Misteri Dewi Maut

MISTERI DEWI MAUT

SATU
MALAM belum lagi larut. Tak heran kalau masih saja ada orang berkeliaran di luaran. Seperti dua orang laki-laki yang tengah menyusuri jalan setapak di Desa Randu Dongkal ini. Kaki mereka telah penuh lumpur. Dan sesekali, terdengar kecipak air ketika kaki mereka menjejak kubangan air. Tadi siang, turun hujan rintik yang tak ada hentinya. Baru ketika menjelang senja, hujan mulai berhenti. Namun tetap saja mendung masih terlihat, membuat langit jadi tampak kelam. Perlahan-lahan hawa dingin merambat semakin menggila. Dan kini tubuh kedua orang itu mulai tampak menggigil.

"Tidak biasanya, malam ini terasa dingin ya, Kang?" kata salah seorang memecah kebisuan yang terjadi sejak tadi. Bila melihat raut wajahnya, orang itu berusia sekitar dua puluh tahun. Parasnya tampan, dengan tubuh besar dan tegap.

"Huh! Kalau saja Purwati tidak ingin melahirkan sekarang, tak bakalan aku mau keluyuran di malam sedingin ini!"

"Jangan begitu, Gento! Justru di situlah tanggung jawabmu sebagai suami diuji. Jangan enaknya saja yang kau suka!" ujar kawannya sambil terkekeh kecil.

Tubuh orang ini kecil, kumisnya yang melintang bergerak-gerak ketika tertawa. Tingginya hanya sebatas telinga pemuda yang dipanggil Gento. Tapi melihat sorot matanya yang tajam dan langkahnya yang ringan, bisa diukur kalau kepandaiannya tidak rendah.

"He he he...! Dingin-dingin begini, buat apa keluar? Lebih baik mendekap Purwati," kata Gento diiringi suara terkekeh renyah.

"Brengsek kau, Gento! Ingin membuatku cemburu, ya...?" rutuk laki-laki berkumis melintang itu.

"Makanya cepat-cepat kawin, Kang Badra untuk apa lama-lama? Itu dengan Lastri bagaimana...?”

Laki-laki berkumis melintang itu menghela napas. Berat sekali rasanya mendengar nama perempuan yang disebutkan Gento tadi. Apalagi untuk bercerita.

"Maaf. Kang Badra. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu desah Gento begitu menyadari perubahan pada raut wajah orang yang dipanggil Badra.

"Ah, tidak apa-apa...!" sahut Badra, setelah menghela napas" Barangkali bukan jodoh, To. Si Lastri lebih tertarik pada Prabanta..."

"Prabanta..? Lintah darat yang sering memeras penduduk itu?" Mata Gento kontan terbelalak seperti tak percaya pada pendengarannya. Dan ketika dilihatnya laki-laki itu mengangguk, dia kembali terkesima. "Astaga! Tidak disangka, ya Kang. Kukira Lastri orangnya baik budi. Ternyata hatinya menyimpan kebusukan. Tega benar dia mengkhianatimu!" kata Gento, agak mendengus.

"Dia tidak mengkhianati aku, To...."

"Jadi, apa namanya? Memang Prabanta masih bujangan dan kaya raya. Wanita mana yang tidak tertarik padanya? Tetapi, dia tak boleh berbuat sesuka hatinya seperti itu!"

"Orang tua Lastri terjerat hutang. Sedang Prabanta terus mendesak dan memaksa. Bahkan belakangan, mulai mengancam akan menyita semua harta benda orang tua Lastri yang tersisa. Tapi ternyata, Prabanta menyimpan niat tertentu. Dia menginginkan Lastri...," Jelas Badra dengan suara getir.

"Lalu apakah Lastri mau saja? Dan Kakang tidak berbuat apa-apa untuk mencegahnya...?" desah Gento.

"Apa yang harus kuperbuat jika orang tuanya telah bersedia? Dia pikir aku ini hanya seorang pengembara yang tidak punya pekerjaan tetap. Jika anaknya kawin dengan Prabanta, tentu akan terjamin. Dan tentu saja kehidupan mereka tidak morat-marit lagi"

Gento mengangguk-angguk tanda mengerti. "Aku turut bersedih, Kang. Untung saja lintah darat itu tak berada di desa kita. Kalau tidak, pasti dia pun mengincar Purwati. Aku tak akan bisa bersikap tabah sepertimu..."

"Sudahlah. Aku tidak mau mengungkit-ungkit peristiwa itu lagi. Dengan mengembara ke mana saja, lama kelamaan bayangan itu akan hilang dengan sendirinya," ujar Badra mantap.

"Jadi, Kakang akan mengembara lagi...?" tanya Gento.

"Benar. Untuk apa aku berada di sini...?"

"Sebagai adik, aku memang tidak berhak mengatur jalan hidup Kakang. Tetapi kalau Kakang terus begini, mana bisa hidup tenang. Kakang harus punya keluarga dan menetap di suatu tempat," desah Gento.

Badra belum sempat menyahut, ketika hidungnya kembang-kempis mencium sesuatu. Dan Gento pun juga merasakannya. Udara yang dingin tiba-tiba bercampur wewangian menyengat. Keduanya mencari-cari sumbernya, tetapi sampai beberapa saat belum diketemukan juga. Seolah, sumber wewangian itu menyebar ke segala tempat, terbawa angin yang berhembus menggigilkan.

"Bau harum apa ini, Kang Badra...?" tanya Gento keheranan.

"Entahlah.... Aku juga tidak tahu. Seperti bau harum kembang setaman bercampur kayu cendana. Tetapi kini lebih wangi!" Belum juga kata kata Badra kering...

"Awaaas, Kang...!" Teriak Gento memperingatkan

Mendadak saja sesuatu bayangan putih menyambar ke arah mereka. Cepat bagai kilat mereka melompat ke kiri dan kanan, sehingga sambaran bayangan itu luput..Namun begitu gagal, bayangan itu cepat berputar dan kembali melesat. Kali ini, Gento yang menjadi sasaran. Sementara Badra yang sadar kalau adiknya tidak mengerti sama sekali dalam soal ilmu olah kanuragan langsung memapak dengan tangan terkepal.

Plak!

"Ugkh!" Laki-laki itu mengaduh! Wajahnya berkerut menahan sakit. Tangannya seolah olah membentur dinding batu yang keras. Belum lagi disadari apa yang terjadi, telah berdiri tegak seseorang tiga langkah di depannya. Bahkan tahu tahu saja, tubuh Gento telah dikempit di pinggangnya dalam keadaan tertotok.

"Siapa kau...?" bentak Badra dengan mata terbelalak. Betapa tidak? Bayangan putih tadi ternyata seorang wanita muda berwajah jelita. Kulitnya putih bersih. Hidung yang mancung, bibir merah merekah, serta rambutnya yang hitam panjang bergelombang sampai ke pinggul, membuat sempurna kecantikannya.

Bukan itu saja yang membuat laki-laki berkumis melintang ini terpaku. Pakaian yang dikenakan wanita itu begitu tipis. Sehingga samar-samar lekuk-lekuk tubuhnya yang menggiurkan terlihat. Sintal dan padat, dengan dua buah bukit kembar yang membentuk indah. Dari tubuh wanita itulah tercium bau harum yang membuat setiap laki-laki mabuk kepayang.

"Bocah bagus, namaku Ayu Purbani. Adikmu kupinjam barang sejenak. Setelah itu, akan kukembalikan lagi padamu," sahut si Wanita, disertai senyum memikat.

Untuk sesaat laki-laki itu seperti tidak tahu harus berbuat apa. Dipandanginya wanita itu lama sekali, seolah ingin meyakinkan kalau tidak salah lihat.

"Mengapa melamun? Kau tidak keberatan bukan...?" tanya wanita cantik ini memecah keterpakuan Badra.

"Eeeh, tunggu dulu! Mau kau bawa ke mana adikku?" cegah laki-laki itu, ketika perempuan cantik ini berbalik dan melangkah menjauh.

"Hm. Sayang wajahmu tidak memungkinkan. Kalau tidak, aku pun berkenan meminjammu," sahut wanita itu sambil terus melangkah.

"Heee, apa maksudmu...?"

"Maksudku...? Hi hi hi...! Adikmu bertubuh bagus dan wajahnya lumayan. Dan kau mengerti maksudku, bukan...?"

Tersiraplah darah Badra ketika mendengar kata-kata wanita ini. Kesadarannya mulai timbul. Wanita yang mengaku bernama Ayu Purbani ini, jelas bukan orang baik-baik. Sebenarnya Badra hendak menghalangi wanita itu membawa adiknya. Tapi dia tidak kuasa menentang sorot mata Ayu Purbani yang penuh daya pemikat luar biasa. Seolah, setiap keinginannya harus selalu dipenuhi dan dituruti.

"Setan!" hardik Badra sambil berpaling. Mulai disadari kalau pandangan wanita itu mengandung kekuatan yang tidak wajar. "Lepaskan adikku. Jangan paksa aku berbuat kasar untuk mencegah niat kotormu itu!"

"Hi hi hi...! Boleh juga gertakkanmu. Tetapi, kau tidak berhak atas dirinya. Kalau adikmu mau ikut denganku, kau mau bicara apa?" kata Ayu Purbani. Kemudian tangan Ayu Purbani bergerak cepat ke arah punggung Gento. Totokan pemuda itu dilepaskan. Pandangan matanya tak bergeser dari mata Gento. "Bocah bagus, bersediakah ikut denganku?" tanya Ayu Purbani disertai senyum manis.

"Eh, aku..? Tentu saja suka sekali. !" sahut Gento yang sudah berdiri di samping wanita itu.

"Hi hi hi...! Bagus! Bagus!" Ayu Purbani terkikik girang. Lalu kepalanya berpaling pada Badra. "Nah! Kau dengar, bukan...? Dengan suka rela dia ikut denganku. Sekarang, kau pulanglah!"

"Kuntilanak sialan! Kau pasti menggunakan ilmu sihir. Pergilah, dan jangan ganggu kami! Atau aku akan menggunakan kekerasan padamu!" bentak Badra garang.

"Hi hi hi...! Bisa berbuat apa kau padaku? Nih, bawalah dia!"

"Gento! Ayo kita pergi dari tempat ini!" ajak Badra sambil menarik tangan adiknya.

Tetapi, nba-tiba saja Gento menyentakkan lengannya dengan keras. Sehingga cekalan tangan Badra terlepas.

"Gento! Apakah kau benar-benar telah kepincut kuntilanak ini...? Ayo, cepat kita pergi...!" dengus Badra.

"Kakang! Pulanglah lebih dulu! Nanti aku menyusul!" ujar Gento dengan pandangan mata kosong.

"Kau bicara apa, Gento...?" tanya laki-laki berkumis melintang itu sambil membelalakan matanya. Tanpa sadar tangannya terayun ke wajah Gento.

Plak! Plok!

Wajah Gento tampak merah terkena tamparan Badra. Sebagai balasannya, Gento memandang tajam pada kakaknya.

"Bangsat...! Semua ini gara-gara ulahmu!" bentak Badra sambil menyerang Ayu Purbani.

"Hi hi hi...! Kenapa kau marah? Seharusnya kau menyadari kalau tidak berhak mencampuri urusan orang muda!" ejek Ayu Purbani, langsung menghindari serangan itu dengan mudah.

"Setan! Adikku tidak pantas bagj wanita sepertimu!" seru Badra kembali menerjang wanita cantik itu.

Dengan tersenyum penuh ejekan, Ayu Purbani memiringkan tubuhnya. Bahkan dengan jari-jari terbuka, dikirimkannya satu tebasan ke arah leher.

Weeet!

Dengan terkejut, laki-laki berkumis melintang itu segera membuang diri ke samping. Tetapi sebuah tendangan melingkar Ayu Purbani telah melayang cepat ke arah perut Badra.

Begkh!

"Ugkh...!" Badra memekik keras, begitu perutnya terhajar tendangan. Perutnya terasa mual dan kepalanya pening. Tak terasa darah segar menetes dari sudut bibirnya.

"Hi hi hi...! Baru punya kepandaian setahi kuku, mau banyak jual lagak. Seharusnya kau sudah kubunuh sejak tadi!" kata wanita itu, penuh ejekan.

"Keparat! Bunuh saja aku! Aku tak takut mati!" hardik laki-laki itu dengan mata merah.

"Hi hi hi...! Bocah bagus! Kau lihat, bukan? Dia telah mengganggu kita. Orang seperti itu patut menerima hukuman. Butakan matanya. Dan buntungi kedua kakinya!" ujar wanita itu.

Ayu Purbani segera mengeluarkan satu dari sepasang pedang pendek yang terselip di pinggangnya. Tanpa ragu-ragu, Gento yang sudah hilang pikiran warasnya menerima pedang itu dan melangkah mendekati kakaknya. Pedang itu segera diangkatnya tinggi-tinggi.

"Gento, apa yang kau lakukan? ingat! Aku ini Kakangmu, Gento!" Laki-laki itu berteriak untuk menyadarkan adiknya. Tetapi....

Crap! Crappp!

"Wuaaa...!" Badra berteriak setinggi langit, ketika pedang itu cepat sekali menembus sepasang matanya. Dengan tubuh terhuyung-huyung, Badra mendekap kedua matanya yang tertembus pedang pendek dengan kedua tangannya. Tampak darah mengalir dari sela-sela jarinya. Sebentar saja, Badra telah ambruk di tanah, tak sadarkan diri. Dan ketika kedua kakinya ditebas, dia sudah tak merasakan apa-apa lagi.

"Hi hi hi...! Bagus! Dengan begitu dia tidak akan mengganggu kesenangan kita lagi!" Wanita itu terkikik kegirangan, setelah Gento menjalankan perintahnya. Dan setelah menotok Gento kembali, wanita cantik itu berkelebat pergi dari tempat ini. Sementara Gento yang masih dalam pengaruh ilmu sirepnya dan tertotok lemas, dibopong di bawah ketiaknya.

********************

"Oaa... Oaaa...!"

Keheningan sebuah rumah gubuk di Desa Randu Dongkal pecah oleh tangisan bayi. Sementara perempuan muda di dalam gubuk itu tersenyum lega. Kedua matanya basah oleh air mata haru. Dipandanginya bayi mungil masih merah itu, kemudian dikecupnya perlahan-lahan. Dan tangis bayi itu pun perlahan- lahan mereda. Kemudian mata wanita itu memandangi perempuan tua yang sejak tadi berada di tepi ranjang dengan wajah lesu.

"Mbok.... Kakang Gento ke mana? Sejak semalam hingga pagi ini, dia belum kembali. Apakah dia menemui kesulitan di perjalanan?" tanya wanita muda ini.

"Entahlah, Nduk. Hatiku pun gelisah. Seharusnya dia sudah kembali bersama dukun beranak. Untung kau tidak mengalami kesulitan. Bayi itu keluar dengan mudah," jawab perempuan tua ini.

"Kakang Badra juga belum kembali...?"

Perempuan tua itu menggeleng.

"Ke mana mereka, Mbok...?"

"Mana aku tahu? Bapakmu telah menyusul menjelang pagi tadi. Mudah-mudahan sekarang telah bertemu... "

Ucapan perempuan itu belum selesai, ketika dan kejauhan terdengar bunyi kentongan dipukul bertalu-talu. Keduanya saling berpandangan dengan wajah cemas.

"Mbok, ada apa? Bukankah bunyi kentongan itu menandakan ada seseorang yang kena musibah?"

"Entahlah, Nduk Aku kurang jelas...," desah si Perempuan Tua.

Perempuan tua itu buru-buru membuka pintu depan ketika mendengar ribut-ribut di luar. Di depan pintu, berdiri seorang laki-laki kurus berusia lima puluh lima tahun. Kedua tangannya membopong tubuh seseorang yang ditutupi selimut lebar. Di belakangnya tampak pula seorang pemuda, yang juga membopong sesosok tubuh. Walaupun telah diselimuti kain, masih terlihat tetesan darah yang membuat kain itu jadi berwarna merah. Dengan seketika, wajah perempuan tua itu menjadi pucat.

"Kang, apa yang telah terjadi. ..?" tanya perempuan tua itu dengan perasaan cemas. Dengan tiba-tiba disingkapnya kain yang menutupi tubuh orang yang dibopong laki-laki tua di depannya. Begitu terbuka, perempuan tua itu memekik sekuatnya. Tubuhnya langsung lemas dan ambruk seketika.

"Mbok, ada apa?"

Mendengar suara orang jatuh, perempuan muda yang berada di ranjang berusaha bangkit. Beberapa orang laki-laki segera menerobos masuk, dan berusaha menahan wanita muda itu agar tidak melihat tubuh yang sedang dibopong laki-laki kurus tadi.

"Lepaskan! Lepaskan aku, ingin kulihat siapa dia...?"

"Purwati, tenangkan hatimu! Kau masih perlu istirahat...," bujuk salah seorang.

Tetapi perempuan muda bernama Purwati itu terus meronta-ronta melepaskan diri. Secara tiba-tiba, seperti memiliki tenaga yang berlipat ganda, sekali sentakan dia berhasil melepaskan diri. Kemudian, langsung menghambur untuk melihat wajah orang yang sedang dibopong laki-laki tua itu. Ketika kain itu dibuka, Purwati langsung memekik sekuatnya.

"Kakang Gentooo...!"

Ternyata orang yang dibopong memang Gento. Wajahnya kini terlihat pucat berkeriput, warna kulitnya berubah pucat kekuning-kuningan. Bahkan tubuhnya telah kaku dan dingin. Melihat suaminya tewas secara menyedihkan, Purwati langsung pingsan. Untung orang yang berdiri dekat dengannya menahan. Langsung Purwati dibopong dan dibaringkan di tempat tidur.

********************

DUA

Seorang pemuda tampan berbaju rompi putih berjalan peten, melewati pematang sawah. Sesekali wajahnya yang penuh keringat diusap dengan punggung tangannya. Siang ini matahari memang bersinar penuh, seakan-akan hendak membakar bumi. Wajah pemuda itu yang semula bersih kini mulai matang kemerahan.

"Huh! Panasnya minta ampun. Mungkin di Sana aku bisa berteduh," desah pemuda itu ketika melihat pohon besar yang rindang tumbuh di depannya. Sebentar saja, pemuda itu melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Sehingga tak heran, dalam waktu singkat dia telah berada di bawah pohon rindang ini.

Tapi baru saja pemuda itu bermaksud merebahkan diri, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara ribut-ribut, di belakang bukit kecil yang tak jauh dari situ. Mulanya hendak didiamkan saja. Tetapi begitu mendengar jeritan seseorang yang teraniaya, cepat tubuhnya bangkit. Seketika kekuatannya dikempos, langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat tinggi. Begitu cepat kelebatan tubuhnya, sehingga sebentar saja dia telah sampai di atas bukit kecil. Dan pandangannya langsung tertuju pada empat orang laki-laki bertampang kasar, yang tengah mempermainkan seorang gadis berbaju hijau di bawah sana.

