Serial Pendekar Mabuk
Pedang Kayu Petir
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
SELAMA tujuh hari tujuh malam negeri Muara Singa mengadakan pesta besar-besaran. Berbagai pertunjukan hiburan digelar dari alun-alun sampai ke pinggir pantai. Berbagai makanan lezat pun dibeberkan pada tenda- tenda hidangan. Siapa saja, tanpa terkecuali, boleh menikmati hidangan lezat itu tanpa dipungut biaya sedikit pun. Rakyat jelata selain bisa menikmati hidangan lezat yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh orang-orang istana, juga mendapat santunan berbagai pakaian, kain maupun keperluan dapur.

Pesta besar ini diadakan untuk menyambut kedatangan ratu baru yang memang berhak memiliki kekuaaaan di negeri Muara Singa. Ratu baru itu tak lain adalah Ratu Gusti Galuh Puspanagari. Dulu dikenal sebagai Palupi, si gadis gila, yang punya julukan lebih dikenal lagi sebagai si Tandu Terbang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tandu Terbang).

Tampuk pimpinan diserahkan kepadanya dari Purnama Laras, karena Purnama Laras merasa tidak memiliki hak atas negeri tersebut dikarenakan ia hanya seorang anak angkat sang Penguasa Muara Singa. Pesta besar itu pun atas saran Purnama Laras yang sama sekali tidak sakit hati ataupun sedih, namun justru, bangga dan gembira melepas jabatannya sebagai ratu di negeri itu.

Pendekar Mabuk, Suto Sinting, sengaja ditahan oleh Purnama Laras dan Palupi agar tidak meninggalkan Muara Singa selama pesta berlangsung. Pendekar Mabuk termasuk orang berjasa dalam pengembalian kekuasaan kepada Palupi. Tanpa munculnya Pendekar Mabuk pada waktu itu, Tandu Terbang sudah merencanakan akan membabat habis orang Muara Singa yang tidak mau akui dirinya sebagai alih waris negeri tersebut.

Tetapi agaknya orang dalam Tandu Terbang yang ternyata adalah Palupi itu, merasa terkesan oleh penampilan Suto dan ketampanannya, ia tak berani lakukan kekerasan di istana ketika berhadapan dengan Suto, dan akhirnya jalan damai pun bisa ditempuh.

Pada satu kesempatan, Purnama Laras yang dikenal sebagai wanita berbudi luhur dan berjiwa besar itu, sempat bicara empat mata dengan Pendekar Mabuk. Pada saat itu malam tiba dan mereka bicara di sudut taman. Harum bunga sedap malam menyebar di sekeliling mereka. Tetapi roncean bunga melati yang selalu segar dan menjadi penghias sanggul Purnama Laras lebih tajam tercium hidung Pendekar Mabuk yang bangir itu.

"Sudah cukup lama aku memendam hasrat ingin bertemu denganmu," kata perempuan berusia tiga puluh tahun itu. "Tetapi baru sekarang hasrat itu terpenuhi dalam keadaan aku sudah tidak menjadi ratu lagi."

"Apakah kau menyesal?"

"Sama sekali tidak," jawab Purnama Laras. "Justru aku bertekad melindungi Galuh untuk mempertahankan negeri ini. Aku sangat terharu jika ingat cerita hidupnya semasa kecil, dibuang oleh ibu angkatnya hanya karena tak suka menerima bayi yang dilahirkan dari madunya. Rasa ibaku ini terwujud dalam rasa kasihan, dan akhirnya timbul rasa sayangku kepada Galuh Puspanagari."

"Aku bangga dan kagum dengan sifatmu, Purnama Laras. Jarang kutemukan wanita sebijak dirimu," sanjung Pendekar Mabuk dengan mata memandang raut wajah ayu yang disinari cahaya obor di sudut taman itu. Yang dipandang hanya tersenyum dan tundukkan kepala merasa malu.

"Terlepas dari kedudukanku yang dulu dan sekarang, sesungguhnya keinginanku untuk bertemu denganmu punya alasan sendiri, Suto."

"Katakanlah urusanmu itu, Purnama Laras."

"Aku butuh seorang senopati. Aku banyak mendengar cerita tentang kesaktianmu dari mulut ke mulut, lalu aku ingin mengangkatmu sebagai senopati dalam kepemerintahan Muara Singa ini. Kami belum mempunyai senopati atau seorang panglima perang, itulah sebabnya aku pernah merencanakan mengundangmu sebagai tamu agung untuk membicarakan tawaran ini. Dalam benakku hanya ada dua pilihan, mengangkatmu sebagai panglima perang atau menemukan Pedang Kayu Petir."

Suto terkejut mendengar nama pedang itu disebutkan, ia ingat kembali bahwa pedang tersebut pernah disebut- sebutkan oleh Palupi yang sekarang menjabat sebagai ratu negeri Muara Singa itu. Tetapi sampai malam itu, Suto belum pernah bicara dengan Palupi secara sungguh-sungguh tentang Pedang Kayu Petir.

Dulu Suto pernah menyangka bahwa pedang yang disebut-sebut sebagai pedang pusaka maha sakti itu dimiliki oleh ratu Purnama Laras. Karena Palupi si gadis gila itu mengetahui tentang rahasia pedang tersebut, maka Ratu Purnama Laras mengerahkan orang-orangnya untuk menangkap Palupi dan membunuhnya, supaya rahasia pedang pusaka itu tidak bocor dari mulut si gadis gila. Tapi dugaan Suto itu ternyata meleset. Purnama Laras memang tidak tahu-menahu tentang pedang tersebut dan bahkan berminat untuk mendapatkannya.

"Mengapa kau mempunyai dua pemikiran seperti itu, Purnama Laras? Apa alasanmu ingin mengangkatku sebagai panglima perang atau memiliki Pedang Kayu Petir?" tanya Suto Sinting dengan rasa ingin tahu.

"Karena negeri ini sebenarnya dalam ancaman bahaya tokoh sakti yang ilmunya tak tertandingi oleh orang-orang Muara Singa. Tokoh sakti itu dapat dikalahkan dengan kesaktian Pendekar Mabuk, atau dengan menggunakan Pedang Kayu Petir sebagai pusaka pedang maha sakti. Sebab itu, dulu aku menyuruh para pengawalku untuk menangkap Palupi sebab ia sebut-sebutkan pedang tersebut. Aku ingin menangkap bukan dengan maksud jahat, melainkan ingin mengorek keterangan darinya tentang Pedang Kayu Petir itu."

Suto Sinting manggut-manggut, diam sebentar lalu mulai perdengarkan suaranya yang lembut itu, "Siapa tokoh sakti yang kau maksud sebagai pengancam bahaya negeri ini?"

"Raja Tumbal, penguasa Lumpur Maut."

"Raja Tumbal...? Bukankah dia yang membunuh adik Pendita Arak Merah, atau adik gurunya Palupi?"

"Aku tak mendengar soal itu. Yang kutahu, Raja Tumbal menghendaki negeri ini. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya lima purnama yang lalu, Raja Tumbal datang menemuiku dan ingin merebut Muara Singa, ia adalah kakak dari ibu angkatku; Raden Ayu Indriakara. Ia merasa bahwa negeri ini adalah negeri leluhurnya dan yang berhak menjadi penguasa adalah dirinya. Aku diberi waktu sampai tiga purnama untuk meninggalkan negeri ini, jika tidak maka semua penghuni istana akan dibantai habis olehnya dalam waktu sekejap. Dan aku percaya ia sanggup membantai kami dalam sekejap, karena ia memiliki pusaka yang bernama Seruling Malaikat."

Suto Sinting kerutkan dahi. "Seruling Malaikat? Aku baru mendengar nama pusaka itu. Apa kehebatannya sehingga kau tampaknya amat ketakutan dengan pusaka Seruling Malaikat itu?"

"Seruling Malaikat, menurut para tokoh tua, adalah sebuah seruling yang jika ditiup dengan sembarangan tanpa nada pun bisa membuat lawan yang dituju menjadi pecah raganya bila mendengar suara seruling tersebut. Konon, getaran seruling dapat menyatu dengan mata dan batin kita. Pada saat kita melihat musuh yang dituju oleh batin kita untuk dimusnahkan, maka getaran suara seruling tersebut mengirimkan gelombang tenaga dalam luar biasa besarnya hingga ketika masuk gendang telinga lawan dapat membuat raga lawan meledak."

Suara gumam Pendekar Mabuk sangat lirih, kepalanya terangguk-angguk sebagai tanda sangat bersungguh-sungguh mempercayai cerita tersebut. Hatinya menjadi tertarik untuk membicarakan tentang pusaka Seruling Malaikat itu. "Dari mana Raja Tumbal memperoleh pusaka sehebat itu?"

"Menurut cerita para tokoh tua, Seruling Malaikat dulu milik seorang dewa yang terusir dari kayangan dan menjelma menjadi seorang penggembala kerbau. Dewa itu bernama Bramujaya. Ia menjalani masa hukuman menjadi manusia dengan dibekali Seruling Malaikat. Hukumannya akan selesai jika menikahi seorang wanita yang berpenyakit kusta sangat parah. Tetapi sebelum hal itu terjadi, Bramujaya sudah berhasil dikalahkan oleh Siluman Tujuh Nyawa, ia mati dibunuh tokoh sesat itu. Tapi Siluman Tujuh Nyawa tidak tahu bahwa Bramujaya mempunyai pusaka sebuah seruling. Seruling itu ditemukan oleh petapa sakti yang bernama Begawan Demang Buwana"

"Siapa?!" Suto terpekik kaget, wajahnya menjadi tegang. "Begawan Demang Buwana?!"

"Benar. Kenapa kau tampak terkejut sekali?" Purnama Laras merasa heran.

"Hmm... ya, aku sangat terkejut, sebab ketika aku dalam perjalanan kemari bersama Dungu Dipo, kami sempat bermalam di pondok sang Begawan di dalam hutan di tepi sebuah telaga. Kami disambut baik oleh Eyang Begawan Demang Buwana. Bahkan kami sama-sama minum tuak sebagai penghormatan dan..."

Purnama Laras tertawa kecil sambil menepiskan tangan di depan wajah sebagai tanda meremehkan cerita Pendekar Mabuk. Tentu saja cerita itu tak jadi dilanjutkan oleh Suto. Pendekar tampan itu justru merasa heran melihat tawa wanita cantik yang lembut dan bersahaya itu.

"Mengapa kau menertawakan ceritaku?"

"Karena aku tahu kau sedang membual."

"Ini sungguh-sungguh terjadi," kata Suto agak ngotot.

"Aku tidak percaya," Purnama Laras gelengkan kepala sambil tersenyum. "Begawan Demang Buwana sudah wafat lima puluh tahun yang lalu. Ia meninggal dalam usia sekitar seratus tahun. Dan kematiannya itu disebabkan oleh perbuatan Siluman Tujuh Nyawa yang terlambat mendengar tentang pusaka Seruling Malaikat. Pada waktu itu, Seruling Malaikat sudah diturunkan kepada murid sang Begawan, dan terus turun-temurun sampai akhirnya ada kabar bahwa Seruling tersebut jatuh ke Sumur Tengah Samudera. Cara mengambilnya harus dengan lakukan semadi rendam. Dan Raja Tumbal telah lakukan semadi rendam hingga akhirnya berhasil memperoleh Seruling Malaikat. Jadi kalau kau bercerita bertemu dan bermalam di pondok Begawan Demang Buwana, itu adalah hal yang mustahil, apalagi hal itu terjadi belum lama ini. Tak akan ada tokoh tua yang mau percaya dengan pengakuanmu tadi, Suto."

Kini Suto Sinting termenung lama dengan dahi masih berkerut. Dalam hatinya berkata, "Jadi siapa orang yang kutemui bersama Dungu Dipo dalam hutan itu? Siapa orang yang memintaku meminum tuak dalam mangkok sebagian dan sisanya diminum olehnya itu?"

Senyum perempuan yang suka dengan bunga melati itu masih menampakkan rasa tidak percayanya kepada ucapan Suto tadi. Suto Sinting sangat penasaran jadinya. "Kalau kau tak percaya, kau bisa tanyakan sendiri kepada Dungu Dipo," kata Suto meyakinkan kata-katanya. "Kami bermalam di pondok itu dan dijamu dengan minuman tuak dalam mangkok."

"Kau berani bersumpah?"

"Sumpah apa pun aku berani, bahwa aku dan Dungu Dipo bertemu dengan Eyang Begawan Damang Buwana. Bahkan aku sempat bertanya tentang Padang Kayu Petir kepadanya, tapi beliau tak tahu di mana pedang itu berada. Juga ketika kutanyakan siapa orang dalam tandu merah itu, beliau hanya mengatakan, ada lapisan tenaga dalam yang tak bisa ditembus teropong indera keenamnya dan membuat tandu itu tak bisa diketahui siapa orang yang ada di dalamnya."

Kini ganti Purnama Laras yang tertegun bengong. Kejap berikutnya ia menggumam, "Aneh sekali. Jika benar begitu, berarti kau dan Dungu Dipo telah bertemu dengan jelmaan sang Begawan. Mungkin punya maksud tertentu, entah ingin menolongmu atau ingin sampaikan pesan padamu."

"Pesan...? Rasa-rasanya tak ada pesan apa-apa. Mungkin saja hanya ingin menolongku. Mungkin ada seseorang yang menyuruhnya menyediakan pondok untuk bermalam bagiku?" kata Suto seperti bicara pada diri sendiri, lalu dalam benaknya terbayang wajah Ratu Kartika Wangi sebagai orang yang menyuruh Begawan Demang Buwana untuk sediakan pondok baginya. Karena dalam pembicaraan kala itu, sang Begawan menyinggung-nyinggung nama Ratu Kartika Wangi, calon mertua Suto Sinting.

"Baiklah, kita lupakan dulu tentang pertemuanku dengan sang Begawan itu," kata Suto. "Sekarang bagaimana dengan Raja Tumbal?"

"Untuk mengalahkan Seruling Malaikat-nya kupikir aku harus menggunakan Pedang Kayu Petir kalau memang tak sanggup menandingi kesaktian pusaka tersebut. Persoalannya adalah, saat ini sudah hampir masuk purnama ketiga, berarti aku dan para pejabat di istana harus segera tinggalkan negeri ini. Raja Tumbal akan ganti menguasai negeri ini."

"Apakah kau sudah bicarakan kepada Palupi, termasuk tentang Pedang Kayu Petir yang saat menjadi orang gila disebut-sebutkan itu?"

"Aku belum berani membicarakan karena ia masih menikmati masa kegembiraan. Setelah pesta ini usai, aku akan membicarakannya."

Tak ingin mengganggu kebahagiaan dan kegembiraan yang sedang berlangsung pada diri seseorang, sungguh merupakan sikap yang baik dan patut dikagumi. Suto Sinting mengerti betul maksud hati Purnama Laras. Tetapi menurutnya, persoalan Raja Tumbal adalah persoalan yang tak bisa ditunda. Secepatnya harus dicari jalan keluarnya, mengingat Raja Tumbal memiliki pusaka Seruling Malaikat yang dapat menjadi alat pembantai bagi orang-orang Muara Singa.

"Apakah menurutmu dengan adanya Palupi menjadi ratu di negeri ini, Raja Tumbal merasa masih mampu mengungguli kekuatan yang ada di sini?" Tanya Suto kepada Purnama Laras seusai mereka lakukan santap malam bersama. Pertanyaan itu diucapkan secara berbisik.

Jawabannya pun cukup pelan, sehingga hanya Pendekar Mabuk sendirilah yang mendengarnya. "Kabarnya, suara Seruling Malaikat tak bisa ditangkal dengan ilmu dan kesaktian apa pun. Jadi sesakti-saktinya Galuh Puspanagari jika mendengar suara Seruling Malaikat ia akan hancur juga."

Jawaban itu cukup dipakai bahan pertimbangan bagi Suto. Pertimbangan itu akhirnya memperoleh keputusan bahwa ia harus bicara empat mata dengan Galuh Puspanagari yang lebih suka dipanggilnya Palupi itu. Pendekar Mabuk merasa perlu menjajaki ketinggian ilmu Palupi dalam menghadapi Seruling Malaikat nanti. Jika memang ternyata menurut kesimpulan Suto ilmu yang dimiliki Palupi tidak mempunyai kesanggupan untuk menghadapi Seruling Malaikat, maka ia harus memaksa Palupi untuk mengambil Pedang Kayu Petir.

Suto mempunyai dugaan bahwa Pedang Kayu Petir dimiliki oleh Palupi dan disimpan di suatu tempat. Pedang itu pasti dibungkus oleh tenaga pelapis yang sukar diteropong oleh kekuatan batin maupun mata indera keenam, seperti halnya tandu merahnya yang tak bisa ditembus oleh mata batin orang sakti, sehingga tak diketahui siapa penghuni tandu tersebut selama ini.

Hanya saja, Pendekar Mabuk merasa tak enak hati, karena Palupi bersedia bicara di dalam kamarnya, ia tak mau percakapannya didengar orang lain. Ia membawa Suto ke kamar tidurnya yang mewah dan megah serta kedap suara itu. Suto Sinting justru menjadi kikuk berada di tempat yang menimbulkan suasana hangat bagi hasrat cinta dua orang berlainan jenis itu.

"Kau pucat sekali," kata Palupi sambil tersenyum-senyum. "Jangan takut, aku sudah berjanji tidak akan memaksamu untuk memperkosaku seperti saat aku berpura-pura gila itu. Duduklah dengan tenang."

Suto Sinting geli sendiri membayangkan peristiwa lain.

"Karena itu jangan diresapi kenangan masa laluku, nanti hasratmu berontak dan menuntutku," kata Palupi masih bersikap sebagai teman, bukan sebagai ratu. Hanya kepada Suto saja ia tak bisa bersikap sebagai ratu yang mestinya penuh ketegasan dan wibawa, menjaga kharisma seperti Purnama Laras dulu.

"Tapi seandainya memang kau ingin menuntutku karena resapan kenangan itu, aku pun tak keberatan untuk memenuhi tuntutanmu," kata Palupi penuh arti yang amat dalam bagi perasaan seorang lelaki muda seperti Suto.

Tapi hal itu hanya ditanggapi oleh Suto dengan senyum menawan. Suto tak sadar, jika ia sering memamerkan senyumnya, berarti menambah gejolak gairah memberontak di dalam batin Palupi. Untung selama ini Palupi mampu menahan diri sehingga tidak berkesan sebagai wanita murahan.

"Baiklah, Suto... apa yang ingin kau bicarakan padaku? Pesta ini esok telah usai. Apakah itu berarti esok kau akan tinggalkan negeriku? Apakah tak bisa tinggal lebih lama lagi atau justru selama-lamanya saja?"

"Jawabannya tergantung pembicaraan kita nanti," kata Suto dengan tenang. Meski di dalam kamar tidur seorang ratu, namun bumbung tuak selalu dibawanya, sehingga sewaktu-waktu Suto tak segan-segan menenggak tuak dari bumbungnya. Padahal Palupi sudah siapkan sepoci tuak dan cangkirnya, tapi Suto hanya sesekali minum tuak dari cangkir itu. Ia merasa lebih mantap jika minum tuak dengan menenggak dan mengangkat bumbung bambunya. Suatu kebiasaan yang sudah menjadi kesukaan memang sulit ditinggalkan begitu saja.

"Apa yang ingin kubicarakan memang ada kaitannya dengan semasa kau menjadi gadis gila," kata Suto Sinting.

"Soal... soal perkosaan?"

"Bukan!" jawab Suto malu. "Pada waktu itu kau sebut-sebut Pedang Kayu Petir. Kau masih ingat, bahwa kau bilang telah sembunyikan Pedang Kayu Petir di sebuah gua di Bukit Tungkai?"

Palupi tersenyum dan manggut-manggut. Senyumnya itu sukar dipastikan artinya, bisa senyum malu, bisa senyum geli bisa juga senyum meremehkan. Tapi Suto tak peduli sehingga tetap ajukan tanya lagi pada Palupi,

"Benarkah pedang pusaka itu ada di salah sebuah gua di Bukit Tungkai?"

"Aku tidak tahu," jawab Palupi.

"Palupi, kita sama-sama butuhkan pedang itu. Aku juga butuh, kau juga nantinya akan butuh pedang itu. Tolong bicaralah jujur padaku."

"Aku benar-benar tidak tahu tentang pedang itu. Memang aku pernah dengar namanya, pernah dengar ceritanya, tapi aku tidak tahu di mana pedang itu."

"Mengapa kau waktu itu selalu menyebut-nyebutkan Pedang Kayu Petir?"

"Aku hanya memancing perhatian bagi orang-orang yang bernafsu memiliki pedang tersebut. Tentu saja bukan orang berilmu rendah yang menghendaki pedang itu, pasti orang berilmu tinggi. Lalu, aku bisa kenali orang-orang berilmu tinggi itu, dan bisa tahu apakah dia berpihak kepada Purnama Laras, atau berpihak kepada orang lain. Sasaran utamaku pada waktu itu adalah Purnama Laras dan orang-orangnya. Karena aku tak tahu hati Purnama Laras ternyata amat mulia. Jika aku ingin lakukan penyerangan, aku harus tahu siapa-siapa saja yang akan kuhadapi nantinya. Jadi kupancing mereka dengan berita adanya Pedang Kayu Petir pada diriku. Sebab aku tahu pedang itu pasti masih diminati oleh para tokoh sakti."

Napas Suto terhempas panjang sebagai penghilang kedongkolan, ia segera bertanya, "Lantas apa kesimpulanmu kala itu?"

"Ternyata Purnama Laras sangat berhasrat untuk memiliki pedang itu, juga dirimu kulihat sangat bernafsu untuk memilikinya, tapi tak kulihat kau ada di pihak Purnama Laras. Sementara tokoh lain yang berhasrat dengan pedang itu tak kulihat ada di pihak Purnama Laras. Jadi aku merasa akan berhadapan dengan Purnama Laras sendiri, tapi didukung oleh pihak lain yang berilmu tinggi. Bahkan aku tak sangka kalau Nyai Paras Murai ternyata ada di pihak Purnama Laras walau tak menghendaki pedang itu. Aku sangat menyesal sekali telah bertarung dengan Nyai Paras Murai yang ternyata justru orang pertama yang menyambut kelahiranku di muka bumi ini. Aku merasa berdosa dengan beliau. Tapi aku sudah meminta maaf berulang kali dan menganggap Nyai Paras Murai sebagai orangtua sendiri. Aku pun telah berdamai dengan Hantu Tari yang ternyata adalah saudara sepupuku sendiri, walau sepupu tiri."

Kamar tidur menjadi hening karena mulut Suto terbungkam dalam termenungnya. Matanya lurus ke satu sisi, sementara mata Palupi menatapi Suto tiada henti, penuh debar-debar keindahan dalam hatinya, penuh rasa kagum dan salut dengan sikap Suto. Batinnya mengatakan,

"Pendekar tampan ini biarpun punya wajah mampu melumpuhkan wanita hingga bertekuk lutut di hadapannya, namun ia sama sekali tidak mau berkurang ajar padaku. Sikapnya pun tak sombong, punya ketegasan dan kebijakan. Aku suka padanya. Sangat suka!"

Untuk memecah kesunyian, Palupi segera ajukan tanya kepada Suto dengan berpindah duduknya di samping kiri Suto. Ia mencoba mengusap pundak dan lengan Suto seraya berbisik, "Mengapa kau sangat berharap mendapatkan pedang yang sudah bertahun-tahun dinyatakan hilang?"

"Demi keselamatan negeri ini juga," jawab Suto dengan sikap duduk masih sedikit bungkuk, kedua sikunya bertumpu pada kedua paha. Ia bicara sambil menoleh ke arah Palupi dan tampak lebih gagah sikapnya seperti itu. Lengannya kelihatan lebih kekar, ketampanannya tampak lebih jantan lagi.

"Apa maksudmu berkata begitu?"

"Ada seorang musuh yang ingin menyerang negeri ini dan merebutnya, ia berilmu tinggi dan mempunyai pusaka yang hanya bisa ditandingi dengan Pedang Kayu Petir."

Palupi diam sesaat, tampak tenang. Tak kelihatan terkejut walaupun masih dipandangi Suto. Kejap berikut, Suto mendengar suara gadis itu berkata lembut, "Orang yang kau maksud itu adalah Raja Tumbal!"

Suto menegakkan sikap duduknya. "Dari mana kau tahu? Apakah Purnama Laras sudah menceritakan ancaman Raja Tumbal?"

