Hantu Karang Bolong

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Episode
Hantu Karang Bolong


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Angin bertiup kencang menaburkan udara dingin yang membekukan tulang. Kabut tebal bergulung-gulung bercampur awan hitam menghalangi pandangan mata empat orang yang berjalan tertatih-tatih menembus rinai hujan. Mereka adalah seorang laki-laki tua, seorang pemuda, seorang wanita, dan seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun. Mereka terus berjalan meskipun hujan semakin besar.

"Sebaiknya kita berhenti dulu, Yah. Kasihan Surya Paku," kata yang wanita dengan suara menggigil kedinginan.

"Tidak di sini. Terlalu berbahaya...," sahut laki-laki tua yang berjalan paling depan.

"Tapi hujan semakin besar, Yah," kata wanita itu lagi.

"Sebentar. Di depan sana ada dangau."

Wanita yang masih muda itu kembali diam. Digamitnya lengan bocah kecil yang berjalan di sampingnya, kemudian digendongnya. Mereka terus berjalan tanpa berkata-kata lagi. Sementara cuaca semakin buruk. Kegelapan menyelimuti sekitarnya. Hujan yang semakin besar itu, dihiasi pula oleh sambaran kilat yang membelah angkasa. Suaranya mengguntur memekakkan telinga. Setiap kali kilat menyambar, wanita yang berjalan di belakang laki-laki tua itu memekik kecil. Tubuhnya semakin keras menggigil kedinginan.

Memang benar apa yang dikatakan laki-laki tua tadi. Mereka kini sudah melihat suatu bangunan terbuka yang hanya beratapkan daun rumbia, dan bersama-sama bergegas melangkah setengah berlari. Sementara tanah yang dipijak sudah berair dan berlumpur. Mereka menuju ke dangau kecil tanpa dinding itu. Untung di dangau itu terdapat sebuah balai-balai kecil yang beralaskan anyaman tikar daun pandan. Meskipun sudah koyak, tapi cukup untuk beristirahat sambil menunggu hujan reda.

"Hhh...! Seharusnya kita tidak berangkat hari ini...," wanita itu mengeluh lirih seraya duduk di balai-balai sambil memangku bocah laki-laki.

"Jangan mengeluh begitu, Laras. Apa pun yang terjadi kita harus cepat sampai," kata laki-laki muda yang duduk di sebelahnya. Sedangkan laki-laki tua yang memakai baju berjubah putih hanya berdiri saja sambil bersandar pada tiang dangau itu. Pandangannya tertuju lurus ke depan.

"Hhh...! Kenapa nasib kita selalu malang, Kakang? Sepertinya tidak ada tempat lagi di dunia ini yang bersedia menampung kita," lagi-lagi wanita yang dipanggil Laras mengeluh.

"Sudahlah, Laras. Tidak baik mengeluh terus seperti itu," lembut nada suara laki-laki itu. Tangannya merentang memeluk pundak Laras.

Sesaat kemudian tidak lagi kata-kata yang terucapkan. Sementara hujan terus turun deras sekali, seakan-akan tidak mau berhenti. Secercah kilat menyambar membuat keadaan sekelilingnya terang sejenak dan disusul oleh suara mengguntur keras. Laras kontan memekik kaget.

"Ih.... Perasaanku jadi tidak enak, Kakang," rintih Laras lirih.

"Hssst..!"

"Prakasa...!" panggil laki-laki tua yang tetap berdiri bersandar pada tiang dangau.

"Ya, Ayah," sahut laki-laki muda yang dipanggil Prakasa itu.

Pandu Prakasa berdiri dan menghampiri laki-laki yang sebenarnya bernama Ki Selong. Laki-laki tua itu Ayah dari Pandu Prakasa, dan Laras adalah istri pemuda itu. Pandu Prakasa berdiri di samping ayahnya.

"Kau tahu, jalan mana yang terdekat?" tanya Ki Selong.

"Hanya ini jalan satu-satunya. Ayah, " sahut Pandu Prakasa.

"Istrimu tahu?"

Prakasa hanya menggeleng saja. Kembali secercah kilat menyambar membuat suasana terang benderang sesaat Dua orang laki-laki itu menatap ke arah yang sama. Tampaklah sebuah ba ngunan batu yang ditumpuk menyerupai kuil kecil, begitu sinar kilat yang sesaat itu menerangi sekitarnya. Mereka sama-sama terkesiap dan terkejut begitu menyadari bentuk bangunan itu. Batu-batu yang bertumpuk itu membentuk kerucut yang tingginya tidak lebih dari tinggi orang dewasa. Bagian bawah bangunan itu sudah terendam air bercampur lumpur.

"Ayah, apakah jalan yang kita lalui tidak salah?" tanya Pandu Praka sa tanpa berpaling sedikit pun.

"Kenapa?" Ki Selong balik bertanya.

"Bukankah ini..," Pandu Prakasa tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya tidak berkedip menatap tumpukan batu berbentuk kuil di depannya.

"Kau yang memilih jalan ini, bukan?" pelan suara Ki Selong.

"Benar! Tapi...," kembali suara Pandu Prakasa terputus.

Saat itu kembali secercah kilat menyambar. Dan ujung kilat itu menghantam tumpukan batu berbentuk kuil kecil itu, sehingga menimbulkan suara ledakan dahsyat Tumpukan batu itu hancur berkeping-keping, menyebar ke segala arah. Ki Selong bergegas menarik tangan anaknya, lalu melangkah mundur mendekati Laras yang memeluk erat-erat anaknya.

Cahaya pun menyemburat dari kobaran api yang membakar batu-batu itu. Tampak wajah Ki Selong dan Pandu Prakasa pucat pasi. Mata mereka sama-sama tidak berkedip memandangi kobaran api itu. Suasana yang semula gelap, berubah terang benderang oleh kobaran api yang ditimbulkan sambaran kilat tadi.

"Ada apa, Ayah? Kakang....?" tanya Laras yang ketakutan melihat wajah ayah mertua dan suaminya pucat pasi.

Baik Ki Selong mau pun Pandu Prakasa tidak menjawab, tapi malah saling berpandangan satu sama lain. Saat itu, tiba-tiba saja suatu ledakan keras terdengar menggelegar dari api yang berkobar besar. Percikan bunga api menyebar ke segala arah, dan salah satunya menyambar atap dangau yang terbuat dari daun rumbia. Api itu langsung melalap atap dangau.

"Cepat, pergi...!" seru Ki Selong.

Pandu Prakasa bergegas menarik tangan istrinya dan membawanya keluar dari dalam dangau. Sedangkan Ki Selong bergegas melompat keluar menyusul anak dan menantunya. Bocah laki-laki berusia tujuh tahun, memeluk erat ibunya dan menyembunyikan wajahnya di dada wanita itu. Mereka berlari-lari menjauhi tempat itu.

Api terus berkobar semakin besar. Hujan pun turun deras bagai ditumpahkan dari langit Ki Selong bersama anak, menantu, dan cucunya terus berlari semakin jauh masuk ke dalam hutan. Cahaya api yang begitu besar menerangi alam sekitarnya. Sesekali mereka menoleh ke belakang melihat sumber api itu. Dan ketika menoleh untuk kesekian kalinya, mendadak mereka berhenti berlari.

Saat itu secercah kilat kembali menyambar ke arah kobaran api. Satu ledakan keras terdengar dahsyat, menggetarkan bumi yang dipijak. Tidak berapa lama berselang, terdengar suara raungan keras disusul padamnya api itu.

"Jagat Dewa Batara...!" desah Ki Selong terperanjat Matanya membeliak tidak berkedip.

Tampak dari reruntuhan batu itu, berdiri sesosok tubuh tinggi besar dengan kedua tangan terangkat tinggi ke atas. Kepalanya menengadah lurus ke atas, dan mulutnya terbuka lebar sambil meraung keras menggelegar. Sepasang bola matanya terlihat merah menyala bagai bara api yang berkobar-kobar. Gigi-giginya bertaring tajam dan berkilat. Pakaiannya koyak dan penuh lumpur, tidak jelas lagi warnanya.

"Graaagh...!" makhluk itu menggerung keras, lalu menoleh ke arah orang-orang yang memperhatikannya.

"Kakang...," Laras merapatkan tubuhnya di belakang suaminya.

Makhluk mengerikan itu melompat cepat ke arah orang-orang itu. Dengan kecepatan kilat, diterkamnya Ki Selong yang masih terperangah. Laki-laki tua itu memekik keras. Lehernya dicengkeram kuat oleh kuku-kuku yang panjang dan berlumpur.

"Ayah...!" jerit Laras tersentak kaget ketakutan.

"Akh...! Lari...! Cepat lari...!" teriak Ki Selong.

Laki-laki tua itu memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman itu. Dia berteriak-teriak memerintahkan anak dan menantunya untuk cepat lari. Tapi Pandu Prakasa seperti terkesima melihat kejadian mengerikan itu, dan hanya berdiri serta membeliak tidak berkedip. Sementara Ki Selong semakin lemah gerakannya. Suaranya juga tertelan gemuruh hujan yang masih deras.

"Lepaskan ayahku...!" teriak Pandu Prakasa begitu melihat tubuh ayahnya sudah tidak bergerak-gerak lagi.

Pandu Prakasa melompat sambil mencabut goloknya yang terselip di pinggang. Dengan kekuatan penuh, dibabarkan goloknya ke punggung makhluk liar mengerikan itu. Tapi goloknya malah terpental begitu menghantam punggung makhluk itu.

"Gragh...!" makhluk itu menggeram keras.

Cepat sekali dia memutar tubuhnya sambil mengibaskan tangannya yang penuh lumpur. Pandu Prakasa yang tengah terpana, tidak bisa lagi berkelit dari sampokan itu. Mulutnya hanya mampu menjerit melengking, dan tubuhnya terlontar keras menghantam sebatang pohon.

"Graaah...!"

Kembali makhluk itu menggerung keras, lalu melompat menerkam Pandu Prakasa. Dengan buas dikoyaknya leher laki-laki muda itu dengan taringnya. Pandu Prakasa menjerit keras, dan tubuhnya menggelepar kuat. Darah langsung muncrat dari leher yang koyak.

"Kakang...! Oh, tidaaak...!" jerit Laras histeris.

"Ibuuu...," rintih Surya Paku menangis dalam gendongan ibunya.

Makhluk itu menggerung dan menoleh pada Laras. Sepasang bola matanya berkilat merah begitu melihat wanita muda berdiri bergetar menggendong seorang bocah. Laras terpaku seketika, dan tubuhnya semakin keras menggigil. Tapi entah dari mana, tiba-tiba datang suatu kekuatan yang membuatnya harus berbalik cepat dan segera berlari kencang.

"Graaagh...!" Makhluk itu menggerung keras.

Dilepaskan cengkeramannya pada Pandu Prakasa. Bergegas makhluk itu melompat hendak mengejar Laras. Namun, Pandu yang masih mampu bertahan hidup, cepat melompat menerkam dengan sisa-sisa tenaganya. Tidak dipedulikannya lagi lehernya yang koyak mengeluarkan darah. Pandu memeluk erat-erat tubuh makhluk itu dari belakang.

"Ghraaaghk...!" Makhluk itu menggeram marah.

Kuat sekali sibakan kedua tangannya, sehingga dekapan Pandu terlepas. Tubuh laki-laki muda itu terpelanting jatuh dengan kerasnya ke tanah. Makhluk itu menjadi marah, dan kembali menerkam Pandu yang menggeletak di tanah basah. Dengan buas sekali dicabik-cabiknya tubuh laki-laki muda itu. Jeritan melengking mengiringi kematiannya.

Makhluk aneh mengerikan itu meraung keras, dan kepalanya berputar memandang ke sekeliling. Tapi Laras sudah tidak terlihat lagi bayangannya, lenyap ditelan kegelapan malam dan lebatnya hutan. Kembali makhluk itu meraung keras menggetarkan seluruh alam persada ini. Dua mayat bergelimpangan, bersimbah darah. Makhluk itu kemudian melampiaskan kemarahannya dengan mencabik-cabik kedua mayat laki-laki yang menjadi korbannya.

Sementara itu Laras terus berlari-lari sekuat tenaga. Tidak dipedulikannya lagi arah yang ditempuh. Beberapa kali kakinya tersangkut akar yang menyembul dari dalam tanah, sehingga wanita itu terjerembab. Namun segala rintangan sudah tidak dipedulikannya lagi, dan terus berlari sekuat tenaga. Air matanya bercucuran bercampur air hujan yang turun deras sekali.

"Ibuuu...," Surya Paku merintih lirih dalam pelukan ibunya.

"Oh!" Laras tersentak mendengar rintihan lirih anaknya.

Wanita itu berhenti berlari, dan jatuh duduk di tanah yang berlumpur sambil menangis dan menciumi anaknya. Seluruh tubuhnya terasa letih, seakan tidak kuat lagi untuk melangkah. Apalagi untuk berlari. Laras memandang sekelilingnya. Naluri keibuannya mengatakan kalau putra satu-satunya ini harus diselamatkan.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Laras bangkit berdiri dan berjalan tertatih-tatih menembus kelebatan hujan sambil memeluk anaknya. Dilindunginya anak itu dari terpaan air hujan yang begitu deras menyakitkan. Laras tidak tahu lagi arah yang dituju, dan di mana sekarang berada. Hanya satu tekadnya. Menyelamatkan Surya Paku dari makhluk buas yang telah merenggut nyawa ayah mertua dan suaminya!

********************

Pagi begitu bening. Matahari bersinar indah dengan cahayanya yang hangat menyinari bumi. Burung-burung berkicau membangunkan seluruh makhluk di muka bumi ini yang semalaman terlelap dalam buaian curah hujan. Titik-titik air hujan masih terlihat di puncak-puncak pohon, memantulkan cahaya indah membentuk lingkaran pelangi.

Di atas rerumputan basah, tampak tergolek seorang wanita muda berpakaian basah dan kotor. Di sampingnya tergolek seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Hangatnya cahaya matahari pagi membuat dua orang itu menggeliat. Kelopak mata mereka mengerjap.

"Oh...!" Wanita itu langsung beranjak bangun, dan memandang berkeliling. Kicauan burung seakan-akan menyambutnya. Wanita itu menoleh menatap bocah laki-laki kecil yang juga sudah terbangun. Tubuhnya masih tergolek, meskipun matanya terbuka penuh. Raut wajah mereka tampak begitu letih, dan pandangan mata sayu. Sesaat kemudian, wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Terdengar suara isak lirih. Bahunya pun terguncang pelahan.

"Ibu...," pelan sekali suara bocah kecil itu. Dia bangkit dan beringsut duduk di samping ibunya.

"Oh, Anakku...."

Wanita itu menggamit dan memeluk anaknya. Dia terus menangis sambil menciumi wajah laki-laki kecil yang kelihatan kebingungan. Tidak berapa lama kemudian wanita itu menghapus air matanya. Tubuhnya masih terduduk lesu, dan pandangannya kosong ke depan, menatap hutan yang lebat.

Ingatannya kembali pada peristiwa mengerikan yang merenggut nyawa ayah mertua serta suaminya semalam. Wanita yang tidak lain adalah Laras, kembali menitikkan air matanya. Kedua telapak tangannya menutup muka, tidak sanggup mengingat peristiwa itu. Sedangkan anak laki-laki di sampingnya hanya bisa memeluk. Hatinya yang masih polos dapat merasakan kesedihan yang dirasakan ibunya. Meskipun belum mengerti, tapi dia ikut menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu.

"Bu..., Ayah mana?" tanya Surya Paku pelan.

"Oh...!"

Laras memeluk anaknya, dan kembali menangis mendengar pertanyaan polos itu. Surya Paku semakin tidak mengerti. Dibiarkan saja ibunya memeluk dan menciuminya, bagai baru saja bertemu setelah berpisah sekian tahun lamanya. Namun tiba-tiba Laras melepaskan pelukannya ketika mendengar derap langkah kaki kuda dari kejauhan, yang jelas mengarah ke tempatnya.

Bergegas Laras bangkit berdiri dan menggendong anaknya, lalu cepat-cepat berlari ke arah semak belukar yang tidak jauh dari tempat itu. Dia bersembunyi di dalamnya. Tidak lama berselang, muncul seorang pemuda tampan menunggang kuda hitam. Langkah kaki kuda itu tidak tergesa-gesa. Dan penunggangnya seperti tengah menikmati keindahan di sekelilingnya sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

Penunggang kuda hitam itu menghentikan langkah binatang jinak tinggi besar itu, di tempat Laras dan anaknya tadi berada. Pemuda tampan penunggang kuda itu melompat turun. Gerakannya indah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sebentar dipandangi keadaan sekeliling, kemudian ditekuk lututnya hingga menyentuh tanah. Tangan kanannya meraba-raba rumput yang rebah bekas tertindih benda berat.

"Hm..., tampaknya masih baru," gumam pemuda itu pelan.

Sebentar kemudian kepalanya terangkat naik. Pada saat itu, Laras menyembulkan kepalanya keluar dari semak. Tapi buru-buru ditarik kembali kepalanya. Namun pemuda tampan berbaju rompi putih itu sudah melihatnya. Dia berdiri dan melangkah ke arah semak belukar itu.

"Nisanak, keluarlah. Kenapa takut?" lembut suara pemuda itu menyapa.

Tapi Laras tidak kunjung keluar. Semak belukar itu bergoyang menimbulkan suara gemerisik. Pemuda tampan itu melangkah lebih mendekat Dan begitu disibakkan semak itu, tampak Laras merungkut memeluk erat anak laki-lakinya. Pemuda itu mengerutkan alis melihat keadaan wanita muda bersama seorang anak laki-laki yang tampak ketakutan. Seluruh tubuhnya menggigil, dan wajahnya pucat pasi.

"Oh, tidak...! Jangan, jangan sakiti aku...," rintih laras memelas.

"Nisanak...."

"Jangan..!" jerit wanita itu langsung bangkit berdiri dan berlari kencang menerobos semak itu.

Pemuda berbaju rompi putih itu melompat menghindari terjangan Laras. Wanita muda itu terus berlari sambil menggendong anaknya dalam pelukan yang begitu erat. Tapi belum lama berlari, kakinya terantuk sebongkah batu. Tak ayal lagi, tubuhnya terjerembab bergulingan. Surya Paku terlepas dari pelukannya, dan melayang hampir mencium tanah.

"Hup!"

Cepat sekali pemuda itu melompat, seraya menangkap Surya Paku sebelum bocah itu jatuh ke tanah. Sementara wanita itu bangkit kembali, dan langsung menjerit melihat anaknya berada di dalam gendongan pemuda asing yang belum dikenalnya.

"Lepaskan anakku...!" jeritnya keras.

Wanita itu berlari cepat menubruk pemuda tampan berbaju rompi itu. Dengan paksa direbutnya Surya Paku dari gendongan pemuda itu, kemudian beringsut mundur dengan wajah pucat ketakutan. Seluruh tubuhnya menggigil keras bagai terserang demam. Sedangkan bocah laki-laki di dalam gendongan-nya memeluk ibunya erat-erat.

Sementara pemuda itu kelihatan bingung dan keheranan melihat sikap wanita muda itu. Dia tidak mengerti, mengapa wanita itu jadi histeris ketakutan melihatnya. Sepertinya tengah melihat sosok makhluk mengerikan yang siap mencabik-cabik seluruh tubuhnya.

"Nisanak...," pemuda itu mencoba bicara lembut.

"Jangan! Pergi kau...! Pergiii...!" jerit Laras melengking.

Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk mendekati. Sementara Laras terus melangkah mundur menjauh. Dipeluk anaknya erat-erat. Seluruh tubuhnya yang kotor berlumpur, masih terlihat menggigil ketakutan. Wajahnya semakin pucat bagai tidak teralirkan darah.

"Jangan sakiti aku. Aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apa-apa. Pergi kau....! Pergi....!" jerit Laras.

"Nisanak, aku tidak akan menyakitimu. Apa yang terjadi denganmu?" tanya pemuda itu lembut.

"Jangan dekat!"

Kembali pemuda itu mengurungkan langkahnya. "Baiklah, aku akan pergi," kata pemuda itu menyerah.

Pemuda itu melangkah menghampiri kudanya, lalu melompat naik ke punggung kuda hitam itu. Sebentar dipandangi wanita bersama anaknya itu, kemudian dihela kudanya perlahan. Kuda hitam itu berjalan pelan-pelan masuk ke dalam hutan. Laras langsung menjatuhkan dirinya berlutut Seluruh tubuh dan perasaannya terasa lemas.