"Keparat, lepaskan aku!" teriak gadis berbaju hijau itu, yang sudah dalam keadaan tertotok.

"He he he...! Melepaskanmu...? Sungguh bodoh sekali...," sahut laki-laki bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk. Di pinggangnya, tergantung sebilah golok besar. Sepasang matanya berbinar-binar, seperti hendak menelanjangi tubuh gadis itu.

"Cuih! Setan-setan keparat seperti kalian hanya bisa main keroyok. Lepaskan aku! Aku masih mampu bertarung sampai seribu jurus!"

"Kau benar, Blonto Suro! Dia masih mampu bertarung seribu jurus, kenapa tidak kau layani!" kata laki-laki kurus bersenjatakan rantai besi. Pandangannya ditujukan pada laki-laki tinggi besar yang dipanggil Blonto Suro.

"Untuk apa bertarung segala, kalau di depan mata sudah terdapat hidangan nikmat. Bukan begitu, Dipakama?" timpal laki-laki berkepala botak, dengan tubuh bongkok. Di pinggangnya tampak berjejer pisau kecil.

Sementara, laki-laki kurus yang dipanggil Dipakama hanya manggut-manggut. Pandangannya kini sudah menjilati tubuh gadis yang terbaring tak berdaya karena tertotok lemas.

"Durbala, kau ini tolol sekali!" sela laki-laki yang mengenakan blangkon" Maksud Dipakama itu bagus. Kenapa tidak dilayani? Bukankah dia masih kuat bertarung seribu jurus? Apalagi hanya menghadapi kita berempat. Tenaganya tentu masih segar bugar."

"Aaah! Kau terlalu membuang tenaga, Wiksa Keti! Untuk apa dibuat lama-lama. Sebaiknya, segera dimanfaatkan!" potong laki-laki botak yang dipanggil Durbala, tidak sabar.

"Maksudku, kita akan bertarung dengannya, tetapi tidak di sini. Melainkan, di semak-semak itu!" sahut Dipakarna sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Laki-laki berblangkon yang dipanggil Wiksa Keti terkekeh, begitu mengerti apa yang dimaksudkan Dipakama. Matanya melotot sambil menyeringai, dengan ludah hampir menetes penuh nafsu saking gemasnya, dia membungkuk tangannya langsung terjulur, meremas sebelah dada gadis itu.

"Ouw...! Bangsat keparat, kubunuh kau setan!" bentak gadis itu sambil melotot garang. Wiksa Keti hanya terkekeh kesenangan.

"Wiksa Keti, siapa suruh mendahuluiku? Setan kau!"

"Anjing-anjing kurap! Jangan harap dapat menyentuh diriku! Lebih baik aku mati daripada kalian sentuh!" bentak gadis itu.

"Ha ha ha.. ! Kau ingin mati? Boleh saja! Tetapi, setelah kami semua puas nanti!" sahut Blonto Suro. Setelah berkata begitu, Blonto Suro menyambar wanita itu. Langsung dibawanya gadis ini ke balik semak-semak rimbun.

"Bangsat! Lepaskan aka.., lepaskan aku...!" teriak wanita itu kembali. Kini hatinya mulai dijalari rasa takut yang tak terhingga. Namun belum lagi, Blonto Suro bertindak lebih jauh....

"Lepaskan gadis itu, Kisanak!"

Tiba-tiba terdengar bentakan yang keras menggelegar, membuat keempat orang itu terkejut. Dan belum hilang keterkejutan mereka, sudah berkelebat sosok bayangan putih, dan tahu-tahu mendarat ringan di depan Blonto Suro.

Kini, semua yang ada di situ melihat, siapa yang mengeluarkan bentakan tadi. Dia adalah pemuda berbaju rompi putih. Pedangnya yang berhulu kepala rajawali tersembul di balik punggungnya. Rambutnya yang gondrong berterbangan ditiup angin.

"Siapa kau?!" bentak Blonto Suro.

Sementara itu tiga orang sahabat laki-laki bertubuh besar itu mendekat dengan wajah garang. Masing-masing siap memegang senjatanya.

"Aku Rangga. Dan aku muak melihat tingkah kalian! Sebaiknya, lepaskan wanita itu!" seru pemuda berbaju rompi putih yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti.

"Anjing kecil! Jangan jual lagak di hadapan Empat Iblis Pencabut Nyawa!" bentak Blonto Suro. Kemudian kepalanya berpaling pada Dipakama. "Dipakama! Sebaiknya cepat bereskan dia, sebelum aku muntah melihat lagaknya!"

Tetapi, Dipakama tampak ragu-ragu.

"Dipakama, kau dengar tidak kata-kataku?" bentak Blonto Suro kembali.

"Sebentar, Blonto Suro. Rasanya aku pernah melihat ciri-ciri pemuda ini. Dan, pedangnya itu... "Kalau tak salah, dia Pendekar Rajawali Sakti!"

Bagaikan disengat kala, Blonto Suro baru ingat dengan julukan itu.

"Kau Pendekar Rajawali Sakti?" seru Blonto Suro dengan perasaan bergetar. Kakinya mundur dua tindak ke belakang. Namun. dia cepat berusaha menguasai diri.

"Pendekar Rajawali Sakti! Sebaiknya pergilah dari sini. Dan, jangan suka mencampuri urusan orang!" bentak Blonto Suro.

"Lebih baik lagi, bila kalian yang pergi dari sini. Dan, tinggalkan wanita itu!" ujar Rangga tenang.

"Pendekar Rajawali Sakti! Mendengar namamu, tadinya kami masih menghargai. Tetapi lagakmu telah membuatku muak!" seru Blonto Suro dengan sikap dibuat setenang mungkin.

"Kisanak! Sebenarnya, tingkah siapa yang memuakkan? Kalian empat orang kuat ingin mengganggu seorang wanita. Dan aku…?" tanya Rangga.

"Kurang ajar! Dipakama, dan kau Wiksa Keti! Bereskan dia...!" teriak Blonto Suro.

Wiksa Keti dan Dipakama segera mempersiapkan diri untuk segera menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Ciaaat...!" Wiksa Keti berteriak nyaring. Tahu kalau Pendekar Rajawali Sakti berilmu tinggi, laki-laki berblangkon tidak berani berlaku ayal-ayalan. Senjata andalannya yang berupa keris di tangan segera berkelebat mengancam tenggorokan. Dan apabila serangannya gagal nanti, dia telah mempersiapkan serangan susulan. Dan jurusnya ini disebut, 'Memanah Rembulan Menyingkap Tirai Pelangi'. Itulah salah satu jurus yang menjadi andalannya.

Dipakama sendiri telah memutar-mutar rantai besinya. sehingga menimbulkan pusaran angin kencang. Senjatanya mengancam gerakan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiaaat!" Tubuh Rangga meliuk-liuk tak beraturan bagai orang mabuk, mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'! Sehingga kelebatan keris lawannya lewat dengan sendirinya. Ketika sebuah tendangan Dipakama melaju ke lambung, Rangga langsung melenting ke atas. Maka serangan itu luput dengan sendirinya.

"Bangsat!" maki Wiksa Keti begitu melihat serangan lawannya gagal. Laki-laki berblangkon itu segera memutar tubuhnya. Lalu dengan satu loncatan ringan, dikejarnya Pendekar Rajawali Sakti.

"Heup!" Begitu menjejak tanah, Rangga kembali melenting ke udara. Dan setelah berputaran beberapa kali, tubuhnya hinggap di salah satu cabang pohon kecil. Kemudian Rangga duduk seenaknya sambil mengawasi lawannya yang berada di bawah.

"Pendekar Rajawali Sakti, turunlah kau! Apa kebisaanmu hanya main loncat-loncatan begitu? Mari kita tentukan, siapakah yang lebih unggul!" teriak Wiksa Keti, mencak-mencak.

Karena Rangga mendiamkan saja, Dipakama jadi berang.

"Hiyaaa!" Laki-laki bersenjatakan rantai besi itu langsung melenting. Rantai besinya kemudian dikelebatkan dengan kekuatan dahsyat.

Wuuut! Krakkk!

"Uts!" Rangga bergerak cepat, ketika rantai besi Dipakama menghantam cabang pohon tempat duduknya tadi. Tubuhnya langsung melayang bagaikan rajawali. Kemudian, tangannya bergerak mengibas. Maka dari tangannya melesat sesuatu yang mengarah ke wajah lewan-lawannya.

Dengan terkejut kedua orang di bawahnya berusaha menghindari. Tetapi, daya luncur benda itu lebih cepat lagi. Hingga…

Plak! Plok! "Aaah!"

Wiksa Keti dan Dipakama gelagapan sesaat begitu benda itu mendarat di wajah masing-masing. Ketika mereka menyeka wajah, terciumlah bau busuk yang tidak sedap. Maka, meledaklah amarah mereka.

"Kurang ajar! Berani kau melempar wajahku dengan bau busuk! Kupatahkan batang lehermu nanti!" seru Dipakama.

"Biar dia kubikin mampus!" timpal Wiksa Keti.

Melihat kedua temannya dapat mudah dipermainkan, Durbala ikut maju mengeroyok Rangga yang sudah mendarat manis di tanah. Sementara Rangga hanya memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' dalam menghadapi lawan-lawannya.

"Tak pantas kalian mengeroyok anak gadis. Mestinya kalian mengeroyok ketidakadilan di muka bumi ini," kata Pendekar Rajawali Sakti, kalem.

"Jangan banyak mulut! Terimalah pisau-pisauku ini!" sentak Durbala.

Siut! Cet! Cettt!

Seketika lima bilah pisau terbang melesat, mengancam tubuh Rangga. Dapat dibayangkan, betapa berbahayanya serangan ini.

"Haaap!" Namun dengan segera Rangga mengeluarkan jurus 'Seribu Rajawali' yang memiliki gerakan cepat. Sehingga, tubuhnya seperti berubah jadi banyak. Dan entah bagaimana caranya, kelima pisau terbang itu tahu-tahu sudah berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Lalu secepat itu pula, pisau-pisau itu dilempar balik pada Wiksa Keti dan Dipakama.

Zing! Zing!

Dua dari Empat Iblis Pencabut Nyawa itu jadi terkesiap, melihat kecepatan pisau-pisau yang melebihi kecepatan lemparan Durbala tadi. Namun dengan gerakan cepat mereka berusaha menangkis senjata pisau yang dilempar balik oleh Rangga, menggunakan senjata masing-masing. Sial bagi Dipakama. Karena gerakannya kurang cepat, pinggangnya tersambar juga.

Cras!

"Aaakh!" Dipakama kontan menjerit kesakitan, begitu tersambar pisau yang dilempar Pendekar Rajawali Sakti.

"Bangsat! Pendekar Rajawali Sakti! Hari ini aku akan mengadu jiwa denganmu!" bentak Dipakama tak mempedulikan darah yang mengucur dari luka di pinggang. Rantai besinya diputar putar mengancam Rangga.

Wuuut! Wuuut! Siuuut!

Seketika tiga serangan dahsyat menerjang Rangga, dari tiga orang pengeroyok yang tampaknya tidak mau memberi hati lagi. Sementara, Rangga segera memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya cepat meliuk-liuk tak beraturan, menghindari setiap serangan. Sambil menghindari serangan, Pendekar Rajawali Sakti sesekali mengirimkan serangan balasan.

Untuk sesaat pertarungan berjalan sengit dan seru. Tiga lawannya benar-benar sudah murka. Tampak rantai besi Dipakama menyambar-nyambar bagai gerakan ular mencari mangsa. Sedangkan ujung keris Wiksa Keti menusuk-nusuk ke tempat yang mematikan. Sementara, pisau-pisau terbang Durbala mengancam seluruh jalan darahnya.

Dengan gerakan yang sulit ditangkap mata biasa, Pendekar Rajawali Sakti berhasil menangkap semua pisau terbang Durbala. Bahkan kakinya tiba-tiba melepaskan tendangan pada Wiksa Keti. Sehingga, orang ini jadi jatuh terpelanting. Ketika Durbala kembali melempar pisau-pisau terbang, semuanya dapat dipukul jatuh oleh Pendekar Rajawali Sakti menggunakan senjata pisau terbang yang berhasil ditangkapnya.

Durbala terkejut setengah mati, ketika pisau terbang miliknya dapat dilumpuhkan. Dan belum lagi rasa keterkejutannya hilang. Pendekar Rajawali Sakti telah berkelebat cepat dengan sebuah totokan berbahaya. Maka dengan sebisanya, dia melenting ke belakang berusaha menjauhi Pendekar Rajawali Sakti. Tetapi Rangga terus mengejarnya, dengan sebuah tendangan menggeledek. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Begkh!

"Aaakh...!" Telak sekali dada Durbala mendapat sebuah tendangan keras, walaupun hanya sedikit dialiri tenaga dalam dari Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya kontan terjungkal di tanah, disertai jerit kesakitan.

Dengan gerakan cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti langsung berkelebat ke Wiksa Keti. Langsung dicengkeramnya laki-laki berblangkon itu, dan langsung dilemparkan ke arah Dipakama. Tanpa dapat dicegah lagi keduanya menjerit setinggi langit, ketika bertabrakan satu sama lain dan jatuh berdebam di tanah.

"Kurang ajar! Hadapilah aku, Pendekar Rajawali Sakti!" bentak Blonto Suro geram, melihat kawan-kawannya tengah mengaduh-aduh kesakitan.

Betapa terkejutnya orang tinggi besar itu ketika menoleh ke arah Rangga kembali. Ternyata Pendekar Rajawali Sakti telah lenyap dari tempatnya berdiri tadi. Dan ketika matanya diarahkan pada gadis tadi, ternyata telah lenyap pula. Blonto Suro hanya bisa menghentak hentakkan kakinya dengan kesal.

"Kisanak kita tidak bermusuhan! Jadi, untuk apa saling bunuh? Urus sajalah ketiga orang sahabatmu itu. Kau tidak perlu penasaran pada gadis itu. Dia kini aman bersamaku!" terdengar suara Rangga dari kejauhan, yang dialiri tenaga dalam.

TIGA

"Nisanak. Kalau boleh kutahu, siapakah namamu? Aku Rangga?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, kepada gadis yang baru saja ditolongnya dari gangguan Empat Iblis Pencabut Nyawa.

"Untuk apa kau tanya-tanya namaku? Dan, siapa pula yang menyuruhmu menyelamatkanku?! Aku masih bisa menjaga diriku sendiri!" sentak gadis berbaju hijau ini.

Gadis itu ternyata terlalu angkuh. Dia benar-benar tak peduli kalau dirinya telah diselamatkan Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan sedikit pun tidak mengucapkan terima kasih. Sikapnya terkesan sinis dan acuh.

"Tentu saja kau dapat menjaga diri. Tapi dalam keadaan tertotok seperti tadi, apa kau bisa…?" usik Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau pikir aku tidak dapat melepaskan totokan mereka? Kalau kau tidak mencampuri urusanku, tentu batang leher mereka telah kupenggal satu persatu...!" kilah gadis itu, keras.

Mendengar kata-kata itu, Rangga tidak dapat lagi menahan tawanya.

"Heee...?! Mengapa menertawaiku. .?" bentak wanita itu.

"Siapa bilang? Aku tertawa, ya karena ingin tertawa saja...," ujar Rangga.

"Huh! Laki-laki memang sering berdusta!"

"Nyatanya, wanita paling senang didustai..," balas Rangga.

"Wanita yang mana? Kau pikir, semua wanita bisa kau dustai?!" bentak wanita itu. Matanya kini melotot gusar.

"Yang jelas bukan kau, Nisanak...," kata Rangga.

"Jangan tertawa! Tidak lucu, tahu?!"

"Aku tidak bermaksud melucu...!" kata Rangga perlahan.

"Kau memang brengsek! Kenapa kau mengikutiku terus-menerus? Pergi sana! Aku dapat berjalan sendiri!"

"Eh...? Siapa yang mengikutimu, Nisanak? Bukankah kau sendiri yang mengikutiku...?" bantah Rangga.

"Brengsek!" Gadis ini jadi bersungut-sungut, kemudian berbalik. Seketika dia berlari pergi dari tempat pinggiran hutan yang cukup lebat ini. Agaknya, gadis itu baru turun gunung. Sehingga, dia tidak tahu sedang dengan siapa berhadapan. Apalagi untuk mengenal para tokoh persilatan.

Gadis itu baru berhenti larinya, ketika Pendekar Rajawali Sakti tidak mengikutinya. Sambil mengatur pernapasannya yang mulai memburu, tubuhnya disandarkan pada sebatang pohon yang cukup teduh berdaun rindang. Tapi belum lama berteduh, beberapa kulit buah-buahan mengenai tubuh gadis itu. Dengan cepat kepalanya melongok, tampak Pendekar Rajawali Sakti sedang duduk di atas dahan kecil sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Sementara, mulutnya sibuk mengunyah buah yang kulitnya dilemparkan tadi. Melihat hal ini tentu saja gadis itu jadi melotot garang.

"Setan keparat!" seru gadis itu. Seketika itu pula, dia melontarkan pukulan jarak jauh pada dahan yang diduduki Pendekar Rajawali Sakti.

Wuuut! Kraaak!

Dahan yang diduduki Rangga kontan patah berantakan terkena pukulan jarak jauh gadis itu. Tapi, ternyata gerakan Pendekar Rajawali Sakti lebih cepat lagi. Pemuda berbaju rompi putih itu tidak ada lagi di tempatnya, lenyap bagai ditelan bumi. Sehingga gadis itu jadi kebingungan sendiri. Setelah menoleh kesana kemari dan yang dicari tak ada, gadis itu segera berlari menuju ke utara.

********************

Sebuah suara pertarungan pecah di Desa Randu Dongkal. Dua orang bertubuh aneh tampak sedang dikeroyok puluhan orang berpakaian serba kuning yang kelihatannya berasal dari sebuah padepokan. Disekitar pertarungan, mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah sebagai bukti kalau pertarungan telah berjalan cukup lama.

Walaupun dikeroyok orang banyak sedimikian rupa, agaknya kedua orang bertubuh aneh itu tidak mengalami kesulitan. Padahal, masing-masing memanggul tubuh seseorang di punggung. Dari sini bisa diyakini kalau kedua orang itu berkepandaian tinggi.

Salah satu orang yang dikeroyok bertubuh pendek gemuk. Rambutnya yang panjang, dikuncir ke belakang. Wajahnya lebar dengan hidung besar. Sementara yang seorang lagi bertubuh tinggi kurus. Kepalanya botak, agak lancip ke atas. Senjatanya sebuah tongkat berwarna merah darah.

Tiba-tiba saja laki-laki tinggi kurus itu bersiul nyaring sambil menunjuk ke arah orang-orang berpakaian serba kuning. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu puluhan tawon beracun berdatangan dan berputar-putar di sekelilingnya. Lalu, dengan cepat puluhan tawon itu menerjang ke arah para pengeroyok yang jumlahnya puluhan.

