Pendekar Naga dan Harimau Jilid 04 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 04

Karya : Stevanus S.P
Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Seri Pendekar Naga dan Harimau Karya Stevanus S.P
SEORANG prajurit mencoba membidik punggung Pangeran dengan lembingnya, namun tiba-tiba dia pun jatuh terjungkal sebelum sempat melemparkan lembingnya, sebab tengkuknya patah dihantam oleh seorang anak buah Ma Hiong yang bersenjata sebatang gada bergerigi.

Begitulah Ma Hiong dan teman-temannya itu bagaikan serombongan serigala mengamuk di tengah-tengah kawanan kambing. Meskipun hanya sedikit, tapi karena menunggang kuda jadi lebih leluasa untuk menerjang ke sana ke mari. Prajurit-prajurit bukan saja harus hati-hati terhadap senjata-senjata mereka, tapi juga terhadap kaki-kaki kuda yang menghentak-hentak itu.

Rupanya udara yang sarat dengan nafas membunuh dan bau anyirnya darah telah membuat kuda-kuda Itu jadi liar pula seperti penunggang-penunggangnya yang haus darah. Beberapa prajurit musuh berhasil mengait kaki-kaki kuda itu dengan tombak panjang, begitu penunggangnya jatuh segera dihujani senjata oleh prajurit musuh.

Dengan demikian di pihak Ma Hiong juga telah jatuh korban beberapa orang. Namun sebagian dari orang Hwe-liong-pang yang jatuh dari kuda itu telah berhasil naik kembali ke punggung kuda mereka, di bawah perlindungan teman-temannya.

Dilain pihak, meskipun untuk gebrakan pertama tentara Manchu menjadi agak kacau, tapi mereka bukanlah orang orang tolol yang tak terlatih sama sekali. Tak lama kemudian merekapun mulai mendapat ketenangan kembaili, dan memberi perlawanan kepada penyerbu-penyerbu berkuda itu.

Meskipun mereka masih saja berlari-larian menghindari derap kaki kuda dan sekaligus juga sambaran penunggangnya, namun setiap kali mereka selalu berusaha untuk merimpang kaki kuda. Dengan demikian Ma Hiong dan teman-temannya harus berhati-hati.

Ketika melihat musuh mulai membentuk perlawanan terarah, pangeran Cu Hin-yang sebagai pencetus siasat itu segera sadar bahwa dampak kejutannya sudah habis, mereka harus segera mundur untuk membuat kejutan di bagian lain. Maka ia berteriak kepada Ma Hiong yang masih saja bersemangat menerjang kesana kemari, "Saudara Ma, tugas kita di sini sudah selesai!"

Di pihak tentara kerajaan ada seorang perwira rendahan yang berteriak-teriak, "Jangan biarkan mereka lolos! Mereka akan mengacau di bagian lain dari barisan kital"

Tapi tak seorangpun prajurit kerajaan yang berani menghadapi terjangan kuda-kuda tegar dengan penunggang-penunggangnya yang bagaikan kesurupan setan itu. Apalagi diujung barisan berkuda itu ada empat orang seperti Ma Hiong, Pangeran Cu Hin-yang serta dua pengawal kepercayaan Ma Hiong yang dengan gampangnya menyibakkan barisan musuh seperti menyibakkan rumput ilalang saja. Dalam gerakan mundurpun mereka masih sempat menambah jumlah korban di pihak lawan.

Dengan marahnya prajurit-prajurit kerajaan melemparkan lembing-lembing dan anak-anak panah mereka, namun tak ada yang kena sebab Ma Hiong dan teman-temannya telah semakin jauh. Keluar dari barisan musuh, Ma Hiong memimpin teman-temannya melingkar agak jauh dari medan perang, diberinya kesempatan sejenak kepada kuda-kuda dan penunggangnya untuk beristirahat atau mengobati luka. Lalu mereka kembali menyerbu di bagian lain.

Begitulah Ma Hiong dan kelompoknya itu setiap kali menggunakan siasat "pukul dan lari", muncul dan menghilang seperti hantu-hantu yang ganas, seluruh barisan belakang musuh jadi tidak tenteram lagi. Meskipun tidak terhindari bahwa beberapa orang Hwe-liong-pang gugur dalam serangan kucing-kucingan itu, namun sudah cukup membuat pasukan musuh kacau di bagian belakang.

Ternyata kekacauan di bagian belakang barisannya itu membuat tentara Kerajaan secara keseluruhan jadi terganggu juga. Tekanan pasukan Manchu terhadap laskar Hwe-liong-pang tidak bisa lagi ditingkatkan, sebab bantuan yang tadinya "mengalir" dari garis belakang kini mulai tidak lancar. Jepit raksasa yang direncanakan oleh Yang Kang untuk menggencet hancur laskar musuh menjadi macet dan musuh tak kunjung dapat dihancurkan.

Yang Kang yang tengah berduel dengan Cho Bun-liong itu segera merasakan ketidak-beresan gerakan pasukannya. Nalurinya sebagai seorang panglima yang berpengalaman segera membisikkan kepadanya, garis depannya yang tadi terus mendesak maju, kini tiba-tiba berhenti. Maka dengan sebuah isyarat ia segera memanggil tiga orang perwira bawahannya yang dianggapnya cukup berilmu, masing-masing bersenjata Sam-ciat-kun (Ruyung Tiga Ruas), kampak bertangkai sepanjang tangkai tombak, dan golok tebal.

"Kalian lawan dulu pemberontak ini!" katanya kepada ketiga perwira bawahannya itu. "Aku akan memeriksa seluruh pasukan!"

Ketiga orang perwira bawahan itu segera meloncat memasuki gelanggang untuk melawan Cho Bun-liong, dan Yang Kang sendiri segera meloncat keluar dari arena. Sementara Cho Bun-Hong dengan marahnya berteriak,

"Anjing Manchu, Jangan lari dulu! Rasakan dulu senjataku!" Namun ia tidak dapat mengejar Yang Kang sebab ketiga perwira musuh telah menghalanginya.

Sementara itu Yang Kang dengan tergesa-gesa menyusup ke barisan belakang, dan menemui seorang perwira bawahannya yang bertanggung-jawab di bagian itu. Dampratnya, "He, kenapa tekanan ke garis depan mengendor? Orang orang Hwe-liong-pang yang seharusnya sudah kita hancurkan, itu kini seolah mendapat kesempatan untuk bernapas kembali. Apa yang terjadi di sini?"

Perwira yang berperut besar tetapi keras seperti batu karang itu menyahut, "Ciang-kun, melakukan siasat sergap dan lari."

“Berapa besar kekuatan mereka?"

"Tadi kuhitung kira-kira tiga puluh orang...”

Merah padamlah wajah Yang Kang mendengar jawaban itu. Bentaknya, "Gila! Kalian gila semuanya! Kalian yang berjumlah ratusan orang ini tidak sanggup mengatasi hanya tigapuluh orang? Kalian sadari akibat kegoblokan kalian? Orang Hwe-liong-pang yang seharusnya sudah tumpas itu sekarang masih bertahan, itu karena kalian tidak membantu dorongan ke garis depan dan hanya sibuk dengan orang-orang berkuda itu saja!"

"Tetapi...tetapi..Ciangkun, dalam rombongan kecil itu ada empat orang yang sangat tangkas. Kepandaian masing-masing dari keempat orang itu barangkali tidak kalah dengan Ciangkun sendiri, dan merekalah ujung tombak dari serangan-serangan itu sehingga Siapa yang sanggup menahan mereka?"

"Jadi bagaimana akalmu? Apa aku harus meninggalkan garis depan yang membutuhkan pimpinanku, dan kemudian berada di garis belakang ini sambil termangu-mangu menunggu munculnya orang-orang berkuda itu? He, gendut, kau bertanggung-jawab di garis belakang ini untuk menyelesaikan orang-orang berkuda itu. Jika kau gagal, maka di Jing-toh nanti akan kucopot pangkat perwiramu dan kujadikan tukang mencuci kuda dalam pasukan kita, jelas?"

"Tetapi...tetapi...Ciangkun..."

"Kau sudah dilatih menghadapi macam-macam keadaan, jadi terserah bagaimana akalmu pokoknya harus berhasil.!" bentak Yang Kang tanpa mempedulikan wajah perwira bawahannya yang menjadi salah tingkah itu. Lalu sang Panglima pun kembali menyusup ke garis depan untuk menyelesaikan tugasnya yang tadi tertunda.

Perwira gendut itu menarik napas panjang sambil menggaruk-garuk perutnya, gerutunya, "Ciangkun tidak melihat sendiri bagaimana hebatnya orang orang berkuda itu bertempur, jika la melihat sendiri maka tentu tidak akan seenaknya saja main perintah kepadaku!"

Dalam pada itu, sergapan-sergapan dari Ma Hiong dan kelompok kecilnya ternyata bukan saja berhasil mengacaukan barisan belakang musuh, tapi juga mengobarkan semangat orang-orang Hwe-liong-pang yang berada didalam kepungan musuh. Meskipun orang-orang Hwe-liong-pang yang terkepung itu hanya melihatnya dari kejauhan, namun mereka segera mengenal bahwa di antara orang-orang berkuda yang mengacau ekor pasukan musuh itu terdapat pemimpin mereka.

"Itu Tongcu!" teriak salah seorang Hwe-liong-pang.

Seruan itu segera menjalar dari mulut ke mulut sehingga semangat tempur merekapun berkobar semakin hebat, tidak peduli musuh lebih kuat. Dengan sorak-sorai yang gemuruh yang dipekikkan orang-orang Hwe-liong-pang, maka pihak tentara Manchu merasa bahwa musuh ternyata masih belum begitu mudah untuk ditundukkan. Tidak selancar ketika mereka masih merencanakan serangan di kota Jing-toh.

Alangkah geramnya Yang Kang menghadapi kenyataan itu. Menurut perhitungan, sejak serangan dilancarkan tengah malam tadi, maka tidak sampai pagi pasti musuh sudah habis. Tapi sekarang matahari sudah agak tinggi dan musuh masih juga melawan dengan uletnya. Memang banyak musuh yang terbunuh, namun yang masih hiduppun berkelahi tanpa kenal takut.

Kini kesulitan justru menghantui pasukan Yang Kang sendiri. Selama ini prajurit-prajuritnya kurang latihan, hanya mengandalkan jumlah yang besar saja dan perhitungan-perhitungan di atas kertas. Setelah bertempur semalam suntuk, tanda-tanda kelelahan terlihat semakin jelas pada diri prajurit-prajuritnya. Daya tahan perorangan mereka ternyata kalah dari orang-orang Hwe-liong-pang yang biasa ditempa kerasnya alam itu.

Tapi yang lebih lelah lagi adalah Ma Hiong dan pasukannya kecil berkudanya. Betapa hebatnya jasmani mereka harus bertempur sambil "menggebrak" di seluruh sudut arena pertempuran itu, terasa terkuras juga tenaganya. Serangan-serangan mereka yang paling akhir sudah tidak setajam serangan-serangan pertama tadi, dan sudah belasan orang anggauta pasukan kecil itu yang gugur atau luka.

Pangeran sendiri sudah terluka pundaknya oleh lemparan lembing lawan yang tak sempat dielakkannya. Sedang pengawal Ma Hiong yang bernama Oh Kim-cian telah luka besar di betisnya, tertusuk tombak musuh.

Namun pada saat pihak-pihak yang bertempur itu merasa lelah, tiba-tiba dari arah selatan padang ilalang itu terdengar sorak-sorai yang membahana, ujung-ujung senjata yang berjumlah ratusan berkilat-kilat tertimpa sinar matahari, bendera-bendera berkibar dengan megahnya. Sebuah pasukan yang cukup kuat telah memasuki arena itu dari arah selatan, namun belum diketahui entah pasukan dari pihak manakah itu.

Yang Kang yang tengah memimpin pasukan depannya untuk menghancurkan lawan secepat mungkin, tiba-tiba mendapat laporan yang mengejutkan dari seorang prajuritnya, "Ciangkun, pasukan Li Tiang-hong memasuki arena!"

Terkesiaplah Yang Kang mendengar laporan ini. "Gila! Gila! Kenapa mereka justru muncul pada saat kita sudah diambang kemenangan? Bagaimana keadaan pasukan kita yang menghadapi lawan baru itu?"

Sahut prajurit yang melaporkan itu, "Sangat payah, Ciangkun. Kini pasukan selatan kita seakan terjepit, dari depan oleh Hwe-liong-pang dan dari belakang oleh Li Tiang-hong."

Alangkah jengkelnya Yang Kang. Kemenangan yang hampir diraihnya kini lolos lagi dari tangannya, bahkan kekalahan baginya kini bukan hal mustahil lagi. Segera dikeluarkannya perintah sebelum pasukannya terlanjur berantakan, "Tarik semua sayap ke induk pasukan. Kita terpaksa melepaskan niat kita untuk menjepit lawan, daripada kita yang hancur tergencet dari dua arah!"

Dua orang perwira bawahannya yang bertugas sebagai penyambung perintah, segera meneruskan perintah itu secara berantai sehingga dalam waktu singkat prajurit yang paling ujungnya dapat mendengar perintah itu. Maka dengan gerakan yang teratur karena sudah terlatih, pasukan Manchu segera bergerak mengumpul ke induk pasukannya. Dengan demikian "jepit" yang hampir berhasil menjepit, hancur orang-orang Hwe-liong-pang itu terpaksa dibuka kembali karena kedatangan Li Tiang-hong dan pasukanya.

Sementara itu, Cho liong juga sudah mendengar laporannya tentang pasukan mana yang sudah memasuki arena itu. Ia mengerutkan alisnya dan menggerutu, "Budak-budak dinasti Beng itu datang? Huh, buat apa mereka datang dan ikut campur urusan kita? Kita juga tidak sudi menerima bantuan mereka!"

Maka teriaknya kepada anak buahnya, "Kita tidak butuh bantuan budak-budak Cong-ceng itu! Saudara-saudara, mari kita tunjukkan kepada budak-budak itu lagaimana kita bertempur melawan musuh!"

Ucapan Cho Liong yang bernada membakar itu disambut dengan sorakan bersemangat oleh laskarnya. Bagaikan gelombang menghantam pantai, orang-orang Hwe-li-ong-pang mengejar tentara Manchu yang tengah menarik diri itu. Kembali berkumandang dentang senjata yang ramai, bercampur aduk dengan teriakan-teriakan pembakar semangat dari kedua pihak, caci-maki penuh kemarahan dan kebencian, teriakan kesakitan dan kematian. Ratusan orang berkelahi dengan nafsu haus darah yang tak terkendali.

Padang ilalang yang biasanya sunyi tenteram itu, kini riuh dengan gemuruhnya perang. Embun yang indah bagai mutiara bercampur dengan merahnya darah yang semerah api neraka, tubuh-tubuh beku saling menyilang di seluruh arena. Perang memang kejam, namun manusia agaknya sangat asyik dengan permainan kejam itu. Tentu saja mengasyikkan hanya bagi segelintir pemimpin yang menganggap para prajurit-prajurit rendahan itu sebagai bidak-bidak catur belaka, sebab mereka tinggal mengatur jalannya peperangan dari belakang meja.

Namun para pemimpin itu tidak mau tahu berapa banyak perempuan yang menjadi janda, berapa banyak anak-anak kehilangan ayahnya, berapa banyak gadis kehilangan kekasihnya dan ibu-ibu kehilangan puteranya. Perang tetap saja mengasyikkan, anggap saja semacam olahraga asah otak bagi para pemimpin.

