Nona Berbunga Hijau Jilid 09

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Nona Berbunga Hijau (Kun-lun Hiap-kek) jilid 09
Sonny Ogawa

Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 09, karya Kho Ping Hoo - PEMUDA INI masih muda sekali, paling banyak berusia enam belas atau tujuh belas tahun, akan tetapi tubuhnya tegap dan kelihatan amat kuat, wajahnya membayangkan kegagahan dan dipunggungnya tampak sebatang pedang panjang. Pemuda ini sedang marah-marah dan sambil membanting kaki ia berseru.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

“Hwesio-hwesio bau! Sudah kukatakan namuku Kalisang dan aku bertanya baik-baik kepada kalian tentang kota Lasha. Mengapa sebaliknya kalian tidak tahu malu bertanya-tanya tentang keluargaku? Minggirlah, aku Kalisang tidak sudi bicara lagi denganmu.”

Bi Hong yang mengintai dari balik pohon menjadi heran sekali. Pemuda tegap itu berpakaian seperti orang Han, akan tetapi air muka dan bahasanya membayangkan bahwa dia adalah seorang Tibet.

Seorang di antara dua orang hwesio itu, yang tua bertubuh gemuk dan memegang tongkat bambu kuning kecil panjang tertawa. Suara ketawanya perlahan akan tetapi menggetarkan dan inilah suara ketawa yang tadi mengejutkan hati Lee Kek Tosu.

“Ha-ha-ha, pemuda bernyali harimau. Biarpun kau berlagak seperti orang Han, semua orang dapat melihat bahwa kau seorang bocah Tibet. Sebagai orang Tibet, mengapa kau begini kurang ajar berani bersikap kasar terhadap seorang pendeta Lama? Bahkan srigala-srigala hitam yang berkeliaran di sini tidak berani berlaku kurang patut terhadap pinceng. Hayo lekas katakan kau anak siapa, murid siapa dan apa keperluanmu mencari kota Lasha?” Ucapan terakhir ini mengandung ancaman dan tekanan.

“Pendeta bau! Justeru aku tidak mau menghormat semua pendeta Lama yang jahat-jahat, habis kau mau apa? Orang tuaku tidak ada sangkut paut, gurukupun tidak, tak perlu kau kenal mereka. Kau mau tahu mengapa aku hendak ke Lasha? Dengarlah, aku hendak membasmi keledai-keledai gundul!”

Hwesio gemuk pendek itu marah sekali, kawannya mengeluarkan suara. “Iihhh.....” dan meraba-raba kepalanya yang gundul.

Bi Hong juga kaget dan twa-suhengnya berbisik, “Hemmmm, bocah ini lancang mulut dan nekad sekali.” Akan tetapi Bi Hong memuji kagum. “Dia benar-benar bernyali harimau.”

“Bocah gila!” hwesio yang tadi meraba kepalanya membentak. “Setan cilik macammu ini berani mengeluarkan omongan seperti itu? Lihat, kedua tanganku cukup untuk membekuk lehermu, jangan sebut lagi para guru besar di Lasha itu? Jagalah!”

Hwesio ini yang memegang sebuah tongkat kayu sebesar mulut mangkuk, benar-benar melemparkan tongkatnya ke tanah, lalu dengan kedua tangan kosong ia menubruk, tangan kiri menghantam kepala, tangan kanan mencengkeram dada pemuda tanggung itu.

Serangan ini hebat sekali dan dari bunyi angin pukulannya dapat diketahui bahwa hwesio yang mukanya putih ini memiliki kepandaian lumayan dan tenaganya besar. Akan tetapi lebih hebat sambutan anak muda itu. Pukulan ke arah kepalanya ia tangkis dengan tangan kanan, sedangkan cengkeraman ke arah pundak ia biarkan saja. Sambil mengerahkan tenaganya ia malah membalas dengan pukulan telapak tangan ke arah jidat hwesio itu.

“Plakkk...!” Hwesio itu terkena tampar jidatnya, menjerit ngeri dan tangannya yang sudah mencengkeram pundak pemuda itu terlepas, tubuhnya lemas dan ia roboh telentang di atas tanah, tak bernapas lagi. Di atas jidatnya terdapat tanda lima buah jari tangan hitam dan seluruh mukanya berubah hijau.

“Ganas sekali.......!” Bi Hong berseru kaget.

Hwesio pendek gemuk itupun kaget melihat kawannya tewas seketika, lebih-lebih kagetnya melihat muka kawannya itu yang berubah kehijauan.

Hampir berbareng, hwesio gemuk pendek ini dan Lee Kek Tosu berseru kaget. “Cheng-hoa-pai...!”

Hwesio gemuk pendek itu dengan seruan marah lalu menyerang si pemuda, menggunakan tongkat bambunya dan ternyata ia lihai bukan main. Pemuda itupun mencabut pedangnya, pedang yang mengeluarkan sinar ungu. Ilmu pedangnya juga dahsyat dan ganas dan di lain detik mereka sudah bertempur mati-matian.

“Twa-suheng, apakah itu Cheng-hoa-pai?” tanya Bi Hong terheran-heran sambil memandang ke arah pertempuran.

Lee Kek Tosu menggelengkan kepalanya. “Tidak baik... tidak baik... maka suhu tidak pernah bercerita, juga pinto dan para sute tidak mau menceritakan kepadamu. Cheng-hoa-pai berpusat di Heng-toan-san, jadi masih tetangga kita. Akan tetapi oleh karena sepak terjang mereka tidak cocok dengan kita, maka di antara kita dengan mereka tidak ada hubungan sesuatu. Ketuanya adalah Cheng Hoa Suthai, seorang pendeta wanita yang amat lihai.”

