Wanita Iblis Pencabut Nyawa Jilid 09

TOSU itu tertegun dan maklum akan demonstrasi khikang ini. Ia merobah sikapnya dan berkata, “Hm, kiranya kalian adalah orang-orang muda dari kang-ouw pula. Pinto bertanya bukan tiada alasan. Pedang itu tentu Oei-hong-kiam, bukan? Ketahuilah bahwa Oei-hong-kiam adalah pedangku, sudah sepuluh tahun berada di tanganku. Kemudian kuberikan kepada muridku dan aku mendengar bahwa muridku telah tewas dan pedang itu telah terampas oleh lawannya. Karena itu, ku ulangi lagi, dari mana kau memperoleh pedang Oei-hong-kiam itu, nona?”
“Akulah yang memberi pedang itu kepadanya, totiang,” Sian Lun mendahuluinya menjawab. Pemuda ini maklum akan kekerasan hati nona itu, maka sebelum Ling Ling mengeluarkan ucapan kasar, ia mendahuluinya.
Mendengar ucapan ini, tosu itu lalu berpaling dan kini pandang matanya menatap wajah Sian Lun dengan tajam. “Kau? Siapa kau? Darimana kau peroleh pedang itu?”
“Aku memperolehnya dari seorang lawanku yang tewas.”
“Aha, jadi kaulah yang telah membunuh muridku Kwan Sun Giok? Bagus, kau berani sekali mengganggu murid dari Liang Hwat Cinjin? Kau mencari mampus!”Bukan main kagetnya Sian Lun mendengar ucapan ini, apalagi ketika tiba-tiba sepasang tangan tosu itu yang tertutup oleh lengan baju yang panjang dan lebar, telah menyambarnya dengan kecepatan luar biasa sekali, melakukan totokan dengan ujung lengan baju ke arah jalan darahnya yang berbahaya. Sian Lun cepat membuang tubuhnya ke belakang, berjungkir balik di udara beberapa kali, baru ia turun dan kini ia berdiri agak jauh dari tosu itu.
“Bagus, kau ternyata pandai juga. Pantas muridku kalah!” Sambil berkata demikian, kembali ia mengebutkan kedua tangannya ke depan, tanpa melangkah maju. Inilah pukulan Kim-kong-jiu yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh, sebuah pukulan yang dilakukan mengandalkan tenaga khikang yang amat tinggi.
Sian Lun semenjak tadi telah merasa ragu-ragu dan khawatir sekali. Kalau benar keterangan Kwan Sun Giok dahulu, kakek ini sebetulnya masih supeknya (uwa gurunya) sendiri, maka bagaimana ia berani melawannya? Ia tidak mengelak dari sambaran pukulan Kim-kong-jiu itu. Sebaliknya ia lalu mengangkat kedua tangannya ke arah dada dengan telapak terbuka, mengerahkan khikang dan lweekang dan melakukan gerakan Raja Monyet Menyembah Buddha.
Gerakan ini adalah pelajaran dari ilmu silat Pek-sim-kun-hoat yang ia terima dari Liang Gi Cinjin dan karena telah lama pemuda ini mendapat gemblengan ilmu lweekang dari Beng To Siansu, maka tenaga dalamnya sudah cukup kuat sehingga ia berhasil menolak kembali pukulan Kim-kong-jiu itu.
Liang Hwat Cinjin terkejut bukan main, tidak hanya karena melihat pemuda itu dapat menolak pukulannya, akan tetapi terutama sekali melihat cara pemuda itu menolak pukulan tadi. “He, dari mana kau memperoleh gerakan See-ceng-pai-hud tadi? Ada hubungan apakah kau dengan suteku Liang Gi Cinjin?”
Sian Lun adalah seorang pemuda yang terpelajar dan memegang keras peraturan kesopanan antara hubungan guru dan murid. Mendengar pertanyaan ini, terpaksa ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Maaf, supek. Teecu adalah murid dari suhu Liang Gi Cinjin.”
Liang Hwat Cinjin tertegun. “Apa? Kau murid dari Liang Gi? Dan kau yang membunuh muridku Kwan Sun Giok dan yang merampas pedangnya?”
“Teecu terpaksa, supek, karena dia menjadi panglima dari pasukan Sui, adapun teecu membantu perjuangan Jenderal Li Goan. Di dalam perang, tentu saja tidak ada hubungan antara saudara. Harap supek sudi mempertimbangkan dan memaafkan teecu.”
“Bedebah!” tiba-tiba tosu itu memaki dengan kasar sekali sehingga mengejutkan semua orang yang mulai menonton pertengkaran itu. “Kau sudah berani membunuh suhengmu sendiri, hendak kulihat apakah kau berani pula melawan supekmu?” Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan hendak memukul Sian Lun yang tidak bergerak dari tempatnya berlutut.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Tosu keparat! Sekarang kaulah yang harus menjawab dari mana kau mendapatkan pedang ini!”
Karena Ling Ling mengeluarkan kata-kata ini sambil menggerakkan pedangnya di depan tosu itu untuk menghalanginya memukul Sian Lun, Liang Hwat Cinjin terpaksa menarik kembali tangannya dan ia memandang kepada Ling Ling dengan marah dan mendongkol sekali.
“Gadis liar, siapakah kau? Berani sekali kau berlaku kurang ajar dihadapan Kim-kong Lo-koai (Setan Tua Sinar Mas).”
Mendengar tosu itu menyebutkan julukannya yang menyeramkan, Ling Ling tersenyum mengejek dan berkata, “Aku adalah Toat-beng Mo-li (Iblis Wanita Pencabut Nyawa), mengapa harus takut berhadapan dengan setan tua yang sudah hampir mampus. Kau bilang tadi bahwa pedang Oei-hong-kiam ini adalah pedangmu, ternyata kau telah berkata bohong besar.”
