Neraka Kematian

Neraka Kematian

NERAKA KEMATIAN

SATU
SEORANG pemuda berjalan mondar-mandir di sebuah ruangan yang tertata apik, tepat di depan kursi berukir indah. Wajahnya tampak kusut dengan dahi berkerut. Sesekali terdengar desahannya yang halus. Lalu matanya memandang kepintu, kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya setelah menghela napas panjang.

Tak lama pemuda itu bertepuk dua kali. Maka seorang laki-laki berpakaian kuning seperti seragam prajurit yang berjaga di dekat pintu, menghampiri dengan tergopoh-gopoh.

"Sendika, Gusti Prabu...!" ujar prajurit seraya berlutut memberi hormat.

"Apakah para prajurit yang menjemput Kanjeng Gusti Ayu Larasati telah kembali?" tanya pemuda yang ternyata seorang raja.

"Belum, Gusti Prabu...!" jawab prajurit itu, singkat.

"Hm.... Lama sekali mereka. Laporkan segera padaku bila mereka tiba!" ujar pemuda itu.

"Baik, Gusti Prabu!"

"Kau boleh kembali ke tempatmu!"

"Oh, Iya.. Ada yang hendak hamba sampaikan…”

"Katakanlah."

"Gusti Panglima Joko Dentam telah berangkat bersama pasukannya, Gusti Prabu!" jelas prajurit ini.

"Hm, ya. Dia telah menghadap padaku tadi..."

"Adakah yang lain bisa hamba kerjakan, Gusti Prabu?"

"Tidak. Kau boleh kembali ketempatmu."

"Ampun, Gusti Prabu. Kalau demikian, hamba mohon diri!" sahut prajurit seraya memberi hormat. Lalu dia beringsut ke belakang dan menghilang di balik pintu.

Pemuda yang tak lain Bre Redana menghela napas berat. Hatinya kelihatan susah, dan wajahnya keruh memikirkan sesuatu. Ayu Larasati seharusnya sudah kembali bersama para prajurit yang menjemputnya. Jarak Alas Karang dengan Hutan Kembang Mekar bisa ditempuh setengah hari. Tapi kini telah lebih dari setengah hari. Bahkan sebentar lagi sore akan berganti malam. Namun, Ayu Larasati dan para pengawalnya tidak kunjung tiba juga. Jelas ini membuat gelisah Bre Redana. Hatinya terus bertanya, apa gerangan yang telah terjadi...? Bre Redana buru-buru memperbaiki raut wajahnya, ketika prajurit tadi kembali masuk.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba tidak bermaksud mengganggu...!" ucap sang prajurit setelah menyembah hormat.

"Ada apa?" tanya Bre Redana, langsung.

"Pasukan yang berangkat bersama Gusti Panglima Joko Dentam telah kembali...."

"Telah kembali? Secepat itukah?!" Bre Redana terkesiap, nyaris bangkit dari duduknya.

"Kelihatannya ada yang tidak beres, Gusti Prabu..."

"Tidak beres bagaimana? Panggilkan Panglima Joko Dentam. Dan, suruh menghadapku?"

"Itulah, Gusti Prabu.... Gusti Panglima Joko Dentam telah tewas...."

"Tewas? Apa maksudmu?!" Sepasang alis mata Bre Redana yang berwarna kuning, terangkat ke atas.

Prajurit berseragam kuning itu tidak menjawab. Dan malah kepalanya menunduk.

"Panggil dua orang dari mereka. Dan, suruh menghadapku!" perintah Bre Redana dengan suara keras dan bergetar. Ini jelas menandakan hatinya yang gemuruh. Bahkan detak jantungnya cepat serta tidak beraturan. Berita itu benar-benar mengejutkan. Bahkan rasanya sulit dipercaya.

Sementara prajurit tadi sudah menghilang di balik pintu. Tapi tak lama, dia telah kembali bersama dua prajurit. Wajah mereka tampak letih, pucat, serta sedikit ketakutan. Ketiganya kemudian berlutut, memberikan hormat yang dalam.

"Ampun, Gusti Prabu...!"

"Katakan lekas, apa yang telah terjadi?! Apa benar Ki Joko Dentam tewas? Siapa pembunuhnya?!" bentak Bre Redana itu dengan wajah tegang dan suara bergetar keras.

"Benar, Gusti Prabu. Beliau tewas ditangan Pendekar Rajawali Sakti...," sahut seorang prajurit.

"Apa?! Tidak mungkin! Joko Dentam orang hebat. Ilmu olah kanuragannya tak ada yang menandingi! Mustahil dia tewas di tangan orang itu!" teriak Bre Redana bernada garang.

Ketiga prajurit itu tersentak dengan kepala tetap tertunduk. Sedikit pun tidak ada yang berani mengangkat wajah, diam seribu bahasa.

"Katakan padaku kalau kalian berdusta! Katakan,..! Tidak mungkin hal itu terjadi!" lanjut Bre Redana garang.

Bola mata raja muda itu membulat besar, seperti hendak melompat keluar. Cuping hidungnya kembang-kempis mengikuti irama hela napasnya yang memburu. Mukanya berkerut dan agak tegang. Perasaannya kelihatan betul-betul terpukul dengan berita yang dibawa prajurit-prajurit itu. Tahu-tahu, Bre Redana melompat dari kursi. Lalu, langsung dijambaknya rambut salah seorang prajurit.

"Ayo katakan kalau kalian berdusta! Katakan kalau berita itu tidak benar! Joko Dentam tidak mati! Dia masih hidup dan akan membawa kemenangan bagi kita...!" bentak Bre Redana, kalap.

"Aaah...!" keluh prajurit itu tertahan. Wajah prajurit berseragam kuning ini meringis menahan sakit. Namun begitu tidak sedikit pun keluh kesakitan keluar dari mulutnya. Kepalanya tetap menunduk, menerima amarah dan murka junjungannya.

Beberapa saat seperti menyadari kekeliruannya, Bre Redana buru-buru melepaskan cengkeramannya. Dipandanginya prajurit yang masih meringis namun tetap berlutut dan tertunduk. Tatapannya kosong. Dan perlahan-lahan, dia kembali duduk di kursinya semula. Tak seorang pun yang mulai bicara, sehingga untuk sesaat suasana jadi hening.

"Ceritakan padaku, bagaimana peristiwa itu bisa terjadi...?" tanya Bre Redana. Nada suaranya datar. Wajahnya kini tidak setegang tadi.

"Gusti Panglima tengah melakukan perjalanan menuju Kerajaan Swandana. Di tengah perjalanan, ternyata dua prajurit menghampiri dari arah Hutan Kembang Mekar. Kemudian dia dikejar dua penungang kuda yang tidak dikenal..."

Prajurit itu menghentikan ceritanya sejenak. Dipandanginya wajah sang raja muda itu.

"Kami telah sempat menanyakan, sebab Gusti Panglima memerintahkan untuk menangkap kedua orang itu...."

"Kalian tahu, siapa mereka?"

"Setelah berhasil menangkap dan menanyainya, Gusti Panglima membunuh mereka. Keduanya berasal dari Kerajaan Karang Setra...."

"Karang Setra? Lalu apa yang dibawa kedua prajurit yang dikejar?"

"Kanjeng Gusti Ayu Larasati tengah diserang dua puluh orang bersenjata. Salah seorang diantara mereka mengaku sebagai orang terdekat Raja Karang Setra sendiri..."

"Orang terdekat Raja Karang Setra? Kemudian, bagaimana terjadinya sehingga Panglima Joko Dentam tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti?"

"Mendengar berita itu, Gusti Panglima membelokkan pasukan dan bermaksud membantu para prajurit yang tengah melindungi Kanjeng Gusti Ayu Larasati dari serangan musuh. Dalam pertempuran itulah Gusti Panglima tewas...."

"Lalu, dari mana datangnya Pendekar Rajawali Sakti itu?"

"Dia tidak lain dari orang terdekat Raja Karang Setra, Gusti Prabu."

"Hm, bagaimana kalian tahu?" tanya pemuda itu dengan wajah kaget.

"Semula kami tidak tahu. Namun beberapa prajurit yang pernah bertugas diperbatasan mengatakannya demikian," jelas prajurit.

Bre Redana terdiam. Wajahnya menengadah ke atas, lalu memandang gerah ke arah prajurit ini. Dadanya gemuruh oleh amarah dan dendam atas pembunuhan yang menimpa Joko Dentam. (Untuk jelasnya tentang Panglima Joko Dentam, Bre Redana, dan Ayu Larasati, baca episode Pasukan Alis Kuning)

"Hhh, kurang ajar! Dia akan membalas ini semua! Aku bersumpah, akan menuntut balas atas kematian Kakang Joko Dentam!" desis Bre Redana dengan wajah geram.

Ketiga prajurit itu terdiam, menunggu perintah selanjutnya. Sementara Bre Redana memandang mereka. Sebenarnya tidak tepat benar kalau matanya tengah memandang mereka. Sebab, pikirannya sendiri tengah diliputi niat dan rencana balas dendam terhadap Pendekar Rajawali Sakti.

"Bagaimana cerita selanjutnya...?" tanya Bre Redana kemudian setelah ingat kalau cerita yang didengarnya belum tuntas.

"Gusti Panglima berhasil mendesak mereka. Namun Pendekar Rajawali Sakti memang cerdik dan tangkas. Meski beberapa panah berhasil melukainya, namun mampu menembus benteng pertahanan dan meloloskan diri setelah membunuh banyak prajurit kita...."

"Goblok...!" maki Bre Redana dengan tangan kanan terkepal dan menghantam meja di dekatnya.

Prakkk!

Meja kecil itu kontan hancur berantakan. Buah-buahan serta wadah yang berada diatasnya langsung bergulir dan berserakan. Sedangkan prajurit yang berada didekatnya buru-buru membereskannya.

"Kami telah berusaha dengan sekuat tenaga, Gusti Prabu..," lanjut prajurit yang menjadi lawan bicara Bre Redana. Suaranya lirih dan bergetar. Wajahnya sedikit pucat, dan kelihatan amat ketakutan melihat rajanya tengah murka.

Bre Redana sendiri terlihat menarik napas panjang dan berusaha meredam amarahnya. Dipandanginya kembali prajurit itu. "Kalian tidak berusaha mengejarnya?" cecar Bre Redana. Kali ini nada bicaranya ditekan sedemikian rupa, untuk menghilangkan nada amarahnya.

"Kami kira itu percuma saja, Gusti Prabu, Karena kami menduga mereka tengah menanti bala bantuan. Bila dikejar, dikhawatirkan mereka akan mengepung dan membinasakan semua pasukan."

"Hm, ya. Tidak kusalahkan keputusan kalian Bagaimana dengan adikku?"

"Mereka berhasil menangkapnya, sebelum Gusti Panglima tiba ditempat itu."

"Hm...," Bre Redana hanya menggumam.

Kembali pemuda tampan ini menarik napas panjang untuk menekan hawa amarah yang menyesakkan dada. Setelah beberapa saat, dan amarahnya terasa tidak begitu menyesak lagi, kembali ditatapnya si prajurit.

"Berapa jumlah prajurit yang tewas?"

"Lebih dua puluh lima orang, Gusti Prabu!"

"Sudah kalian kebumikan?"

"Belum, Gusti Prabu. Kami menunggu perintah selanjutnya."

"Baiklah. Aku sendiri yang akan memimpin upacara pemakaman mereka. Siapkan segala se-suatunya. Dan, kumpulkan para prajurit pilihan. Malam ini juga akan kita adakan upacara pemakaman. Dan setelah itu ikutlah denganku, karena banyak hal yang akan kubicarakan!"

"Baik, Gusti Prabu! Segala titah akan hamba laksanakan sebaik-baiknya!"

"Hm.... Kalau begitu, kalian boleh kerjakan sekarang juga!"

"Kami pamit mundur, Gusti Prabu!"

Bre Redana mengangguk. Ketiga prajurit itu membungkuk hormat, lalu beringsut kebelakang dan menghilang di balik pintu. Kini diruangan ini hanya ada Bre Redana yang kembali menghela napas panjang.

"Pendekar Rajawali Sakti...?" gumam pemuda itu pelan. Namun begitu terasa ada hawa dendam dari kata-kata Bre Redana. Sepasang matanya menatap kosong, namun penuh api amarah yang menyala-nyala!

*******************

Bre Redana menatap kelima prajuritnya lekat-lekat. Selama ini, mereka bisa dipercaya dan dapat diandalkan. Keberanian serta ketrampilan telah ter uji dimedan pertempuran.

"Kalian mengerti apa yang kukatakan?" tanya Bre Redana berusaha memastikan.

"Hamba mengerti, Gusti Prabu!" sahut salah seorang, dan diikuti yang lain.

"Panglima Joko Dentam telah tewas. Maka kalian berlima akan menggantikannya. Aku percaya penuh pada kehebatan serta kesetiaan yang kalian miliki. Kerajaan ini akan tetap berdiri. Oleh sebab itu, kematian seseorang tidak akan menghalang niat kita. Kerjakanlah apa yang kukatakan tadi!"

"Segala titah Paduka akan kami junjung tinggi dan laksanakan sebaik mungkin!" sahut kelima prajurit itu cepat.

"Sekarang juga kalian boleh berangkat!"

"Baik, Gusti Prabu!"

Setelah memberi sembah hormat, kelima prajurit dari Pasukan Alis Kuning bergegas meninggalkan ruangan ini. Bre Redana menyeringai kecil. Masih terlihat senyum sinisnya, membayangkan selalu dengan wajah geram. Belum juga senyumnya hilang, seorang prajurit masuk. Dia segera menyembah hormat.

"Ampun, Gusti Prabu! Maafkan kelancangan hamba...!" ucap prajurit itu.

"Apa yang kau bawa?" tanya Bre Redana, langsung.

"Seorang utusan membawa surat ini untuk Paduka!" sahut prajurit bertubuh kurus, mengusungkan segulung kulit tipis.

"Utusan dari mana?" tanya Bre Redana setelah menerima surat itu.

"Dari Karang Setra...."

"Dari Karang Setra? Malam-malam begini...?" Bre Redana mengerutkan dahi.

"Benar, Gusti Prabu!" Pemuda itu terdiam barang sesaat.

"Suruh dia masuk!" lanjut Bre Redana.

"Baik, Paduka!"

Sementara prajurit itu berlalu, Bre Redana membaca isi surat. Wajahnya berkerut. Sepasang matanya tampak membesar, dengan napasnya te-rasa kasar. Hatinya betul-betul panas dan marah. Namun begitu, dia berusaha menenangkan diri.

"Gusti Prabu...!"

Prajurit bertubuh kurus tadi sudah kembali bersama seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dan berpakaian biasa. Orang itu memberi hormat, lalu memperkenalkan diri.

"Nama hamba Sutaji. Hamba utusan Gusti Prabu Rangga Pati Permadi dari Kerajaan Karang Setra!"

"Aku telah baca surat rajamu. Dan rasanya permintaan itu wajar saja. Kami negeri yang cinta perdamaian. Oleh sebab itu katakan pada rajamu bahwa tuntutannya akan kupenuhi!"

"Kanjeng Gusti Prabu Rangga Pati Permadi pasti akan senang menerima berita ini, dan menghormati Paduka Yang Mulia. Lalu, kapan permintaan beliau dipenuhi?"

"Bila permintaan kami pun telah dipenuh pula."

"Apa gerangan permintaan Paduka?"

"Aku ingin pula adikku Ayu Larasati serta para prajurit lainnya yang baru saja ditangkap malam ini. Lepaskan mereka, dan pulangkan kembali ke Kerajaan Alas Karang!"

"Permintaan Paduka memang tidak setimpal. Namun hamba adalah utusan, sekaligus wakil Gusti Prabu Rangga Pati Permadi. Beliau mengizinkan hamba mengambil keputusan sendiri, bila dianggap tepat. Oleh sebab itu, hamba terima usul Paduka tadi. Sekarang juga, diperbatasan Kerajaan Karang Setra kita adakan tukar-menukar tawanan!"

"Sekarang juga? Apakah kalian membawa adikku Ayu Larasati serta para prajuritku?" tanya Bre Redana, agak terperanjat.

"Gusti Prabu Rangga Pati Permadi telah menyiapkannya. Beliau telah memperhitungan hal ini sebelumnya sehingga hamba tidak merasa kaget".

"Hm.... Rajamu orang yang pintar!"

"Hamba rasa tidak ada lagi yang hamba bawa, selain berita itu. Bila demikian, dan Paduka telah mencapai kata sepakat, maka hamba mohon diri!"

"Baiklah, Sutaji. Katakan pada rajamu. Aku menghargai keputusannya. Dan sampaikan pula salamku padanya, bahwa aku berhasrat menjalin persahabatan dengan Kerajaan Karang Setra!"

"Keinginan Paduka akan hamba sampaikan." Setelah berkata demikian, Sutaji segera mohon diri.

Sementara Bre Redana memberi isyarat dengan tepuk tangan dua kali, setelah utusan itu berlalu. Seorang prajurit masuk dan menyembah hormat.

"Hamba Kanjeng Gusti Prabu...!"

"Siapkan beberapa prajurit pilihan. Dan, pergilah kalian mengawasi perbatasan wilayah kita dengan Karang Setra. Awasi tempat itu dari tempat persembunyian. Kemudian, utus dua prajurit keruang tahanan dan bebaskan gadis bernama Pandan Wangi. Kawal dia dengan ketat!"

"Segala titah akan hamba kerjakan sebaik mungkin...!"

"Bagus! Ingat, jangan perlihatkan kehadiran kalian pada orang lain! Di sana ada prajurit Karang Setra!"

"Baik, Gusti Prabu."

"Nah, pergilah. Cepat laksanakan perintahku!"

Prajurit itu kembali menyembah hormat, lalu bergegas meninggalkan ruangan ini. Baru saja prajurit berlalu, Bre Redana bangkit menuju kamarnya. Pemuda itu tertegun memandang sebilah pedang yang tergantung di dinding ruangan kamarnya. Batangnya bagus dan berukir indah dengan warna keemasan. Demikian pula warangkanya yang agak melengkung.

Trap!

Sring!

Kedua tangan Bre Redana menggapai senjata itu. Tangan kanan mencengkeram gagang pedang, dan tangan kiri menggenggam warangkanya. Sejenak diamatinya dengan seksama. Lalu secepat kilat dicabutnya senjata itu. Seberkas cahaya merah menerpa mukanya yang terpancar dari batang pedang.

Bre Redana menyeringai. Dan bias wajahnya nampak menggiriskan. Kemudian pedang itu kembali disarungkan, lalu bergegas keluar kamar dengan langkah lebar. Pedangnya terus tergenggam ditangan kiri.

*******************

DUA

Malam ini sebenarnya suasana tampak pekat Awan tampak menggumpal di angkasa, menghalangi cahaya bulan. Namun begitu di padang penuh rumput yang merupakan wilayah perbatasa Kerajaan Karang Setra kelihatan terang benderang. Dalam kilatan nyala obor-obor yang dibawa, tampak lebih dari tiga puluh penunggang kuda berbaris rapi.

