakah mereka akan dapat hidup terus dengan kepala menempel di leher?"

Karena pandainya Kim Li menjawab dan menyimpan pertanyaan, pandainya ia merayu, Kwee Sin tidak mendesak lebih jauh. Mereka berpesiar sampai puas di Telaga Pok-yang yang amat indah itu. Sama sekali Kwee Sin tidak tahu bahwa gerak-geriknya di telaga ini diketahui oleh calon mertuanya, Liem Ta ayah Liem Sian Hwa!

Dan seperti sudah dituturkan di bagian depan, Liem Ta pulang sambil marah-marah dan menyatakan di depan puterinya bahwa pertunangan dengan Kwee Sin diputuskan!

Pada saat Kwee Sin menyatakan keinginannya kepada Kim Li untuk menengok ke dusun Lam-bi-chung, ke rumah calon isterinya, Kim Li tersenyum pahit dan berkata, "Guru adalah setingkat dengan ayah, kata-katanya harus ditaati. Engkau hendak mentaati pesan gurumu, pergilah kau singgah ke rumah keluarga Liem. Akan tetapi aku tidak bisa ikut pergi ke sana. Selamat berpisah, Kwee-koko. Harap engkau tidak melupakan Coa Kim Li!" Setelah berkata demikian, sekali meloncat gadis itu lenyap dari depan Kwee Sin.

Pemuda ini menyesal sekali dan hendak mengejar, akan tetapi dia maklum bahwa tidak mungkin dia mengejar Coa Kim Li yang berkepandaian lebih tinggi dari padanya. Dengan kecewa, kehilangan kegembiraan dan malas-malasan, kemudian dia pergi seorang diri ke Lam-bi-chung.

Karena masih mengharapkan untuk dapat melihat Kim Li kembali ke Po-yang, dia tidak meninggalkan telaga itu sebelum menanti sampai tiga hari. Ia baru pergi ke Lam-bi-chung setelah pada hari ke empat dia masih belum melihat kembali Kim Li. Dengan hati berat dia berjalan ke dusun Lam-bi-chung untuk menengok rumah Liem Sian Hwa.

Akan tetapi, apa yang dia dapatkan di rumah itu? Rumah yang tertutup dan tidak ada penghuninya. Masih ada tanda-tanda berkabung di depan pintu rumah kosong itu. Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika dia mendapat keterangan dari para tetangga bahwa calon mertuanya, Liem Ta, telah didatangi penjahat dan terbunuh ketika Liem Sian Hwa sedang pergi!

Sudah dituturkan di bagian depan bahwa Liem Sian Hwa menyusul ke Pok-yang untuk membuktikan dengan mata kepalanya sendiri penuturan ayahnya tentang Kwee Sin dan seorang wanita. Sayang bahwa dia tidak bertemu dengan dua orang itu dan ketika dia pulang, ayahnya sudah terluka dan tewas.

Kita kembali kepada Kwee Sin yang menjadi kaget dan berduka sekali. Dia mendapat keterangan lagi bahwa sesudah kematian ayahnya, Liem Sian Hwa lalu pergi bersama seorang laki-laki gagah perkasa yang disebut suheng-nya. Kwee Sin dapat menduga bahwa Liem Sian Hwa tentulah pergi bersama seorang di antara tiga orang suheng-nya, yakni orang-orang dari Hoa-san Sie-eng.

"Betapa pun juga, aku harus mencarinya," pikir Kwee Sin. "Kasihan sekali Sian Hwa, aku harus menyatakan penyesalanku dan menghiburnya."

Dalam berpikir demikian ini dia membayangkan wajah Sian Hwa. Akan tetapi heran sekali wajah gadis itu berangsur-angsur berubah menjadi wajah Kim Li yang tersenyum-senyum dan membujuk rayu! Cepat dia mengerahkan tenaga mengusir wajah Kim Li dan pipinya menjadi kemerahan.

“Ahh, kalau saja tidak berlambat-lambat dengan Kim Li dalam perjalanan, kalau aku dapat datang di Lam-bi-chung beberapa pekan lebih dulu, kiranya aku akan dapat mencegah terjadinya pembunuhan atas diri calon mertuaku!” pikirnya.

Makin berat rasa hati Kwee Sin ketika dia melanjutkan perjalanan meninggalkan Lam-bi-chung. Tadinya dia sudah merasa kecewa dan murung karena Kim Li meninggalkannya secara demikian saja tanpa memberi tahu di mana dan kapan dia dapat bertemu kembali dengan gadis itu. Sekarang di tambah lagi dengan peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarga calon isterinya, hati Kwee Sin menjadi sedih dan dia lalu mengambil keputusan untuk kembali saja ke Kun-lun-san.

Pada suatu senja dia sampai di luar kota Leng-ki. Di jalan itu sunyi sekali, tidak tampak seorang pun manusia. Kwee Sin berjalan dengan kepala tunduk. Dalam beberapa hari ini wajahnya nampak kurus dan agak pucat.

Tiba-tiba dia mendengar ada benda menyambar ke arahnya. Sebagai seorang jago muda yang berkepandaian tinggi, keadaan tubuh pemuda ini selalu dalam keadaan siap siaga. Cepat dia miringkan tubuhnya dan tangannya otomatis menangkis, menyampok sambaran benda itu.

Sebelum melihat ke arah benda yang dapat dia pukul jatuh, dia trengginas melompat ke arah dari mana benda tadi menyambar, matanya tajam mencari-cari. Akan tetapi tidak terlihat seorang pun manusia di sekitar tempat itu yang sudah mulai gelap itu.

Kini perhatiannya ditujukan ke arah benda yang menyambarnya tadi. Benda itu segumpal kertas. Ketika dia memungutnya, ternyata kertas yang digumpal-gumpal itu berisi tulisan singkat, tulisan tangan yang halus dan berbunyi:

PERGILAH KE LOSMEN KECIL MALAM INI.

Tak ada tanda-tanda yang dapat dia kenal pada kertas itu, entah siapa yang menulisnya. Akan tetapi ketika hidungnya mencium wangi harum pada kertas itu, hatinya berdebar penuh harapan. Harum kertas itu mengingatkan dia akan diri Coa Kim Li! Pergi ke losmen kecil? Losmen manakah?

Kwee Sin memandang ke depan. Di depan itu terdapat sebuah kota kecil, tentu di situlah yang dimaksudkan adanya losmen kecil. Mengapa ke situ? Menemui siapa? Timbul pula harapannya.

Tentu Coa Kim Li berada di losmen itu. Akan tetapi kenapa meninggalkan pesan supaya dia malam ini juga harus pergi ke sana? Kalau gadis itu betul-betul berada di sini, kenapa tidak langsung menemuinya?

Akan tetapi, jawaban atas semua pertanyaan ini yang merupakan kenyataan apa yang dia dapatkan di losmen kecil dalam kota Leng-ki, benar-benar di luar dari pada dugaannya semula. Dia mendengar bahwa tunangannya, Liem Sian Hwa, bersama Kwa Tin Siong orang tertua dari Hoa-san Sie-eng sedang berada di losmen itu!

Timbul juga kegembiraannya untuk menjumpai tunangannya dan pendekar Hoa-san-pai ini, akan tetapi diam-diam dia menaruh hati curiga. Apa maksudnya surat yang dia terima secara aneh di tengah jalan tadi? Siapakah si pengirim surat itu? Apakah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa? Kalau memang mereka ini, tidak aneh karena dia maklum bahwa jago-jago Hoa-san-pai memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi apa maksudnya? Dengan cara yang penuh rahasia itu tentu mereka bermaksud supaya dia mengunjungi mereka secara diam-diam dan rahasia pula.

Oleh karena pikiran ini, Kwee Sin menunggu sampai datangnya malam yang sunyi dan secara rahasia dia mendatangi losmen, langsung mencari jalan melalui taman bunganya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget, heran, marah dan malunya pada saat dia menyaksikan adegan yang membuat darahnya mendidih.

la melihat Liem Sian Hwa terisak-isak berada dalam pelukan Kwa Tin Siong. Api cemburu membakar jantung Kwee Sin. Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung mengeluarkan sisir perak yang menjadi tanda pengikat perjodohannya dengan Liem Sian Hwa, kemudian dia melemparkan sisir perak itu ke arah dua orang yang sedang berpelukan di taman. Setelah itu dia meloncat dan pergi menghilang di dalam gelap.

Dengan hati makin berat dan penuh kedukaan, penuh kekecewaan, Kwee Sin pada saat itu juga meninggalkan kota Leng-ki, melanjutkan perjalanannya menuju ke Kun-lun-san. la tidak beristirahat malam itu, semalam penuh dia terus saja berjalan, dalam hatinya penuh penyesalan.

Selagi dia berjalan sambil melamun di atas jalan raya yang sunyi, di waktu malam mulai berganti fajar, dia mendengar suara kaki banyak kuda berlari cepat dari arah belakang. la cepat minggir dan berdiri memandang.

Tujuh ekor kuda dengan para penunggangnya berlari cepat sekali dan sebentar saja telah melewatinya. Mereka adalah orang-orang yang kelihatan gagah, yang tiga orang berbaju putih. Seorang yang melarikan kuda paling depan adalah seorang wanita cantik dan juga gagah. Hanya sekejap saja mereka melewati jalan itu, akan tetapi di dalam cuaca yang remang-remang itu Kwee Sin masih dapat mengenal wanita tadi.

"Kim Li...!" teriaknya. Akan tetapi teriakannya tertelan oleh derap kaki kuda.

Betapa pun juga dia masih sempat melihat wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, lalu makin membalapkan kudanya tanpa memberi isyarat sesuatu.