Sampai pucat wajah Liang Hwat Cinjin mendengar ucapan yang disertai makian ini. Belum pernah selama hidupnya ada orang yang berani bersikap demikian kurang ajar kepadanya. “Bocah yang bosan hidup! Kau berani bilang aku membohong?”
“Tentu saja kau bohong, karena setahuku, pedang Oei-hong-kiam adalah pedang pusaka milik Panglima Besar Kam Kok Han!”
Berobahlah wajah Liang Hwat Cinjin mendengar nama ini disebut. “Hm, dari mana kau tahu akan hal ini? Memang benar, Kam Kok Han telah mampus ditanganku dalam pemberontakannya dan pedang ini terjatuh ke dalam tanganku, bukankah itu berarti bahwa pedang Oei-hong-kiam menjadi pedangku?”
“Bagus, bangsat tua! Sudah lama aku mencari-cari kau untuk membalas dendam sucouw (kakek guru)!” Sambil berkata demikian, Ling Ling lalu menyerang dengan tusukan pedangnya.
Liang Hwat Cinjin terheran mendengar ini, akan tetapi ia cepat mengelak sambil mengebutkan ujung lengan bajunya. Ketika ujung lengan baju itu mengenai pedang, terdengar suara gemericing nyaring dan tergetarlah tangan Ling Ling. Gadis ini terkejut sekali maklum bahwa kepandaian kakek ini benar-benar amat lihai dan masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri.
Akan tetapi Ling Ling tentu saja tidak merasa takut sedikitpun juga, apalagi karena pada saat itu ia sedang merasa marah dan sakit hati sekali melihat orang yang dimaksudkan oleh pesanan Bu Lam Nio. Inilah pembunuh suami Bu Lam Nio, dan orang inilah yang harus ia tewaskan untuk membalas dendam Bu Lam Nio dan Kam Kok Han. Maka ia lalu menyerbu lagi dan mengeluarkan ilmu pedang Kim-gan-liong-kiam-sut sebaik-baiknya.
“Hoho! Jadi kau sudah mewarisi Kim-gan-liong Kiam-sut dari Kam Kok Han? Bagus, bagus, mari pinto antar kau menyusul sucouw mu si pemberontak itu!”
Setelah berkata demikian, Liang Hwat Cinjin lalu menggerakkan kedua lengan bajunya secara istimewa sekali. Dari kedua ujung lengan bajunya keluar angin pukulan yang dahsyat, yang membuat pakaian para penonton yang berada di tempat jauh ikut berkibar dan yang membuat Ling Ling merasa seakan-akan menghadapi serangan angin ribut.
Biarpun gadis ini telah memiliki lweekang yang cukup tinggi sehingga ia tidak terpengaruh oleh hawa pukulan yang hebat ini, namun tetap saja kedua matanya terasa pedas dan hidungnya terasa sukar untuk bernapas ketika tertiup oleh hawa gerakan tosu yang lihai itu. Inilah ilmu silat Soan-hong-kim-ko-jiu yang amat lihai dari Liang Hwat Cinjin.
Dulu ketika ia menghadapi Kam Kok Han di waktu mudanya, ia telah berhasil pula merobohkan panglima kosen itu.dengan Soan-hong-kim-ko-jiu ini. Dan sekarang dengan ilmu pukulan ini pula ia telah membuat Ling Ling menjadi bingung sekali dan terdesak hebat.
“Supek, jangan celakakan dia!” terdengar Sian Lun berseru berulang-ulang, dan ketika supeknya tidak memperdulikan teriakannya, dan melihat betapa Ling Ling nampak makin lama makin lemah gerakan pedangnya, Sian Lun lalu mencabut pedang Pek-hong-kiam dan melompat maju, menyerbu ke dalam kalangan pertempuran yang hebat itu.
“Ha, ha, ha! Jadi kau membela gadis ini? Agaknya dia adalah kecintaanmu, baik, baik! Akan kuantar kalian berdua menjumpai Kwan Sun Giok muridku di alam baka!”
Kini pertempuran menjadi makin hebat. Gerakan kedua ujung lengan baju tosu itu benar-benar hebat. Biarpun ujung lengan baju itu hanya terbuat dari pada bahan kain yang tidak berapa tebalnya, namun karena digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi dan menurut aturan dari ilmu silat luar biasa Soan-hong-kim-ko-jiu, maka lengan baju itu merupakan senjata yang luar biasa berbahayanya.
Biarpun, berkali-kali bertemu dengan pedang-pedang pusaka seperti Oei-hong-pokiam dan Pek-hong-pokiam, namun ujung lengan baju itu tidak menjadi putus bahkan tangan kedua orang muda itu terasa kesemutan seakan-akan pedang mereka bertemu dengan benda yang amat keras dan kuatnya.
Makin lama makin banyak orang yang menonton pertempuran ini, dan semua orang tidak berani mendekat, menonton dari jarak jauh sambil menahan napas. Memang pertempuran itu amat indah dilihat. Pedang di tangan Sian Lun menjadi segulung sinar putih yang cepat dan kuat, sedangkan pedang di tangan Ling Ling berobah menjadi segulung sinar kuning yang amat ganas.
Adapun lengan baju Liang Hwat Cinjin kadang-kadang terbuka lebar merupakan awan-awan putih yang bergulung-gulung tertiup angin, sehingga nampaknya karena tubuh ketiga orang itu tidak kelihatan lagi, seakan-akan yang bermain di situ adalah seekor naga kuning dan seekor naga putih yang bermain-main di antara mega-mega yang tertiup angin.
