Wanita Iblis Pencabut Nyawa Jilid 08

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Wanita Iblis Pencabut Nyawa Jilid 08
Sonny Ogawa

Wanita Iblis Pencabut Nyawa Jilid 08

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Ling Ling menjadi marah sekali. Perwira kedua yang bersenjata tombak hendak lari melihat kehebatan sepak terjang gadis ini, akan tetapi belum sepuluh langkah ia lari, tiba-tiba ia merasa ada sambaran angin dari belakangnya.

Cepat ia membalikkan tubuh dan memutar tombaknya, akan tetapi terdengar suara keras dan tombaknya terbabat putus oleh pedang Pek-hong-kiam di tangan Ling Ling. Sebuah tusukan dengan gerak tipu Burung Hong Mematuk Jantung dan robohlah perwira bertombak itu dengan dada tertembus pedang.

Dalam kemarahannya, Ling Ling hendak mengejar terus ke atas bukit, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar keluhan ibunya yang memanggil namanya. Ia cepat menghampiri ibunya dan berlutut lalu memeluk kepala ibunya. Ternyata bahwa sebelum menerima bacokan golok tadi, Sui Giok telah menderita banyak luka dalam pertempurannya dengan dua orang perwira tadi.

“Ibu......!”

Sui Giok membuka matanya mendengar panggilan anaknya ini dan ia merangkul leher Ling Ling, menarik kepala puterinya itu, mendekat dan menciumi muka anaknya. Ketika ia melepaskan pelukannya, muka Ling Ling penuh darah, darah yang mengalir keluar dari jidat ibunya.

“Ling Ling.... dengarlah, hakim itu... pembesar yang bernama Kwee Siong, hakim yang memeriksa kita itu.... dia adalah suamiku, dia adalah ayahmu!”

“Ibu......”

“Dia benar ayahmu, Ling Ling, ayahmu yang dulu dipaksa berpisah dariku, sewaktu kau masih dalam kandunganku..... sekarang dia telah menjadi pembesar tinggi....” wajah Sui Giok berseri sebentar, “dan.... dia sudah menikah lagi, sudah berputera....”

“Aku hendak mencari dan membunuhnya, ibu! Dia telah menyakiti hatimu!”

“Jangan, Ling Ling, dia ayahmu....”

“Aku tidak perduli! Kalau dia ayahku, mengapa dia melupakan ibu? Mengapa dia kawin lagi dan membiarkan ibu hidup sengsara? Aku harus membunuhnya!”

Wajah Sui Giok yang sudah pucat itu menjadi makin pucat. Inilah yang ia takutkan selama ini. “Ling Ling, dengar..... aku terluka parah dan takkan lama lagi hidup...”

“Ibu, jangan kau berkata demikian. Akan kubawa kau kepada Pek Hong Ji Totiang. Dia bisa mengobatimu.” Ling Ling mengangkat tubuh ibunya, memondongnya dan hendak membawanya kembali ke tempat pertempuran tadi, di luar pintu belakang benteng.

“Ling Ling.... aku tak kuat lagi, nak.... perhatikanlah kata-kataku terakhir. Jangan kau membunuh ayahmu, dia tidak bersalah. Dia mengira aku telah mati, Ling-ji, bersumpahlah bahwa kau takkan membunuh ayahmu! Yang berdosa dan bersalah besar adalah kaisar....”

“Aku akan bunuh mereka....... akan kubunuh mereka semua.......” kata Ling Ling bagaikan mabok sambil membawa lari tubuh ibunya.

“Ling-ji.....” suara ibunya melemah dan tiba-tiba bagaikan tersentak kaget, Ling Ling menahan kakinya dan berdiri bagaikan patung. Ia memandang ke depan, tidak berani memandang kepada ibunya, akan tetapi wajahnya menjadi pucat sekali. Ia merasa betapa di dalam pondongannya, tubuh ibunya menegang sebentar lalu tiba-tiba menjadi lemas dan dingin!

“Ibu....” bisiknya perlahan tanpa berani memandang ke bawah. “Ibu...!” panggilannya mengeras. Tiada jawaban.

“Ibu......!!” kini ia memandang kepada wajah ibunya yang masih berada di dalam pondongannya. Mata Ling Ling terbelalak, wajahnya makin pucat sekali, kedua kakinya menggigil sehingga ia jatuh berlutut dengan tubuh ibunya masih dipondongnya.

Ibu......!!!” ia menjerit keras sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah menjadi mayat.

“Ibu, bicaralah, bukalah matamu, ibu........” Bagaikan gila, Ling Ling membuka-buka pelupuk mata ibunya yang sudah tertutup, melihat betapa bola mata ibunya diam tak bergerak, menciumi mulut dan mata ibunya, memohon supaya ibunya hidup kembali. Akhirnya gadis yang malang ini roboh pingsan sambil memeluk tubuh ibunya.

Ketika siuman kembali, ternyata Ling Ling telah ditolong Pek Hong Ji dan kawan-kawannya. Dengan penuh penghormatan jenazah Sui Giok lalu dikubur, diiringi tangis dan ratap Ling Ling yang memilukan. Dari Pek Hong Ji, Ling Ling mendengar betapa kota Yang-kouw telah terjatuh ke dalam tangan balatentara Jenderal Li Goan dan bahwa pasukan-pasukan kaisar telah dapat dihancurkan.

“Yang memimpin pasukan dari Tiang-an itu bukan lain adalah sute kami yang gagah perkasa!” Pek Hong Ji menuturkan kepada Ling Ling dengan bangga. “Memang benar-benar hebat sepak terjang sute kami Liem Sian Lun itu. Kegagahannya dapat disamakan dengan kau siocia.”

Akan tetapi Ling Ling tidak tertarik. Di dalam kesedihannya ditinggal mati ibunya, yang teringat olehnya hanya balas dendam saja. “Kiumpulkan kawan-kawan, sekarang juga kita menyerbu ke bukit itu, menghabiskan sisa-sisa pengikut kaisar dan membunuh kaisar jahanam itu.”

“Nona, kawan-kawan sudah lelah dan menurut Liem-sute, sudah disiapkan pasukan istimewa untuk menyerbu naik ke bukit dan menawan kaisar!”

Ling Ling memandang marah. “Begitukah? Kalau demikian, biarlah aku sendiri naik ke atas dan melakukan penangkapan sendiri!”

Terpaksa Pek Hong Ji lalu menjawab, “Baiklah, baiklah, tentu saja kami menurut perintahmu.” Maka dikumpulkanlah pasukan Pek-sim-kauw yang masih ada tiga puluh orang lebih jumlahnya itu dan menyerbulah mereka ke atas bukit.

Benar seperti yang dikatakan Pek Hong Ji, dari lain jurusan yakni dari jurusan kota Yang-kouw, nampak barisan yang panjang sedang menuju ke bukit di mana Kaisar Yang Te mengungsi.

“Cepat, jangan sampai terdahului oleh mereka!” Ling Ling memberi perintah dan mereka bergerak lebih cepat lagi untuk mendahului barisan yang dipimpin oleh Liem Sian Lun.

Sementara itu, Liem Sian Lun yang memimpin pasukannya, juga melihat pasukan Pek-sim-kauw ini menaiki bukit. Ia telah mendengar dari Pek Hong Ji bahwa pasukan itu dipimpin oleh Toat-beng Mo-li, wanita yang dicari-cari oleh pamannya, Kwee Siong itu. Ia tidak tahu mengapa pamannya mencari mereka, akan tetapi hatinya merasa gembira ketika mendengar bahwa dua orang wanita itu ternyata membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan kaisar.