Kwee Sin penasaran. Tidak mungkin salah lagi, wanita itu tentulah Kim Li. Tidak saja dia mengenal wajah yang cantik itu, mata yang tajam bersinar, akan tetapi ia pun mengenal baik-baik senyum manis Kim Li, senyum yang selama ini menjatuhkan hatinya. la lantas melupakan kelelahan dan kesedihannya, mempercepat larinya dan mengejar ke arah para penunggang kuda yang makin lama semakin jauh itu.

Sepertl telah dituturkan di bagian depan, Kwee Sin akhirnya memasuki dusun Kui-lin di tepi Sungai Yang-ce, dan dia sempat mencegah Coa Kim Li atau Kim-thouw Thian-li yang hendak membunuh Tan Hok.

Demikianlah keadaan Kwee Sin, jago termuda dari Kun-lun Sam-heng te, dan bagaimana dia sampai dapat berkenalan dengan Kim-thouw Thian-li yang dia kenal sebagai gadis Coa Kim Li yang gagah perkasa, cantik jelita, dan menarik hatinya….

**********

Kita kembali ke warung arak Phang Kwi di mana Kwee Sin bertemu kembali dengan Kim Li. Setelah mencegah Kim Li membunuh Tan Hok, Kwee Sin bagai seekor kerbau menurut saja dituntun oleh Kim Li duduk menghadapi meja dan menerima hidangan dari Phang Kwi yang nampaknya takut sekali terhadap Kim Li.

"Minumlah, Koko, minumlah arak ini dan bergembiralah. Setelah aku kembali berada di sampingmu, tak perlu kau bermuram durja lagi. Wanita tidak setia seperti dia itu lebih baik kau lupakan saja." Kim Li membujuk sambil mengisi penuh cawan arak di depan Kwee Sin, lalu mengangkat cawan itu diberikannya kepada Kwee Sin. Sikapnya amat menarik, matanya memandang penuh kasih dan mulutnya tersenyum-senyum manis.

Kwee Sin melengak. “Kau sudah tahu...?”

Kim Li mengangguk dan baru ia melihat bahwa gadis itu sekarang membawa golok tipis kecil yang terselip di punggungnya, selendang merah yang harum indah itu tergantung di ikat pinggang. Bajunya berkembang terbuat dari sutera mahal yang indah dan mencetak tubuhnya. Rambutnya yang panjang hitam digelung rapi, dihiasi setangkai bunga teratai yang sangat aneh warnanya, karena ada merahnya, ada putihnya, ada biru, kuning dan kehijauan, terbuat dari mutiara-mutiara pilihan. Nampak cantik jelita dengan pipinya yang merah.

"Kalau begitu... kau pula agaknya yang mengirim surat kepadaku...?"

Kembali Kim Li mengangguk. "Melihat bahwa wanita pilihan gurumu itu tidak patut menjadi pendampingmu selama hidup, aku tidak tega mendiamkan begitu saja. Aku merasa kau perlu mengetahui dengan mata kepala sendiri."

"Kenapa kau berlaku secara rahasia, tidak langsung menjumpai aku?"

Kim Li memegang lengan Kwee Sin dengan sentuhan mesra. "Aku khawatir kalau aku muncul, kau mengira aku cemburu."

Kwee Sin menarik napas panjang dan Kim Li kembali membujuk, "Sudahlah, Koko, kau lupakan saja dia. Setelah kita berkumpul lagi, mengapa susah-susah? Mari minum!"

Karena hiburan serta sikap manis dari gadis ini, Kwee Sin terhibur juga dan tidak lama kemudian dua orang itu sudah minum sepuas-puasnya sambil bertukar pandang penuh cinta kasih, malah Kwee Sin telah bangkit kembali kegembiraannya, mau melayani senda gurau wanita itu.

Baik Kwee Sin mau pun Kim Li sama sekali tak pernah mengira bahwa semua perbuatan mereka semenjak tadi sudah diintai orang. Setelah mendapat pertolongan dari Kwee Sin, dan walau pun kelihatannya tadi sudah pergi, akan tetapi diam-diam Tan Hok merayap datang kembali secara diam-diam.

Dia amat sakit hati terhadap Kim-thouw Thian-li yang sudah membunuh Tan Sam, akan tetapi ia juga amat berterima kasih kepada Kwee Sin yang telah menolongnya. Alangkah kecewa, marah, dan menyesalnya ketika dia melihat betapa Kwee Sin yang sekarang dia tahu dari namanya ternyata seorang jago muda gagah perkasa dari Kun-lun-pai itu, jatuh hati kepada Kim-thouw Thian-li.

Pemandangan yang dia lihat di dalam warung arak itu membuat hatinya menjadi jemu dan kesedihannya timbul. Tadinya dia hendak mengharapkan bantuan dari Kwee Sin, kiranya pemuda Kun-lun-pai itu sudah bertekuk lutut di bawah kaki Kim-thouw Thian-li, tak kuasa menentang kecantikan wanita berbahaya itu! Dengan hati sedih Tan Hok malam-malam pergi dari tempat itu. Matanya yang biasanya sayu itu kini menjadi basah air mata.

Sejak kecil Tan Hok tidak pernah mengenal orang tuanya, hidup sebatang kara. Setelah Tan Sam memungutnya, barulah dia mengenal sedikit kesenangan hidup. Sekarang Tan Sam tewas dan dia tidak berdaya membalas dendam. Meski pun Tan Hok menjadi murid dan kawan Tan Sam yang menjadi tokoh Pek-lian-pai dan luas pengalamannya, namun pemuda ini memang pada dasarnya bodoh dan jujur, malah hatinya penuh oleh kedukaan yang dideritanya semenjak kecil.

Bagaikan sebuah layangan putus talinya, tanpa pegangan tanpa tujuan, Tan Hok berjalan ke mana saja kakinya bergerak. Kadang-kadang dia menangis tanpa suara, kadang kala dia menangis menggerung-gerung seperti anak kecil….

**********

Di masa itu kehidupan rakyat jelata di Tiongkok amat sengsara. Keadaan pemerintahan kacau-balau, para pembesar hanya mementingkan isi sakunya sendiri tanpa peduli akan keadaan rakyat sama sekali. Pembesar-pembesar saling memperebutkan kekuasaan dan kedudukan dalam kehausan rnereka akan pangkat dan kemuliaan duniawi.

Pemerintah penjajah kurang memperhatikan keadaan rakyat. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya raya menggunakan harta kekayaannya untuk menghisap yang miskin, yang berkuasa mempergunakan kedudukannya untuk mencekik si kecil.

Rakyat yang terkekang oleh belenggu penjajahan bangsa Mongol mulai berteriak dan melakukan perlawanan. Di mana-mana timbul pemberontakan dan rakyat kecil pulalah yang menderita. Semua ini ditambah lagi dengan datangnya musim kering yang sangat hebat sehingga kelaparan merajalela.

Di sebelah utara Propinsi Shen-si rakyat amat menderita oleh panjangnya musim kering. Sawah-sawah kering merekah, pecah-pecah tidak mungkin dapat ditanami. Sungai-sungai kecil kehilangan sumbernya, telaga-telaga kelihatan dasarnya, pohon-pohon kehilangan daunnya. Manusia dan binatang kurus-kurus kekurangan makanan, setiap hari banyak orang dan binatang mati kelaparan.

Rakyat pun menjerit, ratap tangisnya membubung ke angkasa, bersambat kepada Tuhan. Setiap hari orang bersembahyang, minta hujan, minta perlindungan, minta-minta dengan ratap tangis yang tak berdaya. Namun di lain tempat, di kota-kota besar, para pembesar dan hartawan berpesta pora. Mereka seakan-akan berlomba menghamburkan arak dan gandum, bersenang-senang, seujung-rambut pun tak pernah teringat kepada Tuhan!

Sayang, Tuhan hanya dijadikan sebagai tempat pelarian bagi mereka yang menderita. Sayang, Tuhan hanya diingat oleh manusia setelah mereka itu membutuhkan pertolongan dari kesengsaraan duniawi. Lebih patut disayangkan pula, di dalam keadaan menderita, orang mengeluh mengapa Tuhan meninggalkannya, lupa sama sekali bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia, sebaliknya manusialah yang meninggalkan Tuhan sampai jauh, sampai tersesat dan akhirnya mereka kehilangan Tuhan.

Bagaikan orang yang menyia-nyiakan obor dan membuang-buangnya di waktu hari masih terang, kemudian kebingungan meraba-raba, mencari-cari obor di kala malam gelap tiba
.

Penduduk di daerah kering ini sudah banyak yang meninggalkan kampung halaman, dan berbondong-bondong mengungsi ke selatan di mana daerahnya lebih mendingan apa bila dibandingkan dengan daerah utara.

Akan tetapi sungguh patut dikasihani para petani miskin ini. Di daerah baru mereka justru dianggap sebagai pengganggu. Mereka itu baru bisa mendapatkan sekedar pengisi perut setelah tenaga mereka diperas melebihi tenaga kuda. Tidak heran apa bila dusun-dusun di utara ini banyak yang kosong ditinggalkan penduduknya sehingga merupakan daerah mati.

Pada suatu pagi, seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa memasuki sebuah dusun yang cukup besar. la merasa heran sekali melihat dusun ini sunyi senyap, banyak rumah-rumah kosong ditinggalkan penduduknya. Ia sudah merasa lapar sekali, akan tetapi tidak melihat sebuah pun rumah makan.

Pemuda ini bukan lain adalah Tan Hok. Dipikirnya bahwa penduduk sepagi itu agaknya sudah pergi ke sawah, maka dia lalu keluar lagi dari dusun itu menuju ke sawah untuk menemui penduduk dan minta diberi makan. Tetapi apa yang dia lihat di sawah membuat dia bergidik. Sawah mengering, sunyi senyap.

