Pendekar Naga dan Harimau Jilid 14 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 14

Karya : Stevanus S.P
Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Karya Stevanus S.P
DAN semangat para prajurit itupun menyala lebih hebat setelah melihat betapa gigihnya Tong Lam-hou berjuang di pihak mereka. Tong Lam-hou yang belum menjadi prajurit dan baru hendak mendaftarkan diri sebagai prajurit itu sudah berkelahi demikian gigih, maka mereka yang sudah memakai seragam, prajurit tentunya harus lebih gigih dari Tong Lam-hou.

Akhir dari pertempuran di tengah-tengah sungai itupun sudah terbayang siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Bajak-bajak yang belum sempat naik masih kalang-kabut di hajar Tong Lan-hou, sementara yang di atas geladak itupun sudah patah semangatnya. Tadinya mereka berjumlah lebih banyak, tapi perwira-perwira tangguh seperti Ha To-Ji dan lain-lainnya dengan kelebihan ilmu silatnya telah membuat jumlah bajak-bajak itu berkurang dengan cepatnya.

Perwira-perwira itu bukanlah orang-orang haus darah yang memuaskan dirinya dengan membantai sebanyak-banyaknya, namun kali ini mereka dihadapkan pada satu-satunya pilihan bahwa bajak-bajak itu memang harus dihadapi dengan keras. Kalau mereka tidak keras, maka prajurit-prajurit merekalah yang akan menjadi korban karena bagaimanapun tangguhnya seorang prajurit, ia tidak akan sanggup melawan jumlah yang berlipat-lipat.

Tidak sedikit kawanan bajak yang belum luka sedikitpun, namun karena semangat mereka sudah patah maka merekapun mencebur ke sungai dengan "sukarela” daripada diceburkan secara paksa oleh perwira-perwira Hui-liong-kun yang berilmu tinggi itu. Lagipula lebih enak mencebur dengan badan utuh daripada mencebur sepotong demi sepotong.

Dengan berbaliknya para prajurit mengungguli lawan-lawannya, maka semakin tenanglah juru mudi kedua kapal itu, yang sejak tadi mereka selalu dilindungi oleh beberapa prajurit. Kini dengan tenang mereka dapat mengemudikan kapal mereka semakin merapat ke tepian utara sungai Yang-ce-kiang.

Hehou Im yang juga seorang perwira, tentu saja paham akan perhitungan peperangan bahwa pihaknya telah kehilangan kesempatan pada serangan tahap pertama itu. Maka dengan kepala dingin ia segera memerintahkan, "Mundur!"

Sebenarnya Pakkiong Liong ingin menangkap lawannya yang berkedok itu, namun lawannya itu tidak sendirian. Ketika semuanya bergerak mundur, Hehou Im lebih dulu meloncat ke arah sebuah perahu kecil yang paling dekat dengan kapal, disusul oleh Song Hian dan Tong King-bun. Bajak-bajak lainnya pun berloncatan keluar dari kapal, mereka langsung mencebur ke sungai dan kemudian berenang ke arah perahu-perahu teman-teman mereka yang terdekat.

Tetapi sebagian bajak itu tidak sempat melarikan diri bersama teman-teman mereka. Dan mereka yang tidak sempat lari itu telah tergilas oleh kemarahan prajurit-prajurt Hui-liong-kun. Meskipun Pakkiong Liong telah meneriakkan perintah agar tidak membunuh tawanan yang sudah menyerah, tetapi beberapa prajurit agak lambat dalam menahan diri. Bisa dimaklumi sebab prajurit-prajurit itu merasa sangat marah karena kehilangan beberapa teman mereka pula gara-gara serangan kawanan bajak yang mendadak itu.

Sementara itu, Tong Lam-hou dengan memutar deras kaitan panjangnya telah berhasil meminggirkan semua perintangnya, lalu iapun melompat ke geladak kapal dengan ringannya. Pakkiong Liong menyambutnya dengan memegang erat-erat sahabatnya itu, "Kau menghilang ke mana saja?"

Tong Lam-hou agak malu ketika mengingat kegabahannya yang hampir saja menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan itu. Namun dijawabnya secara singkat, "Aku telah membuat suatu kecerobohan sehingga hampir saja tidak dapat lolos dari tangan mereka. Tapi nanti saja kuceritakan kepadamu. Sekarang masih harus waspada terhadap mereka;"

Memang kedua kapal itu telah bersih dari para bajak, kecuali mayat-mayat dari mereka yang terbunuh dan yang tertawan, namun belum berarti pertempuran sudah selesai. Perahu-perrahu bajak yang masih tersisa itu masih mengatur diri dikejauhan, lalu kelihatan berpuluh-puluh orang yang bercelana pendek dan bertelanjang dada terjun ke sungai. Mulut mereka menggigit sebatang buluh yang berlubang tengahnya sebagai alat pernapasan, dan tangan mereka memegang pahat dan palu. Inilah serangan tahap kedua yang direncanakan oleh Hehou Im.

Sebagai seorang yang cukup berpengalaman, Pakkiong Liong segera paham apa yang akan dilakukan oleh penyelam-penyelam itu. Mereka hendak melubangi perahu agar perahu tenggelam. Pakkiong Liong segera mendatangi juru mudi kapal itu dan bertanya,

"Saudara, masih lamakah kita merapat ke tepian utara?"

Juru mudi itu menengok ke sebelah kiri, di mana garis tepian kelihatan semakin jelas, namun belum juga dikatakan dekat. Maka jnwabnya, "Agak lama, Ciangkun?"

"Dapatkah belokan kapal ini dipertajam sedikit? Apakah terlalu berbahaya?"

"Biasanya kami tidak berani, Ciangkun, tetapi kali ini biarlah kami coba-coba. Tempat ini sudah dekat dengan tepian sehingga arusnya tidak sederas yang di tengah. Tetapi kapal akan terguncang sedikit, harap Ciangkun beritahukan anak buah Ciangkun supaya jangan ada yang terlempar dari kapal."

Pakkiong Liong menepuk pundak jurumudi Itu untuk membesarkan hatinya, lalu iapun mengumumkan kepada prajurit-prajuritnya bahwa belokan kapal akan dipertajam sedikit sehingga lebih cepat mencapai tepian utara. Semua prajurit diharuskan berhati-hati agar tidak terlempar keluar dari perahu besar. Kapal yang satunya lagi juga di-beri-tahu dengan isyarat-isyarat.

Maka hampir bersamaan kedua perahu: itu membelok agak tajam. Mereka tidak lagi memotong arus secara perlahan-lahan melainkan hampir tegak lurus. Para penyelam yang hendak melubangi kapal itu, karena mereka terus menerus menyelam dalam air dan menuju ke kapal hanya dengan kira-kira saja, maka mereka sama sekali tidak tahu kalau kapal-kapal itu berbelok tajam.

Mereka menuju ke sasaran kosong belaka, dan hal itu baru mereka ketahui setelah mereka memunculkan kepala mereka ke permukaan air. Ternyata kedua kapal yang ditumpangi oleh Pasukan Hui liong-kun itu sudah bergeser jauh dari tempat semula. Tapi para penyelam itu tidak putus asa, mereka kembali menyelam dan mengejar ke arah kapal itu.

Namun kedua kapal sudah hampir sampai di tempat yang dangkal di tepian, bahkan dari atas geladak kapal itu para prajurit membalas melepaskan panah-panah kepada para penyelam. Namun panah-panah itupun tidak menemui sasarannya, sebab para penyelam berada dalam air dan panah-panah akan hilang daya luncurnya begitu masuk ke air.

Melihat itu, Pakkiong Liong mengambil sebuah busur dan segebung anak-panah. Dipasangnya sebatang anak panah pada busur, lalu perlahan-lahan ditariknya busur itu, tangannya nampak agak bergetar karena ia memakai tenaga yang agak banyak, lalu anak panah itu-pun meluncurlah. Langsung menyusup ke dalam air dan menembus tubuh seorang penyelam tubuh seorang penyelam yang langsung terapung ke permukaan dengan mata melotot namun nyawa sudah terbang.

Berturut-turut Pakkiong Liong melepaskan beberapa anak panah, dan buluh-buluh yang oleh para penyelam itu digunakan untuk bernapas itu merupakan petunjuk, yang baik untuk mengarahkan panah. Kembali beberapa tubuh bermunculan di permukaan air dengan tubuh yang tertembus anakpanah. Air sungai yang kecoklatan itu menjadi berbercak-bercak merah di sekitar tubuh-tubuh itu.

Dari kejauhan Hehou Im dan kawan-kawannya melihat apa yang terjadi itu Diam-diam mereka menarik napas dan membatin, "Luar biasa. Pakkiong Liong benar-benar seseorang yang luar biasa, tidak mudah untuk mengalahkannya."

Sementara itu, Tong Lam-hou dan para perwira yang berilmu tinggi mulai meniru Pakkiong Liong. Mereda melepaskan panah bukan cuma asal membidik saja, melainkan juga menyalurkan tenaga dalam mereka, sehingga panah-panah mereka meluncur dengan daya luncur yang berkali lipat lebih kuat dari panah-panah biasa. Panah biasa akan kehilangan daya luncur begitu masuk ke air, tapi panah-panah Pakkiong Liong dan para perwira akan tetap menembus air dengan masih membawa sebagian besar daya luncurnya, sehingga masih mampu untuk membunuh sasarannya dalam air.

Dalam beberapa saat saja, sebagian besar dari para penyelam yang memburu ke arah kapal itu telah berubah menjadi mayat-mayat terapung yang dihanyutkan air sungai Yang-ce-kiang. Sebagian kecil tidak berani maju lagi, dan memilih untuk mengundurkan diri saja daripada mati konyol, bahkan tanpa menunggu aba-aba dari pemimpin mereka.

Hehou Im melihat itu dengan geram. "Hancur sudah rencana kita. Di air saja Pasukan Hui-liong-kun tidak dapat kita hancurkan, apalagi di darat. Dan setelah kejadian ini tentu Pakkiong Liong akan lebih menyiapkan diri dalam menghadapi sesuatu."

Tong King-bun berkata, "Masih ada satu penyeberangan lagi yang akan dilewati oleh pasukan itu. Penyeberangan di sungai Hong-ho. Kita masih punya harapan untuk merebut dalam pertempuran air lagi."

Hehou Im menarik napas. "Akan aku pikirkan kelak, namun biaya yang aku keluarkan sudah terlalu banyak hanya untuk rencana yang gagal ini. Aku harus mempertanggung-jawabkan semua biaya-biaya yang dikeluarkan ini kepada Pakkiong Ciangkun."

Song Hian dan juga Tio Hong-bwe yang sudah bergabung di situ, juga menarik napas. Mereka agak malu bahwa mereka yang sudah menerima ratusan tahil emas dan perak dari Pakkiong An lewat Hehou Im itu ternyata gagal menjalankan "pesanan" yang dimintainya itu. Tapi apa boleh buat. Kedua pemimpin bajak itu merasa menyesal bahwa mereka sudah kehilangan hampir seratus orang anak buah mereka, suatu jumlah yang cukup menjadi pukulan berat buat gerombolannya. Dan mereka tentu akan keberatan kalau Hehou Im meminta kembali upah yang sudah diberikan kepada mereka, meskipun mereka telah gagal.

Namun ternyata Hehou Im cukup punya otak untuk tidak menekan teman-temannya yang juga sedang sama kecewanya dengan dirinya sendiri itu. Sambil menepuk pundak Tio Hong-bwe dan Song Hian ia berkata, "Terima kasih atas kerjasama kalian, sahabat-sahabatku. Bagaimanapun juga kita sudah berusaha sangat keras, bukan saja memerintahkan anak buah kita tapi bahkan kita sendiripun hampir amblas di ujung pedang Pakkiong Liong. Aku tidak menyalahkan kalian, bahkan masih mengharap kerjasama kalian di kemudian hari."

Wajah Tio Hong-bwe dan Song Hian tidak begitu murung lagi ketika mendengar perkataan Hehou Im itu. Kerja-sama dengan Pakkiong An berarti ratusan tahil emas bakal mengalir ke kantong mereka. Jadi, apa salahnya kalau menjual nyawa anakbuah mereka beberapa puluh orang lagi asal "harganya cocok"? Bagi orang-orang semacam Tio Hong-bwe dan Song Hian, nyawa manusia memang bukan urusana penting, kecuali nyawa mereka sendiri. Kalau ada uang, kenapa mereka tidak bisa mengorbankan beberapa anak buah untuk menyenangkan "pemeran"nya?

Sementara itu kedua kapal itu tiba di tepian, tetapi tidak dapat merapat, sebab tidak di dermaga. Masih dengan kewaspadaan yang tinggi, prajurit-prajurt Hui-liong-kun segera melangkah keluar dari perahu-perahu mereka sambil menuntun kuda-kuda dari ruangan bawah, terjun ke air tepian yang dalamnya hanya setinggi lutut. Gerobak tawanan Pangeran Cu Hin-yang dan Li Tiang-hong juga telah dikeluarkan.

Beberapa prajurit memondong mayat mayat teman-teman mereka yang gugur, namun mereka bersedih juga karena ada beberapa mayat teman yang tidak dapat mereka bawa karena telah tenggelam di sungai. Ketika naik dari tepian selatan tadi, teman-teman mereka masih hidup segar bugar dan bergurau bersama mereka, dan kini mereka sudah di dasar sungai yang besar itu. Namun itulah kemungkinan yang ditanggung oleh seorang prajurit.

Waktu itu tengah hari. Pakkiong Liong langsung memerintahkan penghitungan jumlah orang-orang yang gugur. Hampir dua puluh. orang, dan sebagian dari yang masih hidup pun menderita luka-luka. Ada yang sedemikian parahnya sehingga untuk berkudapun harus dipegangi oleh temannya, kalau tidak, tubuh mereka yang lemah akan jatuh terguling dari kuda.

Setelah mengubur mayat-mayat di pinggir sungai, dengan nisan sederhana dari batu-batu besar yang digores dengan pedang untuk menjelaskan nama dan pangkat mereka yang gugur, maka pasukan itupun bergerak kembali ke utara. Panji-panji tetap berkibar megah kuda-kuda berderap dengan tegapnya, ditunggangi prajurit-prajurit yang dengan mata menyala siap menghantam setiap rintangan betapapun beratnya.

Sementara itu, Hehou Im dan Tong King-bun melihat hal itu dari kejauhan. Dan mereka melihat tawanan telah bertambah seorang lagi, yaitu perwira Hui-liong-kun sendiri, Ang Bun-long. Perwira yang berkhianat itu dibolehkan berkuda, namun kaki dan tangannya diborgol. Sedang kendali kuda dipegang oleh seorang prajurit yang berkuda di sebelahnya.

"Ternyata Ang Bun-long tidak berkhianat seperti yang kau duga, tetapi ia tertangkap," desis Hehou Im kepada temannya. "Dan agaknya karena tertangkap itulah maka ia berhasil diperas oleh Pakkiong Liong tentang berbagai keterangan tentang kita, sehingga gerakan kita kali ini telah gagal."

"Ya, aku memang salah duga," bisik Tong King-bun. "Tetapi, baik berkhianat maupun tertangkap oleh Pakkiong Liong, dialah biang keladi dari kegagalan ini."

"Kita harus berusaha membebaskan Ang Bun-long, atau membunuhnya sama sekali," kata Hehou Im.

"Percuma. Ia tentu sudah menceritakan segala yang diketahuinya tentang komplotan kita. Pakkiong Liong tentu sudah tahu apa saja yang tadinya diketahui Ang Bun-long."

