Social Items

Serial Pendekar Mabuk
Murka Sang Nyai
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
AWAN hitam menaungi wilayah Perguruan Merpati Wingit. Dari sebuah lembah tampak terlihat jelas reruntuhan bangunan joglo yang merupakan bangunan terdepan setelah halaman laga Perguruan Merpati Wingit. Dari sanalah sepasang mata menatap dengan sedikit menyipit, tersimpan dendam dalam hati yang luka mengharu melihat porak-porandanya perguruan tersebut.

Sepasang mata menyipit dendam milik perempuan berpakaian merah dadu itu masih memandangi makam-makam di samping pagar wilayah perguruan. Berjajar makam yang tanahnya masih tampak baru ditimbunkan itu, seakan barisan pisau tajam yang menggores hati perempuan berselendang putih di pinggangnya.

Perempuan itu tak lain adalah Selendang Kubur,murid Perguruan Merpati Wingit yang sudah lama tak kembali ke perguruannya, karena tergoda cinta murid sinting si Gila Tuak yang bergelar Pendekar Mabuk, Suto Sinting.

Kabar tentang porak-porandanya perguruan tersebut didengar telinga Selendang Kubur dari sudut sebuah kedai, di mana tiga orang bercerita tentang amukan Perawan Sesat yang konon berhasil melukai gurunya, Nyai Betari Ayu. Celoteh di sudut kedai itu juga mengisahkan cerita tentang kematian Dewi Murka yang disaksikan sendiri oleh mata seorang lelaki besar tanpa isi yang dikenal dengan nama Singo Bodong, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat).

Selendang Kubur tak sampai hati untuk tinggal diam melihat keadaan di perguruannya. Niatnya untuk memburu cinta pada Suto Sinting tertangguhkan. Apa pun amarah sang Guru nantinya, ia siap menerima hukumannya, ia juga tak bisa menahan duka mendengar gurunya Nyai Betari Ayu, terluka oleh pukulan lawan.

Dengan dendam membesi di hati, Selendang Kubur melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang perguruan yang telah hancur itu. Suasana pelataran laga tampak sepi. Selendang Kubur menarik napas untuk menahan luapan api kemarahan yang telah membakar dada. Maka, segera ia melesat ke serambi samping, dan di sana ia temui sang Guru sedang duduk merenung dengan wajah tetap berwibawa walau tampak guratan dukanya.

Melihat siapa yang muncul di depannya, Nyai Betari Ayu terkesiap sekejap, ia segera menarik napas meredam kemarahan, ia mengangkat wajah, memandang tajam muridnya yang lama tak kunjung tiba. Sang murid menundukkan wajah, sebagai ungkapan rasa bersalah dan pasrah menerima hukuman sang Guru. Betari Ayu segera perdengarkan suaranya dengan lembut tapi penuh kharisma bagi murid yang baru datang itu.

"Kaukah yang berdiri di depanku, Selendang Kubur?!"

Sedikit tunduk kepala Selendang Kubur saat menjawab, "Benar, Nyai Guru. Saya datang."

"O, syukurlah. Ternyata kau masih ingat jalan pulang ke perguruanmu ini."

"Maafkan saya, Nyai Guru. Saya memang bersalah."

"O, tidak! Kau tidak bersalah!" tukas Nyai Guru Betari Ayu. "Perguruan ini hampir hancur bukan karena ulahmu, melainkan ulah muridnya si Nyai Lembah Asmara. Perawan Sesat namanya."

"Saya merasa bersalah, karena saat itu saya tidak ada di sini, Guru."

"Bukan hanya kamu, tapi Dewi Murka juga tidak ada disini."

"Dewi Murka juga sudah tewas di tangan Perawan Sesat, Guru!"

Tersentak hati Betari Ayu. Terbungkam mulutnya tanpa bisa mengucap sepatah kata pun mendengar Dewi Murka tewas di tangan Perawan Sesat. Semakin tertimbun dendam hati Betari Ayu rasanya. Tetapi ia berusaha untuk menahan diri agar tidak hanyut dalam kobaran dendam yang membara itu. Dewi Murka dan Selendang Kubur adalah orang kuat di Perguruan Merpati Wingit. Kepada salah satu dari kedua orang itulah Betari Ayu ingin menyerahkan tampuk pimpinannya.

Menurut pandangan hatinya, hanya dua orang itulah yang bisa dan pantas menjadi penggantinya, sebagai Ketua Perguruan Merpati Wingit. Tetapi sebelum niatnya terlaksana, satu dari kedua orang pilihannya itu telah tewas. Kini tinggal Selendang Kubur yang menjadi satu-satunya calon pengganti dirinya, sebelum ia pergi mengasingkan diri menjadi seorang pertapa.

Tetapi, mampukah Selendang Kubur mempertahankan perguruannya jika sekarang hatinya telah ditaburi dendam terhadap orang-orang Bukit Garinda yang dikuasai oleh Nyai Lembah Asmara? Bukankah beberapa orang kuat di perguruan itu telah tewas juga di tangan perempuan iblis utusan Nyai Lembah Asmara? Dewi Murka, Murbawati, dan orang- orang kuat lainnya telah tiada. Padahal mereka adalah benteng bagi Perguruan Merpati Wingit.

Belum lagi jika Betari Ayu memikirkan Pendekar Mabuk yang berhasil dibujuk Perawan Sesat untuk dibawa ke Bukit Garinda, makin perih hati Nyai Betari Ayu sebenarnya. Karena di dalam hati Nyai Guru itu, tertanam cinta yang rapi tersembunyi. Baik sang Guru maupun sang murid tidak saling mengetahui bahwa mereka sebenarnya sama-sama mencintai Suto dansama-sama merasa kehilangan pemuda itu.

Melihat termenungnya sang Guru, Selendang Kubur segera ucapkan kata penuh hati-hati, "Nyai Guru, siapa wanita yang berjuluk Perawan Sesat itu sebenarnya, dan di mana ia tinggal, Guru?"

"Apa maksudmu bertanya begitu, Selendang Kubur?"

"Saya harus pergi menemuinya, membuat perhitungan dengannya, Guru. Saya harus menebus nyawa saudara-saudara saya yang menjadi korban keganasan Perawan Sesat itu."

"Haruskah kita menebus dendam berdarah ini, Selendang Kubur?"

Pertanyaan ini sungguh sulit dijawab oleh Selendang Kubur. Pandang matanya sesaat menyirat ke wajah gurunya lalu tundukkan kepala lagi seraya berkata, "Tidak ada darah yang tidak membekas, Guru. Dan untuk menghilangkan darah itu hanya dengan pembalasan setimpal, Nyai Guru."

Diam sekejap sang Guru sebelum memperdengarkan suara lembutnya, "Akan selesaikah masalah yang dirampungkan dengan dendam dan pembalasan? Akan berhentikah pertikaian yang dibayar dengan kesumat dendam, Selendang Kubur?"

Lirih suara Selendang Kubur menjawab, "Tidak, Guru."

"Ya. Tidak akan terselesaikan. Pasti akan berbuntut panjang. Dan itu akan menuntut kita untuk lebih bermusuhan lagi."

"Tapi harga diri perguruan tetap harus ditegakkan, Guru. Nama baik dan wibawa Nyai Guru sendiri juga harus terjaga oleh sikap kita. Jika tak ada pembalasan datang dari kita, maka hancur sudah citra perguruan dan terinjak-injak sudah wibawa serta kehormatan Nyai Guru, yang menjadi ketua perguruan ini."

"Memang benar apa katamu. Itu pula yang sedang kupertimbangkan sejak tadi. Dan aku belum mempunyai keputusan, Selendang Kubur. Aku masih mencari sisi baik dari bencana ini."

"Guru terlalu sabar," terdengar Selendang Kubur ucapkan kata dalam kebimbangan dan rasa takut.

Tapi Nyai Guru Betari Ayu hanya tersenyum tipis dan pahit. Nyai Guru alihkan pandangan sambil ia langkahkan kaki menuju ke taman. Selendang Kubur mengikutinya dengan mulut tak terucap dalam waktu beberapa kejap. Setelah Nyai Guru berhenti di sisi tanaman mawar berbunga ungu, Selendang Kubur beranikan diri ajukan pertanyaan.

"Sebenarnya apa permasalahan yang membuat wanita gila berjuluk Perawan Sesat itu mengobrak-abrik tempat kita, Guru?"

Sebelum lontarkan jawaban, Nyai Guru tarik napas terpendam di dada. Ia tekan gemuruh yang hampir tak terkendali di sela bayangan seorang pemuda tampan bergelar Pendekar Mabuk itu. Kejap berikutnya Betari Ayu lepaskan kata, "Titik masalahnya adalah Suto."

Terperanjat Selendang Kubur mendengar nama pemuda yang diincar hatinya disebut oleh sang Guru. Ketika sorot pandang Selendang Kubur membentur tatapan wibawa sang Guru, terdengarlah kata dari sang Guru yang menjelaskan maksud jawabannya tadi,

"Suto kutemukan terluka parah di sebuah bukit. Aku segera membawanya kemari dan kurawat hingga sembuh. Begitu Suto pergi, datang Perawan Sesat menuduhku menyembunyikan Suto. Lalu, mengamuklah dia di sini, mencabut nyawa saudara-saudara seperguruanmu dengan seenaknya saja. Beruntung nyawaku masih terlindung oleh kemunculan Suto yang segera menyerang Perawan Sesat itu."

"Lalu, ke mana Suto sekarang, Guru?"

"Terbujuk oleh omongan Perawan Sesat. Suto pergi ke Bukit Garinda menemui gurunya Perawan Sesat yang bergelar Nyai Lembah Asmara itu."

"Untuk apa Suto ke sana?"

"Nyai Lembah Asmara adalah perempuan sakti, keji, tapi mandul, ia hanya bisa memperoleh keturunan dari benih lelaki tanpa pusar. Pendekar Mabuk itulah lelaki tanpa pusar. Nyai Lembah Asmara akan menjadikan Suto sebagai lelaki pembenih, yang akan menurunkan bibitnya kepada Nyai Lembah Asmara."

"Itu berarti Suto akan kawin dengan Nyai Lembah Asmara?!" Selendang Kubur ucapkan kata dengan tegang.

Sang Guru masih memberi jawaban dengan kalem. "Setidaknya, Suto akan dikuasai oleh Nyai Lembah Asmara dan dipaksa agar mau melayani hasratnya. Padahal aku tahu persis, Nyai Lembah Asmara mempunyai racun yang tak dapat dilawan dengan ilmu apa pun. Racun itu bernama Racun Darah Asmara. Racun itu dipancarkan lewat sorot pandangan matanya. Siapa pun lelaki yang terkena sorot mata beracun, bisa luluh hatinya dan terbuai jiwanya, serta terbakar birahinya. Itulah kehebatan Racun Darah Asmara. Aku yakin, Pendekar Mabuk tak bisa menghindari racun itu. ia akan tunduk dengan cinta dan rayuan Nyai Lembah Asmara."

Terasa panas sekujur dada Selendang Kubur, karena saat itu darah terasa mendidih. Terbayang kelicikan Nyai Lembah Asmara yang akan mempengaruhi Suto dengan memakai racun berbahaya itu. Maka tergugah pula dendam yang paling dalam, yaitu ingin menggempur orang-orang Bukit Garinda, yang menjadi wilayah kekuasaan Nyai Lembah Asmara.

"Jika begitu, Guru," Selendang Kubur angkat bicara, "Saya akan gagalkan kunjungan Suto ke Bukit Garinda. Saya akan cegah Nyai Lembah Asmara itu menggunakan racun tersebut!"

"Jangan gegabah, Selendang Kubur. Nyai Lembah Asmara bukan orang berilmu rendah. Tinggi ilmumu hanya mencapai separo dari ilmunya. Kau tak mungkin sanggup mengunggulinya. Aku sendiri merasa kalah tinggi dengan ilmunya."

"Saya tidak peduli, Guru! Yang jelas, sekarang juga saya mohon pamit untuk pergi ke Bukit Garinda!" Selendang Kubur berkobar-kobar semangatnya. Mata jelinya menjadi nanar penuh kilasan lidah api amarah yang berkobar-kobar di dalam hatinya. Napasnya pun kelihatan lebih memburu.

"Tahanlah amukan hatimu, Selendang Kubur. Jangan mati konyol tanpa perhitungan sedikit pun!"

"Suto harus segera diselamatkan, Guru! Saya sudah bisa bayangkan kalau Suto menanamkan benih pada rahim Nyai Lembah Asmara, dan benih itu menjadi keturunan sang Nyai Lembah Asmara, sudah pasti keturunan itu akan menjadi manusia tanpa tanding, Guru."

"Memang. Itulah sebabnya Lembah Asmara tidak bisa punya keturunan, sebab satu kali dia punya keturunan maka anaknya akan menjadi manusia tanpa tanding. Padahal Nyai Lembah Asmara mempunyai aliran hitam. Tidak menutup kemungkinan kalau anaknya nantinya akan menjadi orang sesat yang tidak bisa dikalahkan oleh pendekar mana pun!"

"Karena itu saya harus segera gagalkan rencana tersebut, Guru!" sergah Selendang Kubur.

"Aku tak bisa memberi keputusan sekarang. Biarkan aku duduk di sini merenungkan putusan yang lebih baik."

Dalam hati Betari Ayu merasa khawatir terhadap jiwa Selendang Kubur. Tinggal satu murid yang menjadi benteng perguruannya. Jika Selendang Kubur tewas di tangan Nyai Lembah Asmara, habis sudah benteng Perguruan Merpati Wingit. Tetapi sang Guru juga melihat nyala dendam dan bela pati dari sang murid. Jika ia patahkan dengan larangan berangkat ke Bukit Garinda, pupus sudah semangat sang murid, susut sudah jiwa bela patinya, patah pula semangatnya.

"Haruskah kuturunkan ilmu yang ada dalam Kitab Wedar Kesuma itu untuknya?" pikir Betari Ayu dalam renungan panjangnya. Tapi, renungan itu terputus oleh kehadiran murid lainnya yang memberanikan diri menghadap dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa kau menghadapku dengan wajah pucat, Prahasti?"

"Guru, pedang pusaka Jalaganda dicuri oleh Selendang Kubur dan dibawanya lari, Guru!"

Tersentak jantung Betari Ayu mendengarnya, ia gumamkan kata "Jalaganda dicuri? Selendang Kubur lari? Jelas, arahnya pasti ke Bukit Garinda. Anak itu tak bisa dikekang amarahnya. Berbahaya sekali. Tidakkah ia sadari bahwa pedang Jalaganda adalah pusaka yang hanya dipakai untuk pertarungan terakhir bagi orang yang sudah bosan hidup? Memang orang yang menggunakan Jalaganda bisa memperoleh kemenangan walau melawan seribu lawan, tapi selesai itu orang yang menggunakannya akan mati. Jalaganda akan pulang sendiri ke tempatnya tanpa pembawanya!"

Cemas hati Betari Ayu bagai meruncingkan luka. Jalaganda bukan pedang sembarang pedang. Jalaganda merupakan pedang warisan eyang guru dari Betari Ayu yang merupakan pedang kemenangan dan kekalahan. Hanya tokoh-tokoh tua zaman dulu yang menggunakan pedang Jalaganda untuk bertarung, karena usai itu ia sudah siap mati tanpa meninggalkan dendam lagi. Sedangkan Betari Ayu tidak ingin satu-satunya murid andal yang tersisa itu mati bersama kemenangan pertarungannya. Nyai Betari Ayu masih membutuhkan Selendang Kubur untuk tetap menghidupkan perguruannya itu.

"Aku harus segera menyusul Selendang Kubur. Aku tidak izinkan dia menggunakan pedang Jalaganda, agar ia tak ikut punah seperti yang lainnya. Dialah yang akan kujadikan penerus ilmu-ilmu Merpati Wingit dan mengembangkannya ke seluruh penjuru dunia," pikir Betari Ayu sambil berkemas mengenakan jubah kuningnya yang terbuat dari kain sutera lembut dan tipis. Ikat kepala dari tali merah berbintik-bintik kuning keemasan, dengan kedua ujung terdapat logam runcing berbentuk mata tombak kecil, yang bisa pula digunakan sebagai pengikat rambutnya yang panjang digelung rapi di atas kepala, ia menarik napas beberapa kali.

Terasa enteng badannya. Terasa sembuh betul luka-lukanya akibat minum tuak pemberian Pendekar Mabuk, sebelum pemuda itu pergi bersama Perawan Sesat. Kalau bukan karena pusaka Jalaganda, Nyai Guru Betari Ayu tidak akan keluar dari padepokannya. Jalaganda memang berbahaya.

Selendang Kubur sendiri sebenarnya mengetahui akibat penggunaan pedang pusaka Jalaganda. Tetapi agaknya ia sudah siapkan diri untuk mati demi harga diri perguruannya. Gerakannya begitu cepat ketika ia menuju ke arah Bukit Garinda. Pedang Jalaganda disarungkan di punggung, melintang dengan gagahnya. Dalam hati Selendang Kubur terucap kata,

"Akan kutunjukkan pada Suto, bahwa aku rela mati demi menyelamatkan dirinya dari Racun Darah Asmara. Akan kubuktikan pula kepada Nyai Guru, bahwa aku rela hancur demi nama baik dan kehormatan martabat perguruan. Tetapi... apakah Suto mau tahu dan mau percaya bahwa semua ini kulakukan demi cintaku padanya? Sudah layakkah aku berkorban untuk dia?"

Tiba-tiba tanah lereng yang ada di depan Selendang Kubur itu longsor. Batu-batu besar yang ada di lereng itu menggelinding bertuhan ke arahnya. Selendang Kubur cepat jejakkan kaki dan melenting di udara, hindari bebatuan besar yang bisa bikin tubuhnya gepeng mirip tape.

"Tak mungkin batu itu runtuh menggelinding sendiri," pikir Selendang Kubur setelah keadaan menjadi tenang. "Tak mungkin tanah itu longsor sendiri tanpa ada getaran bumi sedikit pun. Pasti ada orang yang sengaja mencelakai diriku."

Mata jeli itu menjadi makin tajam, melirik ke sana- sini dengan liar. Sementara tubuh Selendang Kubur bersembunyi di celah batu yang ada di seberang lereng yang tadi longsor tanahnya. Tetapi untuk beberapa kejap hanya angin yang berhembus di sekelilingnya. Tak ada gerakan yang mencurigakan, atau kelebatan yang menarik perhatian.

Kejap berikutnya barulah Selendang Kubur menangkap sosok bayangan lelaki berbaju merah dan bercelana hitam. Serta-merta Selendang Kubur lancarkan pukulan jarak jauh dari tempat persembunyiannya. Lelaki pendek sedikit gemuk itu tersentak kaget merasakan hawa panas sedang mengalir menuju ke arahnya dari arah belakang. Cepat-cepat ia balikkan tubuh dan menghadang pukulan hawa panas itu dengan satu sentakan tangan kosong ke arah depan.

Rupanya ia sengaja adukan pukulan tenaga dalamnya dengan hawa panas yang mau membokongnya itu. Kedua pukulan tersebut beradu dan memancarkan kerlapan cahaya pijar yang begitu menyilaukan mata. Pecahnya cahaya itu tidak menimbulkan bunyi, melainkan mengguncangkan pepohonan yang ada di sekelilingnya.

"Siapa orang yang berani membokongku itu?!" pikir lelaki bergelang akar bahar di tangan kirinya. Matanya memandang tajam ke sekeliling, sampai akhirnya ia temukan sosok perempuan muncul dari celah dua batu besar. Lelaki yang sudah dikenal Selendang Kubur sebagai pelayan si Gila Tuak, gurunya Suto, yang berjuluk Pujangga Keramat itu, segera serukan kata kemarahan, "Selendang Kubur, kau serang mengapa aku dari belakang?!"

Buat Selendang Kubur, dia sudah tidak asing lagi mendengar ucapan aneh Pujangga Keramat. Sebab ia tahu persis Pujangga Keramat adalah manusia yang tidakpernah bisa menyusun kalimat. Dengan mudah Selendang Kubur mengerti maksud kata-kata Pujangga Keramat, ia dekati lelaki itu dengan tenang, tiada gentar sedikit pun.

"Kau menyerangku lebih dulu, Pujangga Keramat."

"Bilang siapa?! Aku datang baru saja, kau serang aku tahu-tahu dari belakang! Maksud apamu, hah?!"

Melihat kerut dahi dan kecemberutan wajah Pujangga Keramat, Selendang Kubur temukan kejujuran kata orang itu. Tapi dalam hati Selendang Kubur segera tanyakan pada diri sendiri, "Lantas, siapa yang membuat lereng itu longsor dan batu-batu menggelinding menyerangku jika bukan Pujangga Keramat?!"

* * *

DUA

MELIHAT sikapnya tidak bermusuhan, Pujangga Keramat pun ajukan tanya kepada Selendang Kubur, "Selendang Kubur, kau tahukah di mana Pendekar Mabuk ada?"

"Ada perlu pentingkah kau mencari Pendekar Mabuk, Pujangga Keramat?"

"Penting sangat! Ki Gila Tuak mencari Suto surah aku. Ke mana-mana aku cari sudah dia, tapi kudengar tidak kabarnya," kata Pujangga Keramat sambil ikuti langkah kaki Selendang Kubur pelan-pelan. Mereka bagaikan jalan seiring melewati bekas longsoran tanah.

"Aku dapat dari Ki Gila Tuak pesan penting untuk Pendekar Mabuk," tambah Pujangga Keramat.

"Penting sekalikah itu?"

"Penting biasa luar!" jawab Pujangga Keramat dengan sedikit ngotot, yang maksudnya menyatakan bawah pesan itu luar biasa penting. Kemudian, kejap berikutnya Pujangga Keramat serukan kata lagi dengan semangat,

"Suto punya tugas satu kerjakan ia belum. Pusaka Manik Intan yang ada di dasar telaga bersama Tuaknya Setan itu, belum ambil ianya. Cemas Ki Gila Tuak jadinya. Takut ia kalau Pusaka Manik Intan jatuh di orang-orang sesat tangan."

"Pusaka Manik Intan?!" gumam Selendang Kubur sambil menghentikan langkah di luar kesadarannya. Saat ia termenung memikirkan kabar itu, Pujangga Keramat sudah ucapkan kata lagi,

"Ki Gila Tuak suruh jaga aku itu telaga, sampai datang Suto aku tak tahu. Karena itu aku carilah dia!"

Selendang Kubur sendiri baru ingat bahwa menurut kabarnya, Pusaka Tuak Setan itu terkubur di dasar telaga bersama satu pusaka lagi milik Bidadari Jalang, yaitu Pusaka Manik Intan. Sedangkan Bidadari Jalang juga merupakan gurunya Pendekar Mabuk yang dulu sering tampil sebagai tokoh sesat, tapi sekarang sudah beralih ke golongan putih sejak mempunyai murid Suto.

Terawang ingatan Selendang Kubur kepada Suto, bahwa Pendekar Mabuk itu beberapa kali ia temui tapi tak terlihat Cincin Manik Intan tersemat di jarinya. Itu pertanda Pusaka Manik Intan belum ditemukan oleh Suto. Sedangkan Pusaka Tuak Setan telah tertelan oleh Suto pada saat diperebutkan dari tangan si Mawar Hitam dari Pulau Hantu (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan). Selendang Kubur belum mengetahui hal itu, sehingga hatinya pun bertanya-tanya, apakah Tuak Setan berhasil dilenyapkan oleh Suto, atau diminum oleh seseorang dari golongan sesat?

"Selendang Kubur," ucap Pujangga Keramat lagi, "Jika tahu kau Suto di mana, tolong kasih aku tahu tentang dianya. Dia harus cepat cari itu pusaka sebelum jatuh ke orang-orang sesat tangan."

"Pujangga Keramat, sebenarnya aku tahu di mana Pendekar Mabuk. Tapi keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk dihubungi secepat ini."

"Kasihlah tahu aku!" desak Pujangga Keramat.

"Dia ada di Bukit Garinda, sedang dalam bahaya. Aku sendiri sedang menuju ke sana untuk membebaskan Suto dari rencana jahat Nyai Lembah Asmara, penguasa Bukit Garinda itu!"

Pujangga Keramat kerutkan dahi tajam-tajam. "Aku pernah seperti dengarnya itu nama Nyai. Kalau tak salah, dia ratu keji dingin darah!"

"Memang benar! Menurut keterangan dari guruku juga begitu. Tapi aku tak takut, Pujangga Keramat. Aku tidak gentar. Aku harus bisa membebaskan Suto dari cengkeraman mesra Nyai Lembah Asmara itu!"

"Oho, ada cengkeraman mesra jugalah? Itu tanda cemburu kau padanya! He he he...!" Pujangga Keramat terkekeh jelek, tapi tidak menyakitkan hati, hanya membuat Selendang Kubur sunggingkan senyum malunya sedikit.

Pujangga Keramat goda hati perempuan itu, "Ada hatilah kau padanya, Selendang Kubur?"

"Ya," jawab Selendang Kubur singkat tapi tegas.

"Suto cintalah juga dengan kau?"

"Aku tak tahu apakah dia cinta juga padaku atau tidak, yang jelas aku tak rela kalau Pendekar Mabuk berada dalam cengkeraman mesra Nyai Lembah Asmara! Lebih baik aku bertarung sampai mati dengan nyai keji itu!" Selendang Kubur tak sadar ucapkan kata dalam geram amarah tertahan.

"Kuingat-ingatkan, jangan kaulah gegabah serang dia nyai! Kau bisa binasalah di tangannya, Selendang Kubur," Pujangga Keramat tampakkan sikap bijaknya.

Tapi Selendang Kubur agaknya kurang peduli dengan saran itu, sehingga ia cepat ucapkan kata, "Aku sudah siap mati untuk Pendekar Mabuk!"

Pujangga Keramat angguk-anggukkan kepala. Renungkan kata-kata itu beberapa saat sambil melangkahkan kaki pelan-pelan, lalu pada kejap berikut dia berkata, "Begitu kalau, ikut sajalah aku ke sana! Sama-sama kita bebaskan Suto dari itu tangan nyai!"

"Kau mau ikut ke Bukit Garinda?"

"Iyalah! Kupunya tugas untuk Suto-nya sendiri!"

"Tapi bagaimana dengan tugasmu menjaga Manik Intan itu?"

"Cepatlah aku pulangkan telaga setelah selesai sampaikan pesan dari Suto gurunya."

Selendang Kubur tidak merasa keberatan. Sekalipun susah diajak bicara, tapi Pujangga Keramat bisa menjadi penambah kekuatan dalam penyerangan ke Bukit Garinda. Tetapi ada satu hal yang membuat hati Selendang Kubur gelisah, ia menangkap suara napas orang dari suatu persembunyian, ia pun bisikkan kata pada Pujangga Keramat, "Tahukah kau ada yang mengintai kita, Pujangga Keramat?"

"Ya, aku tahulah!" jawab Pujangga Keramat dengan bahasa yang menurutnya sudah benar dan selalu indah.

"Kita jebak dia, Pujangga Keramat! Kita cepat menghilang di balik gerombolan bebatuan di sebelah kanan sana."

Pujangga Keramat hanya anggukkan kepala pelan. Kejap berikutnya dua tokoh itu jejakkan kaki dan melesat cepat bagaikan terbang. Menghilang di balik gerombolan bebatuan yang menggugus. Dari sanalah mata mereka saling berpencar, menyusuri tiap jengkal tempat dengan liar.

"Ssst...!" colek Pujangga Keramat. "Ke timur lihatlah!"

Selendang Kubur tetapkan pandang matanya ke arah timur. Kepalanya kian tunduk merunduk. Di sana tampak sosok tubuh sedikit gemuk berpakaian serba hitam. Tepian pakaian orang itu dililit kain kuning emas kecil. Wajah orang itu berkumis dan bercambang tipis. Matanya sedikit sipit memancarkan kebengisan. Sebuah pedang bersarung perak berukir ada di pinggang kirinya.

Pujangga Keramat kembali bisikkan kata, "Ingatkah kau itu orang?"

"Ya. Kalau tak salah dia yang bernama Datuk Marah Gadai!"

"Dia yang intai kita tadi sejak."

"Kurasa begitu. Tapi untuk apa dia intai kita?"

"Tak tahu akulah!" sambil Pujangga Keramat sedikit angkat kepala dan pundaknya tanda tidak tahu-menahu maksud Datuk Marah Gadai. "Kita sikat dia sajalah!" bisik Pujangga Keramat lagi.

"Jangan dulu. Kita kepingin tahu dulu, apa maksud dan tujuannya intai kita dari sana!" seraya Selendang Kubur tahankan tangannya ke pundak Pujangga Keramat.

Datuk Marah Gadai salah satu dari tokoh sakti yang ingin menguasai tanah Jawa kelihatan sedang mencari- cari barang intaiannya. Ia berdiri di sebuah batu, terlindung semak ilalang tinggi bagian depannya, ia tak tahu ada yang mengintainya dari samping kirinya.

Kejap berikutnya Datuk Marah Gadai tampak kecewa. Kemudian ia tinggalkan tempat itu dalam satu lompatan bertenaga ringan. Dan pada saat ia melesat pergi, tampak pula sosok bayangan berpakaian hitam pula yang menyusul kepergiannya. Sosok yang menyusul itu sempat tertangkap oleh mata Selendang Kubur. Hatinya mengucap kata bernada heran,

"Dirgo Mukti...?! Untuk apa dia menyusul Datuk Marah Gadai? Atau mungkin mereka memang bersepakat mengintaiku dari kejauhan?"

Dirgo Mukti, seorang pemuda tampan yang mengaku dirinya Manusia Sontoloyo. Selama ini, Selendang Kubur mengira Dirgo Mukti tidak punya niat jahat kepadanya, selain niat ingin mencicipi kehangatan tubuhnya dengan kenakalan hidung belangnya itu. Tapi memang hal itu tak pernah diberikan oleh Selendang Kubur.

Dirgo Mukti yang pernah menolongnya dari luka parah itu memang kecewa, tapi haruskah kekecewaan Dirgo Mukti itu membuatnya bergabung dengan Datuk Marah Gadai dan bekerja sama untuk menundukkan dirinya? Atau, mungkin memang sejak dulu mereka mempunyai jalinan hubungan akrab yang baru sekarang diketahui Selendang Kubur?

Ternyata keadaan sesungguhnya tidak seperti dalam kecamuk hati Selendang Kubur. Dirgo Mukti adalah Dirgo Mukti, Datuk Marah Gadai adalah Datuk Marah Gadai. Mereka tak punya hubungan, bahkan mereka belum saling kenal secara hadap-hadapan. Mereka hanya saling kenal nama dari mulut ke mulut saja. Jika hari itu Dirgo Mukti melesat di belakang Datuk Marah Gadai, itu hanyalah sesuatu yang bersifat kebetulan saja. Kebetulan mereka sama-sama mendengar keterangan Pujangga Keramat tadi mengenai cincin pusaka Manik Intan, sehingga di dalam hati mereka saling mempunyai keinginan untuk memiliki cincin tersebut.

Dari balik persembunyiannya tadi, Dirgo Mukti sempat menangkap adanya orang lain yang juga bersembunyi mengintai Selendang Kubur. Pada awal tujuan Dirgo bersembunyi hanya untuk menjaga keselamatan Selendang Kubur. Sebab bagaimanapun juga alotnya perempuan itu, Dirgo Mukti masih punya gairah untuk bercumbu dengan Selendang Kubur.

Namun demi ia melihat orang lain bersembunyi mengintai Selendang Kubur, ia jadi curiga. Lebih curiga lagi setelah dengar pula penuturan dari Pujangga Keramat tentang pusaka cincin Manik Intan itu. Ketika ia melihat lelaki sedikit gemuk itu melesat pergi, naluri Dirgo mengatakan, bahwa lelaki itu pergi ke Telaga Manik Intan. Maka segera ia ikuti kepergiannya. Karena tiba-tiba dalam pikiran Dirgo Mukti timbul niat untuk memiliki pusaka tersebut.

Dirgo Mukti mendengar adanya Pusaka Tuak Setan dan Pusaka Manik Intan dari gurunya. Konon, Pusaka Tuak Setan mampu mengeluarkan badai yang dapat menyapu tanah Jawa dalam satu kali hembusan napas seseorang yang telah meminumnya. Sedangkan Pusaka Manik Intan adalah cincin yang bisa menyalurkan tenaga dalam seratus kali lipat dari tenaga dalam yang dikeluarkan oleh pemakainya. Dalam pikiran Dirgo terbetik kata-kata.

"Kalau aku bisa memiliki cincin itu, maka aku pasti bisa mengalahkan Pendekar Mabuk dalam pertarungan bulan depan di Bukit Jagal. Dan kalau aku bisa mengalahkan Suto, maka sebagai taruhannya Peri Malam akan tunduk kepada cintaku, mau menerimacintaku dan mau kuajak tidur bersama sepanjang masa. Bisa tak bisa aku harus bisa mendapatkan Cincin Pusaka Manik Intan itu!"

Memang benar pemikiran Dirgo Mukti. Ia perlu memiliki cincin tersebut karena kekuatan dahsyat yang ada di dalamnya. Cincin Pusaka Manik Intan adalah cincin yang bukan sembarang cincin. Menurut penuturan para tokoh tua di rimba persilatan, cincin itu adalah jelmaan dari air mata seorang bidadari yang menangis.

Karena dendam tak bisa terlampiaskan, amarah bidadari itu hanya bisa tercurah dalam bentuk tangis. Air mata itu menggumpal dan membeku keras menjadi batu, yang kemudian ditemukan oleh tokoh sakti pada zaman dulu yang menjadi Guru dari si Gila Tuak dan Bidadari Jalang, yaitu pasangan suami-istri Eyang Purbapati dan Eyang Nini Galih.

Karena pusaka itu berbahaya di tangan Bidadari Jalang yang lebih sering mengumbar nafsu angkara murkanya, maka si Gila Tuak bersepakat untuk saling menghancurkan atau menguburkan pusaka-pusaka yang berbahaya bagi keselamatan orang banyak. Gila Tuak menguburkan Pusaka Tuak Setan dan Bidadari Jalang menguburkan Pusaka Manik Intan.

Dan inilah adalah siasat dari Gila Tuak yang ingin mengurangi ilmu saudara seperguruannya itu agar kesesatan langkahnya tidak terlalu banyak menimbulkan korban. Sebab jika Bidadari Jalang memiliki cincin pusaka yang tercipta dari tetesan air mata bidadari murka itu, maka habis sudah seluruh penduduk bumi ini dibinasakan oleh kemurkaannya.

Tetapi sejak Bidadari Jalang mengangkat Suto sebagai muridnya juga, setelah banyak ilmunya diturunkan kepada bocah tanpa pusar itu, maka persoalan Cincin Manik Intan diserahkan sepenuhnya kepada Suto. Bidadari Jalang tidak mau peduli apakah cincin itu akan dimusnahkan atau dipakai sendiri oleh Pendekar Mabuk, yang penting jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang sesat. Memang, si Gila Tuak menyarankan agar cincin itu ikut dimusnahkan saja.

Tapi agaknya cincin itu punya pertalian jiwa dengan Pusaka Tuak Setan. Di mana Tuak Setan berada di situ pula cincin itu tinggal. Padahal Tuak Setan ada di dalam tubuh Pendekar Mabuk, apakah cincin itu juga harus berada di antara jari tangan Pendekar Mabuk? Yang jelas cincin itu sekarang sedang Malam incaran Datuk Marah Gadai. Dalam hati orang yang dari dulu mengejar-ngejar Pusaka Tuak Setan itu berkata,

"Tak kuperoleh Pusaka Tuak Setan, asalkan Pusaka Cincin Manik Intan itu kudapatkan, puaslah hatiku! Sungguh aku tak menyangka kalau cincin itu masih ada di dasar telaga. Tempo hari aku mencarinya sampai susah payah, belum juga kutemukan. Kupikir telah diambil oleh Suto Sinting, ternyata menurut keterangan pelayan si Gila Tuak tadi, cincin tersebut masih ada di dasar telaga. Sampai sehari penuh harus berendam pun, aku tak merasa keberatan!"

Namun baru saja Datuk Marah Gadai pijakkan kakinya di tanah tepi telaga, tahu-tahu hatinya dikejutkan oleh munculnya sesosok pemuda tampan yang melompat bagaikan terbang melalui atas kepalanya. Pemuda itu mendaratkan kakinya tepat di depan Datuk Marah Gadai dalam keadaan memunggungi. Jaraknya antara lima langkah. Pemuda bersenjata kapak dua mata itu tak lain adalah Dirgo Mukti yang mengangkat diri sebagai Manusia Sontoloyo.

Dirgo Mukti segera balikkan badan menjadi saling berhadapan dengan Datuk Marah Gadai. Orang yang usianya antara sepuluh tahun lebih tua darinya itu segera kerutkan kening sambil usapkan kumis sedikit. Dadanya terbusung ke depan dengan kepala sedikit ditarik ke belakang, lalu melontarkan tanya dengan suaranya yang tergolong besar,

"Siapa kau, Anak Muda?!" tanya Datuk Marah Gadai dengan lagak bijaknya.

"Rupanya kau tokoh baru di rimba persilatan ini, sehingga tidak mengenali diriku!" kata Dirgo Mukti dengan angkuhnya.

Datuk Marah Gadai serukan tawa bernada mengejek. "Kau itu anak ingusan, mana mungkin aku mengenalimu? Bukan karena aku tokoh baru di dunia persilatan, tapi karena kau terlambat muncul karena masih menetek ibumu, jadi aku tidak mengenalimu!"

"Bicaralah dengan tutur kata yang baik dan sopan, Pak Tua!"

Makin terkekeh geli Datuk Marah Gadai dipanggil dengan sebutan 'pak tua'. Baginya itu panggilan yang belum waktunya muncul. Tapi karena yang menyerukan adalah mulut bocah ingusan, Datuk Marah Gadai pun merasa tidak perlu mempermasalahkannya. Yang menjadi masalah adalah maksud dan tujuan anak muda di depannya itu.

"Sebutkan namamu atau kuhabiskan nyawamu sekarang juga?" Datuk mulai mengawali ancamannya dengan sudut mata menatap bengis.

"Kurasa kau tak perlu mengancam Dirgo Mukti yang sudah kesohor kesaktiannya ini, Pak Tua! Tentunya kau pun pernah mendengar gelar kejayaanku sebagai Manusia Sontoloyo, yang merupakan satu-satunya tokoh tangguh yang sulit ditumbangkan!"

"Ha ha ha ha.... Manusia Sontoloyo! Nama baru yang benar-benar nama untuk orang loyo. Ha ha ha...!"

"Tutup mulutmu, Kambing tua!" sentak Dirgo Mukti dengan mata menatap tajam.

Tetapi sentakannya itu tidak membuat Datuk Marah Gadai hentikan tawanya, melainkan justru pertambah keras tawanya yang bergelak-gelak itu. Dirgo Mukti menggeram sambil keraskan kepalan tangannya. Kejap berikutnya, Datuk Marah Gadai ucapkan kata,

"Dirgo Mukti, seharusnya kau berhati-hati dalam bicara dengan Datuk Marah Gadai ini!" sambil Datuk tepukkan dada sendiri.

Dirgo Mukti sedikit picingkan mata pertanda pikirkan sesuatu, ia pernah mendengar nama Datuk Marah Gadai, tapi bukan dari gurunya, melainkan dari mulut Selendang Kubur. Seingatnya, Selendang Kubur pernah menceritakan bahwa orang yang bernama Datuk Marah Gadai itu juga tokoh sakti yang sukar ditumbangkan. Hal itu membuat Dirgo Mukti ingin sekali menjajalnya.

Datuk berkata lagi, "Ketahuilah, Dirgo Mukti, Datuk Marah Gadai adalah orang yang sulit memberikan ampunan bagi lawannya. Jadi kusarankan cepat angkat kaki dari depanku jika kau punya maksud memusuhiku, Sontoloyo!"

Dirgo Mukti sunggingkan senyum sinisnya. "Tidak ada aturan mundur dalam sejarah kependekaran Dirgo Mukti! Apalagi aku tahu maksudmu datang ke telaga ini, yaitu ingin mendapatkan Pusaka Cincin Manik Intan! Hhmm...! Tak akan kubiarkan pusaka itu jatuh ke tanganmu, Datuk Marah Gadai!"

Tadi, ketika Dirgo menyebutkan Cincin Manik Intan, mata Datuk Marah Gadai terperanjat sekejap. Perasaan bermusuhan tiba-tiba meletup keras di hatinya, sebab Dirgo Mukti adalah orang pertama yang dianggapnya jadi penghalang niatnya yang sudah yakin bahwa cincin itu masih ada di dasar telaga. Karena itu, Datuk Marah Gadai pun segera kepalkan kedua tangannya dan berkata geram,

"Jangan harap kau bernapas esok pagi jika kau ingin menguasai cincin pusaka itu juga, Sontoloyo!"

"Buktikan omonganmu! Aku ingin menakar seberapa tinggi ilmu yang kau miliki sebenarnya, Datuk Marah Gadai!"

"Kurang ajar! Anak kambing muda berani menantangku?! Hiih...!"

Datuk Marah Gadai melancarkan pukulan jarak jauh dengan sentakkan tangan kirinya ke depan. Tapi Dirgo segera hentakkan kakinya dan melesat terbang ke arah Datuk Marah Gadai dengan kaki miring melayang. Datuk Marah Gadai segera silangkan tangan di atas kepala untuk menangkis tendangan kaki lawannya. Plakkk...! Kaki tertangkis, tangan kanan Datuk Marah Gadai menghentak tepat mengenai dada si Manusia Sontoloyo.

Blegh...!

Dirgo Mukti tersentak dengan napas tertahan, ia tak menyangka pukulan Datuk Marah Gadai begitu keras, berat, dan cepat. Tubuhnya terlempar cukup jauh dari pukulan itu. Datuk Marah Gadai segera melompat mengejar Dirgo Mukti yang terjerembab dalam jarak sepuluh langkah darinya. Sebuah pukulan jarak jauh dihantamkan oleh Datuk Marah Gadai membuat Dirgo Mukti terpaksa melesat juuh lagi untuk menghindari.

Ketika mereka baku hantam di sebelah sana, diam-diam seseorang yang telah mendengar percakapan tadi masuk ke dalam telaga. Melihat cara menceburkan diri ke tengah telaga tanpa suara sedikit pun, jelaslah dia orang berilmu tinggi. Air pun tak memercik banyak. Jelas pula orang itu mengincar Pusaka Cincin Manik Intan.

* * *

TIGA

CAHAYA pagi menerobos dedaunan hutan. Pendekar Mabuk berlari sambil memanggul Perawan Sesat yang terluka parah karena pukulannya. Pendekar Mabuk terpaksa berhenti sejenak untuk memeriksa luka dalam Perawan Sesat itu. Ternyata keadaan bertambah membahayakan jiwa perempuan yang berambut acak-acakan itu.

"Perjalanan ini tak bisa dilanjutkan," pikir Suto. "Bisa-bisa perempuan ini mati sebelum kutemukan daerah yang bernama Bukit Garinda. Aku harus berusaha menyembuhkannya dulu. Kalau dia mati, aku akan kehilangan jejak tentang tempat tinggal kekasihku, Dyah Sariningrum."

Suto memang tidak tahu bahwa dirinya telah dikelabui oleh Perawan Sesat. Rasa cinta Suto kepada seseorang yang bernama Dyah Sariningrum dijadikan kesempatan melumpuhkan amukan Suto pada saat geger di Perguruan Merpati Wingit. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat). Suto Sinting percaya, bahwa Perawan Sesat diutus oleh gurunya untuk membawa Suto ke Bukit Garinda, dan gurunya itu bernama Dyah Sariningrum.

Suto memang tak pikir-pikir lagi begitu mendengar nama Dyah Sariningrum disebutkan. Bahkan ia sendiri yang mendesak Perawan Sesat agar segera dibawa ke Bukit Garinda. Karenanya, walau susah payah ia harus menggendong Perawan Sesat yang terluka oleh pukulan tabung tuaknya, Suto merasa masih punya tenaga untuk berlari satu hari satu malam lagi. Sayang, hal itu tidak bisa ia lanjutkan mengingat keadaan Perawan Sesat kian bertambah parah.

Sekujur tubuh Perawan Sesat bukan hanya pucat kebiru-biruan, tapi juga mengeluarkan bintik-bintik merah dari setiap pori-porinya. Ini yang mencemaskan Suto. Sebab dia tahu pukulan jurus 'Bumbung Bernyawa' itu punya akibat sangat buruk bagi orang yang ilmu tenaga dalamnya tidak terlalu tinggi. Darah bisa memercik keluar dari pori-pori tubuh, dan orang itu akan menemui ajal secara mengerikan.

Baru saja Suto Sinting yang berpakaian coklat tua dengan celana putih itu ingin melakukan penyembuhan terhadap luka Perawan Sesat, tiba-tiba ia dikejutkan dengan hembusan angin cepat di arah belakangnya. Hembusan angin itu dirasakan bukan hembusan angin sembarangan. Cepat pula Pendekar Mabuk kibaskan bumbung tuaknya ke belakang sambil putar tubuhnya.

Wuuut...!

Kibasan angin bumbung itu membuat seseorang bertubuh kurus kering terpental jatuh ke belakang dalam jarak empat langkah. Orang itu menyeringai memegangi pinggangnya yang terasa mau patah itu. Ia bangkit dengan menggeliat sakit dan menggerutu,

"Sial! Begitukah sambutanmu kepada orang yang tidak memusuhimu, Suto?"

"O, maafkan aku, Peramal Pikun! Kukira kau musuh yang ingin memukulku dari belakang!"

Peramal Pikun, orang yang sudah berambut uban merata dengan alis dan jenggotnya pun putih semua, sedikit terpincang-pincang mendekati Suto. Dari mulut tuanya masih mengeluarkan gerutuan yang membuat Pendekar Mabuk jadi tersenyum geli, "Aku tak pernah membokong musuhku, kecuali kepepet!"

Peramal Pikun hentikan langkah setelah jaraknya hanya dua tindak dari Suto. Matanya terkesiap sekejap ketika memandang sosok tubuh Perawan Sesat yang dibaringkan oleh Pendekar Mabuk di rerumputan. Kejap berikutnya orang tua kurus kering itu terkekeh dalam tawanya, sambil ia lirikkan mata kepada Suto dengan menggoda,

"He he he... aku tahu, aku tahu! Kau ingin perkosa gadis ini, bukan? He he he boleh!" Peramal Pikun manggut-manggut. "Menurut ramalanku,kau akan berhasil perkosa gadis ini, Suto. Lakukanlah, aku bersembunyi dulu!"

Cepat tangan Pendekar Mabuk menarik kain pembalut tubuh Peramal Pikun di bagian pundak. Bett...! Langkah lelaki tua yang mirip tulang dibungkus kulit itu jadi berhenti. Wajahnya dipalingkan ke belakang dengan malu-malu. Suto tersenyum dan berkata,

"Tetaplah di sini! Aku tidak akan perkosa dia. Dia pingsan. Kalau dia tidak pingsan, mungkin aku yang akan diperkosanya, atau barangkali kau juga, Pak Tua!"