Di tengah gemuruhnya saling bantai antar manusia itu, Ma Hiong dan kelompoknya sudah melihat kedatangan pasukan Li Tiang Hong itu. Dan ketika Pangeran melihat panji-panji yang dikibarkan oleh pasukan Li Tiang-hong itu seketika bergetarlah jantungnya. Bagaikan kehilangan sukma, Pangeran menatap lekat-lekat ke arah sehelai bendera besar segitiga berwarna kuning, di tengah-tengahnya tersulam bulatan merah yang melambangkan matahari, dan di samping bulatan merah itu ada lukisan bulan sabit berwarna putih. Itulah Jit-goat-ki (Panji Matahari dan Rembulan), bendera dinasti Beng.

Tiba-tiba mata Pangeran menjadi buram karena selapis air membasahi matanya, lambaian bendera itu seakan-akan mengucapkan selamat bertemu setelah bertahun-tahun tak bertemu. Kemudian dilihatnya pasukan Li Tiang-hong memasuki arena. Mereka masih tetap memakai seragam prajurit Beng, meskipun sudah kurang lengkap dan warnanyapun sudah lusuh.

Namun mereka tetap mengenakannya dengan rapi dan penuh kebanggaan, seakan mereka tetap merasa sebagal prajurit-prajurit dari sebuah dinasti yang benar, bukan sekedar pengacau-pengacau liar seperti yang disebut oleh orang-orang Manchu. Pangeran hampir menangis rasanya melihat pemandangan yang mengharukan itu.

Untuk sesaat Pangeran lupa bahwa dirinya masih berada di tengah medan perang yang riuh. Ketika seluruh perhatiannya sedang terampas oleh bendera Jit-goat-ki, maka seorang prajurit musuh telah melemparkan lembingnya dengan derasnya ke dada Pangeran yang tengah melamun itu.

Untunglah Oh Kim-ciam melihat Itu, teriaknya, Hati-hati, Pangeranl" Dan sambil berteriak memperingatkan iapun melemparkan toya bajanya untuk membentur lembing itu. Lembing dan toya baja berbenturan di udara dan sama-sama terjatuh ke tanah.

Pangeran segera sadar kembali bahwa di tengah medan perang itu bukan saatnya untuk melamun. Dan iapun kembali memutar pedangnya sambil melarikan kudanya, seperti seekor garuda yang menyambar sekumpulan anak-anak ayam.

Ternyata, bukan Pangeran Cu Hin-yang saja yang tergetar hatinya ketika melihat bendera itu, tetapi juga Yang Kang sebagai pemimpin pasukan Manchu. Yang Kang adalah bawahan Bu San-kui sejak Bu San-kui masih sebagai Panglima Kerajaan Beng di kota San-hai-koan. Ketika dinasti Beng dirobohkan Li Cu-seng dan kemudian Bu San-kui beserta seluruh pasukannya menakluk kepada bangsa Manchu, maka seragam prajurit Beng-pun ditukar dengan seragam prajurit Manchu.

Namun Yang Kang tidak bisa melupakan bahwa di San-hai-koan dulu ia pernah berjuang di bawah lambaian Jit-goat-ki, haruskah kini ia melawannya? Memandang bendera yang berkibar-kibar di tengah-tengah pasukan Li Tiang-hong itu, hati Yang Kang ikut terobek-robek, seakan-akan bendera itu telah mengingatkan Yang Kang kenapa sekarang kau melawanku?

Lambaian itu juga menatang Yang Kang robeklah aku, injaklah aku, kalau kau berani. Yang Kang yang tidak pernah gentar bahkan ketika melihat lautan senjata musuh, kini tiba-tiba merasa tubuhnya menggigil karena gejolak jiwanya.

Bagi prajurit, bendera bukan sekedar sehelai kain yang dicantelkan di ujung sepotong kayu. Sehelai bendera adalah lambang kehormatan pasukannya dan kehormatan negaranya. Cerita-cerita kepahlawanan dari segala penjuru dunia dan dari segala jaman tidak jarang menceritakan bagaimaana sepasukan prajurit sanggup mengorbankan diri untuk sehelai bendera.

Sehelai kain digunting menjadi dua, yang sehelai dijadikan lap meja yang sehelai dijadikan bendera, maka makna kedua guntingan kain itu akan berbeda sekali. Sehelai lap meja dapat begitu saja dibuang dan diinjak-injak, tapi sehelai bendera menuntut pembelaan dari seluruh rakyat negaranya. Menginjak sehelai bendera berarti perang!

Yang Kang bagaikan silau melihat ke arah Jit-goat-ki.Dan dalam kegoncangan perasaannya itu tiba-tiba meluncurlah perintah dari mulutnya, "Tarik mundur seluruh pasukan!"

Perwira-perwira bawahannya terkejut mendengar perintah yang dirasa sangat gegabah itu. Seorang perwira segera berkata dengan cemas, "Ciangkun, kita belum tentu kalah dalam pertempuran ini, dan kalau kita mundur begitu saja maka kita akan dihajar dari beiakang...”

Namun Yang Kang langsung membentaknya, "Aku Panglimamu dan aku memerintahkan untuk menarik mundur seluruh pasukan!! Kau dengar?!"

Perintah itu memang janggal. Masakah Yang Kang yang berpengalaman itu memerintahkan pasukannya untuk mundur begitu saja? Biasanya Yang Kang adalah seorang Panglima yang gigih. Andaikata harus mundurpun tentu sambil mencari kesempatan untuk menyerang balik, tidak pernah mundur begitu saja.

Namun perwira-perwira bawahannya saat itu mana tahu bahwa Yang Kang tengah tergoncang Jiwanya melihat lambaian bendera Jit-goat-ki? Hujan panah dan dinding golok ia berani menerjangnya, tetapi Jit-goat-ki ternyata masih memiliki pengaruh yang besar atas jiwanya.

Sementara pihak lawanpun terkejut melihat pasukan Yang Kang yang belum kalah itu tiba-tiba mundur begitu saja. Dengan demikian pasukan Li Tiang-hong yang baru saja memasuki medan itu tidak mengalami pertempuran yang berarti. Baru bertempur sebentar dan musuh sudah kabur.

Kini, pasukan Li Tiang-hong dan laskar Hwe-liong-pang yang sudah kehilangan musuh bersama itu telah berdiri berhadap-hadapan dengan senjata-senjata tergenggam erat di tangan masing-masing. Meskipun senjata belum berbenturan, namun pandangan mata dari kedua belah pihak-sudah saling berbenturan, memancarkan sikap permusuhan mereka sejak jaman pemberontakan Li Cu-seng dulu.

Seperti genangan minyak, cukup dengan setitik api saja akan berkobarlah sebuah pertempuran baru antara pasukan Li Tiang-hong lawan laskar Hwe-liong-pang. Pertempuran ulangan ketika laskar Li Cu-seng merebut Istana Kerajaan di pak-khia beberapa tahun yang lalu.

Li Tiang-hong yang jumlah pasukannya lebih banyak dan juga masih segar itu tentu tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk menghancurkan musuh lamanya yang tinggal sedikit dan kelelahan itu. Namun wajah-wajah laskar Hwe-liong-pang tidak sedikit-pun menampakkan perasaan gentar mereka terhadap maut. Mereka sudah bertekad andaikata tertumpas habispun tapi lebih dulu harus mencari korban sebanyak-banyaknya di pihak lawan.

Terdengar suara Li Tiang-hong, "Nah, orang she Cho, sekarang kau harus mengakui bahwa kami lebih kuat dari kalian bukan? Ternyata kalian terpaksa telah mengirimkan dua orang untuk meminta bantuan kami...”

Wajah Cho Bun-liong menjadi merah padam, "Orang she Li, jaga baik-baik mulutmu! Kapan kami mengirim orang untuk mengemis bantuanmu?"

Li Tiang-hong juga menjadi marah. Sambil menunjuk ke arah Kongsun Hui yang berkuda tidak jauh dari padanya, Li Tiang-hong membentak, "He, kau berani mengingkari perbuatan pihakmu sendiri? Benar-benar tidak tahu malu! Bukankah saudara Kongsun ini dengan diantar oleh seorang anak buahmu telah datang dan memohon aku untuk menggerakkan pasukan, katanya kalian hampir mampus oleh tentara Manchu dan butuh pertolongan kami?"

Cho Bun-liong melirik ke arah Kongsun Hui dan berkata keras, "Aku tidak kenal orang itu! Sejak tentara Manchu menyerang kami tadi malam, kami hanya mengandalkan tenaga sendiri untuk melawan mereka, buat apa minta bantuan budak-budak keluarga Cu seperti kalian ini? Dan bukankah kalian tidak mengalami pertempuran sedikitpun dengan tentara Manchu yang dulunya adalah bekas teman-teman kalian itu? Kamilah yang bertempur, bukan kalian!"

Li Tiang-hong yang bertampang berewokan seperti tokoh sejarah Utti Kiong dari dinasti Tong itu, bertambah marah ketika mendengar ucapan-ucapan Cho Bun-liong itu, apalagi ketika mendengar Cho Bun-liong menyebut tentara musuh tadi sebagai "bekas teman-teman kalian". Maka Li Tiang-hong-pun mengangkat tombaknya dan berteriak,

"Kurang ajar! Bu San-kui dan begundal-begundalnya memang bekas teman kami, tapi setelah mereka menjadi budak-budak Manchu maka mereka adalah musuh yang harus kami musnahkan! Orang she Cho, kau ini orang berwatak hina, pantas dulu kau bergabung dengan pengkhianat Li Cu-seng itu!"

Darah Cho Bun-liong yang belum "mendingin" akibat pertempuran yang baru saja dialaminya itu, kini telah mendidih kembali mendengar cacian Li Tiang-hong itu. Maka lapun telah mengangkat senjatanya dan siap memberikan aba-aba kepada laskarnya untuk bertempur kembali. Dan meskipun laskar Hwe-liong-pang sudah kelelahan, tapi begitu melihat isyarat pemimpin mereka itu maka merekapun dengan sigapnya mempersiapkan diri.

Melihat keadaan yang memanas itu, Kongsun Hui cepat-cepat berteriak mencegah, "Tahan...! Saudara Li dan saudara Cho, aku kira kalian sudah terlibat dalam suatu kesalah-pahaman yang sangat berbahaya dan bisa menghancurkan diri sendiri! Saudara Li, Jika nanti kau sudah bertemu dengan Pangeran, maka kau akan mendapat penjelasannya. Saudara Cho, pemimpinmu saudara Ma Hiong ada bersama Pangeran kami dan nanti kau pun akan mendapat penjelasan dari pemimpinmu. Sekarang tahanlah diri kalian, jangan seperti anak-anak muda belasan tahun yang hanya saling melotot saja sudah langsung berkelahi!"

Li Tiang-hong kenal Kongsun Hui sebagai bekas Panglima Beng pula, karenanya ia menjadi segan kepada Kongsun Hui. Sedang walaupun Cho Bun-liong belum kenal Kongsun Hui, namun ucapan orang itu cukup berpengaruh juga, meskipun ia agak heran sejak kapan Tongcu-nya berkenalan dengan seorang Pangeran?

Sementara kedua pihak masih bersitegang leher, tiba-tiba muncullah serombongan orang berkuda yang bukan lain adalah Ma Hiong dan rombongannya, di antaranya termasuk Pangeran Cu Hin-yang. Ingatan Li Tiang-hong ternyata cukup baik, dulu ketika jaman dinasti Beng, Li Tiang-hong pernah bertemu dengan pangeran Cu Hin-yang. Kini meskipun wajah pangeran itu kusut dan kotor, ternyata ketajaman mata Li Tiang-hong tetap dapat mengenalinya, apalagi karena ia sudah mendapat keterangan dari Kongsun Hui tadi.

Maka cepat-cepat Li Tiang-hong meloncat turun dari kudanya dan berlutut memberi hormat, “Hamba Li Tiang-hong memberi hormat kepada Pangeran!"

Pangeran sangat terharu bertemu dengan bekas Panglima Beng yang sangat setia ini. Pangeranpun segera secara cepat-cepat turun dari kuda, membangunkan Li Tiang-hong dan merangkulnya dengan hangat, "Terima kasih, Li Ciangkun. Dari jarak laksaan li di Shoa-say sana aku sudah mendengar berita tentang perjuanganmu yang gigih. Kau seorang panglima Beng yang membuat kami semua merasa bangga memilikimu.

"Bukan sesuatu yang luar biasa, Pangeran, hamba hanya sekedar menetapi sumpah ketika dulu diwisuda sebagai prajurit Kerajaan Beng."

Pangeran menarik napas. "Li Ciangkun, kau mengucapkan alasanmu itu dengan ringan saja seolah-olah hal itu begitu mudah untuk dilakukan. Namun sesungguhnya menetapi sumpah prajurit dengan cara segigih kau adalah hal yang maha sulit. Berapa ratus orang yang dulu mengucapkan sumpah bersamamu, dan sekarang berapa gelintirkah yang masih setia kepada sumpahnya? Tidak sedikit malahan sudah menjadi anjing-anjingnya bangsa Manchu."

Terasa mekar juga hati Li Tiang-hong mendenar pujian itu, meskipun sebenarnya dia bertempur bukan untuk mendapatkan pujian, melainkan demi kesetiaan kepada negerinya dan kaisarnya, meskipun sang Kaisar sendiri telah tiada. Li Tiang-hong melirik sekejap ke arah Ma Hiong, lalu tanyanya, "Pangeran, bagaimana Pangeran bisa berada bersama-sama dengan bangs...eh, pemimpin orang-orang Hwe-liong-pang ini?"

Pangeran tahu bahwa Li Tiang-hong hampir saja menyebut Ma Hiong sebagai bangsat, namun kemudian membatalkannya karena sadar bahwa ucapan itu terlalu kasar diucapkan di depan Junjungannya. Namun sikap Li Tiang-hong itu menunjukkan betapa saling membencinya antara sisa-sisa prajurit Beng dengan sisa-sisa pendukung Li Cu-seng. Kini adalah tugas Pangeran Cu Hin-yang untuk mempersatukan kedua kekuatan itu agar menjadi satu barisan yang kuat.

Dengan tekad seperti itu, maka Pangeran sengaja menunjukkan hubungan baiknya dengan Ma Hiong. Ia merangkul pundak Ma Hiong dan berkata kepada Li Tiang-hong, "Li Ciangkun, jika tadi malam aku tidak ditolong oleh saudara Ma dan teman-temannya, maka aku dan Kongsun Ciangkun sekalian tentu telah menjadi bangkai karena dibantai oleh si Naga Utara Pakkiong Liong dengan regu mautnya yang terkenal itu. Meskipun saudara Ma dulu adalah pengikut Li Cu-seng, namun ketika melihat kami terancam bahaya maka tanpa pikir panjang ia telah berpihak kepada kami. Ia melupakan permusuhan masa lalu demi menghadapi musuh bersama. Jiwa besarnya ini dapatkah kita menirunya?"

Li Tiang-hong merasa bahwa penjelasan Pangeran itu agak diluar dugaan, dengan sangsi ia memandang wajah pangeran dan wajah Ma Hiong berganti-ganti. Meskipun watak Li Tiang-hong keras dan kaku, namun memiliki kejujuran untuk menilai sebuah kenyataan. Maka setelah ragu-ragu sejenak iapun memberi hormat kepada Ma Hiong dan berkata, "Orang she Ma, kau sudah menyelamatkan seorang ahli waris Kerajaan Beng. Ku ucapkan terima kasih kepadamu."

Sialnya, disebut-sebutnya dinasti Beng itu malah membuat Ma Hiong kurang senang. Sahutnya, "Aku tidak peduli dengan dinasti Beng-mu. Aku menolong orang Han yang mana saja yang terancam oleh orang Manchu, tidak peduli orang Han itu she Cu atau bukan!"

Li Tiang-hong Jadi mendongkol mendengar Jawaban itu, lalu suaranya-pun berubah keras, "Oh, begitu? Kalau begitu kau juga tidak usah berterima kasih atas pertolonganku kepada laskar mu tadi! Adalah kewajiban prajurit Beng untuk melindungi rakyatnya dari gangguan musuh, tidak peduli rakyat itu orang Hwe-liong-pang atau bukan!"

