|
| Karya Kho Ping Hoo |
Sepasang Rajah Naga Jilid 04 - KITA tinggalkan dulu A-Hui yang telah mendapatkan tempat di rumah pelesir milik Cia-ma dan mari kita ikuti pengalaman ibunya, yaitu Sim Kui Hwa atau Nyonya Ouw Yang Lee yang ke dua. Sim Kui Hwa dilarikan dalam kereta oleh Tok-Gan-Houw Lo Cit.
Kalau tadi ketika anaknya masih berada di dalam kereta bersamanya ia tidak berani menjerit atau meronta, hanya menangis lirih karena takut ancaman Lo Cit yang akan membunuh anaknya kalau ia tidak diam, kini ia tidak takut lagi akan ancaman itu.
Anaknya telah dibawa pergi dan ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri. Maka Sim Kui Hwa meronta-ronta, menjerit-jerit dan menangis memangili nama anaknya. Lo Cit menegangi kedua lengan wanita itu sehingga tidak dapat bergerak lagi. Hati Lo Cit menjadi gemas sekali, akan tetapi dia tidak ingin memukul nyonya yang cantik dan yang menggairahkan hatinya itu.
“Sudahlah, nyonya. Jangan menangis. Anakmu pasti aman, aku tanggung itu dan engkau akan hidup berbahagia di sampingku sebagai isteriku,” kata Lo Cit menghibur.
“Tidak sudi aku! Lebih baik mati!” Sim Kui Hwa berteriak, akan tetapi karena ia tidak dapat menggerakkan kedua lengannya yang dipegang kuat-kuat oleh Lo Cit, ia hanya dapat menangis.Pada saat itu mereka telah tiba di kaki bukit Houw-san. Tiba-tiba kereta berhenti. Lo Cit membuka tirai memandang keluar dan melihat betapa empatbelas orang pengawal atau anak buahnya semua berhenti dan di depan mereka berdiri seorang laki-laki. Laki-laki itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.
Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, perawakannya sedang-sedang saja akan tetapi wajahnya yang tampan itu membayangkan kegagahan, terutama matanya yang mencorong tajam. Pakaiannya ringkas dan di pungungnya tampak gagang sebatang pedang Dandanannya seperti seorang kang-ouw (dunia persilatan) dan pakaiannya bersih dan rapi walaupun tidak mewah.
Melihat betapa anak buahnya yang berada terdepan tampaknya seperti sedang berbantahan dengan orang itu, Lo Cit lalu menggerakkan tangan menotok Sim Kui Hwa sehingga wanita itu seketika terkulai di atas tempat duduk kereta tanpa dapat bergerak lagi karena tertotok jalan darahnya. Setelah membuat wanita itu tidak berdaya dan tidak akan dapat melarikan diri Lo Cit melompat keluar dari dalam kereta dan lari ke depan.
“Apa yang terjadi? Mengapa kalian berhenti?” tanyanya ketika tiba di bagian depan rombongannya.
Seorang anak buahnya yang tadi berhadapan dan berbantahan dengan laki-laki yang agaknya menghadang rombongan itu lalu berkata, “Pang-cu, orang ini yang telah menahan rombongan kita dan dia berkeras hendak melakukan pemeriksaan ke dalam kereta!”
Mendengar laporan ini, Tok-Gan-Houw Lo Cit menjadi marah sekali. Matanya yang tinggal sebelah kanan itu mendelik ketika dia menghampiri dan memandang kepada laki-laki itu. Kini dia berhadapan dengan orang itu dan suaranya lantang dan membentak. “Siapakah engkau dan apa yang kau kehendaki menahan rombongan kami?”
Pria itu bersikap tenang dan sama sekali tidak kelihatan gentar menghadapi Lo Cit dan anak buahnya yang semua memperlihatkan sikap bengis mengancam itu. “Aku bernama Gan Hok San. Kebetulan hari ini lewat di sini dan tadi aku mendengar suara tangis dan jerit wanita dari dalam kereta itu, maka aku harus melihat mengapa wanita menangis dan menjerit seperti itu.”
“Manusia lancang! la adalah isteriku sendiri. Apakah engkeu begitu berani mati hendak mencampuri urusan suami isteri yang sedang cekcok?” bentak Lo Cit.
“Hemm, itu adalah keterangan sepihak, dari pihakmu. Kalau benar ia isterimu yang sedang cekcok denganmu, aku harus mendengar sendiri dari mulut wanita itu. Biarkan aku menengok dan menanyainya sendiri.”
“Keparat! Apa perdulimu dengan urusan kami?"
“Aku tidak akan mencampuri urusan suami isteri. Akan tetapi aku telah mendengar jerit tangisnya dan semua urusan penasaran dan penindasan adalah urusanku. Aku harus mencegah terjadinya kejahatan dan kesewenang-wenangan.”
“Manusia sombong! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berurusan! Aku adalah Tok-Gan-Houw Lo Cit, ketua perkumpulan Houw-san-pai (Perkumpulan Bukit Harimau)!”
Akan tetapi pengakuan ini tidak membuat Gan Hok San kaget. Dia tersenyum dan berkata, “Aku adalah seorang, perantau aku tidak mengenal Tok-Gan-Houw Lo Cit dan perkumpulan Houw-san-pai. Sobat, aku tidak berniat buruk. Aku hanya ingin menanyai wanita yang menangis tadi. Kalau setelah kutanyai ternyata benar ia isterimu dan sedang cekcok denganmu, aku akan minta maaf kepadamu dan selanjutnya tidak akan mengganggurnu lagi.”
Tentu saja Lo Cit tidak ingin orang asing ini menanyai Sim Kui Hwa yang telah menjadi tawanannya. Dia marah sekali lalu mengerahkan anak buahnya untuk maju mengeroyok. “Engkau sudah bosan hidup! Dia mengerakkan tangannya ke belakang memberi isyarat kepada anak buahnya. “Hajar dan bunuh dia!”
Dua orang anak buah yang berada paling depan dan yang sudah mempersiapkan golok telanjang di tangan, mendapatkan isyarat ini segera menggerakkan golok mereka dan menerjang ke depan, nenyerang orang yang bernama Gan Hok San itu.
“Wuuuttt... wuutt...!!” Dua cercah sinar menyambar ke arah tubuh Gan Hok. Akan tetapi dengan sigap dan mudah pria ini dua kali mengelak ke samping dua kali pula kakinya menyambar. Demikian cepat dan kuatnya serangan balik itu sehingga dua orang anak buah itu tidak mampu menghindar dan mereka roboh terpelanting karena perut mereka terkena tendangan itu. Mereka roboh dan mengaduh-aduh sambil memegangi perut mereka yang mendadak menjadi mulas sekali!
Melihat ini, Lo Cit menjadi marah sekali. “Kalian mundur, biar aku menghajar manusia sombong ini!” bentaknya.
Dia hendak memamerkan bahwa dia adalah seorang ketua dan tidak akan mempergunakan pengeroyokan dan sanggup untuk menghajar musuh itu seorang diri saja. Sekali melompat Lo Cit sudah berhadapan dengan Gan Hok San. Dia sudah mencabut senjatanya, yaitu sebatang golok besar yang tebal dan berat. Golok itu mengkilat tertimpa sinar matahari sore. Lo Cit hendak memperlihatkan sikap gagah di depan anak buahnya, maka dia membentak, “Orang she Gan, engkau memang bosan hidup dan mencari mati di ujung golokku. Hayo cabut senjatamu itu dan kita selesaikan urusan ini di ujung senjata!”
Gan Hok San tersenyum. “Tok-Gan-Houw Lo Cit, sikapmu ini saja sudah membuktikan bahwa telah terjadi hal yang tidak semestinya di dalam kereta itu. Kalau memang benar isterimu yang menangis tadi karena cekcok denganmu, tentu engkau akan membiarkan aku menengok dan menanyainya. Engkau hendak menggunakan kekerasan? Boleh, akan kulayani kehendakmu!”
Setelah berkata demikian, tangan kanan Gan Hok San bergerak ke belakang punggungnya melalui atas pundak dan di lain saat tangan itu sudah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Setelah melihat lawannya memegang pedang, Lo Cit membentak, “Jaga seranganku!” Goloknya menyambar dahsyat sekali.
Diam-diam Gan Hok San terkejut juga karena dari serangan pertarna ini saja dia sudah tahu; bahwa lawannya memiliki gerakan cepat dan tenaga yang besar. Lawannya memiliki ilmu silat yang tinggi, pantas saja kalau dia bersikap sewenang-wenang dan dia dapat menduga bahwa perkumpulan Houw san pastilah bukan sebuah perkumpulan bersih.
Gan Hok San adalah seorang pendekar besar. Sejak muda dia hidup sebagai seorang pendekar dan namanya terkenal di daerah barat dan selatan. Dia seorang tokoh aliran Siauw Lim Pai Pai yang banyak melahirkan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan baik budi.
