Nona Berbunga Hijau Jilid 11

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Nona Berbunga Hijau (Kun-lun Hiap-kek) jilid 11
Sonny Ogawa

Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 11, karya Kho Ping Hoo - BI HONG memandang penuh kebencian kepada hwesio yang sudah membunuh kong-kongnya, supek-couwnya, dan yang sudah menjadi gara-gara kematian ibunya itu, begitu melihat hwesio itu sudah datang di depannya, segera ia membuka serangan sambil membentak. “Jahanam, lihat pedang!”

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Tadinya Thu Bi Tan Hwesio tentu saja memandang rendah kepada nona muda ini. Biarpun murid Kun-lun-pai, kalau hanya seorang gadis muda, sampai dimanakah kepandaiannya maka berani melawan dia? Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan kematian Ga Lung Hwesio yang katanya juga diserang oleh seorang nona muda, maka ia membentak.

“Tahan dulu! Apakah pembunuhan terhadap Ga Lung Hwesio baru-baru ini dilakukan olehmu?”

Bi Hong tertawa. “Betul, dan sekarang aku akan mengirim kau menyusul setan Ga Lung Hwesio!”

Thu Bi Tan kaget dan juga marah sekali. Kalau sudah dapat mengalahkan murid keponakannya itu maka kepandaian nona ini tidak boleh dipandang ringan. Ia membentak keras dan toyanya bergerak cepat, namun Bi Hong tidak gentar. Dengan lincah ia mengelak lalu balas menikam sehingga dilain saat mereka sudah terlibat dalam pertempuran yang hebat.

Dalam mempelajari ilmu pedang Kun-lun-pai, To Gi Couwsu menyesuaikan ilmu dengan bakat pada di Bi Hong, maka gadis ini menerima sari pelajaran “lembek” yang mendasarkan kelincahan dan kelemasan, berpegang kepada huikang (lweekang) yang mengutamakan kehalusan dan meminjam tenaga lawan.

Sedangkan lawannya, Thu Bi Tan Hwesio adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga dahsyat sekali. Maka Bi Hong dapat menghadapi lawannya ini dan setiap kali toya menyambar yang tak dapat dielakkan lagi, pedangnya lalu menempel toya lawan dan mencuri tenaga serangan lawan untuk balas menyerang.

Thu Bi Tan beberapa kali kaget sekali karena toyanya yang diserangkan dengan tenaga sepenuhnya, seperti amblas dan hilang bertemu dengan tenaga yang menghisap, malah tiba-tiba pedang lawan muda yang menempel toyanya dapat menyelinap dari bawah toya dan melakukan serangan mendadak.

Ia kaget sekali karena tidak pernah disangkanya bahwa lawan semuda ini ternyata sudah memiliki kepandaian tinggi dan kecerdikan seorang ahli. Akan tetapi, Thu Bi Tan sudah berpengalaman, jauh lebih berpengalaman kalau dibandingkan dengan Bi Hong.

Segera ia dapat melihat bahwa biarpun ilmu pedang gadis itu lihai dan cepat, namun tenaganya kurang dan gerakannya biarpun sempurna kurang terlatih sehingga masih kurang isi. Kalau ia mendesak dengan ujung toyanya dibarengi pukulan ujung lengan bajunya yang kiri, ia percaya akan dapat menjatuhkan gadis ini dalam waktu yang tidak berapa lama.

“Bocah, lihatlah kelihaian kakekmu!” Sambil berkata demikian, hwesio itu mengubah gerakan toyanya, kini dimainkan dengan tangan kanan, diputar cepat seperti kitiran angin menahan semua serangan pedang sedangkan tangan kirinya bergerak dan ujung lengan bajunya yang panjang itu lalu menotok-notok ke arah jalan darah di bagian tubuh yang berbahaya.

Sekejap saja keadaan berubah. Kalau tadi mereka masih saling serang, sekarang keadaan Bi Hong terdesak sekali. Gadis itu merasa betapa pedangnya menghadapi dinding baja yang amat kuat, yang dibentuk oleh putaran toya lawan, sedangkan serangan ujung baju yang kadang-kadang menyambar dari balik dinding baja ini benar-benar membuat ia repot kewalahan sekali.

