Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 18

Liong Ki dan Liong Bi saling pandang. Wajah mereka berubah dan hati mereka tegang. Mereka berdua maklum bahwa mereka bertemu dengan seorang hwesio yang mempunyai tingkat kepandaian sangat tinggi. Hwesio itu tadi sudah mendemonstrasikan tenaga sakti jarak jauh yang luar biasa sekali. Dalam hal itu mereka berdua jelas tidak akan mampu menandinginya.

"Dia lawan yang amat berbahaya, akan tetapi dapat menjadi kawan yang amat berguna," bisik Liong Ki dan wanita cantik itu mengangguk, mengerti apa yang dimaksudkan sekutu dan kekasihnya.

Mereka berdua lalu meghampiri hwesio yang kini sedang makan lagi seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu. Tiga jagoan itu kini sibuk menolong lima orang pemuda hartawan keluar dari dalam kolam, kemudian mereka segera pergi bergegas meninggalkan taman itu. Mereka yang kebetulan berada di taman itu kini juga mulai bubaran sesudah tadi ikut menjadi penonton.

Kini Liong Ki dan Liong Bi sudah tiba di hadapan hwesio itu dan mereka berdua segera memberi hormat. Liong Ki berkata dengan sikap menghormat,

"Locianpwe, lima orang hartawan muda dan tiga orang jagoan mereka itu memang patut dihajar karena tidak menghormati seorang hwesio suci. Walau pun kami berdua bukan hartawan, akan tetapi kami dapat menghargai seorang pendeta dan kalau Locianpwe sudi menerimanya, kami hendak mengundang Locianpwe untuk menikmati hidangan lezat di rumah makan Lok-an yang terkenal di kota raja ini."

Hwesio itu bukan lain adalah Hek-tok Sian-su. Seperti yang sudah kita ketahui, bersama mendiang Bak Tok Sian-su, hwesio ini baru saja pulang dari See-thian (dunia barat atau India) setelah puluhan tahun mereka menimba ilmu dari sana. Sesudah mereka melihat Ceng Hok Hwesio, ketua kuil Siauw-lim-si di luar kota Yu-shu pegunungan Heng-toan-san dalam keadaan sakit, kemudian meninggal dunia dalam keadaan menderita, dan mereka mendengar pula cerita tentang Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang mereka anggap sebagai penyebab kesengsaraan Ceng Hok Hwesio, mereka menjadi marah sekali. Ketua kuil Siauw-lim-si itu mereka anggap sebagai penyelamat mereka yang telah menyadarkan mereka dari kehidupan sesat, bahkan dia pula yang kemudian mengirim mereka ke barat untuk memperdalam ilmu.

Mereka segera mencari Siangkoan Ci Kang dan isterinya, Toan Hui Cu untuk menuntut pertanggungan jawab mereka. Namun dalam pertandingan melawan Siangkoan Ci Kang akhirnya Ban Tok Siancu tewas walau pun dia mampu melukai Siangkoan Ci Kang.

Dapat dibayangkan kesedihan hati Hek-tok Sian-su sesudah rekan, sahabat dan saudara seperguruan yang selama puluhan tahun merantau ke barat bersamanya itu tewas. Dia pun membawa jenazah suheng-nya itu ke kuil Siauw-lim-si di luar kota Yu-shu, kemudian memperabukan jenazah itu. Dia meninggalkan obat penawar racun kepada hwesio di kuil itu untuk diberikan kepada Siangkoan Ci Kang.

Tepat seperti dugaan keluarga Siangkoan Ci Kang, Hek-tok Sian-su tidak rela membiarkan Siangkoan Ci Kang tewas begitu saja oleh pukulan beracun suheng-nya. Dia ingin agar Siangkoan Ci Kang serta isterinya menebus dosa dan bertapa di kuil Siauw-lim-si sampai mati untuk menenangkan roh penasaran dari mendiang Ceng Hok Hwesio!

Dia sendiri segera pergi ke kota raja setelah mendengar berita bahwa Tang Hay berada di kota raja! Inilah yang menjadi tujuan utama ketika dia dan suheng-nya kembali dari barat, yaitu untuk mencari pemuda bernama Tang Hay!

Pada waktu Hek-tok Sian-su dan suheng-nya, mendiang Ban-tok Sian-su, mengembara ke Tibet untuk memperdalam ilmu mereka, kedua orang hwesio bekas penjahat besar ini mendapatkan saudara-saudara seperguruan mereka yang telah menjadi pendeta-pendeta Lama. Tiga orang pendeta Lama yang mengadakan pemberontakan terhadap Dalai Lama adalah saudara-saudara seperguruan mereka. Tiga orang Lama itu adalah Gunga Lama, Janghau Lama, dan Pat Hoa Lama.

Hek-tok Sian-su dan Ban-tok Sian-su sendiri tidak ingin terlibat dalam pemberontakan itu. Namun mereka menjadi marah dan mendendam ketika mereka mendengar betapa ketiga orang saudara mereka ini tewas terbunuh. Mereka sudah menyelidiki siapa pembunuh tiga orang pendeta Lama itu. Gunga Lama tewas di tangan Kim Mo Sian-kouw pertapa di Puncak Awan Kelabu pegunungan Ning-jing-san, sedangkan yang dua orang lagi, Jang-hau Lama dan Pat Hoa Lama, tewas di tangan seorang pemuda bernama Tang Hay!

Mereka segera mencari Kim Mo Sian-kouw. Pertapa wanita yang rambutnya keemasan ini tidak menyangkal ketika ditanya, dan dia pun melakukan perlawanan dengan gigih ketika dua orang pendeta beracun itu menyerangnya. Terjadi perkelahian mati-matian yang seru di puncak itu. Namun, karena dikeroyok dua, padahal masing-masing hwesio merupakan tandingan yang setingkat dengannya, akhirnya Kim Mo Sian-kouw roboh dan tewas!

Dua orang hwesio itu lantas melakukan perjalanan pulang ke timur untuk mencari musuh mereka yang ke dua, yaitu pemuda yang bernama Tang Hay. Akan tetapi ketika singgah di kuil Siauw-lim-si, mereka melihat keadaan dan kematian Ceng Hok Hwesio sehingga untuk sementara mereka menangguhkan usaha mereka mencari Tang Hay karena harus membalas kematian Ceng Hok Hwesio terhadap Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Usaha balas dendam itu bahkan mengakibatkan tewasnya Ban-tok Sian-su.

Kini Hek-tok Sian-su berangkat sendiri ke kota raja untuk mencari Tang Hay. Ketika tiba di kota raja, hari itu dia masuk ke taman dan melihat lima orang pemuda hartawan hendak berpesta-pora di taman tanpa menghiraukan orang lain, bahkan tidak menawarkan makan kepadanya. Dia pun lalu mengambil makanan dan minuman yang sedianya akan dipakai pesta lima orang pemuda hartawan itu, tidak menghiraukan teriakan mereka, bahkan lalu makan minum dengan santai tanpa mempedulikan lagi kepada mereka sampai lima orang pemuda itu memanggil tukang pukul mereka.

Saat Liong Ki dan Liong Bi muncul di depannya dan menawarkan makanan dan minuman di rumah makan, Hek-tok Sian-su mengamati mereka berdua. Dia adalah seorang yang sudah kenyang makan garam dunia kangouw, pandangan matanya tajam dan dia segera dapat mengenal orang pandai, walau pun pemuda dan wanita itu masih tergolong muda. Dia tersenyum karena sikap sopan dari Liong Ki menyenangkan hatinya.

"Ha-ha-ha, orang-orang muda yang baik. Untuk makanan lezat dan mahal, arak yang tua, perut pinceng tak pernah merasa kenyang dan mulut pinceng tak pernah merasa puas, ha-ha! Kalian adalah dua orang muda yang baik sekali, suka menghargai pendeta seperti pinceng, omitohud...!"

Hek-tok Sian-su bangkit berdiri. Dia meninggalkan sisa makanan dan araknya, mengikuti Liong Ki dan Liong Bi keluar dari taman itu tanpa menoleh lagi. Ketika lewat dekat lima orang pemuda hartawan yang sudah keluar dari dalam kolam dalam pakaian basah kuyup seperti lima ekor tikus baru saja dikeluarkan dari air, Liong Ki berkata kepada mereka.

"Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran agar kalian tidak bersikap sombong lagi. Aku adalah perwira pasukan pengawal Cang Taijin, dan aku tidak akan menuntut kalian kalau kalian mau menghabiskan urusan itu sampai di sini saja."

Mendengar bahwa pemuda itu ternyata adalah perwira pasukan pengawal Menteri Cang, lima orang pemuda hartawan itu terkejut dan cepat mereka menjura dengan sikap hormat, bahkan mereka lalu menghormat ke arah Hek-tok Sian-su sambil berkata,

"Mohon Thai-suhu mengampuni kami yang bersikap tidak sepantasnya."

"Omitohud, kalian memang telah diampuni oleh Sang Buddha. Kalau tidak, apa kalian kira dapat keluar dari empang dengan masih bernyawa?" Dia tertawa dan mengikuti Liong Ki dan Liong Bi keluar dari taman.

Lima orang hartawan muda dan tiga orang jagoannya tertegun, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh pendeta gendut itu. Akan tetapi Liong Ki dan Liong Bi mengerti. Tentu hwesio yang amat lihai ini hendak mengatakan bahwa kalau dia menghendaki, tentu lima orang pemuda hartawan itu tadi terlempar ke kolam ikan dalam keadaan tidak bernyawa lagi!

Hek-tok Sian-su memang seorang yang aneh sekali wataknya. Dulu, pada puluhan tahun yang lalu, bersama mendiang Ban-tok Sian-su, dia hanya seorang tokoh sesat yang biasa saja. Seorang yang sepenuhnya diperhamba nafsu, mengejar kesenangan dengan cara apa saja. Tidak ada pantangan baginya dan dia dapat membunuh orang sambil tertawa.

Kemudian dia dan Ban-tok Sian-su bertemu Ceng Hok Hwesio ketua kuil Siauw-lim-si dan bukan hanya kalah dalam ilmu silat menghadapi hwesio itu, akan tetapi mereka bahkan ditundukkan dengan budi pekerti dan disadarkan. Mereka bertobat dan bahkan merelakan diri menjadi hwesio, kemudian dipimpin dalam hal keagamaan oleh Ceng Hok Hwesio.

Ketua Siauw-lim-si ini melihat ketekunan dua orang bekas penjahat itu sesudah menjadi hwesio, maka dengan bekal pengetahuan agama yang telah mereka kuasai, mereka lalu dianjurkan pergi ke See-thian untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama Buddha.

Demikianlah, kedua orang itu pergi ke Tibet dan India, berkelana di negara asing itu dan memperdalam pengetahuan agama mereka, juga dalam kesempatan itu mereka bertemu dengan banyak pendeta dan pertapa lihai, maka mereka lantas memperdalam ilmu silat mereka pula. Bukan hanya ilmu silat, juga ilmu sihir dan ilmu-ilmu, tentang racun! Dan dalam hal keagamaan pula mereka bergaul dengan golongan yang menyimpang dari pada agama yang asli.

Karena mempelajari bermacam-macam ilmu inilah maka Hek-tok Sian-su menjadi seorang manusia yang aneh dan tidak wajar. Kadang dia bersikap seperti seorang pendeta yang saleh dan budiman, akan tetapi kadang kala dia dapat bersikap ganas dan kejam seperti iblis. Kebaikan yang dikejar-kejar dapat menimbulkan kejahatan dalam pengejaran itu.

Hek-tok Sian-su yang menganggap dirinya sudah berada di puncak, tidak peduli lagi akan baik buruk perbuatannya. Dia menganggap bahwa semua perbuatannya benar. Dia selalu menuruti dorongan hatinya yang berada dalam gelombang pertentangan yang tak kunjung henti antara keinginan mengejar kesenangan dan keinginan menjauhi kesenangan. Kedua keinginan itu nampaknya berlawanan, tetapi sesungguhnya masih merupakan nafsu yang sama.

Nafsu selalu menghendaki agar keinginannya dapat tercapai, dan betapa terselubung pun keadaan nafsu, diberi pakaian dan sebutan yang indah dan bersih, tetap saja tujuannya hanya demi kepentingan diri sendiri. Aku tidak peduli kalau melakukan kejahatan karena aku ingin mendapat kesenangan dari hasil kejahatan itu. Aku harus melakukan kebaikan karena aku ingin mendapatkan kesenangan dari hasil kebaikan itu.

Berlawanan namun tujuannya sama, yaitu ingin mendapatkan kesenangan dari perbuatan itu. Perbuatan itu tidak utuh, melainkan dijadikan sarana atau cara untuk mencapai titik tujuan, yaitu kesenangan yang dikejar-kejar.

Nafsu selalu menyelinap ke dalam pamrih dan pamrih yang saling berlawanan di antara manusia menerbitkan bentrokan. Pengejar hasil kebaikan yang satu bertabrakan dengan pengejar hasil kebaikan yang lainnya karena terjadi bentrokan pamrih. Agama yang satu bentrok dengan agama yang lain karena masing-masing pemeluknya, yaitu para manusia, saling mempertahankan 'kebaikan' berpamrih tadi.

Orang menyalahkan keadaan di luar diri, menyalahkan lingkungan atau masyarakat yang dianggap sebagai penyebab dari penyelewengan dan kesesatan dirinya. Kita lupa bahwa lingkungan atau masyarakat dibentuk oleh keadaan pribadi-pribadi. Jika manusia hendak menyehatkan lingkungan, seharusnya menyehatkan pribadi. Kalau pribadi-pribadi sehat maka lingkungan pun otomatis menjadi sehat.

Boleh saja orang bertapa mengasingkan diri ke tempat-tempat sunyi, menjauhkan diri dari keramaian, menyiksa diri dengan segala macam cara berusaha untuk mengalahkan dan mengendalikan nafsunya sendiri. Namun orang lupa bahwa perbuatan ini pun merupakan suatu usaha yang mengandung pamrih, jadi masih di dalam lingkaran setan karena masih terdorong oleh nafsu.

Selama ada dasar 'aku ingin' tentu ada nafsu tersembunyi dalam bentuk 'agar berhasil'. Apa pun hasil yang dikejar-kejar itu, dengan pakaian bersih, dengan istilah mulia seperti sorga, kedamaian, keheningan, keabadian, kesempurnaan dan sebagainya, tetap saja di dalamnya bersembunyi 'kesenangan'. Karena sorga, kedamaian, keheningan, keabadian dan sebagainya itu dianggap enak dan menyenangkan maka kita kejar-kejar dengan cara memaksa diri berbuat apa yang kita anggap sebagai kebaikan. Kita tak pernah bertanya kepada diri sendiri, andai kata sorga itu tidak menyenangkan, kedamaian dan sebagainya itu tidak enak, apakah kita masih melakukan kebaikan yang dipaksakan itu? Lalu untuk apa?

Kebaikan adalah suatu sifat, suatu keadaan yang wajar, bukan sebuah perbuatan yang disengaja. Kalau kita sadar bahwa kita berbuat baik, maka di situ pasti terkandung suatu harapan akan pahalanya, walau tersembunyi sekali pun. Matahari merupakan kebutuhan mutlak bagi semua makhluk, memberi kehidupan ketika melimpahkan cahayanya, tetapi dia tidak tahu apakah itu suatu perbuatan baik. Pohon-pohon memberikan bunga-bunga harum, buah-buah segar, kayu dan kulitnya pun bermanfaat bagi serangga dan manusia, hewan-hewan seperti sapi, kuda, anjing dan sebagainya, akan tetapi semua melakukan 'kebaikan' tanpa sengaja dan tidak mengharapkan imbalan.

Kita dianugerahi hati dan akal pikiran yang menjadikan kita sebagai makhluk termulia di dunia. Dengan alat-alat itu kita dapat berbuat lebih banyak bagi alam, jauh lebih banyak dibandingkan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Mestinya begitu, akan tetapi justru hati serta akal pikiran manusia yang menimbulkan mala petaka di dunia ini, karena nafsulah yang menguasainya. Nafsu mutlak penting bagi kehidupan kita, namun juga mutlak berbahaya karena dapat menyeret kita ke dalam kesesatan. Lalu bagaimana?