Sementara dikejauhan, tepat dihadapan tiga puluh penunggang kuda itu terlihat cahaya serupa. Perlahan-lahan cahaya itu bergerak mendekati. Dan pada jarak pandang, terlihat sejumlah pasukan berkuda yang cukup banyak dengan obor sebagai penerangan.

Pasukan berkuda yang baru datang itu berhenti pada jarak lima belas langkah. Kemudian dari barisan berkuda itu, seorang pemuda yang berada di barisan depan melangkahkan kudanya beberapa tindak ke depan. Matanya menatap ke depan, tepat ke sepasang mata seorang pemuda berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung.

"Kaukah Rangga Pati Permadi, Raja Karang Setra?" tanya pemuda beralis kuning itu. Entah kenapa pemuda beralis kuning itu menduga demikian. Padahal orang yang diajaknya bicara berpakaian sebagaimana layaknya orang-orang persilatan.

Sementara pemuda berbaju rompi putih yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti tersenyum dingin. Bahkan sorot matanya seperti berusaha menentang tatapan tajam pemuda beralis kuning itu. Memang setelah menjalani pengobatan sekian lama, Pendekar Rajawali Sakti telah sembuh kembali. Dan luka-lukanya didapat setelah diserang pasukan Alis Kuning itu, beberapa waktu lalu.

"Aku mewakili Raja Karang Setra!" sahut Rangga lantang.

"Kalau demikian, panggillah rajamu. Sebab, aku hanya berurusan dengannya!" ujar pemuda beralis kuning.

"Kaukah Bre Redana?" tanya Rangga, tanpa memperdulikan kata-kata lawan bicaranya.

"Benar. Aku Bre Redana, penguasa Kerajaan Alas Karang!"

"Kalau begitu, aku pun hanya berurusan dengan Bre Redana yang telah menawan seorang rakyat Karang Setra. Tiada kesalahan yang diperbuat dan tidak ada urusan dengan kalian. Lantas, kenapa kalian menangkapnya?" balas Rangga, kalem.

Mendengar kata-kata lawan bicaranya, sadarlah pemuda beralis kuning yang ternyata Bre Redana bahwa yang dihadapi adalah Raja Karang Setra.

"Kisanak! Pertemuan ini atas undanganmu. Dan, dengan maksud baik pula aku datang. Maka langsung saja pada tujuan semula," sahut Bre Redana, seraya memberi isyarat pada salah seorang prajuritnya.

Tidak berapa lama, dua prajurit beralis kuning maju kedepan, bersama seorang gadis berbaju biru yang kedua tangannya terikat ke belakang.

"Ini tawanan yang kau inginkan! Perlihatkan tawanan kalian...!" pinta Bre Redana, agak keras.

Rangga kemudian memberi isyarat pula. Dan tidak berapa lama, lima prajurit maju kedepan bersama seorang gadis berbaju kuning yang berjalan bebas tanpa terikat di kedua tangannya.

"Kau lihat? Aku memperlakukan tawanan dengan cara lebih bijaksana!" kata Rangga, menyindir.

Bre Redana betul-betul tersindir. Maka buru-buru prajuritnya disuruh melepas ikatan gadis berbaju biru yang tak lain Pandan Wangi.

"Mana tawanan yang lain?" tanya pemuda beralis kuning itu mengalihkan perhatian.

"Akan dibebaskan setelah gadis itu kau lepaskan!" sahut Rangga mantap.

"Hm.... Kau meragukan kepercayaanku...?!" desis Bre Redana sinis.

"Aku tidak pernah percaya pada orang yang tak kukenal. Apalagi telah memperlihatkan kelicikannya!" tandas Rangga.

"Kisanak! Melalui utusanmu, kau telah berjanji akan mengembalikan semua orangku yang kau tahan...!" Bre Redana mengingatkan.

"Bebaskan gadis itu. Dan, gadis ini sebagai gantinya! Kemudian, baru kita bicarakan tentang tawanan berikutnya" sahut Rangga menegaskan.

Bre Redana berpikir beberapa saat, kemudian tersenyum. "Hm.... Gadis ini amat berarti bagimu, bukan?"

"Apakah menurutmu gadis ini tidak berarti pula bagimu?" tunjuk Rangga pada gadis yang berada dekatnya.

"Huh! Aku tidak ada urusan apa-apa dengannya! Bila kau menghendaki gadis ini, maka bebaskan semua prajuritku yang kau tahan. Atau.., kita boleh kembali ketempat masing-masing tanpa membawa hasil!" ancam Bre Redana sambil menyeringai sinis.

Kali ini Rangga yang terdiam. Persoalan ini telah menyangkut masalah umum serta kepentingan rakyat. Dia telah menahan lebih dari lima puluh prajurit lawan. Ditambah, seorang tawanan yang amat berharga. Yaitu, adik perempuan Bre Redana. Dan itu harus diganti oleh seorang tawanan? Apakah kepentingan Pandan Wangi termasuk urusan kerajaan? Bukankah gadis itu hanya punya hubungan secara pribadi dengannya?

"Bre Redana. Jika demikian keputusanmu, maka hanya satu kata yang bisa kujawab. Yaitu, perang!"

Bre Redana terdiam. Demikian pula yang lainnya. Kata terakhir yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti menyentak perhatian. Bahkan membuat detak jantung mereka yang ada di tempat ini berdenyut kencang. Kedua belah pihak merasa tegang. Semua menunggu jawaban dari pemuda beralis kuning bernama Bre Redana yang masih diam seribu bahasa.

Mungkin saja Bre Redana punya banyak pasukan terlatih. Dan mungkin saja si Pendekar Rajawali Sakti yang menjadi lawannya nanti, tengah terluka. Sehingga mudah baginya untuk menundukkannya. Namun Bre Redana agaknya punya pikiran panjang dan tidak mau diburu nafsu amarah. Dia tahu, pertemuan yang diadakan sekarang juga, atas usul Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga hatinya merasa yakin kalau mereka telah merencanakan sebaik mungkin segala sesuatunya. Maka tak heran kalau pemuda berpakaian rompi putih itu berani mengambil keputusan untuk berperang.

"Baiklah, kukira itu harga yang pantas. Kita akan saling tukar-menukar tawanan," sahut Bre Redana seraya memberi isyarat kepada dua prajurit.

"Kakang! Kenapa tidak sekalian mereka dibebaskan saja? Huh! Orang-orang seperti mereka tidak bisa dibiarkan!" dengus Pandan Wangi setelah tukar-menukar tawanan berlangsung. Dan dia kini telah berada diatas punggung seekor kuda putih yang dibawa seorang prajurit.

"Tenanglah, Pandan. Aku akan mengurus persoalan ini sebaik-baiknya...," sahut Rangga, kalem.

Pandan Wangi yang dikenal berjuluk si Kipas Maut hanya mendengus sinis. Sorot matanya tajam kedepan. Dan tampak sinar kebencian menyorot kearah Bre Redana.

"Sekarang, bagaimana nasib para prajuritku yang kalian tawan?" tanya Bre Redana.

"Mereka adalah penyusup yang masuk wilayah Karang Setra tanpa izin. Dan itu adalah pelanggaran. Karang Setra punya aturan sendiri bagi mereka!" sahut Rangga tegas.

Bre Redana menarik napas panjang. "Sebenarnya Kerajaan Alas Karang ingin hidup berdampingan dengan damai bersama dua kerajaan besar yang menjadi tetangganya...."

Nada bicara pemuda beralis kuning itu tampak lirih, seperti mengandung penyesalan atas apa yang telah terjadi. Namun begitu, Rangga masih belum memberi jawaban sambil mendengarkan dengan seksama.

"Kami bermaksud menjalin persahabatan. Namun, ternyata kedua belah pihak telah salah paham, sehingga timbul percikan-percikan kecil. Itu amat kusesalkan. Sudah jelas para prajuritku hanya sekadar mempertahankan diri bila diusik...," lanjut Bre Redana.

"Kisanak! Bila seseorang punya maksud baik, maka dia akan menggunakan cara yang baik pula. Namun apa yang kau katakan jauh dari kenyataan. Aku tidak tahu, apa yang kau lakukan terhadap Kerajaan Swandana. Namun pada Karang Setra, aku tahu! Tidak usah bersandiwara lagi. Kau menghasut rakyat di perbatasan dengan bujuk rayu dan harta agar terpikat. Dan dengan liciknya, mereka digiring untuk mengakui kedaulatan kerajaanmu!"

"Sobat! Tuduhanmu tidak beralasan sama sekali. Tanyakan saja pada mereka, bahwa niat kami baik. Kami sama sekali tidak bermaksud merebut wilayah itu dari Karang Setra!" tangkis Bre Redana.

"Tidak perlu berpura-pura. Prajurit-prajuritmu sendiri telah mengakui, bahwa mereka mengumpulkan tiap laki-laki dari desa-desa untuk dijadikan prajuritmu dengan gaji besar. Apalagi kalau bukan menghasut?" cecar Rangga.

"Persoalan ini akan panjang tanpa titik temu diantara kita. Sebabnya hanya satu. Yaitu, kesalah pahaman. Namun sebagai orang yang berpandangan luas, aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Biarlah ini menjadi pelajaran baik untuk kita berdua. Kisanak, kami pamit mundur!" kata Bre Redana, berusaha menutupi kesalahannya dengan berdalih salah paham.

Tanpa banyak berkata-kata lagi, pemuda beralis kuning itu memberi isyarat pada pasukannya untuk segera mundur dari tempat itu.

Sementara, Rangga memperhatikan mereka dan belum memberi isyarat pada prajuritnya untuk meninggalkan tempat. Barulah setelah merasa yakin kalau prajurit-prajurit dari Kerajaan Alas Karang telah meninggalkan tempat ini, Pendekar Rajawali Sakti memerintahkan pasukannya untuk mundur. Sementara dia sendiri masih ditempat sambil mngawasi prajurit-prajurit dari belakang.

"Kakang! Kenapa kau diam saja? Mereka telah menawanku dan memperlakukanku tidak adil! Orang seperti mereka seharusnya diperangi!" gerutu Pandan Wangi. Si Kipas Maut kelihatan kesal sekali terhadap sikap Rangga. Yang dinilai lemah dan tidak segera bertindak.

"Apakah mereka menyiksamu..?" tanya Rangga.

"Tidak!"

"Berbuat tidak senonoh terhadap dirimu?"

"Tidak juga!"

"Kalau begitu, kita belum perlu memeranginya. Tidakkah kau sadari bahwa perang selalu merugikan banyak orang?"

"Lalu kenapa Kakang tadi menawarkan perang?"

"Aku tidak sudi dia menekanku!"

"Hm.... Jadi bila dia menyambut tantanganmu, maka kau rela membiarkan aku dibawa kembali? Kau rela membiarkan aku kembali ditawan mereka Kakang?"

Rangga tidak menjawab. Tidak juga menoleh Pandangannya lurus kedepan mengawasi para prajurit Karang Setra.

"Kakang, kau belum menjawab pertanyaan ku...?" tagih Pandan Wangi.

Rangga memandang Pandan Wangi, lalu menarik napas panjang. "Apakah kau kira aku akan mencampurkan urusan kerajaan dengan perasaan pribadi? Bila urusan ini menyangkut kerajaan, maka aku berbuat demi kepentingan negara. Tapi bila urusan menyangkut pribadi, maka aku tidak bisa menyertakan persoalan kerajaan didalamnya. Bisakah kau mengerti, Pandan?"

Pandan Wangi terdiam. Kepalanya langsung menoleh ke tempat lain, lalu menunduk. Dia seperti enggan menatap pemuda itu. Apalagi untuk menjawab pertanyaan tadi.

Rangga menghela napas pendek. Pandan Wangi memang agak keras kepala dan sedikit kekanak-kanakan. Dia selalu ingin diperhatikan dan ingin dinomor satukan, tanpa mempedulikan kalau Rangga pun mempunyai urusan lain yang lebih penting sebagai Raja Karang Setra.

*******************

Bre Redana saat ini lebih banyak berdiam diri. Dibiarkannya saja Ayu Larasati mengomel tak karuan. Gadis itu agaknya tidak suka melihat ke-lemahan kakaknya. Bahkan terus menyindir dengan kata-kata yang menusuk hati, sehingga lama kelamaan membuat pemuda beralis kuning itu panas juga.

"Apakah kau tidak bisa menutup mulutmu, Ayu? Kau ingin mereka melihat kita bertengkar...?" ujar pemuda itu seraya menunjuk para prajuritnya.

"Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Aku hanya ingin kau bisa bersikap tegas. Kau ditakdirkan sebagai pemimpin. Dan kau punya bakat untuk itu! Bukankah kau sendiri bilang kalau otakmu cerdas dan memiliki ilmu olah kanuragan hebat?! Mana bukti omonganmu itu? Apakah kau takut kepada mereka?!" sahut Ayu Larasati.

"Kalau bodoh, maka aku akan menyambut tantangan perang itu. Justru karena aku punya pikiran lain, maka hal itu tidak kulakukan. Tahukah kau bahwa semua ini kulakuan demi dirimu? Aku mengalah juga karena menyelamatkanmu. Dan inikah balasan yang kau berikan?" jelas Bre Redana tak mau kalah.

Ayu Larasati terdiam. Kata-kata kakaknya cukup pedas terdengar. Selama ini memang disadari bahwa Bre Redana memang sabar dan penuh perhitungan. Tapi hal yang tidak bisa diterimanya adalah, pemuda itu mundur dari tantangan perang yang diajukan lawan. Padahal dia tahu, Bre Redana memiliki ilmu olah kanuragan tinggi. Bahkan juga memiliki banyak prajurit hebat. Apa yang dipikirkannya? Ataukah dia takut?

"Jangan mengira aku pengecut, Ayu. Aku ingin menyelamatkan kita semua...," ujar pemuda itu lirih, seperti mengerti apa yang tengah dipikirkan adiknya.

Gadis itu masih diam, seperti tengah memikirkan apa yang dikatakan kakaknya tadi. "Apa rencana Kakang selanjutnya?"

Bre Redana tersenyum. Suara adiknya terdengar pelan, menandakan kemarahannya mulai reda.

"Aku akan menjalin kerjasama dengan kerajaan lain serta tokoh persilatan agar bergabung dengan kita. Paling tidak mereka mau menjadi sekutu kita...," kata Bre Redana, menjelaskan maksudnya.

"Dan Karang Setra?" tanya Ayu Larasati.

"Sementara ini biarkan saja. Aku tidak ingin mengusik-usiknya dulu..."

"Memang, kerajaan mereka besar dan prajuritnya banyak. Setiap hari mereka berlatih. Dan ku lihat para prajuritnya amat trampil," lanjut Ayu Larasati memuji.

"Kau tahu banyak seluk-beluk Istana Karang Setra?" tanya Bre Redana dengan wajah cerah.

"Tidak, Kakang...."

Wajah Bre Redana yang semula cerah, kembali buram mendengar jawaban itu. "Apakah akalmu tumpul selama di sana? Padahal, kau bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengetahui kelemahan mereka...," Bre Redana seperti menyesalkan adiknya.

"Aku tidak bisa bergerak bebas, Kakang. Mereka menempatkanku di ruangan terpisah. Entahlah. Sepertinya, bukan ruang khusus untuk para tahanan. Tapi, lebih mirip sebuah kaputren....?

"Hm.... Dan kau tidak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri?"

"Pernah. Tapi, percuma saja. Dua prajurit memergokiku. Dan prajurit lain berjaga di balik jendela. Aku berusaha menghajar mereka. Namun, seorang punggawa kerajaan berhasil melumpuhkanku. Dia hebat sekali, Kakang!"

Bre Redana hanya mendengus sinis mendengar cerita adiknya. Terlebih pada kata-kata terakhir itu. Agaknya, pemuda itu tidak suka mendengar cerita tentang kehebatan orang lain didepannya.

"Sudah! Tidak perlu kau memuji kehebatan orang didepanku!" tukas Bre Redana, membentak.

Gadis itu terdiam. Dan sesaat tiada percakapan di antara mereka.

"Bagaimana keadaanmu..?" tanya Bre Redana, berusaha menjalin pembicaraan. Pemuda itu sadar kalau baru saja membentak adiknya. Padahal selama ini hal itu belum pernah dilakukannya. Tidak heran kalau Ayu Larasati terkejut, dan langsung menunjukkan ketidak-senangannya dengan muka masam.

"Baik."

"Bagaimana mereka memperlakukanmu?"

"Baik..."

"Mereka tidak pernah menyiksamu?"

“Tidak."

Bre Redana menarik napas panjang. Disadari kalau adiknya masih merasa kesal atas sikapnya tadi. "Maaf, tadi aku sempat membentakmu. Aku hanya ingin kau menyadari kalau kita pun memiliki kepandaian yang tidak kalah dibanding mereka. Namun begitu, kita harus menggunakan akal. Tidak selamanya orang yang memiliki ilmu olah kanuragan tinggi bisa mencapai keinginannya, bila tidak disertai akal...," lanjut pemuda itu dengan nada lebih lembut.

Ayu Larasati masih diam. Namun kali ini kepalanya menoleh dan tersenyum manis. Itu sudah cukup sebagai pertanda kalau kekesalannya telah mencair.

"Kakang Joko Dentam telah tewas. Kita harus berkerja sama..."

"Iya...," sahut Ayu Larasati.

"Bagaimanapun kematiannya harus terbalas. Dia telah berbuat banyak untuk kita. Aku harus mendapatkan kepala si keparat bernama Rangga itu! Dia harus membayar kematian Kakang Joko Dentam!" dengus Bre Redana.

"Kakang telah mempersiapkan segalanya?"

"Telah kukirim beberapa utusan untuk mencari bantuan. Mereka pasti bersedia bila mendengar imbalan yang diberikan!"

"Kemana lagi kita harus mencari harta untuk membayar mereka...?"

"Kau lupa...? Bukankah di wilayah Tulung Wajak kaya akan emas yang akan mengalir ke tempat kita...!" sahut pemuda itu dengan wajah berseri.

"Tapi, Kakang... Apakah tidak berbahaya?"

"Apa maksudmu!"

"Tulang Wajak termasuk wilayah Kerajaan Swandana. Itu berarti Kakang mengadakan pertikaian lagi dengannya...."

"Mereka tidak akan tahu bila emas itu lari ke tempat kita...."

"Maksud Kakang...?" Wajah gadis itu termangu. Namun begitu agaknya dia seperti tahu apa yang dimaksud kakaknya.

"Ya! Akan kita gunakan segala cara untuk mendapatkannya! Bukan hanya disitu, tapi juga tempat-tempat lain. Maka dengan demikian, Kerajaan Alas Karang akan berkembang besar dalam waktu singkat. Apalagi, bila kedua penghalang telah kita singkirkan!"

"Siapa kedua orang penghalang yang Kakang maksudkan?"