"Omong kosong!" Cho Bun-liong menimbrung. "Kalian tidak menolong kami. Kami sendirilah yang menyelamatkan diri kamil Dengan kekuatan sendiri!"

Tadi suasana tegang, setelah kedatangan Pangeran Cu Hin-yang menjadi agak reda, namun kini menjadi tegang kembali gara-gara kedua pihak bersikap sama kerasnya. Maka Pangeran Cu Hin-yang cepat-cepat menengahinya, "Saudara-saudara, apakah hanya hal-hal remeh itu sudah cukup untuk membuat kalian naik darah dan saling gempur kembali? Kalian menjerumuskan diri sendiri ke dalam perpecahan dan kemudian kehancuran! Belum cukupkah kita merasakan akibat-akibat perang saudara, di mana akhirnya orang luar yang memetik hasilnya? Alangkah enaknya orang-orang Manchu itu, mereka tidak akan meneteskan setetes keringat-pun, tinggal berpeluk-tangan sambil menonton kalian baku hantam sendiri sampai remuk dan mereka tinggal memungut hasilnya. Saudara-saudara, kapan kita akan jera dengan pengalaman-pengalaman pahit kita di masa lalu?"

"Tetapi dia menghina dinasti Beng, Pangeran!" kata Li Tiang-hong sambil menunjuk kepada Ma Hiong.

Sahut Pangeran, "Tidak perlu merasa terhina. Aku bukan saja rakyat dinasti Beng, bahkan anak dari Kaisarnya sendiri meskipun hanya dilahirkan dari perempuan rakyat jelata! Tapi aku berani melihat kenyataan bahwa dinasti kita adalah dinasti yang bobrok, aku bisa memaklumi kenapa Li Cu-seng berontak. Jika ayahanda Kaisar bersih dari kesalahan, tidak mungkin Li Cu-seng akan memberontak. Li Ciang-kun, jawablah dengan jujur, apakah masa pemerintahan ayahanda Cong-ceng dulu tidak seperti yang kukatakan tadi?"

Pertanyaan Pangeran itu membuat wajah garang Li Tiang-hong tiba-tiba tertunduk lesu. Namun ia masih juga mencoba memberikan alasan, "Memang jaman itu tidak dapat dibanggakan sama sekali, keboborokan dan kemelaratan merajalela dimana-mana. Tapi tidak seharusnya Li Cu-seng mengacau di dalam negeri sehingga memberi peluang kepada bangsa Manchu untuk menyerbu negeri ini. jadi yang salah adalah Li Cu-seng, dan orang-orang Hwe-liong-pang ini dulu adalah pendukung-pendukung bandit pemberontak itu!"

Ma Hiong hampir saja berteriak untuk mendebatnya, namun pangeran telah menepuk pundaknya dan memberi isyarat agar diam lebih dulu. Lalu Pangeranlah yang berbicara, "Tidak, Li Ciangkun. Kita harus bisa memahami kenapa ia berontak. Kau pikir kesengsaraan rakyat itu boleh dibiarkan terus menerus? Li Cu-seng ingin mengangkat derajat rakyat kecil dan untuk itu tidak ada jalan lain kecuali mengangkat senjata. Kukatakan lagi, tidak ada jalan lain. Li Cu-seng tidak mungkin menghadap ke istana untuk mengadukan penderitaan rakyat, sebab kaki tangan si dorna Cho Hua-sun sudah memenuhi segala sudut istana, sehingga pengaduannya pasti akan dianggap angin lalu saja. Dan siapa yang berani mengadukan hal-hal yang tidak baik kepada Kaisar, ia akan segera kehilangan kepalanya. Jadi cara apa yang paling tepat bagi Li Cu-seng kecuali mengobarkan pemberontakan?"

"Jadi Pangeran menyetujui pemberontakan Li Cu-seng, meskipun yang digulingkannya adalah ayahanda Pangeran sendiri?"

Sahut Pangeran, "Harus dipisahkan antara hubungan pribadi dengan kepentingan seluruh negara. Aku sebagai anak hormat kepada ayah Baginda sebagai ayahku. Tapi aku sebagai warga yang mendambakan tata-pemerintahan yang bersih dari kaum dorna, bisakah aku menghormati rajaku yang juga ayahku? Aku jawab terus-terang, Li Ciangkun, aku tidak bisa menghormatinya."

Li Tiang-hong menarik napas dalam dalam dan mencoba mencerna sikap Pangeran Cu Hin-yang yang terasa mengejutkan itu. Namun perlahan-lahan akal sehat Li Tiang-hong yang menguasai dirinya, bukan sekedar kesetiaan kepada dinasti Beng yang membabi-buta. Ucapan ucapan Pangeran itu benar adanya. Li Tiang-hong sendiri ingat bagaimana ia pernah berusaha menghadap Kaisar untuk sebuah urusan penting yang mendesak harus diketahui oleh Kaisar.

Namun orang-orang di sekitar Kaisar tidak segera menyampaikan permohonan menghadap itu Sebelum Li Tiang-hong memberi "uang pelicin". Tidak peduli ada masalah yang menyangkut mati-hidup negara, pokoknya tanpa uang pelicin Jangan harap masalahnya akan dibicarakan dalam sidang istana.

Bu San-kui, Panglima Beng yang berbalik menjadi panglima Manchu itu, barangkali adalah salah satu korban kekecewaan melihat tata pemerintahan yang semrawut itu. Ketika Bu San-kui masih sebagai perwira rendahan di San-hai-koan, ia diutus oleh Panglima San hai-koan untuk pergi ke Ibukota untuk menghadap Kaisar telah dipersulit oleh orang-orang istana sendiri, meskipun Bu San-kui sampai kehabisan uang untuk sogok sana sogok sini, agaknya sogokannya kurang besar sehingga permohonannya diabaikan saja.

Akhirnya ia berhasil juga menghadap, namun keadaan sudah tak tertolong. Panglima Hong di San-hai-koan sudah tertawan oleh musuh, dan untungnya kota itu masih dapat dipertahankan. betapa kecewanya Bu San-kui saat itu, dan tidak aneh kalau kesetiaannya kepada pemerintahan Beng Jadi merosot. Barangkali, itu pula salah satu alasannya kenapa rela menyerahkan negerinya kepada pihak Manchu daripada mempertahankannya mati-matian, mungkin karena dianggapnya mempertahankan dinasti Beng sama saja artinya dengan mempertahankan kebobrokan.

Kini di tengah padang ilalang di wilayah Hun-lam itu, Pangeran Cu Hin-yang tahu bahwa kata-katanya mulai meresap di hati Li Tiang-hong. Katanya lagi "Kau tentu dapat menilai sejarah masa lalu dengan jujur, Li Ciangkun. Sekarang bangsa Manchu telah menguasai negeri kita. Apakah kita masih saja saling melempar kesalahan dan saling menudingkan telunjuk, menganggap diri sendiri paling benar?"

"Aku mengerti, Pangeran," akhirnya Li Tiang-hong menjawab.

Sementara itu Ma Hiong juga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Pangeran yang terasa kebenarannya itu. Bahkan kemudian Ma Hiong mendahului minta maaf kepada Li Tiang-hong, "Orang she Li, aku minta maaf untuk ucapanku tadi. Dan terima kasih pula untuk pertolonganmu kepada laskarku."

Li Tiang-hong juga baru saja terbuka pikirannya, maka sambil tertawa terbahak ia menjawab, "Jangan sungkan-sungkan, orang she Ma. Suatu ketika barangkali aku yang akan terburu-buru mohon bantuan kepadamu..."

"Aku nantikan saat kau terbirit-birit menemui aku itu," sahut Ma Hiong sambil tertawa. Namun kali ini suara tertawanya tidak mengandung nada mengejek sedikitpun.

Entah siapa yang mendahului, tahu tahu kedua lelaki berwatak jantan itu sudah saling mengulurkan tangan dan kemudian saling genggam dengan eratnya. Sirnalah sikap saling bersaingan selama ini, seperti embun pagi yang menguap terkena kehangatan sinar mentari.

Pangeran merasa sangat puas melihat peristiwa itu. Tangannya pun ikut bersatu dengan tangan kedua orang itu katanya, "Bagus, kita akan bekerja sama mengusir penjajah Manchu dari negeri ini. Dalam perjalanan menuju kemari, aku juga sempat mendamaikan antara Tiat-hi-pang (Serikat Ikan Besi) dengan Kang-liong-pang (Serikat Naga Sungai yang tadinya bertengkar terus karena merasa sama-sama berkuasa di sungai Hong-ho itu. Kini mereka sudah rukun dengan pembagian daerah kerjanya masing-masing, dan Jika mereka bersatu maka kekuatan mereka cukup disegani oleh armada kapal Manchu yang sering lalu-lalang di sungai Hong ho itu. Di wilayah Hok-kian aku juga sudah merukunkan Koay-to-bun (Perguruan Golok Kilat) dengan Ngo-pa-hwe (Perkumpulan Lima Harimau)."

Sementara itu, baik pasukan Li Tiang-hong dan laskar Hwe-liong-pang mulai membenahi diri mereka masing-masing. Korban yang jatuh di pihak Hwe-liong-pang ternyata cukup besar, hampir separoh gugur dalam waktu hanya semalam, sedang yang masih hiduppun banyak yang luka-luka. Yang gugur langsung dikuburkan di tempat itu juga, dengan batu nisan dari potongan-potongan kayu yang diukir dengan nama masing-masing.

Mayat-mayat prajurit musuhpun ikut di kuburkan dengan layak, meskipun tempatnya terpisah. Selama hidup mereka memang musuh, tapi setelah mati merekapun diperlakukan sebagai sesama manusia yang tubuhnya harus mendapat perlakuan selayaknya.

Atas perintah Li Tiang-hong sendiri, pasukannya ikut bekerja membantu laskar Hwe-liong-pang dalam menguburkan mayat-mayat itu. Pertama terasa agak canggung juga, namun setelah saling berbicara sepatah dua patah kata, perlahan-lahan kekakuan itupun mencair.

Sementara itu Ma Hiong telah berunding dengan pembantu-pembantunya, dan mereka memutuskan untuk mendirikan tempat persembunyian baru yang belum diketahui oleh musuh. Tempat persembunyian yang lama tidak ada gunanya di tempati lagi, sebab sudah diketahui musuh.

Ketika Li Tiang-hong menawarkan agar laskar Hwe-liong-pang menjadi satu saja di dalam barak Li Tiang-hong, maka Ma Hiong menolaknya secara halus. Meskipun permusuhan sudah menjadi perdamaian, namun Ma Hiong masih merasa enggan juga kalau harus menumpang di barak Li Tiang-hong, apalagi barak, itu mengibarkan bendera Jit-goat-ki yang dulu dimusuhi Hwe-liong-pang.

Baik Pangeran maupun Li Tiang-hong dapat memaklumi keengganan itu dan mereka-pun tidak memaksa, tapi kedua pihak sudah saling berjanji untuk saling membantu apabila diperlukan. Maka berturut-turut rombongan Hwe liong-pang dan pasukan Li Tiang-hong pergi meninggalkan tempat berdarah itu. Pangeran dan Kongsun Hui ikut dalam rombongan Li Tiang-hong dan mengucapkan selamat berpisah dengan Ma Hiong.

Dalam perjalanan menuju ke barak Li Tiang-hong, Pangeran sempat meminta kepada Li Tiang-hong untuk mengirimkan orang ke kuil terpencil San-sin-bio untuk mengambil jenazah Tio Tong-hai dan dua orang pengikut Pangeran lainnya yang masih tertinggal di sana. Pangeran bermaksud akan memakamkan jenazah orang-orang yang setia kepada Kerajaan Beng itu dengan upacara kehormatan di barak Li Tiang-hong nanti.

Semasa dinasti Beng belum runtuh, Li Tiang-hong juga mengenal Tio Tong-hai sebagai seorang Panglima yang jujur dan setia namun malah kurang disukai di kalangan istana. Ketika mendengar kematiannya, ia mengertakkan giginya, "Ia seorang yang baik dan berilmu tinggi, sayang umurnya sependek itu sehingga harus tewas di tangan bangsat Manchu itu. Namun aku sungguh penasaran mengapa Pakkiong Liong berani juga berkeliaran di tempat ini. Aku akan menyebar anak buahku untuk menangkap pentolan Manchu itu."

Mendengar itu, Pangeran lalu berpesan, "Tapi Li Ciangkun, jika jejaknya sudah diketemukan, jangan dihadapi sendiri. Diperlukan suatu kekuatan yang besar untuk bisa menangkapnya."

"Kenapa? Apakah ia berkepala tiga dan bertangan enam?"

"Pokoknya jangan memandang remeh kepadanya, kalau tidak, maka Ciangkun hanya akan mengorbankan anak buah Ciangkun secara sia-sia. Tadi malam, dalam keadaan luka berat ia masih sanggup melawan kami berlima, yaitu aku sendiri, Kongsun Ciangkun, Ma Hiong dan dua orang kepercayaannya yang juga cukup tangguh ilmunya itu. Bahkan ia dapat meloloskan diri di depan hidung kami. Kau bisa mengira-ngira sendiri sampai di mana bobot orang itu, terutama ilmunya yang dapat memancarkan udara panas itu benar-benar hebat."

Mau tak mau Li Tiang-hong percaya juga. Jika Pangeran sampai. berpesan begitu hati-hati, tentu ada alasan yang cukup untuk itu. Namun hal itu tidak mengurangi tekad Li Tiang-hong untuk menangkap orang Manchu yang dijuluki Naga dari Utara itu.

* * * * * * *

Di sebuah gubuk di lereng Tiam-Jong-san, sedikit demi sedikit Pakkiong Liong mendapatkan kembali kesadarannya. Kelopak matanya terasa makin ringan untuk digerak-gerakkan dan kemudian terbuka sama sekali. Dan yang pertama dilihatnya adalah kerangka bambu dari atap daun ilalang di atas dirinya. Ketika ia memudar kepalanya, ia menemukan dirinyaa terbaring di sebuah pembaringan yang terbuat dari bata merah yang direkat dengan tanah liat, dan bagian atasnya dilapisi dengan jerami yang tebal dan tikar yang bersih.

Ada dua pintu di ruangan itu, yang satu menuju keluar yang lain ke bagian dalam rumah. Yang ke bagian dalam ditutup dengan tirai tenunan serat kayu yang kasar dan sederhana, sedang yang keluar rumah berdaun pintu dari potongan-potongan kayu yang dirakit dengan tali ijuk. Pembaringan Pakkiong Liong terletak di dekat sebuah Jendela yang engselnya terletak di atas, dan Jendela itu terbuka lebar dengan diganjal sepotong kayu panjang. Dari jendela itu mengalirlah angin yang sejuk menyegarkan, udara pegunungan.

Perabotan di dalam gubuk itupun sederhana sekali. Selain pembaringan tempat Pakkiong Liong berbaring, hanya ada sebuah meja kayu kasar namun kokoh, dikelilingi empat buah bangku kayu yang sama kasarnya dan kokohnya. Di atas meja ada empat buah cawan yang tertelungkup dan bertumpuk-tumpuk, dan sebuah poci entah berisi teh atau arak.

Di sudut ruangan itu disandarkan beberapa macam alat pertanian yang terdiri dari sebuah cangkul, sabit, kampak pembelah kayu dan sepotong kayu panjang berujung runcing yang sering digunakan untuk melubangi tanah untuk menanam bibit. Secara keseluruhan, keadaan rumah itu amat sederhana, namun menimbulkan rasa tenteram dan damai.

