Wanita Iblis Pencabut Nyawa Jilid 07

SETELAH berkata demikian, Jenderal Li Goan hendak memberi hormat kepada Sui Giok dan Ling Ling, akan tetapi ibu dan anak itu memandangnya dengan mata terbelalak. Pandangan mata Ling Ling dan Sui Giok sebenarnya bukan tertuju kepada wajah jenderal itu melainkan kepada pedang Oei Hong Kiam yang diangkat tinggi-tinggi oleh Jenderal Li Goan.
“Oei Hong Kiam....!” berseru Ling Ling dan ibunya hampir berbareng dan tiba-tiba wajah mereka menjadi beringas. Inilah pedang peninggalan Panglima Kam Kok Han yang telah dirampas oleh pembunuhnya. Sebelum menarik napas terakhir, Bu Lam Nio telah berpesan agar mereka berdua mencari dan membunuh pemegang pedang Oei Hong Kiam! Bagaikan mendapat komando, serentak Ling Ling dan Sui Giok menubruk maju dengan pedang mereka, menyerang Jenderal Li Goan yang sama sekali tidak menyangkanya.
Baiknya jenderal besar ini memiliki ilmu silat tinggi, maka ketika dua pedang itu menyambarnya, ia masih dapat menangkis pedang Sui Giok dan mengelakkan diri dari tusukan pedang merah di tangan Ling Ling yang menyambar lehernya. Namun gerakan Ling Ling amat cepatnya sehingga biarpun jenderal itu berhasil menyelamatkan nyawanya masih saja ujung pundaknya terbabat sehingga baju dan kulit pundaknya terobek oleh ujung pedang.
“Eh, gilakah kalian?” Jenderal Li Goan masih sempat berseru kaget.Dan Sian Lun lalu menyerbu ke depan menghadapi amukan Ling Ling yang amat berbahaya ilmu pedangnya itu. Juga semua perwira mengurung maju sambil berteriak-teriak. “Tangkap pemberontak wanita! Bunuh mereka!”
Ada pula yang berseru, “Mereka adalah siluman kejam! Bunuh!”
Ling Ling tertawa bergelak dan dengan suara yang menyeramkan ia berseru, “Hayo, majulah! Keroyoklah Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li! Kami tidak takut! Pemegang Oei Hong Kiam harus mampus di tangan kami!” Ia terus mengejar Jenderal Li Goan.
Akan tetapi oleh karena Sian Lun menghalanginya, dengan sengit dan marah sekali ia lalu menyerang Sian Lun sehingga kembali ia bertempur dengan hebatnya menghadapi pemuda kosen itu. Nama Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li sudah terkenal sekali, karena nama ini telah banyak diceritakan orang. Maka mendengar nama ini, terkejutlah semua orang, termasuk Sian Lun dan Jenderal Li Goan.
Akan tetapi jenderal yang berpengalaman ini tidak mau melihat wanita gagah itu terbunuh, karena ia pikir tentu ada apa-apanya dibelakang yang mereka hendak membunuhnya. Apalagi ucapan Ling Ling yang terakhir, yang menyatakan bahwa pemegang pedang Oei Hong Kiam harus mati di tangan mereka, amat menarik hatinya.
“Sian Lun, jangan bunuh mereka! Tangkap mereka hidup-hidup! Ini merupakan perintah!” katanya keras sehingga terdengar oleh semua perwira yang beramai-ramai mengurung ibu dan anak itu.
Para perwira ketika mendengar perintah ini lalu mengambil tambang dan jala, dan beramai-ramai mereka melemparkan jala dan tambang ke arah kedua orang wanita yang mengamuk bagaikan kerbau gila itu. Dikeroyok demikian banyak orang, terutama sekali menghadapi pedang Sian Lun yang luar biasa, akhirnya Ling Ling dan Sui Giok dapat tertutup oleh jala.
Mereka memberontak dan dengan pedang mereka, banyak jala yang putus-putus dan banyak pula perwira yang terkena bacokan sehingga terluka. Akan tetapi, selagi mereka meronta-ronta di dalam jala, Sian Lun lalu menghampiri Ling Ling dan dengan cepat sekali lalu menotok pundak gadis itu di jalan darah tai-hwi-hiat sehingga lemaslah tubuh Ling Ling.
Jenderal Li Goan juga melompat ke dekat Sui Giok dan jenderal yang berkepandaian tinggi ini menyontoh tindakan Sian Lun dengan tiam-hoatnya yang dipelajarinya dari ilmu totokan Siauw-lim-pai, maka robohlah Sui Giok dengan tubuh lemas pula.
“Tahan mereka dan hadapkan kepada pengadilan tertinggi untuk diperiksa!” jenderal itu memerintahkan kepada para perwiranya. “Akan tetapi harus memperlakukan mereka baik-baik!” Setelah berkata demikian, ia mengajak Sian Lun masuk ke dalam istana untuk melanjutkan usaha perkembangan selanjutnya agar pemerintahan yang baru dapat berjalan lancar.
Pada keesokan harinya, Kwee Siong dengan pakaian kebesaran telah duduk di belakang meja besar di dalam istana di ruang lebar bagian persidangan pengadilan kaisar. Pembantu-pembantunya telah menduduki tempat masing-masing dan di kanan kiri siap menjaga empat belas orang perwira yang berpakaian indah dan bersikap gagah. Empat orang algojo yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa berdiri di kanan kiri pula, diam tak bergerak bagaikan patung.
Suasana di ruang pengadilan sepi sunyi, tidak ada seorangpun berani mengeluarkan suara. Memang Kwee Siong terkenal amat memegang aturan dan melarang orang-orang membuat gaduh apabila ia sedang mengadakan pemeriksaan terhadap para pesakitan. Ia amat manis budi akan tetapi memegang disiplin teguh sekali. Di dalam pemeriksaan, ia amat jujur dan adil, pandai sekali memancing omongan pesakitan.
Pandai pula ia mengangkat dan menyanjung-nyanjung pesakitan untuk kemudian dibantingnya sehingga banyaklah para pesakitan yang tadinya mati-matian menyangkal perbuatannya, terkena bujuk dan masuk dalam perangkap sehingga tanpa diminta lagi mereka itu dengan sukarela telah mengakui semua perbuatannya.
Di dalam pekerjaan ini, sistim yang dipergunakan oleh Kwee Siong jauh berbeda dengan sistim pengadilan di masa itu. Biasanya, seorang hakim mengandalkan alat penyiksaan untuk memaksa pesakitan mengakui perbuatannya.
Pendapat Kwee Siong lain lagi, karena menurut pendapatnya, pemeriksaan mengandalkan alat penyiksaan ini banyak sekali membuat orang-orang yang tidak bersalah terpaksa mengakui perbuatan pelanggaran yang sebenarnya tidak dilakukan, semata-mata karena tidak tahan terhadap siksaan-siksaan tadi.
Dengan demikian terkenal di zaman itu banyak sekali orang tidak berdosa terpaksa menjalani hukuman, karena terpaksa mengakui perbuatan kejahatan yang tidak dilakukannya, dipaksa oleh alat-alat penyiksa tadi. Algojo-algojo atau tukang-tukang penyiksa yang seperti raksasa itu diadakan di situ oleh Kwee Siong hanya untuk menakut-nakuti saja, dan mereka berempat ini jarang sekali turun tangan.