Tiba-tiba dia melihat benda-benda yang membuat dia makin bergidik. Benda-benda yang menggeletak di sepanjang jalan dusun itu bukan lain adalah mayat orang-orang yang mati kelaparan, bahkan ada yang sudah berbau busuk. Dengan hati cemas ketakutan Tan Hok menjauhkan diri. la segera berlari menuju ke tengah sawah di mana dia mendengar suara orang berteriak-teriak. Ketika sudah dekat, pemuda ini berdiri seperti patung, matanya terbelalak memandang penglihatan di tengah sawah yang tanahnya mengering itu.

Di sana, di tengah sawah, dia melihat seorang kakek berlutut, menangis dan tertawa-tawa tak karuan, jelas bahwa orang itu sudah berubah ingatannya. Kakek ini kurus bukan main, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya compang-camping, wajahnya seperti tengkorak hidup. Dengan dua tangannya kakek ini menggenggam tanah kering dan berteriak-teriak.

"Thian (Tuhan), kepada siapa aku harus mengeluh? Kepada siapa lagi aku dapat minta tolong kalau Kau sendiri sudah menutup telinga, menutup mata terhadap penderitaanku?" Dia menangis terguguk-guguk, kemudian matanya menjadi beringas dan tiba-tiba saja dia tertawa-tawa terkekeh-kekeh.

"Ha-ha-ha! Ibu tanah... kau yang memberi kehidupan. Kau yang menghasilkan makanan, kau yang mengeluarkan air. Sekarang engkau tidak mau memberi air dan makanan, apa salahnya kalau aku memakan kau? Ha-ha-ha-ha, semua bahan makanan datangnya dari tanah, mustahil tanah tidak mengenyangkan perut!"

Sambil tertawa-tawa orang itu lalu makan tanah kering yang dia kepal tadi! Sungguh amat menyayat hati melihat orang ini. Makan tanah kering sambil tertawa dan kadang-kadang menangis tanpa mengeluarkan air mata.

Mulutnya sudah mengering karena dijejali tanah kering yang dimakan secara lahap itu, membuat dia tercekik, terengah-engah, megap-megap seperti ikan dilempar ke darat. Dia memegangi leher, memekik-mekik, berputaran lalu jatuh berkelojotan!

Tan Hok cepat lari menghampiri dan... dia melihat kakek itu sudah putus nyawanya. Kakek itu mati dengan mata melotot lebar, dan mulut yang penuh tanah kering itu ternganga menyeringai. Tan Hok merasa ngeri dan menutupi mukanya, tak terasa air mata mengalir di antara celah-celah jari tangannya.

"Thian Yang Maha Kuasa, mengapa aku yang sudah banyak menderita ini masih harus menyaksikan ini semua...?"

la berlutut dekat mayat kakek itu dan menangis. Kemudian dia dapat menguasai hatinya, lalu digalinya lubang di sawah itu dan dikuburnya mayat kakek tadi.

"Kakek, mudah-mudahan tubuhmu akan menyuburkan tanah ini...," doanya.

Kemudian pemuda raksasa ini mengubur pula empat mayat lainnya yang menggeletak di tepi jalan. Selagi dia mengubur mayat terakhir, tiba-tiba dia mendengar suara keras dan belasan orang dusun datang berlari-lari ke arahnya.
cerita silat karya kho ping hoo

Mereka itu membawa segala macam senjata tajam alat-alat pertanian. Dengan muka mengancam mereka datang menyerbu sambil berteriak-teriak.

"Siluman pemakan bangkai!"
"Bikin mampus iblis jahat ini!"

Belasan batang senjata bagai hujan datang menghantam ke arah Tan Hok yang menjadi terheran-heran. Akan tetapi, sekali sampok saja dengan lengannya yang besar dan penuh tenaga itu, semua senjata lalu terpental dan terlempar disusul teriakan-teriakan kaget dan kesakitan. Tan Hok tidak tega menggunakan kekerasan terhadap orang-orang ini, yang ternyata adalah orang-orang kurus pucat yang mirip setan-setan kelaparan.

"Kalian ini setan-setan gila datang-datang menyerangku apa sebabnya?" tanya Tan Hok dengan suaranya yang menggeledek.

"Kaulah setan pemakan bangkai!" seorang di antara mereka memberanikan diri memaki.

"Aku tak pernah makah bangkai!" jawab Tan Hok.

Orang-orang itu memandang penuh perhatian, agak ragu-ragu. "Habis, mayat-mayat tadi kau apakan?"

"Aku kubur mereka. Kalian lihat, ini yang terakhir." la menuding ke arah lubang yang dia gali di mana mayat terakhir telah dia masukkan.

Orang-orang itu lalu melongok ke dalam lubang. "Apa tubuhnya masih utuh? Apa tak ada bagian yang dimakannya?" Demikianlah mereka bertanya-tanya.

Ketika melihat bahwa mayat itu memang masih utuh badannya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut, ada yang menangis dan ada pula yang minta ampun.

Seorang kakek yang mengepalai mereka lalu berkata, "Orang muda yang gagah, harap ampunkan kami sekalian. Kami telah salah sangka..."

”Kasihan kami orang-orang kelaparan...," kata orang ke dua.

Tan Hok menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengomel, "Kalian ini orang-orang gendeng, mengganggu saja!"

Dia lalu lanjutkan pekerjaannya, menguruk lubang dengan tanah galian. Orang-orang itu tanpa diperintah membantu. Akan tetapi tubuh mereka yang lemah itu memang tidak kuat untuk dipakai bekerja berat.

Kakek yang memimpin rombongan ini berkata, "Sudah banyak teman kami mati kelaparan dan sepekan yang lalu ada orang kelaparan gila yang suka makan bangkai saking tidak kuat menahan laparnya. Kami klra kau itulah orangnya..."

Tergerak juga hati Tan Hok mendengar ini, meski pun dia tidak dapat mengerti mengapa orang-orang itu sampai kelaparan dan mengapa ada orang sampai makan bangkai orang dan bahkan tadi dia melihat sendiri ada orang makan tanah.

"Kalau kalian kelaparan, kenapa tidak makan?”

Orang-orang itu saling pandang, kemudian mereka semua memandang kepada Tan Hok dengan heran. Melihat wajah Tan Hok membayangkan kebodohan, kakek tua itu menarik napas panjang dan berkata,

"Orang muda, kau menyuruh kami makan, tetapi apa yang dimakan? Musim kering terlalu hebat, tanah menjadi kering, semua tanaman habis. Yang mempunyai simpanan gandum hanyalah pembesar-pembesar dan orang-orang kaya. Orang-orang seperti kami ini mana ada simpanan? Semua orang terpaksa mengungsi ke selatan, hanya kami yang tak punya apa-apa terpaksa tinggal di sini."

"Jadi ada pembesar dan orang kaya di sini?"

"Pembesar sih tidak ada, orang-orang kaya juga tidak banyak. Tapi yang paling kaya dan paling kikir adalah Kwi-wangwe (hartawan Kwi), tuan tanah terkaya di sini."

"Kenapa tidak minta makan padanya?"

"Uuuhhh minta makan? Orang muda, dia itu amat kikir, jangankan dimintai, dipinjami saja tidak mau memberi. Kami bahkan diusir dan dikeroyok oleh anjing-anjingnya, anjing kaki empat dan kaki dua."

"Ada anjing kaki dua?" Tan Hok benar-benar terheran.

Kembali orang-orang itu saling pandang. Agaknya makin jelas bagi mereka bahwa orang muda yang tinggi besar seperti raksasa ini kelebihan tenaga akan tetapi kekurangan otak.

"Orang muda, Kwi-wangwe selain memelihara anjing-anjing kaki empat, juga dia dilindungi oleh tukang-tukang pukulnya. Malah semua pembesar di kota-kota yang berdekatan juga melindunginya. Siapa berani terhadapnya?"

"Hemmm, aku berani! Kalian lapar? Aku pun lapar. Hayo kita pergi ke rumah anjing she Kwi itu. Aku akan paksa dia keluarkan makanan untuk kita."

Bangkit semangat orang-orang itu. Mereka sudah tahu bahwa pemuda raksasa ini adalah seorang yang kuat dan pandai ilmu silat, hanya sayang wataknya aneh dan agak bodoh.

"Orang muda, penjagaan di rumah Kwi-wangwe kuat sekali. Apa kau tidak takut?" Kakek itu masih mencoba untuk menakutinya.

"Aku Tan Hok tak kenal takut. Mendiang suhu bilang bahwa orang tidak perlu takut kalau membela si lemah dan menegakkan keadilan. Orang she Kwi itu gandumnya berlebihan, kalian sebaliknya kelaparan, ini tidak adil namanya. Mari, antarkan aku!"

Sikap dan ucapan Tan Hok membangkitkan semangat orang-orang yang kelaparan itu, dan rombongan ini lalu menuju ke rumah Kwi-wangwe. Di sepanjang jalan yang sunyi rombongan ini terus bertambah besar dan akhirnya semua sisa penduduk dusun itu yang berjumlah dua puluh orang lebih berada di dalam rombongan.

Orang-orang yang tadinya berputus harapan ini timbul keberaniannya sesudah mereka dibela oleh pendekar muda Tan Hok. Betapa pun juga, setelah mereka sampai di depan gedung besar milik Kwi-wangwe, gedung dan pagar tembok yang tinggi tebal, dan melihat empat orang tukang pukul menjaga di depan pintu pagar tembok, keberanian mereka mendadak lenyap dan orang-orang ini bersembunyi di belakang Tan Hok.

Melihat sikap pengecut ini, lenyap kesabaran Tan Hok. "Hayo kalian maju dan nyatakan kehendak hati kalian. Takut apa?" serunya.

Kakek tadi bersama dua orang temannya lalu memberanikan diri mendekati pintu pagar tembok.

"Anjing-anjing kelaparan, mau apa kalian ribut-ribut di sini?!" bentak seorang tukang pukul sambil melintangkan toyanya, sikapnya mengancam dan sombong sekali.