Kini melihat pasukan Pek-sim-kauw mempercepat gerakannya, iapun lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk bergerak lebih cepat lagi. Maka bergeraklah dua pasukan itu dari lain jurusan, bercepat-cepat dan agaknya berlomba untuk dulu mendului menerjang pertahanan akhir dari kaisar di puncak bukit itu.

Bukan main sibuknya barisan pengawal kaisar menghadapi serbuan dua pasukan musuh ini. Betapapun juga, barisan pengawal terakhir ini adalah barisan terkuat, yang terdiri dari pada pengawal-pengawal yang setia dan gagah berani. Mereka melakukan perlawanan hebat sehingga tidak mudahlah bagi pasukan-pasukan penyerbu untuk membobolkannya. Pertempuran hebat terjadi, di mana dari dua pihak jatuh korban-korban yang banyak sekali.

Di dalam kehebatan pertempuran ini, Ling Ling lalu memisahkan diri dan dengan cepatnya ia lalu mendaki bukit itu, menuju perkemahan kaisar yang berada di pinggir sebuah anak sungai. Keadaan di puncak bukit itu indah sekali. Ketika Ling Ling sudah tiba di atas, ia sendiri terpesona oleh keindahan pemandangan alam di tempat itu. Suara pertempuran di lereng bukit hanya terdengar samar-samar saja dan keadaan di situ amat sunyi dan indah. Burung-burung berkicau, mengiringi desiran anak sungai, kadang-kadang dihembus angin gunung yang membuat daun-daun dan kembang-kembang menari-nari.

Perkemahan yang dibuat di situ amat banyaknya. Adapun kemah di mana kaisar berada merupakan kemah terbesar dengan bendera naga terpancang di atasnya. Di situ nampak kosong dan sunyi, karena para penjaga semua dikerahkan ke lereng bukit untuk membendung serbuan para musuh. Akan tetapi, ketika Ling Ling hendak menyerbu ke dalam kemah kaisar itu, tiba-tiba muncul lima orang perwira dengan pedang di tangan.

Lima orang ini adalah pengawal pribadi kaisar. Mereka adalah lima orang siwi (pengawal kaisar) yang berkepandaian tinggi, karena tingkat kepandaian mereka bahkan masih sedikit lebih tinggi dari pada kepandaian perwira-perwira kelas satu dari kerajaan.

Mereka inilah yang menjadi perisai kaisar dan untuk dapat menawan atau membunuh kaisar, orang harus dapat merobohkan mereka terlebih dulu. Bagaikan patung-patung batu, kelima orang siwi itu berdiri dengan pedang di tangan, menghadang di depan kemah dengan mata memandang penuh kemarahan.

“Nona, sekarang bukan waktunya bersenang-senang. Kalau kau hendak mencumbu Hong-siang, lebih baik mencari kesempatan lain waktu,” kata seorang di antara mereka dengan senyum sindir.

“Keparat jahanam! Aku datang untuk memenggal leher kaisar lalim!”

“Oho, mudah benar kau membuka mulut!” seru siwi kedua.

Akan tetapi Ling Ling tidak mau banyak bicara lagi, pedang Pek-hong-kiam diputar cepat dan berobah menjadi segunduk sinar putih yang menerjang kelima orang siwi itu.

“Bagus, kau dapat juga mainkan pedang!” seru seorang siwi dan kelimanya lalu menyambut serbuan Ling Ling.

Gadis ini harus mengakui ketangguhan para lawannya, karena tangkisan pedang mereka membuat pedangnya terpental kembali, sedangkan kelimanya ternyata juga memiliki pedang pusaka yang kuat sekali.

Pertempuran terjadilah dengan hebatnya di tempat sunyi itu. Dan betapapun Ling Ling mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya, namun sukar sekali baginya untuk merobohkan seorang di antara kelima pengeroyoknya.

Ilmu pedang para siwi itu amat kuatnya, karena mereka ini adalah murid-murid dari Bu-tong-pai yang sudah menamatkan pelajaran ilmu pedang Bu-tong-kiam-hoat. Kalau saja mereka tidak maju berlima, agaknya Ling Ling masih akan dapat menang, karena sesungguhnya ilmu pedang Ling Ling yang luar biasa, yakni Kim-gan-liong-kiam-sut, masih lebih menang dan unggul daripada ilmu pedang Bu-tong-kiam-hoat.

Akan tetapi dengan majunya lima orang yang ilmu kepandaiannya setingkat ini, mereka merupakan lawan yang amat tangguh. Mereka dapat bermain pedang dengan saling membela dan saling melindungi, dan melakukan serangan pembalasan yang tak kalah berbahayanya.

Ditambah lagi oleh kelelahannya, Ling Ling mulai terdesak dan terkurung hebat. Akhirnya ia bermain pedang sambil mundur. Selalu menangkis dan harus mempergunakan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari bahaya maut yang disebarkan oleh pedang-pedang lawannya. Ia menjadi marah dan penasaran sekali, Hanya keteguhan hati dan ketabahannya yang luar biasa saja membuat Ling Ling masih kuat bertahan selama itu.

Pertempuran telah berjalan hampir seratus jurus, namun tetap saja kelima orang siwi itu tidak mampu merobohkan gadis pendekar ini. Bukan main kagum dan penasaran rasa hati para siwi ini. Mereka telah berlatih hebat, dan ilmu silat mereka untuk di kotaraja, telah amat terkenal dan sukar dicari tandingannya.

Setelah melalui ujian yang amat berat dan mengalahkan banyak calon-calon, barulah mereka diterima sebagai yang terkuat dan diangkat menjadi pengawal-pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi sekarang, menghadapi seorang gadis muda saja mereka tidak berdaya merobohkannya. Sungguh memalukan sekali.

“Kurang ajar!” seru seorang siwi yang berjenggot panjang. “Rasakan hui-to (golok terbang) mautku!” Setelah berseru demikian, ia melemparkan tiga batang golok kecil yang melayang cepat sekali ke arah tubuh gadis itu. Hui-to ini benar-benar berbahaya sekali karena selain cepat sekali datangnya, juga mengeluarkan bunyi melengking yang dapat mengacaukan semangat lawan.

Tiga batang hui-to ini menyambar ke arah leher, dada, dan pusar Ling Ling. Dan pada saat itu, empat orang siwi lain sedang menyerang Ling Ling dari kanan kiri. Agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi gadis ini dan agaknya ia akan menjadi korban sambaran tiga buah hui-to tadi.

Akan tetapi ternyata Ling Ling memiliki ketabahan dan ketenangan yang luar biasa sekali. Begitu melihat serangan hui-to dari depan dan serangan pedang dari kanan kiri, tiba-tiba ia berseru nyaring dan ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dengan gerak tipu Trenggiling Turun Dari Gunung.

Dengan amat cepatnya setelah tubuhnya rebah telentang sehingga tiga batang hui-to itu menyambar lewat di atasnya, ia lalu menggulingkan tubuhnya ke depan dan pedangnya menyambar cepat sekali ke arah kaki siwi yang melepaskan hui-to tadi.

Bukan main kagetnya siwi berjenggot panjang itu. Serangan balasan ini sama sekali tak pernah disangkanya, demikian cepat dan kontan datangnya. Ia cepat mengelak sambil melompat ke atas dan sebelum Ling Ling dapat melanjutkan serangannya, kawan-kawannya telah datang mengurung dan kembali Ling Ling dikeroyok lima.