Namun setelah Pakkiong Liong mengenangkan peristiwa yang terakhir dialaminya, maka ia berkesimpulan bahwa orang-orang penghuni gubuk itu tentu tidak sesederhana tempat tinggalnya ini. Ini tentu rumah dari anak-muda yang bernama Tong Lam-hou itu, yang dengan lemparan batunya dapat memecahkan kepala serigala, dan ranting-ranting keringnya nampu menembus tubuh serigala yang liat dan terlapis bulu tebal itu. Bukan tingkatan ilmu yang main-main.

Tanpa beranjak dari pembaringannya, Pakkiong Liong mencoba mengingat wajah anakmuda yang menolongnya dari terkaman serigala-serigala gila itu. Dan Pakkiong Liongpun tersenyum sambil bergumam sendirian, "Ia mengaku bernama Tong Lam-hou, Lam-hou yang berarti si Harimau dari selatan. Pasangan yang cocok untuk Pakkiong (Naga dari utara)."

Ketika Pakkiong Liong merasa bosan duduk terus, ia bangkit. Dan alangkah herannya ketika ia merasa tubuhnya tidak merasa sakit lagi, padahal ia teringat bahwa saat terakhir itu ia dalam keadaan luka parah luar dan dalam. Dirabanya pundaknya yang terkena bacokan Tio Tong-hai, dan dirasanya mulut luka itu sudah merapat dan tertabur dengan obat luar. Digerakannya tangannya perlahan-lahan, ternyata tidak ada ototnya yang putus sehingga ia tidak menjadi seorang yang cacad seumur hidup.

Pakkiong Liong menarik napas. Katanya dalam hati, "Hebat, anak yang bernama Tong Lam-hou itu bukan saja seorang ahli silat tetapi agaknya juga ahli pengobatan. Mudah-mudahan ia tidak termasuk golongan orang yang menentang pemerintah Manchu yang agung. Kalau tidak, agaknya aku akan mendapat lawan yang sangat berat."

Sesaat ia duduk merenung-renung, lalu berpikir lagi, "Tetapi aku rasa dia bukan termasuk orang golongan penentang itu. Semalam ketika ia menemukan aku, aku dalam pakaian seragam prajurit Manchu, tapi ia tetap saja mau menolongku dengan sepenuh hati. Jika ia musuh, tentu aku sudah dicekiknya hingga mampus, atau dibiarkannya saja aku ke mulut serigala-serigala itu."

Tengah ia merenung bolak-balik, tiba-tiba dari luar ada langkah-langkah kaki, lalu pintu yang kasar itu pun ditarik dari luar, dan muncullah anak muda yang bernama Tong Lam-hou itu. Kini wajahnya nampak lebih jelas, wajah itu sebenarrya dapat menjadi wajah yang garang, sebab ada berewok tipis berwarna coklat yang melingkari rahangnya. Namun matanya justru tidak memancarkan kegarangan sedikitpun, malahan lembut seperti mata seorang pendeta.

Melihat Pakkiong Liong telah sadar, maka Tong Lam-hou tersenyum dan berkata, "He, jangan terlalu banyak bergerak dulu, luka-lukamu masih belum sembuh sama sekali. Tapi ternyata tubuhmu cukup kuat sehingga secepat ini kau sadar dari pingsanmu, padahal lukamu cukup berat. Ibuku sudah menyediakan bubur untukmu jika siuman, biar kuambilkan di dapur."

Dan tanpa menunggu jawaban Pakkiong Liong lagi, Tong Lam-hou segera melangkah ke dapur, tak lama kemudian muncul lagi dengan sebuah mangkuk besar berisi bubur lengkap dengan sumpitnya. "Nih, makanlah. Tadi ketika ibuku memasaknya, bubur ini masih hangat, tapi karena kau belum juga siuman maka diletakkannya saja di dapur sehingga dingin."

Terpengaruh oleh sikap tuan rumahnya yang begitu terbuka, tanpa ragu ragu Pakkiong Liong menerima mangkuk dan sumpit itu, dan oleh rasa lapar yang menggigit perutnya, maka isi mangkuk itu dalam sekejap saja sudah licin tandas, berpindah ke dalam perutnya. Sebagai seorang berpangkat tinggi, Pakkiong Liong sudah merasakan jenis masakan apapun yang mahal-mahal, kebanggaan rumah-rumah makan terkenal di Ibukota, dengan pelayanannya yang bahkan berlebihan.

Namun baru kini ia merasa betapa lezatnya suatu makanan yang ternyata cuma bubur dan sepotong daging yang entah daging apa itu. Suasana tenang dan tenteram di gubuk itu agaknya menambah selera makannya, ditambah sikap Tong Lam-hou yang polos tanpa dibuat-buat. Pelayan-pelayan di rumah-rumah makan di pak-khia ramah-ramah dan cantik-cantik, namun semua itu hanya ditujukan untuk mengeruk uang dari kantong langganannya sebanyak mungkin.

Sebaliknya Tong Lam-hou yang berpakaian dekil dan bau keringat itu jelas tidak mengandung pamrih apapun, selain ingin melihat Pakkiong Liong menjadi sembuh dan kuat kembali. Menurutkan perutnya yang lapar itu, tanpa sungkan-sungkan Pakkiong Liong menghabiskan tiga mangkuk besar bubur dan beberapa potong "daging aneh” itu. Setelah itu barulah ia memuji, "Hebat sekali. Siapa yang memasak masakan sehebat ini?"

Tong Lam-hou tersenyum bangga, "Ibuku. Ia juru masak nomor satu di dunia."

"Aku percaya saja. Eh, dengan siapa kau tinggal di rumah ini?"

"Hanya bersama ibuku."

"Keluarga lainnya?"

Tiba-tiba wajah Tong Lam-hou jadi murung dan ditundukkannya kepalanya. Digenggamnya sebentuk batu kumala bundar berukir yang menjadi bandul kalungnya, diikat dengan tali rami yang sederhana. Sahut Tong Lam-hou, "Ibuku adalah satu-satunya keluargaku yang kukenal di dunia ini. Sedang ayahku, aku melihatpun belum pernah. Aku hanya tahu ayahku bernama Tong Wi-siang, tetapi sudah meninggal ketika aku masih dalam kandungan."

Tiba-tiba Pakkiong Liong juga menundukkan kepalanya, "Maaf, pertanyaanku membuatmu bersedih. Tapi kau beruntung masih memiliki seorang ibu, sedangkan aku tidak punya ayah-ibu lagi saat ini. Ibuku meninggal ketika umurku tiga tahun, dan ayahku gugur di peperangan ketika umurku sebelas tahun. Aku bangga punya ayah seperti beliau, seorang prajurit yang gagah berani."

"Karena ayahmu seorang prajurit, maka kau juga menjadi prajurit?"

"Ya, aku ingin melanjutkan cita-cita ayahku, mengabdi Kaisar dan tanah air untuk mempersatukan seluruh daratan ini menjadi satu maha kerajaan yang besar."

"Apa yang akan kau dapat setelah itu? Pangkat yang tinggi? Kekayaan yang berlimpah-limpah? Atau apa?"

"Tidak apa-apa. Apakah seseorang yang mengabdi kepada negerinya harus selalu mengharap imbalan harta dan kemuliaan seperti itu? Tidak bisakah jika imbalannya hanya kepuasan karena melihat negerinya menjadi negeri yang maju, kuat dan sejahtera?"

Tong Lam-hou mengangguk-angguk mendengar jawaban yang mantap itu. Tanyanya lagi, "Tapi bukankah tugas prajurit itu adalah tugas membunuh? Seperti binatang buas di rimba belantara yang belum tersentuh peradaban?"

"Siapa bilang? Kau agaknya salah paham tentang tugas seorang prajurit. Tugasnya adalah melindungi keamanan negara dan rakyat, jika tugas itu dapat terlaksana tanpa kekerasan, itu memang lebih baik. Tapi kadang-kadang kami harus membunuh juga, dan yang kami bunuh adalah pengacau-pengacau dan pemberontak-pemberontak yang membuat keributan di mana-mana. Kalau mereka tidak dibunuh, merekalah yang akan membunuh rakyat yang tak berdaya."

Tong Lam-hou termangu-mangu, lalu, "Apa yang kau maksud dengan pemberontak?"

"Orang yang ingin mendirikan negara dalam negara. Kalau mereka dibiarkan, di daratan ini akan muncul puluhan dan bahkan ratusan negara-negara, dan adakah rakyat bisa tenang dalam keadaan seperti itu? Tidak. Masing masing negara pasti akan saling mencurigai, saling menyerang, saling bersekutu dan memencilkan. Ini bukan omong kosong, sebab sejarah negeri ini sudah membuktikan di jaman Liat-kok sebelum dipersatukan oleh Cin-si-hong-te dulu. Nah, orang-orang yang ingin membagi-bagi negara seperti membagi-bagi kue besar inilah yang harus di cegah kelakuannya."

"Aku mengerti sekarang. Tapi ada pihak lain yang berpendapat lain."

"Maksudmu bagaimana?"

"Baru kemarin aku berkumpul di rumah kepala desa Jit-siong-tin, sebab sekelompok orang yang menamakan diri mereka 'pembebas tanah-air' telah datang untuk mengambil 'sumbangan perjuangan' dari penduduk berupa bahan bahan makanan yang hampir empat gerobak penuh. Selain itu, mereka juga telah bicara panjang lebar untuk mengajak penduduk ikut mengangkat senjata terhadap pemerintah yang sekarang yang mereka sebut sebagai penjajah. Nah, sekarang kau menyebut yang sebaliknya, jadi mana yang benar?"

Pakkiong Liong menjawab, "Setiap orang dapat saja memuji dirinya sendiri dengah sebutan yang paling indah, dan mencaci musuhnya dengan istilah yang paling busuk. Tapi ukuran baik atau jahat itu bukan perkataannya, melainkan perbuatannya. Para 'pembebas tanah-air' itu merampas bahan makanan dari penduduk desa, itu kelakuan seorang pejuang atau perampok?"

"Tapi bagaimana tuduhan bahwa bangsa Manchu merebut negeri bangsa Han?"

Pakkiong Liong balik bertanya, “Kau suku apa?"

"Menurut ibuku, ayahku adalah suku Han dan ibuku suku Hui."

"Kau sangat membeda-bedakan orang lain berdasarkan sukunya atau darah keturunannya?"

Cepat-cepat Tong Lam-hou menggelengkan kepalanya, "Tidak, sikap seperti itu tidak adil, sebab seseorang yang di dalam kandungan ibunya tidak dapat memilih ia akan menjadi bangsa apa, atau memilih warna kulit yang disukainya, sebab sudah ditentukan oleh Tuhan. Memandang orang lain berdasarkan warna kulit atau suku, adalah sikap durhaka, sama saja dengan mempersalahkan apa yang sudah ditentukan Tuhan. Lebih bijaksana Jika membedakan orang bukan berdasarkan warna kulitnya, tapi berdasarkan kelakuannya sendiri. Kelakuan orerg itu sendiri baik ataukah buruk?"

"Bagus. Itu jawaban tepat. Tong Lam-hou, patut kau ketahui bahwa di negeri ini ada puluhan suku-suku bangsa, kalau setiap suku bangsa ingin punya negeri sendiri, lalu bayangkan sendiri berapa puluh negarakah jadinya di negeri ini? Kalau masing-masing bermusuhan, apakah rakyat tidak akan terjerumus ke dalam kesengsaraan? Meskipun aku seorang Manchu, aku sangat menghormati pemersatu-pemersatu dari bangsa-bangsa lain.

"Li Yan yang mendirikan dinasti Tong, Tio Gong-in yang mendirikan dinasti Song, kedua-duanya adalah orang Han, Wanyen Akuta si pemimpin bangsa Kim yang mendirikan dinasti Kim, Temuchin si pemipin bangsa Mongol yang mendirikan dinasti Goan yang wilayahnya pernah meliputi sepertiga dunia dan ia lebih dikenal dengan sebutan Jengish Khan. Lalu Cu Goan-ciang yang mendirikan dinasti Beng juga aku kagumi, meskipun sekarang keturunannya menjadi musuhku.

"Jadi, Jika di antara bangsa Han sendiri tidak terdapat kerukunan, malahan perang saudara yang berlarut-larut, kenapa bangsa Manchu kami tidak boleh mengambil-alih pimpinan untuk mempersatukan negeri? Apa rakyat Han disuruh menunggu saja selesainya pertentangan antara pengikut-pengikut Cong-ceng yang bobrok dengan pengikut-pengikut Li Cu-seng yang beringas tetapi tidak ahli memegang pemerintahan itu? Jadi berapa tahun harus menunggu?"

Tong Lam-hou mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan itu. Meskipun Tong Lam-hou cuma anak-gunung, namun beberapa buku sejarah pernah juga dipinjamnya dari teman-temannya yang tinggal di desa Jit-siong-tin, dan dibacanya sampai habis. Dan dirasanya apa yang dikatakan Pakkiong Liong itu betul adanya. Katanya,

"Kau benar. Tentu saja jika negara bersatu dan pemerintahan berwibawa, maka rakyatpun akan hidup sejahtera, tidak disibukkan oleh perang terus-menerus. Dinasti Beng di jaman Kaisar Yung-lo memang pernah mencapai kejayaannya, bahkan kapal-kapalnya berlayar jauh sampai ke seberang samudera, namun kemudian di jaman Kaisar Cong-ceng memang begitu merosot kewibawaannya sampai keadaan di dalam negeri rusuh sekali."

Wajah Pakkiong Liong berseri karena menemui seorang kawan yang sama pendiriannya. Katanya, "Nah, kau ternyata paham sejarah juga. Persatuan itu yang sedang kami usahakan, lalu memberi kesempatan kepada rakyat untuk membangun dan hidup sejahtera. Namun keturunan dinasti Beng masih belum terima dan masih mengacau di mana-mana. Mereka mengaku memperjuangkan rakyat, padahal jaman dulu mana pernah Cong-ceng memperhatikan rakyatnya? Yang mereka, perjuangkan itu tak lain adalah kepentingan keluarga Cu sendiri, bukan kepentingan, rakyat,"

Tengah kedua anakmuda itu semakin tenggelam daiama keasyikan mereka bercakap-cakap, tiba-tiba dari luar gubuk terdengar suara seorang perempuan tua, "A-hou, bantu aku sebentar!"

Tong Lam-hou segera bangkit dari duduknya dan berkata, "Itu Ibuku datang. Ia baru pulang dari kebun untuk memetik kentang dan sayuran."

Pakklong Liong juga bangkit dari tempat berbaringnya dan berkata, "Aku ikut membantumu..."

"Jangan, nanti lukamu pecah lagi dan pengobatanku selama ini akan sia-sia saja," sahut Tong Lam-hou sambil melangkah keluar rumah.

Namun Pakklong Liong tidak mau ketinggalan. Disambarnya baju prajuritnya yang terlipat rapi dan sudah tercuci bersih di dekat pembaringannya itu, bahkan robek-robek pada baju itu sudah rapat karena ditisik halus. Ibu Tong Lam-hou adalah seorang perempuan berusia kira-kira empat puluh lima.

"Ah, kau agaknya seorang bandel juga dan suka membantah orang tua," sungut ibu Tong Lam-hou itu. "Persis seperti A-hou."

Pakkiong Liong dan Tong Lam-hou bertukar pandanaan. tahun. Meskipun ia berpakaian seperti wanita-wanita suku Han umumnya, tetapi warna rambutnya yang agak kemerahan, matanya yang cekung serta hidungnya yang mancung merupakan ciri-ciri suku Hui yang sulit disembunyikan. Tubuhnya kelihatan masih kuat, agaknya karena terbiasa bekerja keras di alam pegunungan yang menyehatkan. Di wajahnya juga masih tergores sisa-sisa kecantikannya di masa mudanya....
Selanjutnya;

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 04

Pendekar Naga dan Harimau Jilid 04

Karya : Stevanus S.P
Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Seri Pendekar Naga dan Harimau Karya Stevanus S.P
SEORANG prajurit mencoba membidik punggung Pangeran dengan lembingnya, namun tiba-tiba dia pun jatuh terjungkal sebelum sempat melemparkan lembingnya, sebab tengkuknya patah dihantam oleh seorang anak buah Ma Hiong yang bersenjata sebatang gada bergerigi.

