Nona Berbunga Hijau

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Nona Berbunga Hijau (Kun-lun Hiap-kek)
Sonny Ogawa

Nona Berbunga Hijau (Kun-lun Hiap-kek), karya Kho Ping Hoo - Pegunungan Himalaya memanjang tanpa batas. Puncak-puncaknya menjulang tinggi menyambung bumi dengan langit. Puncak-puncak yang putih tertutup salju, tak pernah tampak, ditelan awan. Kokoh kuat tak pernah goyah diterjang awan setiap saat.

Dilihat dari jauh seperti naga raksasa tengah tidur bertapa. Belum pernah ada kaki manusia dapat menjelajah puncak-puncak yang tersembunyi dibalik awan. Jangankan manusia, malah segala macam burung yang bersayap sekalipun tidak kuat terbang sampai ke puncak-puncak itu.

Daerah propinsi Tibet memang merupakan daerah pegunungan, dimana-mana hanya pegunungan dan tanah tinggi. Di sebelah selatan dan barat terbaris Pegunungan Himalaya dengan puncak-puncak pegunungan Kun-lun dan di sebelah timur menghadang pegunungan Tangla. Dikepung gunung-gunung raksasa ini. Tibet merupakan daerah terpencil, terasing dari dunia luar menjadi daerah yang penuh rahasia dan kegaiban.

Di mana-mana tampak salju keputihan kalau kita melihat daerah ini dari angkasa. Hanya di sana sini ada kelompok batu-batu, hutan-hutan kecil yang hanya ditumbuhi pohon-pohon yang tahan dingin, kalau boleh bicara tentang tanah subur, agaknya hanya disepanjang sungai Yalu-cangpo saja yang merupakan lembah yang mengandung tanah subur. Di sinilah tempat orang-orang Tibet bercocok tanam, bertani. Di sini pula banyak orang yang tinggal.

Seperti juga keadaan di seluruh Tibet pada masa itu, di sepanjang lembah sungai ini yang berkuasa adalah bangsawan-bangsawan kaya raya yang menjadi tuan-tuan tanah, dan tentu saja para pendeta Lama. Sesungguhnya para pendeta Lama inilah yang memegang kekuasaan tertinggi karena pengaruh agama Buddha yang sudah diputar balik menjadi semacam kepercayaan tahyul.

Para Lama ini memegang kekuasaan dengan pengaruh mereka yang penuh rahasia, yang membuat mereka menjadi Buddha-Buddha hidup, menjadi semacam makhluk super-human, lebih tinggi tingkat hidup mereka dari pada manusia biasa. Tentu saja ini anggapan rakyat Tibet yang sudah dijejali pelbagai ketahyulan, di”lolohi” cerita gaib dan ditipu dengan pertunjukan-pertunjukan ilmu sulap dan ilmu hitam.

Akan tetapi oleh karena para tuan tanah dan bangsawan itu kaya raya dan dapat mendatangkan banyak barang-barang indah dari dunia barat dan timur, royal pula dengan membagi-bagi hadiah atau menyuap, maka para pendeta Lama ini bahkan menjadi kaki tangan mereka. Tentu saja bukan semua pendeta Lama berwatak rakus, mata duitan dan jahat.

Akan tetapi sedikit yang baik dan betul-betul saleh menjalankan kewajiban agamanya, merupakan beberapa butir beras baik di antara sepanci beras buruk, mereka ini tidak berpengaruh lagi dan bahkan takut akan suara hati sendiri. Memang sudah lazim bahwa orang-orang baik di antara banyak orang jahat, malah dianggap jahat.

Di sebelah utara sungai, di lembah yang paling subur tanahnya tampak bangunan-bangunan indah dari gedung para tuan tanah, rumah-rumah besar para bangsawan, yaitu para pembesar yang ditunjuk atau diangkat oleh perwakilan dari kerajaan besar di timur, yaitu kerajaan Goan-tiauw (Mongol) yang dengan cepatnya telah dapat menguasai seluruh Tiongkok dan malah merembes keluar Tiongkok.

Pembesar-pembesar yang hanya beberapa belas orang banyaknya ini hidup dari pajak-pajak yang mereka atur sendiri, dan terutama sekali hidup dari sokongan tuan-tuan tanah yang kaya raya itu sehingga mereka inipun merupakan kaki tangan tuan tanah yang berhak mengadili dan membenar atau mensahkan segala macam perbuatan para tuan tanah.

Selain bangunan besar-besar tempat tinggal para tuan tanah dan para pembesar ini, juga tampak bangunan-bangunan kelenteng yang besar-besar tempat tinggal para pendeta Lama. Bangunan ini berada di tempat yang tinggi, agak jauh di sebelah utara sungai. Sedangkan dekat dengan sungai, di antara sawah ladang, adalah perkampungan hamba tani atau hamba sahaya yang menjadi budak belian dan menjadi milik para tuan tanah itu.

Budak-budak ini tidak mempunyai kemerdekaan dan hak sama sekali. Bahkan mereka tidak berhak atas nyawa dan tubuh sendiri, tiada bedanya dengan ternak. Ya, memang mereka ini dianggap ternak dan disebut “ternak berbicara” oleh para tuan tanah.

Dan apa kata pendeta-pendeta yang dianggap sebagai manusia super human yang murni. Buddha-Buddha hidup itu? Mereka menegaskan dengan suara sungguh bahwa para hamba tani atau budak itu adalah orang-orang yang dilahirkan untuk menebus dosa-dosa mereka dalam penjelmaan dahulu.

Jadilah kamu orang-orang yang taat akan perintah tuanmu, memberontak adalah dosa besar sekali. Hanya dengan hidup taat dan saleh, kamu akan dapat mengurangi sedikit dari dosa-dosamu yang sudah bertumpuk-tumpuk dan kelak dalam penjelmaan mendatang akan menjadi orang yang lebih baik nasibnya.”

Demikianlah ucapan yang selalu terdengar oleh para budak, dan tentu saja mereka percaya penuh karena ucapan ini keluar dari mulut pendeta-pendeta Lama yang suci murni...

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo
Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Karya Kho Ping Hoo
Kun Lun Hiap Kek Jilid 01
Kun Lun Hiap Kek Jilid 02
Kun Lun Hiap Kek Jilid 03
Kun Lun Hiap Kek Jilid 04
Kun Lun Hiap Kek Jilid 05
Kun Lun Hiap Kek Jilid 06
Kun Lun Hiap Kek Jilid 07
Kun Lun Hiap Kek Jilid 08
Kun Lun Hiap Kek Jilid 09
Kun Lun Hiap Kek Jilid 10
Kun Lun Hiap Kek Jilid 11
CERSIL INDONESIA dan MANDARIN