Bajak Laut Kertapati - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

(Pendahuluan) SEMENJAK orang Belanda untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bumi Indonesia, yakni dalam tahun 1596, mulailah timbul kekacauan-kekacauan yang tadinya tidak di kenal oleh bangsa Indonesia.

Cerita Silat Indonesia Karya Kho Ping Hoo

Demi keuntungan dan kepentingan kongsi-kongsi perkapalan Belanda yang mulai dengan pengisapannya pada kekayaan bumi Indonesia, maka mereka bentuklah Kompeni India Timur Belanda atau Verenigde Oost-Indische Compagnie (V.O.C) pada tahun 1602 dan selanjutnaya tahun demi tahun mereka menjelajah di seluruh Indonesia dan memperluas kekuasaan mereka.

Bagaikan penyakit kangker menyerang tubuh atau anjing makan tulang, sedikit demi sedikit Belanda menggerogoti kepulauan Indonesia sehingga akhirnya seluruh daerah lenyap ditelan oleh kekuasaan mereka. Dan untuk dapat mencapai maksud ini, Belanda tidak segan-segan menjalankan politik yang sekotor-kotornya dan melakukan tipu muslihat serendah-rendahnya.

Akan tetapi jangan dikira bahwa Indonesia merupakan roti keju yang empuk bagi Belanda, oleh karena semenjak kedatangan mereka, terutama setelah rakyat mengetahui akan maksud buruk Belanda, di mana-mana mereka mendapat tantangan hebat. Tiada hentinya pemberontakan-pemberontakan meletus terhadap Belanda.

Bangsawan-bangsawan berjiwa patriot, pahlawan-pahlawan bangsa yang gagah perkasa dan sakti mendraguna, memimpin rakyat untuk mengusir Belanda dari tanah air. Dimana-mana Belanda menghadapi keris-keris telanjang di tangan rakyat, dimulai semenjak mereka berhasil merebut Jakarta yang mereka jadikan bandar dan diberi nama Batavia.

Bahkan semenjak pertama kali Belanda mendarat di Banten pada tahun 1596, dibawah pimpinan Cornelis Houtman dan De Keyzer, karena rakyat mengalami penderitaan yang pertama kali yang timbul dari kekasaran dan kekejaman mereka, telah terjadi perlawanan-perlawanan terhadap Belanda.

Namun harus diakui bahwa sesungguhnya rakyat Indonesia pada umumnya, dan khususnya di pulau Jawa, tak usah merasa takut dan kalah dalam hal kegagahan dan kepandaian bertempur dengan Belanda, akan tetapi, dalam menjalankan tipu muslihat dan kecerdikan, ternyata Belanda lebih unggul.

Perlawanan-perlawanan yang gagah berani dan pantang mundur dari rakyat membuat Belanda menjadi kuwalahan dan mereka merobah taktik dan siasat mereka. Bujukan-bunjukan halus dan siasat adu domba dengan umpan berupa suap dan sogok, mulai mereka jalankan.

Apabila bujukan mereka berhasil dan mulai terjadi perpecahan dan kekalutan di antara pangeran dan para pengikut mereka, yakni memancing ikan di air keruh, mendekati pihak yang kurang waspada dengan siasat “membantu“ yang disertai syarat-syarat menguntungkan pihak Belanda belaka!

Dengan siasat yang licin dan tipu muslihat rendah ini, Belanda berhasil menipu banyak pemimpin-pemimpin rakyat dan berhasil membuat mereka dipandang sebagai sahabat baik oleh para pangeran dan pemimpin yang kurang wasapada.

Ketika Mataram berada dibawah pimpinan sunan Amangkurat I, Belanda mulai mengulur kukunya yang panjang dan runcing, mempergunakan kelicinannya untuk menarik keuntungan dari keadaan Mataram yang di masa itu sedang kalut. Pangeran-pagenran satu dengan yang lain berselisih, sedangkan Sunan yang sudah tua itu sakit keras.

Belanda menghadapi pemberontakan hebat yang dipimpin oleh Trunajaya terhadap Mataram dan hal ini digunakan oleh Belanda untuk mendekati Mataram. Oleh karena pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya ini amat kuat, maka di batavia Kompeni Belanda mulai menjadi gelisah.