"Aku...?! Oh, itu tidak mungkin. Aku sudah tidur semalaman dengan Perawan Sesat ini dalam sebuah gua, tapi dia agaknya tidak berminat menikmati tubuh kurusku ini!"

"Kau sudah bersamanya sebelum ini?"

"Ya. Dia yang desak aku dan ancam aku untuk menunjukkan di mana dirimu berada. Dia memang ingin sekali bertemu denganmu. Lalu, kami berpencar, aku ke utara dan dia ke selatan. Rupanya dia yang beruntung, bisa bertemu denganmu. Tapi..., oh, ya... kenapa ia pingsan, Suto?"

"Terkena pukulanku!" jawab Suto sambil membuka tutup bumbung tuaknya, ia menenggak beberapa teguk ketika Peramal Pikun bertanya,

"Sangat parah. Karena itu aku membutuhkan tempat untuk menyembuhkan luka-lukanya. Aku tahu, pukulan itu sebentar lagi akan membuat ia semaput!"

"Lalu, kenapa kau ingin menyembuhkannya? Bukankah kau yang telah memukulnya dengan sengaja?"

"Ya. Tapi aku waktu itu tidak tahu, bahwa ia akan membawaku kepada seseorang yang menjadi kekasihku, yaitu orang yang bernama Dyah Sariningrum!"

Terkesiap mata Peramal Pikun seketika itu juga. Terperanjat ia dalam kejut tertahan. Ada napas yang ditariknya satu sentakan. Dan pada saat itu, Suto melihat ada darah mengalir keluar dari lubang telinga Peramal Pikun. Keluarnya darah itu pernah dilihat oleh Suto beberapa waktu yang lalu, ketika, ia menyebutkan nama Dyah Sariningrum (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah Asmara Gila).

Melihat keanehan itu, hati Suto jadi bertanya-tanya, "Mengapa tiap kali kusebutkan nama Dyah Sariningrum telinga Peramal Pikun itu jadi berdarah?! Wajahnya pun kulihat terperanjat dan sorot matanya secepatnya beralih pandang ke arah lain. Dalam indera penglihatanku, ada rasa takut dan waswas dalam hati Peramal Pikun jika kusebutkan nama perempuan yang sangat kurindukan dan ingin kutemui itu. Mengapa ia begitu? Pasti ada rahasia aneh yang tersimpan dalam olehnya."

Darah itu hanya menggumpal di tepi lubang telinga Peramal Pikun. Tapi agaknya Peramal Pikun tidak menyadari atau memang berpura-pura tidak mengetahui keluarnya darah kental itu. Bahkan Peramal Pikun segera alihkan pembicaraan kepada masalah lukanya Perawan Sesat itu.

"Suto, kalau kau butuh tempat untuk mengobati perempuan ini, bawalah dia ke pondokku yang kebetulan tak jauh dari sini!"

"Ada siapa saja di pondokmu itu, Peramal Pikun?"

"Tak ada siapa pun selain diriku!" jawab Peramal Pikun.

"Baiklah. Tapi sebelum itu aku ingin ajukan satu pertanyaan tentang kekasihku yang...."

"Ikutilah aku!" potong Peramal Pikun, ia segera menjejakkan kaki ke tanah dan tubuh kurusnya melenting di udara, melesat ke arah tikungan jalan.

Suto terkesiap sejenak, lalu bergegas mengangkat tubuh Perawan Sesat dan membawanya lari menyusul Peramal Pikun. Pendekar Mabuk memang sangat penasaran dengan perempuan cantik idaman hatinya yang ia temukan dalam semadinya di dalam gua, tempat tinggal gurunya. Kalau saja waktu ia bersemadi sukmanya tidak dipakai melayang ke mana-mana, hanya khusus untuk mencari Pusaka Tuak Setan, mungkin ia tak sempat jumpa dengan perempuan cantik bernama Dyah Sariningrum.

Tetapi menurut si Gila Tuak, gurunya itu, jika Suto sempat bertemu dengan perempuan dalam semadinya, maka perempuan itulah yang kelak menjadi jodoh Suto dalam waktu yang tak terbatas. Tapi di mana Dyah Sariningrum berada, sampai saat ini Pendekar Mabuk belum bisa menemukan tempatnya yang pasti. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan).

Satu-satunya orang yang dianggap m^mpu menjadi penunjuk jalan untuk menemukan tempat tinggal Dyah Sariningrum adalah Peramal Pikun. Hanya orang kurus kering itulah yang menjadi satu-satunya orang yang dicurigai Suto telah menyimpan rahasia tentang jati diri kekasih idaman hatinya itu.

Tapi agaknya tak mudah mengorek keterangan dari mulut Peramal Pikun mengenai Dyah Sariningrum. Karena setelah mereka tiba di pondok tempat bernaungnya Peramal Pikun, lelaki tua renta itu langsung mengajaknya bicara mengenai kesaktian dan kehebatan ilmu-ilmu yang dimiliki Perawan Sesat itu.

"Aku tahu dia punya guru yang sangat tinggi ilmunya," kata Peramal Pikun.

"Apakah gurunya itu yang bernama Dyah Sariningrum?!" pancing Suto, tapi Peramal Pikun tidak menjawab. Hanya tubuhnya kentara sedikit mengalami sentakan halus. Kemudian kembali telinganya tampak mengeluarkan darah tak banyak.

Peramal Pikun pun kembali alihkan bicara, "Lakukanlah penyembuhan dengan segera, sebelum nyawa perempuan liar ini melayang. Agaknya dia memang orang yang kau butuhkan. Dia bisa membantumu." jawab Peramal Pikun sambil keluar dari pondoknya yang beratap rumbia, yang terletak di tengah kerimbunan hutan liar.

Malam mulai datang. Cahaya purnama berpendar di atas memandangi bumi. Sejenak Pendekar Mabuk ingat janji pertarungannya dengan Manusia Sontoloyo pada purnama kedua nanti. Tapi untuk sementara ia kesampingkan dulu tantangan Dirgo Mukti tersebut, ia masih membutuhkan pemusatan pikiran untuk penyembuhan luka Perawan Sesat.

Ketika malam semakin kelam, selesai sudah penyembuhan yang dilakukannya terhadap Perawan Sesat. Suto tinggal menunggu perempuan itu siuman. Untuk membuang rasa penat di dalam pondok berdinding anyaman pandan itu, Suto melangkah keluar. Ditatapnya Peramal Pikun yang duduk di atas sebuah batu, lima langkah dari pondoknya, merenung sambil dongakkan kepala, bak sedang mengamati indahnya bulan.

Pendekar Mabuk mendekatinya sambil menenteng bumbung tuak yang tak pernah jauh dari jangkauannya itu. Ia duduk di batang pohon kering yang tumbang miring. Di sana ia teguk tuaknya beberapa kali, kemudian ia segera ajukan tanya kepada Peramal Pikun, "Aku ingin sekali mengetahui suatu rahasia yang amat penting bagi hidupku. Maukah kau menjawabnya?"

Peramal Pikun tidak menjawab, melainkan justru bertanya, "Bagaimana keadaan Perawan Sesat itu?"

"Sudah membaik. Sebentar waktu dia akan siuman."

"Dia cantik. Kau sepaham dengan pendapatku?"

"Ya. Memang cantik. Tapi jiwanya liar dan buas."

"Itulah yang amat kusayangkan. Barangkali memang begitulah perangai jati dirinya yang tak bisa dipungkiri lagi. Sebagai orang tua, aku menaruh rasa kagum terhadap keberanian dan jiwanya. Dia pemberani dan tegas, pendiriannya sekeras batu gunung! Tak ada ruginya punya istri macam dia."

Suto hanya sunggingkan senyum malas. Sepertinya ia tidak tertarik dengan percakapan itu. Tapi demi menyenangkan hati si kurus kering itu, Suto tetap mendengarkan kata-katanya.

"Perempuan itu bukan hanya bisa melindungi dirinya sendiri, tapi juga akan bisa melindungi suami dan anak-anaknya kelak. Semangat cintanya pun menggebu-gebu. Menurut ramalanku, dia seorang perempuan yang mempunyai kehangatan cinta yang akan berkobar sepanjang masa."

Sekali lagi Suto sunggingkan senyum dan lontarkan tawa pendek serta pelan, ia tidak kasih ulasan, sehingga Peramal Pikun segera ajukan pertanyaan, "Apa kau tidak tertarik padanya, Suto?"

"Tidak!" jawab Pendekar Mabuk tegas.

"Jangan lihat liarnya, tapi lihatlah hasil akhirnya nanti!"

Suto makin kekehkan tawa geli. "Aku tak ada minat sedikit pun untuk jatuh cinta kepada perempuan lain, kecuali kekasihku yang...."

"Hentikan!" sergah Peramal Pikun dengan wajah tegang dan bersungguh-sungguh. Bahkan ia cepat berdiri dengan tutupkan telinga memakai kedua tangannya. Suto memandang dengan heran. Sebelum lontarkan tanya, Peramal Pikun sudah lebih dulu bicara. "Jangan sebut lagi nama itu!"

"Kali ini aku bisa marah jika kau sebutkan nama orang yang kau rindukan itu!"

"Aku butuh alasan, Peramal Pikun!"

"Kau membuatku bingung!"

"Tidak perlu bingung! Aku hanya minta, jangan sebut nama itu. Tak sulit menuruti permintaanku, bukan?!"

Suto menarik napas panjang. Ketegangan yang terjadi ingin diredakan kembali. Untuk itu Suto tak berani mendesak Peramal Pikun lagi, dan dia memilih diam adalah yang terbaik untuk suasana malam itu. Hening pun menembus hati sanubari mereka masing-masing, sehingga Peramal Pikun mendahului bicara.

"Sejak kapan kau kenal perempuan yang menjadi idaman hatimu itu, Suto?"

"Sejak kutemukan dia, Peramal Pikun!" jawab Suto kalem.

"Di mana kau temukan dia?"

"Di alam semadiku!"

Terkesiap mata Peramal Pikun menatap wajah Suto dalam cahaya rembulan malam. Suto diam saja walau tahu dipandang dalam keheningan. Lama kemudian Peramal Pikun kembali bertanya, "Sejauh mana kau bertemu dengan dia di alam semadimu?"

"Hanya sekadar pertemuan biasa. Dia menangis memandangiku. Dia sebutkan namanya tiga kali, seakan mengharap kehadiranku. Dan aku tak sadar, ternyata aku telah melelehkan air mata darah."

Sekali lagi wajah Peramal Pikun terperanjat mendengarnya. Mulutnya sedikit ternganga bengong, seakan tak bisa dipakai bicara.

Pendekar Mabuk tetap tenang, ia meneguk tuaknya dua kali tegukan, kemudian menghempaskan napas lewat mulut, pertanda menikmati rasa enak dalam kecapan rasa tuaknya. Pada saat itulah terdengar suara Peramal Pikun berkata pelan,

"Barangkali memang kaulah orang yang di tunggu-tunggunya!"

"Tapi aku tak tahu siapa dia dan di mana dia berada! Aku tak bisa menemukan arah tempat tinggalnya. Dan aku yakin, kau pasti banyak tahu tentang dia, Peramal Pikun. Aku berharap kau mau menolongku menunjukkan di mana dia tinggal."

Setelah bungkam sejenak, Peramal Pikun ucapkan kata pelan lagi, "Aku tak berani"

"Maksudmu bagaimana, Peramal Pikun?"

"Aku tak berani tunjukkan di mana dia berada."

"Kenapa?"

"Aku takut dia murka"

"Murka kepadaku atau kepadamu?"

"Kepadaku"

"Mengapa di murka?" desak Pendekar Mabuk semakin penasaran.

Peramal Pikun berhenti bicara, ia melirik ke kanan-kiri, takut ada yang mencuri dengar percakapan itu. Dan ternyata dugaannya benar. Memang ada yang mencuri dengar. Peramal Pikun segera menjebaknya dengan kata-kata, "Kalau sudah merasa enak badanmu, keluarlah Perawan Sesat! Duduklah di sini bersama kami!"

Perawan Sesat sudah sembuh. Badannya terasa lebih segar dari sebelum ia jatuh terluka parah. Perempuan berambut acak-acakan lurus berkesan jabrik itu segera langkahkan kaki keluar dari pondok. Merasa sedikit malu karena perbuatannya diketahui oleh Peramal Pikun.

Pendekar Mabuk memandang kehadiran Perawan Sesat yang berpakaian ketat. Dalam cahaya rembulan, wajah Perawan Sesat semakin cantik, menggairahkan lelaki. Peramal Pikun terkekeh lirih bagai gumam melihat kehadiran Perawan Sesat yang kelihatan segar itu.

Walau tak ada senyum di wajahnya, tapi menurut pandangan dua mata lelaki yang ada di situ, Perawan Sesat memang bisa membuat pikiran setiap lelaki menjadi sesat karena daya tariknya. Namun di balik semua dugaan itu, justru Perawan Sesat dalam hatinya memuji dan mengagumi wajah tampan yang dimiliki Suto Sinting itu.

Ada rasa kecewa terselip di hati Suto, karena kehadiran Perawan Sesat membuat penjelasan rahasia dari mulut Peramal Pikun itu terputus. Tetapi, Suto yakin dia akan memperoleh keterangan lebih lanjut setelah Perawan Sesat pergi tidur. Mungkin setelah hari melewati pertengahan petang nanti.

"Ada di mana aku ini?" tanya Perawan Sesat.

"Di pondokku," jawab Peramal Pikun.

"Siapa yang membawaku kemari?"

"Aku," jawab Suto tegas dengan pandangan mata mendebarkan hati. Namun Perawan Sesat tak mau tunjukkan debaran hatinya, ia tetap berwajah angkuh dan berkesan dingin.

"Kau telah menyerangku dan membuatku hampir mati?!"

"Ya"

"Lalu siapa yang sembuhkan lukaku?"

"Aku juga"

"Kenapa kau sembuhkan aku?"

"Iseng-iseng saja," jawab Suto dengan santai, berkesan menyepelekan pertanyaan itu.

Cepat sekali kaki Perawan Sesat berkelebat menampar pipi Suto. Cepat pula tangan kanan Pendekar Mabuk berkelebat naik sampai telapak tangannya yang merapatkan jari itu berhenti di depan pipinya. Kaki yang sudah meluncur itu membalik sebelum menyentuh tangan Pendekar Mabuk. Hampir membuat Perawan Sesat terpelanting jatuh kalau tidak segera ditopang oleh tangan kurus Peramal Pikun.

"Jangan coba-coba meremehkan aku!" hardiknya kepada Suto.

"Perawan Sesat, kau ini sudah diselamatkan nyawamu oleh Suto. Bukannya berterima kasih malah mengancam!" tukas Peramal Pikun.

Perawan Sesat menuding tegas di depan hidung Peramal Pikun, "Kau jangan turut campur urusanku kalau mau punya umur panjang!"

Peramal Pikun dan Pendekar Mabuk justru terkekeh geli melihat kegalakan perempuan yang tadi hampir mati itu. Perawan Sesat menggeram gemas.

* * *

EMPAT

CEPAT sekali Perawan Sesat berlari dalam satu lompatan demi lompatan bertenaga ringan, ia sengaja menyuruh Suto mengikuti arah kepergiannya dengan maksud untuk mengukur kecepatan gerak Suto dibandingkan dirinya. Perawan Sesat tetap menunjukkan kekerasan jiwanya, dan tak mau menampakkan rasa tertariknya kepada Pendekar Mabuk. Bahkan ia sering unjuk ilmu kepada Suto, yang oleh Suto hanya ditertawakan dalam hati.

Seperti kali ini, ia berlari cepat sekali bagaikan kilasan anak panah yang kecepatannya tak mampu diikuti oleh pandangan mata. Ia sengaja menyuruh Suto mengikutinya dan ia yakin Suto kebingungan mengikuti gerakannya. Pada satu tempat rindang, Perawan Sesat sengaja berhenti dan berpaling ke belakang, ia tidak melihat Suto di sana. Ia tertawa sendiri merasa berhasil memperdaya Suto sehingga pria tampan bertubuh kekar itu tidak mampu mengikuti kecepatan geraknya. Perawan Sesat pun berseru,

"Hoi, Suto...! Ayo lekas susul aku! Jangan seperti pengantin sunat langkahmu, Suto!"

Terdengar jawaban agak jauh, "Aku di sini, Perawan Sesat!"

Seketika itu juga Perawan Sesat terperanjat kaget. Ia palingkan wajah ke arah depan. Ternyata Pendekar Mabuk sudah berdiri di atas sebuah pohon kira-kira dua puluh langkah lebih dulu darinya. Suto berdiri sambil bersandar pada sebatang pohon. Senyumnya mekar di wajah tampannya, yang membuat Perawan Sesat menggeram gemas sekali.

"Edan! Ternyata dia lebih cepat dariku! Dia sudah ada di depanku...! Malu aku kalau tidak bisa melecehkan dirinya!"

Wuuut...! Perawan Sesat melompat satu jejakan kaki. Tubuhnya sudah mencapai tempat di mana Pendekar Mabuk berdiri sambil menenggak tuaknya. Mata Suto sudah mulai memerah, tanda mulai dihinggapi perasaan mabuk. Tetapi agaknya Suto Sinting tetap mampu mengendalikan segala rasa dan pikiran, bahkan tampak lebih tajam dari sebelum ia dikuasai oleh kemabukannya.

"Apakah arah Bukit Garinda masih jauh?" tanya Suto.

"Masih beberapa hari lagi," jawab Perawan Sesat. "Kalau kita tempuh dengan kecepatan lari seperti tadi, mungkin hanya memakan waktu sehari semalam. Kita harus bisa tempuh dengan kecepatan siluman!"

"Apa itu kecepatan siluman?" Suto kerutkan dahi mirip orang tolol.

Sikapnya membuat Perawan Sesat tertawa mirip kuntilanak. Tawa bersuara serak itu terhenti, dan berganti kata-kata yang tetap bersuara serak-serak basah,

"Kecepatan siluman adalah kecepatan batin yang tidak menggunakan otot tubuh kita. Seperti misalnya kita akan mencapai gundukan tanah yang membukit itu, kita tak perlu berlari cepat seperti tadi. Cukup dengan satu kedipan mata sudah bisa sampai ke puncak gundukan tanah itu. Contohnya seperti ini...!"

Perawan Sesat segera tunjukkan kebolehan ilmu silumannya, ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang-panjang. Dadanya menjadi penuh dengan gumpalan napas. Tangannya bergerak memutar di depan wajah bagai orang menari lemah gemulai. Jika napas dihentakkan lewat hidung, maka tubuhnya akan lenyap dan muncul di puncak gundukan tanah yang membukit itu.

Sebelum ia hentakkan napas lewat hidung, tiba-tiba ia mendengar suara Suto Sinting berseru, "Hoii... lekas! Jangan lama-lama!"

Napas tak jadi dihentakkan. Begitu mata dibuka Perawan Sesat kembali terperangah melihat Suto sudah lebih dulu ada di atas gundukan tanah yang membukit itu. Ia melambai-lambaikan tangan memanggil Perawan Sesat. Geram Perawan Sesat semakin menjadi. "Kurang ajar! Dia lebih cepat pindahkan diri ke sana! Tinggi juga ilmu orang itu! Aku kalah cepat dengan ilmu silumannya. Rupanya ia tadi berlagak bodoh di depanku!" Segera Perawan Sesat menyusul Suto ke atas bukit.

Jllig...! Tubuhnya tiba dengan cepat di atas bukit-bukitan itu. Tetapi ia kehilangan Pendekar Mabuk. Ia mencari-cari Suto, yang ternyata sudah berada di bawah pohon rindang, jauh darinya. Gerakan menenggak bumbung tuak terlihat samar-samar. Sekali lagi Perawan Sesat menggeram penuh kejengkelan.

"Dasar sinting! Didekati malah sudah kabur sejauh itu. Edan betul dia! Aku tak bisa mencapai tempat sejauh itu hanya dengan satu jurus saja. Harus memakai dua jurus alias dua langkah siluman. Hmmm...! Dia benar-benar mempermainkan aku! Membuatku malu jika begini! Sayang sekali dia tampan dan menggairahkan. Kalau tidak, sudah kuhajar habis dia!"

"Cepat...!" Suto Sinting melambai dengan suara kecil karena jauhnya.

Perawan Sesat hanya menggeram dalam hati dan berkata, "Pantas kalau Nyai Lembah Asmara terpikat pada lelaki tanpa pusar itu, selain tampan dan menggairahkan, ia juga berilmu tinggi! Ah, sulit sekali aku menghindari rasa tertarikku kepadanya. Hasratku sejak tadi menyala-nyala ingin mencumbunya. Tapi agaknya ia tidak tergiur padaku. Hmmm... aku harus menggunakan ilmu 'Pelet Sukma' biar dia terpikat dan mau diajak bercumbu di bawah pohon itu!"

Kejap, berikutnya Perawan Sesat sudah tiba di tempat Suto duduk santai di bawah pohon rindang. Dengan cepat ia tatapkan pandangan matanya ke mata Suto. Senyum Suto mekar ketika dipandang perempuan itu. Kejap kemudian napas Perawan Sesat disentakkan lewat hidung. Wusss...! Pelan tapi berbahaya, karena itulah yang dinamakan ilmu 'Pelet Sukma' yang mampu membuat setiap lelaki mabuk birahi.

Tetapi ada satu keanehan yang dirasakan oleh Perawan Sesat. Ketika napasnya terhempas lewat hidung tadi, tiba-tiba napas itu memantul balik terasa masuk kembali ke dalam hidung. Namun hati Perawan Sesat sangsi akan hal itu, karena perasaan seperti itu belum pernah dialami. Peristiwa berbaliknya hembusan napas itu belum pernah terjadi. Perawan Sesat tetap harapkan Suto mulai tergiur dengan kemolekan tubuhnya. Perawan Sesat mulai memamerkan belahan dadanya yang sungguh montok itu.

Pendekar Mabuk tertawa kecil dengan mata merah karena mabuk, ia segera berdiri dan Perawan Sesat ikut berdiri. Kemudian dalam sekejap Suto melompat pergi bagai tak peduli.

"Sutooo...!" Perawan Sesat bagai merengek tak mau ditinggal, ia menyusul Suto dengan gairah cinta yang meledak-ledak dalam dadanya, ia ingin memeluk Suto dan mencumbunya habis-habisan. Tapi Suto sukar ditangkapnya. Suto melesat lagi menjauh sambil menghambur kan tawa bagaikan menggoda. Perawan Sesat bertambah penasaran mendengar suara tawa Suto. Ia mengejar untuk menangkap Suto dalam pelukan. Tapi Suto melesat ke atas dan hinggap di salah satu dahan pohon.

"Suto, turunlah! Peluklah aku, Suto!" seru Perawan Sesat sambil sibuk merayapi tubuhnya sendiri.

Suto Sinting tertawa-tawa sambil duduk di dahan, menenggak tuak dalam bumbung. Sesekali ia memandang ke bawah, dan tawanya makin bertambah melihat Perawan Sesat sibuk sendiri. Perawan Sesat baru menyadari bahwa ilmu 'Pelet Sukma' yang membuat seseorang jadi terpancing gairahnya itu telah membalik dan mengenai dirinya sendiri. Akibatnya, Perawan Sesat sendiri yang tak bisa mengendalikan gairah birahinya. Setelah apa yang diinginkan tercapai oleh dirinya sendiri, barulah Perawan Sesat menyadari hal itu dan berkata di hatinya,

"Jahanam orang itu! Ilmu 'Pelet Sukma'-ku membalik mengenai diriku sendiri. Sebaiknya aku tidak menyerahkan Suto kepada Nyai Lembah Asmara! Akan kupakai sendiri orang itu dengan segala caraku menundukkan hatinya! Aku tak rela dan akan merasa kehilangan besar jika Suto berada dalam pelukan Nyai Lembah Asmara. Sebaiknya kubawa lari ke tempat lain saja Pendekar Mabuk yang benar-benar memabukkan hatiku itu! Peduli amat dengan tugas ini! Aku tak sanggup menjalankan tugas, karena aku tak mampu menghindari godaan hatiku ini!"

Kejap berikutnya, Perawan Sesat mendongak ke atas dan berseru, "Kita lanjutkan perjalanan kita, Suto!"

"Apakah kau sudah selesai dengan pekerjaan tanganmu?" ledek Suto membuat wajah Perawan Sesat menjadi merah.

Perempuan itu tidak melayani ejekan tersebut, ia seolah-olah tidak mendengarnya. Kini ia berseru kembali, "Tidakkah kau ingin bertemu dengan kekasihmu Dyah Sariningrum?!"

Pancingan ini membuat Pendekar Mabuk turun dari atas pohon dalam satu lompatan bagaikan terbang. Rambutnya yang panjang meriap ke atas pada saat ia meluncur ke bawah. Indah sekali dilihatnya, bagai seekor rajawali gagah yang siap menerkam mangsanya. Suto mulai oleng berdirinya karena pengaruh mabuk tuak itu. Bahkan bicaranya pun mulai mengambang tak tentu arah.

"Bawalah cepat aku kepadanya! Jangan bikin aku bertambah rindu lagi kepada Dyah Sariningrum!"

"Ya, aku akan membawamu lekas-lekas ke sana. Dia juga sudah lama menunggumu! Tapi ada satu permintaan dariku sebagai syarat!"

"He he he... kamu mulai banyak tingkah, Perawan Sesat! Apa syarat yang kau inginkan itu, hah?!" hardik Pendekar Mabuk kemudian.

"Kau telah membuat pedang gadingku lenyap tak berbekas!"

"He he he... itulah kehebatan ilmu 'Sembur Siluman' yang kumiliki. Jangan hanya pedangmu, gunung pun kalau kusembur dengan tuak dalam mulutku mampu lenyap dalam sekejap. Tapi, itu hanya kekuatan ilmu siluman yang serupa dengan sihir. Kudapatkan ilmu itu perpaduan dari ilmu kakek guruku dan bibi guruku! He he he..."

"Aku tak berani menghadap Dyah Sariningrum jika aku kehilangan pedang gading itu. Sebab ia akan marah padaku habis-habisan. Pedang itu adalah pedang miliknya yang dipinjamkan padaku!"

"O ho ho ho... jadi itu pedang milik kekasihku?"

"Ya! Kalau kau tak bisa mengembalikan, aku tak berani membawamu ke sana!" bujuk Perawan Sesat dengan hati berdebar-debar.

"Untuk mengembalikan pedangmu, itu bukan pekerjaan yang sulit. Tapi untuk menahan niatmu agar tidak menggunakan pedang gading sebagai alat pengumbar nafsu amarah, itu yang sulit! Aku tak berani membuat pedang itu kembali lagi."

"Jika begitu, kita tak jadi menemui Dyah Sariningrum. Karena Nyai Lembah Asmara akan murka jika pedang gadingnya hilang."

"Nyai...?! Oh, jadi Dyah Sariningrum itu seorang Nyai?"

"Pantas Peramal Pikun tak berani menyebutkannya," kata Suto dengan suara mengayun bergelombang.

"Lekas wujudkan pedang itu!" kata Perawan Sesat sambil serahkan gagang pedang yang masih dibawanya dengan tujuan digunakan sebagai bukti kepada teman atau gurunya tentang kehebatan ilmu Suto.

Gagang pedang dengan benang sutera merah di bagian ujung bawahnya digenggam kuat oleh Pendekar Mabuk. Matanya yang mulai seperti orang mengantuk itu sebentar waktu melirik Perawan Sesat. la nyengir dan berkata, "Janjilah padaku, kau tidak akan mengumbar amarahmu dengan menggunakan pedang ini!"

"Iya, iya! Aku bejnji! Cerewet kamu!" sentak Perawan Sesat.

"Oh, kalau kamu katakan aku cerewet aku akan isi pedang ini dengan sebuah pisang!"

"Sudahlah!" sentaknya lagi tak sabar. "Kau tidak cerewet! Tapi cepat kembalikan pedangku itu!"

"Hei, kau bilang ini pedang milik Nyai Dyah Sariningrum! Tapi sekarang kau bilang pedangku?! Mana yang benar?!"

"Maksudku, itu pedang dalam tanggung jawabku. Jadi sudah kuanggap seperti pedangku sendiri!"

"O ho ho ho... begitu rupanya!" Suto manggut-manggut.

"Iya. Lekas, jangan banyak bicara lagi!" bentak Perawan Sesat.

"Aih, kau bentak-bentak aku?! Aku tak mau!"

"Tidak, tidak! Aku tidak bentak kamu lagi!"

"Aku tidak mau!" Suto Sinting menggeleng dan membuang pedang itu ke semak belukar.

"Jahanam kau! Kenapa kau buang gagang pedang itu?! Dasar sinting!" Perawan Sesat bergegas ke semak belukar untuk mengambil gagang pedangnya. Suto hanya tertawa-tawa sambil buka tutup bumbung dan ia kembali tenggak tuak di dalamnya. "Benar-benar edan orang itu!" gerutu Perawan Sesat sambil mencari gagang pedang yang tadi dibuang Suto.

"Habis ini kuhajar sebentar dia, biar tahu adat sedikit terhadapku! Seenaknya saja dia buang gagang pedang itu. Dia tidak tahu kalau di dalam gagang pedang masih tersimpan racun yang mematikan dan bisa kugunakan untuk membunuh dirinya!"

Langkah kaki menyusuri semak terhenti. Mata Perawan Sesat terbelalak lebar, ia melihat gagang pedangnya tergeletak di antara rerumputan ilalang. Tapi kali ini mata pedangnya sudah kembali utuh seperti sediakala. Rupanya Pendekar Mabuk telah mengembalikan mata pedang gading yang lenyap oleh ilmu 'Sembur Siluman'-nya itu. Tapi ia sengaja membuat susah Perawan Sesat agar perempuan itu menggerutudan bersungut-sungut, ia sengaja permainkan perawan galak berambut acak-acakan itu. Padahal Suto Sinting bisa mengembalikan pedang itu seperti sediakala dengan kekuatan matanya. Tapi ia tidak mau mengembalikan dan menyerahkan pedang begitu saja kepada perempuan bermata liar itu.

Melihat mata pedang kembali seperti sediakala, hati Perawan Sesat merasa girang. Tapi keberaniannya untuk bertindak semena-mena juga lebih membara. Dengan bekal Pusaka Pedang Gading itu, Perawan Sesat merasa sanggup melumpuhkan lawannya.

"Pedangmu sudah kembali, Nona! Alangkah baiknya jika kita cepat-cepat menemui Nyai yang menungguku!" kata Suto.

Perawan Sesat berkata, "Tidak sekarang, Suto! Aku masih punya satu syarat lagi yang harus kau penuhi!"

"Kau punya syarat berapa sebenarnya, Nona?" tanya Pendekar Mabuk gusar.

"Satu syarat lagi! Hanya satu! Setelah ini kau kuantar menghadap Nyai! Aku bersumpah, tidak akan minta syarat lagi!"

"He he he he... apa syarat yang kau inginkan, Nona?!"

"Layanilah cintaku!" Perawan Sesat segera mendekat.

Suto membelalakkan mata ngantuknya. Ia tertawa keras sambil mundur beberapa langkah, tangannya menuding-nuding Perawan Sesat.

"Kalau kau tak mau, kau tidak kuajak menghadap Nyai, Suto!" bentak Perawan Sesat memanfaatkan rindu di hati Suto sebagai senjata untuk mengancam dan memperdayai Pendekar Mabuk itu.

Suto gelengkan kepala. "Itu tidak boleh terjadi, Nona manis!"

"Harus terjadi!" tegas Perawan Sesat. "Dekatlah kemari, Suto. Peluklah aku, Sayang...!"

"Hua ha ha ha ha... aku dipanggil sayang? Aduh, Mak... kering darahku, melorot jantungku. Hua ha ha ha...!"

Pengaruh mabuk Pendekar Mabuk semakin tinggi. Tawanya kian keras membuat Perawan Sesat bertambah dongkol hatinya. Bahkan ia sempat berniat mencabut pedang untuk memaksa Suto. Tapi ketika ingat bahwa Suto Sinting masih bisa membuat lenyap pedangnya itu, maka niat tersebut dibunuhnya sendiri. Perawan Sesat hanya bisa membatin,

"Agaknya butuh kesabaran untuk menundukkan lelaki yang satu ini. Bukan dengan kekuatan ilmu, melainkan dengan kekuatan hati yang sabar dan tekun! Percuma saja adu kekerasan dengan dia, tidak akan membawa hasil apa-apa kecuali suasana yang semakin lebih kacau lagi. Biarlah kusabarkan hatiku sampai tiba saatnya ia sendiri membutuhkan diriku."

Segera Perawan Sesat ucapkan kata, "Baiklah, Suto! Lupakan satu persyaratan itu. Jika kau tak bisa sekarang, kapan waktu pun masih bisa kau melunasinya. Sekarang kita pergi dari sini secepatnya, Suto!"

"Tapi aku tidak punya hutang janji padamu, Perawan Sesat!"

"Terserah anggapanmu saat ini, karena aku tahu kamu sedang kebanyakan minum tuak! Lupakan dulupersyaratan satu itu!"

Perawan Sesat segera mengajak Pendekar Mabuk untuk tinggalkan tempat, menjauhi arah Bukit Garinda. Perawan Sesat memang bermaksud membawa lari Suto ke tempat lain, yang sudah ada dalam benaknya. Tetapi tiba-tiba di depan langkah Perawan Sesat dan Pendekar Mabuk melesat benda kecil berbentuk bintang dari lempengan baja tajam. Dan benda kecil itu melesat cepat menimbulkan bunyi, ziing...! Kemudian benda itu menancap di pohon persis di depan sebelah kiri Perawan Sesat.

Tertahan serentak langkah Perawan Sesat. Tertahan pula tubuh limbung Pendekar Mabuk. Mata mereka berkilas cepat menyapu sekeliling, tapi si pelempar senjata rahasia berbentuk bintang itu tidak kelihatan tempat persembunyiannya. Perawan Sesat segera sigap dan berdiri dalam posisi siap menyerang. Matanya liar penuh waspada.

* * *

LIMA

TANGAN Perawan Sesat hendak mencabut senjata rahasia berbentuk bintang segi enam. Tapi dengan cepat kaki Pendekar Mabuk menendang tangan Perawan Sesat. Plakk...! Cepat sekali Perawan Sesat menarik tangannya kembali, tapi gerakan itu terlambat. Mata liar Perawan Sesat memandang lurus ke arah Suto yang bermata sayu.

"Apa maksudmu menendang tanganku?!" geram Perawan Sesat.

"Senjata itu beracun. Hanya pemiliknya yang bisa memegang dan tidak terkena racunnya!"

"Aku lebih tahu daripada kau, Suto!" sentak Perawan Sesat. "Senjata bintang persegi enam seperti itu adalah senjata milik temanku sendiri. Itu senjatanya Putri Alam Baka! Senjata itu tidak beracun dan tidak berbahaya. Hanya sebagai senjata peluka saja, Suto!"

"Lantas mengapa daun-daun pohon ini menjadi layu semua. Lihatlah ke atas! He he he...!"

Terkesiap mata Perawan Sesat setelah memandang ke atas. Daun-daun pohon itu benar-benar menjadi layu berkeriput. Bahkan sebagian besar langsung berubah menjadi kuning. Dalam hati Perawan Sesat membatin, "Gila! Apa yang dikatakannya memang benar. Senjata itu memang beracun. Jika begitu, senjata itu pasti bukan milik Putri Alam Baka. Setahuku, senjata Putri Alam Baka tidak beracun! Dan lagi, jika benar senjata itu milik Putri Alam Baka, dengan maksud apa ia menyerangku menggunakan senjata berbahaya itu?"

Sebelum Perawan Sesat ucapkan kata, Suto lebih dulu bertanya, "Apakah kau yakin bahwa kedua senjata itu milik temanmu?"

"Aku jadi sangsi. Aku tak bisa mengenalinya. Seingatku, senjata milik Putri Alam Baka mempunyai goresan gambar panah cakra pada bagian sisi pinggirnya."

Perawan Sesat mencoba mengamat-amati kedua senjata itu, tapi ia merasa kesulitan mengenalinya, karena kedua senjata itu melesak masuk ke batang pohon hampir seluruhnya. Tinggal sedikit sisa yang terlihat belum masuk ke batang pohon. Perawan Sesat kembali berkata dalam hatinya,

"Aku jadi sangsi juga, apakah senjata ini berbentuk bintang segi enam atau segi berapa? Jika melihat ukuran runcing pada bagian yang tak masuk ke dalam batang, kelihatannya bintang segi enam. Tapi siapa tahu dia bersegi lima atau delapan?"

"Minggirlah, Perawan Sesat. Biar kukeluarkan senjata itu dari batang pohon!" kata Pendekar Mabuk lalu ia tersentak satu kali karena cegukan. Kejap berikutnya ia sentakkan tabung bambunya itu ke batang pohon dengan pelan.

Dugh... ! Hhrrr... ! Daun-daun pun rontok banyak akibat sodokan bambu tabung itu. Jika bukan dialiri tenaga dalam cukup besar, tak mungkin pohon sebesar itu terguncang dan daunnya berguguran hanya dengan gerakan sepelan itu. Perawan Sesat menyimpan kagum sambil mengibaskan tangannya menghindari rontokan daun di kepala.

Sodokan itu membuat dua senjata berbentuk lempengan bintang dari logam baja putih itu tersentak keluar dari batang pohon, jatuh tepat di pohon depan yang tak berumput. Perawan Sesat pun segera menghampiri dan memeriksanya dengan sebatang ranting kayu kering. Dan ternyata kedua senjata itu memang mempunyai goresan gambar panah cakra.

"Hmmm... jelas ini milik Sumbi, atau Putri Alam Baka!" gumam Perawan Sesat tanpa memandang Suto.

"Apa benar itu milik temanmu?"

Perawan Sesat menjawab jujur, "Ya. Ini milik temanku."

"Apa temanmu itu suka memakai baju kuning?"

"Ya. Dari mana kau tahu?" Perawan Sesat kerutkan dahinya.

Suto tertawa dalam tawa mabuk, ia segera garuk-garuk kepalanya sambil berkata, "Sebentar lagi ia akan muncul!"

Tiba-tiba Suto bergerak cepat memutar dan kakinya menendang pohon yang tadi terkena senjata bintang itu. Pohon tidak bergerak, seperti kena tendangan tanpa tenaga sedikit pun. Bahkan satu daun pun tak ada yang jatuh, padahal daun pohon itu telah layu. Perawan Sesat juga merasa heran melihat tendangan cepat Pendekar Mabuk itu tidak mengguncangkan daun pohon sedikit pun.

Tetapi kejap berikutnya empat pohon yang berjejeran sederet dengan pohon yang ditendangnya itu mulai tergucang bagai dihembus badai. Perawan Sesat terkesima melihat pohon yang keempat dari jajaran pohon itu saja yang berguncang kuat, hingga dahan-dahannya meliuk terombang-ambing. Dan dari atas pohon berdaun rimbun itu melesatlah dua sosok manusia turun dalam gerakan bersalto satu kali.

Dua sosok manusia mendaratkan kakinya dengan tepat di depan Perawan Sesat dalam jarak lima langkah. Perawan Sesat kembali terkesiap melihat kemunculan dua perempuan yang sudah dikenalnya. Untuk sesaat mereka beradu pandang dalam wajah tegang. Pada saat itu Perawan Sesat sempat berkata dalam hati mengenai tendangan Suto tadi, "Luar biasa dia menyalurkan tenaga dalamnya. Pohon yang ditendang tetap tenang, pohon keempatnya yang terkena sasaran! Jelas hal itu jurus penyaluran tenaga dalam yang sangat tinggi!"

Perawan Sesat cepat singkirkan bayangan tendangan Pendekar Mabuk tadi dari otaknya, kembali ia curahkan perhatian pada kedua perempuan yang masing-masing mengenakan pakaian ketat merah dan krning. Bentuk potongan pakaiannya sama dengan bentuk potongan pakaian yang dikenakan Perawan Sesat. Hanya berbeda pada warnanya saja. Potongan pakaian yang sama menunjukkan bahwa mereka berasal dari satu perguruan.

Yang berpakaian merah dengan baju tanpa lengan dan belahan dada sedikit terbuka lebar adalah Maharani. Rambutnya dikepang dua, ditaruh di depan dada. Di tangannya tergenggam sebuah kipas warna merah berbunga-bunga hitam. Perawan Sesat kenal betul, bahwa Maharani mempunyai tingkat ilmu yang setaraf dengannya. Maharani juga sering menjadi utusan bagi Nyai Lembah Asmara.

Perempuan satunya lagi mempunyai rambut dikepang satu. Cukup panjang rambutnya itu hingga bisa melilit di sekitar leher, sisanya jatuh di depan dada kanan. Perempuan berkepang satu itu mengenakan ikat pinggang tali merah. Di sana terselip sebatang bambu kuning berukuran satu hasta. Bambu itu adalah seruling berlilit pita merah di bagian ujung tempat meniupnya.

Perempuan yang mempunyai senjata seruling itulah yang bernama Sumbi, alias Putri Alam Baka. Tingkat ilmunya lebih tinggi satu tingkat dari Perawan Sesat ataupun Maharani. Selain sering menjadi utusan bagi Nyai Lembah Asmara, Putri Alam Baka juga merupakan orang kepercayaan Nyai Lembah Asmara yang menjadi wakil tertinggi dan dikenal sebagai orang kedua di Bukit Garinda

Jelas Perawan Sesat sedikit gentar melihat Putri Alam Baka sampai turun tangan dan menyerangnya dari tempat persembunyian. Cara memandangnya pun tampak bermusuhan. Perawan Sesat semakin curiga dan waswas. Sekalipun Putri Alam Baka adalah teman sendiri, tetapi tingkat perbedaan ilmu dan kedudukan, membuat Perawan Sesat merasa sungkan kepada Putri Alam Baka. Karena itu, kehadiran Putri Alam Baka membuat Perawan Sesat ajukan tanya, "Sepenting apakah keperluanmu hingga datang menemuiku, Sumbi?"

"Sejak keberangkatanmu, kami memang sudah membuntuti!" jawab Putri Alam Baka. Tak ada senyum di bibirnya. Sikapnya pun kelihatan dingin. Dalam keadaan rambut lebih rapi, Putri Alam Baka dan Maharani tampak lebih cantik dari Perawan Sesat. Tetapi kecantikan itu tidak membuat Pendekar Mabuk tertarik, ia bahkan bersikap sebagai pendengar dan penonton yang baik. Ia duduk di tanah yang sedikit lebih tinggi, punggungnya bersandarkan batang pohon, sambil sesekali menenggak tuak.

Perawan Sesat merasa heran mendengar dirinya diikuti oleh Maharani dan Sumbi sejak keberangkatannya dari Bukit Garinda. Tentang bagaimana cara mereka menguntit hingga tidak diketahui gerakannya, bukan hal yang dipikirkan Perawan Sesat, karena ia merasa mampu melakukan penguntitan tanpa suara. Tapi apa sebab mereka menguntitnya, itu yang menjadi pikiran Perawan Sesat Mengapa mereka harus menguntitnya? Mengapa seorang wakil Nyai Lembah Asmara sampai turun tangan dan mau menjadi penguntit? Pasti ada sesuatu yang tak lazim menurut dugaan Perawan Sesat. Lalu, hal itu pun ditanyakan oleh Perawan Sesat dengan nada tetap tegas dan berkesan angker,

"Untuk apa kalian mengikutiku sejak dari keberangkatan?"

"Nyai menugaskannya!" jawab Putri Alam Baka dengan sikap berdiri tegap dengan kedua kaki tegak sedikit merenggang.

"Untuk apa Nyai menugaskan kalian?"

"Kecurigaan, menjaga kewaspadaan, sekaligus memberikan perlindungan padamu, Perawan Sesat!"

"Omong kosong!" sentak Perawan Sesat menyanggah. "Buktinya kalian tidak muncul saat lelaki itu menyerangku di Perguruan Merpati Wingit!" sambil Perawan Sesat menuding Suto Sinting.

"Ketika kami hendak turun tangan, pemuda tampan itu sudah lebih dulu membawamu pergi," jawab Putri Alam Baka lebih berkesan kalem dan berwibawa.

Perawan Sesat melirik Suto sesaat. Pendekar tampan itu hanya senyum-senyum saja memandang perdebatan tersebut. Sesekali badannya tersentak karena cegukan. Tapi agaknya ia sengaja tidak mau ikut campur urusan ketiga perempuan itu. Kembali mata Perawan Sesat memandang Maharani dan Putri Alam Baka, setelah ia mendengar suara Maharani yang kecil itu berkata,

"Kurasa kau salah arah, Rukmi. Bukit Garinda ada di sebelah barat, mengapa kau membawa lari pemuda itu ke arah timur?"

"Itu urusanku, Maharani!"

"Tugas kami adalah meluruskan jalanmu, Rukmi," kata Maharani dengan memanggil nama asli Perawan Sesat.

Putri Alam Baka segera berkata pula, "Aku menangkap adanya pengkhianatan tugas dalam hal ini! Pasti kau akan menguasai pemuda itu dan tidak akan menyerahkannya kepada Nyai Lembah Asmara!"

"Itu pun urusanku, Sumbi!" kata Perawan Sesat dengan tetap perlihatkan ketegasannya dalam bersikap. Sambungnya lagi, "Susah payah kucari dan kutemukan pemuda itu, mengapa ia harus kuserahkan pada perempuan lain, hah?! Lihatlah sendiri, betapa tampan dan menggairahkan Suto tanpa pusar itu? Lihatlah...! Haruskah aku serahkan pemuda setampan itu, kepada orang lain?!"

Mata kedua teman Perawan Sesat itu melirik ke arah Pendekar Mabuk. Yang dilirik justru memperlebarkan senyum sambil melambai kecil penuh goda. Putri Alam Baka cepat palingkan wajah, memandang ke arah Perawan Sesat. Tapi Maharani masih menikmati ketampanan yang begitu mengagumkan hatinya. Tak sadar hatinya berdebar-debar.

Perawan Sesat berkata lagi, "Kalian pikir aku perempuan bodoh yang tidak bisa membedakan, mana lelaki mahal mana lelaki murahan?! Kupertaruhkan nyawaku untuk mendapatkan dia, wajar kan kalau sekarang aku memilikinya?"

"Tapi kau mengemban tugas, Perawan Sesat! Kita selalu dididik untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi dalam menunaikan tugas dari Nyai!"

"Ya. Lantas siapa yang bisa memenuhi kebutuhan pribadi kita? Nyai...?! Apakah beliau sanggup memenuhi kebutuhan pribadi kita, jika pribadi kita menghendaki seorang kekasih seperti pemuda itu?!"

"Rukmi...!" sentak Maharani. "Jelasnya kau akan melakukan pembangkangan terhadap perintah nyai kita!"