"Tidak percuma, biarpun Pakkiong Liong sudah tahu dan ia akan menuduh pamannya sendiri di Ibukota Kerajaan, mungkin di hadapan Sri Baginda, tetapi tuduhannya itu tentu harus disertai bukti-bukti dan saksi-saksi. Tanpa bukti dan saksi, Pakkiong Ciangkun akan dengan mudah mengelakkan tuduhannya dan bahkan membalikkan tuduhan kepada Pakkiong Liong, anggap saja memfitnah. Maka Ang Bun-long harus dilenyapkan sebelum ia dijadkan saksi oleh Pakkiong Liong.”

"Terlalu sulit. Ia tentu akan dijaga di tengah-tengah prajurit-prajurit yang terlatih, apakah tenaga kita berdua saja cukup untuk menerjang penjagaan itu dan membunuh Ang Bun-long?"

"Kita bunuh dari jarak jauh. Aku sudah mempelajari cara membunuh jarak jauh dari orang-orang suku Biau. Dengan sumpit beracun yang racunnya sangat keras."

Demikianlah rencana kedua orang itu untuk membunuh Ang Bun-long, sebab mereka kuatir jika Ang Bun-long sampai dibawa Pakkiong Liong ke Ibukota Pak-khia, maka akan terbongkarlah semua komplotan Pakkiong An. Ang Bun-long pasti akan mengaku bahwa yang menghubunginya adalah Hehou Im, seorang perwira Ui-ih-kun. Dan dengan terbongkarnya komplotan itu, akan berarti lenyap pulalah harapan Hehou Im dan rekan-rekan sekomplotannya untuk menikmati janji-janji Pakkiong An di kemudian hari.

Ada yang dijanjikan akan menjadi Panglima, ada yang akan dijadikan Menteri, bahkan ada yang akan dijadikan Rajamuda di suatu daerah. Pakkiong An memang tidak tanggung-tanggung dalam menyusun rencananya, bagaimanapun juga ia masih berdarah keluarga Kaisar dan apa salahnya kalau ia mengingini kedudukan Kaisar?

Sebenarnya yang diduga oleh He-hou Im bahwa Pakkiong Liong telah mengorek segala keterangan dari mulut Ang Bun-long itu adalah dugaan yang keliru. Sejak Pakkiong Liong menangkap Ang Bun-long di geladak kapal, sampai penyeberangan itu, Pakkiong Liong sama sekali belum sempat menanyai tawanannya yang bekas anak buahnya itu. Rencananya, ia akan meneruskan penjalanan lebih dulu sampai nanti sore, dan malamnya barulah tawanan itu akan diperas keterangannya.

Ketika malam turun, Pakkiong Liong memerintahkan pasukannya berkemah di sebuah tempat yang sudah agak jauh dari tepian sungai. Penjagaan sangat ketat, sebab bukan mustahil kaum penyerang akan mengulangi lagi penyerangannya dengan kekuatan yang lebih besar. Tetapi setelah hari menjadi gelap, maka betapapun rapinya penjagaan-penjagaan prajurit-prajurit Hui-liong-kun itu, tapi mereka tidak akan dapat melihat melesatnya sebatang jarum berwarna hitam yang ditiupkan dengan kuat dari sebatang sumpit orang Biau, dari balik serumpun semak-semak di pinggir perkemahan prajurit.

Ang Bun-long yang kaki dan tangannya diikat dan di taruh di dekat perapian itu, merupakan sasaran yang empuk sekali. Ia hanya meraba lehernya seperti digigit nyamuk, namun kemudian terasa tubuhnya menjadi panas sekali, matanya melotot lebar, mulutnya bergerak-gerak hendak berteriak namun tak ada suara yang keluar. Lalu kepalanyapun terkulai dan nyawanya melayang.

Dan ketika Pakkiong Liong hendak menanya perwiranya yang berkhianat itu, maka yang dijumpainya hanyalah mayatnya. Seluruh kulitnya berbercak-bercak warna biru dan ungu, menandakan kena racun yang amat keras, dan di lehernya tertancaplah sebatang jarum kecil yang hampir-hampir tak terlihat kalau tidak diperiksa dengan seksama.

"Kita kehilangan sumber keterangan yang kita butuhkan," kata Pakkiong Liong dengan menyesal, namun ia tidak menyalahkan anak buahnya yang menjaga Ang Bun-long, sebab di malam gelap itu tentu sulit sekali melihat melayangnya sebatang jarum yang begitu kecil. "Sebenarnya aku ingin tahu untuk siapakah Ang Bun-long bekerja."

"Tentu ia disuruh orang-orang bekas dinasti Beng keparat itu!" sahut Tong Lam-hou.

"Belum tentu," kata Pakkiong Liong. Namun ia tidak melanjutkan kata-katanya itu. Lebih baik Tong Lam-hou tidak usah mengetahui bahwa sebenarnya di antara para Panglima sendiri terdapat persaingan keras. Demikian kerasnya persaingan antar Panglima itu sehingga tidak jarang digunakan cara-cara tersembunyi dengan meminjam orang-orang luar. Namun entah Panglima yang mana yang memakai Ang Bun-long? Tentu tidak akan terjawab sebab sesosok mayat tidak mungkin ditanyai.

Beberapa ratus langkah dari perkemahan itu, Hehou Im dan Tong King bun menyusup ke dalam hutan dengan wajah yang puas. Di tangan Hehou Im masih tergenggam sebatang buluh yang besarnya tidak lebih dari kelingking, namun panjangnya hampir setengah depa.

"Senjata orang-orang Biau ini ampuh bukan?" tanya Hehou Im sambil tertawa.

Tong King-hun hanya mengangguk perlahan, sementara jantungnya berdegup keras. Meskipun bukan untuk yang pertama kalinya, namun masih ngeri juga ia melihat bagaimana seseorang anggauta komplotan yang gagal harus menjalankan "hukuman mati"nya. Suatu saat, siapa tahu ujung sumpit orang suku Biau itu di arahkan ke lehernya sendiri?

* * * * * * *

BERPULUH hari perjalanan yang berdampingan dengan maut dan ketegangan telah dilakukan oleh prajurit-prajurit Hui-liong-kun yang perkasa itu, namun akhirnya dinding Kotaraja Pak-khia yang megah terlihat juga di depan mata. Betapapun tangguh semangat dan jasmani mereka, terasa juga kelelahan lahir dan batin dalam diri prajurit-prajurit itu. Puluhan ribu li sudah mereka langkahi, entah telah berganti kuda berapa kali, ribuan bukit dan lembah sudah mereka jalani.

Dan banyak pula teman-teman yang terpaksa mereka lepaskan karena gugur di tengah jalan, tapi akhirnya perjalanan yang dahsyat itu mencapai ujungnya juga. Dari kota Kun-beng di propinsi Hun-lam yang paling selatan dari wilayah kemaharajaan yang amat luas itu sampai ke Ibukota Pak-khia di propinsi Ho-pak yang paling utara dari negeri itu.

Ketika hendak memasuki gerbang kota Pak-khia, Pakkiong Liong memerintahkan agar barisan diatur kembali dengan rapinya, bendera-bendera dikibarkan agar sekali lagi semua orang di Pak-khia melihat Pasukan Naga Terbang pulang dengan membawa kemenangan. Namun ketika masuk Pak-khia, tampang para prajurit sendiri sudah berewokan dengan wajah yang kotor oleh debu, karena berpuluh-puluh hari tidak sempat merawat diri. Hanya pandangan mata merekalah yang masih memancarkan tekad yang sama berkobarnya ketika mereka berangkat.

Beberapa prajurit memakai seragam yang sudah kusut bahkan robek, namun keadaan itu justru menampakkan betapa angkernya pasukan kecil itu. Apalagi dua buah gerobak kerangkeng di tengah barisan seolah memberi pertanda bahwa pasukan hui-liong-kun kembali telah berbuat sesuatu bagi Kerajaan Manchu. Orang-orang di pinggir jalan berderet-deret menyaksikan kedatangan kembali pasukan yang terkenal itu. Ada yang bersorak sambil melambai-lambaikan tangannya, ada yang, acuh tak acuh saja.

Sementara itu, Tong Lam-hou melihat kota itu dengan kagumnya. Sepanjang jalan, banyak kota-kota besar dilewatinya, namun kini dilihatnya kota Pak-khia dengan jalan-jalannya yang lebar dan menara-menara yang tinggi, gapura-gapuranya bertebaran di mana-nana. Dan iapun dengan perasaan bangga ikut berbaris bersama pasukan yang menang perang itu, meskipun ia belum terseragam.

Seluruh pasukan langsung menuju ke gedung Peng-po-ceng-tong (Kementerian Perang) di mana Peng-po-siang-si (Menteri Peperangan) sendiri sudah siap menyambutnya, dikawal oleh sepasukan lainnya yang siap menerima tawanan dari Pakkiong Liong. Beberapa Panglima dari pasukan-pasukan lain juga ikut menyambut untuk mengucapkan selamat kepada Pakkiong Liong atas ke-menanganya. Tapi yang terbanyak adalah perwira-perwira Hui-liong-kun yang tidak ikut bertugas, yang ingin menyambut rekan-rekan mereka.

Serah terima berjalan singkat dan lancar. Secara resmi Pakkiong Liong menyerahkan kedua tawanan itu kepada Peng-po-ceng-tong, berarti tanggung-jawabnya sudah diletakkan, dan selanjutnya tawanan-tawanan itu akan dimasukkan ke penjara untuk menunggu hari peradilan mereka. Selama kedua tawanan ada di penjara, tanggung-jawab berada di tangan Panglima Ui-ih-kun (Pasukan Baju Kuning) Pakkiong An.

Setelah serah terima selesai, barulah barisan dibubarkan. Pakkiong Liong segera dikerumuni oleh para Panglima-panglima lainnya, yang mengucapkan selamat dan mengutarakan kekagumannya. Tong Lam-hou diperkenalkannya kepada rekan-rekannya sebagai orang yang menolongnya, dan dikatakan pernah berjasa amat besar dalam ikut mengawal tawanan sepanjang perjalanan.

Beberapa Panglima menerima uluran tangan Tong Lam-hou dengan tulus, namun beberapa lagi memandangnya dengan pandangan ragu-ragu dan bimbang, bahkan menghina. Benarkah anak muda bertampang orang desa seperti ini sehebat seperti yang diceritakan Pakkiong Liong?

Di bagian lain, perwira-perwira Hui-liong-kun yang ikut dalam tugas segera menceritakan pengalaman mereka yang hebat, sementara rekan-rekan mereka mendengarkannya sambil menggosok-gosok tangan mereka yang gatal, seolah merekapun ingin ikut terjun dalam pertempuran di tengah sungai Yang-ce-kiang itu.

Perwira-perwira dan para prajuritpun setelah puas bercakap-cakap lalu pulang ke rumahnya masing-masing. Ada beberapa orang yang dengan hati pedih harus mampir ke rumah temannya lebih dulu, untuk memberitahukan kepada keluarga temannya itu bahwa temanya itu tidak dapat kembali, Atau kembali namun dalam wujud abu yang diwadahi dalam sebuah guci kecil tertutup kain putih. Itulah sisi lain dari peperangan. Di samping kemenangan dan ucapan-ucapan selamat yang membesarkan hati, maka beberapa orang telah kehilangan suami, anak laki-laki, Kakak, adik atau kekasih mereka. Dan merekapun meratap pedih di tengah sorak-sorai kemenangan.

Sementara itu, Ibukota Kerajaan telah diramaikan oieh kesibukan lainnya. Ujian penerimaan prajurit untuk tahun itu sudah dekat. Berbondong-bondong anak-anak muda dari seluruh pelosok negeri, yang merasa memiliki tubuh kuat dan kecerdasan cukup, telah berdatangan ke Pak-khia untuk mendaftarkan diri. Setiap pendaftaran harus punya seorang penjamin, artinya bahwa ada seorang perwira atau Panglima yang bersedia menjamin bahwa si pendaftar itu telah dikenalnya dengan baik dan dapat mengikuti ujian. Hal ini untuk menjamin adanya musuh-musuh Manchu yang menyusup masuk ke tubuh pasukan.

Di antara nama-nama yang terdaftar itu, yang paling sedikit adalah nama yang mendaftarkan masuk pasukan Hui-liong-kun, sebab ujiannya sangat berat. Seluruh calon prajurit berjumlah hampir dua ribu orang, namun yang mencalonkan diri sebagai prajurit Hui-liong-kun hanyalah kira-kira limapuluh orang, di antaranya adalah Tong Lam-hou yang memegang "surat jaminan" dari Pakkiong Liong sendiri. Yang lain-lainnya antara lain adalah saudara sepupu Ha To-ji, saudara seperguruan Le Tong-bun, teman sejak kanak-kanaknya Han Yong-kim dan sebagainya.

Maka sambil menunggu hari ujian keprajuritan dilaksanakan, ramailah Ibukota Kerajaan itu dengan anak-anak-muda dari berbagai daerah yang hilir-mudik sambil menjual tampang. Merekalah calon-calon prajurit yang belum pasti diterima namun sikapnya sudah garang dari prajurit-prajurit tulen. Ada yang sengaja memamerkan ototnya dengan memakai baju yang terbuka atau berlengan pendek.

Yang lain memamerkan ketangkasannya dengan pura-pura terkejut ketika hampir disambar sebuah kereta kuda yang berjalan kencang, lalu ia melompati sebuah dinding setinggi manusia di pinggir jalan, sehingga memancing tepuk tangan orang-orang yang menyaksikannya, lalu dengan "rendah hati" iapun berjalan, pergi seolah-olah yang terjadi tadi hanyalah sekedar "ketidak-sengajaan". Yang lainnya pamer bahwa ia pernah membunuh dua ekor harimau hanya dalam waktu satu malam.

Namun demikian, meskipun suasana persaingan nampak menonjol antara anak-anak muda dari berbagai daerah itu, mereka tidak berani saling berkelahi atau membuat keributan. Sebab ada ancaman keras dari Peng-po-ceng-tong bahwa siapa yang membuat keributan maka namanya akan langsung dicoret dari daftar para pelamar. Dan tidak seorangpun mau datang dari jauh hanya untuk dicoret namanya.

Selama berada di Pak-khia, Tong Lam-hou menempati sebuah kamar di rumah Pakkiong Liong. Tadinya ia menduga bahwa Pakkiong Liong sebagai seorang panglima terkenal dan bahkan masih punya hubungan kerabat dengan keluarga Kaisar, tentu menempati sebuah gedung yang megah dan besar dengan berpuluh-puluh pelayan yang siap menjalankan semua perintahnya.

Ternyata dugaan Tong Lam-hou itu keliru besar. Pakkiong Liong menempati sebuah rumah yang berhalaman luas dan penuh dengan tanam tanaman hias, namun rumah itu sendiri tidak besar dan megah, sederhana dan rapi, sementara di bagian belakangnya ada sebuah ruangan yang khusus untuk berlatih silat (lian-bu-thia).

Yang melayaninya pun hanya seorang perempuan-Manchu setengah tua dengan anaknya laki-laki yang berusia belasan tahun. Suami perempuan itu bekerja di tempat lain, jika malam kembali ke rumah itu dan Pakkiong Liong tidak keberatan dengan semuanya itu.

Ketika Tong Lam-hou melangkah memasuki rumah itu, ia bertanya, "Kau sendiri di rumah ini?"

"Bukankah kau lihat bibi pelayan yang membukakan pintu kita tadi? Aku tinggal bersamanya dan suaminya serta anak laki-lakinya."

"Maksudku, sanak keluargamu?"

Pakkiong Liong menggelengkan kepalanya. "Aku anak satu-satunya, ibuku meninggal ketika aku masih kecil dan ayah sudah gugur dalam peperangan, jadi aku memang menempati rumah ini seorang diri."

