Perawan Lembah Wilis Jilid 28

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 28

SERINGKALI ia tersenyum puas menyaksikan hasilnya. Dahulu dia hanyalah seorang perwira kecil di Jenggala, dan karena dia bermain cinta dengan seorang puteri dari selir raja dia terpaksa melarikan diri agar tidak dihukum mati. Dan setelah berkali-kali gagal dalam usahanya mengejar kemuliaan, gagal di Blambangan dan merantau terlunta-lunta di Bali, kini dia berhasil menjadi Patih Jenggala!

Ki Patih Warutama yang dahulunya bernama Raden Sindupati ini adalah seorang pria yang tampan dan gagah, namun sayang ketampanan dan kegagahannya itu hanya menjadi pulasan belaka, hanya setebal kulitnya. Hati dan pikirannya selalu kotor dan menjadi hamba daripada nafsu-nafsunya sendiri, terutama sekali nafsu berahi yang membuat dia menjadi seorang pria yang gila wanita. Setelah kini kedudukannya kokoh kuat, la mulai membujuk Suminten dan Pangeran Kukutan untuk mulai mengadakan kontak dengan fihak Sriwljaya dan Cola yang wakil-wakilnya memang sudah banyak yang menyelundup ke Jenggala.

Mulailah kini Ki Patih Warutama mengangkat pembantu-pembantu yang sesungguhnya adalah anak buah Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati! Mulailah pengaruh kedua kerajaan itu menyusup ke Jenggala. Bukan hanya ini saja usaha yang dilakukan oleh Ki Patih Warutama. Juga kedudukan dan kemuliaannya membuat penyakit lama dalam dirinya kambuh, yaitu mengejar wanita-wanita cantik! Dan di Jenggala adalah kedungnya wanita-wanita cantik! Dengan ketampanan wajahnya, ditambah kedudukannya sebagai patih, diperkuat pula oleh kesaktiannya, akan mudah sekali bagi Warutama untuk mencari perawan, janda, atau isteri orang untuk diambilnya. Mulailah pria ini berpesta-pora, pesta palsu, dan ia seolah-olah berlomba dengan Suminten.

Suminten adalah seorang wanita yang gila pria yang selalu haus dan tak terpadamkan, tak pernah puas nafsu berahinya, sehingga setiap malam dia harus ditemani seorang pria, ganti-berganti bahkan hampir setiap malam berganti pria. Demikian pulalah dengan Warutama. Setelah kini kedudukannya mencapai tingkat tinggi dan kokoh kuat, ia tidak menyembunyikan sifatnya ini dan menyaingi Suminten dalam hal mengumbar nafsunya, berganti-ganti wanita setiap malam, entah puteri siapa, entah isteri siapa asalkan cantik jelita dan sesuai dengan seleranya!

Ketika teringat akan bekas kekasihnya dan mengadakan penyelidikan, ia mendengar bahwa puteri yang dahulu menjadi kekasihnya, yaitu puteri raja dari selir yang bernama Wulandari telah menjadi isteri seorang tumenggung, dia menjadI penasaran sekali dan hatinya takkan dapat merasa puas dan tenteram sebelum ia berhasil mendapatkan kembali kekasihnya yang dahulu dipaksa berpisah darinya itu. Dia tidak perduli akan kenyataan bahwa menurut penyelidikannya, suami Wulandari itu, yang bernama Tumenggung Matunggal adalah seorang tumenggung yang menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan pula, jadi merupakan anak buah, dan tidak perduli pula bahwa suami isteri itu telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini sudah menjadi seorang gadis dewasa!

Mulailah ki patih merenung dengan hati penuh kerinduan kepada bekas kekasihnya dahulu, padahal iapun mengetahui bahwa, kekasihnya itu, Wulandari yang dahulu amat cantik jelita, kenes dan kewes memikat, kini sedikitnya tentu sudah berusia empat puluh tahun!

Makin rindu rasa hatinya kalau ia mengenang peristiwa di masa yang lalu. Wulandari mencinta dirinya, menyerahkan jiwa raga kepadanya dan ketika hubungan gelap mereka ketahuan, terpaksa ia melarikan diri. Tadinya dikabarkan orang bahwa Wulandari telah membunuh diri. Baru sekarang ia ketahui bahwa hal itu hanya disiarkan untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga raja, padahal diam-diam gadis bekas kekasihnya itu dikawinkan dengan Tumenggung Matunggal.

Apalagi setelah ia melakukan penyelidikan dan berhasil melihat bekas kekasihnya itu, rindu dendam dan berahinya makin memuncak. Bukan saja terhadap kekasihnya yang ternyata masih cantik jelita, bahkan lebih "matang" daripada duapuluh tahun lebih yang lalu, melainkan juga terhadap Dyah Handini, puteri bekas kekasihnya itu yang kini telah menjadi seorang perawan jelita! Dan mulailah otaknya yang cerdik seperti setan itu merencanakan siasatnya yang keji.

********************

Ki Tumenggung Matunggal merasa girang dan bangga sekali ketika ia diserahi tugas oleh Ki Patih Warutama untuk melakukan peninjauan ke Nusabarung dan terus ke Blambangan, dua kadipaten yang telah ditaklukkan oleh Jenggala. Baik Nusabarung maupun Belambangan dahulu dapat diserbu dan ditaklukkan berkat kesaktian Endang Patibroto. Setiap orang pembesar tentu akan merasa girang dan bangga kalau menjadi utusan atau wakil kerajaan menInjau daerah taklukan, girang karena biasanya daerah taklukan tentu akan mellmpahkan hadiah-hadiah dan tanda bukti yang akan membuatnya pulang dengan harta benda bertumpuk, dan bangga karena tugas ini membuktikan bahwa dia adalah orang yang dipercaya oleh kerajaan!

Dengan hati bangga dan besar Ki Tumenggung Matunggal berangkat beserta pasukannya setelah berpamit dari isterinya, puterinya, dan selir-selirnya. Sama sekali ki tumenggung ini tidak pernah mimpi bahwa kepergiannya yang takkan pernah kembali dan bahwa perpisahannya dengan keluarganya adalah perpisahan terakhir! Mengapa demikian?

Karena semua ini adalah siasat keji yang dilakukan oleh Patih Warutama yang bertekad bulat untuk mendapatkan kembali bekas kekasihnya, Wulandari yang telah menjadi nyi tumenggung itu, mendapatkan kembali Wulandari berikut puterinya, Dyah Handini. Dan untuk mencapai niat hati keji ini, Patih Warutama tidak segan untuk melakukan hal yang bagaimana kejamnyapun. Tumenggung Matunggal harus dilenyapkan!

Demikianlah siasat yang amat busuk dan yang hanya timbul dalam hati seorang manusia yang sudah menjadi hamba nafsu dan menjadi murid iblis! Sungguh patut dikasihani orang-orang seperti Ki Tumenggung Matunggal ini. Seorang manusia pengejar kemuliaan dan kedudukan dengan cara apa pun juga, tidak segan untuk menjilat-jilat atasannya, rela menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan dan mengkhianati kerajaan, sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya ia hanya dipergunakan sebagai alat oleh pihak atasan yang dalam hal mengejar kesenangan pribadi jauh melebihinya, dalam kekejaman jauh melewatinya.

Tidak sadar bahwa ia hanya dipermainkan, dipuji-puji dan diberi hadiah apabila masih diperlukan, namun sekali fihak atasannya tidak memerlukannya, dia akan dilempar dan dibunuh begitu saja! Dan alangkah banyaknya manusia-manusia macam Tumenggung Matunggal ini, yang tidak mempunyai pendirian, tidak mempunyai kesetiaan.

Kepergiannya melaksanakan tugas meninjau ke daerah-daerah taklukan, diakhiri dengan kematian dalam perjalanan karena diracun oleh pengawalnya sendiri, sudah tentu saja pengawal yang menjalankan perintah Ki Patih Warutama. Adapun racun yang dipergunakan adalah racun yang diminta oleh Ki Patih Warutama dari Ni Dewi Nilamanik, racun yang amat hebat dan tidak dikenal orang sehingga kematian Tumenggung Matunggal dianggap sebagai kematian wajar, kematian karena sang tumenggung diserang penyakit mendadak di dalam perjalanannya.

Malam hari itu nyi tumenggung atau yang dahulunya bernama Wulandari, puteri dari selir sang prabu, menangis di dalam kamarnya, menangisi kematian suaminya. Sesungguhnya ia tidak mencintai suami ini, suami yang dijodohkan dengan dia secara paksaan. Akan tetapi karena suaminya itu selalu baik terhadapnya, maka kematiannya yang mendadak dalam perjalanan itu membuatnya berduka juga. Dan menjelang tengah malam, ketika nyi tumenggung yang berduka ini sudah hampir dapat melupakan dukanya dengan tidur, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka dari luar dan sesosok bayangan berkelebat masuk ke kamar itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Wulandari terkejut dan sejenak berdiri bulu tengkuknya, mengira bahwa roh suaminya yang datang melayang masuk dari jendela itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa pria tampan dan gagah yang berdiri di kamarnya, yang memandangnya dengan senyum membayang di balik kumis tipis dan pandang mata mesra, adalah Ki Patih Warutama! Baru satu kali Wulandari melihat patih yang baru ini, yang sekali itu pun hanya sepintas lalu, akan tetapi ia telah mengenal ki patih ini karena wajah ki patih mengingatkan dia akan seorang yang pernah dikenalnya baik-baik, akan wajah Raden Sindupati, bekas kekasihnya belasan tahun yang lalu!

Mengapa Ki Patih Warutama memasuki kamarnya? Dan pada waktu malam buta dengan melalui jendela seperti seorang maling? Jantung Wulandari berdebar keras, wajahnya menjadi pucat dan kalau saja ia tidak melihat jelas bahwa ki patihlah orang ini, tentu ia telah menjerit. Kini dengan tubuh gemetar ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara penuh teguran, namun halus,

"Gusti Patih.... mengapa Paduka....?"

"Wulandari, jangan takut, bintang pujaanku..." kata Warutama sambil melangkah maju, mendekat.

Wulandari membelalakkan kedua matanya. Ia mengangkat muka dan memandang dengan mata terbelalak, mukanya makin pucat. Nama kecilnya disebut begitu saja oleh ki patih, padahal di dalam dunia ini hanya satu orang saja yang menyebutnya dengan ucapan mesra "bintang pujaan".

"Paduka.... Paduka...." ia menggagap kebingungan.

Namun kedua tangan ki patih yang kuat itu sudah memegang pundaknya dan mengangkatnya berdiri. Muka mereka berdekatan, dua pasang mata berpandangan, dan terdengar bisikan keluar dari mulut yang menggigil.

"Paduka Gusti Patih Warutama....!"

Warutama tersenyum. "Benar, aku Ki Patih Warutama..."

"Kenapa Paduka masuk kamar ini....? Di tengah malam melalui jendela? Apakah... apakah kehendak Paduka?" Wulandari sudah dapat menguasai hatinya dan merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ki patih.

"Apa salahnya? Aku datang untuk menghiburmu, karena aku merasa kasihan kepada keluarga Tumenggung Matunggal yang sudah berjasa."

"Akan tetapi.... ah, Paduka harus cepat keluar dari sini...."

Kembali lengan ki patih bergerak dan tanpa dapat mengelak lagi Wulandari sudah dipeluknya dan dipaksanya muka yang masih cantik itu menengadah sehingga mereka kembali saling memandang, muka mereka amat dekat.

"Wulandari, bintang pujaanku.... tidakkah engkau mengenal aku, Diajeng? Pangling orangnya masa pangling suaranya? Andaikata engkau pangling rupa dan suara, apakah engkau sudah melupakan ini?" Sambil berkata demikian, Ki Patih Warutama atau yang dahulu bernama Raden Sindupati itu menundukkan mukanya lalu mencium leher Wulandari di bawah telinga kirri. Ciuman yang khas, seperti yang ia lakukan dahulu kalau dia bermain cinta dengan bekas kekasihnya ini, bibirnya mengecup kulit kuning langsat yang halus itu dan giginya menggigit...

"Aaggghhhh.... engkau.... engkau benar Kakangmas Sindupati...."

Wulandari berkata lirih dan mereka kembali berpandangan. "Engkau mengenalku kini, Diajeng. Akan tetapi Sindupati sudah tidak ada nama itu sudah dikubur. Aku Ki Patih Warutama. Sindupati lenyap namun cinta kasihku kepadamu tak pernah lenyap Diajeng bintang pujaanku...." Warutama lalu mencium mulut yang terbuka karena tercengang keheranan itu, mencium mata yang memandangnya penuh takjub karena memang wajah pria ini sudah amat berubah. Wulandari mula terengah-engah dan berkata seperti merintih,

"Akan tetapi.... Kakangmas... aku... aku sudah menjadi isteri...."

Kembali Warutama mencium dan membungkam mulut itu sehingga Wulandari tidak dapat melanjutkan kata-kata nya.

"Bukan, engkau kini sudah menjadi seorang janda, Wulandari kekasihku."

"... tetapi... aku.... suda tua, Kakangmas..."

Kembali bibir Warutama sudah menghentikan kata-katanya. Ki patih ini menciumi kekasih lama ini dengan penuh kemesraan, menumpahkan semua kerinduannya selama ini sehingga Wulandari menggigil dibuatnya. Wanita ini memejamkan matanya dan belaian serta ciuman kekasihnya yang tak pernah dilupakannya ini membuat semua bulu di tubuhnya meremang.

"Engkau tidak pernah tua bagiku, Diajeng. Engkau akan kuboyong ke kepatihan bersama puterimu, engkau akan hidup bahagia di sampingku, akan kutebus semua penderitaan yang kita alami selama berpisah, kita takkan berpisah lagi, Diajeng...."

"Kakangmas Sindupati....."

"Hushh, namaku Warutama...!"

"Kakangmas Warutama, betapa mungkin itu? Apa yang akan dikatakan orang kalau kami diboyong ke kepatihan? Suami..... suamiku baru saja meninggal.... dan...."

Kembali bibir Warutama yang tiada puasnya itu sudah menghentikan kata-katanya, menciuminya dengan penuh kemesraan sehingga naik sedu-sedan dari dalam dada Wulandari, membuat napasnya sesak, kepalanya pening seperti, orang mabuk.

"Tidak mengapa, Diajeng. Mendiang suamimu seorang berjasa, sudah sepatutnya kalau keluarganya menerima penghargaan dariku. Engkau menurut sajalah aku yang akan mengatur segalanya, aku yang bertanggung jawab."

"Tapi.... tapi.... " Hanya sampai di situ saja bantahan yang keluar dari mulut Wulandari karena ciuman-ciuman dan belaian-belaian disertai suara bujuk rayu bekas kekasihnya telah membuai seluruh tubuhnya menjadi lemas, napasnya terengah-engah dan membuat dia seperti mabuk, tidak lagi sadar apa yang dilakukannya melainkan tunduk akan kekuasaan nafsu yang sudah mencengkeramnya.

Bahkan ketika Ki Patih Warutama memondongnya menuju ke pembaringan, dengan sepasang mata dipejamkan dan mulut merintih tak tentu apa yang diucapkannya, Wulandari melingkarkan kedua lengannya ke leher bekas kekasihnya, seperti dua puluh tahunan yang lalu.

Peristiwa pemboyongan nyi tumenggung dan puterinya ke kepatihan tentu akan menimbulkan geger kalau saja yang melakukan pemboyongan itu adalah "orang kecil" atau ponggawa yang kedudukannya masih rendah. Perbuatan tidak wajar, apalagi melanggar hukum dari orang kecil tentu akan mencelakakan pembuatnya sendiri. Akan tetapi, siapakah yang berani mencela atau menghalangi perbuatan "orang besar" seperti Ki Patih Warutama? Tidak dahulu tidak sekarang, orang yang berkedudukan tinggi dan memiliki kekuasaan, dapat berbuat seenak perutnya sendiri tanpa ada orang yang berani mengganggu, karena bukankah hukum berada mutlak di dalam telapak tangannya?