Pada saat yang malang baginya, ujung lengan baju itu berhasil menotok pergelangan tangan kanannya, disusul sambaran kaki ke arah lututnya. Bi Hong mengeluarkan keluhan tertahan, pedangnya terlepas jatuh di atas lantai mengeluarkan suara nyaring dan biarpun ia sudah meloncat untuk menghindarkan sambaran kaki ke arah lututnya yang akan mencelakakannya, tidak urung betisnya kena ditotol ujung sepatu dan ia roboh terguling.

Sementara itu, para tamu yang terdiri dari ahli-ahli silat yang sudah memburu keluar dan menonton pertandingan. Bahkan Yang Nam dan Kalisang juga terdapat di antara mereka. Kalisang yang melihat bahwa gadis yang mengacau adalah gadis yang dulu menolongnya ketika ia menghadapi Ga Lung Hwesio, diam-diam terkejut dan berkhawatir sekali. Sekarang melihat gadis itu roboh dan Thu Bi Tan hendak mengirim pukulan maut, ia lupa diri dan melompat ke depan.

“Thu Bi Tan Losuhu, jangan bunuh dia!” Ia lalu menghampiri Bi Hong dan berkata halus.

“Nona, Thu Bi Tan Losuhu amat lihai bukan lawanmu. Harap kau tahu diri dan mundur. Betapapun juga kau takkan menang. Lebih baik hilangkan semua permusuhan dan kau menjadi tamu kami yang terhormat. Untuk apa menanam permusuhan dan saling mendendam?”

Bi Hong adalah seorang gadis yang tidak mengenal takut. Ia sudah melompat berdiri lagi. Betisnya mengucurkan darah akan tetapi hanya terasa sakit, tidak merupakan luka berat. Cepat ia menyambar pedangnya kembali dan ia membentak.

“Siapa membutuhkan pertolonganmu? Manusia sombong, menyingkirlah kau. Aku belum mati, berarti belum kalah!” Bi Hong menggunakan kata-kata Kalisang sendiri yang marah-marah ketika dahulu ia tolong bersama suhengnya.

Merah wajah Kalisang. “Nona, kau takkan menang!”

“Huh! Begitu anggapanmu? Lihat!” Secepat kilat gadis yang nekad ini sudah menyerang lagi kepada Thu Bi Tan Hwesio.

Terpaksa Kalisang menarik napas panjang dan mundur. Bi Hong terheran melihat pemuda itu berada di situ dan berpakaian sebagai mempelai, akan tetapi ia tidak perduli akan hal itu dan menyerang makin hebat pada musuh besarnya.

“Ho-ho-ho, siluman cilik. Kau benar-benar sudah bosan hidup,” bentak Thu Bi Tan Hwesio dan menggunakan siasatnya seperti tadi. Sebentar saja Bi Hong kembali terdesak, malah lebih hebat lagi karena luka kecil di betisnya sedikitnya memperlambat gerakan kakinya.

Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, ia tidak dapat mengelak lagi ketika ujung lengan baju hwesio itu menotok pundak kirinya. Bi Hong terhuyung mundur, wajahnya pucat. Ia tahu bahwa sambungan tulang pundak kirinya terlepas. Akan tetapi sambil menggigit bibir menahan sakit ia maju lagi mengirim serangan maut.

Diam-diam Thu Bi Tan Hwesio terkejut dan kagum. Bocah ini benar-benar ulet dan nekad, kalau tidak segera dirobohkan bisa mendatangkan kekacauan hebat, pikirnya. Maka kedua tangannya bekerja makin cepat, tangan kirinya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah yang mematikan. Pada saat itu terdengar suara yang halus tapi nyaring yang diucap seperti orang bersajak.

“Yang terlembut,
dapat menembus yang terkeras.
Yang tak berujud,
dapat memasuki benda berujud
Karena ini diketahui bahwa,
tidak bertindak ada gunanya.
Mengajar tanpa berkata.
Berguna tanpa bertindak.
Di kolong langit jarang yang mencapainya!”


Inilah kata-kata dalam kitab To-tek-keng, kitab para tosu penganut agama To. Dasar pelajaran ilmu silat dari Kun-lun-pai memang berhubungan erat dengan pelajaran Agama To, karena sebagian besar guru besarnya adalah pendeta-pendeta To. Maka ilmu pedang Kun-lun-pai juga intisarinya diambil dari sajak-sajak dan kitab-kitab suci agama To.