Hal ini tidak mengherankan karena aliran atau partai Siauw Lim Pai Pai adalah perguruan silat yang diasuh dan dibimbing oleh para pendeta Buddha sehingga para murid Siauw Lim Pai, selain menerima gemblengan ilmu silat tinggi, juga menerima gemblengan batin dengan pelajaran keagamaan. Ini membuat batin para murid Siauw Lim Pai pada umumnya kuat sehingga mereka mempergunakan ilmu silat mereka untuk membela kebenaran dan keadilan.
Gan Hok San bertempat tinggal di lereng pegunungan Beng-san, di sebuah dusun yang tanahnya subur namun yang letaknya terpencil dan sunyi. Akan tetapi sejak mudanya dia suka melakukan perjalanan merantau dan di mana pun dia berada, dia selalu siap unjuk menolong yang lemah tertindas dan menentang yang sewenang-wenang.
Sebagai seorang pendekar perantau, Gan Hok San memilih hidup sendiri dan membujang sehingga sampai berusia empat puluh tahun, dia masih belum menikah dan tidak memiliki seorangpun anggauta keluarga. Hidupnya sebatangkara di dunia ini, bebas tanpa ikatan apapun juga dan ini pula yang menjadi sebab mengapa dia suka melakukan perjalanan merantau.
Melihat betapa Lo Cit yang memegang sebatang golok besar itu menyerang secara bertubu-tubi dan semua serangannya merupakan serangan maut, semakin yakinlah hati Gan Hok San bahwa Lo Cit tentu telah melakukan perbuatan jahat dan wanita yang tadi menangis dan menjerit-jerit dalam kereta itu tentu seorang korban kejahatannya. Maka, diapun menggerakkan pedangnya dengan cepat dan kuat mengimbangi serangan Lo Cit.
“Haiiittt! Trang-trang-trangg.”
Bunga api berpijar-pijar dan Lo Cit melompat ke belakang dengan kaget sekali karena ketika pedang lawan secara beruntun bertemu dengan goloknya, dia merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat dan hampir saja golok itu terlepas dari tangannya! Maklumlah dia bahwa lawannya itu adalah seorang yang amat kuat!
Sebagai seorang tokoh sesat yang sudah terbiasa dengan watak yang licik dan curang, diapun tidak ragu atau malu lagi untuk memperlihatkan kecurangannya. Kalau tadi dia bersikap gagah gagahan, hal itu hanya untuk gengsi saja. setelah mendapat kenyataan bahwa lawannya amat kuat, diapun tidak malu-malu untuk cepat berteriak kepada anak buahnya. “Keroyok dan bunuh dia!”
Dua orang anak buah yang tadi terkena tendangan kaki Gan Hok San sudah bangkit dan nyeri perut mereka sudah mereda. Kini dengan marah mereka lalu bersama duabelas orang kawan mereka maju mengepung dan mengeroyok Gan Hok San. Melihat ini, semakin jelas bagi Gan Hok San dengan orang-orang macam apa dia berhadapan.
Maka dia lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat sekali, menerjang para pengeroyok. Pedangnya menyambar dahsyat dan banyak golok beterbangan ketika bertemu dengan pedangnya, ada yang patah dan ada yang terlepas dari tangan pemegangnya.
Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika sinar pedang itu menyambar-nyambar. Dia merobohkan para pengeroyok dengan ujung pedangnya atau dengan tamparan tangan kirinya, dibantu sambaran kakinya.
Lo Cit berusaha untuk mempergunakan pengeroyokan mengalahkan pendekar itu namun dia kecelik. Biarpun dia juga sudahmenyerang dengan hebat, tetap saja semua serangannya dapat tertangkis oleh lawan Bahkan pengeroyokan yang hiruk pikuk dan kacau bałau itu menghalanginya sehingga serangannya tidak dapat dilakukan dengan lancar, terhalang oleh gerakan golok para anak buahnya.
Dalam waktu singkat, delapan orang anak buah gerombolan itu sudah berpelantingan roboh dan yang enam orang lagi mulai merasa gentar, tidak berani menyerang terlampau dekat, hanya mengacung-acungkan goloknya dari jarak aman saja. Melihat ini, Lo Cit merasa bahwa pihaknya tidak akan menang.
Dia lalu berlari mendekati kereta, meloncat ke tempat kusir dan menyentakkan kendali sehingga dua ekor kuda yang menarik kereta itu meloncat kedepan dan membalap. Melihat ini, Gan Hok San mengeluarkan seruan panjang dan pedangnya menyambar-nyambar sedemikian dahsyatnya sehingga sisa enam orang anak buah gerombolan itu tidak mampu menghindar dan merekapun roboh terluka oleh ujung pedangnya.
Setelah merobohkan semua pengeroyoknya, meihat Lo Cit melarikan kereta, Gan Hok San cepat melakukan pengejaran. Dia mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan tubuhnya melaju dengan cepatnya bagaikan terbang. Tak lama kemudian dia dapat menyusul kereta itu, bahkan mendahuluinya, kemudian membalikkan tubuhnya dan degan kedua tangannya dia menangkap moncong dua ekor kuda itu dan menahannya.
“Berhenti..!!” serunya dan dua ekor kuda itu tertahan, tidak mampu bergerak maju lagi dan keretapun berhenti. Lo Cit yang berada di depan, duduk sebagai kusir, menjadi marah sekali. Dia menggerakkan cambuknya yang panjang untuk menyerang Gan Hok San.
“Tarr...” Cambuk itu melecut ke arah muka Gan Hok San, akan tetapi pendekar ini menggunakan tangan kanannya menangkap ujung cambuk kemudian mengerahkan tenaga membetot. Lo Cit hendak mempertahankan, namun ia kalah kuat dan tubuhnya terbawa oleh tarikan Gan Hok San sehingga meloncat turun dari atas kereta. Akan tetapi dasar orang licik. Karena maklum tidak akan mampu menandingi lawan, begitu kedua kakinya menyentuh tanah dia lalu mengambil langkah seribu, melarikan diri dengan cepat meninggalkan kereta.
Gan Hok San tidak melakukan pengejaran. Tidak adanya tangisan dan jeritan lagi dari dalam kereta menggelisahkan hatinya. Maka, setelah kedua ckor kuda itu sudah tenang, dia lalu melepaskan dua ekor kuda itu dan menghampiri kereta dan membuka daun pintu kereta. Dia mendapatkan seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, cantik jelita, berkulit putih mulus dan berwajah jelita dan anggun, duduk setengah rebah di atas kursi kereta.
Wajah wanita itu pucat sekali dan kedua matanya masih basah mengeluarkan air mata yang mengalir di sepanjang kedua pipinya. Maklumlah Gan Hok San bahwa wanita itu berada dalam keadaan tertotok sehingga tidak mampu mengeluarkan suara. Dia lalu menotok kedua pundak wanita itu, menggosok tengkuk dan punggungnya dengan tangan dan, Sim Kui Hwa dapat bergerak kembali. Begitu dapat bergerak, Kui Hwa menangis.
“Anakku... ah, kembalikan anakku…, mengapa kalian begitu jahat? Kami tidak bersalah apa-apa, kenapa kalian memisahkan aku dengan anakku….”
Gan Hok San maklum bahwa wanita itu tentu mengira bahwa dia adalah seorang di antara anak buah gerombolan itu, maka dia lalu keluar dari kereta dan berdiri di luar kereta lalu berkata dengan sikap hormat. “Nyonya…” katanya, menyebut nyonya karena wanita itu tadi mengeluh tenang anaknya, “harap nyonya jangan cemas dan takut lagi. Semua penjahat telah kuusir pergi. Mereka telah melarikan diri dan meninggalkanmu di sini. Akan tetapi apakah yang telah terjadi, nyonya? Kenapa engkau dapat berada di kereta ini dan apa hubunganmu dengan penjahat Tok-Gan-Houw Lo Cit itu?”
Sim Kui Hwa merasa heran dan juga girang mendengar ucapan itu. la menyusut air matanya dan memandang kepada pria yang berdiri di luar kereta. Lalu ia turun dari kereta itu, memandang ke sekeliling dan benar saja, di situ tidak lagi terdapat penjahat bermata satu dan anak buahnya. Laki-laki yang gagah perkasa ini telah menolongnya, menyelamatkannya!
Sebagai seorang wanita yang tahu tata-krama, dengan hati terharu dan penuh harapan bahwa pendekar itu akan dapat menolong puterinya, ia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Gan Hok San sambil berkata dengan suara bercampur tangis. “Terima kasih bahwa tai-hiap (pendekar besar) telah menolong dan menyelamatkan saya dari tangan penjahat itu. Akan tetapi...mohon pertolongan taihiap untuk anak saya, tai-hiap!”
