|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 05 - IBU DAN ANAK itu lalu berlari sambil bergandeng tangan. Setelah berlari cukup jauh dan tidak melihat ada yang mengejar mereka, ibu dan anak itu merasa lega juga. Akan tetapi biarpun napas mereka sudah terengah-engah, mereka tidak mau berhenti. Mereka terus berlari sampai mereka tidak kuat lagi. Tidak menuju ke arah tertentu, asal menjauhi penawan mereka.
Selagi ibu dan anak itu berlari dengan harapan berkembang dalam hati, tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki yang berlompatan keluar dari balik pohon-pohon di tepi jalan. Tiga orang laki-laki kasar yang memegang sebatang pedang di tangan kanan dan sikap mereka bengis! Seorang diantara mereka yang bertubuh tinggi besar dan dahinya terhias codet memanjang bekas luka, tertawa bergelak ketika melihat bahwa yang mereka hadang adalah seorang wanita yang cantik dan seorang anak perempuan yang mungil.
“Ha-ha-ha-ha, kita untung besar, kawan-kawan! Ada seorang bidadari cantik tersesat di hutan! la pantas sekali untuk menjadi pendampingku!”
Orang kedua yang tinggi kurus juga berkata, “Dan perempuan kecil inipun mungil dan manis sekali. Rumah pelesir tentu suka membelinya dengan harga mahal!”
Lai Kim terbelalak dengan muka pucat. Baru melihat sikap dan mendengar ucapan itu saja ia sudah dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang jahat dan kejam, yang mempunyai maksud buruk terhadap dirinya dan puterinya.
“Mari, manis. Engkau ikut aku dan kita bersenang-senang!” kata si muka codet dan kali dia menubruk ke depan, tangan kirinya menyambar dan dia sudah dapat menangkap pergelangan tangan Lai Kim. sementara itu, orang kedua yang tinggi kurus juga menyerbu dan hendak menangkap Ouw Yang Lan. Akan tetapi anak perempuan itu melawan. la menarik tangannya yang hendak ditangkap, bahkan tangan kanannya lalu memukul ke depan, ke arah perut si tinggi kurus itu!“Ehh...?” Si tinggi kurus tercengang, akan tetapi sambil tertawa dia menangkis terus menangkap tangan yang memukul itu, memuntirnya dan dia telah dapat meringkus Ouw Yang Lan yang lalu dipondongnya.
“Lepaskan aku! setan jahat, lepaskan aku!” Ouw Yang Lan meronta-ronta dan mencoba untük memukul dengan kedua tangannya.
Si tinggi kurus itu tetawa dan sekali tangan kanannya menotok, tubuh anak itu menjadi lemas dan tidak mampu bergerak lagi. Ternyata si tinggi kurus itu pandai bersilat, bahkan menguasai ilmu menotok jalan darah. Melihat anaknya ditawan, Lai Kim yang juga sudah diringkus si muka codet itu meronta dan menjerit-jerit. “Lepaskan anakku! Ahhhh, lepaskan anakku!”
Akan tetapi si muka codet yang bertubuh tinggi besar itu sudah mengangkat dan memondongnya, bahkan lalu menciumi muka Lai Kim yang meronta dan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan mukanya dari ciuman dan melepaskan diri dari dekapan. Orang ke tiga yang menonton semua ini hanya tertawa-tawa gembira.
Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan Ciang Sek menunggang seekor kuda sambil menuntun seekor kuda lain mendatangi dengan cepat. “Keparat jahanam!” bentaknya setelah tiba di tempat itu dan melihat Lai Kim meronta-ronta dalam dekapan seorang laki-laki dan Ouw Yang Lan terkulai lemas dalam pondongan seorang laki-laki lain. Dia melompat turun dari atas kudanya sambil membentak.
Orang ke tiga yang tadi hanya menonton sambil tertawa-tawa, cepat menyambut Ciang Sek dengan pedang di tangan. “Manusia lancang, apa engkau bosan hidup? Jangan mencampuri urusan kami. Hayo cepat menggelinding pergi tinggalkan dua ekor kudamu di sini!” Katanya sambil menyerang dengan pedangnya.
Serangan itu cepat dan merupakan serangan maut untuk membunuh. Ciang Sek marah sekali. Dia adalah seorang datuk, majikan dari Bukit Awan Putih yang biasanya dihormati orang dan ditakuti para tokoh dunia kang-ouw. Kini melihat dirinya diserang oleh seorang perampok biasa, tentu saja dia marah bukan main. Terutama sekali melihat Lai Kim, wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu, dipondong dan hendak diciumi orang, hatinya menjadi panas sekali.
Melihat pedang yang menyambar, Ciang Sek memperlihatkan kehebatannya. ia tidak mengelak, melainkan menyambut pedang yang membacok ke arah kepalanya itu dengan tangan kiri begitu saja! Pedang itu meluncur turun dan ditangkap tangan kirinya yang telanjang. Akan tetapi tangan kirinya itu telah diisi penuh tenaga sakti menangkap dan meremas.
“Krakk!!” Pedang itupun hancur seperti kerupuk kering saja. Si penyerang terkejut dan terbelalak, akan tetapi dia tidak sempat melanjutkan keheranannya karena pada saat itu tangan kanan Ciang Sek menyambar dengan tamparan ke arah kepalanya.
“Darrr....” Kepala itu terkena tamparan tangan kanan Ciang Sek menjadi pecah berantakan. Tubuh orang itu terkulai dan tewas seketika.
Si muka codet yang menjadi pimpinan gerombolan tiga orang itu, terkejut melihat betapa mudahnya kawannya terbunuh. Dia melempar tubuh Lai Kim ke atas tanah dan mencabut pedangnya. “Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?” bentaknya.
“Cacing busuk, memang sebaiknya kau mengenalku agar tidak mati penasaran. Aku adalah Thai-Lek-Kui (Iblis Bertenaga besar) majikan Pek-In-San!”
Mendengar ini, si muka codet terbelalak dan mukanya menjadi pucat. Dia cepat merangkapkan kedua tangan ke depan dada dan berkata gagap. “Ohh... maafkan kami tidak mengenal maka berani bersikap kurang ajar."
"Tidak ada maaf! Engkau harus mampus ditanganku!” kata Ciang Sek sambil melangkah maju menghampiri.
Melihat bahwa datuk itu tidak mau memaafkannya, si muka codet menjadi nekat. Dari pada mati konyol lebih baik melawan dulu, siapa tahu dia akan mampu menandingi datuk yang nama besarnya sudah pernah didengarnya itu. Tanpa berkata apapun dia lalu menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada lawan.
Ciang Sek melihat datangnya pedang yang meluncur itu dan tahu bahwa lawannya memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat, sehingga dia tidak menyambut dengan tangan kosong, tidak ingin membahayakan tangannya, maka diapun memiringkan tubuhnya. Ketika pedang itu meluncur lewat secepat kilat tangan kanannya dibacokkan dengan tangan miring ke arah lengan kanan lawan yang memegang pedang.
“Krekkk!!” Seketika tulang lengan kanan si muka codet itu patah. Pedangnya terlempar dan lengan kanan itu terkulai. Pada saat itu, Thai-Lek-Kui sudah menyusulkan sebuah tendangan yang amat kuat ke arah dada lawannya.
“Dessss...!!” Tubuh yang tinggi besar dari si muka codet terlempar jauh ke belakang lalu terbanting keras dan tidak bergerak lagi karena dadanya pecah, semua tulang iganya remuk dan dia tewas seketika!
Melihat betapa dengan mudahnya Thai-Lek-Kui Ciang Sek merobohkan dua orang penjahat itu, Lai Kim yang bingung melihat si tinggi kurus sudah melarikan diri sambil memondong tubuh Ouw Yang Lan, "Segera tolong selamatkan anakku” la lari menghampiri Ciang Sek dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan laki-laki itu.
“Tolong selamatkan anakku... ia dibawa lari orang itu... la menuding ke arah laki-laki tinggi kurus yang masih tampak dari situ, berlari cepat sambil memondong Ouw Yang Lan.
Akan tetapi Ciang Sek hanya memandang ke depan sebentar, lalu melipat kedua lengan di depan dada, dengan sikap tak acuh berkata, “Hemm, engkau sudah mencoba untuk melarikan diri dariku!”
“Tolonglah anakku. Cepat... tolonglah anakku...!” Lai Kim meratap kebingungan melihat orang yang membawa lari ánaknya kini sudah hampir tidak kelihatan.
“Aku mau mengejar dan menyelamatkan anakmu, hanya dengan satu syarat. Engkau harus mau menjadi isteriku. Kalau tidak, aku tidak mau menolongmu, biar ia dibawa lari dan dicelakai orang!"
