Sepasang Pendekar Kembar

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Sepasang Pendekar Kembar
Sonny Ogawa

Sepasang Pendekar Kembar

Karya Kho Ping Hoo

KOTA Liok-hui pada hari itu ramai sekali karena banyak tamu luar kota bahkan luar daerah datang membanjiri kota itu. Mereka terdiri dari bermacam-macam orang. Ada bangsawan dan ada yang berpakaian petani, ada saudagar dan ada pula yang berpakaian seperti pengemis penuh tambalan, ada orang-orang berpakaian seperti sastrawan dan ada juga yang berpakaian seperti ahli-ahli silat, bahkan tampak pendeta-pendeta, baik hwesio (penganut agama Buddha) gundul maupun tosu (penganut agama To).

Baru keadaan para tamu yang terdiri dari berbagai ragam dan golongan ini saja sudah merupakan pemandangan menarik yang jarang tampak di kota itu, apalagi kalau orang mengikuti para tamu itu dan melihat mereka semua ternyata mengunjungi sebuah gedung besar yang dihias mentereng dan indah, maka orang akan melihat suasana yang lebih ramai lagi. Bunyi suling dan yang-khim, gembreng dan tambur, meramaikan dan menggembirakan suasana.

Para tamu semua hanya mempunyai satu tujuan, yakni mengunjungi gedung besar yang berada dalam suasana berpesta itu. Gedung ini adalah milik Gak Liong Ek Si Naga Terbang, seorang tokoh kenamaan di kalangan persilatan, yang juga terkenal kaya raya, hingga di kota itu ia disebut Gak-wangwe (hartawan she Gak).

Pada waktu itu Gak-wangwe sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke enampuluh. Karena ia terkenal sebagai tokoh di dunia kang-ouw (dunia orang-orang gagah atau persilatan) dan juga terkenal sebagai seorang kaya raya yang mempunyai hubungan luas dengan para saudagar dan para pembesar, maka tidak heran bila hampir setiap orang yang diundangnya pasti memerlukan datang menghadiri perayaannya.

Ternyata Gak Liong Ek tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memamerkan kekayaannya. Ia mendatangkan pemain-pemain musik yang paling ternama dari Hok-chiu dan selain memanggil tukang-tukang masak dari Lok-thian, juga sengaja mendatangkan berpuluh-puluh guci arak wangi dari An-hwe-ein.

Ia sengaja membongkar beberapa dinding di ruang depan hingga ruang itu menjadi sangat lega dan luas, di mana ia atur bangku-bangku bercat merah dan meja-meja bundar yang ditilami kain berkembang. Kertas-kertas berwarna dan daun hijau menghias dinding dan tiang, sedangkan di atas tergantung teng-loleng (lampion) yang indah-indah beraneka warna bentuknya.

Karena sudah tua dan merasa terlalu merendahkan diri kalau ia sendiri menyambut kedatangan para tamu, maka ia perintahkan kedua orang puteranya yang kesemuanya sudah berumah tangga, untuk mewakilinya menyambut tamu. Putera sulung menyambut tamu di pintu depan dan putera bungsu di sebelah dalam, mengantar para tamu menuju ke tempat duduk masing-masing.

Gak Liong Ek sendiri duduk di tempat yang sengaja ditinggikan di mana terdapat beberapa belas bangku lain yang khusus disediakan untuk para tamu agung yang terdiri dari para locianpwe (orang-orang tua gagah) dan para bangsawan tinggi.

Gak Liong Ek berpakaian serba biru yang indah berkilat karena terbuat dari sutera. Pada dada bajunya itu tampak sulaman naga terbang yang sengaja dibuat berbeda bentuknya dengan naga-naga biasa karena pada waktu itu yang diperbolehkan memakai baju bersulamkan naga hanyalah kaisar seorang dan keluarganya.

Gak Liong Ek memakai sulaman naga terbang hanya untuk menyesuaikan dirinya dengan julukannya yang sudah terkenal dan yang mengangkat tinggi namanya selama berpuluh tahun, yakni julukan Hwie-liong atau Naga Terbang. Untuk menambahkan kebesarannya, ia sengaja menggantungkan pedang pusakanya yang dimasukkan di dalam sarung pedang bergambar naga terbang pula, di atas dinding tempat ia duduk.

Dari penuturan di atas ini orang dapat mengira-ngira akan perangai jago tua itu. Ya, Gak Liong Ek memang sejak dulu terkenal angkuh dan sangat membanggakan kepandaiannya, akan tetapi, betapapun sombongnya dia harus diakui bahwa perangai sombong dan kasar itu dibersihkan oleh adatnya yang jujur dan terus terang...

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo
Sepasang Pendekar Kembar
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 01
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 02
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 03
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 04
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 05
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 06
Sepasang Pendekar Kembar Jilid 07
TAMAT
Kisah sebelumnya,
KISAH SI TAWON MERAH
Kisah berikutnya,
BAYANGAN BIDADARI
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.