"Aku hanya menuntut hakku dan perasaanku! Aku suka pada Suto Sinting itu!"

"Sudah lama kita berteman, Rukmi," ucap Putri Alam Baka dengan nada rendah dan lebih berkesan tenang dari Maharani. Lalu ia berkata lagi, "Jangan sampai aku mengambil tindakan tegas untukmu. Jangan sampai aku menjatuhkan hukuman berat untuk teman sendiri, Rukmi. Kuingatkan, jaga nafsumu. Serahkan Suto kepada Nyai Lembah Asmara sesuai tugasmu. Kurasa Nyai Ratu punya kebijaksanaan tersendiri untuk dirimu, Perawan Sesat!"

"Aku tetap tidak akan menyerahkan Pendekar Mabuk kepada Nyai!"

"Kalau begitu kau menghendaki kami menghajarmu, Rukmi!" sentak Maharani lagi sambil hentikan gerakan tangan yang sejak tadi mengipas-ngipas di depan dadanya yang sekal itu.

Mendengar gertakan itu, Perawan Sesat menyunggingkan senyum sinis meremehkan, ia berkata, "Apa pun tindakan yang akan kau ambil, aku sudah siap menghadapinya, Maharani! Kalian boleh paksa aku dengan cara apa pun. Tapi aku tetap tidak akan menyerahkan Suto ke tangan Nyai!"

Terdengar ucapan pelan bernada sinis dari Maharani kepada Putri Alam Baka. "Ternyata apa yang dikhawatirkan Nyai Lembah Asmara memang benar-benar terjadi, Sumbi! Perawan Sesat melakukan pembangkangan!"

"Cuih...!" Perawan Sesat meludah dengan benci. "Kau memang layak mendapat julukan penjilat kotor, Maharani! Sejak dulu kau selalu menjadi penjilat agar mendapat perhatian dari Nyai Lembah Asmara!"

"Itu urusanku, Rukmi!" jawab Maharani menirukan jawaban Perawan Sesat tadi. Kini ia maju dua langkah, berada lebih depan dari Putri Alam Baka. Rupanya ia ambil alih sendiri perkara itu, sehingga Putri Alam Baka mundur satu tindak.

"Perawan Sesat!" geramnya dengan mata menyipit tajam. "Jika kau bersikeras untuk tidak menyerahkan pemuda itu kepada Nyai Lembah Asmara, kau harus melangkahi mayatku dulu!"

"Aku tak keberatan!" jawab Perawan Sesat. "Seribu mayat dirimu akan kulangkahi dalam sekejap, Maharani!"

"Cabut pedangmu!" sentak Maharani sambil ia mulai pasang kuda-kuda untuk menyerang Perawan Sesat melangkah pelan ke kiri, kembali lagi ke kanan sambil matanya melirik ke arah Maharani dengan senyum meremehkan.

"Pedangku tak akan kucabut! Karena untuk membuatmu menjadi mayat cukup menggunakan kelingkingku, Maharani!"

"Mulut sombong busuk!" geram Maharani, kemudian ia kibaskan kipasnya dari kiri ke kanan dalam keadaan terbuka dan miring.

Wuuus...!

Tenaga dalam bagaikan ditebarkan dalam gerakan cepat, melesat ke arah Perawan Sesat. Dengan lincah perempuan berambut acak-acakan itu sentakkan ujung jempol kakinya ke tanah dan tubuhnya melesat naik ke atas sambil ia sentakkan pula tangan kirinya ke depan.

Tenaga dalam dari kipas mengenai tempat kosong. Sementara itu tenaga dalam dari tangan Perawan Sesat menghempas ke wajah perempuan berkepang dua. Dengan gerakan cepat Maharani menutup wajah dengan cara bentangkan kipasnya di depan mata.

Brett...!

Pukulan tenaga dalam Perawan Sesat bagai menghantam lereng sebuah gunung. Hempasannya membalik ke arah Perawan Sesat, tapi ketika itu Perawan Sesat sudah pijakkan kakinya ke tanah, sehingga yang menjadi sasaran adalah dahan pohon yang segera retak dan jatuh berdebum dalam jarak dua langkah dari tempat duduk Pendekar Mabuk.

Brruk...!

Suto tersentak kaget, namun tak ada kata yang keluar dari mulut Suto selain suara cegukan. Di dalam hatinya Suto berkata, "Kurasa Perawan Sesat akan tumbang di tangan salah satu dari kedua perempuan lawannya itu. Bila Perawan Sesat tak mampu menghadapi dua lawannya, bisa-bisa aku tak jadi ditemukan dengan Dyah Sariningrum. Tapi, haruskah aku ikut campur tangan dalam urusan mereka? Atau sebaliknya kutinggal pergi saja?"

Dugaan Pendekar Mabuk itu ternyata benar. Dalam satu kesempatan Putri Alam Baka tahu-tahu menyerang Perawan Sesat yang sedang menghadapi Maharani. Sungguh di luar dugaan Perawan Sesat, bahwa Putri Alam Baka sampai hati melawan teman dengan menggunakan seruling pusakanya. Seruling itudisentakkan dari jarak jauh. Lubang di bagian ujung bawah seruling mengeluarkan cahaya biru berkilap bagai lidah-lidah petir.

Dalam sekejap, tubuh Perawan Sesat bagaikan dikurung oleh kilauan-kilauan cahaya biru yang berbentuk mirip ranting-ranting pohon. Perawan Sesat terjerat. Tubuhnya mengeras dan akhirnya jatuh berdebum ke tanah. Ketika kilatan-kilatan cahaya biru itu berhenti mengelilingi tubuhnya, Perawan Sesat berusaha bangkit dalam keadaan mulut berdarah dan kulit mengelupas kecil-kecil.

"Habiskan saja dia, Maharani!" perintah Putri Alam Baka.

Maka, perempuan berbaju merah itu menutupkan kipasnya dan menebaskan kipas itu ke depan. Cahaya merah menyembur bagai semburan dari dasar gunung berapi. Woos... ! Bukan tak mungkin tubuh Perawan Sesat akan terbakar habis oleh jurus maut itu.

Tetapi, pada saat itu jari telunjuk Pendekar Mabuk melakukan gerakan menyentil dari depan lututnya. Tuus...! Tak ada yang melihat gerakan jari menyentil itu. Tetapi ternyata jurus 'Jari Guntur' itu telah membuat tubuh Maharani terpental keras bagai ditendang kuda. Mulutnya sampai memperdengarkan suara, "Heeegh...!"

Dan tubuhnya segera melayang ke belakang, jatuh dalam jarak tiga langkah di samping Perawan Sesat. Tentu saja jatuhnya Maharani membuat Putri Alam Baka menjadi tercengang kaget, ia menyangka kekuatan tenaga dalam itu datang dari tubuh Perawan Sesat.

Maka, dengan semangat membunuh lebih menyala-nyala lagi, Putri Alam Baka segera sentakkan tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka, ia bagai mendorong sesuatu dari samping ke depan dengan keras. Pukulan jarak jauh itu akan menghancurkan kepala Perawan Sesat yang sudah tak berdaya itu.

Tetapi, Suto segera melakukan gerakan kecil. Jempol tangannya dirapatkan dengan jari telunjuk. Lalu, ia sentakkan kedua jari itu seperti memanggil ayam atau burung, triik... !

Gerakan tangan Putri Alam Baka hampir mencapai ujungnya, tahu-tahu kedua kakinya bagai ada yang menyepak dari belakang. Wuus...! Kedua kaki itu terangkat kuat-kuat, tubuh Putri Alam Baka terpelanting jatuh. Bruuk.

Pukulan pamungkasnya tidak jadi dilancarkan. Tetapi pada saat itu, Suto menangkap kelebatan sosok tubuh yang menyambar Perawan Sesat. Wesss...! Cepat sekali gerakannya. Tahu-tahu orang tersebut telah menggendong tubuh Perawan Sesat di pundak kirinya, berdiri agak jauh dari kedua lawan, juga agak jauh dari Suto sendiri. Melihat keadaan tubuh orang yang baru datang berbadan kurus kering, tak salah lagi penglihatan Suto, bahwa orang itu adalah Peramal Pikun.

"Suto, uruslah kedua perempuan itu! Aku akan membawa Perawan Sesat ke pondokku. Dia terluka parah!"

"Hei...!" Suto hanya bisa memanggil tak bisa berkata apa pun karena Peramal Pikun segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.

"Kejar...!" perintah Putri Alam Baka kepada Maharani.

Tapi sebelum Maharani bergerak mengejar, Suto melentingkan tubuh ke udara dengan menggunakan tumitnya untuk menjejak tanah. Dalam satu gerakan jungkir balik, Pendekar Mabuk sudah berada di depan Maharani. Ia terkekeh-kekeh dengan suara sumbang.

"Tak perlu dikejar. Ada baiknya kalau kalian segera bawa aku menghadap nyaimu itu. Aku sendiri ingin segera bertemu!" kata Pendekar Mabuk kemudian karena ia menyangka nyai mereka adalah Dyah Sariningrum.

* * *

ENAM

SEBUAH bangunan mirip istana kecil bertengger megah di lereng sebuah bukit. Bukit itu adalah Bukit Garinda. Dulu wilayah itu dikuasai oleh Nyai Guru Betari Ayu. Kala itu, Betari Ayu punya persahabatan baik dengan seorang teman yang bernama Wulandari. Dan pada waktu Wulandari mendirikan Partai Perempuan Sakti, Betari Ayu tidak mau bergabung, tetapi sebagai tanda persahabatan ia pinjamkan tanah di lereng Bukit Garinda itu kepada Wulandari. Waktu demi waktu berlalu akhirnya tanah di lereng Bukit Garinda dikuasai sepenuhnya oleh Wulandari, yang kemudian dikenal dengan julukan Nyai Lembah Asmara.

Bangunan yang mirip istana kecil itu dikelilingi oleh tembok tinggi yang menyerupai benteng. Batas salah satu sisi tembok ada yang mencapai tepian pantai laut utara. Bangunan itu berkesan megah, mempunyai pintu gerbang yang jaraknya lebih dari seratus langkah dari pusat bangunannya sendiri.

Di tanah yang jaraknya lebih dari seratus langkah itu, dibangun pula rumah-rumah kecil yang merupakan pemukiman para anak buah Nyai Lembah Asmara. Juga dibangun tempat-tempat khusus untuk berlatih ilmu. Di sana dipersiapkan sepasukan prajurit wanita yang kelak akan menjadi benteng utama dari negeri yang ingin didirikan oleh Nyai Lembah Asmara.

Mereka adalah kaum wanita yang tangguh dan terpilih. Cantik dan menggiurkan, adalah syarat utama untuk menjadi anak buah Nyai Lembah Asmara. Di sana, wanita bebas berkeliaran. Pria hanya merupakan barang yang bisa dibeli dan dijadikan satu kebutuhan hidup bila sewaktu- waktu diperlukan.

Nyai Lembah Asmara dan anak buahnya dikenal sebagai perempuan-perempuan pemburu cinta yang tak segan-segan membantai lelaki yang habis dikencaninya. Mereka ditempa oleh Nyai Lembah Asmara untuk menjadi perempuan yang berjaya di atas kaum lelaki mana pun juga.

Karena menurut ramalan seorang ahli nujum dari Mongol yang pernah bertemu dengan Nyai. Sang Nyai akan bisa berdiri sebagai ratu di atas segala ratu di bumi ini, jika ia bisa mempunyai negara yang seluruh punggawa dan prajuritnya adalah perempuan. Sang Nyai rupanya benar-benar ingin menjadi ratu di atas segala ratu di bumi.

Kaum lelaki jarang hadir di lingkungan kekuasaan sang Nyai. Kalaupun ada lelaki di sana, mereka hanyalah alat pemuas dahaga para wanita Bukit Garinda. Tak ada lelaki yang masuk ke benteng tinggi itu keluar dalam keadaan segar. Paling tidak mereka meninggalkan Bukit Garinda dalam keadaan layu dan pucat bagai mayat. Bahkan sering sekali mereka keluar dalam keadaan luka parah dan tewas sebelum mencapai kaki bukit.

Nyai Lembah Asmara selalu menempa jiwa anak buahnya untuk tidak terlalu banyak memberi kemanisan kepada kaum lelaki. Bahkan mereka selalu dianjurkan untuk tidak mudah memberi maaf atau ampun kepada kaum lelaki. Sekali cabut pedang, pantang dimasukkan kembali sebelum memenggal kepala seorang lelaki. Tetapi terhadap lawan wanita, Nyai tidak menyalahkan anak buahnya jika ada yang punya kebijakan ataupun tenggang rasa.

Satu-satunya mantan murid Nyai yang melarikan diri dari Bukit Garinda karena tak tahan terhadap kekangan peraturan di sana adalah Peri Malam, yang kemudian bertemu dengan penguasa Pulau Hantu berjuluk Si Mawar Hitam, lalu diangkat sebagai muridnya. Pada waktu itu, Peri Malam belum mempunyai ilmu tinggi dan masih berada di jajaran para murid tingkat dasar.

Sayang pada waktu Peri Malam melihat Perawan Sesat bersama Dirgo, si Manusia Sontoloyo itu, ia tidak mengenali siapa Perawan Sesat. Karena pada waktu Peri Malam meninggalkan Bukit Garinda, Perawan Sesat belum menjadi anak buah Nyai Lembah Asmara. Peri Malam hanya bisa simpulkan, bahwa Perawan Sesat adalah perempuan yang membahayakan, karena dapat merebut hati Pendekar Mabuk dengan kecantikan dan daya tariknya yang aneh itu (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat).

Pengejaran Peri Malam saat melihat Suto melarikan Perawan Sesat ternyata menemui jalan buntu, ia kehilangan jejak Pendekar Mabuk. Tapi rasa cinta yang makin berkembang di hatinya, membuat Peri Malam pantang menyerah untuk tetap mencari Suto Sinting, ia selalu mengandalkan indera penciumannya untuk melacak ke mana arah perginya Suto.

Sampai tiba pada langkah berikutnya, Peri Malam mulai mencium bau keringat Suto yang punya aroma tuak bumbung. Mata tajam Peri Malam segera melirik sekeliling. Bahkan ia sentakkan kaki dan melenting di udara untuk hinggap di salah satu dahan pohon. Dari sana ia memandang segala penjuru, terutama ke arah datangnya aroma keringat tuak itu.

"Pasti dia ada di sekitar sini," pikir Peri Malam. "Bau keringatnya hanya samar-samar, itu berarti jaraknya cukup jauh dari sini. Hmmm... agaknya aroma keringat Pendekar Mabuk lebih tajam ke arah utara. Itu berarti dia berada di sebelah utara sana! Aku harus melacaknya terus!"

Kelebat bayangan kuning adalah kelebat gerakan Peri Malam yang berpakaian kuning kunyit. Rambutnya yang lurus melewati pundak masih diikat dengan rantai emas berbatu merah delima di keningnya. Bayangan kuning kunyit itu hinggap kembali ke dahan pohon lain. Peri Malam lemparkan pandangan mata ke arah jauh. Ia terkesiap sekejap dan hatinya berkata,

"Oh, rupanya aku mendekati Bukit Garinda?! Dinding bentengnya terlihat jelas dari sini. Dan anehnya aroma keringat Suto semakin jelas pula. Apakah Suto berada di dalam benteng sana? Celaka! Celaka kalau dia ada di sana! Bukan hal mudah membebaskan Pendekar Mabuk dari dalam benteng Bukit Garinda itu. Pasti aku harus berhadapan dengan anak buah Nyai Lembah Asmara. Ilmuku tak seimbang. Dia bukan lawanku. Tapi, aku harus bisa menyelamatkan Suto dari cengkeraman Nyai. Suto hanya akan djadikan sapi perahan saja di sana. Aku sendiri sangsi, apakah Suto bisa melawan ilmunya Nyai jika ia melakukan pembangkangan?! Dan yang paling berbahaya adalah ilmu 'Racun Darah Asmara' milik Nyai! Suto tak akan bisa melawan racun yang amat ganas itu!"

Peri Malam hentikan kecamuk hatinya. Bahkan ia pun alihkan perhatian ke bawah pohon. Ternyata di sana ada dua manusia yang terhenti langkahnya karena memandang bangunan di lereng Bukit Garinda. Mereka adalah seorang lelaki agak pendek dan sedikit gemuk, bersama seorang perempuan berlilit selendang putih di bagian pinggangnya, menyandang pedang di punggungnya. Mereka adalah Pujangga Keramat dan Selendang Kubur. Rupanya mereka sibuk mengamat-amati bagian pintu gerbang benteng itu, sampai tak menyadari ada sesosok tubuh bertahi lalat di sudut dagunya diam mengawasi di atas kepala mereka.

"Aku yakin Suto ada di dalam benteng itu, Paman Pujangga Keramat," kata Selendang Kubur menirukan panggilan Suto terhadap Pujangga Keramat.

"Harus kita masuk bisa ke sana!" kata Pujangga Keramat dengan susunan kata yang selalu harus disusun kembali oleh lawan bicaranya.

"Tapi sebelum kita mendobrak masuk, ada baiknya kalau kita selidiki dulu apakah Suto benar-benar ada di sana, dan di sebelah mana. Jadi kita tidak buang-buang waktu dan tenaga jika harus membantai habis orang-orangnya Nyai Lembah Asmara."

"Setuju aku gagasanmu dengan!"

Kemudian, Pujangga Keramat memasukkan jari telunjuknya ke mulut. Sebentar kemudian dikeluarkan lagi. Jari telunjuk yang basah oleh ludahnya itu diangkat ke atas dengan tangan teracung naik. Ia pejamkan mata sebentar. Selendang Kubur memandangi dengan dahi kerut. Heran melihat apa yang dilakukan Pujangga Keramat. Kejap berikut, Pujangga Keramat turunkan tangan dan berkata, "Suto memang ada benteng di dalam."

"Maksudmu, Suto ada di dalam benteng itu?"

Selendang Kubur manggut-manggut sambil menatap bangunan itu. Hatinya membatin geli melihat cara Pujangga Keramat melacak Suto. "Cara yang dipakai seperti cara orang yang mencari tahu arah angin berhembus. Tapi hebat juga dia, bisa lacak Suto pakai jari telunjuk yang dibasahi."

Peri Malam yang bertengger di atas mereka juga ingin tertawa geli melihat cara Pujangga Keramat melacak Suto. Hampir saja ia hamburkan tawa kalau tidak segera tutup mulutnya pakai tangan.

Pujangga Keramat berkata kepada Selendang Kubur, "Aku tangkap Pendekar Mabuk dan seorang perempuan."

"Pasti dia si Perawan Sesat itu!"

"Sesat bukan! Perempuan itu ada lalat bertahi di dagunya, ada kuning kunyit di pakaiannya...."

"Peri Malam!" sahut Selendang Kubur cepat dan terkejap. Ia segera palingkan wajah pandang Pujangga Keramat. "Itu ciri-ciri Peri Malam!" katanya menegaskan.

"Apakah dia berada bersama Suto?" tegang wajah Selendang Kubur tak bisa disembunyikan.

"Bersama Suto tidak! Itu perempuan tidak ada Suto di sampingnya."

"Lantas, ada di mana perempuan itu jika tidak ada di samping Pendekar Mabuk?"

"Bertengger dia kepala kita di atas," jawab Pujangga Keramat membingungkan Selendang Kubur.

Di atas pohon, Peri Malam menggerutu dalam hati, "Sial! Rupanya orang itu tadi bukan hanya melacak Suto, namun juga melacak diriku yang ada di atasnya. Hm... tak ada guna aku tetap diam di sini!"

Saat Selendang Kubur kerutkan dahi untuk susun kembali kata-kata Pujangga Keramat tadi, tahu-tahu angin berhembus cepat dari atas kepalanya. Selendang Kubur cepat lompatkan tubuh ke kanan, hindari hembusan angin yang mencurigakan itu.

Hembusan angin hilang, Peri Malam menampakkan diri. Ia tampakkan kedua kaki di tanah dengan mantap, jarak empat langkah dari Selendang Kubur yang bersebelahan dengan Pujangga Keramat. Peri Malam segera sunggingkan senyum sinis pada Selendang Kubur.

"Kita bertemu lagi, Selendang Kubur!" ucap Peri Malam dengan sorot mata tajam.

Selendang Kubur tak mau kalah, ia ucapkan kata pedas, "Mungkin kau ingin serahkan nyawa padaku, Peri Malam! Aku pun siap menebas lehermu dengan pedangku!"

Tangan Selendang Kubur bergerak ke belakang, mau pegang gagang pedang Jalaganda. Tapi itu hanya gertakan belaka. Buktinya ia segera turunkan tangan setelah Peri Malam sunggingkan senyum lebar dan ucapkan kata,

"Tak mungkin kau mau tebas leherku pakai pedangmu. Kau akan merasa sayang jika darahku melumuri pedangmu. Aku tahu, kau bawa pedang itu hanya untuk melawan Nyai Lembah Asmara! Pedang itu adalah senjata pamungkasmu untuk merebut Suto dari tangan Nyai!"

"Tapi jika kau ingin merampas Pendekar Mabuk, aku pun siap tebaskan pedang ini ke lehermu, kapan saja aku mau!"

"Kau tak akan mampu, Selendang Kubur," Peri Malam cibirkan bibir dan berpaling membelakangi Selendang Kubur, menatap ke arah bangunan berbenteng hitam keabu-abuan itu.

Selendang Kubur menghempaskan napas jengkel, ia perdengarkan geram dari mulutnya. Saat ia ingin bergerak maju, tangan Pujangga Keramat menghalangi langkahnya. Selendang Kubur cepat menatap. "Biar kubuktikan bahwa aku mampu menebas batang lehernya!"

"Tak perlunya ada!" kata Pujangga Keramat.

Peri Malam balikkan badan, lalu berkata pada Selendang Kubur, "Tepat apa kata dia, tak perlu kau tebas batang leherku untuk saat ini. Kau hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Aku tahu, saat ini waktu dan tenagamu amat berguna buat loloskan Suto keluar dari benteng itu! Tapi ketahuilah, Selendang Kubur... tak semudah menimba air jika kau ingin loloskan Pendekar Mabuk keluar dari benteng itu. Kau harus berhadapan dengan Nyai Lembah Asmara yang punya ilmu cukup tinggi, dan lebih tinggi dari kita bertiga! Kau akan mati sia-sia jika nekat masuk ke sana dan mencari Suto."

"Mati itu nomor sepuluh. Nomor satu adalah loloskan Suto dari cengkeraman mesra Nyai Lembah Asmara!" Selendang Kubur ucapkan kata itu dengan mata menyipit dendam.

"Itu pun tak mudah kau lakukan," kata Peri Malam sambil lepaskan tawa mengikik. "Kau akan mati sebelum sampai berhadapan dengan Nyai Lembah Asmara. Dia punya anak buah berilmu tinggi semua. Tak ada yang bisa masuk ke sana untuk menarik keluar Suto kecuali aku!"

"Cuih...!" Selendang Kubur meludah ke samping. "Ilmu kanuraganmu belum ada seujung kuku hitamku, beraninya berlagak mau selamatkan Pendekar Mabuk dari dalam sana?! Bercerminlah dulu, Peri Malam!"

"Jangan remehkan aku, Setan!" geram Peri Malam

"Nyatanya beberapa kali kau bertemu denganku, kau tak sanggup mengalahkan aku! Kalau aku tak punya rasa kasihan padamu, sudah sejak kemarin nyawamu kukirim ke neraka!"

"Mulut besar! Mari kita buktikan sekarang, siapa yang harus pergi ke neraka. Kau atau aku! Hiaaat...!"

Selendang Kubur sentakkan kaki kirinya ke tanah dan tubuhnya melayang terbang ke arah Peri Malam. Kaki kanannya lurus ke samping dan berusaha menendang kepala Peri Malam dengan tendangan miring.

Peri Malam sedikit lompatkan badan sambil kibaskan tangannya untuk menangkis kaki Selendang Kubur.Tangkisan itu cukup pelan, tapi membuat Selendang Kubur terjengkang jatuh. Sementara itu, Peri Malam sigap kembali berdiri, menunggu serangan berikutnya. Selendang Kubur bisikkan kata di hatinya, "Lumayan juga tangkisan tangannya. Dia salurkan tenaga dalamnya tadi hingga bikin kakiku sedikit kesemutan!"

Di sisi lain, Peri Malam juga bisikkan kata dalam hatinya, "Setan! Linu juga tulangku menangkis tendangannya. Pasti dia salurkan tenaga dalamnya ke kaki. Agaknya dia tidak main-main! Aku harus lebih waspada lagi."

Melihat Selendang Kubur bangkit kembali, Peri Malam segera sentakkan kaki ke tanah dan melesat naik tubuhnya, berjungkir balik satu kali di udara. Tepat pada saat itu, Selendang Kubur pun melesat naik ke udara dan bersalto satu kali di udara.

Wusss...!

Kedua tangan mereka siap di udara dengan tenaga dalam yang tidak main-main. Wajah mereka sama-sama tampakkan kegeraman dan nafsu untuk saling membunuh. Tiba-tiba Pujangga Keramat hentakkan kakinya ke tanah dan lompatlah tubuhnya melayang maju ke pertengahan antara dua perempuan itu. Dengan cepat kedua kaki Pujangga Keramat sentakkan kaki ke kiri dan ke kanan secara bersamaan.

Dua tendangan samping yang dilakukan secara serentak itu mengenai perut dua perempuan itu. Tendangan tersebut juga bukan tendangan main-main. Buktinya dua-duanya sama-sama tersentak ke belakang, bahkan sama-sama membentur pohon.

Jleeg...! Pujangga Keramat kembali berdiri sigap di tanah setelah melakukan tendangan serentak, ia pandangi kedua perempuan yang saling menahan rasa mual di perut mereka, dan berusaha sama-sama berdiri lagi.

"Kebo dekil!" sentak Peri Malam. "Mengapa kau ikut campur urusan kami, hah? Ini urusan perempuan!"

"Tak maksud punya aku ikut campur. Hanya aku sekadar unjukkan rasa tak suka aku perselisihan kalian dengan!"

"Ngomong apa kau ini, hah?!" Peri Malam makin menyentak.

"Singkir dulu permusuhan!" kata Pujangga Keramat kepada Selendang Kubur, lalu palingkan wajah pada Peri Malam dan ucapkan kata, "Sama-sama kalian punya ingin, sama-sama selamatkan Suto, jadi sama-sama kalian satukan untuk kekuatan menyerang!"

"Oh, kau berharap kita bersatu menyerang benteng itu untuk selamatkan Pendekar Mabuk?!"

"Ya. Itulah maksud yang aku!"

"Selendang Kubur!" ketus Peri Malam setelah merasa tetap bingung mengartikan kata-kata Pujangga Keramat. "Coba jelaskan apa maksudnya?"

"Dia ingin kita bersatu menembus benteng itu, membawa lari Suto!"

"Hmm... ! Lalu, kau sendiri bagaimana?"

"Gagasannya cukup bagus. Kita satukan kekuatan kita untuk mengalahkan Nyai Lembah Asmara. Kita keluarkan Suto dari sana. Setelah itu kita adu nyawa kita, siapa hidup dapatkan Suto!"

"Baik! Aku setuju!" jawab Peri Malam dengan tegas,tanpa ada sedikit pun keraguan dan kegentaran.

* * *

TUJUH

ORANG-ORANG Bukit Garinda seperti hanyut dalam mimpi semua saat melihat kedatangan Suto Sinting. Tak ada mata yang berkedip ketika Pendekar Mabuk melintas di depan mereka di bawah pengawalan Maharani dan Putri Alam Baka.

Suto dibawa masuk ke sebuah ruangan lebar beratap tinggi, mempunyai pilar-pilar kokoh dan lantai yang mengkilap. Agaknya ruangan itu merupakan bangsal pertemuan bagi mereka. Di sana hanya ada satu tempat duduk yang menyerupai singgasana raja berwarna kuning keemasan. Letaknya pada lantai yang bertangga empat baris. Lebih tinggi dari lantai lainnya. Tepat di belakang singgasana itu ada lorong bertirai kain ungu.

Dari lorong itu segera muncul seorang perempuan bertubuh tinggi dan sekal. Wajahnya cantik namun berkesan keras. Pakaiannya hijau pupus, atau hijau muda dengan mengenakan pakaian model jubah warna merah dadu. Rambutnya panjang diriap, mengenakan mahkota kecil berhias batu-batuan permata putih, ia juga mengenakan kalung permata bersusun dua, gelang gemerincing di tangan kanan-kiri dan anting panjang berkilap sebagai pelengkap perhiasannya.

Ia mempunyai bentuk wajah lonjong, berhidung mancung, bibirnya agak tebal dan lebar, ia mempunyai mata lebar berbulu lentik. Tepian matanya berwarna hitam, menampakkan kesan buas dan galak. Orang itulah yang dihormati oleh mereka sebagai Nyai Lembah Asmara.

Ketika ia muncul dari lorong bertirai ungu, semua yang ada di situ merendahkan badan dengan satu kaki berlutut di lantai dan kepala menunduk sekejap. Hanya Suto yang masih berdiri sambil pandang kanan-kiri dengan heran dan kagum melihat bangunan mewah itu. Ia bahkan tidak begitu tertarik untuk memperhatikan Nyai Lembah Asmara yang segera duduk di singgasananya.

"Putri Alam Baka!" Nyai Lembah Asmara mengawali suaranya yang lantang. "Di mana Perawan Sesat yang kau kawal itu?"

"Dia melakukan pembangkangan, Nyai!"

Wajah sang Nyai tampak makin mengeras menahan amarah mendengar kabar tersebut, ia menggeram, "Sudah kuduga sebelumnya!" Kemudian ia serukan kata kepada Putri Alam Baka, "Apa tindakanmu terhadap dia?!"

"Membunuhnya"

"Bagus! Ha ha ha...!" Nyai Lembah Asmara tertawa lepas, berkesan kasar dan liar. Maharani dan Putri Alam Baka saling pandang dalam senyum kebanggaan. Hanya Suto yang tidak tertawa karena merasa heran saat memandangi Nyai Lembah Asmara itu.

"Di mana orang yang bernama Dyah Sariningrum?" pikir Pendekar Mabuk, "Sejak tadi tak kulihat wajah Dyah Sariningrum. Apakah Perawan Sesat telah menipuku?"

Terdengar suara Nyai Lembah Asmara serukan tanya kepada Putri Alam Baka, "Siapa pemuda yang kau bawa ini, Sumbi?!"

"Orang bawaan Perawan Sesat. Siapa lagi dia kalau bukan Pendekar Mabuk, lelaki tanpa pusar yang Nyai cari-cari itu."

"Ha ha ha ha...! Bagus, bagus, bagus...!" makin meledak tawa Nyai Lembah Asmara, makin tampak kegirangannya, makin terpana pula ia memandangi Pendekar Mabuk. Kejap berikutnya ia melambaikan jemarinya yang berkuku panjang dan runcing, ia memanggil Suto agar mendekatinya. "Datanglah kemari, Suto. Dekatlah padaku."

Suto diam dengan mata merah bagai orang mengantuk karena mabuk. Mulutnya sedikit terbuka berkesan bengong, seakan tidak mengerti apa maksud kata-kata Nyai Lembah Asmara.

"Dekatlah padaku, Suto!" suara Nyai agak meninggi, ini menandakan ia mulai tak sabar lagi.

Putri Alam Baka segera bangkit dan mendekati Suto, lalu ia bisikkan kata ke telinga Suto. "Kau dipanggil. Dekatlah sana!"

"Ah, aku tak pernah butuhkan dia," kata Pendekar Mabuk bersuara sumbang. "Kalau dia butuh aku, biarlah dia yang mendekatiku."

"Jangan bikin dia marah, Suto! Cepatlah mendekatinya."

"Tak mau! Aku tak butuh dia!" Suto Sinting bersungut-sungut dan buang muka.

Sikap Suto mencemaskan hati Maharani, Putri Alam Baka, dan orang-orang yang ada di situ. Selama ini tak ada orang yang berani menolak panggilan Nyai Lembah Asmara. Penolakan itu bisa membuat Nyai menjadi murka.

Tapi agaknya Nyai Lembah Asmara tidak bersikap seperti biasanya, ia justru tertawa semakin kegirangan melihat Suto menolak panggilannya, ia berseru kepada anak buahnya, "Lihat! Lihatlah dia! Penolakannya itu menandakan bahwa ia tidak mudah tertarik dengan seorang perempuan. Itu pertanda dia punya harga diri yang cukup tinggi dan sudah sepantasnya aku mendapatkan pria yang punya harga diri tinggi. Penolakannya itu menandakan pula bahwa dia... masih perjaka! Ha ha ha...!"

Yang lain ikut tertawa bagai mendukung kegembiraan Nyai Lembah Asmara. Tapi Suto tetap tidak mau ikut tertawa, ia bahkan menatap tiap wajah yang ada di situ, mencari seraut wajah yang pernah ia temui di alam semadinya, juga yang sering hadir di alammimpinya. Wajah itu adalah wajah Dyah Sariningrum.

Nyai Lembah Asmara bangkit dan langkahkan kaki menuruni tangga dengan pelan-pelan. Sisa tawanya masih sesekali terdengar bagaikan gumam, ia mendekati Suto dengan tatapan mata yang tajam berseri-seri. Orang yang ada di dekat Suto segera menyingkir jauh, memberi jalan untuk sang Nyai Lembah Asmara.

"Perkasa sekali...," ucap sang Nyai Lembah Asmara dengan suara mirip orang mendesah kagum. "Tampan, gagah, dan sungguh menggairahkan...!"

Nyai Lembah Asmara mengelilingi Suto Sinting dengan sorot pandangan mata tak berkedip. Suto hanya diam dengan sedikit mulut terbuka melongo, sambil matanya ikut memandangi Nyai Lembah Asmara dengan perasaan heran.

"Lihat ototnya," kata Nyai kepada Maharani, "Ototnya tampak keras, besar, tapi halus lembut. Laki-laki gagah perkasa seperti inilah yang akan memberiku keturunan seorang penerus kesaktianku. Dia yang akan merajai seluruh kekuatan di rimba persilatan. Dia tak akan ada tandingnya! Dan anakku nanti jika perempuan tentu akan secantik ibunya, jika lelaki tentu akan setampan ayahnya."

Wajah mereka berseri-seri, seakan ikut menyambut rencana kehadiran sang bayi dengan gembira. Nyai Lembah Asmara semakin bangga melihat wajah-wajah anak buahnya berseri gembira, dia semakin yakin bahwa sebentar lagi dia akan mempunyai keturunan dari seorang pendekar tampan yang bertubuh kekar perkasa itu.

"Kalian tahu!" serunya lagi, "Pendekar Mabuk inilah satu-satunya lelaki yang bisa memberiku keturunan, sebab ia lelaki tanpa pusar. Kalian tahu kehebatan lelaki tanpa pusar? Oh, dia adalah orang yang punya napas panjang, tidak cepat lelah, punya ketangguhan dalam bercinta dan punya kesanggupan memberikan kehangatan."

"Woww...!" mereka menyahut serempak penuh ungkapan rasa kagum.

"Tapi sayang, hanya aku yang bisa menikmati dia! Karena dia laki-laki istimewa yang tak bisa kubagikan kepada Putri Alam Baka, atau kepada Maharani, atau kepada kalian semua!"

Suto tak peduli celoteh itu. Dengan tenangnya ia buka tutup bumbung tuak, dan ia tenggak beberapa teguk dengan rasa lega. Mata mereka memandang tanpa kedip. Sebagian perempuan yang ada di situ saling berdebar-debar gemas ketika melihat Pendekar Mabuk dongakkan kepala untuk menenggak tuak dalam bumbung. Pendekar Mabuk yang tampak bidang dadanya, kelihatan lebih perkasa dan menggairahkan.

Nyai Lembah Asmara tersenyum-senyum dan berkata kepada Maharani, "Aku sudah tak tahan lagi. Bawa dia ke kamarku, Maharani! Tapi awas, jangan sampai kau menyentuhnya lagi. Dia sudah menjadi kekuasaanku, dari ujung rambut sampai ujung kakinya!"

"Baik, Nyai!" Maharani berikan hormat pertandapatuh dan taat. Lalu ia bicara kepada Suto, "Mari kuantar ke kamar, Suto!"

"Ke mana...?!" mata Suto makin sayu.

"Ke kamar peraduan," jawab Maharani. "Nyai sudah tak bisa bersabar lagi. Kau harus segera masuk ke kamar peraduan bersama beliau!"

"Aku kemari bukan mencari kamar," kata Suto Sinting. "Aku mencari kekasihku yang selalu hadir dalam mimpiku!"

Nyai Lembah Asmara menyahut, "Akulah kekasihmu, Suto!"

"Bukan! Kau bukan kekasihku. Wajahnya tidak seperti kamu! Dia lebih cantik dan lebih anggun dibandingkan dirimu, Nyai!"

Maharani mundur dari Suto ketika dilihatnya wajah Nyai Lembah Asmara menegang. Mata Nyai Lembah Asmara mulai memancarkan murka yang tertahan. Nyai Lembah Asmara mendekati Suto, sementara Suto masih berdiri dengan tubuh goyang karena mabuk. Agaknya Nyai berusaha menahan murkanya dengan napas ditarik dalam-dalam dan diendapkan di dalam dada.

Saat itu, Suto Sinting berkata sumbang, "Aku kecewa datang ke sini! Perawan Sesat mendustaiku. Aku kecewa ketemu kamu, Nyai!"

"Kekecewaanmu akan sirna setelah kita berada di dalam kamar!" kata Nyai Lembah Asmara geram.

Pendekar Mabuk gelengkan kepala sambil bersungut-sungut. "Kurasa sama saja. Di dalam kamar dan di luar kamar, sama saja kau bikin aku kecewa, karena kau bukan orang yang ada dalam mimpiku!"

"Aku bisa hadir kapan saja kau ingin kehadiranku, Suto!"

Suto kembali gelengkan kepala. "Aku mau pulang saja," katanya seenaknya, ia melangkah dengan limbung.

Nyai Lembah Asmara segera mencekal lengan Suto. Ditariknya tubuh itu, didekatkan wajahnya, ditatapnya lekat-lekat, lalu dengan nada geram ia berkata, "Kekasihmu ada di dalam kamar, Suto!"

"Benarkah begitu?" Pendekar Mabuk tampak tertarik.

Nyai Lembah Asmara memanfaatkan itu dengan berkata, "Dia sudah menunggumu lama di sana."

"Kalau begitu, antarkan aku ke kamar!"

Nyai Lembah Asmara tersenyum lebar. Maka ia pun segera menggandeng Suto dan melangkahkan kaki menuju lantai yang tinggi, melewatr singgasana, menerobos tirai ungu, dan hilang ke dalam lorong tersebut.

Orang-orang yang ada di luar, di sekeliling Maharani dan Putri Alam Baka, mulai bergaung seperti lebah. Mereka saling memuji ketampanan Pendekar Mabuk, mereka saling menyanjung daya pikat Suto yang membakar gairah mereka. Bahkan di salah satu sudut ada perempuan yang berusaha memuaskan khayalan indahnya bersama Suto.

Kamar peraduan Nyai Lembah Asmara sangat indah, luas, dan bersih. Baunya wangi cendana. Di sana ada pembaringan yang berlapis sutera merah jambu, empuk, dan lebar. Lantainya berlapiskan permadani tebal warnahijau muda. Ruangan itu diterangi oleh cahaya api dari tungku berbatu bara yang ada di sisi kanan-kiri ruangan. Sungguh romantis sebenarnya suasana di peraduan itu, sayangnya Suto tidak tergugah kemesraannya, ia bahkan masih bingung mencari kekasihnya di dalam kamar tersebut.

"Mana kekasihku? Tak kulihat ada di kamar ini!" katanya seperti bicara sendiri, tapi didengar oleh Nyai Lembah Asmara.

"Akulah kekasihmu, Suto," kata Nyai Lembah Asmara sambil melepas mahkota dan melepas pula jubah merah jambunya.

Suto bersungut-sungut memandangnya, lalu berkata, "Bukan kamu! Sudah kubilang wajahnya lebih cantik dan lebih menggairahkan dari dirimu, Nyai!"

"Jangan bicara begitu, Suto. Itu sama saja kau membangkitkan amarahku!"

"Aku tidak peduli! Memang menurut penilaianku dia lebih cantik dari dirimu, Nyai! Aku tak mau bohongi diriku sendiri."

"Jangan banyak bicara, Suto! Sebaiknya lekas lepasi pakaianmu. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak hasratku untuk mencumbumu!" sambil Nyai Lembah Asmara mendekat, ia meraih pundak Pendekar Mabuk, menatap dengan mata berbinar-binar penuh gairah.

Suto Sinting mengelak dan melangkah ke perapian. "Kau bohong padaku, Nyai. Kau sama dustanya dengan Perawan Sesat."

Napas panjang ditarik oleh Nyai Lembah Asmara untuk meredam kemarahannya. Selama ini belum pernah ada lelaki yang menolak ajakan mesra Nyai. Belum pernah ada lelaki yang menjauhi saat Nyai Lembah Asmara mendekatinya. Tapi kali ini Suto ternyata berani melakukan hal itu. Nyai merasa terhina, tapi ia tetap meredam amarahnya, karena ia berpikir,

"Mungkin ciri-ciri lelaki tanpa pusar memang begini. Harus ditundukkan dulu sebelum ia memberiku keindahan yang kudamba!"

Pendekar Mabuk meneguk tuaknya lagi. Sisa air tuak di bibir disapu dengan tangan kirinya. Bumbung itu dipegang dengan tangan kiri. Kemudian dilangkahkannya kaki mendekati pintu. "Aku mau pulang!" ucapnya kemudian.

Nyai Lembah Asmara segera melompat ke depan Suto. Melihat Nyai menghadang langkahnya, Suto berkata dengan tubuh limbung. "Minggirlah, Nyai. Aku mau keluar dari kamar ini."

"Berbaringlah di ranjangku, Suto. Kau akan kuterbangkan tinggi-tinggi mencapai awan-awan indah. Kita akan berlayar mengarungi lautan cinta yang penuh dengan kenikmatan dan kemesraan, Suto!"

"Aku tidak bersedia, Nyai!"

"Jangan bantah perintahku, Suto!" Nyai Lembah Asmara menyentak agak pelan.

"Aku tak mau tunduk dengan perintah siapa pun, kecuali perintah dari guruku dan kekasihku!"

"Kau memancing kemarahanku, Suto. Kau akan menerima akibatnya!"

"Aku tak menghendaki keributan di antara kita. Tapi kalau kau mau lampiaskan marah padaku, silakan saja, Nyai! Aku juga bisa lampiaskan kekecewaanku atas kebohonganmu itu!"

Mata Nyai Lembah Asmara mulai menyipit tanda menahan kemarahan yang dalam. Tangannya menggenggam kuat, napasnya mulai tak teratur. Suto masih memandang dengan mata sayu tanpa senyum. Sesekali tubuhnya tersentak karena cegukan.

Tiba-tiba kaki kanan Nyai Lembah Asmara bergerak menyentak ke depan, menendang dada Suto. Beegh...! Dada Suto terkena tendangan itu dengan telak. Pendekar Mabuk tersentak ke belakang, mundur tiga tindak. Tapi ia justru tersenyum dalam keadaan masih tetap berdiri walau tubuhnya limbung.

"Tak seberapa berat tendanganmu, Nyai. Adakah yang lebih berat lagi dari yang tadi?" kata Suto Sinting sambil menyunggingkan senyum.

"Aku tak ingin mencelakai dirimu, Suto!"

"Kenapa? Bukankah kau marah padaku?"

"Memang kau adalah lelaki yang menjengkelkan. Seharusnya kau menerima hukuman dariku. Tapi kau adalah pembenihku. Aku tak akan hancurkan pembenihku sendiri."

"Pembenih? Apa itu pembenih?" Pendekar Mabuk kerutkan dahi.

"Aku harus dapatkan benih kesuburan darimu, supaya aku bisa mengandung dan melahirkan keturunanku."

"Mengapa aku yang kau pilih?"

"Jika bukan kamu, tak akan bisa aku mengandung bayi. Kau adalah lelaki tanpa pusar. Menurut guruku, aku hanya bisa mengandung dari benih lelaki tanpa pusar. Kaulah orangnya, Suto."

"Jadi aku dibawa ke sini hanya untuk menjadi pembenih? Hanya untuk memberimu keturunan?"

"Ya!" jawab Nyai Lembah Asmara tegas. "Di samping itu... hatiku sesungguhnya telah terpikat padamu begitu kutatap dirimu dari singgasana tadi."

Pendekar Mabuk tertawa terkekeh dengan suara sumbang karena mabuknya itu. "He he he... cepat sekali kau terpikat pada seorang pria, Nyai. Alangkah murahannya hatimu itu!"

"Baru sekarang kualami perasaan itu, Suto! Kepada lelaki lain aku hanya terpikat karena birahi semata Kepadamu, bukan hanya karena birahi yang ingin dipenuhi, tapi karena hati yang selama ini kosong dan ingin dipenuhi cinta seorang lelaki sepertimu!"

"He he he he...! Rayuanmu merontokkan gunung batu, Nyai. Tapi tak akan bisa melelehkan hatiku. Sebaiknya, lupakan saja tentang pembenih. Carilah lelaki lain yang tanpa pusar! Aku tidak mau melayanimu, Nyai. Aku harus segera pergi dari sini!"

"Suto...!" sentak Nyai Lembah Asmara mulai tampakkan ketidaksabarannya. "Kau tak punya pilihan lain. Kau harus mau memberiku benih dan melayani asmaraku, Suto! Kalau sekali lagi kau menolaknya, kau akan menyesal!"

"Aku pilih menyesal," kata Pendekar Mabuk semakin nekat bicara. Kata-kata itu membuat Nyai Lembah Asmara semakin geram, penuh dengan kejengkelan hati.

Crrap...!

Tiba-tiba dari mata lebar Nyai Lembah Asmara memancarkan sinar ungu dalam sekejap. Sinar itu menembus masuk ke bola mata Suto yang mengantuk itu. Suto merasa silau sejenak dan kibaskan tangannya, tapi sinar ungu itu sudah telanjur masuk ke dalam kedua bola matanya. Sinar ungu itulah yang dikhawatirkan Betari Ayu sebagai sinar 'Racun Darah Asmara'.

Tubuh Pendekar Mabuk tiba-tiba merasa panas. Keringat pun mulai bermunculan dari tiap pori-pori tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat, hatinya berdesir-desir. Dalam hati Suto Sinting bertanya pada diri sendiri,

"Kenapa aku ini? Mengapa aku jadi berdebar-debar dan darahku seperti sedang mengalir dengan cepatnya Oh, begitu indahnya wajah di depanku itu. Alangkah menggairahkannya perempuan ini. Aku terpikat olehnya. Oh, aku jadi ingin memeluknya. Aneh sekali. Ini pasti gairah yang hadir di luar kemauan hati kecilku. Oh, aku telah terkena kekuatan hitam yang membuat gairahku meledak-ledak. Aku harus melawan! Harus melawan."