Akhirnya dipilih seorang jago tua di fihak mereka, yakni Cornelis Speelman, seorang ahli siasat yang amat licin dan cerdik. Dengan muka manis, utusan-utusan Speelman mendatangi Mataram dan pertemuan yang disertai janji bantuan ini menghasilkan keuntungan yan besar sekali bagi Belanda, karena mereka dapat memperluas dan menambah perjanjian-perjanjian dengan kerajaan Mataram.

Akhirnya, Belanda mengirim tentaranya menyerbu pusat pertahanan Trunajaya, yakni di Surabaya. Setelah berperang sengit sehari penuh, jatuhlah benteng pertahanan Trunajaya yang didirikan di dekat Jembatan Merah (Surabaya) kepada tangan Belanda. Peristiwa ini terjadi para tanggal 13 April 1677, dan Trunajaya melarikan diri ke Kediri di mana ia mendirikan keraton yang megah dan indah.

Speelman tidak pernah menyangka bahwa Trunajaya akan dapat mengumpulkan kembali kekuatan pasukannya dengan amat cepatnya, maka Belanda tidak terus mengejar Trunajaya, bahkan lalu menyerang Madura. Kesempatan ini dipergunakan oleh Trunajaya untuk meluruk ke Mataram dan pada tanggal 12 Juli 1677, dua bulan setengah semenjak kekalahan, ia berhasil merebut keraton Mataram.

Demikianlah, dengan siasatnya yang licik dan dengan jalan mengadu domba, pada tahun 1680, jajahan kompeni Belanda di Pulau Jawa telah makin meluas. Dari Batavia, jajahan mereka ke timur dan setelah sampai ke Laut Hindia, sehingga boleh dibilang bahwa seluruh Jawa Barat, ada sepertiganya berada dalam jajahan dan kekuatan Belanda.

Juga Semarang dan sekitarnya telah pula menjadi bandar dari kapal-kapal Belanda, Batavia dan Semarang merupakan pintu-pintu lebar dari mana mengalir keluar kekayaan bumi Indonesia! Dan pada sekitar waktu itulah cerita ini terjadi...
BAJAK LAUT KERTAPATI - KHO PING HOO
Bajak Laut Kertapati Jilid 01
Bajak Laut Kertapati Jilid 02
Bajak Laut Kertapati Jilid 03
Bajak Laut Kertapati Jilid 04
TAMAT
Daftar Koleksi,

Bajak Laut Kertapati

(Pendahuluan) SEMENJAK orang Belanda untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di bumi Indonesia, yakni dalam tahun 1596, mulailah timbul kekacauan-kekacauan yang tadinya tidak di kenal oleh bangsa Indonesia.

Cerita Silat Indonesia Karya Kho Ping Hoo

Demi keuntungan dan kepentingan kongsi-kongsi perkapalan Belanda yang mulai dengan pengisapannya pada kekayaan bumi Indonesia, maka mereka bentuklah Kompeni India Timur Belanda atau Verenigde Oost-Indische Compagnie (V.O.C) pada tahun 1602 dan selanjutnaya tahun demi tahun mereka menjelajah di seluruh Indonesia dan memperluas kekuasaan mereka.

Bagaikan penyakit kangker menyerang tubuh atau anjing makan tulang, sedikit demi sedikit Belanda menggerogoti kepulauan Indonesia sehingga akhirnya seluruh daerah lenyap ditelan oleh kekuasaan mereka. Dan untuk dapat mencapai maksud ini, Belanda tidak segan-segan menjalankan politik yang sekotor-kotornya dan melakukan tipu muslihat serendah-rendahnya.

Akan tetapi jangan dikira bahwa Indonesia merupakan roti keju yang empuk bagi Belanda, oleh karena semenjak kedatangan mereka, terutama setelah rakyat mengetahui akan maksud buruk Belanda, di mana-mana mereka mendapat tantangan hebat. Tiada hentinya pemberontakan-pemberontakan meletus terhadap Belanda.

Bangsawan-bangsawan berjiwa patriot, pahlawan-pahlawan bangsa yang gagah perkasa dan sakti mendraguna, memimpin rakyat untuk mengusir Belanda dari tanah air. Dimana-mana Belanda menghadapi keris-keris telanjang di tangan rakyat, dimulai semenjak mereka berhasil merebut Jakarta yang mereka jadikan bandar dan diberi nama Batavia.

Bahkan semenjak pertama kali Belanda mendarat di Banten pada tahun 1596, dibawah pimpinan Cornelis Houtman dan De Keyzer, karena rakyat mengalami penderitaan yang pertama kali yang timbul dari kekasaran dan kekejaman mereka, telah terjadi perlawanan-perlawanan terhadap Belanda.