Jalan satu-satunya hanyalah kembali kepada kekuasaan Tuhan. Menyerah! Hanya Tuhan saja yang mampu mengatur dan mengembalikan kita ke alam kewajaran di mana seluruh anggota tubuh kita luar dalam termasuk hati akal pikiran dibersihkan dari pengaruh nafsu dan berfungsi seperti sebelum dikuasai nafsu. Bila sudah begitu, manusia akan menjadi manusia seutuhnya, dibimbing dan dikendalikan oleh jiwa yang bersih dari nafsu. Bahkan nafsu yang tadinya merajalela dikembalikan kepada fungsinya semula, yaitu alat dari jiwa dalam jasmani, bukan menjadi majikan.


Sesudah dijamu makan minum secara royal sekali oleh Liong Ki dan Liong Bi di rumah makan terbesar, Hek-tok Sian-su menjadi akrab dengan mereka. Dia menyeringai senang dan mengelus perutnya yang menjadi semakin gendut karena baru diisi banyak makanan dan arak.

"Heh-heh-heh, kalian adalah dua orang muda yang baik sekali. Orang muda, tadi engkau mengatakan kepada tikus-tikus itu bahwa engkau adalah perwira pengawal Cang Taijin, siapakah pembesar itu dan siapa pula nama kalian yang bersikap begini baik kepadaku?"

"Locianpwe, nama saya Liong Ki dan ini adalah adik saya yang bernama Liong Bi. Kami berdua bekerja menjadi pembantu Menteri Cang Ku Ceng, saya sebagai perwira pasukan pengawal, dan adik saya sebagai pengawal Keluarga Cang."

"Hemm, lalu kenapa kalian bersikap baik kepada pinceng? Pinceng Hek-tok Sian-su tidak pernah berkenalan dengan pengawal menteri, mau apa kalian bersikap baik kepadaku?"

Liong Ki dan Liong Bi yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang sakti dan berwatak aneh. Terhadap orang seperti ini mereka harus bersikap hati-hati sekali. Orang seperti ini harus ditarik menjadi kawan, sama sekali tidak boleh dijadikan lawan.

Dari julukan kakek itu saja mereka sudah bisa menduga bahwa kakek ini tentulah seorang datuk yang lebih condong kepada golongan hitam. Julukannya adalah Racun Hitam (Hek Tok), dan sepak terjangnya tadi ketika menghajar lima orang pemuda dan tukang-tukang pukulnya sudah membuktikan akan kelihaiannya.

"Locianpwe, kami kakak beradik sangat suka akan ilmu silat dan mengagumi orang-orang pandai. Begitu bertemu dengan Locianpwe, kami bisa menduga bahwa Locianpwe adalah seorang sakti yang berilmu tinggi. Berkenalan dengan Locianpwe merupakan kehormatan dan kebahagiaan besar bagi kami yang ingin meluaskan pengetahuan kami yang masih dangkal," kata Liong Bi dengan suara merdu dan gaya memikat.

Kakek gundul gendut yang kulitnya hitam kehijauan itu memandang dengan mata yang semakin mencorong, tanda bahwa dia senang sekali. Dia mengangguk-angguk kemudian mengamati kedua orang muda itu. "Kalian mengaku sebagai pembantu-pembantu Menteri Cang Ku Ceng yang terkenal sekali sebagai seorang pembantu kaisar dan sangat besar kekuasaannya. Kedudukan kalian sebagai pengawal pribadi berarti sudah tinggi dan kalian tentu memiliki kepandaian yang hebat maka dapat menjadi pengawalnya. Nah, perlu apa lagi berkenalan dengan pinceng, seorang kakek perantau yang tidak punya apa-apa?"

"Locianpwe, harap jangan salah mengerti," kata Liong Ki cepat. "Kami berdua hanya ingin mengajak Locianpwe untuk bertemu dengan Cang Taijin. Beliau adalah seorang pembesar yang amat bijaksana dan selalu menghargai orang-orang pandai. Kalau Locianpwe suka, marilah kami ajak untuk menghadap Cang Taijin. Pasti Locianpwe akan diterima dengan senang hati."

"Heh-heh-heh, pinceng tidak ingin mendapatkan kedudukan, apa lagi yang remeh. Kalau kaisar sendiri yang menawarkan kedudukan, baru pantas untuk dipertimbangkan."

Liong Ki dan Liong Bi bertukar pandang. "Locianpwe, pendapat Locianpwe memang tepat dan cocok sekali dengan keinginan kami berdua. Kami sendiri juga ingin sekali mendapat kedudukan di istana kaisar, akan tetapi tidak mudah untuk mendapatkan anugerah seperti itu. Dan kedudukan di samping Cang Taijin akan amat memungkinkan untuk meningkat ke istana kaisar. Marilah, Locianpwe, kami perkenalkan Locianpwe dengan Cang Taijin dan Locianpwe akan kami akui sebagai guru kami. Kami siap membantu Locianpwe agar kita bertiga kelak akan dapat menduduki tempat yang berarti di istana kaisar..."

Hek-tok Sian-su merasa tertarik. Semenjak dia kembali dari perantauannya yang puluhan tahun lamanya bersama mendiang Ban-tok Sian-su, dia tidak pernah hidup senang, selalu menjalani perantauan yang membosankan, kadang harus menahan rasa lapar dan haus, kadang kepanasan atau kehujanan tanpa dapat berteduh di rumah sendiri yang pantas.

Sekarang Ban-tok Sian-su sudah tiada, dan dia sendiri pun sudah tua. Kapan lagi kalau tidak mulai sekarang mencari kedudukan yang pantas dan layak sehingga dia akan dapat menghabiskan sisa hidup dalam kemuliaan dan kesenangan? Lagi pula, selama puluhan tahun ini dengan susah payah dia mempelajari segala macam ilmu, lalu untuk apa semua jerih payah itu dia lakukan kalau hasilnya tidak dinikmati?

Akan tetapi yang mengajaknya adalah kakak beradik yang masih muda dan yang sama sekali tidak dikenalnya. Dia harus lebih dulu yakin akan kejujuran mereka, harus lebih dulu mengenal tingkat kepandaian mereka, apakah mereka itu cukup pantas mengakui dirinya sebagai guru mereka.

"Omitohud, karena kalian tetap mendesak, pinceng jadi tertarik juga. Tetapi pinceng harus benar-benar mengenal kalian yang hendak mengaku sebagai murid pinceng. Bagaimana mungkin seorang guru tidak mengenal tingkat kepandaian muridnya sendiri? Mari kita ke tempat sepi dan ingin aku mengenal kepandaian kalian agar hatiku tidak ragu-ragu lagi." Sesudah berkata demikian kakek itu lantas keluar dari rumah makan, diikuti oleh Liong Ki dan Liong Bi.

Mereka sampai di sebuah hutan kecil di luar kota. Di bawah sebuah pohon besar mereka berhenti dan Hek-tok Sian-su tertawa senang. "Nah, sekarang pinceng ingin berkenalan dengan ilmu kepandaian kalian yang ingin mengaku sebagai murid pinceng." tantangnya sambil berdiri tegak, perut gendutnya menonjol ke depan, kedua lengannya yang pendek tergantung di kedua sisi badan.

"Kak Liong Ki, biar aku yang akan minta petunjuk Locianpwe Hek-tok Sian-su lebih dulu," kata Liong Bi, kemudian dia pun melangkah maju menghampiri kakek itu.

Hek-tok Sian-su tersenyum. Bagaimana pun juga dua orang muda ini cukup gagah karena mereka tidak maju berdua mengeroyoknya. Sikap ini saja sudah menyenangkan hatinya dan membuat dia menduga bahwa tentu mereka ini mempunyai kepandaian yang cukup boleh diandalkan maka berani maju satu demi satu.

"Liong Bi, majulah dan keluarkan semua kepandaianmu agar pinceng dapat menilainya."

"Baik, Locianpwe. Sambutlah seranganku!" Liong Bi membentak dan tubuhnya langsung menerjang dengan cepat sekali.

Kedua tangannya menyambar-nyambar dalam bentuk cakar harimau, mencakar lambung dan muka secara bertubi-tubi, cepat dan mengandung tenaga dahsyat karena wanita itu memang sengaja mengerahkan tenaganya. Ia tidak main-main dan menyerang sungguh-sungguh karena dia pun hendak menguji kepandaian kakek itu, apakah pantas untuk dijadikan sekutunya.

Diam-diam kakek itu terkejut dan kagum sekali. Ternyata gadis ini memiliki kekuatan dan kecepatan yang jauh di atas dugaannya semula. Dia hanya menggeser kaki ke belakang dan ke kanan kiri untuk mengelak dari serangkaian serangan sepasang cakar harimau itu. Namun tiba-tiba kaki kiri Liong Bi mencuat dan menyambar ke arah pusarnya! Kakek itu terkejut dan cepat menangkis dengan lengannya.

"Dukkk!" Akibatnya tubuh Liong Bi terpental dan dia pun membuat gerakan salto jungkir balik tiga kali, sedangkan tubuh Hek-tok Sian-su terdorong mundur dua langkah.

"Omitohud....engkau boleh juga, Nona!" kakek itu memuji. "Coba kau sambut seranganku ini!"

Dan kini kakek itu menerjang maju, kedua tangan yang berlengan baju longgar dan lebar itu menyambar-nyambar dari kanan kiri dan atas bawah. Gerakannya tidak nampak terlalu cepat, namun sambaran angin pukulan yang keluar dari kedua tangan itu mendatangkan angin dahsyat yang menggerakkan pohon dan membuat daun-daun pohon rontok!

Liong Bi terkejut. Ia cepat mempergunakan ginkang-nya untuk berkelebatan ke sana sini, menghindarkan diri dari sambaran tangan dan dua ujung lengan baju itu. Bahkan Liong Ki yang menonton di pinggir merasa terkejut, maklum bahwa kakek ini, seperti yang sudah diduganya, memiliki ilmu kepandaian hebat. Sungguh akan menguntungkan sekali apa bila dia dan Liong Bi mampu memikat orang seperti ini agar menjadi sekutu dan kawan.

Di lain pihak, Hek Tok Sian-su menjadi semakin kagum. Dia telah mempergunakan ilmu pukulan Angin Taufan, dan jarang ada orang yang mampu mempertahankan diri lebih dari belasan jurus menghadapi ilmu pukulan yang memiliki tenaga jarak jauh yang dahsyat ini. Akan tetapi, gadis muda ini mampu bertahan sampai dua puluh jurus lebih!

Untung saja dia tadi maju seorang diri. Kalau kakaknya juga memiliki kepandaian seperti adiknya, dan mereka maju berbareng, belum tentu dia akan dapat mengalahkan mereka! Ternyata kini dia sedang berhadapan dengan dua orang muda yang hebat; yang tak akan mengecewakan untuk dijadikan sekutu atau pembantunya.

Ketika dahulu dia berdua dengan Ban-tok Sian-su, dialah yang menjadi pembantu karena Ban-tok Sian-su sebagai suheng-nya selalu memimpin. Sekarang kalau dua orang muda ini bekerja sama dengan dia, apa lagi mengaku sebagai muridnya, berarti mereka dapat menjadi pembantu-pembantunya yang boleh diandalkan!

Mendadak Hek-tok Sian-su mengeluarkan suara gerengan seperti seekor beruang marah dan gerakan tubuhnya langsung berubah. Kini kedua tangan berikut lengan baju lebar itu menyerang seperti gelombang samudera bergulung-gulung dan ada uap kehitaman yang keluar dari gulungan serangan itu!

Liong Bi terkejut bukan main. Maka dia pun bertanding dengan sungguh-sungguh karena dia hendak menguji kepandaian orang. Menghadapi gelombang serangan ini, dia segera mengeluarkan suara melengking tinggi lalu dia pun mengeluarkan ilmu simpanannya yang ampuh, yaitu ilmu silat Pek-lian-kun (Silat Teratai Putih) dari Pek-lian-kauw. Gerakan silat ini mengandung kekuatan sihir, dan ilmu ini dia pelajari dari mendiang tiga orang gurunya, yaitu Pel-lian Sam-kwi. Ada uap putih keluar dari kedua tangannya ketika dia memainkan ilmu ini.

Akan tetapi, begitu bertemu dengan gelombang serangan dahsyat dari Hek-tok Sian-su, tubuh Liong Bi segera terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.

"Srettt...!"

Liong Bi meloncat ke belakang sambil berteriak kaget dan mukanya berubah merah. Dua tangannya cepat menutupkan kembali bajunya yang terobek dan terbuka.

"Aihh, Locianpwe nakal...," katanya manja.

"Omitohud, sekali tanganku menyerang, harus menjatuhkan korban. Karena pinceng tidak ingin merobohkanmu, maka terpaksa pinceng merobek baju itu sebagai gantinya," kata Hek-tok Sian-su dan dari sikap dan bicaranya saja tahulah Liong Bi bahwa kakek ini tidak bisa disamakan dengan mendiang tiga orang gurunya. Kakek kulit hitam ini tidak menjadi hamba nafsu birahinya, dan penyobekan bajunya tadi bukan karena watak cabulnya, tapi untuk menunjukkan bahwa dia lebih unggul.

"Ilmu kepandaian Locianpwe hebat, aku mengaku kalah." kata Liong Bi dengan sejujurnya karena dia maklum bahwa jika mereka bertanding sungguh-sungguh, maka dia tidak akan mampu mengalahkan kakek ini. Hek-tok Sian-su tertawa senang.

"Engkau pun hebat, Liong Bi, dan pinceng tidak akan malu diakui sebagai guru olehmu. Nah, Liong Ki, sekarang giliranmu. Majulah dan mari kita main-main sebentar..."

"Baik, Locianpwe. Sambutlah seranganku ini!"

Liong Ki menerjang maju. Seperti juga Liong Bi, dia tidak main-main, mengerahkan tenaga sinkang-nya dan mengeluarkan ilmu silat yang ampuh untuk mengalahkan lawan. Karena dia tadi melihat betapa ketika menyerang dan mengalahkan Liong Bi gerakan kakek itu mendatangkan angin dan gelombang yang amat dahsyat, maka begitu menyerang dia pun memainkan ilmu Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru angin)! Gerakannya cepat dan mendatangkan angin yang cukup dahsyat.

"Omitohud....!" Hek-tok Sian-su berseru kaget dan kagum.

Kalau tadi dia mengenal ilmu silat yang dimainkan Liong Bi berasal dari Pek-lian-kauw, sekarang dia menghadapi permainan silat yang sama sekali tidak dikenalnya, namun yang dahsyatnya bukan kepalang. Pemuda ini ternyata lebih lihai dari pada adiknya! Tentu saja kakek ini tidak tahu bahwa ilmu yang dimainkan Liong Ki itu adalah ilmu silat yang dahulu dia pelajari dari Si Pendekar Sadis Ceng Thian Sin!

Karena dia merasa bahwa kalau sampai dia kalah oleh pemuda ini, bukan saja dia akan gagal mendapatkan kedudukan tinggi, juga tentu pemuda itu tidak jadi menariknya dan mengakuinya sebagai guru di depan Cang Taijin, maka Hek-tok Sian-su juga tidak berani main-main. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan ilmunya yang memiliki gerakan-gerakan aneh, yaitu ilmu yang diperolehnya selama puluhan tahun berkeliaran di sekitar Pegunungan Himalaya dan negara-negara sekitarnya.

Pertandingan itu memang amat seru dan hebat bukan main. Setiap kali tangan keduanya terpaksa bertemu mengadu tenaga, ternyata Liong Ki masih kalah kuat hingga terdorong mundur sampai empat lima langkah, sedangkan lawannya hanya terdorong mundur dua langkah. Namun dalam hal kecepatan Liong Ki dapat mengimbangi kakek itu, dan dia pun memiliki lebih banyak ilmu silat tinggi yang tidak dikenal kakek itu dan membuat kakek itu agaknya sukar untuk mengalahkannya.

Setelah lewat empat puluh jurus, kakek itu lalu berjongkok dan mendorong dengan kedua tangan ke depan, seperti seekor katak besar yang hendak meloncat. Dari kedua telapak tangannya menyambar tenaga dahsyat disertai uap hitam!

Liong Ki mengenal ilmu pukulan yang amat berbahaya, maka dia pun langsung meloncat ke samping untuk menghindar. Baru saja kedua kakinya kembali ke atas tanah, kakek itu sudah menerjangnya lagi, sekali ini tubuh kakek itu bergulingan seperti seekor trenggiling dan kaki tangannya menyerang ketika dia bergulingan itu.