Melihat wanita itu berlutut sambil menangis di depan kakinya, Gan Hok San lalu membungkuk, menyentuh kedua pundak wanita itu dan membantunya untuk bangkit berdiri..“Nyonya yang baik, berdirilah dan mari kita bicara dengan tenang. Ceritakan apa yang terjadi dengan anakmu, tentu saja aku siap untuk menolong anakmu. Duduklah saja dalam kereta agar lebih enak dan berceritalah, nyonya. Ceritakan semua dari permulaan agar menjadi jelas bagiku.”
Karena tubuhnya terasa lemas, Sim Kui Hwa menurut dan ia duduk di dalam kereta. la menghapus air matanya dan menenangkan hatinya agar dapat bercerita dengan jelas. “Nama saya Sim Kui Hwa dan saya adalah isteri dari Ouw Yang Lee majikan Pulau Naga.”
“Ah! Maksudmu Ouw Yang Lee yang berjuluk Tung-Hai-Tok?” tanya Gan Hok San dengan heran dan agak kaget karena dia sudah mendengar akan narna datuk dari timur yang namanya amat terkenal itu.
Sim Kui Hwa merasa girang banwa penolongnya ini telah mengenal suaminya. “Benar, taihiap. Malam tadi, Pulau Naga diserbu gerombolan penjahat. Suami saya dan anak buah Pulau Naga mengadakan perlawanan akan tetapi dalam kekacauan itu, saya yang sedang berada dalam taman bersama madu saya dan dua orang anak kami, telah disergap dan kami berempat ditawan oleh dua orang kepala gerombolan. Kami dilarikan dari pulau dengan perahu dan setelah tiba di pantai daratan besar kami dipisahkan. Aku bersama anakku Ouw Yang Hui dibawa oleh penjahat mata satu itu dengan kereta, sedangkan maduku, enci Lai Kim dan anaknya entah dibawa kemana.”
“Ah! Akan tetapi, bagaimana suamimu tidak dapat mencegah hal itu terjadi Bukankah dia seorang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali?” seru Hok San dengan heran.
“Mungkin suamiku sedang sibuk menghadapi pengeroyokan anak buah gerombolan. Kami dilarikan dalam gelap dari taman, langsung ke pantai pulau dan dilarikan dengan perahu pada saat laut pasang dan bergelombang. Mungkin dalam kegelapan itu suamiku tidak dapat melakukan pengejaran.”
Gan Hok San mengangguk-angguk. “Lalu bagaimana, Ouwyang Hu-jin (Nyonya Ouw Yang)?"
“Saya dan anak saya Ouw Yang Hui dilarikan dengan kereta, akan tetapi setelah kereta tiba di jalan persimpangan, kami berdua dipisahkan dengan paksa. Anakku dibawa oleh seorang anggauta gerombolan entah ke mana dan aku sendiri dilarikan oleh si mata satu. Aku menjerit dan menangis sampai engkau muncul dan aku ditotok sehingga tidak dapat bergerak atau bersuara seperti tadi, in-kong (tuan penolong).” la terisak lagi karena teringat akan anaknya, lalu melanjutkan, “Tolonglah anak saya, taihiap (pendekar besar), tolonglah selamatkan anak saya!”
Gan Hok San mengerutkan alisnya. “Tentu aku siap untuk menolong anakmu, nyonya. Akan tetapi bagaimana aku bisa tahu ke mana anakmu dibawa pergi? Tidak ada petunjuk ke mana anakmu dibawa pergi. Apakah si mata satu itu tidak mengatakan apa-apa ketika dia menyuruh seorang anak buahnya membawa lari anakmu?”
“Aku masih ingat. Orangnya berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tinggi dan mukanya kurus seperti tengkorak. Namanya.. kalau tidak salah ketika si mata satu memanggilnya, adalah Ji Tong. Si mata satu hanya mengatakan demikian. "Ji Tong seperti sudah kuperintahkan dengan jelas kepadamu, bawalah anak ini sekarang juga. Engkau tahu sudah apa yang harus kau lakukan dengan anak itu". Demikianlah pesannya itu dan Ji Tong itu lalu melarikan anak saya di atas kuda. Aku mendengar Ouw Yang Hui menjerit-jerit.” Kembali ia terisak ketika teringat akan anaknya.
“Petunjuk itu belum jelas benar, akan tetapi rasanya cukup untuk mencari jejak orang bernama Ji Tong itu. Mari kita menggunakan kereta ini untuk mencari jejaknya, nyonya.”
“Saya hanya menyerahkan kepada pertolonganmu, taihiap. Saya akan duduk di depan sebagai penunjuk jalan.”
Sim Kui Hwa lalu pindah duduk di depan, di samping Gan Hok San yang mengendalikan dua ekor kuda. Kereta diputar dan mulailah meluncur mengikuti jalan dari arah mana tadi kereta datang. Gan Hok San menjalankan kereta dengan cepat. Akan tetapi setelah tiba di jalan simpang tiga, malam telah tiba dan cuaca sudah mulai gelap.
“Di sinilah jalan simpang itu, taihiap. Di sini anakku dibawa lari ke arah jalan itu!” Sim Kui Hwa menunjuk kemana terdapat sebuah jalan yang menuju ke utara.
"Akan tetapi malám telah tiba, hu-jin. Kita tidak dapat melihat jalan. Aku khawatir kita bukannya mendapatkan jejak orang itu, bahkan akan tersesat jalan. Baiknya kita melewatkan malam di sini dan besok pagi-pagi setelah terang tanah baru kita lanjutkan pencarian ini.”
Sim Kui Hwa mengangguk lesu. “Saya pikir engkau benar, taihiap. Tidak ada jalan yang lebih baik dari pada melewatkan malam gelap di tempat ini.”
“Engkau dapat beristirahat dan tidur di dalam kereta, nyonya, sedangkan aku akan menjaga keamanan di depan ini.”
Sim Kui Hwa mengangguk dan berpindah duduk ke dalam kereta. Sementara itu. Gan hok San membuat api dan menyalakan lampu yang terdapat di pinggir kereta. untung bahwa minyak pada lampu itu masih penuh sehingga malam itu mereka tidak akan kegelapan. Setelah menyalakan lampu lalu Gan Hok San membongkar buntalan pakaiannya dan mengeluarkan beberapa potong roti kering dan daging kering,juga seguci minuman anggur.
“Silakan makan, nyonya... adanya hanya roti dan daging kering serta minuman anggur yang tidak begitu keras. Walaupun sederhana namun lumayan untuk sekedar mengurangi rasa lapar.” Gan Hok San mempersilakan Sim Kui Hwa.
Karena tubuhnya memang terasa amat letih dan lapar, wanita itupun membuang rasa malu dan ikut makan walaupun sedikit. la merasa beruntung sekali bertemu dengan seorang penolong yang demikian baik dan sopan. Pada malam hari itu, Sim Kui Hwa dapat melepaskan kelelahan dan tidur pulas di dalam kereta.
Sedangkan Gan Hok San hanya duduk bersila di tempat kusir. Dia sudah terbiasa beristirahat dalarn keadaan seperti samadhi. Dalam keadaan seperti itu, semua urat syarafnya dapat beristirahat dan sama seperti orang tidur, walaupun telinganya tetap waspada untuk menjaga segala ancaman yang datang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali begitu sinar matahari pagi mulai menyentuh tanah, Gan Hok San melanjutkan perjalanan. Seperti juga pada kemarin sore Sim Kui Hwa berpindah duduk di depan, disamping Gan Hok San. Kereta dijalankan oleh Gan Hok San, kini tidak begitu cepat perti kemarin karena di sepanjang jalan itu mereka memasang mata memandang kanan kiri mencari jejak.
Setelah mereka tiba tak jauh dari kota Nam-po, tiba-tiba Gan Hok San menghentikan keretanya. Sim Kui Hwa juga melihat tubuh laki-laki yang menggeletak di tepi jalan itu. Biarpun hatinya merasa ngeri, wanita ini ikut turun bersama Gan Hok San dan mereka menghampiri orang yang menggeletak di tepi jalan itu. Orang itu rebah menelungkup dan dengan kakinya, Gan Hok San membalik tubuh yang telah menjadi mayat itu.
“Ahh...!! Dialah orangnya... dia orang yang bernama Ji Tong, yang melarikan anak ku di atas kuda itu!” Jerit Sim Kui Hwa dengan mata terbelalak sambil telunjuknya menuding ke arah muka mayat itu.
Gan Hok San mengerutkan alisnya. “Orang ini telah terbunuh oleh bacokan-bacokan senjata tajam. Ada yang membunuhnya. Akan tetapi kuda dan anakmu itu tidak berada di sini.”
“Ahhh Hui-ji... dimanakah engkau? Apa yang terjadi denganmu, tanya Sim Kui Hwa sambil mengusap air matanya. Ibu muda itu menangis.
