Pendekar Naga dan Harimau Jilid 41 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 41

Karya : Stevanus S.P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
Cukup tahu diri, Tamtai Au-kha segera memberi aba-aba kepada pasukannya, "Mundur!"

Perintah itu tidak perlu diulangi untuk kedua kalinya. Prajurit-prajurit Ui-ih-kun memang bukan prajurit yang setangguh Hui-liong-kun misalnya, baik dalam kemampuan jasmani maupun dalam hal semangat tempur. Prajurit Ui-ih-kun akan menjadi garang sekali jika mereka mendapat kemenangan, namun jika mereka terperosok ke dalam kesulitan maka semangat mereka dengan gampang akan luntur.

Berbeda dengan prajurit-prajurit Hui-liong-kun gemblengan Pakkiong Liong yang ibaratnya tak akan mengerut kening sedikitpun meskipun dihadapannya ada lautan pedang ataupun hujan panah. Begitu perintah untuk mundur dikeluarkan, beramai-ramai merekapun memutar kuda mereka dan mundur serempak. Sekejap saja mereka sudah meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan debu yang mengepul tinggi.

Di tempat itu kini hanya tertinggal puluhan tubuh para prajurit yang malang melintang, ada yang sudah mampus ada pula yang masih merintih-rintih kesakitan. Sementara kaum pendekar pun segera saling berkumpul dan saling menanyakan keselamatan masing-masing. Tak seorangpun dari mereka terluka parah apalagi gugur, hanya beberapa orang yang luka-luka ringan.

Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan yang terluka itupun masih nampak gagah ketika meloncat turun dari kudanya dan melangkah tegap di samping murid kesayangannya. Para pendekar seperti Tong Wi-hong dan Auyang Seng yang punya nama besar dikalangan persilatan itupun ternyata memberi hormat dengan bersungguh-sungguh, sebab mereka tahu banwa Tiam-jong-lo-sia adalah seorang tokoh maha sakti yang meskipun jarang muncul ke dunia ramai, namun kesaktiannya luar biasa.

Tong Wi-hong bahkan tahu bahwa Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan ini lebih sakti dari gurunya sendiri, dan konon yang bisa menandinginya secara seimbang hanyalah si rahib tua Hong-tay Hweshio dari Siau-lim-pay dan mendiang Ketua Hwe-liong-pang yang lama, Tong Wi-siang. Tidak ada orang yang ketiga.

Ketika melihat Tong Wi-hong dalam keadaan sehat meskipun gerak-geriknya agak lemah dan mukanya agak pucat, maka Tong Lam-hou pun tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dihampirinya pamannya itu dan tanyanya, "Paman kau Sudah baik bukan? Luka yang paman dapatkan di Pak-khia itu begitu mencemaskan sehingga aku menjadi mata gelap dan mengakibatkan kematian anak kesayangan Pakkiong An!"

Meskipun kalimat itu diucapkan dengan nada lugu tanpa kelemahan-lembutan sedikitpun, namun siapapun dapat mendengar bahwa di dalam kalimat itu terkandung perhatian yang mendalam. Hal mana cukup melegakan semua orang. Dalam pandangan orang-orang itu, setidak-tidaknya Tong Lam-hou masih ingat hubungan kekeluargaan dan "belum terlalu tersesat" meskipun ia pernah mengecewakan banyak orang ketiga ia menjadi perwira Kerajaan Manchu.

Orang-orang Hwe-liong-pang bahkan berharap terlalu jauh bahwa anakmuda itu akan menyadari tentang "kelicikan dan kekejaman" bangsa Manchu, lalu Tong Lam-hou akan masuk menjadi anggota Hwe-liong-pang sehingga dapat memperkuat perlawanannya terhadap pemerintah Manchu.

Sesaat lamanya Tong Wi-hong dan Tong Lam-hou, paman dan keponakan, saling menggenggam tangan dengan erat dengan penuh kehangatan. Adegan itu paling tidak telah memperbesar harapannya bahwa Tong Lam-hou akan berpaling dari pendiriannya yang sesat. Justru sang paman, Tong Wi-hong, sendirilah yang tahu pasti bahwa keponakannya itu tidak akan berubah pendirian, sebab sang paman itu sudah tahu betapa teguh pendirian Tong Lam-hou tentang perlunya menghentikan perang, supaya orang Han dan orang Manchu dapat hidup berdampingan seperti saudara.

Tong Wi-hong tahu pasti bahwa pendirian keponakannya itu bukan pendirian yang goyah sebab hanya berlandaskan kekuatiran akan kehilangan kedudukan sebagai perwira yang bergaji tinggi, namun benar-benar menguatirkan nasib rakyat yang terus menerus berada dalam suasana peperangan, suasana yang lama kelamaan akan membuat rakyat kehilangan kepercayaan kepada tatanan dan hukum yang berlaku, dan jika sudah demikian maka negara ibaratnya sebuah rumah yang tiang-tiangnya rapuh dimakan rayap. Sama dengan keadaan di jaman dinasti Beng di bawah kekuasaan Kaisar Cong-ceng dulu.

Namun dalam pertemuan kali ini, baik paman maupun keponakan, sama-sama tidak menyinggung perbedaan pendirian masing-masing. Mereka hanya saling menanyakan apakah terluka atau tidak, dan keselamtan diri masing-masing selama Ini. Pertemuan yang lebih mirip pertemuan keluarga, karena kemudian Tong Wi-hong memperkenalkan Tong Lam-hou kepada anggota keluarganya yang lain.

Kepada Cian Ping, isteri Tong Wi hong, Tong Lam-hou memanggil "bibi" dan kepada Ting Bun, suami Tong Wi-lian, ia memanggilnya "paman". Selain itu ternyata masih ada dua orang "piau-te" (adik sepupu) dan seorang "piau-moi" (adik sepupu perempuan) yang cantik dengan lesung pipit di pipinya. Tong Lam-hou merasa gembira karena merasa berada di tengah-tengah keluarga.

Namun wajah-wajah yang berseri itupun berubah menjadi wajah-wajah yang kecewa ketika mereka mendengar bagaimana Tong Lam-hou dengar, tegas tetapi sopan, telah menolak ajakan orang-orang itu, bahwa perlawanan yang berlarut-larut hanyalah akan membuat rakyat kehilangan kesempatan untuk memperbaiki nasibnya, sementara yang diperjuangkan sebagai "membebaskan negeri orang Han" itu sendiri masih kabur. Ibarat akan merobohkan sebuah rumah namun belum punya rumah penggantinya.

Suasana berubah menjadi tegang, ketika terdengar Tong Lam-hou berkata, "Aku menyesal mengatakan kepada kalian, bahwa siapapun yang masih ingin mengacau dan menimbulkan keributan yang meresahkan negeri ini, ia harus melangkahi mayat Tong Lam-hou lebih dulu.”

Beberapa pendekar yang datang bersama Tong Wi-hong tadi, menampilkan sikap yang berbeda-beda ketika mendengar ucapan itu. Ada yang menarik napas dengari kecewa, ada yang menjadi merah padam wajahnya karena kemarahan, tapi orang-orang yang sudah memahami pendirian Tong Lam-hou seperti Tong Wi hong, Siangkoan Hong dan Lim Hong-pin nampak tenang-tenang saja mendengar ucapan Tong Lam-hou itu. Bahkan Tong Wi hong mencoba meredakan keadaan,

"Aku berharap setiap orang dapat menahan diri. Pengalamanku selama beberapa hari berada di Pak-khia di rumah Hou-ji (anak Hou, maksudnya Tong Lam-hou) adalah bahwa perbedaan pendapat yang bagaimanapun tajamnya, dapat dilunakkan apabila kedua pihak sama-sama mau berbicara dari hati ke hati, bukan lantas saling-melotot dengan menghunus senjatanya masing-masing. Masing-masing harus diberi kesempatan mengutarakan pendiriannya, tapi juga harus mencoba memahami pendirian pihak lain meskipun tidak harus menerimanya. Meskipun pendirian berbeda, tapi jika mau sebenarnya orang-orang bisa hidup berdampingan secara damai...."

"Tidak bisal" potong Sebun Him si anakmuda dari Hoa-san-pay yang bertangan kidal yang dengan bangga selalu menyebut julukannya sendiri sebagai Se-him (si Beruang Barat), yang menurut perasaannya sudah dapat disejajarkan dengan Pak-liong (Naga Utara-dari Lam-hou (Harimau Selatan) itu. "Mana bisa pembebas tanah-air yang berjiwa luhur itu hidup berdampingan dengan menjilat pantat Manchu yang berjiwa rendah?"

Tujuan Sebun Him dengan kata-katanya itu sebenarnya cuma ingin memancing perkelahian dengan Tong Lam-hou, dan ia akan mendapat kesempatan untuk membuktikan dihadapan banyak saksi bahwa si Beruang Barat mampu mengalahkan, paling tidak mengimbangi, si Harimau Selatan. Sebun Him yang akan mendambakan nama besar dan ketenarann itu memang sudah lama penasaran sebab namanya selalu berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama Pak-kiong Liong dan Tong Lam-hou, dan akan menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari bayang-bayang itu.

Tapi Tong Lam-hou ternyata tidak mudah terpancing kemarahannya, kepribadiannya sudah matang dan ia sadar bahwa berkelahi bukanlah satu-satunya-cara untuk menonjolkan diri, bahkan dinilainya cara itu agak kekanak-kanakan. Meskipun dengan kuping yang a-gak merah, ia memberi hormat kepada sekalian orang termasuk kepada Sebun Him juga, sambil berkata,

"Aku minta maaf bahwa aku telah banyak mengecewakan kalian dengan pendirianku ini. Sebenarnya, jika kita sama-sama meletakkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya, kita tidak akan berselisih pendapat."

"Hah, enak benar kau bicara. Kepentingan rakyat atau kepentingan orang Manchu?" dengus Sebun-Him.

"Rakyat Han dan rakyat Manchu adalah sama-sama rakyat negeri ini, kenapa harus terpecah belah? Jika pertentangan terus dilanjutkan hanya karena akal sehat kita kalahkan oleh rasa kesukuan yang sempit, maka andaikata kelak kalian berhasil mendudukkan seorang Han sebagai Kaisar, kekacauan tetap tidak akan berhenti waktu itu, entah orang Manchu entah orang Mohgol entah orang Hui pasti penasaran kenapa bukan orang dari suku mereka yang menjadi Kaisar Cina ini. Kalau sudah begitu, kapan selesainya?"

Tapi Sebun Him semakin berang karena merasa kalah pandai, dan dengan ngootot ia berkata, "Kemukakan seribu satu alasanmu, Tong Lam-hou, Tetapi kami bangsa Han tetap tidak sudi diperintah oeh bangsa Manchu!"

Tong Lam-hou yang kesabarannya mulai menipis itupun tertawa dingin, "Benar-benar pikiran sempit dan membabi buta. Saudara-saudara sekalian, tahukah kalian apa yang dipikirkan oleh Sri Baginda Khong-hi, dan apa yang dicita-citakan?"

Sahut Sebun Him, "Hemm, penjilat, kau menyebut nama Khong-hi dengan sebutan Sri Baginda dan nadamu sangat menghormatinya. Tapi aku justru tidak sudi mendengarkannya!"

"Sudi atau tidak sudi terserah kepadamu. Kau tidak sudi mendengarkan, tapi aku masih berharap agar para pendekar Hwe-liong-pang yang bersedia menggunakan akal sehatnya. Selamat tinggal!" Habis berkata demikian, segera Tong Lam-hou memberi hormat, dan menggandeng tangan gurunya untuk diajak pergi dari situ. Sikapnya tegas dan tidak ragu-ragu.

Namun Sebun Him telah menghunus pedangnya dan meloncat menghadang Tong Lam-hou sambil membentak, "Jangan pergi! Kau setia kepada Kaisar bangsa Manchu itu, berarti kaulah perintang utama bagi perjuangan bangsa Han Kami dan sekarang kau mau pergi begitu saja?"

Kalau Tong Lam-hou masih berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri, sebab ia sadar bahwa kekerasan hanya akan mempersulit orang-orang itu untuk menerima pendiriannya, maka sebaliknya Guru Tong Lam-hou yang meskipun usianya sudah tua tapi masih berwatak berangasan itu sudah kehabisan kesabarannya. la sangat sayang kepada muridnya seperti kepada anaknya sendiri, dan darahnya pun meluap melihat muridnya yang dianggapnya bermaksud baik itu malahan diterima dengan sinis dan caci maki.

Melihat sikap Sebun Him yang dianggapnya sok pahlawan itu, Ang Hoan tertawa dingin, "Anak muda, dengan mengandalkan apa kau hendak merintangi kami berlalu dari sini?"

Sebun Him yang sejak menemukan ajaran ilmu Kun-goan-sin-kang (Tenaga Sakti Alam Semesta) di penjara Kui-ki-ong itu telah merasa dirinya menjadi seorang yang berilmu tinggi, menjadi marah mendengar ucapan Ang Hoan yang kedengarannya menantang itu. Tanpa banyak bicara lagi pedangnya segera menebas ke arah Ang Hoan dengan Lian-hoan-cin-po-sam-to (Tiga Bacokan saling susul dengan langkah berantai).

Dengan pengerahan tenaga Kun-goan-sin-kangnya maka gerakan pedangnya menimbulkan suara gemuruh angin, sementara wujud pedangnya sendiri telah lenyap menjadi mega. Beberapa orang berseru kagum melihat kehebatan Sebun Him.

Tapi dihadapan Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan, tokoh nomor satu dunia persilatan dari gunung Tiam-jong-san itu, permainan pedang Sebun Him tak ada bedanya dengan permainan anak-anak saja. Tanpa terlihat gerakannya tahu-tahu orang tua itu sudah mengelakkan serangan beruntun itu, gerakannya begitu gampang dan tak bersusah payah.

Sebun Him yang bertekad mengangkat nama besar dengan mengalahkan orang-orang terkenal, mengeram marah dan pedangnyapun menusuk lagi dengan gerakan Koay-bong-hoan-sin (Ular Naga Berjungkir Balik). Gulungan cahaya pedangnya lenyap berganti sebuah garis keperakan yang meluncur dengan gerakan berputar seperti bor, bergerak secepat kilat ke dada orang tua dari Tiam-jong san itu.

Suara gemuruh mirip badai berganti dengan suara mencicit dari ujung pedang yang membelah udara. Pergantian gerak dilakukan dengan manisnya sehingga beberapa orang kembali memperdengarkan seruan kagumnya.

Tapi kali ini Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan sudah habis sabarnya, dengan sebuah kibasan lengan jubahnya yang kedodoran itu, segulung angin meluncur ke depan dan membentuk selapis benteng yang tak kelihatan namun tak dapat ditembus. Gerakan pedang Sebun Him berantakan sekaligus, dan orangnyapun terpental ke belakang sampai hampir membentur sebatang pohon, dengan muka yang pucat dan napas memburu. Si Beruang Barat yang sangat membanggakan dirinya itu sekarang benar-benar telah ketemu batunya.

Dengan sikap acuh tak acuh dan tidak mempedulikan luka di pundaknya, Ang Hoan berkata kepada Tong Lam-hou, "A-hou, marilah kita pergi. Maksud baikmu tidak bisa mereka terima, buat apa kita mengemis-ngemis belas-kasihan kepada mereka?"

"Ang Lo-eng-hiong, tunggu dulu..." kata Tong Wi-hong mencoba mencegah kepergian tokoh tua itu.

Namun hanya dengar, beberapa langkah yang kelihatan ringan dan seenaknya, guru dan murid dari Tiam-jong-san itu tahu-tahu sudah melangkah jauh. Suatu pameran ilmu meringankan tubuh yang mengejutkan, sehingga Tong Wi-hong yang ahli ginkang sampai berjulukan gin-yan-cu itupun merasa bahwa darinya benar-benar masih kalah dibandingkan mereka.