********************

DUA

Hari terus merayap semakin tinggi. Laras terus melangkah tertatih-tatih menuntun anaknya yang berjalan pelan di sampingnya. Hampir seharian mereka berjalan, namun belum juga menemukan perkampungan. Sepanjang jalan yang dilalui hanya padang gersang dan hutan lebat. Laras sengaja menghindari hutan karena takut kalau-kalau bertemu makhluk aneh mengerikan yang telah membunuh ayah mertua serta suaminya secara liar dan buas.

"Bu, ke mana kita pergi?" tanya Surya Paku lesu.

"Entahlah," sahut Laras yang juga lesu. "Kau lelah, Sayang?"

"He-eh." Surya Paku mengangguk.

"Kita istirahat sebentar di sini."

Tempat itu memang cocok untuk beristirahat. Pemandangannya cukup indah, dan terdapat juga sungai kecil yang mengalir jernih. Surya Paku menceburkan dirinya ke dalam sungai itu. Dibersihkan tubuhnya yang kotor berlumpur. Sedangkan Laras juga membersihkan tubuh dan pakaiannya. Mereka beristirahat sambil menikmati segarnya air jernih sungai kecil itu.

Tidak lama mereka berada di dalam sungai, kemudian naik ke darat dengan pakaian basah kuyup. Memang hanya itu satu-satunya pakaian yang bisa dibawa. Mereka tidak sempat lagi menyelamatkan barang bawaan yang tertinggal di dangau. Laras duduk di atas batu ceper yang menyerupai piring.

"Ha ha ha..!"

Tiba-tiba saja terdengar suara tawa keras. Laras tersentak kaget dan buru-buru bangkit berdiri seraya menggendong anaknya. Suara tawa itu terdengar menggema, seolah-olah datang dari segala penjuru. Laras jadi bingung. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak terlihat ada orang lain di tempat ini.

Belum juga Laras bisa menyadari apa yang bakal terjadi, tiba-tiba saja empat orang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berwajah kasar bermunculan dari balik semak belukar. Mereka tertawa-tawa terkekeh sambil menatap liar pada Laras. Tentu saja wanita itu jadi ketakutan dan beringsut mundur. Tapi....

"Ah...!" Laras memekik kaget.

Entah kapan dimulainya, tahu-tahu salah seorang dari empat laki-laki kasar itu sudah melompat dan menerkamnya. Wanita itu tidak bisa lagi mengimbangi tubuhnya, lalu jatuh bergulingan bersama laki-laki yang menerkamnya. Surya Paku terlepas dari gendongan Ibunya. Tiga laki-laki lainnya hanya tertawa-tawa melihat pergumulan seorang temannya.

"Lepaskan! Bajingan...! Auh!" Laras menjerit-jerit sambil meronta berusaha melepaskan diri.

Tapi dengan kasar laki-laki itu merenggut pakaian yang dikenakan Laras, sehingga wanita itu terpekik. Dengan berusaha susah payah ditutupi tubuhnya yang mulai terbuka. Tiga laki-laki lainnya semakin keras tertawa, dan mulai berlompatan mendekati. Tatapan matanya begitu liar, dan lidahnya menjulur ke depan menjilati bibirnya sendiri.

Laras benar-benar tidak berdaya lagi. Tubuhnya menggeliat-geliat di tanah dikeroyok empat orang laki-laki. Sementara Surya Paku hanya bisa menangis menyaksikan ibunya direjam empat orang dengan buas. Namun ibu anak kecil itu masih juga berusaha meronta melepaskan diri, meskipun seluruh pakaiannya sudah cabik-cabik tidak karuan lagi.

Namun pada saat yang kritis, tiba-tiba saja laki-laki yang mengerubuti Laras berpentalan ke udara. Mereka memekik keras dan bergelimpangan di tanah. Laras buru-buru beringsut sambil membenahi pakaiannya yang sudah tidak berbentuk lagi. Tidak jauh darinya berdiri seorang laki-laki muda dan tampan. Empat orang laki-laki itu bergegas bangkit, langsung menggeram marah.

"Aku muak melihat manusia-manusia berhati iblis macam kalian!" dengus pemuda itu dingin.

"Kurang ajar! Kau cari mampus rupanya, heh!" geram salah seorang.

"Seharusnya kalian malu, mengeroyok wanita lemah tanpa daya."

"Setan! Kubunuh kau, keparat..!"

Empat orang laki-laki itu segera mencabut goloknya, dan melompat menerjang pemuda yang memakai baju rompi putih. Namun terjangan itu manis sekali dapat dielakkan. Bahkan- pemuda itu mampu menyarangkan pukulannya secara beruntun. Empat orang laki-laki berwajah kasar itu memekik keras, dan tubuhnya berpentalan bagai daun kering.

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu senjata mereka sudah berpindah tangan. Pemuda itu melemparkan golok yang dirampasnya, dan senjata itu menancap tepat di depan empat orang itu. Mata mereka membeliak lebar melihat goloknya terbenam dalam sampai ke tangkal

"Cepat pergi, sebelum pikiranku berubah!" tetap dingin suara pemuda itu.

Empat laki-laki itu saling berpandangan, lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Mereka tidak peduli lagi dengan goloknya yang tertanam dalam di tanah. Pemuda itu berbalik menghadap pada Laras yang sudah berada di samping anaknya. Pakaian wanita itu sudah tidak karuan lagi sehingga beberapa bagian tubuhnya terbuka.

"Kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu lembut.

"Tidak, terima kasih," sahut Laras.

"Suit!" pemuda itu bersiul pendek.

Terdengar ringkikan, kemudian disusul oleh munculnya seekor kuda hitam yang tinggi dan tegap. Kuda itu menghampiri pemuda berbaju rompi putih sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Pemuda itu mengambil buntalan kain usang dari pelana kudanya, dan menyerahkannya pada Laras.

"Aku menemukan ini tidak jauh dari sini," kata pemuda itu. "Hanya ada beberapa potong pakaian, mungkin pas ukurannya denganmu."

"Oh, di mana Tuan temukan ini?" Laras mengenali buntalan kain miliknya itu.

"Di sebuah dangau," sahut pemuda itu. "Hm..., sebaiknya jangan memanggil aku tuan. Panggil saja Rangga. Itu namaku."

Laras memberikan senyuman sedikit. Dibukanya buntalan kain itu, lalu diambilnya selembar kain yang terlipat rapi. Sesaat kemudian dililitkan kain itu ke tubuhnya Pemuda berbaju rompi putih yang ternyata adalah Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti, melangkah menjauhi dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain.

Sejenak Laras memandanginya, kemudian bergegas mengambil sepotong baju yang dengan cepat dikenakannya. Dia pun harus mengganti baju anaknya yang sudah kotor itu. Laras kelihaian cantik dengan baju merah muda yang bersih. Sengaja dipakainya celana sebatas lutut untuk memudahkannya bergerak. Kembali dipandangi punggung Rangga yang menghadap ke arah lain.

"Tuan...," pelan suara Laras memanggil.

Rangga menoleh sedikit, lalu berbalik menghadap wanita itu. Pendekar Rajawali Sakti itu bersiul kecil melihat Laras sudah berganti pakaian. Seketika wajah wanita itu jadi merah tersipu malu. Pelahan-lahan Rangga melangkah menghampiri dan berlutut di depan anak laki-laki kecil.

"Siapa namamu?" tanya Rangga lembut.

Surya Paku tidak langsung menjawab, tapi hanya menengadah menatap ibunya.

"Surya," Laras yang menyahuti.

"Nama yang bagus," ucap Rangga seraya berdiri.

"Terima kasih, Tuan...."

"A a a...," Rangga menggerak-gerakkan jari telunjuk di depan mulutnya dengan kepala menggeleng-geleng. "Jangan panggil aku tuan, panggil saja Rangga."

"Maaf," ucap Laras kembali tersipu.

Laras menundukkan kepalanya. Dia tadi telah menyangka buruk terhadap pemuda itu. Tapi sekarang, pemuda itu telah menolongnya, bahkan membawakan pakaiannya kembali. Laras jadi malu dan tidak sanggup memandang wajah laki-laki tampan di depannya. Untuk beberapa saat, dirinya hanya bisa diam sambil tertunduk.

********************

Rangga memutar-mutar dahan kecil di atas api yang dibuatnya. Pada ujung dahan kecil itu terpanggang seekor kelinci gemuk yang ditangkap tadi. Di sampingnya duduk Surya Paku, yang kelihatan lahap sekali menikmati daging kelinci panggang. Sedangkan di depannya, Laras juga tengah menikmati daging yang sama. Masih ada seekor lagi yang belum dipanggang.

"Kau bilang barang-barang itu milikmu, kenapa ditinggalkan di dangau?" tanya Rangga seraya mengangkat kepalanya menatap Laras.

Mulut Laras yang sudah terbuka hendak menggigit daging kelinci, jadi terkatup kembali mendengar pertanyaan itu. Sesaat wanita itu menatap Rangga, kemudian kepalanya tertunduk. Terpancar kesedihan yang amat dalam pada raut wajahnya. Kilatan sinar matanya juga menunjukkan perasaan takut dan kengerian yang mendalam.

"Aku juga menemukan bekas-bekas...."

"Ah!" Laras terpekik tanpa sadar, dan langsung mengangkat kepalanya.

Rangga jadi heran melihat wajah Laras jadi pucat pasi. Tubuhnya mendadak saja bergetar bagai terserang demam. Wanita itu beringsut mendekati anaknya, lalu memeluknya erat-erat. Tatapannya masih tertuju pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau sakit, Laras?" tanya Rangga tidak mengerti akan sikap wanita itu.

"Oh, tid..., tidak," sahut Laras tergagap.

"Tapi..., wajahmu pucat."

"Aku..., aku...," suara Laras jadi tercekat di tenggorokan.

"Hssst..., sudah. Maaf, aku tidak akan menyinggung lagi tentang itu," Rangga menenangkan.

Laras kembali tertunduk. Tubuhnya masih terlihat bergetar. Wajahnya juga masih memucat. Di benaknya terbayang kembali peristiwa mengerikan yang merenggut orang-orang yang dicintainya, yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Sungguh mengerikan! Rasanya Laras tidak sanggup membayangkannya lagi. Tubuhnya selalu bergetar jika teringat peristiwa malam itu.

"Boleh aku tahu, ke mana tujuanmu?" tanya Rangga membelokkan pembicaraan.

Laras tidak langsung menjawab. Diangkat kepalanya perlahan-lahan, langsung ditatap bola mata pemuda di sampingnya. Perlahan sekali kepalanya bergerak menggeleng, hampir tidak kelihatan.

"Jarang orang yang datang ke daerah ini. Apa kau dari Desa Caruban?" kembali Rangga membuka suara.

"Caruban...?!" nada suara Laras seperti baru saja mendengar nama desa itu.

"Iya, Caruban. Desa itu tidak jauh dari sini. Hanya setengah hari perjalanan. Kau bukan dari sana?" Rangga ingin kejelasan.

"Bukan," sahut Laras pelan seraya menggeleng lemah.

"Ha.., tidak ada desa lagi di sekitar Gunung Puring ini," suara Rangga terdengar bergumam.

"Apakah ini Gunung Puring?" Laras jadi bertanya.

"Benar! Kita sekarang berada di sebelah Timur Lereng Gunung Puring. Kenapa kau bertanya begitu? Kau tidak tahu, Laras?" Rangga jadi heran.

"Oh...," Laras menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Desahannya begitu berat dan panjang. Tangannya mengusap-usap kepala anaknya yang hanya diam saja di pangkuan ibunya.

"Aneh.... Kau berada di sini bersama anakmu, tapi tidak tahu nama tempat ini...," gumam Rangga pelan, seolah untuk dirinya sendiri.

"Rangga...," panggil Laras pelan.

"Hem...."

"Kau berasal dari mana?" tanya Laras seraya menatap wajah Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Aku hanya seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal pasti.

"Kau bukan orang suruhan...," suara Laras terputus.

"Tidak ada yang bisa menyuruhku," kata Rangga seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Meskipun kelihatannya biasa saja, namun hati Pendekar Rajawali Sakti itu sudah bisa menebak kalau Laras mempunyai persoalan, sehingga berada di tempat yang sangat terasing dan tidak pernah didatangi orang ini. Tapi Rangga tidak ingin mendesaknya, khawatir akan menyinggung perasaannya dan membuat wanita itu pucat dan menggigil.

Laras terdiam, mungkin sedang mempertimbangkan pemuda tampan yang telah menolongnya dari tangan-tangan kotor tadi. Kembali dinikmati daging kelinci panggangnya. Sementara Rangga juga menyantap kelinci bakar, lalu memanggang seekor lagi. Sementara Surya Paku tetap tenang, seperti tidak mengetahui yang ada di dalam hati dan pikiran ibunya.

Mereka menghabiskan kelinci panggang itu tanpa berbicara lagi. Sampai kelinci panggang tak tersisa, belum ada yang membuka suara. Rangga bangkit berdiri dan mendekati kudanya yang tertambat di pohon, lantas memasang pelana pada kuda hitam itu. Sebentar diliriknya Laras yang sudah bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Buntalan kain sudah tersandang di pundaknya yang kecil. Tangan kirinya menggandeng Surya Paku.

"Ke mana tujuanmu?" tanya Rangga baru membuka suara kembali.

"Entahlah," desah Laras menjawab.

"Bu, katanya...."

"Ssst...!" Laras menyentakkan tangan anaknya, sehingga Surya Paku langsung diam.

"Bukannya aku menakut-nakuti, tapi rasanya tidak aman jalan seorang diri, apalagi membawa anak. Tempat ini penuh manusia-manusia liar tidak beradab," kata Rangga memperingatkan.

"Terima kasih, tapi...," ucap Laras terputus.

"Aku berharap kau bisa selamat. Sampai ketemu lagi," ucap Rangga seraya melompat naik ke punggung kuda Dewa Bayu.

"Eh..!"

Rangga tidak jadi menggebah kudanya. Ditatapnya Laras yang kelihatan bimbang. "Ada yang ingin kau katakan?" lembut suara Rangga.

"Tid..., eh, iya," Laras jadi gugup.

"Katakanlah," pinta Rangga seraya turun kembali dari punggung Dewa Bayu.

"Aku percaya kau orang baik...," kembali kata-kata Laras terputus.

Rangga menghampiri sambil menuntun kudanya. "Jangan katakan apa-apa kalau tidak ingin mengatakannya. Tapi aku bersedia mengantar sampai tujuanmu," kata Rangga melihat Laras masih tampak bimbang.

Rangga meraih tubuh Surya Paku dan menaikkannya ke kudanya. Bocah itu kelihatan senang berada di atas punggung Dewa Bayu yang hitam dan gagah.

"Mau jalan kaki, atau naik kuda ini?" Rangga menawarkan.

"Terima kasih," hanya itu yang bisa terucapkan dari bibir Laras.

Tanpa berkata-kata lagi, mereka berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Rangga berjalan di samping Laras sambil menuntun kudanya. Wanita itu kelihatan masih bimbang dan terus berpikir. Entah apa yang ada dalam kepalanya saat ini. Dia sendiri tidak tahu arah yang di tuju sekarang.

Rangga dan Laras terus berjalan perlahan memutari Lereng Gunung Puring. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan pasti. Hari terus berjalan demikian cepat. Tak terasa keadaan sekitarnya telah gelap.

Saat Rangga, Laras, dan Surya Paku, terdiam membisu, tiba-tiba terdengar suara raungan dahsyat bagai seekor binatang buas. Raungan itu demikian keras, sehingga terdengar jelas. Seketika itu juga wajah Laras pucat pasi, dan tubuhnya menggigil bagai terserang demam mendadak. Rangga sampai terlonjak dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Rangga, awas...!" seru Laras tiba-tiba.

Rangga membalikkan tubuhnya cepat. Pada saat yang sama sesosok makhluk tinggi besar dan berwajah mengerikan muncul. Makhluk itu menggeram keras memperlihatkan giginya yang bertaring tajam. Seluruh tubuhnya kotor berlumpur. Hampir-hampir Rangga tidak percaya dengan penglihatannya. Belum pernah dia melihat makhluk seram seperti ini.

"Grauuugh...!" makhluk itu menggeram dahsyat. Tiba-tiba saja makhluk itu melompat cepat bagaikan kilat menerkam Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu Rangga masih terpaku. Perasaannya diliputi berbagai macam perasaan melihat makhluk yang baru pertama kali dilihatnya ini. Rangga benar-benar tidak sempat lagi menghindar. Jari-jari tangan yang kotor dan berkuku panjang, kini telah mencengkeram leher Pendekar Rajawali Sakti itu.

Seketika itu juga Rangga merasakan pernapasannya terganggu. Dicobanya untuk melepaskan cengkeraman makhluk itu. Tapi semakin berusaha, semakin keras cekikan itu pada lehernya.

"Ugh! Cekikan ini...!" dengus Rangga dalam hati.

********************

TIGA

Rangga menghimpun tenaga dalamnya. Ditekankan kakinya ke perut makhluk itu, dan tangannya menekan dada. Sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai kesempurnaan, Pendekar Rajawali Sakti itu menghentakkan makhluk itu kuat-kuat.

"Hiyaaa...!"
"Graghk...!"

Makhluk itu melayang deras ke angkasa, lalu jatuh menghantam sebongkah batu besar hingga bumi terasa bergetar begitu tubuh makhluk besar itu jatuh menghantam batu. Sementara Rangga bergegas melompat bangkit berdiri. Sebentar dipegangi lehernya yang terasa perih. Untung tidak ada luka, tapi cukup membuat napasnya sesak.

"Graghk...!"

Makhluk besar dan berlumpur itu kembali melompat cepat. Namun kali ini Rangga sudah siap. Dia segera melompat ke kiri, sambil melayangkan satu tendangan keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan sama sekali. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti justru malah terpental menabrak pohon hingga tumbang. Sedangkan makhluk itu berdiri tegak sambil menggeram keras.

"Gila! Makhluk apa ini..?" rungut Rangga seraya bangkit berdiri.

Sementara, makhluk besar dan kotor itu sudah melangkah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Geramannya begitu keras sehingga mendirikan bulu roma. Matanya merah menyala bagai kobaran api. Rangga melangkah ke samping sambil mempersiapkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Kedua tangannya jadi merah bagai terbakar.

"Ghraaakh...!"
"Hiyaaat..!"

Begitu makhluk itu menyerang, dengan cepat Rangga melompat ke atas. Tubuhnya kemudian menukik tajam sambil melontarkan dua pukulan mautnya ke arah kepala, dan tepat menghantam sasaran. Tapi, makhluk itu bukannya roboh! Justru Pendekar Rajawali Sakti-lah yang terpental dan bergulingan di tanah. Rangga bergegas bangkit berdiri. Hatinya benar-benar heran menghadapi makhluk yang begitu kuat. Tidak sedikit pun terpengaruh jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Bahkan makhluk itu masih tetap tegar, dan kini sudah kembali menyerang ganas.

Menghadapi lawan seperti ini. Rangga tidak punya pilihan lagi. Langsung dikerahkannya jurus-jurus andalan yang jarang dikeluarkan dalam pertarungan. Tapi setiap jurus yang dikeluarkan, tidak berpengaruh sama sekali. Makhluk itu tetap tegar, bahkan kini semakin liar saja. Kali ini Rangga benar-benar kewalahan menghadapinya.

"Hup!"

Rangga melompat jauh ke belakang sambil memutar tubuhnya di udara. Dengan manis sekali kakinya mendarat di tanah, tidak jauh dari Laras dan Surya Paku. Wanita itu sudah menggendong anaknya dengan tubuh gemetar ketakutan. Sementara makhluk itu menggerung-gerung marah. Tenaganya begitu luar biasa. Pohon besar hancur begitu terkena amukannya.

"Cepat kalian tinggalkan tempat ini," perintah Rangga.

"Kau...?" nada suara Laras terdengar cemas.

"Pakai kudaku! Dia tahu ke mana harus membawamu," kata Rangga lagi.

Kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu meringkik, seakan-akan bisa mengerti apa yang dikatakan Rangga. Kuda Dewa Bayu melangkah mendekati, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Rangga tidak banyak bicara lagi. Diangkatnya tubuh Laras yang menggendong anaknya, lalu ditempatkan di punggung kuda hitam itu.

"Kau tahu ke mana harus membawa mereka?" tanya Rangga pada kuda Dewa Bayu sambil menepuk leher kuda itu.

