Social Items

Serial Pendekar Mabuk
Cermin Pemburu Nyawa
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
ANGIN laut berhembus cukup besar. Ini membuat peluang baik bagi kapal layar untuk bergerak dengan cepat. Tapi kenyataannya kapal itu justru berhenti tak bergerak sedikit pun, kecuali hanya timbul tenggelam dipermainkan oleh ombak.

"Aneh. Banyak angin, tak ada karang penghalang, layar berkembang, tapi mengapa kapal ini berhenti sendiri? Apa yang menghambat lajunya kapal ini? Kandas juga tidak, kedalaman laut cukup. Kenapa kapal jadi berhenti?"

Nakhoda Salju terheran-heran. Matanya yang lebar memandang sekeliling haluan lewat ruang nakhoda. Nakhoda Salju adalah pengemudi kapal itu. Orangnya berbadan kekar, berwajah bengis tanpa kumis. Rambutnya panjang bagian belakang, sedang rambut depan botak mulus hingga jidatnya kelihatan sangat lebar.

Ia mengenakan anting bulat sebelah kanan. Usianya sekitar lima puluh tahun, berpakaian biru laut, berikat pinggang merah tua. Sekalipun berwajah lonjong tapi dia punya suara berat, namun gerakannya gesit. Dari depan ruang nakhoda yang ada di bagian haluan, ia serukan suara ke arah geladak,

"Sumbing Gerhana! Sumbing Gerhana...!"

"Ya. Aku di sini!" teriak seseorang bertubuh kurus, berbibir sumbing bagian atasnya, sehingga ia sulit mengucapkan huruf 'P'. "Ada afa, Nakhoda?!' sambungnya.

Orang berpakaian rompi hitam dan celana merah itu bergegas menuju ruang nakhoda. Rambutnya yang panjang melewati pundak itu tidak diikat sehingga meriap-riap dipermainkan angin, ia datang mendekati Nakhoda Salju sambil tetap menggenggam cambuk yang terlipat ujungnya, tanda tidak sedang digunakan.

"Apakah ada yang turunkan jangkar?"

"Tidak ada! Kenafa...?"

"Bodoh! Tidakkah kau rasakan bahwa kapal berhenti, tidak bergerak maju kecuali diayun-ayunkan ombak dari tadi?!"

"Kafal werhenti?!" ucap Sumbing Gerhana dengan heran, dengan kata-kata yang aneh bagi orang yang baru mendengarnya, sebab ia tidak bisa menyebutkan huruf 'P' dan 'B'. Jika ia menyebutkan huruf 'P' diganti 'F', dan huruf 'B' diganti 'W', karena bibir atasnya yang sumbing sukar dipertemukan dengan bibir bawahnya. Sekalipun dia sumbing, tapi dia menjabat sebagai keamanan kapal tersebut, sehingga galak sikapnya kepada para awak kapal lainnya.

Setelah Sumbing Gerhana memandangi sekelilingnya, barulah ia berkata kepada Nakhoda Salju, "Wenar juga afa katamu, kafal tidak wergerak! Fadahal wanyak angin, layar fun werkemwang wagus!"

"Wagus, wagus!" omel Nakhoda Salju. "Periksa sekitar kapal, siapa tahu ada yang lego jangkar!"

"Waik, waik...!" kemudian Sumbing Gerhana memeriksa buritan dan sekitarnya, ia melihat jangkar masih ada di tempatnya, tidak bergerak turun.

"Dayuuung...!" teriak Sumbing Gerhana. "Dayuuung...! Kafal tidak wergerak! Ayo, lekas dayuuung...!"

Tarr...! Tarrr...!

Sumbing Gerhana melecutkan cambuknya. Maka, dua puluh budak tanpa baju segera mendayung kapal itu dengan serempak. Mereka ada di kanan kiri kapal, duduk di tempat pendayung. Para budak pendayung paling takut jika Sumbing Gerhana marah. Cambukannya lebih sering ngawur. Sumbing Gerhana tak pernah pikirkan cambukannya mengenai hidung atau mata mereka, yang penting dengan melecutkan cambuk dan membentak-bentak, itu adalah tugas utama baginya, disamping menjaga keamanan sekitar geladak kapal.

Sumbing Gerhana kembali menghadap Nakhoda. "Tak ada hamwatan! Para fendayung sudah wekerja!"

"Tapi kapal sudah bergerak apa belum? Lihat!" sentak Nakhoda Salju yang lebih galak dari Sumbing Gerhana.

Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata kapal masih belum bergerak. Padahal dua puluh tenaga budak pendayung telah dikerahkan. Mereka juga mendayung dengan penuh semangat. Tapi kapal masih belum mau bergerak.

"Iya. Kenafa welum wergerak juga?" Sumbing Gerhana garuk-garuk kepalanya dengan bingung.

"Periksa bagian bawah kapal. Jangan-jangan ada karang menjepitnya! Terutama periksa bagian buritan dan haluan!"

Sumbing Gerhana tidak segera terjun ke laut untuk memeriksa bagian bawah kapal. Dia memerintahkan dua orang anak buahnya untuk memeriksa keadaan dasar kapal. Kedua orang itu melakukan tugas dan cepat kembali menghadap Sumbing Gerhana sambil memberi laporan, bahwa tak ada satu karang pun yang menjepit dasar kapal. Maka, Sumbing Gerhana cepat menghadap Nakhoda Salju lagi.

"Tidak ada karang menjefit kafal ini! Keadaan di wawah kafal aman!"

"Hmmm... lalu, kenapa kapal tidak mau bergerak?"

"Mana aku tahu?"

"Ada di dalam kamarnya. Sedang tidur!"

"Celaka! Kalau sang ketua tahu, kita yang disalahkan!"

"Afa woleh wuat...?!" Sumbing Gerhana angkat bahunya.

Kapal itu tergolong jenis kapal besar. Mempunyai tiang layar tiga, yang utama ada di depan. Layar lebar itu berwarna merah dengan gambar tengkorak dikelilingi tujuh mata rantai dan di atas gambar tengkorak dari warna putih itu ada gambar mahkota yang juga berwarna putih. Setiap ujung tiang layar mempunyai bendera segi tiga warna hitam dengan gambar tengkorak dan mahkota warna putih.

Warna lambung kapal juga merah tua. Di ujung haluannya mempunyai balok panjang ke depan dengan hiasan tujuh tengkorak bersusun dari atas ke bawah. Tiap tiang layar mempunyai tempat pengintai dan di sana ditempatkan tiga petugas pengintai yang selalu berada di pertengahan tiang layar.

Bagi para tokoh dunia persilatan yang tergolong tua, mereka sangat kenal dengan kapal berciri-ciri seperti itu. Mereka tahu, bahwa kapal itu adalah kapal Siluman Tujuh Nyawa, yang menguasai perairan laut utara, ia mempunyai banyak sekutu yang menguasai beberapa pulau dan wilayah tertentu.

Bagi mereka yang tidak mau bersekutu atau menolak kerja sama dengan Siluman Tujuh Nyawa, maka maut pun menjemput mereka tanpa ampun lagi. Tetapi kali ini kapal milik tokoh sesat yang terkenal sakti dan berilmu tinggi itu terhenti tanpa sebab-sebab yang pasti.

Nakhoda Salju dan Sumbing Gerhana merasa cemas. Sebab jika Siluman Tujuh Nyawa yang dipanggil mereka dengan sebutan sang ketua itu mengetahui dan murka, habislah nyawa mereka berdua. Selama ini sudah lebih dari dua puluh nakhoda berganti karena mati di tangan Siluman Tujuh Nyawa. Hanya Nakhoda Salju itulah pengemudi kapal yang punya masa jabatan cukup lama dibanding nakhoda lainnya.

"Afa yang harus kita lakukan kalau wegini?" tanya Sumbing Gerhana dengan hati cemas.

"Jaga supaya sang ketua jangan bangun dari tidurnya!"

"Akan kusuruh felayannya untuk tidak memwuat kegaduhan!" kata orang yang bergigi tonggos itu.

Tapi sebelum Sumbing Gerhana bergerak masuk ke lambung kapal untuk menemui pelayan dan penjaga kamar Siluman Tujuh Nyawa, tiba-tiba ia mendengar suara seruan dari petugas pengintai di tiang layar belakang.

"Ada sesuatu yang bergerak kemari! Ada yang mendekat kemari!"

Sumbing Gerhana bergegas kebelakang, ia tengadahkan wajah dan berseru kepada petugas pengintai di tiang itu, "Afa wujudnya? Kafal atau ferahu?!"

"Tak jelas! Gerakannya cepat!"

"Ikan faus...?!"

"Tak jelas juga!" Orang itu menutupkan tangannya untuk menghalau silau cahaya matahari agar bisa memandang dengan jelas apa yang dilihatnya bergerak, ia bahkan sempat kelihatan bingung pada waktu Sumbing Gerhana bergegas menaiki tangga tiang yang terbuat dari anyaman tambang itu.

"Hilang...!" teriak petugas pengintai.

"Afanya yang hilang! Aku di sini, wodoh!"

"Bukan kamu yang hilang, tapi sesuatu yang aneh dan yang bergerak kemari itu yang hilang!" seru petugas pengintai.

"Kenafa bisa hilang?!" bentak Sumbing Gerhana.

"Mana aku tahu?! Dia hilang sendiri! Bukan aku yang hilangkan!"

"Cari, cari!"

"Cari ke mana?!" sambil petugas pengintai memandang sekeliling, diikuti oleh petugas pengintai di tiang kedua dan tiang pertama. Yang ada di tiang kedua berseru,

"Tidak ada apa-apa!"

Yang di tiang pertama juga berseru, "Mungkin hanya punggung ikan besar!"

"Ikan wesar?! Mengafa ikan wesar kemari?!" seru Sumbing Gerhana.

"Yang jelas bukan mau menjadi anggota kapal kita!" jawab pengintai di tiang kedua.

Nakhoda Salju menyuruh anak buahnya untuk menjaga kemudi, ia bergegas keluar dari ruang nakhoda. Tapi baru sampai di depan ruang nakhoda, tiba-tiba matanya terkesiap melihat sesuatu yang melompat dari laut ke tepian geladak.

Jlegg...!

"Sumbing Gerhana! Ada tamu tak diundang butuh cambukanmu!" seru Nakhoda Salju.

Semua mata tertuju pada tamu tak diundang itu. Bahkan Sumbing Gerhana sempat ternganga mulutnya karena bengong melihat sesuatu yang mengagumkan, juga para pengintai di atas tiang itu memandang tak berkedip. Ada pula yang bersuit dan menggoda dari sisi lain. Para pendayung serentak hentikan gerakan dayungnya dan tertegun memandang perempuan cantik yang muncul bagaikan setan.

Perempuan itu tampak cantik luar biasa, ia berpakaian penutup dada warna hijau dengan hiasan benang emas yang ketat dengan bentuk pinggang sampai dadanya yang montok itu. Ia juga mengenakan celana hijau beludru ketat berhias benang emas. Pakaian itu dirangkapi baju jubah warna biru muda transparan terbuat dari sutera halus.

Rambutnya sebagian digulung kecil di atas kepala, tapi bagian belakang dan sisanya dibiarkan terurai panjang sebatas punggung, ia mengenakan mahkota emas kecil sebagai penghias bagian depan rambutnya, juga mengenakan kalung lempengan emas berhias mutiara susun dua, juga gelang keroncong yang jumlahnya lima buah tiap tangan. Tak lupa senjata pedang bersarung tembaga berukir tersandang di punggungnya. Gagang pedang dari tembaga itu mempunyai hiasan benang warna merah.

Hidungnya bangir, bibirnya indah dan menggemaskan. Matanya tidak terlalu lebar tapi membulat indah dengan bulu mata yang lentik, alis mata yang tidak terlalu tebal tapi terlihat hitam berbentuk indah. Kulitnya kuning langsat dengan potongan dada dan pinggul yang sekal, menantang gairah lelaki.

Sumbing Gerhana cepat turun tangga dan menemui perempuan cantik beraroma wangi bunga melati itu. Sumbing Gerhana memperlihatkan senyumnya yang tak jelas karena bibirnya sumbing. Perempuan itu memandang Sumbing Gerhana dengan wajah ketus, tanpa senyum sedikit pun di bibirnya yang tampak merah ranum itu.

"Rufanya kaulah orang yang tahan laju kafal ini!" kata Sumbing Gerhana sambil matanya memandang penuh selidik, bertolak pinggang sebelah tangan, sedangkan tangan yang satu masih memegangi cambuk hitam yang dilipat melingkar.

"Memang aku yang menahan kapal ini!" sahut perempuan itu ketus.

"Mengafa kau tahan kafal ini? Wutuh hiwuran hangat, hah?!"

Ledekan dari Sumbing Gerhana membuat awak kapal lainnya tertawa, tapi Nakhoda Salju diam saja sambil tetap pandangi perempuan itu. Sementara itu, anak buah yang ditugaskan menjaga kemudi kapal berbisik dari belakang,

"Kemudi tidak bisa digerakkan dari tadi, Nakhoda!"

"Tinggalkan dulu soal kemudi. Nikmati dulu pemandangan indah yang jarang kita temukan itu!" kata Nakhoda Salju sambil tetap pandangi perempuan itu, dan sang anak buah ikut memandang dengan senyum yang gembira. Bahkan ia bersuit kecil tanda kagum, lalu berkata seperti bicara pada diri sendiri,

"Luar biasa cantiknya!"

"Ya. Tapi dia pasti berilmu tinggi."

"Dari mana Nakhoda tahu?"

"Dia yang menahan kapal ini dan membuat kemudi tidak bisa digerakkan. Pasti dia bukan perempuan sembarangan!"

Sementara itu, di geladak terdengar Sumbing Gerhana, "Mana yang mau kau filih untuk menghangatkan tuwuhmu? Aku lebih dulu, atau nakhoda di atas sana?"

"Kau lebih dulu!" jawab perempuan itu.

Sumbing Gerhana tertawa kegirangan. Tapi tawanya tiba-tiba terhenti seketika. Mereka heran melihat Sumbing Gerhana mendelik sambil menahan rasa sakit. Hanya Nakhoda Salju yang tahu, bahwa perempuan itu menggerakkan tangan kanannya ke samping, meremas telunjuknya sendiri, tapi Sumbing Gerhana yang merasa diremas, ia tak bisa memekik atau bersuara karena sangat kesakitan. Wajahnya menjadi merah pertanda menahan rasa sakit yang luar biasa.

Wuttt wuttt...! Jlegg...!

Nakhoda Salju bersalto dari depan ruang nakhoda. Dua kali berjungkir balik di udara, tubuhnya segera sampai di depan perempuan itu, agak lebih ke belakang Sumbing Gerhana. "Lepaskan dia! Aku tahu kau telah meremasnya melalui remasan telunjuk jarimu itu!" kata Nakhoda Salju.

"Kau cukup jeli ketimbang Sumbing Gelhana," kata perempuan itu sambil melepaskan remasan tangannya sendiri.

Sumbing Gerhana jatuh dan terengah-engah. Sisa rasa sakit masih terasa menjalar di sekujur tubuhnya, ia melirik perempuan itu dan bergeser menjauh. Tak berani untuk berdiri karena masih terasa lemas di sekujur tubuhnya. Keringat pun jadi membersit di kening.

"Agaknya kau telah mengenal kami, sehingga bisa sebutkan nama Sumbing Gerhana!" kata Nakhoda Salju.

"Sangat kenal," jawab perempuan itu. "Bahkan aku kenal kamu sebagai manusia dingin yang berjuluk Nakhoda Salju!"

Terkesiap mata Nakhoda Salju, merasa heran namanya bisa disebutkan oleh perempuan yang belum dikenalnya. Kemudian Nakhoda Salju ajukan tanya, "Siapa kau sebenarnya?"

"Dayang Kesumat!" jawab perempuan itu.

Makin berkerut dahi Nakhoda Salju, karena merasa asing dengan nama Dayang Kesumat. "Baru sekarang kudengar namamu, Dayang Kesumat!"

"Memang balu sekalang kusebutkan nama itu di depanmu!"

"Aneh," Nakhoda Salju tertawa pendek berkesan sinis dan dingin.

Pada waktu itu, Sumbing Gerhana sudah memperoleh kekuatannya kembali, ia cepat berdiri dan menggeram sambil melepas ujung cambuknya, siap untuk dilecutkan. "Feremfuan setan! Seenaknya saja kau remas aku, hah?! Kau harus terima walasanku, hiihh...!"

Traepp...!

Cambuk yang dilecutkan melilit di tangan Dayang Kesumat yang digerakkan ke atas. Dengan cepat cambuk itu digenggamnya. Sumbing Gerhana mencoba menarik dengan kekuatan penuh, Dayang Kesumat makin kuat meremas cambuk. Dan tiba-tiba tubuh Sumbing Gerhana tersentak ke belakang dengan kerasnya. Cambuknya terlepas dari tangan, tubuhnya mental jauh hingga membentur dinding barak.

Brakkk...!

Cambuk yang masih digenggam oleh Dayang Kesumat itu segera dilemparkan ke arah Sumbing Gerhana. Wusss...! Dan tiba-tiba cambuk itu terbakar dengan sendirinya. Beberapa pendayung segera memadamkan cambuk itu dan mundur menjauhi Dayang Kesumat. Tetapi orang-orang kapal lainnya segera mengurung Dayang Kesumat yang kini berhadapan dengan Nakhoda Salju.

Tetap tenang dan angker wajah Nakhoda Salju walau ia mendengar Sumbing Gerhana menggerutu berkepanjangan. Dayang Kesumat pun belum bergerak dari tempat berdirinya semula. Padahal ia berada di tepian geladak, satu kali dorong saja tubuhnya akan jatuh ke laut. Tapi Nakhoda Salju tidak mau melakukan hal itu. Ia tahu, perempuan yang di depannya bukan orang lemah yang bisa didorong dan diceburkan ke laut dengan begitu saja.

"Apa maksudmu datang kemari? Mau membuat kekacauan di kapal ini? Apa ingin mengadu nyawa dengan seseorang di sini?!"

"Mana Siluman Tujuh Nyawa yang menjadi ketua kalian?! Aku mau beltemu dengan dia!" jawab Dayang Kesumat dengan bahasa cadel, tak bisa sebutkan huruf 'R'

"Ada perlu apa kau ingin bertemu dengan sang ketua?"

"Itu ulusanku!"

"Aku harus tahu, karena aku nakhoda di kapal ini! Aku bertanggung jawab atas keselamatan jiwa para penumpang dan awak kapalku!"

"Jangan banyak mulut, Nakhoda Salju! Kau tak akan bisa belnapas lagi jika kesabalanku habis!" ancam Dayang Kesumat.

"O, kau mau menggertakku, Dayang Kesumat?" kata Nakhoda Salju dengan mata tajam memandangnya. "Ketahuilah, Dayang Kesumat... aku orang yang tidak pernah mempan dengan gertakan ataupun ancaman! Aku tahu kau punya ilmu, tapi aku bisa ukur ilmumu tak akan lebih dari ilmu yang kumiliki!"

Tiba-tiba Dayang Kesumat menggenggam jari tengahnya sendiri, sementara ketiga jari lainnya mengeras lurus. Jempol tangan itu menekan kuat jari tengahnya, dan Nakhoda Salju cepat-cepat sentakkan tangannya ke bawah. Kedua tangan ada di depan pusarnya, menekan sesuatu yang terasa ingin menggapai keluar. Dengan tenaga dikerahkan Nakhoda Salju menekan tangannya ke bawah. Tubuhnya menjadi gemetar, ia tampak menguras tenaga melawan kekuatan yang ditolaknya itu.

Tiba-tiba Dayang Kesumat sentakkan jari tengahnya bagai disentilkan ke depan, dan wuttt...! Tubuh Nakhoda Salju terlempar jauh hingga membentur dinding sebuah barak di bagian buritan. Brakkk...! Tubuh itu memantul ke depan karena kerasnya dan jatuh tersungkur di lantai geladak.

Kayu papan dinding barak jebol sebagian karena benturan keras tubuh Nakhoda Salju. Sementara itu, Dayang Kesumat hanya tersenyum tipis, dan orang- orang di sekitarnya memandang bingung ke arah Nakhoda Salju. Para pendayung menjadi cemas dan segera menjauhkan diri dari Dayang Kesumat.

* * *

DUA
DUA orang pemuda berwajah kembar keluar lebih dulu dari dalam lambung kapal. Matanya langsung menatap Dayang Kesumat. Lalu kedua orang kembar itu berhenti di depan tangga yang menuju ke dalam lambung kapal. Seperti ada yang ditunggu mereka untuk dikawal jalannya. Tak berapa lama, muncul seorang berkerudung hitam dari atas kepala sampai kakinya. Orang itu membawa senjata panjang berupa sejenis tombak yang punya mata panjang membengkok sedikit dengan ujung yang runcing. Panjang mata senjata itu antara dua jengkal. Ketajamannya berkilauan terkena sinar matahari.

Melihat pakaian hitam yang dilapisi jubah kerudung hitam dari atas kepala sampai kaki, dan memegang pusaka El Maut, Dayang Kesumat tak salah duga lagi, dia adalah Siluman Tujuh Nyawa yang selalu tampil di mana-mana dengan sosok sebagai El Maut.

Wajahnya pucat pasi, mirip kertas putih. Hidungnya mancung, tampak masih muda belia. Bibirnya biru bagai bibir mayat, matanya bertepian hitam kebiru-biruan, menambah kepucatan wajah itu. Sebenarnya wajah pucat berlapis semacam bedak putih itu adalah wajah yang tampan. Tapi kesan dingin dan keji terlihat jelas di wajah itu, sehingga perempuan yang melihatnya akan menjadi merinding kehilangan rasa kagumnya.

Ketika orang berkerudung jubah hitam itu muncul, semua yang ada di kapal membungkukkan badan, memberi hormat. Dayang Kesumat makin yakin, orang itulah sang ketua yang bergelar Siluman Tujuh Nyawa.

Durmala Sanca, nama asli Siluman Tujuh Nyawa, sangat dikenal oleh Dayang Kesumat. Tak ada hormat sedikit pun yang dilakukan oleh perempuan itu, walau ia sudah berhadap-hadapan dengan Siluman Tujuh Nyawa yang didampingi pengawal pribadinya yang kembar rupa itu, dan dikenal oleh Dayang Kesumat dengan nama Doma dan Damu. Sepasang pengawal kembar itu sulit dibedakan jika mereka tidak berbeda rompi.

Doma mengenakan rompi kuning, dan Damu memakai rompi merah. Keduanya sama-sama memakai celana hitam dan ikat kepala sama dengan warna rompi masing-masing. Rompi itu panjang, mencapai bawah perut dan diikat dengan kain hitam.

Siluman Tujuh Nyawa memandangi wajah Nakhoda Salju dan Sumbing Gerhana yang tampak menahan sakit itu. Pandangan mata orang berwajah putih itu sangat dingin, tak ada kesan heran, sedih, marah, atau apa pun. Wajah itu adalah wajah datar yang beku bagai balok salju. Sinar matanya pun bagai membekukan darah bagi orang yang dipandanginya. Nakhoda Salju dan Sumbing Gerhana sama-sama tundukkan kepala.

"Apakah aku mengenalmu?" tanya Siluman Tujuh Nyawa kepada Dayang Kesumat.

"Telgantung kepekaan nalulimu!" jawab Dayang Kesumat.

"Sebutkan namamu!"

"Dayang Kesumat!"

"Nama yang aneh dan asing bagiku. Mau apa kau bikin perkara di atas kapalku?"

"Aku menuntut ganti lugi atas tindakan anak buahmu yang belnama Dadung Amuk!"

"Dadung Amuk?!"

"Ya! Dia telah mempolak-polandakan tempatku gala-gala menuduhku menyembunyikan Kitab Pusaka Wedal Kesuma! Aku tidak melasa memiliki pusaka itu, tapi melasa banyak dilugikan oleh tingkah lakunya yang konyol!"

"Apakah Dadung Amuk mendapatkan kitab itu?"

"Aku tidak tahu!"

Siluman Tujuh Nyawa diam sebentar, lama dipandanginya Dayang Kesumat. Kejap berikut ia segera perdengarkan suaranya yang sedikit serak, "Jadi, apa maumu sekarang?"

"Selahkan Dadung Amuk padaku! Atau kau hukum gantung dia di depanku! Jika kau tetap sembunyikan dia, akan kuhanculkan kapal ini!"

"Lancang mulutmu!" sentak Doma, lalu ia kibaskan tangannya bagai menebarkan sesuatu.

Dayang Kesumat cepat sentakkan kaki dan melesat keudara, pindah tempat di tengah geladak. Sedangkan hasil tebaran tangan Doma itu melesat berupa serbuk berkerlip-kerlip merah dan jatuh di lautan. Air laut tiba-tiba menyentak muncrat ke atas dengan menimbulkan suara seperti api disiram air. Josss...!

Damu segera mengejar Dayang Kesumat. Tapi Dayang Kesumat cepat-cepat menggenggam kelingkingnya yang ditekan dengan ibu jari, sementara ketiga jari lainnya mengeras tegang. Tangan itu tetap berada di samping, bagai setengah disembunyikan.

Damu terhenti langkahnya dan lehernya terjulur-julur ke atas dengan suara tercekik. Mata Damu pun mendelik-mendelik, sukar bernapas. Dan tiba-tiba tangan Dayang Kesumat disentakkan ke depan sambil melepas kelingking yang diremasnya, kemudian tubuh Damu terlempar jatuh di bawah tiang. Brukkk...!

Melihat saudara kembarnya diperlakukan demikian, Doma cepat bergerak maju. Tapi tangan sang ketua cepat pula mencengkeram pundak Doma, lalu menyeretnya mundur. Sang ketua maju dua tindak berhadapan dengan Dayang Kesumat.

"Cukup tinggi ilmu 'Jemari Mayat'-mu, Dayang Kesumat! Setahuku ilmu 'Jari Mayat' hanya milik Pengemis Sakti, si Lalang Buana!"

"Sekalang sudah menjadi milikku! Si Lalang Buana sudah tak ada!" jawab Dayang Kesumat dengan rasa bangga.

Wajah Siluman Tujuh Nyawa tetap dingin dan datar saat ia berkata, "Tapi ilmu 'Jemari Mayat'-mu itu tidak berlaku untukku, Dayang Kesumat. Jadi, sebaiknya cepatlah minggat dari kapalku sebelum murkaku tiba dan mencelakakan jiwamu!"

"Aku tidak akan pelgi, sebelum Dadung Amuk kau selahkan padaku, atau kaugantung dihadapanku!"

"Dadung Amuk tidak ada di sini. Dia belum pulang!"

"Kalau begitu, aku halus pastikan kebeladaannya dikapal ini dengan cala menggeledahnya!"

"Bangsat!" teriak Nahkdoa Salju yang cepat bergegas maju. Ia menuding Dayang Kesumat dengan geram kemarahan. "Tak kuizinkan kau menggeledah kapal ini! Karena itu sama saja kau menginjak-injak wibawa dan kehormatan orang-orang di kapal ini!"

Plakkk...! Tiba-tiba tangan Damu berkelebat dan menampar mulut Nakhoda Salju.

Orang berusia sekitar lima puluh tahunan itu tak berani membalas tamparan Damu. Ia bahkan menjadi takut dan cepat mundurkan diri. Siluman Tujuh Nyawa hanya pandangi Nakhoda Salju sebentar, lalu kembali palingkan wajah menatap Dayang Kesumat.

Tapi mata Dayang Kesumat tertuju pada Nakhoda Salju, ia sempat merasa heran, mengapa Nakhoda Salju yang terkenal galak dan bertampang angker itu tak berani melawan Damu yang jauh lebih muda dari usianya. Apakah kedudukan pengawal kembar itu lebih tinggi daripada Nakhoda Salju? Atau memang ilmunya yang lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki si nakhoda galak itu? Cepat-cepat Dayang Kesumat memandang Siluman Tujuh Nyawa, karena orang bertampang muda dan ganteng tapi beku itu, segera ucapkan kata kepadanya,

"Di mana kau tinggal, Dayang Kesumat?"

"Kau tak pellu tahu, Dulmala Sanca!"

"Maksudku, kalau kutahu di mana kau tinggal, jika Dadung Amuk pulang dan menghadapku, dia akan kukirimkan kepadamu!"

"Dengan membawa puluhan olang-olangmu? Dengan maksud menggempul pulauku? O, tidak! Aku tidak bisa telkecoh oleh kelicikanmu, Dulmala Sanca! Aku kenal kau cukup lama, dan tahu pelsis tipu muslihatmu. Tapi aku bukan olang yang mudah kau peldaya, Dulmala Sanca!"

Siluman Tujuh Nyawa diam, mata tajamnya memandang mata Dayang Kesumat. Perempuan itu balas menatap mata Durmala Sanca. Kain jubah mereka sama-sama dikibarkan oleh angin lautan. Mereka sama-sama bungkamkan mulut beberapa saat lamanya. Tak ada orang yang berani bersuara sedikit pun kala itu.

Tangan kanan Siluman Tujuh Nyawa itu menggenggam kuat-kuat tongkat berujung seperti sabit lengkung itu. Senjata pusaka El Maut tetap berdiri tegang dalam genggamannya yang makin lama semakin kuat. Sedangkan Dayang Kesumat menggenggamkan tangan kirinya dengan kuat juga. Makin lama semakin keras genggamannya.

Semua mata memandang tegang antara tangan Siluman Tujuh Nyawa yang menggenggam tongkat pusaka El Maut itu, dan tangan Dayang Kesumat yang tanpa menggenggam benda apa pun. Makin lama makin jelas ada sesuatu yang berubah. Mulut para penonton itu mulai ternganga.

Mereka melihat tangan Siluman Tujuh Nyawa yang menggenggam tongkat El Maut itu mulai merembeskan darah, bagai keluar dari telapak tangannya. Darah itu mengalir ke tongkat hitamnya. Jelas terlihat oleh mereka warna merah yang mengalir walau tak banyak. Sedangkan dari genggaman tangan kiri Dayang Kesumat juga terlihat darah merembes dan menetes di lantai geladak satu kali.

Rupanya kedua tokoh sakti itu saling serang secara batin. Keduanya kerahkan tenaga dalam lewat pandangan mata, dan sama-sama bertahan hingga cucurkan darah dari telapak tangan masing-masing.

Heningnya suasana yang menegangkan itu tiba-tiba dipecah oleh suara petugas pengintai dari layar kedua yang berseru, "Perahu layar kuning mendekat!"

Semua bergegas palingkan wajah ke lautan. Saat itu pula, Siluman Tujuh Nyawa dan Dayang Kesumat melepaskan diri dari serangan masing-masing. Mereka ikut pandangkan mata ke lautan. Dan tampak perahu berlayar kuning dengan simbol tengkorak tujuh mata rantai mulai mendekat. Terdengar suara Nakhoda Salju berseru, "Tabir Akhira...!"

Sumbing Gerhana ikut berseru, "Tafi dia sendirian! Tidak wersama Gagak Neraka?!"

Sebelum perahu layar kuning mendekat rapat, Tabib Akhirat segera sentakkan kaki, dan bagaikan terbang ia melayang pindah ke kapal utama. Perahunya segera diurus oleh para budak pendayung. Tabib Akhirat datang dalam keadaan kaki habis terluka, tapi sudah tampak mengering. Agaknya ia melakukan pengobatan untuk luka kakinya itu selama dalam perjalanan di atas perahunya. Tabib Akhirat yang berjubah hijau dengan pakaian hitam itu segera ditemui oleh Sumbing Gerhana dan mendapat pertanyaan dari orang itu,

"Mengafa tidak wersama Gagak Neraka? Ke mana dia?"

"Mati," jawab Tabib Akhirat yang segera melangkahkan kaki menemui sang ketua, lalu sedikit membungkuk hormat pada sang ketua. Setelah itu, sang ketua ajukan tanya kepada Tabib Akhirat,

"Siapa yang bisa melukai kakimu, Tabib Akhirat?"

"Hantu Laut, sang Ketua!" jawab Tabib Akhirat dengan rasa takut.

"Hantu Laut itu budaknya Tapak Baja! Kenapa kau sampai bisa dilukai oleh dia? Apakah kau sudah bosan hidup denganku?"

"Perlu Ketua ketahui, Tapak Baja pun mati di tangan Hantu Laut!"

Nakhoda Salju terpekik, "Apa...?! Tapak Baja mati di tangan si Hantu Laut?!"

"Betul, Nakhoda Salju! Gagak Neraka pun mati di tangan Hantu Laut! Kalau aku tak cepat melarikan diri untuk kasih laporan kepada sang Ketua, aku pun mati di tangannya!"

"Aku tak percaya dengan penjelasanmu ini," kata sang ketua dengan suara pelan dan lembut. Tapi tiba-tiba tangannya menyentak, punggung tangan itu menghantam dada Tabib Akhirat. Begggh...!

Wussst...! Tabib Akhirat terpental ke belakang bagaikan terbang. Tubuhnya yang kurus itu membentur dua pendayung yang sedang menambatkan tambang perahu layar kuning ke tepian pagar kapal itu.

Byurr...! Satu dari dua orang yang tertabrak Tabib Akhirat itu terjungkal masuk ke laut. Untung ia bisa berenang dan segera mencapai tepian perahu layar kuning. Sedangkan yang satu lagi mendelik matanya karena seperti merasa ditabrak seekor banteng dalam keadaan perut tergencet pagar geladak.

Tabib Akhirat meringis sebentar, lalu cepat-cepat bangkit dan kembali menghadap sang ketua. Wajah sang ketua tetap tak ada perubahan, dingin dan datar. Seakan tak pernah memukul Tabib Akhirat dengan kekuatan tenaga penuh. Wajah Tabib Akhirat pun menjadi pucat.

"Jelaskan yang sebenarnya!" perintah sang ketua dengan tegas.

"Tapak Baja berhasil mencuri Pusaka Tombak Maut milik Jangkar Langit! Pusaka itu akhirnya berhasil direbut Hantu Laut dan dipakai membunuh Tapak Baja dan Gagak Neraka. Semua orang berilmu di Pulau Beliung, termasuk putri bungsunya Ratu Pekat juga dihabisi Hantu Laut dengan Pusaka Tombak Maut itu, Ketua!"

"Pusaka Tombak Maut...?!"

"Betul. Bahkan Hantu Laut merencanakan untuk memberontak melawan kita. Dia bersekongkol dengan Dadung Amuk dan berdiam di Pulau Beliung! Mereka mau membunuh sang ketua dengan menggunakan Pusaka Tombak Maut itu!"

"Dadung Amuk dan Hantu Laut bersekongkol mau bunuh aku?"

"Betul ketua!"

"Dan mereka sekarang bercokol di Pulau Beliung?"

"Tidak salah lagi, Ketua! Karena saya dari sana, dan Gagak Neraka pun mati di sana!"

Siluman Tujuh Nyawa maju satu tindak mendekati wajah Tabib Akhirat, ia tatap mata tabib tua itu dengan tajam dan dingin. Lalu dengan suara lirih sang ketua berkata datar, "Lain kali kubunuh kau jika pulang hanya melaporkan kekalahanmu!"

"Ampun, Ketua. Pusaka di tangan Hantu Laut itu sangat sakti dan...."

Buhgg...! Sang ketua sentakkan pangkal telapak tangannya ke depan. Dada orang berambut abu-abu itu jadi sasaran hingga terdorong kuat ke belakang. Walau tak sampai jatuh, tapi mulut Tabib Akhirat sentakkan napas dan keluar darah kental dari mulutnya. Kepalanya merasa pusing, badannya jadi lemas tiba-tiba, kemudian ia jatuh terduduk dengan bersandarkan dinding barak.

Siluman Tujuh Nyawa cepat palingkan wajah ke arah Dayang Kesumat. Tetapi ternyata perempuan itu sudah tidak ada di tempat. Di sekeliling kapal pun tak ada. Siluman Tujuh Nyawa segera ajukan tanya kepada anak buah Nakhoda Salju yang masih berdiri di depan ruang nakhoda, "Ke mana perempuan itu tadi?"

"Pergi, Ketua! Dia mengendarai sebatang belarak pelepah daun kelapa!" jawab orang tersebut.

"Mengendarai pelepah daun kelapa?!" kata Nakhoda Salju.

"Betul, Nakhoda. Begitu dia dengar Dadung Amuk bersekongkol dengan Hantu Laut dan bermukim di Pulau Beliung, dia langsung melompat dari buritan, dan berdiri di atas pelepah daun kelapa yang berjalan cepat di atas permukaan air, melebihi kecepatan kapal kita ini, dan... hei... Nakhoda, kapal kita sudah mulai bergerak lagi!"

Memang, kapal mulai bergerak lagi. Seolah-olah kapal itu baru saja bebas dari hambatan. Tapi Siluman Tujuh Nyawa tidak menghiraukan kata-kata anak buah Nakhoda Salju itu. Ia cepat memanggil Sumbing Gerhana dan ajukan tanya, "Kau percaya dengan kata-kata Tabib Akhirat?"

"Yang saya tahu, kawar tentang Tatak Waja memiliki fusaka Tomwak Maut itu memang wenar, Ketua! Dia welum lama ini werhasil curi itu fusaka dari tangan Ki Jangkar Langit, saudara seferguruan Dewi Kencana Langit, yang werkuasa di fesisir selatan tanah Jawa, sang Ketua."

"Yang kutanyakan, apakah kau percaya dengan kabar dari Tabib Akhirat tentang persekongkolan Hantu Laut dengan Dadung Amuk itu? Bukan soal Tapak Baja!"

"Mmm... maaf, Ketua. Saya kurang wisa fercaya. Karena waru Tawiw Akhirat yang wilang wegitu! Kalau saja...."

Ucapan Sumbing Gerhana terhenti karena seruan seorang pengintai yang berada di tiang layar pertama, "Ada seseorang yang berenang kemari! Dia mengejar kapal kita!"

Semua orang bergegas ke lambung kiri, karena arah yang ditunjuk oleh pengintai itu ada di sebelah kiri. Mereka sama-sama picingkan mata menatap seseorang yang berenang dengan lemas mendekati kapal yang sedang berjalan.

Siluman Tujuh Nyawa segera perintahkan kepada Nakhoda Salju untuk hentikan kapal sebentar. Nakhoda Salju segera perintahkan pada bagian jangkar untuk membuang jangkar ke laut. Orang yang berenang dengan susah payah itu makin dekat. Lalu terdengar cetusan kata dari mulut Nakhoda Salju.

"Sumbing Gerhana! Orang itu sepertinya Loh Gawe!"

"Loh Gawe...?! Loh Gawe...?!" semua bergumam sebutkan nama Loh Gawe.

Lalu, Siluman Tujuh Nyawa perintahkan Sumbing Gerhana untuk memberikan bantuan kepada Loh Gawe. Sumbing Gerhana segera perintahkan kepada dua budak untuk menjemput Loh Gawe.

Dalam waktu singkat, Loh Gawe sudah diangkat dan dibaringkan di atas geladak. Napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi, kulit tubuhnya banyak yang terkelupas karena terlalu lama di perairan. Setelah diberi minum arak sedikit oleh Sumbing Gerhana, Loh Gawe mulai bisa bicara dan napasnya tidak terengah-engah lagi. Dengan bantuan Sumbing Gerhana, Loh Gawe berdiri lalu menghadap sang ketua yang menunggunya dengan wajah tanpa perubahan apa pun.

"Kau dan Golok Makam kutugaskan menyusul Kapal Neraka dan menyuruh pulang Tapak Baja! Bagaimana hasilnya?"

"Tapak Baja telah tewas di tangan Hantu Laut, sang ketua!"

Siluman Tujuh Nyawa tidak terkejut, demikian pula yang lainnya, karena berita itu tadi sudah didengarnya dari Tabib Akhirat. Siluman Tujuh Nyawa hanya berkata, teruskan bicaramu!"

"Hantu Laut berhasil merebut Pusaka Tombak Maut dan membunuh kakak saya Tapak Baja. Hantu Laut juga menguasai Kapal Neraka. Ketika Jangkar Langit hendak merebut pusaka itu, saya dan Golok Makam datang membantu Hantu Laut, dan Jangkar Langit tewas oleh kami. Tapi ternyata Hantu Laut justru menyerang kami. Dia tak mau menerima perintah pulang, dan bersikeras pergi ke Pulau Beliung untuk menguasai pulau itu dan mengawini Ratu Pekat! Bahkan, Hantu Laut berhasil membunuh Golok Makam dengan senjata tombaknya. Dia juga mengancam akan menggulingkan sang ketua dengan menggunakan tombak pusaka itu!" ucapnya panjang lebar.

Siluman Tujuh Nyawa menampar wajah Loh Gawe keras-keras, hingga Loh Gawe memutar tubuhnya dua kali. Sambil tahan napas dan tahan sakit, Loh Gawe kembali menghadap sang ketua, lalu sang ketua berkata dengan suara pelan penuh murka yang tertahan.

"Mengapa kau tak bunuh tikus gundul itu, hah?!"

"Saya... saya sudah coba, tapi dia cukup tangguh dengan tombaknya itu, Ketua. Lalu, saya melarikan diri untuk kasih kabar kemari!"

Plakkk...! Kembali tamparan itu melayang cepat dan keras. Pipi Loh Gawe merah membekas telapak tangan Siluman Tujuh Nyawa. Dengan tahan napas dan tahan sakit, Loh Gawe kembali menghadap sang ketua. Tapi ia segera rubuh, pingsan di depan sang ketua.

* * *

TIGA
TABIB Akhirat salah duga. Sebenarnya Hantu Laut tidak bersekongkol dengan Dadung Amuk. Pada waktu pertarungannya dengan Hantu Laut, Tabib Akhirat terpaksa melarikan diri karena merasa terluka parah oleh Pusaka Tombak Maut di tangan Hantu Laut itu. Pada waktu ia melarikan diri, ia melihat Singo Bodong ada di pulau itu juga. Singo Bodong punya wajah persis Dadung Amuk, juga potongan tubuhnya, apalagi Ratu Pekat mendandani Singo Bodong agar serupa betul dengan Dadung Amuk. Tujuannya untuk membujuk Hantu Laut agar serahkan Pusaka Tombak Maut. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tumbal Tanpa Kepala).

Tapi usaha itu tak berhasil. Bahkan Pendekar Mabuk atau Suto Sinting dan Dewa Racun nyaris terkecoh dengan penyamaran Singo Bodong yang mirip betul dengan Dadung Amuk. Penglihatan Tabib Akhirat yang salah duga itu membuat gelisah pikiran Siluman Tujuh Nyawa. Bahkan setiap mulut awak kapal membicarakan persekongkolan Dadung Amuk dengan Hantu Laut.

Karena pemberontakan seperti itu baru pertama kali terjadi selama Siluman Tujuh Nyawa menjadi ketua kelompok sesat yang ingin menguasai lautan dan pulau-pulau di utara tanah Jawa. Kabar tersebut membuat mendidih darah orang muda yang tampan namun pucat itu, yang sebenarnya usianya sudah sangat banyak. Lebih tua dari Tabib Akhirat.

"Panggil Nakhoda Salju!" perintahnya ketika manusia berwajah putih itu bangun di pagi hari. Nakhoda Salju pun segera menghadap sang ketua di kamarnya.

"Putar haluan! Arahkan kapal ke Pulau Beliung!" perintahnya.

"Baik, Ketua," jawab Nakhoda Salju sambil sedikit bungkukkan badan. "Tapi bolehkah saya ajukan usul, sang Ketua?"

"Apa usulmu?!"

"Apakah untuk membunuh dua kecoa, sang Ketua akan turun tangan sendiri?"

"Hantu Laut punya senjata Pusaka Tombak Maut! Sudah lama kudengar pusaka itu memang sangat sakti! Kalau tidak aku sendiri yang turun tangan memenuhi tantangannya, tak akan ada yang bisa merampungkan nyawanya!"

"Begitu kecilkah orang-orang di sekeliling sang Ketua, sehingga tidak ada yang mampu kalahkan Hantu Laut? Bukankah Hantu Laut hanya budak kapal kesayangan Tapak Baja? Ia tidak punya kedudukan apa-apa karena memang ia tidak punya kemampuan apa-apa!"

Siluman Tujuh Nyawa diam dan merenungkan diri beberapa saat. Nakhoda Salju berkata lagi,

"Untuk apa sang Ketua punya banyak algojo dan anak buah kalau hanya untuk tangani Hantu Laut harus turun tangan sendiri? Apakah itu tidak akan menjatuhkan wibawa dan harga diri sang Ketua, sebagai tokoh sakti yang dikenal dengan sebutan Siluman Tujuh Nyawa? Apa nanti kata orang-orang rimba persilatan jika mendengar kabar, seorang keroco bernama Hantu Laut mati di tangan Siluman Tujuh Nyawa? Bukankah hal itu akan menjadi bahan cemoohan mereka saja?"

"Kalau begitu, panggil Tabib Akhirat, aku ingin dengar sarannya!"

"Baik, Ketua. Akan segera saya panggilkan Tabib Akhirat Akhirat!" kemudian Nakhoda Salju pun cepat tinggalkan kamar sang ketua yang tidak boleh sembarang orang masuk, kecuali orang-orang berkedudukan tinggi di dalam kelompoknya itu.

Namun ketika Nakhoda Salju keluar dari dalam lambung kapal, ia melihat Tabib Akhirat sudah terkapar di lantai geladak tanpa nyawa lagi. Sehelai daun kecil menancap di leher belakang telinganya. Daun kecil itu masih hijau, masih segar, tapi punya ketajaman melebihi mata pisau cukur.

Dua puluh pendayung itu dengan tekun mendayung kapal tersebut. Sumbing Gerhana sebentar-sebentar lecutkan cambuknya ke tubuh para budak pendayung agar semakin bersemangat mendayungnya. Sesekali terdengar bentakan Sumbing Gerhana yang membuat budak pendayung sangat ketakutan.

"Sumbing Gerhana!" sentak Nakhoda Salju. "Coba lihat kemari!"

Dengan perasan heran, Sumbing Gerhana hampiri Nakhoda Salju, ia terkesiap dan berdebar-debar jantungnya melihat Tabib Akhirat sudah terkapar beku tak bernyawa. Sumbing Akhirat melihat pula selembar daun kecil menancap di leher mayat Tabib Akhirat, ia segera dongakkan kepala memandang Nakhoda Salju sambil ajukan tanya, "Siafa yang wunuh dia?!"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, karena kau sebagai kepala keamanan di atas geladak ini!" sentak Nakhoda Salju.

"Tafi aku tidak lihat dia mati! Tadi dia masih werdiri di tefian geladak ini!"

Nakhoda Salju tarik napas sambil kelilingkan pandangan matanya. Lalu ia berkata kepada Sumbing Gerhana, "Periksalah seluruh geladak. Pasti ada orang asing yang datang dan lemparkan daun bertenaga dalam ini!"

Tiba-tiba terdengar seruan dari pengintai di tiang kedua, "Ada perahu layar biru mendekati kita!"

Sumbing Gerhana kaget dan menjadi dongkol kepada ketiga pengintai, karena perahu layar biru bergambar tengkorak dengan tujuh mata rantai itu berada sudah dalam jarak yang sangat dekat dengan kapal tersebut.

Sumbing Gerhana segera serukan kata kemarahan, "Wodoh! Kenafa waru sekarang kau weritahukan tentang ferahu itu?!"

"Tadi tidak kulihat. Baru saja kulihat secara mendadak!"

Nakhoda Salju bergumam, "Panggil Loh Gawe, karena itu perahunya Loh Gawe! Aku akan perintahkan petugas jangkar untuk turunkan jangkar. Siapa tahu yang ada di perahu itu adalah Golok Makam!"

Loh Gawe segera dipanggil, dan ia menjadi sangat terkejut melihat Tabib Akhirat mati tertusuk daun kecil yang masih hijau segar. Lebih terkejut lagi ketika melihat perahu berlayar biru mendekati kapal tersebut, sedangkan dia tahu perahu berlayar biru itu adalah perahu miliknya.