Pada saat yang amat berbahaya bagi gadis itu, tiba-tiba terdengar seruan keras, “Jangan khawatir, nona, aku datang membantumu membinasakan lima anjing penjaga ini!” Dan Liem Sian Lun telah memutar pedangnya yang bersinar kuning itu untuk menggempur para pengeroyok Ling Ling. Memang, dalam tugasnya ini, Sian Lun diberi pinjam pedang Oei-hong-kiam dari Jenderal Li Goan.

Biarpun tidak menjawab sesuatu dan berpura-pura tidak melihat Sian Lun, namun Ling Ling bertambah semangatnya ketika melihat pemuda yang pernah dikenal kelihaiannya ini. Pedang Pek-hong-kiam diputar makin cepat dan dengan sebuah sabetan kilat, ia berhasil membacok roboh seorang pengeroyok.

Tadi ketika mengeroyok Ling Ling seorang saja, lima orang siwi itu masih belum dapat mengalahkannya dalam seratus jurus, apalagi setelah sekarang Ling Ling mendapat bantuan Sian Lun yang ilmu pedangnya bahkan lebih lihai dari pada nona itu. Tentu saja kedua orang muda ini bukanlah makanan empuk bagi empat orang siwi itu dan tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan susul menyusul dan kelima orang siwi itu semua telah tewas di ujung pedang Sian Lun dan Ling Ling.

“Nona, dimanakah ibumu?” tanya Sian Lun yang tidak tahu apa yang harus dikatakan terhadap nona itu. Akan tetapi matanya memandang dengan amat kagum sehingga Ling Ling menjadi cemberut. Ia menganggap pandang mata pemuda itu kurang sopan. Tanpa menjawab sesuatu, Ling Ling lalu melompat dan menyerbu ke dalam kemah kaisar.

Akan tetapi, di dalamnya ternyata sunyi dan kosong. Ling Ling berjalan terus dan keluar dari pintu belakang kemah itu, diikuti oleh Sian Lun yang merasa penasaran melihat sikap nona yang seakan-akan membencinya itu. Ketika kedua orang muda itu sampai di belakang kemah itu, tiba-tiba mereka berhenti dan berdiri memandang ke depan dengan muka tertegun. Apakah yang mereka lihat?

Kaisar Yang Te, masih nampak gagah dan berpakaian mewah, sedang berdiri di dekat anak sungai, dihadap oleh seorang kakek tua yang berpakaian sebagai pelayan. Terdengar suara kaisar itu berkata sambil tersenyum-senyum.

“Tidak betulkah kata-kataku tadi, Lao Kwang? Seorang kaisar harus menghadapi kebangkitan atau keruntuhannya dengan senyum di mulut. Semua orang memberontak, tidak ingat bahwa aku adalah kaisar yang harus mereka hormati, kaisar yang dipilih oleh Thian sendiri untuk memimpin rakyat seluruh negara. Ha, ha, ha! Dan sekarang mereka mengejar-ngejarku untuk membunuhku. Bukankah ini lucu sekali? Lihatlah, laksaan orang saling membunuh hanya karena aku seorang! Bukankah hal ini hebat sekali? Apakah artinya aku mengorbankan nyawaku untuk kebesaran seperti itu? Ha, ha, Lao Kwang, kau bilang apa tadi? Kaupun ingin pula memberontak?”

Kakek itu sambil bercucuran air mata lalu mencabut sebilah pedang pendek dan setelah berlutut ia lalu berkata, “Hong-siang, junjunganku, juga anak yang kutimang-timang semenjak masih bayi! Mengapa tidak dulu-dulu paduka mendengar nasehat seorang rendah seperti hamba? Mengapa paduka, hanya menurutkan kata nafsu hati, menurutkan bujukan para pembesar buruk? Mengapa paduka ingin memuaskan hati tanpa memperdulikan pengorbanan rakyat jelata? Ah, apakah yang akan menimpa diri paduka?”

Kaisar itu tertawa bergelak. “Lao Kwang, kau seorang yang setia dan bersikap selalu merendah. Alangkah bodohnya kau ini! Kalau aku bertindak sebagai seorang kaisar yang bodoh dan mengalah, tidak mau memeras tenaga rakyat untuk membuat bangunan-bangunan besar, untuk menyerang negara timur, akan jadi kaisar apakah aku ini? Betapapun juga, akhirnya aku toh mesti mati.

"Kalau aku membiarkan keadaan negara tanpa memperkuatnya, biarpun dengan menekan rakyat, aku akan mati sebagai seekor semut, rakyat yang gendut dan senang akan lupa kepadaku dan negara sebentar lagi akan dirampas oleh orang asing. Sekarang, biarpun aku mati, lihatlah saluran air yang megah, lihatlah tembok besar yang jaya, semua adalah bekas tanganku. Orang takkan melupakan selama sejarah berkembang.

"Mati? Ha, ha, ha, siapa yang takut mati? Di dunia aku menjadi kaisar, mustahil di alam baka aku tidak diberi pangkat dan kedudukan? Aku adalah kaisar, tahu? Dalam keadaan bagaimanapun juga, kaisar tetap dihormati, menjadi tawanan pun berbeda dengan perajurit biasa. Tetap menjadi tawanan besar dan penting, diperlakukan penuh penghormatan!”

Pada saat itu, mereka melihat dua orang muda yang berdiri dengan pedang di tangan. “Hong-siang, musuh telah datang menyerbu!” bisik Lao Kwang

“Mereka itu?” Kaisar membalikkan tubuhnya dan menudingkan telunjuknya ke arah Ling Ling dan Sian Lun. “Hanya dua orang muda yang bodoh, yang menjadi alat dari pada keganasan perang! Apakah mereka ini akan dapat menggantikan kedudukanku? Ha, ha, ha!”

“Kaisar lalim, rasakan pembalasanku!” tiba-tiba Ling Ling berseru keras dan menyerbu. Akan tetapi, ia kalah dulu oleh Lao Kwang.

Dari belakang, pelayan yang semenjak Yang Te masih kecil telah menjadi pelayannya itu, telah menusuk punggung Kaisar Yang Te dengan pedangnya. Kaisar itu mengeluh berat dan tubuhnya roboh telentang, tak bergerak lagi. “Hamba ikut, tuanku!” kata Lao Kwang dan sebuah tusukan ke arah dadanya dengan pedang yang dipegangnya membuat ia roboh di samping Kaisar Yang Te.

Tertegunlah Ling Ling dan Sian Lun menyaksikan peristiwa ini. Untuk beberapa lama Ling Ling berdiri memandang ke arah tubuh kaisar itu. Inikah musuh besarnya? Inikah orang yang telah menghancurkan penghidupan ibunya? Yang telah menghancurkan penghidupan rakyat banyak? Sukar untuk dipercaya.

Kaisar ini hanya memerintah dan memberi petunjuk. Yang menjadi pelaksana bukanlah dia sendiri dan mana kaisar ini bisa mengetahui cara pelaksanaan perintahnya? Tahukah kaisar ini bahwa tenaga rakyat yang dikerahkan itu diperoleh dengan jalan yang curang dan keji oleh para petugasnya? Siapakah yang salah? Kaisarnya, atau para petugas yang nyeleweng, ataukah jamannya yang salah?

