Social Items

Serial Pendekar Mabuk
Pusaka Tombak Maut
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
PERAHU kecil itu merapat ke pantai bagai tanpa tenaga pendorong. Satu-satunya penumpang perahu kecil itu berdiri di buritan perahunya dengan kaki tegak sedikit merenggang, badannya lurus dengan dada membusung karena montok. Orang tersebut memiliki wajah cantik sederhana, tapi mata kecilnya tampak tajam dalam setiap pandangnya.

Tubuh yang tak terlalu kurus namun cukup padat berisi itu dibungkus pakaian silat warna hijau muda bertepian kain satin merah tua, ikat pinggangnya kain merah tua juga. Di selipan ikat pinggang itu terdapat sebilah pedang bergagang kayu hitam dengan sarung pedangnya yang juga dari kayu hitam mengkilap.

Perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu bersiap diri untuk turun dari perahunya. Namun tiba-tiba perahu kecil itu mengalami sentakan yang mengguncangkan, bahkan hampir saja perahu itu terbalik jika keseimbangannya tidak dijaga oleh perempuan tersebut. Apa yang ia tabrak saat itu, jelas tak ada. Itu berarti perahu tersebut ada yang mengguncangnya dengan dorongan tenaga dalam dari kejauhan tempat.

Ketika posisi perahu sudah kembali normal, perempuan itu cepat sentakkan kakinya ketepian perahu, dan tubuhnya melenting di udara dengan berjungkir balik satu kali. Dalam waktu singkat sepasang kakinya sudah mendarat di pasir pantai dengan sigap, tangan kanannya memegang gagang pedang, siap mencabutnya sewaktu-waktu.

Alam pantai sepi, tiada suara selain desau angin dan gemercik riak pantai. Tetapi mata perempuan berambut ikal yang diikatkan ke belakang sepanjang punggung itu masih menatap sekelilingnya dengan penuh waspada. Setiap gugusan batu atau gerumbulan semak disusuri dengan pandangan matanya yang tajam itu.

"Pasti ada orang yang menyambutku dengan angkuh!" ucapnya di dalam hati. Ia masih belum bergerak sedikit pun kecuali matanya yang bergerak liar kesana-sini. Setelah ia merasa yakin tak ada orang di gerumbulan semak, atau di atas pohon yang menjulur ke pantai, atau di balik gugusan batu yang bertebaran di pantai itu, maka ia pun bergerak memandang ke arah perairan, sampai mendapatkan perahunya sendiri. Ketika ia memandang perahunya, matanya cepat berkedip dengan hati sedikit kaget melihat seseorang telah berada di sana, di buritan tempatnya berdiri tadi.

Seorang lelaki bercelana merah tanpa mengenakan baju, telah berdiri dengan tegak bagai menantang keributan. Orang itu bertubuh kurus sekali, seperti tidak mempunyai daging lagi kecuali tulang yang dibungkus kulit. Rambutnya yang panjang berwarna abu-abu meriap dipermainkan angin pantai, sebagian mata cekungnya tertutup helai-helai rambut. Tangannya lurus ke samping bawah kanan-kiri, tanpa ada kesan ingin mencabut senjata cakra di pinggangnya. Orang itu tak lain adalah Tengkorak Terbang, si penjaga pantai di bawah kekuasaan Ratu Pekat.

Melihat orang mirip tengkorak hidup itu berdiri di perahunya, perempuan tersebut segera serukan kata, "Tinggalkan perahuku atau kuhantam kau dari sini?!"

Tengkorak Terbang diam saja, tak memberi jawaban apa pun, tapi ia tidak mau beranjak pergi dari atas perahu. Matanya yang cekung itu hanya menatap penuh sinar permusuhan, sehingga perempuan itupun segera mengirimkan pukulan jarak jauhnya lewat sodokan tangan kanannya yang bertelapak terbuka dan menghadap ke atas.

Zebb...!

Tengkorak Terbang sentakkan kakinya dan tubuhnya pun melayang bagaikan terbang, lalu bersalto satu kali ke udara, hingga dalam waktu singkat sepasang kakinya telah mendarat di pasir pantai. Jarak berdirinya hanya lima langkah dari perempuan berpakaian hijau muda itu. Tak ada senyum, tak ada ucap. Tengkorak Terbang memperhatikan perempuan itu dengan mata tak berkedip.

"Begitukah caramu menyambut tamu?!" perempuan itu memperdengarkan suaranya yang bening.

Terpaksa orang bertubuh sangat kurus itu menjawab, "Harusnya aku yang bertanya, begitukah caramu datang bertamu di pulauku?"

Perempuan itu sedikit sipitkan mata begitu tahu suara orang berwajah keras dengan tonjolan tulang-tulangnya tampak jelas itu ternyata sangat kecil. Suara Tengkorak Terbang memang cempreng dan sangat tak enak didengarnya.

"Pulau Beliung ini bukan pulaumu! Aku tahu siapa penguasa di pulau ini!" kata perempuan itu dengan ketus.

"Tapi aku petugas penjaga pantai yang punya wewenang untuk menolak kehadiran orang asing!" balas Tengkorak Terbang

"Apakah kau sanggup menolak kehadiran Badai Kelabu?!"

"Apa sulitnya menolak kehadiranmu, Badai Kelabu?! Sekarang juga jika kau tidak segera angkat kaki dan pergi bersama perahumu, kau akan kuhancurkan seperti ombak menghancurkan gundukan pasir!"

"Kulayani sesumbarmu itu, Mayat Hidup!" Sambil berkata begitu, perempuan yang mengaku berjuluk Badai Kelabu itu melangkah ke samping, mencari celah untuk menyerang.

Tapi sebelum ia melakukan penyerangan, tiba-tiba tubuh Tengkorak Terbang telah lebih dulu melesat tanpa diketahui sentakan kakinya. Tubuh kurus kerontang itu bagaikan terbang ke arah Badai Kelabu dan melepaskan satu tendangan kakikanannya yang menyamping.

Wesss...! Tapp...!

Kaki kurus itu dengan mudah ditangkap oleh tangan Badai Kelabu. Mestinya orang yang ditangkap kakinya itu jatuh terpelanting karena Badai Kelabu memelintirnya. Tetapi, gerakan memelintir itu diikuti oleh si tubuh ceking dengan cepat, bahkan ia bergerak bagaikan kipas yang membalik dan dengan menggunakan kaki kirinya menendang wajah Badai Kelabu.

Plokk...!

Tenaga yang keluar cukup besar. Tendangan menyabet itu membuat wajah Badai Kelabu bukan hanya terlempar ke samping, namun juga tersentak ke belakang. Wajah itu menjadi merah. Penglihatannya sempat kabur sebentar. Pegangan tangannya pada kaki Tengkorak Terbang pun lepas.

Badai Kelabu terhuyung ke belakang hampir jatuh, sedangkan Tengkorak Terbang pun jatuh dalam posisi tengkurap, kedua telapak tangannya menapak di tanah. Tangan itu segera menghentak, dan tubuhnya kembali melenting tinggi lalu bersalto satu kali, dan dalam waktu singkat sepasang kaki kurusnya sudah menapak di tanah dengan sigap dan tampak kekar walaupun kurus sekali.

Tengkorak Terbang memperdengarkan tawanya yang merusakkan gendang telinga, "Hiaak, hak hak hak hak hak...!" Tubuhnya terguncang-guncang karena tawanya.

Badai Kelabu menggeram sambil menarik napasnya. Dalam hati ia membatin kata, "Boleh juga tendangannya. Berat dan mantap. Wajahku terasa bagai disembur api. Panas sekali. Kalau aku bukan orang berilmu, pasti wajahku sudah somplak disabet tendangan kaki kurus itu! Agaknya orang ini punya ilmu yang cukup lumayan juga."

Tengkorak Terbang memperdengarkan suaranya lagi, "Pulanglah daripada kau mati sia-sia di sini, Badai Kelabu!"

"Aku akan pulang setelah melihat mayatmu terkapar di pantai ini! Hiaaat...!" Cepat sekali Badai Kelabu tahu-tahu telah melesat terbang dengan kaki mengarah ke wajah Tengkorak Terbang. Kaki itu ditahan oleh telapak tangan Tengkorak Terbang.

Plakk...!

Pertemuan telapak kaki dengan telapak tangan itu justru membuat tubuh Badai Kelabu bersalto maju satu kali. Tubuhnya melayang melewati kepala Tengkorak Terbang, dan ketika gerakan saltonya berguling, kaki kirinya menyepak ke belakang dengan kuat dan tepat mengenai punggung Tengkorak Terbang.

Bukkk...!

Kaki Badai Kelabu bagai mendapat tempat pijakan baru, maka tubuhnya pun tersentak maju dan berguling di pasiran pantai. Dalam kejap berikut tubuh itu telah kembali berdiri membelakangi Tengkorak Terbang yang segera membalikkan badan untuk menghadap lawan.

Tapi rupanya lawan sedang tersungkur akibat sepakan kaki yang mirip tendangan kuda tadi. Tengkorak Terbang cepat-cepat bangkit dengan wajah dan rambut dikibaskan karena bercampur pasir. Lelaki kurus kerontang itu menggeram dengan mata lebih tajam memandang. Di dalam hatinya ia berkata,

"Kurang ajar, tendangan bertenaga dalam itu membuat tengkuk kepalaku kesemutan dan kaku! Lumayan juga dia punya isi. Aku tak boleh menganggapnya enteng!"

Badai Kelabu sunggingkan senyum mengejek, ia juga ucapkan kata bernada ketus, "Baru satu jurus saja kau sudah kerepotan menghadapiku, Mayat Hidup! Apalagi lebih dari satu jurus, kau akan kerepotan menghadapi liang kuburmu sendiri!"

"Jangan bangga dengan tendangan cacingmu itu, Badai Kelabu! Aku bukan orang yang mudah dirobohkan oleh perempuan pucat macam kau, tahu?! Cuih...!"

Tengkorak Terbang meludah sebagai penghinaan. Tetapi segera matanya terkesiap, dahinya berkerut, karena apa yang diludahkan dari mulutnya itu ternyata adalah darah kental. Wajah kagetnya ditertawakan oleh Badai Kelabu, sedangkan Tengkorak Terbang hanya membatin kata, "Wah, gawat! Aku terluka di bagian dalam?!"

Tawa perempuan berwajah lonjong itu makin terdengar jelas. Tapi tawa itu sendiri cepat terhenti setelah ia menyadari beberapa helai rambutnya ada yang rontok, terbang terbawa angin. Badai Kelabu menjadi kaget melihat rambutnya mudah terbawa angin, ia berkata dalam hatinya,

"Kurang ajar! Rupanya tendangan kakinya yang menampar wajahku tadi benar-benar dialiri tenaga dalam yang cukup besar. Panas masih kurasakan di sekitar kepala dan panas itu membuat rambutku menjadi rontok?! Edan! Harus segera kulawan rasa panas ini memakai hawa dinginku, biar tak menjadi botak kepalaku karena kehilangan banyak rambut!"

Rupanya di seberang sana, Tengkorak Terbang juga sedang memejamkan mata dalam sikap berdiri dan menundukkan kepala, ia mencoba mengobati luka dalamnya dengan tahan napas beberapa saat. Dan Badai Kelabu pun buru-buru menyalurkan hawa dinginnya di kepala untuk meredam hawa panas yang hampir merontokkan rambutnya itu.

Kejap berikutnya, mereka berdua sudah kembali sama-sama siap bertarung lagi. Jarak mereka menjadi tujuh langkah, karena masing-masing merasa tak mau kecurian gerak yang bisa membahayakan jiwa mereka masing-masing. Mata mereka pun saling pandang tak berkedip untuk memperhatikan setiap gerakan kecil dari masing-masing lawan.

"Kuingatkan sekali lagi, tinggalkan pulau ini supaya kau masih bisa menikmati hidup di masa tuamu nanti, Badai Kelabu!"

"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Nyai Ratu Pekat!"

"Hiiak, hak hak hak hak hak...!" Tengkorak Terbang tertawa keras dengan suaranya yang merusakkan gendang telinga. Badai Kelabu sempat kerutkan dahi menahan telinganya yang terasa sakit. Lalu, Tengkorak Terbang serukan kata lagi. "Justru kau akan cepat mati kalau bertemu dengan Ratu Pekat!"

"Aku datang bukan untuk bermusuhan dengannya. Aku datang sebagai tamu! Tamu yang ingin meminta bantuan dari Nyai Ratu!"

"Untuk sementara ini, Ratu tidak menerima tamu siapapun!"

"Aku berteman baik dengan Ratu!"

"Tidak peduli teman baik atau teman jelek, tugasku adalah menolak siapa pun yang ingin datang ke pulau ini! Ketahuilah Badai Kelabu, untuk sementara pulau ini tertutup bagi siapa pun! Orang yang nekat datang kemari, berarti musuh kami! Dan aku berkuasa untuk menghancurkannya!"

"Rupanya Nyai Ratu Pekat sudah memutus tali persahabatan dengan siapa pun dan menjalin tali permusuhan dengan teman-teman baiknya!"

"Hiak, hak hak hak hak...! Boleh saja kau menyimpulkan begitu, Badai Kelabu, tapi kau tetap harus pergi dari pulau ini!"

"Aku akan memaksa Nyai Ratu Pekat untuk menerimaku!" kata Badai Kelabu sambil maju satu tindak.

Tengkorak Terbang pun maju satu tindak dan berkata, "Kalau kau bisa mengalahkan Tengkorak Terbang, baru kau bisa mendesak Nyai Ratu Pekat! Tapi kurasa, itu usahamu yang sia-sia, karena kau akan mati tanpa membawa hasil apa pun, Badai Kelabu!"

"Kita buktikan siapa yang unggul di antara kita, Tengkorak Terbang!" sambil berkata begitu, kedua tangan Badai Kelabu mulai mekar jari-jemarinya, perlahan-lahan bergerak ke atas, lalu memutar lewat belakang satu persatu.

Pada saat yang sama, Tengkorak Terbang pun cepat kerahkan tenaga yang membuat kedua tangannya gemetar. Telapak tangannya saling terkatup di dada, menempel lekat dengan kaki kian merendah. Dan tiba- tiba kaki yang merendah itu menghentak ke bumi, tubuhnya pun terlempar ke atas sambil dilepaskannya pukulan jarak jauh bertenaga dalam cukup besar itu. Kedua tangan Tengkorak Terbang menyentak ke depan dan, wessss...! Pukulan tenaga dalam tanpa wujud tanpa warna itu melesat ke arah Badai Kelabu.

"Hiaaat...!" pekik Badai Kelabu dengan menyentakkan kedua tangan dari atas ke bawah, seperti melepaskan burung dalam genggaman.

Wuuuhgg...!

Tali badai dilepaskan. Pukulan tenaga dalam Tengkorak Terbang tersentak ke atas dan menimbulkan suara dentaman yang teredam. Karena pada saat itu, angin badai datang menghantam. Tubuh Tengkorak Terbang yang kurus kerontang itu terhempas oleh kekuatan angin badai yang seolah-olah hanya dalam satu kelompok saja.

Batu besar yang ada di belakang Tengkorak Terbang ikut terhempas bergeser tiga langkah dari tempatnya. Sedangkan tubuh Tengkorak Terbang sendiri jatuh membentur batu dalam jarak lima langkah lebih dari tempatnya semula. Tubuh kurus itu seperti bungkusan kosong yang dibuang dan dihempaskan begitu saja tanpa bisa menjaga keseimbangan tubuh.

Begggh...!

"Uhhg...!" Tengkorak Terbang terpekik dengan suara tertahan. Tulang rusuknya terasa sakit diadu dengan batu besar, juga bagian pundaknya terasa ngilu dan lecet karena benturan batu tersebut. Napas Tengkorak Terbang terasa sesak, seakan dihimpit benda berat dan besar. Pukulan 'Badai Gunung' itu seakan masih saja menyerangnya walau tubuh Tengkorak Terbang telah merapat dengan batu besar. Rambutnya meriap-riap ke belakang, dadanya terasa sakit sekali. Tengkorak Terbang berusaha melawan tekanan berat dari pukulan 'Badai Gunung' yang belum dihentikan oleh Badai Kelabu itu.

Kedua tangan Tengkorak Terbang berusaha mendorong sesuatu yang tak kelihatan di bagian depannya. Tenaganya terkuras, urat dan ototnya mengeras, ia sampai meringis-ringis menahan tenaga yang begitu besar menghimpitnya, bagai ingin membuat tubuhnya tergencet batu di belakangnya. Tetapi, sekuat tenaga Tengkorak Terbang, kekuatan besar dari pukulan 'Badai Gunung' itu masih belum bisa dihindari.

Badai Kelabu belum mau menarik tangannya ke belakang. Matanya masih tertuju pada lawan. Tenaganya masih dikerahkan, dan semburan angin badai masih terarah pada satu tujuan. Benda-benda di luar jalur arah angin badai itu tidak ikut terpental dan terhempas. Kekuatan angin badai itu kira-kira hanya membentuk semacam jalur yang lebarnya dua langkah dari sisi kanan-kiri mereka.

"Di mana sumbarmu, Tengkorak Dekil...?! Ayo, hadapi pukulan 'Badai Gunung'-ku ini, hiiaah...!"

Makin keras datangnya tekanan badai ke arah Tengkorak Terbang, semakin kewalahan orang kurus kerontang itu menahannya. Sampai-sampai, batu yang dipakai bersandar punggung Tengkorak Terbang itu pun bergerak-gerak, mulai bergeser dari tempatnya. Sebentar lagi pasti akan terhempas juga bersama tubuh Tengkorak Terbang.

Dalam keadaan kritis begitu, Tengkorak Terbang cepat mencabut senjata cakranya yang berujung bergerigi. Senjata itu dipegang menggunakan dua tangan, bagian ujungnya dihadapkan ke depan. Tetapi kaki Tengkorak Terbang mulai terangkat-angkat karena hempasan angin kencang yang hampir menerbangkan tubuhnya.

"Hiaaaahh...!" Tengkorak Terbang pekikkan suara nyaringnya yang kering dan sember itu. Roda bergerigi di ujung senjata cakra berputar cepat bagaikan baling-baling. Kecepatan putaran gerigi itu memercikkan api merah. Api itu menyembur ke depan, semakin lama semakin besar dan membuat tubuh Tengkorak Terbang mulai terbebas dari tekanan angin badai.

Sementara itu, di seberang sana Badai Kelabu masih bertahan melepaskan kekuatan badainya dengan lebih besar lagi melalui kedua telapak tangannya yang terbuka dan ujung telapaknya menghadap ke tanah. Tangan itu pun gemetar bagai menerima tekanan yang membalik dari percikan bunga-bunga api senjata cakra itu.

Tubuh Tengkorak Terbang terasa makin ringan, makin bebas bergerak. Dan tenaga dalamnya tetap dikerahkan membuat senjata cakra itu semakin banyak menyemburkan percikan bunga api merah, hingga menimbulkan suara, wooooossss...!

Kejap berikut, Tengkorak Terbang sengaja menjejakkan kakinya hingga tubuhnya melesat ke atas. Percikan bunga api hilang. Badai yang dikerahkan lewat tangan perempuan itu menghantam apa saja yang ada pada jalur bekas tempat berdiri Tengkorak Terbang. Dari udara, senjata cakra itu dikibaskan bagaikan pedang menebas kepala lawan. Kibasan itu menyemburkan nyala api kuning kehijau-hijauan, wuuuut...!

Badai Kelabu cepat gulingkan tubuh ke tanah, karena kilatan cahaya kuning kehijauan itu melesat cepat bagai mau memenggal kepalanya. Dengan berguling ke tanah, cahaya kuning kehijauan itu terhindar dari lehernya, dan sebagai sasarannya adalah sebatang pohon kelapa yang melengkung ke arah pantai.

Crassss...! Buurrrk...! Batang pohon kelapa itu terpotong dengan rapi, dan cepat sekali menjadi rubuh pada bagian yang terpotong itu. Srettt...!

Badai Kelabu mencabut pedang hitamnya, ia segera melompat ke depan menerjang Tengkorak Terbang yang juga melompat ke depan, hingga ke dua senjata itu beradu dalam satu suara pekikan Badai Kelabu.

"Ciaaaaat...!" Duarrr...!

Keduanya sama-sama terpental ke belakang dan jatuh tanpa bisa menyangga keseimbangan tubuh mereka. Benturan dua senjata bertenaga tinggi itu melepaskan satu ledakan dan sentakan yang begitu kuat, yang membuat keduanya sama-sama terpental. Lalu, keduanya pun sama-sama cepat bangkit dan siap menyerang lagi.

"Tahan...!" terdengar seruan dari belakang Tengkorak Terbang. Seruan itu datang dari perempuan muda berpakaian serba ungu, dialah putri penguasa Pulau Beliung itu. Dialah yang berjuluk Cempaka Ungu. Ia menyandang pedang di punggung yang dililit kain ungu.

Cempaka Ungu segera melompat, bersalto di udara satu kali dan mendarat di tanah pertengahan antara Tengkorak Terbang dan Badai Kelabu. Kehadiran Cempaka Ungu membuat serangan kedua orang itu tertahan dan saling menghentikan gerakan.

"Badai Kelabu!" ucap Cempaka Ungu yang sudah mengenali perempuan yang menggenggam pedang hitam itu.

"Syukur kau masih mengenaliku, Cempaka Ungu!" kata Badai Kelabu sambil menghembuskan napas panjang, mengendurkan ketegangannya.

"Apa maksudmu menyerang Tengkorak Terbang?" tanya Cempaka Ungu.

"Jika bukan karena diserang, aku tak akan menyerang! Jika bukan karena ingin dibunuh, aku tak ingin membunuh!"

Cempaka Ungu palingkan wajah kepada Tengkorak Terbang. Tapi sebelum Cempaka Ungu ajukan tanya, Tengkorak Terbang sudah lebih dulu serukan kata keras nyaring,

"Seperti perintah Nyai Ratu, aku berhak mengusir tamu siapa saja orangnya. Dan tugas itu kujalankan!"

"Badai Kelabu teman baik ibuku, Tengkorak Terbang!"

"Tak peduli teman baik, karena perintah ibumu hanya mengusir orang yang mencoba datang ke pulau ini, tak terkecuali!"

Cempaka Ungu segera melangkah mendekati Tengkorak Terbang dan berkata dengan suara pelan. "Biarkan dia datang menemui Ibu!"

"Tak ada izin dari ibumul Aku tak berani lepaskan dia!"

"Dia bisa kita gunakan sebagai sekutu, dan akan membantu menghadapi kedatangan Siluman Tujuh Nyawa!"

"Aku tak berani simpulkan begitu, Cempaka Ungu!"

"Aku yang menjamin dirinya! Biarkan dia datang menemui Ibu!"

"Bagaimana kalau aku tetap melarangnya?"

"Kau akan berhadapan denganku. Tengkorak Terbang!"

* * *

DUA

ISTANA Cambuk Biru pernah menjadi istana berdarah karena kedatangan anak buah Siluman Tujuh Nyawa yang bernama Gagak Neraka. Dalam kaitan peristiwa berikutnya, Suto melihat seorang pengkhianat yang mengadakan kontak hubungan dengan kekuatan tenaga batinnya kepada Siluman Tujuh Nyawa. Dalam perkiraan Pendekar Mabuk, akan datang serombongan kapal dari orang-orangnya Siluman Tujuh Nyawa untuk menyerang Pulau Beliung dan menguasai istana tersebut (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Istana Berdarah).

Karenanya, Pendekar Mabuk dan Nyai Ratu Pekat bersepakat untuk menolak kedatangan tamu siapa pun juga orangnya, karena dikhawatirkan akan menjadi mata-mata utusan Siluman Tujuh Nyawa. Tengkorak Terbang yang bertugas sebagai penjaga pantai, walau gelar panglimanya sudah dibatalkan, tapi ia tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Tak peduli Badai Kelabu teman baik dari Ratu Pekat, ia tetap saja menolak kehadiran tamu tersebut dengan cara sekeras apa pun.

Tetapi, Cempaka Ungu mendesaknya untuk menerima tamu yang satu itu. Tengkorak Terbang bukan takut kalah tarung dengan Cempaka Ungu, tapi takut kepada ibu gadis itu jika gadis itu dikalahkannya. Mau tak mau Tengkorak Terbang melepaskan musuhnya dan membiarkan Badai Kelabu dibawa oleh Cempaka Ungu ke istana.

Di istana, Ratu Pekat sedang berbincang-bincang dengan Suto, si Mata Elang, dan Dewa Racun. Saat itu Singo Bodong sedang membantu empat prajurit yang membangun kembali pintu gerbang istana.

Kedatangan Badai Kelabu disambut dengan baik oleh Ratu Pekat. Bahkan perempuan berusia sekitar lima puluh tahunan, mengenakan pakaian hitam sebatas dada yang ditaburi manik-manik emas dengan dirangkap baju jubah putih dari bahan sutera, dan mengenakan kalung berliontin batu hitam itu, memeluk Badai Kelabu dengan penuh keakraban.

Tetapi, Mata Elang yang berdiri di samping Ratu dengan tegap dan berpakaian serba merah itu, memandang penuh kecurigaan kepada Badai Kelabu. Setiap gerakan yang ditimbulkan oleh Badai Kelabu itu tak luput dari incaran kewaspadaan mata pengawal pribadi Ratu Pekat itu.

Sedangkan Pendekar Mabuk hanya memandangnya dengan senyum tipis di bibir, dan Dewa Racun memperhatikan dengan mata sedikit menyipit, merasa pernah melihat perempuan yang baru datang itu.

"Semakin cantik dan hebat kau, Badai Kelabu!" puji Ratu Pekat yang rambutnya sudah mulai ditaburi uban walau tak terlalu banyak.

"Jangan puji aku demikian, Nyai. Aku sedang bersedih, dan menjadi lebih sedih lagi setelah mendengar cerita dari Cempaka Ungu tentang musibah yang melanda Istana Cambuk Biru ini."

"Ya, aku pun ikut sedih. Tapi masa berkabungku ini tak mau kubuat berlarut-larut. Semua sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa. Dan... oh, tentunya kau sudah mengenal kedua tamuku ini, Badai Kelabu," sambil Ratu Pekat menunjuk Pendekar Mabuk dan Dewa Racun.

Badai Kelabu memandang kepada Dewa Racun, lalu menatap Pendekar Mabuk beberapa saat lamanya. Hatinya berdebar-debar menerima senyuman Suto, si murid sinting Gila Tuak itu, yang berdiri dengan tenang, kedua tangan terlipat di dada, bumbung bambu tuak terselempang di punggung, mengenakan pakaian coklat celana putih. Baju coklatnya tanpa lengan, rambutnya tanpa ikat kepala, tapi justru membuat Suto tampak lebih tampan daripada seandainya ia memakai ikat kepala.

Cempaka Ungu menjadi tak enak hati melihat Badai Kelabu menatap Pendekar Mabuk tiada berkedip, ia segera palingkan pandang dengan hati kesal. Dan pada saat itu, Badai Kelabu berkata kepada Ratu Pekat,

"Tamumu yang kerdil berpakaian bulu serba putih ini kukenal dengan julukan Dewa Racun. Aku tahu dia orang Pulau Serindu, Nyai. Tapi tamumu yang tampan itu, baru sekarang aku melihatnya," Badai Kelabu melirik Suto lagi sekejap.

"Dia murid sinting si Gila Tuak dari Jurang Lindu!"

"O, ya... aku tahu nama si Gila Tuak, tapi aku tak pernah tahu kalau si Gila Tuak punya murid senakal itu!" kata Badai Kelabu, karena ia menganggap senyuman Pendekar Mabuk itu sungguh nakal menggoda hati.

"Namanya Suto!" tambah Ratu Pekat. "Dia yang menyelamatkan kami dari amukan anak buah Siluman Tujuh Nyawa."

Badai Kelabu sunggingkan senyum sekejap, melirik Suto sesaat, kemudian senyumnya hilang. Wajahnya menjadi keruh, dan ia pun ucapkan kata bernada duka. "Kedatanganku kemari juga ada hubungannya dengan Siluman Tujuh Nyawa, terutama dengan anak buahnya yang dikenal sebagai Nakhoda Kapal Neraka yang bernama Tapak Baja itu."

"Hmmm... ada apa dengan Tapak Baja?"

"Dia melukai guruku, Nyai."

"Melukai gurumu?" Nyai Ratu Pekat bernada heran. "Setahuku gurumu orang berilmu tinggi! Bagaimana mungkin dia bisa dilukai oleh Tapak Baja?"

"Karena sekarang Nakhoda Kapal Neraka itu mempunyai senjata yang sangat dahsyat dan sulit dikalahkan."

"Senjata apa yang dimilikinya?" desak Ratu Pekat.

"Pusaka Tombak Maut!"

"Ooh...?!" Ratu Pekat nampak kaget. Bahkan Dewa Racun sempat tersentak kaget dan memandang Ratu Pekat. Mereka saling pandang sebentar, lalu Ratu Pekat alihkan padang kepada si Mata Elang yang rupanya juga ikut terperanjat demi mendengar Pusaka Tombak Maut disebutkan Badai Kelabu. Dewa Racun memandang Pendekar Mabuk, tapi Suto tetap tenang. Tak ada rasa kaget kecuali bingung dan berkerut dahi.

"Ccee... cee... celaka!" ucap Dewa Racun dengan gagap, karena mulutnya tidak beraroma ikan bakar. Jika ia habis makan ikan bakar dan sisa aroma ikan masih ada di mulutnya, ia akan bicara dengan lancar.

"Apa hebatnya Pusaka Tombak Maut itu?" tanya Suto.

"It... it... itu senjata pusaka yang berba... ba... bahaya!" kata Dewa Racun. "Tap... tap... tapi, setahuku senjata itu bukan milik si Tapak Baja!"

"Benar," sahut Ratu Pekat. "Setahuku senjata Pusaka Tombak Maut itu milik seorang tokoh sakti yang berjuluk Ki Jangkar Langit!"

"Jangkar Langit?" Pendekar Mabuk gumamkan kata. "Sepertinya guruku pernah menyebut-nyebut nama Jangkar Langit."

"Jika kau memang murid si Gila Tuak," kata Ratu Pekat yang baru-baru ini saja dia mengetahui siapa Pendekar Mabuk itu, "Tentunya kau pernah mendengar nama Jangkar Langit dari mulut gurumu, karena Ki Jangkar Langit adalah teman baik gurumu."

"Lalu, di mana letak kedahsyatan Pusaka Tombak Maut itu?" tanya Suto kepada Badai kelabu.

Perempuan itu ingin menjawabnya, tapi lidahnya bagaikan kelu. Nyai Ratu Pekat yang menjelaskan pertanyaan itu, "Pusaka Tombak Maut itu adalah sebuah tombak yang ujungnya terbuat dari taring babi hutan, alias taring genjik. Babi hutan itu adalah jelmaan dari tokoh sesat zaman dulu, yang berhasil dibunuh oleh Ki Jangkar Langit. Pusaka itu bisa dipakai membunuh orang satu pulau dengan hanya ditancapkan pada satu tanah. Tanah itu akan mengeluarkan gas beracun dan seluruh penghuni pulau itu akan mati. Apalagi jika ada angin besar, maka gas beracun itu pun bisa terbawa angin ke pulau lain dan menewaskan orang di tempat lain. Pusaka itu dapat menggegerkan orang dalam dua-tiga pulau dengan gas beracunnya itu, sehingga diberi nama Pusaka Tombak Maut."

Cempaka Ungu yang baru mendengar cerita itu menjadi terbengong-bengong menyimaknya. Pendekar Mabuk hanya berkerut dahi sambil mulutnya sedikit melongo membayangkan sebuah pusaka yang punya kehebatan seperti itu. Menurut Suto, setiap lapisan tanah mempunyai lapisan gas beracun. Jika tombak itu ditancapkan di tanah, maka gas beracun akan terhisap keluar, dan menyebar ke mana-mana. Jadi, tombak itu adalah tombak penghisap racun yang berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia.

Badai Kelabu masih mencuri-curi pandang pada Pendekar Mabuk. Tetapi Suto tidak menghiraukan, sebab ia segera tertarik dengan ucapan kata dari Dewa Racun yang terputus-putus karena gagapnya itu,

"Tap... tap... Tapak Baja akan semakin ganas jika memegang senjata pusaka itu. Ap... ap... apalagi... apalagi dia adalah salah satu dari kelim...aal...al...al..."

"Alang-alang!"

"Bukan. Al... algojo! Dia satu dari kelima algojonya Siluman Tujuh Nyawa, yang tugasnya menghancurkan lawan yang harus cepat disingkirkan. Pas... pas... pas..."

"Pasar?!"

"Bukan! Pa....Pasti pasti Tapak Baja akan semakin merajalela keganasannya dengan menggunakan senjata pusaka itu."

"Juga semakin ganas," celetuk si Mata Elang yang sejak tadi diam saja itu.

"Kalau begitu," Cempaka Ungu ikut bicara, "Sangat berbahaya jika Siluman Tujuh Nyawa menugaskan Tapak Baja untuk menyerang pulau kita ini, Ibu!"

"Ya. Sangat berbahaya," jawab Ratu Pekat dalam tatapan mata menerawang. "Karena...Pusaka Tombak Maut adalah jenis pusaka yang sulit dicari tandingannya, tak bisa dikalahkan dengan pusaka apa pun juga. Dia mempunyai sifat dan gerakan yang berbeda dari pusaka-pusaka pada umumnya."

Pendekar Mabuk mengambil bumbung tuaknya, lalu menenggak tuak di depan mereka tanpa rasa canggung ataupun malu-malu. Tuak diteguk tiga kali, setelah itu dikembalikan pada posisinya semula, ia kelihatan orang yang paling berwajah tenang, walau sudah mendengar banyak tentang keganasan Pusaka Tombak Maut di tangan Tapak Baja. Bahkan Dewa Racun sendiri kelihatan gelisah memikirkannya, Cempaka Ungu tampak cemas memikirkan nasib istananya yang bisa direbut dengan mudah oleh Tapak Baja.

Selewat hening sekejap, Ratu Pekat bertanya kepada Badai Kelabu, "Lantas apa maksudmu datang kemari, Badai Kelabu?"

"Guru terluka oleh pusaka itu. Dalam waktu sesingkatnya mungkin aku harus mencari obat untuk menyembuhkan luka Guru. Menurut Guru, hanya ada satu cara yang bisa menyembuhkan lukanya, yaitu dengan menggunakan sebuah batu yang bernama Batu Galih Bumi," sambil mata Badai Kelabu menatap ke arah kalung Ratu Pekat.

Mendengar nama Batu Galih Bumi disebutkan, Ratu Pekat terkejut, demikian juga Cempaka Ungu dan si Mata Elang. Dewa Racun manggut-manggut dalam bungkamnya mulut, sedangkan Pendekar Mabuk hanya sedikit kerutkan dahinya, masih kurang jelas apa yang dimaksud Batu Galih Bumi dan mengapa Ratu Pekat jadi terkejut.

Terdengar kembali Badai Kelabu ucapkan kata, "Guru mengutusku datang menemuimu, Nyai. Guru ingin meminjam Batu Galih Bumi yang kau pakai sebagai kalung itu."

Suto pun segera manggut-manggut kecil, karena sekarang dia mengerti bahwa ternyata yang dimaksud Batu Galih Bumi itu adalah liontin yang dipakai kalung Ratu Pekat. Batu hitam sebesar mata pete itu dipandangi oleh Suto beberapa saat. Tiba-tiba kepala Pendekar Mabuk tersentak ke belakang sedikit. Seperti ada satu tenaga yang terpancar dari batu itu dan mencolok matanya, membuat kepalanya tersentak mundur dalam gerakan tak kentara.

Pendekar Mabuk hanya membatin, "Hmmm... memang ada isinya batu itu."

Terdengar Dewa Racun berkata kepada Pendekar Mabuk, "Ssssu... Suto, ikutlah aku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu!"

Kemudian, Dewa Racun juga berkata kepada Ratu Pekat, "Mmma... maa... maaf. Ratu... saya mau ada sedikit pembicaraan dengan Pendekar Mabuk."

"Ya, silakan!" jawab Ratu Pekat mulai terdengar ketus. Pasti sedang menahan suatu pergolakan rasa di dadanya.

"Bagaimana, Nyai? Boleh aku pinjam Batu Galih Bumi itu?" desak Badai Kelabu setelah Pendekar Mabuk dan Dewa Racun pergi.

Ratu Pekat menjawab, "Tidak kuizinkan siapa pun meminjam ataupun memegang Batu Galih Bumi ini," seraya ia memegang batu di kalungnya.

"Nyai, guruku dalam keadaan berbahaya. Pukulan 'Tombak Maut' bisa membuat jiwa Guru melayang jika tidak segera diobati dengan Batu Galih Bumi."

"Aku tak peduli dengan sakit gurumu. Jika urusannya sampai pada meminjam Batu Galih Bumi, aku tidak sanggup memberikan bantuan apa-apa pada gurumu!"

"Kami menjamin akan mengembalikan Batu Galih Bumi itu, Nyai Ratu."

"Aku tetap tidak bisa meminjamkannya. Sebab aku tahu watak gurumu itu sering licik. Bisa-bisa batu ini tidak kembali ke tanganku dan menjadi miliknya."

"Nyawaku sebagai jaminannya, Nyai Ratu."

"Nyawamu tidak sebanding nilai dan harganya dengan batu ini, Badai Kelabu," kata Ratu Pekat semakin hilang kesan persahabatannya.

"Jadi apa yang harus saya lakukan jika Nyai Ratu tidak mengizinkannya? Saya bingung, Nyai!" ucap Badai Kelabu bernada sesal.

"Pulanglah dan katakan kepada gurumu, aku tak bisa meminjamkan Batu Galih Bumi untuk keperluan apa pun, dan kepada siapa pun tak akan kupinjamkan batu ini!"

"Padahal, pesan Guru saya harus merebut batu itu jika tidak boleh dipinjamkan!"

"Itu berarti kau harus melawanku, Badai Kelabu!"

"Melawan siapa pun saya tak akan mundur, Nyai Ratu. Demi menyelamatkan jiwa Guru, saya siap mati bertarung dengan siapa pun."

"Badai Kelabu!" sentak Cempaka Ungu yang mulai tersinggung dengan ucapan-ucapan Badai Kelabu. "Jika kau memaksa ibuku dan mau melawannya, kau harus hadapi dulu anaknya!" Cempaka Ungu menepuk dada.

"Apakah kau lawan sebandingku, Cempaka?"

"Keparat! Kau benar-benar teman yang tidak bisa menghargai nilai persahabatan. Hihhh...!"

Tapp...!

Tangan Cempaka Ungu yang ingin menghantam Badai Kelabu itu ditangkap oleh tangan ibunya. Mata Cempaka Ungu melirik tajam kepada ibunya dan sang Ibu berkata, "Dia memang bukan lawan tandingmu, Cempaka!"

"Biarkan saya menghajar mulutnya, Ibu!"

"Jangan! Aku tahu, Badai Kelabu punya ilmu lebih tinggi darimu! Bukan kau yang harus melawannya, tapi aku sendiri!"

"Atau, biarkan aku yang maju, Nyai!" kata si Mata Elang. Dan tiba-tiba dari sepasang mata lelaki muda yang berompi merah berhias manik-manik emas itu keluar cahaya seperti lidi panjang berwarna kuning. Menghantam ke wajah Badai Kelabu.

Tetapi dengan cekatannya Badai Kelabu menyentakkan tangannya ke depan dalam posisi terbalik. Dari pangkal jari yang bertulang menonjol itu keluar gelombang tenaga dalam yang menghentak ke depan, menyambut sinar kuning dari mata si Mata Elang. Mestinya, lawan yang terkena sinar kuning itu akan terjengkang ke belakang bahkan mungkin terlempar jauh dari tempatnya. Tetapi, yang terjadi adalah kebalikannya. Tubuh si Mata Elang tersentak ke belakang ketika sinar kuning itu masuk kembali ke matanya.

Wuttt...! Blluggh...!

Tubuh si Mata Elang membentur pilar dengan kerasnya. Pilar itu berada dalam jarak delapan langkah dari tempatnya semula.

Melihat si Mata Elang terlempar sebegitu rupa dan menjadi sulit bernapas, Ratu Pekat belalakkan mata garangnya, lalu dengan satu sentakan tangan kirinya ia berhasil melepaskan pukulan jarak jauh kepada Badai Kelabu. Sang tamu itu pun terlempar keluar dari serambi istana, dan Ratu Pekat segera melompat untuk mengejar Badai Kelabu ke halaman depan istana.

"Badai Kelabu! Jika aku terpaksa membunuhmu, bukan karena aku tidak menghargai persahabatan kita selama ini, tapi karena aku mempertahankan batu pusakaku ini! Jangan kau salahkan diriku jika nyawamu sampai melayang, karena kau tak mau mengikuti saranku untuk segera pulang ke Pulau Hitam!"

"Nyai Ratu," kata Badai Kelabu dengan berdiri tegak siap menyerang, "Sejujurnya kukatakan, aku cukup senang dan gembira menerima tantanganmu! Kalau toh aku harus mati, biarlah aku mati lebih dulu daripada mati setelah guruku!"

"Baiklah! Kau rupanya lebih senang mati di tanganku daripada mati di tangan orang lain. Hiaaat...!" Ratu Pekat kembali sentakkan tangannya dari bawah ke atas depan, dan Badai Kelabu cepat hentakkan kaki, tubuhnya melenting di udara. Kejap berikut, tubuh itu sudah berdiri tegak menghindari pukulan jarak jauhnya Ratu Pekat.

Tangan Badai Kelabu segera bergerak memutar kebelakang keduanya, lalu seperti melepas burung ia lepaskan pukulan 'Badai Gunung'-nya. Wuusss...! Angin kencang menghempas membuat tubuh Ratu Pekat mundur satu tindak. Tapi kedua tangannya segera bergerak menahan hembusan kuat dari arah lawan. Barang-barang yang ada di belakang Ratu Pekat menjadi terbang tak tentu arah. Bahkan tubuh Cempaka Ungu pun terlempar keluar dari jalur badai yang menghembus dengan kuat itu.

"Hiihhg...!" Ratu Pekat bertahan dari hembusan badai kabut tanpa ada penahan di bagian belakangnya. Tubuhnya sebentar-sebentar ingin terlempar ke belakang, tapi dipertahankan untuk tetap berdiri di tempat dengan kedua kaki makin merendah. Kedua tangannya dihadapkan ke depan, berusaha mengeluarkan hembusan angin juga untuk menahan badai dari tangan tamunya. Batu Galih Bumi memancarkan sinar merah dalam satu kilasan yang cepat.

Badai Kelabu tak menduga akan mendapat serangan sinar merah sebesar jari kelingkingnya. Wuutttt...! "Hiaaat...!" ia memekik sambil gulingkan tubuh ke kiri. Rupanya terlambat sedikit ia bergerak, sehingga betisnya terkena sinar merah itu. Jrubbb...!

"Aaahg...!" Badai Kelabu memekik. Betisnya menjadi berlubang bagai habis ditembus tombak atau anak panah yang tajam. Darah keluar dari betisnya. Badai Kelabu mencoba berdiri dan tak menghiraukan lukanya.

Srett...! Pedang hitam dicabut dari sarungnya, ia menggeram penuh dendam pembalasan atas luka di kakinya. Tapi tiba-tiba, batu hitam yang menggantung di atas dada Ratu Pekat itu kembali mengeluarkan sinar merah.

Wuutttt...!

Trangng...! Badai Kelabu menangkis sinar merah itu menggunakan pedangnya yang diangkat tepat di tengah dada. Sinar merah membentur pedang, dan membalik membentuk sudut kecil ke arah tubuh Ratu Pekat. Seketika itu pula Ratu Pekat sentakkan kakinya dan melesat di udara dalam gerakan salto. Wuggh...!

"Hiaaat...!" sentak suara Ratu Pekat sambil tangannya menghentak ke depan. Tangan itu mengeluarkan gelombang tenaga dalam tanpa sinar. Tak terlihat gerakannya, sehingga Badai Kelabu pun terpukul pada bagian pinggangnya.

Beggh...!

"Aaagh...!" Badai Kelabu tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang dengan mulut ternganga menahan sakit.

* * *

TIGA

DALAM sebuah kamar, Dewa Racun berbicara dengan Suto Sinting. Suto yakin pembicaraan itu sangat penting, karena Dewa Racun membawanya menjauh dari Ratu Pekat dan yang lainnya. Sebab itu Suto pun menyimak percakapan Dewa Racun dengan sungguh-sungguh,

"Ak... aku... aku baru tahu kalau Batu Galih Bumi adalah perhiasan yang dipakai kalung oleh Ratu Pekat."

"Ada apa dengan Batu Galih Bumi? Apakah ada hubungannya dengan Pusaka Tombak Maut?"

"Bis... bis... bisa ada, bisa juga tidak. Maksudku begini...," Dewa Racun yang kerdil itu segera naik ke atas sebuah bangku supaya wajahnya bisa sejajar dengan Suto. Tapi tetap saja ia lebih rendah dari Suto, namun dalam bicaranya tidak terlalu mendongak ke atas seperti tadi.

"Nyai... nyai... nyai gus... gustiku pernah bilang, bahwa Batu Galih Bumi bisa untuk mengobati luka apa pun, dan juga bisa untuk menolak kutukan apa pun. Dul.. dul.. dulu, Nyai Gusti pernah punya gagasan untuk memiliki Batu Galih Bumi untuk memulihkan pengaruh pukulan 'Candra Badar' yang dideritanya dari Siluman Tujuh Nyawa itu. Jad... jad... jad..."

"Jadah?!"

"Bukan. Jad... jadi, bagaimana kalau Batu Galih Bumi itu kita rebut dari tangan Ratu Pekat?"

Suto tidak langsung menjawab, ia berpikir beberapa kejap. Tapi sambil berpikir ia meneguk tuak dari dalam bumbungnya itu. Kemudian barulah ia menjawab, "Kurasa tak perlu, Dewa Racun."

"Tapi nyai gustiku perlu obat pemunah pukulan 'Candra Badar' Bii... biii... biar tubuhnya tidak terbakar jika terkena sinar matahari atau sinar alam lainnya."

"Aku bisa mengatasinya. Tak perlu harus mencuri atau merebut batu pusaka milik orang lain, supaya kelak suatu saat orang lain juga akan segan mencuri atau merebut pusaka milik kita."

"Ap... ap... apakah kau yakin bahwa kau bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh nyai gustiku?"

Pendekar Mabuk tersenyum tenang. "Kita lihat saja nanti!" Suto mau bergegas keluar dari kamar, tapi tangan Dewa Racun menahannya.

"Tung... tung... tung..."

"Kamu ini mau ngomong apa mau menari? Kok tang, tung, tang, tung?"

"Mmmmak... maaak... maksudku, tunggu dulu!" sentak Dewa Racun dengan jengkel.

Suto tertawa kecil. "Sudah kupastikan, aku tak mau merebut pusaka milik orang lain atau barang apa pun yang bukan milikku!" tegas Suto kemudian.

"Tap... tap., tapi bagaimana dengan luka-luka yang diderita gurunya Badai Kelabu itu?"

"Itu bukan urusanku! Apa maksudmu menanyakannya?"

"Sep...sep...sep..."

"Sepuluh?"

"Bukan! Se... sepertinya... sepertinya guru Badai Kelabu membutuhkan pertolongan, sedangkan Ratu Pekat bersikeras tidak mungkin meminjamkan Batu Galih Bumi kepada siapa pun. Aku takut mereka saling ber... ber... ber"

"Beranak?"

"Berselisih!" bentak Dewa Racun. "Pertarungan bisa terjadi!"

"Jadi, maksudmu kita harus memihak salah satu dari mereka? Tidak, Dewa Racun! Aku tidak mau mencampuri urusan orang lain, kecuali hanya sebagai pihak penengah! Tugas kita di sini hanya menjaga serangan dari Siluman Tujuh Nyawa yang bisa datang sewaktu-waktu. Tapi sampai lima hari kita di pulau ini, tak ada utusan dari Siluman Tujuh Nyawa yang datang menyerang. Berarti kita harus segera berangkat ke Pulau Serindu. Aku sudah tak sabar lagi inginsegera bertemu dengan Dyah Sariningrum, nyai gustimu itu, Dewa Racun. Aku tak mau ikut campur urusan Badai Kelabu dan Ratu Pekat!"

"Mak...mak...mak "

"Makan."