"Belum. Tapi aku pernah menyadap pembicaraan Raja Tumbal dengan orang-orang kepercayaannya, itulah sebabnya aku memusuhi orang Lumpur Maut. Di samping ingin membalaskan kematian adik guruku, juga ingin melumpuhkan Raja Tumbal sebelum ia menguasai negeri Muara Singa ini. Jika memang Purnama Laras sudah mendapat kabar tentang niat Raja Tumbal, maka sekarang aku tahu mengapa Purnama Laras sangat bernafsu untuk memiliki Pedang Kayu Petir."

"Apakah kau sudah tahu bahwa Raja Tumbal mempunyai pusaka yang bernama Seruling Malaikat?"

"Sudah!" jawabnya tanpa senyum.

"Bagaimana menurutmu? Apakah perlu dihadapi dengan pedang pusaka itu atau cukup dengan ilmu dan kesaktianmu saja?"

Wajah gadis berjubah ungu itu tampak dingin. Matanya memandang lurus, menerawang tak tentu makna. Bibirnya terkatup, napasnya teratur lembut. Sesaat kemudian barulah ia bicara dengan mata masih memandang hampa. "Apakah kau bersedia membantuku?"

"Maksudmu?"

Ia menatap Suto, wajahnya penuh kesungguhan dalam bicara. "Aku tak akan sanggup melawannya, apalagi ia mempunyai pusaka Seruling Malaikat," ia berhenti sampai di situ, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sedih dan sulit dikatakannya.

Pendekar Mabuk menatap penuh perhatian dan bicara sangat pelan. "Mengapa begitu? Bukankah seorang Tandu Terbang adalah tokoh sakti yang cukup menggetarkan isi dunia?"

"Kesaktianku sebagian telah hilang jika aku menjadi ratu. Itu adalah perjanjian yang kubuat dengan guruku; Pendita Arak Merah. Aku tak bisa lagi menjelma sebagai Tandu Terbang, kekuatan tenaga dalamku juga tak setinggi semula. Kuperoleh kesaktian setinggi itu hanya untuk merebut hak warisku, yaitu negeri ini. Jika aku telah memiliki negeri ini, maka beberapa kesaktianku itu akan lenyap. Jadi pada waktu itu aku dihadapkan dengan dua pilihan; tetap berilmu tinggi sebagaimana yang dimiliki Tandu Terbang, atau menjadi seorang ratu yang adil dan bijaksana dengan kehilangan beberapa kesaktian. Aku memilih menjadi ratu karena memang aku harus mewarisi kekuasaan leluhurku. Dan jika aku menjadi ratu yang tidak adil dan bijaksana, maka kesaktianku akan berkurang lagi."

"Aneh...?!" gumam Suto Sinting sambil berkerut dahi dan manggut-manggut.

"Dalam keadaan seperti dulu, aku sanggup menumbangkan Raja Tumbal. Sayang tak pernah berhasil kutemui kecuali hanya begundalnya saja. Tapi dalam keadaan setelah menjadi ratu dengan penobatan resmi ini, aku merasa kalah ilmu dengan Raja Tumbal. Tapi... hanya kau yang tahu hal itu. Kumohon jangan sampai bocor kepada siapa pun."

Suto kian mengangguk-angguk. "Aku paham maksudmu."

"Jadi, dalam menghadapi Raja Tumbal nantinya aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kecuali aku bisa memiliki Pedang Kayu Petir, mungkin aku berani hadapi sendiri paman tiriku itu. Tanpa pedang tersebut, aku butuh berlindung di belakangmu, Suto. Maukah kau menjadi panglima perangku?" tanya Palupi yang membuat Suto bingung menjawabnya.

* * *

DUA
SEBENARNYA Suto tidak ingin mempunyai jabatan yang akan mengikat kebebasannya. Menjadi senopati atau panglima perang adalah pekerjaan yang menyita waktu. Banyak kesibukan yang harus dipersiapkan untuk menghadapi lawan, termasuk melatih bala tentaranya, mengatur siasat perang nantinya. Suto enggan melakukan hal-hal seperti itu. Tetapi dalam hatinya ia mempunyai suatu tekad untuk membantu Palupi menyelamatkan negeri Muara Singa, sebab ia tahu memang Palupi-lah pewaris negeri itu yang sebenarnya.

"Jika keadaan Palupi memang sudah demikian, berarti kemenangan akan ada di tangan Raja Tumbal. Seruling Malaikatnya bisa digunakan seenak pusarnya sendiri untuk membantai orang-orang Muara Singa. Kasihan Palupi, baru beberapa waktu memiliki hak warisnya sudah harus dirampas lagi oleh orang lain. Agaknya aku harus memihaknya dan memperkuat pertahanan negeri ini. Tapi aku harus tahu bagaimana cara melawan kekuatan Seruling Malaikat itu?"

Pendekar Mabuk segera membayangkan cara kerja pusaka Seruling Malaikat. Getaran maut akan tersalurkan melalui gelombang suara. Mengatasi gelombang suara tidak bisa seperti mengatasi sinar pukulan tenaga dalam yang bisa dilihat arah dan gerakannya. Apalagi gelombang suara itu mempunyai hubungan erat dengan mata dan batin. Raja Tumbal bisa saja menghancurkan lawannya dari jarak jauh asal masih bisa melihat sang lawan dan batinnya menghendaki kehancuran orang tersebut. Gelombang suara seruling dapat melesat masuk ke telinga lawan tanpa diketahui gerakan dan bentuknya.

"Repotnya lagi, gelombang suara itu bukan saja membuat gendang telinga pecah, melainkan raga pun bisa pecah dan hancur berkeping-keping. Berarti kekuatannya lebih tinggi dibanding jurus 'Siulan Peri' yang ada padaku. Jurusku itu hanya bisa memecahkan gendang telinga saja. Jika diadu dengan suara Seruling Malaikat, maka 'Siulan Peri'-ku akan kalah. Aku harus mencari tahu bagaimana melawan Seruling Malaikat, dan di mana letak kelemahan pusaka tersebut. Yang berbahaya adalah jika Raja Tumbal ada di suatu tempat yang tak kuketahui, tapi ia bisa melihatku dari tempat tersebut. Maka diriku pun akan hancur begitu Seruling Malaikat mulai ditiupnya."

Menurut perhitungan, bulan purnama akan tiba sebelas hari lagi. Apakah Raja Tumbal akan datang tepat pada saat bulan purnama tiba atau lebih beberapa hari dari saat purnama tiba? Bagi negeri Muara Singa sama saja, kehancuran akan segera tiba tepat malam purnama atau lewat dari itu. Karenanya persiapan menghadapi serangan orang-orang Lumpur Maut harus sudah disusun secara matang sejak sekarang.

"Aku akan menghadap guruku," kata Suto kepada Palupi yang didampingi oleh Purnama Laras, Nyai Paras Murai, Hantu Tari, Batu Sampang, dan Dungu Dipo. Suto menyambung kata-katanya, "Dalam waktu sesingkat ini, tak mungkin kita bisa dapatkan Pedang Kayu Petir yang belum diketahui di mana tempatnya. Yang kulakukan adalah mencari tahu di mana kelemahan Seruling Malaikat itu. Aku akan tanyakan kepada guruku tentang hal itu. Aku harus pergi selama empat atau lima hari."

Nyai Paras Murai yang kini dianggap keluarga Istana itu berkata, "Kurasa Gila Tuak juga tak tahu bagaimana cara mengalahkan gelombang suara. Seingatku, sejak dulu tak pernah ada lawan yang bisa kalahkan Seruling Malaikat."

Purnama Laras memotong, "Tapi mengapa Begawan Demang Buwana dapat dikalahkan oleh Siluman Tujuh Nyawa?"

"Karena Seruling Malaikat telah diturunkan kepada muridnya," jawab Nyai Paras Murai.

"Kabarnya, sekarang pun jika Siluman Tujuh Nyawa melawan Raja Tumbal ia akan mampu mengalahkannya, karena Siluman Tujuh Nyawa sudah kuasai ilmu yang bernama 'Redam Guntur', yaitu menutup semua lubang tubuhnya agar tidak bisa dimasuki suara apa pun."

"Apakah kita perlu minta bantuan kepada Siluman Tujuh Nyawa?" tanya Dungu Dipo yang ditanggapi dengan ketus oleh Hantu Tari,

"Kalau kau mau jadi pengikut sesatnya, silakan kau lari dan bergabung kepada Siluman Tujuh Nyawa!"

Dungu Dipo bersungut-sungut tak mau bicara lagi. Batu Sampang tetap diam memperhatikan tiap pembicaraan tersebut. Sedangkan Palupi sejak tadi berkerut dahi walau tetap berlagak tenang, namun sebenarnya bingung menghadapi lawannya nanti. Bahkan ketika Hantu Tari ajukan tanya kepada Palupi,

"Apakah kau tak sanggup menghadapinya dengan kesaktianmu?"

Suto tahu Palupi akan bingung menjawabnya, karena itu Suto lebih dulu berkata sebagai wakil Palupi dalam menjawab, "Seorang ratu tak baik jika turun tangan sendiri, kecuali keadaan sudah sangat terpaksa! Palupi memang akan turun tangan, tapi sebelum ia turun tangan tentunya kita lebih dulu menghadapi lawan tersebut. Yang kita bicarakan ini adalah seandainya kita hadapi Raja Tumbal, lantas dengan kekuatan apa kita harus melawannya. Kalau kita mengandalkan kekuatan dan kesaktian Palupi, lantas untuk apa kita diajak berunding di sini?"

Sebuah pembelaan telah dilakukan Suto. Palupi merasa sedang ditutupi kelemahannya. Rupanya Suto Sinting benar-benar menjaga rahasia kelemahan ilmu Palupi, sehingga pendekar tampan itu merasa harus berpikir dan berjuang sendiri mencari jalan keluar dari masalah yang masih buntu itu.

"Pembelaannya terhadapku cukup membuat hatiku semakin bangga padanya," pikir Palupi. "Tapi apakah pembelaan itu berarti awal tumbuhnya rasa cintanya pada diriku? Semoga saja begitu. Seandainya tidak begitu, aku pun tak boleh sakit hati, karena cinta bebas memilih dan tak baik dipaksakan. Aku hanya bisa berharap agar ia dekat dengan hatiku, jauh dari hati perempuan lain. Mulai sekarang harus kupahami bahwa tidak setiap harapan menjadi kenyataan. Jika harapan itu jauh dari kenyataan, aku tak boleh terlalu kecewa. Untuk membendung rasa kecewa agar tidak melukai hatiku, sebaiknya segalanya kuserahkan kepada garis kehidupanku saja. Biar sang nasib yang menentukan perjalanan kasihku."

Termenungnya Palupi membuat Suto curiga. Ketika yang lainnya meninggalkan tempat setelah Suto putuskan untuk menunggu kedatangannya pulang dari menghadap Gila Tuak, maka Suto pun berbisik kepada Palupi yang masih melamun itu, "Palupi...!" sentakan lembut mengguncang tubuh Palupi.

Sang Ratu tersipu malu, apalagi setelah Suto bertanya, "Apa yang kau lamunkan? Sepertinya bukan masalah yang sedang kita bicarakan. Kau melamunkan soal lain, Palupi!"

Palupi kian melebarkan senyumnya, namun ia menjawab dengan tegas, "Ya, memang soal lain. Soal kepergianmu nanti,"

"Maksudmu bagaimana?"

"Entahlah, tiba-tiba kubayangkan Istana mewah ini akan menjadi sepi tanpa dirimu, Suto!"

Suto ingin tertawa, ia bahkan menjawab dengan konyol, "Kalau mau ramai, bakar saja Istana ini. Pasti ramai!"

Palupi tertawa, tangannya mencubit lengan Suto. Hatinya berbunga indah, dan Suto mulai paham dengan gelagat itu. Maka ia segera berkata lebih bijak, "Jangan menggantungkan hidup pada seseorang. Gantungkanlah hidup pada dirimu sendiri dan seluruh manusia di muka bumi ini. Jika kau terlalu menggantungkan hidup pada seseorang, maka jiwamu akan mati pada saat orang itu pergi. Hidupnya jiwa tidak bisa bergantung pada satu jiwa saja. Itulah yang kumaksud 'hidup' dalam artian jiwa yang butuh semangat."

"Aku mengerti," jawab Palupi dengan senyum lebih wibawa lagi. "Aku harus mencoba menghidupkan jiwaku tanpa harus bergantung pada jiwamu."

"Aku yakin kau mampu, Palupi."

"Baiklah. Lalu..., kapan kau akan berangkat temui gurumu?"

"Sekarang juga!" jawab Suto dengan tegas.

"Perlu pendamping?"

"Tak perlu."

"Bawalah seekor kuda supaya lebih cepat sampai dan kembali kemari."

"Pada waktu kuda sampai di tempat guruku, aku sudah bisa kembali sampai di sini lagi. Kau mengerti maksudku?"

Palupi mengangguk kalem. "Artinya gerakanmu akan lebih cepat daripada gerakan seekor kuda pacu!"

Seekor kuda bagi Pendekar Mabuk merupakan perintang perjalanan saja. Ia akan dibuat lebih sibuk dengan membawa kuda daripada pergi sendirian. Setidaknya soal makan saja harus dipikirkan untuk sang kuda. Tapi jika pergi sendirian ia hanya memikirkan makan untuk perutnya saja. Karenanya Suto tak pernah mau membawa seekor kuda dalam bepergian ke mana saja, sebab ruang geraknya akan dibatasi oleh keberadaan kuda tersebut.

Perjalanan Suto terpaksa menyimpang arah karena mendengar denting suara pedang beradu. Rasa ingin tahu siapa yang bertarung dengan mengadu pedang membuat Pendekar Mabuk berlari menuju ke balik bukit gundul itu. Untuk menyingkat waktu, Suto Sinting membatalkan niatnya untuk mengitari bukit gundul yang tak seberapa tinggi, melainkan mendaki bukit itu dengan gerak silumannya yang secepat kilat itu.

Zlaaap...!

Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun dengan pakaian hijau dirangkap jubah merah jambu, sedang berhadapan dengan perempuan usia sebaya dengan pakaian ketat warna hitam dan rambut acak-acakan berkesan liar. Wanita berpakaian hitam itu mempunyai gerakan yang sangat lincah dan cepat. Pedangnya bergagang hitam mampu berkelebat nyaris tak terlihat mata. Tapi wanita berjubah merah jambu itu pun mempunyai jurus pedang yang sering membuat lawan nyaris tertipu.

Suto Sinting sedikit terperanjat melihat wanita berjubah merah jambu sebab ia sangat kenal dengan wanita itu. Sebuah peristiwa terbayang dalam benak Pendekar Mabuk begitu melihat wanita yang menjadi anak Adipati Suralaya. Wanita itu tak lain adalah Delima Gusti, yang dulu pernah menolong Suto Sinting dalam keadaan terkena racun 'Lebah Setan' dari Dewa Sengat. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Cambuk Getar Bumi).

Sedangkan wanita berambut acak-acakan itu belum pernah dikenal Suto sama sekali, sehingga batin Suto bertanya-tanya; siapa wanita yang mempunyai jurus pedang cukup hebat itu? "Pakaiannya seperti dari karet. Ketat sekali dengan tubuhnya yang meliuk-liuk penuh tantangan bercumbu itu," pikir Suto. "Siapa sebenarnya perempuan berambut acak-acakan itu? Sebenarnya dia cantik, sayang tak mau merawat kecantikannya sehingga tak terlalu kelihatan menyolok. Hanya dadanya saja yang sangat menyolok karena besar dan sesak itu. Agaknya ia mempunyai jurus pedang yang cukup hebat, terbukti Delima Gusti berulang kali terdesak dan hampir terpenggal lehernya. Hmmm... kalau kubiarkan saja, Delima Gusti bisa mati di ujung pedang perempuan berkulit kuning langsat itu."

Pandangan mata Suto Sinting tersentak lebar ketika melihat perempuan itu berani lemparkan pedangnya ke dada Delima Gusti. Wuuut...! Pedang itu kenai tempat kosong karena Delima Gusti menghindar dengan lompatan ke samping.

Weess...!

Dan ternyata dengan sentakan tangan yang terjulur bergerak ke belakang, pedang bergagang hitam itu bisa kembali mundur dengan cepat.

Wuuut! Taab...!

Dalam sekejap pedang itu sudah kembali ke tangan pemiliknya. Jurus itu belum pernah dilihat oleh Suto Sinting. Tangan perempuan berpakaian hitam itu seperti mempunyai daya sedot yang mampu membuat pedangnya yang sudah melayang lurus menjadi kembali ke tempat semula. Tentu saja hal itu bisa dilakukan karena tenaga dalam yang tinggi dan sangat terkendali.

"Bahaya sekali jurus pedangnya itu," gumam Suto masih belum mau bertindak.

Tetapi di lain sisi, Delima Gusti pun lakukan jurus yang memukau, ia tak mau mundur setapak pun ketika lawannya maju menyerang. Pedangnya berkelebat cepat membuat tangkisan-tangkisan sambil mencuri kesempatan untuk merobek perut atau dada lawannya. Bahkan dalam satu keeempatan, Delima Gusti berhasil lemparkan pedangnya lurus ke depan, tapi tubuhnya segera melompat dan hinggap di pedang yang sedang melayang.

Wuuutt...!

Delima Gusti bagaikan terbang dengan berdiri di atas pedangnya yang datar. Ujung pedang diarahkan ke leher lawan. Bahkan ketika lawan menghindar ke kiri, Delima Guatl membelokkan arah terbangnya pedang, sehingga pedang itu mengejar lawan ke kiri juga.

Slaaap...!

Pedang menukik naik karena lawan lakukan lompatan ke atas. Arah pedang tertuju ke perut lawan. Kaki Delima Gusti seakan menjadi pengganti tangan yang hendak menghunjamkan pedang itu ke tubuh lawan. Kibasan pedang perempuan berpakaian hitam itu ditangkis dengan sentakan tenaga dalam yang keluar dari telapak tangan Delima Gusti, sehingga tangan yang hendak menebaskan pedang tersentak ke belakang, tak jadi maju ke depan. Tapi pedang di kaki Delima Gusti melesat naik dan berputar membuat Delima Gusti berjungkir balik di udara dengan kaki tetap menempel pada pedang. Untung saja perempuan yang menjadi lawannya cepat bersalto ke belakang, jika tidak perutnya akan jebol ditembus oleh pedang Delima Gusti.

"Ternyata jurus pedang Delima Gusti juga tidak bisa diremehkan?!" gumam Suto bicara sendiri. "Mungkin itulah yang dinamakan jurus 'Pedang Terbang'."

Karena keenakan nonton jurus pedang yang demikian hebat, Suto hampir saja lupa melerai pertarungan itu. Kesadarannya timbul ketika Delima Gusti terdesak di bawah pohon setelah menerima tendangan keras tepat di ulu hatinya dari wanita berambut acak-acakan itu.

Duuhg...! Wuuus...!

Delima Gusti terkapar di bawah pohon. Punggungnya tadi membentur batang pohon dengan keras. Darah keluar dari mulut Delima Gueti. Tapi ia masih berusaha untuk segera bangkit, walaupun dalam keadaan sempoyongan. Kelemahan itu tidak disia-siakan oleh lawannya. Lawan segera menerjang dengan pekik melengking penuh hasrat membunuh.

"Hiaaat...!"

Pedang bergerak cepat ke sekeliling tubuh, tak tahu akan menebas melalui sisi mana. Delima Gusti pasti tak mampu menangkis serangan itu. Maka, Suto Sinting segera kirimkan pukulan ringan namun cukup melumpuhkan. Jurus 'Jari Guntur' digunakan. Sentilan jarak jauh dari jari tangan kanannya melepaskan tenaga dalam tanpa sinar.

Tess...! Wuuut...!

Buuhg...! Pukulan tenaga dalam itu mengenai dada perempuan berpakaian ketat tereebut. Gerakan majunya terhenti seketika, tubuhnya melayang balik dengan terjungkir satu kali dan jatuh dalam jarak tiga tombak dari tempatnya melompatnya tadi. Ia terengah-engah dengan keadaan setengah merangkak. Dadanya dipegangi karena merasa sakit, merasa seperti dijejak dengan dua kaki kuda.

Delima Gusti merasa heran, namun cepat tanggap bahwa ada orang yang telah membantunya dari suatu tempat. Delima Gusti segera sapukan pandangan mata ke segala arah. Lalu temukan sosok seorang lelaki berdiri di atas bukit gundul. Dari bumbung tuak di pundak kanan, Delima Gusti segera mengenali bahwa lelaki di atas bukit itu tak lain adalah Suto Sinting. Maka ia pun mendesah di sela engahan napasnya,

"Suto...?!"

Keadaan seperti itu adalah kelengahan yang berbahaya bagi Delima Gusti. Perempuan berpakaian hitam ketat itu ternyata memanfaatkan kelengahan tersebut dengan melepaskan seberkas sinar yang disentakkan dari ujung jari tangan kiri. Claap...! Sinar merah terang berkelebat menuju Delima Gusti.

Suto Sinting yang mengetahui keadaan gawat itu segera menyentakkan jari tangannya juga setelah jari itu disentuhkan di dahi. Wuuut...! Suto bagaikan membuang sesuatu di ujung dua jarinya, lalu seberkas sinar ungu melesat melebihi kecepatan sinar merah perempuan berpakaian hitam itu. Zlaaap...! Sinar ungu itu tepat membentur sinar merah sebelum mencapai tubuh Delima Gusti. Benturan tersebut hadirkan gelombang panas yang meledak dan menghentak ke berbagai penjuru.

Blaaarr...!

Jurus 'Turangga Laga' telah menyelamatkan Delima Gusti dari ancaman maut sinar merah lawannya. Namun daya ledak yang menimbulkan gelombang panas menyentak kuat telah menerbangkan tubuh Delima Gusti hingga terpelanting tak tentu arah. Demikian pula lawannya, terpelanting membentur pohon menerabas semak belukar dan jatuh berdebum di balik semak. Suto Sinting segera turun dari atas bukit untuk menolong Delima Gusti.

"Su... Suto...!" Delima Gusti semakin parah, darah keluar dari mulut semakin banyak. Wajahnya sepucat mayat.

Suto Sinting segera menyangga kepala Delima Gusti, lalu meminumkan tuaknya. Dua teguk tuak masuk ke tubuh Delima Gusti. Suto Sinting segera letakkan kembali kepala Delima Gusti ke tanah. Karena pada waktu itu, perempuan berambut acak-acakan itu telah melompat keluar dari balik semak dan berseru dengan suara sedikit serak,

"Manusia licik! Siapa kau, hah?! Apa urusanmu sehingga berani mencampuri pertarunganku ini?!"

"Maaf, Nona. Aku hanya tidak menghendaki temanku ini mati di tanganmu!" kata Suto sedikit keras namun tidak menampakkan sinar bermusuhan.

"Dia harus mati!" sentaknya sambil menuding Delima Gusti pakai tangan kiri, sebab tangan kanannya masih pegangi pedang. "Kalau kau mau ikut dia ke alam baka, sekarang juga aku akan mengirimnya ke sana! Hiaaah...!"

Claaap...! Sentakan telapak tangan kiri yang kuat melepaskan selarik sinar kuning lurus besarnya seukuran gagang tombak. Suto Sinting segara menghadang sinar kuning itu dengan bumbung tuaknya. Dees...!

Wuuuk...! Sinar kuning itu berbalik arah, dua kali lebih besar dari aslinya dan dua kali lebih cepat dari gerakan semula.

"Edan!" pekik perempuan itu geram. Dia terkejut melihat sinar kuningnya berbalik arah. Ia segera sentakkan kaki dan, wwwut...! Tubuhnya melesat ke atas. Sinar kuning itu lewat di bawah kakinya. Namun ila tak tahu kalau jaraknya dekat dengan pohon. Maka ketika sinar kuning itu menghantam pohon, suara ledakan yang timbul menggelegar itu hasilkan gelombang panas yang menyentak ke berbagai arah.

Blegaaar...!

Tubuh perempuan itu tersentak ke depan dan jatuh tersungkur dengan keras. Wajahnya beradu dengan rumput. Dadanya yang membusung montok itu pun bagaikan dibantingkan ke tanah. Bung...!

"Eegh...!" suaranya tertahan karena hentakan itu. Kejap berikut terdengar suara erangan kecil, ia menggeliat dan bangkit pelan-pelan. Matanya memandang ganas walau berdirinya masih belum bisa tenang, limbung kekiri-kanan.

Suto Sinting sengaja dekati perempuan itu. "Maaf, itu seranganmu sendiri," katanya dengan lembut.