Setelah menarik napas panjang, Ling Ling lalu berpaling dan Sian Lun melihat betapa kedua mata gadis cantik itu basah oleh air mata. Ling Ling lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu. “Nona, tunggu dulu!”

Ling Ling menahan tindakannya. Mereka telah berada jauh dari kemah kaisar itu. “Kau mau apa?” tanyanya dengan tegas dan ketus.

Sian Lun menggerakkan alisnya dan tersenyum pahit. “Beginikah sikapmu kepada orang yang telah berusaha membantumu? Nona, kau agaknya benci kepadaku. Ada apakah dan apakah kesalahanku?”

“Tidak ada yang benci dan tidak ada yang salah! Aku hanya ingin tahu mengapa kau menyusulku?”

“Nona, aku hanya ingin menyatakan bahwa pamanku Kwee Siong telah mencari-cari dan menanti-nanti kau dan ibumu.”

Berkerut kening Ling Ling mendengar nama Kwee Siong disebut-sebut. “Aku tidak kenal pamanmu. Ada apa dia menanti-nanti kami?” “Entahlah, hanya aku tahu bahwa paman sedang sakit dan seringkali menanyakan kau dan ibumu. Di manakah ibumu?”

“Ibu..... ibu sudah meninggal dunia!” Setelah berkata demikian Ling Ling melompat dan lari lagi dengan cepatnya.

“Nona, tunggu dulu.....!”

Ling Ling berlari terus, akan tetapi Sian Lun mengejarnya dan karena ia sudah lelah sekali, Ling Ling terpaksa berhenti. Sian Lun melihat kini betapa air mata telah mengalir turun di kedua pipi gadis itu yang agak pucat. “Mengapa kau mengejarku? Apakah kau menagih budimu ketika kau menolongku tadi? Nah, biarlah aku mengucapkan terima kasih kepadamu, dan sekarang pergilah!”

Sian Lun memandang dengan penuh iba. “Nona, aku menyesal sekali, yakni ... tentang ibumu...”

“Jangan kau sebut-sebut akan hal ibuku. Ibu telah gugur dalam pertempuran, tidak ada hubungannya dengan kau.”

Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan dua orang perwira pembantu Sian Lun tiba di tempat itu. “Liem-ciangkun, musuh telah dipukul habis. Sebagian besar telah menyerah. Menanti perintah!” Demikian kata mereka sambil turun dan berdiri dengan sikap gagah.

“Bawa semua tawanan dan kembalikan ke Tiang-an. Kau mewakili aku memimpin pasukan. Seperti biasa, berlakulah keras, jangan biarkan anak buah kita meninggalkan barisan,” perintah Sian Lun dengan suara keren. Kedua pembantunya memberi hormat dan pergi lagi menunggang kuda.

“Aku harus pergi sekarang, selamat tinggal!” kata Ling Ling.

“Nanti dulu, nona. Kau telah banyak berjasa dalam perjuangan kami, apakah kau tidak mau bersamaku kembali ke Tiang-an? Sungguh, nona, pamanku amat mengharap-harap kedatanganmu.”

“Memang aku mau ke Tiang-an, akan tetapi tidak bersama engkau!”

Berseri wajah Sian Lun mendengar ini, “Bagus, kau tentu akan datang kepada pamanku Kwee Siong, bukan? Baik sekali.”

“Memang aku akan mencari orang she Kwee itu, untuk membunuhnya dengan pedangku!” Setelah berkata demikian, Ling Ling melompat dan berlari pergi.

Untuk sejenak Sian Lun berdiri bagaikan sebuah patung batu. Ucapan yang dikeluarkan dengan sengit oleh gadis itu benar-benar telah membuatnya terheran-heran dan terkejut sekali. Ada apakah antara pamannya dan gadis ini serta ibunya yang telah gugur? Ah, ia harus mencegah maksud gadis itu. Setelah melihat bayangan Ling Ling lenyap dibalik pohon-pohon barulah Sian Lun menjadi terkejut dan cepat ia lalu melompat dan berlari cepat mengejar.

Dengan hati yang amat berat karena masih berduka mengingat kematian ibunya, Ling Ling berlari dengan cepat sekali. Kakinya telah terasa lelah dan lemahlah seluruh tubuhnya. Ia telah bertempur melawan musuh-musuh yang tangguh dan telah sehari lamanya ia tidak makan. Akan tetapi ia tidak mau berhenti mengaso karena maklum bahwa pemuda she Liem itu tentu akan mengejarnya.

Ketika ia tiba di sebuah dusun dan melihat, bahwa pemuda itu tidak dapat menyusulnya, ia lalu masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan. Setelah makan dan beristirahat sejenak, pulihlah kembali kekuatannya dan ia merasa tubuhnya sehat. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan alangkah mendongkolnya ketika tiba di luar dusun itu, pemuda she Liem itu telah menantinya sambil duduk di atas rumput seorang diri. Ling Ling berpura-pura tidak melihatnya dan hendak berlari terus, akan tetapi Sian Lun berkata.

“Nona Ling Ling, mengapa tergesa-gesa? Akupun hendak menuju ke Tiang-an. Tidak sudikah kau melakukan perjalanan bersamaku?”

“Kau melakukan perjalanan, apa hubungannya dengan aku? Aku tidak melarang orang menuju ke Tiang-an,” jawab Ling Ling merasa marah kepada dirinya sendiri mengapa melihat pemuda ini hatinya berdebar girang.

Sian Lun terpaksa mempercepat langkahnya agar dapat mengimbangi kecepatan lari gadis aneh ini. “Nona, bukankah kau adalah nona yang dulu pernah menerima pedang Pek-hong-kiam dari Liang Gi Cinjin, ketua dari Pek-sim-kauw?”

“Memang akulah yang dimaksudkan oleh suhumu itu. Dia seorang yang baik hati, akan tetapi suhumu itu masih mempunyai hutang kepadaku yang harus dibayarnya!”

Setelah berkata demikian, kembali Ling Ling berlari pergi tanpa memperdulikan kepada Sian Lun lagi. Pemuda ini segera mengejarnya. Ling Ling mengerahkan kepandaiannya berlari cepat yang disebut Couw-sang-hui (Terbang Di Atas Rumput). Ia sengaja mengeluarkan kepandaiannya karena ia hendak mencoba apakah pemuda itu akan dapat mengejarnya.

Sian Lun merasa penasaran sekali melihat betapa gadis itu berlari dengan amat cepatnya. Iapun lalu mengeluarkan ilmunya berlari cepat yang disebut Keng-sin-sut dan setelah berlari-larian beberapa belas li, akhirnya dapat juga ia mengejar gadis itu. “Nona, kau sungguh terlalu. Mengapa kita tidak berjalan perlahan saja menuju ke Tiang-an? Apakah yang membuat nona demikian terburu-buru?”

Ling Ling tidak menjawab, akan tetapi tiba-tiba lalu duduk di atas rumput di bawah sebatang pohon besar. Enak sekali duduk di situ, ditiup angin sambil mendengarkan gemersiknya daun-daun pohon tertiup angin. Peluhnya mengalir dari atas jidat, disapunya dengan sehelai saputangannya.

Sian Lun juga duduk di depannya, agak jauh dari nona itu. Sungguhpun mereka duduk berhadapan, akan tetapi keduanya tidak berkata-kata dan bahkan tidak saling memandang. Sungguh keadaan yang amat lucu dan ganjil.

“Mengapa kau mati-matian mengejarku dan hendak berjalan bersamaku?” tanya Ling Ling tiba-tiba dan sepasang matanya yang indah dan tajam itu menatap wajah Sian Lun.