Begitulah Ma Hiong dan teman-temannya itu bagaikan serombongan serigala mengamuk di tengah-tengah kawanan kambing. Meskipun hanya sedikit, tapi karena menunggang kuda jadi lebih leluasa untuk menerjang ke sana ke mari. Prajurit-prajurit bukan saja harus hati-hati terhadap senjata-senjata mereka, tapi juga terhadap kaki-kaki kuda yang menghentak-hentak itu.

Rupanya udara yang sarat dengan nafas membunuh dan bau anyirnya darah telah membuat kuda-kuda Itu jadi liar pula seperti penunggang-penunggangnya yang haus darah. Beberapa prajurit musuh berhasil mengait kaki-kaki kuda itu dengan tombak panjang, begitu penunggangnya jatuh segera dihujani senjata oleh prajurit musuh.

Dengan demikian di pihak Ma Hiong juga telah jatuh korban beberapa orang. Namun sebagian dari orang Hwe-liong-pang yang jatuh dari kuda itu telah berhasil naik kembali ke punggung kuda mereka, di bawah perlindungan teman-temannya.

Dilain pihak, meskipun untuk gebrakan pertama tentara Manchu menjadi agak kacau, tapi mereka bukanlah orang orang tolol yang tak terlatih sama sekali. Tak lama kemudian merekapun mulai mendapat ketenangan kembaili, dan memberi perlawanan kepada penyerbu-penyerbu berkuda itu.

Meskipun mereka masih saja berlari-larian menghindari derap kaki kuda dan sekaligus juga sambaran penunggangnya, namun setiap kali mereka selalu berusaha untuk merimpang kaki kuda. Dengan demikian Ma Hiong dan teman-temannya harus berhati-hati.

Ketika melihat musuh mulai membentuk perlawanan terarah, pangeran Cu Hin-yang sebagai pencetus siasat itu segera sadar bahwa dampak kejutannya sudah habis, mereka harus segera mundur untuk membuat kejutan di bagian lain. Maka ia berteriak kepada Ma Hiong yang masih saja bersemangat menerjang kesana kemari, "Saudara Ma, tugas kita di sini sudah selesai!"

Di pihak tentara kerajaan ada seorang perwira rendahan yang berteriak-teriak, "Jangan biarkan mereka lolos! Mereka akan mengacau di bagian lain dari barisan kital"

Tapi tak seorangpun prajurit kerajaan yang berani menghadapi terjangan kuda-kuda tegar dengan penunggang-penunggangnya yang bagaikan kesurupan setan itu. Apalagi diujung barisan berkuda itu ada empat orang seperti Ma Hiong, Pangeran Cu Hin-yang serta dua pengawal kepercayaan Ma Hiong yang dengan gampangnya menyibakkan barisan musuh seperti menyibakkan rumput ilalang saja. Dalam gerakan mundurpun mereka masih sempat menambah jumlah korban di pihak lawan.

Dengan marahnya prajurit-prajurit kerajaan melemparkan lembing-lembing dan anak-anak panah mereka, namun tak ada yang kena sebab Ma Hiong dan teman-temannya telah semakin jauh. Keluar dari barisan musuh, Ma Hiong memimpin teman-temannya melingkar agak jauh dari medan perang, diberinya kesempatan sejenak kepada kuda-kuda dan penunggangnya untuk beristirahat atau mengobati luka. Lalu mereka kembali menyerbu di bagian lain.

Begitulah Ma Hiong dan kelompoknya itu setiap kali menggunakan siasat "pukul dan lari", muncul dan menghilang seperti hantu-hantu yang ganas, seluruh barisan belakang musuh jadi tidak tenteram lagi. Meskipun tidak terhindari bahwa beberapa orang Hwe-liong-pang gugur dalam serangan kucing-kucingan itu, namun sudah cukup membuat pasukan musuh kacau di bagian belakang.

Ternyata kekacauan di bagian belakang barisannya itu membuat tentara Kerajaan secara keseluruhan jadi terganggu juga. Tekanan pasukan Manchu terhadap laskar Hwe-liong-pang tidak bisa lagi ditingkatkan, sebab bantuan yang tadinya "mengalir" dari garis belakang kini mulai tidak lancar. Jepit raksasa yang direncanakan oleh Yang Kang untuk menggencet hancur laskar musuh menjadi macet dan musuh tak kunjung dapat dihancurkan.

Yang Kang yang tengah berduel dengan Cho Bun-liong itu segera merasakan ketidak-beresan gerakan pasukannya. Nalurinya sebagai seorang panglima yang berpengalaman segera membisikkan kepadanya, garis depannya yang tadi terus mendesak maju, kini tiba-tiba berhenti. Maka dengan sebuah isyarat ia segera memanggil tiga orang perwira bawahannya yang dianggapnya cukup berilmu, masing-masing bersenjata Sam-ciat-kun (Ruyung Tiga Ruas), kampak bertangkai sepanjang tangkai tombak, dan golok tebal.

"Kalian lawan dulu pemberontak ini!" katanya kepada ketiga perwira bawahannya itu. "Aku akan memeriksa seluruh pasukan!"

Ketiga orang perwira bawahan itu segera meloncat memasuki gelanggang untuk melawan Cho Bun-liong, dan Yang Kang sendiri segera meloncat keluar dari arena. Sementara Cho Bun-Hong dengan marahnya berteriak,

"Anjing Manchu, Jangan lari dulu! Rasakan dulu senjataku!" Namun ia tidak dapat mengejar Yang Kang sebab ketiga perwira musuh telah menghalanginya.

Sementara itu Yang Kang dengan tergesa-gesa menyusup ke barisan belakang, dan menemui seorang perwira bawahannya yang bertanggung-jawab di bagian itu. Dampratnya, "He, kenapa tekanan ke garis depan mengendor? Orang orang Hwe-liong-pang yang seharusnya sudah kita hancurkan, itu kini seolah mendapat kesempatan untuk bernapas kembali. Apa yang terjadi di sini?"

Perwira yang berperut besar tetapi keras seperti batu karang itu menyahut, "Ciang-kun, melakukan siasat sergap dan lari."

“Berapa besar kekuatan mereka?"

"Tadi kuhitung kira-kira tiga puluh orang...”

Merah padamlah wajah Yang Kang mendengar jawaban itu. Bentaknya, "Gila! Kalian gila semuanya! Kalian yang berjumlah ratusan orang ini tidak sanggup mengatasi hanya tigapuluh orang? Kalian sadari akibat kegoblokan kalian? Orang Hwe-liong-pang yang seharusnya sudah tumpas itu sekarang masih bertahan, itu karena kalian tidak membantu dorongan ke garis depan dan hanya sibuk dengan orang-orang berkuda itu saja!"

"Tetapi...tetapi..Ciangkun, dalam rombongan kecil itu ada empat orang yang sangat tangkas. Kepandaian masing-masing dari keempat orang itu barangkali tidak kalah dengan Ciangkun sendiri, dan merekalah ujung tombak dari serangan-serangan itu sehingga Siapa yang sanggup menahan mereka?"

"Jadi bagaimana akalmu? Apa aku harus meninggalkan garis depan yang membutuhkan pimpinanku, dan kemudian berada di garis belakang ini sambil termangu-mangu menunggu munculnya orang-orang berkuda itu? He, gendut, kau bertanggung-jawab di garis belakang ini untuk menyelesaikan orang-orang berkuda itu. Jika kau gagal, maka di Jing-toh nanti akan kucopot pangkat perwiramu dan kujadikan tukang mencuci kuda dalam pasukan kita, jelas?"

"Tetapi...tetapi...Ciangkun..."

"Kau sudah dilatih menghadapi macam-macam keadaan, jadi terserah bagaimana akalmu pokoknya harus berhasil.!" bentak Yang Kang tanpa mempedulikan wajah perwira bawahannya yang menjadi salah tingkah itu. Lalu sang Panglima pun kembali menyusup ke garis depan untuk menyelesaikan tugasnya yang tadi tertunda.

Perwira gendut itu menarik napas panjang sambil menggaruk-garuk perutnya, gerutunya, "Ciangkun tidak melihat sendiri bagaimana hebatnya orang orang berkuda itu bertempur, jika la melihat sendiri maka tentu tidak akan seenaknya saja main perintah kepadaku!"

Dalam pada itu, sergapan-sergapan dari Ma Hiong dan kelompok kecilnya ternyata bukan saja berhasil mengacaukan barisan belakang musuh, tapi juga mengobarkan semangat orang-orang Hwe-liong-pang yang berada didalam kepungan musuh. Meskipun orang-orang Hwe-liong-pang yang terkepung itu hanya melihatnya dari kejauhan, namun mereka segera mengenal bahwa di antara orang-orang berkuda yang mengacau ekor pasukan musuh itu terdapat pemimpin mereka.

"Itu Tongcu!" teriak salah seorang Hwe-liong-pang.

Seruan itu segera menjalar dari mulut ke mulut sehingga semangat tempur merekapun berkobar semakin hebat, tidak peduli musuh lebih kuat. Dengan sorak-sorai yang gemuruh yang dipekikkan orang-orang Hwe-liong-pang, maka pihak tentara Manchu merasa bahwa musuh ternyata masih belum begitu mudah untuk ditundukkan. Tidak selancar ketika mereka masih merencanakan serangan di kota Jing-toh.

Alangkah geramnya Yang Kang menghadapi kenyataan itu. Menurut perhitungan, sejak serangan dilancarkan tengah malam tadi, maka tidak sampai pagi pasti musuh sudah habis. Tapi sekarang matahari sudah agak tinggi dan musuh masih juga melawan dengan uletnya. Memang banyak musuh yang terbunuh, namun yang masih hiduppun berkelahi tanpa kenal takut.

Kini kesulitan justru menghantui pasukan Yang Kang sendiri. Selama ini prajurit-prajuritnya kurang latihan, hanya mengandalkan jumlah yang besar saja dan perhitungan-perhitungan di atas kertas. Setelah bertempur semalam suntuk, tanda-tanda kelelahan terlihat semakin jelas pada diri prajurit-prajuritnya. Daya tahan perorangan mereka ternyata kalah dari orang-orang Hwe-liong-pang yang biasa ditempa kerasnya alam itu.

Tapi yang lebih lelah lagi adalah Ma Hiong dan pasukannya kecil berkudanya. Betapa hebatnya jasmani mereka harus bertempur sambil "menggebrak" di seluruh sudut arena pertempuran itu, terasa terkuras juga tenaganya. Serangan-serangan mereka yang paling akhir sudah tidak setajam serangan-serangan pertama tadi, dan sudah belasan orang anggauta pasukan kecil itu yang gugur atau luka.

Pangeran sendiri sudah terluka pundaknya oleh lemparan lembing lawan yang tak sempat dielakkannya. Sedang pengawal Ma Hiong yang bernama Oh Kim-cian telah luka besar di betisnya, tertusuk tombak musuh.

Namun pada saat pihak-pihak yang bertempur itu merasa lelah, tiba-tiba dari arah selatan padang ilalang itu terdengar sorak-sorai yang membahana, ujung-ujung senjata yang berjumlah ratusan berkilat-kilat tertimpa sinar matahari, bendera-bendera berkibar dengan megahnya. Sebuah pasukan yang cukup kuat telah memasuki arena itu dari arah selatan, namun belum diketahui entah pasukan dari pihak manakah itu.

Yang Kang yang tengah memimpin pasukan depannya untuk menghancurkan lawan secepat mungkin, tiba-tiba mendapat laporan yang mengejutkan dari seorang prajuritnya, "Ciangkun, pasukan Li Tiang-hong memasuki arena!"

Terkesiaplah Yang Kang mendengar laporan ini. "Gila! Gila! Kenapa mereka justru muncul pada saat kita sudah diambang kemenangan? Bagaimana keadaan pasukan kita yang menghadapi lawan baru itu?"

Sahut prajurit yang melaporkan itu, "Sangat payah, Ciangkun. Kini pasukan selatan kita seakan terjepit, dari depan oleh Hwe-liong-pang dan dari belakang oleh Li Tiang-hong."

Alangkah jengkelnya Yang Kang. Kemenangan yang hampir diraihnya kini lolos lagi dari tangannya, bahkan kekalahan baginya kini bukan hal mustahil lagi. Segera dikeluarkannya perintah sebelum pasukannya terlanjur berantakan, "Tarik semua sayap ke induk pasukan. Kita terpaksa melepaskan niat kita untuk menjepit lawan, daripada kita yang hancur tergencet dari dua arah!"

Dua orang perwira bawahannya yang bertugas sebagai penyambung perintah, segera meneruskan perintah itu secara berantai sehingga dalam waktu singkat prajurit yang paling ujungnya dapat mendengar perintah itu. Maka dengan gerakan yang teratur karena sudah terlatih, pasukan Manchu segera bergerak mengumpul ke induk pasukannya. Dengan demikian "jepit" yang hampir berhasil menjepit, hancur orang-orang Hwe-liong-pang itu terpaksa dibuka kembali karena kedatangan Li Tiang-hong dan pasukanya.

Sementara itu, Cho liong juga sudah mendengar laporannya tentang pasukan mana yang sudah memasuki arena itu. Ia mengerutkan alisnya dan menggerutu, "Budak-budak dinasti Beng itu datang? Huh, buat apa mereka datang dan ikut campur urusan kita? Kita juga tidak sudi menerima bantuan mereka!"

Maka teriaknya kepada anak buahnya, "Kita tidak butuh bantuan budak-budak Cong-ceng itu! Saudara-saudara, mari kita tunjukkan kepada budak-budak itu lagaimana kita bertempur melawan musuh!"

Ucapan Cho Liong yang bernada membakar itu disambut dengan sorakan bersemangat oleh laskarnya. Bagaikan gelombang menghantam pantai, orang-orang Hwe-li-ong-pang mengejar tentara Manchu yang tengah menarik diri itu. Kembali berkumandang dentang senjata yang ramai, bercampur aduk dengan teriakan-teriakan pembakar semangat dari kedua pihak, caci-maki penuh kemarahan dan kebencian, teriakan kesakitan dan kematian. Ratusan orang berkelahi dengan nafsu haus darah yang tak terkendali.

Padang ilalang yang biasanya sunyi tenteram itu, kini riuh dengan gemuruhnya perang. Embun yang indah bagai mutiara bercampur dengan merahnya darah yang semerah api neraka, tubuh-tubuh beku saling menyilang di seluruh arena. Perang memang kejam, namun manusia agaknya sangat asyik dengan permainan kejam itu. Tentu saja mengasyikkan hanya bagi segelintir pemimpin yang menganggap para prajurit-prajurit rendahan itu sebagai bidak-bidak catur belaka, sebab mereka tinggal mengatur jalannya peperangan dari belakang meja.

Namun para pemimpin itu tidak mau tahu berapa banyak perempuan yang menjadi janda, berapa banyak anak-anak kehilangan ayahnya, berapa banyak gadis kehilangan kekasihnya dan ibu-ibu kehilangan puteranya. Perang tetap saja mengasyikkan, anggap saja semacam olahraga asah otak bagi para pemimpin.