"Bukankah kerabatmu banyak? Bahkan ada yang tinggal di Istana?"

"Ya, mereka juga banyak yang menawarkan agar aku tinggal bersama mereka. Tapi aku labih suka sendirian saja. Lebih bebas."

"Tidak kesepian?"

"Tidak pernah. Kadang-kadang pi-au-moai (saudara sepupu perempuan) datang untuk minta diajari bermain pedang atau memanah. Di lain saat Ha To-ji dan perwira-perwira lainnya juga datang ke sini untuk sekedar menemaniku minum arak sambil bercakap-cakap. Tapi kadang-kadang aku butuhkan juga, jika aku sedang ingin mendalami sebuah buku."

Tiba-tiba mata Tong Lam-hou bersinar-sinar. "He, kau punya buku?"

"Nanti ruang bukuku kutunjukkan kepadamu. Di situ ada ratusan buku, bahkan ribuan. Aku sudah mengumpulkannya bertahun-tahun lalu."

"Kau suka membaca?"

"Suka sekali. Di Jit-siong-tin aku sering mendapat pinjaman dari teman-temanku yang pulang dari kota, namun jumlah bukunya amat terbatas, sehingga ada yang terbaca sampai dua kali atau lebih."

Pakkiong Liong tersenyum, namun di dalam hatinya ia mulai merasakan bahwa bobot Tong-lam-hou tidak sesederhana wujudnya. Anak muda yang sering diejek sebagai "anak gunung" atau "si pembuat dendeng" itu ternyata adalah seseorang yang bergairah terus-menerus memperdalam pengetahuannya lewat buku. Agaknya, Tong Lam-hou bukan cuma sekedar pandai memutar pedang atau mengayuni kepalan.

Demikianlah, sambil menunggu hari hari ujian keprajuritan diselenggarakan, Tong Lam-hou berada di ruma Pakkiong Liong. Kehausan akan bacaan yang selama ini dirasakannya, kini terpuaskan sebagian besar. Tidak peduli buku apapun yang ada di dalam simpanan Pakkiong Liong telah dilahapnya, sehingga sangat memperluas cakrawala pemikirannya. Buku-buku sejarah, kesenian, sastra, filsafat, ilmu perang, tata pemerintahan dan kenegaraan, pengobatan, keagamaan dan lain-lainnya telah membuat Tong Lam-hou seolah-olah lupa waktu.

Pakkiong Liong membiarkannya saja segala kelakuan sahabatnya itu, bahkan ia merasa gembira karena Tong Lam-hou bersikap seolah-olah di rumahnya sendiri. Dengan perempuan setengah tua dan anak laki-lakinya itupun Tong Lam-hou telah terjalin hubungan baik. Seperti Pakkiong Liong yang tidak pernah merendahkan derajat seorang pembantu, begitu pula Tong Lam-hou.

Di lain saat, Ha To-ji, Han Yong-kim dan lain-lainnya pun berdatangan ke rumah itu untuk mengajak Pakkiong Liong berburu keluar kota. Selama ini Tong Lam-hou hanya pernah mendengar Ha To-ji dan lain-lainnya memanggil Pakkiong Liong dengan sebutan "Ciang-kun" (Panglima) jika sedang dalam seragam tentaranya. Namun, kini Tong Lam hou baru tahu bahwa jika kedua pihak tidak berseragam tentara, maka sikap Ha To-ji tidak berbeda dengan sikap Tong Lam-hou kepada Pakkiong Liong, yaitu hanya dengan memanggil "A-liong" begitu saja.

Itu adalah karena permintaan Pakkiong Liong sendiri. Di dalam tugas, ia adalah Panglima terhadap bawahannya, namun di luar tugas ia ingin bertindak sebagai sahabat terhadap sahabat. Sesungguhnya, seseorang yang bagaimanapun kaya dan berkuasanya, namun bila tidak mempunyai seorang saha-batpun, apa arti hidupnya?

"Aku ikut," kata Tong Lam-hou ketika mendengar bahwa Pakkiong Liong dan lain-lainnya akan berburu. "Di Tiam-jong-san aku adalah pemburu serigala yang baik."

Maka berangkatlah anak-anak muda itu keluar kota dengan menunggang kuda, sambil membawa busur dan anak-panah. Tong Lam-hou juga membawa busur dan anak-panah, namun ia tidak yakin akan kegunaan busur yang dibawanya itu, sebab ia merasa lebih mantap jika anak-panah itu dilontar-lontarkan dengan tangannya saja.

Bahkan tidak. usah anak-panah, sepotong ranting keringpun jika dilontarkannya dengan penyaluran tenaga dalamnya akan dapat merupakan senjata yang mematikan. Perjalanan kail ini itu terasa sangat santai, perjalanan sekelompok orang-muda yang hendak berburu binatang.

"A-liong, kita hendak ke rumah si cerewet itu lebih dulu atau tidak?" tanya Ha To-ji.

"Kita melewati rumahnya bukan? Jadi kita ajak dia pergi sekalian," kata Pakkiong Liong.

Mereka tertawa, Tong Lam-hou juga tertawa, meskipun ia tidak tahu siapa yang disebut si cerewet itu. Tapi beberapa saat kemudian, tahulah ia akan si cerewet itu, ternyata ia adalah saduara-sepupu perempuan Pakkiong Liong, anak dari bibinya. Seorang gadis Manchu yang memakai nama Han To Li-hua, puteri seorang Panglima pula. Ketika ia sudah siap di atas kudanya, maka Tong Lam-hou seolah silau melihat kecantikan gadis Manchu dalam pakaian berburunya itu, dengan kulitnya yang seputih salju dan matanya yang seperti bintang pagi, pinggangnya yang ramping dan lemas seperti ranting yang-liu.

Apalagi gadis-gadis Manchu tidak pemalu seperti gadis-gadis Han, ketika sadar bahwa dirinya sedang di pandang terus-menerus oleh Tong Lam-hou, maka To Li-hua malahan mengangkat wajahnya sambil bertanya, "He, apa yang kau lihat? apakah hidungku terbalik-menghadap ke atas atau mataku ada t iga?"

Keruan Tong Lam-hou jadi merah padam wajahnya dan tertawa dengan salah-tingkah, sementara Pakkiong Liong dan lain-lainnyapun tertawa terbahak-bahak. To Li-hua juga ikut tertawa sambil menggoyang-goyangkan kepalanya yang tertutup dengan topi bulu binatang itu, sehingga sepasang anting-anting yang tergantung di telinganya itupun ikut bergerak-gerak. Dan Tong Lam-hou tidak berani lagi melirik wajah gadis itu sebab takut kelakuannya akan menjadi konyol nantinya.

Begitulah, empat anakmuda dan seorang gadis berburu di luar kota Pak-khia. Tong Lam-hou melihat sendiri betapa gadis Manchu itu tangkas sekali mengendalikan kudanya, sambil melepaskan panah-panahnya yang jarang meleset dari sasarannya. Namun To Li-hua juga melongo melihat bagaimana Tong Lam-hou tanpa menggunakan busur telah melempar-lemparkan anak-anak panahnya secara tepat menembus binatang-binatang buruannya, bahkan yang sedang berlari kencang sekalipun. To Li-hua jarang meleset memanah buruannya, namun Tong Lam-hou tidak pernah meleset meskipun sekali saja.

To Li-hua bertepuk tangan melihat ketangkasan Tong Lam-hou itu. teriaknya, "Bagus, beginikah cara orang Han berburu? Piau-ko (kakak misan), kali ini kau punya lawan berat."

Begitulah anak-anakmuda itu bergembira sampai sore hari. Ketika matahari hampir tenggelam, barulah mereka masuk kembali ke kota dengan membawa buruan mereka masing-masing.

Sementara itu, di dalam kota Pak-khia sendiri, selain para calon-calon prajurit yang berkeliaran sambil jual tampang, maka di kota itu telah berkeliaran pula orang-orang dari pihak tertentu dengan maksud-maksud tertentu pula. Orang-orang yang tidak puas melihat semakin kokohnya kekuasaan dinasti Manchu di negeri itu.

Sore itu, perwira Sat-sin-kui He-hou Im dari Ui-ih-kun (Pasukan Baju Kuning) dengan memakai seragam perwiranya, tergegas-gegas meloncat turun di hadapan sebuah gedung yang indah sekali. Ketika ia hendak melangkah masuk pintu gerbang, dua orang prajurit penjaga cepat-cepat menghentikannya dan bertanya,

"Maaf, thong-leng (perwira), apakah thong-leng membawa surat dari Pakkiong Ciangkun? Pakkiong Ciangkun sudah berpesan bahwa siapapun yang tidak membawa surat itu dilarang masuk!"

Hehou Im mengeluarkan sepucuk surat yang disodorkan kepada penjaga-penjaga itu, sambil membentak, "Nih, baca baik-baik dengan mata anjingmu!"

Prajurit itupun membaca surat itu yang ternyata memang ditanda-tangani oleh Pakkiong An sendiri. Setelah dilipat kembali lalu disodorkan lagi kepada. Hehou Im sambil tertawa, "Maaf, thong-leng, kami hanya menjalankan perintah Ciangkun. Silahkan masuk ke dalam, thong-leng, kudanya biar kami urus!"

"Siapa saja yang sudah datang?" tanya Hehou Im.

"Banyak, thong-leng. Juga termasuk si siluman hitam itu."

"Apa katamu?"

"Maaf, thong-leng, maksudku si orang yang selalu menutup mukanya dengan kain hitam itu. Dan datangnya seperti siluman. Kami hanya merasa ada angin berhembus dan tahu-tahu ia sudah berada di halaman ini, tanpa berkata sepatah-katapun langsung melangkah ke dalam."

"Jangan kurang ajar. Orang itu adalah sahabat Ciangkun."

"Baik, thong-leng."

Maka Hehou Im segera melangkah masuk ke gedung tempat tinggal Pakkiong An yang besar dan megah itu. Semakin masuk ke dalam, semakin ketat penjagaannya, menandakan bahwa pertemuan yang diselenggarakan oleh Pakki-ong An kali ini benar-benar penting. Bahkan Hehou Im sebagai perwira kepercayaan Pakkiong An yang sudah dikenal oleh para prajuritpun tidak luput dari pemeriksaan surat-surat.

Pertemuan itu diadakan di sebuah loteng di tengah-tengah taman, di sekeliling loteng itu ada kolam bunga teratai yang lebar. Tidak mungkin seseorang masuk ke loteng itu tanpa melewati sebuah jembatan kecil, yang dijaga pula oleh empat orang prajurit.

Setelah diijinkan lewat oleh penjaga-penjaga itu, Hehou Im segera naik ke loteng yang sudah terang benderang dengan belasan batang lilin besar. Di dalam ruangan itu ternyata telah siap beberapa orang yang duduk berkeliling, agaknya Hehou Im adalah yang datang paling akhir, sebab kursi yang kosong tinggal sebuah. Sebelum menduduki kursinya, Hehou Im lebih dulu memberi hormat kepada seorang tua berjenggot putih dan bermata tajam seperti burung elang.

Dialah Pakkiong An, Panglima dari Pasukan Baju Kuning yang iri terhadap keberhasilan keponakannya sendiri, Pakkiong Liong. Di sebelah Pakkiong An duduklah puteranya, Pakkiong Hok yang bertubuh ramping dan bertampang ganas. Lalu nampak pula seseorang berpakaian serba hitam yang berkedok hitam pula. Dari seluruh tubuhnya, yang tidak tertutup cuma sepasang matanya yang berkilat-kilat menyeramkan.

Sedangkan bagian tubuh lainnya, bahkan sampai ke ujung jari kaki maupun jari tanganpun terbungkus kain hitam. Tidak salah kalau kedua penjaga di depan rumah Pakkiong An tadi menyebutnya sebagai "siluman hitam".

Terhadap orang berkedok hitam itu, ternyata Hehou Im yang biasa bersikap garang itu telah menunjukkan rasa takutnya yang luar biasa. Ia membungkuk dalam-dalam kepada orang itu, lebih dalam daripada ketika memberi hormat kepada Pakkiong An tadi, dan menyapa, "Selamat bertemu, Te-liong Hiang-cu."

Nama itu memang menggetarkan. Dia adalah Te-liong Hiang-cu (Hulubalang Naga Bumi) dalam Hwe-liong-pang dulu, jabatan nomor dua di bawah Hwe-liong Pang-cu sendiri, sehingga orang yang menduduki jabatan itu tentu memiliki kepandaian yang amat tinggi. Orang ini bukan saja seorang hulubalang andalan Hwe-liong-pang tapi juga sekaligus adik seperguruan dari Hwe-liong Pan-cu sendiri, namun kemudian karena pengkhianatannyalah maka Hwe-liong-pang hancur dari dalam bahkan kemudian lenyap dari dunia persilatan.

Te-liong Hiang-cu sendiri tidak muncul selama bertahun-tahun, dan namanya baru terdengar lagi setelah tentara Man-chu menyerbu daratan Tiong-goan dan mendudukinya. Hehou Im segera menempati kursinya. Diliriknya tamu-tamu lainnya, dan selain dirinya sendiri ternyata ada tiga orang lainnya yang semuanya berpakaian perwira Ui-ih-kun...

"Semuanya sudah hadir dan pertemuan ini bisa dimulai," kata Pakkiong An setelah batuk-batuk. "Hehou Tong-leng, kau bicara lebih dulu."

Maka Hehou Im segera menceritakan usahanya untuk merebut tawanan dari tangan Pakkiong Liong, dengan lebih dulu "menggarap" Ang Bun-long. Namun kemudian dengan terus terang diakuinya bahwa usahanya itu telah gagal, dan untuk meringankan kesalahannya, maka Hehou Im menceritakan pula, bahwa ia telah berhasil membunuh Ang Bun-long sehingga Pakkiong Liong tidak akan punya saksi lagi untuk menuduh Pakkiong An.

Sepasang alis Pakkiong An yang putih itu berkerut, suaranya dingin, "Itu adalah akibat kecerobohanmu, He-hou Thongleng, dan entah berapa banyak uangku yang kau hamburkan tanpa hasil? Untuk membayar Ang Bun-long dan untuk membayar bajak-bajak sungai Yang-ce-kiang itu?"

Hehou Im menundukkan kepalanya. "Aku memang bersalah, Ciangkun. Namun semuanya kulakukan demi mendukung cita-cita Ciangkun untuk mendapat pamor yang semakin terang di hadapan Sri Baginda. Semata-mata demi kesetiaanku kepada Ciangkun."

"Ayah tidak ingin seorang anakbuah yang sekedar setia tetapi kurang perhitungan, Hehou Tongleng," kata putera Pakkiong An dengan suara yang sama dinginnya dengan suara ayahnya. "Tapi yakinkah kau bahwa piau-ko (kakak misan) Pakkiong Liong tidak akan menemukan bukti persekongkolan kita?"

Biarpun hatinya ragu-ragu, namun Hehou Im menjawab dengan suara mantap dan bahkan sedikit berbohong, "Aku sangat yakin, tuan muda. Perwira yang bernama Ang Bun-long itu segera kubereskan dengan sumpit beracun orang suku Biau, sebelum Pakkiong Liong sempat mendapat keterangan apa-apa dari mulutnya."

Pakkiong Hok sebenarnya masih ingin bertanya beberapa hal lagi, namun ayahnya telah memberinya isyarat agar diam. Lalu kata Panglima tua yang ambisinya selangit itu, "Sudah, anak Hok, tidak usah diperdebatkan lagi hal yang sudah lewat. Anggap saja dosa dan pahala Hehou Im seimbang, sehingga ia tidak akan menerima hukuman maupun pahala..."