Sementara Sebun Him dengan agak sempoyongan bangkit dari jatuhnya, dan meskipun ia tidak menolak ketika Ting Hun-giok membantunya untuk berdiri, tapi dengan tegas, "Aku tidak apa-apa, tidak luka sedikitpun. Tadi aku hanya kurang waspada terhadap si tua itu dan meskipun dia lebih lihai dari padaku tetapi itu wajar saja karena dia adalah seorang tokoh angkatan tua. Yang masih aku sesalkan ialah bahwa begitu banyak pendekar di tempat ini kenapa tidak ada yang berusaha mencegah kaburnya kedua kaki tangan Manchu itu? Apakah semuanya gentar? Kalau aku sih demi tanah air bangsa Han tidak akan gentar kepada siapapun, biarpun lainnya menjadi pengecut berwatak kura-kura tapi aku si Beruang Barat akan tetap...."

Pendekar dari Hoa-san-pay, Gin-hoa kiam Auyang Seng, dengan cepat menukas ucapan keponakan muridnya itu, "A-him, jangan bicara kurang sopan!”

"Aku tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa, susiok, aku hanya kuatir kalau perjuangan membebaskan tanah-air kita akan mengalami kegagalan, sebab para pendekar kita sudah terbius oleh omongan beracun dari si budak penjajah tadi, tentang ‘kedamaian buat rakyat' dan orang Han dan manchu hidup bersaudara' dan entah omongan busuk apalagi..."

Beberapa orang yang berada di tempat itu menjadi merah kupingnya mendengar itu, namun sebagai tokoh-tokoh yang sudah matang dalam kepribadian mereka tidak mudah terpancing pertengkaran dengan Sebun Him. Mereka maklum bahwa Sebun Him hanya sedang melampiaskan kekecewaannya karena gagal menunjukkan kegagahannya tadi, bahkan dijungkir-balikkan dalam dua gebrakan saja.

Anak Tong Wi-hong yang tua. Tong Hoa-tiong, berbisik ke telinga adiknya., "Anak muda Hoa-san-pay ini sungguh besar mulutnya, kalau aku tidak segan kepada Auyang Tayhiap, ingin rasanya aku menjajal kehebatan ilmu pedangnya."

Adiknya yang bernama Cian Hoa-beng karena memakai nama marga ibunya, menjawab, "Tiong-ko (kakak Ting), apa kau tidak paham bahwa dia sesumbar seolah-olah dirinya adalah pahlawan sendiri itu hanya untuk menutupi rasa malunya tadi, lihat saja gerak-geriknya, rupanya dia sudah lama ingin menaksir piau-moi (adik misan perempuan, maksudnya Ting Hun-giok) dan segala lagak lagunya selalu berusaha menarik perhatian piau-moi. Tapi makin lama dia berlagak, piau-moi makin jemu agaknya."

Kakaknya menahan tertawanya, "Benar, aku juga melihatnya. Kali inipun dia ingin jual lagak dengan ilmu silatnya. Sayang dia salah memilih lawan!"

Keduanyapun tertawa namun berusaha ditahan agar tidak bersuara. Kalau sampai terdengar oleh Sebun Him maka anak muda Hoa-san-pay itu tentu akan mencak-mencak seperti kakek kebakaran jenggot.

Sementara itu Sebun Him ketika menyaksikan bahwa kata-katanya tadi hanya mendapat tanggapan yang dingin dari oang-orang sekitarnya, menjadi kecewa sekali. Dengan gerakan yang lesu ia menyarungkan pedangnya, dan bergumam sendirian, "Sayang sekali, aku tidak sempat menjajal apakah si Harimau Selatan itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian seperti yang diberitakan orang, la cuma bisa berlindung di belakang punggung gurunya."

Tong Hoa-tiong tidak dapat menahan kemengkalan hatinya mendengar ucapan Sebun Him yang tak lain selalu berusaha menonjolkan dirinya sendiri dan meremehkan orang lain itu. Tong Hoa-tiong sendiri bukannya menyetujui sikap Tong Lam-hou yang terlalu setia kepada pemerintah Manchu itu, namun sikap Sebun Him yang sok pahlawan itu lama kelamaan membuat diriya muak juga. Sebun Him telah menggunakan cara yang salah untuk menarik hati seorang gadis.

Sedangkan Sebun Him sendiri agak kecewa melihat orang-orang itu agaknya tidak tertarik sedikitpun juga kepada omongannya itu. Sikap yang tawar itu membuat Sebun Him kebingungan sendiri apakah ada yang salah dengan ucapannya? Yang paling dikuatirkan Sebun Him sebenarnya bukanlah apabila para pendekar itu benar-benar "terbius omongan beracun" Tong Lam-hou, namun ia kuatir apabila kemunculan Tong Lam-hou di pihak kaum pendekar akan menyainginya, menyaingi pamornya. Bukankah tadi Ting Hun-giok nampaknya begitu kagum kepada kakak sepupunya itu?

Terdengar Tong Wi-hong berkata, "Saudara-saudara, marilah kita akan menuju ke pangkalan, di sana aku akan mencoba menjelaskan kepada saudara-saudera tentang hasil pembicaraanku dengan Tong Lam-hou di kota Pak-khia beberapa hari yang lalu."

Para pendekar yang mendengar itu menjadi tertarik hatinya, tidak terkecuali orang-orang Hwe-liong-pang yang selama ini gigih menentang pendudukan Manchu. Semuanya sudah kenal Tong Wi-hong sebagai pendekar besar yang bersikap anti Manchu, pendiriannya tidak goyah seujung rambutpun, namun nada bicaranya kali ini tentang diri Tong Lam-hou telah membuat orang-orang itu timbul perasaan ingin tahunya. Agaknya akan ada "sesuatu yang baru" dalam sikap”dan pendirian Tong Wi-hong itu.

Liong-pwe-nia. Di atas bukit Yang disebut "pangkalan" itu adalah sebuah bukit yang bentuknya memanjang seperti punggung seekor naga yang muncul di permukaan air, sehingga bukit itupun disebut (Bukit Punggung Naga), itu ada segerombolan orang yang menamakan diri Jing-liong-pang (Gerombolan Naga Hijau) yang dipimpin seorang bernama Lim Kan.

Dulu ketika Hwe-liong-pang pecah tercerai-berai ia bersama segerombolan anggota Hwe-liong pang bersarang di tempat itu dan tetap melanjutkan cita-cita Hwe-liong-pang meskipun berganti nama dengan Jing-liong-pang. Membela rakyat yang tertindas dari kesewenang-wenangan yang kuat.

Bagi para penindas, gerambolan Jing-liong-pang ini dicap sebagai "golongan hitam" sebab sering menghadang iring-iringan hartawan serakah, merampas harta mereka dan membagi-bagikan kepada penduduk miskin di sekitar Liong-pwe-nia. Namun orang-orang Jing-liong-pang sendiri tidak pernah peduli mereka akan disebut sebagai iblis atau sebagai malaikat.

Sarang Jing-liong-pang sendiri terletak di atas bukit, dikelilingi lereng-lereng terjal dan hanya dapat dicapai lewat sebuah jalan kecil yang berliku-liku seperti ular. Sarang itu sendiri dikelilingi pagar dari balok-balok tinggi yang dijajarkan rapat dengan ujung-ujung yang diruncingkan. Melihat hal ini, orang akan tahu bahwa meskipun anggota Jing-liong-pang tidak lebih dari duaratus orang namun sulit untuk diserang.

Lim Kan sendiri menyambut kedatangan para pendekar itu ke dalam sarangnya yang semuanya terbuat dari kayu itu. Pesta segera di adakan dan anggota-anggota Kay-pang yang terluka-pun segera diobati. Dalam kesempatan itu, dengan kalimat-kalimat yang berhati-hati Tong Wi-hong mulai menjelaskan tentang diri Tong Lam-hou dan pendiriannya. Selama beberapa hari memikirkan hasil perundingannya dengan keponakannya di Pak-khia dulu, ternyata Tong Wi-hong memikirkan bahwa pendirian Tong Lam-hou itu ternyata betul juga.

Di jaman Manchu itu memang perbedaan antara Manchu dan Han sudah hampir tak ada lagi, kedua suku berbaur dalam satu masyarakat, dan kalau ada perbedaaan juga maka perbedaan itu hanya ditiup-tiupkan oleh segolongan kecil orang Manchu atau orang Han. Orang Manchu yang selalu ingin diunggulkan sebab mereka adalah bangsa yang berkuasa, sedang orang Han yang merasa bangsa mereka dijajah. Namun jumlah orang-orang itu tidak banyak.

Orang masih ingat bagaimana jaman Kaisar Cong-ceng dari dinasti Beng yang orang Han itu malahan lebih morat-marit dibandingkan jaman Kaisar Khong-hi Sekarang. Jaman dulu, prajurit-prajurit Beng galak sekali terhadap rakyat namun diam-diam malahan banyak yang bekerja sama dengan kaum perampok untuk membagi hasil.

Jaman prajurit-prajurit Manchu pun galak terhadap rakyat, namun terhadap para perampok dan penjahatpun mereka bertindak tegas, sehingga rakyatpun merasa terjamin keamanannya. Kaisar Khong-hi yang masih muda itu mengendalikan negara-dengan tangan-tangan yang kokoh kuat, meskipun sebagai manusia biasa ia memiliki beberapa kelemahan pula. Tapi ia jelas lebih baik dibandingkan raja-raja dinasti Beng.

Bagi oang-orang yang selama ini sudah terbiasa memusuhi pemerintah Manchu, maka perkataan-perkataan Tong Wi-hong itu memaksa mereka untuk meninjau kembali pendirian mereka, meskipun tidak langsung menerimanya. Seolah mereka menemukan sebuah jendela baru dalam memandang persoalan ini.

Kini masalahnya bukan lagi suka atau tidak suka kepada orang Manchu, tetapi masih perlu ataukah tidak untuk melanjutkan perlawanan yang berlarut-larut. Dan di telinga mereka seakan terngiang kembali ucapan Tong Lam-hou yang tadi sebelum pergi, "Gunakan akal sehat, diatas segala-galanya."

Yang paling panas hatinya dalam ruangan itu adalah Sebun Him. Ketika ia melihat orang-orang mulai bimbang mendengar penjelasan Tong Wi-hong itu, maka Sebun Him merasa perlu untuk angkat bicara demi "menyelamatkan perjuangan". Sambil menggebrak meja Sebun Him berteriak, "Tidak bisa jadi, Tong Tayhiap, kalau kita hendak berdamai dengan pemerintah Manchu maka akulah yang pertama kali menentangnya!"

Semua mata menoleh ke arah Sebun Him dan anak muda itu menjadi bangga karenanya, "Dalam peperangan memang jatuh korban, dan meskipun itu sama-sama tidak kita sukai namun rakyatpun harus ikut mengorbankan ketenteraman dan kedamaiannya untuk sementara waktu, toh apabila kemerdekaan untuk tanah air bangsa Han ini tercapai kelak, mereka akan menikmatinya juga. Mereka terinjak, itu wajar!"

Tong Wi-hong tidak meladeni Sebun Him dengan suara yang sama kerasnya, melainkan dengan tersenyum sabar ia menjawab, "Aku mengutarakan hasil pembicaraanku dengan Tong Lam-hou bukan untuk merubah pendirian saudara-saudara, atau mentang-mentang karena Tong Lam-hou itu keponakanku, tapi hanya mencoba menyodorkan pilihan lain yang bisa kita pikirkan. Kita akan memilih yang terbaik, dan barangkali ukuran terbaik buat diri kita masing-masing itu pun berbeda-beda satu sama lain bukan?"

"Bagiku, yang terbaik adalah meneruskan perjuangan sampai tuntas, apapun yang menjadi korbannya! Hanya pengecut yanag menyerah kepada bujukan anjing Manchu bernama Tong Lam-hou itu!" sahut Sebun Him keras, lalu ia memandang berkeliling untuk melihat bagaimana orang-orang akan menatap kagum ke arahnya.

Tapi ternyata yang dilihatnya hanyalah alis-alis yang berkerut, sinar mata yang tawar dan ada juga satu dua kepala yang mengangguk-angguk menyetujui pendapat Sebun Him itu. Tapi tak ada tepuk tangan kekaguman untuk ucapannya yang berapi-api itu. Sementara Sebun Him bangkit dan berkata lebih keras lagi,

"Hubungan darah memang sulit dilupakan, dan betapapun seseorang disebut sebagai seorang pendekar besar yang berwatak adil dan bijaksana, tapi kalau sudah bicara menyangkut anggota keluarganya sendiri, mana bisa bersikap adil lagi? Pasti sikapnyapun sudah berat sebelah!"

Begitulah, sebagai luapan kekecewaannya karena tadi dikalahkan oleh Tiam-jong-lo-sia hanya dalam waktu dua jurus saja, maka kini Sebun Him berbicara makin berani. Ucapannya yang terakhir ini terang-terangan ditujukan kepada Tong Wi-hong yang dituduhnya sudah berubah pendirian karena membela keponakannya sendiri. Bagi Sebun Him, sungguh kebetulan kalau Tong Wi-hong marah dan Kemudian menantangnya berkelahi, sebab jika ia dapat mengalahkan pendekar itu maka namanya akan terangkat naik dan tertebuslah rasa malu yang didapatnya tadi ketika dirobohkan Ang Hoan.

Yang hampir tidak dapat menahan diri adalah dua orang putera Tong Wi-hong yang masing-masing sudah melekatkan telapak tangan mereka digagang pedang mereka, tapi mereka masih belum berani bertindak sebelum diberi "lampu hijau" oleh ayahnya. Mereka tidak rela sang ayah yang selama ini dihormati sebagai pendekar besar kini telah dicerca begitu tajam di hadapan sekian banyak orang.

Sedangkan Tong Wi-hong sendiri tidak mudah terbakar oleh sindiran Sebun Him itu, bagaimanapun juga usianya yang sudah hampir dua kali lipat umur Sebun Him itu mempengaruhi ketenangan sikapnya. Setelah meneguk secawan arak, ia berkata dengan tenang, "Sekali lagi aku ulangi, saudara Sebun, bahwa aku tidak berniat memaksa kalian berbalik pendirian dan mendukung pemerintahan Manchu. Aku hanya menceritakan hasil pembicaraanku dengan Tong Lam-hou, kemudian terserah penerimaan kalian."

"Tong Tayhiap sendiri bagaimana?" desak Sebun Him penasaran.

"Aku dapat menerima sebagian dari pendapat Tong Lam-hou itu," kata Tong Wi-hong terang-terangan.

"Menerima sebagian bagaimana?"

"Aku bisa terima bahwa pertentangan harus dihentikan. Tapi aku tidak setuju untuk itu kita harus bekerja kepada Kerajaan Manchu asal kita bekerja untuk kedamaian dan ketenangan rakyat, sudah cukup bagus."

Saat itu terdengar Hwe-liong-pang menyahut diwakili Siangkoan Hong, "Kita memang perlu mempertimbangkan untuk memperbarui sikap kita. Kepada saudara-saudara Hwe-liong-pang aku ingin mengingatkan bahwa sejak semula kita dirikan serikat kita untuk membela rakyat kecil yang waktu itu menderita di bawah pemerintahan Cong-ceng. Kita tidak akan mengikatkan diri kita kepada pemerintahan Kaisar yang manapun, asal rakyat sejahtera kitapun puas. Setelah Piangcu wafat, sebagian dari kita pernah ikut berjuang bersama Li Cu-seng untuk merobohkan Cong-ceng, kemudian melawan orang Manchu yang menyeberangi Tembok Besar lewat San-hai-koan. Tapi aku harap kita tidak terlalu terpancang kesetiaan kita kepada seorang Li Cu-seng yang mati hidupya-pun-tidak kita ketahui, dan mengabaikan nasib laksaan rakyat yang menderita karena peperangan."

Para Tongcu Hwe-liong-pang itu menunjukkan berbagai sikap di wajah mereka ketika mendengar ucapan Siangkoan Hong itu, namun tak seorangpun yang menjawab. Suasana sunyi untuk sesaat sampai terdengar suara Lam-ki Tongcu ln Yong, "Maksud Hiangcu, kita harus memberhentikan perlawanan kepada pemerintah Manchu, begitu? Tapi bagaimana kalau pemerintah Manchu berbuat sewenang-wenang kepada rakyat?"