Semenjak dahulu sampai kini, hukum yang dibuat manusia ternyata gagal untuk melindungi manusia-manusia yang termasuk golongan kecil, dan pada hakekatnya merupakan cara untuk menekan si kecil dan sebaliknya melindungi si besar.

Pemboyongan ibu yang baru saja menjadi janda bersama puterinya ke kepatihan tentu saja menimbulkan keheranan dan pelbagai dugaan, namun semua ini dapat ditutup oleh alasan ki patih bahwa hal ini dilakukan oleh ki patih mengingat akan jasa Tumenggung Matunggal yang tewas dalam melakukan tugas. Maka habislah urusan itu, bahkan ki patih dipuji-puji sebagai seorang atasan yang pandai menghargai jasa bawahannya dan bahwa ki patih adalah seorang baik hati yang menaruh kasihan kepada ibu dan puterinya itu.

Namun, sesungguhnya bukan sesederhana ini persoalannya dan hal ini hanya Wulandari yang mengetahuinya. Mula-mula janda ini merasa berbahagia sekali karena dia telah dapat berkumpul kembali dengan kekasih lama, bahkan dapat melanjutkan cinta kasih mereka yang dahulu diputus dengan paksa. Mula-mula Wulandari terlena dalam kenikmatan cinta, terbuai oleh bujuk rayu dan cinta asmara yang dilimpahkan oleh Ki Patih Warutama. Akan tetapi, ketika pada suatu malam ki patih menyatakan bahwa ki patih hendak mengambil puterinya, Dyah Handini, menjadi isteri ki patih, ia terkejut sekali seperti disambar halilintar di malam terang bulan!

"Ahhh, Kakangmas....! Betapa mungkin? Tidak bisa... tidak boleh Handini menjadi isterimu...."

Ki Patih Warutama merangkulnya, memeluk dan membelainya sambil tersenyum.
"Mengapa tidak, Wulandari? Dia akan menjadi isteriku, dan kita bertiga akan dapat berkumpul terus sampai selamanya! Bukankah hal ini membahagiakan kita bertiga?"

"Tidak boleh.... ah, Kakangmas, tidak boleh...." Wulandari menangis.

Warutama mengerutkan alisnya, akan tetapi ia masih tersenyum dan menciumi muka yang mulai basah air mata itu. "Diajeng Wulandari, ketahuilah bahwa aku mencinta puterimu. Dia mengingatkan aku kepada engkau ketika masih muda. Ketika kita dipaksa berpisah, engkau seumur dia dan persis seperti dia sekarang inilah keadaanmu. Apakah engkau cemburu? Dia puterimu sendiri. Dan engkau tentu yakin bahwa kalau dia menjadi isteriku, dia akan hidup bahagia. Dan engkau pun akan selalu bersanding di sisiku dan di sisi puterimu. Jangan khawatir, bintang pujaanku, aku dapat membagi cinta kasihku antara kalian berdua. Bahkan hubungan suci ini akan mengikat kita bertiga erat-erat, selamanya tidak akan berpisah lagi."

"Tidak....! Tidak.... Aahhh, jangan...." Wulandari menangis makin mengguguk.

Sinar mata yang menyeramkan memancar keluar dari mata Ki Patih Warutama. Kedua tangannya yang tadi membelai tubuh Wulandari, masih membelainya dan naik ke atas, membelai dan meraba-raba leher wanita itu, mengusap usap dengan gerakan-gerakan tangan seperti hendak mencekiknya. Mulutnya tersenyum dan suaranya dingin sekali ketika ia bertanya lirih,

"Mengapa? Mengapa tidak? Katakanlah, apa sebabnya mengapa kau tidak setuju."

Wulandari mengangkat mukanya memandang wajah pria yang sudah menjatuhkan hati dan segala-galanya itu. "Kakangmas, dia.... Dyah Handini itu... dia.... adalah anakmu sendiri...!"

Jari-jari yang mengelus leher itu menegang, akan tetapi belum mencekik, sungguhpun masih membelainya, agak lebih kasar daripada tadi. Wulandari hendak merenggutkan dirinya namun tidak dapat.

"Apa kau bilang.....? Dia anakku...?"

"Betul, Kakangmas. Dengarlah dahulu, ketika engkau melarikan diri.... dan aku dipaksa kawin dengan Tumenggung Matunggal, aku sudah... sudah mengandung satu bulan. Dia anakmu, Kakangmas, karena itu.... tidak boleh engkau mengambilnya sebagai isterimu..."

"Aku tidak percaya! Juga tidak perduli. Dia akan menjadi isteriku, tak perduli dia anakku atau bukan, tak perduli engkau setuju atau tidak!?"

"Kakangmas...!" Wulandari berseru dengan suara penuh permohonan, dengan air mata bercucuran.

"Cukup! Dengar baik-baik. Aku cinta kepada Dyah Handini, seperti cintaku kepadamu dahulu. Cintaku kepadamu yang terputus. Kini aku minta dilanjutkan, karena dia serupa benar dengan engkau dahulu. Hanya ada dua jalan bagimu. Menyetujui dia menjadi isteriku sehingga kita bertiga akan dapat terus berkumpul, akan tetapi terus saling mencinta, atau.... engkau mati sekarang juga dan dia tetap menjadi isteriku!" Jari-jari tangan yang masih melingkari leher Wulandari itu kini mengeras dan cekikan mulai terasa.

Dengan wajah pucat dan air mata mengalir, Wulandari terpaksa mengangguk, tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.

"Ha-ha-ha, bagus, itu baru namanya bintang pujaanku yang sejati!" Ki Patih Warutama tertawa lalu mengecup bibir Wulandari dengan buas, lalu memaksa wanita yang nelangsa batinnya itu untuk melayani cinta kasihnya yang sesungguhnya hanya merupakan cinta berahi, cinta berahi, cinta nafsu yang selalu menjadi penuntun bagi setiap perbuatan seorang manusia macam Warutama atau Sindupati.

Demikianlah, biarpun sudah mendengar dari mulut Wulandari sendiri bahwa Dyah Handini adalah anaknya, Ki Patih Warutama tidak mau mundur dan melangsungkan pernikahannya dengan dara yang denok ayu itu. Tentu saja pesta pernikahan diramaikan dengan mewah dan meriah dan orang-orang mulai memuji-muji lagi ki patih yang dianggapnya amat baik, suka mengangkat derajat anak seorang tumenggung. Semua orang menganggap betapa baik nasib Dyah Handini dan ibunya, yang biarpun telah kehilangan ayah dan suami, namun kini malah dinaikkan derajatnya sampai berlipat kali!

Dyah Handini sendiri sebagai seorang gadis pada masa itu, hanya menurut kehendak ibunya dan akhirnya dia pun berbahagia karena suaminya, biarpun usianya sudah mendekati setengah abad, harus diakui merupakan seorang pria yang tampan dan gagah, apalagi amat pandai dan seorang ahli dalam merayu wanita dan bermain cinta. Segera dara yang denok ini jatuh dan mabuk oleh rayuan pria yang menjadi suaminya, sedikitpun tak pernah menduga bahwa suaminya ini sesungguhnya adalah ayahnya sendiril

Ki Patih Warutama yang pada lahirnya merupakan seorang patih yang berpengaruh dan berkuasa, merupakan seorang pria yang tampan dan gagah sebenarnya batinnya amatlah rendah. Hanya manusia berperangai binatang saja kiranya yang sudi melahap puterinya sendiri! Bukan hanya itu saja, bahkan lebih jauh lagi tingkah dan ulah ki patih ini. Terang-terangan di depan isterinya, ia melanjutkan hubungan rahasianya dengan Wulandari! Akhirnya Dyah Handini juga mengetahui bahwa ibunya telah "diselir" oleh suaminya. Anak dan ibu menjadi madu! Namun, Dyah Handini yang sudah jatuh bertekuk lutut oleh belaian kasih sayang ki patih yang amat pandai, tidak berani marah, bahkan diam-diam menjadi gembira karena baginya, lebih baik membagi suaminya dengan ibunya daripada dengan wanita lain.

Terjadilah kemaksiatan yang menjijikkan dalam kamar Kl Patih Warutama. Kini terang-terangan saja dia bermain cinta dengan ibu dan anak itu. Dia tidur sekamar dengan Wulandari dan Dyah Handini, bergiliran mencintai ibu dan anak, tanpa malu-malu lagi bertiga tidur seranjang! Kadang-kadang, mereka bertiga duduk bercengkerama, bersendau-gurau, ki patih duduk di tengah, Wulandari duduk di atas paha kanannya, Dyah Handini duduk di atas paha kirinya, memeluk kedua ibu dan anak itu dengan dua lengannya, bergiliran menciumi dan mencumbu mereka!

Hebatnya, lambat-laun Wulandari dapat melupakan rasa nelangsa di hatinya dan mulailah ia bergembira dan akhirnya ia merasa berbahagia mendapat kenyataan betapa ki patih masih tetap mencintanya seperti cintanya terhadap puterinya. Wulandari merasa mendapat kepuasan lahir batin dan tak perduli lagilah akan tata susila, tidak malu menyaksikan puterinya bermain cinta dengan ki patih, juga tidak malu lagi disaksikan puterinya apabila dia mendapat giliran! Adakah perbuatan asusila yang lebih gila daripada ini?

Sementara itu, kedudukan Suminten makin kuat. Keadaan sang prabu yang sudah tua tiada lebih kuat daripada seorang tapadaksa yang tak berdaya. Semua persoalan pemerintahan dipegang oleh tiga serangkai itu, Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama. Hubungan dengan wakil-wakil Kerajaan Sriwijaya dan Cola makin diperkuat dan mulailah diatur rencana untuk menguasai seluruh Jenggala, kemudian menghantam Panjalu. Kadipaten sebelah timur sudah pula dihubungi dan mereka ini, termasuk Kadipaten Nusabarung dah Kadipaten Blambangan yang menaruh dendam terhadap Panjalu, sudah siap-siap pula untuk membantu jika pecah perang.

Awan gelap menyelimuti angkasa di atas kedua kerajaan bersaudara itu, kerajaan yang menjadi keturunan Mataram yang terpecah karena mendiang Sang Prabu Airlangga bermaksud bersikap adil dan mencegah perang saudara dengan cara membagi kerajaan menjadi dua.

********************

Di kaki Gunung Anjasmoro sebelah utara merupakan pedusunan yang amat sunyi, yang hanya berpenduduk beberapa puluh keluarga petani miskin. Namun tempat ini memiliki pemandangan alam yang indah dan kesunyian selalu merupakan sifat yang khas daripada keindahan alam. Di antara pondok-pondok kecil, gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu terdapatlah sekelompok bangunan yang dikurung pagar tembok.

Pintu gerbang dinding yang mengurung kelompok bangunan ini selalu terjaga oleh beberapa orang perajurit pengawal. Keadaan sekeliling pondok sunyi dan hening dan hanya beberapa kali saja setiap harinya ada pelayan tua yang keluar melalui pintu gerbang untuk mengurus keperluan penghuni pondok.

Pondok ini adalah tempat pengasingan atau pembuangan bagi bekas permaisuri, sang ratu dari Jenggala! Setelah sang ratu ini gagal menandingi Suminten yang sangat cerdik sehingga sang ratu yang hendak "menangkap basah" selir itu sebaliknya malah masuk perangkap, wanita tua ini sekarang menjadi seorang buangan, hidup bersunyi diri di dalam pondok yang dikurung dinding tinggi dan terjaga slang malam ini. Tidak pernah keluar dari pondok, tidak pernah bertemu dengan orang lain kecuali para pelayannya karena bekas permaisuri ini dilarang keluar, dan dilarang pula menerima kunjungan orang luar.

Akan tetapi pada suatu hari, lewat pagi, sepasang orang muda memasuki pintu gerbang dinding yang mengurung pondok pengasingan ini. Mereka berdua tidak dilarang oleh para penjaga, bahkan para penjaga cepat-cepat berlutut memberi hormat dan menyapa dengan penuh kehormatan kepada pria yang lewat menggandeng wanita itu. Mereka itu masih muda-muda dan keduanya amatlah eloknya, bagaikan sepasang dewa asmara Sang Hyang Komajaya dan Komaratih.

Kedua orang muda ini bukan lain adalah Pangeran Panji Sigit dan isterinya, Setyaningsih. Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah menikah di Padepokan Wilis, Pangeran Panji Sigit mengajak isterinya untuk ke Jenggala.

Pangeran Panji Sigit maklum bahwa kembalinya ke Jenggala merupakan perbuatan yang banyak resikonya bagi dirinya karena dia telah mempunyai seorang musuh yang berbahaya, yaitu Suminten. Akan tetapi karena pangeran ini amat mencinta ramandanya dan pula karena ia berpikir bahwa setelah ia beristeri, kiranya Suminten tidak begitu gila untuk menggodanya lagi, maka ia bertekad untuk pulang ke Jenggala.

Di sepanjang perjalanan, pangeran yang amat memperhatikan keadaan ramandanya dan keadaan kota raja, bertanya-tanya dan alangkah kaget hatinya ketika ia mendengar segala peristiwa hebat yang terjadi di kerajaan ramandanya. Tentang pengangkatan Pangeran Kukutan menjadi putera mahkota, sama sekali tidak mendatangkan kesan apa-apa di hatinya karena memang Pangeran Panji Sigit bukan seorang yang gila akan kedudukan.

Peristiwa yang menimpa keluarga ki patih, yang didengarnya di jalan, dan tentang penggantian patih baru, hanya mendatangkan rasa haru dan kasihan di samping rasa penasaran mengapa paman patih yang dianggapnya amat baik dan setia itu sampai dijatuhi hukuman sekeluarga sedemikian mengerikan. Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa ibunda ratu diasingkan, dibuang ke kaki Anjasmoro, Pangeran Panji Sigit menjadi marah sekali.

"Setan betina, iblis laknat, siluman keji! Semua ini gara-gara dia!" seru Pangeran muda itu sambil mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali.

"Eh, Kakangmas...!" Setyaningsih menegur suaminya.

Pangeran Panji Sigit merangkulnya dan ia sadar, dapat pula menguasai hatinya yang terbakar. Setelah menghela napas panjang ia berkata, "Diajeng, sungguh jahat sekali dia itu. Semua ini tentu hasil perbuatan Suminten. Aduh dewata Yang Maha Agung.... mengapa Ramanda Prabu sampai tenggelam sedemikian dalamnya.... Diajeng, mari kita pergi ke kaki Anjasmoro, lebih dahulu kita menjenguk Ibunda Ratu."

Perjalanan dilanjutkan. Kuda tunggangan mereka dilarikan lebih cepat dan akhirnya mereka dapat juga menemukan pondok pengasingan di kaki Gunung Anjasmoro. Para penjaga tentu saja mengenal Pangeran Panji Sigit yang memang sejak dahulu amat disuka oleh semua perajurit, maka dengan mudah saja Pangeran Panji Sigit dan isterinya memasuki pintu gerbang dan langsung mencari bekas permaisuri yang menurut para abdi sedang duduk seperti biasa di belakang pondok.

Hati Pangeran Panji Sigit terasa seperti disayat-sayat pisau ketika ia melihat wanita tua itu duduk bersila di atas lantai bertilam tikar. Wajah permaisuri itu masih agung, sungguhpun segala keadaan memperlihatkan kesederhanaan yang amat tidak pantas bagi seorang bekas ratu. Muka itu tidak dirias, tidak dibedaki, rambutnya digelung bersahaja ke belakang, rambut yang sudah bercampur banyak uban, tubuhnya ditutup libatan kain berwarna putih sederhana, pakaian seorang pertapa.