Walau matanya menatap tajam dan berkesan ganas, tapi hati perempuan itu berkata, "Tak pernah ada yang bisa membalikkan pukulan 'Lancang Kuning'-ku itu. Jika dia bisa berbuat seperti tadi, berarti ilmunya cukup tinggi. Uuh...! Punggungku terasa panas sekali. Kurasa ada bagian tubuh yang hangus. Tulang punggungku pun terasa retak. Aku butuh waktu untuk atasi luka dalamku ini. Hmmm... sayang sekali dia tampan, kalau tidak, sudah kulepaskan jarum pamungkasku ke arahnya sekarang juga. Sial!"

Suto Sinting berkata dengan lembut, senyumnya tipis memikat hati wanita. "Kalau kau tidak menyerangku, kau tidak akan celaka, Nona!"

"Jangan banyak mulut! Suatu saat kita pasti bertemu, dan akan kubalas kekalahanku ini!" Setelah berkata demikian, Suto Sinting melihat perempuan itu mundur tiga tindak, kemudian berbalik dan cepat pergi tinggalkan tempat. Gerakannya cukup cepat, karena dalam kejap berikutnya sudah tidak terdengar langkah dan gerakan larinya.

Delima Gusti menyusul Suto dengan badan masih sedikit lemas, tapi rasa sakit di bagian dada sudah hilang. Napasnya masih sedikit terengah-engah. "Seharusnya jangan kau biarkan dia melarikan diri!" kata Delima Gusti.

"Siapa dia sebenarnya?" mata Suto masih memandang ke arah kepergian perempuan tadi.

"Dia dikenal dengan nama Angin Betina. Murid Nini Pancungsari, tentunya kau masih ingat nama Nini Pancungsari!"

"Ya, aku ingat. Nini Pancungsari yang bekerja sama dengan Sri Maharatu untuk membunuh Bandar Hantu Malam, tapi akhirnya mati sebagai bahan percobaan pusaka Cambuk Getar Bumi di tangan Sri Maharatu."

"Benar. Dia berkelana mencari pembunuh gurunya." "Lalu, mengapa seharusnya tak kubiarkan melarikan diri?" "Dia mencarimu, mau membunuhmu, karena ada kabar yang mengatakan bahwa pembunuh gurunya adalah Suto Sinting."

"Mengapa terlibat bentrokan denganmu?"

"Karena... karena ketika kami sama-sama satu kedai, kudengar sesumbarnya yang memuakkan, yaitu akan memotong-motong tubuhmu menjadi delapan bagian. Aku tak rela kau mati di tangannya. Maka kuhadang dia di perjalanan dan kucoba untuk melumpuhkannya. Ternyata ia cukup tangguh. Tapi aku yakin tak ada sekuku hitamnya jika dibandingkan ilmumu."

"Berarti dia hanya tahu nama tanpa tahu rupa?"

"Kurasa begitu. Buktinya, dia justru pergi, padahal dia mencarimu. Dia tak tahu kalau yang dihadapi adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting!"

Tawa Suto pendek saja. Kalem, tak terpancing kemarahan, ia bahkan menenggak tuaknya beberapa teguk. Saat itu Delima Gusti berkata,

"Kau mau ke mana, Suto?"

"Menemui guruku untuk suatu keperluan. Kau sendiri mau ke mana?"

"Menemui Resi Wulung Gading, mau menanyakan ciri-ciri Pedang Kayu Petir."

Seketika itu juga Suto Sinting tersentak kaget, matanya cepat memandang tajam pada Delima Gusti, lalu dia ajukan tanya pada wanita cantik itu, "Kenapa kau ingin mengetahui ciri-ciri Pedang Kayu Petir?"

"Seseorang ingin melamarku dan memberiku mas kawin Pedang Kayu Petir!"

"Hah...?!" Suto terbelalak.

"Siapa orang itu?"

"Gandar Saka, dari Lumpur Maut!"

Suto makin terkejut. "Gandar Saka? Bukankah dia yang berjuluk Raja Tumbal?!"

* * *

TIGA
SUTO SINTING terpaksa menemani Delima Gusti dalam perjalanan ke Lembah Sunyi, untuk menemui Resi Wulung Gading. Hal itu dilakukan Suto demi memperoleh keterangan sejelas-jelasnya dari Delima Gusti tentang kebenaran kata-katanya itu. Sebab, hati Pendekar Mabuk kini diliputi kecemasan yang tersembunyi. Jika benar Pedang Kayu Petir akan dijadikan mas kawin bagi Raja Tumbal untuk melamar Delima Gusti, itu berarti Pedang Kayu Petir sudah ada di tangan Raja Tumbal. Semakin sulit menumbangkan orang yang telah memiliki pusaka Seruling Malaikat itu.

"Kabarnya memang begitu, Gandar Saka sudah berusia banyak, tapi ia masih awet muda karena memang mempunyai ilmu awet muda. Ia seperti lelaki berusia tiga puluhan," tutur Delima Gusti.

"Kau pernah bertemu dengannya?"

"Pernah, yaitu ketika ia selamatkan ayahku dari ancaman orang-orang Pulau Dadap. Waktu itu kami masih bermusuhan dengan Pulau Dadap. Setelah itu aku tak pernah bertemu lagi, karena aku jarang ada di kadipaten. Belakangan kudengar dia menemui Ayah dan melamarku dengan maskawin Pedang Kayu Petir."

"Lalu apa kata ayahmu?"

"Ayah tertarik dengan Pedang Kayu Petir itu. Kata Ayah, pedang itu sangat sakti, dapat lukai semua orang berilmu setinggi apa pun, karenanya pedang itu ditakuti oleh semua orang sakti dari golongan hitam maupun putih. Katanya pula, seluruh kekuatan lawan sesakti apa pun jika matanya sudah memandang Pedang Kayu Petir, maka kekuatan itu akan lumpuh tak akan bisa digunakan selama masih berada di sekitar pedang tersebut. Karenanya mudah digunakan membunuh tokoh yang ilmunya setinggi langit pun. Bahkan kabarnya pedang itu paling ditakuti oleh tokoh sesat terkenal, yaitu Siluman Tujuh Nyawa."

Sebagian keterangan sudah didengar Suto dari beberapa tokoh tua, termasuk Resi Wulung Gading. Tapi agaknya sang Adipati, ayah Delima Gusti itu lebih banyak mengetahui tentang pedang tersebut. Tak heran jika sang Adipati sangat tertarik untuk memiliki Pedang Kayu Petir.

"Apakah waktu Gandar Saka datang kepada ayahmu sudah membawa pedang tersebut?" tanya Suto bersifat menyelidik.

"Belum. Kurasa Gandar Saka tidak bodoh, membawa-bawa pedang pusaka tanpa jelas lamarannya diterima atau tidak. Salah-salah direbut orang di tengah jalan," jawab Delima Gusti.

"Menurutmu sendiri bagaimana? Apakah kau mau menikah dengan Gandar Saka?"

"Ayah hanya mengatakan, kesempatan mendapatkan pedang maha sakti itu hanya satu kali ini. Belum tentu tujuh turunan kita bisa punya kesempatan lagi. Jadi, Ayah sarankan padaku agar jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku didesak untuk menerima lamaran Gandar Saka, toh pedang itu nantinya akan menjadi milikku. Jadi kupikir-pikir, kuterima saja lamarannya demi dapatkan pedang itu. Sesakti apa pun si Gandar Saka, kalau pedang itu sudah ada di tanganku, aku bisa lepaskan diri dari tali perkawinan itu. Kalau dia melawan, aku punya senjata untuk melumpuhkannya!"

"Jadi kau tidak mencintainya?"

"Aku tahu orang Lumpur Maut itu busuk-busuk hatinya! Untuk apa aku jatuh cinta pada lelaki berhati busuk, kecuali untuk dapatkan pedang maha sakti!"

Terdengar suara tawa Suto pendek saja, seperti orang menggumam. Sambil tetap melangkah menuju Lembah Sunyi, hati Suto Sinting berkecamuk sendiri. "Cerdik juga otak perempuan ini. Rela menjadi istri Raja Tumbal hanya untuk dapatkan senjata sesakti itu. Tetapi apa jadinya jika ternyata pedang itu palsu? Padahal Delima Gusti sudah telanjur menjadi istri Raja Tumbal? Mau melawan tanpa pedang asli, jelas ia tak akan mampu mengalahkan Raja Tumbal. Bahaya juga kalau Delima Gusti tidak hati-hati. Dia bisa terjebak dalam lumpur mautnya Raja Tumbal!"

"Apakah kau keberatan kalau aku menerima lamaran Gandar Saka?" pancing Delima Gusti. "Kalau memang kau keberatan aku bersuamikan dia, kubatalkan niatku memperoleh pedang pusaka itu, asal aku dapat pangganti seorang suami yang serupa persis denganmu."

Suto Sinting tertawa pendek. "Agaknya perempuan ini menyimpan hati untukku tapi tak berani berterus terang," pikir Suto. "Terserah, itu haknya untuk jatuh cinta kepada siapa saja. Yang jelas aku tak boleh mengikatnya kalau aku tak siap membalas cintanya."

"Jawablah, Suto," Delima Gusti sengaja hentikan langkah. "Jawablah apakah kau keberatan aku menikah dengan Raja Tumbal?"

Suto tersenyum menawan. Lembut dan meneduhkan hati. "Yang membuatku kecewa kalau kau terjebak lumpurnya Raja Tumbal itu!"

"Maksudmu?"

"Pedang itu ternyata palsu, tapi kau sudah terikat tali perkawinan dengannya. Kau tak akan bisa memberontak. Kalau toh kau memberontak, kau akan kalah bertanding ilmu dengannya. Ingat, dia punya pusaka Seruling Malaikat!"

Delima Gusti tarik napas panjang-panjang, lalu melangkah lagi sambil berkata dengan pelan, "Itulah sebabnya perlu kutanyakan dulu kepada Resi Wulung Gading tentang ciri-ciri pedang tersebut. Bila perlu, akan kuminta Resi Wulung Gading datang pada saat penyerahan pedang dan memeriksanya."

Gagasan itu dianggap cukup bagus oleh Pendekar Mabuk. Tapi ia yakin, jika pedang itu asli, pasti akan direbut oleh Resi Wulung Gading, sebab Pedang Kayu Petir adalah pedang milik leluhurnya dan hanya sang Resi yang berhak memegang pedang tersebut. Sekalipun pedang tersebut sudah dinyatakan hilang puluhan tahun, tetapi sang Resi pasti tetap merasa harus merebutnya jika ia tahu di mana pedang itu berada.

Mereka tiba di padepokan sang Resi ketika matahari mulai bergeser ke barat. Cahayanya masih terang benderang. Kedatangan mereka disambut oleh dua murid sang Resi yang luput dari pembantaian Dampu Sabang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bandar Hantu Malam). Kedua orang itu adalah Dul dan Sukat.

"Guru tidak ada di tempat," kata Sukat.

"Ke mana beliau?"

"Pergi ke Jurang Lindu," jawab Dul.

"Ke Jurang Lindu?!" Suto berkerut dahi.

"Ya. Beliau ingin temui seorang tokoh sakti di sana bergelar si Gila Tuak!" kata Sukat tanpa menyadari bahwa yang diajak bicara adalah murid si Gila Tuak.

Hal itu membuat Delima Gusti memandangi ke arah Suto, sebab ia tahu bahwa Suto Sinting adalah murid si Gila Tuak. Tapi karena Suto berpikir beberapa saat, maka Delima Gusti pun segera ajukan tanya kepada Sukat. "Kapan beliau pulang kemari?"

"Menurut hitungan, hari ini Guru pulang. Mungkin sedikit sore baru tiba."

"Kalau begitu begini saja," kata Suto kepada Delima Gusti. "Kau tunggu sang Resi datang di sini, aku akan bergegas ke Jurang Lindu, siapa tahu kepulangan beliau ditunda. Aku akan ceritakan tentang dirimu yang ada di sini serta maksud dan tujuanmu mencari beliau."

"Baik. Aku setuju. Aku akan menunggumu juga walau sudah bertemu dengan sang Resi nanti. Jadi kuharap dari temui gurumu kau kembali ke sini dan kita pergi bersama. Mungkin ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan."

Sambil berlari menggunakan gerak siluman menuju Jurang Lindu, benak Suto selalu berkecamuk terutama tentang dua hal yang disangsikan. "Benarkah pedang itu sudah ada di tangan Raja Tumbal? Serela itukah ia memberikan pedang maha sakti itu hanya untuk mempersunting seorang wanita anak Adipati? Alangkah bodohnya Gandar Saka jika hal itu benar-benar terjadi."

Lalu pikiran Suto pun beralih pada kesangsian kedua, "Benarkah Delima Gusti ingin dilamar Gandar Saka dengan maskawin Pedang Kayu Petir? Jangan-jangan Delima Gusti hanya membual di depanku untuk memancing perasaanku, apakah mencintainya atau tidak? Alangkah beruntungnya Delima Gusti jika memang hal itu benar-benar terjadi."

Tepat menjelang petang, Suto Sinting tiba di kediaman gurunya; si Gila Tuak. Tetapi tempat itu ternyata kosong. Gila Tuak tak ada di tempat. Resi Wulung Gading juga tidak ada di tempat. Tak pernah ada tanda ke mana Gila Tuak pergi. Hal itu membuat Suto menjadi bingung sendiri.

"Kalau begitu aku harus pergi ke Lembah Badai untuk temui Bibi Guru Bidadari Jalang. Siapa tahu Guru ada di sana bersama ResiWulung Gading! Setidaknya aku bisa tanyakan kepada Bibi Guru tentang kelemahan Seruling Malaikat. Pasti Bibi Guru mengetahuinya, mungkin juga kenal dengan Raja Tumbal."

Zlaaap...! Dengan gunakan gerak siluman Suto menuju Lembah Badai. Lembah itu adalah satu-satunya lembah yang sering dilanda badai. Konon tak jauh dari pondok Bidadari Jalang terdapat pusaran angin yang mampu menyedot benda apa pun yang melintas di atasnya, itulah sebabnya lembah itu dinamakan Lembah Badai.

Sejak Bidadari Jalang mengasingkan diri di Lembah Badai, membersihkan diri dari tindakan sesatnya selama ini, ia tinggal di pondok itu bersama seorang pelayan wanita yang bernama Biyung Supi. Usianya sekitar empat puluh tahun. Konon seorang janda yang nyaris mati di tangan perampok, lalu diselamatkan oleh Bidadari Jalang dan akhirnya mengabdi di sana. Biyung Supi orang yang pendiam, rajin bekerja, dan taat pada perintah majikannya. Badannya kurus, rambutnya panjang tapi selalu digelung rapi. Kulitnya sawo matang. Sisa kecantikannya masih terlihat lewat kebangiran hidung dan keindahan bentuk mata serta bibirnya. Kegemarannya mengenakan kebaya hijau muda dengan kain batik warna coklat cerah. Perempuan itulah yang menyambut kedatangan Suto dan memberitahukan,

"Gusti Ayu Bidadari Jalang sedang pergi, Tuan Pendekar."

"Ke mana perginya, Biyung?"

"Secara pasti saya tidak tahu, Tuan Pendekar. Tetapi tadi Eyang Guru Gila Tuak dan Resi Wulung Gading menjemputnya. Mereka pergi bertiga. Kalau tak salah dengar, mereka akan hadiri pertemuan para tokoh tua yang akan membicarakan soal kemunculan Pedang Kayu Petir."

Pendekar Mabuk terperanjat sedikit, namun segera bersikap biasa kembali. "Kapan mereka akan pulang?"

"Saya tidak mendengar percakapan tentang kapan beliau pulang."

"Apakah kau juga tidak tahu di mana mereka berkumpul?"

"Tidak mendengar nama tempat disebutkan oleh beliau, Tuan Pendekar."

Petang mulai datang. Dengan hati sedikit kecewa karena tidak berhasil temui guru-gurunya, Suto pun kembali ke Lembah Sunyi, ia perlu bicarakan tentang pertemuan para tokoh tua itu kepada Delima Gusti. Siapa tahu perempuan cantik itu mengetahui adanya pertemuan tersebut dan bisa sebutkan tempatnya. Jika Suto tahu tempatnya, sudah pasti ia akan menyusul para gurunya ke tempat pertemuan itu. Sebab pembicaraan yang dibahas sangat menarik perhatiannya, yaitu tentang kemunculan Tedang Kayu Petir.

"Ternyata pedang itu memang benar-benar muncul lagi di permukaan bumi," pikir Suto dalam perjalanannya. "Terbukti para tokoh tua berkumpul untuk membicarakannya. Berarti apa yang dikatakan Delima Gusti itu benar, bahwa Pedang Kayu Petir ada di tangan Raja Tumbal dan akan dijadikan maskawin. Barangkali para tokoh tua mendengar pedang pusaka maha sakti itu akan dijadikan maskawin, sehingga hal itu perlu dibicarakan secara penuh perhatian. Mungkin tindakan itu dianggap penghinaan terhadap pusaka maha sakti, atau mereka berusaha selamatkan pedang itu dari tangan Raja Tumbal?"

Pendekar Mabuk hanya meraba kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan bisa dilakukan oleh para tokoh tua. Diam-diam dia mempunyai kecemasan walau kecil sekali. Kecemasan itu berupa bayangan kesaktian Raja Tumbal jika pedang maha sakti itu tak jadi diberikan kepada orangtua Delima Gusti. Menurut Suto, kesaktian Raja Tumbal akan semakin berlipat ganda; punya pedang maha sakti dan Seruling Malaikat. Siapa orangnya yang bisa mengalahkan dua pusaka dalam satu tangan itu?

Suto sempatkan diri berhenti sejenak, ia menenggak tuaknya. Ternyata tuak tinggal sedikit, ia harus mengisi bumbung itu dengan tuak yang baru. Ia tak mau kehabisan tuak di perjalanan. Gagasan yang terlintas adalah singgah di desa Pucangan, karena desa itulah yang terdekat dari tempatnya berhenti.

"Aku akan mampir ke kedainya Ki Rosowelas dan mengisi tuak di sana. Sekalian ingin melihat kabarnya Sundari, anak gadis Ki Rosowelas itu," pikir Suto sambil segera melesat ke arah desa Pucangan di kaki Gunung Keong Langit. Dari desa itu dapat ditempuh jalan menuju Lembah Sunyi lebih dekat lagi asal mau melintasi lereng Gunung Keong Langit, bekas persinggahan Bandar Hantu Malam yang bernama asli Ki Randu Papak itu.

Satu hal yang tak disangka-sangka terjadi di kedai Ki Rosowelas. Kedai masih buka, pembelinya cukup ramai karena salah satu warga desa ada yang punya hajat, mengawinkan anaknya dengan menanggap ronggeng. Rumah yang sedang punya hajat itu tidak seberapa jauh dari kedai Ki Rosowelas. Karenanya banyak pembeli yang hilir mudik ke kedai tersebut.

Suto Sinting sengaja muncul dari pintu dapur. Sundari berteriak kegirangan, lalu tanpa sungkan-sungkan memeluk Suto sebagai ungkapan rasa girangnya. Ki Rosowelas pun tampak gembira sekali menerima kedatangan Suto, bahkan sempat menceritakan keadaan Suto yang waktu itu ditemukan seperti orang gila. Suto mengerti maksud Ki Rosowelas, dan ia jadi malu membayangkan masa linglungnya karena terkena racun 'Lebah Setan' itu. Temu kangen itu terjadi di dapur, sehingga tidak mengganggu orang lain dan tidak terganggu oleh orang lain.

"Aku hanya ingin mengisi bumbung tuakku yang hampir kering, Sundari. Setelah itu aku harus pergi ke Lembah Sunyi."

"Mengapa buru-buru, Suto? Bermalamlah di sini saja! Besok baru teruskan perjalananmu," bujuk Sundari dengan penuh harap, karena gadis itu sebenarnya menyimpan cinta dan kekaguman terhadap Pendekar Mabuk.

Sambil mengisi tuak ke bumbung, Ki Rosowelas juga menyarankan agar bermalam di tempatnya. Bahkan Pak Tua itu tambahkan kata, "Mumpung ada tanggapan ronggeng semalam suntuk lho. Pasti seru dan sangat sayang kalau dilewatkan."

"Kapan-kapan saja aku bermalam lagi di sini, Ki.Sekarang aku punya urusan yang lebih penting daripada nonton ronggeng semalam suntuk," kata Suto. Ia menerima bumbungnya kembali setelah bumbung itu penuh tuak. "Ada makanan apa di depan,Ki?"

"Biasa... ketan, singkong rebus, ubi goreng, pisang goreng, jadah, dan... cobalah lihat sendiri sana," kata Ki Rosowelas yang sudah menganggap Suto seperti anak sendiri.

Diam-diam Sundari persiapkan kamar untuk bermalam Suto. Ia yakin dengan bujukan dan rengekan manjanya, Suto pasti akhirnya akan bermalam di kedainya itu. Setidaknya akan terpaksa bermalam jika kamar sudah disiapkan oleh Sundari.

Ketika Suto ingin mengambil makanan sebagai pengganjal perut, tiba-tiba matanya memandang ke arah bangku sudut. Di sana duduk seorang wanita berambut acak-acakan, mengenakan pakaian ketat warna hitam, wajahnya tampak angker walau sebenarnya cantik. Suto terkejut memandang wanita itu yang tak lain adalah Angin Betina, lawan Delima Gusti yang konon sedang mencari Suto untuk dibunuh.

Melihat si murid Nini Pancungsari itu duduk sendirian dalam keadaan sedang termenung, Suto Sinting pelan-pelan mendekatinya dengan senyum tipis telah mekar di bibirnya dan sepotong pisang goreng ada di tangannya. Wanita berwajah liar itu terkejut ketika sadar ada lelaki telah berdiri di depannya. Ia langsung pegang gagang pedang, namun segera batalkan niat mencabutnya setelah matanya menatap jelas-jelas siapa pemuda yang mendatanginya itu.

"Kampret busuk! Si tampan itu lagi yang muncul!" gumamnya dalam hati.

"Boleh aku duduk di bangku depanmu ini, Nona Cantik?"

Angin Betina diam saja, berkesan angkuh dan sinis. Tapi ketika Suto duduk di bangku depan mejanya, ia segera buang muka bagai tak ingin beradu pandang dengan Suto Sinting. Lagaknya itu membuat Suto kian melebarkan senyum geli.

"Untuk apa kau berada di desa ini, Angin Betina?"

Seet...! Wajah sangar itu berpaling memandang Suto. "Dari mana kau tahu namaku?!" ucapnya bernada ketus.

"Banyak hal yang kuketahui tentang dirimu. Sesungguhnya kau berhadapan dengan seorang peramal," kata Suto mulai membual dalam canda batinnya.

Mata Angin Betina terkesiap. "Apa saja yang kau tahu tentang diriku?"

"Kau sedang dilanda kemarahan yang tertunda, tapi juga menyimpan duka atas suatu musibah yang terpaksa harus kau hadapi."

Angin Betina tidak memberikan pendapat. Diam beberapa saat. Karena Suto pun diam agak lama dan mereka saling adu pandang, Angin Betina tak kuat menahan debar-debar di hatinya, maka ia alihkan perhatian hatinya dengan tanya,

"Apa lagi yang kau tahu?"

"Kau... sedang berkabung atas kematian gurumu."

Suto memandang dengan sengaja tak berkedip supaya kelihatan sedang meneropong mata dan membaca pikiran wanita itu. Si wanita mulai tertarik dan mendesak pertanyaan, "Kalau kau memang peramal, sebutkan nama guruku!"

"Hmmm... gurumu adalah Nini Pancungsari, orang berilmu tinggi yang punya dendam dengan tokoh sakti bernama Bandar Hantu Malam!"

Angin Betina mulai semakin tertarik dengan gerak mata yang sedikit melebar tanda terperanjat. Padahal semua keterangan itu sudah diperoleh Suto jauh sebelum ia bertemu dengan Angin Betina. "Apa kau tahu siapa pembunuh guruku?"

"Hmmm... ya, tahu! Tapi berbeda dengan alam pikiranmu."

"Jelaskan!"

"Gurumu bertarung melawan Bandar Hantu Malam, bekerja sama dengan Sri Maharatu. Mereka berhasil membunuh Bandar Hantu Malam, gurumu mengambil kalung pusaka Bandar Hantu Malam, sedangkan Sri Maharatu mengambil pusaka Cambuk Getar Bumi. Tapi Sri Maharatu orang kejam. Gurumu dipakai bahan percobaan kesaktian cambuk itu. Sri Maharatu melecutkan cambuknya dan gurumu pun mati. Sri Maharatu baru percaya bahwa cambuk itu adalah cambuk pusaka yang mempunyai kesaktian tinggi."

"Sri Maharatu...?!" gumamnya mulai berkerut dahi.

"Aslinya memang dia pembunuh gurumu. Tapi... sepertinya kau telah memperoleh berita yang salah. Kau pasti sangka orang lain yang membunuhnya."

