Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 03, karya Kho Ping Hoo - WANG SIN juga tidak banyak cakap lagi, segera menanggalkan pakaian budak yang butut dan melemparkan pakaian ini di sudut ruangan. Kemudian ia mengenakan pakaian hwesio itu dan tak lama kemudian ia sudah menjadi seorang pendeta Lama.

“Kau sembunyi di sini dulu, pinceng akan memeriksa keadaan di luar,” kata hwesio itu kemudian, lalu ia pergi ke luar dengan tenang.
Wang Sin yang ditinggal seorang diri di ruangan penuh patung itu, merasa seram juga. Semenjak kecil ia sudah dijejali dongeng dan kepercayaan bahwa patung-patung itu menjadi tempat tinggal para roh suci, para dewa yang menghubungi manusia melalui patung. Ia merasa seram dan takut, akan tetapi ketika melihat sebuah patung Dewi Kwan Im yang berwajah cantik sekali dan membayangkan budi luhur.
Ia cepat berlutut di depan patung ini, bersujud dan merasa aman. Ia tahu bahwa patung ini adalah pujaan Ci Ying dan patung yang mempunyai wajah demikian lembut tak mungkin jahat. Tentu Ci Ying akan mendapat perlindungannya.
Menjelang tengah malam, Gi Hun Hosiang kembali. Melihat Wang Sin berlutut memuja patung Dewi Kwan Im, ia mengangguk-angguk. “Kau akan selamat,” gumamnya. Setelah Wang Sin berdiri, ia berkata lagi, lirih akan tetapi bersungguh-sungguh. “Kau pergilah ke kandang kuda. Penjaganya sudah pulas semua terkena obatku. Ambillah seekor kuda yang baik, kemudian tuntun kuda itu ke luar terus ke tempat sepi. Kemudian kau boleh mulai dengan perjalananmu. Ke mana tujuanmu pertama?”
“Menyusul Ci Ying, di mana air sungai Yalu-cangpo berbelok ke selatan,” jawab Wang Sin dengan suara tetap.
“Baik, akan tetapi kalau sudah bertemu, harus pergi ke utara. Pergilah ke Kun-lun-san.”
“Memang ayah memesan supaya teecu pergi ke Kun-lun-san mencari guru ayah, Cin Kek Tosu.”
Gi Hun Hosiang mengangguk-angguk. Ia merogo saku dan mengeluarkan segumpal emas. “Benda ini di dunia luar dihargai orang. Bawalah untuk bekal. Nah berangkatlah, Wang Sin!”
Pemuda itu menghaturkan terima kasih, lalu menyelinap ke luar dengan hati-hati, terus menuju ke kandang kuda milik tuan tanah. Tiga puluh ekor lebih kuda yang berada di situ, akan tetapi Wang Sin yang sudah kenal baik kuda-kuda itu tahu harus memilih yang mana. Ia pilih kuda berbulu putih tunggangan tuan tanah Yang Can pribadi. Inilah kuda terbaik dan terkuat.
Karena kuda-kuda itu sudah mengenal Wang Sin, mereka tidak menimbulkan gaduh, bahkan kuda putih yang dituntun ke luar juga menurut saja. Pemuda itu terus menuntunnya dengan hati-hati sampai mereka berada jauh dari situ, baru ia melompat dan mengaburkan kuda itu, jauh dari sungai, akan tetapi terus ke timur menurutkan aliran sungai Yalu-cangpo.
Menjelang pagi Wang Sin masih terus larikan kudanya, kini sudah jauh sekali meninggalkan perkampungan itu. Hatinya lega dan girang seperti seekor burung yang terlepas dari sangkar. Akan tetapi kalau ia teringat akan nasib ayahnya, ia menjadi sedih sekali.
“Aku akan kembali... aku akan kembali...” katanya kepada diri sendiri, penuh kebencian kepada tuan tanah dan antek-anteknya. Teringat akan ini, kedukaannya lenyap dan ia menggigit bibir mengepalkan tinju, terus membedal kudanya lebih cepat lagi, menyongsong matahari di timur, menyongsong kemerdekaan.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa bukan hanya ayahnya dan ayah Ci Ying saja yang menjadi korban pelariannya. Pada keesokan harinya, gegerlah tuan tanah dan kaki tangannya ketika melihat bahwa kuda milik tuan tanah telah lenyap dicuri orang.
“Tentu si bedebah Wang Sin, tak bisa lain orang!” maki tuan tanah Yang Can sambil membanting-banting kaki dengan muka merah. “Kalian anjing-anjing tolol!” makinya kepada semua anteknya yang menundukkan kepala. “Masa puluhan orang tidak mampu menangkap seorang anak-anak seperti Wang Sin. Kalian melapor tidak ada, sudah minggat dan lain-lain obrolan kosong. Ternyata malam tadi ia masih berada di sini bahkan dapat mencuri kudaku. Setan!”
“Tuan besar, keparat itu dapat bersembunyi di sini, tentu ada pembantunya. Kalau tidak ada orang yang membantunya, kiranya tak mungkin dia bisa bersembunyi,” seorang di antara antek-anteknya memberanikan diri.Yang Can berpikir. Betul juga pendapat ini. Akan tetapi pikiran ini malah membangkitkan marahnya. “Tentu ada budak pengkhianat yang menyembunyikan di gubuknya. Kalian semua buta barangkali, tidak dapat melihat dia bersembunyi di gubuk para budak!”
Tukang pukul yang mengajukan pendapat itu terkejut. Celaka, pendapatnya malah memukul mereka sendiri. “Tidak mungkin tuan besar, tidak mungkin. Hamba sekalian teliti, malah semalam suntuk meronda di sekitar gubuk para budak dan di pinggir kali, sepanjang lembah sungai.”