"Siapa lagi kalau bukan Raja Karang Setra dan Raja Swandana! Setelah mereka tersingkir, maka Alas Karang akan berkembang dan menjadi sebuah kerajaan maha besar!" Wajah Bre Redana tampak cerah dan berseri-seri membayangkan impiannya akan terwujud

"Kakang! Sebaiknya hati-hati! Raja Karang Setra itu banyak akalnya. Lagi pula, dia mempunyai banyak sekutu di mana-mana. Orang segera mengetahui, siapa Pendekar Rajawali Sakti. Sebab, dia banyak membantu mereka yang tertindas. Maka bila kerajaannya berperang dengan kita, Kakang akan menghadapi lawan berat!" jelas Ayu Larasati, memperingatkan.

"Hal itu telah kupikirkan, Adikku! Namun aku telah menyusun siasat untuk menghancurkannya!" desis pemuda itu, mantap.

TIGA

Tong! Tong! Tong...!

"Maling! Maling...!"

Suara kentongan terdengar bertalu-talu ditingkahi teriakan beberapa orang.

"Eh, maling...?! Kejar! Itu dia...! Kejaaar...!" teriak seorang penduduk Desa Karang Suwung.

Bersamaan tiga orang penduduk lainnya yang tadi tengah duduk dan ngobrol-ngobrol diatas balai-balai, mereka langsung melompat mengejar setelah menyambar golok masing-masing.

"Itu dia! Itu dia...!" teriak seorang penduduk menunjuk ke arah selatan.

"Ayo kejar ramai-ramai! Kejaaar...!" Dalam waktu singkat Desa Karang Suwung menjadi gempar, ketika hampir semua penduduknya keluar mengejar seorang berbaju hitam yang dituding sebagai maling. Orang itu membawa sebuntal kain yang disampirkan di pundak. Muka nya tertutup kain hitam, dan hanya memperlihatkan sepasang mata yang bulat serta berkedip-kedip penuh ketakutan. Begitu keadaannya terpojok di samping salah satu rumah. Di kanan dan kirinya telah menunggu para penduduk desa dengan senjata masing-masing. Punggungnya dirapatkan ke tembok rumah.

Srak!

"Jangan coba-coba mendekat! Aku akan menyerah bila kepala desa ini yang datang! Kalau kalian coba-coba mengeroyok, maka akan ada nyawa melayang!" ancam maling itu.

"Kurang ajar! Dasar maling busuk! Kau kira bisa menakut-nakuti kami?! Ayo, rencah dia...! Habisi!" sambut seorang pemuda dengan wajah geram sambil mengayun-ayunkan goloknya.

"Mundur kau...! Jangan membahayakan orang lain...!"

Pemuda itu sendiri agaknya yang akan turun tangan, bila seorang lelaki tua bertubuh kecil tidak mencegahnya. Orang tua itu segera menangkap pergelangan tangan pemuda ini. Dan menelikungnya ke belakang. Sehingga, goloknya jatuh ke belakang.

"Aduh! Ampun, Ki Ranu! Ampuuun...!" ratap pemuda itu, tanpa mampu bergerak.

"Jangan libatkan yang lain. Dia bersenjata. Dan kalian bisa terluka. Ingat! Biar aku yang tangani maling ini!" ujar laki-laki tua yang tampaknya punya kepandaian juga.

"I... iya, Ki...!" sahut pemuda itu seraya mengangguk lemah.

Orang tua bernama Ki Ranu itu melepaskan dan pemuda ini hanya bisa meringis.

"Katamu akan menyerah bila kepala desa yang datang. Nah! Akulah orangnya. Berikan golokmu. Dan, serahkan dirimu...!" ujar Ki Ranu, yang ternyata Kepala Desa Karang Suwung ini.

"Apakah Kisanak bisa menjamin mereka tidak memukuliku...?" tanya maling bertopeng itu.

"Keselamatan kujamin selama kau tidak berbuat macam-macam!"

"Baiklah...." Perlahan-lahan orang bertopeng itu menyerahkan golok dalam genggamannya. Juga, buntalan yang dibawanya.

"Bukalah topengmu!" pinta Ki Ranu, tegas.

Untuk kedua kalinya, maling bertopeng itu mematuhinya. Sehingga penduduk desa ini bisa melihat wajah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun dan berkumis tipis. Bentuk mukanya segi empat, dengan kedua rahang menonjol.

"Aku kenal semua wargaku ini. Maka, aku bisa memastikan kalau kau bukan penduduk desa ini. Siapa namamu. Dan dari mana asalmu?" tanya Ki Ranu.

"Aku Katmani. Dari..., Karang Setra...," sahut maling bertopeng ini.

"Hm, Karang Setra? Ini peristiwa yang ketiga kalinya penduduk Karang Setra melakukan perampokan. Sebelumnya terjadi dua peristiwa yang sama di desa sebelah timur sana. He, apa yang menyebabkan kau menjarah desa ini? Tahukah kau bahwa ini wilayah Kerajaan Swandana?"

"Tahu... Dan ini kulakukan memang sengaja," jelas Katmani.

"Sengaja? Apa maksudmu?!" Ki Ranu terkejut dengan alis bertaut.

"Beberapa punggawa istana yang menyuruh kami melakukan perampokan diwilayah Kerajaan Swandana... "

"Huh! Bicaramu melantur! Mana mungkin! Buat apa mereka menyuruh kalian menjadi maling? Apa Karang Setra sedemikian miskin?!"

"Kalian boleh percaya atau tidak. Tapi, begitulah hal yang sebenarnya. Karang Setra butuh harta banyak untuk membiayai peperangan dengan Kerajaan Alas Karang."

Kepala Desa Karang Suwung itu tertegun. Dahinya berkerut dan wajahnya tampak ragu mendengar penuturan Katmani. Begitu juga para penduduk desa yang ikut mendengarkan.

Penduduk Kerajaan Karang Setra mungkin saja tidak semuanya kaya. Namun begitu, mereka tidak pernah kekurangan. Rakyatnya selama ini hidup tenteram dan damai.

"Bawa maling ini kekadipaten. Dan, serahkan pada Gusti Adipati!" perintah Ki Ranu.

Setelah berkata begitu, Kepala Desa Karang Suwung ini bergegas mengikuti dua pemuda yang membawa maling itu.

Kebanyakan penduduk desa itu merasa heran dan tidak percaya. Tapi belakangan ini memang terdengar berita tentang pencurian-pencurian yang sering terjadi. Di antara mereka yang tertangkap selalu berasal dari Karang Setra, dan mengaku menjadi orang suruhan Istana Karang Setra. Tentu saja hal itu meresahkan. Bahkan, membuat sebagian masyarakat menjadi bingung. Ada yang percaya, dan ada pula yang tidak!

*******************

Desa Karang Suwung kembali dikejutkan oleh seorang gadis yang berjalan terseok-seok dari arah pinggiran hutan. Beberapa penduduk coba menegur dan bertanya. Namun, gadis itu tetap menangis terisak tanpa menjawab sepatah kata pun. Dan para penduduk itu saling bertanya satu sama lain, ketika gadis ini sudah menghilang ditelan ambang pintu rumahnya.

"Ada apa, Minah? Tidak biasanya kau pulang dari sungai menangis?" tanya ibu gadis yang di panggil Minah, ketika mereka berada di kamar. Se mentara Minah hanya menelungkupkan muka ditempat tidur. Belum juga Minah memberi jawaban, mendadak...

"Ada mayat didekat Sungai Sengat! Ada mayat...!

Terdengar teriakan seorang penduduk dari luar. Dan ini membuat Minah makin memperhebat tangisnya. Sementara ibunya makin bingung, tak tahu harus berbuat apa.

Sedangkan di luar sana, beberapa penduduk sudah keluar dari rumahnya, bermaksud menanyai tentang kejadian pada seorang pemuda yang membawa berita.

"Eee, Jaka! Mayat siapa?" tanya seseorang.

"Kelihatannya mayat si Rista."

"Si Rista...?!"

"Astaga! Siapa yang begitu keji membunuhnya?!" seru yang lain.

Dan para penduduk segera beramai-ramai menuju ke rumah Aminah yang tadi tampak berlari-lari sambil menangis. Agaknya kematian Rista langsung dihubungkan dengan kejadian tadi. Tapi belum lagi mereka bergerak, di tempat lain orang-orang juga tengah merubungi seorang gadis penduduk desa ini. Tampaknya, ada berita lain yang dibawa gadis itu.

"Apa betul yang kau katakan itu, Lastri?" tanya seorang laki-laki setengah baya yang ikut merubungi.

"Kami lihat sendiri Rista dibunuh orang, karena mencoba menolong Minah yang hendak diperkosa oleh seorang pemuda! Kalian boleh tanya yang lainnya!" tunjuk gadis bernama Lastri pada beberapa orang gadis yang berdiri di dekatnya.

Gadis-gadis itu memang kawan sepermainan Minah. Dan acapkali, mereka pergi mencuci di sungai bersama-sama. Sehingga keterangan yang katakannya tadi membuat mereka yang mendengarkan lebih percaya.

"Minah diperkosa seorang pemuda? Siapa dan, dari kampung mana...?" tanya seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun dengan suara pelan.

Agaknya laki-laki itu terlambat mendengar, hanya mendengar samar-samar. Namun belum lagi pertanyaan itu terjawab....

"Itu.. . itu dia!"

Tiba-tiba, seorang gadis desa ini yang tadi pergi bersama Minah menunjuk kesatu arah.

"He? Apa yang kau katakan, Ijah?" tanya orang penduduk dengan wajah heran.

"Itu pemuda yang memperkosa Minah!" tegas Ijah.

"Kau yakin?"

"Yakin sekali!"

Melihat orang yang ditunjuk, para penduduk, Karang Suwung langsung mengepung seorang pemuda yang diduga telah rnemperkosa Minah. Senjata mereka telah terhunus, dan siap merancah pemuda itu.

"Bunuh dia! Bunuuuh...!" teriak seseorang memberi isyarat.

Beberapa penduduk langsung bergerak dan menyerang pemuda yang sedang menunggang kuda coklat, tepat ditengah-tengah desa.

"Heaaat...!"

"Huh!" Pemuda itu mendengus sinis, tanpa merasa gentar sedikit pun. Seketika pedangnya dicabut, lalu melompat dengan satu gerakan indah. Begitu tubuhnya meluruk turun, langsung dipapaknya sambaran para penduduk Desa Karang Suwung ini.

Trang! Trang! Bret!

"Aaa...!" Saat itu juga terdengar pekikan setinggi langit. Beberapa orang desa yang tadi berada paling depan kontan terjungkal kebelakang. Senjata mereka terpental dan patah tersambar pedang pemuda itu. Di dada serta leher mereka terlihat sayatan lebar yang mengucurkan darah segar. Empat penduduk desa ambruk dan tewas seketika.

"Heh...?!"

Sementara orang-orang yang masih selamat terkesiap dan bergerak mundur. Mereka meman dang dengan sorot mata tak percaya. Dalam sekali gebrak saja, pemuda itu telah membunuh empat orang!

"Huh! Orang-orang tolol! Kalian kira bisa berbuat apa padaku?! Dengus pemuda itu dengan wajah sinis.

"Kau baru saja memperkosa seorang gadis penduduk desa ini, bukan?!" dengus salah seorang penduduk bertanya lantang.

"Aku berbuat apa saja yang kusuka. Dan, persetan dengan orang lain!" sahut pemuda itu.

"Bangsat terkutuk! Kau akan menerima hukuman setimpal atas perbuatanmu!" bentak orang lelaki berusia empat puluh tahun.

Para penduduk Karang Suwung mengenal laki-laki itu sebagai Ki Tambak. Dia dikenal karena kepandaiannya yang hebat. Sehingga, tidak heran kalau Ki Tambak dihormati penduduk desa ini.

"Orang tua dungu! Jangan ikut campur urusan orang! Enyahlah sebelum kupotes lehermu!" ujar pemuda itu, mengancam.

Ki Tambak hanya mendengus sinis. Dan tanpa berkata-kata lagi, goloknya langsung dicabut.

Sret!

"Hih!" Dengan satu lompatan manis, Ki Tambak menyerang. Goloknya berkelebatan dengan gerakan cepat. Namun di luar dugaan, pemuda itu mampu menghindar dengan satu egosan gesit, seraya menangkis.

Trak!

“Uhhh...!" Ki Tambak terkesiap. Baru disadari kalau pemuda itu sangat berisi. Buktinya saat adu benturan senjata tadi, tenaga dalamnya kalah setingkat. Dan ini tergambar jelas dari wajahnya yang menyeringai kesakitan. Bahkan kini senjata pemuda bergerak cepat menyambar pinggangnya.

"Uh, sial!" desis Ki Tambak, setelah mundur dua langkah. Nyaris saja, pinggangnya termakan senjata pemuda itu.

Sementara pemuda itu seperti tak memberi kesempatan sedikit pun pada Ki Tambak. Pedang di tangannya terus berkelebat. Karena untuk menghindar sudah tak mungkin, maka sebisa-bisanya Ki Tambak memapak tebasan pedang yang mengarah dadanya.

Tak!

"Heh?!" Orang tua ini terkejut setengah mati melihat golok di tangannya patah jadi dua tersambar pedang pemuda itu, potongannya entah terpental kemana. Dan belum juga rasa terkejutnya hilang, kembali datang serangan ujung pedang yang mengincar kedua kakinya. Begitu cepat gerakan pemuda itu, sehingga...

Cras!

"Aaa...!" Ki Tambak kontan memekik keras begitu kedua kakinya putus sebatas lutut dan mengucurkan darah segar. Orang tua itu langsung terguling ke kiri. Dan baru saja tubuhnya menyentuh tanah, pedang pemuda itu lebih cepat mengikuti. Kemudian...

Blesss!

"Hugkh...!" Ki Tambak mengeluh tertahan begitu pedang pemuda itu menembus dadanya. Kedua biji matanya seperti hendak melompat keluar. Wajahnya berkerut. Dan dari mulutnya meleleh darah segar. Untuk sesaat orang tua itu mengejang, lalu dia tak bergerak lagi.

Sementara pemuda itu mendengus sinis sambil mencabut pedangnya dan memandangi Ki Tambak yang tidak berkutik lagi. Dan ini membuat nyali penduduk desa jadi ciut. Bila Ki Tambak yang dianggap hebat kini binasa di tangan pemuda itu, lalu apalagi yang bisa mereka lakukan?

"Ada lagi di antara kalian yang ingin menyusul tua bangka ini? Ayo majulah! Biar kukirim ke akherat secepatnya!" tantang pemuda itu lantang.

Semula para pemuda desa ini benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Namun salah seorang yang bertubuh kecil dan berbadan tegap memberanikan diri.

"Tidakkah kalian malu? Lihat! Dia memperkosa Minah, membunuh Rista, lalu berani datang ke sini serta membunuh beberapa penduduk lainnya. Sekarang dia berkoar lantang. Orang ini binatang! Dia sungguh biadab dan tidak tahu malu! Apakah kita akan diam saja?! Tangkap dia. Dan, bunuh sekaligus! Kenapa kita mesti takut?! Jumlah kita banyak. Sedang dia hanya seorang diri!"

"Betul! Bunuh orang celaka ini...!" sambut beberapa orang bersemangat sambil mengepalkan tangan ke langit.

Penduduk lain tergugah. Dalam sekejap mata, lebih dari tujuh pemuda desa ini langsung menyerang pemuda itu dengan amarah meluap.

"Bunuh keparat ini...!"

"Habisi...!"

"Yeaaa...!"

Melihat keroyokan ini tidak terlihat sedikit rasa takut di wajah pemuda itu. Dia malah tersenyum sinis. Lalu saat serangan para pemuda desa tiba, dia melompat ke atas sambil mengibaskan pedang.

"Hih!"

Trang! Bret!

"Aaa...!" Saat itu juga kembali terdengar pekik setinggi langit. Tiga orang pemuda langsung menggelepar tak bernyawa dengan leher nyaris putus disambar

pedang pemuda asing itu. Dan dua lainnya yang tak jauh dari situ juga terjungkal terkena tendangan. Sementara pemuda asing itu tidak berhenti sampai di situ. Tubuhnya kembali berkelebat cepat menyerang empat pemuda desa yang tersisa.

Trak! Bret!

"Aaa...!" Empat orang itu menjerit keras, langsung roboh bermandikan darah dengan luka sayatan lebar menguak di dada. Ini membuat yang lainnya mengkeret dan perlahan-lahan mundur teratur. Nyali mereka betul-betul ciut, setelah melihat sepak terjang pemuda asing itu.

"Ada lagi yang mau mampus? Ayo, cepat maju!" bentak pemuda asing itu seraya memandang tajam ke arah penduduk desa ini satu persatu.

Tak terdengar jawaban. Malah tak seorang pun yang berani balas memandang tatapan mata pemuda itu.

"Huh!" Pemuda itu mendengus sinis, lalu melompat ke punggung kudanya.

"Kerbau-kerbau dungu! Kalian kira bisa berbuat apa terhadap Pendekar Rajawali Sakti!" lanjut pemuda asing itu mendesis geram, lalu menggebah kudanya. Dan hewan itu pun berlari kencang, meninggalkan debu yang mengepul bergulung-gulung.

Apa yang diucapkan pemuda itu membuat penduduk kaget bukan main. "Jadi, dia Pendekar Rajawali Sakti? Apa iya?!" desis seseorang tertegun bingung.

"Rasanya mustahil. Tapi, aku memang pernah lihat. Wajahnya mirip Pendekar Rajawali Sakti!" Sahut yang lain membenarkan.

"Mana mungkin! Pendekar Rajawali Sakti seorang pendekar terpuji. Dia tidak mungkin melakukan perbuatan biadab seperti ini!" bantah seorang lainnya.

"Dia sendiri telah mengakui. Dan di samping itu, aku sendiri memang pernah melihat Pendekar Rajawali Sakti sebelumnya. Pemuda tadi memang dia!"

EMPAT

"Bayangkan, Pandan? Orang-orang persilatan kini mengenal Pendekar Rajawali Sakti sebagai pembunuh, dan pemerkosa! Apa kau kira aku bisa tenang mendengar itu semua? Orang-orang berpaling begitu melihatku, bahkan meludah penuh kebencian!"

Berita terakhir yang terdengar memang telah menyudutkan Pendekar Rajawali Sakti yang mau tak mau terbakar amarahnya. Betapa tidak? Rangga telah dituduh sebagai pembunuh dan pemerkosa. Kabar itu memang cepat tersebar. Apalagi, bagi orang-orang golongan hitam yang memang mebenci Pendekar Rajawali Sakti. Mereka sengaja meniupkan berita itu dikedai-kedai yang ramai sehingga membuat nama Pendekar Rajawali Sakti kini ramai dibicarakan. Tentu saja ini membuat Rangga gusar. Bukan saja sekali atau dua kali didengarnya tapi berkali-kali.