Hanya sepasang gelang sederhana yang menghias kedua tangannya yang bertelanjang sampai ke siku. Sang ratu itu sedang duduk bersamadhi, hening dan tidak bergerak seperti sebuah arca. Wajahnya yang tua itu membayangkan ketenangan, namun gurat-gurat pada dahinya jelas membayangkan penderitaan batin yang hebat. Betapapun juga, mulutnya menjadi pencerminan kesabarannya sehingga makin mengharukan hati Pangeran Panji Sigit yang segera menggandeng tangan isterinya, diajak maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan sang ratu sambil berkata lirih,

"Duhai Ibunda Ratu yang mulia, hamba Panji Sigit bersama isteri datang menghadap Paduka..." kata Pangeran Panji Sigit dengan suara terharu.

Wanita itu membuka kedua matanya. Wajahnya berseri, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum, tanda bahwa hatinya gembira sekali.

"Panji Sigit... Ah, Pangeran, alangkah gembira hatiku. Mendekatlah, Puteraku wong bagus..."

Panji Sigit mendekat dan wanita tua itu lalu membelai rambut kepalanya. Sentuhan ini membuat hati Panji Sigit makin terharu sehingga dua titik air mata membasahi pipinya.

"Dia ini isterimu, Kulup? Ah, Nini, mendekatlah, Mantuku...!"

Setyaningsih menyembah dan menghampiri. Dengan kedua tangan di atas kepala kedua orang itu, sang ratu menengadah seolah-olah mohon berkah dewata untuk sepasang orang muda itu. Wajahnya jelas membayangkan keharuan dan kegembiraan.

"Duhai Ibunda Ratu... apakah yang telah terjadi....? Paduka..."

"Husshhhh, Panji Sigit puteraku. Tidak ada apa-apa denganku, cerita tentang aku tidak menarik. Lebih baik kau ceritakan pengalamanmu semenjak kau pergi dari istana. Bagaimana sekarang tahu-tahu pulang membawa isteri yang begini cantik jelita? Anak nakal, agaknya engkau baru pulang dari taman sorga dan mempersunting seorang bidadari...."

Di dalam hatinya, Pangeran Panji Sigit makin terharu dan kagum sekali akan ketenangan dan ketabahan hati sang ratu. Sudah mengalami nasib yang demikian sengsara dan terhina, masih bersikap tenang, tidak menonjolkan penderitaan pribadinya. Dan seorang wanita yang begini telah dibuang oleh sang prabu! Maka ia pun menenangkan perasaan hatinya dan bercerita tentang pengalamannya setelah dia pergi meninggalkan istana. Betapa ia memasuki sayembara di lembah Wilis dan berhasil mempersunting Setyaningsih.

"Kanjeng Ibu, dia ini bukan orang lain, melainkan adik kandung dari Ayunda Endang Patibroto yang kini menjadi ketua Padepokan Wilis." Ia menutup ceritanya.

"Ahhhh.... Endang Patibroto mantuku yang terkena fitnah dan.... kasihan puteraku Panjirawit.... Jadi Andika adik kandung Endang Patibroto? alangkah baiknya, kalian menyambung kembali ikatan yang terputus oleh keadaan. Aku girang sekali, Panji Sigit dan Setyaningsih."

"Duh Kanjeng Ibu, sekarang hamba mohon Paduka suka menceritakan, mengapa Paduka sampai menjadi begini.... sungguh bingung dan sedih hati hamba mendengar dalam perjalanan tentang paduka..."

Sang ratu tersenyum. "Apa yang engkau dengar, Pangeran?"

"Hamba mendengar cerita orang dalam perjalanan hamba bahwa Paduka di.... diasingkan ke tempat ini oleh Ramanda Prabu karena katanya Paduka.... Paduka melakukan fitnah kepada ibunda selir...."

Sang ratu mengangguk. "Memang tampaknya begitulah, Puteraku. Akan tetapi sebetulnya di balik kenyataan ini terdapat rahasia-rahasia yang amat pelik. Nah, kau dengarlah penuturanku, karena engkau sebagai seorang Pangeran Jenggla berhak mengetahuinya."

Maka berceritalah wanita tua itu dengan suara tenang dan sabar. Diceritakan segala peristiwa yang terjadi di dalam istana, yang tidak diketahui orang lain. Tentang sepak terjang Suminten dan Pangeran Kukutan tentang persekutuannya dengan ki patih yang baru, tentang kelemahan sri baginda dan kemudian betapa dia sendiri terjebak ke dalam perangkap yang mereka pasang yang menjebloskannya sehingga mengakibatkan dia terbukti melakukan fitnah dan dihukum buang.

"Ah, si keparat, iblis betina yang keji!" Pangeran Panji Sigit mengepa tinju, mukanya merah dan matanya terbelalak penuh kemarahan. "Agaknya dahulu pun dia sengaja menggoda dan menyinggungku agar aku pergi dari istana dan dia dapat berbuat sesukanya! Keparat!"

"Kakangmas, tenanglah...." Setyaningsih memperingatkan.

Sang ratu tersenyum. "Wah, isterimu ini mengagumkan, Pangeran. Agaknya tidak semudah ayundamu dikuasai kemarahan. Dia benar, Puteraku, tenanglah dan ceritakan kepadaku, apa yang dia lakukan dahulu terhadap dirimu."

"Hamba.... hamba merasa malu untuk menceritakan peristiwa menjijikkan itu, Kanjeng Ibu!"

"Biarlah hamba yang bercerita, Kanjeng Ibu. Sebelum Kakanda Pangeran pergi dari istana, Kakanda pernah digoda oleh.... Ibunda selir, dibujuk rayu dan diajak bermain asmara. Kakanda Pangeran tidak mau melayani niatnya yang kotor itu, kemudian Kakanda yang merasa malu sekali lalu pergi meninggalkan istana."

Sang ratu mengangguk-angguk. "Hemm.... tidak aneh. Betapa banyaknya pangeran yang terjatuh oleh rayuannya! Syukur engkau teguh hati, Angger."

"Ibunda Ratu, kita harus menghancurkan iblis betina itu! Penghinaan terhadap Paduka harus dibalas. Biarlah hamba yang ....!"

"Jangan, Kulup. Jangan menurutkat hati panas. Ingatlah bahwa benci dan dendam hanya akan mengotori dan mengeruhkan batin sendiri. Aku tidak membenci Suminten, aku tidak mendendamnya, setelah aku mendapat ketenangan batin di sini baru kuketahui akan hal ini. Aku menerima nasib dan sisa hidupku yang tak lama lagi ini tidak boleh sekali-kali dikotori oleh benci dan dendam."

"Akan tetapi, lblis betina itu telah merusak kebahagiaan Paduka, telah menghina Paduka sehingga Paduka mengalami nasib sengsara seperti ini. Dia adalah musuh Paduka...."

"Keliru wawasanmu, Angger. Boleh jadi dia menganggap aku sebagai musuh, akan tetapi biarlah kalau begitu. Aku tidak menganggap dia atau siapa saja sebagai musuh, dan peristiwa yang menimpa diriku tidak kuanggap sebagai salah siapa-siapa, melainkan semata-mata adalah tepat seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa. Apa pun yang terjadi di dunia ini adalah tepat seperti yang dikehandaki-Nya, karena di luar kehendak-Nya, takkan terjadi sesuatu."

Diam-diam Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih menjadi kagum dan di dalam hati mereka tunduk terhadap wawasan yang sedemikian hebatnya, yang sukar dilaksanakan oleh siapa pun.

"Maaf, Ibunda Ratu, hamba takkan sanggup dan berani membantah kebenaran wejangan Paduka itu. Akan tetapi, kerajaan berada dalam cengkeraman manusia-manusia iblis, kerajaan terancam bahaya, juga Ramanda Prabu.... ah, betapa mungkin hamba yang melihat hal itu semua lalu berpeluk tangan, mendiamkannya saja?"

"Hal itu lain lagi persoalannya, Puteraku. Sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang pangeran dan ksatria untuk membela Ramandamu dan kerajaan. Sudah menjadi kewajibanmu pula untuk menghalau musuh negara. Akan tetapi kalau demikian, semua tindakanmu mempunyai dasar yang bersih, bukan semata-mata karena kebencian dan hendak membalas dendam yang ditimpakan kepadaku. Mengertikan engkau akan perbedaannya, Angger Pangeran?"

Pangeran Panji Sigit mengangguk-angguk. Tahulah ia sekarang apa yang dimaksudkan ibu tirinya ini. Tentu saja sebagai seorang gemblengan, ia sudah banyak menerima wejangan dari guru-gurunya, sudah mengerti pula akan perbedaan antara dua perbuatan yang sama. Hanya sama tampaknya, namun seperti bumi dan langit perbedaannya yang terletak pada dasar perbuatan itu yang menjadi sebab. Membunuh dan membunuh tidaklah sama kalau membunuh yang pertama berdasarkan kebencian dan dendam sedangkan membunuh yang ke dua berdasarkan membela negara. Bukanlah perbuatannya yang dinilai, melainkan yang tersembunyi di balik perbuatan itu, pendorong dan pamrihnya.

"Hamba mengerti, Kangjeng Ibu. Akan hamba usahakan sekerasnya agar hamba tidak melibatkan persoalan pribadi dalam perjuangan hamba, melainkan persoalan membela negara dan melindungi Ramanda Prabu. Hamba bermohon diri, Kanjeng Ibu, sekarang juga hamba bersama Setyaningsih hendak mulai menentang dan menghalau iblis-iblis yang mencengkeram Kerajaan Jenggala."

"Kau terlalu sembrono, Pangeran. Kalian berdua tidak boleh pergi ke Jenggala, hal ini amat berbahaya bagi kalian berdua."

"Hamba tidak takut. Harap Kanjeng Ibu jangan khawatir. Selama hamba pergi merantau, hamba telah menerima banyak gemblengan ilmu dan di samping hamba ada Diajeng Setyaningsih yang memiliki kesaktian. Hamba berdua dapat menjaga diri. Pula, di kota raja banyak terdapat para ponggawa yang masih setia kepada Ramanda Prabu, dan banyak sahabat-sahabat hamba...."

"Ah, engkau tidak tahu, Angger. Seluruh ponggawa telah menjadi kaki tangan Kukutan. Dan ketahuilah bahwa Ki Patih Warutama memiliki kesaktian yang amat luar biasa sehingga dia berhasil menyelamatkan ramandamu dari serbuan orang-orang jahat seperti yang kuceritakan padamu tadi. Engkau sudah pernah bentrok dengan Suminten. Hal ini amat berbahaya bagimu. Sekali Suminten menudingkan telunjuknya kepadamu, engkau akan dikeroyok dan ramandamu takkan dapat berbuat apa-apa karena ramandamu kini tidak pernah keluar dari dalam kamarnya. Tak ada seorang pun sahabat yang berani membelamu, Angger."

Pangeran Panji Sigit mengerutkan alisnya yang tebal. "Habis, apakah yang harus hamba Iakukan, Kanjeng Ibu? Apakah menerima nasib dan berdiam diri saja?"

"Hanya ada satu jalan terbaik yang dapat kutunjukkan kepadamu, Puteraku. Pergilah engkau bersama isterimu ke Panjalu. Di Jenggala sendiri sudah tidak ada orang yang akan dapat menolong kerajaan. Panjalu sajalah yang akan dapat mengatasi keadaan. Pergilah menghadap uwa prabu di Panjalu dan ceritakan semua yang telah kau dengar dariku tadi. Di sana banyak terdapat orang-orang pandai, bahkan Adipati Tejolaksono pun kabarnya berada di Panjalu menjadi patih muda. Nah, ke sanalah tempat engkau mencari bantuan, Angger."

Pangeran Panji Sigit bukanlah seorang pemuda yang hanya menurutkan nafsu amarah. Mendengar nasehat ini ia dapat menerima, maka ia pun lalu berpamit dan pergilah ia bersama Setyaningsih menuju ke Panjalu. Setyaningsih juga merasa girang sekali karena mendengar bahwa Adipati Tejolaksono telah pindah ke Panjalu, dengan demikian dia akan mendapat kesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan mereka, terutama sekali dengan Pusporini yang sudah amat dia rindukan. Tidak ada halangan merintangi perjalanan sepasang suami isteri yang perkasa ini, dan perjalanan dilakukan dengan cepat.

********************

"Kalian berhati-hatilah. Ular itu bukan sembarang ular, melainkan ular yang sudah bertapa ratusan tahun lamanya. Sudah ribuan kali berganti kulit dan sudah banyak menerima cahaya sakti bulan dan matahari. Batu mustika itu berada di dalam kepalanya, di atas lidah, tepat di antara kedua matanya. Mustika itu tidak ada gunanya bagi seekor ular, hanya menambah kebuasannya membahayakan mereka yang lewat di hutan itu, namun sebaliknya amatlah berguna kelak bagi kalian berdua. Aku sudah memberi ijin kepada kalian, pergi cari ular itu, bunu dia sebagai hukuman karena dia telah menelan tiga orang anak penggembala dan ambil mutiaranya. Akan tetapi hati-hatilah!" Demikian pesan Sang Resi Mahesapati kepada dua orang muridnya, Joko Pramono dan Pusporini.

Telah tiga tahun lebih mereka berdua digembleng oleh guru mereka yang sakti mandraguna itu di puncak Gunung Kawi dan biarpun guru mereka ini tidak menurunkan ilmu baru, namun gemblengannya hebat luar biasa sehingga aji-aji yang telah mereka berdua miliki kini memperoleh kemajuan pesat sekali dan kekuatan sakti mereka menjadi berlipat ganda.

"Eyang Resi, untuk membunuh ular dan mengambil mustika di dalam kepalanya saja mengapa Eyang menyuruh dia ini ikut? Dia hanya akan menghalang-alangi pekerjaanku saja. Biar kulakukan sendiri, Eyang. Hamba berjanji akan membawa mustika ular itu kepada Eyang tanpa bantuan dial" kata Pusporini sambil melirik-lirik ke arah Joko Pramono. Hatinya sedang kesal karena tadi pagi dalam latihan mempergunakan tenaga sakti memukul air, ternyata air telaga muncrat lebih tinggi ketika dipukul Joko Pramono dan pemuda itu sengaja mengejeknya.

"Wah-wah, coba Eyang Resi perhatikan, bukankah murid Eyang yang satu ini makin lama makin sombong? Makin besar kepala!" Joko Pramono juga menyerang marah.

"Apa? Kepalaku besar? Tidak sebesar kepalamu! Engkaulah yang sombong! Pagi tadi dia menyombongkan tenaganya dan mengatakan bahwa aku kalah kuat olehnya, Eyang Resi. Coba, bukankah dia yang sombong?"

"Aku kan bicara apa adanya?" bantah Joko Pramono.

"Aku pun bicara apa adanya. Memangnya aku membutuhkan bantuanmu untuk membunuh ular itu?"

"Wah aksinya. Melihat ular nanti ku rasa kau akan menjerit-jerit kegelian dan ketakutan!"

"Coba saja! Memangnya aku ini anak kecil? Sepuluh ekor ular ditambah engkau aku tidak takut!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Sang Resi Mahesapati tertawa bergelak. "Sudah, sudah.... ha-ha-ha! Kalian ini seperti bocah-bocah nakal saja, mendengarkan kalian bertengkar setiap hari, benar-benar membuat aku awet muda! Pertengkaran kalian itu membayangkan jiwa muda yang masih panas membara, semangat yang menyala-nyala dan... dan... ha-ha-ha, benar-benar lucu. Sekarang begini saja. Kalian berdua kuijinkan berlomba mencari dan membunuh ular Puspo Wilis itu. Siapa yang nanti membawa mustika dan menyerahkannya kepadaku, kuanggap lebih pandai!"