"Maksudnya!" sentak Dewa Racun. Biasanya jika dia kesulitan mengucap satu kata, jika sudah ditebak oleh orang lain, kata-kata yang akan diucapkan segera dapat ditemukan dan dilontarkan. Tapi jika orang lain itu salah menebak apa yang ingin diucapkan, Dewa Racun sering merasa dongkol hatinya. "Maksudku, memang tidak harus memihak pada salah satu, tapi ambillah jalan tengah supaya mereka tid... tid... tidak saling berselisih."

"Baiklah, akan kucoba membujuk Badai Kelabu agar tidak bernafsu untuk merebut atau memiliki Batu Galih Bumi. Mudah-mudahan dia mau percaya bahwa aku bisa mengobati penyakit gurunya itu."

"Nnnnnaaah... itu yang kumaksud!" Dewa Racun tersenyum senang.

"Tapi, siapakah Badai Kelabu itu? Apakah dia orang jahat?"

"Ak... ak... aku baru ingat, bahwa dia orang Pulau Hitam yang pernah membantu Ratu Pekat menyerang orang-orangku."

"Jadi, kenapa kita harus menolongnya dari kesulitan ini?"

"Buk... buk... bukankah Ratu Pekat semula juga memusuhi kita? Tapi seperti apa kata gurumu, si Gila Tuak, kepadamu, bahwa menundukkan lawan tidak harus dengan kekerasan, tapi juga bisa dilakukan dengan kebaikan. Sekarang pun kita sudah menundukkan Ratu Pekat!"

"O, ya! Benar apa katamu itu. Guru memang pernah bilang begitu padaku. Tanpa sadar kita telah menundukkan Ratu Pekat, sehingga tidak punya niat untuk menyerang nyai gustimu yang bergelar Gusti Mahkota Sejati itu!"

"Jadi, apa salahnya kalau kita juga menundukkan Badai Kelabu dengan keb... keb... keb..."

"Kebakaran!"

"Kebaikan!" sentak Dewa Racun dengan gemas. Suto hanya tersenyum geli dan cepat melangkahkan kaki keluar darikamar.

Sampai di pelataran istana, Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sama-sama terperanjat melihat Badai Kelabu sudah terbujur lunglai dengan darah melumuri kakinya dan di beberapa tempat di tubuhnya terdapat luka memar membiru. Pendekar Mabuk dan Dewa Racun tidak melihat bahwa Badai Kelabu baru saja terkena pukulan punggungnya oleh telapak tangan Ratu Pekat yang saat itu masih menyalakan pijar merah membara. Tangan tersebut bagaikan berlumur lahar gunung berapi dan mau dihantamkan lagi ke dada Badai Kelabu yang terkapar tak berdaya.

Tapi, Suto segera serukan kata keras, "Tahan, Nyai!"

Suara itu membuat Nyai Ratu Pekat palingkan wajah ke arah Suto, juga Cempaka Ungu dan Mata Elang yang memperhatikan dari sisi kejauhan. Suto segera melangkahkan kaki mendekati Ratu Pekat. Perempuan itu menggeram dengan matanya yang nanar memancarkan nafsu untuk membunuh Badai Kelabu. "Apa maksudmu menahan pukulanku yang terakhir, Pendekar Mabuk?!"

"Itu perbuatan sia-sia," jawab Pendekar Mabuk seenaknya saja. "Tinggalkan dia, Nyai...!"

"Dia akan merebut batu pusakaku ini, Pendekar Mabuk! Mengapa aku harus melepaskan dia?!" sentak Nyai Ratu Pekat sambil masih bersikap berlutut satu kaki, siap hentakkan tangannya yang membara itu.

"Dia punya alasan yang mendesak. Jika alasan yang mendesak itu bisa diatasi, dia tidak akan merebut Batu Galih Bumi-mu itu, Nyai!"

"Tak ada yang bisa menyelamatkan jiwa orang yang telah terkena senjata Pusaka Tombak Maut, Suto! Hanya Batu Galih Bumi yang bisa menyelamatkannya! Jadi, bagaimanapun juga Badai Kelabu pasti tetap akan menyelamatkan nyawa gurunya dengan merebut batu ini!"

"Serahkan perkara itu padaku," kata Suto, lalu ia menenggak tuak beberapa teguk. Sisanya masih ada yang disimpan di mulut hingga kedua pipinya sedikit mengembung.

Dari arah belakang terdengar suara Mata Elang, "Pendekar Mabuk! Kuharap jangan ikut campur urusan Nyai Ratu untuk kali ini! Tinggalkan dia!"

Suto bahkan menyemburkan sisa tuak dalam mulutnya ke tangan Ratu Pekat yang membara bagaikan lahar gunung berapi itu.Brusss...!

Nyrrosss...! Tiba-tiba tangan yang mirip besi membara itu menjadi hitam dan berasap. Nyala baranya padam. Hal itu tidak menimbulkan rasa sakit pada tangan Ratu Pekat, hanya menimbulkan rasa heran yang sangat besar.

Ratu Pekat membatin kata, "Gila! Pukulan 'Lahar Iblis'-ku bisa dipadamkan begitu saja dengan semburan tuaknya?! Luar biasa mengagumkannya anak muda sinting ini?!"

Tangan Ratu Pekat yang hitam segera pulih menjadi kuning langsat seperti sediakala tanpa memakan waktu yang lama. Hanya sekitar tiga helaan napas tangan itu telah menjadi bersih dan kering.

Dari kejauhan Mata Elang menyangka Suto mulai menyerang Ratu Pekat, maka dengan kekuatan tenaga dalam yang disalurkan lewat sepasang matanya, keluarlah cahaya merah dari mata kiri si Mata Elang. Wuuttt.....' Arah melesatnya sinar merah sebesar lidi itu menuju ke punggung Suto. Melihat gerakan sinar merah melesat ke arahnya, Suto hanya sedikit memiringkan badannya, hingga sinar itu membentur tabung bambu tempat penyimpan tuak.

Trass...! Zuuutt...!

Cempaka Ungu terkejut bukan main sampai terlontar suara keras, "Awaaas...!"

Sinar merah yang mengenai bumbung bambu tempat tuak itu membalik, yang semula besarnya seperti sebatang lidi, kini menjadi lebih besar lagi, tiga kali lipat dari besar semula. Kecepatan geraknya pun melebihi kecepatan semula. Hampir saja Mata Elang tak sempat menghindari serangan yang membalik ke arahnya jika tubuhnya tidak disentakkan oleh tangan Cempaka Ungu dengan sekuat tenaga.

Brakkk...! Prokkk...!

Tubuh Mata Elang yang didorong keras oleh Cempaka Ungu terlempar dan membentur reruntuhan bekas pintu gerbang. Pelipisnya menghantam kuat sebuah benda keras, dan akhirnya berdarah, ia menyeringai sambil memegangi pelipisnya. Sedangkan sinar merah yang membalik itu juga hampir saja mengenai tangan Cempaka Ungu saat gadis itu mendorong tubuh Mata Elang. Untung Cempaka Ungu cepat menarik tangannya dan berguling ke arah samping, sehingga sinar merah itu menghantam tiang penyangga atap di serambi samping. Tiang sebesar tiga pelukan manusia itu menjadi gompal pada bagian salah satu sisinya dihantam sinar merah itu.

Brull...! Prakkk...!

Ratu Pekat terkesima dan memandang tak berkedip ke arah tiang yang gompal dengan pasir dan bebatuannya yang menyembur ke mana-mana. Setahu sang Ratu, sinar merah dari mata pengawal pribadinya itu tidak akan sedahsyat itu kekuatannya. Paling bisa hanya menggompalkan tiang marmer sebagian kecil saja, tidak akan merusakkan sampai batas lewat dari pertengahan besarnya tiang seperti saat itu. Melihat keadaan sedemikian rupa, Ratu Pekat cepat berdiri dan berkata kepada Suto,

"Akan kau apakan perempuan ini?! Dia sudah banyak menderita luka dalam akibat seranganku!"

"Rasa-rasanya tak baik jika persahabatan kalian putus hanya karena keadaan yang kritis seperti saat ini! Biarlah kusembuhkan luka-luka si Badai Kelabu ini, dan akan kubujuk supaya dia tidak mengincar Batu Galih Bumi lagi."

"Tapi dia tetap akan berkeras kepala untuk menyembuhkan luka gurunya memakai Batu Galih Bumi!"

"Aku yang akan menyembuhkan luka-luka gurunya itu!"

Ratu Pekat kerutkan dahi, tak yakin akan kemampuan Pendekar Mabuk. Sebab ia cukup tahu keparahan orang yang terkena pukulan Pusaka Tombak Maut. Tapi kesangsian di hati Ratu Pekat hanya dipendamnya saja, ia tidak mau melontarkannya. Karena pada saat itu ia segera berpaling ke arah seseorang yang sedang dipanggil Pendekar Mabuk tempat orang-orang yang membetulkan pintu gerbang.

"Singo Bodong...! Angkat dia ke dalam!" teriak Suto.

Orang bertubuh tinggi, besar, berperut sedikit buncit, jarinya sebesar pisang ibaratnya, segera datang mendekati Pendekar Mabuk. Dialah Singo Bodong, orang berwajah seram, angker, tapi tidak punya ilmu apa-apa bahkan berkesan polos dan lugu. Ia dibawa oleh Pendekar Mabuk dalam perjalanannya, karena semula ia disangka tokoh keji bernama Dadung Amuk. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Utusan Siluman Tujuh Nyawa).

"Apa yang harus kulakukan, Suto?" tanya orang berkumis tebal berpotongan seperti seorang warok.

"Angkat perempuan ini ke dalam. Aku akan mengobatinya."

"Menurutku dia sudah sangat parah dan tinggal menunggu matinya saja, Suto. Sebaiknya "

"Sebaiknya angkat dia ke dalam!" gertak Pendekar Mabuk.

Singo Bodong ketakutan. "Baa... baik... baik!" Lalu, ia bergegas mengangkat tubuh Badai Kelabu ke dalam istana. Bahkan langsung dibawa masuk ke dalam kamar yang khusus untuk tidur Pendekar Mabuk selama di Pulau Beliung itu.

Ratu Pekat sempat berpapasan dengan Mata Elang yang memegangi pelipisnya. Darah karena luka benturan masih keluar dari pelipis itu. Sambil memeriksa luka tersebut, Ratu Pekat berkata, "Jangan lawan Pendekar Mabuk itu! Dia sangat berbahaya! Ingat, jangan sekali-kali melawan atau membokongnya! Kau bisa lebih celaka dari saat ini, Mata Elang!"

"Baik, Nyai!"

Di dalam kamar itu, tubuh Badai Kelabu dibaringkan di atas lantai, bukan di atas tempat tidur. Sebab saat itu, Cempaka Ungu segera ikut masuk ke dalam kamar, dan membentak Singo Bodong, "Jangan taruh dia di atas pembaringan Pendekar Mabuk! Bisa kotor tempat tidur itu, Goblok!"

Singo Bodong takut. Maka, tubuh Badai Kelabu ditaruhnya di lantai. Tubuh itu sangat memprihatinkan. Lemas sekali, dan dingin di telapak kaki serta di beberapa tempat lainnya. Napasnya memang masih ada, tapi sangat tipis dan tak kentara lagi helaannya.

Cempaka Ungu sengaja ikut masuk ke dalam kamar itu. Bukan semata-mata ingin melihat cara Suto melakukan penyembuhan terhadap tubuh yang tinggal menunggu lepasnya nyawa itu, tapi juga menampakkan rasa waswas, karena ia takut kalau-kalau Suto melakukan kemesraan secara diam-diam dengan Badai Kelabu. Cempaka Ungu menyimpan kecemburuan yang tak mampu diungkapkan karena Suto takpernah memberi sambutan terhadap hasrat hatinya.

Buat Cempaka Ungu, kehadiran Pendekar Mabuk di Pulau Beliung adalah sesuatu yang menggembirakan, juga menjengkelkan. Gembira, karena hatinya terpikat kepada Pendekar Mabuk dan berharap mendapat sambutan hangat dari Pendekar Mabuk itu, menjengkelkan karena Suto tak pernah memberi sambutan hangat yang diharapkan. Tetapi secara jujur Cempaka Ungu mengakui, kehadiran Pendekar Mabuk telah membuat hatinya lupa pada seseorang yang sudah satu tahun menjalin hubungan cinta dengannya.

Pengobatan yang dilakukan Pendekar Mabuk sangat sederhana, tapi membuat Pendekar Mabuk sedikit bingung, ia berpikir beberapa saat, sampai akhirnya Dewa Racun yang berdiri di samping Cempaka Ungu bertanya, "Ap... ap... apa yang ingin kau lakukan, Suto?"

"Memasukkan tuak ini ke dalam mulutnya. Dia tidak bisa menelan apa-apa. Tenggorokannya bagai terkunci. Harus dilakukan dengan paksa."

"Se... sebaiknya kau masukkan tuak itu lewat semburan dari mulutmu," usul Dewa Racun.

"Maksudnya," Cempaka Ungu menyela bicara, "Suto menampung tuak dalam mulutnya, lalu mulutnya dirapatkan ke mulut Badai Kelabu dan tuak di mulut Pendekar Mabuk disemburkan ke dalam mulut Badai Kelabu?"

"Tep.. tep... tepat sekali!"

"Tidak!" sentak Cempaka Ungu dengan cemberut, "Itu tidak baik dan tidak pantas! Penyembuhan itu penyembuhan mesum namanya!"

Suto tahu Cempaka Ungu merasa cemburu, sehingga Suto hanya tertawa geli beberapa saat. Wajah Cempaka Ungu menjadi merah dadu menahan malu, karena kecemburuannya diketahui Suto dan ditertawakannya. "Tapi... terserah dialah!" ucap Cempaka Ungu sambil bersungut-sungut dan palingkan wajah, tak mau memandang.

"Singo Bodong, carikan aku corong untuk memasukkan tuak ke dalam mulut Badai Kelabu!"

"Corong...?!" Singo Bodong berkerut dahi.

"Daun saja!" kata Pendekar Mabuk kemudian. "Ambil daun untuk kita bikin corong, dan tuak ini bisa dimasukkan ke dalam kerongkongan Badai Kelabu memakai bantuan corong daun tersebut!"

"Nah, itu baru pengobatan yang jitu!" sahut Cempaka Ungu lega.

* * *

EMPAT

SUNGGUH sederhana pengobatan itu. Hanya menelan tuak beberapa teguk, lalu istirahat satu malam, esok paginya semua luka memar telah hilang, luka berdarah di betisnya menjadi kering dan nyaris hilang. Badan terasa segar, bahkan Badai Kelabu merasa seperti mendapat kekuatan baru. Lebih lincah dalam bergerak, lebih lega dalam bernapas.

"Hanya dengan tuak...?" gumam Cempaka Ungu didalam hatinya. "Apakah suatu saat nanti kalau aku mengalami luka dalam atau luka luar bisa cepat sembuh hanya dengan minum tuak? Ah, kurasa tuak itu tidak sembarang tuak. Tapi..., seingatku tuak itu diperoleh dari tuak yang diberikan oleh Ibu. Apakah semua tuak yang diberikan oleh Ibu mempunyai khasiat yang begitu tinggi untuk penyembuhan? Hmm...? Mengapa Ibu diam saja dan tak pernah ceritakan hal itu padaku?"

Kalau saja saat itu Pendekar Mabuk mendengar percakapan hati Cempaka Ungu, maka gadis itu pasti akan ditertawakan. Cempaka Ungu berpendapat terlalu sederhana, ia tidak tahu bahwa yang mempunyai khasiat mujarab dan hebat adalah bukan tuaknya, melainkan bumbung tempat menyimpan tuak itu. Sembarang tuak bisa masuk ke bumbung itu, tapi tidak sembarang bumbung bambu yang bisa mengeluarkan khasiat dahsyat seperti itu.

Bumbung bambu itu dulu bekas milik si Gila Tuak semasa mudanya. Bumbung itu diperoleh Sabawana, nama asli Gila Tuak, ketika Sabawana berada dalam penjara bumi. Ia terperosok ke sana dalam satu pengejaran. Musuh yang dikejarnya adalah Yopradigda, yang kemudian bergelar Malaikat Tanpa Nyawa dan dikalahkan oleh Gila Tuak. Yopradigda pada waktu itu berhasil mengubah diri menjadi seekor belalang dan terbang ke sana kemari karena takut tertangkap oleh Sabawana.

Dalam pengejaran itulah Sabawana terperosok dalam lubang sumur yang amat dalam. Ternyata lubang sumur itu adalah lorong sebuah gua. Di dalam sana, Sabawana menemukan beberapa lorong berliku-liku. Ia melangkah menyusuri lorong itu, tapi tak dapat menemukan jalan keluar. Bahkan jalan tempat terperosoknya semula juga tidak bisa ditemukan kembali.

Tak terasa hari berganti hari dan bulan berganti bulan, Sabawana sibuk mencari jalan keluar dan tak pernah berhasil. Itulah sebabnya Sabawana menamakan tempat itu adalah penjara bumi. Tetapi Sabawana tak pernah putus harapan, ia selalu berusaha mencari jalan keluar, ke mana pun arah lorong itu berada ia susuri terus walau sering sekali ia merasa melewati jalan yang pernah dilewati lebih dari tiga kali.

Di dalam penjara bumi itu, Sabawana akhirnya bertapa. Rasa putus asanya dilampiaskan dalam upaya terakhir, yaitu semadi dengan tujuan meminta bantuan kepada Hyang Widi agar ia bisa bebas dari penjara bumi. Di dalam tapanya itu, Sabawana merasa ditemui oleh seorang bocah telanjang berusia antara tiga tahun. Bocah itu berambut tipis, matanya tajam, berkesan bandel dan nakal. Bocah itu bertanya kepada Sabawana,

"Apa yang kamu cari di sini, Kak? Bukankah ilmumu sudah tinggi?"

Sabawana menjawab, "Aku mencari jalan keluar dari penjara bumi ini," sambil menjawab begitu, hati Sabawana bertanya juga, "Siapa sebenarnya anak kecil itu?"

Tetapi anak tersebut malah bertanya, "Siapa namamu, Kak?"

Sabawana yang masih berusia dua puluh dua tahun itu menjawab, "Namaku Sabawana, murid dari Eyang Purbapati."

"O, kakak muridnya Purbapati?"

"Benar, Dik. Siapa namamu dan apakah kau kenal dengan Eyang Purbapati?"

"Sangat kenal Kak. Eyang Purbapati juga pasti kenal denganku jika kau sebutkan nama Wijayasura."

"O, namamu Wijayasura?"

"Benar, Kak."

"Apakah kau bisa membantuku keluar dari dasar bumi ini?"

Bocah kecil yang masih suka menyedot ingusnya itu menjawab sambil tertawa. "Kakak saja yang sudah besar tidak bisa keluar dari penjara bumi, apalagi aku yang masih kecil. Hi hi hi...!"

Sa bawana menahan napas, agak dongkol juga mendengar jawaban yang merupakan satu harapan namun ternyata harapan kosong yang diperolehnya. Tapi bocah itu segera berkata lagi, "Tapi kalau kakak mau menunggu tumbuhnya sebuah pohon bambu hingga bambu itu menjadi besar dan daunnya mengering, kakak akan bisa menemukan jalan keluar dari tempat ini. Ambillah bambu itu dan pakailah sebagai tempat tuak. Karena aku tahu kakak suka minum tuak. Tebanglah bambu besi itu dengan pedangmu, setelah itu jangan lagi kakak gunakan pedang itu. Jelas?"

"Jelas, Dik."

"Sampaikan salamku pada Eyang Purbapati-mu itu!"

Wijayasura mau pergi, tapi Sabawana cepat bertanya, "Dik, di mana tempat tinggalmu sebenarnya?"

"Aku ada di pohon bambu itu!" setelah menjawab begitu, bocah telanjang yang tidak mempunyai pusar itu hilang lenyap dari pandangan mata semadinya Sabawana. Dan seketika itu Sabawana tersentak kaget dari tapanya. Lebih terkejut lagi ketika pandangan matanya menemukan sebuah pohon bambu yang masih kecil, tak jauh dari tempatnya bertapa. Pohon bambu itu aneh. Daunnya hanya tiga lembar, warnanya hijau kehitam-hitaman. Ketika Sabawana mendekat dan ingin memegangnya tiba-tiba tubuhnya terpental mundur, terlempar jauh antara sepuluh kaki dari tempat tumbuhnya pohon bambu muda itu.

"Bocah yang mengaku Wijayasura itu mengatakan bahwa dirinya tinggal di pohon bambu tersebut. Apakah dia menjelma menjadi pohon bambu, atau sebagai penjaga pohon bambu?" pikir Sabawana sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa hampir patah gara-gara terlempar jauh tadi.

Sabawana terpaksa menunggu tumbuhnya pohon bambu tersebut sambil melatih beberapa jurus silatnya. Satu keanehan lagi yang terjadi pada pohon bambu itu terletak pada pertumbuhannya. Pohon tersebut tumbuh dengan pesat. Ganti hari ganti pertumbuhan. Satu hari bertambah panjang satu jengkal. Tetapi warna daunnya tetap hijau kehitam-hitaman dan hanya tiga lembar. Pohon itu tumbuh dengan lurus dan membengkak. Ketika pohon tersebut sudah mencapai ketinggian seukuran tinggi tubuh Sabawana, tiba-tiba daunnya mengering, tapi belum berjatuhan. Pada saat itu, Sabawana mendengar suara gaib yang berjenis suara anak-anak. Suara itu adalah suara Wijayasura.

"Sabawana, jika tiga daun itu telah jatuh dengan sendirinya, tebanglah bagian ujungnya tepat pada ruas pertama, lalu tebang pula tepat pada ruas kedua. Setelah itu, pergilah ke arah mana saja sesukamu, kau akan menemukan jalan keluar. Dan karena aku sudah memberikan jalan keluar padamu, kau harus menyerahkan semua ilmumu kepadaku, karena kau meminjamnya dariku"

Sabawana kurang jelas dengan kalimat terakhir? Tapi ia lebih mementingkan kalimat-kalimat pertama. Pohon bambu harus ditebang bagian pucuk pada ruas pertama, lalu ruas kedua. Padahal pohon bambu yang tumbuh membengkak itu hanya mempunyai tiga ruas. Ruas ketiga adalah bagian pangkal dekat dengan tanah. Ruas ketiga itu jaraknya sangat dekat dengan ruas kedua, kurang dari empat jari. Ruas kedua dengan ruas pertama jaraknya cukup panjang. Sabawana mulai paham, bahwa bocah tanpa pusar yang mengaku bernama Wijayasura itu menghendaki agar Sabawana memanfaatkan bambu di antara ruas pertama dengan ruas kedua sebagai bumbung tempat tuak.

Maka, Sabawana pun mulai menebang bambu berwarna coklat dengan sedikit semburat warna hitam pada bagian ruas keduanya. Tentu saja hal itu ia lakukan setelah tiga lembar daun bambu jatuh ke tanah dan lenyap tanpa bekas. Bambu itu tidak mempunyai kekuatan yang melemparkan tubuh Sabawana ketika didekati. Karenanya, Sabawana bisa menebang dengan bebas dan leluasa. Hanya anehnya, ketika pedangnya dipakai menebang ruas kedua, pedang itu patah bersamaan terpotongnya bambu tersebut.

Tentu saja pedang itu tak bisa digunakan lagi dan ditinggalkan oleh Sabawana di dekat sisa potongan pohon bambu. Dan anehnya lagi, sisa potongan pohon bambu itu menjadi lenyap setelah Sabawana melangkah tiga tindak dari tempatnya menebang tadi. Sabawana mencari-cari bekasnya, tapi tak ditemukan sama sekali. Yang ada hanya sisa pedangnya yang bergagang menyerupai guci tuak berukuran kecil.

Apa yang dikatakan oleh suara gaib dari Wijayasura itu memang benar. Ke mana pun arah yang dituju oleh Sabawana, ia selalu menemukan tempat terang, sebagai jalan keluar dari gua tersebut. Dan ketika ia muncul, ternyata ia berada di lereng sebuah gunung. Gunung itu dikelilingi oleh lautan. Sabawana segera menyimpulkan bahwa gunung itu berada di tengah lautan. Sabawana mengenal gunung itu bernama Karak Kato, yang untuk kemudian hari banyak disebut-sebut orang sebagai Gunung Krakatau.

Cepat-cepat Sabawana pulang ke pesanggrahan gurunya, dan ia menemui Eyang Purbapati, lalu menceritakan pengalamannya. Sabawana baru sadar bahwa ia telah berada di penjara bumi itu selama dua tahun, terhitung dari pamitnya Sabawana kepada sang Guru. Eyang Purbapati terperanjat mendengar cerita Sabawana, kemudian guru Sabawana itu berkata,

"Mestinya kau tidak memanggil bocah kecil itu dengan sebutan Dik. Mestinya kau memanggilnya Eyang."

"Mengapa begitu, Eyang Guru?"

"Karena bocah kecil itu adalah jelmaan dari wujud kecil guruku, yaitu Eyang Wijayasura."

"Oh...?!" Sabawana kaget sekali mendengarnya dan merasa takut.

"Wijayasura adalah nama asli guruku, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bertapa didasar laut di bawah gunung Karak Kato. Eyang Wijayasura adalah manusia tanpa pusar, dan semua ilmuku yang kuturunkan kepadamu adalah ilmu milik beliau. Maka, pesanku kepadamu, Sabawana, jangan turunkan ilmumu kepada siapa pun, kecuali kau menemukan orang atau bocah yang tidak mempunyai pusar. Turunkanlah ilmu itu kepadanya, dan berikanlah bumbung tuak pusaka ini kepadanya, karena ilmu itu sepertinya diminta kembali oleh Eyang Wijayasura melalui suara gaib terakhir yang kau dengar itu..."

Begitulah asal mula bumbung tempat tuak tersebut, yang menurut Eyang Purbapati, di bumbung itulah sukma Wijayasura bersemayam. Dan Sabawana yang kemudian dikenal dengan julukan Si Gila Tuak menemukan bocah tanpa pusar dari keluarga Wiseso yang terbantai kecuali bocah itu. Lalu, Sabawana atau Si Gila Tuak mengangkatnya sebagai murid. Bocah itu bernama Suto, dengan nama lengkap Sutowijaya! Bocah itulah yang kemudian tumbuh sebagai pemuda gagah perkasa dan tampan wajahnya, gemar minum tuak sehingga, mendapat gelar Pendekar Mabuk dan akrab dipanggil dengan nama Suto Sinting, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bocah Tanpa Pusar).

Apakah Sutowijaya adalah titisan dari Wijayasura? Hanya Eyang Purbapati yang bisa menjelaskannya, karena Si Gila Tuak sendiri tidak bisa memastikannya. Yang jelas, Wijayasura menemui ajalnya dengan cara 'muksa', atau lenyap tak berbekas, kecuali pakaiannya. Suto tidak menceritakan pengalaman yang didengar dari mulut si Gila Tuak itu kepada siapa pun. Karena menurutnya, hal itu tidak begitu penting untuk diceritakan kepada siapa pun, untuk menghilangkan kesan menyombongkan diri. Ia hanya mengingat-ingat pesan gurunya, bahwa lebih baik mengutamakan kepentingan orang banyak daripada mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Itulah sebabnya, Suto pun merasa punya kewajiban menolong guru Badai Kelabu yang terancam mati karena terkena pukulan 'Pusaka Tombak Maut'. Hanya saja, Badai Kelabu masih sedikit sangsi dengan kemampuan Suto. Terang-terangan ia berkata,

"Pusaka Tombak Maut adalah pusaka yang ganas dan berbahaya, apalagi di tangan orang-orang angkara murka! Tak pernah ada lawan yang luput dari ancaman maut Pusaka Tombak Maut, menurut cerita guruku. Jika kau ingin mengobati guruku, apakah kau punya pusaka lain yang bisa menandingi racun dari Pusaka Tombak Maut itu? Apakah kau juga mempunyai Batu Galih Bumi, seperti yang dimiliki Nyai Ratu Pekat itu?"

"Aku tidak mempunyai Batu Galih Bumi," jawab Pendekar Mabuk. "Tapi aku percaya bahwa gurumu pasti doyan minum tuak!"

"Kau ini sinting amat? Orang sakit kau suruh minum tuak?"

"Kau pun tadinya terluka parah, dan menjadi sehat seperti pagi ini karena minum tuakku!"

"Aku hanya sakit biasa. Lukaku bukan karena luka terkena senjata Pusaka Tombak Maut, sedangkan guruku sakitnya karena terkena Pusaka Tombak Maut!"

"Tidak ada pusaka yang tidak mempunyai kelemahan? Sama halnya tidak ada orang kuat yang tidak mempunyai kelemahan. Di atasnya orang kuat, ada yang lebih kuat lagi. Di atasnya orang sakti, ada yang lebih sakti lagi. Begitulah falsafah hidup yang mestinya kau sadari, Badai Kelabu!"

Perempuan itu memalingkan wajah, memandang Suto Sinting dengan dahi berkerut, lalu ia ceploskan kata dengan suara pelan, "Jadi kau merasa lebih sakti dari guruku?"

"Aku tidak berkata demikian," jawab Pendekar Mabuk sambil tersenyum bijaksana dan menawan hati setiap perempuan, termasuk hati Badai Kelabu sendiri saat itu.

Badai Kelabu mengambil sebutir batu seukuran biji salak dan berkata, "Batu hitam ini sangat keras. Guruku bisa meremas batu hitam ini dalam satu kali genggaman dan hancur menjadi serbuk-serbuk hitam. Apakah kau bisa melakukan begitu?"

Sambil senyum-senyum Pendekar Mabuk mengambil batu itu dari tangan Badai Kelabu, lalu ia berkata, "Menggenggam batu begini...," Suto menggenggam batu itu, "Dan membuatnya menjadi hancur berbentuk serbuk-serbuk hitam adalah hal yang amat mudah. Tapi apakah gurumu bisa membuat batu ini menjadi kembar dua dalam satu genggaman tangan?"

"Maksudmu, kembar dua bagaimana?"

"Seperti ini!" Suto membuka genggamannya.

Mata perempuan itu terkesiap melihat batu dalam genggaman Suto menjadi dua, sama besar, sama warnanya dan sama bentuknya. Badai Kelabu dibuat melongo mulutnya oleh 'permainan' Suto yang diperolehnya dari ilmu bibi gurunya, yaitu Bidadari Jalang. Badai Kelabu tak mengerti bahwa Pendekar Mabuk mempunyai ilmu sihir dari Bidadari Jalang yang dulu pernah dikenal dengan sebutan Ratu Sihir oleh sekelompok golongan, terutama oleh paratokoh tua di daerah tanah Jawa Wetan. Sebelum habis rasa kagum Badai Kelabu, Suto kembali berkata sambil menggenggam lagi dua batu kembar tersebut,

"Meremas batu agar menjadi hancur hanya dibutuhkan pemusatan tenaga dalam yang dibarengi tersalurnya hawa panas inti dalam tubuh kita. Maka batu pun bisa hancur menjadi serbuk hitam seperti ini...," Suto membuka genggamannya.

Badai Kelabu kerutkan dahi, karena di telapak tangan Pendekar Mabuk ia tidak melihat serbuk hitam hasil dari remasan tangannya. Suto hanya tersenyum ketika Badai Kelabu berkata,

"Tak ada serbuk hitam! Batu itu hilang dari genggamanmu."

"Siapa bilang? Cobalah kau sentuh bagian atas telapak tanganku!"

Badai kelabu menyentuhnya dengan jari telunjuk. Namun sebelum jari telunjuk itu menyentuh kulit telapak tangan Pendekar Mabuk, telunjuk itu merasakan telah menyentuh segumpalan serbuk kasar yang tak terlihat oleh mata. Bahkan Badai Kelabu bisa menjumput serbuk itu dan menabur-naburkan di atas telapak tangan Suto, tapi matanya tak melihat sebutir serbuk pun.

Membatinlah hati Badai Kelabu, "Luar biasa kehebatan ilmunya. Serbuk ini bisa menjadi senjata untuk menaburi mata lawan, toh lawan tidak melihat ada serbuk yang akan ditaburkan?! Rasa-rasanya Guru tak mungkin bisa melakukan hal seperti ini! Rasa-rasanya ilmu Pendekar Mabuk lebih tinggi daripada ilmunya Guru. Ya, ya... sekarang aku percaya, dia pasti bisa mengatasi luka-luka yang diderita Guru!"

Pendekar Mabuk segera ajukan tanya, "Apakah kau masih sangsi dengan kesanggupanku untuk menyembuhkan sakit yang diderita gurumu?"

Badai Kelabu berkata, "Untuk satu hal ini, kuakui kau lebih unggul dari guruku. Tapi untuk penyembuhan, aku masih sangsi. Hanya saja, tak ada jeleknya jika aku mencoba membawamu ke Pulau Hitam dan memberi kesempatan padamu untuk menyembuhkan Guru. Tetapi aku minta satu jaminan darimu, Suto."

"Jaminan apa maksudmu, Badai Kelabu?"

"Jika Guru tak bisa sembuh, kau harus rela menyerahkan nyawamu ke tanganku. Kau harus mau kubunuh!"

Suto Sinting tertawa sambil mengambil bumbung tuaknya. Tawanya terhenti dan ia berkata, "Nyawaku tidak semurah itu!"

"Karena aku juga punya jaminan!" kata Badai Kelabu.

Suto meneguk tuaknya beberapa kali, kemudian baru bertanya, "Jaminan apa?"

"Jika guruku bisa sembuh, kupasrahkan jiwa ragaku kepadamu!"

"Jika aku tidak mengobati gurumu, apakah kau yakin tak akan memasrahkan jiwa ragamu kepadaku?"

Badai Kelabu diam tersekap malu. Wajahnya semburat merah dadu karena menahan malu. Pendekar Mabuk menertawakannya dengan mata tetap memandang kepada perempuan itu. Yang dipandang jadi salah tingkah. Matanya menatap ke mana saja, sampai akhirnya ia kembali menatap Suto dan berkata,

"Baiklah. Kita tak perlu saling ada jaminan seperti itu! Akan kucoba membawamu kepada Guru, walau nantinya Guru akan murka padaku karena aku tak mendapatkan Batu Galih Bumi!"

"Murka gurumu bisa kuredakan! Tapi kumohon jangan lagi kau berusaha merebut ataupun mencuri Batu Galih Bumi, karena itu bukan hakmu, bukan pula hak gurumu. Ratu Pekat yang berhak memiliki Batu Galih Bumi itu! Jika kau merebutnya, berarti kau merusak persahabatanmu dengan Ratu Pekat, bahkan bisa jadi merusak nyawamu sendiri. Sebab aku tahu, kau bukan tandingan Ratu Pekat, ilmumu masih jauh di bawahnya."

"Kau bermaksud menghinaku?"

"Tidak. Aku tidak bermaksud menghinamu atau merendahkan kamu. Tapi aku bermaksud memacu semangatmu agar terus menuntut ilmu setinggi mungkin, supaya kau tidak direndahkan oleh orang lain!"

Badai Kelabu akhirnya hempaskan napas panjang, lalu berkata, "Sulit sekali membantah kata-katamu. Sebaiknya memang kita segera bertolak dari pulau ini menuju Pulau Hitam. Sebaiknya... sebaiknya aku memeriksa perahu dulu sebelum berangkat!"

"Aku hanya akan membawa Dewa Racun. Mungkin dia bisa membantuku!"

Tanpa diketahui oleh mereka, sepasang mata memperhatikan percakapan itu dan mencuri dengar semuanya. Sepasang mata itu adalah milik Cempaka Ungu yang berwajah berang.

* * *

LIMA

BARU saja menapakkan kakinya di pasir pantai, Badai Kelabu sudah mendapat serangan dari arah belakang. Hembusan angin panas terasa melesat mendekati punggungnya. Badai Kelabu cepat sentakkan kaki dan melesat ke samping. Wuttt...! Dan ia berada di atas sebuah batu dalam kejap berikutnya.

Beggh...! Pukulan tenaga dalam berhawa panas itu mengenai pasir pantai. Pasir itu menyembur ke atas dan berhamburan tertiup angin lautan. Sebagian ada yang memercik di kaki Badai Kelabu. Sesosok bayangan melesat dari balik rimbunan pohon pantai. Bayangan itu berwarna ungu. Dengan cepat Badai Kelabu mengenali bayangan tersebut. Pasti Cempaka Ungu!

Jlegg...!

Lompatan Cempaka Ungu terjadi dua kali. Satu kali ia melompat dan hinggap di pasir pantai, satu kali lagi ia melompat dan hinggap di atas sebuah batu berukuran tinggi satu tombak, sama dengan ukuran tinggi batu yang dipakai berpijak Badai Kelabu.

"Kau lagi!" geram Badai Kelabu, ia berani menggeram jengkel karena sejak peristiwa pertarungannya dengan Ratu Pekat, Cempaka Ungu sudah tidak lagi menampakkan sikap bersahabat dengannya. Cempaka Ungu sendiri merasa bermusuhan dengan Badai Kelabu karena beberapa hal yang menjengkelkan hatinya.

"Apa maksudmu menyerangku, Cempaka Ungu?"

"Mestinya kau sudah tahu, bahwa aku sudah tidak menyukaimu lagi!" jawab Cempaka Ungu dengan sinis dan ketus.

"Aku tak merasa rugi tidak disukai orang macam kamu!" balas Badai Kelabu tak kalah ketus dan sinisnya. Keduanya saling berhadapan dalam jarak delapan langkah.

"Jika begitu, sebaiknya kumusnahkan saja dirimu, Badai Kelabu!"

Srett...! Cempaka Ungu mengawali mencabut pedangnya.

"Tunggu dulu! Apa alasanmu sehingga bernafsu sekali untuk membunuhku, Cempaka Ungu? Apakah kau masih menyangka aku akan merebut atau mencuri Batu Galih Bumi milik ibumu itu?"

"Aku sudah tidak berpikir hai itu lagi, Badai Kelabu! Karena aku tahu, kau tak akan mampu merebutnya dari tangan ibuku! Kalau bukan karena Pendekar Mabuk yang menahan pukulan ibuku, nyawamu sudah melayang sejak kemarin sore, Badai Kelabu!"

"Lalu, apa masalahnya sehingga kita harus bertarung disini?!"

"Hmmm..., kau takut rupanya?!" Cempaka Ungu tersenyum sinis.

"Takut melawanmu sama saja takut melawan bocah ingusan! Sama sekali tak ada gentar di hatiku untuk melawanmu, Cempaka Ungu! Tapi sebelum aku membelah kepalamu, lebih dulu aku ingin tahu apa alasanmu sehingga kamu sangat bernafsu mati di tanganku?!"

"Pertanyaan yang sombong!" geram Cempaka Ungu. "Badai Kelabu! Kalau kau ingin tinggalkan pulauku ini, cepatlah pergi dan tak perlu membawa Pendekar Mabuk itu!"

"Aku harus pergi dengan membawanya! Karena dia yang akan menjadi tabib untuk guruku!"

"Persetan dengan gurumu, Badai Kelabu! Suto harus tetap di sini!" sentak Cempaka Ungu.

"Kau tidak berhak menentukan dia harus ada di mana! Kau bukan apa-apanya, Cempaka Ungu!"

"Memang! Tapi dia punya kepentingan dengan ibuku di pulau ini!"

"Apakah ibumu jatuh cinta kepada Pendekar Mabuk? Oh, alangkah pikunnya ibumu itu, sudah tua masih cari yang muda! Serakah sekali dia?!"

"Tutup mulutmu, Badai Kelabu! Sekali lagi kau menghina ibuku, kutebas lehermu tanpa ampun lagi!" Cempaka Ungu menjadi gusar.

"Kau pikir mudah menebas batang leherku, Bocah ingusan?! Ilmu pedangmu masih cetek dan tak sebanding dengan ilmu pedangku!" sentak Badai Kelabu. Lalu, ia pun mencabut pedangnya. Srett...!

"Jangan kau meremehkan aku, Badai Kelabu! Kau akan menyesal jika sudah tahu setinggi apa ilmu pedangku!"

"Buktikan di depan mataku! Jangan hanya bisa berkoar saja!" tantang Badai Kelabu dengan lantang.

Cempaka Ungu semakin panas hati mendengar tantangan itu, maka ia pun berseru, "Benar-benar cari mampus kau, hiaaat...!"

"Hiaaahh...!"

Cempaka Ungu sentakkan kakinya dan tubuhnya pun melenting di udara dengan berjungkir balik satu kali. Badai Kelabu pun cepat melesat ke udara dan berjungkir balik satu kali, lalu keduanya saling membabatkan pedang ke arah lawan masing-masing.

Trang trang trang...!

Gerakan pedang Cempaka Ungu cukup cepat, tapi Badai Kelabu tak kalah cepat dengan gerakan itu. Pedangnya menangkis setiap sabetan pedang dari Cempaka Ungu. Lalu, kaki kanannya sempat menendang ke belakang saat tubuh mereka saling melintas lewat.

Begg...!

Badai Kelabu mendaratkan kakinya di tempat berdirinya Cempaka Ungu tadi, yaitu di atas batu. Sedangkan Cempaka Ungu hampir saja tersungkur akibat tendangan kaki lawannya yang mengenai bagian pinggang kanan, ia berhasil mendarat di atas batu bekas tempat berdiri Badai Kelabu dengan sedikit sempoyongan, nyaris jatuh kebawah.

Segera Cempaka Ungu membalikkan badan, dan menghirup napas panjang-panjang. Pada saat itu, Badai Kelabu pun sudah siap berdiri menantang serangan berikutnya. Untuk sesaat Cempaka Ungu tidak bicara, karena ia harus segera menahan napasnya untuk menahan rasa ngilu di sekujur tulang iganya akibat tendangan Badai Kelabu tadi.

"Bagaimana? Tersumbatkah napasmu karena tendanganku?" ejek Badai Kelabu dengan senyum sinisnya.

"Hmm..., terlalu ringan tendanganmu! Adakah yang lebih hebat lagi dari tendangan seekor kucing mabuk tadi?" Cempaka Ungu tak mau kalah ejek, walau sebenarnya dalam hati Cempaka Ungu mengakui beratnya tendangan lawan.

"Ha ha ha ha... kau boleh berkata begitu, tapi aku tahu kau sedang menahan rasa sakit, Cempaka Ungu. Kulihat wajahmu menjadi pucat dan keringat dinginmu keluar di bagian keningmu!"

"Sial! Dia mengetahui keadaanku!" geram Cempaka Ungu dalam hatinya. Karena rasa malu, maka tanpa bicara apa-apa lagi, ia segera sentakkan kaki dan kembali menerjang ke arah lawannya. "Hiaaat...!"

Wugggh...! Wugggh...!

Dua sosok manusia perempuan itu saling terjang kembali di udara. Pedang mereka saling dikibaskan dengan cepat.

Trang trang trang...! Buhgg...!

Jleg...! Cempaka Ungu mendaratkan kakinya di tanah, ia telah berhasil menyodok bagian bawah ketiak lawannya dengan siku yang berkekuatan tenaga dalam. Sodokannya tadi terasa terkena telak. Itulah sebabnya ia membalikkan tubuh dengan tersenyum angkuh.

Badai Kelabu berhasil berdiri dengan tegak walau tadi saat mendaratkan kakinya di atas batu tempat berdirinya Cempaka Ungu itu hampir saja ia terjungkal jatuh. Sodokan keras bertenaga dalam terasa meremukkan tulang rusuk dan menahan jalur pernapasannya. Tetapi ia masih mampu menahan dengan mengeraskan seluruh urat yang ada di sekitar bagian bawah ketiak.

"Hai, wajahmu merah, Badai Kelabu! Sebentar lagi kau rubuh karena sodokan sikuku tadi!" ledek Cempaka Ungu.

Badai Kelabu paksakan diri untuk tersenyum dari atas batu, lalu ia berkata, "Wajahku merah karena menahan nafsu untuk membunuhmu!"

"Kenapa tidak kau lakukan?" tantang Cempaka Ungu.

"Kupikir, sia-sia membunuh anak kemarin sore!"

"Kalau nyatanya kau tak mampu membunuhi anak kemarin sore, mengapa harus merasa sia-sia?"

"Karena aku punya urusan yang lebih penting daripada melayani kenakalan anak kemarin sore! Aku harus segera kembali membawa serta Pendekar Mabuk itu untuk menjadi tabib bagi guruku!"

"Itu hanya impian kosong, Badai Kelabu! Langkahi dulu mayatku, baru kau bisa membawa pergi Pendekar Mabuk dari pulau ini!"

"Keparat kau! Bocah tak tahu diuntung!" hardik Badai Kelabu dengan membelalakkan matanya yang ganas, ia pun segera mengangkat pedangnya ke atas, lalu ditarik turun dalam satu sentakan kuat, dan disentakkan kembali ke depan, ke arah Cempaka Ungu. Dan tiba-tiba dari ujung pedang itu terlepaslah sinar merah cerah dengan gerakan secepat kilat.

Zuittt...!

Cempaka Ungu terkesiap sejenak. Cepat-cepat ia hadangkan pedangnya untuk menangkis sinar merah cerah itu.

Dubbbh...!

"Aaahg...!" Cempaka Ungu tersentak ke belakang dan jatuh terlentang. Sinar merah memang berhasil ditahan dengan menggunakan pedangnya yang kedua ujungnya dipegang dengan dua tangan. Tapi begitu besarnya tenaga dorong yang datang dari sinar merah itu, sehingga tubuh Cempaka Ungu tak sanggup bertahan untuk tetap berdiri, ia terpental ke belakang dalam keadaan sebagian rambutnya terbakar karena terkena percikan api sinar merah tadi. Bau rambut terbakar sangat kuat menusuk hidungnya.

Melihat lawannya jatuh, Badai Kelabu segera lompat dari atas batu ke tanah. Jlegg...! Pada saat itu, Cempaka Ungu sedang bergegas untuk bangkit. Maka dengan cepat Badai Kelabu berlari menyerang dan akhirnya melompat menerjang lawan dengan pedang lurus ke depan. "Hiaaaaat...!"

Cempaka Ungu tak sempat menghindar, karena ia baru saja sadar. Dengan gerakan cepat ia kibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan menangkis pedang Badai Kelabu.

Trang trang...! Brreet...!

"Auh...!" Cempaka Ungu terpekik, ia tak menyangka kalau gerakan tubuh Badai Kelabu akan melesat ke atas ketika tiba di depannya. Tubuh Badai Kelabu itu melenting di udara dan bergerak menukik dalam satu kibasan pedang. Pedang itu berhasil menyabet pundak Cempaka Ungu dan tubuh yang menukik itu cepat kembali pada posisi biasa, lalu mendarat di belakang Cempaka Ungu.

Pundak Cempaka Ungu robek akibat sabetan pedang. Lukanya cukup lebar dan mencucurkan darah segar. Badai Kelabu mengangkat pedangnya dari samping dan segera menebas ke leher lawannya yang sedang memunggungi dengan mengerang kesakitan.

Wess...! Trang...!

Tiba-tiba pedang Badai Kelabu tak jadi menyentuh leher Cempaka Ungu. Pedang itu membalik ke arah semula, bahkan tubuh Badai Kelabu itu terbawa hentakan gelombang yang membuat pedangnya terpental ke samping. Tubuhnya pun terbawa terpental dan jatuh berguling, lalu cepat bangkit dengan satu kaki masih berlutut, pedang berdiri tegak di depannya, digenggam dengan dua tangan.

"Setan! Ada yang ikut campur urusanku!" geramnya dalam hati. Matanya mencari sekeliling yang tampak sepi. Tapi ketika ia memandang ke arah perairan pantai, ia melihat sebuah perahu warna merah mendekati pantai. Penumpangnya empat orang lelaki yang sedang memandang ke arah pertarungan tadi.

"Hmm... siapa mereka?" gumam hati Badai Kelabu. "Pasti satu dari mereka yang tadi menahan gerakan pedangku dan menghentakkan dengan kekuatan jarak jauh yang cukup tinggi!"

Terdengar suara Cempaka Ungu berseru kepada salah satu penumpang perahu merah, sambil mendekap lukanya yang masih berdarah, "Sanjaya...!" Cempaka Ungu berlari menyambut perahu merah itu.

Empat lelaki di atas perahu merah, hanya satu yang turun dan segera menyambut langkah kaki Cempaka Ungu yang limbung dan hampir jatuh. Tubuh Cempaka Ungu segera ditahan oleh lelaki muda berkumis tipis itu.

"Cempaka! Kau terluka?!" Sanjaya yang berpakaian merah tua dari bahan kain beludru dan bermanik-manik perak hias itu tampak tegang melihat luka dipundak Cempaka Ungu.

