Social Items

Serial Pendekar Mabuk
Pertarungan Di Bukit Jagal
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
ANGIN laut berhembus guncangkan dahan dan dedaunan. Suara deru yang timbul dari hembusan angin itu menandakan di tengah samudera telah terjadi badai lautan yang melemparkan gulungan-gulungan ombak. Ketika sampai di tepi pantai, gulungan ombak itu sudah menjadi anak ombak. Tak begitu besar, namun cukup kuat berdebur menghantam bebatuan ataupun tebing karang.

Hembusan angin laut yang masih terasa kencang itu menerpa dua wajah perempuan disela-sela hutan tepi pantai. Dua wajah itu sudah semalaman berada di hutan tepi pantai menunggu mangsanya tiba. Dua wajah perempuan yang masing-masing mempunyai nilai kecantikan sendiri-sendiri itu tak lain adalah wajah Selendang Kubur dan wajah Peri Malam.

Melihat dari bibir-bibir mereka yang tanpa seulas senyum, terlihat sikap bermusuhan mereka yang terpendam untuk sementara waktu. Peri Malam sebentar-sebentar memandang ke arah lorong kecil yang menyerupai gua, yang ada di atas tebing karang tepi pantai. Lorong kecil itu hanya bisa dimasuki oleh satu tubuh manusia dalam keadaan merangkak. Tapi sejak tadi, bahkan sejak kemarin Peri Malam tidak melihat sosok tubuh keluar dari lorong tersebut.

Selendang Kubur sering hembuskan napas bersama desah kekesalan hatinya. Sudah cukup lama dipandangi lorong kecil itu, lalu ia palingkan wajah kepada Peri Malam dan berkata dengan nada ketus, "Mana orang itu?! Sampai sekarang belum juga muncul dari sana!"

"Jangan-jangan dia mati dibunuh Pendekar Mabuk di dalam lorong!" ucap Peri Malam dengan wajah bersungut-sungut.

"Atau mungkin angan-anganku yang mati dibunuh bualanmu!" Selendang Kubur berkata begitu karena kecemasan di dalam hatinya semakin kuat, yaitu kecemasan dipermainkan oleh Peri Malam.

"Kalau aku mau membual, tak perlu membual untukmu! Tak pernah ada untungnya menebar bualan untukmu, Selendang Kubur!"

Debur ombak kembali terdengar bergemuruh panjang, lalu lenyap bagai ditelan sepi. Selendang Kubur kembali merenungi peristiwa yang membawanya terpatok di hutan tepi pantai itu. Semua itu terjadi gara-gara perasaan cintanya terhadap murid sinting Si Gila Tuak, yaitu Suto Sinting, Pendekar Mabuk. Kalau bukan karena cinta yang begitu dalam. Selendang Kubur tak sudi menghadang kemunculan Nyai Lembah Asmara di hutan tepi pantai itu.

Seperti dikisahkan dalam cerita Murka Sang Nyai sebelum kisah ini, bahwa Pendekar Mabuk terpedaya oleh tipuan Perawan Sesat yang membuat Suto merasa gembira karena ingin dipertemukan dengan kekasih idamannya yang bernama Dyah Sariningrum. Suto sudah telanjur beranggapan bahwa Nyai Lembah Asmara yang berkuasa di lereng Bukit Garinda itu adalah perempuan yang bernama Dyah Sariningrum, yang wajahnya ditemukan Pendekar Mabuk di alam semadi, maupun di alam mimpi. Tetapi, ternyata Pendekar Mabuk kecewa. Nyai Lembah Asmara adalah perempuan yang tidak mirip sama sekali dengan Dyah Sariningrum.

Suto terjebak dalam Racun Darah Asmara yang dimiliki oleh sang Nyai itu. Pendekar Mabuk hanya ingin dijadikan pembenih bagi keturunan sang Nyai. Dan hal itu membuat murka para perempuan yang mencintai Suto. Maka, melabraklah Peri Malam, Selendang Kubur yang dibantu oleh Pujangga Keramat dan Betari Ayu, guru dari Selendang Kubur. Bukit Garinda diobrak-abrik oleh keempat orang itu. Sayang, Pujangga Keramat tewas di tangan Maharani dan Putri Alam Baka, murid Nyai Lembah Asmara sendiri.

Betari Ayu berhasil mendobrak pintu kamar peraduan yang menjadi tempat kencan Nyai Lembah Asmara dan Pendekar Mabuk. Tetapi di dalam kamar itu, Betari Ayu tidak menemukan Pendekar Mabuk maupun Nyai Lembah Asmara. Rupanya Nyai Lembah Asmara sudah lebih dulu melarikan Suto dengan menunda kencan birahinya yang telah menggebu-gebu itu.

Ke mana larinya, hanya Peri Malam yang bisa menduga, karena Peri Malam pernah menjadi murid sekaligus pelayan kamar peraduan Nyai Lembah Asmara. Menurut dugaan Peri Malam, kamar itu mempunyai pintu rahasia yang tembus ke tepi pantai. Atau dugaan lain, Nyai Lembah Asmara membawa lari Suto ke puncak bukit. Karenanya, tugas pun dibagi. Peri Malam dan Selendang Kubur menghadang pelarian Nyai Lembah Asmara ke pantai, dan Betari Ayu mencoba pengejarannya ke puncak bukit.

Sayangnya Betari Ayu tidak segera menghubungi Peri Malam dan Selendang Kubur untuk memberitahukan, bahwa ia sudah berhasil menemukan Suto yang selamat dari ancaman Nyai Lembah Asmara. Peri Malam dan Selendang Kubur tidak tahu hal itu, sehingga mereka berdua masih tetap menunggu di dekat lorong tembus yang diduga akan menjadi ujung pelarian Nyai Lembah Asmara dan Suto. Padahal saat itu Nyai Lembah Asmara sudah dibawa lari oleh Si Mawar Hitam, nenek keriput peot yang dulu menjadi guru dari Peri Malam.

Tentu saja penantian mereka adalah penantian yang sia-sia. Selendang Kubur berulang kali melontarkan gerutu kejengkelannya, tapi Peri Malam tak pernah mau peduli. Bahkan Peri Malam berkata, "Kalau kau bosan menunggu, pergilah sana! Biar kuhadapi sendiri Nyai. Kau pikir aku tak mampu merebut Suto dari tangan Nyai?!"

"Dan kau pikir aku tak mampu merebut Suto dari tanganmu?!"

Peri Malam lemparkan pandang ke wajah Selendang Kubur dengan tajam. Ia masih duduk dengan kaki kiri melonjor dan punggung bersandar pada batang pohon tumbang. Tatapan mata itu makin ditentang oleh mata Selendang Kubur. Ia tetap berdiri dengan satu kaki menumpang di atas batang kayu tumbang, sedangkan kaki satunya lurus berpijak tanah, badannya sedikit membungkuk karena lengannya digunakan bertumpu pada paha kaki.

Setelah mereka saling pandang bermusuhan dan sama-sama bungkamkan mulut, Peri Malam palingkan wajah ke arah lain sambil ucapkan kata, "Kelak, suatu saat, aku yakin satu di antara kita ada yang terbunuh. Kau membunuhku atau aku membunuhmu. Sebab tanpa ada satu yang kalah, tak mungkin Pendekar Mabuk mengawini keduanya."

"Dan yang kalah itu adalah kamu!" kata Selendang Kubur berlagak acuh tak acuh, memandang dedaunan pohon di atas.

Terdengar suara tawa Peri Malam yang lirih, disusul oleh ucapan, "Jangan merasa yakin dulu bahwa kau bisa membunuhku. Kau belum menyadari betapa kecilnya ilmu yang kau miliki itu sebenarnya, betapa ceteknya kekuatanmu itu untuk melawanku. Sebenarnya kau memang bukan tandinganku."

Panas hati Selendang Kubur menyengat ubun-ubun. Kedua tangannya telah menggenggam kuat, menahan luapan kemarahan yang ingin dihajarkan ke wajah Peri Malam. Tapi agaknya Peri Malam pun sudah siaga menghadapi serangan sewaktu-waktu. Posisi kakinya yang dilipat dengan lutut tegak ke atas itu dapat menyambar pukulan sewaktu-waktu. Mata Peri Malam pun tampak tajam melirik penuh waspada.

"Sekali lagi kau memancing kemarahanku, kujadikan tempat ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!" ancam Selendang Kubur seraya menurunkan kakinya yang bertengger di batang pohon tumbang.

Peri Malam hanya sunggingkan senyum tipis bernada sinis. Ia pun segera bangkit dan melangkah dua tindak membelakangi Selendang Kubur sambil berkata, "Kalau memang rasanya itu yang terbaik, mengapa harus tunda pertarungan? Tak keberatan diriku menjadikan tempat ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!"

Sreet...! Selendang Kubur segera mencabut selendangnya dari pinggang. Peri Malam cepat balikkan badan dan angkat kedua tangannya ke atas, siap lancarkan pukulan jarak jauhnya. "Cobalah serang aku kalau kau ingin kehilangan nyawa secepatnya!" gertak Selendang Kubur.

"Kau sendiri tak berani menyerangku, karena aku tahu kau takut kehilangan nyawamu!"

"Keparat kau! Hiaah...!"

Wuuut...!

Kain selendang dikibaskan ke depan. Gerakannya begitu cepat bagaikan seekor ular yang gesit mematuk mangsanya. Tapi pada saat itu, Peri Malam tak kalah gesit. Ia keraskan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka, ia sentakkan ke depan dan melesatlah suatu kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.

Weeegh...!

Selendang Kubur sentakkan ujung kakinya hingga tubuhnya melesat naik lurus ke atas dan hinggap di salah satu dahan pohon. Peri Malam juga sentakkan kakinya dan tubuhnya melayang cepat lurus ke atas, lalu hinggap di salah satu dahan dalam pohon itu juga. Keduanya sama-sama menghindari pukulan, sehingga kedua pukulan bertenaga dalam itu tidak mengenai sasaran, kecuali mengenai benda-benda lain di sekitar mereka.

Peri Malam melihat pukulannya nyasar ke sebongkah batu dan batu itu menjadi terbelah tiga bagian. Selendang Kubur melihat tenaga dalam yang keluar dari ujung selendangnya mengenai bongkahan akar pohon kering, dan akar pohon itu menjadi hangus seketika.

Kini keduanya sama-sama di atas pohon beda dahan. Keduanya sama-sama siap lancarkan serangan lagi. Tapi sebelumnya Peri Malam berkata dengan sungging senyum sinisnya. "Kulunakkan pukulanku, karena aku masih memberimu kesempatan untuk berpikir dalam menghadapiku. Sekali lagi kuingatkan, aku bukan lawan tandingmu, Selendang Kubur!"

"Kupikir memang benar, aku bukan lawan tandingmu. Karena kau merasa tak akan bisa mengungguli ilmuku, sehingga kau hanya bisa berkoar-koar seperti itu sejak dulu!"

Hinaan balik itu membuat hati Peri Malam makin menggeram. Tapi hatinya berkata, "Memang kuakui dia punya ilmu lumayan tinggi. Kalau pertarungan ini kulakukan sekarang juga, aku atau dia yang kalah, dan hal itu akan menguntungkan Ratu. Untuk merebut Suto dan mengalahkan Ratu, aku masih membutuhkan bantuannya. Tak cukup imbang ilmuku jika sendirian dalam melawan Ratu! Sebaiknya, kutunda dulu dendamku kepadanya."

Melihat tangan kekar Peri Malam mengendurkan urat-uratnya, Selendang Kubur pun sedikit demi sedikit mengurangi ketegangannya. Saat itu terucap di dalam hati Selendang Kubur, "Kalau kulayani dia sekarang, bisa habis tenagaku melawan Nyai Lembah Asmara nanti. Sebaiknya kuhemat dulu tenagaku untuk menghimpun kekuatan. Tanpa kekuatan yang penuh seperti saat ini, sepertinya mustahil aku bisa mengalahkan Nyai dan merebut Pendekar Mabuk dari tangannya!"

Kedua perempuan itu kembali memandang ke arah lorong di atas tebing karang. Lorong itu masih sepi, tanpa seekor tikus pun keluar masuk di dalamnya. Bungkamnya kedua mulut mereka yang menciptakan keheningan cukup panjang itu telah membuat Selendang Kubur mempunyai gagasan lain,

"Bagaimana kalau kita periksa saja ke dalam lorong itu?! Siapa tahu justru Nyai Lembah Asmara sedang "menggarap' Suto di dalam lorong!"

"Atau mungkin mereka memang tidak lewat pintu rahasia di dalam kamar itu? Jika Nyai Lembah Asmara tidak membawa lari Suto melalui pintu rahasia, biar sampai mampus tak akan kita temukan mereka di sini!"

"Kalau begitu, biarlah kuperiksa sendiri lorong itu sampai ke bagian dalamnya!" kata Selendang Kubur bersiap untuk pergi.

Tapi Peri Malam segera palingkan wajah dan pandangannya lebih tajam, "Pergilah ke sana kalau kau ingin cepat mati dihujam jebakan maut yang dipasang di dalam lorong itu!"

"Jebakan...?!" gumam perempuan berpakaian merah dadu itu.

"Nyai memasang banyak jebakan di sana, sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk ke lorong itu! Siapa yang terkena jebakan di sana tak akan hanya sekadar menderita luka saja, tapi pasti mati tanpa nyawa sedikit pun!"

Selendang Kubur menggerutu pelan, "Yang namanya mati ya tanpa nyawa!" Kemudian, ia menatap lorong tersebut sambil memutar otaknya, mencari jalan menuju kepastian, tetap menunggu di situ, atau pergi dengan kesimpulan lain? Kejap berikutnya Selendang Kubur melompat ke dahan yang dipijak Peri Malam. Sambil melompat ia berkata, "Bagaimana kalau kita cari di tempat lain? Barangkali bukan lorong itu yang menjadi tempat keluar mereka?!"

Peri Malam hampir kaget sedikit dan hampir kibaskan tangannya ketika Selendang Kubur tahu-tahu ada di sampingnya. Setelah melihat tak ada gelagat untuk menyerang pada diri Selendang Kubur, Peri Malam pun turunkan tangannya dan menjawab pertanyaantadi, "Kurasa tak ada jalan keluar lainnya! Cuma lorong itulah satu-satunya jalan keluar!"

"Atau, barangkali saja mereka tidak melalui pintu rahasia? Mungkin saja mereka pergi ke puncak bukit? Dan di sana mereka pasti akan bertemu dengan Nyai Guru Betari Ayu!"

"Ya. Memang itu satu kemungkinan! Tapi aku tak yakin apakah gurumu punya ilmu yang cukup untuk menandingi Nyai Lembah Asmara?!"

Selendang Kubur tersinggung gurunya diremehkan. Cepat berkelebat tangannya menghantam rusuk Peri Malam dengan menggunakan punggung telapak tangan. Tapi, cepat pula tangan Peri Malam menangkisnya dengan cara mengadu telapak tangannya dengan pukulan lawan.

Plakk...!

"Sekali lagi kau meremehkan guruku, kurobek jantungmu!" geram Selendang Kubur dengan mata mendelik garang.

"Kau tak akan bisa, Selendang Kubur!" ucap Peri Malam dengan senyum sinis. Tapi dalam hatinya ia membatin, "Boleh juga pukulan tangannya. Tulang lenganku jadi ngilu dan telapak tanganku kesemutan akibat menahan pukulan tangannya."

Selendang Kubur kendurkan urat, lepaskan ketegangan. Tapi wajahnya masih terlihat kaku dan penuh kedongkolan. Diam-diam rupanya Selendang Kubur juga membantin kata, "Sial! Gerakan tangkisnya begitu cepat! Tak bisa aku mencuri kesempatan untuk meremukkan tulang rusuknya. Tenaga dalamnya begitu cepat mengalir ke telapak tangannya, membuat kulit tanganku terasa panas sekali mendapat tangkisan telapak tangannya!"

Selendang Kubur mengambil posisi duduk di antara tiga dahan yang berjajar mirip balai-balai kecil. Punggungnya dipakai bersandar pada dahan besar lainnya. Sementara itu, Peri Malam pun merasa perlu sedikit santai, ia duduk dengan satu kaki berjuntai dan satunya lagi menapak di salah satu dahan. Punggungnya yang bersandar di bagian batang utama pohon itu. Ia memetik segerumbul buah yang mirip duku itu dan memakannya dengan menyipit-nyipitkan mata karena kecut.

"Peri Malam," sapa Selendang Kubur setelah merasakan jenuhnya dilanda sepi dalam keadaan berduaan seperti itu.

"Hmmm...!" Peri Malam menggumam tak berpaling memandang.

"Apakah kau benar-benar mencintai Pendekar Mabuk?!"

"Apa perlunya kau bertanya begitu?" Peri Malam ganti bertanya.

"Jawab saja pertanyaanku, daripada aku harus memaksamu dengan ancaman mencekik lehermu!"

Peri Malam lepaskan tawa kecil. "Hi hi hi. Kalau aku tidak benar-benar mencintai Suto, untuk apa aku bersusah payah begini, sampai kubela-bela menjadi murid murtad dan hidup tanpa naungan! Perasaanku terhadap Suto begitu dalam, kadang menyenangkan, kadang menyakitkan. Karena sikap Suto kepadaku tak pernah punya kepastian."

Selendang Kubur tarik napas panjang, lalu berkata, "Seingatku sudah dua kali kita bentrok gara-gara lelaki dan cinta."

"Apakah menurutmu kita ini perempuan-perempuan bodoh? Apakah menurutmu kita ini wanita yang dungu, yang mau diperbudak oleh ketampanan seorang lelaki sehingga mau-maunya bertaruh nyawa untuk mendapatkannya?"

"Mungkin juga," jawab Selendang Kubur kecil sekali. Tangannya masih memainkan daun-daun pohon yang dicabut-cabut tepiannya.

"Apakah menurutmu, seorang perempuan mempertaruhkan nyawa untuk seorang lelaki itu adalah tindakan yang keliru?"

"Tergantung lelakinya," jawab Selendang Kubur. "Kalau lelakinya punya cinta dan kesetiaan kepada kita, nyawa yang dipertaruhkan adalah suatu kemuliaan yang tinggi dari seorang wanita."

"Tapi jika ternyata Pendekar Mabuk tidak mencintai satu di antara kita, apakah kita harus tetap bertaruhkan nyawa, saling bertarung dan saling berusaha membunuh?"

"Itu yang kupikirkan sejak tadi, Peri Malam! Kau atau aku yang mati nantinya, belum tentu ditangisi oleh Suto. Kau atau aku yang menang nantinya, belum tentu dicintai oleh Suto!"

"Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi dia sangat tampan dan menawan hati. Dia punya daya tarik yang luar biasa, yang membuat hatiku terjerat lekat!"

"Hatiku pun terjerat lekat, Peri Malam. Tak bisa kubohongi lagi, aku sangat merindukan kehangatan cintanya!"

"Jadi kesimpulan yang ada ialah, bahwa ketampanan dan daya tariknya itulah yang membuat kaum wanita saling bunuh seperti binatang! Ketampanan Pendekar Mabuk itulah racun bagi kita, Selendang Kubur!"

"Barangkali memang begitu. Sebab kupikir-pikir, seandainya tak ada Suto, mungkin kita tidak akan berselisih lagi, mungkin kita tidak saling membunuh lagi!"

"Bagaimana kalau kita lenyapkan saja dia, Selendang Kubur?!"

Usul itu membuat Selendang Kubur terperanjat bagai sadar dari lamunan panjangnya, ia menggumam, "Maksudmu, kita bunuh dia supaya tidak menjadi racun permusuhan bagi kita?"

"Ya. Bukan hanya bagi kita, tapi bagi kaum perempuan lainnya!"

* * *

DUA
ANGIN berhembus entah dari mana datangnya. Pikiran kedua perempuan itu jadi berubah. Hati yang jatuh cinta menjadi benci. Jiwa yang rindu berubah menjadi kering. Sikap terpikat menjadi dendam kesumat. Maka mereka berdua pun bergegas pergi mencari Suto dengan tujuan membunuh Pendekar Mabuk itu. Arah pertama yang mereka tuju adalah puncak Bukit Garinda. Tapi di sana mereka tidak menentukan siapapun.

"Tapi aku yakin, Suto beberapa waktu ada di sini sebelum kita tiba," kata Peri Malam.

"Dari mana kau tahu?"

"Sisa bau keringatnya masih bisa tercium oleh hidungku!" jawab Peri Malam sambil menghirup-hirup udara, mendengus-dengus ke sana-sini. Sampai akhirnya arah hidungnya berhenti menghadap timur. "Hmm... dia pergi ke arah timur. Kita kejar dia ke timur, Selendang Kubur!"

Cepat mereka melesat secepat angin dari barat. Hembusan angin dari barat membuat Peri Malam kehilangan penciumannya. Bau keringat Pendekar Mabuk tak terlacak lagi. Mereka kehilangan arah dan berhenti di salah satu gugusan tanah cadas yang membukit.

"Aku kehilangan penciumanku," kata Peri Malam.

"Bagaimana kalau kita kejar terus ke timur?"

"Belum tentu dia ke sana. Mungkin membelok arah utara atau ke selatan, mana kita tahu?"

"Jika begitu, kita berpencar! Kau ke utara aku ke selatan!"

Usul Selendang Kubur direnungkan sebentar oleh Peri Malam, sesaat kemudian terdengar suara Peri Malam berkata, "Jika aku ke utara, kau ke selatan, lantas siapa yang timur?"

Tiba-tiba terdengar jawaban di belakang mereka, "Aku...!"

Serentak kedua perempuan itu palingkan muka ke belakang, dan terperanjat mereka melihat seraut wajah cantik dengan rambut acak-acakan telah berdiri tegak dengan sepasang kaki sedikit merentang. Wajah berambut acak-acakan itu mengenakan pakaian ketat warna ungu muda dengan ikat pinggang kuning.

Ia juga menyandang pedang gading di punggungnya, dengan wajah dan sorot pandangan mata berkesan beringas. Selendang Kubur dan Peri Malam tak asing lagi dengan perempuan berambut jabrik itu, yang tak lain adalah Perawan Sesat. Selendang Kubur segera sigap pasang kuda-kuda untuk menyerang. Peri Malam hanya pasang kewaspadaan yang sewaktu-waktu tangan dan kakinya siap hadapi serangan pula. Tapi Perawan Sesat tampak tenang-tenang saja.

"Apa maksudmu ikut menjawab percakapan kami, Perawan Sesat?!" sentak Peri Malam dengan mata tak bergeser sedikit pun dari wajah cantik berkesan beringas itu.

"Aku mengikuti percakapan kalian sejak dari hutan tepi pantai!" kata Perawan Sesat. "Dan aku sangat tertarik dengan rencana kalian itu! Pendekar Mabuk memang harus dilenyapkan, karena dia menyebar racun cinta yang membuat sesama perempuan saling membunuh!"

"Rupanya kau mengalami nasib yang sama dengan kami, Perawan Sesat? Dan kau ingin bergabung dengan kami?"

"Tak ada salahnya!" Perawan Sesat mengangkat pundak sambil langkahkan kaki dekati sebuah batu. Di sana dia duduk dengan kedua sikunya diletakkan di kedua pahanya, hingga sedikit membungkuk tubuhnya. Di sana ia perdengarkan kata, "Aku jatuh cinta pada Pendekar Mabuk. Bahkan lebih gila dari kalian! Tugasku membawa Pendekar Mabuk menghadap Nyai Lembah Asmara kuselewengkan. Aku berani mengkhianati guruku sendiri, yaitu Nyai Lembah Asmara. Aku berani melawan kekuatan Maharani dan Putri Alam Baka, sampai aku terluka dalam dan diselamatkan oleh Peramal Pikun. Semua itu kulakukan karena kegilaanku terhadap Suto."

Perawan Sesat membayangkan semua itu dalam satu renungan yang menyimpan bara dendam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Murka Sang Nyai). Kejap berikutnya ia ucapkan kata lagi.

"Sampai sekarang hatiku masih disiksa rindu dan hasrat ingin bercumbu. Semua itu gara-gara Pendekar Mabuk, si murid sinting itu! Untuk itu aku harus meleyapkannya!"

Selendang Kubur angkat bicara, "Tapi kau masih harus berhadapan denganku, Perawan Sesat! Kau masih hutang banyak nyawa padaku, karena kau telah banyak menewaskan saudara-saudara seperguruanku!"

"Oh, kau dari Perguruan Merpati Wingit?!"

"Ya!" jawab Selendang Kubur dengan mata menantang.

"Mereka mati gara-gara Suto Sinting, jadi tuntutlah Suto! Jangan aku!"

"Tapi di tanganmu mereka mati, Bangsat!" bentak Selendang Kubur. Rupanya ia semakin terpancing dendam kesumatnya hingga bergegas untuk melepas kain selendang pusakanya.

"Tahan...!" Peri Malam mencoba menengahi perselisihan itu dengan maju satu tindak berada di antara Perawan Sesat dan Selendang Kubur. Peri Malam pun ucapkan kata, "Kalau kalian berdua punya perhitungan pribadi, lakukan perhitungan itu setelah kita selesaikan masalah Suto!"

Perawan Sesat tarik napas sesaat, lalu berkata dengan suara serak. "Aku tak keberatan kalau memang kau ngotot ingin nuntut balas padaku, Selendang Kubur! Aku siap menghadapimu kapan saja! Tapi jangan salahkan diriku jika kau harus kehilangan kepalamu!"

Selendang Kubur menggeram. Matanya menyipit benci saat ia ucapkan kata, "Kalau bukan karena tujuan yang sama, sudah kuhancurkan mulut busukmu itu, Perawan Sesat!"

Peri Malam menyahut, "Hancurkan nanti saja!"

Akhirnya Selendang Kubur kendurkan ketegangannya. Matanya terlempar jauh ke arah utara. Saat itu, terdengar suara Perawan Sesat berkata, "Rasa-rasanya memang kita harus berpencar! Dan untuk menghabisi nyawa Pendekar Mabuk itu, tak mungkin kita lakukan secara sendiri-sendiri. Perlu kerja sama yang baik. Karena si tampan sinting itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi, ia hanya bisa dikalahkan jika kita gempur secara bersama-sama."

"Jadi bagaimana jika salah satu dari kita nanti menemukan dia?" tanya Peri Malam.

"Bawa dulu dia ke arah kita masing-masing. Jangan buru-buru bertindak sebelum kita bertiga saling bertemu!"

"Aku setuju," jawab Peri Malam. "Ada baiknya kalau..."

"Ssst...!" tukas Selendang Kubur memberi isyarat dengan tangan. Cepat ia lompatkan tubuh ke balik pohon.

Melihat gelagat bahaya dari Selendang Kubur, Peri Malam pun bergegas melompat di balik pohon sebelah Selendang Kubur. Tak ketinggalan Perawan Sesat juga cepat sentakkan kaki dan melesat bersembunyi di balik rimbun daun-daun semak berduri. Jaraknya tak berapa jauh dari Selendang Kubur dan Peri Malam.

"Ada apa? Suto lewat?!" bisik Perawan Sesat ke arah Peri Malam.

"Mana aku tahu?! Selendang Kubur yang melihatnya!" Peri Malam pun menyapa Selendang Kubur dengan suara lirih, "Hei, ada apa? Kau melihat Pendekar Mabuk lewat?"

"Bukan Pendekar Mabuk, tapi... lihatlah ke sana!" tuding Selendang Kubur.

Perawan Sesat dan Peri Malam sama-sama memandang ke arah tempat yang ditunjuk Selendang Kubur. Lalu, mereka berdua sama-sama hempaskan napas panjang bernada dongkol, serta sama-sama lepaskan ketegangan. Perawan Sesat terdengar menggerutu,

"Sial! Kupikir ada bahaya datang!"

"Buatku itu memang bahaya. Karena aku muak ketemu dia!" cetus Selendang Kubur yang segera ikut-ikutan keluar dari tempat persembunyiannya, karena dilihatnya Peri Malam juga keluar dari balik persembunyiannya. Mereka bertiga sama-sama berada di tempat bebas dan memandang ke satu arah.

Apa yang dipandang mereka tak lain adalah kemunculan Dirgo Mukti yang mengaku Manusia Sontoloyo itu. Jaraknya cukup jauh, namun bisa dilihat mata telanjang mereka bertiga.

"Agaknya dia sedang dikejar oleh seseorang!" kata Peri Malam.

"Benar! Pasti ia dalam perselisihan," sahut Perawan Sesat. "Wajahnya terlihat tegang. Keringatnya mengucur. Hm... siapa orang yang mengejarnya?"

"Mudah-mudahan setan dari neraka yang mengejarnya!" kata Selendang Kubur.

"Seharusnya aku yang bilang begitu, karena aku sangat benci kepadanya!" kata Peri Malam.

"Mengapa kalian benci sekali kepadanya?" tanya Perawan Sesat.

"Dia mengejar-ngejarku dan selalu mendesakku untuk menerima cintanya! Aku muak sekali!"

Selendang Kubur pun ikut berkata, "Aku juga begitu! Dia selalu berusaha membujukku agar mau melayaninya! Aku tak bisa banyak melawan dan memberontak karena aku berhutang nyawa dengannya! Menyesal sekali aku karena ditolong dan diselamatkan olehnya! (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat).

Perawan Sesat tertawa serak. "Aku sendiri punya kedongkolan dengannya, saat dia menipuku dengan mengaku sebagai Pendekar Mabuk!"

Peri Malam menyahut, "Ya, ya, aku pernah memergoki kau bercumbu dengannya!"

"Jangan singgung-singgung soal itu! Rasa sesalku berubah jadi dendam jika aku teringat peristiwa itu!" kata Perawan Sesat.

"Hei, lihat...!" seru Selendang Kubur sambil tangannya menunjuk ke arah Dirgo Mukti. "Rupanya orang itu yang mengejar Dirgo Mukti!"

"Hmmm... siapa orang yang berpakaian hitam itu?" tanya Perawan Sesat. "Aku hanya bisa menandai bahwa orang sedikit gemuk itu berilmu tinggi. Terlihat dari gerakan lompatnya begitu ringan dan cepat! Tapi aku belum pernah tahu siapa dia?"

"Datuk Marah Gadai!" jawab Selendang Kubur. "Dia orang sesat dari seberang yang ingin menguasai tanah Jawa. Dia ingin menjadi raja tertinggi di rimba persilatan tanah Jawa!"

"Ada persoalan apa Sontoloyo bentrok sama Datuk Marah Gadai?" tanya Peri Malam.

Selendang Kubur menjawab, "Mana aku tahu?! Tapi kelihatannya mereka sama-sama tangguh!"

"Kurasa tidak," bantah Perawan Sesat. "Kurasa lebih tangguh si Datuk Marah Digadai itu!"

"Datuk Marah Gadai! Bukan Datuk Marah Digadai!" Peri Malam membetulkan ucapan Perawan Sesat.

"Ya. Kurasa orang itu lebih tangguh dari si Sontoloyo. Aku jadi tertarik ingin menjajal ilmunya!"

"Bodoh!" tukas Selendang Kubur. "Kalau mau, jajal saja ilmunya si Sontoloyo, jadi kalau kau berhasil membunuhnya, kau telah membayar tipu muslihatnya yang merugikan dirimu itu!"

"Membunuh si Sontoloyo lebih mudah! Dalam satu gebrakan saja dia tidak akan memiliki nyawa lagi!"

"Hem... belum tentu!" Selendang Kubur mencibir. "Kau pikir ilmu yang kau miliki lebih tinggi darinya? Ilmu sedangkal itu mau disombongkan di depan si Sontoloyo, bisa hancur berkeping-keping kau dihajar habis oleh pukulan tenaga dalamnya yang hebat itu!"

"Hei, kau jangan sepelekan aku, Selendang Kubur! Saat ini pun aku sanggup meremukkan kepalamu tanpa harus bergerak dari tempatku!"

"Coba saja!" tantang Selendang Kubur.

Perawan Sesat lemparkan daun kecil yang sejak tadi dibuat mainan. Lemparan daun itu begitu cepat dan mendesing bunyinya bagai logam tipis melayang melewati depan mata Peri Malam.

Wiiing...! Craat...!

Selendang Kubur lengkungkan badan ke samping sambil berpaling. Daun itu lewat di depan dadanya dan menancap di batang pohon bagaikan lempengan logam tajam dari bahan baja. Jika bukan dialiri kekuatan tenaga dalam yang tinggi, tak mungkin daun itu bisa menancap di batang pohon sedemikian dalam. Kalau saja tidak segera menghindar dengan gesitnya, Selendang Kubur akan mati ditembus daun yang berubah jadi mata pisau itu.

Sebelum Selendang Kubur memberi balasan, Peri Malam sudah menghadang di depannya seraya berkata, "Cukup! Jangan terpancing nafsu!"

"Dia yang menyerangku lebih dulu!"

Perawan Sesat membantah, "Dia menghinaku lebih dulu!"

"Kalian ini memang seperti anak kecil!" sentak Peri Malam. "Aku menyesal bergabung dengan kalian menyusun rencana seperti tadi. Mana bisa orang-orang berjiwa anak kecil mengalahkan Suto? Untuk mengalahkan Pendekar Mabuk itu, bukan hanya ilmu tinggi yang dibutuhkan tapi juga jiwa dewasa dan otak cerdas!"

Selendang Kubur menghembuskan napas pelan-pelan walau matanya masih memandang tajam pada Perawan Sesat. Yang dipandang hanya tersenyum sinis dengan sikap siap tarung kapan pun juga.

"Jangan dulu kita berselisih sebelum cita-cita kita bersama tercapai! Jika belum-belum kita sudah saling bunuh, lantas kapan kita bisa bunuh Suto Sinting itu?!" omel Peri Malam yang bertindak menjadi orang yang lebih dewasa dari mereka, walau sebenarnya ia hanya sebagai penengah saja.

"Lihatlah," kata Peri Malam lagi, "Dirgo Mukti sudah semakin terpojok oleh serangan-serangan Datuk! Tak perlu kita memberikan pujian atau penilaian apapun selain menjadi penonton yang baik!"

Selendang Kubur bahkan berkata, "Seharusnya ia bisa segera cabut senjatanya itu! Dirgo Mukti mempunyai senjata kapak yang cukup hebat, sebenarnya!"

"Kalah hebat dengan pedangnya Datuk Marah Gadai! Kulihat sendiri kehebatan pedang itu saat ia mengalahkan Cadaspati di tepi sebuah sungai!" kata Peri Malam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah AsmaraGila).

Perawan Sesat kasih pendapat, "Orang-orang seperti mereka jelas tidak akan semudah itu mencabut pedangnya! Hanya pada saat-saat terakhir dari pertarungan itu ia akan mencabut pedangnya!"

"Aku berharap Dirgo Mukti kalah dan mampus di tangan Datuk!" kata Peri Malam.

"Aku juga!" sahut Selendang Kubur.

"Kuharap juga begitu," sela Perawan Sesat.

"Hai, ternyata kita sama-sama punya kebencian pula dengan si Sontoloyo itu?! Mengapa kita tidak sepakat gunakan Sontoloyo untuk melawan Suto?"

Ucapan Peri Malam itu membuat mereka saling memandang. Perawan Sesat dan Selendang Kubur sama-sama tatapkan mata ke wajah Peri Malam. Sepertinya mereka menuntut penjelasan lebih rinci lagi dari kata-kata Peri Malam tadi. Karenanya, Peri Malam pun lanjutkan kata,

"Dirgo Mukti lelaki mata keranjang! Dia ingin aku menerima cintanya. Dia ingin Selendang Kubur melayani gairahnya. Dia pasti inginkan tubuh dan kehangatanmu lagi, Perawan Sesat. Sebab dia pernah merasakan gairahmu. Dia pasti tergiur kembali padamu."

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Selendang Kubur.

"Jadikan dia umpan untuk bertarung melawan Pendekar Mabuk. Beri dia semangat agar bisa membunuh Suto Sinting. Upah yang akan kita berikan padanya adalah tubuh kita masing-masing!"

"Aku tidak sudi!" sentak Selendang Kubur bersungut-sungut.

"Ini hanya siasat saja! Sontoloyo jelas tak akan bisa mengalahkan Pendekar Mabuk. Tapi dengan mendapat semangat dari kita, dia akan bertarung melawan Pendekar Mabuk mati-matian. Hal itu akan membuat Suto semakin terdesak, sekurang-kurangnya Pendekar Mabuk akan menguras tenaganya untuk mengalahkan Sontoloyo. Walaupun pada akhirnya nanti Sontoloyo mampus di tangan Suto, tapi kita punya peluang bagus untuk menyerang Suto secara bersama. Kekuatan Suto yang sudah berkurang karena pertarungannya dengan Dirgo Mukti, membuat kita lebih mudah menghancurkan dirinya!"

"Gagasan yang bagus!" sela Perawan Sesat lalu ia tertawa serak.

"Kebetulan aku ingat bahwa Dirgo Mukti pernah janji pertarungan dengan Suto di Bukit Jagal! Bulan ini adalah bulan saat pertarungan itu dilakukan!" tambah Peri Malam.

"Bagus! Aku setuju dengan rencanamu," kata Selendang Kubur.

"Kalau begitu, kita bantu Sontoloyo untuk mengalahkan Datuk Marah Gadai itu! Biar Sontoloyo tidak mati di tangan Datuk!" kata Peri Malam.

"Aku setuju!" kata Perawan Sesat dengan menyeringai liar.

"Tapi, tunggu dulu...!" Selendang Kubur mencegah, "sepertinya Datuk Marah Gadai sudah merasa kewalahan melawan Dirgo Mukti! Datuk Marah Gadai melarikan diri!"

"Ya, tapi Dirgo Mukti kelihatannya terluka dan tak bisa mengejarnya! Ada baiknya jika kita tolong dia!" kata Peri Malam.

Tapi sebelum mereka mencapai tempat Dirgo Mukti terkapar, orang itu sudah bangkit lebih dulu dan melesat pergi mengejar lawannya. Rupanya ia tadi terkena pukulan tenaga dalam dari Datuk Marah Gadai, namun bisa segera ditawarkan oleh kekuatan batinnya sendiri. Dan melihat Dirgo Mukti lari mengejar Datuk Marah Gadai, ketiga perempuan itu juga lari mengejar Dirgo Mukti.

Apa yang mereka pertarungkan sebenarnya berasal dari kabar tentang Pusaka Cincin Manik Intan. Datuk Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama ingin mendapatkan Cincin Manik Intan yang konon masih ada di dasar telaga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Murka Sang Nyai).

Mereka saling halang-menghalangi ketika sama-sama mau menyelam ke dasar telaga. Pertarungan itu membuat mereka saling kejar dan tanpa sadar menjauhi Telaga Manik Intan. Saat mereka jauh dari telaga itulah, sesosok tubuh masuk dan menyelam ke dasar telaga. Orang itulah yang menemukan Pusaka Cincin Manik Intan.

Orang itu adalah Betari Ayu, yang kemudian segera menggunakan Pusaka Cincin Manik Intan untuk melabrak Nyai Lembah Asmara yang ingin menjadikan Suto sebagai pembenih dalam keturunannya.

Datuk Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama tidak tahu, bahwa apa yang mereka rebutkan itu sudah menjadi milik seseorang. Bahkan ketika Datuk Marah Gadai meninggalkan Dirgo Mukti, dalam benaknya ia merasa lebih baik meninggalkan pertarungan dan segera menyelam ke dasar telaga untuk mencari Cincin Manik Intan yang dahsyat itu.

Jika Cincin Manik Intan berhasil ditemukan olehnya, maka urusannya dengan Manusia Sontoloyo itu akan cepat terselesaikan. Pasti lawannya itu akan mati dan hancur oleh kekuatan Pusaka Manik Intan itu. Karena Datuk Marah Gadai tidak tahu bahwa cincin itu sudah ditemukan Betari Ayu beberapa saat berselang, maka ketika ia tiba di tepi telaga, ia langsung saja menceburkan diri ke permukaan air telaga, dan menyelam di kedalamannya.

Lama kemudian, Dirgo Mukti tiba pula di tepi telaga. Ia mencari lawannya. Memandangi sekeliling telaga. Ternyata tak ada sesuatu yang mencurigakan. Air telaga pun tampak tenang. Pikirnya, sebelum Datuk Marah Gadai menemukan diriku, ia harus sudah lebih dulu mencari Cincin Manik Intan di dasar telaga.

"Mampuslah kau, Tukang Gadai! Jika kutemukan itu lebih dulu akan kuhancurkan mulutmu yang sangat kubenci itu!" kata Dirgo Mukti. Lalu, ia pun melompat dan terjun ke dalam genangan air telaga.

Byurrr...!

* * *

TIGA
GEMERISIK dedaunan bambu dihembus angin siang. Gemerisik itu masuk ke telinga Pendekar Mabuk ibarat musik penghantar duka. Gundukan tanah di depannya masih dipandangi dengan wajah duka. Gundukan tanah itu adalah kuburan bagi si pelayan setia gurunya. Suto memberi nama pada kayu patok kuburan itu dengan tulisan besar 'Sugiri'. Di bawahnya ada tulisan kecil yang berbunyi 'Lahir tak diketahui, mati pun tak diketahui'.

"Kalau saja aku tidak terbujuk oleh anggapan tentang Dyah Sariningrum di Bukit Garinda, Paman Sugiri tak akan mati di sana. Kasihan Paman Sugiri, ia mati hanya untuk membela diriku yang tak berharga ini. Mudah-mudahan arwahnya diterima di sisi Yang Maha Kuasa," kata hati Pendekar Mabuk yang segera bergegas bangkit dari kesedihan. Ia tak berlarut-larut tenggelam dalam perasaan duka atas kematian Pujangga Keramat.

Suto memakamkan jenazah Pujangga Keramat di Jurang Lindu, tak jauh dari pancuran air yang menjadi pintu masuk menuju persinggahan si Gila Tuak. Sayang sekali waktu itu si Gila Tuak tak ada di tempat, sehingga Suto tak bisa melaporkan kematian Pujangga Keramat. Ke mana arah perginya si Gila Tuak, Suto tak tahu. Hanya ada satu kemungkinan dalam benak Suto, bahwa gurunya itu mungkin sedang bertandang ke Lembah Badai, tempat persinggahan bibi gurunya Suto yang di kenal dengan nama kondangnya Bidadari Jalang.

Tiba-tiba Pendekar Mabuk jadi ingat dengan bibi gurunya. Ingatan itu berkait dengan Pusaka Cincin Manik Intan yang ditemukan oleh Betari Ayu. Cincin itu warisan terkubur dari Bidadari Jalang. Sekarang ada di tangan Betari Ayu, sedangkan Betari Ayu menyimpan dendam kepada Bidadari Jalang. Pendekar Mabuk belum sempat meminta cincin itu dari tangan Betari Ayu.

Ketika Pendekar Mabuk selamat dari cengkeraman Nyai Lembah Asmara, ia segera pergi mengurus jenazah Pujangga Keramat yang mati di bangsal pertemuan, di persinggahannya Nyai Lembah Asmara. Pada waktu itu, Betari Ayu berkata kepada Suto,

"Aku harus pergi membalaskan sakit hatiku kepada seseorang. Jika kau mau ikut aku, aku tak keberatan. Jika kau ingin mengurus mayat Pujangga Keramat yang tergeletak di sana, aku juga tidak melarang. Yang penting kau ketahui, saat ini adalah saat yang baik untuk melampiaskan dendamku yang selama ini kupendam dalam hati!"

Suto masih dalam keadaan mabuk tuak waktu itu, sehingga ia tidak terlalu peduli dengan kepergian Betari Ayu. Ia segera bergegas mencari mayat Pujangga Keramat dan segera membawanya ke Jurang Lindu. Sekarang Pendekar Mabuk jadi ingat semua kata-kata Nyai Betari Ayu. Tak salah lagi dugaan Suto, bahwa dendam yang akan dilampiaskan oleh Betari Ayu itu adalah dendamnya kepada Bidadari Jalang, karena Bidadari Jalang dianggap telah merebut kekasih hati Betari Ayu. Hal itu yang membuat Betari Ayu tidak pernah mau jatuh cinta lagi dengan seorang lelaki.

Namun kehadiran Suto sempat membuat Betari Ayu tergugah oleh cinta lagi, meski ia dapat memendamnya. Tentu saja Nyai Betari Ayu menganggap saat ini adalah saat yang tepat untuk melampiaskan dendamnya kepada seseorang, karena Betari Ayu memakai Cincin Manik Intan. Jelas, cincin itulah yang akan dipakai untuk melawan Bidadari Jalang, yang namanya masuk dalam deretan kedua, setelah si Gila Tuak, sebagai nama-nama tokoh yang sukar ditumbangkan. Tanpa pusaka cincin dahsyat itu, Nyai Betari Ayu tak akan berani berhadapan dengan Bidadari Jalang.

"Celaka! Bibi Guru pasti akan hancur oleh pusakanya sendiri," pikir Pendekar Mabuk. "Seharusnya waktu itu kurebut dulu Cincin Manik Intan dari tangan Betari Ayu! Jika begini, sama saja aku membiarkan Bibi Guru terancam nyawanya! Betari Ayu tidak tahu bahwa Bibi Guru yang sekarang bukan orang sesat seperti dulu. Karenanya Bibi Guru Bidadari Jalang tidak mau turun ke dunia persilatan kembali, karena dia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta!"

Suto Sinting sempat terlihat gelisah, ia berjalan mondar-mandir di depan makam Pujangga Keramat. Hatinya kembali berkecamuk, "Apa yang harus kulakukan jika begini? Merampas cincin itu dari tangan Nyai Betari Ayu? Itu berarti aku harus bertarung dengan Nyai. Haruskah aku bertarung dengan orang yang selama ini bersikap baik padaku? Tapi jika hal itu tidak kulakukan, berarti aku ikut mendukung rencana Betari Ayu untuk membunuh Bibi Guru?!"

Sekelebat bayangan melesat di atas pohon. Banyangan itu mendarat tepat di depan Suto, hingga Suto terkesiap memandangnya. "Nyai Betari...?!" gumam Suto dengan hati berdebar. Orang ini yang sedang dipikirkan oleh Suto, tapi orang ini pula yang tahu-tahu muncul dalam kenyataan di depan Suto.

"Kebetulan sekali Nyai datang kembali," kata Suto menatap perempuan cantik yang menyunggingkan senyum bersahaja.

"Aku mendengar gemuruh kegelisahanmu, Suto. Jadi aku kembali menemuimu," kata Nyai Betari Ayu yang berikat kepala dari tali sutera merah berbintik-bintik kuning keemasan.

"Nyai mendengar gemuruh kegelisahanku?" Suto heran.

"Apa yang terjadi pada diri orang yang kusayangi selalu kudengar lewat telinga hatiku, dan kulihat lewat mata hatiku, Suto."

"Oh, jadi... saya orang yang Nyai sayangi?"

"Mungkin lebih dari itu," jawab Betari Ayu pelan sambil palingkan wajah ke arah curahan air terjun yang menjadi pintu gerbang persinggahan si Gila Tuak.

Pendekar Mabuk menjadi kikuk mendengar jawaban itu. Tapi ia segera tenangkan diri dan tetap bersikap lembut kepada Nyai Betari Ayu. Ia mendekati Betari Ayu dari samping kanan, ikut memandang jurang berair terjun itu, tapi mulutnya ucapkan kata tanya, "Sudahkah dendam Nyai terlampiaskan?"

"Belum," jawab Betari Ayu sambil tetap pandang air terjun.

"Mengapa tak jadi membalas dendam?" tanya Suto.

"Aku berubah pikiran."

"Berubah bagaimana, Nyai?"

"Untuk apa aku hidup menuruti dendam?" Betari Ayu palingkan wajah dan lempar pandangan pada Suto. Lembut sekali pandangannya. Selembut rona kecantikan sang Nyai. Katanya lagi, "Aku harus menjadi orang yang bisa mengalahkan diriku sendiri. Orang hebat adalah orang yang bisa melawan nafsunya sendiri. Kalau aku masih turuti dendamku kepada Bidadari Jalang, maka aku bukan sebagai orang hebat. Aku orang lemah yang tak mampu melawan nafsuku sendiri."

"Saya menyukai kata-kata Nyai," Pendekar Mabuk sunggingkan senyum yang sangat menawan.

Nyai Betari Ayu pun tundukkan kepala karena merasa teduh hatinya mendapat senyuman seperti itu. Tapi kejap berikut ia kembali pandang Suto dan ucapkan kata, "Ada sesuatu yang lupa kukembalikan padamu."

"Tentang apa itu, Nyai?"