"Terima kasih atas kemurahan Ciangkun," sahut Hehou Im yang berdiri dari kursinya dan memberi hormat. Ia lega, sebab ia tidak mau mati penasaran seperti orang-orang yang dulu menentang Pakkiong An.

Pakkiong An hanya mengangguk sedikit, lalu katanya, "Sekarang kita akan mendengarkan laporan dari Ibun Thong-leng. Silahkan, Ibun Thongleng."

Perwira she Ibun yang disuruh bicara itu bernama Ibun Hong, juga seorang kepercayaan Pakkiong An dalam komplotan rahasia itu. Ia bertubuh gemuk pendek dan bermuka berewokan kaku. Ia segera berdiri memberi hormat kepada hadirin dan berkata, "Tuan-tuan yang terhormat, dalam penyelidikanku selama beberapa hari terakhir ini, aku mencium tanda-tanda bahwa kaum pemberontak sudah banyak yang menyusup ke Ibukota Kerajaan ini. Banyak yang menyamar sebagai calon-calon prajurit atau keluarganya yang mengantarkan mereka, namun tidak mustahil mereka juga menyamar dalam bentuk-bentuk lain. Mereka..."

Ucapan Ibun Hong itu sebenarnya bernada berapi-api penuh semangat dan bernada bangga pula, seolah-olah ialah yang menemukan hal itu lebih dulu namun tiba-tiba terpotong oleh suara Te-liong Hiang-cu yang dingin, "Hemm, laporan basi."

Tentu saja muka Ibun Hong menjadi merah padam, namun tanpa berani membantah lagi ia duduk. Namun dengan nada agak penasaran ia bertanya kepada Te-liong Hiang-cu, "He, kenapa kau katakan laporanku tadi adalah laporan basi?"

Dengan congkaknya Te-liong Hiang-cu mendengus dan tidak menjawab pertanyaan Ibun Hong itu, membuat si perwira semakin penasaran dan bertanya dengan lebih keras lagi, "He! Apakah kupingmu budeg?! Kau dengar pertanyaanku tadi tidak?!"

Kali ini jawaban Te-liong Hiang-cu menyakitkan hati, "Apakah kalau seekor anjing menggonggong di depanku, aku harus ikut mengonggong pula?"

Ibun Hong tak dapat menahan diri lagi, ia segera meloncat bangun dari kursinya sambil menghunus goloknya. Namun sebelum ia bertindak lebih lanjut, telah terdengar suara Pakkiong An; membentak, "Ibun Hong, kembali ke tempat dudukmu!”

"Tetapi, Ciangkun, orang itu sudah menghina aku!”

"Duduklah!”

Terhadap perintah Panglimanya itu Ibun Hong tidak berani membantah. Apa boleh buat, dengan sinar mata yang menyorotkan kebencian kepada orang berkerudung hitam yang menamakan dirinya Te-liong Hiang-cu itu, iapun kembali ke tempat duduknya sambil menyarungkan kembali goloknya. Di dalam hatinya ia menggerutu, "Sungguh gila, kenapa Ciangkun mau bekerja sama dengan orang gila ini? Apakah pengaruh Ciangkun sendiri di Istana masih kurang dapat diandalkan sehingga masih harus ditambah dengan siluman bermulut besar ini?"

Lalu Pakkiong An berkata kepada Te-liong Hiang-cu, dengan nada yang sopan namun juga cukup tegas, “Hiang-cau harap jangan membuat suasana pertemuan ini menjadi panas sebelum pertemuannya sendiri mencapai masalah-masalah penting yang harus dibicarakan. Kerjasama antara kita adalah sederajat aku tidak berhak memaki dan menghukum anak buahmu, sebaliknya kau pun tidak dapat memaki dan menyakiti hati anak buahku dengan sesukamu sendiri."

Te-liong Hiang-cu hanya mendengus dingin, namun sikapnya telah menimbulkan ketidak-senangan beberapa anak buah Pakkiong An, meskipun mereka sadar bahwa orang yang sangat memuakkan itu bakalan menjadi sekutu mereka.

Terdengar orang berkerudung itu berkata, "Aku tidak menghinanya. Aku hanya jemu mendengarnya bicara panjang lebar, padahal semua yang hendak dia bicarakan itu sudah aku ketahui semuanya."

Semua yang berada di ruangan itu harus menahan diri melihat kesombongan orang itu, terutama Ibun Hong. Tetapi mereka juga heran mendengar bahwa orang herkerundung itu mengatakan bahwa ia sudah mengetahui semua gerakan kaum pemberontak di Ibukota Kerajaan itu. Hanya sekedar membual atau bersungguh-sungguh? Kalau bersungguh-sungguh, alangkah hebat daya pengamatannya terhadap keadaan.

Sedang Ibun Hong sendiripun mendapatkan keterangan yang sebenarnya hendak dibanggakannya itu dengan susah payah, dengan selundup sana selundup sini untuk menguping pembicaraan-pembicaraan musuh, tidak jarang nyawanya hampir melayang, semuanya itu demi hendak memperoleh pujian di hadapan Pakkiong An. Tapi kini orang berkerudung itu mengaku sudah tahu semuanya, dan itu berarti "merebut pahala" Ibun Hong?

Di antara wajah-wajah yang tidak percaya dalam ruangan itu, Kiranya wajah Hehou Im yang lain daripada yang lain. Ia tersenyum-senyum tanpa dapat ditafsirkan arti senyumannya. Namun sebenarnyalah Hehou Im sangat mempercayai Te-liong Hiang-cu sampai hal yang sekecil-kecilnya, sebab ia sudah pernah menjadi anak buah Te-liong Hi-ang-cu di jaman Hwe-liong-pang dulu, dan ia tahu betul sampai di mana kemampuan Te-liong Hiang-cu itu.

Terdengar Ibun Hong bertanya, "Te liong Hiang-cu, kata-katamu itu benar-benar dapat dibuktikan atau cuma sekedar bualan busukmu?"

Tanpa melirik sedikitpun kepada Ibun Hong, Te-liong Hiang-cu berkata, "Aku bukan cuma tahu bahwa kaum pemberontak akan mengadakan gerakan serempak di Pak-khia ini, melainkan juga tahu bahwa mereka terdiri dari tiga unsur yang dulunya bermusuhan namun kini bersatu-padu. Yaitu unsur-unsur, pendukung-pendukung dinasti Beng yang kini tergabung dalam Jit-goat-pang (Serikat Matahari dan Rembulan) pimpinan Pangeran Cu Leng-ong sendiri, lalu unsur-unsur pengikut-pengikut Li Cu-seng yang tulang-punggungnya adalah orang-orang bekas pengikut Hwe-liong-pang (Serikat Naga Api) ditambah dengan usur ketiga, yaitu para pendekar yang tidak termasuk dalam unsur pertama maupun kedua, yaitu orang-orang berilmu dari perbagai perguruan yang juga tidak senang kepada pemerintahan Manchu. Mereka bukan cuma ingin membebaskan Pangeran Cu Hin-yang dan Li Tiang-hong, melainkan juga ingin membebaskan tokoh-tokoh lainnya yang mereka puja sebagai pahlawan, yang saat ini mendekam di Penjara Kerajaan."

Ibun Hong bungkam mendengar hal itu. Ia sekarang harus mengakui dalam hati bahwa apa yang diketahuinya ternyata kalah jauh dari apa yang diketahui oleh orang berkerudung Te-liong Hiang-cu itu. Yang diketahuinya baru gejala-gejalanya saja, dan garis besarnya sementara untuk hal-hal sekecil-kecilnya masih harus diselidiki. Namun kini Te-liong Hiang-cu menyerocos terus tentang gerakan kaum pemberontak itu, membuat Ibun Hong semakin merasa dirinya tolol.

"...pergerakan mereka akan dilakukan setelah ujian keprajuritan selesai sebab saat ini mereka belum semuanya berkumpul di Pak-khia. Mereka tidak mungkin datang dengan berbondong-bondong ke kota ini, sebab dengan demikian gerakan mereka tentu akan tercium oleh para penyelidik atau mata-mata kita. Yang akan ikut dalam gerakan menjebol Penjara Kerajaan itu ada kira kira limapuluh orang. Inilah daftar nama mereka..." sambil mengucapkan kalimat terakhir itu Te-liong Hiang-cu menyerahkan beberapa lembar kertas yang dikeluarkan dari balik saku bajunya.

Pakkiong An menerima kertas itu dengan kegembiraan yang meluap, sehingga jari-jarinya nampak agak gemetar. Dibacanya nama-nama yang tertulis di lembaran-lembaran kertas itu, dari nama yang pertama sampai yang ke limapuluh, dan matanyapun bersinar-sinar. Katanya, "Wow...ini kakap-kakap semuanya. Jika aku berhasil menjaring semuanya, jasaku di hadapan Sri Baginda akan luar biasa sekali!"

Di sebelahnya, Pakkiong Hok juga mengulurkan kepalanya untuk ikut membaca huruf-huruf di lembaran kertas itu, dan iapun ikut berkata, "Ya, jasa ayah dalam sekali gebrak saja akan mengungguli jasa piau-ko yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun!"

Te-liong Hiang-cu nampak puas sekali melihat sikap ayah dan anak itu, katanya lagi, "Benar, Ciangkun harus bisa menjaring mereka semua. Namun untuk itu harus dilakukan persiapan sejak sekarang. Mereka bukan kambing-kambing gemuk dan tolol yang dengan suka-rela masuk ke sarang serigala, melainkan orang-orang berilmu silat tangguh yang harus dihadapi dengan kekuatan yang memadai. Ciangkun mulai sekarang harus mengumpulkan orang-orang berilmu tinggi untuk ikut menjaga Penjara Kerajaan pada hari yang ditentukan kelak. Tanpa persiapan itu, bukan saja ikannya tidak terjaring, malahan jalanya akan hancur lebur diterjang ikan-ikan buas itu!"

"Tentu! Aku akan bersiap mulai sekarang. Te-liong Hlang-cu, langkah pertama dari kerjasama kita ini benar-benar menggembirakan, aku berharap kita akan dapat bekerja-sama untuk seterusnya!"

Tidak diketahui bagaimana perubahan wajah Te-liong Hiang-cu mendengar sanjungan Pakkiong An itu, sebab wajah yang tertutup kedok hitam itu senantiasa kelihatan dingin dan seram, tanpa mimik apapun.

Sementara itu, Ibun Hong yang masih penasaran dan ingin menjatuhkan Te-liong Hiang-cu itu, mengeluarkan kata-kata pancingan, "Hiang-cu kenapa kau mengetahui rencana secermat itu? Barangkali kau salah satu dari mereka?"

Ibun Hong mengharap orang berkedok itu akan membantah, lalu akan disudutkannya dengan kata-kata. Namun adalah di luar dugaan bahwa Te-liong Hiang-cu menganggukkan kepala dan menjawab, "Benar, aku adalah salah satu dari limapuluh orang itu. Karena itu aku diajak berunding oleh mereka, dan aku tahu pasti rencana mereka sampai hal sekecil-kecilnya."

Wajah Pakkiong An menegang sejenak, begitu pula Pakkiong Hok dan perwira-perwiranya. Orang berkerudung hitam itu agaknya terlalu berani mengucapkan kata-katanya itu, apakah ilmunya sedemikian tingginya sehingga ia yakin dapat lolos dari orang-orang di ruangan itu? Atau sekedar menunjukkan agar keterangannya dapat dipercaya?

Tapi Pakkiong An juga tidak kalah liciknya, ia pura-pura acuh saja ketika bertanya, "Nama yang ke berapa?"

"Apakah perlu Ciangkun ketahui?"

"Kalau Hiang-cu tidak keberatan. Supaya ketika diadakan penjaringan tokoh-tokoh pemberontak itu kelak, kami tidak salah jaring terhadap tokoh yang menjadi samaran Hiang-cu.”

Namun Te-liong Hiang-cu bersandar ke sandaran kursi dengan santainya, lalu menyahut ringan, "Terima kasih atas perhatian Ciangkun atas keselamatanku. Tetapi biarlah aku berusaha menyelamatkan diriku sendiri. Nanti kalau aku terbunuh juga oleh prajurit-prajurit Ciangkun yang salah lihat, anggap saja salahku sendiri."

"Tetapi kematian demikian sungguh konyol..."

"Dan karena itulah aku tidak ingin mati demikian konyol..." potong Te-liong Hiang-cu.

Pakkiong An yang di Ibukota Kerajaan punya pengaruh kuat dan terkenal suka "main belakang" untuk menyingkirkan lawan-lawannya dalam pemerintahan itu, kini agaknya telah bertemu dengan tandingan yang setimpal. Te-liong Hiang-cu yang menjadi rekan kerjasama itu suatu ketika kelak harus disingkirkannya, namun Pakkiong An juga yakin bahwa orang berkerudung itupun tentu juga punya niat untuk memusnahkannya. Tergantung siapa yang lebih cepat.

"Ayah, bagaimana kalau kita sergap saja mereka satu persatu sebelum mereka berkumpul?" terdengar Pakkiong Hok bertanya. "Dengan petunjuk dari Te-liong Hiang-cu, bukankah kita dapat mengetahui siapa-siapa mereka dan kita bekuk batang leher mereka satu persatu?"

Yang menjawab bukam ayahnya melainkan Te-liong Hiang-cu, "Keliru besar. Barangkali dapat juga kita tangkap satu dua di antara mereka, namun yang lain-lainnya pasti akan menjadi lebih waspada. Jika mereka tidak berhasil membuat hubungan dengan teman-teman mereka, maka mereka pasti akan merasakan ketidak beresan, dan mereka akan membatalkan rencana mereka, dan gagallah niat kita untuk menyaring mereka sekaligus;"

"Hiang-cu benar, A-hok," kata Pakkiong An sambil mengelus kumisnya. "Biar mereka berkumpul dulu, kita jaring serempak."

Maka merekapun mulai berunding bagaimana caranya menjaring gerakan para pemberontak itu. Sampai jauh malam, barulah pembicaraan itu selesai. Dan masing-masing segera kembali ke rumahnya masing-masing.

Ibun Hong pulang bersama-sama dengan Hehou Im, karena kebetulan rumah mereka searah. Bersamanya ikut pula dua orang pengawalnya. Sambil berkuda perlahan-lahan menyusuri jalan-jalan yang mulai sepi, Ibun Hong menumpahkan uneg-unegnya yang sejak tadi ditahan-tahan dalam hatinya,

"Saudara Hehou, orang berkerudung itu sungguh menjemukan. Ia menguasai seluruh pembicaraan, seolah-olah dialah yang menjadi Panglima kita. Dan herannya, Pakkiong Ciangkun kelihatannya juga sangat segan kepada orang itu. Sementara dadaku hampir meledak rasanya ketika melihat lagaknya dalam ruang pertemuan tadi. Hanya karena masih menghargai kewibawaan Ciangkun, aku tidak turun tangan menghajarnya. Coba andaikata..."

Ketika itu mereka tengah melewati sebuah jalan yang sunyi, rumah-rumah di kiri-kanan jalan sudah menutup pintu gerbangnya. Ketika Ibun Hong sedang berbicara sampai perkataan "andaikata", tiba-tiba terasa angin berhembus dan tahu-tahu di tengah jalan itu telah berdiri sesosok tubuh hitam yang menghadang perjalanan mereka. Te-liong Hiang-cu. Ia muncul begitu saja di tempat itu, tidak kelihatan ia datangnya dengan meloncat entah dengan cara lain, tahu-tahu ada begitu saja di situ...
Selanjutnya;

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 14

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 14

Karya : Stevanus S.P
Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Karya Stevanus S.P
DAN semangat para prajurit itupun menyala lebih hebat setelah melihat betapa gigihnya Tong Lam-hou berjuang di pihak mereka. Tong Lam-hou yang belum menjadi prajurit dan baru hendak mendaftarkan diri sebagai prajurit itu sudah berkelahi demikian gigih, maka mereka yang sudah memakai seragam, prajurit tentunya harus lebih gigih dari Tong Lam-hou.