“Hemm, kalau begitu di mana sembunyinya?”
“Hamba rasa... kalau tidak salah dugaan hamba, tentu disekitar kuil. Di sanalah yang tidak terjaga.”
Yang Can sadar, namun penuh kesangsian. Para pendeta Lama boleh dibilang semua membantunya. Mungkinkah Wang Sin dapat bersembunyi di sana? “Kita selidiki ke kuil!” akhirnya ia berkata dan beramai-ramai para anteknya mengikuti majikan mereka ini menuju ke kuil pada pagi hari itu.
Thouw Tan Hwesio, pendeta Lama jubah kuning ketua kuil itu, mengerutkan kening dan menggerak-gerakkan alisnya yang tebal ketika ia mendengar penuturan tuan tanah Yang Can. “Hemm, pinceng sudah menaruh curiga ketika kemaren Ci Leng berkeliaran di kuil. “Jangan-jangan Gi Hun....”
Hwesio tinggi besar ini bangkit dari tempat duduknya. “Harap duduk dulu, biar pinceng pergi menyelidiki.” Kemudian dengan langkah lebar hwesio tua yang masih kuat itu memasuki kuil, langsung menuju ke ruangan pembuatan patung, tempat kerja Gi Hun Hosiang.
Gi Hun Hosiang menyambut kedatangan pendeta kepala itu dengan tenang dan hormat. Ia memberi hormat dan melanjutkan pekerjaannya yang dimulai pagi-pagi sekali. Thouw Tan Hwesio pura-pura melihat-lihat patung, pura-pura memeriksa pekerjaan hwesio bawahannya itu, akan tetapi matanya yang besar itu melirik ke sana ke mari.
Akhirnya ia melihat setumpuk pakaian butut, pakaian Wang Sin yang dilemparkan di pojok. Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia menghempaskan kakinya ke atas lantai sambil membentak. “Gi Hun. Apa yang telah kau lakukan malam tadi?”
“Apa yang dimaksudkan twa-suhu yang mulia?” balas tanya Gi Hun Hosiang penuh ketenangan karena ia memang sudah siap sedia memikul semua akibat bantuannya kepada Wang Sin.
“Ha! Kau masih berani berpura-pura? Kau penjahat yang masih bodoh, melakukan perbuatan terkutuk tanpa membersihkan bekas kejahatanmu. Pakaian kotor siapa ini?”
“Itu bekas pakaian Wang Sin.”
Thouw Tan Hwesio tercengang juga mendengar pengakuan terang-terangan ini. “Keparat, kau telah membantu seorang penjahat melarikan diri dan mencuri kuda, kau telah membikin kotor kuil ini. Manusia tak tahu budi. Ketika kau datang keleleran, bukankah pinceng yang menolongmu dan memberi pekerjaan serta makan dan tempat tinggal? Kiranya kau berkhianat, membantu orang jahat dan memalukan pinceng!”
“Twa-suhu yang baik, teecu tidak pernah melakukan pekerjaan jahat.”
“Keparat, kau telah membantu Wang Sin melarikan diri. Apa kau mau bilang itu tidak jahat?”
“Tidak twa-suhu. Teecu mentaati pelajaran dari Sang Buddha yang mengajarkan kita harus mengutamakan keadilan dan prikebajikan. Wang Sin adalah seorang budak yang baik, seorang yang hidupnya penuh derita dan karenanya patut dikasihani. Akan tetapi, oleh keganasan orang lain, ayahnya dibunuh, tunangannya dirampas dan dia sendiri kalau tidak dapat melarikan diri tentu dibunuh pula. Teecu membantu dia terlepas dari pada ancaman angkara murka, bukankah teecu berarti mengutamakan keadilan dan kebajikan?”
“Tikus busuk! Dasar kau murid tosu gila. Kau hanya mengotorkan kuilku. Kau harus dihukum mati!” Sambil berkata demikian Thouw Tan Hwesio yang sudah marah sekali menyerang Gi Hun Hosiang dengan toyanya yang tadi memang sudah ia bawa-bawa.
Gi Hun Hosiang berlaku cepat, mengelak sambil berkata, suaranya keren. “Thouw Tan Hwesio, kaulah yang tersesat. Ucapan dan sikapmu ini menyatakan bahwa kau bukanlah murid Buddha yang baik.”
“Jahanam!” Thouw Tan Hwesio menyerang lagi lebih hebat, menghantamkan toyanya ke arah kepala Gi Hun Hosiang. Gi Hun Hosiang kembali mengelak, dan “prakkkk!” sebuah patung Buddha yang hampir jadi hancur berkeping-keping terkena pukulan toya.
“Kau hwesio sesat! Berani kau menghancurkan patung suci, hasil jerih payahku!” Gi Hun Hosiang berseru marah sambil menyambar sebuah pisau yang biasa ia pergunakan untuk membuat patung.
Terjadilah pertempuran yang seru di ruangan itu. Toya di tangan Thouw Tan Hwesio menyambar-nyambar ganas dan beberapa buah patung hancur lagi terkena angin pukulan toya. Repot juga Gi Hun Hosiang menghadapi serangan ini. Ia adalah seorang murid Kun-lun, murid dari Cin Kek Tosu seorang tokoh Kun-lun, akan tetapi dibandingkan dengan Thouw Tan Hwesio, ia masih kalah jauh, baik dalam ilmu silat maupun dalam kekuatan.
Ia masih mencoba untuk membela diri, namun akhirnya ia mengakui keunggulan Thouw Tan Hwesio ketika toya yang berat itu tepat menangkis pisaunya sampai terlempar disusul oleh sambaran toya yang meremukkan kepalanya. Nyawa Gi Hun Hosiang melayang pergi tanpa mulutnya sempat bersambat lagi.