Sahut Siangkoan Hong tegas, "Kita lawan! Kita berpihak kepada rakyat yang ditindas, bukankah dulu kita melawan Cong-ceng yang sesama orang Han itu juga dengan dasar ini? Tapi apabila Khong-hi ingin membangun negeri untuk kesejahteraan rakyat, kenapa kita harus merintanginya? Kenapa kita harus memandang dia orang Han atau orang Manchu!?"

"Aku setuju!" tiba-tiba Ma Hiong menyahut. "Sikap itu agaknya lebih masuk akal daripada kita bergentayangan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas dan mengejar orang Manchu di mana-mana. Tapi bagaimana dengan pasukan yang tadi kita lawan, apakah kita akan terus melawan apabila mereka datang, atau tidak melawan?"

Semua mata diarahkan kepada Tong Wi-hong, yang bagaimanapun masih tetap dianggap sebagai orang yang paling berwibawa di ruangan itu. Pendekar dari kota Tay-beng itu tersenyum gembira karena pendapatnya agaknya mendapat sambutan baik dari orang banyak, maka iapun menjawab,

"Aku tidak pantas untuk mengatur saudara-saudara semuanya. Tapi aku berpendapat secara pribadi, jika kita diserang, kita berhak membela diri. Tapi jika kita tidak diserang, kita wajib menunjukkan itikad baik kita, bukan dengan pemerintah Manchu tetapi demi rakyat banyak!"

Semuanya menarik napas lega karena merasa mendapat jalan keluar untuk tindakan-tindakan mereka di masa datang. Bu-gong Hweshio dari Siau-lim-pay yang terkenal sebagai tokoh berwatak keras itupun bahkan bertepuk tangan sambil berseru, "Bagus!' Suatu sikap yang luwes yang paling bermanfaat. Orang Manchu bekerja untuk rakyat, kita dukung. Kalau mereka menindas rakyat, kita hantam!"

"Sekarang bagaimana menghadapi pasukan besar Pakkiong An yang kabarnya sedang menuju ke Tiau-im-hong meskipun tidak dipimpin oleh Pakkiong An sendiri itu?" tiba-tiba Sun Ciok-peng dari Kay-pang bertanya.

Tong Wi-hong yang menganjurkan untuk memperlunak sikap terhadap pemerintah Manchu itu, yang kini menjawab pula dengan tidak ragu-ragu, "Kita tidak bersalah, dengan sendirinya kita akan melawan jika diperlakukan dengan sewenang-wenang. Tapi ada satu hal yang kita akan mengingatkan saudara-saudara.."

Suasana menjadi sunyi sejenak, sehingga daun jatuhpun ibaratnya akan kedengaran suaranya. Kemudian suara Tong Wi-hong yang tidak keras namun jelas sepatah demi sepatah, "Sikap Pakkiong An hendaknya jangan kita anggap mewakili sikap pemerintah Manchu secara keseluruhan terhadap kita. Pakkiong An adalah seorang berpikiran sempit dan segala yang dilakukannya sekedar mengejar kedudukan yang lebih tinggi bagi dirinya. Namun ada pejabat pejabat tinggi bangsa Manchu yang dengan tangan terbuka ingin berjabatan tangan dengan kita bangsa Han sebagai sesama penghuni negeri yang harus bersatu, terhadap orang-orang seperti itu kita harus dapat menunjukkan kelapangan dada kita. Kita sudah kenal bagaimana watak orang semacam Pakkiong Liong misalnya, yang meskipun bertangan besi dalam menumpas setiap perlawanan, tapi keselamatan rakyat diutamakan lebih dulu tanpa membeda-bedakan apa suku dari rakyat itu. Dan orang yang demikian ini kulihat cukup banyak di Kotaraja Pak-khia. Kaisar Khong-hi sendiri adalah seorang yang giat memajukan pengajaran kebudayaan Han."

Hampir semua kepala mengangguk-angguk mendengar itu, bahkan kemudian Sun Ciok-peng berkata, "Ya, bahkan aku dengar ketika terjadi pertempuran di Tay-tong karena pemberontakan Pangeran Cu-Leng-ong dulu, rakyat kecil malah lebih suka berlindung kepada Pakkiong Liong daripada kepada Pangeran Cu Leng-ong. Beberapa desa yang sempat diduduki oleh laskar Cu Leng-ong telah mengalami kerusakan lahir batin, bukan saja banyak rumah dirobohkan dan bahan makanan dirampas untuk perbekalan laskar pemberontak, tetapi banyak perempuan kehilangan kehormatannya karena ulah pemberontak."

Keragu-raguan semakin tersingkir dari setiap wajah dan semakin banyak wajah yang memancarkan kemantapan serta kepala yang teranqguk-angguk menyetujui pendapat Tong Wi-hong itu. Itu bukan berarti berbalik pendirian, melainkan kembali ke landasan perjuangan yang semula. Terutama orang-orang Hwe-liong-pang megakui dalam hati bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini tindakan mereka memang telah agak kehilangan arah.

Yang diperbuat kadang kadang hanya berlandaskan ketidak-senangan terhadap pemerintah Manchu saja, sedang akibat-akibat dari tindakan mereka itu tanpa mereka sadari telah memancing sikap keras dari pihak pemerintah Manchu pula. Kini Tong Wi-hong, adik dari mendiang pendiri Hwe-liong-pang Tong Wi-siang, seolah meletakkan cermin di depan wajah mereka masing-masing untuk melihat kesalahan diri mereka sendiri selama ini.

Yang tidak bisa menerima hanyalah Sebun Him. Anak muda berwatak kaku ini tetap berpendapat bahwa orang Han sebagai "bangsa yang berkebudayaan tinggi" tidak bisa hidup bersampingan, apa lagi di bawah perintah seorang Kaisar Manchu, sebab bangsa Manchu adalah "Orang Tartar yang liar dari luar Tembok Besar", "bangsa biadab", "setengah binatang" dan sebagainya.

Merasa bahwa di ruangan itu hanya dirinya sendiri yang berbeda pendirian, maka dengan mendongkol Sebun Him bangkit dari duduknya dan melangkah keluar tanpa menoleh kiri kanan lagi. Tentu saja kelakuannya itu membuat seisi ruangan tertarik perhatiannya dan memandang ke arahnya sampai hilang di balik pintu.

Gin-hoa-kiam (Pedang Bunga Perak) Auyang Seng sebagai paman guru dari Sebun Him cepat-cepat berdiri memberi hormat berkeliling kepada orang-orang ni dalam ruangan itu sambil berkata dengan nada menyesal, "Aku atas nama Hoa-san-pay memohonkan maaf dari tuan sekalian atas ketidak sopanan keponakan muridku itu. Aku berjanji akan menegurnya dan mendidiknya lebih baik di kemudian hari."

Sahut Tong Wi-hong, "Saudara Auyang tidak usah sungkan, memang begitulah watak orang-orang muda yang kadang-kadang menjadi kecewa kalau semangatnya yang berkobar-kobar tidak tersalurkan. Tapi sejalan dengan bertambahnya usianya nanti, ia pun akan semakin tenang dan menemukan kembali keseimbangan sikapnya."

"Terima kasih atas pengertian saudara Tong," kata Auyang Seng sambil duduk kembali. Dan tiba-tiba saja sambil tersenyum ia melanjutkan, "Sikapnya itu agak mirip dengan sikapku ketika masih muda dulu. Dalam pertempuran di Siong-san aku mengira ilmuku sudah cukup tinggi untuk melawan seorang anak buah Te-liong Hiangcu, namun ternyata akulah yang hampir mampus, untung saja waktu itu aku ditolong seorang gadis yang baik hati," dan bicara sampai sini ia tak dapat menahan tertawanya lagi sambil memandang ke arah Tong Wi-lian, adik perempuan Tong Wi-hong.

Tong Wi-lian yang usianya hampir setengah abad tapi masih kelihatan cantik dan ramping itupun tersenyum mendengar ucapan Auyang Seng itu, sahutnya, "Gadis itupun sebenarnya bukan gadis yang baik hati, namun kebetulan juga seorang gadis yang baru saja turun dari perguruan dan ingin menjajal ilmu silatnya."

Semua yang hadir di ruangan itu tertawa mendengarnya. Beberapa orang yang tahu persis persoalannya, tahu bahwa gadis yang dimaksudkan adalah Tong Wi-lian yang saat itu belum menjadi isteri Ting Bun. Waktu itu memang Auyang Seng yang masih muda itu ada maksud jual tampang di depan Tong Wi-lian, namun malah hampir saja terbunuh oleh seorang pengikut Te-liong Hiangcu yang bukan lain adalah Hwe-tan Si Peluru Api Seng Cu-bok.

Untung ketika itu Auyang Seng bukannya mendapat muka terang tapi malah mendapat malu karena ilmunya kalah tinggi dari Tong Wi-lian. Saat itu dilupakan olehnya, sebab saat itulah ia mulai meninggalkan sikap sombongnya dan sekaligus juga mempergiat latihan-latihannya saat ini ia memiliki tingkatan ilmu yang tidak kalah dari Tong Wi-lian. Begitulah orang-orang itu makan minum dalam suasana yang gembira sambil bercakap-cakap dan bresendau-gurau.

Sementara itu, di luar ruangan, Sebun Him benar-benar merasa dirinya tersisih, meskipun sebenarnya tak seorangpun yang berusaha menyisihkan dirinya dan perasaan itu hanya timbul dari hatinya sendiri. Memang demikianlah umumnya orang yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat dengan oraag lain, akhirnya yang didapatkan cuma ketersisihan meskipun hal itupun ditimbulkan oleh perasaannya sendiri yang kecewa. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari seorang yang ingin dirinya menonjol sendiri, tapi akhirnya malah merasa disisihkan.

Suara tertawa dari dalam ruangan perjamuan itu bagi telinga Sebun Him rasanya seperti suara ejekan bagi dirinya, padahal sebenarnya orang-orang dalam ruangan itu sedang bersendau-gurau sendiri dan tak sedikitpun menyinggung dirinya. Bagi seorang yang sedang panas hatinya,suara yang tidak ditujukan kepada dirinyapun lama-lama terasa mengejeknya.

Dengan hati yang panas ia melangkah menjauhi ruangan itu sambil menggerutu, "Sekarang mereka tertawa-tawa mengejekku, namun suatu ketika mereka akan tahu siapakah Sebun Him ini dan mereka akan merangkak-rangkak memohon maaf kepadaku. Sekarang boleh saja mereka memuja Tong Lam-hou seperti memuja malaikat dari langit tapi nanti mereka akan kecewa melihat bahwa orang pujaan mereka itu kukalahkan di medan perang."

Tengah ia melangkah dengan gelisah di bawah siraman embun malam, tiba-tiba di depannya nampak pula sesosok bayangan yang ramping juga sedang berjalan perlahan di lereng bukit Liong-pwe-nia. Meskipun bayangan itu hanya kelihatan kehitam-hitaman di gelapnya malam dan sikapnyapun sedang membelakangi Sebun Him, namun Sebun Him segera mengenal gaya berjalan bayangan itu adalah gaya dari Ting Hun giok, gadis puteri Tong Wi-lian dan Ting Bun yang sejak peristiwa penculikan di kota Tiang-an itu telah melekat di hati Sebun Him kuat-kuat. Gadis yang mampu membuat anak muda segagah Sebun Him jadi salah tingkah.

Seperti sepotong besi yang tertarik oleh besi sembrani, Sebun Him mempercepat langkahnya mendekati Ting Hun-giok dari belakang, dan menyapa, "Ting Kohnio..."

Gadis yang sedang berjalan sambil melamunkan sesuatu itu terkejut mendengar sapaan itu, dan ia menoleh, dari bibirnya yang berbentuk indah itupun membentuk sebuah senyuman ketika melihat Sebun Him melangkah mendekatinya. "Eh, kiranya Sebun Siauhiap, kenapa tidak berada dalam ruangan untuk ikut berbicara dengan para pendekar itu? Siauhiap termasuk salah seorang pendekar yang cukup pantas untuk duduk bersama-sama mereka."

Hati Sebun Him mekar mendengar ucapan itu. Tapi ia pura-pura mengerutkan alis sambil berkata seolah-olah kecewa, “Ya... aku baru saja dari dalam ruangan itu, namun aku merasa jemu mendengar pembicaraan mereka sehingga aku lebih baik keluar saja, udara diluar lebih menyegarkan aku."

Ting Hun-giok agak kurang senang mendengar ucapan Sebun Him yang menyatakan jemu itu. Bukankah yang ada dalam ruangan itu selain kedua orang tuanya juga ada paman-pamannya dan tokoh tokoh pendekar lainnya? Kenapa Sebun Him mengatakan jemu? Tapi gadis yang berpikiran luas itu tidak ingin bertengkar dengan Sebun Him seperti yang sudah-sudah. Maka ia mencoba membelokkan pembicaraan, "Udara di luar ini memang lebih segar daripada kita ikut bicara dengan orang-orang tua dalam ruangan itu. Kita berjalan-jalan kelereng bukit, setuju, Siauhiap?"

Mana bisa Sebun Him menjawab "tidak setuju" untuk menolak rembulan yang jatuh di pangkuannya? Tanpa disuruh lagi ia segera melangkah mendampingi gadis itu, namun yang diucapkannya masih saja nada kemendongkolan kepada orang-orang di dalam ruangan itu, “Memang lebih baik menghirup udara yang segar dilereng bukit ini daripada mendengarkan orang-orang yang mengaku dirinya pendekar-pendekar perkasa namun begitu mudah terbius oleh seorang budak Manchu...."

"Sudahlah, Sebun Siauhiap, kita bicara soal lainnya saja yang menggembirakan hati."

"Mana bisa aku gembira kalau teringat bahwa gerakan perjuangan pembebasan tanah air bangsa Han kita terancam berantakan hanya karena munculnya sebuah gagasan untuk hidup damai dengan bangsa Manchu yang liar itu? Gagasan gila…!”

"Sudahlah, kita berhak menerima atau menolak gagasan itu. Kalau Siauhiap tidak setuju, ya tolak saja."

"Aku sudah menolaknya, tapi mereka tidak mendengarkan aku. Agaknya hanya tinggal aku sendiri yang masih memikirkan nasib jutaan bangsa Han kita yang ditindas oleh bangsa Manchu, yang lain-lainnya sudah tidak memiliki semangat juang lagi dan membuka perdamaian dengan musuh!"

Di sampingnya Ting Hun-giok menarik napas dalam-dalam, seakan seluruh udara Liong-pwe-nia yang sejuk itu hendak dihirupnya masuk ke paru-parunya untuk menekan kejengkelannya. Sebun Him memang seorang pemuda yang berwajah tampan, bertubuh tinggi tegap dan merupakan idaman seorang gadis, berilmu tinggi pula, hanya saja jika dia mulai bicara maka semua pembicaraan hanya terpusat kepada dirinya sendiri saja, seolah dialah satu-satunya tokoh unggul didunia ini.

Sahut Ting Hun-giok, "Perang atau damai, asal dilandaskan pada kepentingan rakyat, semuanya baik-baik saja."

"Tapi si anjing Manchu yang bernama Tong Lam-hou itu..."

"Jangan sekasar itu, Siauhiap, bagaimanapun juga Tong Lam-hou adalah kakak misanku. Ayahnya adalah kakak dari ibuku."

Sesaat Sebun Him terperangah, tadi ia begitu bersemangat memaki-maki Tong Lam-hou sampai lupa bahwa gadis yang berjalan di sampingnya itu adalah adik sepupu dari orang yang dimaki-makinya. Namun ia pantang menyerah meskipun suaranya menjadi sedikit melunak,

"Eh, maaf... tapi aku pikir seseorang harus dapat menarik garis tajam antara hubungan pribadi dengan hubungan berlandas kedudukan masing-masing. Misalnya saja aku, meskipun secara pribadi hormat kepada susiokku (paman kakek guru) Yo Ciong-wan, tapi karena dia tersesat menjadi pengikut Te-liong Hiangcu maka aku tidak menyayangkan kematiannya di Ki-lian-san dulu...”