Lai Kim menjadi bingung sekali. la menoleh dan melihat betapa bayangan orang yang melarikan anaknya sudah tidak tampak lagi Pada saat itu, satu-satunya keinginannya adalah agar anaknya diselamatkan. Untuk itu, disuruh apapun juga ia tentu mau! “Baiklah...” la meratap sambil menangis.
“Berjanjilah dengan sumpah bahwa engkau akan mau menjadi isteriku!” kata pula Ciang Sek dengan nada gembira penuh kemenangan.
Sambil terisak-isak Lai Kim berkata, Aku… aku bersumpah akan suka menjadi isterimu... akan tetapi cepat tolong anaku.”
“Jangan khawatir, calon isteriku yang tercinta! Anakmu juga akan menjadi anakku. Tidak ada seorangpun di dunia ini boleh mengganggunya.”
Setelah berkata demikin, Ciang Sek melompat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kudanya melakukan pengejaran. Lai Kim masih berlutut, mengikuti bayangan Ciang Sek sambil menangis tersedu-sedu. la menyadari apa yang telah ia janjikan dan ia sumpahkan tadi. Berarti ia harus menjadi isteri datuk itu. Akanbtetapi apa dayanya?
la tidak mempunyai pilihan lain. Demi keselamatan anaknya, ia akan rela menyerahkan nyawanya. Dan ia tahu benar bahwa ia harus menuruti kehendak Ciang Sek, kalau ia menghendaki agar anaknya itu selamat.
Si tinggi kurus itu berlari secepatnya sambil memondong tubuh Ouw Yang Lan yang sudah ditotoknya sehingga anak itu tidak mampu bergerak. Orang itu lari sekuatnya dengan ketakutan. Dia melihat betapa dua orang kawannya roboh dan tewas di tangan pria tinggi besar muka merah yang amat lihai itu.
Diapun tadi mendengar bahwa pria itu adalah Thai-Lek-Kui, maka dia menjadi ketakutan dan melarikan diri. Sambil memondong tubuh Ouw Yang Lan dengan tangan kiri, dia membawa pedangnya dengan tangan kanan untuk menjaga diri. Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda datang dari arah belakangnya. Si tinggi kurus menjadi terkejut sekali. Ketika dia menengok, dia melihat orang yang ditakutinya itu mengejarnya dengan menunggang kuda, datang dengan cepat sekali.
Karena ketakutan dan merasa tidak berdaya melarikan diri, si tinggi kurus menjadi nekat. Dia menanti sampai kuda itu lewat dekat dan tiba-tiba dia melompat dan menyerang dengan sarnbaran pedangnya. Akan tetapi, Ciang Sek menangkis pedang itu dengan tangan kirinya dan tubuhnya melayang dari atas kuda, tangan kanannya mencengkeram dan menyambar tubuh Ouw Yang Lan. “Takk!” Pedang terpental dan tubuh anak itu dapat direnggutnya terlepas dari pondongan si tinggi kurus.
Demikian kuatnya tangkisan tangan kiri Ciang Sek sehingga pedang itu terpental dan terlepas dari pegangan si tinggi kurus. Tentu saja dia terkejut bukan main dan tanpa berpikir dua kali, si tinggi kurus sudah membalikkan tubuh dan melarikan diri dari situ.
Ciang Sek memungut pedang itu dan sekali menggerakkan tangan, pedang itu meluncur seperti anak panah cepatnya mengejar orang tinggi kurus yang melarikan diri dan menancap di punggung,demikian kuatnya tenaga lontaran itu sehingga pedang itu menembus sampai keluar dari dada! Si tinggi kurus roboh menelungkup dan ujung pedang yang keluar dari dadanya itu rnenancap di atas tanah menahan tubuhnya!
Ciang Sek lalu membebaskan totokan pada tubuh Ouw Yang Lan sehingga anak itu dapat bergerak kembali. Begitu dapat bergerak dan bicara, Ouw Yang Lan teringat akan ibunya. “Jangan khawatir, ibumu sudah kuselamatkan. Maka, jangan melarikan diri lagi dariku. Kalau tidak ada aku, tentu engkau dan ibumu sudah celaka di tangan orang-orang jahat. Mari kita menjemput ibumu.”
Ciang Sek memboncengkan Ouw Yang Lan di atas kudanya, kembali ke tempat di mana tadi dia meninggalkan Lai Kim. Setelah tiba di situ dan menurunkan Ouw yang Lan, Ciang Sek juga turun dari atas kudanya dan memandang kepada Lai Kim sambil tersenyurn senang. Lai Kim berlari menghampiri puterinya dan merangkulnya sambil menangis.
“Ibu, jangan menangis. Kita sudah dapat diselamatkan. Ternyata paman ini baik dan telah menolong kita, ibu!"
Lai Kim diam saja. Hatinya tidak karuan rasanya, teringat akan sumpahnya bahwa ia harus mau menjadi isteri laki-laki tinggi besar bermuka merah itu setelah Ciang Sek benar-benar berhasil menyelamatkan Ouw Yang Lan.
“Mari, kalian minum dulu untuk menghilangkan kekagetan,” kata Ciang Sek sambil menyerahkan guci berisi air jernih yang tadi diambilnya dari sumber air di dalam hutan kepada Lai Kim. Wanita itu menerimanya dan memberi minum kepada puterinya, lalu ia sendiripun minum beberapa teguk.
Ciang Sek lalu mengajak mereka melanjutkan perjalanan. Ouw Yang Lan berboncengan dengan ibunya. Kuda rnereka berjalan perlahan di sarnping kuda yang ditunggangi Thai-Lek-Kui Ciang Sek. Setelah mereka tiba di puncak bukit awan Putih, mereka disambut oleh anak buah Pek-In-San yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang. Ternyata Ciang Sek tinggal di situ sebagai seorang ketua atau majikan Pek-In-San' dan memiliki sebuah gedung yang besar dan megah.
Ciang Sek bersikap baik, ramah dan sopan terhadap Lai Kim sehingga akhirnya nyonya muda ini dapat ditundukkan dan suka menjadi isterinya. Lai Kim tidak mempunyai pilihan lain. Selain ia sudah bersumpah untuk mau menjadi isteri Ciang Sek, juga ia harus melindungi dan menjaga keselamatan Ouw Yang Lan. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan puterinya hanya dengan merelakan dirinya menjadi isteri datuk itu.
Ternyata kemudian bahwa Ciang Sek benar-benar menyayang dan mencintanya, bersikap baik juga kepada Ouw Yang Lan yang dianggap anak sendiri sehingga perlahan-lahan hati Lai Kim terhibur juga dari kedukaan. Bahkan ia harus mengakui bahwa sikap Ciang Sek sebagai seorang suami jauh lebih baik dari sikap Ouw-yang Lee yang kadang kasar kepadanya karena ia tidak mempunyai keturunan laki-laki.
Ciang Sek bahkan memperlihatkan kasih sayangnya kepada Ouw Yang Lan. Dia mendatangkan seorang ahli sastra ke Pek-In-San, khusus untuk mendidik Ouw Yang Lan dalam ilmu kesusastraan, sedangkan dia sendiri menggembleng anak itu dengan ilmu silat. Ouw yang Lan berwatak keras itu akhirnya juga merasakan akan kasih sayang Ciang Sek kepadanya sehingga anak itupun menurut dan taat kepada ayah tirinya.
Pondok kayu itu kecil saja, bahkan lebih mirip sebuah gubuk, terbuat dari papan yang disambung-sambung secara sederhana dan kasar, juga atapnya dari rumput ilalang kering yang sederhana. Pondok itu berdiri di tengah hutan yang berada di lereng sebuah bukit. Suasana di situ sunyi sekali karena jauh dari pedusunan. Dikelilingi pohon-pohon dan hawanya sejuk dan jernih.
Sinar matahari menerobos di antara celah-celah daun, mendatangkan cahaya yang indah di atas tanah yang ditilami rumput hijau. Di depan pondok itu terdapat sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Seorang kakek duduk di atas bangku bambu yang terdapat di depan pondok, mulutnya tersenyum dan matanya mengiuti gerakan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun yang sedang membuat langkah-langkah silat di atas lapangan rumput itu.
Kakek itu berusia kurang lebih lima puluh tujuh tahun. Tubuhnya sedang, bahkan agak kurus sehingga tampak lembut dan ringkih. Pakaiannya sederhana sekali, hanya terbuat dari kain kuning yang dilibat-libatkan di tubuhnya seperti pakaian tosu (pendeta To) pertapa. Rambutnya panjang dan digelung ke atas, diikat dengan kain putih. Wajahnya yang berjenggot dan berkumis rapi itu masih memperlihatkan ketampanan.