Tapi ketika Pendekar Mabuk didekati Nyai Lembah Asmara, ia tidak mengelak dan diam saja menerima sentuhan jemari Nyai Lembah Asmara di bagian dadanya. Bahkan ketika Nyai Lembah Asmara sedikit tengadah kepala dengan bibir merekah, Suto memandangnya makin penuh gairah.

"Ciumlah aku...," perintah Nyai Lembah Asmara bernada bisik.

Suto pun mencium bibir itu. Mengecup dan melumatnya yang segera mendapat perlawanan tak kalah panas dari Nyai Lembah Asmara sendiri. Hanya saja di dalam hati Suto, terlintas pertanyaan-pertanyaan yang menggundahkan hatinya.

"Mengapa aku mau? Mengapa aku menurut? Mengapa bibir ini kupagut? Apakah aku harus pasrah dan membiarkan hasratku dipenuhi oleh kehangatan tubuhnya? Ah..., mengapa jiwaku jadi bimbang begini?!"

Pendekar Mabuk menurut ketika tubuhnya di dorong ke belakang dan jatuh terbaring di ranjang empuk itu.

Blukkk...! Nyai Lembah Asmara menerkamnya.

* * *

DELAPAN

CINTA mengamuk di hati dan jiwa Nyai Lembah Asmara. Amukan cinta itu begitu gemuruhnya, hingga menutup kedua gendang telinga Nyai Lembah Asmara dari seruan dan pekikan di luar kamar. Apalagi saat itu Pendekar Mabuk pun tampak ingin meronta dan melawan kekuatan racun Darah Asmara dengan kekuatan batinnya.

Suara-suara pekik, jerit, dan seruan keras itu datang dari orang-orang yang sedang menghadapi tiga sosok manusia nekat, yaitu Pujangga Keramat, Selendang Kubur, dan Peri Malam. Mereka mengamuk di pintu gerbang, lalu menerobos masuk membantai orang-orangyang menghalangi langkah mereka.

Jarum beracun milik Peri Malam mulai beraksi kembali. Bambu kecil berukuran yang sejengkal yang selalu diselipkan di belahan dadanya itu meluncurkan jarum beracun saat bambu itu ditiup oleh Peri Malam. Banyak leher yang jadi sasaran jarum beracun itu dan membuat korbannya membusuk lalu mati.

Selendang putih milik murid Nyai Betari Ayu itu pun melecut ke sana-sini. Selendang Kubur mengamuk bersama selendang pusakanya yang mampu mengeluarkan percikan api petir dan menyambar kepala-kepala anak buah Nyai Lembah Asmara, ia sengaja belum mau menggunakan pedang Jalaganda-nya, karena pedang itu dipersiapkan untuk melawan Nyai Lembah Asmara yang kesohor keji dengan tingginya ilmu yang dimiliki.

Pujangga Keramat pun tak mau hanya sebagai penonton, ia sebagai pelayan dari si Gila Tuak, gurunya Suto Sinting, merasa lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan Suto. Karena itu, ia menerobos masuk ke bangsal pertemuan mencari Suto di sana.

"Cari Suto di dalam, biar aku dan Peri Malam yang menghadapi tikus-tikus ini, Paman!" seru Selendang Kubur sebelum Pujangga Keramat menerobos masuk ke bangsal pertemuan.

Sampai di sana ia berseru, "Sutooo...! Di mana ada kau, Suto!"

Tiba-tiba dari arah samping melesatlah gelombang panas yang menuju ke arah Pujangga Keramat.

Wuuss...! Pukulan jarak jauh disentakkan dari kipas Maharani.

Merasakan adanya gelombang hawa panas yang ingin menghantamnya, Pujangga Keramat segera sentakkan kaki dan lompat tinggi dengan bersalto di udara satu kali. Tapi tangannya pun bergerak menyentak ke arah samping memberi pukulan jarak jauh sebagai balasan.

Wuugh...!

Pukulan ini lebih besar dari milik Maharani. Tapi Maharani sangat waspada dan sudah menduga hal itu akan terjadi. Maka sebelum pukulan itu itu melesat lebih jauh, Maharani sentakkan kakinya ke lantai dan tubuhnya melenting di udara.

Tenaga dalam Maharani menghantam pilar, tenaga dalam Pujangga Keramat menghantam dinding. Pilar menjadi gompal, dinding menjadi retak. Tapi keduanya tak pernah peduli. Keduanya sudah saling berhadapan dan siap menyerang sewaktu-waktu.

"Suto mana?!" sentak Pujangga Keramat.

"Kau langkahi bangkaiku baru kau bisa melihat di mana Suto!" kata Maharani sambil tetap membuka kipasnya di dada. Kedua kakinya merenggang rendah, satu tangannya naik di atas kepala.

Pujangga Keramat menggeram. "Mati kau jangan aku salahkan." Setelah berkata demikian, Pujangga Keramat melejitkan tubuh ke depan dengan tangan siap dihantamkan.

Maharani pun segera sentakkan kaki dan tubuhnya melayang naik, melesat cepat dengan kipas terbuka di depan. Saat Pujangga Keramat hantamkan kedua tangannya, Maharani menahan pukulan itu dengan kipasnya. Tubuh mereka sama-sama terpental ke belakang, sama-sama jatuh ke lantai, hampir membentur pilar. Tapi keduanya sama-sama jatuh dalam posisi berdiri merendah.

"Haaaghh...! Pujangga Keramat hembuskan napas berat untuk mengumpulkan tenaganya kembali.

Sama juga yang dilakukan oleh Maharani, hanya saja hembusan napas berat Maharani tak menimbulkan bunyi. "Besar juga tenaga dalamnya," pikir Maharani. "Siapa orang ini? Aku tak pernah melihatnya! Tapi agaknya ia punya urusan penting dengan Pendekar Mabuk. Mungkin juga ada hubungan lain dengan Suto. Aku tak boleh gegabah melawannya."

Pujangga Keramat menggerak-gerakkan tangan di depan wajah sampai kesepuluh jarinya menjadi keras sekali. Ketika tangan kanannya ditarik sampai di telinga, tangan kirinya tetap sedikit terlipat di depan dada, ia berhenti dari segala gerakannya. Matanya memancarkan penglihatan yang tajam dan bernafsu untuk membunuh. "Suto katakan di mana?!" bentaknya.

"Sudah kubilang, Suto ada di balik bangkaiku!"

"Hiaaat...!" Pujangga Keramat bagaikan terbang menuju lawannya. Maharani pun cepat jejakkan kaki lagi dan melesat terbang menyambut kehadiran jurus lawannya.

Tapi tiba-tiba sebelum mereka saling bertemu, seberkas sinar putih keperakan melesat cepat menghantam tubuh Pujangga Keramat. Pujangga Keramat lebarkan mata. Sinar putih itu bagai mata pedang yang amat tajam. Merobek perutnya dari pinggang kanan sampai ke pinggang kiri. Tak disangkal lagi, tubuh itu pun jatuh tanpa daya. Darah memercik ke mana-mana.

Pujangga Keramat masih sempat erangkan suara dan berusaha bangkit. Namun baru satu kaki yang bisa menapak, ia sudah rubuh lagi tak berkutik selamanya. Maharani cepat gerakkan kepalanya berpaling ke samping. Di sana ada wajah Putri Alam Baka yang sedang berdiri dingin dan tajam tatap matanya. Putri Alam Baka serukan kata,

"Terlalu lamban kau, Maharani! Dalam satu jurus orang itu sebenarnya harus sudah bisa kau robohkan!"

"Dia terlalu kuat untukku!"

"Omong kosong! Kau hanya coba-coba tadi. Terlalu lama untuk membunuh orang macam dia!"

"Baiklah! Aku memang terlalu lamban untuk kali ini!"

Putri Alam Baka bergegas langkahkan kaki menuju luar sambil ia berkata, "Hancurkan dua kunyuk tak tahu sopan itu! Salah satunya kukenal dia sebagai Sundari! Bekas orang kita yang lari menjadi murid si Mawar Hitam!"

"Tapi kita tidak punya urusan dengan penguasa Pulau Hantu itu!" kata Maharani sambil ikuti langkah Putri Alam Baka dan lompati mayat Pujangga Keramat.

"Tak peduli apa urusan mereka mengamuk di sini, tugas kita adalah hancurkan mereka jika perlu tanpa sisa sedikit pun!"

Selendang Kubur sedang terpojok di salah satu bangunan seperti barak, ia menghadapi tiga lawannya yang bersenjata tombak semua. Selendangnya berkelebat cepat bagaikan kilat, menyambar ke sana-sini, dan akhirnya tiga lawannya itu pun tumbang tak berkutik lagi.

Baru saja ia hendak lentingkan tubuh menuju ke arah Peri Malam yang dikeroyok oleh lima lawan itu, tiba-tiba sesosok tubuh meluncur turun dan atap barak. Jleeg...! Orang itu berdiri di depan Selendang Kubur dengan mata memandang tajam.

"Nyai...?!" sentak Selendang Kubur. Ia terkejut sekali memandang orang yang muncul di depan itu. Sekejap ia tak bisa bicara. Orang yang ada di depannya itu cepat ulurkan tangan dan berkata, "Serahkan pedang itu!"

"Tidak bisa, Nyai. Saya sudah siap mati demi Pendekar Mabuk!"

"Jangan bodoh, Selendang Kubur! Serahkan pedang itu padaku!"

Selendang Kubur sempat sangsi dan ragu-ragu. Kalau saja yang meminta orang lain, sudah pasti ia tak ragu-ragu untuk mempertahankan. Tapi kali ini yang memintanya adalah gurunya sendiri, Nyai Betari Ayu. Selendang Kubur punya rasa takut untuk mempertahankan pedang Jalaganda itu, ia memang tidak pernah menduga Nyai Betari Ayu mau turun tangan untuk urusan di Bukit Garinda itu.

"Serahkan pedang itu, dan aku yang akan menghadapi Nyai Lembah Asmara!" kata Betari Ayu tanpa senyum dan keramahan seperti biasanya. Selendang Kubur melihat kemarahan mulai merona di wajah Nyai Guru Betari Ayu.

Selendang Kubur melihat kesungguhan sikap gurunya yang ingin melawan Nyai Lembah Asmara itu. Karenanya, Selendang Kubur pun segera menyerahkan pedang Jalaganda itu kepada Nyai Guru Betari Ayu. "Kalau Nyai gunakan pedang itu, berarti Nyai akan mati di ujung kemenangan," Selendang Kubur memberanikan diri ingatkan gurunya tentang pusaka keramat pedang Jalaganda.

Nyai Guru Betari Ayu berkata, "Tidak akan kugunakan pedang ini!"

"Tapi... tapi Nyai Guru akan kalah menghadap Nyai Lembah Asmara jika tanpa menggunakan pedang pusaka itu, Nyai!"

Seorang penyerang bersenjata kapak melesat terbang, sasarannya adalah punggung Betari Ayu, Selendang Kubur tersentak kaget melihat serangan mendadak yang mengancam gurunya itu. Tapi, belum sampai Selendang Kubur lepaskan pukulan jarak jauhnya, tubuh Nyai Guru Betari Ayu sudah lebih dulu berkelebat memutar, tangan kanannya terangkat tegak di depan mata dengan kelima jari tangan merapat. Lalu, melesatlah sinar putih menyilaukan sebesar lidi.

Sinar putih menyilaukan itu menembus tubuh lawan yang memegang kapak. Orang tersebut jatuh ke tanah, bagian ulu hatinya berlubang sebesar bumbung tuak milik Pendekar Mabuk. Orang itu tak bergerak ataupun bersuara sedikit pun. Matanya tetap mendelik namun nyawanya telah melesat pergi tinggalkan raga.

Selendang Kubur masih terkesima melihat kekuatan dahsyat yang dimiliki gurunya. Lebih terbengong lagi ketika Selendang Kubur mengetahui, dua orang yang ada di belakang korban pertama itu juga terkena tembusan sinar putih menyilaukan. Kedua orang yang sedang melawan Peri Malam itu tumbang tak berkutik dengan luka bolong seperti luka orang bersenjata kapak tadi. Rupanya sinar menyilaukan itu bisa menembus dua-tiga tubuh lawan sekaligus. Dan hal itu belum pernah disaksikan oleh Selendang Kubur selama ia menjadi murid Nyai Betari Ayu.

"Tak kusangka Guru mempunyai simpanan ilmu sedahsyat itu!" katanya di dalam hati.

Sinar putih menyilaukan itu keluar cepat bagaikan kilat dari sebuah cincin di jari tengah tangan kanan Betari Ayu. Cincin itulah yang dinamakan Pusaka Manik Intan. Melihat keindahan cincin berwarna putih berlian itu, Selendang Kubur ajukan tanya, "Mengapa baru sekarang Guru gunakan cincin itu?"

"Karena baru kudapatkan dari Telaga Manik Intan."

"Hah....?!" Selendang Kubur terperanjat. "Jadi... itukah yang dinamakan Cincin Manik Intan?"

"Betul, Selendang Kubur. Nah, sekarang hadapilah mereka, aku akan menerobos masuk ke kamar Nyai Lembah Asmara!" Seperti kilat tubuh Betari Ayu melesat.

Selendang Kubur masih terkesima dengan cincin pusaka yang ternyata ada di tangan gurunya. "Pantas Nyai Guru tidak mau menggunakan pedang itu tapi berani menghadapi Nyai Lembah Asmara, rupanya dia sudah punya pusaka lain yang bisa diandalkan untuk mengalahkan lawannya! Heran sekali aku, mengapa cincin itu bisa ada di tangan Guru? Padahal tokoh persilatan sedang memperebutkan cincin yang seharusnya menjadi milik Suto Sinting itu?!"

Selendang Kubur tak tahu, gurunya telah menyelam ke dalam Telaga Manik Intan saat Datuk Marah Gadai mengejar Dirgo Mukti. Sampai cincin itu ditemukan oleh Betari Ayu, kedua orang itu masih sibuk saling kejar dan saling adu kekuatan. Betari Ayu cepat tinggalkan Telaga Manik Intan tanpa diketahui oleh Datuk Marah Gadai maupun Manusia Sontoloyo, Dirgo Mukti itu.

Nyai Betari Ayu merasa memperoleh kekuatan yang tak lagi menyangsikan hatinya. Cincin Manik Intan disematkan di jari tengah kanan. Dengan bersenjatakan cincin dahsyat itu, ia yakin bisa kalahkan Nyai Lembah Asmara tanpa harus menggunakan pedang Jalaganda. Tetapi di ujung tangga menuju bangsal pertemuan, dua sosok perempuan berwajah garang menghadangnya. Mereka adalah Maharani dan Putri Alam Baka. Langkah Betari Ayu pun terhenti karenanya.

"Oh, rupanya kau yang menjadi biang keributan ini, Betari Ayu?!"

"Maharani dan Putri Alam Baka!" sahut Betari Ayu yang sudah mengenal mereka sejak dulu. "Barangkali dugaan kalian benar, akulah biang keributan ini. Tapi jika Perawan Sesat, orangmu itu, tidak lebih dulu melakukan pembantaian di perguruanku, aku tidak akan datang kemari menuntut balas!"

"Kau menuntut balas atau menuntut kembalinya Suto?' Maharani sunggingkan senyum sinis menyindir.

"Mana yang terbaik, itu yang kuambil!" jawab Betari Ayu dengan sikap kalem, ia harus bisa menahan luapan amarahnya agar Cincin Manik Intan tidak menyemburkan kekuatannya ke sembarang arah. Ia pun menahan tenaga dalamnya agar tidak mudah terlepas sebelum cincin itu diarahkan pada sasarannya.

Nyai Betari Ayu tenangkan diri dan tetap bisu sebelum kedua lawannya bergerak. Mata Betari Ayu tak pernah lepas dari gerak kewaspadaan. Karenanya, ketika Maharani tebarkan kipasnya dalam gerakan kecil, Betari Ayu cepat hadangkan tangan kiri ke depan untuk menahan pukulan jarak jauh yang dilepaskan secara diam-diam itu.

Pukulan itu bisa tertahan. Maharani mundur setindak karena tersentak. Tapi dari cincin di tangan kirinya melesat sinar menyilaukan ke arah samping secara tak sengaja. Sinar itu mengenai seorang lawan yang sedang berhadapan dengan Selendang Kubur.

Melihatan kilatan sinar menyilaukan dari cincin itu, maka Maharani dan Putri Alam Baka terbelalak seketika. Karena mereka melihat ada satu orang lagi yang rubuh dalam keadaan tubuh bolong karena terkena tembusan sinar putih menyilaukan itu. Orang yang rubuh dan menjadi korban kedua adalah orang yang sedang berhadapan dengan Peri Malam.

Cepat-cepat Putri Alam Baka menutupi kekagumannya dengan sunggingkan senyum sinis di bibir, ia berkata kepada Betari Ayu, "Kau pamer ilmu, Betari Ayu? Kau pikir kami takut dan menjadi gentar melihat pusaka pada cincinmu itu? Hmm...! Itu satu permainan anak kecil saja!"

"Alangkah memalukan sekali jika murid Nyai Lembah Asmara akan mati karena permainan anak kecil!" kata Betari Ayu.

"Mulut congkak! Kau pikir kau mampu menghadapi kami berdua?!" sentak Maharani.

"Barangkali perlu ditambah gurumu sekalian suruh menghadapiku! Tak akan mundur setindak pun aku menghadapi kalian bertiga, yang sepatutnya telah ku usirdari tanahku ini!"

"Jahanam...!" geram Maharani. Lalu ia sentakkan kipasnya dalam keadaan tertutup. Dari ujung kipas itu keluar sinar merah berkilap melesat ke arah tubuh Nyai Betari Ayu.

Betari Ayu cepat sentakkan telapak tangan kirinya ke depan. Cahaya pendar keluar dari telapak tangan itu. Bersifat menahan cahaya merah dari kipas Maharani. Tapi ternyata justru cahaya merah itu berbalik arah setelah membentur cahaya pendar di telapak tangan Betari Ayu.

Wuuugh...!

"Heegh...!" Maharani buka mulut dengan napas tersentak tertahan. Pukulan dari kipasnya membalik dan mengenai dirinya, ia jatuh terjengkang ke belakang dengan sukar bernapas.

Melihat temannya jatuh oleh pukulan tangan kiri Betari Ayu, Putri Alam Baka segera cabut serulingnya dari pinggang sambil menggeram. "Rupanya kau memang cari mampus, Betari Ayu! Hiaaat...!"

Putri Alam Baka lompatkan diri sambil tebaskan serulingnya dari atas ke bawah, berhenti ke arah dada Betari Ayu. Tapi dengan lincah tubuh Betari Ayu melesat lompat ke samping, dan kakinya menendang kepala Putri Alam Baka.

Plakkk...!

Tendangan itu berhasil ditangkis Putri Alam Baka yang berkekuatan tenaga dalam. Nyai Betari Ayu tersentak limbung dan jatuh ke tangga. Putri Alam Baka cepat lancarkan serangannya yang kedua, setelah serangan pertama terhindar dan justru mengenai tubuh orangnya sendiri yang sedang berlari ke pintu gerbang.

Wuusss...!

Seruling itu diacungkan ke depan, keluar cahaya kuning dari dalam lubang seruling. Cahaya kuning itu melesat ke punggung Betari Ayu. Tapi dengan cepat Betari Ayu palingkan badan dan sentakkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka. Cahaya pendar kembali berkilap dari telapak tangan itu. Tenaga dalam yang dilepaskan Putri Alam Baka itu membentur cahaya pendar, dan membalik mengenai dada Putri Alam Baka.

Beeegh...!

"Nggkk...!" Putri Alam Baka tersentak mendelik ketika ulu hatinya terkena pukulannya sendiri, ia terhuyung ke belakang dan jatuh. Nyai Betari Ayu cepat lari tinggalkan mereka, ia masuk ke bangunan megah itu. Semua pintu ditendang, didobrak paksa, sambil sesekali menghantam rubuh orang yang menghalanginya. Dan ketika semua pintu kamar telah didobrak habis, ternyata Suto tidak ditemukan di dalamnya, maka Betari Ayu pun masuk ke lorong bertirai ungu. Satu pintu di kamar lorong itu didobraknya. Dengan satu tendangan lompat, Betari Ayu menendang pintu tersebut. Namun sebelum ia menyentuh pintu, tubuhnya telah terpental ke belakang dengan sendirinya.

Bruukkk...!

"Sial! Rupanya pintu itu dilapisi tenaga dalam berperisai. Pasti di kamar itulah Suto disekap oleh NyaiLembah Asmara!" pikir Betari Ayu, kemudian ia bangkit dan segera menyentakkan tenaga dalamnya yang disalurkan melalui Cincin Manik Intan.

Pintu itu hancur menjadi serpihan-serpihan yang menebar ke mana-mana. Asap mengepul menghalangi penglihatan Betari Ayu. Untuk sejenak ia diamkan asap sampai menipis. Kemudian, kejap berikutnya ia lompatkan diri masuk ke dalam kamar itu.

Ternyata kamar itu kosong. Tak ada Suto, tak ada Nyai Lembah Asmara. Tapi keadaan ranjang porak- poranda. Barang-barang di situ pun berantakan semua. Entah karena ledakan pintu tadi atau karena sesuatu hal? Yang jelas, di sana masih tergeletak jubah merah jambu milik Nyai Lembah Asmara. Juga sebuah mahkota masih ada di atas meja dekat ranjang, dan salah satu dinding kamar itu ternyata jebol membentuk lubang besar. Apakah dinding itu juga jebol karena sinar dari Cincin Manik Intan, atau karena hal lain. Nyai Betari Ayu tak bisa pastikan diri.

"Tapi aku yakin, mereka berdua tadi ada di sini!" pikir Betari Ayu. "Wulandari pasti membawa Suto kemari dan bercumbu di sini. Lantas, ke mana ia membawa Pendekar Mabuk pergi? Apakah mereka bersembunyi? Lalu di mana letak persembunyian mereka?!"

* * *

SEMBILAN

BUKIT Garinda menjadi porak-poranda. Di mana-mana mayat bertebaran bagai sisi lain dari neraka jahanam. Sebagian dari mereka ada yang sengaja meloloskan diri, lari tunggang-langgang entah ke mana tujuannya. Ada yang berusaha menyusuri pantai, ada pula yang berusaha mendaki ke atas bukit.

Mereka yang belum mati sempat menyerukan erang kesakitan. Ada yang berusaha bangkit untuk menyembunyikan diri atau lari, ada pula yang hanya diam saja menahan sakit sambil menunggu pertolongan. Sementara yang pingsan tetap saja pingsan, entah kapan akan siuman.

Yang jelas, sosok tubuh Maharani dan Putri Alam Baka sudah tak terlihat di anak tangga menuju ruang pertemuan itu. Entah mereka bersembunyi atau melarikan diri, yang jelas suasana di situ kembali sepi. Hanya langkah-langkah kaki Selendang Kubur dan Peri Malam saja yang tampak melesat ke sana-sini mencari lawan yang perlu ditumbangkan.

Peri Malam terluka di lengan sisi kirinya. Darah mengucur dari luka senjata tajam. Tapi ia tidak menghiraukan. Justru semangatnya kian bertambah. Selendang Kubur terluka di dada kiri. Biru lebam dada itu. Tapi agaknya ia juga tidak menghiraukan lukanya, ia masih tetap memburu mangsa yang perlu ditumbangkan dengan selendang pusakanya.

Suasana lenggang menimbulkan suara langkah jelas dari bangsal pertemuan sebuah pedang disambarnya dan berdenting memecah sepi. Kedua wajah cepat berpaling ke arah suara itu. Peri Malam dan Selendang Kubur sama siapnya menghadapi serangan dari arah itu.

Tapi ternyata yang muncul adalah Nyai Betari Ayu dengan mata bergerak liar mencari lawannya. Ketika mata itu bertatap pandang dengan mata Peri Malam dan Selendang Kubur, keliaran mata Betari Ayu pun surut. Tak menjadi segarang tadi, melainkan kembali tampak bijak dan berwibawa.

"Bagaimana dengan Suto, Nyai?" tanya Selendang Kubur.

"Hilang entah kemana!"

"Hilang...?!" Peri Malam tersentak kaget. Wajahnya kian menegang.

"Nyai Lembah Asmara sendiri bagaimana?"

"Juga hilang!" jawab Betari Ayu. Nadanya seperti hampir putus asa.

Peri Malam gusar. "Tak mungkin mereka hilang begitu saja! Pasti Suto telah dilarikan oleh perempuan liar itu!"

"Ke mana arah larinya mereka?" tanya Selendang Kubur kepada Peri Malam.

Jawab Peri Malam, "Ada dua arah yang bisa untuk melarikan diri. Melalui lantai di dalam kamar itu, atau menjebol dinding kamar!"

"Lantai...?!" Selendang Kubur kerutkan dahi.

"Ada pintu rahasia di lantai kamar Nyai Lembah Asmara. Gunanya untuk meloloskan diri sampai ke pantai. Ada jalan tembus ke sana. Atau mereka lari dengan menjebol dinding menuju puncak bukit!"

"Kau bisa tahu hal itu dari mana?" tanya Betari Ayu.

"Dulu aku bekas murid Nyai Lembah Asmara dan pernah tinggal di sini sebagai pelayan Nyai. Tugasku membersihkan kamarnya!"

Selendang Kubur dan Nyai Betari Ayu angguk-anggukkan kepala sambil pandangi Peri Malam. Yang dipandang tampak masih gusar dan cemas. Kemudian setelah sama-sama bungkam sesaat, Peri Malam ucapkan kata,

"Aku akan mengejarnya ke pantai! Akan kuhadang di jalan tembus sana!"

"Aku ikut kamu!" kata Selendang Kubur dengan rasa waswas, takut kalau ganti Peri Malam yang bawa kabur Pendekar Mabuk.

Betari Ayu berkata, "Baiklah. Aku akan periksa puncak bukit!"

Agaknya memang Betari Ayu yang mujur. Karena, pada waktu terjadi keributan yang menimbulkan suara gaduh bersama ledakan-ledakan menggelegar itu. Nyai Lembah Asmara mulai curiga dengan suasana di luar kamar, ia segera bergegas memeriksa keadaan di luar kamar, ia melihat kemunculan Betari Ayu saat menyerang orang bersenjata kapak dengan Cincin Manik Intan.

"Celaka! Dia memiliki pusaka yang dahsyat!" pikir Nyai Lembah Asmara kala itu. "Mudah saja untuk mengalahkannya, tapi aku tak punya waktu. Bisa-bisa Pendekar Mabuk sadar dari pengaruh racunku, lalu ia melarikan diri. Hmmm...! Sebaiknya, selagi Suto masih dalam pengaruh racunku itu, aku harus mencari tempat yang aman supaya ia cepat-cepat membuahiku!"

Pendekar Mabuk bukan hanya mabuk oleh tuak, namun juga mabuk oleh racun Darah Asmara yang tak mampu dilawannya itu. Tubuhnya berkeringat dan wajahnya memerah menahan gairahnya.

Nyai Lembah Asmara segera berkata kepada Suto, "Kita harus cepat menyingkir untuk sementara, Suto!"

"Tak perlu, Nyai! Dekatlah padaku sekarang juga, peluklah aku!"

"Mereka akan menemukan kita di sini, Suto! Kita harus pergi supaya kemesraan kita tidak diganggu. Aku punya tempat yang aman untuk memadu kasih kita!"

"Ah, Nyai... mengapa kamu takut dengan suara gaduh? Aku tidak merasa takut sedikn pun, Nyai! Lupakan tentang urusan mereka. Sebaiknya kita kerjakan urusan kita sendiri, Nyai!"

"Tidak, Suto! Aku tidak suka dengan suasana ini! Jelas akan mengganggu kemesraan dan kenikmatan bercumbu kita, Suto!"

"Oh, ho ho ho...! Benar juga, Nyai. Benar!" Pendekar Mabuk tertawa dan bicara dalam pengaruh tuak dan racun birahinya itu. "Kalau begitu, lekas bawa aku pergi ke tempat yang lebih mesra lagi, Nyai!"

Nyai Lembah Asmara berpikir, "Aku tadi melihat ada Sundari, bekas murid dan pelayan di kamarku ini! Kalau aku lewat pintu lantai, pasti Sundari tahu ke mana arah lariku. Hmmm... sebaiknya aku ke puncak saja. Kubawa Pendekar Mabuk ke dalam gua yang cukup aman untuk memadu kemesraan dengannya!" Nyai Lembah Asmara sentakkan tangan kirinya ke depan. Wuuut...!

Blarrr...! Dinding kamar jebol dengan satu sentakan tenaga dalam tanpa sinar itu, ia segera membawa lari Pendekar Mabuk. Tapi keadaan Suto sangat lemah dan lamban untuk bergerak lari. Tanpa ragu-ragu, Nyai Lembah Asmara menggendong tubuh Suto, memanggulnya di pundak.

Pendekar Mabuk hanya diam saja sambil tetap memegang tabung bumbung bambu. Sesekali ia tersentak karena cegukan, mulutnya berceloteh apa saja karena pengaruh mabuknya, sampai Nyai Lembah Asmara sempat membentak agar Pendekar Mabuk diam dan tidak bersuara.

Keadaan mereka yang belum sampai lepas pakaian itu segera melesat keluar dari kamar melalui jebolan tembok. Nyai Lembah Asmara membawa lari Suto ke arah puncak bukit. Gerakannya tetap seperti anak panah yang melesat dari busurnya, walau saat itu ada beban di pundaknya.

Sebuah gua yang pintunya tertutup oleh ilalang lebar menjadi sasaran arah Nyai Lembah Asmara. Gua itu tidak mudah ditemukan orang, tidak pula mudah dilihat karena kerimbunan semak ilalang yang menutup mulut gua. Tapi buat Nyai Lembah Asmara, gua itu sudah bukan tempat asing lagi, karena ia sering membawa seorang pria untuk bercinta di dalam gua tersebut. Gua itu terletak pada satu lereng, hampir mencapai puncak bukit.

Ketika Nyai Lembah Asmara tiba di depan gua itu, ia turunkan tubuh Pendekar Mabuk dari pundaknya. Pendekar Mabuk pun berdiri dengan sempoyongan. Matanya semakin sayu karena mabuk, juga karena racun birahi yang menyerangnya.

"Di sini saja, Nyai!" kata Suto dengan suara sumbang sambil meraih baju Nyai Lembah Asmara dan ingin melepaskannya.

Tapi Nyai Lembah Asmara menolak sambil berkata, "Jangan di sini! Kita masuk ke dalam gua itu!"

"Mana ada goa, Nyai?"

"Itu, di depan kita. Kau tidak melihatnya karena kerimbunan semak ilalang di mulut gua!"

Pendekar Mabuk dituntun mendekati gua. Tiba-tiba kakinya yang lemas terkulai dan jatuhlah suto merosot ke bawah tebing sambil tetap berpegangan bumbung tuaknya.

"Sutooo...?!" sentak Nyai Lembah Asmara dengan cemas. Cepat-cepat ia lompatkan tubuh dan bersalto dua kali. Tubuh Nyai Lembah Asmara mendahului gerakan Pendekar Mabuk yang meluncur ke bawah tebing.

Sebatang ranting kering dipakai berpijak kaki Nyai Lembah Asmara. Ranting itu seharusnya patah, tapi karena ilmu peringan tubuh yang digunakan Nyai Lembah Asmara cukup tinggi, sehingga ia bisa berdiri dengan tenang di atas ranting kering yang besarnya dua kali ukuran lidi.

Tubuh Pendekar Mabuk yang meluncur ke bawah itu ditangkap oleh kedua tangan Nyai Lembah Asmara. Andai tidak, tubuh Pendekar Mabuk akan jatuh ke jurang yang cukup dalam. Mungkin juga Suto akan mati dihujam bambu-bambu runcing yang sengaja dipasang oleh Nyai Lembah Asmara sebagai jebakan para musuh yang hendak menyerangnya dari atas bukit.

Sentakan halus kaki Nyai Lembah Asmara segera membuat tubuhnya melesat ke atas sambil menopang tubuh Suto. Kini, ia berhasil membawa Pendekar Mabuk ke tanah sedikit datar dan aman dari bahaya kemiringan tebing.

"Enak sekali terbang denganmu, Nyai!" Suto menceracau. "Aku juga bisa terbang seperti kamu. Huup...!"

Pendekar Mabuk menyentakkan kakinya dan dalam sekejap tubuhnya melayang ke atas dan berjungkir balik dua kali. Tubuh itu segera hinggap di salah satu batu yang ada di puncak bukit. Pendekar Mabuk berdiri dengan keadaan limbung, mencemaskan hati Nyai Lembah Asmara.

Ia berseru dari sana, "Nyai...! Aku bisa sampai di sini! He he he... he he...!"

Bruukkk...! Suto jatuh dari batu besar itu. Tubuhnya terhempas di tanah.

Nyai Lembah Asmara menggeram jengkel dan menggerutu, "Bocah sinting! Katanya ingin kemesraan malah mengajak bercanda gila-gilaan begitu. Huuup...!"

Nyai Lembah Asmara menyusul Pendekar Mabuk di atas puncak bukit dengan melesatkan diri dan bersalto dua kali juga. Suto sedang menggeliat bangkit ketika kedua kaki Nyai Lembah Asmara mendarat di tanah sampingnya. Jleeg...!

"Aku jatuh, Nyai. He he he.... Enak sekali jatuhnya!" kata Suto yang semakin parah dipengaruhi tuaknya.

"Suto, kita tak punya waktu untuk bercanda. Lekaslah ke dalam gua, Suto. Aku tak sabar menunggu kemesraan dan kehangatan tubuhmu!"

"Di sini sajalah, Nyai! Di alam bebas ini lebih mesra! He he he...!" Pendekar Mabuk makin mengacau, ia berdiri dengan sempoyongan, ia merenggut tubuh Nyai Lembah Asmara, sehingga wajah mereka saling tatap dalam jarak dekat.

Nyai berpikir saat itu, "Kalau memang dia maunya di sini, biarlah di sini! Aku pun sudah tak tahan lagi!"

Pendekar Mabuk tersenyum-senyum Ketika wajah Nyai Lembah Asmara mendekat ingin mencium bibirnya. Jemari Suto sedikit menaikkan dagu Nyai Lembah Asmara, dan mata Nyai jadi terpejam. Tapi tiba-tiba tangan Suto menyentak, mendorong dagu itu ke belakang membuat tubuh Nyai pun tersentak limbung dalam keadaan mundur tiga tindak.

"Oh, maaf Nyai... aku hampir jatuh!" kata Suto sambil sempoyongan.

Nyai Lembah Asmara ingin marah namun segera memaklumi keadaan Pendekar Mabuk yang dalam pengaruh mabuk tuak itu. "Suto, lekaslah berbaring saja! Biar aku yang menjadi pelayan cintamu, Suto," kata Nyai Lembah Asmara sambil berkemas untuk melepasi pakaiannya.

"Baik. Baik. Aku akan berbaring, tapi... tapi di atas batu itu! Aku ingin berbaring ke sana! Huupp...!"

Tiba-tiba Pendekar Mabuk melompat ke atas batu besar yang tingginya dua kali tinggi tubuhnya, Suto bagaikan terbang dan hinggap di atas batu datar dalam keadaan sudah berbaring. Tetapi pada waktu ia melompat tadi, ada satu batu kecil sebesar genggaman tangan anak-anak melesat pula dari sentakan kakinya. Batu itu melesat ke arah Nyai Lembah Asmara dengan cepat.

Plokkk!

Nyai Lembah Asmara tak sempat menghindari batu yang di luar dugaan kedatangannya. Maka, tersentaklah ia ketika batu itu mengenai tulang pipinya dan membekas biru. Ia menyeringai kesakitan sambil tundukkan wajahnya, memengangi luka memar dari hantaman batu tersebut.

"Gila, tingkahnya aneh-aneh saja, sampai wajahku terkena batu yang begini sakitnya. Uuh... kurasakan sentakan batu itu sangat kuat dan berat. Mungkin hanya karena keadaan tubuhku sedang dilanda gairah, sehingga terkena batu begitu kecil saja terasa sakit."

Terdengar Suto berseru, "Nyaiii... aku berbaring di sini...!" nada suaranya meliuk-liuk tak jelas iramanya. "Kalau kau tak segera datang aku akan turun, Nyai...!"

Segera Nyai Lembah Asmara yang jantungnya sudah berdetak-detak karena dorongan nafsu yang makin menggelora itu, melesat dengan satu lompatan kecil, menghampiri Pendekar Mabuk yang berbaring di atas batu. Pikir sang Nyai, "Biarlah di atas batu itu aku bercumbu, yang penting gairahku segera terpenuhi dulu!"

Ketika Nyai Lembah Asmara sampai di atas batu, berdiri di dekat Pendekar Mabuk, tiba-tiba Suto bangkit dengan satu gerakan memutar, hingga kakinya menyapu kaki Nyai Lembah Asmara.

Plakkk...!

Nyai terpelanting jatuh dan terjungkal turun dari atas batu. Pundaknya menghantam tanah lebih dulu. Sebongkah batu terpendam menjadi benturan telinga kirinya.

Prukkk....!

"Aauh...!" ia memekik kesakitan.

"Waduh, maaf...! Maaf, Nyai...! Kupikir kau belum datang, karenanya aku bangkit dengan cepat ingin menyusulmu turun dari batu ini! Maaf, aku tak sengaja menendang kakimu, Nyai!"

Nyai Lembah Asmara berpikir juga, "Sapuan kakinya tak mungkin bisa merobohkan kuda-kudaku jika tidak diiringi kekuatan tenaga dalam! Oh, daun telingaku luka berdarah. Sial! Dalam keadaan mabuk dia masih dialiri tenaga dalam di sekujur tubuhnya. Oh, alangkah indahnya jika cumbuannya nanti juga dialiri tenaga dalam. Jelas ia akan mampu mempertahankan gairahnya yang menurutku sudah meluap-luap seperti yang kurasakan saat ini...."

"Nyai, naiklah! Lekas! Aku sekarang berdiri biar bisa melihat kedatanganmu! Naiklah, Nyai!" sera Suto sambil berdiri di tepian batu dengan tubuh meliuk ke sana-sini, bagaikan diombang-ambingkan oleh angin. Tangannya pun menggapai-gapai seperti ingin jatuh.

Nyai berteriak, "Suto, awas! Nanti kau jatuh! Jangan ke tepian!"

"Lekaslah naik sebelum aku sempat jatuh, Nyai!"

Takut Pendekar Mabuk jatuh, Nyai Lembah Asmara pun segera melompat menyongsong gerakan tubuh Pendekar Mabuk yang mulai limbung ke depan. Tangan Pendekar Mabuk bergerak-gerak mencari keseimbangan sambil berseru, "Eee, eh eh eh...!"

"Awas, Suto...!" Nyai Lembah Asmara makin berseru cemas. Ketika tubuhnya mendekati Pendekar Mabuk, tiba-tiba Suto jatuh ke depan. Tangannya bergerak-gerak bagai ingin mencari pegangan.

"Waaaoow...!" Suto berteriak dalam nada kegirangan.

Tubuhnya beradu dengan tubuh Nyai Lembah Asmara di udara. Tangan Suto cepat bergerak dan mengenai dada Nyai Lembah Asmara. Plak plak plak...! Lalu, Nyai Lembah Asmara tersentak ke belakang dalam keadaan terbang, Suto jatuh ke bawah dalam keadaan terguling dua kali. Ia jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan memegangi pinggangnya. Bumbung tuak masih menyilang dipunggungnya.

"Aduh. Sakitnya punggungku...!" rintihnya pelan.

Tetapi Nyai Lembah Asmara tidak hiraukan rintihan itu. Ia melihat dadanya hangus tiga tempat akibat gerakan tangan Pendekar Mabuk tadi. Napasnya pun mulai terasa sesak. Dada itu terasa panas sekali bagian dalamnya. Nyai Lembah Asmara mulai membatin,

"Kurang ajar! Rupanya sejak tadi dia menyerangku dengan jurus mabuknya! Uuh... sakit sekali dadaku. Gerakan tangannya tak seberapa keras, tapi mempunyai kekuatan tenaga dalam yang menghanguskan kulit dadaku! Aduh, sesak sekali napasku, jangan-jangan racun Darah Asmara telah membalik meracuni tubuhku sendiri! Tak biasanya aku mempunyai gairah sebegini besarnya!"

Terdengar Pendekar Mabuk berseru, "Nyai, tolong aku berdiri!" ia mengulurkan tangan, minta ditarik.

Tapi Nyai Lembah Asmara hanya diam saja. Nyai Lembah Asmara hanya memandang dengan mata kian nanar, antara sayu dicekam birahi dengan sayu menahan sakit. Tak disadari dari mulut Nyai Lembah Asmara mulai melelehkan darah segar ketika ia terbatuk satu kali. Bahkan batuk yang kedua membuat darah kental menyembur ke luar dari mulut. Nyai Lembah Asmara sangat kaget melihat mulutnya mengeluarkan darah kental sedikit kehitaman.

"Jahanam!" geramnya dalam hati. "Rupanya dia telah berhasil melukaiku secara diam-diam! Ini sudah bukan luka ringan saja. Ini sudah bukan satu hal yang bersifat kebetulan tapi pasti direncanakan olehnya! Aku harus menyerangnya! Aku harus membalasnya! Tapi bagaimana jika ia terluka? Aku tak bisa menikmati kemesraannya. Padahal aku sudah tak bisa menahan gairahku lagi. Oh, aku ingin dicumbunya sekarang juga! Ya, sekarang juga!"

Masih saja Suto menyerukan kata, "Nyai, tolonglah aku! Tarik tanganku agar aku bisa berdiri...!"

Nyai Lembah Asmara segera melompat bagai singa menerkam mangsanya. Wuuttt...! Ia menerkam tubuh Pendekar Mabuk dan mengajaknya berguling untuk bercumbu. Tetapi saat tubuh itu melayang, Pendekar Mabuk segera menyentakkan tangannya yang sejak tadi teracung ke atas. Gerakan tangan itu seperti orang ingin bangkit dan menggunakan tangan itu untuk bertolak dari sebuah batu disampingnya. Tapi gerakan lembut itu ternyata memancarkan satu kekuatan tenaga dalam yang membuat kepala Nyai Lembah Asmara tersentak naik ke atas dengan pekik tertahan.

Beegh..! Leher Nyai Lembah Asmara jadi sasaran tenaga dalam Suto. Akibatnya, mulut Nyai Lembah Asmara kembali menyemburkan darah kental dan berwarna kehitam-hitaman.

Pendekar Mabuk berlagak kaget dan berseru, "Nyai...? Kenapa kau, Nyai?! Kenapa...?!"

Nyai Lembah Asmara yang terkenal keji dan buas itu tergeletak dalam keadaan tersengal-sengal. Matanya terbeliak sambil sesekali menyemburkan darah dari mulutnya.

Pendekar Mabuk berjalan mundur seperti orang ketakutan melihat Nyai Lembah Asmara tersentak-sentak tubuhnya. Padahal itu hanya kepura-puraan Pendekar Mabuk. Tiba-tiba sekelebat bayangan melesat di atas kepala Suto. Cepat sekali Pendekar Mabuk sentakkan tangannya ke atas sambil menundukkan kepalanya. "Wah, burung apa itu yang datang?!"

Sentakkan tangan itu rupanya mengeluarkan kekuatan tenaga dalam. Dan kelebat bayangan itu juga menyentakkan tenaga dalam ke ubun-ubun Suto. Akibatnya, dua tenaga dalam itu beradu dan menimbulkan gelegar yang teredam.

Wuuut...!

Suto tersentak ke samping dan hampir jatuh, ia hanya sempoyongan saja dan segera berpegangan dinding batu. Sedangkan bayangan itu segera jatuh dengan kaki sigap ke tanah. Bayangan itu milik seorang nenek berkulit keriput, yang bersenjatakan tengkorak seekor kambing.

"Oh, kau rupanya, si Mawar Hitam!" kata Pendekar Mabuk.

"Syukul kau ingat padaku, Suto! Kau masih punya hutang pusaka Tuak Setan padaku! Sekalang aku belum ingin menagihnya, tapi suatu saat nanti, aku ingin menagihnya dalimu," kata Mawar Hitam yang tak bisa menyembulkan hufur 'r' itu. Ia adalah penguasa Pulau Hantu, bekas gurunya Peri Malam.

"Lalu, sekarang kau mau apa, Mawar Hitam?!"

"Aku tahu sejak tadi kau selang pelempuan ini dengan lagak mabukmu! Dia tidak melasa, dan akhil-nya dia jatuh begini. Kasihan!"

"Mata tuamu memang jeli, Mawar Hitam! Tak sejeli mata perempuan yang sedang dimabuk birahi karena racunnya yang berhasil kukembalikan tadi. Kalau kau tahu begitu, sekarang mau apa kau?"

"Aku belum mau ulusan sama kamu, mulid sinting! Tapi tunggu kalau aku sudah ambil semua ilmu yang ada dalam dili pelempuan ini! Aku akan balas kekalahanku tempo hali!"

Sebelum Pendekar Mabuk lontarkan kata, tiba-tiba nenek kempot keriput itu bergerak cepat. Tubuh Nyai Lembah Asmara diangkatnya bagai mengangkat batang pisang, lalu ia segera jejakkan kaki dan melesat pergi dengan cepat menuruni lereng bukit. Pendekar Mabuk hanya mengejar sampai tiga langkah ke depan, lalu membiarkan nenek kempot itu pergi membawa Nyai Lembah Asmara. Tiba-tiba dari arah belakang Pendekar Mabuk ada suara memanggil,

"Suto...?!" Oh, rupanya Nyai Betari Ayu datang agak terlambat ia tidak menyaksikan pertarungan Pendekar Mabuk yang mirip pertarungan sinting itu. Ia tidak melihat bagaimana Pendekar Mabuk merubuhkan Nyai Lembah Asmara, ia hanya melihat Pendekar Mabuk melangkah dengan sempoyongan mendekatinya.

"Kau tidak apa-apa, Suto?"

"Tidak, Nyai. Racun kiriman Nyai Lembah Asmara berhasil kubalikkan saat dia mencium bibirku... he he he"

"Dia mencium bibirmu, Suto?!" Betari Ayu sempat kaget dan punya perasaan tak suka mendengarnya. Ia palingkan wajah dan cemberut.

Pendekar Mabuk tertawa terkekeh-kekeh. Tapi tawanya menjadi hilang ketika ia melihat jari tengah tangan kanan Betari Ayu mengenakan cincin bermata putih berlian. Pendekar Mabuk terbayang penuturan dari gurunya tentang ciri-ciri Cincin Manik Intan. Dan, saat itulah mata Pendekar Mabuk terbelalak melihat Cincin Manik Intan ada di tangan Nyai Betari Ayu.

"Haruskah aku bertarung dengannya merebut cincin itu?!" pikir Pendekar Mabuk dengan hati gundah gulana.