Untuk sesaat, pemuda itu berusaha menahan serangan sinar mata ini, akan tetapi akhirnya ia menunduk karena pandangan mata gadis yang menyelidik ini benar-benar tajam sekali. “Nona, aku tidak mempunyai niat buruk terhadapmu. Aku kagum sekali akan kegagahanmu, hanya aku merasa tidak enak mendengar ucapanmu tadi yang hendak membunuh pamanku Kwee Siong. Ketahuilah bahwa paman Kwee bagiku sama dengan ayahku sendiri. Tidak boleh kau mengganggunya. Dia orang yang baik-baik, semulia-mulianya orang, mengapakah kau begitu membencinya dan hendak membunuhnya?”

Ling Ling memandang tajam dengan kening berkerut. Ia amat benci kepada ayahnya itu. Seorang ayah yang telah menyia-nyiakan ibunya. Ibunya menyatakan bahwa ayahnya itu tidak bersalah. Kalau memang ayahnya itu orang baik-baik, mengapa tidak dicarinya ibunya yang hidup seperti seorang “iblis” di dalam hutan? Mengapa ayahnya yang sudah menjadi seorang pembesar itu bahkan lalu menikah lagi dan telah memperoleh seorang putera?

Mengapa ketika bertemu di pengadilan dulu, ayahnya tidak menerima mereka sebagai isteri dan anak? Kalau dipikir-pikir, bukan kaisar yang menjadi biang keladi kesengsaraan ibunya, melainkan Kwee Siong itulah! Orang itu harus dibunuhnya, untuk membalas sakit hati ibunya. Kini melihat sikap Sian Lun yang hendak membela Kwee Siong, mendengar ucapan pemuda gagah ini yang memuji-muji Kwee Siong sebagai seorang yang berhati mulia, hatinya menjadi perih dan gemas sekali.

“Paman Kwee amat baik kepadaku,” terdengar lagi Sian Lun berkata, “seakan-akan aku anaknya sendiri. Ia memperlakukan aku seperti anak sendiri, mengajarku membaca dan menulis, memberi nasehat-nasehat dan pelajaran filsafat dan budi pekerti. Orang sebaik dia tidak mungkin mempunyai musuh dan tak mungkin mengganggu orang lain. Mengapa kau hendak membunuhnya, nona?”

“Kau tak perlu tahu, Liem-ciangkun. Urusan ini adalah urusanku sendiri, orang luar tak berhak tahu. Betapapun juga, aku akan mencarinya di Tiang-an dan akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Kata-kata ini diucapkan dengan tegas dan mengandung kemauan bulat.

“Tidak mungkin, nona. Perbuatanmu itu sebelum dapat kau lakukan, kau akan menghadapi seluruh penduduk Tiang-an, seluruh barisan di bawah pimpinan Jenderal Li Goan sendiri. Kwee-susiok adalah seorang yang dihormati dan dipandang tinggi oleh semua orang. Takkan mungkin mengganggu, lebih sukar dari pada mengganggu kaisar sendiri.”

Makin tinggi orang memuji ayahnya makin banyak orang mengingatkan kepadanya akan kemuliaan ayahnya, makin teringatlah Ling Ling akan kesengsaraan ibunya dan makin panaslah hatinya. Ia tersenyum mengejek dan menjawab sambil berdiri dan mencabut pedangnya. “Kau kira aku takut menghadapi siapapun juga? Biarpun ada selaksa dewa hendak melindungi orang she Kwee itu, tetap aku hendak membunuhnya!”

Mulai panas darah Sian Lun. Betapapun ia mengagumi gadis ini dan menaruh hati kasihan mendengar kematian ibu gadis ini, namun sikap gadis itu dianggapnya amat keterlaluan. Iapun bangkit berdiri dan berkata. “Dan dengarlah, nona. Orang pertama yang akan menghalangi kehendakmu yang kejam itu bukan lain orang adalah aku sendiri!”

“Kau....?” Ling Ling memandang tajam sambil mengangkat alisnya yang berbentuk melengkung seperti bulan sabit itu.

“Ya, aku sendiri! Aku yang telah diperlakukan dengan baik oleh Kwee-susiok, yang telah dianggap sebagai anak sendiri, aku takkan membiarkan siapapun juga mengganggunya!”

“Manusia sombong! Siapa takut kepadamu? Apa kau kira dulu aku sudah kalah olehmu? Cabutlah pedangmu dan mari kita lanjutkan pertempuran yang dulu!” tantang Ling Ling.

“Nona, haruskah kita bertempur lagi? Mengapa kau begitu berkeras hendak membunuh pamanku? Berilah penjelasan agar aku ikut pula mempertimbangkan apakah niatmu itu benar atau salah.”

“Bukan urusanmu, tak usah kau bertanya lagi. Pendeknya aku hendak membunuh Kwee Siong dan kalau kau menghalangiku boleh kau mencoba mengalahkanku!”

Terpaksa Sian Lun mencabut pedangnya Oei-hong-kiam. “Menyesal sekali, nona. Aku tak ingin bertempur dengan kau......”

“Awas pedang!” teriak Ling Ling tanpa memperdulikan ucapan ini dan langsung menyerang dengan sebuah tusukan berbahaya.

Sian Lun cepat menangkis dan berpijarlah bunga api ketika dua pedang pusaka itu bertemu. Ling Ling menyerang lagi dan mainkan pedangnya dengan hebat sehingga yang nampak hanyalah gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Sian Lun terpaksa mengimbangi permainan pedang nona ini dan pedang Oei-hong-kiam segera diputarnya merupakan segulung sinar kuning yang tak kalah cepatnya.

Demikianlah, kedua orang muda yang lihai itu kembali mengadu kepandaian di dalam hutan, ramai dan seru, tanpa ada seorangpun yang menjadi saksi. Sian Lun bertempur dengan hati-hati. Ia maklum bahwa gadis ini amat lihai. Ginkang dan lweekangnya berimbang dengan kepandaiannya sendiri dan ilmu pedang gadis itu luar biasa ganasnya.

Betapapun juga, ia tidak tega untuk melukai gadis ini, dan bertempur hanya dengan maksud menguji kepandaian saja dan kalau ia mencari kemenangan juga, bukan dengan cara merobohkan gadis itu dalam keadaan terluka. Ia hanya akan merampas atau melepaskan pedang dari tangan nona itu. Akan tetapi ia maklum bahwa hal ini bukanlah mudah saja.

Sebaliknya, Ling Ling yang sudah tahu pula akan kepandaian pemuda ini, kini berusaha untuk mengalahkan lawannya dan bertempur dengan amat sengitnya. Dalam keadaan demikian, maka sedikit kelebihan permainan pedang Sian Lun menjadi tertutup dan pertempuran itu menjadi berimbang dan luar biasa ramainya.

Seratus jurus lewat tanpa terasa, dan belum juga di antara kedua orang muda ini ada yang kalah atau menang. Mereka saling serang dan saling desak, mengeluarkan gerak-gerak tipu yang terlihai. Betapapun juga, diam-diam Ling Ling harus mengakui keunggulan pemuda itu, karena setelah pertempuran berjalan seratus lima puluh jurus, ia mulai merasa lelah dan telapak tangan kanannya yang memegang pedang menjadi panas dan perih. Adapun Sian Lun lawannya masih nampak kuat dan gerakan serta kecepatannya tidak berkurang.