Kuda Dewa Bayu meringkik keras, lalu berlari kencang membawa dua orang di punggungnya. Sementara Rangga kembali bersiap-siap menghadapi makhluk aneh mengerikan itu. Makhluk itu kelihatan marah melihat Laras pergi menunggang kuda. Dia menggeram keras, lalu melompat hendak mengejar. Tapi Rangga tidak bisa mendiamkan begitu saja, dan cepat-cepat ikut melompat sambil mengirimkan beberapa pukulan keras bertenaga dalam tinggi.

Tindakan Pendekar Rajawali Sakti itu memang tepat. Makhluk itu kini memusatkan perhatiannya pada Rangga. Kemarahannya ditumpahkan pada Pendekar Rajawali Sakti itu, lalu mengamuk membabi buta. Rangga tahu kalau makhluk ini tidak pandai ilmu silat, tapi hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja.

Sret!

Rangga mencabut pedang pusakanya, dan mempersiapkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Makhluk itu menggeram dahsyat melihat pedang yang bersinar biru itu. Kembali diserangnya Rangga dengan ganas. Dengan pedang di tangan, Rangga semakin lincah dan sukar didekati.

"Modar!" seru Rangga keras.

Seketika itu juga Rangga menyabetkan pedangnya ke dada yang terbuka. Gerakan makhluk itu memang cepat, tapi terasa lamban bagi Pendekar Rajawali Sakti. Tebasan pedang itu tepat menghantam dadanya.

Semula Rangga mengira makhluk itu akan meraung dan menggelepar di tanah. Tapi, kenyataan yang dihadapi sungguh di luar dugaan sama sekali. Tidak ada luka sedikit pun di dadanya. Bahkan Rangga kini merasakan jari-jari tangannya menjadi kaku. Buru-buru dia melompat mundur beberapa tombak.

"Hiyaaat...!"

Kembali Rangga menerjang sambil membabatkan pedangnya beberapa kali ke tubuh makhluk itu. Tidak ada satu pun tebasannya yang luput dari sasaran. Namun makhluk besar dan kotor itu tetap tegar, dan tidak terluka sedikit pun. Hal ini membuat Rangga perasaran, bercampur heran. Baru kali ini Pedang Rajawali Sakti tidak bermanfaat.

"Phuih! Dari mana setan ini muncul...? Huh! Bisa habis tenagaku kalau begini terus!" dengus Rangg seraya melompat mundur sejauh tiga batang tombak.

Rangga tidak ingin membuang-buang tenaga menghadapi makhluk kebal itu. Segera dikerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Pendekar Rajawali Sakti itu menekuk lututnya, hingga tubuhnya sedikit merendah. Kemudian tangan kirinya menggosok mata pedang yang melintang di depan dada. Sementara makhluk itu menggerung pelan memperhatikan.

Perlahan-lahan cahaya biru kemilau bergulung membentuk lingkaran bulat seperti bola di ujung pedang. Dan lingkaran itu bergerak menggulung seluruh mata pedang Rajawali Sakti, hingga ke tangkainya.

"Grrrh...!" makhluk itu menggerung perlahan sambil menggerakkan kepalanya miring ke kanan.

Namun tiba-tiba saja makhluk itu melompat cepat, lalu masuk ke dalam hutan lebat. Rangga tersentak kaget melihat makhluk tinggi besar berlumpur itu kabur. Cepat-cepat dihentakkan pedangnya ke depan, maka bola biru itu melesat cepat bagai anak panah lepas dari busurnya. Satu ledakan keras terdengar menggelegar begitu bola biru menghantam pepohonan.

Trak!

Rangga memasukkan kembali pedang ke dalam warangkanya di balik punggung. Dipandangi pepohonan yang tumbang, hancur berkeping-keping terhantam aji 'Cakra Buana Sukma'. Kini tidak terlihat lagi makhluk itu. Rangga jadi keheranan juga melihat makhluk itu lari begitu dikerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'.

"Hhh...! Makhluk apa itu? Bentuknya seperti manusia. Tapi..," Rangga bergumam sendiri disertai hembusan napas panjang.

Rangga jadi teringat akan sikap Laras yang begitu ketakutan ketika mendengar suara makhluk itu. Padahal bentuknya saja belum kelihatan. Sepertinya, makhluk itu memang mengincar Laras. Pendekar Rajawali Sakti jadi bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Dicobanya untuk menghubung-hubungkan keberadaan Laras di hutan Lereng Gunung Puring ini, dengan sikap aneh wanita itu.

"Memang aneh sikap Laras. Tapi, apa hubungannya dengan makhluk itu?" Rangga bergumam, bertanya pada dirinya sendiri.

Pendekar Rajawali Sakti itu menggeleng-geleng kan kepalanya. Belum bisa dijawab semua pertanyaan yang mengalir di dalam benaknya. Langkah Rangga cepat ke arah perginya kuda Dewa Bayu membawa Laras dan Surya Paku. Sudah diketahui ke mana kuda Dewa Bayu membawa wanita dan anaknya itu pergi.

Rangga mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang diimbangi ilmu lari cepat. Ilmu yang dimilikinya sudah mencapai taraf kesempurnaan, sehingga gerakannya begitu cepat. Larinya saja seperti tanpa menyentuh tanah. Rangga terus berlari menerobos hutan. Kadang-kadang harus melompat di pohon yang satu ke pohon yang lain.

Pendekar Rajawali Sakti itu terus berlari cepat, dan baru berhenti setelah tiba pada sebuah perkampungan yang ada di kaki Lereng Gunung Puring. Perkampungan itu tidak terlalu besar, tapi cukup padat penghuninya. Rangga melangkah tenang menyusuri jalan utama perkampungan itu.

"Laras...!" teriak Rangga ketika melihat seorang wanita berjalan menuntun kuda hitam yang di punggungnya duduk seorang anak laki-laki.

Wanita itu berhenti melangkah dan menoleh. Dia langsung berlari menghampiri Rangga yang melangkah cepat ke arahnya. Kuda hitam itu juga berbalik dan melangkah menghampiri majikannya.

"Oh! Aku cemas sekali, Rangga," ucap Laras. Wajahnya masih terlihat pucat.

Rangga hanya tersenyum saja. Diambilnya tali pelana kudanya, lalu kembali melangkah sambil menuntun kuda itu. Laras juga ikut berjalan di sampingnya. Mereka melangkah tanpa bicara lagi, dan baru berhenti setelah tiba di depan rumah kecil berdinding papan. Seorang laki-laki tua yang tengah duduk di balai-balai bambu, langsung melompat dan menghampiri.

"Den...," laki-laki itu tampaknya sudah kenal dengan Rangga.

"Ki, aku ingin menumpang lagi untuk beberapa hari di sini," kata Rangga ramah.

"Oh, tentu. Tentu saja boleh, Den. Silakan masuk," sambut laki-laki tua itu ramah.

"Laras, ini Ki Giri. Aku pernah menginap di sini beberapa hari," Rangga memperkenalkan.

"Ha ha ha.... Rumah ini selalu terbuka untuk Den Rangga, dan Den Ayu," sambut Ki Giri.

"Panggil saja aku Laras, Ki," kata Laras.

"Oh ya..., silakan masuk! Tentunya kalian semua sudah lelah dan lapar. Tadi aku mencabut ketela di kebun, dan sudah ada yang kurebus. Ayo, masuk."

"Terima kasih," ucap Laras.

Rangga menurunkan Surya Paku dari punggung kuda Dewa Bayu, kemudian menambatkannya di bawah pohon kemuning. Sementara Ki Giri sudah membawa masuk Laras dan anaknya ke dalam rumahnya. Rangga memandangi sekitarnya beberapa saat. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah itu. Dihenyakkan tubuhnya di dipan kayu yang hanya beralaskan tikar daun pandan.

Sedangkan Laras duduk di dipan itu juga, tidak jauh dari Pendekar Rajawali Sakti, dipan ini memang cukup besar dan tampaknya kuat, dan terbuat dari kayu jati yang sudah tua usianya. Ki Giri keluar dari ruangan belakang membawa sepiring ketela rebus yang masih mengepulkan uap. Diletakkannya piring yang penuh ketela itu di meja dekat dipan itu.

"Ayo dimakan, mumpung masih hangat," Ki Giri mempersilakan.

"Terima kasih, Ki," ucap Laras seraya mengambil sepotong dan sebelahnya. Diberikan yang sebelah itu pada anaknya. Sedangkan Rangga juga mengambil sepotong.

Ki Giri menuangkan air ke dalam gelas bambu dari dalam kendi tanah liat. Kemudian diambil tembakau dan digulungnya dengan daun kawung. Tidak lama Ki Giri sudah asyik bersama asap tembakaunya.

"Tadinya, kukira Den Rangga tidak akan kembali lagi ke sini," celoteh Ki Giri membuka pembicaraan kembali.

"Siapa bilang, Ki. Kan sudah kukatakan, pasti aku akan kembali lagi ke sini," sambut Rangga ringan.

"Hampir seluruh penduduk Desa Caruban ini selalu menanyakanmu, Den. Hampir kewalahan aku menjawabnya. Lebih-lebih Ki Bonang," kata Ki Giri lagi.

"Ada apa dengan kepala desa itu?" tanya Rangga.

"He he he..., dia berharap kau bersedia meminang anak gadisnya," Ki Giri terkekeh.

"Ada-ada saja Aki ini...," Rangga tersenyum kecut.

"Dia benar-benar menyesali sikapnya terhadapmu, Den. Katanya, kalau tahu Aden seorang pendekar yang digdaya, pasti dia tidak akan bersikap kaku. Perasaannya malu sekali, karena telah menyepelekan Aden yang telah menyelamatkan nyawanya. He he he.... Biasa, Den. Penyesalan itu datangnya selalu belakangan," kembali Ki Giri terkekeh.

Rangga hanya tersenyum saja. Memang desa ini belum ada satu pekan ditinggalkan. Desa yang semula seperti mati akibat tekanan satu gerombolan liar. Semula gerombolan itu hanya menjarah harta benda penduduk saja. Tapi semakin lama semakin liar saja. Bahkan dengan berani, kepala rombongan itu meminta anak gadis kepala desa untuk dijadikan istrinya.

Sebenarnya waktu itu Rangga tidak ingin ikut campur. Dia hanya kebetulan saja lewat di desa ini. Tapi melihat kebrutalan gerombolan itu, jelas tidak bisa tinggal diam. Lebih-lebih setelah Ayu Kumala meminta untuk membebaskan dirinya dan seluruh penduduk desa ini dari tekanan gerombolan liar itu. Ya, Ayu Kumala memang cantik. Apalagi dia putri bungsu Kepala Desa Caruban. Kakak laki-lakinya tewas di tangan pemimpin gerombolan itu, sedangkan kakak perempuannya bunuh diri, karena hendak diperkosa.

"He he he.... Kau ingat dengan Ayu, Raden?" goda Ki Giri.

"Ah, Ki Giri...," wajah Rangga menyemburat merah. "Kau tidak istirahat, Laras?" Rangga mengalih kan perhatiannya pada Laras, ingin menghindari godaan Ki Giri.

"Ya, rasanya lelah sekali," sahut Laras.

"Oh, mari.... Mari kutunjukkan kamar untukmu Den Ayu," kata Ki Giri seraya bangkit berdiri.

Laras menggendong anaknya yang kelihatan sudah mengantuk, kemudian turun dari dipan, dan melangkah mengikuti Ki Giri. Rangga menyandarkan tubuhnya pada dinding papan. Tidak berapa lama kemudian Ki Giri sudah muncul kembali.

"Tidak ada kamar lagi, Den. Terpaksa kamar bekas Aden dipakai," kata Ki Giri sambil duduk kembali di kursinya.

"Tidak apa, Ki. Aku bisa tidur di sini," sahut Rangga.

"Jangan! Raden bisa tidur di kamarku, dan biar aku saja yang tidur di sini."

"Terima kasih, aku sudah begitu merepotkan.

"Aaah.... Kalau dibandingkan jasa Aden, ini belum seberapa."

Lagi-lagi Rangga tersenyum saja.

"Den, wanita itu siapa?" tanya Ki Giri setengah berbisik.

Rangga kembali tersenyum dan menceritakan pertemuannya dengan Laras. Juga diceritakannya peristiwa yang terjadi, hingga diputuskanlah untuk kembali lagi ke sini. Ki Giri mendengarkan penuh perhatian. Raut wajahnya langsung berubah begitu mendengar adanya makhluk aneh mengerikan yang muncul di sebelah Selatan Lereng Gunung Puring. Rangga melihat perubahan wajah itu, tapi tidak ingin menanyakannya sekarang. Rasanya saat ini ingin istirahat saja, melepaskan lelah setelah pertarungannya yang begitu banyak menguras tenaga.

********************

Kedatangan kembali Pendekar Rajawali Sakti ke Desa Caruban cepat menyebar. Sehingga, banyak penduduk yang berdatangan ke rumah Ki Giri, hanya untuk melihat dan berbicara dengan orang yang telah membebaskan desa ini dari tekanan gerombolan orang liar dan tak beradab. Sebagian besar penduduk desa ini memang belum pernah melihat, meskipun sudah mendengar tentang kedigdayaan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga tidak bisa menolak kehadiran mereka. Sampai jauh malam, dia baru bisa tenang setelah tidak ada lagi penduduk desa yang datang. Rangga baru saja akan merebahkan diri di dipan kayu yang berada di ruangan depan rumah Ki Giri, ketika pintu rumah itu diketuk dari luar. Sambil mendengus panjang, Pendekar Rajawali Sakti bangkit dan melangkah ke pintu.

"Siapa?" tanya Rangga sebelum membuka pintu.

"Aku.... Ayu," terdengar sahutan halus.

Rangga tersentak kaget. Buru-buru dibukanya pintu itu. Tampak seorang gadis muda berusia sekitar sembilan belas tahun, berdiri di ambang pintu. Gadis itu mengenakan baju hijau muda yang cukup ketat! Rambutnya yang hitam panjang, terkepang menjuntai di depan dada. Rangga buru-buru keluar, kemudian menutup kembali pintunya.

"Ada apa ke sini?" tanya Rangga setengah berbisik, karena tidak ingin mengganggu tidur Ki Giri.

"Kau tidak suka kedatanganku, Kakang?" Ayu Kumala memberengut manja.

"Bukannya aku tidak suka, tapi ini sudah larut malam Ayu."

"Memangnya, kenapa?"

Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Rasanya malu jika kedatangan gadis ini ada yang melihat. Saat ini memang telah larut malam, dan tidak ada lagi yang berada di luar rumah. Seluruh penduduk Desa Caruban ini sudah terlelap dalam tidur. Rangga menarik tangan gadis itu, lalu membawanya ke samping rumah. Mereka kemudian duduk di kayu pohon ara, persediaan kayu bakar yang belum dibelah.

"Kau pasti tidak suka dengan kedatanganku, Kakang," tebak Ayu Kumala masih memberengut manja.

"Aku suka," sahut Rangga tidak ingin mengecewakan gadis ini

"Tapi, mengapa sikapmu begitu?"

"Begitu, bagaimana?"

"Kau tidak menyuruh masuk, tapi malah membawaku ke sini."

"Ayu..., Ki Giri sudah tidur. Aku tidak mau mengganggunya. Ini kan sudah larut malam. Lagi pula, tidak baik kalau dilihat orang," Rangga coba memberi pengertian.

"Masa bodoh dengan mereka!" dengus Ayu Kumala.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejak bertemu gadis ini, sulit rasanya memberi pengertian pada Ayu Kumala. Sebagai anak bungsu, apalagi kedua kakaknya telah tewas, maka kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Jadi, sikapnya sering seenaknya sendiri saja. Tapi gadis ini cukup pintar, dan ilmu olah kanuragannya juga lumayan.

"Baiklah," Rangga menyerah. "Apa keperluanmu datang malam-malam begini?"

"Hanya ingin bertemu," sahut Ayu kalem.

"Tidak ada hal lain?" desak Rangga.

Ayu tidak menjawab, tapi hanya mempermainkan ujung rambutnya dengan sikap manja. Matanya mengerling pada Pendekar Rajawali Sakti itu. Dan Rangga sempat menelan ludahnya melihat kerlingan mata yang indah itu.

"Kakang tidak marah jika aku tanya sesuatu?" manja sekali suara gadis itu.

"Kamu ini ada-ada saja, Ayu. Katakan saja, apa yang ingin ditanyakan."

"Hm...," Ayu Kumala ragu-ragu.

"Katakan saja, mengapa ragu-ragu?" desak Rangga.

"Benar Kakang datang bersama seorang wanita?" tanya Ayu agak ditekan suaranya.

Tawa Rangga hampir meledak mendengar pertanyaan itu, tapi masih mampu ditahannya. Dia tidak ingin gadis itu marah dan tersinggung. Bagaimanapun juga harus bisa dijaga perasaan gadis manja ini.

"Benar," sahut Rangga. "Memangnya kenapa?"

"Kekasihmu?" tanya Ayu Kumala langsung.

"Bukan."

"Istrimu?"

Rangga menggeleng. Sudah bisa ditebak arah pembicaraan ini. Pasti Ayu cemburu. Mungkin itu sebabnya gadis itu tidak ikut bersama ayahnya datang ke sini sore tadi Rupanya tengah menyimpan sesuatu yang baru sekarang dibuka.

"Sungguh?" Ayu Kumala ingin memastikan.

"Kau ini aneh. Apa sih sebenarnya yang diinginkan?"

"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja," sahut Ayu kalem.

"Sekarang sudah tahu, lalu?"

"Ya sudah. Toh dia bukan apa-apamu. Lagi pula, kalau memang kekasihmu, aku juga tidak apa-apa," ada sedikit tekanan pada nada suara Ayu Kumala.

Rangga mengangkat bahunya, lalu bangkit berdiri. "Sudah larut malam. Ayu. Sebaiknya pulanglah dulu. Aku antar, ya...?" kata Rangga tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini.

Ayu Kumala bangkit berdiri dan melangkah ringan. Rangga menyamakan langkahnya di samping gadis ini. Mereka berjalan menembus kegelapan tanpa berkata-kata. Dan Rangga memang enggan untuk berkata lagi. Apalagi untuk memikirkan sikap gadis ini. Hanya saja, dia tidak ingin hubungan yang sudah baik ini retak karena persoalan sepele. Persoalan yang seharusnya tidak perlu timbul.

********************

EMPAT

Matahari belum lagi naik tinggi. Tapi udara sekitar Desa Caruban begitu terasa panas menyengat sehingga seperti membuat semua orang cepat lelah. Dan biasanya mereka memilih berendam di dalam sungai. Tapi para petani, seperti tidak terpengaruh. Padahal, sengatan matahari begitu panas, bagai hendak menghanguskan seluruh benda yang ada di belahan muka bumi ini.

Sungai yang membelah Desa Caruban siang ini dipenuhi anak-anak dan wanita. Mereka begitu bergembira sambil bermain air. Di antara mereka, terlihat Surya Paku bermain bersama anak-anak sebayanya. Anak laki-laki itu cepat sekali akrab. Lain dengan ibunya, yang kelihatan duduk menyendiri di atas sebongkah batu di tepi sungai. Tubuhnya hanya dililit selembar kain usang.

"Nyi Laras...?"

"Oh!" Laras tersentak dari lamunan ketika mendengar suara lembut menyebut namanya.

Laras langsung menoleh. Tampaklah seorang gadis cantik memakai baju kuning gading sudah berdiri di dekatnya. Laras belum mengenal gadis ini. Memang sudah hampir satu pekan berada di desa ini, rasanya belum pernah melihat gadis yang baru saja menyebut namanya.

"Aku Ayu Kumala," gadis itu memperkenalkan diri.

"Oh, aku...."

"Tidak perlu memperkenalkan diri, Nyi. Aku tahu siapa namamu," potong Ayu Kumala cepat.

Laras menggeser duduknya agak ke tepi, dan mempersilakan Ayu Kumala duduk. Tapi dengan halus gadis itu menolak, dan tetap berdiri memandang ke arah anak-anak bermain di sungai. Sementara Laras memandanginya sampai tidak berkedip. Memang pernah didengar nama gadis ini, karena sering jadi bahan pembicaraan Ki Giri dan Rangga. Pembicaraan yang bernada menggoda Pendekar Rajawali Sakti.

"Kita memang belum pernah saling mengenal dan bertemu muka. Tapi aku yakin, di antara kita sudah sering mendengar perihal diri masing-masing," kata Ayu Kumala, tenang suaranya.

"Ya," desah Laras.