Wajah yang lembut dan cerah selalu terhias senyum yang membayangkan kesabaran dan kematangan jiwa. Matanya mencorong, akan tetapi pandang matanya lembut. Dia adalah laki-laki tua yang aneh, tidak bernama dan kalau ditanya nama mengaku bahwa namanya Bu Beng Siauw-jin (Orang Rendah Tak Bernama)!
Anak laki-laki itu berusia sepuluh tahun. Seorang anak laki-laki yang tampan. Wajahnya berbentuk bulat telur. Alisnya hitam berbentuk golok, sepasang matanya tajam bersinar-sinar, pandang matanya juga lembut, mata yang membayangkan kepekaan hati. Hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk manis, kecil dan terhias senyum.
Rambutnya hitam sekali, dipotong pendek dan diikat ke atas dengan kain kuning. Pakaiannya juga terbuat dari kain kasar dengan potongan sederhana sekali. Kakinya bersepatu kain hitam. Anak laki-laki itu adalah Wong Sin Cu, murid Bu Beng Siauw-jin.
Seperti kita ketahui, Sin Cu yang pada tujuh tahun lalu disambar seekor burung rajawali raksasa dan diterbangkan ke sarangnya, nyaris menjadi mangsa anak-anak burung itu, telah tertolong oleh Bu-Beng Siauw-jin. Semenjak saat itu, Sin Cu menjadi murid kakek aneh itu dan diajak berkelana, karena kakek itu tidak mempunyai ternpat tinggal yang tetap.
Bu Beng Siauw-jin telah berusaha untuk mencari orang bernama Wong Cin yang diakui sebagai ayahnya oleh Sin Cu, namun usahanya sia-sia belaka. Setelah tiga bulan lebih berkeliaran di sekitar daerah ditemukannya anak itu, mencari-cari, akhirnya dia mengambil keputusan untuk membawa anak itu berkelana sebagai seorang muridnya. Sambil berkelana, kakek itu mengajarkan ilmu bun (sastra) dan bu (silat) kepada Sin Cu.
Pada tahun-tahun pertama, Sin Cu masih suka rewel dan menanyakan ayah ibunya kepada gurunya. Akan tetapi akhirnya anak itu dapat menerima kenyataan bahwa ayah ibunya telah berpisah dari dirinya, tidak tahu entah berada di mana, sudah mati ataukah masih hidup. Yang diketahuinya hanya bahwa ayahnya bernama Wong Cin. Selebihnya dia tidak tahu lagi. Bahkan bagaimana wajah ayah ibunyapun dia sudah tidak dapat ingat lagi.
Setelah bertahun-tahun hidup bersama gurunya, dia mendapatkan kasih sayang gurunya dan menganggap gurunya sebagai pengganti orang tuanya, satu-satunya orang yang mengasihi dan dikasihinya, satu-satunya anggauta keluarga. Pada waktu itu, Bu Beng Siauw-jin yang tertarik oleh keindahan tempat di lereng bukit itu, membangun sebuah pondok dan untuk sementara tinggal di situ.
Dalam memberi pelajaran ilmu silat kepada Sin Cu, Bu Beng Siauw-jin menekankan pentingnya berlatih mermasang kuda-kuda yang kokoh kuat, lalu mengatur langkah-langkah yang mantap. Pada pagi hari itupun kembali dia menyuruh Sin Cu berlatih langkah-langkah sambil memasang kuda-kuda. Kalau anak itu merasa bosan walaupun anak itu tidak berani menyatakan Bu Beng Siauw-jin dapat mengetahui perasaan dan kebosanannya muridnya itu dengan kata-kata lembut, dia berkata.
“Jangan kau pandang ringan pelajaran memasang bhe-si (kuda-kuda) dan mengatur langkah-langkah ini, Sin Cu. Ketahuilah bahwa kuda-kuda dan langkah-langkah itu merupakan dasar dari ilmu silat, seperti pondasi dari sebuah bangunan. Kalau pondasi itu kurang kuat, maka bangunan itu mudah runtuh. Dengan bhe-si (kuda-kuda) yang kokoh kuat, engkau tidak mudah dirobohkan lawan, dan dengan langkah-langkah yang teratur dan tepat engkau akan mendapatkan kelincahan, dapat menghindarkan diri dengan mudah dari serangan lawan dan dapat membalas serangan dengan cepat dan tepat.”
Sin Cu amat patuh kepada gurunya yang dia hormati dan sayang. Juga dia seorang anak yang cerdik, maka dia dapat mengerti akan maksud gurunya dan kini dia tidak pernah lagi merasa bosan kalau disuruh berlatih sendiri. Latihan yang tekun ini membuat kedua kakinya dapat memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, dan kedua kaki itu. Tanpa disadarinya dapat membuat langkah-langkah yang gesit sekali, Bu Beng Siauw-jin bangkit berdiri dan menghampiri muridnya.
“Berhentilah melangkah dan pasang kuda-kuda yang kuat!” kata kakek itu.
Setelah Sin Cu menghentikan langkahnya dan memasang kuda-kuda Ji-Ma-Se (Menunggang Kuda) tiba-tiba Bu Beng Siauw-jin menggunakan kakinya menendang atau mendorong tubuh anak itu dari depan. Dorongan kaki itu kuat sekali, akan tetapi tubuh Sin Cu tidak terjengkang. Hanya kedua kakinya yang memasang kuda-kuda itu saja yang tergeser ke belakang, namun kedua kaki itu tidak pernah terangkat, seolah telah melekat kepada tanah!
Bu Beng Siauw-jin mengulangi ujiannya, mendorong dari samping, dari belakang beberapa kali. Namun tidak pernah kedua kaki Sin Cu terangkat, hanya terdorong dan tergeser ke depan, ke samping atau ke belakang. Bu Beng Siauw-jin mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Bagus! Latihanmu sudah berhasil. Setelah kuda-kudamu kuat dan engkau mahir mengatur langkah, barulah aku akan mengajarkan gerakan kaki tangan untuk bersilat kepadamu!”
Sin Cu menghentikan latihannya dan dia merasa girang sekali. Untuk dapat berlatih silat, dia harus menanti sampai empat lima tahun! Selama empat lima tahun dia hanya diharuskan berlatih memasang kuda-kuda dan mengatur langkah-langkah! Kalau saja Sin Cu bukan seorang anak yang patuh kepada gurunya, tentu dia sudah merasa muak dan bosan. Dan di luar kesadarannya sendiri, dia telah menguasai gesitan yang luar biasa.
Bu Beng Siauw-jin mengajak muridnya duduk di atas bangku di depan pondok mereka. Setelah anak itu duduk dan mengusap keringatnya yang membasahi leher, Bu Beng Siauw-jin berkata, “Sin Cu, engkau telah memiliki dasar yang cukup kokoh. Akan tetapi yang menjadi dasar ilmu silat bukan hanya itu. Masih ada lagi syarat untuk dapat menjadi ahli silat yang, baik, yaitu tenaga. Engkau harus memiliki tenaga yang kuat dan tenaga yang kuat adalah tenaga sakti yang terdapat dalam tubuh setiap orang manusia. Akan tetapi tenaga sakti itu harus dibangkitkan melalui latihan pernapasan dan samadhi. Nah, mulai sekarang engkau harus berlatih pernapasan dan siu-lian (samadhi).”
Mulai pagi hari itu, Sin Cu diberi pelajaran bersamadhi dan berlatih pernapasan untuk menghimpun sinkang (tenaga sakti). Dia disuruh duduk bersila dibawah cahaya matahari dan setelah memberi petunjuk, Bu Beng Siauw-jin meninggalkannya untuk berlatih seorang diri.
Setelah gurunya pergi dan dia duduk bersila seorang diri, mulai belajar bersamadhi, Sin Cu tidak dapat mengosongkan pikirannya. Bahkan bermacam pikiran timbul sehubungan dengan apa yang dipelajarinya dari gurunya. Dia lebih senang mempelajari sastra, karena dari pelajaran itu kini dia sudah pandai membaca dan menulis.
Yang lebih menyenangkan lagi, dengan kepandaian ini, dia dapat membaca kitab-kitab yang kadang didapatkan gurunya, kitab-kitab kuno tentang sejarah tokoh-tokoh jaman dahulu dan juga kitab-kitab agama Budha dan agama To. Akan tetapi ilmu silat? Untuk apa dia mempelajari ilmu silat? Dan dia sendiripun tidak pernah tahu, sampai di mana kepandaian gurunya tentang ilmu silat. Selama tujuh tahun ini, gurunya tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya dalam ilmu silat itu.