Akhirnya Sian Lun merasa bahwa ia takkan dapat mengalahkan nona yang nekat ini tanpa melukainya. Akan tetapi bagaimana ia sampai hati untuk melukai nona yang dikagumi dan dikasihinya ini? Dan sedikit saja ia melamun, tiba-tiba ujung pedang Pek-hong-kiam di tangan Ling Ling sudah menyerangnya dengan gerak tipu Kim-gan-liong-hian-jiauw (Naga Bermata Emas Mengulur Kuku).

Sedangkan pada saat itu pedangnya masih tersembunyi di balik lengan ketika ia tadi bergerak dengan gerak tipu Burung Walet Menyembunyikan Ekor. Melihat serangan maut ini, Sian Lun terkejut sekali dan cepat ia mempergunakan tenaga pergelangan tangan untuk memutar pedangnya yang segera meluncur ke depan melakukan tangkisan ke arah ujung pedang lawan yang menusuk ke arah dadanya.

“Traaang!” dua pedang itu beradu keras sekali. Saking hebatnya tenaga keduanya yang dikeluarkan pada saat genting itu, ujung pedang Ling Ling meleset dan meluncur cepat ke arah tenggorokan Sian Lun sedangkan pedang Sian Lun sebaliknya kena terpukul dan melesat menuju ke arah pundak gadis itu.

Keduanya terkejut sekali. Untuk mengelak sudah tiada waktu lagi. Dengan cepat tangan kiri mereka bergerak. Ling Ling melakukan gerakan Kwan-im-siu-kiam (Dewi Kwan-im Menyambut Pedang) sedangkan Sian Lun membuat gerakan Siauw-kin-na-jiu-hwat mencengkeram ke arah gagang pedang gadis itu.

Gerakan mereka begitu kuat dan cepat sehingga pada saat itu juga, pedang mereka telah pindah tangan. Oei-hong-kiam telah terampas oleh Ling Ling sedangkan Pek-hong-kiam terampas oleh Sian Lun. Mereka terhindar dari bahaya maut, akan tetapi tetap saja mereka menjadi pucat dan mengeluarkan keringat dingin Sian Lun cepat melompat ke belakang dan menjura.

“Nona, ilmu pedangmu benar-benar luar biasa sekali. Dan pedang inipun amat baiknya.”

“Pedang itu adalah pedang suhumu, Liang Gi Cinjin. Biarlah kau kembalikan kepadanya. Adapun pedang ini......” Ling Ling menggerak-gerakkan Oei-hong-kiam yang terasa lebih enak ditangannya, karena pedang ini gagangnya lebih kecil dan lebih cocok untuk jari-jari tangannya. “Pedang ini adalah pedang dari Panglima Kam Kok Han, dan aku sebagai ahli waris ilmu pedangnya,... aku berhak mendapatkan pedang ini!” Sambil berkata demikian, Ling Ling memandang kepada pemuda itu dengan sikap menantang.

Sian Lun menjadi tertegun. “Kau....., kau hendak merampas pedang itu? Kembalikan, nona. Pedang itupun boleh kupinjam dari Jenderal Li!”

“Bukankah kau dulu merampasnya dari seorang panglima kerajaan Sui? Pedang ini bukan pedangmu, bukan pula pedang Jenderal Li, akan tetapi adalah pedang dari mendiang Panglima Kam! Kalau kau ada kepandaian, boleh kau rampas kembali, pedang ini sekarang sudah berada di tanganku!” kembali Ling Ling memandang dengan sikap menantang.

Untuk sesaat teganglah semua urat dalam tubuh Sian Lun. Ia hendak bergerak menyerang nona itu untuk merampas kembali pedangnya, akan tetapi ia mengurungkan niatnya dan kemudian bahkan duduk di atas rumput sambil tersenyum. “Biarlah, ambillah..... kalau kau kehendaki, asal saja kau jangan membunuh paman Kwee.”

“Kau perduli apa dengan segala niatku? Kalau masih penasaran, hayo kau berdiri dan mari kita lanjutkan pertempuran kita!”

Akan tetapi Sian Lun menggelengkan kepalanya. “Kau serang dan bunuhlah aku kalau kau mau. Aku tiada nafsu untuk bertempur mati-matian seperti orang gila, tanpa ada alasannya. Aku tidak percaya kau tidak akan malu menyerang seorang yang tidak melawan.”

Karena iapun sudah merasa lelah sekali, Ling Ling lalu menyimpan pedangnya dan menjatuhkan diri di atas rumput dan bersandar pada pohon. Kembali kedua orang muda itu duduk berhadapan di atas rumput seperti tadi sebelum mereka bertempur mati-matian. Matahari telah mulai bersembunyi di balik pohon-pohon dan hawa mulai terasa dingin.

Setelah melepaskan penat, Ling Ling bangkit kembali, dan Sian Lun menegurnya. “Hendak ke manakah, nona?”

“Ke mana lagi? Tentu ke Tiang-an!” jawaban ini terdengar penuh tantangan.

“Kalau aku jadi engkau, aku takkan melewati daerah seribu rawa di malam hari.”

“Apa maksudmu?”

“Kalau kau keluar dari hutan ini, kau akan tiba di daerah yang penuh dengan rawa-rawa yang amat berbahaya. Tidak saja banyak sekali rawa-rawa yang tertutup rumput dan merupakan perangkap maut yang mengerihkan, bahkan di situ juga banyak sekali terdapat binatang-binatang berbisa. Tak mungkin ada orang dapat melalui tempat itu di waktu malam!”

Ling Ling adalah seorang gadis yang keras hati, keras kepala, dan bandel. Apalagi yang mengeluarkan kata-kata tadi adalah seorang pemuda yang menjadi musuhnya, pemuda yang “dibencinya”, tentu saja ia tidak sudi untuk mentaati nasehatnya. Ia teringat akan daerah berawa ini, karena dulu ia pernah lewat di daerah ini.

“Aku tidak takut!” katanya dan cepat ia berlari pergi. Ketika ia keluar dari hutan itu, tibalah ia di daerah penuh rawa itu, nampak gelap, sunyi dan menyeramkan. Matahari telah lenyap, terganti oleh malam yang remang-remang, dengan pohon-pohon besar menjulang dan jurang di sana-sini, seperti raksasa-raksasa setan menanti kedatangannya penuh ancaman.

Tak terasa lagi Ling Ling merasa ngeri juga dan ia menengok ke belakang. Dari jauh, nampak sosok tubuh orang merupakan bayang-bayang yang bergerak ke arahnya. Ia terkejut, akan tetapi setelah bayangan itu mendekat, ia mengenal itu sebagai bayangan Sian Lun.

Ling Ling merasa girang sekali, akan tetapi hanya untuk sebentar. Siapa orangnya yang takkan merasa girang kalau melihat seorang yang telah dikenalnya dalam malam yang menyeramkan di daerah yang mengerihkan itu, sungguhpun orang itu seperti Sian Lun sekalipun. Akan tetapi ia segera dapat mengusir rasa girangnya ini dan berganti merasa gemas.

Ia ingin berlari secepatnya, akan tetapi tidak mungkin melakukan hal ini dalam daerah yang demikian berbahaya. Ia maklum bahwa tanah berlumpur yang membentang luas di depannya itu belum tentu tanah keras, dan kalau sekali kakinya terjeblos ke dalam rawa yang tertutup rumput, akan celakalah dia.