Barangkali Rangga masih bersyukur, karena masih ada Pandan Wangi yang sangat mempercayainya. Jelas, kekasihnya sedang difitnah habis-habisan. Gadis itu amat tabah dan selalu mendampinginya untuk meredakan amarah Pendekar Rajawali Sakti yang selalu berkobar-kobar setiap kali mendengar berita tentang keburukan itu.

"Kakang Rangga, tenanglah...! Jangan turuti Amarah dalam dirimu. Kemarahan tidak menyelesaikan persoalan. Cobalah berpikir tenang. Mudah-mudahan kita bisa menemukan cara penyelesaian terbaik...!"

"Akan kucekik orangnya! Itulah jalan keluar terbaik!" sahut Rangga bersungut-sungut.

Pandan Wangi menarik napas panjang. Dia kehabisan akal untuk menenangkan kekasihnya itu. Amarah Rangga kelewat meledak-ledak dan sulit diredakan.

Kini sepasang pendekar dari Karang Setra itu memang tengah dalam perjalanan, untuk mencari orang yang telah memfitnah Pendekar Rajawali Sakti. Rangga memang bertekad mencari orang itu, dan membuktikan kalau dirinya bersih. Terutama dihadapan tokoh-tokoh golongan putih.

"Kakang! Apa tidak mungkin kalau ini perbuatan si keparat itu?"

Tiba-tiba si Kipas Maut teringat sesuatu. Rangga tertegun langsung dipandangnya Pandan Wangi sejurus lamanya. "Siapa yang kau maksud?"

"Siapa lagi kalau bukan raja busuk itu!"

"Bre Redana? Hm...," gumam Rangga.

"Dia pasti dendam padamu!" tambah Pandan Wangi.

Wajah gadis ini memang selalu kesal bila membicarakan tokoh yang amat dibencinya.

"Bagaimana caranya dia melakukan semua itu?"

"Kenapa Kakang bingung? Bisa saja dia nyamar sebagai dirimu. Lalu, berbuat keji pada orang-orang, dan mengaku sebagai Pendekar Raja wali Sakti!"

Rangga kembali terdiam sambil merenungi kata-kata Pandan Wangi.

"Yang dibuat malu bukan hanya aku. Tapi, juga rakyat Karang Setra. Apakah mereka tidak merasakan?" kata Pendekar Rajawali Sakti.

"Apa maksud Kakang?"

"Bukankah cerita buruk itu juga mengenai rakyat Karang Setra? Pencurian serta perampokan diwilayah Kerajaan Swandana, kebanyakan dari mereka yang tertangkap selalu mengatakan dari Karang Setra."

"Untuk yang satu ini kita belum mempunyai bukti yang cukup, Kakang. Ada baiknya kalau kita selidiki bersama-sama."

"Aku akan mencari pelakunya sampai tuntas! desis pemuda itu kembali mengepalkan buku-buku jarinya.

Kini mereka terdiam beberapa saat. Dalam keadaan begitu, Pandan Wangi menyadari kalau gairah kekasihnya kembali bergelora. Amarah itu akan surut dengan sendirinya bila pemuda itu sudah bisa berpikir tenang.

Pada saat sepasang pendekar dari Karang Setra ini memasuki sebuah desa, terdengar sorak-sorai dari kejauhan. Mereka terkesiap dan segera waspada.

"Pencuri, Kakang! Agaknya ada pencuri yang tengah dikejar-kejar penduduk desa...!" desis Pandan Wangi.

Rangga mengangguk. "Mereka akan melalui jalan ini. Sebaiknya, kita bersembunyi untuk meringkus pencuri itu! Siapa tahu dia seorang dari mereka, yang memburuk-burukkan Karang Setra," ajak Rangga.

Pandan Wangi segera bergerak cepat menyelinap kebalik semak-semak. Sedang Rangga melompat kesalah satu cabang pohon yang persis beranda di atas jalan yang menurut perkiraannya akan dilalui pencuri yang tengah dikejar-kejar penduduk.

Perkiraan Rangga ternyata benar. Tidak lama, terlihat sesosok tubuh berlari kencang mendekati mereka. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Mukanya pucat dan berkeringat. Hela napasnya terdengar memburu.

"Hup!" Begitu orang itu melewati pohon, Pendekar Rajawali Sakti meluruk turun. Langsung disambarnya orang itu. Namun tanpa diduga orang itu malah berusaha melawan, meski sempat terkejut.

"Heh?!" Dua jari Pendekar Rajawali Sakti yang bermaksud menotok, ditangkisnya dengan sengit.

Plak!

Namun hal itu membuat Rangga yang tengah dilanda amarah ini semakin gusar saja. Kaki kirinya cepat diayunkan tepat menghantam perut maling itu.

Duk!

"Akh...!" Sang maling kontan terjerembab ke belakang disertai jerit kesakitan. Sebelum berhasil bangkit, Rangga telah berkelebat dan mengirim satu tendangan keras ke dadanya.

Desss!

"Akh...!" Orang ini kembali terjungkal sambil menjerit kesakitan. Dia berusaha bangkit, namun telapak kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti telah menindih lehernya.

"Jangan coba-coba kalau kau tak ingin celaka!" dengus Rangga geram.

"Oh... eh...!" Wajah orang itu pucat ketakutan. Sementara dua tangannya bergerak-gerak sebagai isyarat menyerah.

"Apa yang kau curi dari mereka?"

"Eh! Aku..., aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" sahut laki-laki berusia tiga puluh tahun bertubuh kurus itu.

Hampir saja Rangga menekan telapak kakinya mendengar jawaban yang tidak memuaskan hatinya. Namun saat itu juga, Pandan Wangi mendekat dan menepuk pundaknya. Dan Rangga hanya menarik napas panjang menahan amarahnya.

"Siapa namamu...?" tanya Rangga mengalihkan perhatian.

"Sembada...."

"Dari mana asalmu?"

"Karang Setra.... Akh...!" Kembali orang yang mengaku bernama Sembada menjerit keras ketika baru saja menyebutkan tempat asalnya. Ini amat menjengkelkan Rangga, sehingga langsung menekan telapak kakinya. Sembada yang berada dibawahnya kontan menggelepar seperti ayam dicekik.

"Kakang, hentikan! Kau bisa membunuhnya sebelum kita tahu siapa dia sebenarnya!" teriak Pandan Wangi, mencegah seraya menarik Rangga.

Rangga mendengus geram. Matanya nyalang memandang laki-laki yang seketika bangkit mengusap-usap lehernya yang tadi tercekik.

"Katakan yang jujur. Dari mana asalmu?!'

Sembada memandang heran pada Pendekar Rajawali Sakti. Kedua alisnya seperti hendak bertaut dan dahinya berkerut. "Kisanak! Apa salahku sehingga kau berniat membunuhku?"

"Kau maling busuk..!" desis Rangga geram.

Namun sebelum Sembada sempat berkilah lagi tempat itu telah dikerumuni lebih dari lima belas penduduk desa yang tadi mengejarnya dengan senjata terhunus. Tanpa mempedulikan kehadiran dua anak muda itu mereka langsung berteriak-teriak hendak membunuh Sembada.

"Hei, tunggu! Tunggu...!" teriak Sembada lantang. Namun suaranya tenggelam oleh kemarahan penduduk.

"Jangan dengar ocehannya! Bunuh dia...!” teriak seorang dari mereka, menimpali.

"Habisi maling tengik itu! Bunuh dia...!"

"Dengar! Aku memang maling. Tapi, itu bukan kehendakku! Mereka adalah majikanku! Merekalah yang menyuruhku. Pemuda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti...!" teriak Sembada, menggelegar.

"Heh?!" Teriakan itu benar-benar mengejutkan. Betapa tidak? Karena menurut yang mereka dengar Pendekar Rajawali Saktilah biang keladi tindak kejadian yang sedang hangat-hangatnya sekarang. Bukan hanya mereka, tapi juga bagi Rangga dan Pandan Wangi. Terlebih Rangga.

"Keparat! Bicara apa kau, he?!" maki Pendekar Rajawali Sakti, geram bukan main. Sepasang bola mata Rangga semakin nyalang penuh kebencian terhadap Sembada. Bahkan wajahnya berubah kelam. Dengan langkah gusar, dia berrmaksud mendekati dan menghajar laki-laki itu sampai babak belur. Tapi Sembada agaknya tahu gelagat. Dan akal bulusnya segera dilanjutkan.

"Lihat! Setelah kedoknya terbuka, kini dia hendak membunuhku. Kenapa kalian diam saja?! Kalau ingin mengadili seseorang, adili dia! Dia yang paling bertanggung jawab atas semua maling yang berasal dari Karang Setra...!" teriak Sembada.

Para penduduk tersentak. Mereka menggeram dan perlahan-lahan mendekati Rangga. Sinar mata yang garang dan penuh dendam ditujukan terhadap Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku yakin, ucapan maling busuk itu benar!" desis seseorang.

"Apa maksudmu?" sahut kawannya.

"Dia memang Pendekar Rajawali Sakti!"

"Huh! Peduli seorang pendekar sekalipun! Dia pembuat onar! Biang maksiat!"

"Bunuh dia!"

"Gantuuung...!"

Seperti diberi aba-aba, mereka segera melompat menyerang Rangga.

"Hei, tunggu! Apa-apaan ini! Dengarkan kataku! Ini fitnah!" teriak Rangga seraya melompat ke belakang.

"Tutup mulutmu! Tak ada gunanya mengoceh tak karuan!" bentak salah seorang penduduk.

"Kurang ajar! Gara-gara kalian dia lolos. Lihat Maling busuk itu melarikan diri! Kenapa kalian malah mempersoalkan aku?! Tangkap dia. Dan kita tanyai bersama-sama!"

Tapi percuma saja Rangga berteriak-teriak menyadarkan mereka. Orang-orang desa ini agaknya lebih mendendam kepadanya, ketimbang Sembada yang kini kabur.

"Dasar manusia-manusia picik! Tidak ada gunanya bicara dengan mereka, Kakang. Lebih baik kita hajar saja!" dengus Pandan Wangi, geram.

Si Kipas Maut langsung membuktikan kata-katanya. Sekali tubuhnya berkelebat dua pengeroyok kontan terjungkal ke belakang terkena tendangannya. Namun begitu yang lain seperti tidak takut. Bahkan malah semakin ganas menyerangnya.

"Perempuan iblis! Kau pasti gundiknya! Huh! Kau pun tidak lepas dari hukuman kami...!" teriak beberapa orang.

"Bunuh dia...!"

"Cincang...!"

"Heaaa...!" Pandan Wangi bukan orang sabar, dan juga bukan pengecut. Melihat dirinya dikeroyok sambil dimaki-maki, membuatnya semakin geram saja. Dengan serta-merta kipas baja yang terselip di pinggang dicabutnya.

"Kerbau-kerbau dungu, mulut kalian terlalu kotor! Dasar otak kerbau! Agaknya kalian mesti digebuk baru mengerti persoalan sebenarnya!"

Trak! Sret!

"Aaakh...!"

Kipas maut Pandan Wangi berkelebat menangkis senjata-senjata para pengeroyok, sekaligus menyerang. Beberapa orang menjerit kesakitan dan terhuyung-huyung kebelakang tersambar ujung kipas baja putih. Untung hanya bagian kulit dadanya.

"Ayo, ke sini! Biar cepat kutebas kepala kalian satu-persatu!" bentak Pandan Wangi, galak.

"Pandan, jangan keterlaluan! Mereka tidak tahu persoalan...!" teriak Rangga mengingatkan.

Pendekar Rajawali Sakti benar-benar prihatin melihat para penduduk desa yang hendak mengeroyoknya. Sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa, dan hanya termakan omongan palsu orang yang bernama Sembada tadi.

"Huh! Peduli amat! Kerbau-kerbau dungu ini membuatku sebal!" sentak gadis itu.

Sebelum para pengeroyok bergerak mendekati, Pandan Wangi telah lebih dulu menyerang. Namun tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh yang langsung memapak serangannya.

Trak!

"Heh...?!" Pandan Wangi tidak terlalu terkejut dengan adanya sosok yang mampu menangkis serangan nya. Hanya saja hal itu membuatnya semakin geram. Maka gadis itu seketika mengembangkan senjata, lalu menyerang sosok itu penuh nafsu.

"Heaaat..!"

Sosok yang baru datang adalah laki-laki berusia sekitar kurang dari empat puluh tahun. Bajunya kuning, bersenjata pedang. Rambutnya panjang dan dikuncir menjadi satu. Mukanya bersih dan sedikit tampan. Dan sepintas, seperti pemuda berusia di bawah dua puluh tujuh tahun. Meski begitu kepandaiannya cukup hebat. Terbukti, dia mampu menghindar dari setiap serangan si Kipas Maut Padahal Pandan Wangi tidak kepalang tanggung menyerangnya. Lebih hebat lagi, laki-laki itu malah mampu balas menyerang. Tentu saja hal ini membuat si Kipas Maut semakin kalap saja.

"Tidak perlu berkecil hati, Kipas Maut! Kau pendekar hebat. Hanya saja saat ini, kau berhubungan kelewat dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga mau tidak mau, aku terpaksa meringkusmu juga!" seru sosok berbaju kuning itu.

Pandan Wangi hanya mendengus sinis meladeninya. "Tidak usah sok pahlawan segala! Kau tidak tahu, apa yang kau lakukan...!"

"Semua orang tahu, bagaimana kau bisa berkata begitu? Sudah pasti karena ingin membela kekasihmu itu yang nyata-nyata bersalah!" kilah orang itu.

"Pandan Wangi, mundurlah! Biar dia berurusan denganku agar puas hatinya!" teriak Rangga.

Setelah berkata begitu Rangga langsung melompat ke hadapan laki-laki berkuncir itu. Tapi Pandan Wangi yang memiliki watak keras, mana mau menurut begitu saja.

"Orang ini harus diberi pelajaran agar tidak besar kepala!" dengus gadis itu berang.

Rangga terpaksa mengalah. Niatnya menghadapi laki-laki itu diurungkan. Sebab bila hal itu dilakukannya, sama artinya mengeroyok.

"Ha ha ha...! Kenapa diam? Apakah kau tidak jadi mengeroyokku, Pendekar Rajawali Sakti? Meski kalian maju bersamaan, tidak nantinya aku gentar!" teriak laki-laki itu mengejek.

"Aku tahu kau, Pendekar Gelang Putih. Tidak usah terlalu bernafsu. Kau tidak tahu persoalan yang sebenarnya!" ujar Rangga yang sepertinya mengenal laki-laki itu.

"Semua sudah jelas. Dan apa yang kulihat di sini semakin jelas. Apa lagi yang harus dijelaskan?" sahut laki-laki yang dipanggil Pendekar Gelang Putih.

Dalam keadaan begitu, Pendekar Gelang Putih masih mampu membagi perhatian. Sambil menghindar dari serangan-serangan Pandan Wangi, dia mengejek Rangga.

Sementara itu, para penduduk desa yang tadi mengeroyok Rangga dan Pandan Wangi kini terpaku. Mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Sebab, mereka tahu ada seseorang yang menangani kedua orang itu. Kalau berkeras hendak menangkap dan menghukum kedua anak muda itu jelas mereka tidak mampu. Bahkan hanya menambah korban belaka. Sementara Pendekar Gelang Putih mempunyai maksud sama. Artinya, dia berpihak kepada mereka. Jadi itu dianggap sama saja. Kini para penduduk itu hanya menonton pertarungan sambil menunggu kalau-kalau Pendekar Gelang Putih memerlukan bantuan.

"Sudahlah, Kakang! Tak ada gunanya bicara dengan orang bebal ini! Dia hanya mau gagah-gagahan belaka. Orang sepertinya memang harus diberi pelajaran agar matanya terbuka!" dengus Pandan Wangi, geram.

"Boleh saja kau berkata begitu untuk membela diri. Tapi, jangan harap pendirianku berubah! Aku kan tetap menangkap kalian dan menyerahkannya pada tokoh-tokoh persilatan untuk diadili!" sahut Pendekar Gelang Putih.

"Kau boleh coba bila mampu!"

"Ha ha ha...! Tentu saja akan kulakukan...!" sahut Pendekar Gelang Putih dengan tertawa mengejek.

Selesai berkata begitu, Pendekar Gelang Putih merubah serangan. Kali ini jurus-jurusnya begitu cepat dan penuh gerak tipu. Permainan pedangnya pun semakin hebat, terkadang membuat Pandan Wangi kelabakan.

Rangga menjadi was-was sendiri melihat keadaan itu. Hatinya khawatir Pandan Wangi cidera ditangan lawan. Maka dengan mengerahkan kemampuan Pendekar Rajawali Sakti bermaksud menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri. Tubuhnya langsung berkelebat cepat, menyambar Pandan Wangi. Namun, Pendekar Gelang Putih agaknya tidak mau membiarkannya begitu saja.

"Huh! Kau kira bisa berbuat gila didepanku!" dengus Pendekar Gelang Putih geram, seraya mengibaskan tangannya.

Set! Set!

Tiga buah gelang kecil keperakan meluncur deras menyambar Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi yang tengah mengapung di udara.

"Hih!"

Sring!

Rangga hanya mendengus pelan. Lalu secepat kilat dicabutnya Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Seketika selarik cahaya biru tajam menyambar gelang-gelang yang dilepaskan.

Tring! Tring!

Senjata rahasia itu kontan rontok, sedangkan Pendekar Gelang Putih masih termangu. Kalau saja saat itu tidak muncul sesosok bayangan yang menghadang arah Pendekar Rajawali Sakti, niscaya keduanya telah lenyap dari pandangan.

"Hiyaaat!"

LIMA

Pendekar Rajawali Sakti mau tak mau terpaksa memapak serangan sosok yang baru datang.

Plak!

Namun Rangga menggunakan tenaga pukulan tadi untuk melompat ke samping, karena sosok itu terus mencecarnya dengan satu tendangan menggeledek.

"Hup!"

Mantap sekati Rangga menjejakkan kakinya ditanah. Sementara, sosok yang baru datang tidak melanjutkan serangan. Sehingga bisa terlihat jelas siapa orang itu.

"Ki Satria Kendeng...!" desis Rangga.

"Syukurlah kau masih mengenaliku, Sobat..," sahut sosok yang ternyata orang tua berbaju hijau seraya tersenyum. Jenggotnya yang agak panjang dan telah memutih dielus-elus.

"Kakang! Biar kuhajar tua bangka ini jika berani mencampuri urusan orang lain!" sentak Pandan Wangi mendengus kesal.

"Pandan, sudahlah. Jangan turuti amarahmu. Kita harus menyelesaikan persoalan ini dengan pikiran tenang...," ujar Rangga mendesah lirih.

"Bagaimana bisa tenang bila semua orang menuduhmu berbuat jahat?! tandas Pandan Wangi dengan suara meninggi menandakan kekesalan yang kian memuncak.

Rangga tidak meladeni. Diberinya isyarat agar Pandan Wangi tidak membuat ulah lagi. Dan meski menahan kesal dengan wajah cemberut, namun Pandan Wangi patuh juga padanya.