Akhir dari pertempuran di tengah-tengah sungai itupun sudah terbayang siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Bajak-bajak yang belum sempat naik masih kalang-kabut di hajar Tong Lan-hou, sementara yang di atas geladak itupun sudah patah semangatnya. Tadinya mereka berjumlah lebih banyak, tapi perwira-perwira tangguh seperti Ha To-Ji dan lain-lainnya dengan kelebihan ilmu silatnya telah membuat jumlah bajak-bajak itu berkurang dengan cepatnya.

Perwira-perwira itu bukanlah orang-orang haus darah yang memuaskan dirinya dengan membantai sebanyak-banyaknya, namun kali ini mereka dihadapkan pada satu-satunya pilihan bahwa bajak-bajak itu memang harus dihadapi dengan keras. Kalau mereka tidak keras, maka prajurit-prajurit merekalah yang akan menjadi korban karena bagaimanapun tangguhnya seorang prajurit, ia tidak akan sanggup melawan jumlah yang berlipat-lipat.

Tidak sedikit kawanan bajak yang belum luka sedikitpun, namun karena semangat mereka sudah patah maka merekapun mencebur ke sungai dengan "sukarela” daripada diceburkan secara paksa oleh perwira-perwira Hui-liong-kun yang berilmu tinggi itu. Lagipula lebih enak mencebur dengan badan utuh daripada mencebur sepotong demi sepotong.

Dengan berbaliknya para prajurit mengungguli lawan-lawannya, maka semakin tenanglah juru mudi kedua kapal itu, yang sejak tadi mereka selalu dilindungi oleh beberapa prajurit. Kini dengan tenang mereka dapat mengemudikan kapal mereka semakin merapat ke tepian utara sungai Yang-ce-kiang.

Hehou Im yang juga seorang perwira, tentu saja paham akan perhitungan peperangan bahwa pihaknya telah kehilangan kesempatan pada serangan tahap pertama itu. Maka dengan kepala dingin ia segera memerintahkan, "Mundur!"

Sebenarnya Pakkiong Liong ingin menangkap lawannya yang berkedok itu, namun lawannya itu tidak sendirian. Ketika semuanya bergerak mundur, Hehou Im lebih dulu meloncat ke arah sebuah perahu kecil yang paling dekat dengan kapal, disusul oleh Song Hian dan Tong King-bun. Bajak-bajak lainnya pun berloncatan keluar dari kapal, mereka langsung mencebur ke sungai dan kemudian berenang ke arah perahu-perahu teman-teman mereka yang terdekat.

Tetapi sebagian bajak itu tidak sempat melarikan diri bersama teman-teman mereka. Dan mereka yang tidak sempat lari itu telah tergilas oleh kemarahan prajurit-prajurt Hui-liong-kun. Meskipun Pakkiong Liong telah meneriakkan perintah agar tidak membunuh tawanan yang sudah menyerah, tetapi beberapa prajurit agak lambat dalam menahan diri. Bisa dimaklumi sebab prajurit-prajurit itu merasa sangat marah karena kehilangan beberapa teman mereka pula gara-gara serangan kawanan bajak yang mendadak itu.

Sementara itu, Tong Lam-hou dengan memutar deras kaitan panjangnya telah berhasil meminggirkan semua perintangnya, lalu iapun melompat ke geladak kapal dengan ringannya. Pakkiong Liong menyambutnya dengan memegang erat-erat sahabatnya itu, "Kau menghilang ke mana saja?"

Tong Lam-hou agak malu ketika mengingat kegabahannya yang hampir saja menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan itu. Namun dijawabnya secara singkat, "Aku telah membuat suatu kecerobohan sehingga hampir saja tidak dapat lolos dari tangan mereka. Tapi nanti saja kuceritakan kepadamu. Sekarang masih harus waspada terhadap mereka;"

Memang kedua kapal itu telah bersih dari para bajak, kecuali mayat-mayat dari mereka yang terbunuh dan yang tertawan, namun belum berarti pertempuran sudah selesai. Perahu-perrahu bajak yang masih tersisa itu masih mengatur diri dikejauhan, lalu kelihatan berpuluh-puluh orang yang bercelana pendek dan bertelanjang dada terjun ke sungai. Mulut mereka menggigit sebatang buluh yang berlubang tengahnya sebagai alat pernapasan, dan tangan mereka memegang pahat dan palu. Inilah serangan tahap kedua yang direncanakan oleh Hehou Im.

Sebagai seorang yang cukup berpengalaman, Pakkiong Liong segera paham apa yang akan dilakukan oleh penyelam-penyelam itu. Mereka hendak melubangi perahu agar perahu tenggelam. Pakkiong Liong segera mendatangi juru mudi kapal itu dan bertanya,

"Saudara, masih lamakah kita merapat ke tepian utara?"

Juru mudi itu menengok ke sebelah kiri, di mana garis tepian kelihatan semakin jelas, namun belum juga dikatakan dekat. Maka jnwabnya, "Agak lama, Ciangkun?"

"Dapatkah belokan kapal ini dipertajam sedikit? Apakah terlalu berbahaya?"

"Biasanya kami tidak berani, Ciangkun, tetapi kali ini biarlah kami coba-coba. Tempat ini sudah dekat dengan tepian sehingga arusnya tidak sederas yang di tengah. Tetapi kapal akan terguncang sedikit, harap Ciangkun beritahukan anak buah Ciangkun supaya jangan ada yang terlempar dari kapal."

Pakkiong Liong menepuk pundak jurumudi Itu untuk membesarkan hatinya, lalu iapun mengumumkan kepada prajurit-prajuritnya bahwa belokan kapal akan dipertajam sedikit sehingga lebih cepat mencapai tepian utara. Semua prajurit diharuskan berhati-hati agar tidak terlempar keluar dari perahu besar. Kapal yang satunya lagi juga di-beri-tahu dengan isyarat-isyarat.

Maka hampir bersamaan kedua perahu: itu membelok agak tajam. Mereka tidak lagi memotong arus secara perlahan-lahan melainkan hampir tegak lurus. Para penyelam yang hendak melubangi kapal itu, karena mereka terus menerus menyelam dalam air dan menuju ke kapal hanya dengan kira-kira saja, maka mereka sama sekali tidak tahu kalau kapal-kapal itu berbelok tajam.

Mereka menuju ke sasaran kosong belaka, dan hal itu baru mereka ketahui setelah mereka memunculkan kepala mereka ke permukaan air. Ternyata kedua kapal yang ditumpangi oleh Pasukan Hui liong-kun itu sudah bergeser jauh dari tempat semula. Tapi para penyelam itu tidak putus asa, mereka kembali menyelam dan mengejar ke arah kapal itu.

Namun kedua kapal sudah hampir sampai di tempat yang dangkal di tepian, bahkan dari atas geladak kapal itu para prajurit membalas melepaskan panah-panah kepada para penyelam. Namun panah-panah itupun tidak menemui sasarannya, sebab para penyelam berada dalam air dan panah-panah akan hilang daya luncurnya begitu masuk ke air.

Melihat itu, Pakkiong Liong mengambil sebuah busur dan segebung anak-panah. Dipasangnya sebatang anak panah pada busur, lalu perlahan-lahan ditariknya busur itu, tangannya nampak agak bergetar karena ia memakai tenaga yang agak banyak, lalu anak panah itu-pun meluncurlah. Langsung menyusup ke dalam air dan menembus tubuh seorang penyelam tubuh seorang penyelam yang langsung terapung ke permukaan dengan mata melotot namun nyawa sudah terbang.

Berturut-turut Pakkiong Liong melepaskan beberapa anak panah, dan buluh-buluh yang oleh para penyelam itu digunakan untuk bernapas itu merupakan petunjuk, yang baik untuk mengarahkan panah. Kembali beberapa tubuh bermunculan di permukaan air dengan tubuh yang tertembus anakpanah. Air sungai yang kecoklatan itu menjadi berbercak-bercak merah di sekitar tubuh-tubuh itu.

Dari kejauhan Hehou Im dan kawan-kawannya melihat apa yang terjadi itu Diam-diam mereka menarik napas dan membatin, "Luar biasa. Pakkiong Liong benar-benar seseorang yang luar biasa, tidak mudah untuk mengalahkannya."

Sementara itu, Tong Lam-hou dan para perwira yang berilmu tinggi mulai meniru Pakkiong Liong. Mereda melepaskan panah bukan cuma asal membidik saja, melainkan juga menyalurkan tenaga dalam mereka, sehingga panah-panah mereka meluncur dengan daya luncur yang berkali lipat lebih kuat dari panah-panah biasa. Panah biasa akan kehilangan daya luncur begitu masuk ke air, tapi panah-panah Pakkiong Liong dan para perwira akan tetap menembus air dengan masih membawa sebagian besar daya luncurnya, sehingga masih mampu untuk membunuh sasarannya dalam air.

Dalam beberapa saat saja, sebagian besar dari para penyelam yang memburu ke arah kapal itu telah berubah menjadi mayat-mayat terapung yang dihanyutkan air sungai Yang-ce-kiang. Sebagian kecil tidak berani maju lagi, dan memilih untuk mengundurkan diri saja daripada mati konyol, bahkan tanpa menunggu aba-aba dari pemimpin mereka.

Hehou Im melihat itu dengan geram. "Hancur sudah rencana kita. Di air saja Pasukan Hui-liong-kun tidak dapat kita hancurkan, apalagi di darat. Dan setelah kejadian ini tentu Pakkiong Liong akan lebih menyiapkan diri dalam menghadapi sesuatu."

Tong King-bun berkata, "Masih ada satu penyeberangan lagi yang akan dilewati oleh pasukan itu. Penyeberangan di sungai Hong-ho. Kita masih punya harapan untuk merebut dalam pertempuran air lagi."

Hehou Im menarik napas. "Akan aku pikirkan kelak, namun biaya yang aku keluarkan sudah terlalu banyak hanya untuk rencana yang gagal ini. Aku harus mempertanggung-jawabkan semua biaya-biaya yang dikeluarkan ini kepada Pakkiong Ciangkun."

Song Hian dan juga Tio Hong-bwe yang sudah bergabung di situ, juga menarik napas. Mereka agak malu bahwa mereka yang sudah menerima ratusan tahil emas dan perak dari Pakkiong An lewat Hehou Im itu ternyata gagal menjalankan "pesanan" yang dimintainya itu. Tapi apa boleh buat. Kedua pemimpin bajak itu merasa menyesal bahwa mereka sudah kehilangan hampir seratus orang anak buah mereka, suatu jumlah yang cukup menjadi pukulan berat buat gerombolannya. Dan mereka tentu akan keberatan kalau Hehou Im meminta kembali upah yang sudah diberikan kepada mereka, meskipun mereka telah gagal.

Namun ternyata Hehou Im cukup punya otak untuk tidak menekan teman-temannya yang juga sedang sama kecewanya dengan dirinya sendiri itu. Sambil menepuk pundak Tio Hong-bwe dan Song Hian ia berkata, "Terima kasih atas kerjasama kalian, sahabat-sahabatku. Bagaimanapun juga kita sudah berusaha sangat keras, bukan saja memerintahkan anak buah kita tapi bahkan kita sendiripun hampir amblas di ujung pedang Pakkiong Liong. Aku tidak menyalahkan kalian, bahkan masih mengharap kerjasama kalian di kemudian hari."

Wajah Tio Hong-bwe dan Song Hian tidak begitu murung lagi ketika mendengar perkataan Hehou Im itu. Kerja-sama dengan Pakkiong An berarti ratusan tahil emas bakal mengalir ke kantong mereka. Jadi, apa salahnya kalau menjual nyawa anakbuah mereka beberapa puluh orang lagi asal "harganya cocok"? Bagi orang-orang semacam Tio Hong-bwe dan Song Hian, nyawa manusia memang bukan urusana penting, kecuali nyawa mereka sendiri. Kalau ada uang, kenapa mereka tidak bisa mengorbankan beberapa anak buah untuk menyenangkan "pemeran"nya?

Sementara itu kedua kapal itu tiba di tepian, tetapi tidak dapat merapat, sebab tidak di dermaga. Masih dengan kewaspadaan yang tinggi, prajurit-prajurt Hui-liong-kun segera melangkah keluar dari perahu-perahu mereka sambil menuntun kuda-kuda dari ruangan bawah, terjun ke air tepian yang dalamnya hanya setinggi lutut. Gerobak tawanan Pangeran Cu Hin-yang dan Li Tiang-hong juga telah dikeluarkan.

Beberapa prajurit memondong mayat mayat teman-teman mereka yang gugur, namun mereka bersedih juga karena ada beberapa mayat teman yang tidak dapat mereka bawa karena telah tenggelam di sungai. Ketika naik dari tepian selatan tadi, teman-teman mereka masih hidup segar bugar dan bergurau bersama mereka, dan kini mereka sudah di dasar sungai yang besar itu. Namun itulah kemungkinan yang ditanggung oleh seorang prajurit.

Waktu itu tengah hari. Pakkiong Liong langsung memerintahkan penghitungan jumlah orang-orang yang gugur. Hampir dua puluh. orang, dan sebagian dari yang masih hidup pun menderita luka-luka. Ada yang sedemikian parahnya sehingga untuk berkudapun harus dipegangi oleh temannya, kalau tidak, tubuh mereka yang lemah akan jatuh terguling dari kuda.

Setelah mengubur mayat-mayat di pinggir sungai, dengan nisan sederhana dari batu-batu besar yang digores dengan pedang untuk menjelaskan nama dan pangkat mereka yang gugur, maka pasukan itupun bergerak kembali ke utara. Panji-panji tetap berkibar megah kuda-kuda berderap dengan tegapnya, ditunggangi prajurit-prajurit yang dengan mata menyala siap menghantam setiap rintangan betapapun beratnya.

Sementara itu, Hehou Im dan Tong King-bun melihat hal itu dari kejauhan. Dan mereka melihat tawanan telah bertambah seorang lagi, yaitu perwira Hui-liong-kun sendiri, Ang Bun-long. Perwira yang berkhianat itu dibolehkan berkuda, namun kaki dan tangannya diborgol. Sedang kendali kuda dipegang oleh seorang prajurit yang berkuda di sebelahnya.

"Ternyata Ang Bun-long tidak berkhianat seperti yang kau duga, tetapi ia tertangkap," desis Hehou Im kepada temannya. "Dan agaknya karena tertangkap itulah maka ia berhasil diperas oleh Pakkiong Liong tentang berbagai keterangan tentang kita, sehingga gerakan kita kali ini telah gagal."

"Ya, aku memang salah duga," bisik Tong King-bun. "Tetapi, baik berkhianat maupun tertangkap oleh Pakkiong Liong, dialah biang keladi dari kegagalan ini."

"Kita harus berusaha membebaskan Ang Bun-long, atau membunuhnya sama sekali," kata Hehou Im.

"Percuma. Ia tentu sudah menceritakan segala yang diketahuinya tentang komplotan kita. Pakkiong Liong tentu sudah tahu apa saja yang tadinya diketahui Ang Bun-long."