Hantu Laut melepaskan perahu itu setelah mayat Jangkar Langit dibuangnya ke dalam perahu tersebut. Itulah sebabnya Loh Gawe pulang ke kapal itu dengan berenang, karena ia telah kehilangan perahunya saat bertarung di atas Kapal Neraka. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tumbal Tanpa Kepala)

Ketika perahu itu merapat, Loh Gawe semakin tambah kaget, juga yang lainnya menjadi terperangah, karena perahu itu ternyata kosong tanpa penumpang satu pun. Mayat Jangkar Langit tidak ada di perahu itu. Lantas siapa yang mengemudikan perahu itu hingga merapat ke kapal utama tersebut? Begitulah pikiran mereka saat itu.

"Periksa bagian bawah perahu itu! Pasti ada orang yang bersembunyi di sana sambil mendorong perahu untuk merapat kemari!" perintah Nakhoda Salju kepada Sumbing Gerhana.

Dan segera Sumbing Gerhana perintahkan kepada dua anak buahnya untuk memeriksa bagian bawah perahu berlayar biru itu. Tapi mereka tidak menemukan siapa-siapa di bawah perahu tersebut. Bahkan bagian dalam perahu diperiksa dengan teliti ternyata tidak ada benda lain yang mencurigakan, kecuali sekumpulan daun kecil yang menyerupai daun beringin. Daun-daun kecil itulah yang salah satunya menancap di leher Tabib Akhirat dan membuatnya mati tanpa secuil nyawa pun.

"Berarti perahu biru ini ada penunggangnya. Orang yang berada di perahumu itu, pasti orang yang melemparkan daun bertenaga dalam ke leher Tabib Akhirat," kata Nakhoda Salju kepada Loh Gawe.

"Jika benar begitu, lantas siapa orang yang menggunakan perahuku sampai datang kemari?"

Tiba-tiba terdengar jawaban dari arah buritan, "Aku penumpang perahu itu!"

Semua mata memandang ke arah buritan, termasuk Loh Gawe. Dan entah untuk yang keberapa kalinya Loh Gawe tersentak kaget melihat orang tua berambut uban rata dikonde kecil di tengah kepala, sisanya dibiarkan meriap, berjenggot dan berkumis putih rata pula. Orang itu mengenakan pakaian biksu warna putih, bertubuh kurus, membawa tongkat kayu yang masih segar. Tongkat itu bercabang dua di bagian atasnya dengan dua helai daun segar berukuran kecil ada di cabang tongkat tersebut. Daun itu sama ukuran dan jenisnya dengan daun yang menancap di leher Tabib Akhirat, juga yang terkumpul di perahu berlayar biru itu.

Loh Gawe hampir-hampir tak bisa bicara lagi, karena dia tahu, bahwa orang misterius yang tahu-tahu muncul di buritan itu tak lain ialah Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut. Pada awalnya, Loh Gawe hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri. Karena setahu dirinya, Jangkar Langit sudah tewas di tangannya. Bahkan sudah hancur tubuh mayat Jangkar Langit karena dikeroyok oleh Golok Makam, Hantu Laut, dan Loh Gawe sendiri. Tapi mengapa orang tua yang serba putih itu kini muncul lagi dalam keadaan segar bugar tanpa ada bekas luka atau noda darah sedikit pun di pakaiannya yang putih bersih itu?

Tentu saja Loh Gawe terheran-heran, sebab dia tidak tahu bahwa Jangkar Langit mempunyai aji 'Banyu Jiwa'. Apabila dia mati, dan terkena air, maka dia akan hidup lagi dan semua lukanya akan sembuh secara gaib. Dan pada waktu mayatnya dibuang di perahu tersebut, perahu itu terombang-ambing tanpa kendali. Hujan turun di waktu malam. Hujan membasahi tubuh Jangkar Langit, dan Jangkar Langit pun hidup kembali dalam keadaan segar bugar. Lalu, ia pergunakan perahu itu untuk mencari lawannya, memburu pencuri Pusaka Tombak Maut yang memang miliknya itu.

Nakhoda Salju cepat maju mendekati Jangkar Langit. Wajahnya tampak menahan kemarahan, ia berkata dengan suara beratnya, "Tua bangka tak tahu sopan! Datang tanpa permisi! Apa maksudmu bertingkah semaunya di atas kapalku, hah?!"

"Aku mau bertemu dengan Hantu Laut!" jawab Jangkar Langit dengan tenang, tapi matanya bergerak memandang dengan tajam.

"Hantu Laut tidak di sini!"

"Suruh keluar Durmala Sanca, aku mau bicara dengannya!"

"Sumbing Gerhana! Hadapi dia!" sentak Nakhoda Salju sambil menyingkir beberapa langkah dari tempatnya, lalu Sumbing Gerhana maju, menggantikan tempat Nakhoda Salju tadi. Dengan cambuk terjulur di tangan kanan, Sumbing Gerhana berdiri tegak di depan Jangkar Langit, kedua kakinya sedikit merenggang, berkesan siap menghadapi pertarungan.

"Kau funya hutang nyawa fada kami! Sewelum kau wayar nyawa Tawiw Akhirat itu, jangan haraf kau wisa wertemu dengan sang ketua!"

"Bukan salahku, karena temanmu itu mau menyerangku dari jarak jauh! Maksudku mau datang secara baik-baik, tapi dia memulai pertarungan lebih dulu! Terpaksa aku membela diri!"

Dengan tangan kiri menunjuk dan mata sedikit menyipit, Sumbing Gerhana ucapkan kata, "Sekarang kau werhadafan denganku!"

"Aku ke sini bukan untuk cari musuh, aku hanya ingin minta kembali pusakaku, Pusaka Tombak Maut! Ketua kalian yang harus bertanggung jawab, karena pusakaku dicuri oleh anak buahnya!"

"Kau wisa wertemu dengan sang ketua kalau sudah langkahi mayatku!"

"Dengan senang hati akan kulangkahi tujuh kali mayatmu!"

"Hiaaatt!"

Tarrr...! Cambuk dilecutkan, Jangkar Langit miringkan badan sehingga cambuk menghantam lantai geladak dengan keras.

Darrr...!

Sekali lagi Sumbing Gerhana melecutkan cambuknya yang panjang itu ke badan Jangkar Langit. Dengan sedikit angkat kaki dan miringkan badan, Jangkar Langit menghindari cambuk itu. Cambuk kembali menghantam lantai geladak di samping kaki Jangkar Langit. Dengan cepat kaki itu menginjak ujung cambuk.

Tapp...!

Sumbing Gerhana menarik cambuk itu sekuatnya agar terlepas dari injakan kaki Jangkar Langit. Tapi sampai semua uratnya menegang, Sumbing Gerhana tak berhasil menarik cambuknya. Bahkan dengan satu sentakan keras dan tenaga tinggi, Sumbing Gerhana mencoba lagi menarik cambuknya itu.

Tapi cambuk tetap tak dapat lepas dari pijakan kaki Jangkar Langit. Padahal Jangkar Langit tidak sampai kerahkan tenaga dalam menginjak cambuk itu. Jangkar Langit tetap kelihatan tenang, seakan berdiri seperti biasa tanpa menginjak cambuk. Tapi sampai wajah Sumbing Gerhana memerah karena ngotot, cambuk itu tetap tidak dapat ditarik dari pijakan kaki Jangkar Langit.

Melihat Sumbing Gerhana bagai dipermainkan oleh lawan, Loh Gawe cepat mencabut senjatanya, yaitu rantai berbandul bola berduri dari baja keras, ia sentakkan kaki hingga tubuhnya melayang dan menghantamkan rantai bandulnya dengan kuat ke arah kepala Jangkar Langit.

Wussst...!

Dengan cepat Jangkar Langit sentakkan tongkat bercabangnya ke samping kiri, tempat datangnya pukulan itu. Zrappp...! Rantai bandul berduri itu ditangkis dengan cabang yang ada di ujung tongkat. Rantai tersebut menyangkut di cabang tongkat dan sukar ditarik kembali.

Loh Gawe kerahkan tenaga untuk menarik rantai bandulnya, tapi hingga matanya terpejam kuat-kuat rantai bandul itu tak bisa lepas dari sela-sela cabang tongkat. Sedangkan Sumbing Gerhana sejak tadi masih berusaha menarik cambuknya, tapi tak pernah berhasil.

"Tua bangka pamer ilmu kau, hah!" bentak Nakhoda Salju. Lalu ia cepat kirimkan pukulan jarak jauhnya melalui sentakan tangan kanannya. Pukulan itu dihantam pula oleh Jangkar Langit dengan sentakkan tangan kirinya.

Wusss...! Debb...! Blarrr...!

Suara ledakan mengguncangkan kapal. Tubuh Nakhoda Salju terlempar ke belakang akibat gelombang hentakkan kedua pukulan yang bertabrakan tadi. Tubuh Nakhoda Salju seperti didorong kuat-kuat hingga keseimbangannya tak terjaga lagi. Ia jatuh terduduk, lalu terjungkal ke belakang. Tapi segera cepat bangkit dan berdiri tegak menatap lawannya.

"Bangsat kau, Tua Bangka!" geram Nakhoda Salju.

Sementara itu, Loh Gawe yang berusaha melepaskan rantai bandul berduri itu masih belum berhasil, demikian pula halnya dengan Sumbing Gerhana. Tapi mereka berdua masih tetap berusaha dan pantang menyerah. Sampai akhirnya, Loh Gawe gunakan rantai bandul yang menyangkut di cabang tongkat itu untuk bergelayutan dan tubuhnya menerjang Jangkar Langit dengan kaki direntangkan ke depan.

Tendangan itu sedikit dihindari Jangkar Langit, lalu kaki Jangkar Langit menyepak ke kiri dengan kuat. Plokk...! Wajah Loh Gawe terkena telak sepakan kaki Jangkar Langit, membuat tubuh Loh Gawe terpelanting berputar sambil masih pegangi gagang rantai bandulnya. Lalu rantai bandul itu disentakkan dengan tongkat bercabang.

Wett...!

Rantai bandul lepas dari cabang tongkat, tapi membuat tubuh Loh Gawe ikut tersentak kuat bagai terbawa angin lemparan bandul berduri itu. Akhirnya Loh Gawe terjungkal dan jatuh ke laut. Byurr...! Tak berapa lama terdengar suara maki-makinya yang tak dihiraukan lagi oleh Jangkar Langit. Sedangkan cambuk Sumbing Gerhana masih ada dalam pijakan kakinya dan sulit ditarik lepas oleh pemiliknya.

Kegaduhan di atas membuat Siluman Tujuh Nyawa keluar dari dalam kamarnya dengan didampingi pengawal kembarnya Doma dan Damu. Melihat Jangkar Langit berdiri dengan tenang di buritan, Siluman Tujuh Nyawa segera mendekati orang tersebut. Tongkat pusaka El Maut tetap ada di tangan kanannya dan dipakai bertumpu di lantai geladak, sehingga bila berjalan terdengar duk duk duk duk...!

"Selamat datang di kapalku, Jangkar Langit!" sapa Siluman Tujuh Nyawa tanpa senyum sedikit pun, tapi juga tidak menampakkan wajah sinisnya. Wajah berlapis putih itu terlihat datar-datar saja. "Cukup lama kita tidak bertemu, sekali bertemu kau buat gaduh suasana di kapalku," lanjut Siluman Tujuh Nyawa.

"Karena anak buahmu bikin ulah di depanku!" jawab Jangkar Langit.

Siluman Tujuh Nyawa mengalihkan pandang sebentar kepada Sumbing Gerhana yang masih berusaha menarik lepas cambuknya dari pijakan kaki Jangkar Langit. Lalu, dengan cepat dan hampir tak terlihat, Siluman Tujuh Nyawa tebaskan ujung tongkat El Maut-nya kebawah.

Wuttt...!

Tass...! Cambuk sebesar ibu jari kaki itu putus dalam sekejap. Sumbing Gerhana terpental karena tenaganya sendiri. Gubrakkk...! Sedangkan sisa cambuk yang ujung masih dalam pijakan kaki Jangkar Langit. Sisa cambuk itu tiba-tiba berubah dari hitam menjadi abu-abu, lalu berserakan tertiup angin. Ternyata sisa cambuk itu telah menjadi abu, dan abu itu terjadi dari tenaga dalam Jangkar Langit yang baru saat itu disalurkan melalui telapak kakinya.

Sumbing Gerhana kaget melihat sisa cambuknya menjadi abu halus. Tak terbayangkan olehnya jika tenaga dalam itu tersalur pada saat ia berusaha menarik cambuk itu. Sudah tentu tubuhnya akan ikut menjadi abu seperti sisa ujung cambuknya itu. Sedangkan sisa cambuk yang masih bersama gagangnya itu tetap utuh tanpa ada perubahan, kecuali bertambah pendek sekitar tiga jengkal.

Siluman Tujuh Nyawa hanya pandangi sisa cambuk yang jadi abu itu, tanpa ada senyum meremehkan atau rasa kaget. Lalu, ia cepat tatapkan mata pada Jangkar Langit dan ucapkan kata, "Aku tahu kau datang kemari untuk mencari pusakamu. Tapi ketahuilah, Jangkar Langit, bahwa aku tidak tahu-menahu tentang pencurian pusaka itu! Apalagi sekarang Tapak Baja kabarnya telah mati!"

"Tombak itu ada di tangan Hantu Laut!?"

"Tapi Hantu Laut belum pulang bersama Kapal Neraka-nya!"

"Aku harus mendapatkan pusakaku, dan kau harus bertanggung jawab atas ulah anak buahmu!"

"Jangkar Langit," kata Siluman Tujuh Nyawa dengan melangkahkan kaki ke tepian pagar geladak, ia memandang cakrawala yang masih ada sisa merah pada langitnya sambil ucapkan kata, "Yang bisa kubantu hanya memberitahukan padamu, bahwa Hantu Laut sekarang ada di Pulau Beliung. Dengan modal pusakamu itu, dia bersekongkol bersama Dadung Amuk untuk memberontak padaku. Dia susun kekuatan di Pulau Beliung! Kalau kau mau dapatkan pusakamu, pergilah ke Pulau Beliung. Kuserahkan padamu apa pun nasib Hantu Laut di tanganmu! Jika kau mau bunuh dia, bunuhlah. Aku tidak akan menuntut balas padamu, Jangkar Langit!"

"Baik. Tapi bagaimana jika Dadung Amuk turut campur?"

"Kau bunuh pun dia, aku tak akan banyak bicara!"

"Jadi kau rela anakmu si Dadung Amuk itu mati di tanganku?"

"Jika ia ingin menentang kekuasaanku, sebagai ayah aku harus tega membunuh anak sendiri!" Siluman Tujuh Nyawa palingkan pandang ke arah Jangkar Langit, lalu ucapkan kata lagi. "Mulutmu terlalu sembrono ucapkan kata itu, Jangkar Langit. Tapi biarlah, toh Dadung Amuk akan mati, entah di tanganmu atau di tanganku. Tak apalah orang-orangku kini tahu siapa Dadung Amuk dan siapa diriku! Supaya mereka yang ada di sini pun menjadi tahu, sekalipun Dadung Amuk sebenarnya anakku, tapi jika sikapnya menentangku, dia akan kubunuh juga!"

Mata dan mulut orang-orang kapal itu terlolong bengong. Mereka baru tahu bahwa Dadung Amuk itu ternyata anak dari Durmala Sanca, atau Siluman Tujuh Nyawa. Tak pernah ada yang menyangka sama sekali bahwa kedua orang itu ternyata punya tali darah keturunan yang kuat. Sebagai anak dan sebagai bapak. Walaupun sang Bapak kelihatan jauh lebih muda dari wajah sang awak, tapi kenyataan itu tak bisa dipungkiri lagi.

* * *

EMPAT
DAPAT dibayangkan suasana di Pulau Beliung. Dayang Kesumat, tokoh perempuan sakti yang sepertinya baru muncul di rimba persilatan itu sedang dalam perjalanan menuju Pulau Beliung. Jelas dia akan mengamuk disana untuk membuat perhitungan dengan Dadang Amuk. Juga tokoh tua yang yang dikenal sakti dan usianya masih di bawah usia Durmala Sanca itu, Jangkar Langit juga pergi ke Pulau Beliung dan akan mengamuk ke sana kepada Hantu Laut. Setidak-tidaknya, Pulau Beliung akan diguncang dua pertempuran hebat yang mungkin akan memakan korban pihak lain.

Ditambah lagi, Siluman Tujuh Nyawa merasa geram terhadap perkara Pusaka Tombak Maut itu. Maka di depan orang-orangnya yang dikumpulkan diatas geladak, Siluman Tujuh Nyawa berkata,

"Pusaka Tombak Maut sebaiknya ada di tanganku saja, supaya tidak ada pihak lain yang berani menentangku dengan mengandalkan pusaka itu!"

Sumbing Gerhana menyahut, "Jadi, sang ketua mau sufaya tomwak fusaka itu jatuh ke tangan kita?!"

"Betul! Karena itu aku akan mengutus orang untuk merebutnya dari tangan Hantu Laut! Lebih baik merebut pusaka itu dari tangan Hantu Laut, ketimbang dari tangan Jangkar Langit. Karena jika pusaka itu sudah sampai di tangan Jangkar Langit, maka kita akan lebih sulit lagi merebutnya!"

"Jika begitu, kita harus lebih cepat sampai di Pulau Beliung sebelum Jangkar Langit tiba di sana, Ketua!"

"Ya. Kita bisa potong jalur pelayaran melalui celah- celah Samudera Karang!"

"Samudera Karang...?!" Sumbing Gerhana menggumam sendiri, lalu berkata kepada sang ketua, "Itu jalur yang werwahaya untuk dilewati sewuah kafal, Ketua!"

"Kita tidak mengenal jalur berbahaya!" suara Siluman Tujuh Nyawa menyentak sambil hentakkan kakinya ke lantai geladak! Kapal terguncang, beberapa orang yang berdiri sempat terpelanting jatuh. Kemudian mereka saling tundukkan kepala dengan rasa takut. Siluman Tujuh Nyawa ucapkan kata lagi dengan nada lebih tenang, "Kita juga harus selamatkan Pulau Beliung agar tidak dikuasai oleh siapa pun kecuali oleh kita sendiri. Di sana sudah ada istana, dan bisa dijadikan pos pertahanan bagi kita di wilayah barat!"

"Saya sangat setuju," kata Nakhoda Salju, ia berusaha ambil hati agar tak kena bentak dan murka sang ketua.

"Untuk itu aku akan tugaskan orang ke sana!"

Kini semua mata pandangi Siluman Tujuh Nyawa. Masing-masing hati bertanya siapa gerangan yang akan diutus untuk merebut Pusaka Tombak Maut dan mempertahankan Pulau Beliung. Mata Siluman Tujuh Nyawa pun memandangi orang-orangnya satu persatu. Kejap berikut Siluman Tujuh Nyawa lontarkan kata,

"Aku akan mengutus Doma dan Damu!"

Kedua pengawal kembar itu saling pandang. Wajahnya tidak kelihatan kecewa atau gembira. Wajah itu wajah kaku dan datar. Mungkin terbawa sikap orang yang dikawalnya setiap hari itu.

Siluman Tujuh Nyawa melangkahkan kaki menjauhi dua pemuda kembar yang semula ada di kanan-kirinya. Setelah itu, Siluman Tujuh Nyawa pan-dangi wajah kembar itu sambil ucapkan kata, "Kalian yang kuutus merebut Pusaka Tombak Maut dari tangan Hantu Laut. Jika Hantu Laut dan Dadung Amuk melawan, bantai mereka!"

"Baik, Ketua!" jawab Doma dengan tegas.

"Ingat, jangan sampai keduluan Jangkar Langit atau orang lain. Kalian harus lebih cepat merebut pusaka itu dari tangan Hantu Laut, dan tetaplah di sana untuk pertahankan Istana Cambuk Biru! Beri kabar lewat ilmu 'Rambah Angin' jika kalian sudah berhasil kuasai pusaka dan pulau itu! Kami akan datang  memperkuat pertahanan kalian!"

"Kami paham, Ketua!" jawab Doma lagi dengan sedikit membungkuk.

"Kalian akan kubekali Pusaka Cermin Benggala Kembar! Pergunakan cermin kembar itu untuk menghancurleburkan siapa saja yang menghalangi langkah kalian! Jangan tanggung-tanggung, dan jangan ragu-ragu! Tak boleh ada lawanmu yang lari dalam keadaan hidup-hidup. Siapa pun yang halangi kalian harus dibunuh! Tak ada kenal ampun sedikitpun, sekalipun terhadap lawan perempuan! Mengerti?"

"Mengerti, Ketua!" jawab Doma dan Damu bersamaan.

Lalu, sepasang pusaka yang dinamakan Cermin Benggala Kembar diserahkan oleh Siluman Tujuh Nyawa kepada Doma dan Damu. Cermin itu berupa bola kaca yang bertangkai satu jengkal warna hitam tangkainya. Bola kaca itu licin, mulus dan dapat untuk bercermin. Pada bagian atas tengah bola kaca sebesar satu genggaman tangan orang dewasa itu mempunyai lubang. Dari lubang itu bisa keluarkan senjata seperti mata tombak yang jika melesat dan mengenai lawan akibatnya sangat berbahaya.

Cermin Benggala Kembar itu juga bisa keluarkan sinar maut apabila mendapat saluran tenaga dalam dari pemegangnya. Dan jika kedua bola kaca itu diadukan, maka bola kaca itu tidak akan pecah melainkan mengeluarkan cahaya pelangi yang membias lebar dan jika terkena tubuh lawan, bisa membuat orang tersebut berubah menjadi patung batu untuk selama-lamanya.

Semua anak buah Siluman Tujuh Nyawa tahu, bahwa sang ketua memiliki pusaka-pusaka hebat, satu di antaranya adalah Cermin Benggala Kembar. Tapi baru kala itu, saat diserahkan kepada Doma dan Damu, mereka melihat wujud Pusaka Cermin Benggala Kembar, yang konon hanya bisa digunakan oleh orang yang lahir kembar saja.

"Dulu aku anak kembar seperti kalian," kata Siluman Tujuh Nyawa kepada Doma dan Damu. "Tapi kakakku tewas di tangan gurunya sendiri, dan gurunya segera tewas di tanganku. Karena aku sudah kehilangan saudara kembarku, maka Cermin Benggala Kembar ini tak bisa kugunakan. Hanya bisa kusimpan untuk suatu keperluan di kemudian hari. Dan ternyata keperluan itu datang juga, kalianlah yang berhak menggunakan Cermin Benggala Kembar ini!"

"Terima kasih, Ketua," jawab Damu sambil tundukkan kepala penuh hormat.

Siluman Tujuh Nyawa menyukai sikap hormat itu, hingga kedua bocah kembar itu ditepuk-tepuk punggungnya seraya Siluman Tujuh Nyawa ucapkan kata, "Berangkatlah! Aku percaya kalian pasti akan berhasil, karena kalian pasti tak ingin pulang menghadapku untuk serahkan nyawa!"

Kata-kata itu mempunyai arti yang membuat bulu kuduk merinding. Semua orang-orangnya Siluman Tujuh Nyawa tahu arti kata-kata tersebut, bahwa Doma dan Damu harus berhasil merebut Pusaka Tombak Maut dari tangan siapa pun pemegangnya. Jika mereka tidak berhasil dan pulang kepada sang ketua, maka sang ketua akan membunuh mereka berdua. Itu berarti tugas tersebut taruhannya nyawa mereka.

Sehari setelah keberangkatan Doma dan Damu, kapal berbendera hitam itu berpapasan dengan perahu berlayar hijau. Perahu itu juga memakai lambang gambar tengkorak dengan tujuh mata rantai mengelilingi kepala tengkorak tersebut. Mereka terkejut, bahkan wajah mereka menjadi tegang, karena saat itu Nakhoda Salju berseru kepada orang-orang geladak,

"Perahu berlayar hijau mendekat! Siapkan semua senjata!"

Anak buahnya segera berkata, "Mengapa siapkan senjata, Nakhoda? Bukankah perahu itu bersimbol seperti simbol layar kita? Berarti perahu itu adalah sekutu kita juga, teman kita juga...!"

Plakkk...! Nakhoda Salju menampar keras wajah anak buahnya, lalu lontarkan bentak keras, "Bodoh! Itu perahunya Dadung Amuk!"

"Siafa yang datang?!" Sumbing Gerhana cepat muncul dari dalam lambung kapal.

"Dadung Amuk! Perahunya mendekati kita!" seru Sumbing Gerhana memandang baik-baik perahu berlayar hijau itu. Setelah yakin betul bahwa perahu itu adalah perahunya Dadung Amuk, dan terlihat Dadung Amuk berdiri di haluan, maka Sumbing Gerhana segera kerahkan anak buahnya untuk siap-siap melawan Dadung Amuk.

"Cefat amwil senjatamu! Jangan wengong saja!" bentak Sumbing Gerhana. Orang itu menggeragap dan cepat-cepat ambil tombak serta perisai di tempatnya.

Kepada bagian urusan senjata Sumbing Gerhana membentak pula, "Mengafa kamu tidak fegang senjata?!"

"Saya tidak dapat bagian, Tuan. Kehabisan senjata!"

"Jadi kamu welum dapat senjata?"

"Welum!"

Plookk...!

"Jangan ikut-ikutan wicaraku, Setan! Cefat cari senjata afa saja! Lindungi dirimu dari amukan Dadung Amuk itu!"

"Waik, Tuan!"

Plookk...!

"Kuwilang, jangan ikut-ikutan wicaraku! Wisa ku wunuh kau!"

Dadung Amuk segera melompat ke kapal dengan hanya satu kali hentakan kecil kakinya. Jleg...! Ia tiba di tepian geladak, tapi segera dikurung oleh mereka yang sudah siap dengan senjata masing-masing. Dadung Amuk asli menjadi heran dan pandangi mereka masing- masing dengan tajam. Orang yang mudah tersinggung itu segera membentak salah satu anak buah Sumbing Gerhana.

"Apa-apaan ini?! Kau pikir aku ini maling?! Pakai dikepung segala?! Ayo bubar...! Bubar...!"

Tapi tak satu pun ada yang mau bubar. Dadung Amuk menggeram. "Sumbing Gerhana?! Apa maksudmu menyuruh orangmu mengepungku, ha?!" Mata Dadung Amuk mendelik menyeramkan.

"Aku yang wertanggung jawaw atas keamanan di kafal ini!"

"Aku tahu! Tapi kenapa sikap kalian menyerangku?!"

"Jangan werfura-fura wodoh, Dadung Amuk! Ini menunjukkan wahwa kami lewih siaf dari fada kamu! Sewelum kamu wertindak, kami sudah lewih dulu tangkaf kamu!"

"Tangkaf, tangkaf...! Gundulmu itu yang ditangkaf!" sentak Dadung Amuk dengan mata makin melotot. "Bubar semua! Bubar!"

"Tangkaf...!" teriak Sumbing Gerhana.

"Bubar!"

"Tangkaf dulu waru wuwar...!"

Melihat orang-orang pengepung mulai bergerak, Dadung Amuk cepat meraih tali tambang yang digantungkan di pundak kirinya. Werrt...! Tali tambang tiga gulungan itu segera digelar siap disabetkan ke arah siap saja yang bergerak maju.

Orang-orang pengepung itu tahu betul seberapa tinggi ilmunya Dadung Amuk. Mereka sempat gentar juga melihat mata Dadung Amuk jelalatan ke mana-mana, penuh nafsu untuk membunuh siapa pun yang mendekati dirinya. Tapi mereka ngeri juga jika kena labrak Sumbing Gerhana yang tidak pernah pandang bulu itu. Akibatnya, para pengepung hanya bergerak memutar, memutar, memutar, dan begitu seterusnya sambil siap- siap dengan senjata masing-masing.

"Ayo, maju!" bentak Dadung Amuk dalam ancamannya. "Majulah kalau ada yang ingin pecah kepalanya!"

Mereka terus bergerak memutar setindak demi setindak, berganti-ganti jurus siaga, berganti-ganti sikap kuda-kuda, memandangkan matanya penuh keragu-raguan. Sebagian besar para pengepung itu berharap Sumbing Gerhana batalkan perintah menangkap Dadung Amuk, sebagian lagi berharap agar sang ketua cepat menengahi ketegangan itu.

Tapi agaknya Sumbing Gerhana tidak mau mencabut perintahnya, ia bahkan makin keraskan suaranya yang tak beres dalam pengucapannya itu, "Tangkaf...! Cefat tangkaf!"

Salah seorang memberanikan diri segera melompat dengan satu tebasan golok ke arah pundak Dadung Amuk. Wuttt...!

Tapi Dadung Amuk lebih cepat gerakan tangannya menyabetkan tambang sebesar ibu jari kakinya itu, dan tambang tersebut menghantam tepat di pertengahan kepala orang tersebut.

Plakkk...!

Terdengar suara kepala pecah bagai dihantam dengan besi baja. Lalu disusul suara berdebam dari jatuhnya tubuh orang itu ke lantai geladak yang terbuat dari papan tebal itu.

Bruakk...!

Semua mata tertuju ke arah orang yang jatuh itu. Semua mata terkesiap melihat orang itu tak mau berteriak sedikit pun, hanya menggelepar sebentar untuk kemudian diam tak bergerak lagi. Kepalanya remuk tanpa bentuk, bagai semangka jatuh dari pucuk pohon yang paling tinggi.

"Siapa lagi yang mau seperti dia?!" sentak Dadung Amuk sambil mata lebarnya melirik ke sana-sini dengan buas.

"Jangan takut!" seru Sumbing Gerhana kepada para pengepung. "Serang dia wersama-sama! Serwu...!"

"Apa itu serwu?" bisik seseorang.

"Serbu, Goblok!" jawab temannya.

Tapi perintah serbu itu tetap hanya sekadar perintah. Tak satu pun para pengepung yang berani maju satu tindak dari batas lingkar kepungan. Karena Dadung Amuk mulai putar- putarkan tambangnya di atas kepala bagai ingin menjerat seekor banteng liar. Putaran tambang itu menimbulkan percikan-percikan api di bagian ujung tambang, pertanda kekuatan tenaga dalam telah siap menggempur lebih hebat dan lebih dahsyat lagi dari yang tadi.

"Lepaskan tambangmu, atau kau menghadapi aku!" Suara datar tanpa tekanan itu terdengar jelas.

Dadung Amuk segera palingkan wajah. Ternyata Siluman Tujuh Nyawa telah berdiri di belakangnya, masuk dalam lingkaran kepungan tersebut, ia berdiri dengan tegak, wajah mudanya yang putih berbibir biru itu terlihat jelas walau tetap mengenakan kerudung jubah hitam dari atas kepala sampai kaki. Tongkat Pusaka El Maut ada di tangan kanannya, berdiri sebatas tinggi tubuh pemegangnya.

Melihat kemunculan sang ketua, Dadung Amuk surutkan kemarahannya, ia tak berani menentang wajah beku itu. Tambangnya pun berhenti berputar, tapi masih dalam genggamannya. Kebuasan sorot pandangan matanya pun redup, bagai lilin tertiup badai.

"Kataku tadi, lepaskan tambangmu atau kau hadapi aku!" ulang sang ketua tetap dengan nada dingin.

Dadang Amuk belum melepaskan tambang, tapi sudah kendor pegangannya. Mulutnya sulit untuk mengucapkan sesuatu di dapan sang ketua. Sinar mata dingin dari sang ketua bagaikan membekukan darahnya, membuat kejang urat-urat di mulutnya. Lidah pun terasa sangat kaku, sulit untuk digerakkan.

Kejap berikutnya, Dadung Amuk tersentak kaget. Sang ketua melompat ke arahnya begitu cepat. Bergerak mengelilinginya bagai kilasan cahaya petir. Wu wu wu wu wuttt...!

Sang ketua segera kembali ke tempatnya tanpa napas terengah. Tetap tenang dan dingin. Tetapi tubuh Dadung Amuk telah terjerat tambangnya sendiri. Tambang itu melilit dan mengikat kedua tangannya sehingga tak bisa digerakkan lagi. Bahkan kedua kakinya pun jadi merapat dan terikat kuat.

Bukan hanya Dadung Amuk yang terbengong melompong dalam keheranan yang amat tinggi, tetapi para pengepung, termasuk Sumbing Gerhana dan Nakhoda Salju, juga tertegun bagai tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nakhoda Salju membatin di hatinya,

"Edan betul! Begitu cepat gerakan sang ketua. Tak sempat aku berkedip dua kali, tahu-tahu tubuh Dadung Amuk sudah terikat tak bisa bergerak sedikit pun! Sungguh merupakan gerakan tercepat dari seluruh gerakan manusia yang pernah kulihat!"

Dadung Amuk gemetar setelah mengetahui tubuhnya telah terikat. Wajah buasnya menjadi pucat bagai selembar kertas putih. Karena ketika ia mencoba untuk bergerak melepaskan tambang pengikat dengan hentakkan tenaga dalamnya, ternyata tambang itu tak bergeming dari tempatnya. Tambang itu mengikat sekujur tubuh bagai ingin menembus kulit dan dagingnya.

"Apa salahku, sang Ketua? Mengapa aku diikat begini?!"

Sang ketua tidak menjawab, tapi justru memerintah kepada Sumbing Gerhana, "Siapkan tali gantungan!"

"Waik, Ketua," jawab Sumbing Gerhana, lalu cepat-cepat ia perintahkan kepada anak buahnya untuk menyiapkan tali gantungan.

Dadung Amuk makin tersentak kaget. Kakinya gemetaran sehingga mulutnya tak bisa dipakai bicara dengan lancar. "Ap... ap... ap... apa salah... saa... saya...? Meng... mengapa saya mau di... di... digantung? Sssa... saya... saya tidak bersalah apa-apa. Kal... ka lau... kalau memang saya ada salah, mohon di... di. diadili secara adil!"

"Pengadilanku hanya ada di atas tiang gantungan!" kata sang ketua dengan cepat dan tegas. Lalu segera perintahkan kepada para pengepung yang masih melingkari Dadung Amuk. "Seret dia!"

"Ketua...!" teriak Dadung Amuk, tapi tubuhnya sudah lebih dulu rubuh didorong tiga pengepung, kemudian tubuh itu diseret ramai-ramai mendekati tali gantungan yang sudah disiapkan.

Tali gantungan yang sudah biasa untuk menggantung orang itu berada di atas sebuah kotak papan. Kotak papan itu mempunyai penutup yang sewaktu-waktu bisa terbuka turun ke bawah jika besi pengaitnya disentakkan ke bawah. Dengan begitu orang yang berdiri di atasnya akan tergantung karena tidak mempunyai lantai berpijak lagi.

Di atas peti penggantungan, di bawah tali gantungan, Dadung Amuk masih mencoba membela dirinya dengan berkata, "Ketua, saya... saya memang belum mendapatkan Kitab Wedar Kesuma itu dan... dan memang belum membunuh Suto Sinting. Tapi... tapi saya sudah tahu di mana adanya kitab itu! Saya sudah tahu, siapa orang yang bernama Suto Sinting itu! Tugas akan saya jalankan secepatnya setelah saya minta izin kepada Ketua untuk mencegatnya ke Pulau Serindu!"

Tali gantungan segera dikalungkan dileher Dadung Amuk. Namun masih saja Dadung Amuk membela diri dengan suara ngotot. "Saya bukan tidak mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh Ketua. Saya cuma mau minta izin dulu dalam menentukan langkah saya. Jadi, mohon Ketua tidak gegabah dalam mengadili saya. Saya...."

"Tutup mulutmu!" bentak sang ketua, dan Dadung Amuk diam seketika bagaikan suara jangkrik terinjak kaki manusia.

"Sayang sekali Hantu Laut tidak ikut menyaksikan penggantungan ini. Kalau Hantu Laut ikut saksikan hukumanmu ini, maka dia akan berpikir dua kali untuk mencoba melawanku!"

"Saya... saya tidak tahu maksud kata-kata ketua. Saya tidak tahu tentang Hantu Laut, dan...!"

Jrekk...! Sang ketua sentakkan besi pengait kebawah. Lantai yang diinjak Dadung Amuk itu terbuka. Kaki Dadung Amuk tidak mendapatkan tempat berpijak, sedangkan tali yang melingkar di lehernya itu tersentak membentuk jeratan yang amat kuat. Kaki Dadung Amuk menggelinjang-gelinjang beberapa saat, setelah itu diam tak bergerak lagi dengan mulut sedikit terbuka dan lidah terjulur keluar. Dadung Amuk mati di tiang gantungan karena wajahnya mirip dengan Singo Bodong yang pongah, lugu, dan tidak mempunyai ilmu apa-apa itu.

* * *

LIMA
ORANG pertama yang melesat menuju Pulau Beliung bertolak dari kapal Siluman Tujuh Nyawa adalah Dayang Kesumat. Perempuan cantik jelita itu mengarungi samudera lepas dengan mengendarai sebatang pelepah daun kelapa. Jika bukan orang berilmu tinggi, hal itu sangat tidak mungkin bisa dilakukan.

Pelepah daun kelapa itu bergerak dengan cepat. Baju jubah sutera warna biru transparan itu berkelebat-kelebat menyingkap bagai selembar bendera indah, atau bagai sayap kupu-kupu cantik. Hal itu sangat mengagumkan bagi orang yang melihatnya. Apalagi pelepah daun kelapa itu membawa sosok perempuan cantik yang wajah dan potongan tubuhnya menggiurkan setiap lelaki.

Dan laki-laki yang terkesima dan kagum dengan keindahan itu berada di sebuah kapal berbendera naga warna merah. Kapal itu sama besarnya dengan kapal Siluman Tujuh Nyawa, tetapi hanya mempunyai dua tiang layar. Setiap satu tiang layar mempunyai dua lembar layar dengan warna putih kusam. Di atas layar- layar itulah terpancang dua bendera merah bergambar naga. Itulah kapal yang dikenal oleh tokoh rimba persilatan sebagai Kapal Bajak Naga.

Kapal itu dipimpin oleh seorang lelaki yang usianya sekitar enam puluh tahun dengan rambut abu-abu tanpa ikat kepala. Rambut itu pendek dan lurus lemas. Orang itu berpakaian serba hitam, badannya sedang, matanya lebar, kumisnya turun sampai ke dagu. Orang itulah yang dikenal dengan julukan si Tua Rakus.

Di antara jajaran tokoh tua rimba persilatan, nama Tua Rakus sudah bukan hal asing lagi bagi mereka. Dia tokoh yang paling menyebalkan. Matanya hanya satu, yang kiri ditutup dengan sesobek kulit warna hitam. Tapi matanya yang masih utuh itu sangat liar dan rakus jika melihat harta, wanita, dan kejayaan. Tua Rakus punya sifat iri yang berlebihan, sehingga dalam memimpin rombongan bajak laut itu, Tua Rakus selalu berusaha untuk lebih kondang dari Siluman Tujuh Nyawa. Pelayarannya dan keganasannya hanya semata-mata untuk mencari nama, agar ia lebih dikenal dan lebih ditakuti dari Siluman Tujuh Nyawa.

Wilayah jelajahnya meliputi perairan laut timur tanah Jawa. Tetapi kali ini agaknya ia sengaja berlayar di perairan laut utara. Sejak berusia enam belas tahun, si Tua Rakus sudah mempunyai kesenangan memperkosa perempuan. Sampai seusia sekarang, kegemaran itu masih berkelanjutan. Cukup banyak perempuan di wilayah timur yang menjadi korban keganasan nafsu si Tua Rakus itu. Dan agaknya ia sedang melarikan diri dari kejaran dendam seseorang yang merasa dirugikan oleh kegemaran memperkosanya itu.

Bukan hal aneh lagi jika si Tua Rakus tak mau kedipkan matanya ketika melihat Dayang Kesumat melesat di atas belarak, atau pelepah daun kelapa kering. Bukan ketinggian ilmu Dayang Kesumat yang menjadi pusat perhatian si Tua Rakus, melainkan kecantikan dan bentuk tubuh Dayang Kesumat yang membuat mata si Tua Rakus lupa berkedip. Bahkan lidahnya beberapa kali menyapu bibirnya yang sudah mulai dihinggapi keriput pada bagian sudut dan tepiannya.

"Waduuuk...!" serunya memanggil sang anak buah.

Orang kurus yang berjuluk Waduk Kebo itu cepat menyahut dari samping haluan dan segera berlari menghadap si Tua Rakus. "Saya di sini, Yang Mulia!"

"Waduk, coba kau perhatikan perempuan yang melintas di sebelah sana itu! Apakah menurutmu dia cantik?!"

"Cantik, Yang Mulia!" jawab Waduk Kebo dengan cepat.

Si Tua Rakus mendorong kepala Waduk Kebo dengan keras sambil sentakkan kata, "Dilihat dulu baru dijawab...!"

Waduk Kebo tersentak kepalanya, kemudian ia sipitkan matanya ke arah yang dituding Tua Rakus, setelah itu dia menjawab ulang, "Cantik, Yang Mulia!"

"Menggairahkan?"

"Sangat menggairahkan, Yang Mulia!"

"Bagus! Kalau begitu, panggil dia supaya kemari!" perintah si Tua Rakus.

Waduk Kebo cepat berdiri dengan kaki merapat. Matanya terpejam, kedua tangannya bersidekap di dada. Cukup lama Waduk Kebo mengheningkan cipta. Tua Rakus menunggu dengan rasa tak sabar, hingga ia terpaksa berjalan mondar-mandir di belakang Waduk Kebo.

Dayang Kesumat bukan tidak tahu ada kapal di dekatnya. Ia sangat paham, kapal itu adalah Kapal Bajak Naga yang diketuai oleh si Tua Rakus. Tapi Dayang Kesumat tidak mau mengusik kapal itu. Ia lebih mementingkan diri untuk cepat temui Dadung Amuk di Pulau Beliung, ia tidak tahu bahwa Dadung Amuk yang asli sudah mati digantung sang ketua.

Laju pelepah daun kelapa itu terasa tersendat-sendat. Dayang Kesumat mulai curiga, ia semakin kerahkan ilmu 'Lancang Bumi', yaitu ilmu yang mendorong telapak kakinya untuk bergerak sendiri dengan satu dorongan kuat. Tetapi ilmu 'Lancang Bumi" itu bagaikan tidak berguna lagi. Laju pelepah daun kelapa justru terhenti, bahkan sekarang bergerak mundur, dari lambat makin lama makin cepat.

"Setan alas! Pasti orang-orang di Kapal Bajak Naga itu yang menggangguku dengan menggunakan ilmu Rantai Batin!"

Dayang Kesumat bergerak mundur. Tapi ia segera pejamkan mata dengan menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Kedua tangannya menggenggam kuat-kuat. Gerakan mundurnya terhenti, tapi tak bisa maju lagi. Sepertinya telah terjadi saling tarik-menarik melalui kekuatan batin yang membuat tubuh Dayang Kesumat tak bisa bergerak. Waduk Kebo menarik ke belakang, Dayang Kesumat mendorong diri agar maju ke depan.

Makin lama sikap berdiri Waduk Kebo makin bergeser maju. Telapak kakinya yang merapat di lantai geladak itu bagaikan terseret maju sedikit demi sedikit. Si Tua Rakus terkesiap ketika melihat keadaan Waduk Kebo. Bahkan semakin lama tubuh Waduk Kebo semakin mendekati pagar pembatas geladak.

Dayang Kesumat tetap pejamkan matanya dengan kedua tangan menggenggam kuat di samping kanan-kiri. Ia membelakangi Kapal Bajak Naga. Ia berusaha bertahan diri agar tidak tertarik oleh kekuatan ilmu Rantai Batin.

Pagar pembatas geladak terbuat dari kayu jati. Kayu itu retak ketika tubuh Waduk Kebo semakin terseret ke depan dan menekan kayu pagar. Hampir saja tubuhnya terjungkal ke lautan jika ia tidak segera kembangkan tangannya. Tangan yang semula bersidekap di dada itu kali ini dilepaskan, lalu keduanya menghadap ke depan dengan telapak tangan terbuka. Kedua tangan itu gemetar dan bergerak ke belakang sedikit demi sedikit. Keringat Waduk Kebo mulai bercucuran di bagian kening, pelipis, dan lehernya.

Pada saat itu, Dayang Kesumat semakin tertarik ke belakang dalam keadaan mundur. Makin lama makin dekat dengan lambung kapal. Menyadari kekuatan 'Lancang Bumi'-nya kalah dengan kekuatan 'Rantai Batin' milik lawan, Dayang Kesumat cepat sentakkan ujung jempol kakinya ke pelepah daun kelapa, dan tiba-tiba tubuhnya melenting ke atas dengan bersalto dua kali.

Wuhgg...! Wuhhg...!

Jlegg...! Dayang Kesumat hinggap di kedua pundak Waduk Kebo. Lalu, dengan sentakan keras tangannya menghantam ubun-ubun Waduk Kebo. Bett...! Waduk Kebo cepat menadahkan satu tangannya ke kepala.

Tapp...!

Pukulan Dayang Kesumat ditangkap cepat oleh Waduk Kebo, lalu tangan itu disentakkan ke atas dan Dayang Kesumat bagaikan terpental naik. Tapi perempuan itu dengan lincahnya berjungkir balik di udara dua kali, tahu-tahu hinggap di lantai bawah tiang layar.

Para anak buah si Tua Rakus terkagum-kagum melihat gerakan lincah dan kekuatan batin perempuan cantik itu. Tapi mereka merasa lega setelah melihat jelas bahwa Waduk Kebo bisa mengatasi perlawanan yang diberikan oleh Dayang Kesumat.

"Cukup hebat pula ilmumu, Nona manis," sapa si Tua Rakus, ia tersenyum penuh rasa bangga, karena Waduk Kebo, anak buahnya, mampu mengalahkan kekuatan batin Dayang Kesumat. Bahkan si Tua Rakus tambahkan kata, "Tapi betapapun hebatnya ilmumu, tak akan bisa mengalahkan kekuatan yang ada pada anak buahku yang satu itu!"

Si Tua Rakus memuji sekaligus membanggakan Waduk Kebo. Tapi pada saat ia menuding Waduk Kebo dalam pujiannya, tiba-tiba mata si Tua Rakus terkesiap melihat Waduk Kebo jatuh berlutut. Kepalanya tertunduk, tangannya terjuntai lemas. Dan orang-orang kapal yang ada di sekelilingnya juga terkejut melihat Waduk Kebo tertunduk, jatuh berlutut dalam keadaan badan tetap tegak.

"Kenapa dia?" tanya si Tua Rakus.

Salah seorang dari mereka yang berkerumun menjawab, "Mungkin mengantuk!"

Memang keadaan Waduk Kebo seperti orang mengantuk. Tunduknya kepala dengan terkulai lemas, juga kedua tangannya yang bagai tak bertulang lagi itu. Tetapi mata si Tua Rakus segera menyipit curiga. Ia melihat ada kepulan asap di kedua pundak Waduk Kebo. Cepat-cepat ia memeriksa pundak itu dengan membuka sebagian baju Waduk Kebo.

"Jahanam...!" si Tua Rakus menggeramkan suara dengan mata terbelalak lebar, ia melihat kulit pundak kanan-kiri Waduk Kebo itu melepuh biru. Bagian tengahnya sedikit mengeluarkan busa yang berasap. Tiba-tiba tubuh Waduk Kebo itu rubuh ke depan.

Brukk...!

Semua orang yang memandang segera sentakkan badan mundur ke belakang. Waduk Kebo terkulai tak berkutik. Si Tua Rakus semakin belalakkan mata dengan dahi berkerut kuat. Lalu, ia cepat berdiri dan palingkan wajah beringasnya setelah memeriksa sebentar keadaan Waduk Kebo. Dengan suara berat ia ucapkan kata yang membuat semua orang di kapal itu bergumam serempak,

"Kau telah membunuh Waduk Kebo...!"

"Hahhh...!" seru semua orang serempak. Suara mereka berubah saling kasak-kusuk dan bergemuruh seperti sejuta lebah.

Si Tua Rakus serukan kata keras-keras, "Perempuan Iblis kau rupanya, hah?!" Seruan itu membuat suara gemuruh diam seketika. Sepi tercipta selama tiga helaan napas.