Liang Hwat Cinjin merasa penasaran sekali dan diam-diam ia mengagumi ilmu pedang Sian Lun. Pantas saja Kwan Sun Giok, muridnya itu tidak dapat menang, tidak tahunya pemuda itu sudah hampir mewarisi seluruh kepandaian sutenya, Liang Gi Cinjin. Seratus jurus telah lewat dan tosu itu tetap belum dapat mengalahkan kedua orang lawan mudanya, sungguhpun kedua orang muda itu telah terdesak hebat oleh kedua lengan bajunya.
Bahkan Ling Ling nampak pucat sekali dan keringat telah membasahi jidatnya. Gadis ini memang telah merasa tidak enak badan dan kini karena ia mengerahkan seluruh tenaganya, ia merasa kepalanya pening dan tubuhnya panas bagaikan terbakar. Hanya semangat dan keberaniannya yang luar biasa sajalah yang membuat ia masih kuat melakukan pertempuran hebat itu.
Pada saat itu terdengar seruan. “Kim-kong Lo-koai, kau memang jahat sekali!” Dan tiba-tiba seorang tosu tua berkelebat datang dan menggunakan sebatang tongkat bambu menyerbu dan menyerang Liang Hwat Cinjin.
“Beng Kui Tosu, kau mau ikut-ikut?” Liang Hwat berseru marah, akan tetapi diam-diam ia mengeluh karena dengan adanya tosu tua yang amat tangguh ini, ia merasa tak sanggup melawan terus. Tadipun menghadapi Ling Ling dan Sian Lun, biarpun ia selalu dapat mendesak, namun kegesitan tubuh kedua orang muda itu telah membuat kepalanya pening dan sukar baginya untuk merobohkan seorang di antara mereka.
Kini tertambah pula oleh Beng Kui Tosu, tokoh dari Kun-lun-san yang kepandaiannya tinggi juga, tentu saja berat baginya menghadapi keroyokan ketiga orang ini. Biarpun tingkat kepandaian Beng Kui Tosu tidak lebih tinggi dari pada kepandaian Ling Ling atau Sian Lun, namun tosu ini telah banyak pengalaman dalam pertempuran dan oleh karenanya bambu di tangannya itu tidak kalah lihainya dari pada pedang pusaka di tangan Sian Lun atau Ling Ling.
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan di antara para penonton, “Dia Liem-ciangkun! Hayo keroyok tosu siluman itu!” Dan banyak orang datang dengan senjata di tangan, siap mengeroyok Liang Hwat Cinjin.
Ternyata mereka itu adalah bekas pejuang-pejuang atau pemberontak-pemberontak yang mengenal Liem Sian Lun sebagai pemimpin mereka ketika dahulu menyerbu ke Tiang-an. Melihat gelagat tidak baik, Liang Hwat Cinjin tertawa bergelak dan tubuhnya melompat cepat sekali dan lenyap dari pandangan mata.
Sian Lun lalu menghampiri Beng Kui Tosu dan berlutut. “Suhu, terima kasih atas pertolongan suhu.”
Akan tetapi Beng Kui Tosu setelah mengelus-elus kepala bekas muridnya ini lalu berkata, “Lihat, Sian Lun, nona ini agaknya sakit.”
Sian Lun terkejut sekali dan cepat menengok. Alangkah kagetnya ketika ia melihat Ling Ling berdiri sambil meramkan mata. Wajahnya pucat sekali dan tiba-tiba gadis itu menjadi limbung, pedangnya terlepas dari tangannya dan ia tentu sudah roboh kalau Sian Lun tidak cepat-cepat melompat dan memeluknya.
Sementara itu, beberapa belas orang bekas anak buahnya sudah merubungnya dan di antaranya berkata, “Liem-ciangkun, marilah bawa nona itu ke rumahku untuk dirawat.”
Beramai-ramai mereka lalu menuju ke rumah orang she Thio yang peramah itu. Ling Ling dipondong oleh Sian Lun yang merasa amat gelisah karena tubuh gadis itu ternyata amat panas bagaikan api. Untung sekali bahwa pendeta Kun-lun-pai ini, yaitu Beng Kui Tosu, paham akan ilmu pengobatan. Setelah memeriksa nadi tangan Ling Ling dan merabah jidatnya, pendeta ini lalu berkata perlahan,
“Ah, dia tidak terkena pukulan dan tidak terluka, hanya menderita demam akibat gigitan nyamuk berbisa!”
“Memang malam tadi kami berdua bermalam di tepi rawa, suhu.”
Beng Kui Tosu mengangguk-angguk maklum. “Tidak apa, tak usah gelisah, ada obatnya untuk penyakit ini.” Ia lalu menulis resep dan minta seorang di antara bekas anak buah Sian Lun untuk mencarikan obat itu di toko obat. Orang she Thio itu sendiri lalu pergi ke kota yang berdekatan untuk membeli obat di toko obat.
“Penyakitnya tidak berbahaya,” kata tosu itu kepada Sian Lun, “dengan rawatan dan istirahat, kau beri minum obat itu selama beberapa hari saja akan sembuh. Siapakah nona ini dan mengapa pula kau sampai bertempur melawan Kim-kong Lo-koai yang lihai?”
Dengan singkat Sian Lun menuturkan pengalamannya. Tosu itu mengangguk-angguk lalu berkata, “Nona ini ilmu pedangnya hebat sekali. Agaknya cocok kalau bisa menjadi jodohmu, Sian Lun.”
Pemuda itu hanya menunduk dengan muka merah. Kemudian tosu itu lalu berpamit untuk melanjutkan perantauannya, karena tosu Kun-lun-pai ini memang seorang perantau yang tiada tentu tempat tinggalnya. Dengan amat teliti dan sabar, Sian Lun merawat Ling Ling hingga empat hari kemudian setelah sembuh, gadis ini merasa amat terharu dan berterima kasih. Akan tetapi, ia merasa malu untuk memperlihatkan perasaannya, hanya kini ia tidak marah-marah lagi kepada Sian Lun.