Menghadapi serangan yang sangat aneh ini, Liong Ki terkejut dan terdesak. Ke mana pun dia mengelak, tubuh yang bergulingan itu selalu mengejarnya. Akhirnya terpaksa Liong Ki menyambut kedua tangan lawan dengan tangannya ketika kakek itu menghantamnya lagi dalam keadaan jongkok seperti katak.

"Plakkk!"

Dua pasang tangan bertemu dan saling melekat, dan pada saat itu kaki Hek-tok Sian-su menendang, mengenai paha Liong Ki sehingga tubuh pemuda itu pun terjengkang! Akan tetapi Liong Ki dapat meloncat bangun dengan cepat dan dia pun memberi hormat kepada kakek itu.

"Kepadaian Locianpwe sungguh dahsyat, aku mengaku kalah."

Hek-tok Sian-su tertawa bergelak sambil meraba-raba dagunya yang tak berjenggot. "Ha-ha-ha, selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan dua orang muda selihai kalian. Bahkan andai kata aku memiliki murid, agaknya dia akan kalah kalau bertanding melawan salah seorang di antara kalian. Hebat, memang sudah pinceng dengar bahwa kini banyak bermunculan orang-orang muda yang berkepandaian tinggi. Tentu saja pinceng merasa bangga jika diperkenalkan sebagai guru kalian. Kini pinceng mau kalian ajak menghadap Menteri Cang, dan suka bekerja sama dengan kalian. Namun sebaiknya, kalian sebagai murid-murid angkat harus membantuku mencari seseorang sampai dapat..."

"Tentu saja kami bersedia membantumu, Suhu!" kata Liong Ki dan mendengar sebutan itu, Hek-tok Sian-su lalu tersenyum. "Katakan siapakah orang itu dan di mana tinggalnya, pasti kami akan berusaha mencarinya. Kalau perlu kami juga bisa mengerahkan pasukan penyelidik...."

"Bagus, memang itulah yang pinceng kehendaki. Orang yang sedang pinceng cari-cari itu juga seorang pemuda yang lihai seperti engkau, namanya Tang Hay..."

"Hay Hay...?!" teriak Liong Ki

"Pendekar Mata Keranjang?" Liong Bi juga berseru sambil bangkit berdiri dari atas batu besar di mana dia tadi duduk.

"Oh, kalian sudah mengenal dia, bukan? Bagus sekali. Di mana dia sekarang?"

Liong Bi yang cerdik cepat mendahului Liong Ki agar jangan salah bicara. "Kami memang mengenal Tang Hay atau Hay Hay Si Mata Keranjang itu, Suhu, akan tetapi kami tidak tahu di mana dia sekarang. Akan tetapi, apakah hubungan Suhu dengan dia dan kenapa pula Suhu mencari Hay Hay?"

Tentu saja mereka merasa khawatir ketika mendengar bahwa orang yang dicari-cari oleh kakek ini ternyata adalah Hay Hay, musuh besar mereka! Kalau kakek ini sanak keluarga atau sahabat baik Hay Hay, maka akan celakalah mereka!

Hek-tok Sian-su selalu menganggap bahwa dirinya adalah seorang datuk yang menduduki tingkat tinggi, maka dia tidak merasa perlu untuk menyembunyikan sesuatu karena tidak ada yang ditakutinya di dunia ini. Maka, mendengar pertanyaan Liong Bi tadi, mulutnya yang selalu tersenyum sinis itu kini menyeringai.

"Tang Hay adalah musuhku dan pinceng mencari dia untuk membunuhnya..."

Mendengar ini, Liong Ki dan Liong Bi saling pandang. Hati mereka lega dan senang, akan tetapi mereka cerdik dan ingin yakin lebih dahulu.

"Locianpwe, apakah yang telah dilakukan Tang Hay maka Locianpwe hendak membunuh dia? Apa dosanya?

"Ha-ha-ha, dosanya sungguh besar sekali! Bersama Kim Mo Sian-kouw, Tang Hay telah membunuh ketiga orang suheng-ku yang bernama Gunga Lama, Janghau Lama, dan Pat Hoa Lama. Aku telah berhasil membunuh Kim Mo Sian-kouw, sekarang tinggal Tang Hay yang belum dapat kutemukan."

Barulah hati kedua orang muda itu yakin dan merasa gembira bukan main. Apa lagi Liong Bi yang sudah mendengar tentang tiga orang pendeta Lama yang dimaksudkan oleh Hek-tok Sian-su tadi. Tiga orang pendeta Lama itu adalah tiga pendeta sakti yang berusaha untuk memberontak di Tibet, namun dapat dihancurkan oleh Dalai Lama dan pasukannya. Kiranya Hay Hay juga membantu pembasmian pemberontakan itu.

"Kalau begitu, sungguh kebetulan sekali, Suhu!" kata Liong Ki dengan girang. "Ketahuilah bahwa kami pun sangat membenci anak jai-hwa-cat Ang-hong-cu itu! Dia adalah musuh besar kami pula!"

"Hemm, begitukah? Pinceng juga sudah mendengar bahwa pemuda bernama Tang Hay itu anak jai-hwa-cat Ang-hong-cu (penjahat pemetik bunga Si Kumbang Merah). Dia harus membayar kematian tiga orang suheng-ku. Tetapi kenapa kalian memusuhinya pula?"

"Anak jai-hwa-cat itu sombong dan jahat bukan main, Suhu." kata Liong Bi. "Aku pernah bertemu dengan dia dan hampir saja dia memperkosaku, kalau saja tidak muncul kakak Liong Ki yang menyelamatkan aku."

"Benar, dia memang jahat dan kejam, penjahat cabul seperti ayahnya. Julukannya saja Pendekar Mata Keranjang. Aku juga pernah bentrok beberapa kali dengan penjahat itu. Kami akan membantu sekuat tenaga untuk menyelidiki di mana pemuda jahat itu berada, Suhu. Sekarang marilah kita menghadap Cang Taijin, dan Suhu akan kami perkenalkan dengan beliau."

Mereka bertiga lalu meninggalkan hutan, kembali ke kota dan langsung menuju ke istana Menteri Cang Ku Ceng. Menteri Cang menerima kunjungan Hek-tok Sian-su dengan hati gembira. Menteri yang bijaksana ini memang pandai sekali menghargai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Apa lagi ketika kakek gundul itu diperkenalkan oleh dua orang pembantunya sebagai guru mereka, dia menyambut dengan hormat.

Sesudah berbincang-bincang sejenak, dengan ramah Menteri Cang memberi ijin kepada Liong Ki yang mohon perkenan agar untuk sementara 'gurunya' dapat tinggal bersama dia di kamarnya. Bahkan kepada Menteri Cang, Liong Ki mengatakan dia akan membujuk gurunya agar suka melatih ilmu kepada keluarga Cang dan kepada para perwiranya.

Ketika Liong Ki dan Liong Bi meninggalkan ruangan dalam di mana mereka tadi diterima oleh Cang Taijin, sambil mengajak Hek-tok Sian-su, dan mereka menuju ke perumahan di belakang komplek lingkungan istana menteri itu, mereka berjumpa dengan Mayang.

Gadis ini memang sudah mulai merasa tidak senang kepada Liong Ki dan Liong Bi, walau pun perasaan itu dipendamnya saja di dalam dada karena tidak ada alasan yang dapat dijadikan bukti. Sikapnya dingin saja ketika berjumpa dengan tiga orang itu, hanya diam-diam dia merasa heran melihat kedua orang itu berjalan bersama seorang kakek pendeta gundul berjubah kuning.

"Mayang, perkenalkan. Ini adalah guru kami...," kata Liong Ki.

Mayang mengerutkan kedua alisnya. Setahunya, guru Liong Ki atau Sim Ki Liong adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya di pulau Teratai Merah.

"Gurumu...?" gumamnya.

"Ini adalah guruku, suhu Hek-tok Sian-su." Liong Bi memotong cepat dan Liong Ki yang menyadari kesalahannya cepat menyambung.

"Sekarang menjadi guruku pula, Mayang. Aku sudah mengangkat locianpwe ini menjadi guruku."

Mayang mengangguk-angguk, walau pun masih agak ragu namun keterangan pemuda itu masuk akal. Bisa saja dia mengangkat guru orang lain lagi karena gurunya yang di pulau Teratai Merah sudah tidak mengakuinya lagi. Lagi pula, apa salahnya kalau dia berguru lagi kepada orang pandai? Dengan sikap acuh saja dia lalu meninggalkan mereka.

"Siapakah nona itu? Dia seperti bukan gadis Han." kata Hek-tok Sian-su tertarik.

"Memang dia gadis peranakan Tibet, Suhu. Sebetulnya dia jahat sekali dan dapat menjadi penghalang kemajuan kita. Aku sudah ingin melenyapkannya, akan tetapi selalu dilarang kakak Liong Ki karena dia dan gadis itu saling mencinta, atau lebih tepat, dia tergila-gila kepada Mayang."

"Mayang?"

"Ya, nama gadis itu Mayang. Dia terbawa oleh kami ke sini, akan tetapi agaknya dia tidak suka kepada kami, atau ingin mengambil jalan sendiri. Dengan kecantikannya agaknya dia hendak memikat hati Cang-kongcu, putera Menteri Cang dan jika dia berhasil, kami yakin dia tentu akan mempergunakan kekuasaannya untuk medesak kami." kata pula Liong Bi.

"Omitohud, alangkah jahatnya. Memang sudah sepantasnya kalau dia dilenyapkan," kata kakek itu. Mendengar ini Liong Ki dan Liong Bi merasa girang dan mereka maklum bahwa mereka boleh mengandalkan tenaga bantuan kakek ini.

"Suhu," kata Liong Ki, "memang sebaiknya Mayang itu dilenyapkan, akan tetapi aku telah terlanjur jatuh cinta padanya dan aku tidak tega membunuhnya. Aku ingin agar dia dapat kutundukkan kemudian menjadi milikku. Kalau sudah begitu maka aku dapat menguasai dan mempengaruhinya supaya dia selalu taat padaku. Kuharap Suhu suka membantuku dalam hal ini."

"Omitohud, engkau terlalu memandang rendah dirimu sendiri Liong Ki. Kulihat kepandaian kalian sudah cukup hebat, apa sukarnya menundukkan seorang gadis muda seperti itu? Memang masih memerlukan bantuan pinceng?"

"Suhu tidak tahu, Mayang itu memiliki kepandaian yang cukup lihai. Ia pun kebal terhadap ilmu sihir. Dan dia pun amat berbahaya bagi Suhu sendiri!" kata Liong Bi.

"Heh? Berbahaya bagi pinceng? Kenapa?"

"Dia adalah murid Kim Mo Sian-kouw."

Hwesio itu terbelalak. "Omitohud! Jadi dia adalah murid Si Rambut Emas itu? Kalau dia tahu bahwa gurunya mati di tanganku, tentu dia akan memusuhiku. Kalau begitu memang sudah sepatutnya dia dilenyapkan." kata Hek-tok Sian-su.

"Lebih dari itu, Suhu, dia adalah adik tiri dari Tang Hay. Dia pun puteri Si Kumbang Merah tetapi berlainan ibu," kata Liong Ki.

"Bagus, bagus! Serahkan dia kepada pinceng. Pinceng akan melenyapkan dia tanpa ada yang mengetahuinya, jangan khawatir..."

"Ahh, tidak, Suhu. Maksudku bukan begitu. Aku cinta padanya, dan akan merasa sayang sekali kalau dia dilenyapkan. Aku menghendaki agar dia jatuh ke dalam pelukanku, agar dia menjadi milikku dan kalau sudah begitu tentu dia akan tunduk kepadaku."

"Ho-ho-hoh, kiranya begitu maksudmu? Cinta memang dapat membuat orang melakukan apa saja. Baiklah, pinceng akan membantumu. Apa yang harus pinceng lakukan? Apakah menangkap dia, lalu menelikungnya dan menyerahkan kepadamu?" .

"Tidak, suhu. Aku tak ingin mempergunakan kekerasan terhadap Mayang. Aku terlampau mencintanya. Kita harus menggunakan cara halus dan akan kuberitahu kepada suhu bila saatnya tiba. Sekarang ini ada dua hal penting yang kami berdua harapkan bantuan dari Suhu."

"Hemm, bantuan apa lagi yang kalian harapkan dari pinceng?"

Kini Liong Bi yang menjelaskan. "Suhu, kami ingin sekali meningkatkan kedudukan kami. Menteri Cang memiliki dua orang anak. Yang laki-laki bernama Cang Sun, ada pun yang perempuan bernama Cang Hui. Nah, kalau aku dan koko Liong Ki dapat berjodoh dengan mereka, tentu dengan sendirinya derajat dan tingkat kedudukan kami akan naik. Sebagai guru kami, tentu derajat Suhu juga akan terangkat. Kami berdua sudah melakukan usaha pendekatan dan hampir saja berhasil, akan tetapi selalu Mayang yang menghalangi dan menggagalkan usaha kami. Kami mohon bantuan Suhu agar Cang-kongcu itu tergila-gila kepadaku, dan Cang-siocia tergila-gila kepada kakak Liong Ki.

"Ho-hoh-ha-ha! Demikian banyaknya permintaan bantuan dari kalian kepadaku! Dan apa imbalannya? Kalau hanya makan minum enak saja, setiap saat aku bisa memperolehnya tanpa susah payah."

"Ingat, Suhu. Kami telah berjanji akan membantu mencarikan Tang Hay, musuh besarmu itu. Dan kedua, di istana keluarga Cang ini Suhu mendapat kedudukan baik sebagai guru kami, bahkan kami bisa memintakan kepada Cang Taijin agar Suhu memperoleh pangkat yang resmi. Dan ketiga, kalau kami berdua sudah menjadi mantu keluarga Cang, berarti kedudukan Suhu ikut naik dan kita dapat meningkatkan lagi kedudukan kita karena sudah semakin dekat dengan istana kaisar. Bukankah itu berarti bahwa kelak kita bertiga akan menikmati nama besar, kedudukan tinggi, kemuliaan dan harta benda?"

Hwesio itu tertawa dan perut gendutnya terguncang-guncang. Dia merasa gembira sekali telah dapat berkenalan dengan dua orang muda yang cerdik ini.

"Ha-ha-ha-ha, kalian memang berjodoh sekali dengan pinceng. Kalian masih muda namun sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan yang lebih lagi, kalian memiliki kecerdikan luar biasa. Baik, pinceng akan membantu kalian"

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

"Kui Hong. Bagaimanakah engkau ini? Sudah sering datang pinangan, akan tetapi engkau selalu menolak. Engkau telah cukup dewasa dan ayah ibumu sudah ingin melihat engkau menikah, Nak. Pinangan sekali ini datang dari murid Kun-lun-pai yang gagah, bahkan dia adalah putera ketua Kun-lun-pai. Bagaimana kini engkau menolaknya pula? Kami benar-benar merasa amat tidak enak hati," kata Ceng Sui Cin kepada puterinya.

"Maaf, Ibu dan Ayah. Aku sudah tidak mempunyai sedikit pun keinginan untuk menikah. Bila dipaksakan tentu aku hanya akan hidup menderita dan kecewa, dan aku yakin Ayah dan Ibu tidak ingin melihat aku hidup menderita, bukan? Biarlah aku seperti sekarang ini, hidup di samping Ayah dan Ibu sambil mengurus Cin-ling-pai."

Cia Hui Song dan isterinya, Ceng Sui Cin, saling pandang dengan alis berkerut. Mereka mengamati wajah puteri mereka. Kini Kui Hong sudah jauh berbeda dengan gadis lincah jenaka yang dahulu. Tubuhnya kurus, matanya tidak memancarkan cahaya seperti dulu, mulut yang biasa tersenyum itu kini selalu merapat, dan kalau dahulu dia ramah gembira dan suka berceloteh, kini menjadi seorang gadis yang sangat pendiam dan kaku seperti mayat hidup saja.

"Kui Hong, pikirkanlah baik-baik," kini ayahnya yang berkata. "Kurasa para peminang itu memenuhi semua syarat. Ada yang kaya raya, ada putera bangsawan, ada pula seorang pendekar yang mempunyai nama terkenal, tetapi engkau selalu menolak. Bahkan hendak diperkenalkan pun tidak mau. Seakan-akan engkau memang sudah mengambil keputusan untuk tidak menikah selamanya. Betulkah?"