Dayang Kesumat sunggingkan senyum sinis kepada si Tua Rakus yang memancarkan kemarahan besar. Lalu dengan suaranya yang tenang, Dayang Kesumat ucapkan kata,

"Aku tahu, Waduk Kebo adalah anak mas bagimu, olang unggulanmu dalam soal memanggil pelempuan! Waduk Kebo adalah tangan kananmu dalam hal menjinakkan pelempuan. Dia punya segudang ilmu pelet dan penyilep sukma, sehingga setiap pelempuan mau tunduk padamu dan mau melayani nafsumu. Tapi jangan samakan aku dengan kolban-kolbanmu, Tua Lakus! Kau salah alamat jika ingin mempelkosaku, seperti kau mempelkosa pelempuan-pelempuan lainnya!"

Diam-diam si Tua Rakus membatin, "Aneh betul perempuan ini! Dia tahu namaku! Dia juga tahu nama Waduk Kebo dan jabatannya. Dia juga tahu bahwa selama ini Waduk Kebo-lah yang bertugas menjinakkan perempuan yang ingin kutiduri! Siapa dia sebenarnya? Aku merasa belum pernah melihatnya?! Bertemu pun rasanya baru kali ini!"

Dua orang ingin membuktikan kebenaran kata-kata si Tua Rakus tentang kematian Waduk Kebo itu. Mereka lalu memeriksanya. Salah satu ada yang menyentuh busa di tengah luka memar membiru itu. Tiba-tiba orang tersebut memekik kesakitan. Jari telunjuknya melepuh. Orang itu melompat-lompat seperti tersundut api yang amat panas. Bahkan ketika diperiksa oleh si Tua Rakus, ternyata jari telunjuk orang itu menjadi hitam, membusuk pada bagian ujungnya. Cepat sekali gerakan busuknya itu, sehingga dalam beberapa kejap jari itu putus dalam satu ruas. Pluk...! Jatuh di lantai geladak, membuat semua mata yang memandangnya tersentak lebar-lebar.

Si Tua Rakus merasa semakin dilecehkan dengan kejadian itu. Ia cepat pandangi Dayang Kesumat dan menggeram kata,"Rupanya kau murid dari si Jejak Setan! Aku tahu, hanya si Jejak Setan yang mempunyai ilmu beracun seperti ini, yang dinamakan jurus 'Tapak Peri'!"

"Aku Dayang Kesumat, bukan mulid si Jejak Setan!"

"Bohong! Kau pasti murid si Jejak Setan!" bentak si Tua Rakus.

"Jejak Setan sudah mati dalam peltalungan dengan Swaladipa!" kata Dayang Kesumat.

Makin berkerut-kerut dahi si Tua Rakus mendengar perempuan muda yang cantik jelita itu mengenal nama Swaladipa, penguasa Tanjung Keramat itu. Hanya tokoh-tokoh tua saja yang mengenal nama Swaladipa. "Jadi, murid siapa perempuan cantik menggairahkan itu?" pikir Tua Rakus dalam ketermenungannya.

"Persetan murid siapa kau sebenarnya, yang jelas kau telah berhutang nyawa kepadaku atas kematian anak buahku ini!"

"Siapa yang mengawali pelsoalan ini? Kau yang bikin pelkafa lebih dulu! Pasti kau yang suluh Waduk Kebo untuk menalik diliku!"

"Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang di atas kapal ini! Bukan untuk maksud jahat!" sangkal Tua Rakus.

"Belsenang-senang sambil mempelkosaku?"

"Kalau kau bersedia, aku tidak keberatan!"

"Galilah celmin dan mengacalah. Tua Lakus!" ejek Dayang Kesumat. "Aku masih bisa cali hibulan dan kehangatan dali plia yang muda dan lebih tampan lagi dali cecongolmu!"

Seorang berpakaian merah dengan kumis melintang tebal membentak Dayang Kesumat. "Hei, bicara yang sopan dengan Yang Mulia! Jangan seenak bacotmu saja!"

Dayang Kesumat hanya sunggingkan senyum tipis dan sinis, ia segera ucapkan kata, "Jangan coba-coba menghaldikku, Laja Tebas! Jika Waduk Kebo saja bisa kubunuh secepat itu, apalagi kamu. Aku tahu, ilmumu masih di bawah Waduk Kebo, Laja Tebas! Kau hanya unggul di pelmainan pedangmu saja! Tapi ilmu tenaga dalammu masih nol!"

"Setan kurap!" geram Raja Tebas. Cepat-cepat ia mencabut pedangnya untuk menebas kepala Dayang Kesumat.

Tapi, Tua Rakus angkat tangannya tanda melarang Raja Tebas menyerang Dayang Kesumat. Dalam hati Tua Rakus pun berkata, "Aneh sekali. Dia juga tahu nama Raja Tebas dan kekuatannya dalam bermain pedang. Dia bisa mengerti seberapa tinggi ilmu Raja Tebas dibandingkan Waduk Kebo! Siapa perempuan ini sebenarnya? Aku benar-benar tak bisa menerkanya!"

Terdengar Dayang Kesumat bicara dengan Tua Rakus, "Jika kau memang punya niat mau pelkosa aku, sebaiknya batalkan saja niatmu itu, Tua Lakus. Bialkan aku teluskan peljalanan. Jangan bikin pelsoalan denganku. Nanti anak buahmu habis di tanganku!"

"Tidak bisa! Kau harus menebus nyawa Waduk Kebo dengan menyerahkan kemesraanmu dua malam bersamaku di kapal ini!"

"Aku kebelatan!"

"Aku tidak peduli! Tinggal pilih, kau layani aku di kapal ini dua malam atau kau mati di tanganku?"

"Kupilih, kau yang mati di tanganku, Tua Lakus!"

"Keparat!" geram Tua Rakus sambil menggeletakkan giginya. Lalu, ia keluarkan perintah kepada anak buahnya, "Serang dia...! Bunuh!"

"Heaaa...!" Mereka cepat mencabut senjata masing- masing dan melompat menyerang Dayang Kesumat. Wuurrr...!

Dayang Kesumat segera lompat dengan berpegangan pada seutas tambang layar yang menggantung. Dengan tambang itu, ia laksana terbang di atas kepala orang-orang yang menyerangnya secara bersamaan. Dalam keadaan melayang begitu, Dayang Kesumat kelebatkan tangannya seperti orang menaburkan sesuatu dengan cepat. Lalu dari tangan itu keluarlah ratusan ekor kunang-kunang. Kunang-kunang itu jatuh dan hinggap di kepala mereka, sehingga kepala mereka menjadi berpijar-pijar nyala hijau kekuningan.

Mereka seperti memakai mahkota, dan kelihatan indah. Namun beberapa kejap berikutnya mereka saling menjerit, berteriak kesakitan, bahkan saling berguling-gulingan di lantai geladak. Ratusan kunang-kunang itu meresap masuk di kepala mereka bagai bersarang ke dalam kepala. Setiap satu kepala, jumlahnya lebih dari lima puluh kunang-kunang. Dan kepala mereka menjadi bengkak, kulitnya bergerak-gerak bagaikan ada binatang yang saling berdesak menggerogoti apa saja yang ditemukan di dalam kepala itu. Mereka menggelepar-gelepar dalam tujuh hitungan, kemudian mengejang dan selanjutnya terkulai lemas tak berkutik lagi. Mereka mati dengan kepala bagian dalam bagaikan digerogoti binatang aneh itu.

Dayang Kesumat sudah berdiri di atas atap barak. Ia menyaksikan mereka yang meregang nyawa dengan senyum sinis kemenangan. Sebagian dari mereka, termasuk Tua Rakus, cepat melarikan diri masuk ke dalam barak, atau bersembunyi di dalam tong-tong kayu. Mereka yang bersembunyi, lolos dari maut. Raja Tebas dan beberapa orang yang ilmunya sejajar dengannya, juga lolos dari maut.

Mereka yang sempat mendengar Tua Rakus berteriak, "Awaaas...! Racun Mahkota...!" segera cepat mengerti adanya bahaya.

Tapi bagi yang tidak mendengar, tidak mengerti adanya bahaya maut yang tak bisa ditangkis kecuali dihindari dengan cara sembunyikan kepala. Sebab, Tua Rakus tahu, bahwa jurus ilmu 'Racun Mahkota' berbentuk ratusan bahkan bisa ribuan kunang- kunang yang hinggap di kepala dan memakan habis isi kepala orang yang dihinggapi. Tapi Tua Rakus sama sekali tidak menduga bahwa Dayang Kesumat juga mempunyai jurus 'Racun Mahkota', yang sebenarnya hanya dimiliki oleh seorang tokoh sakti yang berjuluk Permeswari Bayangan.

Lebih dari lima belas anak buah Tua Rakus tergeletak mati dengan kepala keropos. Tua Rakus semakin murka kepada Dayang Kesumat, tapi ia tak mau gegabah menyerang, ia hadapi kembali Dayang Kesumat dan cepat berseru dalam suara marahnya,

"Perempuan liar...! Rupanya kau memang bukan murid si Jejak Setan, tapi murid Permeswari Bayangan! Karena aku tahu, jurus 'Racun Mahkota' hanya dia yang memilikinya!"

"Pelmeswali Bayangan telah dilobohkan oleh Ki Gendeng Sekalat, penguasa Pulau Mayat itu!"

"Hah...?!" Tua Rakus terkejut. "Kau kenal pula dengan Ki Gendeng Sekarat yang menguasai Pulau Mayat itu?!"

Bibir indah itu hanya sunggingkan senyum sinis dan berkesan angkuh. Lalu, ia ucapkan kata sombongnya. "Aku sangat kenal dengannya, kalena aku masih punya ulusan yang belum selesai dengan Ki Gendeng Sekalat itu! Tak lama lagi, dia pun akan mati di tanganku, semudah aku membunuhmu, Tua Lakus!"

Tiba-tiba Dayang Kesumat terdiam, matanya memandang tajam ke mata kanan Tua Rakus. Pandangan mata itu jelas beraliran tenaga dalam, seperti kala dilakukan terhadap Siluman Tujuh Nyawa. Dayang Kesumat ingin robohkan Tua Rakus lewat kekuatan matanya, tapi tiba-tiba ia tersentak mundur.

Tua Rakus buka mata kirinya yang tertutup kulit hitam itu, dan mata kiri itu memancarkan sinar biru dengan cepat. Zuttt...! Arahnya ke bola mata kanan Dayang Kesumat.

Tapi Dayang Kesumat segera sadar bahwa lawannya menggunakan kekuatan ilmu 'Sinar Naga Birawa'. Maka, cepat ia melesat ke atas untuk menghindari sinar biru dari lubang mata yang bolong tanpa bola mata itu.

Wuttt...! Jebbb...!

Gerakannya kurang cepat. Sinar biru dari lubang mata yang sejak tadi tertutup itu mengenai lambung Dayang Kesumat. Tubuh itu pun terpental jatuh dari atap barak. Dayang Kesumat segera menarik napasnya dengan cemas. Ternyata mulai terasa panas di bagian perut dan dadanya. Itu pertanda kekuatan daya hancur dari sinar biru itu mulai bekerja.

"Bisa mati kalau tidak segera kuobati sendiri!" pikir Dayang Kesumat setelah menyadari bahaya yang dapat merenggut nyawanya dalam waktu singkat itu. Maka, tanpa ragu-ragu lagi, Dayang Kesumat cepat melompat dan meceburkan diri ke laut.

Brasss...!

Ia jatuh di atas pelepah daun kelapa yang menjadi kendaraannya itu. Maka secepat kilat ia sentakkan tenaga dari ilmu 'Lancang Bumi'. Pelepah daun kelapa kering itu bergerak dengan cepat membawa lari Dayang Kesumat yang menderita luka cukup parah itu.

Sekalipun Tua Rakus mempunyai jurus handal yang dinamakan 'Sinar Naga Birawa' itu, tetapi ia tidak bisa mengejar Dayang Kesumat. Karena tenaga dalam Dayang Kesumat yang dilancarkan melalui pandangan matanya itu telah membuat Tua Rakus keluarkan darah hitam dan mulut dan hidungnya, sekejap setelah Dayang Kesumat melarikan diri.

Raja Tebas cepat membawa masuk Tua Rakus ke kamar dan memanggil Wisoguno, tabib unggulan rombongan Kapal Bajak Naga itu. Tapi bisakah Wisoguno sembuhkan Tua Rakus jika tenaga dalam Dayang Kesumat itu telah menghanguskan paru-paru Tua Rakus?

* * *

ENAM
GELOMBANG lautan cukup tenang, walau bergulung-gulung namun tidak sampai segunung. Di atas sebuah perahu berlayar satu, tapi mempunyai dua barak, yaitu di buritan dan haluan, tiga penumpangnya terasa nyaman menikmati pelayaran tersebut. Ketiga orang itu adalah murid sinting si Gila Tuak yang bernama Suto Sinting, atau yang dikenal dengan julukan Pendekar Mabuk, kemudian utusan dari Pulau Serindu yang pernah mendapat kehormatan dan gelar Duta Terpuji dari Ratu Kartika Wangi, dan orang itu dikenal dengan nama Dewa Racun. Bertubuh kerdil tapi berjiwa besar.

Dan, satu lagi penumpang perahu itu yang bertubuh gemuk, besar, berkepala gundul mengkilap, bermata besar dengan hidung bulat dan perut buncit yang tidak pernah mau pakai baju, yaitu Hantu Laut. Orang agak budek ini, adalah bekas anak buah Siluman Tujuh Nyawa. Dialah yang menimbulkan banyak korban sejak berhasil merebut Pusaka Tombak Maut dari tangan nakhoda Kapal Neraka, yaitu Tapak Baja. Dialah yang membunuh Tapak Baja sendiri dan mengobrak-abrik Pulau Beliung dengan Pusaka Tombak Maut itu.

Tetapi, pada akhirnya ia ditaklukkan oleh Suto Sinting, si Pendekar Mabuk yang ke mana-mana selalu membawa bumbung tempat tuak di punggungnya. Tombak pusaka itu sirna begitu saja setelah Suto menerjang Hantu Laut dengan menggunakan jurus tuak yang bernama jurus 'Sembur Siluman'. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tumbal Tanpa Kepala dan Pusaka Tombak Maut).

Hantu Laut ditaklukkan Pendekar Mabuk, dan kini justru menjadi pelayannya Suto, yang siap membantu dalam perjalanan laut. Karena Hantu Laut memang lebih menguasai tentang kelautan ketimbang Pendekar Mabuk dan Dewa Racun.

Sedangkan Singo Bodong, orang yang selama ini digembar-gemborkan sebagai kembarannya Dadung Amuk, lebih memilih tinggal di Pulau Beliung, karena Ratu Pekat ingin mengangkat Singo Bodong sebagai muridnya. Singo Bodong yang polos dan tidak mempunyai ilmu kanuragan sedikit pun itu, merasa lebih senang mendapat ilmu dan menjadi muridnya Ratu Pekat, ketimbang mengikuti Pendekar Mabuk ke Puri Gerbang Surgawi di Pulau Serindu, tanpa ada kepastian kapan ia akan bisa menjadi seorang pendekar. Singo Bodong memang sangat berkeinginan untuk menjadi seorang pendekar seperti Suto Sinting.

Karena di Pulau Beliung ada Hantu Laut yang mengamuk dengan Pusaka Tombak Maut, dan ada Singo Bodong yang mirip Dadung Amuk, maka Tabib Akhirat memberi kabar yang salah tentang Dadung Amuk. Itu sebabnya, Siluman Tujuh Nyawa menggantung Dadung Amuk karena dianggap akan menggulingkan kekuasaan dan memberontak bersama Hantu Laut.

Sejak Hantu Laut tidak lagi memiliki Pusaka Tombak Maut, niatnya untuk memberontak dan mengalahkan Siluman Tujuh Nyawa menjadi batal. Bahkan ia selalu dibayang-bayangi perasaan takut bertemu dengan Siluman Tujuh Nyawa. Merasa dirinya berilmu tak seberapa tinggi dibandingkan orang-orang utusan dan sekutunya Siluman Tujuh Nyawa, Hantu Laut sering berada tak jauh dari Pendekar Mabuk. Maksudnya, jika sekali waktu ia bertemu dengan orangnya Siluman Tujuh Nyawa, maka Suto Sinting pasti akan membelanya.

Pelayaran yang tenang dan damai itu tiba-tiba saja dikejutkan oleh teriakan Hantu Laut yang melompat tinggalkan haluan.

"Dadung Amuk...! Dadung Amuk datang...!" Ia buru-buru mendekati Suto yang sedang berbincang-bincang dengan Dewa Racun di bagian buritan. Mata Hantu Laut menjadi tegang, napasnya terengah-engah, dan ia kembali sebutkan, "Daung, eh... Dadung...! Dadung Amuk datang!"

"Mana dia?" tanya Suto sambil memandang sekelilingnya, ia tak melihat ada perahu atau kapal mendekat.

"Mana Dadung Amuk?!" tanya Pendekar Mabuk agak menyentak.

"Ada... ada di haluan. Di bawah sana...!"

Dewa Racun cepat sentakkan kakinya dan melesat pindah tempat ke haluan. Ketika ia menengok ke bawah, ke perairan yang biru bening itu, matanya terkesiap sekejap. Suto Sinting pun segera datang mendekatinya.

"Mayat...!" gumam Pendekar Mabuk, ia menatap mayat Dadung Amuk yang habis digantung dibuang begitu saja oleh Siluman Tujuh Nyawa. Wajahnya masih tampak membuka mulut dan menjulurkan lidah. Matanya putih. Tubuhnya masih terikat tali tambangnya sendiri. Mayat itu belum membusuk dan masih tampak segar.

Dewa Racun picingkan mata menatapi mayat yang mengambang itu. Lalu, ia berkata dengan suara gagapnya, "Sep... sep... sepertinya dia mati digantung. Ad... ada bekas jerat tali memerah di lehernya!"

"Ya. Dia mati digantung," jawab Suto. "Tapi oleh siapa dan mengapa dia digantung?"

"Apakah dia benar-benar sudah mati?" tanya Hantu Laut.

"Sudah!"

"Matinya dengan meludah?!" Hantu Laut salah dengar.

"Sudah...!" suara Suto diperkeras, barulah Hantu Laut paham maksud Pendekar Mabuk itu.

"Meng... meng... meng... mengapa kau takut kepada Dadung Amuk? Bukankah waktu Singo Bodong kau anggap Dadung Amuk, kau bilang bahwa Dadung Amuk orang yang paling baik denganmu, dan kebaikannya seperti saudara sendiri? Bahkan kau mau ajak kerja sama menggulingkan Siluman Tujuh Nyawa. Lalu, mengapa sekarang kkka... kaaau... kau ketakutan melihat Dadung Amuk yang ternyata sudah menjadi bangkai itu?"

"Dadung Amuk memang baik padaku. Tapi jika aku menentang kekuasaan sang ketua, belum tentu dia bersikap baik padaku. Sebab...."

"Sebab apa?" desak Suto setelah Hantu Laut berhenti bicara dan agak ragu melanjutkannya.

"Sebab... menurut kabar kasak-kusuk tak pasti... katanya Dadung Amuk adalah anak dari Siluman Tujuh Nyawa."

Suto dan Dewa Racun kernyitkan alisnya, memandangi Hantu Laut. Kemudian Suto ajukan tanya, "Dari mana kau pernah mendengar kabar itu?"

"Dari seorang tokoh tua, teman baiknya Jangkar Langit yang bernama Begawan Sangga Mega. Dalam percakapannya dengan Tapak Baja, sebelum Begawan Sangga Mega akhirnya dibunuh Tapak Baja sendiri, Begawan Sangga Mega mengatakan tentang hubungan anak dan bapak antara Dadung Amuk dengan Siluman Tujuh Nyawa."

"Mengapa Begawan Sangga Mega menceritakan hal itu kepada Tapak Baja?" tanya Suto yang merasa tertarik sekali dengan kabar tersebut.

"Karena...," kata Hantu Laut sambil mengingat-ingat peristiwa lama yang pernah dialami bersama Tapak Baja. "Karena..., pada waktu itu Tapak Baja ingin hak waris atas pusaka Pedang Guntur Biru. Tapi Begawan Sangga Mega tidak mau memberikan pusaka Pedang Guntur Biru kepada Tapak Baja. Sebab, menurut Begawan Sangga Mega, pedang itu memang warisan dari leluhurnya Siluman Tujuh Nyawa, dan akan diserahkan kepada Siluman Tujuh Nyawa jika ia sudah genap berusia tiga ratus tahun. Sekarang usianya baru dua ratus lima belas tahun...."

"Edan...!" cetus Dewa Racun terheran-heran. Ia geleng-gelengkan kepala mendengar usia Siluman Tujuh Nyawa. "Ternyata sud... dah... sudah sangat tua Durmala Sanca itu."

"Berarti usia guruku, si Gila Tuak, kurang lebih segitu!"

"Ck ck ck...?!" Dewa Racun berdecak keheranan. Perahu tetap melaju seirama angin lautan. Mereka bicara di haluan sambil Hantu Laut pegang kemudi.

Mayat Dadung Amuk sudah ditinggalkan oleh mereka, tak diurusnya lagi. Mereka lebih tertarik dengan keterangan yang diperoleh Hantu Laut kala masih menjadi orang bawahannya Tapak Baja.

"Teruskan ceritamu itu!" kata Pendekar Mabuk setelah meneguk tuaknya tiga kali. Maka, Hantu Laut pun melanjutkan ceritanya lagi.

"Setahuku, Tapak Baja mencoba membujuk Begawan Sangga Mega untuk bisa mendapatkan Pedang Guntur Biru itu. Tapi Begawan tetap tidak berikan, dan tidak kasih tahu di mana dia simpan Pedang Guntur Biru itu. Menurut Begawan, jika bukan Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa yang terima pedang itu, harus keturunannya Durmala Sanca. Menurut Begawan, Durmala Sanca mempunyai dua anak, walau bukan anak kembar, tapi dia punya dua anak dari dua perempuan yang tidak dikawininya secara resmi."

"Apakah Begawan Sangga Mega juga sebutkan nama anak itu?"

"Seingatku, Begawan Sangga Mega menyebutkan nama anak itu ialah Sugolo yang kemudian dikenal dengan nama Dadung Amuk, dan Sugali, yang tidak diketahui di mana tinggalnya."

Tiba-tiba Pendekar Mabuk dan Dewa Racun serempak kerutkan dahi serta saling pandang bernada heran. Kejap berikutnya, Suto berkata kepada Dewa Racun, "Seingatku, Sugali itu nama asli Singo Bodong! Ingatkah kau pada saat Singo Bodong ceritakan siapa namanya, siapa ibunya, dan mengapa ia disebut Singo Bodong, serta...."

"Iiyyy... iya, iya... aku ingat!" jawab Dewa Racun dengan bersemangat. "Sugali itu nama asli Singo Bodong, dan... dan... dan dia bilang ibunya sering sebut-sebut nama Arjuna sebagai ayah Singo Bodong, dan dijuluki Siluman oleh ibunya Singo Bodong, karena sang Arjuna itu tak pernah punya waktu tetap untuk menjenguk ibu Singo Bodong yang bekas... beka... bekas sinden zaman dulu!" (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Utusan Siluman Tujuh Nyawa)

"Kalau begitu, Singo Bodong itu kakak beradik dengan Dadung Amuk, hanya lain ibu tapi satu bapak?!" ujar Suto menyimpulkan keterangan itu.

"Tap.... tapi mereka seperti anak kembar saja?" kata Hantu Laut segera menyahut, "Menurut keterangan Begawan Sangga Mega, Durmala Sanca adalah anak kembar. Ia mempunyai kakak yang namanya aku tak ingat, tapi yang jelas dia sendiri yang bunuh kakaknya! Dia tak mau ada orang yang menyamainya, baik ilmunya maupun ketampanannya."

"Oh, bisa jadi darah keturunan kembarnya ada di wajah Singo Bodong dan Dadung Amuk!" kata Pendekar Mabuk.

"Jaa... ja... jadi, kalau Siluman Tujuh Nyawa mati, yang berhak menerima pusaka warisan leluhur berupa Pedang Guntur Biru itu Dadung Amuk atau Singo Bodong?"

"Ya," jawab Hantu Laut. "Tapi jika Siluman Tujuh Nyawa belum mati, hak waris masih ada di tangan Siluman Tujuh Nyawa!"

"Llla... la... la...."

"Lama?"

"Bukan! Llla... lalu, Begawan Sangga Mega itu sebenarnya siapa?"

"Paman dari Siluman Tujuh Nyawa!" jawab Hantu Laut. Tambahnya lagi, "Tapi Begawan Sangga Mega tidak suka dengan tingkah laku keponakannya yang sesat itu, sehingga ia tidak mau akui Durmala Sanca adalah keponakannya, ia malu kepada tokoh putih di rimba persilatan!"

"Hmmm...," Dewa Racun manggut-manggut sebentar. "Ter... terr... terus, apakah sampai sekarang tak ada yang tahu, di mana Pusaka Pedang Guntur Biru itu disimpan oleh Begawan Sangga Mega?"

"Seingatku, Begawan Sangga Mega tidak sebutkan di mana letaknya kepada Tapak Baja, yang membuat Tapak Baja menjadi marah dan membunuhnya. Seingatku, Begawan hanya katakan, bahwa Pedang Guntur Biru tak bisa dilihat oleh sembarang orang. Letaknya jauh dari hati pewarisnya!"

Dewa Racun termenung sambil menggumam, "Jauh dari hati pewarisnya? Tak bisa dilihat oleh sembarang orang...?" Lalu, ia segera menegur Suto yang seperti orang melamun sejak tadi,

"Ada se... se... sesuatu yang teringat di benakmu tentang arti kata-kata Begawan itu, Suto?"

"Entahlah," jawab Suto. "Yang kupikirkan, sekarang Dadung Amuk sudah mati, entah siapa yang menggantungnya, tak jelas buat kita. Lalu, kalau suatu saat nanti, aku berhasil membunuh Siluman Tujuh Nyawa karena urusan pribadiku yang menyangkut calon istriku dan yang menjadi ratumu itu, berarti tinggal Singo Bodong ahli waris yang berhak menerima Pedang Guntur Biru...."

Dewa Racun bertanya kepada Hantu Laut, "Apakah menurutmu ber... ber... berarti Singo Bodong harus berusia tiga ratus tahun juga?"

"Setahuku, Begawan Sangga Mega mengatakan bahwa umur tiga ratus tahun itu hanya berlaku untuk Durmala Sanca, karena dikutuk oleh kakeknya untuk menjalani hidup sesat selama tiga ratus tahun."

"Meng... mengapa... mengapa ia dikutuk oleh kakeknya begitu?" tanya Dewa Racun semakin ingin tahu.

"Katanya... ini menurut cerita Begawan...! Katanya, Durmala Sanca telah memperkosa neneknya sendiri."

"Ooo...?!" Dewa Racun manggut-manggut.

"Karena itu, ilmu kesaktian dari kakek dan neneknya tidak pernah diturunkan kepada Durmala Sanca. Satu pun tak ada yang diturunkan, kecuali Pedang Guntur Biru yang memang sudah warisan turun-temurun dari kakek buyutnya!"

"Sssi... si... siapa kakek dan neneknya Durmala Sanca itu?"

"Hmmm... namanya, kalau tidak salah... hmm... Eyang Purbapati dan Nini Galih!"

Duaarrr...! Kilat menyambar di angkasa bagaikan merobek langit. Suara petir yang menggelegar bagai mengguncangkan alam semesta itu, membuat Suto Sinting tersentak kaget dan terbelalak matanya. Wajah Pendekar Mabuk menjadi tegang dan memerah.

"Suto, tahan...! Tahan napasmu...! Kuasai amarahmu, Suto!" kata Dewa Racun dengan cemas dan ketakutan. Sebab dia tahu, Pendekar Mabuk pernah menceritakan tentang Pusaka Tuak Setan yang terminum olehnya dan bisa mengakibatkan napas Suto menjadi badai topan jika sedang diliputi kemarahan. Seperti yang terjadi di Pulau Hitam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah).

Kalau saja Suto belum pernah menceritakan tentang Pusaka Tuak Setan kepada Dewa Racun, maka Dewa Racun tidak akan membujuk Suto untuk menahan napas dan menguasai diri dari kemarahan. Kalau saja Pendekar Mabuk tidak pernah menceritakan siapa gurunya dan siapa guru dari gurunya sendiri, Dewa Racun tidak akan tahu bahwa saat itu Pendekar Mabuk menjadi terbakar kemarahannya.

Mata Pendekar Mabuk yang memandang Hantu Laut itu cepat-cepat dipejamkan, ia tenangkan diri dengan bernapas hati-hati. Hantu Laut menjadi ketakutan melihat wajah Suto merah padam begitu, ia bingung, mengapa Pendekar Mabuk memandangnya dengan suatu kemarahan yang besar. Apalagi langit menjadi mendung, cahaya petir berkilap di angkasa bagai memburu mangsa dengan liar. Angin pun berhembus lebih kencang, seperti tanda-tanda akan datangnya badai topan yang amat dahsyat. Hantu Laut jadi pucat wajahnya.

Pendekar Mabuk tinggalkan haluan, ia berdiri di samping barak yang ada di bagian buritan. Matanya memandang jauh ke cakrawala yang sudah menghitam karena mendung dan hujan badai. Sementara itu, Hantu Laut punya kesempatan membisikkan kata kepada Dewa Racun,

"Mengapa dia sepertinya marah padaku?"

"Kar... kar... karena kamu sebutkan...."

"Diam, Dewa Racun!" sentak Suto dari tempatnya, ia kembali tundukkan kepala dan pejamkan mata. Dewa Racun tak berani melanjutkan kata-kata apa pun kepada Hantu Laut.

Gemetar sekujur tubuh Suto Sinting mendengar Purbapati dan Nini Galih adalah kakek dan neneknya Siluman Tujuh Nyawa. Padahal Eyang Purbapati dan Nini Galih adalah gurunya si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Sedangkan Pendekar Mabuk adalah murid dari si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Tapi selama menjadi murid mereka, Suto tidak pernah mendengar cerita tentang kutukan hidup sesat dari Purbapati kepada Durmala Sanca. Apakah si Gila Tuak merahasiakannya, atau memang tidak tahu?

Jika si Gila Tuak tidak tahu, mengapa Hantu Laut yang sebagai budak Kapal Neraka, orang bawahannya Tapak Baja, bisa mengetahui urutan silsilah tersebut? Mengapa Hantu Laut bisa hafal semua nama dan kejadian leluhur Siluman Tujuh Nyawa? Benarkah ia mampu mengingat segala yang pernah didengarnya dari Begawan Sangga Mega?

Hantu Laut berdebar cemas ketika Pendekar Mabuk melangkahkan kaki mendekatinya. Kemudian Pendekar Mabuk menepuk-nepuk pundak Hantu Laut sambil ucapkan kata, "Lupakan tentang sikapku baru saja tadi! Aku tidak bermaksud marah kepadamu! Aku hanya kaget karena kamu sebutkan nama Eyang Purbapati dan Eyang Nini Galih."

"Eyang... Eyang siapa?!" Hantu Laut ajukan tanya dengan heran.

"Eyang Purbapati dan Eyang Nini Galih!"

Hantu Laut tampak bingung, lalu bicara pada Dewa Racun, "Apa aku tadi sebutkan kedua nama itu?"

Dewa Racun kerutkan dahinya lalu bertanya, "Apa... apa... apakah kamu tidak ingat, bahwa kamu telah menyebutkan kedua nama itu?"

"Ak... ak... aku hanya katakan, bahwa menurut kabar kasak-kusuk yang tak pasti, Dadung Amuk itu adalah anak dari Siluman Tujuh Nyawa. Aku hanya bilang begitu!"

Suto dan Dewa Racun kembali saling pandang bernada heran. Ada sesuatu yang aneh yang mereka temukan pada perubahan wajah Hantu Laut. Wajah itu tampak polos dan mengakui apa yang diingatnya.

"Kau tadi sebutkan pula tentang pusaka leluhur Siluman Tujuh Nyawa," kata Pendekar Mabuk mencoba ingatkan kembali kata-kata Hantu Laut tadi.

"Pusaka apa?" tanya Hantu Laut benar-benar bingung.

"Sebuah pedang," jawab Dewa Racun.

"Pedang...?! Pedang apa?!" Hantu Laut tambah bingung.

Dewa Racun dan Suto Sinting saling pandang sekejap, lalu Suto berbisik pelan di telinga Dewa Racun, "Tadi sepertinya ada yang tak beres pada dirinya."

Hantu Laut berkata, "Aku... aku sungguh tak bilang soal pedang pusaka. Aku cuma bilang, Dadung Amuk anak Siluman Tujuh Nyawa. Setelah itu aku diam, karena kulihat bumbung tuakmu keluarkan sinar putih melesat masuk menyilaukan mataku."

"Sinar...?!" Pendekar Mabuk sedikit tegang. "Sinar dari mana?"

"Dari ujung bumbung tuakmu itu!" sambil Hantu Laut menuding bumbung tuak di punggung Suto dengan rasa takut, ia ucapkan kata lagi, "Sinar itu kecil tapi menyilaukan mataku. Aku jadi takut. Lalu, aku diam saja tak berani bicara padamu! Tapi... tiba-tiba aku mendengar suara ledakan petir, dan kutemukan wajahmu sudah memandangku dengan marah! Aku tak tahu salahku!"

"Bbe... benar," bisik Dewa Racun pada Suto. "Pas... pasti ada yang tak beres pada dirinya, sehingga dia bicara di luar kesadarannya. Tap... tap... tap... tapi, siapa yang bicara melalui mulutnya tadi jika bukan dia?"

Suto diam tertegun, memperhatikan gerakan air yang menyibak karena dibelah perahu, ia jadi teringat tentang cerita bocah kecil telanjang yang menemui si Gila Tuak sewaktu Gila Tuak masih muda dan bernama Sabawana. Bocah itu ternyata jelmaan dari gurunya Eyang Purbapati yang bernama Wijayasura, dan bocah itulah yang menjelma menjadi bumbung dari sebuah pohon bambu di dalam gua tempat Sabawana tersesat. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tombak Maut).

"Apakah Eyang Buyut Wijayasura yang berbicara melalui mulut Hantu Laut tadi?" pikir Pendekar Mabuk. "Dengan maksud apa Eyang Buyut Wijayasura membeberkan sejarah Siluman Tujuh Nyawa melalui mulut Hantu Laut? Apakah aku ditugaskan untuk mencari Pedang Guntur Biru? Untuk diriku sendiri atau untuk kuserahkan kepada Singo Bodong? Atau untuk mengalahkan Siluman Tujuh Nyawa?" Suto terpaku diam karena tenggelam dalam renungan misteriusnya.

* * *

TUJUH
TIBA-TIBA perahu berguncang ketika melewati sebuah pulau kecil bertanah tandus. Guncangan itu terasa aneh, karena Suto dan kedua temannya tahu, bahwa air laut tidak bergelombang besar. Ombaknya mengalun dengan tenang. Tapi mengapa perahu bagai ada yang mengguncangnya dari bawah? Bahkan Hantu Laut sempat terpelanting nyaris terlempar keluar dari kapal. Untung Dewa Racun cepat menangkap lengan Hantu Laut.

Dewa Racun yang berdiri di atas barak untuk memandang keadaan di pulau tandus yang mereka lewati itu segera berkata kepada Suto, "Ad... ad... ada yang mengganggu kita!"

"Sial! Mungkin badai akan datang, sehingga gelombang besar terjadi di bawah permukaan laut," kata Hantu Laut.

"Buk... bukan karena gelombang lautan! Ada yang sengaja mengguncangkan perahu kita!"

"Apa? Mengencangkan celana kita?!"

"Mengguncangkan perahu kita!" seru Dewa Racun memperjelas ucapannya, dan Hantu Laut yang tuli segera angguk-anggukkan kepala dengan wajah mulai tampak cemas.

"Jangan-jangan kita berpapasan dengan orangnya Durmala Sanca!" katanya dengan rasa waswas.

"Kita tak perlu bikin perkara jika memang berpapasan dengan mereka. Tapi kalau mereka mengganggu kita, aku tak akan tinggal diam!" kata Suto Sinting sambil membuka tutup bumbungnya, lalu menenggak tuaknya beberapa kali.

"Bagaimana jika mereka mengancam nyawaku?" kata Hantu Laut memancing perasaan Pendekar Mabuk.

"Tak akan sempat mereka mengancammu, aku akan bertindak lebih cepat dari mereka!" jawab Suto.

"Mengapa kau mau membelaku, Suto?" tanya Hantu Laut lagi setelah ia bungkamkan mulut beberapa kejap, lalu Pendekar Mabuk pun menjawab,

"Karena kau sudah berjanji untuk menjadi Hantu Laut yang sekarang, bukan Hantu Laut yang dulu! Dulu memang kau jahat dan sesat, tapi sekarang kau punya niat untuk bertobat! Niat itulah yang kulindungi dan kubelai"

Hantu Laut diam, merasa bersyukur menemukan lawan seperti Suto, yang bukan hanya bisa menundukkan kekerasannya, namun juga bisa menundukkan hatinya hingga kini ia menjadi seorang sahabat. Andai ia menemukan lawan bukan Suto Sinting, si Pendekar Mabuk yang bijaksana itu, sudah tentu ia akan mati dikalahkan lawannya atau hancur tak berbentuk lagi. Tak akan ia punya kesempatan untuk membuktikan niat tobatnya di mata dunia.

Suto ucapkan kata lagi kepada Hantu Laut, "Seharusnya kau memang menjalani hukuman mati karena dosamu terlalu banyak. Tapi menurutku, lebih baik mati kejahatanmu daripada mati jiwamu. Karena mati jiwa tidak bisa menebus dosa, tapi  mati kejahatanmu bisa membuatmu punya kesempatan menebus dosa! Dan sekarang ini kau sebenarnya sedang menjalani hukuman dari dosamu, yaitu menjadi pembela kebenaran dan pelindung kebaikan, itulah hukuman yang harus kau jalani seumur hidupmu, Hantu Laut!"

Belum selesai Pendekar Mabuk bicara, perahunya kembali terasa diguncangkan oleh suatu kekuatan tenaga dalam yang membuat ketiga orang itu hampir terlempar ke laut. Suto Sinting cepat perintahkan kepada Dewa Racun.

"Lacak suara yang ada di sekitar sini, Dewa Racun!" Maka, Dewa Racun yang punya keahlian menyadap pembicaraan dari jarak jauh itu segera pejamkan mata dan kedua telunjuknya menekan pelipis kanan kiri. Si kerdil berpakaian putih bulu itu berdiam diri beberapa saat. Kejap berikutnya dia serukan kata kepada Suto,

"Akkk... akkk... akkk...."

"Akik...?!"

"Bukan!" sentak Dewa Racun kepada Hantu Laut. "Ak... aku hanya bisa mendengarkan suara napas yang berat. Tak ada suara percakapan orang!"

Pendekar Mabuk diam sekejap, dan tiba-tiba Hantu Laut tudingkan tangan ke arah pulau tandus itu sambil serukan kata, "Lihat, ada seseorang yang terkapar di pantai sana!"

Pendekar Mabuk dan Dewa Racun cepat lemparkan pandang ke arah pantai pulau tandus. Mereka melihat sesosok tubuh terkapar di pantai sana dengan kepala sedikit terangkat karena bersandarkan sebuah batu setinggi mata kaki. Suto segera perintahkan Hantu Laut untuk mengarahkan perahu ke pantai. Makin dekat makin jelas orang yang terkapar itu adalah seorang perempuan berpakaian hijau ketat berhias benang emas. Terlihat pula warna jubahnya yang biru muda membayang tipis.

"Siapa perempuan itu, Dewa Racun?"

"Entahlah. Ak... ak... aku masih belum jelas dengan raut wajahnya," jawab Dewa Racun. Kemudian ia segera melompat turun dari perahu setelah Pendekar Mabuk mendului turun dari perahu itu. Hantu Laut mencari tambatan untuk tambang perahunya. Setelah mendapatkan batu runcing untuk tambatan tali perahunya, ia segera menyusul dua rekannya yang sudah mendekati perempuan yang terkapar itu.

Dayang Kesumat gagal sembuhkan luka dalamnya akibat pukulan 'Sinar Naga Birawa' dari si Tua Rakus itu. Tubuhnya sangat lemas dan wajah cantik-nya memucat pasi. Matanya yang indah berat untuk dibuka kelopaknya. Namun ia paksakan membuka kelopak mata setelah tahu ada yang mendekatinya.

"Kau mengenalinya, Dewa Racun?" tanya Pendekar Mabuk.

"Tid... tid...tid... tidak!" jawab Dewa Racun sambil pejamkan mata karena sukar sekali menyebut sepotong kata itu. Lalu ia buka matanya kembali dengan rasa lega dan sambungkan jawabannya, "Aku hanya kenali dia sebagai perempuan muda yang cantik jelita, walau tak secantik calon istriku sang Ramu. Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa namanya. Baru sekarang aku melihat wajah cantik ini."

"Aku juga! Kau mengenalinya, Hantu Laut?"

Mata Hantu Laut yang terbuka lebar dengan mulut bengong karena kagum melihat kecantikan dan kebesaran dada perempuan itu, segera berkedip menggeragap saat mendapat pertanyaan dari Pendekar Mabuk. Lalu, cepat ia menjawab, "Tidak... tidak! Aku tidak mengenalinya."

"Hmmm... tampaknya ia terluka parah di bagian dalam!" kata Suto seperti bicara pada diri sendiri.

Dayang Kesumat ucapkan kata lemah dan lirih, "tolong aku!"

"Kau terkena pukulan bertenaga dalam tinggi, Nona?"

"Ya. Uuh...!" Ia berusaha menggeliat tapi tak mampu banyak berbuat, ia hanya ucapkan kata lirih, "Sakit...!"

Suto bersiap menuangkan tuak ke dalam mulut Dayang Kesumat, tapi lebih dulu ia ajukan tanya, "Kau bisa minum tuak?"

"Ya," jawab Dayang Kesumat pendek.

"Kalau begitu, bukalah mulutmu dan minumlah tuak ini...!"

Pelan-pelan Dayang Kesumat membuka mulutnya. Mulut ternganga kecil dan Suto Sinting tuangkan tuak pelan-pelan. Tuak mengucur masuk ke dalam mulut berbibir indah itu. Diteguk beberapa kali oleh Dayang Kesumat. Sete1ah itu, Suto ucapkan kata,

"Jangan banyak bergerak dulu, Nona. Diamlah beberapa saat biar tuak saktiku ini melawan kekuatan yang merusak bagian dalam tubuhmu. Jika memang bisa, usahakanlah untuk tidur. Kami akan menunggumu di sini sampai kau sembuh."

Dewa Racun melangkahkan kakinya mendekati gundukan batu yang menjulang tinggi hingga bisa menjadi peneduh pada bayangannya. Di sana Dewa Racun duduk di bongkahan cadas yang ada di bawah batu itu. Saat Pendekar Mabuk mendekati batu itu, Dewa Racun ucapkan kata,

"Pu... pu... pu... pu...."

"Puser!"

"Pulau!" sahut Dewa Racun, sebab jika belum disentakkan arti kata yang ingin diucapakan, Dewa Racun masih kesulitan ucapkan kata yang dimaksud. "Pulau ini tandus, seperti padang pasir. Tak mungkin perempuan itu asli penduduk pulau ini. Setahuku, pulau ini tidak berpenghuni. Karen... ka-ren... karena tidak ada yang didapat dari pulau ini!"

Suto pandangi sekelilingnya. Pulau itu memang tandus. Perbukitan cadas membentang di tengahnya tanpa tanaman jenis pohon, kecuali tanaman jenis rumput yang termasuk jarang tumbuhnya. Disana-sini banyak bongkahan batu cadas dan karang yang menjulang bagaikan pilar-pilar hias alami. Tanah berpasir, lebih ke dalam lebih berbatu cadas. Apabila seseorang berjalan dari pantai seberang sana melewati pertengahan pulau, akan kelihatan jelas dari tempat Suto berdiri karena tak ada banyak penghalang dari tanaman.

"Pulau apa ini namanya, Dewa Racun?"

Hantu Laut yang ada di belakang Suto menyahut, "Namanya Pulau Padang Peluh!"

Pendekar Mabuk palingkan wajah kepada Hantu Laut, "Kau pernah datang ke pulau ini?"

"Ya. Sewaktu mengantar pertarungan Tapak Baja dengan Nagadipa, murid Iblis Pulau Bangkai. Tapak Baja berhasil hancurkan Nagadipa hanya dengan tiga jurus."

"O, jadi Nagadipa telah mati?"

"Mungkin saja mati," jawab Hantu Laut. "Sebab, sebelum jelas kematiannya, Nagadipa telah diserobot oleh tokoh tua yang punya ilmu lebih tinggi dari Tapak Baja, lalu Nagadipa dibawanya lari. Tapi menurut Tapak Baja, lawannya itu pasti mati karena ia menyebarkan racun ganas di dalam tubuh Nagadipa!"

Tertegun Suto mendengar kabar itu. Ia sangat kenal dengan Nagadipa, karena orang itu memang musuhnya. Nagadipa sebenarnya musuh bebuyutan Bidadari Jalang, bibi guru-nya Pendekar Mabuk. Nagadipa selalu berusaha membalas kematian gurunya Iblis Pulau Bangkai, yang dikalahkan oleh Bidadari Jalang. Bahkan ia pernah berhadapan muka dengan Pendekar Mabuk ketika hendak membalas kekalahan Putri Alam Baka, bekas istrinya itu. Tetapi, Nagadipa terkena pukulan napas Tuak Setan yang membuatnya terlempar ke sana kemari dalam keadaan luka parah. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pertarungan di Bukit Jagal).

Tetapi pada waktu itu, Nagadipa masih bisa bernapas sedangkan Putri Alam Baka mati karena dilemparkan badai maut dari napas Pendekar Mabuk. Nagadipa diselamatkan oleh Maharani, teman dari Putri Alam Baka. Dan sejak itu tak terdengar lagi kabarnya. Baru sekarang Pendekar Mabuk mendengar nama Nagadipa disebutkan oleh Hantu Laut. Tapi siapa tokoh sakti yang waktu itu menyelamatkan Nagadipa dari pertarungannya dengan Tapak Baja? Hantu Laut tidak mengenalnya, karena waktu itu Hantu Laut hanya memandang dari haluan Kapal Neraka yang dijaganya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan mereka adalah, siapa perempuan yang terluka dalam itu? Menurut Dewa Racun, perempuan itu bukan berasal dari Pulau Padang Peluh. Pasti dari tempat lain. Tetapi, mereka tidak melihat sebuah perahu terdampar di pantai.

"Apakah ia dibuang dari sebuah perahu atau kapal?" duga Hantu Laut sambil memandang perempuan yang berjarak sepuluh langkah dari tempat mereka berkumpul itu.

"Di... di... di... ddiiii...."

"Dicolok?"

"Aaah, bukan! Dddi... dilihat! Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia bukan perempuan biasa. Dia perempuan yang punya kedudukan di dalam sebuah perkumpulan. Paling tidak dia perempuan ter... terrr... terrhormat. Ya. Dia perempuan terhormat. Bukan sekadar seorang murid atau anak buah tingkat rendahan."

"Pedang dipunggungnya menampakkan dia perempuan yang punya ilmu," kata Suto. "Tapi seberapa tinggi ilmunya kita belum tahu pasti."

Dayang Kesumat mulai bisa menangkap pembicaraan ketiga lelaki itu walau samar-samar. Agaknya luka dalam akibat pukulan 'Sinar Naga Birawa' mulai membaik. Dayang Kesumat sempat membatin dalam hatinya, memuji kehebatan tuak Pendekar Mabuk yang mampu menyembuhkan luka dalam dengan sangat cepat.

Kejap berikutnya, Dayang Kesumat sudah mampu berdiri dan pandangkan mata ke arah Suto Sinting yang mendekat bersama Dewa Racun serta Hantu Laut. Badannya terasa mulai segar kembali, bahkan makin lama terasa semakin lebih segar dari biasanya.

"Keadaanmu sudah membaik, Nona?" tanya Pendekar Mabuk.

"Sudah! Kau yang mengobati lukaku?"