"Baik, hamba pamit mundur, Eyang!" Pusporini menyembah lalu berkelebat, sekejap mata saja lenyap dari hadapan gurunya yang duduk di depan pondok bambu.

"Hamba pun minta diri, Eyang!" Joko Pramono juga berkelebat cepat mengejar Pusporini, khawatir kalau kalah dulu.

Kembali kakek tua renta itu tertawa bergelak dan menengadah ke angkasa, mulutnya berkemak-kemik, "Lucu.... lucu.... alangkah indahnya hidup bagi orang-orang muda.... ha-ha-ha...!"

Seperti burung terbang setidaknya seperti seekor kijang Pusporini lari sambil mengerahkan seluruh aji kesaktian Bayu Sakti yang pernah ia pelajari dari Adipati Tejolaksono dahulu. Namun kini Aji Bayu Sakti yang ia pergunakan jauh mendapat kemajuan yang hebat sehingga larinya amat cepat, tubuhnya ringan sekali dan kedua kakinya seolah-olah tidak menginjak tanah melainkan terbang di atas ujung rumput-rumput hijau!

Dalam hal tenaga sakti mungkin dia kalah kuat setingkat kalau dibandingkan dengan Joko Pramono, akan tetapi dalam aji keringanan tubuh dan kecepatan berlari, pemuda itu masih sukar untuk dapat mengalahkannya. Apalagi sekarang Pusporini mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia memang sedang berlomba dengan pemuda itu!

Jauh di belakang, makin lama makin jauh tertinggal, Joko pramono juga berlari secepatnya melakukan pengejaran. Di dalam hatinya, pemuda ini sebetulnya sama sekali tidak berniat untuk mendahului Pusporini, sungguhpun harus ia akui bahwa kalau berlomba lari ia takkan menang. Namun, ia melakukan pengejaran karena di dalam hatinya timbul rasa khawatir akan keselamatan gadis yang menjadi teman belajar, menjadi teman berlatih akan tetapi juga menjadi lawan bertengkar itu.

Seringkali ia merasa heran mengapa dia selalu bertengkar dengan Pusporini, mengapa agaknya ada terasa kenikmatan dan kegembiraan di hatinya kalau mereka sedang bertengkar itu. Bagi dia, Pusporini tampak paling manis kalau sedang marah-marah seperti itu! Dan pemuda ini merasa di dalam hatinya bahwa mereka berdua selalu bertengkar karena tidak mau kalah, karena masing-masing ingin dihargai, ingin dikagumi. Namun, sehari saja tidak bertengkar, apalagi tidak berjumpa, merupakan siksaan batin yang tiada taranyal

Demikianlah, dua orang muda itu berlari-lari seperti terbang menuju ke sebuah hutan di lereng Gunung Kawi sebelah timur, yaitu hutan yang oleh guru mereka disebut hutan Kaloka, di mana terdapat ular besar Puspo Wilis yang bertapa dan yang harus mereka bunuh dan ambil mustikanya. Beberapa pekan yang lalu ular itu telah menelan tiga orang anak penggembala kerbau yang sedang menggembala kerbau di pinggir hutan.

Sementara itu dari kaki Gunung Kawi sebelah timur, tampak dua orang berjalan kaki, mendaki lereng. Mereka adalah seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan gagah, berusia empat puluhan tahun, mengiringkan seorang gadis yang usianya takkan lebih dari dua puluh tahun, seorang gadis tinggi semampai yang manis sekali, berwajah cerah bermata jeli. Gadis itu tidak tahu betapa pria yang mengiringkannya memandang kepadanya dari belakang dengan pandang mata mesra, dan betapa pria itu berkali-kali menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mereka itu bukan lain adalah Wiraman dan Widawati, pengawal perkasa yang setia kepada Ki Patih Brotomenggala dan cucu mendiang ki patih itu, satu-satunya orang dari keluarga kepatihan yang lolos dari cengkeraman maut. Sebagai orang-orang yang diburu oleh kaki tangan Pangeran Kukutan, keduanya harus selalu berpindah-pindah dan bersembunyi-sembunyi, keluar masuk hutan, naik turun gunung. Tujuan perjalanan Wiraman adalah ke Panjalu, namun karena ia harus melakukan perjalanan sambil bersembunyi, maka mereka terpaksa mengambil jalan memutar yang amat jauh dan sukar.

Bagi Wiraman sendiri, seorang pengawal gemblengan yang bertubuh kebal dan kuat, perjalanan sukar dan jauh itu tidaklah amat berat. Akan tetapi patut dikasihani Widawati, biarpun dia pernah ia mempelajari ilmu olah keperajuritan, namun karena sebagai cucu patih dia lebih sering melakukan pekerjaan-pekerjaaan halus dan tubuhnya tidak begitu terlatih, perjalanan itu amatlah menyiksa dan melelahkan. Apalagi semua kesukaran ini diderita dengan hati hancur apabila teringat akan nasib buruk yang menimpa keluarganya. Untung baginya, di sampingnya terdapat Wiraman yang pandai menghiburnya, yang slap membela dan melindunginya, dan yang menjamin akan segala keperluannya di sepanjang perjalanan.

Ketika mereka sampai di sebuah tanjakan terjal, di luar sebuah hutan yang nampaknya angker dan liar, kaki Widawati tersandung dan ia terhuyung ke depan. Untung pada saat itu Wiraman cepat melompat dan menyambar lengannya sehingga dia tidak sampai jatuh tersungkur, akan tetapi renggutan tangan Wiraman itu membuat tubuh Widawati tersentak ke belakang dan berada di dalam pelukan pria itu, rapat bersandar di atas dada yang bidang.

"Hati-hatilah....!" Hanya demikian Wiraman dapat berkata karena pria segera memejamkan mata, dadanya bergelombang ketika perasaan yang aneh meresap di dalam tubuhnya. Tangan kanannya masih memegang lengan Widawati, tangan kirinya memegang pundak gadis itu. Merasa betapa punggung dan kepala gadis itu bersandar ke dadanya, mencium keharuman khas dari rambut dan peluh gadis itu, berdebar jantungnya dan kakinya.

Widawati amat lelah. Juga tadi la terkejut karena tersandung dan akan tersungkur ke depan, di mana terdapat jurang yang dalam. Kini merasa betapa ia selamat dan mendapat sandaran yang kokoh kuat, ia merasa aman dan tenteram. Tiada henti-hentinya Wiraman melimpahkan budi kebaikan kepadanya. la tidak tahu,, apa yang akan dia lakukan kalau di sampingnya tidak ada Wiraman.

Tanpa disadari lagi, ketika kali ini kembali Wiraman yang menolongnya pada saat yang tepat, menjadi bukti bahwa Wiraman selalu memperhatikannya, selalu menjaganya, ia bersandar pada dada yang bidang dan kuat itu dan sampai beberapa lamanya mereka hanya berdiri dalam keadaan seperti itu, keduanya memejamkan mata. Widawati dapat mendengar dengan telinganya betapa dada yang bidang itu berdetak-detak keras. Hal ini menyadarkannya dan ia segera memisahkan diri.

"Terima kasih, Kakang Wiraman, engkau telah menyelamatkan aku...."

"Ah, tidak perlu berterima kasih, Diajeng. Memang sudah menjadi kewajibankulah untuk menjaga dan melindungimu. Engkau tentu lelah sekali dan di depan adalah hutan yang amat lebat, mari kita mengaso dulu."

"Baik, Kakang...."

Maka duduklah mereka berdua di bawah sebatang pohon, berteduh dari panas terik matahari yang membakar kulit. Widawati menyusuti peluhnya dengan ujung baju, menjilat-jilat bibirnya yang merah dengan ujung lidah. Sebentar Wiraman terpesona memandang mulut itu, ketika pandang mata mereka bertemu, Wiraman cepat-cepat menunduk dan berkata,

"Engkau tentu haus, Diajeng. tunggu sebentar kucarikan air...." Tanpa menanti jawaban, Wiraman sudah pergi mencari air gunung yang jernih.

Ditampungnya air itu dengan daun talas dan dibawanya air itu kepada Widawati yang menerima dan meminumnya dengan lahap karena memang ia haus sekali. Sampai lama mereka beristirahat di situ. Angin sumilir membuat Widawati mengantuk. Ia bersandar pada batang pohon dan memejamkan matanya. Wiraman tidak mengganggunya, melainkan duduk pula tidak jauh dari situ, memandang ke arah hutan lebat dengan pandang mata melamun. Berkall-kali, sama halnya ketika dalam perjalanan tadi, Ia memandang ke arah Widawati, menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepala, menghela napas lagi.

"Kakang Wiraman..."

Wiraman terkejut, seperti disentakkan dari alam mimpi. Tadinya ia tengah melamun, memandang ke hutan dan mengglgit-gigit rumput yang tanpa disadarinya telah ia cabut dari dekat kakinya. Ia menoleh dan pandang mata mereka bertemu, bertaut, dan dari pandang mata Wiraman masih memancar sinar cinta kasih yang jelas dan mesra. Mereka tidak berkata-kata lagi, hanya pandang mata mereka yang melekat dan seolah-olah mewakili mulut dan hati. Akhirnya Widawati yang berkata lirih,

"Kakang.... engkau kenapakah? Sejak tadi kulihat engkau menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. Ada sesuatu yang mengganggu hatimu, Kakang. Katakanlah, apakah gerangan yang kau susahkan? Kalau tidak kau ceritakan kepadaku, aku tentu akan menganggap bahwa akulah yang menyusahkan hatimu, Kakang."

"Ah, tidak.... tidak sama sekali, Diajeng..... aku hanya...." Wiraman terdiam, amat sukar agaknya untuk mengeluarkan isi hatinya.

Mereka berpandangan kembali dan slnar mata penuh ketulusan hati dari gadis itu seolah-olah memberi semangat dan keberanlan kepadanya.

"Biarlah kubukakan semua rahasia hatiku, Diajeng. Aku seorang laki-laki yang suka berterus terang, dan aku berani pula mempertanggung-jawabkan semua perbuatan atau ucapanku. Semenjak aku bertemu denganmu, Diajeng, ketika kau dibawa oleh Kakang Mitra.... semenjak itulah terjadi sesuatu yang tidak wajar di hatiku. Bagiku, ada sesuatu pada dirimu yang mengikat, mempesona, dan mengguncang hatiku. Ada suatu daya tarik luar biasa yang tidak wajar. Bukan kecantikanmu, bukan pula kemudaanmu, entah apamu aku sendiri tidak dapat mengatakan, melainkan yang sudah pasti, ada sesuatu yang membuat aku amat tertarik. Inikah yang disebut ikatan Karma? Aku harus jujur, Diajeng, dan dengan segala kejujuran kunyatakan sekarang juga demi menjaga segala kepura-puraan bahwa aku... cinta kepadamu, Diajeng."

"Ahhh....!" Suara Widawati seperti rintihan perlahan yang langsung keluar dari lubuk hatinya. Sepasang mata yang lebar jernih Itu mulai basah.

"Aku bukan seorang yang tidak tahu diri, Diajeng. Aku sadar bahwa aku telah beristeri, telah mempunyai anak-anak dan bahwa usiaku pun sudah setengah tua! Aku bukan seorang penghamba nafsu, aku mencinta isteri dan anak-anakku, sampai kini aku belum pernah mengambil selir. Akan tetapi terhadap engkau, Diajeng, entah mengapa aku sendiri tidak mengerti. Ada sesuatu yang menarik hatiku sehingga hatiku menjerit bahwa aku mencintamu, bukan cinta nafsu, akan tetapi.... ah, seolah-olah aku tidak akan sanggup untuk berpisah lagi dari sampingmu

"Kakang Wiraman...." Widawati mulai terisak.

"Mungkin aku telah menjadi gila, Diajeng," suara Wiraman terdengar gemetar, "akan tetapi.... demi semua Dewata, aku tidak berpura-pura, tidak pula dimabuk nafsu. Sudah banyak kujumpai puteri-puteri cantik jelita, lebih cantik dari padamu! sudah pula kuhadapi godaan wanita-wanita cantik, namun aku selalu menghindari karena hatiku tidak suka menerima semua itu. Akan tetapi terhadap engkau, aku benar-benar jatuh! Duhai Dewata, salahkah Wiraman ini? Salahkah Wiraman yang setengah tua ini menjatuhkan hatlnya kepada seseorang, dalam hal ini seorang gadis seperti, Widawati? Berdosakah kalau hati ini jatuh cinta?"

Ucapan-ucapan terakhir itu tidak lagi ditujukan kepada Widawati, melainkan kepada diri sendiri atau kepada para dewata. Sampai lama keadaan sunyi, hanya terdengar Widawati menangis sesenggukan sambil menyembunyikan mukanya di balik telapak tangannya. Kemudian terdengar gadis itu berkata lirih,

"Kakang, bagaimana aku akan menjawab? Engkau merupakan satu-satunya orang yang paling baik bagiku, seorang yang telah melimpahkan budi kepadaku.... cintamu itu, sungguhpun amat mengejutkan hatiku, namun aku percaya akan kemurniannya. Engkau adalah seorang pria yang patut dihormati, patut disuwitani, patut dicinta. Sesungguhnya, alangkah akan mudahnya bagi hatiku untuk membalas cinta kasihmu, Kakang, akan tetapi...."

"Akan tetapi aku sudah terlalu tua bagimu? Pantas menjadi ayahmu, menjadi pamanmu? Katakanlah terus terang, Diajeng. Aku Wiraman bukan seorang lemah dan aku dapat menghadapi semua kenyataan dengan mata terbuka dan pikiran sadar."

"Bukan, bukan begitu, Kakang Wiraman. Aku pun maklum bahwa cinta tidaklah melihat usia, tidak pula melihat kedudukan dan keadaan seseorang. Akan tetapi.... engkau telah mempunyai anak isteri, Sedangkan aku.... aku semenjak dahulu bercita-cita untuk cinta mencinta dengan satu orang saja, tidak suka aku dimadu.... tidak suka aku melihat seorang pria mempunyai selir. Banyak sudah terbukti kekacauan timbul karena selir, contohnya sang prabu sendiri...."

"Akan tetapi, tidak semua selir sejahat dia, Diajeng. Bukan sekali-kali aku menyatakan ini untuk memaksamu menjadi selirku. Tidak. Sudah kukatakan tadi bahwa aku mencintamu bukan oleh dorongan nafsu. Aku hanya tidak ingin berpisah darimu dan.... dan.... ah, sudahlah, Diajeng, aku hanya membuatmu berduka saja. Sudah cukup bagiku kalau engkau mendengar akan perasaan hatiku, sudah cukup kalau engkau mengetahui bahwa aku mencintamu. Lebih daripada itu, tidak kuharapkan. Kalau engkau tidak membalas cintaku, itu pun dapat kuterima dengan penuh kesadaran. Aku tidak menyalahkanmu, hanya aku sendiri-lah yang gila. Aku tidak ingin menyeretmu ke lembah kedukaan dan kesengsaraan, dan semoga Sang Hyang Wisesa akan dapat mengangkatku daripada keadaan yang gila ini. Kau tinggallah di sini, Diajeng, aku akan memburu kijang untuk kita makan. dagingnya. Di dalam hutan di depan itu pasti banyak binatang buruan."

Tanpa menanti jawaban, Wiraman sudah lari meninggalkan Widawati memasuki hutan yang liar itu untuk mencari binatang buruan, terutama kijang yang lembut dan lezat rasa dagingnya...