Rupanya, laki-laki tinggi kurus itu, memiliki sebuah ilmu yang dapat memanggil puluhan tawon lewat siulan. Sedangkan tongkat merah di tangannya adalah sebagai penangkal tawon-tawon beracun itu.

Maka seketika terdengar teriakan dari sana-sini. Para pengeroyoknya yang terkena sengatan tawon beracun kontan jatuh bergulingan sambil menggigil seperti kedinginan. Kemudian mereka binasa dengan tubuh membiru. Bisa dibayangkan betapa beracunnya tawon-tawon itu!

"He he he…! Apa kalian kira bisa mencegah kami…? Sebaiknya pulanglah. Dan katakan pada ketuamu, kami meminjam putranya hanya sebentar. Tengah malam nanti, pasti akan kukembali kan...," kata laki-laki yang bertubuh pendek sambil tertawa mengejek.

Sementara, laki-laki botak yang bersiul tadi telah menarik pulang tawon-tawon beracunnya, kendati binatang-binatang penyengat itu masih berterbangan disekitarnya.

"Iblis keparat! Kembalikan kedua putra ketua kami! Kalau tidak, terpaksa kepala kalian berdua sebagai gantinya!" bentak salah seorang pengeroyok dengan suara garang, tanpa gentar melihat rekannya yang tewas secara mengenaskan.

"Ha ha ha...! Kau dengar, Rambing Puger! Sungguh hebat gertakan mereka pada kita. Tidak perlu main-main lagi. Sikat saja mereka jangan disia-siakan lagi!" ejek laki-laki botak, kepada laki-laki gemuk yang dipanggil Rambing Puger.

"Hah...! Apa dikira kami sebagai rumput yang diam saja dicabun seenaknya!" teriak salah seorang murid padepokan itu.

"Ha ha ha...! Kalau itu yang kalian kehendaki, baiklah. Berdoalah selagi masih bisa!" ujar Rambing Puger, segera meletakkan orang yang dibopongnya di atas tanah.

"Haiyaaa!" Sambil berjumpalitan beberapa kali di udara, Rambing Puger berteriak keras. Tubuhnya langsung jatuh ke bumi dalam keadaan berjongkok seperti katak dengan kedua tangan menempel di tanah. Pada saat yang seperti itu, para pengeroyok serentak menerjangnya, dengan berbagai senjata tajam.

"Krok! Koook!"

Sambil berteriak seperti katak, Rambing Puger segera menyorongkan kedua tangan ke depan. Maka seketika itu pula terdengar suara seperti angin topan yang bergemuruh, menerjang ke arah para pengeroyok yang merandek sejenak karena terkejut.

"Wuaaa!"

"Aaargkh!"

Seketika tubuh para pengeroyoknya terpelanting, tersambar pukulan jarak jauh Rambing Puger. Teriakan kematian pun terdengar begitu mengenaskan. Dari mulut mereka, mengalir darah kental kehitaman.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Rambing Puger mendekati laki-laki tinggi kurus berkepala botak. "Nah, Simo Jalak. Sekarang giliranmu," ujar Rambing Puger sambil berkacak pinggang.

Tanpa banyak bicara lagi, laki-laki yang dipanggil Simo Jalak mengeluarkan kembali siulan yang mengandung kekuatan gaib dan terdengar janggal di telinga. Maka dari sekitar tempat itu kembali berterbangan puluhan tawon, yang siap menunggu perintah selanjutnya dari Simo Jalak. Dan ketika laki-laki berkepala botak itu menunjuk ke arah pengeroyok, tawon tawon beracunnya segera menyerang sambil memperdengarkan suara menakutkan.

Sementara, orang-orang berpakaian serba kuning tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kalau ada yang dapat menghindar, paling-paling hanya dua tiga orang saja. Tetapi pada saat yang gawat, sekonyong-konyong melesat selarik sinar kemerahan ke arah tawon-tawon beracun.

Slap! Slap! Werrr...!

Seketika itu pula, tawon-tawon beracun berjatuhan ke tanah dalam keadaan hangus. Dan begitu sinar merah kembali menghantam, tawon-tawon yang masih menyerang korbannya berjatuhan dalam keadaan hangus. Betapa terkejutnya Simo Jalak melihat kejadian ini.

"Suiiit! Siiit!

Simo Jalak bersiul keras, memberi aba-aba bagi binatang- binatang suruhannya. Maka kini rombongan tawon beracun itu terbang balik, kemudian lenyap ke dalam hutan, di antara batang pohon yang berdaun lebat.

Sementara sosok yang melepaskan sinar merah tadi, tampak sedang enak-enakan duduk di atas sebatang pohon tumbang. Dia adalah seorang pemuda tampan berambut gondrong. Pakaiannya rompi berwarna putih. Tampak sebatang pedang bergagang kepala burung tersembul di balik bahunya.

"Siapakah kau...?!" bentak Simo Jalak, begitu melihat kehadiran pemuda yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti.

"Namaku tidak penting. Tapi yang penting, hentikan tindakan kejam kalian! Dan bagiku, sudah semestinya turun tangan mencegah sebelum timbul korban lebih jauh...," sahut Rangga.

Simo Jalak segera meletakkan orang yang dibopongnya. Kemudian kakinya melangkah beberapa tindak mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Sementara tongkat merahnya dikebut-kebutkan, hingga menimbulkan suara menyakitkan telinga. Sikapnya sangat memandang rendah.

"Bocah! Menyingkirlah kau, sebelum terlambat dan menyesal!" hardik Simo Jalak. Matanya tampak melotot garang.

"Simo Jalak! Sebaiknya kita berhati-hati. Bocah ini tampaknya berilmu tinggi!" kata Rambing Puger memberi peringatan.

Mendengar peringatan temannya, Simo Jalak hanya mendengus sinis. "He he he...! Takut apa dengan bocah ingusan itu? Dalam beberapa gebrakan saja, dia akan merangkak dan merengek-rengek minta ampun padaku!" sahut Simo Jalak, jumawa disertai tawa meremehkan.

"Jadi...?" tanya Rambing Puger.

"Ya, kita habisi saja sekalian! Terlalu lama di sini bisa-bisa Gusti Ayu Purbani marah pada kita!" potong Simo Jalak.

"Benar juga kau. Biar aku yang habisi dia!" seru Rambing Puger mulai mengerahkan tenaga dalamnya.

"Heya!" Sambil berteriak keras Rambing Puger menyorongkan tangan ke muka dengan telapak terbuka. Maka dari telapaknya berdesir angin keras, ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Begitu desiran angin hampir menerpa tubuhnya, dengan tenang Rangga pun mendorong telapak tangannya ke muka menyambut serangan Rambing Puger.

Wuuut!
Glarrr...!
"Aaakh!"

Terdengar ledakan dahsyat akibat beradunya dua tenaga dalam yang amat tinggi. Sehingga debu dan pasir sampai berterbangan ke mana-mana. Sementara tubuh Rambing Puger terdorong ke belakang. Sungguh tidak disangka akan seperti ini kejadiannya. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti tidak bergeser sedikit pun dari pijakannya.

"Siapakah kau sebenarnya...?!" tanya Rambing Puger, membentak.

"Dialah Pendekar Rajawali Sakti!" Mendadak saja terdengar sebuah suara nyaring dari seseorang. Ternyata suara itu berasal dari seorang gadis berusia belasan tahun yang tahu-tahu sudah berdiri tidak jauh dari situ. Melihat kedatangannya yang tiba-tiba, agaknya gadis itu berisi juga. Wajahnya cantik, namun terkesan galak. Rambutnya dikuncir ke belakang dengan pakaian berwarna hijau.

"Kau sendiri, siapa Nisanak...?" tanya Rambing Puger.

"Soal namaku, tidak perlu tahu. Tetapi setiap orang yang punya sangkut paut dengan Ayu Purbani, harus mati di tanganku!" dengus wanita berbaju hijau, sinis.

Sriiing!

"Heyaaat!" Tiba-tiba gadis itu mencabut pedang. Langsung diserangnya Rambing Puger.

Rambing Puger terkejut setengah mati. Tapi secepat itu, tubuhnya bergeser ke kiri seraya menghantam pergelangan tangan gadis itu. Tapi tentu saja gadis ini tidak sebodoh itu. Cepat tangannya ditarik, langsung melepaskan tendangan ke bawah perut. Terpaksa Rambing Puger melompat ke atas, seraya mengirim serangan kilat ke batok kepala gadis ini.

"Bocah gendeng! Ingin mampus saja, pakai banyak tingkah segala! Nih, makan untukmu!" bentak Rambing Puger.

Tetapi gadis itu cepat memutar pedangnya, dan memapak serangan dengan sabetan senjatanya.

Weeet! Trang!

Benturan dua buah senjata terjadi, menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Dan tahu-tahu, pedang di tangan gadis itu telah terpental dari genggaman. Tubuhnya sampai terjajar beberapa langkah. Dan belum lagi dia bersiap, sebuah hantaman keras telah menghantam perutnya.

Des!

"Aaakh!" Gadis itu kontan terpental, disertai tetesan darah dari sudut bibirnya begitu sebuah hantaman kaki mendarat di perutnya. Pada saat yang sama Rambing Puger melesat kembali. Tapi....

"Heaaat...!" Sebuah bayangan putih mendadak berkelebat disertai teriakan mengguntur, menyambuti serangan Rambing Puger.

Plak! Plakkk!

"Uuukh!" Orang bertubuh gemuk pendek itu kontan mengeluh kesakitan ketika tangannya beradu dengan bayangan putih yang tak lain dari Pendekar Rajawali Sakti. Kedua tangannya seketika terasa kesemutan dan linu bukan main. Sementara Rangga sendiri merasa tangannya bergetar.

"Huh! Agaknya kau benar-benar ingin mati di tanganku, Pendekar Rajawali Sakti! Sekarang, rasakan seranganku!" seru Rambing Puger.

Kemudian dengan pengerahan tenaga dalam luar biasa Rambing Puger menghantamkan tangannya ke arah Rangga. Maka segera Pendekar Rajawali Sakti menyambutinya.

Blug!

Kembali dua tangan berisi tenaga tinggi bertemu di udara. Tubuh Rambing Puger kembali terpental ke belakang. Tetapi sambil jatuh, tubuhnya melakukan gerakan salto beberapa kali di udara. Ketika jatuh ke bumi, dia langsung berjongkok dengan kedua telapak tangan menempel bumi.

"Krok! Koook!"

Rambing Puger mengeluarkan suara mengkorok bagai kodok. Dan mendadak, dia bangkit sambil menyorongkan kedua tangannya ke depan. Maka seketika sebuah desir angin yang sangat kuat menerpa ke arah Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti segera menyambutinya.

Dugkh!

"Uuuh!" Tidak dapat ditahan lagi, tubuh Pendekar Rajawali Sakti terdorong ke belakang, begitu habis memapak serangan.

"Hebat!" Puji Pendekar Rajawali Sakti, langsung bergulingan menjauhi lawan.

"Hiyaaa...!"

Pada saat itu, Simo Jalak turut ikut membantu Rambing Puger. Tongkatnya yang berwarna merah langsung dihantamkan, begitu Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri. Tongkat Simo Jalak bergulung-gulung, menimbulkan suara bersiutan.

Sementara, Rambing Puger juga terus mendesak dengan pukulan ilmu 'Katak' yang hampir punah dari rimba persilatan. Kabarnya, pukulan itu dapat menghancurkan batu sekeras apa pun. Bahkan mampu mencabut pohon sampai ke akar-akar nya. Debu dan daun-daun kering sampai berterbangan, bagaikan dihempas badai.

"Eiiits!"

Pendekar Rajawali Sakti segera melenting ke atas untuk menghindari serangan kedua orang itu. Pukulan tongkat Simo Jalak tidak sedahsyat temannya, tapi mengandung racun tawon yang dapat mematikan hanya dalam beberapa saat saja. Untuk sesaat, Rangga jadi pontang-panting.

Dengan cepat, Rangga langsung mengerahkannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang membuat tubuhnya meliuk-liuk dan terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk. Dan sampai sejauh ini, semua serangan tak ada satu pun yang menyentuh tubuhnya.

"Yeaaat..!"

Pada suatu kesempatan Rangga, melenting ke atas disertai pengerahan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Lalu mendadak saja, tubuhnya meluruk ke arah Simo Jalak. Dan dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', Pendekar Rajawali Sakti melepaskan satu tendangan geledek yang begitu cepat. Perubahan jurus yang tiba-tiba ini membuat Simo Jalak terperangah. Tapi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena ...

Des!

"Aaakh...!" Telak sekali dada Simo Jalak terhantam tendangan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya kontan terjengkang ke tanah, disertai pekik kesakitan. Dari sudut bibirnya tampak meleleh darah kental kehijauan.

Rambing Puger tampak geram melihat kawannya terluka. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti disertai pukulan ilmu 'Katak'nya yang dahsyat.

"Krok! Koook!"

Disertai suara mengkorok bagai kodok, Rambing Puger menghentakkan kedua tangannya ke depan, setelah sebelumnya berjongkok sambil menempelkan telapak tangannya di bumi. Maka seketika serangkum angin dahsyat melesat cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gerakan mengagumkan Rangga berhasil mengelakkan serangan dengan bergeser ke kanan. Akibatnya sebuah pohon yang cukup besar tumbang berikut akarnya, ketika terkena pukulan ilmu 'Katak' yang dahsyat.

"Heyaaa...!"

Begitu habis mengelakkan serangan, Pendekar Rajawali Sakti langsung membuat kuda-kuda rendah. Kemudian kedua tangannya melakukan gerakan di depan dada, dengan jari-jari terkepal. Ketika kepalannya telah berpindah ke pinggang, tampak tangannya telah berubah merah membara.

"Heaaa...!" Disertai teriakan menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti langsung menghentakkan kedua tangan dengan kedua telapak tangan terbuka. Jelas, Pendekar Rajawali Sakti menggunakan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Seketika melesat sinar merah menghantam ke arah Rambing Puger. Begitu cepat gerakan Rangga, sehingga…

Blazzz...!

"Aaakh...!" Telak sebuah dada Rambing Puger terhantam sinar merah yang dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya kontan terjengkang di tanah, tidak bangun-bangun lagi. Pingsan.

"Pendekar Rajawali Sakti! Sungguh hebat kepandaianmu. Tapi kedua anak buahku memang bukan tandinganmu. Suatu saat, kita akan berhadapan. Tetapi bukan pertarungan mati atau hidup. Melainkan, dalam kenikmatan yang bisa berakibat maut! Hi hi hi... "

Mendadak terdengar suara mengikik yang belum jelas dari mana datangnya. Dan ini sempat membuat Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget. Dan belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa menentukan arah datangnya suara, tiba-tiba melesat sosok bayangan bertubuh ramping dan berbau harum. Begitu cepat bayangan itu melesat, sehingga ketika Simo Jalak dan Rambing Puger disambarnya, Rangga tidak bisa mencegah.

Pendekar Rajawali Sakti bermaksud mengejar sosok bayangan yang ternyata wanita tadi, tapi kalah cepat. Karena wanita tadi begitu cepat menghilangnya. Rangga mengurungkan niatnya. Dan dia hanya bisa memandang ke arah bayangan tadi lenyap.

"Tuan Pendekar Rajawali Sakti kami atas nama Perguruan Pedang Guntur Kencana menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu," kata salah seorang dari orang-orang berpakaian serba kuning, membuat Rangga jadi berbalik.

"Tak usah berterima kasih, Kisanak. Semua itu yang kulakukan hanya berdasarkan panggilan hatiku saja. Sudah wajar dalam dunia persilatan ini, kalau kita harus memerangi ketidakadilan dan kemungkaran," kata Rangga sambil tersenyum.

"Ah! Ternyata tidak salah yang kudengar tentang dirimu. Atas nama ketua, kami mengundangmu singgah ke tempat kami," kata orang itu.

"Hm.... Baiklah. Undangan kalian kuterima. Tapi sebaiknya, aku ingin memeriksa gadis itu," kata Pendekar Rajawali Sakti. Rangga segera menghampiri gadis berbaju hijau yang tadi menyerang dua anak buah Ayu Purbani.

"Bagaimana keadaanmu, Nisanak," tanya Rangga, ketika berada di depan gadis cantik berbaju hijau ini.

"Sudah lumayan. Mereka memang tangguh," gumam gadis itu, seperti tak menganggap kedigdayaan Pendekar Rajawali Sakti.

"Kalau begitu, sebaiknya kau ikut aku ke Perguruan Pedang Guntur Kencana," Rangga menawarkan.

Gadis itu tak menyahut. Tapi ketika Rangga dan murid-murid perguruan yang telah memondong dua sosok yang hendak dibawa dua anak buah Ayu Purbani itu melangkah, gadis ini segera mengikuti.

EMPAT

Sebuah bayangan berkelebat menuju sebuah pekuburan di senja yang hening ini. Gerakannya gesit dan cepat bukan main. Seolah-olah kakinya tidak menyentuh tanah. Sudah beberapa minggu ini, pekuburan itu memang ramai dibicarakan orang. Terutama ketika hampir tiap hari di pekuburan ini ditemukan mayat yang semuanya dalam keadaan mengenaskan. Tubuh pucat dengan kulit berkeriput. Begitu seringnya ditemukan mayat, sehingga pekuburan itu dinamai Kuburan Mayat Berkabung. Suasana kuburan itu memang menyeramkan. Apalagi, letaknya tepat di punggung sebuah bukit.

Ketika tiba di antara dua gapura pekuburan itu, bayangan ini berhenti. Kini terlihat jelas, siapa sosok bayangan itu. Ternyata dia adalah seorang gadis cantik. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai begitu saja sampai ke pinggul. Tetapi yang paling menyolok adalah pakaiannya yang terbuat dari sutera halus tembus pandang. Sehingga bentuk tubuhnya yang padat dan menggiurkan terlihat jelas. Pada kedua pundak wanita cannk itu tampak dua sosok tubuh yang tiba-tiba saja dihempaskan ketanah.

Bruk!
"Ukh...!"
"Aduh...!"

Kedua orang itu mengaduh kesakitan, tapi tak lama bangkit berdiri lagi. Tanpa peduli wanita itu menggeser sebuah batu di samping gapura. Seketika terjadilah keanehan. Diawali suara bagai gemuruh perlahan-lahan dinding bukit itu bergeser, membentuk pintu masuk yang cukup untuk dua orang.

Dengan tenang wanita itu memasuki goa yang tercipta di punggung bukit ini. Sementara dua laki-laki yang tadi dipanggul, mengikuti dari belakang dengan kepala tertunduk. Ketika wanita itu menggeser batu yang ada dalam goa, pintu masuk itu menutup kembali. Wanita ini terus menyusuri jalan dalam goa di perut bukit ini. Dan ternyata di dalam sana terdapat ruangan yang lebar dan bersih tertata apik.

Wanita itu langsung menuju ke ruangan yang lebih besar. Dalam ruangan itu tampak terentang seutas tali sebesar jari kelingking, dari satu dinding ke dinding lainnya. Sebentar dia memusatkan perhatian sejenak, lalu melenting ke atas.