Pernah memang dia melihat gurunya dapat berlari secepat terbang, akan tetapi hanya itulah yang pernah dilihatnya, bahkan itupun ketika dia masih kecil dahulu. Tiba-tiba terdengar tangis seseorang. Dari suara tangisnya, dapat diduga bahwa yang menangis itu tentu seorang anak anak. Tentu saja gangguan suara yang tidak wajar ini membuat Sin Cu tidak dapat melanjutkan samadhinya. Dia membuka kedua matanya dan bangkit berdiri.
Dia melihat gurunya juga keluar dari pondok untuk melihat siapa yang menangis. Seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya, berusia kurang lebih sepuluh tahun, berpakaian seperti anak petani, berjalan dekat pondok sambil menangis. Tangan kanannya memegang sebatang pecut, punggung tangan kirinya digosok-gosokkan mata dan dia menangis tersedu-sedu. Bu Beng Siauw-jin menghadang anak itu. “Anak baik, kenapa engkau menangis?”
Sambil menggosok-gosok matanya dan masih menangis, anak itu berkata, “... huhuuu... dua ekor sapiku dibawa pergi orang hu-huuu!”
“Dibawa pergi? Siapa yang membawa pergi dan ke mana?” tanya kakek itu.
Sin Cu sudah menghampiri anak itu da berkata dengan suara menghibur, “Sobat, ceritakanlah apa yang telah terjadi. Suhu ku tentu akan menolongmu.”
Anak laki-laki itu memandang kepada Sin Cu, lalu kepada Bu Beng Siauw-jin, dan dia menahan isaknya lalu bercerita. “Tadi aku menggembala dua ekor sapiku di padang rumput di lereng bawah sana. Lalu muncul dua orang laki-laki yang galak dan mereka merampas dua ekor sapiku dan dibawa lari mendaki bukit lalu menghilang ke dalan hutan. Mereka mengancam aku dengan golok. Aku lalu mencari mereka sampai ke sini... hu-huuu... ayah tentu akan marah dan memukuli aku kalau dua ekor sapi itu hilang...”
“Tenanglah, nak. Kami akan mencari dan menemukan dua ekor sapi itu. Kau tunggu saja di pondok kami ini. Hayo, Sin Cu, engkau ikut denganku!”
Setelah berkata demikian, Bu Beng Siauw-jin memegang tangan Sin Cu dan begitu dia menggerakkan kaki untuk berlari cepat, Sin Cu merasa betapa kedua kakinya terangkat dari atas tanah dan tubuhnya seperti melayang ke depan dengan cepat sekali! Dia membuka mata lebar-lebar dan tahu bahwa dengan memegang pergelangan tangannya, suhunya telah mengangkatnya.
Tampak pohon-pohon seperti bergerak dan berlari dari depan. Dengan kecepatan luar biasa, Bu Beng Siauw-jin membawa Sin Cu keluar dari dalam hutan lalu memasuki hutan besar di depan. Baru saja memasuki hutan itu, mereka mendengar suara banyak orang, suara orang bercakap-cakap dan ada yang tertawa-tawa. Bu Beng Siauw-jin menuju ke arah suara dan tampaklah di tengah hutan itu belasan orang sedang bercakap-cakap.
Ada yang sedang bekerja memasak air dan ada pula yang sibuk hendak menyembelih dua ekor sapi gemuk yang ditambatkan pada batang pohon. Mengertilah Bu Beng Siauw-jin bahwa si pencuri sapi tentu berada di antara belasan orang itu dan dua ekor sapi gemuk itulah milik anak yang menangis tadi. Mereka berdua mengintai dari balik pohon dan Bu Beng Siauw-jin berbisik kepada muridnya.
“Sin Cu, dalam keadaan begini apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?”
"Mereka harus ditegur karena mencuri sapi dari anak itu, dan minta agar dua ekor sapi itu dikembalikan, diserahkan kepada kita untuk kita kembalikan kepada yang berhak.”
“Hemm, bagaimana kalau mereka menolak dan bahkan marah kepadamu?”
Sin Cu tertegun. Apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak dapat menjawab. Bu Ben Siauw-jin yang dapat mengerti akan isi hati Sin Cu yang kebingungan itu lalu berkata. “Inilah sebabnya nengapa engkau perlu mempelajari ilmu silat, Sin Cu. Selama ini engkau agaknya kurang menghargai perlunya menguasai ilmu silat dengan baik. Dengan penguasaan ilmu silat, engkau akan mampu memaksa orang-orang ini mengembalikan dua ekor sapi yang mereka rampas dari anak itu. Dengan ilmu silat engkau akan mampu melindungi dan menolong yang lemah tertindas dan mampu menentang yang kuat dan jahat. Akan tetapi, beranikah engkau menegur mereka dan minta agar dua ekor sapi itu diserahkan kepada kita untuk kembalikan kepada yang berhak?”
Biarpun dia belum menguasai ilmu silat, namun Sin Cu adalah seorang anak yang berani dan tabah. Dia merasa dirinya benar, maka timbul keberaniannya. Dengan tenang dia melangkah keluar dari balik pohon. Dia tidak berhenti walaupun melihat gurunya tidak ikut keluar dan dia lalu menghampiri rombongan orang itu.
Belasan orang itu mengangkat muka memandang ketika mendengar langkah kaki Sin Cu menginjak daun kering. Melihat seorang anak laki-laki, mereka mengira bahwa anak itu tentulah si pemilik sapi seperti diceritakan dua orang kawan mereka yang merampas sapi itu dan yang sekarang hendak mereka sembelih dan mereka pergunakan untuk pesta pora.
“Hei, bocah! Mau apa engkau di sini? Relakan dua ekor sapimu dan pergilah dari sini, atau engkau juga akan kami sembelih!” seorang di antara mereka menggertak untuk menakut nakuti Sin Cu.
“Dia bukan pemilik sapi itu!” kata seorang laki-laki gendut pendek, seorang di antara dua orang perampas sapi tadi.
“Kalau begitu, siapakah engkau, bocah! Dan mau apa engkau berkeliaran ke sini?” tanya seorang lain yang bertubuh tinggi besar sambil menghampiri Sin Cu.
“Namaku Wong Sin Cu!” kata Sin Cu dengan tenang dan tabah sambil melangkah maju mendekat.
“Mau apa engkau ke sini?” tanya si tinggi besar sambil mengamati pakaian Sin Cu yang kasar sederhana. “Engkau hendak mengemis? Bukan di sini tempatnya. Hayo pergi!”
“Paman, aku datang untuk menyadarkan para paman sekalian. Paman sekalian telah bertindak salah dan jahat, merampas dua ekor sapi milik anak dusun yang tidak berdosa. Kalian membuat anak itu menangis ketakutan karena dia tentu akan dimarahi ayahnya yang kehilangan dua ekor sapinya. Karena itu, aku mohon dengan hormat, berikanlah dua ekor sapi itu kepadaku untuk kukembalikan kepada yang berhak.”
“Bocah gilal! Apa kau bilang? Apa kau sudah bosan hidup bicara seperti itu kepada kami?” bentak si tinggi besar. “Hayo pergi atau aku akan memukuli sampai pecah kepalamu!”
“Paman, aku ingin menyadarkan kalian! Apa yang kalian lakukan adalah suatu kejahatan, dan kejahatan akhirnya akan menimpa diri kalian sendiri,” kata Sin Cu, mengulang kata-kata yang pernah dibacanya dalam kitab-kitab agama.
“Keparat!” Si tinggi besar itu melangkah maju dan tiba-tiba kaki kirinya menendang. Cepat dan keras sekali tendangannya dan kalau tendangan ini mengenai tubuh Sin Cu, tak dapat diragukan lagi tubuh anak itu akan terpental jauh seperti bola ditendang. Akan tetapi pada saat itu, Sin Cu teringat akan gerakan langkah langkahnya dan secara otomatis kakinya melangkah ke samping dan tendangan itu luput.
“Ehhh...?” Laki-laki tinggi besar itu terkejut dan merasa heran sekali. Dia adalah seorang ahli silat yang terkenal sekali akan lihainya tendangan kakinya. Akan tetapi sekali ini, menendang seorang bocah berusia sepuluh tahun yang berdiri demikian dekat dengannya, tendangannya itu luput dan dapat dielakkan oleh anak itu!