Tadinya Bi Hong menengok suhengnya, kini ia melirik lagi ke arah pemuda itu dan melihat bahwa pertempuran makin hebat di mana kedua pihak sama kuatnya. Ia makin heran. Pemuda itu baru belasan tahun, dan pendeta gundul yang melawannya amat lihai, akan tetapi kenyataannya pemuda itu dapat mempertahankan diri dengan amat baiknya.

“Suheng tadi menyebut Cheng-hoa-pai setelah melihat dia, apakah dia anggautanya?”

“Sukar dikatakan demikian. Menurut pendengaran dan setahuku, Cheng-hoa-pai adalah perkumpulan wanita, tidak pernah mempunyai anak murid pria. Akan tetapi pukulannya tadi, yang mematikan hwesio itu, tidak salah lagi, itulah pukulan Cheng-hoa-tok-jiu (Pukulkan Beracun Kembang Hijau) dari Cheng-hoa-pai.” Pendeta Kun-lun ini menggeleng-geleng kepala lalu menggerendeng. “Apakah Ceng Hoa Suthai telah mengambil murid seorang pria?”

Sementara itu, pertempuran di depan makin seru. Hwesio pendek itu tadinya masih tertawa-tawa dalam marahnya, akan tetapi sekarang tidak bisa ia ketawa lagi, tidak sempat. Ternyata bocah itu benar-benar lihai dan gerakan-gerakannya amat dahsyat dan ganas.

“Setan kecil, pernah apa kau dengan siluman betina Ci Ying?” bentak pendeta gundul itu sambil menahan pedang lawan dengan tongkatnya.

Mendadak pemuda itu marah sekali mendengar pertanyaan ini. “Tutup mulutmu yang kotor, hwesio keparat!”

Dan pedangnya menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi hwesio itu menang pengalaman. Agaknya sekarang ia tahu bagaimana harus menghadapi pedang si pemuda. Ia berlaku lambat dan menghadapi lawannya dengan mengerahkan tenaga “lembek”.

Seorang ahli lweekang dapat menguasai tenaganya dan dapat menggunakan tenaganya dalam bentuk keras maupun lembek. Tahu bahwa pemuda itu keras hati, bernafsu dan bertenaga besar, ia lalu menggunakan siasat, melawan dengan tenaga lembek.

Pemuda itu kaget sekali ketika mendadak pedangnya terbetot dan seperti mengenai tempat kosong apabila bertemu dengan tongkat lawan. Dalam kagetnya, ia segera didesak dan sebentar saja repotlah ia karena berada dalam keadaan terdesak.

“Twa-suheng, mari kita bantu dia.”

“Bantu siapa?” tanya Lee Kek Tosu sambil memandang sumoinya. “Kedua-duanya kita tidak kenal, mengapa mesti mencampuri urusan orang lain?”

Merah wajah Bi Hong, lalu gadis ini tersenyum. “Twa-suheng, jangan salah sangka. Sekali-kali siauwmoi bukan hendak mencampuri urusan orang dan juga tidak hendak pilih kasih dan berat sebelah. Aku hendak turun tangan dengan alasanku yang kuat.”

“Alasan apa? Siapa yang hendak kau bantu?”

“Tentu saja membantu si pemuda itu. Dengan dia kita tidak pernah kenal, akan tetapi bukankah lawannya itu seorang pendeta Lama dari Tibet? Twa-suheng maklum bahwa yang membunuh kong-kong dan supek-couw adalah hwesio-hwesio dari Tibet. Semua hwesio Lasha jahat dan harus dibasmi. Karena itu biarpun tidak tahu urusannya, sudah terang yang jahat adalah si hwesio itu.”

Lee Kek Tosu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. “Alangkah banyaknya penganut-penganut To yang menyeleweng. Apakah dengan adanya tosu-tosu yang menyeleweng, kaupun lalu menganggap bahwa semua tosu itu jahat? Tidak bisa demikian, sumoi. Memang banyak hwesio Tibet yang jahat, akan tetapi tidak mungkin kita menyama ratakan saja dan menganggap seluruh hwesio Tibet itu jahat-jahat belaka.

"Kita harus berhati-hati, dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Kalau kita turun tangan secara sembrono lalu salah tangan membantu yang jahat mencelakakan yang baik dan benar, ke mana kita hendak menaruh muka sebagai murid-murid Kun-lun-pai?”

Bi Hong terbelalak memandang suhengnya, baru ia sadar bahwa ia tadi memang terburu nafsu. Ia menepuk pipi sendiri sambil berkata. “Ah, bocah tolol, hampir saja kau menimbulkan onar!”

Melihat lagak sumoinya, mau tak mau tosu itu tersenyum. “Biarpun begitu, kalau didiamkan saja, seorang di antara mereka tentu akan tewas. Mari, kita pisahkan mereka, sumoi!”

Ajakan Lee Kek Tosu ini pada saat yang tepat karena pada waktu itu pemuda tegap itu sudah kena ditendang lututnya dan roboh terguling. Hwesio itu tertawa mengejek dan mengejar dengan tongkat diputar-putar, siap menjatuhkan pukulan maut.

Tiba-tiba hwesio gemuk pendek itu melihat sinar kuning emas yang panjang dan cepat menyambar tongkatnya. Tongkatnya terpental dan ia kaget sekali melihat bahwa penangkisnya adalah seorang gadis cantik yang memegang sebatang pedang.

Ia kaget dan kagum sekali akan gerakan pedang yang demikian cepatnya dan tahu bahwa yang datang adalah seorang lawan yang berat pula. Namun ia penasaran sekali karena datang-datang gadis itu menolong pemuda itu, maka ia lalu mengayun tongkat menyerang Bi Hong.

“Siancai.....!” terdengar orang memuja dan tongkatnya kembali tertangkis pedang lain. Tangan hwesio itu tergetar dan ia merasa telapak tangannya sakit sekali. Ia menjadi semakin kaget melihat penangkisnya seorang tosu tua yang memegang pedang di tangan.