Ting Hun-giok hanya menghembuskan napas tanpa menjawab sepatah katapun. Ia sudah tidak begitu kaget lagi mendengar "ceramah" Sebun Him itu, sebab setiap kali tentu orang muda Hoa-san-pay itu melakukannya berulang kali. Sambil berjalan-jalan dilereng bukit yang sunyi, Sebun Him tanpa merasa betapa gadis di sampingnya itu menjadi jemu akan ceramahnya, terus sana menyerocos tentang arti perjuangan pembebasan tanah air, tugas seorang pendekar dan sebagainya. Apabila menceritakan hal-hal yang kurang baik, maka selalu diambilkan contoh orang lain. Kalau menceritakan hal-hal yang baik, Sebun Him selalu bilang, “sialnya aku ini..." dan seterusnya.

Pemandangan lereng bukit Liong-pwe-nia di malam hari sebenarnya cukup tenang dan nyaman, namun dengan adanya Sebun Him di sampingnya, Ting Hun-giok jadi tidak bisa menikmati ketenangan itu. Saat itu mereka sudah semakin jauh dari barak tempat tinggal orang-orang Jing-liong-pang, dan Sebun Him belum juga berhenti dari sikap mengguruinya.

Namun tiba-tiba Sebun Him membalikkan tubuh secepat kilat menghadap ke salah satu gerumbul dan bentaknya, "Siapa?! Keluar!"

Meskipun ia sedang asyik berbicara, namun karena latihan Kun-goan-sin-kangnya maka ia memiliki tenaga dalam yang tinggi sehingga pendengarannya pun tajam sekali. Tadi ketika ia melangkah dekat gerumbul semak itu ia mendengar ada suara orang menarik napas seperti seorang yanq kecewa, dan meskipun suara itu sangat perlahan tapi tertangkap juga oleh telinganya yang peka.

Ting Hun-giok yang tenaga dalamnya tidak selihai Sebun Him itupun tidak tahu kalau ada orang bersembunyi di dekatnya dan baru tahu setelah mendengar bentakan Sebun Him tadi. Ia pun meloncat bersiaga menghadap ke arah gerumbul semak belukar itu.

Sebun Him meloncat ke depan Ting Hun-giok dan bersikap siap untuk melindungi gadis itu, dan sekali lagi ia membentak, "Bangsat, kau menunggu sampai kesabaranku habis...!”

Sesaat semak belukar itu berkeresek lalu perlahan-lahan muncul sebuah kepala yang sulit dilihat wajahnya karena bintang di langit tidak cukup cahayanya untuk menerangi lereng bukit itu. Namun bentuk tubuhnya dapat dilihat sebagai seorang lelaki jangkung yang bertubuh ramping, bahkan agak kurus.

"Keluar dari bayangan pohon itu supaya bisa kulihat mukamu!" bentak Sebun Him lagi. “Keluar dari situ?!"

Orang itupun melangkah dengan ragu ragu, dan ketika ia sudah berada diluar bayangan pohon itu terlihatlah wajahnya yang dingin, dengan sebuah luka bekas kena senjata yang tergores di pipinya. Suatu wajah yang jauh dari tampan, namun sepasang matanya memancarkan kehampaan perasaan dan kekecewaannya.

Melihat wajah itu, Ting Hun-giok berseru gembira, "Im Toako!"

Sambil berteriak dia terus hendak berlari menyongsong orang itu, namun tiba-tiba dirasakannya tangan Sebun Him yang kokoh kuat itu memegang lengannya dekat pundak sehingga langkahnya tertahan, dan terdengar kata Sebun Him, "Jangan dekat-dekat iblis dari Kui-kiong itu, nona Ting. Biar aku bereskan dulu sisa iblis Kui-kiong yang masih berkeliaran mencari mangsa dengan menipu gadis-gadis ini!"

Ting Hun-giok berusaha meronta lepas dari pegangan Sebun Him, tapi kekuatannya kalah jauh dengan kekuatan pemuda Hoa-san-pay itu, sehingga rontaannya itu sia-sia saja. Kata gadis itu kemudian, "Pahamilah dia Sebun Siauhiap, dia bukan penjahat lagi dan aku tahu pasti dia ingin kembali ke jalan yang benar. Ia yang menolongku dari kebiadaban orang-orang Kui-kiong dan dia pula yang memberi tahu tentang rencana keji di Ki-lian-san, sehingga banyak orang bisa diselamatkan dari ledakan besar itu...”

Ting Hun-giok tidak sadar bahwa ucapannya itu bukan melunakkan hati Sebun Him melainkan inalah seperti minyak yang disiramkan ke dalam api, membuat apinya tambah berkobar. Sebun Him marah, tepatnya cemburu, sebab Ting Hun-giok selalu memanggilnya dengan sebutan yang kurang akrab "siauhiap" (tuan pendekar muda) sedang terhadap Im Yao si iblis Kui-kiong yang dipandang rendah oleh Sebun Him itu malah memanggil "toako" (kakak).

Apalagi Ting Hun-giok selalu menyebut, jasa Im Yao membantu keluar dari Kui-kiong, padahal Sebun Hiin merasa bahwa hal itu sebagian besar adalah karena kepahlawanannya. Kini hatinya terbakar hebat melihat Ting Hun-giok hendak menyambut "Im Toako"nya dengan sikap begitu hangat.

Karena letupan perasaannya itulah maka tanpa sadar ia mendorong Ting Hun giok dengan agak kasar sampai gadis itu terhuyung-huyung hampir roboh. Hampir bersamaan, tangan kirinya telah menggenggam pedangnya yang besar dan seperti harimau menerkam ia menyabetkan pedangnya ke leher Im Yao dengan gerakan Liong-li-coan-ciam (Wanita Naga Menusuk Dengan Jarum) dengan sepenuh tenaga, sehingga tempat itu dipenuhi suara angin pedang yang menderu hebat. Keinginan Sebun Him agar kepala Im Yao menggelinding ke tanah dengan sekali sabet saja.

Sejak Im Yao melihat Sebun Him marah-marah tadi, ia memang sudah siap sedia untuk mendapat perlakuan kasar dari anak muda Hoa-san-pay itu. Begitu melihat pedang berkelebat ia segera gunakan wong-hong-tiam-tau untuk menundukkan kepalanya sehingga pedang Sebun Him hanya berdesing di atas kepalanya. Tapi Sebun Him kembali menyabetkan pedangnya dengan gerakan balik ke arah kaki Im Yao.

Begitu cepatnya sehingga Im Yao hanya sempat menggulingkan diri ke belakang untuk menghindari serangan itu. Tapi betapapun Im Yao adalah adik seperguruan dari Liong Pek-ji seorang tokoh golongan hitam yang ternama, bahkan merupakan tangan kanan dari mendiang Te-liong Hiangcu dulu. Sambil berguling menghindarkan dia masih sempat mencabut pedangnya dengan gerakan yang hampir tak terlihat. Ketangkasannya memang cukup dapat diandalkan.

Sebaliknya Sebun Him sudah tidak mempedulikan lagi teriakan-teriakan cegahan dari Ting Hun-giok. Ketika melihat Im Yao menghunus pedang maka diapun semakin kalap, dan sambil berteriak keras ia menerjang, "Bagus, iblis Kui-kiong! Hunuslah pedangmu supaya aku tidak dituduh membunuh lawan yang tak bersenjata kelak."

Maka bertempurlah kedua orang itu tanpa sempat bercakap-cakap lagi, sebab kekalapan Sebun Him telah menutup semua jalan damai. Im Yao yang sadar bahwa lawannya memiliki tenaga yang jauh lebih hebat daripadanya, tidak berani berbenturan senjata sebab pedangnya akan terpental jika demikian.

Namun dia adalah seorang yang berjulukan Tiat-ci-hok (Kelelawar Bersayap Besi) dan kata "kelelawar" itu menunjukkan akan kehebatannya dalam ilmu meringankan tubuh, dibantu dengan ilmu pedangnya yang aneh, ia mencoba bertahan sebisa-bisanya supaya tidak tergilas oleh amukan Sebun Him yang seperti angin topan itu.

Namun bagaimanapun Im Yao mengerahkan perlawanannya, ia tetap bukan tandingan Sebun Him yang lihai dalam Hoa-san-kiam-hoat (ilmu pedang Hoa-san) serta dilandasi dengan tenaga dalam Kun-goan-sin-kang yang lihai itu. Pedangnya yang lebih besar dan lebih berat dari pedang orang lain, disesuaikan dengar tubuhnya yang tinggi besar itu, dapat diputarnya seringan orang memutar pedang-pedangnya dari bambu saja.

Dengan pedangnya ia dapat bertahan dengan rapatnya melebihi berlindung di balik selapis perisai besi namun jika menyerang maka seolah-olah tembok bajapun tak sanggup menghalangi sepak terjangnya. Memang benar ia sedikit kalah lincah dibandingkan Im Yao, tapi Im Yao tidak punya kesempatan untuk membalas serangannya sebab Sebun Him menerjangnya bertubi-tubi seperti seekor beruang gila. Kelincahan Im Yao hanya berguna untuk berloncatan mundur terus menerus dan bukan untuk menyerang.

Sebenarnya kedatangan Im Yao ke Liong-pwe-nia itu untuk memberi kabar penting buat para pendekar yang tengah berkumpul di bukit itu. Ia tahu Ting Hun-giok ada di bukit ini pula, dan ia berharap untuk dapat menyampaikan kabar penting itu lewat gadis itu, namun ketika melihat gadis itu berjalan berdua saja dengan Sebun Him, timbullah rasa rendah diri Im Yao. Ia membandingkan dirinya dengan diri Sebun Him sungguh seperti burung gagak yang hendak menandingi burung hong, dan karena rendah dirinya itulah maka ia bersembunyi.

Tak tahunya sudah bersembunyipun masih tetap diketahui oleh Sebun Him, dibentak-bentak dipaksa keluar dan akhirnya dicaci-maki dan hendak dibunuh seperti saat ini. Karena itu kemarahan Im Yao itupun terungkah, dengan nekad ia melawan terus sambil berteriak, "Sebun Him, pendekar yang gagah perkasa dari perguruan orang-orang yang sesuci malaikat, kau kira kau berhak mencabut nyawa orang lain karena kedudukanmu yang terhormat itu?!"

Sambil terus menyerang dan mendesak Sebun Him menjawab, "Tutup mulutmu, bandit yang penuh kotoran. Tentu saja aku berhak mencabut nyawamu demi ketenteraman dunia!"

Sambil meloncat mundur, Im Yao membantah lagi, "Kedatanganku untuk menyampaikan kabar penting kepada para pendekar. Beri aku kesempatan untuk bicara kepada mereka, setelah itu kau ingin mencincang tubuhkupun aku persilahkan..."

Tapi Sebun Him sedikitpun tidak mengendorkan desakannya, malah dengan sebuah gerak tipu Gou-ong-sit-kiam-pek giok-coan (Gou Ong menguji pedang dengan menebas batu giok) telah menyusutkan Im Yao ke satu keadaan yang sulit dan ujung pedangnya berhasil melukai pundak. Geramnya,

"Dari mulut anjing mana bisa tumbuh gadingnya? Dari mulut iblis Kui-kiong seperti kau mana bisa ada berita penting segala? Aku justru akan menghalangimu untuk bertemu dengan para pendekar terhormat itu, sebab kau hanya akan menipu mereka, sedangkan para pendekar itu sendiri belakangan ini sudah banyak terbius oleh omongan busuk seorang budak Manchu. Lagipula, setelah kau bertemu dengan para pendekar itu mana bisa aku membunuhmu? Sebab kau dengan licik tentu akan memanfaatkan kelemahan para pendekar yang suka berlagak sebagai pemaaf dan pengampun itu untuk Derlindung kepada mereka!"

Demikianlah, bukan hanya pedang Sebun Him yang tajam, namun lidahnya-pun mengeluarkan kata-kata yang tajam. Im Yao sebagai bekas seorang penjahat yang ditakuti dan berwatak angkuh itu, tentu saja sangat tersinggung oleh ucapan Sebun Him yang menuduhnya seakan ia akan minta perlindungan kepada para pendekar itu. Karena marahnya maka Im Yao nekad melawan mati-matian, tidak peduli lagi dirinya bakal mampus tanpa sempat mengucapkan berita yang dibawanya itu.

Ting Hun-giok yang menjadi sangat cemas melihat perkelahian kedua orang-muda itu semakin sengit meskipun berat Sebelah. Ia bukan saja menguatirkan Im Yao, tapi juga menguatirkan "berita penting" yang bakal disampaikan itu entah berita apa? Kalau benar-benar penting, bukankah Sebun Him bakalan berbuat ceroboh dengan membunuh si pembawa berita?

Gadis itu tahu pasti bahwa Im Yao agaknya benar-benar ingin kembali ke jalan yang benar dengan berbuat kebaikan sebanyak mungKin untuk menebus kesalahannya di masa lalu, dan itu sudah terbukti ketika ia dengan berani membongkar rencana Te-liong Hiangcu untuk membunuh banyak orang di puncak gunung Ki-lian-san, sehingga. karena im Yao lah maka rencana itu gagal, malahan Te-liong Hiangcu tertumpas hampir tuntas.

Karena itu Ting Hun-giok pun berteriak-teriak, “Hentikan Sebun Siauhiap, dengarkan dulu berita apa yang hendak dikatakan im Toako!"

Tanpa menggubris seruan itu, Sebun Him menjawab, "Kau juga akan mempercayai mulut busuk anjing Kui-kiong ini?! Tidak, apapun yang dia ucapkan pastilah cuma bualan kotor belaka!"

Sungguh jengkel Ting Hun-giok melihat sikap kepala batu dari Sebun Him itu, namun ia kebingungan hendak berbuat apa? Hendak memisahkan perkelahian kedua orang itu merasa tidak mampu, untuk meminta bantuan, para pendekar di atas bukit sana ia takut keburu terlambat di mana Im Yao barangkali sudah menjadi korban. Dalam bingungnya, gadis itu hanya meremas remas ujung bajunya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

Sementara itu keadaan Im Yao benar benar seperti telur di ujung tanduk, kelincahannya tidak lagi sepenuhnya dapat menolong dirinya. Betapapun ia berusaha menghindari benturan pedang dengan Sebun Him, tapi sekali-sekali terjadi juga adu tenaga. Dan jika demikian yang rugi tentu Im Yao, sebab setiap benturan membuat telapak tangannya pedih dan lengannya pegal, sehingga tiap kali ia harus melompat mundur untuk mencari kesempatan memperbaiki pegangannya pada gagang pedang.

Tapi kesempatan seperti itu tidak selalu didapat. Suatu saat Sebun Him menyergap dengan jurus beruntun dari Hoa-san-kiam-sut: Tan-hong-tiau-yang (Burung Hong Sendirian Menghadap Matahari), Hoan-in-hok-te (Mega Terbalik Menudingi Jagad), Hui-in-ki-lo (Mega Terbang Naik Turun) dan ditutup dengan Lui-hong-tiam-siam (Guntur Gemuruh dan Kilat Menyambar). Dilandasi dengan kekuatan dan kecepatannya yang telah meningkat pesat sejak ia giat melatih ilmu Kun-goan-sin-kang, maka serangan beruntun pedang Sebun Him itu benar-benar maha dahsyat.

Mula-mula dengan tubuh merendah ia menikam ke leher dan pedangnya hanya berujud sejalur cahaya tajam yang melebihi kejapan mata cepatnya, lalu sinar pedang mendadak menebar menutup semua jalan lawan, dan kemudian bergulung menyambar dengan kekuatan sepenuh. Semua pergantian gerak disertai dengan deru angin yang dingin menyebarkan suasana pembunuhan....
Selanjutnya;

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 41

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 41

Karya : Stevanus S.P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
Cukup tahu diri, Tamtai Au-kha segera memberi aba-aba kepada pasukannya, "Mundur!"