Setelah memeriksa surat-surat tuduhan dan laporan dari para pesakitan yang banyak sekali jumlahnya, Kwee Siong lalu memanggil nama seorang pesakitan. Dengan amat lancar dilakukan tanya jawab dan pemeriksaan terhadap para pesakitan, seorang demi seorang. Cara memutuskan sesuatu perkara amat bijaksana dan kadang-kadang membuat para pembantunya diam-diam saling pandang dengan terheran-heran.
Sebagai contoh dari pada kebijaksanaan pemeriksaan dan keputusan Kwee Siong yang dianggap aneh oleh para pendengarnya, adalah dua hal sebagai berikut. Seorang bangsawan tua yang dekat dengan keluarga kaisar, ketika dibawa menghadap di ruangan itu, tidak mau berlutut di depan meja pengadilan.
“Berlutut!” bentak seorang algojo sambil memaksanya untuk berlutut.
Karena tenaga algojo itu amat kuat, maka bangsawan tua itu terpaksa berlutut. Akan tetapi, begitu ia berlutut dan tangan algojo yang menekan pundaknya dilepaskan, ia berdiri lagi dengan tegak dan memandang kepada Kwee Siong dengan mata menentang.
“Tua bangka kurang ajar! Kau harus berlutut!” Alagojo itu berseru lagi dan mengangkat tangannya untuk mengancam bangsawan itu.
Akan tetapi terdengar Kwee Siong berkata. “Biarkan saja!” Kemudian ia memandang kepada bangsawan itu dengan sabar, dan ia mengenal bangsawan itu yang bukan lain adalah Cin Kui Ong, seorang yang berpangkat kepala urusan kebudayaan di zaman pemerintah Sui. “Kiranya Cin Kui Ong taijin yang berdiri dihadapanku,” hakim ini berkata tenang, “Kerajaan Sui telah musnah, apakah kau masih saja berkeras kepala dan hendak melakukan perlawanan dengan sikapmu yang angkuh?”
Cin Kui Ong meludah ke atas tanah dengan sikap yang menghina sekali. “Cih! Kerajaan boleh musnah, akan tetapi kesetiaanku takkan musnah, biarpun kau akan memenggal leherku. Aku Cin Kui Ong tidak boleh dipersamakan dengan segala siauwjin (orang rendah) she Kwee yang tidak ingat budi. Kau dulu mendapat anugerah kaisar dan sekarang kau berbalik memihak pemberontak. Apakah kau tidak malu menghadapi nenek moyangmu?”
Seorang algojo hendak turun tangan membungkam mulut yang amat menghina itu, akan tetapi Kwee Siong memberi tanda agar bangsawan itu dibiarkan saja bicara.
“Orang she Kwee!” Cin Kui Ong melanjutkan bicaranya dengan semangat membubung tinggi dan muka merah. “Telah beberapa keturunan aku orang she Cin mengabdi kepada kaisar, mengalami jatuh bangunnya kerajaan, akan tetapi belum pernah keluargaku berlaku khianat. Kami adalah orang-orang setia yang tidak akan takut menerima datangnya hukuman dari pihak pemberontak keji. Bagi kami, lebih baik mati sebagai seorang pahlawan terhadap kaisar!”
“Bagus, Cin Kui Ong! Kau masih bisa bicara tentang kepahlawanan dan kegagahan. Memang tepat sekali ucapanmu bahwa orang harus menjunjung tinggi kesetiaan, akan tetapi lupakah kau bahwa diatasnya kesetiaan masih terdapat kebajikan, prikemanusiaan, dan keadilan? Apakah benar-benar kau tidak melihat betapa Kaisar Yang Te berlaku amat lalim dan tidak memperdulikan keadaan rakyat jelata? Lupakah kau betapa ratusan laksa jiwa rakyat kecil dikorbankan hanya untuk kesenangan dan nafsu dari kaisar yang angkara murka itu? Tidak tahu pulakah kau betapa pembesar-pembesar tinggi berlaku korup, memeras rakyat, menggendutkan kantongnya dan perutnya sendiri tanpa memperdulikan keluh kesah dan penderitaan rakyat?”
“Tak usah kau memberi petuah kepadaku, Kwee Siong! Dalam hal ini, kau yang masih muda mana dapat melampaui pengalamanku. Aku tahu, tidak buta mataku, aku tahu akan semua itu, akan tetapi aku orang she Cin tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Betapapun juga, kami adalah orang-orang yang patuh akan kewajiban, tidak sudi memeras rakyat, tidak sudi berlaku korup, patuh dan setia dengan setulusnya hati!”
Kwee Siong tertawa, “Kesetiaan membuta, ketulusan yang timbul dari hati lemah. Eh, orang she Cin, pernahkah kau yang melihat segala ketidak adilan itu menegur kaisar? Pernahkah kau turun tangan menghalangi kawan-kawan sejawatmu yang melakukan pekerjaan terkutuk itu?”
Untuk pertanyaan ini, Cin Kui Ong tak dapat menjawab. Akhirnya ia membela diri. “Urusan orang lain bukanlah urusanku. Kewajibanku telah kuselesaikan dengan hati bersih. Perduli apa dengan urusan orang lain. Thian tidak buta dan semua orang yang berbuat jahat pasti akan mendapat hukumannya sendiri.”
“Nah, itulah kelemahanmu, Cin-taijin! Kegagahan tanpa disertai keadilan dan kebajikan akan menjadi kegagahan yang merusak. Kesetiaan tanpa disertai pertimbangan dan prikemanusiaan akan menjadi kesetiaan yang palsu. Setialah orang-orang yang berani menegur dan memperingatkan junjungannya dari pada kesesatan. Setialah orang-orang yang berani melakukan hal itu, tanpa memperdulikan nasib sendiri, tidak takut menghadapi murka raja.
"Rakyat menderita hebat, yang makmur hanyalah orang-orang yang memegang pangkat, akan tetapi kau membutakan mata terhadap nasib rakyat jelata. Aku dapat melihat hal itu dan aku membantu perjuangan rakyat yang memang sudah seadil-adilnya. Pemimpin yang tidak pandai membawa rakyat ke arah kemakmuran sudah tak layak lagi disebut pemimpin. Kaisar diangkat bukan untuk menyenangkan diri sendiri, melainkan untuk berusaha ke arah kemakmuran rakyatnya, kekuatan negaranya!”
Mendengar uraian ini, diam-diam Cin Kui Ong menjadi kagum sekali. Terbukalah matanya bahwa kesetiaannya terhadap pemerintah Sui itu sama halnya dengan mendorong dan membela kejahatan merajalela. Akan tetapi, ia tetap mengangkat dada dan berkata.
“Kalau begitu, biarlah aku mengaku bahwa pemerintah Sui memang buruk. Dan sebagai seorang pembesar dari pemerintah yang buruk, aku siap untuk dihukum mati. Biarlah aku membayar kesalahan kerajaan Sui dengan kesetiaan dan nyawaku!”
Kwee Siong tersenyum girang. Ia memberi tanda kepada penjaga dan berkata, “Bebaskan dia! Kembalikan gedungnya yang disita dan bebaskan pula semua keluarganya!”
“Kwee Siong, kau menghinaku!” Cin Kui Ong berkata marah. “Lebih senang hatiku kalau kau menjatuhi hukuman mati kepadaku!”
Akan tetapi Kwee Siong menggelengkan kepalanya. “Tidak, Cin-taijin. Orang-orang bersemangat kesatria dan berjiwa pahlawan seperti kau amat dibutuhkan oleh rakyat yang perlu dipimpin. Pemerintahan baru membutuhkan tenagamu, dan kalau kau memang mencinta nusa dan bangsa, tentu kau akan suka menyumbangkan tenagamu!”