"Heup!"

Setelah berputaran beberapa kali, wanita itu jatuh tepat di atas tali yang merentang. Sungguh aneh tali yang mendapat beban di atasnya tidak melengkung barang sedikit pun. Seolah-olah, tubuh wanita itu tidak berbobot sama sekali. Bisa dibayangkan, betapa tinggi ilmu meringankan tubuhnya itu, bahkan dengan tenang ba-gaikan di atas tanah dia merebahkan dirinya di atas tali itu.

"Duduk!" perintah wanita itu pada dua laki-laki yang tadi dipondongnya. Mereka masih berdiri menampakkan wajah bingung dan bersalah.

Mata wanita ini, tajam menatap kedua orang yang ternyata anak buahnya. Sementara, yang ditatap segera menunduk, tidak berani membalas. "Kalian tahu telah berbuat salah dan bertindak gegabah?" sambung wanita ini.

"Ampun, Gusti Ayu Purbani. Hamba tidak tahu...," sahut laki-laki gemuk pendek yang tidak lain Rambing Puger.

Gadis cantik yang ternyata Ayu Purbani, mendelik ke arah orang yang bertubuh tinggi kurus dengan kepala botak. Dia tidak lain Simo Jalak. "Simo! Apa kau merasa telah pintar?" tanya Ayu Purbani.

"Aaa... ampun, Gusti! Tentu saja Gusti jauh lebih pintar...," sahut Simo Jalak, ketakutan.

"Bagus! Lain kali, bila berhadapan dengan pemuda yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti, kau tidak boleh memandang enteng. Ilmu kalian berdua memang cukup tinggi. Tetapi melawan dia, berarti kalian mencari penyakit sendiri!" dengus wanita cantik ini.

"Ha ha ha...! Tetapi bila dibanding Eyang Mahesa Keling dalam tiga jurus dia dijamin akan menggeletak tanpa nyawa!" kata Simo Jalak jumawa.

"Betul, Gusti! Melawan Eyang Guru, dia tidak ada apa-apanya...!" Rambing Puger ikut-ikutan menimpali.

Ayu Purbani tersenyum kecil sambil memandangi mereka dengan mata berbinar-binar. "Apa yang kalian katakan tak salah. Eyang Mahesa Keling yang bergelar Iblis Atas Angin, memang tiada duanya. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa seperti ini? Itu juga tidak lepas dari jasa kalian berdua. Tanpa adanya kalian, mungkin aku tidak akan pernah mempelajari ilmu silat dan ilmu kesaktian peninggalannya...," kata Ayu Purbani dengan suara mulai lunak.

Melihat sikap Ayu Purbani mulai membaik, kedua laki-laki itu tersenyum sambil cengengesan. "He he he...! Untuk Gusti Ayu Purbani, segalanya akan kami berikan. Asal..., he he he..! Asal ada imbalannya seperti dulu...," pancing Simo Jalak.

Begitu mendengar kata-kata laki-laki itu, Ayu Purbani langsung mendelik sengit. "Simo Jalak! Setelah aku memiliki semua ilmu silat dan kesaktian guru, tidak ada imbalan lagi buat kalian! Sekarang, akulah pewaris tunggal! Dan kalian berdua harus tetap mengabdi seumur hidup padaku. Siapa yang membantah, akan mendapat hukuman berat!" tandas Ayu Purbani.

"Glegkh!"

Simo Jalak jadi menelan ludahnya sendiri, wajahnya berkerut ketakutan, tetapi hatinya kesal bukan main. Dulu sewaktu gadis ini ditemukan, begitu hangat dan menggoda. Lebih-lebih setelah tahu, kalau mereka berdua adalah pewaris ilmu-ilmu seorang tokoh hitam bernama Eyang Mahesa Keling yang bergelar Iblis Atas Angin.

Dengan modal kecantikannya, Ayu Purbani mempengaruhi mereka berdua yang memang tengah tergila-gila kepadanya. Sehingga apa pun yang diinginkan gadis itu pasti dipenuhi. Bahkan sampai kitab sakti warisan pun diberikan pada Ayu Purbani. Memang, mereka berdua termasuk orang-orang bodoh sehingga tidak mampu mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka itu. Mereka hanya puas dengan ilmu yang dipelajari langsung dari gurunya.

Setelah mendapatkan kitab ilmu silat yang luar biasa itu, Ayu Purbani menghilang. Tapi setelah beberapa saat berlalu, gadis itu kembali lagi. Dan ini membuat Simo Jalak dan Rambing Puger saling berebut mendapatkan hati Ayu Purbani. Seperti biasanya, yang menang tentu akan mendapat imbalan berupa tidur semalam dengan gadis itu. Tetapi secara tidak terduga, Ayu Purbani menolak. Tentu saja keduanya jadi berang dan marah besar. Maka pertengkaran pun dilanjutkan dengan perkelahian sengit.

Mulanya kedua laki laki itu menganggap enteng. Namun betapa terkejutnya mereka, ketika mendapat kenyataan kalau gadis itu kini memiliki kepandaian sangat tinggi. Bahkan dalam waktu singkat saja keduanya dapat dirobohkan. Maka sejak itu mereka jadi pengikut Ayu Purbani. Dan kali ini, Simo Jalak coba-coba memancing untuk mengajak gadis itu tidur bersama. Tapi nyatanya, usaha laki-laki itu gagal.

"Kalian harus ingat! Jangan suka mengungkit-ungkit peristiwa dulu. Bila memandel, aku tidak akan segan-segan memancung kepala kalian berdua! Mengerti kalian...?!" dengus Ayu Purbani.

"Mengerti, Gusti!" sahut keduanya dengan wajah ketakutan.

"Sekarang, pergilah. Jangan ganggu tidurku!"

"Baik, Gusti!" jawab mereka serempak.

Setelah memberi hormat, kedua laki-laki itu berbalik dan berlalu dari ruangan ini. Sedangkan Ayu Purbani merebahkan diri pada tali yang terentang, bagaikan tidur di atas kasur empuk.

********************

Seorang wanita tua berjalan mondar-mandir di ruangan tengah, di rumahnya yang besar. Punggungnya yang bongkok, jadi semakin membungkuk manakala sedang berjalan seperti itu. Wajahnya gelisah bercampur kesal. Berkali-kali kepalanya menggeleng, hingga rambutnya yang disanggul dan dipenuhi tusuk konde bergoyang-goyang.

"Sudahlah, Mak. Tak lama lagi dia pasti kembali...," bujuk perempuan setengah baya yang sejak tadi ikut gelisah, melihat sikap perempuan tua itu. Wajahnya terlihat cantik, walaupun kerut di bawah matanya telah terlihat.

"Mana bisa aku berdiam diri, kalau dia belum juga kembali! Ingat! Sudah dua minggu, Relawati! Sudah dua minggu!" seru nenek itu sambil meretangkan dua jari.

"Aku juga gelisah. Tetapi, bukankah sudah ada Kakang Aditia yang tengah mencarinya...?" potong Relawati.

"Alaaah! Bisa apa si Aditia. Hatinya lemah dan mudah kasihan. Bagaimana kalau dia bertemu kuntilanak itu? Apa kau tidak takut dia kepincut dan terjerat dalam ilmu sihirnya?" tanya si Nenek.

Perempuan setengah baya yang dipanggil Relawati membuang pandang sekilas. Wajahnya jelas semakin gelisah. Walaupun hatinya membenarkan, tapi berusaha menutupinya.

"Siapa tahu Gita Rahayu tidak mencari perempuan itu...," gumam Relawati.

"Apa katamu? Sudah jelas Mintaraga tewas oleh si Perempuan Setan itu. Mana mungkin Gita Rahayu pergi kalau tak menuntut balas pada pembunuh kakangnya!" tandas nenek tua dengan mata melotot garang

"Mak! Gita Rahayu sudah sering terjun dalam dunia persilatan sebelum Mintaraga tewas. Anak itu memang nakal dan susah sekali diatur ujar Relawati.

"Diam kau! Kalian berdua sama. Mendidik anak saja tidak becus. Kalau saja kalian bisa sedikit keras, tentu tidak akan begini jadinya. Si Mintaraga gila perempuan si Gita Rahayu gila kelayapan! Dasar brengsek...!" maki nenek ini.

"Mak! Kalau kami terlalu keras, apa jadinya mereka...? Tentu mereka akan lebih berani pada orang tua."

"Tapi sekarang apa jadinya? Yang mendapat susah tentu kalian juga, bukan...? Sudahlah! Jangan banyak bicara lagi!" sahut perempuan tua itu sambil menyambar pedangnya yang tergantung di dinding. Lalu kakinya melangkah lebar keluar.

"Mau ke mana. Mak?!"

"Aku hendak mencari cucuku yang bengal itu. Kalau ketemu, akan kuhukum dia supaya jera dan kapok!" dengus nenek itu.

"Apakah Kakang Aditia saja tidak cukup...?"

"Aaah! Dia lagi yang kau bicarakan. Bisa apa sih, suamimu itu? Jangan-jangan, aku pun harus menyelamatkannya! Sudahlah.... Kau diam saja di rumah baik-baik selama aku pergi!"

"Mak...!"

Tetapi perempuan tua itu telah berkelebat, lenyap dari situ. Dari sini bisa diketahui kalau kepandaiannya sangat tinggi. Siapakah sebenarnya wanita tua itu? Sebenarnya, wanita tua itu tak asing dalam rimba persilatan. Pada masa mudanya, dia amat terkenal sebagai si Burung Hantu. Tapi nama sebenarnya, adalah Nyai Utami. Si Burung Hantu sangat aneh dan ugal-ugalan. Kadang memerangi kejahatan sampai habis-habisan. Di lain waktu dia juga memusuhi golongan lurus. Sehingga, kaum persilatan jadi bingung menentukan golongannya.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Sepasang anak muda tampak memasuki sebuah kedai makan yang cukup ramai di Desa Randu Dongkal. Mereka langsung mengambil tempat di sudut ruangan ini, setelah menemui pelayan untuk memesan makanan.

"Gita Rahayu, bukannya aku tidak mau mengajakmu. Tetapi perjalanan ini sangat berbahaya. Apa jadinya bila terjadi sesuatu, dan aku tidak dapat melindungimu? Pasti kedua orang tuamu akan menyalahkan aku...," kata pemuda tampan berbaju rompi putih, dengan pedang bergagang kepala burung menyembul di balik punggung.

"Sudahlah Rangga. Kalau kau tak mau mengajak, aku pun dapat pergi sendiri! Tanpa kehadiranmu tadinya aku pun jalan sendiri!" kilah gadis cantik berbaju hijau itu.

Pemuda yang memang Rangga tahu kalau gadis ini terlalu keras hati. Maka dia tidak heran bila mendapat jawaban seperti itu.

"Menurut Ketua Perguruan Guntur Kencana, perjalanan masih memakan waktu setengah harian lagi. Masih ada waktu untuk merubah niat... "

"Tidak perlu! Niatku sudah bulat, wanita itu harus menebus nyawa kakangku dengan nyawanya!" sentak gadis berbaju hijau yang ternyata bernama Gita Rahayu itu dengan wajah berang.

Rangga hanya menghela napas. Disadari kalau gadis ini keras kepala. Tetapi, sebenarnya tidak disertai bekal ilmu olah kanuragan yang cukup. Menghadapi kedua anak buah Ayu Purbani saja sudah tidak berdaya. Apalagi dengan Ayu Purbani. Agaknya Gita Rahayu sendiri hanya terbawa dendam dan amarahnya saja.

"Baiklah kalau niatmu sudah bulat. Tetapi bila terjadi apa-apa aku tidak akan bertanggung jawab," jawab Rangga.

"Huh! Siapa sudi perlindunganmu! Kau boleh berpangku tangan melihatku sekarat!" tukas Gita Rahayu ketus.

"Baiklah...," desah Rangga.

Baru saja Rangga selesai bicara, tahu-tahu datang seorang laki-laki brewok bertubuh tinggi besar dan berkepala botak ke meja mereka. Di tangannya tampak sebuah kendi tuak yang sesekali ditenggak. Melihat jalannya yang sempoyongan, dan bau tuak setiap berbicara, jelas dia dalam keadaan mabuk berat.

"He he he...! Tidak sangka, hari ini aku beruntung mendapat calon istri yang amat cantik. Mari, Nisanak. Kau ikut denganku!" oceh laki-laki itu sambil menarik lengan Gita Rahayu.

"Cuih, Pemabuk Sialan! Pergi kau dari sini!" maki Gita Rahayu sambil menarik tangannya.

"Ha ha ha...! Rupanya calon istriku galak juga. Tetapi aku paling suka dengan gadis galak, karena dapat membuatku bersemangat."

Sehabis berkata demikian, orang tinggi besar ini menenggak tuaknya. Matanya yang merah dengan tajam mengawasi Gita Rahayu. Dan ketika melirik pada Rangga, pemuda itu pura-pura tidak tahu.

"Sialan! Agaknya dia benar-benar tidak mau peduli padaku!" maki Gita Rahayu dalam hati, dan ditujukan pada Rangga.

Gadis itu mendadak terkejut ketika tangannya ada yang menarik. Tarikan yang begitu kuat, sehingga Gita Rahayu merasa kesakitan. Seketika tangan kirinya.meraih gagang pedang yang tergantung di pinggangnya. Tetapi entah bagaimana, pedangnya terpental dan menancap di dinding ruangan. Sedangkan tangan kirinya sudah ditelikung ke belakang.

"Aouw! Kurang ajar! Lepaskan aku, lepaskan...!" teriak Gita Rahayu, kebingungan.

"Ha ha ha...! Mana mungkin burung yang sudah tertangkap kulepaskan lagi. Kini kau tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ayolah kita bersenang-senang," kata laki-laki pemabuk itu.

Tuk! Tuk!

Begitu selesai dengan kata-katanya, laki-laki brewok itu telah bergerak cepat. Lalu....

Tubuh gadis itu lemas tidak berdaya ketika tangan kiri orang itu menotok urat gerak di tubuhnya. Lalu, dipanggulnya Gita Rahayu dengan seenaknya. Kemudian laki-laki itu melangkah keluar kedai. Tentu saja gadis cantik itu jadi bertambah ketakutan

"Aouw! Botak Keparat Sialan! Lepaskan aku, lepaskan...! Aaa! Tolooong, tolooong...!" teriak gadis itu sekeras kerasnya.

"Hayo! Siapa yang berani menolong gadis ini dari tanganku?' teriak laki-laki itu sambil berbalik. Matanya mendelik garang pada seluruh pengunjung kedai makan ini.

Jangankan untuk menolong, menoleh ke arah laki-laki itu saja para pengunjung sudah ketakutan. Mereka bagaikan melihat hantu yang tidak segan-segan mencabut nyawa.

"Ha ha ha...! Kau lihat, bukan? Tidak ada seorang pun yang berani menolongmu. Siapa saja yang berani merintangi maksud Mahendra, akan mampus!" seru laki-laki yang mengaku bernama Mahendra sambil tertawa terbahak-bahak dan menyambar sebuah toya yang terletak di mejanya.

Siapa sebenarnya Mahendra? Tak ada seorang pun penduduk Desa Randu Dongkal yang mengenalnya. Tapi sebenarnya, dia seorang perampok yang berani secara terang-terangan merampas harta benda orang di depan orang banyak. Ilmu silatnya tinggi. Siapa berani menghalangi, pasti dibunuh. Sifatnya kejam dan telengas. Sehingga orang lebih suka menyingkir daripada harus berurusan dengannya.

Sementara Gita Rahayu kesal bukan main. Ingin minta tolong pada Rangga, tapi dia malu. Karena, pemuda itu tampaknya tidak mau peduli. Tapi dia juga khawatir kalau Mahendra akan berbuat yang tidak-tidak terhadapnya. Menghadapi kenyataan seperti ini, ingin rasanya gadis itu menjerit sekuat kuatnya. Dan...

"Rangga! Apakah kau tidak sudi menolongku...?" teriak Gita Rahayu sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal dan malu. Sedangkan air matanya tanpa terasa telah menetes keluar.

"Tergantung keadaan, apakah kau benar-benar butuh pertolonganku atau hanya terpaksa saja ujar Rangga seenaknya.

"Sialan! Apakah kau tega melihat aku dipermainkan keparat berkepala botak ini...?" tanya Gita Rahayu sambil berteriak.

"Bukankah aku tidak bertanggung jawab lagi terhadapmu?" potong Rangga.

"Rangga! Aku tidak ingin berdebat! Kumohon tolonglah aku dari tangan si Keparat Berkepala Botak ini!" pinta Gita Rahayu.

Sebenrnya tidak diminta pun, Rangga pasti akan menolong. Rangga hanya menguji saja sampai di mana kekerasan hati gadis itu. Rangga bermaksud mengubah sifatnya, agar tak terlalu keras kepala serta dapat berpandangan sedikit luas, jangan hanya menuruti nafsu amarah saja.

"Heh..! Apakah kau ingin menolong gadis ini?" tanya perampok kejam itu.

"Aaah, tidak...!" seru Rangga.

"Rangga, kau...!" Gita Rahayu memekik sambil mendelik.

"Ha ha ha...! Kau dengar! Pemuda temanmu itu tidak berani menolongmu. Sekarang kau mau apa, Gadis Manis...?"

"Eeeh, tunggu dulu! Aku memang tidak bermaksud menolongnya. Tapi aku tidak mengizinkan kau membawa tunanganku pergi dari sini!"

"Heeeh!...? Apa kau bilang...?" tanya Mahendra, mendelik.

"Hm... Selain budek, tampangmu juga menyebalkan!" ejek Rangga sambil menatap Mahendra.

"Bocah setan! Bosan hidup kau rupanya...?!"

Mahendra menggeram keras. Setelah meletakkan Gita Rahayu, toyanya diputar sedemikian rupa. Sehingga menimbulkan angin kencang. Lalu…

"Heyaaat...!"

Prak! Brakkk!

Meja di depan Rangga hancur berantakan dihantam toya Mahendra. Tetapi pemuda itu telah mencelat, sehingga terhindar dari hantaman toya.

LIMA

Melihat garik-gerik Mahendra yang mulai marah, seluruh pengunjung yang berada di kedai makan ini segera keluar terbirit-birit. Sedangkan pemilik kedai berteriak ke sana kemari, sambil menghalangi mereka yang belum membayar makanan yang dipesan.

"Ampun, Tuan-Tuan. Kalau mau berkelahi harap di luar saja! Kedaiku bisa hancur berantakan. Bagaimana mana aku dapat menghidupi anak dan istriku...?!"

"Apa katamu, Tikus Dapur? Kau berani melarangku…?!" bentak Mahendra sambil mendelik.

"Aaah, tidak.... Tidak berani! Aku hanya main-main saja. Tetapi, tolonglah Tuan berkali di luar saja!" kata pemilik kedai makan itu.

"Setan! Itu sama artinya melarangku. Kalau begitu, lebih baik kau kubunuh terlebih dahulu!" teriak Mahendra berang.