Di tengah gemuruhnya saling bantai antar manusia itu, Ma Hiong dan kelompoknya sudah melihat kedatangan pasukan Li Tiang Hong itu. Dan ketika Pangeran melihat panji-panji yang dikibarkan oleh pasukan Li Tiang-hong itu seketika bergetarlah jantungnya. Bagaikan kehilangan sukma, Pangeran menatap lekat-lekat ke arah sehelai bendera besar segitiga berwarna kuning, di tengah-tengahnya tersulam bulatan merah yang melambangkan matahari, dan di samping bulatan merah itu ada lukisan bulan sabit berwarna putih. Itulah Jit-goat-ki (Panji Matahari dan Rembulan), bendera dinasti Beng.

Tiba-tiba mata Pangeran menjadi buram karena selapis air membasahi matanya, lambaian bendera itu seakan-akan mengucapkan selamat bertemu setelah bertahun-tahun tak bertemu. Kemudian dilihatnya pasukan Li Tiang-hong memasuki arena. Mereka masih tetap memakai seragam prajurit Beng, meskipun sudah kurang lengkap dan warnanyapun sudah lusuh.

Namun mereka tetap mengenakannya dengan rapi dan penuh kebanggaan, seakan mereka tetap merasa sebagal prajurit-prajurit dari sebuah dinasti yang benar, bukan sekedar pengacau-pengacau liar seperti yang disebut oleh orang-orang Manchu. Pangeran hampir menangis rasanya melihat pemandangan yang mengharukan itu.

Untuk sesaat Pangeran lupa bahwa dirinya masih berada di tengah medan perang yang riuh. Ketika seluruh perhatiannya sedang terampas oleh bendera Jit-goat-ki, maka seorang prajurit musuh telah melemparkan lembingnya dengan derasnya ke dada Pangeran yang tengah melamun itu.

Untunglah Oh Kim-ciam melihat Itu, teriaknya, Hati-hati, Pangeranl" Dan sambil berteriak memperingatkan iapun melemparkan toya bajanya untuk membentur lembing itu. Lembing dan toya baja berbenturan di udara dan sama-sama terjatuh ke tanah.

Pangeran segera sadar kembali bahwa di tengah medan perang itu bukan saatnya untuk melamun. Dan iapun kembali memutar pedangnya sambil melarikan kudanya, seperti seekor garuda yang menyambar sekumpulan anak-anak ayam.

Ternyata, bukan Pangeran Cu Hin-yang saja yang tergetar hatinya ketika melihat bendera itu, tetapi juga Yang Kang sebagai pemimpin pasukan Manchu. Yang Kang adalah bawahan Bu San-kui sejak Bu San-kui masih sebagai Panglima Kerajaan Beng di kota San-hai-koan. Ketika dinasti Beng dirobohkan Li Cu-seng dan kemudian Bu San-kui beserta seluruh pasukannya menakluk kepada bangsa Manchu, maka seragam prajurit Beng-pun ditukar dengan seragam prajurit Manchu.

Namun Yang Kang tidak bisa melupakan bahwa di San-hai-koan dulu ia pernah berjuang di bawah lambaian Jit-goat-ki, haruskah kini ia melawannya? Memandang bendera yang berkibar-kibar di tengah-tengah pasukan Li Tiang-hong itu, hati Yang Kang ikut terobek-robek, seakan-akan bendera itu telah mengingatkan Yang Kang kenapa sekarang kau melawanku?

Lambaian itu juga menatang Yang Kang robeklah aku, injaklah aku, kalau kau berani. Yang Kang yang tidak pernah gentar bahkan ketika melihat lautan senjata musuh, kini tiba-tiba merasa tubuhnya menggigil karena gejolak jiwanya.

Bagi prajurit, bendera bukan sekedar sehelai kain yang dicantelkan di ujung sepotong kayu. Sehelai bendera adalah lambang kehormatan pasukannya dan kehormatan negaranya. Cerita-cerita kepahlawanan dari segala penjuru dunia dan dari segala jaman tidak jarang menceritakan bagaimaana sepasukan prajurit sanggup mengorbankan diri untuk sehelai bendera.

Sehelai kain digunting menjadi dua, yang sehelai dijadikan lap meja yang sehelai dijadikan bendera, maka makna kedua guntingan kain itu akan berbeda sekali. Sehelai lap meja dapat begitu saja dibuang dan diinjak-injak, tapi sehelai bendera menuntut pembelaan dari seluruh rakyat negaranya. Menginjak sehelai bendera berarti perang!

Yang Kang bagaikan silau melihat ke arah Jit-goat-ki.Dan dalam kegoncangan perasaannya itu tiba-tiba meluncurlah perintah dari mulutnya, "Tarik mundur seluruh pasukan!"

Perwira-perwira bawahannya terkejut mendengar perintah yang dirasa sangat gegabah itu. Seorang perwira segera berkata dengan cemas, "Ciangkun, kita belum tentu kalah dalam pertempuran ini, dan kalau kita mundur begitu saja maka kita akan dihajar dari beiakang...”

Namun Yang Kang langsung membentaknya, "Aku Panglimamu dan aku memerintahkan untuk menarik mundur seluruh pasukan!! Kau dengar?!"

Perintah itu memang janggal. Masakah Yang Kang yang berpengalaman itu memerintahkan pasukannya untuk mundur begitu saja? Biasanya Yang Kang adalah seorang Panglima yang gigih. Andaikata harus mundurpun tentu sambil mencari kesempatan untuk menyerang balik, tidak pernah mundur begitu saja.

Namun perwira-perwira bawahannya saat itu mana tahu bahwa Yang Kang tengah tergoncang Jiwanya melihat lambaian bendera Jit-goat-ki? Hujan panah dan dinding golok ia berani menerjangnya, tetapi Jit-goat-ki ternyata masih memiliki pengaruh yang besar atas jiwanya.

Sementara pihak lawanpun terkejut melihat pasukan Yang Kang yang belum kalah itu tiba-tiba mundur begitu saja. Dengan demikian pasukan Li Tiang-hong yang baru saja memasuki medan itu tidak mengalami pertempuran yang berarti. Baru bertempur sebentar dan musuh sudah kabur.

Kini, pasukan Li Tiang-hong dan laskar Hwe-liong-pang yang sudah kehilangan musuh bersama itu telah berdiri berhadap-hadapan dengan senjata-senjata tergenggam erat di tangan masing-masing. Meskipun senjata belum berbenturan, namun pandangan mata dari kedua belah pihak-sudah saling berbenturan, memancarkan sikap permusuhan mereka sejak jaman pemberontakan Li Cu-seng dulu.

Seperti genangan minyak, cukup dengan setitik api saja akan berkobarlah sebuah pertempuran baru antara pasukan Li Tiang-hong lawan laskar Hwe-liong-pang. Pertempuran ulangan ketika laskar Li Cu-seng merebut Istana Kerajaan di pak-khia beberapa tahun yang lalu.

Li Tiang-hong yang jumlah pasukannya lebih banyak dan juga masih segar itu tentu tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk menghancurkan musuh lamanya yang tinggal sedikit dan kelelahan itu. Namun wajah-wajah laskar Hwe-liong-pang tidak sedikit-pun menampakkan perasaan gentar mereka terhadap maut. Mereka sudah bertekad andaikata tertumpas habispun tapi lebih dulu harus mencari korban sebanyak-banyaknya di pihak lawan.

Terdengar suara Li Tiang-hong, "Nah, orang she Cho, sekarang kau harus mengakui bahwa kami lebih kuat dari kalian bukan? Ternyata kalian terpaksa telah mengirimkan dua orang untuk meminta bantuan kami...”

Wajah Cho Bun-liong menjadi merah padam, "Orang she Li, jaga baik-baik mulutmu! Kapan kami mengirim orang untuk mengemis bantuanmu?"

Li Tiang-hong juga menjadi marah. Sambil menunjuk ke arah Kongsun Hui yang berkuda tidak jauh dari padanya, Li Tiang-hong membentak, "He, kau berani mengingkari perbuatan pihakmu sendiri? Benar-benar tidak tahu malu! Bukankah saudara Kongsun ini dengan diantar oleh seorang anak buahmu telah datang dan memohon aku untuk menggerakkan pasukan, katanya kalian hampir mampus oleh tentara Manchu dan butuh pertolongan kami?"

Cho Bun-liong melirik ke arah Kongsun Hui dan berkata keras, "Aku tidak kenal orang itu! Sejak tentara Manchu menyerang kami tadi malam, kami hanya mengandalkan tenaga sendiri untuk melawan mereka, buat apa minta bantuan budak-budak keluarga Cu seperti kalian ini? Dan bukankah kalian tidak mengalami pertempuran sedikitpun dengan tentara Manchu yang dulunya adalah bekas teman-teman kalian itu? Kamilah yang bertempur, bukan kalian!"

Li Tiang-hong yang bertampang berewokan seperti tokoh sejarah Utti Kiong dari dinasti Tong itu, bertambah marah ketika mendengar ucapan-ucapan Cho Bun-liong itu, apalagi ketika mendengar Cho Bun-liong menyebut tentara musuh tadi sebagai "bekas teman-teman kalian". Maka Li Tiang-hong-pun mengangkat tombaknya dan berteriak,

"Kurang ajar! Bu San-kui dan begundal-begundalnya memang bekas teman kami, tapi setelah mereka menjadi budak-budak Manchu maka mereka adalah musuh yang harus kami musnahkan! Orang she Cho, kau ini orang berwatak hina, pantas dulu kau bergabung dengan pengkhianat Li Cu-seng itu!"

Darah Cho Bun-liong yang belum "mendingin" akibat pertempuran yang baru saja dialaminya itu, kini telah mendidih kembali mendengar cacian Li Tiang-hong itu. Maka lapun telah mengangkat senjatanya dan siap memberikan aba-aba kepada laskarnya untuk bertempur kembali. Dan meskipun laskar Hwe-liong-pang sudah kelelahan, tapi begitu melihat isyarat pemimpin mereka itu maka merekapun dengan sigapnya mempersiapkan diri.

Melihat keadaan yang memanas itu, Kongsun Hui cepat-cepat berteriak mencegah, "Tahan...! Saudara Li dan saudara Cho, aku kira kalian sudah terlibat dalam suatu kesalah-pahaman yang sangat berbahaya dan bisa menghancurkan diri sendiri! Saudara Li, Jika nanti kau sudah bertemu dengan Pangeran, maka kau akan mendapat penjelasannya. Saudara Cho, pemimpinmu saudara Ma Hiong ada bersama Pangeran kami dan nanti kau pun akan mendapat penjelasan dari pemimpinmu. Sekarang tahanlah diri kalian, jangan seperti anak-anak muda belasan tahun yang hanya saling melotot saja sudah langsung berkelahi!"

Li Tiang-hong kenal Kongsun Hui sebagai bekas Panglima Beng pula, karenanya ia menjadi segan kepada Kongsun Hui. Sedang walaupun Cho Bun-liong belum kenal Kongsun Hui, namun ucapan orang itu cukup berpengaruh juga, meskipun ia agak heran sejak kapan Tongcu-nya berkenalan dengan seorang Pangeran?

Sementara kedua pihak masih bersitegang leher, tiba-tiba muncullah serombongan orang berkuda yang bukan lain adalah Ma Hiong dan rombongannya, di antaranya termasuk Pangeran Cu Hin-yang. Ingatan Li Tiang-hong ternyata cukup baik, dulu ketika jaman dinasti Beng, Li Tiang-hong pernah bertemu dengan pangeran Cu Hin-yang. Kini meskipun wajah pangeran itu kusut dan kotor, ternyata ketajaman mata Li Tiang-hong tetap dapat mengenalinya, apalagi karena ia sudah mendapat keterangan dari Kongsun Hui tadi.

Maka cepat-cepat Li Tiang-hong meloncat turun dari kudanya dan berlutut memberi hormat, “Hamba Li Tiang-hong memberi hormat kepada Pangeran!"

Pangeran sangat terharu bertemu dengan bekas Panglima Beng yang sangat setia ini. Pangeranpun segera secara cepat-cepat turun dari kuda, membangunkan Li Tiang-hong dan merangkulnya dengan hangat, "Terima kasih, Li Ciangkun. Dari jarak laksaan li di Shoa-say sana aku sudah mendengar berita tentang perjuanganmu yang gigih. Kau seorang panglima Beng yang membuat kami semua merasa bangga memilikimu.

"Bukan sesuatu yang luar biasa, Pangeran, hamba hanya sekedar menetapi sumpah ketika dulu diwisuda sebagai prajurit Kerajaan Beng."

Pangeran menarik napas. "Li Ciangkun, kau mengucapkan alasanmu itu dengan ringan saja seolah-olah hal itu begitu mudah untuk dilakukan. Namun sesungguhnya menetapi sumpah prajurit dengan cara segigih kau adalah hal yang maha sulit. Berapa ratus orang yang dulu mengucapkan sumpah bersamamu, dan sekarang berapa gelintirkah yang masih setia kepada sumpahnya? Tidak sedikit malahan sudah menjadi anjing-anjingnya bangsa Manchu."

Terasa mekar juga hati Li Tiang-hong mendenar pujian itu, meskipun sebenarnya dia bertempur bukan untuk mendapatkan pujian, melainkan demi kesetiaan kepada negerinya dan kaisarnya, meskipun sang Kaisar sendiri telah tiada. Li Tiang-hong melirik sekejap ke arah Ma Hiong, lalu tanyanya, "Pangeran, bagaimana Pangeran bisa berada bersama-sama dengan bangs...eh, pemimpin orang-orang Hwe-liong-pang ini?"

Pangeran tahu bahwa Li Tiang-hong hampir saja menyebut Ma Hiong sebagai bangsat, namun kemudian membatalkannya karena sadar bahwa ucapan itu terlalu kasar diucapkan di depan Junjungannya. Namun sikap Li Tiang-hong itu menunjukkan betapa saling membencinya antara sisa-sisa prajurit Beng dengan sisa-sisa pendukung Li Cu-seng. Kini adalah tugas Pangeran Cu Hin-yang untuk mempersatukan kedua kekuatan itu agar menjadi satu barisan yang kuat.

Dengan tekad seperti itu, maka Pangeran sengaja menunjukkan hubungan baiknya dengan Ma Hiong. Ia merangkul pundak Ma Hiong dan berkata kepada Li Tiang-hong, "Li Ciangkun, jika tadi malam aku tidak ditolong oleh saudara Ma dan teman-temannya, maka aku dan Kongsun Ciangkun sekalian tentu telah menjadi bangkai karena dibantai oleh si Naga Utara Pakkiong Liong dengan regu mautnya yang terkenal itu. Meskipun saudara Ma dulu adalah pengikut Li Cu-seng, namun ketika melihat kami terancam bahaya maka tanpa pikir panjang ia telah berpihak kepada kami. Ia melupakan permusuhan masa lalu demi menghadapi musuh bersama. Jiwa besarnya ini dapatkah kita menirunya?"

Li Tiang-hong merasa bahwa penjelasan Pangeran itu agak diluar dugaan, dengan sangsi ia memandang wajah pangeran dan wajah Ma Hiong berganti-ganti. Meskipun watak Li Tiang-hong keras dan kaku, namun memiliki kejujuran untuk menilai sebuah kenyataan. Maka setelah ragu-ragu sejenak iapun memberi hormat kepada Ma Hiong dan berkata, "Orang she Ma, kau sudah menyelamatkan seorang ahli waris Kerajaan Beng. Ku ucapkan terima kasih kepadamu."

Sialnya, disebut-sebutnya dinasti Beng itu malah membuat Ma Hiong kurang senang. Sahutnya, "Aku tidak peduli dengan dinasti Beng-mu. Aku menolong orang Han yang mana saja yang terancam oleh orang Manchu, tidak peduli orang Han itu she Cu atau bukan!"

Li Tiang-hong Jadi mendongkol mendengar Jawaban itu, lalu suaranya-pun berubah keras, "Oh, begitu? Kalau begitu kau juga tidak usah berterima kasih atas pertolonganku kepada laskar mu tadi! Adalah kewajiban prajurit Beng untuk melindungi rakyatnya dari gangguan musuh, tidak peduli rakyat itu orang Hwe-liong-pang atau bukan!"