SELESAI

PERTARUNGAN DI BUKIT JAGAL

Murka Sang Nyai

Serial Pendekar Mabuk
Murka Sang Nyai
Karya Suryadi

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
AWAN hitam menaungi wilayah Perguruan Merpati Wingit. Dari sebuah lembah tampak terlihat jelas reruntuhan bangunan joglo yang merupakan bangunan terdepan setelah halaman laga Perguruan Merpati Wingit. Dari sanalah sepasang mata menatap dengan sedikit menyipit, tersimpan dendam dalam hati yang luka mengharu melihat porak-porandanya perguruan tersebut.

Sepasang mata menyipit dendam milik perempuan berpakaian merah dadu itu masih memandangi makam-makam di samping pagar wilayah perguruan. Berjajar makam yang tanahnya masih tampak baru ditimbunkan itu, seakan barisan pisau tajam yang menggores hati perempuan berselendang putih di pinggangnya.

Perempuan itu tak lain adalah Selendang Kubur,murid Perguruan Merpati Wingit yang sudah lama tak kembali ke perguruannya, karena tergoda cinta murid sinting si Gila Tuak yang bergelar Pendekar Mabuk, Suto Sinting.

Kabar tentang porak-porandanya perguruan tersebut didengar telinga Selendang Kubur dari sudut sebuah kedai, di mana tiga orang bercerita tentang amukan Perawan Sesat yang konon berhasil melukai gurunya, Nyai Betari Ayu. Celoteh di sudut kedai itu juga mengisahkan cerita tentang kematian Dewi Murka yang disaksikan sendiri oleh mata seorang lelaki besar tanpa isi yang dikenal dengan nama Singo Bodong, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat).

Selendang Kubur tak sampai hati untuk tinggal diam melihat keadaan di perguruannya. Niatnya untuk memburu cinta pada Suto Sinting tertangguhkan. Apa pun amarah sang Guru nantinya, ia siap menerima hukumannya, ia juga tak bisa menahan duka mendengar gurunya Nyai Betari Ayu, terluka oleh pukulan lawan.

Dengan dendam membesi di hati, Selendang Kubur melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang perguruan yang telah hancur itu. Suasana pelataran laga tampak sepi. Selendang Kubur menarik napas untuk menahan luapan api kemarahan yang telah membakar dada. Maka, segera ia melesat ke serambi samping, dan di sana ia temui sang Guru sedang duduk merenung dengan wajah tetap berwibawa walau tampak guratan dukanya.

Melihat siapa yang muncul di depannya, Nyai Betari Ayu terkesiap sekejap, ia segera menarik napas meredam kemarahan, ia mengangkat wajah, memandang tajam muridnya yang lama tak kunjung tiba. Sang murid menundukkan wajah, sebagai ungkapan rasa bersalah dan pasrah menerima hukuman sang Guru. Betari Ayu segera perdengarkan suaranya dengan lembut tapi penuh kharisma bagi murid yang baru datang itu.

"Kaukah yang berdiri di depanku, Selendang Kubur?!"

Sedikit tunduk kepala Selendang Kubur saat menjawab, "Benar, Nyai Guru. Saya datang."

"O, syukurlah. Ternyata kau masih ingat jalan pulang ke perguruanmu ini."

"Maafkan saya, Nyai Guru. Saya memang bersalah."

"O, tidak! Kau tidak bersalah!" tukas Nyai Guru Betari Ayu. "Perguruan ini hampir hancur bukan karena ulahmu, melainkan ulah muridnya si Nyai Lembah Asmara. Perawan Sesat namanya."

"Saya merasa bersalah, karena saat itu saya tidak ada di sini, Guru."

"Bukan hanya kamu, tapi Dewi Murka juga tidak ada disini."

"Dewi Murka juga sudah tewas di tangan Perawan Sesat, Guru!"

Tersentak hati Betari Ayu. Terbungkam mulutnya tanpa bisa mengucap sepatah kata pun mendengar Dewi Murka tewas di tangan Perawan Sesat. Semakin tertimbun dendam hati Betari Ayu rasanya. Tetapi ia berusaha untuk menahan diri agar tidak hanyut dalam kobaran dendam yang membara itu. Dewi Murka dan Selendang Kubur adalah orang kuat di Perguruan Merpati Wingit. Kepada salah satu dari kedua orang itulah Betari Ayu ingin menyerahkan tampuk pimpinannya.

Menurut pandangan hatinya, hanya dua orang itulah yang bisa dan pantas menjadi penggantinya, sebagai Ketua Perguruan Merpati Wingit. Tetapi sebelum niatnya terlaksana, satu dari kedua orang pilihannya itu telah tewas. Kini tinggal Selendang Kubur yang menjadi satu-satunya calon pengganti dirinya, sebelum ia pergi mengasingkan diri menjadi seorang pertapa.

Tetapi, mampukah Selendang Kubur mempertahankan perguruannya jika sekarang hatinya telah ditaburi dendam terhadap orang-orang Bukit Garinda yang dikuasai oleh Nyai Lembah Asmara? Bukankah beberapa orang kuat di perguruan itu telah tewas juga di tangan perempuan iblis utusan Nyai Lembah Asmara? Dewi Murka, Murbawati, dan orang- orang kuat lainnya telah tiada. Padahal mereka adalah benteng bagi Perguruan Merpati Wingit.

Belum lagi jika Betari Ayu memikirkan Pendekar Mabuk yang berhasil dibujuk Perawan Sesat untuk dibawa ke Bukit Garinda, makin perih hati Nyai Betari Ayu sebenarnya. Karena di dalam hati Nyai Guru itu, tertanam cinta yang rapi tersembunyi. Baik sang Guru maupun sang murid tidak saling mengetahui bahwa mereka sebenarnya sama-sama mencintai Suto dansama-sama merasa kehilangan pemuda itu.

Melihat termenungnya sang Guru, Selendang Kubur segera ucapkan kata penuh hati-hati, "Nyai Guru, siapa wanita yang berjuluk Perawan Sesat itu sebenarnya, dan di mana ia tinggal, Guru?"

"Apa maksudmu bertanya begitu, Selendang Kubur?"

"Saya harus pergi menemuinya, membuat perhitungan dengannya, Guru. Saya harus menebus nyawa saudara-saudara saya yang menjadi korban keganasan Perawan Sesat itu."

"Haruskah kita menebus dendam berdarah ini, Selendang Kubur?"

Pertanyaan ini sungguh sulit dijawab oleh Selendang Kubur. Pandang matanya sesaat menyirat ke wajah gurunya lalu tundukkan kepala lagi seraya berkata, "Tidak ada darah yang tidak membekas, Guru. Dan untuk menghilangkan darah itu hanya dengan pembalasan setimpal, Nyai Guru."

Diam sekejap sang Guru sebelum memperdengarkan suara lembutnya, "Akan selesaikah masalah yang dirampungkan dengan dendam dan pembalasan? Akan berhentikah pertikaian yang dibayar dengan kesumat dendam, Selendang Kubur?"

Lirih suara Selendang Kubur menjawab, "Tidak, Guru."

"Ya. Tidak akan terselesaikan. Pasti akan berbuntut panjang. Dan itu akan menuntut kita untuk lebih bermusuhan lagi."

"Tapi harga diri perguruan tetap harus ditegakkan, Guru. Nama baik dan wibawa Nyai Guru sendiri juga harus terjaga oleh sikap kita. Jika tak ada pembalasan datang dari kita, maka hancur sudah citra perguruan dan terinjak-injak sudah wibawa serta kehormatan Nyai Guru, yang menjadi ketua perguruan ini."

"Memang benar apa katamu. Itu pula yang sedang kupertimbangkan sejak tadi. Dan aku belum mempunyai keputusan, Selendang Kubur. Aku masih mencari sisi baik dari bencana ini."

"Guru terlalu sabar," terdengar Selendang Kubur ucapkan kata dalam kebimbangan dan rasa takut.

Tapi Nyai Guru Betari Ayu hanya tersenyum tipis dan pahit. Nyai Guru alihkan pandangan sambil ia langkahkan kaki menuju ke taman. Selendang Kubur mengikutinya dengan mulut tak terucap dalam waktu beberapa kejap. Setelah Nyai Guru berhenti di sisi tanaman mawar berbunga ungu, Selendang Kubur beranikan diri ajukan pertanyaan.

"Sebenarnya apa permasalahan yang membuat wanita gila berjuluk Perawan Sesat itu mengobrak-abrik tempat kita, Guru?"

Sebelum lontarkan jawaban, Nyai Guru tarik napas terpendam di dada. Ia tekan gemuruh yang hampir tak terkendali di sela bayangan seorang pemuda tampan bergelar Pendekar Mabuk itu. Kejap berikutnya Betari Ayu lepaskan kata, "Titik masalahnya adalah Suto."

Terperanjat Selendang Kubur mendengar nama pemuda yang diincar hatinya disebut oleh sang Guru. Ketika sorot pandang Selendang Kubur membentur tatapan wibawa sang Guru, terdengarlah kata dari sang Guru yang menjelaskan maksud jawabannya tadi,

"Suto kutemukan terluka parah di sebuah bukit. Aku segera membawanya kemari dan kurawat hingga sembuh. Begitu Suto pergi, datang Perawan Sesat menuduhku menyembunyikan Suto. Lalu, mengamuklah dia di sini, mencabut nyawa saudara-saudara seperguruanmu dengan seenaknya saja. Beruntung nyawaku masih terlindung oleh kemunculan Suto yang segera menyerang Perawan Sesat itu."

"Lalu, ke mana Suto sekarang, Guru?"

"Terbujuk oleh omongan Perawan Sesat. Suto pergi ke Bukit Garinda menemui gurunya Perawan Sesat yang bergelar Nyai Lembah Asmara itu."

"Untuk apa Suto ke sana?"

"Nyai Lembah Asmara adalah perempuan sakti, keji, tapi mandul, ia hanya bisa memperoleh keturunan dari benih lelaki tanpa pusar. Pendekar Mabuk itulah lelaki tanpa pusar. Nyai Lembah Asmara akan menjadikan Suto sebagai lelaki pembenih, yang akan menurunkan bibitnya kepada Nyai Lembah Asmara."

"Itu berarti Suto akan kawin dengan Nyai Lembah Asmara?!" Selendang Kubur ucapkan kata dengan tegang.

Sang Guru masih memberi jawaban dengan kalem. "Setidaknya, Suto akan dikuasai oleh Nyai Lembah Asmara dan dipaksa agar mau melayani hasratnya. Padahal aku tahu persis, Nyai Lembah Asmara mempunyai racun yang tak dapat dilawan dengan ilmu apa pun. Racun itu bernama Racun Darah Asmara. Racun itu dipancarkan lewat sorot pandangan matanya. Siapa pun lelaki yang terkena sorot mata beracun, bisa luluh hatinya dan terbuai jiwanya, serta terbakar birahinya. Itulah kehebatan Racun Darah Asmara. Aku yakin, Pendekar Mabuk tak bisa menghindari racun itu. ia akan tunduk dengan cinta dan rayuan Nyai Lembah Asmara."

Terasa panas sekujur dada Selendang Kubur, karena saat itu darah terasa mendidih. Terbayang kelicikan Nyai Lembah Asmara yang akan mempengaruhi Suto dengan memakai racun berbahaya itu. Maka tergugah pula dendam yang paling dalam, yaitu ingin menggempur orang-orang Bukit Garinda, yang menjadi wilayah kekuasaan Nyai Lembah Asmara.

"Jika begitu, Guru," Selendang Kubur angkat bicara, "Saya akan gagalkan kunjungan Suto ke Bukit Garinda. Saya akan cegah Nyai Lembah Asmara itu menggunakan racun tersebut!"

"Jangan gegabah, Selendang Kubur. Nyai Lembah Asmara bukan orang berilmu rendah. Tinggi ilmumu hanya mencapai separo dari ilmunya. Kau tak mungkin sanggup mengunggulinya. Aku sendiri merasa kalah tinggi dengan ilmunya."

"Saya tidak peduli, Guru! Yang jelas, sekarang juga saya mohon pamit untuk pergi ke Bukit Garinda!" Selendang Kubur berkobar-kobar semangatnya. Mata jelinya menjadi nanar penuh kilasan lidah api amarah yang berkobar-kobar di dalam hatinya. Napasnya pun kelihatan lebih memburu.

"Tahanlah amukan hatimu, Selendang Kubur. Jangan mati konyol tanpa perhitungan sedikit pun!"

"Suto harus segera diselamatkan, Guru! Saya sudah bisa bayangkan kalau Suto menanamkan benih pada rahim Nyai Lembah Asmara, dan benih itu menjadi keturunan sang Nyai Lembah Asmara, sudah pasti keturunan itu akan menjadi manusia tanpa tanding, Guru."

"Memang. Itulah sebabnya Lembah Asmara tidak bisa punya keturunan, sebab satu kali dia punya keturunan maka anaknya akan menjadi manusia tanpa tanding. Padahal Nyai Lembah Asmara mempunyai aliran hitam. Tidak menutup kemungkinan kalau anaknya nantinya akan menjadi orang sesat yang tidak bisa dikalahkan oleh pendekar mana pun!"

"Karena itu saya harus segera gagalkan rencana tersebut, Guru!" sergah Selendang Kubur.

"Aku tak bisa memberi keputusan sekarang. Biarkan aku duduk di sini merenungkan putusan yang lebih baik."

Dalam hati Betari Ayu merasa khawatir terhadap jiwa Selendang Kubur. Tinggal satu murid yang menjadi benteng perguruannya. Jika Selendang Kubur tewas di tangan Nyai Lembah Asmara, habis sudah benteng Perguruan Merpati Wingit. Tetapi sang Guru juga melihat nyala dendam dan bela pati dari sang murid. Jika ia patahkan dengan larangan berangkat ke Bukit Garinda, pupus sudah semangat sang murid, susut sudah jiwa bela patinya, patah pula semangatnya.

"Haruskah kuturunkan ilmu yang ada dalam Kitab Wedar Kesuma itu untuknya?" pikir Betari Ayu dalam renungan panjangnya. Tapi, renungan itu terputus oleh kehadiran murid lainnya yang memberanikan diri menghadap dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa kau menghadapku dengan wajah pucat, Prahasti?"

"Guru, pedang pusaka Jalaganda dicuri oleh Selendang Kubur dan dibawanya lari, Guru!"

Tersentak jantung Betari Ayu mendengarnya, ia gumamkan kata "Jalaganda dicuri? Selendang Kubur lari? Jelas, arahnya pasti ke Bukit Garinda. Anak itu tak bisa dikekang amarahnya. Berbahaya sekali. Tidakkah ia sadari bahwa pedang Jalaganda adalah pusaka yang hanya dipakai untuk pertarungan terakhir bagi orang yang sudah bosan hidup? Memang orang yang menggunakan Jalaganda bisa memperoleh kemenangan walau melawan seribu lawan, tapi selesai itu orang yang menggunakannya akan mati. Jalaganda akan pulang sendiri ke tempatnya tanpa pembawanya!"

Cemas hati Betari Ayu bagai meruncingkan luka. Jalaganda bukan pedang sembarang pedang. Jalaganda merupakan pedang warisan eyang guru dari Betari Ayu yang merupakan pedang kemenangan dan kekalahan. Hanya tokoh-tokoh tua zaman dulu yang menggunakan pedang Jalaganda untuk bertarung, karena usai itu ia sudah siap mati tanpa meninggalkan dendam lagi. Sedangkan Betari Ayu tidak ingin satu-satunya murid andal yang tersisa itu mati bersama kemenangan pertarungannya. Nyai Betari Ayu masih membutuhkan Selendang Kubur untuk tetap menghidupkan perguruannya itu.

"Aku harus segera menyusul Selendang Kubur. Aku tidak izinkan dia menggunakan pedang Jalaganda, agar ia tak ikut punah seperti yang lainnya. Dialah yang akan kujadikan penerus ilmu-ilmu Merpati Wingit dan mengembangkannya ke seluruh penjuru dunia," pikir Betari Ayu sambil berkemas mengenakan jubah kuningnya yang terbuat dari kain sutera lembut dan tipis. Ikat kepala dari tali merah berbintik-bintik kuning keemasan, dengan kedua ujung terdapat logam runcing berbentuk mata tombak kecil, yang bisa pula digunakan sebagai pengikat rambutnya yang panjang digelung rapi di atas kepala, ia menarik napas beberapa kali.

Terasa enteng badannya. Terasa sembuh betul luka-lukanya akibat minum tuak pemberian Pendekar Mabuk, sebelum pemuda itu pergi bersama Perawan Sesat. Kalau bukan karena pusaka Jalaganda, Nyai Guru Betari Ayu tidak akan keluar dari padepokannya. Jalaganda memang berbahaya.

Selendang Kubur sendiri sebenarnya mengetahui akibat penggunaan pedang pusaka Jalaganda. Tetapi agaknya ia sudah siapkan diri untuk mati demi harga diri perguruannya. Gerakannya begitu cepat ketika ia menuju ke arah Bukit Garinda. Pedang Jalaganda disarungkan di punggung, melintang dengan gagahnya. Dalam hati Selendang Kubur terucap kata,

"Akan kutunjukkan pada Suto, bahwa aku rela mati demi menyelamatkan dirinya dari Racun Darah Asmara. Akan kubuktikan pula kepada Nyai Guru, bahwa aku rela hancur demi nama baik dan kehormatan martabat perguruan. Tetapi... apakah Suto mau tahu dan mau percaya bahwa semua ini kulakukan demi cintaku padanya? Sudah layakkah aku berkorban untuk dia?"

Tiba-tiba tanah lereng yang ada di depan Selendang Kubur itu longsor. Batu-batu besar yang ada di lereng itu menggelinding bertuhan ke arahnya. Selendang Kubur cepat jejakkan kaki dan melenting di udara, hindari bebatuan besar yang bisa bikin tubuhnya gepeng mirip tape.

"Tak mungkin batu itu runtuh menggelinding sendiri," pikir Selendang Kubur setelah keadaan menjadi tenang. "Tak mungkin tanah itu longsor sendiri tanpa ada getaran bumi sedikit pun. Pasti ada orang yang sengaja mencelakai diriku."

Mata jeli itu menjadi makin tajam, melirik ke sana- sini dengan liar. Sementara tubuh Selendang Kubur bersembunyi di celah batu yang ada di seberang lereng yang tadi longsor tanahnya. Tetapi untuk beberapa kejap hanya angin yang berhembus di sekelilingnya. Tak ada gerakan yang mencurigakan, atau kelebatan yang menarik perhatian.

Kejap berikutnya barulah Selendang Kubur menangkap sosok bayangan lelaki berbaju merah dan bercelana hitam. Serta-merta Selendang Kubur lancarkan pukulan jarak jauh dari tempat persembunyiannya. Lelaki pendek sedikit gemuk itu tersentak kaget merasakan hawa panas sedang mengalir menuju ke arahnya dari arah belakang. Cepat-cepat ia balikkan tubuh dan menghadang pukulan hawa panas itu dengan satu sentakan tangan kosong ke arah depan.

Rupanya ia sengaja adukan pukulan tenaga dalamnya dengan hawa panas yang mau membokongnya itu. Kedua pukulan tersebut beradu dan memancarkan kerlapan cahaya pijar yang begitu menyilaukan mata. Pecahnya cahaya itu tidak menimbulkan bunyi, melainkan mengguncangkan pepohonan yang ada di sekelilingnya.

"Siapa orang yang berani membokongku itu?!" pikir lelaki bergelang akar bahar di tangan kirinya. Matanya memandang tajam ke sekeliling, sampai akhirnya ia temukan sosok perempuan muncul dari celah dua batu besar. Lelaki yang sudah dikenal Selendang Kubur sebagai pelayan si Gila Tuak, gurunya Suto, yang berjuluk Pujangga Keramat itu, segera serukan kata kemarahan, "Selendang Kubur, kau serang mengapa aku dari belakang?!"

Buat Selendang Kubur, dia sudah tidak asing lagi mendengar ucapan aneh Pujangga Keramat. Sebab ia tahu persis Pujangga Keramat adalah manusia yang tidakpernah bisa menyusun kalimat. Dengan mudah Selendang Kubur mengerti maksud kata-kata Pujangga Keramat, ia dekati lelaki itu dengan tenang, tiada gentar sedikit pun.

"Kau menyerangku lebih dulu, Pujangga Keramat."

"Bilang siapa?! Aku datang baru saja, kau serang aku tahu-tahu dari belakang! Maksud apamu, hah?!"

Melihat kerut dahi dan kecemberutan wajah Pujangga Keramat, Selendang Kubur temukan kejujuran kata orang itu. Tapi dalam hati Selendang Kubur segera tanyakan pada diri sendiri, "Lantas, siapa yang membuat lereng itu longsor dan batu-batu menggelinding menyerangku jika bukan Pujangga Keramat?!"

* * *

DUA

MELIHAT sikapnya tidak bermusuhan, Pujangga Keramat pun ajukan tanya kepada Selendang Kubur, "Selendang Kubur, kau tahukah di mana Pendekar Mabuk ada?"

"Ada perlu pentingkah kau mencari Pendekar Mabuk, Pujangga Keramat?"

"Penting sangat! Ki Gila Tuak mencari Suto surah aku. Ke mana-mana aku cari sudah dia, tapi kudengar tidak kabarnya," kata Pujangga Keramat sambil ikuti langkah kaki Selendang Kubur pelan-pelan. Mereka bagaikan jalan seiring melewati bekas longsoran tanah.

"Aku dapat dari Ki Gila Tuak pesan penting untuk Pendekar Mabuk," tambah Pujangga Keramat.

"Penting sekalikah itu?"

"Penting biasa luar!" jawab Pujangga Keramat dengan sedikit ngotot, yang maksudnya menyatakan bawah pesan itu luar biasa penting. Kemudian, kejap berikutnya Pujangga Keramat serukan kata lagi dengan semangat,

"Suto punya tugas satu kerjakan ia belum. Pusaka Manik Intan yang ada di dasar telaga bersama Tuaknya Setan itu, belum ambil ianya. Cemas Ki Gila Tuak jadinya. Takut ia kalau Pusaka Manik Intan jatuh di orang-orang sesat tangan."

"Pusaka Manik Intan?!" gumam Selendang Kubur sambil menghentikan langkah di luar kesadarannya. Saat ia termenung memikirkan kabar itu, Pujangga Keramat sudah ucapkan kata lagi,

"Ki Gila Tuak suruh jaga aku itu telaga, sampai datang Suto aku tak tahu. Karena itu aku carilah dia!"

Selendang Kubur sendiri baru ingat bahwa menurut kabarnya, Pusaka Tuak Setan itu terkubur di dasar telaga bersama satu pusaka lagi milik Bidadari Jalang, yaitu Pusaka Manik Intan. Sedangkan Bidadari Jalang juga merupakan gurunya Pendekar Mabuk yang dulu sering tampil sebagai tokoh sesat, tapi sekarang sudah beralih ke golongan putih sejak mempunyai murid Suto.

Terawang ingatan Selendang Kubur kepada Suto, bahwa Pendekar Mabuk itu beberapa kali ia temui tapi tak terlihat Cincin Manik Intan tersemat di jarinya. Itu pertanda Pusaka Manik Intan belum ditemukan oleh Suto. Sedangkan Pusaka Tuak Setan telah tertelan oleh Suto pada saat diperebutkan dari tangan si Mawar Hitam dari Pulau Hantu (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan). Selendang Kubur belum mengetahui hal itu, sehingga hatinya pun bertanya-tanya, apakah Tuak Setan berhasil dilenyapkan oleh Suto, atau diminum oleh seseorang dari golongan sesat?

"Selendang Kubur," ucap Pujangga Keramat lagi, "Jika tahu kau Suto di mana, tolong kasih aku tahu tentang dianya. Dia harus cepat cari itu pusaka sebelum jatuh ke orang-orang sesat tangan."

"Pujangga Keramat, sebenarnya aku tahu di mana Pendekar Mabuk. Tapi keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk dihubungi secepat ini."

"Kasihlah tahu aku!" desak Pujangga Keramat.

"Dia ada di Bukit Garinda, sedang dalam bahaya. Aku sendiri sedang menuju ke sana untuk membebaskan Suto dari rencana jahat Nyai Lembah Asmara, penguasa Bukit Garinda itu!"

Pujangga Keramat kerutkan dahi tajam-tajam. "Aku pernah seperti dengarnya itu nama Nyai. Kalau tak salah, dia ratu keji dingin darah!"

"Memang benar! Menurut keterangan dari guruku juga begitu. Tapi aku tak takut, Pujangga Keramat. Aku tidak gentar. Aku harus bisa membebaskan Suto dari cengkeraman mesra Nyai Lembah Asmara itu!"

"Oho, ada cengkeraman mesra jugalah? Itu tanda cemburu kau padanya! He he he...!" Pujangga Keramat terkekeh jelek, tapi tidak menyakitkan hati, hanya membuat Selendang Kubur sunggingkan senyum malunya sedikit.

Pujangga Keramat goda hati perempuan itu, "Ada hatilah kau padanya, Selendang Kubur?"

"Ya," jawab Selendang Kubur singkat tapi tegas.

"Suto cintalah juga dengan kau?"

"Aku tak tahu apakah dia cinta juga padaku atau tidak, yang jelas aku tak rela kalau Pendekar Mabuk berada dalam cengkeraman mesra Nyai Lembah Asmara! Lebih baik aku bertarung sampai mati dengan nyai keji itu!" Selendang Kubur tak sadar ucapkan kata dalam geram amarah tertahan.

"Kuingat-ingatkan, jangan kaulah gegabah serang dia nyai! Kau bisa binasalah di tangannya, Selendang Kubur," Pujangga Keramat tampakkan sikap bijaknya.

Tapi Selendang Kubur agaknya kurang peduli dengan saran itu, sehingga ia cepat ucapkan kata, "Aku sudah siap mati untuk Pendekar Mabuk!"

Pujangga Keramat angguk-anggukkan kepala. Renungkan kata-kata itu beberapa saat sambil melangkahkan kaki pelan-pelan, lalu pada kejap berikut dia berkata, "Begitu kalau, ikut sajalah aku ke sana! Sama-sama kita bebaskan Suto dari itu tangan nyai!"

"Kau mau ikut ke Bukit Garinda?"

"Iyalah! Kupunya tugas untuk Suto-nya sendiri!"

"Tapi bagaimana dengan tugasmu menjaga Manik Intan itu?"

"Cepatlah aku pulangkan telaga setelah selesai sampaikan pesan dari Suto gurunya."

Selendang Kubur tidak merasa keberatan. Sekalipun susah diajak bicara, tapi Pujangga Keramat bisa menjadi penambah kekuatan dalam penyerangan ke Bukit Garinda. Tetapi ada satu hal yang membuat hati Selendang Kubur gelisah, ia menangkap suara napas orang dari suatu persembunyian, ia pun bisikkan kata pada Pujangga Keramat, "Tahukah kau ada yang mengintai kita, Pujangga Keramat?"

"Ya, aku tahulah!" jawab Pujangga Keramat dengan bahasa yang menurutnya sudah benar dan selalu indah.

"Kita jebak dia, Pujangga Keramat! Kita cepat menghilang di balik gerombolan bebatuan di sebelah kanan sana."

Pujangga Keramat hanya anggukkan kepala pelan. Kejap berikutnya dua tokoh itu jejakkan kaki dan melesat cepat bagaikan terbang. Menghilang di balik gerombolan bebatuan yang menggugus. Dari sanalah mata mereka saling berpencar, menyusuri tiap jengkal tempat dengan liar.

"Ssst...!" colek Pujangga Keramat. "Ke timur lihatlah!"

Selendang Kubur tetapkan pandang matanya ke arah timur. Kepalanya kian tunduk merunduk. Di sana tampak sosok tubuh sedikit gemuk berpakaian serba hitam. Tepian pakaian orang itu dililit kain kuning emas kecil. Wajah orang itu berkumis dan bercambang tipis. Matanya sedikit sipit memancarkan kebengisan. Sebuah pedang bersarung perak berukir ada di pinggang kirinya.

Pujangga Keramat kembali bisikkan kata, "Ingatkah kau itu orang?"

"Ya. Kalau tak salah dia yang bernama Datuk Marah Gadai!"

"Dia yang intai kita tadi sejak."

"Kurasa begitu. Tapi untuk apa dia intai kita?"

"Tak tahu akulah!" sambil Pujangga Keramat sedikit angkat kepala dan pundaknya tanda tidak tahu-menahu maksud Datuk Marah Gadai. "Kita sikat dia sajalah!" bisik Pujangga Keramat lagi.

"Jangan dulu. Kita kepingin tahu dulu, apa maksud dan tujuannya intai kita dari sana!" seraya Selendang Kubur tahankan tangannya ke pundak Pujangga Keramat.

Datuk Marah Gadai salah satu dari tokoh sakti yang ingin menguasai tanah Jawa kelihatan sedang mencari- cari barang intaiannya. Ia berdiri di sebuah batu, terlindung semak ilalang tinggi bagian depannya, ia tak tahu ada yang mengintainya dari samping kirinya.

Kejap berikutnya Datuk Marah Gadai tampak kecewa. Kemudian ia tinggalkan tempat itu dalam satu lompatan bertenaga ringan. Dan pada saat ia melesat pergi, tampak pula sosok bayangan berpakaian hitam pula yang menyusul kepergiannya. Sosok yang menyusul itu sempat tertangkap oleh mata Selendang Kubur. Hatinya mengucap kata bernada heran,

"Dirgo Mukti...?! Untuk apa dia menyusul Datuk Marah Gadai? Atau mungkin mereka memang bersepakat mengintaiku dari kejauhan?"

Dirgo Mukti, seorang pemuda tampan yang mengaku dirinya Manusia Sontoloyo. Selama ini, Selendang Kubur mengira Dirgo Mukti tidak punya niat jahat kepadanya, selain niat ingin mencicipi kehangatan tubuhnya dengan kenakalan hidung belangnya itu. Tapi memang hal itu tak pernah diberikan oleh Selendang Kubur.

Dirgo Mukti yang pernah menolongnya dari luka parah itu memang kecewa, tapi haruskah kekecewaan Dirgo Mukti itu membuatnya bergabung dengan Datuk Marah Gadai dan bekerja sama untuk menundukkan dirinya? Atau, mungkin memang sejak dulu mereka mempunyai jalinan hubungan akrab yang baru sekarang diketahui Selendang Kubur?

Ternyata keadaan sesungguhnya tidak seperti dalam kecamuk hati Selendang Kubur. Dirgo Mukti adalah Dirgo Mukti, Datuk Marah Gadai adalah Datuk Marah Gadai. Mereka tak punya hubungan, bahkan mereka belum saling kenal secara hadap-hadapan. Mereka hanya saling kenal nama dari mulut ke mulut saja. Jika hari itu Dirgo Mukti melesat di belakang Datuk Marah Gadai, itu hanyalah sesuatu yang bersifat kebetulan saja. Kebetulan mereka sama-sama mendengar keterangan Pujangga Keramat tadi mengenai cincin pusaka Manik Intan, sehingga di dalam hati mereka saling mempunyai keinginan untuk memiliki cincin tersebut.

Dari balik persembunyiannya tadi, Dirgo Mukti sempat menangkap adanya orang lain yang juga bersembunyi mengintai Selendang Kubur. Pada awal tujuan Dirgo bersembunyi hanya untuk menjaga keselamatan Selendang Kubur. Sebab bagaimanapun juga alotnya perempuan itu, Dirgo Mukti masih punya gairah untuk bercumbu dengan Selendang Kubur.

Namun demi ia melihat orang lain bersembunyi mengintai Selendang Kubur, ia jadi curiga. Lebih curiga lagi setelah dengar pula penuturan dari Pujangga Keramat tentang pusaka cincin Manik Intan itu. Ketika ia melihat lelaki sedikit gemuk itu melesat pergi, naluri Dirgo mengatakan, bahwa lelaki itu pergi ke Telaga Manik Intan. Maka segera ia ikuti kepergiannya. Karena tiba-tiba dalam pikiran Dirgo Mukti timbul niat untuk memiliki pusaka tersebut.

Dirgo Mukti mendengar adanya Pusaka Tuak Setan dan Pusaka Manik Intan dari gurunya. Konon, Pusaka Tuak Setan mampu mengeluarkan badai yang dapat menyapu tanah Jawa dalam satu kali hembusan napas seseorang yang telah meminumnya. Sedangkan Pusaka Manik Intan adalah cincin yang bisa menyalurkan tenaga dalam seratus kali lipat dari tenaga dalam yang dikeluarkan oleh pemakainya. Dalam pikiran Dirgo terbetik kata-kata.

"Kalau aku bisa memiliki cincin itu, maka aku pasti bisa mengalahkan Pendekar Mabuk dalam pertarungan bulan depan di Bukit Jagal. Dan kalau aku bisa mengalahkan Suto, maka sebagai taruhannya Peri Malam akan tunduk kepada cintaku, mau menerimacintaku dan mau kuajak tidur bersama sepanjang masa. Bisa tak bisa aku harus bisa mendapatkan Cincin Pusaka Manik Intan itu!"

Memang benar pemikiran Dirgo Mukti. Ia perlu memiliki cincin tersebut karena kekuatan dahsyat yang ada di dalamnya. Cincin Pusaka Manik Intan adalah cincin yang bukan sembarang cincin. Menurut penuturan para tokoh tua di rimba persilatan, cincin itu adalah jelmaan dari air mata seorang bidadari yang menangis.

Karena dendam tak bisa terlampiaskan, amarah bidadari itu hanya bisa tercurah dalam bentuk tangis. Air mata itu menggumpal dan membeku keras menjadi batu, yang kemudian ditemukan oleh tokoh sakti pada zaman dulu yang menjadi Guru dari si Gila Tuak dan Bidadari Jalang, yaitu pasangan suami-istri Eyang Purbapati dan Eyang Nini Galih.

Karena pusaka itu berbahaya di tangan Bidadari Jalang yang lebih sering mengumbar nafsu angkara murkanya, maka si Gila Tuak bersepakat untuk saling menghancurkan atau menguburkan pusaka-pusaka yang berbahaya bagi keselamatan orang banyak. Gila Tuak menguburkan Pusaka Tuak Setan dan Bidadari Jalang menguburkan Pusaka Manik Intan.

Dan inilah adalah siasat dari Gila Tuak yang ingin mengurangi ilmu saudara seperguruannya itu agar kesesatan langkahnya tidak terlalu banyak menimbulkan korban. Sebab jika Bidadari Jalang memiliki cincin pusaka yang tercipta dari tetesan air mata bidadari murka itu, maka habis sudah seluruh penduduk bumi ini dibinasakan oleh kemurkaannya.

Tetapi sejak Bidadari Jalang mengangkat Suto sebagai muridnya juga, setelah banyak ilmunya diturunkan kepada bocah tanpa pusar itu, maka persoalan Cincin Manik Intan diserahkan sepenuhnya kepada Suto. Bidadari Jalang tidak mau peduli apakah cincin itu akan dimusnahkan atau dipakai sendiri oleh Pendekar Mabuk, yang penting jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang sesat. Memang, si Gila Tuak menyarankan agar cincin itu ikut dimusnahkan saja.

Tapi agaknya cincin itu punya pertalian jiwa dengan Pusaka Tuak Setan. Di mana Tuak Setan berada di situ pula cincin itu tinggal. Padahal Tuak Setan ada di dalam tubuh Pendekar Mabuk, apakah cincin itu juga harus berada di antara jari tangan Pendekar Mabuk? Yang jelas cincin itu sekarang sedang Malam incaran Datuk Marah Gadai. Dalam hati orang yang dari dulu mengejar-ngejar Pusaka Tuak Setan itu berkata,

"Tak kuperoleh Pusaka Tuak Setan, asalkan Pusaka Cincin Manik Intan itu kudapatkan, puaslah hatiku! Sungguh aku tak menyangka kalau cincin itu masih ada di dasar telaga. Tempo hari aku mencarinya sampai susah payah, belum juga kutemukan. Kupikir telah diambil oleh Suto Sinting, ternyata menurut keterangan pelayan si Gila Tuak tadi, cincin tersebut masih ada di dasar telaga. Sampai sehari penuh harus berendam pun, aku tak merasa keberatan!"

Namun baru saja Datuk Marah Gadai pijakkan kakinya di tanah tepi telaga, tahu-tahu hatinya dikejutkan oleh munculnya sesosok pemuda tampan yang melompat bagaikan terbang melalui atas kepalanya. Pemuda itu mendaratkan kakinya tepat di depan Datuk Marah Gadai dalam keadaan memunggungi. Jaraknya antara lima langkah. Pemuda bersenjata kapak dua mata itu tak lain adalah Dirgo Mukti yang mengangkat diri sebagai Manusia Sontoloyo.

Dirgo Mukti segera balikkan badan menjadi saling berhadapan dengan Datuk Marah Gadai. Orang yang usianya antara sepuluh tahun lebih tua darinya itu segera kerutkan kening sambil usapkan kumis sedikit. Dadanya terbusung ke depan dengan kepala sedikit ditarik ke belakang, lalu melontarkan tanya dengan suaranya yang tergolong besar,

"Siapa kau, Anak Muda?!" tanya Datuk Marah Gadai dengan lagak bijaknya.

"Rupanya kau tokoh baru di rimba persilatan ini, sehingga tidak mengenali diriku!" kata Dirgo Mukti dengan angkuhnya.

Datuk Marah Gadai serukan tawa bernada mengejek. "Kau itu anak ingusan, mana mungkin aku mengenalimu? Bukan karena aku tokoh baru di dunia persilatan, tapi karena kau terlambat muncul karena masih menetek ibumu, jadi aku tidak mengenalimu!"

"Bicaralah dengan tutur kata yang baik dan sopan, Pak Tua!"

Makin terkekeh geli Datuk Marah Gadai dipanggil dengan sebutan 'pak tua'. Baginya itu panggilan yang belum waktunya muncul. Tapi karena yang menyerukan adalah mulut bocah ingusan, Datuk Marah Gadai pun merasa tidak perlu mempermasalahkannya. Yang menjadi masalah adalah maksud dan tujuan anak muda di depannya itu.

"Sebutkan namamu atau kuhabiskan nyawamu sekarang juga?" Datuk mulai mengawali ancamannya dengan sudut mata menatap bengis.

"Kurasa kau tak perlu mengancam Dirgo Mukti yang sudah kesohor kesaktiannya ini, Pak Tua! Tentunya kau pun pernah mendengar gelar kejayaanku sebagai Manusia Sontoloyo, yang merupakan satu-satunya tokoh tangguh yang sulit ditumbangkan!"

"Ha ha ha ha.... Manusia Sontoloyo! Nama baru yang benar-benar nama untuk orang loyo. Ha ha ha...!"

"Tutup mulutmu, Kambing tua!" sentak Dirgo Mukti dengan mata menatap tajam.

Tetapi sentakannya itu tidak membuat Datuk Marah Gadai hentikan tawanya, melainkan justru pertambah keras tawanya yang bergelak-gelak itu. Dirgo Mukti menggeram sambil keraskan kepalan tangannya. Kejap berikutnya, Datuk Marah Gadai ucapkan kata,

"Dirgo Mukti, seharusnya kau berhati-hati dalam bicara dengan Datuk Marah Gadai ini!" sambil Datuk tepukkan dada sendiri.

Dirgo Mukti sedikit picingkan mata pertanda pikirkan sesuatu, ia pernah mendengar nama Datuk Marah Gadai, tapi bukan dari gurunya, melainkan dari mulut Selendang Kubur. Seingatnya, Selendang Kubur pernah menceritakan bahwa orang yang bernama Datuk Marah Gadai itu juga tokoh sakti yang sukar ditumbangkan. Hal itu membuat Dirgo Mukti ingin sekali menjajalnya.

Datuk berkata lagi, "Ketahuilah, Dirgo Mukti, Datuk Marah Gadai adalah orang yang sulit memberikan ampunan bagi lawannya. Jadi kusarankan cepat angkat kaki dari depanku jika kau punya maksud memusuhiku, Sontoloyo!"

Dirgo Mukti sunggingkan senyum sinisnya. "Tidak ada aturan mundur dalam sejarah kependekaran Dirgo Mukti! Apalagi aku tahu maksudmu datang ke telaga ini, yaitu ingin mendapatkan Pusaka Cincin Manik Intan! Hhmm...! Tak akan kubiarkan pusaka itu jatuh ke tanganmu, Datuk Marah Gadai!"

Tadi, ketika Dirgo menyebutkan Cincin Manik Intan, mata Datuk Marah Gadai terperanjat sekejap. Perasaan bermusuhan tiba-tiba meletup keras di hatinya, sebab Dirgo Mukti adalah orang pertama yang dianggapnya jadi penghalang niatnya yang sudah yakin bahwa cincin itu masih ada di dasar telaga. Karena itu, Datuk Marah Gadai pun segera kepalkan kedua tangannya dan berkata geram,

"Jangan harap kau bernapas esok pagi jika kau ingin menguasai cincin pusaka itu juga, Sontoloyo!"

"Buktikan omonganmu! Aku ingin menakar seberapa tinggi ilmu yang kau miliki sebenarnya, Datuk Marah Gadai!"

"Kurang ajar! Anak kambing muda berani menantangku?! Hiih...!"

Datuk Marah Gadai melancarkan pukulan jarak jauh dengan sentakkan tangan kirinya ke depan. Tapi Dirgo segera hentakkan kakinya dan melesat terbang ke arah Datuk Marah Gadai dengan kaki miring melayang. Datuk Marah Gadai segera silangkan tangan di atas kepala untuk menangkis tendangan kaki lawannya. Plakkk...! Kaki tertangkis, tangan kanan Datuk Marah Gadai menghentak tepat mengenai dada si Manusia Sontoloyo.

Blegh...!

Dirgo Mukti tersentak dengan napas tertahan, ia tak menyangka pukulan Datuk Marah Gadai begitu keras, berat, dan cepat. Tubuhnya terlempar cukup jauh dari pukulan itu. Datuk Marah Gadai segera melompat mengejar Dirgo Mukti yang terjerembab dalam jarak sepuluh langkah darinya. Sebuah pukulan jarak jauh dihantamkan oleh Datuk Marah Gadai membuat Dirgo Mukti terpaksa melesat juuh lagi untuk menghindari.

Ketika mereka baku hantam di sebelah sana, diam-diam seseorang yang telah mendengar percakapan tadi masuk ke dalam telaga. Melihat cara menceburkan diri ke tengah telaga tanpa suara sedikit pun, jelaslah dia orang berilmu tinggi. Air pun tak memercik banyak. Jelas pula orang itu mengincar Pusaka Cincin Manik Intan.

* * *

TIGA

CAHAYA pagi menerobos dedaunan hutan. Pendekar Mabuk berlari sambil memanggul Perawan Sesat yang terluka parah karena pukulannya. Pendekar Mabuk terpaksa berhenti sejenak untuk memeriksa luka dalam Perawan Sesat itu. Ternyata keadaan bertambah membahayakan jiwa perempuan yang berambut acak-acakan itu.

"Perjalanan ini tak bisa dilanjutkan," pikir Suto. "Bisa-bisa perempuan ini mati sebelum kutemukan daerah yang bernama Bukit Garinda. Aku harus berusaha menyembuhkannya dulu. Kalau dia mati, aku akan kehilangan jejak tentang tempat tinggal kekasihku, Dyah Sariningrum."

Suto memang tidak tahu bahwa dirinya telah dikelabui oleh Perawan Sesat. Rasa cinta Suto kepada seseorang yang bernama Dyah Sariningrum dijadikan kesempatan melumpuhkan amukan Suto pada saat geger di Perguruan Merpati Wingit. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat). Suto Sinting percaya, bahwa Perawan Sesat diutus oleh gurunya untuk membawa Suto ke Bukit Garinda, dan gurunya itu bernama Dyah Sariningrum.

Suto memang tak pikir-pikir lagi begitu mendengar nama Dyah Sariningrum disebutkan. Bahkan ia sendiri yang mendesak Perawan Sesat agar segera dibawa ke Bukit Garinda. Karenanya, walau susah payah ia harus menggendong Perawan Sesat yang terluka oleh pukulan tabung tuaknya, Suto merasa masih punya tenaga untuk berlari satu hari satu malam lagi. Sayang, hal itu tidak bisa ia lanjutkan mengingat keadaan Perawan Sesat kian bertambah parah.

Sekujur tubuh Perawan Sesat bukan hanya pucat kebiru-biruan, tapi juga mengeluarkan bintik-bintik merah dari setiap pori-porinya. Ini yang mencemaskan Suto. Sebab dia tahu pukulan jurus 'Bumbung Bernyawa' itu punya akibat sangat buruk bagi orang yang ilmu tenaga dalamnya tidak terlalu tinggi. Darah bisa memercik keluar dari pori-pori tubuh, dan orang itu akan menemui ajal secara mengerikan.

Baru saja Suto Sinting yang berpakaian coklat tua dengan celana putih itu ingin melakukan penyembuhan terhadap luka Perawan Sesat, tiba-tiba ia dikejutkan dengan hembusan angin cepat di arah belakangnya. Hembusan angin itu dirasakan bukan hembusan angin sembarangan. Cepat pula Pendekar Mabuk kibaskan bumbung tuaknya ke belakang sambil putar tubuhnya.

Wuuut...!

Kibasan angin bumbung itu membuat seseorang bertubuh kurus kering terpental jatuh ke belakang dalam jarak empat langkah. Orang itu menyeringai memegangi pinggangnya yang terasa mau patah itu. Ia bangkit dengan menggeliat sakit dan menggerutu,

"Sial! Begitukah sambutanmu kepada orang yang tidak memusuhimu, Suto?"

"O, maafkan aku, Peramal Pikun! Kukira kau musuh yang ingin memukulku dari belakang!"

Peramal Pikun, orang yang sudah berambut uban merata dengan alis dan jenggotnya pun putih semua, sedikit terpincang-pincang mendekati Suto. Dari mulut tuanya masih mengeluarkan gerutuan yang membuat Pendekar Mabuk jadi tersenyum geli, "Aku tak pernah membokong musuhku, kecuali kepepet!"

Peramal Pikun hentikan langkah setelah jaraknya hanya dua tindak dari Suto. Matanya terkesiap sekejap ketika memandang sosok tubuh Perawan Sesat yang dibaringkan oleh Pendekar Mabuk di rerumputan. Kejap berikutnya orang tua kurus kering itu terkekeh dalam tawanya, sambil ia lirikkan mata kepada Suto dengan menggoda,

"He he he... aku tahu, aku tahu! Kau ingin perkosa gadis ini, bukan? He he he boleh!" Peramal Pikun manggut-manggut. "Menurut ramalanku,kau akan berhasil perkosa gadis ini, Suto. Lakukanlah, aku bersembunyi dulu!"

Cepat tangan Pendekar Mabuk menarik kain pembalut tubuh Peramal Pikun di bagian pundak. Bett...! Langkah lelaki tua yang mirip tulang dibungkus kulit itu jadi berhenti. Wajahnya dipalingkan ke belakang dengan malu-malu. Suto tersenyum dan berkata,

"Tetaplah di sini! Aku tidak akan perkosa dia. Dia pingsan. Kalau dia tidak pingsan, mungkin aku yang akan diperkosanya, atau barangkali kau juga, Pak Tua!"