Gadis itu mengangkat mukanya, memandang kepada ayahya, lalu kepada ibunya. Suami isteri itu hampir tidak tahan menerima pandang mata itu. Pandang mata yang benar-benar amat menyedihkan. Mata itu nampak lebar karena mukanya kurus sekali.

"Ayah, menikah berarti penyerahan diri kepada seseorang yang untuk selama hidup akan menjadi teman. Betapa mungkin aku menyerahkan sisa hidupku kepada seseorang yang sama sekali tidak kusukai, bahkan sama sekali tidak kukenal? Dari pada kelak menderita sengsara di samping orang yang tidak kusayang, lebih baik hidup seorang diri. Aku yakin Ayah dan Ibu cukup bijaksana untuk tidak memaksaku menyerahkan diri dan sisa hidupku kepada orang yang tidak kucinta."

Gadis itu lalu menunduk kembali dan suami isteri itu saling pandang. Sudah lama mereka berdua sering bicara dalam kamar mengenai puteri mereka ini. Sesudah saling pandang dengan suaminya dan menghela nafas berulang-ulang untuk mencari kekuatan, akhirnya Ceng Sui Cin yang bertanya,

"Kui Hong, apakah sampai sekarang engkau masih tetap mencinta Tang Hay?"

Kui Hong merasa seperti disengat kalajengking ketika mendengar ibunya menyebut nama ini. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa ibunya akan menyebut nama ini. Alisnya berkerut, wajahnya berubah pucat dan jantungnya seperti ditusuk. Dia mengangkat muka memandang kepada ayah ibunya dan melihat betapa mereka mengamatinya dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Muncul perlawanan dalam hatinya. Selama ini dia menderita batin karena penolakan ayah ibunya terhadap diri Tang Hay, dan kini ibunya bahkan bertanya apakah dia masih tetap mencinta pemuda itu!

"Ibu dan Ayah!" jawabnya dan suaranya mengandung kekerasan. "Apakah cinta kasih itu dapat berubah dan dapat diganti begitu saja? Tentu saja aku masih mencinta Hay-koko, dan sampai mati pun aku akan tetap mencintanya. Hanya dengan Hay-koko saja aku mau menikah. Perlukah hal ini kutegaskan lagi? Ayah dan Ibu sudah tidak setuju, kenapa kini mesti mengungkit kembali dan menyebut namanya?"

Suami isteri itu kembali bertukar pandang. "Kui Hong, jangan salah mengerti. Ayah ibumu amat sayang kepadamu dan engkau tentu sudah tahu mengapa dahulu kami tidak setuju engkau berjodoh dengan Tang Hay..."

Kui Hong bangkit berdiri, tusukan di jantungnya terasa menghujam makin dalam. "Ayah, tidak perlu dijelaskan lagi, aku sudah cukup mengetahui! Ayah dan Ibu menolak karena Hay-koko adalah seorang anak haram, terlahir dari perkosaan, ayahnya seorang jahanam busuk Ang-hong-cu, seorang jai-hwa-cat terkutuk!" Di dalam suaranya ini terkandung isak dan beberapa butir air mata mengalir keluar dari sepasang matanya. "Perlukah Ayah dan Ibu mengingatkannya kembali, menekan-nekan dan menggosok-gosok luka di hatiku agar pecah kembali?"

"Kui Hong, kau kira kami sekejam itu terhadap anak sendiri?" Ceng Sui Cin mendekat dan memegang kedua tangan puterinya. "Kui Hong, kalau kami dahulu menolak adalah karena kami amat sayang kepadamu, kami ingin melihat engkau memperoleh jodoh seorang laki-laki dari keturunan terhormat. Kami hanya memikirkan masa depanmu, Nak. Akan tetapi, kalau sampai sekarang engkau tidak dapat melupakan dia, masih tetap mencintanya dan hanya mau berjodoh dengannya, kalau memang hanya menjadi isterinya saja yang dapat membahagiakan hatimu, kami juga tidak dapat melarangmu..."

Kui Hong terkejut, memandang kepada wajah ibunya, lalu ayahnya. "Apa maksud Ibu dan Ayah...?"

Kini Hui Song yang berkata, "Sudah lama aku dan ibumu membicarakan hal ini, Kui Hong. Akhirnya kami bersepakat bahwa kalau memang tidak ada pilihan lain, dan engkau tetap memilih Tang Hay menjadi suamimu, kami berdua tak akan melarangmu lagi. Kau carilah dia dan ajaklah dia ke sini agar kami dapat bercakap-cakap dengan calon suamimu itu."

Kui Hong terbelalak, merasa seperti berada di dalam mimpi, hampir tidak dapat percaya. Dia menatap wajah ayahnya, lalu perlahan-lahan memandang ibunya dan berbisik, "Ibu..., Ibu..., benarkah...?"

Ceng Sui Cin tersenyum. Matanya basah. "Benar, Anakku. Kami teringat bahwa kami pun pernah memiliki nenek moyang yang menyeleweng. Kalau ayahnya tersesat, belum tentu anaknya juga jahat. Kami telah bersikap tidak adil kepadamu, maafkan kami."

"Ibu....!" Kui Hong menjerit, merangkul ibunya dan bertangisan. Kemudian dia melepaskan ibunya dan menubruk ayahnya.

"Ayah...!"

Suami isteri itu merasa terharu. Sekarang mereka betul-betul yakin bahwa puteri mereka ini amat mencinta Tang Hay. Hanya karena ingin berbakti kepada mereka saja maka Kui Hong mengorbankan perasaannya, rela hidup terpisah dengan kekasihnya demi mentaati orang tua.

"Kui Hong, engkau cepatlah pergi mencari Tang Hay, kemudian ajaklah dia ke sini. Aku ingin mengenalnya lebih baik." kata Hui Song.

"Akan tetapi, tahukah engkau ke mana harus mencarinya, Anakku?" tanya ibunya.

Kui Hong tersenyum dan menyusut air matanya dengan sapu tangan, lalu mengangguk. "Aku pasti akan dapat menemukannya, Ibu. Memang aku tidak tahu dia sedang berada di mana sekarang. Namun aku akan mencarinya sampai dapat! Pernah dia berkata bahwa kalau kami sudah menikah, dia ingin tinggal di kota raja. Dia suka tinggal di sana karena ramai dan mudah mendapatkan pekerjaan. Apa lagi dia mengenal baik Menteri Cang yang bijaksana, yang tentu akan suka memberi pekerjaan kepadanya. Aku akan mencarinya ke kota raja!"

Pada keesokan harinya, setelah berpamit dari ayah ibunya, kakeknya, dan menyerahkan semua urusan Cin-ling-pai kepada ayahnya, Cia Kui Hong lalu meninggalkan Cin-ling-pai. Ayah ibu serta kakeknya yang mengantarnya sampai keluar pintu gerbang Cin-ling-pai, diam-diam merasa terharu dan juga gembira melihat betapa keputusan mereka itu dalam sehari semalam saja telah mengubah diri Kui Hong secara hebat, yang tak mungkin dapat dihasilkan oleh obat yang bagaimana manjur sekali pun.

Gadis itu seperti sudah menemukan dirinya kembali, sudah kembali seperti dahulu, lincah gagah dan penuh semangat, dengan sepasang mata yang kini bersinar-sinar, wajah yang berseri-seri dan bibir yang tersenyum manja.

Ceng Sui Cin merangkul anaknya. "Aku akan bersembahyang setiap hari, berdoa agar engkau segera dapat bertemu dengan dia dan mengajaknya pulang ke sini, Kui Hong."

"Terima kasih dan jangan khawatir, Ibu. Aku pasti bisa menemukannya dan mengajaknya menghadap Ayah dan Ibu. Selamat tinggal." Kui Hong mencium pipi ibunya yang basah, dan kini dia tidak menangis lagi, melainkan tersenyum melambaikan tangan kepada ayah, ibu dan kakeknya. Kemudian dia pun berlari menuruni lereng gunung dengan cepat, bagai seekor burung terbang meninggalkan sarangnya.

Memang Kui Hong sudah menemukan dirinya kembali. Semenjak ditinggal pergi Hay Hay yang membuat dia jatuh sakit, dia seperti kehilangan semangat, kehilangan gairah hidup. Biar pun dia sangat giat mengurus Cin-ling-pai, membangun kembali perkumpulan nenek moyangnya yang baru saja mengalami malapetaka besar dengan menyelundupnya tokoh-tokoh sesat yang hendak menghancurkan Cin-ling-pai, namun dia bekerja seperti boneka hidup saja. Dia tak mempedulikan dirinya sendiri sehingga tubuhnya menjadi kurus sekali, bahkan rambutnya yang hitam panjang itu nampak kusut tak terpelihara. Semangat dan gairah hidupnya lenyap terbawa pergi bayangan Hay Hay.

Kini harapan bertemu dan bersatu kembali dengan Hay Hay memulihkan keadaannya dan mengembalikan gairahnya. Dia tahu benar bahwa Hay Hay sangat mencintanya, bahwa kepergian Hay Hay meninggalkannya merupakan bukti dari cintanya yang sejati. Pemuda itu rela berkorban, rela berpisah dan menderita batin demi Kui Hong! Pemuda itu pergi meninggalkannya karena dia tidak ingin melihat Kui Hong bentrok dengan orang tuanya.

Ia bisa membayangkan betapa Hay Hay tentu pergi meninggalkannya dengan hati hancur. Dia yakin benar bahwa Hay Hay, meski pun putera Ang-hong-cu, sama sekali tidak dapat disamakan dengan ayahnya yang jai-hwa-cat itu.

Orang-orang boleh saja menjuluki dia Pendekar Mata Keranjang, namun itu hanya karena wataknya yang gembira, suka bergurau, suka akan keindahan dan tidak menyembunyikan rasa kagumnya terhadap keindahan, termasuk kecantikan wanita. Karena keterbukaannya itulah maka dia dikatakan mata kerajang, padahal dia tahu benar bahwa di lubuk hatinya Hay Hay tidak mempunyai pikiran yang cabul. Dia bukan hamba nafsu birahinya. Hal ini ia ketahui benar setelah lama bergaul dengan dia.

Dahulu pun dia pernah menyangka bahwa Hay Hay seorang pemuda yang sama dengan ayahnya, suka berjinah dan berbuat mesum dengan wanita cantik mana saja. Akan tetapi sekarang dia sudah benar-benar yakin!

Kui Hong melakukan perjalanan cepat. Dia tidak tahu bahwa tiga hari kemudian sesudah dia meninggalkan Cin-ling-pai, seorang gadis yang cantik jelita, bertahi lalat di dagunya, mendaki gunung Cin-ling-san dengan gerakan cepat dan ringan, menunjukkan bahwa dia seorang gadis yang berilmu tinggi. Gadis itu bukan lain adalah Siangkoan Bi Lian.

Seperti kita ketahui, pada saat Bi Lian menjadi pengantin dengan Pek Han Siong, dalam pesta perayaan pernikahan itu muncullah Ban-tok Sian-su bersama Hek-tok Sian-su yang mendendam karena menganggap bahwa kematian Ceng Hok Hwesio ketua kuil Siauw-limsi adalah karena Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, orang tua Bi Lian. Ceng Hok Hwesio menyiksa diri, bertapa sampai mati dan dua orang pendeta aneh ini menyalahkan Siang Koan Cikang dan isterinya, dan mereka datang untuk minta pertanggungan jawab.

Terjadilah bentrokan di mana Ban-tok Sian-su bertanding melawan Siangkoan Ci Kang yang mengakibatkan tewasnya Ban-tok Sian-su, tetapi Siangkoan Ci Kang juga roboh dan terkena pukulan beracun yang sangat hebat dari Ban-tok Sian-su. Hek-tok Sian-su lantas pergi sambil membawa jenazah suheng-nya.

Keluarga Siangkoan menjadi geger. Luka yang diderita Siangkoan Ci Kang sangat parah sebab pukulan beracun itu sukar diobati sampai sembuh. Han Siong dan Bi Lian, juga ibu Bi Lian, hanya dapat memberi obat agar racun tidak menjalar saja, akan tetapi tidak dapat menyembuhkan hingga pulih sepenuhnya.

Mereka segera membagi tugas. Han Siong melakukan pengejaran kepada Hek-tok Sian-su untuk minta obat penawar, sedangkan Bi Lian pergi mencari Hay Hay untuk meminjam mustika penyedot racun yang dimiliki Hay Hay.

Han Siong telah memberitahu kepadanya bahwa sebaiknya dia mencari Hay Hay ke Cin-ling-san, karena ketika mereka saling berpisah dahulu, Hay Hay pergi bersama Kui Hong. Setidaknya di Cin-ling-pai tentu Bi Lian akan bisa mendapat keterangan di mana adanya Hay Hay.

Demikianlah, pada pagi hari itu, dengan menggunakan ilmu berlari cepat, Bi Lian mendaki pegunungan Cin-ling-san, sama sekali tidak tahu bahwa baru tiga hari yang lalu Kui Hong meninggalkan Cin-ling-pai melalui lereng yang lain.

Karena pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran akan keadaan ayahnya, maka Bi Lian melupakan urusannya sendiri. Andai kata ia tidak memikirkan keadaan ayahnya mungkin dia akan berduka sekali.

Betapa tidak? Dia baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Han Siong. Peristiwa besar dan penting baginya itu tengah dirayakan, dan terjadilah kegegeran itu sehingga kini membuat dia terpisah dari suaminya! Dia menjadi isteri Han Siong hanya dalam upacara saja, belum menjadi isteri yang sebenarnya, belum melewatkan malam pengantin! Namun pada saat itu semuanya ini tidak dia hiraukan, bahkan tidak diingatnya lagi karena seluruh perhatiannya tercurah pada usaha mencarikan obat untuk menyembuhkan ayahnya.

Keluarga Cia di Cing-ling-pai menyambut kunjungan gadis perkasa ini dengan heran. Akan tetapi mereka pun segera menyambutnya dengan ramah ketika Bi Lian memperkenalkan namanya dan menyatakan bahwa dia ingin mencari Cia Kui Hong atau Tang Hay. Dari Kui Hong mereka sudah banyak mendengar mengenai Siangkoan Bi Lian ini. Ketika Bi Lian mendengar bahwa baru tiga hari Kui Hong turun gunung untuk mencari Hay Hay, dia pun tidak ingin tinggal lebih lama lagi.

"Ke manakah adik Kui Hong mencari Hay Hay?" tanyanya.

"Menurut Kui Hong, dia akan mencarinya ke kota raja," jawab Ceng Sui Cin.

"Kalau begitu harap Paman dan Bibi memaafkan, saya tidak dapat tinggal lebih lama lagi. Saya harus segera menyusul adik Kui Hong. Saya juga sedang mencari Tang Hay untuk meminjam mustika penyedot racun yang dimilikinya, untuk mengobati ayah yang terkena pukulan beracun."

Demikianlah, dengan tergesa-gesa Bi Lian berpamit dan pada siang hari itu juga dia telah menuruni kembali gunung Cia-ling-san untuk mengejar Kui Hong. Dia mengambil jalan ke arah kota raja dan mempergunakan ilmu berlari cepat. Akan tetapi karena Kui Hong juga mempergunakan ilmu berlari cepat, dan Bi Lian sering berhenti untuk bertanya-tanya dan mencari keterangan tentang Kui Hong agar dia tidak kehilangan jejak, tentu saja Bi Lian tertinggal jauh. Pada permulaan saja jarak antara mereka sudah tiga hari. Bagaimana pun juga, keduanya mengambil jalan yang sama, yaitu menuju ke kota raja.

********************

Sejak pertama kali melihat Hek-tok Sian-su yang diaku guru oleh Liong Ki dan Liong Bi, hati Mayang sudah merasa tidak enak sekali. Dia dapat menduga bahwa tentu kakek itu lihai bukan main dan jelas bukan guru Liong Ki. Dia tahu betul bahwa guru Liong Ki adalah Pendekar Sadis dan isterinya di pulau Teratai Merah. Kalau dua orang itu mengakui kakek gendut itu sebagai guru, lantas mengajaknya ke istana Menteri Cang, tentu ada maksud tertentu yang tersembunyi di balik perbuatan itu. Dia harus waspada.

Dia menemui Cang Hui dan Teng Cin Nio di kamar mereka dan dengan berbisik-bisik dia memberitahu kepada mereka tentang kecurigaannya terhadap kakek gundul yag perutnya gendut itu.