"Omong kosong!" Cho Bun-liong menimbrung. "Kalian tidak menolong kami. Kami sendirilah yang menyelamatkan diri kamil Dengan kekuatan sendiri!"

Tadi suasana tegang, setelah kedatangan Pangeran Cu Hin-yang menjadi agak reda, namun kini menjadi tegang kembali gara-gara kedua pihak bersikap sama kerasnya. Maka Pangeran Cu Hin-yang cepat-cepat menengahinya, "Saudara-saudara, apakah hanya hal-hal remeh itu sudah cukup untuk membuat kalian naik darah dan saling gempur kembali? Kalian menjerumuskan diri sendiri ke dalam perpecahan dan kemudian kehancuran! Belum cukupkah kita merasakan akibat-akibat perang saudara, di mana akhirnya orang luar yang memetik hasilnya? Alangkah enaknya orang-orang Manchu itu, mereka tidak akan meneteskan setetes keringat-pun, tinggal berpeluk-tangan sambil menonton kalian baku hantam sendiri sampai remuk dan mereka tinggal memungut hasilnya. Saudara-saudara, kapan kita akan jera dengan pengalaman-pengalaman pahit kita di masa lalu?"

"Tetapi dia menghina dinasti Beng, Pangeran!" kata Li Tiang-hong sambil menunjuk kepada Ma Hiong.

Sahut Pangeran, "Tidak perlu merasa terhina. Aku bukan saja rakyat dinasti Beng, bahkan anak dari Kaisarnya sendiri meskipun hanya dilahirkan dari perempuan rakyat jelata! Tapi aku berani melihat kenyataan bahwa dinasti kita adalah dinasti yang bobrok, aku bisa memaklumi kenapa Li Cu-seng berontak. Jika ayahanda Kaisar bersih dari kesalahan, tidak mungkin Li Cu-seng akan memberontak. Li Ciang-kun, jawablah dengan jujur, apakah masa pemerintahan ayahanda Cong-ceng dulu tidak seperti yang kukatakan tadi?"

Pertanyaan Pangeran itu membuat wajah garang Li Tiang-hong tiba-tiba tertunduk lesu. Namun ia masih juga mencoba memberikan alasan, "Memang jaman itu tidak dapat dibanggakan sama sekali, keboborokan dan kemelaratan merajalela dimana-mana. Tapi tidak seharusnya Li Cu-seng mengacau di dalam negeri sehingga memberi peluang kepada bangsa Manchu untuk menyerbu negeri ini. jadi yang salah adalah Li Cu-seng, dan orang-orang Hwe-liong-pang ini dulu adalah pendukung-pendukung bandit pemberontak itu!"

Ma Hiong hampir saja berteriak untuk mendebatnya, namun pangeran telah menepuk pundaknya dan memberi isyarat agar diam lebih dulu. Lalu Pangeranlah yang berbicara, "Tidak, Li Ciangkun. Kita harus bisa memahami kenapa ia berontak. Kau pikir kesengsaraan rakyat itu boleh dibiarkan terus menerus? Li Cu-seng ingin mengangkat derajat rakyat kecil dan untuk itu tidak ada jalan lain kecuali mengangkat senjata. Kukatakan lagi, tidak ada jalan lain. Li Cu-seng tidak mungkin menghadap ke istana untuk mengadukan penderitaan rakyat, sebab kaki tangan si dorna Cho Hua-sun sudah memenuhi segala sudut istana, sehingga pengaduannya pasti akan dianggap angin lalu saja. Dan siapa yang berani mengadukan hal-hal yang tidak baik kepada Kaisar, ia akan segera kehilangan kepalanya. Jadi cara apa yang paling tepat bagi Li Cu-seng kecuali mengobarkan pemberontakan?"

"Jadi Pangeran menyetujui pemberontakan Li Cu-seng, meskipun yang digulingkannya adalah ayahanda Pangeran sendiri?"

Sahut Pangeran, "Harus dipisahkan antara hubungan pribadi dengan kepentingan seluruh negara. Aku sebagai anak hormat kepada ayah Baginda sebagai ayahku. Tapi aku sebagai warga yang mendambakan tata-pemerintahan yang bersih dari kaum dorna, bisakah aku menghormati rajaku yang juga ayahku? Aku jawab terus-terang, Li Ciangkun, aku tidak bisa menghormatinya."

Li Tiang-hong menarik napas dalam dalam dan mencoba mencerna sikap Pangeran Cu Hin-yang yang terasa mengejutkan itu. Namun perlahan-lahan akal sehat Li Tiang-hong yang menguasai dirinya, bukan sekedar kesetiaan kepada dinasti Beng yang membabi-buta. Ucapan ucapan Pangeran itu benar adanya. Li Tiang-hong sendiri ingat bagaimana ia pernah berusaha menghadap Kaisar untuk sebuah urusan penting yang mendesak harus diketahui oleh Kaisar.

Namun orang-orang di sekitar Kaisar tidak segera menyampaikan permohonan menghadap itu Sebelum Li Tiang-hong memberi "uang pelicin". Tidak peduli ada masalah yang menyangkut mati-hidup negara, pokoknya tanpa uang pelicin Jangan harap masalahnya akan dibicarakan dalam sidang istana.

Bu San-kui, Panglima Beng yang berbalik menjadi panglima Manchu itu, barangkali adalah salah satu korban kekecewaan melihat tata pemerintahan yang semrawut itu. Ketika Bu San-kui masih sebagai perwira rendahan di San-hai-koan, ia diutus oleh Panglima San hai-koan untuk pergi ke Ibukota untuk menghadap Kaisar telah dipersulit oleh orang-orang istana sendiri, meskipun Bu San-kui sampai kehabisan uang untuk sogok sana sogok sini, agaknya sogokannya kurang besar sehingga permohonannya diabaikan saja.

Akhirnya ia berhasil juga menghadap, namun keadaan sudah tak tertolong. Panglima Hong di San-hai-koan sudah tertawan oleh musuh, dan untungnya kota itu masih dapat dipertahankan. betapa kecewanya Bu San-kui saat itu, dan tidak aneh kalau kesetiaannya kepada pemerintahan Beng Jadi merosot. Barangkali, itu pula salah satu alasannya kenapa rela menyerahkan negerinya kepada pihak Manchu daripada mempertahankannya mati-matian, mungkin karena dianggapnya mempertahankan dinasti Beng sama saja artinya dengan mempertahankan kebobrokan.

Kini di tengah padang ilalang di wilayah Hun-lam itu, Pangeran Cu Hin-yang tahu bahwa kata-katanya mulai meresap di hati Li Tiang-hong. Katanya lagi "Kau tentu dapat menilai sejarah masa lalu dengan jujur, Li Ciangkun. Sekarang bangsa Manchu telah menguasai negeri kita. Apakah kita masih saja saling melempar kesalahan dan saling menudingkan telunjuk, menganggap diri sendiri paling benar?"

"Aku mengerti, Pangeran," akhirnya Li Tiang-hong menjawab.

Sementara itu Ma Hiong juga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Pangeran yang terasa kebenarannya itu. Bahkan kemudian Ma Hiong mendahului minta maaf kepada Li Tiang-hong, "Orang she Li, aku minta maaf untuk ucapanku tadi. Dan terima kasih pula untuk pertolonganmu kepada laskarku."

Li Tiang-hong juga baru saja terbuka pikirannya, maka sambil tertawa terbahak ia menjawab, "Jangan sungkan-sungkan, orang she Ma. Suatu ketika barangkali aku yang akan terburu-buru mohon bantuan kepadamu..."

"Aku nantikan saat kau terbirit-birit menemui aku itu," sahut Ma Hiong sambil tertawa. Namun kali ini suara tertawanya tidak mengandung nada mengejek sedikitpun.

Entah siapa yang mendahului, tahu tahu kedua lelaki berwatak jantan itu sudah saling mengulurkan tangan dan kemudian saling genggam dengan eratnya. Sirnalah sikap saling bersaingan selama ini, seperti embun pagi yang menguap terkena kehangatan sinar mentari.

Pangeran merasa sangat puas melihat peristiwa itu. Tangannya pun ikut bersatu dengan tangan kedua orang itu katanya, "Bagus, kita akan bekerja sama mengusir penjajah Manchu dari negeri ini. Dalam perjalanan menuju kemari, aku juga sempat mendamaikan antara Tiat-hi-pang (Serikat Ikan Besi) dengan Kang-liong-pang (Serikat Naga Sungai yang tadinya bertengkar terus karena merasa sama-sama berkuasa di sungai Hong-ho itu. Kini mereka sudah rukun dengan pembagian daerah kerjanya masing-masing, dan Jika mereka bersatu maka kekuatan mereka cukup disegani oleh armada kapal Manchu yang sering lalu-lalang di sungai Hong ho itu. Di wilayah Hok-kian aku juga sudah merukunkan Koay-to-bun (Perguruan Golok Kilat) dengan Ngo-pa-hwe (Perkumpulan Lima Harimau)."

Sementara itu, baik pasukan Li Tiang-hong dan laskar Hwe-liong-pang mulai membenahi diri mereka masing-masing. Korban yang jatuh di pihak Hwe-liong-pang ternyata cukup besar, hampir separoh gugur dalam waktu hanya semalam, sedang yang masih hiduppun banyak yang luka-luka. Yang gugur langsung dikuburkan di tempat itu juga, dengan batu nisan dari potongan-potongan kayu yang diukir dengan nama masing-masing.

Mayat-mayat prajurit musuhpun ikut di kuburkan dengan layak, meskipun tempatnya terpisah. Selama hidup mereka memang musuh, tapi setelah mati merekapun diperlakukan sebagai sesama manusia yang tubuhnya harus mendapat perlakuan selayaknya.

Atas perintah Li Tiang-hong sendiri, pasukannya ikut bekerja membantu laskar Hwe-liong-pang dalam menguburkan mayat-mayat itu. Pertama terasa agak canggung juga, namun setelah saling berbicara sepatah dua patah kata, perlahan-lahan kekakuan itupun mencair.

Sementara itu Ma Hiong telah berunding dengan pembantu-pembantunya, dan mereka memutuskan untuk mendirikan tempat persembunyian baru yang belum diketahui oleh musuh. Tempat persembunyian yang lama tidak ada gunanya di tempati lagi, sebab sudah diketahui musuh.

Ketika Li Tiang-hong menawarkan agar laskar Hwe-liong-pang menjadi satu saja di dalam barak Li Tiang-hong, maka Ma Hiong menolaknya secara halus. Meskipun permusuhan sudah menjadi perdamaian, namun Ma Hiong masih merasa enggan juga kalau harus menumpang di barak Li Tiang-hong, apalagi barak, itu mengibarkan bendera Jit-goat-ki yang dulu dimusuhi Hwe-liong-pang.

Baik Pangeran maupun Li Tiang-hong dapat memaklumi keengganan itu dan mereka-pun tidak memaksa, tapi kedua pihak sudah saling berjanji untuk saling membantu apabila diperlukan. Maka berturut-turut rombongan Hwe liong-pang dan pasukan Li Tiang-hong pergi meninggalkan tempat berdarah itu. Pangeran dan Kongsun Hui ikut dalam rombongan Li Tiang-hong dan mengucapkan selamat berpisah dengan Ma Hiong.

Dalam perjalanan menuju ke barak Li Tiang-hong, Pangeran sempat meminta kepada Li Tiang-hong untuk mengirimkan orang ke kuil terpencil San-sin-bio untuk mengambil jenazah Tio Tong-hai dan dua orang pengikut Pangeran lainnya yang masih tertinggal di sana. Pangeran bermaksud akan memakamkan jenazah orang-orang yang setia kepada Kerajaan Beng itu dengan upacara kehormatan di barak Li Tiang-hong nanti.

Semasa dinasti Beng belum runtuh, Li Tiang-hong juga mengenal Tio Tong-hai sebagai seorang Panglima yang jujur dan setia namun malah kurang disukai di kalangan istana. Ketika mendengar kematiannya, ia mengertakkan giginya, "Ia seorang yang baik dan berilmu tinggi, sayang umurnya sependek itu sehingga harus tewas di tangan bangsat Manchu itu. Namun aku sungguh penasaran mengapa Pakkiong Liong berani juga berkeliaran di tempat ini. Aku akan menyebar anak buahku untuk menangkap pentolan Manchu itu."

Mendengar itu, Pangeran lalu berpesan, "Tapi Li Ciangkun, jika jejaknya sudah diketemukan, jangan dihadapi sendiri. Diperlukan suatu kekuatan yang besar untuk bisa menangkapnya."

"Kenapa? Apakah ia berkepala tiga dan bertangan enam?"

"Pokoknya jangan memandang remeh kepadanya, kalau tidak, maka Ciangkun hanya akan mengorbankan anak buah Ciangkun secara sia-sia. Tadi malam, dalam keadaan luka berat ia masih sanggup melawan kami berlima, yaitu aku sendiri, Kongsun Ciangkun, Ma Hiong dan dua orang kepercayaannya yang juga cukup tangguh ilmunya itu. Bahkan ia dapat meloloskan diri di depan hidung kami. Kau bisa mengira-ngira sendiri sampai di mana bobot orang itu, terutama ilmunya yang dapat memancarkan udara panas itu benar-benar hebat."

Mau tak mau Li Tiang-hong percaya juga. Jika Pangeran sampai. berpesan begitu hati-hati, tentu ada alasan yang cukup untuk itu. Namun hal itu tidak mengurangi tekad Li Tiang-hong untuk menangkap orang Manchu yang dijuluki Naga dari Utara itu.

* * * * * * *

Di sebuah gubuk di lereng Tiam-Jong-san, sedikit demi sedikit Pakkiong Liong mendapatkan kembali kesadarannya. Kelopak matanya terasa makin ringan untuk digerak-gerakkan dan kemudian terbuka sama sekali. Dan yang pertama dilihatnya adalah kerangka bambu dari atap daun ilalang di atas dirinya. Ketika ia memudar kepalanya, ia menemukan dirinyaa terbaring di sebuah pembaringan yang terbuat dari bata merah yang direkat dengan tanah liat, dan bagian atasnya dilapisi dengan jerami yang tebal dan tikar yang bersih.

Ada dua pintu di ruangan itu, yang satu menuju keluar yang lain ke bagian dalam rumah. Yang ke bagian dalam ditutup dengan tirai tenunan serat kayu yang kasar dan sederhana, sedang yang keluar rumah berdaun pintu dari potongan-potongan kayu yang dirakit dengan tali ijuk. Pembaringan Pakkiong Liong terletak di dekat sebuah Jendela yang engselnya terletak di atas, dan Jendela itu terbuka lebar dengan diganjal sepotong kayu panjang. Dari jendela itu mengalirlah angin yang sejuk menyegarkan, udara pegunungan.

Perabotan di dalam gubuk itupun sederhana sekali. Selain pembaringan tempat Pakkiong Liong berbaring, hanya ada sebuah meja kayu kasar namun kokoh, dikelilingi empat buah bangku kayu yang sama kasarnya dan kokohnya. Di atas meja ada empat buah cawan yang tertelungkup dan bertumpuk-tumpuk, dan sebuah poci entah berisi teh atau arak.

Di sudut ruangan itu disandarkan beberapa macam alat pertanian yang terdiri dari sebuah cangkul, sabit, kampak pembelah kayu dan sepotong kayu panjang berujung runcing yang sering digunakan untuk melubangi tanah untuk menanam bibit. Secara keseluruhan, keadaan rumah itu amat sederhana, namun menimbulkan rasa tenteram dan damai.