Tangan kiri Nyai melepaskan cincin di jari tangan kanannya, lalu Pusaka Cincin Manik Intan itu diserahkan kepada Suto. "Ambillah cincin ini, Suto."

Pendekar Mabuk tidak segera mengambil cincin itu, tapi matanya menatap lama pada cincin dan wajah Betari Ayu yang polos dan lugu itu. "Mengapa Nyai kembalikan cincin itu kepadaku? Bukankah Nyai tahu kehebatan Pusaka Cincin Manik Intan itu?"

"Ya, tapi ini bukan milikku."

"Tapi Nyai yang mengambilnya dari dasar telaga!"

"Benar. Karena ada dua alasan. Pertama, aku takut Cincin ini jatuh ke tangan Datuk Marah Gadai atau pemuda tampan yang mengaku punya gelar Manusia Sontoloyo itu. Kedua, karena waktu itu aku membutuhkan Cincin ini untuk melawan Nyai Lembah Asmara. Tanpa bekal pusaka dahsyat ini, aku belum tentu bisa menyerang Bukit Garinda dan dengan tujuan membebaskan kamu dari cengkeraman Nyai Lembah Asmara. Jujur saja kukatakan kepadamu, Suto... aku tak rela kau tanamkan benih kependekaranmu, benih darah ksatriamu, ke dalam kandungan Nyai Lembah Asmara! Aku tak ingin kau punya keturunan sesat, Suto."

"Sejauh itukah Nyai berpikir tentang saya?"

Betari Ayu tak menjawab. Ia alihkan pembicaraan itu sambil sekali lagi sodorkan cincin tersebut. "Terimalah cincin ini. Kau yang berhak memiliki. Bukan aku! Karena kaulah yang punya tugas mengambil dua pusaka di dasar telaga tersebut, yaitu Pusaka Tuak Setan dan Pusaka Cincin Manik Intan ini."

"Mengapa Nyai tidak memilikinya saja, atau membawanya lari?"

"Bukan sifatku menjadi pencuri, Suto."

Senyum Suto melebar, bahkan berubah menjadi tawa yang mirip orang menggumam. Tawanya itu pun bagaikan memancarkan daya tarik tersendiri bagi hati yang sudah berbunga indah itu. Ketika Pendekar Mabuk menerima cincin itu, tangan Betari Ayu dipegangnya dengan lembut. Betari Ayu menatap dan merasakan aliran hawa hangat di sekujur tubuhnya. Ia segera bertanya dalam nada bisik,

"Suto, apa yang kau salurkan ke dalam tubuhku?"

"Kasih sayang," bisik Suto membalas.

"Apa maksudnya kasih sayang?"

"Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Nyai."

"Tentunya itu bukan berarti sebuah cinta yang lahir dari hati sanubarimu."

"Memang bukan cinta. Tapi, barangkali kasih sayang melebihi dari segala cinta yang ada. Kasih sayang boleh ada di dalam jiwa kita masing-masing, tapi tak harus memiliki raga kita masing-masing."

"Dalam sekali pengertianmu, Suto. Aku semakin suka padamu."

Suto tersenyum dengan mata memandang kian lembut. Seakan kelembutan pandang mata Suto itu bagaikan sinar halus yang menembus ke dalam dasar hati Betari Ayu. Sebelum cincin itu tergenggam oleh Suto, Betari Ayu lekas-lekas mengambil alih cincin itu. Ia mengangkat jari manis Suto yang kanan, lalu cincin itu dimasukkan ke dalam jari manis cincin itu dengan pelan-pelan sekali. Kedua mata mereka saling memandang ke arah cincin.

"Semoga kau dapat mengenang peristiwa ini selamanya, Suto."

"Semoga kau pun dapat mengenangnya pula. Nyai."

Kemudian, wajah Nyai Betari Ayu tengadah memandang Pendekar Mabuk. Matanya yang bening teduh itu bagai digenangi air. Suto pelan-pelan mendekatkan wajah dan menempelkan ciumannya di kening Nyai. Mata itu terpejam, bibir itu merekah, dan akhirnya Suto tempelkan bibir ke mulut Nyai. Bibir Suto dilumatnya dengan lembut oleh Nyai Betari Ayu. Suto membalasnya dengan seribu kali lebih lembut, hingga Nyai Betari Ayu meremaskan genggaman tangannya di ujung pundak Suto. Pelan-pelan pula ciuman dan kehangatan itu dilepaskan. Senyum mereka saling bermekaran.

Suto berbisik lirih, "Indah, Nyai?"

"Luar biasa indahnya, Suto," jawab Nyai Betari semakin lirih. "Sayang sekali bukan aku perempuan yang kau cintai. Seandainya aku adalah orang yang kau cintai, mungkin selamanya aku akan merebah di dadamu, Suto."

"Apakah hal itu membuatmu kecewa, Nyai?"

"Tidak," jawab Nyai dalam ketegasan yang lembut. "Aku tidak kecewa, karena memang kau dan aku memiliki garis kehidupan yang berbeda. Aku tak salahkan dirimu, Suto. Kau bebas memburu cinta dan kasih sayang untuk dirimu, Suto. Aku hanya ingin merawat agar cinta ini tetap mekar di hatiku, sampai masa tuaku tiba."

Tiba-tiba Nyai Betari Ayu memeluk Pendekar Mabuk erat-erat. Suto pun membalas pelukan itu dengan hangat. Nyai pasti ingin mencurahkan tangis keharuannya, pikir Suto. Dan sengaja Suto tidak melarang tangis itu tercurah karena memang suasana haru tercipta atas dasar saling menyadari keadaan masing-masing.

Betari Ayu diam. Pelukannya tetap erat. Tak ada guncangan tangis atau pun suara mengisak. Pastilah Nyai Betari Ayu tak ingin cucurkan air mata di depan seorang ksatria. Pastilah Nyai Betari Ayu merasa malu dan takut wibawa kharismanya jatuh di depan Suto. Tetapi tubuh Nyai Betari Ayu makin lama semakin dingin. Suto menjadi curiga. Cepat-cepat ia tarikkan diri dari tubuh Betari Ayu. Mata Suto terkesiap melihat wajah Betari Ayu pucat dan kepalanya terkulai lemas.

"Nyai...?!" sentak Suto sambil guncangkan tubuh Nyai. Namun keadaan Nyai semakin memucat dan dingin. Matanya terpejam mulutnya terbuka sedikit bagai menahan rasa sakit yang menyentak.

"Nyai...?! Kenapa kau, Nyai...?!"

Pendekar Mabuk berdebar-debar melihat keadaan Nyai Betari Ayu seperti itu. Suto buru-buru memeriksa tubuh Betari Ayu. Ternyata di bagian punggungnya terdapat noda merah membekas di kulit. Noda merah itu sebesar biji sawo, tepat bersebelahan dengan pedang Jalaganda yang sejak tadi disandang di punggungnya. Noda merah itu menembus jubah kuningnya, yang terbuat dari kain sutera. Tapi jubah itu tidak membekas lubang. Hanya sedikit hangus tepat di bagian noda merahnya itu.

"Kurang ajar! Ada yang menyerang Nyai secara diam-diam. Hmm...! Siapa orangnya?!" geram Suto dengan mata memandang liar.

Gemuruh suara air terjun masih terdengar. Di atas curahan air terjun itu, mata Suto memandang jelas sesosok tubuh berpakaian kuning ketat. Pendekar Mabuk mengenal orang itu sebagai orang Bukit Garinda. Orang tersebut tak lain adalah Putri Alam Baka. Di tangannya tergenggam seruling kuning. Pasti dialah yang telah menyerang Nyai Betari Ayu memakai seruling pusakanya itu.

"Kau...!" geram Pendekar Mabuk dengan wajah merah. Matanya menatap tajam ke arah Putri Alam Baka. Tak sadar kemarahan Pendekar Mabuk itu membuat tenaga dalamnya mengalir melalui Cincin Manik Intan. Pada waktu itu, cincin tersebut dalam keadaan menghadap ke arah Putri Alam Baka. Maka, dengan tiba-tiba cincin itu mengeluarkan cahaya putih menyilaukan, melesat bagaikan lidi ke arah perempuan di atas air terjun.

Clappp...! Duarrr...!

Arah cincin tidak tepat persis, sehingga batuan di samping Putri Alam Baka hancur menjadi serbuk ketika dihantam sinar putih menyilaukan itu. Ledakan itu membuat Putri Alam Baka terlempar ke samping dan jatuh di rerumputan.

"Aku harus menyelamatkan Nyai Betari Ayu dulu! Aku sudah tahu siapa orang yang menyerangnya!" pikir Suto.

Secepat kilat ia angkat tubuh yang terkulai lemah itu, lalu ia jejakkan kaki ke tanah dan tubuhnya bagaikan terbang melompati batu demi batu, akhirnya menerobos masuk ke curahan air terjun. Di balik air terjun itu ada pintu gua. Slaap...! Suto masuk ke dalam gua dan segera meletakkan Nyai Betari Ayu di atas pembaringan tak berkaki. Pembaringan itu dulu bekas tempat tidur Suto selama Pendekar Mabuk menjadi murid si Gila Tuak.

Pendekar Mabuk segera menggenggam telapak kaki Nyai Betari Ayu, lalu ia menggumam sendiri, "Hmmm... masih sedikit hangat!"

Segera ia meneguk tuaknya. Sebagian tuak tersimpan di mulut hingga pipinya menggelembung. Pendekar Mabuk pejamkan mata sebentar, lalu segera tempelkan mulutnya ke mulut Nyai Betari Ayu. Tuak dalam mulutnya itu segera disemburkan ke dalam tenggorokan Nyai Betari Ayu.

Bruuus...!

Tersentak tubuh Nyai Betari Ayu seketika bagai mendapat kejutan. Kemudian Suto mengulanginya sekali lagi.

Bruuus...!

Tersentak lagi tubuh Nyai Betari Ayu, lalu terdengar suaranya mengerang lirih. Suto merasa lega. Itu pertanda jiwa Betari Ayu bisa tertolong, tinggal menunggu kesembuhan berikutnya. Pendekar Mabuk memiringkan tubuh Nyai Betari Ayu, memeriksa noda merah di punggung Nyai. Noda itu makin menipis. Itu tandanya pengaruh tuak bertenaga dalam yang berguna untuk pendingin hawa panas telah bekerja. Andai kata Pendekar Mabuk tidak segera bertindak cepat, maka bagian dalam tubuh Nyai Betari Ayu akan hangus terbakar ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi dan berbahaya itu.

"Aku harus segera mengejar Putri Alam Baka!" geram Suto, merasa keasyikannya terganggu oleh serangan mendadak dari murid Nyai Lembah Asmara itu. "Tetapi Nyai Betari Ayu tidak ada yang menunggui. Jika sewaktu-waktu musuh datang dan mengancam nyawanya, bisa berbahaya. Untuk sementara dia akan lumpuh karena pukulan tenaga dalam yang tinggi itu. Dia hanya akan mempunyai luapan kemarahan namun tak akan bisa banyak melakukan gerakan. Uuh...! Kemana Guru?! Mengapa sampai sekarang belum datang juga?"

Pendekar Mabuk sempat bimbang sebentar. Hatinya gelisah, dadanya bergemuruh. Hasratnya ingin segera memburu lawan, tapi cemas meninggalkan Nyai Betari Ayu. "Hmmm... begini saja! Cincin ini kusematkan di jarinya saja! Kalau ada ancaman bahaya datang, kemarahan Nyai Betari Ayu bisa membuat cincin ini melancarkan kekuatan tenaga dalamnya dan menyerang musuh!"

Maka, setelah Suto menyematkan Cincin Manik Intan, ia pun segera tinggalkan Nyai Betari Ayu. Pada saat itu keadaan Betari Ayu belum sadar sepenuhnya, namun napasnya tampak terengah-engah dan kepalanya bergerak-gerak pelan.

"Sebelum ia lari jauh, aku harus sudah bisa mendapatkannya!" pikir Pendekar Mabuk saat meninggalkan gua tersebut.

Dalam kejap berikutnya, Suto sudah berada di tempat Putri Alam Baka tadi berdiri. Tempat itu telah kosong. Pendekar Mabuk tak melihat gerakan-gerakan yang mencurigakan. Tetapi ia melihat patahan daun ilalang dan beberapa ranting lainnya. Jelas, ranting itu patah karena terabasan larinya Putri Alam Baka. Maka, Pendekar Mabuk pun segera mengejarnya ke arah tersebut.

Pendekar Mabuk mengejar dengan menggunakan ilmu silumannya, sehingga gerakan Pendekar Mabuk tak dapat terlihat oleh mata karena kecepatannya yang luar biasa. Dalam kejap yang singkat, Pendekar Mabuk telah berada jauh dari Jurang Lindu. Bahkan sekarang tubuhnya telah hinggap di atas pohon, seperti menunggu mangsanyalewat. Dugaan Suto benar. Tak lama kemudian, terlihat dua sosok manusia berkelebat lari dengan cepat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya.

Duarrr...! Duarrr...!

Pendekar Mabuk hantamkan pukulan tenaga dalamnya yang membuat dua pohon tumbang seketika, menghadang langkah kedua sosok yang berlari cepat itu. Dan pada saat dua sosok itu berhenti, Pendekar Mabuk pun segera sentakkan ujung jari kakinya pada dahan, lalu tubuhnya melesat terbang dan bersalto satu kali, akhirnya mendarat di tanah di hadapan kedua orang itu. Dengan bumbung tuak tersandang di punggung bagaikan pedang maut, Suto berdiri pancarkan kemarahan kepada dua orang yang ada di depannya. Suaranya menggeram saat ia berkata,

"Rupanya kau tidak sendirian, Putri Alam Baka!"

"Ya. Aku yang mendampinginya!" jawab orang yang ada di samping Putri Alam Baka.

Dia adalah seorang lelaki, berbadan masih segar tapi kelihatannya sudah cukup umur, antara lima puluh tahunan. Tak terlalu besar badannya, juga tak terlalu kurus. Ia mengenakan caping hitam dengan kumis dan jenggotnya yang mulai ditumbuhi uban. Orang itu mengenakan pakaian abu-abu dan kancing bajunya tidak dirapatkan. Orang itu juga menyandang pedang di punggungnya, dan jari-jari tangannya mempunyai kuku yang panjang dan runcing. Dari balik capingnya, wajah itu terlihat angker dan bengis. Suara tuanya terdengar menggeram jika bicara.

"Aku tidak mengenal siapa dirimu, Pak Tua. Aku hanya mengenal Putri Alam Baka itu!"

Yang menyahut Putri Alam Baka dengan suara ketusnya, "Dia suamiku! Aku terpaksa kembali berada di sampingnya, karena dia bersedia membantuku melawanmu, juga melawan Betari Ayu untuk menebus kekalahanku di Bukit Garinda!"

"Oh, jadi kau menghilang dari Bukit Garinda untuk meminta bantuan kepada bekas suamimu?! Hmm... ada berapa orang yang menjadi bekas suamimu? Mengapa tidak semuanya saja kau bawa kemari untuk menghadapi aku dan Betari Ayu?!"

"Jangan sesumbar bacotmu, bocah ingusan!" geram orang bertudung hitam. "Mulutmu bisa kurobek tanpa ampun lagi jika kau sesumbar di depanku!"

"Pak Tua...!" kata Suto dengan tegas. "Jangan merasa terlalu mudah merobek mulutku sebelum kau coba dulu merobek mulutmu sendiri! Karena merobek mulut orang itu pekerjaan yang sulit, apalagi orang itu mampu berkelit!"

"Jangan mengguruiku, Setan!" bentak orang berhidung hitam. "Kau tak patut mengguruiku. Bahkan gurumu sendiri, Bidadari Jalang, tak punya kepatutan mengguruiku!"

"Hei, Pak Tua... siapa dirimu sehingga kau bawa- bawa nama bibi guruku itu?!"

"Apakah gurumu. Bidadari Jalang, tak pernah bercerita tentang hutang nyawanya dengan guruku?"

"Siapa nama gurumu, Pak Tua?"

"Iblis Pulau Bangkai!"

Suto terkesiap sejenak. Mencoba mengingat cerita bibi gurunya tentang Iblis Pulau Bangkai. Lalu Suto berkata, "Ya. Memang Bibi Guru pernah bercerita tentang musuhnya yang berjuluk Iblis Pulau Bangkai. Tapi dia sudah mati dan dengan mudahnya dikalahkan oleh Bibi Guru!"

"Tapi dia masih punya satu murid lagi, Suto!" kata orang bertudung hitam, dengan mudahnya menyebut nama Pendekar Mabuk.

"Hmm... ya, seingatku Bibi Guru pernah bercerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama Nagadipa."

"Akulah Nagadipa...!" Orang itu berkata dalam geram, kemudian membuka tudungnya dan menampakkan wajahnya yang bertampang bengis itu. Rambutnya sedikit botak di bagian atasnya, tapi yang lainnya panjang sampai melewati pundaknya.

"Oh, jadi kaulah murid tersisa dari Iblis Pulau Bangkai?!"

"Ya. Dan bagaimana jika murid bertemu murid untuk membereskan hutang gurunya, hah?! Setelah kubereskan muridnya, segera akan kubereskan gurunya! Biar sama-sama meratap di dasar neraka!" geram Nagadipa dengan matanya yang menampakkan kebengisan. Sepertinya ia sangat tak sabar ingin segera merobek-robek tubuh Pendekar Mabuk dengan kuku-kukunya yang panjang dan runcing itu.

* * * 

EMPAT
BIDADARI Jalang memang pernah bercerita kepada Suto tentang pertarungannya dengan Iblis Pulau Bangkai. Juga, cerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang masih penasaran menuntut balas atas kematian gurunya. Tapi seingat Suto, Bidadari Jalang menceritakan tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama Nagadipa itu sebagai pemuda yang tampan dan menawan. Waktu Bidadari Jalang terakhir kalinya melawan Nagadipa di sebuah pantai, orang itu dengan ketampanannya hampir menjerat Bidadari Jalang, yang waktu itu terkena racun birahi dari Tiga Pendekar Tibet. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bocah Tanpa Pusar).

Hati Pendekar Mabuk sempat ragu melihat penampilan pak tua yang mengaku sebagai Nagadipa itu. Mulanya Suto menganggap orang itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai Nagadipa supaya punya alasan bermusuhan dengan Suto. Tapi kejap berikutnya Suto menyadari, bahwa waktu Nagadipa melawan Bidadari Jalang di pantai, keadaan Suto masih kecil, masih berusia delapan tahun. Terbayang samar-samar dalam ingatan Pendekar Mabuk waktu ia menyaksikan pertarungan itu dari suatu tempat bersama gurunya si Gila Tuak. Wajah Nagadipa memang masih tampan, berusia tiga puluhan, tapi sudah mampu membuat Bidadari Jalang terdesak mundur beberapa kali.

Sekarang, dalam keadaan usia sudah semakin menua, tentu saja ilmunya semakin tinggi. Dua puluh tahun Nagadipa tidak pernah bertemu dengan Bidadari Jalang maupun Suto, tentunya ia sudah punya bekal cukup banyak untuk mengalahkan Bidadari Jalang.

Agaknya Putri Alam Baka sangat mengunggulkan bekas suaminya itu. Dengan suaranya yang berat ia lontarkan kata kepada Pendekar Mabuk, "Rasa-rasanya usiamu tinggal sejengkal waktu lagi, Pendekar Mabuk. Sebaiknya pergilah bercinta dengan mayat Betari Ayu agar kau bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang terakhir kalinya, karena suamiku ini tak akan lamban dalam mencabut nyawamu!"

"Kau salah duga, Putri Alam Baka! Betari Ayu tidak mati, justru akan bangkit menghadapimu dan menghancurkan tubuhmu!"

"Omong kosong! Suamiku telah melepaskan pukulan dahsyatnya yang bernama 'Mata Iblis'! Tak mungkin ada lawan yang bisa selamat dari pukulan 'Mata Iblis'-nya!"

Suto sunggingkan senyum meremehkan. Katanya, "Apa hebatnya pukulan 'Mata Iblis' kalau nyatanya Betari Ayu masih bisa tertolong?"

"Dusta!" bentak Nagadipa. "Pukulan 'Mata Iblis' tak bisa diselamatkan oleh ilmu apa pun!"

"Nyatanya bisa!"

Putri Alam Baka mengalihkan pandang pada Nagadipa dengan tatap kecewa. Kelihatannya ia mulai tampak bimbang dengan kesanggupan dan kehebatan Nagadipa. Melihat kebimbangan Putri Alam Baka, Nagadipa segera unjuk ilmu di depan bekas istrinya itu. Ia jejakkan kaki kanannya ke tanah satu kali.

Jlegg...!

Jejakan kaki itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang tersalur, membuat tubuh Pendekar Mabuk tersentak naik ke atas bagai terlonjak. Ilmu seperti itu juga dimiliki beberapa tokoh sakti, termasuk Datuk Marah Gadai. Tetapi, Pendekar Mabuk tetap tenang walau ia hampir tergelincir jatuh saat terlempar ke atas tadi. Ia pun sentakkan kakinya ke bawah dengan sangat pelan.

Jliggg...! Dan, mendadak tubuh Nagadipa bagaikan amblas ke bumi sebatas mata kaki. Putri Alam Baka terkesiap melihat Nagadipa terbenam sebatas mata kaki. Nagadipa sendiri buru-buru hentakkan tubuh dan lepas dari tanah penjepit kakinya. Wiiigh...!Jlegg...!

Kembali ia berdiri di samping Putri Alam Baka dan membatin, "Kurang ajar! Dia menguasai ilmu 'Telan Bumi' rupanya! Ilmu itu jarang dimiliki orang, kecuali si Gila Tuak! Untung ilmuku cukup tinggi, jika tidak bisa amblas ke bumi sekujur tubuhku!"

Putri Alam Baka masih memandangi Nagadipa dengan curiga, ia kecewa melihat Nagadipa bisa tersedot ke dalam tanah, padahal Pendekar Mabuk hanya menjejakkan kaki dengan pelan. Jika Pendekar Mabuk menghentakkan kakinya dengan kuat, habis sudah tubuh Nagadipa ditelan bumi, pikir Putri Alam Baka. Perempuan bersenjata seruling itu lalu berbisik, "Mana kehebatanmu? Jangan-jangan kau tak mampu melawan Suto!"

Bisikan itu ditangkap Pendekar Mabuk dalam jarak lima langkah. Tapi Pendekar Mabuk hanya diam saja, hanya sunggingkan senyum tipis. Nagadipa merasa diremehkan oleh Suto, lalu ia membalas dengan lemparan tudungnya ke arah Pendekar Mabuk. Tudung diambil dari kepala dan dilemparkan memutar dengan gerakan begitu cepat.

Wuuut...!

Pendekar Mabuk merendahkan kepalanya menghindari hempasan tudung hitam. Tetapi ternyata tudung itu mempunyai gelombang tenaga dalam yang membuat tubuh Pendekar Mabuk merunduk jadi tersungkur jatuh ke tanah. Sementara itu, tudung tersebut berputar terus dan kembali ke tempatnya semula.

Tapp...! Tangan Nagadipa menangkapnya. Putri Alam Baka tersenyum lebar dengan wajah ceria. Ia merasa senang dan bangga melihat kebolehan jurus tudung Nagadipa.

Wajah Pendekar Mabuk hampir saja mencium tanah karena tersungkur, bagai ada tenaga yang sangat kuat menghantam tengkuk kepalanya. Kalau saja tangannya tidak cepat mencagak, maka hidung dan mulutnya habis terbentur bebatuan yang ada di bawahnya. Pendekar Mabuk segera bangkit dan berhasil menggenggam kerikil di tangannya. Kerikil itu segera disentilkan ke arah tudung Nagadipa yang sudah dipakai di kepala.

Zlappp...! Kerikil itu melesat tak dapat dilihat, tapi tiba-tiba tudung Nagadipa terhempas terbang dalam satu sentakan keras.

Prakkk...!

Putri Alam Baka dan Nagadipa sama-sama terperanjat kaget. Tudung itu jatuh antara tiga langkah dari tempat Nagadipa berdiri. Ketika diambil kembali, ternyata ada bagian tepinya yang bolong melompong sebesar biji salak. Nagadipa semakin terbelalak kaget. Ia membatin,

"Gila! Tudung ini kulapisi dengan satu kekuatan baja yang tak bisa dirusak oleh kekuatan apa pun! Pedang setajam apa pun tak akan mampu melukai tudung ini. Tapi kenapa, sekarang bisa menjadi bolong begini? Hmmm... tentu ini ulah bocah ingusan itu! Jahanam...! Ilmunya tak bisa disepelekan!"

Terdengar suara Putri Alam Baka berbisik, "Kenapa bisa berlubang tudungmu itu?!"

"Entahlah!" jawab Nagadipa. Ia merasa kesal mendapat pertanyaan seperti itu, karena merasa malu pada diri sendiri.

Suto berkata dalam hatinya, "Putri Alam Baka ini agaknya terlalu banyak menuntut dari Nagadipa. Aku bisa mempengaruhi mereka dengan caraku sendiri agar mereka tidak saling bantu-membantu."

Tapi sebelum Pendekar Mabuk sempat melakukan rencananya, Nagadipa sudah lebih dulu berkata, "Pendekar Mabuk! Sudah waktunya kau menjadi tumbal kesalahan gurumu, si Bidadari Jalang itu!"

"Aku sudah siap menghadapi kalian berdua!"

"Oh, tak perlu berdua. Cukup aku saja yang membereskan dirimu. Biar istriku jadi penonton yang baik!"

"Majulah, Nagadipa. Tapi aku tak tanggung jika istrimu kecewa melihat polahmu seperti anak kecil!"

"Bocah tak tahu diuntung!" geram Nagadipa. "Hiaaat...!"

Cepat sekali tangan Nagadipa bergerak berkelebat depan seperti orang melemparkan pasir ke atas. Dan pada saat itu, Pendekar Mabuk segera bersalto mundur satu kali, karena ia merasakan akan datangnya gelombang panas yang hampir menyambar tubuhnya. Dengan bersalto ke belakang satu kali, semburan gelombang panas itu terhindar darinya. Melesat mengenai sebatang dahan pohon, dan dahan itu tiba-tiba menjadi kering dalam sekejap.

Putri Alam Baka kelihatan kagum dan bangga melihat serangan itu walaupun meleset, ia berkata kepada Nagadipa, "Desak terus dia. Jangan kasih kesempatan sedikit pun!"

Baru saja diam mulut Putri Alam Baka, tiba-tiba Suto Sinting sudah meraih bumbung tuaknya yang sejak tadi berselempang di punggung. Bumbung itu dipegang bagian talinya dan kini diputar-putarkan di atas kepala.

Wuung...! Wuuung....! Wuuung...!. Bunyi putaran bumbung menggaung bagaikan suara gangsing.

Pada saat itu, tubuh Nagadipa pun ikut berputar-putar tak bisa dikendalikan berhentinya. Tubuh itu makin lama makin cepat berputar dan hampir saja menabrak Putri Alam Baka. Perempuan itu segera melompat ke samping, dan tubuh Nagadipa tertabrak batang pohon besar. Brusss...! Bluggg...! Tubuh itu pun jatuh dalam geram kesakitan dan kemarahan.

"Bangun! Lekas bangun!" sentak Putri Alam Baka kepada Nagadipa.

Dengan perasaan masih pusing, Nagadipa pun berusaha untuk bangkit.

"Lemah sekali kau! Baru menghadapi jurus begitu saja sudah sempoyongan seperti orang mabuk!"

Pendekar Mabuk sengaja melontarkan ejekan, "Bawalah dia pergi. Aku yakin, dia tak tahu arah pulang ke rumahnya, Putri Alam Baka!"

Perempuan itu menggeram marah karena bekas suaminya yang dibanggakan itu dihina oleh Suto. Maka, sambil mencabut serulingnya perempuan itu berkata, "Jangan merasa bangga dengan ilmumu itu, Suto! Tandingilah seruling saktiku ini jika kau berilmu tinggi!"

Tuiiit...! Tulalit, tulalit, tulalit, tuiiii...!

Seruling ditiup dengan suara lengking tinggi, iramanya tak pasti. Kalau tidak buru-buru Suto menutup telinganya dengan kedua tangan, maka gendang telinganya pasti akan pecah. Suara seruling itu ternyata merupakan suara tenaga dalam yang merayap melalui gelombang nada seruling.

Bukan hanya membuat gendang telinga pecah, melainkan juga membuat hidung Suto mulai berdarah. Tubuhnya limbung karena menahan rasa sakit di setiap lubang yang ada pada tubuhnya, termasuk pada mulutnya. Tetapi anehnya, Nagadipa tidak merasakan sakit sedikit pun walau ia tidak menutup telinganya. Ia bahkan berdiri di samping Putri Alam Baka dan memperhatikan Pendekar Mabuk sempoyongan sambil menggeram kesakitan. Darahnya makin banyak keluar dari hidung.

"Bunyikan terus serulingmu biar aku yang menyelesaikannya sekarang juga! Hiaaat...!"

Kedua tangan Nagadipa terangkat dengan gemetar. Setiap kuku tangannya memercikkan bunga api warna biru, bagai tali-tali menyala yang berkeliaran mengelilingi kuku ke kuku, Pendekar Mabuk tak bisa bersiap menghadapi pukulan Nagadipa, karena tangannya mendekap lubang telinga kuat-kuat. Hanya saja, ia masih bisa melihat kelebatan kedua tangan Nagadipa yang mirip gerakan orang memercikkan tangan basahnya.

Craaat...!

Berkilap sinar biru yang menyerupai benang-benang menyala itu. Melesat sinar itu ke arah Suto. Dengan cepat kaki Suto menjejak ke tanah dan melompat lima langkah ke samping kanannya. Brukk...! Ia jatuh di sana dan melompat lima langkah ke samping kanannya. Brukkk...! Ia jatuh di sana sambil berguling dan tetap mendekap telinga.

Bleger...!

Suara ledakan menggema keras akibat cahaya biru dari kuku-kuku Nagadipa itu mengenai sebatang pohon yang tadi ditumbangkan oleh Pendekar Mabuk. Pohon itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbentuk sedikit pun.

Tulalit, tuiiit... tuiit... tulaliiiit... tuiit...!

Seruling semakin nyaring. Kepala Pendekar Mabuk bagaikan mau pecah rasanya. Ia menahan tangisnya kuat-kuat untuk menutup telinga agar tak ditembus suara seruling itu. Sementara darah sudah mulai banyak keluar dari lubang hidung, sudut mata dan mulut. Ia terpisah dari bumbung tuaknya, sehingga ia tidak bisa meggunakan bumbung itu untuk menangkis atau melawan serangan Nagadipa dan Putri Alam Baka.

Pendekar Mabuk berdiri dengan lututnya sambil mulutnya ternganga menahan rasa sakit di kepala. Pada waktu itu ia melihat Nagadipa melepas tudungnya, dan melingkari tudung itu dengan jari tangannya. Maka, tudung itu tersebut menjadi menyala biru.

"Mampuslah kau sekarang, murid sinting! Hiaaat...!" Nagadipa melemparkan tudung itu ke arah Pendekar Mabuk.

Wusss...!

Suto Sinting yang dalam keadaan tak bisa menghindar dan menangkis serangan itu akhirnya menyentakkan napasnya dari mulut.

"Hahhh...!"

Wuuuoosss...!

Terlepaslah badai topan yang begitu mengganas menyerang Nagadipa dan Putri Alam Baka. Sentakan napas Pendekar Mabuk itu tak seberapa keras, tapi telah membuat tubuh Nagadipa terlempar jauh, lebih dari sepuluh langkah, sedangkan Putri Alam Baka terlempar lebih jauh, bahkan sampai terseret-seret dan berdarah. Pohon besar meliuk nyaris tumbang. Sedangkan pohon yang berukuran sedang telah rubuh ke tanah. Beberapa pohon berukuran satu pelukan tangan lebih sedikit, tumbang dengan akarnya terangkat naik, bahkan terseret ke mana-mana, menghantam apa saja yang ada hingga dahannya menjadi retak, patah tak karuan.

Gerakan pohon yang patah itu menghantam pula tubuh Nagadipa beberapa kali. Orang itu berusaha berpegangan pada salah satu akar pohon yang tumbang. Tapi karena kuatnya pegangan, pohon itu justru ikut terseret menjauhi Suto. Akhirnya pegangan tangan itu terlepas, Nagadipa terguling-guling. Tudungnya entah ada mana. Sedangkan Putri Alam Baka pun entah ke mana.

Badai topan yang datang begitu mengerikan. Sepertinya bumi akan terbelah, langit akan runtuh. Seketika itu pula kabut hitam mendung menggantung di angkasa. Gumpalan-gumpalan kabut itu meliuk-liuk bagai ada topan dahsyat di atas sana. Matahari tertutup oleh kabut tebal yang bergulung-gulung mengerikan. Suara gemuruh tak jelas dari jenis apa saja. Binatang-binatang hutan saling berjeritan membuat suasana alam menjadi semakin gaduh dan riuh.

Beberapa saat kemudian, badai menjadi reda. Sedikit demi sedikit kabut hitam di angkasa itu menyisih, cahaya matahari kembali tampak menyinari bumi. Suara gemuruh gaduh pun mulai reda. Suto berdiri dengan mata terbelalak tak berkedip. Ia sama sekali tak menyangka kalau sentakan napasnya menjadi sedemikian dahsyat dan mengerikan. Bumi seperti habis dilanda kiamat setempat.

Bahkan Suto melihat tanah yang longsor pada sebuah lereng. Ada yang terbongkah dari keadaan aslinya. Batu-batu yang semula terpendam di tanah dan hanya muncul di permukaan sedikit itu juga ada yang terpental keluar dan menggelinding jauh dari tempat awalnya. Entah berapa yang tumbang dan rusak berat akibat badai dahsyat tadi. Bahkan pohon besar pun sampai sekarang masih meliuk dan tak bisa kembali tegak dari posisinya semula.

"Pusaka Tuak Setan...?!" gumam Suto menjadi tegang dan ngeri sendiri. "Aku telah menghempaskan napasku, dan napas itu adalah napas Tuak Setan! Oh, mengerikan sekali?! Lantas bagaimana nasib Nagadipa dan Putri Alam Baka...?! Di mana mereka?!"

* * * 

LIMA
PUTRI Alam Baka ditemukan oleh Maharani dalam keadaan sangat menyedihkan. Maharani, satu dari beberapa orang yang lolos dalam peristiwa 'Murka Sang Nyai' itu, baru saja tiba dari Pulau Hantu untuk menemui si Mawar Hitam, tokoh sesat yang sebetulnya sudah tidak ingin turun ke rimba persilatan kecuali berhadapan dengan Bidadari Jalang.

Maharani sungguh terkejut dan menjadi berang melihat teman seperguruannya dalam keadaan terkoyak-koyak sekujur tubuhnya. Mata kakinya remuk karena terhimpit batu besar, serulingnya pecah dalam genggaman sendiri, darah membungkus seluruh bagian tubuh Putri Alam Baka, hingga hampir-hampir wajahnya tak dikenalinya lagi. Jika tak melihat seruling pecah di tangannya, Maharani tak dapat mengetahui siapa tubuh yang terkapar berlumur darah itu.

"Sumbi!" panggil Maharani menyebut nama asli Putri Alam Baka. "Apa yang terjadi si sini, Sumbi? Mengapa jadi begini?!"

Putri Alam Baka masih punya sisa napas walau sejengkal. Matanya yang kiri nyaris keluar dari rongganya, namun mata yang kanan masih bisa dipakai untuk melihat walau hanya terbuka kecil sekali. Bibirnya yang hancur karena benturan dengan benda keras beberapa kali itu mencoba bergerak-gerak untuk bicara. "Oh, Sumbi... tak bisakah kau bicara lebih jelas lagi?"

Maharani terpaksa dekatkan telinga ke mulut Putri Alam Baka. Samar-samar terdengar Putri Alam Baka ucapkan kata, "Su... to...!"

Setelah itu ada napas kecil yang terlepas dari mulut Putri Alam Baka. Lepasnya napas itu bersamaan dengan tergoleknya kepala ke samping. Lemas dan lunglai. Setelah itu, tak ada lagi gerakan maupun suara dari Putri Alam Baka.

"Sumbi!" seru Maharani menyentak dalam nada tegang. "Sumbi! Apa maksudmu dengan Suto?! Jawablah, Sumbi! Sumbiii...!"

Maharani guncangkan tubuh berlumur darah itu. Tapi si pemilik tubuh tetap diam membisu tanpa napas sedikit pun. Lalu, meraunglah tangis Maharani begitu menyadari temannya sudah tidak bernyawa lagi. Hati Maharani diguncang duka dan kemarahan yang begitu hebat. Tak tahu pasti apa penyebab kematian satu-satunya teman yang tersisa dari perguruannya, Maharani mengamuk tanpa arah dan sasaran.

Hanya batang-batang pohon, bongkahan-bongkahan batu, dan benda-benda di sekitarnya yang menjadi sasaran kemarahan Maharani. Benda-benda itu dihancurkan dengan pukulan dan tendangan bertenaga tinggi. Senjata kipasnya pun ikut ambil bagian menghantam ke sana-sini hingga timbulkan suara ledakan yang menggetarkan tanah sekitarnya.

"Hentikan! Hentikan!" seru seseorang dengan suara gemetar.

Maharani cepat palingkan wajah dengan napas terengah-engah. Ia segera kenali orang yang tanpa tudung lagi namun masih berpakaian abu-abu itu. Pakaiannya compang-camping bagai habis dikoyak cakar beruang. Kulit tubuhnya pun terluka banyak, seolah habis dirobek-robek oleh dua ekor harimau jantan. Orang berkumis dan berambut banyak uban itu tak lain adalah Nagadipa.

Maharani tertegun melihat keadaan Nagadipa seperti itu. Setahunya, Nagadipa orang berilmu tinggi yang jarang bisa dilukai oleh lawan. Tapi mengapa sekarang keadaan lukanya sedemikian parah? Maka, Maharani pun segera ajukan tanya kepada Nagadipa yang berdiri dengan bersandarkan tubuh pada pohon yang masih tegak berdiri.

"Apa yang terjadi, Nagadipa?! Mengapa bumi bagaikan habis dilanda banjir dan badai yang buas begini? Mengapa Putri Alam Baka menderita luka sebegitu parahnya hingga tak bernyawa lagi?!"

"Bawalah aku pergi ke tempat yang aman. Lekas! Nanti kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku butuh tempat aman untuk mengobati luka-lukaku ini, Maharani!"

"Nagadipa "

"Bawalah aku! Tenagaku tak kuat lagi untuk bertahan!"

Tak ada pilihan lain buat Maharani. Ia harus segera membawa Nagadipa pergi. Tempat yang dipilihnya juga tak ada yang lain kecuali ke tempat asal Nagadipa, yaitu sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Bangkai.

Pendekar Mabuk melihat kelebatan Maharani yang membawa pergi Nagadipa. Tapi Pendekar Mabuk sengaja tidak mengejarnya. Ia masih ingin memeriksa keadaan alam sekitarnya, sejauh mana bencana yang ditimbulkan oleh kekuatan dahsyat dari napas Tuak Setan.

Sebenarnya Pendekar Mabuk sudah sering mendengar akibat yang ditimbulkan dari napas Tuak Setan. Tapi untuk kali ini Suto benar-benar merasa heran dan juga menyesal. Karena pada waktu ia sentakkan napas dari mulutnya, ia tidak bermaksud melepaskan Pusaka Tuak Setan dari dalam napasnya itu. Ia menyentakkan napas karena ingin membuang rasa sakit yang tak tertahankan lagi, yang ditimbulkan akibat suara seruling Putri Alam Baka itu.

Terngiang kembali ucapan gurunya, si Gila Tuak, saat membicarakan tentang Pusaka Tuak Setan, "Orang yang menelan atau meminum Pusaka Tuak Setan, akan mempunyai napas yang luar biasa dahsyatnya. Sedikit napas tersentak dari mulut orang yang diliputi kemarahan, maka badai topan yang amat dahsyat akan menghembus keluar dan memporak-porandakan alam sekitarnya. Karena itu, aku tak berani menggunakan Pusaka Tuak Setan, karena aku masih sering dihinggapi amarah yang walau dipendam tetap akan menghasilkan napas badai yang dapat membawa korban tak bersalah."

Korban tak bersalah memang ada. Bukan harus dalam wujud manusia, tapi hancurnya sebidang tanah hutan juga bisa digolongkan sebagai korban tak bersalah. Binatang-binatang hutan yang mati tergencet pohon, atau pecah terbentur benda keras dengan kekuatan tinggi, juga sebagai korban tak bersalah.

Pendekar Mabuk bergidik sendiri melihat seekor babi hutan pecah kepalanya di dekat bongkahan batu besar. Kulit babi hutan itu tercabik-cabik terkelupas dari tubuhnya. Pohon-pohon hutan bagaikan rata dengan tanah. Ambruk tak tertolong lagi. Akar-akar pohon terpental keluar dari dalam bumi. Persawahan pun hancur lebur tak berbentuk barisan tanaman padi lagi. Badai yang ganas itu untung tak sampai memporak-porandakan sebuah desa yang letaknya jauh dari lereng bukit itu.

Namun dari tempat Suto berdiri, ia melihat sebatang pohon kelapa tumbang dan beberapa genteng melorot dari atap. Suto pun segera lari ke desa untuk melihat lebih jelas lagi. Ternyata memang tidak ada korban manusia di sana kecuali dua ekor kerbau yang sedang dilepas di tepian sawah dekat tanah lapang. Dua ekor kerbau itu masing-masing dalam keadaan kepala pecah dan tubuh terkoyak-koyak. Dua ekor kerbau itu mati dalam keadaan telentang, keempat kakinya mengeras ke atas.

Dari percakapan orang-orang desa itu terpetik satu kesimpulan dalam benak Suto, bahwa mereka hanya mengalami rasa takut yang begitu hebat. Bahkan ada yang menyangka langit akan rubuh dan bumi akan mengalami kiamat. Kerugian yang ditimbulkan dan diderita oleh penduduk desa itu tak seberapa banyak, kecuali pemilik dua ekor kerbau yang genteng atap rumahnya hampir melorot semua. Kepada pemilik dua ekor kerbau itu, Suto memberikan sejumlah uang sebagai ganti ruginya.

"Uang untuk apa itu, Anak Muda?"

"Terimalah saja, Pak. Kurasa cukup untuk membeli dua ekor kerbau dan membenahi genteng rumahmu."

Pendekar Mabuk memang tidak jelaskan apa yang terjadi dan apa yang menjadi penyesalannya. Mereka belum tentu mau percaya dengan omongan Suto Sinting. Buatnya yang penting sudah menebus penyesalan itu dengan memberikan uang ganti rugi secukupnya kepada korban tak bersalah.

"Mudah-mudahan jangan lagi aku menggunakan napas Tuak Setan-ku ini. Aku harus bisa mengendalikan amarahku dan menahan diri untuk tidak melampiaskan amarah dengan hembusan napas. Kalau tidak sangat terpaksa dan tak punya jalan lain, jangan lagi kugunakan napas Tuak Setan-ku ini! Kasihan mereka yang tak bersalah menjadi korban keganasan napas Tuak Setan!" pikir Suto sambil langkahkan kaki meninggalkan desa itu. Ia ingin memeriksa alam di sisi lain, barangkali ada korban lain yang menderita akibat amukan badai dahsyat dari napas Tuak Setan-nya itu.

Tiba di pinggiran sungai bertanggul tinggi, langkah Suto terhenti seketika karena anak panah yang meluncur cepat dan jatuh menancap tanah di depan langkahnya. Secara gerak naluri Pendekar Mabuk melenting ke atas dan bersalto mundur satu kali. Kemudian setelah sepasang kakinya tegak berdiri di atas sebuah batu besar yang tingginya dua depa dari tanah, Suto memandang arah datangnya anak panah itu.

Ternyata dari atas tanggul, dan diluncurkan dari busur seorang lelaki kerdil berambut jarang. Bagian tengah kepalanya tak ditumbuhi rambut sedikit pun. Botak polos dan mengkilap. Tapi dari bagian atas telinga memutar sampai di telinga satunya lagi ditumbuhi rambut sedikit lebat. Panjangnya kurang dari batas pundak. Karena tak terlalu lebat, rambut itu seolah-olah bisa dihitung jumlahnya.

Lelaki kerdil yang tingginya sebatas perut Suto itu melompat dengan gerakan lincah dan ringan. Dari atas tanggul ia bersalto turun dua kali. Kejap selanjutnya ia sudah berdiri di depan Suto. Kepalanya mendongak keatas, karena di samping Pendekar Mabuk lebih tinggi, juga karena keadaan Pendekar Mabuk saat itu di atas batu tinggi. Ia berseru dengan tangan masih menggenggam busur panah, sedangkan tempat menaruh anak panah lainnya ada di punggung. Tempat menaruh anak panah itu terbuat dari kulit berbentuk kantung panjang warna hitam kecoklatan, mempunyai tali pengait yang membuat anak panahnya tidak jatuh berantakan walau dipakai jungkir balik diudara.

"Kaukah yang... yang... namanya Sut... Suto?!" serunya sambil menyunggingkan senyum yang lebih tepat dikatakan sebagai seringai yang konyol.

Suto melompat turun dari atas batu. Wuuttt...! Kejap berikut ia sudah berada di depan lelaki kerdil yang bertampang tua itu. Dilihat dari ketuaan wajahnya, Suto menduga lelaki itu berusia antara lima puluh tahun lebih, namun belum sampai enam puluh tahun. Cukup waspada Suto memperhatikan gerak-gerik orang aneh itu.

Yang diperhatikan ternyata tidak menimbulkan kesan bermusuhan. Orang itu mencabut anak panahnya yang tadi menancap di tanah sambil berlari-lari diiringi bibir yang cengar-cengir. Kemudian kembali menemui Suto setelah mendapatkan anak panahnya.

"Siapa kau, Pak Tua?"

"He he he... ja... jawab du... dulu pertanyaanku! Kau... kau yang bernama Sut... Sut... Suto?"

"Ya. Aku Suto, murid sinting si Gila Tuak!" jawab Suto dengan tegas sambil tetap pandangi orang kerdil berpakaian serba putih dari bahan kulit binatang berbulu putih. Bentuk celananya pendek, bentuk bajunya mirip rompi panjang. Semuanya dari kulit binatang, yang menurut dugaan Suto adalah kulit beruang putih. Di pinggang orang itu terselip dua pisau bersarung yang panjangnya satu setengah jengkal. Masing-masing ada di pinggang kiri dan kanan.

"Sen... senang sekali aku bis... bisa bertemu denganmu, Suto!"

Dalam hati Pendekar Mabuk membatin, "Orang ini bicaranya tersendat-sendat. Apakah karena dia gugup bertemu denganku atau karena memang begitulah lagak bicaranya?"

Orang itu segera ucapkan kata lagi, "Nam... nam... namaku... Gatra Laksana, tap... tapi julukanku... Dewa Racun!"

Pendekar Mabuk akhirnya tertawa seperti orang menggumam, ia merasa geli sendiri melihat Dewa Racun bicaranya seperti orang tertelan biji kedondong.

Dan melihat Suto tertawa, Dewa Racun kerutkan dahi dalam tatap matanya yang sedikit menyipit itu. "Ken... ken... kenapa kamu ter... ter... tertawa?"

"Aku menertawakan diriku sendiri. Alangkah bodohnya aku ini, tak bisa mengenali tokoh tua yang berjuluk Dewa Racun," jawab Suto mengalihkan anggapan, walau sebenarnya ia memang tak kenal dan belum pernah mendengar nama Dewa Racun.

Mendengar jawaban itu, Dewa Racun tampaknya tak jadi tersinggung, ia segera ucapkan kata gagapnya, "Kal... kal... kalau begitu, kau termasuk or... orang beruntung."

"Mengapa beruntung?"

"Kar... karena kau sekarang sudah bisa mengenal dan berhadapan langsung de... dengan... Dewa Racun!"

"Apa hebatnya orang ini sehingga aku dianggap beruntung bisa berhadapan dengan Dewa Racun?!" pikir Suto.

Dewa Racun berkata lagi, "Nam... namamu juga cuk... cuk... cuk"

"Cukur?!" sahut Suto

"Bukan. Cuk... cukup dikenal di kalangan rim... rimba persilatan. Ak... aku dengar kau murid si Gila Tuak yang cuk... cukup terkenal itu. Dan... dan... aku dengar kau cari-cari pe... pe"

"Penyamun?!"

"Bukan. Perempuan! Ya, aku dengar kau cari-cari pe... perempuan yang ber bernama Dyah Sariningrum."