"Aku...?! Oh, itu tidak mungkin. Aku sudah tidur semalaman dengan Perawan Sesat ini dalam sebuah gua, tapi dia agaknya tidak berminat menikmati tubuh kurusku ini!"

"Kau sudah bersamanya sebelum ini?"

"Ya. Dia yang desak aku dan ancam aku untuk menunjukkan di mana dirimu berada. Dia memang ingin sekali bertemu denganmu. Lalu, kami berpencar, aku ke utara dan dia ke selatan. Rupanya dia yang beruntung, bisa bertemu denganmu. Tapi..., oh, ya... kenapa ia pingsan, Suto?"

"Terkena pukulanku!" jawab Suto sambil membuka tutup bumbung tuaknya, ia menenggak beberapa teguk ketika Peramal Pikun bertanya,

"Sangat parah. Karena itu aku membutuhkan tempat untuk menyembuhkan luka-lukanya. Aku tahu, pukulan itu sebentar lagi akan membuat ia semaput!"

"Lalu, kenapa kau ingin menyembuhkannya? Bukankah kau yang telah memukulnya dengan sengaja?"

"Ya. Tapi aku waktu itu tidak tahu, bahwa ia akan membawaku kepada seseorang yang menjadi kekasihku, yaitu orang yang bernama Dyah Sariningrum!"

Terkesiap mata Peramal Pikun seketika itu juga. Terperanjat ia dalam kejut tertahan. Ada napas yang ditariknya satu sentakan. Dan pada saat itu, Suto melihat ada darah mengalir keluar dari lubang telinga Peramal Pikun. Keluarnya darah itu pernah dilihat oleh Suto beberapa waktu yang lalu, ketika, ia menyebutkan nama Dyah Sariningrum (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Darah Asmara Gila).

Melihat keanehan itu, hati Suto jadi bertanya-tanya, "Mengapa tiap kali kusebutkan nama Dyah Sariningrum telinga Peramal Pikun itu jadi berdarah?! Wajahnya pun kulihat terperanjat dan sorot matanya secepatnya beralih pandang ke arah lain. Dalam indera penglihatanku, ada rasa takut dan waswas dalam hati Peramal Pikun jika kusebutkan nama perempuan yang sangat kurindukan dan ingin kutemui itu. Mengapa ia begitu? Pasti ada rahasia aneh yang tersimpan dalam olehnya."

Darah itu hanya menggumpal di tepi lubang telinga Peramal Pikun. Tapi agaknya Peramal Pikun tidak menyadari atau memang berpura-pura tidak mengetahui keluarnya darah kental itu. Bahkan Peramal Pikun segera alihkan pembicaraan kepada masalah lukanya Perawan Sesat itu.

"Suto, kalau kau butuh tempat untuk mengobati perempuan ini, bawalah dia ke pondokku yang kebetulan tak jauh dari sini!"

"Ada siapa saja di pondokmu itu, Peramal Pikun?"

"Tak ada siapa pun selain diriku!" jawab Peramal Pikun.

"Baiklah. Tapi sebelum itu aku ingin ajukan satu pertanyaan tentang kekasihku yang...."

"Ikutilah aku!" potong Peramal Pikun, ia segera menjejakkan kaki ke tanah dan tubuh kurusnya melenting di udara, melesat ke arah tikungan jalan.

Suto terkesiap sejenak, lalu bergegas mengangkat tubuh Perawan Sesat dan membawanya lari menyusul Peramal Pikun. Pendekar Mabuk memang sangat penasaran dengan perempuan cantik idaman hatinya yang ia temukan dalam semadinya di dalam gua, tempat tinggal gurunya. Kalau saja waktu ia bersemadi sukmanya tidak dipakai melayang ke mana-mana, hanya khusus untuk mencari Pusaka Tuak Setan, mungkin ia tak sempat jumpa dengan perempuan cantik bernama Dyah Sariningrum.

Tetapi menurut si Gila Tuak, gurunya itu, jika Suto sempat bertemu dengan perempuan dalam semadinya, maka perempuan itulah yang kelak menjadi jodoh Suto dalam waktu yang tak terbatas. Tapi di mana Dyah Sariningrum berada, sampai saat ini Pendekar Mabuk belum bisa menemukan tempatnya yang pasti. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan).

Satu-satunya orang yang dianggap m^mpu menjadi penunjuk jalan untuk menemukan tempat tinggal Dyah Sariningrum adalah Peramal Pikun. Hanya orang kurus kering itulah yang menjadi satu-satunya orang yang dicurigai Suto telah menyimpan rahasia tentang jati diri kekasih idaman hatinya itu.

Tapi agaknya tak mudah mengorek keterangan dari mulut Peramal Pikun mengenai Dyah Sariningrum. Karena setelah mereka tiba di pondok tempat bernaungnya Peramal Pikun, lelaki tua renta itu langsung mengajaknya bicara mengenai kesaktian dan kehebatan ilmu-ilmu yang dimiliki Perawan Sesat itu.

"Aku tahu dia punya guru yang sangat tinggi ilmunya," kata Peramal Pikun.

"Apakah gurunya itu yang bernama Dyah Sariningrum?!" pancing Suto, tapi Peramal Pikun tidak menjawab. Hanya tubuhnya kentara sedikit mengalami sentakan halus. Kemudian kembali telinganya tampak mengeluarkan darah tak banyak.

Peramal Pikun pun kembali alihkan bicara, "Lakukanlah penyembuhan dengan segera, sebelum nyawa perempuan liar ini melayang. Agaknya dia memang orang yang kau butuhkan. Dia bisa membantumu." jawab Peramal Pikun sambil keluar dari pondoknya yang beratap rumbia, yang terletak di tengah kerimbunan hutan liar.

Malam mulai datang. Cahaya purnama berpendar di atas memandangi bumi. Sejenak Pendekar Mabuk ingat janji pertarungannya dengan Manusia Sontoloyo pada purnama kedua nanti. Tapi untuk sementara ia kesampingkan dulu tantangan Dirgo Mukti tersebut, ia masih membutuhkan pemusatan pikiran untuk penyembuhan luka Perawan Sesat.

Ketika malam semakin kelam, selesai sudah penyembuhan yang dilakukannya terhadap Perawan Sesat. Suto tinggal menunggu perempuan itu siuman. Untuk membuang rasa penat di dalam pondok berdinding anyaman pandan itu, Suto melangkah keluar. Ditatapnya Peramal Pikun yang duduk di atas sebuah batu, lima langkah dari pondoknya, merenung sambil dongakkan kepala, bak sedang mengamati indahnya bulan.

Pendekar Mabuk mendekatinya sambil menenteng bumbung tuak yang tak pernah jauh dari jangkauannya itu. Ia duduk di batang pohon kering yang tumbang miring. Di sana ia teguk tuaknya beberapa kali, kemudian ia segera ajukan tanya kepada Peramal Pikun, "Aku ingin sekali mengetahui suatu rahasia yang amat penting bagi hidupku. Maukah kau menjawabnya?"

Peramal Pikun tidak menjawab, melainkan justru bertanya, "Bagaimana keadaan Perawan Sesat itu?"

"Sudah membaik. Sebentar waktu dia akan siuman."

"Dia cantik. Kau sepaham dengan pendapatku?"

"Ya. Memang cantik. Tapi jiwanya liar dan buas."

"Itulah yang amat kusayangkan. Barangkali memang begitulah perangai jati dirinya yang tak bisa dipungkiri lagi. Sebagai orang tua, aku menaruh rasa kagum terhadap keberanian dan jiwanya. Dia pemberani dan tegas, pendiriannya sekeras batu gunung! Tak ada ruginya punya istri macam dia."

Suto hanya sunggingkan senyum malas. Sepertinya ia tidak tertarik dengan percakapan itu. Tapi demi menyenangkan hati si kurus kering itu, Suto tetap mendengarkan kata-katanya.

"Perempuan itu bukan hanya bisa melindungi dirinya sendiri, tapi juga akan bisa melindungi suami dan anak-anaknya kelak. Semangat cintanya pun menggebu-gebu. Menurut ramalanku, dia seorang perempuan yang mempunyai kehangatan cinta yang akan berkobar sepanjang masa."

Sekali lagi Suto sunggingkan senyum dan lontarkan tawa pendek serta pelan, ia tidak kasih ulasan, sehingga Peramal Pikun segera ajukan pertanyaan, "Apa kau tidak tertarik padanya, Suto?"

"Tidak!" jawab Pendekar Mabuk tegas.

"Jangan lihat liarnya, tapi lihatlah hasil akhirnya nanti!"

Suto makin kekehkan tawa geli. "Aku tak ada minat sedikit pun untuk jatuh cinta kepada perempuan lain, kecuali kekasihku yang...."

"Hentikan!" sergah Peramal Pikun dengan wajah tegang dan bersungguh-sungguh. Bahkan ia cepat berdiri dengan tutupkan telinga memakai kedua tangannya. Suto memandang dengan heran. Sebelum lontarkan tanya, Peramal Pikun sudah lebih dulu bicara. "Jangan sebut lagi nama itu!"

"Kali ini aku bisa marah jika kau sebutkan nama orang yang kau rindukan itu!"

"Aku butuh alasan, Peramal Pikun!"

"Kau membuatku bingung!"

"Tidak perlu bingung! Aku hanya minta, jangan sebut nama itu. Tak sulit menuruti permintaanku, bukan?!"

Suto menarik napas panjang. Ketegangan yang terjadi ingin diredakan kembali. Untuk itu Suto tak berani mendesak Peramal Pikun lagi, dan dia memilih diam adalah yang terbaik untuk suasana malam itu. Hening pun menembus hati sanubari mereka masing-masing, sehingga Peramal Pikun mendahului bicara.

"Sejak kapan kau kenal perempuan yang menjadi idaman hatimu itu, Suto?"

"Sejak kutemukan dia, Peramal Pikun!" jawab Suto kalem.

"Di mana kau temukan dia?"

"Di alam semadiku!"

Terkesiap mata Peramal Pikun menatap wajah Suto dalam cahaya rembulan malam. Suto diam saja walau tahu dipandang dalam keheningan. Lama kemudian Peramal Pikun kembali bertanya, "Sejauh mana kau bertemu dengan dia di alam semadimu?"

"Hanya sekadar pertemuan biasa. Dia menangis memandangiku. Dia sebutkan namanya tiga kali, seakan mengharap kehadiranku. Dan aku tak sadar, ternyata aku telah melelehkan air mata darah."

Sekali lagi wajah Peramal Pikun terperanjat mendengarnya. Mulutnya sedikit ternganga bengong, seakan tak bisa dipakai bicara.

Pendekar Mabuk tetap tenang, ia meneguk tuaknya dua kali tegukan, kemudian menghempaskan napas lewat mulut, pertanda menikmati rasa enak dalam kecapan rasa tuaknya. Pada saat itulah terdengar suara Peramal Pikun berkata pelan,

"Barangkali memang kaulah orang yang di tunggu-tunggunya!"

"Tapi aku tak tahu siapa dia dan di mana dia berada! Aku tak bisa menemukan arah tempat tinggalnya. Dan aku yakin, kau pasti banyak tahu tentang dia, Peramal Pikun. Aku berharap kau mau menolongku menunjukkan di mana dia tinggal."

Setelah bungkam sejenak, Peramal Pikun ucapkan kata pelan lagi, "Aku tak berani"

"Maksudmu bagaimana, Peramal Pikun?"

"Aku tak berani tunjukkan di mana dia berada."

"Kenapa?"

"Aku takut dia murka"

"Murka kepadaku atau kepadamu?"

"Kepadaku"

"Mengapa di murka?" desak Pendekar Mabuk semakin penasaran.

Peramal Pikun berhenti bicara, ia melirik ke kanan-kiri, takut ada yang mencuri dengar percakapan itu. Dan ternyata dugaannya benar. Memang ada yang mencuri dengar. Peramal Pikun segera menjebaknya dengan kata-kata, "Kalau sudah merasa enak badanmu, keluarlah Perawan Sesat! Duduklah di sini bersama kami!"

Perawan Sesat sudah sembuh. Badannya terasa lebih segar dari sebelum ia jatuh terluka parah. Perempuan berambut acak-acakan lurus berkesan jabrik itu segera langkahkan kaki keluar dari pondok. Merasa sedikit malu karena perbuatannya diketahui oleh Peramal Pikun.

Pendekar Mabuk memandang kehadiran Perawan Sesat yang berpakaian ketat. Dalam cahaya rembulan, wajah Perawan Sesat semakin cantik, menggairahkan lelaki. Peramal Pikun terkekeh lirih bagai gumam melihat kehadiran Perawan Sesat yang kelihatan segar itu.

Walau tak ada senyum di wajahnya, tapi menurut pandangan dua mata lelaki yang ada di situ, Perawan Sesat memang bisa membuat pikiran setiap lelaki menjadi sesat karena daya tariknya. Namun di balik semua dugaan itu, justru Perawan Sesat dalam hatinya memuji dan mengagumi wajah tampan yang dimiliki Suto Sinting itu.

Ada rasa kecewa terselip di hati Suto, karena kehadiran Perawan Sesat membuat penjelasan rahasia dari mulut Peramal Pikun itu terputus. Tetapi, Suto yakin dia akan memperoleh keterangan lebih lanjut setelah Perawan Sesat pergi tidur. Mungkin setelah hari melewati pertengahan petang nanti.

"Ada di mana aku ini?" tanya Perawan Sesat.

"Di pondokku," jawab Peramal Pikun.

"Siapa yang membawaku kemari?"

"Aku," jawab Suto tegas dengan pandangan mata mendebarkan hati. Namun Perawan Sesat tak mau tunjukkan debaran hatinya, ia tetap berwajah angkuh dan berkesan dingin.

"Kau telah menyerangku dan membuatku hampir mati?!"

"Ya"

"Lalu siapa yang sembuhkan lukaku?"

"Aku juga"

"Kenapa kau sembuhkan aku?"

"Iseng-iseng saja," jawab Suto dengan santai, berkesan menyepelekan pertanyaan itu.

Cepat sekali kaki Perawan Sesat berkelebat menampar pipi Suto. Cepat pula tangan kanan Pendekar Mabuk berkelebat naik sampai telapak tangannya yang merapatkan jari itu berhenti di depan pipinya. Kaki yang sudah meluncur itu membalik sebelum menyentuh tangan Pendekar Mabuk. Hampir membuat Perawan Sesat terpelanting jatuh kalau tidak segera ditopang oleh tangan kurus Peramal Pikun.

"Jangan coba-coba meremehkan aku!" hardiknya kepada Suto.

"Perawan Sesat, kau ini sudah diselamatkan nyawamu oleh Suto. Bukannya berterima kasih malah mengancam!" tukas Peramal Pikun.

Perawan Sesat menuding tegas di depan hidung Peramal Pikun, "Kau jangan turut campur urusanku kalau mau punya umur panjang!"

Peramal Pikun dan Pendekar Mabuk justru terkekeh geli melihat kegalakan perempuan yang tadi hampir mati itu. Perawan Sesat menggeram gemas.

* * *

EMPAT

CEPAT sekali Perawan Sesat berlari dalam satu lompatan demi lompatan bertenaga ringan, ia sengaja menyuruh Suto mengikuti arah kepergiannya dengan maksud untuk mengukur kecepatan gerak Suto dibandingkan dirinya. Perawan Sesat tetap menunjukkan kekerasan jiwanya, dan tak mau menampakkan rasa tertariknya kepada Pendekar Mabuk. Bahkan ia sering unjuk ilmu kepada Suto, yang oleh Suto hanya ditertawakan dalam hati.

Seperti kali ini, ia berlari cepat sekali bagaikan kilasan anak panah yang kecepatannya tak mampu diikuti oleh pandangan mata. Ia sengaja menyuruh Suto mengikutinya dan ia yakin Suto kebingungan mengikuti gerakannya. Pada satu tempat rindang, Perawan Sesat sengaja berhenti dan berpaling ke belakang, ia tidak melihat Suto di sana. Ia tertawa sendiri merasa berhasil memperdaya Suto sehingga pria tampan bertubuh kekar itu tidak mampu mengikuti kecepatan geraknya. Perawan Sesat pun berseru,

"Hoi, Suto...! Ayo lekas susul aku! Jangan seperti pengantin sunat langkahmu, Suto!"

Terdengar jawaban agak jauh, "Aku di sini, Perawan Sesat!"

Seketika itu juga Perawan Sesat terperanjat kaget. Ia palingkan wajah ke arah depan. Ternyata Pendekar Mabuk sudah berdiri di atas sebuah pohon kira-kira dua puluh langkah lebih dulu darinya. Suto berdiri sambil bersandar pada sebatang pohon. Senyumnya mekar di wajah tampannya, yang membuat Perawan Sesat menggeram gemas sekali.

"Edan! Ternyata dia lebih cepat dariku! Dia sudah ada di depanku...! Malu aku kalau tidak bisa melecehkan dirinya!"

Wuuut...! Perawan Sesat melompat satu jejakan kaki. Tubuhnya sudah mencapai tempat di mana Pendekar Mabuk berdiri sambil menenggak tuaknya. Mata Suto sudah mulai memerah, tanda mulai dihinggapi perasaan mabuk. Tetapi agaknya Suto Sinting tetap mampu mengendalikan segala rasa dan pikiran, bahkan tampak lebih tajam dari sebelum ia dikuasai oleh kemabukannya.

"Apakah arah Bukit Garinda masih jauh?" tanya Suto.

"Masih beberapa hari lagi," jawab Perawan Sesat. "Kalau kita tempuh dengan kecepatan lari seperti tadi, mungkin hanya memakan waktu sehari semalam. Kita harus bisa tempuh dengan kecepatan siluman!"

"Apa itu kecepatan siluman?" Suto kerutkan dahi mirip orang tolol.

Sikapnya membuat Perawan Sesat tertawa mirip kuntilanak. Tawa bersuara serak itu terhenti, dan berganti kata-kata yang tetap bersuara serak-serak basah,

"Kecepatan siluman adalah kecepatan batin yang tidak menggunakan otot tubuh kita. Seperti misalnya kita akan mencapai gundukan tanah yang membukit itu, kita tak perlu berlari cepat seperti tadi. Cukup dengan satu kedipan mata sudah bisa sampai ke puncak gundukan tanah itu. Contohnya seperti ini...!"

Perawan Sesat segera tunjukkan kebolehan ilmu silumannya, ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang-panjang. Dadanya menjadi penuh dengan gumpalan napas. Tangannya bergerak memutar di depan wajah bagai orang menari lemah gemulai. Jika napas dihentakkan lewat hidung, maka tubuhnya akan lenyap dan muncul di puncak gundukan tanah yang membukit itu.

Sebelum ia hentakkan napas lewat hidung, tiba-tiba ia mendengar suara Suto Sinting berseru, "Hoii... lekas! Jangan lama-lama!"

Napas tak jadi dihentakkan. Begitu mata dibuka Perawan Sesat kembali terperangah melihat Suto sudah lebih dulu ada di atas gundukan tanah yang membukit itu. Ia melambai-lambaikan tangan memanggil Perawan Sesat. Geram Perawan Sesat semakin menjadi. "Kurang ajar! Dia lebih cepat pindahkan diri ke sana! Tinggi juga ilmu orang itu! Aku kalah cepat dengan ilmu silumannya. Rupanya ia tadi berlagak bodoh di depanku!" Segera Perawan Sesat menyusul Suto ke atas bukit.

Jllig...! Tubuhnya tiba dengan cepat di atas bukit-bukitan itu. Tetapi ia kehilangan Pendekar Mabuk. Ia mencari-cari Suto, yang ternyata sudah berada di bawah pohon rindang, jauh darinya. Gerakan menenggak bumbung tuak terlihat samar-samar. Sekali lagi Perawan Sesat menggeram penuh kejengkelan.

"Dasar sinting! Didekati malah sudah kabur sejauh itu. Edan betul dia! Aku tak bisa mencapai tempat sejauh itu hanya dengan satu jurus saja. Harus memakai dua jurus alias dua langkah siluman. Hmmm...! Dia benar-benar mempermainkan aku! Membuatku malu jika begini! Sayang sekali dia tampan dan menggairahkan. Kalau tidak, sudah kuhajar habis dia!"

"Cepat...!" Suto Sinting melambai dengan suara kecil karena jauhnya.

Perawan Sesat hanya menggeram dalam hati dan berkata, "Pantas kalau Nyai Lembah Asmara terpikat pada lelaki tanpa pusar itu, selain tampan dan menggairahkan, ia juga berilmu tinggi! Ah, sulit sekali aku menghindari rasa tertarikku kepadanya. Hasratku sejak tadi menyala-nyala ingin mencumbunya. Tapi agaknya ia tidak tergiur padaku. Hmmm... aku harus menggunakan ilmu 'Pelet Sukma' biar dia terpikat dan mau diajak bercumbu di bawah pohon itu!"

Kejap, berikutnya Perawan Sesat sudah tiba di tempat Suto duduk santai di bawah pohon rindang. Dengan cepat ia tatapkan pandangan matanya ke mata Suto. Senyum Suto mekar ketika dipandang perempuan itu. Kejap kemudian napas Perawan Sesat disentakkan lewat hidung. Wusss...! Pelan tapi berbahaya, karena itulah yang dinamakan ilmu 'Pelet Sukma' yang mampu membuat setiap lelaki mabuk birahi.

Tetapi ada satu keanehan yang dirasakan oleh Perawan Sesat. Ketika napasnya terhempas lewat hidung tadi, tiba-tiba napas itu memantul balik terasa masuk kembali ke dalam hidung. Namun hati Perawan Sesat sangsi akan hal itu, karena perasaan seperti itu belum pernah dialami. Peristiwa berbaliknya hembusan napas itu belum pernah terjadi. Perawan Sesat tetap harapkan Suto mulai tergiur dengan kemolekan tubuhnya. Perawan Sesat mulai memamerkan belahan dadanya yang sungguh montok itu.

Pendekar Mabuk tertawa kecil dengan mata merah karena mabuk, ia segera berdiri dan Perawan Sesat ikut berdiri. Kemudian dalam sekejap Suto melompat pergi bagai tak peduli.

"Sutooo...!" Perawan Sesat bagai merengek tak mau ditinggal, ia menyusul Suto dengan gairah cinta yang meledak-ledak dalam dadanya, ia ingin memeluk Suto dan mencumbunya habis-habisan. Tapi Suto sukar ditangkapnya. Suto melesat lagi menjauh sambil menghambur kan tawa bagaikan menggoda. Perawan Sesat bertambah penasaran mendengar suara tawa Suto. Ia mengejar untuk menangkap Suto dalam pelukan. Tapi Suto melesat ke atas dan hinggap di salah satu dahan pohon.

"Suto, turunlah! Peluklah aku, Suto!" seru Perawan Sesat sambil sibuk merayapi tubuhnya sendiri.

Suto Sinting tertawa-tawa sambil duduk di dahan, menenggak tuak dalam bumbung. Sesekali ia memandang ke bawah, dan tawanya makin bertambah melihat Perawan Sesat sibuk sendiri. Perawan Sesat baru menyadari bahwa ilmu 'Pelet Sukma' yang membuat seseorang jadi terpancing gairahnya itu telah membalik dan mengenai dirinya sendiri. Akibatnya, Perawan Sesat sendiri yang tak bisa mengendalikan gairah birahinya. Setelah apa yang diinginkan tercapai oleh dirinya sendiri, barulah Perawan Sesat menyadari hal itu dan berkata di hatinya,

"Jahanam orang itu! Ilmu 'Pelet Sukma'-ku membalik mengenai diriku sendiri. Sebaiknya aku tidak menyerahkan Suto kepada Nyai Lembah Asmara! Akan kupakai sendiri orang itu dengan segala caraku menundukkan hatinya! Aku tak rela dan akan merasa kehilangan besar jika Suto berada dalam pelukan Nyai Lembah Asmara. Sebaiknya kubawa lari ke tempat lain saja Pendekar Mabuk yang benar-benar memabukkan hatiku itu! Peduli amat dengan tugas ini! Aku tak sanggup menjalankan tugas, karena aku tak mampu menghindari godaan hatiku ini!"

Kejap berikutnya, Perawan Sesat mendongak ke atas dan berseru, "Kita lanjutkan perjalanan kita, Suto!"

"Apakah kau sudah selesai dengan pekerjaan tanganmu?" ledek Suto membuat wajah Perawan Sesat menjadi merah.

Perempuan itu tidak melayani ejekan tersebut, ia seolah-olah tidak mendengarnya. Kini ia berseru kembali, "Tidakkah kau ingin bertemu dengan kekasihmu Dyah Sariningrum?!"

Pancingan ini membuat Pendekar Mabuk turun dari atas pohon dalam satu lompatan bagaikan terbang. Rambutnya yang panjang meriap ke atas pada saat ia meluncur ke bawah. Indah sekali dilihatnya, bagai seekor rajawali gagah yang siap menerkam mangsanya. Suto mulai oleng berdirinya karena pengaruh mabuk tuak itu. Bahkan bicaranya pun mulai mengambang tak tentu arah.

"Bawalah cepat aku kepadanya! Jangan bikin aku bertambah rindu lagi kepada Dyah Sariningrum!"

"Ya, aku akan membawamu lekas-lekas ke sana. Dia juga sudah lama menunggumu! Tapi ada satu permintaan dariku sebagai syarat!"

"He he he... kamu mulai banyak tingkah, Perawan Sesat! Apa syarat yang kau inginkan itu, hah?!" hardik Pendekar Mabuk kemudian.

"Kau telah membuat pedang gadingku lenyap tak berbekas!"

"He he he... itulah kehebatan ilmu 'Sembur Siluman' yang kumiliki. Jangan hanya pedangmu, gunung pun kalau kusembur dengan tuak dalam mulutku mampu lenyap dalam sekejap. Tapi, itu hanya kekuatan ilmu siluman yang serupa dengan sihir. Kudapatkan ilmu itu perpaduan dari ilmu kakek guruku dan bibi guruku! He he he..."

"Aku tak berani menghadap Dyah Sariningrum jika aku kehilangan pedang gading itu. Sebab ia akan marah padaku habis-habisan. Pedang itu adalah pedang miliknya yang dipinjamkan padaku!"

"O ho ho ho... jadi itu pedang milik kekasihku?"

"Ya! Kalau kau tak bisa mengembalikan, aku tak berani membawamu ke sana!" bujuk Perawan Sesat dengan hati berdebar-debar.

"Untuk mengembalikan pedangmu, itu bukan pekerjaan yang sulit. Tapi untuk menahan niatmu agar tidak menggunakan pedang gading sebagai alat pengumbar nafsu amarah, itu yang sulit! Aku tak berani membuat pedang itu kembali lagi."

"Jika begitu, kita tak jadi menemui Dyah Sariningrum. Karena Nyai Lembah Asmara akan murka jika pedang gadingnya hilang."

"Nyai...?! Oh, jadi Dyah Sariningrum itu seorang Nyai?"

"Pantas Peramal Pikun tak berani menyebutkannya," kata Suto dengan suara mengayun bergelombang.

"Lekas wujudkan pedang itu!" kata Perawan Sesat sambil serahkan gagang pedang yang masih dibawanya dengan tujuan digunakan sebagai bukti kepada teman atau gurunya tentang kehebatan ilmu Suto.

Gagang pedang dengan benang sutera merah di bagian ujung bawahnya digenggam kuat oleh Pendekar Mabuk. Matanya yang mulai seperti orang mengantuk itu sebentar waktu melirik Perawan Sesat. la nyengir dan berkata, "Janjilah padaku, kau tidak akan mengumbar amarahmu dengan menggunakan pedang ini!"

"Iya, iya! Aku bejnji! Cerewet kamu!" sentak Perawan Sesat.

"Oh, kalau kamu katakan aku cerewet aku akan isi pedang ini dengan sebuah pisang!"

"Sudahlah!" sentaknya lagi tak sabar. "Kau tidak cerewet! Tapi cepat kembalikan pedangku itu!"

"Hei, kau bilang ini pedang milik Nyai Dyah Sariningrum! Tapi sekarang kau bilang pedangku?! Mana yang benar?!"

"Maksudku, itu pedang dalam tanggung jawabku. Jadi sudah kuanggap seperti pedangku sendiri!"

"O ho ho ho... begitu rupanya!" Suto manggut-manggut.

"Iya. Lekas, jangan banyak bicara lagi!" bentak Perawan Sesat.

"Aih, kau bentak-bentak aku?! Aku tak mau!"

"Tidak, tidak! Aku tidak bentak kamu lagi!"

"Aku tidak mau!" Suto Sinting menggeleng dan membuang pedang itu ke semak belukar.

"Jahanam kau! Kenapa kau buang gagang pedang itu?! Dasar sinting!" Perawan Sesat bergegas ke semak belukar untuk mengambil gagang pedangnya. Suto hanya tertawa-tawa sambil buka tutup bumbung dan ia kembali tenggak tuak di dalamnya. "Benar-benar edan orang itu!" gerutu Perawan Sesat sambil mencari gagang pedang yang tadi dibuang Suto.

"Habis ini kuhajar sebentar dia, biar tahu adat sedikit terhadapku! Seenaknya saja dia buang gagang pedang itu. Dia tidak tahu kalau di dalam gagang pedang masih tersimpan racun yang mematikan dan bisa kugunakan untuk membunuh dirinya!"

Langkah kaki menyusuri semak terhenti. Mata Perawan Sesat terbelalak lebar, ia melihat gagang pedangnya tergeletak di antara rerumputan ilalang. Tapi kali ini mata pedangnya sudah kembali utuh seperti sediakala. Rupanya Pendekar Mabuk telah mengembalikan mata pedang gading yang lenyap oleh ilmu 'Sembur Siluman'-nya itu. Tapi ia sengaja membuat susah Perawan Sesat agar perempuan itu menggerutudan bersungut-sungut, ia sengaja permainkan perawan galak berambut acak-acakan itu. Padahal Suto Sinting bisa mengembalikan pedang itu seperti sediakala dengan kekuatan matanya. Tapi ia tidak mau mengembalikan dan menyerahkan pedang begitu saja kepada perempuan bermata liar itu.

Melihat mata pedang kembali seperti sediakala, hati Perawan Sesat merasa girang. Tapi keberaniannya untuk bertindak semena-mena juga lebih membara. Dengan bekal Pusaka Pedang Gading itu, Perawan Sesat merasa sanggup melumpuhkan lawannya.

"Pedangmu sudah kembali, Nona! Alangkah baiknya jika kita cepat-cepat menemui Nyai yang menungguku!" kata Suto.

Perawan Sesat berkata, "Tidak sekarang, Suto! Aku masih punya satu syarat lagi yang harus kau penuhi!"

"Kau punya syarat berapa sebenarnya, Nona?" tanya Pendekar Mabuk gusar.

"Satu syarat lagi! Hanya satu! Setelah ini kau kuantar menghadap Nyai! Aku bersumpah, tidak akan minta syarat lagi!"

"He he he he... apa syarat yang kau inginkan, Nona?!"

"Layanilah cintaku!" Perawan Sesat segera mendekat.

Suto membelalakkan mata ngantuknya. Ia tertawa keras sambil mundur beberapa langkah, tangannya menuding-nuding Perawan Sesat.

"Kalau kau tak mau, kau tidak kuajak menghadap Nyai, Suto!" bentak Perawan Sesat memanfaatkan rindu di hati Suto sebagai senjata untuk mengancam dan memperdayai Pendekar Mabuk itu.

Suto gelengkan kepala. "Itu tidak boleh terjadi, Nona manis!"

"Harus terjadi!" tegas Perawan Sesat. "Dekatlah kemari, Suto. Peluklah aku, Sayang...!"

"Hua ha ha ha ha... aku dipanggil sayang? Aduh, Mak... kering darahku, melorot jantungku. Hua ha ha ha...!"

Pengaruh mabuk Pendekar Mabuk semakin tinggi. Tawanya kian keras membuat Perawan Sesat bertambah dongkol hatinya. Bahkan ia sempat berniat mencabut pedang untuk memaksa Suto. Tapi ketika ingat bahwa Suto Sinting masih bisa membuat lenyap pedangnya itu, maka niat tersebut dibunuhnya sendiri. Perawan Sesat hanya bisa membatin,

"Agaknya butuh kesabaran untuk menundukkan lelaki yang satu ini. Bukan dengan kekuatan ilmu, melainkan dengan kekuatan hati yang sabar dan tekun! Percuma saja adu kekerasan dengan dia, tidak akan membawa hasil apa-apa kecuali suasana yang semakin lebih kacau lagi. Biarlah kusabarkan hatiku sampai tiba saatnya ia sendiri membutuhkan diriku."

Segera Perawan Sesat ucapkan kata, "Baiklah, Suto! Lupakan satu persyaratan itu. Jika kau tak bisa sekarang, kapan waktu pun masih bisa kau melunasinya. Sekarang kita pergi dari sini secepatnya, Suto!"

"Tapi aku tidak punya hutang janji padamu, Perawan Sesat!"

"Terserah anggapanmu saat ini, karena aku tahu kamu sedang kebanyakan minum tuak! Lupakan dulupersyaratan satu itu!"

Perawan Sesat segera mengajak Pendekar Mabuk untuk tinggalkan tempat, menjauhi arah Bukit Garinda. Perawan Sesat memang bermaksud membawa lari Suto ke tempat lain, yang sudah ada dalam benaknya. Tetapi tiba-tiba di depan langkah Perawan Sesat dan Pendekar Mabuk melesat benda kecil berbentuk bintang dari lempengan baja tajam. Dan benda kecil itu melesat cepat menimbulkan bunyi, ziing...! Kemudian benda itu menancap di pohon persis di depan sebelah kiri Perawan Sesat.

Tertahan serentak langkah Perawan Sesat. Tertahan pula tubuh limbung Pendekar Mabuk. Mata mereka berkilas cepat menyapu sekeliling, tapi si pelempar senjata rahasia berbentuk bintang itu tidak kelihatan tempat persembunyiannya. Perawan Sesat segera sigap dan berdiri dalam posisi siap menyerang. Matanya liar penuh waspada.

* * *

LIMA

TANGAN Perawan Sesat hendak mencabut senjata rahasia berbentuk bintang segi enam. Tapi dengan cepat kaki Pendekar Mabuk menendang tangan Perawan Sesat. Plakk...! Cepat sekali Perawan Sesat menarik tangannya kembali, tapi gerakan itu terlambat. Mata liar Perawan Sesat memandang lurus ke arah Suto yang bermata sayu.

"Apa maksudmu menendang tanganku?!" geram Perawan Sesat.

"Senjata itu beracun. Hanya pemiliknya yang bisa memegang dan tidak terkena racunnya!"

"Aku lebih tahu daripada kau, Suto!" sentak Perawan Sesat. "Senjata bintang persegi enam seperti itu adalah senjata milik temanku sendiri. Itu senjatanya Putri Alam Baka! Senjata itu tidak beracun dan tidak berbahaya. Hanya sebagai senjata peluka saja, Suto!"

"Lantas mengapa daun-daun pohon ini menjadi layu semua. Lihatlah ke atas! He he he...!"

Terkesiap mata Perawan Sesat setelah memandang ke atas. Daun-daun pohon itu benar-benar menjadi layu berkeriput. Bahkan sebagian besar langsung berubah menjadi kuning. Dalam hati Perawan Sesat membatin, "Gila! Apa yang dikatakannya memang benar. Senjata itu memang beracun. Jika begitu, senjata itu pasti bukan milik Putri Alam Baka. Setahuku, senjata Putri Alam Baka tidak beracun! Dan lagi, jika benar senjata itu milik Putri Alam Baka, dengan maksud apa ia menyerangku menggunakan senjata berbahaya itu?"

Sebelum Perawan Sesat ucapkan kata, Suto lebih dulu bertanya, "Apakah kau yakin bahwa kedua senjata itu milik temanmu?"

"Aku jadi sangsi. Aku tak bisa mengenalinya. Seingatku, senjata milik Putri Alam Baka mempunyai goresan gambar panah cakra pada bagian sisi pinggirnya."

Perawan Sesat mencoba mengamat-amati kedua senjata itu, tapi ia merasa kesulitan mengenalinya, karena kedua senjata itu melesak masuk ke batang pohon hampir seluruhnya. Tinggal sedikit sisa yang terlihat belum masuk ke batang pohon. Perawan Sesat kembali berkata dalam hatinya,

"Aku jadi sangsi juga, apakah senjata ini berbentuk bintang segi enam atau segi berapa? Jika melihat ukuran runcing pada bagian yang tak masuk ke dalam batang, kelihatannya bintang segi enam. Tapi siapa tahu dia bersegi lima atau delapan?"

"Minggirlah, Perawan Sesat. Biar kukeluarkan senjata itu dari batang pohon!" kata Pendekar Mabuk lalu ia tersentak satu kali karena cegukan. Kejap berikutnya ia sentakkan tabung bambunya itu ke batang pohon dengan pelan.

Dugh... ! Hhrrr... ! Daun-daun pun rontok banyak akibat sodokan bambu tabung itu. Jika bukan dialiri tenaga dalam cukup besar, tak mungkin pohon sebesar itu terguncang dan daunnya berguguran hanya dengan gerakan sepelan itu. Perawan Sesat menyimpan kagum sambil mengibaskan tangannya menghindari rontokan daun di kepala.

Sodokan itu membuat dua senjata berbentuk lempengan bintang dari logam baja putih itu tersentak keluar dari batang pohon, jatuh tepat di pohon depan yang tak berumput. Perawan Sesat pun segera menghampiri dan memeriksanya dengan sebatang ranting kayu kering. Dan ternyata kedua senjata itu memang mempunyai goresan gambar panah cakra.

"Hmmm... jelas ini milik Sumbi, atau Putri Alam Baka!" gumam Perawan Sesat tanpa memandang Suto.

"Apa benar itu milik temanmu?"

Perawan Sesat menjawab jujur, "Ya. Ini milik temanku."

"Apa temanmu itu suka memakai baju kuning?"

"Ya. Dari mana kau tahu?" Perawan Sesat kerutkan dahinya.

Suto tertawa dalam tawa mabuk, ia segera garuk-garuk kepalanya sambil berkata, "Sebentar lagi ia akan muncul!"

Tiba-tiba Suto bergerak cepat memutar dan kakinya menendang pohon yang tadi terkena senjata bintang itu. Pohon tidak bergerak, seperti kena tendangan tanpa tenaga sedikit pun. Bahkan satu daun pun tak ada yang jatuh, padahal daun pohon itu telah layu. Perawan Sesat juga merasa heran melihat tendangan cepat Pendekar Mabuk itu tidak mengguncangkan daun pohon sedikit pun.

Tetapi kejap berikutnya empat pohon yang berjejeran sederet dengan pohon yang ditendangnya itu mulai tergucang bagai dihembus badai. Perawan Sesat terkesima melihat pohon yang keempat dari jajaran pohon itu saja yang berguncang kuat, hingga dahan-dahannya meliuk terombang-ambing. Dan dari atas pohon berdaun rimbun itu melesatlah dua sosok manusia turun dalam gerakan bersalto satu kali.

Dua sosok manusia mendaratkan kakinya dengan tepat di depan Perawan Sesat dalam jarak lima langkah. Perawan Sesat kembali terkesiap melihat kemunculan dua perempuan yang sudah dikenalnya. Untuk sesaat mereka beradu pandang dalam wajah tegang. Pada saat itu Perawan Sesat sempat berkata dalam hati mengenai tendangan Suto tadi, "Luar biasa dia menyalurkan tenaga dalamnya. Pohon yang ditendang tetap tenang, pohon keempatnya yang terkena sasaran! Jelas hal itu jurus penyaluran tenaga dalam yang sangat tinggi!"

Perawan Sesat cepat singkirkan bayangan tendangan Pendekar Mabuk tadi dari otaknya, kembali ia curahkan perhatian pada kedua perempuan yang masing-masing mengenakan pakaian ketat merah dan krning. Bentuk potongan pakaiannya sama dengan bentuk potongan pakaian yang dikenakan Perawan Sesat. Hanya berbeda pada warnanya saja. Potongan pakaian yang sama menunjukkan bahwa mereka berasal dari satu perguruan.

Yang berpakaian merah dengan baju tanpa lengan dan belahan dada sedikit terbuka lebar adalah Maharani. Rambutnya dikepang dua, ditaruh di depan dada. Di tangannya tergenggam sebuah kipas warna merah berbunga-bunga hitam. Perawan Sesat kenal betul, bahwa Maharani mempunyai tingkat ilmu yang setaraf dengannya. Maharani juga sering menjadi utusan bagi Nyai Lembah Asmara.

Perempuan satunya lagi mempunyai rambut dikepang satu. Cukup panjang rambutnya itu hingga bisa melilit di sekitar leher, sisanya jatuh di depan dada kanan. Perempuan berkepang satu itu mengenakan ikat pinggang tali merah. Di sana terselip sebatang bambu kuning berukuran satu hasta. Bambu itu adalah seruling berlilit pita merah di bagian ujung tempat meniupnya.

Perempuan yang mempunyai senjata seruling itulah yang bernama Sumbi, alias Putri Alam Baka. Tingkat ilmunya lebih tinggi satu tingkat dari Perawan Sesat ataupun Maharani. Selain sering menjadi utusan bagi Nyai Lembah Asmara, Putri Alam Baka juga merupakan orang kepercayaan Nyai Lembah Asmara yang menjadi wakil tertinggi dan dikenal sebagai orang kedua di Bukit Garinda

Jelas Perawan Sesat sedikit gentar melihat Putri Alam Baka sampai turun tangan dan menyerangnya dari tempat persembunyian. Cara memandangnya pun tampak bermusuhan. Perawan Sesat semakin curiga dan waswas. Sekalipun Putri Alam Baka adalah teman sendiri, tetapi tingkat perbedaan ilmu dan kedudukan, membuat Perawan Sesat merasa sungkan kepada Putri Alam Baka. Karena itu, kehadiran Putri Alam Baka membuat Perawan Sesat ajukan tanya, "Sepenting apakah keperluanmu hingga datang menemuiku, Sumbi?"

"Sejak keberangkatanmu, kami memang sudah membuntuti!" jawab Putri Alam Baka. Tak ada senyum di bibirnya. Sikapnya pun kelihatan dingin. Dalam keadaan rambut lebih rapi, Putri Alam Baka dan Maharani tampak lebih cantik dari Perawan Sesat. Tetapi kecantikan itu tidak membuat Pendekar Mabuk tertarik, ia bahkan bersikap sebagai pendengar dan penonton yang baik. Ia duduk di tanah yang sedikit lebih tinggi, punggungnya bersandarkan batang pohon, sambil sesekali menenggak tuak.

Perawan Sesat merasa heran mendengar dirinya diikuti oleh Maharani dan Sumbi sejak keberangkatannya dari Bukit Garinda. Tentang bagaimana cara mereka menguntit hingga tidak diketahui gerakannya, bukan hal yang dipikirkan Perawan Sesat, karena ia merasa mampu melakukan penguntitan tanpa suara. Tapi apa sebab mereka menguntitnya, itu yang menjadi pikiran Perawan Sesat Mengapa mereka harus menguntitnya? Mengapa seorang wakil Nyai Lembah Asmara sampai turun tangan dan mau menjadi penguntit? Pasti ada sesuatu yang tak lazim menurut dugaan Perawan Sesat. Lalu, hal itu pun ditanyakan oleh Perawan Sesat dengan nada tetap tegas dan berkesan angker,

"Untuk apa kalian mengikutiku sejak dari keberangkatan?"

"Nyai menugaskannya!" jawab Putri Alam Baka dengan sikap berdiri tegap dengan kedua kaki tegak sedikit merenggang.

"Untuk apa Nyai menugaskan kalian?"

"Kecurigaan, menjaga kewaspadaan, sekaligus memberikan perlindungan padamu, Perawan Sesat!"

"Omong kosong!" sentak Perawan Sesat menyanggah. "Buktinya kalian tidak muncul saat lelaki itu menyerangku di Perguruan Merpati Wingit!" sambil Perawan Sesat menuding Suto Sinting.

"Ketika kami hendak turun tangan, pemuda tampan itu sudah lebih dulu membawamu pergi," jawab Putri Alam Baka lebih berkesan kalem dan berwibawa.

Perawan Sesat melirik Suto sesaat. Pendekar tampan itu hanya senyum-senyum saja memandang perdebatan tersebut. Sesekali badannya tersentak karena cegukan. Tapi agaknya ia sengaja tidak mau ikut campur urusan ketiga perempuan itu. Kembali mata Perawan Sesat memandang Maharani dan Putri Alam Baka, setelah ia mendengar suara Maharani yang kecil itu berkata,

"Kurasa kau salah arah, Rukmi. Bukit Garinda ada di sebelah barat, mengapa kau membawa lari pemuda itu ke arah timur?"

"Itu urusanku, Maharani!"

"Tugas kami adalah meluruskan jalanmu, Rukmi," kata Maharani dengan memanggil nama asli Perawan Sesat.

Putri Alam Baka segera berkata pula, "Aku menangkap adanya pengkhianatan tugas dalam hal ini! Pasti kau akan menguasai pemuda itu dan tidak akan menyerahkannya kepada Nyai Lembah Asmara!"

"Itu pun urusanku, Sumbi!" kata Perawan Sesat dengan tetap perlihatkan ketegasannya dalam bersikap. Sambungnya lagi, "Susah payah kucari dan kutemukan pemuda itu, mengapa ia harus kuserahkan pada perempuan lain, hah?! Lihatlah sendiri, betapa tampan dan menggairahkan Suto tanpa pusar itu? Lihatlah...! Haruskah aku serahkan pemuda setampan itu, kepada orang lain?!"

Mata kedua teman Perawan Sesat itu melirik ke arah Pendekar Mabuk. Yang dilirik justru memperlebarkan senyum sambil melambai kecil penuh goda. Putri Alam Baka cepat palingkan wajah, memandang ke arah Perawan Sesat. Tapi Maharani masih menikmati ketampanan yang begitu mengagumkan hatinya. Tak sadar hatinya berdebar-debar.

Perawan Sesat berkata lagi, "Kalian pikir aku perempuan bodoh yang tidak bisa membedakan, mana lelaki mahal mana lelaki murahan?! Kupertaruhkan nyawaku untuk mendapatkan dia, wajar kan kalau sekarang aku memilikinya?"

"Tapi kau mengemban tugas, Perawan Sesat! Kita selalu dididik untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi dalam menunaikan tugas dari Nyai!"

"Ya. Lantas siapa yang bisa memenuhi kebutuhan pribadi kita? Nyai...?! Apakah beliau sanggup memenuhi kebutuhan pribadi kita, jika pribadi kita menghendaki seorang kekasih seperti pemuda itu?!"

"Rukmi...!" sentak Maharani. "Jelasnya kau akan melakukan pembangkangan terhadap perintah nyai kita!"