Perintah itu tidak perlu diulangi untuk kedua kalinya. Prajurit-prajurit Ui-ih-kun memang bukan prajurit yang setangguh Hui-liong-kun misalnya, baik dalam kemampuan jasmani maupun dalam hal semangat tempur. Prajurit Ui-ih-kun akan menjadi garang sekali jika mereka mendapat kemenangan, namun jika mereka terperosok ke dalam kesulitan maka semangat mereka dengan gampang akan luntur.

Berbeda dengan prajurit-prajurit Hui-liong-kun gemblengan Pakkiong Liong yang ibaratnya tak akan mengerut kening sedikitpun meskipun dihadapannya ada lautan pedang ataupun hujan panah. Begitu perintah untuk mundur dikeluarkan, beramai-ramai merekapun memutar kuda mereka dan mundur serempak. Sekejap saja mereka sudah meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan debu yang mengepul tinggi.

Di tempat itu kini hanya tertinggal puluhan tubuh para prajurit yang malang melintang, ada yang sudah mampus ada pula yang masih merintih-rintih kesakitan. Sementara kaum pendekar pun segera saling berkumpul dan saling menanyakan keselamatan masing-masing. Tak seorangpun dari mereka terluka parah apalagi gugur, hanya beberapa orang yang luka-luka ringan.

Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan yang terluka itupun masih nampak gagah ketika meloncat turun dari kudanya dan melangkah tegap di samping murid kesayangannya. Para pendekar seperti Tong Wi-hong dan Auyang Seng yang punya nama besar dikalangan persilatan itupun ternyata memberi hormat dengan bersungguh-sungguh, sebab mereka tahu banwa Tiam-jong-lo-sia adalah seorang tokoh maha sakti yang meskipun jarang muncul ke dunia ramai, namun kesaktiannya luar biasa.

Tong Wi-hong bahkan tahu bahwa Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan ini lebih sakti dari gurunya sendiri, dan konon yang bisa menandinginya secara seimbang hanyalah si rahib tua Hong-tay Hweshio dari Siau-lim-pay dan mendiang Ketua Hwe-liong-pang yang lama, Tong Wi-siang. Tidak ada orang yang ketiga.

Ketika melihat Tong Wi-hong dalam keadaan sehat meskipun gerak-geriknya agak lemah dan mukanya agak pucat, maka Tong Lam-hou pun tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dihampirinya pamannya itu dan tanyanya, "Paman kau Sudah baik bukan? Luka yang paman dapatkan di Pak-khia itu begitu mencemaskan sehingga aku menjadi mata gelap dan mengakibatkan kematian anak kesayangan Pakkiong An!"

Meskipun kalimat itu diucapkan dengan nada lugu tanpa kelemahan-lembutan sedikitpun, namun siapapun dapat mendengar bahwa di dalam kalimat itu terkandung perhatian yang mendalam. Hal mana cukup melegakan semua orang. Dalam pandangan orang-orang itu, setidak-tidaknya Tong Lam-hou masih ingat hubungan kekeluargaan dan "belum terlalu tersesat" meskipun ia pernah mengecewakan banyak orang ketiga ia menjadi perwira Kerajaan Manchu.

Orang-orang Hwe-liong-pang bahkan berharap terlalu jauh bahwa anakmuda itu akan menyadari tentang "kelicikan dan kekejaman" bangsa Manchu, lalu Tong Lam-hou akan masuk menjadi anggota Hwe-liong-pang sehingga dapat memperkuat perlawanannya terhadap pemerintah Manchu.

Sesaat lamanya Tong Wi-hong dan Tong Lam-hou, paman dan keponakan, saling menggenggam tangan dengan erat dengan penuh kehangatan. Adegan itu paling tidak telah memperbesar harapannya bahwa Tong Lam-hou akan berpaling dari pendiriannya yang sesat. Justru sang paman, Tong Wi-hong, sendirilah yang tahu pasti bahwa keponakannya itu tidak akan berubah pendirian, sebab sang paman itu sudah tahu betapa teguh pendirian Tong Lam-hou tentang perlunya menghentikan perang, supaya orang Han dan orang Manchu dapat hidup berdampingan seperti saudara.

Tong Wi-hong tahu pasti bahwa pendirian keponakannya itu bukan pendirian yang goyah sebab hanya berlandaskan kekuatiran akan kehilangan kedudukan sebagai perwira yang bergaji tinggi, namun benar-benar menguatirkan nasib rakyat yang terus menerus berada dalam suasana peperangan, suasana yang lama kelamaan akan membuat rakyat kehilangan kepercayaan kepada tatanan dan hukum yang berlaku, dan jika sudah demikian maka negara ibaratnya sebuah rumah yang tiang-tiangnya rapuh dimakan rayap. Sama dengan keadaan di jaman dinasti Beng di bawah kekuasaan Kaisar Cong-ceng dulu.

Namun dalam pertemuan kali ini, baik paman maupun keponakan, sama-sama tidak menyinggung perbedaan pendirian masing-masing. Mereka hanya saling menanyakan apakah terluka atau tidak, dan keselamtan diri masing-masing selama Ini. Pertemuan yang lebih mirip pertemuan keluarga, karena kemudian Tong Wi-hong memperkenalkan Tong Lam-hou kepada anggota keluarganya yang lain.

Kepada Cian Ping, isteri Tong Wi hong, Tong Lam-hou memanggil "bibi" dan kepada Ting Bun, suami Tong Wi-lian, ia memanggilnya "paman". Selain itu ternyata masih ada dua orang "piau-te" (adik sepupu) dan seorang "piau-moi" (adik sepupu perempuan) yang cantik dengan lesung pipit di pipinya. Tong Lam-hou merasa gembira karena merasa berada di tengah-tengah keluarga.

Namun wajah-wajah yang berseri itupun berubah menjadi wajah-wajah yang kecewa ketika mereka mendengar bagaimana Tong Lam-hou dengar, tegas tetapi sopan, telah menolak ajakan orang-orang itu, bahwa perlawanan yang berlarut-larut hanyalah akan membuat rakyat kehilangan kesempatan untuk memperbaiki nasibnya, sementara yang diperjuangkan sebagai "membebaskan negeri orang Han" itu sendiri masih kabur. Ibarat akan merobohkan sebuah rumah namun belum punya rumah penggantinya.

Suasana berubah menjadi tegang, ketika terdengar Tong Lam-hou berkata, "Aku menyesal mengatakan kepada kalian, bahwa siapapun yang masih ingin mengacau dan menimbulkan keributan yang meresahkan negeri ini, ia harus melangkahi mayat Tong Lam-hou lebih dulu.”

Beberapa pendekar yang datang bersama Tong Wi-hong tadi, menampilkan sikap yang berbeda-beda ketika mendengar ucapan itu. Ada yang menarik napas dengari kecewa, ada yang menjadi merah padam wajahnya karena kemarahan, tapi orang-orang yang sudah memahami pendirian Tong Lam-hou seperti Tong Wi hong, Siangkoan Hong dan Lim Hong-pin nampak tenang-tenang saja mendengar ucapan Tong Lam-hou itu. Bahkan Tong Wi hong mencoba meredakan keadaan,

"Aku berharap setiap orang dapat menahan diri. Pengalamanku selama beberapa hari berada di Pak-khia di rumah Hou-ji (anak Hou, maksudnya Tong Lam-hou) adalah bahwa perbedaan pendapat yang bagaimanapun tajamnya, dapat dilunakkan apabila kedua pihak sama-sama mau berbicara dari hati ke hati, bukan lantas saling-melotot dengan menghunus senjatanya masing-masing. Masing-masing harus diberi kesempatan mengutarakan pendiriannya, tapi juga harus mencoba memahami pendirian pihak lain meskipun tidak harus menerimanya. Meskipun pendirian berbeda, tapi jika mau sebenarnya orang-orang bisa hidup berdampingan secara damai...."

"Tidak bisal" potong Sebun Him si anakmuda dari Hoa-san-pay yang bertangan kidal yang dengan bangga selalu menyebut julukannya sendiri sebagai Se-him (si Beruang Barat), yang menurut perasaannya sudah dapat disejajarkan dengan Pak-liong (Naga Utara-dari Lam-hou (Harimau Selatan) itu. "Mana bisa pembebas tanah-air yang berjiwa luhur itu hidup berdampingan dengan menjilat pantat Manchu yang berjiwa rendah?"

Tujuan Sebun Him dengan kata-katanya itu sebenarnya cuma ingin memancing perkelahian dengan Tong Lam-hou, dan ia akan mendapat kesempatan untuk membuktikan dihadapan banyak saksi bahwa si Beruang Barat mampu mengalahkan, paling tidak mengimbangi, si Harimau Selatan. Sebun Him yang akan mendambakan nama besar dan ketenarann itu memang sudah lama penasaran sebab namanya selalu berada di bawah bayang-bayang kebesaran nama Pak-kiong Liong dan Tong Lam-hou, dan akan menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari bayang-bayang itu.

Tapi Tong Lam-hou ternyata tidak mudah terpancing kemarahannya, kepribadiannya sudah matang dan ia sadar bahwa berkelahi bukanlah satu-satunya-cara untuk menonjolkan diri, bahkan dinilainya cara itu agak kekanak-kanakan. Meskipun dengan kuping yang a-gak merah, ia memberi hormat kepada sekalian orang termasuk kepada Sebun Him juga, sambil berkata,

"Aku minta maaf bahwa aku telah banyak mengecewakan kalian dengan pendirianku ini. Sebenarnya, jika kita sama-sama meletakkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya, kita tidak akan berselisih pendapat."

"Hah, enak benar kau bicara. Kepentingan rakyat atau kepentingan orang Manchu?" dengus Sebun-Him.

"Rakyat Han dan rakyat Manchu adalah sama-sama rakyat negeri ini, kenapa harus terpecah belah? Jika pertentangan terus dilanjutkan hanya karena akal sehat kita kalahkan oleh rasa kesukuan yang sempit, maka andaikata kelak kalian berhasil mendudukkan seorang Han sebagai Kaisar, kekacauan tetap tidak akan berhenti waktu itu, entah orang Manchu entah orang Mohgol entah orang Hui pasti penasaran kenapa bukan orang dari suku mereka yang menjadi Kaisar Cina ini. Kalau sudah begitu, kapan selesainya?"

Tapi Sebun Him semakin berang karena merasa kalah pandai, dan dengan ngootot ia berkata, "Kemukakan seribu satu alasanmu, Tong Lam-hou, Tetapi kami bangsa Han tetap tidak sudi diperintah oeh bangsa Manchu!"

Tong Lam-hou yang kesabarannya mulai menipis itupun tertawa dingin, "Benar-benar pikiran sempit dan membabi buta. Saudara-saudara sekalian, tahukah kalian apa yang dipikirkan oleh Sri Baginda Khong-hi, dan apa yang dicita-citakan?"

Sahut Sebun Him, "Hemm, penjilat, kau menyebut nama Khong-hi dengan sebutan Sri Baginda dan nadamu sangat menghormatinya. Tapi aku justru tidak sudi mendengarkannya!"

"Sudi atau tidak sudi terserah kepadamu. Kau tidak sudi mendengarkan, tapi aku masih berharap agar para pendekar Hwe-liong-pang yang bersedia menggunakan akal sehatnya. Selamat tinggal!" Habis berkata demikian, segera Tong Lam-hou memberi hormat, dan menggandeng tangan gurunya untuk diajak pergi dari situ. Sikapnya tegas dan tidak ragu-ragu.

Namun Sebun Him telah menghunus pedangnya dan meloncat menghadang Tong Lam-hou sambil membentak, "Jangan pergi! Kau setia kepada Kaisar bangsa Manchu itu, berarti kaulah perintang utama bagi perjuangan bangsa Han Kami dan sekarang kau mau pergi begitu saja?"

Kalau Tong Lam-hou masih berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri, sebab ia sadar bahwa kekerasan hanya akan mempersulit orang-orang itu untuk menerima pendiriannya, maka sebaliknya Guru Tong Lam-hou yang meskipun usianya sudah tua tapi masih berwatak berangasan itu sudah kehabisan kesabarannya. la sangat sayang kepada muridnya seperti kepada anaknya sendiri, dan darahnya pun meluap melihat muridnya yang dianggapnya bermaksud baik itu malahan diterima dengan sinis dan caci maki.

Melihat sikap Sebun Him yang dianggapnya sok pahlawan itu, Ang Hoan tertawa dingin, "Anak muda, dengan mengandalkan apa kau hendak merintangi kami berlalu dari sini?"

Sebun Him yang sejak menemukan ajaran ilmu Kun-goan-sin-kang (Tenaga Sakti Alam Semesta) di penjara Kui-ki-ong itu telah merasa dirinya menjadi seorang yang berilmu tinggi, menjadi marah mendengar ucapan Ang Hoan yang kedengarannya menantang itu. Tanpa banyak bicara lagi pedangnya segera menebas ke arah Ang Hoan dengan Lian-hoan-cin-po-sam-to (Tiga Bacokan saling susul dengan langkah berantai).

Dengan pengerahan tenaga Kun-goan-sin-kangnya maka gerakan pedangnya menimbulkan suara gemuruh angin, sementara wujud pedangnya sendiri telah lenyap menjadi mega. Beberapa orang berseru kagum melihat kehebatan Sebun Him.

Tapi dihadapan Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan, tokoh nomor satu dunia persilatan dari gunung Tiam-jong-san itu, permainan pedang Sebun Him tak ada bedanya dengan permainan anak-anak saja. Tanpa terlihat gerakannya tahu-tahu orang tua itu sudah mengelakkan serangan beruntun itu, gerakannya begitu gampang dan tak bersusah payah.

Sebun Him yang bertekad mengangkat nama besar dengan mengalahkan orang-orang terkenal, mengeram marah dan pedangnyapun menusuk lagi dengan gerakan Koay-bong-hoan-sin (Ular Naga Berjungkir Balik). Gulungan cahaya pedangnya lenyap berganti sebuah garis keperakan yang meluncur dengan gerakan berputar seperti bor, bergerak secepat kilat ke dada orang tua dari Tiam-jong san itu.

Suara gemuruh mirip badai berganti dengan suara mencicit dari ujung pedang yang membelah udara. Pergantian gerak dilakukan dengan manisnya sehingga beberapa orang kembali memperdengarkan seruan kagumnya.

Tapi kali ini Tiam-jong-lo-sia Ang Hoan sudah habis sabarnya, dengan sebuah kibasan lengan jubahnya yang kedodoran itu, segulung angin meluncur ke depan dan membentuk selapis benteng yang tak kelihatan namun tak dapat ditembus. Gerakan pedang Sebun Him berantakan sekaligus, dan orangnyapun terpental ke belakang sampai hampir membentur sebatang pohon, dengan muka yang pucat dan napas memburu. Si Beruang Barat yang sangat membanggakan dirinya itu sekarang benar-benar telah ketemu batunya.

Dengan sikap acuh tak acuh dan tidak mempedulikan luka di pundaknya, Ang Hoan berkata kepada Tong Lam-hou, "A-hou, marilah kita pergi. Maksud baikmu tidak bisa mereka terima, buat apa kita mengemis-ngemis belas-kasihan kepada mereka?"

"Ang Lo-eng-hiong, tunggu dulu..." kata Tong Wi-hong mencoba mencegah kepergian tokoh tua itu.

Namun hanya dengar, beberapa langkah yang kelihatan ringan dan seenaknya, guru dan murid dari Tiam-jong-san itu tahu-tahu sudah melangkah jauh. Suatu pameran ilmu meringankan tubuh yang mengejutkan, sehingga Tong Wi-hong yang ahli ginkang sampai berjulukan gin-yan-cu itupun merasa bahwa darinya benar-benar masih kalah dibandingkan mereka.