Celaka, pikirnya, kalau gadis tadi memiliki kiam-hoat yang amat cepat dan lihai, adalah tosu ini memiliki lweekang yang luar biasa kuatnya. Ia menarik napas panjang, cepat membungkuk untuk memberi hormat akan tetapi sekalian ia menyambar mayat kawannya, lalu memutar tubuh dan berlari cepat.

“Pinceng Ga Lung Hwesio tidak bersedia untuk bertempur, lain kali bertemu kembali.” Dengan kata-kata ini, ia lalu melompat ke atas punggung seekor kuda yang ternyata dilepas begitu saja di dekat tempat itu, lalu membalapkan tunggangannya.

Baik Bi Hong maupun Lee Kek Tosu terkejut bukan main mendengar hwesio itu menyebut namanya Ga Lung Hwesio. Itulah orangnya, atau seorang di antaranya, yang dicari-cari oleh Bi Hong, musuh besar yang dulu sudah menyerbu tempat tinggal kong-kong dan ibunya. Akan tetapi mereka tidak berdaya mengejar karena hwesio itu sudah membalapkan kudanya dan sudah jauh sekali, tidak mungkin dikejar dengan lari cepat.

“Manusia-manusia sombong! Perlu apa kalian datang mengganggu aku?” tiba-tiba suara yang galak dan nyaring ini membuat dua orang kakak adik seperguruan itu memutar tubuh dan memandang kepada pemuda tegap yang kini sudah berdiri menghadapi mereka dengan dada terpentang. Pemuda itu benar-benar gagah sekali, akan tetapi mudah diduga bahwa dia keras hati dan keras kepala.

Bi Hong adalah seorang gadis yang lincah gembira, akan tetapi mendengar suara dan melihat sikap yang galak ini naiklah darahnya. Ia menghadapi pemuda itu dan berkata mengejek.

“Setan, kenapa tingkahmu begini? Kalau tidak twa-suheng dan aku datang mengganggu, apakah kau sekarang bukannya sudah menjadi setan tak berkepala? Huh, ditolong orang tidak mengerti, malah memaki orang sombong. Yang sombong engkau, bukan kami.”

Ditegur begitu, pemuda itu merah mukanya, akan tetapi matanya melotot berani kepada Bi Hong. “Siapa membutuhkan pertolonganmu?”

“Eh, eh, sudah terang kau jatuh dan hampir dibinasakan hwesio itu, masih bilang tidak butuh pertolonganmu!” kata Bi Hong penasaran.

Pemuda itu tersenyum mengejek. “Aku belum mati, mana bisa dihitung kalah? Kalau kalian tidak datang mengganggu, hwesio jahanam itu pasti sudah mampus di tanganku. Hemm, kalian benar-benar mengganggu. Sudahlah!” Pemuda itu memutar tubuh dan hendak pergi.

“Congsu (tuan gagah), tunggu dulu!” Lee Kek Tosu berseru dan mengejar. Setelah pemuda itu membalikkan tubuh menghadapinya, sambil menjura tosu tua ini bertanya. “Bolehkah pinto mengetahui congsu masih ada hubungan apa dengan Cheng Hoa Suthai dan kenapa congsu memusuhi Ga Lung Hwesio dari Lasha?”

Mendengar pertanyaan ini, baru Bi Hong ingat bahwa pertanyaan kedua itu penting sekali. Dia sendiri turun gunung dengan maksud membalas dendam kepada Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio, mengapa sekarang bocah kepala batu ini juga memusuhi Ga Lung Hwesio?

Dengan matanya yang lebar dan bersinar tajam, bocah itu memandang Lee Kek Tosu lalu menjawab, suaranya nyaring dan mantap, tanda bahwa dia orang jujur, terbuka, keras hati dan tidak mau mengalah akan tetapi penuh dengan kegagahan dan keadilan.

“Cheng Hoa Suthai adalah sucouwku (nenek guru) dan aku tidak mengenal siapa itu Ga Lung Hwesio. Pendeknya, semua hwesio Tibet kepala gundul adalah musuh-musuhku yang harus kubunuh semua. Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi, harus mengejar keledai gundul itu!” Setelah berkata demikian pemuda itu melompat jauh dan berlari cepat sekali melakukan pengejaran.

“Twa-suheng, pemuda itu agaknya juga mempunyai permusuhan yang sama dengan kita,“ kata Bi Hong. “Mari kita juga menuju ke Lasha. Jika kita dan dia bekerja sama, kedudukan kita lebih kuat.”

Lee Kek Tosu memandang sumoinya dengan sinar mata tajam menyelidik. “Sumoi, bukankah karena kau mengkhawatirkan bocah itu dan ingin membantunya menghadapi para pendeta Lasha yang lihai?”

Bi Hong menjadi merah mukanya. Karena berkumpul sejak kecil, ia maklum bahwa pandangan twa-suheng ini tajam luar biasa. Iapun tidak bisa membohong terhadap twa-suheng ini, maka sambil mengangguk, ia menarik napas dan berkata,

“Pemuda itu kasar dan keras hati, suheng. Akan tetapi entah mengapa, aku mendapat perasaan bahwa dia bukan orang sembarangan, ada sifat-sifat gagah pada dirinya, dan tentu ia mengandung sakit hati besar sekali terhadap para pendeta di Lasha. Akan tetapi karena dia kasar dan sembrono, pasti dia akan celaka. Kitapun bertujuan mencari musuh besar kong-kong, terutama Ga Lung Hwesio yang lari ke Lasha, apakah tidak baik kita sekalian menyusul dan membantu pemuda itu?”