"Aku mengenal guru Liong Ki, maka dengan pengakuannya sebagai guru terhadap kakek itu tentu ada maksud tertentu yang tidak sehat. Aku merasa curiga sekali. Adik Hui dan adik Cin, mulai sekarang kalian harus berhati-hati menjaga diri tetapi bersikap pura-pura tidak menaruh curiga apa pun. Jangan khawatir, aku selalu siap siaga menjaga kalian dan seluruh keluarga Cang."

"Mayang, apakah tidak sebaiknya kalau kuperingatkan ayah supaya dia menangkap dan memeriksa mereka?" kata Cang Hui.

Mayang menggelengkan kepala. "Tanpa bukti, bagaimana mungkin ayahmu bertindak? Ayahmu adalah seorang yang bijaksana, tentu tidak mau bertindak tanpa bukti."

"Kalau begitu, akan kuberitahu kepada kakak Sun," kata Cang Hui.

Mayang mengangguk. "Tetapi hati-hati, jangan sampai dia menjadi kaget dan gelisah."

Cang Hui tersenyum karena melihat Mayang mengkhawatirkan kakaknya. "Ada engkau di sini, apakah dia perlu khawatir?"

Dengan wajah merah Mayang menunduk, lalu melirik ke arah Cin Nio yang mukanya juga berubah menjadi merah. "Kami semua mengharapkan perlindunganmu, Mayang," kata Cin Nio yang merasa salah tingkah. Dia sudah mendengar dari sepupunya bahwa Cang Sun yang dicintanya akan tetapi tidak membalas itu jatuh hati kepada Mayang.

"Kami pun tidak akan tinggal diam, Mayang. Mulai sekarang aku dan Cin Nio akan selalu membawa pedang untuk menjaga diri. Kalau perlu, pada waktu mandi atau tidur pun kami akan selalu membawa pedang!" kata Cang Hui bergurau karena dia merasa telah bicara terlalu banyak sehingga menimbulkan suasana yang kikuk kepada dua orang gadis itu.

"Benar, Mayang. Dan kita juga harus berlatih lebih tekun. Gerakan pedang dengan jurus Ular Hitam Menyelam Samudera itu masih belum juga dapat kulakukan dengan benar," kata Cin Nio. Mayang lalu melatih kedua orang gadis itu di taman bunga belakang kamar mereka.

Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 17

ALANGKAH indahnya rambut ini, pikirnya, tetapi sekarang tidak ada sedikit pun nafsu birahi menggodanya. Bagaikan benang sutera emas! Kulit muka itu demikian putih kemerahan. Kalau saja tidak ada bulu lembut di permukaannya, kulit muka itu seperti kulit muka bayi. Mata yang terpejam itu tidak nampak bola matanya yang berwarna biru, akan tetapi masih saja mendatangkan kesan asing dan aneh karena bulu matanya juga tidak hitam benar, melainkan agak kelabu dan panjang melengkung. Dan garis mata itu demikian panjang.

Hidung itu pun biar pun tidak terlalu besar tapi mancungnya lain dari pada kemancungan hidung bangsanya. Punggung hidung itu tinggi sehingga mirip paruh burung kalau nampak dari pinggir. Dan mulut itu pun berbibir indah, sulit menggambarkan keindahannya karena keindahan itu tersembunyi di dalam lekukan-lekukan kecil di sekitar mulut, tersembunyi di antara bibir yang sedikit terbuka, di kedua ujung yang membelok ke atas, di bibir belahan bawah yang penuh dan tipis, agaknya tergigit sedikit pun akan pecah, dan bentuk dagu itu membayangkan keangkuhan, keanggunan, juga amat manis.

Wajah ini memang aneh dan asing baginya. Akan tetapi keasingan itu tidak terasa sama sekali ketika mereka tadi bercakap-cakap. Jalan pikiran, hati serta akal pikiran gadis ini sama saja dengan apa yang ada pada diri gadis-gadis bangsanya. Yang berbeda hanya kulitnya, akan tetapi isinya sama.

Dia merasa sayang kepada gadis ini. Bahkan tadi Sarah mengatakan bahwa dia merasa seperti dengan kakaknya sendiri! Tetapi kebiasaan atau cara hidup dari gadis ini sungguh berbeda sekali dengan cara hidup bangsanya.

Kalau seorang gadis bangsanya, sampai bagaimana pun juga tidak mungkin mau tidur di atas pangkuan dan menyandarkan kepala di dada seorang laki-laki asing yang bukan apa-apanya. Bahkan antara saudara sekandung sendiri pun tidak! Mungkin hanya lelaki yang menjadi suami seorang wanita saja yang akan dipercaya seperti ini.

Tentu saja lain halnya kalau wanita itu seorang wanita sesat yang sudah menjadi hamba nafsu yang tidak mengenal susila lagi, di mana hamba nafsunya telah membuat menjadi seperti buta.

Akan tetapi Sarah bukanlah wanita seperti itu. Sama sekali bukan! Dia mempertahankan kehormatannya dengan mati-matian, kalau perlu dengan taruhan nyawa. Jelaslah bahwa bagi bangsa Sarah, hubungan antara pria dengan wanita jauh lebih bebas dan berdekatan seperti ini bukan merupakan hal yang buruk bagi Sarah.

Hay Hay tidak berani tidur, maklum bahwa di luar goa terdapat banyak musuh yang tentu telah berjaga-jaga sambil menanti datangnya pagi. Setelah mereka tidak merasa ngeri lagi terhadap siluman, tentu mereka akan menyerbu ke dalam goa. Dia tidak berani tidur, dan sambil memangku tubuh Sarah, dia hanya menghimpun tenaga murni dan membiarkan tubuhnya melepas lelah.

********************

“Sssttt, Sarah, bangunlah...” Hay Hay berbisik di dekat telinga kiri gadis itu.

Sarah menggerakkan bulu matanya, tubuhnya menggeliat dan ketika mengangkat kedua lengannya ke atas, tangannya menyentuh wajah Hay Hay. Dia membuka mata dengan kaget dan heran. Akan tetapi, ketika kedua matanya yang biru dan masih mengantuk itu menatap wajah Hay Hay, dia segera teringat dan tersenyum.

"Selamat pagi, Hay Hay."

"Selamat pagi, Sarah. Bersiaplah, sekarang kita akan pergi. Kau tunggu dulu di sini, aku akan mencari kuda untuk kita."

Setelah ingatannya segar kembali, Sarah kemudian berbisik. "Kalau bisa, tolong ambilkan kudaku, Hay Hay. Berbulu kelabu kecuali keempat kaki dan ekornya yang warna putih."

Hay Hay mengangguk. "Kau tetap bersembunyi saja di ruangan paling belakang tempat menaruh senjata-senjata itu. Jangan keluar dari ruangan itu sebelum aku kembali, jangan pula mengeluarkan suara, Sarah."

"Aku tahu, Hay Hay," kata Sarah dan dia pun bangkit, melangkah masuk ke dalam kamar di bagian belakang goa itu. Semalam dia dan Hay Hay tetap bersembunyi di belakang tiga buah peti mati.

Sesudah mengantar gadis itu memasuki kamar, dengan sekali berkelebat Hay Hay lenyap dari depan Sarah. Gadis itu terbelalak, menjenguk keluar kamar, ke arah ruangan depan di mana nampak tiga buah peti mati dari situ. Akan tetapi tidak nampak lagi bayangan Hay Hay. Dia menarik napas panjang. Pernah dia mendengar cerita tentang pendekar pribumi, akan tetapi tidak pernah disangkanya ada yang sehebat Hay Hay, yang agaknya memiliki ilmu aneh, ilmu menghilang! Seperti bukan manusia saja, pikirnya.

Hay Hay menyelinap ke belakang batu di depan goa dan menghilang keluar. Benar saja dugaannya, dia melihat gerakan di sana-sini, di balik batu-batu dan terlihat rambut kepala orang-orang tersembul di balik batu. Tentu banyak orang berjaga-jaga, pikirnya, dan tentu mereka terus memperhatikan mulut goa ini.

Dia lalu melepaskan kancing bajunya dan membalikkan bajunya ke atas, menutupi caping dan seluruh mukanya. Dari celah-celah baju dia masih dapat melihat keluar. Kemudian dia bangkit dan berloncatan dengan gerakan aneh keluar dari situ.

Tentu saja anak buah gerombolan yang mengintai dari kanan-kiri dan depan goa melihat makhluk aneh itu muncul dari dalam goa tempat tiga buah peti mati ditaruh. Dan mereka gemetar ketakutan. Makhluk apakah yang keluar dengan loncatan-loncatan aneh, miring dan ke kanan-kiri itu? Seperti loncatan katak mabuk.

Makhluk itu berkaki seperti manusia, namun tubuh bagian atasnya berkerobong sehingga tidak nampak kedua tangan mau pun kepalanya. Hanya di dalam kerobongan itu nampak bagian kepala yang luar biasa besarnya. Itulah caping yang terbungkus baju! Mereka yang masih merasa ngeri tentu saja menjadi semakin gentar ketika melihat 'makhluk' aneh itu keluar.

Hari masih pagi sekali, kabut masih menggelapkan cuaca. Sinar matahari belum muncul sepenuhnya. Mereka tidak berani bergerak, tapi akan menanti sampai cuaca terang baru mereka berani mendekati goa atau memasukinya, tergantung perintah lima orang ketua mereka yang sejak pagi sekali sudah berada pula di tempat persembunyian para penjaga.

Melihat makhluk aneh itu, kelima orang pimpinan gerombolan juga termangu dan gentar, tidak berani memberi perintah apa pun karena mereka berlima juga hanya orang-orang sederhana yang sangat percaya dengan takhyul. Mereka adalah orang-orang kejam yang tidak segan membunuh orang, dan mereka tidak takut menghadapi orang lain, akan tetapi mereka merasa gentar untuk melawan setan. Apa lagi dengan loncatan yang mengerikan dan amat ringan, dengan beberapa kali loncatan saja makhluk aneh itu telah menghilang! Suasana semakin menyeramkan!

Dengan mudah Hay Hay menemukan kuda milik Sarah yang terikat di dalam sebuah goa kosong. Tidak ada orang berjaga di situ, agaknya semua orang berkumpul. Suasana yang menyeramkan dan rasa takut terhadap 'mayat hidup' telah membuat mereka tidak berani menyendiri. Mereka merasa lebih aman untuk berkumpul dengan teman-teman.

Akan tetapi Hay Hay tidak melihat adanya kuda lain. Seekor pun sudah cukup, pikirnya. Kuda untuk Sarah, sedangkan dia sendiri tidak membutuhkan kuda. Kedua kakinya lebih dari cukup, dan dalam hal berlari cepat dia tidak mau kalah oleh kuda yang mana pun! Dia menuntun kuda itu dan ditambatkannya kuda itu di tempat yang lain.

Sesudah benar-benar mengenal jalan dari tempat dia menyembunyikan kuda itu ke goa perkabungan, dia lalu kembali. Seperti tadi, Hay Hay menutupi kepala berikut capingnya dengan baju yang dibalik ke atas, akan tetapi sengaja sekali ini dia bergerak cepat sekali sehingga orang-orang yang mengintai di sekitar tempat itu hanya melihat bayangan yang aneh bentuknya, kepala besar tanpa muka, berkelebat memasuki goa. Tentu saja semua orang menjadi ketakutan.

Ma Kiu, raksasa hitam pimpinan gerombolan itu tidak sabar lagi. Dia mendorong rekannya yang ke lima dan ke empat supaya menjadi pelopor. "Kalian berdua majulah. Beri contoh kepada yang lain. Pengecut!" bentaknya akan tetapi dengan suara lirih tertahan.

Pemimpin ke empat yang tubuhnya gendut perutnya besar dan ke lima yang kurus kering, saling pandang dengan muka pucat. Mereka takut kepada pirnpinan pertama mereka, tapi juga malu terhadap para anak buah karena mereka dimaki pengecut. Terpaksa mereka memberanikan diri kemudian keduanya segera muncul dari balik batu. Mereka memegang sebatang golok besar di tangan kanan dan sebuah perisai baja di tangan kiri.

Sebenarnya, di antara mereka berlima, yang memegang senjata cakar besi di tangan kiri dan golok pada tangan kanan hanyalah Ma Kiu, pemimpin pertama. Karena cakar besinya inilah maka mereka berlima dijuluki Lima Harimau Cakar Besi. Akan tetapi dua orang yang bergolok dan berperisai ini pun lihai bukan main.

"Haii, siluman, keluarlah dan lawanlah kami berdua!" teriak si gendut dengan sikap gagah, akan tetapi suaranya jelas terdengar gemetar dan parau!

"Setan iblis yang berani mengganggu kami! Keluarlah dan rasakan tajamnya golokku!" si kurus kering ikut berteriak pula. Dia bersuara lantang dan tidak gemetar, akan tetapi kalau orang melihat ke arah kakinya, jelas bahwa dua buah kakinya itu terlihat menggigil!

Dua orang pemimpin ini sebenarnya ketakutan sekali, akan tetapi mereka memaksa diri dan keduanya lantas melangkah maju menghampiri mulut goa. Setelah tiba di mulut goa dan melihat tiga buah peti mati itu tergeletak seperti biasa, timbullah keberanian mereka. Mereka memutar golok ke atas kepala dengan sikap gagah dan menantang.

Akan tetapi, mereka yang mengintai dari tempat persembunyian mereka terbelalak kaget dan terheran-heran ketika mereka melihat betapa dua orang pemimpin itu, si gendut dan si kurus kering, kini mulai saling serang dengan mati-matian! Saling serang dengan golok, ditangkis dengan perisai sehingga terdengarlah bunyi trang-tring-trang saat mereka saling serang dengan ganasnya.

"Mampus kau, setan!" teriak si gendut.

"Rasakan golokku, iblis!" bentak si kurus.

Pada saat semua orang terheran-heran, nampak dua sosok bayangan melesat keluar dari dalam goa. Dua orang tanpa kepala, atau lebih tepat lagi, kepalanya tidak nampak karena tubuh bagian atas merupakan kerobongan. Dua orang itu lari dengan cepat, seperti saling melekat. Melihat ini, Ma Kiu menjadi curiga karena cuaca sudah semakin terang dan dia dapat melihat bahwa mereka adalah seorang pria dan seorang wanita yang mengerobongi tubuh atas mereka dengan baju yang dibalik ke atas!

"Cepat kalian kejar mereka!" teriaknya kepada pemimpin ke dua dan ke tiga, atau Ji Tang, sedangkan dia sendiri telah meloncat ke arah dua orang pembantunya yang saling serang itu.

"Berhenti!" teriaknya sambil menggerakkan golok menangkis.

"Trangg-tranggg…!"

"Berhenti! Apakah kalian berdua sudah gila, saling serang sendiri?"

Si gendut dan si kurus saling pandang, terbelalak dan bingung.

"Aku tadi menyerang setan!" kata si gendut.

"Aku pun menyerang iblis!" kata si kurus.

Tentu saja ulah yang aneh itu adalah akibat pengaruh sihir Hay Hay. Kini mereka sudah sadar kembali karena Hay Hay sudah pergi dan Ma Kiu dapat menduga bahwa tentu ada musuh yang menggunakan ilmu sihir.

Tentu peristiwa semalam yang menggegerkan karena disangka tiga buah mayat di dalam peti mati hidup kembali juga merupakan perbuatan musuh itu. Musuh itu dan wanita bule telah melarikan diri, yaitu dua bayangan tadi. Dia segera mengajak si gendut dan si kurus untuk melakukan pengejaran agar dapat membantu dua kawan terdahulu yang kini sudah melakukan pengejaran.

Mereka mendengar derap kaki kuda dan ke sanalah mereka berlari. Akan tetapi mereka hanya menemukan Ji Tang dan orang ke dua mengerang kesakitan dengan dahi terluka.

"Di manakah mereka? Apa yang terjadi?" tanya Ma Kiu penasaran.

"Ahhh, si keparat itu!" Ji Tang mengepal tinju, mengamangkan tinju itu ke arah bayangan yang kini tampak sudah jauh sekali, dan bunyi derap kaki kuda juga tinggal sayup sampai saja. "Ternyata yang melarikan gadis bule itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan caping lebar. Tentu dia pula yang semalam mempermainkan kita semua, dan agaknya dia pandai ilmu sihir. Ketika tadi kami mengejar sampai di sini, mereka sedang melompat ke atas kuda milik gadis itu. Si caping lebar lantas menyambit kami dengan batu sehingga mengenai dahi kami."