Demikianlah, Cin Kui Ong yang terheran-heran itu didorong keluar dari ruang sidang itu dan disuruh pulang. Hal ini amat mengherankan semua orang, akan tetapi perhitungan Kwee Siong memang tepat. Sebelumnya ia memang telah tahu bahwa pembesar ini termasuk di antara para pembesar yang jujur dan adil, dan setelah kini dikeluarkan, ternyata kelak Cin Kui Ong akan merupakan seorang pembesar yang amat baik dan membantu lancarnya roda pemerintahan yang baru.
Keputusan kedua yang dijatuhkan kepada seorang pembesar muda bernama Oei Lok Cun juga mengherankan semua orang. Pembesar ini usianya baru tiga puluh tahun lebih dan tadinya ia berpangkat kepala bagian perbendaharaan. Seperti juga Cin Kui Ong, ia ditawan sebelum sempat melarikan diri, karena ia tidak dapat pergi meninggalkan gedungnya yang penuh dengan harta bendanya.
Sebelum melakukan pemeriksaan, Kwee Siong sudah membuat catatan riwayat hidup dan keadaan seorang pesakitan, maka ia tahu bahwa pembesar muda she Oei ini dulunya terkenal sebagai seorang pembesar tukang korupsi. Betapapun juga, ia hendak melihat sikapnya dulu, baru mengambil keputusan.
Begitu dihadapkan dengan Kwee Siong, Oei Lok Cun lalu menjatuhkan diri berlutut tanpa berani mengangkat mukanya. Atas pertanyaan Kwee Siong, Oei Lok Cun menjawab bahwa dia adalah seorang bekas pembesar bagian perbendaharaan, mempunyai seorang putera dan tidak ikut mengungsi dengan kaisar karena katanya ia hendak tunduk terhadap pemerintah yang baru.
“Oei Lok Cun!” Kwee Siong membentak dengan suara keras. “Kau kini menyatakan hendak tunduk terhadap pemerintahan yang baru, apakah kau tahu siapakah para pemberontak yang kini menggulingkan kaisar?”
“Hamba tahu, hamba tahu!” jawab Oei Lok Cun cepat-cepat. “Yang menggulingkan kaisar adalah Jenderal Li Goan yang gagah perkasa dan adil.”
Marahlah Kwee Siong mendengar jawaban ini. “Bodoh! Tidak terbukalah matamu bahwa Li-goanswe hanya menjadi pemimpin yang terpilih oleh rakyat? Rakyat jelatalah yang menggulingkan pemerintah kaisar lalim. Tahukah kau? Rakyat jelata yang telah lama terinjak-injak dan tercekik yang bangkit menggulingkan kaisar!”
“Betul.... betul....” kata Oei Lok Cun gagap. “Hamba tadi lupa, rakyat jelatalah yang gagah berani yang memberontak dan menggulingkan raja lalim!”
Kwee Siong tersenyum menyindir. Manusia yang tak dapat dipercaya, makinya di dalam hati. Anjing penjilat yang berbahaya. “Hm, sekarang kau menyebut rakyat jelata yang gagah berani? Akan tetapi berapa banyak sudah uang suapan yang kau terima pada waktu rakyat diperas dan dipaksa menjadi pekerja paksa?”
Pucatlah muka Oei Lok Cun mendengar tuduhan ini. Dengan bibir gemetar dan tubuh menggigil, ia berkata, “Itu... itu... hamba terpaksa... taijin!”
“Terpaksa bagaimana?”
“Hamba..... hamba hanya menurut perintah kaisar...... hamba..... hamba tidak memakai uang itu...... kalau taijin kehendaki, sekarang juga hamba akan kembalikan semua uang itu..... sungguh mati, hamba tidak menggunakan uang itu, hamba mau menyerahkan kembali kepada taijin.....”
“Tutup mulutmu!” Kwee Siong membentak marah karena merasa ia akan diberi suapan secara demikian berterang dan tak tahu malu. “Kau kira aku semacam engkau? Kau bilang bahwa kau sekarang hendak menurut dan tunduk kepada pemerintah baru? Betul-betul kau bersumpah bahwa kau akan membantu kami?”
Gembiralah wajah Oei Lok Cun karena mendapat harapan baru. “Tentu saja, taijin! Hamba bersumpah untuk membela dan bersetia, hamba suka membantu dengan jiwa raga hamba!”
Hampir saja Kwee Siong tertawa bergelak mendengar omong kosong ini. “Nah, bagus kalau begitu,” katanya menahan senyum, “sekarang kaisar telah melarikan diri dan kami membutuhkan tentara untuk mengejar dan menawannya. Kau harus membantu dan berjuang di garis depan, menghadapi tentara penjaga kaisar.”
Bukan main terkejutnya Oei Lok Cun mendengar ucapan ini. “Ampun, taijin! Hamba seorang yang lemah, tak pernah memegang senjata! Biarlah hamba membantu dengan harta benda hamba saja, untuk membeli ransum. Hamba..... hamba bersedia berjuang di garis paling belakang saja!”
Habislah kesabaran Kwee Siong. Ia memberi tanda kepada penjaga dan memutuskan, “Masukkan pengecut dan penjilat ini ke dalam penjara. Hukumannya sepuluh tahun, harta bendanya disita, ditinggalkan sepuluh bagian untuk putera dan keluarganya!”
Oei Lok Cun menangis dan mengeluh panjang pendek ketika ia diseret keluar. Seorang pembantu Kwee Siong yang duduk di sebelah kiri hakim itu dan yang tergerak hatinya oleh keluh kesah bekas pembesar kerajaan Sui itu memandang kepada Kwee Siong dengan mata memohon penjelasan.
“Orang macam itu,” kata Kwee Siong dengan sabar, “adalah orang yang amat berbahaya. Dalam keadaan negara aman, ia selalu berusaha untuk mengumpulkan kekayaan, tak perduli dengan jalan korupsi atau memeras rakyat. Kalau negara berada dalam bahaya, ia menyembunyikan diri, dalam persiapan perang ia selalu melepaskan diri mempergunakan uangnya. Kalau peperangan selesai, ia akan gembar gembor menonjolkan diri sebagai pahlawan terbesar dan menuntut jasa. Ia pengecut dan penjilat, berusaha menyuap pembesar atasannya dan mencekik pekerja bawahannya.”
Penjelasan ini membuat semua orang menahan napas karena kagum dan takut. Kalau ada di antara para pembantu itu yang bercita-cita seburuk kelakuan Oei Lok Cun, akan lenyaplah cita-cita itu bagaikan asap tertiup angin.
Demikianlah, Kwee Siong memeriksa semua tawanan dan pesakitan dengan caranya sendiri, penuh kebijaksanaan, kewaspadaan, dan keadilan. Banyak yang dibebaskan, ada pula yang dihukum mati atau dihukum sampai bertahun-tahun.
Ketika tiba giliran dua orang pesakitan wanita yang di dalam laporan disebut sebagai Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li, ia mengerutkan keningnya. Disangkanya bahwa kedua orang wanita itu tentulah perampok-perampok jahat yang mempergunakan kesempatan dalam peperangan itu untuk melakukan kejahatan.
Akan tetapi ketika ia membaca laporan itu mendapat kenyataan bahwa dua orang wanita itu menyerang dan melukai Jenderal Li Goan, ia menjadi terkejut sekali. “Bawa ke sini seorang demi seorang!” perintahnya.