"Memang benar. Tapi tahukah kau siapa orang yang kusangka membunuh guruku?"

"Menurut pikiranmu yang kubaca saat ini, kau menyangka Pendekar Mabuk yang bernama Suto Sinting itulah orang yang kau anggap membunuh gurumu."

Keheranan Angin Betina mulai terlihat jelas dari gumamnya, "Aneh! Tepat sekali!" sorot matanya pun mempunyai nada keheranan cukup dalam. "Aku ingat, kala itu Guru memang dihampiri oleh Sri Maharatu dari Pulau Dadap, dan mereka menyebut-nyebut cambuk pusaka yang bernama..."

"Cambuk Getar Bumi!"

"Ya. Tepat. Rupanya ini kelicikan Sri Maharatu?!"

"Benar. Tapi dia sekarang sudah tiada. Tewas terpotong-potong di depan tiga saksi, yaitu Delima Gusti, Resi Wulung Gading, dan Putri Kunang, adik tiri Sri Maharatu."

"Siapa yang membunuh Sri Maharatu?"

"Pendekar Mabuk, Suto Sinting."

Angin Betina nyata-nyata terkejut mendengar nama itu disebutkan sebagai pembunuh Sri Maharatu. Karena di dalam hatinya sudah mempunyai perubahan dendam, ia ingin mencari Sri Maharatu untuk membalas kematian gurunya. Namun ia sangat tak menyangka kalau Sri Maharatu justru telah mati di tangan orang yang pertama kali dicurigai membunuh gurunya.

"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?"

"Karena aku seorang peramal," jawab Suto dengan senyum tipis mengguncangkan hati Angin Betina.

Keketusan dan keangkuhannya mulai mengendor. Ia meneguk arak pesanannya dalam cangkir kecil. Matanya masih memandang Suto dengan kesan nakal. Senyumnya pun tipis punya arti jalang. Lalu ia berkata pelan, "Terlalu tampan kau untuk seorang peramal."

"Orang cantik sepertimu yang menjadi dukun bayi juga banyak," kata Suto.

Angin Betina lebarkan senyum, bernada geli mendengar kelakar Suto. "Kau sudah tahu namaku. Sekarang aku perlu tahu, siapa namamu?"

Suto diam sesaat mempertimbangkan jawabannya. Karena terlalu lama membungkam, Suto kembali didesak Angin Betina,

"Siapa namamu? Katakan saja. Aku tak pernah menghina nama sejelek apa pun!"

"Namaku... Pancawala!"

"Oh, nama yang bagus sekali," ucap Angin Betina dengan lirih.

Suto sengaja tak mau sebutkan namanya, takut kalau Angin Betina tidak mau percaya dengan ceritanya tadi. Ia bergegas tinggalkan Angin Betina sebentar karena Sundari lambaikan tangan kepadanya. Suto bergegas ke dapur dan mendengar Sundari berkata,

"Jangan dekati wanita itu! Dia sedang mencarimu untuk dibunuh!"

Ki Rosowelas menyahut, "Tidak apa-apa. Aku tadi sudah ceritakan banyak-banyak tentang dirimu. Saat kau masuk dapur tadi, ia bertanya padaku mengapa kelihatannya di dapur terjadi kegembiraan. Lalu kuceritakan secara singkat siapa dirimu. Apa yang kudengar dari orang-orang tentang keberhasilanmu membunuh Sri Maharatu yang mencuri cambuk pusakanya Bandar Hantu Malam juga kuceritakan dan..."

"Jadi dia dia sudah tahu namaku, Ki?"

"Sudah! Sudah tahu!" jawab Ki Rosowelas dengan bangga. "Malah dia merasa menyesal telah mengancam oang yang telah membalaskan kematian gurunya itu."

Suto Sinting tertegun bengong dan menjadi tak enak hati. Jika begitu maka bualannya tadi sia-sia. Suto jadi salah tingkah, namun segera punya niat meluruskan pengakuannya tadi. Ia segera temui Angin Betina lagi dan berkata dengan lagak kikuknya. "Hmmm... maaf, kurasa..."

"Aku besok akan pergi ke Bukit Lajang, apakah kau mau ikut Pancawala?"

"Hmmm... anu. namaku bukan Pancawala. Namaku Suto Sinting dan..."

"Ah, Pancawala!"

"Bukan kok. Namaku Suto Sinting! Aku tadi..."

"Sekali Pancawala tetap Pancawala. Jangan berubah-ubah!"

Suto mengendur, "Hmmm... iyalah. Pancawala juga boleh..."

Angin Betina tersenyum. "Aku mau ke Bukit Lajang, kau mau ikut?" ulangnya.

"Untuk apa ke sana?"

"Menyadap pembicaraan tokoh sakti yang sedang membicarakan tentang munculnya Pedang Kayu Petir."

"Hahh...?!" Suto terkejut, hal ini pun termasuk sesuatu yang tak disangka-sangka. Ternyata Angin Betina justru mengetahui di mana tempat pertemuan para tokoh sakti itu. Padahal Suto sedang berusaha mencari tahu dengan menghubungi Delima Gusti, itu pun belum terlaksana karena harus singgah di kedai tersebut. Agaknya tawaran itu tak bisa ditolak oleh Suto.

"Baiklah. Aku besok mau ikut denganmu ke Bukit Lajang."

"Kalau begitu, malam ini kau pasti setuju jika kita bermalam di sini!"

"Bermalam. Mak... maksudmu.... Eh, tapi di sini hanya ada satu kamar kosong!"

"Cukup untuk berdua, bukan?"

"Eh... tapi... tapi begini saja..."

"Kalau kau tak mau bermalam denganku, aku tak mau mengajakmu ke Bukit Lajang," kata Angin Betina.

Suto semakin bingung dan sulit bicara.

* * *

EMPAT
TiDUR bersama bagi Suto punya dua pengertian; memang benar-benar tidur, atau justru tidak bisa tidur. Jika memang benar-benar tidur, Suto tidak keberatan. Tapi jika ternyata justru tidak bisa tidur, itu yang repot. Suto tidak berani lakukan yang begituan, karena segala gerak-geriknya selalu dipantau oleh calon istrinya; Dyah Sariningrum. Suto Sinting tak mau kecewakan sang kekasih, ia juga tak ingin nodai cintanya yang seputih salju itu.

Angin Betina dibiarkan tidur di kamar yang dulu pernah disewa oleh Suto. Ia sendiri tidur di bangku panjang kedai. "Asal sekarang ia tidur, aku juga tidur, bukankah itu namanya juga tidur bersama? Cuma beda tempat," pikir Suto. Ia sudah persiapkan alasan untuk mengelak kekecewaan Angin Betina jika esok mereka sama-sama bangun dari tidurnya.

Ternyata ketika Suto Sinting bangun dari tidurnya di pagi hari, kamar tempat bermalam Angin Betina itu sudah kosong. Sundari memberitahukan bahwa Angin Betina sudah pergi meninggalkan tempat ketika ayam berkokok. Suto Sinting sempat tertegun di tempat. Dongkol hatinya karena merasa ditinggalkan.

"Sial! Dia benar-benar meninggalkan aku!" gerutu Suto Sinting. "Rupanya yang dikehendaki bukan tidur bersama tapi melek bersama. Ah, dasar perempuan. Kalau sudah ada maunya dan tidak dituruti sering bikin ulah yang menjengkelkan. Tapi sebaiknya kulacak kepergiannya. Pasti belum terlalu jauh."

Suto Sinting temui Sundari di dapur. "Apakah kau tahu saat ia pergi?"

"Ya. Aku sudah bangun kala itu."

"Ke mana arah kepergiannya?"

"Ke selatan," jawab Sundari sambil merasa heran. "Kenapa kau tanyakan? Apakah kau ingin menyusulnya? Susullah ke sana kalau kau ingin peluk dia!" Sundari bernada cemburu, tapi hanya ditanggapi dengan senyum geli oleh Suto.

"Arah selatan, Bukit Lajang?! Hmm...! Masa' iya aku tak bisa sampai di sana kalau sudah kudapatkan arahnya?" pikir Suto Sinting yang akhirnya segera pergi ke arah selatan. Untuk menyusul Angin Betina, Suto terpaksa gunakan gerak silumannya yang mampu berlari secepat angin, melebihi kecepatan anak panah lepas dari busurnya.

Apa yang dibicarakan oleh para tokoh tua mengenai pedang maha sakti itu sungguh membuat hati sangat penasaran. Setidaknya mereka juga akan bicara tentang Raja Tumbal. Suto ingin tahu tentang segala sesuatunya yang berhubungan dengan kesaktian Raja Tumbal, terutama Seruling Malaikat-nya. Tanpa mengetahui seluruh kekuatan Raja Tumbal, tak mungkin dapat diketahui kelemahan dan kekurangannya.

Hanya saja, menyusul Angin Betina tidak semudah menyusul terbang sang garuda. Sudah beberapa saat Suto Sinting lakukan perjalanan cepatnya ke arah selatan, tapi sosok Angin Betina tidak dilihatnya. Bahkan tiba-tiba Suto Sinting menyadari bahwa dirinya sudah berada di perbatasan sebuah desa yang pernah disinggahinya pula; desa Kukusan.

Desa itu adalah desa tempat tinggai mendiang Empu Sakya, si pemilik Keris Setan Kobra. Di desa itu pula Suto Sinting ingat tentang seorang bocah penggembala kambing yang akhirnya sempat berkelana mengikutinya, namun bocah itu merasa menjadi murid Ki Gendeng Sekarat karena mendapatkan satu ilmu dari si tukang tidur itu; ilmu 'Genggam Buana'. Bocah berusia sepuluh tahun itu tak lain adalah Angon Luwak, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keris Setan Kobra)

"Barangkali Angon Luwak bisa tunjukkan di mana letak Bukit Lajang itu," pikir Suto. "Tapi apakah anak itu ada di rumah? Hmm... seandainya tak ada, mungkin aku bisa minta bantuan keluarganya, atau kakaknya yang jualan legen dan pernah disangka sebagai diriku itu, Sabani!"

Rumah keluarga Angon Luwak akhirnya ditemukan setelah bertanya kepada salah satu penduduk desa. Seperti dugaannya, Suto Sinting berhasil temui Sabani, kakak Angon Luwak yang pekerjaannya jualan legen, yaitu air bunga kelapa yang bisa dibuat gula aren, sejenis gula merah, yang pada umumnya dibawa dalam tempat tabung bambu seperti tempat tuaknya Pendekar Mabuk selama ini.

Sabani tampak girang sekali melihat kedatangan Suto ke rumahnya, karena ia pernah ditolong dan diselamatkan oleh Pendekar Mabuk ketika terancam maut dari tangan orang-orang perguruan Lumbung Darah. "Wah, mimpi apa aku semalam, kok sekarang kedatangan tamu agung yang menjadi kebanggaan adikku. Selamat datang, Kang Pendekar!" sambut Sabani. Ia sedikit membungkuk sebagai tanda menghormat sopan kepada Suto Sinting.

Dengan keramahannya, Pendekar Mabuk menepuk-nepuk punggung Sabani. Basa-basi terjadi sesaat, karena jika terlalu lama bisa benar-benar basi. Suto Sinting segera menanyakan tentang Angon Luwak.

"Bocah itu sudah beberapa hari murung dan lesu karena kehilangan jejakmu, Kang. Baru sekitar dua-tiga hari ia menjadi ceria setelah sering diajak bermain perang-perangan oleh teman-temannya," kata Sabani.

"Di mana dia sekarang?"

"Kalau tak salah ada di tegalan, Kang. Kalau mau ketemu dia, biarlah kupanggilkan dulu. Kang Pendekar di sini saja," sambil Sabani bergegas pergi. Tapi lengannya segera dicekal Pendekar Mabuk hingga langkahnya tertahan.

"Biar kutemui saja di tegalan. Aku mau bikin kejutan untuknya."

Pendekar Mabuk segera bergegas ke tegalan atau ke ladang yang belum ditanami tanaman baru. Di sana bocah-bocah seusia Angon Luwak sedang bermain perang-perangan. Ada sekitar delapan anak yang bermain di sana. Angon Luwak pura-pura menjadi pendekar, sedangkan teman-temannya ada yang menjadi penjahat, ada yang berlagak menjadi guru sakti.

Mereka bertarung-tarungan menggunakan tombak dari pelepah pisang, ada yang pura-pura membawa kapak dari pelepah daun kering, ada yang membawa pedang-pedangan dari kayu, ada juga yang lemparkan senjata rahasia dari sabut dan tempurung kelapa. Mereka berciat-ciat ramai sekali, membuat Suto tertawa-tawa sendiri dari kejauhan. Suto sengaja biarkan mereka bermain dan hanya dipandangi dari bawah sebuah pohon berdaun rindang.

"Angon Luwak...," gumamnya. "Kangen juga aku padanya. Jiwa pendekar ada di dalam darahnya, ia memang butuh seorang guru untuk membimbing darah satrianya. Sayang sekali aku tak punya waktu, sehingga tak bisa ajarkan ilmu silatku kepada Angon Luwak. Aku suka kepada anak itu. Nakalnya adalah nakal sang ksatria yang tidak takut menentang bahaya," kecamuk Suto dalam hati sambil tersenyum-senyum.

"Gayanya sudah seperti seorang jago pedang saja," gumam Suto menertawakan gaya Angon Luwak yang belum punya jurus silat sedikit pun tapi sudah sok berlagak bisa silat. Pedang-pedangannya dimainkan asal tebas sana-sini membuat teman-temannya terpaksa mati walau belum sampai terkena pedang-pedangannya. Teriakan Angon Luwak melengking-lengking sambil lompat sana-sini dan akhirnya jatuh telentang sendiri karena salah satu temannya ada yang menyampar kakinya.

"Curang kamu, Din! Jangan sampar kaki, ah!" Angon Luwak menggerutu.

"Saladin benar, Wak! Main silat itu boleh sampar kaki."

"Sampar mulut juga boleh," kata Saladin.

"Ya, ya...! Bolehlah!" kata Angon Luwak, "Tapi aku belum kalah lho!"

"Mana bisa?! Pendekar kalau sudah jatuh ke tanah namanya sudah kalah!" seru teman di belakangnya.

"Tapi kan belum mati!" Angon Luwak ngotot.

"Harus mati! Sudah jatuh kok tidak mau mati? Kamu sudah jadi mayat!"

"Tapi aku tidak kena pusaka kok. Aku jatuhnya karena disampar kakinya!"

"Kamu jadi mayat jangan ngotot!" seru Saladin. "Kalau ngotot nanti liang kuburmu sempit lho!"

"Ah, tidak bisa! Tidak bisa! Aku masih gagah kok, belum kalah!" Angon Luwak masih tak mau dianggap kalah.

Teman-temannya membela Saladin, "Kamu sudah kalah! Sekarang pendekarnya ganti Saladin!"

"Tidak mau!"

"Kamu jadi penjahat sakti!"

"Tidak, tidak! Penjahat tidak ada yang sakti!" Angon Luwak cemberut.

"Wong sudah kalah kok marah!" kata Saladin.

"Terus maumu apa, hah?!" Angon Luwak menantang.

Saladin juga berani. "Terserah, maumu apa? Mau tarung denganku? Boleh!"

"Huhh... tak bacok kamu!" Angon Luwak berlagak mau menebaskan pedang-pedangannya.

Saladin maju dengan berani sambil busungkan dada. "Mau bacok aku? Silakan! Nih, bacok! Bacoklah dadaku! Nih...!"

Cras...! Angon Luwak membabatkan pedang-pedangannya. Teman-temannya terkejut seketika. "Lho... terluka?! Saladin terluka?!"

"Coba lihat! Wah, iya... dia benar-benar terluka!" kata yang lain.

Angon Luwak tertegun bengong. Suto Sinting pun jadi kaget bukan kepalang. Ternyata dada Saladin benar-benar terluka karena sabetan pedang-pedangannya Angon Luwak. Lukanya memanjang dari ketiak kiri ke pinggang kanan, luka itu menyala hijau berpendar-pendar seperti nyala kunang-kunang. Angon Luwak ketakutan. Lebih takut lagi setelah teman-temannya menjauh dan tubuh Saladin segera jatuh terkapar, kejang-kejang bagai ayam disembelih.

"Bagaimana ini, Wak?! Ku adukan kakaknya Saladin lho! Pokoknya kamu yang melukai Saladin!"

"Jangan! Jangan bilang siapa-siapa, Man!" Angon Luwak ketakutan.

Teman-temannya juga ketakutan dan lari berhamburan. Angon Luwak pun lama-lama ikut melarikan diri, karena tubuh Saladin memancarkan sinar hijau seperti sinar pada lukanya. Tubuh Saladin terlonjak-lonjak dengan sentakan keras, sehingga tubuh itu bisa bergeser sendiri ke sana-sini dalam keadaan terkapar.

"Celaka! Kenapa anak itu?!" pikir Suto dengan tegang.

Pada waktu itu, Angon Luwak masih belum larikan diri, masih mundur pelan-pelan dengan wajah tegang. Suto segera melesat menghampiri Saladin yang menurutnya dalam bahaya. Tapi gerakan Suto menjadi lamban. Langkahnya terasa berat. Jaraknya dengan Saladin yang sekitar lima belas langkah itu ditempuh dengan waktu lambat. Suto mencoba berlari menggunakan gerak silumannya, tapi yang bisa dilakukan berlari biasa. Bahkan ketika ia mencoba melompat untuk bersalto cepat supaya segera sampai di tempat Saladin, ternyata ia tak bisa bersalto lagi. Ia justru jatuh berdebam seperti pepaya matang.

"Aneh?! Kenapa aku tidak bisa melenting di udara dan tak mampu lakukan gerakan salto?!" pikirnya dengan heran.

Setelah Suto jatuh itulah, Angon Luwak ikut-ikutan larikan diri seperti teman-temannya. Tapi Angon Luwak lari ke arah hutan, karena takut kena marah kakaknya Saladin atau keluarganya bocah itu. Ia lari untuk bersembunyi sebab merasa telah membunuh Saladin. Kejutan-kejutan tubuh Saladin mulai melemah. Biasanya jika sudah begitu pertanda kematian akan tiba.

Suto Sinting sangat cemas melihat keadaan Saladin yang sekujur tubuhnya masih menyala hijau walau sudah mulai redup. "Benar-benar gawat anak ini! Dia mau mati!"

Suto Sinting cepat-cepat tenggak tuaknya, lalu tuak di mulut disemburkan ke tubuh Saladin. Itu yang dinamakan pengobatan 'Sembur Husada', yaitu cara mengobati luka dengan semburan tuak. Luka memang bisa sembuh cepat dan segera lenyap tanpa bekas, tetapi yang diobati akan lupa ingatannya kepada Suto. Seandainya sebelumnya Saladin sudah mengenal Suto, maka jika ia diobati dengan jurus 'Sembur Husada', setelah lukanya kering ia akan lupa siapa Suto dan merasa seperti belum pernah mengenal Suto, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan).

'Sembur Husada' berani dilakukan oleh Pendekar Mabuk, sebab ia merasa seandainya Saladin lupa pada dirinya tak jadi soal, toh memang sebelumnya tak pernah mengenal Suto, jadi tak perlu mengembalikan ingatan bocah itu.

Brrwwesss...!

Tuak disemburkan. Biasanya cukup satu kali. Tapi agaknya kali ini Suto harus mengulangi sampai tiga kali semburan. Lalu, sinar hijau yang memancar dari tubuh Saladin itu padam. Perlahan-lahan dada Saladin yang basah tuak itu mulai bergerak-gerak. Luka memanjang menjadi mengatup kembali. Sinar hijau pada luka pun lama-lama hilang bersama lenyapnya luka yang mengoyak dada.

Saladin tampak mulai bisa bernapas. Erangannya lirih sekali, tapi matanya mulai berkedip-kedip membuka pelan. Suto Sinting membantu Saladin untuk bangun dan duduk. Napas Saladin terhempas lepas seperti merasakan kelegaan. Ia memandangi sekeliling dengan bingung, juga menatap Suto dengan heran.

"Teman-temanku pada ke mana tadi, Kang?"

"Pulang," jawab Suto juga masih menyimpan keheranan tersendiri.

Saladin bangkit, tengok sana-sini, menggerutu pelan, "Uuh... payah! Mereka tinggalkan aku karena tak ada yang mau akui kalau aku pantas jadi pendekar!" Saladin langkahkan kaki tiga tindak, lalu berhenti dan menengok ke arah Suto.

"Aku pulang, Kang!"

"Ya," jawab Suto dengan masih tertegun bengong, bagai terkesiap melihat Saladin sehat dan segera berlari pulang.

Tinggallah Pendekar Mabuk sendirian di tegalan itu dalam keadaan dikerumuni keheranan yang tiada tara. Keheranan itu meliputi masalah luka di dada Saladin, juga nyala sinar hijaunya, juga tentang dirinya yang tak bisa bersalto lagi, tak bisa gunakan gerak siluman, dan akhirnya Suto penasaran. Lalu ia coba kembali untuk gunakan gerak silumannya, berlari cepat melebihi kilat. Napasnya mulai ditahan didada, kaki pun menyentak pelan di tanah.

Deeg...! Wwweesas...!

Seet...! Suto berhenti dan kembali tertegun bengong menyadari bahwa dirinya sudah mampu bergerak secepat kilat seperti biasanya. Bahkan ketika dicobanya melenting di udara dan bersalto mundur dua kali, ternyata hal itu mampu dilakukan dengan baik, seperti biasanya pula.

"Luar biasa anehnya diriku hari ini?! Tadi tidak bisa bergerak cepat. Melompat pun jatuh. Tapi sekarang hal itu bisa kulakukan. Ada apa sebenarnya pada diriku? Sepertinya tadi aku kehilangan ilmuku, dan sekarang ilmuku sudah kembali lagi?! Hmmm... pasti ada orang usil di sekitar sini yang menggangguku! Aku ingin tahu siapa orangnya?"

Suto Sinting segera gunakan ilmu 'Lacak Jantung', mendengarkan detak jantung seseorang yang bersembunyi di sekitarnya. Tapi ternyata ia tidak mendengar detak jantung seseorang. Alam menjadi sepi, hanya angin yang mendesah pelan.

Zlaaap...! Zlaaap...! Zlaaap...!

Suto melesat ke sana-sini dengan gerak silumannya untuk mencari kemungkinan orang sakti bersembunyi disekitarnya. Karena ia menduga orang yang mengganggunya tadi mampu menghentikan detak jantung pada saat dilacak. Tetapi ternyata keadaan di sekitarnya sepi-sepi saja. Tak ada manusia di sana-sini.

"Apakah dia sudah pergi? Hmmm... pergi dengan anak itu! O, ya... ke mana si Angon Luwak tadi?" pikir Suto sambil tengok sana-sini. Maka ia pun segera melangkah kembali menuju rumah Angon Luwak, karena ia menyangka anak itu pulang ke rumah dan bersembunyi di kolong balai. Suto tersenyum membayangkan bocah itu sembunyi di kolong balai dalam keadaan ketakutan karena merasa baru saja membunuh teman sepermainan. Bayangan itu akhirnya membuat langkah Suto Sinting terhenti dengan sendirinya. Senyum hilang, kerutan dahi jadi tajam.

"Iya, ya... kenapa Saladin mengalami luka seaneh itu? Dia hampir saja mati. Padahal hanya terkena goresan ujung pedang-pedangan si Angon Luwak. Mengapa sampai bisa menyala hijau seperti kunang-kunang? Apakah Angon Luwak punya ilmu lain tanpa disadarinya? Setahuku, Angon Luwak hanya punya ilmu 'Genggam Buana' dari Ki Gendeng Sekarat. Ilmu itu tidak akan bisa membuat lawan menyala hijau seperti tadi. Hanya bisa meremukkan sesuatu yang digenggam dengan napas tertahan."

Langkah dilanjutkan tapi pelan-pelan, karena batin Pendekar Mabuk masih terus berkecamuk. "Kenapa Saladin bisa terluka separah itu? Padahal ia hanya ditebas dengan pedang-pedangan. Pedang itu dari kayu biasa. Sepertinya dari kayu randu karena warnanya putih dan tampaknya ringan dijinjing. Kayu itu juga kelihatan sudah lapuk, geripis pinggirannya. Gagangnya coklat, juga tampak sudah lapuk. Tak ada kehebatan apa-apa yang bisa diiihat dari pedang itu. Ah, sungguh mengherankan sekali, sepertinya tak masuk akal jika tubuh Saladin bisa terluka seaneh itu hanya ditebas dengan pedang-pedangan. Pasti Angon Luwak punya ilmu baru yang bisa membuatnya seperti memegang pedang asli."