Tersentak kaget Pendekar Mabuk mendengarnya. Senyumnya hilang seketika begitu mendengar nama Dyah Sariningrum disebutkan oleh Dewa Racun. Ia maju setindak dan rendahkan badan, setengah jongkok di depan Dewa Racun agar wajahnya sejajar dengan wajah si kerdil itu. "Apakah kau mengenal Dyah Sariningrum?"

"Ya. Ak... aku kenal nama itu," jawab Dewa Racun. "Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa dia dan di mana dia."

"Dari siapa kau tahu nama Dyah Sariningrum?"

"Dar... dar... dar... dar..."

"Cepat katakan! Jangan hanya main dar-daran saja?!" sentak Suto tak sabar.

"Maksudku, dar... dari mulut Peramal Pikun!"

Pendekar Mabuk tertegun sejenak, ia berdiri dari jongkoknya. Terbayang wajah bermata cekung bertubuh kurus kering milik Peramal Pikun. Suto hampir saja melupakan seraut wajah pikun. Dialah orang yang menjadi kunci tentang rahasia nama Dyah Sariningrum. Tapi apa perlunya Peramal Pikun memberitahukan kepada Dewa Racun? "Apa maksudmu menemuiku, Dewa Racun?" tanya Suto. "Bukankah kau tidak mengenal siapa Dyah Sariningrum kekasihku itu, dan tidak tahu di mana dia berada?"

"Ya. Tap... tap.... Tapi aku disuruh Peramal Pikun untuk mencarimu. Dia... dia dalam keadaan sakit parah kar... karena... sebutkan nama Dyah Sariningrum di depanku."

Pendekar Mabuk kerutkan dahinya tajam-tajam, ia dekatkan kembali wajahnya kepada Dewa Racun dengan bungkukkan badan. "Dia sakit parah karena sebutkan nama Dyah Sariningrum?"

"Ya. Dia... tak boleh sebutkan nama itu, bah... bahkan mendengar nama itu pun dia tak tak boleh. Telinganya akan ber... ber"

"Berkumis?"

"Bukan. Akan ber... berdarah jika mendengar nam... nama Dyah Sariningrum. Sewaktu ia lup... lupa sebutkan nama itu di depanku, ia langsung meng... meng..."

"Menghilang?!"

"Bukan, ia langsung mengeluarkan darah dari mul... mulutnya. Dia langsung ter... ter... ter... terluka dalam. Dia but... butuh bantuanmu secepatnya, Suto!"

"Aneh! Mengapa dia jadi terluka dan berdarah begitu? Apa hubungannya antara nama Dyah Sariningrum lengan lukanya itu?"

"Entahlah! Yang... yang... yang jelas dia minta kau segera da datang menemuinya!"

Suto menarik napas panjang, ia ambil bumbung tuak, dan menenggak tuaknya beberapa teguk. Dewa Racun hanya memperhatikan dengan senyum-senyum tak ada manisnya sama sekali, tapi tidak berkesan bermusuhan.

"Apa hubunganmu dengan Peramal Pikun?" tanya Pendekar Mabuk mengawali langkahnya mendaki tanggul sungai yang tinggi itu.

"Hanya sebagai te... te... tetangga, eh... bukan! Hanya sebagai teman biasa. Teman baik. Dul... dulu dia pernah tolong aku dan aku pun pernah selamatkan nyawanya dari bahaya racun. Sejak itu ka... kami mengikat tali persahabatan yang cuk... cuk cukup baik."

"Hmmm...!" Pendekar Mabuk menggumam sambil manggut-manggut. Terbayang lagi dalam benak Suto Sinting wajah seorang perempuan yang pertama kali hadir di alam semadinya itu. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan).

Wajah cantik yang muncul di alam semadinya itu membuat Suto mencucurkan air mata berdarah. Cucuran air mata berdarah itu tidak disadari olehnya, namun dipahami oleh gurunya, si Gila Tuak. Sejak itu, wajah yang mengaku bernama Dyah Sariningrum itu sering hadir di alam mimpi Pendekar Mabuk dan membuat Pendekar Mabuk sering dicekam rindu.

Itulah sebabnya Suto tak bisa menerima cinta Betari Ayu, karena ia sudah telanjur jatuh cinta pada seraut wajah milik Dyah Sariningrum. Sayang sekali si Gila Tuak juga tidak menjelaskan, siapa perempuan itu dan di mana letak persinggahannya. Si Gila Tuak hanya mengatakan, bahwa wajah yang hadir di alam semadinya Suto Sinting itu adalah calon jodoh Suto.

Itulah sebabnya Pendekar Mabuk memburu seraut wajah cantik bernama Dyah Sariningrum dengan seribu godaan yang datang dari perempuan-perempuan cantik lainnya. Perempuan-perempuan itu terang-terangan jatuh cinta kepada Suto sampai siap korbankan nyawa, tapi Suto tetap tak bisa menerima cinta dari perempuan.

Sikap Suto Sinting yang menutup diri terhadap cinta perempuan lain itulah yang membuat mereka jadi kecewa. Yang dulunya cinta kepada Suto, sekarang berubah menjadi benci. Tetapi Pendekar Mabuk tidak mengetahui adanya perubahan sikap mereka. Suto Sinting tidak tahu bahwa jiwanya sedang dalam ancaman tiga perempuan patah hati, yaitu Peri Malam, Selendang Kubur, dan Perawan Sesat.

Satu dari tiga perempuan patah hati itu sengaja menghadang langkah Suto. Sebuah pukulan tenaga dalam dilancarkan dari jarak jauh. Pukulan itu hanya sebagai pengganggu langkah saja, tidak bermaksud menghabisi nyawa Pendekar Mabuk saat itu juga. Pukulan tersebut segera dihadang dengan kelebatan tubuh kerdil Dewa Racun yang melompat cepat di depan Suto. Lalu dengan sentakkan tangan kirinya, Dewa Racun menghantam kilatan cahaya hijau yang menuju ke arah Suto.

Wuugh...! Duub...! Kedua tenaga dalam itu beradu di udara.

Blarr...!

Meledaklah benturan tenaga dalam tersebut, membuat Dewa Racun terpental ke belakang membentur Suto, membuat keduanya berjumpalitan di tanah.

"Apa-apaan kau ini, Dewa Racun!" sentak Pendekar Mabuk sedikit dongkol karena matanya hampir tercolok busur di tangan Dewa Racun.

"Ada yang... yang... yang ingin menghantammu dari tempat jauh!"

"Aku tahu. Tapi aku bisa atasi sendiri. Tak perlu kau yang menghalangi pukulan itu."

"Ak... aku... cuma mau selamatkan kam... kam..."

"Kambing?!" sentak Suto.

"Kamu!" Dewa Racun ganti membentak.

Keduanya segera tegak berdiri, karena dari atas pohon meluncur sesosok tubuh berambut acak-acakan. Siapa lagi dia kalau bukan Perawan Sesat yang bertampang liar dan beringas itu. Dewa Racun segera berkata kepada Pendekar Mabuk, "Ad... ada... ada perempuan can... can... can..."

"Cantengan?!" sergah Suto Sinting menebak.

"Hmmm... iya," jawab Dewa Racun. "Perempuan cantik yang mungkin berpenyakit cantengan, menghadang langkah kita. Ap... apa maksudnya ak... aku tidak tahu. Sumpah, aku tidak tahu!"

"Siapa yang menuduhmu tahu maksudnya? Tak perlu pakai sumpah segala!" sentak Suto agak dongkol dengan sikap gagapnya Dewa Racun. Kemudian, Pendekar Mabuk maju setindak dan berkata kepada Perawan Sesat. "Apa maksudmu menghadang langkahku, Perawan Sesat?!"

Dengan mata tajam bersikap bermusuhan, Perawan Sesat menjawab, "Aku hanya ingatkan kamu, dua hari lagi purnama tiba!"

"Apa maksudmu dengan purnama tiba?"

"Kau punya janji pertarungan dengan Manusia Sontoloyo yang bernama Dirgo Mukti itu! Apakah kau masih ingat dengan pertarungan yang akan terjadi di Bukit Jagal itu?"

Pendekar Mabuk tertawa berkesan meremehkan. "Ya, ya... sekarang aku ingat. Hampir saja aku lupa kalau aku mendapat tantangan dari Dirgo Mukti. Tapi... sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Masalahnya tidak penting dipertarungkan!"

"Buat Dirgo Mukti kau punya urusan dengannya yang amat penting! Menentukan siapa yang berhak menerima cinta Peri Malam, itu adalah masalah yang sangat penting buat Dirgo Mukti!"

Sekali lagi Suto lontarkan tawa meremehkan. "Bilang kepada Dirgo, suruh dia ambil perempuan itu. Aku tak akan mempertahankannya!"

"Hmm... kau takut menghadapi tantangan itu rupanya."

"Ya. Aku memang takut. Takut membunuhnya. Kasihan dia kalau harus mati sia-sia di tanganku. Kasihan tanganku kalau harus membunuh orang yang tidak punya masalah penting denganku!"

"Hadapilah dia kalau kau memang murid sinting si Gila Tuak! Aku hanya mengingatkan saat pertarunganmu itu, Suto!"

"Aku tidak akan hadir!"

"Harus hadir! Jangan kecewakan musuhmu, Suto! Jangan jatuhkan martabat gurumu yang kesohor sebagai orang sakti di papan teratas!" bujuk Perawan Sesat.

"Pertarungan itu tidak penting, Perawan Sesat! Aku tidak mau terlibat urusan yang sangat sepele!"

"Kalau begitu, lepaskan gelar kependekaranmu biar Dirgo Mukti yang menyandangnya!"

Suto hanya tersenyum heran sambil geleng-gelengkan kepala, ia ucapkan kata pelan tapi penuh tatap pesona yang membuat hati Perawan Sesat berdebar keras. "Mengapa kau harus mendesakku bertarung melawan Dirgo Mukti? Apakah kau punya dendam dengan Dirgo Mukti dan ingin meminjam tanganku untuk membunuhnya? Apakah kau tak mampu membunuh Dirgo Mukti sendiri?"

"Jangan picik otakmu, Suto Sinting! Ini bukan soal dendam. Ini soal harga diri, antara harga dirimu dengan harga diri Dirgo Mukti!"

"Tidak. Aku tetap tidak mau hadir dalam pertarungan nanti!"

"Kau kalah!"

"Biarlah dianggap kalah! Tapi aku punya kemenangan sendiri di balik kekalahan itu!" kata Pendekar Mabuk dengan tetap tenang.

"Kau harus menghadapinya, Suto!" bentak Perawan Sesat yang merasa jengkel karena bujukannya tidak berhasil.

Akhirnya, Dewa Racun ikut angkat bicara, ia berkata kepada Perawan Sesat sambil bertolak pinggang. "Aku yang akan mewakili Suto! Aku yang akan menghadapi Dirgo Mukti itu!"

"Hmmm...!" Perawan Sesat mencibir sinis, ia sengaja tidak kasih tanggapan terhadap kata-kata orang kerdil itu. Ia segera pergi setelah berkata, "Jangan kecewakan orang-orang yang mencintai dan mengagumi kehebatanmu, Suto. Kami ingin menyaksikan kehebatan orang yang kami puji-puji itu!" Lalu, ia melesat pergi dengan ilmu siluman.

* * *

ENAM
SUNGGUH tak habis pikir Pendekar Mabuk terhadap kemunculan Perawan Sesat. Mengapa perempuan itu begitu besar harapannya agar Suto melaksanakan pertarungan dengan Dirgo Mukti di Bukit Jagal? Pasti perempuan itu mempunyai satu alasan dan tujuan lain yang tersembunyi. Suto merasa bukan hanya ingin ditonton dan dipuji kehebatan pertarungannya nanti, tapi karena ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Perawan Sesat. Ia merasa dirinya akan dijadikan alat oleh Perawan Sesat, yaitu alat pembantai Dirgo Mukti.

Satu hal lagi yang membuat Pendekar Mabuk heran adalah pembelaan yang dilakukan oleh Dewa Racun, baru saja mereka saling kenal, mengapa Dewa Racun melakukan pembelaan sebesar itu. Saat pukulan tenaga dalam Perawan Sesat hendak menyerang Suto, Dewa Racun cepat ambil sikap menahan dan menghancurkan pukulan tersebut.

Mestinya hal itu tidak perlu ia lakukan. Pada saat Suto ngotot tidak mau melayani tantangan Dirgo Mukti, tiba-tiba Dewa Racun menyediakan diri sebagai pengganti Suto dalam pertarungan nanti. Mestinya Dewa Racun tak perlu ikut campur, toh dia tidak tahu duduk perkaranya tentang pertarungan dan tantangan Dirgo Mukti Itu. Suto sendiri tidak tahu, bahwa sebenarnya Perawan Sesat hanya bertugas mengingatkan saat pertarungan yang sebentar lagi akan tiba itu.

Tiga perempuan patah hati telah menugaskan Perawan Sesat untuk mengingatkan Suto, sementara Peri Malam dan Selendang Kubur bertugas memberi semangat pada Dirgo Mukti. Tetapi, agaknya Perawan Sesat kurang pintar main siasat. Bujukannya terlihat jelas melalui desakan yang bersifat memaksa, sehingga Suto tetap berkeputusan untuk tidak melayani tantangan Dirgo Mukti.

Sementara itu di tempat lain, Peri Malam dan Selendang Kubur tetap memberi bujukan agar Dirgo Mukti bersemangat melawan Suto. Sebelumnya, saat mereka bertiga menunggu kemunculan Dirgo Mukti dan Datuk Marah Gadai dari dasar telaga, mereka sudah atur siasat seperti itu. Mereka sudah menyangka bahwa Dirgo Mukti pasti bertarung melawan Datuk Marah Gadai, karena keduanya sama-sama menyelam ke dasar telaga mencari Cincin Manik Intan.

Tetapi tiba-tiba kedua tubuh mereka tersentak keluar dari dalam telaga dan masing-masing terlempar tak tentu arah. Air telaga bergolak begitu kuat, hingga sebagian airnya tumpah ke samping dan sekelilingnya, mengguyur tubuh tiga perempuan patah hati itu.

Ketiga perempuan itu berpegangan pada pohon karena tubuh mereka terhempas badai kencang dari arah wetan. Bahkan sebagian pohon di dekat telaga ada yang tumbang ke sana kemari. Hal itu terjadi saat Suto Sinting melepaskan napas Tuak Setan-nya tadi. Badai itu ternyata sampai pula di sekitar telaga dan menipis ke arah barat.

"Pasti ada yang menggunakan ilmu kesaktian tinggi!" seru Perawan Sesat kala itu. Ia sendiri hampir terbang terpental oleh hembusan angin badai yang cukup kuat itu. Seruan tersebut tak mendapat tanggapan dari kedua temannya, karena masing-masing sibuk bertahan agar tak ikut terbuang oleh badai keras tersebut.

Pada waktu Dirgo Mukti dan Datuk Marah Gadai terlempar dari dasar telaga, sang Datuk Marah Gadai segera terpental bagaikan kapas tertiup angin. Mungkin karena tenaganya sudah sangat berkurang selama pertarungan dengan Dirgo Mukti yang berlanjut di dasar telaga, hingga ia tak mampu bertahan diri dari hembusan badai. Tubuhnya melayang menerabas semak berduri. Suaranya pun hilang dari pendengaran tiga perempuan patah hati itu.

Dirgo Mukti sendiri sebenarnya juga terhempas ke mana-mana. Mungkin akan lebih jauh terpentalnya dibanding Datuk Marah Gadai. Tetapi, tangan Peri Malam berhasil memegangi kaki Dirgo Mukti yang hampir terbawa terbang hembusan badai dahsyat itu. Sambil berpegangan pada pohon, Peri Malam mempertahankan tubuh Dirgo Mukti yang merayap-rayap bagaikan buaya tanpa kaki.

"Bantu aku menahan tubuhnya!" teriak Peri Malam saat itu, dan Selendang Kubur pun menahan pundak Dirgo Mukti dengan kedua kakinya. Pundak itu tak bisa maju karena mendapat tahanan dua kaki dari depan, sedangkan kedua tangan dan pundak Selendang Kubur menahan diri ke salah satu batang pohon. Ia pun bertahan sekuat tenaga agar tidak ikut terlempar oleh hembusan angin badai yang menggila itu.

Saat-saat berikutnya, badai itu reda. Suasana di sekitar telaga persis bumi yang habis mengalami kiamat, itulah kekuatan dahsyat dari napas Tuak Setan. Padahal dari tempat Pendekar Mabuk hembuskan napas itu sampai ke Telaga Manik Intan jaraknya cukup jauh. Memakan waktu setengah hari untuk berjalan menuju kesana. Tapi toh badai napas Tuak Setan sempat bikin gaduh di sekitar telaga itu.

Mereka tidak tahu, pada saat badai mengamuk di sekitar telaga, keadaan di tempat Suto sudah kembali tenang. Jadi bentuk badai itu bergulung-gulung yang makin lama semakin tipis gulungannya dan semakin pudar hembusannya. Kalau saja mereka tahu, badai sedahsyat itu datang dari mulut Suto, sudah pasti mereka urungkan niat untuk mengadukan kesaktian Dirgo Mukti dengan Suto. Dan karena mereka tidak tahu hal itu, maka mereka pun akhirnya tetap membujuk Dirgo Mukti untuk melaksanakan janji pertarungannya dengan Suto Sinting. Waktu itu, suasana sudah reda dan tenaga mereka sudah pulih seperti sediakala. Dirgo Mukti berkata kepada Peri Malam.

"Tenagaku terkuras habis melawan Datuk Marah Gadai itu! Rasa-rasanya aku harus menunda pertarungan sampai purnama mendatang!"

"Itu sama saja kau mengakui kekalahanmu, Dirgo! Dan berarti Suto-lah yang berhak memiliki cintaku," kata Peri Malam mempengaruhi pikiran Dirgo Mukti.

"O, tidak! Kau tidak akan kuserahkan kepada Suto Sinting! Kau harus kumiliki, Peri Malam!"

"Jika kau ingin memiliki aku, kau harus tunjukkan kesaktianmu di depanku dengan mengalahkan Pendekar Mabuk di pertarungan nanti!"

Dirgo Mukti tarik napas panjang-panjang. Matanya menerawang dalam satu renungan pertimbangan. Pada saat itu, Selendang Kubur segera angkat bicara dari samping kanan Dirgo Mukti,

"Aku pun bertaruh untuk dirimu, Dirgo. Kau pasti menang melawan Suto, dan aku siapkan hadiah untukmu yang sangat istimewa!"

Cepat-cepat Dirgo Mukti palingkan wajah, memandang Selendang Kubur dengan senyum berseri, "Hadiah istimewa apa yang akan kau berikan padaku jika aku menang melawan Suto Sinting?"

Mata Selendang Kubur melirik nakal sambil ia berkata, "Apa yang kau harapkan dariku selama ini akan kuberikan padamu!"

"Betulkah?!" Dirgo Mukti kian berbinar-binar matanya.

"Ya. Aku hanya ingin menyerahkan tubuhku pada laki-laki yang benar-benar jantan dan perkasa sebagai seorang pendekar!"

Perawan Sesat segera lontarkan kata sambil berdiri di depan Dirgo Mukti, memamerkan belahan dadanya, merenggangkan kedua kakinya dengan senyum menggoda. "Rasa-rasanya aku juga perlu kasih hadiah kepada siapa yang unggul dalam pertarungan nanti!"

"Kau...?! Kau juga akan kasih hadiah yang sama seperti Selendang Kubur?"

"Kurasa kau pernah merasakannya, Dirgo! Tapi yang tempo hari kau rasakan itu belum istimewa. Kau akan memperoleh yang paling istimewa jika bisa kalahkan Suto Sinting!"

"Oh, menyenangkan sekali...?!" si Manusia Sontoloyo berseri-seri dan lebih bersemangat lagi.

Peri Malam berkata kepada Perawan Sesat, "Cari Suto, ingatkan padanya tentang pertarungan di Bukit Jagal, supaya dia tidak lupa, dan supaya Dirgo Mukti tidak kecewa atas ketidakhadirannya nanti!"

"Aku akan cari dia dan akan kuingatkan demi pendekar pujaan kita itu, Peri Malam!" kata Perawan Sesat, lalu ia cubitkan tangannya di pipi Manusia Sontoloyo. Setelah itu, segera tinggalkan tempat untuk mencari Pendekar Mabuk.

Pada saat itu, Dirgo Mukti sempat ucapkan kesangsiannya, "Tapi aku belum menguasai jurus 'Cakar Naga'? Mana bisa aku mengalahkan dia?"

"Kau pasti punya jurus simpanan lainnya!" sahut Selendang Kubur. "Gunakan jurus-jurus intimu. Keluarkan ilmu-ilmu simpananmu. Jangan tanggung-tanggung kalau melawan Pendekar Mabuk. Dia juga tak pernah tanggung-tanggung gunakan ilmunya!"

Peri Malam menimpali, "Bila perlu, gunakan pusaka kapakmu itu! Aku yakin Pendekar Mabuk tak akan mampu menandingi kesaktian kapakmu itu!"

Dirgo Mukti semakin sombong hatinya. Kepalanya bagaikan bengkak mendapat sanjungan seperti itu. Lalu, ia cabut senjata kapaknya dan ia amat-amati beberapa saat. Kapak bermata dua itu mempunyai ujung mata tombak yang bisa melesat memburu sasaran dan tumbuh lagi mata tombak lainnya dari dalam gagang. Kapak itu mempunyai gagang yang bisa ditarik dan menjadi rantai sehingga bisa dipakai menebas leher dari jarak dua tindak atau tiga langkah didepannya.

"Seharusnya Datuk Marah Gadai sudah kuhabisi nyawanya pakai kapakku ini! Kenapa aku jadi lupa pada pusaka sendiri?!"

"Itu tak perlu. Melawan Datuk Marah Gadai tidak harus pakai kapak pusakamu! Tidak terhormat rasanya jika kapak itu kau gunakan untuk melawan Datuk Marah Gadai. Akan lebih terhormat lagi jika kau gunakan untuk membunuh Suto Sinting! Kurasa hanya kapak ini yang bisa menandingi semua ilmu Pendekar Mabuk!" kata Peri Malam yang membuat hati Dirgo Mukti menjadi semakin berbunga-bunga.

"Kurasa kau perlu istirahat banyak, Dirgo," kata Selendang Kubur dengan senyum manisnya. "Jangan buang-buang tenaga sebelum hari pertarungan tiba. Mari kuantar pulang ke Pantai Saru. Kau perlu persiapkan diri di sana."

"Kau akan menemaniku di sana sebelum pertarungan tiba?"

"Ya, aku dan Peri Malam akan mendampingi masa istirahatmu!"

"Dan... dan akan berikan kehangatan padaku di sana?"

Peri Malam cepat menjawab, "Kehangatan itu akan tiba jika kemenanganmu tergenggam di tangan. Kurasa Perawan Sesat juga akan memberikan kehangatan yang lebih indah lagi setelah kau berhasil membunuh Suto Sinting!"

Selendang Kubur menambahkan kata, "Kau akan memperoleh kemenangan ganda, Dirgo! Selain namamu jadi cepat dikenal di rimba persilatan sebagai seseorang yang mampu mengalahkan murid si Gila Tuak, juga kau akan memperoleh kemenangan batin yang luar biasa tingginya, yaitu memperoleh tiga istri sekaligus!"

"Tiga istri?! Waaah..., ha ha ha ha...!" Dirgo Mukti tertawa kegirangan. Kedua perempuan itu dirangkulnya kanan-kiri. Kedua perempuan itu juga membiarkan dicium wajahnya oleh Dirgo Mukti yang tampak jelas serakah dengan kemesraannya.

Di Pantai Saru, ketika malam hadirkan sunyi, Perawan Sesat renungkan diri, duduk di atas bebatuan tak berlumut. Satu persatu Peri Malam dan Selendang Kubur mendekat, lalu mereka saling bergunjing tentang Suto.

Perawan Sesat yang mengawali percakapan itu. "Lain kali jangan aku yang harus temui Pendekar Mabuk sendirian."

"Mengapa?" tanya Peri Malam.

"Aku tak tahan memandang matanya. Gairahku terbakar dan rasa cintaku meletup-letup jika bertatap muka dengannya."

"Apakah kau masih tertarik pada Suto?"

"Justru karena aku masih punya rasa cinta, maka aku harus menghadirkannya jika inginkan kematiannya!" kata Perawan Sesat sambil menatap Peri Malam.

Tapi, Selendang Kubur segera angkat bicara, "Dasar perempuan binal!"

Sreeg...! Perawan Sesat berdiri, Selendang Kubur juga sigap menantang. Mata Perawan Sesat tajam menembus bola mata Selendang Kubur yang memancarkan dendam itu. Lalu, terdengar Perawan Sesat menggeram dalam ucapan kata, "Jangan memancing kemarahanku kalau tak ingin kubinasakan di sini sekarang juga!"

"Lebih baik kita adu nyawa daripada akhirnya nanti kamu masih menyukai Suto!"

"Aku tak pungkiri hal itu. Tapi aku toh berusaha untuk tidak mau menemuinya secara sendirian?!"

"Bagaimana jika nantinya kau menjadi pengkhianat?!" sentak Selendang Kubur. "Lebih baik kuhabisi sekarang nyawamu ketimbang nantinya kau menjadi pengkhianat!"

"Sudah, sudah...!" Peri Malam menengahi dengan suara tegasnya. "Sekarang bukan saatnya bicara soal urusan pribadi! Aku ingin kalian bedakan antara urusan pribadi dengan urusan bersama!"

"Dia masih mencintai Suto!" tuding Selendang Kubur kepada Perawan Sesat.

"Kurasa itu hal yang wajar," kata Peri Malam dengan lantang. "Karena ada cinta itulah maka timbul kebencian kepada Suto. Kalau kita tak punya cinta pada Suto, tak mungkin kita sakit hati dengan sikap acuh tak acuhnya!"

Selendang Kubur kendorkan ketegangan uratnya, demikian pula Perawan Sesat. Keduanya saling bisu, tapi Peri Malam tetap bicara dalam keadaan berada di tengah mereka.

"Secara jujur aku sendiri mengakui masih punya rasa cinta pada Suto Sinting. Tapi cinta ini dibungkus oleh kebencian, dan karena itu kita merencanakan untuk membunuh Suto. Sekarang yang perlu kita pikirkan, andaikata Suto tidak hadir dalam pertarungan nanti, apa yang harus kita lakukan?"

"Ya. Sejak tadi itulah yang kupikirkan!" kata Perawan Sesat. "Karena agaknya dia merasa tidak ada perlunya melayani tantangan Dirgo Mukti! Persoalan yang dihadapi dianggap persoalan kecil. Bahkan dia tak mau peduli akan dirimu, Peri Malam. Dia berniat membiarkan dirimu dimiliki oleh Dirgo Mukti!"

"Karena dia tidak mencintaimu, Peri Malam," sahut Selendang Kubur dengan cepat.

Peri Malam menggeletukkan giginya menahan kegeraman hati.

"Menurutku," kata Perawan Sesat. "Kaulah yang membujuknya agar dia tetap hadir melayani tantangan Dirgo Mukti. Kau bisa gunakan kemanjaanmu dan mengadu yang bukan-bukan tentang sikap Dirgo!"

"Aku tak berani! Aku takut terjerat cinta yang makin membara," kata Peri Malam. "Bagaimana jika Selendang Kubur saja yang temui dia dengan pengaduan palsu tentang Dirgo Mukti? Dia pasti ada di pihakmu, Selendang Kubur, karena antara dia dan gurumu ada hubungan baik! Dia pasti mau membelamu jika kau katakan Dirgo Mukti akan mengganggu, juga mengganggu gurumu itu!"

"Tidak. Aku juga tidak berani berhadapan sendiri dengan Suto. Aku takut semakin mencintainya!"

"Kalau semuanya takut makin jatuh cinta, lantas bagaimana kita bisa membunuh dia?!" tukas Peri Malam bernada jengkel.

* * * 

TUJUH
PERAMAL Pikun memang terluka pada bagian dalamnya. Wajahnya yang berkulit hitam memancarkan rona pucat pias. Bibirnya membiru dengan darah masih sesekali keluar dari mulutnya, Peramal Pikun terbaring lunglai bagai cucian basah tak terawat. Ketika ia melihat kehadiran Suto, tampak cahaya penuh harapan terpancar dari matanya yang sayu itu.

Dahi Suto berkerut melihat keadaan Peramal Pikun. Separah itukah sakitnya hingga ia sendiri tak dapat mengobati? Pikir Suto. Iba hati murid si Gila Tuak itu melihat keadaan Peramal Pikun, sepertinya lelaki tua renta itu memikul dosa yang amat berat disandangnya. Terlontarlah kalimat tanya dari mulut Suto yang sengaja bernada pelan agar tidak mengganggu keheningan pondok ini.

"Apa penyebabnya? Katakan saja sejujurnya, Peramal Pikun?!"

"Sebuah nama yang kau sebutkan."

"Nama kekasihku?"

"Ya. Mestinya aku tak boleh sebutkan nama itu, Suto. Aku lupa, dan aku sebutkan nama itu!"

Pendekar Mabuk memeriksa sesaat tubuh Peramal Pikun. Ia terkesiap melihat bagian perut memar biru. Dari perutnya itu bergurat garis merah sebesar lidi yang menuju ke tengah leher, melewati pertengahan ulu hatinya. Suto bergumam, "Apa arti jalur merah ini?"

"Itulah yang dinamakan jalur kutukan. Jalur merah itu dikenal julukan ilmu 'Rentang Kutuk'! Hanya dia yang memilikinya!"

"Maksudmu...?"

"Jangan sebut namanya, Suto! Kumohon, jangan!" sergah Peramal Pikun memelas.

Pendekar Mabuk buru- buru menunda ucapannya, ia segera ingat bahwa Peramal Pikun tak bisa mendengar nama Dyah Sariningrum. Jika ia mendengar nama itu, telinganya akan mengucurkan darah lagi.

"Jalur Kutukan atau ilmu 'Rentang Kutuk' ini akan merenggut nyawaku pada saat tepat bulan menjadi purnama!" tambah Peramal Pikun dengan suara lemahnya "Jadi aku mohon bantuanmu untuk menghilangkan ilmu 'Rentang Kutuk' ini sebelum purnama tiba."

"Sebelumnya aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang Kutuk' itu menimpa dirimu?"

"Apakah Dewa Racun belum bicarakan hal itu padamu?"

"Belum! Dewa Racun mendengar nama kekasihku dari mulutmu, tapi dia tidak kenal siapa orang yang punya nama itu dan di mana tempat persinggahannya. Dewa Racun hanya bertugas mencari aku dan membawaku kemari untuk menolongmu!"

"Dewa gila!" geram Peramal Pikun sambil matanya mencari Dewa Racun di dalam pondoknya. Tapi orang kerdil itu tidak ada di dalam pondok. Orang kerdil tadi menyuruh Suto masuk sendirian dan ia bergegas menuju ke sungai, katanya mau mandi sebentar di sana.

"Siapa Dewa Racun itu sebenarnya, aku belum jelas, Peramal Pikun. Dia tidak banyak menceritakan dirinya sepanjang perjalanan kemari. Dia bahkan lebih banyak membicarakan tentang pertarunganku dengan manusia Sontoloyo dua hari lagi."

Mata Peramal Pikun berkedip-kedip seperti orang menunggu ajal. Cukup lama ia bungkamkan mulutnya, sampai akhirnya Suto mengulang pertanyaannya yang tadi, "Aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang Kutuk' itu menimpa dirimu, Peramal Pikun. Ceritakanlah!"

"Ini rahasia hidupku, Suto."

"Untuk apa kau simpan rahasia kalau sebentar lagi kaumati?"

"Memang benar katamu. Tapi..." Peramal Pikun ragu sejenak, sehingga Pendekar Mabuk perlu mendesaknya.

"Katakanlah apa adanya, supaya aku bisa mengambil sikap bagaimana harus menolongmu, Peramal Pikun."

"Baiklah," katanya, lalu Peramal Pikun mencoba tarik napas panjang. Darah keluar lagi dari mulutnya tanpa batuk sedikit pun. Ia mengusap darah itu memakai kain yang kumal dan tak berbentuk kain lain, melainkan bentuk kumpulan darah mengering. Dengan suara pelan, Peramal Pikun tuturkan kata, "Aku melakukan kesalahan semasa mudaku."

"Kesalahan apa?" "Mencintai guruku sendiri."

"Apakah gurumu seorang perempuan?"

"Ya. Usianya sudah banyak, tapi masih awet muda dan cantik. Ia memiliki ilmu kecantikan abadi, seperti yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti lainnya. Rasa cintaku kepada Guru begitu dalam, sehingga aku menjadi gila, dan nekat ingin memperkosanya. Tapi dalam satu jurus aku tumbang, tak bisa mengalahkan Guru. Lalu, aku diusir dari Puri Gerbang Surgawi"

"Apa itu yang dimaksud Puri Gerbang Surgawi?"

"Sebuah negeri Pulau Serindu, jauh dari sini letaknya," jawab Peramal Pikun sambil matanya menerawang bagai mempunyai sebaris kenangan masa lalunya. Peramal Pikun menyambung ucapannya lagi, "Aku diusir dari sana dengan satu kutukan yang membekas selamanya dalam hidupku. Aku dianggap murid sesat dan sangat tidak terhormat. Karenanya, ilmu 'Rentang Kutuk' selalu menyertaiku."

"Siapa yang mengusirmu dan siapa yang melancarkan kutuk itu?"

"Siapa lagi kalau bukan penguasa tunggal Puri Gerbang Surgawi, yang namanya menjadi nama kekasihmu itu!"

Terbelalak mata Suto seketika itu. Tertegun ia sampai beberapa saat lamanya. Sama sekali tak menyangka bahwa Dyah Sariningrum itu adalah penguasa sebuah negeri, yang menjadi guru dari Peramal Pikun. Hampir-hampir Pendekar Mabuk tidak mempercayai kata-kata si Peramal Pikun.

Kembali setelah hening tercipta beberapa helaan napas, Peramal Pikun melanjutkan ceritanya, "Aku terancam kutukan itu, tak boleh mendengar nama guruku dan tak boleh menyebut nama Nyai Guru. Jika aku mendengar nama guruku disebut orang, maka telingaku akan luka, dan jika aku menyebutkan nama guruku, maka jalur kutukan itu akan bekerja dalam diriku dan menancapkan jalur kematian yang akan tiba pada saat bulan terang purnama! Itulah hukum kekal untuk murid sesat seperti aku ini, Suto! Sekali pun aku menyesali tindakan masa mudaku, tapi tetap saja aku dibayang-bayangi kutuk yang mematikan!"

"Hebat sekali!"

"Aku akan mati, mengapa kau katakan hebat?!"

"Yang kumaksud hebat adalah ilmu kutukannya."

"Kuharap kau bisa menolongku, Suto. Karena setingi-tingginya ilmu Nyai guruku, dia masih tunduk dan takut kepada gurumu, si Gila Tuak!"

"Jadi, menurutmu guruku mengenal dia?"

"Kurasa mengenalnya! Nyai Guru itu adalah orang yang dikenal sebagai Mahkota Sejati, karena sampai saat ini, walau usianya sudah menyamai si Gila Tuak, gurumu, tapi ia masih sebagai perawan suci yang belum pernah ternoda oleh cinta dan birahi lelaki siapa pun juga!"

. "Ooh...?!" Pendekar Mabuk menggumam kagum, jatungnya berdetak-detak bagai ingin melompat keluar dari rongga dada. Rasa bangga dan rindu bergumul menjadi satu, membuat hati Suto gemetar.

"Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentang Nyai Guru, tanyakanlah kepada Dewa Racun."

"Apakah Dewa Racun benar-benar tahu banyak tentang penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi itu?"

"Jelas banyak tahu, karena dia adalah orang ketujuh kepercayaan Nyai Guru!"

"Hahh...?! Jadi dia orang dari Puri Gerbang Surgawi?!"

"Benar. Apakah dia tidak bilang begitu padamu?"

"Tidak!"

"Dasar Dewa gila! Terlalu rapat ia menyembunyikan ilmunya, terlalu rendah ia menundukkan dirinya. Tapi memang begitulah ajaran dari Nyai Guru, agar setiap murid menjadi padi, semakin berisi semakin menunduk kepada siapa pun!"

"Lalu, untuk apa dia datang kemari menemuimu?"

"Mencari kamu," jawab Peramal Pikun.

"Mencari aku, untuk mengobatimu?"

"Tidak! Hanya kebetulan saja sewaktu aku menjelaskan tentang dirimu, aku tak sadar telah menyebutkan nama Nyai Guru, lalu aku jatuh sakit seperti ini. Tapi tujuannya datang padaku adalah menanyakan tentang kamu. Dia mendapat tugas dari Nyai Guru untuk membawa pulang seseorang yang bernama Suto, murid si Gila Tuak."

"Memang gila dia itu!" geram Suto. "Dia tak pernah bilang apa-apa padaku soal itu!"

"Temuilah dia dan bicaralah apa saja yang ingin kau bicarakan kepada Dewa Racun itu! Tapi terlebih dulu, tolonglah aku. Selamatkan aku dari ilmu 'Rentang Kutuk' ini, Suto!"

"Apakah kau masih ingin hidup dalam usiamu setua ini?!"

"Masih," jawab Peramal Pikun dengan sedikit dongkol. "Aku ingin mati sebagai ksatria! Aku ingin mati dipertarungan, bukan mati karena kutukan!"

"Tegar sekali pendirianmu, Peramal Pikun. Jika memang begitu kemauanmu, aku akan mencoba menyembuhkanmu!"

Sementara Suto melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang. Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tiap sisi kanan-kirinya, tinggal bagian tengahnya yang keras, tapi di tiap sisa daun kanan-kiri itu tidak dihabiskan belahannya. Helai daun di kanan-kiri itu diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah, sisanya yang keras ada di atas telunjuk, lalu dengan satu kali tarikan, bagian tengah ilalang itu melesat bagai dipanahkan dari dua jari.

Slaattt...! Jeebbb...!

Ilalang itu menancap pada tubuh seekor ikan, yang segera menggelepar-gelepar. Dewa Racun segera mengangkatnya dari kedalaman air. Ikan itu ditumpuk di salah satu tempat berbatu, lalu ia kembali mengambil daun ilalang untuk dipanahkan pada ikan-ikan lainnya. Jika bukan disertai kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi, tak mungkin daun ilalang itu bisa sekeras dan setajam jarum baja. Tak mungkin pula gerakan panah daun ilalang itu sama cepat dan tajamnya dengan panah biasa.

Alhasil, setiap ikan yang dikumpulkan mempunyai sisa daun ilalang yang menancap di tubuh ikan, kadang tembus kadang hanya sebagian saja yang terbenam di daging ikan. Dewa Racun segera mengumpulkan kayu kering. Salah satu ranting kering digosokkan pada salah satu anak panahnya.

Srettt...! Dan memerciklah bunga api, lalu menyala. Dewa Racun membakar ikan-ikan tersebut di depan batang kayu tumbang yang tak seberapa jauh dari pondok persinggahan Peramal Pikun. Bau sedap ikan bakar membuat hidung Pendekar Mabuk kembang kempis, kemudian ia segera bergegas keluar dari pondok, ia dekati Dewa Racun dari arah belakang secara diam-diam. Pendekar Mabuk ingin menjajal ilmu orang kerdil itu. Lalu, dengan serta-merta Suto menendang punggung si orang kerdil itu.

Wuuttt...! Plasss...!

Tendangan itu mengenai tempat kosong, karena kejap berikutnya Dewa Racun ternyata sudah pindah tempat duduknya di seberang tempat duduk semula, ia tetap tekun membakar ikan-ikan itu tanpa merasa terganggu oleh kedatangan Suto. Sementara, Suto sempat terkesiap sebentar melihat gerakan pindah Dewa Racun yang begitu cepat, bagaikan menghilang dalam sekejap.

"Boleh, boleh...," Suto manggut-manggut sambil membatin, "Tinggi juga ilmunya jika begitu. Kurasa dia memang orangnya Dyah Sariningrum yang tak pernah mau sombongkan diri di depanku."

Sambil mengamati ikan yang habis dibaliknya dari pembakaran, Dewa Racun bicara pada Suto tanpa memperhatikan Suto, "Bagaimana sakitnya temanku itu? Bisa kau atasi?"

"Dia sedang tidur."

"Tidur...?!" Dewa Racun memandang Suto dengan dahi berkerut.

"Ya. Mengapa?"

"Orang yang terkena Ilmu 'Rentang Kutuk' tak akan bisa tidur, kecuali jalur kutukan yang berwarna merah belum tampak di kulit perutnya! Jika jalur merah itu sudah kelihatan dari pusar menggaris sampai ke leher, orang itu tidak akan bisa tidur sedikit pun!"

Pendekar Mabuk tersenyum sambil mengambil satu ekor ikan yang sudah matang, lalu ia berkata dengan santai, "Nyatanya sekarang Peramal Pikun sudah tertidur."

"Berarti kau berhasil membuat pengaruh kutukan menjadi tawar, Suto?!"

"Mungkin saja!" jawab Suto sambil mengunyah ikan bakar.

Sejenak dipandanginya Suto, lalu bergumam mulut Dewa Racun seperti bicara pada dirinya sendiri, "Belum pernah ada orang yang bisa menawarkan pengaruh kutukan Nyai Guru itu!"

"Nyai Guru siapa?" tanya Suto sambil lalu, sepertinya tidak tertarik dengan sebutan 'Nyai Guru' itu.

Dewa Racun menjelaskan sambil tetap mengerjakan kesibukannya, bahkan kini ikut-ikutan melahap ikan bakarnya, "Menurut penjelasan Peramal Pikun, sebelum ia terjebak ilmu 'Rentang Kutuk' kemarin, kau sedang mencari-cari kekasihmu yang bernama Dyah Sariningrum. Apakah benar begitu, Suto?"

"Kalau benar mau apa?"

"Dyah Sariningrum adalah guruku, juga termasuk gurunya Peramal Pikun itu!"

"Penjelasanmu terlambat!" kata Suto acuh tak acuh, karena merasa jengkel atas sikap bungkamnya Dewa Racun sejak diperjalanan tadi. Kenapa baru sekarang ia mau jelaskan? Kenapa tidak di perjalanan tadi? Itulah yang bikin Suto ingin membalas kejengkelannya.

"Nyai Gusti Dyah Sariningrum mengutusku untuk mengajukan dua pilihan kepadamu kau mau datang kesana atau tidak!"

"Kalau aku bilang tidak mau datang menghadapnya, mau apa?"

"Aku pulang, tak boleh aku paksa dirimu."

"Kalau aku mau datang menghadapnya?"

"Aku antar kamu ke sana! Karena Nyai Gusti Dyah Sariningrum memang ingin bertemu denganmu. Kau sering hadir dalam mimpinya dan memanggil-manggil namamu."

Suto tertawa kecil bersikap meremehkan, padahal dalam hatinya ia berdebar-debar bahkan berjingkrak-jingkrak kegirangan. Tapi toh dia mampu menahan perasaannya yang jika diluapkan bisa menjadi seperti anak kecil itu. Dan tiba-tiba ia berkata, "Hei, mengapa kegagapanmu hilang? Kau lupa bahwa kau bicara dengan gagap!"

Dengan tenang orang kerdil itu sunggingkan senyum dan berkata, "Sebelum kau datang dari dalam pondok, sudah kumakan dua ekor ikan bakar kesukaanku ini!"

"Apa hubungannya dua ekor ikan bakar dengan bicara gagapmu?"

"Jika mulutku sudah bau ikan bakar, walau secuil saja, maka aku sudah bisa bicara dengan lancar. Tapi jika aroma ikan bakar hilang dari mulutku, maka kegagapan bicaraku timbul kembali."

"Kenapa bisa begitu?" tanya Pendekar Mabuk sambil tertawa pelan.

"Entahlah," jawab Dewa Racun sambil sentakkan pundak sekejap, lalu berkata lagi, "Mungkin memang sudah kodratnya aku punya keanehan seperti ini."

Pendekar Mabuk geleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli, merasa aneh dengan sifat orang kerdil itu.

"Tentukan pilihanmu sekarang juga, Suto, agar aku bisa bertindak secara pasti, mana yang harus kulakukan!"

"Aku bersedia menghadap gurumu, tapi aku harus menunggu lewat dari saat purnama tiba."

"Kenapa? Apakah kau akan memenuhi tantangan lawanmu itu?"

Suto menggeleng. "Aku hanya ingin mengetahui apakah pengobatanku berhasil atau tidak. Aku harus tahu nasib Peramal Pikun setelah lewat dari saat purnama nanti, apakah dia hidup atau mati!"

"O, ya. Aku paham," Dewa Racun manggut-manggut. "Lalu, bagaimana dengan pertarungan di Bukit Jagal itu? Apakah kau tetap akan menolak pertarungan itu?"

"Kurasa memang aku tak perlu melayani tantangan Dirgo Mukti! Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja! Aku sendiri sebenarnya tidak berminat untuk bertarung dengannya."

"Tapi menurut adat, seseorang yang tidak memenuhi tantangan, namanya akan disepelekan dari dunia persilatan! Kau dianggap kalah dan tidak jantan, Suto. Orang yang telah mundur dari arena pertarungan sebelum ia mencoba kalah atau menang, maka ia tak berhak menggunakan gelar pendekar lagi!"

"Apakah begitu peraturan adat di rimba persilatan?!"

"Setahuku memang begitu!"

"Guruku tidak pernah mengatakannya begitu!"

"Guruku pernah bilang begitu!"

"Tapi gurumu dan guruku berbeda!"

"Terserah kamu," akhirnya Dewa Racun tak mau berdebat lagi.

Tapi Suto jadi merenungkan kata-kata Dewa Racun. Haruskah ia membuktikan kependekarannya melalui pertarungan yang tanpa perkara besar itu? Hanya masalah cinta dan melindungi kekasaran Dirgo Mukti terhadap Peri Malam, haruskah Suto bertarung secara tanding laga di Bukit Jagal? Bukankah sebenarnya Peri Malam yang menciptakan pertarungan itu dengan berlagak menjadi penterjemah bahasa Pendekar Mabuk? Sedangkan Pendekar Mabuk sendiri sebenarnya tidak bermaksud menyetujui tantangan pertarungan di Bukit Jagal.

Ini semua ulah Peri Malam, sehingga Suto merasa terjebak dalam arena pertarungan yang menurutnya dianggap pertarungan konyol. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah Asmara Gila).

"Kalau kau tak mau muncul di pertarungan itu, biarlah aku yang mewakilimu," kata Dewa Racun.

"Aneh kau ini. Kenapa kau selalu tampil sebagai orang yang melindungiku? Kau hanya utusan nyai gurumu itu. Kau bukan apa-apaku!"

"Karena perintah Nyai Gusti agar aku membawamu datang padanya tanpa luka ataupun lecet sedikit pun!"

"Dia berpesan begitu?!"

"Ya."

"Apa lagi pesannya?"

"Hanya itu, dan hanya tangis yang sering mengalir dari matanya yang indah itu."

"Tangis? Mengapa dia menangis?"

"Hasrat ingin bertemu denganmu sangat besar dan menyiksa hatinya sepanjang hari. Ia tak sanggup menahannya, lalu ia perintahkan aku untuk menemuimu!"

"Kalau begitu, pulanglah sekarang juga ke Pulau Serindu dan katakan padanya bahwa aku akan segera datang setelah lewat purnama tiba itu!"

"Baik. Aku akan pulang. Tapi apakah kau tahu jalan dan arah menuju Pulau Serindu?"

"Tidak!" jawab Suto Sinting polos dan tegas. Dewa Racun tertawa sendiri.

* * * 

DELAPAN
DEWA Racun tetap mengikuti Pendekar Mabuk walau Pendekar Mabuk mengatakan akan pergi sebentar. Orang kerdil ini agaknya memang berjiwa ngotot. Semalam ia juga ngotot menyuruh Suto tidur di dalam pondok bersama Peramal Pikun, sementara dia tidur di luar pondok. Sekarang ia kembali ngotot dengan bicaranya yang mulai gagap lagi karena mulutnya sudah kehilangan aroma ikan bakar,

"Ak... aku harus ikut kamu ke... ke... ke mana pun kau pergi!"

"Mengapa begitu? Kau bukan pengawalku. Aku bukan buronanmu!"

"Pe... pe... perintah Nyai Gusti, aku harus menjaga ke...ke ..."

"Kepompong?!"