Sebentar saja pemuda itu dapat menyusulnya dan mereka berdua berjalan tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, tanpa saling pandang, bagaikan dua bayangan setan berkeliaran di daerah menyeramkan itu.

“Gadis bandel!” tiba-tiba Sian Lun berkata perlahan. Ia marah dan mendongkol sekali.

Akan tetapi Ling Ling tidak menjawab, hanya diam-diam tersenyum di dalam gelap. Telah berkali-kali ia dibikin mendongkol dan marah oleh pemuda ini, dan kali ini ia merasa girang dapat membalas dendam dan membuat Sian Lun marah dan mendongkol. Pemuda ini, sudah beberapa kali lewat di daerah ini, maka ia lebih hafal akan liku-liku jalan di situ, tahu di mana letaknya rawa-rawa yang berbahaya. Akan tetapi ia diam saja dan hanya menurut ke mana Ling Ling memilih jalan. Ia maklum bahwa gadis itu telah tersasar dan salah jalan, akan tetapi ia diam saja.

Setelah berjalan tersaruk-saruk dan bulan telah muncul, menambah keseraman tempat itu, belum juga mereka dapat keluar dari daerah liar ini, bahkan tiba-tiba Ling Ling menahan kakinya dan melompat mundur. Hampir saja ia celaka, karena ketika kakinya menyentuh rumput di depannya, ternyata bahwa di bawah rumput itu terdapat lumpur. Baiknya ia berlaku hati-hati, kalau tidak tentu ia akan terjeblos ke dalam lumpur dan berbahaya.

Ling Ling melompat ke belakang bagaikan diserang ular. Ia berjalan ke kanan, akan tetapi baru beberapa belas tindak kembali ia menghadapi lumpur berumput. Ke kiri tidak mungkin, karena di sana membentang jurang yang amat dalam. Untuk kembali? Ah, bagaimana ia harus kembali melalui jalan tadi yang demikian jauhnya? Ia berdiri termenung dengan bingung.

“Kita telah salah jalan,” kata Sian Lun dengan suara tenang, akan tetapi mengandung kegembiraan, karena diam-diam ia mentertawakan gadis itu.

Ling Ling cemberut. “Kau sudah tahu dari tadi?”

“Tentu saja aku tahu,” jawab pemuda itu.

“Kurang ajar! Kalau sudah tahu mengapa diam saja? Mengapa kau membiarkan kita tersesat ke jalan buntu ini?”

“Kuberitahu juga kau takkan percaya omonganku, apa perlunya? Biarlah, gadis kepala batu seperti engkau perlu sewaktu-waktu mendapat hajaran.”

“Tutup mulutmu! Siapa suruh kau mengikuti perjalananku? Kau pergilah dan biarkan aku sendiri!” Suara yang marah ini mengandung isak yang ditahan.

Akan tetapi Sian Lun tidak menjawab, bahkan ia lalu mengumpulkan daun-daun kering dan memanjat pohon untuk mengambil ranting-ranting kering. Ditumpuknya daun dan ranting itu di situ lalu ia membuat api unggun.

“Pergi!” seru Ling Ling. “Mengapa kau tidak mau pergi? Aku tidak ingin ditemani!”

“Di sini bukan tempat milikmu, di sini daerah rawa, tiada pemiliknya. Siapa saja boleh bermalam di sini. Kau suruh aku pergi ke mana? Kembali ke jalan tadi, mungkin akan tersasar ke tempat yang lebih berbahaya lagi. Tahukah kau bahwa tak jauh dari sini terdapat daerah yang penuh dengan ular-ular kecil berbisa? Bagaimana kau dapat melawan ular-ular kecil yang tiba-tiba menyerang kakimu dari dalam gelap? Sekali saja kena gigitan seekor ular itu, tubuh kita akan menjadi kaku dan bengkak-bengkak, nyawa takkan tertolong lagi. Ke mana aku harus pergi? Aku akan bermalam di sini dan besok kalau sudah terang tanah, barulah dapat kita keluar dari neraka ini.”

Meremang bulu tengkuk Ling Ling mendengar cerita tentang ular-ular berbisa itu. Padahal cerita ini amat dilebih-lebihkan oleh Sian Lun. Dengan jengkel sekali Ling Ling duduk di bawah pohon di mana Sian Lun mengambil ranting-ranting tadi dan ia memandang kepada pemuda itu yang mengatur ranting dan daun yang mulai bernyala.

Kemudian Sian Lun duduk menghadapi Ling Ling. Untuk beberapa lama mereka diam saja dan agaknya di dalam cahaya api unggun yang suram itu, Sian Lun lebih berani memandang dan menatap wajah gadis itu lebih lama. Karena di dalam keadaan yang agak gelap ini, sinar mata gadis itu yang luar biasa tajamnya tidak begitu menikam pandang matanya.

“Jadi kau adalah ahli waris dari Panglima Besar Kam Kok Han?” tanya Sian Lun kemudian.

“Ya,” jawab Ling Ling singkat.

“Jadi kau she Kam?”

“Bukan,” kembali jawaban yang singkat sekali.

Sunyi kembali sampai lama. Sian Lun merasa heran melihat keadaan gadis yang menarik perhatiannya ini. Seorang gadis yang keras hati dan galak, seakan-akan telah mengeras dalam rendaman air pengalaman yang pahit getir. Siapakah dia ini? Ada hubungan apakah dengan Kwee Siong?

Betapapun juga, ia seorang gadis patriot yang gagah perkasa, dan seorang yang berpribudi tinggi. Buktinya, gadis yang pernah bermusuhan dengan Pek-sim-kauw ini, akhirnya di dalam perjuangan bahkan menjadi pemimpin pasukan Pek-sim-kauw yang amat terkenal dan ditakuti musuh.

“Nona, aku telah mendengar bahwa namamu Ling Ling, akan tetapi siapakah she mu?”

Hampir saja Ling Ling menjawab untuk mengaku terus terang, akan tetapi ia teringat bahwa pengakuannya ini akan membuka rahasianya bahwa ia adalah puteri Kwee Siong. Ia tidak mau pemuda ini mengetahui bahwa dia adalah puteri Kwee Siong, maka ia lalu menutup kembali bibinya yang sudah hampir digerakkan.

“Nona, mengapa kau diam saja? Apakah terlalu kurang ajar pertanyaanku tadi?” setelah menanti agak lama Sian Lun berkata lagi.

“Sudahlah, jangan banyak tanya,” akhirnya Ling Ling menjawab juga, “aku lelah dan mengantuk, hendak tidur!” Sambil berkata demikian, gadis itu berdiri dan hendak pergi menjauhkan diri dari tempat itu.

“Eh, nona, mengapa pergi? Mau tidur, tidurlah saja di sini, di bawah pohon dekat api unggun. Biarlah aku yang pergi menjauhkan diri kalau kau tidak ingin berdekatan dengan aku.”

Akan tetapi Ling Ling menoleh sambil berkata, “Aku tidak biasa tidur dalam terang api. Menyilaukan mata. Padamkanlah api unggunmu yang menyilaukan itu!”

“Mana bisa dipadamkan? Api ini mengusir binatang-binatang kecil yang mengganggu kita. Dan pula, hawa malam begini dingin.” Sian Lun membantah.

Ling Ling membanting-banting kakinya. “Kalau begitu, mengapa kau menawarkan tempat itu kepadaku? Kau selalu membantah dan membawa kehendak sendiri. Keras kepala!”