Sambil berteriak keras, Mahendra menghantam kepala pemilik kedai makan itu dengan toyanya. Bisa dipastikan, kalau kena kepala itu akan pecah berantakan. Tapi gerakan Pendekar Rajawali Sakti lebih cepat lagi. Seketika kursi yang dipegang, diangkatnya ke atas. Dan…

"Heyaaat...!"

Wut! Trak!

Toya Mahendra seketika menghantam kursi di tangan Rangga, sehingga laki-laki brewok itu merasa tangannya kesemutan. Tentu saja hal itu membuatnya jadi geram. Maka dengan sekuat tenaga diterjangnya Rangga dengan toyanya yang berat Sambaran toya itu menimbulkan angin keras.

"Yaaak!"

"Hup!"

Dengan cepat Rangga melenting ke udara. Dan ketika turun, tangannya melakukan gerakan mencengkeram bagaikan burung rajawali. Namun Mahendra cepat melompat ke samping sambil menyabetkan toyanya ke punggung Rangga.

Wuuuk! Siung!

"Haaap!"

Sambil menunduk, Rangga menyabetkan sisi tangannya pada toya Mahendra. Sehingga, senjata itu patah jadi dua.

Dan belum sempat Mahendra bertindak lebih lanjut, sebuah hantaman keras telah mendarat di dadanya.

Des!

"Aaakh!"

Mahendra langsung terjajar beberapa langkah. Tapi sebuah tendangan memutar dari Pendekar Rajawali Sakti kembali menyusul dan mengenai kepalanya. Tidak ampun lagi, Mahendra terlempar sambil membentur meja dan kursi. Sehingga ruangan ini jadi tambah berantakan.

Mahendra megap-megap berusaha bangkit. Seluruh tulang dadanya terasa remuk. Dari sudut bibirnya mengalir darah kental. Sepasang matanya yang tadi garang, kini berubah sayu menatap Rangga. Seakan dia tidak percaya pada apa yang telah terjadi.

"Si... siapakah kau sebenarnya...?" tanya Mahendra.

"Kalau pernah mendengar nama Rangga, si Pendekar Rajawali Sakti? Dialah orangnya!" bentak Gita Rahayu.

Bagai disambar petir, Mahendra memandangi Rangga dari atas sampai ke kaki. Kemudian bibirnya tersenyum.

"Kalau begitu, pantas saja aku kalah!" kata Mahendra. Kemudian laki-laki bertampang kasar ini melangkah pergi, Rangga mendiamkan saja. Karena, tak ada gunanya menahan orang mabuk seperti itu.

********************

Hari telah senja, ketika dua orang laki-laki tampak berdiri di depan sebuah bangunan megah berpagar batu setinggi dua tombak. Pintu gerbangnya terbuat dari kayu besi yang kokoh. Keduanya memperhatikan bangunan megah ini lewat pandangan matanya.

"Apakah Paman Abogei yakin ini tempatnya?" tanya orang yang berambut pendek dengan ikat kepala kuning, namanya Ragorda.

"Walau sepuluh tahun tidak bertemu, mana mungkin aku lupa, Ragorda?" sahut orang yang berwajah seram dan bengis. Mukanya penuh lubang bekas penyakit cacar. Rambutnya yang telah memutih sebatas bahu dan riap-riapan. Walaupun kurus, matanya memancarkan sinar menakutkan. Pada bola matanya yang seharusnya berwarna putih, semuanya berwarna merah. Sehingga bila mendelik tak ubahnya seperti setan yang mencari mangsa. Melihat orang yang bernama Ragorda itu memanggil paman padanya, jelas kalau laki-laki berwajah bopeng bernama Abogei itu jauh lebih tua.

Sebenarnya Abogei, lebih dikenal sebagai Beruang Mata Api, yang merupakan salah seorang tokoh golongan hitam berilmu tinggi. Kedatangan kedua orang itu ke tempat ini memang mempunyai suatu tujuan.

Ragorda mempunyai saudara kembar bernama Jumena. Tetapi sejak kecil, mereka mempunyai sifat berbeda. Ragorda suka mempelajari ilmu silat. Maka tak heran kalau pamannya yang bernama Abogei ini mengambilnya jadi murid. Namun, sifat Jumena justru kebalikannya. Dia lebih suka mempelajari ilmu baca dan tulis. Sehingga caranya bertutur sapa amat lembut dan sopan, serta memiliki perangai halus.

Belakangan diketahui kalau Jumena menjalin hubungan dengan seorang gadis yang berwajah cantik bernama Ayu Purbani. Pemuda itu begitu mabuk kepayang dan lupa akan segalanya. Tapi suatu hari Jumena ditemukan tewas dengan tubuh pucat kekuning-kuningan di atas tempat tidur di rumahnya sendiri. Ayu Purbani yang semalam berada di kamarnya, telah lenyap entah ke mana. Setelah ditunggu sampai beberapa hari tidak datang juga, maka mereka mulai curiga kepada gadis itu.

Bukan main marah dan dendamnya Ragorda. Bersama gurunya, dia mencari gadis itu di tempat asalnya, yaitu desa ini. Kebetulan sekali, Abogei mempunyai seorang kenalan yang lama tidak dikunjunginya, tinggalnya di rumah yang dikunjungi sekarang ini. Maksudnya, mencari tahu tentang gadis yang bernama Ayu Purbani.

"Kelihatannya sepi-sepi saja, Paman...?"

"Cobalah kau ketuk, Ragorda...!"

Ragorda melangkah dan mengetuk pintu gerbang. Tetapi sampai beberapa kali ketukan tidak juga terdengar sahutan. Tiba-tiba saja Abogei merendek.

"Ragorda, cepat ikuti aku ke atas atap...!"

Begitu selesai berkata, keduanya melompat ke atas tembok. Kemudian mereka melenting ke atas atap tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dari cara melompat, jelas kalau mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.

Mereka segera merunduk sambil memperhatikan keadaan di bawah. Dan mendadak saja, kening Abogei berkerut. Laki-laki berwajah bopeng ini terkejut ketika melihat banyak mayat laki-laki dan perempuan bergelimpangan di bawah sana.

"Celaka! Mereka telah mendahului kita!" seru Ragorda dengan wajah kecewa.

Ketika Ragorda menoleh ke samping, tampak orang tua itu telah berkelebat ke halaman belakang. Seketika dia mengejar. Sebentar saja, sudah terdengar suara pertarungan yang disusul pekik kematian seseorang.

"Ha ha ha...! Kepandaian hanya seujung kuku, lagaknya sok mau jadi pahlawan. Mampuslah kau!" kata seorang laki-laki bertubuh gemuk pendek dengan rambut dikuncir ke belakang.

Tidak jauh dari tempat laki-laki pendek itu berdiri, terlihat seseorang bertubuh tinggi kurus dengan kepala botak dan lonjong ke atas. Di pinggangnya terselip tongkat panjang berwarna merah. Sedangkan di pundaknya terlihat sesosok tubuh yang agaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Sudahlah, Rambing Puger! Tinggalkan tikus dapur itu! Lebih cepat kita pergi dari sini, lebih baik!" kata laki-laki tinggi kurus yang ternyata Simo Jalak.

"Baik, ayolah...!" sambut orang yang memang Rambing Puger.

Baru saja mereka hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba melesat dua sosok tubuh menghalangi jalan.

"Tinggalkan kepala kalian, baru boleh berlalu dari hadapanku!" bentak seorang tua berwajah seram dengan rambut putih riap-riapan. Sorot matanya tajam menusuk. Di sebelahnya berdiri tegak seorang pemuda berambut pendek dengan sikap mengancam. Kedua orang ini tidak lain dari Abogei dan Ragorda.

"Siapakah kalian...?" sahut Simo Jalak dengan tak kalah garangnya.

"Tidak perlu kalian tahu. Siapa pun yang berurusan dengan pemilik rumah ini, sama saja berusan denganku!" hardik Abogei.

"He he he...! Kau dengar, Rambing Puger? Ada yang mau sok jadi pahlawan lagi! Apakah dia harus kita bereskan juga seperti yang pertama tadi...?" ejek Simo Jalak.

"Mau tunggu apa lagi? Sikat saja sudah...!" tukas Rambing Puger.

Abogei mendengus. Sekilas matanya menatap sesosok tubuh yang terbujur kaku nyaris tidak dapat dikenal lagi. Bentuknya tidak karuan dengan kepala pecah dekat sebuah batu besar yang masih berlumuran darah. Dan secepat itu pula Abogei dan Ragorda membagi lawan. Ragorda berhadapan dengan Simo Jalak yang telah meletakkan bopongannya. Sedangkan Rambing Puger berhadapan dengan Abogei.

Pertarungan tak dapat dihindari lagi. Bahkan berjalan sengit. Rambing Puger semula menganggap rendah lawannya. Tetapi setelah bertarung beberapa jurus, dia mulai terkejut. Ternyata laki-laki bernama Abogei tak gampang dijatuhkan. Bahkan ketika Abogei mengadakan serangan balasan, hampir saja dia termakan tendangan yang mengarah ke kepalanya.

Dengan cepat Rambing Puger berjumpalitan beberapa kali di udara dan jatuh persis dalam keadaan berjongkok. Secepat kilat, dipersiapkannya ilmu 'Katak' yang menjadi andalannya. Kedua telapak tangannya segera disorongkan ke muka dengan tenaga kuat.

"Krok! Koook!" Seketika mendesir angin kencang yang mampu memporak-porandakan apa saja yang menghalangi. Abogei terkejut. Tapi, cepat dikerahkannya ilmu andalan yang bernama 'Pukulan Beruang Api', dari kelima jarinya mengeluarkan api.

Seketika, Abogei menghentakkan tangannya ke depan menyambut serangan ilmu 'Katak" yang dilancarkan Rambing Puger. Dari kedua tangannya yang mengeluarkan api, melesat angin berhawa panas.

Blarrr!

Dua tenaga raksasa bertemu, menimbulkan ledakan keras menggelegar. Akibatnya batu dan daun kering jadi berterbangan ke mana-mana. Bumi jadi bergetar bagai diguncang gempa. Keduanya sama-sama bergetar mundur beberapa langkah ke belakang. Rambing Puger terkejut melihat lawannya sanggup menahan serangannya.

"Huh! Segala kodok buduk hendak pamer kepandaian di depan Beruang Mata Api. Kau rasakan ini!"

Kembali Abogei melancarkan serangan pukulan jarak jauhnya yang dahsyat, mengeluarkan hawa panas luar biasa. Sehingga dalam waktu singkat saja, Rambing Puger jadi terdesak. Bahkan beberapa pukulan Abogei hampir saja mengenai tubuhnya. Untuk mengimbangi serangan, terpaksa tena-ganya dikerahkan secara penuh sambil terus mengirimkan pukulan ilmu 'Katak' yang menjadi andalannya.

"Krok! Koook!"
"Haet!"
Jdarrr!

Berkali-kali pukulan mereka bertemu. Akibatnya, masing-masing jadi tergetar mundur. Dalam waktu singkat pertarungan jadi bertambah seru, namun masih berjalan seimbang.

Pada suatu kesempatan sebuah pukulan ilmu 'Katak' yang dahsyat dilepaskan Rambing Puger mengarah ke dada Abogei. Tetapi dengan gerakan melingkar, tubuh Abogei bergerak ke samping menggunakan jurus 'Trenggiling Mengejar Mangsa?. Tangannya melancarkan serangan balasan berisi tenaga dalam penuh. Rambing Puger terkejut. Tapi secepat itu pula tubuhnya melenting ke udara. Begitu menjejak tanah kembali, langsung dilepaskannya pukulan ilmu 'Katak'nya yang berisi tenaga dalam tinggi.

Darrr!

Kembali masing-masing terjajar mundur begitu dua pukulan berisi tenaga dalam tinggi bertemu. Tampaknya perkelahian akan berjalan lama dan seru. Karena, kepandaian masing masing benar-benar tak terpaut jauh.

Sementara itu pertarungan antara Ragorda dengan Simo Jalak tidak kalah serunya. Hanya saja, Simo Jalak menang pengalaman dan setingkat lebih bnggi daripada lawannya. Sehingga si Botak ini dapat dengan mudah mendikte lawannya. Tak heran kalau dalam waktu singkat saja, Ragorda telah terdesak.

"He he he...! Bocah bau kencur! Kepandaianmu sungguh hebat. Tetapi di depanku kau tidak perlu banyak tingkah. Sebentar lagi kau akan menyembah-nyembah minta ampun!" ejek Simo Jalak.

Selesai berkata begitu, laki-laki botak itu menyerang Ragorda dengan jurus-jurus yang menjadi andalan. Sehingga dalam waktu singkat, Ragorda hanya dapat mengelak dan menghindar saja.

Pada suatu kesempatan, Simo Jalak melepaskan pukulan beruntun ke dada, kepala, dan perut Ragorda. Pukulan yang mengarah ke kepala dan perut bisa ditangkisnya.

Plak!

Tapi, tak urung pukulan yang mengarah ke dada tak bisa dielakkan lagi. Sehingga...

Des!

"Ugkh!" Tak ampun lagi, Ragorda terhuyung-huyung mundur sambil menekap dadanya yang terasa nyeri dan menyesakkan napasnya akibat pukulan Simo Jalak. Di saat pandangannya masih berkunang-kunang, sebuah sodokan dengan jari terbuka mengancam perutnya.

Untung saja, Ragorda sempat menyabetkan tangannya, ke arah tangan Simo Jalak. Tapi serangan Simo Jalak hanya tipuan belaka. Karena mendadak kakinya bergerak bagaikan baling-baling ke arah kaki Ragorda. Dan...

Bletak!

Blug!

Tubuh Ragorda jatuh ke tanah begitu kakinya terhantam tendangan Simo Jalak. Namun pemuda itu cepat bangkit lagi dan langsung mempersiapkan ilmu 'Beruang Bertangan Api'nya.

"Rambing Puger! Sebaiknya kita jangan berlama-lama di sini! Ayo kita bereskan kedua tikus dapur ini!" seru Simo Jalak.

"Betul, Simo! Aku juga mulai bosan! Kalau terlalu lama, bisa-bisa Gusti Ayu Purbani marah!" tukas Rambing Puger.

Namun belum lagi mereka menyerang, tiba-tiba....

"Hi hi hi...! Melihat Beruang Mata Api jungkir balik dipecundangi kedua makhluk goblok itu, tadinya aku hendak meninggalkan tempat ini. Tetapi siapa sangka kalau menemukan apa yang kucari ada di sini!"

Terdengar suara tertawa cekikikan yang disusul berkelebatnya sosok perempuan tua bertubuh bongkok. Rambutnya yang digelung ke atas penuh tusuk konde. Di tangannya tergenggam sebilah pedang. Matanya yang tajam mengawasi mereka berempat.

Rambing Puger dan Simo Jalak yang jarang mengenal tokoh-tokoh persilatan, tidak tahu siapa nenek tua itu. Lain halnya Abogei. Walau lama tidak bertemu, dia kenal betul dengan wanita tua itu.

"Hei, Nyai Utami si Burung Hantu! Angin apa yang membuatmu kemari? Apakah sarangmu ada yang mengobrak-abrik?" ledek Abogei.

"Hi hi hi...! Kalau tak ada api, mana mungkin ada asap. Karena kedua makhluk aneh itu menyebut Ayu Purbani, maka mau atau tidak aku harus turut campur dalam urusanmu...," sahut perempuan tua yang ternyata Nyai Utami alias si Burung Hantu.

"Hei, kalian berdua...! Lekas katakan, di mana Ayu Purbani berada?! Kalau kau bungkam, kupenggal lehermu!" ujar Nyai Utami.

"Nenek peot! Siapa kau! Dan, ada urusan apa dengan junjungan kami??!" bentak Simo Jalak, tak kalah garang.

"Setan keparat! Rupanya dia junjunganmu. Kalau begitu, terpaksa kalian harus dibereskan terlebih dahulu!" seru Nyai Utami

Sriiing! Nyai Utami sudah mencabut pedangnya. Tetapi sebelum sempat menyerang.

"Nyai Utami! Aku tidak keberatan kau ikut campur dalam urusan ini. Tetapi, ada apa antara kau dengan Ayu Purbani?" tanya Abogei, menahan gerakan si Burung Hantu.

"Abogei! Makanya kalau mengasingkan diri, telinga harus tetap dibuka. Ayu Purbani adalah perempuan nakal yang suka menggoda laki-laki muda berwajah tampan. Pemuda itu rata-rata binasa, setelah berhubungan dengannya. Mayat mereka ditemukan dengan wajah pucat kekuning-kuningan. Karena, sari kejantanannya telah tersedot habis," jelas Nyai Utami.

Mendengar itu, Abogei terkejut. Matanya mengawasi kedua orang yang menjadi lawannya. "Keparat! Kalau begitu, tak salah lagi. Yang membunuh Jumena pasti Ayu Purbani adanya. Aku bisa berkata demikian, karena ciri-cirinya sama dengan apa yang dikatakan Nyai Utami tadi!" seru Abogei.

"Lekas katakan, di mana setan keparat itu berada..?" tanya Abogei keras, kepada kedua orang anak buah Ayu Purbani.

"Ha ha ha...! Lagakmu seperti orang yang jago saja! Dan ini bikin mual perutku saja. Agaknya kalian ingin mengalami nasib seperti pahlawan kesiangan itu," tukas Simo Jalak.

Mendengar itu terpaksa Nyai Utami menoleh pada sesosok mayat yang kepalanya hancur. Darahnya tersirap, karena seperti kenal dengan mayat itu. Perlahan kakinya melangkah maju dan memeriksanya. Lalu bagaikan disengat kala, Nyai Utami melompat mundur.

"Aditia!" seru perempuan tua itu dengan suara keras.

Laki-laki yang telah binasa itu tak lain dari Aditia, menantunya sendiri. Wajahnya segera berubah merah padam. Maka dengan satu lompatan ringan, tubuhnya mencelat ke arah Simo Jalak.

"Jahanam! Dua anggota keluargaku tewas di tangan kalian! Tapi nyawamu masih belum cukup menembusnya!" bentak Nyai Utami, langsung mengelebatkan pedangnya.

Siuuut! Wuuut!

Simo Jalak tersentak. Kelebatan pedang perempuan tua itu begitu cepat dan mengandung tenaga dalam tinggi. Masih untung, dia cepat berkelit menghindarinya. Dan ini membuat Simo Jalak jadi berang. Langsung dibalas serangannya itu dengan sengit.

Sementara itu, Abogei, meneruskan perkelahiannya melawan Rambing Puger. Sedangkan Ragorda yang tidak kebagian lawan, terpaksa hanya menonton saja.

Rambing Puger yang mengandalkan ilmu 'Katak'nya, tidak dapat berbuat banyak terhadap Abogei yang memiliki jurus 'Pukulan Beruang Api'. Memang dalam hal tenaga dalam, dia lebih unggul! Tetapi dalam kecepatan gerak, masih kalah dibanding Abogei.