"Mungkin sekarang saatnya yang tepat untuk saling mengenal lebih jauh. Nyi Laras," sambung Ayu Kumala.

Laras diam saja. Hanya diduga-duga saja arah pembicaraan gadis itu. Tapi dugaannya selalu tertuju pada hubungan antara Ayu Kumala dengan Rangga. Laras sering mendengar gurauan Ki Giri tentang Ayu Kumala yang ditujukan kepada Rangga. Meskipun kedengarannya hanya gurauan, namun Laras dapat menangkap maksud yang sebenarnya. Ayu Kumala memang cantik, dan tampaknya memiliki ilmu kanuragan yang lumayan. Lebih-lebih dia seorang anak kepala desa ini. Tapi Laras tidak mempedulikan semua itu. Dia sudah cukup senang jika bisa tinggal di desa ini dan melupakan semua yang telah terjadi terhadap dirinya.

"Kakang Rangga pernah cerita tentang dirimu, dan pengalaman pahitmu, Nyi Laras. Tapi aku ingin sekali mendengar sendiri darimu. Kau tidak keberatan, kan?" Ayu Kumala membuka suara lagi.

"Untuk apa?" tanya Laras, enggan membuka lembaran penderitaannya lagi. Lembaran yang hanya menimbulkan rasa belas kasihan saja. Padahal dia tidak ingin dikasihani.

"Mungkin ada gunanya. Atau mungkin juga, aku bisa mengurangi penderitaanmu," sahut Ayu Kumala.

"Terima kasih. Aku sudah begitu banyak merepotkan. Bukan hanya Ki Giri, tapi Ayahmu dan seluruh penduduk desa ini begitu baik padaku. Mereka semua bersedia menerimaku yang tidak punya apa-apa ini," ucap Laras terharu.

"Penduduk di sini memang mencintai persahabatan. Aku juga...," terdengar terputus nada suara Ayu Kumala.

Laras kembali menatap dalam-dalam wajah gadis itu. Bisa dirasakan adanya tekanan pada suara Ayu Kumala. Dan ini sudah bisa diduga apa penyebabnya. Entah kenapa, dirinya jadi bergetar, dan jantungnya terasa lebih cepat berdetak. Tiba-tiba saja Laras jadi tidak suka dengan pembicaraan ini.

"Sudah lama aku di sini dan harus segera pulang. Aku belum menyiapkan makan untuk Ki Giri," kata Laras seraya bangkit berdiri.

"Untuk apa buru-buru? Ki Giri biasa hidup sendiri," cegah Ayu Kumala.

Laras hanya tersenyum saja. Diambilnya keranjang cucian, lalu melangkah pergi. Ayu Kumala hanya memandangi saja tanpa mencegah lagi. Tapi belum begitu lama Laras pergi, tiba-tiba terdengar jeritan nyaring melengking tinggi.

"Nyi Laras...!" sentak Ayu Kumala mendesis.

Jeritan itu jelas terdengar dari arah kepergian Laras tadi. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Ayu Kumala bergegas melompat dan berlari cepat menuju arah jeritan tadi. Bukan itu saja. Orang-orang yang ada di sungai ternyata juga bergegas berlari mengikutinya.

********************

Sementara di jalan setapak tidak jauh dari sungai, tampak Laras menggigil ketakutan dengan wajah pucat pasi. Jarak beberapa tombak di depannya, berdiri sesosok makhluk tinggi besar. Tubuhnya penuh berlumur lumpur. Makhluk itu menyeringai memperlihatkan taringnya yang menyembul.

"Grauuugh...!" makhluk aneh menyeramkan itu meraung keras sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Akh!" Laras memekik tertahan.

Wanita itu seperti akan pingsan begitu makhluk tinggi besar itu melompat ke arahnya. Namun belum sempat mencapai tubuh yang hanya terlilit selembar kain itu, mendadak satu bayangan putih melesat cepat menghajarnya. Makhluk itu meraung keras, dan tubuhnya terlontar balik ke belakang. Sebatang pohon besar hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya yang besar penuh lumpur itu.

Saat itu dari arah sungai muncul Ayu Kumala. Gadis itu membeliak setengah tidak percaya melihat makhluk tinggi besar dan berwajah menyeramkan itu berdiri tegak sambil meraung-raung. Sedangkan di depan Laras, berdiri Pendekar Rajawali Sakti. Tidak berapa lama, muncul orang-orang yang tadi berlarian dari sungai. Mereka langsung berhenti, dan bergerak mundur begitu mendapati makhluk mengerikan menggeram dahsyat sambil mengangkat tangannya ke atas.

"Kakang...," Ayu Kumala mendekati Rangga.

"Tinggalkan tempat ini, cepat!" seru Rangga tegas.

Ayu Kumala kelihatan bingung.

"Ayu, bawa Laras dan yang lainnya pergi. Makhluk ini sangat berbahaya! Ayo, cepat..!"

"Kau...," suara Ayu Kumala tertahan di tenggorokan.

"Jangan hiraukan aku. Cepat pergi!" Ayu Kumala bergerak mundur mendekati Laras yang sudah menggendong anaknya. Tidak dipedulikannya lagi keranjang cuciannya yang tergeletak berentakan. Ayu Kumala menyuruh orang-orang yang berkerumun itu segera pergi, dan segera membawa Laras menyingkir dari tempat itu. Mereka mengambil jalan memutar menuju ke Desa Caruban.

Sementara itu Rangga memutar tubuhnya, untuk memancing perhatian makhluk itu. Diambilnya sepotong ranting yang cukup besar dan panjang. Dengan mengerahkan tenaga dalam, ranting tadi dilemparkan ke arah makhluk itu.

"Gragh...!" makhluk itu meraung marah sambil menyambar ranting itu dengan tangan kanannya.

Dengan cepat makhluk itu melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Kali ini Rangga memang hanya ingin memancing makhluk itu agar menjauhi penduduk yang sedang menuju kembali ke desanya. Digunakannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', sehingga tubuhnya bergerak lincah memutari tubuh makhluk itu. Rangga menggiringnya masuk ke dalam hutan.

Makhluk itu semakin marah, karena tidak bisa menyentuh manusia kecil yang berlompatan mengitari tubuhnya. Pepohonan dan bebatuan hancur berantakan diterjang makhluk liar dan kotor berlumpur itu.

Rangga terus menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Sesekali dirubah jurusnya menjadi 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Meskipun dikerahkan sampai pada tingkat terakhir, tetapi sama sekali tak berarti bagi tubuh makhluk itu. Walaupun demikian Rangga tetap menggunakannya. "Hup...!"

Rangga melentingkan tubuhnya ke belakang, sejauh empat batang tombak. Makhluk itu menggeram dahsyat, lalu mencabut pohon besar di dekatnya. Pohon itu bagai segumpal kapas saja di tangannya, dengan kuat dilemparkan pohon itu ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiyaaa...!"

Rangga menghentakkan kedua tangannya ke depan, menyambut lemparan pohon itu. Satu ledakan keras terdengar, bersama hancurnya pohon itu. Tapi belum juga Rangga menarik pulang tangannya, makhluk itu sudah mengangkat sebongkah batu sebesar kerbau, dan dilemparkan ke arah Rangga.

Kali ini Rangga tidak sempat lagi melawan lemparan batu itu. Cepat-cepat dijatuhkan dirinya ke samping, lalu berguling beberapa kali di tanah, sebelum melompat bangkit berdiri. Batu sebesar kerbau menghantam tanah dengan keras, membuat bumi yang dipijak bergetar hebat bagai terjadi gempa.

"Keluarkan semua kekuatanmu, keparat!" tantang Rangga memanasi.

"Graaaghk...!" makhluk itu menggeram marah. Makhluk itu melompat, dan kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Rangga kini tidak main-main lagi. Jelas bahwa makhluk berbentuk manusia itu begitu luar biasa kuatnya bagai binatang liar. Dikeluarkanlah jurus-jurus andalannya yang dahsyat, dibarengi pengerahan ajian kesaktian simpanannya.

Tapi makhluk liar itu memang luar biasa. Tubuhnya benar-benar kebal terhadap segala macam bentuk kesaktian yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan pedang pusaka Rajawali Sakti tak ada artinya sama sekali pada tubuhnya. Benar-benar kebal! Belum pernah Rangga mendapatkan lawan seperti ini. Dirasakan tenaganya makin terkuras, karena tidak ada satu ajian atau jurus yang mampu membinasakan makhluk itu.

"Hm.... Akan kucoba dengan aji 'Cakra Buana Sukma'," gumam Rangga dalam hati.

Rangga memasukkan pedangnya ke dalam warangkanya di punggung. Kini aji 'Cakra Buana Sukma' siap-siap dikerahkannya tanpa menggunakan pedang. Tidak tanggung-tanggung lagi, ajian itu dikerahkan pada tahap terakhir, yang belum pernah digunakan sebelumnya selama ini.

"Graghk...!" makhluk itu menggeram sambil melantangkan tangannya lebar-lebar, seolah-olah menantang.

Cahaya biru bergulung-gulung pada kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti, dan semakin lama semakin membesar membuat bulatan. Makhluk itu meraung-raung keras bersikap menantang.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" teriak Rangga keras.

Seketika itu juga Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil menghentakkan tangannya ke depan kuat-kuat. Aneh, makhluk itu tidak bergerak sedikit pun! Bahkan menanti dengan tangan terbuka lebar. Tak pelak lagi, dadanya menjadi sasaran kedua belah tangan Rangga yang mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'.

Glarrr...!

Satu ledakan keras dan dahsyat terjadi begitu kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam dada makhluk besar mengerikan itu. Sukar untuk dipercaya! Makhluk itu tetap berdiri tegap. Bahkan sebaliknya, Pendekar Rajawali Sakti terlontar jauh ke belakang. Entah berapa pohon yang hancur terlanda tubuhnya. Rangga baru berhenti meluncur setelah menghantam dinding batu cadas hingga berguguran.

Rangga bergegas melompat, menghindari batu-batu cadas yang berguguran. Namun begitu kakinya menyentuh tanah, tubuhnya limbung dan ambruk menggelimpang. Pendekar Rajawali Sakti itu berusaha bangkit berdiri sambil memuntahkan darah kental kehitaman dua kali. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Kepalanya berat, dan matanya berkunang-kunang. Napasnya tersengal, karena dadanya seperti pecah.

"Ugh! Gila...!" dengus Rangga seraya bangkit berdiri.

Pendekar Rajawali Sakti itu masih limbung, dan belum bisa berdiri tegak. Sebentar digosok-gosok matanya. Hatinya terkesiap begitu melihat makhluk tinggi besar itu masih tetap berdiri tegak bersikap menantang. Namun perlahan terjadi keanehan.

Makhluk bertubuh tinggi besar dan penuh lumpur itu, tampak menggigil bagai terserang demam. Dari mulutnya yang menyeringai, keluar suara erangan lirih. Sementara Rangga perlahan melangkah lebih mendekat. Dia juga sedang mengatur pernapasan dan menyalurkan hawa murni untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.

Makhluk itu menggeletar semakin kuat. Dan erangannya kini terdengar keras bagai raungan seekor binatang buas. Dengan tubuh masih menggeletar, dia duduk bersila. Tangannya dilipat di depan dada. Perlahan-lahan kelopak matanya terpejam, namun bibirnya masih terlihat menyeringai.

"Eh...!" Rangga terkejut.

Dari tubuh makhluk itu mengepul asap tipis berwarna putih kehitam-hitaman. Asap itu semakin lama semakin menebal, dan pada akhirnya menyelimuti seluruh tubuh makhluk itu. Sementara Rangga terus memperhatikan tanpa berkedip. Asap itu terus berkepul menebal dan semakin banyak, menutupi seluruh tubuh makhluk itu.

Slap!

Tiba-tiba saja secercah kilat menyambar ke arah asap yang berkepul itu. Disusul kemudian terdengar suara ledakan keras menggelegar. Begitu kerasnya, sampai-sampai bumi ini bergetar. Memang sukar dipercaya. Hari yang begini cerah dan panas, bisa terjadi petir. Tapi itu memang kejadian yang dilihat Rangga. Kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti itu tidak berkedip memandanginya. Kini asap tebal yang menyelimuti seluruh tubuh makhluk besar kotor berlumpur dan mengerikan itu, langsung lenyap setelah tersambar kilat.

"Oh..., apakah aku tidak salah lihat...?" desah Rangga setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.

Kini, di tempat makhluk mengerikan tadi duduk bersila, duduk seorang laki-laki muda berwajah tampan, namun terlihat keras. Pakaiannya begitu indah dan bersih, bagaikan seorang pengeran. Namun sinar matanya begitu tajam, memerah bagai mata seekor banteng marah. Pemuda itu bangkit berdiri dengan tenangnya. Baju yang longgar pada bagian bawah, berkibar tertiup angin. Sedangkan pada bagian atasnya cukup ketat, sehingga memetakan bentuk tubuh yang tegap dan berotot Warna hijau muda sungguh cocok menimpali kulitnya yang putih.

Pemuda itu tetap berdiri tegak, kemudian perlahan kedua tangannya terangkat ke atas. Kepalanya menengadah menatap lurus ke langit biru tanpa awan. Sementara dari tempat yang tidak begitu jauh, Rangga memperhatikan tanpa berkedip. Dia ingin tahu, apa yang akan dilakukan laki-laki muda jelmaan makhluk aneh berlumpur itu.

"Wahai iblis-iblis yang bersemayam di neraka! Berilah aku kekuatan abadi untuk menguasai seluruh dunia...!" lantang suara pemuda itu.

Secercah kilat menyambar angkasa, disusul ledakan dahsyat mengguruh. Tiba-tiba saja angkasa jadi hitam, terselimut awan tebal. Angin bertiup kencang, bagai terjadi badai topan. Semakin lama angin semakin kencang menerbangkan pohon-pohon, melontarkan bebatuan, dan mengguncangkan bumi. Saat ini sepertinya dunia akan kiamat!

Tidak lama peristiwa itu berlangsung, maka alam pun kembali seperti semula. Langit kembali cerah, tanpa awan sedikit pun menggantung di angkasa. Sementara Rangga masih berdiri mematung memandangi laki-laki muda jelmaan dari makhluk buas dan liar. Memang, tidak ada yang tahu asalnya, kecuali Laras dan anaknya. Laki-laki muda itu berbalik, dan nampak terkejut melihat Pendekar Rajawali Sakti ada di tempat ini. Namun cepat dibiasakan dirinya kembali, seperti pernah terjadi apa-apa.

"Aku tidak kenal denganmu. Sebaiknya jangan mencampuri urusanku!" kata laki-laki muda itu dingin dan datar nada suaranya.

Rangga ingin membuka mulutnya. Tapi belum juga sempat berbicara, pemuda aneh itu sudah lenyap bagaikan hilang begitu saja. Rangga jadi celingukan mencari-cari. Tapi bayangan laki-laki itu tidak nampak lagi. Hilang bagai ditelan bumi. Sungguh sempurna ilmu meringankan tubuhnya, bisa lenyap tanpa dapat diketahui arahnya oleh Rangga!

********************

LIMA

"Kakang..!"

Rangga membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara panggilan dari belakang. Tampak Ayu Kumala bersama ayahnya, dan diikuti beberapa penduduk Desa Caruban serta Ki Giri berlari-lari menghampirinya. Mereka semua membawa senjata yang bermacam-macam bentuknya. Bahkan ada yang membawa cangkul, ataupun arit penyabit rumput. Ayu Kumala lebih dahulu yang mencapai tempat itu.

"Kau tidak apa-apa, Kakang?" tanya Ayu Kumala dengan perasaan cemas, yang tidak dapat disembunyikan

"Tidak," sahut Rangga tersenyum tipis.

Pendekar Rajawali Sakti itu memandang orang-orang yang sudah berada di depannya. Mereka adalah penduduk desa yang setiap hari bergelut dengan lumpur dan ladang, dan bukanlah orang rimba persilatan. Mereka tidak mengerti ilmu olah kanuragan sedikit pun, tapi berani mengambil resiko tinggi untuk mengamankan desanya.

"Mana makhluk itu...?" tanya Ayu Kumala lagi.

"Pergi," sahut Rangga singkat.

"Aku yakin, kau pasti sudah mengalahkannya," celetuk Ki Bonang memuji.

Rangga tersenyum tipis dan menggeleng pelan. kemudian melangkah perlahan. Semua orang mengikutinya. Ki Bonang berjalan di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti itu, diikuti Ki Giri. Sedangkan Ayu Kumala tidak lepas memegangi lengan kiri pendekar muda itu. Untuk beberapa saat mereka berjalan tanpa berbicara sedikit pun.

Sementara Rangga sendiri masih diliputi berbagi macam pertanyaan yang sukar dijawab. Masih belum bisa dipahami kejadian yang dilihatnya tadi. Sangat sulit untuk diterima akal sehat. Juga sulit dimengerti, bagaimana mungkin makhluk liar bagai binatang buas itu tiba-tiba berubah ujud menjadi seorang laki-laki muda. Bahkan hanya mengeluarkan satu kalimat saja untuknya. Ya..., satu kalimat yang hanya ditujukan untuk Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga memperlambat langkahnya, dan membiarkan orang-orang itu berjalan lebih dahulu. Sedangkan Ayu Kumala masih tetap berjalan di sampingnya meskipun ayahnya sudah berjalan lebih dahulu bersama penduduk Desa Caruban. Ki Giri sendiri masih tetap berada di belakang.

"Sejak tadi kau diam saja, Kakang. Apa yang kau pikirkan?" Ayu Kumala membuka suara.

Rangga menghentikan langkahnya. Dengan halus dilepaskan pegangan tangan Ayu Kumala pada lengannya. Sebentar dia menarik napas panjang, lalu menatap Ki Giri yang juga berhenti melangkah. Laki-laki tua itu cengar-cengir, dan melangkah perlahan.

"Mau ke mana, Ki?" tanya Rangga.

"Pulang," sahut Ki Giri tanpa berhenti melangkah.

"Aku memerlukan dirimu, Ki," kata Rangga.

Ki Giri berhenti dan berbalik. Agak terkejut juga keningnya mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti itu tadi. Namun dihampirinya juga, ketika melihat wajah Rangga begitu sungguh-sungguh. Sementara Ayu Kumala memandang wajah tampan pemuda itu dengan alis hampir menyatu rapat.

"Ada apa?" tanya Ki Giri.

"Ki, kau masih ingat ceritaku ketika datang membawa Laras?" tanya Rangga.

Ki Giri mengangguk, dan alisnya bertaut.

"Waktu itu memang tidak lengkap kuceritakan, tapi sempat kulihat kau terkejut," lanjut Rangga.

"Ada apa ini?" celetuk Ayu Kumala tidak mengerti.

"Kau akan tahu nanti, Ayu," kata Rangga.

"Den, apakah makhluk itu sama dengan yang pertama kau jumpai di lereng sebelah Selatan?" tanya Ki Giri perlahan.

"Benar, Ki," sahut Rangga. "Hanya...."

"Hanya apa?" tanya Ki Giri mulai serius.

"Aku tidak tahu, Ki. Rasanya sulit untuk dipercaya. Kejadiannya begitu cepat, dan...," Rangga terputus kata-katanya.

"Teruskan, Den," pinta Ki Giri serius.

"Terus terang, Ki. Aku sering menghadapi berbagai peristiwa, baik yang masuk akal maupun yang tidak. Tapi yang ini rasanya sukar untuk dimengerti. Hampir-hampir aku tidak percaya dengan penglihatan ku sendiri. Rasanya sulit dibayangkan, Ki. Terlalu ganjil...," suara Rangga bernada kurang percaya dengan yang diucapkannya.

"Sebaiknya Aden istirahat dulu, tenangkan diri dan pikiran. Nanti kita bicarakan lagi hal ini," kata Ki Giri bijaksana.

"Entahlah, Ki. Rasanya belum tenang kalau hal ini belum terpecahkan," desah Rangga pelan.

"Kita pulang dulu, Den," ajak Ki Giri.

Rangga tidak menolak saat Ki Giri menggamit tangannya, dan mengajaknya pergi meninggalkan hutan ini. Sementara Ayu Kumala yang sejak tadi diam saja, belum bisa memahami pembicaraan itu. Langkahnya juga kurang mantap, karena benaknya diliputi berbagai macam pikiran. Dia berusaha mengerti, namun sulit untuk dicapai oleh jalan pikirannya. Mereka terus berjalan tanpa berbicara lagi.