Sementara itu, Gan Hok San mencari jejaknya di sekitar tempat itu. Akan tetapi dia tidak melihat sesuatu. “Nyonya, kurasa anakmu tentu dibawa.”
“Akan tetapi, siapa dia dan ke mana?”
“Aku tidak tahu, nyonya. Akan tetapi kurasa Anakmu dibawa oleh orang yang telah membunuh Ji Tong ini. Mengingat bahwa Ji Tong adalah seorang penjahat, besar kemungkinan yang membunuhnya adalah seorang pendekar yang berniat menolong anakmu. Kalau dugaanku ini benar, tentu dia sudah mengantar anakmu kembali ke Pulau Naga. Tentu anakmu mengaku siapa ayahnya dan dia sudah mengantarkan anakmu itu ke sana.”
“Terima kasih kepada Thian kalau begitu!” seru Sim Kui Hwa penuh harap. “Lalu sekarang bagaimana baiknya, tai-hiap?”
“Kalau kita melakukan pencarian, kurasa akan sukar sekali, nyonya. Kita tidak tahu ke mana anak itu dibawa, dan kurasa kalau memang benar pembunuh Ji Tong ini seorang pendekar, anakmu tentu akan diantarkan pulang ke Pulau Naga. Karena itu tidak ada artinya kita mencari jejak orang yang membawa anakmu. Lebih baik engkau kuantar pulang ke Pulau Naga,” kata Gan Hok San.
“Akan tetapi bagairnana kalau Hu-ji (anak Hui) tidak diantar pulang ke Pulau Naga?” tanya Sim Kui Hwa meragu.
“Mudah-mudahan saja tidak begitu. Akan tetapi seandainya pembunuh Ji Tong itu tidak mengantarkan anakmu pulang ke sana kita dapat melapor kepada suamimu dan aku percaya dia pasti akan mampu mencari anakmu sampai dapat.”
Setelah termenung sejenak, Sim Kui Hwa berkata, “Baiklah, biar saya pulang ke Pulau Naga. Akan tetapi saya hanya akan merepotkan engkau saja, tai-hiap. Entah bagaimana saya akan dapat membalas semua kebaikanmu, sejak engkau menyelamatkan saya dari tangan Lo Cit, sampai mencari anakku, kemudian engkau bahkan akan mengantarku pulang ke Pulau Naga.” Suara nyonya itu mengandung keharuan karena budi pertolongan pendekar itu sungguh terasa amat besar baginya.
Gan Hok San tersenyum dan wajahnya berseri..“Senang sekali hatiku dapat menolongmu, nyonya. Kuharap saja anakmu sudah diantar pulang oleh penolongnya sehingga engkau akan dapat berkumpul kembali dengan suami dan anakmu, dan hidup berbahagia.”
“Terima kasih, tai-hiap. Engkau benar-benar seorang pendekar yang budiman, semoga Thian selalu akan memberkahimu!” kata Sim Kui Hwa terharu.
Gan Hok San melompat ke atas tempat duduk kusir. Sambil tersenyum dia menggerakkan cambuk kereta itu ke atas dua ekor kuda. “Tar-tar-tar!” dan dua ekor kuda itu lalu membalik dan berlari menuju ke jalan simpang tadi. Wajah Gan Hok San masih tersenyum-senyum dan dia sendiri merasa amat heran kepada dirinya sendiri. Mengapa ada perasaan gembira yang demikian membahagiakan menyusup dalam hatinya mendengar ucapan terakhir dari nyonya itu?
Belum pernah dia merasakan hatinya merasa bahagia seperti itu. Dia mulai memutar otaknya, menyelidiki diri sendiri. Akan tetapi seluruh perhatiannya tidak dapat dialihkan dari dalam kereta di mana nyonya itu duduk seorang diri. Dan tiba-tiba dia menyadari keadaannya. Dia telah jatuh cinta! Untuk pertama kali dalam hidupnya yang sudah empat puluh tahun itu dia jatuh cinta. Kepada nyonya ini. Kepada isteri orang, isteri datuk besar dari timur lagi!
“Engkau telah gila!” bisik hatinya dan cambuknya meledak-ledak di atas kepala kuda sehingga dua ekor kuda itu berlari semakin kencang. Ketika mereka tiba di jalan simpang tiga, Gan Hok San membelokkan kereta itu kekiri dan menuju ke timur karena arah perjaanan itu adalah Laut Timur di mana Pulau Naga terletak.
Dalam perjalanan menuju ke pantai Laut Timur ini, Gan Hok San selalu bersikap manis dan lembut akan tetapi penuh sopan santun terhadap Sim Kui Hwa sehingga nyonya muda itu semakin berkurang rasa rikuhnya dan menjadi akrab karena ia menganggap pendekar itu seorang yang benar-benar patut untuk dijadikan sahabat.
Akan tetapi ketika mereka tiba di tepi laut, mereka mendapatkan kenyataan bahwa air laut sedang pasang dan bergelombang besar sehingga amat berbahaya untuk berperahu menyeberang ke Pulau Naga yang cukup jauh dari pantai.
“Keadaan laut tidak mengijinkan untuk pelayaran, nyonya. Tidak ada lain pilihan kecuali kita harus menanti sampai air laut tenang kembali,” kata Gan Hok San.
Sim Kui Hwa hanya menurut saja karena memang kenyataannya demikian. Pendekar itu lalu mencari sebuah perkampungan nelayan di pantai untuk tempat bermalam selama menanti air laut surut dan tenang. Diapun mencarikan dan membeli satu stel pakaian untuk pengganti pakaian Sim Kui Hwa yang sudah kotor.
Biarpun pakaian itu hanya pakaian wanita nelayan yang sederhana sekali, akan tetapi mengenakan pakaian yang sederhana itu tidak mengurangi kejelitaan Sim Kui Hwa, bahkan dalam pakaian bersahaja itu kecantikannya semakin menonjol dalam pandangan Gan Hok San!
Beginilah kuasa cinta terhadap hati seorang manusia, terutama kaum prianya. Kalau hati sudah jatuh cinta, bagaimanapun keadaan wanita yang dicintanya itu, akan selalu tampak indah menarik. Sedang cemberut pun tampak semakin manis! Pakaian jelek sederhana bahkan menonjolkan kecantikannya! Akan tetapi sebaliknya kalau orang sedang membenci. Orang yang dibencinya sedang terseyum pun tampak jelek sekali dan seperti menertawakannya sehingga menambah kebenciannya!
Mereka terpaksa harus menanti sampai tiga malam di perkampungan itu sebelum mereka akhirnya berani menyewa sebuah perahu nelayan yang berani mengantarkan mereka ke Pulau Naga. Berdebar-debar rasanya jantung di dada Sim Kui Hwa ketika ia duduk di dalam perahu yang meluncur cepat menuju ke tengah lautan itu.
Berdebar penuh harapan untuk mendapatkan puterinya sudah kembali ke pulau dengan selamat. Akan tetapi ada debar lain yang tidak mengenakkan hatinya. Setelah ia tiba di pulau dan berkumpul kembali dengan suami dan anaknya, ia harus melihat tuan penolongnya ini pergi meninggalkan pulau, meninggalkannya dan bayangan ini entah mengapa membuat hatinya merasa kecewa dan sedih.
Makin jelas pulau itu tampak, makin kencang debar jantung dalam dada Sim Kui wa. Akhirnya tukang perahu dapat membawa perahu ke tepi dan perahu terpaksa berhenti di kedalaman selutut. Daratan masih terpisah dua meter lebih dari perahu. Karena itu, terpaksa Gan Hok San berkata dengan sikap hormat kepada Sim Kui Hwa.
“Nyonya, engkau harus menyeberang kecuali kalau aku boleh memondongmu dan membawa melompat ke darat.”
Sim Kui Hwa yang sudah merasa akrab dan tahu bahwa penolong itu bukan seorang pria yang kurang ajar atau mata keranjang, mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja boleh, tai-hiap. Silakan,” katanya lirih.
Biarpun dia sudah menguatkan hatinya, tetap saja jantungnya berdebar keras ketika kedua lengannya memondong tubuh wanita itu dan sekali menggerakkan tubuh, dia sudah membawa nyonya itu melompat ke darat, lalu diturunkannya dengan lembut dan hati-hati. Sama sekali dia tidak mengira bahwa pada saat itu, Ouw Yang Lee berlari-lari dari tengah pulai dan melihat ketika Sim Kui Hwa dipondong dan dibawa loncat ke darat olehnya.
Ketika tadi perahu nelayan mendekati pantai, dua orang anak buah Pulau Naga telah melihatnya dan ketika mereka melihat ji-hujin (Nyonya Ke Dua) berada dalam perahu itu, cepat mereka lari melapor kepada Ouw Yang Lee. Mendengar laporan bahwa isterinya yang ke dua datang dengan perahu, Ouw Yang Lee cepat berlari menuju ke pantai itu. Dia berlari cepat sekali dan sempat melihat ketika isterinya dipondong seorang pria dan dibawa melompat turun ke darat.
Alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong penuh cemburu dan kemarahan. Ketika Sam Kui Hwa melihat suaminya berlari mendekatinya, ia lalu berlari juga menyambut dan mengembangkan kedua lengannya untuk merangkul suaminya sambil terisak menangis. Akan tetapi Ouw Yang lee menangkis dan mendorong kedua lengan itu, tidak mau dirangkul.
“Mana Ouw Yang Hui, Ouw Yang lan dan ibunya?” tanya Ouw Yang Lee dengan suara mengandung geram.
Mendengar pertanyaan ini, Sim Kui Hwa yang sudah merasa heran akan penyambutan suaminya yang dingin, menjadi terkejut sekali. “Apakah... bukankah Hui-ji sudah diantar pulang oleh seseorang?” tanyanya penuh harap dan matanya mencari-cari untuk melihat apakah Ouw Yang Hui juga ikut menyambut kedatangannya.
“Tidak ada, Hui-ji belum pulang. Hayo cepat ceritakan apa yang telah terjadi dan siapa orang ini!” Dia menuding ke arah Gan Hok San yang masih berdiri dengan sikap tenang.
Sim Kui Hwa tidak mengerti akan sikap suaminya yang menyambutnya sedingin itu, juga ia terkejut sekali mendapat keterangan bahwa anaknya belum pulang. Dengan suara bercampur tangis ia menceritakan pengalamannya. “Malam itu, aku dan enci Lai Kim beserta Lan-ji(Anak Lan) dan Hui-ji ditawan dan dilarikan oleh dua orang jahat ke pantai, lalu kami dibawa pergi dengan perahu menuju ke daratan besar. Setelah tiba di sana, kami dipisahkan.
"Enci Lai Kim dan Lan-ji dibawa pergi seorang penjahat, sedangkan aku dan Hui-ji dibawa dengan kereta oleh penjahat yang lain. Di tengah perjalanan, Hui-ji dilarikan seorang anak buah gerombolan dan aku dilarikan oleh pimpinan penjahat yang bernama Tok-Gan-Houw Lo Cit. Akan tetapi di tengah jalanan, aku ditolong oleh tai-hiap Hok San ini.
"Dia amat baik, selain menyelamatkan aku juga sudah berusaha untuk mencari Hui-ji, akan tetapi di tengah perjalanan kami menemukan orang yang melarikan Hui-ji telah menggeletak di tepi jalan, sudah mati. Kami kira Hui-ji ada yang menolong dan mengembalikan ke Pulau Naga. Demikianlah apa yang kualami.”
“Akan tetapi, kembali ke Pulau Naga mengapa sampai memakan waktu berhari-hari? Perempuan tidak tahu malu! Engkau bergaul dengan laki-laki selama berhari-hari, berdua saja. Perempuan macam apa engkau ini?” mukanya pucat dan matanya terbelalak. “Jangan sebut aku suamimu! Engkau tidak patut menjadi isteriku dan aku tidak percaya bahwa engkau masih menjadi isteriku yang setia. Engkau telah bergaul berdua saja dengan laki-laki lain selama beberapa hari. Aku tidak sudi lagi mengakuimu sebagai isteriku!”
“Fitnah...! Itu fitnah... Aku... aku... hanya berterima kasih kepada Gan-taihiap dan dia sudah begitu baik, bahkan mengantarkan aku pulang, dan engkau menuduh kami yang bukan-bukan?”
“Aku tidak menuduh! Aku masih mempunyai sepasang mata yang dapat melihat dengan jelas. Ketika mendarat tadi, engkau membiarkan dirimu dipondong dengan mesra. Itu saja sudah membuktikan bahwa engkau telah berbuat serong dengan laki-laki ini!” bentak Ouw Yang Lee dengan marah.
“Demi Tuhan, aku tidak melakukan perbuatan tercela itu!”
“Tidak perlu menyebut nama Tuhan engkau perempuan hina. Orang macam engkau tidak pantas menjadi isteriku bahkån tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi. Lebih baik engkau mati di tanganku dari pada mencemarkan dan menodai nama besar dan kehormatanku!”
Setelah berkata demikian, Ouw Yang Lee menggerakkan tangan kanannya, memukul dari jarak jauh dengan pengerahan tenaga sin-kang yang amat kuat. Dia yakin bahwa dengan pukulan jarak jauh itu, sekali pukul dia dapat membunuh wanita yang menimbulkan kebencian dan kemarahan karena cemburu itu. Hawa pukulan yang amat kuat menyambar ke arah tubuh Sim Kui Hwa. Akan tetapi ada angin menyambar dari samping, menyambut pukulan jarak jauh yang dilontarkan Ouw Yang Lee itu.
“Wuuutt...desss...!” Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya, kedua orang jagoan itu terdorong mundur beberapa langkah. Ouw Yang Lee terkejut bukan main dan dia tidak memperdulikan lagi Sim Kui Hwa yang menjatuhkan diri berlutut sambil menangis. Ouw Yang Lee memandang kepada Gan Hok San yang telah berani menangkis pukulannya tadi.
“Keparat, siapa engkau yang berani mencampuri urusan antara suami dan isterinya?” bentak Ouw Yang Lee menudingkan telunjuknya ke muka Gan Hok san.
Pendekar ini tersenyum tenang sambil melangkäh maju mendekati Ouw Yang Lee, mudian berkata dengan suara tegas Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee! “Telah lama aku mendengar akan nama besarmu sebagai seorang datuk timur yang berilmu tinggi dan disegani. Akan tetapi apa yang kudapatkan sekarang? Engkau bukan lain hanyalah seorang suami yang sama sekali tidak bijaksana, seorang pencemburu besar yang tidak tahu akan kesetiaan dan kebaikan budi isterinya sendiri, seorang laki-laki kejam yang hendak membunuh begitu saja ibu dari anaknya sendiri!
"Aku Gan Hok San tidak mencampuri urusan antara suami dan isterinya. Akan tetapi tentu saja kalau melihat tindakan sewenang-wrnang, aku akan mencampuri, menentang yang sewenang-wenang, dan menolong orang yang menjadi korban kesewenang-wenangan. Sebagai seorang murid Siauw Lim Pai Pai aku sudah bersumpah untuk membela kebenaran dan keadilan, di manapun juga aku berada.”
Terkejut juga hati Ouw Yang Lee. Dia teringat bahwa dia pernah mendengar akan nama besar tokoh Siauw Lim Pai Pai ini. “Hemm, kiranya engkau tokoh Siauw Lim Pai Pai bernama Gan Hok San itu! Kalau aku tetap hendak membunuh isteriku sendiri ini, engkau mau apa?”
“Aku akan mencegahnya sekuat tenaga dan menyelamatkan wanita ini. Aku pandang ia sebagai seorang wanita yang membutuhkan pertolongan, bukan sebagai isterimu. Tentu saja engkau dapat mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku, akan tetapi kalau kau lakukan itu, hal itu hanya akan membuktikan bahwa sesungguhnya nama besar Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee hanya nama kosong belaka, karena sesungguhnya dia hanya seorang pengecut yang curang.”
“Jahanam keparat yang sombong dan bermulut besar! Kau kira aku takut kepadamu untuk bertanding satu lawan satu? Mari kita buktikan dan mengadu kepandaian!”
Gan Hok San menyapu ke arah para anak buah Pulau Naga yang sudah berkumpul di situ dan mulutnya tersenyum mengejek. “Benarkah satu lawan satu? Anak buahmu yang sudah siap itu tidak akan mengeroyok? Aku sangsikan hal itu!”
Hati Ouw Yang Lee menjadi semakin panas. Dia adalah seorang gagah perkasa yang sudah yakin akan kehebatan ilmu silatnya, seorang yang dianggap datuk timur. Tentu saja dia merasa malu untuk melakukan pengeroyokan setelah ditantang untuk bertanding satu lawan satu. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan berteriak kepada anak buahnya.
“Kalian mundur dan tonton saja dari jauh. Awas, tak seorangpun boleh turun tangan dalam perkelahian antara aku dan dia ini!”
Mendengar perintah itu, para anak buah Pulau Naga lalu mundur dan hanya nonton dari jarak jauh.
“Ouw Yang Lee, sebelum kita bertanding, aku ingin lebih dulu mengetahui bagaimana kalau engkau nanti kalah atau menang dalam pertandingan ini? Aku tetap curiga bahwa kalau engkau kalah olehku, engkau akan mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku!”