"Kami hampir mati kelaparan...," kata kakek itu merendah, "Kami hendak mohon belas kasihan Kwi-wangwe, mohon bantuan sedikit gandum untuk penyambung nyawa..."

"Pengemis-pengemis kelaparan, pergi kalian! Kwi-wangwe mana ada waktu buat melayani kalian? Sedang ada tamu agung dan sibuk. Pergi!"

"Kasihanilah kami... biarlah kami diberi pinjaman gandum, kelak tentu kami bayar dengan tenaga...," kakek itu mendesak.

"Setan, tidak lekas pergi?!"

Empat orang tukang pukul itu menjadi marah sekali dan serentak mereka menggerakkan toya menerjang maju. Segera terdengar suara bak-bik-buk disusul pekik kesakitan ketika para petani itu dipukul. Percuma saja mereka mencoba melawan karena mereka yang di waktu sehat saja tidak mampu melawan tukang-tukang pukul ini, apa lagi sekarang dalam keadaan hampir mati kelaparan.

"Kejam sekali! Anjing-anjing penjaga, jangan gigit orang."

Tan Hok melompat ke depan dan sekali dia menggerakkan kedua kaki tangannya, empat orang tukang pukul itu langsung roboh. Toya mereka ada yang patah dan ada pula yang terlempar jauh.

Bukan main kaget hati mereka. Apa lagi ketika mereka melihat bahwa yang merobohkan mereka begitu mudahnya hanyalah seorang pemuda yang tubuhnya seperti raksasa.

"Tolong... ada pengacau...!" Mereka berteriak-teriak ke dalam sambil merayap bangun.

Berbondong-bondong dari dalam gedung keluar belasan orang tukang pukul, malah di antara mereka ada yang berpakaian seperti serdadu pemerintah Goan. Mereka ini ada yang membawa golok, toya, atau pedang dan dengan sikap mengancam mereka berlari menyerbu keluar.

Para petani yang tadinya berbesar hati melihat betapa dengan amat mudahnya Tan Hok merobohkan empat orang tukang pukul yang melabrak mereka tadi, sekarang berbalik menjadi ketakutan dan menjauhkan diri.

Tan Hok sendiri sama sekali tidak merasa takut. Malah dia menyambut mereka dengan suaranya yang keras, "Kalau tidak mau memberi gandum kepada mereka yang kelaparan, kupukul mampus kalian anjing-anjing penjaga!"

Tentu saja para tukang pukul dan serdadu penjaga itu memandang rendah kepada Tan Hok. Sambil berteriak-teriak memaki mereka menerjang. Hujan senjata menyambar ke arah tubuh tinggi besar itu, namun segera terdengar teriakan-teriakan mengaduh-aduh dan keadaan menjadi kacau-balau.

Para pengeroyok sibuk menyerang Tan Hok dari empat penjuru, namun pemuda gagah perkasa ini selalu bisa melindungi tubuhnya dari ancaman senjata dengan jalan mengelak atau menangkis. Malah dia cepat secara kontan mengirim pukulan-pukulan balasan yang membuat beberapa orang menggeletak pingsan. Melihat semakin banyak tukang pukul berlarian dari dalam, Tan Hok merampas sebatang toya dan mengamuk dengan senjata ini. Makin ramailah pertempuran di depan gedung Kwi-wangwe itu.

"Saudara-saudara, Tan-enghiong dikeroyok ketika membela kita. Bagaimana kita bisa tinggal diam saja? Hayo bantu!" Kakek petani berseru keras.

Memang keberanian para petani itu mulai timbul setelah melihat betapa gagahnya Tan Hok melawan para tukang pukul.

"Betul... betul... hayo bantu Tan-enghiong...!"

Puluhan orang petani yang kurus-kurus itu dengan semangat menyala lalu menyerbu para tukang pukul yang mengeroyok Tan Hok. Mereka tidak peduli lagi akan keselamatan diri sendiri. Yang dipukul jatuh, langsung bangkit lagi dan melawan penuh kenekatan.

Mendapat bantuan ini, tentu saja Tan Hok menjadi makin bersemangat. Toyanya lantas mengamuk dan satu demi satu para tukang pukul dapat dia robohkan.

Pada saat itu pula, dari sebelah dalam gedung terdengar suara orang berseru, "Mundur semua, biarkan Giam-siauwya (Tuan Muda Giam) mengusir para pengacau!" Itulah suara Kwi-wangwe.

Mendengar perintah ini, para tukang pukul lalu mengundurkan diri sambil menyereti tubuh teman-teman mereka yang terluka. Semua orang termasuk Tan Hok lalu memandang ke dalam.

Mereka melihat Kwi-wangwe yang sudah setengah tua, seorang bertubuh tinggi kecil yang berpakaian mewah sekali, tangan kiri mengisap huncwe berujung emas, berdiri di anak tangga sambil memandang ke luar. Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang aneh.

Muka pemuda ini pucat putih, matanya liar tajam, hidungnya mancung. Akan tetapi wajah yang tampan ini nampaknya aneh dan mengandung sesuatu yang mengerikan, terutama pada matanya. Pakaiannya serba kuning dan tangan kanannya memegang sebuah suling ular.

Pada saat itu, pemuda yang usianya antara dua belas tahun ini berkata sambil tertawa. "Kwi-wangwe, biarlah aku mengadakan sedikit pertunjukan yang menarik hati."

Bocah laki-laki belasan tahun itu kemudian mengangkat sulingnya, ditiupnya suling itu. Terdengar suara melengking yang aneh, naik turun seperti gelombang samudera, makin lama makin tinggi dan nyaring menusuk anak telinga. Tan Hok yang sudah mempelajari ilmu silat tinggi, kaget sekali karena tahu bahwa suling itu ditiup dengan kekuatan khikang yang hebat!

"Ular...! Ular...!" Para petani berteriak-teriak ketakutan.

Tan Hok kaget dan cepat memutar tubuh memandang. Ia bergidik melihat banyak sekali ular merayap cepat menuju ke tempat itu, besar kecil dan datang dari semua jurusan. Tadinya hanya beberapa ekor saja, mungkin ular-ular yang terdekat di tempat itu, akan tetapi sebentar kemudian menjadi puluhan dan akhirnya ratusan ekor ular datang dan dari jauh masih kelihatan banyak lagi mendatangi.

Pada saat ular-ular yang amat banyak itu sudah berkumpul dan menggeliat-geliat sambil menujukan mata ke arah si penyuling cilik yang sudah berjalan keluar dari pintu pagar tembok, suara suling tiba-tiba berubah menjadi kacau balau dan tiba-tiba saja ular-ular itu mendesis-desis dan nampak marah, lalu menyerang para petani.

Segera terdengar jerit-jerit kesakitan bercampur dengan teriakan ketakutan. Para petani mencoba melawan, namun sia-sia karena jumlah ular terlampau banyak.

Melihat ini Tan Hok marah sekali. Sambil mengeluarkan gerengan seperti harimau terluka orang muda ini menyambar sebatang toya, kemudian menerjang rombongan ular itu. Dia menggebuk dan memukul, menghancurkan banyak kepala ular.

Akan tetapi ular itu terlampau banyak dan tidak mungkin dia dapat melindungi dua puluh lebih orang bernasib malang yang diserbu ular-ular itu. Apa lagi di antara ular-ular itu, juga banyak terdapat ular-ular kecil berbisa yang amat gesit. Sekali pagut saja ular-ular seperti ini mematikan korbannya.

Melihat betapa para petani itu roboh binasa, Tan Hok menjadi ngeri dan dengan amarah meluap-luap dia melihat betapa makin banyak dia membunuh ular, maka makin ganaslah ular-ular yang lain dan dalam sekejap mata saja para petani itu sudah roboh semua. Tak seorang pun tinggal hidup lagi.

"Iblis kecil berhati keji!"

Tan Hok membalik tubuh dan melompat dengan toya di tangan, menyerang bocah kecil penyuling yang aneh itu. Sama sekali dia tidak tahu bahwa bocah itu bukanlah sembarang bocah. Dia ini bukan lain adalah Giam Kin, murid Siauw-ong-kwi tokoh besar dari utara yang amat jahat.

Serangan dengan toya yang dilakukan oleh Tan Hok amat dahsyat. Akan tetapi tiba-tiba Giam Kin menggerakkan tangan kirinya dan sinar keemasan menyambar ke arah muka Tan Hok. Terkejut raksasa muda ini. Cepat dia menggunakan tangan kirinya menyampok sinar keemasan tanpa membatalkan serangannya dengan toya yang dipegang di tangan kanan.

Akan tetapi sebelum toyanya mendekati tubuh Giam Kin, dia menjerit kesakitan sambil melempar toyanya, kemudian tangan kanannya merenggut ular kuning emas yang sudah menggigit tangan kirinya. Rasa sakit, panas dan gatal-gatal menyerang seluruh tubuhnya.

Sekali remas saja hancur luluhlah kepala dan tubuh ular kecil itu, akan tetapi rasa sakit yang menguasai tubuhnya tak tertahankan lagi. Sambii memekik-mekik Tan Hok memutar tubuh dan pergi secepatnya dari tempat itu.

"Ha-ha-ha-ha, orang sombong itu tidak akan waras lagi otaknya, dia sudah terkena racun Kim-tok-coa (Ular Racun Emas)!" Giam Kin tertawa bergelak kemudian meniup sulingnya lagi.

Ular-ular yang tadinya sedang berpesta-pora menggigiti mayat para petani itu sekarang lari ketakutan mendengar suara suling sehingga sebentar saja di situ tidak ada seekor pun ular, kecuali bangkai-bangkai ular yang dibunuh Tan Hok tadi dan mayat para petani yang malang melintang.