"Ya, aku."

"Bagus!" kata Dayang Kesumat mulai tampak sikap angkuhnya, ia tak mau ucapkan terima kasih, melainkan justru berkata, "Kau pantas jadi tabib saja, Suto!"

Terkesiap Suto mendengar namanya disebutkan. Terkesiap pula Dewa Racun dan Hantu Laut karena ucapan perempuan itu. "Kau tahu namaku? Dari mana kau mengetahuinya, Nona? Sedangkan aku sendiri tidak tahu namamu?!"

"Dayang Kesumat, namaku!" jawabnya dengan mata tajam memandang Pendekar Mabuk, bercampur perasaan kagum dan terpikat oleh ketampanan Pendekar Mabuk.

Sementara yang dipandang hanya gumamkan nama itu sambil kerutkan dahi, merasa asing dengan nama tersebut. Demikian pula hal yang dialami oleh Dewa Racun dan Hantu Laut. Dayang Kesumat bahkan ucapkan kata, "Hantu Laut ada denganmu, Suto! Itu tandanya kau buka tantangan adu nyawa dengan Siluman Tujuh Nyawa!"

"Kau mengenal Hantu Laut juga, rupanya? Hmm... lantas mengapa kau berkata begitu jika Hantu Laut ada padaku?"

"Dia sedang dalam ancaman mati oleh Siluman Tujuh Nyawa. Sang Ketua sudah tahu Hantu Laut mau membunuh dia dengan tombak pusaka!"

"Tap... tapi... tapi aku sekarang sudah tidak mengancam mau membunuh dia lagi, Nona! Ak... aku sudah tidak punya tombak pusaka itu dan... dan...!"

"Itu masalahmu!" sahut Dayang Kesumat, lalu sunggingkan senyum tipis melihat Hantu Laut cemas. Kembali ia menyambung. "Yang ingin kutahu kini, di mana temanmu Dadung Amuk?! Aku akan mencabut nyawanya cepat-cepat!"

"Da... Da... Dadung Amuk sudah mati!" sahut Dewa Racun.

"Omong kosong!" Dayang Kesumat sedikit menggeram dan mulai tampak sikap permusuhannya.

Dewa Racun berbisik kepada Suto, "Dddii... dia bersikap tak bersahabat dengan kita."

Rupanya Dayang Kesumat mendengar bisikan itu dan ia menjawab, "Memang! Yang kutahu, Hantu Laut sekongkol dengan Dadung Amuk untuk melawan Siluman Tujuh Nyawa. Jika Dadung Amuk tidak ada di sini, itu tandanya kalian menyembunyikan Dadung Amuk. Hantu Laut pasti tahu di mana Dadung Amuk belada!"

"Sum... sumpah! Dadung Amuk sudah mati, Nona!" kata Hantu Laut agak ngotot. "Kami temukan mayatnya mengapung di laut sebelah sana!"

"Aku bukan bocah bodoh! Dadung Amuk lebih tinggi ilmunya ketimbang kamu, Hantu Laut! Tak mungkin dia mati, sedangkan kamu masih hidup! Itu sebabnya aku tadi menyedot kekuatan kalian supaya datang ke sini, sebab kusangka kalian belsama Dadung Amuk!"

Suto segera bicara setelah meneguk tuaknya, "Dayang Kesumat, kami sudah tolong kamu dari lukamu, jadi tak perlu ada perselisihan tanpa arti di antara kita!"

"Hantu Laut pasti mau sebutkan di mana Dadung Amuk belada. Kalau tak mau sebutkan, mulutnya akan kupaksa bicala dengan pedangku!"

"Mulutnya akan kau apakan?" pancing Pendekar Mabuk.

"Akan kupaksa bicala dengan pedangku!" sentak Dayang Kesumat.

Tapi Suto dan Dewa Racun saling memandang. Lalu Suto bergumam, "Bicala!"

"Mmmung... mungkin maksudnya bicara!"

"Ya, aku tahu. Tapi mengapa dia bilang bicala dua kali?!"

Dayang Kesumat cepat serukan kata, "Hantu Laut, katakan di mana Dadung Amuk belada?!"

"Aku sudah katakan tadi, Dayang Kesumat!"

"Katakan yang sebenalnya!" bentak Dayang Kesumat.

Hantu Laut kebingungan, ia memandang ke arah Pendekar Mabuk, tapi waktu itu Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sedang kasak-kusuk.

"Sebenalnya! Maksudnya, sebenalnya!"

"Diii... dia... dia ternyata cadel! Tak bisa sebutkan huruf 'R'."

"Tapi mengapa baru sekarang dia cadel? Sejak tadi bicaranya lancar-lancar saja."

"Kar... kar... karena omongannya sejak tadi tidak memakai huruf 'R'. Dia bisa hindari huruf 'R', sehingga tak kelihatan cadelnya!"

"Tunggu, aku sepertinya pernah bertemu dengan tokoh cadel. Hmmm... kalau tak salah ingatanku, Peri Malam pernah punya guru yang cadel bicaranya, yaitu Mawar Hitam. Penguasa Pulau Hantu! Tapi... dia tidak secantik dan semuda ini, Dewa Racun!"

Dayang Kesumat mendengar kasak-kusuk itu, lalu ia serukan kata, "Ya. Telnyata ingatanmu masih tajam, Pendekat Mabuk! Akulah si Mawal Hitam dali Pulau Hantu!"

Terkejut Suto mendengar pengakuan itu. Terpana ia tatap wajah cantik yang sulit dipercaya pengakuannya itu. Tapi Dewa Racun cepat ucapkan kata, "Kkka... kkka... kakkk... kal."

"Kalang kabut?!" sentak Pendekar Mabuk.

"Bukan! Kal... kalau begitu, kau telah kuasai ilmu 'Rias Renggana', Dayang Kesumat?! Aku tahu ilmu 'Rias Renggana' bisa membuat wajah tua menjadi cantik jelita seperti kau sekarang!"

"Bukan hanya ilmu 'Lias Lenggana' yang kukuasai, melainkan kugunakan pula ilmu 'Selap Kawekas' untuk menyedot semua ilmu olang-olang sakti, hingga bisa kumiliki dalam waktu singkat dan cepat, tanpa susah payah menempuhnya dengan latihan. Ha ha ha...!"

Tawa itu memberi kesempatan bagi Suto untuk membatin kata, "Luar biasa perubahannya! Kalau saja bicaranya tidak cadel, aku tidak mungkin bisa tahu bahwa dia adalah si Mawar Hitam, musuh bebuyutan dari Bibi Guru Bidadari Jalang!"

Dewa Racun bisikkan kata kepada Pendekar Mabuk, "Ber... ber... berbahaya! Dia sudah kuasai ilmu 'Serap Kawekas'!"

"Apa itu ilmu 'Serap Kawekas'?" tanya Hantu Laut yang mendengarnya.

"Sebuah ilmu yang dipakai untuk menyerap ilmu milik orang lain, sehingga ilmu milik orang lain itu menjadi miliknya, dan... dan... orang itu kehilangan semua ilmunya. Berr... berr... berarti di dalam dirinya banyak tersimpan ilmu milik orang-orang sakti yang nyaris mati. Sebelum mati diserapnya ilmu oor... orang itu!"

"Hantu Laut!" seru Dayang Kesumat. "Aku tak punya kesabalan lagi menunggu pelundingan kalian! Akan kupaksa mulutmu membeli tahu di mana Dadung Amuk belada! Heaaah...!"

"Tahan dulu!" cegah Pendekar Mabuk tiba-tiba. "Ada sebuah kapal menuju kemari! Barangkali Dadung Amuk ada di kapal itu!" Pendekar Mabuk sengaja mengulur waktu agar tidak terjadi bentrokan antara dirinya dengan Dayang Kesumat.

Tapi memang benar, ada sebuah kapal bergerak merapat ke pantai Pulau Padang Peluh itu. Beberapa orang-orangnya turun menyerbu ke pantai. Wajah mereka tampak buas dan tidak bersahabat.

* * *

DELAPAN
KAPAL berbendera naga itu ternyata dalam sebuah kejaran perahu berlayar hijau yang mempunyai gambar tengkorak bermata rantai tujuh butir itu. Hantu Laut mengenali perahu berlayar hijau itu sebagai perahu milik Dadung Amuk. Ia sempat menjadi takut, karena menurutnya Dadung Amuk sudah ditemukan dalam keadaan mati dan mayatnya mengambang di lautan lepas. Tapi mengapa sekarang perahunya bisa mengejar kapal besar milik Bajak Naga?

Suto Sinting segera perintahkan Dewa Racun dan Hantu Laut untuk sembunyikan diri. Ternyata Dayang Kesumat ikut pula sembunyikan diri, setelah dia tahu kapal Bajak Naga sedang dalam pengejaran perahunya Dadung Amuk. Ia mengincar Dadung Amuk, tapi juga membiarkan terjadi pertempuran antara kedua awak kapal tersebut.

Si Tua Rakus tampak melompat tinggalkan kapalnya, melewati pundak demi pundak anak buahnya yang berlarian ke pantai. Rupanya Wisoguno telah berhasil menyembuhkan luka pukulan dalam Tua Rakus, sehingga manusia yang bermata satu itu dapat bergerak dengan lincah. Dari sekian banyak anak buahnya, tinggal sepuluh orang yang tersisa. Dan kesepuluh orang itu pun sedang dalam pelariannya untuk menghindari maut yang mengancam atau karena suatu hal lain.

"Pancing mereka supaya bergerak ke pulau ini!" teriak si Tua Rakus kepada anak buahnya yang masih tertinggal di dekat kapal.

"Saya mau serang mereka dari atas menara intai, Yang Mulia!" kata Raja Tebas.

"Jangan bodoh kau! Bisa rusak kapal kita oleh serangan balik dari mereka! Cepat giring mereka kemari, supaya kapal kita tidak rusak seperti tempo hari!"

Rupanya si Tua Rakus bukan lari karena takut serangan musuhnya, melainkan sengaja memancing pertarungan di daratan supaya kapalnya tidak ikut rusak akibat pertarungan mereka.

Tetapi agaknya musuh Tua Rakus itu tidak bodoh seperti dugaan si Tua Rakus. Sebelum mereka mencapai pantai, lebih dulu mereka menggempur kapal Bajak Naga itu dengan kekuatan tenaga dalam hingga tiang layar patah dan tumbang menghancurkan geladak. Lambung kapal dihantam pula dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup dahsyat hingga kapal menjadi bolong. Bunyi ledakan dan percikan api berkali-kali datang dari kapal Bajak Naga, hingga akhirnya kapal itu sendiri meledak terbakar oleh satu pukulan yang maha hebat.

"Bangsat kurap!" teriak si Tua Rakus. "Hancurkan kembali perahu mereka! Kita bisa lari memakai perahu yang ada di sebelah sana!" sambil Tua Rakus menuding perahu milik Suto yang ditambatkan jauh dari tempatnya. Dan di sana, di balik gundukan batu-batu serta bukit cadas tak seberapa tinggi, Pendekar Mabuk serta kedua sahabatnya bersembunyi memperhatikan pertarungan tersebut. Dayang Kesumat berada tak jauh dari mereka, antara tujuh langkah di samping kanan Pendekar Mabuk.

Anak buah Tua Rakus bermaksud menghancurkan perahu layar hijau, tetapi usaha mereka selalu dapat digagalkan. Dan satu hal yang membuat Dewa Racun, Hantu Laut, serta Suto Sinting terheran-heran adalah kemunculan lawan Tua Rakus dari perahu layar hijau.

Ternyata bukan sosok Dadung Amuk seperti dugaan Hantu Laut, melainkan dua anak muda kembar rupa, yaitu Doma Damu. Mereka menggunakan perahu milik Dadung Amuk dalam perjalanan menuju Pulau Beliung. Tetapi bertemu dengan kapal Bajak Naga di perjalanan dan terjadilah pertempuran itu, sebab kapal Bajak Naga memang bermusuhan dengan kapal Siluman Tujuh Nyawa. Entah apa yang menyulut api pertarungan lebih dulu, yang jelas mereka bertarung dengan sengit, walau dengan jumlah tak seimbang, dua melawan lebih dari sepuluh.

"Siapa dua anak kembar itu?" tanya Pendekar Mabuk kepada Dewa Racun. Tetapi, Hantu Laut yang segera beri jawaban,

"Mereka Doma dan Damu, pengawal pribadi sang ketua yang ilmunya paling tinggi dari sekian banyak anak buah sang ketua. Tapak Baja pun takut jika berhadapan dengan kedua anak kembar itu!"

Dalam hati Pendekar Mabuk membenarkan keterangan Hantu Laut. Karena dengan mata kepalanya sendiri Pendekar Mabuk melihat gerakan Doma dan Damu begitu cepat dan gesit, pukulannya tak ada yang lolos dari sasaran. Sekali pukul pasti mengenai lawan dan lawan pasti mati seketika. Tak heran jika Doma dan Damu dijadikan pengawal pribadi Siluman Tujuh Nyawa yang dihormati dan disegani anak buah lainnya.

Dalam waktu singkat pertarungan di pantai itu membuat enam anak buah si Tua Rakus terkapar tanpa nyawa. Tinggal beberapa gelintir anak buah Tua Rakus yang punya ilmu cukup lumayan dibandingkan yang sudah lebih dulu mati itu.

Raja Tebas mengamuk dengan ilmu pedangnya yang punya kecepatan tebas melebihi kilatan cahaya petir. Tetapi sayangnya kedua lawan cukup gesit dalam bergerak sehingga sulit ditebas tubuhnya. Apalagi dari mulut Doma dan Damu selalu menyemburkan nyala api bagai semburan gunung murka, Raja Tebas dan yang lainnya sering dibuat terdesak.

Dalam satu kesempatan baik, Tua Rakus sempat kirimkan pukulan 'Sinar Naga Birawa' dari matanya yang tertutup itu, dan sinar biru melesat cepat ke arah Damu. Zuuttt...! Debb...! Sinar biru itu tepat mengenai tengkuk kepala Damu. Anak muda berpakaian rompi merah itu tersentak melengkung ke depan dan akhirnya rubuh dalam sekejap.

Sementara itu, Doma masih menyerang Wisoguno menggunakan pukulan jarak jauhnya. Wisoguno berhasil menghindari serangan sinar kuning dari Doma, tapi seorang anak buah lainnya yang berdiri di belakang Wisoguno menjadi sasaran berikut. Sinar itu memecahkan isi perut orang yang sedang berdiri di belakang Wisoguno itu.

"Hancurkan dia! Tinggal satu, hancurkan dia!" teriak Tua Rakus dengan garangnya, penuh nafsu untuk membunuh Doma.

Tetapi pada kejap lain, Doma sempat menyerang Raja Tebas dengan menggunakan Cermin Benggala Kembar itu. Dua hal terjadi dengan sangat mengejutkan bagi mata para penonton gelapnya itu. Sebuah lompatan Doma di atas tubuh Damu telah membuat Damu yang mati menjadi hidup kembali. Senjata cermin Doma mengeluarkan sinar putih menyilaukan, melesat ke arah Raja Tebas. Dengan kegesitannya Raja Tebas bersalto ke samping kanannya, membuat sinar itu menghantam nakhoda kapal Bajak Naga yang dikenal dengan nama Wiloka.

Wiloka tersentak diam tak bergerak. Kejap selanjutnya, tubuhnya jatuh menjadi serpihan-serpihan tanpa bentuk lagi. Prolll...! Wujud dari Wiloka hilang, yang ada hanya gundukan daging-daging kecil dari tubuh yang hancur itu.

Hantu Laut terbelalak lebar matanya dengan perasaan ngeri di hatinya. Sementara itu, Dewa Racun terbengong-bengong memperhatikan Damu yang mati menjadi hidup kembali. Bahkan dalam pertarungan berikutnya, Doma berhasil ditebas punggungnya oleh pedang andalan Raja Tebas. Punggung itu koyak besar, menyemburkan darah. Doma jatuh tersungkur dan diam untuk selamanya. Melihat Doma mati, Damu cepat melangkahi mayat Doma. Lalu, kejap selanjutnya Doma telah bangun kembali. Hidup dengan lebih ganas dan segera menyerang Wisoguno yang ada di depannya.

"Or... or... orang itu bisa hidup lagi dengan luka menjadi rapat kembali?!" gumam Dewa Racun terheran- heran.

Hantu Laut berkata, "Itulah kehebatan Doma dan Damu. Si Kembar itu sulit dibunuh. Jika yang satu mati, maka yang satunya segera berusaha melangkahi mayat saudaranya. Dan mayat yang dilangkahinya itu akan hidup kembali. Berapa kali pun mereka mati, jika masih saling melangkahi akan bisa hidup kembali!"

Pendekar Mabuk  menggumam, "Ilmu 'Bayang- bayang Hantu' itu namanya."

"Ya, benar," jawab Hantu Laut. "Dan hanya Doma dan Damu yang mempunyainya."

Sekarang kedua anak kembar itu sama-sama sudah menggenggam cermin bertangkai yang bentuknya seperti bola kaca itu. Dewa Racun yang merasa heran segera bertanya kepada Hantu Laut, "Senjata apa yang mereka pegang itu?"

Tapi yang menyahut Dayang Kesumat, sepertinya ia bicara kepada diri sendiri, bukan kepada Dewa Racun. "Celmin Benggala Kembal...?!"

"Betul," kata Hantu Laut kepada Dewa Racun, "Mereka dijamin tak akan sabar!"

Dewa Racun kerutkan dahi, "Apa hubungannya omonganmu de... de... dengan jawaban Dayang Kesumat? Dia bilang Cermin Benggala Kembar! Bukan bicara tak sabar!"

"O, kalau begitu aku salah dengar. Tapi memang benar, senjata itu bernama Cermin Benggala Kembar, milik Siluman Tujuh Nyawa. Biasanya, jika seorang utusan pergi dengan dibekali pusaka dari sang ketua, itu berarti utusan tersebut tak boleh pulang tanpa membawa hasil. Dia hanya boleh pulang dengan membawa hasil, jika tidak punya hasil, dia boleh pulang raganya saja! Nyawanya harus cepat pergi tinggalkan raga!"

"Kkka... kalau begitu, Doma Damu dapat tugas yang amat penting sekarang ini, sehingga dibekali pusaka tersebut?"

"Ya. Mestinya begitu. Tapi tugas sepenting apakah sampai Doma dan Damu dibekali pusaka seperti itu? Dengan dibekali pusaka saja, sudah menandakan ciri yang amat penting dari tugas yang diembannya, apalagi sekarang yang turun tangan adalah Doma Damu sendiri, itu berarti ada tugas yang maha penting dari seluruh tugas lainnya!"

Percakapan mereka terhenti karena melihat Doma semburkan api panas membara kepada salah seorang anak buah Tua Rakus. Orang tersebut menjadi terbakar sekujur tubuhnya dan berteriak-teriak kelimpungan. Walau sudah merendam dalam air laut, tapi nyala api masih berkobar, ia akhirnya mati hangus seperti empat orang lainnya.

"Bah... bah... bahhh... bahaya sekali! Bahaya sekali mulut kedua anak kembar itu!" kata Dewa Racun entah kepada siapa.

Kini tinggal empat orang berdiri menghadapi Doma dan Damu. Mereka adalah Raja Tebas, Wisoguno, Dampu Samak, dan Tua Rakus sendiri. Mereka menghentikan pertarungan sejenak, karena Tua Rakus serukan kata kepada ketiga orangnya yang tersisa, "Mundur kalian! Munduuur...!"

Tua Rakus berdiri di depan ketiga anak buahnya yang tersisa itu. Doma Damu masih siap dengan senjata pusaka Cermin Benggala Kembar. Cermin pemburu nyawa itu siap digunakan sewaktu-waktu. Terdengar Tua Rakus serukan kata, "Doma Damu...! Sesungguhnya aku malas turun tangan dalam pertarungan ini! Karena lawanku bukanlah kalian, melainkan Siluman Tujuh Nyawa! Tetapi, karena kalian telah membantai habis anak buahku, terpaksa aku turun tangan menghadapi kalian, kecuali jika kalian merasa sudah puas dan mau pergi tinggalkan kami! Kuberi kesempatan pada kalian untuk menghindari maut dari tanganku!"

Damu yang menjawab, "Kami akan tinggalkan kau, jika kau tinggal raga tanpa nyawa, Tua Rakus! Jangan bermimpi dapat mengungguli kekuatan orang-orang dari Kapal Siluman!"

"Kekuatan tahi kucing yang dimiliki Kapal Siluman!" geram Tua Rakus, lalu Damu menjawab,

"Buktinya kapalmu sekarang hancur! Bukan lagi sebagai Kapal Bajak Naga, tapi Kapal Bajak Cacing!"

"Grmrr...!" Tua Rakus makin terbakar amarahnya, sehingga ia cepat-cepat sentakkan kedua tangannya ke arah perahu berlayar hijau itu. Kedua tangannya mengeluarkan cahaya merah menyala bagaikan piringan yang melesat ke perahu layar hijau.

Tetapi Doma cepat sentakkan Cermin Benggala Kembarnya hingga mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Sinar putih itu melesat lebih cepat dari sinar merah bagai piringan itu. Lalu, sinar tersebut menghantam sinar merah itu di udara.

Blarrr...! Terjadi ledakan yang timbulkan gelombang angin cukup kencang. Perahu layar hijau sempat terguncang sejenak.

Pada saat semua mata tertuju pada benturan kedua sinar tadi, diam-diam Dampu Samak melemparkan pisau terbangnya ke arah Damu. Wuttt...! Tetapi pisau itu segera ditangkis dengan kibasan Cermin Benggala Kembar. Trringngng...! Pisau itu melesat ke arah lain.

Tapi Damu cepat sentakkan Cermin Benggala Kembar didepan. Dari cermin itu keluar sinar merah yang membuat Dampu Samak tersentak mundur, lalu tubuhnya tiba-tiba jatuh satu persatu menjadi potongan tiap ruasnya. Telinga jatuh, jari jatuh, pergelangan tangan jatuh, pangkal lengan pun jatuh, dan akhirnya Dampu Samak mati dalam keadaan terpotong-potong menjadi banyak, termasuk kepalanya sendiri yang menggelinding dalam keadaan mata tetap terbelalak kaget.

"Bangsat kau!" bentak Raja Tebas. "Kau bunuh adikku dengan sekeji itu! Sekarang giliranmu yang harus kubunuh, Babi Kurap! Heaah...!"

Raja Tebas sentakkan kaki dan melesat terbang di udara dengan pedang siap menebas leher lawan. Tetapi dengan gerakan gesit Damu segera bersalto ke belakang satu kali. Jlegg...! Kemudian ia sentakkan Cermin Benggala Kembar ke arah Raja Tebas.

Bagian lubang di tengah bola kaca itu mengeluarkan semacam mata tombak yang pipih berwarna putih mengkilap. Begitu cepat gerakannya tak sempat dihindari Raja Tebas. Maka, leher kiri Raja Tebas menjadi sasaran empuk senjata tersebut. Crapp...! Logam putih mengkilat itu masuk terbenam habis di leher Raja Tebas.

Tua Rakus memandang Raja Tebas yang berdiri dengan oleng dan tidak bisa bicara apa pun walau mulutnya telah ternganga. Bahkan sekarang Raja Tebas berdiri dengan bersandarkan batu tinggi. Tapi kejap berikutnya tangannya menjadi panjang, jari-jarinya mulur ke bawah bagaikan lem kental yang ingin jatuh. Plukk...! Akhirnya jari-jemari itu jatuh ke tanah, dan tubuh Raja Tebas menjadi lumer menjijikkan. Warnanya hitam kehijau-hijauan.

"Llu... luar... luar biasa ganasnya Cermin Benggala Kembar itu," ucap Dewa Racun, entah siapa yang diajaknya bicara.

Dengan matinya Raja Tebas, kini kedudukan mereka menjadi seimbang. Dua melawan dua. Tua Rakus menghadapi musuhnya dibantu dengan Wisoguno. Tapi Suto cepat berkata kepada Dewa Racun,

"Kasihan Tua Rakus. Temannya yang satu itu tidak akan mampu bertahan satu jurus pun dari kesaktian Doma Damu."

"Apakah kita akan membantu Tua Rakus?" tanya Hantu Laut.

Tiba-tiba Dayang Kesumat ucapkan kata, "Kulemukkan tengkolak kepala kalian kalau ada yang membela meleka!"

Pendekar Mabuk palingkan wajahnya kepada Dayang Kesumat, "Maksudmu, kau keberatan jika kami membela Tua Rakus?"

"Sangat kebelatan jika kalian membela salah satu pihak. Kedua pihak itu memang layak untuk hancul! Tua Lakus tukang pelkosa, halus hancul, dan Doma Damu anak buah Siluman Tujuh Nyawa, memang ada baiknya juga hancul! Jika dia tidak hancul, aku yang akan hanculkan meleka! Dengan begitu kekuatan Siluman Tujuh Nyawa akan semakin belkulang! Suatu saat nanti akulah yang akan kuasai lautan utala ini!"

"Itu ulusanmu...!" ledek Dewa Racun.

Merasa diledek dengan ikut-ikutan cadel, Dayang Kesumat cepat meremas kelingkingnya sendiri. Tiba-tiba Dewa Racun tersentak dengan kepala terdongak, suaranya tak bisa keluar, matanya mendelik. Pendekar Mabuk segera tanggap bahwa Dewa Racun sedang dicekik oleh Dayang Kesumat melalui gerakan tangan yang meremas itu.

Takkk...!

Pendekar Mabuk tidak tinggal diam. Lalu, ia sentilkan tangannya ke arah tangan yang meremas itu. Takkk...!

"Ahhg...!" Dayang Kesumat tersentak dan terpekik lirih sambil melepaskan genggaman tangannya. Lalu tangan itu dikibas-kibaskan karena terasa sangat sakit mendapat pukulan 'Jari Guntur' dari Pendekar Mabuk itu. Ia segera memandang Pendekar Mabuk dengan cemberut.

Suto hanya ucapkan kata, "Jangan coba-coba ganggu kami!"

Dayang Kesumat tidak ucapkan kata apa pun. Ia kembali palingkan pandang ke arah pertarungan Doma, Damu, dan Tua Rakus.

"Heaaat...!" Wisoguno bersalto di udara sambil kibaskan senjata goloknya yang lebar itu. Tapi Damu yang diserangnya bersalto mundur dua kali, kemudian dengan lutut merendah satu ke tanah Damu sentakkan cerminnya dan dari cermin itu keluar sinar hijau bertubi-tubi.

Hantaman terlihat jelas ke tubuh Wisoguno. Sinar hijau itu membungkus Wisoguno yang telah mendaratkan kakinya di atas sebuah batu. Sinar hijau itu membuat si Wisoguno tidak bisa bergerak maupun berteriak. Kejap berikut, sinar hijau itu lenyap. Tapi Wisoguno telah menjadi putih bagai diliputi salju. Salju itu makin lama makin mencair bersama hilangnya bentuk wujud Wisoguno.

Di sisi lain, Tua Rakus berhasil menghantamkan pukulannya ke arah dada Doma. Dada itu menjadi berasap dan Doma jatuh dengan tubuh kejang-kejang. Sebelum menghembuskan napas terakhir, saudara kembarnya segera melompati tubuh Doma. Kejap lainnya, Doma kembali bangkit berdiri dalam keadaan segar seperti semula, ia berdiri berdampingan dengan Damu, siap menghadapi Tua Rakus. Saat itu, Damu berbisik,

"Serang dia bersama!"

"Baik...!"

Baru saja selesai bicara bisik mereka, tiba-tiba Tua Rakus membuka penutup matanya dan sinar biru melesat ke arah perut mereka. "Pergi kau ke neraka sana, hiaaaah...!"

Suttt...! 'Sinar Naga Birawa' menyerang berturut-turut. Tapi Doma Damu cepat sentakkan kaki mereka dan melesat naik ke atas dengan cukup tinggi. Kedua cermin itu segera mereka adu di udara. Trringngng...! Gemanya berdenging memenuhi pulau itu. Beradunya dua cermin kembar itu memancarkan sinar warna pelangi yang indah dipandang mata. Sinar itu melesat tanpa putus-putus langsung mengenai tubuh Tua Rakus yang sempat berlari mundur tiga tindak.

Zzzrrubbb...!

"Aaaahhg...!" Masih sempat terdengar suara pekik Tua Rakus. Selanjutnya sepi. Sinar pelangi itu hilang, yang ada hanya kepulan asap membungkus Tua Rakus. Kepulan asap itu berwarna-warni. Memang sangat indah menakjubkan dipandang mata, namun sangat berbahaya bagi orang yang menerimanya.

Angin laut membawa pergi asap tebal warna-warni itu. Dan segera terlihat nasib Tua Rakus yang diam, berdiri sambil memegang penutup matanya yang tadi akan dibuka lagi namun tak sempat itu. Tua Rakus berdiri dengan tegak dan kekar, tapi membuat Dewa Racun dan Hantu Laut terperangah bengong melihatnya. Sebab, kulit Tua Rakus menjadi hitam keabu-abuan. Tua Rakus menjadi patung batu untuk selama-lamanya.

* * *

SEMBILAN
CERMIN Benggala Kembar, merupakan sepasang pusaka yang amat berbahaya bagi orang-orang yang tidak tahu cara mengatasinya. Bahkan Dayang Kesumat pun mengakui kehebatan pusaka itu, terbukti dengan kagetnya wajah cantik jelita tersebut ketika melihat Doma Damu mengeluarkan Cermin Benggala Kembar.

Cermin itu bukan hanya mengeluarkan sinar saja, namun juga memburu lawan ke mana pun dia lari. Itulah bahaya cermin pusaka tersebut. Kalau cermin itu sinarnya tak bisa memburu, pasti Tua Rakus terhindar dari maut yang membuatnya berubah menjadi batu. Karena saat sinar pelangi yang melesat dari hasil perpaduan dua cermin itu, Tua Rakus sudah melompat mundur beberapa tindak, namun masih saja terburu oleh sinar pelangi maut itu.

Doma Damu merasa sudah menyelesaikan permusuhan besar selama ini antara pihak kapal Siluman Tujuh Nyawa dengan kapal Bajak Naga. Mereka tampak cukup bangga dengan hasil pertarungan itu. Tetapi, langkah mereka tertahan karena sesosok tubuh segera menyerangnya dari belakang. Dengan dua tendangan sekaligus, Dayang Kesumat berhasil membuat Doma Damu terguling ke depan dengan menggeragap.

"Bangsat!" geram Doma yang berdiri lebih dulu. "Rupanya kau lagi yang cari perkara!"

"Pelkalaku belum selesai dengan olangmu si Dadung Amuk!" kata Dayang Kesumat dengan mata indahnya yang pancarkan permusuhan. Sekali lagi ia ucapkan kata, "Aku tahu, pelahu itu adalah pelahu layal hijau yang ditunggangi oleh Dadung Amuk dali Pulau Hantu. Pasti Dadung Amuk kalian sembunyikan! Selahkan dia, dan selesai sudah pelkala kita!"

"Dayang Kesumat," kata Doma setelah ia meredamkan kemarahannya akibat serangan tadi. "Ketahuilah, bahwa orang yang kau cari itu telah mati digantung oleh sang ketua di atas kapal kami!"

"Omong kosong!"

"Tidak! Ini bukan omong kosong!" sahut Damu. "Beberapa saat setelah kami berdua diutus untuk mencari Dadung Amuk dan Hantu Laut, kami terpaksa kembali lagi ke kapal, karena perahu yang kami pakai dalam keadaan bocor. Saat kami tiba kembali ke kapal, ternyata sang ketua baru saja selesai menggantung Dadung Amuk. Dadung Amuk datang sendiri ke kapal kami tanpa Hantu Laut. Lalu, kami pun segera pergi kembali dengan menggunakan kapal milik Dadang Amuk, setelah kami melihat sendiri mayat Dadung Amuk dibuang ke laut!"

Doma tambahkan kata, "Dan ketika kami mengejar kapal Bajak Naga tadi, kami melihat mayat Dadung Amuk yang masih terikat tubuhnya dan terapung-apung dibawa gelombang di perairan sebelah timur pulau ini. Carilah sendiri dan kau akan temukan mayat itu!"

Dayang Kesumat diam sesaat, menghubungkan pengakuan dua kembar itu dengan pengakuan Hantu Laut. Ia menemukan titik kebenaran, mengingat Hantu Laut dan Suto tidak punya hubungan dengan Doma Damu. Jadi tidak ada kesepakatan untuk sama-sama membual cerita seperti itu.

"Sampai petang akan kucali mayat itu. Jika tidak kutemukan, aku akan kembali temukan kalian untuk menghanculkan mulut kalian!" ancam Dayang Kesumat, lalu cepat sentakkan kaki pergi dengan mengendarai pelepah daun kelapanya yang sejak tadi ada di pasir pantai.

Mendengar kata-kata Doma Damu, Hantu Laut menjadi ciut nyalinya. Walaupun dia mempunyai senjata yoyo sakti, yang bisa menggores tubuh lawan dengan gerigi beracunnya, tapi dia merasa tidak akan bisa menghadapi Doma Damu.

Melihat wajah Hantu Laut pucat, Pendekar Mabuk pun segera berkata. "Cepat kita tinggalkan pulau ini! Setelah...."

Belum selesai Pendekar Mabuk bicara Hantu Laut cepat-cepat tinggalkan tempat persembunyian, ia berlari menuju perahunya. Padahal Suto bermaksud mengatakan akan pergi dari pulau itu setelah Doma Damu tinggalkan pulau itu lebih dulu. Tapi rasa takut yang meliputi diri Hantu Laut begitu besar, maka ia ingin menghindar lebih dulu dari kedua temannya itu. Dikarenakan dia lari di tempat terbuka tanpa ada pohon membuat sepasang mata Damu melihat Hantu Laut menuju perahu sebelah sana. Ia segera berkata,

"Doma, lihat...! Dia Hantu Laut yang kita buru!"

"Oh, benar! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak perlu jauh-jauh memburunya, ternyata dia ada di sini!"

"Mungkin sedang mencari tempat untuk perlindungan diri sewaktu-waktu ia terdesak oleh kita!"

"Cepat, kejar dia sebelum mencapai perahunya!"

Hantu Laut semakin ketakutan melihat Doma Damu mengejarnya. Dewa Racun menggeram gemas sambil pukulkan tangannya ke paha.

"Bod...! Boood...! Bodoh! Bodoh amat anak itu!"

"Cepat kita bertindak, dia dalam bahaya!" kata Pendekar Mabuk sambil lebih dulu melesat, lalu Dewa Racun menyusulnya.

Gerakan lari Doma Damu pun cukup cepat. Dalam waktu singkat keduanya sudah sampai di belakang Hantu Laut. Damu berseru, "Berhenti! Atau kusembur kau dengan 'Bromo Seribu Api'!"

Mendengar jurus 'Bromo Seribu Api' yang amat ganas itu disebutkan, Hantu Laut pun cepat hentikan langkahnya, ia merasa tak akan mungkin bisa berlari jauh jika 'Bromo Seribu Api' itu telah disemburkan. Karena sifat jurus 'Bromo Seribu Api' itu berupa gumpalan hawa panas yang keluar dari mulut Doma Damu dan bersifat mengejar lawan sampai dapat. Kabarnya, gumpalan hawa panas itu bisa mendidihkan baja dalam waktu dua helaan napas. Hantu Laut balikkan badan, memaksakan diri menghadapi Doma Damu. Ia sembunyikan rasa takutnya itu dengan berkata, "Untuk apa kau mengejarku, Doma Damu?!"

"Membunuhmu!"

"Membasuhku!?"

"Membunuhmu, Tuli!" sentak Doma Damu bersamaan. Itu pun secara tak sengaja. Hantu Laut sebenarnya kaget, tapi ia bisa tahan diri. Matanya melihat ada Dewa Racun berdiri lima belas langkah di belakang Doma Damu. Hantu Laut menjadi lega, rasa takutnya terhenti, sebab Dewa Racun sudah mulai mengacungkan anak panahnya yang siap lepas ke arah Doma Damu.

Sementara itu, Suto berjalan pelan sambil menenggak tuaknya dari arah kanan Doma Damu. Waktu itu Doma Damu belum melihat Suto dan Dewa Racun, sehingga mereka tak tahu apa yang membuat Hantu Laut berdiri tegar di depannya tanpa memegang Pusaka Tombak Maut.

"Siapa yang suruh kalian membunuh aku?"

"Sang Ketua!" jawab Damu. Lalu, Doma menambahkan. "Tapi jika kau serahkan Pusaka Tombak Maut, sang ketua akan ampuni kamu!"

"Tidak ada tombak pusaka di tanganku! Kau lihat sendiri!" Hantu Laut menggembangkan kedua tangannya.

"Kau pasti telah sembunyikan Pusaka Tombak Maut itu!" geram Damu dengan tak sabar.

"Aku memang tidak mempunyai tombak pusaka itu!" sanggah Hantu Laut.

"Dia bicara dengan sebenarnya!" tiba-tiba Pendekar Mabuk menyahut.

Doma Damu cepat palingkan wajah ke kanan. Mereka memandang heran. "Siapa kamu?!" tanya Doma kepada Pendekar Mabuk.

Hantu Laut yang menjawab dengan rasa bangga, "Dia Pendekar Mabuk yang punya ilmu lebih tinggi dari kalian berdua!"

"Betul apa kata Hantu Laut itu?" tanya Damu kepada Suto.

Suto menjawab dengan santai, "Tidak. Ilmuku tidak lebih tinggi dari kalian. Hanya tak seimbang dengan ilmu kalian!"

Panas hati Damu mendengar jawaban merendah yang sebenarnya tinggi itu. Maka Damu pun segera ucapkan kata, "Kuingatkan sebelumnya, kau jangan ikut campur urusanku dengan Hantu Laut! Kami orang-orang Siluman Tujuh Nyawa!"

"Oh, mengerikan sekali julukannya!" kata Pendekar Mabuk. "Dulu aku punya sapi juga kunamakan Siluman Tujuh Nyawa!"

Semakin mendidih darah Doma Damu mendengar ejekan halus dari mulut Pendekar Mabuk itu. Doma segera berkata kepada saudaranya, "Jangan hiraukan dia! Dia pasti sedang mabuk! Desak saja Hantu gundul itu agar mau serahkan tombak pusaka itu!"

Lalu, Damu segera membentak Hantu Laut, "Kau pilih serahkan tombak itu, atau mati di tangan kami?!"

"Makan jerami!"

"Mati di tangan kami, Budek!" bentak Doma.

"Oh, tentu saja aku tidak pilih keduanya, karena aku memang tidak pegang tombak itu! Mintalah pada Pendekar Mabuk!"

"Jangan alihkan persoalan antara kita! Sudah kudengar kau mau bersekongkol dengan Dadung Amuk untuk mengadakan pemberontakan terhadap sang ketua! Sang ketua hanya kasih kamu kesempatan untuk mencabut hukuman mati dengan menyerahkan tombak pusaka itu!"

"Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak punya!" bentak Hantu Laut dengan berani.

"Berani-beraninya kau membentak kami, hah?! Kurang ajar! Hiaah...!"

Damu melancarkan pukulan tangan kanannya ke arah wajah Hantu Laut. Tapi oleh Hantu Laut ditepiskan dan ia cepat mencabut senjata yoyonya. Serrr...! Trak...! Gerigi tajam keluar dari tepian yoyo yang berputar dan melayang ke wajah Damu. Tapi Damu cepat mencabut cermin, lalu dihantamnya yoyo tersebut dengan cermin itu.

Trangng...!

Wurrsss...! Tiba-tiba Doma menyemburkan napasnya yang berupa gumpalan api menyerang Hantu Laut. Dengan cepat pula Pendekar Mabuk yang baru saja menenggak tuaknya segera disemburkan ke arah api itu. Bruss...!

Sssrrrappp...! Jrrasss...! Api padam seketika. Asap mengepul, menyentak ke atas.

Doma terperanjat melihat Suto ikut campur. Ia menggeramkan kata, "Apa boleh buat, kau pun terpaksa kumusnahkan! Hiaaat...!"

Cermin Benggala Kembar sudah ada di kedua orang kembar itu. Doma mau sentakkan cermin itu kepada Hantu Laut. Tapi Dewa Racun mendului melepaskan anak panahnya dari kejauhan. Zuitt...! Jebb! Anak panah itu menancap di leher Doma. Padahal yang diincar Dewa Racun adalah lengan Doma. Tapi karena gerakan Doma begitu cepat, sehingga yang terkena justru lehernya. Padahal anak panah itu berbulu merah, pertanda beracun ganas.

Doma pun akhirnya rubuh dengan keadaan mengejang kaku, matanya mendelik dengan mulut ternganga. Cepat sekali wajahnya menjadi biru, walaupun sebelumnya ia sudah sempat menarik anak panah yang menancap di lehernya. Dalam kejap berikutnya, ia sudah tidak bernapas lagi. Tergeletak dalam jarak lima langkah dari Hantu Laut. Tapi hanya tiga langkah dari belakang Damu.

Melihat saudaranya mati membiru, Damu segera melompati mayat tersebut. Kejap selanjutnya, mayat Doma mulai bergerak-gerak dan ia pun hidup kembali, kemudian sama-sama melompat mundur untuk mengatur jarak dengan lawannya.

"Tahan semua serangan!" seru Suto Sinting, baik ditujukan kepada kedua temannya maupun kepada kedua lawannya. Ia bermaksud membicarakan masalah itu secara baik-baik, tanpa melalui pertarungan.

Buat kedua teman Pendekar Mabuk hal itu bisa diterima, tapi bagi kedua musuh kembarnya, hal itu tak bisa diterima. Damu segera sentakkan cermin ke atas dan keluarkan sinar hijau ke arah Suto, sedangkan Doma juga sentakkan cerminnya ke atas dan memantulkan sinar merah menyerang Pendekar Mabuk.

Pendekar Mabuk agak kebingungan menghindarinya. Badannya limbung ke kanan dan ke kiri seperti orang mabuk. Tapi dalam kejap berikutnya ia sudah terpental terbang ke atas dan bersalto dua kali ke arah depan hingga melintasi kepala Hantu Laut. Dua sinar itu menghantam batu, dan batu setinggi dua tombak itu hancur menjadi kepingan- kepingan salju.

"Cepat sembunyi!" sentak Suto kepada Hantu Laut. Maka dengan lompatan kuatnya, Hantu Laut mencapai celah dua batu besar. Pendekar Mabuk juga berseru kepada Doma Damu, "Jangan serang aku! Aku ingin bicara secara damai!"

Damu berseru, "Tidak ada ampun bagi penghalang kami! Hiaaah!"

Clappp...! Sinar hijau kembali menyerang Pendekar Mabuk, tapi segera Pendekar Mabuk melimbungkan badannya hingga nyaris jatuh, seperti orang mabuk kehilangan keseimbangannya. Namun sebenarnya Suto menghadapkan bumbung tuaknya ke arah datangnya sinar hijau. Dan sinar itu pun mengenai bumbung tuak, lalu membalik ke arah datangnya tadi dengan lebih cepat dan lebih besar lagi. Sinar hijau membungkus tubuh Damu. Tubuh itu menjadi es yang beku, bagai patung manusia yang dilumuri salju.

"Damu...?!" Doma berseru kaget melihat saudaranya menjadi patung es yang sebentar lagi mencair. Maka, segera ia mendorong patung es itu dan melangkahinya. Warna putih pudar. Kini Damu mulai tampak sebagai sosok manusia utuh. Kemudian bangkit dengan satu sentakan kaki ringan dan berdiri kembali menghadap Pendekar Mabuk.

"Ha ha ha ha...! Kau tak akan bisa membunuhku. Pendekar Mabuk! Lebih baik kau menyingkir dari urusan ini, atau serahkan diri untuk kami penggal kepalamu!"

"Kalian salah anggapan. Aku perlu meluruskan anggapan kalian!" kata Suto.

"Serang bersama! Jangan kasih kesempatan hidup!" kata Doma kepada saudara kembarnya. Lalu, mereka sama-sama melesat naik dengan satu sentakan kaki lembutnya, dan kedua Cermin Benggala Kembar itu diadukan di udara.

Trringngng...!

Zzzuesss...! Sinar pelangi indah melesat menghantam Pendekar Mabuk. Dengan cepat Pendekar Mabuk melompat ke udara dan bersalto hingga mencapai puncak batu tinggi. Tapi sinar pelangi itu masih saja mengejarnya dengan berkelok ke arah Suto Sinting. Cepat-cepat Pendekar Mabuk melompat dari batu ke batu yang lainnya. Tiba ditempat datar, Pendekar Mabuk cepat mengambil bumbung tuaknya dan dihadangkan ke arah datangnya sinar pelangi itu.

Dubbb...! Blarrr...!

Sinar Pelangi menghantam tabung bumbung tuak. Sinar itu tidak memantul balik seperti sinar lainnya jika terkena bumbung tuak. Sinar itu pecah dan menimbulkan ledakan yang membuat Pendekar Mabuk terpental tujuh langkah jauhnya. Bumbung tuaknya terlepas dari tangan.

Dewa Racun tegang dan terkejut melihat bumbung lepas dari tangan Suto. Ia cepat mengambil anak panahnya lagi untuk melancarkan serangan dari jauh. Tetapi, niatnya itu terhenti, sebab ia melihat Doma Damu berlari bersamaan memburu Pendekar Mabuk dan siap menyentakkan Cermin Benggala Kembar itu. Hanya saja, gerakannya terlambat.

Suto sudah lebih dulu sentakkan tangan kanannya yang bertato pedang kecil dan bintang itu. Tangan kanan itu terbuka telapaknya, miring posisinya dengan jari merapat. Menyentak ke depan dengan satu tekanan napas tertentu. Maka dari telapak tangan itu melesatlah sinar emas yang membentuk pedang kecil berkecepatan tinggi. Sinar emas itu melesat berturut-turut dan memecah menjadi dua jurusan. Satu ke arah dada Doma, satu lagi menjurus ke arah Damu.

Jrabb jrab jrab jrab...!

Masing-masing lawannya tertusuk pedang kecil berwarna emas. Itulah jurus 'Manggala' pemberian Ratu Kartika Wangi, sebagai tanda kehormatan Pendekar Mabuk yang diangkat menjadi Manggala Yudha Kinasih di Puri Gerbang Surgawi, yaitu istana di alam gaib. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah).

Jurus 'Manggala' itu mengenai Doma dan Damu. Kedua orang itu tidak segera rubuh. Pedang kecil-kecil berwarna emas yang masuk ke dalam tubuh mereka tidak membuat luka dan darah mengucur. Mereka hanya diam memandang Suto dengan tidak berkedip dan tidak bergerak sedikit pun.

Tapi ketika angin pantai berhembus sedikit lebih kuat, tubuh mereka berhamburan dan akhirnya buyar. Ternyata pada waktu mereka diam tak bergerak memandang Suto, mereka telah menjadi debu yang sangat halus. Sehingga ketika angin pantai menyapunya, debu itu pun beterbangan dan lari dari susunannya.

Hantu Laut tak habis rasa herannya melihat jurus yang digunakan Pendekar Mabuk. Baru sekarang ia melihat seseorang terkena pukulan maut menjadi habis tanpa sisa apa pun kecuali debu yang sudah bertebaran ke mana-mana itu. Bahkan pusaka Cermin Benggala Kembar yang sebagai cermin pemburu nyawa itu, ikut lenyap menjadi debu.

Pendekar Mabuk ucapkan kata ketika Dewa Racun dan Hantu Laut mendekatinya, "Aku sudah mengajak dia untuk damai, tapi keduanya tidak mau damai, apa boleh buat dia kukirim ke alam kedamaian abadi di sana!"

Hantu Laut hanya bisa pandangi Suto tak berkedip dengan sejuta rasa kagum dan terheran-heran tiada habisnya. Hanya dalam hatinya Hantu Laut membatin, "Pendekar Mabuk ini benar-benar sinting ilmunya...! Edan-edanan! Sulit aku mempercayai kenyataan ini!" sambil ia melangkah mengikuti Pendekar Mabuk dan Dewa Racun menuju perahunya.