"He he he...! Ternyata dalam keadaan apa pun, kalian masih sempat berkasih-kasih...!" ejek orang tua bernama Ki Satria Kendeng sambil tertawa mengejek.

"Kisanak! Tidak usah berbasa-basi. Apa kepentinganmu di sini?" tanya Rangga menegaskan.

"Hm.... Bila dulu kita bertemu, mungkin saja kepentinganku tidak ada. Tapi kini aku tidak bisa tinggal diam mendengar ulah yang kau buat, Pendekar Rajawali Sakti! Kau terlalu sombong dan merasa tidak terkalahkan. Sehingga kau kira, bisa berbuat seenak perutmu! Dan untuk itulah aku datang ke sini!" sahut Ki Satria Kendeng, tegas.

Terbukti sudah kabar burung bahwa Pendekar Rajawali Sakti kini berada di jalan sesat telah tersebar luas. Tokoh putih macam Ki Satria Kendeng, yang selama ini selalu mengagumi Pendekar Rajawali Sakti kini justru malah sebaliknya. Ini benar-benar membuat Rangga kesal bukan main. Dia bagai tersudut ditengah-tengah ujung tombak.

"Hm, sudah kuduga kalau fitnah murahan itu telah sampai di telingamu, Ki. Dan mungkin sikapmu sama seperti Pendekar Gelang Putih. Apakah kalian percaya begitu saja kalau aku telah berbuat demikian hina?" gumam Rangga, mencoba melihat sikap orang tua itu.

"Bila semua orang menuduh begitu, apa dikira mereka sepakat untuk berbohong dan menyudutkanmu?" sahut Ki Satria Kendeng tajam. "Kau dikenal sebagai pendekar berbudi luhur. Namun menjulang karena sepak terjangmu yang memerangi kejahatan dan ketidakadilan. Orang-orang menyukaimu dan mencintaimu. Lalu, apa kau kira mereka sepakat untuk memfitnahmu?!" timpal Pendekar Gelang Putih.

"Aku tidak bermaksud membela diri. Tapi jika percaya, saat ini aku tengah mencari orang-orang yang telah memfitnahku," balas Rangga, kalem.

"Bicaramu manis sekali. Tapi, jangan harap kami bisa dikelabui! Banyak orang yang telah melihat kelakuanmu. Dan mereka yakin, kaulah orang itu!" tuding Pendekar Gelang Putih.

"Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa yang kau katakan. Lagi pula apa urusanmu dalam soal ini?!" kali ini Pandan Wangi yang menyahuti dengan suara geram.

"Urusanku sama dengan urusan kekasihmu dulu! Setiap kejahatan harus dilenyapkan. Dan kekasihmu ini telah menjadi orang berbahaya. Kalau didiamkan saja, maka akan jatuh korban lebih banyak!"

"Omong kosong!"

"Nisanak, tidak perlu berdebat. Tak ada gunanya saat ini. Kalau kau hendak membela, maka kau sama bejatnya dengan kekasihmu!" selak Ki Satria Kendeng,

"Aku akan membela meski nyawa taruhannya. Dan kalian orang-orang picik. Jangan harap bisa memaksakan kehendakmu!" sahut Pandan Wangi lantang.

"Kalau begitu, sudah jelas. Maka jangan salahkan kalau kami bertindak keras. Pendekar Gelang Putih, kau boleh ringkus dia! Biar Pendekar Rajawali Sakti jadi bagianku!" ujar Ki Satria Kendeng.

"Baik, Ki!" sahut Pendekar Gelang Putih. Seketika Pendekar Gelang Putih langsung melompat mendekati Pandan Wangi.

"Huh! Kau kira aku takut menghadapimu? Ayo, maju! Tunjukkan kepandaianmu!" desis Pandan Wangi seraya melompat dan mencabut senjata kipas mautnya.

Sret!

"Yeaaa...!" Tanpa basa-basi lagi gadis itu langsung menyerang Pendekar Gelang Putih dengan sengit. Namun, laki-laki itu telah bersiap dengan pedangnya.

"Hiaaa...!"

Pertarungan tak dapat dielakkan lagi. Sementara Rangga tidak bisa mencegahnya. Sebab saat itu juga, Ki Satria Kendeng telah melompat menyerangnya.

"Kau boleh cabut pedangmu dan perlihatkan kehebatanmu selama ini!" ujar orang tua itu bernada dingin.

"Aku tidak ingin melukaimu, Ki. Juga, tidak ingin bertarung denganmu. Ini hanya fitnah. Dan kuharap kau bisa berpikir jernih...," Rangga masih juga mencoba.mencegah.

"Sudahlah. Tidak usah berbasa-basi lagi! Sebaiknya kau pertahankan saja dirimu. Dan aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke akherat!" tandas Ki Satria Kendeng, memotong pembicaraan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga sebenarnya masih berusaha menahan diri, dan selalu menghindari serangan-serangan. Bagaimanapun, Ki Satria Kendeng adalah tokoh tua yang disegani kalangan persilatan golongan putih. Dan terlebih dari itu, dia selalu memerangi tokoh-tokoh hitam tingkat tinggi. Rupanya orang tua ini juga termakan fitnah. Sedang keadaan Rangga saat ini amat sulit untuk menjelaskan persoalan sebenarnya.

Tapi Pendekar Rajawali Sakti juga tidak terus-menerus menghindar, sementara orang tua ini seperti berusaha membunuhnya. Kepandaian Ki Satria Kendeng cukup hebat. Dan bila Rangga tidak membalas, maka tokoh tua itu akan leluasa membangun serangan-serangannya. Bahkan bukan tidak mungkin dirinya akan celaka sendiri!

Kini Rangga tampak berusaha menghindar, ketika Ki Satria Kendeng melepaskan tendangan ke arah dada. Tubuhnya cepat melenting ke atas, lalu melesat menjauh. Tapi baru saja Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kaki, orang tua itu telah berkelebat melepaskan tendangan melayang. Dengan untung-untungan, Rangga menangkis.

Plak!

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti menangkis, kembali sebelah kaki Ki Satria Kendeng menyapu pahanya. Dan Rangga cepat menghindar dengan mengangkat kakinya yang menjadi sasaran ke atas. Dan tanpa diduga sama sekali, begitu tendangannya luput Ki Satria Kendeng memutar tubuhnya sambil melepaskan pukulan telak ke perut. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Des!

"Uhhh...!" Rangga mengeluh tertahan dengan tubuh terhuyung-huyung, begitu satu kibasan tangan Ki Satria Kendeng mendarat telak di perutnya. Dan sebelum Rangga bisa mengatur jalan napasnya, Ki satria Kendeng sudah menghentakkan tangan kanannya ke depan.

"Heaaa...!" Orang tua itu agaknya bermaksud membuktikan kata-katanya. Kini satu pukulan jarak jauhnya yang membawa sinar kekuningan disertai serangkuman angin menderu meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup!" Dengan sebisanya, Rangga bergulingan, sehingga pukulan luput beberapa rambut di sisinya.

Jderrr!

Sinar kuning itu terus melesat, menghajar sebuah batu besar yang seketika hancur berkeping-keping. Itu membuat para penduduk desa yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu, menjadi takjub dan mendecah kagum.

"Chiaaat...!" Kini Ki Satria Kendeng mencelat, mengirim tendangan ke arah kepala Rangga yang baru saja bangkit berdiri. Dan tidak seperti tadi, kali ini Rangga tetap berdiri tegak Baru ketika tendangan itu tiba, Pendekar Rajawali Sakti cepat mengibaskan tangannya yang telah teraliri tenaga dalam tak sepenuhnya.

Plak! Plak!

"Uhhh...!" Ki Satria Kendeng kontan terhuyung-huyung disertai keluhan tertahan, begitu kakinya menjejak tanah. Rupanya, tenaga dalamnya masih di bawah Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga waktu terjadi benturan, dia terpaksa menelan kenyataan pahit. Bahkan sebelum orang tua itu bersiap, Pendekar Rajawali Sakti telah merubah kakinya dengan serangan dari jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'

"Heup! Maaf, Ki. Aku tidak bermaksud kasar. Tapi, kau terlalu memaksaku. Tak ada jalan lain...! ucap Rangga, sambil melepaskan kibasan-kibasan tangan yang berbahaya.

"Sudah kukatakan, tidak usah berbasa-basi Toh, kau tahu maksudku. Melawan atau tidak, aku tetap akan meringkusmu. Bahkan kalau kau berkeras dan menyulitkan, aku tidak segan-segan membunuhmu!" balas Ki Satria Kendeng sambil terus menghindar.

"Aku punya cara sendiri untuk membersihkan namaku. Dan ternyata, kalian malah berusaha menyulitkan. Sekali lagi, maaf. Aku terpaksa harus melumpuhkanmu"

"Ha ha ha...! Kesombonganmu mulai terlihat. Kau kira demikian mudah melumpuhkanku? Ayo, lakukanlah!"

Rangga tidak menjawab. Begitu habis melepaskan satu kebutan tangannya, tubuhnya mencelat keatas. Lalu setelah membuat putaran beberapa kali, kemudian tubuhnya menukik tajam ke bawah dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa.

"Yeaaa...!"

Ki Satria Kendeng terkejut. Dengan sebisanya, dia menangkis kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Plak!

"Uhhh...!" Saat itu juga, Ki Satria Kendeng merasakan dorongan tenaga dalam kuat saat kedua telapak tangan membentur kepalan Pendekar Rajawali Sakti.

Dan Rangga tidak berhenti sampai di situ. Begitu mendarat di tanah, sebelah kakinya menyambar ke leher. Kembali orang tua itu tersentak kaget. Kalau saja tidak cepat melompat kebelakang, mungkin kepalanya akan menggelinding.

"Hiyaaat...!" Rangga terus mengejar dengan kedua kaki bergantian melayang menghajar Ki Satria Kendeng. Meski telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, tetap saja orang tua itu tidak mampu mengimbangi permainan jurus-jurus Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga keadaannya benar-benar terdesak.

Serangan yang bertubi-tubi, membuat Ki Satria Kendeng kalap. Dan dalam kemarahannya, seluruh kemampuannya segera dikerahkan.

"Aku akan mengadu jiwa denganmu, Pendekar Rajawali Sakti"

"Hm...!" Rangga menghentikan serangannya, ketika Satria Kendeng mencelat kebelakang untuk mengambil jarak. Dan baru saja kakinya menyentuh tanah, kedua telapak tangan Ki Satria Kendeng tahu-tahu menghentak. Saat itu juga dari telapaknya yang terbuka meluruk selarik sinar kuning berkilauan disertai deru angin tajam kearah Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga yang memang telah bersiap menghadapi serangan cepat melenting keatas dengan gerakan mengagumkan. Sehingga serangan itu luput.

Jgerrr!

"Uhhh...!" Pendekar Rajawali Sakti mengeluh tertahan begitu menjejak tanah. Meski berhasil menghindar, namun tak urung hawa panas dari serangan itu terasa menyengat. Rasanya seperti terpanggang di atas api yang menyala-nyala.

Rangga segera melirik ketanah, tempatnya berpijak tadi. Dan hatinya jadi tercekat, melihat lubang sebesar kubangan kerbau telah terkuak, akibat pukulan jarak jauh Ki Satria Kendeng yang dikenalinya bernama Kepalan Neraka. Pukulan itu memang tidak bisa dianggap enteng. Selain hebat, juga dikerahkan oleh tokoh yang memiliki tenaga dalam tinggi seperti Ki Satria Kendeng.

Bila saja tidak ingat kalau orang tua ini adalah tokoh golongan lurus, ingin rasanya Rangga membalasnya dengan aji 'Cakra Buana Sukma'. Tapi, itu akan berakibat kematian bagi Ki Satria Kendeng.

Dan Rangga harus menemukan cara untuk melumpuhkan orang tua ini. Biar bagaimanapun, dia harus menolong Pandan Wangi yang kini terdesak hebat, lalu pergi dari sini menghindari orang-orang yang dinilainya berpikiran pendek.

"Hiyaaat..!" Saat itu juga, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat mengerahkan jurus 'Seribu Rajawali'. Seketika tubuhnya berubah menjadi banyak. Sementara Ki Satria Kendeng jadi terkejut dengan kening berkerut. Terus terang, baru kali ini dia bertarung dengan Pendekar Rajawali Sakti. Jadi baru kali ini pula dia menghadapi jurus itu.

"Kurang ajar...!" Bukan main geramnya orang tua itu. Saat tubuh berputaran mengelilingi Ki Satria Kendeng, Pendekar Rajawali Sakti menghujaninya dengan batu sebesar kepalan tangan. Sementara Ki Satria Kendeng sendiri bingung, kemana pukulan pukulan 'Kepalan Neraka'nya harus diarahkan, karena lawan yang dihadapi berubah menjadi banyak.

Dan di tengah kesibukan orang tua itu, Pendekar Rajawali Sakti mendekat dan menyerang dengan gerakan cepat dari jarak dekat lewat satu tendangan menggeledek berisi tenaga dalam sempurna. Ki Satria Kendeng terkesiap, tanpa bisa nangkis.

Begkh!

"Hougkh...!" Ki Satria Kendeng kontan terjungkal kebelakang sambil mengeluh kesakitan, begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti mendarat telak di dadanya. Dari mulutnya tampak menyembur darah segar.

Tapi ternyata Rangga tidak mempedulikannya. Langsung tubuhnya berkelebat kearah Pandan Wangi yang saat itu tengah berhadapan dengan Pendekar Gelang Putih.

"Pandan, menyingkirlah...!" teriak Rangga.

Si Kipas Maut terkesiap. Namun sebaliknya Pendekar Gelang Putih menggunakan kesempatan itu untuk menghajar dengan pukulan jarak jauh. Masih untung Rangga bertindak cepat. Cepat didorongnya tubuh kekasihnya, sehingga pukulan jarak jauh yang dilepaskan Pendekar Gelang Putih luput dari sasaran.

"Pergilah lebih dulu. Dan, jangan membantah!'' bentak Rangga sengit.

Kembali Pandan Wangi terkejut mendengar bentakan itu. Hatinya mangkel, namun diturutinya perintah Rangga. Dengan serta merta, dia melompat ke punggung kudanya dan berlari secepat mungkin dari tempat itu.

Sementara penduduk desa yang melihatnya hanya bisa terpaku. Sedang Ki Satria Kendeng yang berusaha menghadang, terpaksa menyingkir karena Pendekar Rajawali Sakti telah menghentakkan tangannya melepaskan pukulan dari jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali.

"Hiiih...!" Pada saat yang bersamaan Pendekar Gelang Putih melepaskan senjata rahasianya untuk membokong Rangga dari belakang.

Sebagai pendekar yang telah banyak makan asam garam, Rangga sama sekali tak lenyap kewaspadaannya. Begitu terdengar desir halus dibelakang, Pendekar Rajawali Sakti mendengus sinis. Cepat digeser tubuhnya dengan kepala sedikit miring. Sehingga, senjata rahasia berupa gelang-gelang yang amat tajam lawan luput dari sasaran. Tapi Pendekar Gelang Putih tidak berhenti sampai disitu. Secepat mungkin dia melompat dan menyerang dengan pedang terhunus.

Wuuut! Klap!

Dua kali babatan pedang Pendekar Gelang Putih keleher dan pinggang mudah sekali dielakkan Pendekar Rajawali Sakti dengan satu lesatan ke atas. Dan setelah berputaran beberapa kali tubuhnya meluruk menerjang. Pedang Pusaka Rajawali Sakti langsung tercabut dari warangka, menimbulkan sinar biru berkilauan. Dan saat itu pula pedangnya langsung berkelebat kearah Pendekat Gelang Putih.

"Hiyaaat!"

Pendekar Gelang Putih terkesiap melihat selarik sinar biru terang yang secepat kilat melesat keleher. Dia melompat kebelakang untuk berkelit sambil mengibaskan pedangnya.

Tras!

"Heh?!" Dan kembali Pendekar Gelang Putih dibuat terkejut tatkala pedangnya putus dipapas senjata Pendekar Rajawali Sakti. Dan belum habis rasa kaget laki-laki itu, Rangga telah bergerak melepaskan satu pukulan dahsyat ke dada. Lalu....

Des!

"Aaakh...!" Pendekar Gelang Putih menjerit kesakitan dan terhuyung-huyung kebelakang ketika satu pukulan keras menghantam dadanya. Dari mulutnya kontan menyembur darah segar. Sementara wajahnya berkerut menahan sakit.

"Bila aku bermaksud membunuhmu, semudah membalikkan tangan. Tapi aku tidak sembarang membunuh orang seperti yang kalian tuduhkan!" ucap Pendekar Rajawali Sakti, dingin. menggetarkan.

Setelah berkata begitu Pendekar Rajawali Sakti berbalik, dan melesat kearah punggung kudanya, tanpa seorang pun yang berani menghadangnya! Agaknya mereka menyadari tak ada gunanya lagi menghalangi.

*******************

Rangga terus menggebah Dewa Bayu menuju kearah timur. Arah yang tadi dituju Pandan Wangi. Gadis itu tengah menunggunya dipinggiran padang rumput yang cukup luas. Kekesalan hatinya masih tampak dari wajahnya yang masih tetap cemberut.

"Ayo...!" ajak Rangga, memperlambat derap langkah Dewa Bayu.

Pandan Wangi mengikuti tanpa banyak tanya. Sementara Rangga meliriknya sekilas, dan seperti tahu apa yang dirasakan kekasihnya itu.

"Maaf, Pandan. Aku sama sekali tidak bermaksud menghalangimu..."

Pandan Wangi tetap diam membisu. Rangga menghela napas pendek. Sekali lagi matanya melirik Pandan Wangi.

"Kalau kita berlarut-larut dengan mereka, maka persoalan tidak akan selesai. Dan entah kapan, serta siapa lagi yang akan muncul. Itu bisa merugikan kita sendiri..." lanjut Rangga.

"Aku hanya kesal mendengar sesumbarnya itu..." desah Pandan Wangi.

"Pendekar Gelang Putih?"

"Siapa lagi?!"

"Mudah-mudahan pelajaran yang kuberikan bisa menyadarkannya walau sedikit...." ujar Rangga berharap.

"Aku belum puas kalau orang itu belum merasakan hajaranku!" desis gadis berbaju biru ini.

"Sudahlah. Bukankah persoalannya kembali padaku? Kita tidak perlu menghiraukan mereka. Kedua orang itu, dan mungkin entah berapa tokoh silat lainnya, hanya termakan fitnah. Kita tidak perlu terlalu meladeni mereka...."

"Kau terlalu lemah, Kakang. Mereka tidak segan-segan menginginkan kematianmu Dan kau malah memandang sebelah mata terhadap ancaman itu! Berapa orang lagi yang akan kita hadapi? Dan, sampai kapan kau akan bertahan? Apa kau ingin mati sebelum teka-teki ini terungkap?" dengus Pandan Wangi kesal.

Rangga terdiam mendengar nada bicara kekasihnya yang meledak-ledak bercampur amarah.

"Sekarang apa yang ingin Kakang kerjakan.