Lee Kek Tosu mengangguk-angguk, lega hatinya karena sumoinya tertarik dan kagum melihat pemuda itu adalah sewajarnya, bukan terselip kekaguman wanita terhadap pria. “Memang perasaanmu tidak jauh dengan perasaanku, sumoi. Pemuda itu itu bukan sembarangan, dia murid Cheng Hoa Suthai yang terkenal ganas, akan tetapi pemuda itu sendiri gagah dan jujur. Akan tetapi, di daerah Tibet ini sejak dulu penuh dengan soal-soal penasaran, banyak terjadi penindasan dan sakit hati.

"Kalau kau menuruti hati dan perasaan, jangan-jangan akan terjadi apa yang dikhawatirkan oleh suhu, yaitu permusuhan yang tiada habisnya antara Tibet dan Kun-lun. Persoalanmu dengan para pendeta di Lasha seperti kata suhu adalah urusan ayahmu, maka lebih baik kita mencari dulu ayahmu sebelum turun tangan. Kalau kita salah tangan, bukankah suhu akan marah sekali?”

Bi Hong tidak dapat membantah. Memang ia tadi terlalu menurutkan nafsu, ingin lekas-lekas membalas musuh besarnya dan juga khawatir melihat pemuda tadi melakukan pengejaran seorang diri. Urusan sendiri belum beres, mengapa melibatkan diri dengan urusan orang lain? Ia mengangguk dan dua orang itu lalu melanjutkan perjalanan mereka, tidak ke Lasha, melainkan ke Loka, dusun di lembah sungai Yalu-cangpo.

Memang mendiang Ong Hui tidak banyak bercerita kepada para tosu Kun-lun-pai. Bagaimana nyonya muda itu dapat bercerita mengeluarkan isi hatinya tentang suaminya yang dirampas wanita lain? Ia menderita seorang diri, sama sekali tidak mau menceritakan pengalamannya ketika berhadapan dengan Ci Ying yang merampas suaminya. Oleh karena itulah, puterinya tidak mendengar banyak dari para tosu di Kun-lun.

Bahkan To Gi Couwsu sendiri hanya tahu bahwa anak itu puteri Wang Sin murid Cin Kek Tosu dan bahwa Wang Sin berasal dari Loka. Ong Hui menceritakan ke mana perginya Wang Sin, hanya bilang bahwa suaminya itu meninggalkannya untuk menyelesaikan urusan dendam para budak di Tibet.

Maka ketika memasuki dusun Loka, Bi Hong dan Lee Kek Tosu sama sekali tidak tahu bahwa dusun ini sudah berubah banyak. Para hamba taninya sudah berganti lain orang, juga tuan tanahmya.

Akan tetapi melihat cara para budak bekerja di sawah, tidak dijaga tukang-tukang pukul, bekerja rajin sambil bernyanyi-nyanyi, Bi Hong dan Lee Kek Tosu mengerti bahwa keadaan para budak itu tidak boleh dibilang sengsara, dan kenyataan bahwa mereka suka bekerja dengan gembira tanpa dijaga tukang pukul, membuktikan bahwa jaminan hidup mereka tentu saudah mencukupi.

Mereka berhenti bekerja dan memandang dengan heran dan kagum ketika melihat kedatangan seorang gadis Han yang cantik jelita bersama seorang tosu.

“Apakah di antara saudara ada yang tahu di mana tempat tinggal seorang bernama Wang Sin?” tanya Bi Hong dalam bahasa Tibet yang fasih. Memang gadis ini, juga Lee Kek Tosu, paham bahasa Tibet, bahkan Bi Hong sejak kecil sudah diberi pelajaran bahasa ini oleh To Gi Couwsu yang tahu bahwa ayah anak ini adalah seorang Tibet. Tidak mengherankan apabila bahasanya cukup baik.

Akan tetapi para budak itu tidak mengenal Wang Sin dan mereka menggeleng-geleng kepala setelah saling bertanya kalau-kalau ada yang mengenalnya. Tiba-tiba seorang kakek tua yang memegang cangkul membungkuk-bungkuk maju menghadapi Bi Hong. Wajah orang tua ini keriputan dan kulitnya coklat karena dimakan panas matahari. Matanya yang sipit hampir meram itu mengamat-amati Bi Hong, lalu ia bertanya.

“Nona masih ada hubungan apakah dengan orang yang bernama Wang Sin?” Suaranya mengandung curiga dan pandang matanya menyelidik.

Bi Hong dapat menangkap suara curiga ini, maka ia tersenyum manis untuk melegakan hati orang. “Lopek,” katanya manis budi, “Aku masih ada hubungan dekat dengan Wang Sin itu, apakah lopek kenal padanya dan di mana adanya dia sekarang?”

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya lalu menarik napas panjang. “Dia pahlawan besar... pahlawan besar....” setelah berkata demikian ia lalu kembali ke tempat kerjanya sambil berkata kepada kawan-kawannya. “Kawan-kawan, hayo kita bekerja lagi, kita tidak bisa meninggalkan pekerjaan!”

Semua orang teringat akan pekerjaannya dan kembalilah mereka sibuk dengan pekerjaannya di sawah. Bi Hong girang sekali mendengar ucapan tadi, akan tetapi iapun heran mengapa kakek itu agaknya tidak suka banyak bercerita tentang Wang Sin, ayahnya. Sambil berkedip pada twasuhengnya, ia lalu menghampiri kakek itu dan berbisik.

“Lopek kau curiga padaku, itu sudah sepatutnya. Akupun tahu bahwa dia itu seorang pahlawan besar. Ketahuilah, aku ini puterinya dan semenjak kecil aku tidak melihat ayahku itu. Aku hendak mencari dia, tolonglah kau memberi petunjuk.”

Kakek itu tampak kaget lalu memandang Bi Hong penuh perhatian. “Kau.... kau tidak sama dengan Ci Ying, apa betul kau anak Ci Ying?”