"Tidak percuma, biarpun Pakkiong Liong sudah tahu dan ia akan menuduh pamannya sendiri di Ibukota Kerajaan, mungkin di hadapan Sri Baginda, tetapi tuduhannya itu tentu harus disertai bukti-bukti dan saksi-saksi. Tanpa bukti dan saksi, Pakkiong Ciangkun akan dengan mudah mengelakkan tuduhannya dan bahkan membalikkan tuduhan kepada Pakkiong Liong, anggap saja memfitnah. Maka Ang Bun-long harus dilenyapkan sebelum ia dijadkan saksi oleh Pakkiong Liong.”

"Terlalu sulit. Ia tentu akan dijaga di tengah-tengah prajurit-prajurit yang terlatih, apakah tenaga kita berdua saja cukup untuk menerjang penjagaan itu dan membunuh Ang Bun-long?"

"Kita bunuh dari jarak jauh. Aku sudah mempelajari cara membunuh jarak jauh dari orang-orang suku Biau. Dengan sumpit beracun yang racunnya sangat keras."

Demikianlah rencana kedua orang itu untuk membunuh Ang Bun-long, sebab mereka kuatir jika Ang Bun-long sampai dibawa Pakkiong Liong ke Ibukota Pak-khia, maka akan terbongkarlah semua komplotan Pakkiong An. Ang Bun-long pasti akan mengaku bahwa yang menghubunginya adalah Hehou Im, seorang perwira Ui-ih-kun. Dan dengan terbongkarnya komplotan itu, akan berarti lenyap pulalah harapan Hehou Im dan rekan-rekan sekomplotannya untuk menikmati janji-janji Pakkiong An di kemudian hari.

Ada yang dijanjikan akan menjadi Panglima, ada yang akan dijadikan Menteri, bahkan ada yang akan dijadikan Rajamuda di suatu daerah. Pakkiong An memang tidak tanggung-tanggung dalam menyusun rencananya, bagaimanapun juga ia masih berdarah keluarga Kaisar dan apa salahnya kalau ia mengingini kedudukan Kaisar?

Sebenarnya yang diduga oleh He-hou Im bahwa Pakkiong Liong telah mengorek segala keterangan dari mulut Ang Bun-long itu adalah dugaan yang keliru. Sejak Pakkiong Liong menangkap Ang Bun-long di geladak kapal, sampai penyeberangan itu, Pakkiong Liong sama sekali belum sempat menanyai tawanannya yang bekas anak buahnya itu. Rencananya, ia akan meneruskan penjalanan lebih dulu sampai nanti sore, dan malamnya barulah tawanan itu akan diperas keterangannya.

Ketika malam turun, Pakkiong Liong memerintahkan pasukannya berkemah di sebuah tempat yang sudah agak jauh dari tepian sungai. Penjagaan sangat ketat, sebab bukan mustahil kaum penyerang akan mengulangi lagi penyerangannya dengan kekuatan yang lebih besar. Tetapi setelah hari menjadi gelap, maka betapapun rapinya penjagaan-penjagaan prajurit-prajurit Hui-liong-kun itu, tapi mereka tidak akan dapat melihat melesatnya sebatang jarum berwarna hitam yang ditiupkan dengan kuat dari sebatang sumpit orang Biau, dari balik serumpun semak-semak di pinggir perkemahan prajurit.

Ang Bun-long yang kaki dan tangannya diikat dan di taruh di dekat perapian itu, merupakan sasaran yang empuk sekali. Ia hanya meraba lehernya seperti digigit nyamuk, namun kemudian terasa tubuhnya menjadi panas sekali, matanya melotot lebar, mulutnya bergerak-gerak hendak berteriak namun tak ada suara yang keluar. Lalu kepalanyapun terkulai dan nyawanya melayang.

Dan ketika Pakkiong Liong hendak menanya perwiranya yang berkhianat itu, maka yang dijumpainya hanyalah mayatnya. Seluruh kulitnya berbercak-bercak warna biru dan ungu, menandakan kena racun yang amat keras, dan di lehernya tertancaplah sebatang jarum kecil yang hampir-hampir tak terlihat kalau tidak diperiksa dengan seksama.

"Kita kehilangan sumber keterangan yang kita butuhkan," kata Pakkiong Liong dengan menyesal, namun ia tidak menyalahkan anak buahnya yang menjaga Ang Bun-long, sebab di malam gelap itu tentu sulit sekali melihat melayangnya sebatang jarum yang begitu kecil. "Sebenarnya aku ingin tahu untuk siapakah Ang Bun-long bekerja."

"Tentu ia disuruh orang-orang bekas dinasti Beng keparat itu!" sahut Tong Lam-hou.

"Belum tentu," kata Pakkiong Liong. Namun ia tidak melanjutkan kata-katanya itu. Lebih baik Tong Lam-hou tidak usah mengetahui bahwa sebenarnya di antara para Panglima sendiri terdapat persaingan keras. Demikian kerasnya persaingan antar Panglima itu sehingga tidak jarang digunakan cara-cara tersembunyi dengan meminjam orang-orang luar. Namun entah Panglima yang mana yang memakai Ang Bun-long? Tentu tidak akan terjawab sebab sesosok mayat tidak mungkin ditanyai.

Beberapa ratus langkah dari perkemahan itu, Hehou Im dan Tong King bun menyusup ke dalam hutan dengan wajah yang puas. Di tangan Hehou Im masih tergenggam sebatang buluh yang besarnya tidak lebih dari kelingking, namun panjangnya hampir setengah depa.

"Senjata orang-orang Biau ini ampuh bukan?" tanya Hehou Im sambil tertawa.

Tong King-hun hanya mengangguk perlahan, sementara jantungnya berdegup keras. Meskipun bukan untuk yang pertama kalinya, namun masih ngeri juga ia melihat bagaimana seseorang anggauta komplotan yang gagal harus menjalankan "hukuman mati"nya. Suatu saat, siapa tahu ujung sumpit orang suku Biau itu di arahkan ke lehernya sendiri?

* * * * * * *

BERPULUH hari perjalanan yang berdampingan dengan maut dan ketegangan telah dilakukan oleh prajurit-prajurit Hui-liong-kun yang perkasa itu, namun akhirnya dinding Kotaraja Pak-khia yang megah terlihat juga di depan mata. Betapapun tangguh semangat dan jasmani mereka, terasa juga kelelahan lahir dan batin dalam diri prajurit-prajurit itu. Puluhan ribu li sudah mereka langkahi, entah telah berganti kuda berapa kali, ribuan bukit dan lembah sudah mereka jalani.

Dan banyak pula teman-teman yang terpaksa mereka lepaskan karena gugur di tengah jalan, tapi akhirnya perjalanan yang dahsyat itu mencapai ujungnya juga. Dari kota Kun-beng di propinsi Hun-lam yang paling selatan dari wilayah kemaharajaan yang amat luas itu sampai ke Ibukota Pak-khia di propinsi Ho-pak yang paling utara dari negeri itu.

Ketika hendak memasuki gerbang kota Pak-khia, Pakkiong Liong memerintahkan agar barisan diatur kembali dengan rapinya, bendera-bendera dikibarkan agar sekali lagi semua orang di Pak-khia melihat Pasukan Naga Terbang pulang dengan membawa kemenangan. Namun ketika masuk Pak-khia, tampang para prajurit sendiri sudah berewokan dengan wajah yang kotor oleh debu, karena berpuluh-puluh hari tidak sempat merawat diri. Hanya pandangan mata merekalah yang masih memancarkan tekad yang sama berkobarnya ketika mereka berangkat.

Beberapa prajurit memakai seragam yang sudah kusut bahkan robek, namun keadaan itu justru menampakkan betapa angkernya pasukan kecil itu. Apalagi dua buah gerobak kerangkeng di tengah barisan seolah memberi pertanda bahwa pasukan hui-liong-kun kembali telah berbuat sesuatu bagi Kerajaan Manchu. Orang-orang di pinggir jalan berderet-deret menyaksikan kedatangan kembali pasukan yang terkenal itu. Ada yang bersorak sambil melambai-lambaikan tangannya, ada yang, acuh tak acuh saja.

Sementara itu, Tong Lam-hou melihat kota itu dengan kagumnya. Sepanjang jalan, banyak kota-kota besar dilewatinya, namun kini dilihatnya kota Pak-khia dengan jalan-jalannya yang lebar dan menara-menara yang tinggi, gapura-gapuranya bertebaran di mana-nana. Dan iapun dengan perasaan bangga ikut berbaris bersama pasukan yang menang perang itu, meskipun ia belum terseragam.

Seluruh pasukan langsung menuju ke gedung Peng-po-ceng-tong (Kementerian Perang) di mana Peng-po-siang-si (Menteri Peperangan) sendiri sudah siap menyambutnya, dikawal oleh sepasukan lainnya yang siap menerima tawanan dari Pakkiong Liong. Beberapa Panglima dari pasukan-pasukan lain juga ikut menyambut untuk mengucapkan selamat kepada Pakkiong Liong atas ke-menanganya. Tapi yang terbanyak adalah perwira-perwira Hui-liong-kun yang tidak ikut bertugas, yang ingin menyambut rekan-rekan mereka.

Serah terima berjalan singkat dan lancar. Secara resmi Pakkiong Liong menyerahkan kedua tawanan itu kepada Peng-po-ceng-tong, berarti tanggung-jawabnya sudah diletakkan, dan selanjutnya tawanan-tawanan itu akan dimasukkan ke penjara untuk menunggu hari peradilan mereka. Selama kedua tawanan ada di penjara, tanggung-jawab berada di tangan Panglima Ui-ih-kun (Pasukan Baju Kuning) Pakkiong An.

Setelah serah terima selesai, barulah barisan dibubarkan. Pakkiong Liong segera dikerumuni oleh para Panglima-panglima lainnya, yang mengucapkan selamat dan mengutarakan kekagumannya. Tong Lam-hou diperkenalkannya kepada rekan-rekannya sebagai orang yang menolongnya, dan dikatakan pernah berjasa amat besar dalam ikut mengawal tawanan sepanjang perjalanan.

Beberapa Panglima menerima uluran tangan Tong Lam-hou dengan tulus, namun beberapa lagi memandangnya dengan pandangan ragu-ragu dan bimbang, bahkan menghina. Benarkah anak muda bertampang orang desa seperti ini sehebat seperti yang diceritakan Pakkiong Liong?

Di bagian lain, perwira-perwira Hui-liong-kun yang ikut dalam tugas segera menceritakan pengalaman mereka yang hebat, sementara rekan-rekan mereka mendengarkannya sambil menggosok-gosok tangan mereka yang gatal, seolah merekapun ingin ikut terjun dalam pertempuran di tengah sungai Yang-ce-kiang itu.

Perwira-perwira dan para prajuritpun setelah puas bercakap-cakap lalu pulang ke rumahnya masing-masing. Ada beberapa orang yang dengan hati pedih harus mampir ke rumah temannya lebih dulu, untuk memberitahukan kepada keluarga temannya itu bahwa temanya itu tidak dapat kembali, Atau kembali namun dalam wujud abu yang diwadahi dalam sebuah guci kecil tertutup kain putih. Itulah sisi lain dari peperangan. Di samping kemenangan dan ucapan-ucapan selamat yang membesarkan hati, maka beberapa orang telah kehilangan suami, anak laki-laki, Kakak, adik atau kekasih mereka. Dan merekapun meratap pedih di tengah sorak-sorai kemenangan.

Sementara itu, Ibukota Kerajaan telah diramaikan oieh kesibukan lainnya. Ujian penerimaan prajurit untuk tahun itu sudah dekat. Berbondong-bondong anak-anak muda dari seluruh pelosok negeri, yang merasa memiliki tubuh kuat dan kecerdasan cukup, telah berdatangan ke Pak-khia untuk mendaftarkan diri. Setiap pendaftaran harus punya seorang penjamin, artinya bahwa ada seorang perwira atau Panglima yang bersedia menjamin bahwa si pendaftar itu telah dikenalnya dengan baik dan dapat mengikuti ujian. Hal ini untuk menjamin adanya musuh-musuh Manchu yang menyusup masuk ke tubuh pasukan.

Di antara nama-nama yang terdaftar itu, yang paling sedikit adalah nama yang mendaftarkan masuk pasukan Hui-liong-kun, sebab ujiannya sangat berat. Seluruh calon prajurit berjumlah hampir dua ribu orang, namun yang mencalonkan diri sebagai prajurit Hui-liong-kun hanyalah kira-kira limapuluh orang, di antaranya adalah Tong Lam-hou yang memegang "surat jaminan" dari Pakkiong Liong sendiri. Yang lain-lainnya antara lain adalah saudara sepupu Ha To-ji, saudara seperguruan Le Tong-bun, teman sejak kanak-kanaknya Han Yong-kim dan sebagainya.

Maka sambil menunggu hari ujian keprajuritan dilaksanakan, ramailah Ibukota Kerajaan itu dengan anak-anak-muda dari berbagai daerah yang hilir-mudik sambil menjual tampang. Merekalah calon-calon prajurit yang belum pasti diterima namun sikapnya sudah garang dari prajurit-prajurit tulen. Ada yang sengaja memamerkan ototnya dengan memakai baju yang terbuka atau berlengan pendek.

Yang lain memamerkan ketangkasannya dengan pura-pura terkejut ketika hampir disambar sebuah kereta kuda yang berjalan kencang, lalu ia melompati sebuah dinding setinggi manusia di pinggir jalan, sehingga memancing tepuk tangan orang-orang yang menyaksikannya, lalu dengan "rendah hati" iapun berjalan, pergi seolah-olah yang terjadi tadi hanyalah sekedar "ketidak-sengajaan". Yang lainnya pamer bahwa ia pernah membunuh dua ekor harimau hanya dalam waktu satu malam.

Namun demikian, meskipun suasana persaingan nampak menonjol antara anak-anak muda dari berbagai daerah itu, mereka tidak berani saling berkelahi atau membuat keributan. Sebab ada ancaman keras dari Peng-po-ceng-tong bahwa siapa yang membuat keributan maka namanya akan langsung dicoret dari daftar para pelamar. Dan tidak seorangpun mau datang dari jauh hanya untuk dicoret namanya.

Selama berada di Pak-khia, Tong Lam-hou menempati sebuah kamar di rumah Pakkiong Liong. Tadinya ia menduga bahwa Pakkiong Liong sebagai seorang panglima terkenal dan bahkan masih punya hubungan kerabat dengan keluarga Kaisar, tentu menempati sebuah gedung yang megah dan besar dengan berpuluh-puluh pelayan yang siap menjalankan semua perintahnya.

Ternyata dugaan Tong Lam-hou itu keliru besar. Pakkiong Liong menempati sebuah rumah yang berhalaman luas dan penuh dengan tanam tanaman hias, namun rumah itu sendiri tidak besar dan megah, sederhana dan rapi, sementara di bagian belakangnya ada sebuah ruangan yang khusus untuk berlatih silat (lian-bu-thia).

Yang melayaninya pun hanya seorang perempuan-Manchu setengah tua dengan anaknya laki-laki yang berusia belasan tahun. Suami perempuan itu bekerja di tempat lain, jika malam kembali ke rumah itu dan Pakkiong Liong tidak keberatan dengan semuanya itu.

Ketika Tong Lam-hou melangkah memasuki rumah itu, ia bertanya, "Kau sendiri di rumah ini?"

"Bukankah kau lihat bibi pelayan yang membukakan pintu kita tadi? Aku tinggal bersamanya dan suaminya serta anak laki-lakinya."

"Maksudku, sanak keluargamu?"

Pakkiong Liong menggelengkan kepalanya. "Aku anak satu-satunya, ibuku meninggal ketika aku masih kecil dan ayah sudah gugur dalam peperangan, jadi aku memang menempati rumah ini seorang diri."