Pada saat itu Yang Can dan Yang Nam mendengar suara ribut-ribut, menyusul ke dalam dan melihat Thouw Tan Hwesio berdiri dengan muka merah dan memandang mayat Gi Hun Hosiang.
“Pinceng kehilangan ahli patung yang pandai. Apa boleh buat, dia telah berkhianat dan membantu larinya Wang Sin. Akan tetapi, pinceng akan menyuruh beberapa orang hwesio mengejarnya sampai dapat. Tak salah lagi tentu keparat itu lari ke Kun-lun-san.”
Setelah diketahui bahwa yang membantu Wang Sin melarikan diri adalah Gi Hun Hosiang yang telah dibunuh, Yang Can tidak mengganggu para budak lainnya, kecuali Ci Leng yang semenjak hari itu makin celaka hidupnya, disuruh bekerja berat sampai jauh malam, dikurangi makannya sehingga orang tua ini menjadi kurus dan pucat.
Namun ia masih mempertahankan hidupnya karena di dalam hatinya, Ci Leng menaruh kepercayaan akan kembalinya Wang Sin dan Ci Ying untuk membalas dendam, untuk membebaskan para budak.
Kalau orang sudah menjelajah daerah Tibet, baru ia akan mengerti mengapa para budak yang hidupnya diperas oleh para tuan tanah, jarang ada yang berani melarikan diri. Selain bahaya besar yang merupakan kaki tangan tuan tanah yang tentu akan mengejar mereka dan menyiksa mereka secara keji kalau mereka tertangkap kembali.
Dan ancaman bahaya dari tuan tanah-tuan tanah di lain daerah yang tentu akan menggencet hidup mereka seperti tuan-tuan tanah lainnya, juga daerah yang amat sukar itu merupakan ancaman bagi hidup para pelarian.
Daerah Tibet sebagian besar terdiri dari bukit-bukit salju, padang rumput yang amat luas, hutan-hutan di sana sini. Orang akan mudah sesat jalan dan dalam jarak ratusan kilometer takkan bertemu dengan manusia. Selain bahaya kelaparan di jalan, juga masih banyak bahaya mengancam, seperti binatang buas dan lain-lain.
Hanya oleh kenekatan luar biasa Ci Ying dapat mengemudi perahunya yang hanyut oleh air sungai Yalu-cangpo. Baiknya Wang Sin membekali seekor domba yang dapat ia ambil air susunya untuk Wang Tui, bayi yang ia bawa lari itu. Kalau tidak, tentu bayi itu akan mati kelaparan. Baginya sendiri, daging domba yang ia bawa cukup untuk menyambung nyawanya.
Siang malam perahunya bergerak terus ke depan, makin jauh meninggalkan kampungnya yang telah merupakan neraka baginya itu. Ci Ying berlaku tabah dan ini semua karena ia mempunyai harapan akan tersusul oleh Wang Sin. Kalau saja ada pemuda itu di sisinya, tentu akan lebih besar dan tabah lagi hatinya.
Pada hari ke lima ia sudah mendekati belokan sungai Yalu-cangpo yang mengalir ke selatan. Malam itu perahunya bergerak perlahan karena aliran sungai di daerah ini tidak cepat. Wang Tui sudah tidur nyenyak setelah diberi air susu domba yang kini kelihatan agak kurus karena kekurangan rumput segar.
Ci Ying duduk di kepala perahunya, memandang ke sekeliling. Hatinya agak gentar juga ketika perahunya memasuki daerah berhutan yang nampak mengerikan. Ia memperhatikan sungai terus menerus, mengharap-harap melihat sungai itu berbelok untuk mendarat dan menanti Wang Sin di tempat itu.
Malam itu indah sekali. Bulan purnama sudah muncul dan menyulap keadaan di sekitar dan di sepanjang kanan kiri sungai menjadi pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Di permukaan air tampak bulan dan pohon-pohon yang menjadi bayang-bayang mengagumkan.
Tiba-tiba Ci Ying menahan napas wajahnya berubah pucat sekali. Anehnya, pada saat itu Wang Tui menangis, agaknya digigit nyamuk, Ci Ying cepat mengangkat bayi itu dan dipeluknya erat, disuruh diam. Yang mengejutkan hatinya adalah munculnya bayangan orang di pantai sebelah kiri.
Orang itu agaknya sudah melihat perahu kecil itu dan seorang di antara mereka berseru, “Hai, siapakah yang berperahu pada malam hari membawa anak kecil itu?”
Ci Ying tidak berani menjawab, takut sekali karena mengira bahwa mereka tentulah kaki tangan tuan tanah yang berhasil mengejarnya. Otaknya sudah diperas untuk mencari jalan melarikan diri dari mereka. Akan tetapi bagaimana? Ia melihat mereka bertiga meloncat ke dalam sebuah perahu dan mendayung perahu itu ke tengah.
Ci Ying menaruh bayi yang menangis itu, lalu dengan kedua tangannya ia mendayung sekuat tenaga untuk melarikan diri. Namun, perahu yang didayung oleh tiga orang itu cepat sekali meluncur mendekati perahunya, malah kini melampauinya dan menghadang di tengah, dan tiga orang laki-laki itu memberi isyarat supaya berhenti.
“Seorang perempuan muda!” seru seorang di antara mereka, heran dan terkejut.