"Dia... dia...," Cempaka kesakitan, ia sulit bicara. "Penghulu Petir! Rawat kekasihku ini!" seru Sanjaya kepada satu dari ketiga orang di atas perahu merah tersebut, ia sendiri segera berlari menemui Badai Kelabu yang masih siap menghunus pedang di tangan, berdiri dengan kaki tegak, bagai menunggu kedatangan lawannya.

"Beraninya kau melukai kekasihku, hah?! Siapa kau sebenarnya, Perempuan Dungu?!" sentak Sanjaya.

Badai Kelabu mengernyitkan alis. Ia pandangi sesaat pria yang berompi merah dengan mengenakan baju lengan panjang komprang warna hitam, celananya pun merah dihiasi rajutan benang putih perak yang membentuk hiasan. Rambutnya sedikit panjang bergelombang dengan ikat kain beludru merah bermanik-manik putih perak. Tubuhnya tinggi, tegap dan kekar. Sebilah keris bergagang kayu merah terselip di balik sabuk-nya yang berwarna merah pula. Keris itu tepat ada di depan perutnya dan siap untuk dicabut sewaktu-waktu.

"Sebelum kau tahu namaku, terlebih dulu aku ingin tahu siapa dirimu dan apa hubungannya dengan Cempaka Ungu?" tanya Badai Kelabu dengan sikap tenang.

"Sudah kubilang tadi, Cempaka Ungu adalah kekasihku! Namaku Sanjaya, bergelar Pangeran Berdarah!"

"Cukup asing namamu itu di telingaku! Pangeran Berdarah...?! Sebuah nama yang belum kondang, tentunya!" ejek Badai Kelabu.

Pangeran Berdarah merasa terhina dan menggeram gusar. Wajahnya yang tampan kelihatan buas dan liar. Segera ia sentakkan tangan kanannya ke arah sebuah batu, wuut...! ia lepaskan pukulan tenaga dalamnya ke sana. Badai Kelabu hanya melirik dengan menyimpan rasa heran, ia sangka Pangeran Berdarah memamerkan ilmunya. Batu itu tidak pecah. Badai Kelabu sunggingkan senyum tipis meremehkan. Tapi belum habis senyumnya, tiba-tiba ia merasakan gelombang hawa panas mendekatinya dengan gerakan cepat, arahnya dari batu yang habis dihantam Pangeran Berdarah.

Wuusss...! Beeghh...!

Badai Kelabu terjungkal jatuh dan berguling-guling bagai dilanda angin topan yang bertenaga besar. Rupanya pukulan yang dilepaskan Pangeran Berdarah itu sengaja dipantulkan melalui batu tersebut untuk mengecohkan lawan, sehingga lawan menjadi kelabakan.

"Edan! Ini jurus yang aneh!" pikir Badai Kelabu. "Hampir saja dadaku jebol terkena pukulan itu kalau tak segera kuikuti gerakan dorongnya. Tak kusangka pukulan itu memantul ke arahku, sehingga aku hanya bisa menahan napas untuk bertahan menerima hembusan hawa panasnya itu. Kalau tidak kutahan napasku, habislah aku dibakar gelombang hawa panas yang memantul itu! Agaknya aku harus berhati-hati melawan orang satu ini!"

"Bangun kau, Perempuan Dungu!" sentak Pangeran Berdarah. "Hadapilah aku jika kau memang berilmu tinggi! Rasa-rasanya kau memang tak sebanding melawan Cempaka Ungu! Akulah lawanmu!"

Badai Kelabu cepat sentakkan kakinya dalam posisi bersimpuh, dan tiba-tiba tubuh itu telah melayang dengan ringannya, pedangnya segera ditebaskan ke arah kepala Pengeran Berdarah. Wueesss...!

Pangeran Berdarah hanya menghindar ke samping dan membiarkan pedang itu menebas tempat kosong. Tetapi kejap berikutnya, Pangeran Berdarah cepat hantamkan pukulannya ke arah gugusan batu. Wuttt...! Begitu Badai Kelabu pijakkan kakinya ke tanah, ia telah mendapat serangan pukulan tenaga dalam yang memantul dari batu itu.

Wuugggh...!

Beggh...!

"Ehhg...!" Badai Kelabu tersentak karena punggungnya terkena pukulan pantul tersebut. Tubuhnya melengkung kedepan dengan kepala terdongak, mulut ternganga melepaskan pekik tertahan.

Pada saat itu, Pangeran Berdarah cepat sentakkan kakinya ke depan dengan kekuatan penuh untuk menendang perut Badai Kelabu. Kemungkinan perut itu akan jebol karena Pangeran Berdarah menggunakan jurus tendangan 'Turangga Sakti'. Sayangnya, sebelum kaki itu menyentuh kulit tubuh Badai Kelabu, sebuah pukulan jarak jauh dilepaskan oleh seseorang dan menghantam mata kaki Pangeran Berdarah.

Duuggh...!

"Auh...!" Pangeran Berdarah terpekik. Kerasnya pukulan jarak jauh yang menghantam mata kaki itu membuat kaki tersebut tersentak hingga memutar tiga kali dengan cepat. Kemudian Pangeran Berdarah jatuh dalam keadaan pusing karena berputar cepat tiga kali, dan ia sedikit menyeringai karena merasakan mata kakinya bagaikan mau pecah.

"Hiaaat...!" terdengar pekik tiga orang yang segera melompat diri turun dari perahu merahnya. Mereka adalah Penghulu Petir, si Latah Lidah dan Jalak Putih. Mereka sama-sama hendak menyerang dua orang yang salah satunya tadi mengirimkan pukulan jarak jauh dan mengenai mata kaki Pangeran Berdarah. Tetapi, gerakan ketiga orang yang memihak Sanjaya itu segera terhenti karena seruan dari Cempaka Ungu.

"Tahan...!"

Hanya satu seruan, mereka bertiga sepakat hentikan langkah. Tapi mata mereka masih tajam memandangi wajah Pendekar Mabuk dan Dewa Racun. Orang yang mengirimkan pukulan jarak jauh tadi adalah Suto Sinting, yang dengan tenangnya berjalan mendekati mereka sambil menyempatkan diri menenggak tuaknya beberapa teguk.

Pangeran Berdarah masih bisa bangkit walau sedikit pincang, ia mendekati Suto dan membentak, "Siapa kau?!"

"Siapa...?!" bentak si Latah Lidah mengikuti suara keras yang membuatnya latah ikut membentak.

"Cempaka Ungu tentunya bisa menjelaskan siapa diriku dan siapa temanku ini," kata Suto dengan kalem, sambil ia menepuk-nepuk pundak Dewa Racun, tapi tepukannya dikibaskan oleh Dewa Racun, ia tak suka ditepuk pundaknya.

"Jawab saja pertanyaanku!" bentak Pangeran Berdarah.

"Ya. Jawab...!" si Latah Lidah membentak pula. "Jangan kau memancing persoalan denganku, tahu?!"

"Tahu!" jawab si Latah Lidah. Pangeran Berdarah cepat pandangkan mata padanya, si Latah Lidah cepat menutup mulutnya dengan rasa malu dan bersalah.

Cempaka Ungu menggenggam lukanya dan mendekati mereka, ia segera berkata kepada Pangeran Berdarah, "Tahan amarahmu, Sanjaya! Mereka berdua bukan musuhku!"

"Tapi dia melumpuhkan tendanganku! Dia harus kubalas!"

"Harus!" bentak si Latah Lidah, sepertinya tak boleh mendengar suara keras yang menyentak, karena dia akan menirukan ucapan itu walau tak mengerti maksudnya.

"Balaslah pada perempuan busuk itu!" geram Cempaka Ungu sambil menuding Badai Kelabu yang berusaha bangkit dari jatuhnya.

"Cempaka," kata Pendekar Mabuk sambil memperhatikan luka di pundak perempuan itu, "Kenapa pundakmu?! Kau terluka? Oleh siapa, Cempaka?!"

"Badai Kelabu ingin membunuhku, Suto!" Cempaka mengadu.

Suto mau meraih pundak yang terluka itu, tapi Pangeran Berdarah cepat membentak, "Jangan sentuh dia!"

"Jangan! Jangan sentuh dia! Aku saja! Eh... anu... anu...!" si Latah Lidah kebingungan sendiri setelah menyadari ucapannya, ia menutup mulut dengan tangannya, sementara Penghulu Petir segera menyeretnya, menjauhi mereka ke suatu tempat di bawah pohon teduh.

* * *

ENAM

PERSOALAN itu ditengahi oleh Ratu Pekat. Pada dasarnya, Cempaka Ungu tak mengizinkan Pendekar Mabuk meninggalkan Pulau Beliung, sebab takut jika sewaktu-waktu datang serbuan dari Siluman Tujuh Nyawa. Walau sebenarnya Ratu Pekat tahu, bahwa putrinya itu cemburu jika Pendekar Mabuk pergi bersama Badai Kelabu, tapi ia berlagak tidak tahu menahu maksud hati Cempaka Ungu yang sebenarnya.

Badai Kelabu sendiri merasa perlu mempertahankan rencananya, yaitu membawa Suto Sinting ke Pulau Hitam untuk menyembuhkan gurunya. Tapi ia harus menyingkirkan Cempaka Ungu lebih dulu, karena Cempaka Ungu dianggap ingin menggagalkan rencana tersebut, yang berarti ingin membiarkan guru Badai Kelabu mati karena racun berbahaya dari Pusaka Tombak Maut.

Pendekar Mabuk terpaksa mengobati luka di pundak Cempaka Ungu dengan meminumkan air tuaknya. Ratu Pekat tak begitu cemas dengan luka itu. Ia bahkan segera alihkan pembicaraan kepada Pangeran Berdarah yang datang bersama tiga orang temannya itu. Ratu Pekat belum mengenal ketiga teman Pangeran Berdarah, sehingga hal itu perlu dipertanyakan.

"Apa maksudmu datang kemari dengan membawa tiga orang itu, Sanjaya? Aku belum mengenal siapa mereka!"

"Ibu Ratu," kata Pangeran Berdarah dengan sopan, "Saya mohon Ibu Ratu tidak menaruh curiga kepada tiga teman saya itu, mereka adalah Jalak Putih, si Latah Lidah dan Penghulu Petir. Mereka yang akan membantu saya dalam mengejar larinya Tapak Baja. Pusaka milik Guru saya telah dicuri oleh Tapak Baja dan..."

"Aku sudah mendengar," sahut Ratu Pekat. "Pusaka Tombak Maut milik gurumu Ki Jangkar Langit, telah berada di tangan Tapak Baja, si Nakhoda Kapal Neraka itu."

Pendekar Mabuk dan Dewa Racun diam saja. Tapi Dewa Racun manggut-manggut dan baru tahu bahwa Pangeran Berdarah adalah murid dari Ki Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut itu. Pendekar Mabuk pun baru tahu hal itu, tapi ia sepertinya tidak begitu peduli siapa Pangeran Berdarah, ia meneguk tuaknya sambil mengikuti percakapan tersebut.

Pangeran Berdarah berkata kepada Ratu Pekat, "Saya datang kemari di samping untuk menengok keadaan Cempaka Ungu dan Ibu Ratu, juga mencari tahu ke mana jejak kepergian si Tapak Baja itu. Sebab Guru tidak akan bisa tenang dalam menghabiskan sisa hidupnya jika Pusaka Tombak Maut itu belum kembali ke tangan beliau. Saya tidak diizinkan pulang menghadap beliau, jika Tombak Maut belum berhasil ditemukan. Jadi saya harus mencarinya ke segala penjuru dengan bantuan tiga teman saya yang pernah saya tolong dalam menghadapi beberapa persoalan pribadinya itu, Ibu Ratu."

"Watak seorang murid yang baik," kata Ratu Pekat. "Ki Jangkar Langit pasti suka mempunyai murid seperti kamu, Sanjaya. Tapi ketahuilah, jangan sekali-kali kau mencoba berhadapan dengan murid si Gila Tuak"

"Maaf, Ibu Ratu," potong Sanjaya dengan rasa penasaran. "Apakah di sini ada orang yang mengaku murid si Gila Tuak? Seingat saya, Ki Jangkar Langit tidak pernah mengatakan bahwa Gila Tuak mempunyai murid. Jangan sampai Ibu Ratu terkecoh oleh pengakuan palsu."

"Pemuda yang sejak tadi minum tuak itulah murid si Gila Tuak!" jawab Ratu Pekat.

Kemudian, mata Pangeran Berdarah menatap Pendekar Mabuk dengan sorot pandangan sinis dan meremehkan. Suto duduk berseberangan dengan Pangeran Berdarah. Pendekar Mabuk selalu duduk bersimpuh, tak mau duduk bersila. Dengan begitu tubuhnya selalu kelihatan tegap dan sikapnya senantiasa siap siaga.

"Benarkah kau murid si Gila Tuak, teman dari guruku itu?" tanya Pangeran Berdarah kepada Pendekar Mabuk.

"Benar," jawab Pendekar Mabuk pendek. Tapi matanya tetap memandang lurus ke arah mata Pangeran Berdarah yang tampak tidak percaya dengan pengakuan tersebut.

Diam-diam pangeran berhidung bangir itu melepaskan kekuatan tenaga dalamnya melalui gerakan jari telunjuknya. Jari telunjuk itu bergerak maju, mendorong tubuh Pendekar Mabuk dari jarak jauh. Tapi Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum tenang sambil matanya tetap memandang Pangeran Berdarah.

Pangeran Berdarah yang duduknya bersila di lantai marmer yang licin itu tanpa sadar telah bergeser mundur pelan-pelan. Makin lama semakin mundur, semakin menjauhi tempatnya semula, dan begitu sadar ia sudah ada ditepian serambi istana. Sementara itu Pendekar Mabuk tetap duduk bersimpuh di tempatnya. Pangeran Berdarah bergegas maju lagi dengan sikap malu sekali, karena setiap mata memperhatikan gerakan mundurnya yang bagai didorong oleh suatu tenaga dari jarak jauh. Niatnya ingin menumbangkan Pendekar Mabuk, tapi kenyataannya bahkan dirinya sendiri yang terdorong sampai jauh.

Ratu Pekat tersenyum tipis ketika Pangeran Berdarah duduk bersila lagi di depannya. "Masih ingin mencoba kekuatan ilmu Pendekar Mabuk itu?"

"Hmmm... anu... tidak, Ibu Ratu!" jawab Pangeran Berdarah dengan rasa malu yang sukar ditutupi lagi. Dalam hati Pangeran Berdarah berkata, "Mungkin dia memang murid si Gila Tuak. Kekuatan sikap duduknya justru membuat tubuhku sendiri yang terdorong. Gila! Pandangan matanya begitu tajam walau tampak lembut, tapi menembus sampai ke dalam hatiku, membuatku menjadi gentar menghadapinya. Hmmm... untung tadi di pantai aku tak jadi melabraknya. Dan pantaslah kalau pukulan jarak jauhnya membuat tubuhku tersentak berputar tiga kali!"

Setelah Pangeran Berdarah mendengar cerita tentang peristiwa yang membuat istana bermandikan darah, ia pun segera mengambil kesimpulan yang diajukan sebagai usul kepada Ratu Pekat, yang dianggap calon mertuanya itu, "Jika benar ada dugaan bahwa anak buah Siluman Tujuh Nyawa akan datang menyerang dan merebut pulau ini dari kekuasaan Ibu Ratu, maka sebaiknya saya dan tiga teman saya itu akan tinggal di sini beberapa waktu. Biarlah Pendekar Mabuk pergi menyembuhkan gurunya Badai Kelabu. Sebelum dia kembali, kami masih tetap di sini, sambil menunggu siapa tahu Tapak Baja yang datang ke pulau ini dan ditugaskan menghancurkan pulau ini. Sayalah yang akan menghadapinya, Ibu Ratu!"

"Bagaimana menurutmu, Pendekar Mabuk?" tanya Ratu Pekat.

"Itu gagasan yang bagus," jawab Pendekar Mabuk.

"Boleh saya bicara, Nyai Ratu?" kata Mata Elang tiba-tiba.

Nyai Ratu anggukkan kepala dan berkata, "Bicaralah!"

"Bukankah menurut pendapat Nyai Ratu sendiri, Tapak Baja adalah orang yang kuat, bengis dan kejam?"

"Memang benar."

"Apakah kita cukup mampu menghadapi dia, jika sewaktu-waktu dia datang tanpa ada Pendekar Mabuk di sini?"

"Kenapa tidak?" sahut Pangeran Berdarah. "Saya sudah mendapat jurus untuk menghadapi Pusaka Tombak Maut, Ibu Ratu. Sebelum saya ditugaskan mencari Pusaka Tombak Maut dan merebutnya dari tangan Tapak Baja, Guru telah lebih dulu mengajarkan bagaimana cara menghadapi orang bersenjata Pusaka Tombak Maut itu. Jika pusaka tersebut sudah bisa saya rebut, saya pun bisa menggunakannya untuk melenyapkan Tapak Baja, Ibu Ratu!"

"Bagus! Kurasa kita tak perlu cemas lagi, Mata Elang!" kata Ratu Pekat kepada pengawal pribadinya itu.

Penghulu Petir, yang sejak tadi duduk dibelakang agak samping dari Badai Kelabu, segera menyumbang kata, "Tapak Baja memang keji dan ganas. Kabar terakhir yang saya terima, bahwa dari sejumlah dua puluh tujuh orang anak buahnya dalam Kapal Neraka itu, sekarang tinggal satu orang, yaitu yang bernama Hantu Laut. Dua puluh enam anak buahnya itu kebanyakan mati di tangan Tapak Baja sendiri. Tetapi dengan adanya Pangeran Berdarah dan kami bertiga di sini, Ratu tidak perlu cemas lagi. Kami mampu menghadapi Tapak Baja dan Hantu Laut. Kami sudah perhitungkan kekuatan mereka, dan kami sudah atur satu rencana perlawanan sendiri!"

Semua mata tertuju pada orang berusia lima puluh tahun yang berambut abu-abu itu. Rambutnya pendek, tubuhnya kurus, matanya sedikit sipit, ia mengenakan jubah panjang warna ungu tua yang sudah kumal, tanpa mengenakan baju dalam, tapi memakai celana abu-abu dengan ikat pinggang kain putih. Jubahnya itu tak pernah ditutup, sehingga tulang iganya tampak bertonjolan, ia bersenjata sabit yang panjang gagangnya tiga jengkal. Tapi melihat penampilannya yang kalem, ia berkesan orang berilmu tinggi. Kesannya itu seakan merupakan jaminan tersendiri bagi kekuatan baru yang akan membentengi Pulau Beliung.

"Nyai Ratu," kata Suto. "Saya rasa sekarang sudah jelas, di sini ada kekuatan-kekuatan baru yang siap menghadapi kedatangan orang-orangnya Siluman Tujuh Nyawa. Rasa-rasanya kita tak perlu cemaskan lagi kekuatan di sini, dan saya akan segera berangkat ke Pulau Hitam bersama Dewa Racun dan Badai Kelabu."

"Baik. Berangkatlah! Lalu, bagaimana dengan satu temanmu yang mirip Dadung Amuk itu?"

"Saya titip Singo Bodong sebentar. Biar dulu dia disini, saya akan jemput dia lagi setelah selesai sembuhkan sakitnya guru Badai Kelabu!" kata Suto. Setelah acara pamitan itu selesai, Suto pun segera menemui Singo Bodong.

"Singo Bodong, kau kutinggal di sini sebentar. Bantulah mereka sebisamu."

"Kau akan pergi ke mana, Pendekar Mabuk?"

"Ke Pulau Hitam, menyelamatkan seseorang yang terluka parah!"

"Tapi, kau nanti kembali ke sini menjemputku, Pendekar Mabuk!"

"Ya. Pasti aku kembali lagi ke sini menjemputmu."

Dewa Racun angkat bicara, "Dan... dan... dan lagi, perahunya tidak cukup untuk muat empat orang jika badan besarmu itu ikut serta! Kam... Kam... Kam"

"Kampret?!"

"Kamu!" sentak Dewa Racun, "Kamu kuruskan badan dulu di sini dengan kerja yang giat, sup... sup....sup..."

"Supri?!"

"Bukan! Supri itu nama tetanggaku dulu! Maksudku, supaya! Supaya mudah belajar ilmu silat jika tubuhmu telah kurus!" kata Dewa Racun.

Buat Singo Bodong, ia merasa lebih enak tinggal di pulau itu. Tidak terlalu ramai, dan sering melihat pertarungan hebat dari tokoh-tokoh dunia persilatan, ia salah satu orang yang menjadi pengagum pendekar, tapi ia sendiri tidak pernah memiliki ilmu kependekaran. Hanya sedikit ilmu yang diberikan oleh Pendekar Mabuk secara tak disadari itu. Ilmu tersebut berada di napasnya. Napas Singo Bodong bisa membuat pot bunga dari tanah terjatuh jika terkena hembusan napas lewat mulut. Pernah ia mencobanya kepada seorang prajurit istana. Prajurit itu hanya terdorong selangkah ke belakang, tapi untuk selanjutnya masih bisa menyerang Singo Bodong. Berarti kekuatan napas itu hanya bisa dipakai oleh Singo Bodong sebagai sarana untuk menakut-nakuti lawan saja.

Sebelum matahari tegak di atas kepala manusia, perahu bermuatan tiga orang itu telah meninggalkan pantai Pulau Beliung. Perahu berlayar tunggal itu cukup besar untuk ukuran tiga orang. Mempunyai ruang untuk meneduh dan tidur pada bagian haluannya. Ruangan tersebut beratapkan rumbia dengan tiga jendela, satu jendela menghadap ke arah haluan, pintunya menghadap ke arah buritan. Perahu itu adalah milik Badai Kelabu yang dibawanya dari Pulau Hitam.

"Kami mempunyai satu perahu kecil lagi, muat untuk dua orang. Kurasa guruku tidak keberatan untuk memberikan perahu itu kepada kalian sebagai upah kesembuhannya," kata Badai Kelabu yang berdiri di buritan bersama Suto. Dewa Racun ada di haluan, mengendalikan lajunya perahu yang tertiup angin.

"Mengapa gurumu sampai berurusan dengan Tapak Baja?" tanya Pendekar Mabuk.

"Sebenarnya kami tak punya persoalan dengan Siluman Tujuh Nyawa. Hanya karena perahu kami berpapasan dengan Kapal Neraka itu, dan Guru tidak mau mendekat saat dipanggil oleh Tapak Baja, maka orang ganas itu menjadi marah, lalu menyerang kami."

"Waktu itu kau ada di perahu yang ditumpangi gurumu juga?"

"Ya. Kami tujuh orang, habis menyambangi seorang teman di Pulau Belacan. Aku diperintahkan untuk kabur oleh Guru dengan cara terjun ke laut. Tapi sebenarnya aku hanya menyelam di bawah perahu, bersembunyi di sana. Keenam temanku mati karena amukan Tapak Baja bersama tombak maut itu, dan Guru pun terluka berat."

"Bagaimana luka-luka yang diderita oleh gurumu itu, Badai Kelabu?"

"Sekujur tubuhnya melepuh, termasuk bagian wajah. Setiap bagian melepuh yang pecah mengeluarkan bau busuk yang memusingkan kepala. Padahal Guru hanya tergores sedikit oleh ujung tombak pusaka itu di bagian betis kirinya, tapi racun yang ada di taring babi hutan itu amat ganas, dengan cepat menyebar ke sekujur tubuh."

Dewa Racun mendengar percakapan itu. Sebagai orang yang ahli di bidang pengetahuan racun, ia pun segera menyahut, "It... it... itu namanya Racun Gelembung Mayat!"

Kedua wajah di buritan segera berpaling memandang ke arah haluan perahu. Suto segera berseru dari tempatnya, "Racun Gelembung Mayat dapat bertahan berapa lama, Dewa Racun?"

"Paling lama hanya mampu bertahan dua puluh hari. Lewat dari dua puluh hari dia akan mati membusuk!"

"Apa yang diserang oleh Racun Gelembung Mayat?"

"Pembusukan di bagian gelembung darah orang itu!"

Badai Kelabu berbisik kepada Suto, "Dia sangat mengerti tentang racun itu. Jangan-jangan dialah yang menciptakan Pusaka Tombak Maut itu, Pendekar Mabuk?"

Pendekar Mabuk tampilkan senyum ramah. "Tidak. Dia hanya tahu tentang segala jenis racun, tapi kadang dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi keganasan racun tersebut. Tidak semua racun bisa dimengerti cara menanggulanginya!"

"Tapi, kau tahu cara menanggulangi semua jenis racun berbahaya, Pendekar Mabuk?"

"Hmmm... mungkin tidak semua racun kuketahui juga cara penanggulangannya. Tapi, mungkin juga aku bisa menawarkan semua jenis racun dari yang berbahaya dan yang tidak berbahaya."

"Kenapa masih bersifat mungkin? Kenapa kau tidak tahu dengan pasti, Suto?"

"Karena aku belum pernah mencoba menawarkan semua jenis racun!" jawab Pendekar Mabuk dengan bersikap jujur, namun menyembunyikan kepandaiannya. Kepandaian yang ada pada Pendekar Mabuk, serta tingginya ilmu Suto, telah membuat Badai Kelabu menjadi sering berpikir tentang diri Suto.

Namun Badai Kelabu menganggap Pendekar Mabuk lelaki yang dingin terhadap perempuan. Terbukti, semalam ia tidur di dalam kamar beratap rumbia itu, tapi tak sedikit pun tubuhnya terasa disentuh oleh Pendekar Mabuk Suto ada di haluan bersama Dewa Racun. Bahkan sesekali Suto yang mengendalikan lajunya perahu sementara Dewa Racun tidur dalam keadaan berdiri. Si Kerdil berpakaian putih bulu itu sudah terbiasa tidur dalam keadaan berdiri dan bersidekap tangan di dada. Busur dan anak panahnya tetap tersandang di punggung tanpa menjadi gangguan sedikit pun baginya.

Ketika pagi mulai menyingsing, lalu matahari makin menyebarkan sinar panasnya, Badai Kelabu terkejut melihat arah perahu tersebut, ia segera berseru kepada Pendekar Mabuk yang menjadi pengemudinya.

"Suto, kita salah arah!"

"Salah arah?!" Suto kerutkan dahi.

"Pulau Hitam ada di sebelah kanan perahu kita ini! Cepat putar haluan!"

Dewa Racun terbangun dari tidurnya, ia mengerjap- ngerjapkan mata, memandang sekeliling dan ikut berkata, "O, betul kata Badai Kelabu. Kita salah ar... ar... arah!"

"Kupikir pulau di seberang sana yang jadi sasarannya!" kata Pendekar Mabuk sambil tertawa, lalu ia biarkan Badai Kelabu mengambil alih haluan dan membetulkan letak arah perahu. Dewa Racun pun akhirnya menertawakannya.

"Istirahatlah, Suto. Biar kukemudikan perahu ini!" kata Badai Kelabu, ia tahu Pendekar Mabuk cukup letih karena semalaman tak tidur.

"Aku masih kuat melek!"

"Jangan. Nanti kau sakit, Suto," kata Badai Kelabu dengan lembut, seakan penuh perhatian dan kasih sayang pada Pendekar Mabuk.

Pulau Hitam masih separo hari lagi perjalanan. Pendekar Mabuk belum lama tertidur, terpaksa harus dibangunkan oleh Dewa Racun. Cara membangunkannya pun tak berani langsung disentuh tubuhnya, melainkan dengan dilempar selembar kecil kain pembersih. Kain itu langsung ditangkap cepat oleh tangan Suto.

Tapp...!

"Ada apa?" tanya Pendekar Mabuk setelah tahu dirinya dibangunkan Dewa Racun.

Orang kerdil itu segera berkata, "Kita melewati sebuah pulau yang berasap!"

"Kenapa berasap?" Pendekar Mabuk segera keluar dari kamar beratap pendek.

"Lihatlah sendiri!"

Begitu Pendekar Mabuk keluar dari kamar beratap pendek itu, Badai Kelabu segera berseru dari haluan, "Ada kebakaran di pulau itu!"

"Pasang indera pendengaranmu, Dewa Racun. Percakapan apa yang terjadi di sana? Firasatku mengatakan, itu asap api yang buruk!"

Dewa Racun pun segera menempelkan kedua jari telunjuknya ke pelipis, matanya memandang pada pulau bertebing landai. Hutan-hutannya tak begitu lebat. Suatu kegiatan dari sebuah kehidupan ada di balik tebing landai itu. "Suto, ak... aku... aku mendengar suara orang me... meratap! Seperti orang kesakitan!"

"Adakah yang perlu ditolong?"

"Hmmm... iy... iya! Ada orang ber... ber... berseru melepas kemarahannya. Tap... tapi tak jelas ucapannya."

"Badai Kelabu, arahkan perahu ke pulau itu!" perintah Pendekar Mabuk. "Aku penasaran, ingin tahu apa yang terjadi di pulau itu!"

"Baik, Suto!" Badai Kelabu pun mengarahkan perahunya untuk mendekati pulau yang mengepulkan asap hitam.

* * *

TUJUH

PULAU itu bernama Pulau Kidung. Penguasanya seorang resi berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih, ia membangun sebuah padepokan, yang makin lama berkembang menjadi desa kecil. Padepokan itu diberinya nama Padepokan Kidung Kencana. Di sana, Resi Kidung Sentanu mewejang murid-muridnya tentang makna hidup dan kehidupan. Ilmu-ilmu kanuragan yang diajarkan kepada para muridnya lebih bersifat kebatinan dan tenaga dalam tanpa jurus- jurus kembangan yang indah seperti layaknya ilmu silat yang dianut oleh para tokoh rimba persilatan.

Murid Resi Kidung Sentanu bukan hanya kaum lelaki, namun banyak juga kaum wanitanya. Dan mereka saling menikah, saling berumah tangga, lalu membentuk kelompok masyarakat desa yang mata pencahariannya dari bercocok tanam palawija, sebagian juga ada yang mencari ikan. Tetapi pada saat itu perahu yang ditumpangi Suto melewati bagian belakang pulau, sehingga beberapa perahu nelayan tak terlihat bertambat disana.

Perkampungan kecil itu kini terbakar. Tentunya ada pihak yang sengaja membakarnya. Karena sebelum terjadi kebakaran besar, terlebih dulu mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini. Pada umumnya mayat-mayat itu mati dalam keadaan hangus atau membiru legam. Jelas penyebabnya sebuah racun berbahaya, atau pukulan tenaga dalam yang amat tinggi kekuatannya hingga menghanguskan tubuh manusia.

Rupanya Pulau Kidung itu sedang diporak-porandakan oleh dua orang beraliran sesat. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup sebagai penduduk asli Pulau Kidung itu. Dua di antaranya sedang berdiri menghadapi seorang berkepala gundul, berbadan besar, gemuk, tak pernah memakai baju.

Orang sesat berkepala gundul itu mengenakan celana biru tua dengan ikat pinggang kain merah. Matanya besar, hidungnya bulat, perutnya gendut, kulitnya berwarna hitam walau bukan termasuk hitam keling. Orang itu tidak mempunyai alis, kalau toh ada hanya tipis sekali, sehingga wajah bundar dengan pipi bengkak itu mirip sekali dengan wajah setan. Itu sebabnya ia mengaku dirinya berjuluk Hantu Laut.

Jauh di belakang Hantu Laut, kira-kira dalam jarak lima belas langkah, berdiri seorang lelaki kurus, jangkung dan agak bungkuk. Hidungnya panjang, wajahnya lonjong, mempunyai mata sipit tapi tajam. Rambut hitamnya bercampur uban sepanjang pundak dan diikat memakai kain merah. Orang jangkung yang kurus itu mengenakan baju dan celanaabu-abu, dirangkap jubah warna hitam pekat dengan sulaman benang putih bergambar tengkorak dan tujuh mata rantai di belakang jubahnya.

Gambar itu menunjukkan lambang sekutunya Siluman Tujuh Nyawa. Dan memang orang berwajah bengis itu adalah satu dari kelima algojonya Siluman Tujuh Nyawa, yang menjadi Nakhoda Kapal Neraka dengan nama julukannya Tapak Baja. Dalam usia enam puluh tahun lebih itu, Tapak Baja masih bisa memandang dengan awas, gerakan matanya cukup lincah, sehingga ia tahu ada satu orang yang sudah terluka, namun masih bisa bangkit dan hendak menyerangnya dari samping kiri. Seketika itu tangannya menyentak dan sebuah pukulan bercahaya biru melesat menghantam dada orang itu hingga jebol. Berhamburanlah isi dada orang malang itu.

"Hantu Laut," serunya. "Habisi mereka! Tinggal beberapa gelintir saja! Aku mau istirahat dulu!"

"Siapa yang sekarat?!" sahut Hantu Laut yang memang agak tuli sejak kedua telinganya pernah dihantam oleh Tapak Baja pada saat orang keji itu marah di atas kapalnya dulu.

"Aku mau istirahat!" bentak Tapak Baja sambil tetap memegangi sebuah tombak bergagang hitam. Itulah Pusaka Tombak Maut yang sedang diributkan di kalangan para tokoh persilatan.

"O, Nakhoda mau istirahat dulu? Silakan! Biar aku yang merampungkan sisa tikus-tikus kecil ini, ha ha ha ha...!" Hantu Laut serukan tawanya yang menggelak-gelak sambil melangkah maju mendekati dua orang berusia antara dua puluh tujuh tahun dan yang satu berusia antara tiga puluh tahun.

Yang berusia tiga puluh tahun telah memegang golok bengkok ujungnya, ia berpakaian serba biru tua dengan ikat pinggang putih, rambutnya yang sebatas pundak juga diikat dengan kain putih. Tinggi tubuhnya sedang, badannya agak gemuk dibanding temannya. Orang itu adalah Tambak Lanang, murid kinasih Resi Kidung Sentanu.

Satu lagi murid kinasih dari Resi Kidung Sentanu adalah Jalu Jantan, yang kala itu berpakaian serba merah, bertubuh tinggi, kurus dan bersenjata sebatang toya. Tongkat toyanya itu berwarna coklat tua, seperti terbuat dari kayu sawo. Ia masih berdiri menunggu lawannya mendekat, walau napasnya telah ngos-ngosan karena sejak tadi sudah berjumpalitan menghindari serangan lawan yang sulit ditumbangkan itu.

Orang gundul yang menjadi lawannya mendekat dengan santai, seperti anak kecil, ia memainkan yoyo bertali panjang, ia cengar-cengir memandangi kedua lawannya di kanan-kiri, sementara itu, Tambak Lanang berkata kepada Jalu Jantan,

"Hati-hati dengan mainannya itu! Jangan sampai tertipu lagi!"

Hantu Laut makin mendekat, Jalu Jantan, dan Tambak Lanang bergerak mengepung di kanan kiri. Toya di tangan Jalu Jantan sudah siap dimainkan dalam satu kibasan atau sentakan keras nantinya. Tambak Lanang pun memainkan pedang bengkoknya di atas kepala, siap dibacokkan sewaktu-waktu.

"He he he he... tinggal kalian yang hidup di pulau ini! Sebentar lagi, guru kalian, Kidung Sentanu itu, akan keluar dari tempat pertapaannya! Pasti dia akan terkejut melihat pulau ini telah kosong. Dan pasti dia lebih terkejut lagi jika raganya cepat menjadi kosong karena ditinggalkan oleh nyawanya. He hehe...!"

"Jangan mimpi bisa mengalahkan Tambak Lanang dan Jalu Jantan! Badan kebomu itu bisa hancur kucacak-cacak dengan golokku, tahu?!" bentak Tambak Lanang.

"Minggatlah ke neraka, Setan Gundul! Hiaaat...!" Jalu Jantan sentakkan kaki, tubuh pun melesat menyerang Hantu Laut yang memunggunginya. Toya di tangan diarahkan ke depan, dalam satu kali sentakan ujungnya terbuka dan mengeluarkan mata pisau tajam. Arah mata pisau itu tertuju ke tengkuk kepala Hantu Laut.

Tetapi dengan cepat Hantu Laut membalikkan badan. Kakinya menendang ke atas, wuttt...! Trakk...! Toya itu patah seketika. Tapi kaki Jalu Jantan segera menyusul sebagai ganti toyanya.

Beggh...!

Dada manusia berkepala gundul itu terkena telak tendangan kaki kanan Jalu Jantan. Tapi justru yang menendang yang terpental ke belakang, sedangkan yang ditendang hanya terkekeh-kekeh geli sambil tetap berdiri.

Serta-merta Hantu Laut melemparkan yoyonya ke arah Jalu Jantan yang masih kehilangan keseimbangan badan itu. Wuttt...! Crak...! Yoyo itu mengeluarkan gerigi tajam pada bagian tepiannya. Gerigi itu memutar cepat dan merobek leher Jalu Jantan.

Brett!

"Ahhg...!" Jalu Jantan memekik tertahan. Darah segar muncrat dari lehernya yang robek lebar dan dalam, ia menggelepar-gelepar, sangat menyedihkan.

Melihat temannya menggelepar-gelepar dengan wajah membiru itu, Tambak Lanang semakin mendidih darahnya, ia cepat sentakkan kaki dan melayang menerjang tubuh Hantu Laut. Golok bengkok ditebaskan membabat leher Hantu Laut, tapi orang gundul itu menarik kepalanya kebelakang, sehingga ujung golok hanya lewat sekilas di depan dagunya.

Wusss!

Dalam kesempatan itu. Hantu Laut cepat sentakkan kakinya ke depan, begg...! Kena telak pada pinggang Tambak Lanang. Tubuh itu oleng ke samping, lalu disambut dengan tendangan memutar oleh kaki Hantu Laut.

Wuttt...! Bukkk!

Tubuh Tambak Lanang terpental tiga langkah ke belakang. Sempoyongan ia menahan diri. Tendangan itu begitu kuat menerjang pinggangnya hingga terasa patah tulang iganya. Tapi Tambak Lanang tak mau menyerah. Cepat ia angkat golok bengkoknya ke atas untuk ditebaskan ke depan. Tapi tahu-tahu Hantu Laut melemparkan yoyonya ke arah pergelangan tangan Tambak Lanang. Yoyo itu keluarkan gerigi lagi yang memutar cepat dan berdesing.

Crass! Gerigi itu nyaris memotong pergelangan tangan Tambak Lanang.

"Auh...!" Tambak Lanang segera mendekap lengannya yang berdarah itu sambil menahan rasa sakit. Goloknya jatuh di tanah dan cepat dipungut dengan tangan kiri. Tubuh Tambak Lanang yang membungkuk itu menjadi sasaran empuk bagi senjata yoyo Hantu Laut.

Yoyo itu dilepaskan bagai mengibas, geriginya muncul lagi dan bergerak cepat. Crass!

"Auuh...!" Tambak Lanang mengejang. Kulit punggungnya robek karena kibasan gerigi yoyo tersebut. Pada saat ia mengejang dalam keadaan masih membungkuk itu, Hantu Laut segera melompat dan menjejak tengkuk kepala Tambak Lanang dengan keras dan bertenaga dalam cukup besar.

"Hegg...!" terdengar suara Tambak Lanang setelah suara tendangan begitu keras.

Beggg...! Krekk...! Patah tulang leher itu. Darah menyembur keluar dari mulut Tambak Lanang. Mata orang itu sudah terbeliak-beliak bagai menunggu ajal. Tapi ia masih berusaha meraih senjatanya yang jatuh di tanah. Namun dalam gerakan cepat dan kuat, kaki Hantu Laut menendang kepala Tambak Lanang di bagian pelipisnya.

Plokkk!

Tambak Lanang tak mampu terpekik lagi. Tubuhnya tersentak dan jatuh terkapar dalam jarak empat langkah dari tempatnya semula. Di sana tubuh itu mengejang-ngejang dan mengeluarkan darah dari tiap lubang di kepalanya. Kemudian, tubuh itu tidak bergerak lagi untuk selamanya. Sedangkan Jalu Jantan sudah sejak tadi tak mampu bergerak atau pun bernapas, karena nyawanya telah lepas dari raga akibat robekan dilehernya.

Pada saat kematian Tambak Lanang itulah, Suto, Dewa Racun, dan Badai Kelabu muncul dari tempat yang lebih tinggi. Dari sana mereka bisa melihat kematian Tambak Lanang, dan tepuk tangan Tapak Baja yang ditepukkan pada pahanya, dengan satu tangan tetap memegangi Pusaka Tombak Maut.

Plok plok plok!

"Bagus, bagus, bagus! Itu baru namanya kerja yang bagus!"

"Mengejar ikan gabus...?! Ah, untuk apa aku harus mengejar ikan gabus, Nakhoda?"

"Kubilang, itu kerja yang bagus! Bukan kusuruh mengejar ikan gabus! Dasar budek!" bentak Tapak Baja dengan mata mendelik membuat Hantu Laut ciut nyali.

Di balik rimbunan pohon, di atas sana, tiga makhluk saling berbisik-bisik. Badai Kelabu yang mendului bicara kepada Suto, "Itu dia orangnya yang bernama Tapak Baja!"

"Yang tua dan memegang tombak berujung taring babi hutan itu?"

"Ya. Dan yang berkepala gundul itu adalah Hantu Laut, anak buahnya yang tinggal satu-satunya itu!"

"Mer... mer... mereka habis membunuh dua orang! Tap... tapi Si Tapak Baja tidak turun tangan, hanya Si Hantu Laut saja yang menangani dua musuhnya itu!"

"Aku harus balas menyerang sekarang juga!" geram Badai Kelabu yang segera berlari menuruni lereng. Tapi tangannya cepat ditahan oleh Suto.

"Tunggu dulu! Jangan gegabah! Kita pelajari dulu keadaan sekeliling tempat mereka!"

"Kalau tak segera bertindak, mereka bisa kabur secepatnya!"

"Aku yang akan mengejar mereka!" kata Suto. "Jangan dulu bergerak, karena kulihat ada sekelebat bayangan kuning menyusup di balik semak belukar di belakang Tapak Baja." Baru saja Suto selesai mengatakan demikian, tiba-tiba Tapak Baja palingkan badan ke belakang dan sentakkan tangannya yang kiri.

Wuuttt! Grusssak!

Pukulan jarak jauh itu menghantam semak belukar, namun sebelum pukulan itu sampai ke semak belukar, sosok bayangan yang bersembunyi di sana telah melesat keluar lebih dulu dengan melentingkan tubuh ke udara dan bersalto dua kali, lalu sepasang kaki itu hinggap di salah sebuah dahan pohon yang tumbuh pendek.

Orang yang hinggap di pohon pendek berdahan kecil itu mengenakan celana kuning dengan kain pembalut bagian dadanya warna kuning juga, hanya diselempangkan ke pundak kanan, sedangkan pundak kirinya terbuka tanpa kain penutup. Orang itu berusia antara tujuh puluh tahun, rambut putih dikonde kecil di tengah kepala, membawa kalung batuan besar seperti tasbih warna merah tua, butir-butir kalungnya itu seukuran dengan biji buah rambutan.

"Siapa... oor... or... orang itu, Badai?" tanya Dewa Racun.

"Pasti dia yang bernama Resi Kidung Sentanu!" jawab Badai Kelabu.

Ternyata jawaban itu memang benar, sebab tak berapa lama terdengar suara Tapak Baja menyapa orang kurus berjenggot dan berkumis putih itu, "Resi Kidung Sentanu, akhirnya kau keluar juga dari pertapaanmu, Resi! Hampir-hampir kutinggalkan kau untuk pergi ke Pulau Beliung, karena aku masih punya tugas untuk menggempur Istana Cambuk Biru di sana! Untung kau lekas muncul, jadi aku tidak perlu menunggumu terlalu lama!"

"Enyahlah kau manusia keji, sebelum tanganku berlumur darahmu!" geram Resi Kidung Sentanu dengan suara tuanya.

Ancaman halus itu ditertawakan oleh Hantu Laut. "Ha ha ha ha...! Dia suruh kita mengunyah, Nakhoda! Melantur sekali bicaranya! Ha ha ha!"

Plokkk!

Tawa dari Hantu Laut terhenti seketika. Sebuah tamparan sangat keras mendarat cepat di pipinya. Tapak Baja yang menamparnya dan segera berkata dengan nada jengkel. "Dia suruh kita enyah! Bukan mengunyah! Enyah itu pergi!"

Hantu Laut mencibir, "Hmmm... enak saja dia suruh kita pergi! Apakah dia mau serahkan nyawa secepatnya?!"

"Kurasa dia sudah tahu kalau nyawanya akan tercabut olehku secepatnya!" kata Tapak Baja dengan sedikit membungkuk karena jangkungnya tubuh. Lalu, ia berkata kepada Resi Kidung Sentanu,

"Turunlah supaya pekerjaanku memusnahkan pulau ini bisa lebih cepat! Atau kau ingin mati di atas sana?"

Resi Kidung Sentanu tidak menjawab. Tetapi, pohon yang dipakainya berdiri itu bergerak turun ke bumi secara perlahan-lahan, sampai dahan yang dipijaknya merapat ketanah.

"Hebat sekali ilmunya. Pohon itu bisa turun ke tanah bagai mengantarnya turun ke bumi!" gumam Badai Kelabu dengan terheran-heran.

Tetapi, Tapak Baja terdengar berseru meremehkan, "He he he he... dia unjuk kehebatan ilmunya kepada kita, Hantu Laut! Dia mau pamer ilmu kepada kita!"

"Ha ha ha ha...!" Hantu Laut ikut menertawakan.

"Itu ilmu kecil yang murahan! Bukankah begitu, Hantu Laut?"

"Ya. Itu ilmu kancil yang murahan"

"Ilmu kecil yang murahan! Tuli!" bentak Tapak Baja dengan mata melotot seram kepada Hantu Laut. "Kalau ada orang bicara, dengarlah baik-baik pakai kupingmu!"

"Ya, ya baik. Aku akan pakai caping!"

"Kuping, tolol! Kuping itu telinga!" sambil Tapak Baja membetot telinga si Gundul yang budek itu.

Terdengar suara Resi Kidung Sentanu yang bernada bijak itu berkata sambil menahan amarah kuat-kuat. "Kurasa sudah cukup kau membantai semua penduduk pulau ini, Tapak Baja! Tinggalkanlah tempat ini sekarang juga!"

"O, belum seluruhnya terbantai habis, Resi Kidung Sentanu! Masih ada satu orang yang hidup, yaitu kau sendiri! Padahal tugas yang diberikan oleh Siluman Tujuh Nyawa adalah membantai habis semua penduduk pulau ini, tanpa kecuali!"

"Mengapa Siluman Tujuh Nyawa sejahat itu kepada kami? Padahal kami tidak pernah berniat jahat sedikit pun kepadanya?"

"Karena kamu menolak untuk menjadi sekutunya Siluman Tujuh Nyawa, Resi! Dan inilah akibatnya!"

"Kalau aku menolak, itu lantaran aku tidak ingin menjadi orang sesat seperti kalian!"

"Kalau tidak ingin menjadi orang sesat, sebaiknya mati saja. Kau tidak akan tersesat di alam kubur nanti!"

"Sampai kapan pun kami memang tidak akan tersesat, sebab kami ada di pihak yang benar! Itulah sebabnya kami tidak takut mati!" kata Resi Kidung Sentanu dengan tetap berani bicara tegas di depan dua orang pencabut nyawa murid-muridnya itu.

"Bagus, bagus...!" Tapak Baja manggut-manggut. Kemudian ia serukan perintah kepada Hantu Laut. "Hantu Laut, bunuh dia!"

"O, tidak. Aku tidak butuh dia!"

"Bunuh! Kataku, bunuh dia! Bukan butuh dia?!" bentak Tapak Baja yang membuat Hantu Laut menjadi makin gugup.

"O, bunuh?! Baa... baik!"

Maka, serta-merta Hantu Laut menyerang Resi Kidung Sentanu dengan tubuhnya yang melayang dan kakinya menendang lurus ke depan. Dada kurus Resi Kidung Sentanu menjadi sasaran kaki itu. Dan karena Resi Kidung Sentanu tidak menghindar serta tidak pula menangkis, maka dada itu menjadi sasaran telak bagi kaki Hantu Laut yang bertelapak besar itu.

Buegggh...! Terdengar mantap sekali tendangan itu. Tetapi tubuh kurus itu tidak bergeming sedikit pun. Berguncang pun tidak. Bahkan wajah Hantu Laut tampak menyeringai merasakan linu pada tulang kakinya yang seperti menendang sebongkah batu gunung atau bagai menendang dinding baja padat.

"Hancurkan dia!" sentak Tapak Baja.

"Luncurkan? O, baik! Akan kuluncurkan dia!"

"Dasar tuli! Terserah apa katamulah! Kau hancurkan boleh, kau luncurkan nyawanya juga boleh!"

Hantu Laut cepat sentakkan tangannya menghantam dada tipis lelaki tua itu. Ia menggunakan pukulan beruntun dengan kecepatan tinggi. Beg, beg, beg, beg!