"Aku hanya menuntut hakku dan perasaanku! Aku suka pada Suto Sinting itu!"

"Sudah lama kita berteman, Rukmi," ucap Putri Alam Baka dengan nada rendah dan lebih berkesan tenang dari Maharani. Lalu ia berkata lagi, "Jangan sampai aku mengambil tindakan tegas untukmu. Jangan sampai aku menjatuhkan hukuman berat untuk teman sendiri, Rukmi. Kuingatkan, jaga nafsumu. Serahkan Suto kepada Nyai Lembah Asmara sesuai tugasmu. Kurasa Nyai Ratu punya kebijaksanaan tersendiri untuk dirimu, Perawan Sesat!"

"Aku tetap tidak akan menyerahkan Pendekar Mabuk kepada Nyai!"

"Kalau begitu kau menghendaki kami menghajarmu, Rukmi!" sentak Maharani lagi sambil hentikan gerakan tangan yang sejak tadi mengipas-ngipas di depan dadanya yang sekal itu.

Mendengar gertakan itu, Perawan Sesat menyunggingkan senyum sinis meremehkan, ia berkata, "Apa pun tindakan yang akan kau ambil, aku sudah siap menghadapinya, Maharani! Kalian boleh paksa aku dengan cara apa pun. Tapi aku tetap tidak akan menyerahkan Suto ke tangan Nyai!"

Terdengar ucapan pelan bernada sinis dari Maharani kepada Putri Alam Baka. "Ternyata apa yang dikhawatirkan Nyai Lembah Asmara memang benar-benar terjadi, Sumbi! Perawan Sesat melakukan pembangkangan!"

"Cuih...!" Perawan Sesat meludah dengan benci. "Kau memang layak mendapat julukan penjilat kotor, Maharani! Sejak dulu kau selalu menjadi penjilat agar mendapat perhatian dari Nyai Lembah Asmara!"

"Itu urusanku, Rukmi!" jawab Maharani menirukan jawaban Perawan Sesat tadi. Kini ia maju dua langkah, berada lebih depan dari Putri Alam Baka. Rupanya ia ambil alih sendiri perkara itu, sehingga Putri Alam Baka mundur satu tindak.

"Perawan Sesat!" geramnya dengan mata menyipit tajam. "Jika kau bersikeras untuk tidak menyerahkan pemuda itu kepada Nyai Lembah Asmara, kau harus melangkahi mayatku dulu!"

"Aku tak keberatan!" jawab Perawan Sesat. "Seribu mayat dirimu akan kulangkahi dalam sekejap, Maharani!"

"Cabut pedangmu!" sentak Maharani sambil ia mulai pasang kuda-kuda untuk menyerang Perawan Sesat melangkah pelan ke kiri, kembali lagi ke kanan sambil matanya melirik ke arah Maharani dengan senyum meremehkan.

"Pedangku tak akan kucabut! Karena untuk membuatmu menjadi mayat cukup menggunakan kelingkingku, Maharani!"

"Mulut sombong busuk!" geram Maharani, kemudian ia kibaskan kipasnya dari kiri ke kanan dalam keadaan terbuka dan miring.

Wuuus...!

Tenaga dalam bagaikan ditebarkan dalam gerakan cepat, melesat ke arah Perawan Sesat. Dengan lincah perempuan berambut acak-acakan itu sentakkan ujung jempol kakinya ke tanah dan tubuhnya melesat naik ke atas sambil ia sentakkan pula tangan kirinya ke depan.

Tenaga dalam dari kipas mengenai tempat kosong. Sementara itu tenaga dalam dari tangan Perawan Sesat menghempas ke wajah perempuan berkepang dua. Dengan gerakan cepat Maharani menutup wajah dengan cara bentangkan kipasnya di depan mata.

Brett...!

Pukulan tenaga dalam Perawan Sesat bagai menghantam lereng sebuah gunung. Hempasannya membalik ke arah Perawan Sesat, tapi ketika itu Perawan Sesat sudah pijakkan kakinya ke tanah, sehingga yang menjadi sasaran adalah dahan pohon yang segera retak dan jatuh berdebum dalam jarak dua langkah dari tempat duduk Pendekar Mabuk.

Brruk...!

Suto tersentak kaget, namun tak ada kata yang keluar dari mulut Suto selain suara cegukan. Di dalam hatinya Suto berkata, "Kurasa Perawan Sesat akan tumbang di tangan salah satu dari kedua perempuan lawannya itu. Bila Perawan Sesat tak mampu menghadapi dua lawannya, bisa-bisa aku tak jadi ditemukan dengan Dyah Sariningrum. Tapi, haruskah aku ikut campur tangan dalam urusan mereka? Atau sebaliknya kutinggal pergi saja?"

Dugaan Pendekar Mabuk itu ternyata benar. Dalam satu kesempatan Putri Alam Baka tahu-tahu menyerang Perawan Sesat yang sedang menghadapi Maharani. Sungguh di luar dugaan Perawan Sesat, bahwa Putri Alam Baka sampai hati melawan teman dengan menggunakan seruling pusakanya. Seruling itudisentakkan dari jarak jauh. Lubang di bagian ujung bawah seruling mengeluarkan cahaya biru berkilap bagai lidah-lidah petir.

Dalam sekejap, tubuh Perawan Sesat bagaikan dikurung oleh kilauan-kilauan cahaya biru yang berbentuk mirip ranting-ranting pohon. Perawan Sesat terjerat. Tubuhnya mengeras dan akhirnya jatuh berdebum ke tanah. Ketika kilatan-kilatan cahaya biru itu berhenti mengelilingi tubuhnya, Perawan Sesat berusaha bangkit dalam keadaan mulut berdarah dan kulit mengelupas kecil-kecil.

"Habiskan saja dia, Maharani!" perintah Putri Alam Baka.

Maka, perempuan berbaju merah itu menutupkan kipasnya dan menebaskan kipas itu ke depan. Cahaya merah menyembur bagai semburan dari dasar gunung berapi. Woos... ! Bukan tak mungkin tubuh Perawan Sesat akan terbakar habis oleh jurus maut itu.

Tetapi, pada saat itu jari telunjuk Pendekar Mabuk melakukan gerakan menyentil dari depan lututnya. Tuus...! Tak ada yang melihat gerakan jari menyentil itu. Tetapi ternyata jurus 'Jari Guntur' itu telah membuat tubuh Maharani terpental keras bagai ditendang kuda. Mulutnya sampai memperdengarkan suara, "Heeegh...!"

Dan tubuhnya segera melayang ke belakang, jatuh dalam jarak tiga langkah di samping Perawan Sesat. Tentu saja jatuhnya Maharani membuat Putri Alam Baka menjadi tercengang kaget, ia menyangka kekuatan tenaga dalam itu datang dari tubuh Perawan Sesat.

Maka, dengan semangat membunuh lebih menyala-nyala lagi, Putri Alam Baka segera sentakkan tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka, ia bagai mendorong sesuatu dari samping ke depan dengan keras. Pukulan jarak jauh itu akan menghancurkan kepala Perawan Sesat yang sudah tak berdaya itu.

Tetapi, Suto segera melakukan gerakan kecil. Jempol tangannya dirapatkan dengan jari telunjuk. Lalu, ia sentakkan kedua jari itu seperti memanggil ayam atau burung, triik... !

Gerakan tangan Putri Alam Baka hampir mencapai ujungnya, tahu-tahu kedua kakinya bagai ada yang menyepak dari belakang. Wuus...! Kedua kaki itu terangkat kuat-kuat, tubuh Putri Alam Baka terpelanting jatuh. Bruuk.

Pukulan pamungkasnya tidak jadi dilancarkan. Tetapi pada saat itu, Suto menangkap kelebatan sosok tubuh yang menyambar Perawan Sesat. Wesss...! Cepat sekali gerakannya. Tahu-tahu orang tersebut telah menggendong tubuh Perawan Sesat di pundak kirinya, berdiri agak jauh dari kedua lawan, juga agak jauh dari Suto sendiri. Melihat keadaan tubuh orang yang baru datang berbadan kurus kering, tak salah lagi penglihatan Suto, bahwa orang itu adalah Peramal Pikun.

"Suto, uruslah kedua perempuan itu! Aku akan membawa Perawan Sesat ke pondokku. Dia terluka parah!"

"Hei...!" Suto hanya bisa memanggil tak bisa berkata apa pun karena Peramal Pikun segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.

"Kejar...!" perintah Putri Alam Baka kepada Maharani.

Tapi sebelum Maharani bergerak mengejar, Suto melentingkan tubuh ke udara dengan menggunakan tumitnya untuk menjejak tanah. Dalam satu gerakan jungkir balik, Pendekar Mabuk sudah berada di depan Maharani. Ia terkekeh-kekeh dengan suara sumbang.

"Tak perlu dikejar. Ada baiknya kalau kalian segera bawa aku menghadap nyaimu itu. Aku sendiri ingin segera bertemu!" kata Pendekar Mabuk kemudian karena ia menyangka nyai mereka adalah Dyah Sariningrum.

* * *

ENAM

SEBUAH bangunan mirip istana kecil bertengger megah di lereng sebuah bukit. Bukit itu adalah Bukit Garinda. Dulu wilayah itu dikuasai oleh Nyai Guru Betari Ayu. Kala itu, Betari Ayu punya persahabatan baik dengan seorang teman yang bernama Wulandari. Dan pada waktu Wulandari mendirikan Partai Perempuan Sakti, Betari Ayu tidak mau bergabung, tetapi sebagai tanda persahabatan ia pinjamkan tanah di lereng Bukit Garinda itu kepada Wulandari. Waktu demi waktu berlalu akhirnya tanah di lereng Bukit Garinda dikuasai sepenuhnya oleh Wulandari, yang kemudian dikenal dengan julukan Nyai Lembah Asmara.

Bangunan yang mirip istana kecil itu dikelilingi oleh tembok tinggi yang menyerupai benteng. Batas salah satu sisi tembok ada yang mencapai tepian pantai laut utara. Bangunan itu berkesan megah, mempunyai pintu gerbang yang jaraknya lebih dari seratus langkah dari pusat bangunannya sendiri.

Di tanah yang jaraknya lebih dari seratus langkah itu, dibangun pula rumah-rumah kecil yang merupakan pemukiman para anak buah Nyai Lembah Asmara. Juga dibangun tempat-tempat khusus untuk berlatih ilmu. Di sana dipersiapkan sepasukan prajurit wanita yang kelak akan menjadi benteng utama dari negeri yang ingin didirikan oleh Nyai Lembah Asmara.

Mereka adalah kaum wanita yang tangguh dan terpilih. Cantik dan menggiurkan, adalah syarat utama untuk menjadi anak buah Nyai Lembah Asmara. Di sana, wanita bebas berkeliaran. Pria hanya merupakan barang yang bisa dibeli dan dijadikan satu kebutuhan hidup bila sewaktu- waktu diperlukan.

Nyai Lembah Asmara dan anak buahnya dikenal sebagai perempuan-perempuan pemburu cinta yang tak segan-segan membantai lelaki yang habis dikencaninya. Mereka ditempa oleh Nyai Lembah Asmara untuk menjadi perempuan yang berjaya di atas kaum lelaki mana pun juga.

Karena menurut ramalan seorang ahli nujum dari Mongol yang pernah bertemu dengan Nyai. Sang Nyai akan bisa berdiri sebagai ratu di atas segala ratu di bumi ini, jika ia bisa mempunyai negara yang seluruh punggawa dan prajuritnya adalah perempuan. Sang Nyai rupanya benar-benar ingin menjadi ratu di atas segala ratu di bumi.

Kaum lelaki jarang hadir di lingkungan kekuasaan sang Nyai. Kalaupun ada lelaki di sana, mereka hanyalah alat pemuas dahaga para wanita Bukit Garinda. Tak ada lelaki yang masuk ke benteng tinggi itu keluar dalam keadaan segar. Paling tidak mereka meninggalkan Bukit Garinda dalam keadaan layu dan pucat bagai mayat. Bahkan sering sekali mereka keluar dalam keadaan luka parah dan tewas sebelum mencapai kaki bukit.

Nyai Lembah Asmara selalu menempa jiwa anak buahnya untuk tidak terlalu banyak memberi kemanisan kepada kaum lelaki. Bahkan mereka selalu dianjurkan untuk tidak mudah memberi maaf atau ampun kepada kaum lelaki. Sekali cabut pedang, pantang dimasukkan kembali sebelum memenggal kepala seorang lelaki. Tetapi terhadap lawan wanita, Nyai tidak menyalahkan anak buahnya jika ada yang punya kebijakan ataupun tenggang rasa.

Satu-satunya mantan murid Nyai yang melarikan diri dari Bukit Garinda karena tak tahan terhadap kekangan peraturan di sana adalah Peri Malam, yang kemudian bertemu dengan penguasa Pulau Hantu berjuluk Si Mawar Hitam, lalu diangkat sebagai muridnya. Pada waktu itu, Peri Malam belum mempunyai ilmu tinggi dan masih berada di jajaran para murid tingkat dasar.

Sayang pada waktu Peri Malam melihat Perawan Sesat bersama Dirgo, si Manusia Sontoloyo itu, ia tidak mengenali siapa Perawan Sesat. Karena pada waktu Peri Malam meninggalkan Bukit Garinda, Perawan Sesat belum menjadi anak buah Nyai Lembah Asmara. Peri Malam hanya bisa simpulkan, bahwa Perawan Sesat adalah perempuan yang membahayakan, karena dapat merebut hati Pendekar Mabuk dengan kecantikan dan daya tariknya yang aneh itu (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perawan Sesat).

Pengejaran Peri Malam saat melihat Suto melarikan Perawan Sesat ternyata menemui jalan buntu, ia kehilangan jejak Pendekar Mabuk. Tapi rasa cinta yang makin berkembang di hatinya, membuat Peri Malam pantang menyerah untuk tetap mencari Suto Sinting, ia selalu mengandalkan indera penciumannya untuk melacak ke mana arah perginya Suto.

Sampai tiba pada langkah berikutnya, Peri Malam mulai mencium bau keringat Suto yang punya aroma tuak bumbung. Mata tajam Peri Malam segera melirik sekeliling. Bahkan ia sentakkan kaki dan melenting di udara untuk hinggap di salah satu dahan pohon. Dari sana ia memandang segala penjuru, terutama ke arah datangnya aroma keringat tuak itu.

"Pasti dia ada di sekitar sini," pikir Peri Malam. "Bau keringatnya hanya samar-samar, itu berarti jaraknya cukup jauh dari sini. Hmmm... agaknya aroma keringat Pendekar Mabuk lebih tajam ke arah utara. Itu berarti dia berada di sebelah utara sana! Aku harus melacaknya terus!"

Kelebat bayangan kuning adalah kelebat gerakan Peri Malam yang berpakaian kuning kunyit. Rambutnya yang lurus melewati pundak masih diikat dengan rantai emas berbatu merah delima di keningnya. Bayangan kuning kunyit itu hinggap kembali ke dahan pohon lain. Peri Malam lemparkan pandangan mata ke arah jauh. Ia terkesiap sekejap dan hatinya berkata,

"Oh, rupanya aku mendekati Bukit Garinda?! Dinding bentengnya terlihat jelas dari sini. Dan anehnya aroma keringat Suto semakin jelas pula. Apakah Suto berada di dalam benteng sana? Celaka! Celaka kalau dia ada di sana! Bukan hal mudah membebaskan Pendekar Mabuk dari dalam benteng Bukit Garinda itu. Pasti aku harus berhadapan dengan anak buah Nyai Lembah Asmara. Ilmuku tak seimbang. Dia bukan lawanku. Tapi, aku harus bisa menyelamatkan Suto dari cengkeraman Nyai. Suto hanya akan djadikan sapi perahan saja di sana. Aku sendiri sangsi, apakah Suto bisa melawan ilmunya Nyai jika ia melakukan pembangkangan?! Dan yang paling berbahaya adalah ilmu 'Racun Darah Asmara' milik Nyai! Suto tak akan bisa melawan racun yang amat ganas itu!"

Peri Malam hentikan kecamuk hatinya. Bahkan ia pun alihkan perhatian ke bawah pohon. Ternyata di sana ada dua manusia yang terhenti langkahnya karena memandang bangunan di lereng Bukit Garinda. Mereka adalah seorang lelaki agak pendek dan sedikit gemuk, bersama seorang perempuan berlilit selendang putih di bagian pinggangnya, menyandang pedang di punggungnya. Mereka adalah Pujangga Keramat dan Selendang Kubur. Rupanya mereka sibuk mengamat-amati bagian pintu gerbang benteng itu, sampai tak menyadari ada sesosok tubuh bertahi lalat di sudut dagunya diam mengawasi di atas kepala mereka.

"Aku yakin Suto ada di dalam benteng itu, Paman Pujangga Keramat," kata Selendang Kubur menirukan panggilan Suto terhadap Pujangga Keramat.

"Harus kita masuk bisa ke sana!" kata Pujangga Keramat dengan susunan kata yang selalu harus disusun kembali oleh lawan bicaranya.

"Tapi sebelum kita mendobrak masuk, ada baiknya kalau kita selidiki dulu apakah Suto benar-benar ada di sana, dan di sebelah mana. Jadi kita tidak buang-buang waktu dan tenaga jika harus membantai habis orang-orangnya Nyai Lembah Asmara."

"Setuju aku gagasanmu dengan!"

Kemudian, Pujangga Keramat memasukkan jari telunjuknya ke mulut. Sebentar kemudian dikeluarkan lagi. Jari telunjuk yang basah oleh ludahnya itu diangkat ke atas dengan tangan teracung naik. Ia pejamkan mata sebentar. Selendang Kubur memandangi dengan dahi kerut. Heran melihat apa yang dilakukan Pujangga Keramat. Kejap berikut, Pujangga Keramat turunkan tangan dan berkata, "Suto memang ada benteng di dalam."

"Maksudmu, Suto ada di dalam benteng itu?"

Selendang Kubur manggut-manggut sambil menatap bangunan itu. Hatinya membatin geli melihat cara Pujangga Keramat melacak Suto. "Cara yang dipakai seperti cara orang yang mencari tahu arah angin berhembus. Tapi hebat juga dia, bisa lacak Suto pakai jari telunjuk yang dibasahi."

Peri Malam yang bertengger di atas mereka juga ingin tertawa geli melihat cara Pujangga Keramat melacak Suto. Hampir saja ia hamburkan tawa kalau tidak segera tutup mulutnya pakai tangan.

Pujangga Keramat berkata kepada Selendang Kubur, "Aku tangkap Pendekar Mabuk dan seorang perempuan."

"Pasti dia si Perawan Sesat itu!"

"Sesat bukan! Perempuan itu ada lalat bertahi di dagunya, ada kuning kunyit di pakaiannya...."

"Peri Malam!" sahut Selendang Kubur cepat dan terkejap. Ia segera palingkan wajah pandang Pujangga Keramat. "Itu ciri-ciri Peri Malam!" katanya menegaskan.

"Apakah dia berada bersama Suto?" tegang wajah Selendang Kubur tak bisa disembunyikan.

"Bersama Suto tidak! Itu perempuan tidak ada Suto di sampingnya."

"Lantas, ada di mana perempuan itu jika tidak ada di samping Pendekar Mabuk?"

"Bertengger dia kepala kita di atas," jawab Pujangga Keramat membingungkan Selendang Kubur.

Di atas pohon, Peri Malam menggerutu dalam hati, "Sial! Rupanya orang itu tadi bukan hanya melacak Suto, namun juga melacak diriku yang ada di atasnya. Hm... tak ada guna aku tetap diam di sini!"

Saat Selendang Kubur kerutkan dahi untuk susun kembali kata-kata Pujangga Keramat tadi, tahu-tahu angin berhembus cepat dari atas kepalanya. Selendang Kubur cepat lompatkan tubuh ke kanan, hindari hembusan angin yang mencurigakan itu.

Hembusan angin hilang, Peri Malam menampakkan diri. Ia tampakkan kedua kaki di tanah dengan mantap, jarak empat langkah dari Selendang Kubur yang bersebelahan dengan Pujangga Keramat. Peri Malam segera sunggingkan senyum sinis pada Selendang Kubur.

"Kita bertemu lagi, Selendang Kubur!" ucap Peri Malam dengan sorot mata tajam.

Selendang Kubur tak mau kalah, ia ucapkan kata pedas, "Mungkin kau ingin serahkan nyawa padaku, Peri Malam! Aku pun siap menebas lehermu dengan pedangku!"

Tangan Selendang Kubur bergerak ke belakang, mau pegang gagang pedang Jalaganda. Tapi itu hanya gertakan belaka. Buktinya ia segera turunkan tangan setelah Peri Malam sunggingkan senyum lebar dan ucapkan kata,

"Tak mungkin kau mau tebas leherku pakai pedangmu. Kau akan merasa sayang jika darahku melumuri pedangmu. Aku tahu, kau bawa pedang itu hanya untuk melawan Nyai Lembah Asmara! Pedang itu adalah senjata pamungkasmu untuk merebut Suto dari tangan Nyai!"

"Tapi jika kau ingin merampas Pendekar Mabuk, aku pun siap tebaskan pedang ini ke lehermu, kapan saja aku mau!"

"Kau tak akan mampu, Selendang Kubur," Peri Malam cibirkan bibir dan berpaling membelakangi Selendang Kubur, menatap ke arah bangunan berbenteng hitam keabu-abuan itu.

Selendang Kubur menghempaskan napas jengkel, ia perdengarkan geram dari mulutnya. Saat ia ingin bergerak maju, tangan Pujangga Keramat menghalangi langkahnya. Selendang Kubur cepat menatap. "Biar kubuktikan bahwa aku mampu menebas batang lehernya!"

"Tak perlunya ada!" kata Pujangga Keramat.

Peri Malam balikkan badan, lalu berkata pada Selendang Kubur, "Tepat apa kata dia, tak perlu kau tebas batang leherku untuk saat ini. Kau hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Aku tahu, saat ini waktu dan tenagamu amat berguna buat loloskan Suto keluar dari benteng itu! Tapi ketahuilah, Selendang Kubur... tak semudah menimba air jika kau ingin loloskan Pendekar Mabuk keluar dari benteng itu. Kau harus berhadapan dengan Nyai Lembah Asmara yang punya ilmu cukup tinggi, dan lebih tinggi dari kita bertiga! Kau akan mati sia-sia jika nekat masuk ke sana dan mencari Suto."

"Mati itu nomor sepuluh. Nomor satu adalah loloskan Suto dari cengkeraman mesra Nyai Lembah Asmara!" Selendang Kubur ucapkan kata itu dengan mata menyipit dendam.

"Itu pun tak mudah kau lakukan," kata Peri Malam sambil lepaskan tawa mengikik. "Kau akan mati sebelum sampai berhadapan dengan Nyai Lembah Asmara. Dia punya anak buah berilmu tinggi semua. Tak ada yang bisa masuk ke sana untuk menarik keluar Suto kecuali aku!"

"Cuih...!" Selendang Kubur meludah ke samping. "Ilmu kanuraganmu belum ada seujung kuku hitamku, beraninya berlagak mau selamatkan Pendekar Mabuk dari dalam sana?! Bercerminlah dulu, Peri Malam!"

"Jangan remehkan aku, Setan!" geram Peri Malam

"Nyatanya beberapa kali kau bertemu denganku, kau tak sanggup mengalahkan aku! Kalau aku tak punya rasa kasihan padamu, sudah sejak kemarin nyawamu kukirim ke neraka!"

"Mulut besar! Mari kita buktikan sekarang, siapa yang harus pergi ke neraka. Kau atau aku! Hiaaat...!"

Selendang Kubur sentakkan kaki kirinya ke tanah dan tubuhnya melayang terbang ke arah Peri Malam. Kaki kanannya lurus ke samping dan berusaha menendang kepala Peri Malam dengan tendangan miring.

Peri Malam sedikit lompatkan badan sambil kibaskan tangannya untuk menangkis kaki Selendang Kubur.Tangkisan itu cukup pelan, tapi membuat Selendang Kubur terjengkang jatuh. Sementara itu, Peri Malam sigap kembali berdiri, menunggu serangan berikutnya. Selendang Kubur bisikkan kata di hatinya, "Lumayan juga tangkisan tangannya. Dia salurkan tenaga dalamnya tadi hingga bikin kakiku sedikit kesemutan!"

Di sisi lain, Peri Malam juga bisikkan kata dalam hatinya, "Setan! Linu juga tulangku menangkis tendangannya. Pasti dia salurkan tenaga dalamnya ke kaki. Agaknya dia tidak main-main! Aku harus lebih waspada lagi."

Melihat Selendang Kubur bangkit kembali, Peri Malam segera sentakkan kaki ke tanah dan melesat naik tubuhnya, berjungkir balik satu kali di udara. Tepat pada saat itu, Selendang Kubur pun melesat naik ke udara dan bersalto satu kali di udara.

Wusss...!

Kedua tangan mereka siap di udara dengan tenaga dalam yang tidak main-main. Wajah mereka sama-sama tampakkan kegeraman dan nafsu untuk saling membunuh. Tiba-tiba Pujangga Keramat hentakkan kakinya ke tanah dan lompatlah tubuhnya melayang maju ke pertengahan antara dua perempuan itu. Dengan cepat kedua kaki Pujangga Keramat sentakkan kaki ke kiri dan ke kanan secara bersamaan.

Dua tendangan samping yang dilakukan secara serentak itu mengenai perut dua perempuan itu. Tendangan tersebut juga bukan tendangan main-main. Buktinya dua-duanya sama-sama tersentak ke belakang, bahkan sama-sama membentur pohon.

Jleeg...! Pujangga Keramat kembali berdiri sigap di tanah setelah melakukan tendangan serentak, ia pandangi kedua perempuan yang saling menahan rasa mual di perut mereka, dan berusaha sama-sama berdiri lagi.

"Kebo dekil!" sentak Peri Malam. "Mengapa kau ikut campur urusan kami, hah? Ini urusan perempuan!"

"Tak maksud punya aku ikut campur. Hanya aku sekadar unjukkan rasa tak suka aku perselisihan kalian dengan!"

"Ngomong apa kau ini, hah?!" Peri Malam makin menyentak.

"Singkir dulu permusuhan!" kata Pujangga Keramat kepada Selendang Kubur, lalu palingkan wajah pada Peri Malam dan ucapkan kata, "Sama-sama kalian punya ingin, sama-sama selamatkan Suto, jadi sama-sama kalian satukan untuk kekuatan menyerang!"

"Oh, kau berharap kita bersatu menyerang benteng itu untuk selamatkan Pendekar Mabuk?!"

"Ya. Itulah maksud yang aku!"

"Selendang Kubur!" ketus Peri Malam setelah merasa tetap bingung mengartikan kata-kata Pujangga Keramat. "Coba jelaskan apa maksudnya?"

"Dia ingin kita bersatu menembus benteng itu, membawa lari Suto!"

"Hmm... ! Lalu, kau sendiri bagaimana?"

"Gagasannya cukup bagus. Kita satukan kekuatan kita untuk mengalahkan Nyai Lembah Asmara. Kita keluarkan Suto dari sana. Setelah itu kita adu nyawa kita, siapa hidup dapatkan Suto!"

"Baik! Aku setuju!" jawab Peri Malam dengan tegas,tanpa ada sedikit pun keraguan dan kegentaran.

* * *

TUJUH

ORANG-ORANG Bukit Garinda seperti hanyut dalam mimpi semua saat melihat kedatangan Suto Sinting. Tak ada mata yang berkedip ketika Pendekar Mabuk melintas di depan mereka di bawah pengawalan Maharani dan Putri Alam Baka.

Suto dibawa masuk ke sebuah ruangan lebar beratap tinggi, mempunyai pilar-pilar kokoh dan lantai yang mengkilap. Agaknya ruangan itu merupakan bangsal pertemuan bagi mereka. Di sana hanya ada satu tempat duduk yang menyerupai singgasana raja berwarna kuning keemasan. Letaknya pada lantai yang bertangga empat baris. Lebih tinggi dari lantai lainnya. Tepat di belakang singgasana itu ada lorong bertirai kain ungu.

Dari lorong itu segera muncul seorang perempuan bertubuh tinggi dan sekal. Wajahnya cantik namun berkesan keras. Pakaiannya hijau pupus, atau hijau muda dengan mengenakan pakaian model jubah warna merah dadu. Rambutnya panjang diriap, mengenakan mahkota kecil berhias batu-batuan permata putih, ia juga mengenakan kalung permata bersusun dua, gelang gemerincing di tangan kanan-kiri dan anting panjang berkilap sebagai pelengkap perhiasannya.

Ia mempunyai bentuk wajah lonjong, berhidung mancung, bibirnya agak tebal dan lebar, ia mempunyai mata lebar berbulu lentik. Tepian matanya berwarna hitam, menampakkan kesan buas dan galak. Orang itulah yang dihormati oleh mereka sebagai Nyai Lembah Asmara.

Ketika ia muncul dari lorong bertirai ungu, semua yang ada di situ merendahkan badan dengan satu kaki berlutut di lantai dan kepala menunduk sekejap. Hanya Suto yang masih berdiri sambil pandang kanan-kiri dengan heran dan kagum melihat bangunan mewah itu. Ia bahkan tidak begitu tertarik untuk memperhatikan Nyai Lembah Asmara yang segera duduk di singgasananya.

"Putri Alam Baka!" Nyai Lembah Asmara mengawali suaranya yang lantang. "Di mana Perawan Sesat yang kau kawal itu?"

"Dia melakukan pembangkangan, Nyai!"

Wajah sang Nyai tampak makin mengeras menahan amarah mendengar kabar tersebut, ia menggeram, "Sudah kuduga sebelumnya!" Kemudian ia serukan kata kepada Putri Alam Baka, "Apa tindakanmu terhadap dia?!"

"Membunuhnya"

"Bagus! Ha ha ha...!" Nyai Lembah Asmara tertawa lepas, berkesan kasar dan liar. Maharani dan Putri Alam Baka saling pandang dalam senyum kebanggaan. Hanya Suto yang tidak tertawa karena merasa heran saat memandangi Nyai Lembah Asmara itu.

"Di mana orang yang bernama Dyah Sariningrum?" pikir Pendekar Mabuk, "Sejak tadi tak kulihat wajah Dyah Sariningrum. Apakah Perawan Sesat telah menipuku?"

Terdengar suara Nyai Lembah Asmara serukan tanya kepada Putri Alam Baka, "Siapa pemuda yang kau bawa ini, Sumbi?!"

"Orang bawaan Perawan Sesat. Siapa lagi dia kalau bukan Pendekar Mabuk, lelaki tanpa pusar yang Nyai cari-cari itu."

"Ha ha ha ha...! Bagus, bagus, bagus...!" makin meledak tawa Nyai Lembah Asmara, makin tampak kegirangannya, makin terpana pula ia memandangi Pendekar Mabuk. Kejap berikutnya ia melambaikan jemarinya yang berkuku panjang dan runcing, ia memanggil Suto agar mendekatinya. "Datanglah kemari, Suto. Dekatlah padaku."

Suto diam dengan mata merah bagai orang mengantuk karena mabuk. Mulutnya sedikit terbuka berkesan bengong, seakan tidak mengerti apa maksud kata-kata Nyai Lembah Asmara.

"Dekatlah padaku, Suto!" suara Nyai agak meninggi, ini menandakan ia mulai tak sabar lagi.

Putri Alam Baka segera bangkit dan mendekati Suto, lalu ia bisikkan kata ke telinga Suto. "Kau dipanggil. Dekatlah sana!"

"Ah, aku tak pernah butuhkan dia," kata Pendekar Mabuk bersuara sumbang. "Kalau dia butuh aku, biarlah dia yang mendekatiku."

"Jangan bikin dia marah, Suto! Cepatlah mendekatinya."

"Tak mau! Aku tak butuh dia!" Suto Sinting bersungut-sungut dan buang muka.

Sikap Suto mencemaskan hati Maharani, Putri Alam Baka, dan orang-orang yang ada di situ. Selama ini tak ada orang yang berani menolak panggilan Nyai Lembah Asmara. Penolakan itu bisa membuat Nyai menjadi murka.

Tapi agaknya Nyai Lembah Asmara tidak bersikap seperti biasanya, ia justru tertawa semakin kegirangan melihat Suto menolak panggilannya, ia berseru kepada anak buahnya, "Lihat! Lihatlah dia! Penolakannya itu menandakan bahwa ia tidak mudah tertarik dengan seorang perempuan. Itu pertanda dia punya harga diri yang cukup tinggi dan sudah sepantasnya aku mendapatkan pria yang punya harga diri tinggi. Penolakannya itu menandakan pula bahwa dia... masih perjaka! Ha ha ha...!"

Yang lain ikut tertawa bagai mendukung kegembiraan Nyai Lembah Asmara. Tapi Suto tetap tidak mau ikut tertawa, ia bahkan menatap tiap wajah yang ada di situ, mencari seraut wajah yang pernah ia temui di alam semadinya, juga yang sering hadir di alammimpinya. Wajah itu adalah wajah Dyah Sariningrum.

Nyai Lembah Asmara bangkit dan langkahkan kaki menuruni tangga dengan pelan-pelan. Sisa tawanya masih sesekali terdengar bagaikan gumam, ia mendekati Suto dengan tatapan mata yang tajam berseri-seri. Orang yang ada di dekat Suto segera menyingkir jauh, memberi jalan untuk sang Nyai Lembah Asmara.

"Perkasa sekali...," ucap sang Nyai Lembah Asmara dengan suara mirip orang mendesah kagum. "Tampan, gagah, dan sungguh menggairahkan...!"

Nyai Lembah Asmara mengelilingi Suto Sinting dengan sorot pandangan mata tak berkedip. Suto hanya diam dengan sedikit mulut terbuka melongo, sambil matanya ikut memandangi Nyai Lembah Asmara dengan perasaan heran.

"Lihat ototnya," kata Nyai kepada Maharani, "Ototnya tampak keras, besar, tapi halus lembut. Laki-laki gagah perkasa seperti inilah yang akan memberiku keturunan seorang penerus kesaktianku. Dia yang akan merajai seluruh kekuatan di rimba persilatan. Dia tak akan ada tandingnya! Dan anakku nanti jika perempuan tentu akan secantik ibunya, jika lelaki tentu akan setampan ayahnya."

Wajah mereka berseri-seri, seakan ikut menyambut rencana kehadiran sang bayi dengan gembira. Nyai Lembah Asmara semakin bangga melihat wajah-wajah anak buahnya berseri gembira, dia semakin yakin bahwa sebentar lagi dia akan mempunyai keturunan dari seorang pendekar tampan yang bertubuh kekar perkasa itu.

"Kalian tahu!" serunya lagi, "Pendekar Mabuk inilah satu-satunya lelaki yang bisa memberiku keturunan, sebab ia lelaki tanpa pusar. Kalian tahu kehebatan lelaki tanpa pusar? Oh, dia adalah orang yang punya napas panjang, tidak cepat lelah, punya ketangguhan dalam bercinta dan punya kesanggupan memberikan kehangatan."

"Woww...!" mereka menyahut serempak penuh ungkapan rasa kagum.

"Tapi sayang, hanya aku yang bisa menikmati dia! Karena dia laki-laki istimewa yang tak bisa kubagikan kepada Putri Alam Baka, atau kepada Maharani, atau kepada kalian semua!"

Suto tak peduli celoteh itu. Dengan tenangnya ia buka tutup bumbung tuak, dan ia tenggak beberapa teguk dengan rasa lega. Mata mereka memandang tanpa kedip. Sebagian perempuan yang ada di situ saling berdebar-debar gemas ketika melihat Pendekar Mabuk dongakkan kepala untuk menenggak tuak dalam bumbung. Pendekar Mabuk yang tampak bidang dadanya, kelihatan lebih perkasa dan menggairahkan.

Nyai Lembah Asmara tersenyum-senyum dan berkata kepada Maharani, "Aku sudah tak tahan lagi. Bawa dia ke kamarku, Maharani! Tapi awas, jangan sampai kau menyentuhnya lagi. Dia sudah menjadi kekuasaanku, dari ujung rambut sampai ujung kakinya!"

"Baik, Nyai!" Maharani berikan hormat pertandapatuh dan taat. Lalu ia bicara kepada Suto, "Mari kuantar ke kamar, Suto!"

"Ke mana...?!" mata Suto makin sayu.

"Ke kamar peraduan," jawab Maharani. "Nyai sudah tak bisa bersabar lagi. Kau harus segera masuk ke kamar peraduan bersama beliau!"

"Aku kemari bukan mencari kamar," kata Suto Sinting. "Aku mencari kekasihku yang selalu hadir dalam mimpiku!"

Nyai Lembah Asmara menyahut, "Akulah kekasihmu, Suto!"

"Bukan! Kau bukan kekasihku. Wajahnya tidak seperti kamu! Dia lebih cantik dan lebih anggun dibandingkan dirimu, Nyai!"

Maharani mundur dari Suto ketika dilihatnya wajah Nyai Lembah Asmara menegang. Mata Nyai Lembah Asmara mulai memancarkan murka yang tertahan. Nyai Lembah Asmara mendekati Suto, sementara Suto masih berdiri dengan tubuh goyang karena mabuk. Agaknya Nyai berusaha menahan murkanya dengan napas ditarik dalam-dalam dan diendapkan di dalam dada.

Saat itu, Suto Sinting berkata sumbang, "Aku kecewa datang ke sini! Perawan Sesat mendustaiku. Aku kecewa ketemu kamu, Nyai!"

"Kekecewaanmu akan sirna setelah kita berada di dalam kamar!" kata Nyai Lembah Asmara geram.

Pendekar Mabuk gelengkan kepala sambil bersungut-sungut. "Kurasa sama saja. Di dalam kamar dan di luar kamar, sama saja kau bikin aku kecewa, karena kau bukan orang yang ada dalam mimpiku!"

"Aku bisa hadir kapan saja kau ingin kehadiranku, Suto!"

Suto kembali gelengkan kepala. "Aku mau pulang saja," katanya seenaknya, ia melangkah dengan limbung.

Nyai Lembah Asmara segera mencekal lengan Suto. Ditariknya tubuh itu, didekatkan wajahnya, ditatapnya lekat-lekat, lalu dengan nada geram ia berkata, "Kekasihmu ada di dalam kamar, Suto!"

"Benarkah begitu?" Pendekar Mabuk tampak tertarik.

Nyai Lembah Asmara memanfaatkan itu dengan berkata, "Dia sudah menunggumu lama di sana."

"Kalau begitu, antarkan aku ke kamar!"

Nyai Lembah Asmara tersenyum lebar. Maka ia pun segera menggandeng Suto dan melangkahkan kaki menuju lantai yang tinggi, melewatr singgasana, menerobos tirai ungu, dan hilang ke dalam lorong tersebut.

Orang-orang yang ada di luar, di sekeliling Maharani dan Putri Alam Baka, mulai bergaung seperti lebah. Mereka saling memuji ketampanan Pendekar Mabuk, mereka saling menyanjung daya pikat Suto yang membakar gairah mereka. Bahkan di salah satu sudut ada perempuan yang berusaha memuaskan khayalan indahnya bersama Suto.

Kamar peraduan Nyai Lembah Asmara sangat indah, luas, dan bersih. Baunya wangi cendana. Di sana ada pembaringan yang berlapis sutera merah jambu, empuk, dan lebar. Lantainya berlapiskan permadani tebal warnahijau muda. Ruangan itu diterangi oleh cahaya api dari tungku berbatu bara yang ada di sisi kanan-kiri ruangan. Sungguh romantis sebenarnya suasana di peraduan itu, sayangnya Suto tidak tergugah kemesraannya, ia bahkan masih bingung mencari kekasihnya di dalam kamar tersebut.

"Mana kekasihku? Tak kulihat ada di kamar ini!" katanya seperti bicara sendiri, tapi didengar oleh Nyai Lembah Asmara.

"Akulah kekasihmu, Suto," kata Nyai Lembah Asmara sambil melepas mahkota dan melepas pula jubah merah jambunya.

Suto bersungut-sungut memandangnya, lalu berkata, "Bukan kamu! Sudah kubilang wajahnya lebih cantik dan lebih menggairahkan dari dirimu, Nyai!"

"Jangan bicara begitu, Suto. Itu sama saja kau membangkitkan amarahku!"

"Aku tidak peduli! Memang menurut penilaianku dia lebih cantik dari dirimu, Nyai! Aku tak mau bohongi diriku sendiri."

"Jangan banyak bicara, Suto! Sebaiknya lekas lepasi pakaianmu. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak hasratku untuk mencumbumu!" sambil Nyai Lembah Asmara mendekat, ia meraih pundak Pendekar Mabuk, menatap dengan mata berbinar-binar penuh gairah.

Suto Sinting mengelak dan melangkah ke perapian. "Kau bohong padaku, Nyai. Kau sama dustanya dengan Perawan Sesat."

Napas panjang ditarik oleh Nyai Lembah Asmara untuk meredam kemarahannya. Selama ini belum pernah ada lelaki yang menolak ajakan mesra Nyai. Belum pernah ada lelaki yang menjauhi saat Nyai Lembah Asmara mendekatinya. Tapi kali ini Suto ternyata berani melakukan hal itu. Nyai merasa terhina, tapi ia tetap meredam amarahnya, karena ia berpikir,

"Mungkin ciri-ciri lelaki tanpa pusar memang begini. Harus ditundukkan dulu sebelum ia memberiku keindahan yang kudamba!"

Pendekar Mabuk meneguk tuaknya lagi. Sisa air tuak di bibir disapu dengan tangan kirinya. Bumbung itu dipegang dengan tangan kiri. Kemudian dilangkahkannya kaki mendekati pintu. "Aku mau pulang!" ucapnya kemudian.

Nyai Lembah Asmara segera melompat ke depan Suto. Melihat Nyai menghadang langkahnya, Suto berkata dengan tubuh limbung. "Minggirlah, Nyai. Aku mau keluar dari kamar ini."

"Berbaringlah di ranjangku, Suto. Kau akan kuterbangkan tinggi-tinggi mencapai awan-awan indah. Kita akan berlayar mengarungi lautan cinta yang penuh dengan kenikmatan dan kemesraan, Suto!"

"Aku tidak bersedia, Nyai!"

"Jangan bantah perintahku, Suto!" Nyai Lembah Asmara menyentak agak pelan.

"Aku tak mau tunduk dengan perintah siapa pun, kecuali perintah dari guruku dan kekasihku!"

"Kau memancing kemarahanku, Suto. Kau akan menerima akibatnya!"

"Aku tak menghendaki keributan di antara kita. Tapi kalau kau mau lampiaskan marah padaku, silakan saja, Nyai! Aku juga bisa lampiaskan kekecewaanku atas kebohonganmu itu!"

Mata Nyai Lembah Asmara mulai menyipit tanda menahan kemarahan yang dalam. Tangannya menggenggam kuat, napasnya mulai tak teratur. Suto masih memandang dengan mata sayu tanpa senyum. Sesekali tubuhnya tersentak karena cegukan.

Tiba-tiba kaki kanan Nyai Lembah Asmara bergerak menyentak ke depan, menendang dada Suto. Beegh...! Dada Suto terkena tendangan itu dengan telak. Pendekar Mabuk tersentak ke belakang, mundur tiga tindak. Tapi ia justru tersenyum dalam keadaan masih tetap berdiri walau tubuhnya limbung.

"Tak seberapa berat tendanganmu, Nyai. Adakah yang lebih berat lagi dari yang tadi?" kata Suto Sinting sambil menyunggingkan senyum.

"Aku tak ingin mencelakai dirimu, Suto!"

"Kenapa? Bukankah kau marah padaku?"

"Memang kau adalah lelaki yang menjengkelkan. Seharusnya kau menerima hukuman dariku. Tapi kau adalah pembenihku. Aku tak akan hancurkan pembenihku sendiri."

"Pembenih? Apa itu pembenih?" Pendekar Mabuk kerutkan dahi.

"Aku harus dapatkan benih kesuburan darimu, supaya aku bisa mengandung dan melahirkan keturunanku."

"Mengapa aku yang kau pilih?"

"Jika bukan kamu, tak akan bisa aku mengandung bayi. Kau adalah lelaki tanpa pusar. Menurut guruku, aku hanya bisa mengandung dari benih lelaki tanpa pusar. Kaulah orangnya, Suto."

"Jadi aku dibawa ke sini hanya untuk menjadi pembenih? Hanya untuk memberimu keturunan?"

"Ya!" jawab Nyai Lembah Asmara tegas. "Di samping itu... hatiku sesungguhnya telah terpikat padamu begitu kutatap dirimu dari singgasana tadi."

Pendekar Mabuk tertawa terkekeh dengan suara sumbang karena mabuknya itu. "He he he... cepat sekali kau terpikat pada seorang pria, Nyai. Alangkah murahannya hatimu itu!"

"Baru sekarang kualami perasaan itu, Suto! Kepada lelaki lain aku hanya terpikat karena birahi semata Kepadamu, bukan hanya karena birahi yang ingin dipenuhi, tapi karena hati yang selama ini kosong dan ingin dipenuhi cinta seorang lelaki sepertimu!"

"He he he he...! Rayuanmu merontokkan gunung batu, Nyai. Tapi tak akan bisa melelehkan hatiku. Sebaiknya, lupakan saja tentang pembenih. Carilah lelaki lain yang tanpa pusar! Aku tidak mau melayanimu, Nyai. Aku harus segera pergi dari sini!"

"Suto...!" sentak Nyai Lembah Asmara mulai tampakkan ketidaksabarannya. "Kau tak punya pilihan lain. Kau harus mau memberiku benih dan melayani asmaraku, Suto! Kalau sekali lagi kau menolaknya, kau akan menyesal!"

"Aku pilih menyesal," kata Pendekar Mabuk semakin nekat bicara. Kata-kata itu membuat Nyai Lembah Asmara semakin geram, penuh dengan kejengkelan hati.

Crrap...!

Tiba-tiba dari mata lebar Nyai Lembah Asmara memancarkan sinar ungu dalam sekejap. Sinar itu menembus masuk ke bola mata Suto yang mengantuk itu. Suto merasa silau sejenak dan kibaskan tangannya, tapi sinar ungu itu sudah telanjur masuk ke dalam kedua bola matanya. Sinar ungu itulah yang dikhawatirkan Betari Ayu sebagai sinar 'Racun Darah Asmara'.

Tubuh Pendekar Mabuk tiba-tiba merasa panas. Keringat pun mulai bermunculan dari tiap pori-pori tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat, hatinya berdesir-desir. Dalam hati Suto Sinting bertanya pada diri sendiri,

"Kenapa aku ini? Mengapa aku jadi berdebar-debar dan darahku seperti sedang mengalir dengan cepatnya Oh, begitu indahnya wajah di depanku itu. Alangkah menggairahkannya perempuan ini. Aku terpikat olehnya. Oh, aku jadi ingin memeluknya. Aneh sekali. Ini pasti gairah yang hadir di luar kemauan hati kecilku. Oh, aku telah terkena kekuatan hitam yang membuat gairahku meledak-ledak. Aku harus melawan! Harus melawan."