SELESAI

Cermin Pemburu Nyawa

Serial Pendekar Mabuk
Cermin Pemburu Nyawa
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
ANGIN laut berhembus cukup besar. Ini membuat peluang baik bagi kapal layar untuk bergerak dengan cepat. Tapi kenyataannya kapal itu justru berhenti tak bergerak sedikit pun, kecuali hanya timbul tenggelam dipermainkan oleh ombak.

"Aneh. Banyak angin, tak ada karang penghalang, layar berkembang, tapi mengapa kapal ini berhenti sendiri? Apa yang menghambat lajunya kapal ini? Kandas juga tidak, kedalaman laut cukup. Kenapa kapal jadi berhenti?"

Nakhoda Salju terheran-heran. Matanya yang lebar memandang sekeliling haluan lewat ruang nakhoda. Nakhoda Salju adalah pengemudi kapal itu. Orangnya berbadan kekar, berwajah bengis tanpa kumis. Rambutnya panjang bagian belakang, sedang rambut depan botak mulus hingga jidatnya kelihatan sangat lebar.

Ia mengenakan anting bulat sebelah kanan. Usianya sekitar lima puluh tahun, berpakaian biru laut, berikat pinggang merah tua. Sekalipun berwajah lonjong tapi dia punya suara berat, namun gerakannya gesit. Dari depan ruang nakhoda yang ada di bagian haluan, ia serukan suara ke arah geladak,

"Sumbing Gerhana! Sumbing Gerhana...!"

"Ya. Aku di sini!" teriak seseorang bertubuh kurus, berbibir sumbing bagian atasnya, sehingga ia sulit mengucapkan huruf 'P'. "Ada afa, Nakhoda?!' sambungnya.

Orang berpakaian rompi hitam dan celana merah itu bergegas menuju ruang nakhoda. Rambutnya yang panjang melewati pundak itu tidak diikat sehingga meriap-riap dipermainkan angin, ia datang mendekati Nakhoda Salju sambil tetap menggenggam cambuk yang terlipat ujungnya, tanda tidak sedang digunakan.

"Apakah ada yang turunkan jangkar?"

"Tidak ada! Kenafa...?"

"Bodoh! Tidakkah kau rasakan bahwa kapal berhenti, tidak bergerak maju kecuali diayun-ayunkan ombak dari tadi?!"

"Kafal werhenti?!" ucap Sumbing Gerhana dengan heran, dengan kata-kata yang aneh bagi orang yang baru mendengarnya, sebab ia tidak bisa menyebutkan huruf 'P' dan 'B'. Jika ia menyebutkan huruf 'P' diganti 'F', dan huruf 'B' diganti 'W', karena bibir atasnya yang sumbing sukar dipertemukan dengan bibir bawahnya. Sekalipun dia sumbing, tapi dia menjabat sebagai keamanan kapal tersebut, sehingga galak sikapnya kepada para awak kapal lainnya.

Setelah Sumbing Gerhana memandangi sekelilingnya, barulah ia berkata kepada Nakhoda Salju, "Wenar juga afa katamu, kafal tidak wergerak! Fadahal wanyak angin, layar fun werkemwang wagus!"

"Wagus, wagus!" omel Nakhoda Salju. "Periksa sekitar kapal, siapa tahu ada yang lego jangkar!"

"Waik, waik...!" kemudian Sumbing Gerhana memeriksa buritan dan sekitarnya, ia melihat jangkar masih ada di tempatnya, tidak bergerak turun.

"Dayuuung...!" teriak Sumbing Gerhana. "Dayuuung...! Kafal tidak wergerak! Ayo, lekas dayuuung...!"

Tarr...! Tarrr...!

Sumbing Gerhana melecutkan cambuknya. Maka, dua puluh budak tanpa baju segera mendayung kapal itu dengan serempak. Mereka ada di kanan kiri kapal, duduk di tempat pendayung. Para budak pendayung paling takut jika Sumbing Gerhana marah. Cambukannya lebih sering ngawur. Sumbing Gerhana tak pernah pikirkan cambukannya mengenai hidung atau mata mereka, yang penting dengan melecutkan cambuk dan membentak-bentak, itu adalah tugas utama baginya, disamping menjaga keamanan sekitar geladak kapal.

Sumbing Gerhana kembali menghadap Nakhoda. "Tak ada hamwatan! Para fendayung sudah wekerja!"

"Tapi kapal sudah bergerak apa belum? Lihat!" sentak Nakhoda Salju yang lebih galak dari Sumbing Gerhana.

Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata kapal masih belum bergerak. Padahal dua puluh tenaga budak pendayung telah dikerahkan. Mereka juga mendayung dengan penuh semangat. Tapi kapal masih belum mau bergerak.

"Iya. Kenafa welum wergerak juga?" Sumbing Gerhana garuk-garuk kepalanya dengan bingung.

"Periksa bagian bawah kapal. Jangan-jangan ada karang menjepitnya! Terutama periksa bagian buritan dan haluan!"

Sumbing Gerhana tidak segera terjun ke laut untuk memeriksa bagian bawah kapal. Dia memerintahkan dua orang anak buahnya untuk memeriksa keadaan dasar kapal. Kedua orang itu melakukan tugas dan cepat kembali menghadap Sumbing Gerhana sambil memberi laporan, bahwa tak ada satu karang pun yang menjepit dasar kapal. Maka, Sumbing Gerhana cepat menghadap Nakhoda Salju lagi.

"Tidak ada karang menjefit kafal ini! Keadaan di wawah kafal aman!"

"Hmmm... lalu, kenapa kapal tidak mau bergerak?"

"Mana aku tahu?"

"Ada di dalam kamarnya. Sedang tidur!"

"Celaka! Kalau sang ketua tahu, kita yang disalahkan!"

"Afa woleh wuat...?!" Sumbing Gerhana angkat bahunya.

Kapal itu tergolong jenis kapal besar. Mempunyai tiang layar tiga, yang utama ada di depan. Layar lebar itu berwarna merah dengan gambar tengkorak dikelilingi tujuh mata rantai dan di atas gambar tengkorak dari warna putih itu ada gambar mahkota yang juga berwarna putih. Setiap ujung tiang layar mempunyai bendera segi tiga warna hitam dengan gambar tengkorak dan mahkota warna putih.

Warna lambung kapal juga merah tua. Di ujung haluannya mempunyai balok panjang ke depan dengan hiasan tujuh tengkorak bersusun dari atas ke bawah. Tiap tiang layar mempunyai tempat pengintai dan di sana ditempatkan tiga petugas pengintai yang selalu berada di pertengahan tiang layar.

Bagi para tokoh dunia persilatan yang tergolong tua, mereka sangat kenal dengan kapal berciri-ciri seperti itu. Mereka tahu, bahwa kapal itu adalah kapal Siluman Tujuh Nyawa, yang menguasai perairan laut utara, ia mempunyai banyak sekutu yang menguasai beberapa pulau dan wilayah tertentu.

Bagi mereka yang tidak mau bersekutu atau menolak kerja sama dengan Siluman Tujuh Nyawa, maka maut pun menjemput mereka tanpa ampun lagi. Tetapi kali ini kapal milik tokoh sesat yang terkenal sakti dan berilmu tinggi itu terhenti tanpa sebab-sebab yang pasti.

Nakhoda Salju dan Sumbing Gerhana merasa cemas. Sebab jika Siluman Tujuh Nyawa yang dipanggil mereka dengan sebutan sang ketua itu mengetahui dan murka, habislah nyawa mereka berdua. Selama ini sudah lebih dari dua puluh nakhoda berganti karena mati di tangan Siluman Tujuh Nyawa. Hanya Nakhoda Salju itulah pengemudi kapal yang punya masa jabatan cukup lama dibanding nakhoda lainnya.

"Afa yang harus kita lakukan kalau wegini?" tanya Sumbing Gerhana dengan hati cemas.

"Jaga supaya sang ketua jangan bangun dari tidurnya!"

"Akan kusuruh felayannya untuk tidak memwuat kegaduhan!" kata orang yang bergigi tonggos itu.

Tapi sebelum Sumbing Gerhana bergerak masuk ke lambung kapal untuk menemui pelayan dan penjaga kamar Siluman Tujuh Nyawa, tiba-tiba ia mendengar suara seruan dari petugas pengintai di tiang layar belakang.

"Ada sesuatu yang bergerak kemari! Ada yang mendekat kemari!"

Sumbing Gerhana bergegas kebelakang, ia tengadahkan wajah dan berseru kepada petugas pengintai di tiang itu, "Afa wujudnya? Kafal atau ferahu?!"

"Tak jelas! Gerakannya cepat!"

"Ikan faus...?!"

"Tak jelas juga!" Orang itu menutupkan tangannya untuk menghalau silau cahaya matahari agar bisa memandang dengan jelas apa yang dilihatnya bergerak, ia bahkan sempat kelihatan bingung pada waktu Sumbing Gerhana bergegas menaiki tangga tiang yang terbuat dari anyaman tambang itu.

"Hilang...!" teriak petugas pengintai.

"Afanya yang hilang! Aku di sini, wodoh!"

"Bukan kamu yang hilang, tapi sesuatu yang aneh dan yang bergerak kemari itu yang hilang!" seru petugas pengintai.

"Kenafa bisa hilang?!" bentak Sumbing Gerhana.

"Mana aku tahu?! Dia hilang sendiri! Bukan aku yang hilangkan!"

"Cari, cari!"

"Cari ke mana?!" sambil petugas pengintai memandang sekeliling, diikuti oleh petugas pengintai di tiang kedua dan tiang pertama. Yang ada di tiang kedua berseru,

"Tidak ada apa-apa!"

Yang di tiang pertama juga berseru, "Mungkin hanya punggung ikan besar!"

"Ikan wesar?! Mengafa ikan wesar kemari?!" seru Sumbing Gerhana.

"Yang jelas bukan mau menjadi anggota kapal kita!" jawab pengintai di tiang kedua.

Nakhoda Salju menyuruh anak buahnya untuk menjaga kemudi, ia bergegas keluar dari ruang nakhoda. Tapi baru sampai di depan ruang nakhoda, tiba-tiba matanya terkesiap melihat sesuatu yang melompat dari laut ke tepian geladak.

Jlegg...!

"Sumbing Gerhana! Ada tamu tak diundang butuh cambukanmu!" seru Nakhoda Salju.

Semua mata tertuju pada tamu tak diundang itu. Bahkan Sumbing Gerhana sempat ternganga mulutnya karena bengong melihat sesuatu yang mengagumkan, juga para pengintai di atas tiang itu memandang tak berkedip. Ada pula yang bersuit dan menggoda dari sisi lain. Para pendayung serentak hentikan gerakan dayungnya dan tertegun memandang perempuan cantik yang muncul bagaikan setan.

Perempuan itu tampak cantik luar biasa, ia berpakaian penutup dada warna hijau dengan hiasan benang emas yang ketat dengan bentuk pinggang sampai dadanya yang montok itu. Ia juga mengenakan celana hijau beludru ketat berhias benang emas. Pakaian itu dirangkapi baju jubah warna biru muda transparan terbuat dari sutera halus.

Rambutnya sebagian digulung kecil di atas kepala, tapi bagian belakang dan sisanya dibiarkan terurai panjang sebatas punggung, ia mengenakan mahkota emas kecil sebagai penghias bagian depan rambutnya, juga mengenakan kalung lempengan emas berhias mutiara susun dua, juga gelang keroncong yang jumlahnya lima buah tiap tangan. Tak lupa senjata pedang bersarung tembaga berukir tersandang di punggungnya. Gagang pedang dari tembaga itu mempunyai hiasan benang warna merah.

Hidungnya bangir, bibirnya indah dan menggemaskan. Matanya tidak terlalu lebar tapi membulat indah dengan bulu mata yang lentik, alis mata yang tidak terlalu tebal tapi terlihat hitam berbentuk indah. Kulitnya kuning langsat dengan potongan dada dan pinggul yang sekal, menantang gairah lelaki.

Sumbing Gerhana cepat turun tangga dan menemui perempuan cantik beraroma wangi bunga melati itu. Sumbing Gerhana memperlihatkan senyumnya yang tak jelas karena bibirnya sumbing. Perempuan itu memandang Sumbing Gerhana dengan wajah ketus, tanpa senyum sedikit pun di bibirnya yang tampak merah ranum itu.

"Rufanya kaulah orang yang tahan laju kafal ini!" kata Sumbing Gerhana sambil matanya memandang penuh selidik, bertolak pinggang sebelah tangan, sedangkan tangan yang satu masih memegangi cambuk hitam yang dilipat melingkar.

"Memang aku yang menahan kapal ini!" sahut perempuan itu ketus.

"Mengafa kau tahan kafal ini? Wutuh hiwuran hangat, hah?!"

Ledekan dari Sumbing Gerhana membuat awak kapal lainnya tertawa, tapi Nakhoda Salju diam saja sambil tetap pandangi perempuan itu. Sementara itu, anak buah yang ditugaskan menjaga kemudi kapal berbisik dari belakang,

"Kemudi tidak bisa digerakkan dari tadi, Nakhoda!"

"Tinggalkan dulu soal kemudi. Nikmati dulu pemandangan indah yang jarang kita temukan itu!" kata Nakhoda Salju sambil tetap pandangi perempuan itu, dan sang anak buah ikut memandang dengan senyum yang gembira. Bahkan ia bersuit kecil tanda kagum, lalu berkata seperti bicara pada diri sendiri,

"Luar biasa cantiknya!"

"Ya. Tapi dia pasti berilmu tinggi."

"Dari mana Nakhoda tahu?"

"Dia yang menahan kapal ini dan membuat kemudi tidak bisa digerakkan. Pasti dia bukan perempuan sembarangan!"

Sementara itu, di geladak terdengar Sumbing Gerhana, "Mana yang mau kau filih untuk menghangatkan tuwuhmu? Aku lebih dulu, atau nakhoda di atas sana?"

"Kau lebih dulu!" jawab perempuan itu.

Sumbing Gerhana tertawa kegirangan. Tapi tawanya tiba-tiba terhenti seketika. Mereka heran melihat Sumbing Gerhana mendelik sambil menahan rasa sakit. Hanya Nakhoda Salju yang tahu, bahwa perempuan itu menggerakkan tangan kanannya ke samping, meremas telunjuknya sendiri, tapi Sumbing Gerhana yang merasa diremas, ia tak bisa memekik atau bersuara karena sangat kesakitan. Wajahnya menjadi merah pertanda menahan rasa sakit yang luar biasa.

Wuttt wuttt...! Jlegg...!

Nakhoda Salju bersalto dari depan ruang nakhoda. Dua kali berjungkir balik di udara, tubuhnya segera sampai di depan perempuan itu, agak lebih ke belakang Sumbing Gerhana. "Lepaskan dia! Aku tahu kau telah meremasnya melalui remasan telunjuk jarimu itu!" kata Nakhoda Salju.

"Kau cukup jeli ketimbang Sumbing Gelhana," kata perempuan itu sambil melepaskan remasan tangannya sendiri.

Sumbing Gerhana jatuh dan terengah-engah. Sisa rasa sakit masih terasa menjalar di sekujur tubuhnya, ia melirik perempuan itu dan bergeser menjauh. Tak berani untuk berdiri karena masih terasa lemas di sekujur tubuhnya. Keringat pun jadi membersit di kening.

"Agaknya kau telah mengenal kami, sehingga bisa sebutkan nama Sumbing Gerhana!" kata Nakhoda Salju.

"Sangat kenal," jawab perempuan itu. "Bahkan aku kenal kamu sebagai manusia dingin yang berjuluk Nakhoda Salju!"

Terkesiap mata Nakhoda Salju, merasa heran namanya bisa disebutkan oleh perempuan yang belum dikenalnya. Kemudian Nakhoda Salju ajukan tanya, "Siapa kau sebenarnya?"

"Dayang Kesumat!" jawab perempuan itu.

Makin berkerut dahi Nakhoda Salju, karena merasa asing dengan nama Dayang Kesumat. "Baru sekarang kudengar namamu, Dayang Kesumat!"

"Memang balu sekalang kusebutkan nama itu di depanmu!"

"Aneh," Nakhoda Salju tertawa pendek berkesan sinis dan dingin.

Pada waktu itu, Sumbing Gerhana sudah memperoleh kekuatannya kembali, ia cepat berdiri dan menggeram sambil melepas ujung cambuknya, siap untuk dilecutkan. "Feremfuan setan! Seenaknya saja kau remas aku, hah?! Kau harus terima walasanku, hiihh...!"

Traepp...!

Cambuk yang dilecutkan melilit di tangan Dayang Kesumat yang digerakkan ke atas. Dengan cepat cambuk itu digenggamnya. Sumbing Gerhana mencoba menarik dengan kekuatan penuh, Dayang Kesumat makin kuat meremas cambuk. Dan tiba-tiba tubuh Sumbing Gerhana tersentak ke belakang dengan kerasnya. Cambuknya terlepas dari tangan, tubuhnya mental jauh hingga membentur dinding barak.

Brakkk...!

Cambuk yang masih digenggam oleh Dayang Kesumat itu segera dilemparkan ke arah Sumbing Gerhana. Wusss...! Dan tiba-tiba cambuk itu terbakar dengan sendirinya. Beberapa pendayung segera memadamkan cambuk itu dan mundur menjauhi Dayang Kesumat. Tetapi orang-orang kapal lainnya segera mengurung Dayang Kesumat yang kini berhadapan dengan Nakhoda Salju.

Tetap tenang dan angker wajah Nakhoda Salju walau ia mendengar Sumbing Gerhana menggerutu berkepanjangan. Dayang Kesumat pun belum bergerak dari tempat berdirinya semula. Padahal ia berada di tepian geladak, satu kali dorong saja tubuhnya akan jatuh ke laut. Tapi Nakhoda Salju tidak mau melakukan hal itu. Ia tahu, perempuan yang di depannya bukan orang lemah yang bisa didorong dan diceburkan ke laut dengan begitu saja.

"Apa maksudmu datang kemari? Mau membuat kekacauan di kapal ini? Apa ingin mengadu nyawa dengan seseorang di sini?!"

"Mana Siluman Tujuh Nyawa yang menjadi ketua kalian?! Aku mau beltemu dengan dia!" jawab Dayang Kesumat dengan bahasa cadel, tak bisa sebutkan huruf 'R'

"Ada perlu apa kau ingin bertemu dengan sang ketua?"

"Itu ulusanku!"

"Aku harus tahu, karena aku nakhoda di kapal ini! Aku bertanggung jawab atas keselamatan jiwa para penumpang dan awak kapalku!"

"Jangan banyak mulut, Nakhoda Salju! Kau tak akan bisa belnapas lagi jika kesabalanku habis!" ancam Dayang Kesumat.

"O, kau mau menggertakku, Dayang Kesumat?" kata Nakhoda Salju dengan mata tajam memandangnya. "Ketahuilah, Dayang Kesumat... aku orang yang tidak pernah mempan dengan gertakan ataupun ancaman! Aku tahu kau punya ilmu, tapi aku bisa ukur ilmumu tak akan lebih dari ilmu yang kumiliki!"

Tiba-tiba Dayang Kesumat menggenggam jari tengahnya sendiri, sementara ketiga jari lainnya mengeras lurus. Jempol tangan itu menekan kuat jari tengahnya, dan Nakhoda Salju cepat-cepat sentakkan tangannya ke bawah. Kedua tangan ada di depan pusarnya, menekan sesuatu yang terasa ingin menggapai keluar. Dengan tenaga dikerahkan Nakhoda Salju menekan tangannya ke bawah. Tubuhnya menjadi gemetar, ia tampak menguras tenaga melawan kekuatan yang ditolaknya itu.

Tiba-tiba Dayang Kesumat sentakkan jari tengahnya bagai disentilkan ke depan, dan wuttt...! Tubuh Nakhoda Salju terlempar jauh hingga membentur dinding sebuah barak di bagian buritan. Brakkk...! Tubuh itu memantul ke depan karena kerasnya dan jatuh tersungkur di lantai geladak.

Kayu papan dinding barak jebol sebagian karena benturan keras tubuh Nakhoda Salju. Sementara itu, Dayang Kesumat hanya tersenyum tipis, dan orang- orang di sekitarnya memandang bingung ke arah Nakhoda Salju. Para pendayung menjadi cemas dan segera menjauhkan diri dari Dayang Kesumat.

* * *

DUA
DUA orang pemuda berwajah kembar keluar lebih dulu dari dalam lambung kapal. Matanya langsung menatap Dayang Kesumat. Lalu kedua orang kembar itu berhenti di depan tangga yang menuju ke dalam lambung kapal. Seperti ada yang ditunggu mereka untuk dikawal jalannya. Tak berapa lama, muncul seorang berkerudung hitam dari atas kepala sampai kakinya. Orang itu membawa senjata panjang berupa sejenis tombak yang punya mata panjang membengkok sedikit dengan ujung yang runcing. Panjang mata senjata itu antara dua jengkal. Ketajamannya berkilauan terkena sinar matahari.

Melihat pakaian hitam yang dilapisi jubah kerudung hitam dari atas kepala sampai kaki, dan memegang pusaka El Maut, Dayang Kesumat tak salah duga lagi, dia adalah Siluman Tujuh Nyawa yang selalu tampil di mana-mana dengan sosok sebagai El Maut.

Wajahnya pucat pasi, mirip kertas putih. Hidungnya mancung, tampak masih muda belia. Bibirnya biru bagai bibir mayat, matanya bertepian hitam kebiru-biruan, menambah kepucatan wajah itu. Sebenarnya wajah pucat berlapis semacam bedak putih itu adalah wajah yang tampan. Tapi kesan dingin dan keji terlihat jelas di wajah itu, sehingga perempuan yang melihatnya akan menjadi merinding kehilangan rasa kagumnya.

Ketika orang berkerudung jubah hitam itu muncul, semua yang ada di kapal membungkukkan badan, memberi hormat. Dayang Kesumat makin yakin, orang itulah sang ketua yang bergelar Siluman Tujuh Nyawa.

Durmala Sanca, nama asli Siluman Tujuh Nyawa, sangat dikenal oleh Dayang Kesumat. Tak ada hormat sedikit pun yang dilakukan oleh perempuan itu, walau ia sudah berhadap-hadapan dengan Siluman Tujuh Nyawa yang didampingi pengawal pribadinya yang kembar rupa itu, dan dikenal oleh Dayang Kesumat dengan nama Doma dan Damu. Sepasang pengawal kembar itu sulit dibedakan jika mereka tidak berbeda rompi.

Doma mengenakan rompi kuning, dan Damu memakai rompi merah. Keduanya sama-sama memakai celana hitam dan ikat kepala sama dengan warna rompi masing-masing. Rompi itu panjang, mencapai bawah perut dan diikat dengan kain hitam.

Siluman Tujuh Nyawa memandangi wajah Nakhoda Salju dan Sumbing Gerhana yang tampak menahan sakit itu. Pandangan mata orang berwajah putih itu sangat dingin, tak ada kesan heran, sedih, marah, atau apa pun. Wajah itu adalah wajah datar yang beku bagai balok salju. Sinar matanya pun bagai membekukan darah bagi orang yang dipandanginya. Nakhoda Salju dan Sumbing Gerhana sama-sama tundukkan kepala.

"Apakah aku mengenalmu?" tanya Siluman Tujuh Nyawa kepada Dayang Kesumat.

"Telgantung kepekaan nalulimu!" jawab Dayang Kesumat.

"Sebutkan namamu!"

"Dayang Kesumat!"

"Nama yang aneh dan asing bagiku. Mau apa kau bikin perkara di atas kapalku?"

"Aku menuntut ganti lugi atas tindakan anak buahmu yang belnama Dadung Amuk!"

"Dadung Amuk?!"

"Ya! Dia telah mempolak-polandakan tempatku gala-gala menuduhku menyembunyikan Kitab Pusaka Wedal Kesuma! Aku tidak melasa memiliki pusaka itu, tapi melasa banyak dilugikan oleh tingkah lakunya yang konyol!"

"Apakah Dadung Amuk mendapatkan kitab itu?"

"Aku tidak tahu!"

Siluman Tujuh Nyawa diam sebentar, lama dipandanginya Dayang Kesumat. Kejap berikut ia segera perdengarkan suaranya yang sedikit serak, "Jadi, apa maumu sekarang?"

"Selahkan Dadung Amuk padaku! Atau kau hukum gantung dia di depanku! Jika kau tetap sembunyikan dia, akan kuhanculkan kapal ini!"

"Lancang mulutmu!" sentak Doma, lalu ia kibaskan tangannya bagai menebarkan sesuatu.

Dayang Kesumat cepat sentakkan kaki dan melesat keudara, pindah tempat di tengah geladak. Sedangkan hasil tebaran tangan Doma itu melesat berupa serbuk berkerlip-kerlip merah dan jatuh di lautan. Air laut tiba-tiba menyentak muncrat ke atas dengan menimbulkan suara seperti api disiram air. Josss...!

Damu segera mengejar Dayang Kesumat. Tapi Dayang Kesumat cepat-cepat menggenggam kelingkingnya yang ditekan dengan ibu jari, sementara ketiga jari lainnya mengeras tegang. Tangan itu tetap berada di samping, bagai setengah disembunyikan.

Damu terhenti langkahnya dan lehernya terjulur-julur ke atas dengan suara tercekik. Mata Damu pun mendelik-mendelik, sukar bernapas. Dan tiba-tiba tangan Dayang Kesumat disentakkan ke depan sambil melepas kelingking yang diremasnya, kemudian tubuh Damu terlempar jatuh di bawah tiang. Brukkk...!

Melihat saudara kembarnya diperlakukan demikian, Doma cepat bergerak maju. Tapi tangan sang ketua cepat pula mencengkeram pundak Doma, lalu menyeretnya mundur. Sang ketua maju dua tindak berhadapan dengan Dayang Kesumat.

"Cukup tinggi ilmu 'Jemari Mayat'-mu, Dayang Kesumat! Setahuku ilmu 'Jari Mayat' hanya milik Pengemis Sakti, si Lalang Buana!"

"Sekalang sudah menjadi milikku! Si Lalang Buana sudah tak ada!" jawab Dayang Kesumat dengan rasa bangga.

Wajah Siluman Tujuh Nyawa tetap dingin dan datar saat ia berkata, "Tapi ilmu 'Jemari Mayat'-mu itu tidak berlaku untukku, Dayang Kesumat. Jadi, sebaiknya cepatlah minggat dari kapalku sebelum murkaku tiba dan mencelakakan jiwamu!"

"Aku tidak akan pelgi, sebelum Dadung Amuk kau selahkan padaku, atau kaugantung dihadapanku!"

"Dadung Amuk tidak ada di sini. Dia belum pulang!"

"Kalau begitu, aku halus pastikan kebeladaannya dikapal ini dengan cala menggeledahnya!"

"Bangsat!" teriak Nahkdoa Salju yang cepat bergegas maju. Ia menuding Dayang Kesumat dengan geram kemarahan. "Tak kuizinkan kau menggeledah kapal ini! Karena itu sama saja kau menginjak-injak wibawa dan kehormatan orang-orang di kapal ini!"

Plakkk...! Tiba-tiba tangan Damu berkelebat dan menampar mulut Nakhoda Salju.

Orang berusia sekitar lima puluh tahunan itu tak berani membalas tamparan Damu. Ia bahkan menjadi takut dan cepat mundurkan diri. Siluman Tujuh Nyawa hanya pandangi Nakhoda Salju sebentar, lalu kembali palingkan wajah menatap Dayang Kesumat.

Tapi mata Dayang Kesumat tertuju pada Nakhoda Salju, ia sempat merasa heran, mengapa Nakhoda Salju yang terkenal galak dan bertampang angker itu tak berani melawan Damu yang jauh lebih muda dari usianya. Apakah kedudukan pengawal kembar itu lebih tinggi daripada Nakhoda Salju? Atau memang ilmunya yang lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki si nakhoda galak itu? Cepat-cepat Dayang Kesumat memandang Siluman Tujuh Nyawa, karena orang bertampang muda dan ganteng tapi beku itu, segera ucapkan kata kepadanya,

"Di mana kau tinggal, Dayang Kesumat?"

"Kau tak pellu tahu, Dulmala Sanca!"

"Maksudku, kalau kutahu di mana kau tinggal, jika Dadung Amuk pulang dan menghadapku, dia akan kukirimkan kepadamu!"

"Dengan membawa puluhan olang-olangmu? Dengan maksud menggempul pulauku? O, tidak! Aku tidak bisa telkecoh oleh kelicikanmu, Dulmala Sanca! Aku kenal kau cukup lama, dan tahu pelsis tipu muslihatmu. Tapi aku bukan olang yang mudah kau peldaya, Dulmala Sanca!"

Siluman Tujuh Nyawa diam, mata tajamnya memandang mata Dayang Kesumat. Perempuan itu balas menatap mata Durmala Sanca. Kain jubah mereka sama-sama dikibarkan oleh angin lautan. Mereka sama-sama bungkamkan mulut beberapa saat lamanya. Tak ada orang yang berani bersuara sedikit pun kala itu.

Tangan kanan Siluman Tujuh Nyawa itu menggenggam kuat-kuat tongkat berujung seperti sabit lengkung itu. Senjata pusaka El Maut tetap berdiri tegang dalam genggamannya yang makin lama semakin kuat. Sedangkan Dayang Kesumat menggenggamkan tangan kirinya dengan kuat juga. Makin lama semakin keras genggamannya.

Semua mata memandang tegang antara tangan Siluman Tujuh Nyawa yang menggenggam tongkat pusaka El Maut itu, dan tangan Dayang Kesumat yang tanpa menggenggam benda apa pun. Makin lama makin jelas ada sesuatu yang berubah. Mulut para penonton itu mulai ternganga.

Mereka melihat tangan Siluman Tujuh Nyawa yang menggenggam tongkat El Maut itu mulai merembeskan darah, bagai keluar dari telapak tangannya. Darah itu mengalir ke tongkat hitamnya. Jelas terlihat oleh mereka warna merah yang mengalir walau tak banyak. Sedangkan dari genggaman tangan kiri Dayang Kesumat juga terlihat darah merembes dan menetes di lantai geladak satu kali.

Rupanya kedua tokoh sakti itu saling serang secara batin. Keduanya kerahkan tenaga dalam lewat pandangan mata, dan sama-sama bertahan hingga cucurkan darah dari telapak tangan masing-masing.

Heningnya suasana yang menegangkan itu tiba-tiba dipecah oleh suara petugas pengintai dari layar kedua yang berseru, "Perahu layar kuning mendekat!"

Semua bergegas palingkan wajah ke lautan. Saat itu pula, Siluman Tujuh Nyawa dan Dayang Kesumat melepaskan diri dari serangan masing-masing. Mereka ikut pandangkan mata ke lautan. Dan tampak perahu berlayar kuning dengan simbol tengkorak tujuh mata rantai mulai mendekat. Terdengar suara Nakhoda Salju berseru, "Tabir Akhira...!"

Sumbing Gerhana ikut berseru, "Tafi dia sendirian! Tidak wersama Gagak Neraka?!"

Sebelum perahu layar kuning mendekat rapat, Tabib Akhirat segera sentakkan kaki, dan bagaikan terbang ia melayang pindah ke kapal utama. Perahunya segera diurus oleh para budak pendayung. Tabib Akhirat datang dalam keadaan kaki habis terluka, tapi sudah tampak mengering. Agaknya ia melakukan pengobatan untuk luka kakinya itu selama dalam perjalanan di atas perahunya. Tabib Akhirat yang berjubah hijau dengan pakaian hitam itu segera ditemui oleh Sumbing Gerhana dan mendapat pertanyaan dari orang itu,

"Mengafa tidak wersama Gagak Neraka? Ke mana dia?"

"Mati," jawab Tabib Akhirat yang segera melangkahkan kaki menemui sang ketua, lalu sedikit membungkuk hormat pada sang ketua. Setelah itu, sang ketua ajukan tanya kepada Tabib Akhirat,

"Siapa yang bisa melukai kakimu, Tabib Akhirat?"

"Hantu Laut, sang Ketua!" jawab Tabib Akhirat dengan rasa takut.

"Hantu Laut itu budaknya Tapak Baja! Kenapa kau sampai bisa dilukai oleh dia? Apakah kau sudah bosan hidup denganku?"

"Perlu Ketua ketahui, Tapak Baja pun mati di tangan Hantu Laut!"

Nakhoda Salju terpekik, "Apa...?! Tapak Baja mati di tangan si Hantu Laut?!"

"Betul, Nakhoda Salju! Gagak Neraka pun mati di tangan Hantu Laut! Kalau aku tak cepat melarikan diri untuk kasih laporan kepada sang Ketua, aku pun mati di tangannya!"

"Aku tak percaya dengan penjelasanmu ini," kata sang ketua dengan suara pelan dan lembut. Tapi tiba-tiba tangannya menyentak, punggung tangan itu menghantam dada Tabib Akhirat. Begggh...!

Wussst...! Tabib Akhirat terpental ke belakang bagaikan terbang. Tubuhnya yang kurus itu membentur dua pendayung yang sedang menambatkan tambang perahu layar kuning ke tepian pagar kapal itu.

Byurr...! Satu dari dua orang yang tertabrak Tabib Akhirat itu terjungkal masuk ke laut. Untung ia bisa berenang dan segera mencapai tepian perahu layar kuning. Sedangkan yang satu lagi mendelik matanya karena seperti merasa ditabrak seekor banteng dalam keadaan perut tergencet pagar geladak.

Tabib Akhirat meringis sebentar, lalu cepat-cepat bangkit dan kembali menghadap sang ketua. Wajah sang ketua tetap tak ada perubahan, dingin dan datar. Seakan tak pernah memukul Tabib Akhirat dengan kekuatan tenaga penuh. Wajah Tabib Akhirat pun menjadi pucat.

"Jelaskan yang sebenarnya!" perintah sang ketua dengan tegas.

"Tapak Baja berhasil mencuri Pusaka Tombak Maut milik Jangkar Langit! Pusaka itu akhirnya berhasil direbut Hantu Laut dan dipakai membunuh Tapak Baja dan Gagak Neraka. Semua orang berilmu di Pulau Beliung, termasuk putri bungsunya Ratu Pekat juga dihabisi Hantu Laut dengan Pusaka Tombak Maut itu, Ketua!"

"Pusaka Tombak Maut...?!"

"Betul. Bahkan Hantu Laut merencanakan untuk memberontak melawan kita. Dia bersekongkol dengan Dadung Amuk dan berdiam di Pulau Beliung! Mereka mau membunuh sang ketua dengan menggunakan Pusaka Tombak Maut itu!"

"Dadung Amuk dan Hantu Laut bersekongkol mau bunuh aku?"

"Betul ketua!"

"Dan mereka sekarang bercokol di Pulau Beliung?"

"Tidak salah lagi, Ketua! Karena saya dari sana, dan Gagak Neraka pun mati di sana!"

Siluman Tujuh Nyawa maju satu tindak mendekati wajah Tabib Akhirat, ia tatap mata tabib tua itu dengan tajam dan dingin. Lalu dengan suara lirih sang ketua berkata datar, "Lain kali kubunuh kau jika pulang hanya melaporkan kekalahanmu!"

"Ampun, Ketua. Pusaka di tangan Hantu Laut itu sangat sakti dan...."

Buhgg...! Sang ketua sentakkan pangkal telapak tangannya ke depan. Dada orang berambut abu-abu itu jadi sasaran hingga terdorong kuat ke belakang. Walau tak sampai jatuh, tapi mulut Tabib Akhirat sentakkan napas dan keluar darah kental dari mulutnya. Kepalanya merasa pusing, badannya jadi lemas tiba-tiba, kemudian ia jatuh terduduk dengan bersandarkan dinding barak.

Siluman Tujuh Nyawa cepat palingkan wajah ke arah Dayang Kesumat. Tetapi ternyata perempuan itu sudah tidak ada di tempat. Di sekeliling kapal pun tak ada. Siluman Tujuh Nyawa segera ajukan tanya kepada anak buah Nakhoda Salju yang masih berdiri di depan ruang nakhoda, "Ke mana perempuan itu tadi?"

"Pergi, Ketua! Dia mengendarai sebatang belarak pelepah daun kelapa!" jawab orang tersebut.

"Mengendarai pelepah daun kelapa?!" kata Nakhoda Salju.

"Betul, Nakhoda. Begitu dia dengar Dadung Amuk bersekongkol dengan Hantu Laut dan bermukim di Pulau Beliung, dia langsung melompat dari buritan, dan berdiri di atas pelepah daun kelapa yang berjalan cepat di atas permukaan air, melebihi kecepatan kapal kita ini, dan... hei... Nakhoda, kapal kita sudah mulai bergerak lagi!"

Memang, kapal mulai bergerak lagi. Seolah-olah kapal itu baru saja bebas dari hambatan. Tapi Siluman Tujuh Nyawa tidak menghiraukan kata-kata anak buah Nakhoda Salju itu. Ia cepat memanggil Sumbing Gerhana dan ajukan tanya, "Kau percaya dengan kata-kata Tabib Akhirat?"

"Yang saya tahu, kawar tentang Tatak Waja memiliki fusaka Tomwak Maut itu memang wenar, Ketua! Dia welum lama ini werhasil curi itu fusaka dari tangan Ki Jangkar Langit, saudara seferguruan Dewi Kencana Langit, yang werkuasa di fesisir selatan tanah Jawa, sang Ketua."

"Yang kutanyakan, apakah kau percaya dengan kabar dari Tabib Akhirat tentang persekongkolan Hantu Laut dengan Dadung Amuk itu? Bukan soal Tapak Baja!"

"Mmm... maaf, Ketua. Saya kurang wisa fercaya. Karena waru Tawiw Akhirat yang wilang wegitu! Kalau saja...."

Ucapan Sumbing Gerhana terhenti karena seruan seorang pengintai yang berada di tiang layar pertama, "Ada seseorang yang berenang kemari! Dia mengejar kapal kita!"

Semua orang bergegas ke lambung kiri, karena arah yang ditunjuk oleh pengintai itu ada di sebelah kiri. Mereka sama-sama picingkan mata menatap seseorang yang berenang dengan lemas mendekati kapal yang sedang berjalan.

Siluman Tujuh Nyawa segera perintahkan kepada Nakhoda Salju untuk hentikan kapal sebentar. Nakhoda Salju segera perintahkan pada bagian jangkar untuk membuang jangkar ke laut. Orang yang berenang dengan susah payah itu makin dekat. Lalu terdengar cetusan kata dari mulut Nakhoda Salju.

"Sumbing Gerhana! Orang itu sepertinya Loh Gawe!"

"Loh Gawe...?! Loh Gawe...?!" semua bergumam sebutkan nama Loh Gawe.

Lalu, Siluman Tujuh Nyawa perintahkan Sumbing Gerhana untuk memberikan bantuan kepada Loh Gawe. Sumbing Gerhana segera perintahkan kepada dua budak untuk menjemput Loh Gawe.

Dalam waktu singkat, Loh Gawe sudah diangkat dan dibaringkan di atas geladak. Napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi, kulit tubuhnya banyak yang terkelupas karena terlalu lama di perairan. Setelah diberi minum arak sedikit oleh Sumbing Gerhana, Loh Gawe mulai bisa bicara dan napasnya tidak terengah-engah lagi. Dengan bantuan Sumbing Gerhana, Loh Gawe berdiri lalu menghadap sang ketua yang menunggunya dengan wajah tanpa perubahan apa pun.

"Kau dan Golok Makam kutugaskan menyusul Kapal Neraka dan menyuruh pulang Tapak Baja! Bagaimana hasilnya?"

"Tapak Baja telah tewas di tangan Hantu Laut, sang ketua!"

Siluman Tujuh Nyawa tidak terkejut, demikian pula yang lainnya, karena berita itu tadi sudah didengarnya dari Tabib Akhirat. Siluman Tujuh Nyawa hanya berkata, teruskan bicaramu!"

"Hantu Laut berhasil merebut Pusaka Tombak Maut dan membunuh kakak saya Tapak Baja. Hantu Laut juga menguasai Kapal Neraka. Ketika Jangkar Langit hendak merebut pusaka itu, saya dan Golok Makam datang membantu Hantu Laut, dan Jangkar Langit tewas oleh kami. Tapi ternyata Hantu Laut justru menyerang kami. Dia tak mau menerima perintah pulang, dan bersikeras pergi ke Pulau Beliung untuk menguasai pulau itu dan mengawini Ratu Pekat! Bahkan, Hantu Laut berhasil membunuh Golok Makam dengan senjata tombaknya. Dia juga mengancam akan menggulingkan sang ketua dengan menggunakan tombak pusaka itu!" ucapnya panjang lebar.

Siluman Tujuh Nyawa menampar wajah Loh Gawe keras-keras, hingga Loh Gawe memutar tubuhnya dua kali. Sambil tahan napas dan tahan sakit, Loh Gawe kembali menghadap sang ketua, lalu sang ketua berkata dengan suara pelan penuh murka yang tertahan.

"Mengapa kau tak bunuh tikus gundul itu, hah?!"

"Saya... saya sudah coba, tapi dia cukup tangguh dengan tombaknya itu, Ketua. Lalu, saya melarikan diri untuk kasih kabar kemari!"

Plakkk...! Kembali tamparan itu melayang cepat dan keras. Pipi Loh Gawe merah membekas telapak tangan Siluman Tujuh Nyawa. Dengan tahan napas dan tahan sakit, Loh Gawe kembali menghadap sang ketua. Tapi ia segera rubuh, pingsan di depan sang ketua.

* * *

TIGA
TABIB Akhirat salah duga. Sebenarnya Hantu Laut tidak bersekongkol dengan Dadung Amuk. Pada waktu pertarungannya dengan Hantu Laut, Tabib Akhirat terpaksa melarikan diri karena merasa terluka parah oleh Pusaka Tombak Maut di tangan Hantu Laut itu. Pada waktu ia melarikan diri, ia melihat Singo Bodong ada di pulau itu juga. Singo Bodong punya wajah persis Dadung Amuk, juga potongan tubuhnya, apalagi Ratu Pekat mendandani Singo Bodong agar serupa betul dengan Dadung Amuk. Tujuannya untuk membujuk Hantu Laut agar serahkan Pusaka Tombak Maut. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tumbal Tanpa Kepala).

Tapi usaha itu tak berhasil. Bahkan Pendekar Mabuk atau Suto Sinting dan Dewa Racun nyaris terkecoh dengan penyamaran Singo Bodong yang mirip betul dengan Dadung Amuk. Penglihatan Tabib Akhirat yang salah duga itu membuat gelisah pikiran Siluman Tujuh Nyawa. Bahkan setiap mulut awak kapal membicarakan persekongkolan Dadung Amuk dengan Hantu Laut.

Karena pemberontakan seperti itu baru pertama kali terjadi selama Siluman Tujuh Nyawa menjadi ketua kelompok sesat yang ingin menguasai lautan dan pulau-pulau di utara tanah Jawa. Kabar tersebut membuat mendidih darah orang muda yang tampan namun pucat itu, yang sebenarnya usianya sudah sangat banyak. Lebih tua dari Tabib Akhirat.

"Panggil Nakhoda Salju!" perintahnya ketika manusia berwajah putih itu bangun di pagi hari. Nakhoda Salju pun segera menghadap sang ketua di kamarnya.

"Putar haluan! Arahkan kapal ke Pulau Beliung!" perintahnya.

"Baik, Ketua," jawab Nakhoda Salju sambil sedikit bungkukkan badan. "Tapi bolehkah saya ajukan usul, sang Ketua?"

"Apa usulmu?!"

"Apakah untuk membunuh dua kecoa, sang Ketua akan turun tangan sendiri?"

"Hantu Laut punya senjata Pusaka Tombak Maut! Sudah lama kudengar pusaka itu memang sangat sakti! Kalau tidak aku sendiri yang turun tangan memenuhi tantangannya, tak akan ada yang bisa merampungkan nyawanya!"

"Begitu kecilkah orang-orang di sekeliling sang Ketua, sehingga tidak ada yang mampu kalahkan Hantu Laut? Bukankah Hantu Laut hanya budak kapal kesayangan Tapak Baja? Ia tidak punya kedudukan apa-apa karena memang ia tidak punya kemampuan apa-apa!"

Siluman Tujuh Nyawa diam dan merenungkan diri beberapa saat. Nakhoda Salju berkata lagi,

"Untuk apa sang Ketua punya banyak algojo dan anak buah kalau hanya untuk tangani Hantu Laut harus turun tangan sendiri? Apakah itu tidak akan menjatuhkan wibawa dan harga diri sang Ketua, sebagai tokoh sakti yang dikenal dengan sebutan Siluman Tujuh Nyawa? Apa nanti kata orang-orang rimba persilatan jika mendengar kabar, seorang keroco bernama Hantu Laut mati di tangan Siluman Tujuh Nyawa? Bukankah hal itu akan menjadi bahan cemoohan mereka saja?"

"Kalau begitu, panggil Tabib Akhirat, aku ingin dengar sarannya!"

"Baik, Ketua. Akan segera saya panggilkan Tabib Akhirat Akhirat!" kemudian Nakhoda Salju pun cepat tinggalkan kamar sang ketua yang tidak boleh sembarang orang masuk, kecuali orang-orang berkedudukan tinggi di dalam kelompoknya itu.

Namun ketika Nakhoda Salju keluar dari dalam lambung kapal, ia melihat Tabib Akhirat sudah terkapar di lantai geladak tanpa nyawa lagi. Sehelai daun kecil menancap di leher belakang telinganya. Daun kecil itu masih hijau, masih segar, tapi punya ketajaman melebihi mata pisau cukur.

Dua puluh pendayung itu dengan tekun mendayung kapal tersebut. Sumbing Gerhana sebentar-sebentar lecutkan cambuknya ke tubuh para budak pendayung agar semakin bersemangat mendayungnya. Sesekali terdengar bentakan Sumbing Gerhana yang membuat budak pendayung sangat ketakutan.

"Sumbing Gerhana!" sentak Nakhoda Salju. "Coba lihat kemari!"

Dengan perasan heran, Sumbing Gerhana hampiri Nakhoda Salju, ia terkesiap dan berdebar-debar jantungnya melihat Tabib Akhirat sudah terkapar beku tak bernyawa. Sumbing Akhirat melihat pula selembar daun kecil menancap di leher mayat Tabib Akhirat, ia segera dongakkan kepala memandang Nakhoda Salju sambil ajukan tanya, "Siafa yang wunuh dia?!"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, karena kau sebagai kepala keamanan di atas geladak ini!" sentak Nakhoda Salju.

"Tafi aku tidak lihat dia mati! Tadi dia masih werdiri di tefian geladak ini!"

Nakhoda Salju tarik napas sambil kelilingkan pandangan matanya. Lalu ia berkata kepada Sumbing Gerhana, "Periksalah seluruh geladak. Pasti ada orang asing yang datang dan lemparkan daun bertenaga dalam ini!"

Tiba-tiba terdengar seruan dari pengintai di tiang kedua, "Ada perahu layar biru mendekati kita!"

Sumbing Gerhana kaget dan menjadi dongkol kepada ketiga pengintai, karena perahu layar biru bergambar tengkorak dengan tujuh mata rantai itu berada sudah dalam jarak yang sangat dekat dengan kapal tersebut.

Sumbing Gerhana segera serukan kata kemarahan, "Wodoh! Kenafa waru sekarang kau weritahukan tentang ferahu itu?!"

"Tadi tidak kulihat. Baru saja kulihat secara mendadak!"

Nakhoda Salju bergumam, "Panggil Loh Gawe, karena itu perahunya Loh Gawe! Aku akan perintahkan petugas jangkar untuk turunkan jangkar. Siapa tahu yang ada di perahu itu adalah Golok Makam!"

Loh Gawe segera dipanggil, dan ia menjadi sangat terkejut melihat Tabib Akhirat mati tertusuk daun kecil yang masih hijau segar. Lebih terkejut lagi ketika melihat perahu berlayar biru mendekati kapal tersebut, sedangkan dia tahu perahu berlayar biru itu adalah perahu miliknya.