"Bukan! Keselamatanmu!" Dewa Racun terengah-engah.

Suto tersenyum menahan geli dalam hatinya. Sebenarnya Suto hanya ingin menengok keadaan gurunya di Jurang Lindu dan menengok keadaan Betari Ayu yang ditinggalkannya dalam keadaan luka pukulan dari Nagadipa. Untuk menemui Betari Ayu dan gurunya, Suto tak enak hati jika harus dikawal oleh Dewa Racun. Karenanya, Suto terpaksa menggunakan ilmu yang bernama 'Seberang Raga', yaitu ilmu pemberian dari Bidadari Jalang.

Seonggok batu yang ada di pinggir sungai tiba-tiba berubah wujud menjadi dirinya setelah Pendekar Mabuk heningkan cipta secara diam-diam di belakang pondok. Dewa Racun tidak mengetahui Pendekar Mabuk mempunyai ilmu siluman 'Seberang Raga', sehingga ketika ia keluar dari pondok, ia langsung saja mendekati Suto yang terlihat duduk merenung di pinggiran sungai. Padahal saat itu juga Suto sudah melesat pergi jauh menuju Jurang Lindu.

"Men... menurut... menurutku, jiwa Peramal Pikun selamat dari bahaya 'Rentang Kutuk'. Ja... ja... jalur merahnya telah hilang dan wa... wajahnya kelihatan kembali segar se... sep... seperti semula!"

"Bagus," jawab Suto kalem, bahkan berkesan datar.

"Malam purnama be... be... besok, dia akan tetap hidup. Ini satu per... per... peristiwa yang luar biasa bagi orang-orang Puri Gerbang Surgawi. Nyai Gusti ak... ak... akan senang dan ka... kagum jika mendengar ke... ke... kesaktian ilmumu!"

Pendekar Mabuk masih diam merenung, tidak memandang ke arah Dewa Racun. Diam-diam Dewa Racun merasakan keanehan itu, tapi tidak terlalu dihiraukan, berkata lagi kepada Pendekar Mabuk palsu,

"Tan... tanpa menunggu pur... purnama tiba, kita sudah bisa berangkat ke... ke... ke Pulau Serindu. At... atau kau mau layani tantangan di Bukit Ja... Jagal itu?"

"Ya."

"Ya, bagaimana maksudmu?"

"Bagus!"

"Bagus apa?"

"Ya."

Dewa Racun makin heran dan curiga. Mata Suto memandang dengan datar sekali, sepertinya tidak punya rasa apa pun. Dewa Racun mencoba menendang pinggang Suto dengan sulu kali lompatan.

Duug...!

Pendekar Mabuk diam saja. Tidak mengadakan gerakan menangkis atau menghindar, tidak merasakan sakit atau apa pun. Padahal tendangan itu cukup keras. Menurut perkiraan Dewa Racun, orang akan menyeringai kesakitan jika ditendang pinggangnya oleh tendangan seperti itu. Melihat Suto Sinting tidak ada perubahan apa-apa, Dewa Racun semakin bertambah heran, ia kembali berkata,

"Ma... mau... maukah kau bicara ke dalam pondok?"

"Ya."

"Mari kita bicarakan de... de... dengan Peramal Pikun!"

"Bagus!"

Jawaban yang hanya 'ya' dan 'bagus' juga membuat Dewa Racun kerutkan dahi. Semakin penasaran hatinya. Bahkan ia pun membatin, "Jangan-jangan orang ini bukan Suto?"

Dewa Racun segera mundur dua langkah. Tangannya diangkat dengan gerakan pelan-pelan seperti orang menari, dan tiba-tiba kedua tangan itu menghentak ke depan.

Wuuuttt...!

Memerciklah sinar putih ke arah Pendekar Mabuk yang masih tetap duduk itu. Dewa Racun sendiri terkejut melihat Pendekar Mabuk tidak memberi tangkisan terhadap pukulan tenaga dalamnya, juga tidak menghindar sedikit pun. Bahkan sempat timbul rasa sesal di hati Dewa Racun. Percikan sinar putih itu membuat tubuh Suto pecah berasap dan berupa wujud aslinya, yaitu sebongkah batu hitam sebesar ukuran orang duduk di tepi sungai. Dewa Racun segera menggeram sambil hempaskan napas kekesalan hatinya.

"Kurang ajar! Dia mengecohku!" geramnya dalam hati. "Dia pasti telah pergi dan meninggalkan aku! Hebat juga ilmu anak muda itu. Tak sia-sia aku diutus jauh-jauh untuk membawanya menghadap Nyai Gusti. Pasti Nyai Gusti sangat kagum kepadanya kalau kuceritakan setinggi apa ilmu yang dimiliki Suto Sinting itu! Hmmm... tapi tugasku adalah mendampingi dan menjaga Pendekar Mabuk. Jika sekarang dia pergi, aku harus segera mencarinya. Ke mana arah perginya? Kurasa aku bisa bertanya kepada Peramal Pikun. Setidaknya Peramal Pikun bisa kasih perkiraan arah yang dituju Suto!"

"Kurang ajar! Dia mengecohku!" geramnya dalam hati. "Dia pasti telah pergi dan meninggalkan aku! Hebat juga ilmu anak muda itu. Tak sia-sia aku diutus jauh-jauh untuk membawanya menghadap Nyai Gusti. Pasti Nyai Gusti sangat kagum kepadanya kalau kuceritakan setinggi apa ilmu yang dimiliki Suto Sinting itu! Hmmm... tapi tugasku adalah mendampingi dan menjaga Pendekar Mabuk. Jika sekarang dia pergi, aku harus segera mencarinya. Ke mana arah perginya? Kurasa aku bisa bertanya kepada Peramal Pikun. Setidaknya Peramal Pikun bisa kasih perkiraan arah yang dituju Suto!"

Suto sendiri membayangkan wajah Dewa Racun yang terkecoh. Suto tertawa sendiri saat mendekati Jurang Lindu, di mana ada air terjun yang cukup tinggi dan besar itu. Suto berkata dalam hati, "Dewa Racun pasti akan mencak-mencak kalau dia tahu orang yang disangkanya aku itu adalah seonggok batu! Hi hi hi Pasti jika ia mengajak bicara orang yang disangka aku itu, ia hanya akan menerima jawaban ya dan bagus. Karena memang aku hanya menitipkan dua kata itu dalam bayangan ragaku di sana! Mudah-mudahan hal itu tidak membuat Dewa Racun mengamuk berlarut-larut!"

Suto segera melesat masuk menembus curah air terjun. Dalam kejap berikut, Suto sudah berada di dalam gua. Ternyata di sana si Gila Tuak masih belum kelihatan. Yang ada hanya Betari Ayu dalam keadaan sedang melakukan semadi.

"Ke mana perginya Guru? Sampai sekarang belum datang juga?!" pikir Pendekar Mabuk sambil menunggu Betari Ayu selesaikan semadinya, ia sempat mengisi tuak ke dalam bumbungnya dari persediaan tuak di dalam gentong besar. Setelah itu, ia mendengar suara mendehem dari Nyai Betari Ayu, itu pertanda sang Betari Ayu sudah selesaikan semadinya yang dilakukan dengan berdiri satu kaki, dan hanya jempol kakinya yang berpijak ditanah.

"Bagaimana keadaanmu, Nyai?" tanya Suto mengawali percakapan.

"Sejak kemarin sudah terasa segar sekujur tubuh ku. Tapi aku tak berani tinggalkan tempat ini."

"Kenapa?"

"Gurumu kasih wanti-wanti padaku agar jangan tinggalkan tempat ini sebelum ada perintah darimu."

"Oh, kau sudah bertemu dengan guruku?"

"Ya. Sudah. Beliau tahu aku dalam perawatanmu."

"Hmm... lalu, ke mana beliau?"

"Pergi ke Lembah Badai untuk menemui Bidadari Jalang, yang baru kutahu bahwa orang itu ternyata juga gurumu."

Suto malu, tak berani tatap mata Nyai Betari Ayu. Namun begitu, Pendekar Mabuk tetap berkata, "Ya, memang sebagian ilmuku adalah pemberian darinya. Tapi aku tak enak kepadamu jika aku jelaskan bahwa aku adalah juga murid dari Bidadari Jalang. Aku tahu kau punya dendam padanya. Aku takut jika kukatakan bahwa aku murid Bidadari Jalang, kau jadi bermusuhan denganku atau membenciku, Nyai!"

"Sudahlah, lupakan soal itu!" Betari Ayu agaknya tidak mau mempermasalahkan lagi tentang Bidadari Jalang.

Suto Sinting pun tidak mau kembali ke pembicaraan itu. Ia meneguk tuak, dan duduk di depan Betari Ayu. "Syukurlah jika kau sudah sehat. Kau tambah kelihatan cantik, Nyai!" sambil tatapan mata Suto tertuju lurus ke wajah Nyai.

Yang ditatap tersipu malu, segera palingkan wajah dan berkata, "Jangan puji aku begitu, nanti aku makin tersiksa tak kau rengkuh dalam hatimu, Suto."

Tawa Pendekar Mabuk berderai yang membuat Betari Ayu kian tersipu malu. Maka cepat ia alihkan suasana itu kepada pertanyaan mengenai lukanya. "Siapa yang menyerangku dari belakang, Suto? Aku tidak bisa merasakan datangnya hawa dari pukulan melainkan tiba-tiba saja punggungku merasa seperti tersengat."

"Pukulan itu memang sangat berbahaya."

"Siapa pelakunya?"

"Kurasa kau tak perlu tahu."

"Kenapa? Kau takut aku membalas dendam pada pelakunya? Oh, tidak. Aku tidak akan membalas dendam, Suto. Cukup banyak aku bicara dengan gurumu tentang hakikat suatu kehidupan dan kematian. Bahkan aku sudah sepakat untuk mengasingkan diri dan menjadi seorang pertapa yang dibantu oleh gurumu, Ki Sabawana itu."

"Kau ingin menjadi seorang pertapa?"

"Ya. Ki Sabawana mendukung rencanaku itu. Gurumu banyak kasih saran padaku. Itulah sebabnya aku tak ingin mengadakan pembalasan walau aku tahu siapa penyerangku itu."

"Baiklah. Kau diserang oleh Putri Alam Baka!"

"Hmmm... berarti dugaanku memang benar."

"Tapi bukan dia pelakunya, melainkan suaminya!"

"Nagadipa?"

"Ya. Nagadipa pelakunya."

"Lalu kau mengejarnya?"

"Ya. Karena aku harus menuntut balas atas kejahatannya terhadap dirimu. Aku tak bisa tinggal diam melihat kamu dilukai, Nyai."

"Lalu... kau bunuh mereka?"

"Secara tak sengaja, Putri Alam Baka mati dan Nagadipa terluka parah."

"Kau menggunakan napas Tuak Setan?"

"Dari mana kau tahu. Nyai?"

"Gurumu yang mengatakannya. Dia merasakan ada badai aneh dan badai itu pasti datangnya dari napas Tuak Setan-mu! Tapi beliau tahu kau menggunakannya secara tidak sengaja."

Pendekar Mabuk diam berpikir tentang gurunya, Ternyata segala kegiatannya selalu dipantau oleh sang gurunya. Suto jadi riskan dan tak enak untuk berbuat bebas, ia menjadi gelisah, dan kegelisahan itu dilihat oleh Betari Ayu, kemudian Betari Ayu berkata,

"Bukan hanya si Gila Tuak yang memantau kegiatanmu, Suto. Tapi aku pun banyak mengikuti kegiatanmu dari sini, atau dari tempatku yang jauh. Semua itu hanya sekadar menjaga kalau-kalau kau dalam bahaya yang membutuhkan bantuan. Hanya hal-hal yang bersifat berbahaya yang dipantau terus oleh gurumu."

"Apakah Guru juga membicarakan tentang pertarunganku di Bukit Jagal, yang akan terjadi esok malam?"

"Tidak. Apakah kau akan melakukan pertarungan?"

"Aku ditantang."

"Siapa yang menantang?"

"Dirgo Mukti."

"Oh...," Nyai Betari Ayu manggut-manggut. "Hati-hati kau berurusan dengan Dirgo Mukti."

"Kenapa?" Suto jadi ingin tahu.

"Dia murid tunggalnya Pendekar Tanduk Dewa yang bersemayam di Gunung Tujuh Batu. Pendekar Tanduk Dewa adalah bekas suami dari penguasa Pulau Hantu yang dikenal dengan nama si Mawar Hitam, orang ini juga menyimpan dendam pada Bidadari Jalang, karena merasa suaminya direbut oleh bibi gurumu itu!"

"Oh, pantas waktu itu Peri Malam dipesan oleh gurunya, si Mawar Hitam, agar jangan membuat perselisihan dengan Dirgo Mukti!"

"Mungkin karena Mawar Hitam tidak mau berurusan dengan mantan suaminya, jika muridnya bentrok dengan murid Pendekar Tanduk Dewa itu. Yang jelas, hati-hatilah jika berhadapan dengan Dirgo Mukti. Pendekar Tanduk Dewa bisa turun tangan kalau sampai muridnya itu mati."

"Apakah Pendekar Tanduk Dewa berilmu tinggi?!"

"Ya. Tapi tidak lebih tinggi dari gurumu sendiri."

Suto Sinting manggut-manggut dan diam beberapa saat. Setelah itu baru ia kembali bertanya, "Apakah menurutmu sebuah tantangan tanding laga harus dipenuhi, Nyai? Bagaimana jika aku tidak memenuhi tantangan itu?"

"Apakah karena kata-kataku tadi kau jadi takut dengan Dirgo Mukti, si Manusia Sontoloyo yang tak jelas juntrungannya itu?"

"Bukan karena takut, tapi karena aku merasa pertarungan itu bukan merupakan pertarungan yang bermasalah penting, Nyai. Urusannya cuma sepele, mengapa harus kulayani tantangan itu? Maksudku, aku tidak ingin datang pada malam purnama nanti! Kalau aku bisa membunuhnya, aku merasa menyesal, hanya persoalan anak kecil saja sampai harus membunuhnya. Apalagi kalau aku yang kalah, jelas sangat menyesal tujuh turunan aku, Nyai!"

"Jika tak mau hadir, mengapa kau buat janji pertarungan?"

"Aku terjebak. Bukan aku yang bikin janji, bukan aku yang menjawab tantangannya, Nyai! Tapi Perawan Sesat!"

Betari Ayu tarik napas panjang, ia bangkit dan langkahkan kaki ke mulut gua. Ia memandang curahan air terjun dari sana. Kemudian ia palingkan wajah dan berkata kepada Suto, "Sebagai seorang pendekar, kau harus penuhi tantangan itu! Jika tidak, gelar pendekarmu akan disepelekan oleh mereka yang mendengar ketidakhadiranmu."

"Pertarungan ini sungguh pertarungan yang tidak punya arti!"

"Walau begitu, kau tetap harus hadir. Toh bukan berarti kau harus membunuh Dirgo Mukti. Cukup kau beri pelajaran padanya, agar harga diri kependekaranmu masih ada."

Seperti apa yang dikatakan Dewa Racun, rupanya Pendekar Mabuk tetap tidak bisa menghindari pertarungan dengan Dirgo Mukti. Ia harus menjaga nama baik kependekarannya, agar dunia persilatan tidak memandang rendah terhadap dirinya. Tapi menurut Suto pertarungan itu bukan pertarungan demi membela kehomatan, pertarungan itu tetap saja pertarungan konyol yang harus dihadirinya.

Kalau saja ia tahu rencana di balik pertarungan itu, ia semakin tidak mau melaksanakannya. Sayang sekali Suto tidak tahu rencana tiga perempuan patah hati yang ingin memanfaatkan pertarungan itu.

Tetapi niat licik dari tiga perempuan patah hati itu tanpa disengaja didengar oleh Dewa Racun. Saat itu, Dewa Racun sedang mengejar arah kepergian Suto. Di perjalangan, ia berhenti karena melihat tiga kelebat banyangan ke arahnya. Dewa Racun bergegas lompat ke pohon berdaun rindang.

Wuuttt...!

Ternyata, tiga perempuan cantik itu justru berhenti di bawah pohon tempat persembunyian Dewa Racun. Segera Dewa Racun menggunakan ilmu serap napasnya, supaya hembusan napas tak bisa didengar oleh orang yang berilmu tinggi di sekitarnya. Dan dari balik kerimbunan pohon itu, Dewa Racun mendengar percakapan Selendang Kubur, Peri Malam, dan Perawan Sesat.

"Ke mana kita harus mencari Pendekar Mabuk? Sejak kemarin kita tidak temukan dia."

"Apakah masih perlu kita mencarinya?"

"Nanti kalau dia tidak datang ke pertarungan di Bukit Jagal, kita kehilangan kesempatan untuk menyerang dia!"

"Kurasa dia tetap akan datang, walau sekadar mengatakan penundaan pertarungannya. Dan saat itu kita perdaya dia supaya tetap maju melawan Dirgo Mukti. Aku nanti yang akan mempengaruhinya," kata Selendang Kubur.

"Baiklah. Kita yakinkan diri saja bahwa dia akan datang. Aku capek mencarinya ke mana-mana!" keluh Peri Malam.

"Yang jelas, kita harus bisa tetap bikin Dirgo Mukti bersemangat melawan dia, dan mendesaknya terus sampai Suto merasa kehabisan tenaga. Walau nantinya Dirgo Mukti mati di tangan Suto Sinting, tak jadi masalah. Tapi kita punya kesempatan menggempur Pendekar Mabuk yang tenaganya sudah banyak berkurang dari pertarungan itu!"

"Kurasa Dirgo Mukti sekarang sudah bersemangat sekali, sebab kita sudah memberi janji-janji gombal, bahwa kita bertiga bersedia menjadi istrinya jika dia menang melawan Suto. Itu sudah merupakan iming-iming yang sangat berharga sekali buat Dirgo Mukti. Setidaknya dia akan berjuang sekuat tenaga mengalahkan Pendekar Mabuk!"

Dewa Racun mendengar semua percakapan itu. Sampai mereka bertiga pergi, Dewa Racun masih termangu-mangu di atas pohon tersebut. Dalam hatinya ia berkata, "Ternyata perempuan yang mengaku bernama Perawan Sesat itu punya komplotan untuk membunuh Suto dengan kelicikannya. Benar apa kata Suto, pertarungan itu sebenarnya tidak punya arti apa-apa. Hanya sebagai pertarungan konyol saja. Dan pertarungan itu digunakan oleh ketiga perempuan tadi untuk mencari kelemahan Pendekar Mabuk. Hmm... sebuah pertarungan konyol ada baiknya dibuat semakin konyol saja!"

Menurut keterangan Peramal Pikun, Suto mempunyai tempat persingahan di Jurang Lindu. Tetapi apakah Suto ke sana atau tidak, Peramal Pikun tak bisa memastikan. Petunjuk itu sudah cukup buat Dewa Racun, karena ia punya arah tujuan dalam mencari Suto walau mungkin nantinya tidak ditemukan. Tapi dari sanalah Dewa Racun akan melacak terus ke mana perginya orang yang harus dikawalnya itu.

Di pertengah jalan, Dewa Racun mulai mencium bau tuak. Segera ia arahkan larinya ke pusat bau tuak itu. Dan akhirnya ia temukan Pendekar Mabuk sedang beristirahat di bawah pohon untuk menenggak tuaknya dari dalam bumbung bambu.

Jleeg...!

Suto terkejut melihat Dewa Racun sudah berdiri didepannya. Wajah Dewa Racun cemberut, Suto nyengir tertawa ingat tipuannya. Pasti orang kerdil ini sudah mengetahui tipuan di tepi sungai.

'Ku... ku... kurang ajar kau!" maki Dewa Racun yang membuat Pendekar Mabuk tak bisa tahan tawanya lagi, lalu meledak terbahak-bahak.

"Ka... ka... kalau tidak kuingat, aku harus mengawalmu, sudah ku... ku... kurontokkan gigimu dengan panahku ini!"

"Maafkan aku, Dewa Racun! Aku memang senang bercanda denganmu!"

"It... it... itu bukan bercanda, tapi ku... ku..."

"Kunang-kunang?"

"Bukan! Itu kurang ajar namanya! Kau sen... sendiri akan dibuat bercanda dalam pertarunganmu nan... nan... nanti!"

"Apa maksudmu?"

"Tig... tiga... tiga perempuan ingin ambil bagian dalam pertarunganmu nan... nan... nanti! Satu perempuan sudah pernah ku... kulihat, yaitu yang rambutnya awut-awutan tempo hari."

"Tiga perempuan ambil bagian dalam pertarunganku dengan Dirgo Mukti nanti?!"

"Bet... bet... bet"

"Betot?!"

"Betul! Bukan betot!" Dewa Racun bersungut-sungut, merasa jengkel jika omongannya diteruskan dengan kata yang salah. Kemudian, ia segera jelaskan kepada Suto apa yang didengarnya dari ketiga perempuan tadi.

Mendengar ciri-ciri ketiga perempuan itu, Pendekar Mabuk bisa menduga mereka adalah Perawan Sesat, Selendang Kubur, dan Peri Malam. Tapi Suto belum tahu alasan ketiga perempuan itu, mengapa ingin membunuhnya?

Dewa Racun berkata, "Ak... ak... aku jadi punya rencana lain! Kau harus ha... ha..."

"Hamil?"

"Bukan! Kau harus ha... hadir dalam pertarungan itu! Harus! Ka,ka,ka... kalau tidak mau, kau akan kupak... pak...pak "

"Kupakai?!"

"Kupaksa!" bentak Dewa Racun jengkel. "Kau akan kupaksa untuk hadir. Karena aku punya rencana bagus untuk tiga pe.. perempuan itu!"

"Rencana apa?"

* * *

SEMBILAN
MALAM bulan purnama, sungguh benderang sinar rembulan menyorot ke bumi. Langit bersih, memantulkan cahaya makin cerah. Puncak Bukit Jagal tampak jelas tanpa pepohonan apa pun di sana. Bukit itu adalah bukit yang tandus, yang biasa digunakan untuk pertarungan tanding laga bagi para tokoh persilatan.

Bukit Jagal, terletak di sebuah pantai yang bertebing curam. Sebagian lapisan tanah bawah adalah bebatuan karang, sebagian di atasnya adalah cadas putih yang keras. Sebuah pertarungan jika dipandang dari lautan akan kelihatan sangat indah dan menawan, karena gerak kedua orang yang bertarung akan terlihat jelas tanpa penghalang sedikit pun.

Biasanya, orang yang mati dalam pertarungan di atas Bukit Jagal, mayatnya akan langsung dibuang ke laut yang ganas, bergelombang besar dan konon banyak dihuni ikan-ikan buas. Mereka yang terlempar ke laut dalam keadaan hidup-hidup pun tak akan bisa selamat menghindari keganasan ombak dan ikan-ikannya. Tinggi tebing dari puncak bukit sampai ke permukaan laut ada lima puluh tombak.

Itulah sebabnya orang yang jatuh dari atas bukit tak akan bisa selamat dari ancaman maut di kaki bukit, karena di sana juga ada karang-karang runcing menunggu mangsanya. Di sela karang itu, banyak tulang-tulang manusia yang berserakan terselip di sana-sini. Tengkorak-tengkorak manusia tergeletak tak beraturan, tanpa nama dan tanda-tanda semasa hidupnya. Tak heran jika Bukit Jagal juga sering disebut Kuburan Tanpa Nama.

Dalam siraman cahaya purnama, tampak sesosok tubuh kekar berdiri di atas bukit gundul itu. Orang itu didampingi tiga perempuan yang masing-masing mempunyai gerak kelincahan tersendiri. Siapa lagi orang bersenjata kapak dua mata itu kalau bukan Dirgo Mukti yang menjuluki dirinya sebagai Manusia Sontoloyo.

"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu kehadirannya," kata Dirgo Mukti dengan kedua tangan meremas-remas bagai melampiaskan kegelisahannya.

"Percayalah, dia pasti datang!" kata Peri Malam. "Kalau beberapa saat lamanya dia tidak datang, Selendang Kubur akan menyusul Suto ke tempat gurunya, dan melaporkan kebodohan sang murid! Pasti gurunya Pendekar Mabuk akan mengamuk dan mencari muridnya yang menghadapi tantanganmu!"

"Kau harus menang, Dirgo!" kata Selendang Kubur sambil mengusap-usap punggung Dirgo Mukti. "Kami akan bersedih tiada habisnya jika kau kalah. Tapi jika kau menang dan bisa membunuh Suto, kami akan bersorak kegirangan, karena itu berarti kami bertiga dengan senang hati menjadi istrimu, Dirgo!"

"Itulah semangatku!" kata Dirgo Mukti yang kemudian disusul dengan tawa terbahak-bahak.

Perawan Sesat yang sejak tadi mondar-mandir, memandang sekeliling bagai orang memeriksa keamanan lingkungan, tiba-tiba berkata dengan suara seraknya, "Seseorang sedang menuju kemari! Bersiaplah!"

Kedua mata teman sekongkolnya itu segera lemparkan pandangan ke arah yang ditunjuk Perawan Sesat. Peri Malam segera berkata, "Itu dia! Dia telah datang!"

"Lantas bagaimana dengan kita?" Selendang Kubur berdebar-debar.

"Kita... kita bersembunyi saja di balik batu itu!"

"Terlalu rendah ke lereng, nanti kita tidak bisa jelas melihat pertarungan ini!"

Perawan Sesat cepat ucapkan kata tegas, "Kita tetap di sini! Mengapa harus sembunyi? Justru kita tunggu kesempatan baik untuk menyerang Pendekar Mabuk pada saat ia tampak terdesak oleh Dirgo Mukti!"

"Oh, benar! Benar sekali pendapatmu!" Peri Malam menepuk-nepuk pundak Perawan Sesat, namun tangan Perawan Sesat cepat kibaskan tangan Peri Malam. Agaknya ia tak suka ditepuk-tepuk begitu oleh orang sejenisnya.

"Kurasa kalian tak perlu jauh-jauh. Diam saja di pinggiran sana dan saksikan kemenanganku!" kata Dirgo Mukti. "Akan kutumbangkan dia dalam dua jurus saja!"

"Tak perlu malu-malu menggunakan lebih dari sepuluh jurus, yang penting kau bisa menang melawannya, Dirgo Mukti!" kata Peri Malam.

Orang yang ditunggu datang. Pendekar Mabuk muncul dengan badan terbungkuk-bungkuk, seperti keberatan bumbung tuak yang disandang di punggungnya. Peri Malam berbisik kepada Selendang Kubur yang berdiri di samping kirinya. "Dia dalam keadaan mabuk!"

"Bahaya! Justru dalam keadaan mabuk begitulah ilmunya semakin tinggi," bisik Selendang Kubur.

"Diamlah!" hardik Perawan Sesat yang merasa terganggu dengan kasak-kusuk mereka.

Pendekar Mabuk berwajah kaku saat itu. Tak ada sapa dan senyum untuk ketiga perempuan yang sudah dikenalnya. Bahkan Peri Malam sempat berbisik kepada Perawan Sesat.

"Dia acuh tak acuh pada kita. Tak menyapa sedikit pun!"

"Mungkin dia sudah tahu persekongkolan kita, atau dia sedang memusatkan perhatiannya kepada Dirgo Mukti!"

"Ssst...! Diamlah!" Selendang Kubur ganti menghardik.

Terdengar suara Dirgo Mukti menyapa kasar kepada Suto, "Sudah siapkah kau menemui ajalmu, Suto?!"

"Sudah!" jawab Suto datar dan berkesan ketus.

"Kau siap menderita malu di depan tiga perempuan ini?!"

"Sudah!"

"Bagus. Tapi sebelum kau menemui ajalmu, barangkali kau punya pesan untuk ketiga perempuan yang menjadi saksi pertarungan ini?"

"Tidak!"

"Kalau begitu, kita mulai saja pertarungan kita, Suto!"

"Baik!"

Dirgo Mukti segera kembangkan tangannya. Langsung saja di tangan kanannya sudah tergenggam kapak bermata dua yang mempunyai ujung mata tombak kecil. Tapi tidak secepat itu ia menggunakan senjata tersebut, ia masih mencari celah baik untuk menyerang Suto dengan pukulan jarak jauhnya. Ia bergerak pelan mengelilingi Suto, sementara Suto sendiri hanya diam sambil melirik dengan mata sayu yang tidak meyakinkan sebagai mata seorang pendekar tangguh.

"Aih, gila! Semakin tampan saja dia!" pikir Selendang Kubur. "Hatiku berdebar-debar digelitik bayangan indah dalam cumbuannya. Oh, apakah nantinya aku akan tega menyerang dia?"

Hati Perawan Sesat pun membatin, "Kurang ajar! Semakin terkena cahaya rembulan, semakin menggairahkan wajahnya. Aku jadi gundah membayangkan cumbuannya. Oh, sepertinya aku tak sampai hati jika harus menyerangnya!"

Peri Malam bahkan palingkan wajah, tak berani menatap Pendekar Mabuk. Dalam hatinya ia membatin, "Celaka kalau begini! Dia semakin memikat hatiku! Aku terbayang saat dia menciumku di pantai. Oh, luar biasa indahnya kala itu. Kakiku sekarang pun jadi gemetaran membayangkannya. Lantas, bagaimana nanti jika aku harus menyerangnya? Apakah aku bisa menyerang seorang kekasih yang kucintai dan kurindukan itu?"

Sementara hati ketiga perempuan itu berkecamuk sendiri-sendiri, Dirgo Mukti segera sentakkan tangan kosongnya ke depan bagai mencakar perut harimau.

Wuuttt..!

Pendekar Mabuk melompat, namun terlambat. Tubuhnya tersentak ke belakang dan berguling dua kali. Lalu ia segera berdiri sambil menggeram. Ia bergerak kembali, bersamaan dengan itu Dirgo pun bergerak berkeliling. Langkah demi langkah ia perhatikan. Sedang Suto masih tetap membungkuk-bungkuk dengan kedua tangan lurus ke bawah dan menggantung, seakan sewaktu-waktu siap melompat untuk menerkam lawannya. Dirgo Mukti segera jejakkan kakinya ke tanah, tubuhnya pun cepat melesat terbang dalam satu putaran salto ke depan.

Wuuttt...!

Pendekar Mabuk mundur satu tindak. Di belakangnya jurang maut. Suto bagaikan tidak menyadari hal itu. Ketika Dirgo Mukti pijakkan kaki ke tanah di depan Pendekar Mabuk dalam jarak empat langkah, cepat-cepat ia sentakkan tangan kanannya ke depan, dan ujung kapak yang dipegangnya itu melesat lepas dari tangkai. Ujung kapak yang berupa mata tombak kecil itu mempunyai nyala pijar api merah.

Zuuittt...!

Pendekar Mabuk tak bisa mengelak kecepatan mata tombak itu. Langsung mata tombak bergerak tanpa ampun, menembus dada Suto. Jruub....! Tubuh Suto seketika menjadi berasap. Sebelum tumbang dan hancur, Dirgo Mukti segera lompatkan kaki dan memberi tendangan samping yang cukup keras.

"Hiaaattt...!"

Beeg...!

"Aaahg...!" Suto mengerang, tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh ke jurang yang amat dalam itu. Suara jeritannya menggema bagai memecah sepi di malam purnama. Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti yang sudah kehilangan mata tombaknya itu kembali muncul mata tombak baru.

Creekk...!

Tetapi kapak itu hanya digenggamnya dengan hati puas. Ia berseru geram, "Mampuslah kau, Suto Sinting! Ternyata kehebatanmu tak seperti apa yang digembar-gemborkan tiap manusia!"

Segera Dirgo Mukti balikkan badan. Ia menatap ketiga perempuan itu dengan senyum lebar dan tawa pun terdengar berkumandang. Sedangkan ketiga perempuan itu sama-sama terpaku tak bergerak di tempatnya. Mata mereka tak berkedip sama sekali. Karena mereka terpukau melihat kematian Suto yang begitu cepat dan mudahnya dikalahkan oleh Dirgo Mukti.

"Celaka...!" bisik Peri Malam kepada kedua teman di kanan-kirinya. "Dirgo Mukti menang melawan Pendekar Mabuk! Ini berarti kita bertiga bakal menjadi istrinya!"

"Aku tidak sudi!" bisik Selendang Kubur dengan tegang.

"Aku juga tidak bergairah dengan dia!" bisik Perawan Sesat.

"Lantas bagaimana?"

"Kita serang saja dia! Bunuh!" geram Selendang Kubur.

"Kalau begitu, biarlah aku yang maju melawannya!" bisik Perawan Sesat dengan dada naik turun. Dalam hatinya ia berkata, "Bangsat si Dirgo Mukti ini! Dia telah membunuh orang yang kuharapkan kemesraannya! Dia telah menghancurkan gairahku! Dia harus kubunuh juga!"

Sedangkan Selendang Kubur berkata pula dalam hatinya, "Aku tak rela! Sungguh tak rela Suto ditumbangkan begitu saja! Aku harus membalas kematian Suto, karena dialah yang telah menghilangkan orang yang kucintai! Dia telah menghancurkan cintaku! Jahanam kau, Dirgo Mukti!"

Mata perempuan bertahi lalat di sudut dagunya juga menjadi nanar penuh kobaran api amarah. Peri Malam berkata geram dalam hati, "Orang ini benar-benar memuakkan! Akan kutebus kematian Pendekar Mabuk dengan nyawanya! Akan kubela orang yang kucintai itu, walau aku harus korbankan nyawa dalam pertarungan ini!"

Dirgo Mukti melangkah dengan gagahnya mendekati ketiga perempuan itu. Tawanya masih berkepanjangan sambil ia serukan kata, "Kalian sekarang menjadi istri-istriku! Harapan kalian terkabul! Aku melihat sendiri mayat Pendekar Mabuk tertancap bebatuan karang di bawah sana! Ha ha ha...! Dekatlah kemari istri-istriku! Mari kita rayakan kemenangan ini dengan sejuta kemesraan dan kehangatan bercinta, ha ha ha...!"

Perawan Sesat maju dua tindak, tangannya siap untuk melancarkan pukulan jarak jauhnya. Tapi kain selendang putih telah lebih dulu berkelebat menghantam tubuh Dirgo Mukti.

Wuuugh...!

Selendang Kubur melepaskan pukulan tenaga dalamnya menggunakan kibasan selendang putihnya. Pukulan itu membuat Dirgo Mukti tersentak ke samping dan oleng mencari keseimbangan.

"Hai...! Mengapa kalian menyerangku?!"

Wuuttt...! Perawan Sesat sentakkan tangan kirinya dan sebuah pukulan tenaga dalam cukup tinggi tak dapat dihindari Dirgo Mukti. Pukulan itu tepat mengenai dada Dirgo Mukti.

Beeegh...!

"Heegh...?!" Dirgo Mukti memekik tertahan. Tubuhnya tersentak ke belakang, tiga langkah jauhnya. Mulutnya mulai mengeluarkan darah. Tapi ia belum jatuh, ia masih berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ia menarik gagang kapaknya, sreekkk...! Gagang itu mengulurkan rantai, sehingga mata kapak bisa diputar-putarkan di atas kepala.

"Jahanam kalian semua! Kalian ingkar janji! Kalian hanya pergunakan aku untuk membunuh Suto!"

"Tak perlu banyak bicara, Dirgo Mukti! Kami memang gunakan kamu sebagai alat! Tak satu pun dari kami yang sudi menjadi istrimu!" sentak Peri Malam yang segera melompat ke atas dan menghantamkan pukulan jarak jauhnya.

Bangng...! Pukulan itu tertangkis oleh kibasan kapak yang berputaran cepat di atas kepala. Memercikkan cahaya merah menyala dalam sekejap. Lalu, tiba-tiba kapak itu bagaikan terbang dalam ikatan rantainya yang bisa mulur panjang.

Wungng...! Sreekkk...!

Kalau saja kepala Perawan Sesat tidak segera merunduk dan berguling di tanah, sudah pasti akan terpenggal mata kapak itu. Juga kalau Selendang Kubur yang berdiri sejajar dengan Perawan Sesat itu tidak segera gulingkan badan ke tanah, lehernya akan putus seketika karena ditebas kilasan kapak terbang itu.

Peri Malam yang berada tepat di garis lurus depan Dirgo itu segera keluarkan sumpit bambunya dari belahan dadanya yang montok itu. Lalu, ia tiupkan napasnya melalui lubang sumpit yang panjangnya hanya sejengkal. Slup...! Maka meluncurlah senjata andalannya yang bernama Jarum Iblis itu ke arah Dirgo Mukti.

Crasss...! Duaarrr...!

Jarum Iblis tak berhasil menembus sasaran, karena kapak Dirgo Mukti yang mengeluarkan bunyi dengung berkumandang itu menangkis jarum tersebut. Tangkisannya itu menimbulkan percikkan nyala api bersama bunyi ledakan yang menggema.

Pada kesempatan lengah sedikit itu, Selendang Kubur segera sabetkan selendangnya dengan satu hentakkan kaki ke bumi. Jurus 'Selendang Petir' diganaskan. Dari ujung kain selendang itu keluar percikkan api yang mampu membakar lawan.

Craapp... craapp...!

Melihat datangnya bahaya dari samping, Dirgo Mukti segera sentakkan kaki dan melenting di udara dengan kapaknya tetap berputar membentengi dirinya.

Wuusss...!

Sabetan 'Selendang Petir' hanya membuat nyala api sekejap, menyambar tempat kosong. Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti keluarkan sinar merah membara yang meluncur cepat ke arah Peri Malam. Sinar merah membara itulah yang tadi digunakan menghantam Suto.

Wuusssh...! Cepat sekali gerakan sinar merah membara dari logam berbentuk mata tombak itu.

Sebelum mencapai tubuh Peri Malam, Perawan Sesat cepat sentakkan tangan kanannya dan melesatlah sinar kuning menghantam logam membara itu.

Duaarrr...!

Pecah logam membara itu tepat di atas kepala Peri Malam. Dentumannya membuat tubuh Peri Malam tersentak dan jatuh tersungkur. Tetapi ia segera bangkit lagi dan dalam posisi duduk ia luncurkan Jarum Iblis di kaki Dirgo Mukti.

Slaappp...!

"Uuhf...!" Dirgo Mukti menahan rasa sakit yang mengagetkan, karena begitu ia mendaratkan kakinya ke tanah, jarum beracun itu telah menyambut betisnya dengan empuk.

Jruubb...!

Dua pasang mata yang memperhatikan pertarungan tak imbang itu menjadi tegang. Dua pasang mata itu ada di atas pohon, di lereng bukit agak ke bawah. Karena posisinya ada di atas pohon, jadi kedua pasang mata milik dua manusia itu dapat melihat dengan jelas pertarungan tersebut.

"Dirgo Mukti bisa mati! Dia terdesak terus dan telah berkena Jarum Iblis milik Peri Malam!"

"Jar... jar... jarum itu kulihat mempunyai serbuk racun! Sangat ber... ber... berbahaya racun itu. Kedipan serbuknya dapat tertangkap oleh mat... mata... mataku!"

"Kasihan Dirgo Mukti! Bagaimana kalau aku membantunya, meleraikan pertarungan itu?"

"Jang... jang... jangan! Kkkau... kau sudah dianggap mat... mati oleh mereka!"

Ya, Suto telah dianggap mati oleh tiga perempuan patah hati. Tapi sebenarnya dia sedang menjadi penonton pertarungan di atas Bukit Jagal itu bersama Dewa Racun. Ini semua gagasan Dewa Racun, si kerdil yang cerdik itu. Ia berhasil menemukan seekor orang hutan. Ia cepat jinakkan orang hutan itu. Lalu, ia suruh Suto menggunakan ilmu 'Seberang Raga'-nya sehingga orang hutan itu bisa menjadi wujud dirinya di mata orang-orang yang ada di atas bukit tadi.

Orang hutan yang sudah berubah wujud Suto itu masuk arena pertarungan dan tentu saja dengan mudahnya dikalahkan Dirgo Mukti. Dengan begitu, Dirgo Mukti berhak menuntut janji dari ketiga perempuan licik itu, dan ketiga perempuan licik menjadi kebingungan, karena tidak menyangka bahwa Dirgo Mukti benar-benar dapat membunuh Pendekar Mabuk.

Pendekar Mabuk tertawa geli melihat tiga perempuan licik itu berontak, tak mau ditagih janjinya oleh Dirgo Mukti. Rupanya mereka benar-benar bernafsu untuk membunuh Dirgo Mukti. Sehingga, walaupun keadaan Dirgo Mukti sudah lemah dan parah, mereka masih terus menyerangnya. Sampai akhirnya Dirgo Mukti tersungkur jatuh dengan luka dalam dan luar, namun ia masih bisa berlutut dan mencoba berdiri lagi.

"Habislah nyawamu sekarang juga, Jahanam!" geram Perawan Sesat sambil lancarkan pukulan pamungkasnya yang amat berbahaya itu. Tapi tiba-tiba kilatan cahaya merah dari tangan Perawan Sesat tersentak ke samping, didorong oleh kilatan cahaya hijau yang datang secara tiba-tiba.

Glegaaar...!

Tabrakan cahaya bertenaga dalam tinggi itu membuat bukit bagaikan mau rubuh. Dentumannya mengguncang bumi, membuat ketiga tubuh perempuan itu terpental berlainan arah. Jatuh telentang dengan erangan yang lirih. Ketiganya cepat berusaha untuk bangkit kembali.

"Hi hi hi hi...!" terdengar suara tawa mirip kuntilanak yang berdiri di depan mereka bertiga. Suara itu berasal dari seorang nenek berjubah biru lusuh, pakaiannya serba abu-abu. Badannya agak bungkuk, rambutnya digulung naik, berwarna abu-abu juga. Di pinggangnya terselip tengkorak kambing bergagang tulang ikan berukuran antara dua jengkal.

Peri Malam tak asing lagi dengan wajah bermata cekung angker itu. Karena dulu ia pernah menjadi murid nenek keriput bergigi ompong dan tak bisa menyebutkan huruf 'r'.

"Guru,..?!"

"Hei, jangan sebut aku gulumu lagi, Peli Malam!" kata nenek angker yang dikenal dengan nama Mawar Hitam dari Pulau Hantu itu. "Kamu sudah bukan lagi mulidku! Kamu sesat, dan perlu kuhajal juga lupanya!"

"Tunggu!" sentak Perawan Sesat ketika Mawar Hitam ingin menghantamkan pukulan jarak jauhnya. "Apa urusanmu ikut campur pertarungan kami ini, Nenek Peot!"

"Aku memang cali-cali anak muda ini! Dia punya kesaktian cukup lumayan buat kuselap, sama dengan kesaktian gulumu si Nyai Lembah Asmara itu! Aku akan jadi olang yang paling tinggi ilmunya setelah kuselap banyak ilmu dali olang-olang yang kuselamatkan dali peltalungan!"

Wuttt...! Dengan sekali sentak kaki, tubuh Dirgo Mukti sudah melesat sendiri dan jatuh di pundak Mawar Hitam. Badannya yang bungkuk semakin bungkuk lagi menggendong tubuh Dirgo Mukti yang sudah nyaris mati itu.

"Akan kau bawa ke mana dia? Kami harus membunuhnya lebih dulu, baru kamu boleh membawa mayatnya pergi!" sentak Selendang Kubur.

"Benar, Guru!" sahut Peri Malam yang sudah terbiasa memanggil 'guru' kepada Mawar Hitam. "Kami harus hancurkan Dirgo Mukti, karena dia telah membunuh Suto!"

"Hik hik hik hik...! Pendekal Mabuk belum mati! Dia masih sembunyi! Kalian telah dikecohkan oleh Pendekal Mabuk! Hi hi hi hi...! Kalian tidak akan sanggup melawan Suto, kalena Suto itu adalah lawanku! Aku halus tebus kekalahanku dalam lebutan Pusaka Tuak Setan, setelah aku tebus kekalahanku tempo hali, aku halus bunuh gulunya yang belnama Bidadali Jalang! Tapi itu nanti, kalau aku sudah selap banyak ilmu dali olang-olang bodoh macam Dilgo Mukti ini! Hik hik hik...!"

Mawar Hitam bergerak mau tinggalkan tempat. Tapi Perawan Sesat cepat lompat dan hadang langkah Mawar Hitam. Dengan berani ia menyentak Mawar Hitam. "Tinggalkan manusia itu di sini!"

"Ah, kamu mau cali-cali mati lupanya?" Mawar Hitam segera kibaskan tangannya bagai menyambar nyamuk.

Wuuttt...! Tepat pada saat itu sinar merah berbentuk bulat seperti bola kecil itu melesat dari siku Mawar Hitam, melesat ke dada Perawan Sesat.

Kejap berikut, Dewa Racun lepaskan anak panahnya dari atas pohon. Wuuttt....! Panah itu meluncur bagai kilat menyambar bola merah.

Blaarrr...!

Tubuh Mawar Hitam tersentak mundur karena hempasan angin dari ledakan bola merahnya itu. Perawan Sesat terpentang dan nyaris jatuh ke jurang dalam itu. Ledakan itu menimbulkan hentakkan gelombang yang cukup besar. Mawar Hitam sendiri segera berpaling ke arah datangnya anak panah tadi.

"Kulang ajal...!" geramnya dengan beringas.

Slapp...!

Tiba-tiba tubuh Pendekar Mabuk sudah berada di samping Mawar Hitam dalam satu lompatan berkecepatan tinggi sekali itu. Pendekar Mabuk langsung berkata, "Kalau kau mau hadapi aku, sekaranglah kita tentukan pertarungan kita di sini, Mawar Hitam!"

Yang terkejut bukan hanya Mawar Hitam, tapi ketiga perempuan itu sama-sama tersentak kaget dan mundur dalam jarak tertentu. "Dia masih hidup!" bisik Selendang Kubur kepada Peri Malam.

Tapi yang diajak bicara hanya terbengong. Perawan Sesat juga hanya berdiri mematung tak berkedip.

"Suto, saatnya belum tiba untuk peltalungan kita! Tunggu bebelapa waktu lagi! Akan kuhanculkan kamu sampai selembut selbuk tepung! Jangan sangka aku tidak bisa ungguli ilmumu, Suto!"

"Telselah kamu!" tak sadar Pendekar Mabuk ikut cadel bicaranya, namun buru-buru ia perbaiki lagi, "Terserah kamu, Mawar Hitam! Kapan saja kau menghendaki pertarungan kita, aku siap menunggumu!"

"Tunggu saatnya!" dan tiba-tiba, Mawar Hitam seperti membanting sesuatu. Wuugh...! Asap mengepul tebal dari sebuah letupan. Asap itu menipis, Mawar Hitam ternyata sudah hilang dari pandangan bersama tubuh Dirgo Mukti.

"Ada yang masih bernafsu membunuhku?!" tantang Pendekar Mabuk kepada ketiga perempuan itu. Tapi tak satu pun menyahut, tak satu pun bergerak. Bahkan ketika Suto tertawa sambil tinggalkan tempat itu, mereka hanya bisa mengikuti dengan pandangan mata bengong.

Dewa Racun datang menyambut langkah Suto. Orang kerdil itu tersenyum-senyum sambil berkata, "Kkku... kurasa sudah tidak ada masalah dengan Bukit Jagal ini, Suto. Kit... kkkit... kita langsung saja pergi ke sana!"

"Baik! Aku sependapat denganmu, Dewa Racun!"

"Nyai Gusti pas... pass... pasti akan sen... sen... sen..."

"Seneb?!"

"Bukan! Akan sen... senang menerima kedatanganmu. Nyai Gusti pasti sudah tidak sabar men... men... men..."

"Menungging?"

"Menunggumu! Bukan menungging!" sentak Dewa Racun yang segera ditertawakan oleh Suto.

Langkah kaki Suto begitu cepat, seiring dengan langkah kaki Dewa Racun. Dalam kejap berikut Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sudah sama-sama menghilang dari pandangan tiga perempuan salah tingkah itu.

"Hei, mengapa kita tidak membunuhnya? Suto sudah ada di depan kita!" kata Peri Malam.

Selendang Kubur berkata. "Adakah dari kita yang tega membunuhnya?"

Tak satu pun ada yang menjawab dari mulut mereka. Semua diam, bingung, dan hanya bisa saling pandang satu dengan yang lainnya.

SELESAI

Pertarungan Di Bukit Jagal

Serial Pendekar Mabuk
Pertarungan Di Bukit Jagal
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
ANGIN laut berhembus guncangkan dahan dan dedaunan. Suara deru yang timbul dari hembusan angin itu menandakan di tengah samudera telah terjadi badai lautan yang melemparkan gulungan-gulungan ombak. Ketika sampai di tepi pantai, gulungan ombak itu sudah menjadi anak ombak. Tak begitu besar, namun cukup kuat berdebur menghantam bebatuan ataupun tebing karang.