Ci Ying menjadi lega hatinya. Bukan, melihat pakaian dan sikap mereka, tiga orang ini bukanlah kaki tangan tuan tanah, biarpun mereka itu orang-orang Tibet, mungkin pemburu-pemburu binatang. Ia tidak takut lagi. Biasanya, bangsanya sendiri adalah orang-orang ramah dan hampir tak pernah terjadi ada orang lelaki mengganggu wanita, kecuali tentu saja, kaki tangan tuan-tuan tanah yang merupakan serigala-serigala liar.
“Kawan-kawan harap memberi jalan kepadaku. Biarkan aku meneruskan perjalanan,” katanya ramah.
Bulan purnama memancarkan cahayanya sepenuhnya ke wajah Ci Ying, membuat tiga orang itu dapat melihat bahwa dia adalah seorang gadis Tibet yang cantik dengan bentuk tubuh yang menarik.
“Eh, bukankah ini gadis bernama Ci Ying yang melarikan diri dari tuan besar Yang Can?” tiba-tiba seorang di antara mereka berseru.
Kekagetan Ci Ying seperti pada saat itu ia disambar geledek mendengar seruan itu, sampai ia menjadi bengong terbelalak memandang mereka tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.
“Betul, tentu ini anaknya. Ah, pantas saja tuan muda Yang Nam itu mau mengambilnya sebagai selir. Kiranya begini cantik. Aha, kalau kita tangkap dan bawa kepada tuan muda Yang Nam, tentu kita mendapat hadiah besar!” kata orang kedua.
“Apa tidak baik antarkan kembali kepada tuan tanah Yang Can? Tentu kita dihadiahi....” kata yang ke tiga.
“Ah, keliru. Bunga begini cantik amat dibutuhkan oleh tuan tanah Nam, mengapa harus jauh-jauh diantar kepada tuan tanah Yang Can?”
Mendengar percakapan mereka, makin takutlah hati Ci Ying. Tidak salah lagi, mereka ini tentulah antek-antek tuan tanah lain yang tidak kalah kejam dan jahat dari pada Yang Can. Akan tetapi ia masih mencoba dan meletakkan bayi itu di atas geladak perahu.
“Saudara-saudara harap kasihani aku yang berusaha melarikan diri dari neraka, melarikan diri dari tindasan tuan tanah yang selalu menggencet kita semua para budak. Harap saudara lepaskan aku dan aku akan selalu berdoa kepada Dewi Putih Sgrol-ma untuk kalian bertiga....”
“Ha-ha-ha, berkah Dewi dan Dewa tidak akan sebaik berkah tuan tanah berupa pakaian dan bahan makanan anak manis. Lebih baik kau menurut saja, menjadi selir tuan Nam. Dia tentu akan membuat hidupmu serba cukup dan bahagia.”
Ci Ying tidak dapat mencari jalan untuk melarikan diri. Lebih baik mati, pikirnya. Ia melarikan diri karena tidak sudi diselir tuan muda Yang Nam, masa sekarang harus menyerahkan diri untuk diselir oleh tuan tanah lain yang selama hidupnya belum pernah ia lihat? Lebih baik mati! Cepat sekali ia lalu melompat dari perahu dan membuang diri ke dalam sungai.
“Setan, dia membuang diri ke sungai!” seru seorang di antara tiga orang laki-laki yang ternyata adalah orang-orang Tibet yang biarpun bukan antek-antek tuan tanah namun mereka itu adalah sebangsa keliaran yang pekerjaannya memburu atau berdagang atau melakukan apa saja untuk mendapat hasil, termasuk pekerjaan jahat merampok atau melakukan sesuatu untuk tuan tanah tuan tanah dan mendapatkan upah.
Melihat Ci Ying melempar diri ke air, dua orang di antara mereka cepat melepas pakaian dan terjun berenang dan tak lama kemudian mereka telah dapat menangkap dan menaikkan ke perahu mereka tubuh Ci Ying yang sudah pingsan. Mereka tertawa-tawa dan sama sekali tidak perdulikan lagi kepada Wang Tui, bayi yang menangis menjerit-jerit terbawa oleh perahu yang sudah hanyut lagi ke depan.
Ketika siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di atas kuda dipeluk oleh seorang di antara tiga orang penculiknya yang tertawa-tawa gembira, Ci Ying merontah dan menangis, menjerit-jerit minta dilepaskan. Namun segala usahanya sia-sia belaka, malah membuat gelak tiga orang itu makin menjadi. Ci Ying memaki-maki saking marahnya.
“Ha-ha-ha, sekarang kau memaki-maki kami. Akan tetapi kelak kalau sudah menjadi nyonya besar, kau akan bersyukur kepada kami dan memberi hadiah. “Ha-ha-ha!”
Pada saat itu, tiba-tiba mereka menjadi kaget dan menghentikan kuda mereka. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan mereka. Di tengah jalan menghadang berdiri seorang wanita tua berpakaian putih seperti pendeta, wajahnya bersih dan matanya bersinar terang, usianya kurang lebih lima puluh tahun sedangkan kedua tangannya memegang seuntai tasbeh dan sebuah kebutan warna merah.
Tiga orang itu adalah orang-orang kasar yang tidak takut apapun juga, akan tetapi ada sesuatu pada diri nenek ini yang membuat mereka tidak berani berlaku sembrono. Mereka adalah orang-orang yang percaya akan tahyul, maka munculnya nenek ini membuat mereka selain kaget dan heran, juga serem di hati. Apalagi nenek ini berpakaian pendeta, golongan orang yang mereka pandang tinggi.
“Nenek tua, harap minggir agar jangan tertubruk kuda,” kata seorang di antara mereka.
Akan tetapi nenek itu tidak mau minggir, malah memandang tajam ke arah Ci Ying. “Kalian mau apa dengan perempuan muda itu?” tanyanya, dalam bahasa Tibet yang agak kaku tapi cukup jelas.