Tentu saja dia menjadi penasaran sekali dan cepat kaki kanannya mencuat, menyusulkan tendangan yang lebih cepat dan lebih kuat lagi. Akan tetapi, dengan otomatis, tanpa dipikir lagi, Sin Cu menggerakkan kakinya mengatur langkah-langkah yang sudah selama lima tahun dilatihnya setiap hari dan tendangan itupun luput! Lima enam kali menyusul tendangan bertubi-tubi dan berganti-ganti dengan kedua kaki yang besar dan panjang itu.
Namun semua tendangan itu hanya mengenai angin, sama sekali tidak dapat menyentuh tubuh Sin Cu! Sin Cu sendiri sampai merasa terheran-heran. Dia melangkah demikian mudahnya, akan tetapi semua tendangan itu dapat dihindarkannya dengan mudah. Barulah dia menyadari bahwa apa yang dilatihnya selama ini mengandung manfaat yang amat besar. Hatinya menjadi gembira dan dia menggerakkan kedua kaki dan tubuhnya dengan lebih teratur lagi.
Si tinggi besar kini bukan hanya menendang, melainkan juga memukul. Akan tetapi seperti juga tendangannya, semua pukulannya mengenai tempat kosong! Dia sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana anak kecil itu dapat mengelakkan semua serangannya dengan demikian tepatnya. Bahkan Sin Cu sendiri tidak tahu bahwa sebetulnya dia telah mulai menguasai sebuah ilmu langkah yang hebat, yang disebut Chit-Seng-Sin-Po (Langkah Sakti Tujuh Bintang), satu di antara ilmu-ilmu aneh yang dimiliki Bu Beng Siauw-jin.
Anggauta gerombolan yang bertubuh pendek gendut yang melihat betapa kawannya belum juga dapat memukul roboh anak itu, menjadi penasaran dan marah. Diapun melompat dekat dan bantu memukul Sin Cu. Akan tetapi sungguh aneh! Beberapa kali pukulannya yang dia lakukan bertubi-tubi juga selalu mengenai tempat kosong. Tubuh anak itu bergerak-gerak aneh dan selalu dapat rmenghindar dari semua pukulan dan tendangan dua orang itu!
Kini belasan orang gerombolan itu menghentikan kesibukan mereka dan semua menonton. Banyak di antara mereka yang menertawakan dua orang yang mengeroyok Sin Cu dan juga belum juga dapat merobohan anak itu. Mendengar betapa mereka ditertawakan, dua orang itu menjadi semakin penasaran dan marah. Mereka lalu mencabut golok yang tergantung di pinggang mereka dan mulai menyerang Sin Cu dengan menggunakan golok mereka!
Tentu saja hati Sin Cu merasa terkejut dan ngeri juga melihat dua batang golok yang berkilauan itu menyambar-nyambar ke arah tubuhnya. Otomatis kedua kakinya bergerak tubuhnya berputaran dan dia masih selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran sinar golok.
Tiba-tiba terdengar seruan, “Siancai (damai)! Betapa kejamnya dua hati orang dewasa yang berniat untuk membunuh seorang anak-anak!”
Dan pada saat itu, tiba-tiba saja dua batang golok yang sudah siap digerakkan dan dibacokkan itu tertahan di udara. Yang tampak hanya bayangan Bu Beng Siauw-jin yang berkelebatan dan dua batang golok itu terlepas dari pegangan pemiliknya, mencelat dan disusul robohnya dua orang itu yang terpelanting karena kaki mereka disabet kaki Bu Beng Siauw-jin.
Laki-laki setengah tua berjenggot panjang yang agaknya menjadi pimpinan gerombolan itu melompat ke depan Bu Beng Siauw-jin, sedangkan dua orang yang tadi roboh sudah berlompatan bangun kembali. Si jenggot panjang ini berusia empat puluh lima tahun, tubuhnya juga tinggi besar dan mukanya bengis, di punggungnya tergantung sepasang pedang. Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Bu Beng Siauw-jin dan mermbentak. “Dari mana datangnya kakek siluman yang berani membikin kacau di sini?”
Bu Beng Siauw-jin menjawab dengan sikap tenang dan sabar. “Sobat, pertimbangkanlah, siapa yang telah membikin kacau di daerah ini? Dua orang di antara anak buahmu telah merampas dua ekor sapi milik seorang anak kecil. Muridku itu datang hanya untuk menyadarkan kalian dari kesalahan, akan tetapi dua orang anak buahmu bahkan berusaha membunuh muridku. Siapakah yang membikin kacau?”
“He, tua bangka! Apa perdulimu? Beranı engkau mencampuri urusan kami. Siapakah engkau? Apa tidak pernah mendengar bahwa aku Siang-Kiam Mo-Ko (Iblis Berpedang Pasangan) yang menguasai daerah ini? Karena kami yang menguasai daerah ini, maka segala apa yang terdapat di daerah ini dapat saja kami ambil. Siapa engkau? Perkenalkan nama agar engkau tidak sampai mampus tanpa nama!”
Bu Beng Siauw-jin tersenyum sabar dan tenang sekali. “Sian-cai! Aku memang tidak mempunyai nama. Sebut saja aku Bu Beng Siauw-jin.”
“Bu Beng Siauw-jin (Orang Rendah Tak Bernama)? Ha-ha-ha-ha! Sebentar lagi engkau akan menjadi Setan Tanpa Nama!” Siang-Kiam Mo-Ko tertawa dan para anak buahnya ikut menertawakan kakek itu.
Akan tetapi Bu Beng Siauw-jin tidak menjadi marah, bahkan ikut pula ter tawa gembira! Melihat ini, Siang-kiam Mo ko menggerakkan kedua tangannya dan sepasang pedang itu sudah berpindah dari belakang punggung ke dalam kedua tangannya. Dia menyilangkan sepasang pedang itu di depan dada dan berlagak gagah. “Bu Beng Siauw-jin, keluarkan senjatamu. Jangan nanti mengatakan bahwa aku bertindak sewenang-wenang menyerang lawan yang tidak bersenjata!”
“Hemm, sikapmu ini cukup gagah Siang-Kiam Mo-Ko. Hanya sayang, kegagahanmu kau pergunakan untuk bertindak dengan sewenang-wenang memaksakan kehendakmu. Sekali lagi, aku mendukung peringatan yang diberikan muridku. Sadarlah akan kesalahanmu, kembalikan dua ekor sapi itu dan selanjutnya, pimpinlah anak buahmu ke jalan yang benar, jalannya orang-orang gagah yang membela kebenaran dan keadilan.”
“Cukup! Kalau dengan kata-kata engkau mengharapkan dapat terlepas dari tanganku, engkau mimpi! Keluarkan senjatamu! bentak Siang-Kiam Mo-Ko.
“Aku tidak pernah membawa senjata Mo-Ko,” kata Bu Beng Siauw-jin.
“Kalau begitu, mampuslah dan jangan penasaran!” Bentak Siang kiam Mo-Ko dan diapun sudah menerjang ke depan, sepasang pedangnya menyambar dari kanan kiri dengan gerakan menggunting. Kalau sambaran kedua batang pedang itu mengenai sasaran, tentu leher dan pinggang kakek itu akan putus! Akan tetapi, orang berjenggot panjang itu terbelalak. Dia yakin bahwa sepasang pedangnya tidak akan luput dari sasaran.
Akan tetapi ternyata sepasang pedang itu hanya membacok angin saja dan tubuh kakek itu seperti bayang-bayang saja yang tidak dapat dibacok. Padahal, tentu saja sesungguhnya tidak begitu, melainkan karena cepatnya kakek itu bergerak sehingga tubuhnya seolah berubah menjadi bayangan. Siang-Kiam Mo-Ko menjadi penasaran. Dia mengeluarkan suara gerengan dan menggerakkan sepasang pedangnya dengan gaya silat yang bengis sekali.
Sepasang pedang itu berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar nyambar membacoki bayangan kakek itu. Namun, tetap saja sepasang pedang yang mengeluarkan suara berdesingan itu hanya mengenai angin belaka. Sampai lebih dari dua puluh jurus Siang-Kiam Mo-Ko mengamuk dan menyerang bertubi-tubi dan selalu Bu Beng Siauw-jin hanya mengelak.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar kakek itu berseru, “Mundurlah!” dan dia mendorong dengan tangan kirinya ke arah Siang-Kiam Mo-Ko yang masih menggerakkan sepasang pedangnya dengan cepat.
Serangkum angin yang amat kuat menyambar dan kepala gerombolan itu berusaha untuk mengerahkan tenaga menahan diri, namun tetap saja tubuhnya terdorong oleh tenaga angin yang amat kuat.itu sehingga dia terjengkang dan roboh bergulingan sampai beberapa meter jauhnya! Bagi orang biasa yang berakal sehat pengalaman ini tentu sudah cukup untuk membuka matanya bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti.