“Bukan, lopek. Ibuku she Ong....”

“Ah, nyonya muda Han itu?”

Bi Hong terkejut dan makin girang. Tentu orang tua ini dapat bercerita banyak, maka ia lalu menggandeng tangannya diajak keluar dari sawah. “Lopek tolonglah aku, ceritakanlah tentang ayah. Biar kau tinggalkan pekerjaanmu sebentar, aku yang bertanggung jawab kalau tuan tanah marah kepadamu.” Bi Hong menepuk-nepuk gagang pedangnya.

Kakek itu memandang kagum. “Kau gagah, seperti dia...! Baiklah, dengar ceritaku.” Ia lalu duduk di galengan sawah dan bercerita, didengarkan oleh Bi Hong dan Lee Kek Tosu yang duduk di depannya, di atas tanah lempung.

Berceritalah kakek itu tentang diri Wang Sin dan Ci Ying, bagaimana mereka menjadi korban tuan tanah sampai mereka itu lari minggat, bagaimana ayah dua orang muda itu tewas oleh kaki tangan tuan tanah.

Kemudian ia bercerita pula dengan gembira, betapa Wang Sin enam belas tahun yang lalu datang lagi dengan isterinya, seorang nyonya muda bangsa Han yang cantik dan gagah dan betapa suami isteri ini membasmi tuan tanah di Loka dan membebaskan semua budak yang tertindas.

Juga ia ceritakan bagaimana kemudian muncul Ci Ying yang sudah berubah menjadi seorang wanita gagah yang amat ganas dan mengerikan, dan kemudian betapa isteri Wang Sin itu diserang oleh Ci Ying lalu pergi meninggalkan suaminya.

Bi Hong mendengarkan cerita itu dengan amat terharu. Ia sampai mengucurkan air mata ketika mendengar penuturan tentang ayahnya di waktu muda dan menggertakkan giginya mendengar penindasan tuan tanah. Akan tetapi ia berdebar dan menjadi pucat ketika mendengar tentang pertemuan Ci Ying, tunangan ayahnya itu dengan ibunya sampai ibunya diserang kemudian ibunya pergi meninggalkan ayahnya dan gadis Tibet itu.

“Kemudian bagaimana, lopek yang baik?” tanyanya, suaranya gemetar dan wajahnya masih pucat.

Kakek itu sekarang percaya bahwa gadis ini benar-benar puteri Wang Sin dan nyonya Han itu, sekarang ia ingat bahwa wajah gadis ini memang sama dengan wajah nyonya Han yang menjadi isteri Wang Sin. Ia menghela napas dan melanjutkan penuturannya.

“Memang Ci Ying, gadis yang dulu riang jenaka itu telah berubah menjadi wanita ganas sekali. Ia membunuh-bunuhi kaki tangan tuan tanah dengan amat kejam. Kemudian Wang Sin dan Ci Ying mengawal kami para budak untuk melarikan diri ke timur.

"Semua budak sudah pergi membawa bekal yang cukup untuk memulai hidup baru. Jasa mereka amat besar, selama hidup akan diingat oleh kami bangsa budak. Sayang sekali dalam kehidupan Wang Sin muncul peristiwa yang amat sulit dan ruwet antara dia, isterinya orang Han itu, dan tunangannya.

"Aku sendiri setelah merantau sepuluh tahun lebih, tidak dapat menahan rinduku akan kampung halaman di Loka di mana aku dilahirkan dan dibesarkan, biarpun dalam keadaan menderita maka aku lalu kembali ke sini, bekerja lagi sebagai budak. Akan tetapi, keadaannya sekarang lain. Para budak tidak tertindas seperti dulu. Kalau masih seperti dulu, mana aku sudi bekerja lagi seperti budak?”

Saking bingung dan terharunya mengingat akan nasib yang diderita oleh ibunya, sampai lama Bi Hong tidak dapat berkata-kata. Adalah Lee Kek Tosu yang berkata. “Terima kasih banyak atas semua penuturanmu, loheng. Hanya sekarang kami mohon keterangan penting darimu. Apakah kau tahu, di mana sekarang kami dapat menjumpai Wang Sin?”

“Mana aku bisa tahu? Dia dan Ci Ying setelah mengantar kami sampai jauh, lalu pergi dan sampai sekarang tidak pernah muncul kembali. Akan tetapi, perbuatannya yang gagah dan mulia itu ternyata telah membuat para tuan tanah berubah dan kehidupan para budak sekarang tidak begitu buruk seperti dahulu. Sampai mati aku tak dapat melupakan Wang Sin dan Ci Ying!”

Karena tidak bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang di mana adanya ayahnya, setelah berada di dusun tempat kelahiran ayahnya itu selama tiga hari, Bi Hong dikawani twa-suhengnya, lalu mulai dengan perjalanannya mencari Wang Sin. Banyak dusun mereka jelajahi dan ternyata nama Wang Sin dan Ci Ying terkenal sekali, dikenal oleh hampir semua budak di daerah itu.

Akan tetapi sungguh menyedihkan sekali, keadaan para budak yang baik nasibnya atau setidaknya yang tidak begitu tertindas lagi oleh tuan tanah dan begundal-begundalnya hanyalah di dusun Loka itulah. Di dusun-dusun lain, keadaan masih seperti dahulu ketika Wang Sin masih menjadi budak.

Sampai berbulan-bulan Bi Hong dan Lee Kek Tosu mencari Wang Sin di dusun-dusun sekitar Tibet, namun hasilnya sia-sia, bukan saja Wang Sin tidak dapat ditemukan, bahkan namanya hanya dikenal di kalangan budak sebagai dongeng seorang pahlawan budak.