Tiga orang itu ketika mendengar suara ini, berkurang rasa hormat mereka karena maklum bahwa nenek ini adalah bangsa Han dari timur dan karenanya tak mungkin merupakan pendeta suci titisan para dewi. Orang yang memeluk Ci Ying tertawa sambil menjawab.
“Ha-ha, perempuan ini adalah biniku yang bandel, tidak mau diajak pulang.”
Ci Ying merontah dan berteriak, “Bohong! Mereka ini orang-orang jahat yang menculikku, hendak menjualku kepada tuan tanah....” Ci Ying tak dapat bicara terus karena tangan yang lebar dari orang itu menutupi mulutnya.
Sepasang mata nenek itu yang tadinya bening dan lembut, kini menyinarkan pandangan tajam berapi. Mukanya yang putih menjadi kemerahan dan ia membentak nyaring. “Keparat-keparat jahanam, di tempat sesunyi ini masih ada saja manusia berhati binatang! Lepaskan dia!”
Akan tetapi tiga orang ini mana mau menurut? Terhadap orang-orang kuat belum tentu mereka takut, apalagi menghadapi seorang nenek tua yang lemah? Yang paling depan tertawa, menggerakkan kudanya sambil berkata, “Kau nenek bawel, tidak mau minggir jangan menyesal kalau mampus terinjak kuda!”
Kudanya tersentak maju, akan tetapi tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan orang yang menunggang kuda itu terguling roboh dari atas kudanya yang lari ketakutan ke kanan. Ketika kedua orang kawannya memandang, ternyata orang itu sudah tak bernapas lagi, mati dengan mata mendelik dan lidah keluar!
Bukan main herannya mereka. Nenek itu tidak terlihat menggerakkan tangan, bagaimana kawannya bisa tewas secara demikian mengerikan? Akan tetapi kemarahan mereka melebihi keheranan itu dan serentak orang kedua maju sambil memaki. “Siluman dari mana berani kurang ajar?”
Untuk kedua kalinya terdengar pekik mengerikan dan sekarang karena orang ketiga memandang penuh perhatian, ia melihat nenek itu menggerakkan kebutannya dan ujung kebutan merah itulah yang mengenai dada kawannya yang terguling sambil menjerit dan tewas di saat itu juga. Gerakannya itu demikian cepat dan lemah sehingga hampir tidak kelihatan.
Orang kedua juga tewas seketika itu juga. Sebelum orang ketiga yang menjadi pucat itu dapat bergerak, nenek lihai ini sudah menggerakkan tubuh ke depan, tasbehnya bergerak berbareng dengan kebutannya. Orang yang memeluk tubuh Ci Ying sudah mencabut golok dan mencoba untuk menangkis tasbeh.
Namun goloknya terlepas dan tasbeh terus menimpa kepalanya. Terdengar suara “prakk!” dan orang inipun terguling tak bernyawa lagi dengan batok kepala retak-retak. Adanya kebutan itu telah membelit tubuh Ci Ying dan tahu-tahu gadis ini telah melayang turun dari kuda.
Kalau tidak mengalami sendiri, mungkin Ci Ying takkan mau percaya. Tak mungkin ada manusia, apalagi wanita sesakti itu, kecuali kalau seorang dewi yang menjelma menjadi manusia. Dewi! Ah, nenek itu memang masih kelihatan cantik dan kulitnya putih. Tidak salah lagi, dia tentulah Dewi Putih Sgrol-ma! Serta merta Ci Ying yang dipengaruhi oleh jalan pikirannya yang sudah penuh ketahyulan itu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil berkata.
“Dewi yang mulia, terima kasih atas pertolongan Dewi. Harap Dewi sudi menolong Wang Tui yang terbawa hanyut oleh perahu di sungai. Dewi tolonglah segera....!”
Nenek itu memang kurang pandai bahasa Tibet. Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh gadis itu menyebut-nyebutnya Dewi Sgrol-ma segala macam. Ia tidak tahu bahwa ia dianggap Kwan Im Pousat oleh gadis itu.
“Aku bukan Dewi, jangan ngaco!” bentaknya dan suaranya berubah keren galak. “Juga aku tidak sudi menolong orang lain. Kalau ia hanyut, biarkan hanyut. Masa bodoh!”
Kaget sekali Ci Ying mendengar ini. Betapa jauh bedanya dengan tadi. Tadi nenek itu menolongnya, mengapa sekarang bisa mengeluarkan kata-kata begitu kejam dan tidak mau menolong Wang Tui?
“Nenek budiman, tolonglah dia. Wang Tui masih bayi, dia tadi bersamaku di perahu sampai aku diculik oleh penjahat dan bayi itu dibiarkan hanyut di dalam perahu. Kasihanilah dia, dia anak baik....” ia memohon lagi, bingung teringat nasib Wang Tui.
“Hu, anak baik? Tidak ada orang baik di dunia ini. Yang baik hanya kita sendiri. Tidak usah kau banyak ribut, aku bukan orang yang biasa diperintah. Kau bernama siapa dan dari mana? Bagaimana kau bisa diculik orang-orang rendah ini?”
Biarpun bingung sekali karena nenek itu tidak mau menolong, Ci Ying terpaksa menjawab dengan singkat. “Aku bernama Ci Ying, seorang budak yang melarikan diri karena hendak dipaksa menjadi selir tuan tanah. Nenek yang baik kalau kau tidak mau menolong Wang Tui, biarlah aku mencoba untuk menolongnya.”