********************

Sejak peristiwa di dalam Hutan Lereng Gunung Puring itu Rangga jadi lebih banyak diam. Sedang Laras sendiri lebih senang menyendiri di dalam rumah. Dia jadi takut pergi ke mana-mana seorang diri. Sosok makhluk mengerikan bagai mayat hidup, masih terus menghantui pikirannya.

Sementara Ayu Kumala jadi sering mengunjungi rumah Ki Giri. Beberapa kali gadis itu mendesak untuk lebih tahu kejadian di Lereng Gunung Puring, tapi Pendekar Rajawali Sakti enggan untuk membicarakannya. Lebih-lebih lagi setelah tahu kalau makhluk itu adalah seorang tokoh sakti yang hidup entah berapa tahun silam. Mungkin puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu.

"Sudah lama orang melupakan tentang Hantu Karang Bolong itu, Den. Semua orang percaya kalau hantu itu sudah musnah. Aku sendiri hampir tidak percaya waktu Aden mengatakannya pertama kali..," kata Ki Giri ketika mempunyai kesempatan bicara berdua bersama Rangga.

"Ki, apakah mungkin orang yang sudah mati dapat bangkit kembali?" tanya Rangga.

"Kalau percaya dengan adanya kebangkitan kembali, maka kau akan percaya datangnya kehidupan kembali setelah manusia mati," sahut Ki Giri.

"Maksudku bukan itu, Ki," sergah Rangga.

"Kebangkitan dari alam kubur, maksud Aden?"

"Mungkin," nada suara Rangga terdengar ragu-ragu.

"Den, seumur hidupku belum pernah kudengar adanya orang mati bisa hidup kembali setelah puluhan tahun, bahkan ratusan tahun terkubur. Tapi.... Yah, mungkin saja hal itu bisa terjadi pada orang yang mati secara tidak wajar, dan menyimpan dendam dalam hatinya," kata Ki Giri. "Dendam...?!"

"Itu juga belum pasti, Den. Banyak tokoh rimba persilatan yang tewas dalam pertarungan. Dan yang pasti juga menyimpan dendam atas kekalahannya. Tapi toh mereka tidak pernah muncul kembali setelah jasadnya terkubur di dalam liang."

"Ki, adakah satu ilmu yang membuat orang tidak bisa mati?" tanya Rangga.

"Ha ha ha...!" Ki Giri tertawa mendengar pertanyaan bernada ragu-ragu itu.

Sedangkan Rangga hanya tersenyum kecut. Baru disadari kalau pertanyaan itu seperti membuatnya bodoh sekali. Pertanyaan yang seharusnya tidak pernah terlontar dari seorang pendekar yang sangat ternama dan disegani baik lawan maupun kawan.

"Dulu, ketika masih muda dan gagah sepertimu, aku juga sering mengembara. Selama malang melintang di dalam rimba persilatan, belum pernah kudengar ada orang yang mempunyai ilmu menolak kematian. Yaaah.... Memang, pernah juga mendengarnya, tapi tidak pernah kupercayai!" kata Ki Giri.

"Ilmu apa itu, Ki?" tanya Rangga.

"Ilmu 'Batara Karang'," sahut Ki Giri. "Ah! Sudahlah, Den. Tidak ada ilmu seperti itu. Semua makhluk di bumi ini pasti mati. Dan itu sudah takdir yang digariskan Hyang Widi. Tidak ada satu makhluk pun yang sanggup menentangnya."

Rangga terdiam. Tiba-tiba teringat salah satu kitab yang pernah dibacanya di goa Lembah Bangkai, tempatnya selama dua puluh tahun hidup bersama seekor burung rajawali raksasa, Di dalam kitab peninggalan Pendekar Rajawali, gurunya, tertulis adanya suatu ilmu yang bernama 'Batara Karang'. Tapi belum ada seorang pun yang sanggup memilikinya. Meskipun ada yang mampu, tapi tidak akan mencapai kesempurnaan. Ajal pasti merenggutnya juga.

Di dalam kitab itu juga tertulis agar Rangga tidak mempelajari ilmu terkutuk itu, karena dapat menyesatkan orang yang mempelajarinya. Tetapi, benarkah Hantu Karang Bolong memiliki ilmu 'Batara Karang'? Kalau memang benar, tidak mungkin bisa terkubur selama puluhan tahun begitu. Orang yang memiliki ilmu 'Batara Karang" tidak akan mati selama masih menyentuh tanah.

"Den, waktu makhluk itu mengubah ujud, apakah menyebutkan namanya?" tanya Ki Giri setelah lama berdiam diri.

"Tidak, tapi hanya mengatakan satu kalimat saja. Dan itu ditujukan padaku," sahut Rangga.

"Hm.... Dari ciri-ciri yang kau sebutkan, memang persis dengan si Hantu Karang Bolong. Dia memang seorang pemuda yang sangat tampan. Meskipun belum pernah bertemu dengannya, tapi sering kudengar sepak terjangnya. Dunia benar-benar terancam kepunahan kalau memang dia bangkit kembali," jelas Ki Giri setengah bergumam.

"Ki Giri tahu, bagaimana dia bisa terkubur?" tanya Rangga.

"Entahlah, aku tidak tahu pasti. Aku hanya mendengar dari cerita orang-orang tua dulu saja," sahu Ki Giri tidak yakin.

"Katakan, Ki. Mungkin bisa bermanfaat," desak Rangga.

"Dulu, Hantu Karang Bolong pernah menantang seorang pendekar tangguh yang pada saat itu belum ada tandingannya. Mereka bertarung di sebelah Selatan Gunung Puring, tempat Hantu Karang Bolong dikuburkan. Aku tidak tahu pasti, bagaimana caranya pendekar itu bisa mengalahkan Hantu Karang Bolong," tutur Ki Giri.

"Siapa nama pendekar itu, Ki?" desak Rangga lagi. Dia memang begitu berminat untuk mengetahui lebih jauh perihal Hantu Karang Bolong itu.

"Pendekar Bayangan Dewa. Tempat tinggalnya dulu di Puncak Gunung Puring. Mungkin sampai saat ini masih ada sisa-sisanya. Tapi telah lama tidak ada orang yang pernah menginjak tempat itu lagi, karena harus melewati kuburan Hantu Karang bolong. Memang ada jalan lain, tapi terlalu sulit ditempuh."

"Kenapa?" tanya Rangga ingin tahu.

"Selain daerahnya yang berbukit dan bertebing terjal, juga banyak binatang berbisa. Belum lagi harus melewati daerah rawa berlumpur yang dapat menyedot apa saja yang melewatinya. Lalu, juga harus melalui lebatnya padang berduri. Lain halnya jika melewati kuburan Hantu Karang Bolong. Jalannya mudah dilewati dan tidak ada hambatan sama sekali," jelas Ki Giri.

"Berapa lama untuk sampai ke sana?" tanya Rangga lagi.

"Ah, Aden bercanda...," desah Ki Giri.

"Aku sungguh-sungguh, Ki."

"Sebaiknya jangan, Den. Lewat jalan mana pun juga sekarang ini, tidak akan mudah mencapai Puncak Gunung Puring. Apalagi sekarang Hantu Karang Bolong telah bangkit kembali. Itu pun kalau dia memang benar-benar bangkit dari kuburnya," Ki Giri langsung bisa menebak maksud Rangga.

"Dia memang bangkit!"

Rangga dan Ki Giri terkejut begitu tiba-tiba terdengar suara lain dari arah belakang. Serentak mereka menoleh ke belakang. Lebih terkejut lagi begitu melihat seseorang yang berada tidak jauh di belakang. Rangga dan Ki Giri saling berpandangan beberapa saat, kemudian sama-sama bangkit berdiri.

Sama sekali Rangga tidak menyadari kalau pembicaraannya dengan Ki Giri juga didengar orang lain. Bahkan Ki Giri terkejut bukan main, sehingga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kebisuan terjadi untuk beberapa saat lamanya.

********************

"Laras! Sejak kapan kau di sini?" tanya Rangga setelah hilang rasa terkejutnya.

"Lama Juga. Yang jelas, semua yang kalian bicarakan telah kudengar," sahut Laras.

"Den Ayu! Bagaimana kau bisa begitu yakin?" tanya Ki Giri ingin tahu.

"Terus terang, sebenarnya aku takut untuk mengatakannya. Karena telah mendengar semua pembicaraan kalian, maka kuputuskan untuk berterus terang. Aku tidak ingin adanya jatuh korban lagi. Biarlah ayah mertuaku dan suamiku yang jadi korban," wajah Laras berubah mendung.

Laras melangkah menghampiri dan duduk di depan kedua laki-laki itu. Sebentar dihirupnya udara banyak-banyak agar mendapat kekuatan untuk menceritakan semua yang dilihatnya malam itu. Peristiwa yang selama ini disimpannya dalam-dalam. Namun, kali ini berat rasanya untuk menyimpan beban itu. Dia tidak ingin orang yang telah menyelamatkan dan menolongnya tewas di tangan makhluk liar itu.

"Rangga, kau ingat ketika pertama kali menemukan diriku?" tanya Laras pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Ingat," sahut Rangga mengangguk

"Kau juga ingat saat menemukan barang-barangku?" tanya Laras lagi.

"Tentu," lagi-lagi Rangga mengangguk.

"Apa yang kau lihat di dangau itu?"

"Tidak ada apa-apa, kecuali bercak-bercak darah. Aku tidak tahu, apakah sudah lama atau masih baru. Dan bercak darah itu sudah bercampur air hujan dan lumpur," sahut Rangga menjelaskan.

"Itu darah suamiku dan darah ayah mertuaku," jelas Laras agak tertahan suaranya.

Rangga terkejut mendengarnya. Ditatapnya dalam-dalam sepasang bola mata wanita itu, seolah-olah ingin mencari kebenaran. Namun yang didapatkannya hanya sepasang bola mata yang mendung dan agak berkaca-kaca.

"Aku berasal dari sebuah desa yang sangat terpencil, dan sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sejak berusia tujuh tahun. Aku tinggal bersama seorang wanita tua yang sangat kejam, dan memperlakukanku seperti binatang. Aku harus patuh pada setiap perintahnya. Dia tidak segan-segan mencambuk, atau mengurungku dalam kerangkeng kalau melakukan sedikit kesalahan. Sampai berusia tujuh belas tahun, aku selalu hidup dalam tekanan dan penderitaan. Akhirnya, datang seorang laki-laki tua yang membebaskanku dari wanita itu..," tutur Laras tentang kehidupan pahitnya.

Rangga dan Ki Giri saling pandang. Mereka diam saja, mendengarkan penuh perhatian. Baru kali inil Laras mau terbuka tentang dirinya.

"Laki-laki tua itu kemudian membawaku pergi. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuk membalas jasanya. Maka ketika diminta untuk jadi menantunya, aku tidak bisa menolak, sehingga mendapatkan seorang putra. Anak itu kami beri nama Surya Paku. Dengan nama itu, aku berharap datangnya sinar kebahagiaan yang selama ini tidak kunjung menyinariku. Tapi semua harapanku jadi sia-sia, karena ternyata ayah mertuaku seorang kepala penyamun. Akhirnya, hari naasnya datang. Seluruh anak buahnya tewas oleh pasukan kerajaan yang dirampasnya. Kami lari, hingga sampai di Lereng Gunung Puring," kembali Laras berhenti.

"Bagaimana mungkin kau tidak tahu pekerjaan ayah mertua dan suamimu?" tanya Rangga.

"Aku tidak pernah menanyakan setiap kali mereka pergi. Yang penting, aku hanya berbakti saja, karena merasa berhutang budi pada mereka. Pada suatu saat, suamiku bercerita akan pergi ke suatu tempat. Aku takut. Tapi karena sudah terlanjur mencintainya, aku rela ikut bersamanya ke mana saja pergi"

"Kau tahu tujuannya?" tanya Rangga lagi.

"Suamiku memang memberi tahu, meskipun seharusnya tidak boleh untuk diceritakan. Dan aku harus berpura-pura tidak tahu di depan ayahnya."

"Ke mana?" desak Rangga.

"Puncak Gunung Puring.

"Puncak Gunung Puring..?! Apa maksudnya kesana?" Ki Giri terperanjat.

"Menurut suamiku, di sana kami bisa bangkit kembali. Bahkan bisa lebih besar lagi. Aku sendiri tidak mengerti, apa yang dicari suamiku di sana. Aku juga tidak mau banyak tanya, dan hanya menurut saja."

"Lalu, apa yang terjadi saat tiba di Lereng Gunung Puring?" tanya Rangga.

"Mengerikan...!" desis Laras.

"Ceritakan," desak Ki Giri.

"Kami tiba sudah malam dan hujan lebat. Ayah mertuaku memilih sebuah dangau untuk beristirahat sambil menunggu hujan reda. Di situ...," Laras tidak sanggup lagi meneruskan.

"Apa yang terjadi, Laras?" desak Rangga.

"Makhluk itu.... Makhluk itu tiba-tiba muncul setelah kilat menyambar kuil kecil. Kuil itu terbakar, dan makhluk itu muncul dari kobaran api...," Laras kembali terhenti. Ditutupi wajahnya dengan telapak tangan, tidak sanggup membayangkan peristiwa mengerikan itu.

"Hhh...! Sudahlah, Laras," desah Rangga tidak tega.

"Aku tidak tahu lagi lalu lari...!" Laras mulai menangis.

Rangga menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya Ki Giri yang saat itu juga tengah menatap padanya. Sesaat kemudian Ki Giri melingkarkan tangannya pada pundak Laras. Lalu membawanya bangkit berdiri. Sebentar laki-laki tua itu menatap Pendekar Rajawali Sakti, kemudian membawa Laras kembali masuk ke dalam rumahnya.

Sementara Rangga masih duduk diam di tempatnya. Di dalam benaknya, kembali terulang cerita Laras lalu dihubungkan dengan semua yang dialaminya. Hanya satu yang menjadi pertanyaannya. Untuk apa mereka ke Gunung Puring? Dan apa yang dimaksudkan suami Laras dengan kebangkitan yang lebih besar?!

Rangga masih memikirkan hal itu sampai Ki Giri datang kembali, dan duduk di depannya. Tampak raut wajah laki-laki tua itu tidak seperti biasanya yang selalu ceria, penuh kata-kata menggoda. Rangga melirik saat mendengar desahan napas panjang keluar dari hidung Ki Giri.

"Mungkin hari kiamat sudah dekat, Den," gumam Ki Giri seraya mendesah panjang.

Rangga mengangkat kepalanya, dan langsung menatap ke bola mata laki-laki tua di depannya. Tidak dimengerti kata-kata Ki Giri barusan. Meskipun sudah menduga, tapi belum yakin.

"Ramalan bahwa Hantu Karang Bolong bangkit kembali dari kuburannya ternyata benar. Dan ini pertanda suatu malapetaka besar. Tidak ada seorang pun yang sanggup menandingi kesaktiannya. Hanya...," kata-kata Ki Giri terputus.

"Hanya apa, Ki?" desak Rangga.

"Ah! Sudahlah, Den. Tidak ada gunanya dibicarakan lagi."

"Ki...," Rangga tetap mendesak.

Ki Giri menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Sebentar ditatapnya dalam-dalam Pendekar Rajawali Sakti itu, kemudian kepalanya digelengkan beberapa kali disertai hembusan napas panjang.

"Tidak ada gunanya, Den. Hantu Karang Bolong tidak mungkin bisa dikalahkan. Dia bukan manusia, tapi jelmaan iblis neraka yang ingin menghancurkan manusia di atas bumi ini," kata Ki Giri terasa berat mengatakannya.

"Tapi mengapa dia bisa dikalahkan Pendekar Bayangan Dewa?"

"Itu dulu, Den. Sekarang pendekar itu sudah tidak ada lagi."

"Pasti ada satu senjata ampuh yang dimiliki Pendekar Bayangan Dewa, sehingga bisa mengalahkan si Hantu Karang Bolong itu. Hm...! Dan ini tentu diketahui ayah mertua Laras ataupun suaminya. Aku yakin, mereka menuju ke Puncak Gunung Puring untuk menemukan senjata itu. Yaaa...! Mungkin inilah yang dikatakannya bangkit kembali yang lebih besar!" Rangga gembira bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.

"Den...!" sentak Ki Giri bernada cemas.

"Aku harus ke puncak gunung itu, Ki. Senjata Pendekar Bayangan Dewa harus kutemukan. Hantu Karang Bolong harus dimusnahkan selama-lamanya, sebelum benar-benar menghancurkan dunia ini!" tekad Rangga.

"Jangan, Den. Berbahaya...! Lagi pula tidak ada yang tahu, di mana dan bagaimana senjata itu. Sia-sia saja, Den. Tidak ada gunanya," cegah Ki Giri, jelas nada suaranya begitu cemas.

"Apa pun bentuknya, senjata itu pasti ada. Dan harus kutemukan sebelum ada yang mengetahui tentang ini, Ki. Aku yakin, Pendekar Bayangan Dewa menggunakan senjata itu untuk mengalahkan Hantu Karang-Bolong. Aku yakin, Ki!" tegas kata-kata Rangga.

"Tapi...."

"Tolong jangan cegah aku, Ki," potong Rangga cepat. "Aku akan berterima kasih sekali jika Ki Giri bersedia menerima Laras sebagai anak, dan mengijinkannya tinggal di sini. Kasihan dia," kata Rangga perlahan.

Ki Giri menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Terdengar desahan panjang dan berat. Bisa dipahami jiwa kependekaran pemuda itu. Dan jiwa itu dulu juga ada dalam dirinya ketika masih malang melintang dalam rimba persilatan. Ki Giri seolah-olah melihat dirinya kembali dalam diri Pendekar Rajawali Sakti.

"Baiklah, Den. Aku tidak akan mencegahmu lagi. Hanya pesanku, segeralah kembali kalau gagal," ucap Ki Giri menyerah.

"Terima kasih, Ki."

"Masalah Laras, jangan dikhawatirkan. Dia boleh tinggal di sini sesukanya, asal tidak bosan mengurusi laki-laki tua cerewet ini," gurau Ki Giri.

Rangga tersenyum juga mendengar gurauan itu.

"Kapan berangkat?" tanya Ki Giri.

"Besok, pagi-pagi sekali," sahut Rangga.

********************

ENAM

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari menampakkan diri, Rangga sudah memacu kuda hitamnya meninggalkan rumah Ki Giri. Laki-laki tua itu mengantarkan sampai di depan pintu rumahnya. Sebenarnya dia ingin ikut serta, tapi Rangga tidak mengizinkan. Biar bagaimanapun, keselamatan Laras juga harus diperhatikan. Jangan sampai wanita dan anaknya itu berada seorang diri di rumah ini. Ki Giri hanya bisa berharap Rangga kembali dengan selamat, dan berhasil mengalahkan Hantu Karang Bolong.

Rangga cepat memacu kudanya melintasi jalan Desa Caruban yang masih sepi lengang. Namun mendadak lari kudanya dihentikan begitu tiba di perbatasan desa. Tampak di depannya berdiri sesosok tubuh ramping. Di sampingnya seekor kuda putih tengah merumput dengan tenang. Rangga melompat turun dar menghampirinya.

"Ayu Kumala! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rangga begitu dekat dengan gadis yang seperti sedang menantinya.

"Kau pikir, aku sedang apa di sini?" Ayu Kumala malah balik bertanya.

"Jangan main-main, Ayu."

"Aku serius!"

"Kau tidak bermaksud menungguku di sini, bukan?" tebak Rangga berharap meleset.

"Aku memang sengaja menunggumu," ringan sekali jawaban Ayu Kumala.

"Ayu..!"

"Jangan katakan aku wanita tidak tahu diri karena menunggu laki-laki di pagi buta begini, Kakang!" potong Ayu Kumala cepat.

Rangga geleng-geleng kepala. Benar-benar sulit dimengerti sikap gadis satu ini. Biasanya Rangga selalu bisa mengatasi setiap gadis yang mencoba masuk ke dalam kehidupannya. Tapi menghadapi Ayu Kumala, Rangga seperti kehilangan akal. Sukar baginya untuk menebak maksud yang terkandung di dalam hati gadis ini. Sikapnya tidak pernah tetap, dan sukar sekali untuk bisa dipahami.

"Aku tahu ke mana kau akan pergi, Kakang. Makanya aku menunggumu di sini," kata Ayu Kumala.

"Aku ada urusan penting, Ayu," jelas Rangga mencoba meminta pengertian.

"Begitu pentingkah sehingga melupakan diriku, Kakang?"