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 29

Perawan Lembah Wilis Jilid 27

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 27

HANYA tinggal sang permaisuri saja yang kini selalu diliputi kegelisahan. Permaisuri ini merasa kehilangan tangan kanannya ketika Ki Patih Brotomenggala sekeluarga dibasmi. Diam-diam ia menangis di dalam kamarnya dan di dalam hatinya ia maklum bahwa gilirannya akan tiba kalau dia tidak cepat-cepat bertindak. Dia tahu benar bahwa yang menjadi biang keladi pembasmi keluarga Ki Patih Brotomenggala tentulah Suminten dan Pangeran Kukutan. Tentu saja sang permaisuri tidak tahu bagaimana caranya, hanya tahu bahwa Suminten dan Pangeran Kukutan merupakan persekutuan yang ingin merebut kekuasaan dengan cara mempengaruhi dan menundukkan sri baginda, suaminya.

Permaisuri ini tidaklah gelisah mengkhawatirkan keselamatan dirinya pribadi, sama sekali tidak. Dia sudah tua, dan pula di dalam tubuhnya mengalir darah ksatria utama. Yang dia khawatirkan adalah keadaan suaminya, dan terutama sekali keadaan kerajaan. Dapat ia membayangkan betapa Jenggala akan hancur dan akan cemar kalau kelak dirajai oleh seorang macam Pangeran Kukutan yang ia tahu benar adalah seorang muda yang suka mengganggu anak isteri orang lain, berhati palsu, pandai bermuka-muka, dan terutama sekali, menjadi kekasih dan sekutu Suminten.

Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh seorang wanita tua yang lemah? Memang, ada beberapa orang ponggawa tinggi yang selalu setia kepadanya, akan tetapi dlbandingkan dengan kekuasaan Suminten dan Pangeran Kukutan di waktu ini, apalagi dibantu oleh patih yang baru, maka ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Sang permaisuri hanya berdoa setiap hari sambil menanti kesempatan baik untuk menjatuhkan pukulan untuk menghancurkan Suminten dan sekutunya.

********************

Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil melangkah terhuyung-huyung di dalam hutan yang gelap. Malam telah tiba, namun dia dipaksa berjalan terus oleh temannya, seorang laki-laki tua yang membawa obor di tangan kanan, sedangkan tangan kiranya menggandeng lengan gadis itu. Mulutnya mengeluarkan suara menghlbur, sungguhpun suaranya sendiri menggetar penuh keharuan dan hiburan itu tidak ada artinya sama sekali bagi gadis yang berjalan sambil tersedu-sedu menangis itu.

Gadis itu bukan lain adalah Widawati, gadis berusia sembilan belas tahun, cucu Ki Patih Brotomenggala. Tubuhnya tinggi semampai, perawakannya sedang berisi, kulitnya hitam manis dan halus, gerak-geriknya serba luwes. Pada saat itu, pakaiannya kusut, sekusut rambutnya yang terurai. Ketika sinar obor di tangan laki-laki tua itu menerangi wajahnya, tampaklah wajah yang ayu menarik. Wajah yang dapat diduga tentu biasanya cerah gemilang seperti sinar matahari pagi, dengan bentuk mulut yang selalu senyum, bibir yang selalu merekah, selalu siap untuk senyum dan tertawa, siap selalu untuk mengucapkan kata-kata halus lembut, menutupi deretan gigi yang tidak begitu rata namun putih bersih, dengan ketidak rataan yang bahkan menambah manis!

Alisnya menjelirit hitam, di atas sepasang mata yang indah sinarnya karena pandang mata itu mengandung pengertian mendalam, mengandung kesabaran dan kasih sayang terhadap segala yang dipandangnya. Gadis seperti yang muda-muda selalu datang kepadanya ini, kalau sedang berduka akan mengharukan hati setiap orang, kalau sedang gembira akan menyinari semua orang, dan kalau marah akan disangka pura-pura karena wajah seperti ini memang "tidak pantas" kalau dipakai marah. Wajah yang bulat telur dengan dagu kecil meruncing itu menyembunyikan usianya, membuat ia tampak jauh lebih muda daripada usianya.

Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala ini adalah seorang gadis yang amat rajin mempelajari segala kepandaian puteri. Terkenal di kepatlhan sebagai seorang gadis yang cerdik dan pandai, baik dalam olah kewanitaan, kesenian, dan kerajinan tangan, maupun dalam olah keperajuritan karena sebagai cucu Ki Patih Brotomenggala yang sakti, tentu saja ia tidak mau ketinggalan mempelajari seni bela diri yang gerakan-gerakannya mendekati seni tari itu. Karena kecerdikannya, gadis ini amat disegani oleh para abdi, bahkan anggauta keluarga untuk bertanya segala macam hal yang tidak dimengertinya. Widawati dengan tekun dan sabar memberi bimbingan kepada mereka sehingga tampaklah bakatnya sebagai seorang pendidik yang sabar.

Biasanya, jika mendapat kesempatan mengikuti ramandanya yang sebagai mantu ki patlh yang juga menjabat pangkat, yaitu sebagai petugas perairan untuk mengatur pengairan sawah ladang milik istana, seringkali keluar dan melakukan pemeriksaan, Widawati merasa amat gembira. Dia seorang gadis pencinta alam dan sifatnya yang ramah dan riang itu pun sesuai dengan suasana alam terbuka.

Melihat tanah merekah merah dan subur, melihat rumput hijau seperti permadani, melihat padi di sawah menguning emas dan bernyanyi tertiup angin, disinari matahari yang cerah, semua ini menciptakan watak yang ramah dan baik pada dirinya. Widawati seorang gadis pencinta alam, seorang gadis pencinta sesama manusia, yang ramah-tamah, tidak suka menyakiti hati orang lain, dengan kecantikannya dan kesegaran yang wajar.

Namun kini, biarpun ia melakukan perjalanan melalui hutan-hutan, di alam yang liar terbuka, ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia hanya menangis terus, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, pikirannya kalut, perasaannya hancur, mulutnya merintih-rintih menyebut nama ayah bundanya, kakek nenek, dan saudara-saudaranya yang kesemuanya terbasmi habis oleh sri bagirida dengan tuduhan berkhianat. Sepasang mata yang biasanya jernih dan berseri penuh kasih dan pengertian itu kini menjadi merah dan membendul oleh tangis.

Kakek itu adalah Ki Mitra, seorang juru taman, abdi keluarga pelatih tarian. Hanya juru taman ini sajalah yang dapat mengantar Widawati lolos dari kerajaan dengan aman, karena seorang abdi tidak akan kentara kalau pergi meninggalkan rumah. Memang ini merupakan siasat para ponggawa tua yang masih setia kepada Ki Patih Brotomenggala yang cepat-cepat turun tangan mengatur kebebasan Widawati begitu mendengar bahwa gadis ini kebetulan saja lolos daripada cengkeraman maut.

Memang dugaan mereka benar karena tidak lama kemudian setelah Widawati melarikan diri diantar juru taman, datang orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan mencari gadis itu di rumah pelatih tarian. Biarpun diberi tahu bahwa gadis itu tidak berada di situ dan sudah pulang, namun pasukan pengawal ini tidak percaya dan tetap melakukan penggeledahan sehingga andaikata Widawati bersembunyi di dalam gedung itu, pasti akan tertangkap.

Pula, para pengawal ini meneliti apakah penghuni rumah pelatih tari-tarian itu masih lengkap, dan baru mereka meninggalkan rumah itu setelah mendapat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun di antara keluarga guru tari itu meninggalkan rumah. Tentu saja mereka ini tidak perduli dan tidak menyelidiki apakah seorang juru taman ada atau tidak!

Dengan bantuan para ponggawa tua, akhirnya Ki Mitra si juru taman bersama Widawati, berhasil lolos keluar dari istana melalui pintu gerbang bagian selatan. Ki Mitra yang juga merupakan seorang yang biarpun hanya berpangkat juru taman namun dapat melihat kemaksiatan merajalela di dalam kerajaan, dengan taruhan nyawa sendiri membawa gadis cucu ki patih itu terus melakukan perjalanan ke selatan, tidak pernah benhenti karena takut kalau-kalau ada pengejaran dari istana.

Widawati adalah seorang gadis yang terlatih, kalau hanya berjalan kaki sampai jauh saja ia cukup kuat. Akan tetapi, melakukan perjalanan terus-menerus tanpa henti dan dengan hati hancur, benar-benar amatlah sengsara. Baiknya di situ ada Ki Mitra yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, menggugah semangatnya sehingga ia dapat bertahan dan malam hari itu, dengan penerangan obor yang dinyalakan Ki Mitra, mereka berjalan terus menyusup-nyusup hutan liar.

"Aduh, Ki Mitra.... hendak kau bawa ke manakah aku ini? Ah, mengapa mereka tidak membiarkan aku mati bersama keluargaku agar aku terbebas daripada segala derita.... Widawati berhenti dan menyandarkan diri di batang pohon. Tubuhnya gemetar, wajah yang pucat itu penuh peluh, dadanya bergelombang, kedua tangan membelai leher sendiri seakan-akan hendak mencekik leher sendiri, kedua matanya dipejamkan dan air matanya menitik turun melalui kedua pipinya.

Ki Mitra membetulkan obornya yang hampir padam. Setelah obornya bernyala baik kembali, ia menoleh kepada gadis itu. Hatinya penuh keharuan dan ia berkata, "Den-ajeng, hendaknya tenang dan jangan berpendirian seperti itu. Keluarga Paduka tewas karena fitnah, sama halnya dengan dibunuh. Paduka tidak boleh bersikap lemah. Ingat bahwa Paduka adalah keturunan gusti patih yang sakti mandraguna dan gagah perkasa. Keluarga Paduka difitnah dan dibunuh orang, hanya Paduka yang dapat lolos, ini berarti bahwa kelak ada orang yang dapat membalaskan segala dendam sakit hati ini. Marilah, Den-ajeng, saya diberi kepercayaan dan tugas oleh para gusti yang menjadi sahabat keluarga Paduka untuk menyelamatkan Paduka, agar jauh dari jangkauan tangan iblis-iblis bermuka manusia itu."

"Ke mana? Ke mana engkau hendak membawaku?" Widawati menyusut air matanya, semangatnya mulai bangkit karena panas oleh ucapan Ki Mitra yang mengingatkannya akan semua peristiwa yang menimpa keluarganya. Dengan tangan terkepal ia teringat kepada Pangeran Kukutan yang sudah beberapa kali berusaha untuk menggodanya, namun yang selalu ia tolak dengan tegas karena biarpun Pangeran Kukutan itu seorang muda belia yang tampan gagah, namun ia dapat mengenal moralnya yang bejat.

Dari penuturan Ki Mitra di sepanjang jalan, ia tahu bahwa yang menjatuhkan fitnah, entah bagaimana caranya sehingga terdapat bukti-bukti bahwa kakeknya melakukan khianat terhadap raja adalah Pangeran Kukutan dan Suminten, wanita cantik selir raja yang amat dibencinya karena ia sudah banyak mendengar tentang sifat rendah hina wanita itu.

"Menurut pesan para sahabat keluarga Paduka, kakek Paduka gusti patih mempunyai dua belas orang pengawal kepercayaan yang secara aneh telah menghilang pada saat terjadinya penangkapan keluarga Paduka. Dua belas orang pengawal itu adalah orang-orang gagah perkasa dan saya hanya mengenal dan tahu tempat tinggal seorang di antara mereka yang bernama Wiraman. Ki Wiraman ini berasal dari dusun Suko, dekat desa tempat asal saya, di selatan. Ke sanalah saya hendak membawa Paduka, mencari Ki Wiraman dan selanjutnya menyerahkan Paduka kepadanya. Karena hanya seorang yang memiliki kesaktian dan sudah terpercaya penuh seperti dua belas orang pengawal itu sajalah yang akan mampu menyelamatkan paduka, tidak seperti saya ini, seorang juru taman yang lemah."

Perjalanan dilanjutkan dan dengan bekal dendam sakit hati terhadap musuh-musuh yang membasmi keluarganya, Widawati menderita kesengsaraan perjalanan tanpa mengeluh lagi. Selama sepekan ia mengikuti Ki Mitra melakukan perjalanan menyusup-nyusup hutan, melalui dusun-dusun kecil, makan seadanya tidur di mana saja. Akhirnya tibalah mereka di dusun Suko dan di sini pun mereka menjumpai bekas tangan musuh-musuh kepatihan. Ternyata bahwa dusun ini pun diobrak-abrik oleh pasukan pengawal kerajaan karena pasukan ini terlambat datang mencari keluarga Wiraman yang telah lolos sehari sebelum pasukan pengawal datang. Banyak penduduk dusun Suko disiksa, ada beberapa orang malah dibunuh karena mereka tidak dapat memberitahukan ke mana perginya Wiraman dan keluarganya!

Apakah sesungguhnya yang terjadi? Wiraman adalah seorang di antara dua belas orang pengawal kepercayaan Ki Patih Brotomenggala yang dapat lolos dengan luka-luka di tubuhnya ketika dua belas orang pengawal ini berusaha melindungi sang prabu di dalam hutan. Seperti telah diceritakan di bagian depan ketika peristiwa penghadangan rombongan sang prabu diserbu gerombolan gundul di hutan dan ketika para pengawal sri baginda terdesak oleh gerombolan itu, dua belas orang pengawal pilihan yang secara sembunyi mengawal, lalu muncul dan mengamuk.

Akan tetapi mereka ini disambut oleh tiga orang yang sakti mandraguna, yaitu Warutama, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro sehingga sebelas orang di antara mereka tewas dan hanya Wiraman saja yang berhasil melarikan diri. Ki Wiraman ini langsung menuju ke kepatihan, akan tetapi karena ia terluka dan hanya dapat melakukan perjalanan lambat-lambat, ia datang terlambat karena keluarga kepatihan sudah ditangkap semua!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan duka hati ksatria ini. Ia maklum bahwa keselamatan keluarganya sendiri pun terancam, maka dengan menahan nyeri di dadanya akibat luka pukulan, ia memaksa diri pulang ke dusunnya di Suko dan cepat-cepat ia membawa keluarganya pergi dari dusun itu, bersembunyi di daerah liar di pantai laut kidul.

Untung ia berlaku cepat, karena Pangeran Kukutan yang kemudian mendengar akan dua belas orang pengawal rahasia ini, cepat-cepat mengerahkan pasukan pengawal mencari keluarga dua belas orang itu dan menangkap mereka semua!

Hanya sehari setelah ia membawa keluarganya lari dari Suko, datanglah sepasukan pengawal ke dusun itu dan mengobrak-abrik dusun Suko. Mendengar berita ini, Ki Mitra maklum bahwa amatlah tidak aman bagi Widawati untuk berdiam di dusun Suko, maka terpaksa ia mengajak gadis itu pergi meninggalkan Suko, untuk ia ajak ke dusunnya sendiri di mana tinggal keluarga adik kandungnya yang hidup sebagai petani di situ. Memang dia berasal dari dusun ini, dan ia bermaksud menitipkan Widawati pada keluarga adiknya untuk sementara waktu sehingga ia akan lebih mudah pergi menyusul dan mencari Wiraman yang telah melarikan diri.

Menjelang senja mereka telah melewati gunung karang terakhir dari pegunungan yang berderet-deret dari barat ke timur seolah-olah menjadi tanggul pembendung ancaman Laut Selatan. Widawati sudah lelah sekali, dan baru sekarang ia mengeluh,

"Ki Mitra.... masih jauhkah dusunmu? Aku ingin sekali beristirahat dan berpikir...."

"Sudah dekat, Den ajeng, itu di depan..... eh, hati-hatilah, di depan ada orang!"

Widawati cepat menundukkan mukanya. Pakaiannya sudah kusut dan kotor, juga kakinya penuh lumpur dan debu sehingga ia tidak banyak bedanya dengan gadis-gadis dusun biasa, apalagi karena telah melepaskan semua perhiasan emas permata dari tubuhnya dan menyimpannya di dalam kemben. Hanya menurut nasehat Ki Mitra, ia harus selalu menyembunyikan mukanya karena wajahnya terlalu cantik untuk mengaku seorang gadis dusun. Maka kini otomatis ia menundukkan mukanya agar orang yang disebut oleh Ki Mitra itu tidak akan melihat wajahnya apabila mereka bersilang jalan.