Tentu saja bagi orang lain sajak itu tidak ada artinya untuk ilmu silat, akan tetapi tidak demikian bagi Bi Hong. Gadis ini semenjak kecil hidup di Kun-lun-pai di antara para tosu, tentu saja ia hafal akan isi kitab-kitab sucinya. Mendengar ini sadar dan tahu bagaimana harus menghadapi keganasan lawannya. Terbukalah matanya sejak tadi ia memang salah siasat.

Ia dibikin bingung oleh terputarnya toya di tangan kanan lawannya, toya yang diputar-putar seperti kitiran yang mengeluarkan angin mengaung seakan-akan harimau hendak menerkam. Sejak tadi pedangnya selalu sibuk ia pergunakan untuk menghadapi dinding baja dari tosu itu, maka pertahanannya terhadap serangan totokan ujung lengan kiri lawannya menjadi amat lemah.

Setelah mendengar suara itu, tiba-tiba Bi Hong mengubah ilmu silatnya. Kalau tadi ia menggunakan delapan puluh persen dari tenaga dan perhatiannya untuk menghadapi toya dan hanya dua puluh prosen untuk menghadapi tangan lawan sekarang tiba-tiba ia balik.

Ia hampir tidak perdulikan gerakan toya lawan itu dan mencurahkan semua kegesitan dan perhatiannya kepada lengan baju itu. Ia menggerakkan pedang dengan cepat ketika lengan baju menyambar dan pada saat yang tepat, pedangnya berkelebat menembus tangan kiri lawannya.

“Celaka....!” Thu Bi Tan Hwesio mengeluh dengan kaget sekali. Cepat-cepat ia menarik lengan kirinya dan biarpun ia dapat menyelamatkan pergelangan tangannya, tidak urung jari kelingking tangan kirinya terbabat putus berikut ujung lengan bajunya.

Bi Hong girang sekali melihat hasil serangannya dan ia mendesak hebat. Luar biasa sekali ilmu silat yang sudah mencapai tingkat tinggi. Kalau tadi Bi Hong terdesak hebat, sekarang hanya karena melihat cara-caranya sendiri yang keliru dan dapat mengubah, dalam sedetik saja ia sudah dapat menebas putus kelingking kiri lawan dan balas mendesaknya dengan hebat sekali.

Thu Bi Tan Hwesio bukan orang bodoh. Ia cepat dapat menenangkan hatinya yang kaget dan cepat ia mengubah ilmu silatnya. Kini toyanya tidak hanya diputar melindungi diri seperti tadi, melainkan diputar untuk menyerang, malah ia menggunakan kedua tangan untuk memutarnya.

Makin lama lingkaran toya makin luas dan angin menyambar makin hebat. Toya itu sudah berputar-putar seperti sebuah roda besar yang hendak menggilas hancur tubuh gadis itu.

Bi Hong kaget sekali dan kembali keadaan berubah. Ia terdesak hebat dan sibuk sekali menangkis gulungan sinar toya yang menindihnya itu. Makin lama ia makin mundur dan jalan keluar makin sempit. Akan tetapi suara seperti tadi terdengar lagi.

“Tiga puluh ruji berpusat pada roda. Dari tanah lempung membuat jembangan. Pada tempat yang kosonglah terletak kegunaannya!”

Kata-kata inipun adalah ayat-ayat dari kitab To-tek-kheng yang menunjukkan bahwa pada kekosongan itulah terletak kegunaannya, karena apa artinya roda kalau hanya ada lengkungannya di luar? Juga jembangan takkan ada artinya kalau tidak ada “kekosongan” di dalamnya.

Bagi orang lain sajak ini tidak ada artinya, namun bagi Bi Hong berarti sekali. Tadi ia sibuk menghadapi ilmu toya yang diputar-putar merupakan lingkaran-lingkaran besar yang menutup semua jalannya, akan tetapi begitu mendengar ini, ia segera teringat bahwa ia terlampau memperhatikan gulungan sinar toya yang melingkar-lingkar. Begitu mendengar sajak itu, Bi Hong cepat menggerakkan pedang dan menyerang hebat ke arah tengah-tengah lingkaran.