Kini perkelahian kembali berjalan seru dan sengit. Berkali-kali Rambing Puger melancarkan ilmu 'Katak'nya, tetapi Abogei lebih cerdik. Dia tak mau melawan dengan keras. Tubuhnya selalu berkelit dengan maksud menguras tenaga lawan. Baru bila ada kesempatan, dikirimkannya serangan balasan yang benar-benar berbahaya.

Kali ini Rambing Puger jadi terdesak. Pukulan Abogei yang mengandung api dan dapat menghanguskan, benar-benar sangat merepotkan. Sedangkan tenaganya semakin lama jadi semakin berkurang. Dan pada suatu bentrokan, dia melompat ke atas dan bermaksud mengeluarkan ilmu 'Katak'nya kembali.

Tetapi sebelum kakinya sampai ke tanah, Abogei yang sudah mengetahui ke mana tujuan lawan segera mengirimkan serangan dahsyat dengan kedua tangan menghentak ke depan

"Mampuslah kau, Kodok Buduk!"

Wueeet! "Haeees!"

Dengan cepat Rambing Puger membuang dirinya ke tanah. Tetapi serangan Abogei terus meluncur ke arahnya. Secepat kilat tubuhnya melenting kembali ke udara. Namun ternyata sebuah pukulan berapi telah menyambutnya.

Wuk! Bresss! "Uwaaaeee!"

Rambing Puger menjerit kesakitan. Dada sebelah kanannya kontan hangus dan mengucurkan darah. Untung tenaga dalamnya kuat, sehingga dia tidak binasa dengan tubuh hangus.

ENAM

Sambil menekap dadanya yang menghitam. Rambing Puger mundur tiga langkah ke belakang. Melihat keadaan kawannya, Simo Jalak terkejut.

"Rambing! Kau tidak apa-apa??" Dan ini membuat Simo Jalak jadi lengah.

Swit! Swiiit! "Uuuts!"

Simo Jalak tersentak kaget manakala ujung pedang Nyai Utami nyaris merobek tenggorokannya. Untungnya dia cepat berkelit sambil menunduk. Tetapi serangan nenek itu tidak berhenti sampai di situ saja. Pedangnya langsung berbalik, mengancam perut dengan jurus 'Kepiting Menjepit Kerang'. Terpaksa Simo Jalak bergulingan ke tanah menjauhi lawannya.

"Jangan harap kau dapat lolos, Botak Jelek!" seru Nyai Utami langsung merubah jurusnya menjadi jurus 'Badai Menghantam Tebing'. Sebuah jurus yang dahsyat dan jarang dipergunakan bila tidak perlu.

Pedang perempuan tua itu bergulung-gulung mengancam seluruh jalan darah yang mematikan di tubuh Simo Jalak yang telah bangkit berdiri. Sementara kaki dan tangannya melakukan serangan dengan tujuan menutup jalan keluar setiap gerak lawannya.

Bisa dibayangkan, betapa dahsyatnya serangan si Burung Hantu itu. Dengan sekuat tenaga, Simo Jalak melancarkan pukulan ke tubuh Nyai Utami. Tujuannya jelas mengajak adu jiwa. Itulah jurus 'Tawon Menyengat Lembu' yang memerlukan pengerahan tenaga besar. Tetapi, nenek itu telah mengerti maksud lawan. Sambil memekik nyaring, tubuhnya melenting ke udara. Pedangnya dengan kecepatan sulit diterka mengancam kedua mata Simo Jalak.

"Heyaaat!" "Aaakh!"

Dengan cepat Simo Jalak memalingkan mukanya untuk menghindari matanya dari tusukan ujung pedang. Tetapi gerakan nenek itu hanya tipuan belaka. Karena tiba-tiba saja nenek itu menyabetkan pedangnya dari atas ke bawah, dengan jurus 'Pedang Menggalau Rembulan' yang ampuh.

Swiiing! Bret! "Aaakh!"

Simo Jalak mengeluh kesakitan, dengan tubuh terjajar ke belakang begitu dadanya tergores pedang si Burung Hantu. Tampak dari lukanya mengucur darah segar. Namun dia tidak sempat berbuat banyak, karena ujung pedang perempuan tua itu terus memburunya ke mana saja dia berkelit. Maka segera dikeluarkannya siulan panjang yang menyakitkan telinga. Itulah tanda untuk memerintahkan tawon peliharaannya untuk menyerang musuh.

Tidak berapa lama, segerombolan tawon datang menyerbu ke arah mereka yang tengah berkelahi. Tetapi yang diserbu adalah musuh-musuh tuannya. Mau tidak mau, hal itu jadi merepotkan.

"Nyai Utami dan Paman Abogei, jangan ladeni tawon-tawon itu! Biar hewan itu bagianku!" teriak Ragorda Langsung dilancarkannya pukulan berapi. Sehingga banyak binatang-binatang itu dapat dipukul hangus.

"Bagus, Bocah! Bikin habis saja binatang laknat itu!" sahut Nyai Utami sambil menyabetkan pedangnya ke arah kaki lawan.

Tapi sambil melompat Simo Jalak menangkis dengan tongkatnya. Kemudian disusul babatan tongkat merahnya ke arah pinggang si Burung Hantu.

"Yeaaat!" Trang! "Heyaaat!"

Sambil memutar pedang bagaikan kincir angin, Nyai Utami memiringkan kepalanya. Maka serangan itu luput dari sasaran. Begitu terhindar, kakinya menyapu pinggang Simo Jalak dengan gerakan berputar. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Splagkh! "Aaakh!" Blugkh!

Bagaikan dihempaskan dari atas, tubuh Simo Jalak ambruk ke tanah ketika kaki perempuan tua itu mendarat dipinggangnya. Pada saat yang sama, sambaran pedang yang luar biasa cepatnya telah meluncur ke arahnya. Dengan mati-matian, dia berusaha menghindar. Tapi...

"Wuaeee!"

Sambil berteriak keras, Simo Jalak meraba paha kiri dan pinggangnya yang terbabat pedang Nyai Utami. Tubuhnya terus bergulingan, baru berhenti ketika membentur sebatang pohon besar. Seketika wajahnya menjadi pucat, seakan tidak dialiri darah.

Selangkah demi selangkah Nyai Utami maju menghampiri. Ujung pedangnya bergetar menjadi puluhan jumlahnya. "Mampuslah kau!" dengus Nyai Utami.

"Aaakh!" Simo Jalak menjerit keras, ketika pedang Nyai Utami menghujam dada sampai tembus jantung. Sepasang matanya mendelik dan urat-urat wajahnya menegang. Setelah berkelojotan sejenak, nyawanya lepas beberapa saat kemudian.

"Simo...!" Rambing Puger terkejut sekali melihat keadaan kawannya.

Pada saat tubuhnya bergerak hendak menghampiri kawannya, pukulan Abogei yang memancarkan api telah menghantam punggungnya. Dan belum lagi dia menguasai diri, pinggangnya juga terkena tendangan kuat sekali. Dengan terhuyung-huyung dan wajah mengkerut menahan sakit, dia tak jadi menghampiri temannya. Dari sudut bibirnya tampak menetes darah segar.

"Hoagkh!" Ketika hendak bergerak, kembali darah segar tumpah dari mulut Rambing Puger. Dengan cepat, ditelannya sebutir obat pulung. Lalu...

"Setan keparat! Tunggulah pembalasanku nanti. Kalian samua pasti mampus di tangan junjunganku ancam Rambing Puger. sambil berkelebat pergi dari tempat tersebut.

Abogei tadinya hendak mengejar, tetapi dicegah Nyai Utami. "Jangan habisi. Kalau dia binasa, kita tidak akan tahu tempat persembunyian perempuan celaka itu. Lebih baik, kita ikuti dia!"

"Ya, ya... Kau benar, Nyai Utami! Mari kita ikuti dia!" ajak Abogei.

"Kalian pergilah lebih dulu. Aku akan mengurus mayat menantuku ini. Tinggalkan jejak, biar aku mudah mencarinya!"

Kebetulan saat itu Ragorda telah berhasil menghabisi tawon-tawon beracun. "Ayo, Ragorda! Cepat kita ikuti dia!"

"Baik, Paman!"

Beberapa saat kemudian, tubuh Abogei bersama Ragorda berkelebat lenyap ke arah perginya Rambing Puger.
********************

Nyai Utami yang kini tengah mengikuti jejak yang ditinggalkan Abogei sampai di suatu tempat yang menyeramkan. Sebuah hutan kecil, namun penuh pohon besar yang rindang dengan cabang dan rantingnya menjalar jauh dari induknya. Sekilas tempat itu seperti sebuah payung raksasa. Di bawahnya terdapat area pemakaman yang cukup luas.

Di antara makam-makam itu terdapat sebuah makam tua yang diapit gapura setinggi satu setengah tombak. Makam tua itu menempel pada dinding bukit di belakangnya. Tak jauh dari situ, terlihat satu perkelahian yang sengit. Tampak Rambing Puger dikeroyok Abogei dan seseorang yang tengah bergerak cepat, sehingga wajahnya tak tampak jelas. Sedangkan Ragorda hanya memperhatikan saja.

"He he he...! Tak disangka Pendekar Harimau Kumbang hari ini mengeroyok lawan!" kata wanita tua itu.

Nyai Utami melihat jelas dari dekat seorang laki-laki tua berumur enam puluhan yang memakai pakaian hitam-hitam. Wajahnya kelihatan bersih, walaupun dipenuhi kerut. Rambutnya pendek di penuhi uban. Dan memakai ikat kepala warna hitam yang menjuntai sampai ke punggung.

"Jangan ribut kau, Nyai Utami! Lihat saja, siapa yang akan berhasil membunuh si Kodok Buduk ini!" seru laki-laki yang dipanggil Pendekar Harimau Kumbang.

"Huh...! Kau jangan serakah sendiri, Jumanta! Ayu Purbani telah membunuh keponakanku. Karena dia tidak ada di sini maka si Kodok Buduk inilah sebagai gantinya. Lagi pula, kamilah yang terlebih dahulu menemukannya!" timpal Abogei sengit.

"Sialan! Jadi kalian tak menemukan perempuan itu?" tanya Nyai Utami kecewa.

"Mungkin dia kabur, begitu mengetahui kedatangan kita!" sahut Abogei seenaknya.

"Jangan asal buka mulut kau! ilmu silat kalian tidak ada setahi kukunya!" bentak Rambing Puger garang.

"Bangsat! Haaap!" bentak Pendekar Harimau Kumbang yang bernama asli Jumanta. Jumanta cepat menyorongkan tangannya kemuka. Dari tangannya, mendesir angin keras yang membuat Rambing Puger gelagapan sesaat.

"Yaaaiiik!" Tiba-tiba tubuh Rambing Puger berjumpalitan di udara, menghindari serangan.

"Awaaas!" Abogei memperingatkan.

Memang pada saat yang sama, Rambing Puger melepaskan ilmu 'Katak'nya ke arah Jumanta. Sambaran angin yang keras melanda Pendekar Harimau Kumbang. Batu-batuan kecil dan dedaunan berterbangan ke sana kemari. Tapi sambil berteriak keras Jumanta menjatuhkan dirinya ke tanah dan bergulingan, untuk menghindari serangan. Akibat dari pukulan yang meleset dari sasaran tanah di sekitarnya banyak yang berlubang.

"Bangsat! Benar-benar setan orang itu!" maki Jumanta, sambil loncat ke samping menghindari serangan.

"Kurang ajar! Bisa berbuat apa dia terhadap kita!" maki Nyai Utami gemas.

Dengan pedang terhunus, segera wanita tua itu ikut mengeroyok. Diterjangnya Rambing Puger dengan jurus-jurus andalannya. Sedangkan Jumanta yang mendapat kesempatan, menerjang kembali dengan serangan lebih dahsyat. Maka kini Rambing Puger jadi dikeroyok dua.

"Ciyaaat!" Abogei tak mau ketinggalan. Dia ikut menerjang kembali pada lawan yang dibencinya. Sehingga Rambing Puger kini dikeroyok.

Lama kelamaan, Rambing Puger jadi di bawah angin. Dia hanya mampu mengelak dan menangkis saja. Tetapi, dia tidak mau menyerah walaupun keselamatannya sudah terancam. Dengan sekuatnya kembali dilancarkannya serangan ilmu 'Katak'nya yang dahsyat ke arah Nyai Utami dan Abogei.

"Haaas!" Nyai Utami mengelak sambil membabat lengan lawannya dengan pedang. Sementara Abogei dengan gemas menyambut dengan 'Pukulan Beruang Tangan Api'nya.

"Huaeeet!" Blammm!

Keduanya kontan terlempar ke belakang bersamaan. Pada saat itulah pedang Nyai Utami berkelebat. Tak ampun lagi, tangan Rambing Puger tergores. Dan darah pun menetes dari lukanya. Sambil terhuyung-huyung, dia berusaha menangkis serangan cakar harimau kumbang yang dilancarkan Jumanta. Tetapi serangan Pendekar Harimau Kumbang itu hanya tipuan belaka. Karena?

Wet! Wesss! Brettt! "Aaagkh!"

Tak dapat dihindari lagi, punggung dan paha Rambing Puger kena dicengkeram yang terasa sakit bukan main. Darah segar pun mengucur dari lukanya. Untuk menghindari serangan yang lebih dahsyat, Rambing Puger menjauhi lawan. Tubuhnya segera berjumpalitan beberapa kali di udara. Tetapi, Abogei telah menanti dengan 'Pukulan Beruang Tangan Api'nya.

"Heyaaat!" Wuuut! Bugkh! "Wuaaa...!"

Pukulan yang dilepaskan Abogei telak menghantam dada laki-laki itu. Seketika, napasnya terasa sesak dan dadanya hangus bagaikan terbakar. Bagaikan nangka busuk, tubuh Rambing Puger ambruk ke tanah. Dan darah segar pun tumpah dari mulutnya. Tubuhnya berkelojotan sejenak, kemudian diam untuk selama-lamanya.

"Sekarang, ke mana kita cari perempuan itu?" tanya Abogei pada Nyai Utami, ketika telah memastikan kalau Rambing Puger tewas.

"Kurasa dia masih tidak terlalu jauh dari tempat ini. Lebih baik kita berpencar!"

"Setuju!" sahut Jumanta.

Tanpa kata sepakat lagi, mereka berkelebai pergi dari tempat itu.

********************

Senja baru saja berlalu, ketika sepasang anak muda keluar dari sebuah desa. Keduanya berjalan sambil bercakap-cakap. Tak disadari, lima orang laki-laki berwajah seram dengan gdok di pinggang mengikuti dari balik semak-semak rimbun.

"Kakang Rangga, apa tidak sebaiknya kita beristirahat di sini...?" usul gadis yang berjalan bersamanya.

"Kalau kau merasa lelah, ya aku setuju saja!" sahut pemuda yang ternyata Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti. Sambil berkata matanya melirik kearah semak-semak.

Benar saja belum lagi sempat beristirahat, tiba-tiba berloncatan lima orang yang berwajah seram dengan golok tergenggam di tangan, langsung mengurung mereka. Gadis yang tak lain dari Gita Rahayu terkejut melihat mereka yang berwajah menakutkan itu.

"Kalian tentu sepasang anak muda yang sedang berpacaran. Tinggalkanlah semua bungkusan dan barang berharga! Kalau tidak kalian tak akan melihat dunia ramai lagi!'' ancam salah seorang penghadang

"Siapakah Kisanak berlima ini? Rasanya kita belum pemah bertemu dan berkenalan," tanya Rangga.

"Ha ha ha...! Bodohnya bukan main. Orang lain akan lari terbirit-birit begitu mendengar nama kami. Tapi kalian ini malah tenang saja! Dengarkan! Kami berlima disebut, Lima Setan Gentayangan yang setiap keinginannya selalu terpenuhi!" kata mereka sambil memandang rendah pada kedua anak muda itu.

"Tetapi aku tidak memiliki barang berharga, kecuali pedang tidak berarti ini...," tukas Rangga.

"Kau bohong! Bukankah gadis yang berjalan bersamamu itu adalah barang yang sangat berharga? Tinggalkanlah dia untuk kami berlima. Dan kau boleh pergi dengan aman!"

Mendengar ucapan yang bernada kotor, Rangga mengerutkan alis matanya. Pancaran matanya mencorong tajam. Tapi itu hanya sejenak, kemudian biasa lagi. Lain halnya gadis itu. Segera pedangnya dicabut. Langsung diserangnya kelima lelaki berwajah seram itu.

"Haiiit!" Swiet! Trang!

Pedang Gita Rahayu tertahan golok besar yang berkilatan tertimpa sinar matahari senja. Tangan gadis itu sampai tergetar. Jelas tenaga dalam pemegang golok itu cukup besar. Tapi, mana mau Gita Rahayu berhenti sampai di situ? Dengan cepat, pedangnya diputar menghantam lawan lainnya yang berada paling dekat.

"Haaas! Galak bukan main! Tetapi aku paling suka dengan gadis galak, bagai kuda liar!" ejek orang itu sambil mengelakkan serangan. Bahkan dengan sekali serangan balik, Gita Rahayu sudah merasa tak sanggup lagi memegang pedangnya.

"Hei, Gustomo! Awas! Jangan lukai gadis itu!" seru yang lain dengan cemas.

"Ha ha ha...! Jangan khawatir! Makan bangkai, apa enaknya?"

Mendengar kata-kata temannya, mereka jadi tertawa terbahak-bahak. Lalu beramai-ramai mereka menyerbu ke arah Gita Rahayu. Jelas, tujuannya tidak baik. Saat itu, kaki Gita Rahayu berhasil diserang. Sehingga tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh ke tanah. Bagaikan kucing berebut tulang, mereka berlima sama-sama mengulurkan tangan pada Gita Rahayu.

Gadis itu wajahnya berubah pucat, ketakutan setengah mati. Pada saat itulah berkelebat sesosok bayangan putih yang langsung menerjang ke arah mereka berlima.

"Heyaaat!" Bluk! Bug! Beg! "Wuaaa!"

Bagaikan dihempas badai, lima orang itu berpelantingan ke sana kemari. Dan bagaikan orang bodoh, mereka berpandangan satu sama lain.

"Ilmu sihir!" teriak mereka, hampir bersamaan.

"Bunuh dia!" Dengan serentak golok besar yang tajam meluruk ke arah sosok yang tak lain Rangga. Namun dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' semua serangan dapat dihindari. Bahkan yang mengarah ke leher dapat dijepit jari-jari tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Uuu?, uh...! Golokku.... Lepaskan Keparat!" seru pemegang golok sambil berusaha menarik sekuat tenaga.

"Lepas!" seru Rangga. Seketika Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan tangannya ke leher orang itu.

Duk! "Aaarkh!"

Tak ampun lagi orang itu jatuh lunglai di tanah, tanpa dapat bangun lagi. Sementara, teman orang itu segera menyerbu dengan amarah meluap-luap. Keempat mata golok mengancam Rangga, tanpa kenal ampun. Lima Setan Gentayangan yang tinggal empat ini, rata-rata memang memiliki tenaga besar dan ilmu silat lumayan. Tetapi menghadapi Pendekar Rajawali Sakti, mana mampu berbuat banyak?