Rangga tidak bisa menjawab. Benar-benar sulit dimengerti sikap gadis ini. Tapi dalam hatinya timbul juga kecemasan. Ayu Kumala selalu cepat mengetahui apa yang terjadi di Desa Caruban ini. Bahkan jika setiap orang mempunyai rencana, pasti dapat dike tahuinya. Terlebih lagi kalau hal itu sangat diminati.

"Kita berangkat sekarang, Kakang," ujar Ayu Kumala.

"Berangkat ke mana?!" sentak Rangga terkejut.

"Ke Gunung Puring," sahut Ayu ringan.

"Ayu...!"

"Kau pasti membutuhkanku, Kakang. Aku tahu jalan yang mudah ke sana. Ki Giri sengaja tidak memberitahu kepadamu, supaya kau membatalkan semuanya. Dia terlalu cemas dan takut kehilanganmu, celoteh Ayu Kumala lancar bagai air sungai mengalir tanpa hambatan.

"Ayu, apa yang kau bicarakan?"

"Aku kan sudah bilang, aku tahu ke mana tujuanmu. Ayolah, nanti keburu siang."

"Tunggu dulu, Ayu!"

Ayu Kumala tidak jadi naik ke kudanya. "Dari mana kau tahu semua ini?" tanya Rangga penasaran. Dia memang selalu penasaran bila menghadapi gadis ini, yang sepertinya mengetahui semua kejadian di sini.

Ayu Kumala hanya tersenyum saja, kemudian melompat naik ke punggung kudanya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Rangga, gadis itu menghentakkan tali kekang kudanya agar melaju. Rangga bergegas melompat naik ke punggung kudanya, menyusul gadis itu.

"Ayu, jawab pertanyaanku! Dari mana kau tahu rencana kepergianku ini?" desak Rangga.

Ayu tetap tidak menjawab, tapi hanya tersenyum saja. Dia terus mengendalikan kudanya.

"Ki Giri yang mengatakannya padamu?" desak Rangga menebak.

"Bukan siapa-siapa," sahut Ayu tenang.

"Dengar, Ayu! Tujuanku sangat berbahaya. Rencanaku akan kubatalkan kalau kau tidak mengatakan terus terang," ancam Rangga jadi sengit.

Ayu Kumala menghentikan langkah kudanya. Dan Rangga juga demikian. Sebentar mereka saling pandang.

Tiba-tiba saja Ayu Kumala tertawa terbahak-bahak, begitu renyah dan terbuka. Rangga jadi dongkol, dan menggerutu dalam hati. Gadis ini benar-benar membuat kepalanya berputar tujuh keliling. Baru kali ini Rangga merasa kewalahan menghadapi seorang gadis nakal. Namun diakui, kalau Ayu Kumala benar-benar cerdik.

"Ayo, Kakang! Kita berpacu!" ajak Ayu Kumala.

"Ayu.., tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku!"

Tapi Ayu Kumala sudah menghentakkan tali kekang kudanya. Dan kuda putih Itu berlari cepat bagai angin. Rangga bergegas memacu kudanya untuk mengejar gadis itu. Dewa Bayu bukanlah kuda sembarangan, maka dengan cepat kuda putih yang ditunggangi gadis cantik itu bisa disusul.

"Ayu, aku tidak main-main! Ini sangat berbahaya!" kata Rangga sedikit keras.

"Aku juga," sahut Ayu kalem.

"Kau benar-benar nakal!" gerutu Rangga.

"Biar, asal kau tidak mati sendirian!"

"Gila!" lagi-lagi Rangga menggerutu kesal.

"Kau akan membutuhkan orang gila, Kakang. Percayalah!"

"Aku tidak akan percaya lagi kepadamu!"

"Oh, ya...? Lihat saja nanti."

Ayu kembali tertawa terbahak-bahak, dan terus memacu cepat kudanya mendaki Lereng Gunung Puting. Sementara Rangga masih bersungut-sungut. Tapi, benarkah dia akan membutuhkan gadis ini nanti? Atau sebaliknya, malah menambah kesulitan saja. Yang jelas, Sekarang Ayu Kumala tidak bisa lagi disuruh pulang!

Untuk pertama kalinya, Rangga mengucapkan terima kasih kepada Ayu Kumala, meskipun hanya dalam hati saja! Jalan yang dipilih Ayu Kumala memang mudah dilalui, bahkan kuda mereka dengan leluasa dapat berpacu kencang. Hingga matahari belum lagi sepenggalan, ternyata sudah tiba di Puncak Gunung Puring. Mereka baru menghentikan lari kudanya setelah sampai di tengah puncak gunung itu.

Sebentar Rangga memandangi sekitar Puncak Gunung Puring. Kabut tebal menyelimuti seluruh permukaan puncak gunung itu. Udara dingin berhembus kencang membawa butir-butir air bagai permata menghias dedaunan. Sungguh indah pemandangan di sini, dan seolah-olah tidak menyimpan misteri apa pun. Namun Pendekar Rajawali Sakti itu bisa merasakan adanya sesuatu yang ganjil, yang begitu kuat menghentak jantungnya. Rangga tidak tahu, kekuatan yang dirasakannya saat ini. Yang jelas dirasakan jantungnya jadi lebih cepat berdetak. Bahkan sepertinya aliran darahnya tidak teratur.

"Hm...," gumam Rangga perlahan..

Pendekar Rajawali Sakti itu mencoba untuk menahan perasaan yang tiba-tiba saja muncul dalam dirinya. Tapi semakin keras mencoba, semakin kuat pula daya tarik itu terasakan. Rangga membuka aliran hawa murni dari pusat tubuhnya, dan mencoba mengalirkan ke seluruh tubuh. Tapi, tubuhnya malah menggigil. Hawa murni itu balik menyerang pusat kekuatannya. Buru-buru ditarik kembali hawa murni dalam tubuhnya.

"Ada apa, Kakang?" tanya Ayu kumala. Rupanya gadis itu memperhatikan sejak tadi.

"Tidak apa-apa. Hanya aku...," Rangga tidak melanjutkan.

"Kau merasakan ada kekuatan gaib di sini, Kakang?" tebak Ayu Kumala.

Rangga langsung menatap dalam gadis itu. Hatinya benar-benar terkejut mendengar tebakan yang begitu tepat.

"Tidak perlu dirisaukan. Itu hanya sebuah gejala kekuatan gaib yang ada di sekitar Puncak Gunung Puring ini. Semua orang akan merasakannya bila pertama kali menginjakkan kakinya di sini. Nanti juga hilang sendiri," jelas Ayu Kumala.

Rangga tetap diam. Dan memang, dirasakan kekuatan daya tarik itu perlahan mengendur. Dan akhirnya hilang sama sekali. Dia jadi tidak mengerti, apa sebenarnya yang baru saja dirasakannya. Pendekar Rajawali Sakti itu kembali menatap Ayu Kumala, seperti minta penjelasan.

"Rasanya tidak perlu dijelaskan, lagi, Kakang. Ki Giri pasti sudah mengatakannya padamu," kata Ayu Kumala seolah mengerti arti tatapan Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Kau sering ke sini, Ayu?" tanya Rangga menyelidik.

"Kadang-kadang," sahut Ayu Kumala enteng.

"Kau tahu, di mana letak makam Pendekar Bayangan Dewa?"

"Di sini," sahut Ayu tetap ringan suaranya.

"Kau jangan main-main. Ayu"

Ayu Kumala hanya tersenyum saja. Dituntun kudanya, dan ditambatkan di bawah pohon beringin besar yang akar-akarnya menjuntai ke bawah. Rangga mengikuti, lalu juga menambatkan kudanya di sana.

Kemudian diedarkan pandangannya ke sekeliling. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kalau di sekitar sini ada sebuah makam. Sepanjang mata memandang, hanya kelebatan hutan yang berselimut kabut cukup tebal. Kembali ditatapnya Ayu Kumala yang tengah mengumpulkan ranting kering, dan menumpuknya di dekat kuda mereka.

"Untuk apa itu?" tanya Rangga.

"Membuat api," sahut Ayu kalem.

"Masih terlalu siang, Ayu. Untuk apa membuat api?" tanya Rangga jadi tidak mengerti.

"Kita akan bermalam di sini."

Rangga menghampiri gadis yang sedang menata ranting-ranting itu. Dipandanginya gadis itu dalam-dalam. Pendekar Rajawali Sakti semakin merasakan adanya keanehan yang tersimpan dalam diri Ayu Kumala. Satu misteri yang tidak mudah diungkapkan. Namun Ayu Kumala hanya membalasnya dengan senyuman saja. Dihenyakkan dirinya, duduk di atas akar yang menyembul dari dalam tanah.

"Kan sudah kubilang, kau akan membutuhkan diriku, Kakang," kata Ayu Kumala, jengah juga dipandangi terus.

"Dan ini salah satu bantuanmu?"

"Aku rasa masih ada yang lain. Percayalah, kau tidak akan berhasil tanpa bantuanku. Yang dihadapi sekarang ini bukan lagi manusia, tapi perujudan seseorang yang sudah mati puluhan tahun silam."

"Ayu! Tampaknya kau sudah tahu banyak. Katakan, dari mana kau ketahui semua ini?" desak Rangi tidak main-main lagi.

"Kau selalu mendesakku, Kakang. Baiklah, akan kukatakan terus terang. Tapi kuharap jangan menyalahkan siapa-siapa. Ini semua untuk dirimu sendiri dan juga seluruh manusia yang ada di dunia ini," kata Ayu Kumala bernada menyerah.

"Katakan, dari mana kau tahu semua ini?" desak Rangga tidak sabar lagi.

"Baiklah. Tapi jangan tegang begitu dong...," goda Ayu masih juga bisa bercanda.

"Kunyuk!" gerutu Rangga dalam hati. Dihenyakkan tubuhnya di rerumputan yang lembab.

"Aku tahu semua ini dari Ki Giri. Dia datang ke rumah dan menceritakan semua rencanamu, dan semua yang kau ketahui tentang Hantu Karang Bolong...," Ayu Kumala mengakui terus terang.

"Sudah kuduga...," dengus Rangga.

"Terus terang, tadinya juga tidak kupercayai kalau ada orang mati bisa bangkit kembali. Tapi setelah ayahku menjelaskan semuanya, baru aku percaya. Terlebih lagi aku memang sudah melihat sendiri. Memang menyeramkan, seperti mayat baru bangkit dari kuburnya."

"Apa yang dikatakan ayahmu?" tanya Rangga.

"Sama seperti yang Ki Giri katakan padamu."

"Lantas, kenapa kau membantuku? Kau kan tahu pekerjaan ini sangat berbahaya."

"Ayah yang menyuruhku."

"Mustahil!" dengus Rangga tidak percaya.

"Aku berkata sesungguhnya, Kakang. Ayah begitu mengkhawatirkan dirimu. Demikian pula dengan Ki Giri. Mereka yakin kalau kau tidak akan berhasil tanpa bantuanku. Kau tidak mungkin mendapatkan benda yang kau maksud di sini," kali ini nada Ayu Kumala bersungguh-sungguh.

"Kenapa?" tanya Rangga.

"Karena yang dicari tidak ada di sini," tegas Ayu kumala.

Kembali Rangga menatap gadis itu dalam-dalam.

********************

Waktu terus berjalan cepat. Senja mulai merayap turun menyelimuti permukaan Gunung Puring. Matahari sudah demikian condong ke arah Barat, dan sebentar lagi kegelapan akan menyelimuti alam ini. Sementara Ayu Kumala sudah menyalakan api pada ranting-ranting yang tadi dikumpulkan. Rangga sendiri telah berhasil menangkap tiga ekor kelinci gemuk yang bisa digunakan untuk makan malam.

Suasana di Puncak Gunung Puring ini semakin terasa lengang. Tak terdengar suara binatang malam, tapi hanya desir angin saja yang mengganggu gendang telinga. Udara semakin dingin, seakan-akan nyala api tidak sanggup mengusirnya. Semakin gelap menyelimuti seluruh puncak, semakin senyap suasananya.

"Ayu! Kau tentu tahu tentang Hantu Karang Bolong dan Pendekar Bayangan Dewa, bukan?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.

"Tidak banyak, itu pun kuketahui dari cerita Ayah dan Ki Giri," sahut Ayu Kumala.

"Pengetahuanmu tentu lebih banyak dariku."

"Tidak juga."

"Ayu, kau tentu punya alasan lain sehingga berada di sini, kan?"

Ayu Kumala tidak menjawab, tapi malah menundukkan kepalanya. Disembunyikan rona merah yang mendadak saja menyemburat di wajahnya. Tapi Rangga sudah lebih dulu melihat wajah yang bersemu merah dadu itu, dan ini tentu saja tidak diinginkannya. Bisa diduga, alasan apa yang membuat Ayu Kumala berani mempertaruhkan nyawanya di tempat sunyi penuh misteri ini.

"Kuharap, bukan karena alasan pribadi sehingga kau berada di sini, Ayu. Aku lebih senang jika kau pertaruhkan nyawa karena menegakkan kebenaran dan keadilan. Mengerti maksudku, Ayu?" lembut, namun sangat bermakna sekali kata-kata yang diucapkan Rangga.

"Aku mengerti, Kakang. Tapi apakah seseorang akan terhina jika...," Ayu Kumala tidak melanjutkan kalimatnya. Perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya, dan ditatapnya lurus bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Kakang...," agak bergetar suara Ayu Kumala.

"Ah, sudahlah. Tidak pantas membicarakan masalah seperti ini dalam suasana yang...," ucap Rangg tiba-tiba terputus.

Saat itu telinganya mendengar suara yang membuat aliran darahnya seketika serasa berhenti mengalir. Rangga bergegas berdiri, dan melayangkan pandangan ke arah suara yang tadi didengarnya. Suara yang begitu halus, bagai desiran angin.

"Ada apa, Kakang?" tanya Ayu Kumala.

"Ssst...," Rangga mendesis.

Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti itu melompat bagai kilat. Tubuhnya langsung menerobos gerumbul semak yang bergerak menimbulkan suara gemerisik. Namun begitu tubuh Pendekar Rajawali Sakti lenyap di dalam semak, mendadak saja terdengar suara pekikan tertahan yang disusul melesatnya sosok tubuh ke angkasa dengan cepatnya.

Tubuh itu kembali menukik keras, dan jatuh bergulingan di tanah yang berumput lembab. Ayu Kumala memekik begitu mengenali tubuh yang sedang berusaha bangkit berdiri itu. Buru-buru dia berlari menghampiri.

"Kakang...!" Ayu Kumala membantu Rangga berdiri.

"Ugh...!" Rangga berdahak sekali dan menyemburkan darah kental dari mulutnya.

Selagi Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit, dari dalam semak belukar melesat satu bayangan putih. Tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang laki-laki muda berwajah tampan, dan sorot matanya merah tajam. Laki-laki itu mengenakan baju putih bersih agak ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang tegap berotot. Dia menatap tajam pada Rangga dan Ayu Kumala.

"Hhh! Menyesal memberi kesempatan hidup kepadamu!" dengus pemuda itu dingin.

"Siapa dia, Kakang?" tanya Ayu Kumala tidak lepas menatap laki-laki tampan yang kini berada di hadapannya.

"Hantu Karang Bolong," sahut Rangga pelan. "Oh...!" Ayu Kumala mendesah terkejut. Gadis itu tidak menyangka kalau orang yang bernama Hantu Karang Bolong begitu tampan. Namun sorot matanya yang merah membara bagai bola api itu.... Ayu Kumala tidak sanggup memandangnya terlalu lama. Tengkuknya bergidik setiap kali menatap bola mata merah menyala itu.

"Menyingkirlah, Ayu," kata Rangga seraya mendorong gadis itu ke belakang.

Ayu Kumala melangkah beberapa tindak ke belakang. Tatapan matanya tidak lepas ke arah pemuda tampan dan berwajah keras. Tatapan matanya tajam dan menusuk. Masih belum dipercaya kalau laki-laki tampan itu adalah Hantu Karang Bolong, yang namanya begitu ditakuti sepanjang zaman. Dan karena dia pula, kini desanya kembali diliputi ketegangan dan kecemasan.

********************

TUJUH

Rangga menggeser kakinya ke kiri beberapa langkah. Dia ingin agar Ayu Kumala jauh dari incaran orang liar yang sebenarnya sudah terkubur puluhan tahun lalu. Pendekar Rajawali Sakti itu baru berhenti setelah Ayu Kumala cukup jauh dari tempat itu. Sedikit diliriknya tempat gadis itu tadi berdiri, kemudian perhatiannya kembali tercurah pada laki-laki tampan yang dikenal bernama Hantu Karang Bolong.

"Sebelumnya, belum pernah aku memberi kesempatan hidup pada seseorang yang lancang mencampuri urusanku. Tapi karena kau telah berjasa menyempurnakan kehidupanku, maka baru kali inilah aku mengucapkan rasa terima kasih pada manusia. Sayang, rupanya kebaikan hatiku kau sia-siakan," dingin dan datar suara Hantu Karang Bolong.

"Terima kasih," ucap Rangga tidak kalah dinginnya.

"Hm..., sekali ini aku rasanya masih bermurah hati lagi padamu. Dan sebaiknya, cepat tinggalkan tempat ini sebelum aku berubah pikiran!" nada suara Hantu Karang Bolong terdengar mengancam.

"Sayang sekali, aku ada urusan sendiri di sini," sahut Rangga.

"Aku tahu urusanmu, Anak Muda. Sayang..., terpaksa aku harus membunuhmu. Aku tidak suka ada duri dalam diriku!"

"Begitu mudahnya kau mengatakan membunuh. Rasanya sukar untuk kau lakukan," ejek Rangga geram.

"Ha ha ha...!" Hantu Karang Bolong tertawa terbahak-bahak. Sikapnya begitu meremehkan, dan tidak memandang sebelah mata pun pada Pendekar Rajawali Sakti.

Sedangkan Rangga sedikit pun tidak memandang ringan pada Hantu Karang Bolong. Dua kali bentrok, dan sudah bisa diukur tingkat kepandaiannya. Meskipun saat itu Hantu Karang Bolong masih berbentuk makhluk setengah mayat. Dan Rangga belum bisa memastikan apakah akan mampu menghadapinya.

Akibat dari pukulan aji 'Cakra Buana Sukma', kehidupan Hantu Karang Bolong bisa menjadi lebih sempurna lagi. Dan Rangga tidak bisa meramalkan, dengan ilmu apa dia mampu menjatuhkannya. Setidaknya, sudah dicoba semua ilmu yang dimilikinya, tapi waktu itu Hantu Karang Bolong yang belum sempurna dalam kehidupannya malah semakin liar saja. Bahkan kehidupannya menjadi sempurna.

"Dengar, Anak Muda. Semua ilmu yang kau miliki tidak ada seujung kuku dari yang kumiliki. Kau memang boleh bangga dengan ilmumu. Tapi, di hadapanku kau harus lebih banyak belajar lagi! Paling tidak, butuh waktu lima puluh tahun untuk menyamai ku!" kata Hantu Karang Bolong pongah.

"Boleh kita coba," tantang Rangga.

"Keparat! Rupanya kau tidak bisa dikasih hati, Anak Muda!" geram Hantu Karang Bolong.

"Maaf, kau juga tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi. Tempatmu bukan di sini. Seluruh Dewa di Kahyangan mengutuk kebangkitanmu kembali!"

"Ha ha ha...! Tidak ada satu Dewa pun yang bisa menandingi kesaktianku, Anak Muda!" Hantu Karang Bolong semakin pongah.

"Tapi aku bisa membuatmu kembali mendekam di dalam kubur!"

"Kurang ajar! Kurobek mulutmu, bocah keparat!"

Hantu Karang Bolong benar-benar geram mendapat tantangan terbuka begitu. Dia segera berteriak nyaring, dan melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Terjangan yang begitu cepat, disertai lontaran dua pukulan dahsyat bertenaga dalam luar biasa.

"Hup!"

Rangga yang sudah siap sejak tadi, langsung melompat ke samping, seraya mengirimkan satu tendangan bertenaga dalam cukup sempurna. Serangan Hantu Karang Bolong luput dari sasaran, namun tendangan Rangga juga mengenai tempat yang kosong. Mereka kembali saling berhadapan, dan kembali bersiap untuk melakukan pertarungan.

"Hiya...!"

"Yaaa...!"

Pertarungan tidak bisa dihindari lagi. Masing-masing segera mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Sementara itu di tempat yang cukup jauh, Ayu Kumala memperhatikan jalannya pertarungan itu dengan hati diliputi kecemasan. Kepalanya menjadi pening mengikuti setiap gerakan dua tokoh sakti itu. Sangat sukar bagi Ayu Kumala untuk mengikuti setiap gerak pertarungan itu.