Thu Bi Tan Hwesio terkejut sekali. Ia mengeluarkan teriakan kaget dan marah, namun tetap saja ujung pedang Bi Hong berhasil melukai pangkal lengannya sehingga mengeluarkan banyak darah. Setelah dua kali melihat bahwa sajak-sajak itu ternyata membantu Bi Hong, hwesio ini terperanjat dan kemarahannya memuncak.

“Bangsat, kau dulu kubikin habis!” Ia melompat dan menyerang seorang pemuda yang berdiri di antara para penonton.

Pemuda itu bukan lain adalah Yalu Sun dan melihat hwesio menerjang keluar, para penonton menjadi geger, dan cepat-cepat lari mundur. Pada saat itu, dari luar datang tiga orang tamu. Begitu toya Thu Bi Tan Hwesio menyambar, Yalu Sun melangkah mundur. Hwesio yang sudah marah sekali itu tidak memperdulikan apa-apa lagi, toyanya terus menghantam dan hampir saja mengenai kepala seorang nenek tua.

Dengan senyum mengejek nenek ini tenang-tenang saja mengangkat tangan kiri dengan dua jari terbuka, dijepitnya toya itu dan dilain saat Thu Bi Tan Hwesio sudah teruyung ke belakang sampai lima tindak ketika toyanya didorong oleh nenek itu. Semua orang terheran-heran, akan tetapi tanpa memperdulikan sesuatu nenek itu terus berjalan masuk, diikuti oleh dua orang yakni sepasang suami isteri yang setengah tua dan nampaknya gagah sekali.

“Ayah... ibu....!" Kalisang menyambut dan pihak tuan rumah juga juga buru-buru menyambut.

Nenek itu ternyata Cheng Hoa Suthai ketua dari Cheng-hoa-pai. Thu Bi Tan Hwesio juga mengenalnya maka ia menjura dan berkata. “Harap suthai sudi memaafkan karena tadi dalam mengejar seorang bangsat pinceng hampir kesalahan tangan.”

Akan tetapi Cheng Hoa Suthai tidak meladeninya dan duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Yang Nam maju dan menyambut Wang Sin dan Ci Ying dengan ramah tamah sekali.

Akan tetapi sebelum tamu baru ini sempat bercakap-cakap, tiba-tiba Thu Bi Tan Hwesio sudah berseru marah dan menyerang lagi pemuda yang masih berdiri di situ dengan senyum tenang. Serangannya hebat mengarah kepala, akan tetapi lebih hebat lagi sambutan pemuda itu.

Dengan tangan kiri ia menyambut toya, ditangkapnya lalu digentakkan ke kiri. Tubuh Thu Bi Tan Hwesio terbawa dan terguling roboh. Pada saat itu, Bi Hong sudah melompat maju dan sekali pedangnya disabetkan, leher Thu Bi Tan Hwesio sudah putus.

Suami isteri yang datang bersama Cheng Hoa Suthai tadi adalah Wang Sin dan Ci Ying. Mereka dengan bingung memandang Bi Hong. Wajah Wang Sin menjadi agak pucat dan Ci Ying juga memandang dengan mata terbelalak.

Tangannya otomatis menyentuh lengan suaminya, dan biarpun keduanya tidak mengucapkan sepata perkataan, hati mereka sama-sama terkejut melihat seorang gadis yang wajahnya serupa benar dengan wajah Ong Hui. Siapakah gadis ini? Demikian pikir mereka dengan hati berdebar.

Sementara itu, melihat Thu Bi Tan Hwesio sudah menggeletak tak bernyawa lagi di depan kakinya, tiba-tiba Bi Hong menangis dan berkata nyaring sambil berdongak ke atas. “Kong-kong Ong Bu Khai! Supek-couw Cin Kek Tosu! Ibu Ong Hui, kalian lihatlah, aku telah berhasil mengirim roh musuh besar kita kepada kalian!” Kemudian nona ini menangis tersedu-sedu.