Akan tetapi Siang-Kiam Mo-Ko adalah seorang tokoh kangouw yang terbiasa memaksakan kehendaknya melalui kekerasan, maka bagi seorang seperti dia itu, amatlah sulit untuk dapat menerima kekalahan dan mengakui kelemahan sendiri. Pengalaman tadi bahkan membuat dia marah bukan main. Sambil merangkak bangun karena dia tidak terluka, dia memberi aba-aba kepada para anak buahnya. “Serbu! Bunuh setan tua itu!”
Limabelas orang anak buah gerombolan itu sudah mencabut golok dan pedang mereka dan bagaikan kesetanan mereka menyerbu dan menghujankan senjata mereka pada tubuh kakek yang agak kurus itu. Akan tetapi, kembali terjadi keanehan. Tubuh itu berkelebat dan seolah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan di antara belasan batang golok dan pedang itu.
Sejak tadi Sin Cu berdiri di bawah pohon dan menonton. Ketika tadi gurunya diserang secara bertubi-tubi oleh Siang-Kiam Mo-Ko, dia menonton penuh perhatian. Dia dapat melihat betapa gurunya juga menggunakan langkah-langkah reperti yang telah dia pelajari, sampai gurunya mendorong dengan tangan kiri merobohkan lawan. Kini dia melihat belasan orang itu mengeroyok suhunya, namun dengan enak dan mudahnya gurunya mengatur langkah dan dapat menghindarkan diri dari sambaran belasan senjata tajam.
Makin jelaslah bagi Sin Cu bahwa langkah-langkah yang telah dipelajarinya itu besar sekali manfaatnya untuk menjaga diri dari serangan orang. Dia memandang penuh perhatian, akan tetapi pandang matanya menjadi kabur karena gurunya bergerak dengan amat cepatnya sehingga berubah menjadi bayangan yang berkelebatan diantara sinar golok-golok dan pedang-pedang.
Tiba-tiba gerakan kakek itu berubah. Tidak lagi hanya menghindar dari sambaran senjata pengeroyoknya, melainkan kedua tangannya bergerak pula, cepat sekali dengan jari telunjuk kanan kiri membagi-bagi totokan dan limabelas orang anak buah gerombolan itu satu demi satu roboh terkulai dalam keadaan lemas dan tidak mampu bergerak kembali! Kini tinggal Siang-Kiam Mo-Ko seorang yang masih belum roboh.
“Siang-Kiam Mo-Ko, kalau engkau mau bertobat dan berjanji akan memimpin anak buahmu ke jalan benar, aku akan memaafkanmu. Kembalikan dua ekor sapi itu dan buang pedangmu lalu berjanjilah,” kata Bu Beng Siauw-jin dan Sin Cu mendengar betapa suara gurunya yang biasanya lemah lembut dan ramah itu kini mengandung wibawa yang amat kuat.
Akan tetapi, agaknya tidak mudah menyadarkan hati yang sudah berkarat dengan kotoran dosa itu. Siang-Kiam Mo-Ko bahkan menjadi marah sekali karena merasa bahwa kesenangannya terganggu dan robohnya semua anak buahnya membuat dia merasa terhina dan sakit hati. “Kakek sialan!” Bentaknya dan secepat kilat dia menubruk menyerang dengan sepasang pedangnya.
“Sian-cai...!” Bu Beng Siauw-jin mengelak ke belakang dan begitu tangan kirinya bergerak, dia telah menotok siku kanan lawan sehingga lengan kanan si jenggot panjang itu tiba-tiba menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan. Bu Beng Siauw-jin menyambar pedang itu dengan tangan kanannya, kemudian tampak sinar pedang berkelebatan menyambar-nyambar ketika dia menggerakkan pedang rampasan itu.
“Aduhh! Aduhh!!” Dua kali dia mengaduh, pedang di tangan kirinya terlepas dan diapun jatuh terduduk, meringis kesakitan sambil menekan kedua tangannya ke atas paha. Darah bercucuran dari kedua tangannya yang kini tidak beribu jari lagi. Kedua ibu jari tangannya telah terbabat putus oleh pedangnya sendiri yang sudah dirampas kakek itu.
Bu Beng Siauw-jin melempar pedang rampasannya ke atas tanah, merogoh sebuah bungkusan kertas dari balik jubahnya. “Ini kuberi obat untuk menyembuhkan luka di kedua tanganmu dan untuk menghentikan darah yang keluar. Tengadahkan kedua tanganmu!”
Sekali ini, karena tidak kuat menahan rasa nyeri, Siang-Kiam Mo-Ko menurut dan menjulurkan kedua tangannya yang tidak beribu jari lagi ke depan. Bu Beng Siauw-jin menuangkan bubuk obat berwarna merah ke atas luka di tangan itu dan ternyata obat itu manjur sekali. Darah berhenti mengucur dan rasa nyeri juga banyak berkurang.
Siang-Kiam Mo-Ko itu kini hanya duduk bengong sambil memandangi kedua tangannya, sadar sepenuhnya bahwa mulai saat itu dia telah menjadi seorang tapadaksa yang tidak akan mampu lagi memegang pedang, apa lagi mempergunakan pedang itu untuk bersilat.
Bagi seorang yang ahli bermain senjata, mengandalkan senjata dalam berkelahi, kehilangan kedua ibu jari berarti kehilangan segala-galanya. Mulai saat itu, tidak mungkin lagi dia memimpin gerombolan. Tentu tidak ada anak buah yang mau tunduk terhadap dia yang tidak dapat lagi mengandalkan pedangnya untuk menjagoi.
Bu Beng Siauw-jin lalu menghampiri limabelas orang anak buah gerombolan itu satu demi satu dan membebaskan totokan atas tubuh mereka dengan masing-masing diberi satu kali tepukan. Mereka semua dapat bergerak kembali, akan tetapi kini mereka tidak berani banyak lagak lagi karena mereka semua tahu bahwa pemimpin merekapun sudah dikalahkan oleh kakek yang amat sakti itu.
“Kalian semua orang-orang yang sesat jalan! Bertaubat dan sadarlah kalian bahwa sikap dan perbuatan kalian yang sudah sudah hanya akan meyeret kalian ke dalam bencana. Kembalilah ke jalan benar. Bekerjalah dengan baik-baik sebagai petani atau buruh untuk mencari makan. Mudah mudahan peristiwa hari ini dapat menjadi pelajaran yang berguna bagi kalian. Nah,sekarang kalian boleh pergi meninggalkan tempat ini, membawa semua barang kalian kecuali dua ekor sapi rampasan itu!”
Belasan orang yang memang sudah merasa gentar sekali terhadap kakek itu,tanpa bicara apa-apa lagi dan dengan menundukkan muka, pergi dari situ membawa barang-barang mereka. Dua ekor sapi yang ditambatkan di batang pohon itu mereka tinggalkan.
“Sin Cu, lepaskan ikatan dua ekor sapi itu dan mari kita bawa pulang,” kata Bu Beng Siauw-jin.
Dengan girang Sin Cu melepaskan tambatan kedua ekor sapi itu dan menuntun mereka, mengikuti gurunya keluar dari dalarm hutan. Hatinya merasa gembira bukan main. Baru sekali ini dia menyaksikan kehebatan gurunya dan dia girang melihat sendiri betapa gurunya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, seorang yang amat sakti!
Diapun membayangkan, bahwa kalau saja dia belum mempelajari ilmu langkah itu, dirinya tentu sudah menjadi korban serangan gerombolan dan kalau gurunya tidak menguasai ilmu silat yang tinggi, mungkin gurunya sudah tewas di tangan mereka dan dua ekor sapi itu tentu tidak bisa digiring pulang untuk diserahkan kepada anak itu.
Terbuka matanya sehingga dia dapat melihat bahwa seperti juga ilmu bun (sastra), ilmu bu (silat) juga tidak kalah pentingnya. Di dunia ini banyak terdapat orang jahat dan tanpa memiliki ilmu bela diri yang dapat diandalkan, dirinya tentu hanya akan menjadi korban gangguan orang jahat. Diapun berjanji kepada diri sendiri untuk melatih semua ilmu yang diberikan gurunya kepadanya dengan tekun.
Anak penggembala sapi itu tentu saja merasa girang bukan main ketika dia melihat kakek Bu Beng Siauw-jin dan Sin Cu datang sambil menuntun dua ekor sapinya yang dilarikan orang. Wajahnya yang masih agak pucat dengan sepasang mata agak membengkak karena tangis itu kini menjadi cerah berseri. Dia segera menuntun dua ekor sapinya meninggalkan hutan di lereng itu, lupa untuk mengucapkan terima kasih saking girangnya!