“Kau baik sekali, Liem-ciangkun. Mengapa kau sebaik itu kepadaku?” hanya inilah ucapannya ketika ia melihat betapa pemuda itu dengan kedua tangannya sendiri memberi obat minum kepadanya.
“Nona, kau adalah seorang gagah yang berbudi tinggi dan telah berjasa dalam perjuangan. Kita boleh dibilang orang-orang segolongan dan kebetulan sekali kita melakukan perjalanan yang sama, mengalami bahaya yang sama serta bertemu dengan Liang Hwat Cinjin yang berbahaya. Mengapa aku tidak akan merawatmu? Tak usah bicara tentang kebaikan, karena kalau aku yang tertimpa malapetaka, aku percaya penuh bahwa kaupun takkan tega meninggalkan aku begitu saja.”
“Belum tentu,” kata Ling Ling sambil menghindari pandang mata pemuda ini. “Aku,... aku keras hati dan keras kepala.”
Sian Lun tersenyum. Dia sendirilah yang menyebut keras hati dan keras kepala kepada gadis itu. “Apa kau kira aku tidak keras kepala? Kita sama saja, nona, dan haruskah kita bersikap seperti orang yang belum saling mengenal? Tak enak sekali mendengar kau menyebut ciangkun kepadaku. Di dalam barisan mungkin aku seorang panglima, akan tetapi di luar barisan, aku hanyalah Liem Sian Lun, orang biasa saja.”
Akan tetapi Ling Ling tidak menjawab, hanya melengoskan muka untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi pemuda itu telah melihat betapa air mata mengucur deras dari sepasang mata gadis itu. “Nona.... Ling Ling..... kau mengapakah?” bisiknya perlahan.
Gadis ini dalam keadaan sakit teringat akan nasibnya, teringat akan ibunya yang sudah meninggal dunia, teringat pula akan ayahnya, orang yang sesungguhnya akan menjadi orang satu-satunya yang dapat diminta tolong, menjadi tempat ia berlindung, akan tetapi, ayahnya telah menjadi ayah orang lain dan ia hanya akan menjadi anak tiri.
Selama hidupnya, baru dua orang yang menaruh hati kasih sayang kepadanya, yang memperhatikan dan mengurusnya, yakni neneknya dan ibunya. Bu Lam Nio dan ibunya telah meninggalkannya. Dan sekarang, dalam keadaan sebatang kara, seorang diri tiada orang lain yang dapat dimintai tolong, ia jatuh sakit dan mendapatkan perawatan yang demikian baiknya dari seorang yang “dibencinya!”
Mengingat akan hal ini dan mendengar pertanyaan pemuda itu yang diucapkan dengan penuh perhatian, tak terasa lagi Ling Ling menangis tersedu-sedu. Baru kali ini dia menangis terisak-isak dengan hati serasa diperas-peras. “Kau... kau terlalu baik padaku.... Liem-ciangkun, keluarlah... keluarlah, tinggalkan aku sendiri.....” tangis Ling Ling menjadi-jadi.
“Akan tetapi minumlah dulu obat ini, nona.” Sian Lun mendekatinya sambil memegang mangkok berisi obat.
“Biarkan saja, aku dapat minum sendiri. Keluarlah, Liem-ciangkun...!"
Sian Lun menarik napas panjang. Sungguh ia tidak dapat mengerti akan sikap gadis ini. “Kau masih lemah, nona. Tak dapat minum sendiri. Biarlah aku menyuruh enso Thio ke sini.” Setelah meletakkan mangkok obat itu ke atas meja, Sian Lun lalu keluar dan memanggil nyonya Thio.
Nyonya rumah ini amat peramah seperti suaminya, dan ia segera masuk ke dalam kamar gadis itu. “Nona, minumlah obat ini agar kau lekas sembuh.”
Dibantu oleh nyonya Thio, Ling Ling bangun duduk dan minum obat ini. “Terima kasih enci, kau benar-benar baik sekali. Aku berhutang budi kepadamu.”
“Hush, mengapa bicara tentang budi? Kalau mau bicara tentang budi, kau harus ingat kepada Liem-ciangkun. Dialah yang merawatmu selama ini, dia lupa makan, lupa tidur mengkhawatirkan keadaanmu.”
Ling Ling memandang kepada nyonya itu dengan air mata berlinang. “Benarkah, enci?”
“Mengapa tidak benar? Liem-ciangkun setiap malam duduk di atas bangku di luar kamarmu, selalu menjagamu seperti seorang ayah menjaga anaknya. Ah, kau beruntung sekali mempunyai seorang calon suami seperti dia, nona.”
Tertegun hati Ling Ling mendengar sebutan ini. Ia hendak membantah akan tetapi cepat ditahannya. Apa gunanya membantah? Biarlah mereka mengira bahwa dia adalah calon isteri Sian Lun, apa salahnya? Hatinya merasa perih sekali, karena bagaimana ia bisa berjodoh dengan Sian Lun, dengan seorang pemuda yang dibencinya?
Tak mungkin seorang pemuda yang telah menduduki pangkat sebagai panglima, seorang pemuda gagah perkasa, orang kepercayaan Jenderal Li, sudi berjodoh dengan gadis bodoh seperti dia. Hatinya makin terasa perih, Sian Lun merawatnya tentu bukan karena cinta kasih, melainkan karena iba hati, terdorong oleh kebaikan budi pemuda itu.