Orang tua itu tetap memainkan kalungnya, tanpa ada gerakan menyerang atau menangkis. Pukulan berkepalan besar itu seperti hembusan angin pegunungan, dibiarkan saja tanpa ada tindakan apa pun. Sedangkan yang memukul semakin menyeringai, tangan kirinya dikibas-kibaskan karena merasa seperti patah tulang-tulang jarinya.

"Celaka! Berbahaya sekali jika dia hanya bertahan saja!" pikir Badai Kelabu. Maka, ia pun segera melompat kedepan dan berlari menghampiri Resi Kidung Sentanu. Pendekar Mabuk dan Dewa Racun terkejut sekali.

* * *

DELAPAN

DEWA RACUN mengecam kebodohan Badai Kelabu dengan rasa jengkel, "Das... das... dasar perempuan bod... bod...bod..."

"Bodong?!"

"Bodoh!" sentak Dewa Racun. "Melawan Ratu Pekat saja hampir mampus, sekarang malah mau melawan Tapak Baja yang pegang Pusaka Tombak Maut! Cari penyakit saja perem... perem... perempuan itu!" Dewa Racun mau bergerak turun, tapi tangan Suto menahan lengannya sambil berkata,

"Jangan menyerang dulu! Awasi dan jagai saja dia dari balik pohon bambu di sebelah sana!" sambil Pendekar Mabuk menunjuk serumpun pohon bambu yang rapat tumbuhnya itu. Lalu, sambung Pendekar Mabuk lagi,

"Aku akan mempelajari gerakan dan cara kerja Pusaka Tombak Maut itu dari sini!"

Dewa Racun mengangguk, lalu segera menyusuri jalan menurun, menyelusup dari pohon ke pohon, hingga menuju rimbunan pohon bambu. Pendekar Mabuk meneguk tuaknya beberapa kali, kemudian kembali memperhatikan Tapak Baja yang agaknya belum mau turun tangan dalam menghadapi Resi Kidung Sentanu. Ia masih marah-marah kepada Hantu Laut yang dianggap tidak mampu merobohkan lawannya yang sudah tua renta itu.

"Gunakan tenagamu, Tolol!" bentak Tapak Baja. "Aku tidak punya tetangga, bagaimana harus kugunakan?!"

"Tenaga! Kataku, gunakan tenaga! Bukan tetangga!" Tapak Baja berteriak di telinga Hantu Laut. Suaranya keras memekakkan telinga, hingga Hantu Laut mengernyitkan alis. Kejap berikutnya, Hantu Laut mundur tiga tindak, lalu ia sentakkan tangan kanannya dengan telapak terbuka. Wuuhgg! Tenaga dalamnya dilepaskan untuk memukul dada Resi Kidung Sentanu.

Begg!

Telak sekali tenaga dalam besar itu menghantam dada tipis Resi Kidung Sentanu. Tetapi orang tua itu tidak juga bergeser dari tempatnya. Hanya kain penutup dadanya saja yang tampak bergerak, sedangkan tubuhnya tetap tegar bagaikan tebing gunung cadas.

"Keparat betul ini orang...!" geram Hantu Laut dengan jengkel, merasa dirinya dipermainkan oleh kekuatan tubuh lawannya. Maka, segera ia lepaskan yoyo-nya ke depan dengan satu sentakan beraliran tenaga dalam yang cukup besar.

Wengng!

Yoyo itu melesat cepat, lalu kembali tertangkap tangan Hantu Laut. Pada saat yoyo itu melesat, bukan gerigi tajam yang keluar dari tepiannya, melainkan sinar merah menyebar bagai kilatan lidah api membara.

Melihat datangnya sinar merah membara itu, Resi Kidung Sentanu tetap diam, berdiri di tempatnya semula dengan mempermainkan manik-manik kalung pada jemarinya. Terlihat tak ada niat untuk menangkis ataupun menghindar.

Sikap itu kian mencemaskan Badai Kelabu. Maka dengan serta-merta ia lepaskan pukulan tenaga dalam jarak jauh yang memancarkan sinar kuning dari dua jari yang ditotokkan ke depan. Sinar kuning itu melesat dengan cepat dan menghantam sinar merah yang hampir mencapai dada Resi Kidung Sentanu.

Blarrr!

Benturan kedua sinar menimbulkan ledakan cukup kuat. Gelombang ledakan menghempas ke sekelilingnya. Tubuh Hantu Laut dan Tapak Baja sempat terguncang sedikit karena hempasan gelombang ledakan itu. Tetapi Resi Kidung Sentanu tetap berdiri tanpa goyah sedikit pun.

"Monyet betina!" geram Hantu Laut setelah mengetahui siapa orang yang mematahkan pukulan tenaga dalamnya itu.

Tapak Baja pun tampakkan kegarangannya begitu melihat kemunculan Badai Kelabu, ia segera berseru dari tempatnya sambil tetap bertongkatkan Pusaka Tombak Maut itu. "Perempuan liar! Apa maumu ikut campur urusanku, hah?! Mau cari kuburmu atau mau cari bangkaimu?!"

"Kalian memang biadab!" sentak Badai Kelabu dengan lantang dan berani. Suara sentakannya bernada curahan dendam terhadap apa yang diderita gurunya akibat ulah kedua orang itu.

"Kurang ajar! Dia mengatakan kita biadab, Nakhoda!"

"Menurutmu bagaimana?"

"Memang!" jawab Hantu Laut.

"Memang bagaimana?!" sentak Tapak Baja dengan mata mendelik liar.

"Maksudku... maksudku memang dia perlu dihajar, Nakhoda!"

"Jangan dihajar! Tapi hancurkan dia! Tumbuk sampai lembut!"

"Baik. Akan kupeluk sampai lembut!"

"Tumbuk sampai lembut!" ulang Tapak Baja nyaris hilang kesabarannya, ia menggeram bengis kepada Hantu Laut. Wajah tuanya memerah, menampakkan warna murkanya.

"Hiaaat....!" untuk menutupi kesalahannya menghilangkan kemarahan Tapak Baja, cepat-cepat Hantu Laut memekikkan semangat tempurnya dengan menggerakkan kedua tangannya yang menggenggam kuat-kuat dan diacungkan ke depan salah satunya. Tapi ia belum bergerak dari tempatnya, menunggu Tapak Baja merasa lega dan menyingkir sedikit menjauhinya.

Bukk...! Punggung Hantu Laut sendiri yang terkena serangan dari kaki Tapak Baja. Cukup keras tendangan Nakhoda Kapal Neraka itu, membuat Hantu Laut tersentak ke depan dan celingak-celinguk kebingungan, tak tahu mengapa ia ditendang oleh sang Nakhoda.

"Serang dia!! Jangan teriak saja!" bentak Tapak Baja.

"Baik! Hiaaat...!" Hantu Laut cepat keluarkan yoyo mautnya. Yoyo itu diputar-putar di atas kepala. Wuung wuung wuung....! Wesss...! Hampir saja mengenai wajah Tapak Baja jika kepala bengis itu tidak segera ditarik ke belakang.

"Maju, Goblok!"

Begg...! Kaki Tapak Baja menendang pantat Hantu Laut hingga orang gundul itu tersentak maju dua tindak.

Badai Kelabu hanya bergerak pelan mencari kesempatan melancarkan pukulan jarak jauh. Ia tak berani mendekat, karena senjata yoyo itu dapat melukainya sewaktu-waktu. Hantu Laut sendiri masih tetap memutar-mutarkan yoyonya hingga menimbulkan suara berdengung mirip lebah mengelilingi tempat itu.

Lalu tiba-tiba kedua tangan Badai Kelabu menyentak ke depan secara berturutan. Wutt... wuttt!

Buuhg buuhg!

Dada dan perut Hantu Laut terkena pukulan jarak jauh dari tangan Badai Kelabu. Tubuh besar dan gemuk itu tersentak ke belakang. Yoyonya cepat ditarik dan ditangkap di tangan. Tapp...! Tubuh gemuk itu terbungkuk karena merasakan mual diperutnya.

"Jahanam kau...!" geram Hantu Laut dengan mata lebarnya memandang Badai Kelabu secara menyeramkan. Tapi Badai Kelabu tidak merasa gentar sedikit pun. Ia bahkan bersiap melepaskan pukulan 'Badai Gunung'-nya.

Saat itu, Tapak Baja berhadapan dengan Resi Kidung Sentanu dan berkata dengan suara keras, memancing perhatian Badai Kelabu. "Di depan si Gundul itu kau boleh unjuk kekebalanmu. Tapi di ujung pusaka ini kau tak akan bisa unjuk kesaktianmu, Tua bangka! Hiaaat!"

Tapak Baja menghujamkan tombak itu ke dada Resi Kidung Sentanu. Tetapi tangan Badai Kelabu cepat menyentak ke arah sana dan keluarkan nyala api merah tembaga. Wuttt!

Trangng!

Tombak yang baru saja mau bergerak menghujam itu tersentak ke samping karena ditabrak oleh nyala sinar merah tembaga. Tapak Baja segera berpaling ke arah Badai Kelabu dengan kegeraman yang membakar darahnya. Namun hatinya yang dibakar kemarahan menjadi sedikit reda karena ia melihat Hantu Laut lepaskan yoyonya, gerigi yang keluar dari tepian yoyo itu merobek lengan kiri Badai Kelabu.

Brett!

"Aauh...!" Badai Kelabu memekik tertahan. Rasa sakit segera menguasai sekujur tubuhnya. Lengan di ujung pundak itu robek dan berdarah. Darahnya merah kehitam-hitaman. Jelas itu darah yang bercampur dengan racun berbahaya. Tubuh Badai Kelabu pun mulai terasa dingin.

Melihat lawannya terluka, semangat dan keberanian Hantu Laut menjadi kian meluap, ia pun sentakkan kakinya pada salah satu batu dan tubuhnya yang besar itu melesat cepat dengan kaki terentang kedepan. "Hiaaat!"

Plak, buhgg!

Tangan Badai Kelabu cepat menangkis, lalu kaki kanannya bergerak cepat menendang perut Hantu Laut dengan tendangan samping. Tendangan itu telak mengenai perut lawan, membuat lawan terhuyung-huyung ke belakang. Lalu, dengan cepat Badai Kelabu mencabut pedangnya.

Srett!

"Jahanam najis kau, hiiih!"

Wusss...! Pedang ditebaskan ke kepala Hantu Laut. Orang gemuk yang terhuyung-huyung itu masih sempat menghindar dengan merendahkan tubuhnya. Sambil merendah, ia lepaskan pukulan tenaga dalamnya melalui telapak tangan kiri.

Wuuttt...! Buhggg!

"Ahg...!" Badai Kelabu tersentak ke belakang dua tindak. Sebelum Badai Kelabu sigap kembali, Hantu Laut melemparkan yoyonya dalam gerakan lempar menyamping.

Wengng...!

Yoyo itu melesat dari arah depan-kanan ke depan-kiri. Brett...! Gerigi yoyo itu merobek dada di bawah leher Badai Kelabu. Robekannya panjang dan cukup dalam. Tubuh Badai Kelabu terpelanting dan jatuh.

"Saatnya kuhancurkan wajah cantikmu dengan jurus 'Lidah Naga'-ku ini, Setan Betina! Hiaaat!" Hantu Laut sentakkan kaki dan melesat di udara dalam satu garis lurus dari tempatnya berpijak tadi. Lalu, tangannya melepaskan yoyo yang memancarkan warna biru muda ke arah tubuh Badai Kelabu.

Melihat cahaya itu meluncur deras ke arahnya, Badai Kelabu sempat menghadang dengan pedang hitamnya. Trasss...! Cahaya biru itu membelok arah, melesat ke depan-kanan dan meluncur menuju Tapak Baja yang akan menggerakkan tombak pusaka tersebut untuk membunuh Resi Kidung Sentanu.

Karena ia melihat sinar biru milik Hantu Laut itu membelok ke arahnya, maka niatnya untuk menyerang Resi Kidung Sentanu ditangguhkan. Tapak Baja tahu, sinar biru itu sinar yang berbahaya. Jurus 'Lidah Naga' milik Hantu Laut adalah jurus pemusnah lawan yang tak bisa ditawar-tawar lagi kedahsyatannya.

Sekalipun demikian, Tapak Baja masih bisa menggunakan telapak tangan kirinya untuk menahan sinar biru tersebut. Tappp...! Sinar biru itu padam ditangan Tapak Baja. Itulah sebabnya dia dijuluki Tapak Baja, karena telapak tangannya bagaikan baja, mampu menahan pukulan tenaga dalam berbentuk sinar apapun.

"Habisi dia!" teriak Tapak Baja kepada Hantu Laut, sebab menurut perhitungan Tapak Baja, lawan sudah lemah dan tinggal dilenyapkan nyawanya.

"Hiaaat...!" Hantu Laut kembali sentakkan kaki dan melesat terbang ke atas sambil melepaskan yoyonya lagi. Karena saat itu Badai Kelabu tertunduk lemah menahan sakit yang membuat wajahnya makin membiru. Namun, sebelum tangan Hantu Laut melepaskan yoyonya lagi, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dengan cepat dan menancap di bawah ketiaknya.

Jrubb!

"Aaoou...!" pekik Hantu Laut, tak jadi melepaskan yoyonya. Hantu Laut mengejang ketika kakinya memijak bumi, ia mencabut anak panah kecil itu dengan seringai kesakitan. Matanya memandang liar ke arah rimbunan pohon bambu, karena ia tahu arah datangnya anak panah itu dari rimbunan pohon bambu di sebelah kanannya. Tetapi pada saat itu matanya menjadi berkunang-kunang, ia berdiri dengan limbung dan melangkah mundur terhuyung-huyung, kedua tangannya masih merentang sedikit ke depan untuk menjaga keseimbangan.

"Hantu Laut...!" seru Tapak Baja tampak cemas, ia segera melompat dengan bersalto di udara dua kali, lalu mendaratkan kakinya di belakang Hantu Laut. Pada waktu itu, tubuh Hantu Laut hampir tumbang ke belakang. Tapak Baja segera menahan tubuh besar itu. "Bodoh kau!" bentak Tapak Baja. Segera ia membuka tangan Hantu Laut yang kanan, kemudian luka bekas tertancapnya anak panah beracun itu segera diludahi tiga kali.

Cuih, cuih, cuih!

Kulit yang terluka itu bergerak-gerak seperti tersiram air keras. Asap tipis mengepul dari luka tersebut. Lalu, dalam waktu yang amat singkat luka itu mengering dan akhirnya hilang tak berbekas.

Kesempatan itu digunakan oleh Resi Kidung Sentanu untuk melesat bagaikan terbang, mengambil Badai Kelabu agar tidak menjadi sasaran terdekat dari kemarahan Tapak Baja. Tubuh berpakaian kuning itu seperti seekor kelelawar raksasa yang terbang dengan cepatnya.

Wuurrrr!

"Mau ke mana kau, Kunyuk!" sentak Tapak Baja sambil mendongak ke atas. Ia segera melepaskan Hantu Laut, lalu sentakkan kaki dan melompat ke salah satu tempat, ia melihat bayangan Resi Kidung Sentanu bergerak di tanah berumput. Tapak Baja segera menoreh bayangan itu dengan menggunakan ujung tombak pusaka tersebut.

Gress!

"Ahhg...!" terdengar pekik Resi Kidung Sentanu dengan suara tertahan pada saat ia masih berada di udara.

Rupanya dengan menggoreskan ujung tombak ke bayangan, Resi Kidung Sentanu dapat terluka dadanya dan berdarah. Resi Kidung Sentanu jatuh berdebum tanpa keseimbangan lagi. Tetapi ia buru-buru bangkit berdiri bagai tak menghiraukan lukanya yang menghitam koyak itu.

Wuttt...! Kalung itu dikibaskan oleh Resi Kidung Sentanu. Kibasan tersebut mendatangkan angin kencang yang menyentakkan tubuh Tapak Baja. Bahkan tubuh Hantu Laut pun terdorong menyerosot di tanah sampai membentur pohon punggungnya. Buehgg!

"Aduuuh..!" Hantu laut mengerang memegangi pinggang belakangnya yang terasa patah tulangnya akibat benturan dengan batang pohon besar.

Sementara itu, Tapak Baja hanya terhuyung-huyung dan tak jadi jatuh karena tersangga oleh tombak yang dijadikan tongkat penyangga badannya itu. Ia cepat balikkan badan dan menggeram buas kepada Kidung Sentanu.

"Kalau aku harus membunuhmu, bukan karena aku tak suka padamu, tapi aku menyingkirkan iblis yang bersemayam di raga dan jiwamu!" ucap Resi Kidung Sentanu, kemudian cepat-cepat ia lemparkan kalung bermanik-manik merah tua itu.

Wuurrrr...!

Tapak Baja melihat kalung itu menyala bagaikan batuan dari magma gunung berapi. Cepat-cepat ia kibaskan tombak pusaka itu untuk menghantam kalung tersebut.

Blarr...! Trak trak trak blarrr!

Kalung itu hancur berantakan tak berbentuk lagi. Tombak Pusaka Maut masih berdiri tegak dan utuh, tanpa lecet sedikti pun. Resi Kidung Sentanu memandang dengan sorot mata yang dingin, ia cepat gerakkan tangannya, merapatkan telapak tangan itu di dada. Kepalanya masih tegak, mata memandang lurus bagai menerawang.

"Hiaat!" Tapak Baja melompat dan menyambarkan ujung tombaknya ke leher Resi Kidung Sentanu.

Brett!

Leher itu robek seketika tergores ujung tombak yang terbuat dari taring babi hutan runcing dan tajam. Tapi Resi Kidung Sentanu tetap diam, tidak memberikan perlawanan dan gerakan menangkis sedikit pun. Sementara itu, luka di dadanya semakin melebar, darah yang keluar bukan merah, melainkan hitam.

"Habis sudah riwayatmu, Tua bangka! Hiaaah!"

Beggh...! Tapak Baja segera pukulkan telapak tangannya ke punggung Resi Kidung Sentanu. Pukulan itu berasap biru. Resi Kidung Sentanu masih diam, berdiri dengan tangan merapat di dada. Tapi matanya kali ini dipejamkan, sepertinya sedang menahan segala bentuk serangan yang menyakitkan tubuh.

Tapak Baja menjadi lebih buas lagi, karena pukulannya tidak bisa merobohkan Resi Kidung Sentanu. Maka, dengan satu lompatan ke belakang, ia kibaskan tombaknya menyabet tengkuk kepala Resi Kidung Sentanu.

Brett!

Kulit dan daging bagian tengkuk kepala orang tua itu terkoyak lebar. Darahnya memercik deras. Tapi Resi Kidung Sentanu masih tetap diam, bagai melakukan semadi dalam keadaan berdiri.

Dari atas lereng, Suto membatin, "Resi Kidung Sentanu pasti punya kejutan sendiri. Tapak Baja akan semakin bernafsu, dan mungkin Resi Kidung Sentanu memancing nafsu amarah Tapak Baja biar nantinya nafsu itu sendiri yang akan menewaskan Tapak Baja. Hmmm... cukup tinggi ilmu sang Resi. Tapi, apakah ia memang bisa dilukai dari bayangannya? Apakah dia menyimpan kekuatan pada bayangannya? Kulihat saat Tapak Baja menggoreskan ujung tombak ke tanah, tepat mengenai bayangan sang Resi, dan seketika itu sang Resi memekik, terluka dadanya. Tapi, tadi pun kulihat bayangannya terinjak kaki Hantu Laut, toh dia tidak merasakan sakit. Apakah melukai lawan lewat bayangannya adalah salah satu kehebatan pusaka tersebut?"

Di balik kerimbunan semak bambu, Dewa Racun masih bersembunyi di sana. Ia ingin mengambil Badai Kelabu yang makin membiru dan lemas tubuhnya. Tapi keadaan Badai Kelabu ada di dekat Resi, dan sang Resi sedang diserang Tapak Baja. Dewa Racun tidak mau bertindak gegabah. Salah-salah ia yang menjadi sasaran Pusaka Tombak Maut itu. Namun, melihat sang Resi yang tercabik-cabik hanya diam saja, Dewa Racun menjadi geram dan tak tega membiarkannya. Maka, satu anak panah dilepaskan dari sela-sela batang bambu.

Zuuttt!

Anak panah tertuju ke arah Tapak Baja. Tapi mata tua Tapak Baja cukup awas. Ia hindari gerakan anak panah berbulu merah itu. Lalu ia sentakkan tangan kirinya ke rimbunan bambu.

Wuttt!

Sinar biru melesat dari telapak tangan. Dewa Racun cepat hindarkan diri dengan melompat keluar dari persembunyiannya.

Wess! Brakkk...!

Blarrr! Rimbunan batang bambu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil karena terkena sinar biru dari telapak tangan kiri Tapak Baja.

"Monyet kecil!" bentak Tapak Baja dengan murka yang memerahkan bola matanya. "Tak perlu kutahu siapa dirimu, tapi kau sudah mencoba menyerangku, berarti kau termasuk lawan yang harus kumusnahkan bersama Resi peot ini! Hiaaat!"

Dewa Racun melompat hindari serangan tombak yang meluncur cepat bersama pemegangnya. Dewa Racun sengaja memancing Tapak Baja supaya menjauhi Badai Kelabu, supaya jika serangannya meleset tidak mengenai Badai Kelabu yang hidup di antara mati itu.

Sementara Dewa Racun melompat-lompat dengan lincahnya, hati Pendekar Mabuk menjadi waswas, ia membatin, "Jangan-jangan Dewa Racun belum mengetahui bahwa Pusaka Tombak Maut bisa melukai lawan melalui bayangan lawannya? Celaka! Dewa Racun bisa celaka jika ia tak menyadari hal itu!"

Suto baru saja mau bergerak, tiba-tiba matanya terbeliak melihat Tapak Baja menorehkan ujung tombak ke pohon. Karena di pohon terdapat bayangan Dewa Racun, maka Dewa Racun pun tersentak kaget sambil terpekik dengan suara tertahan.

"Oohgg...!" Tubuh Dewa Racun melengkung ke depan. Punggungnya robek, darah keluar menghitam di rompi bulunya yang juga robek bagai habis digores dengan benda yang amat tajam itu. Dewa Racun limbung menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Mampus kau tikus busuuuk...!" teriak Tapak Baja sambil melompat dan hendak menancapkan tombak itu ke punggung Dewa Racun.

Pendekar Mabuk cepat-cepat melepaskan pukulan jarak jauhnya. Namun, sebelum pukulannya terlepas, tiba-tiba tubuh Tapak Baja tersentak dan terlempar jauh hingga membentur pohon yang dipakai duduk bersandar oleh Hantu Laut.

Begggh!

"Uuhg...!" ia memekik kesakitan.

"Ada yang menyerang dari persembunyian, Nakhoda!"

Plokk...! Wajah berkepala gundul ditampar telak oleh Tapak Baja, lalu ia membentak, "Aku tahu! Aku tak perlu saranmu!"

Hantu Laut tak berani bicara lagi. Ia segera bangkit dan berniat menyerang Dewa Racun yang terluka parah, sedang merangkak mendekati Badai Kelabu. Tetapi tangannya segera ditarik oleh Tapak Baja, dan Hantu Laut jatuh terduduk lagi.

"Tak perlu ikut campur, Tolol! Biar aku sendiri yang melenyapkan si penyerang gelap itu!"

Tapak Baja cepat sentakkan tangannya ke tanah dan tubuhnya melesat lompat dalam keadaan berdiri sigap, ia berseru sambil matanya memandang sekeliling. "Bangsat...! Keluar kau! Hadapilah aku kalau memang kau ingin mengantarkan nyawamu!"

Pendekar Mabuk membatin sambil bergerak pelan mendekati tempat Dewa Racun dan Badai Kelabu, "Siapa penyerang gelap itu? Cukup tinggi juga ilmunya, hingga dia bisa membuat Tapak Baja terlempar sejauh itu bersama Pusaka Tombak Mautnya! Hmmm... sebaiknya tak perlu kuhiraukan dulu siapa orang itu, yang penting kuselamatkan dulu Dewa Racun dan Badai Kelabu! Dewa Racun adalah penunjuk jalan bagiku untuk bertemu dengan kekasihku Dyah Sariningrum. Dewa Racun tak boleh mati karena luka-lukanya itu!"

Resi Kidung Sentanu tetap berdiri tanpa goyah sedikit pun. Walau tubuhnya telah terkoyak habis hingga bagian wajahnya bagai nyaris membelah, tapi matanya tetap memandang lurus dengan tangan saling merapat di dada dalam sikap semadi, ia tak menghiraukan dua orang yang menjadi biru kulit tubuhnya akibat luka goresan Pusaka Tombak Maut itu.

Suto dengan cepat menyambut tubuh Dewa Racun dan Badai Kelabu. Gerakannya diketahui Tapak Baja, sehingga Tapak Baja berseru, "Hai, berhenti! Hadapi aku atau kuserang kau dari belakang?!"

Baru saja Pendekar Mabuk ingin sentakkan tangannya untuk melepaskan pukulan jarak jauhnya, tapi lagi-lagi tubuh Tapak Baja tersentak ke depan dan jatuh tersungkur. Seseorang telah menyerangnya dari bagian punggung Tapak Baja, yang membuat Tapak Baja kaget dan tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Serangan itu jelas serangan bertenaga dalam tinggi, karena Tapak Baja sampai semburkan darah dari mulutnya walau tak terlalu banyak, dan masih bisa membuatnya cepat berdiri.

"Persetan dulu dengan siapa penyerang gelap itu, yang penting kubawa lari dulu kedua temanku ini dan kusembuhkan dulu luka-lukanya, setelah itu baru aku kembali kesini tanpa mereka!" Setelah membatin begitu, Pendekar Mabuk pun cepat pergi membawa mereka.

* * *

SEMBILAN

PULAU itu mempunyai tebing, dan di tebing itu ada gua karang di mana air laut juga masuk ke dalamnya. Gua itu tidak terlalu dalam, tapi cukup lebar. Langitnya rendah, namun bisa dipakai untuk masuk sebuah perahu. Di gua itulah Suto menyembunyikan perahunya. Di atas perahu itulah, Dewa Racun dan Badai Kelabu dibaringkan setelah dipaksa meminum tuak dari tabung bambu yang selalu ada di punggung Pendekar Mabuk itu.

Tak kurang dari seratus hitungan, setelah minum tuak beberapa teguk, rasa sakit di sekujur tubuh Dewa Racun dan Badai Kelabu mulai berkurang. Napas mereka lancar kembali. Tapi badan masih terasa lemas untuk bergerak.

"Jangan bergerak dulu! Biarkan tenagamu pulih kembali!" kata Pendekar Mabuk kepada Dewa Racun yang mencoba untuk bangkit tapi susah.

"Racun di ujung tombak itu sangat ganas, Sut... Sut... Suto! Hawa murniku yang biasa un... un... untuk menolak racun tak mampu menghadapi keganasan racun tersebut. Ber... berarti... berarti racun itu jenis Racun Ludah Dewa."

"Apa itu Racun Ludah Dewa?"

"Ra... ra... racun yang tidak bisa dilawan, karena tidak ada penawarnya."

"Tapi badanmu yang tadinya dingin sekarang sudah menjadi hangat kembali, Dewa Racun. Demikian juga Badai Kelabu. Bahkan paras pucat mulai memudar dari wajah kalian."

"Yaa... yaa... ya, memang. Justru aku heran padamu. Tu... tu... tuak apa sebenarnya yang kau miliki, hingga terasa seperti dapat menawarkan Racun Ludah Dewa...? Sung... sungguh aku heran, Suto!"

Pendekar Mabuk hanya tersenyum. Segera ia pandangi Badai Kelabu yang sudah bisa mengerang dan menggeliat itu. Pendekar Mabuk memberi saran sama seperti yang diberikan pada Dewa Racun tadi. Badai Kelabu tak jadi mencoba untuk bangun, tapi ia bisa bicara dengan suara lemah, "Sudah matikah aku...?"

"Belum," jawab Suto sambil tersenyum. Mata Suto melihat ke arah luka-luka di tubuh Badai Kelabu, ternyata lebih cepat kering daripada luka-lukanya Dewa Racun. Mungkin hal itu dikarenakan Badai Kelabu hanya terkena racun dari gerigi yoyo milik Hantu Laut yang tidak separah racun di ujung taring babi hutan itu. Racun itu juga cukup berbahaya, hanya saja mudah ditawarkan ketimbang racun dari Pusaka Tombak Maut.

"Aku akan kembali ke sana," kata Pendekar Mabuk. "Kalian tetap saja di sini sampai aku datang kembali membawa Pusaka Tombak Maut itu."

"Suto, jangan berusaha merebut pusaka itu!" kata Badai Kelabu dengan perasaan cemas. "Tapak Baja dan pusaka itu sangat berbahaya untuk keselamatanmu. Aku takut kau terluka, Suto!" tangannya menggenggam tangan Pendekar Mabuk.

"Aku hanya ingin melihat, siapa orang yang menyerang Tapak Baja dari tempat persembunyiannya! Karena saat aku hendak membawamu pergi, Tapak Baja sedang terdesak oleh serangan berilmu tinggi," ucap Pendekar Mabuk.

"Tak perlu. Tak perlu, Suto! Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka dan cepat menuju Pulau Hitam. Guruku pasti sangat membutuhkan kamu dan menunggu-nunggu kedatangan kita!"

"Sebentar saja aku ke sana! Secepatnya aku kembali!"

"Aku takut kau jadi sasaran kemarahan Tapak Baja, Suto!"

"Aku ada di persembunyian pertama. Tidak akan turun!"

Badai Kelabu merasa tak mungkin bisa mencegah kemauan Pendekar Mabuk yang sangat keras itu. Akhirnya ia hanya berpesan, "Hati-hati, Suto! Tak perlu ikut turun seperti aku tadi!"

"Mudah-mudahan keadaannya begitu!" jawab Pendekar Mabuk, lalu segera keluar dari gua itu melalui tepian tebing karang. Dengan gesit Suto melompat dari batu ke batu, dan dalam waktu singkat ia sudah kembali berada di tempat persembunyian yang pertama. Dari ketinggian itu ia bisa melihat keadaan Tapak Baja dengan bebas. Tapi merasa kurang jelas, sehingga ia perlu melompat bagai seekor burung jantan yang terbang dan hinggap di salah satu dahan pohon. Dari dahan kedahan ia melompat, sampai akhirnya ia tepat berada di atas pohon yang digunakan Hantu Laut bersandar dalam duduknya.

Pada saat itu, Tapak Baja sedang berhadapan dengan orang berambut merah jagung. Rambut itu panjang lewat pundak tanpa ikat kepala. Alis, kumis, dan jenggotnya juga berwarna merah bulu jagung. Orang bertubuh kurus itu mengenakan jubah tanpa lengan sepanjang lutut berwarna merah tua, celana dan baju dalamnya yang berlengan panjang itu berwarna hijau muda. Dari kerutan kulit wajahnya, ia tampak seperti berusia sekitar enam puluh tahun, ia mengenakan sabuk hitam besar, dan menggenggam tongkat berkayu putih setinggi lewat kepala. Ujung tongkatnya itu berbentuk kepala singa.

Melihat matanya yang kecil tapi tajam itu, Pendekar Mabuk dapat menduga orang berambut merah itu punya kejelian pandang yang cukup tinggi. Sikap berdirinya yang selalu tegak dengan dada membusung, menampakkan ia sebagai orang yang pantang menyerah. Rupanya bukan hanya Pendekar Mabuk yang tidak mengenali tokoh tua itu, melainkan Tapak Baja sendiri juga tidak mengenalinya. Karena itu, Tapak Baja segera ajukan tanya dengan nada kasar,

"Siapa kau, Iblis keriput! Apa urusanmu denganku, sehingga kau berani menyerangku dari belakang, hah?!"

"Talang Sukma adalah namaku. Jangkar Langit adalah kakakku. Pusaka Tombak Maut adalah sasaranku. Dan nyawamu adalah alas kakiku!" jawab si Rambut Jagung yang ternyata adalah adik dari Ki Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut itu.

Mendengar pengakuan itu, Tapak Baja menggeram penuh nafsu untuk membunuhnya. Tapi ia sempat berkata dengan lantang, "Urungkan niatmu merebut Pusaka Tombak Maut ini! Kau hanya akan mati tanpa arti, Talang Sukma!"

"Demi merebut hak milik kakakku, aku siap mati di tangan siapa saja, Tapak Baja!"

"Aku yang berhak memiliki pusaka ini! Karena pusaka ini, seperti kau ketahui sendiri, sudah berada di tanganku. Berarti akulah yang berhak memilikinya!"

"Orang sesat seperti kau tak pernah punya hak memiliki pusaka apa pun, Tapak Baja!"

"Keparat! Terlalu semborono bicaramu, Talang Sukma!"

"Tak perlu beramah tamah bicara dengan pengikut iblis seperti kau, Tapak Baja! Tak perlu sabar bersikap di depan penganut setan sesat seperti dirimu!"

"Jahanam kau! Hihhh...!" Tapak Baja segera kirimkan pukulan bertenaga dalam cukup tinggi. Dari telapak tangan kirinya keluar sinar biru yang disusul dengan sinar merah di belakangnya.

Wuttt wuttt!

Dua sinar menyerang Talang Sukma yang berjarak delapan langkah itu. Tapi oleh Talang Sukma, sinar itu disingkirkan melalui kibasan tongkatnya yang disabetkan ke kiri dengan menggunakan dua tangan dan kaki merendah ke belakang.

Wuusss! Arah kedua sinar yang saling susul itu membelok dan menghantam sebuah pohon jati.

Bezz... bezzz! Zzruubbb!

Pohon jati itu lenyap, berganti serbuk yang menyerupai tepung dan menggunung di tempat pohon itu semula berada. Tapak Baja terkesiap melihat kedua sinarnya bisa dibelokkan arahnya, ia semakin menggeram karena merasa disepelekan ilmunya.

Talang Sukma melangkah pelan ke samping kiri dengan memutar-mutar tongkat panjangnya bagai dipermainkan di sela-sela jarinya. Bunyi putaran tongkat itu mirip serombongan lebah menggaung dan angin putarannya membuat dedaunan tersingkap. Daun-daun yang tersingkap itu segera berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklat-coklatan. Jelas kibasan angin itu mempunyai tenaga dalam yang tinggi dan sengaja dipamerkan kepada Tapak Baja, biar menjadi bahan perhitungan bagi Tapak Baja.

Namun, agaknya Tapak Baja tidak mau peduli dengan kibasan tongkat berputar itu. Matanya segera melirik bayangan Talang Sukma yang jatuh di atas sebuah gugusan batu. Tapak Baja cepat sentakkan kakinya, dan tubuh pun melayang cepat ke arah gugusan batu itu. Lalu, ujung tombak dipakai menghantam gugusan batu tersebut.

Trakk...! Blarrr!

Batu itu pecah menjadi serpihan pasir yang membara merah mengepulkan asap panas. Sedangkan Talang Sukma tetap berdiri tegak sambil memutar-mutarkan tongkatnya. Karena pada saat tombak itu dihantamkan pada batu ia telah melompat lebih dulu hingga bayangannya pindah di tempat lain. Rupanya Tapak Baja telah tertipu. Talang Sukma telah mengetahui kehebatan tombak pusaka milik kakaknya itu, sehingga bisa mengecohkan gerakan Tapak Baja. Segera Talang Sukma sodokkan tongkatnya ke depan dan dari kepala tongkat itu menyembur sinar kuning dalam sekejap.

Zubbb! Crab crab crab! Blllaaar!

Sinar kuning itu bagai tersedot oleh ujung tombak dan akhirnya melesat sinar kuning kemerahan dari ujung tombak, arahnya ke atas dan meledak di angkasa sana. Dua pohon patah dahannya, dan jatuh di dekat Resi Kidung Sentanu yang tetap berdiri dengan sikap semadinya. Kejap berikutnya Talang Sukma menarik tongkatnya ke belakang, tapi tangan kirinya menyentak ke depan seperti orang melemparkan sesuatu dari telapak tangannya.

Ternyata dari telapak tangan kirinya itu keluar tenaga dalam yang berasap biru. Tenaga itu melesat tanpa wujud ke arah Tapak Baja, membuat Tapak Baja segera menyilangkan tombak itu ke samping. Tombak itu dipegang dengan dua tangan dan keluarlah loncatan api biru bagaikan petir menyambar tongkat Talang Sukma setelah terlebih dulu menembus tenaga dalam yang meluncur kearahnya.

Blluub! Tarrr!

Talang Sukma melompatkan badan ke kanan. Kayu tongkatnya yang putih menjadi hitam di bagian tengahnya, tapi belum patah. Kayu itu terkena kilatan cahaya biru yang terasa menyengat di telapak tangan Talang Sukma. Hampir saja tangan itu melepaskan genggaman pada tongkatnya. Segera tongkat itu dipegang oleh tangan kiri dan tangan kanan mengibas ke samping, memercikkan sinar merah berbintik-bintik menerjang Tapak Baja.

Zrappp!

Tapak Baja cepat melakukan kibasan memutar pada tombaknya. Tombak itu memutari kepala dengan cepat dan keluarlah sinar hijau muda yang mengelilingi tubuhnya. Sinar hijau muda itu membuat butiran sinar merah tadi meletup dan mengepulkan asap hitam pekat tersembur ke atas. Bahkan ketika kaki Talang Sukma menendang sebongkah batu satu genggaman tangan, batu itu melesat ke arah Tapak Baja.

Tapi sebelum sampai menyentuh sinar hijau yang mengelilinginya itu, batu tersebut telah hancur dalam satu ledakan kecil yang cukup mengagumkan bagi orang awam. Rupanya sinar hijau itu menjadi pagar bertenaga tinggi, terbukti Talang Sukma tak berani menerobos masuk ke dalam lingkaran sinar hijau tersebut.

"Ayo, dekatlah! Majulah kalau kau memang berilmu tinggi!" teriak Tapak Baja menantang.

"Aku tak mau mati terbakar!" kata Talang Sukma. "Tapi barangkali tongkatku ini bersedia untuk terbakar!"

Zubbb...!

Talang Sukma lemparkan tongkatnya dengan kuat. Tongkat meluncur cepat ke arah Tapak Baja, menerobos lingkaran sinar hijau. Zrubbb! Tongkat itu terbakar dan menjadi hangus, tapi masih mampu melesat cepat dan menghantam pangkal ketiak Tapak Baja.

Duuub!

Sentakan tongkat itu begitu keras, sehingga Tapak Baja terpelanting ke belakang dan jatuh. Tombaknya terlepas dari tangan, jatuh di depan Hantu Laut. "Cepat ambil!" teriak Tapak Baja.

Maka, Hantu Laut dengan cepat berguling sambil meraih tombak itu. Kini ia berdiri dengan menggenggam tombak. Membawanya lari ke tempat yang aman. Melihat tombak di tangan Hantu Laut, Tapak Baja menjadi lega. Ia cepat berdiri dan siap menghadang serangan Talang Sukma.

Pendekar Mabuk ingin turun dari atas pohon untuk merebut tombak itu, tapi Hantu Laut berdiri di samping Resi Kidung Sentanu. Salah-salah jika Pendekar Mabuk menerjang untuk merebutnya, tombak itu bisa dikibaskan sembarangan oleh Hantu Laut dan mengenai Resi Kidung Sentanu. Suto menahan diri untuk tidak melakukannya.

Tetapi di pohon belakang Hantu Laut, Pendekar Mabuk melihat Dewa Racun telah berdiri di sana. Dewa Racun berada lebih bawah dari Badai Kelabu yang bertengger dengan tubuh segar di atas Dewa Racun. Pendekar Mabuk memberi isyarat agar jangan merebut tombak itu dulu, sebelum Hantu Laut menjauhi Resi Kidung Sentanu. Sebab Pendekar Mabuk tahu, orang berkepala gundul itu cukup bodoh dan akan menggunakan tombak itu secara sembarangan jika keadaannya terdesak. Suto khawatir tombak itu akan menewaskan Resi Kidung Sentanu karena kebodohan Hantu Laut.

Melihat tombak berada di tangan Hantu Laut, Talang Sukma segera mengejarnya. Tapi lompatannya dipatahkan oleh terjangan Tapak Baja dari belakang. Dua pukulan telapak tangan yang mengepulkan asap merah itu mengenai punggung Talang Sukma dengan telak.

Bleg, bleg!

"Haagh...?!" Talang Sukma tersentak melengkung ke belakang dan jatuh tanpa daya lagi. Ia berusaha mengerang dan menggeliat. Tapi punggungnya yang hangus terbakar oleh dua pukulan itu telah membuatnya hanya bisa berguling ke samping dan tubuhnya terlentang di tanah. Ternyata bekas hangus itu terlihat nyata di dada Talang Sukma dan mengepulkan asap berbau sangit. Rupanya pukulan ampuh Tapak Baja itu telah tembus sampai dibagian dada dan membuat Talang Sukma akhirnya meregang nyawa, tak berkutik selamanya.

Suto segera melompat turun dari atas pohon sambil menyentilkan jari telunjuknya. Jurus 'Jari Guntur' dipakainya. Sentilan jarak jauh itu mengenai pelipis Tapak Baja, dan Tapak Baja terlempar karena sentakan yang begitu kuat tersebut.

"Bangsaaat...!" teriaknya sambil tubuh itu jatuh berdebum di dekat Hantu Laut.

Suto berdiri tegak menghadap Tapak Baja, siap menjadi musuh tandingan yang akan memusnahkannya. Tapi tanpa diduga-duga oleh Pendekar Mabuk dan yang lainnya, Hantu Laut cepat menikamkan Pusaka Tombak Maut itu ke lambung Tapak Baja.

Jrubbb!

"Haagghh...!" Tapak Baja mendelik, memegangi tombak itu, dan makin lama pegangannya makin lemah. Tombak segera dicabut kembali oleh Hantu Laut yang tertawa keras dan berseru,

"Dendamku terbalaskan sekarang! Ha ha ha! Sekian puluh tahun aku menyimpan dendam terhadap keganasanmu, Nakhoda! Sekian lamanya kau hina aku dengan kekuasaanmu! Sekarang kau takakan bisa memperbudak aku seenaknya saja! Kukirim kau ke neraka sana dan jadilah nakhoda kapal disana!"

"Han... Han... Hantu Laaa... Lauuut...!" tubuh Tapak Baja roboh. Tangannya masih meremas rumput kuat-kuat bagai menggenggam kemarahan dan dendam yang tak bisa terbalaskan. Karena kejap berikut Tapak Baja meregang nyawa, ia mati dalam keadaan mulut ternganga dan mata mendelik.

"Sekarang akulah Nakhoda Kapal Neraka! Tak ada yang bisa memerintahku dengan sewenang-wenang! Bahkan Siluman Tujuh Nyawa pun bila perlu kulawan dengan Pusaka Tombak Maut ini! Haaa... ha... ha ha ha!"

Tawanya itu terhenti karena Dewa Racun dan Badai Kelabu turun dari atas pohon. Hantu Laut segera memandang mereka dengan buas dan liar. Ia siap kibaskan tombak dengan badan sedikit membungkuk.

"Mau apa kalian, hah?!" bentak Hantu Laut dengan wajah angker.

"Kembalikan pusaka itu kepada pemiliknya!" kata Pendekar Mabuk.

"Tidak bisa! Akan kupakai melawan Siluman Tujuh Nyawa yang selama ini memerintahku seperti memerintah binatang!"

"Akan kudukung usahamu itu! Akan kubantu! Tapi serahkan pusaka itu kepada pemiliknya!" bujuk Suto Sinting.

"Tidak bisa! Tanpa pusaka ini aku lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa! Aku harus tunjukkan kepada Siluman Tujuh Nyawa, bahwa aku bisa menggantikan jabatan Tapak Baja sebagai Nakhoda Kapal Neraka yang mampu memusnahkan lawan dalam sekejap. Pertama-tama akan kuhancurkan dulu penguasa Pulau Beliung, sebagai perintah lanjutan dari Siluman Tujuh Nyawa. Setelah itu kuhancurkan pulau-pulau lainnya, dan yang terakhir Siluman Tujuh Nyawa sendiri akan kuhancurkan seperti aku menghancurkan isi tubuh Tapak Baja!"

"Dengar, Hantu Laut...!"

"Jangan mendekat! Kutancapkan tombak ini ke tanah, kalian akan mati menghirup udara beracun!"

Dewa Racun ingin bergerak melemparkan pisaunya yang selalu ada di samping kanan-kiri, tapi tangan Pendekar Mabuk memberi isyarat agar jangan dulu melakukan hal itu, karena ujung tombak sudah menghadap ke tanah.

Pendekar Mabuk melihat angin berhembus cukup kencang ke arah timur, sedangkan di timur ada satu pulau yang berpenghuni. Racun yang keluar dari dalam tanah akibat tombak ditancapkan ke tanah, bisa terbawa angin ke timur dan menyebarkan kematian di sana.

"Kalau kalian masih sayang nyawa, jangan mendekatiku dan jangan sampai bertemu denganku, kapan saja, juga di mana saja! Mengerti?!" bentak Hantu Laut. Kemudian ia cepat sentakkan kaki dan melesat pergi tinggalkan tempat itu.

Melihat Pendekar Mabuk hanya diam saja, Dewa Racun dan Badai Kelabu juga merasa ragu untuk mengejar Hantu Laut. Tapi Badai Kelabu segera ajukan tanya kepada Suto. "Mengapa tidak kita kejar dia?"

"Dia orang ngawur! Angin bertiup ke timur, kalau dia tancapkan tombak ke tanah dan gas beracun keluar, bisa terbang terbawa angin dan terhirup oleh penduduk pulau sebelah timur sana. Korban akan berjatuhan!"

"Benar juga," gumam Badai Kelabu. "Pulau tempat tinggalku juga ada di sebelah timur. Bisa-bisa hawa racun itu terbawa angin sampai ke pulau tempat tinggalku!"

"Kita mesti mengejarnya, tapi tidak harus menyerangnya secepat ini!" kata Suto.

"Bagaimana dengan Resi Kidung Sentanu itu?" kata Dewa Racun.

Pendekar Mabuk segera memeriksanya, dan ia terkejut, bahwa ternyata Resi Kidung Sentanu sudah tidak bernyawa lagi. Ia mati dalam keadaan berdiri dan dalam sikap bersemadi. "Kurasa ia telah mati sejak tadi," gumam Badai Kelabu.

"Ya. Kurasa ia mati sejak dadanya ditoreh dengan tombak itu melalui bayangan terbangnya," sambung Suto.

"Lan... lantas... bagaimana dengan kita, mau mengikuti pelarian Hantu Laut atau... atau... melanjutkan perjalanan ke Pulau Hitam?"

Suto Sinting diam beberapa saat, lalu terdengar gumamnya seperti bicara pada diri sendiri, "Dia pasti menuju Pulau Beliung. Bahaya! Orang-orang yang ada di Pulau Beliung tak mungkin bisa menandingi kehebatan Pusaka Tombak Maut itu!"

"Sebaiknya pergi dulu ke pulauku!" desak Badai Kelabu.

"Jangan pikirkan Cempaka Ungu dulu!"

"Bukan Cempaka Ungu yang kupikirkan!" sahut Pendekar Mabuk. "Tapi amukan Hantu Laut yang bodoh dan tidak pernah pakai perhitungan dalam bergerak, ia sedang merasa bangga memiliki pusaka itu, tak heran jika ia menggunakannya secara sembarangan! Pusaka itu akan menggegerkan penduduk tiap pulau yang disinggahinya!"

"Jad... jadi... bagaimana?" tanya Dewa Racun dengan gusar.

Suto masih mempertimbangkan, mengejar pelarian Hantu Laut agar mencegah banyaknya korban yang berjatuhan atau menyembuhkan gurunya Badai Kelabu terlebih dulu? Hal yang makin menyangsikan Pendekar Mabuk adalah, bahwa Hantu Laut ingin membuktikan di mata Siluman Tujuh Nyawa, dia mampu menjalankan tugas, menggantikan kehebatan Tapak Baja. Sasaran utamanya adalah Pulau Beliung, sedangkan di Pulau Beliung ada Singo Bodong. Padahal keselamatan Singo Bodong ada dalam tanggung jawab Suto.

Haruskah Pendekar Mabuk kembali ke Pulau Beliung menghadang Hantu Laut? Atau mengejar Hantu Laut sebelum sampai ke Pulau Beliung? Atau meneruskan perjalanan ke Pulau Hitam yang tinggal separo hari lagi itu? Pertimbangan Pendekar Mabuk ada dalam kisah selanjutnya.