Kwi-wangwe beserta kaki tangannya yang sudah kerap kali menyaksikan pembunuhan terhadap orang-orang miskin itu, sekarang bergidik juga menyaksikan kejadian yang amat menyeramkan ini. Dengan penuh hormat Kwi-wangwe mempersilakan Giam Kin masuk ke dalam gedungnya lagi dan memerintahkan kepada orang-orangnya untuk membersihkan halaman itu, membawa pergi bangkai-bangkai ular dan mayat para petani….

**********

Tan Hok berlari-lari terus secepatnya. Tubuhnya memang luar biasa kuatnya sehingga biar pun dia sudah terkena gigitan ular berbisa yang amat berbahaya, dia masih dapat berlari cepat sampai puluhan li jauhnya. Akan tetapi akhirnya dia terguling roboh di tengah sawah yang tanahnya kering merekah, pingsan.

Matahari dengan cahayanya yang penuh menyinari tubuh Tan Hok yang menggeletak tak berdaya, seolah-olah hendak membakarnya. Ternyata bahwa racun ular kuning keemasan itu mengandung hawa yang amat panas sehingga seluruh tubuh Tan Hok menjadi merah kehitaman, apa lagi di bagian tangan yang tergigit sampai menjadi hitam seperti hangus terbakar.

Pada saat itu, dari jurusan selatan, di atas jalan kecil yang kering kerontang dan sunyi, terdengar suara orang bernyanyi! Benar-benar amat ganjil mendengar orang bernyanyi di tempat yang diliputi hawa maut kering ini.

Setelah kelihatan orangnya, dia itu adalah seorang anak laki-laki yang baru belasan tahun usianya. Pakaiannya compang-camping, lebih patut menjadi pakaian seorang jembel yang terlantar. Akan tetapi lengan dan kakinya berkulit bersih.

Betapa pun juga, jelas bahwa dia itu bukan bocah biasa. Hal ini terlihat dari mukanya yang berkulit aneh, yaitu berwarna kehijauan seperti hijaunya daun muda. Sepasang matanya juga bukan mata manusia biasa karena mengandung sinar yang amat tajam, malah terlalu tajam sehingga seperti tidak normal lagi. Wajah yang berwarna kehijauan dengan mata setajam itu benar-benar akan membikin orang bergidik ketakutan dan mengira bahwa dia ini tentu bukan manusia.

Apa lagi kalau mendengar kata-kata dalam nyanyiannya. Aneh! Nyanyiannya saja sudah tidak karuan, iramanya pun bukan nyanyian, lebih pantas disebut ocehan orang gila atau orang mengigau akibat sakit demam. Dan kata-katanya, dengarkan saja dia bernyanyi,

Heh perut berhentilah merengek!
Tidak malukah kau kepada kaki?
Yang bekerja keras tak pernah mengeluh
Kau tiada guna, tak pernah bekerja,
Kerjamu hanya merengek minta diisi!


Kata-kata aneh ini dia nyanyikan di sepanjang jalan sambil saling memukulkan dua batang kayu yang dipegang oleh kedua tangannya untuk membuat irama nyanyiannya yang tidak karuan. Selain warna mukanya yang kehijauan dan sepasang matanya yang luar biasa tajamnya, selebihnya anak ini boleh dibilang tampan, tubuhnya pun padat berisi dan kuat. Bocah ini bukan lain adalah Beng San.

Seperti sudah diceritakan dalam bagian terdahulu dari cerita ini, secara kebetulan sekali Beng San bocah korban banjir Sungai Huang-ho yang tak tahu akan nama keturunannya sendiri ini, telah bertemu dengan Hek-hwa Kui-bo dan mendapat Ilmu-ilmu Thai-hwee, Siu-hwee, dan Ci-hwee yang oleh Hek-hwa Kui-bo dimaksudkan untuk memperbesar daya hawa ‘Yang’ dalam tubuh anak ini dan membunuhnya. Akan tetapi tanpa disadari ia malah memberi tambahan tenaga kepada anak ini dan malah menyelamatkan nyawa Beng San dari hawa pukulan Jing-tok-ciang dari Koai Atong.

Kemudian secara kebetulan pula Beng San bertemu dua orang kakek aneh, yaitu Phoa Ti dan The Bok Nam yang mengangkatnya sebagai murid dan kedua orang kakek aneh ini menurunkan atau mewariskan dua macam ilmu silat yang hebat padanya. Dari Phoa Ti, dia mewarisi Khong-ji-ciang dan Im-sin-kiam, sedangkan dari The Bok Nam, dia mewarisi Pat-hong-ciang dan Yang-sin-kiam.

Ada pun Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam ini adalah dua bagian yang berlawanan dari Ilmu Im-yang Sin-kiam yang merupakan pecahan dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, yaitu ilmu silat tertinggi di dunia persilatan yang dahulu dimiliki oleh Pendekar Sakti Bu Pun Su di jaman pemberontakan An Lu Shan (tahun 755), kira-kira lima ratus tahun yang lalu.

Ilmu Im-yang Sin-kiam diingini oleh semua tokoh persilatan dari empat penjuru, siapa kira secara tidak disengaja telah terjatuh ke dalam tubuh Beng San! Lucunya, Beng San yang sudah mempelajari ilmu ini dan melatihnya setiap hari sampai hafal betul, sama sekali tak pernah tahu bahwa dia sekarang telah mempunyai ilmu yang hebat. Anak ini hanya tahu bahwa berkat latihan-latihan itu tubuhnya menjadi kuat dan ringan, malah dia sekarang tidak pernah menderita gangguan lagi dari perasaan panas atau dingin di tubuhnya.

Setiap kali dia menderita panas dari teriknya matahari, secara otomatis tubuhnya akan mengeluarkan hawa dingin untuk melawannya dan pengerahan hawa ‘Im’ secara otomatis ini hanya dapat diketahui dari wajahnya yang berubah menjadi kehijauan. Sebaliknya, di waktu dingin secara otomatis pula wajahnya berubah merah kehitaman, tanda bahwa tenaga dari hawa ‘Yang’ di tubuhnya bekerja.

Hanya apa bila hawa udara biasa, wajahnya berubah putih seperti biasa pula. Selain ini, tanpa dia sadari, apa bila dia terserang nafsu amarah, wajahnya juga otomatis berubah merah kehitaman, sebaliknya apa bila dia merasa gembira, wajahnya menjadi hijau!

Pada saat itu hawa udara amat panasnya, maka tak heran kalau muka anak ini menjadi kehijauan, tanda bahwa hawa ‘Im’ otomatis bekerja di tubuhnya. Perutnya terasa lapar sekali, sejak kemarin tidak kemasukan apa-apa. Dusun-dusun kosong sunyi, pepohonan gundul kering. Untuk menahan rasa lapar perutnya, dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi mencela perutnya yang selalu merengek-rengek minta isi.

"Ehh, mata yang sial. Di mana-mana melihat mayat orang. Sudah enam belas mayat aku kubur, sekarang ada lagi di tengah sawah. Sialan benar!" Beng San mengomel ketika dia melihat tubuh Tan Hok menggeletak di tengah sawah.

Memang, seperti halnya Tan Hok, bocah ini pun semenjak hari kemarin melihat banyak mayat menggeletak di pinggir jalan, mayat mereka yang kelaparan. Sejak kecil Beng San sudah dijejali pelajaran filsafat-filsafat kuno tentang peri kebajikan dan peri kemanusiaan, maka melihat mayat-mayat menggeletak terlantar itu, hatinya merasa tidak tega dan dia pun mengubur setiap mayat yang dijumpainya, dikubur secara sederhana.

Dengan hati agak kesal karena perutnya lapar dan selalu bertemu mayat, Beng San lalu menyimpang dari jalan kecil memasuki sawah kering menghampiri tubuh Tan Hok yang tak bergerak seperti sudah mati itu. Setelah memandang wajah dan tubuh Tan Hok, anak itu menarik napas panjang dan berkata,

"Sayang... sayang sekali orang begini gagah dan bertubuh tinggi besar seperti raksasa mati di sini. Anehnya, orang mati kelaparan mengapa badannya masih tegap dan besar seperti ini? Aneh...aneh..."

Namun Beng San lalu mulai bekerja, menggali tanah kering di sawah itu. Pekerjaan ini dia lakukan dengan dua batang kayu kecil yang dipegangnya tadi. Benar-benar hebat. Orang tentu takkan percaya kalau tidak menyaksikannya sendiri. Dua batang kayu ranting kecil itu ketika dia pakai mendongkel tanah, ternyata berubah seperti dua batang linggis besi yang kuat. Sebentar saja dia menggali tanah sampai satu meter lebih dalamnya.

Melihat tubuh tinggi besar yang masih dalam keadaan baik itu, Beng San merasa kasihan apa bila menguburnya kurang dalam, maka dia sengaja menggali sampai dalam. Ternyata bagian bawah tanah itu merupakan tanah lempung yang kering, akan tetapi halus dan berwarna kemerahan.

Setelah menggali cukup dalam, dia meletakkan sepasang rantingnya dan membungkuk, mengangkat tubuh itu. Badan Tan Hok besar sekali, beratnya takkan kurang dari seratus kilo, akan tetapi benar-benar mengherankan betapa anak kecil itu dapat memondongnya dengan mudah.

Beng San kaget sekali ketika merasakan betapa kulit tubuh Tan Hok amat panas. la masih kecil, belum dapat mengerti betul bagaimana keadaan orang mati. Karena tubuh itu kaku dan diam tak bernapas, dia menganggapnya sudah mati. Dia menganggap panas tubuh Tan Hok disebabkan terik sinar matahari.

Dengan perlahan dan hati-hati Beng San lalu meletakkan tubuh tinggi besar itu ke dalam lubang. Mulutnya berbisik-bisik "Kembalilah kau ke asalmu, tenteram dan damai."

Kata-kata ini dahulu pernah dia dengar dari seorang hwesio ketika melakukan upacara menguburkan mayat.