Tak lama kemudian dari luar terdengar suara ribut-ribut dan seorang gadis muda yang cantik jelita diseret masuk. Gadis ini adalah Ling Ling yang diikat kedua kaki tangannya akan tetapi gadis itu masih berusaha meronta-ronta. Kalau saja ia tidak dalam keadaan tertotok maka ia akan dapat membuat tali-tali yang mengikat kaki tangannya itu akan putus semua.
“Hati-hatilah, jahanam-jahanam biadab!” desisnya dengan suaranya yang merdu dan nyaring sekali. “Kalau aku dapat bebas, aku akan patahkan lehermu seorang demi seorang.”
Ketika ia diseret di depan Kwee Siong, Ling Ling berdiri tegak dan memandang kepada pembesar ini dengan mata tajam dan penuh kebencian. Akan tetapi Kwee Siong memandangnya dengan senyum ramah dan pandang mata lembut, sehingga Ling Ling merasa heran dan juga jengah. Dengan heran ia merasa betapa kemarahannya mencair menghadapi wajah pembesar yang bermata tajam dan bermuka ramah itu.
Pada saat itu, seorang perwira datang dan menyerahkan sepucuk surat kepada Kwee Siong. Ketika Kwee Siong membaca surat itu, ternyata itu adalah surat dari Li Goan yang minta agar supaya Kwee Siong menyelidiki keadaan kedua orang wanita yang mengamuk itu dengan seksama dan teliti. Dalam suratnya ini, Li Goan menceritakan betapa di dalam perjalanannya menyerbu kota raja, kedua orang wanita itu telah membantunya mati-matian dan jasa mereka amat besar.
“Nona, siapakah namamu?” tanyanya setelah membaca surat itu.
“Perlu apa bertanya lagi. Aku disebut Iblis Wanita dan aku sudah kalah karena keroyokan yang pengecut sekali. Aku sudah tertangkap, mau bunuh boleh bunuh, buat apa banyak tanya?”
“Kau gagah berani sekali, nona. Sayang sekali seorang gadis yang masih muda seperti kau, seorang yang masih banyak harapan di hari depan, yang seharusnya menjadi seorang calon ibu yang bijaksana, seorang berkepandaian tinggi yang seharusnya menjadi pejuang yang amat dibutuhkan oleh rakyat, kau ternyata telah tersesat sedemikian jauhnya. Sungguh sayang sekali kau menerima pelajaran ilmu kepandaian setinggi itu, kalau hanya kau pergunakan untuk membunuh Jenderal Li Goan, pemimpin besar dari rakyat jelata!”
Kata-kata pertama yang dikeluarkan oleh Kwee Siong mengharukan hati Ling Ling sehingga hampir saja ia mengeluarkan air matanya. Akan tetapi ucapan terakhir itu memanaskan hatinya sehingga ia menjawab marah,
“Kau ini siapakah maka berani bicara tentang kegagahan? Siapa yang tersesat? Aku selamanya membela rakyat dan membenci kaisar lalim dan pembesar terkutuk. Aku mengamuk dan membunuh perajurit-perajuritmu karena mereka merampok dan menculik wanita!”
Kwee Siong tersenyum dan mengangguk-angguk. “Aku sudah tahu, nona. Aku sudah tahu pula betapa kau dan kawanmu yang seorang lagi telah membantu perjuangan Jenderal Li Goan. Akan tetapi, mengapa kau tiba-tiba menyerang Jenderal Li Goan? Mengapa kau dan kawanmu tiba-tiba berbalik pikiran dan berusaha mati-matian untuk membunuhnya?”
“Karena ia musuh besar Kam Kok Han! Karena dia yang memegang Oei Hong Kiam!”
“Apa maksudmu?” tanya Kwee Siong dengan heran sekali.
“Tak perlu aku banyak bicara. Pendeknya siapa saja yang menjadi ahli waris pedang Oei Hong Kiam, orang itu harus kubunuh!”
Tertarik sekali hati Kwee Siong mendengar ini. Ia sudah hampir dapat membuka tabir rahasia tentang penyerangan itu. Ia mendesak dan membujuk, akan tetapi benar saja, Ling Ling tidak mau menjawab lagi. Ia tidak mau membuka rahasia Bu Lam Nio, dan hanya menyatakan bahwa ia harus membunuh Jenderal Li Goan, karena jenderal itu membawa pedang Oei Hong Kiam.
Kwee Siong menjadi kewalahan menghadapi gadis yang keras kepala ini. “Bawa yang seorang lagi ke sini!” perintahnya kepada penjaga.
Berbeda dengan Ling Ling, Sui Giok masuk ke dalam ruangan itu dengan patuh dan tidak banyak memberontak. Ketika ia dihadapkan kepada Kwee Siong, Sui Giok mengangkat mukanya dan memandang, juga Kwee Siong memandang tajam. Dan..... keduanya menjadi pucat sekali. Baik Sui Giok maupun Kwee Siong seakan-akan melihat setan di siang hari, mata mereka terbelalak, mulut celangap, bibir gemetar dan tubuh menggigil.
“Siapa namamu?” tanya Kwee Siong menahan getaran hatinya, akan tetapi tetap saja suaranya terdengar parau dan menggigil sehingga semua orang memandangnya dengan khawatir.
“Hamba bernama Liem Sui Giok, taijin.....” menjawab Sui Giok sambil menundukkan mukanya untuk menahan keluarnya air mata dari sepasang matanya. Ling Ling hampir saja berteriak saking herannya melihat sikap ibunya ini. Belum pernah ia melihat ibunya bersikap demikian lemah lembut dan tunduk.
“Dan.... dan ini.... ini anakmu......?” Wajah Kwee Siong makin pucat dan suaranya makin perlahan.
“Betul, inilah Ling Ling, puteri hamba....”
Terdengar teriakan keras dan ributlah semua orang di situ melihat betapa Kwee Siong roboh pingsan di atas bangkunya dengan kepala terkulai di atas meja. Dan yang amat mengherankan hati Ling Ling, ibunya berlutut sambil menundukkan muka dan menangis.
Dalam keadaan ribut-ribut, ibu dan anak ini dibawa kembali ke kamar tahanan, sedangkan Kwee Siong lalu digotong masuk ke dalam istana. Ia pingsan sampai lama sekali dan ketika siuman, ia menderita demam panas yang hebat. Ia menderita pukulan batin yang hebat sekali ketika ia melihat isteri dan puterinya telah menjadi orang-orang yang disebut siluman-siluman wanita.
Begitu siuman, ia berteriak-teriak dan kemudian jatuh pingsan lagi. Jenderal Li Goan cepat mencari ahli obat untuk memeriksanya dan memberinya obat. Semua orang berpendapat bahwa Kwee Siong terlampau lemah dan setelah ikut dalam peperangan yang melelahkan, sekarang kelelahan membuatnya jatuh sakit berat.
Malam hari itu, Sian Lun dipanggil oleh Jenderal Li Goan. “Kau pergilah ke tempat tahanan dan sedapat mungkin lanjutkan pemeriksaan pamanmu (Kwee Siong) atas diri dua orang wanita itu. Coba kau tanya dengan jelas, mengapa mereka itu membenci orang yang memegang pedang Pusaka ini!”
Jenderal ini sudah mendengar tentang hasil pemeriksaan itu dan hatinya ingin tahu sekali. Kemudian Jenderal Li Goan lalu berpesan kepada Sian Lun agar supaya membebaskan kedua orang itu. “Mengaku atau tidak, kau harus bebaskan mereka. Biarlah mereka datang lagi kalau masih penasaran hendak membunuhku!” Jenderal ini tertawa. “Aku sudah siap menantinya.”