Tapi ketika Pendekar Mabuk didekati Nyai Lembah Asmara, ia tidak mengelak dan diam saja menerima sentuhan jemari Nyai Lembah Asmara di bagian dadanya. Bahkan ketika Nyai Lembah Asmara sedikit tengadah kepala dengan bibir merekah, Suto memandangnya makin penuh gairah.

"Ciumlah aku...," perintah Nyai Lembah Asmara bernada bisik.

Suto pun mencium bibir itu. Mengecup dan melumatnya yang segera mendapat perlawanan tak kalah panas dari Nyai Lembah Asmara sendiri. Hanya saja di dalam hati Suto, terlintas pertanyaan-pertanyaan yang menggundahkan hatinya.

"Mengapa aku mau? Mengapa aku menurut? Mengapa bibir ini kupagut? Apakah aku harus pasrah dan membiarkan hasratku dipenuhi oleh kehangatan tubuhnya? Ah..., mengapa jiwaku jadi bimbang begini?!"

Pendekar Mabuk menurut ketika tubuhnya di dorong ke belakang dan jatuh terbaring di ranjang empuk itu.

Blukkk...! Nyai Lembah Asmara menerkamnya.

* * *

DELAPAN

CINTA mengamuk di hati dan jiwa Nyai Lembah Asmara. Amukan cinta itu begitu gemuruhnya, hingga menutup kedua gendang telinga Nyai Lembah Asmara dari seruan dan pekikan di luar kamar. Apalagi saat itu Pendekar Mabuk pun tampak ingin meronta dan melawan kekuatan racun Darah Asmara dengan kekuatan batinnya.

Suara-suara pekik, jerit, dan seruan keras itu datang dari orang-orang yang sedang menghadapi tiga sosok manusia nekat, yaitu Pujangga Keramat, Selendang Kubur, dan Peri Malam. Mereka mengamuk di pintu gerbang, lalu menerobos masuk membantai orang-orangyang menghalangi langkah mereka.

Jarum beracun milik Peri Malam mulai beraksi kembali. Bambu kecil berukuran yang sejengkal yang selalu diselipkan di belahan dadanya itu meluncurkan jarum beracun saat bambu itu ditiup oleh Peri Malam. Banyak leher yang jadi sasaran jarum beracun itu dan membuat korbannya membusuk lalu mati.

Selendang putih milik murid Nyai Betari Ayu itu pun melecut ke sana-sini. Selendang Kubur mengamuk bersama selendang pusakanya yang mampu mengeluarkan percikan api petir dan menyambar kepala-kepala anak buah Nyai Lembah Asmara, ia sengaja belum mau menggunakan pedang Jalaganda-nya, karena pedang itu dipersiapkan untuk melawan Nyai Lembah Asmara yang kesohor keji dengan tingginya ilmu yang dimiliki.

Pujangga Keramat pun tak mau hanya sebagai penonton, ia sebagai pelayan dari si Gila Tuak, gurunya Suto Sinting, merasa lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan Suto. Karena itu, ia menerobos masuk ke bangsal pertemuan mencari Suto di sana.

"Cari Suto di dalam, biar aku dan Peri Malam yang menghadapi tikus-tikus ini, Paman!" seru Selendang Kubur sebelum Pujangga Keramat menerobos masuk ke bangsal pertemuan.

Sampai di sana ia berseru, "Sutooo...! Di mana ada kau, Suto!"

Tiba-tiba dari arah samping melesatlah gelombang panas yang menuju ke arah Pujangga Keramat.

Wuuss...! Pukulan jarak jauh disentakkan dari kipas Maharani.

Merasakan adanya gelombang hawa panas yang ingin menghantamnya, Pujangga Keramat segera sentakkan kaki dan lompat tinggi dengan bersalto di udara satu kali. Tapi tangannya pun bergerak menyentak ke arah samping memberi pukulan jarak jauh sebagai balasan.

Wuugh...!

Pukulan ini lebih besar dari milik Maharani. Tapi Maharani sangat waspada dan sudah menduga hal itu akan terjadi. Maka sebelum pukulan itu itu melesat lebih jauh, Maharani sentakkan kakinya ke lantai dan tubuhnya melenting di udara.

Tenaga dalam Maharani menghantam pilar, tenaga dalam Pujangga Keramat menghantam dinding. Pilar menjadi gompal, dinding menjadi retak. Tapi keduanya tak pernah peduli. Keduanya sudah saling berhadapan dan siap menyerang sewaktu-waktu.

"Suto mana?!" sentak Pujangga Keramat.

"Kau langkahi bangkaiku baru kau bisa melihat di mana Suto!" kata Maharani sambil tetap membuka kipasnya di dada. Kedua kakinya merenggang rendah, satu tangannya naik di atas kepala.

Pujangga Keramat menggeram. "Mati kau jangan aku salahkan." Setelah berkata demikian, Pujangga Keramat melejitkan tubuh ke depan dengan tangan siap dihantamkan.

Maharani pun segera sentakkan kaki dan tubuhnya melayang naik, melesat cepat dengan kipas terbuka di depan. Saat Pujangga Keramat hantamkan kedua tangannya, Maharani menahan pukulan itu dengan kipasnya. Tubuh mereka sama-sama terpental ke belakang, sama-sama jatuh ke lantai, hampir membentur pilar. Tapi keduanya sama-sama jatuh dalam posisi berdiri merendah.

"Haaaghh...! Pujangga Keramat hembuskan napas berat untuk mengumpulkan tenaganya kembali.

Sama juga yang dilakukan oleh Maharani, hanya saja hembusan napas berat Maharani tak menimbulkan bunyi. "Besar juga tenaga dalamnya," pikir Maharani. "Siapa orang ini? Aku tak pernah melihatnya! Tapi agaknya ia punya urusan penting dengan Pendekar Mabuk. Mungkin juga ada hubungan lain dengan Suto. Aku tak boleh gegabah melawannya."

Pujangga Keramat menggerak-gerakkan tangan di depan wajah sampai kesepuluh jarinya menjadi keras sekali. Ketika tangan kanannya ditarik sampai di telinga, tangan kirinya tetap sedikit terlipat di depan dada, ia berhenti dari segala gerakannya. Matanya memancarkan penglihatan yang tajam dan bernafsu untuk membunuh. "Suto katakan di mana?!" bentaknya.

"Sudah kubilang, Suto ada di balik bangkaiku!"

"Hiaaat...!" Pujangga Keramat bagaikan terbang menuju lawannya. Maharani pun cepat jejakkan kaki lagi dan melesat terbang menyambut kehadiran jurus lawannya.

Tapi tiba-tiba sebelum mereka saling bertemu, seberkas sinar putih keperakan melesat cepat menghantam tubuh Pujangga Keramat. Pujangga Keramat lebarkan mata. Sinar putih itu bagai mata pedang yang amat tajam. Merobek perutnya dari pinggang kanan sampai ke pinggang kiri. Tak disangkal lagi, tubuh itu pun jatuh tanpa daya. Darah memercik ke mana-mana.

Pujangga Keramat masih sempat erangkan suara dan berusaha bangkit. Namun baru satu kaki yang bisa menapak, ia sudah rubuh lagi tak berkutik selamanya. Maharani cepat gerakkan kepalanya berpaling ke samping. Di sana ada wajah Putri Alam Baka yang sedang berdiri dingin dan tajam tatap matanya. Putri Alam Baka serukan kata,

"Terlalu lamban kau, Maharani! Dalam satu jurus orang itu sebenarnya harus sudah bisa kau robohkan!"

"Dia terlalu kuat untukku!"

"Omong kosong! Kau hanya coba-coba tadi. Terlalu lama untuk membunuh orang macam dia!"

"Baiklah! Aku memang terlalu lamban untuk kali ini!"

Putri Alam Baka bergegas langkahkan kaki menuju luar sambil ia berkata, "Hancurkan dua kunyuk tak tahu sopan itu! Salah satunya kukenal dia sebagai Sundari! Bekas orang kita yang lari menjadi murid si Mawar Hitam!"

"Tapi kita tidak punya urusan dengan penguasa Pulau Hantu itu!" kata Maharani sambil ikuti langkah Putri Alam Baka dan lompati mayat Pujangga Keramat.

"Tak peduli apa urusan mereka mengamuk di sini, tugas kita adalah hancurkan mereka jika perlu tanpa sisa sedikit pun!"

Selendang Kubur sedang terpojok di salah satu bangunan seperti barak, ia menghadapi tiga lawannya yang bersenjata tombak semua. Selendangnya berkelebat cepat bagaikan kilat, menyambar ke sana-sini, dan akhirnya tiga lawannya itu pun tumbang tak berkutik lagi.

Baru saja ia hendak lentingkan tubuh menuju ke arah Peri Malam yang dikeroyok oleh lima lawan itu, tiba-tiba sesosok tubuh meluncur turun dan atap barak. Jleeg...! Orang itu berdiri di depan Selendang Kubur dengan mata memandang tajam.

"Nyai...?!" sentak Selendang Kubur. Ia terkejut sekali memandang orang yang muncul di depan itu. Sekejap ia tak bisa bicara. Orang yang ada di depannya itu cepat ulurkan tangan dan berkata, "Serahkan pedang itu!"

"Tidak bisa, Nyai. Saya sudah siap mati demi Pendekar Mabuk!"

"Jangan bodoh, Selendang Kubur! Serahkan pedang itu padaku!"

Selendang Kubur sempat sangsi dan ragu-ragu. Kalau saja yang meminta orang lain, sudah pasti ia tak ragu-ragu untuk mempertahankan. Tapi kali ini yang memintanya adalah gurunya sendiri, Nyai Betari Ayu. Selendang Kubur punya rasa takut untuk mempertahankan pedang Jalaganda itu, ia memang tidak pernah menduga Nyai Betari Ayu mau turun tangan untuk urusan di Bukit Garinda itu.

"Serahkan pedang itu, dan aku yang akan menghadapi Nyai Lembah Asmara!" kata Betari Ayu tanpa senyum dan keramahan seperti biasanya. Selendang Kubur melihat kemarahan mulai merona di wajah Nyai Guru Betari Ayu.

Selendang Kubur melihat kesungguhan sikap gurunya yang ingin melawan Nyai Lembah Asmara itu. Karenanya, Selendang Kubur pun segera menyerahkan pedang Jalaganda itu kepada Nyai Guru Betari Ayu. "Kalau Nyai gunakan pedang itu, berarti Nyai akan mati di ujung kemenangan," Selendang Kubur memberanikan diri ingatkan gurunya tentang pusaka keramat pedang Jalaganda.

Nyai Guru Betari Ayu berkata, "Tidak akan kugunakan pedang ini!"

"Tapi... tapi Nyai Guru akan kalah menghadap Nyai Lembah Asmara jika tanpa menggunakan pedang pusaka itu, Nyai!"

Seorang penyerang bersenjata kapak melesat terbang, sasarannya adalah punggung Betari Ayu, Selendang Kubur tersentak kaget melihat serangan mendadak yang mengancam gurunya itu. Tapi, belum sampai Selendang Kubur lepaskan pukulan jarak jauhnya, tubuh Nyai Guru Betari Ayu sudah lebih dulu berkelebat memutar, tangan kanannya terangkat tegak di depan mata dengan kelima jari tangan merapat. Lalu, melesatlah sinar putih menyilaukan sebesar lidi.

Sinar putih menyilaukan itu menembus tubuh lawan yang memegang kapak. Orang tersebut jatuh ke tanah, bagian ulu hatinya berlubang sebesar bumbung tuak milik Pendekar Mabuk. Orang itu tak bergerak ataupun bersuara sedikit pun. Matanya tetap mendelik namun nyawanya telah melesat pergi tinggalkan raga.

Selendang Kubur masih terkesima melihat kekuatan dahsyat yang dimiliki gurunya. Lebih terbengong lagi ketika Selendang Kubur mengetahui, dua orang yang ada di belakang korban pertama itu juga terkena tembusan sinar putih menyilaukan. Kedua orang yang sedang melawan Peri Malam itu tumbang tak berkutik dengan luka bolong seperti luka orang bersenjata kapak tadi. Rupanya sinar menyilaukan itu bisa menembus dua-tiga tubuh lawan sekaligus. Dan hal itu belum pernah disaksikan oleh Selendang Kubur selama ia menjadi murid Nyai Betari Ayu.

"Tak kusangka Guru mempunyai simpanan ilmu sedahsyat itu!" katanya di dalam hati.

Sinar putih menyilaukan itu keluar cepat bagaikan kilat dari sebuah cincin di jari tengah tangan kanan Betari Ayu. Cincin itulah yang dinamakan Pusaka Manik Intan. Melihat keindahan cincin berwarna putih berlian itu, Selendang Kubur ajukan tanya, "Mengapa baru sekarang Guru gunakan cincin itu?"

"Karena baru kudapatkan dari Telaga Manik Intan."

"Hah....?!" Selendang Kubur terperanjat. "Jadi... itukah yang dinamakan Cincin Manik Intan?"

"Betul, Selendang Kubur. Nah, sekarang hadapilah mereka, aku akan menerobos masuk ke kamar Nyai Lembah Asmara!" Seperti kilat tubuh Betari Ayu melesat.

Selendang Kubur masih terkesima dengan cincin pusaka yang ternyata ada di tangan gurunya. "Pantas Nyai Guru tidak mau menggunakan pedang itu tapi berani menghadapi Nyai Lembah Asmara, rupanya dia sudah punya pusaka lain yang bisa diandalkan untuk mengalahkan lawannya! Heran sekali aku, mengapa cincin itu bisa ada di tangan Guru? Padahal tokoh persilatan sedang memperebutkan cincin yang seharusnya menjadi milik Suto Sinting itu?!"

Selendang Kubur tak tahu, gurunya telah menyelam ke dalam Telaga Manik Intan saat Datuk Marah Gadai mengejar Dirgo Mukti. Sampai cincin itu ditemukan oleh Betari Ayu, kedua orang itu masih sibuk saling kejar dan saling adu kekuatan. Betari Ayu cepat tinggalkan Telaga Manik Intan tanpa diketahui oleh Datuk Marah Gadai maupun Manusia Sontoloyo, Dirgo Mukti itu.

Nyai Betari Ayu merasa memperoleh kekuatan yang tak lagi menyangsikan hatinya. Cincin Manik Intan disematkan di jari tengah kanan. Dengan bersenjatakan cincin dahsyat itu, ia yakin bisa kalahkan Nyai Lembah Asmara tanpa harus menggunakan pedang Jalaganda. Tetapi di ujung tangga menuju bangsal pertemuan, dua sosok perempuan berwajah garang menghadangnya. Mereka adalah Maharani dan Putri Alam Baka. Langkah Betari Ayu pun terhenti karenanya.

"Oh, rupanya kau yang menjadi biang keributan ini, Betari Ayu?!"

"Maharani dan Putri Alam Baka!" sahut Betari Ayu yang sudah mengenal mereka sejak dulu. "Barangkali dugaan kalian benar, akulah biang keributan ini. Tapi jika Perawan Sesat, orangmu itu, tidak lebih dulu melakukan pembantaian di perguruanku, aku tidak akan datang kemari menuntut balas!"

"Kau menuntut balas atau menuntut kembalinya Suto?' Maharani sunggingkan senyum sinis menyindir.

"Mana yang terbaik, itu yang kuambil!" jawab Betari Ayu dengan sikap kalem, ia harus bisa menahan luapan amarahnya agar Cincin Manik Intan tidak menyemburkan kekuatannya ke sembarang arah. Ia pun menahan tenaga dalamnya agar tidak mudah terlepas sebelum cincin itu diarahkan pada sasarannya.

Nyai Betari Ayu tenangkan diri dan tetap bisu sebelum kedua lawannya bergerak. Mata Betari Ayu tak pernah lepas dari gerak kewaspadaan. Karenanya, ketika Maharani tebarkan kipasnya dalam gerakan kecil, Betari Ayu cepat hadangkan tangan kiri ke depan untuk menahan pukulan jarak jauh yang dilepaskan secara diam-diam itu.

Pukulan itu bisa tertahan. Maharani mundur setindak karena tersentak. Tapi dari cincin di tangan kirinya melesat sinar menyilaukan ke arah samping secara tak sengaja. Sinar itu mengenai seorang lawan yang sedang berhadapan dengan Selendang Kubur.

Melihatan kilatan sinar menyilaukan dari cincin itu, maka Maharani dan Putri Alam Baka terbelalak seketika. Karena mereka melihat ada satu orang lagi yang rubuh dalam keadaan tubuh bolong karena terkena tembusan sinar putih menyilaukan itu. Orang yang rubuh dan menjadi korban kedua adalah orang yang sedang berhadapan dengan Peri Malam.

Cepat-cepat Putri Alam Baka menutupi kekagumannya dengan sunggingkan senyum sinis di bibir, ia berkata kepada Betari Ayu, "Kau pamer ilmu, Betari Ayu? Kau pikir kami takut dan menjadi gentar melihat pusaka pada cincinmu itu? Hmm...! Itu satu permainan anak kecil saja!"

"Alangkah memalukan sekali jika murid Nyai Lembah Asmara akan mati karena permainan anak kecil!" kata Betari Ayu.

"Mulut congkak! Kau pikir kau mampu menghadapi kami berdua?!" sentak Maharani.

"Barangkali perlu ditambah gurumu sekalian suruh menghadapiku! Tak akan mundur setindak pun aku menghadapi kalian bertiga, yang sepatutnya telah ku usirdari tanahku ini!"

"Jahanam...!" geram Maharani. Lalu ia sentakkan kipasnya dalam keadaan tertutup. Dari ujung kipas itu keluar sinar merah berkilap melesat ke arah tubuh Nyai Betari Ayu.

Betari Ayu cepat sentakkan telapak tangan kirinya ke depan. Cahaya pendar keluar dari telapak tangan itu. Bersifat menahan cahaya merah dari kipas Maharani. Tapi ternyata justru cahaya merah itu berbalik arah setelah membentur cahaya pendar di telapak tangan Betari Ayu.

Wuuugh...!

"Heegh...!" Maharani buka mulut dengan napas tersentak tertahan. Pukulan dari kipasnya membalik dan mengenai dirinya, ia jatuh terjengkang ke belakang dengan sukar bernapas.

Melihat temannya jatuh oleh pukulan tangan kiri Betari Ayu, Putri Alam Baka segera cabut serulingnya dari pinggang sambil menggeram. "Rupanya kau memang cari mampus, Betari Ayu! Hiaaat...!"

Putri Alam Baka lompatkan diri sambil tebaskan serulingnya dari atas ke bawah, berhenti ke arah dada Betari Ayu. Tapi dengan lincah tubuh Betari Ayu melesat lompat ke samping, dan kakinya menendang kepala Putri Alam Baka.

Plakkk...!

Tendangan itu berhasil ditangkis Putri Alam Baka yang berkekuatan tenaga dalam. Nyai Betari Ayu tersentak limbung dan jatuh ke tangga. Putri Alam Baka cepat lancarkan serangannya yang kedua, setelah serangan pertama terhindar dan justru mengenai tubuh orangnya sendiri yang sedang berlari ke pintu gerbang.

Wuusss...!

Seruling itu diacungkan ke depan, keluar cahaya kuning dari dalam lubang seruling. Cahaya kuning itu melesat ke punggung Betari Ayu. Tapi dengan cepat Betari Ayu palingkan badan dan sentakkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka. Cahaya pendar kembali berkilap dari telapak tangan itu. Tenaga dalam yang dilepaskan Putri Alam Baka itu membentur cahaya pendar, dan membalik mengenai dada Putri Alam Baka.

Beeegh...!

"Nggkk...!" Putri Alam Baka tersentak mendelik ketika ulu hatinya terkena pukulannya sendiri, ia terhuyung ke belakang dan jatuh. Nyai Betari Ayu cepat lari tinggalkan mereka, ia masuk ke bangunan megah itu. Semua pintu ditendang, didobrak paksa, sambil sesekali menghantam rubuh orang yang menghalanginya. Dan ketika semua pintu kamar telah didobrak habis, ternyata Suto tidak ditemukan di dalamnya, maka Betari Ayu pun masuk ke lorong bertirai ungu. Satu pintu di kamar lorong itu didobraknya. Dengan satu tendangan lompat, Betari Ayu menendang pintu tersebut. Namun sebelum ia menyentuh pintu, tubuhnya telah terpental ke belakang dengan sendirinya.

Bruukkk...!

"Sial! Rupanya pintu itu dilapisi tenaga dalam berperisai. Pasti di kamar itulah Suto disekap oleh NyaiLembah Asmara!" pikir Betari Ayu, kemudian ia bangkit dan segera menyentakkan tenaga dalamnya yang disalurkan melalui Cincin Manik Intan.

Pintu itu hancur menjadi serpihan-serpihan yang menebar ke mana-mana. Asap mengepul menghalangi penglihatan Betari Ayu. Untuk sejenak ia diamkan asap sampai menipis. Kemudian, kejap berikutnya ia lompatkan diri masuk ke dalam kamar itu.

Ternyata kamar itu kosong. Tak ada Suto, tak ada Nyai Lembah Asmara. Tapi keadaan ranjang porak- poranda. Barang-barang di situ pun berantakan semua. Entah karena ledakan pintu tadi atau karena sesuatu hal? Yang jelas, di sana masih tergeletak jubah merah jambu milik Nyai Lembah Asmara. Juga sebuah mahkota masih ada di atas meja dekat ranjang, dan salah satu dinding kamar itu ternyata jebol membentuk lubang besar. Apakah dinding itu juga jebol karena sinar dari Cincin Manik Intan, atau karena hal lain. Nyai Betari Ayu tak bisa pastikan diri.

"Tapi aku yakin, mereka berdua tadi ada di sini!" pikir Betari Ayu. "Wulandari pasti membawa Suto kemari dan bercumbu di sini. Lantas, ke mana ia membawa Pendekar Mabuk pergi? Apakah mereka bersembunyi? Lalu di mana letak persembunyian mereka?!"

* * *

SEMBILAN

BUKIT Garinda menjadi porak-poranda. Di mana-mana mayat bertebaran bagai sisi lain dari neraka jahanam. Sebagian dari mereka ada yang sengaja meloloskan diri, lari tunggang-langgang entah ke mana tujuannya. Ada yang berusaha menyusuri pantai, ada pula yang berusaha mendaki ke atas bukit.

Mereka yang belum mati sempat menyerukan erang kesakitan. Ada yang berusaha bangkit untuk menyembunyikan diri atau lari, ada pula yang hanya diam saja menahan sakit sambil menunggu pertolongan. Sementara yang pingsan tetap saja pingsan, entah kapan akan siuman.

Yang jelas, sosok tubuh Maharani dan Putri Alam Baka sudah tak terlihat di anak tangga menuju ruang pertemuan itu. Entah mereka bersembunyi atau melarikan diri, yang jelas suasana di situ kembali sepi. Hanya langkah-langkah kaki Selendang Kubur dan Peri Malam saja yang tampak melesat ke sana-sini mencari lawan yang perlu ditumbangkan.

Peri Malam terluka di lengan sisi kirinya. Darah mengucur dari luka senjata tajam. Tapi ia tidak menghiraukan. Justru semangatnya kian bertambah. Selendang Kubur terluka di dada kiri. Biru lebam dada itu. Tapi agaknya ia juga tidak menghiraukan lukanya, ia masih tetap memburu mangsa yang perlu ditumbangkan dengan selendang pusakanya.

Suasana lenggang menimbulkan suara langkah jelas dari bangsal pertemuan sebuah pedang disambarnya dan berdenting memecah sepi. Kedua wajah cepat berpaling ke arah suara itu. Peri Malam dan Selendang Kubur sama siapnya menghadapi serangan dari arah itu.

Tapi ternyata yang muncul adalah Nyai Betari Ayu dengan mata bergerak liar mencari lawannya. Ketika mata itu bertatap pandang dengan mata Peri Malam dan Selendang Kubur, keliaran mata Betari Ayu pun surut. Tak menjadi segarang tadi, melainkan kembali tampak bijak dan berwibawa.

"Bagaimana dengan Suto, Nyai?" tanya Selendang Kubur.

"Hilang entah kemana!"

"Hilang...?!" Peri Malam tersentak kaget. Wajahnya kian menegang.

"Nyai Lembah Asmara sendiri bagaimana?"

"Juga hilang!" jawab Betari Ayu. Nadanya seperti hampir putus asa.

Peri Malam gusar. "Tak mungkin mereka hilang begitu saja! Pasti Suto telah dilarikan oleh perempuan liar itu!"

"Ke mana arah larinya mereka?" tanya Selendang Kubur kepada Peri Malam.

Jawab Peri Malam, "Ada dua arah yang bisa untuk melarikan diri. Melalui lantai di dalam kamar itu, atau menjebol dinding kamar!"

"Lantai...?!" Selendang Kubur kerutkan dahi.

"Ada pintu rahasia di lantai kamar Nyai Lembah Asmara. Gunanya untuk meloloskan diri sampai ke pantai. Ada jalan tembus ke sana. Atau mereka lari dengan menjebol dinding menuju puncak bukit!"

"Kau bisa tahu hal itu dari mana?" tanya Betari Ayu.

"Dulu aku bekas murid Nyai Lembah Asmara dan pernah tinggal di sini sebagai pelayan Nyai. Tugasku membersihkan kamarnya!"

Selendang Kubur dan Nyai Betari Ayu angguk-anggukkan kepala sambil pandangi Peri Malam. Yang dipandang tampak masih gusar dan cemas. Kemudian setelah sama-sama bungkam sesaat, Peri Malam ucapkan kata,

"Aku akan mengejarnya ke pantai! Akan kuhadang di jalan tembus sana!"

"Aku ikut kamu!" kata Selendang Kubur dengan rasa waswas, takut kalau ganti Peri Malam yang bawa kabur Pendekar Mabuk.

Betari Ayu berkata, "Baiklah. Aku akan periksa puncak bukit!"

Agaknya memang Betari Ayu yang mujur. Karena, pada waktu terjadi keributan yang menimbulkan suara gaduh bersama ledakan-ledakan menggelegar itu. Nyai Lembah Asmara mulai curiga dengan suasana di luar kamar, ia segera bergegas memeriksa keadaan di luar kamar, ia melihat kemunculan Betari Ayu saat menyerang orang bersenjata kapak dengan Cincin Manik Intan.

"Celaka! Dia memiliki pusaka yang dahsyat!" pikir Nyai Lembah Asmara kala itu. "Mudah saja untuk mengalahkannya, tapi aku tak punya waktu. Bisa-bisa Pendekar Mabuk sadar dari pengaruh racunku, lalu ia melarikan diri. Hmmm...! Sebaiknya, selagi Suto masih dalam pengaruh racunku itu, aku harus mencari tempat yang aman supaya ia cepat-cepat membuahiku!"

Pendekar Mabuk bukan hanya mabuk oleh tuak, namun juga mabuk oleh racun Darah Asmara yang tak mampu dilawannya itu. Tubuhnya berkeringat dan wajahnya memerah menahan gairahnya.

Nyai Lembah Asmara segera berkata kepada Suto, "Kita harus cepat menyingkir untuk sementara, Suto!"

"Tak perlu, Nyai! Dekatlah padaku sekarang juga, peluklah aku!"

"Mereka akan menemukan kita di sini, Suto! Kita harus pergi supaya kemesraan kita tidak diganggu. Aku punya tempat yang aman untuk memadu kasih kita!"

"Ah, Nyai... mengapa kamu takut dengan suara gaduh? Aku tidak merasa takut sedikn pun, Nyai! Lupakan tentang urusan mereka. Sebaiknya kita kerjakan urusan kita sendiri, Nyai!"

"Tidak, Suto! Aku tidak suka dengan suasana ini! Jelas akan mengganggu kemesraan dan kenikmatan bercumbu kita, Suto!"

"Oh, ho ho ho...! Benar juga, Nyai. Benar!" Pendekar Mabuk tertawa dan bicara dalam pengaruh tuak dan racun birahinya itu. "Kalau begitu, lekas bawa aku pergi ke tempat yang lebih mesra lagi, Nyai!"

Nyai Lembah Asmara berpikir, "Aku tadi melihat ada Sundari, bekas murid dan pelayan di kamarku ini! Kalau aku lewat pintu lantai, pasti Sundari tahu ke mana arah lariku. Hmmm... sebaiknya aku ke puncak saja. Kubawa Pendekar Mabuk ke dalam gua yang cukup aman untuk memadu kemesraan dengannya!" Nyai Lembah Asmara sentakkan tangan kirinya ke depan. Wuuut...!

Blarrr...! Dinding kamar jebol dengan satu sentakan tenaga dalam tanpa sinar itu, ia segera membawa lari Pendekar Mabuk. Tapi keadaan Suto sangat lemah dan lamban untuk bergerak lari. Tanpa ragu-ragu, Nyai Lembah Asmara menggendong tubuh Suto, memanggulnya di pundak.

Pendekar Mabuk hanya diam saja sambil tetap memegang tabung bumbung bambu. Sesekali ia tersentak karena cegukan, mulutnya berceloteh apa saja karena pengaruh mabuknya, sampai Nyai Lembah Asmara sempat membentak agar Pendekar Mabuk diam dan tidak bersuara.

Keadaan mereka yang belum sampai lepas pakaian itu segera melesat keluar dari kamar melalui jebolan tembok. Nyai Lembah Asmara membawa lari Suto ke arah puncak bukit. Gerakannya tetap seperti anak panah yang melesat dari busurnya, walau saat itu ada beban di pundaknya.

Sebuah gua yang pintunya tertutup oleh ilalang lebar menjadi sasaran arah Nyai Lembah Asmara. Gua itu tidak mudah ditemukan orang, tidak pula mudah dilihat karena kerimbunan semak ilalang yang menutup mulut gua. Tapi buat Nyai Lembah Asmara, gua itu sudah bukan tempat asing lagi, karena ia sering membawa seorang pria untuk bercinta di dalam gua tersebut. Gua itu terletak pada satu lereng, hampir mencapai puncak bukit.

Ketika Nyai Lembah Asmara tiba di depan gua itu, ia turunkan tubuh Pendekar Mabuk dari pundaknya. Pendekar Mabuk pun berdiri dengan sempoyongan. Matanya semakin sayu karena mabuk, juga karena racun birahi yang menyerangnya.

"Di sini saja, Nyai!" kata Suto dengan suara sumbang sambil meraih baju Nyai Lembah Asmara dan ingin melepaskannya.

Tapi Nyai Lembah Asmara menolak sambil berkata, "Jangan di sini! Kita masuk ke dalam gua itu!"

"Mana ada goa, Nyai?"

"Itu, di depan kita. Kau tidak melihatnya karena kerimbunan semak ilalang di mulut gua!"

Pendekar Mabuk dituntun mendekati gua. Tiba-tiba kakinya yang lemas terkulai dan jatuhlah suto merosot ke bawah tebing sambil tetap berpegangan bumbung tuaknya.

"Sutooo...?!" sentak Nyai Lembah Asmara dengan cemas. Cepat-cepat ia lompatkan tubuh dan bersalto dua kali. Tubuh Nyai Lembah Asmara mendahului gerakan Pendekar Mabuk yang meluncur ke bawah tebing.

Sebatang ranting kering dipakai berpijak kaki Nyai Lembah Asmara. Ranting itu seharusnya patah, tapi karena ilmu peringan tubuh yang digunakan Nyai Lembah Asmara cukup tinggi, sehingga ia bisa berdiri dengan tenang di atas ranting kering yang besarnya dua kali ukuran lidi.

Tubuh Pendekar Mabuk yang meluncur ke bawah itu ditangkap oleh kedua tangan Nyai Lembah Asmara. Andai tidak, tubuh Pendekar Mabuk akan jatuh ke jurang yang cukup dalam. Mungkin juga Suto akan mati dihujam bambu-bambu runcing yang sengaja dipasang oleh Nyai Lembah Asmara sebagai jebakan para musuh yang hendak menyerangnya dari atas bukit.

Sentakan halus kaki Nyai Lembah Asmara segera membuat tubuhnya melesat ke atas sambil menopang tubuh Suto. Kini, ia berhasil membawa Pendekar Mabuk ke tanah sedikit datar dan aman dari bahaya kemiringan tebing.

"Enak sekali terbang denganmu, Nyai!" Suto menceracau. "Aku juga bisa terbang seperti kamu. Huup...!"

Pendekar Mabuk menyentakkan kakinya dan dalam sekejap tubuhnya melayang ke atas dan berjungkir balik dua kali. Tubuh itu segera hinggap di salah satu batu yang ada di puncak bukit. Pendekar Mabuk berdiri dengan keadaan limbung, mencemaskan hati Nyai Lembah Asmara.

Ia berseru dari sana, "Nyai...! Aku bisa sampai di sini! He he he... he he...!"

Bruukkk...! Suto jatuh dari batu besar itu. Tubuhnya terhempas di tanah.

Nyai Lembah Asmara menggeram jengkel dan menggerutu, "Bocah sinting! Katanya ingin kemesraan malah mengajak bercanda gila-gilaan begitu. Huuup...!"

Nyai Lembah Asmara menyusul Pendekar Mabuk di atas puncak bukit dengan melesatkan diri dan bersalto dua kali juga. Suto sedang menggeliat bangkit ketika kedua kaki Nyai Lembah Asmara mendarat di tanah sampingnya. Jleeg...!

"Aku jatuh, Nyai. He he he.... Enak sekali jatuhnya!" kata Suto yang semakin parah dipengaruhi tuaknya.

"Suto, kita tak punya waktu untuk bercanda. Lekaslah ke dalam gua, Suto. Aku tak sabar menunggu kemesraan dan kehangatan tubuhmu!"

"Di sini sajalah, Nyai! Di alam bebas ini lebih mesra! He he he...!" Pendekar Mabuk makin mengacau, ia berdiri dengan sempoyongan, ia merenggut tubuh Nyai Lembah Asmara, sehingga wajah mereka saling tatap dalam jarak dekat.

Nyai berpikir saat itu, "Kalau memang dia maunya di sini, biarlah di sini! Aku pun sudah tak tahan lagi!"

Pendekar Mabuk tersenyum-senyum Ketika wajah Nyai Lembah Asmara mendekat ingin mencium bibirnya. Jemari Suto sedikit menaikkan dagu Nyai Lembah Asmara, dan mata Nyai jadi terpejam. Tapi tiba-tiba tangan Suto menyentak, mendorong dagu itu ke belakang membuat tubuh Nyai pun tersentak limbung dalam keadaan mundur tiga tindak.

"Oh, maaf Nyai... aku hampir jatuh!" kata Suto sambil sempoyongan.

Nyai Lembah Asmara ingin marah namun segera memaklumi keadaan Pendekar Mabuk yang dalam pengaruh mabuk tuak itu. "Suto, lekaslah berbaring saja! Biar aku yang menjadi pelayan cintamu, Suto," kata Nyai Lembah Asmara sambil berkemas untuk melepasi pakaiannya.

"Baik. Baik. Aku akan berbaring, tapi... tapi di atas batu itu! Aku ingin berbaring ke sana! Huupp...!"

Tiba-tiba Pendekar Mabuk melompat ke atas batu besar yang tingginya dua kali tinggi tubuhnya, Suto bagaikan terbang dan hinggap di atas batu datar dalam keadaan sudah berbaring. Tetapi pada waktu ia melompat tadi, ada satu batu kecil sebesar genggaman tangan anak-anak melesat pula dari sentakan kakinya. Batu itu melesat ke arah Nyai Lembah Asmara dengan cepat.

Plokkk!

Nyai Lembah Asmara tak sempat menghindari batu yang di luar dugaan kedatangannya. Maka, tersentaklah ia ketika batu itu mengenai tulang pipinya dan membekas biru. Ia menyeringai kesakitan sambil tundukkan wajahnya, memengangi luka memar dari hantaman batu tersebut.

"Gila, tingkahnya aneh-aneh saja, sampai wajahku terkena batu yang begini sakitnya. Uuh... kurasakan sentakan batu itu sangat kuat dan berat. Mungkin hanya karena keadaan tubuhku sedang dilanda gairah, sehingga terkena batu begitu kecil saja terasa sakit."

Terdengar Suto berseru, "Nyaiii... aku berbaring di sini...!" nada suaranya meliuk-liuk tak jelas iramanya. "Kalau kau tak segera datang aku akan turun, Nyai...!"

Segera Nyai Lembah Asmara yang jantungnya sudah berdetak-detak karena dorongan nafsu yang makin menggelora itu, melesat dengan satu lompatan kecil, menghampiri Pendekar Mabuk yang berbaring di atas batu. Pikir sang Nyai, "Biarlah di atas batu itu aku bercumbu, yang penting gairahku segera terpenuhi dulu!"

Ketika Nyai Lembah Asmara sampai di atas batu, berdiri di dekat Pendekar Mabuk, tiba-tiba Suto bangkit dengan satu gerakan memutar, hingga kakinya menyapu kaki Nyai Lembah Asmara.

Plakkk...!

Nyai terpelanting jatuh dan terjungkal turun dari atas batu. Pundaknya menghantam tanah lebih dulu. Sebongkah batu terpendam menjadi benturan telinga kirinya.

Prukkk....!

"Aauh...!" ia memekik kesakitan.

"Waduh, maaf...! Maaf, Nyai...! Kupikir kau belum datang, karenanya aku bangkit dengan cepat ingin menyusulmu turun dari batu ini! Maaf, aku tak sengaja menendang kakimu, Nyai!"

Nyai Lembah Asmara berpikir juga, "Sapuan kakinya tak mungkin bisa merobohkan kuda-kudaku jika tidak diiringi kekuatan tenaga dalam! Oh, daun telingaku luka berdarah. Sial! Dalam keadaan mabuk dia masih dialiri tenaga dalam di sekujur tubuhnya. Oh, alangkah indahnya jika cumbuannya nanti juga dialiri tenaga dalam. Jelas ia akan mampu mempertahankan gairahnya yang menurutku sudah meluap-luap seperti yang kurasakan saat ini...."

"Nyai, naiklah! Lekas! Aku sekarang berdiri biar bisa melihat kedatanganmu! Naiklah, Nyai!" sera Suto sambil berdiri di tepian batu dengan tubuh meliuk ke sana-sini, bagaikan diombang-ambingkan oleh angin. Tangannya pun menggapai-gapai seperti ingin jatuh.

Nyai berteriak, "Suto, awas! Nanti kau jatuh! Jangan ke tepian!"

"Lekaslah naik sebelum aku sempat jatuh, Nyai!"

Takut Pendekar Mabuk jatuh, Nyai Lembah Asmara pun segera melompat menyongsong gerakan tubuh Pendekar Mabuk yang mulai limbung ke depan. Tangan Pendekar Mabuk bergerak-gerak mencari keseimbangan sambil berseru, "Eee, eh eh eh...!"

"Awas, Suto...!" Nyai Lembah Asmara makin berseru cemas. Ketika tubuhnya mendekati Pendekar Mabuk, tiba-tiba Suto jatuh ke depan. Tangannya bergerak-gerak bagai ingin mencari pegangan.

"Waaaoow...!" Suto berteriak dalam nada kegirangan.

Tubuhnya beradu dengan tubuh Nyai Lembah Asmara di udara. Tangan Suto cepat bergerak dan mengenai dada Nyai Lembah Asmara. Plak plak plak...! Lalu, Nyai Lembah Asmara tersentak ke belakang dalam keadaan terbang, Suto jatuh ke bawah dalam keadaan terguling dua kali. Ia jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan memegangi pinggangnya. Bumbung tuak masih menyilang dipunggungnya.

"Aduh. Sakitnya punggungku...!" rintihnya pelan.

Tetapi Nyai Lembah Asmara tidak hiraukan rintihan itu. Ia melihat dadanya hangus tiga tempat akibat gerakan tangan Pendekar Mabuk tadi. Napasnya pun mulai terasa sesak. Dada itu terasa panas sekali bagian dalamnya. Nyai Lembah Asmara mulai membatin,

"Kurang ajar! Rupanya sejak tadi dia menyerangku dengan jurus mabuknya! Uuh... sakit sekali dadaku. Gerakan tangannya tak seberapa keras, tapi mempunyai kekuatan tenaga dalam yang menghanguskan kulit dadaku! Aduh, sesak sekali napasku, jangan-jangan racun Darah Asmara telah membalik meracuni tubuhku sendiri! Tak biasanya aku mempunyai gairah sebegini besarnya!"

Terdengar Pendekar Mabuk berseru, "Nyai, tolong aku berdiri!" ia mengulurkan tangan, minta ditarik.

Tapi Nyai Lembah Asmara hanya diam saja. Nyai Lembah Asmara hanya memandang dengan mata kian nanar, antara sayu dicekam birahi dengan sayu menahan sakit. Tak disadari dari mulut Nyai Lembah Asmara mulai melelehkan darah segar ketika ia terbatuk satu kali. Bahkan batuk yang kedua membuat darah kental menyembur ke luar dari mulut. Nyai Lembah Asmara sangat kaget melihat mulutnya mengeluarkan darah kental sedikit kehitaman.

"Jahanam!" geramnya dalam hati. "Rupanya dia telah berhasil melukaiku secara diam-diam! Ini sudah bukan luka ringan saja. Ini sudah bukan satu hal yang bersifat kebetulan tapi pasti direncanakan olehnya! Aku harus menyerangnya! Aku harus membalasnya! Tapi bagaimana jika ia terluka? Aku tak bisa menikmati kemesraannya. Padahal aku sudah tak bisa menahan gairahku lagi. Oh, aku ingin dicumbunya sekarang juga! Ya, sekarang juga!"

Masih saja Suto menyerukan kata, "Nyai, tolonglah aku! Tarik tanganku agar aku bisa berdiri...!"

Nyai Lembah Asmara segera melompat bagai singa menerkam mangsanya. Wuuttt...! Ia menerkam tubuh Pendekar Mabuk dan mengajaknya berguling untuk bercumbu. Tetapi saat tubuh itu melayang, Pendekar Mabuk segera menyentakkan tangannya yang sejak tadi teracung ke atas. Gerakan tangan itu seperti orang ingin bangkit dan menggunakan tangan itu untuk bertolak dari sebuah batu disampingnya. Tapi gerakan lembut itu ternyata memancarkan satu kekuatan tenaga dalam yang membuat kepala Nyai Lembah Asmara tersentak naik ke atas dengan pekik tertahan.

Beegh..! Leher Nyai Lembah Asmara jadi sasaran tenaga dalam Suto. Akibatnya, mulut Nyai Lembah Asmara kembali menyemburkan darah kental dan berwarna kehitam-hitaman.

Pendekar Mabuk berlagak kaget dan berseru, "Nyai...? Kenapa kau, Nyai?! Kenapa...?!"

Nyai Lembah Asmara yang terkenal keji dan buas itu tergeletak dalam keadaan tersengal-sengal. Matanya terbeliak sambil sesekali menyemburkan darah dari mulutnya.

Pendekar Mabuk berjalan mundur seperti orang ketakutan melihat Nyai Lembah Asmara tersentak-sentak tubuhnya. Padahal itu hanya kepura-puraan Pendekar Mabuk. Tiba-tiba sekelebat bayangan melesat di atas kepala Suto. Cepat sekali Pendekar Mabuk sentakkan tangannya ke atas sambil menundukkan kepalanya. "Wah, burung apa itu yang datang?!"

Sentakkan tangan itu rupanya mengeluarkan kekuatan tenaga dalam. Dan kelebat bayangan itu juga menyentakkan tenaga dalam ke ubun-ubun Suto. Akibatnya, dua tenaga dalam itu beradu dan menimbulkan gelegar yang teredam.

Wuuut...!

Suto tersentak ke samping dan hampir jatuh, ia hanya sempoyongan saja dan segera berpegangan dinding batu. Sedangkan bayangan itu segera jatuh dengan kaki sigap ke tanah. Bayangan itu milik seorang nenek berkulit keriput, yang bersenjatakan tengkorak seekor kambing.

"Oh, kau rupanya, si Mawar Hitam!" kata Pendekar Mabuk.

"Syukul kau ingat padaku, Suto! Kau masih punya hutang pusaka Tuak Setan padaku! Sekalang aku belum ingin menagihnya, tapi suatu saat nanti, aku ingin menagihnya dalimu," kata Mawar Hitam yang tak bisa menyembulkan hufur 'r' itu. Ia adalah penguasa Pulau Hantu, bekas gurunya Peri Malam.

"Lalu, sekarang kau mau apa, Mawar Hitam?!"

"Aku tahu sejak tadi kau selang pelempuan ini dengan lagak mabukmu! Dia tidak melasa, dan akhil-nya dia jatuh begini. Kasihan!"

"Mata tuamu memang jeli, Mawar Hitam! Tak sejeli mata perempuan yang sedang dimabuk birahi karena racunnya yang berhasil kukembalikan tadi. Kalau kau tahu begitu, sekarang mau apa kau?"

"Aku belum mau ulusan sama kamu, mulid sinting! Tapi tunggu kalau aku sudah ambil semua ilmu yang ada dalam dili pelempuan ini! Aku akan balas kekalahanku tempo hali!"

Sebelum Pendekar Mabuk lontarkan kata, tiba-tiba nenek kempot keriput itu bergerak cepat. Tubuh Nyai Lembah Asmara diangkatnya bagai mengangkat batang pisang, lalu ia segera jejakkan kaki dan melesat pergi dengan cepat menuruni lereng bukit. Pendekar Mabuk hanya mengejar sampai tiga langkah ke depan, lalu membiarkan nenek kempot itu pergi membawa Nyai Lembah Asmara. Tiba-tiba dari arah belakang Pendekar Mabuk ada suara memanggil,

"Suto...?!" Oh, rupanya Nyai Betari Ayu datang agak terlambat ia tidak menyaksikan pertarungan Pendekar Mabuk yang mirip pertarungan sinting itu. Ia tidak melihat bagaimana Pendekar Mabuk merubuhkan Nyai Lembah Asmara, ia hanya melihat Pendekar Mabuk melangkah dengan sempoyongan mendekatinya.

"Kau tidak apa-apa, Suto?"

"Tidak, Nyai. Racun kiriman Nyai Lembah Asmara berhasil kubalikkan saat dia mencium bibirku... he he he"

"Dia mencium bibirmu, Suto?!" Betari Ayu sempat kaget dan punya perasaan tak suka mendengarnya. Ia palingkan wajah dan cemberut.

Pendekar Mabuk tertawa terkekeh-kekeh. Tapi tawanya menjadi hilang ketika ia melihat jari tengah tangan kanan Betari Ayu mengenakan cincin bermata putih berlian. Pendekar Mabuk terbayang penuturan dari gurunya tentang ciri-ciri Cincin Manik Intan. Dan, saat itulah mata Pendekar Mabuk terbelalak melihat Cincin Manik Intan ada di tangan Nyai Betari Ayu.

"Haruskah aku bertarung dengannya merebut cincin itu?!" pikir Pendekar Mabuk dengan hati gundah gulana.

SELESAI

PERTARUNGAN DI BUKIT JAGAL