Mendadak dia kaget dan melompat mundur, matanya terbelalak. Kalau saja Beng San bukannya seorang anak luar biasa yang tidak mengenal rasa takut, tentu dia akan lari terbirit-birit menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. ‘Mayat’ tadi bergerak-gerak dan dengan gerakan liar lalu bangun duduk, matanya melotot merah, sedangkan mulutnya berteriak-teriak.

"Lapar... lapar...! Tanah menghasilkan segala macam tetumbuhan yang dapat dimakan, masa tanah sendiri tak boleh dimakan?"

Dan ‘mayat’ itu lalu mencengkeram tanah lempung merah dan... tanah itu dimakannya dengan amat lahapnya.

Untuk sejenak Beng San berdiri seperti patung, matanya terbelalak heran. Mula-mula dia merasa ngeri juga. Akan tetapi ketika melihat betapa ‘mayat’ itu makan tanah lempung merah dengan enaknya bagaikan orang makan daging panggang, air liurnya memenuhi mulutnya.

Perutnya memang amat lapar. Sekarang melihat orang makan demikian enaknya, meski pun yang dimakan hanya tanah lempung, timbul seleranya. la mulai menengok ke bawah, ke arah tanah lempung yang tadi dia gali dan sekarang bertimbun di luar lubang. Otomatis dia berjongkok, tangannya mengambil segumpal tanah lempung merah dan... membawa tanah itu ke mulutnya terus digigit.

"Wah, enak..."

Dengan terheran-heran Beng San terus makan tanah lempung itu. Rasanya sih tidak bisa dibilang enak, akan tetapi juga bukan tak enak, sebab tanah itu halus dan berbau harum. Dan yang jelas, setelah memasuki perut tanah itu mendatangkan rasa kenyang juga.

Sampai empat gumpal tanah memasuki perut Beng San yang menjadi girang sekali sebab sekarang dia dapat mengisi perutnya yang tadi merengek-rengek. Sama sekali dia tidak tahu bahwa memang tanah lempung itu adalah sejenis tanah lempung yang halus dan tak berbahaya kalau dimakan, malah mengandung khasiat menguatkan badan.

‘Mayat’ itu lalu makan tanah lempung banyak sekali, kemudian mayat yang duduk dalam lubang kubur itu mendongak dan memandang ke arah Beng San dengan sepasang mata merah. Beng San tersenyum kepadanya dan mengangguk.

"Twako, jadi kau sebetulnya belum matikah? Syukur kalau begitu!"

Tiba-tiba Tan Hok mengeluarkan suara menggereng, kemudian tubuhnya meloncat keluar lubang sambil berteriak geram, “Aku tidak mati, kaulah yang akan mampus!"

Serta merta pemuda raksasa ini mengirim serangan memukul ke arah kepala Beng San dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Beng San yang kehijauan.

Semenjak mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari kedua orang suhu-nya, yaitu kedua kakek Phoa Ti dan The Bok Nam, belum pernah Beng San mempergunakan kepandaian ini dalam pertempuran. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa dia amat tekun melatih diri, mempelajar semua ilmu itu dengan teliti, namun tanpa diketahui apa khasiatnya semua ilmu itu. Sekarang menghadapi serangan bertubi-tubi dari pemuda raksasa yang seperti tidak waras otaknya ini, dia kaget juga. Namun otomatis gerak silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya bekerja.

"Husss, nanti dulu, Twako. Hidup atau mati bukanlah urusan kita. Bagaimana kau bisa tentukan?" Sambil mengeluarkan jawaban yang mengandung filsafat kebatinan ini, Beng San memiringkan kepalanya menghindarkan pukulan tangan kanan Tan Hok, sedangkan tangan kanannya dia angkat untuk menangkis cengkeraman tangan kiri lawannya yang tinggi besar itu.

"Plakkk!"

Tangan kiri Tan Hok yang berjari panjang besar itu berhasil mencengkeram tangan Beng San yang kecil sehingga lima pasang jari-jari tangan saling genggam. Beng San merasa betapa dari tangan Tan Hok mengalir hawa panas yang melebihi api. Otomatis tubuhnya menyambut hawa ini dengan hawa ‘Im’ yang luar biasa kuatnya, sehingga tangannya yang dicengkeram kini terasa dingin sejuk.

Hebat sekali akibatnya, Tan Hok seketika menjadi kaku tubuhnya. la masih tetap berdiri dengan tangan kiri mencengkeram tangan kanan Beng San, matanya melotot kemerahan dan kini sekujur tubuhnya menggigil bagaikan orang terserang demam. Tangannya yang mencengkeram tangan kanan Beng San seperti lengket dan tidak dapat ditarik kembali, sedangkan dari tangan anak kecil itu mengalir hawa yang dinginnya melebihi bukit es.

Makin lama tubuh Tan Hok semakin menggigil, mukanya yang merah itu mulai berkurang warnanya. Tiba-tiba ia muntahkan darah menghitam, juga dari luka di tangan kirinya yang kini menempel pada tangan kanan Beng San keluar darah hitam.

Tiga kali dia muntahkan darah hitam, dan tubuh yang tadinya panas itu sekarang berubah dingin. Matanya yang kemerahan dan liar berubah tenang.

"Aduh... aduh... dingin...!"

Tubuh Tan Hok yang tadinya kaku itu sekarang dapat melompat mundur. Beng San juga melompat mundur sambil melepaskan tangannya. Mereka kini berdiri berhadapan dalam jarak tiga empat meter, saling pandang.

Setelah tangannya terlepas dari tangan Beng San, lenyaplah rasa dingin yang menusuk jantung Tan Hok. Diam-diam Tan Hok merasa terheran-heran, apa lagi baru sekarang dia teringat mengapa dirinya bisa berada di situ.

Tiba-tiba dia celingukan memandang ke kanan kiri dengan rasa takut karena dia teringat akan ular-ular yang tadinya mengeroyoknya. Melihat bahwa dia berada di sawah, sedang berhadapan dengan seorang bocah bermuka hijau bermata tajam yang memiliki tangan mengandung hawa dingin luar biasa, Tan Hok kembali memandang Beng San, lalu melirik ke arah lubang kuburan di dekat situ.

"Adik kecil, kau siapakah? Setan atau manusia?"

Beng San tertawa, matanya yang tajam itu berkilat-kilat. "Ha-ha-ha, Twako, kalau satu di antara kita ini bukan manusia, kiranya kaulah orangnya. Aku manusia biasa, akan tetapi kau... apakah kau bukan siluman?"

Tan Hok yang mengerti akan ilmu silat tinggi, tadi mendapat kenyataan bahwa anak ini bukanlah anak biasa. Tangannya mengandung tenaga Im yang luar biasa kuatnya. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa tenaga inilah yang telah menolong nyawanya, yang mengusir racun hawa panas yang tadinya menyerang tubuhnya akibat gigitan ular Kim-tok-coa.

Tentu saja di pihak Beng San sama sekali tidak tahu akan hal ini. Jangankan mengenai penyembuhan yang tanpa sengaja dia lakukan, bahkan tentang tenaga-tenaga yang kini telah berada di dalam dirinya saja dia tidak tahu apa artinya.

"Adik yang aneh, kenapa kau menyangka aku seorang siluman?"

"Kau aneh sekali sih! Sejak kemarin aku mengubur mayat-mayat orang mati kelaparan yang bergelimpangan di pinggir jalan. Tadi aku mendapatkan kau menggeletak mati di sini, tidak bernapas lagi. Aku menggali lubang untuk menguburmu. Eh, tahu-tahu di dalam lubang kuburan kau hidup lagi, malah makan tanah, lalu meloncat dan menyerangku. Dan sekarang, setelah muntah-muntah, kau bicara seperti orang waras. Orang dengan tubuh raksasa seperti kau, bisa mati dan hidup lagi, benar-benar bukan seperti manusia."

Mendengar hal ini, Tan Hok bengong, lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Melihat pemuda raksasa itu bengong terlongong mengurut-urut dagu, Beng San juga ikut duduk di depannya. Dua orang ini duduk tak berkata-kata seperti dua buah patung batu. Akhirnya Tan Hok yang menoleh dan bertanya.

"Adik yang baik, siapa namamu? Kau anak siapa, murid siapa dan kenapa bisa sampai di sini?"

Diberondong pertanyaan-pertanyaan ini, Beng San tersenyum nakal, kemudian menjawab secara memberondong pula. "Namaku Beng San, bukan anak siapa-siapa. Guru-guruku sudah meninggal dan bisa sampai ke sini karena kedua kakiku berjalan."

Akan tetapi agaknya Tan Hok tidak melayani sendau-guraunya, malah kembali bertanya dengan sungguh-sungguh, "Kau tidak punya orang tua dan guru-gurumu sudah mati? Jadi kau hidup sebatang kara di dunia ini?"

Beng San mengangguk. "Sejak dulu aku hidup sebatang kara."
"Tidak punya tempat tinggal?"
Beng San menggelengkan kepala.
"Ah, adikku yang baik... sama benar nasib kita..." Tan Hok menubruk dan merangkul Beng San sambil menangis.

Beng San bingung, lalu karena tidak tahu harus berbuat apa, ia pun ikut-ikut menangis! Dua orang ini bertangis-tangisan di tengah sawah kering kerontang dan tetes-tetesan air mata mereka diisap cepat oleh tanah yang kehausan.

"Adik Beng San, aku Tan Hok, dan baru saja ditinggal mati guruku..." Tan Hok menangis sambil merangkul, "dan aku,... ehhh, celaka! Kau terkena racun!"

Tiba-tiba dia memegang tangan Beng San dan memandang tajam. "Mukamu kehijauan, badanmu mengeluarkan hawa dingin sekali. Tentu kau sudah terkena hawa pukulan yang mengandung racun dingin... celaka...!"