Namun setelah Pakkiong Liong mengenangkan peristiwa yang terakhir dialaminya, maka ia berkesimpulan bahwa orang-orang penghuni gubuk itu tentu tidak sesederhana tempat tinggalnya ini. Ini tentu rumah dari anak-muda yang bernama Tong Lam-hou itu, yang dengan lemparan batunya dapat memecahkan kepala serigala, dan ranting-ranting keringnya nampu menembus tubuh serigala yang liat dan terlapis bulu tebal itu. Bukan tingkatan ilmu yang main-main.

Tanpa beranjak dari pembaringannya, Pakkiong Liong mencoba mengingat wajah anakmuda yang menolongnya dari terkaman serigala-serigala gila itu. Dan Pakkiong Liongpun tersenyum sambil bergumam sendirian, "Ia mengaku bernama Tong Lam-hou, Lam-hou yang berarti si Harimau dari selatan. Pasangan yang cocok untuk Pakkiong (Naga dari utara)."

Ketika Pakkiong Liong merasa bosan duduk terus, ia bangkit. Dan alangkah herannya ketika ia merasa tubuhnya tidak merasa sakit lagi, padahal ia teringat bahwa saat terakhir itu ia dalam keadaan luka parah luar dan dalam. Dirabanya pundaknya yang terkena bacokan Tio Tong-hai, dan dirasanya mulut luka itu sudah merapat dan tertabur dengan obat luar. Digerakannya tangannya perlahan-lahan, ternyata tidak ada ototnya yang putus sehingga ia tidak menjadi seorang yang cacad seumur hidup.

Pakkiong Liong menarik napas. Katanya dalam hati, "Hebat, anak yang bernama Tong Lam-hou itu bukan saja seorang ahli silat tetapi agaknya juga ahli pengobatan. Mudah-mudahan ia tidak termasuk golongan orang yang menentang pemerintah Manchu yang agung. Kalau tidak, agaknya aku akan mendapat lawan yang sangat berat."

Sesaat ia duduk merenung-renung, lalu berpikir lagi, "Tetapi aku rasa dia bukan termasuk orang golongan penentang itu. Semalam ketika ia menemukan aku, aku dalam pakaian seragam prajurit Manchu, tapi ia tetap saja mau menolongku dengan sepenuh hati. Jika ia musuh, tentu aku sudah dicekiknya hingga mampus, atau dibiarkannya saja aku ke mulut serigala-serigala itu."

Tengah ia merenung bolak-balik, tiba-tiba dari luar ada langkah-langkah kaki, lalu pintu yang kasar itu pun ditarik dari luar, dan muncullah anak muda yang bernama Tong Lam-hou itu. Kini wajahnya nampak lebih jelas, wajah itu sebenarrya dapat menjadi wajah yang garang, sebab ada berewok tipis berwarna coklat yang melingkari rahangnya. Namun matanya justru tidak memancarkan kegarangan sedikitpun, malahan lembut seperti mata seorang pendeta.

Melihat Pakkiong Liong telah sadar, maka Tong Lam-hou tersenyum dan berkata, "He, jangan terlalu banyak bergerak dulu, luka-lukamu masih belum sembuh sama sekali. Tapi ternyata tubuhmu cukup kuat sehingga secepat ini kau sadar dari pingsanmu, padahal lukamu cukup berat. Ibuku sudah menyediakan bubur untukmu jika siuman, biar kuambilkan di dapur."

Dan tanpa menunggu jawaban Pakkiong Liong lagi, Tong Lam-hou segera melangkah ke dapur, tak lama kemudian muncul lagi dengan sebuah mangkuk besar berisi bubur lengkap dengan sumpitnya. "Nih, makanlah. Tadi ketika ibuku memasaknya, bubur ini masih hangat, tapi karena kau belum juga siuman maka diletakkannya saja di dapur sehingga dingin."

Terpengaruh oleh sikap tuan rumahnya yang begitu terbuka, tanpa ragu ragu Pakkiong Liong menerima mangkuk dan sumpit itu, dan oleh rasa lapar yang menggigit perutnya, maka isi mangkuk itu dalam sekejap saja sudah licin tandas, berpindah ke dalam perutnya. Sebagai seorang berpangkat tinggi, Pakkiong Liong sudah merasakan jenis masakan apapun yang mahal-mahal, kebanggaan rumah-rumah makan terkenal di Ibukota, dengan pelayanannya yang bahkan berlebihan.

Namun baru kini ia merasa betapa lezatnya suatu makanan yang ternyata cuma bubur dan sepotong daging yang entah daging apa itu. Suasana tenang dan tenteram di gubuk itu agaknya menambah selera makannya, ditambah sikap Tong Lam-hou yang polos tanpa dibuat-buat. Pelayan-pelayan di rumah-rumah makan di pak-khia ramah-ramah dan cantik-cantik, namun semua itu hanya ditujukan untuk mengeruk uang dari kantong langganannya sebanyak mungkin.

Sebaliknya Tong Lam-hou yang berpakaian dekil dan bau keringat itu jelas tidak mengandung pamrih apapun, selain ingin melihat Pakkiong Liong menjadi sembuh dan kuat kembali. Menurutkan perutnya yang lapar itu, tanpa sungkan-sungkan Pakkiong Liong menghabiskan tiga mangkuk besar bubur dan beberapa potong "daging aneh” itu. Setelah itu barulah ia memuji, "Hebat sekali. Siapa yang memasak masakan sehebat ini?"

Tong Lam-hou tersenyum bangga, "Ibuku. Ia juru masak nomor satu di dunia."

"Aku percaya saja. Eh, dengan siapa kau tinggal di rumah ini?"

"Hanya bersama ibuku."

"Keluarga lainnya?"

Tiba-tiba wajah Tong Lam-hou jadi murung dan ditundukkannya kepalanya. Digenggamnya sebentuk batu kumala bundar berukir yang menjadi bandul kalungnya, diikat dengan tali rami yang sederhana. Sahut Tong Lam-hou, "Ibuku adalah satu-satunya keluargaku yang kukenal di dunia ini. Sedang ayahku, aku melihatpun belum pernah. Aku hanya tahu ayahku bernama Tong Wi-siang, tetapi sudah meninggal ketika aku masih dalam kandungan."

Tiba-tiba Pakkiong Liong juga menundukkan kepalanya, "Maaf, pertanyaanku membuatmu bersedih. Tapi kau beruntung masih memiliki seorang ibu, sedangkan aku tidak punya ayah-ibu lagi saat ini. Ibuku meninggal ketika umurku tiga tahun, dan ayahku gugur di peperangan ketika umurku sebelas tahun. Aku bangga punya ayah seperti beliau, seorang prajurit yang gagah berani."

"Karena ayahmu seorang prajurit, maka kau juga menjadi prajurit?"

"Ya, aku ingin melanjutkan cita-cita ayahku, mengabdi Kaisar dan tanah air untuk mempersatukan seluruh daratan ini menjadi satu maha kerajaan yang besar."

"Apa yang akan kau dapat setelah itu? Pangkat yang tinggi? Kekayaan yang berlimpah-limpah? Atau apa?"

"Tidak apa-apa. Apakah seseorang yang mengabdi kepada negerinya harus selalu mengharap imbalan harta dan kemuliaan seperti itu? Tidak bisakah jika imbalannya hanya kepuasan karena melihat negerinya menjadi negeri yang maju, kuat dan sejahtera?"

Tong Lam-hou mengangguk-angguk mendengar jawaban yang mantap itu. Tanyanya lagi, "Tapi bukankah tugas prajurit itu adalah tugas membunuh? Seperti binatang buas di rimba belantara yang belum tersentuh peradaban?"

"Siapa bilang? Kau agaknya salah paham tentang tugas seorang prajurit. Tugasnya adalah melindungi keamanan negara dan rakyat, jika tugas itu dapat terlaksana tanpa kekerasan, itu memang lebih baik. Tapi kadang-kadang kami harus membunuh juga, dan yang kami bunuh adalah pengacau-pengacau dan pemberontak-pemberontak yang membuat keributan di mana-mana. Kalau mereka tidak dibunuh, merekalah yang akan membunuh rakyat yang tak berdaya."

Tong Lam-hou termangu-mangu, lalu, "Apa yang kau maksud dengan pemberontak?"

"Orang yang ingin mendirikan negara dalam negara. Kalau mereka dibiarkan, di daratan ini akan muncul puluhan dan bahkan ratusan negara-negara, dan adakah rakyat bisa tenang dalam keadaan seperti itu? Tidak. Masing masing negara pasti akan saling mencurigai, saling menyerang, saling bersekutu dan memencilkan. Ini bukan omong kosong, sebab sejarah negeri ini sudah membuktikan di jaman Liat-kok sebelum dipersatukan oleh Cin-si-hong-te dulu. Nah, orang-orang yang ingin membagi-bagi negara seperti membagi-bagi kue besar inilah yang harus di cegah kelakuannya."

"Aku mengerti sekarang. Tapi ada pihak lain yang berpendapat lain."

"Maksudmu bagaimana?"

"Baru kemarin aku berkumpul di rumah kepala desa Jit-siong-tin, sebab sekelompok orang yang menamakan diri mereka 'pembebas tanah-air' telah datang untuk mengambil 'sumbangan perjuangan' dari penduduk berupa bahan bahan makanan yang hampir empat gerobak penuh. Selain itu, mereka juga telah bicara panjang lebar untuk mengajak penduduk ikut mengangkat senjata terhadap pemerintah yang sekarang yang mereka sebut sebagai penjajah. Nah, sekarang kau menyebut yang sebaliknya, jadi mana yang benar?"

Pakkiong Liong menjawab, "Setiap orang dapat saja memuji dirinya sendiri dengah sebutan yang paling indah, dan mencaci musuhnya dengan istilah yang paling busuk. Tapi ukuran baik atau jahat itu bukan perkataannya, melainkan perbuatannya. Para 'pembebas tanah-air' itu merampas bahan makanan dari penduduk desa, itu kelakuan seorang pejuang atau perampok?"

"Tapi bagaimana tuduhan bahwa bangsa Manchu merebut negeri bangsa Han?"

Pakkiong Liong balik bertanya, “Kau suku apa?"

"Menurut ibuku, ayahku adalah suku Han dan ibuku suku Hui."

"Kau sangat membeda-bedakan orang lain berdasarkan sukunya atau darah keturunannya?"

Cepat-cepat Tong Lam-hou menggelengkan kepalanya, "Tidak, sikap seperti itu tidak adil, sebab seseorang yang di dalam kandungan ibunya tidak dapat memilih ia akan menjadi bangsa apa, atau memilih warna kulit yang disukainya, sebab sudah ditentukan oleh Tuhan. Memandang orang lain berdasarkan warna kulit atau suku, adalah sikap durhaka, sama saja dengan mempersalahkan apa yang sudah ditentukan Tuhan. Lebih bijaksana Jika membedakan orang bukan berdasarkan warna kulitnya, tapi berdasarkan kelakuannya sendiri. Kelakuan orerg itu sendiri baik ataukah buruk?"

"Bagus. Itu jawaban tepat. Tong Lam-hou, patut kau ketahui bahwa di negeri ini ada puluhan suku-suku bangsa, kalau setiap suku bangsa ingin punya negeri sendiri, lalu bayangkan sendiri berapa puluh negarakah jadinya di negeri ini? Kalau masing-masing bermusuhan, apakah rakyat tidak akan terjerumus ke dalam kesengsaraan? Meskipun aku seorang Manchu, aku sangat menghormati pemersatu-pemersatu dari bangsa-bangsa lain.

"Li Yan yang mendirikan dinasti Tong, Tio Gong-in yang mendirikan dinasti Song, kedua-duanya adalah orang Han, Wanyen Akuta si pemimpin bangsa Kim yang mendirikan dinasti Kim, Temuchin si pemipin bangsa Mongol yang mendirikan dinasti Goan yang wilayahnya pernah meliputi sepertiga dunia dan ia lebih dikenal dengan sebutan Jengish Khan. Lalu Cu Goan-ciang yang mendirikan dinasti Beng juga aku kagumi, meskipun sekarang keturunannya menjadi musuhku.

"Jadi, Jika di antara bangsa Han sendiri tidak terdapat kerukunan, malahan perang saudara yang berlarut-larut, kenapa bangsa Manchu kami tidak boleh mengambil-alih pimpinan untuk mempersatukan negeri? Apa rakyat Han disuruh menunggu saja selesainya pertentangan antara pengikut-pengikut Cong-ceng yang bobrok dengan pengikut-pengikut Li Cu-seng yang beringas tetapi tidak ahli memegang pemerintahan itu? Jadi berapa tahun harus menunggu?"

Tong Lam-hou mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan itu. Meskipun Tong Lam-hou cuma anak-gunung, namun beberapa buku sejarah pernah juga dipinjamnya dari teman-temannya yang tinggal di desa Jit-siong-tin, dan dibacanya sampai habis. Dan dirasanya apa yang dikatakan Pakkiong Liong itu betul adanya. Katanya,

"Kau benar. Tentu saja jika negara bersatu dan pemerintahan berwibawa, maka rakyatpun akan hidup sejahtera, tidak disibukkan oleh perang terus-menerus. Dinasti Beng di jaman Kaisar Yung-lo memang pernah mencapai kejayaannya, bahkan kapal-kapalnya berlayar jauh sampai ke seberang samudera, namun kemudian di jaman Kaisar Cong-ceng memang begitu merosot kewibawaannya sampai keadaan di dalam negeri rusuh sekali."

Wajah Pakkiong Liong berseri karena menemui seorang kawan yang sama pendiriannya. Katanya, "Nah, kau ternyata paham sejarah juga. Persatuan itu yang sedang kami usahakan, lalu memberi kesempatan kepada rakyat untuk membangun dan hidup sejahtera. Namun keturunan dinasti Beng masih belum terima dan masih mengacau di mana-mana. Mereka mengaku memperjuangkan rakyat, padahal jaman dulu mana pernah Cong-ceng memperhatikan rakyatnya? Yang mereka, perjuangkan itu tak lain adalah kepentingan keluarga Cu sendiri, bukan kepentingan, rakyat,"

Tengah kedua anakmuda itu semakin tenggelam daiama keasyikan mereka bercakap-cakap, tiba-tiba dari luar gubuk terdengar suara seorang perempuan tua, "A-hou, bantu aku sebentar!"

Tong Lam-hou segera bangkit dari duduknya dan berkata, "Itu Ibuku datang. Ia baru pulang dari kebun untuk memetik kentang dan sayuran."

Pakklong Liong juga bangkit dari tempat berbaringnya dan berkata, "Aku ikut membantumu..."

"Jangan, nanti lukamu pecah lagi dan pengobatanku selama ini akan sia-sia saja," sahut Tong Lam-hou sambil melangkah keluar rumah.

Namun Pakklong Liong tidak mau ketinggalan. Disambarnya baju prajuritnya yang terlipat rapi dan sudah tercuci bersih di dekat pembaringannya itu, bahkan robek-robek pada baju itu sudah rapat karena ditisik halus. Ibu Tong Lam-hou adalah seorang perempuan berusia kira-kira empat puluh lima.

"Ah, kau agaknya seorang bandel juga dan suka membantah orang tua," sungut ibu Tong Lam-hou itu. "Persis seperti A-hou."

Pakkiong Liong dan Tong Lam-hou bertukar pandanaan. tahun. Meskipun ia berpakaian seperti wanita-wanita suku Han umumnya, tetapi warna rambutnya yang agak kemerahan, matanya yang cekung serta hidungnya yang mancung merupakan ciri-ciri suku Hui yang sulit disembunyikan. Tubuhnya kelihatan masih kuat, agaknya karena terbiasa bekerja keras di alam pegunungan yang menyehatkan. Di wajahnya juga masih tergores sisa-sisa kecantikannya di masa mudanya....
Selanjutnya;