Terdengar teriakan menyayat hati dan Wang Sin sudah melompat ke depan Bi Hong terus memeluknya. Gadis itu tentu saja kaget sekali dan hendak menggerakkan tangan memukul, akan tetapi Wang Sin cepat berkata. “Anakku.... kau.... kau anak Ong Hui....? Ah, kalau begitu, akulah ayahmu nak....”

Wajah Bi Hong menjadi pucat, tubuhnya menggigil. Ia masih tidak percaya dan membentak. “Kau siapa?”

“Namaku Wang Sin, aku ayahmu.... apakah ibumu tak pernah memberitahu?”

Mendengar ini, Bi Hong lalu memeluk ayahnya sambil berkata. “Ayah... anakmu Bi Hong setengah mati mencari kau.....”

“Bi Hong anakku. Di mana ibumu....? Mengapa kau tadi... kau sebut ibumu.....”

Tiba-tiba Bi Hong merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan ayahnya, lalu melompat mundur. Wajahnya masih pucat akan tetapi matanya menatap wajah ayahnya dengan sinar kemarahan.

“Ayah, kalau betul kau suami mendiang ibuku, kenapa kau meninggalkan ibu? Kenapa kau tidak muncul sampai ibu meninggal karena duka? Kenapa kau diam saja ketika Kong-kong dibunuh Thu Bi Tan Hwesio si keparat ini. Ayah, apa artinya ini semua? Kenapa kau malah tak pernah... tak pernah menengok aku?”

Wang Sin menundukkan mukanya. “Aku salah.... aku bersalah, anakku. Sekarang kau turut aku, dia itu dia.... ibu tirimu,” ia menuding ke arah Ci Ying, lalu ke arah Kalisang. “Dan dia itu, yang sekarang akan menjadi penganten, dia itu adik tirimu. Bi Hong mulai sekarang ayahmu akan merawatmu.”

Tiba-tiba Bi Hong mengeluarkan suara ketawa, suara ketawa yang menegakkan bulu roma karena suara itu lebih banyak menangis daripada tertawa. “Huh, jadi kau meninggalkan ibu, lupa anak isteri, karena... karena perempuan ini? Jadi kau menyia-nyiakan ibu untuk menikah lagi? Ayah, biarpun aku anakmu, aku harus katakan bahwa kau bukan seorang berjiwa gagah!”

“Tutup mulutmu, setan!” terdengar teriakan nyaring dan sesosok tubuh melompat cepat. Tahu-tahu sebatang pedang berkelebat ke arah leher Bi Hong.

Melihat bahwa yang menyerangnya adalah wanita yang disebut ibu tirinya. Bi Hong bangkit marahnya, cepat menangkis dengan pedangnya dan di lain saat dua orang wanita garang ini sudah saling serang dengan hebatnya.

Selagi Wang Sin dan semua orang kebingungan melihat peristiwa yang berlarut-larut menjadi makin hebat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh dari Cheng Hoa Suthai dan nenek ini tahu-tahu sudah melayang dan dengan kedua tangannya menyerang kepala seorang pemuda yang bukan lain adalah Yalu Sun.

Pemuda ini terkejut dan mengelak sambil membentak. “Nenek tua apa kau sudah gila tiada hujan tiada angin menyerangku?”

“Huh-huh, kau tentu takkan tinggal diam kalau gadis itu kalah. Lebih baik aku menghalangimu lebih dulu.”

Memang nenek ini tadi sudah melihat gerakan Yalu Sun dan maklum akan kelihaian bocah itu. Ia tahu pula bahwa kalau bocah itu turun tangan membela Bi Hong, muridnya takkan menang. Maka sebelum hal itu terjadi, ia sengaja menyerang lebih dulu. Siapa kira, serangannya gagal dan pemuda itu ternyata lebih lihai dari pada dugaannya semula.

Dengan marah ia lalu mengeluarkan senjatanya, yaitu sebuah tasbeh di tangan kanan dan sebuah kebutan merah di tangan kiri. Dengan sepasang senjatanya ini, Cheng Hoa Suthai menyerang Yalu Sun.

Pemuda itu kaget sekali melihat kehebatan si nenek, cepat ia mencabut pedang Pek-kong-kiam yang selalu ia sembunyikan di balik baju, lalu memutar pedangnya dengan tenaga menyambut.