SELESAI

Pusaka Tombak Maut

Serial Pendekar Mabuk
Pusaka Tombak Maut
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
PERAHU kecil itu merapat ke pantai bagai tanpa tenaga pendorong. Satu-satunya penumpang perahu kecil itu berdiri di buritan perahunya dengan kaki tegak sedikit merenggang, badannya lurus dengan dada membusung karena montok. Orang tersebut memiliki wajah cantik sederhana, tapi mata kecilnya tampak tajam dalam setiap pandangnya.

Tubuh yang tak terlalu kurus namun cukup padat berisi itu dibungkus pakaian silat warna hijau muda bertepian kain satin merah tua, ikat pinggangnya kain merah tua juga. Di selipan ikat pinggang itu terdapat sebilah pedang bergagang kayu hitam dengan sarung pedangnya yang juga dari kayu hitam mengkilap.

Perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu bersiap diri untuk turun dari perahunya. Namun tiba-tiba perahu kecil itu mengalami sentakan yang mengguncangkan, bahkan hampir saja perahu itu terbalik jika keseimbangannya tidak dijaga oleh perempuan tersebut. Apa yang ia tabrak saat itu, jelas tak ada. Itu berarti perahu tersebut ada yang mengguncangnya dengan dorongan tenaga dalam dari kejauhan tempat.

Ketika posisi perahu sudah kembali normal, perempuan itu cepat sentakkan kakinya ketepian perahu, dan tubuhnya melenting di udara dengan berjungkir balik satu kali. Dalam waktu singkat sepasang kakinya sudah mendarat di pasir pantai dengan sigap, tangan kanannya memegang gagang pedang, siap mencabutnya sewaktu-waktu.

Alam pantai sepi, tiada suara selain desau angin dan gemercik riak pantai. Tetapi mata perempuan berambut ikal yang diikatkan ke belakang sepanjang punggung itu masih menatap sekelilingnya dengan penuh waspada. Setiap gugusan batu atau gerumbulan semak disusuri dengan pandangan matanya yang tajam itu.

"Pasti ada orang yang menyambutku dengan angkuh!" ucapnya di dalam hati. Ia masih belum bergerak sedikit pun kecuali matanya yang bergerak liar kesana-sini. Setelah ia merasa yakin tak ada orang di gerumbulan semak, atau di atas pohon yang menjulur ke pantai, atau di balik gugusan batu yang bertebaran di pantai itu, maka ia pun bergerak memandang ke arah perairan, sampai mendapatkan perahunya sendiri. Ketika ia memandang perahunya, matanya cepat berkedip dengan hati sedikit kaget melihat seseorang telah berada di sana, di buritan tempatnya berdiri tadi.

Seorang lelaki bercelana merah tanpa mengenakan baju, telah berdiri dengan tegak bagai menantang keributan. Orang itu bertubuh kurus sekali, seperti tidak mempunyai daging lagi kecuali tulang yang dibungkus kulit. Rambutnya yang panjang berwarna abu-abu meriap dipermainkan angin pantai, sebagian mata cekungnya tertutup helai-helai rambut. Tangannya lurus ke samping bawah kanan-kiri, tanpa ada kesan ingin mencabut senjata cakra di pinggangnya. Orang itu tak lain adalah Tengkorak Terbang, si penjaga pantai di bawah kekuasaan Ratu Pekat.

Melihat orang mirip tengkorak hidup itu berdiri di perahunya, perempuan tersebut segera serukan kata, "Tinggalkan perahuku atau kuhantam kau dari sini?!"

Tengkorak Terbang diam saja, tak memberi jawaban apa pun, tapi ia tidak mau beranjak pergi dari atas perahu. Matanya yang cekung itu hanya menatap penuh sinar permusuhan, sehingga perempuan itupun segera mengirimkan pukulan jarak jauhnya lewat sodokan tangan kanannya yang bertelapak terbuka dan menghadap ke atas.

Zebb...!

Tengkorak Terbang sentakkan kakinya dan tubuhnya pun melayang bagaikan terbang, lalu bersalto satu kali ke udara, hingga dalam waktu singkat sepasang kakinya telah mendarat di pasir pantai. Jarak berdirinya hanya lima langkah dari perempuan berpakaian hijau muda itu. Tak ada senyum, tak ada ucap. Tengkorak Terbang memperhatikan perempuan itu dengan mata tak berkedip.

"Begitukah caramu menyambut tamu?!" perempuan itu memperdengarkan suaranya yang bening.

Terpaksa orang bertubuh sangat kurus itu menjawab, "Harusnya aku yang bertanya, begitukah caramu datang bertamu di pulauku?"

Perempuan itu sedikit sipitkan mata begitu tahu suara orang berwajah keras dengan tonjolan tulang-tulangnya tampak jelas itu ternyata sangat kecil. Suara Tengkorak Terbang memang cempreng dan sangat tak enak didengarnya.

"Pulau Beliung ini bukan pulaumu! Aku tahu siapa penguasa di pulau ini!" kata perempuan itu dengan ketus.

"Tapi aku petugas penjaga pantai yang punya wewenang untuk menolak kehadiran orang asing!" balas Tengkorak Terbang

"Apakah kau sanggup menolak kehadiran Badai Kelabu?!"

"Apa sulitnya menolak kehadiranmu, Badai Kelabu?! Sekarang juga jika kau tidak segera angkat kaki dan pergi bersama perahumu, kau akan kuhancurkan seperti ombak menghancurkan gundukan pasir!"

"Kulayani sesumbarmu itu, Mayat Hidup!" Sambil berkata begitu, perempuan yang mengaku berjuluk Badai Kelabu itu melangkah ke samping, mencari celah untuk menyerang.

Tapi sebelum ia melakukan penyerangan, tiba-tiba tubuh Tengkorak Terbang telah lebih dulu melesat tanpa diketahui sentakan kakinya. Tubuh kurus kerontang itu bagaikan terbang ke arah Badai Kelabu dan melepaskan satu tendangan kakikanannya yang menyamping.

Wesss...! Tapp...!

Kaki kurus itu dengan mudah ditangkap oleh tangan Badai Kelabu. Mestinya orang yang ditangkap kakinya itu jatuh terpelanting karena Badai Kelabu memelintirnya. Tetapi, gerakan memelintir itu diikuti oleh si tubuh ceking dengan cepat, bahkan ia bergerak bagaikan kipas yang membalik dan dengan menggunakan kaki kirinya menendang wajah Badai Kelabu.

Plokk...!

Tenaga yang keluar cukup besar. Tendangan menyabet itu membuat wajah Badai Kelabu bukan hanya terlempar ke samping, namun juga tersentak ke belakang. Wajah itu menjadi merah. Penglihatannya sempat kabur sebentar. Pegangan tangannya pada kaki Tengkorak Terbang pun lepas.

Badai Kelabu terhuyung ke belakang hampir jatuh, sedangkan Tengkorak Terbang pun jatuh dalam posisi tengkurap, kedua telapak tangannya menapak di tanah. Tangan itu segera menghentak, dan tubuhnya kembali melenting tinggi lalu bersalto satu kali, dan dalam waktu singkat sepasang kaki kurusnya sudah menapak di tanah dengan sigap dan tampak kekar walaupun kurus sekali.

Tengkorak Terbang memperdengarkan tawanya yang merusakkan gendang telinga, "Hiaak, hak hak hak hak hak...!" Tubuhnya terguncang-guncang karena tawanya.

Badai Kelabu menggeram sambil menarik napasnya. Dalam hati ia membatin kata, "Boleh juga tendangannya. Berat dan mantap. Wajahku terasa bagai disembur api. Panas sekali. Kalau aku bukan orang berilmu, pasti wajahku sudah somplak disabet tendangan kaki kurus itu! Agaknya orang ini punya ilmu yang cukup lumayan juga."

Tengkorak Terbang memperdengarkan suaranya lagi, "Pulanglah daripada kau mati sia-sia di sini, Badai Kelabu!"

"Aku akan pulang setelah melihat mayatmu terkapar di pantai ini! Hiaaat...!" Cepat sekali Badai Kelabu tahu-tahu telah melesat terbang dengan kaki mengarah ke wajah Tengkorak Terbang. Kaki itu ditahan oleh telapak tangan Tengkorak Terbang.

Plakk...!

Pertemuan telapak kaki dengan telapak tangan itu justru membuat tubuh Badai Kelabu bersalto maju satu kali. Tubuhnya melayang melewati kepala Tengkorak Terbang, dan ketika gerakan saltonya berguling, kaki kirinya menyepak ke belakang dengan kuat dan tepat mengenai punggung Tengkorak Terbang.

Bukkk...!

Kaki Badai Kelabu bagai mendapat tempat pijakan baru, maka tubuhnya pun tersentak maju dan berguling di pasiran pantai. Dalam kejap berikut tubuh itu telah kembali berdiri membelakangi Tengkorak Terbang yang segera membalikkan badan untuk menghadap lawan.

Tapi rupanya lawan sedang tersungkur akibat sepakan kaki yang mirip tendangan kuda tadi. Tengkorak Terbang cepat-cepat bangkit dengan wajah dan rambut dikibaskan karena bercampur pasir. Lelaki kurus kerontang itu menggeram dengan mata lebih tajam memandang. Di dalam hatinya ia berkata,

"Kurang ajar, tendangan bertenaga dalam itu membuat tengkuk kepalaku kesemutan dan kaku! Lumayan juga dia punya isi. Aku tak boleh menganggapnya enteng!"

Badai Kelabu sunggingkan senyum mengejek, ia juga ucapkan kata bernada ketus, "Baru satu jurus saja kau sudah kerepotan menghadapiku, Mayat Hidup! Apalagi lebih dari satu jurus, kau akan kerepotan menghadapi liang kuburmu sendiri!"

"Jangan bangga dengan tendangan cacingmu itu, Badai Kelabu! Aku bukan orang yang mudah dirobohkan oleh perempuan pucat macam kau, tahu?! Cuih...!"

Tengkorak Terbang meludah sebagai penghinaan. Tetapi segera matanya terkesiap, dahinya berkerut, karena apa yang diludahkan dari mulutnya itu ternyata adalah darah kental. Wajah kagetnya ditertawakan oleh Badai Kelabu, sedangkan Tengkorak Terbang hanya membatin kata, "Wah, gawat! Aku terluka di bagian dalam?!"

Tawa perempuan berwajah lonjong itu makin terdengar jelas. Tapi tawa itu sendiri cepat terhenti setelah ia menyadari beberapa helai rambutnya ada yang rontok, terbang terbawa angin. Badai Kelabu menjadi kaget melihat rambutnya mudah terbawa angin, ia berkata dalam hatinya,

"Kurang ajar! Rupanya tendangan kakinya yang menampar wajahku tadi benar-benar dialiri tenaga dalam yang cukup besar. Panas masih kurasakan di sekitar kepala dan panas itu membuat rambutku menjadi rontok?! Edan! Harus segera kulawan rasa panas ini memakai hawa dinginku, biar tak menjadi botak kepalaku karena kehilangan banyak rambut!"

Rupanya di seberang sana, Tengkorak Terbang juga sedang memejamkan mata dalam sikap berdiri dan menundukkan kepala, ia mencoba mengobati luka dalamnya dengan tahan napas beberapa saat. Dan Badai Kelabu pun buru-buru menyalurkan hawa dinginnya di kepala untuk meredam hawa panas yang hampir merontokkan rambutnya itu.

Kejap berikutnya, mereka berdua sudah kembali sama-sama siap bertarung lagi. Jarak mereka menjadi tujuh langkah, karena masing-masing merasa tak mau kecurian gerak yang bisa membahayakan jiwa mereka masing-masing. Mata mereka pun saling pandang tak berkedip untuk memperhatikan setiap gerakan kecil dari masing-masing lawan.

"Kuingatkan sekali lagi, tinggalkan pulau ini supaya kau masih bisa menikmati hidup di masa tuamu nanti, Badai Kelabu!"

"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Nyai Ratu Pekat!"

"Hiiak, hak hak hak hak hak...!" Tengkorak Terbang tertawa keras dengan suaranya yang merusakkan gendang telinga. Badai Kelabu sempat kerutkan dahi menahan telinganya yang terasa sakit. Lalu, Tengkorak Terbang serukan kata lagi. "Justru kau akan cepat mati kalau bertemu dengan Ratu Pekat!"

"Aku datang bukan untuk bermusuhan dengannya. Aku datang sebagai tamu! Tamu yang ingin meminta bantuan dari Nyai Ratu!"

"Untuk sementara ini, Ratu tidak menerima tamu siapapun!"

"Aku berteman baik dengan Ratu!"

"Tidak peduli teman baik atau teman jelek, tugasku adalah menolak siapa pun yang ingin datang ke pulau ini! Ketahuilah Badai Kelabu, untuk sementara pulau ini tertutup bagi siapa pun! Orang yang nekat datang kemari, berarti musuh kami! Dan aku berkuasa untuk menghancurkannya!"

"Rupanya Nyai Ratu Pekat sudah memutus tali persahabatan dengan siapa pun dan menjalin tali permusuhan dengan teman-teman baiknya!"

"Hiak, hak hak hak hak...! Boleh saja kau menyimpulkan begitu, Badai Kelabu, tapi kau tetap harus pergi dari pulau ini!"

"Aku akan memaksa Nyai Ratu Pekat untuk menerimaku!" kata Badai Kelabu sambil maju satu tindak.

Tengkorak Terbang pun maju satu tindak dan berkata, "Kalau kau bisa mengalahkan Tengkorak Terbang, baru kau bisa mendesak Nyai Ratu Pekat! Tapi kurasa, itu usahamu yang sia-sia, karena kau akan mati tanpa membawa hasil apa pun, Badai Kelabu!"

"Kita buktikan siapa yang unggul di antara kita, Tengkorak Terbang!" sambil berkata begitu, kedua tangan Badai Kelabu mulai mekar jari-jemarinya, perlahan-lahan bergerak ke atas, lalu memutar lewat belakang satu persatu.

Pada saat yang sama, Tengkorak Terbang pun cepat kerahkan tenaga yang membuat kedua tangannya gemetar. Telapak tangannya saling terkatup di dada, menempel lekat dengan kaki kian merendah. Dan tiba- tiba kaki yang merendah itu menghentak ke bumi, tubuhnya pun terlempar ke atas sambil dilepaskannya pukulan jarak jauh bertenaga dalam cukup besar itu. Kedua tangan Tengkorak Terbang menyentak ke depan dan, wessss...! Pukulan tenaga dalam tanpa wujud tanpa warna itu melesat ke arah Badai Kelabu.

"Hiaaat...!" pekik Badai Kelabu dengan menyentakkan kedua tangan dari atas ke bawah, seperti melepaskan burung dalam genggaman.

Wuuuhgg...!

Tali badai dilepaskan. Pukulan tenaga dalam Tengkorak Terbang tersentak ke atas dan menimbulkan suara dentaman yang teredam. Karena pada saat itu, angin badai datang menghantam. Tubuh Tengkorak Terbang yang kurus kerontang itu terhempas oleh kekuatan angin badai yang seolah-olah hanya dalam satu kelompok saja.

Batu besar yang ada di belakang Tengkorak Terbang ikut terhempas bergeser tiga langkah dari tempatnya. Sedangkan tubuh Tengkorak Terbang sendiri jatuh membentur batu dalam jarak lima langkah lebih dari tempatnya semula. Tubuh kurus itu seperti bungkusan kosong yang dibuang dan dihempaskan begitu saja tanpa bisa menjaga keseimbangan tubuh.

Begggh...!

"Uhhg...!" Tengkorak Terbang terpekik dengan suara tertahan. Tulang rusuknya terasa sakit diadu dengan batu besar, juga bagian pundaknya terasa ngilu dan lecet karena benturan batu tersebut. Napas Tengkorak Terbang terasa sesak, seakan dihimpit benda berat dan besar. Pukulan 'Badai Gunung' itu seakan masih saja menyerangnya walau tubuh Tengkorak Terbang telah merapat dengan batu besar. Rambutnya meriap-riap ke belakang, dadanya terasa sakit sekali. Tengkorak Terbang berusaha melawan tekanan berat dari pukulan 'Badai Gunung' yang belum dihentikan oleh Badai Kelabu itu.

Kedua tangan Tengkorak Terbang berusaha mendorong sesuatu yang tak kelihatan di bagian depannya. Tenaganya terkuras, urat dan ototnya mengeras, ia sampai meringis-ringis menahan tenaga yang begitu besar menghimpitnya, bagai ingin membuat tubuhnya tergencet batu di belakangnya. Tetapi, sekuat tenaga Tengkorak Terbang, kekuatan besar dari pukulan 'Badai Gunung' itu masih belum bisa dihindari.

Badai Kelabu belum mau menarik tangannya ke belakang. Matanya masih tertuju pada lawan. Tenaganya masih dikerahkan, dan semburan angin badai masih terarah pada satu tujuan. Benda-benda di luar jalur arah angin badai itu tidak ikut terpental dan terhempas. Kekuatan angin badai itu kira-kira hanya membentuk semacam jalur yang lebarnya dua langkah dari sisi kanan-kiri mereka.

"Di mana sumbarmu, Tengkorak Dekil...?! Ayo, hadapi pukulan 'Badai Gunung'-ku ini, hiiaah...!"

Makin keras datangnya tekanan badai ke arah Tengkorak Terbang, semakin kewalahan orang kurus kerontang itu menahannya. Sampai-sampai, batu yang dipakai bersandar punggung Tengkorak Terbang itu pun bergerak-gerak, mulai bergeser dari tempatnya. Sebentar lagi pasti akan terhempas juga bersama tubuh Tengkorak Terbang.

Dalam keadaan kritis begitu, Tengkorak Terbang cepat mencabut senjata cakranya yang berujung bergerigi. Senjata itu dipegang menggunakan dua tangan, bagian ujungnya dihadapkan ke depan. Tetapi kaki Tengkorak Terbang mulai terangkat-angkat karena hempasan angin kencang yang hampir menerbangkan tubuhnya.

"Hiaaaahh...!" Tengkorak Terbang pekikkan suara nyaringnya yang kering dan sember itu. Roda bergerigi di ujung senjata cakra berputar cepat bagaikan baling-baling. Kecepatan putaran gerigi itu memercikkan api merah. Api itu menyembur ke depan, semakin lama semakin besar dan membuat tubuh Tengkorak Terbang mulai terbebas dari tekanan angin badai.

Sementara itu, di seberang sana Badai Kelabu masih bertahan melepaskan kekuatan badainya dengan lebih besar lagi melalui kedua telapak tangannya yang terbuka dan ujung telapaknya menghadap ke tanah. Tangan itu pun gemetar bagai menerima tekanan yang membalik dari percikan bunga-bunga api senjata cakra itu.

Tubuh Tengkorak Terbang terasa makin ringan, makin bebas bergerak. Dan tenaga dalamnya tetap dikerahkan membuat senjata cakra itu semakin banyak menyemburkan percikan bunga api merah, hingga menimbulkan suara, wooooossss...!

Kejap berikut, Tengkorak Terbang sengaja menjejakkan kakinya hingga tubuhnya melesat ke atas. Percikan bunga api hilang. Badai yang dikerahkan lewat tangan perempuan itu menghantam apa saja yang ada pada jalur bekas tempat berdiri Tengkorak Terbang. Dari udara, senjata cakra itu dikibaskan bagaikan pedang menebas kepala lawan. Kibasan itu menyemburkan nyala api kuning kehijau-hijauan, wuuuut...!

Badai Kelabu cepat gulingkan tubuh ke tanah, karena kilatan cahaya kuning kehijauan itu melesat cepat bagai mau memenggal kepalanya. Dengan berguling ke tanah, cahaya kuning kehijauan itu terhindar dari lehernya, dan sebagai sasarannya adalah sebatang pohon kelapa yang melengkung ke arah pantai.

Crassss...! Buurrrk...! Batang pohon kelapa itu terpotong dengan rapi, dan cepat sekali menjadi rubuh pada bagian yang terpotong itu. Srettt...!

Badai Kelabu mencabut pedang hitamnya, ia segera melompat ke depan menerjang Tengkorak Terbang yang juga melompat ke depan, hingga ke dua senjata itu beradu dalam satu suara pekikan Badai Kelabu.

"Ciaaaaat...!" Duarrr...!

Keduanya sama-sama terpental ke belakang dan jatuh tanpa bisa menyangga keseimbangan tubuh mereka. Benturan dua senjata bertenaga tinggi itu melepaskan satu ledakan dan sentakan yang begitu kuat, yang membuat keduanya sama-sama terpental. Lalu, keduanya pun sama-sama cepat bangkit dan siap menyerang lagi.

"Tahan...!" terdengar seruan dari belakang Tengkorak Terbang. Seruan itu datang dari perempuan muda berpakaian serba ungu, dialah putri penguasa Pulau Beliung itu. Dialah yang berjuluk Cempaka Ungu. Ia menyandang pedang di punggung yang dililit kain ungu.

Cempaka Ungu segera melompat, bersalto di udara satu kali dan mendarat di tanah pertengahan antara Tengkorak Terbang dan Badai Kelabu. Kehadiran Cempaka Ungu membuat serangan kedua orang itu tertahan dan saling menghentikan gerakan.

"Badai Kelabu!" ucap Cempaka Ungu yang sudah mengenali perempuan yang menggenggam pedang hitam itu.

"Syukur kau masih mengenaliku, Cempaka Ungu!" kata Badai Kelabu sambil menghembuskan napas panjang, mengendurkan ketegangannya.

"Apa maksudmu menyerang Tengkorak Terbang?" tanya Cempaka Ungu.

"Jika bukan karena diserang, aku tak akan menyerang! Jika bukan karena ingin dibunuh, aku tak ingin membunuh!"

Cempaka Ungu palingkan wajah kepada Tengkorak Terbang. Tapi sebelum Cempaka Ungu ajukan tanya, Tengkorak Terbang sudah lebih dulu serukan kata keras nyaring,

"Seperti perintah Nyai Ratu, aku berhak mengusir tamu siapa saja orangnya. Dan tugas itu kujalankan!"

"Badai Kelabu teman baik ibuku, Tengkorak Terbang!"

"Tak peduli teman baik, karena perintah ibumu hanya mengusir orang yang mencoba datang ke pulau ini, tak terkecuali!"

Cempaka Ungu segera melangkah mendekati Tengkorak Terbang dan berkata dengan suara pelan. "Biarkan dia datang menemui Ibu!"

"Tak ada izin dari ibumul Aku tak berani lepaskan dia!"

"Dia bisa kita gunakan sebagai sekutu, dan akan membantu menghadapi kedatangan Siluman Tujuh Nyawa!"

"Aku tak berani simpulkan begitu, Cempaka Ungu!"

"Aku yang menjamin dirinya! Biarkan dia datang menemui Ibu!"

"Bagaimana kalau aku tetap melarangnya?"

"Kau akan berhadapan denganku. Tengkorak Terbang!"

* * *

DUA

ISTANA Cambuk Biru pernah menjadi istana berdarah karena kedatangan anak buah Siluman Tujuh Nyawa yang bernama Gagak Neraka. Dalam kaitan peristiwa berikutnya, Suto melihat seorang pengkhianat yang mengadakan kontak hubungan dengan kekuatan tenaga batinnya kepada Siluman Tujuh Nyawa. Dalam perkiraan Pendekar Mabuk, akan datang serombongan kapal dari orang-orangnya Siluman Tujuh Nyawa untuk menyerang Pulau Beliung dan menguasai istana tersebut (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Istana Berdarah).

Karenanya, Pendekar Mabuk dan Nyai Ratu Pekat bersepakat untuk menolak kedatangan tamu siapa pun juga orangnya, karena dikhawatirkan akan menjadi mata-mata utusan Siluman Tujuh Nyawa. Tengkorak Terbang yang bertugas sebagai penjaga pantai, walau gelar panglimanya sudah dibatalkan, tapi ia tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Tak peduli Badai Kelabu teman baik dari Ratu Pekat, ia tetap saja menolak kehadiran tamu tersebut dengan cara sekeras apa pun.

Tetapi, Cempaka Ungu mendesaknya untuk menerima tamu yang satu itu. Tengkorak Terbang bukan takut kalah tarung dengan Cempaka Ungu, tapi takut kepada ibu gadis itu jika gadis itu dikalahkannya. Mau tak mau Tengkorak Terbang melepaskan musuhnya dan membiarkan Badai Kelabu dibawa oleh Cempaka Ungu ke istana.

Di istana, Ratu Pekat sedang berbincang-bincang dengan Suto, si Mata Elang, dan Dewa Racun. Saat itu Singo Bodong sedang membantu empat prajurit yang membangun kembali pintu gerbang istana.

Kedatangan Badai Kelabu disambut dengan baik oleh Ratu Pekat. Bahkan perempuan berusia sekitar lima puluh tahunan, mengenakan pakaian hitam sebatas dada yang ditaburi manik-manik emas dengan dirangkap baju jubah putih dari bahan sutera, dan mengenakan kalung berliontin batu hitam itu, memeluk Badai Kelabu dengan penuh keakraban.

Tetapi, Mata Elang yang berdiri di samping Ratu dengan tegap dan berpakaian serba merah itu, memandang penuh kecurigaan kepada Badai Kelabu. Setiap gerakan yang ditimbulkan oleh Badai Kelabu itu tak luput dari incaran kewaspadaan mata pengawal pribadi Ratu Pekat itu.

Sedangkan Pendekar Mabuk hanya memandangnya dengan senyum tipis di bibir, dan Dewa Racun memperhatikan dengan mata sedikit menyipit, merasa pernah melihat perempuan yang baru datang itu.

"Semakin cantik dan hebat kau, Badai Kelabu!" puji Ratu Pekat yang rambutnya sudah mulai ditaburi uban walau tak terlalu banyak.

"Jangan puji aku demikian, Nyai. Aku sedang bersedih, dan menjadi lebih sedih lagi setelah mendengar cerita dari Cempaka Ungu tentang musibah yang melanda Istana Cambuk Biru ini."

"Ya, aku pun ikut sedih. Tapi masa berkabungku ini tak mau kubuat berlarut-larut. Semua sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa. Dan... oh, tentunya kau sudah mengenal kedua tamuku ini, Badai Kelabu," sambil Ratu Pekat menunjuk Pendekar Mabuk dan Dewa Racun.

Badai Kelabu memandang kepada Dewa Racun, lalu menatap Pendekar Mabuk beberapa saat lamanya. Hatinya berdebar-debar menerima senyuman Suto, si murid sinting Gila Tuak itu, yang berdiri dengan tenang, kedua tangan terlipat di dada, bumbung bambu tuak terselempang di punggung, mengenakan pakaian coklat celana putih. Baju coklatnya tanpa lengan, rambutnya tanpa ikat kepala, tapi justru membuat Suto tampak lebih tampan daripada seandainya ia memakai ikat kepala.

Cempaka Ungu menjadi tak enak hati melihat Badai Kelabu menatap Pendekar Mabuk tiada berkedip, ia segera palingkan pandang dengan hati kesal. Dan pada saat itu, Badai Kelabu berkata kepada Ratu Pekat,

"Tamumu yang kerdil berpakaian bulu serba putih ini kukenal dengan julukan Dewa Racun. Aku tahu dia orang Pulau Serindu, Nyai. Tapi tamumu yang tampan itu, baru sekarang aku melihatnya," Badai Kelabu melirik Suto lagi sekejap.

"Dia murid sinting si Gila Tuak dari Jurang Lindu!"

"O, ya... aku tahu nama si Gila Tuak, tapi aku tak pernah tahu kalau si Gila Tuak punya murid senakal itu!" kata Badai Kelabu, karena ia menganggap senyuman Pendekar Mabuk itu sungguh nakal menggoda hati.

"Namanya Suto!" tambah Ratu Pekat. "Dia yang menyelamatkan kami dari amukan anak buah Siluman Tujuh Nyawa."

Badai Kelabu sunggingkan senyum sekejap, melirik Suto sesaat, kemudian senyumnya hilang. Wajahnya menjadi keruh, dan ia pun ucapkan kata bernada duka. "Kedatanganku kemari juga ada hubungannya dengan Siluman Tujuh Nyawa, terutama dengan anak buahnya yang dikenal sebagai Nakhoda Kapal Neraka yang bernama Tapak Baja itu."

"Hmmm... ada apa dengan Tapak Baja?"

"Dia melukai guruku, Nyai."

"Melukai gurumu?" Nyai Ratu Pekat bernada heran. "Setahuku gurumu orang berilmu tinggi! Bagaimana mungkin dia bisa dilukai oleh Tapak Baja?"

"Karena sekarang Nakhoda Kapal Neraka itu mempunyai senjata yang sangat dahsyat dan sulit dikalahkan."

"Senjata apa yang dimilikinya?" desak Ratu Pekat.

"Pusaka Tombak Maut!"

"Ooh...?!" Ratu Pekat nampak kaget. Bahkan Dewa Racun sempat tersentak kaget dan memandang Ratu Pekat. Mereka saling pandang sebentar, lalu Ratu Pekat alihkan padang kepada si Mata Elang yang rupanya juga ikut terperanjat demi mendengar Pusaka Tombak Maut disebutkan Badai Kelabu. Dewa Racun memandang Pendekar Mabuk, tapi Suto tetap tenang. Tak ada rasa kaget kecuali bingung dan berkerut dahi.

"Ccee... cee... celaka!" ucap Dewa Racun dengan gagap, karena mulutnya tidak beraroma ikan bakar. Jika ia habis makan ikan bakar dan sisa aroma ikan masih ada di mulutnya, ia akan bicara dengan lancar.

"Apa hebatnya Pusaka Tombak Maut itu?" tanya Suto.

"It... it... itu senjata pusaka yang berba... ba... bahaya!" kata Dewa Racun. "Tap... tap... tapi, setahuku senjata itu bukan milik si Tapak Baja!"

"Benar," sahut Ratu Pekat. "Setahuku senjata Pusaka Tombak Maut itu milik seorang tokoh sakti yang berjuluk Ki Jangkar Langit!"

"Jangkar Langit?" Pendekar Mabuk gumamkan kata. "Sepertinya guruku pernah menyebut-nyebut nama Jangkar Langit."

"Jika kau memang murid si Gila Tuak," kata Ratu Pekat yang baru-baru ini saja dia mengetahui siapa Pendekar Mabuk itu, "Tentunya kau pernah mendengar nama Jangkar Langit dari mulut gurumu, karena Ki Jangkar Langit adalah teman baik gurumu."

"Lalu, di mana letak kedahsyatan Pusaka Tombak Maut itu?" tanya Suto kepada Badai kelabu.

Perempuan itu ingin menjawabnya, tapi lidahnya bagaikan kelu. Nyai Ratu Pekat yang menjelaskan pertanyaan itu, "Pusaka Tombak Maut itu adalah sebuah tombak yang ujungnya terbuat dari taring babi hutan, alias taring genjik. Babi hutan itu adalah jelmaan dari tokoh sesat zaman dulu, yang berhasil dibunuh oleh Ki Jangkar Langit. Pusaka itu bisa dipakai membunuh orang satu pulau dengan hanya ditancapkan pada satu tanah. Tanah itu akan mengeluarkan gas beracun dan seluruh penghuni pulau itu akan mati. Apalagi jika ada angin besar, maka gas beracun itu pun bisa terbawa angin ke pulau lain dan menewaskan orang di tempat lain. Pusaka itu dapat menggegerkan orang dalam dua-tiga pulau dengan gas beracunnya itu, sehingga diberi nama Pusaka Tombak Maut."

Cempaka Ungu yang baru mendengar cerita itu menjadi terbengong-bengong menyimaknya. Pendekar Mabuk hanya berkerut dahi sambil mulutnya sedikit melongo membayangkan sebuah pusaka yang punya kehebatan seperti itu. Menurut Suto, setiap lapisan tanah mempunyai lapisan gas beracun. Jika tombak itu ditancapkan di tanah, maka gas beracun akan terhisap keluar, dan menyebar ke mana-mana. Jadi, tombak itu adalah tombak penghisap racun yang berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia.

Badai Kelabu masih mencuri-curi pandang pada Pendekar Mabuk. Tetapi Suto tidak menghiraukan, sebab ia segera tertarik dengan ucapan kata dari Dewa Racun yang terputus-putus karena gagapnya itu,

"Tap... tap... Tapak Baja akan semakin ganas jika memegang senjata pusaka itu. Ap... ap... apalagi... apalagi dia adalah salah satu dari kelim...aal...al...al..."

"Alang-alang!"

"Bukan. Al... algojo! Dia satu dari kelima algojonya Siluman Tujuh Nyawa, yang tugasnya menghancurkan lawan yang harus cepat disingkirkan. Pas... pas... pas..."

"Pasar?!"

"Bukan! Pa....Pasti pasti Tapak Baja akan semakin merajalela keganasannya dengan menggunakan senjata pusaka itu."

"Juga semakin ganas," celetuk si Mata Elang yang sejak tadi diam saja itu.

"Kalau begitu," Cempaka Ungu ikut bicara, "Sangat berbahaya jika Siluman Tujuh Nyawa menugaskan Tapak Baja untuk menyerang pulau kita ini, Ibu!"

"Ya. Sangat berbahaya," jawab Ratu Pekat dalam tatapan mata menerawang. "Karena...Pusaka Tombak Maut adalah jenis pusaka yang sulit dicari tandingannya, tak bisa dikalahkan dengan pusaka apa pun juga. Dia mempunyai sifat dan gerakan yang berbeda dari pusaka-pusaka pada umumnya."

Pendekar Mabuk mengambil bumbung tuaknya, lalu menenggak tuak di depan mereka tanpa rasa canggung ataupun malu-malu. Tuak diteguk tiga kali, setelah itu dikembalikan pada posisinya semula, ia kelihatan orang yang paling berwajah tenang, walau sudah mendengar banyak tentang keganasan Pusaka Tombak Maut di tangan Tapak Baja. Bahkan Dewa Racun sendiri kelihatan gelisah memikirkannya, Cempaka Ungu tampak cemas memikirkan nasib istananya yang bisa direbut dengan mudah oleh Tapak Baja.

Selewat hening sekejap, Ratu Pekat bertanya kepada Badai Kelabu, "Lantas apa maksudmu datang kemari, Badai Kelabu?"

"Guru terluka oleh pusaka itu. Dalam waktu sesingkatnya mungkin aku harus mencari obat untuk menyembuhkan luka Guru. Menurut Guru, hanya ada satu cara yang bisa menyembuhkan lukanya, yaitu dengan menggunakan sebuah batu yang bernama Batu Galih Bumi," sambil mata Badai Kelabu menatap ke arah kalung Ratu Pekat.

Mendengar nama Batu Galih Bumi disebutkan, Ratu Pekat terkejut, demikian juga Cempaka Ungu dan si Mata Elang. Dewa Racun manggut-manggut dalam bungkamnya mulut, sedangkan Pendekar Mabuk hanya sedikit kerutkan dahinya, masih kurang jelas apa yang dimaksud Batu Galih Bumi dan mengapa Ratu Pekat jadi terkejut.

Terdengar kembali Badai Kelabu ucapkan kata, "Guru mengutusku datang menemuimu, Nyai. Guru ingin meminjam Batu Galih Bumi yang kau pakai sebagai kalung itu."

Suto pun segera manggut-manggut kecil, karena sekarang dia mengerti bahwa ternyata yang dimaksud Batu Galih Bumi itu adalah liontin yang dipakai kalung Ratu Pekat. Batu hitam sebesar mata pete itu dipandangi oleh Suto beberapa saat. Tiba-tiba kepala Pendekar Mabuk tersentak ke belakang sedikit. Seperti ada satu tenaga yang terpancar dari batu itu dan mencolok matanya, membuat kepalanya tersentak mundur dalam gerakan tak kentara.

Pendekar Mabuk hanya membatin, "Hmmm... memang ada isinya batu itu."

Terdengar Dewa Racun berkata kepada Pendekar Mabuk, "Ssssu... Suto, ikutlah aku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu!"

Kemudian, Dewa Racun juga berkata kepada Ratu Pekat, "Mmma... maa... maaf. Ratu... saya mau ada sedikit pembicaraan dengan Pendekar Mabuk."

"Ya, silakan!" jawab Ratu Pekat mulai terdengar ketus. Pasti sedang menahan suatu pergolakan rasa di dadanya.

"Bagaimana, Nyai? Boleh aku pinjam Batu Galih Bumi itu?" desak Badai Kelabu setelah Pendekar Mabuk dan Dewa Racun pergi.

Ratu Pekat menjawab, "Tidak kuizinkan siapa pun meminjam ataupun memegang Batu Galih Bumi ini," seraya ia memegang batu di kalungnya.

"Nyai, guruku dalam keadaan berbahaya. Pukulan 'Tombak Maut' bisa membuat jiwa Guru melayang jika tidak segera diobati dengan Batu Galih Bumi."

"Aku tak peduli dengan sakit gurumu. Jika urusannya sampai pada meminjam Batu Galih Bumi, aku tidak sanggup memberikan bantuan apa-apa pada gurumu!"

"Kami menjamin akan mengembalikan Batu Galih Bumi itu, Nyai Ratu."

"Aku tetap tidak bisa meminjamkannya. Sebab aku tahu watak gurumu itu sering licik. Bisa-bisa batu ini tidak kembali ke tanganku dan menjadi miliknya."

"Nyawaku sebagai jaminannya, Nyai Ratu."

"Nyawamu tidak sebanding nilai dan harganya dengan batu ini, Badai Kelabu," kata Ratu Pekat semakin hilang kesan persahabatannya.

"Jadi apa yang harus saya lakukan jika Nyai Ratu tidak mengizinkannya? Saya bingung, Nyai!" ucap Badai Kelabu bernada sesal.

"Pulanglah dan katakan kepada gurumu, aku tak bisa meminjamkan Batu Galih Bumi untuk keperluan apa pun, dan kepada siapa pun tak akan kupinjamkan batu ini!"

"Padahal, pesan Guru saya harus merebut batu itu jika tidak boleh dipinjamkan!"

"Itu berarti kau harus melawanku, Badai Kelabu!"

"Melawan siapa pun saya tak akan mundur, Nyai Ratu. Demi menyelamatkan jiwa Guru, saya siap mati bertarung dengan siapa pun."

"Badai Kelabu!" sentak Cempaka Ungu yang mulai tersinggung dengan ucapan-ucapan Badai Kelabu. "Jika kau memaksa ibuku dan mau melawannya, kau harus hadapi dulu anaknya!" Cempaka Ungu menepuk dada.

"Apakah kau lawan sebandingku, Cempaka?"

"Keparat! Kau benar-benar teman yang tidak bisa menghargai nilai persahabatan. Hihhh...!"

Tapp...!

Tangan Cempaka Ungu yang ingin menghantam Badai Kelabu itu ditangkap oleh tangan ibunya. Mata Cempaka Ungu melirik tajam kepada ibunya dan sang Ibu berkata, "Dia memang bukan lawan tandingmu, Cempaka!"

"Biarkan saya menghajar mulutnya, Ibu!"

"Jangan! Aku tahu, Badai Kelabu punya ilmu lebih tinggi darimu! Bukan kau yang harus melawannya, tapi aku sendiri!"

"Atau, biarkan aku yang maju, Nyai!" kata si Mata Elang. Dan tiba-tiba dari sepasang mata lelaki muda yang berompi merah berhias manik-manik emas itu keluar cahaya seperti lidi panjang berwarna kuning. Menghantam ke wajah Badai Kelabu.

Tetapi dengan cekatannya Badai Kelabu menyentakkan tangannya ke depan dalam posisi terbalik. Dari pangkal jari yang bertulang menonjol itu keluar gelombang tenaga dalam yang menghentak ke depan, menyambut sinar kuning dari mata si Mata Elang. Mestinya, lawan yang terkena sinar kuning itu akan terjengkang ke belakang bahkan mungkin terlempar jauh dari tempatnya. Tetapi, yang terjadi adalah kebalikannya. Tubuh si Mata Elang tersentak ke belakang ketika sinar kuning itu masuk kembali ke matanya.

Wuttt...! Blluggh...!

Tubuh si Mata Elang membentur pilar dengan kerasnya. Pilar itu berada dalam jarak delapan langkah dari tempatnya semula.

Melihat si Mata Elang terlempar sebegitu rupa dan menjadi sulit bernapas, Ratu Pekat belalakkan mata garangnya, lalu dengan satu sentakan tangan kirinya ia berhasil melepaskan pukulan jarak jauh kepada Badai Kelabu. Sang tamu itu pun terlempar keluar dari serambi istana, dan Ratu Pekat segera melompat untuk mengejar Badai Kelabu ke halaman depan istana.

"Badai Kelabu! Jika aku terpaksa membunuhmu, bukan karena aku tidak menghargai persahabatan kita selama ini, tapi karena aku mempertahankan batu pusakaku ini! Jangan kau salahkan diriku jika nyawamu sampai melayang, karena kau tak mau mengikuti saranku untuk segera pulang ke Pulau Hitam!"

"Nyai Ratu," kata Badai Kelabu dengan berdiri tegak siap menyerang, "Sejujurnya kukatakan, aku cukup senang dan gembira menerima tantanganmu! Kalau toh aku harus mati, biarlah aku mati lebih dulu daripada mati setelah guruku!"

"Baiklah! Kau rupanya lebih senang mati di tanganku daripada mati di tangan orang lain. Hiaaat...!" Ratu Pekat kembali sentakkan tangannya dari bawah ke atas depan, dan Badai Kelabu cepat hentakkan kaki, tubuhnya melenting di udara. Kejap berikut, tubuh itu sudah berdiri tegak menghindari pukulan jarak jauhnya Ratu Pekat.

Tangan Badai Kelabu segera bergerak memutar kebelakang keduanya, lalu seperti melepas burung ia lepaskan pukulan 'Badai Gunung'-nya. Wuusss...! Angin kencang menghempas membuat tubuh Ratu Pekat mundur satu tindak. Tapi kedua tangannya segera bergerak menahan hembusan kuat dari arah lawan. Barang-barang yang ada di belakang Ratu Pekat menjadi terbang tak tentu arah. Bahkan tubuh Cempaka Ungu pun terlempar keluar dari jalur badai yang menghembus dengan kuat itu.

"Hiihhg...!" Ratu Pekat bertahan dari hembusan badai kabut tanpa ada penahan di bagian belakangnya. Tubuhnya sebentar-sebentar ingin terlempar ke belakang, tapi dipertahankan untuk tetap berdiri di tempat dengan kedua kaki makin merendah. Kedua tangannya dihadapkan ke depan, berusaha mengeluarkan hembusan angin juga untuk menahan badai dari tangan tamunya. Batu Galih Bumi memancarkan sinar merah dalam satu kilasan yang cepat.

Badai Kelabu tak menduga akan mendapat serangan sinar merah sebesar jari kelingkingnya. Wuutttt...! "Hiaaat...!" ia memekik sambil gulingkan tubuh ke kiri. Rupanya terlambat sedikit ia bergerak, sehingga betisnya terkena sinar merah itu. Jrubbb...!

"Aaahg...!" Badai Kelabu memekik. Betisnya menjadi berlubang bagai habis ditembus tombak atau anak panah yang tajam. Darah keluar dari betisnya. Badai Kelabu mencoba berdiri dan tak menghiraukan lukanya.

Srett...! Pedang hitam dicabut dari sarungnya, ia menggeram penuh dendam pembalasan atas luka di kakinya. Tapi tiba-tiba, batu hitam yang menggantung di atas dada Ratu Pekat itu kembali mengeluarkan sinar merah.

Wuutttt...!

Trangng...! Badai Kelabu menangkis sinar merah itu menggunakan pedangnya yang diangkat tepat di tengah dada. Sinar merah membentur pedang, dan membalik membentuk sudut kecil ke arah tubuh Ratu Pekat. Seketika itu pula Ratu Pekat sentakkan kakinya dan melesat di udara dalam gerakan salto. Wuggh...!

"Hiaaat...!" sentak suara Ratu Pekat sambil tangannya menghentak ke depan. Tangan itu mengeluarkan gelombang tenaga dalam tanpa sinar. Tak terlihat gerakannya, sehingga Badai Kelabu pun terpukul pada bagian pinggangnya.

Beggh...!

"Aaagh...!" Badai Kelabu tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang dengan mulut ternganga menahan sakit.

* * *

TIGA

DALAM sebuah kamar, Dewa Racun berbicara dengan Suto Sinting. Suto yakin pembicaraan itu sangat penting, karena Dewa Racun membawanya menjauh dari Ratu Pekat dan yang lainnya. Sebab itu Suto pun menyimak percakapan Dewa Racun dengan sungguh-sungguh,

"Ak... aku... aku baru tahu kalau Batu Galih Bumi adalah perhiasan yang dipakai kalung oleh Ratu Pekat."

"Ada apa dengan Batu Galih Bumi? Apakah ada hubungannya dengan Pusaka Tombak Maut?"

"Bis... bis... bisa ada, bisa juga tidak. Maksudku begini...," Dewa Racun yang kerdil itu segera naik ke atas sebuah bangku supaya wajahnya bisa sejajar dengan Suto. Tapi tetap saja ia lebih rendah dari Suto, namun dalam bicaranya tidak terlalu mendongak ke atas seperti tadi.

"Nyai... nyai... nyai gus... gustiku pernah bilang, bahwa Batu Galih Bumi bisa untuk mengobati luka apa pun, dan juga bisa untuk menolak kutukan apa pun. Dul.. dul.. dulu, Nyai Gusti pernah punya gagasan untuk memiliki Batu Galih Bumi untuk memulihkan pengaruh pukulan 'Candra Badar' yang dideritanya dari Siluman Tujuh Nyawa itu. Jad... jad... jad..."

"Jadah?!"

"Bukan. Jad... jadi, bagaimana kalau Batu Galih Bumi itu kita rebut dari tangan Ratu Pekat?"

Suto tidak langsung menjawab, ia berpikir beberapa kejap. Tapi sambil berpikir ia meneguk tuak dari dalam bumbungnya itu. Kemudian barulah ia menjawab, "Kurasa tak perlu, Dewa Racun."

"Tapi nyai gustiku perlu obat pemunah pukulan 'Candra Badar' Bii... biii... biar tubuhnya tidak terbakar jika terkena sinar matahari atau sinar alam lainnya."

"Aku bisa mengatasinya. Tak perlu harus mencuri atau merebut batu pusaka milik orang lain, supaya kelak suatu saat orang lain juga akan segan mencuri atau merebut pusaka milik kita."

"Ap... ap... apakah kau yakin bahwa kau bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh nyai gustiku?"

Pendekar Mabuk tersenyum tenang. "Kita lihat saja nanti!" Suto mau bergegas keluar dari kamar, tapi tangan Dewa Racun menahannya.

"Tung... tung... tung..."

"Kamu ini mau ngomong apa mau menari? Kok tang, tung, tang, tung?"

"Mmmmak... maaak... maksudku, tunggu dulu!" sentak Dewa Racun dengan jengkel.

Suto tertawa kecil. "Sudah kupastikan, aku tak mau merebut pusaka milik orang lain atau barang apa pun yang bukan milikku!" tegas Suto kemudian.

"Tap... tap., tapi bagaimana dengan luka-luka yang diderita gurunya Badai Kelabu itu?"

"Itu bukan urusanku! Apa maksudmu menanyakannya?"

"Sep...sep...sep..."

"Sepuluh?"

"Bukan! Se... sepertinya... sepertinya guru Badai Kelabu membutuhkan pertolongan, sedangkan Ratu Pekat bersikeras tidak mungkin meminjamkan Batu Galih Bumi kepada siapa pun. Aku takut mereka saling ber... ber... ber"

"Beranak?"

"Berselisih!" bentak Dewa Racun. "Pertarungan bisa terjadi!"

"Jadi, maksudmu kita harus memihak salah satu dari mereka? Tidak, Dewa Racun! Aku tidak mau mencampuri urusan orang lain, kecuali hanya sebagai pihak penengah! Tugas kita di sini hanya menjaga serangan dari Siluman Tujuh Nyawa yang bisa datang sewaktu-waktu. Tapi sampai lima hari kita di pulau ini, tak ada utusan dari Siluman Tujuh Nyawa yang datang menyerang. Berarti kita harus segera berangkat ke Pulau Serindu. Aku sudah tak sabar lagi inginsegera bertemu dengan Dyah Sariningrum, nyai gustimu itu, Dewa Racun. Aku tak mau ikut campur urusan Badai Kelabu dan Ratu Pekat!"

"Mak...mak...mak "

"Makan."