Hembusan angin laut yang masih terasa kencang itu menerpa dua wajah perempuan disela-sela hutan tepi pantai. Dua wajah itu sudah semalaman berada di hutan tepi pantai menunggu mangsanya tiba. Dua wajah perempuan yang masing-masing mempunyai nilai kecantikan sendiri-sendiri itu tak lain adalah wajah Selendang Kubur dan wajah Peri Malam.

Melihat dari bibir-bibir mereka yang tanpa seulas senyum, terlihat sikap bermusuhan mereka yang terpendam untuk sementara waktu. Peri Malam sebentar-sebentar memandang ke arah lorong kecil yang menyerupai gua, yang ada di atas tebing karang tepi pantai. Lorong kecil itu hanya bisa dimasuki oleh satu tubuh manusia dalam keadaan merangkak. Tapi sejak tadi, bahkan sejak kemarin Peri Malam tidak melihat sosok tubuh keluar dari lorong tersebut.

Selendang Kubur sering hembuskan napas bersama desah kekesalan hatinya. Sudah cukup lama dipandangi lorong kecil itu, lalu ia palingkan wajah kepada Peri Malam dan berkata dengan nada ketus, "Mana orang itu?! Sampai sekarang belum juga muncul dari sana!"

"Jangan-jangan dia mati dibunuh Pendekar Mabuk di dalam lorong!" ucap Peri Malam dengan wajah bersungut-sungut.

"Atau mungkin angan-anganku yang mati dibunuh bualanmu!" Selendang Kubur berkata begitu karena kecemasan di dalam hatinya semakin kuat, yaitu kecemasan dipermainkan oleh Peri Malam.

"Kalau aku mau membual, tak perlu membual untukmu! Tak pernah ada untungnya menebar bualan untukmu, Selendang Kubur!"

Debur ombak kembali terdengar bergemuruh panjang, lalu lenyap bagai ditelan sepi. Selendang Kubur kembali merenungi peristiwa yang membawanya terpatok di hutan tepi pantai itu. Semua itu terjadi gara-gara perasaan cintanya terhadap murid sinting Si Gila Tuak, yaitu Suto Sinting, Pendekar Mabuk. Kalau bukan karena cinta yang begitu dalam. Selendang Kubur tak sudi menghadang kemunculan Nyai Lembah Asmara di hutan tepi pantai itu.

Seperti dikisahkan dalam cerita Murka Sang Nyai sebelum kisah ini, bahwa Pendekar Mabuk terpedaya oleh tipuan Perawan Sesat yang membuat Suto merasa gembira karena ingin dipertemukan dengan kekasih idamannya yang bernama Dyah Sariningrum. Suto sudah telanjur beranggapan bahwa Nyai Lembah Asmara yang berkuasa di lereng Bukit Garinda itu adalah perempuan yang bernama Dyah Sariningrum, yang wajahnya ditemukan Pendekar Mabuk di alam semadi, maupun di alam mimpi. Tetapi, ternyata Pendekar Mabuk kecewa. Nyai Lembah Asmara adalah perempuan yang tidak mirip sama sekali dengan Dyah Sariningrum.

Suto terjebak dalam Racun Darah Asmara yang dimiliki oleh sang Nyai itu. Pendekar Mabuk hanya ingin dijadikan pembenih bagi keturunan sang Nyai. Dan hal itu membuat murka para perempuan yang mencintai Suto. Maka, melabraklah Peri Malam, Selendang Kubur yang dibantu oleh Pujangga Keramat dan Betari Ayu, guru dari Selendang Kubur. Bukit Garinda diobrak-abrik oleh keempat orang itu. Sayang, Pujangga Keramat tewas di tangan Maharani dan Putri Alam Baka, murid Nyai Lembah Asmara sendiri.

Betari Ayu berhasil mendobrak pintu kamar peraduan yang menjadi tempat kencan Nyai Lembah Asmara dan Pendekar Mabuk. Tetapi di dalam kamar itu, Betari Ayu tidak menemukan Pendekar Mabuk maupun Nyai Lembah Asmara. Rupanya Nyai Lembah Asmara sudah lebih dulu melarikan Suto dengan menunda kencan birahinya yang telah menggebu-gebu itu.

Ke mana larinya, hanya Peri Malam yang bisa menduga, karena Peri Malam pernah menjadi murid sekaligus pelayan kamar peraduan Nyai Lembah Asmara. Menurut dugaan Peri Malam, kamar itu mempunyai pintu rahasia yang tembus ke tepi pantai. Atau dugaan lain, Nyai Lembah Asmara membawa lari Suto ke puncak bukit. Karenanya, tugas pun dibagi. Peri Malam dan Selendang Kubur menghadang pelarian Nyai Lembah Asmara ke pantai, dan Betari Ayu mencoba pengejarannya ke puncak bukit.

Sayangnya Betari Ayu tidak segera menghubungi Peri Malam dan Selendang Kubur untuk memberitahukan, bahwa ia sudah berhasil menemukan Suto yang selamat dari ancaman Nyai Lembah Asmara. Peri Malam dan Selendang Kubur tidak tahu hal itu, sehingga mereka berdua masih tetap menunggu di dekat lorong tembus yang diduga akan menjadi ujung pelarian Nyai Lembah Asmara dan Suto. Padahal saat itu Nyai Lembah Asmara sudah dibawa lari oleh Si Mawar Hitam, nenek keriput peot yang dulu menjadi guru dari Peri Malam.

Tentu saja penantian mereka adalah penantian yang sia-sia. Selendang Kubur berulang kali melontarkan gerutu kejengkelannya, tapi Peri Malam tak pernah mau peduli. Bahkan Peri Malam berkata, "Kalau kau bosan menunggu, pergilah sana! Biar kuhadapi sendiri Nyai. Kau pikir aku tak mampu merebut Suto dari tangan Nyai?!"

"Dan kau pikir aku tak mampu merebut Suto dari tanganmu?!"

Peri Malam lemparkan pandang ke wajah Selendang Kubur dengan tajam. Ia masih duduk dengan kaki kiri melonjor dan punggung bersandar pada batang pohon tumbang. Tatapan mata itu makin ditentang oleh mata Selendang Kubur. Ia tetap berdiri dengan satu kaki menumpang di atas batang kayu tumbang, sedangkan kaki satunya lurus berpijak tanah, badannya sedikit membungkuk karena lengannya digunakan bertumpu pada paha kaki.

Setelah mereka saling pandang bermusuhan dan sama-sama bungkamkan mulut, Peri Malam palingkan wajah ke arah lain sambil ucapkan kata, "Kelak, suatu saat, aku yakin satu di antara kita ada yang terbunuh. Kau membunuhku atau aku membunuhmu. Sebab tanpa ada satu yang kalah, tak mungkin Pendekar Mabuk mengawini keduanya."

"Dan yang kalah itu adalah kamu!" kata Selendang Kubur berlagak acuh tak acuh, memandang dedaunan pohon di atas.

Terdengar suara tawa Peri Malam yang lirih, disusul oleh ucapan, "Jangan merasa yakin dulu bahwa kau bisa membunuhku. Kau belum menyadari betapa kecilnya ilmu yang kau miliki itu sebenarnya, betapa ceteknya kekuatanmu itu untuk melawanku. Sebenarnya kau memang bukan tandinganku."

Panas hati Selendang Kubur menyengat ubun-ubun. Kedua tangannya telah menggenggam kuat, menahan luapan kemarahan yang ingin dihajarkan ke wajah Peri Malam. Tapi agaknya Peri Malam pun sudah siaga menghadapi serangan sewaktu-waktu. Posisi kakinya yang dilipat dengan lutut tegak ke atas itu dapat menyambar pukulan sewaktu-waktu. Mata Peri Malam pun tampak tajam melirik penuh waspada.

"Sekali lagi kau memancing kemarahanku, kujadikan tempat ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!" ancam Selendang Kubur seraya menurunkan kakinya yang bertengger di batang pohon tumbang.

Peri Malam hanya sunggingkan senyum tipis bernada sinis. Ia pun segera bangkit dan melangkah dua tindak membelakangi Selendang Kubur sambil berkata, "Kalau memang rasanya itu yang terbaik, mengapa harus tunda pertarungan? Tak keberatan diriku menjadikan tempat ini sebagai pertarungan kita yang terakhir!"

Sreet...! Selendang Kubur segera mencabut selendangnya dari pinggang. Peri Malam cepat balikkan badan dan angkat kedua tangannya ke atas, siap lancarkan pukulan jarak jauhnya. "Cobalah serang aku kalau kau ingin kehilangan nyawa secepatnya!" gertak Selendang Kubur.

"Kau sendiri tak berani menyerangku, karena aku tahu kau takut kehilangan nyawamu!"

"Keparat kau! Hiaah...!"

Wuuut...!

Kain selendang dikibaskan ke depan. Gerakannya begitu cepat bagaikan seekor ular yang gesit mematuk mangsanya. Tapi pada saat itu, Peri Malam tak kalah gesit. Ia keraskan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka, ia sentakkan ke depan dan melesatlah suatu kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.

Weeegh...!

Selendang Kubur sentakkan ujung kakinya hingga tubuhnya melesat naik lurus ke atas dan hinggap di salah satu dahan pohon. Peri Malam juga sentakkan kakinya dan tubuhnya melayang cepat lurus ke atas, lalu hinggap di salah satu dahan dalam pohon itu juga. Keduanya sama-sama menghindari pukulan, sehingga kedua pukulan bertenaga dalam itu tidak mengenai sasaran, kecuali mengenai benda-benda lain di sekitar mereka.

Peri Malam melihat pukulannya nyasar ke sebongkah batu dan batu itu menjadi terbelah tiga bagian. Selendang Kubur melihat tenaga dalam yang keluar dari ujung selendangnya mengenai bongkahan akar pohon kering, dan akar pohon itu menjadi hangus seketika.

Kini keduanya sama-sama di atas pohon beda dahan. Keduanya sama-sama siap lancarkan serangan lagi. Tapi sebelumnya Peri Malam berkata dengan sungging senyum sinisnya. "Kulunakkan pukulanku, karena aku masih memberimu kesempatan untuk berpikir dalam menghadapiku. Sekali lagi kuingatkan, aku bukan lawan tandingmu, Selendang Kubur!"

"Kupikir memang benar, aku bukan lawan tandingmu. Karena kau merasa tak akan bisa mengungguli ilmuku, sehingga kau hanya bisa berkoar-koar seperti itu sejak dulu!"

Hinaan balik itu membuat hati Peri Malam makin menggeram. Tapi hatinya berkata, "Memang kuakui dia punya ilmu lumayan tinggi. Kalau pertarungan ini kulakukan sekarang juga, aku atau dia yang kalah, dan hal itu akan menguntungkan Ratu. Untuk merebut Suto dan mengalahkan Ratu, aku masih membutuhkan bantuannya. Tak cukup imbang ilmuku jika sendirian dalam melawan Ratu! Sebaiknya, kutunda dulu dendamku kepadanya."

Melihat tangan kekar Peri Malam mengendurkan urat-uratnya, Selendang Kubur pun sedikit demi sedikit mengurangi ketegangannya. Saat itu terucap di dalam hati Selendang Kubur, "Kalau kulayani dia sekarang, bisa habis tenagaku melawan Nyai Lembah Asmara nanti. Sebaiknya kuhemat dulu tenagaku untuk menghimpun kekuatan. Tanpa kekuatan yang penuh seperti saat ini, sepertinya mustahil aku bisa mengalahkan Nyai dan merebut Pendekar Mabuk dari tangannya!"

Kedua perempuan itu kembali memandang ke arah lorong di atas tebing karang. Lorong itu masih sepi, tanpa seekor tikus pun keluar masuk di dalamnya. Bungkamnya kedua mulut mereka yang menciptakan keheningan cukup panjang itu telah membuat Selendang Kubur mempunyai gagasan lain,

"Bagaimana kalau kita periksa saja ke dalam lorong itu?! Siapa tahu justru Nyai Lembah Asmara sedang "menggarap' Suto di dalam lorong!"

"Atau mungkin mereka memang tidak lewat pintu rahasia di dalam kamar itu? Jika Nyai Lembah Asmara tidak membawa lari Suto melalui pintu rahasia, biar sampai mampus tak akan kita temukan mereka di sini!"

"Kalau begitu, biarlah kuperiksa sendiri lorong itu sampai ke bagian dalamnya!" kata Selendang Kubur bersiap untuk pergi.

Tapi Peri Malam segera palingkan wajah dan pandangannya lebih tajam, "Pergilah ke sana kalau kau ingin cepat mati dihujam jebakan maut yang dipasang di dalam lorong itu!"

"Jebakan...?!" gumam perempuan berpakaian merah dadu itu.

"Nyai memasang banyak jebakan di sana, sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk ke lorong itu! Siapa yang terkena jebakan di sana tak akan hanya sekadar menderita luka saja, tapi pasti mati tanpa nyawa sedikit pun!"

Selendang Kubur menggerutu pelan, "Yang namanya mati ya tanpa nyawa!" Kemudian, ia menatap lorong tersebut sambil memutar otaknya, mencari jalan menuju kepastian, tetap menunggu di situ, atau pergi dengan kesimpulan lain? Kejap berikutnya Selendang Kubur melompat ke dahan yang dipijak Peri Malam. Sambil melompat ia berkata, "Bagaimana kalau kita cari di tempat lain? Barangkali bukan lorong itu yang menjadi tempat keluar mereka?!"

Peri Malam hampir kaget sedikit dan hampir kibaskan tangannya ketika Selendang Kubur tahu-tahu ada di sampingnya. Setelah melihat tak ada gelagat untuk menyerang pada diri Selendang Kubur, Peri Malam pun turunkan tangannya dan menjawab pertanyaantadi, "Kurasa tak ada jalan keluar lainnya! Cuma lorong itulah satu-satunya jalan keluar!"

"Atau, barangkali saja mereka tidak melalui pintu rahasia? Mungkin saja mereka pergi ke puncak bukit? Dan di sana mereka pasti akan bertemu dengan Nyai Guru Betari Ayu!"

"Ya. Memang itu satu kemungkinan! Tapi aku tak yakin apakah gurumu punya ilmu yang cukup untuk menandingi Nyai Lembah Asmara?!"

Selendang Kubur tersinggung gurunya diremehkan. Cepat berkelebat tangannya menghantam rusuk Peri Malam dengan menggunakan punggung telapak tangan. Tapi, cepat pula tangan Peri Malam menangkisnya dengan cara mengadu telapak tangannya dengan pukulan lawan.

Plakk...!

"Sekali lagi kau meremehkan guruku, kurobek jantungmu!" geram Selendang Kubur dengan mata mendelik garang.

"Kau tak akan bisa, Selendang Kubur!" ucap Peri Malam dengan senyum sinis. Tapi dalam hatinya ia membatin, "Boleh juga pukulan tangannya. Tulang lenganku jadi ngilu dan telapak tanganku kesemutan akibat menahan pukulan tangannya."

Selendang Kubur kendurkan urat, lepaskan ketegangan. Tapi wajahnya masih terlihat kaku dan penuh kedongkolan. Diam-diam rupanya Selendang Kubur juga membantin kata, "Sial! Gerakan tangkisnya begitu cepat! Tak bisa aku mencuri kesempatan untuk meremukkan tulang rusuknya. Tenaga dalamnya begitu cepat mengalir ke telapak tangannya, membuat kulit tanganku terasa panas sekali mendapat tangkisan telapak tangannya!"

Selendang Kubur mengambil posisi duduk di antara tiga dahan yang berjajar mirip balai-balai kecil. Punggungnya dipakai bersandar pada dahan besar lainnya. Sementara itu, Peri Malam pun merasa perlu sedikit santai, ia duduk dengan satu kaki berjuntai dan satunya lagi menapak di salah satu dahan. Punggungnya yang bersandar di bagian batang utama pohon itu. Ia memetik segerumbul buah yang mirip duku itu dan memakannya dengan menyipit-nyipitkan mata karena kecut.

"Peri Malam," sapa Selendang Kubur setelah merasakan jenuhnya dilanda sepi dalam keadaan berduaan seperti itu.

"Hmmm...!" Peri Malam menggumam tak berpaling memandang.

"Apakah kau benar-benar mencintai Pendekar Mabuk?!"

"Apa perlunya kau bertanya begitu?" Peri Malam ganti bertanya.

"Jawab saja pertanyaanku, daripada aku harus memaksamu dengan ancaman mencekik lehermu!"

Peri Malam lepaskan tawa kecil. "Hi hi hi. Kalau aku tidak benar-benar mencintai Suto, untuk apa aku bersusah payah begini, sampai kubela-bela menjadi murid murtad dan hidup tanpa naungan! Perasaanku terhadap Suto begitu dalam, kadang menyenangkan, kadang menyakitkan. Karena sikap Suto kepadaku tak pernah punya kepastian."

Selendang Kubur tarik napas panjang, lalu berkata, "Seingatku sudah dua kali kita bentrok gara-gara lelaki dan cinta."

"Apakah menurutmu kita ini perempuan-perempuan bodoh? Apakah menurutmu kita ini wanita yang dungu, yang mau diperbudak oleh ketampanan seorang lelaki sehingga mau-maunya bertaruh nyawa untuk mendapatkannya?"

"Mungkin juga," jawab Selendang Kubur kecil sekali. Tangannya masih memainkan daun-daun pohon yang dicabut-cabut tepiannya.

"Apakah menurutmu, seorang perempuan mempertaruhkan nyawa untuk seorang lelaki itu adalah tindakan yang keliru?"

"Tergantung lelakinya," jawab Selendang Kubur. "Kalau lelakinya punya cinta dan kesetiaan kepada kita, nyawa yang dipertaruhkan adalah suatu kemuliaan yang tinggi dari seorang wanita."

"Tapi jika ternyata Pendekar Mabuk tidak mencintai satu di antara kita, apakah kita harus tetap bertaruhkan nyawa, saling bertarung dan saling berusaha membunuh?"

"Itu yang kupikirkan sejak tadi, Peri Malam! Kau atau aku yang mati nantinya, belum tentu ditangisi oleh Suto. Kau atau aku yang menang nantinya, belum tentu dicintai oleh Suto!"

"Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi dia sangat tampan dan menawan hati. Dia punya daya tarik yang luar biasa, yang membuat hatiku terjerat lekat!"

"Hatiku pun terjerat lekat, Peri Malam. Tak bisa kubohongi lagi, aku sangat merindukan kehangatan cintanya!"

"Jadi kesimpulan yang ada ialah, bahwa ketampanan dan daya tariknya itulah yang membuat kaum wanita saling bunuh seperti binatang! Ketampanan Pendekar Mabuk itulah racun bagi kita, Selendang Kubur!"

"Barangkali memang begitu. Sebab kupikir-pikir, seandainya tak ada Suto, mungkin kita tidak akan berselisih lagi, mungkin kita tidak saling membunuh lagi!"

"Bagaimana kalau kita lenyapkan saja dia, Selendang Kubur?!"

Usul itu membuat Selendang Kubur terperanjat bagai sadar dari lamunan panjangnya, ia menggumam, "Maksudmu, kita bunuh dia supaya tidak menjadi racun permusuhan bagi kita?"

"Ya. Bukan hanya bagi kita, tapi bagi kaum perempuan lainnya!"

* * *

DUA
ANGIN berhembus entah dari mana datangnya. Pikiran kedua perempuan itu jadi berubah. Hati yang jatuh cinta menjadi benci. Jiwa yang rindu berubah menjadi kering. Sikap terpikat menjadi dendam kesumat. Maka mereka berdua pun bergegas pergi mencari Suto dengan tujuan membunuh Pendekar Mabuk itu. Arah pertama yang mereka tuju adalah puncak Bukit Garinda. Tapi di sana mereka tidak menentukan siapapun.

"Tapi aku yakin, Suto beberapa waktu ada di sini sebelum kita tiba," kata Peri Malam.

"Dari mana kau tahu?"

"Sisa bau keringatnya masih bisa tercium oleh hidungku!" jawab Peri Malam sambil menghirup-hirup udara, mendengus-dengus ke sana-sini. Sampai akhirnya arah hidungnya berhenti menghadap timur. "Hmm... dia pergi ke arah timur. Kita kejar dia ke timur, Selendang Kubur!"

Cepat mereka melesat secepat angin dari barat. Hembusan angin dari barat membuat Peri Malam kehilangan penciumannya. Bau keringat Pendekar Mabuk tak terlacak lagi. Mereka kehilangan arah dan berhenti di salah satu gugusan tanah cadas yang membukit.

"Aku kehilangan penciumanku," kata Peri Malam.

"Bagaimana kalau kita kejar terus ke timur?"

"Belum tentu dia ke sana. Mungkin membelok arah utara atau ke selatan, mana kita tahu?"

"Jika begitu, kita berpencar! Kau ke utara aku ke selatan!"

Usul Selendang Kubur direnungkan sebentar oleh Peri Malam, sesaat kemudian terdengar suara Peri Malam berkata, "Jika aku ke utara, kau ke selatan, lantas siapa yang timur?"

Tiba-tiba terdengar jawaban di belakang mereka, "Aku...!"

Serentak kedua perempuan itu palingkan muka ke belakang, dan terperanjat mereka melihat seraut wajah cantik dengan rambut acak-acakan telah berdiri tegak dengan sepasang kaki sedikit merentang. Wajah berambut acak-acakan itu mengenakan pakaian ketat warna ungu muda dengan ikat pinggang kuning.

Ia juga menyandang pedang gading di punggungnya, dengan wajah dan sorot pandangan mata berkesan beringas. Selendang Kubur dan Peri Malam tak asing lagi dengan perempuan berambut jabrik itu, yang tak lain adalah Perawan Sesat. Selendang Kubur segera sigap pasang kuda-kuda untuk menyerang. Peri Malam hanya pasang kewaspadaan yang sewaktu-waktu tangan dan kakinya siap hadapi serangan pula. Tapi Perawan Sesat tampak tenang-tenang saja.

"Apa maksudmu ikut menjawab percakapan kami, Perawan Sesat?!" sentak Peri Malam dengan mata tak bergeser sedikit pun dari wajah cantik berkesan beringas itu.

"Aku mengikuti percakapan kalian sejak dari hutan tepi pantai!" kata Perawan Sesat. "Dan aku sangat tertarik dengan rencana kalian itu! Pendekar Mabuk memang harus dilenyapkan, karena dia menyebar racun cinta yang membuat sesama perempuan saling membunuh!"

"Rupanya kau mengalami nasib yang sama dengan kami, Perawan Sesat? Dan kau ingin bergabung dengan kami?"

"Tak ada salahnya!" Perawan Sesat mengangkat pundak sambil langkahkan kaki dekati sebuah batu. Di sana dia duduk dengan kedua sikunya diletakkan di kedua pahanya, hingga sedikit membungkuk tubuhnya. Di sana ia perdengarkan kata, "Aku jatuh cinta pada Pendekar Mabuk. Bahkan lebih gila dari kalian! Tugasku membawa Pendekar Mabuk menghadap Nyai Lembah Asmara kuselewengkan. Aku berani mengkhianati guruku sendiri, yaitu Nyai Lembah Asmara. Aku berani melawan kekuatan Maharani dan Putri Alam Baka, sampai aku terluka dalam dan diselamatkan oleh Peramal Pikun. Semua itu kulakukan karena kegilaanku terhadap Suto."

Perawan Sesat membayangkan semua itu dalam satu renungan yang menyimpan bara dendam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Murka Sang Nyai). Kejap berikutnya ia ucapkan kata lagi.

"Sampai sekarang hatiku masih disiksa rindu dan hasrat ingin bercumbu. Semua itu gara-gara Pendekar Mabuk, si murid sinting itu! Untuk itu aku harus meleyapkannya!"

Selendang Kubur angkat bicara, "Tapi kau masih harus berhadapan denganku, Perawan Sesat! Kau masih hutang banyak nyawa padaku, karena kau telah banyak menewaskan saudara-saudara seperguruanku!"

"Oh, kau dari Perguruan Merpati Wingit?!"

"Ya!" jawab Selendang Kubur dengan mata menantang.

"Mereka mati gara-gara Suto Sinting, jadi tuntutlah Suto! Jangan aku!"

"Tapi di tanganmu mereka mati, Bangsat!" bentak Selendang Kubur. Rupanya ia semakin terpancing dendam kesumatnya hingga bergegas untuk melepas kain selendang pusakanya.

"Tahan...!" Peri Malam mencoba menengahi perselisihan itu dengan maju satu tindak berada di antara Perawan Sesat dan Selendang Kubur. Peri Malam pun ucapkan kata, "Kalau kalian berdua punya perhitungan pribadi, lakukan perhitungan itu setelah kita selesaikan masalah Suto!"

Perawan Sesat tarik napas sesaat, lalu berkata dengan suara serak. "Aku tak keberatan kalau memang kau ngotot ingin nuntut balas padaku, Selendang Kubur! Aku siap menghadapimu kapan saja! Tapi jangan salahkan diriku jika kau harus kehilangan kepalamu!"

Selendang Kubur menggeram. Matanya menyipit benci saat ia ucapkan kata, "Kalau bukan karena tujuan yang sama, sudah kuhancurkan mulut busukmu itu, Perawan Sesat!"

Peri Malam menyahut, "Hancurkan nanti saja!"

Akhirnya Selendang Kubur kendurkan ketegangannya. Matanya terlempar jauh ke arah utara. Saat itu, terdengar suara Perawan Sesat berkata, "Rasa-rasanya memang kita harus berpencar! Dan untuk menghabisi nyawa Pendekar Mabuk itu, tak mungkin kita lakukan secara sendiri-sendiri. Perlu kerja sama yang baik. Karena si tampan sinting itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi, ia hanya bisa dikalahkan jika kita gempur secara bersama-sama."

"Jadi bagaimana jika salah satu dari kita nanti menemukan dia?" tanya Peri Malam.

"Bawa dulu dia ke arah kita masing-masing. Jangan buru-buru bertindak sebelum kita bertiga saling bertemu!"

"Aku setuju," jawab Peri Malam. "Ada baiknya kalau..."

"Ssst...!" tukas Selendang Kubur memberi isyarat dengan tangan. Cepat ia lompatkan tubuh ke balik pohon.

Melihat gelagat bahaya dari Selendang Kubur, Peri Malam pun bergegas melompat di balik pohon sebelah Selendang Kubur. Tak ketinggalan Perawan Sesat juga cepat sentakkan kaki dan melesat bersembunyi di balik rimbun daun-daun semak berduri. Jaraknya tak berapa jauh dari Selendang Kubur dan Peri Malam.

"Ada apa? Suto lewat?!" bisik Perawan Sesat ke arah Peri Malam.

"Mana aku tahu?! Selendang Kubur yang melihatnya!" Peri Malam pun menyapa Selendang Kubur dengan suara lirih, "Hei, ada apa? Kau melihat Pendekar Mabuk lewat?"

"Bukan Pendekar Mabuk, tapi... lihatlah ke sana!" tuding Selendang Kubur.

Perawan Sesat dan Peri Malam sama-sama memandang ke arah tempat yang ditunjuk Selendang Kubur. Lalu, mereka berdua sama-sama hempaskan napas panjang bernada dongkol, serta sama-sama lepaskan ketegangan. Perawan Sesat terdengar menggerutu,

"Sial! Kupikir ada bahaya datang!"

"Buatku itu memang bahaya. Karena aku muak ketemu dia!" cetus Selendang Kubur yang segera ikut-ikutan keluar dari tempat persembunyiannya, karena dilihatnya Peri Malam juga keluar dari balik persembunyiannya. Mereka bertiga sama-sama berada di tempat bebas dan memandang ke satu arah.

Apa yang dipandang mereka tak lain adalah kemunculan Dirgo Mukti yang mengaku Manusia Sontoloyo itu. Jaraknya cukup jauh, namun bisa dilihat mata telanjang mereka bertiga.

"Agaknya dia sedang dikejar oleh seseorang!" kata Peri Malam.

"Benar! Pasti ia dalam perselisihan," sahut Perawan Sesat. "Wajahnya terlihat tegang. Keringatnya mengucur. Hm... siapa orang yang mengejarnya?"

"Mudah-mudahan setan dari neraka yang mengejarnya!" kata Selendang Kubur.

"Seharusnya aku yang bilang begitu, karena aku sangat benci kepadanya!" kata Peri Malam.

"Mengapa kalian benci sekali kepadanya?" tanya Perawan Sesat.

"Dia mengejar-ngejarku dan selalu mendesakku untuk menerima cintanya! Aku muak sekali!"

Selendang Kubur pun ikut berkata, "Aku juga begitu! Dia selalu berusaha membujukku agar mau melayaninya! Aku tak bisa banyak melawan dan memberontak karena aku berhutang nyawa dengannya! Menyesal sekali aku karena ditolong dan diselamatkan olehnya! (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat).

Perawan Sesat tertawa serak. "Aku sendiri punya kedongkolan dengannya, saat dia menipuku dengan mengaku sebagai Pendekar Mabuk!"

Peri Malam menyahut, "Ya, ya, aku pernah memergoki kau bercumbu dengannya!"

"Jangan singgung-singgung soal itu! Rasa sesalku berubah jadi dendam jika aku teringat peristiwa itu!" kata Perawan Sesat.

"Hei, lihat...!" seru Selendang Kubur sambil tangannya menunjuk ke arah Dirgo Mukti. "Rupanya orang itu yang mengejar Dirgo Mukti!"

"Hmmm... siapa orang yang berpakaian hitam itu?" tanya Perawan Sesat. "Aku hanya bisa menandai bahwa orang sedikit gemuk itu berilmu tinggi. Terlihat dari gerakan lompatnya begitu ringan dan cepat! Tapi aku belum pernah tahu siapa dia?"

"Datuk Marah Gadai!" jawab Selendang Kubur. "Dia orang sesat dari seberang yang ingin menguasai tanah Jawa. Dia ingin menjadi raja tertinggi di rimba persilatan tanah Jawa!"

"Ada persoalan apa Sontoloyo bentrok sama Datuk Marah Gadai?" tanya Peri Malam.

Selendang Kubur menjawab, "Mana aku tahu?! Tapi kelihatannya mereka sama-sama tangguh!"

"Kurasa tidak," bantah Perawan Sesat. "Kurasa lebih tangguh si Datuk Marah Digadai itu!"

"Datuk Marah Gadai! Bukan Datuk Marah Digadai!" Peri Malam membetulkan ucapan Perawan Sesat.

"Ya. Kurasa orang itu lebih tangguh dari si Sontoloyo. Aku jadi tertarik ingin menjajal ilmunya!"

"Bodoh!" tukas Selendang Kubur. "Kalau mau, jajal saja ilmunya si Sontoloyo, jadi kalau kau berhasil membunuhnya, kau telah membayar tipu muslihatnya yang merugikan dirimu itu!"

"Membunuh si Sontoloyo lebih mudah! Dalam satu gebrakan saja dia tidak akan memiliki nyawa lagi!"

"Hem... belum tentu!" Selendang Kubur mencibir. "Kau pikir ilmu yang kau miliki lebih tinggi darinya? Ilmu sedangkal itu mau disombongkan di depan si Sontoloyo, bisa hancur berkeping-keping kau dihajar habis oleh pukulan tenaga dalamnya yang hebat itu!"

"Hei, kau jangan sepelekan aku, Selendang Kubur! Saat ini pun aku sanggup meremukkan kepalamu tanpa harus bergerak dari tempatku!"

"Coba saja!" tantang Selendang Kubur.

Perawan Sesat lemparkan daun kecil yang sejak tadi dibuat mainan. Lemparan daun itu begitu cepat dan mendesing bunyinya bagai logam tipis melayang melewati depan mata Peri Malam.

Wiiing...! Craat...!

Selendang Kubur lengkungkan badan ke samping sambil berpaling. Daun itu lewat di depan dadanya dan menancap di batang pohon bagaikan lempengan logam tajam dari bahan baja. Jika bukan dialiri kekuatan tenaga dalam yang tinggi, tak mungkin daun itu bisa menancap di batang pohon sedemikian dalam. Kalau saja tidak segera menghindar dengan gesitnya, Selendang Kubur akan mati ditembus daun yang berubah jadi mata pisau itu.

Sebelum Selendang Kubur memberi balasan, Peri Malam sudah menghadang di depannya seraya berkata, "Cukup! Jangan terpancing nafsu!"

"Dia yang menyerangku lebih dulu!"

Perawan Sesat membantah, "Dia menghinaku lebih dulu!"

"Kalian ini memang seperti anak kecil!" sentak Peri Malam. "Aku menyesal bergabung dengan kalian menyusun rencana seperti tadi. Mana bisa orang-orang berjiwa anak kecil mengalahkan Suto? Untuk mengalahkan Pendekar Mabuk itu, bukan hanya ilmu tinggi yang dibutuhkan tapi juga jiwa dewasa dan otak cerdas!"

Selendang Kubur menghembuskan napas pelan-pelan walau matanya masih memandang tajam pada Perawan Sesat. Yang dipandang hanya tersenyum sinis dengan sikap siap tarung kapan pun juga.

"Jangan dulu kita berselisih sebelum cita-cita kita bersama tercapai! Jika belum-belum kita sudah saling bunuh, lantas kapan kita bisa bunuh Suto Sinting itu?!" omel Peri Malam yang bertindak menjadi orang yang lebih dewasa dari mereka, walau sebenarnya ia hanya sebagai penengah saja.

"Lihatlah," kata Peri Malam lagi, "Dirgo Mukti sudah semakin terpojok oleh serangan-serangan Datuk! Tak perlu kita memberikan pujian atau penilaian apapun selain menjadi penonton yang baik!"

Selendang Kubur bahkan berkata, "Seharusnya ia bisa segera cabut senjatanya itu! Dirgo Mukti mempunyai senjata kapak yang cukup hebat, sebenarnya!"

"Kalah hebat dengan pedangnya Datuk Marah Gadai! Kulihat sendiri kehebatan pedang itu saat ia mengalahkan Cadaspati di tepi sebuah sungai!" kata Peri Malam. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah AsmaraGila).

Perawan Sesat kasih pendapat, "Orang-orang seperti mereka jelas tidak akan semudah itu mencabut pedangnya! Hanya pada saat-saat terakhir dari pertarungan itu ia akan mencabut pedangnya!"

"Aku berharap Dirgo Mukti kalah dan mampus di tangan Datuk!" kata Peri Malam.

"Aku juga!" sahut Selendang Kubur.

"Kuharap juga begitu," sela Perawan Sesat.

"Hai, ternyata kita sama-sama punya kebencian pula dengan si Sontoloyo itu?! Mengapa kita tidak sepakat gunakan Sontoloyo untuk melawan Suto?"

Ucapan Peri Malam itu membuat mereka saling memandang. Perawan Sesat dan Selendang Kubur sama-sama tatapkan mata ke wajah Peri Malam. Sepertinya mereka menuntut penjelasan lebih rinci lagi dari kata-kata Peri Malam tadi. Karenanya, Peri Malam pun lanjutkan kata,

"Dirgo Mukti lelaki mata keranjang! Dia ingin aku menerima cintanya. Dia ingin Selendang Kubur melayani gairahnya. Dia pasti inginkan tubuh dan kehangatanmu lagi, Perawan Sesat. Sebab dia pernah merasakan gairahmu. Dia pasti tergiur kembali padamu."

"Lalu, apa rencanamu?" tanya Selendang Kubur.

"Jadikan dia umpan untuk bertarung melawan Pendekar Mabuk. Beri dia semangat agar bisa membunuh Suto Sinting. Upah yang akan kita berikan padanya adalah tubuh kita masing-masing!"

"Aku tidak sudi!" sentak Selendang Kubur bersungut-sungut.

"Ini hanya siasat saja! Sontoloyo jelas tak akan bisa mengalahkan Pendekar Mabuk. Tapi dengan mendapat semangat dari kita, dia akan bertarung melawan Pendekar Mabuk mati-matian. Hal itu akan membuat Suto semakin terdesak, sekurang-kurangnya Pendekar Mabuk akan menguras tenaganya untuk mengalahkan Sontoloyo. Walaupun pada akhirnya nanti Sontoloyo mampus di tangan Suto, tapi kita punya peluang bagus untuk menyerang Suto secara bersama. Kekuatan Suto yang sudah berkurang karena pertarungannya dengan Dirgo Mukti, membuat kita lebih mudah menghancurkan dirinya!"

"Gagasan yang bagus!" sela Perawan Sesat lalu ia tertawa serak.

"Kebetulan aku ingat bahwa Dirgo Mukti pernah janji pertarungan dengan Suto di Bukit Jagal! Bulan ini adalah bulan saat pertarungan itu dilakukan!" tambah Peri Malam.

"Bagus! Aku setuju dengan rencanamu," kata Selendang Kubur.

"Kalau begitu, kita bantu Sontoloyo untuk mengalahkan Datuk Marah Gadai itu! Biar Sontoloyo tidak mati di tangan Datuk!" kata Peri Malam.

"Aku setuju!" kata Perawan Sesat dengan menyeringai liar.

"Tapi, tunggu dulu...!" Selendang Kubur mencegah, "sepertinya Datuk Marah Gadai sudah merasa kewalahan melawan Dirgo Mukti! Datuk Marah Gadai melarikan diri!"

"Ya, tapi Dirgo Mukti kelihatannya terluka dan tak bisa mengejarnya! Ada baiknya jika kita tolong dia!" kata Peri Malam.

Tapi sebelum mereka mencapai tempat Dirgo Mukti terkapar, orang itu sudah bangkit lebih dulu dan melesat pergi mengejar lawannya. Rupanya ia tadi terkena pukulan tenaga dalam dari Datuk Marah Gadai, namun bisa segera ditawarkan oleh kekuatan batinnya sendiri. Dan melihat Dirgo Mukti lari mengejar Datuk Marah Gadai, ketiga perempuan itu juga lari mengejar Dirgo Mukti.

Apa yang mereka pertarungkan sebenarnya berasal dari kabar tentang Pusaka Cincin Manik Intan. Datuk Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama ingin mendapatkan Cincin Manik Intan yang konon masih ada di dasar telaga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Murka Sang Nyai).

Mereka saling halang-menghalangi ketika sama-sama mau menyelam ke dasar telaga. Pertarungan itu membuat mereka saling kejar dan tanpa sadar menjauhi Telaga Manik Intan. Saat mereka jauh dari telaga itulah, sesosok tubuh masuk dan menyelam ke dasar telaga. Orang itulah yang menemukan Pusaka Cincin Manik Intan.

Orang itu adalah Betari Ayu, yang kemudian segera menggunakan Pusaka Cincin Manik Intan untuk melabrak Nyai Lembah Asmara yang ingin menjadikan Suto sebagai pembenih dalam keturunannya.

Datuk Marah Gadai dan Dirgo Mukti sama-sama tidak tahu, bahwa apa yang mereka rebutkan itu sudah menjadi milik seseorang. Bahkan ketika Datuk Marah Gadai meninggalkan Dirgo Mukti, dalam benaknya ia merasa lebih baik meninggalkan pertarungan dan segera menyelam ke dasar telaga untuk mencari Cincin Manik Intan yang dahsyat itu.

Jika Cincin Manik Intan berhasil ditemukan olehnya, maka urusannya dengan Manusia Sontoloyo itu akan cepat terselesaikan. Pasti lawannya itu akan mati dan hancur oleh kekuatan Pusaka Manik Intan itu. Karena Datuk Marah Gadai tidak tahu bahwa cincin itu sudah ditemukan Betari Ayu beberapa saat berselang, maka ketika ia tiba di tepi telaga, ia langsung saja menceburkan diri ke permukaan air telaga, dan menyelam di kedalamannya.

Lama kemudian, Dirgo Mukti tiba pula di tepi telaga. Ia mencari lawannya. Memandangi sekeliling telaga. Ternyata tak ada sesuatu yang mencurigakan. Air telaga pun tampak tenang. Pikirnya, sebelum Datuk Marah Gadai menemukan diriku, ia harus sudah lebih dulu mencari Cincin Manik Intan di dasar telaga.

"Mampuslah kau, Tukang Gadai! Jika kutemukan itu lebih dulu akan kuhancurkan mulutmu yang sangat kubenci itu!" kata Dirgo Mukti. Lalu, ia pun melompat dan terjun ke dalam genangan air telaga.

Byurrr...!

* * *

TIGA
GEMERISIK dedaunan bambu dihembus angin siang. Gemerisik itu masuk ke telinga Pendekar Mabuk ibarat musik penghantar duka. Gundukan tanah di depannya masih dipandangi dengan wajah duka. Gundukan tanah itu adalah kuburan bagi si pelayan setia gurunya. Suto memberi nama pada kayu patok kuburan itu dengan tulisan besar 'Sugiri'. Di bawahnya ada tulisan kecil yang berbunyi 'Lahir tak diketahui, mati pun tak diketahui'.

"Kalau saja aku tidak terbujuk oleh anggapan tentang Dyah Sariningrum di Bukit Garinda, Paman Sugiri tak akan mati di sana. Kasihan Paman Sugiri, ia mati hanya untuk membela diriku yang tak berharga ini. Mudah-mudahan arwahnya diterima di sisi Yang Maha Kuasa," kata hati Pendekar Mabuk yang segera bergegas bangkit dari kesedihan. Ia tak berlarut-larut tenggelam dalam perasaan duka atas kematian Pujangga Keramat.

Suto memakamkan jenazah Pujangga Keramat di Jurang Lindu, tak jauh dari pancuran air yang menjadi pintu masuk menuju persinggahan si Gila Tuak. Sayang sekali waktu itu si Gila Tuak tak ada di tempat, sehingga Suto tak bisa melaporkan kematian Pujangga Keramat. Ke mana arah perginya si Gila Tuak, Suto tak tahu. Hanya ada satu kemungkinan dalam benak Suto, bahwa gurunya itu mungkin sedang bertandang ke Lembah Badai, tempat persinggahan bibi gurunya Suto yang di kenal dengan nama kondangnya Bidadari Jalang.

Tiba-tiba Pendekar Mabuk jadi ingat dengan bibi gurunya. Ingatan itu berkait dengan Pusaka Cincin Manik Intan yang ditemukan oleh Betari Ayu. Cincin itu warisan terkubur dari Bidadari Jalang. Sekarang ada di tangan Betari Ayu, sedangkan Betari Ayu menyimpan dendam kepada Bidadari Jalang. Pendekar Mabuk belum sempat meminta cincin itu dari tangan Betari Ayu.

Ketika Pendekar Mabuk selamat dari cengkeraman Nyai Lembah Asmara, ia segera pergi mengurus jenazah Pujangga Keramat yang mati di bangsal pertemuan, di persinggahannya Nyai Lembah Asmara. Pada waktu itu, Betari Ayu berkata kepada Suto,

"Aku harus pergi membalaskan sakit hatiku kepada seseorang. Jika kau mau ikut aku, aku tak keberatan. Jika kau ingin mengurus mayat Pujangga Keramat yang tergeletak di sana, aku juga tidak melarang. Yang penting kau ketahui, saat ini adalah saat yang baik untuk melampiaskan dendamku yang selama ini kupendam dalam hati!"

Suto masih dalam keadaan mabuk tuak waktu itu, sehingga ia tidak terlalu peduli dengan kepergian Betari Ayu. Ia segera bergegas mencari mayat Pujangga Keramat dan segera membawanya ke Jurang Lindu. Sekarang Pendekar Mabuk jadi ingat semua kata-kata Nyai Betari Ayu. Tak salah lagi dugaan Suto, bahwa dendam yang akan dilampiaskan oleh Betari Ayu itu adalah dendamnya kepada Bidadari Jalang, karena Bidadari Jalang dianggap telah merebut kekasih hati Betari Ayu. Hal itu yang membuat Betari Ayu tidak pernah mau jatuh cinta lagi dengan seorang lelaki.

Namun kehadiran Suto sempat membuat Betari Ayu tergugah oleh cinta lagi, meski ia dapat memendamnya. Tentu saja Nyai Betari Ayu menganggap saat ini adalah saat yang tepat untuk melampiaskan dendamnya kepada seseorang, karena Betari Ayu memakai Cincin Manik Intan. Jelas, cincin itulah yang akan dipakai untuk melawan Bidadari Jalang, yang namanya masuk dalam deretan kedua, setelah si Gila Tuak, sebagai nama-nama tokoh yang sukar ditumbangkan. Tanpa pusaka cincin dahsyat itu, Nyai Betari Ayu tak akan berani berhadapan dengan Bidadari Jalang.

"Celaka! Bibi Guru pasti akan hancur oleh pusakanya sendiri," pikir Pendekar Mabuk. "Seharusnya waktu itu kurebut dulu Cincin Manik Intan dari tangan Betari Ayu! Jika begini, sama saja aku membiarkan Bibi Guru terancam nyawanya! Betari Ayu tidak tahu bahwa Bibi Guru yang sekarang bukan orang sesat seperti dulu. Karenanya Bibi Guru Bidadari Jalang tidak mau turun ke dunia persilatan kembali, karena dia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta!"

Suto Sinting sempat terlihat gelisah, ia berjalan mondar-mandir di depan makam Pujangga Keramat. Hatinya kembali berkecamuk, "Apa yang harus kulakukan jika begini? Merampas cincin itu dari tangan Nyai Betari Ayu? Itu berarti aku harus bertarung dengan Nyai. Haruskah aku bertarung dengan orang yang selama ini bersikap baik padaku? Tapi jika hal itu tidak kulakukan, berarti aku ikut mendukung rencana Betari Ayu untuk membunuh Bibi Guru?!"

Sekelebat bayangan melesat di atas pohon. Banyangan itu mendarat tepat di depan Suto, hingga Suto terkesiap memandangnya. "Nyai Betari...?!" gumam Suto dengan hati berdebar. Orang ini yang sedang dipikirkan oleh Suto, tapi orang ini pula yang tahu-tahu muncul dalam kenyataan di depan Suto.

"Kebetulan sekali Nyai datang kembali," kata Suto menatap perempuan cantik yang menyunggingkan senyum bersahaja.

"Aku mendengar gemuruh kegelisahanmu, Suto. Jadi aku kembali menemuimu," kata Nyai Betari Ayu yang berikat kepala dari tali sutera merah berbintik-bintik kuning keemasan.

"Nyai mendengar gemuruh kegelisahanku?" Suto heran.

"Apa yang terjadi pada diri orang yang kusayangi selalu kudengar lewat telinga hatiku, dan kulihat lewat mata hatiku, Suto."

"Oh, jadi... saya orang yang Nyai sayangi?"

"Mungkin lebih dari itu," jawab Betari Ayu pelan sambil palingkan wajah ke arah curahan air terjun yang menjadi pintu gerbang persinggahan si Gila Tuak.

Pendekar Mabuk menjadi kikuk mendengar jawaban itu. Tapi ia segera tenangkan diri dan tetap bersikap lembut kepada Nyai Betari Ayu. Ia mendekati Betari Ayu dari samping kanan, ikut memandang jurang berair terjun itu, tapi mulutnya ucapkan kata tanya, "Sudahkah dendam Nyai terlampiaskan?"

"Belum," jawab Betari Ayu sambil tetap pandang air terjun.

"Mengapa tak jadi membalas dendam?" tanya Suto.

"Aku berubah pikiran."

"Berubah bagaimana, Nyai?"

"Untuk apa aku hidup menuruti dendam?" Betari Ayu palingkan wajah dan lempar pandangan pada Suto. Lembut sekali pandangannya. Selembut rona kecantikan sang Nyai. Katanya lagi, "Aku harus menjadi orang yang bisa mengalahkan diriku sendiri. Orang hebat adalah orang yang bisa melawan nafsunya sendiri. Kalau aku masih turuti dendamku kepada Bidadari Jalang, maka aku bukan sebagai orang hebat. Aku orang lemah yang tak mampu melawan nafsuku sendiri."

"Saya menyukai kata-kata Nyai," Pendekar Mabuk sunggingkan senyum yang sangat menawan.

Nyai Betari Ayu pun tundukkan kepala karena merasa teduh hatinya mendapat senyuman seperti itu. Tapi kejap berikut ia kembali pandang Suto dan ucapkan kata, "Ada sesuatu yang lupa kukembalikan padamu."

"Tentang apa itu, Nyai?"

Tangan kiri Nyai melepaskan cincin di jari tangan kanannya, lalu Pusaka Cincin Manik Intan itu diserahkan kepada Suto. "Ambillah cincin ini, Suto."