Hantu Laut melepaskan perahu itu setelah mayat Jangkar Langit dibuangnya ke dalam perahu tersebut. Itulah sebabnya Loh Gawe pulang ke kapal itu dengan berenang, karena ia telah kehilangan perahunya saat bertarung di atas Kapal Neraka. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tumbal Tanpa Kepala)

Ketika perahu itu merapat, Loh Gawe semakin tambah kaget, juga yang lainnya menjadi terperangah, karena perahu itu ternyata kosong tanpa penumpang satu pun. Mayat Jangkar Langit tidak ada di perahu itu. Lantas siapa yang mengemudikan perahu itu hingga merapat ke kapal utama tersebut? Begitulah pikiran mereka saat itu.

"Periksa bagian bawah perahu itu! Pasti ada orang yang bersembunyi di sana sambil mendorong perahu untuk merapat kemari!" perintah Nakhoda Salju kepada Sumbing Gerhana.

Dan segera Sumbing Gerhana perintahkan kepada dua anak buahnya untuk memeriksa bagian bawah perahu berlayar biru itu. Tapi mereka tidak menemukan siapa-siapa di bawah perahu tersebut. Bahkan bagian dalam perahu diperiksa dengan teliti ternyata tidak ada benda lain yang mencurigakan, kecuali sekumpulan daun kecil yang menyerupai daun beringin. Daun-daun kecil itulah yang salah satunya menancap di leher Tabib Akhirat dan membuatnya mati tanpa secuil nyawa pun.

"Berarti perahu biru ini ada penunggangnya. Orang yang berada di perahumu itu, pasti orang yang melemparkan daun bertenaga dalam ke leher Tabib Akhirat," kata Nakhoda Salju kepada Loh Gawe.

"Jika benar begitu, lantas siapa orang yang menggunakan perahuku sampai datang kemari?"

Tiba-tiba terdengar jawaban dari arah buritan, "Aku penumpang perahu itu!"

Semua mata memandang ke arah buritan, termasuk Loh Gawe. Dan entah untuk yang keberapa kalinya Loh Gawe tersentak kaget melihat orang tua berambut uban rata dikonde kecil di tengah kepala, sisanya dibiarkan meriap, berjenggot dan berkumis putih rata pula. Orang itu mengenakan pakaian biksu warna putih, bertubuh kurus, membawa tongkat kayu yang masih segar. Tongkat itu bercabang dua di bagian atasnya dengan dua helai daun segar berukuran kecil ada di cabang tongkat tersebut. Daun itu sama ukuran dan jenisnya dengan daun yang menancap di leher Tabib Akhirat, juga yang terkumpul di perahu berlayar biru itu.

Loh Gawe hampir-hampir tak bisa bicara lagi, karena dia tahu, bahwa orang misterius yang tahu-tahu muncul di buritan itu tak lain ialah Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut. Pada awalnya, Loh Gawe hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri. Karena setahu dirinya, Jangkar Langit sudah tewas di tangannya. Bahkan sudah hancur tubuh mayat Jangkar Langit karena dikeroyok oleh Golok Makam, Hantu Laut, dan Loh Gawe sendiri. Tapi mengapa orang tua yang serba putih itu kini muncul lagi dalam keadaan segar bugar tanpa ada bekas luka atau noda darah sedikit pun di pakaiannya yang putih bersih itu?

Tentu saja Loh Gawe terheran-heran, sebab dia tidak tahu bahwa Jangkar Langit mempunyai aji 'Banyu Jiwa'. Apabila dia mati, dan terkena air, maka dia akan hidup lagi dan semua lukanya akan sembuh secara gaib. Dan pada waktu mayatnya dibuang di perahu tersebut, perahu itu terombang-ambing tanpa kendali. Hujan turun di waktu malam. Hujan membasahi tubuh Jangkar Langit, dan Jangkar Langit pun hidup kembali dalam keadaan segar bugar. Lalu, ia pergunakan perahu itu untuk mencari lawannya, memburu pencuri Pusaka Tombak Maut yang memang miliknya itu.

Nakhoda Salju cepat maju mendekati Jangkar Langit. Wajahnya tampak menahan kemarahan, ia berkata dengan suara beratnya, "Tua bangka tak tahu sopan! Datang tanpa permisi! Apa maksudmu bertingkah semaunya di atas kapalku, hah?!"

"Aku mau bertemu dengan Hantu Laut!" jawab Jangkar Langit dengan tenang, tapi matanya bergerak memandang dengan tajam.

"Hantu Laut tidak di sini!"

"Suruh keluar Durmala Sanca, aku mau bicara dengannya!"

"Sumbing Gerhana! Hadapi dia!" sentak Nakhoda Salju sambil menyingkir beberapa langkah dari tempatnya, lalu Sumbing Gerhana maju, menggantikan tempat Nakhoda Salju tadi. Dengan cambuk terjulur di tangan kanan, Sumbing Gerhana berdiri tegak di depan Jangkar Langit, kedua kakinya sedikit merenggang, berkesan siap menghadapi pertarungan.

"Kau funya hutang nyawa fada kami! Sewelum kau wayar nyawa Tawiw Akhirat itu, jangan haraf kau wisa wertemu dengan sang ketua!"

"Bukan salahku, karena temanmu itu mau menyerangku dari jarak jauh! Maksudku mau datang secara baik-baik, tapi dia memulai pertarungan lebih dulu! Terpaksa aku membela diri!"

Dengan tangan kiri menunjuk dan mata sedikit menyipit, Sumbing Gerhana ucapkan kata, "Sekarang kau werhadafan denganku!"

"Aku ke sini bukan untuk cari musuh, aku hanya ingin minta kembali pusakaku, Pusaka Tombak Maut! Ketua kalian yang harus bertanggung jawab, karena pusakaku dicuri oleh anak buahnya!"

"Kau wisa wertemu dengan sang ketua kalau sudah langkahi mayatku!"

"Dengan senang hati akan kulangkahi tujuh kali mayatmu!"

"Hiaaatt!"

Tarrr...! Cambuk dilecutkan, Jangkar Langit miringkan badan sehingga cambuk menghantam lantai geladak dengan keras.

Darrr...!

Sekali lagi Sumbing Gerhana melecutkan cambuknya yang panjang itu ke badan Jangkar Langit. Dengan sedikit angkat kaki dan miringkan badan, Jangkar Langit menghindari cambuk itu. Cambuk kembali menghantam lantai geladak di samping kaki Jangkar Langit. Dengan cepat kaki itu menginjak ujung cambuk.

Tapp...!

Sumbing Gerhana menarik cambuk itu sekuatnya agar terlepas dari injakan kaki Jangkar Langit. Tapi sampai semua uratnya menegang, Sumbing Gerhana tak berhasil menarik cambuknya. Bahkan dengan satu sentakan keras dan tenaga tinggi, Sumbing Gerhana mencoba lagi menarik cambuknya itu.

Tapi cambuk tetap tak dapat lepas dari pijakan kaki Jangkar Langit. Padahal Jangkar Langit tidak sampai kerahkan tenaga dalam menginjak cambuk itu. Jangkar Langit tetap kelihatan tenang, seakan berdiri seperti biasa tanpa menginjak cambuk. Tapi sampai wajah Sumbing Gerhana memerah karena ngotot, cambuk itu tetap tidak dapat ditarik dari pijakan kaki Jangkar Langit.

Melihat Sumbing Gerhana bagai dipermainkan oleh lawan, Loh Gawe cepat mencabut senjatanya, yaitu rantai berbandul bola berduri dari baja keras, ia sentakkan kaki hingga tubuhnya melayang dan menghantamkan rantai bandulnya dengan kuat ke arah kepala Jangkar Langit.

Wussst...!

Dengan cepat Jangkar Langit sentakkan tongkat bercabangnya ke samping kiri, tempat datangnya pukulan itu. Zrappp...! Rantai bandul berduri itu ditangkis dengan cabang yang ada di ujung tongkat. Rantai tersebut menyangkut di cabang tongkat dan sukar ditarik kembali.

Loh Gawe kerahkan tenaga untuk menarik rantai bandulnya, tapi hingga matanya terpejam kuat-kuat rantai bandul itu tak bisa lepas dari sela-sela cabang tongkat. Sedangkan Sumbing Gerhana sejak tadi masih berusaha menarik cambuknya, tapi tak pernah berhasil.

"Tua bangka pamer ilmu kau, hah!" bentak Nakhoda Salju. Lalu ia cepat kirimkan pukulan jarak jauhnya melalui sentakan tangan kanannya. Pukulan itu dihantam pula oleh Jangkar Langit dengan sentakkan tangan kirinya.

Wusss...! Debb...! Blarrr...!

Suara ledakan mengguncangkan kapal. Tubuh Nakhoda Salju terlempar ke belakang akibat gelombang hentakkan kedua pukulan yang bertabrakan tadi. Tubuh Nakhoda Salju seperti didorong kuat-kuat hingga keseimbangannya tak terjaga lagi. Ia jatuh terduduk, lalu terjungkal ke belakang. Tapi segera cepat bangkit dan berdiri tegak menatap lawannya.

"Bangsat kau, Tua Bangka!" geram Nakhoda Salju.

Sementara itu, Loh Gawe yang berusaha melepaskan rantai bandul berduri itu masih belum berhasil, demikian pula halnya dengan Sumbing Gerhana. Tapi mereka berdua masih tetap berusaha dan pantang menyerah. Sampai akhirnya, Loh Gawe gunakan rantai bandul yang menyangkut di cabang tongkat itu untuk bergelayutan dan tubuhnya menerjang Jangkar Langit dengan kaki direntangkan ke depan.

Tendangan itu sedikit dihindari Jangkar Langit, lalu kaki Jangkar Langit menyepak ke kiri dengan kuat. Plokk...! Wajah Loh Gawe terkena telak sepakan kaki Jangkar Langit, membuat tubuh Loh Gawe terpelanting berputar sambil masih pegangi gagang rantai bandulnya. Lalu rantai bandul itu disentakkan dengan tongkat bercabang.

Wett...!

Rantai bandul lepas dari cabang tongkat, tapi membuat tubuh Loh Gawe ikut tersentak kuat bagai terbawa angin lemparan bandul berduri itu. Akhirnya Loh Gawe terjungkal dan jatuh ke laut. Byurr...! Tak berapa lama terdengar suara maki-makinya yang tak dihiraukan lagi oleh Jangkar Langit. Sedangkan cambuk Sumbing Gerhana masih ada dalam pijakan kakinya dan sulit ditarik lepas oleh pemiliknya.

Kegaduhan di atas membuat Siluman Tujuh Nyawa keluar dari dalam kamarnya dengan didampingi pengawal kembarnya Doma dan Damu. Melihat Jangkar Langit berdiri dengan tenang di buritan, Siluman Tujuh Nyawa segera mendekati orang tersebut. Tongkat pusaka El Maut tetap ada di tangan kanannya dan dipakai bertumpu di lantai geladak, sehingga bila berjalan terdengar duk duk duk duk...!

"Selamat datang di kapalku, Jangkar Langit!" sapa Siluman Tujuh Nyawa tanpa senyum sedikit pun, tapi juga tidak menampakkan wajah sinisnya. Wajah berlapis putih itu terlihat datar-datar saja. "Cukup lama kita tidak bertemu, sekali bertemu kau buat gaduh suasana di kapalku," lanjut Siluman Tujuh Nyawa.

"Karena anak buahmu bikin ulah di depanku!" jawab Jangkar Langit.

Siluman Tujuh Nyawa mengalihkan pandang sebentar kepada Sumbing Gerhana yang masih berusaha menarik lepas cambuknya dari pijakan kaki Jangkar Langit. Lalu, dengan cepat dan hampir tak terlihat, Siluman Tujuh Nyawa tebaskan ujung tongkat El Maut-nya kebawah.

Wuttt...!

Tass...! Cambuk sebesar ibu jari kaki itu putus dalam sekejap. Sumbing Gerhana terpental karena tenaganya sendiri. Gubrakkk...! Sedangkan sisa cambuk yang ujung masih dalam pijakan kaki Jangkar Langit. Sisa cambuk itu tiba-tiba berubah dari hitam menjadi abu-abu, lalu berserakan tertiup angin. Ternyata sisa cambuk itu telah menjadi abu, dan abu itu terjadi dari tenaga dalam Jangkar Langit yang baru saat itu disalurkan melalui telapak kakinya.

Sumbing Gerhana kaget melihat sisa cambuknya menjadi abu halus. Tak terbayangkan olehnya jika tenaga dalam itu tersalur pada saat ia berusaha menarik cambuk itu. Sudah tentu tubuhnya akan ikut menjadi abu seperti sisa ujung cambuknya itu. Sedangkan sisa cambuk yang masih bersama gagangnya itu tetap utuh tanpa ada perubahan, kecuali bertambah pendek sekitar tiga jengkal.

Siluman Tujuh Nyawa hanya pandangi sisa cambuk yang jadi abu itu, tanpa ada senyum meremehkan atau rasa kaget. Lalu, ia cepat tatapkan mata pada Jangkar Langit dan ucapkan kata, "Aku tahu kau datang kemari untuk mencari pusakamu. Tapi ketahuilah, Jangkar Langit, bahwa aku tidak tahu-menahu tentang pencurian pusaka itu! Apalagi sekarang Tapak Baja kabarnya telah mati!"

"Tombak itu ada di tangan Hantu Laut!?"

"Tapi Hantu Laut belum pulang bersama Kapal Neraka-nya!"

"Aku harus mendapatkan pusakaku, dan kau harus bertanggung jawab atas ulah anak buahmu!"

"Jangkar Langit," kata Siluman Tujuh Nyawa dengan melangkahkan kaki ke tepian pagar geladak, ia memandang cakrawala yang masih ada sisa merah pada langitnya sambil ucapkan kata, "Yang bisa kubantu hanya memberitahukan padamu, bahwa Hantu Laut sekarang ada di Pulau Beliung. Dengan modal pusakamu itu, dia bersekongkol bersama Dadung Amuk untuk memberontak padaku. Dia susun kekuatan di Pulau Beliung! Kalau kau mau dapatkan pusakamu, pergilah ke Pulau Beliung. Kuserahkan padamu apa pun nasib Hantu Laut di tanganmu! Jika kau mau bunuh dia, bunuhlah. Aku tidak akan menuntut balas padamu, Jangkar Langit!"

"Baik. Tapi bagaimana jika Dadung Amuk turut campur?"

"Kau bunuh pun dia, aku tak akan banyak bicara!"

"Jadi kau rela anakmu si Dadung Amuk itu mati di tanganku?"

"Jika ia ingin menentang kekuasaanku, sebagai ayah aku harus tega membunuh anak sendiri!" Siluman Tujuh Nyawa palingkan pandang ke arah Jangkar Langit, lalu ucapkan kata lagi. "Mulutmu terlalu sembrono ucapkan kata itu, Jangkar Langit. Tapi biarlah, toh Dadung Amuk akan mati, entah di tanganmu atau di tanganku. Tak apalah orang-orangku kini tahu siapa Dadung Amuk dan siapa diriku! Supaya mereka yang ada di sini pun menjadi tahu, sekalipun Dadung Amuk sebenarnya anakku, tapi jika sikapnya menentangku, dia akan kubunuh juga!"

Mata dan mulut orang-orang kapal itu terlolong bengong. Mereka baru tahu bahwa Dadung Amuk itu ternyata anak dari Durmala Sanca, atau Siluman Tujuh Nyawa. Tak pernah ada yang menyangka sama sekali bahwa kedua orang itu ternyata punya tali darah keturunan yang kuat. Sebagai anak dan sebagai bapak. Walaupun sang Bapak kelihatan jauh lebih muda dari wajah sang awak, tapi kenyataan itu tak bisa dipungkiri lagi.

* * *

EMPAT
DAPAT dibayangkan suasana di Pulau Beliung. Dayang Kesumat, tokoh perempuan sakti yang sepertinya baru muncul di rimba persilatan itu sedang dalam perjalanan menuju Pulau Beliung. Jelas dia akan mengamuk disana untuk membuat perhitungan dengan Dadang Amuk. Juga tokoh tua yang yang dikenal sakti dan usianya masih di bawah usia Durmala Sanca itu, Jangkar Langit juga pergi ke Pulau Beliung dan akan mengamuk ke sana kepada Hantu Laut. Setidak-tidaknya, Pulau Beliung akan diguncang dua pertempuran hebat yang mungkin akan memakan korban pihak lain.

Ditambah lagi, Siluman Tujuh Nyawa merasa geram terhadap perkara Pusaka Tombak Maut itu. Maka di depan orang-orangnya yang dikumpulkan diatas geladak, Siluman Tujuh Nyawa berkata,

"Pusaka Tombak Maut sebaiknya ada di tanganku saja, supaya tidak ada pihak lain yang berani menentangku dengan mengandalkan pusaka itu!"

Sumbing Gerhana menyahut, "Jadi, sang ketua mau sufaya tomwak fusaka itu jatuh ke tangan kita?!"

"Betul! Karena itu aku akan mengutus orang untuk merebutnya dari tangan Hantu Laut! Lebih baik merebut pusaka itu dari tangan Hantu Laut, ketimbang dari tangan Jangkar Langit. Karena jika pusaka itu sudah sampai di tangan Jangkar Langit, maka kita akan lebih sulit lagi merebutnya!"

"Jika begitu, kita harus lebih cepat sampai di Pulau Beliung sebelum Jangkar Langit tiba di sana, Ketua!"

"Ya. Kita bisa potong jalur pelayaran melalui celah- celah Samudera Karang!"

"Samudera Karang...?!" Sumbing Gerhana menggumam sendiri, lalu berkata kepada sang ketua, "Itu jalur yang werwahaya untuk dilewati sewuah kafal, Ketua!"

"Kita tidak mengenal jalur berbahaya!" suara Siluman Tujuh Nyawa menyentak sambil hentakkan kakinya ke lantai geladak! Kapal terguncang, beberapa orang yang berdiri sempat terpelanting jatuh. Kemudian mereka saling tundukkan kepala dengan rasa takut. Siluman Tujuh Nyawa ucapkan kata lagi dengan nada lebih tenang, "Kita juga harus selamatkan Pulau Beliung agar tidak dikuasai oleh siapa pun kecuali oleh kita sendiri. Di sana sudah ada istana, dan bisa dijadikan pos pertahanan bagi kita di wilayah barat!"

"Saya sangat setuju," kata Nakhoda Salju, ia berusaha ambil hati agar tak kena bentak dan murka sang ketua.

"Untuk itu aku akan tugaskan orang ke sana!"

Kini semua mata pandangi Siluman Tujuh Nyawa. Masing-masing hati bertanya siapa gerangan yang akan diutus untuk merebut Pusaka Tombak Maut dan mempertahankan Pulau Beliung. Mata Siluman Tujuh Nyawa pun memandangi orang-orangnya satu persatu. Kejap berikut Siluman Tujuh Nyawa lontarkan kata,

"Aku akan mengutus Doma dan Damu!"

Kedua pengawal kembar itu saling pandang. Wajahnya tidak kelihatan kecewa atau gembira. Wajah itu wajah kaku dan datar. Mungkin terbawa sikap orang yang dikawalnya setiap hari itu.

Siluman Tujuh Nyawa melangkahkan kaki menjauhi dua pemuda kembar yang semula ada di kanan-kirinya. Setelah itu, Siluman Tujuh Nyawa pan-dangi wajah kembar itu sambil ucapkan kata, "Kalian yang kuutus merebut Pusaka Tombak Maut dari tangan Hantu Laut. Jika Hantu Laut dan Dadung Amuk melawan, bantai mereka!"

"Baik, Ketua!" jawab Doma dengan tegas.

"Ingat, jangan sampai keduluan Jangkar Langit atau orang lain. Kalian harus lebih cepat merebut pusaka itu dari tangan Hantu Laut, dan tetaplah di sana untuk pertahankan Istana Cambuk Biru! Beri kabar lewat ilmu 'Rambah Angin' jika kalian sudah berhasil kuasai pusaka dan pulau itu! Kami akan datang  memperkuat pertahanan kalian!"

"Kami paham, Ketua!" jawab Doma lagi dengan sedikit membungkuk.

"Kalian akan kubekali Pusaka Cermin Benggala Kembar! Pergunakan cermin kembar itu untuk menghancurleburkan siapa saja yang menghalangi langkah kalian! Jangan tanggung-tanggung, dan jangan ragu-ragu! Tak boleh ada lawanmu yang lari dalam keadaan hidup-hidup. Siapa pun yang halangi kalian harus dibunuh! Tak ada kenal ampun sedikitpun, sekalipun terhadap lawan perempuan! Mengerti?"

"Mengerti, Ketua!" jawab Doma dan Damu bersamaan.

Lalu, sepasang pusaka yang dinamakan Cermin Benggala Kembar diserahkan oleh Siluman Tujuh Nyawa kepada Doma dan Damu. Cermin itu berupa bola kaca yang bertangkai satu jengkal warna hitam tangkainya. Bola kaca itu licin, mulus dan dapat untuk bercermin. Pada bagian atas tengah bola kaca sebesar satu genggaman tangan orang dewasa itu mempunyai lubang. Dari lubang itu bisa keluarkan senjata seperti mata tombak yang jika melesat dan mengenai lawan akibatnya sangat berbahaya.

Cermin Benggala Kembar itu juga bisa keluarkan sinar maut apabila mendapat saluran tenaga dalam dari pemegangnya. Dan jika kedua bola kaca itu diadukan, maka bola kaca itu tidak akan pecah melainkan mengeluarkan cahaya pelangi yang membias lebar dan jika terkena tubuh lawan, bisa membuat orang tersebut berubah menjadi patung batu untuk selama-lamanya.

Semua anak buah Siluman Tujuh Nyawa tahu, bahwa sang ketua memiliki pusaka-pusaka hebat, satu di antaranya adalah Cermin Benggala Kembar. Tapi baru kala itu, saat diserahkan kepada Doma dan Damu, mereka melihat wujud Pusaka Cermin Benggala Kembar, yang konon hanya bisa digunakan oleh orang yang lahir kembar saja.

"Dulu aku anak kembar seperti kalian," kata Siluman Tujuh Nyawa kepada Doma dan Damu. "Tapi kakakku tewas di tangan gurunya sendiri, dan gurunya segera tewas di tanganku. Karena aku sudah kehilangan saudara kembarku, maka Cermin Benggala Kembar ini tak bisa kugunakan. Hanya bisa kusimpan untuk suatu keperluan di kemudian hari. Dan ternyata keperluan itu datang juga, kalianlah yang berhak menggunakan Cermin Benggala Kembar ini!"

"Terima kasih, Ketua," jawab Damu sambil tundukkan kepala penuh hormat.

Siluman Tujuh Nyawa menyukai sikap hormat itu, hingga kedua bocah kembar itu ditepuk-tepuk punggungnya seraya Siluman Tujuh Nyawa ucapkan kata, "Berangkatlah! Aku percaya kalian pasti akan berhasil, karena kalian pasti tak ingin pulang menghadapku untuk serahkan nyawa!"

Kata-kata itu mempunyai arti yang membuat bulu kuduk merinding. Semua orang-orangnya Siluman Tujuh Nyawa tahu arti kata-kata tersebut, bahwa Doma dan Damu harus berhasil merebut Pusaka Tombak Maut dari tangan siapa pun pemegangnya. Jika mereka tidak berhasil dan pulang kepada sang ketua, maka sang ketua akan membunuh mereka berdua. Itu berarti tugas tersebut taruhannya nyawa mereka.

Sehari setelah keberangkatan Doma dan Damu, kapal berbendera hitam itu berpapasan dengan perahu berlayar hijau. Perahu itu juga memakai lambang gambar tengkorak dengan tujuh mata rantai mengelilingi kepala tengkorak tersebut. Mereka terkejut, bahkan wajah mereka menjadi tegang, karena saat itu Nakhoda Salju berseru kepada orang-orang geladak,

"Perahu berlayar hijau mendekat! Siapkan semua senjata!"

Anak buahnya segera berkata, "Mengapa siapkan senjata, Nakhoda? Bukankah perahu itu bersimbol seperti simbol layar kita? Berarti perahu itu adalah sekutu kita juga, teman kita juga...!"

Plakkk...! Nakhoda Salju menampar keras wajah anak buahnya, lalu lontarkan bentak keras, "Bodoh! Itu perahunya Dadung Amuk!"

"Siafa yang datang?!" Sumbing Gerhana cepat muncul dari dalam lambung kapal.

"Dadung Amuk! Perahunya mendekati kita!" seru Sumbing Gerhana memandang baik-baik perahu berlayar hijau itu. Setelah yakin betul bahwa perahu itu adalah perahunya Dadung Amuk, dan terlihat Dadung Amuk berdiri di haluan, maka Sumbing Gerhana segera kerahkan anak buahnya untuk siap-siap melawan Dadung Amuk.

"Cefat amwil senjatamu! Jangan wengong saja!" bentak Sumbing Gerhana. Orang itu menggeragap dan cepat-cepat ambil tombak serta perisai di tempatnya.

Kepada bagian urusan senjata Sumbing Gerhana membentak pula, "Mengafa kamu tidak fegang senjata?!"

"Saya tidak dapat bagian, Tuan. Kehabisan senjata!"

"Jadi kamu welum dapat senjata?"

"Welum!"

Plookk...!

"Jangan ikut-ikutan wicaraku, Setan! Cefat cari senjata afa saja! Lindungi dirimu dari amukan Dadung Amuk itu!"

"Waik, Tuan!"

Plookk...!

"Kuwilang, jangan ikut-ikutan wicaraku! Wisa ku wunuh kau!"

Dadung Amuk segera melompat ke kapal dengan hanya satu kali hentakan kecil kakinya. Jleg...! Ia tiba di tepian geladak, tapi segera dikurung oleh mereka yang sudah siap dengan senjata masing-masing. Dadung Amuk asli menjadi heran dan pandangi mereka masing- masing dengan tajam. Orang yang mudah tersinggung itu segera membentak salah satu anak buah Sumbing Gerhana.

"Apa-apaan ini?! Kau pikir aku ini maling?! Pakai dikepung segala?! Ayo bubar...! Bubar...!"

Tapi tak satu pun ada yang mau bubar. Dadung Amuk menggeram. "Sumbing Gerhana?! Apa maksudmu menyuruh orangmu mengepungku, ha?!" Mata Dadung Amuk mendelik menyeramkan.

"Aku yang wertanggung jawaw atas keamanan di kafal ini!"

"Aku tahu! Tapi kenapa sikap kalian menyerangku?!"

"Jangan werfura-fura wodoh, Dadung Amuk! Ini menunjukkan wahwa kami lewih siaf dari fada kamu! Sewelum kamu wertindak, kami sudah lewih dulu tangkaf kamu!"

"Tangkaf, tangkaf...! Gundulmu itu yang ditangkaf!" sentak Dadung Amuk dengan mata makin melotot. "Bubar semua! Bubar!"

"Tangkaf...!" teriak Sumbing Gerhana.

"Bubar!"

"Tangkaf dulu waru wuwar...!"

Melihat orang-orang pengepung mulai bergerak, Dadung Amuk cepat meraih tali tambang yang digantungkan di pundak kirinya. Werrt...! Tali tambang tiga gulungan itu segera digelar siap disabetkan ke arah siap saja yang bergerak maju.

Orang-orang pengepung itu tahu betul seberapa tinggi ilmunya Dadung Amuk. Mereka sempat gentar juga melihat mata Dadung Amuk jelalatan ke mana-mana, penuh nafsu untuk membunuh siapa pun yang mendekati dirinya. Tapi mereka ngeri juga jika kena labrak Sumbing Gerhana yang tidak pernah pandang bulu itu. Akibatnya, para pengepung hanya bergerak memutar, memutar, memutar, dan begitu seterusnya sambil siap- siap dengan senjata masing-masing.

"Ayo, maju!" bentak Dadung Amuk dalam ancamannya. "Majulah kalau ada yang ingin pecah kepalanya!"

Mereka terus bergerak memutar setindak demi setindak, berganti-ganti jurus siaga, berganti-ganti sikap kuda-kuda, memandangkan matanya penuh keragu-raguan. Sebagian besar para pengepung itu berharap Sumbing Gerhana batalkan perintah menangkap Dadung Amuk, sebagian lagi berharap agar sang ketua cepat menengahi ketegangan itu.

Tapi agaknya Sumbing Gerhana tidak mau mencabut perintahnya, ia bahkan makin keraskan suaranya yang tak beres dalam pengucapannya itu, "Tangkaf...! Cefat tangkaf!"

Salah seorang memberanikan diri segera melompat dengan satu tebasan golok ke arah pundak Dadung Amuk. Wuttt...!

Tapi Dadung Amuk lebih cepat gerakan tangannya menyabetkan tambang sebesar ibu jari kakinya itu, dan tambang tersebut menghantam tepat di pertengahan kepala orang tersebut.

Plakkk...!

Terdengar suara kepala pecah bagai dihantam dengan besi baja. Lalu disusul suara berdebam dari jatuhnya tubuh orang itu ke lantai geladak yang terbuat dari papan tebal itu.

Bruakk...!

Semua mata tertuju ke arah orang yang jatuh itu. Semua mata terkesiap melihat orang itu tak mau berteriak sedikit pun, hanya menggelepar sebentar untuk kemudian diam tak bergerak lagi. Kepalanya remuk tanpa bentuk, bagai semangka jatuh dari pucuk pohon yang paling tinggi.

"Siapa lagi yang mau seperti dia?!" sentak Dadung Amuk sambil mata lebarnya melirik ke sana-sini dengan buas.

"Jangan takut!" seru Sumbing Gerhana kepada para pengepung. "Serang dia wersama-sama! Serwu...!"

"Apa itu serwu?" bisik seseorang.

"Serbu, Goblok!" jawab temannya.

Tapi perintah serbu itu tetap hanya sekadar perintah. Tak satu pun para pengepung yang berani maju satu tindak dari batas lingkar kepungan. Karena Dadung Amuk mulai putar- putarkan tambangnya di atas kepala bagai ingin menjerat seekor banteng liar. Putaran tambang itu menimbulkan percikan-percikan api di bagian ujung tambang, pertanda kekuatan tenaga dalam telah siap menggempur lebih hebat dan lebih dahsyat lagi dari yang tadi.

"Lepaskan tambangmu, atau kau menghadapi aku!" Suara datar tanpa tekanan itu terdengar jelas.

Dadung Amuk segera palingkan wajah. Ternyata Siluman Tujuh Nyawa telah berdiri di belakangnya, masuk dalam lingkaran kepungan tersebut, ia berdiri dengan tegak, wajah mudanya yang putih berbibir biru itu terlihat jelas walau tetap mengenakan kerudung jubah hitam dari atas kepala sampai kaki. Tongkat Pusaka El Maut ada di tangan kanannya, berdiri sebatas tinggi tubuh pemegangnya.

Melihat kemunculan sang ketua, Dadung Amuk surutkan kemarahannya, ia tak berani menentang wajah beku itu. Tambangnya pun berhenti berputar, tapi masih dalam genggamannya. Kebuasan sorot pandangan matanya pun redup, bagai lilin tertiup badai.

"Kataku tadi, lepaskan tambangmu atau kau hadapi aku!" ulang sang ketua tetap dengan nada dingin.

Dadang Amuk belum melepaskan tambang, tapi sudah kendor pegangannya. Mulutnya sulit untuk mengucapkan sesuatu di dapan sang ketua. Sinar mata dingin dari sang ketua bagaikan membekukan darahnya, membuat kejang urat-urat di mulutnya. Lidah pun terasa sangat kaku, sulit untuk digerakkan.

Kejap berikutnya, Dadung Amuk tersentak kaget. Sang ketua melompat ke arahnya begitu cepat. Bergerak mengelilinginya bagai kilasan cahaya petir. Wu wu wu wu wuttt...!

Sang ketua segera kembali ke tempatnya tanpa napas terengah. Tetap tenang dan dingin. Tetapi tubuh Dadung Amuk telah terjerat tambangnya sendiri. Tambang itu melilit dan mengikat kedua tangannya sehingga tak bisa digerakkan lagi. Bahkan kedua kakinya pun jadi merapat dan terikat kuat.

Bukan hanya Dadung Amuk yang terbengong melompong dalam keheranan yang amat tinggi, tetapi para pengepung, termasuk Sumbing Gerhana dan Nakhoda Salju, juga tertegun bagai tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nakhoda Salju membatin di hatinya,

"Edan betul! Begitu cepat gerakan sang ketua. Tak sempat aku berkedip dua kali, tahu-tahu tubuh Dadung Amuk sudah terikat tak bisa bergerak sedikit pun! Sungguh merupakan gerakan tercepat dari seluruh gerakan manusia yang pernah kulihat!"

Dadung Amuk gemetar setelah mengetahui tubuhnya telah terikat. Wajah buasnya menjadi pucat bagai selembar kertas putih. Karena ketika ia mencoba untuk bergerak melepaskan tambang pengikat dengan hentakkan tenaga dalamnya, ternyata tambang itu tak bergeming dari tempatnya. Tambang itu mengikat sekujur tubuh bagai ingin menembus kulit dan dagingnya.

"Apa salahku, sang Ketua? Mengapa aku diikat begini?!"

Sang ketua tidak menjawab, tapi justru memerintah kepada Sumbing Gerhana, "Siapkan tali gantungan!"

"Waik, Ketua," jawab Sumbing Gerhana, lalu cepat-cepat ia perintahkan kepada anak buahnya untuk menyiapkan tali gantungan.

Dadung Amuk makin tersentak kaget. Kakinya gemetaran sehingga mulutnya tak bisa dipakai bicara dengan lancar. "Ap... ap... ap... apa salah... saa... saya...? Meng... mengapa saya mau di... di... digantung? Sssa... saya... saya tidak bersalah apa-apa. Kal... ka lau... kalau memang saya ada salah, mohon di... di. diadili secara adil!"

"Pengadilanku hanya ada di atas tiang gantungan!" kata sang ketua dengan cepat dan tegas. Lalu segera perintahkan kepada para pengepung yang masih melingkari Dadung Amuk. "Seret dia!"

"Ketua...!" teriak Dadung Amuk, tapi tubuhnya sudah lebih dulu rubuh didorong tiga pengepung, kemudian tubuh itu diseret ramai-ramai mendekati tali gantungan yang sudah disiapkan.

Tali gantungan yang sudah biasa untuk menggantung orang itu berada di atas sebuah kotak papan. Kotak papan itu mempunyai penutup yang sewaktu-waktu bisa terbuka turun ke bawah jika besi pengaitnya disentakkan ke bawah. Dengan begitu orang yang berdiri di atasnya akan tergantung karena tidak mempunyai lantai berpijak lagi.

Di atas peti penggantungan, di bawah tali gantungan, Dadung Amuk masih mencoba membela dirinya dengan berkata, "Ketua, saya... saya memang belum mendapatkan Kitab Wedar Kesuma itu dan... dan memang belum membunuh Suto Sinting. Tapi... tapi saya sudah tahu di mana adanya kitab itu! Saya sudah tahu, siapa orang yang bernama Suto Sinting itu! Tugas akan saya jalankan secepatnya setelah saya minta izin kepada Ketua untuk mencegatnya ke Pulau Serindu!"

Tali gantungan segera dikalungkan dileher Dadung Amuk. Namun masih saja Dadung Amuk membela diri dengan suara ngotot. "Saya bukan tidak mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh Ketua. Saya cuma mau minta izin dulu dalam menentukan langkah saya. Jadi, mohon Ketua tidak gegabah dalam mengadili saya. Saya...."

"Tutup mulutmu!" bentak sang ketua, dan Dadung Amuk diam seketika bagaikan suara jangkrik terinjak kaki manusia.

"Sayang sekali Hantu Laut tidak ikut menyaksikan penggantungan ini. Kalau Hantu Laut ikut saksikan hukumanmu ini, maka dia akan berpikir dua kali untuk mencoba melawanku!"

"Saya... saya tidak tahu maksud kata-kata ketua. Saya tidak tahu tentang Hantu Laut, dan...!"

Jrekk...! Sang ketua sentakkan besi pengait kebawah. Lantai yang diinjak Dadung Amuk itu terbuka. Kaki Dadung Amuk tidak mendapatkan tempat berpijak, sedangkan tali yang melingkar di lehernya itu tersentak membentuk jeratan yang amat kuat. Kaki Dadung Amuk menggelinjang-gelinjang beberapa saat, setelah itu diam tak bergerak lagi dengan mulut sedikit terbuka dan lidah terjulur keluar. Dadung Amuk mati di tiang gantungan karena wajahnya mirip dengan Singo Bodong yang pongah, lugu, dan tidak mempunyai ilmu apa-apa itu.

* * *

LIMA
ORANG pertama yang melesat menuju Pulau Beliung bertolak dari kapal Siluman Tujuh Nyawa adalah Dayang Kesumat. Perempuan cantik jelita itu mengarungi samudera lepas dengan mengendarai sebatang pelepah daun kelapa. Jika bukan orang berilmu tinggi, hal itu sangat tidak mungkin bisa dilakukan.

Pelepah daun kelapa itu bergerak dengan cepat. Baju jubah sutera warna biru transparan itu berkelebat-kelebat menyingkap bagai selembar bendera indah, atau bagai sayap kupu-kupu cantik. Hal itu sangat mengagumkan bagi orang yang melihatnya. Apalagi pelepah daun kelapa itu membawa sosok perempuan cantik yang wajah dan potongan tubuhnya menggiurkan setiap lelaki.

Dan laki-laki yang terkesima dan kagum dengan keindahan itu berada di sebuah kapal berbendera naga warna merah. Kapal itu sama besarnya dengan kapal Siluman Tujuh Nyawa, tetapi hanya mempunyai dua tiang layar. Setiap satu tiang layar mempunyai dua lembar layar dengan warna putih kusam. Di atas layar- layar itulah terpancang dua bendera merah bergambar naga. Itulah kapal yang dikenal oleh tokoh rimba persilatan sebagai Kapal Bajak Naga.

Kapal itu dipimpin oleh seorang lelaki yang usianya sekitar enam puluh tahun dengan rambut abu-abu tanpa ikat kepala. Rambut itu pendek dan lurus lemas. Orang itu berpakaian serba hitam, badannya sedang, matanya lebar, kumisnya turun sampai ke dagu. Orang itulah yang dikenal dengan julukan si Tua Rakus.

Di antara jajaran tokoh tua rimba persilatan, nama Tua Rakus sudah bukan hal asing lagi bagi mereka. Dia tokoh yang paling menyebalkan. Matanya hanya satu, yang kiri ditutup dengan sesobek kulit warna hitam. Tapi matanya yang masih utuh itu sangat liar dan rakus jika melihat harta, wanita, dan kejayaan. Tua Rakus punya sifat iri yang berlebihan, sehingga dalam memimpin rombongan bajak laut itu, Tua Rakus selalu berusaha untuk lebih kondang dari Siluman Tujuh Nyawa. Pelayarannya dan keganasannya hanya semata-mata untuk mencari nama, agar ia lebih dikenal dan lebih ditakuti dari Siluman Tujuh Nyawa.

Wilayah jelajahnya meliputi perairan laut timur tanah Jawa. Tetapi kali ini agaknya ia sengaja berlayar di perairan laut utara. Sejak berusia enam belas tahun, si Tua Rakus sudah mempunyai kesenangan memperkosa perempuan. Sampai seusia sekarang, kegemaran itu masih berkelanjutan. Cukup banyak perempuan di wilayah timur yang menjadi korban keganasan nafsu si Tua Rakus itu. Dan agaknya ia sedang melarikan diri dari kejaran dendam seseorang yang merasa dirugikan oleh kegemaran memperkosanya itu.

Bukan hal aneh lagi jika si Tua Rakus tak mau kedipkan matanya ketika melihat Dayang Kesumat melesat di atas belarak, atau pelepah daun kelapa kering. Bukan ketinggian ilmu Dayang Kesumat yang menjadi pusat perhatian si Tua Rakus, melainkan kecantikan dan bentuk tubuh Dayang Kesumat yang membuat mata si Tua Rakus lupa berkedip. Bahkan lidahnya beberapa kali menyapu bibirnya yang sudah mulai dihinggapi keriput pada bagian sudut dan tepiannya.

"Waduuuk...!" serunya memanggil sang anak buah.

Orang kurus yang berjuluk Waduk Kebo itu cepat menyahut dari samping haluan dan segera berlari menghadap si Tua Rakus. "Saya di sini, Yang Mulia!"

"Waduk, coba kau perhatikan perempuan yang melintas di sebelah sana itu! Apakah menurutmu dia cantik?!"

"Cantik, Yang Mulia!" jawab Waduk Kebo dengan cepat.

Si Tua Rakus mendorong kepala Waduk Kebo dengan keras sambil sentakkan kata, "Dilihat dulu baru dijawab...!"

Waduk Kebo tersentak kepalanya, kemudian ia sipitkan matanya ke arah yang dituding Tua Rakus, setelah itu dia menjawab ulang, "Cantik, Yang Mulia!"

"Menggairahkan?"

"Sangat menggairahkan, Yang Mulia!"

"Bagus! Kalau begitu, panggil dia supaya kemari!" perintah si Tua Rakus.

Waduk Kebo cepat berdiri dengan kaki merapat. Matanya terpejam, kedua tangannya bersidekap di dada. Cukup lama Waduk Kebo mengheningkan cipta. Tua Rakus menunggu dengan rasa tak sabar, hingga ia terpaksa berjalan mondar-mandir di belakang Waduk Kebo.

Dayang Kesumat bukan tidak tahu ada kapal di dekatnya. Ia sangat paham, kapal itu adalah Kapal Bajak Naga yang diketuai oleh si Tua Rakus. Tapi Dayang Kesumat tidak mau mengusik kapal itu. Ia lebih mementingkan diri untuk cepat temui Dadung Amuk di Pulau Beliung, ia tidak tahu bahwa Dadung Amuk yang asli sudah mati digantung sang ketua.

Laju pelepah daun kelapa itu terasa tersendat-sendat. Dayang Kesumat mulai curiga, ia semakin kerahkan ilmu 'Lancang Bumi', yaitu ilmu yang mendorong telapak kakinya untuk bergerak sendiri dengan satu dorongan kuat. Tetapi ilmu 'Lancang Bumi" itu bagaikan tidak berguna lagi. Laju pelepah daun kelapa justru terhenti, bahkan sekarang bergerak mundur, dari lambat makin lama makin cepat.

"Setan alas! Pasti orang-orang di Kapal Bajak Naga itu yang menggangguku dengan menggunakan ilmu Rantai Batin!"

Dayang Kesumat bergerak mundur. Tapi ia segera pejamkan mata dengan menarik napas dalam-dalam dan menahannya. Kedua tangannya menggenggam kuat-kuat. Gerakan mundurnya terhenti, tapi tak bisa maju lagi. Sepertinya telah terjadi saling tarik-menarik melalui kekuatan batin yang membuat tubuh Dayang Kesumat tak bisa bergerak. Waduk Kebo menarik ke belakang, Dayang Kesumat mendorong diri agar maju ke depan.

Makin lama sikap berdiri Waduk Kebo makin bergeser maju. Telapak kakinya yang merapat di lantai geladak itu bagaikan terseret maju sedikit demi sedikit. Si Tua Rakus terkesiap ketika melihat keadaan Waduk Kebo. Bahkan semakin lama tubuh Waduk Kebo semakin mendekati pagar pembatas geladak.

Dayang Kesumat tetap pejamkan matanya dengan kedua tangan menggenggam kuat di samping kanan-kiri. Ia membelakangi Kapal Bajak Naga. Ia berusaha bertahan diri agar tidak tertarik oleh kekuatan ilmu Rantai Batin.

Pagar pembatas geladak terbuat dari kayu jati. Kayu itu retak ketika tubuh Waduk Kebo semakin terseret ke depan dan menekan kayu pagar. Hampir saja tubuhnya terjungkal ke lautan jika ia tidak segera kembangkan tangannya. Tangan yang semula bersidekap di dada itu kali ini dilepaskan, lalu keduanya menghadap ke depan dengan telapak tangan terbuka. Kedua tangan itu gemetar dan bergerak ke belakang sedikit demi sedikit. Keringat Waduk Kebo mulai bercucuran di bagian kening, pelipis, dan lehernya.

Pada saat itu, Dayang Kesumat semakin tertarik ke belakang dalam keadaan mundur. Makin lama makin dekat dengan lambung kapal. Menyadari kekuatan 'Lancang Bumi'-nya kalah dengan kekuatan 'Rantai Batin' milik lawan, Dayang Kesumat cepat sentakkan ujung jempol kakinya ke pelepah daun kelapa, dan tiba-tiba tubuhnya melenting ke atas dengan bersalto dua kali.

Wuhgg...! Wuhhg...!

Jlegg...! Dayang Kesumat hinggap di kedua pundak Waduk Kebo. Lalu, dengan sentakan keras tangannya menghantam ubun-ubun Waduk Kebo. Bett...! Waduk Kebo cepat menadahkan satu tangannya ke kepala.

Tapp...!

Pukulan Dayang Kesumat ditangkap cepat oleh Waduk Kebo, lalu tangan itu disentakkan ke atas dan Dayang Kesumat bagaikan terpental naik. Tapi perempuan itu dengan lincahnya berjungkir balik di udara dua kali, tahu-tahu hinggap di lantai bawah tiang layar.

Para anak buah si Tua Rakus terkagum-kagum melihat gerakan lincah dan kekuatan batin perempuan cantik itu. Tapi mereka merasa lega setelah melihat jelas bahwa Waduk Kebo bisa mengatasi perlawanan yang diberikan oleh Dayang Kesumat.

"Cukup hebat pula ilmumu, Nona manis," sapa si Tua Rakus, ia tersenyum penuh rasa bangga, karena Waduk Kebo, anak buahnya, mampu mengalahkan kekuatan batin Dayang Kesumat. Bahkan si Tua Rakus tambahkan kata, "Tapi betapapun hebatnya ilmumu, tak akan bisa mengalahkan kekuatan yang ada pada anak buahku yang satu itu!"

Si Tua Rakus memuji sekaligus membanggakan Waduk Kebo. Tapi pada saat ia menuding Waduk Kebo dalam pujiannya, tiba-tiba mata si Tua Rakus terkesiap melihat Waduk Kebo jatuh berlutut. Kepalanya tertunduk, tangannya terjuntai lemas. Dan orang-orang kapal yang ada di sekelilingnya juga terkejut melihat Waduk Kebo tertunduk, jatuh berlutut dalam keadaan badan tetap tegak.

"Kenapa dia?" tanya si Tua Rakus.

Salah seorang dari mereka yang berkerumun menjawab, "Mungkin mengantuk!"

Memang keadaan Waduk Kebo seperti orang mengantuk. Tunduknya kepala dengan terkulai lemas, juga kedua tangannya yang bagai tak bertulang lagi itu. Tetapi mata si Tua Rakus segera menyipit curiga. Ia melihat ada kepulan asap di kedua pundak Waduk Kebo. Cepat-cepat ia memeriksa pundak itu dengan membuka sebagian baju Waduk Kebo.

"Jahanam...!" si Tua Rakus menggeramkan suara dengan mata terbelalak lebar, ia melihat kulit pundak kanan-kiri Waduk Kebo itu melepuh biru. Bagian tengahnya sedikit mengeluarkan busa yang berasap. Tiba-tiba tubuh Waduk Kebo itu rubuh ke depan.

Brukk...!

Semua orang yang memandang segera sentakkan badan mundur ke belakang. Waduk Kebo terkulai tak berkutik. Si Tua Rakus semakin belalakkan mata dengan dahi berkerut kuat. Lalu, ia cepat berdiri dan palingkan wajah beringasnya setelah memeriksa sebentar keadaan Waduk Kebo. Dengan suara berat ia ucapkan kata yang membuat semua orang di kapal itu bergumam serempak,

"Kau telah membunuh Waduk Kebo...!"

"Hahhh...!" seru semua orang serempak. Suara mereka berubah saling kasak-kusuk dan bergemuruh seperti sejuta lebah.

Si Tua Rakus serukan kata keras-keras, "Perempuan Iblis kau rupanya, hah?!" Seruan itu membuat suara gemuruh diam seketika. Sepi tercipta selama tiga helaan napas.