"Maksudnya!" sentak Dewa Racun. Biasanya jika dia kesulitan mengucap satu kata, jika sudah ditebak oleh orang lain, kata-kata yang akan diucapkan segera dapat ditemukan dan dilontarkan. Tapi jika orang lain itu salah menebak apa yang ingin diucapkan, Dewa Racun sering merasa dongkol hatinya. "Maksudku, memang tidak harus memihak pada salah satu, tapi ambillah jalan tengah supaya mereka tid... tid... tidak saling berselisih."

"Baiklah, akan kucoba membujuk Badai Kelabu agar tidak bernafsu untuk merebut atau memiliki Batu Galih Bumi. Mudah-mudahan dia mau percaya bahwa aku bisa mengobati penyakit gurunya itu."

"Nnnnnaaah... itu yang kumaksud!" Dewa Racun tersenyum senang.

"Tapi, siapakah Badai Kelabu itu? Apakah dia orang jahat?"

"Ak... ak... aku baru ingat, bahwa dia orang Pulau Hitam yang pernah membantu Ratu Pekat menyerang orang-orangku."

"Jadi, kenapa kita harus menolongnya dari kesulitan ini?"

"Buk... buk... bukankah Ratu Pekat semula juga memusuhi kita? Tapi seperti apa kata gurumu, si Gila Tuak, kepadamu, bahwa menundukkan lawan tidak harus dengan kekerasan, tapi juga bisa dilakukan dengan kebaikan. Sekarang pun kita sudah menundukkan Ratu Pekat!"

"O, ya! Benar apa katamu itu. Guru memang pernah bilang begitu padaku. Tanpa sadar kita telah menundukkan Ratu Pekat, sehingga tidak punya niat untuk menyerang nyai gustimu yang bergelar Gusti Mahkota Sejati itu!"

"Jadi, apa salahnya kalau kita juga menundukkan Badai Kelabu dengan keb... keb... keb..."

"Kebakaran!"

"Kebaikan!" sentak Dewa Racun dengan gemas. Suto hanya tersenyum geli dan cepat melangkahkan kaki keluar darikamar.

Sampai di pelataran istana, Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sama-sama terperanjat melihat Badai Kelabu sudah terbujur lunglai dengan darah melumuri kakinya dan di beberapa tempat di tubuhnya terdapat luka memar membiru. Pendekar Mabuk dan Dewa Racun tidak melihat bahwa Badai Kelabu baru saja terkena pukulan punggungnya oleh telapak tangan Ratu Pekat yang saat itu masih menyalakan pijar merah membara. Tangan tersebut bagaikan berlumur lahar gunung berapi dan mau dihantamkan lagi ke dada Badai Kelabu yang terkapar tak berdaya.

Tapi, Suto segera serukan kata keras, "Tahan, Nyai!"

Suara itu membuat Nyai Ratu Pekat palingkan wajah ke arah Suto, juga Cempaka Ungu dan Mata Elang yang memperhatikan dari sisi kejauhan. Suto segera melangkahkan kaki mendekati Ratu Pekat. Perempuan itu menggeram dengan matanya yang nanar memancarkan nafsu untuk membunuh Badai Kelabu. "Apa maksudmu menahan pukulanku yang terakhir, Pendekar Mabuk?!"

"Itu perbuatan sia-sia," jawab Pendekar Mabuk seenaknya saja. "Tinggalkan dia, Nyai...!"

"Dia akan merebut batu pusakaku ini, Pendekar Mabuk! Mengapa aku harus melepaskan dia?!" sentak Nyai Ratu Pekat sambil masih bersikap berlutut satu kaki, siap hentakkan tangannya yang membara itu.

"Dia punya alasan yang mendesak. Jika alasan yang mendesak itu bisa diatasi, dia tidak akan merebut Batu Galih Bumi-mu itu, Nyai!"

"Tak ada yang bisa menyelamatkan jiwa orang yang telah terkena senjata Pusaka Tombak Maut, Suto! Hanya Batu Galih Bumi yang bisa menyelamatkannya! Jadi, bagaimanapun juga Badai Kelabu pasti tetap akan menyelamatkan nyawa gurunya dengan merebut batu ini!"

"Serahkan perkara itu padaku," kata Suto, lalu ia menenggak tuak beberapa teguk. Sisanya masih ada yang disimpan di mulut hingga kedua pipinya sedikit mengembung.

Dari arah belakang terdengar suara Mata Elang, "Pendekar Mabuk! Kuharap jangan ikut campur urusan Nyai Ratu untuk kali ini! Tinggalkan dia!"

Suto bahkan menyemburkan sisa tuak dalam mulutnya ke tangan Ratu Pekat yang membara bagaikan lahar gunung berapi itu.Brusss...!

Nyrrosss...! Tiba-tiba tangan yang mirip besi membara itu menjadi hitam dan berasap. Nyala baranya padam. Hal itu tidak menimbulkan rasa sakit pada tangan Ratu Pekat, hanya menimbulkan rasa heran yang sangat besar.

Ratu Pekat membatin kata, "Gila! Pukulan 'Lahar Iblis'-ku bisa dipadamkan begitu saja dengan semburan tuaknya?! Luar biasa mengagumkannya anak muda sinting ini?!"

Tangan Ratu Pekat yang hitam segera pulih menjadi kuning langsat seperti sediakala tanpa memakan waktu yang lama. Hanya sekitar tiga helaan napas tangan itu telah menjadi bersih dan kering.

Dari kejauhan Mata Elang menyangka Suto mulai menyerang Ratu Pekat, maka dengan kekuatan tenaga dalam yang disalurkan lewat sepasang matanya, keluarlah cahaya merah dari mata kiri si Mata Elang. Wuuttt.....' Arah melesatnya sinar merah sebesar lidi itu menuju ke punggung Suto. Melihat gerakan sinar merah melesat ke arahnya, Suto hanya sedikit memiringkan badannya, hingga sinar itu membentur tabung bambu tempat penyimpan tuak.

Trass...! Zuuutt...!

Cempaka Ungu terkejut bukan main sampai terlontar suara keras, "Awaaas...!"

Sinar merah yang mengenai bumbung bambu tempat tuak itu membalik, yang semula besarnya seperti sebatang lidi, kini menjadi lebih besar lagi, tiga kali lipat dari besar semula. Kecepatan geraknya pun melebihi kecepatan semula. Hampir saja Mata Elang tak sempat menghindari serangan yang membalik ke arahnya jika tubuhnya tidak disentakkan oleh tangan Cempaka Ungu dengan sekuat tenaga.

Brakkk...! Prokkk...!

Tubuh Mata Elang yang didorong keras oleh Cempaka Ungu terlempar dan membentur reruntuhan bekas pintu gerbang. Pelipisnya menghantam kuat sebuah benda keras, dan akhirnya berdarah, ia menyeringai sambil memegangi pelipisnya. Sedangkan sinar merah yang membalik itu juga hampir saja mengenai tangan Cempaka Ungu saat gadis itu mendorong tubuh Mata Elang. Untung Cempaka Ungu cepat menarik tangannya dan berguling ke arah samping, sehingga sinar merah itu menghantam tiang penyangga atap di serambi samping. Tiang sebesar tiga pelukan manusia itu menjadi gompal pada bagian salah satu sisinya dihantam sinar merah itu.

Brull...! Prakkk...!

Ratu Pekat terkesima dan memandang tak berkedip ke arah tiang yang gompal dengan pasir dan bebatuannya yang menyembur ke mana-mana. Setahu sang Ratu, sinar merah dari mata pengawal pribadinya itu tidak akan sedahsyat itu kekuatannya. Paling bisa hanya menggompalkan tiang marmer sebagian kecil saja, tidak akan merusakkan sampai batas lewat dari pertengahan besarnya tiang seperti saat itu. Melihat keadaan sedemikian rupa, Ratu Pekat cepat berdiri dan berkata kepada Suto,

"Akan kau apakan perempuan ini?! Dia sudah banyak menderita luka dalam akibat seranganku!"

"Rasa-rasanya tak baik jika persahabatan kalian putus hanya karena keadaan yang kritis seperti saat ini! Biarlah kusembuhkan luka-luka si Badai Kelabu ini, dan akan kubujuk supaya dia tidak mengincar Batu Galih Bumi lagi."

"Tapi dia tetap akan berkeras kepala untuk menyembuhkan luka gurunya memakai Batu Galih Bumi!"

"Aku yang akan menyembuhkan luka-luka gurunya itu!"

Ratu Pekat kerutkan dahi, tak yakin akan kemampuan Pendekar Mabuk. Sebab ia cukup tahu keparahan orang yang terkena pukulan Pusaka Tombak Maut. Tapi kesangsian di hati Ratu Pekat hanya dipendamnya saja, ia tidak mau melontarkannya. Karena pada saat itu ia segera berpaling ke arah seseorang yang sedang dipanggil Pendekar Mabuk tempat orang-orang yang membetulkan pintu gerbang.

"Singo Bodong...! Angkat dia ke dalam!" teriak Suto.

Orang bertubuh tinggi, besar, berperut sedikit buncit, jarinya sebesar pisang ibaratnya, segera datang mendekati Pendekar Mabuk. Dialah Singo Bodong, orang berwajah seram, angker, tapi tidak punya ilmu apa-apa bahkan berkesan polos dan lugu. Ia dibawa oleh Pendekar Mabuk dalam perjalanannya, karena semula ia disangka tokoh keji bernama Dadung Amuk. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Utusan Siluman Tujuh Nyawa).

"Apa yang harus kulakukan, Suto?" tanya orang berkumis tebal berpotongan seperti seorang warok.

"Angkat perempuan ini ke dalam. Aku akan mengobatinya."

"Menurutku dia sudah sangat parah dan tinggal menunggu matinya saja, Suto. Sebaiknya "

"Sebaiknya angkat dia ke dalam!" gertak Pendekar Mabuk.

Singo Bodong ketakutan. "Baa... baik... baik!" Lalu, ia bergegas mengangkat tubuh Badai Kelabu ke dalam istana. Bahkan langsung dibawa masuk ke dalam kamar yang khusus untuk tidur Pendekar Mabuk selama di Pulau Beliung itu.

Ratu Pekat sempat berpapasan dengan Mata Elang yang memegangi pelipisnya. Darah karena luka benturan masih keluar dari pelipis itu. Sambil memeriksa luka tersebut, Ratu Pekat berkata, "Jangan lawan Pendekar Mabuk itu! Dia sangat berbahaya! Ingat, jangan sekali-kali melawan atau membokongnya! Kau bisa lebih celaka dari saat ini, Mata Elang!"

"Baik, Nyai!"

Di dalam kamar itu, tubuh Badai Kelabu dibaringkan di atas lantai, bukan di atas tempat tidur. Sebab saat itu, Cempaka Ungu segera ikut masuk ke dalam kamar, dan membentak Singo Bodong, "Jangan taruh dia di atas pembaringan Pendekar Mabuk! Bisa kotor tempat tidur itu, Goblok!"

Singo Bodong takut. Maka, tubuh Badai Kelabu ditaruhnya di lantai. Tubuh itu sangat memprihatinkan. Lemas sekali, dan dingin di telapak kaki serta di beberapa tempat lainnya. Napasnya memang masih ada, tapi sangat tipis dan tak kentara lagi helaannya.

Cempaka Ungu sengaja ikut masuk ke dalam kamar itu. Bukan semata-mata ingin melihat cara Suto melakukan penyembuhan terhadap tubuh yang tinggal menunggu lepasnya nyawa itu, tapi juga menampakkan rasa waswas, karena ia takut kalau-kalau Suto melakukan kemesraan secara diam-diam dengan Badai Kelabu. Cempaka Ungu menyimpan kecemburuan yang tak mampu diungkapkan karena Suto takpernah memberi sambutan terhadap hasrat hatinya.

Buat Cempaka Ungu, kehadiran Pendekar Mabuk di Pulau Beliung adalah sesuatu yang menggembirakan, juga menjengkelkan. Gembira, karena hatinya terpikat kepada Pendekar Mabuk dan berharap mendapat sambutan hangat dari Pendekar Mabuk itu, menjengkelkan karena Suto tak pernah memberi sambutan hangat yang diharapkan. Tetapi secara jujur Cempaka Ungu mengakui, kehadiran Pendekar Mabuk telah membuat hatinya lupa pada seseorang yang sudah satu tahun menjalin hubungan cinta dengannya.

Pengobatan yang dilakukan Pendekar Mabuk sangat sederhana, tapi membuat Pendekar Mabuk sedikit bingung, ia berpikir beberapa saat, sampai akhirnya Dewa Racun yang berdiri di samping Cempaka Ungu bertanya, "Ap... ap... apa yang ingin kau lakukan, Suto?"

"Memasukkan tuak ini ke dalam mulutnya. Dia tidak bisa menelan apa-apa. Tenggorokannya bagai terkunci. Harus dilakukan dengan paksa."

"Se... sebaiknya kau masukkan tuak itu lewat semburan dari mulutmu," usul Dewa Racun.

"Maksudnya," Cempaka Ungu menyela bicara, "Suto menampung tuak dalam mulutnya, lalu mulutnya dirapatkan ke mulut Badai Kelabu dan tuak di mulut Pendekar Mabuk disemburkan ke dalam mulut Badai Kelabu?"

"Tep.. tep... tepat sekali!"

"Tidak!" sentak Cempaka Ungu dengan cemberut, "Itu tidak baik dan tidak pantas! Penyembuhan itu penyembuhan mesum namanya!"

Suto tahu Cempaka Ungu merasa cemburu, sehingga Suto hanya tertawa geli beberapa saat. Wajah Cempaka Ungu menjadi merah dadu menahan malu, karena kecemburuannya diketahui Suto dan ditertawakannya. "Tapi... terserah dialah!" ucap Cempaka Ungu sambil bersungut-sungut dan palingkan wajah, tak mau memandang.

"Singo Bodong, carikan aku corong untuk memasukkan tuak ke dalam mulut Badai Kelabu!"

"Corong...?!" Singo Bodong berkerut dahi.

"Daun saja!" kata Pendekar Mabuk kemudian. "Ambil daun untuk kita bikin corong, dan tuak ini bisa dimasukkan ke dalam kerongkongan Badai Kelabu memakai bantuan corong daun tersebut!"

"Nah, itu baru pengobatan yang jitu!" sahut Cempaka Ungu lega.

* * *

EMPAT

SUNGGUH sederhana pengobatan itu. Hanya menelan tuak beberapa teguk, lalu istirahat satu malam, esok paginya semua luka memar telah hilang, luka berdarah di betisnya menjadi kering dan nyaris hilang. Badan terasa segar, bahkan Badai Kelabu merasa seperti mendapat kekuatan baru. Lebih lincah dalam bergerak, lebih lega dalam bernapas.

"Hanya dengan tuak...?" gumam Cempaka Ungu didalam hatinya. "Apakah suatu saat nanti kalau aku mengalami luka dalam atau luka luar bisa cepat sembuh hanya dengan minum tuak? Ah, kurasa tuak itu tidak sembarang tuak. Tapi..., seingatku tuak itu diperoleh dari tuak yang diberikan oleh Ibu. Apakah semua tuak yang diberikan oleh Ibu mempunyai khasiat yang begitu tinggi untuk penyembuhan? Hmm...? Mengapa Ibu diam saja dan tak pernah ceritakan hal itu padaku?"

Kalau saja saat itu Pendekar Mabuk mendengar percakapan hati Cempaka Ungu, maka gadis itu pasti akan ditertawakan. Cempaka Ungu berpendapat terlalu sederhana, ia tidak tahu bahwa yang mempunyai khasiat mujarab dan hebat adalah bukan tuaknya, melainkan bumbung tempat menyimpan tuak itu. Sembarang tuak bisa masuk ke bumbung itu, tapi tidak sembarang bumbung bambu yang bisa mengeluarkan khasiat dahsyat seperti itu.

Bumbung bambu itu dulu bekas milik si Gila Tuak semasa mudanya. Bumbung itu diperoleh Sabawana, nama asli Gila Tuak, ketika Sabawana berada dalam penjara bumi. Ia terperosok ke sana dalam satu pengejaran. Musuh yang dikejarnya adalah Yopradigda, yang kemudian bergelar Malaikat Tanpa Nyawa dan dikalahkan oleh Gila Tuak. Yopradigda pada waktu itu berhasil mengubah diri menjadi seekor belalang dan terbang ke sana kemari karena takut tertangkap oleh Sabawana.

Dalam pengejaran itulah Sabawana terperosok dalam lubang sumur yang amat dalam. Ternyata lubang sumur itu adalah lorong sebuah gua. Di dalam sana, Sabawana menemukan beberapa lorong berliku-liku. Ia melangkah menyusuri lorong itu, tapi tak dapat menemukan jalan keluar. Bahkan jalan tempat terperosoknya semula juga tidak bisa ditemukan kembali.

Tak terasa hari berganti hari dan bulan berganti bulan, Sabawana sibuk mencari jalan keluar dan tak pernah berhasil. Itulah sebabnya Sabawana menamakan tempat itu adalah penjara bumi. Tetapi Sabawana tak pernah putus harapan, ia selalu berusaha mencari jalan keluar, ke mana pun arah lorong itu berada ia susuri terus walau sering sekali ia merasa melewati jalan yang pernah dilewati lebih dari tiga kali.

Di dalam penjara bumi itu, Sabawana akhirnya bertapa. Rasa putus asanya dilampiaskan dalam upaya terakhir, yaitu semadi dengan tujuan meminta bantuan kepada Hyang Widi agar ia bisa bebas dari penjara bumi. Di dalam tapanya itu, Sabawana merasa ditemui oleh seorang bocah telanjang berusia antara tiga tahun. Bocah itu berambut tipis, matanya tajam, berkesan bandel dan nakal. Bocah itu bertanya kepada Sabawana,

"Apa yang kamu cari di sini, Kak? Bukankah ilmumu sudah tinggi?"

Sabawana menjawab, "Aku mencari jalan keluar dari penjara bumi ini," sambil menjawab begitu, hati Sabawana bertanya juga, "Siapa sebenarnya anak kecil itu?"

Tetapi anak tersebut malah bertanya, "Siapa namamu, Kak?"

Sabawana yang masih berusia dua puluh dua tahun itu menjawab, "Namaku Sabawana, murid dari Eyang Purbapati."

"O, kakak muridnya Purbapati?"

"Benar, Dik. Siapa namamu dan apakah kau kenal dengan Eyang Purbapati?"

"Sangat kenal Kak. Eyang Purbapati juga pasti kenal denganku jika kau sebutkan nama Wijayasura."

"O, namamu Wijayasura?"

"Benar, Kak."

"Apakah kau bisa membantuku keluar dari dasar bumi ini?"

Bocah kecil yang masih suka menyedot ingusnya itu menjawab sambil tertawa. "Kakak saja yang sudah besar tidak bisa keluar dari penjara bumi, apalagi aku yang masih kecil. Hi hi hi...!"

Sa bawana menahan napas, agak dongkol juga mendengar jawaban yang merupakan satu harapan namun ternyata harapan kosong yang diperolehnya. Tapi bocah itu segera berkata lagi, "Tapi kalau kakak mau menunggu tumbuhnya sebuah pohon bambu hingga bambu itu menjadi besar dan daunnya mengering, kakak akan bisa menemukan jalan keluar dari tempat ini. Ambillah bambu itu dan pakailah sebagai tempat tuak. Karena aku tahu kakak suka minum tuak. Tebanglah bambu besi itu dengan pedangmu, setelah itu jangan lagi kakak gunakan pedang itu. Jelas?"

"Jelas, Dik."

"Sampaikan salamku pada Eyang Purbapati-mu itu!"

Wijayasura mau pergi, tapi Sabawana cepat bertanya, "Dik, di mana tempat tinggalmu sebenarnya?"

"Aku ada di pohon bambu itu!" setelah menjawab begitu, bocah telanjang yang tidak mempunyai pusar itu hilang lenyap dari pandangan mata semadinya Sabawana. Dan seketika itu Sabawana tersentak kaget dari tapanya. Lebih terkejut lagi ketika pandangan matanya menemukan sebuah pohon bambu yang masih kecil, tak jauh dari tempatnya bertapa. Pohon bambu itu aneh. Daunnya hanya tiga lembar, warnanya hijau kehitam-hitaman. Ketika Sabawana mendekat dan ingin memegangnya tiba-tiba tubuhnya terpental mundur, terlempar jauh antara sepuluh kaki dari tempat tumbuhnya pohon bambu muda itu.

"Bocah yang mengaku Wijayasura itu mengatakan bahwa dirinya tinggal di pohon bambu tersebut. Apakah dia menjelma menjadi pohon bambu, atau sebagai penjaga pohon bambu?" pikir Sabawana sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa hampir patah gara-gara terlempar jauh tadi.

Sabawana terpaksa menunggu tumbuhnya pohon bambu tersebut sambil melatih beberapa jurus silatnya. Satu keanehan lagi yang terjadi pada pohon bambu itu terletak pada pertumbuhannya. Pohon tersebut tumbuh dengan pesat. Ganti hari ganti pertumbuhan. Satu hari bertambah panjang satu jengkal. Tetapi warna daunnya tetap hijau kehitam-hitaman dan hanya tiga lembar. Pohon itu tumbuh dengan lurus dan membengkak. Ketika pohon tersebut sudah mencapai ketinggian seukuran tinggi tubuh Sabawana, tiba-tiba daunnya mengering, tapi belum berjatuhan. Pada saat itu, Sabawana mendengar suara gaib yang berjenis suara anak-anak. Suara itu adalah suara Wijayasura.

"Sabawana, jika tiga daun itu telah jatuh dengan sendirinya, tebanglah bagian ujungnya tepat pada ruas pertama, lalu tebang pula tepat pada ruas kedua. Setelah itu, pergilah ke arah mana saja sesukamu, kau akan menemukan jalan keluar. Dan karena aku sudah memberikan jalan keluar padamu, kau harus menyerahkan semua ilmumu kepadaku, karena kau meminjamnya dariku"

Sabawana kurang jelas dengan kalimat terakhir? Tapi ia lebih mementingkan kalimat-kalimat pertama. Pohon bambu harus ditebang bagian pucuk pada ruas pertama, lalu ruas kedua. Padahal pohon bambu yang tumbuh membengkak itu hanya mempunyai tiga ruas. Ruas ketiga adalah bagian pangkal dekat dengan tanah. Ruas ketiga itu jaraknya sangat dekat dengan ruas kedua, kurang dari empat jari. Ruas kedua dengan ruas pertama jaraknya cukup panjang. Sabawana mulai paham, bahwa bocah tanpa pusar yang mengaku bernama Wijayasura itu menghendaki agar Sabawana memanfaatkan bambu di antara ruas pertama dengan ruas kedua sebagai bumbung tempat tuak.

Maka, Sabawana pun mulai menebang bambu berwarna coklat dengan sedikit semburat warna hitam pada bagian ruas keduanya. Tentu saja hal itu ia lakukan setelah tiga lembar daun bambu jatuh ke tanah dan lenyap tanpa bekas. Bambu itu tidak mempunyai kekuatan yang melemparkan tubuh Sabawana ketika didekati. Karenanya, Sabawana bisa menebang dengan bebas dan leluasa. Hanya anehnya, ketika pedangnya dipakai menebang ruas kedua, pedang itu patah bersamaan terpotongnya bambu tersebut.

Tentu saja pedang itu tak bisa digunakan lagi dan ditinggalkan oleh Sabawana di dekat sisa potongan pohon bambu. Dan anehnya lagi, sisa potongan pohon bambu itu menjadi lenyap setelah Sabawana melangkah tiga tindak dari tempatnya menebang tadi. Sabawana mencari-cari bekasnya, tapi tak ditemukan sama sekali. Yang ada hanya sisa pedangnya yang bergagang menyerupai guci tuak berukuran kecil.

Apa yang dikatakan oleh suara gaib dari Wijayasura itu memang benar. Ke mana pun arah yang dituju oleh Sabawana, ia selalu menemukan tempat terang, sebagai jalan keluar dari gua tersebut. Dan ketika ia muncul, ternyata ia berada di lereng sebuah gunung. Gunung itu dikelilingi oleh lautan. Sabawana segera menyimpulkan bahwa gunung itu berada di tengah lautan. Sabawana mengenal gunung itu bernama Karak Kato, yang untuk kemudian hari banyak disebut-sebut orang sebagai Gunung Krakatau.

Cepat-cepat Sabawana pulang ke pesanggrahan gurunya, dan ia menemui Eyang Purbapati, lalu menceritakan pengalamannya. Sabawana baru sadar bahwa ia telah berada di penjara bumi itu selama dua tahun, terhitung dari pamitnya Sabawana kepada sang Guru. Eyang Purbapati terperanjat mendengar cerita Sabawana, kemudian guru Sabawana itu berkata,

"Mestinya kau tidak memanggil bocah kecil itu dengan sebutan Dik. Mestinya kau memanggilnya Eyang."

"Mengapa begitu, Eyang Guru?"

"Karena bocah kecil itu adalah jelmaan dari wujud kecil guruku, yaitu Eyang Wijayasura."

"Oh...?!" Sabawana kaget sekali mendengarnya dan merasa takut.

"Wijayasura adalah nama asli guruku, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bertapa didasar laut di bawah gunung Karak Kato. Eyang Wijayasura adalah manusia tanpa pusar, dan semua ilmuku yang kuturunkan kepadamu adalah ilmu milik beliau. Maka, pesanku kepadamu, Sabawana, jangan turunkan ilmumu kepada siapa pun, kecuali kau menemukan orang atau bocah yang tidak mempunyai pusar. Turunkanlah ilmu itu kepadanya, dan berikanlah bumbung tuak pusaka ini kepadanya, karena ilmu itu sepertinya diminta kembali oleh Eyang Wijayasura melalui suara gaib terakhir yang kau dengar itu..."

Begitulah asal mula bumbung tempat tuak tersebut, yang menurut Eyang Purbapati, di bumbung itulah sukma Wijayasura bersemayam. Dan Sabawana yang kemudian dikenal dengan julukan Si Gila Tuak menemukan bocah tanpa pusar dari keluarga Wiseso yang terbantai kecuali bocah itu. Lalu, Sabawana atau Si Gila Tuak mengangkatnya sebagai murid. Bocah itu bernama Suto, dengan nama lengkap Sutowijaya! Bocah itulah yang kemudian tumbuh sebagai pemuda gagah perkasa dan tampan wajahnya, gemar minum tuak sehingga, mendapat gelar Pendekar Mabuk dan akrab dipanggil dengan nama Suto Sinting, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bocah Tanpa Pusar).

Apakah Sutowijaya adalah titisan dari Wijayasura? Hanya Eyang Purbapati yang bisa menjelaskannya, karena Si Gila Tuak sendiri tidak bisa memastikannya. Yang jelas, Wijayasura menemui ajalnya dengan cara 'muksa', atau lenyap tak berbekas, kecuali pakaiannya. Suto tidak menceritakan pengalaman yang didengar dari mulut si Gila Tuak itu kepada siapa pun. Karena menurutnya, hal itu tidak begitu penting untuk diceritakan kepada siapa pun, untuk menghilangkan kesan menyombongkan diri. Ia hanya mengingat-ingat pesan gurunya, bahwa lebih baik mengutamakan kepentingan orang banyak daripada mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Itulah sebabnya, Suto pun merasa punya kewajiban menolong guru Badai Kelabu yang terancam mati karena terkena pukulan 'Pusaka Tombak Maut'. Hanya saja, Badai Kelabu masih sedikit sangsi dengan kemampuan Suto. Terang-terangan ia berkata,

"Pusaka Tombak Maut adalah pusaka yang ganas dan berbahaya, apalagi di tangan orang-orang angkara murka! Tak pernah ada lawan yang luput dari ancaman maut Pusaka Tombak Maut, menurut cerita guruku. Jika kau ingin mengobati guruku, apakah kau punya pusaka lain yang bisa menandingi racun dari Pusaka Tombak Maut itu? Apakah kau juga mempunyai Batu Galih Bumi, seperti yang dimiliki Nyai Ratu Pekat itu?"

"Aku tidak mempunyai Batu Galih Bumi," jawab Pendekar Mabuk. "Tapi aku percaya bahwa gurumu pasti doyan minum tuak!"

"Kau ini sinting amat? Orang sakit kau suruh minum tuak?"

"Kau pun tadinya terluka parah, dan menjadi sehat seperti pagi ini karena minum tuakku!"

"Aku hanya sakit biasa. Lukaku bukan karena luka terkena senjata Pusaka Tombak Maut, sedangkan guruku sakitnya karena terkena Pusaka Tombak Maut!"

"Tidak ada pusaka yang tidak mempunyai kelemahan? Sama halnya tidak ada orang kuat yang tidak mempunyai kelemahan. Di atasnya orang kuat, ada yang lebih kuat lagi. Di atasnya orang sakti, ada yang lebih sakti lagi. Begitulah falsafah hidup yang mestinya kau sadari, Badai Kelabu!"

Perempuan itu memalingkan wajah, memandang Suto Sinting dengan dahi berkerut, lalu ia ceploskan kata dengan suara pelan, "Jadi kau merasa lebih sakti dari guruku?"

"Aku tidak berkata demikian," jawab Pendekar Mabuk sambil tersenyum bijaksana dan menawan hati setiap perempuan, termasuk hati Badai Kelabu sendiri saat itu.

Badai Kelabu mengambil sebutir batu seukuran biji salak dan berkata, "Batu hitam ini sangat keras. Guruku bisa meremas batu hitam ini dalam satu kali genggaman dan hancur menjadi serbuk-serbuk hitam. Apakah kau bisa melakukan begitu?"

Sambil senyum-senyum Pendekar Mabuk mengambil batu itu dari tangan Badai Kelabu, lalu ia berkata, "Menggenggam batu begini...," Suto menggenggam batu itu, "Dan membuatnya menjadi hancur berbentuk serbuk-serbuk hitam adalah hal yang amat mudah. Tapi apakah gurumu bisa membuat batu ini menjadi kembar dua dalam satu genggaman tangan?"

"Maksudmu, kembar dua bagaimana?"

"Seperti ini!" Suto membuka genggamannya.

Mata perempuan itu terkesiap melihat batu dalam genggaman Suto menjadi dua, sama besar, sama warnanya dan sama bentuknya. Badai Kelabu dibuat melongo mulutnya oleh 'permainan' Suto yang diperolehnya dari ilmu bibi gurunya, yaitu Bidadari Jalang. Badai Kelabu tak mengerti bahwa Pendekar Mabuk mempunyai ilmu sihir dari Bidadari Jalang yang dulu pernah dikenal dengan sebutan Ratu Sihir oleh sekelompok golongan, terutama oleh paratokoh tua di daerah tanah Jawa Wetan. Sebelum habis rasa kagum Badai Kelabu, Suto kembali berkata sambil menggenggam lagi dua batu kembar tersebut,

"Meremas batu agar menjadi hancur hanya dibutuhkan pemusatan tenaga dalam yang dibarengi tersalurnya hawa panas inti dalam tubuh kita. Maka batu pun bisa hancur menjadi serbuk hitam seperti ini...," Suto membuka genggamannya.

Badai Kelabu kerutkan dahi, karena di telapak tangan Pendekar Mabuk ia tidak melihat serbuk hitam hasil dari remasan tangannya. Suto hanya tersenyum ketika Badai Kelabu berkata,

"Tak ada serbuk hitam! Batu itu hilang dari genggamanmu."

"Siapa bilang? Cobalah kau sentuh bagian atas telapak tanganku!"

Badai kelabu menyentuhnya dengan jari telunjuk. Namun sebelum jari telunjuk itu menyentuh kulit telapak tangan Pendekar Mabuk, telunjuk itu merasakan telah menyentuh segumpalan serbuk kasar yang tak terlihat oleh mata. Bahkan Badai Kelabu bisa menjumput serbuk itu dan menabur-naburkan di atas telapak tangan Suto, tapi matanya tak melihat sebutir serbuk pun.

Membatinlah hati Badai Kelabu, "Luar biasa kehebatan ilmunya. Serbuk ini bisa menjadi senjata untuk menaburi mata lawan, toh lawan tidak melihat ada serbuk yang akan ditaburkan?! Rasa-rasanya Guru tak mungkin bisa melakukan hal seperti ini! Rasa-rasanya ilmu Pendekar Mabuk lebih tinggi daripada ilmunya Guru. Ya, ya... sekarang aku percaya, dia pasti bisa mengatasi luka-luka yang diderita Guru!"

Pendekar Mabuk segera ajukan tanya, "Apakah kau masih sangsi dengan kesanggupanku untuk menyembuhkan sakit yang diderita gurumu?"

Badai Kelabu berkata, "Untuk satu hal ini, kuakui kau lebih unggul dari guruku. Tapi untuk penyembuhan, aku masih sangsi. Hanya saja, tak ada jeleknya jika aku mencoba membawamu ke Pulau Hitam dan memberi kesempatan padamu untuk menyembuhkan Guru. Tetapi aku minta satu jaminan darimu, Suto."

"Jaminan apa maksudmu, Badai Kelabu?"

"Jika Guru tak bisa sembuh, kau harus rela menyerahkan nyawamu ke tanganku. Kau harus mau kubunuh!"

Suto Sinting tertawa sambil mengambil bumbung tuaknya. Tawanya terhenti dan ia berkata, "Nyawaku tidak semurah itu!"

"Karena aku juga punya jaminan!" kata Badai Kelabu.

Suto meneguk tuaknya beberapa kali, kemudian baru bertanya, "Jaminan apa?"

"Jika guruku bisa sembuh, kupasrahkan jiwa ragaku kepadamu!"

"Jika aku tidak mengobati gurumu, apakah kau yakin tak akan memasrahkan jiwa ragamu kepadaku?"

Badai Kelabu diam tersekap malu. Wajahnya semburat merah dadu karena menahan malu. Pendekar Mabuk menertawakannya dengan mata tetap memandang kepada perempuan itu. Yang dipandang jadi salah tingkah. Matanya menatap ke mana saja, sampai akhirnya ia kembali menatap Suto dan berkata,

"Baiklah. Kita tak perlu saling ada jaminan seperti itu! Akan kucoba membawamu kepada Guru, walau nantinya Guru akan murka padaku karena aku tak mendapatkan Batu Galih Bumi!"

"Murka gurumu bisa kuredakan! Tapi kumohon jangan lagi kau berusaha merebut ataupun mencuri Batu Galih Bumi, karena itu bukan hakmu, bukan pula hak gurumu. Ratu Pekat yang berhak memiliki Batu Galih Bumi itu! Jika kau merebutnya, berarti kau merusak persahabatanmu dengan Ratu Pekat, bahkan bisa jadi merusak nyawamu sendiri. Sebab aku tahu, kau bukan tandingan Ratu Pekat, ilmumu masih jauh di bawahnya."

"Kau bermaksud menghinaku?"

"Tidak. Aku tidak bermaksud menghinamu atau merendahkan kamu. Tapi aku bermaksud memacu semangatmu agar terus menuntut ilmu setinggi mungkin, supaya kau tidak direndahkan oleh orang lain!"

Badai Kelabu akhirnya hempaskan napas panjang, lalu berkata, "Sulit sekali membantah kata-katamu. Sebaiknya memang kita segera bertolak dari pulau ini menuju Pulau Hitam. Sebaiknya... sebaiknya aku memeriksa perahu dulu sebelum berangkat!"

"Aku hanya akan membawa Dewa Racun. Mungkin dia bisa membantuku!"

Tanpa diketahui oleh mereka, sepasang mata memperhatikan percakapan itu dan mencuri dengar semuanya. Sepasang mata itu adalah milik Cempaka Ungu yang berwajah berang.

* * *

LIMA

BARU saja menapakkan kakinya di pasir pantai, Badai Kelabu sudah mendapat serangan dari arah belakang. Hembusan angin panas terasa melesat mendekati punggungnya. Badai Kelabu cepat sentakkan kaki dan melesat ke samping. Wuttt...! Dan ia berada di atas sebuah batu dalam kejap berikutnya.

Beggh...! Pukulan tenaga dalam berhawa panas itu mengenai pasir pantai. Pasir itu menyembur ke atas dan berhamburan tertiup angin lautan. Sebagian ada yang memercik di kaki Badai Kelabu. Sesosok bayangan melesat dari balik rimbunan pohon pantai. Bayangan itu berwarna ungu. Dengan cepat Badai Kelabu mengenali bayangan tersebut. Pasti Cempaka Ungu!

Jlegg...!

Lompatan Cempaka Ungu terjadi dua kali. Satu kali ia melompat dan hinggap di pasir pantai, satu kali lagi ia melompat dan hinggap di atas sebuah batu berukuran tinggi satu tombak, sama dengan ukuran tinggi batu yang dipakai berpijak Badai Kelabu.

"Kau lagi!" geram Badai Kelabu, ia berani menggeram jengkel karena sejak peristiwa pertarungannya dengan Ratu Pekat, Cempaka Ungu sudah tidak lagi menampakkan sikap bersahabat dengannya. Cempaka Ungu sendiri merasa bermusuhan dengan Badai Kelabu karena beberapa hal yang menjengkelkan hatinya.

"Apa maksudmu menyerangku, Cempaka Ungu?"

"Mestinya kau sudah tahu, bahwa aku sudah tidak menyukaimu lagi!" jawab Cempaka Ungu dengan sinis dan ketus.

"Aku tak merasa rugi tidak disukai orang macam kamu!" balas Badai Kelabu tak kalah ketus dan sinisnya. Keduanya saling berhadapan dalam jarak delapan langkah.

"Jika begitu, sebaiknya kumusnahkan saja dirimu, Badai Kelabu!"

Srett...! Cempaka Ungu mengawali mencabut pedangnya.

"Tunggu dulu! Apa alasanmu sehingga bernafsu sekali untuk membunuhku, Cempaka Ungu? Apakah kau masih menyangka aku akan merebut atau mencuri Batu Galih Bumi milik ibumu itu?"

"Aku sudah tidak berpikir hai itu lagi, Badai Kelabu! Karena aku tahu, kau tak akan mampu merebutnya dari tangan ibuku! Kalau bukan karena Pendekar Mabuk yang menahan pukulan ibuku, nyawamu sudah melayang sejak kemarin sore, Badai Kelabu!"

"Lalu, apa masalahnya sehingga kita harus bertarung disini?!"

"Hmmm..., kau takut rupanya?!" Cempaka Ungu tersenyum sinis.

"Takut melawanmu sama saja takut melawan bocah ingusan! Sama sekali tak ada gentar di hatiku untuk melawanmu, Cempaka Ungu! Tapi sebelum aku membelah kepalamu, lebih dulu aku ingin tahu apa alasanmu sehingga kamu sangat bernafsu mati di tanganku?!"

"Pertanyaan yang sombong!" geram Cempaka Ungu. "Badai Kelabu! Kalau kau ingin tinggalkan pulauku ini, cepatlah pergi dan tak perlu membawa Pendekar Mabuk itu!"

"Aku harus pergi dengan membawanya! Karena dia yang akan menjadi tabib untuk guruku!"

"Persetan dengan gurumu, Badai Kelabu! Suto harus tetap di sini!" sentak Cempaka Ungu.

"Kau tidak berhak menentukan dia harus ada di mana! Kau bukan apa-apanya, Cempaka Ungu!"

"Memang! Tapi dia punya kepentingan dengan ibuku di pulau ini!"

"Apakah ibumu jatuh cinta kepada Pendekar Mabuk? Oh, alangkah pikunnya ibumu itu, sudah tua masih cari yang muda! Serakah sekali dia?!"

"Tutup mulutmu, Badai Kelabu! Sekali lagi kau menghina ibuku, kutebas lehermu tanpa ampun lagi!" Cempaka Ungu menjadi gusar.

"Kau pikir mudah menebas batang leherku, Bocah ingusan?! Ilmu pedangmu masih cetek dan tak sebanding dengan ilmu pedangku!" sentak Badai Kelabu. Lalu, ia pun mencabut pedangnya. Srett...!

"Jangan kau meremehkan aku, Badai Kelabu! Kau akan menyesal jika sudah tahu setinggi apa ilmu pedangku!"

"Buktikan di depan mataku! Jangan hanya bisa berkoar saja!" tantang Badai Kelabu dengan lantang.

Cempaka Ungu semakin panas hati mendengar tantangan itu, maka ia pun berseru, "Benar-benar cari mampus kau, hiaaat...!"

"Hiaaahh...!"

Cempaka Ungu sentakkan kakinya dan tubuhnya pun melenting di udara dengan berjungkir balik satu kali. Badai Kelabu pun cepat melesat ke udara dan berjungkir balik satu kali, lalu keduanya saling membabatkan pedang ke arah lawan masing-masing.

Trang trang trang...!

Gerakan pedang Cempaka Ungu cukup cepat, tapi Badai Kelabu tak kalah cepat dengan gerakan itu. Pedangnya menangkis setiap sabetan pedang dari Cempaka Ungu. Lalu, kaki kanannya sempat menendang ke belakang saat tubuh mereka saling melintas lewat.

Begg...!

Badai Kelabu mendaratkan kakinya di tempat berdirinya Cempaka Ungu tadi, yaitu di atas batu. Sedangkan Cempaka Ungu hampir saja tersungkur akibat tendangan kaki lawannya yang mengenai bagian pinggang kanan, ia berhasil mendarat di atas batu bekas tempat berdiri Badai Kelabu dengan sedikit sempoyongan, nyaris jatuh kebawah.

Segera Cempaka Ungu membalikkan badan, dan menghirup napas panjang-panjang. Pada saat itu, Badai Kelabu pun sudah siap berdiri menantang serangan berikutnya. Untuk sesaat Cempaka Ungu tidak bicara, karena ia harus segera menahan napasnya untuk menahan rasa ngilu di sekujur tulang iganya akibat tendangan Badai Kelabu tadi.

"Bagaimana? Tersumbatkah napasmu karena tendanganku?" ejek Badai Kelabu dengan senyum sinisnya.

"Hmm..., terlalu ringan tendanganmu! Adakah yang lebih hebat lagi dari tendangan seekor kucing mabuk tadi?" Cempaka Ungu tak mau kalah ejek, walau sebenarnya dalam hati Cempaka Ungu mengakui beratnya tendangan lawan.

"Ha ha ha ha... kau boleh berkata begitu, tapi aku tahu kau sedang menahan rasa sakit, Cempaka Ungu. Kulihat wajahmu menjadi pucat dan keringat dinginmu keluar di bagian keningmu!"

"Sial! Dia mengetahui keadaanku!" geram Cempaka Ungu dalam hatinya. Karena rasa malu, maka tanpa bicara apa-apa lagi, ia segera sentakkan kaki dan kembali menerjang ke arah lawannya. "Hiaaat...!"

Wugggh...! Wugggh...!

Dua sosok manusia perempuan itu saling terjang kembali di udara. Pedang mereka saling dikibaskan dengan cepat.

Trang trang trang...! Buhgg...!

Jleg...! Cempaka Ungu mendaratkan kakinya di tanah, ia telah berhasil menyodok bagian bawah ketiak lawannya dengan siku yang berkekuatan tenaga dalam. Sodokannya tadi terasa terkena telak. Itulah sebabnya ia membalikkan tubuh dengan tersenyum angkuh.

Badai Kelabu berhasil berdiri dengan tegak walau tadi saat mendaratkan kakinya di atas batu tempat berdirinya Cempaka Ungu itu hampir saja ia terjungkal jatuh. Sodokan keras bertenaga dalam terasa meremukkan tulang rusuk dan menahan jalur pernapasannya. Tetapi ia masih mampu menahan dengan mengeraskan seluruh urat yang ada di sekitar bagian bawah ketiak.

"Hai, wajahmu merah, Badai Kelabu! Sebentar lagi kau rubuh karena sodokan sikuku tadi!" ledek Cempaka Ungu.

Badai Kelabu paksakan diri untuk tersenyum dari atas batu, lalu ia berkata, "Wajahku merah karena menahan nafsu untuk membunuhmu!"

"Kenapa tidak kau lakukan?" tantang Cempaka Ungu.

"Kupikir, sia-sia membunuh anak kemarin sore!"

"Kalau nyatanya kau tak mampu membunuhi anak kemarin sore, mengapa harus merasa sia-sia?"

"Karena aku punya urusan yang lebih penting daripada melayani kenakalan anak kemarin sore! Aku harus segera kembali membawa serta Pendekar Mabuk itu untuk menjadi tabib bagi guruku!"

"Itu hanya impian kosong, Badai Kelabu! Langkahi dulu mayatku, baru kau bisa membawa pergi Pendekar Mabuk dari pulau ini!"

"Keparat kau! Bocah tak tahu diuntung!" hardik Badai Kelabu dengan membelalakkan matanya yang ganas, ia pun segera mengangkat pedangnya ke atas, lalu ditarik turun dalam satu sentakan kuat, dan disentakkan kembali ke depan, ke arah Cempaka Ungu. Dan tiba-tiba dari ujung pedang itu terlepaslah sinar merah cerah dengan gerakan secepat kilat.

Zuittt...!

Cempaka Ungu terkesiap sejenak. Cepat-cepat ia hadangkan pedangnya untuk menangkis sinar merah cerah itu.

Dubbbh...!

"Aaahg...!" Cempaka Ungu tersentak ke belakang dan jatuh terlentang. Sinar merah memang berhasil ditahan dengan menggunakan pedangnya yang kedua ujungnya dipegang dengan dua tangan. Tapi begitu besarnya tenaga dorong yang datang dari sinar merah itu, sehingga tubuh Cempaka Ungu tak sanggup bertahan untuk tetap berdiri, ia terpental ke belakang dalam keadaan sebagian rambutnya terbakar karena terkena percikan api sinar merah tadi. Bau rambut terbakar sangat kuat menusuk hidungnya.

Melihat lawannya jatuh, Badai Kelabu segera lompat dari atas batu ke tanah. Jlegg...! Pada saat itu, Cempaka Ungu sedang bergegas untuk bangkit. Maka dengan cepat Badai Kelabu berlari menyerang dan akhirnya melompat menerjang lawan dengan pedang lurus ke depan. "Hiaaaaat...!"

Cempaka Ungu tak sempat menghindar, karena ia baru saja sadar. Dengan gerakan cepat ia kibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan menangkis pedang Badai Kelabu.

Trang trang...! Brreet...!

"Auh...!" Cempaka Ungu terpekik, ia tak menyangka kalau gerakan tubuh Badai Kelabu akan melesat ke atas ketika tiba di depannya. Tubuh Badai Kelabu itu melenting di udara dan bergerak menukik dalam satu kibasan pedang. Pedang itu berhasil menyabet pundak Cempaka Ungu dan tubuh yang menukik itu cepat kembali pada posisi biasa, lalu mendarat di belakang Cempaka Ungu.

Pundak Cempaka Ungu robek akibat sabetan pedang. Lukanya cukup lebar dan mencucurkan darah segar. Badai Kelabu mengangkat pedangnya dari samping dan segera menebas ke leher lawannya yang sedang memunggungi dengan mengerang kesakitan.

Wess...! Trang...!

Tiba-tiba pedang Badai Kelabu tak jadi menyentuh leher Cempaka Ungu. Pedang itu membalik ke arah semula, bahkan tubuh Badai Kelabu itu terbawa hentakan gelombang yang membuat pedangnya terpental ke samping. Tubuhnya pun terbawa terpental dan jatuh berguling, lalu cepat bangkit dengan satu kaki masih berlutut, pedang berdiri tegak di depannya, digenggam dengan dua tangan.

"Setan! Ada yang ikut campur urusanku!" geramnya dalam hati. Matanya mencari sekeliling yang tampak sepi. Tapi ketika ia memandang ke arah perairan pantai, ia melihat sebuah perahu warna merah mendekati pantai. Penumpangnya empat orang lelaki yang sedang memandang ke arah pertarungan tadi.

"Hmm... siapa mereka?" gumam hati Badai Kelabu. "Pasti satu dari mereka yang tadi menahan gerakan pedangku dan menghentakkan dengan kekuatan jarak jauh yang cukup tinggi!"

Terdengar suara Cempaka Ungu berseru kepada salah satu penumpang perahu merah, sambil mendekap lukanya yang masih berdarah, "Sanjaya...!" Cempaka Ungu berlari menyambut perahu merah itu.

Empat lelaki di atas perahu merah, hanya satu yang turun dan segera menyambut langkah kaki Cempaka Ungu yang limbung dan hampir jatuh. Tubuh Cempaka Ungu segera ditahan oleh lelaki muda berkumis tipis itu.

"Cempaka! Kau terluka?!" Sanjaya yang berpakaian merah tua dari bahan kain beludru dan bermanik-manik perak hias itu tampak tegang melihat luka dipundak Cempaka Ungu.