Pendekar Mabuk tidak segera mengambil cincin itu, tapi matanya menatap lama pada cincin dan wajah Betari Ayu yang polos dan lugu itu. "Mengapa Nyai kembalikan cincin itu kepadaku? Bukankah Nyai tahu kehebatan Pusaka Cincin Manik Intan itu?"

"Ya, tapi ini bukan milikku."

"Tapi Nyai yang mengambilnya dari dasar telaga!"

"Benar. Karena ada dua alasan. Pertama, aku takut Cincin ini jatuh ke tangan Datuk Marah Gadai atau pemuda tampan yang mengaku punya gelar Manusia Sontoloyo itu. Kedua, karena waktu itu aku membutuhkan Cincin ini untuk melawan Nyai Lembah Asmara. Tanpa bekal pusaka dahsyat ini, aku belum tentu bisa menyerang Bukit Garinda dan dengan tujuan membebaskan kamu dari cengkeraman Nyai Lembah Asmara. Jujur saja kukatakan kepadamu, Suto... aku tak rela kau tanamkan benih kependekaranmu, benih darah ksatriamu, ke dalam kandungan Nyai Lembah Asmara! Aku tak ingin kau punya keturunan sesat, Suto."

"Sejauh itukah Nyai berpikir tentang saya?"

Betari Ayu tak menjawab. Ia alihkan pembicaraan itu sambil sekali lagi sodorkan cincin tersebut. "Terimalah cincin ini. Kau yang berhak memiliki. Bukan aku! Karena kaulah yang punya tugas mengambil dua pusaka di dasar telaga tersebut, yaitu Pusaka Tuak Setan dan Pusaka Cincin Manik Intan ini."

"Mengapa Nyai tidak memilikinya saja, atau membawanya lari?"

"Bukan sifatku menjadi pencuri, Suto."

Senyum Suto melebar, bahkan berubah menjadi tawa yang mirip orang menggumam. Tawanya itu pun bagaikan memancarkan daya tarik tersendiri bagi hati yang sudah berbunga indah itu. Ketika Pendekar Mabuk menerima cincin itu, tangan Betari Ayu dipegangnya dengan lembut. Betari Ayu menatap dan merasakan aliran hawa hangat di sekujur tubuhnya. Ia segera bertanya dalam nada bisik,

"Suto, apa yang kau salurkan ke dalam tubuhku?"

"Kasih sayang," bisik Suto membalas.

"Apa maksudnya kasih sayang?"

"Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Nyai."

"Tentunya itu bukan berarti sebuah cinta yang lahir dari hati sanubarimu."

"Memang bukan cinta. Tapi, barangkali kasih sayang melebihi dari segala cinta yang ada. Kasih sayang boleh ada di dalam jiwa kita masing-masing, tapi tak harus memiliki raga kita masing-masing."

"Dalam sekali pengertianmu, Suto. Aku semakin suka padamu."

Suto tersenyum dengan mata memandang kian lembut. Seakan kelembutan pandang mata Suto itu bagaikan sinar halus yang menembus ke dalam dasar hati Betari Ayu. Sebelum cincin itu tergenggam oleh Suto, Betari Ayu lekas-lekas mengambil alih cincin itu. Ia mengangkat jari manis Suto yang kanan, lalu cincin itu dimasukkan ke dalam jari manis cincin itu dengan pelan-pelan sekali. Kedua mata mereka saling memandang ke arah cincin.

"Semoga kau dapat mengenang peristiwa ini selamanya, Suto."

"Semoga kau pun dapat mengenangnya pula. Nyai."

Kemudian, wajah Nyai Betari Ayu tengadah memandang Pendekar Mabuk. Matanya yang bening teduh itu bagai digenangi air. Suto pelan-pelan mendekatkan wajah dan menempelkan ciumannya di kening Nyai. Mata itu terpejam, bibir itu merekah, dan akhirnya Suto tempelkan bibir ke mulut Nyai. Bibir Suto dilumatnya dengan lembut oleh Nyai Betari Ayu. Suto membalasnya dengan seribu kali lebih lembut, hingga Nyai Betari Ayu meremaskan genggaman tangannya di ujung pundak Suto. Pelan-pelan pula ciuman dan kehangatan itu dilepaskan. Senyum mereka saling bermekaran.

Suto berbisik lirih, "Indah, Nyai?"

"Luar biasa indahnya, Suto," jawab Nyai Betari semakin lirih. "Sayang sekali bukan aku perempuan yang kau cintai. Seandainya aku adalah orang yang kau cintai, mungkin selamanya aku akan merebah di dadamu, Suto."

"Apakah hal itu membuatmu kecewa, Nyai?"

"Tidak," jawab Nyai dalam ketegasan yang lembut. "Aku tidak kecewa, karena memang kau dan aku memiliki garis kehidupan yang berbeda. Aku tak salahkan dirimu, Suto. Kau bebas memburu cinta dan kasih sayang untuk dirimu, Suto. Aku hanya ingin merawat agar cinta ini tetap mekar di hatiku, sampai masa tuaku tiba."

Tiba-tiba Nyai Betari Ayu memeluk Pendekar Mabuk erat-erat. Suto pun membalas pelukan itu dengan hangat. Nyai pasti ingin mencurahkan tangis keharuannya, pikir Suto. Dan sengaja Suto tidak melarang tangis itu tercurah karena memang suasana haru tercipta atas dasar saling menyadari keadaan masing-masing.

Betari Ayu diam. Pelukannya tetap erat. Tak ada guncangan tangis atau pun suara mengisak. Pastilah Nyai Betari Ayu tak ingin cucurkan air mata di depan seorang ksatria. Pastilah Nyai Betari Ayu merasa malu dan takut wibawa kharismanya jatuh di depan Suto. Tetapi tubuh Nyai Betari Ayu makin lama semakin dingin. Suto menjadi curiga. Cepat-cepat ia tarikkan diri dari tubuh Betari Ayu. Mata Suto terkesiap melihat wajah Betari Ayu pucat dan kepalanya terkulai lemas.

"Nyai...?!" sentak Suto sambil guncangkan tubuh Nyai. Namun keadaan Nyai semakin memucat dan dingin. Matanya terpejam mulutnya terbuka sedikit bagai menahan rasa sakit yang menyentak.

"Nyai...?! Kenapa kau, Nyai...?!"

Pendekar Mabuk berdebar-debar melihat keadaan Nyai Betari Ayu seperti itu. Suto buru-buru memeriksa tubuh Betari Ayu. Ternyata di bagian punggungnya terdapat noda merah membekas di kulit. Noda merah itu sebesar biji sawo, tepat bersebelahan dengan pedang Jalaganda yang sejak tadi disandang di punggungnya. Noda merah itu menembus jubah kuningnya, yang terbuat dari kain sutera. Tapi jubah itu tidak membekas lubang. Hanya sedikit hangus tepat di bagian noda merahnya itu.

"Kurang ajar! Ada yang menyerang Nyai secara diam-diam. Hmm...! Siapa orangnya?!" geram Suto dengan mata memandang liar.

Gemuruh suara air terjun masih terdengar. Di atas curahan air terjun itu, mata Suto memandang jelas sesosok tubuh berpakaian kuning ketat. Pendekar Mabuk mengenal orang itu sebagai orang Bukit Garinda. Orang tersebut tak lain adalah Putri Alam Baka. Di tangannya tergenggam seruling kuning. Pasti dialah yang telah menyerang Nyai Betari Ayu memakai seruling pusakanya itu.

"Kau...!" geram Pendekar Mabuk dengan wajah merah. Matanya menatap tajam ke arah Putri Alam Baka. Tak sadar kemarahan Pendekar Mabuk itu membuat tenaga dalamnya mengalir melalui Cincin Manik Intan. Pada waktu itu, cincin tersebut dalam keadaan menghadap ke arah Putri Alam Baka. Maka, dengan tiba-tiba cincin itu mengeluarkan cahaya putih menyilaukan, melesat bagaikan lidi ke arah perempuan di atas air terjun.

Clappp...! Duarrr...!

Arah cincin tidak tepat persis, sehingga batuan di samping Putri Alam Baka hancur menjadi serbuk ketika dihantam sinar putih menyilaukan itu. Ledakan itu membuat Putri Alam Baka terlempar ke samping dan jatuh di rerumputan.

"Aku harus menyelamatkan Nyai Betari Ayu dulu! Aku sudah tahu siapa orang yang menyerangnya!" pikir Suto.

Secepat kilat ia angkat tubuh yang terkulai lemah itu, lalu ia jejakkan kaki ke tanah dan tubuhnya bagaikan terbang melompati batu demi batu, akhirnya menerobos masuk ke curahan air terjun. Di balik air terjun itu ada pintu gua. Slaap...! Suto masuk ke dalam gua dan segera meletakkan Nyai Betari Ayu di atas pembaringan tak berkaki. Pembaringan itu dulu bekas tempat tidur Suto selama Pendekar Mabuk menjadi murid si Gila Tuak.

Pendekar Mabuk segera menggenggam telapak kaki Nyai Betari Ayu, lalu ia menggumam sendiri, "Hmmm... masih sedikit hangat!"

Segera ia meneguk tuaknya. Sebagian tuak tersimpan di mulut hingga pipinya menggelembung. Pendekar Mabuk pejamkan mata sebentar, lalu segera tempelkan mulutnya ke mulut Nyai Betari Ayu. Tuak dalam mulutnya itu segera disemburkan ke dalam tenggorokan Nyai Betari Ayu.

Bruuus...!

Tersentak tubuh Nyai Betari Ayu seketika bagai mendapat kejutan. Kemudian Suto mengulanginya sekali lagi.

Bruuus...!

Tersentak lagi tubuh Nyai Betari Ayu, lalu terdengar suaranya mengerang lirih. Suto merasa lega. Itu pertanda jiwa Betari Ayu bisa tertolong, tinggal menunggu kesembuhan berikutnya. Pendekar Mabuk memiringkan tubuh Nyai Betari Ayu, memeriksa noda merah di punggung Nyai. Noda itu makin menipis. Itu tandanya pengaruh tuak bertenaga dalam yang berguna untuk pendingin hawa panas telah bekerja. Andai kata Pendekar Mabuk tidak segera bertindak cepat, maka bagian dalam tubuh Nyai Betari Ayu akan hangus terbakar ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi dan berbahaya itu.

"Aku harus segera mengejar Putri Alam Baka!" geram Suto, merasa keasyikannya terganggu oleh serangan mendadak dari murid Nyai Lembah Asmara itu. "Tetapi Nyai Betari Ayu tidak ada yang menunggui. Jika sewaktu-waktu musuh datang dan mengancam nyawanya, bisa berbahaya. Untuk sementara dia akan lumpuh karena pukulan tenaga dalam yang tinggi itu. Dia hanya akan mempunyai luapan kemarahan namun tak akan bisa banyak melakukan gerakan. Uuh...! Kemana Guru?! Mengapa sampai sekarang belum datang juga?"

Pendekar Mabuk sempat bimbang sebentar. Hatinya gelisah, dadanya bergemuruh. Hasratnya ingin segera memburu lawan, tapi cemas meninggalkan Nyai Betari Ayu. "Hmmm... begini saja! Cincin ini kusematkan di jarinya saja! Kalau ada ancaman bahaya datang, kemarahan Nyai Betari Ayu bisa membuat cincin ini melancarkan kekuatan tenaga dalamnya dan menyerang musuh!"

Maka, setelah Suto menyematkan Cincin Manik Intan, ia pun segera tinggalkan Nyai Betari Ayu. Pada saat itu keadaan Betari Ayu belum sadar sepenuhnya, namun napasnya tampak terengah-engah dan kepalanya bergerak-gerak pelan.

"Sebelum ia lari jauh, aku harus sudah bisa mendapatkannya!" pikir Pendekar Mabuk saat meninggalkan gua tersebut.

Dalam kejap berikutnya, Suto sudah berada di tempat Putri Alam Baka tadi berdiri. Tempat itu telah kosong. Pendekar Mabuk tak melihat gerakan-gerakan yang mencurigakan. Tetapi ia melihat patahan daun ilalang dan beberapa ranting lainnya. Jelas, ranting itu patah karena terabasan larinya Putri Alam Baka. Maka, Pendekar Mabuk pun segera mengejarnya ke arah tersebut.

Pendekar Mabuk mengejar dengan menggunakan ilmu silumannya, sehingga gerakan Pendekar Mabuk tak dapat terlihat oleh mata karena kecepatannya yang luar biasa. Dalam kejap yang singkat, Pendekar Mabuk telah berada jauh dari Jurang Lindu. Bahkan sekarang tubuhnya telah hinggap di atas pohon, seperti menunggu mangsanyalewat. Dugaan Suto benar. Tak lama kemudian, terlihat dua sosok manusia berkelebat lari dengan cepat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya.

Duarrr...! Duarrr...!

Pendekar Mabuk hantamkan pukulan tenaga dalamnya yang membuat dua pohon tumbang seketika, menghadang langkah kedua sosok yang berlari cepat itu. Dan pada saat dua sosok itu berhenti, Pendekar Mabuk pun segera sentakkan ujung jari kakinya pada dahan, lalu tubuhnya melesat terbang dan bersalto satu kali, akhirnya mendarat di tanah di hadapan kedua orang itu. Dengan bumbung tuak tersandang di punggung bagaikan pedang maut, Suto berdiri pancarkan kemarahan kepada dua orang yang ada di depannya. Suaranya menggeram saat ia berkata,

"Rupanya kau tidak sendirian, Putri Alam Baka!"

"Ya. Aku yang mendampinginya!" jawab orang yang ada di samping Putri Alam Baka.

Dia adalah seorang lelaki, berbadan masih segar tapi kelihatannya sudah cukup umur, antara lima puluh tahunan. Tak terlalu besar badannya, juga tak terlalu kurus. Ia mengenakan caping hitam dengan kumis dan jenggotnya yang mulai ditumbuhi uban. Orang itu mengenakan pakaian abu-abu dan kancing bajunya tidak dirapatkan. Orang itu juga menyandang pedang di punggungnya, dan jari-jari tangannya mempunyai kuku yang panjang dan runcing. Dari balik capingnya, wajah itu terlihat angker dan bengis. Suara tuanya terdengar menggeram jika bicara.

"Aku tidak mengenal siapa dirimu, Pak Tua. Aku hanya mengenal Putri Alam Baka itu!"

Yang menyahut Putri Alam Baka dengan suara ketusnya, "Dia suamiku! Aku terpaksa kembali berada di sampingnya, karena dia bersedia membantuku melawanmu, juga melawan Betari Ayu untuk menebus kekalahanku di Bukit Garinda!"

"Oh, jadi kau menghilang dari Bukit Garinda untuk meminta bantuan kepada bekas suamimu?! Hmm... ada berapa orang yang menjadi bekas suamimu? Mengapa tidak semuanya saja kau bawa kemari untuk menghadapi aku dan Betari Ayu?!"

"Jangan sesumbar bacotmu, bocah ingusan!" geram orang bertudung hitam. "Mulutmu bisa kurobek tanpa ampun lagi jika kau sesumbar di depanku!"

"Pak Tua...!" kata Suto dengan tegas. "Jangan merasa terlalu mudah merobek mulutku sebelum kau coba dulu merobek mulutmu sendiri! Karena merobek mulut orang itu pekerjaan yang sulit, apalagi orang itu mampu berkelit!"

"Jangan mengguruiku, Setan!" bentak orang berhidung hitam. "Kau tak patut mengguruiku. Bahkan gurumu sendiri, Bidadari Jalang, tak punya kepatutan mengguruiku!"

"Hei, Pak Tua... siapa dirimu sehingga kau bawa- bawa nama bibi guruku itu?!"

"Apakah gurumu. Bidadari Jalang, tak pernah bercerita tentang hutang nyawanya dengan guruku?"

"Siapa nama gurumu, Pak Tua?"

"Iblis Pulau Bangkai!"

Suto terkesiap sejenak. Mencoba mengingat cerita bibi gurunya tentang Iblis Pulau Bangkai. Lalu Suto berkata, "Ya. Memang Bibi Guru pernah bercerita tentang musuhnya yang berjuluk Iblis Pulau Bangkai. Tapi dia sudah mati dan dengan mudahnya dikalahkan oleh Bibi Guru!"

"Tapi dia masih punya satu murid lagi, Suto!" kata orang bertudung hitam, dengan mudahnya menyebut nama Pendekar Mabuk.

"Hmm... ya, seingatku Bibi Guru pernah bercerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama Nagadipa."

"Akulah Nagadipa...!" Orang itu berkata dalam geram, kemudian membuka tudungnya dan menampakkan wajahnya yang bertampang bengis itu. Rambutnya sedikit botak di bagian atasnya, tapi yang lainnya panjang sampai melewati pundaknya.

"Oh, jadi kaulah murid tersisa dari Iblis Pulau Bangkai?!"

"Ya. Dan bagaimana jika murid bertemu murid untuk membereskan hutang gurunya, hah?! Setelah kubereskan muridnya, segera akan kubereskan gurunya! Biar sama-sama meratap di dasar neraka!" geram Nagadipa dengan matanya yang menampakkan kebengisan. Sepertinya ia sangat tak sabar ingin segera merobek-robek tubuh Pendekar Mabuk dengan kuku-kukunya yang panjang dan runcing itu.

* * * 

EMPAT
BIDADARI Jalang memang pernah bercerita kepada Suto tentang pertarungannya dengan Iblis Pulau Bangkai. Juga, cerita tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang masih penasaran menuntut balas atas kematian gurunya. Tapi seingat Suto, Bidadari Jalang menceritakan tentang murid Iblis Pulau Bangkai yang bernama Nagadipa itu sebagai pemuda yang tampan dan menawan. Waktu Bidadari Jalang terakhir kalinya melawan Nagadipa di sebuah pantai, orang itu dengan ketampanannya hampir menjerat Bidadari Jalang, yang waktu itu terkena racun birahi dari Tiga Pendekar Tibet. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bocah Tanpa Pusar).

Hati Pendekar Mabuk sempat ragu melihat penampilan pak tua yang mengaku sebagai Nagadipa itu. Mulanya Suto menganggap orang itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai Nagadipa supaya punya alasan bermusuhan dengan Suto. Tapi kejap berikutnya Suto menyadari, bahwa waktu Nagadipa melawan Bidadari Jalang di pantai, keadaan Suto masih kecil, masih berusia delapan tahun. Terbayang samar-samar dalam ingatan Pendekar Mabuk waktu ia menyaksikan pertarungan itu dari suatu tempat bersama gurunya si Gila Tuak. Wajah Nagadipa memang masih tampan, berusia tiga puluhan, tapi sudah mampu membuat Bidadari Jalang terdesak mundur beberapa kali.

Sekarang, dalam keadaan usia sudah semakin menua, tentu saja ilmunya semakin tinggi. Dua puluh tahun Nagadipa tidak pernah bertemu dengan Bidadari Jalang maupun Suto, tentunya ia sudah punya bekal cukup banyak untuk mengalahkan Bidadari Jalang.

Agaknya Putri Alam Baka sangat mengunggulkan bekas suaminya itu. Dengan suaranya yang berat ia lontarkan kata kepada Pendekar Mabuk, "Rasa-rasanya usiamu tinggal sejengkal waktu lagi, Pendekar Mabuk. Sebaiknya pergilah bercinta dengan mayat Betari Ayu agar kau bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang terakhir kalinya, karena suamiku ini tak akan lamban dalam mencabut nyawamu!"

"Kau salah duga, Putri Alam Baka! Betari Ayu tidak mati, justru akan bangkit menghadapimu dan menghancurkan tubuhmu!"

"Omong kosong! Suamiku telah melepaskan pukulan dahsyatnya yang bernama 'Mata Iblis'! Tak mungkin ada lawan yang bisa selamat dari pukulan 'Mata Iblis'-nya!"

Suto sunggingkan senyum meremehkan. Katanya, "Apa hebatnya pukulan 'Mata Iblis' kalau nyatanya Betari Ayu masih bisa tertolong?"

"Dusta!" bentak Nagadipa. "Pukulan 'Mata Iblis' tak bisa diselamatkan oleh ilmu apa pun!"

"Nyatanya bisa!"

Putri Alam Baka mengalihkan pandang pada Nagadipa dengan tatap kecewa. Kelihatannya ia mulai tampak bimbang dengan kesanggupan dan kehebatan Nagadipa. Melihat kebimbangan Putri Alam Baka, Nagadipa segera unjuk ilmu di depan bekas istrinya itu. Ia jejakkan kaki kanannya ke tanah satu kali.

Jlegg...!

Jejakan kaki itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang tersalur, membuat tubuh Pendekar Mabuk tersentak naik ke atas bagai terlonjak. Ilmu seperti itu juga dimiliki beberapa tokoh sakti, termasuk Datuk Marah Gadai. Tetapi, Pendekar Mabuk tetap tenang walau ia hampir tergelincir jatuh saat terlempar ke atas tadi. Ia pun sentakkan kakinya ke bawah dengan sangat pelan.

Jliggg...! Dan, mendadak tubuh Nagadipa bagaikan amblas ke bumi sebatas mata kaki. Putri Alam Baka terkesiap melihat Nagadipa terbenam sebatas mata kaki. Nagadipa sendiri buru-buru hentakkan tubuh dan lepas dari tanah penjepit kakinya. Wiiigh...!Jlegg...!

Kembali ia berdiri di samping Putri Alam Baka dan membatin, "Kurang ajar! Dia menguasai ilmu 'Telan Bumi' rupanya! Ilmu itu jarang dimiliki orang, kecuali si Gila Tuak! Untung ilmuku cukup tinggi, jika tidak bisa amblas ke bumi sekujur tubuhku!"

Putri Alam Baka masih memandangi Nagadipa dengan curiga, ia kecewa melihat Nagadipa bisa tersedot ke dalam tanah, padahal Pendekar Mabuk hanya menjejakkan kaki dengan pelan. Jika Pendekar Mabuk menghentakkan kakinya dengan kuat, habis sudah tubuh Nagadipa ditelan bumi, pikir Putri Alam Baka. Perempuan bersenjata seruling itu lalu berbisik, "Mana kehebatanmu? Jangan-jangan kau tak mampu melawan Suto!"

Bisikan itu ditangkap Pendekar Mabuk dalam jarak lima langkah. Tapi Pendekar Mabuk hanya diam saja, hanya sunggingkan senyum tipis. Nagadipa merasa diremehkan oleh Suto, lalu ia membalas dengan lemparan tudungnya ke arah Pendekar Mabuk. Tudung diambil dari kepala dan dilemparkan memutar dengan gerakan begitu cepat.

Wuuut...!

Pendekar Mabuk merendahkan kepalanya menghindari hempasan tudung hitam. Tetapi ternyata tudung itu mempunyai gelombang tenaga dalam yang membuat tubuh Pendekar Mabuk merunduk jadi tersungkur jatuh ke tanah. Sementara itu, tudung tersebut berputar terus dan kembali ke tempatnya semula.

Tapp...! Tangan Nagadipa menangkapnya. Putri Alam Baka tersenyum lebar dengan wajah ceria. Ia merasa senang dan bangga melihat kebolehan jurus tudung Nagadipa.

Wajah Pendekar Mabuk hampir saja mencium tanah karena tersungkur, bagai ada tenaga yang sangat kuat menghantam tengkuk kepalanya. Kalau saja tangannya tidak cepat mencagak, maka hidung dan mulutnya habis terbentur bebatuan yang ada di bawahnya. Pendekar Mabuk segera bangkit dan berhasil menggenggam kerikil di tangannya. Kerikil itu segera disentilkan ke arah tudung Nagadipa yang sudah dipakai di kepala.

Zlappp...! Kerikil itu melesat tak dapat dilihat, tapi tiba-tiba tudung Nagadipa terhempas terbang dalam satu sentakan keras.

Prakkk...!

Putri Alam Baka dan Nagadipa sama-sama terperanjat kaget. Tudung itu jatuh antara tiga langkah dari tempat Nagadipa berdiri. Ketika diambil kembali, ternyata ada bagian tepinya yang bolong melompong sebesar biji salak. Nagadipa semakin terbelalak kaget. Ia membatin,

"Gila! Tudung ini kulapisi dengan satu kekuatan baja yang tak bisa dirusak oleh kekuatan apa pun! Pedang setajam apa pun tak akan mampu melukai tudung ini. Tapi kenapa, sekarang bisa menjadi bolong begini? Hmmm... tentu ini ulah bocah ingusan itu! Jahanam...! Ilmunya tak bisa disepelekan!"

Terdengar suara Putri Alam Baka berbisik, "Kenapa bisa berlubang tudungmu itu?!"

"Entahlah!" jawab Nagadipa. Ia merasa kesal mendapat pertanyaan seperti itu, karena merasa malu pada diri sendiri.

Suto berkata dalam hatinya, "Putri Alam Baka ini agaknya terlalu banyak menuntut dari Nagadipa. Aku bisa mempengaruhi mereka dengan caraku sendiri agar mereka tidak saling bantu-membantu."

Tapi sebelum Pendekar Mabuk sempat melakukan rencananya, Nagadipa sudah lebih dulu berkata, "Pendekar Mabuk! Sudah waktunya kau menjadi tumbal kesalahan gurumu, si Bidadari Jalang itu!"

"Aku sudah siap menghadapi kalian berdua!"

"Oh, tak perlu berdua. Cukup aku saja yang membereskan dirimu. Biar istriku jadi penonton yang baik!"

"Majulah, Nagadipa. Tapi aku tak tanggung jika istrimu kecewa melihat polahmu seperti anak kecil!"

"Bocah tak tahu diuntung!" geram Nagadipa. "Hiaaat...!"

Cepat sekali tangan Nagadipa bergerak berkelebat depan seperti orang melemparkan pasir ke atas. Dan pada saat itu, Pendekar Mabuk segera bersalto mundur satu kali, karena ia merasakan akan datangnya gelombang panas yang hampir menyambar tubuhnya. Dengan bersalto ke belakang satu kali, semburan gelombang panas itu terhindar darinya. Melesat mengenai sebatang dahan pohon, dan dahan itu tiba-tiba menjadi kering dalam sekejap.

Putri Alam Baka kelihatan kagum dan bangga melihat serangan itu walaupun meleset, ia berkata kepada Nagadipa, "Desak terus dia. Jangan kasih kesempatan sedikit pun!"

Baru saja diam mulut Putri Alam Baka, tiba-tiba Suto Sinting sudah meraih bumbung tuaknya yang sejak tadi berselempang di punggung. Bumbung itu dipegang bagian talinya dan kini diputar-putarkan di atas kepala.

Wuung...! Wuuung....! Wuuung...!. Bunyi putaran bumbung menggaung bagaikan suara gangsing.

Pada saat itu, tubuh Nagadipa pun ikut berputar-putar tak bisa dikendalikan berhentinya. Tubuh itu makin lama makin cepat berputar dan hampir saja menabrak Putri Alam Baka. Perempuan itu segera melompat ke samping, dan tubuh Nagadipa tertabrak batang pohon besar. Brusss...! Bluggg...! Tubuh itu pun jatuh dalam geram kesakitan dan kemarahan.

"Bangun! Lekas bangun!" sentak Putri Alam Baka kepada Nagadipa.

Dengan perasaan masih pusing, Nagadipa pun berusaha untuk bangkit.

"Lemah sekali kau! Baru menghadapi jurus begitu saja sudah sempoyongan seperti orang mabuk!"

Pendekar Mabuk sengaja melontarkan ejekan, "Bawalah dia pergi. Aku yakin, dia tak tahu arah pulang ke rumahnya, Putri Alam Baka!"

Perempuan itu menggeram marah karena bekas suaminya yang dibanggakan itu dihina oleh Suto. Maka, sambil mencabut serulingnya perempuan itu berkata, "Jangan merasa bangga dengan ilmumu itu, Suto! Tandingilah seruling saktiku ini jika kau berilmu tinggi!"

Tuiiit...! Tulalit, tulalit, tulalit, tuiiii...!

Seruling ditiup dengan suara lengking tinggi, iramanya tak pasti. Kalau tidak buru-buru Suto menutup telinganya dengan kedua tangan, maka gendang telinganya pasti akan pecah. Suara seruling itu ternyata merupakan suara tenaga dalam yang merayap melalui gelombang nada seruling.

Bukan hanya membuat gendang telinga pecah, melainkan juga membuat hidung Suto mulai berdarah. Tubuhnya limbung karena menahan rasa sakit di setiap lubang yang ada pada tubuhnya, termasuk pada mulutnya. Tetapi anehnya, Nagadipa tidak merasakan sakit sedikit pun walau ia tidak menutup telinganya. Ia bahkan berdiri di samping Putri Alam Baka dan memperhatikan Pendekar Mabuk sempoyongan sambil menggeram kesakitan. Darahnya makin banyak keluar dari hidung.

"Bunyikan terus serulingmu biar aku yang menyelesaikannya sekarang juga! Hiaaat...!"

Kedua tangan Nagadipa terangkat dengan gemetar. Setiap kuku tangannya memercikkan bunga api warna biru, bagai tali-tali menyala yang berkeliaran mengelilingi kuku ke kuku, Pendekar Mabuk tak bisa bersiap menghadapi pukulan Nagadipa, karena tangannya mendekap lubang telinga kuat-kuat. Hanya saja, ia masih bisa melihat kelebatan kedua tangan Nagadipa yang mirip gerakan orang memercikkan tangan basahnya.

Craaat...!

Berkilap sinar biru yang menyerupai benang-benang menyala itu. Melesat sinar itu ke arah Suto. Dengan cepat kaki Suto menjejak ke tanah dan melompat lima langkah ke samping kanannya. Brukk...! Ia jatuh di sana dan melompat lima langkah ke samping kanannya. Brukkk...! Ia jatuh di sana sambil berguling dan tetap mendekap telinga.

Bleger...!

Suara ledakan menggema keras akibat cahaya biru dari kuku-kuku Nagadipa itu mengenai sebatang pohon yang tadi ditumbangkan oleh Pendekar Mabuk. Pohon itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbentuk sedikit pun.

Tulalit, tuiiit... tuiit... tulaliiiit... tuiit...!

Seruling semakin nyaring. Kepala Pendekar Mabuk bagaikan mau pecah rasanya. Ia menahan tangisnya kuat-kuat untuk menutup telinga agar tak ditembus suara seruling itu. Sementara darah sudah mulai banyak keluar dari lubang hidung, sudut mata dan mulut. Ia terpisah dari bumbung tuaknya, sehingga ia tidak bisa meggunakan bumbung itu untuk menangkis atau melawan serangan Nagadipa dan Putri Alam Baka.

Pendekar Mabuk berdiri dengan lututnya sambil mulutnya ternganga menahan rasa sakit di kepala. Pada waktu itu ia melihat Nagadipa melepas tudungnya, dan melingkari tudung itu dengan jari tangannya. Maka, tudung itu tersebut menjadi menyala biru.

"Mampuslah kau sekarang, murid sinting! Hiaaat...!" Nagadipa melemparkan tudung itu ke arah Pendekar Mabuk.

Wusss...!

Suto Sinting yang dalam keadaan tak bisa menghindar dan menangkis serangan itu akhirnya menyentakkan napasnya dari mulut.

"Hahhh...!"

Wuuuoosss...!

Terlepaslah badai topan yang begitu mengganas menyerang Nagadipa dan Putri Alam Baka. Sentakan napas Pendekar Mabuk itu tak seberapa keras, tapi telah membuat tubuh Nagadipa terlempar jauh, lebih dari sepuluh langkah, sedangkan Putri Alam Baka terlempar lebih jauh, bahkan sampai terseret-seret dan berdarah. Pohon besar meliuk nyaris tumbang. Sedangkan pohon yang berukuran sedang telah rubuh ke tanah. Beberapa pohon berukuran satu pelukan tangan lebih sedikit, tumbang dengan akarnya terangkat naik, bahkan terseret ke mana-mana, menghantam apa saja yang ada hingga dahannya menjadi retak, patah tak karuan.

Gerakan pohon yang patah itu menghantam pula tubuh Nagadipa beberapa kali. Orang itu berusaha berpegangan pada salah satu akar pohon yang tumbang. Tapi karena kuatnya pegangan, pohon itu justru ikut terseret menjauhi Suto. Akhirnya pegangan tangan itu terlepas, Nagadipa terguling-guling. Tudungnya entah ada mana. Sedangkan Putri Alam Baka pun entah ke mana.

Badai topan yang datang begitu mengerikan. Sepertinya bumi akan terbelah, langit akan runtuh. Seketika itu pula kabut hitam mendung menggantung di angkasa. Gumpalan-gumpalan kabut itu meliuk-liuk bagai ada topan dahsyat di atas sana. Matahari tertutup oleh kabut tebal yang bergulung-gulung mengerikan. Suara gemuruh tak jelas dari jenis apa saja. Binatang-binatang hutan saling berjeritan membuat suasana alam menjadi semakin gaduh dan riuh.

Beberapa saat kemudian, badai menjadi reda. Sedikit demi sedikit kabut hitam di angkasa itu menyisih, cahaya matahari kembali tampak menyinari bumi. Suara gemuruh gaduh pun mulai reda. Suto berdiri dengan mata terbelalak tak berkedip. Ia sama sekali tak menyangka kalau sentakan napasnya menjadi sedemikian dahsyat dan mengerikan. Bumi seperti habis dilanda kiamat setempat.

Bahkan Suto melihat tanah yang longsor pada sebuah lereng. Ada yang terbongkah dari keadaan aslinya. Batu-batu yang semula terpendam di tanah dan hanya muncul di permukaan sedikit itu juga ada yang terpental keluar dan menggelinding jauh dari tempat awalnya. Entah berapa yang tumbang dan rusak berat akibat badai dahsyat tadi. Bahkan pohon besar pun sampai sekarang masih meliuk dan tak bisa kembali tegak dari posisinya semula.

"Pusaka Tuak Setan...?!" gumam Suto menjadi tegang dan ngeri sendiri. "Aku telah menghempaskan napasku, dan napas itu adalah napas Tuak Setan! Oh, mengerikan sekali?! Lantas bagaimana nasib Nagadipa dan Putri Alam Baka...?! Di mana mereka?!"

* * * 

LIMA
PUTRI Alam Baka ditemukan oleh Maharani dalam keadaan sangat menyedihkan. Maharani, satu dari beberapa orang yang lolos dalam peristiwa 'Murka Sang Nyai' itu, baru saja tiba dari Pulau Hantu untuk menemui si Mawar Hitam, tokoh sesat yang sebetulnya sudah tidak ingin turun ke rimba persilatan kecuali berhadapan dengan Bidadari Jalang.

Maharani sungguh terkejut dan menjadi berang melihat teman seperguruannya dalam keadaan terkoyak-koyak sekujur tubuhnya. Mata kakinya remuk karena terhimpit batu besar, serulingnya pecah dalam genggaman sendiri, darah membungkus seluruh bagian tubuh Putri Alam Baka, hingga hampir-hampir wajahnya tak dikenalinya lagi. Jika tak melihat seruling pecah di tangannya, Maharani tak dapat mengetahui siapa tubuh yang terkapar berlumur darah itu.

"Sumbi!" panggil Maharani menyebut nama asli Putri Alam Baka. "Apa yang terjadi si sini, Sumbi? Mengapa jadi begini?!"

Putri Alam Baka masih punya sisa napas walau sejengkal. Matanya yang kiri nyaris keluar dari rongganya, namun mata yang kanan masih bisa dipakai untuk melihat walau hanya terbuka kecil sekali. Bibirnya yang hancur karena benturan dengan benda keras beberapa kali itu mencoba bergerak-gerak untuk bicara. "Oh, Sumbi... tak bisakah kau bicara lebih jelas lagi?"

Maharani terpaksa dekatkan telinga ke mulut Putri Alam Baka. Samar-samar terdengar Putri Alam Baka ucapkan kata, "Su... to...!"

Setelah itu ada napas kecil yang terlepas dari mulut Putri Alam Baka. Lepasnya napas itu bersamaan dengan tergoleknya kepala ke samping. Lemas dan lunglai. Setelah itu, tak ada lagi gerakan maupun suara dari Putri Alam Baka.

"Sumbi!" seru Maharani menyentak dalam nada tegang. "Sumbi! Apa maksudmu dengan Suto?! Jawablah, Sumbi! Sumbiii...!"

Maharani guncangkan tubuh berlumur darah itu. Tapi si pemilik tubuh tetap diam membisu tanpa napas sedikit pun. Lalu, meraunglah tangis Maharani begitu menyadari temannya sudah tidak bernyawa lagi. Hati Maharani diguncang duka dan kemarahan yang begitu hebat. Tak tahu pasti apa penyebab kematian satu-satunya teman yang tersisa dari perguruannya, Maharani mengamuk tanpa arah dan sasaran.

Hanya batang-batang pohon, bongkahan-bongkahan batu, dan benda-benda di sekitarnya yang menjadi sasaran kemarahan Maharani. Benda-benda itu dihancurkan dengan pukulan dan tendangan bertenaga tinggi. Senjata kipasnya pun ikut ambil bagian menghantam ke sana-sini hingga timbulkan suara ledakan yang menggetarkan tanah sekitarnya.

"Hentikan! Hentikan!" seru seseorang dengan suara gemetar.

Maharani cepat palingkan wajah dengan napas terengah-engah. Ia segera kenali orang yang tanpa tudung lagi namun masih berpakaian abu-abu itu. Pakaiannya compang-camping bagai habis dikoyak cakar beruang. Kulit tubuhnya pun terluka banyak, seolah habis dirobek-robek oleh dua ekor harimau jantan. Orang berkumis dan berambut banyak uban itu tak lain adalah Nagadipa.

Maharani tertegun melihat keadaan Nagadipa seperti itu. Setahunya, Nagadipa orang berilmu tinggi yang jarang bisa dilukai oleh lawan. Tapi mengapa sekarang keadaan lukanya sedemikian parah? Maka, Maharani pun segera ajukan tanya kepada Nagadipa yang berdiri dengan bersandarkan tubuh pada pohon yang masih tegak berdiri.

"Apa yang terjadi, Nagadipa?! Mengapa bumi bagaikan habis dilanda banjir dan badai yang buas begini? Mengapa Putri Alam Baka menderita luka sebegitu parahnya hingga tak bernyawa lagi?!"

"Bawalah aku pergi ke tempat yang aman. Lekas! Nanti kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku butuh tempat aman untuk mengobati luka-lukaku ini, Maharani!"

"Nagadipa "

"Bawalah aku! Tenagaku tak kuat lagi untuk bertahan!"

Tak ada pilihan lain buat Maharani. Ia harus segera membawa Nagadipa pergi. Tempat yang dipilihnya juga tak ada yang lain kecuali ke tempat asal Nagadipa, yaitu sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Bangkai.

Pendekar Mabuk melihat kelebatan Maharani yang membawa pergi Nagadipa. Tapi Pendekar Mabuk sengaja tidak mengejarnya. Ia masih ingin memeriksa keadaan alam sekitarnya, sejauh mana bencana yang ditimbulkan oleh kekuatan dahsyat dari napas Tuak Setan.

Sebenarnya Pendekar Mabuk sudah sering mendengar akibat yang ditimbulkan dari napas Tuak Setan. Tapi untuk kali ini Suto benar-benar merasa heran dan juga menyesal. Karena pada waktu ia sentakkan napas dari mulutnya, ia tidak bermaksud melepaskan Pusaka Tuak Setan dari dalam napasnya itu. Ia menyentakkan napas karena ingin membuang rasa sakit yang tak tertahankan lagi, yang ditimbulkan akibat suara seruling Putri Alam Baka itu.

Terngiang kembali ucapan gurunya, si Gila Tuak, saat membicarakan tentang Pusaka Tuak Setan, "Orang yang menelan atau meminum Pusaka Tuak Setan, akan mempunyai napas yang luar biasa dahsyatnya. Sedikit napas tersentak dari mulut orang yang diliputi kemarahan, maka badai topan yang amat dahsyat akan menghembus keluar dan memporak-porandakan alam sekitarnya. Karena itu, aku tak berani menggunakan Pusaka Tuak Setan, karena aku masih sering dihinggapi amarah yang walau dipendam tetap akan menghasilkan napas badai yang dapat membawa korban tak bersalah."

Korban tak bersalah memang ada. Bukan harus dalam wujud manusia, tapi hancurnya sebidang tanah hutan juga bisa digolongkan sebagai korban tak bersalah. Binatang-binatang hutan yang mati tergencet pohon, atau pecah terbentur benda keras dengan kekuatan tinggi, juga sebagai korban tak bersalah.

Pendekar Mabuk bergidik sendiri melihat seekor babi hutan pecah kepalanya di dekat bongkahan batu besar. Kulit babi hutan itu tercabik-cabik terkelupas dari tubuhnya. Pohon-pohon hutan bagaikan rata dengan tanah. Ambruk tak tertolong lagi. Akar-akar pohon terpental keluar dari dalam bumi. Persawahan pun hancur lebur tak berbentuk barisan tanaman padi lagi. Badai yang ganas itu untung tak sampai memporak-porandakan sebuah desa yang letaknya jauh dari lereng bukit itu.

Namun dari tempat Suto berdiri, ia melihat sebatang pohon kelapa tumbang dan beberapa genteng melorot dari atap. Suto pun segera lari ke desa untuk melihat lebih jelas lagi. Ternyata memang tidak ada korban manusia di sana kecuali dua ekor kerbau yang sedang dilepas di tepian sawah dekat tanah lapang. Dua ekor kerbau itu masing-masing dalam keadaan kepala pecah dan tubuh terkoyak-koyak. Dua ekor kerbau itu mati dalam keadaan telentang, keempat kakinya mengeras ke atas.

Dari percakapan orang-orang desa itu terpetik satu kesimpulan dalam benak Suto, bahwa mereka hanya mengalami rasa takut yang begitu hebat. Bahkan ada yang menyangka langit akan rubuh dan bumi akan mengalami kiamat. Kerugian yang ditimbulkan dan diderita oleh penduduk desa itu tak seberapa banyak, kecuali pemilik dua ekor kerbau yang genteng atap rumahnya hampir melorot semua. Kepada pemilik dua ekor kerbau itu, Suto memberikan sejumlah uang sebagai ganti ruginya.

"Uang untuk apa itu, Anak Muda?"

"Terimalah saja, Pak. Kurasa cukup untuk membeli dua ekor kerbau dan membenahi genteng rumahmu."

Pendekar Mabuk memang tidak jelaskan apa yang terjadi dan apa yang menjadi penyesalannya. Mereka belum tentu mau percaya dengan omongan Suto Sinting. Buatnya yang penting sudah menebus penyesalan itu dengan memberikan uang ganti rugi secukupnya kepada korban tak bersalah.

"Mudah-mudahan jangan lagi aku menggunakan napas Tuak Setan-ku ini. Aku harus bisa mengendalikan amarahku dan menahan diri untuk tidak melampiaskan amarah dengan hembusan napas. Kalau tidak sangat terpaksa dan tak punya jalan lain, jangan lagi kugunakan napas Tuak Setan-ku ini! Kasihan mereka yang tak bersalah menjadi korban keganasan napas Tuak Setan!" pikir Suto sambil langkahkan kaki meninggalkan desa itu. Ia ingin memeriksa alam di sisi lain, barangkali ada korban lain yang menderita akibat amukan badai dahsyat dari napas Tuak Setan-nya itu.

Tiba di pinggiran sungai bertanggul tinggi, langkah Suto terhenti seketika karena anak panah yang meluncur cepat dan jatuh menancap tanah di depan langkahnya. Secara gerak naluri Pendekar Mabuk melenting ke atas dan bersalto mundur satu kali. Kemudian setelah sepasang kakinya tegak berdiri di atas sebuah batu besar yang tingginya dua depa dari tanah, Suto memandang arah datangnya anak panah itu.

Ternyata dari atas tanggul, dan diluncurkan dari busur seorang lelaki kerdil berambut jarang. Bagian tengah kepalanya tak ditumbuhi rambut sedikit pun. Botak polos dan mengkilap. Tapi dari bagian atas telinga memutar sampai di telinga satunya lagi ditumbuhi rambut sedikit lebat. Panjangnya kurang dari batas pundak. Karena tak terlalu lebat, rambut itu seolah-olah bisa dihitung jumlahnya.

Lelaki kerdil yang tingginya sebatas perut Suto itu melompat dengan gerakan lincah dan ringan. Dari atas tanggul ia bersalto turun dua kali. Kejap selanjutnya ia sudah berdiri di depan Suto. Kepalanya mendongak keatas, karena di samping Pendekar Mabuk lebih tinggi, juga karena keadaan Pendekar Mabuk saat itu di atas batu tinggi. Ia berseru dengan tangan masih menggenggam busur panah, sedangkan tempat menaruh anak panah lainnya ada di punggung. Tempat menaruh anak panah itu terbuat dari kulit berbentuk kantung panjang warna hitam kecoklatan, mempunyai tali pengait yang membuat anak panahnya tidak jatuh berantakan walau dipakai jungkir balik diudara.

"Kaukah yang... yang... namanya Sut... Suto?!" serunya sambil menyunggingkan senyum yang lebih tepat dikatakan sebagai seringai yang konyol.

Suto melompat turun dari atas batu. Wuuttt...! Kejap berikut ia sudah berada di depan lelaki kerdil yang bertampang tua itu. Dilihat dari ketuaan wajahnya, Suto menduga lelaki itu berusia antara lima puluh tahun lebih, namun belum sampai enam puluh tahun. Cukup waspada Suto memperhatikan gerak-gerik orang aneh itu.

Yang diperhatikan ternyata tidak menimbulkan kesan bermusuhan. Orang itu mencabut anak panahnya yang tadi menancap di tanah sambil berlari-lari diiringi bibir yang cengar-cengir. Kemudian kembali menemui Suto setelah mendapatkan anak panahnya.

"Siapa kau, Pak Tua?"

"He he he... ja... jawab du... dulu pertanyaanku! Kau... kau yang bernama Sut... Sut... Suto?"

"Ya. Aku Suto, murid sinting si Gila Tuak!" jawab Suto dengan tegas sambil tetap pandangi orang kerdil berpakaian serba putih dari bahan kulit binatang berbulu putih. Bentuk celananya pendek, bentuk bajunya mirip rompi panjang. Semuanya dari kulit binatang, yang menurut dugaan Suto adalah kulit beruang putih. Di pinggang orang itu terselip dua pisau bersarung yang panjangnya satu setengah jengkal. Masing-masing ada di pinggang kiri dan kanan.

"Sen... senang sekali aku bis... bisa bertemu denganmu, Suto!"

Dalam hati Pendekar Mabuk membatin, "Orang ini bicaranya tersendat-sendat. Apakah karena dia gugup bertemu denganku atau karena memang begitulah lagak bicaranya?"

Orang itu segera ucapkan kata lagi, "Nam... nam... namaku... Gatra Laksana, tap... tapi julukanku... Dewa Racun!"

Pendekar Mabuk akhirnya tertawa seperti orang menggumam, ia merasa geli sendiri melihat Dewa Racun bicaranya seperti orang tertelan biji kedondong.

Dan melihat Suto tertawa, Dewa Racun kerutkan dahi dalam tatap matanya yang sedikit menyipit itu. "Ken... ken... kenapa kamu ter... ter... tertawa?"

"Aku menertawakan diriku sendiri. Alangkah bodohnya aku ini, tak bisa mengenali tokoh tua yang berjuluk Dewa Racun," jawab Suto mengalihkan anggapan, walau sebenarnya ia memang tak kenal dan belum pernah mendengar nama Dewa Racun.

Mendengar jawaban itu, Dewa Racun tampaknya tak jadi tersinggung, ia segera ucapkan kata gagapnya, "Kal... kal... kalau begitu, kau termasuk or... orang beruntung."

"Mengapa beruntung?"

"Kar... karena kau sekarang sudah bisa mengenal dan berhadapan langsung de... dengan... Dewa Racun!"

"Apa hebatnya orang ini sehingga aku dianggap beruntung bisa berhadapan dengan Dewa Racun?!" pikir Suto.

Dewa Racun berkata lagi, "Nam... namamu juga cuk... cuk... cuk"

"Cukur?!" sahut Suto

"Bukan. Cuk... cukup dikenal di kalangan rim... rimba persilatan. Ak... aku dengar kau murid si Gila Tuak yang cuk... cukup terkenal itu. Dan... dan... aku dengar kau cari-cari pe... pe"

"Penyamun?!"

"Bukan. Perempuan! Ya, aku dengar kau cari-cari pe... perempuan yang ber bernama Dyah Sariningrum."