Dayang Kesumat sunggingkan senyum sinis kepada si Tua Rakus yang memancarkan kemarahan besar. Lalu dengan suaranya yang tenang, Dayang Kesumat ucapkan kata,

"Aku tahu, Waduk Kebo adalah anak mas bagimu, olang unggulanmu dalam soal memanggil pelempuan! Waduk Kebo adalah tangan kananmu dalam hal menjinakkan pelempuan. Dia punya segudang ilmu pelet dan penyilep sukma, sehingga setiap pelempuan mau tunduk padamu dan mau melayani nafsumu. Tapi jangan samakan aku dengan kolban-kolbanmu, Tua Lakus! Kau salah alamat jika ingin mempelkosaku, seperti kau mempelkosa pelempuan-pelempuan lainnya!"

Diam-diam si Tua Rakus membatin, "Aneh betul perempuan ini! Dia tahu namaku! Dia juga tahu nama Waduk Kebo dan jabatannya. Dia juga tahu bahwa selama ini Waduk Kebo-lah yang bertugas menjinakkan perempuan yang ingin kutiduri! Siapa dia sebenarnya? Aku merasa belum pernah melihatnya?! Bertemu pun rasanya baru kali ini!"

Dua orang ingin membuktikan kebenaran kata-kata si Tua Rakus tentang kematian Waduk Kebo itu. Mereka lalu memeriksanya. Salah satu ada yang menyentuh busa di tengah luka memar membiru itu. Tiba-tiba orang tersebut memekik kesakitan. Jari telunjuknya melepuh. Orang itu melompat-lompat seperti tersundut api yang amat panas. Bahkan ketika diperiksa oleh si Tua Rakus, ternyata jari telunjuk orang itu menjadi hitam, membusuk pada bagian ujungnya. Cepat sekali gerakan busuknya itu, sehingga dalam beberapa kejap jari itu putus dalam satu ruas. Pluk...! Jatuh di lantai geladak, membuat semua mata yang memandangnya tersentak lebar-lebar.

Si Tua Rakus merasa semakin dilecehkan dengan kejadian itu. Ia cepat pandangi Dayang Kesumat dan menggeram kata,"Rupanya kau murid dari si Jejak Setan! Aku tahu, hanya si Jejak Setan yang mempunyai ilmu beracun seperti ini, yang dinamakan jurus 'Tapak Peri'!"

"Aku Dayang Kesumat, bukan mulid si Jejak Setan!"

"Bohong! Kau pasti murid si Jejak Setan!" bentak si Tua Rakus.

"Jejak Setan sudah mati dalam peltalungan dengan Swaladipa!" kata Dayang Kesumat.

Makin berkerut-kerut dahi si Tua Rakus mendengar perempuan muda yang cantik jelita itu mengenal nama Swaladipa, penguasa Tanjung Keramat itu. Hanya tokoh-tokoh tua saja yang mengenal nama Swaladipa. "Jadi, murid siapa perempuan cantik menggairahkan itu?" pikir Tua Rakus dalam ketermenungannya.

"Persetan murid siapa kau sebenarnya, yang jelas kau telah berhutang nyawa kepadaku atas kematian anak buahku ini!"

"Siapa yang mengawali pelsoalan ini? Kau yang bikin pelkafa lebih dulu! Pasti kau yang suluh Waduk Kebo untuk menalik diliku!"

"Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang di atas kapal ini! Bukan untuk maksud jahat!" sangkal Tua Rakus.

"Belsenang-senang sambil mempelkosaku?"

"Kalau kau bersedia, aku tidak keberatan!"

"Galilah celmin dan mengacalah. Tua Lakus!" ejek Dayang Kesumat. "Aku masih bisa cali hibulan dan kehangatan dali plia yang muda dan lebih tampan lagi dali cecongolmu!"

Seorang berpakaian merah dengan kumis melintang tebal membentak Dayang Kesumat. "Hei, bicara yang sopan dengan Yang Mulia! Jangan seenak bacotmu saja!"

Dayang Kesumat hanya sunggingkan senyum tipis dan sinis, ia segera ucapkan kata, "Jangan coba-coba menghaldikku, Laja Tebas! Jika Waduk Kebo saja bisa kubunuh secepat itu, apalagi kamu. Aku tahu, ilmumu masih di bawah Waduk Kebo, Laja Tebas! Kau hanya unggul di pelmainan pedangmu saja! Tapi ilmu tenaga dalammu masih nol!"

"Setan kurap!" geram Raja Tebas. Cepat-cepat ia mencabut pedangnya untuk menebas kepala Dayang Kesumat.

Tapi, Tua Rakus angkat tangannya tanda melarang Raja Tebas menyerang Dayang Kesumat. Dalam hati Tua Rakus pun berkata, "Aneh sekali. Dia juga tahu nama Raja Tebas dan kekuatannya dalam bermain pedang. Dia bisa mengerti seberapa tinggi ilmu Raja Tebas dibandingkan Waduk Kebo! Siapa perempuan ini sebenarnya? Aku benar-benar tak bisa menerkanya!"

Terdengar Dayang Kesumat bicara dengan Tua Rakus, "Jika kau memang punya niat mau pelkosa aku, sebaiknya batalkan saja niatmu itu, Tua Lakus. Bialkan aku teluskan peljalanan. Jangan bikin pelsoalan denganku. Nanti anak buahmu habis di tanganku!"

"Tidak bisa! Kau harus menebus nyawa Waduk Kebo dengan menyerahkan kemesraanmu dua malam bersamaku di kapal ini!"

"Aku kebelatan!"

"Aku tidak peduli! Tinggal pilih, kau layani aku di kapal ini dua malam atau kau mati di tanganku?"

"Kupilih, kau yang mati di tanganku, Tua Lakus!"

"Keparat!" geram Tua Rakus sambil menggeletakkan giginya. Lalu, ia keluarkan perintah kepada anak buahnya, "Serang dia...! Bunuh!"

"Heaaa...!" Mereka cepat mencabut senjata masing- masing dan melompat menyerang Dayang Kesumat. Wuurrr...!

Dayang Kesumat segera lompat dengan berpegangan pada seutas tambang layar yang menggantung. Dengan tambang itu, ia laksana terbang di atas kepala orang-orang yang menyerangnya secara bersamaan. Dalam keadaan melayang begitu, Dayang Kesumat kelebatkan tangannya seperti orang menaburkan sesuatu dengan cepat. Lalu dari tangan itu keluarlah ratusan ekor kunang-kunang. Kunang-kunang itu jatuh dan hinggap di kepala mereka, sehingga kepala mereka menjadi berpijar-pijar nyala hijau kekuningan.

Mereka seperti memakai mahkota, dan kelihatan indah. Namun beberapa kejap berikutnya mereka saling menjerit, berteriak kesakitan, bahkan saling berguling-gulingan di lantai geladak. Ratusan kunang-kunang itu meresap masuk di kepala mereka bagai bersarang ke dalam kepala. Setiap satu kepala, jumlahnya lebih dari lima puluh kunang-kunang. Dan kepala mereka menjadi bengkak, kulitnya bergerak-gerak bagaikan ada binatang yang saling berdesak menggerogoti apa saja yang ditemukan di dalam kepala itu. Mereka menggelepar-gelepar dalam tujuh hitungan, kemudian mengejang dan selanjutnya terkulai lemas tak berkutik lagi. Mereka mati dengan kepala bagian dalam bagaikan digerogoti binatang aneh itu.

Dayang Kesumat sudah berdiri di atas atap barak. Ia menyaksikan mereka yang meregang nyawa dengan senyum sinis kemenangan. Sebagian dari mereka, termasuk Tua Rakus, cepat melarikan diri masuk ke dalam barak, atau bersembunyi di dalam tong-tong kayu. Mereka yang bersembunyi, lolos dari maut. Raja Tebas dan beberapa orang yang ilmunya sejajar dengannya, juga lolos dari maut.

Mereka yang sempat mendengar Tua Rakus berteriak, "Awaaas...! Racun Mahkota...!" segera cepat mengerti adanya bahaya.

Tapi bagi yang tidak mendengar, tidak mengerti adanya bahaya maut yang tak bisa ditangkis kecuali dihindari dengan cara sembunyikan kepala. Sebab, Tua Rakus tahu, bahwa jurus ilmu 'Racun Mahkota' berbentuk ratusan bahkan bisa ribuan kunang- kunang yang hinggap di kepala dan memakan habis isi kepala orang yang dihinggapi. Tapi Tua Rakus sama sekali tidak menduga bahwa Dayang Kesumat juga mempunyai jurus 'Racun Mahkota', yang sebenarnya hanya dimiliki oleh seorang tokoh sakti yang berjuluk Permeswari Bayangan.

Lebih dari lima belas anak buah Tua Rakus tergeletak mati dengan kepala keropos. Tua Rakus semakin murka kepada Dayang Kesumat, tapi ia tak mau gegabah menyerang, ia hadapi kembali Dayang Kesumat dan cepat berseru dalam suara marahnya,

"Perempuan liar...! Rupanya kau memang bukan murid si Jejak Setan, tapi murid Permeswari Bayangan! Karena aku tahu, jurus 'Racun Mahkota' hanya dia yang memilikinya!"

"Pelmeswali Bayangan telah dilobohkan oleh Ki Gendeng Sekalat, penguasa Pulau Mayat itu!"

"Hah...?!" Tua Rakus terkejut. "Kau kenal pula dengan Ki Gendeng Sekarat yang menguasai Pulau Mayat itu?!"

Bibir indah itu hanya sunggingkan senyum sinis dan berkesan angkuh. Lalu, ia ucapkan kata sombongnya. "Aku sangat kenal dengannya, kalena aku masih punya ulusan yang belum selesai dengan Ki Gendeng Sekalat itu! Tak lama lagi, dia pun akan mati di tanganku, semudah aku membunuhmu, Tua Lakus!"

Tiba-tiba Dayang Kesumat terdiam, matanya memandang tajam ke mata kanan Tua Rakus. Pandangan mata itu jelas beraliran tenaga dalam, seperti kala dilakukan terhadap Siluman Tujuh Nyawa. Dayang Kesumat ingin robohkan Tua Rakus lewat kekuatan matanya, tapi tiba-tiba ia tersentak mundur.

Tua Rakus buka mata kirinya yang tertutup kulit hitam itu, dan mata kiri itu memancarkan sinar biru dengan cepat. Zuttt...! Arahnya ke bola mata kanan Dayang Kesumat.

Tapi Dayang Kesumat segera sadar bahwa lawannya menggunakan kekuatan ilmu 'Sinar Naga Birawa'. Maka, cepat ia melesat ke atas untuk menghindari sinar biru dari lubang mata yang bolong tanpa bola mata itu.

Wuttt...! Jebbb...!

Gerakannya kurang cepat. Sinar biru dari lubang mata yang sejak tadi tertutup itu mengenai lambung Dayang Kesumat. Tubuh itu pun terpental jatuh dari atap barak. Dayang Kesumat segera menarik napasnya dengan cemas. Ternyata mulai terasa panas di bagian perut dan dadanya. Itu pertanda kekuatan daya hancur dari sinar biru itu mulai bekerja.

"Bisa mati kalau tidak segera kuobati sendiri!" pikir Dayang Kesumat setelah menyadari bahaya yang dapat merenggut nyawanya dalam waktu singkat itu. Maka, tanpa ragu-ragu lagi, Dayang Kesumat cepat melompat dan meceburkan diri ke laut.

Brasss...!

Ia jatuh di atas pelepah daun kelapa yang menjadi kendaraannya itu. Maka secepat kilat ia sentakkan tenaga dari ilmu 'Lancang Bumi'. Pelepah daun kelapa kering itu bergerak dengan cepat membawa lari Dayang Kesumat yang menderita luka cukup parah itu.

Sekalipun Tua Rakus mempunyai jurus handal yang dinamakan 'Sinar Naga Birawa' itu, tetapi ia tidak bisa mengejar Dayang Kesumat. Karena tenaga dalam Dayang Kesumat yang dilancarkan melalui pandangan matanya itu telah membuat Tua Rakus keluarkan darah hitam dan mulut dan hidungnya, sekejap setelah Dayang Kesumat melarikan diri.

Raja Tebas cepat membawa masuk Tua Rakus ke kamar dan memanggil Wisoguno, tabib unggulan rombongan Kapal Bajak Naga itu. Tapi bisakah Wisoguno sembuhkan Tua Rakus jika tenaga dalam Dayang Kesumat itu telah menghanguskan paru-paru Tua Rakus?

* * *

ENAM
GELOMBANG lautan cukup tenang, walau bergulung-gulung namun tidak sampai segunung. Di atas sebuah perahu berlayar satu, tapi mempunyai dua barak, yaitu di buritan dan haluan, tiga penumpangnya terasa nyaman menikmati pelayaran tersebut. Ketiga orang itu adalah murid sinting si Gila Tuak yang bernama Suto Sinting, atau yang dikenal dengan julukan Pendekar Mabuk, kemudian utusan dari Pulau Serindu yang pernah mendapat kehormatan dan gelar Duta Terpuji dari Ratu Kartika Wangi, dan orang itu dikenal dengan nama Dewa Racun. Bertubuh kerdil tapi berjiwa besar.

Dan, satu lagi penumpang perahu itu yang bertubuh gemuk, besar, berkepala gundul mengkilap, bermata besar dengan hidung bulat dan perut buncit yang tidak pernah mau pakai baju, yaitu Hantu Laut. Orang agak budek ini, adalah bekas anak buah Siluman Tujuh Nyawa. Dialah yang menimbulkan banyak korban sejak berhasil merebut Pusaka Tombak Maut dari tangan nakhoda Kapal Neraka, yaitu Tapak Baja. Dialah yang membunuh Tapak Baja sendiri dan mengobrak-abrik Pulau Beliung dengan Pusaka Tombak Maut itu.

Tetapi, pada akhirnya ia ditaklukkan oleh Suto Sinting, si Pendekar Mabuk yang ke mana-mana selalu membawa bumbung tempat tuak di punggungnya. Tombak pusaka itu sirna begitu saja setelah Suto menerjang Hantu Laut dengan menggunakan jurus tuak yang bernama jurus 'Sembur Siluman'. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tumbal Tanpa Kepala dan Pusaka Tombak Maut).

Hantu Laut ditaklukkan Pendekar Mabuk, dan kini justru menjadi pelayannya Suto, yang siap membantu dalam perjalanan laut. Karena Hantu Laut memang lebih menguasai tentang kelautan ketimbang Pendekar Mabuk dan Dewa Racun.

Sedangkan Singo Bodong, orang yang selama ini digembar-gemborkan sebagai kembarannya Dadung Amuk, lebih memilih tinggal di Pulau Beliung, karena Ratu Pekat ingin mengangkat Singo Bodong sebagai muridnya. Singo Bodong yang polos dan tidak mempunyai ilmu kanuragan sedikit pun itu, merasa lebih senang mendapat ilmu dan menjadi muridnya Ratu Pekat, ketimbang mengikuti Pendekar Mabuk ke Puri Gerbang Surgawi di Pulau Serindu, tanpa ada kepastian kapan ia akan bisa menjadi seorang pendekar. Singo Bodong memang sangat berkeinginan untuk menjadi seorang pendekar seperti Suto Sinting.

Karena di Pulau Beliung ada Hantu Laut yang mengamuk dengan Pusaka Tombak Maut, dan ada Singo Bodong yang mirip Dadung Amuk, maka Tabib Akhirat memberi kabar yang salah tentang Dadung Amuk. Itu sebabnya, Siluman Tujuh Nyawa menggantung Dadung Amuk karena dianggap akan menggulingkan kekuasaan dan memberontak bersama Hantu Laut.

Sejak Hantu Laut tidak lagi memiliki Pusaka Tombak Maut, niatnya untuk memberontak dan mengalahkan Siluman Tujuh Nyawa menjadi batal. Bahkan ia selalu dibayang-bayangi perasaan takut bertemu dengan Siluman Tujuh Nyawa. Merasa dirinya berilmu tak seberapa tinggi dibandingkan orang-orang utusan dan sekutunya Siluman Tujuh Nyawa, Hantu Laut sering berada tak jauh dari Pendekar Mabuk. Maksudnya, jika sekali waktu ia bertemu dengan orangnya Siluman Tujuh Nyawa, maka Suto Sinting pasti akan membelanya.

Pelayaran yang tenang dan damai itu tiba-tiba saja dikejutkan oleh teriakan Hantu Laut yang melompat tinggalkan haluan.

"Dadung Amuk...! Dadung Amuk datang...!" Ia buru-buru mendekati Suto yang sedang berbincang-bincang dengan Dewa Racun di bagian buritan. Mata Hantu Laut menjadi tegang, napasnya terengah-engah, dan ia kembali sebutkan, "Daung, eh... Dadung...! Dadung Amuk datang!"

"Mana dia?" tanya Suto sambil memandang sekelilingnya, ia tak melihat ada perahu atau kapal mendekat.

"Mana Dadung Amuk?!" tanya Pendekar Mabuk agak menyentak.

"Ada... ada di haluan. Di bawah sana...!"

Dewa Racun cepat sentakkan kakinya dan melesat pindah tempat ke haluan. Ketika ia menengok ke bawah, ke perairan yang biru bening itu, matanya terkesiap sekejap. Suto Sinting pun segera datang mendekatinya.

"Mayat...!" gumam Pendekar Mabuk, ia menatap mayat Dadung Amuk yang habis digantung dibuang begitu saja oleh Siluman Tujuh Nyawa. Wajahnya masih tampak membuka mulut dan menjulurkan lidah. Matanya putih. Tubuhnya masih terikat tali tambangnya sendiri. Mayat itu belum membusuk dan masih tampak segar.

Dewa Racun picingkan mata menatapi mayat yang mengambang itu. Lalu, ia berkata dengan suara gagapnya, "Sep... sep... sepertinya dia mati digantung. Ad... ada bekas jerat tali memerah di lehernya!"

"Ya. Dia mati digantung," jawab Suto. "Tapi oleh siapa dan mengapa dia digantung?"

"Apakah dia benar-benar sudah mati?" tanya Hantu Laut.

"Sudah!"

"Matinya dengan meludah?!" Hantu Laut salah dengar.

"Sudah...!" suara Suto diperkeras, barulah Hantu Laut paham maksud Pendekar Mabuk itu.

"Meng... meng... meng... mengapa kau takut kepada Dadung Amuk? Bukankah waktu Singo Bodong kau anggap Dadung Amuk, kau bilang bahwa Dadung Amuk orang yang paling baik denganmu, dan kebaikannya seperti saudara sendiri? Bahkan kau mau ajak kerja sama menggulingkan Siluman Tujuh Nyawa. Lalu, mengapa sekarang kkka... kaaau... kau ketakutan melihat Dadung Amuk yang ternyata sudah menjadi bangkai itu?"

"Dadung Amuk memang baik padaku. Tapi jika aku menentang kekuasaan sang ketua, belum tentu dia bersikap baik padaku. Sebab...."

"Sebab apa?" desak Suto setelah Hantu Laut berhenti bicara dan agak ragu melanjutkannya.

"Sebab... menurut kabar kasak-kusuk tak pasti... katanya Dadung Amuk adalah anak dari Siluman Tujuh Nyawa."

Suto dan Dewa Racun kernyitkan alisnya, memandangi Hantu Laut. Kemudian Suto ajukan tanya, "Dari mana kau pernah mendengar kabar itu?"

"Dari seorang tokoh tua, teman baiknya Jangkar Langit yang bernama Begawan Sangga Mega. Dalam percakapannya dengan Tapak Baja, sebelum Begawan Sangga Mega akhirnya dibunuh Tapak Baja sendiri, Begawan Sangga Mega mengatakan tentang hubungan anak dan bapak antara Dadung Amuk dengan Siluman Tujuh Nyawa."

"Mengapa Begawan Sangga Mega menceritakan hal itu kepada Tapak Baja?" tanya Suto yang merasa tertarik sekali dengan kabar tersebut.

"Karena...," kata Hantu Laut sambil mengingat-ingat peristiwa lama yang pernah dialami bersama Tapak Baja. "Karena..., pada waktu itu Tapak Baja ingin hak waris atas pusaka Pedang Guntur Biru. Tapi Begawan Sangga Mega tidak mau memberikan pusaka Pedang Guntur Biru kepada Tapak Baja. Sebab, menurut Begawan Sangga Mega, pedang itu memang warisan dari leluhurnya Siluman Tujuh Nyawa, dan akan diserahkan kepada Siluman Tujuh Nyawa jika ia sudah genap berusia tiga ratus tahun. Sekarang usianya baru dua ratus lima belas tahun...."

"Edan...!" cetus Dewa Racun terheran-heran. Ia geleng-gelengkan kepala mendengar usia Siluman Tujuh Nyawa. "Ternyata sud... dah... sudah sangat tua Durmala Sanca itu."

"Berarti usia guruku, si Gila Tuak, kurang lebih segitu!"

"Ck ck ck...?!" Dewa Racun berdecak keheranan. Perahu tetap melaju seirama angin lautan. Mereka bicara di haluan sambil Hantu Laut pegang kemudi.

Mayat Dadung Amuk sudah ditinggalkan oleh mereka, tak diurusnya lagi. Mereka lebih tertarik dengan keterangan yang diperoleh Hantu Laut kala masih menjadi orang bawahannya Tapak Baja.

"Teruskan ceritamu itu!" kata Pendekar Mabuk setelah meneguk tuaknya tiga kali. Maka, Hantu Laut pun melanjutkan ceritanya lagi.

"Setahuku, Tapak Baja mencoba membujuk Begawan Sangga Mega untuk bisa mendapatkan Pedang Guntur Biru itu. Tapi Begawan tetap tidak berikan, dan tidak kasih tahu di mana dia simpan Pedang Guntur Biru itu. Menurut Begawan, jika bukan Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa yang terima pedang itu, harus keturunannya Durmala Sanca. Menurut Begawan, Durmala Sanca mempunyai dua anak, walau bukan anak kembar, tapi dia punya dua anak dari dua perempuan yang tidak dikawininya secara resmi."

"Apakah Begawan Sangga Mega juga sebutkan nama anak itu?"

"Seingatku, Begawan Sangga Mega menyebutkan nama anak itu ialah Sugolo yang kemudian dikenal dengan nama Dadung Amuk, dan Sugali, yang tidak diketahui di mana tinggalnya."

Tiba-tiba Pendekar Mabuk dan Dewa Racun serempak kerutkan dahi serta saling pandang bernada heran. Kejap berikutnya, Suto berkata kepada Dewa Racun, "Seingatku, Sugali itu nama asli Singo Bodong! Ingatkah kau pada saat Singo Bodong ceritakan siapa namanya, siapa ibunya, dan mengapa ia disebut Singo Bodong, serta...."

"Iiyyy... iya, iya... aku ingat!" jawab Dewa Racun dengan bersemangat. "Sugali itu nama asli Singo Bodong, dan... dan... dan dia bilang ibunya sering sebut-sebut nama Arjuna sebagai ayah Singo Bodong, dan dijuluki Siluman oleh ibunya Singo Bodong, karena sang Arjuna itu tak pernah punya waktu tetap untuk menjenguk ibu Singo Bodong yang bekas... beka... bekas sinden zaman dulu!" (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Utusan Siluman Tujuh Nyawa)

"Kalau begitu, Singo Bodong itu kakak beradik dengan Dadung Amuk, hanya lain ibu tapi satu bapak?!" ujar Suto menyimpulkan keterangan itu.

"Tap.... tapi mereka seperti anak kembar saja?" kata Hantu Laut segera menyahut, "Menurut keterangan Begawan Sangga Mega, Durmala Sanca adalah anak kembar. Ia mempunyai kakak yang namanya aku tak ingat, tapi yang jelas dia sendiri yang bunuh kakaknya! Dia tak mau ada orang yang menyamainya, baik ilmunya maupun ketampanannya."

"Oh, bisa jadi darah keturunan kembarnya ada di wajah Singo Bodong dan Dadung Amuk!" kata Pendekar Mabuk.

"Jaa... ja... jadi, kalau Siluman Tujuh Nyawa mati, yang berhak menerima pusaka warisan leluhur berupa Pedang Guntur Biru itu Dadung Amuk atau Singo Bodong?"

"Ya," jawab Hantu Laut. "Tapi jika Siluman Tujuh Nyawa belum mati, hak waris masih ada di tangan Siluman Tujuh Nyawa!"

"Llla... la... la...."

"Lama?"

"Bukan! Llla... lalu, Begawan Sangga Mega itu sebenarnya siapa?"

"Paman dari Siluman Tujuh Nyawa!" jawab Hantu Laut. Tambahnya lagi, "Tapi Begawan Sangga Mega tidak suka dengan tingkah laku keponakannya yang sesat itu, sehingga ia tidak mau akui Durmala Sanca adalah keponakannya, ia malu kepada tokoh putih di rimba persilatan!"

"Hmmm...," Dewa Racun manggut-manggut sebentar. "Ter... terr... terus, apakah sampai sekarang tak ada yang tahu, di mana Pusaka Pedang Guntur Biru itu disimpan oleh Begawan Sangga Mega?"

"Seingatku, Begawan Sangga Mega tidak sebutkan di mana letaknya kepada Tapak Baja, yang membuat Tapak Baja menjadi marah dan membunuhnya. Seingatku, Begawan hanya katakan, bahwa Pedang Guntur Biru tak bisa dilihat oleh sembarang orang. Letaknya jauh dari hati pewarisnya!"

Dewa Racun termenung sambil menggumam, "Jauh dari hati pewarisnya? Tak bisa dilihat oleh sembarang orang...?" Lalu, ia segera menegur Suto yang seperti orang melamun sejak tadi,

"Ada se... se... sesuatu yang teringat di benakmu tentang arti kata-kata Begawan itu, Suto?"

"Entahlah," jawab Suto. "Yang kupikirkan, sekarang Dadung Amuk sudah mati, entah siapa yang menggantungnya, tak jelas buat kita. Lalu, kalau suatu saat nanti, aku berhasil membunuh Siluman Tujuh Nyawa karena urusan pribadiku yang menyangkut calon istriku dan yang menjadi ratumu itu, berarti tinggal Singo Bodong ahli waris yang berhak menerima Pedang Guntur Biru...."

Dewa Racun bertanya kepada Hantu Laut, "Apakah menurutmu ber... ber... berarti Singo Bodong harus berusia tiga ratus tahun juga?"

"Setahuku, Begawan Sangga Mega mengatakan bahwa umur tiga ratus tahun itu hanya berlaku untuk Durmala Sanca, karena dikutuk oleh kakeknya untuk menjalani hidup sesat selama tiga ratus tahun."

"Meng... mengapa... mengapa ia dikutuk oleh kakeknya begitu?" tanya Dewa Racun semakin ingin tahu.

"Katanya... ini menurut cerita Begawan...! Katanya, Durmala Sanca telah memperkosa neneknya sendiri."

"Ooo...?!" Dewa Racun manggut-manggut.

"Karena itu, ilmu kesaktian dari kakek dan neneknya tidak pernah diturunkan kepada Durmala Sanca. Satu pun tak ada yang diturunkan, kecuali Pedang Guntur Biru yang memang sudah warisan turun-temurun dari kakek buyutnya!"

"Sssi... si... siapa kakek dan neneknya Durmala Sanca itu?"

"Hmmm... namanya, kalau tidak salah... hmm... Eyang Purbapati dan Nini Galih!"

Duaarrr...! Kilat menyambar di angkasa bagaikan merobek langit. Suara petir yang menggelegar bagai mengguncangkan alam semesta itu, membuat Suto Sinting tersentak kaget dan terbelalak matanya. Wajah Pendekar Mabuk menjadi tegang dan memerah.

"Suto, tahan...! Tahan napasmu...! Kuasai amarahmu, Suto!" kata Dewa Racun dengan cemas dan ketakutan. Sebab dia tahu, Pendekar Mabuk pernah menceritakan tentang Pusaka Tuak Setan yang terminum olehnya dan bisa mengakibatkan napas Suto menjadi badai topan jika sedang diliputi kemarahan. Seperti yang terjadi di Pulau Hitam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah).

Kalau saja Suto belum pernah menceritakan tentang Pusaka Tuak Setan kepada Dewa Racun, maka Dewa Racun tidak akan membujuk Suto untuk menahan napas dan menguasai diri dari kemarahan. Kalau saja Pendekar Mabuk tidak pernah menceritakan siapa gurunya dan siapa guru dari gurunya sendiri, Dewa Racun tidak akan tahu bahwa saat itu Pendekar Mabuk menjadi terbakar kemarahannya.

Mata Pendekar Mabuk yang memandang Hantu Laut itu cepat-cepat dipejamkan, ia tenangkan diri dengan bernapas hati-hati. Hantu Laut menjadi ketakutan melihat wajah Suto merah padam begitu, ia bingung, mengapa Pendekar Mabuk memandangnya dengan suatu kemarahan yang besar. Apalagi langit menjadi mendung, cahaya petir berkilap di angkasa bagai memburu mangsa dengan liar. Angin pun berhembus lebih kencang, seperti tanda-tanda akan datangnya badai topan yang amat dahsyat. Hantu Laut jadi pucat wajahnya.

Pendekar Mabuk tinggalkan haluan, ia berdiri di samping barak yang ada di bagian buritan. Matanya memandang jauh ke cakrawala yang sudah menghitam karena mendung dan hujan badai. Sementara itu, Hantu Laut punya kesempatan membisikkan kata kepada Dewa Racun,

"Mengapa dia sepertinya marah padaku?"

"Kar... kar... karena kamu sebutkan...."

"Diam, Dewa Racun!" sentak Suto dari tempatnya, ia kembali tundukkan kepala dan pejamkan mata. Dewa Racun tak berani melanjutkan kata-kata apa pun kepada Hantu Laut.

Gemetar sekujur tubuh Suto Sinting mendengar Purbapati dan Nini Galih adalah kakek dan neneknya Siluman Tujuh Nyawa. Padahal Eyang Purbapati dan Nini Galih adalah gurunya si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Sedangkan Pendekar Mabuk adalah murid dari si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Tapi selama menjadi murid mereka, Suto tidak pernah mendengar cerita tentang kutukan hidup sesat dari Purbapati kepada Durmala Sanca. Apakah si Gila Tuak merahasiakannya, atau memang tidak tahu?

Jika si Gila Tuak tidak tahu, mengapa Hantu Laut yang sebagai budak Kapal Neraka, orang bawahannya Tapak Baja, bisa mengetahui urutan silsilah tersebut? Mengapa Hantu Laut bisa hafal semua nama dan kejadian leluhur Siluman Tujuh Nyawa? Benarkah ia mampu mengingat segala yang pernah didengarnya dari Begawan Sangga Mega?

Hantu Laut berdebar cemas ketika Pendekar Mabuk melangkahkan kaki mendekatinya. Kemudian Pendekar Mabuk menepuk-nepuk pundak Hantu Laut sambil ucapkan kata, "Lupakan tentang sikapku baru saja tadi! Aku tidak bermaksud marah kepadamu! Aku hanya kaget karena kamu sebutkan nama Eyang Purbapati dan Eyang Nini Galih."

"Eyang... Eyang siapa?!" Hantu Laut ajukan tanya dengan heran.

"Eyang Purbapati dan Eyang Nini Galih!"

Hantu Laut tampak bingung, lalu bicara pada Dewa Racun, "Apa aku tadi sebutkan kedua nama itu?"

Dewa Racun kerutkan dahinya lalu bertanya, "Apa... apa... apakah kamu tidak ingat, bahwa kamu telah menyebutkan kedua nama itu?"

"Ak... ak... aku hanya katakan, bahwa menurut kabar kasak-kusuk yang tak pasti, Dadung Amuk itu adalah anak dari Siluman Tujuh Nyawa. Aku hanya bilang begitu!"

Suto dan Dewa Racun kembali saling pandang bernada heran. Ada sesuatu yang aneh yang mereka temukan pada perubahan wajah Hantu Laut. Wajah itu tampak polos dan mengakui apa yang diingatnya.

"Kau tadi sebutkan pula tentang pusaka leluhur Siluman Tujuh Nyawa," kata Pendekar Mabuk mencoba ingatkan kembali kata-kata Hantu Laut tadi.

"Pusaka apa?" tanya Hantu Laut benar-benar bingung.

"Sebuah pedang," jawab Dewa Racun.

"Pedang...?! Pedang apa?!" Hantu Laut tambah bingung.

Dewa Racun dan Suto Sinting saling pandang sekejap, lalu Suto berbisik pelan di telinga Dewa Racun, "Tadi sepertinya ada yang tak beres pada dirinya."

Hantu Laut berkata, "Aku... aku sungguh tak bilang soal pedang pusaka. Aku cuma bilang, Dadung Amuk anak Siluman Tujuh Nyawa. Setelah itu aku diam, karena kulihat bumbung tuakmu keluarkan sinar putih melesat masuk menyilaukan mataku."

"Sinar...?!" Pendekar Mabuk sedikit tegang. "Sinar dari mana?"

"Dari ujung bumbung tuakmu itu!" sambil Hantu Laut menuding bumbung tuak di punggung Suto dengan rasa takut, ia ucapkan kata lagi, "Sinar itu kecil tapi menyilaukan mataku. Aku jadi takut. Lalu, aku diam saja tak berani bicara padamu! Tapi... tiba-tiba aku mendengar suara ledakan petir, dan kutemukan wajahmu sudah memandangku dengan marah! Aku tak tahu salahku!"

"Bbe... benar," bisik Dewa Racun pada Suto. "Pas... pasti ada yang tak beres pada dirinya, sehingga dia bicara di luar kesadarannya. Tap... tap... tap... tapi, siapa yang bicara melalui mulutnya tadi jika bukan dia?"

Suto diam tertegun, memperhatikan gerakan air yang menyibak karena dibelah perahu, ia jadi teringat tentang cerita bocah kecil telanjang yang menemui si Gila Tuak sewaktu Gila Tuak masih muda dan bernama Sabawana. Bocah itu ternyata jelmaan dari gurunya Eyang Purbapati yang bernama Wijayasura, dan bocah itulah yang menjelma menjadi bumbung dari sebuah pohon bambu di dalam gua tempat Sabawana tersesat. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tombak Maut).

"Apakah Eyang Buyut Wijayasura yang berbicara melalui mulut Hantu Laut tadi?" pikir Pendekar Mabuk. "Dengan maksud apa Eyang Buyut Wijayasura membeberkan sejarah Siluman Tujuh Nyawa melalui mulut Hantu Laut? Apakah aku ditugaskan untuk mencari Pedang Guntur Biru? Untuk diriku sendiri atau untuk kuserahkan kepada Singo Bodong? Atau untuk mengalahkan Siluman Tujuh Nyawa?" Suto terpaku diam karena tenggelam dalam renungan misteriusnya.

* * *

TUJUH
TIBA-TIBA perahu berguncang ketika melewati sebuah pulau kecil bertanah tandus. Guncangan itu terasa aneh, karena Suto dan kedua temannya tahu, bahwa air laut tidak bergelombang besar. Ombaknya mengalun dengan tenang. Tapi mengapa perahu bagai ada yang mengguncangnya dari bawah? Bahkan Hantu Laut sempat terpelanting nyaris terlempar keluar dari kapal. Untung Dewa Racun cepat menangkap lengan Hantu Laut.

Dewa Racun yang berdiri di atas barak untuk memandang keadaan di pulau tandus yang mereka lewati itu segera berkata kepada Suto, "Ad... ad... ada yang mengganggu kita!"

"Sial! Mungkin badai akan datang, sehingga gelombang besar terjadi di bawah permukaan laut," kata Hantu Laut.

"Buk... bukan karena gelombang lautan! Ada yang sengaja mengguncangkan perahu kita!"

"Apa? Mengencangkan celana kita?!"

"Mengguncangkan perahu kita!" seru Dewa Racun memperjelas ucapannya, dan Hantu Laut yang tuli segera angguk-anggukkan kepala dengan wajah mulai tampak cemas.

"Jangan-jangan kita berpapasan dengan orangnya Durmala Sanca!" katanya dengan rasa waswas.

"Kita tak perlu bikin perkara jika memang berpapasan dengan mereka. Tapi kalau mereka mengganggu kita, aku tak akan tinggal diam!" kata Suto Sinting sambil membuka tutup bumbungnya, lalu menenggak tuaknya beberapa kali.

"Bagaimana jika mereka mengancam nyawaku?" kata Hantu Laut memancing perasaan Pendekar Mabuk.

"Tak akan sempat mereka mengancammu, aku akan bertindak lebih cepat dari mereka!" jawab Suto.

"Mengapa kau mau membelaku, Suto?" tanya Hantu Laut lagi setelah ia bungkamkan mulut beberapa kejap, lalu Pendekar Mabuk pun menjawab,

"Karena kau sudah berjanji untuk menjadi Hantu Laut yang sekarang, bukan Hantu Laut yang dulu! Dulu memang kau jahat dan sesat, tapi sekarang kau punya niat untuk bertobat! Niat itulah yang kulindungi dan kubelai"

Hantu Laut diam, merasa bersyukur menemukan lawan seperti Suto, yang bukan hanya bisa menundukkan kekerasannya, namun juga bisa menundukkan hatinya hingga kini ia menjadi seorang sahabat. Andai ia menemukan lawan bukan Suto Sinting, si Pendekar Mabuk yang bijaksana itu, sudah tentu ia akan mati dikalahkan lawannya atau hancur tak berbentuk lagi. Tak akan ia punya kesempatan untuk membuktikan niat tobatnya di mata dunia.

Suto ucapkan kata lagi kepada Hantu Laut, "Seharusnya kau memang menjalani hukuman mati karena dosamu terlalu banyak. Tapi menurutku, lebih baik mati kejahatanmu daripada mati jiwamu. Karena mati jiwa tidak bisa menebus dosa, tapi  mati kejahatanmu bisa membuatmu punya kesempatan menebus dosa! Dan sekarang ini kau sebenarnya sedang menjalani hukuman dari dosamu, yaitu menjadi pembela kebenaran dan pelindung kebaikan, itulah hukuman yang harus kau jalani seumur hidupmu, Hantu Laut!"

Belum selesai Pendekar Mabuk bicara, perahunya kembali terasa diguncangkan oleh suatu kekuatan tenaga dalam yang membuat ketiga orang itu hampir terlempar ke laut. Suto Sinting cepat perintahkan kepada Dewa Racun.

"Lacak suara yang ada di sekitar sini, Dewa Racun!" Maka, Dewa Racun yang punya keahlian menyadap pembicaraan dari jarak jauh itu segera pejamkan mata dan kedua telunjuknya menekan pelipis kanan kiri. Si kerdil berpakaian putih bulu itu berdiam diri beberapa saat. Kejap berikutnya dia serukan kata kepada Suto,

"Akkk... akkk... akkk...."

"Akik...?!"

"Bukan!" sentak Dewa Racun kepada Hantu Laut. "Ak... aku hanya bisa mendengarkan suara napas yang berat. Tak ada suara percakapan orang!"

Pendekar Mabuk diam sekejap, dan tiba-tiba Hantu Laut tudingkan tangan ke arah pulau tandus itu sambil serukan kata, "Lihat, ada seseorang yang terkapar di pantai sana!"

Pendekar Mabuk dan Dewa Racun cepat lemparkan pandang ke arah pantai pulau tandus. Mereka melihat sesosok tubuh terkapar di pantai sana dengan kepala sedikit terangkat karena bersandarkan sebuah batu setinggi mata kaki. Suto segera perintahkan Hantu Laut untuk mengarahkan perahu ke pantai. Makin dekat makin jelas orang yang terkapar itu adalah seorang perempuan berpakaian hijau ketat berhias benang emas. Terlihat pula warna jubahnya yang biru muda membayang tipis.

"Siapa perempuan itu, Dewa Racun?"

"Entahlah. Ak... ak... aku masih belum jelas dengan raut wajahnya," jawab Dewa Racun. Kemudian ia segera melompat turun dari perahu setelah Pendekar Mabuk mendului turun dari perahu itu. Hantu Laut mencari tambatan untuk tambang perahunya. Setelah mendapatkan batu runcing untuk tambatan tali perahunya, ia segera menyusul dua rekannya yang sudah mendekati perempuan yang terkapar itu.

Dayang Kesumat gagal sembuhkan luka dalamnya akibat pukulan 'Sinar Naga Birawa' dari si Tua Rakus itu. Tubuhnya sangat lemas dan wajah cantik-nya memucat pasi. Matanya yang indah berat untuk dibuka kelopaknya. Namun ia paksakan membuka kelopak mata setelah tahu ada yang mendekatinya.

"Kau mengenalinya, Dewa Racun?" tanya Pendekar Mabuk.

"Tid... tid...tid... tidak!" jawab Dewa Racun sambil pejamkan mata karena sukar sekali menyebut sepotong kata itu. Lalu ia buka matanya kembali dengan rasa lega dan sambungkan jawabannya, "Aku hanya kenali dia sebagai perempuan muda yang cantik jelita, walau tak secantik calon istriku sang Ramu. Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa namanya. Baru sekarang aku melihat wajah cantik ini."

"Aku juga! Kau mengenalinya, Hantu Laut?"

Mata Hantu Laut yang terbuka lebar dengan mulut bengong karena kagum melihat kecantikan dan kebesaran dada perempuan itu, segera berkedip menggeragap saat mendapat pertanyaan dari Pendekar Mabuk. Lalu, cepat ia menjawab, "Tidak... tidak! Aku tidak mengenalinya."

"Hmmm... tampaknya ia terluka parah di bagian dalam!" kata Suto seperti bicara pada diri sendiri.

Dayang Kesumat ucapkan kata lemah dan lirih, "tolong aku!"

"Kau terkena pukulan bertenaga dalam tinggi, Nona?"

"Ya. Uuh...!" Ia berusaha menggeliat tapi tak mampu banyak berbuat, ia hanya ucapkan kata lirih, "Sakit...!"

Suto bersiap menuangkan tuak ke dalam mulut Dayang Kesumat, tapi lebih dulu ia ajukan tanya, "Kau bisa minum tuak?"

"Ya," jawab Dayang Kesumat pendek.

"Kalau begitu, bukalah mulutmu dan minumlah tuak ini...!"

Pelan-pelan Dayang Kesumat membuka mulutnya. Mulut ternganga kecil dan Suto Sinting tuangkan tuak pelan-pelan. Tuak mengucur masuk ke dalam mulut berbibir indah itu. Diteguk beberapa kali oleh Dayang Kesumat. Sete1ah itu, Suto ucapkan kata,

"Jangan banyak bergerak dulu, Nona. Diamlah beberapa saat biar tuak saktiku ini melawan kekuatan yang merusak bagian dalam tubuhmu. Jika memang bisa, usahakanlah untuk tidur. Kami akan menunggumu di sini sampai kau sembuh."

Dewa Racun melangkahkan kakinya mendekati gundukan batu yang menjulang tinggi hingga bisa menjadi peneduh pada bayangannya. Di sana Dewa Racun duduk di bongkahan cadas yang ada di bawah batu itu. Saat Pendekar Mabuk mendekati batu itu, Dewa Racun ucapkan kata,

"Pu... pu... pu... pu...."

"Puser!"

"Pulau!" sahut Dewa Racun, sebab jika belum disentakkan arti kata yang ingin diucapakan, Dewa Racun masih kesulitan ucapkan kata yang dimaksud. "Pulau ini tandus, seperti padang pasir. Tak mungkin perempuan itu asli penduduk pulau ini. Setahuku, pulau ini tidak berpenghuni. Karen... ka-ren... karena tidak ada yang didapat dari pulau ini!"

Suto pandangi sekelilingnya. Pulau itu memang tandus. Perbukitan cadas membentang di tengahnya tanpa tanaman jenis pohon, kecuali tanaman jenis rumput yang termasuk jarang tumbuhnya. Disana-sini banyak bongkahan batu cadas dan karang yang menjulang bagaikan pilar-pilar hias alami. Tanah berpasir, lebih ke dalam lebih berbatu cadas. Apabila seseorang berjalan dari pantai seberang sana melewati pertengahan pulau, akan kelihatan jelas dari tempat Suto berdiri karena tak ada banyak penghalang dari tanaman.

"Pulau apa ini namanya, Dewa Racun?"

Hantu Laut yang ada di belakang Suto menyahut, "Namanya Pulau Padang Peluh!"

Pendekar Mabuk palingkan wajah kepada Hantu Laut, "Kau pernah datang ke pulau ini?"

"Ya. Sewaktu mengantar pertarungan Tapak Baja dengan Nagadipa, murid Iblis Pulau Bangkai. Tapak Baja berhasil hancurkan Nagadipa hanya dengan tiga jurus."

"O, jadi Nagadipa telah mati?"

"Mungkin saja mati," jawab Hantu Laut. "Sebab, sebelum jelas kematiannya, Nagadipa telah diserobot oleh tokoh tua yang punya ilmu lebih tinggi dari Tapak Baja, lalu Nagadipa dibawanya lari. Tapi menurut Tapak Baja, lawannya itu pasti mati karena ia menyebarkan racun ganas di dalam tubuh Nagadipa!"

Tertegun Suto mendengar kabar itu. Ia sangat kenal dengan Nagadipa, karena orang itu memang musuhnya. Nagadipa sebenarnya musuh bebuyutan Bidadari Jalang, bibi guru-nya Pendekar Mabuk. Nagadipa selalu berusaha membalas kematian gurunya Iblis Pulau Bangkai, yang dikalahkan oleh Bidadari Jalang. Bahkan ia pernah berhadapan muka dengan Pendekar Mabuk ketika hendak membalas kekalahan Putri Alam Baka, bekas istrinya itu. Tetapi, Nagadipa terkena pukulan napas Tuak Setan yang membuatnya terlempar ke sana kemari dalam keadaan luka parah. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pertarungan di Bukit Jagal).

Tetapi pada waktu itu, Nagadipa masih bisa bernapas sedangkan Putri Alam Baka mati karena dilemparkan badai maut dari napas Pendekar Mabuk. Nagadipa diselamatkan oleh Maharani, teman dari Putri Alam Baka. Dan sejak itu tak terdengar lagi kabarnya. Baru sekarang Pendekar Mabuk mendengar nama Nagadipa disebutkan oleh Hantu Laut. Tapi siapa tokoh sakti yang waktu itu menyelamatkan Nagadipa dari pertarungannya dengan Tapak Baja? Hantu Laut tidak mengenalnya, karena waktu itu Hantu Laut hanya memandang dari haluan Kapal Neraka yang dijaganya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan mereka adalah, siapa perempuan yang terluka dalam itu? Menurut Dewa Racun, perempuan itu bukan berasal dari Pulau Padang Peluh. Pasti dari tempat lain. Tetapi, mereka tidak melihat sebuah perahu terdampar di pantai.

"Apakah ia dibuang dari sebuah perahu atau kapal?" duga Hantu Laut sambil memandang perempuan yang berjarak sepuluh langkah dari tempat mereka berkumpul itu.

"Di... di... di... ddiiii...."

"Dicolok?"

"Aaah, bukan! Dddi... dilihat! Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia bukan perempuan biasa. Dia perempuan yang punya kedudukan di dalam sebuah perkumpulan. Paling tidak dia perempuan ter... terrr... terrhormat. Ya. Dia perempuan terhormat. Bukan sekadar seorang murid atau anak buah tingkat rendahan."

"Pedang dipunggungnya menampakkan dia perempuan yang punya ilmu," kata Suto. "Tapi seberapa tinggi ilmunya kita belum tahu pasti."

Dayang Kesumat mulai bisa menangkap pembicaraan ketiga lelaki itu walau samar-samar. Agaknya luka dalam akibat pukulan 'Sinar Naga Birawa' mulai membaik. Dayang Kesumat sempat membatin dalam hatinya, memuji kehebatan tuak Pendekar Mabuk yang mampu menyembuhkan luka dalam dengan sangat cepat.

Kejap berikutnya, Dayang Kesumat sudah mampu berdiri dan pandangkan mata ke arah Suto Sinting yang mendekat bersama Dewa Racun serta Hantu Laut. Badannya terasa mulai segar kembali, bahkan makin lama terasa semakin lebih segar dari biasanya.

"Keadaanmu sudah membaik, Nona?" tanya Pendekar Mabuk.