Tiba-tiba langkah Suto terhenti lagi. Dahi masih berkerut dan memandang dalam terawang keheranan. "Tunggu dulu!" katanya dalam hati. "Pedang itu dari kayu yang mudah patah. Bentuknya sangat sederhana, berkesan dibuat secara kasar. Kayu itu tampaknya lapuk dan memang geripis pinggirannya. Hmmm... lapuk? Lapuk berarti lama! Jangan-jangan... jangan-jangan pedang-pedangan itulah yang dinamakan Pedang Kayu Petir?!"

Wajah Pendekar Mabuk mulai menegang. Hati berdebar-debar. "Apa benar Pedang Kayu Petir seperti itu? Ah, terlalu mengada-ada! Bukan! itu bukan Pedang Kayu Petir, itu hanya pedang-pedangan milik seorang bocah yang dibuat secara kasar dan menirukan bentuk pedang biasa. Berarti ada tenaga sakti yang tersalur di pedang-pedangan itu. Entah dari tangan Angon Luwak atau dari kekuatan batin seseorang yang punya niat jahil? Sebaiknya kutemui Angon Luwak dan kuperiksa diri anak itu. Pedang-pedangannya pun perlu kuperiksa untuk meyakinkan bahwa pedang itu bukan pedang berisi tenaga dalam!"

Sampai di rumah Angon Luwak, Sabani justru merasa heran dan berkata, "Angon Luwak belum pulang, Kang Pendekarl Apakah di tegalan tak ada?"

"Ada. Tapi dia sudah berlari pulang bersama teman-temannya."

"Ah, belum! Sejak tadi aku belum lihat dia pulang, Kang?!"

"Coba cari di kolong balai, mungkin dia bersembunyi di sana atau di tempat yang pantas untuk bersembunyi."

"Bersembunyi?! Kenapa bersembunyi?! Apakah dia takut melihatmu, Kang?"

"Tidak. Hanya sekadar mau main-main denganku. Cobalah cari dulu...!" desak Suto yang akhirnya membuat Sabani terpaksa mencari adiknya di kolong balai, di belakang lemari, di dapur, bahkan di kandang ayam.

"Tidak ada, Kang Pendekar! Ibu saya juga bilang belum lihat dia pulang."

"Wah, ke mana anak itu, ya?" gumam Suto Sinting.

"Coba biar saya yang cari, Kang. Kang Pendekar diam di sini dulu."

Sabani sangat menghormati kedatangan Suto, sehingga tak segan-segan bergerak cepat ke rumah teman-teman adiknya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan tangan hampa dan napas terengah-engah pertanda habis lari.

"Tidak ada, Kang! Semua rumah temannya sudah saya sambangi tapi Angon Luwak tidak ada di sana. Malah beberapa temannya bilang, Angon Luwak habis membunuh Saladin! Saya jadi takut, Kang!"

"Tidak. Angon Luwak tidak sejahat itu. Apakah kau tidak bertemu Saladin?"

"Bertemu! Lalu saya tanya, 'Apakah kau tadi dibunuh sama Angon Luwak?', dan Saladin bliang; 'tidak'. Lalu saya pikir, benar juga. Kalau dia sudah dibunuh pasti dia tidak bisa menjawab 'tidak'."

Suto Sinting tersenyum tipis, tertawa pendek dalam gumam. Lalu ia berkata, "Kalau begitu biar kucari sendiri anak itu. Mungkin dia bermain dihutan."

"Mungkin malah sedang nongkrong di Telaga Jompo, Kang."

"Telaga Jompo...?!" Suto berkerut dahi dengan heran.

"Telaga Jompo ada di atas bukit seberang itu. Hampir dekati puncaknya. Telaga Jompo adalah telaga yang bisasembuhkan orang lumpuh, Kang. Airnya sangat berkhasiat untuk penyembuhan. Beberapa hari yang lalu, kutemukan Angon Luwak duduk termenung di Telaga Jompo dengan sedih karena kehilangan jejakmu!"

"Apa benar dia ada di sana?" pikir Suto Sinting, lalu bergegas pergi ke Telaga Jompo.

* * *

LIMA
BUKIT itu bernama Bukit Kukusan, sama dengan nama desa di kakinya. Bukit tersebut berseberangan dengan bukit yang dulu digunakan mendiang Empu Sakya untuk larikan diri dari kejaran Iblis Naga Pamungkas. Bukit Kukusan mempunyai jenis tanaman jati dan cemara liar. Hutannya tak terlalu lebat, semaknya juga takterlalu rimbun, mudah untuk dilalui.

Ketinggian bukit itu tidak seberapa, artinya masih memungkinkan didaki oleh anak seusia Angon Luwak. Tetapi Pendekar Mabuk merasa baru kali itu mendengar ada telaga di bukit tersebut yang bisa sembuhkan orang lumpuh. Rasa penasaran Suto bukan terletak pada khasiat air telaga, melainkan kepada keanehan Angon Luwak. Rasa penasarannya itu begitu besar, sehingga Pendekar Mabuk merasa lebih penting mengejar Angon Luwak ketimbang mengejar Angin Betina ke Bukit Lajang.

Di dalam hati Suto, pada sisi hati yang terkecil, masih menyimpan dugaan tentang pedang-pedangan Angon Luwak yang diduga adalah Pedang Kayu Petir. Harapan kebenaran atas pedang itu memang sangat kecil, namun justru mengganggu ketenangan berpikir Pendekar Mabuk. Itulah sebabnya, Suto merasa perlu memeriksa pedang-pedangan tersebut walau sisi hati lainnya mengatakan;

"Pekerjaan yang gila dan bodoh! Sudah tahu pedang-pedangan untuk bermain anak kecil masih diharapkan sebagai Pedang Kayu Petir. Rasa-rasanya aku sudah tak waras lagi, terlalu tergila-gila dengan pedang maha sakti itu!"

Sekalipun sisi hati lainnya berkata begitu, kenyataannya Suto Sinting tidak mau hentikan langkah dan tetap maju menuju Telaga Jompo. Namun kejap berikut langkah itu terpaksa dihentikan. Kemunculan dua orang berpakaian seperti biksu membuat Suto Sinting terpaksa hentikan langkahnya. Dua orang yang secara tak sengaja berpapasan dengan Suto ternyata berasal dari arah atas bukit.

Mereka pun sama-sama hentikan langkah karena melihat sosok penampilan pemuda tampan menyandang bumbung tuak, pakaian baju coklat tanpa lengan, celana putih kusam dan rambut panjang selewat pundak tanpa ikat kepala. Ciri-ciri itulah yang membuat dua tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun ke atas itu juga hentikan langkah.

Wajah mereka wajah seorang paderi, atau layaknya seorang imam agung sebuah aliran kepercayaan. Kepala mereka gundul, sehingga raut wajah tenangnya terlihat dengan jelas. Tapi di balik ketenangan itu, Pendekar Mabuk temukan kegelisahan yang tersembunyi, dan kecurigaan yang sengaja ditutup dengan sikap wibawa kedua tokoh. Mereka mengenakan kain pembalut tubuh warna merah yang menyilang ke pundak kiri.

Tapi baju longgar yang dikenakan mereka berbeda warna, yang satu berwarna kuning, yang satu berwarna biru. Mereka sama-sama beralis tebal putih. Yang satu berkumis dan berjenggot putih, yang satunya tidak berkumis dan tidak berjenggot. Tubuh mereka sedikit gemuk, yang berkumis lebih gemuk dari yang tidak berkumis.

"Salam damai dari kami untukmu, Anak Muda. Kalau tak salah ciri-ciri yang kami lihat, kau adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting!" kata yang berpakaian biru.

"Benar, Eyang," jawab Suto sopan. "Kalau boleh saya tahu, siapakah Eyang berdua ini? Sebab saya baru sekarang melihatnya."

"Aku Pendeta Jantung Dewa dari Biara Genta," kata yang memakai baju biru tanpa kumis dan jenggot, matanya sedikit sipit. "Di sampingku ini adalah kakakku yang bernama Pendeta Mata Lima dari Biara Damai."

Orang yang diperkenalkan sebagai Pendeta Mata Uma itu diam saja, tak ada anggukan apa pun. Kesannya lebih kaku dari Pendeta Jantung Dewa. Bola matanya tak sesipit si Jantung Dewa, bahkan besar dan mempunyai pandangan tajam. Sekalipun demikian, Pendekar Mabuk tetap tunjukkan sikap hormat dengan anggukkan badan dan wajah penuh keramahan.

"Sangat kebetulan sekali kita bertemu di sini, Suto Sinting," kata si Jantung Dewa. "Sesungguhnya adalah hal yang paling sulit menemui Pendekar Mabuk yang sedang banyak dibicarakan oleh kalangan tokoh tua belakangan ini."

"Apakah Eyang berdua memang bermaksud menemui saya?"

"Tidak utama!" sahut Mata Lima.

Kata-kata selanjutnya diteruskan oleh si Jantung Dewa, "Yang paling utama adalah melacak benda pusaka itu."

"Benda pusaka apa maksudnya?"

Pendeta Mata Lima yang sebenarnya hanya punya dua mata, empat dengan mata kaki itu, segera menjawab dengan suaranya yang agak besar dan berwibawa, "Sebagai pendekar yang sedang kondang namanya, tentunya kau sudah mengerti pusaka yang kami maksudkan. Tak perlu lagi berlagak bodoh di depan kami. Kau punya pikiran dan angan-angan yang dipenuhi oleh pusaka itu."

"Pedang maha sakti itu, maksudnya?"

"Nah, kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri, Anak Muda!"

Tak ada gentar bagi Pendekar Mabuk menatap bola mata si baju kuning itu. Hatinya membatin, "Sepertinya dia punya maksud tertentu padaku yang kurang beres. Ada apa sebenarnya?"

Pendeta Jantung Dewa dari Biara Genta pun segera berkata, "Pendekar Mabuk, jika kau tahu di mana benda pusaka itu, tolong tunjukkan kepada kami, sebab kami sangat membutuhkannya untuk memerangi lawan yang ingin memporakporandakan biara kami berdua."

"Apa alasan Eyang menduga saya mengetahui benda tersebut?"

"Hasil pertemuan kami menyimpulkan bahwa benda itu ada di sebelah utara tempat kami berkumpul. Tongkat penunjuk milik Resi Wulung Gading mengarah ke utara. Getarannya sangat jelas, sehinga kami berlomba-lomba lari ke utara mengejar Pedang Kayu Petir itu. Secara kebetulan, kami berdua temukan kau ada di sini, menyongsong perjalanan kami. Sudah tentu kami yakin, bahwa kaulah orang yang mengetahui di mana benda pusaka itu berada."

"Eyang salah! Justru saya sedang kebingungan mencari benda tersebut," kata Suto sambil hatinya berucap untuk diri sendiri, "Berarti pertemuan para tokoh tua di Bukit Lajang telah usai. Apakah Angin Betina sempat hadiri pertemuan itu atau kecele, karena pertemuan sudah bubar pada saat ia sampai di Bukit Lajang?!"

"Jangan berpikir soal perempuan, Anak Muda," kata Pendeta Mata Lima secara tiba-tiba, membuat Suto Sinting terperanjat dan menjadi malu.

"Agaknya ia tahu kata hatiku dan bisa membaca jalan pikiranku," pikirnya.

Kemudian dengan sikap dibuat tenang, Pendekar Mabuk berkata kepada Pendeta Mata Uma, "Eyang Pendeta Mata Lima, saya kagum mengetahui Eyang dapat membaca pikiran saya. Barangkali itu salah satu kesaktian Eyang sebagai Pendeta Mata Lima, yang mampu memandang dengan mata batin tentang pikiran seseorang. Sayang sekali Eyang punya pandangan batin yang keliru dengan menyangka saya adalah orang yang mengetahui pedang maha sakti itu."

"Mataku juga dapat melihat apa yang kau lihat. Bola matamu menampakkan bayangan pedang maha sakti itu, berarti kau sudah melihat pedang tersebut."

Senyum disunggingkan selebar mungkin, namun tak mengurangi sikap sopannya. Suto merasa geli dengan tebakan tokoh tua yang kaku itu. "Eyang salah pandang!" kata Suto. "Benar-benar salah pandang. Sebab saya merasa belum pernah melihat pusaka tersebut."

"Jangan bertele-tele, Anak Muda!" Pendeta Mata Lima tampak mulai tak sabar. "Sekali lagi kuingatkan, kami benar-benar butuh pedang itu untuk memerangi orang seaat yang ingin memporakporandakan biara kami. Jadi tolong beritahukan kepada kami dimana benda itu berada. Jangan membuat kami harus memaksamu dengan kekeraaan. Karena demi selamatkan biara kami, jika sangat terpaksa kami tak segan-segan lakukan kekerasan."

"Hmm..., dia mulai mengancam! Sudah salah, ngotot lagi! Payah juga orang ini. Percuma jadi pendeta kalau masih suka ngotot terhadap kesalahannya," pikir Suto Sinting, lupa bahwa pikiran itu bisa dibaca lawannya. Tentu saja sang lawan tampakkan perubahan wajah yang makin nyata.

Pendeta Mata Lima mulai geletukkan giginya. Tasbih hitam dari bebatuan bening yang sebesar-besar melinjo itu mulai diremas-remasnya. Pendeta Jantung Dewa berkata masih dengan suara tenang, "Apa yang dikatakan kakakku itu memang benar, Pendekar Mabuk. Kami tak peduli kau adalah murid dari si Gila Tuak, tapi jika tak mau bantu kami dengan menunjukkan benda itu, kami akan tega memaksamu menggunakan kekerasan. Barangkali memang itulah jalan yang kau kehendaki. Kami maklum, karena darah pendekarmu masih muda, masih suka menguji ilmu seseorang."

"Sama sekali tidak!" bantah Suto dengan cepat. "Saya tidak menyukai kekerasan jika tidak dipaksa dan didesak. Saya mengatakan kebenaran diri saya. Tapi jika Eyang-eyang ini tidak mau percaya dan menganggap perlu gunakan kekerasan, dengan rendah hati saya terpaksa melayaninya!"

"Di matamu ada bayangan Pedang Kayu Petir!" sentak Pendeta Mata Lima. "Kau tak bisa bohongi pandangan mataku, Suto Sinting!"

"Saya katakan sekali lagi, pandangan Eyang salah!"

"Tidak, Suto!" sahut Pendeta Jantung Dewa dengan kalem. "Apa kata kakakku itu memang benar, karena aku sendiri melihat bayangan pedang ada di matamu, ditambah lagi bayangan seorang wanita berambut acak-acakan dan berpakaian hitam ketat dengan dada besar menggiurkan dan..."

"Ssst...! Yang itu jangan dijelaskan!" sentak si Mata Lima dengan geram.

"Maaf, semoga Sang Hyang Widi mengampuni ucapanku tadi," ucap Jantung Dewa dengan lirih penuh penyesalan.

Suto ingin berkecamuk lagi di dalam hatinya, tapi ia batalkan karena kecamuknya akan diketahui oleh Pendeta Mata Lima. Kini ia bahkan berkata dengan tegas dan lebih bersikap berani. "Eyang-eyang Pendeta, saya mohon maaf tidak bisa membantu maksud Eyang. Jadi, izinkan saya lewat tanpa ada sikap memaksa!"

"Tidak bisa!" si Mata Lima berkata dengan tegas juga. "Kami tak bisa lepaskan orang yang tahu tentang pedang itu! Dengan menyesal dan sangat terpaksa, aku harus tunjukkan padamu bahwa kami benar-benar membutuhkannya!"

"Apa maksud kata-katanya?" pikir Suto Sinting setelah mereka bertiga sama-sama diam. Tapi mata Suto segera melihat bahwa tasbih hitam yang ada di tangan Pendeta Mata Lima itu diremas-remas semakin kuat. Remasan itu kepulkan asap putih, dan tiba-tiba Suto Sinting rasakan perutnya bagai dipelintir sekuat tenaga, hingga akhirnya ia jatuh terbanting.

"Uuhg...!" Bruuk...! "Gila! Rupanya dia telah serang diriku dengan kekuatan batinnya melalui tasbih itu!" gerutu Suto dalam hati. Ia pun segera bangkit.

Namun baru saja ia ingin menegakkan badan, tiba-tiba Pendeta Mata Lima sabetkan tasbihnya ke udara. Zraak...! Bunyi gemeresak akibat sabetan tasbih berbatu hitam itu seperti terlepasnya ratusan jarum dari baskom lebar. Bunyi itu membuat Suto Sinting terpental ke belakang karena merasa dihempas oleh gelombang hawa panas yang amat besar. Bahkan Pendekar Mabuk sempat gelagapan dengan mata terpejam-pejam.

Bruuuk...!

"Edan! ilmu apa ini, aku seperti dilanda seribu kuda?!" gerutunya lagi di dalam hati. "Aku harus tunjukkan pembalasan supaya mereka tahu bahwa aku tidak bersalah." Dalam keadaan duduk, Suto Sinting segera sentilkan jarinya yang berarti jurus 'Jari Guntur' dilepaskan dari tempatnya. Tesss...!

Wuuud...!

Daahk...! Seperti batu menghantam papan, tubuh Pendeta Mata Lima masih berdiri tegak tak bergeming. Sedangkan Pendeta Jantung Dewa justru mundur dengan tenang, seakan menyerahkan perkara itu kepada kakaknya.

"Jurus 'Jari Guntur' tidak mempan untuknya! Luar biasa besar kekuatan orang tua itu?!" pikir Suto sambil berdiri lagi. Ia segera membuka tutup bumbung dan menenggak tuak beberapa teguk. Pada saat Suto mendongak untuk menenggak tuak, Pendeta Mata Lima segera lepaskan pukulan tasbihnya dengan kibasan memutar di atas kepala dan menyentakkan ke depan.

Crak...! Slaaap...!

Dari tasbih itu keluar sinar merah pijar sebesar bola bekel. Sinar merah itu melesat menghantam Suto Sinting. Tapi ekor mata Suto yang melihat kelebatan itu segera tanggap, ia merendahkan badan dengan berlutut satu kaki. Bumbung tuaknya segera ditegakkan dengan dipegang dua tangan. Tepat di depan wajahnya, bumbung tuak itu menghadang laju sinar merah. Akhirnya sinar itu membentur bumbung tuak.

Blaaar...!

Suatu keanehan terjadi. Sinar tidak membalik arah seperti biasanya, tapi meledak di tempat. Jika bukan ilmu yang tinggi, tak mungkin tak bisa dikembalikan. Hentakan daya ledak sinar merah tadi membuat Suto Sinting terjungkal ke belakang dengan sekujur tubuh terasa panas. Bahkan empat pohon di sekitarnya menjadi keriput. Kulit batangnya mengelupas keriting, daun-daunnya menguning dengan cepat. Bahkan ada yang langsung berwarna coklat kering. Tetapi Suto Sinting hanya mengalami raaa panas yang sekejap saja segera hilang tak berbekas.

Pendeta Mata Lima sendiri terpental dan menabrak adiknya yang berdiri di belakang. Jika tidak tentunya ia akan terlempar membentur pohon cemara di arah belakangnya. Akibat terpentalnya Pendeta Mata Uma yang tak diduga-duga itu, Pendeta Jantung Dewa roboh dan jatuh telentang tertindih tubuh kakaknya yang lebih gemuk darinya.

Buuhg...! Suaranya keras bagaikan sebongkah batu besar jatuh ke tanah. Pendeta Jantung Dewa terpekik dengan suara tertahan. "Heegh...!"

Mereka berdua sibuk menjaga keseimbangan dan buru-buru berdiri. Mereka sama-sama berpikir, harus cepat berdiri sebelum dilihat anak muda itu. Akibat terburu-buru ingin cepat berdiri lagi, mereka saling geret dan tindih, sehingga mirip orang berebut sesuatu yang membuat jatuh mereka justru lama. Suto Sinting sudah berdiri tegak dan memperhatikan mereka saling berebut kesempatan bangun. "Bocah itu tidak bisa dianggap enteng, Mata Lima!" kata Pendeta Jantung Dewa setelah keduanya sama-sama berdiri dan selesai saling gerutu.

"Sudah kuduga dia memang tangguh. Tapi tak kusangka setangguh ini, sehingga serangan tingkat tigaku membuatnya masih setegar itu!"

"Kalau begitu, biar kuhadapi dia. Jurus 'Jala Surga' bisa bikin dia jera dan mau membantu kita."

Si Jantung Dewa segera maju dua tindak. Wajahnya tetap kalem, matanya yang kecil menatap Suto berkesan dingin. Suaranya terdengar jelas tanpa tekanan kemarahan sedikit pun. "Kau boleh saja merasa bangga karena bisa bertahan menghadapi pukulan tingkat tiga dari kakakku, Suto. Tapi kau tak akan bisa bertahan melawan jurus 'Jala Surga'-ku ini, Nak!"

Sraaab...!

Tiba-tiba Pendeta Jantung Dewa sentakkan tangan kirinya dengan telapak tangan membentuk cakar elang. Dari telapak tangan itu melesat berlarik-larik sinar biru membentuk jala yang menyerupai benang laba-laba. Sinar-sinar biru itu melesat ke arah tubuh Suto Sinting dengan kecepatan tinggi, seakan tak mungkin bisa terhindari. Dan memang menurut pengakuan hati si Jantung Dewa, jurus 'Jala Surga'-nya selama ini tak pernah ada yang bisa menghindarinya. Namun ia tak tahu bahwa Suto punya gerak siluman yang mampu bergerak melebihi kecepatan anak panah.

Zlaaap...!

Tahu-tahu ia sudah pindah tempat di belakang Pendeta Mata Lima dalam jarak hanya empat langkah. Sedangkan sinar birunya Pendeta Jantung Dewa mengenai seonggok tanah keras. Jaaab...! Tanah keras itu merekah, dari rekahannya keluar asap putih dan cahaya sinar biru membara di dalamnya. Kejap berikutnya tanah itu kembali utuh, namun rumput-rumputnya rontok dan mengering kecoklatan.

"Mana dia tadi?" Pendeta Jantung Dewa mencari-cari Suto tanpa menengok kepada kakaknya.

Pendeta Mata Lima juga menengok ke sana-sini dan begitu menengok ke belakang terpekik kaget. "Hahhh...!"

Wajahnya lucu. Wajah tua berkumis dan berwibawa itu membelalakkan mata dan melebarkan mulut karena kaget. Bahkan tubuhnya sempat terlonjak satu tindak ke samping. Tapi wajah itu buru-buru dibuat tenang dan berwibawa, walau yang terlihat adalah wajah menahan rasa malu dan jengkel. Sedangkan Pendeta Jantung Dewa tetap tenang memandangi Suto yang tersenyum geli melihat kelucuan wajah Pendeta Mata Lima itu.

"Hebat sekali kau bisa hindari jurus 'Jala Surga'-ku," kata Pendeta Jantung Dewa sambil manggut-manggut. "Tapi dapatkah kau tetap bertahan dengan sabuk Telur Naga'-ku ini?! Hiaah...!"

Sreet...! Wuuut...!

Sabuk dari batu-batuan merah bening yang menyerupai rantai itu tahu-tahu dilepaskan dari pinggang dengan satu kali tarik. Sabuk itu menyabet ke arah Pendekar Mabuk. Memang tidak mengenai tubuh Suto, tapi lecutannya keluarkan sinar api merah yang mirip bunga api menggerombol dan menghantam ke arah dada Suto Sinting.

Bumbung tuak masih di tangan Suto, sehingga dengan cepatnya Suto sentakkan bumbung tuak ke depan dalam keadaan datar. Sodokan bumbung tuak itu keluarkan sinar kuning. Jurus 'Naga Sontok' menghantam bunga api dan menimbulkan ledakan dahsyat yang sempat mengguncangkan tanah, merontokkan bebatuan yang dalam posisi miring, menumbangkan tiga pohon jati berukuran sedang.

Zlaap...! Blegaaar...!

Tubuh kedua pendeta itu terjungkal bagaikan dilemparkan badai besar. Mereka berguling-guling berbeda arah. Hampir saja sebatang pohon yang roboh menindih perut Pendeta Mata Lima. Bruus...!

"Uuhg...!"

Pohon itu hanya menjatuhi kaki kanan Pendeta Mata Lima, sementara adiknya diam tak bergerak karena sebongkah batu besar menggelinding dan menggencet tubuh itu dengan pohon yang masih berdiri tegak. Hanya kakinya yang tampak bergerak-gerak kebingungan mencari panjatan untuk mendorong batu besar itu.

Pendekar Mabuk hanya terpental beberapa langkah dari tempatnya. Namun sempat meringis kesakitan karena pinggulnya bagai retak karena saat terlempar pinggul itu menghantam sebatang pohon cemara hingga daun-daun cemara berguguran. Suto Sinting masih bisa berdiri walau penuh gerutu karena harus singkirkan daun-daun cemara dari tubuhnya, ia lekas tenggak tuaknya untuk hilangkan rasa sakit di tulang pinggulnya.