Sementara Sebun Him dengan agak sempoyongan bangkit dari jatuhnya, dan meskipun ia tidak menolak ketika Ting Hun-giok membantunya untuk berdiri, tapi dengan tegas, "Aku tidak apa-apa, tidak luka sedikitpun. Tadi aku hanya kurang waspada terhadap si tua itu dan meskipun dia lebih lihai dari padaku tetapi itu wajar saja karena dia adalah seorang tokoh angkatan tua. Yang masih aku sesalkan ialah bahwa begitu banyak pendekar di tempat ini kenapa tidak ada yang berusaha mencegah kaburnya kedua kaki tangan Manchu itu? Apakah semuanya gentar? Kalau aku sih demi tanah air bangsa Han tidak akan gentar kepada siapapun, biarpun lainnya menjadi pengecut berwatak kura-kura tapi aku si Beruang Barat akan tetap...."

Pendekar dari Hoa-san-pay, Gin-hoa kiam Auyang Seng, dengan cepat menukas ucapan keponakan muridnya itu, "A-him, jangan bicara kurang sopan!”

"Aku tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa, susiok, aku hanya kuatir kalau perjuangan membebaskan tanah-air kita akan mengalami kegagalan, sebab para pendekar kita sudah terbius oleh omongan beracun dari si budak penjajah tadi, tentang ‘kedamaian buat rakyat' dan orang Han dan manchu hidup bersaudara' dan entah omongan busuk apalagi..."

Beberapa orang yang berada di tempat itu menjadi merah kupingnya mendengar itu, namun sebagai tokoh-tokoh yang sudah matang dalam kepribadian mereka tidak mudah terpancing pertengkaran dengan Sebun Him. Mereka maklum bahwa Sebun Him hanya sedang melampiaskan kekecewaannya karena gagal menunjukkan kegagahannya tadi, bahkan dijungkir-balikkan dalam dua gebrakan saja.

Anak Tong Wi-hong yang tua. Tong Hoa-tiong, berbisik ke telinga adiknya., "Anak muda Hoa-san-pay ini sungguh besar mulutnya, kalau aku tidak segan kepada Auyang Tayhiap, ingin rasanya aku menjajal kehebatan ilmu pedangnya."

Adiknya yang bernama Cian Hoa-beng karena memakai nama marga ibunya, menjawab, "Tiong-ko (kakak Ting), apa kau tidak paham bahwa dia sesumbar seolah-olah dirinya adalah pahlawan sendiri itu hanya untuk menutupi rasa malunya tadi, lihat saja gerak-geriknya, rupanya dia sudah lama ingin menaksir piau-moi (adik misan perempuan, maksudnya Ting Hun-giok) dan segala lagak lagunya selalu berusaha menarik perhatian piau-moi. Tapi makin lama dia berlagak, piau-moi makin jemu agaknya."

Kakaknya menahan tertawanya, "Benar, aku juga melihatnya. Kali inipun dia ingin jual lagak dengan ilmu silatnya. Sayang dia salah memilih lawan!"

Keduanyapun tertawa namun berusaha ditahan agar tidak bersuara. Kalau sampai terdengar oleh Sebun Him maka anak muda Hoa-san-pay itu tentu akan mencak-mencak seperti kakek kebakaran jenggot.

Sementara itu Sebun Him ketika menyaksikan bahwa kata-katanya tadi hanya mendapat tanggapan yang dingin dari oang-orang sekitarnya, menjadi kecewa sekali. Dengan gerakan yang lesu ia menyarungkan pedangnya, dan bergumam sendirian, "Sayang sekali, aku tidak sempat menjajal apakah si Harimau Selatan itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian seperti yang diberitakan orang, la cuma bisa berlindung di belakang punggung gurunya."

Tong Hoa-tiong tidak dapat menahan kemengkalan hatinya mendengar ucapan Sebun Him yang tak lain selalu berusaha menonjolkan dirinya sendiri dan meremehkan orang lain itu. Tong Hoa-tiong sendiri bukannya menyetujui sikap Tong Lam-hou yang terlalu setia kepada pemerintah Manchu itu, namun sikap Sebun Him yang sok pahlawan itu lama kelamaan membuat diriya muak juga. Sebun Him telah menggunakan cara yang salah untuk menarik hati seorang gadis.

Sedangkan Sebun Him sendiri agak kecewa melihat orang-orang itu agaknya tidak tertarik sedikitpun juga kepada omongannya itu. Sikap yang tawar itu membuat Sebun Him kebingungan sendiri apakah ada yang salah dengan ucapannya? Yang paling dikuatirkan Sebun Him sebenarnya bukanlah apabila para pendekar itu benar-benar "terbius omongan beracun" Tong Lam-hou, namun ia kuatir apabila kemunculan Tong Lam-hou di pihak kaum pendekar akan menyainginya, menyaingi pamornya. Bukankah tadi Ting Hun-giok nampaknya begitu kagum kepada kakak sepupunya itu?

Terdengar Tong Wi-hong berkata, "Saudara-saudara, marilah kita akan menuju ke pangkalan, di sana aku akan mencoba menjelaskan kepada saudara-saudera tentang hasil pembicaraanku dengan Tong Lam-hou di kota Pak-khia beberapa hari yang lalu."

Para pendekar yang mendengar itu menjadi tertarik hatinya, tidak terkecuali orang-orang Hwe-liong-pang yang selama ini gigih menentang pendudukan Manchu. Semuanya sudah kenal Tong Wi-hong sebagai pendekar besar yang bersikap anti Manchu, pendiriannya tidak goyah seujung rambutpun, namun nada bicaranya kali ini tentang diri Tong Lam-hou telah membuat orang-orang itu timbul perasaan ingin tahunya. Agaknya akan ada "sesuatu yang baru" dalam sikap”dan pendirian Tong Wi-hong itu.

Liong-pwe-nia. Di atas bukit Yang disebut "pangkalan" itu adalah sebuah bukit yang bentuknya memanjang seperti punggung seekor naga yang muncul di permukaan air, sehingga bukit itupun disebut (Bukit Punggung Naga), itu ada segerombolan orang yang menamakan diri Jing-liong-pang (Gerombolan Naga Hijau) yang dipimpin seorang bernama Lim Kan.

Dulu ketika Hwe-liong-pang pecah tercerai-berai ia bersama segerombolan anggota Hwe-liong pang bersarang di tempat itu dan tetap melanjutkan cita-cita Hwe-liong-pang meskipun berganti nama dengan Jing-liong-pang. Membela rakyat yang tertindas dari kesewenang-wenangan yang kuat.

Bagi para penindas, gerambolan Jing-liong-pang ini dicap sebagai "golongan hitam" sebab sering menghadang iring-iringan hartawan serakah, merampas harta mereka dan membagi-bagikan kepada penduduk miskin di sekitar Liong-pwe-nia. Namun orang-orang Jing-liong-pang sendiri tidak pernah peduli mereka akan disebut sebagai iblis atau sebagai malaikat.

Sarang Jing-liong-pang sendiri terletak di atas bukit, dikelilingi lereng-lereng terjal dan hanya dapat dicapai lewat sebuah jalan kecil yang berliku-liku seperti ular. Sarang itu sendiri dikelilingi pagar dari balok-balok tinggi yang dijajarkan rapat dengan ujung-ujung yang diruncingkan. Melihat hal ini, orang akan tahu bahwa meskipun anggota Jing-liong-pang tidak lebih dari duaratus orang namun sulit untuk diserang.

Lim Kan sendiri menyambut kedatangan para pendekar itu ke dalam sarangnya yang semuanya terbuat dari kayu itu. Pesta segera di adakan dan anggota-anggota Kay-pang yang terluka-pun segera diobati. Dalam kesempatan itu, dengan kalimat-kalimat yang berhati-hati Tong Wi-hong mulai menjelaskan tentang diri Tong Lam-hou dan pendiriannya. Selama beberapa hari memikirkan hasil perundingannya dengan keponakannya di Pak-khia dulu, ternyata Tong Wi-hong memikirkan bahwa pendirian Tong Lam-hou itu ternyata betul juga.

Di jaman Manchu itu memang perbedaan antara Manchu dan Han sudah hampir tak ada lagi, kedua suku berbaur dalam satu masyarakat, dan kalau ada perbedaaan juga maka perbedaan itu hanya ditiup-tiupkan oleh segolongan kecil orang Manchu atau orang Han. Orang Manchu yang selalu ingin diunggulkan sebab mereka adalah bangsa yang berkuasa, sedang orang Han yang merasa bangsa mereka dijajah. Namun jumlah orang-orang itu tidak banyak.

Orang masih ingat bagaimana jaman Kaisar Cong-ceng dari dinasti Beng yang orang Han itu malahan lebih morat-marit dibandingkan jaman Kaisar Khong-hi Sekarang. Jaman dulu, prajurit-prajurit Beng galak sekali terhadap rakyat namun diam-diam malahan banyak yang bekerja sama dengan kaum perampok untuk membagi hasil.

Jaman prajurit-prajurit Manchu pun galak terhadap rakyat, namun terhadap para perampok dan penjahatpun mereka bertindak tegas, sehingga rakyatpun merasa terjamin keamanannya. Kaisar Khong-hi yang masih muda itu mengendalikan negara-dengan tangan-tangan yang kokoh kuat, meskipun sebagai manusia biasa ia memiliki beberapa kelemahan pula. Tapi ia jelas lebih baik dibandingkan raja-raja dinasti Beng.

Bagi oang-orang yang selama ini sudah terbiasa memusuhi pemerintah Manchu, maka perkataan-perkataan Tong Wi-hong itu memaksa mereka untuk meninjau kembali pendirian mereka, meskipun tidak langsung menerimanya. Seolah mereka menemukan sebuah jendela baru dalam memandang persoalan ini.

Kini masalahnya bukan lagi suka atau tidak suka kepada orang Manchu, tetapi masih perlu ataukah tidak untuk melanjutkan perlawanan yang berlarut-larut. Dan di telinga mereka seakan terngiang kembali ucapan Tong Lam-hou yang tadi sebelum pergi, "Gunakan akal sehat, diatas segala-galanya."

Yang paling panas hatinya dalam ruangan itu adalah Sebun Him. Ketika ia melihat orang-orang mulai bimbang mendengar penjelasan Tong Wi-hong itu, maka Sebun Him merasa perlu untuk angkat bicara demi "menyelamatkan perjuangan". Sambil menggebrak meja Sebun Him berteriak, "Tidak bisa jadi, Tong Tayhiap, kalau kita hendak berdamai dengan pemerintah Manchu maka akulah yang pertama kali menentangnya!"

Semua mata menoleh ke arah Sebun Him dan anak muda itu menjadi bangga karenanya, "Dalam peperangan memang jatuh korban, dan meskipun itu sama-sama tidak kita sukai namun rakyatpun harus ikut mengorbankan ketenteraman dan kedamaiannya untuk sementara waktu, toh apabila kemerdekaan untuk tanah air bangsa Han ini tercapai kelak, mereka akan menikmatinya juga. Mereka terinjak, itu wajar!"

Tong Wi-hong tidak meladeni Sebun Him dengan suara yang sama kerasnya, melainkan dengan tersenyum sabar ia menjawab, "Aku mengutarakan hasil pembicaraanku dengan Tong Lam-hou bukan untuk merubah pendirian saudara-saudara, atau mentang-mentang karena Tong Lam-hou itu keponakanku, tapi hanya mencoba menyodorkan pilihan lain yang bisa kita pikirkan. Kita akan memilih yang terbaik, dan barangkali ukuran terbaik buat diri kita masing-masing itu pun berbeda-beda satu sama lain bukan?"

"Bagiku, yang terbaik adalah meneruskan perjuangan sampai tuntas, apapun yang menjadi korbannya! Hanya pengecut yanag menyerah kepada bujukan anjing Manchu bernama Tong Lam-hou itu!" sahut Sebun Him keras, lalu ia memandang berkeliling untuk melihat bagaimana orang-orang akan menatap kagum ke arahnya.

Tapi ternyata yang dilihatnya hanyalah alis-alis yang berkerut, sinar mata yang tawar dan ada juga satu dua kepala yang mengangguk-angguk menyetujui pendapat Sebun Him itu. Tapi tak ada tepuk tangan kekaguman untuk ucapannya yang berapi-api itu. Sementara Sebun Him bangkit dan berkata lebih keras lagi,

"Hubungan darah memang sulit dilupakan, dan betapapun seseorang disebut sebagai seorang pendekar besar yang berwatak adil dan bijaksana, tapi kalau sudah bicara menyangkut anggota keluarganya sendiri, mana bisa bersikap adil lagi? Pasti sikapnyapun sudah berat sebelah!"

Begitulah, sebagai luapan kekecewaannya karena tadi dikalahkan oleh Tiam-jong-lo-sia hanya dalam waktu dua jurus saja, maka kini Sebun Him berbicara makin berani. Ucapannya yang terakhir ini terang-terangan ditujukan kepada Tong Wi-hong yang dituduhnya sudah berubah pendirian karena membela keponakannya sendiri. Bagi Sebun Him, sungguh kebetulan kalau Tong Wi-hong marah dan Kemudian menantangnya berkelahi, sebab jika ia dapat mengalahkan pendekar itu maka namanya akan terangkat naik dan tertebuslah rasa malu yang didapatnya tadi ketika dirobohkan Ang Hoan.

Yang hampir tidak dapat menahan diri adalah dua orang putera Tong Wi-hong yang masing-masing sudah melekatkan telapak tangan mereka digagang pedang mereka, tapi mereka masih belum berani bertindak sebelum diberi "lampu hijau" oleh ayahnya. Mereka tidak rela sang ayah yang selama ini dihormati sebagai pendekar besar kini telah dicerca begitu tajam di hadapan sekian banyak orang.

Sedangkan Tong Wi-hong sendiri tidak mudah terbakar oleh sindiran Sebun Him itu, bagaimanapun juga usianya yang sudah hampir dua kali lipat umur Sebun Him itu mempengaruhi ketenangan sikapnya. Setelah meneguk secawan arak, ia berkata dengan tenang, "Sekali lagi aku ulangi, saudara Sebun, bahwa aku tidak berniat memaksa kalian berbalik pendirian dan mendukung pemerintahan Manchu. Aku hanya menceritakan hasil pembicaraanku dengan Tong Lam-hou, kemudian terserah penerimaan kalian."

"Tong Tayhiap sendiri bagaimana?" desak Sebun Him penasaran.

"Aku dapat menerima sebagian dari pendapat Tong Lam-hou itu," kata Tong Wi-hong terang-terangan.

"Menerima sebagian bagaimana?"

"Aku bisa terima bahwa pertentangan harus dihentikan. Tapi aku tidak setuju untuk itu kita harus bekerja kepada Kerajaan Manchu asal kita bekerja untuk kedamaian dan ketenangan rakyat, sudah cukup bagus."

Saat itu terdengar Hwe-liong-pang menyahut diwakili Siangkoan Hong, "Kita memang perlu mempertimbangkan untuk memperbarui sikap kita. Kepada saudara-saudara Hwe-liong-pang aku ingin mengingatkan bahwa sejak semula kita dirikan serikat kita untuk membela rakyat kecil yang waktu itu menderita di bawah pemerintahan Cong-ceng. Kita tidak akan mengikatkan diri kita kepada pemerintahan Kaisar yang manapun, asal rakyat sejahtera kitapun puas. Setelah Piangcu wafat, sebagian dari kita pernah ikut berjuang bersama Li Cu-seng untuk merobohkan Cong-ceng, kemudian melawan orang Manchu yang menyeberangi Tembok Besar lewat San-hai-koan. Tapi aku harap kita tidak terlalu terpancang kesetiaan kita kepada seorang Li Cu-seng yang mati hidupya-pun-tidak kita ketahui, dan mengabaikan nasib laksaan rakyat yang menderita karena peperangan."

Para Tongcu Hwe-liong-pang itu menunjukkan berbagai sikap di wajah mereka ketika mendengar ucapan Siangkoan Hong itu, namun tak seorangpun yang menjawab. Suasana sunyi untuk sesaat sampai terdengar suara Lam-ki Tongcu ln Yong, "Maksud Hiangcu, kita harus memberhentikan perlawanan kepada pemerintah Manchu, begitu? Tapi bagaimana kalau pemerintah Manchu berbuat sewenang-wenang kepada rakyat?"