Cheng Hoa Suthai menggerakkan kebutan merahnya dengan tenaga Im-jiu, sedangkan tasbehnya dengan tenaga Yang-kang. Kedua senjata ini menyambar-nyambar, angin yang menyambar dari senjata itu sangat dahsyat.

Akan tetapi Yalu Sun yang telah menerima warisan ilmu pedang dari Pek-kong Kiam-sian, dengan tenang menyambut semua serangannya, bahkan dapat balas menyerang tak kalah hebatnya.

Melihat dua pertandingan silat tinggi ini, semua tamu menjadi gembira dan tegang, karena tidak mereka sangka-sangka di tempat ini mereka akan disuguhi pertandingan yang demikian hebat. Orang yang paling bingung adalah Wang Sin. Yang seorang isterinya, yang seorang lagi anaknya.

Bagaimana dia tidak menjadi bingung? Di samping kebingungannya, iapun gelisah dan menyesal bukan main, insyaf bahwa kejadian hari ini adalah akibat dari sikapnya yang kurang jantan ketika dahulu menghadapi Ci Ying.

Apalagi mendengar bahwa Ong Hui mati karena berduka memikirkannya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk dan tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah. Ia menghampiri tempat pertempuran itu.

Melihat Wang Sin maju, Bi Hong berseru. “Ayah, kau mau membantu dia? Baik, kau bunuhlah anakmu ini!”

Ci Ying membentak. “Mau membantu anakmu? Boleh kau serang aku!”

Wang Sin mencoba untuk memisah mereka, katanya. “Ci Ying... Bi Hong... kasihanilah aku, sudahilah pertempuran ini.....”

Akan tetapi mana mau dua jago betina berhenti? Keduanya panas hati dan keduanya hendak saling bunuh. Bukannya berhenti, malah pertempuran makin hebat.

“Sudahlah.... sudahlah Ci Ying..... Ong Hui, kalian semenjak dulu tidak mau bersatu.... aku yang bodoh dan berdosa, biar aku menebus dosa. Ong Hui, kau tunggulah, aku!” Dan dengan pedangnya, orang gagah ini menusuk dadanya sendiri sampai hampir tembus. Ia memekik dan roboh mandi darah.

“Wang Sin....!” Ci Ying memburu dan menjerit.

“Ayah....!” Bi Hong melempar pedangnya dan loncat menubruk.

Kalisang membelalakkan matanya, lalu menubruk sambil menjerit pula. Tiga orang itu menangis dan mendekati tubuh Wang Sin. Wang Sin membuka matanya, terengah-engah. Melihat tiga orang itu berlutut dan menangis, ia berkata terputus-putus.

“Ci Ying... Bi Hong... setelah aku mati... janganlah... jangan kalian bermusuhan lagi.....”

Ci Ying sesenggukan. Bi Hong menangis terisak-isak.

“Berjanjilah.....” Wang Sin mendesak.

Dua orang itu saling pandang, tak dapat menjawab karena kebencian masih meracuni hati.

“Berjanjilah... kalau kalian tidak... mau menurut... aku takkan mati meram.....”

Bi Hong menggelengkan kepala. “Aku akan, menurut ayah. Aku... aku takkan memusuhi... dia....”

“Ci Ying berjanjilah..... dia sudah yatim piatu, apa... masih...masih benci padanya?”

Ci Ying yang lebih dulu menjawab. “aku berjanji, pesanmu.....”

Wang Sin menarik napas panjang, kelihatan lega sekali. Ia memandang puteranya, tersenyum. “Ci Ying kulihat Yang Nam berubah baik... kau langsungkan pernikahan anak kita... jangan lupa syarat-syarat yang kita ajukan dahulu... harus dipenuhi... kasihan para budak... sudahlah selamat tinggsl semua... aku pergi....”

Orang gagah yang menjadi buah bibir sebagai seorang pahlawan jantan para budak di Tibet itu menghembuskan napas yang terakhir diiringi tangisan Ci Ying, Bi Hong dan Kalisang. Yang Nam melihat ini segera maju dan menghibur, lalu mengurus jenazah itu dibawa ke dalam.

Sementara itu pertempuran antara Cheng Hoa Suthai dan Yalu Sun masih berlangsung terus dengan hebatnya. Mereka berdua tidak memperdulikan akan semua kejadian di situ. Sebetulnya Yalu Sun merasa tidak enak sekalipun ingin menghentikan pertempuran akan tetapi mana dia bisa?