Sambil meliuk-liuk, tubuh Rangga menyelinap di antara sambaran senjata lawan. Tetapi, tak ada satu pun yang mengenai tubuhnya. Dan ketika ada sebuah golok yang menyabet ke arah pinggangnya, Rangga cepat mengibaskan tangannya.

"Haes!" Tap!

Kembali senjata itu dapat ditangkap Rangga. Lalu sekali tusukan jari tangan ke ulu hati, orang itu roboh tak berdaya. Sedangkan senjatanya sudah pindah ke tangan Rangga, yang langsung dihantamkan pada senjata yang mengarah ke kakinya.

Trang! "Uaagkh!"

Senjata seorang lawan lagi kontan terlepas dari genggaman. Sedangkan kulit telapak tangannya terkelupas hingga terasa pedih bukan main. Dan belum sempat dia berbuat sesuatu, pedang di tangan Rangga telah membabat ke arah perutnya.

Bret! "Aaa...!"

Orang itu roboh dengan usus terburai keluar. Agaknya, Rangga mulai berang pada lawannya.

"Keparat! Kau telah membunuh tiga orang sahabatku. Aku akan mengadu jiwa denganmu!" teriak kedua orang yang masih tersisa.

"Kalian jangan harap dapat pergi. Kalau hanya sekadar jadi perampok, aku masih dapat memakluminya Tetapi bila suka mengganggu wanita, jangan harap kulepaskan hidup-hidup!" ujar Rangga sambil mengacungkan golok.

Sehabis berkata demikian, Pendekar Rajawali Sakti menerjang dengan jurus 'Rajawali Menyambar Mangsa'. Goloknya berkelebat mengurung kedua lawannya. Entah mengapa, kedua perampok itu seperti tak berdaya. Pada saat yang baik itu, Rangga tidak menyia-nyiakan kesempatan.

"Ciyaaat!" Bret! Bret! "Waeyaaa!" "Aaargkh!"

Kedua perampok itu tidak dapat lagi mengelakkan diri Sambil menjerit keras, keduanya roboh dalam keadaan berlumur darah. Yang seorang perutnya terbuka lebar. Sedangkan yang seorang lagi lehernya hampir terbabat putus. Gita Rahayu menyaksikan semua itu dengan pandangan kagum.

********************

Hari telah semakin gelap, Gita Rahayu baru saja menyalahkan api unggun, ketika hidung keduanya membaui sesuatu yang sangat menyengat.

"Uh...! Waspadalah, Gita. Apakah kau tidak membaui sesuatu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

"Ya! Aku mencium bau harum yang sangat menyengat!"

"Apakah tidak ingat pada ciri-ciri seseorang?" kembali Rangga bertanya sambil meningkatkan kewaspadaannya.

"Apakah yang kau maksud Ayu Purbani, si Wanita Setan yang kotor dan kejam itu...?" Gita Rahayu balik bertanya.

"Benar!" sahut Rangga, langsung mengibaskan tangannya dengan telapak terbuka ke arah api unggun. Maka seketika api itu padam. Baru saja api padam?

"Hi hi hi...! Tak ada gunanya kau memadamkan api unggun segala. Jangan banyak tingkah, Pendekar Rajawali Sakti!"

Terdengar suara tawa menggidikkan dari kegelapan malam. Sementara bau harum yang menyengat semakin merangsang pernapasan mereka berdua. Tanpa terasa, Gita Rahayu jadi bergidik ngeri.

"Kakang! Tiba-tiba saja aku merasa takut!" bisik Gita Rahayu sambil memegangi tangan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya terasa menggigil ketika merapat ketubuh Rangga.

"Tenang saja, Gita," ujar Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tidak memikirkan diriku, Kakang. Tapi kau..."

"Aku ..? Memangnya kenapa...?" tanya Rangga.

"Apakah kau tidak tahu kelakuan Ayu Purbani?"

Rangga berpikir sejenak, kemudian tersenyum kecil. Baru dimengerti, maksud jalan pikiran gadis itu. "Mudah-mudahan aku tidak tergoda olehnya..."

"Hi hi hi! Rupanya kalian ini sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Ah! Sungguh malang bila salah seorang dari kalian harus meninggalkannya." Suara yang mendirikan bulu roma kembali terdengar.

"Nisanak, tak usah bersembunyi. Perlihatkan dirimu, sebelum aku yang memaksamu keluar!" sahut Rangga mengancam.

"Hi hi hi. ..! Terhadap Pendekar Rajawali Sakti yang terkenal, mana mungkin aku bisa bersembunyi. Baiklah. Aku akan keluar kalau itu yang menjadi keinginanmu!"

Selesai berkata begitu, tiba-tiba melesat satu sosok bayangan dari balik cabang pohon. Begitu mendarat dua tombak di depan Rangga, baru jelas siapa bayangan itu. Ternyata, dia adalah seorang gadis berwajah cantik jelita dan mempesona. Kulitnya pulih bersih dengan bibir merah merekah. Manakala tersenyum, rasanya akan membuat setiap laki-laki bertekuk-lutut.

Sepasang mata gadis itu jernih bak air gunung. Hidungnya mancung mencuat. Rambutnya panjang hingga ke pinggul dan dibiarkan terurai begitu saja. Dari rambutnya, tercium bau harum yang semerbak. Yang paling menyolok adalah pakaiannya yang tipis dan tembus pandang. Sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna. Untuk sesaat, Rangga jadi terpaku dan melotot.

"Kakang...." Gita Rahayu mencubit kecil lengan pemuda itu. Rangga tersentak, langsung disadarinya kelemahan itu.

"Eh...! Eng..., ada apa?" tanya Rangga gugup.

"Aku tidak mau kau terhanyut...!"

"Kau tidak usah khawatir...!" tukas Rangga.

"Sikapmu tadi tidak dapat mengelabuiku!" dengus Gita Rahayu.

Pendekar Rajawali Sakti jadi serba salah mendengar kata-kata gadis itu. Pandangannya segera dialihkan pada perempuan yang berada di depannya. Tapi sebentar kemudian pandangannya kembali lagi ke arah gadis itu.

"Apakah kau yang bernama Ayu Purbani??" tanya Rangga dengan suara sedikit bergetar.

"Hi hi hi..! Dugaanmu benar, Pendekar Tampan...."

Sambil tertawa cekikikan, perempuan itu tersenyum merekah. Sehingga membuat darah muda setiap laki-laki jadi tersirap. Untung saja, Rangga telah mengatur pernapasannya. Sehingga, darahnya berjalan seperti biasa kembali, dan tak dapat tergoyahkan oleh pandangan yang mengguncangkan hati.

"Chuih...! Perempuan macam apa kau ini? Jijik aku melihatmu! Lekas bunuh dirimu sendiri, sebelum aku yang membunuh!"

Kali ini Gita Rahayu yang menyentak melihat kelakuan wanita di depannya Gadis itu bahkan langsung mencabut pedangnya yang terselip di pinggang.

"Gita Rahayu, jangan gegabah!" Rangga mengingatkan, tetapi terlambat.

Gadis itu telah melompat dengan satu serangan kilat.

"Hi hi hi...! Cah Ayu! Agaknya hatimu dibakar cemburu melihat kekasihmu sebentar lagi jatuh ke dalam pelukanku!" ejek Ayu Purbani sambil mengelakkan serangan.

"Huh. Tujuanku hanya ingin memotes kepalamu untuk menebus kematian kakangku!" bantah Gita Rahayu.

"Oh, begitu...? Siapa sih kakangmu? Pasti dia amat mencintaiku sehingga rela mati demi aku!" ujar Ayu Purbani sinis.

"Setan betina! Kakangku bukan mati karena membelamu. Tetapi kau sendiri yang merayu dan menggunakan ilmu sesat, kemudian mencelakainya!"

Sambil berkata. Pedang Gita Rahayu membabat ke arah kaki Ayu Purbani. Namun serangan itu dapat dihindari Ayu Purbani hanya dengan melompat lompat kecil. Dalam menghadapi gadis itu, Ayu Purbani tampak tenang-tenang saja.

"Hi hi hi...! Mana mungkin? Untuk membunuh nyamuk saja, aku tidak tega. Apalagi membunuh manusia? Coba lihat!"

"Haaas!" Wuuut!

Serangkum angin keras keluar dari telapak tangan wanita iblis itu. Maka serangan Gita Rahayu terhenti, tak dapat lagi menggerakkan tangannya. Bahkan tubuhnya terlempar ke belakang beberapa langkah. Untung Rangga sempat menangkapnya.

"Kau liar! Kalau aku kejam, dengan mudah aku dapat membunuhmu. Tapi itu tak kulakukan karena aku tidak seburuk dugaanmu!" ujar Gita Rahayu tenang.

"Huh...! Kau seperti serigala berbulu domba. Tetapi mana mungkin bisa menipuku!" maki Gita Rahayu sambil bermaksud menyerang lagi. Namun, Rangga telah menangkapnya.

"Sabar, Gita. Sia-sia saja kau melawannya!" cegah Rangga.

"Lepaskanlah, Kakang. Aku tidak takut menghadapinya!" teriak Gita Rahayu sambil berontak.

"Sabarlah, Gita. Dia bukan tandinganmu! Biarkanlah aku yang mewakili dirimu! Kau harus dengar kata-kataku kali ini!" kata Rangga sedikit keras. Kali ini, gadis keras kepala itu menurut.

"Nah, Nisanak! Kalau kau ingin main-main denganku, silakan. Rasanya orang sepertimu sudah tidak dapat disadarkan!"

"Hi hi hi...! Untuk apa kita saling baku hantam? Lebih baik kita bersahabat. Marilah ikut aku, kau akan kuangkat jadi pangeranku yang paling kukasihi!"

Sambil berkata, Ayu Purbani bergerak gemulai yang menggairahkan. Namun kali ini yang dihadapi adalah seorang pendekar yang sulit dicari tandingannya. Sehingga semua ulahnya sia-sia belaka.

"Huh! Perempuan jelek! Tak ada gunanya pamer diri. Wajahmu masih lebih cantik kera daripada dirimu tahu...?" ejek Rangga memanasi lawan.

"Ih! Kau pikir dirimu itu siapa? Berani-beraninya kau menghinaku serendah itu! Sudah bosan hidup kau rupanya?" ancam Ayu Purbani.

"Heyaaat!" Wuuut! "Aits!"

Bagaikan kilat tubuh Ayu Purbani melesat. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan cengkeraman ke arah dada. Namun secepat itu pula, Pendekar Rajawali Sakti mengarahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya meliuk-liuk, sehingga serangan tersebut luput. Namun serangan susulan segera tiba, sehingga terpaksa Rangga langsung menyambutnya.

"Yaaat!" Plak! Plak!

Tangan Rangga terasa kesemutan ketika beradu dengan tangan perempuan itu. Belum lagi Pendekar Rajawali Sakti mempersiapkan diri, kembali serangan perempuan itu mengancam dirinya. Yang diincar adalah ubun-ubun kepalanya. Dengan sendirinya, Rangga tidak mau jadi korban. Cepat kepalanya dirundukkan.

Tapi kaki wanita itu kembali melancarkan serangan ke arah muka Pendekar Rajawali Sakti. Maka dengan segera tubuhnya berjumpalitan ke udara untuk menghindari serangan. Namun dengan gerakan aneh Ayu Purbani terus memburu dengan melancarkan serangan-serangan dahsyat.

"Ciyaaat!" "Haiiit!" Plak! Plak!

Tubuh Rangga berputar seperti baling-baling untuk mematahkan serangan tenaga dalam yang luar biasa dari wanita itu. Sedangkan Ayu Purbani terhuyung-huyung beberapa langkah, akibat dorongan tenaga sakti Rangga. Kini Rangga berbalik melancarkan serangan menggunakan jurus "Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang memancarkan sinar kemerahan.

Ayu Purbani tampak tidak berani menyambut serangan, karena keadaannya sedang kurang menguntungkan. Dengan segera dia bersalto beberapa kali, menjauhi lawan tangguhnya. Tapi Rangga tidak mau memberi kesempatan. Langsung diserangnya wanita itu saling susul. Kali ini yang diarah adalah kepala dan dada.

"Aiiip!" Ayu Purbani membuang diri dan bergulingan beberapa kali di atas tanah. Namun, kakinya mengancam ke arah bawah pusar Rangga. Secepat itu pula, Pendekar Rajawali Sakti menghindar. Sehingga untuk sementara perkelahian berjalan seru dan seimbang.

TUJUH

Pertarungan antara Rangga melawan Ayu Purbani masih berlangsung sengit. Sampai sejauh itu, Ayu Purbani masih belum dapat mendesak lawan mudanya yang tadi dianggap sepele.

"Hi hi hi...! Hebat kau, Pendekar Rajawali Sakti. Tidak percuma kau punya nama besar!" seru Ayu Purbani.

Tiba-tiba Ayu Purbani mencabut pedang pendeknya, yang bersinar putih menyilaukan.

Sriiing! Wuuut! Wuuut!

Dengan kecepatan sulit diikuti pandangan mata, pedang wanita itu mengancam tenggorokan dan mata Rangga. Tapi seketika Pendekar Rajawali Sakti segera memainkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', untuk menghindarinya. Bahkan dengan cepat, dilancarkannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' dan disambung lagi jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali.

"Uts!" Mendapat berondongan serangan yang dahsyat luar biasa itu, Ayu Purbani meloncat ke atas menjauhi lawan. Tetapi Rangga tidak mau melepaskannya begitu saja. Langsung kedua tangannya dihentakkan, melancarkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' kembali.

"Hait!" Dengan gerakan memutar tubuh di udara. Ayu Purbani berhasil mengelakkan serangan Rangga yang biasanya jarang meleset. Bahkan tubuhnya langsung meluncur dengan sabetan pedang pendeknya ke leher Rangga. Untung saja Pendekar Rajawali Sakti masih sempat menghindar ke samping kiri.

Tetapi, ujung pedang wanita itu terus mencecar dadanya. Rangga hanya mengeluh pelan, ketika dadanya sempat tergores. Tampak darah mulai mengucur.

"Kakang...! Kau tak apa-apa...!" teriak Gita Rahayu sambil memburu ke arah Rangga.

"Tenanglah.... Aku tidak apa-apa..."

"Tetapi, lukamu cukup parah! seru Gita Rahayu, cemas.

"Hi hi hi...! Tenangkan hatimu, Cah Ayu. Aku tidak bermaksud membunuh kekasihmu. Bila tidak, sudah sejak tadi jadi mayat," Ayu Purbani tertawa panjang sambil berkacak pinggang.

"Perempuan laknat, kubunuh kau!" Tanpa memikirkan keselamatan, Gita Rahayu berkelebat menyerang dengan wajah garang dan dendam membara. Namun, Ayu Purbani tetap terang saja.

"Huh...! Bocah bandel yang tidak tahu diri!" bentak wanita cantik itu, kalem.

Trang! Bugkh! "Hekh"

Entah bagaimana, pedang di tangan Gita Rahayu terlepas dari tangan. Belum lagi disadari apa yang telah terjadi, sebuah tendangan keras menghantam perutnya. Maka tak ampun lagi, gadis itu terjungkal sambil memuntahkan darah dari mulut.

"Gita Rahayu!" seru Rangga terkejut. Cepat diperiksanya keadaan gadis itu dengan wajah cemas.

"Kakang... oh...!" rintih Gita Rahayu.

"Tenangkan, hatimu. Aku akan berusaha sebisa mungkin," ujar Rangga.

"Kakang Rangga! Oh... aku? hoagkh!" Sehabis berkata, gadis itu kembali memuntahkan darah segar, lalu jatuh pingsan.

Rangga jadi kebingungan. Bila tidak ditolong, gadis itu akan binasa. Kalau ditolong, berarti dia harus membiarkan dirinya jadi sasaran serangan Ayu Purbani. Dalam keadaan yang seperti itu, tiba-tiba melesat sesosok tubuh di tengah tengah mereka.

Tahu-tahu di dekat Pendekar Rajawali Sakti telah berdiri seorang perempuan tua bertubuh bongkok dengan pedang di tangan. Pandangan matanya yang tajam, menatap Ayu Purbani. Jelas pandangan itu merupakan ancaman bagi wanita cantik ini. Dengan langkah tenang nenek itu menghampiri Rangga.

"Menepilah kau Bocah Biar aku yang mengurusi cucuku!"

"Oh? Dia cucumu...?" desah Rangga bersyukur dalam hati.

"Hi hi hi...! Si Burung Hantu ternyata muncul untuk menjemput kematiannya sendiri," ujar Ayu Purbani melihat kehadiran wanita tua yang ternyata Nyai Utari.

"Diam kau, Perempuan Sialan! Kau akan mendapat bagianmu nanti!"

"Kenapa harus menunggu nanti? Bukankah kau sudah tidak sabar. Ayo bertindaklah Nenek Peot?!" ujar Ayu Purbani.

Mendengar kata-kata yang penuh tantangan dan memandang rendah, Nyai Utami jadi berang. Dengan mengerahkan ilmu andalannya, diserangnya Ayu Purbani. Pedangnya bergulung-gulung mengurung jalan keluar perempuan kejam itu.

Ayu Purbani tidak tinggal diam. Pedang pendeknya cepat dikelebatkan memapak serangan.

Trang! Tring! "Uah!"

Akibat bentrokan itu tubuh Nyai Utami tergetar. Seketika telapak tangannya terasa nyeri dan pedih.

"Hi hi hi...! Setelah puluhan tahun berlalu, ternyata ilmu silatmu tidak ada kemajuan barang sedikit. Mana bisa kau mengalahkanku, Nyai Utami!" ejek Ayu Purbani.

'"Huh! Jangan sombong kau...! Lihat pedang!" "Yeaaat!"

Wut! Wut!

Kembali pedang di tangan Nyai Utami menikam dan menusuk ke tempat yang berbahaya di tubuh lawan. Namun dengan jurus-jurusnya yang aneh, semua serangan Nyai Utami berhasil dibendungnya. Bahkan ketika Ayu Purbani mulai mengadakan serangan balasan, perempuan tua itu terdesak hebat.

Dengan mati-matian si Burung Hantu membabatkan pedangnya pada leher Ayu Purbani. Namun sambil memiringkan kepala wanita kejam itu berhasil mengelakkan serangan maut. Lalu tangan kirinya menangkis pedang, dan tangan kanannya membabat ke arah pergelangan tangan Nyai Utami. Begitu cepat gerakannya sehingga.

Trang! Cras! "Wuaaakh!"

Nyai Utami berteriak tertahan, ketika tangan kanannya terbabat putus. Serta merta, dia melompat mundur untuk menjauh. Tetapi cepat bagai kilat Ayu Purbani telah menyerang kembali dengan kedua pedang pendeknya yang bersinar putih. Dengan mati-matian Nyai Utami berusaha menangkis serangan.

Sret! Bret! "Aaah!"