Tersentak kaget Pendekar Mabuk mendengarnya. Senyumnya hilang seketika begitu mendengar nama Dyah Sariningrum disebutkan oleh Dewa Racun. Ia maju setindak dan rendahkan badan, setengah jongkok di depan Dewa Racun agar wajahnya sejajar dengan wajah si kerdil itu. "Apakah kau mengenal Dyah Sariningrum?"

"Ya. Ak... aku kenal nama itu," jawab Dewa Racun. "Tap... tap... tapi aku tidak tahu siapa dia dan di mana dia."

"Dari siapa kau tahu nama Dyah Sariningrum?"

"Dar... dar... dar... dar..."

"Cepat katakan! Jangan hanya main dar-daran saja?!" sentak Suto tak sabar.

"Maksudku, dar... dari mulut Peramal Pikun!"

Pendekar Mabuk tertegun sejenak, ia berdiri dari jongkoknya. Terbayang wajah bermata cekung bertubuh kurus kering milik Peramal Pikun. Suto hampir saja melupakan seraut wajah pikun. Dialah orang yang menjadi kunci tentang rahasia nama Dyah Sariningrum. Tapi apa perlunya Peramal Pikun memberitahukan kepada Dewa Racun? "Apa maksudmu menemuiku, Dewa Racun?" tanya Suto. "Bukankah kau tidak mengenal siapa Dyah Sariningrum kekasihku itu, dan tidak tahu di mana dia berada?"

"Ya. Tap... tap.... Tapi aku disuruh Peramal Pikun untuk mencarimu. Dia... dia dalam keadaan sakit parah kar... karena... sebutkan nama Dyah Sariningrum di depanku."

Pendekar Mabuk kerutkan dahinya tajam-tajam, ia dekatkan kembali wajahnya kepada Dewa Racun dengan bungkukkan badan. "Dia sakit parah karena sebutkan nama Dyah Sariningrum?"

"Ya. Dia... tak boleh sebutkan nama itu, bah... bahkan mendengar nama itu pun dia tak tak boleh. Telinganya akan ber... ber"

"Berkumis?"

"Bukan. Akan ber... berdarah jika mendengar nam... nama Dyah Sariningrum. Sewaktu ia lup... lupa sebutkan nama itu di depanku, ia langsung meng... meng..."

"Menghilang?!"

"Bukan, ia langsung mengeluarkan darah dari mul... mulutnya. Dia langsung ter... ter... ter... terluka dalam. Dia but... butuh bantuanmu secepatnya, Suto!"

"Aneh! Mengapa dia jadi terluka dan berdarah begitu? Apa hubungannya antara nama Dyah Sariningrum lengan lukanya itu?"

"Entahlah! Yang... yang... yang jelas dia minta kau segera da datang menemuinya!"

Suto menarik napas panjang, ia ambil bumbung tuak, dan menenggak tuaknya beberapa teguk. Dewa Racun hanya memperhatikan dengan senyum-senyum tak ada manisnya sama sekali, tapi tidak berkesan bermusuhan.

"Apa hubunganmu dengan Peramal Pikun?" tanya Pendekar Mabuk mengawali langkahnya mendaki tanggul sungai yang tinggi itu.

"Hanya sebagai te... te... tetangga, eh... bukan! Hanya sebagai teman biasa. Teman baik. Dul... dulu dia pernah tolong aku dan aku pun pernah selamatkan nyawanya dari bahaya racun. Sejak itu ka... kami mengikat tali persahabatan yang cuk... cuk cukup baik."

"Hmmm...!" Pendekar Mabuk menggumam sambil manggut-manggut. Terbayang lagi dalam benak Suto Sinting wajah seorang perempuan yang pertama kali hadir di alam semadinya itu. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan).

Wajah cantik yang muncul di alam semadinya itu membuat Suto mencucurkan air mata berdarah. Cucuran air mata berdarah itu tidak disadari olehnya, namun dipahami oleh gurunya, si Gila Tuak. Sejak itu, wajah yang mengaku bernama Dyah Sariningrum itu sering hadir di alam mimpi Pendekar Mabuk dan membuat Pendekar Mabuk sering dicekam rindu.

Itulah sebabnya Suto tak bisa menerima cinta Betari Ayu, karena ia sudah telanjur jatuh cinta pada seraut wajah milik Dyah Sariningrum. Sayang sekali si Gila Tuak juga tidak menjelaskan, siapa perempuan itu dan di mana letak persinggahannya. Si Gila Tuak hanya mengatakan, bahwa wajah yang hadir di alam semadinya Suto Sinting itu adalah calon jodoh Suto.

Itulah sebabnya Pendekar Mabuk memburu seraut wajah cantik bernama Dyah Sariningrum dengan seribu godaan yang datang dari perempuan-perempuan cantik lainnya. Perempuan-perempuan itu terang-terangan jatuh cinta kepada Suto sampai siap korbankan nyawa, tapi Suto tetap tak bisa menerima cinta dari perempuan.

Sikap Suto Sinting yang menutup diri terhadap cinta perempuan lain itulah yang membuat mereka jadi kecewa. Yang dulunya cinta kepada Suto, sekarang berubah menjadi benci. Tetapi Pendekar Mabuk tidak mengetahui adanya perubahan sikap mereka. Suto Sinting tidak tahu bahwa jiwanya sedang dalam ancaman tiga perempuan patah hati, yaitu Peri Malam, Selendang Kubur, dan Perawan Sesat.

Satu dari tiga perempuan patah hati itu sengaja menghadang langkah Suto. Sebuah pukulan tenaga dalam dilancarkan dari jarak jauh. Pukulan itu hanya sebagai pengganggu langkah saja, tidak bermaksud menghabisi nyawa Pendekar Mabuk saat itu juga. Pukulan tersebut segera dihadang dengan kelebatan tubuh kerdil Dewa Racun yang melompat cepat di depan Suto. Lalu dengan sentakkan tangan kirinya, Dewa Racun menghantam kilatan cahaya hijau yang menuju ke arah Suto.

Wuugh...! Duub...! Kedua tenaga dalam itu beradu di udara.

Blarr...!

Meledaklah benturan tenaga dalam tersebut, membuat Dewa Racun terpental ke belakang membentur Suto, membuat keduanya berjumpalitan di tanah.

"Apa-apaan kau ini, Dewa Racun!" sentak Pendekar Mabuk sedikit dongkol karena matanya hampir tercolok busur di tangan Dewa Racun.

"Ada yang... yang... yang ingin menghantammu dari tempat jauh!"

"Aku tahu. Tapi aku bisa atasi sendiri. Tak perlu kau yang menghalangi pukulan itu."

"Ak... aku... cuma mau selamatkan kam... kam..."

"Kambing?!" sentak Suto.

"Kamu!" Dewa Racun ganti membentak.

Keduanya segera tegak berdiri, karena dari atas pohon meluncur sesosok tubuh berambut acak-acakan. Siapa lagi dia kalau bukan Perawan Sesat yang bertampang liar dan beringas itu. Dewa Racun segera berkata kepada Pendekar Mabuk, "Ad... ada... ada perempuan can... can... can..."

"Cantengan?!" sergah Suto Sinting menebak.

"Hmmm... iya," jawab Dewa Racun. "Perempuan cantik yang mungkin berpenyakit cantengan, menghadang langkah kita. Ap... apa maksudnya ak... aku tidak tahu. Sumpah, aku tidak tahu!"

"Siapa yang menuduhmu tahu maksudnya? Tak perlu pakai sumpah segala!" sentak Suto agak dongkol dengan sikap gagapnya Dewa Racun. Kemudian, Pendekar Mabuk maju setindak dan berkata kepada Perawan Sesat. "Apa maksudmu menghadang langkahku, Perawan Sesat?!"

Dengan mata tajam bersikap bermusuhan, Perawan Sesat menjawab, "Aku hanya ingatkan kamu, dua hari lagi purnama tiba!"

"Apa maksudmu dengan purnama tiba?"

"Kau punya janji pertarungan dengan Manusia Sontoloyo yang bernama Dirgo Mukti itu! Apakah kau masih ingat dengan pertarungan yang akan terjadi di Bukit Jagal itu?"

Pendekar Mabuk tertawa berkesan meremehkan. "Ya, ya... sekarang aku ingat. Hampir saja aku lupa kalau aku mendapat tantangan dari Dirgo Mukti. Tapi... sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Masalahnya tidak penting dipertarungkan!"

"Buat Dirgo Mukti kau punya urusan dengannya yang amat penting! Menentukan siapa yang berhak menerima cinta Peri Malam, itu adalah masalah yang sangat penting buat Dirgo Mukti!"

Sekali lagi Suto lontarkan tawa meremehkan. "Bilang kepada Dirgo, suruh dia ambil perempuan itu. Aku tak akan mempertahankannya!"

"Hmm... kau takut menghadapi tantangan itu rupanya."

"Ya. Aku memang takut. Takut membunuhnya. Kasihan dia kalau harus mati sia-sia di tanganku. Kasihan tanganku kalau harus membunuh orang yang tidak punya masalah penting denganku!"

"Hadapilah dia kalau kau memang murid sinting si Gila Tuak! Aku hanya mengingatkan saat pertarunganmu itu, Suto!"

"Aku tidak akan hadir!"

"Harus hadir! Jangan kecewakan musuhmu, Suto! Jangan jatuhkan martabat gurumu yang kesohor sebagai orang sakti di papan teratas!" bujuk Perawan Sesat.

"Pertarungan itu tidak penting, Perawan Sesat! Aku tidak mau terlibat urusan yang sangat sepele!"

"Kalau begitu, lepaskan gelar kependekaranmu biar Dirgo Mukti yang menyandangnya!"

Suto hanya tersenyum heran sambil geleng-gelengkan kepala, ia ucapkan kata pelan tapi penuh tatap pesona yang membuat hati Perawan Sesat berdebar keras. "Mengapa kau harus mendesakku bertarung melawan Dirgo Mukti? Apakah kau punya dendam dengan Dirgo Mukti dan ingin meminjam tanganku untuk membunuhnya? Apakah kau tak mampu membunuh Dirgo Mukti sendiri?"

"Jangan picik otakmu, Suto Sinting! Ini bukan soal dendam. Ini soal harga diri, antara harga dirimu dengan harga diri Dirgo Mukti!"

"Tidak. Aku tetap tidak mau hadir dalam pertarungan nanti!"

"Kau kalah!"

"Biarlah dianggap kalah! Tapi aku punya kemenangan sendiri di balik kekalahan itu!" kata Pendekar Mabuk dengan tetap tenang.

"Kau harus menghadapinya, Suto!" bentak Perawan Sesat yang merasa jengkel karena bujukannya tidak berhasil.

Akhirnya, Dewa Racun ikut angkat bicara, ia berkata kepada Perawan Sesat sambil bertolak pinggang. "Aku yang akan mewakili Suto! Aku yang akan menghadapi Dirgo Mukti itu!"

"Hmmm...!" Perawan Sesat mencibir sinis, ia sengaja tidak kasih tanggapan terhadap kata-kata orang kerdil itu. Ia segera pergi setelah berkata, "Jangan kecewakan orang-orang yang mencintai dan mengagumi kehebatanmu, Suto. Kami ingin menyaksikan kehebatan orang yang kami puji-puji itu!" Lalu, ia melesat pergi dengan ilmu siluman.

* * *

ENAM
SUNGGUH tak habis pikir Pendekar Mabuk terhadap kemunculan Perawan Sesat. Mengapa perempuan itu begitu besar harapannya agar Suto melaksanakan pertarungan dengan Dirgo Mukti di Bukit Jagal? Pasti perempuan itu mempunyai satu alasan dan tujuan lain yang tersembunyi. Suto merasa bukan hanya ingin ditonton dan dipuji kehebatan pertarungannya nanti, tapi karena ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh Perawan Sesat. Ia merasa dirinya akan dijadikan alat oleh Perawan Sesat, yaitu alat pembantai Dirgo Mukti.

Satu hal lagi yang membuat Pendekar Mabuk heran adalah pembelaan yang dilakukan oleh Dewa Racun, baru saja mereka saling kenal, mengapa Dewa Racun melakukan pembelaan sebesar itu. Saat pukulan tenaga dalam Perawan Sesat hendak menyerang Suto, Dewa Racun cepat ambil sikap menahan dan menghancurkan pukulan tersebut.

Mestinya hal itu tidak perlu ia lakukan. Pada saat Suto ngotot tidak mau melayani tantangan Dirgo Mukti, tiba-tiba Dewa Racun menyediakan diri sebagai pengganti Suto dalam pertarungan nanti. Mestinya Dewa Racun tak perlu ikut campur, toh dia tidak tahu duduk perkaranya tentang pertarungan dan tantangan Dirgo Mukti Itu. Suto sendiri tidak tahu, bahwa sebenarnya Perawan Sesat hanya bertugas mengingatkan saat pertarungan yang sebentar lagi akan tiba itu.

Tiga perempuan patah hati telah menugaskan Perawan Sesat untuk mengingatkan Suto, sementara Peri Malam dan Selendang Kubur bertugas memberi semangat pada Dirgo Mukti. Tetapi, agaknya Perawan Sesat kurang pintar main siasat. Bujukannya terlihat jelas melalui desakan yang bersifat memaksa, sehingga Suto tetap berkeputusan untuk tidak melayani tantangan Dirgo Mukti.

Sementara itu di tempat lain, Peri Malam dan Selendang Kubur tetap memberi bujukan agar Dirgo Mukti bersemangat melawan Suto. Sebelumnya, saat mereka bertiga menunggu kemunculan Dirgo Mukti dan Datuk Marah Gadai dari dasar telaga, mereka sudah atur siasat seperti itu. Mereka sudah menyangka bahwa Dirgo Mukti pasti bertarung melawan Datuk Marah Gadai, karena keduanya sama-sama menyelam ke dasar telaga mencari Cincin Manik Intan.

Tetapi tiba-tiba kedua tubuh mereka tersentak keluar dari dalam telaga dan masing-masing terlempar tak tentu arah. Air telaga bergolak begitu kuat, hingga sebagian airnya tumpah ke samping dan sekelilingnya, mengguyur tubuh tiga perempuan patah hati itu.

Ketiga perempuan itu berpegangan pada pohon karena tubuh mereka terhempas badai kencang dari arah wetan. Bahkan sebagian pohon di dekat telaga ada yang tumbang ke sana kemari. Hal itu terjadi saat Suto Sinting melepaskan napas Tuak Setan-nya tadi. Badai itu ternyata sampai pula di sekitar telaga dan menipis ke arah barat.

"Pasti ada yang menggunakan ilmu kesaktian tinggi!" seru Perawan Sesat kala itu. Ia sendiri hampir terbang terpental oleh hembusan angin badai yang cukup kuat itu. Seruan tersebut tak mendapat tanggapan dari kedua temannya, karena masing-masing sibuk bertahan agar tak ikut terbuang oleh badai keras tersebut.

Pada waktu Dirgo Mukti dan Datuk Marah Gadai terlempar dari dasar telaga, sang Datuk Marah Gadai segera terpental bagaikan kapas tertiup angin. Mungkin karena tenaganya sudah sangat berkurang selama pertarungan dengan Dirgo Mukti yang berlanjut di dasar telaga, hingga ia tak mampu bertahan diri dari hembusan badai. Tubuhnya melayang menerabas semak berduri. Suaranya pun hilang dari pendengaran tiga perempuan patah hati itu.

Dirgo Mukti sendiri sebenarnya juga terhempas ke mana-mana. Mungkin akan lebih jauh terpentalnya dibanding Datuk Marah Gadai. Tetapi, tangan Peri Malam berhasil memegangi kaki Dirgo Mukti yang hampir terbawa terbang hembusan badai dahsyat itu. Sambil berpegangan pada pohon, Peri Malam mempertahankan tubuh Dirgo Mukti yang merayap-rayap bagaikan buaya tanpa kaki.

"Bantu aku menahan tubuhnya!" teriak Peri Malam saat itu, dan Selendang Kubur pun menahan pundak Dirgo Mukti dengan kedua kakinya. Pundak itu tak bisa maju karena mendapat tahanan dua kaki dari depan, sedangkan kedua tangan dan pundak Selendang Kubur menahan diri ke salah satu batang pohon. Ia pun bertahan sekuat tenaga agar tidak ikut terlempar oleh hembusan angin badai yang menggila itu.

Saat-saat berikutnya, badai itu reda. Suasana di sekitar telaga persis bumi yang habis mengalami kiamat, itulah kekuatan dahsyat dari napas Tuak Setan. Padahal dari tempat Pendekar Mabuk hembuskan napas itu sampai ke Telaga Manik Intan jaraknya cukup jauh. Memakan waktu setengah hari untuk berjalan menuju kesana. Tapi toh badai napas Tuak Setan sempat bikin gaduh di sekitar telaga itu.

Mereka tidak tahu, pada saat badai mengamuk di sekitar telaga, keadaan di tempat Suto sudah kembali tenang. Jadi bentuk badai itu bergulung-gulung yang makin lama semakin tipis gulungannya dan semakin pudar hembusannya. Kalau saja mereka tahu, badai sedahsyat itu datang dari mulut Suto, sudah pasti mereka urungkan niat untuk mengadukan kesaktian Dirgo Mukti dengan Suto. Dan karena mereka tidak tahu hal itu, maka mereka pun akhirnya tetap membujuk Dirgo Mukti untuk melaksanakan janji pertarungannya dengan Suto Sinting. Waktu itu, suasana sudah reda dan tenaga mereka sudah pulih seperti sediakala. Dirgo Mukti berkata kepada Peri Malam.

"Tenagaku terkuras habis melawan Datuk Marah Gadai itu! Rasa-rasanya aku harus menunda pertarungan sampai purnama mendatang!"

"Itu sama saja kau mengakui kekalahanmu, Dirgo! Dan berarti Suto-lah yang berhak memiliki cintaku," kata Peri Malam mempengaruhi pikiran Dirgo Mukti.

"O, tidak! Kau tidak akan kuserahkan kepada Suto Sinting! Kau harus kumiliki, Peri Malam!"

"Jika kau ingin memiliki aku, kau harus tunjukkan kesaktianmu di depanku dengan mengalahkan Pendekar Mabuk di pertarungan nanti!"

Dirgo Mukti tarik napas panjang-panjang. Matanya menerawang dalam satu renungan pertimbangan. Pada saat itu, Selendang Kubur segera angkat bicara dari samping kanan Dirgo Mukti,

"Aku pun bertaruh untuk dirimu, Dirgo. Kau pasti menang melawan Suto, dan aku siapkan hadiah untukmu yang sangat istimewa!"

Cepat-cepat Dirgo Mukti palingkan wajah, memandang Selendang Kubur dengan senyum berseri, "Hadiah istimewa apa yang akan kau berikan padaku jika aku menang melawan Suto Sinting?"

Mata Selendang Kubur melirik nakal sambil ia berkata, "Apa yang kau harapkan dariku selama ini akan kuberikan padamu!"

"Betulkah?!" Dirgo Mukti kian berbinar-binar matanya.

"Ya. Aku hanya ingin menyerahkan tubuhku pada laki-laki yang benar-benar jantan dan perkasa sebagai seorang pendekar!"

Perawan Sesat segera lontarkan kata sambil berdiri di depan Dirgo Mukti, memamerkan belahan dadanya, merenggangkan kedua kakinya dengan senyum menggoda. "Rasa-rasanya aku juga perlu kasih hadiah kepada siapa yang unggul dalam pertarungan nanti!"

"Kau...?! Kau juga akan kasih hadiah yang sama seperti Selendang Kubur?"

"Kurasa kau pernah merasakannya, Dirgo! Tapi yang tempo hari kau rasakan itu belum istimewa. Kau akan memperoleh yang paling istimewa jika bisa kalahkan Suto Sinting!"

"Oh, menyenangkan sekali...?!" si Manusia Sontoloyo berseri-seri dan lebih bersemangat lagi.

Peri Malam berkata kepada Perawan Sesat, "Cari Suto, ingatkan padanya tentang pertarungan di Bukit Jagal, supaya dia tidak lupa, dan supaya Dirgo Mukti tidak kecewa atas ketidakhadirannya nanti!"

"Aku akan cari dia dan akan kuingatkan demi pendekar pujaan kita itu, Peri Malam!" kata Perawan Sesat, lalu ia cubitkan tangannya di pipi Manusia Sontoloyo. Setelah itu, segera tinggalkan tempat untuk mencari Pendekar Mabuk.

Pada saat itu, Dirgo Mukti sempat ucapkan kesangsiannya, "Tapi aku belum menguasai jurus 'Cakar Naga'? Mana bisa aku mengalahkan dia?"

"Kau pasti punya jurus simpanan lainnya!" sahut Selendang Kubur. "Gunakan jurus-jurus intimu. Keluarkan ilmu-ilmu simpananmu. Jangan tanggung-tanggung kalau melawan Pendekar Mabuk. Dia juga tak pernah tanggung-tanggung gunakan ilmunya!"

Peri Malam menimpali, "Bila perlu, gunakan pusaka kapakmu itu! Aku yakin Pendekar Mabuk tak akan mampu menandingi kesaktian kapakmu itu!"

Dirgo Mukti semakin sombong hatinya. Kepalanya bagaikan bengkak mendapat sanjungan seperti itu. Lalu, ia cabut senjata kapaknya dan ia amat-amati beberapa saat. Kapak bermata dua itu mempunyai ujung mata tombak yang bisa melesat memburu sasaran dan tumbuh lagi mata tombak lainnya dari dalam gagang. Kapak itu mempunyai gagang yang bisa ditarik dan menjadi rantai sehingga bisa dipakai menebas leher dari jarak dua tindak atau tiga langkah didepannya.

"Seharusnya Datuk Marah Gadai sudah kuhabisi nyawanya pakai kapakku ini! Kenapa aku jadi lupa pada pusaka sendiri?!"

"Itu tak perlu. Melawan Datuk Marah Gadai tidak harus pakai kapak pusakamu! Tidak terhormat rasanya jika kapak itu kau gunakan untuk melawan Datuk Marah Gadai. Akan lebih terhormat lagi jika kau gunakan untuk membunuh Suto Sinting! Kurasa hanya kapak ini yang bisa menandingi semua ilmu Pendekar Mabuk!" kata Peri Malam yang membuat hati Dirgo Mukti menjadi semakin berbunga-bunga.

"Kurasa kau perlu istirahat banyak, Dirgo," kata Selendang Kubur dengan senyum manisnya. "Jangan buang-buang tenaga sebelum hari pertarungan tiba. Mari kuantar pulang ke Pantai Saru. Kau perlu persiapkan diri di sana."

"Kau akan menemaniku di sana sebelum pertarungan tiba?"

"Ya, aku dan Peri Malam akan mendampingi masa istirahatmu!"

"Dan... dan akan berikan kehangatan padaku di sana?"

Peri Malam cepat menjawab, "Kehangatan itu akan tiba jika kemenanganmu tergenggam di tangan. Kurasa Perawan Sesat juga akan memberikan kehangatan yang lebih indah lagi setelah kau berhasil membunuh Suto Sinting!"

Selendang Kubur menambahkan kata, "Kau akan memperoleh kemenangan ganda, Dirgo! Selain namamu jadi cepat dikenal di rimba persilatan sebagai seseorang yang mampu mengalahkan murid si Gila Tuak, juga kau akan memperoleh kemenangan batin yang luar biasa tingginya, yaitu memperoleh tiga istri sekaligus!"

"Tiga istri?! Waaah..., ha ha ha ha...!" Dirgo Mukti tertawa kegirangan. Kedua perempuan itu dirangkulnya kanan-kiri. Kedua perempuan itu juga membiarkan dicium wajahnya oleh Dirgo Mukti yang tampak jelas serakah dengan kemesraannya.

Di Pantai Saru, ketika malam hadirkan sunyi, Perawan Sesat renungkan diri, duduk di atas bebatuan tak berlumut. Satu persatu Peri Malam dan Selendang Kubur mendekat, lalu mereka saling bergunjing tentang Suto.

Perawan Sesat yang mengawali percakapan itu. "Lain kali jangan aku yang harus temui Pendekar Mabuk sendirian."

"Mengapa?" tanya Peri Malam.

"Aku tak tahan memandang matanya. Gairahku terbakar dan rasa cintaku meletup-letup jika bertatap muka dengannya."

"Apakah kau masih tertarik pada Suto?"

"Justru karena aku masih punya rasa cinta, maka aku harus menghadirkannya jika inginkan kematiannya!" kata Perawan Sesat sambil menatap Peri Malam.

Tapi, Selendang Kubur segera angkat bicara, "Dasar perempuan binal!"

Sreeg...! Perawan Sesat berdiri, Selendang Kubur juga sigap menantang. Mata Perawan Sesat tajam menembus bola mata Selendang Kubur yang memancarkan dendam itu. Lalu, terdengar Perawan Sesat menggeram dalam ucapan kata, "Jangan memancing kemarahanku kalau tak ingin kubinasakan di sini sekarang juga!"

"Lebih baik kita adu nyawa daripada akhirnya nanti kamu masih menyukai Suto!"

"Aku tak pungkiri hal itu. Tapi aku toh berusaha untuk tidak mau menemuinya secara sendirian?!"

"Bagaimana jika nantinya kau menjadi pengkhianat?!" sentak Selendang Kubur. "Lebih baik kuhabisi sekarang nyawamu ketimbang nantinya kau menjadi pengkhianat!"

"Sudah, sudah...!" Peri Malam menengahi dengan suara tegasnya. "Sekarang bukan saatnya bicara soal urusan pribadi! Aku ingin kalian bedakan antara urusan pribadi dengan urusan bersama!"

"Dia masih mencintai Suto!" tuding Selendang Kubur kepada Perawan Sesat.

"Kurasa itu hal yang wajar," kata Peri Malam dengan lantang. "Karena ada cinta itulah maka timbul kebencian kepada Suto. Kalau kita tak punya cinta pada Suto, tak mungkin kita sakit hati dengan sikap acuh tak acuhnya!"

Selendang Kubur kendorkan ketegangan uratnya, demikian pula Perawan Sesat. Keduanya saling bisu, tapi Peri Malam tetap bicara dalam keadaan berada di tengah mereka.

"Secara jujur aku sendiri mengakui masih punya rasa cinta pada Suto Sinting. Tapi cinta ini dibungkus oleh kebencian, dan karena itu kita merencanakan untuk membunuh Suto. Sekarang yang perlu kita pikirkan, andaikata Suto tidak hadir dalam pertarungan nanti, apa yang harus kita lakukan?"

"Ya. Sejak tadi itulah yang kupikirkan!" kata Perawan Sesat. "Karena agaknya dia merasa tidak ada perlunya melayani tantangan Dirgo Mukti! Persoalan yang dihadapi dianggap persoalan kecil. Bahkan dia tak mau peduli akan dirimu, Peri Malam. Dia berniat membiarkan dirimu dimiliki oleh Dirgo Mukti!"

"Karena dia tidak mencintaimu, Peri Malam," sahut Selendang Kubur dengan cepat.

Peri Malam menggeletukkan giginya menahan kegeraman hati.

"Menurutku," kata Perawan Sesat. "Kaulah yang membujuknya agar dia tetap hadir melayani tantangan Dirgo Mukti. Kau bisa gunakan kemanjaanmu dan mengadu yang bukan-bukan tentang sikap Dirgo!"

"Aku tak berani! Aku takut terjerat cinta yang makin membara," kata Peri Malam. "Bagaimana jika Selendang Kubur saja yang temui dia dengan pengaduan palsu tentang Dirgo Mukti? Dia pasti ada di pihakmu, Selendang Kubur, karena antara dia dan gurumu ada hubungan baik! Dia pasti mau membelamu jika kau katakan Dirgo Mukti akan mengganggu, juga mengganggu gurumu itu!"

"Tidak. Aku juga tidak berani berhadapan sendiri dengan Suto. Aku takut semakin mencintainya!"

"Kalau semuanya takut makin jatuh cinta, lantas bagaimana kita bisa membunuh dia?!" tukas Peri Malam bernada jengkel.

* * * 

TUJUH
PERAMAL Pikun memang terluka pada bagian dalamnya. Wajahnya yang berkulit hitam memancarkan rona pucat pias. Bibirnya membiru dengan darah masih sesekali keluar dari mulutnya, Peramal Pikun terbaring lunglai bagai cucian basah tak terawat. Ketika ia melihat kehadiran Suto, tampak cahaya penuh harapan terpancar dari matanya yang sayu itu.

Dahi Suto berkerut melihat keadaan Peramal Pikun. Separah itukah sakitnya hingga ia sendiri tak dapat mengobati? Pikir Suto. Iba hati murid si Gila Tuak itu melihat keadaan Peramal Pikun, sepertinya lelaki tua renta itu memikul dosa yang amat berat disandangnya. Terlontarlah kalimat tanya dari mulut Suto yang sengaja bernada pelan agar tidak mengganggu keheningan pondok ini.

"Apa penyebabnya? Katakan saja sejujurnya, Peramal Pikun?!"

"Sebuah nama yang kau sebutkan."

"Nama kekasihku?"

"Ya. Mestinya aku tak boleh sebutkan nama itu, Suto. Aku lupa, dan aku sebutkan nama itu!"

Pendekar Mabuk memeriksa sesaat tubuh Peramal Pikun. Ia terkesiap melihat bagian perut memar biru. Dari perutnya itu bergurat garis merah sebesar lidi yang menuju ke tengah leher, melewati pertengahan ulu hatinya. Suto bergumam, "Apa arti jalur merah ini?"

"Itulah yang dinamakan jalur kutukan. Jalur merah itu dikenal julukan ilmu 'Rentang Kutuk'! Hanya dia yang memilikinya!"

"Maksudmu...?"

"Jangan sebut namanya, Suto! Kumohon, jangan!" sergah Peramal Pikun memelas.

Pendekar Mabuk buru- buru menunda ucapannya, ia segera ingat bahwa Peramal Pikun tak bisa mendengar nama Dyah Sariningrum. Jika ia mendengar nama itu, telinganya akan mengucurkan darah lagi.

"Jalur Kutukan atau ilmu 'Rentang Kutuk' ini akan merenggut nyawaku pada saat tepat bulan menjadi purnama!" tambah Peramal Pikun dengan suara lemahnya "Jadi aku mohon bantuanmu untuk menghilangkan ilmu 'Rentang Kutuk' ini sebelum purnama tiba."

"Sebelumnya aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang Kutuk' itu menimpa dirimu?"

"Apakah Dewa Racun belum bicarakan hal itu padamu?"

"Belum! Dewa Racun mendengar nama kekasihku dari mulutmu, tapi dia tidak kenal siapa orang yang punya nama itu dan di mana tempat persinggahannya. Dewa Racun hanya bertugas mencari aku dan membawaku kemari untuk menolongmu!"

"Dewa gila!" geram Peramal Pikun sambil matanya mencari Dewa Racun di dalam pondoknya. Tapi orang kerdil itu tidak ada di dalam pondok. Orang kerdil tadi menyuruh Suto masuk sendirian dan ia bergegas menuju ke sungai, katanya mau mandi sebentar di sana.

"Siapa Dewa Racun itu sebenarnya, aku belum jelas, Peramal Pikun. Dia tidak banyak menceritakan dirinya sepanjang perjalanan kemari. Dia bahkan lebih banyak membicarakan tentang pertarunganku dengan manusia Sontoloyo dua hari lagi."

Mata Peramal Pikun berkedip-kedip seperti orang menunggu ajal. Cukup lama ia bungkamkan mulutnya, sampai akhirnya Suto mengulang pertanyaannya yang tadi, "Aku ingin tahu mengapa ilmu 'Rentang Kutuk' itu menimpa dirimu, Peramal Pikun. Ceritakanlah!"

"Ini rahasia hidupku, Suto."

"Untuk apa kau simpan rahasia kalau sebentar lagi kaumati?"

"Memang benar katamu. Tapi..." Peramal Pikun ragu sejenak, sehingga Pendekar Mabuk perlu mendesaknya.

"Katakanlah apa adanya, supaya aku bisa mengambil sikap bagaimana harus menolongmu, Peramal Pikun."

"Baiklah," katanya, lalu Peramal Pikun mencoba tarik napas panjang. Darah keluar lagi dari mulutnya tanpa batuk sedikit pun. Ia mengusap darah itu memakai kain yang kumal dan tak berbentuk kain lain, melainkan bentuk kumpulan darah mengering. Dengan suara pelan, Peramal Pikun tuturkan kata, "Aku melakukan kesalahan semasa mudaku."

"Kesalahan apa?" "Mencintai guruku sendiri."

"Apakah gurumu seorang perempuan?"

"Ya. Usianya sudah banyak, tapi masih awet muda dan cantik. Ia memiliki ilmu kecantikan abadi, seperti yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti lainnya. Rasa cintaku kepada Guru begitu dalam, sehingga aku menjadi gila, dan nekat ingin memperkosanya. Tapi dalam satu jurus aku tumbang, tak bisa mengalahkan Guru. Lalu, aku diusir dari Puri Gerbang Surgawi"

"Apa itu yang dimaksud Puri Gerbang Surgawi?"

"Sebuah negeri Pulau Serindu, jauh dari sini letaknya," jawab Peramal Pikun sambil matanya menerawang bagai mempunyai sebaris kenangan masa lalunya. Peramal Pikun menyambung ucapannya lagi, "Aku diusir dari sana dengan satu kutukan yang membekas selamanya dalam hidupku. Aku dianggap murid sesat dan sangat tidak terhormat. Karenanya, ilmu 'Rentang Kutuk' selalu menyertaiku."

"Siapa yang mengusirmu dan siapa yang melancarkan kutuk itu?"

"Siapa lagi kalau bukan penguasa tunggal Puri Gerbang Surgawi, yang namanya menjadi nama kekasihmu itu!"

Terbelalak mata Suto seketika itu. Tertegun ia sampai beberapa saat lamanya. Sama sekali tak menyangka bahwa Dyah Sariningrum itu adalah penguasa sebuah negeri, yang menjadi guru dari Peramal Pikun. Hampir-hampir Pendekar Mabuk tidak mempercayai kata-kata si Peramal Pikun.

Kembali setelah hening tercipta beberapa helaan napas, Peramal Pikun melanjutkan ceritanya, "Aku terancam kutukan itu, tak boleh mendengar nama guruku dan tak boleh menyebut nama Nyai Guru. Jika aku mendengar nama guruku disebut orang, maka telingaku akan luka, dan jika aku menyebutkan nama guruku, maka jalur kutukan itu akan bekerja dalam diriku dan menancapkan jalur kematian yang akan tiba pada saat bulan terang purnama! Itulah hukum kekal untuk murid sesat seperti aku ini, Suto! Sekali pun aku menyesali tindakan masa mudaku, tapi tetap saja aku dibayang-bayangi kutuk yang mematikan!"

"Hebat sekali!"

"Aku akan mati, mengapa kau katakan hebat?!"

"Yang kumaksud hebat adalah ilmu kutukannya."

"Kuharap kau bisa menolongku, Suto. Karena setingi-tingginya ilmu Nyai guruku, dia masih tunduk dan takut kepada gurumu, si Gila Tuak!"

"Jadi, menurutmu guruku mengenal dia?"

"Kurasa mengenalnya! Nyai Guru itu adalah orang yang dikenal sebagai Mahkota Sejati, karena sampai saat ini, walau usianya sudah menyamai si Gila Tuak, gurumu, tapi ia masih sebagai perawan suci yang belum pernah ternoda oleh cinta dan birahi lelaki siapa pun juga!"

. "Ooh...?!" Pendekar Mabuk menggumam kagum, jatungnya berdetak-detak bagai ingin melompat keluar dari rongga dada. Rasa bangga dan rindu bergumul menjadi satu, membuat hati Suto gemetar.

"Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentang Nyai Guru, tanyakanlah kepada Dewa Racun."

"Apakah Dewa Racun benar-benar tahu banyak tentang penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi itu?"

"Jelas banyak tahu, karena dia adalah orang ketujuh kepercayaan Nyai Guru!"

"Hahh...?! Jadi dia orang dari Puri Gerbang Surgawi?!"

"Benar. Apakah dia tidak bilang begitu padamu?"

"Tidak!"

"Dasar Dewa gila! Terlalu rapat ia menyembunyikan ilmunya, terlalu rendah ia menundukkan dirinya. Tapi memang begitulah ajaran dari Nyai Guru, agar setiap murid menjadi padi, semakin berisi semakin menunduk kepada siapa pun!"

"Lalu, untuk apa dia datang kemari menemuimu?"

"Mencari kamu," jawab Peramal Pikun.

"Mencari aku, untuk mengobatimu?"

"Tidak! Hanya kebetulan saja sewaktu aku menjelaskan tentang dirimu, aku tak sadar telah menyebutkan nama Nyai Guru, lalu aku jatuh sakit seperti ini. Tapi tujuannya datang padaku adalah menanyakan tentang kamu. Dia mendapat tugas dari Nyai Guru untuk membawa pulang seseorang yang bernama Suto, murid si Gila Tuak."

"Memang gila dia itu!" geram Suto. "Dia tak pernah bilang apa-apa padaku soal itu!"

"Temuilah dia dan bicaralah apa saja yang ingin kau bicarakan kepada Dewa Racun itu! Tapi terlebih dulu, tolonglah aku. Selamatkan aku dari ilmu 'Rentang Kutuk' ini, Suto!"

"Apakah kau masih ingin hidup dalam usiamu setua ini?!"

"Masih," jawab Peramal Pikun dengan sedikit dongkol. "Aku ingin mati sebagai ksatria! Aku ingin mati dipertarungan, bukan mati karena kutukan!"

"Tegar sekali pendirianmu, Peramal Pikun. Jika memang begitu kemauanmu, aku akan mencoba menyembuhkanmu!"

Sementara Suto melakukan penyembuhan terhadap diri Peramal Pikun, di luar pondok itu Dewa Racun mencoba memancing ikan untuk santapan nanti. Ia memancing ikan bukan dengan kail maupun pancingan bila, melainkan menggunakan sehelai daun ilalang. Daun ilalang itu dibelah menjadi dua pada tiap sisi kanan-kirinya, tinggal bagian tengahnya yang keras, tapi di tiap sisa daun kanan-kiri itu tidak dihabiskan belahannya. Helai daun di kanan-kiri itu diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah, sisanya yang keras ada di atas telunjuk, lalu dengan satu kali tarikan, bagian tengah ilalang itu melesat bagai dipanahkan dari dua jari.

Slaattt...! Jeebbb...!

Ilalang itu menancap pada tubuh seekor ikan, yang segera menggelepar-gelepar. Dewa Racun segera mengangkatnya dari kedalaman air. Ikan itu ditumpuk di salah satu tempat berbatu, lalu ia kembali mengambil daun ilalang untuk dipanahkan pada ikan-ikan lainnya. Jika bukan disertai kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi, tak mungkin daun ilalang itu bisa sekeras dan setajam jarum baja. Tak mungkin pula gerakan panah daun ilalang itu sama cepat dan tajamnya dengan panah biasa.

Alhasil, setiap ikan yang dikumpulkan mempunyai sisa daun ilalang yang menancap di tubuh ikan, kadang tembus kadang hanya sebagian saja yang terbenam di daging ikan. Dewa Racun segera mengumpulkan kayu kering. Salah satu ranting kering digosokkan pada salah satu anak panahnya.

Srettt...! Dan memerciklah bunga api, lalu menyala. Dewa Racun membakar ikan-ikan tersebut di depan batang kayu tumbang yang tak seberapa jauh dari pondok persinggahan Peramal Pikun. Bau sedap ikan bakar membuat hidung Pendekar Mabuk kembang kempis, kemudian ia segera bergegas keluar dari pondok, ia dekati Dewa Racun dari arah belakang secara diam-diam. Pendekar Mabuk ingin menjajal ilmu orang kerdil itu. Lalu, dengan serta-merta Suto menendang punggung si orang kerdil itu.

Wuuttt...! Plasss...!

Tendangan itu mengenai tempat kosong, karena kejap berikutnya Dewa Racun ternyata sudah pindah tempat duduknya di seberang tempat duduk semula, ia tetap tekun membakar ikan-ikan itu tanpa merasa terganggu oleh kedatangan Suto. Sementara, Suto sempat terkesiap sebentar melihat gerakan pindah Dewa Racun yang begitu cepat, bagaikan menghilang dalam sekejap.

"Boleh, boleh...," Suto manggut-manggut sambil membatin, "Tinggi juga ilmunya jika begitu. Kurasa dia memang orangnya Dyah Sariningrum yang tak pernah mau sombongkan diri di depanku."

Sambil mengamati ikan yang habis dibaliknya dari pembakaran, Dewa Racun bicara pada Suto tanpa memperhatikan Suto, "Bagaimana sakitnya temanku itu? Bisa kau atasi?"

"Dia sedang tidur."

"Tidur...?!" Dewa Racun memandang Suto dengan dahi berkerut.

"Ya. Mengapa?"

"Orang yang terkena Ilmu 'Rentang Kutuk' tak akan bisa tidur, kecuali jalur kutukan yang berwarna merah belum tampak di kulit perutnya! Jika jalur merah itu sudah kelihatan dari pusar menggaris sampai ke leher, orang itu tidak akan bisa tidur sedikit pun!"

Pendekar Mabuk tersenyum sambil mengambil satu ekor ikan yang sudah matang, lalu ia berkata dengan santai, "Nyatanya sekarang Peramal Pikun sudah tertidur."

"Berarti kau berhasil membuat pengaruh kutukan menjadi tawar, Suto?!"

"Mungkin saja!" jawab Suto sambil mengunyah ikan bakar.

Sejenak dipandanginya Suto, lalu bergumam mulut Dewa Racun seperti bicara pada dirinya sendiri, "Belum pernah ada orang yang bisa menawarkan pengaruh kutukan Nyai Guru itu!"

"Nyai Guru siapa?" tanya Suto sambil lalu, sepertinya tidak tertarik dengan sebutan 'Nyai Guru' itu.

Dewa Racun menjelaskan sambil tetap mengerjakan kesibukannya, bahkan kini ikut-ikutan melahap ikan bakarnya, "Menurut penjelasan Peramal Pikun, sebelum ia terjebak ilmu 'Rentang Kutuk' kemarin, kau sedang mencari-cari kekasihmu yang bernama Dyah Sariningrum. Apakah benar begitu, Suto?"

"Kalau benar mau apa?"

"Dyah Sariningrum adalah guruku, juga termasuk gurunya Peramal Pikun itu!"

"Penjelasanmu terlambat!" kata Suto acuh tak acuh, karena merasa jengkel atas sikap bungkamnya Dewa Racun sejak diperjalanan tadi. Kenapa baru sekarang ia mau jelaskan? Kenapa tidak di perjalanan tadi? Itulah yang bikin Suto ingin membalas kejengkelannya.

"Nyai Gusti Dyah Sariningrum mengutusku untuk mengajukan dua pilihan kepadamu kau mau datang kesana atau tidak!"

"Kalau aku bilang tidak mau datang menghadapnya, mau apa?"

"Aku pulang, tak boleh aku paksa dirimu."

"Kalau aku mau datang menghadapnya?"

"Aku antar kamu ke sana! Karena Nyai Gusti Dyah Sariningrum memang ingin bertemu denganmu. Kau sering hadir dalam mimpinya dan memanggil-manggil namamu."

Suto tertawa kecil bersikap meremehkan, padahal dalam hatinya ia berdebar-debar bahkan berjingkrak-jingkrak kegirangan. Tapi toh dia mampu menahan perasaannya yang jika diluapkan bisa menjadi seperti anak kecil itu. Dan tiba-tiba ia berkata, "Hei, mengapa kegagapanmu hilang? Kau lupa bahwa kau bicara dengan gagap!"

Dengan tenang orang kerdil itu sunggingkan senyum dan berkata, "Sebelum kau datang dari dalam pondok, sudah kumakan dua ekor ikan bakar kesukaanku ini!"

"Apa hubungannya dua ekor ikan bakar dengan bicara gagapmu?"

"Jika mulutku sudah bau ikan bakar, walau secuil saja, maka aku sudah bisa bicara dengan lancar. Tapi jika aroma ikan bakar hilang dari mulutku, maka kegagapan bicaraku timbul kembali."

"Kenapa bisa begitu?" tanya Pendekar Mabuk sambil tertawa pelan.

"Entahlah," jawab Dewa Racun sambil sentakkan pundak sekejap, lalu berkata lagi, "Mungkin memang sudah kodratnya aku punya keanehan seperti ini."

Pendekar Mabuk geleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli, merasa aneh dengan sifat orang kerdil itu.

"Tentukan pilihanmu sekarang juga, Suto, agar aku bisa bertindak secara pasti, mana yang harus kulakukan!"

"Aku bersedia menghadap gurumu, tapi aku harus menunggu lewat dari saat purnama tiba."

"Kenapa? Apakah kau akan memenuhi tantangan lawanmu itu?"

Suto menggeleng. "Aku hanya ingin mengetahui apakah pengobatanku berhasil atau tidak. Aku harus tahu nasib Peramal Pikun setelah lewat dari saat purnama nanti, apakah dia hidup atau mati!"

"O, ya. Aku paham," Dewa Racun manggut-manggut. "Lalu, bagaimana dengan pertarungan di Bukit Jagal itu? Apakah kau tetap akan menolak pertarungan itu?"

"Kurasa memang aku tak perlu melayani tantangan Dirgo Mukti! Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja! Aku sendiri sebenarnya tidak berminat untuk bertarung dengannya."

"Tapi menurut adat, seseorang yang tidak memenuhi tantangan, namanya akan disepelekan dari dunia persilatan! Kau dianggap kalah dan tidak jantan, Suto. Orang yang telah mundur dari arena pertarungan sebelum ia mencoba kalah atau menang, maka ia tak berhak menggunakan gelar pendekar lagi!"

"Apakah begitu peraturan adat di rimba persilatan?!"

"Setahuku memang begitu!"

"Guruku tidak pernah mengatakannya begitu!"

"Guruku pernah bilang begitu!"

"Tapi gurumu dan guruku berbeda!"

"Terserah kamu," akhirnya Dewa Racun tak mau berdebat lagi.

Tapi Suto jadi merenungkan kata-kata Dewa Racun. Haruskah ia membuktikan kependekarannya melalui pertarungan yang tanpa perkara besar itu? Hanya masalah cinta dan melindungi kekasaran Dirgo Mukti terhadap Peri Malam, haruskah Suto bertarung secara tanding laga di Bukit Jagal? Bukankah sebenarnya Peri Malam yang menciptakan pertarungan itu dengan berlagak menjadi penterjemah bahasa Pendekar Mabuk? Sedangkan Pendekar Mabuk sendiri sebenarnya tidak bermaksud menyetujui tantangan pertarungan di Bukit Jagal.

Ini semua ulah Peri Malam, sehingga Suto merasa terjebak dalam arena pertarungan yang menurutnya dianggap pertarungan konyol. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah Asmara Gila).

"Kalau kau tak mau muncul di pertarungan itu, biarlah aku yang mewakilimu," kata Dewa Racun.

"Aneh kau ini. Kenapa kau selalu tampil sebagai orang yang melindungiku? Kau hanya utusan nyai gurumu itu. Kau bukan apa-apaku!"

"Karena perintah Nyai Gusti agar aku membawamu datang padanya tanpa luka ataupun lecet sedikit pun!"

"Dia berpesan begitu?!"

"Ya."

"Apa lagi pesannya?"

"Hanya itu, dan hanya tangis yang sering mengalir dari matanya yang indah itu."

"Tangis? Mengapa dia menangis?"

"Hasrat ingin bertemu denganmu sangat besar dan menyiksa hatinya sepanjang hari. Ia tak sanggup menahannya, lalu ia perintahkan aku untuk menemuimu!"

"Kalau begitu, pulanglah sekarang juga ke Pulau Serindu dan katakan padanya bahwa aku akan segera datang setelah lewat purnama tiba itu!"

"Baik. Aku akan pulang. Tapi apakah kau tahu jalan dan arah menuju Pulau Serindu?"

"Tidak!" jawab Suto Sinting polos dan tegas. Dewa Racun tertawa sendiri.

* * * 

DELAPAN
DEWA Racun tetap mengikuti Pendekar Mabuk walau Pendekar Mabuk mengatakan akan pergi sebentar. Orang kerdil ini agaknya memang berjiwa ngotot. Semalam ia juga ngotot menyuruh Suto tidur di dalam pondok bersama Peramal Pikun, sementara dia tidur di luar pondok. Sekarang ia kembali ngotot dengan bicaranya yang mulai gagap lagi karena mulutnya sudah kehilangan aroma ikan bakar,

"Ak... aku harus ikut kamu ke... ke... ke mana pun kau pergi!"