Setelah anak itu pergi dengan menuntun dua ekor sapinya, Bu Beng Siauw-jin berkata kepada Sin Cu, “Sin Cu, berkemaslah. Bawa semua barang yang kita perlukan dalam perjalanan, dan buntal baik-baik, Kita harus pergi dari sini sekarang juga. Sin Cu merasa heran dan memandang wajah gurunya dengan sepasang mata terbelalak.
“Eh, kenapa, suhu? Kenapa kita harus pergi dengan mendadak? Bukankah suhu mengatakan bahwa suhu suka tinggal di tempat yang indah ini? Belum ada satu bulan kita tinggal di sini!”
Suhunya tersenyum. “Terdapat banyak tempat yang indah-indah, Sin Cu. Kita terpaksa meninggalkan tempat ini karena aku tidak suka terganggu banyak orang yang tentu akan berdatangan di tempat kita ini.”
“Siapakah yang akan datang ke tempat sunyi ini, suhu? Dan mereka itu mau apa?”
“Anak itu tentu tidak akan tinggal diam, Sin Cu. Dialah yang akan bercerita tentang pengalamannya dan setelah mendengar ceritanya, tentu banyak orang akan datang ke sini.”
“Akan tetapi, tentu orang-orang dusun itu datang bukan untuk mengganggu suhu bahkan untuk mengucapkan terima kasih, untuk mengagumi dan menyanjung suhu!”
“Hemm, justeru itulah yang membuat aku ingin segera pergi. Kekaguman dan sanjungan itu memusingkan sekali, bahkan mengerikan!”
“Ehh? Mengapa, suhu?”
“Sudahlah, kemasi dulu barang-barang kita dan kita segera pergi dari sini. Nanti akan kuberitahukan kepadamu mengapa.”
Sin Cu tidak bertanya lagi, melainkan segera bekerja. Tak lama kemudian mereka selesai berkemas karena memang barang mereka tidak banyak. Hanya beberapa potong pakaian sederhana, beberapa buah mangkok dan panci sebagai alat memasak dan makan, dan beberapa botol dan bungkus obat-obat milik kakek itu.
Setelah selesai, berangkatlah mereka meninggalkan pondok itu. Sin Cu merasa berat hatinya dan kehilangan harus meninggalkan tempat itu. Akan tetapi Bu Beng Siauw-jin sama sekali tidak pernah menoleh dan melihat muridnya beberapa kali menoleh dia mengeluarkan suara tawa kecil. “Kemelekatan mendatangkan rasa kehilangan dan duka!”
Mereka telah agak jauh dan mulai menuruni lereng bukit. “Apa maksud suhu dengan ucapan itu?”
“Engkau ingat tadi ketika kita baru saja meninggalkan pondok? Beberapa kali engkau menoleh dan engkau merasa kehilangan dan berduka harus meninggalkan tempat tinggal kita itu, bukan?”
Sin Cu mengangguk. “Benar, suhu. Teecu (murid) merasa sayang dan suka kepada pondok kita itu.”
Bu Beng Siauw-jin tertawa. “Merasa sayang karena tempat itu menyenangkan hatimu, bukan? Karena engkau merasa enak tinggal di sana? Nah, keenakan ini mendatangkan rasa sayang, dan rasa sayang menumbuhkan kemelekatan atau keterikatan, muridku. Sekali hatimu terikat atau melekat kepada sesuatu, berarti engkau telah membebani dirimu sendiri dan duka mulai membayangi dirimu.”
“Mengapa begitu, suhu? Apa salahnya kalau kita menyayang sesuatu?”
“Menyayang tanpa melekat adalah baik-baik saja karena yang menimbulkan duka adalah kemelekatan itulah. Tidak ada sesuatupun dalam kehidupan di dunia ini yang abadi. Perpisahan akan selalu terjadi menyusul kebersamaan, dan kalau tiba saatnya berpisah, kemelekatan dengan sesuatu yang terpisah dari kita akan melukai perasaan dan menimbulkan duka. Walaupun kita boleh mempunyai apapun juga dalam kehidupan ini, akan tetapi jangan memiliki apapun juga. Bahkan badan kita sendiri inipun bukan milik kita!”
Sin Cu sudah banyak membaca kitab kuno yang dimiliki suhunya dan yang sekarang berada dalam buntalan yang digendongnya, akan tetapi ucapan gurunya itu membuatnya terheran dan tidak mengerti. Saking herannya, dia sampai menahan langkahnya dan bertanya. “Suhu, apakah bedanya antara mempunyai dan memiliki? Bukankah artinya sama saja?”
Bu Beng Siauw-jin juga berhenti melangkah dan dia menyadari bahwa ucapannya tadi membingungkan muridnya. Dia tersenyum. “Mari kita duduk di atas batu sana 1tu, dan aku akan menjelaskannya kepadamu. setelah mereka berdua duduk berhadap,an di atas sebuah batu besar dan Sin Cu menurunkan buntalannya ke atas batu itu pula, Bu Beng Siauw-jin lalu memberi penjelasan, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Sin Cu,
“Yang kumaksud dengan mempunyai adalah segala sesuatu yang ada pada kita, yang kita peroleh dan kita berhak atas sesuatu itu, seperti pondok kita yang kita bangun sendiri sehingga kita berhak atas pondok itu. Akan tetapi mempunyai ini hanya lahiriah saja, karena kita memerlukannya dan memakainya. Kita mempunyai akan tetapi tidak memiliki. Yang kumaksud dengan memiliki adalah apa bila yang kita punyai itu melekat ke dalam batin kita, menjadi milik batin kita sehingga kita tidak mau berpisah dengannya karena perpisahan mendatangkan rasa sakit dalam batin kita.
"Karena itu, kita harus belajar hidup tanpa memiliki apapun. Kalau apa yang kita punyai hilang, hal itu tidak berbekas apa-apa karena tidak ada kemelekatan dengan batin kita. Yang memiliki segalanya itu hanyalah Tuhan yang juga menjadi Pencipta dan Pemberi segalanya kepada kita. Kita hanya sekedar meminjam saja dan pada saatnya yang telah ditentukan olehNya.
"Dia akan mengambilnya kembali apa yang dipinjamkanNya kepada kita. Inilah yang dinamakan hidup bebas, Sin Cu. Bebas dari pada kemelekatan berarti pula bebas dari pengaruh nafsu-nafsu daya rendah yang selalu ingin mernpengaruhi kita. Mengertikah engkau?”
Sin Cu tidak menjawab, tidak mengangguk atau menggeleng. Memang sesungguhnya dia hanya dapat setengah-setengah menangkap arti dari semua kata-kata itu, belum mengerti benar.
“Baiklah, tidak mengapa kalau engkau belum mengerti secara tuntas. Setidaknya engkau telah mendengar dan kelak engkau akan mengerti melalui pengalamanmu dalam hidup. Kelak, kalau engkau menginginkan dan mengejar untuk mendapatkan sesuatu, buka mata batinmu, amati penuh kewaspadaan dan engkau akan mampu melihat bahwa yang kaukehendaki dan kejar itu adalah sesuatu yang kauanggap akan menyenangkan dan menguntungkan dirimu.
"Inilah tandanya bahwa yang ingin dan mengejar itu adalah nafsu daya rendah yang menguasai dirimu, bukan keinginan jiwamu. Dan berhati-hatilah karena kalau batin sudah dikuasai nafsu, maka pengejaranmu itu akan membutakan mata batinmu, akan melenyapkan pertimbanganmu dan mengaburkan pengetahuanmu antara baik dan buruk.
"Ujar-ujar kuno yang mengatakan bahwa seorang kuncu (bijaksana) selalu waspada jika berada seorang diri, berarti bahwa seorang yang bijaksana selalu waspada terhadap gejolak pikirannya sendiri, karena biasanya hati akal pikiran itu sudah bergelimang nafsu, sehingga gejolak itu ditimbulkan oleh ulah nafsu. Semua perbuatan sesat didorong oleh keinginan yang datang dari gejolak nafsu inilah.”
Sin Cu mengangguk-angguk. Penjelasan gurunya tentang nafsu agak lebih mudah dimengerti karena dia sudah banyak membaca tentang hal ini dalam kitab-kitab agama walaupun pengertiannya belun dalam taraf yakin karena dia belum pernah mengalaminya sendiri. Selama ini belum pernah dia merasakan adanya gejolak keinginan yang menggebu-gebu. Kebutuhannya amat terbatas bersahaja karena keadaan hidupnya yang sederhana bersama gurunya.