Setelah berkata demikian, Ci Ying lalu lari secepatnya menuju ke sungai kembali untuk mengejar perahu yang hanyut. Akan tetapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba pinggangnya terlibat sesuatu dan ia tidak dapat maju lagi. Ternyata kebutan di tangan nenek itu telah melibat pinggangnya.
“Berhenti kau!” bentak nenek itu, “Kau berjodoh untuk menjadi muridku. Kau telah hidup tergencet, sengsara dan menderita. Apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian dan kelak membasmi orang-orang jahat yang telah merusak hidupmu?”
Mendengar kata-kata ini, teringatlah Ci Ying akan semua sakit hatinya. Teringat ia betapa ayahnya tentu akan disiksa atau mungkin dibunuh. Teringat pula akan kesaktian wanita tua ini dan kalau saja ia bisa mempelajari ilmu seperti tadi, tentu ia akan dapat menolong ayahnya, atau kalau sudah terlambat dapat menolong para budak lain dan membasmi tuan tanah dan kaki tangannya. Tentang Wang Tui, seandainya ia kejar juga, mana ia bisa menyusul?
Dengan tersedu-sedu menangisi nasib Wang Tui, Ci Ying lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata perlahan, “Teecu bersedia menjadi murid Dewi....” Ia lupa dan menyebut Dewi.
“Aku manusia biasa, namaku Cheng Hoa Suthai. Ci Ying marilah ikut aku ke tempatku di gunung Heng-toan-san.”
“Baik, Suthai.” Dan berangkatlah dua orang wanita ini meninggalkan tempat itu.
Siapakah Cheng Hoa Suthai ini? Namanya tentu saja asing dan tidak ada yang kenal di daerah Tibet, akan tetapi makin ke Timur, makin dikenal oranglah wanita perkasa ini. Dia seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan, seorang sakti yang lihai dan terkenal berwatak aneh dan ganas terhadap musuh-musuh atau orang-orang yang dibencinya.
Cheng Hoa Suthai bertapa di puncak gunung Heng-toan-san, akan tetapi ia suka sekali berkelana sampai jauh ke timur, pernah menggegerkan pantai lautan timur.
Sekarang ia sedang berkelana ke barat sampai di Tibet. Melihat Ci Ying, ia amat tertarik dan ingin sekali mengambil murid gadis sengsara itu. Keanehan wataknya terlihat ketika ia membantu Ci Ying membunuh para penculik gadis itu.
Akan tetapi sama sekali tidak perduli akan nasib bayi yang hanyut terbawa perahu di sungai Yalu-cangpo. Memang wanita ini aneh dan berwatak keras, malah lebih sering bersikap ganas dan jahat dari pada baik sehingga di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai tokoh yang ganas dan jahat.
Ci Ying gadis yang semenjak kecil menderita sengsara lahir batin, sekarang menjadi murid wanita aneh ini dan pengalaman-pengalaman pahit getir dalam hidupnya membuat ia mudah saja mengoper watak gurunya, yakni membenci orang-orang dan selalu menaruh dendam di dalam hatinya.
Ci Ying juga seorang gadis yang berwatak keras sekali, tahan uji dan sudah mengeras oleh penderitaan-penderitaan, biarpun sebelah kakinya tidak bersepatu karena sepatu bututnya yang kiri terlepas ketika ia meronta-ronta ditangkap tiga orang penjahat tadi.
Akan tetapi biarpun kakinya pecah-pecah ketika ia mengikuti Cheng Hoa Suthai, ia tidak mengeluh dan dengan keras kepala berjalan terus sampai akhirnya ia roboh dan oleh gurunya ia diangkat dan dibawa lari cepat seperti angin.
Bagaimana dengan nasib Wang Tui, bayi itu? Sungguh kasihan, anak yang usianya baru beberapa hari ini menangis sampai megap-megap di atas perahu tanpa ada yang menolongnya. Agaknya suara tangisnya menarik perhatian seekor ikan besar yang sudah sejak tadi berenang mengikuti perahu, menyentuh-nyentuh perahu dengan moncongnya yang besar.
Apalagi bunyi domba betina mengembik-embik di atas perahu membuat ikan itu maklum bahwa di dalam perahu terdapat mangsa yang akan mengenyangkan perutnya. Ketika perahu itu tiba di sebuah belokan di mana air memutar, ikan itu menyabet dengan ekornya dan perahu itu terguling.
“Siancai.... siancai.... setelah pinto menyaksikan ini, bagaimana pinto bisa berpeluk tangan saja?” terdengar suara halus dan ringan seperti kabut, sesosok bayangan seorang kakek berjenggot panjang melayang ke tengah sungai, hinggap di atas perahu yang sudah terbalik.
Tangan kirinya bergerak dan di lain saat ia telah menyambar tubuh bayi yang hampir tenggelam. Di saat itu juga, seekor ikan yang besar melebihi orang dewasa menyambar domba betina dan sekali caplok domba itu lenyap dari permukaan air.
Sambil mendukung bayi itu, kakek ini melompat kembali ke darat. Ia pegang kedua kaki bayi itu sehingga kepala anak itu tergantung ke bawah dan air itu tumpah keluar dari mulutnya. Setelah menggerak-gerakkan beberapa kali dan menepuk sana-sini, bayi itu baru bisa menangis lagi.
“Kasihan, anak siapakah ini?” Kakek itu celingukan memandang ke kanan kiri, akan tetapi sekitar tempat itu sunyi saja. Perahu yang tadi dibikin terbalik oleh ikan besar, terus hanyut bersama sisa-sisa daging domba yang kini dijadikan rebutan oleh ikan-ikan kecil.