"Mengapa begitu? Kau bukan pengawalku. Aku bukan buronanmu!"

"Pe... pe... perintah Nyai Gusti, aku harus menjaga ke...ke ..."

"Kepompong?!"

"Bukan! Keselamatanmu!" Dewa Racun terengah-engah.

Suto tersenyum menahan geli dalam hatinya. Sebenarnya Suto hanya ingin menengok keadaan gurunya di Jurang Lindu dan menengok keadaan Betari Ayu yang ditinggalkannya dalam keadaan luka pukulan dari Nagadipa. Untuk menemui Betari Ayu dan gurunya, Suto tak enak hati jika harus dikawal oleh Dewa Racun. Karenanya, Suto terpaksa menggunakan ilmu yang bernama 'Seberang Raga', yaitu ilmu pemberian dari Bidadari Jalang.

Seonggok batu yang ada di pinggir sungai tiba-tiba berubah wujud menjadi dirinya setelah Pendekar Mabuk heningkan cipta secara diam-diam di belakang pondok. Dewa Racun tidak mengetahui Pendekar Mabuk mempunyai ilmu siluman 'Seberang Raga', sehingga ketika ia keluar dari pondok, ia langsung saja mendekati Suto yang terlihat duduk merenung di pinggiran sungai. Padahal saat itu juga Suto sudah melesat pergi jauh menuju Jurang Lindu.

"Men... menurut... menurutku, jiwa Peramal Pikun selamat dari bahaya 'Rentang Kutuk'. Ja... ja... jalur merahnya telah hilang dan wa... wajahnya kelihatan kembali segar se... sep... seperti semula!"

"Bagus," jawab Suto kalem, bahkan berkesan datar.

"Malam purnama be... be... besok, dia akan tetap hidup. Ini satu per... per... peristiwa yang luar biasa bagi orang-orang Puri Gerbang Surgawi. Nyai Gusti ak... ak... akan senang dan ka... kagum jika mendengar ke... ke... kesaktian ilmumu!"

Pendekar Mabuk masih diam merenung, tidak memandang ke arah Dewa Racun. Diam-diam Dewa Racun merasakan keanehan itu, tapi tidak terlalu dihiraukan, berkata lagi kepada Pendekar Mabuk palsu,

"Tan... tanpa menunggu pur... purnama tiba, kita sudah bisa berangkat ke... ke... ke Pulau Serindu. At... atau kau mau layani tantangan di Bukit Ja... Jagal itu?"

"Ya."

"Ya, bagaimana maksudmu?"

"Bagus!"

"Bagus apa?"

"Ya."

Dewa Racun makin heran dan curiga. Mata Suto memandang dengan datar sekali, sepertinya tidak punya rasa apa pun. Dewa Racun mencoba menendang pinggang Suto dengan sulu kali lompatan.

Duug...!

Pendekar Mabuk diam saja. Tidak mengadakan gerakan menangkis atau menghindar, tidak merasakan sakit atau apa pun. Padahal tendangan itu cukup keras. Menurut perkiraan Dewa Racun, orang akan menyeringai kesakitan jika ditendang pinggangnya oleh tendangan seperti itu. Melihat Suto Sinting tidak ada perubahan apa-apa, Dewa Racun semakin bertambah heran, ia kembali berkata,

"Ma... mau... maukah kau bicara ke dalam pondok?"

"Ya."

"Mari kita bicarakan de... de... dengan Peramal Pikun!"

"Bagus!"

Jawaban yang hanya 'ya' dan 'bagus' juga membuat Dewa Racun kerutkan dahi. Semakin penasaran hatinya. Bahkan ia pun membatin, "Jangan-jangan orang ini bukan Suto?"

Dewa Racun segera mundur dua langkah. Tangannya diangkat dengan gerakan pelan-pelan seperti orang menari, dan tiba-tiba kedua tangan itu menghentak ke depan.

Wuuuttt...!

Memerciklah sinar putih ke arah Pendekar Mabuk yang masih tetap duduk itu. Dewa Racun sendiri terkejut melihat Pendekar Mabuk tidak memberi tangkisan terhadap pukulan tenaga dalamnya, juga tidak menghindar sedikit pun. Bahkan sempat timbul rasa sesal di hati Dewa Racun. Percikan sinar putih itu membuat tubuh Suto pecah berasap dan berupa wujud aslinya, yaitu sebongkah batu hitam sebesar ukuran orang duduk di tepi sungai. Dewa Racun segera menggeram sambil hempaskan napas kekesalan hatinya.

"Kurang ajar! Dia mengecohku!" geramnya dalam hati. "Dia pasti telah pergi dan meninggalkan aku! Hebat juga ilmu anak muda itu. Tak sia-sia aku diutus jauh-jauh untuk membawanya menghadap Nyai Gusti. Pasti Nyai Gusti sangat kagum kepadanya kalau kuceritakan setinggi apa ilmu yang dimiliki Suto Sinting itu! Hmmm... tapi tugasku adalah mendampingi dan menjaga Pendekar Mabuk. Jika sekarang dia pergi, aku harus segera mencarinya. Ke mana arah perginya? Kurasa aku bisa bertanya kepada Peramal Pikun. Setidaknya Peramal Pikun bisa kasih perkiraan arah yang dituju Suto!"

"Kurang ajar! Dia mengecohku!" geramnya dalam hati. "Dia pasti telah pergi dan meninggalkan aku! Hebat juga ilmu anak muda itu. Tak sia-sia aku diutus jauh-jauh untuk membawanya menghadap Nyai Gusti. Pasti Nyai Gusti sangat kagum kepadanya kalau kuceritakan setinggi apa ilmu yang dimiliki Suto Sinting itu! Hmmm... tapi tugasku adalah mendampingi dan menjaga Pendekar Mabuk. Jika sekarang dia pergi, aku harus segera mencarinya. Ke mana arah perginya? Kurasa aku bisa bertanya kepada Peramal Pikun. Setidaknya Peramal Pikun bisa kasih perkiraan arah yang dituju Suto!"

Suto sendiri membayangkan wajah Dewa Racun yang terkecoh. Suto tertawa sendiri saat mendekati Jurang Lindu, di mana ada air terjun yang cukup tinggi dan besar itu. Suto berkata dalam hati, "Dewa Racun pasti akan mencak-mencak kalau dia tahu orang yang disangkanya aku itu adalah seonggok batu! Hi hi hi Pasti jika ia mengajak bicara orang yang disangka aku itu, ia hanya akan menerima jawaban ya dan bagus. Karena memang aku hanya menitipkan dua kata itu dalam bayangan ragaku di sana! Mudah-mudahan hal itu tidak membuat Dewa Racun mengamuk berlarut-larut!"

Suto segera melesat masuk menembus curah air terjun. Dalam kejap berikut, Suto sudah berada di dalam gua. Ternyata di sana si Gila Tuak masih belum kelihatan. Yang ada hanya Betari Ayu dalam keadaan sedang melakukan semadi.

"Ke mana perginya Guru? Sampai sekarang belum datang juga?!" pikir Pendekar Mabuk sambil menunggu Betari Ayu selesaikan semadinya, ia sempat mengisi tuak ke dalam bumbungnya dari persediaan tuak di dalam gentong besar. Setelah itu, ia mendengar suara mendehem dari Nyai Betari Ayu, itu pertanda sang Betari Ayu sudah selesaikan semadinya yang dilakukan dengan berdiri satu kaki, dan hanya jempol kakinya yang berpijak ditanah.

"Bagaimana keadaanmu, Nyai?" tanya Suto mengawali percakapan.

"Sejak kemarin sudah terasa segar sekujur tubuh ku. Tapi aku tak berani tinggalkan tempat ini."

"Kenapa?"

"Gurumu kasih wanti-wanti padaku agar jangan tinggalkan tempat ini sebelum ada perintah darimu."

"Oh, kau sudah bertemu dengan guruku?"

"Ya. Sudah. Beliau tahu aku dalam perawatanmu."

"Hmm... lalu, ke mana beliau?"

"Pergi ke Lembah Badai untuk menemui Bidadari Jalang, yang baru kutahu bahwa orang itu ternyata juga gurumu."

Suto malu, tak berani tatap mata Nyai Betari Ayu. Namun begitu, Pendekar Mabuk tetap berkata, "Ya, memang sebagian ilmuku adalah pemberian darinya. Tapi aku tak enak kepadamu jika aku jelaskan bahwa aku adalah juga murid dari Bidadari Jalang. Aku tahu kau punya dendam padanya. Aku takut jika kukatakan bahwa aku murid Bidadari Jalang, kau jadi bermusuhan denganku atau membenciku, Nyai!"

"Sudahlah, lupakan soal itu!" Betari Ayu agaknya tidak mau mempermasalahkan lagi tentang Bidadari Jalang.

Suto Sinting pun tidak mau kembali ke pembicaraan itu. Ia meneguk tuak, dan duduk di depan Betari Ayu. "Syukurlah jika kau sudah sehat. Kau tambah kelihatan cantik, Nyai!" sambil tatapan mata Suto tertuju lurus ke wajah Nyai.

Yang ditatap tersipu malu, segera palingkan wajah dan berkata, "Jangan puji aku begitu, nanti aku makin tersiksa tak kau rengkuh dalam hatimu, Suto."

Tawa Pendekar Mabuk berderai yang membuat Betari Ayu kian tersipu malu. Maka cepat ia alihkan suasana itu kepada pertanyaan mengenai lukanya. "Siapa yang menyerangku dari belakang, Suto? Aku tidak bisa merasakan datangnya hawa dari pukulan melainkan tiba-tiba saja punggungku merasa seperti tersengat."

"Pukulan itu memang sangat berbahaya."

"Siapa pelakunya?"

"Kurasa kau tak perlu tahu."

"Kenapa? Kau takut aku membalas dendam pada pelakunya? Oh, tidak. Aku tidak akan membalas dendam, Suto. Cukup banyak aku bicara dengan gurumu tentang hakikat suatu kehidupan dan kematian. Bahkan aku sudah sepakat untuk mengasingkan diri dan menjadi seorang pertapa yang dibantu oleh gurumu, Ki Sabawana itu."

"Kau ingin menjadi seorang pertapa?"

"Ya. Ki Sabawana mendukung rencanaku itu. Gurumu banyak kasih saran padaku. Itulah sebabnya aku tak ingin mengadakan pembalasan walau aku tahu siapa penyerangku itu."

"Baiklah. Kau diserang oleh Putri Alam Baka!"

"Hmmm... berarti dugaanku memang benar."

"Tapi bukan dia pelakunya, melainkan suaminya!"

"Nagadipa?"

"Ya. Nagadipa pelakunya."

"Lalu kau mengejarnya?"

"Ya. Karena aku harus menuntut balas atas kejahatannya terhadap dirimu. Aku tak bisa tinggal diam melihat kamu dilukai, Nyai."

"Lalu... kau bunuh mereka?"

"Secara tak sengaja, Putri Alam Baka mati dan Nagadipa terluka parah."

"Kau menggunakan napas Tuak Setan?"

"Dari mana kau tahu. Nyai?"

"Gurumu yang mengatakannya. Dia merasakan ada badai aneh dan badai itu pasti datangnya dari napas Tuak Setan-mu! Tapi beliau tahu kau menggunakannya secara tidak sengaja."

Pendekar Mabuk diam berpikir tentang gurunya, Ternyata segala kegiatannya selalu dipantau oleh sang gurunya. Suto jadi riskan dan tak enak untuk berbuat bebas, ia menjadi gelisah, dan kegelisahan itu dilihat oleh Betari Ayu, kemudian Betari Ayu berkata,

"Bukan hanya si Gila Tuak yang memantau kegiatanmu, Suto. Tapi aku pun banyak mengikuti kegiatanmu dari sini, atau dari tempatku yang jauh. Semua itu hanya sekadar menjaga kalau-kalau kau dalam bahaya yang membutuhkan bantuan. Hanya hal-hal yang bersifat berbahaya yang dipantau terus oleh gurumu."

"Apakah Guru juga membicarakan tentang pertarunganku di Bukit Jagal, yang akan terjadi esok malam?"

"Tidak. Apakah kau akan melakukan pertarungan?"

"Aku ditantang."

"Siapa yang menantang?"

"Dirgo Mukti."

"Oh...," Nyai Betari Ayu manggut-manggut. "Hati-hati kau berurusan dengan Dirgo Mukti."

"Kenapa?" Suto jadi ingin tahu.

"Dia murid tunggalnya Pendekar Tanduk Dewa yang bersemayam di Gunung Tujuh Batu. Pendekar Tanduk Dewa adalah bekas suami dari penguasa Pulau Hantu yang dikenal dengan nama si Mawar Hitam, orang ini juga menyimpan dendam pada Bidadari Jalang, karena merasa suaminya direbut oleh bibi gurumu itu!"

"Oh, pantas waktu itu Peri Malam dipesan oleh gurunya, si Mawar Hitam, agar jangan membuat perselisihan dengan Dirgo Mukti!"

"Mungkin karena Mawar Hitam tidak mau berurusan dengan mantan suaminya, jika muridnya bentrok dengan murid Pendekar Tanduk Dewa itu. Yang jelas, hati-hatilah jika berhadapan dengan Dirgo Mukti. Pendekar Tanduk Dewa bisa turun tangan kalau sampai muridnya itu mati."

"Apakah Pendekar Tanduk Dewa berilmu tinggi?!"

"Ya. Tapi tidak lebih tinggi dari gurumu sendiri."

Suto Sinting manggut-manggut dan diam beberapa saat. Setelah itu baru ia kembali bertanya, "Apakah menurutmu sebuah tantangan tanding laga harus dipenuhi, Nyai? Bagaimana jika aku tidak memenuhi tantangan itu?"

"Apakah karena kata-kataku tadi kau jadi takut dengan Dirgo Mukti, si Manusia Sontoloyo yang tak jelas juntrungannya itu?"

"Bukan karena takut, tapi karena aku merasa pertarungan itu bukan merupakan pertarungan yang bermasalah penting, Nyai. Urusannya cuma sepele, mengapa harus kulayani tantangan itu? Maksudku, aku tidak ingin datang pada malam purnama nanti! Kalau aku bisa membunuhnya, aku merasa menyesal, hanya persoalan anak kecil saja sampai harus membunuhnya. Apalagi kalau aku yang kalah, jelas sangat menyesal tujuh turunan aku, Nyai!"

"Jika tak mau hadir, mengapa kau buat janji pertarungan?"

"Aku terjebak. Bukan aku yang bikin janji, bukan aku yang menjawab tantangannya, Nyai! Tapi Perawan Sesat!"

Betari Ayu tarik napas panjang, ia bangkit dan langkahkan kaki ke mulut gua. Ia memandang curahan air terjun dari sana. Kemudian ia palingkan wajah dan berkata kepada Suto, "Sebagai seorang pendekar, kau harus penuhi tantangan itu! Jika tidak, gelar pendekarmu akan disepelekan oleh mereka yang mendengar ketidakhadiranmu."

"Pertarungan ini sungguh pertarungan yang tidak punya arti!"

"Walau begitu, kau tetap harus hadir. Toh bukan berarti kau harus membunuh Dirgo Mukti. Cukup kau beri pelajaran padanya, agar harga diri kependekaranmu masih ada."

Seperti apa yang dikatakan Dewa Racun, rupanya Pendekar Mabuk tetap tidak bisa menghindari pertarungan dengan Dirgo Mukti. Ia harus menjaga nama baik kependekarannya, agar dunia persilatan tidak memandang rendah terhadap dirinya. Tapi menurut Suto pertarungan itu bukan pertarungan demi membela kehomatan, pertarungan itu tetap saja pertarungan konyol yang harus dihadirinya.

Kalau saja ia tahu rencana di balik pertarungan itu, ia semakin tidak mau melaksanakannya. Sayang sekali Suto tidak tahu rencana tiga perempuan patah hati yang ingin memanfaatkan pertarungan itu.

Tetapi niat licik dari tiga perempuan patah hati itu tanpa disengaja didengar oleh Dewa Racun. Saat itu, Dewa Racun sedang mengejar arah kepergian Suto. Di perjalangan, ia berhenti karena melihat tiga kelebat banyangan ke arahnya. Dewa Racun bergegas lompat ke pohon berdaun rindang.

Wuuttt...!

Ternyata, tiga perempuan cantik itu justru berhenti di bawah pohon tempat persembunyian Dewa Racun. Segera Dewa Racun menggunakan ilmu serap napasnya, supaya hembusan napas tak bisa didengar oleh orang yang berilmu tinggi di sekitarnya. Dan dari balik kerimbunan pohon itu, Dewa Racun mendengar percakapan Selendang Kubur, Peri Malam, dan Perawan Sesat.

"Ke mana kita harus mencari Pendekar Mabuk? Sejak kemarin kita tidak temukan dia."

"Apakah masih perlu kita mencarinya?"

"Nanti kalau dia tidak datang ke pertarungan di Bukit Jagal, kita kehilangan kesempatan untuk menyerang dia!"

"Kurasa dia tetap akan datang, walau sekadar mengatakan penundaan pertarungannya. Dan saat itu kita perdaya dia supaya tetap maju melawan Dirgo Mukti. Aku nanti yang akan mempengaruhinya," kata Selendang Kubur.

"Baiklah. Kita yakinkan diri saja bahwa dia akan datang. Aku capek mencarinya ke mana-mana!" keluh Peri Malam.

"Yang jelas, kita harus bisa tetap bikin Dirgo Mukti bersemangat melawan dia, dan mendesaknya terus sampai Suto merasa kehabisan tenaga. Walau nantinya Dirgo Mukti mati di tangan Suto Sinting, tak jadi masalah. Tapi kita punya kesempatan menggempur Pendekar Mabuk yang tenaganya sudah banyak berkurang dari pertarungan itu!"

"Kurasa Dirgo Mukti sekarang sudah bersemangat sekali, sebab kita sudah memberi janji-janji gombal, bahwa kita bertiga bersedia menjadi istrinya jika dia menang melawan Suto. Itu sudah merupakan iming-iming yang sangat berharga sekali buat Dirgo Mukti. Setidaknya dia akan berjuang sekuat tenaga mengalahkan Pendekar Mabuk!"

Dewa Racun mendengar semua percakapan itu. Sampai mereka bertiga pergi, Dewa Racun masih termangu-mangu di atas pohon tersebut. Dalam hatinya ia berkata, "Ternyata perempuan yang mengaku bernama Perawan Sesat itu punya komplotan untuk membunuh Suto dengan kelicikannya. Benar apa kata Suto, pertarungan itu sebenarnya tidak punya arti apa-apa. Hanya sebagai pertarungan konyol saja. Dan pertarungan itu digunakan oleh ketiga perempuan tadi untuk mencari kelemahan Pendekar Mabuk. Hmm... sebuah pertarungan konyol ada baiknya dibuat semakin konyol saja!"

Menurut keterangan Peramal Pikun, Suto mempunyai tempat persingahan di Jurang Lindu. Tetapi apakah Suto ke sana atau tidak, Peramal Pikun tak bisa memastikan. Petunjuk itu sudah cukup buat Dewa Racun, karena ia punya arah tujuan dalam mencari Suto walau mungkin nantinya tidak ditemukan. Tapi dari sanalah Dewa Racun akan melacak terus ke mana perginya orang yang harus dikawalnya itu.

Di pertengah jalan, Dewa Racun mulai mencium bau tuak. Segera ia arahkan larinya ke pusat bau tuak itu. Dan akhirnya ia temukan Pendekar Mabuk sedang beristirahat di bawah pohon untuk menenggak tuaknya dari dalam bumbung bambu.

Jleeg...!

Suto terkejut melihat Dewa Racun sudah berdiri didepannya. Wajah Dewa Racun cemberut, Suto nyengir tertawa ingat tipuannya. Pasti orang kerdil ini sudah mengetahui tipuan di tepi sungai.

'Ku... ku... kurang ajar kau!" maki Dewa Racun yang membuat Pendekar Mabuk tak bisa tahan tawanya lagi, lalu meledak terbahak-bahak.

"Ka... ka... kalau tidak kuingat, aku harus mengawalmu, sudah ku... ku... kurontokkan gigimu dengan panahku ini!"

"Maafkan aku, Dewa Racun! Aku memang senang bercanda denganmu!"

"It... it... itu bukan bercanda, tapi ku... ku..."

"Kunang-kunang?"

"Bukan! Itu kurang ajar namanya! Kau sen... sendiri akan dibuat bercanda dalam pertarunganmu nan... nan... nanti!"

"Apa maksudmu?"

"Tig... tiga... tiga perempuan ingin ambil bagian dalam pertarunganmu nan... nan... nanti! Satu perempuan sudah pernah ku... kulihat, yaitu yang rambutnya awut-awutan tempo hari."

"Tiga perempuan ambil bagian dalam pertarunganku dengan Dirgo Mukti nanti?!"

"Bet... bet... bet"

"Betot?!"

"Betul! Bukan betot!" Dewa Racun bersungut-sungut, merasa jengkel jika omongannya diteruskan dengan kata yang salah. Kemudian, ia segera jelaskan kepada Suto apa yang didengarnya dari ketiga perempuan tadi.

Mendengar ciri-ciri ketiga perempuan itu, Pendekar Mabuk bisa menduga mereka adalah Perawan Sesat, Selendang Kubur, dan Peri Malam. Tapi Suto belum tahu alasan ketiga perempuan itu, mengapa ingin membunuhnya?

Dewa Racun berkata, "Ak... ak... aku jadi punya rencana lain! Kau harus ha... ha..."

"Hamil?"

"Bukan! Kau harus ha... hadir dalam pertarungan itu! Harus! Ka,ka,ka... kalau tidak mau, kau akan kupak... pak...pak "

"Kupakai?!"

"Kupaksa!" bentak Dewa Racun jengkel. "Kau akan kupaksa untuk hadir. Karena aku punya rencana bagus untuk tiga pe.. perempuan itu!"

"Rencana apa?"

* * *

SEMBILAN
MALAM bulan purnama, sungguh benderang sinar rembulan menyorot ke bumi. Langit bersih, memantulkan cahaya makin cerah. Puncak Bukit Jagal tampak jelas tanpa pepohonan apa pun di sana. Bukit itu adalah bukit yang tandus, yang biasa digunakan untuk pertarungan tanding laga bagi para tokoh persilatan.

Bukit Jagal, terletak di sebuah pantai yang bertebing curam. Sebagian lapisan tanah bawah adalah bebatuan karang, sebagian di atasnya adalah cadas putih yang keras. Sebuah pertarungan jika dipandang dari lautan akan kelihatan sangat indah dan menawan, karena gerak kedua orang yang bertarung akan terlihat jelas tanpa penghalang sedikit pun.

Biasanya, orang yang mati dalam pertarungan di atas Bukit Jagal, mayatnya akan langsung dibuang ke laut yang ganas, bergelombang besar dan konon banyak dihuni ikan-ikan buas. Mereka yang terlempar ke laut dalam keadaan hidup-hidup pun tak akan bisa selamat menghindari keganasan ombak dan ikan-ikannya. Tinggi tebing dari puncak bukit sampai ke permukaan laut ada lima puluh tombak.

Itulah sebabnya orang yang jatuh dari atas bukit tak akan bisa selamat dari ancaman maut di kaki bukit, karena di sana juga ada karang-karang runcing menunggu mangsanya. Di sela karang itu, banyak tulang-tulang manusia yang berserakan terselip di sana-sini. Tengkorak-tengkorak manusia tergeletak tak beraturan, tanpa nama dan tanda-tanda semasa hidupnya. Tak heran jika Bukit Jagal juga sering disebut Kuburan Tanpa Nama.

Dalam siraman cahaya purnama, tampak sesosok tubuh kekar berdiri di atas bukit gundul itu. Orang itu didampingi tiga perempuan yang masing-masing mempunyai gerak kelincahan tersendiri. Siapa lagi orang bersenjata kapak dua mata itu kalau bukan Dirgo Mukti yang menjuluki dirinya sebagai Manusia Sontoloyo.

"Aku sudah tidak sabar lagi menunggu kehadirannya," kata Dirgo Mukti dengan kedua tangan meremas-remas bagai melampiaskan kegelisahannya.

"Percayalah, dia pasti datang!" kata Peri Malam. "Kalau beberapa saat lamanya dia tidak datang, Selendang Kubur akan menyusul Suto ke tempat gurunya, dan melaporkan kebodohan sang murid! Pasti gurunya Pendekar Mabuk akan mengamuk dan mencari muridnya yang menghadapi tantanganmu!"

"Kau harus menang, Dirgo!" kata Selendang Kubur sambil mengusap-usap punggung Dirgo Mukti. "Kami akan bersedih tiada habisnya jika kau kalah. Tapi jika kau menang dan bisa membunuh Suto, kami akan bersorak kegirangan, karena itu berarti kami bertiga dengan senang hati menjadi istrimu, Dirgo!"

"Itulah semangatku!" kata Dirgo Mukti yang kemudian disusul dengan tawa terbahak-bahak.

Perawan Sesat yang sejak tadi mondar-mandir, memandang sekeliling bagai orang memeriksa keamanan lingkungan, tiba-tiba berkata dengan suara seraknya, "Seseorang sedang menuju kemari! Bersiaplah!"

Kedua mata teman sekongkolnya itu segera lemparkan pandangan ke arah yang ditunjuk Perawan Sesat. Peri Malam segera berkata, "Itu dia! Dia telah datang!"

"Lantas bagaimana dengan kita?" Selendang Kubur berdebar-debar.

"Kita... kita bersembunyi saja di balik batu itu!"

"Terlalu rendah ke lereng, nanti kita tidak bisa jelas melihat pertarungan ini!"

Perawan Sesat cepat ucapkan kata tegas, "Kita tetap di sini! Mengapa harus sembunyi? Justru kita tunggu kesempatan baik untuk menyerang Pendekar Mabuk pada saat ia tampak terdesak oleh Dirgo Mukti!"

"Oh, benar! Benar sekali pendapatmu!" Peri Malam menepuk-nepuk pundak Perawan Sesat, namun tangan Perawan Sesat cepat kibaskan tangan Peri Malam. Agaknya ia tak suka ditepuk-tepuk begitu oleh orang sejenisnya.

"Kurasa kalian tak perlu jauh-jauh. Diam saja di pinggiran sana dan saksikan kemenanganku!" kata Dirgo Mukti. "Akan kutumbangkan dia dalam dua jurus saja!"

"Tak perlu malu-malu menggunakan lebih dari sepuluh jurus, yang penting kau bisa menang melawannya, Dirgo Mukti!" kata Peri Malam.

Orang yang ditunggu datang. Pendekar Mabuk muncul dengan badan terbungkuk-bungkuk, seperti keberatan bumbung tuak yang disandang di punggungnya. Peri Malam berbisik kepada Selendang Kubur yang berdiri di samping kirinya. "Dia dalam keadaan mabuk!"

"Bahaya! Justru dalam keadaan mabuk begitulah ilmunya semakin tinggi," bisik Selendang Kubur.

"Diamlah!" hardik Perawan Sesat yang merasa terganggu dengan kasak-kusuk mereka.

Pendekar Mabuk berwajah kaku saat itu. Tak ada sapa dan senyum untuk ketiga perempuan yang sudah dikenalnya. Bahkan Peri Malam sempat berbisik kepada Perawan Sesat.

"Dia acuh tak acuh pada kita. Tak menyapa sedikit pun!"

"Mungkin dia sudah tahu persekongkolan kita, atau dia sedang memusatkan perhatiannya kepada Dirgo Mukti!"

"Ssst...! Diamlah!" Selendang Kubur ganti menghardik.

Terdengar suara Dirgo Mukti menyapa kasar kepada Suto, "Sudah siapkah kau menemui ajalmu, Suto?!"

"Sudah!" jawab Suto datar dan berkesan ketus.

"Kau siap menderita malu di depan tiga perempuan ini?!"

"Sudah!"

"Bagus. Tapi sebelum kau menemui ajalmu, barangkali kau punya pesan untuk ketiga perempuan yang menjadi saksi pertarungan ini?"

"Tidak!"

"Kalau begitu, kita mulai saja pertarungan kita, Suto!"

"Baik!"

Dirgo Mukti segera kembangkan tangannya. Langsung saja di tangan kanannya sudah tergenggam kapak bermata dua yang mempunyai ujung mata tombak kecil. Tapi tidak secepat itu ia menggunakan senjata tersebut, ia masih mencari celah baik untuk menyerang Suto dengan pukulan jarak jauhnya. Ia bergerak pelan mengelilingi Suto, sementara Suto sendiri hanya diam sambil melirik dengan mata sayu yang tidak meyakinkan sebagai mata seorang pendekar tangguh.

"Aih, gila! Semakin tampan saja dia!" pikir Selendang Kubur. "Hatiku berdebar-debar digelitik bayangan indah dalam cumbuannya. Oh, apakah nantinya aku akan tega menyerang dia?"

Hati Perawan Sesat pun membatin, "Kurang ajar! Semakin terkena cahaya rembulan, semakin menggairahkan wajahnya. Aku jadi gundah membayangkan cumbuannya. Oh, sepertinya aku tak sampai hati jika harus menyerangnya!"

Peri Malam bahkan palingkan wajah, tak berani menatap Pendekar Mabuk. Dalam hatinya ia membatin, "Celaka kalau begini! Dia semakin memikat hatiku! Aku terbayang saat dia menciumku di pantai. Oh, luar biasa indahnya kala itu. Kakiku sekarang pun jadi gemetaran membayangkannya. Lantas, bagaimana nanti jika aku harus menyerangnya? Apakah aku bisa menyerang seorang kekasih yang kucintai dan kurindukan itu?"

Sementara hati ketiga perempuan itu berkecamuk sendiri-sendiri, Dirgo Mukti segera sentakkan tangan kosongnya ke depan bagai mencakar perut harimau.

Wuuttt..!

Pendekar Mabuk melompat, namun terlambat. Tubuhnya tersentak ke belakang dan berguling dua kali. Lalu ia segera berdiri sambil menggeram. Ia bergerak kembali, bersamaan dengan itu Dirgo pun bergerak berkeliling. Langkah demi langkah ia perhatikan. Sedang Suto masih tetap membungkuk-bungkuk dengan kedua tangan lurus ke bawah dan menggantung, seakan sewaktu-waktu siap melompat untuk menerkam lawannya. Dirgo Mukti segera jejakkan kakinya ke tanah, tubuhnya pun cepat melesat terbang dalam satu putaran salto ke depan.

Wuuttt...!

Pendekar Mabuk mundur satu tindak. Di belakangnya jurang maut. Suto bagaikan tidak menyadari hal itu. Ketika Dirgo Mukti pijakkan kaki ke tanah di depan Pendekar Mabuk dalam jarak empat langkah, cepat-cepat ia sentakkan tangan kanannya ke depan, dan ujung kapak yang dipegangnya itu melesat lepas dari tangkai. Ujung kapak yang berupa mata tombak kecil itu mempunyai nyala pijar api merah.

Zuuittt...!

Pendekar Mabuk tak bisa mengelak kecepatan mata tombak itu. Langsung mata tombak bergerak tanpa ampun, menembus dada Suto. Jruub....! Tubuh Suto seketika menjadi berasap. Sebelum tumbang dan hancur, Dirgo Mukti segera lompatkan kaki dan memberi tendangan samping yang cukup keras.

"Hiaaattt...!"

Beeg...!

"Aaahg...!" Suto mengerang, tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh ke jurang yang amat dalam itu. Suara jeritannya menggema bagai memecah sepi di malam purnama. Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti yang sudah kehilangan mata tombaknya itu kembali muncul mata tombak baru.

Creekk...!

Tetapi kapak itu hanya digenggamnya dengan hati puas. Ia berseru geram, "Mampuslah kau, Suto Sinting! Ternyata kehebatanmu tak seperti apa yang digembar-gemborkan tiap manusia!"

Segera Dirgo Mukti balikkan badan. Ia menatap ketiga perempuan itu dengan senyum lebar dan tawa pun terdengar berkumandang. Sedangkan ketiga perempuan itu sama-sama terpaku tak bergerak di tempatnya. Mata mereka tak berkedip sama sekali. Karena mereka terpukau melihat kematian Suto yang begitu cepat dan mudahnya dikalahkan oleh Dirgo Mukti.

"Celaka...!" bisik Peri Malam kepada kedua teman di kanan-kirinya. "Dirgo Mukti menang melawan Pendekar Mabuk! Ini berarti kita bertiga bakal menjadi istrinya!"

"Aku tidak sudi!" bisik Selendang Kubur dengan tegang.

"Aku juga tidak bergairah dengan dia!" bisik Perawan Sesat.

"Lantas bagaimana?"

"Kita serang saja dia! Bunuh!" geram Selendang Kubur.

"Kalau begitu, biarlah aku yang maju melawannya!" bisik Perawan Sesat dengan dada naik turun. Dalam hatinya ia berkata, "Bangsat si Dirgo Mukti ini! Dia telah membunuh orang yang kuharapkan kemesraannya! Dia telah menghancurkan gairahku! Dia harus kubunuh juga!"

Sedangkan Selendang Kubur berkata pula dalam hatinya, "Aku tak rela! Sungguh tak rela Suto ditumbangkan begitu saja! Aku harus membalas kematian Suto, karena dialah yang telah menghilangkan orang yang kucintai! Dia telah menghancurkan cintaku! Jahanam kau, Dirgo Mukti!"

Mata perempuan bertahi lalat di sudut dagunya juga menjadi nanar penuh kobaran api amarah. Peri Malam berkata geram dalam hati, "Orang ini benar-benar memuakkan! Akan kutebus kematian Pendekar Mabuk dengan nyawanya! Akan kubela orang yang kucintai itu, walau aku harus korbankan nyawa dalam pertarungan ini!"

Dirgo Mukti melangkah dengan gagahnya mendekati ketiga perempuan itu. Tawanya masih berkepanjangan sambil ia serukan kata, "Kalian sekarang menjadi istri-istriku! Harapan kalian terkabul! Aku melihat sendiri mayat Pendekar Mabuk tertancap bebatuan karang di bawah sana! Ha ha ha...! Dekatlah kemari istri-istriku! Mari kita rayakan kemenangan ini dengan sejuta kemesraan dan kehangatan bercinta, ha ha ha...!"

Perawan Sesat maju dua tindak, tangannya siap untuk melancarkan pukulan jarak jauhnya. Tapi kain selendang putih telah lebih dulu berkelebat menghantam tubuh Dirgo Mukti.

Wuuugh...!

Selendang Kubur melepaskan pukulan tenaga dalamnya menggunakan kibasan selendang putihnya. Pukulan itu membuat Dirgo Mukti tersentak ke samping dan oleng mencari keseimbangan.

"Hai...! Mengapa kalian menyerangku?!"

Wuuttt...! Perawan Sesat sentakkan tangan kirinya dan sebuah pukulan tenaga dalam cukup tinggi tak dapat dihindari Dirgo Mukti. Pukulan itu tepat mengenai dada Dirgo Mukti.

Beeegh...!

"Heegh...?!" Dirgo Mukti memekik tertahan. Tubuhnya tersentak ke belakang, tiga langkah jauhnya. Mulutnya mulai mengeluarkan darah. Tapi ia belum jatuh, ia masih berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ia menarik gagang kapaknya, sreekkk...! Gagang itu mengulurkan rantai, sehingga mata kapak bisa diputar-putarkan di atas kepala.

"Jahanam kalian semua! Kalian ingkar janji! Kalian hanya pergunakan aku untuk membunuh Suto!"

"Tak perlu banyak bicara, Dirgo Mukti! Kami memang gunakan kamu sebagai alat! Tak satu pun dari kami yang sudi menjadi istrimu!" sentak Peri Malam yang segera melompat ke atas dan menghantamkan pukulan jarak jauhnya.

Bangng...! Pukulan itu tertangkis oleh kibasan kapak yang berputaran cepat di atas kepala. Memercikkan cahaya merah menyala dalam sekejap. Lalu, tiba-tiba kapak itu bagaikan terbang dalam ikatan rantainya yang bisa mulur panjang.

Wungng...! Sreekkk...!

Kalau saja kepala Perawan Sesat tidak segera merunduk dan berguling di tanah, sudah pasti akan terpenggal mata kapak itu. Juga kalau Selendang Kubur yang berdiri sejajar dengan Perawan Sesat itu tidak segera gulingkan badan ke tanah, lehernya akan putus seketika karena ditebas kilasan kapak terbang itu.

Peri Malam yang berada tepat di garis lurus depan Dirgo itu segera keluarkan sumpit bambunya dari belahan dadanya yang montok itu. Lalu, ia tiupkan napasnya melalui lubang sumpit yang panjangnya hanya sejengkal. Slup...! Maka meluncurlah senjata andalannya yang bernama Jarum Iblis itu ke arah Dirgo Mukti.

Crasss...! Duaarrr...!

Jarum Iblis tak berhasil menembus sasaran, karena kapak Dirgo Mukti yang mengeluarkan bunyi dengung berkumandang itu menangkis jarum tersebut. Tangkisannya itu menimbulkan percikkan nyala api bersama bunyi ledakan yang menggema.

Pada kesempatan lengah sedikit itu, Selendang Kubur segera sabetkan selendangnya dengan satu hentakkan kaki ke bumi. Jurus 'Selendang Petir' diganaskan. Dari ujung kain selendang itu keluar percikkan api yang mampu membakar lawan.

Craapp... craapp...!

Melihat datangnya bahaya dari samping, Dirgo Mukti segera sentakkan kaki dan melenting di udara dengan kapaknya tetap berputar membentengi dirinya.

Wuusss...!

Sabetan 'Selendang Petir' hanya membuat nyala api sekejap, menyambar tempat kosong. Sementara itu, ujung kapak Dirgo Mukti keluarkan sinar merah membara yang meluncur cepat ke arah Peri Malam. Sinar merah membara itulah yang tadi digunakan menghantam Suto.

Wuusssh...! Cepat sekali gerakan sinar merah membara dari logam berbentuk mata tombak itu.

Sebelum mencapai tubuh Peri Malam, Perawan Sesat cepat sentakkan tangan kanannya dan melesatlah sinar kuning menghantam logam membara itu.

Duaarrr...!

Pecah logam membara itu tepat di atas kepala Peri Malam. Dentumannya membuat tubuh Peri Malam tersentak dan jatuh tersungkur. Tetapi ia segera bangkit lagi dan dalam posisi duduk ia luncurkan Jarum Iblis di kaki Dirgo Mukti.

Slaappp...!

"Uuhf...!" Dirgo Mukti menahan rasa sakit yang mengagetkan, karena begitu ia mendaratkan kakinya ke tanah, jarum beracun itu telah menyambut betisnya dengan empuk.

Jruubb...!

Dua pasang mata yang memperhatikan pertarungan tak imbang itu menjadi tegang. Dua pasang mata itu ada di atas pohon, di lereng bukit agak ke bawah. Karena posisinya ada di atas pohon, jadi kedua pasang mata milik dua manusia itu dapat melihat dengan jelas pertarungan tersebut.

"Dirgo Mukti bisa mati! Dia terdesak terus dan telah berkena Jarum Iblis milik Peri Malam!"

"Jar... jar... jarum itu kulihat mempunyai serbuk racun! Sangat ber... ber... berbahaya racun itu. Kedipan serbuknya dapat tertangkap oleh mat... mata... mataku!"

"Kasihan Dirgo Mukti! Bagaimana kalau aku membantunya, meleraikan pertarungan itu?"

"Jang... jang... jangan! Kkkau... kau sudah dianggap mat... mati oleh mereka!"

Ya, Suto telah dianggap mati oleh tiga perempuan patah hati. Tapi sebenarnya dia sedang menjadi penonton pertarungan di atas Bukit Jagal itu bersama Dewa Racun. Ini semua gagasan Dewa Racun, si kerdil yang cerdik itu. Ia berhasil menemukan seekor orang hutan. Ia cepat jinakkan orang hutan itu. Lalu, ia suruh Suto menggunakan ilmu 'Seberang Raga'-nya sehingga orang hutan itu bisa menjadi wujud dirinya di mata orang-orang yang ada di atas bukit tadi.

Orang hutan yang sudah berubah wujud Suto itu masuk arena pertarungan dan tentu saja dengan mudahnya dikalahkan Dirgo Mukti. Dengan begitu, Dirgo Mukti berhak menuntut janji dari ketiga perempuan licik itu, dan ketiga perempuan licik menjadi kebingungan, karena tidak menyangka bahwa Dirgo Mukti benar-benar dapat membunuh Pendekar Mabuk.

Pendekar Mabuk tertawa geli melihat tiga perempuan licik itu berontak, tak mau ditagih janjinya oleh Dirgo Mukti. Rupanya mereka benar-benar bernafsu untuk membunuh Dirgo Mukti. Sehingga, walaupun keadaan Dirgo Mukti sudah lemah dan parah, mereka masih terus menyerangnya. Sampai akhirnya Dirgo Mukti tersungkur jatuh dengan luka dalam dan luar, namun ia masih bisa berlutut dan mencoba berdiri lagi.

"Habislah nyawamu sekarang juga, Jahanam!" geram Perawan Sesat sambil lancarkan pukulan pamungkasnya yang amat berbahaya itu. Tapi tiba-tiba kilatan cahaya merah dari tangan Perawan Sesat tersentak ke samping, didorong oleh kilatan cahaya hijau yang datang secara tiba-tiba.

Glegaaar...!

Tabrakan cahaya bertenaga dalam tinggi itu membuat bukit bagaikan mau rubuh. Dentumannya mengguncang bumi, membuat ketiga tubuh perempuan itu terpental berlainan arah. Jatuh telentang dengan erangan yang lirih. Ketiganya cepat berusaha untuk bangkit kembali.

"Hi hi hi hi...!" terdengar suara tawa mirip kuntilanak yang berdiri di depan mereka bertiga. Suara itu berasal dari seorang nenek berjubah biru lusuh, pakaiannya serba abu-abu. Badannya agak bungkuk, rambutnya digulung naik, berwarna abu-abu juga. Di pinggangnya terselip tengkorak kambing bergagang tulang ikan berukuran antara dua jengkal.

Peri Malam tak asing lagi dengan wajah bermata cekung angker itu. Karena dulu ia pernah menjadi murid nenek keriput bergigi ompong dan tak bisa menyebutkan huruf 'r'.

"Guru,..?!"

"Hei, jangan sebut aku gulumu lagi, Peli Malam!" kata nenek angker yang dikenal dengan nama Mawar Hitam dari Pulau Hantu itu. "Kamu sudah bukan lagi mulidku! Kamu sesat, dan perlu kuhajal juga lupanya!"

"Tunggu!" sentak Perawan Sesat ketika Mawar Hitam ingin menghantamkan pukulan jarak jauhnya. "Apa urusanmu ikut campur pertarungan kami ini, Nenek Peot!"

"Aku memang cali-cali anak muda ini! Dia punya kesaktian cukup lumayan buat kuselap, sama dengan kesaktian gulumu si Nyai Lembah Asmara itu! Aku akan jadi olang yang paling tinggi ilmunya setelah kuselap banyak ilmu dali olang-olang yang kuselamatkan dali peltalungan!"

Wuttt...! Dengan sekali sentak kaki, tubuh Dirgo Mukti sudah melesat sendiri dan jatuh di pundak Mawar Hitam. Badannya yang bungkuk semakin bungkuk lagi menggendong tubuh Dirgo Mukti yang sudah nyaris mati itu.

"Akan kau bawa ke mana dia? Kami harus membunuhnya lebih dulu, baru kamu boleh membawa mayatnya pergi!" sentak Selendang Kubur.

"Benar, Guru!" sahut Peri Malam yang sudah terbiasa memanggil 'guru' kepada Mawar Hitam. "Kami harus hancurkan Dirgo Mukti, karena dia telah membunuh Suto!"

"Hik hik hik hik...! Pendekal Mabuk belum mati! Dia masih sembunyi! Kalian telah dikecohkan oleh Pendekal Mabuk! Hi hi hi hi...! Kalian tidak akan sanggup melawan Suto, kalena Suto itu adalah lawanku! Aku halus tebus kekalahanku dalam lebutan Pusaka Tuak Setan, setelah aku tebus kekalahanku tempo hali, aku halus bunuh gulunya yang belnama Bidadali Jalang! Tapi itu nanti, kalau aku sudah selap banyak ilmu dali olang-olang bodoh macam Dilgo Mukti ini! Hik hik hik...!"

Mawar Hitam bergerak mau tinggalkan tempat. Tapi Perawan Sesat cepat lompat dan hadang langkah Mawar Hitam. Dengan berani ia menyentak Mawar Hitam. "Tinggalkan manusia itu di sini!"

"Ah, kamu mau cali-cali mati lupanya?" Mawar Hitam segera kibaskan tangannya bagai menyambar nyamuk.

Wuuttt...! Tepat pada saat itu sinar merah berbentuk bulat seperti bola kecil itu melesat dari siku Mawar Hitam, melesat ke dada Perawan Sesat.

Kejap berikut, Dewa Racun lepaskan anak panahnya dari atas pohon. Wuuttt....! Panah itu meluncur bagai kilat menyambar bola merah.

Blaarrr...!

Tubuh Mawar Hitam tersentak mundur karena hempasan angin dari ledakan bola merahnya itu. Perawan Sesat terpentang dan nyaris jatuh ke jurang dalam itu. Ledakan itu menimbulkan hentakkan gelombang yang cukup besar. Mawar Hitam sendiri segera berpaling ke arah datangnya anak panah tadi.

"Kulang ajal...!" geramnya dengan beringas.

Slapp...!

Tiba-tiba tubuh Pendekar Mabuk sudah berada di samping Mawar Hitam dalam satu lompatan berkecepatan tinggi sekali itu. Pendekar Mabuk langsung berkata, "Kalau kau mau hadapi aku, sekaranglah kita tentukan pertarungan kita di sini, Mawar Hitam!"

Yang terkejut bukan hanya Mawar Hitam, tapi ketiga perempuan itu sama-sama tersentak kaget dan mundur dalam jarak tertentu. "Dia masih hidup!" bisik Selendang Kubur kepada Peri Malam.

Tapi yang diajak bicara hanya terbengong. Perawan Sesat juga hanya berdiri mematung tak berkedip.

"Suto, saatnya belum tiba untuk peltalungan kita! Tunggu bebelapa waktu lagi! Akan kuhanculkan kamu sampai selembut selbuk tepung! Jangan sangka aku tidak bisa ungguli ilmumu, Suto!"

"Telselah kamu!" tak sadar Pendekar Mabuk ikut cadel bicaranya, namun buru-buru ia perbaiki lagi, "Terserah kamu, Mawar Hitam! Kapan saja kau menghendaki pertarungan kita, aku siap menunggumu!"

"Tunggu saatnya!" dan tiba-tiba, Mawar Hitam seperti membanting sesuatu. Wuugh...! Asap mengepul tebal dari sebuah letupan. Asap itu menipis, Mawar Hitam ternyata sudah hilang dari pandangan bersama tubuh Dirgo Mukti.

"Ada yang masih bernafsu membunuhku?!" tantang Pendekar Mabuk kepada ketiga perempuan itu. Tapi tak satu pun menyahut, tak satu pun bergerak. Bahkan ketika Suto tertawa sambil tinggalkan tempat itu, mereka hanya bisa mengikuti dengan pandangan mata bengong.

Dewa Racun datang menyambut langkah Suto. Orang kerdil itu tersenyum-senyum sambil berkata, "Kkku... kurasa sudah tidak ada masalah dengan Bukit Jagal ini, Suto. Kit... kkkit... kita langsung saja pergi ke sana!"

"Baik! Aku sependapat denganmu, Dewa Racun!"

"Nyai Gusti pas... pass... pasti akan sen... sen... sen..."

"Seneb?!"

"Bukan! Akan sen... senang menerima kedatanganmu. Nyai Gusti pasti sudah tidak sabar men... men... men..."

"Menungging?"

"Menunggumu! Bukan menungging!" sentak Dewa Racun yang segera ditertawakan oleh Suto.

Langkah kaki Suto begitu cepat, seiring dengan langkah kaki Dewa Racun. Dalam kejap berikut Pendekar Mabuk dan Dewa Racun sudah sama-sama menghilang dari pandangan tiga perempuan salah tingkah itu.

"Hei, mengapa kita tidak membunuhnya? Suto sudah ada di depan kita!" kata Peri Malam.

Selendang Kubur berkata. "Adakah dari kita yang tega membunuhnya?"

Tak satu pun ada yang menjawab dari mulut mereka. Semua diam, bingung, dan hanya bisa saling pandang satu dengan yang lainnya.

SELESAI