Gadis ini dengan marah lalu menjahui tempat itu, berjalan kembali ke jalan tadi, kemudian merebahkan diri di bawah pohon berikutnya, tak jauh dari tempat Sian Lun. Ia dapat melihat pemuda itu berdiri di dekat api unggun sambil memandang ke arahnya. Akan tetapi Ling Ling tidak perduli, membuka buntalan pakaiannya dan segera duduk bersandar ke pohon dan menyelimuti tubuhnya dengan sebuah mantelnya.

Gadis aneh, pikir Sian Lun sambil duduk bersandar pohon itu, aneh, galak, akan tetapi amat manis dan menarik hati.

Pada keesokan harinya, Ling Ling bangun dari tidurnya dengan tubuh lemas. Ia hampir tak dapat tidur malam itu karena benar saja, banyak nyamuk yang mengganggunya. Ia telah menutupi seluruh tubuhnya, akan tetapi nyamuk di daerah rawa itu benar-benar bandel. Binatang-binatang kecil itu dapat menggigitnya melalui mantelnya dan mukanya menjadi sasaran. Bukan main marah dan mendongkolnya, akan tetapi ia merasa malu untuk membuat api unggun seperti Sian Lun.

Ketika pada pagi hari itu ia hendak melanjutkan perjalanan dengan diam-diam tanpa memberi tahu kepada pemuda itu, ternyata bahwa Sian Lun telah mendahuluinya dan datang mendekatinya. “Enak tidur?” tanya pemuda ini sambil tersenyum.

Panas hati Ling Ling mendengar pertanyaan ini yang dianggapnya seperti olok-olok karena tidak tahukah pemuda itu betapa ia menderita gangguan nyamuk? Ia sama sekali tidak tahu bahwa juga Sian Lun tidak tidur malam itu, sungguhpun bukan karena gangguan nyamuk, akan tetapi gangguan hati sendiri yang mulai jatuh cinta kepadanya.”

“Kau yang enak tidur!” jawabnya mendongkol. “Bagaimana aku dapat tidur di tempat seperti neraka ini?”

“Nona, harap kau jangan terlalu mencurigaiku. Kalau saja kau menurut kata-kataku, tentu kau tidak akan mengalami kekecewaan. Aku lebih hafal akan jalan-jalan di sini dan percayalah, aku akan membawamu ke Tiang-an, dan takkan kuhalangi segala tindakanmu kecuali kalau sudah sampai di kota itu.”

Ling Ling tidak menjawab, akan tetapi ia tidak membantah dan mengikuti pemuda itu ketika Sian Lun mengajaknya keluar dari daerah rawa itu. Mereka berjalan kembali ke jalan yang kemaren kemudian membelok ke kanan dan selanjutnya Sian Lun yang menjadi penunjuk jalan. Mereka melakukan perjalanan bersama, merupakan pasangan yang amat sedap dipandang karena mereka sama-sama muda, gagah dan elok. Akan tetapi, di sepanjang jalan mereka tidak pernah, atau jarang sekali bicara.

Ling Ling merasa betapa tubuhnya terasa tidak enak sekali dan kepalanya kadang-kadang pening. Akan tetapi tentu saja ia tidak sudi memperlihatkan keadaannya kepada Sian Lun. Ia mengira bahwa ia terlampau lelah dan kurang tidur, dan ia tidak mau menyatakan kelemahannya terhadap Sian Lun. Padahal sebetulnya ia telah terserang oleh bisa gigitan nyamuk-nyamuk malam tadi.

Setelah matahari naik tinggi, mereka tiba di sebuah dusun dan Sian Lun yang melihat betapa gadis itu wajahnya pucat dan penuh keringat lalu berkata. “Kita beristirahat dulu dan mengisi perut.”

“Aku tidak ingin makan!” bantah Ling Ling.

“Ingat, nona. Aku yang menjadi penunjuk jalan dan sekarang aku merasa lapar dan lelah. Kau pun nampak lelah, mengapa berkeras kepala?”

“Kau yang keras kepala!” kata Ling Ling merengut, akan tetapi ia mengikuti pemuda itu yang melangkah masuk ke dalam sebuah restoran.

“Dua bubur, bebek tim dan air teh.” Sian Lun memesan kepada seorang pelayan yang menghampiri mereka. Pelayan itu mengangguk dan pergi ke belakang untuk menyediakan pesanannya.

“Aku tidak suka bubur dan bebek tim, apalagi air teh!” Ling Ling membantah. “Aku ingin daging dan arak!”

“Dalam keadaan seperti ini, tidak baik makan daging dan minum arak, nona. Kesehatanmu bisa terganggu.”

Ling Ling dengan mata melotot, akan tetapi dalam pandangan Sian Lun, ia nampak makin cantik dan menarik kalau sedang marah. “Kau kira aku anak kecil yang harus menurut segala omonganmu? Aku mau daging dan arak!” kata Ling Ling.

“Ssst, nona. Banyak orang di sini, tidak malukah kalau kita cekcok di sini?” kata Sian Lun berbisik perlahan.

Ling Ling mengerling ke kanan kiri dan melihat para tamu restoran yang duduk di meja lain memandang ke arah mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka disangka sepasang suami isteri yang sedang bertengkar. Terpaksa Ling Ling mengalah, akan tetapi ia mendongkol sekali.

“Aku tidak sudi makan pesananmu!” bisiknya dengan gigi terkatup. Sian Lun tidak menjawab.

Akan tetapi, ketika masakan yang dipesan tadi dihidangkan oleh pelayan, tanpa berkata sesuatu Ling Ling lalu makan bubur dan bebek tim itu, bahkan lebih lahap dari pada Sian Lun. Pemuda ini diam-diam merasa geli sekali, akan tetapi ia tidak memperlihatkan perasaannya, hanya diam-diam memberi tanda kepada pelayan untuk menambah bubur.

Ling Ling tidak berkata dan makan sampai kenyang betul. Ia merasa tubuhnya menjadi segar kembali dan diam-diam ia merasa bersyukur atas pilihan makanan pemuda itu. Ia tahu bahwa permintaannya untuk makan daging dan arak tadi hanya timbul dari hatinya yang keras, karena sesungguhnya ia tidak begitu doyan minum arak yang membuatnya pening dan merasa muak.

Ketika mereka keluar dari restoran itu, tiba di depan mereka, di luar restoran, berdiri seorang tosu yang bertubuh tinggi besar dan bermata bundar. Kedua orang muda itu memandang dengan mata curiga, akan tetapi tosu ini dengan tersenyum-senyum memandang kepada mereka, seakan-akan sedang menyelidik.

Tiba-tiba matanya yang bundar itu memandang ke arah gagang pedang yang tergantung di pinggang Ling Ling dan senyumnya menghilang. Sinar matanya cepat dialihkan dan kini menatap wajah Ling Ling dengan pandang mata yang membuat gadis itu terkejut sekali, karena pandangan ini penuh dengan ancaman.

“Di mana kau peroleh pedang itu?” tanyanya kepada Ling Ling dengan suaranya yang mengguntur sehingga para tamu di dalam restoran itu memandang keluar dengan heran.

“Mau apa kau banyak tanya?” jawab Ling Ling dengan suara yang tak kalah keras dan nyaringnya. Memang, untuk membuat ia jangan sampai kalah muka, gadis ini telah mempergunakan khikangnya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema keras....

Jilid sebelumnya,

Jilid selanjutnya,
WANITA IBLIS PENCABUT NYAWA JILID 09
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.