Ah, kalau saja Kwee Siong yang menjadi suami ibunya itu tidak berhati sekejam itu. Kalau saja Kwee Siong tidak melupakan ibunya, kalau saja ia bisa hidup sebagai puteri Kwee Siong, akan lain lagi halnya. Tentu ia takkan merasa lebih rendah dari pada pemuda itu. Pikiran ini membuat hatinya panas dan kemarahan serta kebenciannya terhadap Kwee Siong meluap.
Dan pada malam hari yang gelap itu, tanpa diketahui oleh siapapun juga, tidak diketahui pula oleh Sian Lun yang telah tertidur saking lelahnya, diam-diam Ling Ling meninggalkan rumah keluarga Thio itu, meninggalkan Sian Lun menuju ke Tiang-an.
Pada keesokan harinya, gegerlah dalam rumah itu. Sian Lun yang diberi tahu tentang larinya Ling Ling, tanpa pamit lagi lalu melompat keluar dan berlari mengejar. Akan tetapi, ia telah kalah dulu selama setengah malam, maka ia mempercepat larinya untuk menyusul gadis yang aneh, gadis yang berhati keras, yang manis dan yang dicintainya itu.
Biarpun tubuhnya masih lemas, akan tetapi penyakit yang diderita oleh Ling Ling telah sembuh sama sekali. Aneh, ketika ia memaksa dirinya berlari pada malam hari itu, makin lama ia merasa makin sehat dan segar. Tahulah dia bahwa kelemasan tubuhnya itu sebagian besar karena terlampau lama berbaring dan kurang bergerak. Ia telah memiliki tubuh yang kuat, tubuh yang semenjak kecil digembleng dengan ilmu silat tinggi, sehingga sebentar saja tenaganya telah pulih kembali, sungguhpun ia masih merasa lemah pada kaki dan punggungnya.
Menjelang pagi, ia tiba di sebuah hutan dan beristirahat sambil mengatur pernapasannya dan melatih lweekangnya. Kalau teringat kepada Sian Lun, ia menjadi berduka. Entah mengapa, ia merasa sunyi dan sedih, berbeda sekali ketika ia mengadakan perjalanan bersama pemuda itu. Ketika pemuda itu selalu berada di sampingnya, ia selalu hendak marah kepada Sian Lun.
Akan tetapi setelah kini berpisah dan melakukan perjalanan seorang diri, ia merasa rindu dan ingin sekali melihat pemuda itu berada di sampingnya. Inikah yang disebut cinta?? Ia sendiri tidak mengerti, apakah ia merasa cinta atau benci kepada pemuda itu.
Ia melanjutkan perjalanannya, sebentar-sebentar berhenti dan pada senja hari ia tiba di luar kota Tiang-an. Ia berhenti di sebuah dusun yang bersih dan nyaman hawanya, makan sedikit bubur dari sebuah warung nasi, lalu menuju ke Tiang-an. Akan tetapi, malam telah tiba dan kembali Ling Ling bermalam di sebuah hutan, di mana ia melihat sebuah kelenteng tua yang kosong.
Pada kesokan harinya, ia melihat kelenteng itu ternyata indah sekali pemandangan sekitarnya, dikelilingi oleh tanaman-tanaman bunga liar yang beraneka warna dan di belakang kelenteng terdapat sebuah sungai kecil yang amat bening airnya.
Tempat yang amat indah, pikirnya dengan hati senang. Akan senanglah ia kalau tinggal di tempat seperti ini, dekat dengan kota Tiang-an dan tak jauh dari hutan itu terdapat pula sebuah dusun yang bersih. Ketika ia hendak berangkat ke Tiang-an untuk mencari Kwee Siong dan melakukan niatnya membalas dendam, tiba-tiba terdengar suara halus memanggil namanya.
“Ling Ling.......”
Ling Ling menengok dan tiba-tiba wajahnya berobah menjadi merah. Ia melihat Sian Lun berdiri di depan kelenteng dengan pandangan mata sayu.
“Ling Ling, mengapa kau meninggalkan aku....?” Pemuda ini nampak pucat sekali karena memang ia amat gelisah. Ia telah mengejar Ling Ling dan tak dapat berjalan cepat-cepat karena ia harus mencari keterangan sepanjang jalan kalau-kalau ada orang yang melihat gadis itu.
Ia tidak begitu yakin bahwa Ling Ling akan mengambil jalan langsung ke Tiang-an. Siapa tahu kalau gadis itu mengambil jalan lain? Karena itulah, maka ia baru dapat menyusul gadis itu pada pagi hari ini. Ia merasa amat khawatir kalau-kalau gadis yang baru saja sembuh dari sakit itu akan jatuh sakit pula di tengah jalan.
“Liem-ciangkun, mengapa kau menyusulku?” Ling Ling menjawab dengan pertanyaan sambil menundukkan mukanya.
“Ling Ling, mengapa kau lari dariku? Mengapa kau selalu hendak menjauhkan diri dari padaku? Sudah sembuh benarkah engkau? Kau nampak begitu kurus dan lemah....” Sian Lun melangkah maju mendekat dan tak terasa lagi ia memegang kedua tangan gadis itu.
Berdebar jantung Ling Ling ketika merasa betapa tangan pemuda itu memegang tangannya dengan mesra. Debaran jantungnya membuat telapak tangannya dingin sekali.
“Tanganmu dingin sekali, Ling Ling. Kau masih belum sehat benar. Mengapa kau memaksa melakukan perjalanan dan pergi di malam hari? Aku benar-benar gelisah.....”
“Liem-ciangkun, jangan kau perdulikan aku lagi! Aku... aku sebatangkara, pergi ke mana aku suka, bagaikan seekor burung di udara..... jangan kau acuhkan aku lagi, Liem-ciangkun.”