Ma Kiu menyumpah-nyumpah, memaki kawan-kawan serta anak buahnya penakut dan tolol, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani melakukan pengejaran ke dalam kota.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Keterangan yang diberikan Ji Tang memang benar. Hay Hay yang tadi menggunakan sihir membuat dua pimpinan gerombolan itu saling serang di depan goa. Dengan menggunakan kesempatan itu dia lalu mengajak Sarah untuk lari keluar dari goa dengan membalikkan baju ke atas menutupi muka mereka. Di balik baju itu dia menggandeng tangan Sarah dan dia seperti menarik tubuh Sarah dibawa berlari cepat, menuju ke tempat dia menyimpan kuda.

"Cepat naiklah ke atas kudamu, aku mengikuti dari belakang," kata Hay Hay.

"Tidak!" Sarah berkukuh. "Aku tidak mau naik kuda kalau engkau berjalan kaki."

"Habis, bagaimana? Aku hanya mendapatkan seekor kuda, tidak ada kuda lainnya, entah mereka sembunyikan di mana."

"Kudaku ini kuda pilihan yang kuat. Kita menunggang kuda bersama, berboncengan, atau bersama pula kita berlari!"

Karena khawatir dikejar puluhan orang dan Sarah tentu terancam bahaya, Hay Hay tidak mau banyak berbantah lagi. "Baik, kita berboncengan!" katanya.

Dia telah melihat datangnya dua orang yang berlari cepat ke arah mereka. Tanpa banyak cakap lagi ia memeluk pinggang Sarah lalu mengangkatnya naik ke atas kuda, kemudian dia memungut dua buah batu sebesar telur ayam dan menyambit dua kali ke arah kedua orang yang berlari menghampiri. Sambitannya tepat mengenai dahi dan dua orang itu pun terpelanting dan mengaduh-aduh. Hay Hay meloncat ke atas punggung kuda, di belakang Sarah, dan gadis yang sudah memegang kendali kuda itu segera membalapkan kudanya meninggalkan tempat itu.

Mereka menunggang kuda tanpa pelana. Ketika Hay Hay menemukan kuda itu, memang pelananya sudah tidak ada, entah disimpan di mana. Untung bahwa kendali kuda masih dipasang. Kini kuda dilarikan kencang dan mereka duduk tanpa pelana.

Tubuh Sarah tegak dan lentur, karena dia memang ahli menunggang kuda. Hay Hay juga biasa menunggang kuda, akan tetapi belum pernah dia menunggang kuda tanpa pelana, apa lagi berboncengan seperti itu. Ketika kuda dilarikan kencang, dia terpaksa memeluk pinggang gadis itu dengan kedua tangan untuk menjaga keseimbangan badannya hingga tubuhnya merapat dengan tubuh belakang Sarah. Ia harus memejamkan matanya sambil mengerahkan kekuatan batinnya untuk mencegah otaknya membayangkan yang bukan-bukan, dan tidak merasakan tubuhnya yang merapat dengan tubuh Sarah.

Setelah mereka keluar dari daerah bukit yang bergoa-goa itu, Hay Hay berkata, "Cukup, Sarah. Kita telah keluar dari daerah mereka dan kulihat tidak ada yang mengejar. Kasihan kudamu kalau disuruh membalap terus." Diam-diam hatinya mengeluh. Akulah yang patut dikasihani, seperti tersiksa oleh bisikan setan!

Sarah menahan kendali kuda dan membiarkan kudanya berjalan congklang. Ketika kuda itu berjalan congklang seperti itu, Hay Hay merasa semakin tersiksa. Tubuhnya terangkat angkat seperti diadu dengan tubuh Sarah! Dia tidak mampu bertahan lagi sehingga cepat melompat turun.

"Ehh, kenapa?" tanya Sarah sambil menahan dan menghentikan kudanya.

Wajah Hay Hay merah seperti kepiting direbus. "Tidak apa-apa, aku... aku hanya kasihan kepada kudamu... lebih baik aku berjalan saja…"

Sarah menatap wajah Hay Hay penuh perhatian, dan tiba-tiba dia pun tertawa, tawa yang bebas lepas. Hay Hay mengerutkan kedua alisnya, dan dari pandang mata gadis itu dia dapat menduga bahwa agaknya Sarah tentu dapat mengerti apa yang menyiksanya dan yang memaksanya turun. Dia semakin tersipu.

"Sarah, kenapa engkau tertawa? Apakah engkau mentertawakan aku, Sarah?"

Sarah menghentikan tawanya lantas tersenyum kepadanya. "Engkau memang lucu, Hay Hay. Lihat, kudaku tidak apa-apa, kenapa engkau yang ribut-ribut? Kudaku ini kuat sekali. Naiklah, mari kita lanjutkan perjalanan dengan naik kuda. Kalau engkau berjalan kaki, aku pun akan berjalan kaki. Kenapa sih kalau berboncengan denganku? Apa engkau malu?"

Hay Hay tersenyum, di dalam hatinya mengeluh. Gadis ini memang aneh sekali, agaknya memang tak perlu sungkan-sungkan lagi dengannya. Tentu saja dia malu untuk mengaku betapa himpitan tubuh di antara mereka tadi membuat dia tidak dapat menahan gejolak birahinya.

"Tidak apa-apa, Sarah, hanya... tidak enak dilihat orang kalau kita menunggangi seekor kuda berdua, kita akan dianggap tidak mempunyai perasaan kasihan kepada kuda ini."

Tiba-tiba Sarah tertawa lagi.

"Aihh, Sarah, benar-benarkah engkau mentertawakan aku?"

Sarah menggeleng kepalanya. "Hay Hay, ucapanmu itu mengingatkan aku akan dongeng kuno yang pernah diceritakan pelayan kami kepadaku," katanya menahan tawa.

"Dongeng apa?" Hay Hay cepat menyambut karena dia mendapatkan bahan percakapan lain untuk mengalihkan urusan berboncengan itu.

"Dongeng tentang dua orang seperti kita ini, yang hanya mempunyai seekor kuda, mereka adalah suami isteri yang melakukan perjalanan seperti kita pula. Nah, si suami mendesak supaya isterinya naik kuda sendirian dan dia yang menuntun kuda. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang laki-laki setengah tua. Melihat suami isteri itu, laki-laki tadi lalu mengomel, mengatakan betapa isteri itu tak tahu diri, tidak kasihan kepada suami, enak-enak nongkrong di atas kuda sedangkan suaminya berjalan sampai bermandi peluh. Nah, mendengar omelan itu, sang isteri segera turun dan mendesak agar suaminya saja yang kini menunggang kuda. Sang isteri kini yang berjalan menuntun kuda. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan seorang wanita setengah tua yang menggeleng-geleng kepala melihat suami isteri itu, lantas mencela betapa kejamnya suami itu membiarkan isterinya berjalan kaki sedangkan dia sendiri enak-enak menunggang kuda dan mengatakan betapa tidak patutnya sikap suami itu. Mendengar ini, sang suami lalu menarik isterinya ke atas punggung kuda dan mereka berdua kini berboncengan, seperti kita tadi. Namun kembali mereka berpapasan dengan seorang kakek tua yang langsung menyumpah-nyumpah dan dengan marahnya menegur mereka sebagai suami isteri yang berhati kejam, membiarkan kuda mereka tersiksa menanggung beban dua orang. Mendengar celaan yang terakhir ini, suami lsteri itu menjadi jengkel. Mereka turun dan mencari bambu, mengikat empat buah kaki kuda itu, lalu memikul kuda mereka dengan kaki di atas dan tubuh di bawah. Mereka tidak peduli lagi walau pun di sepanjang jalan mereka disoraki dan ditertawakan orang!"

Sarah mengakhiri ceritanya dengan tertawa geli. Hay Hay juga tertawa.

"Hay Hay tidakkah sama benar keadaan Itu dengan keadaan kita kalau engkau menolak untuk berboncengan? Kalau engkau jalan kaki, aku tidak mau naik kuda, sebaliknya kalau aku yang berjalan kaki, jelas engkau tidak mau naik kuda. Dan sekarang engkau menolak untuk berboncengan. Apakah sebaiknya kita mencari bambu dan memikul kuda ini seperti suami isteri itu? Heh-heh-hi-hik, alangkah akan lucunya!" kata Sarah.

Hay Hay juga ikut tertawa. "Sarah, rasanya tidak pantas kalau sebagai laki-laki aku harus membonceng."

"Kalau begitu aku yang membonceng!”

Hay Hay menghela napas. Sulit untuk membantah gadis yang lincah dan pandai berdebat ini. "Baiklah engkau yang membonceng." Dia pun melompat ke atas punggung kuda, ke depan Sarah yang sudah menggeser duduknya ke belakang.

Mereka melanjutkan perjalanan dan biar pun tubuh Sarah menempel ketat di belakangnya dan kedua lengan gadis itu merangkul pinggangnya, namun Hay Hay tidak merasa begitu tersiksa seperti tadi. Bagaimana pun juga, setan seperti berbisik-bisik, mengingatkan dia akan perasaan aneh di tubuh belakangnya yang berhimpitan dengan tubuh Sarah. Maka terpaksa dia harus mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan. Hay Hay mengajak Sarah bercakap-cakap untuk membuyarkan perhatiannya yang selalu mengarah kepada perasaan di punggungnya.

Setelah berhasil dengan penyelidikannya, dia akan ke kota raja untuk menyerahkan surat laporan Yu Siucai kepada Menteri Yang Ting Hoo atau Cang Ku Ceng. Dia tahu bahwa pemerintah di kota raja tentu akan mengirim pasukan untuk menggempur Cang-cow dan mengusir orang-orang Portugis. Namun perang menumpas para pemberontak juga akan merusak kehidupan banyak orang yang tidak bersalah. Dia amat mengkhawatirkan Sarah.

"Sarah, setelah engkau kembali kepada ayahmu, kita akan saling berpisah."

Sepasang lengan yang memeluk pinggangnya itu semakin kuat, seolah gadis itu tak ingin berpisah darinya. "Akan tetapi, bukankah engkau hendak mencari pekerjaan, Hay Hay? Aku dapat membantumu, aku dapat minta kepada ayah supaya engkau diberi pekerjaan. Dengan demikian kita akan selalu berdekatan. Aku ingin persahabatan kita dapat berlanjut selamanya...”

“Sarah, terima kasih atas maksud baikmu, akan tetapi hal itu tidak mungkin. Selama hidup aku tidak akan melupakanmu, dan sekarang aku ingin meninggalkan pesan yang teramat penting bagimu."

Sarah adalah seorang gadis yang berhati baja dan tabah. Akan tetapi ingin rasanya dia menangis bila membayangkan dia akan berpisah dari penolong yang amat dikaguminya ini setelah dia kembali kepada ayahnya.

"Katakan, pesan apakah itu?"

"Engkau tentu tahu sendiri betapa bangsamu, orang-orang Portugis, sudah mengadakan persekutuan dengan para pembesar di Cang-couw, juga dengan para bajak laut Jepang. Mereka bersikap memberontak terhadap pemerintah di kota raja. Hal ini sudah pasti akan menimbulkan perang. Pemerintah tidak akan tinggal diam dan pasti kota Cang-couw akan diserbu."

Sarah terkejut. "Ahhh, begitukah? Aku malah tidak tahu akan hal itu, Hay Hay. Aku tidak pernah mencampuri urusan politik ayah. Setahuku menurut ayah, kepala daerah Cang-couw menghukum mati banyak pejabat penting yang dituduh memberontak. Bukankah itu berarti bahwa kepala daerah Cang-couw setia kepada rajanya?"

"Hemm, itu pemutar-balikan kenyataan, Sarah. Akan tetapi engkau tidak akan mengerti. Pesanku hanya ini, yaitu agar engkau segera meninggalkan kota Cang-cow. Kembalilah ke negerimu sebelum terlambat, sebelum terjadi perang. Karena kalau terjadi perang, aku sungguh amat mengkhawatirkan keselamatanmu."

"Bagaimana mungkin, Hay Hay? Aku tidak bisa meninggalkan ayah, apa lagi ada Aaron..."

"Nah, bukankah pernah kau ceritakan bahwa kekasihmu itu bertahan di sini hanya karena engkau? Bahwa ayahmu selalu menekannya dan tak pernah memberi kenaikan pangkat? Ajak saja dia pulang ke negeri kalian, Sarah. Aku tidak ingin mendengar engkau menjadi korban perang. Pulanglah dan hiduplah berbahagia dengan kekasihmu itu di sana. Gadis seperti engkau tidak layak menjadi korban dalam perang yang kejam, engkau layak untuk hidup berbahagia di samping pria yang mencintamu. Ingat baik-baik pesanku ini, Sarah...”

Sarah tidak sempat menjawab lagi karena tiba-tiba telah bermunculan banyak kuda yang mengepung mereka dan ternyata mereka adalah pasukan orang Portugis yang dipimpin oleh Kapten Armando dan Kapten Gonsalo!

Dengan pistol ditodongkan ke arah Hay Hay, Kapten Gonsalo sudah mengajukan kudanya sambil membentak. "Jahanam busuk, cepat angkat tangan atau kuhancurkan kepalamu yang terkutuk dengan peluru pistolku!"

"Kapten Gonsalo, hentikan kata-katamu yang busuk dan kotor itu!" bentak Sarah dengan marah sekali. "Dia adalah seorang pendekar, dan dialah yang sudah menyelamatkan aku dari tawanan para gerombolan penjahat! Hati-hati kau dengan mulutmu!"

"Hemm, mereka semuanya adalah orang-orang biadab! Mereka layak dibunuh!" Gonsalo masih menodongkan pistolnya ke arah Hay Hay yang tetap bersikap tenang saja sambil tersenyum.

"Kapten Gonsalo, sabarlah dan jangan lancang tangan," kata Kapten Armando. "Sarah, turunlah dan ke sinilah, biar kami yang akan menyelesaikan urusan ini. Aku girang sekali melihat engkau selamat."

Sarah tidak mau turun. Meski pun tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, akan tetapi Hay Hay dapat menduga kehendak kapten setengah tua yang rambutnya keemasan dan matanya biru seperti rambut dan mata Sarah itu.

"Sarah, turunlah dan pergi kepada ayahmu. Jangan lupakan pesanku tadi."

"Tapi, Hay Hay... aku khawatir mereka mengganggumu..."

“Jangan khawatir, aku mampu menjaga diri," kata Hay Hay yang sejak tadi telah menatap tajam wajah Kapten Gonsalo yang masih menodongkan pistolnya.

Sarah percaya kepada Hay Hay dan dia pun meloncat turun, lalu menghampiri ayahnya yang juga melompat turun. Ayah dan anak itu berpelukan, dan Hay Hay melihat betapa kapten tua itu merangkul dan mencium kedua pipi dan dahi puterinya dengan penuh kasih sayang. Teringatlah dia akan pelajaran yang didengarnya dari Sarah tentang ciuman dan dia pun tersenyum.

"Jahanam biadab, sekarang terimalah hukumanmu!" Kapten Gonsalo membentak, lantas mengacungkan pistolnya.

"Gonsalo, jangan...!” Sarah menjerit.

Hay Hay tersenyum sambil menggerakkan tangan kanannya menunjuk ke arah Gonsalo. "Kapten Gonsalo, mau apa engkau bermain-main dengan ular itu?"

Gonsalo tertegun. “Ular...? Ehhh...ular…!" Matanya terbelalak dan mukanya pucat karena dia melihat betapa pistol yang dipegangnya tadi sudah berubah menjadi seekor ular yang mendesis-desis dan siap mematuk hidungnya! Saking kaget dan ngerinya, Gonsalo tentu saja cepat melepaskan pistol itu dan mencampakkannya sambil melompat turun dari atas kudanya.

Semua orang yang melihat hal ini terheran-heran. Mereka melihat kapten muda itu tadi terbelalak memandangi pistolnya yang kini diarahkan ke muka sendiri, lalu melemparkan pistol itu dengan muka jijik ketakutan!

Sarah cepat melepaskan ayahnya kemudian mengambil pistol yang dibuang oleh Kapten Gonsalo dan dia pun menodongkan pistol itu ke arah Kapten Gonsalo. Suaranya lantang terdengar oleh semua orang.