“Akan tetapi, tadi suhu mengatakan bahwa kekaguman dan sanjungan merupakan sesuatu yang memusingkan, bahkan mengerikan. Apa maksudnya, suhu? Tee-cu sama sekali tidak mengerti.”
“Kekaguman dan sanjungan orang-orang terhadap diri kita merupakan racun yang amat manis, Sin Cu. Berhati-hatilah engkau menghadapi setiap sanjungan dan kekaguman orang terhadap dirimu. Hal ini membuat aku yang mengaku-aku dalam diri kita semakin membengkak, merasa diri paling hebat, paling pandai, paling baik dan segala macam paling lagi.
"Keadaan ini seperti gelembung buih yang semakin menggembung dan membubung tinggi, kemudian meledak dan lenyap di udara. Kekaguman dan sanjungan orang itu hanya akan membangkitkan kesombongan dan ketinggian hati dalam diri kita, amatlah berbahaya, maka kuanggap mengerikan. Bagiku, lebih baik aku segera menyingkir dan menjauhkan diri sebelum terseret ke dalam arus sanjungan yang beracun itu.”
“Akan tetapi, kalau ada orang dipuji dan disanjung, hal itu tentu karena kepandaiannya, suhu, jadi sepatutnyalah kalau dia dipuji dan disanjung.”
“Memang sudah selayaknya baginya memuji dan menyanjung, akan tetapi tidak semestinya bagi yang dipuji dan yang disanjung. Sepatutnya orang yang dipuji dan disanjung itu mengerti benar bahwa segala kepandaian yang ada pada dirinya itu bukan lain adalah kepandaian Tuhan Yang Maha Kuasa, yang diperlihatkan melalui hati akal pikirannya. Tuhan sajalah yang memiliki itu semua. Tanpa adanya kekuasaan Tuhan, maka orang yang dikatakannya pandai itu sebetuinya tidak mampu apa-apa. Jadi, hanya Tuhan sajalah yang patut untuk dipuji dan disanjung, bukan manusianya.”
“Ah, mengertilah tee-cu sekarang, suhu. Jadi karena itukah suhu menggunakan nama Orang Rendah Tanpa Nama, dengan segala kerendahan hati?”
“Engkau benar, Sin Cu. Aku mengerti benar bahwa tanpa adanya Kekuasaan Tuhan maka aku ini hanya seorang manusia lemah tidak mampu apa-apa. Aku melihat kekurangan dan kebodohanku sendiri, maka kalau ada yang terpaksa menanyakan namaku, aku mempergunakan sebutan itu.”
“Akan tetapi, suhu, Tee-cu membaca kitab-kitab suci dan di situ ada dua sebutan yang paling bertentangan, yaitu Siauw-jin (Orang Rendah) dan Kun-cu (Orang Bijak sana). Kenapa suhu memilih sebutan orang rendah? Pada hal itu merupakan sebutan bagi orang-orang yang jahat dan hina.”
“Memang aku sengaja menilih sebutan Siauw-jin karena aku tahu benar bahwa aku adalah seorang yang banyak dosa. Ketahuilah, Sin Cu. Orang yang merasa dirinya kotor, benar-benar merasa dirinya kotor bukan hanya pura-pura, maka orang itu tentu akan berusaha membersihkan dirinya yang kotor. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya bersih, tentu tidak ada usaha darinya untuk membersihkan dirinya yang dianggapnya sudah bersih. Mana yang lebih baik antara keduanya itu, Sin Cu?”
“Tentu saja jauh lebih baik orang yang rendah hati dan merasa dirinya kotor, karena tentu ada usaha keras untuk membersihkan kekotoran itu, suhu. Sama halnya dengan orang yang merasa dirinya bodoh, tentu orang itu akan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuannya. Sebaliknya orang yang merasa dirinya pintar tentu tidak akan suka mendengar pendapat orang lain yang dianggapnya bodoh dan orang yang begini tidak akan pernah bertambah pengetahuannya.”
“Memang begitulah. Orang yang merasa dirinya pintar seperti sebuah cawan yang telah penuh sehingga cawan itu tidak dapat ditambah lagi. Sebaliknya orang yang merasa dirinya bodoh seperti cawan yang tidak pernah dapat penuh, terus dapat menampung pengetahuan sebanyak mungkin tanpa merasa dirinya pintar. Orang yang merasa dirinya pintar seperti katak dalam tempurung. Karena itu, engkau harus selalu merasa rendah hati, Sin Cu, agar engkau mampu menampung pengetahuan sebanyak mungkin.”
“Berkat bimbingan suhu, tee-cu yakin akan mampu bersikap seperti itu, suhu.”
Mereka melanjutkan perjalanan mereka tanpa tujuan tertentu, bebas lepas seperti dua ekor burung terbang di udara, menikmati setiap pemandangan alam indah yang mereka lihat di sepanjang perjalanan mereka.
Mulai hari itu, Sin Cu dilatih ilmu silat oleh gurunya dan anak ini berlatih dengan tekun sekali karena dia sudah yakin akan besarnya manfaat ilmu silat dalam penghidupan. Sejak kecil gurunya sudah menanamkan sifat gagah, pembela kebenaran dan keadilan dan menentang kejahatan dan untuk dapat bersikap seperti itu, dia harus memiliki ilmu silat yang tangguh.
Ketika Kaisar yang tua meninggal dunia, Pangeran Mahkota diangkat menjadi Kaisar. Dia adalah Kaisar Ceng Tek (1505 1520) yang diangkat menjadi kaisar dalam usia yang muda sekali, yaitu ketika dia berusia limabelas tahun. Menggunakan kesempatan selagi yang memegang tampuk pimpinan seorang kaisar muda yang kurang pengalaman dan lemah ini, mulailah para thai-kam (sida-sida, orang kebiri) berkiprah.
Mereka merupakan orang-orang yang amat pandai mencari muka, bermulut manis dan pandai merayu dan menjilat sehingga Kaisar Ceng Tek yang masih muda itu terjatuh dalam cengkeraman dan kekuasaan mereka yang menina bobokannya. Bagi Ceng Tek, mereka adalah orang-orang yang amat setia, pandai dan boleh diandalkan, yang rela mengorbankan nyawa untuk membaktikan diri kepadanya.
Karena itulah, maka Kaisar Ceng Tek mulai menyerahkan kedudukan yang tinggi dan berkuasa kepada mereka. Bahkan seorang yang paling menonjol di antara para Thai-kam, yang bernama Liu Chin, diangkat menjadi penasihat Kaisar dan boleh dibilang Liu Chin ini yang memegang kendali pemerintahan di belakang Kaisar Ceng Tek yang dijadikan seperti sebuah boneka! Liu Chin, seperti sebagian besar para thai-kam, adalah orang-orang yang berasal dari daratan Cina bagian utara.
Kekuasaan mereka merupakan kekuasaan gabungan dari para thai-kam dan tentu saja banyak pejabat di daerah merasa tidak suka pada mereka. Kekuasaan para thai-kam ini mengakibatkan terjadinya pemberontakan dan rasa tidak puas di daerah-daerah. Akan tetapi karena para pejabat daerah itu jauh dari kota raja, merekapun tidak berdaya mengingatkan kaisar mereka.
Liu Chin yang memimpin gerombolan thaikam yang menguasai pemerintahan ini, seperti juga rekan-rekannya, merupakan orang yang amat tamak. Dia hanya memikirkan untuk menumpuk harta kekayaan saja. Karena dia dan para rekannya berkuasa, bahkan kuasa mengangkat para pejabat tinggi atas nama Kaisar, maka hanya mereka yang mampu membayar uang sogokan yang amat besar saja dapat memperoleh kedudukan tinggi.
Dan setelah orang-orang itu memperoleh kedudukan, mereka masih harus mengirim sumbangan besar setiap tahun kepada Liu Chin dan kawan-kawannya. Hal ini tentu saja memaksa si pejabat untuk mencari penghasilan yang besar dengan cara apapun juga.
Dengan mengenakan pajak-pajak besar terhadap rakyat dan menyalahgunakan uang negara, bertindak korupsi besar-besaran. Yang menderita adalah rakyat, terutama sekali yang berada di propinsi-propinsi yang jauh dari kota raja, Daerah selatan merupakan daerah yang paling menderita.
Pejabat-pejabat kecil ditekan oleh pejabat-pejabat yang lebih tinggi. Pejabat-pejabat tinggi juga harus membayar “Sumbangan” yang besar kepada atasan mereka di ibukota propinsi, sebaliknya pejabat di ibukota propinsi ini juga harus menyetorkan harta mereka kepada para thaikam yang dipimpin oleh Liu Chin....