“Gan Hok San manusia sombong, aku berjanji tidak akan melakukan pengeroyokan, apapun yang terjadi. Aku sudah mengeluarkan perintah dan anak buahku tidak akan ada yang berani melanggar perintahku. Karena engkau datang tanpa diundang sebagai seorang tamu tak diundang engkau harus menaati peraturan yang diadakan tuan rumah. Akulah yang menentukan. Kalau dalam pertandingan ini engkau kalah maka engkau akan mati dan apa yang akan kulakukan terhadap isteriku ini tidak ada seorang pun boleh mencampurinya”
“Hemm, itu kalau aku kalah, tentu saja terserah kepadamu. Akan tetapi bagaimana seandainya engkau yang kalah?”
“Hemm, kalau aku kalah olehmu, engkau boleh membawa perempuan ini bersamamu dan meninggalkan pulau ini." kata Ouw Yang Lee.
Tiba-tiba Sim Kui Hwa berseru. “Tidaaakk…” Dan ia bangkit lalu la menghampiri Gan Hok San dan berkata, “Gan-tai-hiap, pergilah sekarang juga jangan mencampuri urusan kami. Biar aku dibunuh suamiku, akan tetapi engkau yang tidak bersalah apa-apa tidak boleh terancam kematian. Pergilah dan aku akan berterima kasih kepadamu sarnpai aku mati."
Gan Hok Sah tersenyum. “Minggirlah, nyonya. Aku harus menolong dan melindungimu, biar untuk itu aku harus mempertaruhkan nyawaku. Marilah, Ouw Yang Lee, aku menerima dan menyetujui peraturan yang kautentukan tadi. Aku telah siap menandingimu!” Setelah berkata demikian, Gan Hok San melangkah maju sehingga berhadapan dengan Ouw Yang Lee dalam jarak lima meter.
Kedua orang gagah itu saling pandang bagaikan dua ekor singa yang saling menantang atau dua ekor ayam jantan yang hendak berlaga. Saling pandang dengan pandang mata mencorong dan penuh selidik, seolah dengan pandang mata itu mereka hendak mengukur kekuatan masing-masing.
Gan Hok San memasang gerakan pembukaan dengan kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk seperti orang menunggang kida, kedua tangannya dirangkap di depan dan sepasang matanya mencorong memandang lawan untuk mengikuti semua gerak-geriknya.
Maklum bahwa lawannya yang menjadi tokoh Siauw Lim Pai Pai itu tentu memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang kuat, Ouw Yang Lee juga sudah mengerahkan sin-kang yang mengandung hawa beracun. Dia membuat kedua lengan tangannya tergetar dan perlahan-lahan kedua kulit lengannya itu berubah menjadi kemerahan! Itulah pengerahan ilmu yang disebut Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah), satu di antara ilmu-ilmunya tentang racun.
Kedua tangan itu sudah dirawatnya sedemikian rupa sehingga kalau dikerahkan, hawa beracun merah itu akan timbul dan pukulannya mengandung racun merah yang dapat membuat tubuh lawan yang terpukul menjadi seperti terkena bara api!
Melihat ini, Gan Hok San sebagai seorang jagoan atau pendekar yang banyak pengalaman, dapat menduga bahwa lawannya tentu memiliki pukulan-pukulan keji yang beracun sesuai dengan nama julukannya Racun Lautan Timur. Maka pendekar inipun sudah melindungi kedua lengannya dengan pengerahan ilmu kekebalan Tiat-pou-san (Ilmu Kebal Baju Besi) sehingga kedua lengannya itu terlindung oleh sin-kang yang amat kuatnya sehingga dengan lengan telanjang dia akan mampu menangkis senjata-senjata tajam dan menolak serangan hawa beracun.
“Sambut seranganku! Haiiiittttt...!” Ouw Yang Lee membentak nyaring sekali dan dia sudah menerjang dengan tamparan tangan kirinya ke arah kepala lawan.
Gan Hok San menundukkan kepalanya sehingga tamparan itu lewat mengenai tempat kosong. Akan tetapi tangan kiri Ouw Yang Lee menyusul dengan pukulan membalik, menggunakan tangan itu seperti sebatang golok menghantam ke arah leher lawan. Hantaman ini didahului oleh angin yang menyambar dahsyat dan berbau amis, tanda bahwa tangan itu mengeluarkan hawa pukulan beracun.
Namun Gan Hok San tidak menjadi gentar. Dia mengangkat lengan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya. “Dukkk!” Kedua lengan kiri itu bertemu dengan kuatnya dan akibatnya, mereka berdua terdorong mundur dan agak terhuyung.
Hal ini membuat Ouw Yang Lee menjadi semakin penasaran dan kembali dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang dengan hantaman tangan kanannya ke arah dada lawan. Gan Hok San kembali menangkis dan ketika tangan lawan terpental, dia membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya, menggunakan tangan kiri dari samping nenampar ke arah pelipis kanan lawan.
“Wuuutt... dukk!” Ouw Yang Lee juga berhasil menangkis pukulan ini. Mereka lalu saling serang dengan ganas dan hebatnya. Keduanya ternyata memiliki gerakan yang sama kuatnya, akan tetapi perlahan-lahan tampak bahwa dalam hal kegesitan atau gin-kang (ilmu meringankan tubuh), Gan Hok San masih unggul sedikit. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga Ouw Yang Lee merasa terdesak dan bingung mengikuti gerakan lawan yang demikian cepatnya.
Sim Kui Hwa yang sudah bangkit berdiri terpaksa menonton jalannya pertandingan itu dengan wajah pucat sekali. la mengenal suaminya sebagai seorang yang amat keras hati dan kalau Gan Hok San kalah, tentu pendekar dan penolongnya itu akan dibunuh mati sedangkan ia sendiripun tidak ada harapan untuk diampuni. Tentu saja ia tidak mengharapkan kekalahan bagi Gan Hok San karena ia tidak ingin melihat penolongnya itu tewas dan dirinya sendiri terancam maut.
Akan tetapi Ouw Yang Lee adalah suaminya, ayah dari anaknya maka tentu saja ia pun mengharapkan bahwa kalau Gan Hok San menang, pendekar itu tidak akan membunuh Ouw Yang Lee. Biarpun ia menjadi isteri Ouw Yang Lee sudah hampir sepuluh tahun, akan tetapi wanita yang cantik dan berwajah lembut ini sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu silat. Maka ia tidak dapat mengikuti pertandingan itu dengan jelas, tidak tahu siapa yang akan menang atau kalah.
Tiba-tiba Song Bu lari dari kelompok para anak buah Pulau Naga, mendekati Sim Kui Hwa. Wanita ini yang sudah amat akrab dengan anak itu, menganggap anak itu sebagai anak sendiri, merangkulnya, seolah minta dilindungi. Song Bu juga menonton pertandingan itu dan dia sendiripun belum cukup lihai untuk dapat mengikuti dan menilai jalannya pertandingan.
Perkelahian tangan kosong itu sudah mencapai puncaknya. Dengan kegesitannya, tiba-tiba kaki Gan Hok San mencuat dan mengenai paha lawannya. Ouw-yan Lee terhuyung dan hampir roboh! Sebetulnya hal ini sudah menunjukkan bahwa dia masih kalah dalam pertandingan silat tangan kosong itu. Akan tetapi datuk ini tentu saja tidak mau mengaku kalah demikian saja.
“Singgg...” Tampak sinar berkilat ketika dia mencabut pedangnya. Biasanya Ouw Yang Lee cukup bersenjatakan dayung bajanya kalau menghadapi lawan biasa. Kalau dia sampai mencabut pedangnya, hal itu menunjukkan bahwa lawan yang dihadapinya amat tangguh.
“Keluarkan senjatamu dan lawan pedangku kalau engkau memang jantan!” bentaknya sambil memalangkan pedangnya didepan dada.
“Hemm, Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee! Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mernpergunakan pedang. Baiklah, kalau engkau ingin ber tanding dengan sènjata, aku akan melayanimu!”
Setelah berkata demikian, Gan Hok San menggerakkan tangan kanan ke belakang punggung dan tampak sinar berkilat ketika dia mencabut sebatang pedang yang bersinar kebiruan. Dia melihat betapa ujung pedang dan di sepanjang mata pedang yang dipegang lawannya berwarna kehitaman, maka tahulah dia bahwa pedang lawannya itu mengandung racun yang berbahaya. Dia harus menjaga diri dengan hati-hati karena tergores sedikit saja oleh pedang itu berarti bahaya maut mengancam dirinya!
Melihat lawannya sudah memegang pedang, Ouw Yang Lee membentak nyaring, “Sarnbut pedangku!” dan dia sudah menerjang ke depan, pedangnya berkelebat dan menyerang dengan sabetan ke arah leher. Gan Hok San mengerahkan tenaga dan menggerakkan pedangnya menangkis.