Akan tetapi dorongan cinta kasih di dalam hati Sian Lun tak dapat ditahan lagi. Ia memegang kedua tangan Ling Ling makin erat dan berkata dengan bibir gemetar. “Ling Ling, tidak tahukah kau betapa aku menyintamu?”
“Apa.....?” Kedua mata Ling Ling terbelalak dan ia memandang tajam. Sungguhpun ia telah dapat mengira akan hal ini dan telah mendengar penuturan nyonya Thio tentang rawatan pemuda ini, namun mendengar pengakuan itu dari mulut pemuda itu sendiri, ia menjadi terkejut juga.
“Memang, aku mencintamu, Ling Ling,” kata Sian Lun dengan ketetapan seorang perajurit, biarpun mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah dan keringat mengalir dari jidatnya di pagi hari yang dingin itu. “Aku sendiri tadinya tidak mengira sama sekali, kukira hanya karena kagumku dan rasa iba hatiku kepadamu. Akan tetapi malam kemarin.... pada pagi harinya ketika aku mendengar bahwa kau telah pergi meninggalkanku... aku yakin bahwa aku takkan dapat hidup bahagia tanpa kau disampingku!"
Ling Ling tak dapat menjawab, hanya menundukkan mukanya makin dalam dan ia menangis terisak-isak.
“Ling Ling.....” Sian Lun menarik kedua tangan gadis itu dan hendak memeluknya.
Akan tetapi Ling Ling merenggutkan kedua tangannya sehingga terlepas dari pegangan Sian Lun dan gadis ini melangkah mundur tiga tindak. “Tidak, tidak... jangan sentuh aku....!”
“Ling Ling.....” kata Sian Lun dengan suara sedih, “kau bilang bahwa kau hidup sebatangkara.... tidak maukah kau ikut dengan aku dan menjadi mantu ibuku? Dia orang baik, Ling Ling, ibuku amat baik dan tentu kau akan suka sekali kepadanya, akan kau anggap sebagai ibumu sendiri.”
“Tidak! Tidak! Kau seorang panglima, seorang berkedudukan tinggi, sedangkan aku...... aku seorang wanita kasar, bodoh, dan telah disebut orang sebagai...... siluman, sebagai iblis wanita! Tahukah kau aku siapa?”
“Kau seorang gadis yang gagah perkasa, budiman, dan cantik jelita...... dan......”
“Aku disebut Toat-beng Mo-li, Iblis Wanita Pencabut Nyawa, juga disebut Cialing Mo-li, Iblis Wanita Sungai Cialing! Aku seorang wanita jahat, kejam, dan tidak mengenal prikemanusiaan!”
“Mereka itu bohong!” kata Sian Lun dengan sengit, “Akan kutampar mulut setiap orang yang berani menyebutmu demikian, Ling Ling. Tidak dapatkah kau menerima cintaku.....?”
“Tidak, tidak mungkin......”
"Apakah kau membenciku? Dan..... tidak ada sedikit jugapun rasa cinta kasih di dalam hatimu terhadapku?” pertanyaan ini terdengar amat mengharukan sehingga kini gadis itu menutupi mukanya dan tangisnya membuatnya tersedu-sedu. Ia tak dapat menjawab.
“Ling Ling, jawablah. Jawabanmu merupakan keputusan bagi kebahagiaan hidupku.”
Setelah tangisnya mereda, gadis itu menatap wajah pemuda itu dengan pandangan yang berani, pandangan yang menyelidik dan tajam sekali sehingga kembali Sian Lun merasa betapa sinar mata gadis itu tajam dan runcing bagaikan ujung pedang yang menembus hatinya. “Sian Lun, katakanlah, mengapa kau menyintaku? Mengapa?”
Berdebar jantung pemuda itu mendengar Ling Ling menyebut namanya begitu saja. Satu perobahan? Akan tetapi ia harus menjawab. “Sukar sekali mengatakannya, Ling Ling,” ia menatap gadis itu dari kepala sampai ke kaki, “entah apamu yang membuat aku jatuh cinta. Mungkin rambutmu, matamu, hidung atau mulutmu, mungkin pula kakimu.... ah, aku tidak tahu. Mungkin pula watakmu yang keras, atau kegagahanmu, entahlah. Kenyataannya, kalau kau sedang marah, kau nampak makin menarik dalam pandangan mataku.”
Ucapan ini terdengar bagaikan lagu dari tujuh sorga di dalam telinga Ling Ling, membuatnya menutupkan kedua mata untuk beberapa lamanya. Alangkah merdu suara pemuda itu, ingin ia mendengar terus menerus ucapan itu, mendengar selamahidupnya. Akan tetapi ia memaksa diri merenggutkan semangatnya yang sudah terayun oleh gelombang rayuan ini.
“Sian Lun, lihatlah kenyataan! Bukalah matamu! Aku bukan gadis yang tepat untuk menjadi jodohmu. Lupakah kau bahwa aku sedang menuju ke Tiang-an untuk mencari dan membunuh Kwee Siong pamanmu?”
Bagaikan pisau berkarat ucapan ini menikam ulu hati Sian Lun dan membuatnya menjadi pucat seketika. Sakit rasa hati Ling Ling melihat keadaan pemuda itu. Sesungguhnya Sian Lun menjadi limbung ketika ia melangkah mundur tiga tindak. Kata-kata ini merupakan suara halilintar di siang hari yang menggugahnya dari mimpi indah. Bagaikan air dingin yang diguyurkan di atas kepala seorang yang mengantuk.
“Ling Ling...... kasihanilah aku, kasihanilah pamanku......! Sakit hati apakah yang membuatmu demikian kejam terhadap paman? Katakanlah, urusan pakah yang menyakitkan hatimu, yang diperbuat oleh Kwee siokhu kepadamu?”