Kakek itu menarik napas dan mendukung bayi di dalam bajunya supaya hangat. Ia adalah seorang yang sudah sangat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya jangkung kurus dengan rambut dan jenggot panjang sudah putih semua. Pakaiannya berwarna kuning sederhana potongannya, kuku tangannya panjang terawat bersih. Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Kakek ini adalah seorang tokoh besar di Kun-lun-san, seorang kakek pertapa yang tidak tentu tempat tinggalnya. Ia jarang dikenal orang, malah orang-orang kang-ouw jarang ada yang mengenalnya kecuali para tokoh dan ketua partai persilatan yang besar.
Namun, nama julukannya, yaitu Pek-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Sinar Putih) selalu menjadi buah bibir para ahli silat biarpun mereka belum pernah melihat orangnya. Nama aselinya adalah To Tek Cinjin dan dia seorang pertapa yang condong kepada agama To sungguhpun ia bukan seorang tosu (pendeta To).
“Anak baik, tidak kusangka setua aku ini masih menerima tugas yang berat. Kau tercipta di tengah sungai Yalu-cangpo, biarlah kuberi nama Yalu Sun (cucu sungai Yalu). Ha-ha-ha!”
Kemudian ia lalu membawa pergi anak itu dengan berlari cepat sekali, mencari pedusunan di mana ia dapat mencarikan air susu untuk bayi itu.
Tanpa memperdulikan letih dan lapar, Wang Sin memacu kudanya, terus ke timur mengikuti aliran sungai Yalu-cangpo. Kadang-kadang ia meninggalkan kudanya dan dengan hati-hati ia menuju ke pinggir sungai sambil sembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau terlihat oleh kaki tangan tuan tanah, untuk melihat apakah sungai itu masih belum berkelok.
Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama beberapa hari, akhirnya ia tiba di bagian sungai yang berbelok ke selatan. Akan tetapi alangkah kecewa dan gelisah hatinya ketika ia tidak melihat Ci Ying di tempat itu. Ia turun dari kuda, menambatkan kendali kudanya pada pohon dan berjalan menyusuri pantai sungai, mencari-cari.
Bukan main kagetnya ketika akhirnya ia melihat sebuah perahu kecil terbalik, berhenti di pinggir tertahan batu karang. Tak salah lagi, itulah perahu yang dipergunakan Ci Ying ketika melarikan diri. Hatinya berdebar-debar penuh kekhawatiran. Terbalikkah perahu gadis itu? Celaka, apa jadinya dengan Ci Ying dan bayi yang dibawanya? Setelah mencari-cari tanda tanpa menemukan sesuatu.
Wang Sin mencari-cari di dalam hutan dekat pantai itu, mengharapkan kalau-kalau Ci Ying dapat berenang ke pinggir dan bersembunyi di dalam hutan. Akan tetapi kegelisahannya memuncak ketika ia menemukan sebuah sepatu butut. Itulah sepatu Ci Ying. Wang Sin menjadi girang sekali. Ditemukannya sepatu ini di dalam hutan menjadi tanda bahwa gadis ini tidak mati tenggelam dan sudah bisa mendarat.
Akan tetapi mengapa sepatunya tertinggal di situ? Biarpun butut, sepatu ini masih dapat melindungi kaki dari tajamnya batu-batu karang. Ia memasukkan sepatu butut itu di kantong bajunya, lalu menunggangi kudanya memasuki hutan, terus mencari sambil memanggil-manggil, “Ci Ying.... Ci Ying....!”
Sehari semalam ia menjelajahi hutan itu sambil memanggil-manggil, lupa akan lapar di perutnya, lupa bahwa kudanya sudah terlampau lama ia pacu sampai akhirnya kuda itu terguling roboh kelelahan. Namun Wang Sin tidak memperdulikannya, malah meninggalkan kuda itu dan melanjutkan usahanya mencari Ci Ying dengan jalan kaki. Akhirnya iapun terpaksa menghentikan usahanya ini ketika pada keesokkan harinya ia sendiri terguling roboh pingsan di bawah pohon saking lelah, lapar dan gelisah.
Matahari telah naik tinggi ketika Wang Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa seluruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas semangatnya yang penuh diliputi kekhawatiran. Di mana adanya Ci Ying? Apakah, setelah bersusah payah melarikan diri, akhirnya gadis itu terjatuh jugake dalam tangan tuan tanah, atau ke dalam tangan orang lain yang jahat?
“Ci Ying.....” keluhnya dan ia segera bangkit kembali dan berjalan terhuyung-huyung melanjutkan perjalanannya mencari gadis yang dicintainya itu.
Lewat tengah hari ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia kucek-kucek matanya ketika melihat seorang gadis duduk membelakanginya. Gadis ini pakaiannya sudah tambal-tambalan di sana sini, duduk seorang diri di atas sebuah batu besar, melamun dan agaknya menikmati tiupan angin yang memberisik.
“Ci Ying...!” seru Wang Sin lemah sambil berjalan terhuyung menghampiri gadis itu dari belakang. Mungkin karena berisiknya suara rumput saling bergesek, gadis itu tidak mendengar ada orang mendekatinya.
“Ci Ying....!” Wang Sin menjadi gembira sekali sampai ia lupa diri dan menubruk gadis itu, merangkulnya dari belakang saking girangnya.
Gadis itu terkejut, tangannya bergerak dan “Plaakk!” kepala Wang Sin sudah ditamparnya, tamparan ini keras sekali, membuat tubuh pemuda itu terpelanting dan jatuh telentang di antara rumput-rumput tebal. Gadis itu berdiri membelalakkan matanya sambil memaki. “Keparat, berani kau kurang ajar kepadaku?!!”