"Dia... dia...," Cempaka kesakitan, ia sulit bicara. "Penghulu Petir! Rawat kekasihku ini!" seru Sanjaya kepada satu dari ketiga orang di atas perahu merah tersebut, ia sendiri segera berlari menemui Badai Kelabu yang masih siap menghunus pedang di tangan, berdiri dengan kaki tegak, bagai menunggu kedatangan lawannya.

"Beraninya kau melukai kekasihku, hah?! Siapa kau sebenarnya, Perempuan Dungu?!" sentak Sanjaya.

Badai Kelabu mengernyitkan alis. Ia pandangi sesaat pria yang berompi merah dengan mengenakan baju lengan panjang komprang warna hitam, celananya pun merah dihiasi rajutan benang putih perak yang membentuk hiasan. Rambutnya sedikit panjang bergelombang dengan ikat kain beludru merah bermanik-manik putih perak. Tubuhnya tinggi, tegap dan kekar. Sebilah keris bergagang kayu merah terselip di balik sabuk-nya yang berwarna merah pula. Keris itu tepat ada di depan perutnya dan siap untuk dicabut sewaktu-waktu.

"Sebelum kau tahu namaku, terlebih dulu aku ingin tahu siapa dirimu dan apa hubungannya dengan Cempaka Ungu?" tanya Badai Kelabu dengan sikap tenang.

"Sudah kubilang tadi, Cempaka Ungu adalah kekasihku! Namaku Sanjaya, bergelar Pangeran Berdarah!"

"Cukup asing namamu itu di telingaku! Pangeran Berdarah...?! Sebuah nama yang belum kondang, tentunya!" ejek Badai Kelabu.

Pangeran Berdarah merasa terhina dan menggeram gusar. Wajahnya yang tampan kelihatan buas dan liar. Segera ia sentakkan tangan kanannya ke arah sebuah batu, wuut...! ia lepaskan pukulan tenaga dalamnya ke sana. Badai Kelabu hanya melirik dengan menyimpan rasa heran, ia sangka Pangeran Berdarah memamerkan ilmunya. Batu itu tidak pecah. Badai Kelabu sunggingkan senyum tipis meremehkan. Tapi belum habis senyumnya, tiba-tiba ia merasakan gelombang hawa panas mendekatinya dengan gerakan cepat, arahnya dari batu yang habis dihantam Pangeran Berdarah.

Wuusss...! Beeghh...!

Badai Kelabu terjungkal jatuh dan berguling-guling bagai dilanda angin topan yang bertenaga besar. Rupanya pukulan yang dilepaskan Pangeran Berdarah itu sengaja dipantulkan melalui batu tersebut untuk mengecohkan lawan, sehingga lawan menjadi kelabakan.

"Edan! Ini jurus yang aneh!" pikir Badai Kelabu. "Hampir saja dadaku jebol terkena pukulan itu kalau tak segera kuikuti gerakan dorongnya. Tak kusangka pukulan itu memantul ke arahku, sehingga aku hanya bisa menahan napas untuk bertahan menerima hembusan hawa panasnya itu. Kalau tidak kutahan napasku, habislah aku dibakar gelombang hawa panas yang memantul itu! Agaknya aku harus berhati-hati melawan orang satu ini!"

"Bangun kau, Perempuan Dungu!" sentak Pangeran Berdarah. "Hadapilah aku jika kau memang berilmu tinggi! Rasa-rasanya kau memang tak sebanding melawan Cempaka Ungu! Akulah lawanmu!"

Badai Kelabu cepat sentakkan kakinya dalam posisi bersimpuh, dan tiba-tiba tubuh itu telah melayang dengan ringannya, pedangnya segera ditebaskan ke arah kepala Pengeran Berdarah. Wueesss...!

Pangeran Berdarah hanya menghindar ke samping dan membiarkan pedang itu menebas tempat kosong. Tetapi kejap berikutnya, Pangeran Berdarah cepat hantamkan pukulannya ke arah gugusan batu. Wuttt...! Begitu Badai Kelabu pijakkan kakinya ke tanah, ia telah mendapat serangan pukulan tenaga dalam yang memantul dari batu itu.

Wuugggh...!

Beggh...!

"Ehhg...!" Badai Kelabu tersentak karena punggungnya terkena pukulan pantul tersebut. Tubuhnya melengkung kedepan dengan kepala terdongak, mulut ternganga melepaskan pekik tertahan.

Pada saat itu, Pangeran Berdarah cepat sentakkan kakinya ke depan dengan kekuatan penuh untuk menendang perut Badai Kelabu. Kemungkinan perut itu akan jebol karena Pangeran Berdarah menggunakan jurus tendangan 'Turangga Sakti'. Sayangnya, sebelum kaki itu menyentuh kulit tubuh Badai Kelabu, sebuah pukulan jarak jauh dilepaskan oleh seseorang dan menghantam mata kaki Pangeran Berdarah.

Duuggh...!

"Auh...!" Pangeran Berdarah terpekik. Kerasnya pukulan jarak jauh yang menghantam mata kaki itu membuat kaki tersebut tersentak hingga memutar tiga kali dengan cepat. Kemudian Pangeran Berdarah jatuh dalam keadaan pusing karena berputar cepat tiga kali, dan ia sedikit menyeringai karena merasakan mata kakinya bagaikan mau pecah.

"Hiaaat...!" terdengar pekik tiga orang yang segera melompat diri turun dari perahu merahnya. Mereka adalah Penghulu Petir, si Latah Lidah dan Jalak Putih. Mereka sama-sama hendak menyerang dua orang yang salah satunya tadi mengirimkan pukulan jarak jauh dan mengenai mata kaki Pangeran Berdarah. Tetapi, gerakan ketiga orang yang memihak Sanjaya itu segera terhenti karena seruan dari Cempaka Ungu.

"Tahan...!"

Hanya satu seruan, mereka bertiga sepakat hentikan langkah. Tapi mata mereka masih tajam memandangi wajah Pendekar Mabuk dan Dewa Racun. Orang yang mengirimkan pukulan jarak jauh tadi adalah Suto Sinting, yang dengan tenangnya berjalan mendekati mereka sambil menyempatkan diri menenggak tuaknya beberapa teguk.

Pangeran Berdarah masih bisa bangkit walau sedikit pincang, ia mendekati Suto dan membentak, "Siapa kau?!"

"Siapa...?!" bentak si Latah Lidah mengikuti suara keras yang membuatnya latah ikut membentak.

"Cempaka Ungu tentunya bisa menjelaskan siapa diriku dan siapa temanku ini," kata Suto dengan kalem, sambil ia menepuk-nepuk pundak Dewa Racun, tapi tepukannya dikibaskan oleh Dewa Racun, ia tak suka ditepuk pundaknya.

"Jawab saja pertanyaanku!" bentak Pangeran Berdarah.

"Ya. Jawab...!" si Latah Lidah membentak pula. "Jangan kau memancing persoalan denganku, tahu?!"

"Tahu!" jawab si Latah Lidah. Pangeran Berdarah cepat pandangkan mata padanya, si Latah Lidah cepat menutup mulutnya dengan rasa malu dan bersalah.

Cempaka Ungu menggenggam lukanya dan mendekati mereka, ia segera berkata kepada Pangeran Berdarah, "Tahan amarahmu, Sanjaya! Mereka berdua bukan musuhku!"

"Tapi dia melumpuhkan tendanganku! Dia harus kubalas!"

"Harus!" bentak si Latah Lidah, sepertinya tak boleh mendengar suara keras yang menyentak, karena dia akan menirukan ucapan itu walau tak mengerti maksudnya.

"Balaslah pada perempuan busuk itu!" geram Cempaka Ungu sambil menuding Badai Kelabu yang berusaha bangkit dari jatuhnya.

"Cempaka," kata Pendekar Mabuk sambil memperhatikan luka di pundak perempuan itu, "Kenapa pundakmu?! Kau terluka? Oleh siapa, Cempaka?!"

"Badai Kelabu ingin membunuhku, Suto!" Cempaka mengadu.

Suto mau meraih pundak yang terluka itu, tapi Pangeran Berdarah cepat membentak, "Jangan sentuh dia!"

"Jangan! Jangan sentuh dia! Aku saja! Eh... anu... anu...!" si Latah Lidah kebingungan sendiri setelah menyadari ucapannya, ia menutup mulut dengan tangannya, sementara Penghulu Petir segera menyeretnya, menjauhi mereka ke suatu tempat di bawah pohon teduh.

* * *

ENAM

PERSOALAN itu ditengahi oleh Ratu Pekat. Pada dasarnya, Cempaka Ungu tak mengizinkan Pendekar Mabuk meninggalkan Pulau Beliung, sebab takut jika sewaktu-waktu datang serbuan dari Siluman Tujuh Nyawa. Walau sebenarnya Ratu Pekat tahu, bahwa putrinya itu cemburu jika Pendekar Mabuk pergi bersama Badai Kelabu, tapi ia berlagak tidak tahu menahu maksud hati Cempaka Ungu yang sebenarnya.

Badai Kelabu sendiri merasa perlu mempertahankan rencananya, yaitu membawa Suto Sinting ke Pulau Hitam untuk menyembuhkan gurunya. Tapi ia harus menyingkirkan Cempaka Ungu lebih dulu, karena Cempaka Ungu dianggap ingin menggagalkan rencana tersebut, yang berarti ingin membiarkan guru Badai Kelabu mati karena racun berbahaya dari Pusaka Tombak Maut.

Pendekar Mabuk terpaksa mengobati luka di pundak Cempaka Ungu dengan meminumkan air tuaknya. Ratu Pekat tak begitu cemas dengan luka itu. Ia bahkan segera alihkan pembicaraan kepada Pangeran Berdarah yang datang bersama tiga orang temannya itu. Ratu Pekat belum mengenal ketiga teman Pangeran Berdarah, sehingga hal itu perlu dipertanyakan.

"Apa maksudmu datang kemari dengan membawa tiga orang itu, Sanjaya? Aku belum mengenal siapa mereka!"

"Ibu Ratu," kata Pangeran Berdarah dengan sopan, "Saya mohon Ibu Ratu tidak menaruh curiga kepada tiga teman saya itu, mereka adalah Jalak Putih, si Latah Lidah dan Penghulu Petir. Mereka yang akan membantu saya dalam mengejar larinya Tapak Baja. Pusaka milik Guru saya telah dicuri oleh Tapak Baja dan..."

"Aku sudah mendengar," sahut Ratu Pekat. "Pusaka Tombak Maut milik gurumu Ki Jangkar Langit, telah berada di tangan Tapak Baja, si Nakhoda Kapal Neraka itu."

Pendekar Mabuk dan Dewa Racun diam saja. Tapi Dewa Racun manggut-manggut dan baru tahu bahwa Pangeran Berdarah adalah murid dari Ki Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut itu. Pendekar Mabuk pun baru tahu hal itu, tapi ia sepertinya tidak begitu peduli siapa Pangeran Berdarah, ia meneguk tuaknya sambil mengikuti percakapan tersebut.

Pangeran Berdarah berkata kepada Ratu Pekat, "Saya datang kemari di samping untuk menengok keadaan Cempaka Ungu dan Ibu Ratu, juga mencari tahu ke mana jejak kepergian si Tapak Baja itu. Sebab Guru tidak akan bisa tenang dalam menghabiskan sisa hidupnya jika Pusaka Tombak Maut itu belum kembali ke tangan beliau. Saya tidak diizinkan pulang menghadap beliau, jika Tombak Maut belum berhasil ditemukan. Jadi saya harus mencarinya ke segala penjuru dengan bantuan tiga teman saya yang pernah saya tolong dalam menghadapi beberapa persoalan pribadinya itu, Ibu Ratu."

"Watak seorang murid yang baik," kata Ratu Pekat. "Ki Jangkar Langit pasti suka mempunyai murid seperti kamu, Sanjaya. Tapi ketahuilah, jangan sekali-kali kau mencoba berhadapan dengan murid si Gila Tuak"

"Maaf, Ibu Ratu," potong Sanjaya dengan rasa penasaran. "Apakah di sini ada orang yang mengaku murid si Gila Tuak? Seingat saya, Ki Jangkar Langit tidak pernah mengatakan bahwa Gila Tuak mempunyai murid. Jangan sampai Ibu Ratu terkecoh oleh pengakuan palsu."

"Pemuda yang sejak tadi minum tuak itulah murid si Gila Tuak!" jawab Ratu Pekat.

Kemudian, mata Pangeran Berdarah menatap Pendekar Mabuk dengan sorot pandangan sinis dan meremehkan. Suto duduk berseberangan dengan Pangeran Berdarah. Pendekar Mabuk selalu duduk bersimpuh, tak mau duduk bersila. Dengan begitu tubuhnya selalu kelihatan tegap dan sikapnya senantiasa siap siaga.

"Benarkah kau murid si Gila Tuak, teman dari guruku itu?" tanya Pangeran Berdarah kepada Pendekar Mabuk.

"Benar," jawab Pendekar Mabuk pendek. Tapi matanya tetap memandang lurus ke arah mata Pangeran Berdarah yang tampak tidak percaya dengan pengakuan tersebut.

Diam-diam pangeran berhidung bangir itu melepaskan kekuatan tenaga dalamnya melalui gerakan jari telunjuknya. Jari telunjuk itu bergerak maju, mendorong tubuh Pendekar Mabuk dari jarak jauh. Tapi Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum tenang sambil matanya tetap memandang Pangeran Berdarah.

Pangeran Berdarah yang duduknya bersila di lantai marmer yang licin itu tanpa sadar telah bergeser mundur pelan-pelan. Makin lama semakin mundur, semakin menjauhi tempatnya semula, dan begitu sadar ia sudah ada ditepian serambi istana. Sementara itu Pendekar Mabuk tetap duduk bersimpuh di tempatnya. Pangeran Berdarah bergegas maju lagi dengan sikap malu sekali, karena setiap mata memperhatikan gerakan mundurnya yang bagai didorong oleh suatu tenaga dari jarak jauh. Niatnya ingin menumbangkan Pendekar Mabuk, tapi kenyataannya bahkan dirinya sendiri yang terdorong sampai jauh.

Ratu Pekat tersenyum tipis ketika Pangeran Berdarah duduk bersila lagi di depannya. "Masih ingin mencoba kekuatan ilmu Pendekar Mabuk itu?"

"Hmmm... anu... tidak, Ibu Ratu!" jawab Pangeran Berdarah dengan rasa malu yang sukar ditutupi lagi. Dalam hati Pangeran Berdarah berkata, "Mungkin dia memang murid si Gila Tuak. Kekuatan sikap duduknya justru membuat tubuhku sendiri yang terdorong. Gila! Pandangan matanya begitu tajam walau tampak lembut, tapi menembus sampai ke dalam hatiku, membuatku menjadi gentar menghadapinya. Hmmm... untung tadi di pantai aku tak jadi melabraknya. Dan pantaslah kalau pukulan jarak jauhnya membuat tubuhku tersentak berputar tiga kali!"

Setelah Pangeran Berdarah mendengar cerita tentang peristiwa yang membuat istana bermandikan darah, ia pun segera mengambil kesimpulan yang diajukan sebagai usul kepada Ratu Pekat, yang dianggap calon mertuanya itu, "Jika benar ada dugaan bahwa anak buah Siluman Tujuh Nyawa akan datang menyerang dan merebut pulau ini dari kekuasaan Ibu Ratu, maka sebaiknya saya dan tiga teman saya itu akan tinggal di sini beberapa waktu. Biarlah Pendekar Mabuk pergi menyembuhkan gurunya Badai Kelabu. Sebelum dia kembali, kami masih tetap di sini, sambil menunggu siapa tahu Tapak Baja yang datang ke pulau ini dan ditugaskan menghancurkan pulau ini. Sayalah yang akan menghadapinya, Ibu Ratu!"

"Bagaimana menurutmu, Pendekar Mabuk?" tanya Ratu Pekat.

"Itu gagasan yang bagus," jawab Pendekar Mabuk.

"Boleh saya bicara, Nyai Ratu?" kata Mata Elang tiba-tiba.

Nyai Ratu anggukkan kepala dan berkata, "Bicaralah!"

"Bukankah menurut pendapat Nyai Ratu sendiri, Tapak Baja adalah orang yang kuat, bengis dan kejam?"

"Memang benar."

"Apakah kita cukup mampu menghadapi dia, jika sewaktu-waktu dia datang tanpa ada Pendekar Mabuk di sini?"

"Kenapa tidak?" sahut Pangeran Berdarah. "Saya sudah mendapat jurus untuk menghadapi Pusaka Tombak Maut, Ibu Ratu. Sebelum saya ditugaskan mencari Pusaka Tombak Maut dan merebutnya dari tangan Tapak Baja, Guru telah lebih dulu mengajarkan bagaimana cara menghadapi orang bersenjata Pusaka Tombak Maut itu. Jika pusaka tersebut sudah bisa saya rebut, saya pun bisa menggunakannya untuk melenyapkan Tapak Baja, Ibu Ratu!"

"Bagus! Kurasa kita tak perlu cemas lagi, Mata Elang!" kata Ratu Pekat kepada pengawal pribadinya itu.

Penghulu Petir, yang sejak tadi duduk dibelakang agak samping dari Badai Kelabu, segera menyumbang kata, "Tapak Baja memang keji dan ganas. Kabar terakhir yang saya terima, bahwa dari sejumlah dua puluh tujuh orang anak buahnya dalam Kapal Neraka itu, sekarang tinggal satu orang, yaitu yang bernama Hantu Laut. Dua puluh enam anak buahnya itu kebanyakan mati di tangan Tapak Baja sendiri. Tetapi dengan adanya Pangeran Berdarah dan kami bertiga di sini, Ratu tidak perlu cemas lagi. Kami mampu menghadapi Tapak Baja dan Hantu Laut. Kami sudah perhitungkan kekuatan mereka, dan kami sudah atur satu rencana perlawanan sendiri!"

Semua mata tertuju pada orang berusia lima puluh tahun yang berambut abu-abu itu. Rambutnya pendek, tubuhnya kurus, matanya sedikit sipit, ia mengenakan jubah panjang warna ungu tua yang sudah kumal, tanpa mengenakan baju dalam, tapi memakai celana abu-abu dengan ikat pinggang kain putih. Jubahnya itu tak pernah ditutup, sehingga tulang iganya tampak bertonjolan, ia bersenjata sabit yang panjang gagangnya tiga jengkal. Tapi melihat penampilannya yang kalem, ia berkesan orang berilmu tinggi. Kesannya itu seakan merupakan jaminan tersendiri bagi kekuatan baru yang akan membentengi Pulau Beliung.

"Nyai Ratu," kata Suto. "Saya rasa sekarang sudah jelas, di sini ada kekuatan-kekuatan baru yang siap menghadapi kedatangan orang-orangnya Siluman Tujuh Nyawa. Rasa-rasanya kita tak perlu cemaskan lagi kekuatan di sini, dan saya akan segera berangkat ke Pulau Hitam bersama Dewa Racun dan Badai Kelabu."

"Baik. Berangkatlah! Lalu, bagaimana dengan satu temanmu yang mirip Dadung Amuk itu?"

"Saya titip Singo Bodong sebentar. Biar dulu dia disini, saya akan jemput dia lagi setelah selesai sembuhkan sakitnya guru Badai Kelabu!" kata Suto. Setelah acara pamitan itu selesai, Suto pun segera menemui Singo Bodong.

"Singo Bodong, kau kutinggal di sini sebentar. Bantulah mereka sebisamu."

"Kau akan pergi ke mana, Pendekar Mabuk?"

"Ke Pulau Hitam, menyelamatkan seseorang yang terluka parah!"

"Tapi, kau nanti kembali ke sini menjemputku, Pendekar Mabuk!"

"Ya. Pasti aku kembali lagi ke sini menjemputmu."

Dewa Racun angkat bicara, "Dan... dan... dan lagi, perahunya tidak cukup untuk muat empat orang jika badan besarmu itu ikut serta! Kam... Kam... Kam"

"Kampret?!"

"Kamu!" sentak Dewa Racun, "Kamu kuruskan badan dulu di sini dengan kerja yang giat, sup... sup....sup..."

"Supri?!"

"Bukan! Supri itu nama tetanggaku dulu! Maksudku, supaya! Supaya mudah belajar ilmu silat jika tubuhmu telah kurus!" kata Dewa Racun.

Buat Singo Bodong, ia merasa lebih enak tinggal di pulau itu. Tidak terlalu ramai, dan sering melihat pertarungan hebat dari tokoh-tokoh dunia persilatan, ia salah satu orang yang menjadi pengagum pendekar, tapi ia sendiri tidak pernah memiliki ilmu kependekaran. Hanya sedikit ilmu yang diberikan oleh Pendekar Mabuk secara tak disadari itu. Ilmu tersebut berada di napasnya. Napas Singo Bodong bisa membuat pot bunga dari tanah terjatuh jika terkena hembusan napas lewat mulut. Pernah ia mencobanya kepada seorang prajurit istana. Prajurit itu hanya terdorong selangkah ke belakang, tapi untuk selanjutnya masih bisa menyerang Singo Bodong. Berarti kekuatan napas itu hanya bisa dipakai oleh Singo Bodong sebagai sarana untuk menakut-nakuti lawan saja.

Sebelum matahari tegak di atas kepala manusia, perahu bermuatan tiga orang itu telah meninggalkan pantai Pulau Beliung. Perahu berlayar tunggal itu cukup besar untuk ukuran tiga orang. Mempunyai ruang untuk meneduh dan tidur pada bagian haluannya. Ruangan tersebut beratapkan rumbia dengan tiga jendela, satu jendela menghadap ke arah haluan, pintunya menghadap ke arah buritan. Perahu itu adalah milik Badai Kelabu yang dibawanya dari Pulau Hitam.

"Kami mempunyai satu perahu kecil lagi, muat untuk dua orang. Kurasa guruku tidak keberatan untuk memberikan perahu itu kepada kalian sebagai upah kesembuhannya," kata Badai Kelabu yang berdiri di buritan bersama Suto. Dewa Racun ada di haluan, mengendalikan lajunya perahu yang tertiup angin.

"Mengapa gurumu sampai berurusan dengan Tapak Baja?" tanya Pendekar Mabuk.

"Sebenarnya kami tak punya persoalan dengan Siluman Tujuh Nyawa. Hanya karena perahu kami berpapasan dengan Kapal Neraka itu, dan Guru tidak mau mendekat saat dipanggil oleh Tapak Baja, maka orang ganas itu menjadi marah, lalu menyerang kami."

"Waktu itu kau ada di perahu yang ditumpangi gurumu juga?"

"Ya. Kami tujuh orang, habis menyambangi seorang teman di Pulau Belacan. Aku diperintahkan untuk kabur oleh Guru dengan cara terjun ke laut. Tapi sebenarnya aku hanya menyelam di bawah perahu, bersembunyi di sana. Keenam temanku mati karena amukan Tapak Baja bersama tombak maut itu, dan Guru pun terluka berat."

"Bagaimana luka-luka yang diderita oleh gurumu itu, Badai Kelabu?"

"Sekujur tubuhnya melepuh, termasuk bagian wajah. Setiap bagian melepuh yang pecah mengeluarkan bau busuk yang memusingkan kepala. Padahal Guru hanya tergores sedikit oleh ujung tombak pusaka itu di bagian betis kirinya, tapi racun yang ada di taring babi hutan itu amat ganas, dengan cepat menyebar ke sekujur tubuh."

Dewa Racun mendengar percakapan itu. Sebagai orang yang ahli di bidang pengetahuan racun, ia pun segera menyahut, "It... it... itu namanya Racun Gelembung Mayat!"

Kedua wajah di buritan segera berpaling memandang ke arah haluan perahu. Suto segera berseru dari tempatnya, "Racun Gelembung Mayat dapat bertahan berapa lama, Dewa Racun?"

"Paling lama hanya mampu bertahan dua puluh hari. Lewat dari dua puluh hari dia akan mati membusuk!"

"Apa yang diserang oleh Racun Gelembung Mayat?"

"Pembusukan di bagian gelembung darah orang itu!"

Badai Kelabu berbisik kepada Suto, "Dia sangat mengerti tentang racun itu. Jangan-jangan dialah yang menciptakan Pusaka Tombak Maut itu, Pendekar Mabuk?"

Pendekar Mabuk tampilkan senyum ramah. "Tidak. Dia hanya tahu tentang segala jenis racun, tapi kadang dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi keganasan racun tersebut. Tidak semua racun bisa dimengerti cara menanggulanginya!"

"Tapi, kau tahu cara menanggulangi semua jenis racun berbahaya, Pendekar Mabuk?"

"Hmmm... mungkin tidak semua racun kuketahui juga cara penanggulangannya. Tapi, mungkin juga aku bisa menawarkan semua jenis racun dari yang berbahaya dan yang tidak berbahaya."

"Kenapa masih bersifat mungkin? Kenapa kau tidak tahu dengan pasti, Suto?"

"Karena aku belum pernah mencoba menawarkan semua jenis racun!" jawab Pendekar Mabuk dengan bersikap jujur, namun menyembunyikan kepandaiannya. Kepandaian yang ada pada Pendekar Mabuk, serta tingginya ilmu Suto, telah membuat Badai Kelabu menjadi sering berpikir tentang diri Suto.

Namun Badai Kelabu menganggap Pendekar Mabuk lelaki yang dingin terhadap perempuan. Terbukti, semalam ia tidur di dalam kamar beratap rumbia itu, tapi tak sedikit pun tubuhnya terasa disentuh oleh Pendekar Mabuk Suto ada di haluan bersama Dewa Racun. Bahkan sesekali Suto yang mengendalikan lajunya perahu sementara Dewa Racun tidur dalam keadaan berdiri. Si Kerdil berpakaian putih bulu itu sudah terbiasa tidur dalam keadaan berdiri dan bersidekap tangan di dada. Busur dan anak panahnya tetap tersandang di punggung tanpa menjadi gangguan sedikit pun baginya.

Ketika pagi mulai menyingsing, lalu matahari makin menyebarkan sinar panasnya, Badai Kelabu terkejut melihat arah perahu tersebut, ia segera berseru kepada Pendekar Mabuk yang menjadi pengemudinya.

"Suto, kita salah arah!"

"Salah arah?!" Suto kerutkan dahi.

"Pulau Hitam ada di sebelah kanan perahu kita ini! Cepat putar haluan!"

Dewa Racun terbangun dari tidurnya, ia mengerjap- ngerjapkan mata, memandang sekeliling dan ikut berkata, "O, betul kata Badai Kelabu. Kita salah ar... ar... arah!"

"Kupikir pulau di seberang sana yang jadi sasarannya!" kata Pendekar Mabuk sambil tertawa, lalu ia biarkan Badai Kelabu mengambil alih haluan dan membetulkan letak arah perahu. Dewa Racun pun akhirnya menertawakannya.

"Istirahatlah, Suto. Biar kukemudikan perahu ini!" kata Badai Kelabu, ia tahu Pendekar Mabuk cukup letih karena semalaman tak tidur.

"Aku masih kuat melek!"

"Jangan. Nanti kau sakit, Suto," kata Badai Kelabu dengan lembut, seakan penuh perhatian dan kasih sayang pada Pendekar Mabuk.

Pulau Hitam masih separo hari lagi perjalanan. Pendekar Mabuk belum lama tertidur, terpaksa harus dibangunkan oleh Dewa Racun. Cara membangunkannya pun tak berani langsung disentuh tubuhnya, melainkan dengan dilempar selembar kecil kain pembersih. Kain itu langsung ditangkap cepat oleh tangan Suto.

Tapp...!

"Ada apa?" tanya Pendekar Mabuk setelah tahu dirinya dibangunkan Dewa Racun.

Orang kerdil itu segera berkata, "Kita melewati sebuah pulau yang berasap!"

"Kenapa berasap?" Pendekar Mabuk segera keluar dari kamar beratap pendek.

"Lihatlah sendiri!"

Begitu Pendekar Mabuk keluar dari kamar beratap pendek itu, Badai Kelabu segera berseru dari haluan, "Ada kebakaran di pulau itu!"

"Pasang indera pendengaranmu, Dewa Racun. Percakapan apa yang terjadi di sana? Firasatku mengatakan, itu asap api yang buruk!"

Dewa Racun pun segera menempelkan kedua jari telunjuknya ke pelipis, matanya memandang pada pulau bertebing landai. Hutan-hutannya tak begitu lebat. Suatu kegiatan dari sebuah kehidupan ada di balik tebing landai itu. "Suto, ak... aku... aku mendengar suara orang me... meratap! Seperti orang kesakitan!"

"Adakah yang perlu ditolong?"

"Hmmm... iy... iya! Ada orang ber... ber... berseru melepas kemarahannya. Tap... tapi tak jelas ucapannya."

"Badai Kelabu, arahkan perahu ke pulau itu!" perintah Pendekar Mabuk. "Aku penasaran, ingin tahu apa yang terjadi di pulau itu!"

"Baik, Suto!" Badai Kelabu pun mengarahkan perahunya untuk mendekati pulau yang mengepulkan asap hitam.

* * *

TUJUH

PULAU itu bernama Pulau Kidung. Penguasanya seorang resi berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih, ia membangun sebuah padepokan, yang makin lama berkembang menjadi desa kecil. Padepokan itu diberinya nama Padepokan Kidung Kencana. Di sana, Resi Kidung Sentanu mewejang murid-muridnya tentang makna hidup dan kehidupan. Ilmu-ilmu kanuragan yang diajarkan kepada para muridnya lebih bersifat kebatinan dan tenaga dalam tanpa jurus- jurus kembangan yang indah seperti layaknya ilmu silat yang dianut oleh para tokoh rimba persilatan.

Murid Resi Kidung Sentanu bukan hanya kaum lelaki, namun banyak juga kaum wanitanya. Dan mereka saling menikah, saling berumah tangga, lalu membentuk kelompok masyarakat desa yang mata pencahariannya dari bercocok tanam palawija, sebagian juga ada yang mencari ikan. Tetapi pada saat itu perahu yang ditumpangi Suto melewati bagian belakang pulau, sehingga beberapa perahu nelayan tak terlihat bertambat disana.

Perkampungan kecil itu kini terbakar. Tentunya ada pihak yang sengaja membakarnya. Karena sebelum terjadi kebakaran besar, terlebih dulu mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini. Pada umumnya mayat-mayat itu mati dalam keadaan hangus atau membiru legam. Jelas penyebabnya sebuah racun berbahaya, atau pukulan tenaga dalam yang amat tinggi kekuatannya hingga menghanguskan tubuh manusia.

Rupanya Pulau Kidung itu sedang diporak-porandakan oleh dua orang beraliran sesat. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup sebagai penduduk asli Pulau Kidung itu. Dua di antaranya sedang berdiri menghadapi seorang berkepala gundul, berbadan besar, gemuk, tak pernah memakai baju.

Orang sesat berkepala gundul itu mengenakan celana biru tua dengan ikat pinggang kain merah. Matanya besar, hidungnya bulat, perutnya gendut, kulitnya berwarna hitam walau bukan termasuk hitam keling. Orang itu tidak mempunyai alis, kalau toh ada hanya tipis sekali, sehingga wajah bundar dengan pipi bengkak itu mirip sekali dengan wajah setan. Itu sebabnya ia mengaku dirinya berjuluk Hantu Laut.

Jauh di belakang Hantu Laut, kira-kira dalam jarak lima belas langkah, berdiri seorang lelaki kurus, jangkung dan agak bungkuk. Hidungnya panjang, wajahnya lonjong, mempunyai mata sipit tapi tajam. Rambut hitamnya bercampur uban sepanjang pundak dan diikat memakai kain merah. Orang jangkung yang kurus itu mengenakan baju dan celanaabu-abu, dirangkap jubah warna hitam pekat dengan sulaman benang putih bergambar tengkorak dan tujuh mata rantai di belakang jubahnya.

Gambar itu menunjukkan lambang sekutunya Siluman Tujuh Nyawa. Dan memang orang berwajah bengis itu adalah satu dari kelima algojonya Siluman Tujuh Nyawa, yang menjadi Nakhoda Kapal Neraka dengan nama julukannya Tapak Baja. Dalam usia enam puluh tahun lebih itu, Tapak Baja masih bisa memandang dengan awas, gerakan matanya cukup lincah, sehingga ia tahu ada satu orang yang sudah terluka, namun masih bisa bangkit dan hendak menyerangnya dari samping kiri. Seketika itu tangannya menyentak dan sebuah pukulan bercahaya biru melesat menghantam dada orang itu hingga jebol. Berhamburanlah isi dada orang malang itu.

"Hantu Laut," serunya. "Habisi mereka! Tinggal beberapa gelintir saja! Aku mau istirahat dulu!"

"Siapa yang sekarat?!" sahut Hantu Laut yang memang agak tuli sejak kedua telinganya pernah dihantam oleh Tapak Baja pada saat orang keji itu marah di atas kapalnya dulu.

"Aku mau istirahat!" bentak Tapak Baja sambil tetap memegangi sebuah tombak bergagang hitam. Itulah Pusaka Tombak Maut yang sedang diributkan di kalangan para tokoh persilatan.

"O, Nakhoda mau istirahat dulu? Silakan! Biar aku yang merampungkan sisa tikus-tikus kecil ini, ha ha ha ha...!" Hantu Laut serukan tawanya yang menggelak-gelak sambil melangkah maju mendekati dua orang berusia antara dua puluh tujuh tahun dan yang satu berusia antara tiga puluh tahun.

Yang berusia tiga puluh tahun telah memegang golok bengkok ujungnya, ia berpakaian serba biru tua dengan ikat pinggang putih, rambutnya yang sebatas pundak juga diikat dengan kain putih. Tinggi tubuhnya sedang, badannya agak gemuk dibanding temannya. Orang itu adalah Tambak Lanang, murid kinasih Resi Kidung Sentanu.

Satu lagi murid kinasih dari Resi Kidung Sentanu adalah Jalu Jantan, yang kala itu berpakaian serba merah, bertubuh tinggi, kurus dan bersenjata sebatang toya. Tongkat toyanya itu berwarna coklat tua, seperti terbuat dari kayu sawo. Ia masih berdiri menunggu lawannya mendekat, walau napasnya telah ngos-ngosan karena sejak tadi sudah berjumpalitan menghindari serangan lawan yang sulit ditumbangkan itu.

Orang gundul yang menjadi lawannya mendekat dengan santai, seperti anak kecil, ia memainkan yoyo bertali panjang, ia cengar-cengir memandangi kedua lawannya di kanan-kiri, sementara itu, Tambak Lanang berkata kepada Jalu Jantan,

"Hati-hati dengan mainannya itu! Jangan sampai tertipu lagi!"

Hantu Laut makin mendekat, Jalu Jantan, dan Tambak Lanang bergerak mengepung di kanan kiri. Toya di tangan Jalu Jantan sudah siap dimainkan dalam satu kibasan atau sentakan keras nantinya. Tambak Lanang pun memainkan pedang bengkoknya di atas kepala, siap dibacokkan sewaktu-waktu.

"He he he he... tinggal kalian yang hidup di pulau ini! Sebentar lagi, guru kalian, Kidung Sentanu itu, akan keluar dari tempat pertapaannya! Pasti dia akan terkejut melihat pulau ini telah kosong. Dan pasti dia lebih terkejut lagi jika raganya cepat menjadi kosong karena ditinggalkan oleh nyawanya. He hehe...!"

"Jangan mimpi bisa mengalahkan Tambak Lanang dan Jalu Jantan! Badan kebomu itu bisa hancur kucacak-cacak dengan golokku, tahu?!" bentak Tambak Lanang.

"Minggatlah ke neraka, Setan Gundul! Hiaaat...!" Jalu Jantan sentakkan kaki, tubuh pun melesat menyerang Hantu Laut yang memunggunginya. Toya di tangan diarahkan ke depan, dalam satu kali sentakan ujungnya terbuka dan mengeluarkan mata pisau tajam. Arah mata pisau itu tertuju ke tengkuk kepala Hantu Laut.

Tetapi dengan cepat Hantu Laut membalikkan badan. Kakinya menendang ke atas, wuttt...! Trakk...! Toya itu patah seketika. Tapi kaki Jalu Jantan segera menyusul sebagai ganti toyanya.

Beggh...!

Dada manusia berkepala gundul itu terkena telak tendangan kaki kanan Jalu Jantan. Tapi justru yang menendang yang terpental ke belakang, sedangkan yang ditendang hanya terkekeh-kekeh geli sambil tetap berdiri.

Serta-merta Hantu Laut melemparkan yoyonya ke arah Jalu Jantan yang masih kehilangan keseimbangan badan itu. Wuttt...! Crak...! Yoyo itu mengeluarkan gerigi tajam pada bagian tepiannya. Gerigi itu memutar cepat dan merobek leher Jalu Jantan.

Brett!

"Ahhg...!" Jalu Jantan memekik tertahan. Darah segar muncrat dari lehernya yang robek lebar dan dalam, ia menggelepar-gelepar, sangat menyedihkan.

Melihat temannya menggelepar-gelepar dengan wajah membiru itu, Tambak Lanang semakin mendidih darahnya, ia cepat sentakkan kaki dan melayang menerjang tubuh Hantu Laut. Golok bengkok ditebaskan membabat leher Hantu Laut, tapi orang gundul itu menarik kepalanya kebelakang, sehingga ujung golok hanya lewat sekilas di depan dagunya.

Wusss!

Dalam kesempatan itu. Hantu Laut cepat sentakkan kakinya ke depan, begg...! Kena telak pada pinggang Tambak Lanang. Tubuh itu oleng ke samping, lalu disambut dengan tendangan memutar oleh kaki Hantu Laut.

Wuttt...! Bukkk!

Tubuh Tambak Lanang terpental tiga langkah ke belakang. Sempoyongan ia menahan diri. Tendangan itu begitu kuat menerjang pinggangnya hingga terasa patah tulang iganya. Tapi Tambak Lanang tak mau menyerah. Cepat ia angkat golok bengkoknya ke atas untuk ditebaskan ke depan. Tapi tahu-tahu Hantu Laut melemparkan yoyonya ke arah pergelangan tangan Tambak Lanang. Yoyo itu keluarkan gerigi lagi yang memutar cepat dan berdesing.

Crass! Gerigi itu nyaris memotong pergelangan tangan Tambak Lanang.

"Auh...!" Tambak Lanang segera mendekap lengannya yang berdarah itu sambil menahan rasa sakit. Goloknya jatuh di tanah dan cepat dipungut dengan tangan kiri. Tubuh Tambak Lanang yang membungkuk itu menjadi sasaran empuk bagi senjata yoyo Hantu Laut.

Yoyo itu dilepaskan bagai mengibas, geriginya muncul lagi dan bergerak cepat. Crass!

"Auuh...!" Tambak Lanang mengejang. Kulit punggungnya robek karena kibasan gerigi yoyo tersebut. Pada saat ia mengejang dalam keadaan masih membungkuk itu, Hantu Laut segera melompat dan menjejak tengkuk kepala Tambak Lanang dengan keras dan bertenaga dalam cukup besar.

"Hegg...!" terdengar suara Tambak Lanang setelah suara tendangan begitu keras.

Beggg...! Krekk...! Patah tulang leher itu. Darah menyembur keluar dari mulut Tambak Lanang. Mata orang itu sudah terbeliak-beliak bagai menunggu ajal. Tapi ia masih berusaha meraih senjatanya yang jatuh di tanah. Namun dalam gerakan cepat dan kuat, kaki Hantu Laut menendang kepala Tambak Lanang di bagian pelipisnya.

Plokkk!

Tambak Lanang tak mampu terpekik lagi. Tubuhnya tersentak dan jatuh terkapar dalam jarak empat langkah dari tempatnya semula. Di sana tubuh itu mengejang-ngejang dan mengeluarkan darah dari tiap lubang di kepalanya. Kemudian, tubuh itu tidak bergerak lagi untuk selamanya. Sedangkan Jalu Jantan sudah sejak tadi tak mampu bergerak atau pun bernapas, karena nyawanya telah lepas dari raga akibat robekan dilehernya.

Pada saat kematian Tambak Lanang itulah, Suto, Dewa Racun, dan Badai Kelabu muncul dari tempat yang lebih tinggi. Dari sana mereka bisa melihat kematian Tambak Lanang, dan tepuk tangan Tapak Baja yang ditepukkan pada pahanya, dengan satu tangan tetap memegangi Pusaka Tombak Maut.

Plok plok plok!

"Bagus, bagus, bagus! Itu baru namanya kerja yang bagus!"

"Mengejar ikan gabus...?! Ah, untuk apa aku harus mengejar ikan gabus, Nakhoda?"

"Kubilang, itu kerja yang bagus! Bukan kusuruh mengejar ikan gabus! Dasar budek!" bentak Tapak Baja dengan mata mendelik membuat Hantu Laut ciut nyali.

Di balik rimbunan pohon, di atas sana, tiga makhluk saling berbisik-bisik. Badai Kelabu yang mendului bicara kepada Suto, "Itu dia orangnya yang bernama Tapak Baja!"

"Yang tua dan memegang tombak berujung taring babi hutan itu?"

"Ya. Dan yang berkepala gundul itu adalah Hantu Laut, anak buahnya yang tinggal satu-satunya itu!"

"Mer... mer... mereka habis membunuh dua orang! Tap... tapi Si Tapak Baja tidak turun tangan, hanya Si Hantu Laut saja yang menangani dua musuhnya itu!"

"Aku harus balas menyerang sekarang juga!" geram Badai Kelabu yang segera berlari menuruni lereng. Tapi tangannya cepat ditahan oleh Suto.

"Tunggu dulu! Jangan gegabah! Kita pelajari dulu keadaan sekeliling tempat mereka!"

"Kalau tak segera bertindak, mereka bisa kabur secepatnya!"

"Aku yang akan mengejar mereka!" kata Suto. "Jangan dulu bergerak, karena kulihat ada sekelebat bayangan kuning menyusup di balik semak belukar di belakang Tapak Baja." Baru saja Suto selesai mengatakan demikian, tiba-tiba Tapak Baja palingkan badan ke belakang dan sentakkan tangannya yang kiri.

Wuuttt! Grusssak!

Pukulan jarak jauh itu menghantam semak belukar, namun sebelum pukulan itu sampai ke semak belukar, sosok bayangan yang bersembunyi di sana telah melesat keluar lebih dulu dengan melentingkan tubuh ke udara dan bersalto dua kali, lalu sepasang kaki itu hinggap di salah sebuah dahan pohon yang tumbuh pendek.

Orang yang hinggap di pohon pendek berdahan kecil itu mengenakan celana kuning dengan kain pembalut bagian dadanya warna kuning juga, hanya diselempangkan ke pundak kanan, sedangkan pundak kirinya terbuka tanpa kain penutup. Orang itu berusia antara tujuh puluh tahun, rambut putih dikonde kecil di tengah kepala, membawa kalung batuan besar seperti tasbih warna merah tua, butir-butir kalungnya itu seukuran dengan biji buah rambutan.

"Siapa... oor... or... orang itu, Badai?" tanya Dewa Racun.

"Pasti dia yang bernama Resi Kidung Sentanu!" jawab Badai Kelabu.

Ternyata jawaban itu memang benar, sebab tak berapa lama terdengar suara Tapak Baja menyapa orang kurus berjenggot dan berkumis putih itu, "Resi Kidung Sentanu, akhirnya kau keluar juga dari pertapaanmu, Resi! Hampir-hampir kutinggalkan kau untuk pergi ke Pulau Beliung, karena aku masih punya tugas untuk menggempur Istana Cambuk Biru di sana! Untung kau lekas muncul, jadi aku tidak perlu menunggumu terlalu lama!"

"Enyahlah kau manusia keji, sebelum tanganku berlumur darahmu!" geram Resi Kidung Sentanu dengan suara tuanya.

Ancaman halus itu ditertawakan oleh Hantu Laut. "Ha ha ha ha...! Dia suruh kita mengunyah, Nakhoda! Melantur sekali bicaranya! Ha ha ha!"

Plokkk!

Tawa dari Hantu Laut terhenti seketika. Sebuah tamparan sangat keras mendarat cepat di pipinya. Tapak Baja yang menamparnya dan segera berkata dengan nada jengkel. "Dia suruh kita enyah! Bukan mengunyah! Enyah itu pergi!"

Hantu Laut mencibir, "Hmmm... enak saja dia suruh kita pergi! Apakah dia mau serahkan nyawa secepatnya?!"

"Kurasa dia sudah tahu kalau nyawanya akan tercabut olehku secepatnya!" kata Tapak Baja dengan sedikit membungkuk karena jangkungnya tubuh. Lalu, ia berkata kepada Resi Kidung Sentanu,

"Turunlah supaya pekerjaanku memusnahkan pulau ini bisa lebih cepat! Atau kau ingin mati di atas sana?"

Resi Kidung Sentanu tidak menjawab. Tetapi, pohon yang dipakainya berdiri itu bergerak turun ke bumi secara perlahan-lahan, sampai dahan yang dipijaknya merapat ketanah.

"Hebat sekali ilmunya. Pohon itu bisa turun ke tanah bagai mengantarnya turun ke bumi!" gumam Badai Kelabu dengan terheran-heran.

Tetapi, Tapak Baja terdengar berseru meremehkan, "He he he he... dia unjuk kehebatan ilmunya kepada kita, Hantu Laut! Dia mau pamer ilmu kepada kita!"

"Ha ha ha ha...!" Hantu Laut ikut menertawakan.

"Itu ilmu kecil yang murahan! Bukankah begitu, Hantu Laut?"

"Ya. Itu ilmu kancil yang murahan"

"Ilmu kecil yang murahan! Tuli!" bentak Tapak Baja dengan mata melotot seram kepada Hantu Laut. "Kalau ada orang bicara, dengarlah baik-baik pakai kupingmu!"

"Ya, ya baik. Aku akan pakai caping!"

"Kuping, tolol! Kuping itu telinga!" sambil Tapak Baja membetot telinga si Gundul yang budek itu.

Terdengar suara Resi Kidung Sentanu yang bernada bijak itu berkata sambil menahan amarah kuat-kuat. "Kurasa sudah cukup kau membantai semua penduduk pulau ini, Tapak Baja! Tinggalkanlah tempat ini sekarang juga!"

"O, belum seluruhnya terbantai habis, Resi Kidung Sentanu! Masih ada satu orang yang hidup, yaitu kau sendiri! Padahal tugas yang diberikan oleh Siluman Tujuh Nyawa adalah membantai habis semua penduduk pulau ini, tanpa kecuali!"

"Mengapa Siluman Tujuh Nyawa sejahat itu kepada kami? Padahal kami tidak pernah berniat jahat sedikit pun kepadanya?"

"Karena kamu menolak untuk menjadi sekutunya Siluman Tujuh Nyawa, Resi! Dan inilah akibatnya!"

"Kalau aku menolak, itu lantaran aku tidak ingin menjadi orang sesat seperti kalian!"

"Kalau tidak ingin menjadi orang sesat, sebaiknya mati saja. Kau tidak akan tersesat di alam kubur nanti!"

"Sampai kapan pun kami memang tidak akan tersesat, sebab kami ada di pihak yang benar! Itulah sebabnya kami tidak takut mati!" kata Resi Kidung Sentanu dengan tetap berani bicara tegas di depan dua orang pencabut nyawa murid-muridnya itu.

"Bagus, bagus...!" Tapak Baja manggut-manggut. Kemudian ia serukan perintah kepada Hantu Laut. "Hantu Laut, bunuh dia!"

"O, tidak. Aku tidak butuh dia!"

"Bunuh! Kataku, bunuh dia! Bukan butuh dia?!" bentak Tapak Baja yang membuat Hantu Laut menjadi makin gugup.

"O, bunuh?! Baa... baik!"

Maka, serta-merta Hantu Laut menyerang Resi Kidung Sentanu dengan tubuhnya yang melayang dan kakinya menendang lurus ke depan. Dada kurus Resi Kidung Sentanu menjadi sasaran kaki itu. Dan karena Resi Kidung Sentanu tidak menghindar serta tidak pula menangkis, maka dada itu menjadi sasaran telak bagi kaki Hantu Laut yang bertelapak besar itu.

Buegggh...! Terdengar mantap sekali tendangan itu. Tetapi tubuh kurus itu tidak bergeming sedikit pun. Berguncang pun tidak. Bahkan wajah Hantu Laut tampak menyeringai merasakan linu pada tulang kakinya yang seperti menendang sebongkah batu gunung atau bagai menendang dinding baja padat.

"Hancurkan dia!" sentak Tapak Baja.

"Luncurkan? O, baik! Akan kuluncurkan dia!"

"Dasar tuli! Terserah apa katamulah! Kau hancurkan boleh, kau luncurkan nyawanya juga boleh!"

Hantu Laut cepat sentakkan tangannya menghantam dada tipis lelaki tua itu. Ia menggunakan pukulan beruntun dengan kecepatan tinggi. Beg, beg, beg, beg!