Ketika orang yang datang dari depan dan jalannya berindap-indap menyusuri tepi sawah itu telah datang dekat, Ki Mitra berseru, suaranya girang sekali, Ah, Denmas Wiraman....?" Ki Mitra tertegun memandang. "Bukankan andika.... Denmas Wiraman....?"

Mendengar sebutan nama ini, Widawati mengangkat muka memandang. Pria itu bertubuh sedang dan tegap, terbayang kekuatan di balik kulit lengan dan dadanya yang bidang. Usianya empat puluh tahunan, dengan pandang mata tajam dan wajahnya yang tampan membayangkan derita hidup yang diterimanya penuh kesabaran. Sabar, kuat, penuh pengertian membayang pada wajah di bawah rambut yang sudah mulai terhias warna putih. Seorang pria yang gagah dan wajahnya mendatangkan kepercayaan.

Wiraman, pria itu, juga memandang penuh perhatian, dan hanya mengerling sebentar kepada Widawati, lalu perhatiannya tercurah kembali kepada Ki Mitra. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya kelihatan menderita kelelahan hebat. Akan tetapi pandang matanya bersinar dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal Ki Mitra.

"Kakang Mitra kalau aku tak salah duga?" tanyanya.

"Betul, saya adalah Ki Mitra! Ah, Denmas Wiraman, betapa susah payah saya mencari Andika....!" Dengan girang Ki Mitra memegang lengan tangan prla itu.

"Ada apakah? Engkau yang telah bekerja sebagai juru taman di kota raja, mengapa datang mencariku?"

"Denmas, ceritanya panjang sekali. Marilah Andika ikut bersama kami ke rumah adik saya di dusun itu, nanti saya ceritakan semua persoalan yang amat gawat dan penting...."

"Hemm.... boleh, marilah. Akan tetapi..... siapakah nini yang ikut bersamamu ini?"

Ki Mitra menoleh ke kanan kiri sebelum menjawab, lalu berbisik, "Untuk dia inilah maka saya mencari Andika. Dia ini adalah satu-satunya cucu gusti patih yang berhasil lolos dari cengkeraman maut..."

"Ahhh.... Ya Dewata Yang Maha Kasih! Paduka cucu gusti patih....? Aduhai puteri yang patut dikasihani betapa hebat penderitaan Paduka....!" Digerakkan oleh hati yang penuh iba Wiraman mendekati Widawati dengan pandang mata penuh perasaan.

Kedukaan yang sudah memenuhi hati gadis itu kini meluap. Pria ini adalah seorang kepercayaan kakeknya dan sikap yang amat baik itu membuatnya terharu sehingga ia pun lupa diri, melangkah maju dan membiarkan dirinya dirangkul, menangis di atas dada yang bidang itu. Wiraman mengelus rambut yang kusut itu, hatinya seperti disayat-sayat pisau beracun.

"Duh para dewata yang agung, lindungilah kiranya puteri yang malang ini........... " bisiknya. Namun dia seorang satria yang segera dapat mengatasi keharuan hatinya. "Harap Paduka tenang dan teguh hati, menerima nasib seperti yang telah ditentukan para dewata. Manusia hanya sekedar menerima dan mengalami. Mari, mari kita pergi ke dusun dan di sana bicara panjang lebar dan menentukan langkah selanjutnya."

Pergilah mereka bertiga ke dusun kecil yang menjadi kampung halaman Ki Mitra. Mereka disambut dengan penuh keheranan akan tetapi juga penuh kegirangan oleh keluarga adik kandung Ki Mitra. Terhadap adiknya, Ki Mitra memperkenalkan Wiraman sebagal seorang rekan kerja di kota raja, adapun Widawatt diperkenalkan sebagal adik misan Wiraman. Agar tidak menimbulkan keraguan, terpaksa Widawati menyebut "kakang" kepada Wiraman, sebaliknya Wiraman menyebutnya "nimas".

Malam hari itu, mereka bercakap-cakap dan menceritakan pengalaman masing-masing. Hati Wiraman terharu sekali ketika ia mendengar betapa seluruh keluarga kepatihan musnah dibasmi oleh Pangeran Kukutan dan Suminten. Wajah satria ini menjadi merah, giginya berkerot dan kedua tangannya dikepal.

"Hemm.... si bedebah Kukutan dan Suminten! Tentu saja sang prabu yang sudah sepuh dan kehilangan kewaspadaan karena mabuk nafsu itu tidak mengerti akan tipu muslihat mereka! Kalian tunggu saja! Di dunia ini, masih ada aku Wiraman yang tahu akan semua muslihat kalian!"

"Sebetulnya, rahasia apa yang tersembunyi di balik peristiwa itu, Kakang Wiraman?" tanya Widawati yang kini tidak merasa canggung lagi di hadapan pria itu, karena memang sikap Wiraman wajar dan sopan serta jujur terhadap dirinya.

Wiraman menghela, napas panjang, kemudian mulai bercerita, "Ketika sang prabu pergi berburu, kami dua belas orang kepercayaan gusti patih mendapat tugas rahasia dari gusti patih untuk secara sembunyi melindungi keselamatan sang prabu. Kami melihat betapa rombongan sang prabu diserbu oleh gerombolan orang-orang gundul. Tentu saja kami segera menerjang keluar dari tempat persembunyian karena para pengawal kewalahan menghadapi serbuan liar mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba muncul tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga sebelas orang teman-temanku tewas semua, sedangkan aku sendiri terluka parah. Aku bersembunyi dan menyaksikan peristiwa hebat. Sang prabu, Pangeran Kukutan dan wanita iblis Suminten itu ditangkap dan diancam hendak dibunuh sisa gerombolan gundul. Tiba-tiba muncul seorang pria yang mengaku bernama Raden Warutama yang membunuhi sisa gerombolan gundul, padahal aku mengenal dia itu sebagai seorang sakti yang tadinya membantu gerombolan gundul. Hemm...! Dan sekarang, Warutama itu menjadi seorang yang berjasa!"

"Kabarnya akan diangkat menjadi patih....!" kata Ki Mitra.

Wiraman memukulkan tinjunya di atas tanah lantai kamar kecil itu. "Tentu saja! ini adalah hasil persekutuan mereka! Siasat yang busuk sekali untuk menonjolkan jasa Warutama dan untuk menjatuhkan fitnah kepada gusti patih! Keparat...! Kalau aku tidak dapat membalas kekejian ini, aku tidak akan sudi memakai nama Wiraman lagi!"

Suasana menjadi sunyi. Mereka bertiga tenggelam ke dalam lamunan masing-masing, merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa itu, ngeri mengingat tipu muslihat yang demikian keji dan busuknya. Kemudian kesunyian dipecahkan suara Ki Mitra,

"Sekarang.... bagaimana.... selanjutnya harus diatur, Denmas? Tentang Den-ajeng Widawati ini...."

"Kakang Mitra lebih baik besok kembali ke kota raja agar jangan menimbulkan kecurigaan. Kakang berjalan seperti biasa dan diam-diam memperhatikan keadaan dan perkembangan di dalam istana agar siap untuk memberi laporan kalau dibutuhkan. Sedangkan mengenai Diajeng Widawati, serahkan saja kepadaku. Akulah yang mulai detik ini bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku sedang memikirkan jalan terbaik untuk Diajeng Widawati."

Widawati menyusut air matanya. "Kakang Wiraman, karena membela mendiang Eyang Patih, engkau telah mengalami kesengsaraan. Bagaimana aku kini tega untuk menjadi beban tanggunganmu lagi? Aku akan memperberat hidupmu, akan membahayakan hidupmu dan keluargamu masih amat membutuhkan perlindunganmu"

"Keluargaku....?" Wiraman menghela napas panjang. "Jangan kau khawatir, Diajeng Widawati. Keluargaku telah kuungsikan dan mereka kini hidup sebagai petani-petani yang cukup aman tenteram. Bahkan sementara ini aku tidak berani mendekati mereka, karena keadaanku seperti sebuah penyakit menular, siapa yang kudekati berarti terancam bahaya. Jenggala sedang mencari-cariku sebagai seorang yang berbahaya bagi Pangeran Kukutan dan Suminten, juga bagi Patih Warutama, karena akulah satu-satunya orang yang mengetahui akan rahasia mereka. Aku bahkan harus menjauhkan diri dari keluargaku. Isteriku seorang bijaksana, dan aku tidak khawatir akan keadaan mereka. Juga engkau sendiri merupakan seorang buronan seperti aku, Diajeng. Engkau dicari karena engkau merupakan sisa musuh besar yang tentu akan membalas dendam. Keadaan kita berdua sama-sama sebagai buronan, maka tidak ada yang saling menjadi beban, tidak ada yang saling memberatkan. Asal saja engkau menaruh kepercayaan penuh kepadaku, demi para dewata, aku tidak akan membiarkan engkau tertimpa malapetaka, akan kubela dengan seluruh jiwa ragaku."

Makin deras air mata Widawati mengalir dan di antara linangan air matanya ia memandang kepada pria yang begini baik terhadap dirinya. Seolah-olah ia mendapatkan pengganti orang tua dan keluarga dalam diri Wiraman. Mendapatkan seorang sahabat baik, seorang pelindung, seorang yang dapat ia sandari dalam kehidupan mendatang, yang boleh ia percaya sepenuhnya.

Pada keesokan harinya, mereka meninggalkan dusun itu sesuai rencana yang diatur oleh Wiraman. Ki Mitra kembali seorang diri ke kota raja setelah dilepas pergi oleh Widawati yang berkali-kali menghaturkan terima kasih sambil berlinang air mata. Kemudian Wiraman bersama gadis itu pergi meninggalkan dusun. Widawati kali ini tidak pernah bertanya ke mana mereka pergi, karena dia sudah menyerahkan seluruh keselamatan dirinya ke tangan pria ini, akan menurut saja ke mana dia dibawa pergi.

********************

Permaisuri Jenggala seringkali duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya sambil meruntuhkan waspa (air mata). Semenjak terbasminya keluarga kepatihan, ia merasa sunyi dan duka, merasa betapa kini ia menghadapi lawan yang amat kuat tanpa kawan yang dapat ia andalkan. Hatinya selalu perih kalau ia mengingat betapa kini seluruh istana telah dicengkram oleh Suminten, sedangkan seluruh kerajaan berada di telapak tangan Pangeran Kukutan dan Patih Warutama yang baru diangkat.

Betapapun juga, sang prameswari tidak pernah putus harapan untuk menolong suaminya dari cengkeraman Suminten, terutama sekali mengingat bahwa usahanya menentang persekutuan mereka itu demi untuk menolong Kerajaan Jenggala daripada keruntuhan. Ia maklum bahwa diam-diam masih banyak sekali ponggawa dan para pangeran yang setia kepadanya, yang diam-diam membenci persekutuan busuk itu. Dan permaisuri yang sabar dan tekun ini tidak pernah menghentikan usahanya memata-matai Suminten.

Ia percaya bahwa akan tiba saatnya ia akan dapat menghancurkan Suminten melalui perbuatan Suminten sendiri yang ia tahu merupakan seorang wanita muda pengabdi nafsu berahi, seorang wanita muda yang hanya pada lahirnya saja mencinta dan setia kepada sang prabu, akan tetapi sesungguhnya merupakan seorang wanita yang bermoral bejat, yang setiap malam berganti pacar untuk melayani nafsu berahinya. Hanya sukarnya, Suminten amat pandai menjaga diri. Kamarnya selalu dikepung ketat oleh para pengawal penjaganya, juga para abdi dalem yang melayaninya adalah orang-orang kepercayaannya sendiri sehingga sukarlah bagi sang permaisuri untuk "menerobos" pertahanan penjagaan yang ketat itu.

Namun, sang permaisuri yang sabar dan tekun ini tak pernah menyerah kalah. Setiap malam ia berdoa mohon bantuan dewata, dan diam-diam ia selalu memasang mata-mata yang berupa emban-emban tua yang setia untuk mengawasi gerak-gerik di keputren di mana Suminten tinggal dalam bangunan-bangunan dan taman yang amat mewah. Dan pada malam hari itu agaknya doa yang selalu ia panjatkan terkabul, karena tiba-tiba masuklah seorang emban dengan tergesa-gesa, bersembah sujud di depan sang permaisuri sambil berbisik,

"Duh Gusti, tibalah saatnya kini yang telah dinanti-nanti oleh Paduka Gusti. Iblis betina itu kini berada di pesanggrahan di taman sari, agaknya menanti kekasihnya. Dan pintu tembusan ke taman sari tidak terjaga, sehingga Paduka dapat masuk ke taman sari bersama hamba. Mudah-mudahan sekali ini paduka dapat menangkap basah si iblis betina, itu."

Wajah yang tua dan masih membayangkan kecantikan itu yang selama ini keruh, tiba-tiba berseri. Sejenak sang permaisuri memejamkan mata dan menengadahkan muka, seolah-olah menghaturkan terima kasih kepada para dewata. Kemudian dengan cepat namun tenang ia bangkit, lalu membiarkan dirinya digandeng oleh emban kepercayaannya itu, keluar dari kamar memasuki taman sari. Taman sari milik sang permaisuri ini bersambung dengan taman sari milik Suminten, hanya dibatasi pagar tinggi.

Biasanya, pintu tembusan antara kedua taman itu dijaga oleh pengawal kepercayaan Suminten dan ditutup. Akan tetapi malam ini tidak ada pengawal menjaga dan daun pintunya tidak dipalang sehingga mudahlah sang permaisuri bersama emban memasukinya. Kedua kaki sang permaisuri menggigil karena hatinya tegang. Kalau saja tidak mengingat keselamatan raja dan kerajaan, tentu ia tidak sudi bertindak sebagai maling dan mengintai macam ini. Berindap-indap mereka menghampiri pesanggrahan bercat merah yang mungil di dalam taman sari Suminten itu.

Malam itu gelap, dan hal ini menguntungkan sang permaisuri yang dapat menghampiri pondok kecil mungil bercat merah itu sampai dekat sekali. Emban kepercayaannya memberi isyarat agar sang permaisuri tidak mengeluarkan suara sambil menunjuk ke arah jendela kecil yang bertirai sutera merah. Mereka berdua lalu berindap-indap menghampiri jendela di mana emban kepercayaannya itu mengintai ke dalam.

Sang permaisuri juga mengintai dan melihat bahwa Suminten sedang duduk seorang diri di dalam kamar itu, termenung. Melihat wajah cantik madunya ini, hati wanita tua itu menjadi panas. Sesungguhnya dia bukanlah seorang wanita pencemburu, bukan wanita yang berhati sesempit itu. Kalau melihat madunya yang lain, betapapun sang prabu mencinta madu itu, dia tidak akan menjadi panas hatinya.

Akan tetapi lain lagi halnya dengan Suminten. Dia menganggap wanita ini bukan hanya memikat sang prabu, melainkan menganggapnya sebagai seorang wanita pengacau kerajaan yang menimbulkan banyak malapetaka, yang membuat sang prabu mabuk dan lupa diri sehingga melakukan hal-hal kejam, dan menganggapnya sebagai seorang musuh kerajaan yang berniat meruntuhkan Jenggala.