Demikianlah, malam hari itu sambil membawa surat perintah, Sian Lun menuju ke tempat tahanan. Sebelum ia tiba di tempat itu, Ling Ling dan ibunya bicara dengan asyik sekali. Berkali-kali Ling Ling membujuk ibunya agar suka menceritakan sikapnya yang aneh tadi, akan tetapi ibunya hanya menarik napas panjang.
“Tidak ada apa-apa, anakku, hanya bahwa dahulu aku pernah berkenalan dengan pembesar itu. Dia adalah kawan baik ayahmu dan... agaknya ia terharu melihat keadaan kita. Sudahlah, tak perlu kau tahu lebih banyak akan hal ini dan tak perlu pula kau bicara dengan siapapun juga. Biar aku yang akan menyelesaikan sendiri urusan ini apabila dia sudah dapat memeriksa lagi.”
Ling Ling tak dapat mendesak ibunya yang nampak sedih dan selalu menangis itu. Dan pada saat itu, Sian Lun telah memperlihatkan surat kuasa kepada kepala penjaga, karena tanpa adanya surat kuasa dari Jenderal Li Goan, biarpun Sian Lun cukup dikenal sebagai panglima muda, tak mungkin ia diperkenankan masuk untuk bercakap-cakap dengan para tawanan. Demikianlah disiplin yang amat baik dan keras dari Jenderal Li Goan.
Ketika melihat ada orang berjalan mendekati kamar tahanan mereka, Sui Giok menghentikan tangisnya dan Ling Ling memandang dengan marah ketika melihat bahwa yang datang adalah pemuda lihai yang kemarin bertempur dengan dia.
“Mau apa kau datang?” ia menegur dengan marah sekali dan seluruh mukanya berobah merah.
Akan tetapi Sian Lun ketika melihat betapa kedua orang itu dibelenggu dan keadaan mereka masih lemah bekas totokannya dan totokan jenderal Li Goan, merasa amat kasihan. Ia cepat membuka pintu kamar tahanan itu dan membuka pula belenggu kaki tangan mereka.
Bahkan tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membuka totokan dengan menepuk dan menotok kedua pundak gadis dan ibunya itu. Sesungguhnya totokan yang kemarin dilakukan olehnya dan oleh jenderal Li Goan telah lenyap pengaruhnya dalam waktu seperempat hari saja, akan tetapi kalau lenyapnya bukan karena dibuka dengan totokan lain, pengaruhnya masih ada dan masih membuat tubuh terasa lemas.
Bukan main herannya hati Ling Ling dan Sui Giok ketika mereka melihat perbuatan pemuda bekas lawan ini. Lebih-lebih lagi rasa heran mereka ketika Sian Lun mengeluarkan dua batang pedang dari dalam mantelnya, yakni pedang Ling Ling dan pedang Sui Giok yang kemaren telah dirampas.
“Apa maksudmu dengan semua ini?” tanya Ling Ling masih ketus dan galak. “Apakah kau hendak menyombongkan keberanianmu dan menantangku melanjutkan pertempuran kita satu lawan satu tanpa adanya pengeroyokan yang pengecut?” Sambil berkata demikian, gadis ini sudah siap dan mencabut pedangnya.
Akan tetapi ia dicegah oleh ibunya yang segera bertanya kepada Sian Lun, “Orang muda, sesungguhnya mengapa kau melepaskan kami? Apakah kehendakmu?”
“Aku diperintah oleh Jenderal Li Goan untuk melepaskan kalian karena beliau menganggap kalian telah membantu perjuangan dan berjasa kepadanya.”
Ucapan ini benar-benar di luar persangkaan kedua anak dan ibu itu. Tadinya mereka mengira bahwa Sian Lun sendiri yang mempunyai maksud menolong mereka, akan tetapi Jenderal Li Goan? Bukankah mereka telah menyerang dan hendak membunuhnya, bahkan Ling Ling telah berhasil melukai pundaknya?
Sian Lun dapat menduga apa yang mereka pikirkan, maka ia lalu berkata lagi. “Sesungguhnya, Jenderal Li Goan merasa amat penasaran mengapa kalian hendak membunuhnya hanya karena kebetulan sekali ia memegang pedang Oei Hong Kiam. Padahal, ia memiliki pedang itu adalah atas pemberianku!”
Mendengar ucapan ini, baik Ling Ling maupun Sui Giok melompat bangun dan memandang kepada Sian Lun dengan mata tajam mengancam. “Jadi tadinya pedang itu adalah milikmu??” tanya Sui Giok yang tiba-tiba berobah suaranya menjadi keren sekali sehingga Sian Lun merasa amat terkejut.
Kemudian.... “Memang Jenderal Li menerima pedang itu dariku,” kata pula Sian Lun sambil memandang tajam.
“Kalau begitu kau harus mampus ditanganku!” seru Ling Ling dan ibunya hampir berbareng.
Sian Lun makin terkejut dan cepat-cepat ia mengangkat kedua tangannya. “Harap sabar dulu toanio, dan kau juga nona. Pedang itu bukanlah pedang yang kuwarisi dari nenek moyangku. Aku hanya kebetulan saja mendapatkan pedang itu!”
Sui Giok menunda serangannya dan memandang tajam penuh perhatian. “Coba kau ceritakan bagaimana kau mendapatkan pedang itu? Siapa pemiliknya sebelum terjatuh ke dalam tanganmu?”
Melihat ketegangan pada muka kedua orang wanita itu, Sian Lun dapat menduga bahwa pedang Oei Hong Kiam itu tentu mempunyai riwayat yang hebat sekali. Dengan singkat ia lalu menuturkan betapa ia mendapatkan pedang itu dari tangan seorang Panglima lawan, yakni Jenderal Kwan Sun Giok yang menjadi murid dari Liang Hoat Cinjin.
Mendengar penuturan ini, Sui Giok menarik napas panjang dan berkata kepada Ling Ling. “Ah, mengapa buruk benar nasib kita? Jenderal Li Goan yang gagah perkasa hampir saja kita bunuh karena kecerobohanku. Anak muda, tolong kau sampaikan pernyataan maafku kepada Jenderal Li Goan, dan juga terima kasih kami bahwa dia telah begitu baik hati untuk melepaskan kembali kami, ibu dan anak yang berdosa.”
Bangga hati Sian Lun mendengar ucapan ini dan pemuda yang tadinya merasa gelisah ini, kini dapat tersenyum kembali. Dengan mata berseri, ia memandang kepada Ling Ling dan ibunya lalu berkata, “Jenderal Li Goan adalah seorang pemimpin besar yang bijaksana. Kalau saja jiwi sudi bertemu dengan dia dan menyatakan hendak bekerja sama menggulingkan kaisar lalim yang kini masih belum tewas, tentu dia akan menerima dengan kedua tangan terbuka.”
Sui Giok menggelengkan kepalanya. “Kami bukanlah orang-orang yang haus akan kedudukan dan pangkat.”
“Betapapun juga, kaisar lalim itu akhirnya pasti akan mampus di ujung pedangku!” Ling Ling menyambung kata-kata penolakan ibunya.
“Orang muda, sebelum kami pergi, dapatkah kau menerangkan padaku, siapakah gerangan hakim yang memeriksa kami siang tadi?”
Sian Lun tersenyum gembira ketika menjawab, “Ah, dia? Dia adalah pamanku sendiri, bernama Kwee Siong, orang termulia di atas dunia ini!”