Nyai Utami terhuyung-huyung mundur, sambil menekap dadanya yang banyak mengucurkan darah. Bila kurang cepat, mungkin dadanya telah terbelah dua sampai ketulangnya.

"Bagaimana? Masih penasaran, Nyai Utami...?" ejek Ayu Purbani.

Nyai Utami segera menotok tangan kanannya, agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah. Sementara Gita Rahayu tampak tengah ditolong oleh pemuda tampan itu.

Nyai Utami menarik napas panjang sambil memandang perempuan cantik yang berada di depannya. Bagaimana mungkin gadis seumur itu dapat memiliki tenaga dalam hebat? Bahkan dapat mematahkan ilmu pedangnya yang termashur, terutama ilmu meringankan tubuhnya yang benar-benar luar biasa.

"Keparat! Walaupun kau memiliki ilmu setinggi langit, aku tak sudi menyerah padamu!" bentak Nyai Utami.

Belum lagi Ayu Purbani menjawab, mendadak muncul tiga orang laki-laki di tempat ini. Mereka langsung memandang Ayu Purbani dengan bengis.

"Paman! Dialah gadis yang bernama Ayu Purbani!" tunjuk Ragorda ketika mengenali gadis itu.

"Jadi, kau rupanya perempuan lacur itu! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan biadabmu!" seru Abogei.

Tanpa basa-basi lagi, Abogei dan Ragorda menyerang Ayu Purbani yang masih tertawa kecil mengejek.

"Hi hi hi...! Nyai Utami, untuk sementara biar kau selamat. Kalau mereka bertiga tidak muncul tepat pada waktunya, pasti kau telah menyusul suamimu ke neraka!" ejek Ayu Purbani, sambil mengelakkan serangan.

"Tutup mulutmu, Perempuan Celaka! Jangan dikira aku takut padamu!" bentak Nyai Utami dengan mata melotot.

"Jangan banyak bicara, Nyai Utami. Biar kuberesi dia!" teriak Jumanta sambil menyerang lawan.

"Bagus! Kalian majulah semuanya. Segala kutu sayur jangan banyak tingkah di hadapanku!" tukas Ayu Purbani, sambil berjumpalitan ke belakang menghindari serangan Abogei dan Ragorda.

Walaupun dikeroyok tiga, tetapi gadis itu masih dapat mengimbangi dengan permainan kedua pedang pendeknya yang luar biasa. Yang satu untuk melindungi sedangkan yang satunya lagi sebagai penyerang. Sehingga kedua senjata itu seolah-olah dimainkan dua orang.

"Perempuan sombong! Terimalah ini!" teriak Jumanta sambil melancarkan serangan jarak jauhnya.

Serangan itu dibarengi Abogei dan Ragorda yang melancarkan pukulan berapi. Namun dengan berani, Ayu Purbani menyambuti. Sedangkan serangan Abogei dan Ragorda disambut dengan putaran pedangnya yang cepat bagaikan kilat.

Dugkh! "Aaa!"

Jumanta berteriak tertahan, dengan tubuh mundur ke belakang. Tangannya terasa kesemutan. Sedangkan Abogei dan Ragorda menarik kembali serangannya. Karena bila tidak, tentu tangan mereka berdua akan terbabat.

Semakin lama, pertarungan semakin seru. Mereka saling serang dan saling libat, untuk mencari kelemahan. Tetapi sampai sejauh itu semuanya masih tampak berimbang. Di sini jelas, kepandaian Ayu Purbani masih lebih unggul.

"Bangsat! Perempuan iblis mampuslah kau!" seru Nyai Utami sambil maju kembali dengan ilmu pedangnya yang dahsyat.

Mereka semua merasa heran, mengapa perempuan muda seusia Ayu Purbani dapat mengetahui nama mereka masing-masing. Padahal, mereka belakangan tidak pernah muncul dalam dunia persilatan.

"Heyaaat!" Trang! "Shap!"

Serangan mereka bertiga yang bertubi-tubi masih dapat ditangkis dan ditahan Ayu Purbani. Bahkan serangan balasan yang bagaikan gelombang lautan, datang tak ada henti- hentinya. Ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna, membuat gerakan Ayu Purbani jadi cepat luar biasa. Apalagi tubuhnya seakan-akan berubah jadi banyak.

DELAPAN

Walau sadar kalau Ayu Purbani berkepandaian tinggi, mereka berempat terus menggempur dengan serangan-serangan dahsyat. Untuk sementara mereka masih dapat bertahan dari serangan Ayu Purbani.

"Ciaaat!" "Aiiit!" Dugkh! Trang!

Kembali beberapa bentrokan terjadi. Mereka sama-sama berlompatan mundur untuk mengatur serangan kembali.

"Nyawamu kini tak akan kulepaskan lagi, Perempuan Jahanam! Sebentar lagi kau akan menyusul kedua pembantumu itu ke neraka!" seru Nyai Utami dan Abogei hampir bersamaan.

"Apa katamu...? Kalian telah membunuh mereka?! Sekarang, jangan harap kalian dapat hidup lebih lama lagi!" bentak Ayu Purbani sambil melancarkan serangan dahsyat dengan pedang dan tangan.

Wut! Wut! "Yeaaat!"

Dengan kecepatan sulit dilukiskan, pedang wanita kejam itu berkelebat mengancam leher dan kaki Jumanta. Tentu saja, dia tidak mau jadi korban begitu saja. Dengan tenaga penuh tangannya menghantam dada lawan. Tapi Ayu Purbani segera memiringkan tubuh. Maka serangan itu lewat beberapa jari saja dari dadanya.

"Haaat!"

Menggunakan kesempatan itu, pedang wanita itu berbalik dan menyerang ke arah Abogei. Orang tua itu yang tidak menyangka akan jadi sasaran serangan jadi kelabakan.

"Paman, awaaaas!" teriak Ragorda, seraya berkelebat menghadang.

Plak! Bret! "Aaargkh!"

Ketika berusaha melindungi pamannya, pinggang Ragorda terbabat pedang Ayu Purbani. Ketika serangan lain meluruk, dengan cepat Ragorda bersalto beberapa kali di udara menjauhi lawannya yang sudah mata gelap itu.

"Mampus kau, Jumanta!" seru Ayu Purbani mengalihkan serangan pada lawan yang sedikit lengah.

Nyai Utami yang melihat kawannya dalam bahaya, segera membantu. Langsung dilancarkannya serangan ke arah pusar wanita itu. Tetapi sambil memperdengarkan suara geraman Ayu Purbani berbalik. Segera tubuhnya berkelebat menyerang mereka berdua. Secepat itu pula, keduanya membuat pertahan diri dari serangan Ayu Purbani. Namun, terlambat. Karena...

Bret! Brebettt!

Dengan teriakan tertahan, keduanya melompat mundur. Dan bahkan perut Nyai Utami terbabat dua jengkal mengucurkan darah. Begitu pula Jumanta. Tangannya sebatas siku terbabat kutung. Sambil meringis menahan sakit tangan yang satu menotok agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.

"Kini mampuslah kau, Jumanta!" teriak Ayu Purbani sambil melancarkan serangan.

"Aiiit!" Sambil bergulingan, Jumanta berhasil menghindari serangan. Tetapi serangan Ayu Purbani tidak berhenti sampai di situ saja.

Swit! Brettt! "Wuaeee!"

Kembali Jumanta berteriak keras, ketika pedang Ayu Purbani membabat tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Namun ketika wanita kejam itu hendak menghabisinya, Abogei berkelebat cepat menahan serangan yang mengandung tenaga dalam bagaikan api itu.

"Mau mampus saja, kenapa musti buru-buru!" Sambil berkata pedang Ayu Purbani bergerak aneh dan cepat luar biasa. Begitu cepatnya, sehingga Abogei tak sempat mengelak lagi.

"Aaakh!" Dada tokoh tua itu kontan terbabat pedang. Darah pun mengucur dari lukanya. Sementara Jumanta yang masih terluka segera menerjang dari belakang ke arah pinggang.

Namun dengan gerakan tiba-tiba, Ayu Purbani berbalik. Pedangnya cepat dibabatkan ke arah pinggang. Sambil berteriak Jumanta loncat ke atas dengan mencengkeram ke arah batok kepala wanita itu dengan jurus 'Harimau Terbang'. Tapi tahu-tahu kaki Ayu Purbani menendang ke arah daerah terlarang di tubuh Jumanta. Jumanta cepat bergegas mengelak. Namun, pedang lawan sempat menggores punggungnya.

Cras!

Bahkan sebelum dia bersiap kembali sebuah tendangan dahsyat telah menghantam dada. Tak dapat ditahan lagi, Pendekar Harimau Kumbang jatuh ke tanah langsung bergulingan menjauhi Ayu Purbani. Tetapi wanita itu terus memburunya. Sampai akhirnya, Jumanta tidak dapat bergerak lagi, karena tubuhnya tertahan pada sebuah batu besar. Sedangkan pedang Ayu Purbani terus memburu.

Jumanta sudah pasrah. Tidak ada jalan lagi untuk meloloskan diri dari serangan maut ini. Tapi pada saat yang gawat ini mendesir sebuah serangan gelap.

Wesss! Wettt!

Ayu Purbani cepat berbalik. Seketaka dia melakukan gerakan perlindungan yang rapat, sehingga tidak ada celahnya lagi.

Tas! Tasss!

Sepotong kayu sebesar paha kontan terbabat putus jadi beberapa bagian oleh babatan pedang Ayu Purbani. Menggunakan kesempatan itu, Jumanta bangkit berdiri. Langsung dilancarkannya tendangan ke arah punggung.

Bugkh!

Dan kali ini serangan laki-laki itu tepat mengenai pada sasaran. Ayu Purbani kontan jatuh mencium tanah. Dan dari mulutnya, tampak menetes darah kental. Tampaknya, dia pun mendapat luka yang cukup berarti. Terbukti wajahnya tampak sedikit memucat.

"Tidak baik membunuh lawan yang sudah tidak berdaya..."

"Kau lagi? Agaknya kau ingin segera mampus Bocah, diberi surga malah milih neraka baiklah kalau begitu!" seru Ayu Purbani, ketika berbalik. Ternyata orang yang melempar kayu tadi adalah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hidup ini hanya sekali. Untuk apa diisi dengan segala perbuatan kotor? Bikin malu saja!" ejek Rangga.

"Bagus! Terimalah kematianmu ini...!" Sambil mengerahkan sisa tenaganya Ayu Purbani menyerang pemuda itu. Gerakan ilmu pedangnya benar-benar luar biasa. Sehingga Rangga jadi benar-benar kerepotan menghindarinya.

"Heyaaat!"

Disertai teriakan menggeledek, gadis itu menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Memang, keduanya merupakan tokoh yang sulit dicari tandingannya saat ini. Sehingga, kini mereka hanya tampak bagaikan bayangan saja yang saling libat dan serang tidak henti-hentinya. Pada suatu kesempatan, Ayu Purbani melepaskan tendangan berputar ke arah kepala Rangga.

"Yeaaah!" Maka cepat bagai kilat, Rangga cepat merunduk. Tapi di luar dugaan pedang pendek Ayu Purbani berkelebat cepat. Kalaupun telah berusaha mengelak, tetap saja pundaknya termakan pedang.

Bret! "Aaakh!"

Sambil berjumpalitan menjauhi lawan, Rangga mencabut pedang pusaka. Cring! Seketika seberkas cahaya kebiruan memancar dari pedang pusakanya. Sehingga suasana di sekitarnya jadi diterangi cahaya putih dan biru silih berganti. Sementara yang menyaksikan jadi terpesona melihat kehebatan kedua pedang itu. Ayu Purbani sendiri mau tidak mau harus mengakui kehebatan senjata Pedang Pusaka Pendekar Rajawali Sakti.

Dengan pedang di tangan, Rangga bagaikan Malaikat Pencabut Nyawa. Lalu sambil berteriak keras, tubuhnya melesat ke atas. Begitu menukik turun, segera dilancarkan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega'. Serangan dahsyat ini bagaikan kilat menyambar dan sanggup merobek-robek apa saja yang menghalangi.

"Hiaaa...!" Trang! Tring!

Untuk menahan serangan Ayu Purbani terpaksa mengeluarkan seluruh kemampuannya. Begitu sepasang pedang pendeknya dikelebatkan maka beberapa bentrokan segera terjadi. Akibat bentrokan, tubuh Rangga kembali melayang ke udara. Ketika tubuhnya turun kembali langsung dikerah-kannya jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Kedua kakinya bergerak cepat, mengancam kepala Ayu Purbani. Mau tidak mau Ayu Purbani harus menjatuhkan diri, segera bergulingan di tanah. Tapi....

Crasss! "Ukh...!"

Walaupun begitu, lengan gadis itu sempat tergores pedang di tangan Rangga yang bergerak cepat luar biasa.

"Bocah sialan! Terimalah ini!" seru gadis itu sambil melenting berdiri.

Tetapi sebelum gadis itu sempat berbuat sesuatu. Rangga cepat menghentakkan kedua tangannya, melepaskan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang mengeluarkan sinar kemerahan. Begitu cepat sinar merah itu melesat, mengarah ke perut Ayu Purbani. Hingga...

Blazzz! "Aaa...!"

Bagaikan diseruduk kerbau liar, Ayu Purbani terlempar ke belakang sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya begitu perutnya telak terhantam pukulan Rangga. Namun daya tahannya benar-benar luar biasa. Sambil menggigit bibirnya, gadis ini bangkit dari tanah. Rangga juga dibuat kagum. Bila orang lain, tentu sudah binasa dengan perut hancur terkena pukulan ampuhnya.

Dan kini kembali Rangga dikejutkan tindakan Ayu Purbani. Dengan giginya lidahnya sendiri digigit. Kemudian darahnya ditelan. Dan anehnya, gadis itu tampak segar kembali. Bahkan tenaganya kuat seperti sediakala.

Pendekar Rajawali Sakti memang pernah mendengar ada semacam ilmu sesat yang dapat memulihkan tenaga yang telah terkuras habis, setelah menggigit lidahnya sendiri. Tetapi bila terus menerus digunakan, dapat membahayakan dirinya sendiri. Apakah ilmu yang dilihatnya ini memang ilmu yang dimaksud? Padahal, konon kabarnya ilmu itu telah lenyap dari dunia persilatan!

"Bocah sombong! Kali ini tak ada lagi maaf bagimu! Berdoalah selagi masih ada kesempatan!" bentak Ayu Purbani dengan pandangan mata beringas.

"Hiyaaat!" Serangan Ayu Purbani kali ini mengandung kekuatan tenaga yang berlipat ganda. Jelas, tenaga dalamnya telah pulih kembali. Dan itu berarti perkiraan Rangga tentang ilmu langka itu terbukti. Pukulan gadis itu bahkan mendatangkan angin yang keras, dan sanggup merobohkan apa saja yang menghalangi.

"Hiyaaa!" Kali ini Pendekar Rajawali Sakti tidak mau ayal-ayalan lagi. Langsung pedangnya dikelebatkan dalam penggunaan jurus 'Pedang Pemecah Sukma', disertai pengerahan tenaga dalam yang amat kuat untuk menahan sambaran pukulan gadis itu. Setiap sambaran pedangnya mengandung kekuatan yang sulit dijabarkan.

Sementara, Ayu Purbani jadi kendor semangatnya. Padahal, barusan tenaganya telah pulih kembali. Seakan-akan jiwanya terpecah-pecah. Bahkan jurus-jurusnya jadi kacau balau. Dia kini tak tahu apa yang dilakukannya.

"Ikh...! Kenapa aku ini?!" maki Ayu Purbani dalam hati. Ayu Purbani semakin bingung saja. Kini keadaannya makin terdesak saja. Dia hanya mampu mengelak saja.

"Hiaaa...!" Pada suatu kesempatan, Rangga membentak nyaring. Dan itu membuat Ayu Purbani jadi terperangah. Dan seketika itu pula Rangga mengebutkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti disertai tenaga dalam tinggi ke arah kepala.

Terpaksa Ayu Purbani menyilangkan sepasang pedang pendeknya di atas kepala. Dan....

Tras!

Sepasang pedang pendek milik Ayu Purbani kontan patah masing-masing jadi dua bagian.

"Heh?!" Ayu Purbani jadi kaget setengah mati. Namun belum lagi keterkejutannya hilang, pedang Pendekar Rajawali Sakti kembali berkelebat ke arah dada. Begitu cepat gerakan Rangga, sehingga gadis itu tak bisa menghindarinya Dan...

"Yeaaat!" Srettt! "Aaakh!"

Tak ampun lagj pedang pusaka Rangga merobek dada Ayu Purbani disertai jerit kesakitan. Darah segar kontan menyembur keluar dari dadanya yang membusung indah. Tubuhnya terhuyung-huyung, limbung hendak jatuh. Dan pada saat itulah Rangga bertindak cepat. Pedangnya langsung bergerak ke arah jatuhnya Ayu Purbani.

Shaaat! Blesss!

Pedang Pusaka Rajawali Sakti kontan amblas dari perut menembus punggung. Tepat ketika Ayu Purbani jatuh, tubuhnya berkelojotan sesaat. Tak lama, Ayu Purbani menghembuskan napasnya yang terakhir. Tapi, keanehan terjadi. Mendadak saja, tubuh Ayu Purbani mengeluarkan asap tipis. Lalu perlahan-lahan terjadi perubahan pada seluruh kulit dan wajahnya. Begitu asap itu berhenti mengepul dan terbawa angin semakin jelas perubahannya. Ternyata, Ayu Purbani adalah seorang nenek yang berwajah mengerikan.

"Murniasih...!" sentak Abogei.

"Dewi Maut...!" timpal Pendekar Harimau Kumbang.

Memang, Dewi Maut sebenarnya bernama asli Murniasih. Perempuan tua itu memang seorang tokoh hitam yang juga gemar menuntut ilmu hitam. Berkat ketekunannya, dia berhasil menemukan ilmu hitam yang bernama ilmu 'Sekar Temanten'. Dengan ilmu itu, dia berhasil merubah wajah dan bentuk tubuhnya menjadi seorang gadis cantik menggiurkan. Hanya saja, dia harus mencari tumbal berupa laki-laki perkasa untuk diserap sari-sari kejantanannya.

Tapi dalam hal ilmu olah kanuragan, Dewi Maut memang kalah jauh dibanding tokoh-tokoh lain pada saat itu. Baru setelah berubah menjadi seorang gadis, dia berhasil memperdaya dua murid Mahesa Keling yang berjuluk Iblis Mata Angin, untuk menguasai kitab-kitabnya. Begitu berhasil, barulah kedigdayaannya meningkat. Dan tindakannya pun makin merajalela.

Sementara itu orang-orang yang ada di situ segera menghampiri. Tapi ketika semuanya hendak menyatakan terima kasih, ternyata Pendekar Rajawali Sakti sudah cepat berkelebat. Dan sebentar saja, tubuhnya lenyap dari pandangan. Mereka hanya dapat berdiri mematung di tempatnya, tak ada seorang pun yang bisa mencegahnya.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: DATUK PULAU ULAR