Namun harus diakui bahwa sesungguhnya rakyat Indonesia pada umumnya, dan khususnya di pulau Jawa, tak usah merasa takut dan kalah dalam hal kegagahan dan kepandaian bertempur dengan Belanda, akan tetapi, dalam menjalankan tipu muslihat dan kecerdikan, ternyata Belanda lebih unggul.

Perlawanan-perlawanan yang gagah berani dan pantang mundur dari rakyat membuat Belanda menjadi kuwalahan dan mereka merobah taktik dan siasat mereka. Bujukan-bunjukan halus dan siasat adu domba dengan umpan berupa suap dan sogok, mulai mereka jalankan.

Apabila bujukan mereka berhasil dan mulai terjadi perpecahan dan kekalutan di antara pangeran dan para pengikut mereka, yakni memancing ikan di air keruh, mendekati pihak yang kurang waspada dengan siasat “membantu“ yang disertai syarat-syarat menguntungkan pihak Belanda belaka!

Dengan siasat yang licin dan tipu muslihat rendah ini, Belanda berhasil menipu banyak pemimpin-pemimpin rakyat dan berhasil membuat mereka dipandang sebagai sahabat baik oleh para pangeran dan pemimpin yang kurang wasapada.

Ketika Mataram berada dibawah pimpinan sunan Amangkurat I, Belanda mulai mengulur kukunya yang panjang dan runcing, mempergunakan kelicinannya untuk menarik keuntungan dari keadaan Mataram yang di masa itu sedang kalut. Pangeran-pagenran satu dengan yang lain berselisih, sedangkan Sunan yang sudah tua itu sakit keras.

Belanda menghadapi pemberontakan hebat yang dipimpin oleh Trunajaya terhadap Mataram dan hal ini digunakan oleh Belanda untuk mendekati Mataram. Oleh karena pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya ini amat kuat, maka di batavia Kompeni Belanda mulai menjadi gelisah.

Akhirnya dipilih seorang jago tua di fihak mereka, yakni Cornelis Speelman, seorang ahli siasat yang amat licin dan cerdik. Dengan muka manis, utusan-utusan Speelman mendatangi Mataram dan pertemuan yang disertai janji bantuan ini menghasilkan keuntungan yan besar sekali bagi Belanda, karena mereka dapat memperluas dan menambah perjanjian-perjanjian dengan kerajaan Mataram.

Akhirnya, Belanda mengirim tentaranya menyerbu pusat pertahanan Trunajaya, yakni di Surabaya. Setelah berperang sengit sehari penuh, jatuhlah benteng pertahanan Trunajaya yang didirikan di dekat Jembatan Merah (Surabaya) kepada tangan Belanda. Peristiwa ini terjadi para tanggal 13 April 1677, dan Trunajaya melarikan diri ke Kediri di mana ia mendirikan keraton yang megah dan indah.

Speelman tidak pernah menyangka bahwa Trunajaya akan dapat mengumpulkan kembali kekuatan pasukannya dengan amat cepatnya, maka Belanda tidak terus mengejar Trunajaya, bahkan lalu menyerang Madura. Kesempatan ini dipergunakan oleh Trunajaya untuk meluruk ke Mataram dan pada tanggal 12 Juli 1677, dua bulan setengah semenjak kekalahan, ia berhasil merebut keraton Mataram.

Demikianlah, dengan siasatnya yang licik dan dengan jalan mengadu domba, pada tahun 1680, jajahan kompeni Belanda di Pulau Jawa telah makin meluas. Dari Batavia, jajahan mereka ke timur dan setelah sampai ke Laut Hindia, sehingga boleh dibilang bahwa seluruh Jawa Barat, ada sepertiganya berada dalam jajahan dan kekuatan Belanda.

Juga Semarang dan sekitarnya telah pula menjadi bandar dari kapal-kapal Belanda, Batavia dan Semarang merupakan pintu-pintu lebar dari mana mengalir keluar kekayaan bumi Indonesia! Dan pada sekitar waktu itulah cerita ini terjadi...
BAJAK LAUT KERTAPATI - KHO PING HOO
Bajak Laut Kertapati Jilid 01
Bajak Laut Kertapati Jilid 02
Bajak Laut Kertapati Jilid 03
Bajak Laut Kertapati Jilid 04
TAMAT
Daftar Koleksi,