“Kau tak perlu tahu! Ini urusan pribadi. Cukup kalau kuberitahukan kepadamu bahwa aku harus membunuh orang she Kwee itu!” Setelah berkata demikian, Ling Ling memutar tubuh dan berdiri membelakangi Sian Lun.
“Ling Ling, tak dapat dirobahkah niatmu ini? Demi Tuhan, sekali lagi aku mohon padamu, jangan lanjutkan niatmu ini. Biarlah aku berlutut di depan kakimu, Ling Ling, jangan kau mengganggu dia!” Dan Sian Lun benar-benar berlutut di depan gadis itu.
“Bodoh! Lemah!” tiba-tiba Ling ling berseru sambil terisak dan ketika Sian Lun mengangkat kepalanya, ternyata gadis itu sudah tidak ada di depannya pula.
Pemuda ini terkejut sekali dan cepat ia melompat dan mengejar. Karena memang tubuh Ling Ling masih lemah, sebentar saja Sian Lun dapat menyusulnya. Akan tetapi, Ling Ling telah mencabut pedangnya dan berkata menantang, “Sian Lun, untuk satu hal ini, kalau terpaksa, aku akan menghadapimu dengan pedang!”
Bukan main bingung dan sedihnya hati Sian Lun. “Ling Ling, aku tidak sampai hati untuk bertanding dengan engkau. Tidak lagi. Kalau kau mau, kau boleh penggal leherku, aku takkan melawan. Akan tetapi, jika aku melihat engkau mengganggu pamanku, terpaksa aku akan membelanya, biarpun aku harus mati di tanganmu.” Sambil berkata demikian, Sian Lun lalu berlari terus dengan amat cepatnya, mendahului gadis itu menuju Tiang-an.
Ling Ling maklum bahwa pemuda itu tentu akan pergi ke rumah Kwee Siong dan akan menjaga keselamatan orang she Kwee itu. Akan tetapi ia tidak takut. Kalau perlu, ia akan menyerang pemuda itu dengan pedangnya. Sakit hati ibunya lebih penting untuk dibalaskan. Ia belum pernah berbakti terhadap ibunya, dan ia telah menyaksikan sendiri betapa ibunya hidup bersengsara.
Semenjak muda hidup di dalam hutan dan dijuluki iblis wanita, sama sekali tidak diperdulikan oleh ayahnya yang kini menduduki pangkat tinggi dan hidup bersenang-senang dengan isteri dan puteranya yang baru. Dengan pikiran penuh nafsu dan dendam, gadis ini lalu berlari cepat menuju ke kota Tiang-an yang temboknya telah nampak di depan.
Semenjak pertemuan dengan Sui Giok dan Ling Ling, Kwee Siong sembuh dari sakitnya dengan keadaan yang berobah sama sekali. Ia kini nampak tua, selalu berwajah muram dan seringkali termenung. Isterinya mencoba untuk menghiburnya, akan tetapi sia-sia.
Kwee Siong terganggu oleh pikiran dan perasaannya sendiri. Ia merasa berdosa dan apabila ia teringat akan Sui Giok dan Ling Ling, ia menjadi amat terharu dan kasihan. Ia dapat membayangkan betapa hebatnya penderitaan dan kesengsaraan isterinya yang terpisah darinya di dalam hutan liar itu dalam keadaan mengandung tua.
Dulu ia merindukan isterinya dan telah berusaha mencari isterinya itu. Sampai lama, bertahun-tahun kemudian, baru ia mau menikah kembali atas bujukan saudara angkatnya, yakni Liem Siang Hong ayah Liem Sian Lun.
Dan sekarang, setelah penghidupannya dengan keluarganya yang baru ini mulai bahagia, tiba-tiba saja muncul Sui Giok yang dikira telah tewas itu dengan puterinya. Alangkah malang nasibnya, alangkah hebat penderitaan ibu dan anak itu. Ia menyesal sekali mengapa Sui Giok dan Ling Ling telah pergi.
Hiburan satu-satunya hanya Kwee Cun, puteranya yang telah berusia delapan tahun itu. Kwee Cun ternyata menjadi seorang anak laki-laki yang amat cerdik. Sukar bagi ibunya untuk menyembunyikan sesuatu dari anak ini karena Kwee Cun memiliki kecerdikan dan keluasan pandangan seperti orang dewasa.
“Ibu,” katanya setelah berkali-kali menanyakan keadaan ayahnya tanpa mendapat jawaban memuaskan dari ibunya, “bagaimanapun juga ibu hendak menyembunyikan dariku, aku tahu bahwa tentu ada sesuatu yang menimpa diri ayah. Ia nampak begitu sedih. Ibu, ceritakanlah kepadaku, ibu.”
“Cun-ji, kau masih kecil, tidak perlu mengetahui akan hal ini,” kata ibunya sambil mengelus-elus kepala anak itu.
“Ibu, kalau kau tidak mau menceritakan, aku akan selalu merasa sedih. Aku tidak mau belajar, tidak makan, tidak mau bermain-main. Ayah berduka sedangkan aku tahupun tidak urusannya. Ibu memperlakukan aku seperti orang luar saja.”
Setiap hari Kwee Cun membujuk ibunya sehingga akhirnya ibunya merasa kewalahan dan diceritakannyalah tentang Sui Giok dan Ling Ling. Anak itu mengerutkan kening dan kontan berkata, “Ayah tidak bersalah!”
Ibunya hanya memeluknya sambil mengalirkan air mata. “Cun-ji, jangan kau ikut-ikut. Kau masih kecil, nak, belum tahu perasaan hati orang tua. Mari kita berdoa saja semoga ayahmu akan terhibur hatinya dan semoga ibu dan anak itu akhirnya akan dapat tinggal bersama kita dalam keadaan yang rukun dan damai.”