Dan memang, baik Rangga maupun Hantu Karang Bolong bertarung menggunakan jurus-jurus yang sukar untuk diikuti pandangan mata biasa. Jurus-jurusnya begitu cepat dan sangat berbahaya. Terlebih lagi suasana saat ini begitu gelap, karena malam sudah turun menyelimuti permukaan Puncak Gunung Puring ini. Ditambah kabut yang semakin tebal, sehingga menyulitkan pandangan.

********************

Sementara pertarungan di Puncak Gunung Puring terus berlangsung. Dan di kejauhan terlihat beberapa ekor kuda sedang mendaki Lereng Gunung Puring itu. Ada sekitar delapan ekor kuda yang dipacu cepat. Tampak paling depan, Ki Giri bersama Kepala Desa Caruban.

Suara ledakan dan gemuruh dari puncak gunung, membuat mereka menghentikan lari kudanya. Ki Giri dan kepala desa itu saling berpandangan sesaat. Tampak wajah mereka begitu diliputi kecemasan. Mereka sama-sama memandang enam orang pemuda yang berada di belakang. Mereka semua membawa senjata golok yang terselip di pinggang.

"Bagaimana, Ki Bonang?" tanya Ki Giri seolah meminta pertimbangan.

"Hm...," Ki Bonang hanya menggumam tidak jelas. Pandangannya kembali mengarah ke puncak gunung yang kelam tertutup kabut tebal.

"Sepertinya mereka sudah bertarung, Ki," kata Ki Giri lagi, yang juga tengah menatap ke arah Puncak Gunung Puring.

"Hm..., mudah-mudahan kita belum terlambat membantu Pendekar Rajawali Sakti," ucap Ki Bonang setengah bergumam.

"Kenapa tidak kau berikan saja Besi Kuning itu pada anakmu?" tanya Ki Giri seraya menghentakkan tali kekang kudanya.

Ki Bonang tidak menyahut. Juga digebah kudanya agar kembali berpacu cepat mendaki lereng gunung ini. Enam orang pemuda yang mengikutinya, juga segera memacu kudanya mengikuti dua orang laki-laki tua yang terpandang di Desa Caruban.

Delapan ekor kuda itu terus berpacu cepat menembus pekat a malam, dan kelebatan hutan di sekitar lereng gunung itu. Namun sepertinya mereka sudah sering melintasi jalan ini, sehingga tidak sukar untuk mencapai Puncak Gunung Puring ini. Mereka tiba setelah Rangga dan Hantu Karang Bolong bertarung menggunakan ilmu-ilmu kesaktian.

Baik Ki Giri maupun Ki Bonang begitu terkejut melihat sekitar Puncak Gunung Puring ini porak poranda bagai baru saja diamuk puluhan ekor gajah. Sementara agak jauh di depan, dua orang tokoh sakti dan digdaya, sedang bertarung mengadu ilmu kesaktian. Sebentar-sebentar terdengar suara ledakan menggelegar, disusul memerciknya bunga api ke segala arah.

"Ayah...!" terdengar seruan halus.

"Ayu...!" sentak Ki Bonang begitu melihat putrinya berlari menghampiri.

Ayu Kumala langsung menghambur memeluk ayahnya, lalu segera dilepaskan pelukannya. Ditatapnya Ki Giri serta enam orang anak muda di belakang kedua laki-laki tua itu. Ayu Kumala menoleh memandang pertarungan yang masih berlangsung sengit.

"Apakah itu si Hantu Karang Bolong, Ayu?" tanya Ki Bonang pada anaknya.

"Benar, Ayah," sahut Ayu Kumala tanpa menoleh.

"Hm...," gumam Ki Bonang tidak jelas.

"Tampaknya mereka masih memerlukan waktu lama, Ki Bonang," kata Ki Giri yang berada di samping kepala desa itu.

"Ya, aku tidak yakin Pendekar Rajawali Sakti mampu menandingi Hantu Karang Bolong," sahut Ki Bonang pelan.

"Kita lihat saja dulu," sergah Ki Giri.

Sementara pertarungan antara Rangga melawan Hantu Karang Bolong, terus berlangsung sengit. Belum ada tanda-tanda bakal ada yang terdesak. Masih sama-sama tangguh, dan masih berimbang. Mereka bertarung sambil bergerak terus menuruni Puncak Gunung Puring ini. Dan nampaknya Rangga sengaja mengajak Hantu Karang Bolong menuju ke lereng sebelah Selatan.

"Pendekar Rajawali Sakti benar-benar cerdik!" gumam Ki Giri yang mengetahui maksud Rangga menggiring Hantu Karang Bolong ke Lereng Gunung Puring sebelah Selatan.

"Mereka ke Selatan, Ki!" seru Ayu Kumala.

"Memang itu tujuan Pendekar Rajawali Sakti," sahut Ki Giri kalem.

"Celaka! Hantu Karang Bolong pasti murka kalau tahu digiring ke sana!" desak Ki Bonang.

"Mau ke mana, Ki Bonang?" tanya Ki Giri melihat Ki Bonang sudah melangkah cepat mengikuti pertarungan yang bergerak terus ke arah Selatan.

"Memberikan Besi Kuning ini pada Rangga," sahut Ki Bonang terus saja melangkah cepat.

"Jangan sekarang!" cegah Ki Giri seraya mengikuti, dan mensejajarkan langkahnya di samping Ki Bonang.

"Kenapa?" tanya Ki Bonang yang sudah merasa bersalah, karena tidak memberikan Besi Kuning itu cepat-cepat pada Rangga.

"Biarkan mereka sampai ke tempat yang dituju dulu. Jangan merusak rencana Den Rangga," kata Ki Giri.

Ki Bonang menatap laki-laki tua di sampingnya, kemudian menganggukkan kepalanya. Mereka terus berjalan mengikuti dua tokoh yang masih bertarung sengit. Dan memang jelas kalau Rangga sengaja mundur menarik perhatian si Hantu Karang Bolong. Sama sekali Pendekar Rajawali Sakti tidak membalas serangan lawannya, dan hanya berkelit dan berlompatan menghindari setiap serangan yang datang. Namun gerakannya jelas menuju ke arah Selatan Lereng Gunung Puring ini.

********************

Sementara orang-orang di Gunung Puring diliputi kecemasan melihat pertarungan Rangga melawan Hantu Karang Bolong, demikian juga di rumah Ki Giri. Di sini, Laras juga tengah diliputi kecemasan yang amat sangat. Semua yang terjadi di Gunung Puring, berawal dari dirinya. Wanita ini benar-benar mengutuki dirinya yang selalu menyebabkan kesengsaraan setiap orang. Di mana dia berada, selalu terjadi bencana.

Sudah seharian Rangga dan Ki Giri meninggalkan rumah ini. Dan Laras tahu, ke mana tujuan mereka meskipun tidak diberi tahu. Semua percakapan Ki Giri dengan Rangga telah didengarnya dari bilik kamar. Dirasakan, semua peristiwa di sini karena kesalahannya. Kalau saja dia tidak dilahirkan, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Sejak pagi buta, hingga malam, dan datang pagi lagi, Laras selalu diliputi kecemasan.

Laras tidak bisa lagi menunggu di rumah ini. Dititipkan Surya Paku pada seorang tetangga yang selalu baik padanya, kemudian bergegas pergi menuju ke Gunung Puring. Sedikitnya dia pernah belajar menunggang kuda ketika tinggal bersama mertua dan suaminya. Laras pergi menggunakan kuda milik Ki Giri, dan dipacu cepat kudanya bagai kesetanan.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Laras semakin cepat memacu kudanya begitu melewati batas Desa Caruban dengan Gunung Puring. Tapi belum juga jauh meninggalkan batas desa itu, mendadak kudanya meringkik keras, dan kaki depannya terangkat tinggi. Laras terkejut, tidak bisa lagi mengendalikan kudanya yang mendadak saja jadi liar. Tubuh yang ramping itu terlontar jauh, dan jatuh keras ke tanah.

Kuda coklat belang putih itu juga jatuh menggelepar di tanah. Sebatang anak panah tertancap dalam di lehernya. Sebentar kuda itu menggelepar, kemudian diam tidak berkutik lagi. Laras berusaha bangkit berdiri, namun sebuah kaki besar menahan dadanya. Kedua bola mata wanita itu membeliak lebar begitu melihat seorang laki-laki tinggi besar, dan berwajah kasar berdiri sambil sebelah kaki menekan dadanya.

"He he he.... Kau tidak bisa lepas dariku, Manis," laki-laki tinggi besar itu menyeringai lebar.

"Oh...!" Laras berusaha melepaskan diri.

Kaki laki-laki itu terangkat. Kesempatan ini dimanfaatkan Laras untuk beringsut kemudian bergegas bangkit. Tapi belum juga bisa berlari, muncul tiga orang laki-laki lain. Laras tahu kalau keempat orang inilah yang dulu pernah akan memerkosanya di tepi sungai.

"He he he...!" keempat laki-laki beringas itu terkekeh, dan bibirnya menyeringai lebar.

Empat pasang mata liar menatap Laras, dan dipenuhi hawa nafsu yang meluap-luap. Laras jadi bergidik, dan hanya celingukan dengan wajah ketakutan. Empat orang laki-laki itu melangkah mendekati sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Hup!"

Salah seorang yang berada di belakang Laras, melompat langsung menerkam wanita itu. Laras memekik kaget, tapi terlambat. Tangan laki-laki itu sudah memeluk tubuhnya kuat-kuat. Laras berusaha memberontak, melepaskan diri dari pelukan laki-laki bertampang beringas itu Dia memekik, memaki, dan berteriak meminta tolong. Tapi suaranya tenggelam oleh derai tawa orang-orang itu.

"Setan! Lepaskan aku...! Lepaskan, keparat!" maki Laras terus memberontak.

Tapi pelukan laki-laki itu demikian kuat. Sia-sia saja Laras memberontak, meskipun mengerahkan seluruh tenaganya. Sedangkan tiga orang lainnya sudah mendekat. Mereka memegangi tangan wanita itu, dan merentangkannya. Yang berada di depan berusaha memeluk dan menciumi wajah wanita itu.

"Bajingan! Lepaskan...!" pekik Laras.

Plak!
"Auh...!"

Laras memekik keras ketika satu tamparan keras mendarat di pipinya. Wanita itu langsung terkulai lemas. Perlahan-lahan kesadarannya menghilang, kemudian benar-benar terkulai tidak sadarkan diri lagi.

"Ha ha ha...!" empat orang laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.

Mereka melepaskan cekalannya, sehingga tubuh Laras melorot jatuh menggeletak di tanah. Kain yang dikenakannya tersingkap, sehingga menampakkan sepasang paha yang putih gempal menggiurkan. Empat pasang mata merah menatap liar. Salah seorang langsung menubruk, dan buas sekali menciumi wajah serta leher Laras.

Bret!

Kasar sekali orang itu merenggut bagian dada baju Laras, sehingga terbuka lebar. Tiga orang lainnya langsung berhenti tertawa. Bola mata mereka membeliak lebar begitu melihat bentuk tubuh yang sangat indah terbalut kulit putih bersih tanpa noda.

"Iblis...!"

Tiba-tiba saja terdengar satu bentakan keras, membuat keempat laki-laki itu terkejut. Mereka serentak melompat berdiri, melepaskan Laras yang sudah polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Bola mata mereka membeliak begitu melihat seorang pemuda yang wajahnya dipenuhi cambang dan jenggot kasar.

"Laras...," pemuda yang wajahnya kelihatan kasar, dan bajunya robek di beberapa bagian itu mendesis begitu melihat sesosok tubuh wanita tergolek tanpa busana lagi.

Ditatapnya empat orang laki-laki yang sudah menghunus goloknya. Satu suara geraman terdengar. Pemuda itu cepat melompat sambil mencabut sebilah golok besar yang salah satu bagian matanya bergerigi

"Keparat..! Mampuslah kalian! Hiyaaa...!"

Wut!

Pemuda itu bagai kerasukan setan. Dikibaskan golok besarnya dengan kekuatan penuh. Trang! Trang!

Dua kali benturan senjata terdengar, maka dua orang dari keempat laki-laki beringas itu memekik tertahan. Golok mereka terpental jauh ke udara. Dan belum lagi mereka bisa menyadari apa yang terjadi, senjata pemuda berwajah penuh brewok itu berkelebat cepat.

Dua pekikan panjang terdengar saling sahut, kemudian disusul ambruknya dua sosok tubuh tinggi besar. Mereka menggelepar, dan lehernya koyak hampir putus. Dua orang lagi yang tersisa, jadi membeliak begitu melihat temannya tewas seketika hanya dalam satu gebrakan saja. Dan belum lagi bisa melakukan sesuatu, golok besar yang salah satu matanya bergerigi kembali berkelebat cepat bagaikan kilat.

"Hiyaaa...!"
"Aaakh...!"
"Aaa...!"

Dua orang laki-laki itu tidak mampu lagi berkelit. Golok besar bergerigi pemuda itu langsung membabat buntung leher mereka. Nyawa pun langsung hilang sebelum tubuh mereka menyentuh tanah. Pemuda berbaju kumal dan robek-robek itu, bergegas menghampiri Laras yang belum sadarkan diri. Dia tampak kebingungan, kemudian mengambil kain yang teronggok tidak jauh dari wanita itu. Meskipun banyak koyaknya, tapi kain itu cukup untuk menutupi tubuh Laras.

"Laras...," pemuda itu berusaha menyadarkan Laras.

Agak lama juga Laras tidak sadarkan diri, tapi kemudian perlahan mengerang, dan kelopak matanya terbuka. Dia memekik tertahan ketika melihat seraut wajah penuh brewok berada tidak jauh darinya. Laras langsung beringsut, dan membenahi kainnya.

Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya gemetar.

"Laras, ini aku.... Anggas," pemuda itu menyebut namanya.

"Anggas...," pelan suara Laras.

Wanita itu memandangi seluruh tubuh pemuda yang mengaku bernama Anggas. Sesaat kemudian Laras menubruk pemuda itu dan menangis. Anggas membiarkan saja wanita itu menangis dalam pelukaan-nya. Lama juga Laras menguras air matanya. Kemudian dilepaskan pelukan itu setelah bisa menguasai diri.

"Mana anakmu?" tanya Anggas setelah melihat Laras tenang kembali.

"Ada," sahut Laras. "Bagaimana kau bisa begini?"

"Ceritanya panjang, Laras," sahut Anggas. Dipandangi wanita di depannya, kemudian pandangannya terarah pada empat mayat yang bergelimpangan.

"Sudah dua kali mereka berusaha memerkosaku," kata Laras memberi tahu.

"Siapa mereka?" tanya Anggas.

"Nanti kuceritakan. Yang penting, sekarang aku harus segera ke Lereng Gunung Puring," tegas Laras langsung teringat akan tujuannya semula meninggalkan rumah Ki Giri.

"Gunung Puring...? Ada apa di sana?" tanya Anggas seraya menatap ke arah Gunung Puring di depannya.

"Nanti kuberi tahu. Ayo cepatlah, sebelum terlambat!" sahut Laras.

Anggas masih tidak mengerti, tapi tidak bisa lagi bertanya. Laras sudah melangkah cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Maka, Anggas pun bergegas melangkah juga, dan mensejajarkan dirinya di samping wanita itu. Rasa penasaran masih menghinggapi dirinya, sehingga tidak sabaran lagi bertanya.

Laras terpaksa menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Juga tentang kematian ayah mertua dan suaminya di tangan makhluk liar yang bangkit dari kuburnya. Wanita itu tidak lupa menceritakan pertemuannya dengan seorang pendekar muda, yang kemudian membawanya ke sebuah rumah di Desa Caruban.

"Kau sendiri, bagaimana bisa sampai di sini?" Laras balik bertanya, meminta penjelasan setelah selesai menceritakan perjalanannya selama ini.

"Kau tahu, bahwa seluruh anak buah Paman Selong habis dibantai pasukan kerajaan. Waktu itu aku berusaha bertahan, dan meminta Paman dan suamimu pergi menyelamatkan diri. Aku sendiri bergegas pergi, tapi pasukan tentara kerajaan itu terus mengejarku. Aku berhasil ditangkap, dan dijebloskan ke dalam penjara," tutur Anggas tentang perjalanannya.

"Bagaimana kau bisa keluar dari penjara?"

"Seorang prajurit penjaga berhasil kuperalat. Aku kemudian terus kabur setelah membebaskan seluruh tawanan kerajaan. Dalam suasana gaduh, aku berhasil lolos dan meninggalkan istana kerajaan itu. Karena yakin kau pasti selamat, maka aku terus mencarimu, Laras. Sayang sekali, Paman dan suamimu tewas. Aku menyesal...," agak pelan suara terakhir Anggas.

"Sudahlah, Anggas. Semua bukan salahmu. Kau sudah berusaha keras menyelamatkan Ayah."

"Aku menyesal belum bisa membalas budi Paman. Sejak kecil aku dirawat dan dibesarkan olehnya. Bahkan Kakang Pandu begitu baik, sehingga menjadikanku seperti adik kandungnya sendiri."

Laras diam saja, dan terus saja melangkah cepat dibarengi Anggas yang berjalan di sampingnya. Dia tahu kalau Anggas sejak kecil sudah ikut Ki Selong, dan diangkat sebagai anak. Tidak jelas asal-usul pemuda ini. Yang Laras tahu, Anggas adalah adik angkat suaminya.. Hanya itu saja.

********************

DELAPAN

Sementara itu pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan Hantu Karang Bolong sudah sampai di Lereng Gunung Puring sebelah Selatan. Mereka sudah berada di sekitar reruntuhan batu-batuan yang menjadi makam Hantu Karang Bolong beberapa puluh tahun lalu. Menyadari berada kembali di tempat saat dirinya pernah dikalahkan, Hantu Karang Bolong jadi geram setengah mati. Dirasakan dirinya terjebak.

"Bocah keparat...! Kau sengaja membawaku ke sini, heh!?" geram Hantu Karang Bolong.

"Di sini kau mati, di sini kau bangkit kembali. Maka di sini pula kau harus kembali ke alammu, Hantu Karang Bolong!" kata Rangga sambil mengelakkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi dari lawannya.

"Kurang ajar...! Kau harus mampus, bocah!" bentak Hantu Karang Bolong sengit.

Kemarahan orang yang seharusnya sudah mati itu, semakin memuncak tatkala setiap serangannya kini dapat dielakkan Pendekar Rajawali Sakti. Mereka sudah bertarung satu malam penuh tanpa beristirahat sedikit pun. Dan sekarang ini hari sudah demikian tinggi. Sekitar tempat pertarungan itu sudah porak poranda. Matahari bersinar terik seakan-akan hendak memanggang seluruh mayapada ini.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Rangga berteriak keras, dan tangannya cepat menghentak ke depan. Satu desiran angin kuat menghempas ke arah Hantu Karang Bolong. Namun laki-laki muda yang bermata merah bagai mata binatang buas itu, cepat bisa berkelit dengan melompat! ke samping. Ledakan keras terdengar begitu pukulan aji 'Batara Naga' yang dipelajari Rangga dari Satria Naga Emas, menghantam puing-puing batu bekas kuburan Hantu Karang Bolong. Batu-batu itu terpental keras ke udara, sehingga debu mengepul tinggi bagai memayungi sekitar tempat itu dari sengatan sinar matahari.

Tampak, bekas pukulan aji 'Batara Naga' itu sangat luar biasa. Tanah yang terkena hantaman berlubang besar dan sangat dalam. Cukup untuk mengubur seekor gajah dewasa yang sehat dan gemuk. Sementara itu Hantu Karang Bolong segera bangkit dan melompat cepat sambil menjulurkan kedua tangannya ke depan.

Rangga yang pada saat itu belum siap, tidak bisa lagi menghindar. Segera diangkat tangannya untuk mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Cahaya biru langsung memancar membentuk lingkaran pada kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti itu. Dan pada saat itu pula, kedua tangan Hantu Karang Bolong sudah demikian dekat.

"Yaaa...!" "Hiyaaa...!"

Ledakan keras kembali terdengar begitu dua pasang telapak tangan beradu. Seketika itu juga, terlihat dua sosok tubuh yang saling bertarung mengerahkan ilmu kesaktian masing-masing, terpental balik ke belakang. Rangga sampai menghantam tiga batang pohon besar berturut-turut. Sedangkan Hantu Karang Bolong, berputaran dua kali di udara, sebelum kakinya mendarat manis di tanah.