"Hiaaaah...!"

Suto kaget mendengar suara teriakan besar. Ternyata Pendeta Mata Lima sentakkan kaki yang tertindih pohon itu. Sentakan kaki ke atas membuat batang pohon terlempar terbang ke arah belakang, lalu jatuh di semak-semak berjarak delapan langkah dari tempatnya. Sebuah kekuatan tenaga dalam yang besar telah dilepaskan Pendeta Mata Lima demi singkirkan batang pohon yang membuat tulang keringnya terasa patah itu.

"Hiaaah...!"

Suto kaget lagi mendengar suara sentakan keras. Disusul dengan suara gemuruh sekilas. Ternyata suara itu datang dari Pendeta Jantung Dewa yang berhasil pecahkan batu besar itu menjadi serpihan kecil. Dengan begitu tubuhnya yang tergencet batu dapat bebas walau tulang rusuknya masih terasa sakit, sepertinya ada yang patah.

"Kalau kulayani, bisa-bisa salah satu ada yang mati konyol," pikir Suto. "Sebaiknya kutinggal pergi menuju Telaga Jompo. Agaknya tak jauh lagi dari sini. Kalau memang mereka mengejar, akan kuajak bermain kucing-kucingan! Tak mungkin mereka bisa temukan aku."

Zlaaap...! Suto Sinting sentakkan kaki dan lenyap bagaikan ditelan bumi. Padahal ia berlari cepat melebihi kilat menuju ke puncak bukit.

Pendeta Mata Lima bisa lihat gerakan cepat itu karena ketajaman matanya, ia berseru kepada Pendeta Jantung Dewa, "Anak itu lari ke puncak! Kejar dia!"

Tanpa menunggu jawaban, Pendeta Mata Lima bergerak cepat hampir menyamai gerakan Suto Sinting. Adiknya menyusul dengan kecepatan sama. Jika mereka tidak berilmu tinggi, mustahil mereka mampu bergerak cepat dalam keadaan tulang kaki dan tulang rusuk terasa remuk. Mereka punya cara sendiri untuk hilangkan rasa sakit itu. Sayangnya gerakan mereka sengaja dipatahkan oleh pukulan seseorang yang menyerang dengan sinar putih keperakan. Dua sinar putih keperakan itu menghantam lambung mereka dan sulit dihindari atau ditangkis lagi.

Claap...! Des, des...!

"Aahg...!" keduanya sama-sama mengerang pendek, kemudian tumbang ke bumi. Serangan itu belum membuat mereka mati, namun cukup membuat mereka tak berdaya. Penyerangnya masih sembunyikan diri, memperhatikan keadaan mereka dari tempat yang amat terlindung.

* * *

ENAM
TELAGA Jompo terletak di tanah datar yang mendekati puncak bukit. Tanaman di sekelilingnya membuat rindang tempat itu. Berbatu-batu dan tidak begitu lebar. Airnya sedikit keruh berwarna kekuning- kuningan. Dilihat letaknya mendekati puncak bukit, sudah terbayang keanehan telaga yang ada di situ. Airnya yang kekuning-kuningan mempunyai kesan sebagai air yang punya khasiat penyembuhan. Entah mungkin bercampur belerang, atau endapan tanahnya yang mengandung obat, yang jelas sebuah danau ada di puncak bukit merupakan keajaiban tersendiri.

Pandangan Suto Sinting tertuju ke beberapa tempat di sekitar telaga. Ternyata tak ada seorang pun di sana. Angon Luwak tidak kelihatan, orang lain pun tak ada. Benar-benar tempat yang sunyi, tanpa kicau burung dan suara binatang apa pun kecuali desau angin.

"Luwaaak...!" seru Suto memanggil. "Angon Luwaaak...!"

Tak ada jawaban. 'Lacak Jantung' digunakan. Ternyata memang tak ada suara detak jantung siapa-siapa kecuali jantungnya sendiri. Akhirnya Suto Sinting duduk di salah satu tepi danau itu. Ia menenggak tuaknya beberapa teguk. Setelah itu hatinya membatin,

"Ke mana anak itu? Jika tak ada di sini, berarti dia berlari dan bersembunyi di tempat lain. Tapi di mana kira-kira? Haruskah kutanyakan kembali kepada Sabani, kakaknya? Ah, capek kalau harus bolak-balik kesana."

Sesaat kemudian di hati Pendekar Mabuk timbul kecemasan yang samar-samar. "Jangan-jangan dia terperosok di jurang sebelah timur tadi? Ah, mudah-mudahan tidak demikian. Biarlah kedua pendeta bodoh itu yang terperosok di jalanan tepi jurang timur itu. Kalau tidak terperosok pasti mereka sudah mengejar dan menemukanku di sini. Seandainya mereka menemukanku di sini dan menyerangku, apakah aku harus melumpuhkan mereka?"

Pikiran Suto sempat melayang-layang tak tentu arah. Tapi segera dikembalikan pada pokok persoalannya, ia masih merasa tak habis pikir, mengapa kedua pendeta itu yakin betul bahwa dirinya telah melihat pedang maha sakti?

"Apakah benar di mataku ada bayangan pedang maha sakti itu? Jangan-jangan mereka hanya cari gara-gara? Untuk apa dua orang itu menjadi pendeta di dua biara jika kerjanya cari gara-gara? Kurasa... tak mungkin. Pasti mereka memang punya kepentingan dengan pedang itu, hanya saja dugaan mereka terlalu mengada-ada. Eh, tapi... kata mereka, tongkat penunjuk arah milik Resi Wulung Gading mengarah kemari? Hmm... kalau begitu pusaka tersebut memang benar-benar muncul kembali dan ada di sekitar sini? Lho, tapi... menurut Delima Gusti, Pedang Kayu Petir itu ada di tangan Raja Tumbal dan akan diserahkan sebagai maskawinnya. Ah, yang benar yang mana kalau begini?"

Suto Sinting garuk-garuk kepala. Minum tuaknya lagi, dan melepaskan napas panjang sebagai tanda kelegaan dan kepuasan minum tuaknya.

"Sebaiknya aku ke Lembah Sunyi saja. Jika memang pertemuan para tokoh tua itu sudah usai, berarti Resi Wulung Gading sudah sampai di Lembah Sunyi. Pasti terjadi pembicaraan dengan Delima Gusti. Sebaiknya aku ikut dalam pembicaraan itu!"

Baru saja Suto Sinting berdiri, tiba-tiba di samping kirinya telah muncul sesosok tubuh yang tak asing lagi baginya. Perempuan cantik berkesan liar dengan rambut acak-acakan. Siapa lagi kalau bukan Angin Betina yang kecewa karena gagal membujuk Suto untuk tidur bersamanya.

"Hai, Tampan...!" sapa Angin Betina dengan mata tajam menantang cumbuan. Tangan kirinya menggenggam pedang bersarung. Kapan saja siap dicabutnya.

"Dari mana kau tahu aku ada di sini?"

"Aku tidak tahu kau ada di bukit ini. Tapi aku sempat lihat dirimu diserang pendeta kakak-beradik itu." Angin Betina mendekat.

Suto diam di tempat sambil matanya perhatikan ke arah kaki kiri Angin Betina yang ditumpangkan di atas sebuah batu setinggi satu betis. Kaki yang kanan tetap menapak di tanah, tangan kirinya yang memegang pedang bertolak pinggang. Sungguh suatu sikap yang menantang kemesraan dipamerkan dengan tonjolan dadanya yang benar-benar membuat lelaki bisa sesak napas.

"Kusangka kau mati digempur mereka berdua, ternyata kebalikannya."

"Apakah kau mengenal mereka?"

"Cukup kenal, karena perguruanku tak jauh dari Biara Genta," jawab Angin Betina dengan senyum tipis dan mata memandang mesra.

"Kau juga bertemu dengan mereka saat menuju kemari?"

"Ya. Tapi mereka sempat kurobohkan dengan jurus 'Mustika Perak' yang sukar ditandingi itu."

"Maksudmu, kau membunuh mereka?"

"Tidak. Hanya sekadar melumpuhkan mereka agar tak mengejarmu sampai sini," ia bersikap acuh tak acuh sebentar, memandang arah kedatangannya dan kembali menatap Suto Sinting.

"Mengapa tak kau bunuh saja mereka itu?" pancing Suto.

"Aku punya niat lain. Aku ingin berguru dengan salah satu dari mereka."

"Mengapa? Apa keistimewaan mereka, sehingga kau ingin berguru pada mereka?"

"Mereka punya Kitab Lorong Zaman. Aku ingin mempelajarinya."

Suto Sinting berkerut, berjalan dekati Angin Betina hingga dalam jarak dua langkah di depan perempuan itu baru berhenti. "Apa itu Kitab Lorong Zaman?" tanya Suto bersuara lirih.

"Ilmu yang membuat kita bisa melompat dari zaman sekarang ke zaman yang lalu, atau zaman akan datang."

Kerutan di dahi menghilang, berganti senyum geli yang disertai pandangan tertuju ke arah air telaga. Senyum itu berkesan meremehkan, sehingga Angin Betina terpaksa ngotot agar ucapannya dipercaya.

"Mereka benar-benar punya kitab tersebut! Guruku dulu pernah mau mencurinya, tapi selalu gagal. Sekarang aku akan berguru kepada mereka sampai dapatkan ilmu-ilmu yang ada dalam Kitab Lorong Zaman itu. Selama ini, hanya mereka berdua yang bisa mental ke zaman lalu atau zaman mendatang seperti orang lakukan tamasya saja."

Tawa yang terdengar dari Suto seperti gumam terputus-putus. Tetapi hati Angin Betina berkata, "Aku suka dengan tawanya. Gila! Ada yang berdenyut-denyut di bagian tubuhku begitu mendengar tawanya."

Sesaat kemudian, Suto Sinting memandang ke arah Angin Betina dan berkata, "Kalau memang benar mereka punya Kitab Lorong Zaman, dan kalau benar kau ingin jadi muridnya, berarti kau harus menjadi seperti mereka. Artinya, harus berjalan di jalur yang benar. Menjadi bagian dari tokoh aliran putih. Sebab aku yakin sebenarnya mereka adalah tokoh sakti dari aliran putih. Hanya karena sedang hadapi masalah bahaya, maka mereka paksa aku untuk tunjukkan benda itu. Kurasakan mereka sangat terpaksa melakukannya demi selamatkan biara mereka."

"Tak keberatan bagiku untuk masuk ke aliran putih, sebab selama ini naluriku kupaksakan untuk mengikuti aliran hitam dari guruku; mendiang Nini Pancungsari. Dan... aku tahu bahaya yang mereka hadapi. Sayang sekali aku tak akan mampu menolong mereka."

"Apa bahaya itu?"

"Mereka terancam oleh orang-orang Lumpur Maut."

Suto berkerut dahi secepatnya. "Raja Tumbal, maksudmu?"

"Ya. Raja Tumbal bermaksud menaklukkan kedua biara itu, sebab kedua biara itu dianggap perguruan yang berbahaya jika sampai bersatu. Selama ini kedua biara itu tidak bisa bersatu karena ada perbedaan pendapat mengenai aliran kepercayaan mereka. Ancaman dari Raja Tumbal itulah yang membuat mereka harus bisa mendapatkan Pedang Kayu Petir, sebab mereka tahu bahwa Raja Tumbal telah memiliki pusaka Seruling Malaikat."

"Bukankah Pedang Kayu Petir sudah ada di tangan Raja Tumbal?"

Angin Betina gelengkan kepala dengan tenang. "Tidak mungkin, sebab jika Raja Tumbal sudah memiliki pedang yang asli, tentunya kedua biara sudah diserangnya, negeri Muara Singa sudah direbutnya, dan negeri-negeri lain sudah ditumbangkannya. Sampai sekarang Raja Tumbal belum mau bergerak, sebab ia punya firasat munculnya pedang maha sakti itu. Ia harus mencarinya lebih dulu agar tak menjadi penghalang gerakan makarnya nanti."

Suto diam dan manggut-manggut. "Agaknya kau cukup banyak mengetahui tentang Raja Tumbal."

"Guru pernah menugaskanku untuk menyusup ke sana guna mencuri Seruling Malaikat-nya. Tapi sebelum niat itu terlaksana, sudah kudengar kabar tentang kematian Guru, sehingga aku pun meninggalkan Lumpur Maut!" jawab Angin Betina jujur tapi tegas.

"Perempuan itu jujur sekali," pikir Suto. "Sepertinya dia tak pernah merasa takut sedikit pun dengan kejujurannya. Tak punya malu dengan kesalahannya, ia berani menghadapi akibat apa pun dari semua tindakannya, bahkan ia tampak sebagai orang yang siap dikecam oleh siapa pun. Sikap itu sebenarnya sangat baik. Seandainya dia benar-benar telah masuk sebagai tokoh beraliran putih, sikap itu pasti lebih membantunya dalam merebut simpati dari para tokoh tua!"

Pendekar Mabuk kini tahu apa yang ada pada Raja Tumbal. Kabar tentang Pedang Kayu Petir di tangan Raja Tumbal hanya sebuah kebohongan semata. Jelas bahwa Raja Tumbal sengaja memancing minat sang Adipati dengan janji mas kawin pedang pusaka hanya untuk merebut perhatian sang Adipati dan dapat mengawini Delima Gusti. Berarti Delima Gusti akan tertipu mentah-mentah oleh siasat Raja Tumbal. Hal ini harus dicegah, dan Suto harus beberkan kepada sahabatnya itu; Delima Gusti. Tetapi sebelumnya, Suto perlu tanyakan sesuatu kepada Angin Betina yang mengaku pernah menyamar sebagai anggota Lumpur Maut.

"Apakah kau tahu kehebatan Seruling Malaikat?"

"Sangat tahu. Sebab aku pernah lihat sendiri Raja Tumbal membantai lawan-lawannya dengan Seruling Malaikat itu."

"Dan kau tahu kelemahannya?"

Angin Betina diam sebentar. Matanya yang jeli itu memandang permukaan air telaga sebentar, lalu beralih ke wajah Suto Sinting sambil menjawab, "Tidak. Aku tidak tahu kelemahannya. Dan kurasa... tak ada kelemahan pada pusaka itu, sebab dihancurkan pun tak bisa."

"Dihancurkan pun tak bisa?!" gumam Suto sambil manggut-manggut. Satu lagi kekuatan Seruling itu diketahuinya. Paling tidak jika nantinya ia harus berhadapan dengan Raja Tumbal, maka ia tidak akan mencoba menghancurkan Seruling itu, agar tidak buang-buang waktu dan tenaga.

"Kurasa hanya bisa dikalahkan dengan Pedang Kayu Petir yang sudah kau temukan itu, Suto."

Tentu saja Pendekar Mabuk terkejut mendengar kata-kata Angin Betina yang diperdengarkan secara tiba-tiba itu. Dengan cepat mata yang semula memandang ke tempat lain, kini menatap mata jeli si rambut amburadul itu. "Kau sangka aku telah mendapatkan pedang maha sakti itu?"

"Apa yang dikatakan kedua pendeta tadi kudengar jelas dari tempat persembunyianku. Sengaja aku mengikuti langkah mereka dari kejauhan ketika kulihat mereka meninggalkan Bukit Lajang. Aku memang terlambat tiba di sana. Mereka telah bubar. Tapi percakapan kedua pendeta itu akan kujadikan sumber beritaku mengenai hasil pertemuan para tokoh sakti tersebut. Dan kudengar dengan jelas bahwa pedang itu ada di arah bukit ini, atau wilayah sekitarnya. Aku juga mendengar mereka melihat bayangan pedang ada di bola matamu. Itu benar. Sebab setahuku, mereka bisa melihat apa yang pernah dilihat seseorang sebelum lewat tengah malam."

"Aku tidak tertarik untuk mempercayai kata-kata itu."

"Karena kau belum tahu persis siapa mereka," sergah Angin Betina sambil turunkan kakinya yang nangkring di atas batu itu. Bahkan ia sengaja dekati Suto kurang dari satu langkah. Beradu pandang dengan tegar, berkata dengan suara bisik yang memiliki nada tegas. "Kau memang pernah melihat pedang itu. Kau pasti merahasiakannya!"

"Percakapan ini semakin tidak menarik bagiku, sebab aku makin tak tahu harus bilang apa padamu jika kebenaranku kau sanggah, Angin Betina!"

"Aku tidak bermaksud merebutnya. Percayalah, aku hanya bermaksud membantumu menjaga pedang itu asal kau jujur padaku!"

"Maaf, kejujuranku sudah kau remehkan. Tak ada lagi kejujuran. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa lagi, Angin Betina!"

"Tunggu...!"

Wuuut...!

Tangan perempuan itu cepat sekali mencekal lengan Suto yang keras dan kekar itu. Suto Sinting tak jadi bergerak. Wajahnya kembali menatap dalam jarak sangat dekat. Angin Betina berkata lirih, "Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."

"Tentang apa?"

"Kau tampan!"

Pegangan tangan dilepaskan, seakan Angin Betina sudah tak keberatan jika terpaksa ditinggal pergi Pendekar Mabuk. Tapi si Pendekar Mabuk sendiri justru diam bagaikan terpaku di tempat. Ucapan itu pelan, penuh kesungguhan dalam mengungkapkan penilaian hatinya. Diamnya Suto dimanfaatkan oleh Angin Betina untuk berkata lagi,

"Aku suka padamu, dan berjanji akan melindungimu!"

"Berani sekali kau berkata begitu padaku. Apakah kau tak merasa malu, sebagai perempuan menyatakan isi hatimu di depanku?"

"Aku lebih malu jika kau yang menyatakan rasa suka padaku lebih dulu!"

"Aneh!" Suto Sinting tertawa, tapi tiba-tiba Angin Betina menyentak lirih,

"Jangan tertawa!"

"Kenapa? Aku tertawa pakai mulutku sendiri?!"

"Tawamu makin memancing gairahku," jawabnya dalam desah yang menggiring khayalan kepada sebentuk kehangatan.

Suto Sinting hanya tersenyum, matanya sempat melirik nakal ke dada Angin Betina. Perempuan itu pun berkata lirih lagi,

"Jangan hanya melirik kalau kau berani! Lakukanlah! Tunjukkan keberanianmu sebagai seorang lelaki yang mestinya mampu tundukkan wanita sepertiku!"

Suto kian lebarkan senyum dan menggeleng. "Tidak. Anggap saja aku pengecut untuk urusan ini! Selamat tinggal!"

Zlaaap...! Weesss...!

Suto Sinting segera pergi, tak mau memperpanjang percakapan dan pertemuan dengan Angin Betina. Hati kecilnya mulai tergelitik. Darah asmaranya mulai terbakar. Suto takut tak mampu menahan tuntutan batinnya yang ingin memegang dada itu, sekadar mengukur seberapa kebesarannya.

"Melawan nafsu lebih sulit daripada melawan Siluman Tujuh Nyawa. Daripada aku mati berdiri dengan kaku, lebih baik kutinggalkan saja si penggoda yang pemberani itu!" pikirnya dalam perjalanan kilatnya menuju Lembah Sunyi, ia tak tahu bahwa Angin Betina mengikuti dari belakang dengan gerakannya yang juga menyerupai angin badai, sehingga ia berjuluk Angin Betina.

Sampai di pondok Resi Wulung Gading, ternyata Suto Sinting sudah tidak bertemu dengan Delima Gusti. Menurut Sukat, Delima Gusti pergi ke Jurang Lindu mencari Suto. Ia berangkat tadi pagi, setelah ayam berkokok karena gembira melihat matahari lagi.

"Apakah Resi Wulung Gading sudah tiba ditempat?"

"Sudah," jawab Sukat. "Guru sedang murung, sekarang duduk sendirian di taman belakang. Mari kuantar menemui Guru."

Memang benar apa kata Sukat, wajah sang tokoh tua keponakan dari Nini Galih, gurunya Bidadari Jalang itu sedang murung. Tapi ketika ia mengetahui kedatangan Suto Sinting, kemurungan tersebut segera ditekan dalam-dalam dan disembunyikan di belakang paru-parunya. Wajah tenang dan berkharisma kembali terlihat nyata.

"Menyesai sekali Delima Gusti pergi selang beberapa saat sebelum aku pulang dari Bukit Lajang," kata Resi Wulung Gading. "Pasti anak itu punya masalah yang ingin dibicarakan denganku. Kudengar dari Dul, kau yang mengantarnya."

"Benar. Memang saya yang mengantarnya kemari...," lalu Suto menceritakan masalah yang dihadapi Delima Gusti.

Cerita itu membuat Resi Wulung Gading tersenyum tipis sekali. "Tidak. Pusaka itu tidak ada di tangan Raja Tumbal," katanya sambil melangkah, tongkatnya berwarna hitam kecoklatan itu digunakan sebagai penopang tubuh pada saat berjalan pelan. Suto Sinting menyertainya dari samping. Mereka mengelilingi taman yang tidak terlalu luas namun ditata rapi oleh Sukat.

"Pedang itu masih tetap tidak bisa diteropong di mana letaknya. Tapi tongkatku ini sejak tadi menunjuk ke arah kedatanganmu. Aku yakin pusaka itu ada di utara. Dan aku yakin, kau sudah melihat pusaka itu."

Suto Sinting diam, tapi batinnya menggumam heran, "Mengapa Resi Wulung Gading berpendapat seperti kedua pendeta itu? Aku lagi yang jadi sasarannya. Padahal aku merasa tidak pernah melihat pedang sesakti itu. Andai kukatakan yang sebenarnya, apakah Resi Wulung Gading mau percaya?"

Langkah sang Resi terhenti, ia sengaja memandang Suto dan berkata, "Mengapa pedang itu tidak kau ambil?"

"Resi, sesungguhnya apa yang terjadi pada diri saya, sehingga Pendeta Jantung Dewa dan Pendeta Mata Lima juga berpendapat seperti itu? Padahal saya merasa belum pernah melihat pedang pusaka itu."

Resi Wulung Gading tertegun sejenak, setelah itu berkata, "Jantung Dewa dan Mata Lima menduga hal yang sama denganku? Berarti benarlah dugaanku, karena Mata Lima bisa melihat bayangan yang ada di mata seseorang, demikian pula adiknya; si Jantung Dewa. Cuma...," Resi Wulung Gading diam sebentar. Langkahnya diteruskan dengan pelan-pelan. "Apakah menurutmu kedua pendeta itu menghendaki pedang tersebut?"

"Benar, Resi!"

"Bahaya!" gumam Resi Wulung Gading. "Mereka bisa membawa lari pedang itu ke masa akan datang di saat aku telah tiada. Mereka punya ilmu 'Tembus Waktu' yang tidak dimiliki orang lain."

"Mereka memerlukan pedang itu untuk melawan Raja Tumbal, sebab biara mereka terancam oleh Raja Tumbal, Resi."

"Hmmm...!" Resi Wulung Gading manggut-manggut. "Kalau begitu mereka tidak bermaksud jahat. Mereka hanya membutuhkan keamanan dan keselamatan, baik keselamatan jiwa maupun keselamatan biara mereka! Mengapa tak kau bantu, Suto?"

"Bagaimana saya harus membantu, saya tidak punya pedang itu, Resi! Raja Tumbal punya Seruling Malaikat yang dapat menghancurkan raga saya dari kejauhan, atau dari tempat yang tersembunyi."

Langkah sang Resi terhenti lagi. "Percayalah, apa yang dikatakan mereka itu benar. Mata Lima memang sedikit galak, tapi hatinya baik. Kau pasti sudah melihat pedang itu."

Suto Sinting tarik napas. "Baiklah kalau anggapan itu memang benar. Tapi tolong jelaskan seperti apa ciri-ciri pedang itu, Resi Wulung Gading?"

"Pedang itu bergagang coklat kusam, seperti mau keropos. Mata pedangnya terbuat dari kayu warna putih kusam, seperti lapuk. Tepiannya geripis, dan... pokoknya bentuknya tidak menarik. Semua terbuat dari kayu sederhana dan kasar. Seperti pedang buat mainan anak-anak!"

Seketika itu pula Suto terperanjat kaget. "Angon Luwak...?!" gumamnya dalam hati, karena yang terbayang di otaknya adalah pedang yang dipakai perang-perangan oleh Angon Luwak. Pedang itulah Pedang Kayu Petir. Suto gemetar dan berdebar-debar sambil bertanya dalam hati, "Di mana anak itu berada sekarang?!"