Diam-diam sang permaisuri berdoa kepada para dewata agar malam ini dia mendapatkan jalan untuk menjatuhkan wanita berbahaya itu. Ia berdoa agar dapat menangkap basah Suminten yang menerima kekasihnya di dalam kamar pesanggrahan di taman, sehingga dia mendapatkan senjata untuk menghantam Suminten di depan sang prabu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Doa permaisuri tua yang menderita batinnya itu agaknya diterima karena belum lama dia dan embannya mengintai, tampak sesosok bayangan berindap-indap memasuki taman sari, langsung menghampiri pondok Itu dan mengetuk pintunya tiga kali. Suminten sendiri yang membuka pintu pondok, kemudian terdengar suara mereka berdua di dalam kamar itu. Ketika sang permaisuri mengintai, hatinya agak kecewa karena yang memasuki pondok itu bukanlah seorang pria, melainkan seorang abdi pelayan yang masih muda dan cantik. Akan tetapi hatinya berdebar tegang ketika mendengar percakapan mereka.

"Emban, mengapa engkau yang datang? Mana gustimu?" tanya Suminten, suaranya membayangkan kekecewaan dan kemarahan.

"Hamba diutus oleh gusti pangeran untuk menghadap Paduka dan menyatakan penyesalannya bahwa gusti pangeran berhalangan datang. Akan tetapi gusti pangeran memerintahkan hamba menghaturkan sepucuk surat kepada paduka." Berkata emban itu sambil bersujut dan menghaturkan sebuah sampul surat.

Suminten menjadi merah mukanya, mulutnya merengut dan ia menampar tangan emban itu sehingga suratnya melayang jatuh ke atas lantai.

"Aku tidak butuh surat! Pangeran itu memang terlalu! Kalau dia sudah tidak suka mematuhi panggilanku, bilang saja terus terang! Sudah sejak sore aku menantinya di sini, untuk bertemu dengan dia, bukan dengan suratnya! Engkau adalah kepercayaan sang pangeran, bahkan abdi kinasih (abdi tercinta), tentu engkau dapat merasakan kekecewaan seorang wanita yang menanti-nanti akan tetapi tidak diperhatikan!"

"Ampun Gusti Ayu, harap sudi bersabar. Gusti pangeran tentu saja terhalang oleh kesibukannya sebagai seorang putera mahkota, agaknya ada urusan penting yang..."

"Alasan...! Kau abdi terpercaya dan terkasih, tentu saja hanya akan membelanya. Pendeknya aku tidak suka menerima suratnya, aku tidak sudi membacanya!"

Sang permaisuri yang mendengarkan dari luar menjadi berdebar tegang hatinya. Maklumlah ia kini bahwa emban itu adalah utusan Pangeran Kukutan! Kalau saja ia bisa mendapatkan surat itu, terrtu dapat ia bawa kepada sang prabu sebagai bukti pengkhianatan hubungan jina antara Suminten dan Kukutan! Juga diam-diam dia merasa geli mendengar ucapan Suminten yang menolak membaca surat karena ia tahu benar bahwa selir ini tidak pandai membaca! Seorang selir yang tadinya hanya menjadi abdi dari Pangeran Panjirawit, mana mungkin dapat membaca surat? Akan tetapi hatinya makin tegang ketika ia mendengar percakapan mereka berdua itu lebih lanjut.

Sang emban tertawa genit. "Gusti, hamba sudah mendapat perintah gusti pangeran bahwa kalau paduka tidak sudi membaca, hamba disuruh membacakan surat beliau itu di hadapan Paduka."

"Sesukamu! Masa bodoh kalau kau mau baca! Aku sendiri tidak sudi menyentuh suratnya, apalagi membaca," kata Suminten dengan sikap ngambek dan duduk di atas pembaringan memutar tubuh membelakangi emban itu.

Emban itu yang agaknya tahu belaka akan hubungan gelap antara selir sang prabu dan puteranya itu, tersenyum-senyum dan dengan gerakan genit mengambil surat dari atas lantai, membuka sampulnya dan kemudian membaca dengan suara dibuat-buat, merdu dan mesra :

"Adindaku yang tercinta,
juita sayang pujaan kalbu,
Adinda Suminten yang denok ayu!
Betapapun rindu hatiku kepada Adinda, ingin sekali berdekatan dengan Adinda, bercumbu-rayu bersendau-gurau, berenang berdua di lautan cinta, ingin mendengar suara emas Adinda, mencium rambut Adinda yang sedap harum, memeluk tubuh Adinda yang indah, kulit yang halus lunak dan hangat, namun terpaksa malam ini kakanda tak dapat datang menjumpai Adinda.
Malam ini kakanda sibuk dengan Ki Dukun untuk mengatur siasat yang Adinda rencanakan. Ramuan racun telah dibuat Ki Dukun, tidak ada rasanya dan dapat dicampurkan dalam minuman untuk sang prabu dan permaisuri.
Di malam Respati depan.
Harap Adinda.... agar pada malam Respati....


"Cukup! Goblok engkau, emban! Masa hal begitu kau baca keras-keras! Sang pangeran juga sembrono sekali, mengirim surat seperti itu kepadaku! Bagaimana kalau terjatuh ke tangan orang lain? Lekas kau pergi dari sini, bawa surat yang berbahaya itu, kembalikan kepada sang pangeran. Katakan bahwa aku bukan anak kecil, aku tahu apa yang harus kulakukan. Cepat, pergi....!"

Emban itu menyembah, menyelipkan surat itu ke dalam sampul kembali, lalu membawa surat itu pergi keluar dari dalam pondok. Akan tetapi, ketika emban ini sedang berjalan tergesa-gesa menyelinap di antara pohon-pohon yang gelap, tiba-tiba ia menahan pekik karena tahu-tahu di depannya telah berdiri sang permaisuri! Cepat dia menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil. Seorang emban tua yang menemani permaisuri dengan cepat menangkap kedua lengannya dan ditelikung ke belakang dan tanpa banyak cakap sang permaisuri lalu merampas surat bersampul.

"Ampun... ampunkan hamba...harap kembalikan surat itu.... surat itu milik hamba.... hendak dipersembahkan kepada Gusti Ayu Suminten..." Emban itu meratap dan menangis dengan muka ketakutan, tubuhnya menggigil seperti orang menderita sakit demam.

"Diam kau?" Sang permaisuri membentak penuh wibawa. "Hayo ikut bersamaku!"

Dengan masih menangis emban yang sial itu lalu dibawa pergi memasuki taman sang permaisuri.
"Kau lihat, aku tidak membuka sampul surat kotor yang kau bawa. Kita tunggu hadirnya sang prabu agar sang prabu sendiri yang membuka dan memeriksa!"

"Tapi.... tapi, duh Gusti.... ampunkan hamba.... surat.... surat itu adalah surat..."

"Cukup! Aku tahu surat kotor macam apa!" bentak sang permaisuri yang segera memerintahkan seorang abdi untuk melaporkan sang prabu bahwa urusan darurat yang amat penting memaksa sang permaisuri untuk mohon menghadap di ruangan dalam.

Ruangan ini khusus untuk tempat keluarga raja berunding tentang masalah-masalah kekeluargaan yang pelik-pelik dan tidak perlu diketahui oleh para ponggawa.

Tak lama kemudian abdi yang diperintah datang kembali menyampaikan perintah sang prabu yang telah siap menanti di ruangan dalam. Permaisuri bersama emban tua menggiring emban cantik itu memasuki ruangan dalam di mana sang prabu telah duduk di atas kursi dengan wajah keruh. Agaknya sang prabu merasa tidak senang diganggu pada malam hari itu, malam yang merupakan malam istirahat baginya. Maka begitu sang permaisuri muncul bersama dua orang emban, sang prabu telah menegurnya dan dengan sikap yang tidak terlalu manis menanyakan maksud isterinya mengganggu istirahatnya.

"Harap Kakanda sudi memaafkan kalau mengganggu Paduka, akan tetapl urusan yang amat penting terjadi sehingga terpaksa saya mengganggu. Akan tetapi karena urusan ini menyangkut diri selir Paduka Suminten yang jelas sedang merencanakan pengkhianatan dan pembunuhan, maka saya harap sukalah Paduka memerintahkan agar Suminten dipanggil menghadap."

Wajah sang prabu berubah mendengar ucapan yang tenang ini. Sekilas ia memandang ke arah sampul yang berada di tangan permaisuri dan keningnya berkerut. Sang prabu cukup mengenal isterinya ini, seorang puteri yang angkuh dan berbudi luhur. Lain orang isterinya boleh jadi akan menurutkan hati cemburu menjatuhkan fitnah, namun ia merasa yakin bahwa permaisuri tidak akan mau bertindak seperti itu. Maka dia kini menjadi berdebar risau, karena biasanya, apa yang dinyatakan oleh permaisuri pastilah benar dan bukan fitnah, bukan pula main-main. Ia menekan perasaan yang tegang lalu bertepuk tangan memberi isyarat.

Seorang pengawal yang hanya boleh menjaga di luar ruangan itu, muncul dan sang prabu segera memerintahkan untuk memanggil Suminten menghadap. Karena panggilan ini datangnya dari sang prabu yang berada di ruangan dalam, tanpa dijelaskan pun Suminten akan tahu bahwa panggilan ini ada hubungannya dengan urusan penting mengenai keluarga, dan ia tidak boleh membawa pelayan. Suasana menjadi tegang sekali ketika mereka yang berada di dalam ruangan itu menanti munculnya Suminten. Hanya terdengar isak tertahan si emban muda yang menangis.

Sang prabu mengerti bahwa dalam keadaan seperti itu, tidak perlu ia bertanya-tanya. Sang permaisuri akan menjelaskan kesemuanya setelah Suminten datang. Sementara itu, sang permaisuri lalu menyimpan surat yang dipegangnya tadi di balik bajunya karena ingin menjatuhkan Suminten dengan tepat dan baru mengeluarkan surat itu ketelah mendengar pengakuan palsu Suminten yang ia tahu pasti akan mencari-cari alasan. Ia harus bersikap cerdik menghadapi ular betina itu, pikirnya.

Akhirnya orang yang dinanti-nanti muncullah Suminten yang cantik jelita, yang ayu dan segar seperti orang baru saja keluar dari kamar mandi. Sekali melirlk tahulah sang permaisuri bahwa Suminten telah bertukar pakaian. Tadi ketika berada di pesanggrahan dalam taman, pakaiannya serba merah jambon, kembennya tipis semrawang sehingga terbayang tubuhnya dan lekuk lengkung tubuhnya. Berbeda dengan tadi ketika menanti kekasih, kini pakaiannya lebih sopan, masih serba merah dan jelas menonjolkan tubuhnya yang berbentuk indah menggairahkan, namun patut menjadi pakaian seorang selir terhormat.

Suminten serta merta menjatuhkan diri berlutut menghaturkan sembah kepada sang prabu dengan gerak tubuh yang lemah lembut. Melihat selir terkasih ini, seketika keraguan di hati sang prabu melenyap. Selirnya ini, Suminten yang begitu mesra dan penuh kasih sayang kepadanya setiap kali mereka memadu kasih, menjadi pengkhianat dan pembunuh? Tidak mungkin!

"Duhai Kakanda prabu junjungan hamba!" Suminten berkata dengan suaranya yang halus merayu, membuat hati sang permaisuri makin mendidih apalagi mendengar bahwa kini Suminten tidak lagi menyebut gusti melainkan kakanda kepada sang prabu. "Paduka amat memerlukan istirahat, mengapa malam-malam Paduka masih terjaga? Hal ini amat tidak baik bagi kesehatan Paduka!"

Senang hati sang prabu mendengar betapa selirnya ini amat memperhatikan keadaan kesehatannya. Tidak seperti permaisuri tua yang rewel.

"Bukan kehendakku, Suminten. Adinda permaisuri yang menghendaki karena katanya ada urusan penting hendak disampaikan kepadaku, di hadapanmu. Nah, Adinda permaisuri, Suminten telah datang menghadap. Lekas ceritakan apa yang menjadi kehendak hatimu." Nada suara sang prabu tidaklah ramah. Namun permaisuri itu tetap tenang, karena ia yakin bahwa sekali ini ia akan menang dengan adanya senjata surat rahasia itu di tangannya.

"Kakanda tentu masih ingat betapa seringnya saya memperingatkan Kakanda akan kepalsuan wanita ini, bukan karena cemburu, melainkan demi mengingat keamanan paduka dan kerajaan. Namun Paduka tidak pernah mempercaya saya. Sekarang, saya telah mendapatkan bukti kuat akan kepalsuan Suminten. Eh, emban yang menjadi kaki tangan pengkhianat, katakan apa yang kaulakukan di waktu malam tadi?" Sang permaisuri bertanya kepada emban cantik pembawa surat. Emban itu gemetar bibirnya ketika menjawab,

"Hamba.... hamba tidak melakukan sesuatu kesalahan..."

"Cukup!" permaisuri membentak, kini menoleh ke arah Suminten yang bangkit berdiri dengan sikap menantang. "Suminten, engkau tadi berada di dalam pesanggrahan di dalam taman, lalu datang emban ini mengantar surat untukmu. Betulkah itu?"

Permaisuri mengira bahwa Suminten pasti akan menyangkal, maka amatlah heran hatinya menyaksikan keberanian wanita itu ketika Suminten menjawab,

"Memang benar hamba telah menerima surat yang hamba suruh emban membawa kembali kepada pengirimnya."

Bagus, pikir permaisuri. Engkau berani dan tabah, akan tetapi keberanianmu memudahkan penyelesaian perkara ini yang akan menjatuhkanmu! Wajah yang tua itu tersenyum penuh kemenangan ketika ia menoleh ke arah emban yang berdiri menggigil di belakang Suminten sambil menghardik,

"Engkau abdi dari mana?"

"Hamba.... abdi dalem pangeran mahkota...."

"Suminten, dari siapakah surat yang kau terima tadi?"

Masih tenang sikap Suminten, bahkan dia mengerling ke arah sang prabu dengan bibir tersenyum dan mata seolah-olah menyatakan betapa cerewetnya permaisuri tua ini.

"Surat itu dari puteranda pangeran mahkota." Suaranya mengandung tuntutan mengapa hal begitu saja dihebohkan.

Akan tetapi wajah sang permaisuri menjadi pucat mendengar jawaban emban dan Suminten. Jawaban ini saja sudah jelas membuktikan bahwa antara Pangeran Kukutan dan Suminten terdapat hubungan gelap dan mereka telah bersurat-suratan! Wajah sang prabu berubah menjadi makin merah dan makin merah, tanda bahwa ia mulai cemburu dan marah.

Sang permaisuri sebaliknya berseri wajahnya. Wajah tua yang masih berbekas garis-garis cantik ini tersenyum ketika ia menoleh sang prabu sambil mengeluarkan surat dari balik bajunya. Melihat surat ini, Suminten kelihatan kaget, menahan jerit dengan jari-jari tangan halusnya menutupi bibirnya yang merekah merah. Melihat ini, sang prabu makin merah mukanya dan sang permaisuri makin berseri.

"Harap Paduka bersabar. Sebelum saya menyerahkan surat agar dapat dibaca oleh Paduka pribadi, lebih baik Paduka mendengarkan lebih dulu apa yang telah saya dengar dan didengar pula oleh emban saya di pondok dalam taman sari Karena saya tidak menjatuhkan fitnah, biarlah emban saya yang menceritakan kesaksiannya. Emban, ceritakanlah apa yang engkau dengar tadi."

Emban tua Itu sebenarnya amat takut terhadap Suminten, apalagi Suminten memandangnya dengan mata bersinar-sinar dan terdengar suara Suminten

"Hm emban! Perlukah engkau menceritakan hal yang mendatangkan bencana?" Suara Suminten mengandung aricaman mengerikan sehingga emban tua itu menjadi ketakutan, menjatuhkan diri berlutut di depan sang permaisuri sambil berkata,

"Mohon Paduka melindungi hamba,Gustl," katanya sambil menangis.

"Emban! Jangan banyak tingkah, lekas Ceritakan!" sang prabu membentak.