“Trang...!” Bunga api berpijar ketika dua batang pedang itu saling bertemu dengan kuatnya. Demikian kuatnya dua batang pedang itu beradu, sehingga membuat keduanya terpental dan dua orang yang sedang bertanding itu melompat ke belakang untuk memeriksa pedang masing-masing. Setelah dengan hati lega melihat bahwa pedang mereka tidak rusak, mereka lalu maju lagi dan saling serang dengan dahsyatnya.
Akan tetapi ternyata sekali ini Ouw Yang Lee salah perhitungan. Kalau tadi, ketika mereka bertanding dengan tangan kosong, tingkat kepandaian mereka berimbang dan dia hanya kalah dalam hal kecepatan gerakan, kini setelah mereka bertanding dengan silat pedang, Ouw Yang Lee terkejut sekali. Ilmu pedang yang dimainkan Gan Hok San ternyata hebat sekali dan segera dia terdesak hebat.
Setelah lewat lima puluh jurus, Ouw Yang Lee hanya mampu bertahan saja, menangkisi hujan serangan Gan Hok San dengan main mundur. Masih untung baginya bahwa pendekar Siauw Lim Pai itu tidak bermaksud membunuhnya. Ketika mendapatkan kesempatan, ujung pedang Gan Hok San hanya melukai pundak kanan Ouw Yang Lee sehingga baju berikut kulit pundaknya terobek.
Majikan Pulau Naga ini terpaksa melompat ke belakang dengan muka berubah kemerahan. Dia merasa penasaran dan malu sekali karena dia harus mengakui bahwa dia telah kalah. Kalau dia nekat dan dilanjutkan, belum tentu kalau lawannya akan demikian bermurah hati dan hanya melukai ringan pada pundaknya.
“Gan Hok San, pergilah engkau dan bawa serta perempuan hina ini!” katanya sambil mendelik memandang kepada Sim Kui Hwa.
Wanita itu menangis dan menjatuhkan diri berlutut. Song Bu merangkulnya. “Subo, harap jangan rnenangis...” Dia menghibur.
“Song Bu, ke sini engkau” Ouw Yang Lee membentak dan Song Bu cepat meninggalkan Sim Kui Hwa dan menghampiri gurunya lalu berdiri di sampingnya.
“Aku adalah isterimu, selama sepuluh tahun menjadi isterimu yang setia, kenapa engkau menyuruh aku pergi mengikuti seoang laki-laki lain?” Wanita itu meratap.
“Kalau engkau tetap tinggal di sini, akan kubunuh!” Ouw Yang Lee membentak.
“Ouw Yang Lee! Seorang laki-laki tidak akan menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan, tidak akan mengingkari janji sendiri yang telah diucapkan. Engkau berjanji tidak akan membunuh wanita ini!” Gan Hok San menegur.
“Aku berjanji tidak akan membunuhnya, akan tetapi tidak berjanji untuk menerimanya kembali tinggal di sini! Wanita rendah ini tidak boleh tinggal di atas pulau ini dan kalau ia nekat, tentu akan kubunuh!”
“Bunuh saja aku... ahh, bunuh saja…!"
Gan Hok San yang diam-diam telah jatuh hati kepada wanita itu dan merasa amat iba, lalu menghampiri dan berkata dengan suara lembut. “Nyonya, sudah jelas suamimu bersikap kejam kepadamu. Tidak baik membiarkan dia membunuhmu. Apakah nyonya tidak ingat kepada puterimu yang hilang dibawa orang? Apakah nyonya tidak ingin mencarinya dan menemukannya kembali?”
Mendengar ini, Sim Kui Hwa meratap. “Nah, kalau engkau ingin menemukan puterimu sampai dapat ditemukan, nyonya, marilah kuantar engkau mencari anakmu, Sia-sia saja membuang nyawa di sini membiarkan anakmu kehilangan ibunya sedangkan ayahnya sudah begitu kejam terhadap dirinya.”
Sim Kui Hwa menurunkan kedua tangan yang menutupi mukanya dan dengan mata merah dan basah memandang suaminya. “Suamiku... benarkah engkau begitu tega tidak mau menerimaku kembali dan mencari anak kita Ouw Yang Hui sampai dapat ditemukannya?” tanyanya dengan suara memelas.
“Perempuan rendah, aku tidak sudi menerimamu! Pergilah engkau dengan penolong dan kekasihmu itu, aku tidak perduli!”
Kui Hwa terkulai dan roboh pingsan di atas tanah. “Ouw Yang Lee, engkau manusia kejam dan tak berprikemanusiaan! Lain kali kalau kita saling bertemu kembali, aku pasti akan membunuhmu!” kata Gan Hok San dan diapun segera menghampiri dan mengangkat tubuh Sim Kui Hwa yang pingsan. Memondongnya dan membawanya ke pantai di mana perahunya berada.
Dengan tenang dan tanpa menengok lagi kepada Ouw Yang Lee dan anak buahnya, dia merebahkan tubuh Sim Kui Hwa di dalam perahu, lalu mendayung perahu itu ke tengah dan meninggalkan Pulau Naga. Setelah Gan Hok San pergi, diikuti pandang mata Ouw Yang Lee yang masih berdiri bertolak pinggang dengan alis berkerut, menyesali kekalahannya, Song Bu menghampirinya.
“Suhu, kenapa suhu membiarkan orang itu pergi membawa subo? Kenapa tidak mengerahkan para paman untuk menangkapnya dan merampas subo dari tangannya?”
Suara muridnya itu seolah baru menyadarkan Ouw Yang Lee dari lamunannya. Dia memutar tubuh memandang Song Bu, menghela napas panjang dan berkata, “Untuk apa mempertahankan isteri yang tidak setia? Song Bu, catatlah dalam hatimu bahwa orang bernama Gan Hok San itu hari ini telah menghinaku dengan melarikan isteriku. Kelak engkau harus membalaskan sakit hatiku ini. Sanggupkah engkau?”
“Tentu saja tee-cu (murid) sanggup, suhu. Akan tetapi bagaimana dengan Toa-subo (lbu Guru Tertua) dan adik Lan, juga Ji-subo (lbu Guru Kedua) dan adik Hui? Apakah suhu tidak pergi mencari mereka?”
“Hemm, mereka hanya dua orang puteri. Aku akan dapat mencari penggantinya dengan mudah, yang lebih muda dan cantik. Dan anak-anak itupun hanya anak perempuan, aku tidak terlalu membutuhkan anak perempuan. Sekarang, engkaulah yang menjadi pengganti mereka, Song Bu. Mulai sekarang, engkau menjadi anakku, nama lengkapmu Ouw Yang Song Bu. Bagaimana pendapatmu?”
Song Bu adalah seorang anak yang cerdik luar biasa. Biarpun pada lahirnya dia tidak berkata sesuatu, namun otaknya bekerja dan dia sudah dapat rnembayangkan semua keadaannya. Ucapan gurunya itu berarti mengangkat dia menjadi anak sehingga segala yang ada pada gurunya kelak menjadi miliknya!
Pulau Naga dan semua anak buahnya, dan terutama ilmu kepandaian Ouw Yang Lee tentu akan diwariskan kepadanya! Maka, setelah pikirannya bekerja secepat kilat, dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki datuk itu, memberi hormat dengan membenturkan kepalanya berkali-kali ke atas tanah dan menyebut “Ayah”.
Ouw Yang Lee yang tadinya muram karena kecewa atas kekalahannya terhadap Gan Hok San, tiba-tiba kini tertawa bergelak.
Dia telah menemukan seorang anak laki-laki yang telah lama didambakannya. Kini Song Bu merupakan orang yang paling dekat dengannya, satu-satunya orang yang disayangnya dan kelak dapat dia andalkan.
Para anak buah Pulau Naga yang menonton dari jarak jauh tidak tahu apa yang terjadi antara Song Bu dan Ouw Yang Lee. Mereka tadi menonton dari jauh, akan tetapi dapat melihat bahwa pemimpin mereka telah kalah dan isteri pemimpin mereka dibawa pergi oleh lawan. Kemudian mereka melihat Song Bu berlutut di depan majikan atau pemimpin itu.
Biarpun pundak kanannya terluka, Ouw Yang Lee tidak mengeluh. Dia membangunkan Song Bu dengan tangan kirinya, menggandeng tangan anak itu menuju ke rumah dan ketika berada di depan para anak buahnya, dia berhenti dan berkata dengan lantang.
“Kalian semua dengar baik-baik! Mulai saat ini, anak ini menjadi puteraku dan bernama Ouw Yang Song Bu. Kalian semua harus menghormatinya dan menyebutnya Ouw Yang Kong-cu (Tuan Muda Ouw Yang).”