* * *

TUJUH
RESI Wulung Gading mengatakan, bahwa Seruling Malaikat tidak mempunyai kelemahan. Satu-satunya cara menghadapi Seruling Malaikat adalah, "Jangan beri kesempatan Raja Tumbal meniup Seruling itu!"

Pendekar Mabuk punya kesimpulan, "Harus menyerang lebih dulu sebelum diserang. Karena jika Raja Tumbal diserang lebih dulu, maka ia tidak punya persiapan untuk meniup serulingnya. Syukur bisa membuat dia tidak punya kesempatan untuk mengambil pusaka itu!"

Itu berarti Suto Sinting harus lakukan penyerangan mendadak ke Lumpur Maut. Padahal ia tidak mengetahui di mana wilayah Lumpur Maut. Maka, hatinya pun membatin, "Aku harus minta bantuan Angin Betina! Di mana perempuan itu sekarang?"

Pendekar Mabuk dihadapkan pada beberapa persoalan yang memusingkan kepala. Pertama, ia harus mencari di mana Angon Luwak, agar Pedang Kayu Petir yang ada di tangan anak itu tidak jatuh ke tangan orang sesat. Kedua, ia harus temukan Delima Gusti dan memberi tahu tentang siasat Raja Tumbal yang ingin memperistrinya dengan maskawin Pedang Kayu Petir palsu. Sebab Suto yakin, jika sampai Raja Tumbal serahkan sebuah pedang yang menurutnya adalah Pedang Kayu Petir, maka pedang tersebut adalah pedang palsu.

Selain itu Suto Sinting juga harus segera temukan Angin Betina. Perempuan itulah yang bisa membawanya ke Lumpur Maut, dan perempuan itulah yang akan digunakan sebagai pancingan. Sebab Suto percaya bahwa Angin Betina pasti benar-benar pernah menyusup ke Lumpur Maut, karena ia tahu banyak tentang rencana-rencana Raja Tumbal. Kekuatan Angin Betina pun dapat dimanfaatkan untuk menggempur kekuatan Raja Tumbal.

Jika usaha itu berhasil, Raja Tumbal berhasil ditumbangkan, maka negeri Muara Singa akan bebas dari ancaman maut penguasa Lumpur Maut. Di samping itu Biara Damai dan Biara Genta juga akan terbebas dari ancaman kehancuran tangan keji Raja Tumbal. Tetapi agaknya kedua Pendeta kakak-beradik itu terpaksa harus berhadapan dengan utusan Lumpur Maut sebelum berhasil mendengar rencana Pendekar Mabuk.

Karena Raja Tumbal diam-diam mengikuti perkembangan gejolak dunia persilatan yang meributkan kemunculan pedang maha sakti itu. Orang yang diutus itu bukan lagi Ki Wirogo, yang kini justru telah dibunuh oleh Raja Tumbal sendiri karena gagal melawan Tandu Terbang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tandu Terbang).

Orang yang diutus Raja Tumbal kali ini mempunyai tingkat ilmu yang lebih tinggi dari Ki Wirogo. Tentu saja nyawa tetap menjadi jaminan bagi keberhasilan tugas. Rajang Lebong dan Pangkas Caling adalah dua orang Lumpur Maut kepercayaan Raja Tumbal. Mereka berdua mempunyai ilmu 'Ludah Iblis', sebuah ilmu yang membuat mereka sulit dibunuh. Jika salah satu mati, yang satunya lagi meludahi mayat temannya itu, maka sang mayat akan bangkit dan hidup kembali. Hanya mereka berdua yang menekuni ilmu 'Ludah Iblis', sehingga dari sekian banyak anak buah Raja Tumbal, hanya merekalah yang memiliki ilmu tersebut.

Biasanya mereka ditempatkan di kanan-kiri Raja Tumbal sebagai orang kepercayaannya. Tapi kali ini agaknya Raja Tumbal merelakan mereka pergi dari sampingnya demi mendapatkan Pedang Kayu Petir itu. Tugas Rajang Lebong dan Pangkas Caling adalah mencari tahu di mana Pedang Kayu Petir itu berada. Jika memungkinkan untuk merebut dan membawa pulang Pedang Kayu Petir, mereka akan diberi wilayah kekuasaan sendiri. Setidaknya mereka mengetahui siapa pemegang Pedang Kayu Petir sekarang, sehingga Raja Tumbal bisa menghadapinya dengan siasatnya sendiri dan tentu saja menggunakan Seruling Malaikat-nya.

Tapi jika mereka gagal membawa pulang Pedang Kayu Petir dan tidak mengetahui siapa pemiliknya, tugas ketiga bagi mereka adalah bunuh diri dengan cara sendiri-sendiri. Mereka berdua berhasil menyadap pembicaraan para tokoh di Bukit Lajang, sehingga mereka tahu ke mana harus bergerak, yaitu ke arah utara. Dalam perjalanan menuju utara itulah mereka berpapasan dengan dua pendeta dari Biara Damai dan Biara Genta.

Pada waktu itu, Pendeta Mata Lima dan Pendeta Jantung Dewa baru saja selesai sembuhkan diri akibat serangan sinar perak yang tak diketahui pemiliknya. Mereka tak tahu bahwa pemiliknya adalah Angin Betina. Mereka hanya berlari menuju ke puncak bukit, melintasi Telaga Jompo, sampai menuruni bukit dari puncaknya. Jalan itu adalah jalan yang mereka tempuh semula saat datang dari arah Bukit Lajang.

Melihat kedua pendeta itu tampak terburu-buru, Rajang Lebong segera hentikan langkah, tangan kanannya direntangkan sedikit yang berarti menyuruh Pangkas Caling berhenti pula.

"Ada apa?" tanya Pangkas Caling yang berbadan kurus, berpakaian hijau dengan wajah layak dikatakan runcing karena dagunya lancip.

"Jantung Dewa dan Mata Lima baru saja dari bukit itu! Mereka tampak tergesa-gesa. Ada apa kira-kira?"

"Hmmm...!" Pangkas Caling mengusap-usap kumisnya yang panjang melengkung ke bawah. Lalu berkata dengan suara mirip orang menggumam, "Pasti mereka sudah dapatkan keterangan tentang di mana pedang pusaka itu dan siapa pemegangnya! Pasti mereka sedang mengejar si pemilik pedang itu!"

Rajang Lebong yang berpakaian merah, berikat kepala merah dengan rambut botak depan dan sisanya panjang lewat pundak itu segera berkata, "Hadang mereka! Paksa supaya buka mulut!"

Wuss, wuus...!

Keduanya segera berkelebat menghadang langkah kedua pendeta itu. Sapaan kedua utusan Lumpur Maut yang pertama kali adalah melesatnya selarik sinar kuning ke arah punggung Pendeta Jantung Dewa. Claaap...! Tetapi Pendeta Jantung Dewa ternyata mempunyai gerak naluri yang cukup peka, karena dalam keadaan penuh waspada. Tak mau kecolongan lagi seperti tadi.

"Awas...!" serunya sambil jejakkan kaki dan tubuhnya melenting di udara.

Wuuus...!

Pendeta Mata Lima mendengar seruan itu tanpa banyak tanya lagi, sentakkan kakinya dan, wuuut...! Wuk, wuuk...! Bersalto di udara dua kali masih merupakan kelincahan yang dimiliki orang setua dia.

Kini keduanya sudah kembali mendarat di tanah dan langsung menghadang lawannya, tak pedulikan sinar kuning tadi kenai pohon itu langsung kering dari pucuk sampai akarnya.

"Rajang Lebong dan Pangkas Caling, mau apa kalian menyerang kami!" tegur Pendeta Jantung Dewa dengan kalem.

Senyum Pangkas Caling diperlihatkan kesinisannya, tapi bagi Pendeta Jantung Dewa, yang dipamerkan adalah dua gigi taring yang sedikit lebih panjang dari barisan gigi lainnya. Pangkas Caling menyeringai mirip hantu tersipu malu. Sekalipun yang menyeringai Pangkas Caling, tapi yang bicara adalah Rajang Lebong yang punya badan agak gemuk, bersenjata golok lengkung terselip di depan perutnya. Beda dengan Pangkas Caling yang bersenjata parang panjang di pinggang kirinya.

"Kulihat kalian berdua tadi ada di Bukit Lajang!"

"Memang benar!" jawab Pendeta Jantung Dewa. Tegas dan jujur.

"Tentunya kalian telah berhasil peroleh keterangan tentang pedang pusaka itu. Terbukti kalian berbalik arah dan sangat terburu-buru."

"Jika benar, mau apa kalian?" sahut Pendeta Mata Lima. Ia bersikap lebih tegas lagi, dan sikapnya langsung menentang tanpa basa-basi.

"Beri tahu kami, di mana pedang itu dan siapa pemegangnya yang sekarang!" Pangkas Caling segera menyambar percakapan sebelum Rajang Lebong bicara.

"Kami hanya melihat bayangan pedang itu saja," kata Pendeta Jantung Dewa. "Kami tak tahu persis di mana pedang itu dan siapa sekarang yang memiiikinya!"

"Apakah aku harus memaksa mulut kalian agar bicara?!" ujar Rajang Lebong dengan nada sinis.

Pendeta Mata Lima tak sabar dan berkata sinis juga, "Apakah kalian mampu?"

"Rajang Lebong!" sentak Pangkas Caling, "Kita disepelekan! Hajar dia!"

Wuuut...! Craaak...!

Pendeta Mata Lima mendahului gerakan Rajang Lebong yang sudah siap-siap lakukan serangan. Pendeta Mata Lima kibaskan tasbihnya ke depan dan memerciklah bunga api warna hijau terang yang langsung menerjang tubuh Rajang Lebong. Tetapi tangan Pangkas Caling cepat-cepat menyentak ke depan dan menghembuslah angin badai kecil yang berkecepatan tinggi.

Wuuussss...!

Cahaya hijau yang memercik-mercik itu menyingkir arah dan terhempas badai dari tangan Pangkas Caling. Sinar itu menghantam gugusan batu. Praak...! Gugusan batu hancur menjadi butiran-butiran sebesar biji pepaya. Seperti biasa, jika terjadi pertarungan, Pendeta Jantung Dewa menyingkir lebih dulu. Seakan memberikan kesempatan kepada kakaknya untuk menangani lawan mereka dan mempercayakan perlawanan kepada sang kakak. Pendeta Jantung Dewa diam di bawah pohon dengan tenang, memperhatikan kakaknya menghadapi kedua utusan Lumpur Maut itu.

"Kalian memang pendeta yang bodoh! Kalian pikir usia kalian masih mampu melampau batas dua tahun lagi? Tidak! Usia kalian tinggal sejengkal. Untuk apa kalian paksakan diri melawan kami? Lebih baik kalian katakan di mana pedang itu daripada kami percepat kematian kalian berdua!" kata Rajang Lebong.

"Jangan banyak bicara! Buktikan saja kemampuanmu."

"Keparat! Benar-benar orang tua tak bisa diberi ampun kau! Heaaah..!"

Rajang Lebong segera melompat sambil cabut golok lengkungnya. Wees...! Golok ditebaskan ke wajah Pendeta Mata Lima. Tapi orang yang mau ditebas wajahnya lompat mundur satu kali. Suuut...! Jauhnya bisa empat langkah. Lalu dari mata kirinya melesat sinar biru lima larik kecil-kecil seperti benang.

Slaaap...! Jraab...!

Lima sinar itu menghantam tubuh Rajang Lebong. Melesatnya lima sinar biru adalah sesuatu yang sangat tidak diduga-duga, sehingga Rajang Lebong sempat terkejut. Namun belum selesai rasa kagetnya ia sudah harus terjungkal ke belakang dan jatuh di depan kaki Pangkas Caling.

Bruuuhk...!

"Uuhhgg...! Rajang Lebong mengerang. Matanya yang lebar mendelik. Tubuhnya menjadi merah matang. Demikian pula wajahnya. Alisnya lenyap terbakar, demikian pula rambut belakangnya. Tinggal sisa bagian belakang, itu pun menjadi keriting bagai disambar petir. Tubuh itu mengejang sesaat, untuk kemudian terkulai lemas dengan napas terhempas. Tapi selanjutnya Rajang Lebong bagai orang malas bernapas karena nyawanya melayang meninggalkan raga.

"Bangsat kau, Mata Lima!" geram Pangkas Caling dengan mata melebar penuh amukan dendam. Sebelum ia lakukan serangan balasan, lebih dulu mayat Rajang Lebong itu diludahi satu kali. "Cuih...!"

Plok! Ludah menempel di wajah mayat. Segera Pangkas Caling melompat tak seberapa jauh. Maju ke depan dengan kedua tangan yang saling merapat segera disentakkan membuka ke kanan-kiri.

"Heaah...!"

Dari dada kurus Pangkas Caling melesat sinar lebar warna merah terang. Sinar itu menyembur ke arah Pendeta Mata Lima sampai merangkup ke tempat berdirinya Pendeta Jantung Dewa. Plaaass...!

Seketika itu pula dua pendeta lepaskan jurus pukulan yang sama tanpa berunding lebih dulu. Tangan kiri mereka terangkat ke atas dan tangan kanan mereka menghentak ke kiri bagaikan mendorong sesuatu dari kanan ke kiri.

Wuuut...!

Secara bersamaan pula dari lengan kanan mereka melesat sinar lebar pula berwarna hijau bening. Wuuus...! Kedua sinar hijau bening itu menghantam sinar merahnya Pangkas Caling, dan akibatnya sungguh dahsyat. Kedua sinar itu pecah dan timbulkan ledakan besar.

Bleeng...!

Gemanya memenuhi hutan lereng bukit. Tanah yang dipijak mereka berguncang. Bukit itu bagaikan gunung yang akan meletus. Lebih dari lima pohon tumbang. Batu-batu yang ada di atas berhamburan bergulir saling kejar-kejaran. Gemuruh suara yang timbul bagaikan suara langit mau roboh. Angin datang, berhembus menyerupai badai. Awan di angkasa yang semula terang menjadi gelap. Menggumpal hitam dan bergulung- gulung. Karena benturan dua jenis sinar itu tadi menyebarkan asap hitam yang membumbung tinggi bagaikan mendung tanpa petir.

Tubuh Pangkas Caling tak kelihatan setelah terjadi kilatan cahaya terang warna ungu akibat benturan tadi. Tubuh kedua pendeta itu terjungkal lima langkah dari jarak tempat berdiri mereka tadi. Hidung mereka sama-sama keluarkan darah, dan wajah mereka sama-sama menjadi pucat. Mereka sendiri tak sangka kalau akan terjadi ledakan sedahsyat itu.

"Jantung Dewa, apakah kita masih hidup atau sudah di nirwana?"

"Kukira kita masih ada di bumi, Mata Lima," jawab Pendeta Jantung Dewa dengan suara berat dan napas sesak.

Getaran bumi terhenti, angin membadai hilang. Gemuruh bebatuan yang longsor bersama tanahnya pun tinggal sisanya. Kedua pendeta itu sudah tegak berdiri walau sesak napasnya belum teratasi. Tapi pandangan mata para orang tua itu sudah cukup terang untuk memandang alam sekitarnya.

Pada waktu itu, keadaan Rajang Lebong yang sudah mati ternyata bisa bernapas dan bangkit lagi. Sebab sebelum Pangkas Caling menyerang, terlebih dulu meludahi wajah Rajang Lebong. Tetapi ia menjadi bingung melihat keadaan sekeliling yang rusak bagai dilanda kiamat setempat. Lebih bingung lagi ia mencari- cari di mana Pangkas Caling berada.

Bagi kedua pendeta tua itu, kebangkitan Raja Lebong dari kematian bukan sesuatu yang aneh. Sebab mereka berdua sudah mengetahui kekuatan ilmu mereka. Tapi bagi sepasang mata yang mengintai dari kejauhan dan ikut terkena percikan tanah saat terjadi ledakan dahsyat tadi, sungguh heran melihat Rajang Lebong bangkit kembali.

"Pangkas Caling...!" seru Rajang Lebong dengan terbungkuk-bungkuk karena masih sempoyongan. "Pangkas Caling, di mana kau?!"

"Di sini...!" seru sebuah suara dari arah timur. Bukan hanya Rajang Lebong yang berpaling ke timur, melainkan kedua pendeta dan sepasang mata pengintai itu juga memandang ke arah timur.

Rajang Lebong kaget melihat keadaan Pangkas Caling yang hanya kelihatan kepalanya saja, sekujur tubuhnya terkubur tanah longsor. Kepala itu berwajah kotor penuh tanah, nyaris tak dapat dikenali sebagai kepala manusia, karena mirip dengan kelapa kering yang terkelupas sabutnya secara acak-acakan.

"Maling kuntet!" geram Rajang Lebong. "Kenapa kau diam saja di situ?! Lekas bangun! Lawan kita masih tegar!" sambil Rajang Lebong bergegas menghampiri Pangkas Caling. Begitu ia mendekat, Pangkas Caling yang jengkel karena dikecam itu segera meludah.

Cuih...! Plok!

"Monyet!" sentak Rajang Lebong memaki sambil mengusap wajahnya yang kena ludah lagi itu. "Aku sudah hidup. Tak perlu kau ludahi lagi!"

"Aku tahu! Tapi kau jangan mengecamku! Cepat bantu aku keluar dari timbunan tanah longsor ini!" sentak Pangkas Caling. Matanya mau mendelik tapi buru-buru berkedip-kedip karena tanah di alisnya rontok dan masuk kemata.

Sementara Rajang Lebong membongkar timbunan tanah untuk keluarkan tubuh Pangkas Caling, di sisi lain Pendeta Mata Lima berkata kepada adiknya,

"Kita serang mereka saat begitu biar mati bersama. Jika mereka mati bersama maka tak ada yang bisa saling meludahi!"

"Tentu saja, sebab tak pernah ada mayat yang bisa saling meludahi. Tapi itu licik namanya. Beri kesempatan mereka bangkit dan berhadapan kembali dengan kita! Seandainya mereka harus mati bersama, biarlah mati secara ksatria, dan kita menang pun dengan hormat!"

Rajang Lebong menarik tubuh Pangkas Caling. Bruuus...! Tubuh itu terangkat ke atas dan berhasil keluar dari timbunan tanah. Tetapi keduanya sama-sama kaget, matanya memandang ke bawah. Ternyata kaki kiri Pangkas Caling terpotong sebatas lutut. Pangkas Caling menyeringai memandangi Rajang Lebong, antara menahan sakit, marah, dan sedih.

Rajang Lebong salah pengertian dan berkata, "Jangan tersenyum!"

"Matamu itu yang tersenyum!" makinya dengan kasar. "Lihat... kakiku ketinggalan di dalam sana!" Pangkas Caling ingin menangis.

Rajang Lebong bingung. "Mau diambil percuma juga, nyambungnya bagaimana?!" ucapnya pelan dan hati-hati.

"Balas! Buntungi kepala dua pendeta itu! Balas...!" teriaknya dengan marah bercampur sedih.

"Heaaat..!" Rajang Lebong berlari dengan geram kemarahan terpancing. Tab, tab, tab...! ia melompat dengan gerakan jungkir balik yang cepat. Jleeg! Tiba di depan kedua pendeta itu dengan napas terengah-engah. Golok lengkungnya ketinggalan di tempat timbunan tanah yang mengubur tubuh Pangkas Caling. Tapi hal itu tidak jadi masalah buat Rajang Lebong. Niatnya membalaskan kebuntungan kaki temannya sangat besar, sehingga dengan geram ia berkata,

"Sudah saatnya kaki dibalas kepala! Heaaat...!" Rajang Lebong keluarkan sinar dari kedua telapak tangan yang selesai digosokkan dan disentakkan ke depan. Sinar biru itu melesat terputus-putus bagaikan senjata yang dilepaskan dari tempatnya. Clap, clap, clap, clap...!

Duaaar! Blaar! Daaar..! Taar...! Blaar...!

Sinar biru itu terus-terusan keluar dari telapak tangan Rajang Lebong. Pemiliknya bersalto ke sana-sini, melompat kian kemari. Kedua pendeta itu dihujani sinar biru yang bagaikan peluru tanpa ada habisnya. Teriakan Rajang Lebong bagai orang kesurupan yang mengamuk ganas.

"Heaaat...! Hiaaah..! Heeeaaah..!"

Clap, clap, clap...! Gerakan memutari kedua pendeta membuat Rajang Lebong sulit diserang balik. Bahkan sinar biru yang berbenturan dengan sinar sinar dari kedua pendeta itu hanya hasilkan ledakan-ledakan yang tak mampu membuat tubuh Rajang Lebong terpental.

Jraab...! Dees...!

Dua sinar biru itu akhirnya berhasil kenai punggung Pendeta Jantung Dewa, dan mengenai pinggang Pendeta Mata Lima. Keduanya sama-sama jatuh dengan tubuh mengejang dan menjadi hitam. Tetapi agaknya Rajang Lebong belum puas. Lebih-lebih Pangkas Caling berseru dari tempatnya yang agak jauh,

"Hancurkan! Jadikan mereka debu dengan jurus 'Pasir Neraka'! Cepaaat...!"

Tetapi tiba-tiba sekelebat sinar hijau dari telapak tangan sang pengintai melesat lebih dulu sebelum Rajang Lebong lepaskan jurus 'Pasir Neraka' andalannya.

Zlaaap...! Sinar hijau yang dinamakan jurus 'Pecah Raga' itu tepat kedai dada Rajang Lebong. Deeub...!

Blaaarrr...!

Apa yang terjadi sungguh tak diduga-duga oleh Pangkas Caling. Tubuh Rajang Lebong hancur. Pecah menjadi serpihan-serpihan daging dan tulang yang menyebar ke mana-mana. Bahkan darahnya sendiri tak bisa terkumpulkan. Ada yang membasahi batu, pohon, daun, ilalang, dan ke mana saja tak jelas bentuknya, hanya warna merah yang membuat alam sekitarnya bagai berbunga indah. Sedangkan Pangkas Caling gemetar antara takut dan memendam murka, ia sempat berkata pada dirinya sendiri,

"Kalau begini matinya, bagaimana aku bisa meludahi Rajang Lebong? Apanya yang harus kuludahi?! Celaka! Ada orang yang membantu kedua pendeta itu! Ilmunya pasti lebih tinggi! Sebaiknya aku harus lekas-lekas kabur saja!"

Pangkas Caling larikan diri dengan satu kaki. Sedikit lambat, tapi termasuk cepat bagi orang awam. Sentakan kakinya mengayunkan tubuh dengan ringan bagaikan terbang. Wuus...! Wuuuus...! Wuuus...! Dalam beberapa waktu saja ia sudah tidak kelihatan.

Sang pengintai segera muncul. Gerakannya sangat cepat. Zlaaap...! Tahu-tahu ia sudah berada di samping dua pendeta yang masih sekarat dalam keadaan tubuh hangus tapi pakaian tidak terbakar sedikit pun. Pengintai itu tak lain adalah Pendekar Mabuk, Suto Sinting, yang bertujuan menemui Sabani, kakak Angon Luwak melalui bukit itu seperti perjalanan saat menuju Lembah Sunyi.

"Agaknya masih bisa kutolong. Mereka masih punya napas!" kemudian Suto Sinting segera meminumkan tuaknya ke mulut kedua pendeta itu dengan sedikit susah payah karena kedua pendeta itu bergigi rapat, menggigit kuat menahan rasa sakit yang luar biasa.

Setelah keduanya berhasil diminumi tuak, beberapa saat kemudian kulit yang hangus terbakar itu mulai pudar, kian lama kian kembali ke warna aslinya. Napas mereka pun mulai teratur. Tapi badan mereka masih lemah. Mereka didudukkan oleh Suto Sinting.

Kedua pendeta itu terkejut setelah menyadari orang yang menolongnya adalah Suto Sinting, yaitu orang yang sedang dikejar-kejar untuk didesak agar memberitahukan letak benda pusaka itu. Mereka jadi tertegun beberapa saat memandangi Pendekar Mabuk. Hati mereka gundah karena bingung harus bersikap bagaimana terhadap Suto Sinting.

Akhirnya Pendeta Jantung Dewa berkata, "Terima kasih atas pertolonganmu. Sempat kulihat sinar hijaumu kenai dada Rajang Lebong dan pecahlah raga orang itu. Tapi ketahuilah, ini sebuah kesempatan emas bagi Raja Tumbal untuk menyerang biara kami dengan alasan pembalasan terhadap kematian Rajang Lebong!"

"Jangan takut, saya akan membantu memperkuat biara!" kata Suto Sinting.

"Apakah kau akan serang Raja Tumbal dengan pedang pusaka itu?"

"Ya. Tapi aku harus cari pedang itu dulu. Eyang! Aku tahu siapa yang membawa pedang itu. Dan aku tak sadar kalau aku telah melihat pedang pusaka itu!"