Wajah Sui Giok menjadi pucat sekali dan bibirnya gemetar. Untuk menyembunyikan kebingungan dan keharuan hatinya, ia berkata gagap. “Jadi kau keponakannya, bukan anaknya.....?” Pertanyaan ini sebetulnya merupakan ucapan penutup keharuannya, asal keluar saja, akan tetapi dijawab oleh Sian Lun yang tidak menduga sesuatu.
“Bukan toanio. Aku bukan anaknya. Pamanku Kwee hanya mempunyai seorang putera yang bernama Kwee Cun, baru delapan tahun usianya.”
Belum habis pemuda itu mengeluarkan ucapan ini, Sui Giok telah memegang tangan Ling Ling dan menariknya keluar. “Hayo kita pergi!”
Tentu saja Sian Lun menjadi heran sekali. Akan tetapi ketika ia menyusul keluar, ibu dan anak yang aneh itu telah lenyap ditelan malam gelap. Terpaksa ia kembali ke tempat tinggal Kwee Siong dengan hati menduga-duga.
Adapun Ling Ling yang semenjak kecil belum diberitahu oleh ibunya akan nama ayahnya, juga sama sekali tidak pernah mengira bahwa hakim itu adalah ayahnya sendiri. Tadinya Sui Giok menanti dengan hati penuh harapan ketika ia melihat betapa hakim itu adalah suaminya sendiri, akan tetapi dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika mendengar dari Sian Lun bahwa suaminya yang kini telah menduduki pangkat tinggi itu ternyata telah menikah lagi dan telah mempunyai seorang putera.
Ia menyembunyikan hal ini dari Ling Ling, karena ia maklum akan kekerasan hati puterinya ini. Ia tidak dapat menyalahkan pernikahan suaminya itu, karena sebagai seorang bijaksana, Sui Giok dapat mempertimbangkan keadaan suaminya yang tadinya seakan-akan menghidupkan jiwanya yang telah mati, kini api harapan itu padam lagi dan membuat ia merasa betapa kosongnya dunia ini.
Sementara itu, ketika siuman kembali dari pingsannya, Kwee Siong memandang ke kanan kiri, kemudian terdengar ia mengeluh. “Mana.... mana mereka.....??” bisiknya berkali-kali dengan tubuh terasa panas bagaikan dibakar.
Seorang tinggi besar mendekatinya dan memegang tangannya. “Saudara Kwee, kau kenapakah?” suara ini halus sekali sungguhpun terdengar besar dan dalam.
Kwee Siong memandang kepada wajah Jenderal Li Goan, dan tiba-tiba ia bangun dan duduk. “Goanswe.... tolonglah..... keluarkan mereka. Ah, mereka itu adalah isteriku dan puteriku! Sui Giok..... isteriku ternyata masih hidup dengan anaknya.... anakku.... Ling Ling!”
Tentu saja Li Goan menjadi terharu dan menggeleng-gelengkan kepala, mengira bahwa hakim ini telah menjadi kacau pikirannya karena terserang demam. “Beristirahatlah, saudara Kwee, kau terserang penyakit panas. Mungkin kau terlalu lelah,” katanya lemah lembut sambil mendorong perlahan pundak Kwee Siong supaya berbaring lagi.
Akan tetapi, dengan mata terbelalak Kwee Siong memegang tangannya dan berkata, “Tidak, Goanswe, tidak! Dua orang wanita itu..... yang katanya menyerangmu, mereka itu benar-benar isteri dan puteriku yang kukira tewas belasan tahun yang lalu!”
Barulah Jenderal Li Goan terkejut mendengar ucapan ini. Ia lalu duduk di pinggir pembaringan Kwee Siong yang menceritakan riwayatnya ketika ia dibawa pergi oleh pasukan pengumpul tenaga rakyat untuk dipaksa bekerja. Ia menuturkan pula bahwa telah beberapa kali ia menyuruh orang menyelidiki keadaan isteri dan anaknya, dan mendengar bahwa mereka itu tidak kelihatan bekas-bekasnya lagi, kemungkinan besar sudah tewas di dalam hutan.
“Dan sekarang mereka muncul..... mereka berada di sini! Ah, tolonglah Goanswe, bebaskan mereka, biar mereka datang ke sini!”
Li Goan terkejut sekali dan cepat ia pergi keluar untuk memberi kabar kepada Sian Lun. Akan tetapi ia mendengar dari pemuda ini bahwa kedua ibu dan anak itu telah pergi, entah ke mana. Pemuda ini menuturkan pengalamannya dan dengan wajah lesu jenderal ini lalu masuk kembali ke kamar di mana Kwee Siong berbaring dengan penuh harapan.
Alangkah terkejut dan menyesalnya hati Kwee Siong ketika ia mendengar Li Goan berkata, “Mereka sudah pergi, agaknya isterimu tidak mau bertemu dengan kau.” Ia lalu menuturkan kembali apa yang ia dengar dari Sian Lun tadi.
Kwee Siong menutup mukanya dengan kedua tangan dan ia menangis terisak-isak seperti anak kecil. “Ah, Sui Giok.... Sui Giok... tentu kau marah dan membenciku.... aku telah berdosa besar kepadamu! Sui Giok, mengapa kau tidak mau kembali kepadaku.....?”
Dalam keadaan sakit keras Kwee Siong lalu diangkat pulang ke rumah sendiri. Atas permintaannya, peristiwa itu dirahasiakan, hanya Kwee Siong dan Li Goan sendiri yang mengetahuinya. Bahkan Sian Lun sendiri tidak diberi tahu bahwa ibu dan anak yang menyerang Li Goan itu sebenarnya adalah isteri dan puteri dari Kwee Siong.
Nyonya Kwee Siong dari keluarga Liok adalah seorang yang terpelajar. Melihat keadaan suaminya dan mendengar betapa di dalam sakitnya, suaminya mengingau dan memanggil-manggil nama Sui Giok, ia menjadi curiga. Ia telah diberitahu oleh suaminya bahwa suaminya dulu pernah menikah dengan orang yang bernama Sui Giok dan yang dikabarkan telah tewas.
Maka ketika ia melihat suaminya sudah menjadi agak sembuh, dengan halus ia mendesak dan membujuk kepada Kwee Siong untuk menceritakan keadaannya. Kwee Siong maklum akan kebaikan hati isterinya, maka ia lalu berterus terang, menceritakan apa yang telah terjadi.
Nyonya Kwee menjadi sangat terharu dan dengan setulus hatinya ia mengucurkan air mata. “Aduh, kasihan sekali mereka! Suamiku, mengapa pada saat kau bertemu dengan mereka, kau tidak mengajak mereka pulang ke sini? Mereka berhak duduk di sampingmu dan hidup bersama kita serumah. Dia adalah ibu dari anakmu yang sulung dan aku adalah ibu dari anakmu yang bungsu. Kami dapat menjadi enci-adik dan hidup rukun di sini.”
Kwee Siong menghela napas berulang berkali dengan penuh kemenyesalan. “Aku berdosa besar.... aku berdosa besar kepada mereka...” hanya inilah yang diucapkan berkali-kali dan hatinya penuh dengan pertanyaan bagaimana Sui Giok yang lemah lembut itu kini telah menjelma menjadi seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan mengerikan.