Memang, semenjak berabad-abad para budak ini hidup seperti hewan ternak, tidak ada yang memikirkan nasib mereka, jangankan membela. Maka pembelaan Wang Sin untuk membebaskan para budak di Loka merupakan hal yang mirip dengan dongengan bagi mereka itu.

“Suheng, kiranya sudah cukup kita mencari ayah di daerah ini. Ayah tidak ada di sini dan kurasa kalau ayah tidak pindah ke timur, tentu ayah berada di Lasha,” akhirnya Bi Hong berkata kepada suhengnya dengan hati kecewa.

“Tidak mungkin di Lasha. Di sana berkumpul musuh-musuh besar ayahmu, mana bisa ia tinggal di sana? Agaknya betul kalau dia sudah pindah jauh dari Tibet yang kini menjadi tempat berbahaya baginya karena semua pendeta tentu memusuhinya setelah dia membunuh pendeta-pendeta di Loka.”

“Suheng, pesan suhu untuk mencari ayah lebih dulu sudah kita penuhi, sekarang setelah tidak berhasil mencari ayah, aku mau langsung saja pergi ke Lasha untuk mencari Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio.”

“Apa kau sudah pikir masak-masak akan hal ini, sumoi? Di Lasha berkumpul banyak pendeta-pendeta yang sakti.”

“Apa kau takut, suheng? Biarlah siauwmoi pergi sendiri dan twa-suheng kembali saja ke Kun-lunpai memberi laporan kepada suhu.”

Lee Kek Tosu mengerutkan keningnya. “Kau bicara apa ini, sumoi? Kau yang masih begini muda tidak gentar menghadapi musuh, apakah kau kira aku yang sudah tua takut mati? Tugasku membantu dan melindungimu, biar bertaruhkan nyawa sekalipun pinto harus mengawanimu ke Lasha.”

Bi Hong cepat-cepat menjura kepada suhengnya minta maaf, hatinya gembira. Memang dengan bantuan suhengnya ini, ia tidak takut biarpun mendengar di Lasha banyak terdapat orang-orang sakti. Sebagai seorang harimau betina yang muda mana ia takut melawan musuh? Maka ia segera mengajak suhengnya berangkat ke Lasha dengan penuh kegembiraan.

Berbeda dengan sumoinya, diam-diam Lee Kek Tosu berkhawatir karena tosu ini sudah cukup maklum bahwa tempat yang mereka tuju adalah pusat di mana berkumpul hwesio-hwesio Tibet yang berilmu tinggi. Ia tidak takut akan keselamatan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatan sumoinya yang masih begini muda.

Pada suatu hari mereka tiba di luar kota Lasha, di sebelah timur kota kurang lebih dua puluh lie dari kota Lasha. Karena hari itu amat panasnya, mereka menjadi lelah dan beristirahat dibawah pohon yang teduh, yang tumbuh di pinggir jalan.

Bi Hong mengeluarkan makanan kering yang dibekalnya dan Lee Kek Tosu mengeluarkan tempat airnya untuk minum. Sudah hampir satu tahun dua kakak beradik seperguruan ini merantau di daerah Tibet dan perhubungan mereka sudah seperti kakak dan adik atau malah seperti keponakan dan paman.

“Twa-suheng, kau banyak membuang waktu dan tenaga untuk kepentinganku. Benar-benar kau seorang suheng yang amat baik,” kata Bi Hong terharu melihat kakek yang sudah tua itu menenggak air.

Lee Kek Tosu tersenyum. “Sumoi, mengapa kau mengeluarkan kata-kata sungkan? Semenjak kau masih bayi, aku sudah berada di sampingmu, malah dahulu akulah yang menggendongmu dan menimang-nimangmu. Terhadap kau, aku adalah suheng menurut hubungan perguruan, akan tetapi di dalam hatiku kau tiada bedanya seperti anak, keponakan, atau cucuku sendiri.”

Bi Hong terharu, akan tetapi karena dia mempunyai watak gembira, ia tertawa. “Twa-suheng, mana kau pantas menjadi engkong (kakek). Eh, twa-suheng, apakah kau dahulu tidak mempunyai keluarga sama sekali?”

Ditanya begini, wajah kakek itu menjadi muram. “dahulu aku mempunyai seorang isteri, akan tetapi..... kami tidak cocok pikiran, kami cekcok lalu... lalu bercerai. Semenjak itu aku masuk menjadi tosu.”

Bi Hong menyesal telah mengajukan pertanyaan itu yang berarti mengingatkan twa-suhengnya kepada pengalaman yang tidak bahagia itu. Ia tidak tahu bahwa sebetulnya dahulu ketika masih muda, isteri twa-suhengnya itu tidak setia dan melakukan perbuatan hina dengan seorang teman baik suhengnya itu sendiri.

Dalam kemarahannya, twa-suhengnya itu membunuh teman dan isterinya, kemudian merasa menyesal dan menjadi seorang tosu di Kun-lun-pai, menjadi murid kepala dari To Gi Couwsu. Ini pula sebabnya mengapa melihat nasib Ong Hui, seorang isteri yang amat setia akan tetapi ditinggalkan suaminya.

Lee Kek Tosu merasa kasihan dan terharu sekali karena Ong Hui mempunyai watak baik dan nasib yang sebaliknya dari pada isterinya. Maka tidak mengherankan apabila ia menyayang puteri Ong Hui dan menganggap Bi Hong seperti anak sendiri.

Selagi Lee Kek Tosu dan Bi Hong bercakap-cakap sambil mengasoh di bawah pohon yang rindang, tiba-tiba dari jurusan timur mendatangi empat orang hwesio. Langkah kaki mereka yang ringan dan gerakan yang cepat dalam berlari menandakan empat orang hwesio itu adalah orang-orang yang memiliki ginkang tinggi dan berkepandaian.