"Akan kucari orang itu sampai dapat!"

"Sampai kapan? Sementara kau mengejar mereka yang tidak pasti siapa orangnya, maka tokoh-tokoh golongan putih mengejar-ngejarmu. Mereka hendak menangkap, bahkan membunuhmu!"

"Ya, aku tahu itu!" sahut Rangga mendengus kecil.

"Kau harus cepat bertindak. Dan, jangan lemah terhadap mereka. Kau tidak perlu mengalah bila mereka ingin membunuhmu, Kakang!"

"Aku mengerti apa yang akan kulakukan, Pandan...!"

"Tapi..." Kejengkelan gadis itu sudah mulai meledak. Namun kata-katanya terputus ketika keduanya mendengar derap kuda yang mendekati tempat itu.

"Sebaiknya kita sembunyi!"

"Tidak!" sahut Pandan Wangi menegaskan. Gadis itu menolak dengan tegas, dan malah berdiri tegak menghadang penunggang kuda yang nyata-nyata menuju ke arah mereka.

"Pandan! Aku tidak ingin cari masalah!"

"Akan kita lihat, siapa yang mencari masalah. Kita atau mereka!" sentak gadis itu.

Rangga menghela napas. Terpaksa dia mengalah ketimbang berdebat dengan gadis yang keras kepala ini.

"Hooop...!"

"Heh?!"

Di hadapan Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi kini tampak dua penunggang kuda. Namun ketika melihat siapa yang menghadang jalan mereka, kedua penunggang kuda itu berhenti. Mereka langsung melompat turun seraya menjura hormat.

"Ampun, Gusti Prabu..!"

"Bangkitlah. Ada apa kalian menyusul kami sini?" tanya Rangga, setelah mengetahui kedua penunggang kuda itu ternyata prajurit Karang Setra.

"Kami berhasil meringkus seseorang..." sahut seorang dari mereka menjelaskan.

"Siapa?"

"Seorang maling yang biasa menyatroni rumah-rumah penduduk diwilayah Kerajaan Swandana!"

"Bagus. Dimana maling itu sekarang?"

"Sedang dijaga dua prajurit lainnya."

"Apa kehadiran kalian menarik perhatian?"

"Kami rasa tidak Gusti Prabu! Dengan penyamaran sebagai rakyat jelata, orang tidak akan menyangka kalau kami para prajurit Karang Setra."

"Bagus! Lalu, dari mana kalian bisa menemukan kami di sini?"

"Di belakang tadi, kami mendengar keributan. Dan menurut mereka, Gusti Prabu telah menghajar dua tokoh silat itu. Kemudian, kami menuju ke arah ini. Itulah yang membawa kami ke sini!"

"Hm.... Ayo kita berangkat sekarang!" sahut Rangga setelah mengangguk kecil.

Mereka semua segera menggebah kudanya dengan kencang. Dan dalam waktu singkat mereka telah meninggalkan tempat ini meninggalkan debu tipis yang mengepul di angkasa.

ENAM

Pendekar Rajawali Sakti, Pandan Wangi, dan dua prajurit Karang Setra tiba di tujuan beberapa saat kemudian. Di bawah sebuah pohon besar, terlihat dua orang bersenjata golok dipinggang berada didekat dua ekor kuda yang tertambat di batang pohon. Seorang pemuda berbaju hitam duduk di bawah dengan kedua tangan dan kaki terikat.

"Itu dia orangnya, Gusti Prabu...!" tunjuk salah seorang prajurit.

Rangga dan Pandan Wangi turun dari kudanya. Dua prajurit yang tadi didekat pohon besar menghampiri lalu menjura hormat. Setelah membalas penghormatan itu, Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi menghampiri pemuda berbaju hitam yang tengah terikat.

"Siapa namanya...?"

"Dia tidak mau mengaku, Gusti Prabu...," jelas seorang prajurit.

"Hem..." Rangga hanya menggumam, lalu mendekati pemuda berambut panjang itu. "Siapa namamu...?" tanya Rangga datar.

"Phuih!" Pemuda itu meludah sambil menunjukkan wajah menantang. Dan Rangga hanya menarik napas, menahan amarah.

"Siapa namamu? Bila kau penduduk Karang Setra, maka jawab pertanyaanku!"

"Huh! Apa peduliku?"

"Tahukah kau hukuman berat bagi pengkhianat negeri!" sahut Rangga mulai mengancam.

Pemuda itu tidak menjawab.. Dan dia hanya mendengus sinis seraya memandang tajam kepada Raja Karang Setra ini. Raut wajah Pendekar Rajawali Sakti perlahan-lahan berubah, seiring hatinya yang mulai jengkel melihat ulah pemuda itu. Dan mendadak tangannya bergerak cepat, menotok bagian pundak pemuda ini.

Tuk!

"Akh...!" Pemuda itu menjerit. Wajahnya kontan berkerut menahan rasa sakit hebat.

Pendekar Rajawali Sakti memang baru saja menotok jalan darah menuju jantung, sehingga pemuda berambut panjang itu amat menderita.

"Kalau kau tidak bicara, maka penderitaanmu akan bertambah!" ujar Rangga dingin.

"Keparat! Aku tidak ada urusan denganmu. Bunuh saja kalau memang ingin membunuhku...!" dengus pemuda berbaju hitam itu.

"Membunuh soal mudah. Tapi kau harus jawab pertanyaanku lebih dulu...!" Rangga kembali menotok.

Tuk!

"Aaakh...!" Pemuda berbaju hitam itu kontan menjerit kesakitan.

"Bicaralah! Atau kau ingin mati pelan-pelan? Dalam keadaan begini maka sore nanti nyawamu akan melayang, setelah mengalami penderitaan berat. Tapi kalau kau mau menjawab pertanyaanku, bukan tidak mungkin akan kubebaskan...."

"Uhhh...." Pemuda berbaju hitam itu terengah-engah menarik napas. Wajahnya terlihat kuyu dan pucat.

"Tidak ada waktu bagimu untuk berpikir. Putuskan sekarang! Ingin selamat, atau nyawamu melayang perlahan-lahan?" desak Pendekar Rajawali Sakti.

Pemuda berbaju hitam itu mendengus sinis, lalu memalingkan wajahnya.

"Baiklah. Kau telah menentukan pilihan..., desah Rangga datar.

Pendekar Rajawali Sakti lantas berbalik, diikuti Pandan Wangi. "Ayo, tinggalkan tempat ini! Biarkan dia mati. Barangkali sebelum nyawanya putus, kawanan serigala akan merencahnya beramai-ramai!" ajak Rangga pada yang lain.

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti melangkah, sekonyong-konyong....

"Baiklah, aku akan buka mulut...!" teriak pemuda itu.

"Bagus! Kau telah menentukan pilihan yang baik!" kata Rangga. "Jangan coba-coba membohongiku, sebab aku tidak akan kepalang tanggung untuk membunuhmu!" ingat Rangga.

Pemuda itu mengangguk.

"Siapa namamu?"

"Nambe...."

"Dari mana asalmu...?"

"Dari..." Kata-kata pemuda itu terputus, dan malah menatap wajah Pendekar Rajawali Sakti sejurus lamanya.

"Kau berasal dari Alas Karang, bukan?" lanjut Rangga menduga.

"Ya...," sahut pemuda berbaju hitam bernama Nambe, mengangguk.

"Sudah kuduga. Kau suruhan rajamu?"

Nambe kembali mengangguk.

"Berapa orang kalian bekerja?"

"Ada dua puluh satu...."

"Lalu, siapa orang yang mengaku sebagai Pendekar Rajawali Sakti?"

Nambe terdiam.

"Jawab...!" bentak Pendekar Rajawali Sakti, menggelegar.

"Eh! Aku..., aku tidak tahu!"

"Hm.... Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu dariku. Nah! Lebih baik, jawab pertanyaanku sejujurnya. Atau, kau akan mampus seperti tadi!" dengus Pendekar Rajawali Sakti, mengancam.

Nambe terdiam sesaat. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.

"Jawab sekarang!"

"Mereka orang-orang terpercaya Gusti Prabu Bre Redana...!"

"Bagus sekali. Berapa jumlah mereka?"

"Ti..., tiga...."

"Kau telah memilih jalan hidupmu. Aku berjanji, kau akan kubiarkan hidup. Tapi sebelum semua ini selesai, kau harus tetap bersamaku. Patuhi semua yang kuminta. Sebab bila tidak, aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke neraka!" desis Pendekar Rajawali Sakti.

"Eh! Ba..., baiklah."

"Bawa dia!" ujar Rangga pada seorang prajurit.

"Baik, Gusti Prabu!"

"Eh! Mau dibawa ke mana aku?" tanya Nambe memandang bingung dan berusaha berontak.

Rangga menatap tajam ke arah Nambe. "Aku telah berjanji membiarkan kau hidup di hadapan mereka. Janjiku pasti. Maka turuti saja perintahku kalau ingin selamat!"

Nambe terdiam. Namun wajahnya tetap bingung, ketika orang-orang Karang Setra ini justru membawanya ke arah Kerajaan Swandana.

*******************

Raja Swandana berkenan menerima Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi di balairung utama. Raja berusia sekitar tiga puluh sembilan tahun itu kelihatan kaget sekali, melihat siapa yang datang. Sebab sebelumnya para pengawal mengatakan, kalau yang datang adalah utusan Karang Setra. Tapi yang dilihatnya justru Raja Karang Setra sendiri.

Sebagai sebuah kerajaan yang bertetangga, tentu saja mereka sudah saling kenal. Meski jarang saling mengunjungi, namun hubungan antara kedua kerajaan ini tetap baik tanpa perselisihan apa pun.

"Ini suatu kehormatan bagiku menerima kunjungan dari seorang tetangga dekat. Silahkan...!" sambut Raja Swandana.

"Terima kasih, Kakang Prabu Sri Rajagatna! Kakang ternyata begitu ramah dan bijaksana!" sahut Rangga, membalas salam hormat Raja Swandana itu. Lalu dia duduk ditempat yang telah disediakan.

Pandan Wangi duduk didekatnya. Sedang keempat prajurit Karang Setra bersama tawanan menunggu di luar.

"Apa gerangan yang kau bawa untuk kami, Sahabatku?"

Rangga menghela napas pendek, sebelum menyahut. "Kurasa mungkin Kakang telah mendengar berita mengenai diriku belakangan ini. Aku berterima kasih, sebab Kakang tetap menerimaku dengan keramahtamahan. Dan kedatanganku kesini ingin menjelaskan persoalan itu, Kakang. Kurasa kau bisa membantuku...," jelas Rangga.

"Apa gerangan hal itu, Dimas Rangga. Memang kudengar berita buruk tentangmu. Tapi, aku tidak mempercayainya begitu saja. Bertahun-tahun kau memerintah Karang Setra. Dan, selama ini namamu tetap terpuji. Mustahil seorang raja sepertimu melakukan perbuatan rendah. Kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan bila hanya sekadar harta atau kesenangan dunia," kata Raja Swandana yang bernama Sri Rajagatna.

"Benar sekali yang kau katakan. Dan bukan sekadar aku saja yang difitnah. Tapi, juga penduduk negeriku. Mungkin Kakang pernah mendengar bahwa belakangan ini banyak penduduk Karang Setra tertangkap basah merampok diwilayahmu. Perlu kujelaskan, bahwa hal itu tidak benar. Kami berhasil menangkap salah seorang dari mereka, dan memaksanya untuk mengaku. Dan kurasa, Kakang akan terkejut mendengarnya. Karena, mereka berasal dari Alas Karang...."

"Alas Karang...?!" Sri Rajagatna terkejut.

"Benar!"

"Hm, sungguh keji mereka! Bila apa yang Dimas katakan benar, maka mereka berusaha mengadu domba kita berdua!"

"Aku juga berpendapat begitu, Kakang."

"Bisakah kau bawa orang itu ke sini?"

"Tentu saja!"

Rangga bertepuk dua kali. Maka empat prajuritnya segera masuk bersama tawanan itu. Setelah mendengar keterangan Nambe, Raja Swandana itu yakin dengan kata-kata Rangga.

"Hm.... Aku yakin, Dimas memang benar," ujar Gusti Prabu Rajagatna setelah mempersilakan tawanan itu kembali keluar.

"Syukurlah bila Kakang berpendapat begitu. Hatiku lega mendengarnya, karena punya sahabat yang mau mempercayai..."

"Lalu, langkah apa selanjutnya yang akan Dimas jalankan?"

"Begini, Kakang. Kudengar mereka pun berulang kali mencari gara-gara diwilayah kerajaanmu. Dan mereka coba pula hal itu kepadaku. Namun, dapat kupatahkan. Dan kini agaknya mereka menggunakan cara baru untuk melumpuhkan kita berdua. Bre Redana itu amat licik. Kita harus bersatu untuk menghadapinya!"

"Aku setuju dengan usulmu itu!" sahut Prabu Sri Rajagatna cepat.

"Bantulah aku meyakinkan rakyat dinegerimu. Juga, tokoh-tokoh persilatan agar mereka percaya kalau aku serta rakyatku tidak pernah melakukan perbuatan keji kepada rakyat kalian," ujar Pendekar Rajawali Sakti.

"Sudah tentu hal itu akan kulakukan secepatnya!"

"Ah...! Semakin lega saja hatiku mendengarnya!"

"Sudahlah, tidak perlu kau berkata begitu. Dimas. Sejak semula aku percaya, kau tidak melakukan perbuatan keji itu. Yang terpenting saat ini kita harus kerja secepat mungkin. Bre Redana dengan seluruh orang di kerajaannya, begitu bernafsu untuk menguasai kita. Mereka harus dihancurkan! tandas Raja Swandana, bersemangat.

"Kalau begitu tekadmu, maka sekarang juga akan kubeberkan rencana serta langkah-langkah untuk menghadapi mereka!"

"Baiklah. Karena ini rahasia, maka kita bicara ditempat yang rahasia pula...," ujar Prabu Sri Rajagatna, seraya bangkit dan mengajak kedua tamunya ke sebuah kamar khusus.

*** Bre Redana yang memiliki sepasang alis berwarna kuning tersenyum sambil mengangguk-angguk menerima laporan dari dua prajuritnya.

"Kerja kalian bagus. Katakan pada mereka bahwa aku akan memberi hadiah besar. Tetaplah seperti itu, untuk beberapa waktu sampai saat yang kutentukan!"

"Baik, Gusti Prabu!"

"Nah! Kalian boleh pergi sekarang!"

Kedua orang itu menjura hormat, lalu beringsut ke belakang dan menghilang dari ruangan ini. Bre Redana masih tersenyum-senyum sendiri, sepeninggal kedua orang tadi.

"Kau jangan dulu merasa puas, Kakang!" kata gadis yang duduk tidak jauh darinya, dan tak lain dari Ayu Larasati.

"Kenapa tidak? Pendekar Rajawali Sakti telah cemar namanya. Kini dia diburu kawan-kawannya sendiri. Banyak yang mulai menjauhinya. Aku tidak perlu turun tangan sendiri untuk membunuh bangsat itu!" tegas Bre Redana yakin.

"Bagaimana kalau dia punya akal lain untuk berkelit dari tuduhan itu?"

"Dia tidak akan sempat memikirkannya. Persoalan itu pasti membuatnya goncang, sehingga tidak mampu berpikir yang lain."

"Sebaiknya kau jangan terlalu yakin, Kakang. Pastikan hal itu agar rencanamu tidak lagi berantakan."

"Pasukan kita semakin banyak dan terlatih. Kekayaan mulai mengalir ke negeri ini. Kita mulai tumbuh kuat. Dan dalam keadaan seperti ini, tak ada lagi yang kutakuti!"

Ayu Larasati mencibir melihat kakaknya yang kelihatan tengah kegirangan.

"Ayo! Bergembiralah, Adikku! Apalagi yang kau pikirkan? Sebentar lagi kita akan menduduki Swandana. Lalu, tidak lama kemudian Karang Setra. Kita akan menjadi sebuah kerajaan besar. Dan kau adalah adik dari seorang raja besar! Ha ha ha...!" ujar Bre Redana, jumawa.

Ayu Larasari bangkit dari duduknya, lalu menghampiri jendela. Dari situ, matanya bisa memandang keluar. Di halaman depan terlihat banyak sekali prajurit yang tengah berlatih ilmu olah kanuragan.

Pemandangan seperti itu memang hampir setiap hari terlihat. Kerajaan Alas Karang boleh bangga, sebab dalam waktu singkat memiliki prajurit tangguh dengan jumlah cukup banyak. Namun entah kenapa hati Ayu Larasati masih was-was. Gadis ini tidak terhibur, apalagi terhanyut kegembiraan kakaknya, Bre Redana!

"Pemuda itu tidak bisa dianggap enteng, Kakang. Kau tidak bisa menganggap sebelah mata padanya..." kata Ayu Larasari lagi, mengingatkan.

"Siapa yang kau maksud? Raja Karang Setra itu?"

"Ya."

"Orang tahu, kalau dia Pendekar Rajawali Sakti. Dan mereka pun kini termakan berita itu. Apalagi yang kau risaukan? Apa kau kira dia dewa yang bisa menyihir keadaan seperti ini menjadi keajaiban? Aib yang diterima sulit dihapuskan. Dan dia akan menderita, meski nyawanya telah melayang sekalipun!" tandas Bre Redana, semakin yakin.

"Kenapa kau begitu yakin? Apakah terpikir akan keadaan yang lain?"

"He he he...! Adikku, Adikku...! Kini aku bangga mempunyai adik sepertimu. Sejak kembali ke istana ini, watakmu berubah banyak. Kau dewasa. Dan akalmu semakin panjang. Tapi tidak ada yang perlu dikhawarirkan. Percayalah! Segalanya akan beres!"

Ayu Larasari terdiam. Namun, pandangannya tetap tertuju keluar. Bre Redana bangkit dan mendekari adiknya. Lalu ditepuk-tepuknya pundak gadis itu.

"Sudahlah, tidak usah khawatir. Semuanya akan beres. Percayalah...."

Baru saja kata-kata itu habis mendadak dua orang prajurit masuk kedalam ruangan seraya bersujud hormat.

"Ampun, Gusti Prabu! Maafkan karena kami mengganggu ketenangan Paduka...!" ucap prajurit itu, berbarengan.

"Tidak apa. Nah, ada apa?" sahut Bre Redana tersenyum seraya duduk kembali di tempatnya semula.

"Kami membawa berita buruk, Gusti Prabu...," sahut salah seorang dengan suara lirih.

"Berita buruk apa?! Katakanlah cepat!" sentak pemuda beralis kuning itu.

Kedua prajurit itu tersentak, dan cepat-cepat menunduk. Sesaat mereka diam membisu.

"Kenapa diam?! Ayo katakan, berita buruk apa yang kau bawa?!" bentak Bre Redana.

"Para prajurit kita yang mengemban tugas rahasia telah tertangkap, Paduka... "

"Tertangkap? Apa maksudmu?!"