Sahut Siangkoan Hong tegas, "Kita lawan! Kita berpihak kepada rakyat yang ditindas, bukankah dulu kita melawan Cong-ceng yang sesama orang Han itu juga dengan dasar ini? Tapi apabila Khong-hi ingin membangun negeri untuk kesejahteraan rakyat, kenapa kita harus merintanginya? Kenapa kita harus memandang dia orang Han atau orang Manchu!?"

"Aku setuju!" tiba-tiba Ma Hiong menyahut. "Sikap itu agaknya lebih masuk akal daripada kita bergentayangan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas dan mengejar orang Manchu di mana-mana. Tapi bagaimana dengan pasukan yang tadi kita lawan, apakah kita akan terus melawan apabila mereka datang, atau tidak melawan?"

Semua mata diarahkan kepada Tong Wi-hong, yang bagaimanapun masih tetap dianggap sebagai orang yang paling berwibawa di ruangan itu. Pendekar dari kota Tay-beng itu tersenyum gembira karena pendapatnya agaknya mendapat sambutan baik dari orang banyak, maka iapun menjawab,

"Aku tidak pantas untuk mengatur saudara-saudara semuanya. Tapi aku berpendapat secara pribadi, jika kita diserang, kita berhak membela diri. Tapi jika kita tidak diserang, kita wajib menunjukkan itikad baik kita, bukan dengan pemerintah Manchu tetapi demi rakyat banyak!"

Semuanya menarik napas lega karena merasa mendapat jalan keluar untuk tindakan-tindakan mereka di masa datang. Bu-gong Hweshio dari Siau-lim-pay yang terkenal sebagai tokoh berwatak keras itupun bahkan bertepuk tangan sambil berseru, "Bagus!' Suatu sikap yang luwes yang paling bermanfaat. Orang Manchu bekerja untuk rakyat, kita dukung. Kalau mereka menindas rakyat, kita hantam!"

"Sekarang bagaimana menghadapi pasukan besar Pakkiong An yang kabarnya sedang menuju ke Tiau-im-hong meskipun tidak dipimpin oleh Pakkiong An sendiri itu?" tiba-tiba Sun Ciok-peng dari Kay-pang bertanya.

Tong Wi-hong yang menganjurkan untuk memperlunak sikap terhadap pemerintah Manchu itu, yang kini menjawab pula dengan tidak ragu-ragu, "Kita tidak bersalah, dengan sendirinya kita akan melawan jika diperlakukan dengan sewenang-wenang. Tapi ada satu hal yang kita akan mengingatkan saudara-saudara.."

Suasana menjadi sunyi sejenak, sehingga daun jatuhpun ibaratnya akan kedengaran suaranya. Kemudian suara Tong Wi-hong yang tidak keras namun jelas sepatah demi sepatah, "Sikap Pakkiong An hendaknya jangan kita anggap mewakili sikap pemerintah Manchu secara keseluruhan terhadap kita. Pakkiong An adalah seorang berpikiran sempit dan segala yang dilakukannya sekedar mengejar kedudukan yang lebih tinggi bagi dirinya. Namun ada pejabat pejabat tinggi bangsa Manchu yang dengan tangan terbuka ingin berjabatan tangan dengan kita bangsa Han sebagai sesama penghuni negeri yang harus bersatu, terhadap orang-orang seperti itu kita harus dapat menunjukkan kelapangan dada kita. Kita sudah kenal bagaimana watak orang semacam Pakkiong Liong misalnya, yang meskipun bertangan besi dalam menumpas setiap perlawanan, tapi keselamatan rakyat diutamakan lebih dulu tanpa membeda-bedakan apa suku dari rakyat itu. Dan orang yang demikian ini kulihat cukup banyak di Kotaraja Pak-khia. Kaisar Khong-hi sendiri adalah seorang yang giat memajukan pengajaran kebudayaan Han."

Hampir semua kepala mengangguk-angguk mendengar itu, bahkan kemudian Sun Ciok-peng berkata, "Ya, bahkan aku dengar ketika terjadi pertempuran di Tay-tong karena pemberontakan Pangeran Cu-Leng-ong dulu, rakyat kecil malah lebih suka berlindung kepada Pakkiong Liong daripada kepada Pangeran Cu Leng-ong. Beberapa desa yang sempat diduduki oleh laskar Cu Leng-ong telah mengalami kerusakan lahir batin, bukan saja banyak rumah dirobohkan dan bahan makanan dirampas untuk perbekalan laskar pemberontak, tetapi banyak perempuan kehilangan kehormatannya karena ulah pemberontak."

Keragu-raguan semakin tersingkir dari setiap wajah dan semakin banyak wajah yang memancarkan kemantapan serta kepala yang teranqguk-angguk menyetujui pendapat Tong Wi-hong itu. Itu bukan berarti berbalik pendirian, melainkan kembali ke landasan perjuangan yang semula. Terutama orang-orang Hwe-liong-pang megakui dalam hati bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini tindakan mereka memang telah agak kehilangan arah.

Yang diperbuat kadang kadang hanya berlandaskan ketidak-senangan terhadap pemerintah Manchu saja, sedang akibat-akibat dari tindakan mereka itu tanpa mereka sadari telah memancing sikap keras dari pihak pemerintah Manchu pula. Kini Tong Wi-hong, adik dari mendiang pendiri Hwe-liong-pang Tong Wi-siang, seolah meletakkan cermin di depan wajah mereka masing-masing untuk melihat kesalahan diri mereka sendiri selama ini.

Yang tidak bisa menerima hanyalah Sebun Him. Anak muda berwatak kaku ini tetap berpendapat bahwa orang Han sebagai "bangsa yang berkebudayaan tinggi" tidak bisa hidup bersampingan, apa lagi di bawah perintah seorang Kaisar Manchu, sebab bangsa Manchu adalah "Orang Tartar yang liar dari luar Tembok Besar", "bangsa biadab", "setengah binatang" dan sebagainya.

Merasa bahwa di ruangan itu hanya dirinya sendiri yang berbeda pendirian, maka dengan mendongkol Sebun Him bangkit dari duduknya dan melangkah keluar tanpa menoleh kiri kanan lagi. Tentu saja kelakuannya itu membuat seisi ruangan tertarik perhatiannya dan memandang ke arahnya sampai hilang di balik pintu.

Gin-hoa-kiam (Pedang Bunga Perak) Auyang Seng sebagai paman guru dari Sebun Him cepat-cepat berdiri memberi hormat berkeliling kepada orang-orang ni dalam ruangan itu sambil berkata dengan nada menyesal, "Aku atas nama Hoa-san-pay memohonkan maaf dari tuan sekalian atas ketidak sopanan keponakan muridku itu. Aku berjanji akan menegurnya dan mendidiknya lebih baik di kemudian hari."

Sahut Tong Wi-hong, "Saudara Auyang tidak usah sungkan, memang begitulah watak orang-orang muda yang kadang-kadang menjadi kecewa kalau semangatnya yang berkobar-kobar tidak tersalurkan. Tapi sejalan dengan bertambahnya usianya nanti, ia pun akan semakin tenang dan menemukan kembali keseimbangan sikapnya."

"Terima kasih atas pengertian saudara Tong," kata Auyang Seng sambil duduk kembali. Dan tiba-tiba saja sambil tersenyum ia melanjutkan, "Sikapnya itu agak mirip dengan sikapku ketika masih muda dulu. Dalam pertempuran di Siong-san aku mengira ilmuku sudah cukup tinggi untuk melawan seorang anak buah Te-liong Hiangcu, namun ternyata akulah yang hampir mampus, untung saja waktu itu aku ditolong seorang gadis yang baik hati," dan bicara sampai sini ia tak dapat menahan tertawanya lagi sambil memandang ke arah Tong Wi-lian, adik perempuan Tong Wi-hong.

Tong Wi-lian yang usianya hampir setengah abad tapi masih kelihatan cantik dan ramping itupun tersenyum mendengar ucapan Auyang Seng itu, sahutnya, "Gadis itupun sebenarnya bukan gadis yang baik hati, namun kebetulan juga seorang gadis yang baru saja turun dari perguruan dan ingin menjajal ilmu silatnya."

Semua yang hadir di ruangan itu tertawa mendengarnya. Beberapa orang yang tahu persis persoalannya, tahu bahwa gadis yang dimaksudkan adalah Tong Wi-lian yang saat itu belum menjadi isteri Ting Bun. Waktu itu memang Auyang Seng yang masih muda itu ada maksud jual tampang di depan Tong Wi-lian, namun malah hampir saja terbunuh oleh seorang pengikut Te-liong Hiangcu yang bukan lain adalah Hwe-tan Si Peluru Api Seng Cu-bok.

Untung ketika itu Auyang Seng bukannya mendapat muka terang tapi malah mendapat malu karena ilmunya kalah tinggi dari Tong Wi-lian. Saat itu dilupakan olehnya, sebab saat itulah ia mulai meninggalkan sikap sombongnya dan sekaligus juga mempergiat latihan-latihannya saat ini ia memiliki tingkatan ilmu yang tidak kalah dari Tong Wi-lian. Begitulah orang-orang itu makan minum dalam suasana yang gembira sambil bercakap-cakap dan bresendau-gurau.

Sementara itu, di luar ruangan, Sebun Him benar-benar merasa dirinya tersisih, meskipun sebenarnya tak seorangpun yang berusaha menyisihkan dirinya dan perasaan itu hanya timbul dari hatinya sendiri. Memang demikianlah umumnya orang yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat dengan oraag lain, akhirnya yang didapatkan cuma ketersisihan meskipun hal itupun ditimbulkan oleh perasaannya sendiri yang kecewa. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari seorang yang ingin dirinya menonjol sendiri, tapi akhirnya malah merasa disisihkan.

Suara tertawa dari dalam ruangan perjamuan itu bagi telinga Sebun Him rasanya seperti suara ejekan bagi dirinya, padahal sebenarnya orang-orang dalam ruangan itu sedang bersendau-gurau sendiri dan tak sedikitpun menyinggung dirinya. Bagi seorang yang sedang panas hatinya,suara yang tidak ditujukan kepada dirinyapun lama-lama terasa mengejeknya.

Dengan hati yang panas ia melangkah menjauhi ruangan itu sambil menggerutu, "Sekarang mereka tertawa-tawa mengejekku, namun suatu ketika mereka akan tahu siapakah Sebun Him ini dan mereka akan merangkak-rangkak memohon maaf kepadaku. Sekarang boleh saja mereka memuja Tong Lam-hou seperti memuja malaikat dari langit tapi nanti mereka akan kecewa melihat bahwa orang pujaan mereka itu kukalahkan di medan perang."

Tengah ia melangkah dengan gelisah di bawah siraman embun malam, tiba-tiba di depannya nampak pula sesosok bayangan yang ramping juga sedang berjalan perlahan di lereng bukit Liong-pwe-nia. Meskipun bayangan itu hanya kelihatan kehitam-hitaman di gelapnya malam dan sikapnyapun sedang membelakangi Sebun Him, namun Sebun Him segera mengenal gaya berjalan bayangan itu adalah gaya dari Ting Hun giok, gadis puteri Tong Wi-lian dan Ting Bun yang sejak peristiwa penculikan di kota Tiang-an itu telah melekat di hati Sebun Him kuat-kuat. Gadis yang mampu membuat anak muda segagah Sebun Him jadi salah tingkah.

Seperti sepotong besi yang tertarik oleh besi sembrani, Sebun Him mempercepat langkahnya mendekati Ting Hun-giok dari belakang, dan menyapa, "Ting Kohnio..."

Gadis yang sedang berjalan sambil melamunkan sesuatu itu terkejut mendengar sapaan itu, dan ia menoleh, dari bibirnya yang berbentuk indah itupun membentuk sebuah senyuman ketika melihat Sebun Him melangkah mendekatinya. "Eh, kiranya Sebun Siauhiap, kenapa tidak berada dalam ruangan untuk ikut berbicara dengan para pendekar itu? Siauhiap termasuk salah seorang pendekar yang cukup pantas untuk duduk bersama-sama mereka."

Hati Sebun Him mekar mendengar ucapan itu. Tapi ia pura-pura mengerutkan alis sambil berkata seolah-olah kecewa, “Ya... aku baru saja dari dalam ruangan itu, namun aku merasa jemu mendengar pembicaraan mereka sehingga aku lebih baik keluar saja, udara diluar lebih menyegarkan aku."

Ting Hun-giok agak kurang senang mendengar ucapan Sebun Him yang menyatakan jemu itu. Bukankah yang ada dalam ruangan itu selain kedua orang tuanya juga ada paman-pamannya dan tokoh tokoh pendekar lainnya? Kenapa Sebun Him mengatakan jemu? Tapi gadis yang berpikiran luas itu tidak ingin bertengkar dengan Sebun Him seperti yang sudah-sudah. Maka ia mencoba membelokkan pembicaraan, "Udara di luar ini memang lebih segar daripada kita ikut bicara dengan orang-orang tua dalam ruangan itu. Kita berjalan-jalan kelereng bukit, setuju, Siauhiap?"

Mana bisa Sebun Him menjawab "tidak setuju" untuk menolak rembulan yang jatuh di pangkuannya? Tanpa disuruh lagi ia segera melangkah mendampingi gadis itu, namun yang diucapkannya masih saja nada kemendongkolan kepada orang-orang di dalam ruangan itu, “Memang lebih baik menghirup udara yang segar dilereng bukit ini daripada mendengarkan orang-orang yang mengaku dirinya pendekar-pendekar perkasa namun begitu mudah terbius oleh seorang budak Manchu...."

"Sudahlah, Sebun Siauhiap, kita bicara soal lainnya saja yang menggembirakan hati."

"Mana bisa aku gembira kalau teringat bahwa gerakan perjuangan pembebasan tanah air bangsa Han kita terancam berantakan hanya karena munculnya sebuah gagasan untuk hidup damai dengan bangsa Manchu yang liar itu? Gagasan gila…!”

"Sudahlah, kita berhak menerima atau menolak gagasan itu. Kalau Siauhiap tidak setuju, ya tolak saja."

"Aku sudah menolaknya, tapi mereka tidak mendengarkan aku. Agaknya hanya tinggal aku sendiri yang masih memikirkan nasib jutaan bangsa Han kita yang ditindas oleh bangsa Manchu, yang lain-lainnya sudah tidak memiliki semangat juang lagi dan membuka perdamaian dengan musuh!"

Di sampingnya Ting Hun-giok menarik napas dalam-dalam, seakan seluruh udara Liong-pwe-nia yang sejuk itu hendak dihirupnya masuk ke paru-parunya untuk menekan kejengkelannya. Sebun Him memang seorang pemuda yang berwajah tampan, bertubuh tinggi tegap dan merupakan idaman seorang gadis, berilmu tinggi pula, hanya saja jika dia mulai bicara maka semua pembicaraan hanya terpusat kepada dirinya sendiri saja, seolah dialah satu-satunya tokoh unggul didunia ini.

Sahut Ting Hun-giok, "Perang atau damai, asal dilandaskan pada kepentingan rakyat, semuanya baik-baik saja."

"Tapi si anjing Manchu yang bernama Tong Lam-hou itu..."

"Jangan sekasar itu, Siauhiap, bagaimanapun juga Tong Lam-hou adalah kakak misanku. Ayahnya adalah kakak dari ibuku."

Sesaat Sebun Him terperangah, tadi ia begitu bersemangat memaki-maki Tong Lam-hou sampai lupa bahwa gadis yang berjalan di sampingnya itu adalah adik sepupu dari orang yang dimaki-makinya. Namun ia pantang menyerah meskipun suaranya menjadi sedikit melunak,

"Eh, maaf... tapi aku pikir seseorang harus dapat menarik garis tajam antara hubungan pribadi dengan hubungan berlandas kedudukan masing-masing. Misalnya saja aku, meskipun secara pribadi hormat kepada susiokku (paman kakek guru) Yo Ciong-wan, tapi karena dia tersesat menjadi pengikut Te-liong Hiangcu maka aku tidak menyayangkan kematiannya di Ki-lian-san dulu...”