Cheng Hoa Suthai yang selama ini belum pernah menemukan tandingan, sekarang menghadapi pemuda itu ia tidak mampu merobohkannya, sudah menjadi penasaran dan marah sekali, menyerang dengan hebat dan tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk keluar dari kalangan pertandingan. Mereka sudah bertempur selama tiga ratus jurus lebih dan Yalu Sun mulai terdesak.

Tiba-tiba terkesiur angin dan tahu-tahu di dekat pertempuran sudah berdiri seorang kakek tua yang bertubuh jangkung kurus. Kakek ini mengelus-elus jenggotnya yang sudah panjang, lalu berkata halus.

“Cheng Hoa, sampai tua kau masih saja galak sekali!” Ia menghela napas dan mengebutkan tangan kirinya. Ujung bajunya menyambar ke tengah pertempuran dan dua orang yang sedang bertanding itu terhuyung mundur dan perkelahian mereka terhenti.

“Suhu....” Yalu Sun berseru girang dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

“Kau....?” kata Cheng Hoa Suthai dan... aneh sekali, wajah nenek itu menjadi merah seperti orang malu, akan tetapi matanya memancarkan sinar ganjil, seperti orang yang tiba-tiba teringat akan sesuatu yang mesra. “Jadi dia ini muridmu? Lihai sekali kau, makin tua makin hebat!”

“Cheng Hoa, pertempuran kali ini sebetulnya menggirangkan, sayang terjadi peristiwa menyedihkan dengan kematian mantu muridmu.”

Pada saat itu, Ci Ying, Bi Hong, dan Kalisang juga sudah keluar dan semua mata memandang kakek yang baru datang ini dengan heran. Cheng Hoa Suthai lalu memperkenalkan kakek itu kepada Ci Ying.

“Dia ini.... dia Pek-kong Kiam-sian Ton Tek Cinjin, dia dahulu.... dia dahulu.... suhengku.” Tentu saja nenek ini malu untuk mengaku bahwa sebenarnya kakek ini dahulu adalah kekasihnya.

Mereka berpisah karena watak Cheng Hoa Suthai yang amat galak sehingga terjadi percekcokan yang memisahkan mereka. Cheng Hoa Suthai memandang kepada Yalu Sun dan berkata kagum. “Orang muda, kau tidak memalukan menjadi muridnya.”

To Tek Cinjin tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya, memandang Ci Ying dan berkata. “Muridmu ini juga hebat, biarpun galak seperti kau tapi dapat memaafkan anak tirinya. Ci Ying, ketika kau ditolong oleh gurumu, ingatkah kau akan bocah yang dulu kau bawa minggat dari Loka? Dia itulah bocah itu. Aku tidak tahu namanya, maka kuberi nama Yalu Sun.”

Ci Ying terkejut dan memandang kepada pemuda itu. Lalu ia terisak dan berlari maju, memegang kedua tangan Yalu Sun. “Kau... kau Wang....!”

Yalu Sun melongo, tidak tahu apa artinya ini semua. Dengan ringkas Ci Ying lalu menuturkan riwayatnya ketika masih bayi, bagaimana orang tuanya terbunuh oleh kaki tangan tuan tanah Yang Can dan bagaimana ia membawa anak itu melarikan diri.

Mendengar ini, Yalu Sun menjatuhkan diri di depan Ci Ying dan berkata sambil menangis. “Kalau begitu, kau sudah menolong jiwaku.... banyak terima kasih atas semua budimu, bibi....”

Semua orang terharu melihat adegan ini dan tidak ada orang yang membuka suara. Maka amat jelas kedengaran suara Pek-kong Kiam-sian ketika ia berkata.

“Dunia ini merupakan tempat ujian bagi manusia, juga tempat hukuman. Siapa tidak kuat pasti tergoda dan melakukan perbuatan-perbuatan sesat. Makin besar penyelewengannya makin besar pula hukumannya. Namun betapapun besar penyelewengannya, asal orang itu dapat sadar, insaf, dan bertobat kembali ke jalan benar, dia boleh dibilang manusia berbahagia.