Lain halnya yang dialami Rangga. Tubuhnya tergeletak di antara reruntuhan pepohonan yang terlanda tubuhnya. Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas bangkit berdiri, namun terhuyung-huyung Dari sudut bibirnya mengucur darah segar. Tangan kirinya menekap dada yang terasa sesak, sukar untuk bernapas.

"Ha ha ha...!" Hantu Karang Bolong tertawa terbahak-bahak.

"Ugh...!" sambil terhuyung-huyung, Rangga melangkah keluar dari reruntuhan pepohonan.

"Kakang, awas...!" tiba-tiba Ayu Rumala berteriak keras.

Pada saat itu, Hantu Karang Bolong sudah melompat menerjang kembali dengan cepatnya. Sesaat Rangga terkesiap. Buru-buru dibanting tubuhnya ke samping, dan bergulingan beberapa kali. Terjangan Hantu Karang Bolong hanya mengenai sebongkah batu besar, hingga hancur berantakan!

"Grrr...!" Hantu Karang Bolong menggerung geram.

Dia cepat berbalik, dan kembali mengadakan penyerangan yang lebih dahsyat lagi. Rangga yang baru saja bisa bangkit berdiri, tidak mungkin lagi bisa menghindari serangan itu. Sedangkan Hantu Karang Bolong sudah cepat menyerang kembali. Pada saat yang begitu kritis, tiba-tiba saja Ki Bonang melemparkan sebuah benda berwarna kuning keemasan yang panjangnya kira-kira satu hasta!

Benda bulat berwarna kuning emas itu melayang ke arah Rangga. Tepat pada saat itu, Hantu Karang Bolong yang tengah menghantamkan pukulannya ke arah dada lawan, mendadak menarik pulang serangannya. Dia langsung melompat mundur.

"Hap!"
Tap!

Rangga setengah melompat, menyongsong benda kuning yang dilemparkan Ki Bonang padanya. Benda itu seperti tongkat, dan kedua ujungnya berbentuk mata tombak. Kini senjata itu sudah berada di dalam genggaman Pendekar Rajawali Sakti. Sementara itu, wajah Hantu Karang Bolong menjadi pucat pasi melihat benda kuning keemasan telah berada di tangan lawannya.

"Gunakan senjata itu, Rangga!" teriak Ki Bonang memberi tahu.

Rangga melirik pada laki-laki tua Kepala Desa Caruban itu. Ditimang-timangnya benda keemasan berbentuk tongkat itu di tangannya. Benda ini terasa begitu ringan, seperti tidak memiliki daya berat sama sekali. Warnanya kuning keemasan berkilat tertimpa cahaya matahari.

"Keparat..!" geram Hantu Karang Bolong.

"Hm...," kening Rangga berkerut menatap lawannya.

Agak sedikit heran juga Pendekar Rajawali Sakti ketika wajah Hantu Karang Bolong berubah pucat saat benda berwarna kuning keemasan berada di tangannya. Rangga memutar-mutar benda itu, dan langsung ia terkejut! Ternyata putaran yang sedikit saja menimbulkan deru angin bagai topan. Dan ini membuat Hantu Karang Bolong menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Cepat, Kakang! Musnahkan dia, jangan sampai hari gelap!" teriak Ayu Kumala keras.

Hantu Karang Bolong menggeram hebat mendengar suara gadis itu. Matanya tajam menatap Ayu Kumala. Tapi begitu Rangga menggerakkan tangan yang menggenggam besi kuning bermata dua itu, Hantu Karang Bolong langsung menutupi mukanya dengan kedua tangan menyilang.

"Apa pun nama benda ini, tampaknya kau takut menghadapinya, Hantu Karang Bolong," kata Rangga seraya mengulas senyuman.

"Bocah keparat..! Ayo, hadapi aku! Kita bertarung sampai mati!" tantang Hantu Karang Bolong geram.

"Hm..., rasanya kau sudah mati, Hantu Karang Bolong," ejek Rangga.

"Kadal! Kurobek mulutmu, keparat..!"

Amarah Hantu Karang Bolong memuncak saat mendengar ejekan Pendekar Rajawali Sakti. Sambil menggeram dahsyat bagai binatang buas, laki-laki berwajah tampan dan memiliki sorot mata tajam itu langsung melompat menyerang. Namun kali ini Rangga seperti mendapat tenaga baru setelah menggenggam sebentuk senjata itu. Dia sendiri tidak tahu, untuk apa senjata ini diberikan Ki Bonang padanya.

"Hait..!"

Rangga memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri menghindari pukulan lurus Hantu Karang Bolong. Dan dengan cepat dikibaskan senjata di tangannya ke arah perut. Hantu Karang Bolong melenting ke atas, dan tubuhnya setengah berputar menghindari tebasan itu. Kemudian cepat sekali kakinya melayang menyampok ke arah pundak Pendekar Rajawali Sakti.

"Akh!" Rangga memekik tertahan begitu pundaknya kena tendangan lawannya.

Pendekar Rajawali Sakti itu sedikit terdorong ke samping, namun cepat memanfaatkan tenaga tendangan itu untuk melesat membuat jarak. Dan begitu kakinya menjejak tanah, dengan cepat melompat tinggi ke angkasa, lalu menukik tajam. Kedua kakinya bergerak cepat mencecar kepala. Rangga mengulangi kembali jurusnya yang pernah diandalkan, yakni jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

Hantu Karang Bolong menganggap remeh jurus itu. Dengan ringan sekali dielakkan serangan dari jurus itu, bahkan kini mengirimkan satu pukulan keras begitu kaki Rangga mendarat di tanah. Tapi tanpa diduga sama sekali, Rangga menyampokkan senjata kuning keemasannya ke arah tangan lawan.

"Eh!" Hantu Karang Bolong terperanjat setengah mati.

Buru-buru ditarik pulang pukulannya. Tapi sabetan Rangga yang sudah direncanakan sebelumnya memang hanya sebuah pancingan. Dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' sebagai pancingan, Hantu Karang Bolong memekik keras begitu tangannya terhantam senjata kuning itu.

Hantu Karang Bolong melompat mundur ke belakang, sambil memegangi tangannya yang terhantam senjata di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Tangan yang terhantam Besi Kuning itu, terlihat hitam membusuk. Kedua bola mata Hantu Karang Bolong membeliak lebar melihat sebelah tangannya membusuk seperti mayat!

Lain halnya dengan Rangga yang begitu gembira setelah melihat hasilnya. Kini baru diketahui kegunaan senjata yang diberikan Ki Bonang padanya. Rupanya senjata yang pernah digunakan Pendekar Bayangan Dewa untuk mengalahkan Hantu Karang Bolong beberapa puluh tahun lalu, benar-benar dahsyat.

"Tamatlah riwayatmu sekarang, Hantu Karang Bolong!" desis Rangga.

"Kurang ajar! Monyet buduk...!" Hantu Karang Bolong menyumpah serapah menahan kemarahan yang memuncak.

Sebelah tangannya sudah tidak bisa lagi digunakan. Tangan kanan itu cepat membusuk, dan beberapa bagian dagingnya mulai mengelupas.

"Tusukkan saja ke arah jantung, Rangga!" teriak Ki Bonang memberi tahu.

"Tutup mulutmu, tua bangka keparat!" bentak Hantu Karang Bolong gusar.

"Terlambat, Hantu Karang Bolong. Aku sudah tahu!" ejek Rangga.

"Setan...!"

Hantu Karang Bolong tidak bisa lagi menahan amarahnya. Sambil berteriak keras melengking tinggi, diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti. Namun terjangan itu dengan mudah dapat dielakkan Rangga. Bahkan hampir saja dadanya tertusuk senjata di tangan Pendekar Rajawali Sakti itu.

Tapi satu tendangan keras, tidak bisa dielakkan Hantu Karang Bolong. Tubuhnya terjungkal mencium tanah, namun mampu cepat bangkit kembali. Bahkan kini langsung menerjang kembali disertai kemarahan yang semakin memuncak. Memang tidak mudah bagi Rangga untuk menancapkan senjata kuning itu ke dada lawannya. Meskipun tinggal sebelah tangan yang masih berfungsi, Hantu Karang Bolong masih cukup tangguh dan gesit menghadapi Pendekar Rajawali Sakti.

Sedangkan saat ini, Rangga sudah kelihatan lelah karena semalaman penuh bertarung. Dan sekarang, matahari sudah mulai condong ke arah Barat, ini berarti waktunya tinggal sedikit lagi untuk mengalahkan Hantu Karang Bolong. Makhluk satu ini akan berlipat ganda kekuatannya jika malam datang. Cahaya bulan akan melipatgandakan kekuatannya. Jelas tidak ada harapan lagi buat Rangga untuk mengalahkannya, meskipun memegang Besi Kuning.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Rangga mendesak Hantu Karang Bolong. Jurus-jurus andalannya dikeluarkan, disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Beberapa kali ujung senjatanya hampir menembus dada Hantu Karang Bolong, namun selalu bisa dielakkan.

"Awas kepalamu, Hantu Karang Bolong...!

Tiba-tiba saja Ayu Kumala melompat sambil berteriak nyaring. Pedangnya terhunus, berkelebat mengarah kepala Hantu Karang Bolong. Hal ini tentu saja membuat Ki Giri maupun Ki Bonang terkejut setengah mati.

"Ayu...!" teriak Ki Bonang khawatir.

Dan pada saat itu, Hantu Karang Bolong mengibaskan tangannya ke arah Ayu Kumala. Akibatnya secara tak sadar pertahanannya terbuka sedikit. Kesempatan yang hanya sedikit ini, tidak disia-siakan Rangga. Dengan cepat dihunjamkan ujung senjata ke dada lawannya itu.

"Aaa...!" Hantu Karang Bolong menjerit melengking tinggi.

Dan pada saat yang bersamaan, tangan kirinya berhasil menyampok tubuh Ayu Kumala. Gadis itu memekik tertahan, dan tubuhnya terpental keras menghantam pohon. Hampir dalam waktu yang bersamaan pula, Rangga melontarkan satu pukulan disertai pengerahan tenaga dalam yang sempurna ke kepala lawannya.

Untuk kedua kalinya, Hantu Karang Bolong menjerit melengking tinggi. Kepalanya retak, mengucurkan darah kehitaman berbau busuk. Hantu Karang Bolong meraung keras, dan tubuhnya perlahan membusuk.

"Satu lagi! Hiyaaa...!" teriak Rangga keras.

Seketika itu juga Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil melontarkan satu tendangan keras. Hantu Karang Bolong terpental, dan langsung jatuh ke dalam lubang yang terbuat akibat pukulan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga berdiri tegak di bibir lubang itu. Pandangannya tertuju langsung pada tubuh yang berubah menjadi sosok mayat membusuk, menggeliat-geliat sambil meraung-raung bagai binatang buas. Perlahan-lahan tubuh itu mencair, dan tidak bergerak-gerak lagi. Kening Rangga agak berkerut begitu melihat ada dua bentuk senjata berwarna kuning tertancap pada bagian dada.

Yang satu, jelas senjata yang digunakan Rangga dari Ki Bonang. Sedangkan sebuah lagi berukuran hampir sama, tapi hanya berbentuk warangka dari senjata itu. Rangga mencoba untuk bisa mengerti, tapi untuk saat ini otaknya belum bisa diajak berpikir.

********************

"Ayu...," desah Ki Bonang seraya membantu anaknya berdiri.

Ayu Kumala meringis, lalu bangkit berdiri dari reruntuhan pohon yang terlanda tubuhnya akibat terkibas tangan kiri si Hantu Karang Bolong. Sementara itu Rangga melangkah pelarian menghampiri Ki Giri yang tetap berdiri pada tempatnya. Enam orang pemuda bersenjata golok, berada di belakang laki-laki tua itu.

Ki Giri memerintahkan enam orang anak muda itu untuk menimbuni lubang yang berisi mayat Hantu Karang Bolong dengan batu cadas yang banyak terdapat di sekitar tempat ini. Tanpa membantah sedikit pun, enam orang pemuda dari Desa Caruban itu melaksanakan perintah Ki Giri.

"Hhh...! Untung belum terlambat," desah Ki Giri seperti untuk dirinya sendiri.

"Apa yang belum terlambat, Ki?" tanya Rangga tiba-tiba.

"Besi Kuning itu," sahut Ki Giri.

Sementara itu Ki Bonang menghampiri sambil memapah anaknya. Ayu Kumala masih meringis setiap kali melangkah. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Ki Bonang membantu anaknya duduk di bawah pohon beringin yang besar dan rindang. Demikian pula dengan Rangga dan Ki Giri yang juga duduk di bawah pohon itu. Sementara enam pemuda masih menimbuni batu-batuan ke dalam lubang kuburan Hantu Karang Bolong.

"Kulihat ada senjata lain yang bentuknya hampir sama di dalam tubuh iblis itu," kata Rangga bernada bertanya.

"Itu adalah warangka dari senjata Besi Kuning," jelas Ki Bonang.

"Oh...!" Rangga meminta penjelasan lebih lanjut.

"Senjata itu adalah milik Pendekar Bayangan Dewa. Sebenarnya ketika Hantu Karang Bolong bertarung melawan Pendekar Bayangan Dewa, senjata bersama warangkanya itu telah tertanam di dalam tubuhnya. Tapi sebelum mati, Hantu Karang Bolong berhasil mencabut senjata Besi Kuning, dan tidak sempat mengeluarkan warangkanya. Kalau hanya salah satu yang tertanam dalam tubuhnya, maka beberapa puluh tahun kemudian dia akan bangkit kembali. Itulah sebabnya kenapa dia bisa bangkit kembali. Tapi kalau keduanya berada dalam tubuhnya, dia akan mati selamanya. Asalkan kedua senjata itu tetap berada bersama mayatnya di dalam kubur," jelas Ki Bonang.

"Dan senjata Besi Kuning bisa diperoleh Ki Bonang tiga tahun lalu, melalui pertapaan di Puncak Gunung Puring ini," sambung Ki Giri.

"Pertapaan...?" tanya Rangga.

"Pendekar Bayangan Dewa menghabiskan waktunya di dalam sebuah kuil di Puncak Gunung Puring. Selama itu dia bertapa sambil menunggu kalau-kalau Hantu Karang Bolong bangkit kembali," Ki Bonang menjelaskan.

"Dan sampai ajalnya, iblis itu tidak juga bangkit, sampai Ki Bonang mendapatkan senjata itu," sambung Ki Giri lagi.

"Aku mengerti sekarang! Jadi, Pendekar Bayangan Dewa sengaja memiliki senjata itu hanya untuk menghadapi Hantu Karang Bolong...?" tebak Rangga mulai mengerti.

"Benar! Dan itu juga diperoleh melalui pertapaan yang panjang dan hampir merenggut nyawanya,' sahut Ki Bonang.

"Nampaknya Ki Bonang tahu persis," kata Rangga.

"Itu sudah menjadi legenda bagi rakyat Desa Caruban, Rangga. Hampir semua orang, di desa ini mengetahui hal itu. Jadi sudah bukan rahasia umum lagi," jelas Ki Bonang lagi.

"Hm...," Rangga bergumam dan kepalanya terangguk-angguk.

Desa Caruban memang tidak berapa jauh dari tempat ini. Tidak heran kalau semua penduduknya mengetahui tentang hal ini. Pendekar Rajawali Sakti itu menoleh ketika telinganya mendengar suara langkah kaki.

Tidak berapa lama setelah Rangga berdiri, Laras datang bersama seorang laki-laki yang pakaiannya bagaikan seorang gembel. Laras dan lelaki muda itu bergegas menghampiri mereka yang sedang duduk di bawah pohon beringin. Sementara itu enam pemuda Desa Caruban sudah menyelesaikan pekerjaannya.

"Laras, mengapa kau ke sini?" tanya Ki Giri seraya bangkit berdiri.

"Maaf, Ki... Aku cemas, soalnya...."

"Ah! Sudahlah, Laras. Semuanya sudah berakhir," potong Ki Giri cepat.

"Berakhir...?!" Laras kelihatan bingung.

"Benar, Kak Laras. Hantu Karang Bolong sudah musnah," celetuk Ayu Kumala yang sudah bisa menormalkan keadaan dirinya kembali.

"Oh...," Laras mendesah lega.

"Laras...," Ki Giri menatap pada laki-laki yang berada di samping wanita itu.

"Oh, iya! Ki, ini adik suamiku. Namanya Anggas. Kebetulan kami bertemu di jalan," kata Laras memperkenalkan.

Ki Giri mengangguk ramah, kemudian dibalas oleh Anggas yang juga mengangguk pada Ki Bonang. Tapi Ki Giri malah menatap agak tajam pada Laras yang hanya memakai kain sobek-sobek, sehingga beberapa bagian tubuhnya menyembul. Laras jadi kikuk juga.

"Nanti kujelaskan, Ki," kata Laras buru-buru.

"Ada sedikit kesulitan dihadapi Kak Laras," kata Anggas membantu bicara.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Ki Giri. Ada nada kecemasan dalam suaranya.

"Tidak, Ki," sahut Laras.

"Syukurlah."

"Sudah hampir malam, sebaiknya kita kembali saja," kata Ki Bonang mengingatkan.

"Hey...! Di mana...?!" tiba-tiba Ki Giri teringat pada Rangga.

Semua orang yang ada di tempat itu baru sadar kalau Rangga sudah tidak ada lagi. Mereka celingukan mencari-cari, kemudian saling pandang. Seakan-akan saling menanyakan satu sama lainnya. Tapi mereka sama-sama mengangkat-bahu. Tidak-ada yang melihat kapan dan ke arah mana Pendekar Rajawali Sakti itu pergi.

"Hhh...! Dua kali aku tidak sempat berbuat apa-apa padanya," desah Ki Bonang bernada mengeluh!

"Seorang pendekar sejati tidak memerlukan balas jasa, Ki," tegas Ki Giri.

"Ya, aku tahu. Tapi paling tidak ucapan terima kasih harus ada."

"Ah, sudahlah. Sebaiknya segera saja kita kembali. Mudah-mudahan saja dia kembali lagi pada kita, Ki Giri menengahi.

Memang tidak ada gunanya lagi mengharapkan Rangga muncul. Mereka segera bergerak meninggalkan tempat itu. Tapi Ayu Kumala masih juga berdiri tanpa melangkah sedikit pun. Raut wajahnya begitu kosong, sukar untuk diartikan.

"Ayu...!" panggil Ki Bonang

"Oh! Ya, Ayah...!"

Ayu Kumala bergegas melangkah menyusul yang lainnya. Sementara Laras diam-diam memperhatikan, dan mensejajarkan langkahnya di samping gadis itu. Mereka berjalan perlahan paling belakang.

"Kau mencintainya, Ayu?" tebak Laras langsung.

Ayu Kumala tidak langsung menjawab, tapi malah menatap lurus ke bola mata Laras. Pertanyaan itu tidak mungkin dijawab saat ini juga. Dia sendiri tidak tahu, apakah mencintainya atau tidak. Yang jelas, saat ini hatinya begitu kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang terbawa pergi bersama Pendekar Rajawali Sakti.

"Untuk bisa hidup bersama seorang pendekar, harus juga bisa mengerti jiwa pendekar. Maaf, bukannya ingin mencampuri kehidupan pribadimu. Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya tentang kehidupan seorang pendekar," kata Laras lagi.

"Tampaknya Kak Laras tahu banyak tentang pendekar," kata Ayu Kumala.

"Sedikit. Tapi, paling tidak aku pernah hidup bersama seseorang yang.... Ya..., bisa dikatakan selalu bepergian mengembara."

"Menarik sekali. Boleh aku tahu lebih banyak, Kak?" Ayu Kumala begitu berminat.

"Tentu saja."
"Terima kasih, Kak."
"Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"

"Jangan terlalu berharap untuk bisa hidup bahagia bersama seorang pendekar."

"Ah, Kakak...."

Seketika wajah Ayu Kumala jadi bersemu merah jambu. Dia menunduk dan terus berjalan perlahan. Sementara di dalam hatinya tetap berharap bisa berjumpa kembali dengan Pendekar Rajawali Sakti.

Bagaimanapun juga, diakui kalau ada sekeping hatinya yang tercuri oleh Pendekar tampan itu. Tapi... benar juga kata Kak Laras, jangan terlalu berharap bisa hidup berbahagia bersama seorang pendekar.


SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA DENDAM ANAK PENGEMIS