Beng San tersenyum. "Tidak, Tan-twako (Kakak Tan). Aku tidak apa-apa."
"Betulkah? Kau tidak merasa sakit?"
"Tidak."

"Aneh... aneh... kukira kau terkena racun, semacam racun ular atau..."

Tiba-tiba saja dia melompat dan mukanya berubah. "Ular! Ahh, sekarang aku ingat. Bocah siluman ular itu yang melukaiku. Dia harus dibunuh! Celaka para petani malang itu..."

Beng San benar-benar tidak mengerti dan terheran-heran melihat sikap raksasa yang berubah-ubah dan aneh ini. "Siluman ular? Di mana dia?"

“Dia seorang anak sebaya denganmu. Aku sedang memimpin para petani yang kelaparan untuk minta bantuan makanan dari hartawan Kwi yang kaya raya. Akan tetapi para petani itu malah diserang oleh kaki tangannya. Aku lalu membantu dan muncullah siluman ular, mendatangkan ratusan ekor ular yang mengeroyok para petani, Banyak yang mati. Aku menyerang dan... aku terluka oleh seekor ular kuning emas. Hayo, kita harus pergi ke sana. Aku harus bunuh siluman itu!"

"Ratusan ekor ular! liihhhhh, menakutkan sekali!" Beng San bergidik dan kelihatan ngeri, lalu memandang ke kanan kiri, takut kalau-kalau ratusan ekor ular itu datang ke situ.

"Jangan takut, ada aku di sini. Aku harus basmi ular-ular itu dan silumannya. Hayo, Adik Beng San, kau ikut atau tidak?" Tan Hok berdiri. "Kalau kau takut, kau tinggal saja di sini, aku harus segera kembali ke dusun itu."

Tan Hok sudah mulai lari.

"Nanti dulu, Twako. Aku ikut!" Beng San segera mengambil dua batang ranting yang tadi dia gunakan untuk menggali tanah, lalu ikut berlari di belakang Tan Hok.

Karena amat bernafsu untuk segera kembali ke dusun dan membantu para petani yang dikeroyok ular, Tan Hok mengerahkan kepandaiannya dan berlari cepat sekali. Ia sampai lupa bahwa di belakangnya ada Beng San, lupa bahwa apa bila dia berlari secepat itu tentulah seorang anak kecil seperti Beng San akan tertinggal jauh.

Setelah berlari sampai di luar dusun barulah dia teringat dan cepat-cepat dia menengok. Alangkah herannya melihat anak itu berlari-lari kecil, seenaknya saja tapi masih berada di belakangnya.

“Ehh, kau masih di belakangku?"

"Tentu saja, bukankah kau mengajakku?"

Pada saat itu Tan Hok penuh ketegangan akan bertemu dengan siluman ular, maka dia kurang memperhatikan Beng San. Dia terus melanjutkan larinya memasuki dusun menuju ke gedung tempat tinggal Kwi-wangwe.

Di depan gedung Kwi-wangwe para tukang pukul sedang duduk dan sibuk membicarakan amukan para petani yang dibantu seorang pemuda raksasa. Tentu saja mereka menjadi amat kaget ketika melihat pemuda raksasa yang kemarin telah dilukai dan diusir pergi oleh ‘Giam-kongcu’ itu kini tiba-tiba muncul di depan mereka bersama seorang anak laki-laki bermuka hijau.

"Anjing-anjing keparat, hayo lekas suruh keluar Kwi-wangwe dan siluman ular itu!" Tan Hok memaki sambil memegang dua orang tukang pukul dan sekali lempar dua orang itu jatuh bergulingan tiga meter lebih jauhnya. Yang lain-lain segera mencabut senjata dan sebagian melapor ke dalam.

Sementara itu, pada waktu melihat para tukang pukul mencabut senjata, Tan Hok sudah bangkit amarahnya. "Di mana paman-paman tani semua? Sudah kalian bunuh, ya? Awas, rasakan pembalasanku!"

Tan Hok lalu mengamuk, menerjang para tukang pukul yang kini hanya membela diri, tidak berani menyerang karena maklum akan kelihaian Tan Hok. Sebentar saja Tan Hok sudah dikeroyok belasan orang tukang pukul dan di dalam gedung terdengar ramai-ramai karena semua orang tidak tahu bahwa pemuda raksasa itu telah datang lagi mengamuk.

Mendadak terdengar tiupan suara suling yang melengking. Suling yang ditiup oleh Giam Kin melengking tinggi dan mengalun dengan irama yang amat luar biasa. Jantung Tan Hok berdebar, maklum apa artinya tiupan suling itu.

Betul saja dugaannya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi mendesis-desis dan banyak sekali ular menggeleser datang. Biar pun Tan Hok tidak begitu cerdik, namun karena dia merasa jijik juga melihat banyak ular, Tan Hok kemudian berkelahi dengan cara menyerbu ke tengah-tengah para tukang pukul. Perbuatannya ini bukan berdasarkan kecerdikan, melainkan karena takut kepada ular-ular itu.

Akan tetapi untung baginya, Giam Kin menjadi bingung untuk memimpin pasukan ularnya. Bagaimana caranya ular-ularnya itu bisa disuruh menyerang seorang saja yang berada di tengah-tengah dan dikurung para tukang pukul? Baiknya setelah terjadi keributan, yaitu serbuan para petani, Kwi-wangwe mendatangkan lebih banyak tukang pukul yang pandai sehingga untuk sementara amukan Tan Hok dapat dibendung.

Sementara itu, melihat demikian banyak ular yang datang melenggang-lenggok mendekati dirinya, Beng San menjadi jijik dan takut bukan main. Dia tidak takut kalau menghadapi orang, akan tetapi menghadapi ular yang banyak serta amat menjijikkan dan mengerikan itu, dia takut juga.

Pada waktu ular-ular dengan mata merah dan lidah menjilat-jilat keluar itu menyerbu ke arahnya, Beng San segera lari sambil berteriak-teriak, "Ular...! Ular...!"

Mendadak tubuhnya mencelat ke atas, ke tengah-tengah orang yang sedang berkelahi. Bagaikan seekor burung terbang, kakinya menginjak kepala orang-orang yang sedang mengeroyok Tan Hok, dan begitu kakinya menginjak kepala orang, dia meloncat lagi ke sana ke mari, melalui kepala-kepala orang itu hingga akhirnya dia bisa meloncat ke atas genteng. Di situ dia berjongkok dengan tubuh gemetaran sambil memandang ke bawah.

Semua orang, terutama sekali Tan Hok, kaget dan heran bukan main melihat perbuatan Beng San ini. Melihat cara anak itu meloncat, jelas bahwa dia sama sekali tidak mengerti ilmu meloncat tinggi. Akan tetapi mengapa tubuhnya begitu ringan sehingga seakan-akan dia dapat beterbangan di atas kepala orang-orang?

Tan Hok tidak sempat lagi memperhatikan Beng San karena pengeroyokan para tukang pukul sudah cukup membuat dia kerepotan juga. Kali ini pun Tan Hok berhasil merampas sebatang toya dan langsung digunakannya untuk mengamuk. Sudah ada beberapa orang tukang pukul roboh oleh kemplangan toyanya.

Melihat sepak terjang Tan Hok ini, Giam Kin menjadi penasaran dan khawatir juga. Tidak mungkin dia dapat menyuruh ular-ularnya menyerbu, karena sekali ular-ular itu menyerbu maka para tukang pukul Kwi-wangwe tentu akan digigit pula. la lalu berseru.

"Paman-paman mundur semua, biar ular-ularku menghabiskannya!"

Tukang-tukang pukul itu memang sudah kewalahan menghadapi Tan Hok. Bukan ilmu silatnya yang hebat, melainkan tenaganya yang benar-benar sukar dihadapi. Setiap kali toya di tangan pemuda raksasa itu menangkis, tentu banyak senjata terpental atau rusak. Mendengar perintah ini, mereka lalu meloncat mundur meninggalkan Tan Hok.

Tan Hok maklum bahwa ia akan dikeroyok ular, maka ia hendak mendahului menyerang Giam Kin. Celakanya, anak aneh ini sudah meniup sulingnya yang mengeluarkan suara melengking tinggi sehingga ular-ular itu sudah mulai menyerbu. Di lain saat Tan Hok telah dikelilingi ular-ular yang amat marah, mendesis desis dan siap menyerangnya.

Tan Hok bergidik. Dia melintangkan toyanya, bingung harus menyerang yang mana dulu karena dia telah dikurung dalam pagar ular.

"Ha-ha-ha-ha-ha, manusia sombong. Ternyata kau masih belum mampus! Sekarang aku akan melihat kau mampus digigit ularku. Ha-ha-ha-ha!" kata Giam Kin setelah melepaskan sulingnya. Kemudian dia mulai menyuling lagi, suara sulingnya melengking-lengking tinggi dan menyakitkan telinga.

Beng San yang berada di atas genteng melihat semua kejadian ini. Dialah yang merasa paling sakit telinganya mendengar suara suling itu. Saking marahnya dia berteriak-teriak, "Siluman jahat, siluman busuk. Suara sulingmu sungguh tidak enak. Dengarlah, aku lebih pandai menyuling dari pada suara sulingmu yang seperti angin kotor itu"

Beng San lalu meniru-nirukan bunyi suling dengan suaranya. Tanpa dia sadari, khikang di dalam tubuhnya sudah kuat sekali, maka ketika dia meniru bunyi melengking, suara suling itu kalah kuat dan kalah nyaring!

Sekarang terdengar bunyi yang luar biasa dan aneh, suara suling bercampuran dengan suara mulut Beng San yang meniru-nirukan suara suling. Ketika dia mendapat kenyataan betapa ssudlah dia menjerit-jerit telinganya tidak terganggu lagi oleh suara suling yang kalah nyaring, dia makin bersemangat dan teriakan-teriakannya makin kuat.