"Kasihanilah orang yang tidak menyadari kesalahan sendiri dan terus membuta dan tidak tahu bahwa dia menindak ke jalan sesat, menganggap diri sendiri baik dan menimpakan semua kesalahan kepada orang-orang lain. Permusuhan antara Yang Nam dan Wang Sin disudahi dengan pengikatan jodoh anak-anaknya, itulah baik sekali. Semoga selanjutnya masing-masing akan dapat bekerja sama demi kebahagiaan orang-orang yang patut ditolong.

"Dan kau, Bi Hong. Gurumu To Gi Couwsu adalah suteku sendiri, maka kau adalah murid keponakanku. Kau sudah membunuh hwesio-hwesio Tibet, akan tetapi hal ini adalah karena Thu Bi Tan Hwesio dan Ga Lung Hwesio atas kehendak mereka sendiri telah menyerbu ke Kun-lun dan membunuh Cin Kek Tosu dan Ong Bu Khai. Maka dengan pembalasan ini, hutang piutang sudah lunas.”

Setelah berkata demikian, kakek ini memandang ke arah para hwesio Tibet dengan mata berpengaruh. Adapun Bi Hong ketika mendengar bahwa kakek itu adalah supeknya sendiri lalu memberi hormat.

Dari golongan hwesio yang berkedudukan tinggi, berdiri seorang hwesio yang sudah tua, bertubuh kurus dan bersikap agung. “Omitohud, apa yang To-yu katakan tiada salahnya. Baru sekarang pinceng beramai tahu bahwa sute Thu Bi Tan telah membinasakan orang-orang Kun-lun-pai. Biarlah hutang nyawa, bayar nyawa, semua sudah ditentukan oleh Karma masing-masing. To-yu suka menghabiskan sampai di sini saja, pinceng mengucapkan banyak terima kasih.”

Diam-diam To Tek Cinjin kagum sekali dan ia berkata kepada muridnya. “Yalu Sun, Bi Hong, marilah kau ikut pinto kembali ke Kun-lun-san.”

Dua orang muda itu tidak membantah, setelah berpamitan kepada Ci Ying yang menjadi terharu sekali. Kedua orang muda itu lalu mengikuti Pek-kong Kiam-sian kembali ke timur.

Pernikahan dilangsungkan dan semenjak saat itu, terjadi perubahan besar bagi para budak di Tibet. Kalisang mendapat pangkat di Lasha dan pemerintahan mengeluarkan undang-undang supaya para tuan tanah lebih memperhatikan nasib para budak.

Adapun Ci Ying, dia bertindak sebagai pemeriksa. Dia berkelana di Tibet untuk memeriksa apakah perintah ini dijalankan baik-baik oleh para tuan tanah di dusun-dusun sehingga nasib para budak agak terjamin. Akan tetapi usia manusia terbatas. Setelah orang-orang seperti Ci Ying dan Kalisang meninggalkan dunia ini, siapa lagi yang memperdulikan nasib para budak?

Tuan tanah, mereka mempunyai pegangan sendiri bahwa tanpa memeras para budak, kekayaan mereka takkan bertambah dengan mudah. Bagi mereka, mengeluarkan modal setail harus mendapat keuntungan sepuluh tail, biarpun dengan jalan apa juga, kalau perlu menindas para budak agar mereka bekerja lebih hebat dengan mendapat upah lebih rendah.

Selama sistem tuan tanah dan perbudakan belum hapus dari muka bumi, selama itu pula nasib para budak, para buruh tani akan tergencet. Banyaknya peluh yang keluar dari badan tidak cukup untuk memuaskan dahaga, untuk mengenyangkan kelaparan, untuk menyelimuti tubuh yang telanjang.

Beberapa puluh tahun kemudian, kembali para budak di Tibet mengalami penindasan, kembali tuan-tuan tanah menjadi raja kecil dengan begundal-begundalnya berikut pendeta-pendeta yang hanya bersih kulit kepalanya, namun kotor hatinya. Rakyat kecil tetap menderita. Akan tetapi Tuhan bersifat Adil, pasti akan tiba saatnya si penderita menang, si penindas hancur.

TAMAT

Pilih jilid,
NONA BERBUNGA HIJAU