Akan tetapi siapakah dapat menjawab pertanyaan ini? Puterinya, Ling Ling yang dulu masih berada dalam kandungan Sui Giok ketika mereka terpaksa berpisah, ternyata demikian cantik jelita, demikian gagah berani, ah.... Tiada habisnya penyesalan menggerogoti hati Kwee Siong sehingga dalam beberapa bulan saja rambut kepalanya banyak yang menjadi putih, sikapnya makin pendiam dan seringkali ia duduk melamun. Sungguhpun ia masih melakukan tugas pekerjaannya seperti biasa, namun ia tak pernah lagi nampak gembira seperti biasa.
Tentu saja isterinya juga ikut menjadi sedih. Berkali-kali isteri yang bijaksana ini menghiburnya. “Suamiku, kau tidak berdosa, sama sekali tidak berdosa. Kau bukan sengaja meninggalkan enci Sui Giok, dan kau menikah dengan aku karena mengira bahwa enci Sui Giok sudah meninggal dunia. Nasiblah yang menjadikan enci Sui Giok seperti itu dan yang telah merusakkan kebahagiaan rumah tanggamu bersama enci Sui Giok. Ada ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa perbuatan salah yang dilakukan tanpa disadarinya dan tanpa disengaja bukanlah perbuatan dosa. Lebih baik kita berusaha mencari mereka dan membawa mereka itu ke sini.”
Terhibur jugalah hati Kwee Siong oleh ucapan isterinya yang bijaksana ini dan ia mulai menyuruh orang-orangnya untuk mencari di mana adanya ibu dan anak itu.
Jenderal Li Goan ternyata adalah seorang yang tidak saja pandai mainkan senjata dan memimpin barisan, akan tetapi ternyata ia pandai pula menghatur pemerintahan. Ia mulai mengatur pemerintahan, mengangkat pembesar-pembesar, membagi-bagi tugas dan mulai mengatur pekerjaan, melanjutkan ketatanegaraan dengan adil dan baik. Disamping ini, ia masih mengerahkan pasukan-pasukannya untuk terus mengejar kaisar dan sisa bala tentaranya.
Sementara itu, dimana-mana masih saja berkobar api pemberontakan. Sebagian besar para pasukan pemberontak yang bergerak menyendiri, dapat dibujuk dan dapat digabungkan dengan barisan di bawah pimpinan Jenderal Li.
Akan tetapi ada pula pemberontak-pemberontak yang mempunyai cita-cita sendiri dan yang bahkan memerangi pasukan Jenderal Li, oleh karena ini dipimpin oleh orang-orang yang sesungguhnya menginginkan kedudukan kaisar. Oleh karena ini, di mana-mana terjadi pertempuran antara pasukan kaisar melawan para pemberontak dan antara pasukan-pasukan Jenderal Li melawan pemberontak-pemberontak yang tidak mau menggabungkan diri.Keadaan negara menjadi rusuh sekali, pertempuran kacau balau terjadi di mana-mana.
Kedudukan Kaisar Yang Te makin lemah, sungguhpun kaisar ini masih melakukan perlawanan mati-matian. Pemberontak-pemberontak yang paling hebat menggempur barisan Kaisar Yang Te adalah sepasukan pemberontak baru yang terdiri dari pendeta-pendeta dan anak buah perkumpulan agama Pek-sim-kauw.
Mereka ini berjuang tanpa maksud untuk keuntungan diri sendiri. Mereka hanya bergerak untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Yang Te yang amat dibenci karena kelalimannya. Tadinya anggauta-anggauta Pek-sim-kauw ini bangun dan menggabungkan diri dengan para pemberontak setempat, tidak memilih pihak mana dan siapa yang memimpin pemberontakan itu.
Akan tetapi, akhirnya terbuka mata mereka dan yang merasa bahwa barisan pemberontak dimana mereka menggabung diselewengkan pemimpinnya yang memberontak dengan maksud untuk menjadi kaisar, lalu keluar dari pasukan itu. Akhirnya para anggauta Pek-sim-kauw ini agaknya mendapatkan seorang pemimpin baru dan mereka bersatu merupakan sebuah pasukan Pek-sim-kauw yang luar biasa kuatnya.
Tiap kali terjadi pertempuran antara barisan Pek-sim-kauw melawan barisan pelindung kaisar banyaklah perwira-perwira gagah perkasa dari kaisar yang roboh tewas oleh pasukan yang kuat ini. Sesungguhnya pasukan Pek-sim-kauw ini tidak seberapa banyak jumlahnya, akan tetapi mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.
Apalagi pemimpin mereka yang baru, ternyata bahwa pemimpin ini amat tangguh dan tiap kali pasukan Pek-sim-kauw menghadapi perlawanan yang dipimpin oleh seorang perwira lihai selalu pemimpin Pek-sim-kauw inilah yang merobohkan perwira itu.
Siapakah pemimpn Pek-sim-kauw yang lihai ini? Bukan lain adalah Ling Ling dan ibunya, Sui Giok. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ibu dan anak ini melarikan diri dari tempat tahanan setelah dilepaskan oleh Sian Lun. Karena Sui Giok merasa hancur hatinya dan habis binasa pengharapannya ketika mendengar bahwa suaminya yang kini telah menjadi seorang pembesar tinggi ternyata telah menikah lagi dan telah mempunyai seorang putera.
Kalau dulu di dalam setiap tindakan, Sui Giok selalu menjadi kemudi dan selalu mencegah puterinya berlaku ganas, adalah kini nyonya mempunyai sepak terjang mengerikan sekali. Di dalam setiap pertempuran, Sui Giok mengamuk bagaikan kerbau luka, menghancurkan tentara musuh yang berani menghadapinya.
Ia berlaku nekad dan tidak memperdulikan lagi bahaya yang mengancamnya, seakan-akan ia tidak perduli lagi akan hidup matinya. Memang nyonya ini telah putus harapan dan di dalam dadanya terdapat kedukaan besar sekali yang selalu disembunyikan dari mata orang lain, bahkan dari mata puterinya sendiri.
Ling Ling dan Sui Giok diangkat menjadi pemimpin oleh pasukan Pek-sim-kauw, ketika pada suatu hari serombongan pendeta Pek-sim-kauw terdiri dari belasan orang telah dikurung oleh sepasukan tentara kaisar di dalam sebuah hutan.
Belasan pendeta Pek-sim-kauw ini melawan mati-matian, akan tetapi karena pihak lawan amat banyak jumlahnya dan dipimpin oleh lima orang perwira kelas satu, agaknya rombongan pendeta Pek-sim-kauw itu tidak akan menang dan tidak mempunyai jalan keluar pula.
Tiba-tiba terdengar bentakan merdu dan nyaring dan dua bayangan orang yang luar biasa sekali gerakannya menyerbu masuk, mengocar-ngacirkan barisan kaisar ini dan dalam beberapa jurus saja telah berhasil merobohkan lima orang perwira kaisar. Barisan kaisar menjadi kacau balau dan ketika melihat betapa pemimpin-pemimpin mereka gugur, mereka lalu melarikan diri.
“Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li!” tiba-tiba terdengar seruan heran dan ketika kedua orang wanita yang telah membantu mereka itu menengok, Ling Ling dan Sui Giok mengenal bahwa di antara para pendeta itu, terdapat dua orang pendeta yang mereka kenal baik, yakni Pek Hong Ji dan Pek Thian Ji dua orang di antara Pek-sim Ngo-lojin di Cengtu.
Demikianlah, Ling Ling dan ibunya lalu diangkat menjadi pemimpin mereka dan ketika ditanya, Pek Hong Ji dan adiknya memberitahukan bahwa tiga orang di antara kelima kakek gagah itu, yakni Pek Im Ji, Pek Yang Ji, dan Pek Te Ji, telah gugur di dalam pertempuran-pertempuran yang lalu.