"Kalau saja orang-orang desa yang menangkap, mereka akan segera melepaskan diri. Tapi yang menangkap adalah orang-orang tangguh. Mereka disekap, dan kami tidak mengetahui dibawa ke mana...."'

"Kurang ajar!" dengus Bre Redana geram. Wajah pemuda itu berkerut geram dengan kedua tangan terkepal. Hela napasnya terasa memburu. Ditatapnya kedua prajurit itu, dalam-dalam.

"Bagaimana dengan Sanjaya, Warakitri, dan Setiaki?"

"Kami belum bertemu, Gusti Prabu!"

"Bodoh! Apakah kajian tidak menyiapkan pasukan perlindungan bagi mereka?"

"Sudah, Gusti Prabu. Tapi dalam beberapa hari keributan, kami kehilangan jejak mereka..."

"Sial!" Bre Redana langsung menghantam kursinya pelan, untuk melampiaskan kekesalannya. Lalu, kembali ditatapnya kedua prajurit itu lekat-lekat, seraya menarik napas dalam-dalam.

"Sekarang juga kalian cari mereka. Perintahkan ketiganya kembali menghadapku!" ujar Bre Redana.

"Baik, Gusti Prabu!" sahut kedua prajurit cepat. Segera setelah menjura hormat, mereka beringsut meninggalkan tempat ini. Sementara itu, wajah Bre Redana yang tadi riang gembira kini berubah kelam penuh kejengkelan!"

TUJUH

Dua anak muda menggebah kudanya pelan-pelan. Yang seorang pemuda berwajah tampan. Rambutnya panjang. Dia memakai baju rompi putih. Sementara seorang lagi adalah gadis cantik berbaju serba biru. Di pinggangnya terselip sebuah kipas terbuat dari baja putih. Dan dipunggungnya tampak sebilah pedang bergagang kepala naga. Mereka tidak lain dari Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut.

"Kakang, kenapa kita berkuda lambat-lambat? Bukankah orang itu akan kabur lebih cepat? Sebaiknya kita cepat mengejamya sebelum dia menghilang!"

"Dia tidak akan menghilang, Pandan. Percayalah!"

"Kenapa Kakang begitu yakin?"

"Sebab pasukan Kerajaan Swandana telah mengepung daerah itu rapat-rapat. Orang itu seperti kabur mendekati perangkap, namun tidak disadarinya," jelas Rangga.

"Hm... Aku tidak tahu soal ini!" dengus Pandan Wangi bersungut-sungut dengan wajah cemberut.

Setahu Pandan Wangi, Rangga belum membicarakan soal itu pada Raja Swandana. Sebab selama mengadakan pembicaraan, gadis ini selalu ikut hadir dan mendengarkan. Sehingga, dia tahu betul rencana apa saja yang akan dijalankan.

"Aku mengirim seorang kurir untuk memberitahukannya. Tapi bukan berarti aku bermaksud merahasiakannya darimu. Tapi, karena ada tugas lain yang mesti kukerjakan secepatnya. Dan kebetulan aku belum sempat menjelaskannya padamu," ujar Rangga, seperti bisa mengetahui apa yang tengah dirasakan gadis itu.

Pandan Wangi diam saja, meski hatinya masih kesal. Dia memang ingin tahu semua persoalan yang dihadapi kekasihnya. Dan, sebisa mungkin membantu untuk menyelesaikannya bersama-sama. Tapi entah lupa atau disengaja, Rangga tidak menceritakan beberapa persoalan kepadanya. Dan itu membuat si Kipas Maut jengkel.

"Sudahlah. Ini memang salahku. Tapi sekarang, kau kan telah mengetahuinya. Itu berarti aku tidak menyembunyikannya, bukan?" lanjut pemuda itu tersenyum-senyum, berusaha mencairkan kejengkelan Pandan Wangi.

Pandan Wangi hanya menoleh sebentar, kemudian terus mengalihkan perhatian k depan. Pada saat yang sama, terdengar ribut-ribut. Tidak jauh dari tempat mereka. Keduanya saling pandang sesaat. Lalu dengan cepat Rangga memacu Dewa Bayu bagai lesatan angin tajam.

"Heaaa...!"

Sementara Pandan Wangi segera mengikuti. Sebentar saja, mereka telah tiba di suatu tempat yang agak luas di pinggiran sebuah hutan kecil. Tempat itu telah dikepung pasukan bersenjata lengkap berjumlah sekitar tiga puluh orang. Sementara ditengah mereka, terlihat dua prajurit Kerajaan Swandana tengah bertarung melawan pemuda berambut panjang dan., memakai rompi putih!

"Keparat!" desis Rangga geram, melihat kenyataan itu.

Tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti terkepal. Wajahnya menggeram. Seketika dia turun dari kudanya, dan menguak kerumunan.

"Minggirlah. Biar bajingan ini bagianku!" ujar Rangga dengan sorot mata tajam.

Ini tidak mengherankan lagi. Baru tadi pagi pun, Pendekar Rajawali Sakti telah meringkus seorang pemuda yang wajahnya mirip sekali dengannya. Dari orang itu, diketahui kalau jumlah mereka tiga orang. Dan selama ini, mereka menggunakan nama Pendekar Rajawali Sakti dalam sepak terjangnya. Jadi jelas, fitnahan itu kini terbukti.

"Kau adalah keparat kedua yang kutemui. Dan, jangan harap bisa lolos dari tanganku!" desis Rangga tajam seraya mendekati pemuda berambut panjang itu pelan pelan.

Pemuda yang mirip Pendekar Rajawali Sakti itu terkesiap. Dan sesaat matanya melihat ke kanan dan kiri, seperti berusaha mencari jalan untuk lolos. Mukanya tampak pucat, dan tubuhnya gemetar.

Wajah, bentuk tubuh, dan cara berpakaian orang ini betul-betul mirip Pendekar Rajawali Sakti. Juga senjata yang digunakan. Sehingga para prajurit yang berada disekitar tempat ini akan pangling untuk membedakannya. Hanya saja sekarang lebih mudah, sebab Pendekar Rajawali Sakti palsu kelihatan seperti orang yang menderita demam hebat!

"Kau mencari kawan-kawanmu? Jangan harap! Mereka telah diringkus prajuritku. Kau lihat, mereka berada di sekitar ini. Dan di sini, kau terkurung para prajurit Swandana. Tidak ada jalan lolos lagi bagimu. Maka cabutlah pedangmu. Dan, pertahankan nyawamu!"

Pendekar Rajawali Sakti gadungan itu terkesiap! Tidak jauh dari tempat itu terlihat sekitar dua puluh lima orang-orang bersenjata. Mereka berpencar, namun tidak saling berjauhan. Sehingga satu sama lain masih terlihat mengurung daerah ini. Sedang para prajurit Swandana mengurungnya lebih dekat. Sehingga sedikit pun tak ada jalan keluar.

"Cabut pedangmu!" bentak Rangga geram.

Namun Pendekar Rajawali Sakti gadungan tetap berdiam diri dan tidak kelihatan tanda-tanda akan menyerang lebih dulu. Dan ini membuat Rangga menjadi semakin geram saja.

"Huh! Kau telah cemarkan nama baikku. Dan ganjarannya, kau patut mampus!" dengus Rangga dingin. Rangga bersiap seraya memasang kuda-kuda. Namun saat itu....

"Ha ha ha...!'

Mendadak terdengar suara tawa nyaring yang disusul berkelebatnya sesosok tubuh ke tengah lingkaran yang dibuat para prajurit Swandana. Mereka terkejut dan bersiap menyerang. Demikian pula halnya para prajurit Karang Setra yang tadi mengikuti rajanya dengan sembunyi-sembunyi.

"Tahan...!" bentak Rangga.

Tidak jauh di dekat Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak seorang tua berjenggot panjang dan telah memutih, memakai baju hijau. Tangan kanannya menggenggam sebatang tombak kayu yang mirip ranting.

"Ki Satria Kendeng! Kau lagi! Apakah kali ini kau akan mengacau?!" seru Rangga dengan wajah kesal.

"Ha ha ha...! Jangan marah dulu, Sobat. Maafkan kekasaranku tempo hari. Kini aku mulai menyadari, bahwa kau memang di pihak yang benar. Nah! Kini, kusaksikan sendiri hal itu. Untuk menebus kesalahanku, maka biar bajingan ini menerima hajaranku!" ujar orang tua yang ternyata Ki Satria Kendeng.

"Orang ini telah memfitnahku habis-habisan. Maka, dia menjadi bagianku, Ki!"

"Ah! Apakah kau betul-betul tidak memaafkanku? Berikan kesempatan padaku untuk menebus kesalahan dengan menghajar keparat ini," kata Ki Satria Kendeng, memohon.

"Maaf, Ki. Soal itu aku telah memaafkanmu. Tapi urusan dengannya, tidak bisa kuwakilkan padamu. Dia harus menebusnya dengan nyawanya sendiri!"

"Kau hendak membunuhnya? Hm, begitu mudah! Apakah tidak berpikir untuk mengorek keterangan lebih lanjut?"

"Keterangan apa?"

"Dia pasti tidak bekerja sendiri. Nah! Cari tahu siapa dalangnya, dan apa maunya!"

"Aku sudah dapatkan dalangnya...."

"Benarkah?! Hm.... Kalau begitu, aku ketinggalan berita. Siapa?"

"Coba tanyakan padanya."

Ki Satria Kendeng menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti palsu dengan langkah lebar.

"Keparat busuk! Katakan padaku, siapa majikanmu?! Apa maksudmu memalsukan nama Pendekar Rajawali Sakti?!"

"Huh! Aku tak ada urusan denganmu!" sahut Pendekar Rajawali Sakti gadungan.

"Eee, kurang ajar! Kau belum kenal siapa aku, he?!" Ki Satria Kendeng gusar bukan main mendengar jawaban itu. Secepat kilat, diterjangnya pemuda berbaju rompi putih itu.

"Hei, Ki! Apa yang kau lakukan?" sentak Rangga.

Tapi akhirnya Rangga hanya bisa menahan jengkel, sebab orang tua itu sama sekali tidak mempedulikan peringatannya. Dan dia terus menyerang.

"Brengsek!"

"Huh! Kenapa mesti pakai tata krama segala? Kerubuti saja biar cepat mampus!" desak Pandan Wangi.

"Sebagai tokoh silat yang mengerti aturan tidak semestinya mengeroyok lawan. Apa kata orang bila melihat Pendekar Rajawali Sakti mengeroyok seorang tokoh kelas rendah?" kata Pendekar Rajawali Sakti.

"Memang aku tidak mengerti. Tapi apa pedulinya kata-kata orang lain? Apa kata mereka saat kau difitnah? Mereka berduyun-duyun mencari, mengepung, mengejar-ngejar, bahkan ingin membunuhmu! Dan kau masih mempedulikan aturan mereka. Kalau begitu, biar aku saja yang mengeroyoknya!" ujar Pandan Wangi mantap.

Begitu selesai dengan kata-katanya, si Kipas Maut langsung mencabut kipasnya. Tubuhnya seketika mencelat menyerang Pendekar Rajawali Saks gadungan yang tengah bertarung dengan Ki Satria Kendeng.

"Pandan...!" cegah Rangga.

Tapi percuma saja. Sebelum sempat mencekal lengannya, Pandan Wangi telah lebih dulu melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti gadungan.

"Heaaa...!"

"He he he...! Bagus, Kipas Maut. Hitung-hitung kau mewakili kekasihmu untuk membalaskan dendamnya!" sambut Ki Satria Kendeng kegirangan.

Gadis itu tak menyahut. Dan perhatiannya terus terpusat untuk menyerang serta mendesak Pendekar Rajawali Sakti gadungan secepatnya.

Meski dikeroyok, kelihatan Pendekar Rajawali Sakti gadungan cukup tangguh juga. Terbukti, dia masih mampu meladeni. Tapi sepertinya, hal itu tidak akan berlangsung lama. Meski berusaha mendesak lewat permainan pedangnya, tetap saja Pendekar Rajawali Sakti gadungan tidak mampu.

Pandan Wangi berkali-kali berhasil menangkis pedangnya. Sementara kedua kaki gadis itu lincah mencari-cari sasaran dengan melakukan tendangan-tendangan keras. Belum lagi serangan-serangan yang datangnya dari Ki Satria Kendeng. Meski tanpa senjata, tapi orang tua itu memiliki gerakan gesit dan selalu berhasil menghindar dari tebasan pedang. Kemudian, tubuhnya melesat bagai kilat, menyerang dengan ganas.

Trak! Wut!

Kipas Pandan Wangi berhasil menangkis tusukan pedang. Kemudian secepat kilat pedang itu bergerak menyambar ke wajah, ketika gadis itu mencelat ke atas.

"Yeaaa!"

Pada saat yang sama Satria Kendeng melakukan tendangan kearah dada. Dan meski terkejut, Pendekar Rajawali Sakti gadungan berhasil menghindari dengan melompat kebelakang. Tapi, Pandan Wangi ternyata telah menunggu. Senjata di tangannya bergerak sedemikian cepat. Lalu....

Bret!

"Aaakh...!" Pendekar Rajawali Sakti gadungan memekik kesakitan. Pergelangan tangannya yang menggenggam pedang putus. Dan belum lagi bersiap, Pandan Wangi telah mengirim serangan susulan lewat, tendangan ke arah pinggang.

Des!

"Uhhh...!"

"Itu hadiah untuk kebejatanmu!" desis Pandan Wangi.

Sementara itu Ki Satria Kendeng melompat. Dan seketika kedua kakinya menghantam telak ke dada Pendekar Rajawali Sakti gadungan yang berusaha bangkit.

Begkh!

"Aaa...!" Pendekar Rajawali Sakti palsu itu kontan memekik. Dari mulutnya menyembur darah segar. Sepasang matanya melotot dan wajahnya menegang, kemudian terkulai lesu ketika nyawanya melayang.

"Huh! Itu balasan dari kawanku yang namanya telah kau gunakan untuk memfitnahnya!" dengus Ki Satria Kendeng.

Rangga hanya menghela napas pendek, kemudian memberi isyarat pada para prajuritnya untuk mengurus mayat itu.

"Nah, dengan begitu urusan beres! Lalu, apa rencanamu sekarang? Eh, tunggu dulu! Kau belum mengatakan siapa majikan si keparat itu?" ujar Ki Satria Kendeng menagih.

"Bre Redana..., yang kini berkuasa di Alas Karang."

"He, diakah orangnya?!"

Rangga mengangguk

"Kudengar keributan antara kau dengannya. Hm.... Tidak heran kalau dia dendam padamu. Tapi banyak tokoh silat yang membantunya!"

"Benar. Orang itu gila kekuasaan. Dan dia menggunakan segala cara untuk mendapatkanya...."

"Dari mana kau bisa menduga begitu?"

Rangga memandang Ki Satria Kendeng sejurus lamanya. Lalu bibirnya tersenyum tipis. "Aku punya banyak bukti. Dan Raja Swandana telah mengetahuinya pula. Bre Redana mengirim beberapa anak buahnya yang berilmu hebat, untuk merampok tambang emas di wilayah Kerajaan Swandana. Anak buahku telah memergokinya dan menangkap mereka. Juga, entah berapa rumah para penduduk yang mereka rampok. Dengan harta itu, dia menarik tokoh-tokoh persilatan untuk bekerja dengannya. Apa tanggapanmu sekarang!" jabar Pendekar Rajawali Sakti.

"Kalau benar begitu, maka orang ini betul-betul terkutuk!" maki Ki Satria Kendeng.

"Kita tidak perlu lagi memaki. Saat ini yang diperlukan adalah tindakan!"

"Apa maksudmu, Sobat?"

"Prajurit-prajurit Swandana dan Karang Setra telah sepakat untuk menyerang mereka. Bila kau merasa sebagai tokoh silat aliran lurus, maka ini kesempatan bagimu untuk ikut ambil bagian.

"Maksudmu?"

"Ajak tokoh-tokoh persilatan lainnya, untuk bergabung bersama kami!"

"Tapi..., mereka akan melihat bahwa ini persoalan antara kerajaan dan bukan persoalan umum. Mana mungkin mereka mau...."

"Ini persoalan umum. Dan bila mereka berkuasa, maka rakyat diwilayah mana pun akan sengsara. Sehingga, kezaliman akan merajalela. Sekarang saja mereka berani menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-citanya. Kau bisa melihat sendiri contohnya. Dia mengirim tiga Pendekar Rajawali Sakti palsu untuk berbuat keji terhadap rakyat yang tak berdosa. Apakah itu urusan antara kerajaan? Mereka merampok. Dan yang menjadi korban adalah rakyat tak berdaya. Bukankah itu sumber kejahatan?"

Ki Satria Kendeng terdiam merenungi kata-kata Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tidak memaksa agar kau membantuku, Ki. Tokoh-tokoh silat lainnya telah siap berdiri di belakangku. Mereka ikut bertempur, karena menyadari bahwa yang diperangi adalah kebathilan...," lanjut Rangga.

"Benarkah...? Berapa orang?"

"Banyak. Dan itu tidak perlu kusebutkan satu persatu!"

"Baiklah. Aku mendukungmu! Lalu, kapan serangan itu dilakukan?"

"Malam ini juga!"

"Hm, ya. Aku akan datang bersama kawan-kawan yang lain!"

"Syukurlah akhirnya kau mengerti. Bawalah sebanyak-banyaknya. Dan, kurasa mereka lebih bisa mengerti!"

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan memberitahukan yang lainnya. Kami akan datang ke medan pertempuran secepatnya!"

Rangga mengangguk. Dan secepat itu Ki Satria Kendeng berkelebat, lalu menghilang dari pandangan.

"Orang tua yang aneh...," gumam Pandan Wangi.

Rangga hanya tersenyum kecil, lalu memberi isyarat pada para prajurit Swandana.

"Katakan pada panglima bahwa rencana akan berlangsung seperti semula. Aku perlu prajurit-prajurit tangguh yang mampu bergerak cepat Kirimkan mereka secepatnya dalam barisanku!" ujar Rangga pada pemimpin pasukan.

"Baik, Gusti Prabu!"

"Kalian boleh kembali sekarang. Sampaikan salam hangatku buat raja kalian!"

Kepala pasukan prajurit itu mengangguk, kemudian menjura hormat. Lalu pasukannya disiapkan, untuk kembali ke Kerajaan Swandana.

DELAPAN

Sejak tadi Bre Redana mondar-mandir tak karuan. Wajahnya keruh dengan kedua tangan terkepal berkali-kali seraya menyumpah-nyumpah tidak karuan.

"Keparat! Kurang ajar...!"

"Sudah! Tak ada gunanya memaki segala. Sekarang yang lebih baik adalah, menyusun rencana secepatnya dan mempertahankan diri dari serangan mereka...," ujar Ayu Larasati datar.

"Kenapa bisa begini?! Aku telah menyusun rencana serapi mungkin!" kata Bre Redana, seperti berkata pada diri sendiri.