Semua orang mengangguk dan mereka pun bubaran. Ouw Yang Lee mengajak putera angkatnya itu menuju ke rumah dimana dia mengobati luka di pundaknya. malam itu juga dia menyuruh para pelayannya untuk mempersiapkan sebuah pesta kecil untuk merayakan pengangkatan Ouw Yang Song Bu menjadi puteranya. Pesta kecil itu dihadiri pula oleh para anggauta pimpinan yang terdiri dari lima orang pembantu Ouw Yang Lee.
Ouw Yang Lee juga tidak banyak membuang banyak waktu membiarkan kamar-kamarnya kosong. Dalam waktu sebulan saja dia telah mendapatkan dua orang gadis cantik yang dibawanya dari dusun-dusun di daratan. Orang tua para gadis itu tentu saja, menyerahkan anak mereka dengan senang hati karena anak mereka menjadi isteri majikan pulau Naga yang berkuasa dan kaya raya.
Semenjak hari itu, Ouw Yang Song Bu digembleng secara tekun oleh ayah angkatnya yang menginginkan dia menjadi seorang yang tangguh dan kelak akan dapat mengangkat nama ayah angkatnya. Anak yang cerdik inipun tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu, belajar silat dengan rajin sekali, berlatih siang malam sehingga cepat dia dapat menguasai seluruh gerakan dasar yang diajarkan oleh ayah angkatnya.
Akan tetapi di samping itu, perangainya juga berubah. Karena merasa bahwa dia adalah satu-satunya putera yang disayang dan dimanja oleh Ouw Yang Lee, dia bersikap tinggi hati terhadap para anak buah Pulau Naga yang merasa tidak berani memperlihatkan perasaan ini karena maklum bahwa Song Bu amat disayang oleh Ouw Yang Lee.
Thai-Lek-Kui (Iblis Tenaga Besar) Ciang Sek menahan kendali kudanya sehingga binatang itu berhenti melangkah. Dia menoleh ke kiri, ke arah kuda lain yang ditunggangi Lai Kim dan puterinya, Ouw Yang Lan. Kuda itu tampak letih, demikian pula dengan dua orang penunggangnya. Lai Kim memegang tali kendali kuda dengan tangan kanannya sedangkan lengan kirinya memeluk Ouw Yang Lan yang duduk didepannya.
Melihat kuda yang ditunggangi Ciang Sek berhenti, Lai Kim juga menghentikan kudanya. la sudah lelah sekali sehingga tubuhnya membungkuk, tinggal sedikit lagi tenaganya untuk mencegahnya terpelanting dari atas punggung kuda. Ouw Yang Lan adalah seorang anak yang pemberani, bahkan keras hati dan keras kepala.
Sejak semula ia sudah tidak takut terhadap laki-laki tinggi besar bermuka merah itu dan pandang matanya terhadap pria yang menawan ibunya itu selalu menantang. Kini, melihat laki-laki itu menoleh dan memandang kepada ibunya, iapun tidak tahan untuk tidak berkata dengan suara penuh celaan.
“Paman, kenapa engkau begitu kejam? Tidak dapatkah engkau melihat bahwa kami sudah lelah sekali? Terutama sekali ibu, tidak kasihankah engkau kepadanya?”
“Lan-ji (Anak Lan)...!" Lai Kim menegur anaknya agar diam karena ia takut kalau-kalau anaknya akan membuat penawan mereka marah. Sudah beberapa kali Ciang Sek mengancam bahwa kalau ia banyak ribut, maka laki-laki itu akan membunuh anaknya!
Sejenak sinar mata Ciang Sek menatap wajah anak itu dengan tajam, akan tetapi dia tersenyum, kagum akan keberanian anak itu! Dia telah tergila-gila kepada Lai Kim dan dia ingin wanita itu menyerahkan diri dengan sukarela kepadanya, menjadi isterinya. Kalau dia membunuh anak itu dan memaksa Lai Kim menjadi isterinya, wanita itu tentu tidak akan menyerahkan diri dengan suka rela dan dia tidak menghendaki hal ini terjadi. Dia harus mengancam akan membunuh anak itu agar Lai Kim mau menyerahkun diri, dan bersikap lunak untuk merayu dan meruntuhkan hati wanita itu.
“Baiklah, kita berhenti mengaso sebentar di sini,” katanya dan diapun lalu melompat turun dari atas punggung kuda. Setelah menambatkan kudanya Ciang Sek lalu membantu Lai Kim dan Ouw Yang Lan untuk turun dari atas kuda. Untuk menenangkan dan menyenangkan hati ibu dan anak itu, ketika membantu mereka turun Ciang Sek bersikap lembut sekali.
“Duduklah kalian di bawah pohon itu. Di sana sejuk dan ada batu-batu untuk tempat duduk,” katanya.
Ibu dan anak itu mengikutinya menuju ke bawah pohon yang ditunjuk. Karena lelah sekali Lai Kim lalu duduk dia atas sebuah batu dan Ouw Yang Lan duduk di sebelahnya. Kalau Lai Kim duduk dengan muka agak pucat dan mata menunjukkan kegelisahan dan kedukaan, sebaliknya Ouw Yang Lan memandang ke arah Ciang Sek dengan sinar mata mengandung kemarahan dan kebencian.
Ciang Sek membuka buntalan kain yang tadi diterimanya dari anak buah Tok-Gan-Houw (Harimau Mata Satu) Lo Cit dan menaruh buntalan yang sudah terbuka itu di atas tanah di depan mereka. Isi buntalan itu ternyata roti dan daging kering, juga terdapat seguci arak.
“Mari, kalian makanlah. Perjalanan masih jauh dan kalian tentu sudah merasa lapar,” katanya. Akan tetapi Lai Kim tetap duduk di atas batu dan memeluk puterinya.
“Nyonya yang baik, engkau makanlah dan beri anakmu makan,” kata pula Ciang Sek. “Apa engkau lebih suka melihat anakmu mati kelaparan?”
Teringat akan puterinya, Lai Kim terpaksa lalu turun dari atas batu dan mengambil dua potong roti dan dua potong daging kering. Sepotong roti dan sepotong daging diberikannya kepada Ouw Yang Lan dan mereka makan roti dan daging itu tanpa berkata-kata. Melihat sikap lembut penculiknya, Lai Kim memberanikan hati bertanya dengan hati-hati, “Kenapa engkau menculik kami ibu dan anak yang tidak bersalah apapun terhadap dirimu?”
Sebelum menjawab, Ciang Sek minum arak dari guci, dituangkan begitu saja ke dalam mulutnya. Setelah menyeka mulutnya, dia memandang kepada Lai Kim dan menjawab, "Aku menculik kalian untuk memberi pelajaran kepada Ouw Yang Lee yang suka bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang di dunia kangouw (sungai telaga, persilatan). Biar dia tahu rasa dan mengurangi kesombongannya.”
“Ke mana engkau hendak membawa kami?"
“Kalian akan kubawa ke Pek-In-San (Bukit Awan Putih) di Pegunungan hai-san. Di sana aku tinggal sebagai majikan bukit itu,” jawab Ciang Sek dengan tenang.
“Akan tetapi... kapankah engkau akan membebaskan kami?”
Ciang Sek tersenyum dan menatap wajah cantik dengan tahi lalat kecil di pipi kiri itu. “Tenanglah, nyonya. Kalau engkau tidak membuat ribut dan tidak melawan, aku pasti akan memperlakukan engkau dan puterimu dengan baik. Akan tetapi kalau engkau banyak rewel, engkau tahu apa yang akan kulakukan!” Berkata demikian, dengan penuh arti dia melirik ke arah Ouw Yang Lan.
Lai Kim mengerutkan alisnya dan iapun tersedak makanan yang serba kering itu karena ucapan dan sikap laki-laki tinggi besar itu membuatnya gelisah sekali. melihat ini, Ciang Sek segera bangkit berdiri, membawa sebuah guci arak lain yang telah kosong.
“Kau tunggulah di sini, aku akan mencarikan air jernih untuk kalian minum. Awas, jangan pergi dari tempat ini!” Setelah berkata demikian, Ciang Sek lalu memasuki hutan pegunungan yang berada di sebelah kiri jalan dan memghilang di balik pohon pohon dan semak semak.
Begitu laki-laki itu lenyap dari pandang mata mereka, Ouw Yang Lan segera berkata kepada ibunya, “Ibu, ini merupakan kesempatan baik bagi kita. Mari kita melarikan diri, ibu!"
Lai Kim meragu, memandang ke kanan kiri yang amat sunyi. “Pergi ke mana?”
“Ah, ibu! Ke mana saja asal dapat terbebas dari orang itu! Mari, Ibu!” Anak itu bangkit dan menarik tangan ibunya. Lai Kim bangkit berdiri.
“Baik kita lari!” akhirnya ibu itu menyetujui ajakan puterinya. “Akan tetapi kita jangan naik kuda. Derap kaki kuda akan terdengar olehnya. Pula kita tidak biasa menunggang kuda. Kita lari sąja. Hayo...!”