Dengan adanya pasukan Pek-sim-kauw ini, maka para anggauta dan pendeta Pek-sim-kauw yang tersebar di mana-mana lalu datang menggabungkan diri sehingga pasukan ini menjadi makin besar dan kuat. Pasukan ini bermarkas di dalam sebuah hutan di luar kota Yang-kouw di mana Kaisar Yang Te membangun benteng sebagai tempat pertahanan terakhir.
Memang, karena dikejar-kejar dan sebagian besar barisannya telah dapat dipukul mundur hancur, Kaisar Yang Te dengan para pengikut dan pasukannya yang masih bersetia kepadanya, lalu bersembunyi di dalam kota Yang-kouw. Sisa-sisa barisan dikumpulkan dan dipusatkan di tempat ini, membuat pertahanan yang cukup kuat.
Beberapa kali pasukan-pasukan pemberontak datang menggempur, akan tetapi pertahanan kaisar ini berhasil memukul mundur barisan penyerang sehingga sampai hampir setahun kaisar itu masih hidup selamat di kota Yang-kouw ini.
Pada suatu hari, ketika Ling Ling dan Sui Giok sedang duduk beristirahat di bawah sebatang pohon pek yang besar, datanglah seorang pendeta Pek-sim-kauw dan setelah dekat, ternyata bahwa yang datang itu adalah pendeta Pek Hong Ji. Napasnya terengah-engah tanda bahwa pendeta yang sudah tua ini telah berlari-lari dari tempat jauh dalam keadaan yang tegang.
“Ada apakah, totiang?” tanya Ling Ling sambil bangun berdiri.
“Siocia, toanio, pertempuran besar telah dimulai! Penyerbuan besar-besaran telah terjadi, dilakukan oleh barisan Jenderal Li dari Tiang-an. Inilah saatnya benteng Yang-kouw dihancurkan.”
Seakan-akan menjadi bukti dari laporan pendeta Pek Hong Ji ini, tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh sekali dari jurusan kota Yang-kouw.
“Bagus, kita harus cepat menyerbu, membantu barisan Jenderal Li!” dengan sigap Ling Ling memberi perintah. “Kumpulkan kawan-kawan kita dan kita menyerbu dari belakang kota. Biarkan barisan Tiang-an yang besar jumlahnya menggempur dari depan dan selagi para tentara kaisar mempertahankan dan mengumpulkan kekuatan di benteng depan, kita menyerbu dari belakang dan memasuki kota!”
Ketika pasukan mereka sudah berkumpul dan hendak berangkat, Sui Giok berkata kepada Ling Ling dan kepada kedua pendeta Pek-sim-kauw, yakni Pek Hong Ji dan Pek Thian Ji. "Kalau kita sudah berhasil menyerbu masuk, jangan mengganggu kaisar, dia adalah bagianku dan pedang ini yang akan menamatkan riwayatnya!”
Pek Thian Ji tersenyum. “Aduh, toanio bersemangat benar?! Jangan kuatir, toanio, kami takkan mendahului.”
Berangkatlah pasukan istimewa ini keluar dari dalam hutan, berlari dengan cepat sekali tanpa mengeluarkan suara. Mereka ini rata-rata memiliki ilmu lari cepat yang cukup baik. Ketika mereka telah keluar dari hutan, suara sorak sorai peperangan makin terdengar ramai.
Ternyata bahwa barisan dari Tiang-an telah mulai menyerbu dan peperangan telah terjadi dengan hebatnya. Pasukan dari Tiang-an ini mempergunakan anak panah yang menghujani tempat-tempat penjagaan di atas tembok benteng, sedangkan dari dalam benteng juga keluar anak panah dan batu dari atas tembok bagaikan hujan.
Ling Ling dan Sui Giok memimpin pasukan mereka ke belakang kota dan menghampiri tembok kota. Akan tetapi ternyata perhitungan mereka meleset. Serbuan balatentara dari Tiang-an yang amat besar jumlahnya dan amat kuat itu, membuat kaisar menjadi ketakutan sehingga kaisar ini bersiap-siap untuk lari mengungsi lagi.
Oleh karena itu, ketika pasukan Pek-sim-kauw tiba di luar benteng sebelah belakang dan hendak mendobrak pintu itu, tiba-tiba dari atas tembok yang nampaknya tak terjaga itu turunlah batu-batu dan anak panah bagaikan hujan lebatnya. Dan selagi mereka menjadi terkejut dan kacau balau serta banyak anak buah yang menjadi korban hujan batu dan anak panah, tiba-tiba pintu benteng terbuka lebar-lebar dan sepasukan perwira istimewa, yakni barisan pelindung kaisar yang berkepandaian tinggi sekali, menerjang dan membabat mereka.
Ling Ling dan Sui Giok menjadi marah sekali. Dengan nekad kedua ibu dan anak ini lalu menyerbu dan menghadapi keroyokan para perwira dengan gagahnya. Akan tetapi, para perwira itu benar-benar tangguh sehingga ibu dan anak ini tidak dapat mencegah ketika kaisar dapat melarikan diri dengan sebuah kendaraan, dikawal oleh sepasukan pelindung yang nampak gagah dan kuat.
Ling Ling dan Sui Giok tidak dapat mengejar, karena para pengeroyok mereka amat banyak dan amat tangguh. Adapun para pendeta Pek-sim-kauw juga sibuk menghadapi serbuan perajurit-perajurit bayangkari. Sui Giok menjadi sengit sekali. Ia memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga robohlah seorang lawan, kemudian ia berteriak keras, “Tahan anjing-anjing ini! Aku hendak mengejar kaisar jahanam itu!”
Ia lalu melompat pergi, mengejar ke arah rombongan kaisar sambil menjerit-jerit. “Kaisar lalim! Tunggulah pembalasanku! Kau telah menghancurkan hidupku, sekaranglah saatnya aku membalas dendam!!”
Jeritan ini disertai isak tangis sehingga Ling Ling menjadi terharu dan terkejut juga. Amat berbahayalah kalau ibunya menyerbu rombongan kaisar itu seorang diri. Ia maklum bahwa di antara rombongan kaisar itu terdapat banyak sekali pelindung yang ilmu silatnya tinggi. Maka ia lalu menyerbu cepat, merobohkan dua orang pengeroyok dan berkata kepada Pek Hong Ji.
“Totiang, aku hendak menyusul ibu.” Ia lalu melompat cepat, menyusul ibunya. Alangkah kagetnya ketika akhirnya ia dapat menyusul ibunya yang sedang dikeroyok oleh dua orang perwira yang amat gagah perkasa. Rombongan kaisar tidak kelihatan lagi, agaknya telah melarikan diri ke atas bukit yang nampak dari situ, dan ibunya telah dilawan oleh dua orang perwira yang berkepandaian tinggi.
“Kaisar jahanam, tunggu ku penggal lehermu!” Sui Giok masih menjerit-jerit sambil memutar pedangnya.
“Perempuan gila, kau ingin mampus!” seru seorang di antara kedua perwira yang mengeroyok dan dengan sebuah sabetan hebat goloknya berhasil merobohkan Sui Giok.
“Ibu.....!” Ling Ling yang tak keburu mencegah peristiwa itu melompat menerjang dengan hebat dan begitu pedangnya berkelebat, ia telah membabat kepala perwira yang bergolok itu bersama goloknya yang juga terbabat putus. Tanpa dapat mengeluarkan suara, perwira itu roboh dengan kepala pecah....