"Bukankah kerabatmu banyak? Bahkan ada yang tinggal di Istana?"

"Ya, mereka juga banyak yang menawarkan agar aku tinggal bersama mereka. Tapi aku labih suka sendirian saja. Lebih bebas."

"Tidak kesepian?"

"Tidak pernah. Kadang-kadang pi-au-moai (saudara sepupu perempuan) datang untuk minta diajari bermain pedang atau memanah. Di lain saat Ha To-ji dan perwira-perwira lainnya juga datang ke sini untuk sekedar menemaniku minum arak sambil bercakap-cakap. Tapi kadang-kadang aku butuhkan juga, jika aku sedang ingin mendalami sebuah buku."

Tiba-tiba mata Tong Lam-hou bersinar-sinar. "He, kau punya buku?"

"Nanti ruang bukuku kutunjukkan kepadamu. Di situ ada ratusan buku, bahkan ribuan. Aku sudah mengumpulkannya bertahun-tahun lalu."

"Kau suka membaca?"

"Suka sekali. Di Jit-siong-tin aku sering mendapat pinjaman dari teman-temanku yang pulang dari kota, namun jumlah bukunya amat terbatas, sehingga ada yang terbaca sampai dua kali atau lebih."

Pakkiong Liong tersenyum, namun di dalam hatinya ia mulai merasakan bahwa bobot Tong-lam-hou tidak sesederhana wujudnya. Anak muda yang sering diejek sebagai "anak gunung" atau "si pembuat dendeng" itu ternyata adalah seseorang yang bergairah terus-menerus memperdalam pengetahuannya lewat buku. Agaknya, Tong Lam-hou bukan cuma sekedar pandai memutar pedang atau mengayuni kepalan.

Demikianlah, sambil menunggu hari hari ujian keprajuritan diselenggarakan, Tong Lam-hou berada di ruma Pakkiong Liong. Kehausan akan bacaan yang selama ini dirasakannya, kini terpuaskan sebagian besar. Tidak peduli buku apapun yang ada di dalam simpanan Pakkiong Liong telah dilahapnya, sehingga sangat memperluas cakrawala pemikirannya. Buku-buku sejarah, kesenian, sastra, filsafat, ilmu perang, tata pemerintahan dan kenegaraan, pengobatan, keagamaan dan lain-lainnya telah membuat Tong Lam-hou seolah-olah lupa waktu.

Pakkiong Liong membiarkannya saja segala kelakuan sahabatnya itu, bahkan ia merasa gembira karena Tong Lam-hou bersikap seolah-olah di rumahnya sendiri. Dengan perempuan setengah tua dan anak laki-lakinya itupun Tong Lam-hou telah terjalin hubungan baik. Seperti Pakkiong Liong yang tidak pernah merendahkan derajat seorang pembantu, begitu pula Tong Lam-hou.

Di lain saat, Ha To-ji, Han Yong-kim dan lain-lainnya pun berdatangan ke rumah itu untuk mengajak Pakkiong Liong berburu keluar kota. Selama ini Tong Lam-hou hanya pernah mendengar Ha To-ji dan lain-lainnya memanggil Pakkiong Liong dengan sebutan "Ciang-kun" (Panglima) jika sedang dalam seragam tentaranya. Namun, kini Tong Lam hou baru tahu bahwa jika kedua pihak tidak berseragam tentara, maka sikap Ha To-ji tidak berbeda dengan sikap Tong Lam-hou kepada Pakkiong Liong, yaitu hanya dengan memanggil "A-liong" begitu saja.

Itu adalah karena permintaan Pakkiong Liong sendiri. Di dalam tugas, ia adalah Panglima terhadap bawahannya, namun di luar tugas ia ingin bertindak sebagai sahabat terhadap sahabat. Sesungguhnya, seseorang yang bagaimanapun kaya dan berkuasanya, namun bila tidak mempunyai seorang saha-batpun, apa arti hidupnya?

"Aku ikut," kata Tong Lam-hou ketika mendengar bahwa Pakkiong Liong dan lain-lainnya akan berburu. "Di Tiam-jong-san aku adalah pemburu serigala yang baik."

Maka berangkatlah anak-anak muda itu keluar kota dengan menunggang kuda, sambil membawa busur dan anak-panah. Tong Lam-hou juga membawa busur dan anak-panah, namun ia tidak yakin akan kegunaan busur yang dibawanya itu, sebab ia merasa lebih mantap jika anak-panah itu dilontar-lontarkan dengan tangannya saja.

Bahkan tidak. usah anak-panah, sepotong ranting keringpun jika dilontarkannya dengan penyaluran tenaga dalamnya akan dapat merupakan senjata yang mematikan. Perjalanan kail ini itu terasa sangat santai, perjalanan sekelompok orang-muda yang hendak berburu binatang.

"A-liong, kita hendak ke rumah si cerewet itu lebih dulu atau tidak?" tanya Ha To-ji.

"Kita melewati rumahnya bukan? Jadi kita ajak dia pergi sekalian," kata Pakkiong Liong.

Mereka tertawa, Tong Lam-hou juga tertawa, meskipun ia tidak tahu siapa yang disebut si cerewet itu. Tapi beberapa saat kemudian, tahulah ia akan si cerewet itu, ternyata ia adalah saduara-sepupu perempuan Pakkiong Liong, anak dari bibinya. Seorang gadis Manchu yang memakai nama Han To Li-hua, puteri seorang Panglima pula. Ketika ia sudah siap di atas kudanya, maka Tong Lam-hou seolah silau melihat kecantikan gadis Manchu dalam pakaian berburunya itu, dengan kulitnya yang seputih salju dan matanya yang seperti bintang pagi, pinggangnya yang ramping dan lemas seperti ranting yang-liu.

Apalagi gadis-gadis Manchu tidak pemalu seperti gadis-gadis Han, ketika sadar bahwa dirinya sedang di pandang terus-menerus oleh Tong Lam-hou, maka To Li-hua malahan mengangkat wajahnya sambil bertanya, "He, apa yang kau lihat? apakah hidungku terbalik-menghadap ke atas atau mataku ada t iga?"

Keruan Tong Lam-hou jadi merah padam wajahnya dan tertawa dengan salah-tingkah, sementara Pakkiong Liong dan lain-lainnyapun tertawa terbahak-bahak. To Li-hua juga ikut tertawa sambil menggoyang-goyangkan kepalanya yang tertutup dengan topi bulu binatang itu, sehingga sepasang anting-anting yang tergantung di telinganya itupun ikut bergerak-gerak. Dan Tong Lam-hou tidak berani lagi melirik wajah gadis itu sebab takut kelakuannya akan menjadi konyol nantinya.

Begitulah, empat anakmuda dan seorang gadis berburu di luar kota Pak-khia. Tong Lam-hou melihat sendiri betapa gadis Manchu itu tangkas sekali mengendalikan kudanya, sambil melepaskan panah-panahnya yang jarang meleset dari sasarannya. Namun To Li-hua juga melongo melihat bagaimana Tong Lam-hou tanpa menggunakan busur telah melempar-lemparkan anak-anak panahnya secara tepat menembus binatang-binatang buruannya, bahkan yang sedang berlari kencang sekalipun. To Li-hua jarang meleset memanah buruannya, namun Tong Lam-hou tidak pernah meleset meskipun sekali saja.

To Li-hua bertepuk tangan melihat ketangkasan Tong Lam-hou itu. teriaknya, "Bagus, beginikah cara orang Han berburu? Piau-ko (kakak misan), kali ini kau punya lawan berat."

Begitulah anak-anakmuda itu bergembira sampai sore hari. Ketika matahari hampir tenggelam, barulah mereka masuk kembali ke kota dengan membawa buruan mereka masing-masing.

Sementara itu, di dalam kota Pak-khia sendiri, selain para calon-calon prajurit yang berkeliaran sambil jual tampang, maka di kota itu telah berkeliaran pula orang-orang dari pihak tertentu dengan maksud-maksud tertentu pula. Orang-orang yang tidak puas melihat semakin kokohnya kekuasaan dinasti Manchu di negeri itu.

Sore itu, perwira Sat-sin-kui He-hou Im dari Ui-ih-kun (Pasukan Baju Kuning) dengan memakai seragam perwiranya, tergegas-gegas meloncat turun di hadapan sebuah gedung yang indah sekali. Ketika ia hendak melangkah masuk pintu gerbang, dua orang prajurit penjaga cepat-cepat menghentikannya dan bertanya,

"Maaf, thong-leng (perwira), apakah thong-leng membawa surat dari Pakkiong Ciangkun? Pakkiong Ciangkun sudah berpesan bahwa siapapun yang tidak membawa surat itu dilarang masuk!"

Hehou Im mengeluarkan sepucuk surat yang disodorkan kepada penjaga-penjaga itu, sambil membentak, "Nih, baca baik-baik dengan mata anjingmu!"

Prajurit itupun membaca surat itu yang ternyata memang ditanda-tangani oleh Pakkiong An sendiri. Setelah dilipat kembali lalu disodorkan lagi kepada. Hehou Im sambil tertawa, "Maaf, thong-leng, kami hanya menjalankan perintah Ciangkun. Silahkan masuk ke dalam, thong-leng, kudanya biar kami urus!"

"Siapa saja yang sudah datang?" tanya Hehou Im.

"Banyak, thong-leng. Juga termasuk si siluman hitam itu."

"Apa katamu?"

"Maaf, thong-leng, maksudku si orang yang selalu menutup mukanya dengan kain hitam itu. Dan datangnya seperti siluman. Kami hanya merasa ada angin berhembus dan tahu-tahu ia sudah berada di halaman ini, tanpa berkata sepatah-katapun langsung melangkah ke dalam."

"Jangan kurang ajar. Orang itu adalah sahabat Ciangkun."

"Baik, thong-leng."

Maka Hehou Im segera melangkah masuk ke gedung tempat tinggal Pakkiong An yang besar dan megah itu. Semakin masuk ke dalam, semakin ketat penjagaannya, menandakan bahwa pertemuan yang diselenggarakan oleh Pakki-ong An kali ini benar-benar penting. Bahkan Hehou Im sebagai perwira kepercayaan Pakkiong An yang sudah dikenal oleh para prajuritpun tidak luput dari pemeriksaan surat-surat.

Pertemuan itu diadakan di sebuah loteng di tengah-tengah taman, di sekeliling loteng itu ada kolam bunga teratai yang lebar. Tidak mungkin seseorang masuk ke loteng itu tanpa melewati sebuah jembatan kecil, yang dijaga pula oleh empat orang prajurit.

Setelah diijinkan lewat oleh penjaga-penjaga itu, Hehou Im segera naik ke loteng yang sudah terang benderang dengan belasan batang lilin besar. Di dalam ruangan itu ternyata telah siap beberapa orang yang duduk berkeliling, agaknya Hehou Im adalah yang datang paling akhir, sebab kursi yang kosong tinggal sebuah. Sebelum menduduki kursinya, Hehou Im lebih dulu memberi hormat kepada seorang tua berjenggot putih dan bermata tajam seperti burung elang.

Dialah Pakkiong An, Panglima dari Pasukan Baju Kuning yang iri terhadap keberhasilan keponakannya sendiri, Pakkiong Liong. Di sebelah Pakkiong An duduklah puteranya, Pakkiong Hok yang bertubuh ramping dan bertampang ganas. Lalu nampak pula seseorang berpakaian serba hitam yang berkedok hitam pula. Dari seluruh tubuhnya, yang tidak tertutup cuma sepasang matanya yang berkilat-kilat menyeramkan.

Sedangkan bagian tubuh lainnya, bahkan sampai ke ujung jari kaki maupun jari tanganpun terbungkus kain hitam. Tidak salah kalau kedua penjaga di depan rumah Pakkiong An tadi menyebutnya sebagai "siluman hitam".

Terhadap orang berkedok hitam itu, ternyata Hehou Im yang biasa bersikap garang itu telah menunjukkan rasa takutnya yang luar biasa. Ia membungkuk dalam-dalam kepada orang itu, lebih dalam daripada ketika memberi hormat kepada Pakkiong An tadi, dan menyapa, "Selamat bertemu, Te-liong Hiang-cu."

Nama itu memang menggetarkan. Dia adalah Te-liong Hiang-cu (Hulubalang Naga Bumi) dalam Hwe-liong-pang dulu, jabatan nomor dua di bawah Hwe-liong Pang-cu sendiri, sehingga orang yang menduduki jabatan itu tentu memiliki kepandaian yang amat tinggi. Orang ini bukan saja seorang hulubalang andalan Hwe-liong-pang tapi juga sekaligus adik seperguruan dari Hwe-liong Pan-cu sendiri, namun kemudian karena pengkhianatannyalah maka Hwe-liong-pang hancur dari dalam bahkan kemudian lenyap dari dunia persilatan.

Te-liong Hiang-cu sendiri tidak muncul selama bertahun-tahun, dan namanya baru terdengar lagi setelah tentara Man-chu menyerbu daratan Tiong-goan dan mendudukinya. Hehou Im segera menempati kursinya. Diliriknya tamu-tamu lainnya, dan selain dirinya sendiri ternyata ada tiga orang lainnya yang semuanya berpakaian perwira Ui-ih-kun...

"Semuanya sudah hadir dan pertemuan ini bisa dimulai," kata Pakkiong An setelah batuk-batuk. "Hehou Tong-leng, kau bicara lebih dulu."

Maka Hehou Im segera menceritakan usahanya untuk merebut tawanan dari tangan Pakkiong Liong, dengan lebih dulu "menggarap" Ang Bun-long. Namun kemudian dengan terus terang diakuinya bahwa usahanya itu telah gagal, dan untuk meringankan kesalahannya, maka Hehou Im menceritakan pula, bahwa ia telah berhasil membunuh Ang Bun-long sehingga Pakkiong Liong tidak akan punya saksi lagi untuk menuduh Pakkiong An.

Sepasang alis Pakkiong An yang putih itu berkerut, suaranya dingin, "Itu adalah akibat kecerobohanmu, He-hou Thongleng, dan entah berapa banyak uangku yang kau hamburkan tanpa hasil? Untuk membayar Ang Bun-long dan untuk membayar bajak-bajak sungai Yang-ce-kiang itu?"

Hehou Im menundukkan kepalanya. "Aku memang bersalah, Ciangkun. Namun semuanya kulakukan demi mendukung cita-cita Ciangkun untuk mendapat pamor yang semakin terang di hadapan Sri Baginda. Semata-mata demi kesetiaanku kepada Ciangkun."

"Ayah tidak ingin seorang anakbuah yang sekedar setia tetapi kurang perhitungan, Hehou Tongleng," kata putera Pakkiong An dengan suara yang sama dinginnya dengan suara ayahnya. "Tapi yakinkah kau bahwa piau-ko (kakak misan) Pakkiong Liong tidak akan menemukan bukti persekongkolan kita?"

Biarpun hatinya ragu-ragu, namun Hehou Im menjawab dengan suara mantap dan bahkan sedikit berbohong, "Aku sangat yakin, tuan muda. Perwira yang bernama Ang Bun-long itu segera kubereskan dengan sumpit beracun orang suku Biau, sebelum Pakkiong Liong sempat mendapat keterangan apa-apa dari mulutnya."

Pakkiong Hok sebenarnya masih ingin bertanya beberapa hal lagi, namun ayahnya telah memberinya isyarat agar diam. Lalu kata Panglima tua yang ambisinya selangit itu, "Sudah, anak Hok, tidak usah diperdebatkan lagi hal yang sudah lewat. Anggap saja dosa dan pahala Hehou Im seimbang, sehingga ia tidak akan menerima hukuman maupun pahala..."