“Hwesio-hwesio itu tentu hwesio dari Lasha dan hendak pergi ke kota itu,” kata Lee Kek Tosu.

“Lebih baik kita jangan mencampuri urusan di sini, kita baik menyimpan tenaga untuk menghadapi musuh-musuh kita yang sebenarnya.”

Akan tetapi setelah hwesio-hwesio itu datang dekat Bi Hong mengeluarkan seruan marah. “Ihhh, bukankah dia si jahanam Ga Lung Hwesio!” Ia melompat sambil menghunus pedangnya.

Lee Kek Tosu juga melihat bahwa seorang yang berlari di pinggir kiri adalah Ga Lung Hwesio, maka iapun ikut bersiap sedia. “Bagus,” katanya, “kita tak usah sukar-sukar mencari!”

Ga Lung Hwesio juga sudah melihat nona dan tosu itu. Ia menghentikan larinya dan berkata kepada kepada tiga orang kawannya itu. “Harap samwi suheng (kakak seperguruan bertiga) berhenti sebentar. Siluman betina dan tosu bau dari Kun-lun-pai ini agaknya hendak menghadang kita.”

Lee Kek Tosu memperhatikan tiga orang hwesio yang disebut suheng oleh Ga Lung Hwesio. Mereka ini adalah orang-orang Tibet asli, bertubuh tinggi besar berkulit hitam. Melihat sinar mata mereka, dapat diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekang yang tidak boleh dipandang ringan.

Sebelum Bi Hong mengeluarkan suara, Lee Kek Tosu yang tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan mereka, cepat menjura kepada tiga orang hwesio hitam itu dan berkata.

“Pinto dan sumoi mempunyai permusuhan dengan dua orang hwesio Lasha, yaitu Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio. Dengan para losuhu yang lain, kami berdua tidak mempunyai urusan dan tidak ingin menimbulkan keributan.”

Ga Lung Hwesio mengeluarkan suara mengejek dan seorang di antara tiga orang hwesio tinggi besar itu menjawab, “Kami bertiga, Ge Khan, Ge Bun, dan Ge Thun adalah tiga orang murid Thu Bi Tan suhu. Entah urusan apa yang hendak toyu bereskan dengan suhu dan Ga Lung sute?”

Kagetnya hati Lee Kek Tosu bukan main mendengar bahwa tiga orang hwesio ini adalah murid-murid Thu Bi Tan Hwesio. Tidak bisa lain, ia harus menggempur mereka semua karena sebagai murid-murid Thu Bi Tan, tentu saja mereka akan membela guru mereka.

Sementara itu Bi Hong sudah membentak Ga Lung Hwesio. “Ga Lung Hwesio, bukankah kau bersama Thu Bi Tan Hwesio belasan tahun yang lalu telah menyerbu ke Kun-lun dan membinasakan Ong Bu Khai, Cin Kek Tosu, dan merusak tempat tinggalnya?”

Ga Lung Hwesio tertawa lagi. “Betul kata-katamu. Dua orang itu telah membiarkan murid-murid mereka melakukan pengacauan di Loka dan karenanya kami telah menghukum mereka. Apa hubungannya dengan kamu?”

Muka Bi Hong menjadi merah dan matanya berapi-api, “Hwesio keparat! Ketahuilah, bahwa aku Wang Bi Hong adalah cucu Ong Bu Khai. Ga Lung Hwesio, hutang nyawa bayar nyawa, bersiaplah kau untuk mati!”

“Ha-ha-ha, begitukah? Kiranya masih ada buntutnya peristiwa itu. Kau ini bocah kemaren sore, sombong amat hendak melawan Ga Lung Hwesio? Ha-ha-ha!”

“Hwesio tengik lihat pedang!” Cepat sekali pedang Bi Hong menyambar ke arah leher hwesio itu.

Ga Lung Hwesio sudah pernah menyaksikan kelihaian dan kecepatan pedang Bi Hong ketika nona ini membantu Kalisang, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Biarpun mulutnya mentertawakan karena ia berada di dekat para suhengnya, namun di dalam hati ia tidak berani memandang rendah. Ia lalu mengelak dan menggerakkan toyanya. Di saat lain mereka sudah bertempur hebat sekali.

Tiga orang hwesio itu bukanlah hwesio sembarangan. Tingkat mereka malah lebih tinggi dari tingkat Ga Lung Hwesio yang terhitung sutenya, karena mereka ini adalah tiga orang murid Thu Bi Tan Hwesio dan di Lasha mereka mempunyai kedudukan yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, mereka tentu saja tidak sudi melakukan pengeroyokan dan hanya melihat saja sute mereka bertanding dengan gadis itu. Apalagi kalau mereka ingat bahwa sute mereka itu jauh lebih tua dari pada lawannya dan dalam hal ilmu silat, dilihat sekelebatan saja sute mereka takkan kalah.

Lee Kek Tosu juga maklum akan hal ini dan iapun tidak berani sembarangan turun tangan membantu sumoinya yang berarti mengeroyok Ga Lung Hwesio. Kalau ia terjun mengeroyok, maka tiga orang hwesio itupun mendapat alasan untuk turun tangan mengeroyok pula. Oleh karena itu, tosu yang cerdik ini lalu menjura kepada mereka sambil berkata.

“Karena Thu Bi Tan adalah suhu sam-wi, untuk menentukan siapa yang lebih unggul, pinto persilahkan di antara sam-wi maju mewakili suhu sam-wi. Pinto percaya penuh mengingat kedudukan kita, sam-wi tidak akan begitu rendah untuk melakukan pengeroyokan!”

Di antara tiga orang hwesio ini, kepandaian Ge Khan hwesio yang paling tinggi, juga dia yang paling tua dan paling berangasan. Mukanya menjadi makin hitam ketika mendengar ucapan itu.