"Sudah! Kau yang mengobati lukaku?"

"Ya, aku."

"Bagus!" kata Dayang Kesumat mulai tampak sikap angkuhnya, ia tak mau ucapkan terima kasih, melainkan justru berkata, "Kau pantas jadi tabib saja, Suto!"

Terkesiap Suto mendengar namanya disebutkan. Terkesiap pula Dewa Racun dan Hantu Laut karena ucapan perempuan itu. "Kau tahu namaku? Dari mana kau mengetahuinya, Nona? Sedangkan aku sendiri tidak tahu namamu?!"

"Dayang Kesumat, namaku!" jawabnya dengan mata tajam memandang Pendekar Mabuk, bercampur perasaan kagum dan terpikat oleh ketampanan Pendekar Mabuk.

Sementara yang dipandang hanya gumamkan nama itu sambil kerutkan dahi, merasa asing dengan nama tersebut. Demikian pula hal yang dialami oleh Dewa Racun dan Hantu Laut. Dayang Kesumat bahkan ucapkan kata, "Hantu Laut ada denganmu, Suto! Itu tandanya kau buka tantangan adu nyawa dengan Siluman Tujuh Nyawa!"

"Kau mengenal Hantu Laut juga, rupanya? Hmm... lantas mengapa kau berkata begitu jika Hantu Laut ada padaku?"

"Dia sedang dalam ancaman mati oleh Siluman Tujuh Nyawa. Sang Ketua sudah tahu Hantu Laut mau membunuh dia dengan tombak pusaka!"

"Tap... tapi... tapi aku sekarang sudah tidak mengancam mau membunuh dia lagi, Nona! Ak... aku sudah tidak punya tombak pusaka itu dan... dan...!"

"Itu masalahmu!" sahut Dayang Kesumat, lalu sunggingkan senyum tipis melihat Hantu Laut cemas. Kembali ia menyambung. "Yang ingin kutahu kini, di mana temanmu Dadung Amuk?! Aku akan mencabut nyawanya cepat-cepat!"

"Da... Da... Dadung Amuk sudah mati!" sahut Dewa Racun.

"Omong kosong!" Dayang Kesumat sedikit menggeram dan mulai tampak sikap permusuhannya.

Dewa Racun berbisik kepada Suto, "Dddii... dia bersikap tak bersahabat dengan kita."

Rupanya Dayang Kesumat mendengar bisikan itu dan ia menjawab, "Memang! Yang kutahu, Hantu Laut sekongkol dengan Dadung Amuk untuk melawan Siluman Tujuh Nyawa. Jika Dadung Amuk tidak ada di sini, itu tandanya kalian menyembunyikan Dadung Amuk. Hantu Laut pasti tahu di mana Dadung Amuk belada!"

"Sum... sumpah! Dadung Amuk sudah mati, Nona!" kata Hantu Laut agak ngotot. "Kami temukan mayatnya mengapung di laut sebelah sana!"

"Aku bukan bocah bodoh! Dadung Amuk lebih tinggi ilmunya ketimbang kamu, Hantu Laut! Tak mungkin dia mati, sedangkan kamu masih hidup! Itu sebabnya aku tadi menyedot kekuatan kalian supaya datang ke sini, sebab kusangka kalian belsama Dadung Amuk!"

Suto segera bicara setelah meneguk tuaknya, "Dayang Kesumat, kami sudah tolong kamu dari lukamu, jadi tak perlu ada perselisihan tanpa arti di antara kita!"

"Hantu Laut pasti mau sebutkan di mana Dadung Amuk belada. Kalau tak mau sebutkan, mulutnya akan kupaksa bicala dengan pedangku!"

"Mulutnya akan kau apakan?" pancing Pendekar Mabuk.

"Akan kupaksa bicala dengan pedangku!" sentak Dayang Kesumat.

Tapi Suto dan Dewa Racun saling memandang. Lalu Suto bergumam, "Bicala!"

"Mmmung... mungkin maksudnya bicara!"

"Ya, aku tahu. Tapi mengapa dia bilang bicala dua kali?!"

Dayang Kesumat cepat serukan kata, "Hantu Laut, katakan di mana Dadung Amuk belada?!"

"Aku sudah katakan tadi, Dayang Kesumat!"

"Katakan yang sebenalnya!" bentak Dayang Kesumat.

Hantu Laut kebingungan, ia memandang ke arah Pendekar Mabuk, tapi waktu itu Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sedang kasak-kusuk.

"Sebenalnya! Maksudnya, sebenalnya!"

"Diii... dia... dia ternyata cadel! Tak bisa sebutkan huruf 'R'."

"Tapi mengapa baru sekarang dia cadel? Sejak tadi bicaranya lancar-lancar saja."

"Kar... kar... karena omongannya sejak tadi tidak memakai huruf 'R'. Dia bisa hindari huruf 'R', sehingga tak kelihatan cadelnya!"

"Tunggu, aku sepertinya pernah bertemu dengan tokoh cadel. Hmmm... kalau tak salah ingatanku, Peri Malam pernah punya guru yang cadel bicaranya, yaitu Mawar Hitam. Penguasa Pulau Hantu! Tapi... dia tidak secantik dan semuda ini, Dewa Racun!"

Dayang Kesumat mendengar kasak-kusuk itu, lalu ia serukan kata, "Ya. Telnyata ingatanmu masih tajam, Pendekat Mabuk! Akulah si Mawal Hitam dali Pulau Hantu!"

Terkejut Suto mendengar pengakuan itu. Terpana ia tatap wajah cantik yang sulit dipercaya pengakuannya itu. Tapi Dewa Racun cepat ucapkan kata, "Kkka... kkka... kakkk... kal."

"Kalang kabut?!" sentak Pendekar Mabuk.

"Bukan! Kal... kalau begitu, kau telah kuasai ilmu 'Rias Renggana', Dayang Kesumat?! Aku tahu ilmu 'Rias Renggana' bisa membuat wajah tua menjadi cantik jelita seperti kau sekarang!"

"Bukan hanya ilmu 'Lias Lenggana' yang kukuasai, melainkan kugunakan pula ilmu 'Selap Kawekas' untuk menyedot semua ilmu olang-olang sakti, hingga bisa kumiliki dalam waktu singkat dan cepat, tanpa susah payah menempuhnya dengan latihan. Ha ha ha...!"

Tawa itu memberi kesempatan bagi Suto untuk membatin kata, "Luar biasa perubahannya! Kalau saja bicaranya tidak cadel, aku tidak mungkin bisa tahu bahwa dia adalah si Mawar Hitam, musuh bebuyutan dari Bibi Guru Bidadari Jalang!"

Dewa Racun bisikkan kata kepada Pendekar Mabuk, "Ber... ber... berbahaya! Dia sudah kuasai ilmu 'Serap Kawekas'!"

"Apa itu ilmu 'Serap Kawekas'?" tanya Hantu Laut yang mendengarnya.

"Sebuah ilmu yang dipakai untuk menyerap ilmu milik orang lain, sehingga ilmu milik orang lain itu menjadi miliknya, dan... dan... orang itu kehilangan semua ilmunya. Berr... berr... berarti di dalam dirinya banyak tersimpan ilmu milik orang-orang sakti yang nyaris mati. Sebelum mati diserapnya ilmu oor... orang itu!"

"Hantu Laut!" seru Dayang Kesumat. "Aku tak punya kesabalan lagi menunggu pelundingan kalian! Akan kupaksa mulutmu membeli tahu di mana Dadung Amuk belada! Heaaah...!"

"Tahan dulu!" cegah Pendekar Mabuk tiba-tiba. "Ada sebuah kapal menuju kemari! Barangkali Dadung Amuk ada di kapal itu!" Pendekar Mabuk sengaja mengulur waktu agar tidak terjadi bentrokan antara dirinya dengan Dayang Kesumat.

Tapi memang benar, ada sebuah kapal bergerak merapat ke pantai Pulau Padang Peluh itu. Beberapa orang-orangnya turun menyerbu ke pantai. Wajah mereka tampak buas dan tidak bersahabat.

* * *

DELAPAN
KAPAL berbendera naga itu ternyata dalam sebuah kejaran perahu berlayar hijau yang mempunyai gambar tengkorak bermata rantai tujuh butir itu. Hantu Laut mengenali perahu berlayar hijau itu sebagai perahu milik Dadung Amuk. Ia sempat menjadi takut, karena menurutnya Dadung Amuk sudah ditemukan dalam keadaan mati dan mayatnya mengambang di lautan lepas. Tapi mengapa sekarang perahunya bisa mengejar kapal besar milik Bajak Naga?

Suto Sinting segera perintahkan Dewa Racun dan Hantu Laut untuk sembunyikan diri. Ternyata Dayang Kesumat ikut pula sembunyikan diri, setelah dia tahu kapal Bajak Naga sedang dalam pengejaran perahunya Dadung Amuk. Ia mengincar Dadung Amuk, tapi juga membiarkan terjadi pertempuran antara kedua awak kapal tersebut.

Si Tua Rakus tampak melompat tinggalkan kapalnya, melewati pundak demi pundak anak buahnya yang berlarian ke pantai. Rupanya Wisoguno telah berhasil menyembuhkan luka pukulan dalam Tua Rakus, sehingga manusia yang bermata satu itu dapat bergerak dengan lincah. Dari sekian banyak anak buahnya, tinggal sepuluh orang yang tersisa. Dan kesepuluh orang itu pun sedang dalam pelariannya untuk menghindari maut yang mengancam atau karena suatu hal lain.

"Pancing mereka supaya bergerak ke pulau ini!" teriak si Tua Rakus kepada anak buahnya yang masih tertinggal di dekat kapal.

"Saya mau serang mereka dari atas menara intai, Yang Mulia!" kata Raja Tebas.

"Jangan bodoh kau! Bisa rusak kapal kita oleh serangan balik dari mereka! Cepat giring mereka kemari, supaya kapal kita tidak rusak seperti tempo hari!"

Rupanya si Tua Rakus bukan lari karena takut serangan musuhnya, melainkan sengaja memancing pertarungan di daratan supaya kapalnya tidak ikut rusak akibat pertarungan mereka.

Tetapi agaknya musuh Tua Rakus itu tidak bodoh seperti dugaan si Tua Rakus. Sebelum mereka mencapai pantai, lebih dulu mereka menggempur kapal Bajak Naga itu dengan kekuatan tenaga dalam hingga tiang layar patah dan tumbang menghancurkan geladak. Lambung kapal dihantam pula dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup dahsyat hingga kapal menjadi bolong. Bunyi ledakan dan percikan api berkali-kali datang dari kapal Bajak Naga, hingga akhirnya kapal itu sendiri meledak terbakar oleh satu pukulan yang maha hebat.

"Bangsat kurap!" teriak si Tua Rakus. "Hancurkan kembali perahu mereka! Kita bisa lari memakai perahu yang ada di sebelah sana!" sambil Tua Rakus menuding perahu milik Suto yang ditambatkan jauh dari tempatnya. Dan di sana, di balik gundukan batu-batu serta bukit cadas tak seberapa tinggi, Pendekar Mabuk serta kedua sahabatnya bersembunyi memperhatikan pertarungan tersebut. Dayang Kesumat berada tak jauh dari mereka, antara tujuh langkah di samping kanan Pendekar Mabuk.

Anak buah Tua Rakus bermaksud menghancurkan perahu layar hijau, tetapi usaha mereka selalu dapat digagalkan. Dan satu hal yang membuat Dewa Racun, Hantu Laut, serta Suto Sinting terheran-heran adalah kemunculan lawan Tua Rakus dari perahu layar hijau.

Ternyata bukan sosok Dadung Amuk seperti dugaan Hantu Laut, melainkan dua anak muda kembar rupa, yaitu Doma Damu. Mereka menggunakan perahu milik Dadung Amuk dalam perjalanan menuju Pulau Beliung. Tetapi bertemu dengan kapal Bajak Naga di perjalanan dan terjadilah pertempuran itu, sebab kapal Bajak Naga memang bermusuhan dengan kapal Siluman Tujuh Nyawa. Entah apa yang menyulut api pertarungan lebih dulu, yang jelas mereka bertarung dengan sengit, walau dengan jumlah tak seimbang, dua melawan lebih dari sepuluh.

"Siapa dua anak kembar itu?" tanya Pendekar Mabuk kepada Dewa Racun. Tetapi, Hantu Laut yang segera beri jawaban,

"Mereka Doma dan Damu, pengawal pribadi sang ketua yang ilmunya paling tinggi dari sekian banyak anak buah sang ketua. Tapak Baja pun takut jika berhadapan dengan kedua anak kembar itu!"

Dalam hati Pendekar Mabuk membenarkan keterangan Hantu Laut. Karena dengan mata kepalanya sendiri Pendekar Mabuk melihat gerakan Doma dan Damu begitu cepat dan gesit, pukulannya tak ada yang lolos dari sasaran. Sekali pukul pasti mengenai lawan dan lawan pasti mati seketika. Tak heran jika Doma dan Damu dijadikan pengawal pribadi Siluman Tujuh Nyawa yang dihormati dan disegani anak buah lainnya.

Dalam waktu singkat pertarungan di pantai itu membuat enam anak buah si Tua Rakus terkapar tanpa nyawa. Tinggal beberapa gelintir anak buah Tua Rakus yang punya ilmu cukup lumayan dibandingkan yang sudah lebih dulu mati itu.

Raja Tebas mengamuk dengan ilmu pedangnya yang punya kecepatan tebas melebihi kilatan cahaya petir. Tetapi sayangnya kedua lawan cukup gesit dalam bergerak sehingga sulit ditebas tubuhnya. Apalagi dari mulut Doma dan Damu selalu menyemburkan nyala api bagai semburan gunung murka, Raja Tebas dan yang lainnya sering dibuat terdesak.

Dalam satu kesempatan baik, Tua Rakus sempat kirimkan pukulan 'Sinar Naga Birawa' dari matanya yang tertutup itu, dan sinar biru melesat cepat ke arah Damu. Zuuttt...! Debb...! Sinar biru itu tepat mengenai tengkuk kepala Damu. Anak muda berpakaian rompi merah itu tersentak melengkung ke depan dan akhirnya rubuh dalam sekejap.

Sementara itu, Doma masih menyerang Wisoguno menggunakan pukulan jarak jauhnya. Wisoguno berhasil menghindari serangan sinar kuning dari Doma, tapi seorang anak buah lainnya yang berdiri di belakang Wisoguno menjadi sasaran berikut. Sinar itu memecahkan isi perut orang yang sedang berdiri di belakang Wisoguno itu.

"Hancurkan dia! Tinggal satu, hancurkan dia!" teriak Tua Rakus dengan garangnya, penuh nafsu untuk membunuh Doma.

Tetapi pada kejap lain, Doma sempat menyerang Raja Tebas dengan menggunakan Cermin Benggala Kembar itu. Dua hal terjadi dengan sangat mengejutkan bagi mata para penonton gelapnya itu. Sebuah lompatan Doma di atas tubuh Damu telah membuat Damu yang mati menjadi hidup kembali. Senjata cermin Doma mengeluarkan sinar putih menyilaukan, melesat ke arah Raja Tebas. Dengan kegesitannya Raja Tebas bersalto ke samping kanannya, membuat sinar itu menghantam nakhoda kapal Bajak Naga yang dikenal dengan nama Wiloka.

Wiloka tersentak diam tak bergerak. Kejap selanjutnya, tubuhnya jatuh menjadi serpihan-serpihan tanpa bentuk lagi. Prolll...! Wujud dari Wiloka hilang, yang ada hanya gundukan daging-daging kecil dari tubuh yang hancur itu.

Hantu Laut terbelalak lebar matanya dengan perasaan ngeri di hatinya. Sementara itu, Dewa Racun terbengong-bengong memperhatikan Damu yang mati menjadi hidup kembali. Bahkan dalam pertarungan berikutnya, Doma berhasil ditebas punggungnya oleh pedang andalan Raja Tebas. Punggung itu koyak besar, menyemburkan darah. Doma jatuh tersungkur dan diam untuk selamanya. Melihat Doma mati, Damu cepat melangkahi mayat Doma. Lalu, kejap selanjutnya Doma telah bangun kembali. Hidup dengan lebih ganas dan segera menyerang Wisoguno yang ada di depannya.

"Or... or... orang itu bisa hidup lagi dengan luka menjadi rapat kembali?!" gumam Dewa Racun terheran- heran.

Hantu Laut berkata, "Itulah kehebatan Doma dan Damu. Si Kembar itu sulit dibunuh. Jika yang satu mati, maka yang satunya segera berusaha melangkahi mayat saudaranya. Dan mayat yang dilangkahinya itu akan hidup kembali. Berapa kali pun mereka mati, jika masih saling melangkahi akan bisa hidup kembali!"

Pendekar Mabuk  menggumam, "Ilmu 'Bayang- bayang Hantu' itu namanya."

"Ya, benar," jawab Hantu Laut. "Dan hanya Doma dan Damu yang mempunyainya."

Sekarang kedua anak kembar itu sama-sama sudah menggenggam cermin bertangkai yang bentuknya seperti bola kaca itu. Dewa Racun yang merasa heran segera bertanya kepada Hantu Laut, "Senjata apa yang mereka pegang itu?"

Tapi yang menyahut Dayang Kesumat, sepertinya ia bicara kepada diri sendiri, bukan kepada Dewa Racun. "Celmin Benggala Kembal...?!"

"Betul," kata Hantu Laut kepada Dewa Racun, "Mereka dijamin tak akan sabar!"

Dewa Racun kerutkan dahi, "Apa hubungannya omonganmu de... de... dengan jawaban Dayang Kesumat? Dia bilang Cermin Benggala Kembar! Bukan bicara tak sabar!"

"O, kalau begitu aku salah dengar. Tapi memang benar, senjata itu bernama Cermin Benggala Kembar, milik Siluman Tujuh Nyawa. Biasanya, jika seorang utusan pergi dengan dibekali pusaka dari sang ketua, itu berarti utusan tersebut tak boleh pulang tanpa membawa hasil. Dia hanya boleh pulang dengan membawa hasil, jika tidak punya hasil, dia boleh pulang raganya saja! Nyawanya harus cepat pergi tinggalkan raga!"

"Kkka... kalau begitu, Doma Damu dapat tugas yang amat penting sekarang ini, sehingga dibekali pusaka tersebut?"

"Ya. Mestinya begitu. Tapi tugas sepenting apakah sampai Doma dan Damu dibekali pusaka seperti itu? Dengan dibekali pusaka saja, sudah menandakan ciri yang amat penting dari tugas yang diembannya, apalagi sekarang yang turun tangan adalah Doma Damu sendiri, itu berarti ada tugas yang maha penting dari seluruh tugas lainnya!"

Percakapan mereka terhenti karena melihat Doma semburkan api panas membara kepada salah seorang anak buah Tua Rakus. Orang tersebut menjadi terbakar sekujur tubuhnya dan berteriak-teriak kelimpungan. Walau sudah merendam dalam air laut, tapi nyala api masih berkobar, ia akhirnya mati hangus seperti empat orang lainnya.

"Bah... bah... bahhh... bahaya sekali! Bahaya sekali mulut kedua anak kembar itu!" kata Dewa Racun entah kepada siapa.

Kini tinggal empat orang berdiri menghadapi Doma dan Damu. Mereka adalah Raja Tebas, Wisoguno, Dampu Samak, dan Tua Rakus sendiri. Mereka menghentikan pertarungan sejenak, karena Tua Rakus serukan kata kepada ketiga orangnya yang tersisa, "Mundur kalian! Munduuur...!"

Tua Rakus berdiri di depan ketiga anak buahnya yang tersisa itu. Doma Damu masih siap dengan senjata pusaka Cermin Benggala Kembar. Cermin pemburu nyawa itu siap digunakan sewaktu-waktu. Terdengar Tua Rakus serukan kata, "Doma Damu...! Sesungguhnya aku malas turun tangan dalam pertarungan ini! Karena lawanku bukanlah kalian, melainkan Siluman Tujuh Nyawa! Tetapi, karena kalian telah membantai habis anak buahku, terpaksa aku turun tangan menghadapi kalian, kecuali jika kalian merasa sudah puas dan mau pergi tinggalkan kami! Kuberi kesempatan pada kalian untuk menghindari maut dari tanganku!"

Damu yang menjawab, "Kami akan tinggalkan kau, jika kau tinggal raga tanpa nyawa, Tua Rakus! Jangan bermimpi dapat mengungguli kekuatan orang-orang dari Kapal Siluman!"

"Kekuatan tahi kucing yang dimiliki Kapal Siluman!" geram Tua Rakus, lalu Damu menjawab,

"Buktinya kapalmu sekarang hancur! Bukan lagi sebagai Kapal Bajak Naga, tapi Kapal Bajak Cacing!"

"Grmrr...!" Tua Rakus makin terbakar amarahnya, sehingga ia cepat-cepat sentakkan kedua tangannya ke arah perahu berlayar hijau itu. Kedua tangannya mengeluarkan cahaya merah menyala bagaikan piringan yang melesat ke perahu layar hijau.

Tetapi Doma cepat sentakkan Cermin Benggala Kembarnya hingga mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Sinar putih itu melesat lebih cepat dari sinar merah bagai piringan itu. Lalu, sinar tersebut menghantam sinar merah itu di udara.

Blarrr...! Terjadi ledakan yang timbulkan gelombang angin cukup kencang. Perahu layar hijau sempat terguncang sejenak.

Pada saat semua mata tertuju pada benturan kedua sinar tadi, diam-diam Dampu Samak melemparkan pisau terbangnya ke arah Damu. Wuttt...! Tetapi pisau itu segera ditangkis dengan kibasan Cermin Benggala Kembar. Trringngng...! Pisau itu melesat ke arah lain.

Tapi Damu cepat sentakkan Cermin Benggala Kembar didepan. Dari cermin itu keluar sinar merah yang membuat Dampu Samak tersentak mundur, lalu tubuhnya tiba-tiba jatuh satu persatu menjadi potongan tiap ruasnya. Telinga jatuh, jari jatuh, pergelangan tangan jatuh, pangkal lengan pun jatuh, dan akhirnya Dampu Samak mati dalam keadaan terpotong-potong menjadi banyak, termasuk kepalanya sendiri yang menggelinding dalam keadaan mata tetap terbelalak kaget.

"Bangsat kau!" bentak Raja Tebas. "Kau bunuh adikku dengan sekeji itu! Sekarang giliranmu yang harus kubunuh, Babi Kurap! Heaah...!"

Raja Tebas sentakkan kaki dan melesat terbang di udara dengan pedang siap menebas leher lawan. Tetapi dengan gerakan gesit Damu segera bersalto ke belakang satu kali. Jlegg...! Kemudian ia sentakkan Cermin Benggala Kembar ke arah Raja Tebas.

Bagian lubang di tengah bola kaca itu mengeluarkan semacam mata tombak yang pipih berwarna putih mengkilap. Begitu cepat gerakannya tak sempat dihindari Raja Tebas. Maka, leher kiri Raja Tebas menjadi sasaran empuk senjata tersebut. Crapp...! Logam putih mengkilat itu masuk terbenam habis di leher Raja Tebas.

Tua Rakus memandang Raja Tebas yang berdiri dengan oleng dan tidak bisa bicara apa pun walau mulutnya telah ternganga. Bahkan sekarang Raja Tebas berdiri dengan bersandarkan batu tinggi. Tapi kejap berikutnya tangannya menjadi panjang, jari-jarinya mulur ke bawah bagaikan lem kental yang ingin jatuh. Plukk...! Akhirnya jari-jemari itu jatuh ke tanah, dan tubuh Raja Tebas menjadi lumer menjijikkan. Warnanya hitam kehijau-hijauan.

"Llu... luar... luar biasa ganasnya Cermin Benggala Kembar itu," ucap Dewa Racun, entah siapa yang diajaknya bicara.

Dengan matinya Raja Tebas, kini kedudukan mereka menjadi seimbang. Dua melawan dua. Tua Rakus menghadapi musuhnya dibantu dengan Wisoguno. Tapi Suto cepat berkata kepada Dewa Racun,

"Kasihan Tua Rakus. Temannya yang satu itu tidak akan mampu bertahan satu jurus pun dari kesaktian Doma Damu."

"Apakah kita akan membantu Tua Rakus?" tanya Hantu Laut.

Tiba-tiba Dayang Kesumat ucapkan kata, "Kulemukkan tengkolak kepala kalian kalau ada yang membela meleka!"

Pendekar Mabuk palingkan wajahnya kepada Dayang Kesumat, "Maksudmu, kau keberatan jika kami membela Tua Rakus?"

"Sangat kebelatan jika kalian membela salah satu pihak. Kedua pihak itu memang layak untuk hancul! Tua Lakus tukang pelkosa, halus hancul, dan Doma Damu anak buah Siluman Tujuh Nyawa, memang ada baiknya juga hancul! Jika dia tidak hancul, aku yang akan hanculkan meleka! Dengan begitu kekuatan Siluman Tujuh Nyawa akan semakin belkulang! Suatu saat nanti akulah yang akan kuasai lautan utala ini!"

"Itu ulusanmu...!" ledek Dewa Racun.

Merasa diledek dengan ikut-ikutan cadel, Dayang Kesumat cepat meremas kelingkingnya sendiri. Tiba-tiba Dewa Racun tersentak dengan kepala terdongak, suaranya tak bisa keluar, matanya mendelik. Pendekar Mabuk segera tanggap bahwa Dewa Racun sedang dicekik oleh Dayang Kesumat melalui gerakan tangan yang meremas itu.

Takkk...!

Pendekar Mabuk tidak tinggal diam. Lalu, ia sentilkan tangannya ke arah tangan yang meremas itu. Takkk...!

"Ahhg...!" Dayang Kesumat tersentak dan terpekik lirih sambil melepaskan genggaman tangannya. Lalu tangan itu dikibas-kibaskan karena terasa sangat sakit mendapat pukulan 'Jari Guntur' dari Pendekar Mabuk itu. Ia segera memandang Pendekar Mabuk dengan cemberut.

Suto hanya ucapkan kata, "Jangan coba-coba ganggu kami!"

Dayang Kesumat tidak ucapkan kata apa pun. Ia kembali palingkan pandang ke arah pertarungan Doma, Damu, dan Tua Rakus.

"Heaaat...!" Wisoguno bersalto di udara sambil kibaskan senjata goloknya yang lebar itu. Tapi Damu yang diserangnya bersalto mundur dua kali, kemudian dengan lutut merendah satu ke tanah Damu sentakkan cerminnya dan dari cermin itu keluar sinar hijau bertubi-tubi.

Hantaman terlihat jelas ke tubuh Wisoguno. Sinar hijau itu membungkus Wisoguno yang telah mendaratkan kakinya di atas sebuah batu. Sinar hijau itu membuat si Wisoguno tidak bisa bergerak maupun berteriak. Kejap berikut, sinar hijau itu lenyap. Tapi Wisoguno telah menjadi putih bagai diliputi salju. Salju itu makin lama makin mencair bersama hilangnya bentuk wujud Wisoguno.

Di sisi lain, Tua Rakus berhasil menghantamkan pukulannya ke arah dada Doma. Dada itu menjadi berasap dan Doma jatuh dengan tubuh kejang-kejang. Sebelum menghembuskan napas terakhir, saudara kembarnya segera melompati tubuh Doma. Kejap lainnya, Doma kembali bangkit berdiri dalam keadaan segar seperti semula, ia berdiri berdampingan dengan Damu, siap menghadapi Tua Rakus. Saat itu, Damu berbisik,

"Serang dia bersama!"

"Baik...!"

Baru saja selesai bicara bisik mereka, tiba-tiba Tua Rakus membuka penutup matanya dan sinar biru melesat ke arah perut mereka. "Pergi kau ke neraka sana, hiaaaah...!"

Suttt...! 'Sinar Naga Birawa' menyerang berturut-turut. Tapi Doma Damu cepat sentakkan kaki mereka dan melesat naik ke atas dengan cukup tinggi. Kedua cermin itu segera mereka adu di udara. Trringngng...! Gemanya berdenging memenuhi pulau itu. Beradunya dua cermin kembar itu memancarkan sinar warna pelangi yang indah dipandang mata. Sinar itu melesat tanpa putus-putus langsung mengenai tubuh Tua Rakus yang sempat berlari mundur tiga tindak.

Zzzrrubbb...!

"Aaaahhg...!" Masih sempat terdengar suara pekik Tua Rakus. Selanjutnya sepi. Sinar pelangi itu hilang, yang ada hanya kepulan asap membungkus Tua Rakus. Kepulan asap itu berwarna-warni. Memang sangat indah menakjubkan dipandang mata, namun sangat berbahaya bagi orang yang menerimanya.

Angin laut membawa pergi asap tebal warna-warni itu. Dan segera terlihat nasib Tua Rakus yang diam, berdiri sambil memegang penutup matanya yang tadi akan dibuka lagi namun tak sempat itu. Tua Rakus berdiri dengan tegak dan kekar, tapi membuat Dewa Racun dan Hantu Laut terperangah bengong melihatnya. Sebab, kulit Tua Rakus menjadi hitam keabu-abuan. Tua Rakus menjadi patung batu untuk selama-lamanya.

* * *

SEMBILAN
CERMIN Benggala Kembar, merupakan sepasang pusaka yang amat berbahaya bagi orang-orang yang tidak tahu cara mengatasinya. Bahkan Dayang Kesumat pun mengakui kehebatan pusaka itu, terbukti dengan kagetnya wajah cantik jelita tersebut ketika melihat Doma Damu mengeluarkan Cermin Benggala Kembar.

Cermin itu bukan hanya mengeluarkan sinar saja, namun juga memburu lawan ke mana pun dia lari. Itulah bahaya cermin pusaka tersebut. Kalau cermin itu sinarnya tak bisa memburu, pasti Tua Rakus terhindar dari maut yang membuatnya berubah menjadi batu. Karena saat sinar pelangi yang melesat dari hasil perpaduan dua cermin itu, Tua Rakus sudah melompat mundur beberapa tindak, namun masih saja terburu oleh sinar pelangi maut itu.

Doma Damu merasa sudah menyelesaikan permusuhan besar selama ini antara pihak kapal Siluman Tujuh Nyawa dengan kapal Bajak Naga. Mereka tampak cukup bangga dengan hasil pertarungan itu. Tetapi, langkah mereka tertahan karena sesosok tubuh segera menyerangnya dari belakang. Dengan dua tendangan sekaligus, Dayang Kesumat berhasil membuat Doma Damu terguling ke depan dengan menggeragap.

"Bangsat!" geram Doma yang berdiri lebih dulu. "Rupanya kau lagi yang cari perkara!"

"Pelkalaku belum selesai dengan olangmu si Dadung Amuk!" kata Dayang Kesumat dengan mata indahnya yang pancarkan permusuhan. Sekali lagi ia ucapkan kata, "Aku tahu, pelahu itu adalah pelahu layal hijau yang ditunggangi oleh Dadung Amuk dali Pulau Hantu. Pasti Dadung Amuk kalian sembunyikan! Selahkan dia, dan selesai sudah pelkala kita!"

"Dayang Kesumat," kata Doma setelah ia meredamkan kemarahannya akibat serangan tadi. "Ketahuilah, bahwa orang yang kau cari itu telah mati digantung oleh sang ketua di atas kapal kami!"

"Omong kosong!"

"Tidak! Ini bukan omong kosong!" sahut Damu. "Beberapa saat setelah kami berdua diutus untuk mencari Dadung Amuk dan Hantu Laut, kami terpaksa kembali lagi ke kapal, karena perahu yang kami pakai dalam keadaan bocor. Saat kami tiba kembali ke kapal, ternyata sang ketua baru saja selesai menggantung Dadung Amuk. Dadung Amuk datang sendiri ke kapal kami tanpa Hantu Laut. Lalu, kami pun segera pergi kembali dengan menggunakan kapal milik Dadang Amuk, setelah kami melihat sendiri mayat Dadung Amuk dibuang ke laut!"

Doma tambahkan kata, "Dan ketika kami mengejar kapal Bajak Naga tadi, kami melihat mayat Dadung Amuk yang masih terikat tubuhnya dan terapung-apung dibawa gelombang di perairan sebelah timur pulau ini. Carilah sendiri dan kau akan temukan mayat itu!"

Dayang Kesumat diam sesaat, menghubungkan pengakuan dua kembar itu dengan pengakuan Hantu Laut. Ia menemukan titik kebenaran, mengingat Hantu Laut dan Suto tidak punya hubungan dengan Doma Damu. Jadi tidak ada kesepakatan untuk sama-sama membual cerita seperti itu.

"Sampai petang akan kucali mayat itu. Jika tidak kutemukan, aku akan kembali temukan kalian untuk menghanculkan mulut kalian!" ancam Dayang Kesumat, lalu cepat sentakkan kaki pergi dengan mengendarai pelepah daun kelapanya yang sejak tadi ada di pasir pantai.

Mendengar kata-kata Doma Damu, Hantu Laut menjadi ciut nyalinya. Walaupun dia mempunyai senjata yoyo sakti, yang bisa menggores tubuh lawan dengan gerigi beracunnya, tapi dia merasa tidak akan bisa menghadapi Doma Damu.

Melihat wajah Hantu Laut pucat, Pendekar Mabuk pun segera berkata. "Cepat kita tinggalkan pulau ini! Setelah...."

Belum selesai Pendekar Mabuk bicara Hantu Laut cepat-cepat tinggalkan tempat persembunyian, ia berlari menuju perahunya. Padahal Suto bermaksud mengatakan akan pergi dari pulau itu setelah Doma Damu tinggalkan pulau itu lebih dulu. Tapi rasa takut yang meliputi diri Hantu Laut begitu besar, maka ia ingin menghindar lebih dulu dari kedua temannya itu. Dikarenakan dia lari di tempat terbuka tanpa ada pohon membuat sepasang mata Damu melihat Hantu Laut menuju perahu sebelah sana. Ia segera berkata,

"Doma, lihat...! Dia Hantu Laut yang kita buru!"

"Oh, benar! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak perlu jauh-jauh memburunya, ternyata dia ada di sini!"

"Mungkin sedang mencari tempat untuk perlindungan diri sewaktu-waktu ia terdesak oleh kita!"

"Cepat, kejar dia sebelum mencapai perahunya!"

Hantu Laut semakin ketakutan melihat Doma Damu mengejarnya. Dewa Racun menggeram gemas sambil pukulkan tangannya ke paha.

"Bod...! Boood...! Bodoh! Bodoh amat anak itu!"

"Cepat kita bertindak, dia dalam bahaya!" kata Pendekar Mabuk sambil lebih dulu melesat, lalu Dewa Racun menyusulnya.

Gerakan lari Doma Damu pun cukup cepat. Dalam waktu singkat keduanya sudah sampai di belakang Hantu Laut. Damu berseru, "Berhenti! Atau kusembur kau dengan 'Bromo Seribu Api'!"

Mendengar jurus 'Bromo Seribu Api' yang amat ganas itu disebutkan, Hantu Laut pun cepat hentikan langkahnya, ia merasa tak akan mungkin bisa berlari jauh jika 'Bromo Seribu Api' itu telah disemburkan. Karena sifat jurus 'Bromo Seribu Api' itu berupa gumpalan hawa panas yang keluar dari mulut Doma Damu dan bersifat mengejar lawan sampai dapat. Kabarnya, gumpalan hawa panas itu bisa mendidihkan baja dalam waktu dua helaan napas. Hantu Laut balikkan badan, memaksakan diri menghadapi Doma Damu. Ia sembunyikan rasa takutnya itu dengan berkata, "Untuk apa kau mengejarku, Doma Damu?!"

"Membunuhmu!"

"Membasuhku!?"

"Membunuhmu, Tuli!" sentak Doma Damu bersamaan. Itu pun secara tak sengaja. Hantu Laut sebenarnya kaget, tapi ia bisa tahan diri. Matanya melihat ada Dewa Racun berdiri lima belas langkah di belakang Doma Damu. Hantu Laut menjadi lega, rasa takutnya terhenti, sebab Dewa Racun sudah mulai mengacungkan anak panahnya yang siap lepas ke arah Doma Damu.

Sementara itu, Suto berjalan pelan sambil menenggak tuaknya dari arah kanan Doma Damu. Waktu itu Doma Damu belum melihat Suto dan Dewa Racun, sehingga mereka tak tahu apa yang membuat Hantu Laut berdiri tegar di depannya tanpa memegang Pusaka Tombak Maut.

"Siapa yang suruh kalian membunuh aku?"

"Sang Ketua!" jawab Damu. Lalu, Doma menambahkan. "Tapi jika kau serahkan Pusaka Tombak Maut, sang ketua akan ampuni kamu!"

"Tidak ada tombak pusaka di tanganku! Kau lihat sendiri!" Hantu Laut menggembangkan kedua tangannya.

"Kau pasti telah sembunyikan Pusaka Tombak Maut itu!" geram Damu dengan tak sabar.

"Aku memang tidak mempunyai tombak pusaka itu!" sanggah Hantu Laut.

"Dia bicara dengan sebenarnya!" tiba-tiba Pendekar Mabuk menyahut.

Doma Damu cepat palingkan wajah ke kanan. Mereka memandang heran. "Siapa kamu?!" tanya Doma kepada Pendekar Mabuk.

Hantu Laut yang menjawab dengan rasa bangga, "Dia Pendekar Mabuk yang punya ilmu lebih tinggi dari kalian berdua!"

"Betul apa kata Hantu Laut itu?" tanya Damu kepada Suto.

Suto menjawab dengan santai, "Tidak. Ilmuku tidak lebih tinggi dari kalian. Hanya tak seimbang dengan ilmu kalian!"

Panas hati Damu mendengar jawaban merendah yang sebenarnya tinggi itu. Maka Damu pun segera ucapkan kata, "Kuingatkan sebelumnya, kau jangan ikut campur urusanku dengan Hantu Laut! Kami orang-orang Siluman Tujuh Nyawa!"

"Oh, mengerikan sekali julukannya!" kata Pendekar Mabuk. "Dulu aku punya sapi juga kunamakan Siluman Tujuh Nyawa!"

Semakin mendidih darah Doma Damu mendengar ejekan halus dari mulut Pendekar Mabuk itu. Doma segera berkata kepada saudaranya, "Jangan hiraukan dia! Dia pasti sedang mabuk! Desak saja Hantu gundul itu agar mau serahkan tombak pusaka itu!"

Lalu, Damu segera membentak Hantu Laut, "Kau pilih serahkan tombak itu, atau mati di tangan kami?!"

"Makan jerami!"

"Mati di tangan kami, Budek!" bentak Doma.

"Oh, tentu saja aku tidak pilih keduanya, karena aku memang tidak pegang tombak itu! Mintalah pada Pendekar Mabuk!"

"Jangan alihkan persoalan antara kita! Sudah kudengar kau mau bersekongkol dengan Dadung Amuk untuk mengadakan pemberontakan terhadap sang ketua! Sang ketua hanya kasih kamu kesempatan untuk mencabut hukuman mati dengan menyerahkan tombak pusaka itu!"

"Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak punya!" bentak Hantu Laut dengan berani.

"Berani-beraninya kau membentak kami, hah?! Kurang ajar! Hiaah...!"

Damu melancarkan pukulan tangan kanannya ke arah wajah Hantu Laut. Tapi oleh Hantu Laut ditepiskan dan ia cepat mencabut senjata yoyonya. Serrr...! Trak...! Gerigi tajam keluar dari tepian yoyo yang berputar dan melayang ke wajah Damu. Tapi Damu cepat mencabut cermin, lalu dihantamnya yoyo tersebut dengan cermin itu.

Trangng...!

Wurrsss...! Tiba-tiba Doma menyemburkan napasnya yang berupa gumpalan api menyerang Hantu Laut. Dengan cepat pula Pendekar Mabuk yang baru saja menenggak tuaknya segera disemburkan ke arah api itu. Bruss...!

Sssrrrappp...! Jrrasss...! Api padam seketika. Asap mengepul, menyentak ke atas.

Doma terperanjat melihat Suto ikut campur. Ia menggeramkan kata, "Apa boleh buat, kau pun terpaksa kumusnahkan! Hiaaat...!"

Cermin Benggala Kembar sudah ada di kedua orang kembar itu. Doma mau sentakkan cermin itu kepada Hantu Laut. Tapi Dewa Racun mendului melepaskan anak panahnya dari kejauhan. Zuitt...! Jebb! Anak panah itu menancap di leher Doma. Padahal yang diincar Dewa Racun adalah lengan Doma. Tapi karena gerakan Doma begitu cepat, sehingga yang terkena justru lehernya. Padahal anak panah itu berbulu merah, pertanda beracun ganas.

Doma pun akhirnya rubuh dengan keadaan mengejang kaku, matanya mendelik dengan mulut ternganga. Cepat sekali wajahnya menjadi biru, walaupun sebelumnya ia sudah sempat menarik anak panah yang menancap di lehernya. Dalam kejap berikutnya, ia sudah tidak bernapas lagi. Tergeletak dalam jarak lima langkah dari Hantu Laut. Tapi hanya tiga langkah dari belakang Damu.

Melihat saudaranya mati membiru, Damu segera melompati mayat tersebut. Kejap selanjutnya, mayat Doma mulai bergerak-gerak dan ia pun hidup kembali, kemudian sama-sama melompat mundur untuk mengatur jarak dengan lawannya.

"Tahan semua serangan!" seru Suto Sinting, baik ditujukan kepada kedua temannya maupun kepada kedua lawannya. Ia bermaksud membicarakan masalah itu secara baik-baik, tanpa melalui pertarungan.

Buat kedua teman Pendekar Mabuk hal itu bisa diterima, tapi bagi kedua musuh kembarnya, hal itu tak bisa diterima. Damu segera sentakkan cermin ke atas dan keluarkan sinar hijau ke arah Suto, sedangkan Doma juga sentakkan cerminnya ke atas dan memantulkan sinar merah menyerang Pendekar Mabuk.

Pendekar Mabuk agak kebingungan menghindarinya. Badannya limbung ke kanan dan ke kiri seperti orang mabuk. Tapi dalam kejap berikutnya ia sudah terpental terbang ke atas dan bersalto dua kali ke arah depan hingga melintasi kepala Hantu Laut. Dua sinar itu menghantam batu, dan batu setinggi dua tombak itu hancur menjadi kepingan- kepingan salju.

"Cepat sembunyi!" sentak Suto kepada Hantu Laut. Maka dengan lompatan kuatnya, Hantu Laut mencapai celah dua batu besar. Pendekar Mabuk juga berseru kepada Doma Damu, "Jangan serang aku! Aku ingin bicara secara damai!"

Damu berseru, "Tidak ada ampun bagi penghalang kami! Hiaaah!"

Clappp...! Sinar hijau kembali menyerang Pendekar Mabuk, tapi segera Pendekar Mabuk melimbungkan badannya hingga nyaris jatuh, seperti orang mabuk kehilangan keseimbangannya. Namun sebenarnya Suto menghadapkan bumbung tuaknya ke arah datangnya sinar hijau. Dan sinar itu pun mengenai bumbung tuak, lalu membalik ke arah datangnya tadi dengan lebih cepat dan lebih besar lagi. Sinar hijau membungkus tubuh Damu. Tubuh itu menjadi es yang beku, bagai patung manusia yang dilumuri salju.

"Damu...?!" Doma berseru kaget melihat saudaranya menjadi patung es yang sebentar lagi mencair. Maka, segera ia mendorong patung es itu dan melangkahinya. Warna putih pudar. Kini Damu mulai tampak sebagai sosok manusia utuh. Kemudian bangkit dengan satu sentakan kaki ringan dan berdiri kembali menghadap Pendekar Mabuk.

"Ha ha ha ha...! Kau tak akan bisa membunuhku. Pendekar Mabuk! Lebih baik kau menyingkir dari urusan ini, atau serahkan diri untuk kami penggal kepalamu!"

"Kalian salah anggapan. Aku perlu meluruskan anggapan kalian!" kata Suto.

"Serang bersama! Jangan kasih kesempatan hidup!" kata Doma kepada saudara kembarnya. Lalu, mereka sama-sama melesat naik dengan satu sentakan kaki lembutnya, dan kedua Cermin Benggala Kembar itu diadukan di udara.

Trringngng...!

Zzzuesss...! Sinar pelangi indah melesat menghantam Pendekar Mabuk. Dengan cepat Pendekar Mabuk melompat ke udara dan bersalto hingga mencapai puncak batu tinggi. Tapi sinar pelangi itu masih saja mengejarnya dengan berkelok ke arah Suto Sinting. Cepat-cepat Pendekar Mabuk melompat dari batu ke batu yang lainnya. Tiba ditempat datar, Pendekar Mabuk cepat mengambil bumbung tuaknya dan dihadangkan ke arah datangnya sinar pelangi itu.

Dubbb...! Blarrr...!

Sinar Pelangi menghantam tabung bumbung tuak. Sinar itu tidak memantul balik seperti sinar lainnya jika terkena bumbung tuak. Sinar itu pecah dan menimbulkan ledakan yang membuat Pendekar Mabuk terpental tujuh langkah jauhnya. Bumbung tuaknya terlepas dari tangan.

Dewa Racun tegang dan terkejut melihat bumbung lepas dari tangan Suto. Ia cepat mengambil anak panahnya lagi untuk melancarkan serangan dari jauh. Tetapi, niatnya itu terhenti, sebab ia melihat Doma Damu berlari bersamaan memburu Pendekar Mabuk dan siap menyentakkan Cermin Benggala Kembar itu. Hanya saja, gerakannya terlambat.

Suto sudah lebih dulu sentakkan tangan kanannya yang bertato pedang kecil dan bintang itu. Tangan kanan itu terbuka telapaknya, miring posisinya dengan jari merapat. Menyentak ke depan dengan satu tekanan napas tertentu. Maka dari telapak tangan itu melesatlah sinar emas yang membentuk pedang kecil berkecepatan tinggi. Sinar emas itu melesat berturut-turut dan memecah menjadi dua jurusan. Satu ke arah dada Doma, satu lagi menjurus ke arah Damu.

Jrabb jrab jrab jrab...!

Masing-masing lawannya tertusuk pedang kecil berwarna emas. Itulah jurus 'Manggala' pemberian Ratu Kartika Wangi, sebagai tanda kehormatan Pendekar Mabuk yang diangkat menjadi Manggala Yudha Kinasih di Puri Gerbang Surgawi, yaitu istana di alam gaib. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah).

Jurus 'Manggala' itu mengenai Doma dan Damu. Kedua orang itu tidak segera rubuh. Pedang kecil-kecil berwarna emas yang masuk ke dalam tubuh mereka tidak membuat luka dan darah mengucur. Mereka hanya diam memandang Suto dengan tidak berkedip dan tidak bergerak sedikit pun.

Tapi ketika angin pantai berhembus sedikit lebih kuat, tubuh mereka berhamburan dan akhirnya buyar. Ternyata pada waktu mereka diam tak bergerak memandang Suto, mereka telah menjadi debu yang sangat halus. Sehingga ketika angin pantai menyapunya, debu itu pun beterbangan dan lari dari susunannya.

Hantu Laut tak habis rasa herannya melihat jurus yang digunakan Pendekar Mabuk. Baru sekarang ia melihat seseorang terkena pukulan maut menjadi habis tanpa sisa apa pun kecuali debu yang sudah bertebaran ke mana-mana itu. Bahkan pusaka Cermin Benggala Kembar yang sebagai cermin pemburu nyawa itu, ikut lenyap menjadi debu.

Pendekar Mabuk ucapkan kata ketika Dewa Racun dan Hantu Laut mendekatinya, "Aku sudah mengajak dia untuk damai, tapi keduanya tidak mau damai, apa boleh buat dia kukirim ke alam kedamaian abadi di sana!"

Hantu Laut hanya bisa pandangi Suto tak berkedip dengan sejuta rasa kagum dan terheran-heran tiada habisnya. Hanya dalam hatinya Hantu Laut membatin, "Pendekar Mabuk ini benar-benar sinting ilmunya...! Edan-edanan! Sulit aku mempercayai kenyataan ini!" sambil ia melangkah mengikuti Pendekar Mabuk dan Dewa Racun menuju perahunya.

SELESAI