"Terima kasih atas kemurahan Ciangkun," sahut Hehou Im yang berdiri dari kursinya dan memberi hormat. Ia lega, sebab ia tidak mau mati penasaran seperti orang-orang yang dulu menentang Pakkiong An.

Pakkiong An hanya mengangguk sedikit, lalu katanya, "Sekarang kita akan mendengarkan laporan dari Ibun Thong-leng. Silahkan, Ibun Thongleng."

Perwira she Ibun yang disuruh bicara itu bernama Ibun Hong, juga seorang kepercayaan Pakkiong An dalam komplotan rahasia itu. Ia bertubuh gemuk pendek dan bermuka berewokan kaku. Ia segera berdiri memberi hormat kepada hadirin dan berkata, "Tuan-tuan yang terhormat, dalam penyelidikanku selama beberapa hari terakhir ini, aku mencium tanda-tanda bahwa kaum pemberontak sudah banyak yang menyusup ke Ibukota Kerajaan ini. Banyak yang menyamar sebagai calon-calon prajurit atau keluarganya yang mengantarkan mereka, namun tidak mustahil mereka juga menyamar dalam bentuk-bentuk lain. Mereka..."

Ucapan Ibun Hong itu sebenarnya bernada berapi-api penuh semangat dan bernada bangga pula, seolah-olah ialah yang menemukan hal itu lebih dulu namun tiba-tiba terpotong oleh suara Te-liong Hiang-cu yang dingin, "Hemm, laporan basi."

Tentu saja muka Ibun Hong menjadi merah padam, namun tanpa berani membantah lagi ia duduk. Namun dengan nada agak penasaran ia bertanya kepada Te-liong Hiang-cu, "He, kenapa kau katakan laporanku tadi adalah laporan basi?"

Dengan congkaknya Te-liong Hiang-cu mendengus dan tidak menjawab pertanyaan Ibun Hong itu, membuat si perwira semakin penasaran dan bertanya dengan lebih keras lagi, "He! Apakah kupingmu budeg?! Kau dengar pertanyaanku tadi tidak?!"

Kali ini jawaban Te-liong Hiang-cu menyakitkan hati, "Apakah kalau seekor anjing menggonggong di depanku, aku harus ikut mengonggong pula?"

Ibun Hong tak dapat menahan diri lagi, ia segera meloncat bangun dari kursinya sambil menghunus goloknya. Namun sebelum ia bertindak lebih lanjut, telah terdengar suara Pakkiong An; membentak, "Ibun Hong, kembali ke tempat dudukmu!”

"Tetapi, Ciangkun, orang itu sudah menghina aku!”

"Duduklah!”

Terhadap perintah Panglimanya itu Ibun Hong tidak berani membantah. Apa boleh buat, dengan sinar mata yang menyorotkan kebencian kepada orang berkerudung hitam yang menamakan dirinya Te-liong Hiang-cu itu, iapun kembali ke tempat duduknya sambil menyarungkan kembali goloknya. Di dalam hatinya ia menggerutu, "Sungguh gila, kenapa Ciangkun mau bekerja sama dengan orang gila ini? Apakah pengaruh Ciangkun sendiri di Istana masih kurang dapat diandalkan sehingga masih harus ditambah dengan siluman bermulut besar ini?"

Lalu Pakkiong An berkata kepada Te-liong Hiang-cu, dengan nada yang sopan namun juga cukup tegas, “Hiang-cau harap jangan membuat suasana pertemuan ini menjadi panas sebelum pertemuannya sendiri mencapai masalah-masalah penting yang harus dibicarakan. Kerjasama antara kita adalah sederajat aku tidak berhak memaki dan menghukum anak buahmu, sebaliknya kau pun tidak dapat memaki dan menyakiti hati anak buahku dengan sesukamu sendiri."

Te-liong Hiang-cu hanya mendengus dingin, namun sikapnya telah menimbulkan ketidak-senangan beberapa anak buah Pakkiong An, meskipun mereka sadar bahwa orang yang sangat memuakkan itu bakalan menjadi sekutu mereka.

Terdengar orang berkerudung itu berkata, "Aku tidak menghinanya. Aku hanya jemu mendengarnya bicara panjang lebar, padahal semua yang hendak dia bicarakan itu sudah aku ketahui semuanya."

Semua yang berada di ruangan itu harus menahan diri melihat kesombongan orang itu, terutama Ibun Hong. Tetapi mereka juga heran mendengar bahwa orang herkerundung itu mengatakan bahwa ia sudah mengetahui semua gerakan kaum pemberontak di Ibukota Kerajaan itu. Hanya sekedar membual atau bersungguh-sungguh? Kalau bersungguh-sungguh, alangkah hebat daya pengamatannya terhadap keadaan.

Sedang Ibun Hong sendiripun mendapatkan keterangan yang sebenarnya hendak dibanggakannya itu dengan susah payah, dengan selundup sana selundup sini untuk menguping pembicaraan-pembicaraan musuh, tidak jarang nyawanya hampir melayang, semuanya itu demi hendak memperoleh pujian di hadapan Pakkiong An. Tapi kini orang berkerudung itu mengaku sudah tahu semuanya, dan itu berarti "merebut pahala" Ibun Hong?

Di antara wajah-wajah yang tidak percaya dalam ruangan itu, Kiranya wajah Hehou Im yang lain daripada yang lain. Ia tersenyum-senyum tanpa dapat ditafsirkan arti senyumannya. Namun sebenarnyalah Hehou Im sangat mempercayai Te-liong Hiang-cu sampai hal yang sekecil-kecilnya, sebab ia sudah pernah menjadi anak buah Te-liong Hi-ang-cu di jaman Hwe-liong-pang dulu, dan ia tahu betul sampai di mana kemampuan Te-liong Hiang-cu itu.

Terdengar Ibun Hong bertanya, "Te liong Hiang-cu, kata-katamu itu benar-benar dapat dibuktikan atau cuma sekedar bualan busukmu?"

Tanpa melirik sedikitpun kepada Ibun Hong, Te-liong Hiang-cu berkata, "Aku bukan cuma tahu bahwa kaum pemberontak akan mengadakan gerakan serempak di Pak-khia ini, melainkan juga tahu bahwa mereka terdiri dari tiga unsur yang dulunya bermusuhan namun kini bersatu-padu. Yaitu unsur-unsur, pendukung-pendukung dinasti Beng yang kini tergabung dalam Jit-goat-pang (Serikat Matahari dan Rembulan) pimpinan Pangeran Cu Leng-ong sendiri, lalu unsur-unsur pengikut-pengikut Li Cu-seng yang tulang-punggungnya adalah orang-orang bekas pengikut Hwe-liong-pang (Serikat Naga Api) ditambah dengan usur ketiga, yaitu para pendekar yang tidak termasuk dalam unsur pertama maupun kedua, yaitu orang-orang berilmu dari perbagai perguruan yang juga tidak senang kepada pemerintahan Manchu. Mereka bukan cuma ingin membebaskan Pangeran Cu Hin-yang dan Li Tiang-hong, melainkan juga ingin membebaskan tokoh-tokoh lainnya yang mereka puja sebagai pahlawan, yang saat ini mendekam di Penjara Kerajaan."

Ibun Hong bungkam mendengar hal itu. Ia sekarang harus mengakui dalam hati bahwa apa yang diketahuinya ternyata kalah jauh dari apa yang diketahui oleh orang berkerudung Te-liong Hiang-cu itu. Yang diketahuinya baru gejala-gejalanya saja, dan garis besarnya sementara untuk hal-hal sekecil-kecilnya masih harus diselidiki. Namun kini Te-liong Hiang-cu menyerocos terus tentang gerakan kaum pemberontak itu, membuat Ibun Hong semakin merasa dirinya tolol.

"...pergerakan mereka akan dilakukan setelah ujian keprajuritan selesai sebab saat ini mereka belum semuanya berkumpul di Pak-khia. Mereka tidak mungkin datang dengan berbondong-bondong ke kota ini, sebab dengan demikian gerakan mereka tentu akan tercium oleh para penyelidik atau mata-mata kita. Yang akan ikut dalam gerakan menjebol Penjara Kerajaan itu ada kira kira limapuluh orang. Inilah daftar nama mereka..." sambil mengucapkan kalimat terakhir itu Te-liong Hiang-cu menyerahkan beberapa lembar kertas yang dikeluarkan dari balik saku bajunya.

Pakkiong An menerima kertas itu dengan kegembiraan yang meluap, sehingga jari-jarinya nampak agak gemetar. Dibacanya nama-nama yang tertulis di lembaran-lembaran kertas itu, dari nama yang pertama sampai yang ke limapuluh, dan matanyapun bersinar-sinar. Katanya, "Wow...ini kakap-kakap semuanya. Jika aku berhasil menjaring semuanya, jasaku di hadapan Sri Baginda akan luar biasa sekali!"

Di sebelahnya, Pakkiong Hok juga mengulurkan kepalanya untuk ikut membaca huruf-huruf di lembaran kertas itu, dan iapun ikut berkata, "Ya, jasa ayah dalam sekali gebrak saja akan mengungguli jasa piau-ko yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun!"

Te-liong Hiang-cu nampak puas sekali melihat sikap ayah dan anak itu, katanya lagi, "Benar, Ciangkun harus bisa menjaring mereka semua. Namun untuk itu harus dilakukan persiapan sejak sekarang. Mereka bukan kambing-kambing gemuk dan tolol yang dengan suka-rela masuk ke sarang serigala, melainkan orang-orang berilmu silat tangguh yang harus dihadapi dengan kekuatan yang memadai. Ciangkun mulai sekarang harus mengumpulkan orang-orang berilmu tinggi untuk ikut menjaga Penjara Kerajaan pada hari yang ditentukan kelak. Tanpa persiapan itu, bukan saja ikannya tidak terjaring, malahan jalanya akan hancur lebur diterjang ikan-ikan buas itu!"

"Tentu! Aku akan bersiap mulai sekarang. Te-liong Hlang-cu, langkah pertama dari kerjasama kita ini benar-benar menggembirakan, aku berharap kita akan dapat bekerja-sama untuk seterusnya!"

Tidak diketahui bagaimana perubahan wajah Te-liong Hiang-cu mendengar sanjungan Pakkiong An itu, sebab wajah yang tertutup kedok hitam itu senantiasa kelihatan dingin dan seram, tanpa mimik apapun.

Sementara itu, Ibun Hong yang masih penasaran dan ingin menjatuhkan Te-liong Hiang-cu itu, mengeluarkan kata-kata pancingan, "Hiang-cu kenapa kau mengetahui rencana secermat itu? Barangkali kau salah satu dari mereka?"

Ibun Hong mengharap orang berkedok itu akan membantah, lalu akan disudutkannya dengan kata-kata. Namun adalah di luar dugaan bahwa Te-liong Hiang-cu menganggukkan kepala dan menjawab, "Benar, aku adalah salah satu dari limapuluh orang itu. Karena itu aku diajak berunding oleh mereka, dan aku tahu pasti rencana mereka sampai hal sekecil-kecilnya."

Wajah Pakkiong An menegang sejenak, begitu pula Pakkiong Hok dan perwira-perwiranya. Orang berkerudung hitam itu agaknya terlalu berani mengucapkan kata-katanya itu, apakah ilmunya sedemikian tingginya sehingga ia yakin dapat lolos dari orang-orang di ruangan itu? Atau sekedar menunjukkan agar keterangannya dapat dipercaya?

Tapi Pakkiong An juga tidak kalah liciknya, ia pura-pura acuh saja ketika bertanya, "Nama yang ke berapa?"

"Apakah perlu Ciangkun ketahui?"

"Kalau Hiang-cu tidak keberatan. Supaya ketika diadakan penjaringan tokoh-tokoh pemberontak itu kelak, kami tidak salah jaring terhadap tokoh yang menjadi samaran Hiang-cu.”

Namun Te-liong Hiang-cu bersandar ke sandaran kursi dengan santainya, lalu menyahut ringan, "Terima kasih atas perhatian Ciangkun atas keselamatanku. Tetapi biarlah aku berusaha menyelamatkan diriku sendiri. Nanti kalau aku terbunuh juga oleh prajurit-prajurit Ciangkun yang salah lihat, anggap saja salahku sendiri."

"Tetapi kematian demikian sungguh konyol..."

"Dan karena itulah aku tidak ingin mati demikian konyol..." potong Te-liong Hiang-cu.

Pakkiong An yang di Ibukota Kerajaan punya pengaruh kuat dan terkenal suka "main belakang" untuk menyingkirkan lawan-lawannya dalam pemerintahan itu, kini agaknya telah bertemu dengan tandingan yang setimpal. Te-liong Hiang-cu yang menjadi rekan kerjasama itu suatu ketika kelak harus disingkirkannya, namun Pakkiong An juga yakin bahwa orang berkerudung itupun tentu juga punya niat untuk memusnahkannya. Tergantung siapa yang lebih cepat.

"Ayah, bagaimana kalau kita sergap saja mereka satu persatu sebelum mereka berkumpul?" terdengar Pakkiong Hok bertanya. "Dengan petunjuk dari Te-liong Hiang-cu, bukankah kita dapat mengetahui siapa-siapa mereka dan kita bekuk batang leher mereka satu persatu?"

Yang menjawab bukam ayahnya melainkan Te-liong Hiang-cu, "Keliru besar. Barangkali dapat juga kita tangkap satu dua di antara mereka, namun yang lain-lainnya pasti akan menjadi lebih waspada. Jika mereka tidak berhasil membuat hubungan dengan teman-teman mereka, maka mereka pasti akan merasakan ketidak beresan, dan mereka akan membatalkan rencana mereka, dan gagallah niat kita untuk menyaring mereka sekaligus;"

"Hiang-cu benar, A-hok," kata Pakkiong An sambil mengelus kumisnya. "Biar mereka berkumpul dulu, kita jaring serempak."

Maka merekapun mulai berunding bagaimana caranya menjaring gerakan para pemberontak itu. Sampai jauh malam, barulah pembicaraan itu selesai. Dan masing-masing segera kembali ke rumahnya masing-masing.

Ibun Hong pulang bersama-sama dengan Hehou Im, karena kebetulan rumah mereka searah. Bersamanya ikut pula dua orang pengawalnya. Sambil berkuda perlahan-lahan menyusuri jalan-jalan yang mulai sepi, Ibun Hong menumpahkan uneg-unegnya yang sejak tadi ditahan-tahan dalam hatinya,

"Saudara Hehou, orang berkerudung itu sungguh menjemukan. Ia menguasai seluruh pembicaraan, seolah-olah dialah yang menjadi Panglima kita. Dan herannya, Pakkiong Ciangkun kelihatannya juga sangat segan kepada orang itu. Sementara dadaku hampir meledak rasanya ketika melihat lagaknya dalam ruang pertemuan tadi. Hanya karena masih menghargai kewibawaan Ciangkun, aku tidak turun tangan menghajarnya. Coba andaikata..."

Ketika itu mereka tengah melewati sebuah jalan yang sunyi, rumah-rumah di kiri-kanan jalan sudah menutup pintu gerbangnya. Ketika Ibun Hong sedang berbicara sampai perkataan "andaikata", tiba-tiba terasa angin berhembus dan tahu-tahu di tengah jalan itu telah berdiri sesosok tubuh hitam yang menghadang perjalanan mereka. Te-liong Hiang-cu. Ia muncul begitu saja di tempat itu, tidak kelihatan ia datangnya dengan meloncat entah dengan cara lain, tahu-tahu ada begitu saja di situ...
Selanjutnya;