Orang tua itu tetap memainkan kalungnya, tanpa ada gerakan menyerang atau menangkis. Pukulan berkepalan besar itu seperti hembusan angin pegunungan, dibiarkan saja tanpa ada tindakan apa pun. Sedangkan yang memukul semakin menyeringai, tangan kirinya dikibas-kibaskan karena merasa seperti patah tulang-tulang jarinya.

"Celaka! Berbahaya sekali jika dia hanya bertahan saja!" pikir Badai Kelabu. Maka, ia pun segera melompat kedepan dan berlari menghampiri Resi Kidung Sentanu. Pendekar Mabuk dan Dewa Racun terkejut sekali.

* * *

DELAPAN

DEWA RACUN mengecam kebodohan Badai Kelabu dengan rasa jengkel, "Das... das... dasar perempuan bod... bod...bod..."

"Bodong?!"

"Bodoh!" sentak Dewa Racun. "Melawan Ratu Pekat saja hampir mampus, sekarang malah mau melawan Tapak Baja yang pegang Pusaka Tombak Maut! Cari penyakit saja perem... perem... perempuan itu!" Dewa Racun mau bergerak turun, tapi tangan Suto menahan lengannya sambil berkata,

"Jangan menyerang dulu! Awasi dan jagai saja dia dari balik pohon bambu di sebelah sana!" sambil Pendekar Mabuk menunjuk serumpun pohon bambu yang rapat tumbuhnya itu. Lalu, sambung Pendekar Mabuk lagi,

"Aku akan mempelajari gerakan dan cara kerja Pusaka Tombak Maut itu dari sini!"

Dewa Racun mengangguk, lalu segera menyusuri jalan menurun, menyelusup dari pohon ke pohon, hingga menuju rimbunan pohon bambu. Pendekar Mabuk meneguk tuaknya beberapa kali, kemudian kembali memperhatikan Tapak Baja yang agaknya belum mau turun tangan dalam menghadapi Resi Kidung Sentanu. Ia masih marah-marah kepada Hantu Laut yang dianggap tidak mampu merobohkan lawannya yang sudah tua renta itu.

"Gunakan tenagamu, Tolol!" bentak Tapak Baja. "Aku tidak punya tetangga, bagaimana harus kugunakan?!"

"Tenaga! Kataku, gunakan tenaga! Bukan tetangga!" Tapak Baja berteriak di telinga Hantu Laut. Suaranya keras memekakkan telinga, hingga Hantu Laut mengernyitkan alis. Kejap berikutnya, Hantu Laut mundur tiga tindak, lalu ia sentakkan tangan kanannya dengan telapak terbuka. Wuuhgg! Tenaga dalamnya dilepaskan untuk memukul dada Resi Kidung Sentanu.

Begg!

Telak sekali tenaga dalam besar itu menghantam dada tipis Resi Kidung Sentanu. Tetapi orang tua itu tidak juga bergeser dari tempatnya. Hanya kain penutup dadanya saja yang tampak bergerak, sedangkan tubuhnya tetap tegar bagaikan tebing gunung cadas.

"Keparat betul ini orang...!" geram Hantu Laut dengan jengkel, merasa dirinya dipermainkan oleh kekuatan tubuh lawannya. Maka, segera ia lepaskan yoyo-nya ke depan dengan satu sentakan beraliran tenaga dalam yang cukup besar.

Wengng!

Yoyo itu melesat cepat, lalu kembali tertangkap tangan Hantu Laut. Pada saat yoyo itu melesat, bukan gerigi tajam yang keluar dari tepiannya, melainkan sinar merah menyebar bagai kilatan lidah api membara.

Melihat datangnya sinar merah membara itu, Resi Kidung Sentanu tetap diam, berdiri di tempatnya semula dengan mempermainkan manik-manik kalung pada jemarinya. Terlihat tak ada niat untuk menangkis ataupun menghindar.

Sikap itu kian mencemaskan Badai Kelabu. Maka dengan serta-merta ia lepaskan pukulan tenaga dalam jarak jauh yang memancarkan sinar kuning dari dua jari yang ditotokkan ke depan. Sinar kuning itu melesat dengan cepat dan menghantam sinar merah yang hampir mencapai dada Resi Kidung Sentanu.

Blarrr!

Benturan kedua sinar menimbulkan ledakan cukup kuat. Gelombang ledakan menghempas ke sekelilingnya. Tubuh Hantu Laut dan Tapak Baja sempat terguncang sedikit karena hempasan gelombang ledakan itu. Tetapi Resi Kidung Sentanu tetap berdiri tanpa goyah sedikit pun.

"Monyet betina!" geram Hantu Laut setelah mengetahui siapa orang yang mematahkan pukulan tenaga dalamnya itu.

Tapak Baja pun tampakkan kegarangannya begitu melihat kemunculan Badai Kelabu, ia segera berseru dari tempatnya sambil tetap bertongkatkan Pusaka Tombak Maut itu. "Perempuan liar! Apa maumu ikut campur urusanku, hah?! Mau cari kuburmu atau mau cari bangkaimu?!"

"Kalian memang biadab!" sentak Badai Kelabu dengan lantang dan berani. Suara sentakannya bernada curahan dendam terhadap apa yang diderita gurunya akibat ulah kedua orang itu.

"Kurang ajar! Dia mengatakan kita biadab, Nakhoda!"

"Menurutmu bagaimana?"

"Memang!" jawab Hantu Laut.

"Memang bagaimana?!" sentak Tapak Baja dengan mata mendelik liar.

"Maksudku... maksudku memang dia perlu dihajar, Nakhoda!"

"Jangan dihajar! Tapi hancurkan dia! Tumbuk sampai lembut!"

"Baik. Akan kupeluk sampai lembut!"

"Tumbuk sampai lembut!" ulang Tapak Baja nyaris hilang kesabarannya, ia menggeram bengis kepada Hantu Laut. Wajah tuanya memerah, menampakkan warna murkanya.

"Hiaaat....!" untuk menutupi kesalahannya menghilangkan kemarahan Tapak Baja, cepat-cepat Hantu Laut memekikkan semangat tempurnya dengan menggerakkan kedua tangannya yang menggenggam kuat-kuat dan diacungkan ke depan salah satunya. Tapi ia belum bergerak dari tempatnya, menunggu Tapak Baja merasa lega dan menyingkir sedikit menjauhinya.

Bukk...! Punggung Hantu Laut sendiri yang terkena serangan dari kaki Tapak Baja. Cukup keras tendangan Nakhoda Kapal Neraka itu, membuat Hantu Laut tersentak ke depan dan celingak-celinguk kebingungan, tak tahu mengapa ia ditendang oleh sang Nakhoda.

"Serang dia!! Jangan teriak saja!" bentak Tapak Baja.

"Baik! Hiaaat...!" Hantu Laut cepat keluarkan yoyo mautnya. Yoyo itu diputar-putar di atas kepala. Wuung wuung wuung....! Wesss...! Hampir saja mengenai wajah Tapak Baja jika kepala bengis itu tidak segera ditarik ke belakang.

"Maju, Goblok!"

Begg...! Kaki Tapak Baja menendang pantat Hantu Laut hingga orang gundul itu tersentak maju dua tindak.

Badai Kelabu hanya bergerak pelan mencari kesempatan melancarkan pukulan jarak jauh. Ia tak berani mendekat, karena senjata yoyo itu dapat melukainya sewaktu-waktu. Hantu Laut sendiri masih tetap memutar-mutarkan yoyonya hingga menimbulkan suara berdengung mirip lebah mengelilingi tempat itu.

Lalu tiba-tiba kedua tangan Badai Kelabu menyentak ke depan secara berturutan. Wutt... wuttt!

Buuhg buuhg!

Dada dan perut Hantu Laut terkena pukulan jarak jauh dari tangan Badai Kelabu. Tubuh besar dan gemuk itu tersentak ke belakang. Yoyonya cepat ditarik dan ditangkap di tangan. Tapp...! Tubuh gemuk itu terbungkuk karena merasakan mual diperutnya.

"Jahanam kau...!" geram Hantu Laut dengan mata lebarnya memandang Badai Kelabu secara menyeramkan. Tapi Badai Kelabu tidak merasa gentar sedikit pun. Ia bahkan bersiap melepaskan pukulan 'Badai Gunung'-nya.

Saat itu, Tapak Baja berhadapan dengan Resi Kidung Sentanu dan berkata dengan suara keras, memancing perhatian Badai Kelabu. "Di depan si Gundul itu kau boleh unjuk kekebalanmu. Tapi di ujung pusaka ini kau tak akan bisa unjuk kesaktianmu, Tua bangka! Hiaaat!"

Tapak Baja menghujamkan tombak itu ke dada Resi Kidung Sentanu. Tetapi tangan Badai Kelabu cepat menyentak ke arah sana dan keluarkan nyala api merah tembaga. Wuttt!

Trangng!

Tombak yang baru saja mau bergerak menghujam itu tersentak ke samping karena ditabrak oleh nyala sinar merah tembaga. Tapak Baja segera berpaling ke arah Badai Kelabu dengan kegeraman yang membakar darahnya. Namun hatinya yang dibakar kemarahan menjadi sedikit reda karena ia melihat Hantu Laut lepaskan yoyonya, gerigi yang keluar dari tepian yoyo itu merobek lengan kiri Badai Kelabu.

Brett!

"Aauh...!" Badai Kelabu memekik tertahan. Rasa sakit segera menguasai sekujur tubuhnya. Lengan di ujung pundak itu robek dan berdarah. Darahnya merah kehitam-hitaman. Jelas itu darah yang bercampur dengan racun berbahaya. Tubuh Badai Kelabu pun mulai terasa dingin.

Melihat lawannya terluka, semangat dan keberanian Hantu Laut menjadi kian meluap, ia pun sentakkan kakinya pada salah satu batu dan tubuhnya yang besar itu melesat cepat dengan kaki terentang kedepan. "Hiaaat!"

Plak, buhgg!

Tangan Badai Kelabu cepat menangkis, lalu kaki kanannya bergerak cepat menendang perut Hantu Laut dengan tendangan samping. Tendangan itu telak mengenai perut lawan, membuat lawan terhuyung-huyung ke belakang. Lalu, dengan cepat Badai Kelabu mencabut pedangnya.

Srett!

"Jahanam najis kau, hiiih!"

Wusss...! Pedang ditebaskan ke kepala Hantu Laut. Orang gemuk yang terhuyung-huyung itu masih sempat menghindar dengan merendahkan tubuhnya. Sambil merendah, ia lepaskan pukulan tenaga dalamnya melalui telapak tangan kiri.

Wuuttt...! Buhggg!

"Ahg...!" Badai Kelabu tersentak ke belakang dua tindak. Sebelum Badai Kelabu sigap kembali, Hantu Laut melemparkan yoyonya dalam gerakan lempar menyamping.

Wengng...!

Yoyo itu melesat dari arah depan-kanan ke depan-kiri. Brett...! Gerigi yoyo itu merobek dada di bawah leher Badai Kelabu. Robekannya panjang dan cukup dalam. Tubuh Badai Kelabu terpelanting dan jatuh.

"Saatnya kuhancurkan wajah cantikmu dengan jurus 'Lidah Naga'-ku ini, Setan Betina! Hiaaat!" Hantu Laut sentakkan kaki dan melesat di udara dalam satu garis lurus dari tempatnya berpijak tadi. Lalu, tangannya melepaskan yoyo yang memancarkan warna biru muda ke arah tubuh Badai Kelabu.

Melihat cahaya itu meluncur deras ke arahnya, Badai Kelabu sempat menghadang dengan pedang hitamnya. Trasss...! Cahaya biru itu membelok arah, melesat ke depan-kanan dan meluncur menuju Tapak Baja yang akan menggerakkan tombak pusaka tersebut untuk membunuh Resi Kidung Sentanu.

Karena ia melihat sinar biru milik Hantu Laut itu membelok ke arahnya, maka niatnya untuk menyerang Resi Kidung Sentanu ditangguhkan. Tapak Baja tahu, sinar biru itu sinar yang berbahaya. Jurus 'Lidah Naga' milik Hantu Laut adalah jurus pemusnah lawan yang tak bisa ditawar-tawar lagi kedahsyatannya.

Sekalipun demikian, Tapak Baja masih bisa menggunakan telapak tangan kirinya untuk menahan sinar biru tersebut. Tappp...! Sinar biru itu padam ditangan Tapak Baja. Itulah sebabnya dia dijuluki Tapak Baja, karena telapak tangannya bagaikan baja, mampu menahan pukulan tenaga dalam berbentuk sinar apapun.

"Habisi dia!" teriak Tapak Baja kepada Hantu Laut, sebab menurut perhitungan Tapak Baja, lawan sudah lemah dan tinggal dilenyapkan nyawanya.

"Hiaaat...!" Hantu Laut kembali sentakkan kaki dan melesat terbang ke atas sambil melepaskan yoyonya lagi. Karena saat itu Badai Kelabu tertunduk lemah menahan sakit yang membuat wajahnya makin membiru. Namun, sebelum tangan Hantu Laut melepaskan yoyonya lagi, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dengan cepat dan menancap di bawah ketiaknya.

Jrubb!

"Aaoou...!" pekik Hantu Laut, tak jadi melepaskan yoyonya. Hantu Laut mengejang ketika kakinya memijak bumi, ia mencabut anak panah kecil itu dengan seringai kesakitan. Matanya memandang liar ke arah rimbunan pohon bambu, karena ia tahu arah datangnya anak panah itu dari rimbunan pohon bambu di sebelah kanannya. Tetapi pada saat itu matanya menjadi berkunang-kunang, ia berdiri dengan limbung dan melangkah mundur terhuyung-huyung, kedua tangannya masih merentang sedikit ke depan untuk menjaga keseimbangan.

"Hantu Laut...!" seru Tapak Baja tampak cemas, ia segera melompat dengan bersalto di udara dua kali, lalu mendaratkan kakinya di belakang Hantu Laut. Pada waktu itu, tubuh Hantu Laut hampir tumbang ke belakang. Tapak Baja segera menahan tubuh besar itu. "Bodoh kau!" bentak Tapak Baja. Segera ia membuka tangan Hantu Laut yang kanan, kemudian luka bekas tertancapnya anak panah beracun itu segera diludahi tiga kali.

Cuih, cuih, cuih!

Kulit yang terluka itu bergerak-gerak seperti tersiram air keras. Asap tipis mengepul dari luka tersebut. Lalu, dalam waktu yang amat singkat luka itu mengering dan akhirnya hilang tak berbekas.

Kesempatan itu digunakan oleh Resi Kidung Sentanu untuk melesat bagaikan terbang, mengambil Badai Kelabu agar tidak menjadi sasaran terdekat dari kemarahan Tapak Baja. Tubuh berpakaian kuning itu seperti seekor kelelawar raksasa yang terbang dengan cepatnya.

Wuurrrr!

"Mau ke mana kau, Kunyuk!" sentak Tapak Baja sambil mendongak ke atas. Ia segera melepaskan Hantu Laut, lalu sentakkan kaki dan melompat ke salah satu tempat, ia melihat bayangan Resi Kidung Sentanu bergerak di tanah berumput. Tapak Baja segera menoreh bayangan itu dengan menggunakan ujung tombak pusaka tersebut.

Gress!

"Ahhg...!" terdengar pekik Resi Kidung Sentanu dengan suara tertahan pada saat ia masih berada di udara.

Rupanya dengan menggoreskan ujung tombak ke bayangan, Resi Kidung Sentanu dapat terluka dadanya dan berdarah. Resi Kidung Sentanu jatuh berdebum tanpa keseimbangan lagi. Tetapi ia buru-buru bangkit berdiri bagai tak menghiraukan lukanya yang menghitam koyak itu.

Wuttt...! Kalung itu dikibaskan oleh Resi Kidung Sentanu. Kibasan tersebut mendatangkan angin kencang yang menyentakkan tubuh Tapak Baja. Bahkan tubuh Hantu Laut pun terdorong menyerosot di tanah sampai membentur pohon punggungnya. Buehgg!

"Aduuuh..!" Hantu laut mengerang memegangi pinggang belakangnya yang terasa patah tulangnya akibat benturan dengan batang pohon besar.

Sementara itu, Tapak Baja hanya terhuyung-huyung dan tak jadi jatuh karena tersangga oleh tombak yang dijadikan tongkat penyangga badannya itu. Ia cepat balikkan badan dan menggeram buas kepada Kidung Sentanu.

"Kalau aku harus membunuhmu, bukan karena aku tak suka padamu, tapi aku menyingkirkan iblis yang bersemayam di raga dan jiwamu!" ucap Resi Kidung Sentanu, kemudian cepat-cepat ia lemparkan kalung bermanik-manik merah tua itu.

Wuurrrr...!

Tapak Baja melihat kalung itu menyala bagaikan batuan dari magma gunung berapi. Cepat-cepat ia kibaskan tombak pusaka itu untuk menghantam kalung tersebut.

Blarr...! Trak trak trak blarrr!

Kalung itu hancur berantakan tak berbentuk lagi. Tombak Pusaka Maut masih berdiri tegak dan utuh, tanpa lecet sedikti pun. Resi Kidung Sentanu memandang dengan sorot mata yang dingin, ia cepat gerakkan tangannya, merapatkan telapak tangan itu di dada. Kepalanya masih tegak, mata memandang lurus bagai menerawang.

"Hiaat!" Tapak Baja melompat dan menyambarkan ujung tombaknya ke leher Resi Kidung Sentanu.

Brett!

Leher itu robek seketika tergores ujung tombak yang terbuat dari taring babi hutan runcing dan tajam. Tapi Resi Kidung Sentanu tetap diam, tidak memberikan perlawanan dan gerakan menangkis sedikit pun. Sementara itu, luka di dadanya semakin melebar, darah yang keluar bukan merah, melainkan hitam.

"Habis sudah riwayatmu, Tua bangka! Hiaaah!"

Beggh...! Tapak Baja segera pukulkan telapak tangannya ke punggung Resi Kidung Sentanu. Pukulan itu berasap biru. Resi Kidung Sentanu masih diam, berdiri dengan tangan merapat di dada. Tapi matanya kali ini dipejamkan, sepertinya sedang menahan segala bentuk serangan yang menyakitkan tubuh.

Tapak Baja menjadi lebih buas lagi, karena pukulannya tidak bisa merobohkan Resi Kidung Sentanu. Maka, dengan satu lompatan ke belakang, ia kibaskan tombaknya menyabet tengkuk kepala Resi Kidung Sentanu.

Brett!

Kulit dan daging bagian tengkuk kepala orang tua itu terkoyak lebar. Darahnya memercik deras. Tapi Resi Kidung Sentanu masih tetap diam, bagai melakukan semadi dalam keadaan berdiri.

Dari atas lereng, Suto membatin, "Resi Kidung Sentanu pasti punya kejutan sendiri. Tapak Baja akan semakin bernafsu, dan mungkin Resi Kidung Sentanu memancing nafsu amarah Tapak Baja biar nantinya nafsu itu sendiri yang akan menewaskan Tapak Baja. Hmmm... cukup tinggi ilmu sang Resi. Tapi, apakah ia memang bisa dilukai dari bayangannya? Apakah dia menyimpan kekuatan pada bayangannya? Kulihat saat Tapak Baja menggoreskan ujung tombak ke tanah, tepat mengenai bayangan sang Resi, dan seketika itu sang Resi memekik, terluka dadanya. Tapi, tadi pun kulihat bayangannya terinjak kaki Hantu Laut, toh dia tidak merasakan sakit. Apakah melukai lawan lewat bayangannya adalah salah satu kehebatan pusaka tersebut?"

Di balik kerimbunan semak bambu, Dewa Racun masih bersembunyi di sana. Ia ingin mengambil Badai Kelabu yang makin membiru dan lemas tubuhnya. Tapi keadaan Badai Kelabu ada di dekat Resi, dan sang Resi sedang diserang Tapak Baja. Dewa Racun tidak mau bertindak gegabah. Salah-salah ia yang menjadi sasaran Pusaka Tombak Maut itu. Namun, melihat sang Resi yang tercabik-cabik hanya diam saja, Dewa Racun menjadi geram dan tak tega membiarkannya. Maka, satu anak panah dilepaskan dari sela-sela batang bambu.

Zuuttt!

Anak panah tertuju ke arah Tapak Baja. Tapi mata tua Tapak Baja cukup awas. Ia hindari gerakan anak panah berbulu merah itu. Lalu ia sentakkan tangan kirinya ke rimbunan bambu.

Wuttt!

Sinar biru melesat dari telapak tangan. Dewa Racun cepat hindarkan diri dengan melompat keluar dari persembunyiannya.

Wess! Brakkk...!

Blarrr! Rimbunan batang bambu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil karena terkena sinar biru dari telapak tangan kiri Tapak Baja.

"Monyet kecil!" bentak Tapak Baja dengan murka yang memerahkan bola matanya. "Tak perlu kutahu siapa dirimu, tapi kau sudah mencoba menyerangku, berarti kau termasuk lawan yang harus kumusnahkan bersama Resi peot ini! Hiaaat!"

Dewa Racun melompat hindari serangan tombak yang meluncur cepat bersama pemegangnya. Dewa Racun sengaja memancing Tapak Baja supaya menjauhi Badai Kelabu, supaya jika serangannya meleset tidak mengenai Badai Kelabu yang hidup di antara mati itu.

Sementara Dewa Racun melompat-lompat dengan lincahnya, hati Pendekar Mabuk menjadi waswas, ia membatin, "Jangan-jangan Dewa Racun belum mengetahui bahwa Pusaka Tombak Maut bisa melukai lawan melalui bayangan lawannya? Celaka! Dewa Racun bisa celaka jika ia tak menyadari hal itu!"

Suto baru saja mau bergerak, tiba-tiba matanya terbeliak melihat Tapak Baja menorehkan ujung tombak ke pohon. Karena di pohon terdapat bayangan Dewa Racun, maka Dewa Racun pun tersentak kaget sambil terpekik dengan suara tertahan.

"Oohgg...!" Tubuh Dewa Racun melengkung ke depan. Punggungnya robek, darah keluar menghitam di rompi bulunya yang juga robek bagai habis digores dengan benda yang amat tajam itu. Dewa Racun limbung menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Mampus kau tikus busuuuk...!" teriak Tapak Baja sambil melompat dan hendak menancapkan tombak itu ke punggung Dewa Racun.

Pendekar Mabuk cepat-cepat melepaskan pukulan jarak jauhnya. Namun, sebelum pukulannya terlepas, tiba-tiba tubuh Tapak Baja tersentak dan terlempar jauh hingga membentur pohon yang dipakai duduk bersandar oleh Hantu Laut.

Begggh!

"Uuhg...!" ia memekik kesakitan.

"Ada yang menyerang dari persembunyian, Nakhoda!"

Plokk...! Wajah berkepala gundul ditampar telak oleh Tapak Baja, lalu ia membentak, "Aku tahu! Aku tak perlu saranmu!"

Hantu Laut tak berani bicara lagi. Ia segera bangkit dan berniat menyerang Dewa Racun yang terluka parah, sedang merangkak mendekati Badai Kelabu. Tetapi tangannya segera ditarik oleh Tapak Baja, dan Hantu Laut jatuh terduduk lagi.

"Tak perlu ikut campur, Tolol! Biar aku sendiri yang melenyapkan si penyerang gelap itu!"

Tapak Baja cepat sentakkan tangannya ke tanah dan tubuhnya melesat lompat dalam keadaan berdiri sigap, ia berseru sambil matanya memandang sekeliling. "Bangsat...! Keluar kau! Hadapilah aku kalau memang kau ingin mengantarkan nyawamu!"

Pendekar Mabuk membatin sambil bergerak pelan mendekati tempat Dewa Racun dan Badai Kelabu, "Siapa penyerang gelap itu? Cukup tinggi juga ilmunya, hingga dia bisa membuat Tapak Baja terlempar sejauh itu bersama Pusaka Tombak Mautnya! Hmmm... sebaiknya tak perlu kuhiraukan dulu siapa orang itu, yang penting kuselamatkan dulu Dewa Racun dan Badai Kelabu! Dewa Racun adalah penunjuk jalan bagiku untuk bertemu dengan kekasihku Dyah Sariningrum. Dewa Racun tak boleh mati karena luka-lukanya itu!"

Resi Kidung Sentanu tetap berdiri tanpa goyah sedikit pun. Walau tubuhnya telah terkoyak habis hingga bagian wajahnya bagai nyaris membelah, tapi matanya tetap memandang lurus dengan tangan saling merapat di dada dalam sikap semadi, ia tak menghiraukan dua orang yang menjadi biru kulit tubuhnya akibat luka goresan Pusaka Tombak Maut itu.

Suto dengan cepat menyambut tubuh Dewa Racun dan Badai Kelabu. Gerakannya diketahui Tapak Baja, sehingga Tapak Baja berseru, "Hai, berhenti! Hadapi aku atau kuserang kau dari belakang?!"

Baru saja Pendekar Mabuk ingin sentakkan tangannya untuk melepaskan pukulan jarak jauhnya, tapi lagi-lagi tubuh Tapak Baja tersentak ke depan dan jatuh tersungkur. Seseorang telah menyerangnya dari bagian punggung Tapak Baja, yang membuat Tapak Baja kaget dan tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Serangan itu jelas serangan bertenaga dalam tinggi, karena Tapak Baja sampai semburkan darah dari mulutnya walau tak terlalu banyak, dan masih bisa membuatnya cepat berdiri.

"Persetan dulu dengan siapa penyerang gelap itu, yang penting kubawa lari dulu kedua temanku ini dan kusembuhkan dulu luka-lukanya, setelah itu baru aku kembali kesini tanpa mereka!" Setelah membatin begitu, Pendekar Mabuk pun cepat pergi membawa mereka.

* * *

SEMBILAN

PULAU itu mempunyai tebing, dan di tebing itu ada gua karang di mana air laut juga masuk ke dalamnya. Gua itu tidak terlalu dalam, tapi cukup lebar. Langitnya rendah, namun bisa dipakai untuk masuk sebuah perahu. Di gua itulah Suto menyembunyikan perahunya. Di atas perahu itulah, Dewa Racun dan Badai Kelabu dibaringkan setelah dipaksa meminum tuak dari tabung bambu yang selalu ada di punggung Pendekar Mabuk itu.

Tak kurang dari seratus hitungan, setelah minum tuak beberapa teguk, rasa sakit di sekujur tubuh Dewa Racun dan Badai Kelabu mulai berkurang. Napas mereka lancar kembali. Tapi badan masih terasa lemas untuk bergerak.

"Jangan bergerak dulu! Biarkan tenagamu pulih kembali!" kata Pendekar Mabuk kepada Dewa Racun yang mencoba untuk bangkit tapi susah.

"Racun di ujung tombak itu sangat ganas, Sut... Sut... Suto! Hawa murniku yang biasa un... un... untuk menolak racun tak mampu menghadapi keganasan racun tersebut. Ber... berarti... berarti racun itu jenis Racun Ludah Dewa."

"Apa itu Racun Ludah Dewa?"

"Ra... ra... racun yang tidak bisa dilawan, karena tidak ada penawarnya."

"Tapi badanmu yang tadinya dingin sekarang sudah menjadi hangat kembali, Dewa Racun. Demikian juga Badai Kelabu. Bahkan paras pucat mulai memudar dari wajah kalian."

"Yaa... yaa... ya, memang. Justru aku heran padamu. Tu... tu... tuak apa sebenarnya yang kau miliki, hingga terasa seperti dapat menawarkan Racun Ludah Dewa...? Sung... sungguh aku heran, Suto!"

Pendekar Mabuk hanya tersenyum. Segera ia pandangi Badai Kelabu yang sudah bisa mengerang dan menggeliat itu. Pendekar Mabuk memberi saran sama seperti yang diberikan pada Dewa Racun tadi. Badai Kelabu tak jadi mencoba untuk bangun, tapi ia bisa bicara dengan suara lemah, "Sudah matikah aku...?"

"Belum," jawab Suto sambil tersenyum. Mata Suto melihat ke arah luka-luka di tubuh Badai Kelabu, ternyata lebih cepat kering daripada luka-lukanya Dewa Racun. Mungkin hal itu dikarenakan Badai Kelabu hanya terkena racun dari gerigi yoyo milik Hantu Laut yang tidak separah racun di ujung taring babi hutan itu. Racun itu juga cukup berbahaya, hanya saja mudah ditawarkan ketimbang racun dari Pusaka Tombak Maut.

"Aku akan kembali ke sana," kata Pendekar Mabuk. "Kalian tetap saja di sini sampai aku datang kembali membawa Pusaka Tombak Maut itu."

"Suto, jangan berusaha merebut pusaka itu!" kata Badai Kelabu dengan perasaan cemas. "Tapak Baja dan pusaka itu sangat berbahaya untuk keselamatanmu. Aku takut kau terluka, Suto!" tangannya menggenggam tangan Pendekar Mabuk.

"Aku hanya ingin melihat, siapa orang yang menyerang Tapak Baja dari tempat persembunyiannya! Karena saat aku hendak membawamu pergi, Tapak Baja sedang terdesak oleh serangan berilmu tinggi," ucap Pendekar Mabuk.

"Tak perlu. Tak perlu, Suto! Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka dan cepat menuju Pulau Hitam. Guruku pasti sangat membutuhkan kamu dan menunggu-nunggu kedatangan kita!"

"Sebentar saja aku ke sana! Secepatnya aku kembali!"

"Aku takut kau jadi sasaran kemarahan Tapak Baja, Suto!"

"Aku ada di persembunyian pertama. Tidak akan turun!"

Badai Kelabu merasa tak mungkin bisa mencegah kemauan Pendekar Mabuk yang sangat keras itu. Akhirnya ia hanya berpesan, "Hati-hati, Suto! Tak perlu ikut turun seperti aku tadi!"

"Mudah-mudahan keadaannya begitu!" jawab Pendekar Mabuk, lalu segera keluar dari gua itu melalui tepian tebing karang. Dengan gesit Suto melompat dari batu ke batu, dan dalam waktu singkat ia sudah kembali berada di tempat persembunyian yang pertama. Dari ketinggian itu ia bisa melihat keadaan Tapak Baja dengan bebas. Tapi merasa kurang jelas, sehingga ia perlu melompat bagai seekor burung jantan yang terbang dan hinggap di salah satu dahan pohon. Dari dahan kedahan ia melompat, sampai akhirnya ia tepat berada di atas pohon yang digunakan Hantu Laut bersandar dalam duduknya.

Pada saat itu, Tapak Baja sedang berhadapan dengan orang berambut merah jagung. Rambut itu panjang lewat pundak tanpa ikat kepala. Alis, kumis, dan jenggotnya juga berwarna merah bulu jagung. Orang bertubuh kurus itu mengenakan jubah tanpa lengan sepanjang lutut berwarna merah tua, celana dan baju dalamnya yang berlengan panjang itu berwarna hijau muda. Dari kerutan kulit wajahnya, ia tampak seperti berusia sekitar enam puluh tahun, ia mengenakan sabuk hitam besar, dan menggenggam tongkat berkayu putih setinggi lewat kepala. Ujung tongkatnya itu berbentuk kepala singa.

Melihat matanya yang kecil tapi tajam itu, Pendekar Mabuk dapat menduga orang berambut merah itu punya kejelian pandang yang cukup tinggi. Sikap berdirinya yang selalu tegak dengan dada membusung, menampakkan ia sebagai orang yang pantang menyerah. Rupanya bukan hanya Pendekar Mabuk yang tidak mengenali tokoh tua itu, melainkan Tapak Baja sendiri juga tidak mengenalinya. Karena itu, Tapak Baja segera ajukan tanya dengan nada kasar,

"Siapa kau, Iblis keriput! Apa urusanmu denganku, sehingga kau berani menyerangku dari belakang, hah?!"

"Talang Sukma adalah namaku. Jangkar Langit adalah kakakku. Pusaka Tombak Maut adalah sasaranku. Dan nyawamu adalah alas kakiku!" jawab si Rambut Jagung yang ternyata adalah adik dari Ki Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut itu.

Mendengar pengakuan itu, Tapak Baja menggeram penuh nafsu untuk membunuhnya. Tapi ia sempat berkata dengan lantang, "Urungkan niatmu merebut Pusaka Tombak Maut ini! Kau hanya akan mati tanpa arti, Talang Sukma!"

"Demi merebut hak milik kakakku, aku siap mati di tangan siapa saja, Tapak Baja!"

"Aku yang berhak memiliki pusaka ini! Karena pusaka ini, seperti kau ketahui sendiri, sudah berada di tanganku. Berarti akulah yang berhak memilikinya!"

"Orang sesat seperti kau tak pernah punya hak memiliki pusaka apa pun, Tapak Baja!"

"Keparat! Terlalu semborono bicaramu, Talang Sukma!"

"Tak perlu beramah tamah bicara dengan pengikut iblis seperti kau, Tapak Baja! Tak perlu sabar bersikap di depan penganut setan sesat seperti dirimu!"

"Jahanam kau! Hihhh...!" Tapak Baja segera kirimkan pukulan bertenaga dalam cukup tinggi. Dari telapak tangan kirinya keluar sinar biru yang disusul dengan sinar merah di belakangnya.

Wuttt wuttt!

Dua sinar menyerang Talang Sukma yang berjarak delapan langkah itu. Tapi oleh Talang Sukma, sinar itu disingkirkan melalui kibasan tongkatnya yang disabetkan ke kiri dengan menggunakan dua tangan dan kaki merendah ke belakang.

Wuusss! Arah kedua sinar yang saling susul itu membelok dan menghantam sebuah pohon jati.

Bezz... bezzz! Zzruubbb!

Pohon jati itu lenyap, berganti serbuk yang menyerupai tepung dan menggunung di tempat pohon itu semula berada. Tapak Baja terkesiap melihat kedua sinarnya bisa dibelokkan arahnya, ia semakin menggeram karena merasa disepelekan ilmunya.

Talang Sukma melangkah pelan ke samping kiri dengan memutar-mutar tongkat panjangnya bagai dipermainkan di sela-sela jarinya. Bunyi putaran tongkat itu mirip serombongan lebah menggaung dan angin putarannya membuat dedaunan tersingkap. Daun-daun yang tersingkap itu segera berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklat-coklatan. Jelas kibasan angin itu mempunyai tenaga dalam yang tinggi dan sengaja dipamerkan kepada Tapak Baja, biar menjadi bahan perhitungan bagi Tapak Baja.

Namun, agaknya Tapak Baja tidak mau peduli dengan kibasan tongkat berputar itu. Matanya segera melirik bayangan Talang Sukma yang jatuh di atas sebuah gugusan batu. Tapak Baja cepat sentakkan kakinya, dan tubuh pun melayang cepat ke arah gugusan batu itu. Lalu, ujung tombak dipakai menghantam gugusan batu tersebut.

Trakk...! Blarrr!

Batu itu pecah menjadi serpihan pasir yang membara merah mengepulkan asap panas. Sedangkan Talang Sukma tetap berdiri tegak sambil memutar-mutarkan tongkatnya. Karena pada saat tombak itu dihantamkan pada batu ia telah melompat lebih dulu hingga bayangannya pindah di tempat lain. Rupanya Tapak Baja telah tertipu. Talang Sukma telah mengetahui kehebatan tombak pusaka milik kakaknya itu, sehingga bisa mengecohkan gerakan Tapak Baja. Segera Talang Sukma sodokkan tongkatnya ke depan dan dari kepala tongkat itu menyembur sinar kuning dalam sekejap.

Zubbb! Crab crab crab! Blllaaar!

Sinar kuning itu bagai tersedot oleh ujung tombak dan akhirnya melesat sinar kuning kemerahan dari ujung tombak, arahnya ke atas dan meledak di angkasa sana. Dua pohon patah dahannya, dan jatuh di dekat Resi Kidung Sentanu yang tetap berdiri dengan sikap semadinya. Kejap berikutnya Talang Sukma menarik tongkatnya ke belakang, tapi tangan kirinya menyentak ke depan seperti orang melemparkan sesuatu dari telapak tangannya.

Ternyata dari telapak tangan kirinya itu keluar tenaga dalam yang berasap biru. Tenaga itu melesat tanpa wujud ke arah Tapak Baja, membuat Tapak Baja segera menyilangkan tombak itu ke samping. Tombak itu dipegang dengan dua tangan dan keluarlah loncatan api biru bagaikan petir menyambar tongkat Talang Sukma setelah terlebih dulu menembus tenaga dalam yang meluncur kearahnya.

Blluub! Tarrr!

Talang Sukma melompatkan badan ke kanan. Kayu tongkatnya yang putih menjadi hitam di bagian tengahnya, tapi belum patah. Kayu itu terkena kilatan cahaya biru yang terasa menyengat di telapak tangan Talang Sukma. Hampir saja tangan itu melepaskan genggaman pada tongkatnya. Segera tongkat itu dipegang oleh tangan kiri dan tangan kanan mengibas ke samping, memercikkan sinar merah berbintik-bintik menerjang Tapak Baja.

Zrappp!

Tapak Baja cepat melakukan kibasan memutar pada tombaknya. Tombak itu memutari kepala dengan cepat dan keluarlah sinar hijau muda yang mengelilingi tubuhnya. Sinar hijau muda itu membuat butiran sinar merah tadi meletup dan mengepulkan asap hitam pekat tersembur ke atas. Bahkan ketika kaki Talang Sukma menendang sebongkah batu satu genggaman tangan, batu itu melesat ke arah Tapak Baja.

Tapi sebelum sampai menyentuh sinar hijau yang mengelilinginya itu, batu tersebut telah hancur dalam satu ledakan kecil yang cukup mengagumkan bagi orang awam. Rupanya sinar hijau itu menjadi pagar bertenaga tinggi, terbukti Talang Sukma tak berani menerobos masuk ke dalam lingkaran sinar hijau tersebut.

"Ayo, dekatlah! Majulah kalau kau memang berilmu tinggi!" teriak Tapak Baja menantang.

"Aku tak mau mati terbakar!" kata Talang Sukma. "Tapi barangkali tongkatku ini bersedia untuk terbakar!"

Zubbb...!

Talang Sukma lemparkan tongkatnya dengan kuat. Tongkat meluncur cepat ke arah Tapak Baja, menerobos lingkaran sinar hijau. Zrubbb! Tongkat itu terbakar dan menjadi hangus, tapi masih mampu melesat cepat dan menghantam pangkal ketiak Tapak Baja.

Duuub!

Sentakan tongkat itu begitu keras, sehingga Tapak Baja terpelanting ke belakang dan jatuh. Tombaknya terlepas dari tangan, jatuh di depan Hantu Laut. "Cepat ambil!" teriak Tapak Baja.

Maka, Hantu Laut dengan cepat berguling sambil meraih tombak itu. Kini ia berdiri dengan menggenggam tombak. Membawanya lari ke tempat yang aman. Melihat tombak di tangan Hantu Laut, Tapak Baja menjadi lega. Ia cepat berdiri dan siap menghadang serangan Talang Sukma.

Pendekar Mabuk ingin turun dari atas pohon untuk merebut tombak itu, tapi Hantu Laut berdiri di samping Resi Kidung Sentanu. Salah-salah jika Pendekar Mabuk menerjang untuk merebutnya, tombak itu bisa dikibaskan sembarangan oleh Hantu Laut dan mengenai Resi Kidung Sentanu. Suto menahan diri untuk tidak melakukannya.

Tetapi di pohon belakang Hantu Laut, Pendekar Mabuk melihat Dewa Racun telah berdiri di sana. Dewa Racun berada lebih bawah dari Badai Kelabu yang bertengger dengan tubuh segar di atas Dewa Racun. Pendekar Mabuk memberi isyarat agar jangan merebut tombak itu dulu, sebelum Hantu Laut menjauhi Resi Kidung Sentanu. Sebab Pendekar Mabuk tahu, orang berkepala gundul itu cukup bodoh dan akan menggunakan tombak itu secara sembarangan jika keadaannya terdesak. Suto khawatir tombak itu akan menewaskan Resi Kidung Sentanu karena kebodohan Hantu Laut.

Melihat tombak berada di tangan Hantu Laut, Talang Sukma segera mengejarnya. Tapi lompatannya dipatahkan oleh terjangan Tapak Baja dari belakang. Dua pukulan telapak tangan yang mengepulkan asap merah itu mengenai punggung Talang Sukma dengan telak.

Bleg, bleg!

"Haagh...?!" Talang Sukma tersentak melengkung ke belakang dan jatuh tanpa daya lagi. Ia berusaha mengerang dan menggeliat. Tapi punggungnya yang hangus terbakar oleh dua pukulan itu telah membuatnya hanya bisa berguling ke samping dan tubuhnya terlentang di tanah. Ternyata bekas hangus itu terlihat nyata di dada Talang Sukma dan mengepulkan asap berbau sangit. Rupanya pukulan ampuh Tapak Baja itu telah tembus sampai dibagian dada dan membuat Talang Sukma akhirnya meregang nyawa, tak berkutik selamanya.

Suto segera melompat turun dari atas pohon sambil menyentilkan jari telunjuknya. Jurus 'Jari Guntur' dipakainya. Sentilan jarak jauh itu mengenai pelipis Tapak Baja, dan Tapak Baja terlempar karena sentakan yang begitu kuat tersebut.

"Bangsaaat...!" teriaknya sambil tubuh itu jatuh berdebum di dekat Hantu Laut.

Suto berdiri tegak menghadap Tapak Baja, siap menjadi musuh tandingan yang akan memusnahkannya. Tapi tanpa diduga-duga oleh Pendekar Mabuk dan yang lainnya, Hantu Laut cepat menikamkan Pusaka Tombak Maut itu ke lambung Tapak Baja.

Jrubbb!

"Haagghh...!" Tapak Baja mendelik, memegangi tombak itu, dan makin lama pegangannya makin lemah. Tombak segera dicabut kembali oleh Hantu Laut yang tertawa keras dan berseru,

"Dendamku terbalaskan sekarang! Ha ha ha! Sekian puluh tahun aku menyimpan dendam terhadap keganasanmu, Nakhoda! Sekian lamanya kau hina aku dengan kekuasaanmu! Sekarang kau takakan bisa memperbudak aku seenaknya saja! Kukirim kau ke neraka sana dan jadilah nakhoda kapal disana!"

"Han... Han... Hantu Laaa... Lauuut...!" tubuh Tapak Baja roboh. Tangannya masih meremas rumput kuat-kuat bagai menggenggam kemarahan dan dendam yang tak bisa terbalaskan. Karena kejap berikut Tapak Baja meregang nyawa, ia mati dalam keadaan mulut ternganga dan mata mendelik.

"Sekarang akulah Nakhoda Kapal Neraka! Tak ada yang bisa memerintahku dengan sewenang-wenang! Bahkan Siluman Tujuh Nyawa pun bila perlu kulawan dengan Pusaka Tombak Maut ini! Haaa... ha... ha ha ha!"

Tawanya itu terhenti karena Dewa Racun dan Badai Kelabu turun dari atas pohon. Hantu Laut segera memandang mereka dengan buas dan liar. Ia siap kibaskan tombak dengan badan sedikit membungkuk.

"Mau apa kalian, hah?!" bentak Hantu Laut dengan wajah angker.

"Kembalikan pusaka itu kepada pemiliknya!" kata Pendekar Mabuk.

"Tidak bisa! Akan kupakai melawan Siluman Tujuh Nyawa yang selama ini memerintahku seperti memerintah binatang!"

"Akan kudukung usahamu itu! Akan kubantu! Tapi serahkan pusaka itu kepada pemiliknya!" bujuk Suto Sinting.

"Tidak bisa! Tanpa pusaka ini aku lemah dan tidak punya kekuatan apa-apa! Aku harus tunjukkan kepada Siluman Tujuh Nyawa, bahwa aku bisa menggantikan jabatan Tapak Baja sebagai Nakhoda Kapal Neraka yang mampu memusnahkan lawan dalam sekejap. Pertama-tama akan kuhancurkan dulu penguasa Pulau Beliung, sebagai perintah lanjutan dari Siluman Tujuh Nyawa. Setelah itu kuhancurkan pulau-pulau lainnya, dan yang terakhir Siluman Tujuh Nyawa sendiri akan kuhancurkan seperti aku menghancurkan isi tubuh Tapak Baja!"

"Dengar, Hantu Laut...!"

"Jangan mendekat! Kutancapkan tombak ini ke tanah, kalian akan mati menghirup udara beracun!"

Dewa Racun ingin bergerak melemparkan pisaunya yang selalu ada di samping kanan-kiri, tapi tangan Pendekar Mabuk memberi isyarat agar jangan dulu melakukan hal itu, karena ujung tombak sudah menghadap ke tanah.

Pendekar Mabuk melihat angin berhembus cukup kencang ke arah timur, sedangkan di timur ada satu pulau yang berpenghuni. Racun yang keluar dari dalam tanah akibat tombak ditancapkan ke tanah, bisa terbawa angin ke timur dan menyebarkan kematian di sana.

"Kalau kalian masih sayang nyawa, jangan mendekatiku dan jangan sampai bertemu denganku, kapan saja, juga di mana saja! Mengerti?!" bentak Hantu Laut. Kemudian ia cepat sentakkan kaki dan melesat pergi tinggalkan tempat itu.

Melihat Pendekar Mabuk hanya diam saja, Dewa Racun dan Badai Kelabu juga merasa ragu untuk mengejar Hantu Laut. Tapi Badai Kelabu segera ajukan tanya kepada Suto. "Mengapa tidak kita kejar dia?"

"Dia orang ngawur! Angin bertiup ke timur, kalau dia tancapkan tombak ke tanah dan gas beracun keluar, bisa terbang terbawa angin dan terhirup oleh penduduk pulau sebelah timur sana. Korban akan berjatuhan!"

"Benar juga," gumam Badai Kelabu. "Pulau tempat tinggalku juga ada di sebelah timur. Bisa-bisa hawa racun itu terbawa angin sampai ke pulau tempat tinggalku!"

"Kita mesti mengejarnya, tapi tidak harus menyerangnya secepat ini!" kata Suto.

"Bagaimana dengan Resi Kidung Sentanu itu?" kata Dewa Racun.

Pendekar Mabuk segera memeriksanya, dan ia terkejut, bahwa ternyata Resi Kidung Sentanu sudah tidak bernyawa lagi. Ia mati dalam keadaan berdiri dan dalam sikap bersemadi. "Kurasa ia telah mati sejak tadi," gumam Badai Kelabu.

"Ya. Kurasa ia mati sejak dadanya ditoreh dengan tombak itu melalui bayangan terbangnya," sambung Suto.

"Lan... lantas... bagaimana dengan kita, mau mengikuti pelarian Hantu Laut atau... atau... melanjutkan perjalanan ke Pulau Hitam?"

Suto Sinting diam beberapa saat, lalu terdengar gumamnya seperti bicara pada diri sendiri, "Dia pasti menuju Pulau Beliung. Bahaya! Orang-orang yang ada di Pulau Beliung tak mungkin bisa menandingi kehebatan Pusaka Tombak Maut itu!"

"Sebaiknya pergi dulu ke pulauku!" desak Badai Kelabu.

"Jangan pikirkan Cempaka Ungu dulu!"

"Bukan Cempaka Ungu yang kupikirkan!" sahut Pendekar Mabuk. "Tapi amukan Hantu Laut yang bodoh dan tidak pernah pakai perhitungan dalam bergerak, ia sedang merasa bangga memiliki pusaka itu, tak heran jika ia menggunakannya secara sembarangan! Pusaka itu akan menggegerkan penduduk tiap pulau yang disinggahinya!"

"Jad... jadi... bagaimana?" tanya Dewa Racun dengan gusar.

Suto masih mempertimbangkan, mengejar pelarian Hantu Laut agar mencegah banyaknya korban yang berjatuhan atau menyembuhkan gurunya Badai Kelabu terlebih dulu? Hal yang makin menyangsikan Pendekar Mabuk adalah, bahwa Hantu Laut ingin membuktikan di mata Siluman Tujuh Nyawa, dia mampu menjalankan tugas, menggantikan kehebatan Tapak Baja. Sasaran utamanya adalah Pulau Beliung, sedangkan di Pulau Beliung ada Singo Bodong. Padahal keselamatan Singo Bodong ada dalam tanggung jawab Suto.

Haruskah Pendekar Mabuk kembali ke Pulau Beliung menghadang Hantu Laut? Atau mengejar Hantu Laut sebelum sampai ke Pulau Beliung? Atau meneruskan perjalanan ke Pulau Hitam yang tinggal separo hari lagi itu? Pertimbangan Pendekar Mabuk ada dalam kisah selanjutnya.

SELESAI