Kwee Cun memandang kepada ibunya dengan mata penuh kasih sayang, lalu katanya, “Ibu, kau seorang yang berhati mulia.”
Demikianlah, anak kecil ini dengan cara pikiran dan pertimbangannya sendiri, telah dapat mengetahui keadaan ayahnya.
Pada hari itu, menjelang senja, datanglah Sian Lun dengan wajah pucat dan lesu.
“Engko Sian Lun datang....!” Kwee Cun berteriak berkali-kali dengan girang sekali.
Sian Lun mengangkat anak itu ke atas lalu menurunkannya kembali. Ia menganggap Kwee Cun seperti adiknya sendiri. Ibunya, yakni nyonya Liem Siang Hong, yang semenjak Kwee Cun lahir telah tinggal menjadi satu di gedung itu, menyambut kedatangan puteranya dengan girang.
“Lun-ji, pasukanmu telah lama tiba, mengapa baru sekarang kau datang? Kau membuat kami merasa gelisah saja. Kemanakah kau pergi?”
“Aku..... aku mengurus sebuah hal yang penting, ibu. Mana Kwee siokhu?” tanyanya menyimpangkan pertanyaan ibunya itu.
“Di ruang belakang. Ah, Sian Lun, pamanmu itu akhir-akhir ini nampak selalu bersedih saja. Jumpailah dia, siapa tahu kedatanganmu akan menghibur hatinya.”
Sian Lun lalu menuju ke ruang belakang di mana ia disambut oleh pamannya dan bibinya. “Kwee siokhu, aku membawa sebuah berita yang amat penting.”
Melihat sikap pemuda itu, Kwee Siong lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar kerja. Nyonya Kwee yang maklum bahwa sebagai seorang wanita ia tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan suaminya. Ketika melihat Kwee Cun hendak ikut ayahnya ke dalam kamar kerja, nyonya Kwee segera membetot tangannya dan mengajaknya ke belakang.
“Kau dan aku tidak boleh mengganggu ayahmu kalau sedang ada urusan pekerjaan,” katanya.
“Mengapa tidak boleh ibu?”
“Kita tidak dapat membantu, hanya akan merupakan gangguan saja. Kalau kakakmu Sian Lun ada pembicaraan penting dengan ayahmu, tentu mereka itu membicarakan tentang pekerjaan dan urusan negara.”
Akan tetapi sesungguhnya yang dibicarakan oleh dua orang itu sama sekali bukanlah urusan negara. “Siokhu, mulai saat ini sampai malam nanti, harap siokhu sekeluarga jangan keluar dari kamar dan biar aku menjaga di sini, di dekat siokhu sampai bahaya itu datang.”
“Apa maksudmu, Sian Lun?” tanya Kwee Siong terkejut.
“Siokhu, nanti akan ada orang yang datang dan berusaha menyerang untuk membunuh siokhu.” Pemuda ini sengaja tidak mau menyebut nama Ling Ling, agar orang tua ini jangan menjadi kaget dan berduka.
“Orang mau membunuhku? Siapakah dia dan bagaimana kau bisa tahu?” Kwee Siong adalah seorang yang telah lama melakukan pekerjaan sebagai hakim, maka mendengar tentang ada orang hendak membunuhnya, bukan merupakan hal yang aneh karena tentu banyak penjahat merasa dendam kepadanya. Dan karena kebiasaan memeriksa pesakitan, kali inipun ia telah mendesak Sian Lun dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Siokhu, tak perlu kiranya aku beritahukan siapa orangnya yang hendak melakukan hal itu. Tiada gunanya siokhu mengetahui.”
Pemuda ini menundukkan mukanya. Ia tidak bisa membohong dan juga bukan seorang ahli dalam memutar balikkan omongan, maka agar dapat bersembunyi dari pandangan mata pamannya yang luar biasa tajamnya, ia menundukkan mukanya. Berat sekali rasa hatinya untuk memberitahukan siapa orangnya yang hendak melakukan perbuatan jahat ini.
Ia tidak ingin orang lain, terutama sekali pamannya, tahu akan maksud jahat dari Ling Ling. Ia hendak menghadapi gadis yang dicintanya itu sendiri, hendak berusaha sedapat mungkin untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya. Kalau perlu ia akan mengorbankan nyawanya. Untuk membiarkan Ling Ling membunuh pamannya, tak mungkin dapat ia lakukan.
Dan untuk memberi keterangan sejelasnya kepada pamannya sehingga orang tua ini memandang rendah dan marah kepada Ling Ling atau lalu bertindak untuk menghadapi gadis itu dengan kekerasan sehingga Ling Ling akan mendapat bencana, juga tak dapat dilakukan olehnya. Ia menyinta dan berbakti kepada pamannya yang dianggap sebagai ayah sendiri, akan tetapi iapun amat menyinta Ling Ling.
Hening sejenak, Kwee Siong menatap tajam sedangkan Sian Lun menunduk sambil menahan napas. “Tentu dia yang akan datang, bukan? Dia.... gadis yang bernama Ling Ling dan dijuluki orang Toat-beng Mo-li, gadis yang dulu hendak membunuh jenderal Li, bukan?” tiba-tiba Kwee Siong berkata.
Serasa ambruk bangunan rumah di atas kepalanya ketika Sian Lun mendengar pertanyaan ini. Ia cepat mengangkat kepala memandang pamannya dan melihat sinar mata itu menembus dadanya dengan pandang menyelidik, ia tidak berani mencoba-coba untuk menyangkal lagi. “Siokhu, bagaimana kau dapat menduga demikian tepat?” tanyanya kagum....