"Kakang kurang teliti dan tidak cepat tanggap. Cepat puas dengan hasil yang diperoleh, tanpa menyadari kalau lawan mampu membalas dengan perhitungan lebih baik..."

Bre Redana terdiam seraya menghempaskan diri di kursi.

"Bukankah aku telah memperingatkan? Raja Karang Setra itu tidak bisa dipandang enteng. Tapi kau tidak mengindahkannya. Dan... beginilah jadinya," kata Ayu Larasati, menyudutkan kakaknya.

"Tidak usah menyesali, Ayu Larasati! Yang kita butuhkan saat ini adalah siasat untuk memukul mereka!"

"Aku tidak tahu...," sahut gadis itu datar, lalu duduk di dekat kakaknya.

Bre Redana menghela napas panjang. Lalu tangannya menepuk. Tak lama, seorang pengawal muncul dan menyembah hormat.

"Ampun, Gusti Prabu...!"

"Sudahkah para panglima menyiapkan segala sesuatunya?"

"Sudah, Gusti Prabu. Pertahanan kita cukup kuat. Dan disetiap sudut kerajaan rasanya sulit ditembus musuh dari mana pun!"

"Bagus! Siapkan kuda. Aku akan berangkat sekarang juga!"

"Baik, Gusti Prabu!"

Pengawal itu menjura hormat, lalu tubuhnya berbalik. Sedang Bre Redana sendiri menghela napas kembali, seraya mondar-mandir di ruangan ini. Sementara Ayu Larasati hanya diam memperhatikan. Juga saat pemuda itu masuk ke dalam kamar dan keluar membawa pedang kebanggaannya.

"Aku berangkat sekarang...," pamit Bre Redana seraya memandang adik perempuannya sejenak.

"Aku akan menyusul secepatnya, Kakang.... ujar Ayu Larasati.

Bre Redana mengangguk, lalu melangkah lebar keluar ruangan.

*******************

Di halaman depan istana telah menunggu beberapa prajurit Alas Karang bersenjata lengkap, tampak seekor kuda kebesaran persis berada di depan pintu. Bre Redana melompat, lalu menatap jauh ke depan. Matahari akan tenggelam. Dan sinarnya yang kemerahan menyapu seluruh permukaan bumi. Dihelanya napas panjang.

"Bagaimana laporanmu, Gandara...?" tanya Bre Redana datar.

Seorang bertubuh tegap seketika menjura hormat. "Semuanya baik, Gusti Prabu!"

"Menurutmu mereka akan menyerang malam ini?"

Gandara mengangguk "Mata-mata kita melaporkan, bahwa Karang Setra dan Swandana telah mempersiapkan pasukannya...."

"Hm.... Kau bisa menentukan atau menduga jalan mana yang mereka tempuh untuk menyerang kita?" tanya Bre Redana.

"Kemungkinan bila mereka melakukan serangan malam hari, maka dengan cara menyusup lewat celah-celah pebukitan...."

"Nah! Jagalah seketat mungkin daerah-daerah itu! Bunuh siapa saja orang asing yang tidak kenal!" ujar Bre Redana, mantap.

"Baik!"

"Bagaimana dengan penjagaan di tempat lain?"

"Kami bekerja sebaik mungkin, Gusti Prabu sahut Gandara.

"Bagus!"

"Gusti Prabu bisa memeriksanya sekarang juga!"

"Ya!" Bersama para punggawa kerajaan, Bre Redana mengendarai kuda, memeriksa persiapan pasukannya. Setelah kejadian bersama prajurit-prajurit Karang Setra beberapa waktu lalu, maka saat itu dia diuji kembali. Pasukan yang ditempanya dengan keras, akan membuktikan ketangguhan mereka menghadapi dua gempuran sekaligus.

Baru saja mereka berjalan kurang lebih dua puluh tombak, mendadak terjadi keributan dari jalan utama menuju istana kerajaan. Orang-orang kelihatan kalang kabut. Sementara para prajurit Kerajaan Alas Karang dibuat bingung, karena tidak tahu harus berbuat apa. Sedang keributan terus terjadi.

"Kurang ajar! Ada apa...?!" bentak Bre Redana geram.

Baru saja Gandara hendak memeriksa apa yang terjadi, mendadak seorang prajurit menggebah kudanya dengan kencang menghampiri mereka dari arah berlawanan.

"Ampun, Gusti Prabu! Hamba membawa berita buruk...!" ujar prajurit yang baru datang setelah melompat dan seketika menjura hormat.

"Lekas katakana! Berita apa yang kau bawa?!"

"Sekawanan kerbau berbondong-bondong memasuki jalan utama, menuju istana kerajaan. Di belakang mereka, terlihat pasukan musuh!"

"Bedebah!" maki Bre Redana geram. Pemuda penguasa Alas Karang itu sama sekali tidak menduga kalau musuh mempunyai akal secerdik itu. Dengan bantuan kawanan kerbau, mereka menyerang lewat jalan utama untuk menghindari korban lebih banyak. Dengan begitu, semangat pasukan mereka akan tetap menyala-nyala.

"Siagakan pasukan! Dan, hadapi mereka! Tarik sebagian pasukan yang menjaga di celah-celah bukit untuk membantu disini!" perintah Bre Redana.

"Baik, Paduka!"

Gandara segera memberi perintah pada anak buahnya. Dan untuk sesaat, mereka kelihatan sibuk membenahi pertahanan. Namun sebelum segala sesuatunya berjalan, kawanan kerbau dikatakan tadi telah memasuki wilayah Alas Karang.

"Heaaa...!"

Rangga yang memimpin pasukan berada di depan. Di belakangnya mengikuti sekitar seratus prajurit Karang Setra yang bercampur dengan ratusan prajurit Swandana.

"Suruh menyingkir para perempuan dan anak-anak. Juga, penduduk yang tidak ikut berperang! Tapi, bunuh saja mereka yang coba-coba melawan kita!" teriak Rangga ketika mulai memasuki perkampungan.

Sekitar dua puluh prajurit berpisah dari pasukan induknya untuk menjalankan perintah Raja Karang Setra. Sementara, Rangga dan yang lain meneruskan perjalanan memasuki ibukota kerajaan sambil menggiring kawanan kerbau di depan.

"Pasukan pemanah! Kalian boleh berpencar sekarang juga!" perintah Rangga kembali, ketika mulai mendekari sasaran.

"Siap!"

Seketika tiga puluh pasukan pemanah segera memisahkan diri, dan mencari tempat yang tepat untuk melancarkan serangan. Sedang saat itu, dari pasukan Kerajaan Alas Karang telah siap menghadang.

"Bunuh hewan-hewan celaka itu! Takut-takuti mereka agar berpencar...!" teriak Gandara yang berpangkat panglima.

Maka seketika itu juga, pasukan pemanah menghujani anak panah berapi ke arah kawanan kerbau. Dalam waktu singkat, kawanan kerbau itu terkejut dan lari cerai-berai. Dan ini membuat pasukan Rangga terkejut. Namun, pemuda itu cepat bertindak.

"Berikan isyarat agar pasukan yang berada di celah-celah bukit segera turun!"

"Baik!"

Salah seorang prajurit Karang Setra mengeluarkan sebuah serunai dari rumah kerang laut berukuran besar. Lalu, meniupnya. Suara yang keluar dari benda itu membuat pasukan musuh tersentak. Dan kembali mereka dibuat kaget, ketika dari arah belakang terdengar derap langkah pasukan yang berjumlah banyak mengepung istana Kerajaan Alas Karang. Bersamaan dengan itu, Rangga langsung memulai pertempuran dengan menyerang lebih dulu.

"Heaaa...!"

Pertempuran memang tidak dapat dihindarkan lagi. Jumlah pasukan Alas Karang memang lebih sedikit. Namun begitu, mereka terdiri dari prajurit-prajurit pilihan yang telah digembleng ilmu peperangan dengan keras, sehingga menghasilkan prajurit-prajurit tangguh. Dan agaknya, Rangga telah memperhitungkannya. Dan dia menggunakan siasat untuk menjatuhkan semangat mereka. Buktinya gebrakan itu sedikit membawa hasil.

Kini setelah mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti, Pendekar Rajawali Sakti mulai memporak-porandakan prajurit-prajurit Alas Karang, Dalam waktu singkat, belasan prajurit tewas di tangannya Dan itu membuat nyali prajurit musuh menjadi ciut. Sementara Pendekar Rajawali Sakti tidak berhenti sampai di situ. Dia terus menyerang ganas. Tindakan Rangga membuat semangat prajurit-prajuritnya berkobar-kobar.

"Pendekar Rajawali Sakti! Akulah lawanmu!" Tiba-tiba terdengar satu teriakan menggelegar.

Pendekar Rajawali Sakti menoleh. Dan tidak jauh dari situ tampak berdiri tegak orang yang tadi membentaknya. Dialah Bre Redana, dengan pedang di tangan! Batang pedangnya memancarkan warna merah, seperti nyala api. Bahkan begitu menyolok mata di malam hari begini.

Dengan langkah lebar Pendekar Rajawali Sakti menghampiri. Langkahnya berhenti setelah berjarak lima tombak di hadapan Bre Redana. Rangga kini berdiri tegak, menatap tajam kearah penguasa Alas Karang itu.

"Hari ini akan kita akhiri semuanya. Kau atau aku yang binasa!" desis Bre Redana dingin.

"Yang binasa kebathilan. Dan, kaulah orangnya!" tuding Rangga.

"Huh, banyak mulut! Aku sudah tak sabar ingin memotes lehermu!" dengus Bre Redana.

Bersamaan dengan itu, telapak kiri Bre Redana menghentak ke depan. Maka dari telapaknya yang terbuka, selarik sinar bercahaya merah melesat ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun secepat kilat Rangga melenting ke atas, lalu berputaran beberapa kali.

"Hm.... Aji 'Cakar Langit! Kalau begitu kau murid Ki Satya Ning Wilwatika!" gumam Rangga, begitu kakinya mendarat di tanah.

"Bagus! Agaknya kau kenal juga guruku. Maka, kau akan tahu bahwa Bre Redana akan membinasakanmu hari ini!"

Begitu melihat ajiannya luput, Bre Redana langsung berkelebat sambil mengayunkan pedangnya yang berkobar bagai api!

"Yeaaat!"

"Huh! Kau tidak pantas menjadi murid orang tua suci itu. Beliau welas asih dan bijaksana bagai dewa. Sedang kau berjiwa iblis!"

"Keparat! Mampus kau...!" bentak Bre Redana sambil mengebutkan pedangnya.

Wung!

"Uts!" Rangga cepat melompat mundur, menghindarinya.

Bre Redana betul-betul dikuasai nafsu amarahnya, sehingga langsung mengerahkan segenap kemampuan untuk membinasakan Pendekar Rajawali Sakti secepat mungkin. Namun sesungguhnya dia tidak menyadari bila hal itu amat merugikannya. Sebab lawan seperti Pendekar Rajawali Sakti bukanlah tokoh sembarangan. Rangga akan mempelajari jurus-jurus lawan terlebih dulu dan terus menghindar meski kerepotan. Namun bila telah menemukan titik kelemahannya, maka saat itulah akan menyerang sehebat-hebatnya.

Dan yang terlihat saat ini memang demikian. Meski terdesak hebat saat menghindar serangan- serangan, namun Rangga terus bertahan dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Kemudian setelah dirasakannya cukup, dia mulai balas menyerang. Pedangnya berkelebat cepat menyambar-nyambar ke arah Bre Redana.

Trang! Trang!

Terdengar bunyi cukup keras, ketika kedua senjata itu berbenturan. Rangga tidak terlalu terkejut. Disadari, pedang yang digunakan Bre Redana bukanlah senjata sembarangan.

"Heaaat...!"

Kali ini Pendekar Rajawali Sakti harus menggunakan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Dan perlahan-lahan, terlihat Bre Redana mulai kerepotan. Dia merasakan kalau semangat bertarungnya mendadak lenyap. Jiwanya terasa seperti terpecah-pecah, tanpa mengerti harus berbuat apa. Sedikit demi sedikit, dia mulai terdesak hebat. Meski begitu, Bre Redana masih terus mengumbar aji 'Cakar Langit' untuk balas menyerang. Namun, Pendekar Rajawali Sakti selalu mampu menghindarinya.

"Hiyaaat!"

Mendadak Rangga mencelat keatas. Lalu ketika tubuhnya meluruk digunakannya jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Seketika tangan kanannya yang telah berubah merah membara dihentakkan kearah Bre Redana. Maka seketika itu selarik sinar merah meluruk deras kearah Bre Redana, Raja Alas Karang itu terkesiap, dan cepat melompat untuk menghindari. Tapi baru saja melompat, pedang Pendekar Rajawali Sakti telah cepat menyambar punggung pemuda itu.

Cras...!

"Aaakh...!" pedang Pendekar Rajawali Sakti merobek punggung kanan Bre Redana yang kontan memekik kesakitan. Seketika rasa nyeri bercampur hawa panas menyengat sampai ke tulang sumsumnya.

Wut! Wut!

Sementara Rangga tak memberi kesempatan sedikit pun. Pedangnya bergerak amat cepat, membingungkan Bre Redana yang terus menghindar dengan bergulingan dan berusaha menangkis sebisanya. Namun, saat Bre Redana berusaha bangkit, satu tendangan keras menghantam perut.

Des!

"Augh!" Kemudian disusul cepat dengan tebasan pedang Pendekar Rajawali Sakti yang menyambar jantung.

Bret!

"Aaa...!" Bre Redana memekik setinggi langit, ketika tubuhnya terhempas ke belakang sambil terhuyung-huyung.

"K... Kau... Ohhh!" Bre Redana masih sempat menuding dengan tangan kanan, sementara tangan kiri mendekap jantungnya. Kemudian, dia roboh bermandikan darah.

"Bre Redana telah mati! Raja Alas Karang itu telah mati..:!" teriak seorang prajurit Karang Setra.

"Heh?!"

Berita itu amat mengejutkan pasukan Alas Karang. Mereka yang tadi mati-matian mempertahankan diri, kini semangatnya kian kendor mendengar berita itu. Meski begitu, sebagian dari mereka ada yang tidak percaya dan meneruskan perlawanan.

"Bre Redana telah mati...!" teriak para prajurit Karang Setra dan para prajurit Swandana.

Bersamaan beberapa orang prajurit lain, mereka mengangkat mayat Bre Redana yang bersimbah darah tinggi-tinggi. Sehingga, yang lainnya bisa melihat.

Setelah melihat bahwa berita itu benar, maka satu persatu pasukan Alas Karang melempar senjata tanda menyerah. Tak ada gunanya lagi melakukan perlawanan jika Raja Alas Karang itu binasa.

Namun begitu sebagian kecil prajurit musuh ada yang melarikan diri dengan menerobos pertahanan. Sementara pasukan yang dipimpin Rangga bermaksud mengejarnya. Namun, pemuda itu buru-buru mencegahnya.

"Biarkan saja. Tidak usah dikejar!"

"Tapi jumlah mereka cukup banyak juga, Gusti Prabu!" sahut salah seorang kepala pasukan.

"Berapa?"

"Sekitar dua puluh lima orang!"

"Dan mereka dipimpin adik perempuan Bre Redana!" sambung seorang prajurit yang lain.

"Tidak apa. Biarkan saja. Bereskan keadaan disini. Dan, jaga tawanan baik-baik. Sebab, aku akan keistana mereka!"

"Baik, Gusti Prabu!"

"Oya. Jangan lupa! Utus beberapa prajurit menemui Prabu Sri Rajagatna dan beritahu tentang kemenangan kita! Dan bila beliau berkenan, silakan datang kesini!"

"Baik...!"

Setelah prajurit itu menjalankan perintahnya Rangga bergegas ke Istana Alas Karang yang telah tak berpenghuni lagi. Tampak beberapa prajurit mengikutinya dari belakang.

Sementara tidak jauh di antara pebukitan yang mengelilingi Alas Karang, berdiri beberapa sosok tubuh memperhatikan dari kejauhan. Salah seorang bertubuh ramping berambut panjang. Dia berdiri tegak pada sebongkah batu besar. Matanya seperti tak berkedip, memandang jauh ke bawah. Dan sesekali angin semilir mengibarkan helai-helai rambutnya.

"Sudahlah, Gusti Ayu. Kita masih punya kesempatan lain untuk meneruskan cita-cita Gusti Bre Redana...," ujar salah seorang seraya mendekati gadis yang tak lain Ayu Larasati.

Ayu Larasati menoleh. Tampak seorang laki- laki berusia lima puluh tahun bertubuh sedang berdiri di belakangnya. Dia kembali melengos dan memandang ke bawah, seraya mengusap beberapa tetes airmata yang mulai membasahi pipi.

"Bukan itu yang kusesali, Paman Widura...."

"Kita telah berusaha sekuat tenaga. Tapi, apa daya? Sebab, lawan demikian kuat dan cerdik...."

"Kakang Bre Redana terlalu dibuai keberhasilannya, sehingga lupa kalau lawan mampu melihat sudut-sudut kecil kelemahannya..."

"Bre Redana memang cerdas. Tapi, dia punya batas. Kita tidak bisa menyalahkannya...."

"Memang.... Tapi, telah berkali-kali kuingatkan. Namun, tidak di indahkannya. Dia selalu curiga dan marah, karena menganggap aku membesar-besarkan kemampuan lawan. Akibatnya, seperti ini...."

Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang...?"

Ayu Larasati berbalik, lalu memandang Paman Widura lekat-lekat. "Paman! Pergilah dan kembali ketempat kalian masing-masing. Hiduplah dengan tenang, tanpa membawa persoalan-persoalan rumit!"

"Apakah kau tidak berniat meneruskan rencana Bre Redana?"

Gadis itu menggeleng disertai senyum kecil. "Tidak. Selama ini, aku hanya mendukung rencananya. Kini dia telah tewas. Maka, aku akan menentukan jalan hidupku sendiri. Aku akan pergi ke suatu tempat atau ke mana saja kakiku melangkah. Aku akan hidup tenang, tanpa persoalan-persoalan seperti dulu..." ucap gadis itu lirih.

Paman Widura terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk lemah. "Baiklah. Kalau begitu kemauanmu, kita berpisah di sini...."

Ayu Larasati mengangguk. "Katakan pada yang lainnya, Paman," tambah gadis itu.

"Baik!"

Ayu Larasati hanya memperhatikan langkah kaki Paman Widura menghampiri kawan-kawannya. Mereka berunding, dan terlihat terkejut. Dan tatkala memandang padanya, Ayu Larasati tersenyum sambil mengangguk. Pelan-pelan mereka menghampiri dan memberi penghormatan.

Ayu Larasati membalas hormat. Kemudian mereka satu persatu meninggalkannya. Itu adalah penghormatan terakhir dari mereka yang mungkin diterimanya. Dia mendesah pelan, dan masih tetap tegak berdiri di tempatnya semula. Pebukitan itu terasa sunyi. Dan saat angin bertiup, beberapa helai rambutnya berkibar-kibar.

SELESAI

BERIKUTNYA: KERIS IBLIS