Ting Hun-giok hanya menghembuskan napas tanpa menjawab sepatah katapun. Ia sudah tidak begitu kaget lagi mendengar "ceramah" Sebun Him itu, sebab setiap kali tentu orang muda Hoa-san-pay itu melakukannya berulang kali. Sambil berjalan-jalan dilereng bukit yang sunyi, Sebun Him tanpa merasa betapa gadis di sampingnya itu menjadi jemu akan ceramahnya, terus sana menyerocos tentang arti perjuangan pembebasan tanah air, tugas seorang pendekar dan sebagainya. Apabila menceritakan hal-hal yang kurang baik, maka selalu diambilkan contoh orang lain. Kalau menceritakan hal-hal yang baik, Sebun Him selalu bilang, “sialnya aku ini..." dan seterusnya.

Pemandangan lereng bukit Liong-pwe-nia di malam hari sebenarnya cukup tenang dan nyaman, namun dengan adanya Sebun Him di sampingnya, Ting Hun-giok jadi tidak bisa menikmati ketenangan itu. Saat itu mereka sudah semakin jauh dari barak tempat tinggal orang-orang Jing-liong-pang, dan Sebun Him belum juga berhenti dari sikap mengguruinya.

Namun tiba-tiba Sebun Him membalikkan tubuh secepat kilat menghadap ke salah satu gerumbul dan bentaknya, "Siapa?! Keluar!"

Meskipun ia sedang asyik berbicara, namun karena latihan Kun-goan-sin-kangnya maka ia memiliki tenaga dalam yang tinggi sehingga pendengarannya pun tajam sekali. Tadi ketika ia melangkah dekat gerumbul semak itu ia mendengar ada suara orang menarik napas seperti seorang yanq kecewa, dan meskipun suara itu sangat perlahan tapi tertangkap juga oleh telinganya yang peka.

Ting Hun-giok yang tenaga dalamnya tidak selihai Sebun Him itupun tidak tahu kalau ada orang bersembunyi di dekatnya dan baru tahu setelah mendengar bentakan Sebun Him tadi. Ia pun meloncat bersiaga menghadap ke arah gerumbul semak belukar itu.

Sebun Him meloncat ke depan Ting Hun-giok dan bersikap siap untuk melindungi gadis itu, dan sekali lagi ia membentak, "Bangsat, kau menunggu sampai kesabaranku habis...!”

Sesaat semak belukar itu berkeresek lalu perlahan-lahan muncul sebuah kepala yang sulit dilihat wajahnya karena bintang di langit tidak cukup cahayanya untuk menerangi lereng bukit itu. Namun bentuk tubuhnya dapat dilihat sebagai seorang lelaki jangkung yang bertubuh ramping, bahkan agak kurus.

"Keluar dari bayangan pohon itu supaya bisa kulihat mukamu!" bentak Sebun Him lagi. “Keluar dari situ?!"

Orang itupun melangkah dengan ragu ragu, dan ketika ia sudah berada diluar bayangan pohon itu terlihatlah wajahnya yang dingin, dengan sebuah luka bekas kena senjata yang tergores di pipinya. Suatu wajah yang jauh dari tampan, namun sepasang matanya memancarkan kehampaan perasaan dan kekecewaannya.

Melihat wajah itu, Ting Hun-giok berseru gembira, "Im Toako!"

Sambil berteriak dia terus hendak berlari menyongsong orang itu, namun tiba-tiba dirasakannya tangan Sebun Him yang kokoh kuat itu memegang lengannya dekat pundak sehingga langkahnya tertahan, dan terdengar kata Sebun Him, "Jangan dekat-dekat iblis dari Kui-kiong itu, nona Ting. Biar aku bereskan dulu sisa iblis Kui-kiong yang masih berkeliaran mencari mangsa dengan menipu gadis-gadis ini!"

Ting Hun-giok berusaha meronta lepas dari pegangan Sebun Him, tapi kekuatannya kalah jauh dengan kekuatan pemuda Hoa-san-pay itu, sehingga rontaannya itu sia-sia saja. Kata gadis itu kemudian, "Pahamilah dia Sebun Siauhiap, dia bukan penjahat lagi dan aku tahu pasti dia ingin kembali ke jalan yang benar. Ia yang menolongku dari kebiadaban orang-orang Kui-kiong dan dia pula yang memberi tahu tentang rencana keji di Ki-lian-san, sehingga banyak orang bisa diselamatkan dari ledakan besar itu...”

Ting Hun-giok tidak sadar bahwa ucapannya itu bukan melunakkan hati Sebun Him melainkan inalah seperti minyak yang disiramkan ke dalam api, membuat apinya tambah berkobar. Sebun Him marah, tepatnya cemburu, sebab Ting Hun-giok selalu memanggilnya dengan sebutan yang kurang akrab "siauhiap" (tuan pendekar muda) sedang terhadap Im Yao si iblis Kui-kiong yang dipandang rendah oleh Sebun Him itu malah memanggil "toako" (kakak).

Apalagi Ting Hun-giok selalu menyebut, jasa Im Yao membantu keluar dari Kui-kiong, padahal Sebun Hiin merasa bahwa hal itu sebagian besar adalah karena kepahlawanannya. Kini hatinya terbakar hebat melihat Ting Hun-giok hendak menyambut "Im Toako"nya dengan sikap begitu hangat.

Karena letupan perasaannya itulah maka tanpa sadar ia mendorong Ting Hun giok dengan agak kasar sampai gadis itu terhuyung-huyung hampir roboh. Hampir bersamaan, tangan kirinya telah menggenggam pedangnya yang besar dan seperti harimau menerkam ia menyabetkan pedangnya ke leher Im Yao dengan gerakan Liong-li-coan-ciam (Wanita Naga Menusuk Dengan Jarum) dengan sepenuh tenaga, sehingga tempat itu dipenuhi suara angin pedang yang menderu hebat. Keinginan Sebun Him agar kepala Im Yao menggelinding ke tanah dengan sekali sabet saja.

Sejak Im Yao melihat Sebun Him marah-marah tadi, ia memang sudah siap sedia untuk mendapat perlakuan kasar dari anak muda Hoa-san-pay itu. Begitu melihat pedang berkelebat ia segera gunakan wong-hong-tiam-tau untuk menundukkan kepalanya sehingga pedang Sebun Him hanya berdesing di atas kepalanya. Tapi Sebun Him kembali menyabetkan pedangnya dengan gerakan balik ke arah kaki Im Yao.

Begitu cepatnya sehingga Im Yao hanya sempat menggulingkan diri ke belakang untuk menghindari serangan itu. Tapi betapapun Im Yao adalah adik seperguruan dari Liong Pek-ji seorang tokoh golongan hitam yang ternama, bahkan merupakan tangan kanan dari mendiang Te-liong Hiangcu dulu. Sambil berguling menghindarkan dia masih sempat mencabut pedangnya dengan gerakan yang hampir tak terlihat. Ketangkasannya memang cukup dapat diandalkan.

Sebaliknya Sebun Him sudah tidak mempedulikan lagi teriakan-teriakan cegahan dari Ting Hun-giok. Ketika melihat Im Yao menghunus pedang maka diapun semakin kalap, dan sambil berteriak keras ia menerjang, "Bagus, iblis Kui-kiong! Hunuslah pedangmu supaya aku tidak dituduh membunuh lawan yang tak bersenjata kelak."

Maka bertempurlah kedua orang itu tanpa sempat bercakap-cakap lagi, sebab kekalapan Sebun Him telah menutup semua jalan damai. Im Yao yang sadar bahwa lawannya memiliki tenaga yang jauh lebih hebat daripadanya, tidak berani berbenturan senjata sebab pedangnya akan terpental jika demikian.

Namun dia adalah seorang yang berjulukan Tiat-ci-hok (Kelelawar Bersayap Besi) dan kata "kelelawar" itu menunjukkan akan kehebatannya dalam ilmu meringankan tubuh, dibantu dengan ilmu pedangnya yang aneh, ia mencoba bertahan sebisa-bisanya supaya tidak tergilas oleh amukan Sebun Him yang seperti angin topan itu.

Namun bagaimanapun Im Yao mengerahkan perlawanannya, ia tetap bukan tandingan Sebun Him yang lihai dalam Hoa-san-kiam-hoat (ilmu pedang Hoa-san) serta dilandasi dengan tenaga dalam Kun-goan-sin-kang yang lihai itu. Pedangnya yang lebih besar dan lebih berat dari pedang orang lain, disesuaikan dengar tubuhnya yang tinggi besar itu, dapat diputarnya seringan orang memutar pedang-pedangnya dari bambu saja.

Dengan pedangnya ia dapat bertahan dengan rapatnya melebihi berlindung di balik selapis perisai besi namun jika menyerang maka seolah-olah tembok bajapun tak sanggup menghalangi sepak terjangnya. Memang benar ia sedikit kalah lincah dibandingkan Im Yao, tapi Im Yao tidak punya kesempatan untuk membalas serangannya sebab Sebun Him menerjangnya bertubi-tubi seperti seekor beruang gila. Kelincahan Im Yao hanya berguna untuk berloncatan mundur terus menerus dan bukan untuk menyerang.

Sebenarnya kedatangan Im Yao ke Liong-pwe-nia itu untuk memberi kabar penting buat para pendekar yang tengah berkumpul di bukit itu. Ia tahu Ting Hun-giok ada di bukit ini pula, dan ia berharap untuk dapat menyampaikan kabar penting itu lewat gadis itu, namun ketika melihat gadis itu berjalan berdua saja dengan Sebun Him, timbullah rasa rendah diri Im Yao. Ia membandingkan dirinya dengan diri Sebun Him sungguh seperti burung gagak yang hendak menandingi burung hong, dan karena rendah dirinya itulah maka ia bersembunyi.

Tak tahunya sudah bersembunyipun masih tetap diketahui oleh Sebun Him, dibentak-bentak dipaksa keluar dan akhirnya dicaci-maki dan hendak dibunuh seperti saat ini. Karena itu kemarahan Im Yao itupun terungkah, dengan nekad ia melawan terus sambil berteriak, "Sebun Him, pendekar yang gagah perkasa dari perguruan orang-orang yang sesuci malaikat, kau kira kau berhak mencabut nyawa orang lain karena kedudukanmu yang terhormat itu?!"

Sambil terus menyerang dan mendesak Sebun Him menjawab, "Tutup mulutmu, bandit yang penuh kotoran. Tentu saja aku berhak mencabut nyawamu demi ketenteraman dunia!"

Sambil meloncat mundur, Im Yao membantah lagi, "Kedatanganku untuk menyampaikan kabar penting kepada para pendekar. Beri aku kesempatan untuk bicara kepada mereka, setelah itu kau ingin mencincang tubuhkupun aku persilahkan..."

Tapi Sebun Him sedikitpun tidak mengendorkan desakannya, malah dengan sebuah gerak tipu Gou-ong-sit-kiam-pek giok-coan (Gou Ong menguji pedang dengan menebas batu giok) telah menyusutkan Im Yao ke satu keadaan yang sulit dan ujung pedangnya berhasil melukai pundak. Geramnya,

"Dari mulut anjing mana bisa tumbuh gadingnya? Dari mulut iblis Kui-kiong seperti kau mana bisa ada berita penting segala? Aku justru akan menghalangimu untuk bertemu dengan para pendekar terhormat itu, sebab kau hanya akan menipu mereka, sedangkan para pendekar itu sendiri belakangan ini sudah banyak terbius oleh omongan busuk seorang budak Manchu. Lagipula, setelah kau bertemu dengan para pendekar itu mana bisa aku membunuhmu? Sebab kau dengan licik tentu akan memanfaatkan kelemahan para pendekar yang suka berlagak sebagai pemaaf dan pengampun itu untuk Derlindung kepada mereka!"

Demikianlah, bukan hanya pedang Sebun Him yang tajam, namun lidahnya-pun mengeluarkan kata-kata yang tajam. Im Yao sebagai bekas seorang penjahat yang ditakuti dan berwatak angkuh itu, tentu saja sangat tersinggung oleh ucapan Sebun Him yang menuduhnya seakan ia akan minta perlindungan kepada para pendekar itu. Karena marahnya maka Im Yao nekad melawan mati-matian, tidak peduli lagi dirinya bakal mampus tanpa sempat mengucapkan berita yang dibawanya itu.

Ting Hun-giok yang menjadi sangat cemas melihat perkelahian kedua orang-muda itu semakin sengit meskipun berat Sebelah. Ia bukan saja menguatirkan Im Yao, tapi juga menguatirkan "berita penting" yang bakal disampaikan itu entah berita apa? Kalau benar-benar penting, bukankah Sebun Him bakalan berbuat ceroboh dengan membunuh si pembawa berita?

Gadis itu tahu pasti bahwa Im Yao agaknya benar-benar ingin kembali ke jalan yang benar dengan berbuat kebaikan sebanyak mungKin untuk menebus kesalahannya di masa lalu, dan itu sudah terbukti ketika ia dengan berani membongkar rencana Te-liong Hiangcu untuk membunuh banyak orang di puncak gunung Ki-lian-san, sehingga. karena im Yao lah maka rencana itu gagal, malahan Te-liong Hiangcu tertumpas hampir tuntas.

Karena itu Ting Hun-giok pun berteriak-teriak, “Hentikan Sebun Siauhiap, dengarkan dulu berita apa yang hendak dikatakan im Toako!"

Tanpa menggubris seruan itu, Sebun Him menjawab, "Kau juga akan mempercayai mulut busuk anjing Kui-kiong ini?! Tidak, apapun yang dia ucapkan pastilah cuma bualan kotor belaka!"

Sungguh jengkel Ting Hun-giok melihat sikap kepala batu dari Sebun Him itu, namun ia kebingungan hendak berbuat apa? Hendak memisahkan perkelahian kedua orang itu merasa tidak mampu, untuk meminta bantuan, para pendekar di atas bukit sana ia takut keburu terlambat di mana Im Yao barangkali sudah menjadi korban. Dalam bingungnya, gadis itu hanya meremas remas ujung bajunya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

Sementara itu keadaan Im Yao benar benar seperti telur di ujung tanduk, kelincahannya tidak lagi sepenuhnya dapat menolong dirinya. Betapapun ia berusaha menghindari benturan pedang dengan Sebun Him, tapi sekali-sekali terjadi juga adu tenaga. Dan jika demikian yang rugi tentu Im Yao, sebab setiap benturan membuat telapak tangannya pedih dan lengannya pegal, sehingga tiap kali ia harus melompat mundur untuk mencari kesempatan memperbaiki pegangannya pada gagang pedang.

Tapi kesempatan seperti itu tidak selalu didapat. Suatu saat Sebun Him menyergap dengan jurus beruntun dari Hoa-san-kiam-sut: Tan-hong-tiau-yang (Burung Hong Sendirian Menghadap Matahari), Hoan-in-hok-te (Mega Terbalik Menudingi Jagad), Hui-in-ki-lo (Mega Terbang Naik Turun) dan ditutup dengan Lui-hong-tiam-siam (Guntur Gemuruh dan Kilat Menyambar). Dilandasi dengan kekuatan dan kecepatannya yang telah meningkat pesat sejak ia giat melatih ilmu Kun-goan-sin-kang, maka serangan beruntun pedang Sebun Him itu benar-benar maha dahsyat.

Mula-mula dengan tubuh merendah ia menikam ke leher dan pedangnya hanya berujud sejalur cahaya tajam yang melebihi kejapan mata cepatnya, lalu sinar pedang mendadak menebar menutup semua jalan lawan, dan kemudian bergulung menyambar dengan kekuatan sepenuh. Semua pergantian gerak disertai dengan deru angin yang dingin menyebarkan suasana pembunuhan....
Selanjutnya;