Emban itu cepat menyembah dan bercerita,
"Hamba bersama gusti permaisuri menyaksikan dan mendengar dari luar jendela pondok ketika surat itu dlserahkan oleh abdi gusti pangeran mahkota kepada.... Gusti Ayu Suminten Kemudian surat itu dibaca oleh abdi ini dan.... dan...."

"Apa bunyinya surat? Katakan!" desak sang permaisuri.

"Menurut pendengaran hamba.... surat dari gusti pangeran mahkota itu menyebut tentang persekutuan dan rencana untuk.... untuk meracuni Paduka berdua, Gusti Sinuwun dan Gusti Ratu..."

"Bohong.... !!" Tiba-tiba Suminten menjerit dengan mata terbelalak memandang emban tua itu. "Engkau wanita setan, engkau bohong.... menjatuhkan fitnah keji..... Kakanda harap jangan mendengarkan hasutan-hasutan busuk dan keji! Hamba lebih baik pergi saja dari sini daripada mendengarkan fitnah keji yang amat memuakkan....!" Setelah berkata demikian, Suminten bergerak hendak meninggalkan ruangan itu.

Akan tetapi sang permaisuri sudah mengulurkan tangannya memegang lengan muda yang halus itu. Biarpun jauh lebih tua, namun permaisuri adalah seorang puteri yang di masa mudanya suka mempelajari olah keperajuritan, maka masih memiliki tenaga yang kuat sehingga Suminten tak dapat bergerak.

"Jangan pergi dulul Kedudukanmu hanya selir, itu pun selir palsu yang berkhianat, bagaimana engkau berani pergi tanpa diperintah?"

Tadinya sang prabu tidak percaya akan tuduhan yang dijatuhkan kepada selirnya yang terkasih, akan tetapi mendengar cerita emban tua dan melihat betapa Suminten yang menyangkal itu hendak melarikan diri, hatinya seperti ditusuk rasanya. Sikap Suminten yang hendak melarikan diri itu menghapus keraguannya dan timbullah kecurigaannya.

"Suminten, jangan pergi dan tunggu sampai selesai perkara ini!" katanya.

Nada suaranya sudah berbeda, kehilangan irama kasih sayang yang biasanya terdapat dalam ucapannya terhadap Suminten. Sementara itu, dengan wajah berseri penuh kemenangan yang sudah membayang di depan mata, sang permaisuri lalu mempersembahkan sampul surat itu kepada suaminya sambil berkata,

"Saya bersumpah bahwa saya sendiri tidak pernah membaca surat ini yang semenjak saya rampas dari tangan emban pengkhianat itu tak pernah terlepas dari tangan saya. Dan untuk membuktikan bahwa saya dan juga emban saya tidak membohong, saya persilahkan Paduka membacanya sendiri surat yang menjijikkan dan kotor ini."

Jari-jari tangan sang prabu yang Sudah tua itu menggigil ketika ia mengeluarkan surat dari sampulnya. Bukan mengglgil karena sudah buyuten, melainkan menggigil karena tegang, seolah-olah bukan nasib Suminten yang akan dihancurkan oleh surat Itu, melainkan nasibnya sendiri.

"Aduh, Kakanda sinuwun sesembahan hamba" Suminten sudah merenggutkan lengannya dan lari menjatuhkari diri berlutut menclumi kaki sang prabu sambil menangis. "Hamba mohon dengan seluruh hati hamba, hendaknya jangan dibuka dan dibaca surat itu oleh Paduka.... hamba.... hamba.... tidak ingin mencelakakan siapa-siapa, hamba lagi, hamba tidak ingin melihat Paduka menjadi berduka. Percayalah, hamba selalu mencinta dan setia kepada Paduka.... dan bahwa kesemuanya ini hanyalah fitnah semata....."

"Kau hendak mengatakan bahwa surat ini bukan dari Kukutan untukmu?" Sang prabu yang merah mukanya menghardik.

"Tidak hamba sangkal, memang benar demikian akan tetapi...."

"Mundurlah engkau!" Sang prabu menggerakkan kakinya dan tubuh Suminten terjengkang ke belakang, di mana wanita ini berlutut lagi sambil menangis sesenggukan. Emban cantik segera menubruknya dan ikut pula menangis. Sang permaisuri memandang dengan mulut mengejek, maklum bahwa tangis wanita muda itu adalah tangis palsu, air mata buaya. Ia merasa girang bahwa sang prabu mulai sadar, tidak terpengaruh oleh tangis wanita palsu itu.

Jari-jari tangan sang prabu masih menggigil ketika ia membuka surat itu, lalu bibirnya yang gemetar mulai bergerak ketika membaca. Wajah keriputan yang tadinya mulai memucat, itu kini merah kembali, sepasang mataya makin lama makin terbelalak lebar. Tiba-tiba sang prabu tertawa bergelak, suara ketawa aneh yang mengandung rasa sesal di hati, kemudian ketawanya terhenti diganti suara menggeram dan tangan kirinya menampar lengan kursinya. la masih terbelalak seolah-olah tak percaya akan isi surat yang dibacanya lagi.

"Ha-ha-ha! Aahhhh.... kalau Adinda Ratu sudah sekeji ini..... entah aku sudah menjadi gila ataukah masih waras.... !" serunya.

Tentu saja sang permaisuri menjadi kaget dan heran. Melihat wajah suaminya, ratu ini menjadi gelisah dan mukanya berubah pucat. Sudah gilakah sang prabu? Dia khawatir dan menyesal sekali. Kalau sang prabu menjadi gila saking hebatnya pukulan batin yang dideritanya sungguh bukan demikian yang ia kehendaki. Ia menghendaki sang prabu menjadi sadar dan bebas daripada cengkeraman wanita iblis Suminten, demi keselamatan keluarga dan kerajaan.

"Kakanda.... mengapa Paduka"

"Diam! Jangan buka lagi mulutmu yang berbisa itu! Baca saja surat ini!" bentak sang prabu sambil melemparkan surat ke arah permaisuri.

Surat itu melayang ke atas lantai dan sang permaisuri membungkuk untuk memungutnya dengan tangan gemetar. Isak tangis Suminten makin mengguguk. Sang permaisuri memegang surat itu dan membacanya. Matanya terbelalak, makin lama makin lebar .dan mukanya menjadi lebih putih daripada kertas yang dipegangnya. Bibirnya gemetar dan akhirnya terlontar dari mulutnya,

"Aduhh.... Dewata....!" Tubuh sang ratu menjadi lemas dan robohlah wanita tua Ini, terkulai dan pingsan di atas lantai. Surat itu terlepas dari tangannya dan melayang di atas lantai pula. Emban tua menjerit dan menubruk junjungannya, memanggil-manggil dan menangisi dengan bingung. Dalam kebingungannya, ia menjadi penasaran, cepat menyambar surat itu dan membacanya tanpa permohonan lagi.

"Ha-ha-ha! Emban berhati busuk, boleh.... kau bacalah....!" Sang prabu masih tertawa-tawa, kemudian terdengar suaranya bercampur isak, "Tak kunyana.... tak kusangka.... Adinda Ratu.... demikian keji... Setelah dia sendiri begini palsu, siapa pula yang dapat kupercaya ....? Suminten cepat berdiri dan menubruk sri baginda, merangkulnya dan berkata dengan kata-kata halus, "Aduh junjungan hamba, masih ada hamba di sini, mengapa Paduka berkeluh-kesah? Di sini hamba, Kakanda, di sini Suminten.... biarlah hamba yang akan mengusir semua kedukaan Paduka! Bukankah hamba tadi sudah memperingatkan Paduka agar jangan dibaca saja surat itu? Hanya menimbulkan malapetaka belaka, sang ratu pingsan dan Paduka berduka!"

Sang prabu memeluk dan merangkul leher selir terkasih ini, mengecup dahinya dan berkata mesra, "Aduh wong ayu... kalau tidak ada engkau agaknya sudah bosan aku hidup lebih lama lagi..."

Sementara itu, emban yang membaca surat, sama halnya dengan sang prabu dan sang ratu, terbelalak seolah-olah tidak percaya. Wajahnya pucat sekali dan mengulang membaca isi surat itu.

Puteranda mohon maaf telah berani menyurat kepada Ibunda, akan tetapi karena keselamatan Ibunda, terutama sekali Ramanda terancam bahaya, terpaksa puteranda melakukannya juga. Puteranda mendengar dari para penyelidik bahwa Ibunda Ratu telah merencanakan siasat untuk membunuh Ramanda dan Paduka. Dan puteranda setiap saat telah memasang mata-mata untuk mengawasi gerak-gerak Paduka dan puteranda yang selalu menjaga keselamatan Ramanda yang sudah sepuh (tua). Karena puteranda tidak berani mengingatkan sendiri kepada Ramanda berhubung hal Ini akan menyinggung nama baik Ibunda Ratu, terpaksa puteranda mohon kepada Ibunda sudilah kiranya memperingatkan Ramanda daripada bahaya yang tak tersangka-sangka Ibunda Ratu agaknya telah lupa diri dengan nafsu kebenciannya kepada Paduka yang dikasihi Ramanda, kepada puteranda yang dIangkat menjadi pangeran mahkota, dan kepada Ramanda yang agaknya telah menyia-nyiakan cinta kasihhya menurut bisikan hatI sang cemburu. Kemudian terserah kebijaksanaan Ibunda.

Demikianlah bunyi surat Pangeran Kukutan kepada Suminten. Emban tua itu terbelalak keheranan. Alangkah bedanya bunyi surat itu dengan yang dibaca emban cantik tadi! Padahal surat rampasan itu tak pernah berpisah dari tangan sang ratu. Emban itu mengerling ke arah emban muda yang kini bersimpuh di sudut sambil tersenyum-senyum penuh ejekan kepadanya: Maka tahulah emban tua ini bahwa ia dan junjungannya telah masuk perangkap, telah menjadi korban siasat yang busuk dan licik sekali, yang hanya dapat dilakukan oleh manusia-manusia berhati iblis!

Tahulah dia yang memang mengerti akan segala persoalan di dalam keraton, bahwa sang ratu telah terkena pancingan, bahwa Suminten sengaja memancing dengan membuka pintu taman dan berada di dalam pondok taman malam itu, kemudian emban muda yang menjadi kaki tangan itu datang membawa surat. Kini mengertilah ia bahwa sesungguhnya Suminten dan embannya itu tahu akan kedatangan sang ratu yang mengintai, lalu sengaja si emban membaca Surat secara palsu, kemudian bahkan membiarkan dirinya tertangkap. Dan kini jelas pula baginya bahwa segala sikap Suminten semenjak dipanggil datang, adalah sikap yang amat cerdik, menjalankan siasat dan sandiwara yang sukar dimainkan oleh lain orang, kecuali wanita cantik berhati ular beracun itu. Timbullah kemarahan besar di hati emban tua ini. Dan karena dia hanya seorang emban, maka kemarahannya ia timpakan kepada si emban cantik yang tersenyum-senyum Itu.

"Engkau manusia keji!" jeritnya sambil menubruk emban muda yang tentu saja melakukan perlawanan. Maka bergumullah kedua orang emban itu dan karena lebih muda, emban kepercayaan Suminten yang menang dan akhirnya dengan kain tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih pada emban muda itu dapat menunggangi emban tua dan menjambak-jambak sambil memukul dan mencakari muka lawannya.

Sang prabu yang masih memeluk Suminten lalu berseru memanggil pengawal. Lima orang pengawal yang mendengar ribut-ribut itu cepat muncul dan sang prabu lalu menudingkan telunjuknya ke arah sang ratu sambil berkata, "Tangkap sang ratu yang berkhianat, bersama emban tua keparat ini! Jebloskan sang ratu dalam tahanan dan bunuh mati sl emban tua!"

Lima orang pengawal itu ternganga keheranan, saling pandang dan sejenak mereka tidak bergerak. Menangkap sang ratu yang tua? Mereka takut kalau-kalau salah dengar, maka tidak berani bergerak.

"Apakah kalian tuli? Gusti sinuwun sudah memberi perintah, kalian masih berdiri seperti arca?" Suminten berseru marah.

"Akan tetapi... tetapi...."

"Kalian berani membangkang terhadap perintahku? Apakah pengawal-pengawalku sendiri hendak memberontak?"

Mendengar perintah ini, para pengawal itu hilang keraguannya dan cepat mereka menyeret tubuh emban tua yang sudah dltunggangi dan dipukuli emban muda itu dan karena sang permaisurl sudah siuman dan tengah menangis, para pengawal lalu memegang lengannya dengan halus namun paksa mereka membantunya bangun dan menggiringnya keluar dari ruangan itu.

Kembali Kerajaan Jenggala menjadi geger ketika beberapa hari kemudian rakyat mendengar bahwa sang ratu mereka ini telah "dibuang" atau "diasingkan", yaitu ditempatkan di luar istana, di sebuah pesanggrahan yang terletak di kaki Bukit Anjasmoro sebelah utara, sebuah pesanggrahan yang amat sederhana bagi seorang bekas permaisuri raja namun cukup mewah dan indah bagi rakyat kecil, lengkap dengan segala keperluan dan pelayan, namun pondok-pondok itu dikurung dinding tinggi dan terjaga oleh beberapa orang perajurit. Mengingat akan kedudukannya dan akan hubungan mereka, maka oleh sang prabu, bekas permaisuri ini tidak dihukum, hanya diasingkan dan dilarang meninggalkan tempat pengasingan ini sampai mati. Adapun emban tua yang menjadi abdi kepercayaan bekas permaisuri itu dihukum mati.

Sang ratu yang kini telah diasingkan, tidak merasa berduka akan nasib yang menimpa diri pribadi, melainkan dia merasa berduka dan gelisah memikirkan nasib sang prabu, dan terutama sekali nasib Kerajaan Jenggala. Dia maklum bahwa setelah ia gagal dalam melawan manusia-manusia iblis yang pada waktu itu sedang mencengkeram kerajaan, tidak akan ada lagi yang dapat melawanSuminten dan kaki tangannya.

Saking prihatin dan nelangsa hatinya, bekas ratu ini menanggalkan pakaiannya yang indah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian pendeta, dan setiap hari pekerjaannya hanya duduk bersamadhi, mengheningkan cipta dan memanjatkan doa kepada para dewata agar supaya sang prabu dan Kerajaan Jenggala dilindungi daripada kehancuran.

Dan memang tidak kelirulah apa yang dikhawatirkan bekas permaisuri ini. Kemenangan mutlak atas diri permaisuri yang siasatnya diatur oleh Suminten, benar-benar membuat Suminten dapat mencapai puncak kekuasaannya. Tepat pula seperti dugaan emban tua yang kini telah dihukum mati, semua yang terjadi semenjak di dalam taman sari, di pesanggrahan Suminten, sampai kejadian di depan sang prabu, telah lebih dahulu diatur oleh Suminten. Akal siasat yang amat cerdik dan licik itu adalah hasil pengolahan mereka bertiga, yaitu Suminten, Ki Patih Warutama, dan Pangeran Kukutan!

Diolah di antara buih-buih gelombang cinta berahi antara Suminten dan kedua orang pria yang ia layani bermain cinta secara bergiliran. Dan hasilnya hebat, seperti siasat yang diatur iblis sendiri. Sang ratu yang berbathin bersih itu mana mungkin dapat menghadapi siasat manusia-manusia iblis ini? Dia terjebak dan terpaksa mengaku kalah.

Kalau Suminten makin besar kekuasaan dan pengaruhnya atas diri sang prabu yang sudah tua, dan Pangeran Kukutan kini sudah dapat merasa yakin bahwa sepeninggal ayahandanya, pasti dia yang akan menjadi penggantlnya, adalah Ki Patih Warutama yang kini hidup penuh kemewahan dan kesenangan.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 28