"Kapten Gonsalo, jika engkau tidak menghentikan ulahmu yang gila, demi Tuhan, kalau engkau membunuh Hay Hay, aku sendiri yang akan menembak hancur kepalamu! Hayo, majulah, jangan kau kira aku hanya mengancam saja!"

"Sarah...!" teriak Kapten Armando kaget.

"Biarlah dulu, Ayah!" Sarah berseru tanpa melepaskan pandangan matanya dari Kapten Gonsalo yang kini tercengang karena dia merasa seperti sedang bermimpi menghadapi semua peristiwa ini. Pistolnya menjadi ular, dan kini Sarah menodongnya dan siap untuk menembak kepalanya!

"Sarah, aku hanya bermaksud membelamu...," dia berkata.

"Membelaku? Engkau manusia kasar, sombong dan berkepala besar! Ketika aku ditawan oleh gerombolan penjahat, ke mana saja engkau minggat? Engkau melarikan diri seperti pengecut. tidak mempedulikan aku yang ditawan penjahat. Tetapi kemudian, setelah aku diselamatkan oleh pendekar ini yang mati-matian membelaku dan berhasil membebaskan aku, engkau malah memaki-maki dia dan hendak menembaknya? Sekarang akulah yang akan membelanya, kalau perlu dengan nyawaku!"

Tentu saja semua orang amat terkejut dan terheran-heran mendengar ini, bahkan Kapten Armando sendiri sampai terlongong dan tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi Kapten Gonsalo marah bukan main, merasa dihina.

"Sarah, engkau sungguh tidak adil! Ketika kita dikepung penjahat, aku membelamu mati-matian sampai terluka sehingga aku terpaksa pergi, bukan karena takut melainkan untuk mencari bala bantuan karena pihak lawan terlampau banyak. Memang aku terluka, akan tetapi sejak semalam terus ikut mencarimu, dan engkau kini bahkan memaki aku? Engkau sungguh tidak adil, atau apakah engkau sudah dipengaruhi jahanam ini? Sejauh manakah hubunganmu dengan dia? Kulihat tadi kalian berpelukan di atas kuda! Sarah, sungguh aku merasa malu..."

“Cukup, Kapten Gonsalo!" tiba-tiba saja tampak seorang pemuda Portugis yang turun dari kudanya, meloncat ke depan Gonsalo.

Dia seorang prajurit muda yang bertubuh tegap jangkung, rambutnya hitam kemerahan dan matanya tajam penuh keberanian. Wajahnya yang halus tanpa kumis dan jenggot itu nampak kekanakan dan tampan, namun dagunya berlekuk tanda bahwa dia seorang yang pemberani.

"Sebagai seorang yang sopan engkau tidak patut menghina Sarah dengan mengeluarkan ucapan yang kotor dan tuduhan yang keji itu!"

Gonsalo membelalakkan mata memandang kepada pemuda itu. "Kau...! Aaron, kamu ini prajurit biasa, berani menentang kaptenmu? Kau hendak memberontak?"

Dengan sikap gagah dan tenang Aaron lantas menjawab, "Tidak ada prajurit yang hendak menentang kaptennya, juga tak ada yang hendak memberontak. Aku berhadapan dengan engkau sebagai seorang jantan berhadapan dengan seorang laki-laki. Engkau menghina seorang wanita terhormat dan aku membela wanita yang kucinta. Ini urusan pribadi!"

Hay Hay tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, akan tetapi mendengar pemuda itu disebut Aaron, tahulah dia bahwa pemuda itu kekasih Sarah dan dia kagum melihat sikap prajurit muda yang berani menentang atasannya untuk membela kekasihnya itu. Dia bisa menduga bahwa tentu Gonsalo mengeluarkan kata-kata yang tak berkenan di hati Aaron yang maju membela kekasihnya.

"Bagus! Ini adalah urusan pribadi dan aku akan menghajarmu!" bentak Gonsalo dan dia telah menyerang dengan tinjunya. Aaron cepat menangkis dan balas menyerang. Mereka segera bertanding, bertinju dan saling serang dengan ganas.

"Cukup! Hentikan semua kegilaan ini!" Kapten Armando membentak.

Akan tetapi Sarah menjawab dengan suara yang tak kalah lantangnya. "Biarkan mereka, Ayah! Aku ingin melihat bukti kesetiaan Aaron kepadaku! Biarkan mereka bertanding dan kita lihat saja siapa yang lebih jantan!"

"Sarah, prajurit itu akan dihajar oleh Gonsalo," kata Kapten Armando agak lirih.

"Hemmm, biarlah kalau memang begitu. Akan tetapi aku tidak percaya laki-laki sombong semacam dia akan mampu menghajar Aaron." Dara ini lantas menoleh kepada Hay Hay sambil berkata, "Hay Hay, lihatlah betapa kekasihku Aaron membelaku. Dan aku percaya bahwa Aaron akan mampu membersihkan namaku dan menang dalam pertandingan ini!"

Hay Hay mengangguk, tersenyum, lantas meloncat turun dari atas kudanya. Dia maklum maksud yang tersembunyi di dalam ucapan Sarah tadi. Dara itu ingin melihat kekasihnya menang dan sengaja memberitahu kepadanya. Baiklah, dia akan menjamin supaya Aaron menang dalam pertandingan adu tinju itu.

Dua orang itu bertanding semakin seru. Karena Kapten Gonsalo memang seorang jago tinju yang kuat, dua kali Aaron sempat tercium kepalan tangannya, membuat pemuda itu terpelanting. Akan tetapi dia tidak mengeluh, segera bangkit berdiri dan melawan lagi.

"Pukul dia, Aaron. Demi aku, kau hajarlah orang kurang ajar itu!" Teriakan-teriakan Sarah ini mendatangkan semangat yang berkobar. Aaron mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan. Dia pun bukan seorang pemuda lemah. Dia telah belajar ilmu berkelahi, pandai bertinju, bermain pedang dan juga merupakan seorang penembak jitu.

Namun menghadapi Gonsalo, dia kalah pengalaman. Gonsalo mempunyai banyak gerak tipu yang licik, suka main curang dengan sikunya atau lututnya sehingga Aaron nampak terdesak. Pemuda yang tepi bibirnya sudah berdarah itu melawan mati-matian. Tiba-tiba saja, entah megapa, Gonsalo terhuyung dan kesempatan ini digunakan oleh Aaron untuk mengayunkan tinjunya. Dengan cepat sekali ayunan tinju kanannya meledak pada rahang Gonsalo yang segera terhuyung.

"Dessss….!"

Gonsalo terjengkang. Pukulan itu keras sekali dan tadi, tanpa sebab tertentu, secara tiba-tiba saja kaki kirinya seperti kram dan dia terhuyung sehingga terpukul lawan. Akan tetapi dia memang kuat. Begitu tubuhnya terjengkang dia sudah melompat bangkit kembali dan bagaikan seekor harimau dia menggereng dan menerjang lagi. Akan tetapi kembali terjadi keanehan. Tiba-tiba saja kedua lutut kakinya lemas, lantas dia pun jatuh berlutut. Aaron. sudah datang dengan tinju kanan kiri, dua kali dia meninju pangkal telinga dan dagu.

"Desss…! Desss...!”

Kini Gonsalo roboh. Walau pun dia berusaha untuk merangkak bangun, kepalanya pening dan dia pun roboh lagi, lalu bangkit duduk dan rnengguncang-guncang kepala.

Terdengar sorak-sorai dan ternyata banyak di antara para prajurit yang memihak kepada Aaron karena banyak di antara mereka yang diam-diam tidak suka kepada Gonsalo yang sombong dan keras terhadap bawahannya itu.

"Cukup, hentikan perkelahian!!" Tiba-tiba Kapten Armando berseru.

Sarah menghampiri Aaron lantas mereka berpelukan. Sarah mengusap sedikit darah dari pinggir bibir kekasihnya, lalu mereka berciuman di hadapan Armando dan semua prajurit. Kembali terdengar teriakan gembira.

Kapten Armando menghela napas panjang dan merasa dikalahkan puterinya. Kini semua orang tahu bahwa puterinya saling mencinta dengan Aaron, dan pemuda yang berpangkat prajurit biasa itu ternyata dapat membuktikan bahwa dia lebih jantan dari pada Gonsalo.

"Aaron, ketahuilah bahwa tadi Hay Hay sudah membantumu sehingga engkau menang," Sarah berbisik di dekat telinga kekasihnya.

Aaron membelalakkan mata memandang kepada Hay Hay yang juga memandang ke arah mereka sambil tersenyum. Kini mengertilah Aaron. Tadi dia juga merasa heran mengapa Gonsalo terhuyung sehingga dia dapat memukulnya, kemudian Gonsalo bahkan berlutut sehingga dia berhasil menaklukkannya. Dia tahu bahwa hal ini tidak wajar, kecuali kalau Gonsalo mendadak terserang penyakit. Kini mengertilah dia sesudah mendengar ucapan Sarah. Dia pun sudah banyak mendengar tentang adanya ‘pendekar’ di negeri asing ini.

Kini Gonsalo dibantu bangkit oleh anak buahnya. Kesempatan ini digunakan Sarah untuk menghampiri ayahnya dan dengan lantang dia berkata, "Ayah, kalau tidak ada Hay Hay, tentu saat ini aku tidak dapat bertemu kembali dengan Ayah. Karena itu aku minta agar jangan ada yang mengganggu Hay Hay."

Kapten Armando memandang kepada Hay Hay. Dia melihat betapa pemuda itu memiliki wajah yang cerah dan ramah, akan tetapi mata itu benar-benar mengejutkan, mencorong seperti mata harimau!

"Baiklah, dia boleh pergi. Akan tetapi kami akan menyerbu sarang perampok yang sudah menawanmu."

"Terserah kepada Ayah. Ada satu lagi permintaanku, Ayah."

"Apa lagi? Katakan dan cepat kembali ke benteng."

"Ayah, sesudah peristiwa ini aku tidak suka lagi tinggal di sini. Aku ingin pulang ke negeri kita. Aku ingin melanjutkan sekolah di perguruan tinggi."

Kapten Armando mengangguk-angguk. Kalau tidak ada puterinya di situ, dia akan merasa lebih bebas dan tidak khawatir. Puterinya terlalu nakal dan berandal, telah mendatangkan banyak kepusingan kepadanya.

“Boleh, boleh. Dalam kesempatan pertama engkau boleh berlayar pulang ke negeri kita."

"Aku minta diantar oleh Aaron!" seru pula Sarah.

"Tapi dia seorang prajurit yang bertugas di sini," bantah ayahnya.

"Tidak, Ayah. Setelah kejadian ini tentu dia akan diancam oleh Kapten Gonsalo. Lagi pula dia bukan prajurit biasa, dia calon menantumu Ayah. Di negeri kita dia dapat bekerja, dari pada di sini selama hidup dia hanya menjadi prajurit saja yang pangkatnya tidak pernah dinaikkan!"

Kapten Armando kembali merasa dikalahkan. Jelas bahwa puterinya memprotes dan dia pun merasa salah. Memang sengaja dia tidak menaikkan pangkat Aaron karena memang dia tidak setuju puterinya berpacaran dengan prajurit itu. Kini Sarah membuka semua itu di depan banyak prajurit dan dia akan nampak buruk sekali kalau dia tetap berkeras.

"Baiklah, dia akan mengantarmu pulang,” kata Kapten Armando.

"Terima kasih, Ayah...!" Sarah berteriak dan dia pun melepaskan Aaron, berlari kepada ayahnya, lalu memeluk ayahnya dan menciumi kedua pipi ayahnya. Mau tak mau Kapten Armando merasa terharu juga.

Sesudah menciumi ayahnya, Sarah kembali menghampiri Aaron. "Aaron, kalau tidak ada Hay Hay mungkin aku sudah mati, atau setidaknya tak mungkin kita akan dapat berjodoh. Semua ini berkat pertolongannya. Kau menyadari hal ini?"

Aaron mengangguk, lantas menggandeng tangan Sarah dan menghampiri Hay Hay yang masih berdiri sambil memandang peristiwa itu dengan hati gembira. Dia semakin kagum. Sarah memang hebat, pandai sekali memanfaatkan keadaan sehingga terkabullah semua keinginannya. Juga hatinya terasa lega sekali melihat Sarah telah berbaik kembali dengan ayahnya. Walau pun dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun melihat sikap mereka, dia pun dapat menduga bahwa Sarah telah berhasil.

Dengan wajah cerah dia menyambut Sarah yang bergandengan tangan dengan Aaron itu. "Berhasilkah engkau, Sarah?" tanyanya menyambut mereka.

"Berkat bantuanmu semuanya berhasil baik, Hay Hay. Ayah membolehkan aku pulang ke negeri kami diantar oleh Aaron."

Aaron juga mengulurkan tangan kepada Hay Hay. "Terima kasih," katanya. Itulah satu-satunya kata yang dikenalnya dari bahasa daerah. Hay Hay menyambut uluran tangan itu dengan hangat.

"Kalau begitu, aku mengucapkan selamat untukmu, Sarah," kata Hay Hay mengulurkan tangan kepada gadis itu. Akan tetapi Sarah tidak menyambut uluran tangan itu.

"Aaron, engkau tidak keberatan kalau aku mencium penyelamat kita?"

Aaron tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sarah lalu menghampiri Hay Hay yang masih mengulurkan tangannya, kemudian ia merangkul, menarik leher Hay Hay sehingga mukanya menunduk, lalu Sarah menciumnya. Bukan di dahi atau pun di pipi, melainkan di bibir. Ciuman yang hangat, yang mesra dan dilakukan dengan seluruh luapan perasaan yang berterima kasih. Hay Hay merasakan ini, dan dia pun merasa betapa pipinya basah oleh air mata gadis itu.

Sarah mengendurkan rangkulannya, kemudian berbisik, "Hay Hay, demi aku, perlihatkan kepandaianmu dan menghilang dari sini agar mereka percaya." Kemudian dia melepaskan rangkulannya dan berkata dengan suara lantang, "Hay Hay, selamat berpisah dan selama hidupku, aku tidak akan melupakanmu!" Dia mengusap air matanya.

Hay Hay terharu. "Semoga Tuhan selalu membimbingmu dan memberkahimu agar hidup berbahagia bersama Aaron, Sarah. Selamat tinggal!" Tiba-tiba Hay Hay meloncat ke atas, tinggi seperti terbang saja.

Semua orang terbelalak memandang. Laksana seekor burung saja pemuda itu melayang ke atas pohon, dan sesudah membuat salto maka dia pun lenyap di antara pohon-pohon! Tentu saja hal ini membuat semua orang merasa kagum dan kini semua orang, termasuk Gonsalo sendiri dan juga Armando, percaya akan cerita Sarah bahwa yang menolongnya adalah seorang pendekar sakti!

Sarah lalu mengajak Aaron untuk pulang ke benteng, sedangkan Kapten Armando dibantu oleh Kapten Gonsalo bersama pasukannya lalu melanjutkan perjalanan menyerbu sarang gerombolan di bukit bergoa-goa. Agaknya Gonsalo ingin melampiaskan rasa sakit hatinya kepada mereka, maka segera terdengar letusan-letusan senjata api pada waktu sarang itu diserbu. Terjadilah pembantaian dan hanya sedikit saja di antara anggota gerombolan itu yang dapat lolos. Lima orang Harimau Cakar Besi yang menjadi pemimpin mereka tewas.

Peristiwa ini disusul oleh amukan orang-orang Portugis yang sejak terjadinya penyerbuan ke sarang perampok itu sudah memperlihatkan sikap mereka yang asli. Mereka menjadi ganas dan kejam, dan sewenang-wenang terhadap rakyat. Mereka merasa diri kuat, apa lagi karena mereka sudah berhasil mengikat para pembesar daerah untuk bersekutu, dan dibantu pula oleh para bajak laut Jepang yang kemudian mempergunakan kesempatan itu untuk membonceng demi keuntungan diri sendiri.

Sarah dan Aaron segera berangkat dengan kapal pertama yang membawa barang-barang dagangan, meninggalkan Cang-cow dan berlayar ke tanah airnya. Di sana telah menanti suatu kehidupan baru yang cemerlang, yang jauh bedanya dengan kehidupan di Cang-cow, hidup dalam benteng yang penuh dengan kekerasan dan kelicikan.