“Tosu Kun-lun! Kau anggap pinceng ini siapakah maka mengeluarkan kata-kata demikian? Untuk menghadapi seorang tosu seperti kamu, pinceng seorang diri, sudah lebih dari cukup, untuk apa mencapaikan suhu? Sambutlah toya ku!”

Ge Khan Hwesio sudah menerjang maju dengan memutar toyanya yang mendatangkan angin bersiutan. Lee Kek Tosu bersikap waspada, cepat melompat mundur mencari tempat yang lega sambil menghunus pedangnya. Dua orang kakek jagoan ini lalu mulai bertempur.

Dua orang hwesio yang lain hanya menonton sambil menahan napas karena sudah dapat dilihat bahwa pertempuran-pertempuran itu, baik sute mereka Ga Lung Hwesio yang melawan nona itu, maupun Ge Khan Hwesio yang melawan tosu, adalah pertempuran mati-matian yang seimbang. Pedang nona itu cepat dan lihai, sedangkan pedang di tangan tosu itu mantap dan tenang, keduanya merupakan lawan yang amat berat.

Pertempuran antara Ga Lung Hwesio dan Bi Hong lebih ramai kelihatannya karena jalannya lebih cepat. Hal ini adalah karena kelihaian ilmu pedang Bi Hong memang terletak kepada kecepatan dan kelincahannya. Ilmu pedangnya memang tidak ada bedanya dengan suhengnya, akan tetapi kalau Bi Hong dapat mewarisi kecepatannya adalah Lee Kek Tosu mewarisi kekuatannya.

Inipun tidak aneh kalau diingat bahwa waktu yang dipergunakan oleh Lee Kek Tosu lebih lama dan tosu inipun lebih kuat ilmu batinnya, maka tentu saja memiliki lweekang yang lebih dalam.

Dengan kecepatan gerakan pedangnya Bi Hong dapat membuat Ga Lung Hwesio menjadi sibuk sekali. Dalam jurus ke tujuh puluh ujung pedang Bi Hong yang berkelebat-kelebat seperti kilat menyambar telah berhasil melukai ujung pundak kiri Ga Lung Hwesio.

Bukan main marah, kaget dan penasaran rasa hati hwesio ini. Ia mengempos semangatnya, mengerahkan lweekangnya dan pandangannya menjadi amat tajam menusuk, mulutnya bergerak-gerak dan sambil melayani serangan-serangan Bi Hong, ia berkata, suaranya halus dan manis seperti seorang ibu membujuk anaknya.

“Nona Wang Bi Hong, kau tentu lelah.... lelah sekali. Untuk apa bertempur terus? Lebih baik mengaso.... ah, nyamannya angin, enaknya mengaso dan tidur....”

Inilah ilmu yang disebut “merampas semangat” atau semacam ilmu hypnotisme yang menguasai semangat dan pikiran orang. Suaranya lemah lembut dan manis, sungguh jauh bedanya dengan mata yang berubah seperti mata setan itu.

Bi Hong tidak tahu mengapa musuhnya bicara seperti itu, akan tetapi ia benar-benar merasa lelah dan ingin sekali mengaso. Hanya karena merasa heran akan sikap musuhnya, ia mempertahankan diri dan mencoba untuk membantah kehendak pikirannya.

“Nona, bukankah kita sudah bertempur seratus jurus lebih?” kembali hwesio itu bertanya dengan suara halus.

Entah mengapa, di luar kehendaknya mulut Bi Hong menjawab. “Betul, seratus jurus lebih.” Sambil berkata demikian, ia masih mengirim tusukan yang dapat ditangkis oleh hwesio itu. Bi Hong merasa bahwa tangkisan itu tidak bertenaga, maka ia girang sekali dan terus mendesak.

Ia tidak tahu bahwa karena tenaga lweekangnya dikerahkan untuk menjalankan ilmu “merampas semangat” itu, maka tentu saja tenaga Ga Lung Hwesio menjadi banyak berkurang.

“Kalau begitu, tentu enak mengasoh, bukan?” hwesio itu menyusul pertanyaannya cepat-cepat.

“Yah.... tentu enak sekali.....” jawab Bi Hong dan otomatis ia memperlambat serangannya, merasa lelah dan ingin mengaso.

“Kalau begitu mengasohlah, duduklah, tidurlah.....” suara Ga Lung Hwesio itu mendesak dan mempunyai pengaruh luar biasa besarnya.

Lee Kek Tosu sudah berpengalaman luas, mendengar pula suara-suara ini dan tahulah ia apa yang akan dilakukan oleh Ga Lung Hwesio terhadap sumoinya. Ia melihat gerakan sumoinya makin lemah dan bukan main gelisahnya.

“Sumoi, jangan dengarkan dia. Lawan terus!” Ia berseru dan karena perhatiannya terpecah inilah maka dia membuka lowongan dalam pertahanan sinar pedangnya.

Lawannya Ge Khan Hwesio yang berilmu tinggi melihat lowongan ini. Tadinya hwesio ini biarpun memiliki tenaga yang lebih besar, merasa bingung karena biarpun ia berada di pihak yang mendesak, namun pertahanan pedang lawannya amat kuat dan tidak dapat ditembus oleh toyanya.

Sekarang, pada saat tosu itu mengkhawatirkan keselamatan sumoinya dan memecahkan perhatian, kelihatan lowongan itu. Cepat toyanya menyambar ke depan, dan. lambung Lee Kek Tosu sudah terkena sodokan toya dengan tepat sekali. Tosu itu mengeluarkan jerit tertahan, mukanya pucat dan tubuhnya terdorong ke belakang. Dengan tangan kiri ia menekan lambungnya lalu mulutnya dipentang dan darah segar tersembur keluar...

Jilid selanjutnya,