Kagetnya Wang Sin bukan kepalang ketika kini ia melihat dengan jelas bahwa yang dipeluknya itu bukanlah Ci Ying melainkan seorang gadis cantik, seorang gadis bangsa Han yang memaki-maki kepadanya tanpa ia ketahui apa yang dimakinya karena ia tidak mengerti sepatapun kata-kata Han. Akan tetapi ia dapat mengerti bahwa gadis itu marah sekali malah kini gadis itu mencabut pedangnya dan menghampirinya dengan mata mengancam.
Wang Sin sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya memang sudah lemah dan tidak bertenaga saking lelah dan lapar, ditambah lagi oleh tamparan yang keras lagi membuat pandang matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia hanya bisa meramkan mata ketika gadis itu menodongkan ujung pedang yang runcing itu di hulu hatinya. Juga tidak mengerti ketika gadis itu membentaknya.
“Keparat, siapa kau dan apa maksudmu berlaku begitu kurang ajar?”
Karena Wang Sin hanya rebah telentang tak bergerak sambil meramkan mata, gadis itu makin marah. “Bangsat, apa kau sudah bosan hidup?” Ia angkat pedangnya hendak membacok.
“Hui-ji (anak Hui).... jangan bunuh orang!” tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan muncullah seorang laki-laki gagah perkasa, berusia kurang lebih empat puluh tahun bertubuh tegap dan di pinggangnya tergantung pedang. Dengan lompatan yang cekatan laki-laki ini sudah berada di samping anak gadisnya dan mencekal pergelangan tangan gadis itu yang sudah siap membacok leher Wang Sin. “Ada apakah? Siapa dia ini dan kenapa kau hendak membunuhnya?”
“Dia kurang ajar, ayah, datang-datang ia.... ia menubruk dan memelukku. Biar kubunuh anjing gila ini!!”
“Ssttt, jangan. Kulihat dia seperti orang sakit,” kata ayahnya sambil memandang kepada Wang Sin yang kini sudah membuka matanya dan bangun duduk dengan kepala masih puyeng.
“Orang muda, kau siapakah?” tanya ayah gadis itu. Akan tetapi Wang Sin sama sekali tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan.
Orang tua itu memandang dengan tajam dan kini terlihatlah olehnya raut wajah Wang Sin raut wajah seorang Tibet. Ia lalu mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Tibet yang cukup lancar dan jelas.
“Agaknya kau orang pedalaman. Siapa kau dan mengapa kau bersikap kurang ajar?”
Wang Sin menjadi lega hatinya. Setidaknya orang Han ini bisa bicara dalam bahasanya. Ia lalu merayap bangun dan memberi hormat. “Harap tuan besar sudi memaafkan hamba tadi, hamba tidak mengenal nona ini, hamba kira dia....”
Kakek itu mengangguk. “Kau tentu seorang budak, bukan? Mencuri dan melarikan diri, ya?”
Wang Sin kaget sekali dan seketika semangatnya bangkit untuk melakukan perlawanan. Tak mungkin orang akan dapat menangkapnya begitu saja, tekadnya. “Tidak... tidak....! Jangan harap kau akan dapat menangkap aku kembali!” serunya dan tiba-tiba ia melakukan serangan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada kakek itu dengan sepenuh tenaga. Biarpun tidak sangat sempurna Wang Sin pernah mempelajari ilmu pukulan dari ayahnya dan pukulannya selain cepat, juga mantap sekali.
Kakek itu mengeluarkan seruan heran sambil mengelak dari pukulan itu. Bukankah itu gerakan Pek-wan-hian-ko (Lutung putih berikan buah), sebuah jurus dari ilmu silat Kun-lun-ciang-hoat?
Melihat pukulannya mengenai angin kosong, Wang Sin menyusul dengan pukulan kedua, lebih hebat dari yang pertama.
Sekali lagi kakek itu terkejut. Inilah gerak tipu Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku Sawah) tidak bisa keliru lagi, biarpun gerakannya kaku namun kedudukan kaki dan tangan adalah seratus prosen ilmu silat Kun-lun-pai. Ia sengaja menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya dan ia merasa betapa tenaga pemuda ini besar sekali, tenaga luar yang mengagumkan.
Namun ia belum mau merobohkan Wang Sin, memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menyerang terus karena ia ingin melihat gerakan-gerakan pemuda yang bisa mainkan Kun-lun-ciang-hoat ini. Dan makin lama kakek itu makin heran.
Wang Sin benar-benar telah mengeluarkan banyak jurus Kun-lun-ciang-hoat yang kesemuanya kaku gerakannya, akan tetapi adalah ilmu silat aseli dari Kun-lun-pai, belum bercampur ilmu pukulan lain cabang. Aneh, bagaimana seorang pemuda Tibet bisa mainkan ilmu silat ini?
“Tahan dulu, orang muda. Aku mau bicara!” kata kakek itu sambil menangkis sebuah pukulan.
Namun Wang Sin yang sudah ketakutan kalau-kalau ia akan ditangkap oleh orang ini dan dibawa kembali kepada tuan tanah, tidak perduli dan terus menyerang seperti kerbau gila. Karena terlalu bernafsu melihat pukulannya selalu tidak mengenai lawan, ia menjadi ngawur dan kini bergerak asal memukul saja. Juga tubuhnya mulai menjadi lemas sekali.
Melihat kenekatan pemuda itu, kakek tadi lalu menggunakan jari tangannya menotok dan robohlah Wang Sin tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi ia masih memandang kakek itu dengan sepasang mata melotot, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut atau menyerah.
“Jangan nekat menyerang terus, orang muda, mari kita bicara baik-baik,” kata kakek itu sambil membebaskan totokannya tadi.
Begitu terbebas dari totokan, Wang Sin berkata, “Aku tidak sudi kembali, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga...!”