********************

Kini kedua orang itu, Liong Ki alias Sim Ki Liong, dan Liong Bi alias Cu Bi Hwa, bersikap hati-hati sekali. Mereka maklum bahwa mereka telah mendapatkan kedudukan yang baik sekali, dipercaya oleh Menteri Cang, seorang di antara semua menteri yang paling besar pengaruh dan kekuasaannya.

Mereka berdua memang ingin sekali meningkatkan kedudukan mereka hingga yang paling tinggi, akan tetapi mereka berdua adalah orang-orang cerdik yang maklum bahwa sekali mereka salah langkah, bukan tingkat tertinggi yang mereka peroleh, melainkan kejatuhan yang akan amat menyakitkan.

Walau pun mereka telah bertekad untuk menjadi menantu Menteri Cang dengan merayu putera dan puteri pembesar itu, tapi mereka berdua tidak terlalu mendesak. Mereka ingin agar Cang Sun dan adiknya, Cang Hui, dengan wajar jatuh cinta kepada mereka, walau pun tentu saja dibantu oleh kekuatan sihir mereka. Hal itu harus terjadi secara wajar dan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Apa lagi di situ terdapat Mayang. Gadis ini agaknya memperlihatkan sikap curiga kepada mereka, dan nampak tidak senang kalau melihat Liong Ki mendekati Cang Hui dan Liong Bi mendekati Cang Sun. Mereka harus berhati-hati, karena Mayang dapat saja menjadi penghalang terbesar bagi tercapainya cita-cita mereka.

Karena mereka mengaku sebagai kakak-beradik, tentu saja persekutuan antara mereka itu menjadi lancar dan mudah. Tidak ada orang menaruh kecurigaan kalau mereka berada berduaan saja sehingga mudahlah bagi mereka untuk mengatur siasat dan merundingkan segala langkah mereka.

Meski pun bukan merupakan tokoh resmi, namun Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa yang kini dikenal sebagai Liong Bi adalah murid Pek-lian-kauw dan sudah banyak jasanya untuk perkumpulan pemberontakan itu. Oleh karena itu di kota raja pun dia kadang mengadakan hubungan dengan mata-mata Pek-lian-kauw dan dia mendengar akan semua pergerakan Pek-lian-kauw, mendengar pula akan keadaan di Cang-cow di mana para pembesarnya bersekongkol dengan orang-orang Portugis, dengan para bajak laut Jepang dan tentu saja dengan Pek-lian-kauw.

Bahkan dia sudah mendengar pula bahwa seorang siucai tua bernama Yu Siucai, sudah menulis laporan tentang persekutuan itu dan bermaksud menyerahkan laporan itu kepada kaisar di kota raja. Menurut mata-mata Pek-lian-kauw itu, surat laporan Yu Siucai itu kini berada di tangan seorang pemuda dan mereka sedang membantu persekutuan Cang-cow untuk mencari pemuda itu dan sebisa mungkin merampas surat laporan itu sebelum jatuh ke tangan kaisar.

Mendengar ini, Liong Bi segera berunding dengan Liong Ki. Mereka mengambil keputusan untuk bersikap waspada karena menurut keterangan mata-mata Pek-lian-kauw itu, orang yang merampas surat laporan mungkin sekali akan menyerahkan surat yang membuka rahasia persekutuan itu kepada Menteri Cang Ku Ceng atau Menteri Yang Ting Hoo.

Pada suatu hari, masih pagi sekali, Liong Ki dan Liong Bi sudah keluar dari istana Menteri Yang. Mereka pergi ke taman bunga yang luas di sebelah barat kota raja. Taman bunga ini memang terbuka untuk umum. Mereka mencari tempat di sini agar leluasa bicara dan mengatur siasat selanjutnya. Sedangkan Menteri Cang pagi sekali tadi sudah berangkat ke istana kaisar untuk menghadiri pertemuan antara para menteri yang menghadap kaisar untuk membicarakan segala permasalahan negara.

Mereka berdua duduk di bangku panjang di tepi kolam ikan. Tempat ini terbuka sehingga mereka akan dapat melihat kalau ada orang lain mendekat sehingga percakapan mereka tidak akan dapat didengar orang lain. Juga di sekitar situ tidak ada tempat persembunyian yang memungkinkan orang lain mengintai dan mendengarkan secara sembunyi-sembunyi.

Liong Bi nampak murung dan begitu mereka duduk di atas bangku itu, dia segera berkata dengan wajah bersungut-sungut, "Sialan! Kulihat Ciang Sun malah makin tertarik kepada Mayang. Gadis itu sungguh merupakan penghalang besar bagi kita."

"Bersabarlah, Bi-moi. Kelak bila mana dia sudah menjadi milikku, tentu dia akan mentaati semua perintahku."

"Hemmm, sampai kapan? Kita tidak berdaya. Dia kebal terhadap sihir, juga tidak terbujuk rayuanmu, lalu bagaimana? Ia malah menjadi berbahaya sekali. Menggunakan kekerasan pun tidak mudah karena dia cukup lihai. Dia menjadi ancaman bagi kita, sekarang sudah kelihatan curiga kepada kita, membuat kita tidak leluasa bergerak. Lihat, untuk berunding pun kita terpaksa mempergunakan tempat ini, tidak berani di istana menteri. Tidak, Ki-ko, kita harus bertindak, kita harus menyingkirkannya." kata Liong Bi.

Dia dan Liong Ki membiasakan diri untuk saling menyebut Bi-moi dan Ki-koko agar tidak kesalahan sebut kalau berada di depan orang lain. Sebutan itu kini telah akrab dan meski pun Su Bi Hwa lebih tua satu dua tahun, namun dia tidak merasa canggung disebut adik.

Sim Ki Liong atau Liong Ki mengerutkan alisnya mendengar ucapan itu, "Menyingkirkan Mayang? Apa maksudmu?"

"Bunuh dia dan lenyapkan. Apa lagi?" jawab Liong Bi singkat.

Liong Ki terkejut dan kembali mengerutkan alisnya. Dia bukanlah orang yang tidak biasa membunuh. Entah sudah berapa banyak nyawa-nyawa orang tidak berdosa yang tewas di tangannya. Akan tetapi sekali ini yang akan dibunuh adalah Mayang! Dia harus mengakui bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis itu! Dia merasa tidak tega kalau sampai Mayang dibunuh.

"Gila kau!" desisnya. "Aku mencintanya!"

Liong Bi menggerakkan cuping hidungnya dan mencibirkan bibirnya. "Cinta? Huh, lelucon yang konyol! Kalau dia kehilangan kecantikannya, ke mana larinya cintamu itu? Kalau dia menjadi penghalang kesenangan kita, bahkan mengancam kedudukan kita dan mungkin akan menghancurkan cita-cita kita, apakah engkau tetap akan mencintanya? Apakah kau ingin mampus demi cintamu kepadanya? Konyol dan tolol!"

Bagi seorang wanita seperti Liong Bi atau Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa, dalam kehidupan ini tidak ada cinta. Yang dikenalnya hanyalah cinta nafsu, kesenangan yang ditimbulkan karena hubungan antara manusia. Kalau nafsu birahinya terpuaskan maka dia mengaku cinta. Kalau kebutuhan hidupnya dicukupi bahkan sampai berlebihan maka dia mengaku cinta. Kalau hatinya disenangkan maka dia mengaku cinta. Cintanya kepada seseorang tidak ada bedanya dengan sayangnya kepada sebuah benda mainan yang mengasyikkan dan menyenangkan hatinya.

"Jangan berkata demikian, Bi-moi. Engkau tahu, sudah banyak kualami bersama Mayang. Aku sudah terlanjur amat suka kepadanya. Sebelum aku berhasil memilikinya, bagaimana engkau dapat bicara tentang membunuhnya?”

Sebetulnya tidak banyak bedanya antara Ki Liong dan Bi Hwa ini. Sim Ki Liong atau Liong Ki juga mengukur cinta dari kesenangan dan kepentingan diri pribadi saja. Memang ada sesuatu pada diri Mayang, sesuatu yang sangat menarik hatinya, yang membuat dia ingin selalu berdekatan dengan dara itu, membuat dia ingin memiliki Mayang selama hidupnya. Bahkan untuk dapat memilikinya, dia tadinya rela untuk mengubah jalan hidupnya.

Namun semua itu pun tidak terlepas dari pengaruh nafsu. Dia tergila-gila kepada Mayang karena ada sesuatu yang amat menarik hatinya dan yang dianggapnya sangat indah. Dia akan rela melakukan apa pun untuk mendapatkan diri Mayang. Akan tetapi itu bukanlah cinta. Itu hanya nafsu walau mencoba untuk mengenakan pakaian atau bentuk lain.

Cinta semacam ini, kalau sampai berhasil memiliki orang yang dicintanya, maka cinta itu makin lama akan semakin menipis bagaikan berkobarnya api yang akhirnya padam dan hanya tinggal asapnya saja. Nafsu dalam bentuk apa pun juga memiliki sifat yang sama. Menggelora ketika sedang mengejar, belum memiliki dan belum terpuaskan. Akan tetapi sekali yang dikejar itu sudah didapat, maka akan timbul kebosanan pada nafsu sehingga mendorong kita untuk mencari yang lain lagi, yang dianggapnya lebih menarik dan lebih baik. Dan demikian seterusnya, sekali kita menjadi hamba nafsu, maka kita akan selalu dicengkeram dan tak berdaya. Kita dipermainkan nafsu seperti kanak-kanak yang asyik dengan sebuah mainan, namun begitu datang yang baru, maka yang lama menjadi tidak menarik lagi dan membosankan.

Nafsu menjadi pendorong bagi kita untuk mencari kepuasan dalam segala hal sehingga terjadilah kemajuan-kemajuan dalam hal lahiriah. Sarana kesejahteraan dan kesenangan lahiriah semakin lama semakin bertambah. Namun nafsu pula yang menyeret kita untuk mundur dalam hal rohaniah.

Ketika Liong Bi hendak membantah lagi, tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut, tak jauh dari tempat mereka duduk, dan ketika mereka menengok, mereka melihat lima orang laki-laki yang melihat pakaiannya tentulah orang-orang muda yang kaya-raya sedang ribut mengeluarkan kata-kata teguran yang nadanya keras dan marah kepada seorang hwesio berjubah kuning. Mereka berdua tertarik sekali dan mendekat.

Hwesio itu berusia kurang lebih enam puluh tahun, kepalanya gundul dan perutnya gendut sekali. Karena gemuknya maka dia kelihatan pendek. Yang aneh adalah warna kulit pada bagian yang tidak tertutup jubah kuning, yaitu di bagian leher dari kedua tangan sampai di atas pergelangan. Kulit leher dan lengan itu terlihat hitam kehijauan seperti baja! Mukanya yang bulat itu nampak lucu karena berseri dan mulutnya tersenyum-senyum sinis, akan tetapi matanya mencorong!

Hwesio itu tidak mempedulikan lima orang muda yang marah-marah itu. Dia melanjutkan makan dengan lahapnya, beberapa sayuran dari mangkok-mangkok besar yang berada di atas tanah, di depan dia bersila. Liong Ki dan Liong Bi melihat bahwa mangkok-mangkok itu berisi masakan dari daging, bahkan di situ terdapat pula seguci besar arak.

"Hwesio tua yang jahat, berani engkau mencuri hidangan kami?!" teriak seorang di antara lima pemuda berpakaian mewah itu.

"Engkau ini seorang hwesio, akan tetapi makan daging dan minum arak yang kau rampas dari kami!" teriak orang ke dua.

"Orang tua tak tahu malu. Engkau ini pendeta atau perampok?"

"Hayo pergi dari sini dan tinggalkan makanan kami!"

Hwesio tua itu tersenyum-senyum saja ketika menghadapi kemarahan lima orang pemuda hartawan itu. Sambil mengunyah makanan dia menoleh dan memandang kepada mereka, dan sebelum menjawab dia menuangkan arak dari guci ke mulutnya. Sesudah tidak ada lagi makanan di mulutnya, barulah dia mejawab.

"Omitohud, kalian ini hartawan-hartawan muda macam apa? Pantasnya kalian bersyukur karena makanan kalian dipilih oleh pinceng. Memberi makanan kepada seorang hwesio akan mendatangkan berkah yang berlipat ganda, kenapa kalian banyak rewel?"

Lima orang pemuda itu menjadi makin marah. Mereka memberi isyarat kepada tiga orang lelaki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang dilihat dari pakaian dan sikap mereka, jelas bahwa mereka adalah jagoan-jagoan yang mengawal lima orang pemuda itu.

"Seret dia pergi dari sini!" perintah seorang di antara lima orang pemuda itu. "Pendeta tua itu perlu dihajar!"

Tiga orang jagoan itu bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat. Agaknya mereka pun merasa sungkan jika harus menangani seorang pendeta tua gendut. Bagaimana pun juga biasanya para hwesio dihormati dan dimintai berkah, sekarang mereka harus menghajar seorang pendeta, tentu saja mereka merasa sungkan. Mereka tak akan merasa sungkan kalau disuruh menghajar orang biasa. Karena itu seorang di antara mereka yang mukanya kuning pucat lalu menghampiri hwesio itu dan dengan sikap hormat dia berkata.

"Maafkan, Losuhu, harap Losuhu tidak menyusahkan kami dan suka pergi saja dari sini, jangan mengganggu para kongcu yang sedang bersenang-senang di taman ini.”

"Omitohud, kalian ini tiga orang anjing penjilat, kalianlah yang cepat pergi dari sini, jangan mengurangi selera makan pinceng," kata hwesio itu dengan senyum lebar dan suara yang mengandung ejekan.

"Losuhu, kami bersikap hormat, akan tetapi engkau malah memaki kami. Jangan mengira kami takut menyeretmu keluar dari taman ini!" bentak jagoan ke dua.

"Heh-heh-heh, kalau pinceng tidak mau pergi, kalian mau apa?"

"Terpaksa kami akan menyeretmu pergi!" bentak si muka kuning yang sudah kehilangan kesabarannya.

"Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing yang gonggongannya nyaring tidak dapat menggigit!" hwesio itu tertawa, kemudian melanjutkan makan minum dengan lahapnya.

Mendengar ejekan ini, tiga orang tukang pukul itu tentu saja menjadi semakin marah dan serentak mereka menerjang ke depan hendak menangkap dan menyeret hwesio gendut yang sedang makan itu.

"Pergilah kalian anjing-anjing penjilat!" hwesio itu berkata.

Dia lalu membuat gerakan seperti menepiskan tangan kirinya ke arah tiga orang jagoan itu dan akibatnya membuat Liong Ki dan Liong Bi yang melihat dari jarak agak jauh menjadi terbelalak. Tiga orang jagoan itu mendadak saja terjengkang seperti dipukul atau didorong tangan yang tidak nampak. Mereka terbanting keras lantas mengaduh-aduh karena tubuh mereka terus terguling-guling seperti diseret angin yang amat kuat.

Liong Ki dan Liong Bi, dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu melihat betapa debu dan daun kering berhamburan dan beterbangan seperti ditiup angin dan beberapa helai daun melayang ke arah mereka. Mereka mengebutkan tangan ke arah daun-daun itu namun alangkah kaget hati mereka ketika merasa betapa daun kering itu terasa berat dan keras seperti batu saja ketika mereka tangkis.

Tiga orang jagoan itu babak belur. Mereka tidak bergulingan lagi, tapi telah bangkit duduk lalu dengan muka pucat dan mata terbelalak mereka memandang ke arah hwesio itu.

"Hemm, kalian orang-orang muda kaya-raya sungguh tidak tahu malu. Kalian bergelimang kemewahan, berpesta-pora di taman, di depan orang-orang yang kelaparan, benar-benar bermuka tebal. Kalian perlu dicuci sampai bersih!" kata pula hwesio itu dengan mulutnya tetap menyeringai.

Dan kembali tangannya membuat gerakan seperti mendorong ke arah lima orang pemuda hartawan yang juga kelihatan kaget bukan main ketika melihat tiga orang jagoan mereka roboh secara aneh.

Dan tiba-tiba mereka berlima mengeluarkan teriakan kaget karena tubuh mereka seperti disambar angin keras yang tidak dapat mereka lawan. Mereka terhuyung dan tanpa dapat dicegah lagi mereka berlima terlempar ke dalam kolam ikan. Terdengar suara berjebur lima kali dan air muncrat tinggi, ikan-ikan dalam kolam berenang ketakutan.