Kasihan sekali ular-ular itu. Suara suling merupakan perintah atau dorongan bagi mereka, dorongan yang tak mungkin terlawan lagi. Akan tetapi, sekarang binatang-binatang buas ini mendengar suara suling yang tidak karuan, campur aduk bising bukan main. Mereka mulai kacau, tidak tahu harus bagaimana, apa lagi perasaan mereka tidak karuan dengan ‘perintah’ yang kacau-balau ini.

Makin lama gerakan ular-ular itu semakin kacau. Mereka saling terjang sehingga akhirnya semua ular-ular itu menjadi marah dan saling terkam! Mereka sama sekali tak mau peduli lagi kepada Tan Hok, sibuk mengigiti kawan-kawan sendiri yang lebih dekat.

Melihat hal ini, Giam Kin marah sekali. Dibantu oleh Kwi-wangwe sendiri, ia pun memberi perintah kepada para tukang pukul untuk mengeroyok lagi Tan Hok. Sementara itu, Giam Kin sudah melangkah maju untuk melihat bocah yang telah meniru bunyi sulingnya dan telah mengacau komandonya atas ular-ular itu.

Akan tetapi, Tan Hok yang sudah marah sekali melihat adanya hartawan Kwi di situ. Dia lalu memberontak dan cepat meloncat ke arah hartawan itu dengan toya di tangannya.

"Kau hartawan pelit, rasakan ini!"

Toyanya mengemplang kepala hartawan itu yang cepat-cepat mundur ketakutan. Baiknya masih ada beberapa orang pengawal pribadinya yang menangkis toya sehingga toya itu menyeleweng, tidak mengenai kepalanya hanya menggebuk pundaknya. Namun gebukan ini cukup keras untuk membuat Kwi-wangwe meringis dan mengaduh-aduh. Dan sekejap kemudian, Tan Hok sudah dikeroyok lagi oleh para tukang pukul.

Giam Kin sekarang dapat melihat adanya Beng San di atas genteng. Marahnya bukan main.

"Ehh, bocah dusun busuk, kau berani main-main di depan kongcu-mu?" la memaki sambil menuding dengan sulingnya ke arah Beng San.

Beng San pada waktu itu sudah tidak hijau lagi mukanya, sudah biasa putih dan tampan karena hawa udara tidak begitu panas lagi. Sekarang dia cengar-cengir mentertawakan Giam Kin.

"Aku tidak main-main di depanmu, melainkan di atasmu. Kau mau apa sih?"

la tidak takut kepada Giam Kin. Anak bermuka pucat itu, apanya yang harus ditakuti?

"Jembel busuk, kau makanlah ini!"

Giam Kin menggerakkan tangannya dan sinar kuning emas menyambar ke atas, ke arah Beng San yang nongkrong di atas genteng.

Beng San yang sudah menyelipkan dua batang kayu ranting di ikat pinggangnya, sambil tertawa-tawa menerima sinar kuning emas ini dengan tangan kanan. Sinar itu mengenai tangannya dan Beng San merasa ibu jari tangan kanannya agak sakit seperti tertusuk jarum. Saat dia melihatnya, ternyata bahwa yang tadi dilemparkan adalah seekor ular kecil berwarna kuning keemasan yang sekarang menggigit ibu jarinya, sedangkan tubuh ular itu membelit tangannya.

Diam-diam dia kaget. Akan tetapi dasar dia nakal dan tak sudi memperlihatkan rasa takut atau sakit di depan Giam Kin. Dia lalu tertawa terbahak-bahak dan teringatlah dia akan pengalamannya dahulu ketika bertemu dengan Kwa Tin Siong dan Kwa Hong yang dia maki ‘kuntilanak’, teringat dia betapa dia ikut makan daging ular bersama ayah dan anak itu.

Sekarang, melihat tangannya dibelit ular kuning emas bersih, untuk menggoda Giam Kin, Beng San tanpa ragu-ragu lagi lalu... menggigit leher ular itu. Hanya dengan sekali gigit saja maka putuslah leher ular.

”Kau kira aku tidak berani memakannya? Ha-ha-ha!" Beng San mentertawakan Giam Kin yang berdiri terlongong heran menyaksikan betapa bocah jembel itu benar-benar sudah menggigit mati ularnya.

Akan tetapi dia pun segera menjadi girang karena mendadak muka Beng San berubah menjadi kehijauan. Beng San sendiri tidak tahu akan hal ini. Dia hanya merasa betapa bekas gigitan ular itu amat panasnya, maka otomatis tubuhnya mengerahkan daya "Im" yarig kuat, sehingga membuat wajahnya yang putih berubah hijau.

Hal ini disalah artikan oleh Giam Kin. Biar pun anak ini maklum bahwa siapa yang tergigit Kim-tok-coa itu, tentu akan mati dengan tubuh hangus kemerahan seperti terbakar, tetapi dia menganggap bahwa tanda kehijauan pada wajah anak jembel itu cukup membuktikan bahwa racun ularnya telah menjalar di tubuh anak aneh itu.

"Hi-hi-hi, kau sudah mau mampus masih banyak tingkah. Sekarang biar aku mempercepat kematianmu!" Setelah berkata demikian, Giam Kin pun menggenjotkan kedua kakinya dan tubuhnya meloncat ke atas genteng. Suling ular di tangannya bergerak cepat menyerang ke arah Beng San, memukul kepalanya.

Beng San segera mencabut sepasang ranting kayu dari ikat pinggangnya, lalu dengan masih berjongkok dia menangkis dari kanan kiri. Sepasang ranting di tangannya membuat gerakan seperti menggunting ke arah suling.

"Krakkk!"

Suling di tangan Giam Kin patah menjadi dua dan tubuh anak ini terlempar kembali ke bawah!

Tanpa disadari, dalam kegemasannya ketika menangkis tadi Beng San menggunakan dua macam tenaga pada sepasang rantingnya, dengan pergerakan gabungan dari Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam. Jangankan baru suling di tangan seorang anak semacam Giam Kin, andai kata yang menyerangnya tadi adalah seorang ahli silat yang menggunakan pedang atau toya, kiranya akan patah juga.

"Jembel busuk, pengemis bau, kau mematahkan sulingku! Awas kau...! Suhu, suling teecu patah...!" Giam Kin lari sambil menangis.

Karena dimaki-maki, Beng San pun menjadi marah. Apa lagi dia melihat bahwa anak itu ternyata tidak becus apa-apa, demikian pikirnya, baru ditangkis satu kali saja suling itu sudah patah. Tanpa pikir panjang dia lalu meloncat turun dan mengejar Giam Kin.

Giam Kin memiliki kepandaian ilmu berlari berdasarkan ginkang yang tinggi, maka larinya cepat sekali. Beng San yang belum pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan tetapi karena di luar kesadarannya dia telah ditempati tenaga Im dan Yang, tenaga yang amat besar mukjijat, maka otomatis dia memiliki keringanan tubuh dan larinya pun cepat sekali.

Maka kejar-kejaran ini terjadi ramai sekali dan sebentar saja dua orang anak itu telah jauh meninggalkan dusun tadi. Beberapa kali Giam Kin yang amat marah dan penasaran itu sengaja berhenti dan menyerang dengan tiba-tiba, akan tetapi setiap serangannya selalu dapat ditangkis oleh Beng San, dan setiap kali lengan tangan mereka beradu, Giam Kin mengaduh dan kedua lengannya sudah bengkak-bengkak!

Giam Kin menjadi amat ketakutan dan lari makin cepat, dikejar terus oleh Beng San yang berteriak-teriak.

"Kau berlutut dulu minta ampun baru kulepas!"

"Jembel busuk, siapa sudi minta ampun? Guruku akan membikin remuk kepalamu!" jawab Giam Kin yang berlari terus.

Sampai dua puluh li mereka berkejaran. Akhirnya Giam Kin tidak kuat lagi dan dia kena dipegang pundaknya oleh Beng San dari belakang.

"Hendak lari ke mana engkau, siluman ular?"

Giam Kin melawan dan memukul, akan tetapi pukulannya ditangkis oleh Beng San yang langsung membalas menampar pipinya.

"Plakkk!"

Giam Kin roboh terguling, merasa betapa tamparan itu membuat matanya berkunang dan kepalanya pening.

"Hayo kau minta ampun dan berjanjilah lain kali tidak akan bermain-main dengan ular-ular jahat!" bentak Beng San sambil bertolak pinggang.

"Tidak sudi!"

"Kau memang layak dipukul!"

Beng San menjadi marah, kemudian dia memukuli kepala dan badan Giam Kin. Anak itu menjerit-jerit dan menangis.

"Suhu, tolong... suhu, tolong...!"

Tiba-tiba Giam Kin mengeluarkan suara bersuit nyaring sekali. Akan tetapi, Beng San tak peduli dan memukuli terus.

"Kau siluman kejam! Dengan ular-ularmu itu kau telah membunuh banyak orang. Lekaslah berjanji tak akan main-main lagi dengan ular, atau... kupukul kepalamu sampai remuk!" Beng San membentak-bentaknya.

"Heh, bocah kasar, jangan main pukul kepada muridku!” Suara ini terdengar dari tempat jauh.

Beng San menengok ke kanan kiri, tapi tidak melihat orangnya yang berbicara.

"Setan," pikirnya. "Bocah siluman ular, gurunya juga iblis dan setan." Tapi dia tidak takut dan hendak memukul pula.

Angin bertiup di belakangnya dan ketika Beng San menoleh, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih. Laki-laki ini tubuhnya sedang saja, tetapi pakaiannya terlampau besar hingga nampak lucu. Apa lagi lengan bajunya amat panjang menutupi kedua tangannya. Mukanya nampak sabar, alisnya tebal dan sepasang matanya tajam.


BERSAMBUNG KE Raja Pedang Jilid 09