Pendeta Mata Lima berusaha bangkit dengan pelan-pelan. Ia berhasil berdiri tegak setelah dibantu oleh Suto Sinting. "Sebaiknya katakan pada kami siapa yang membawa pedang itu!" kata Pendeta Mata Lima. "Jangan bikin persoalan lagi dengan kami, Suto Sinting."

Suto Sinting tarik napas menahan rasa jengkel. Pendeta Jantung Dewa pun bangkit berdiri dan berkata kepada kakaknya, "Dia sudah selamatkan jiwa kita! Mengapa kau masih mendesaknya dengan cara seperti itu, Mata Lima?!"

"Karena kita butuh pedang itu!"

"Serahkan saja semuanya pada Pendekar Mabuk, tentunya dia tidak akan tinggal diam melihat orang sesat ingin hancurkan kita!"

"Bagaimana kalau dia ingkar janji setelah dapatkan pedang itu?"

"Kalau dia mau ingkar janji, dia tidak akan mau tolong kita saat ini!"

Akhirnya sang kakak mengalah dan tarik napas dalam-dalam. "Baiklah, kuserahkan kepadamu tentang keganasan Raja Tumbal itu!" katanya kepada Suto. "Tetapi izinkan kami membantumu mencari pedang itu, supaya jika kau temui kesulitan kami bisa membantu."

"Eyang berdua sebaiknya beristirahat saja. Biar aku yang mencarinya!" Suto tetap bicara dengan ramah.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan bernada mengejek. Plok, plok, plok, plok, plok, plok...! Lalu sesosok tubuh muncul dari balik pohon yang tumbuh miring dan hampir roboh akibat amukan badai tadi. Kedua pendeta itu dan Suto Sinting segera memandang kemunculan tokoh sakti yang sudah mereka kenal sebelumnya. Mereka sedikit terkejut karena ternyata tokoh itu hadir pula di bukit tersebut, seakan ingin ikut campur urusan Suto dan dua pendeta.

* * *

DELAPAN
TOKOH yang baru muncul itu berpakaian serba merah, sabuknya hitam. Di sabuknya itu terselip kipas putih. Rambutnya putih, sedikit ikal. Ia mengenakan ikat kepala warna hitam. Kumis dan jenggotnya tak begitu banyak, tapi berwarna putih rata. Usianya sekitar tujuh puluh tahun. Kulitnya agak hitam dengan badan sedikit gemuk. Ketika berjalan mendekati Suto dan dua pendeta itu, kepalanya terkulai miring, matanya terpejam. Tak ada gambaran apa pun di wajahnya itu, sebab ia dalam keadaan sedang tidur.

Siapa lagi yang bisa tidur sambil lompat sana-sini kalau bukan Ki Gendeng Sekarat, bekas pelayannya si Gila Tuak. Pendeta Jantung Dewa dan kakaknya tidak heran melihat Ki Gendeng Sekarat berjalan dalam keadaan tidur, sebab mereka sudah lama mengetahui ketinggian ilmu Ki Gendeng Sekarat.

"Apa maksudmu bertepuk tangan, Gendeng Sekarat?" tegur Pendeta Mata Lima.

Dengan suara parau karena dalam keadaan tidur, Ki Gendeng Sekarat menjawab, "Aku memuji kehebatan Gusti Manggala-ku ini!" seraya tangannya menuding Suto dengan lemas. "Masih muda, tapi justru akan menjadi pelindung kalian yang sudah tua dan berilmu tinggi!"

"Jaga bicaramu agar jangan menyinggung perasaanku, Gendeng Sekarat!" hardik Pendeta Mata Lima.

Ki Gendeng Sekarat tertawa pendek, seperti orang mengigau, ia menepuk pundak Suto dan berkata, "Pendeta yang satu ini memang cepat panas hati dan mudah tersinggung!"

"Ki Gendeng Sekarat, apa maksud Ki Gendeng Sekarat datang menemuiku di sini? Apakah ada utusan dari Puri Gerbang Surgawi?"

Mendengar nama Puri Gerbang Surgawi disebutkan, kedua pendeta itu tetap tenang. Sebab mereka tahu, bahwa Suto Sinting adalah orang Puri Gerbang Surgawi. Noda merah di kening Suto sudah dilihat sejak awal jumpa. Semestinya mereka merasa sungkan, karena mereka tahu siapa penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi baik yang di alam gaib maupun yang di alam nyata, yaitu di Pulau Serindu. Tapi karena terpaksa sekali, demi pedang pusaka itu, maka kedua pendeta tersebut melupakan tentang siapa Suto sebenarnya.

Ki Gendeng Sekarat menjawab pertanyaan Suto tadi, "Aku datang bukan karena tugas dari calon istrimu; Dyah Sariningrum. Aku datang karena aku dengar ribut-ribut tentang Pedang Kayu Petir yang sudah puluhan tahun dianggap lenyap tak berbekas itu. Tentunya kepergianku atas seizin Ratu Gusti Mahkota Sejati, ya calon istrimu itu."

Pendeta Mata Lima berkata, "Apakah kau juga ingin memiliki pedang pusaka itu, Gendeng Sekarat?"

"Pedang itu milik Resi Wulung Gading," jawab Ki Gendeng Sekarat sambil bersandar di pohon samping Suto supaya tidurnya enak. Tapi ia tetap bicara walau masih tertidur. "Untuk apa aku memiliki pusaka yang bukan hak ku? Kalau aku punya keperluan dengan pusaka itu, lebih baik aku meminta izin kepada yang memilikinya, dan meminjam dengan kerelaan hati si pemilik. Tidak dengan mencari dan merebut sendiri pedang itu!".

Pendeta Jantung Dewa yang kalem itu menatap kakaknya. Mereka tahu sedang disindir. Tapi mereka memang mengakui kesalahan langkah mereka, sehingga Pendeta Mata Lima hanya tarik napas memendam penyesalan.

Ki Gendeng Sekarat sedikit melorot sandarannya. Dengkurnya terdengar pelan sekali. Sepertinya ia tak ingin bicara lagi dan lelap dalam mimpi. Namun ketika Suto Sinting buka mulut untuk ucapkan kata, Ki Gendeng Sekarat buru-buru berkata,

"Wulung Gading adalah temanku. Aku tahu persis bahwa pusaka itu adalah pusaka leluhurnya. Gunanya untuk membantai keangkaramurkaan yang sulit dimusnahkan. Wulung Gading persiapkan pedang itu untuk melawan Siluman Tujuh Nyawa. Tapi pedang itu tahu-tahu lenyap secara gaib, dan sejak itu kami pun tak mau membicarakannya lagi."

Ki Gendeng Sekarat makin melorot, akhirnya duduk di rumput dan bersandar santai dengan kaki melonjor kepala kian miring ke kiri, sedikit agak ke depan. Dengkurnya terdengar lirih sekali.

"Tapi...," Suto mau bicara dipotong lagi oleh suara Ki Gendeng Sekarat,

"Tapi sekarang kudengar pedang maha sakti itu muncul lagi. Entah siapa yang menemukannya, yang jelas kemunculan pedang itu punya makna sendiri bagi kehidupan orang banyak. Bukan bagi kepentingan pribadi."

"Sejak tadi kau menyindir kami terus!" sambar Pendeta Mata Lima. "Apa maksudmu sebenarnya, Gendeng Sekarat?!"

"Maksudku, mengingatkan kalian. Yah, namanya saja sudah pada tua-tua begitu, maklum kalau lupa dan kami yang muda perlu mengingatkan," jawabnya dengan nada seenaknya walau masih bersuara parau. "Kalau kalian ingin menggunakan pedang itu, pinjamlah kepada Wulung Gading. Minta izin dulu kepada pemiliknya! Setidaknya jika memang kalian berhasil menumbangkan lawan dengan pedang itu, tidak akan timbul salah pengertian di pihak Wulung Gading!"

"Saranmu itu memang benar," kata Pendeta Jantung Dewa. "Kami salah langkah karena keadaan panik. Tapi kami akan segera ke Lembah Sunyi sekarang juga untuk bicara dengan Wulung Gading!"

Kemudian Pendeta Jantung Dewa bicara kepada kakaknya, "Kita berangkat sekarang saja. Biarkan masalah pencarian pedang itu kita percayakan kepada Pendekar Mabuk!"

"Dan urusan kita dengan Raja Tumbal?"

"Kutangani secepatnya, Eyang!" sahut Suto Sinting.

"Baiklah!" akhirnya Pendeta Mata Lima menyetujui rencana adiknya. Mereka pun segera pergi setelah Suto berkata,

"Begitu pedang itu kudapatkan, sudah tentu kuberikan dulu kepada Resi Wulung Gading. Atas seizin beliau aku berani gunakan pedang itu!"

"Semoga kita bertemu di Lembah Sunyi, Anak Muda!" kata Pendeta Jantung Dewa.

Setelah kedua pendeta itu pergi, Suto berkata kepada Ki Gendeng Sekarat, "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Ki. Sangat rahasia sekali. Karena itu, aku butuh tempat aman yang tak tersadap oleh telinga siapa saja."

"Mudah saja, Gusti Manggala!" kata Ki Gendeng Sekarat dengan sebutan terhormat kepada Suto, karena kedudukan Suto lebih tinggi darinya jika mereka berada di negeri Puri Gerbang Surgawi.

Ki Gendeng Sekarat segera keraskan dua jari tangannya. Dua jari tangan itu disentakkan ke langit. Wuuut...! Melesatlah sinar hijau memercik-mercik seperti kumpulan kembang api. Sinar itu melesat di udara tak seberapa tinggi, hanya sekitar lima jengkal dari kepala mereka. Sinar itu memecah, menjadi lebar dan akhirnya bergerak turun dalam bentuk kabut putih. Wuuuss...! Kabut itu membungkus sekeliling mereka berdua. Kejap berikut kabut itu lenyap. Kedua tubuh mereka pun lenyap. Tak terlihat oleh mata siapapun.

"Kita lenyap dari pandang mata siapa pun, Gusti Manggala. Suara kita pun tak akan didengar oleh siapa pun walau orang itu berilmu tinggi."

Suto memandangi alam sekeliling dengan kagum, sebab dalam pandangannya alam sekeliling bercahaya hijau semua. Mulut Suto pun menggumam heran. "Luar biasa! Hebat sekali! Ilmu apa namanya, Ki?"

"Namanya ilmu... jurus 'Surya Kasmaran'."

"Aneh sekali namanya itu?"

"Jurus ini untuk menutupi kita jika sewaktu-waktu kita ingin bermesraan dengan kekasih."

Gelak tawa Suto terlepas tak terlalu panjang. "Agaknya jurus ini adalah jurus baru. Aku baru sekarang tahu kau memiliki ilmu ini, Ki!"

"Memang jurus baru! Calon istrimu itulah yang menghadiahkan jurus ini padaku sebagai hadiah kesetiaanku yang menjadi penghubung antara kau dan dia!"

"Menakjubkan sekali! Aku akan minta jurus ini darinya jika aku pulang nanti."

"Itu urusan nanti. Sekarang bicaralah dulu hal yang ingin kau bicarakan!"

"Soal Pedang Kayu Petir itu, Ki!"

"Apa yang ingin kau ketahui? Kesaktiannya?"

"Ya. Pertama-tama aku ingin tahu sejelas-jelasnya tentang kesaktian Pedang Kayu Petir itu."

Ki Gendeng Sekarat menguap setelah tubuhnya bagaikan tersentak kaget, ia juga menggeliat dengan tangan direntangkan. Satu tangan yang merentang keatas nyaris kenai pipi Suto kalau Suto tak segera undurkan kepala.

"Hati-hati, Ki...!"

"Lain kali kalau ada orang menggeliat jangan disampingnya!" gerutunya. Ki Gendeng Sekarat mengusap wajahnya. Tampaknya ia telah selesai tidur dan puas menikmati kenyenyakannya. Pandangan matanya terasa segar. Tapi segera berkerut dahi. "Lho... kok semuanya serba hijau?"

"Kau yang bikin semuanya jadi hijau dengan jurus barumu itu!"

"O, iya!" ia manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala. "Hmm... kau tanya apa tadi? Oh, kesaktian pedang itu?!"

"Benar, Ki. Aku ingin tahu semuanya yang ada pada pedang itu."

"Pedang itu sebenarnya roh dari Eyang Agung Ciptamangkurat!"

"Siapa itu Eyang Agung Ciptamangkurat?"

"Kakeknya... hmmm... kakeknya manusia tanpa pusar yang menjelma menjadi pohon bambu dan bambu itu menjadi bumbung tuakmu yang sekarang. Aku tak berani sebutkan namanya, karena jika namanya kusebutkan akan terjadi hujan badai dan hujan petir!"

Pendekar Mabuk manggut-manggut, ia mengerti maksud Ki Gendeng Sekarat, bahwa Pedang Kayu Petir adalah jelmaan kakeknya Wijayasura, manusia tanpa pusar, guru dari Purbapati dan Nini Galih, kakek gurunya si Gila Tuak. Padahal Suto sendiri adalah bocah tanpa pusar juga, sehingga seluruh ilmu Wijayasura mengalir dengan sendirinya ke tubuh Suto walau melalui si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Nama Wijayasura memang tak boleh disebut sembarangan karena bisa datangkan hujan petir dan badai, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pedang Guntur Biru, Bocah Tanpa Pusar, dan Pusaka Tombak Maut)

"Terus letak keampuhannya, Ki?"

"Orang sesakti apa pun bisa dilukai oleh pedang itu. Sebab siapa pun orangnya, jika melihat pedang itu, maka seluruh kesaktiannya lenyap seketika dan menjadi orang polos tanpa ilmu secuil pun. Tapi jika ia jauh dari pedang itu dan tidak melihatnya, maka kesaktian orang tersebut muncul kembali seperti sediakala."

Suto kembali manggut-manggut, lalu terbayang saat ia melihat Angon Luwak bermain pedang-pedangan bersama Saladin dan teman-teman lainnya. Saat itu, Suto ingin menolong Saladin yang terluka, tapi gerakannya menjadi lamban, ia tak bisa gunakan gerak siluman, bahkan untuk bersalto pun tak mampu, malah jatuh tersungkur memalukan. Rupanya saat itu ilmu Suto hilang seketika karena melihat Pedang Kayu Petir. Buktinya setelah Angon Luwak lari ketakutan karena menyangka dirinya telah membunuh Saladin, Suto mampu lakukan gerakan bersalto dan gerak silumannya pun bisa digunakan kembali sebagai mana mestinya.

Ki Gendeng Sekarat berkata lagi, "Menurut cerita Wulung Gading, pedang itu jika digoreskan ke kulit tubuh manusia, maka lukanya akan menyala hijau pendar-pendar, si korban kejang-kejang, tubuhnya menjadi hijau berpijar-pijar, sesaat kemudian sinar itu lenyap bersama hilangnya nyawa korban."

"Persis," gumam Suto sambil membayangkan keadaan Saladin.

"Jika pedang itu disentakkan ke langit, keluar puluhan petir berpencar ke segala arah dari ujung pedang. Langit menjadi merah menggelegar bagaikan mau pecah. Jika dilangit ada bulan dan pedang itu disentakkan ke arah rembulan, maka rembulan akan menjadi semerah saga. Jika disentakkan ke arah matahari, maka matahari akan redupkan sinarnya dan tampak merah sehari penuh."

"Luar biasa...?!" Suto penuh kekaguman dalam decaknya.

"Pedang itu dari kayu biasa. Sepertinya kayu rapuh. Tapi itulah kayu petir. Tanaman kayu petir sudah tidak tumbuh lagi dimasa sekarang. Sekalipun dari kayu, tapi pedang itu tak bisa patah. Pedang itu sangat enteng, baunya wangi cendana campur pandan. Bisa untuk memotong baja setebal apa pun. Jika ditebangkan pada satu pohon, maka dua-tiga pohon dikanan-kirinya ikut terpotong dengan sendirinya. Pedang itu tanpa sarung pedang. Konon, para leluhur Wulung Gading membungkusnya dengan sarung pedang dari kain biasa."

"Pantas para tokoh di rimba persilatan menginginkan pedang itu?!" kata Suto bagai bicara sendiri.

"Satu lagi keistimewaan pedang itu, jika ditusukkan keluar sinar ungu dari ujungnya. Sinar itu bisa menembus empat atau lima pohon sekaligus! Jadi kalau ditusukkan ke tubuh lawan harus hati-hati. Bisa-bisa mengenai teman sendiri yang kebetulan ada dalam satu arah tusukan dengan lawan."

Gumam lirih Suto memanjang dengan kepala manggut-manggut. Kini kelihatannya Ki Gendeng Sekarat mulai memperhatikan segala sikap Suto yang tadi terjadi saat ia menceritakan kehebatan pedang maha sakti itu. Ki Gendeng Sekarat bertanya pada pemuda tanpa pusar itu, "Tadi kudengar kau mengatakan 'persis', maksudnya persis bagaimana?"

"Aku melihat pedang itu ada di tangan muridmu."

Ki Gendeng Sekarat kerutkan dahi, pandangi Suto penuh curiga dan keheranan. "Aku tak punya murid. Semua muridku sudah mati ketika Pulau Mayat diobrak-abrik oleh Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa!"

Suto tersenyum. "Kau mempunyai murid baru yang hanya mempunyai satu ilmu, yaitu ilmu 'Genggam Buana'. Apakah kau sudah tak ingat lagi?"

Segera raut wajah Ki Gendeng Sekarat berubah tegang. "Maksudmu... maksudmu pedang itu ada di tangan Angon Luwak, bocah penggembala kambing itu?"

"Benar!" lalu Suto Sinting pun ceritakan kembali tentang apa yang dilihatnya saat Angon Luwak bermain perang-perangan dengan Saladin dan yang lainnya. Ki Gendeng Sekarat jadi terbengong-bengong dengan mulut melompong. Dalam hatinya timbul kesangsian antara percaya dan tidak. Tapi Suto Sinting mencoba meyakinkan Ki Gendeng Sekarat, sehingga orang bermata agak sipit karena kebanyakan tidur itu berkata,

"Kalau begitu Angon Luwak pasti dalam bahaya. Sebab pada umumnya, para tokoh tua mengenali ciri-ciri pedang tersebut. Pasti mereka berusaha merebutnya dari Angon Luwak."

"Justru aku sampai di sini karena sedang mencari Angon Luwak!"

"Kalau benar begitu," kata Ki Gendeng Sekarat serius sekali. "Aku akan menarik bocah itu agar datang kemari."

"Caranya bagaimana, Ki?"

"Menarik ilmu 'Genggam Buana' yang ada padanya. Kekuatan batinku masih tetap bertalian dengan ilmu 'Genggam Buana'. Jika kekuatan batinku menariknya, maka bocah itu akan melangkah sendiri kemari tanpa disadarinya!"

"Bagus!" Suto menyambar dengan cepat dan penuh semangat. "Lakukan sekarang juga, Ki!"

"Tapi kita harus keluar dulu dari lapisan jurus 'Surya Kasmaran' ini!"

Suto hanya angkat bahu pertanda tidak keberatan. Ki Gendeng Sekarat sentakkan dua jarinya ke langit. Jari itu menjadi merah memercik-mercik seperti bunga api. Sinar merah yang mengumpul itu naik lima jengkal di atas kepala mereka, kemudian turun berbentuk asap yang menyebar membungkus diri mereka. Asap lenyap dan mereka berdua dalam keadaan wujud kembali, bisa dilihat dan didengar orang lain. Pandangan mata Suto pun sudah tidak serba hijau lagi. Seperti biasa saja. Itu pertanda mereka sudah keluar dari pengaruh jurus 'Surya Kasmaran' yang dikagumi Suto Sinting.

"Aku akan lakukan semadi beberapa saat," kata Ki Gendeng Sekarat. "Tolong jaga aku, jangan sampai ada yang mengganggu keheningan batinku!"

"Ada baiknya kalau kita di bawah pohon sana, Ki. Letaknya lebih tersembunyi!" kata Suto sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

"Baik. Kita ke sana!"

Di bawah pohon yang tak menjadi korban angin badai pertarungan tadi, Ki Gendeng Sekarat bersila di rerumputan. Kedua tangannya siap-siap untuk saling merapat di dada. Namun baru saja tangan digerakkan, Suto Sinting segera terkejut memandang ke arah lereng bukit lebih tinggi lagi.

"Tunggu, Ki! Bukankah bocah yang berlari-lari itu Angon Luwak?!"

Ki Gendeng Sekarat cepat berdiri. Matanya sedikit mengecil. Pandangannya tertuju ke arah lereng di mana seorang bocah sedang berlari menuruni bukit. "Benar! itu dia anaknya!"

Suto tampak ceria. Bahkan tak sadar menepuk-nepuk pundak Ki Gendeng Sekarat sambil berkata, "Hebat sekali ilmumu, Ki. Baru duduk bersila saja sudah bisa panggil anak itu!"

"Ini hanya kebetulan saja! Aku belum memulai semadiku!" Ki Gendeng Sekarat bersungut-sungut.

"Hei, lihat...! Ternyata dia dikejar seseorang, Ki!" kata Suto tegang.

"Ya. Ada yang mengejarnya. Bukan seseorang, tapi... lihat di seberang sana, ada yang ingin menghadang Angon Luwak."

"Hmmm... benar! Satu, dua, tiga... empat! Sepertinya empat orang yang mengejarnya, Ki!"

"Kurang ajar! Tak kuizinkan siapa pun menyentuh muridku itu!" Ki Gendeng Sekarat bergegas pergi untuk menolong Angon Luwak, tapi tangannya segera dicekal oleh Suto Sinting.

"Tunggu sebentar! Kau lindungi bocah itu, aku akan hadapi mereka!"

"Baik! Kita bergerak sekarang!"

Suto Sinting segera berlari sambil berseru, "Luwak...! Angon Luwak...!"

Bocah itu berhenti, memandang ke arah Suto, lalu berseru sambil berlari ke arah Suto Sinting. "Kaaang...! Tolong, Kang...! Guruuu...!"

Wuuut...! Ki Gendeng Sekarat berkelebat cepat, lalu menyambar bocah itu. Wuus...! Dibawanya salto bocah itu dan mereka telah tiba di bawah pohon yang mau dipakai untuk bersemadi tadi.

Sementara itu, Suto Sinting berdiri tegak, menenggak tuak sebentar, lalu siap hadapi empat orang pengejar itu. Dilihat dari penampilannya yang berwajah dingin, mereka jelas tokoh sakti dari berbagai penjuru. Dilihat dari ketuaan usianya, mereka tentunya para guru dari beberapa perguruan.

* * *

SEMBILAN
JUBAH hitam berambut putih panjang terurai sebatas punggung adalah tokoh sakti dari Nusa Garong. Biar badannya kurus, wajahnya bengis, matanya cekung, tapi kesaktiannya tak diragukan lagi. Ia dikenal sebagai ketua perguruan aliran hitam, yaitu Perguruan Lumbung Darah. Namanya cukup dikenal di kalangan aliran sesat sebagai Tengkorak Liar.

Anak buahnya pernah berhadapan dengan Suto Sinting ketika Suto selamatkan Sabani, kakak Angon Luwak dalam peristiwa Keris Setan Kobra. Orang kurus bersenjata cambuk pendek warna merah itu berdiri tepat berhadapan dengan Suto. Usianya diperkirakan sama dengan orang yang berpakaian serba hijau, sampai ikat kepalanya juga hijau, sabuknya hijau, gagang rencongnya hijau dan pakaian dalamnya hijau lebih tua dari jubah lengan panjangnya. Orang itu dikenal dengan nama Tongkang Lumut, dari Perguruan Tambak Wesi. Dalam usia sekitar delapan puluh tahun ke atas ia masih mempunyai mata tajam dan rambut serta kumisnya abu-abu. Badannya masih tegap, walau tak seberapa gemuk.

Orang ketiga adalah seorang perempuan tua berusia sekitar sembilan puluh tahun, sedikit bungkuk, peot, keriput. Rambutnya putih rata. Jubahnya biru tua dengan pakaian dalam hitam. Membawa tongkat yang ujungnya berbentuk kepala bayi. Dia penguasa Teluk Dukun, yang menghasilkan banyak dukun santet kelas berat. Namanya dikenal di rimba persilatan sebagai tokoh sesat berjuluk si Tongkat Bayi.

Sedangkan orang keempat seusia dengan Ki Gendeng Sekarat. Termasuk lelaki berbadan tegap walau tak berarti gemuk. Berambut abu-abu dibungkus kain merah. Pakaiannya coklat muda, tapi jubahnya hijau tua. Tenang, tapi dingin. Konon ia penguasa Hutan Cadas berjuluk Beruang Tebing.

"Kalau tak salah penglihatanku," kata si Tongkat Bayi, "Kau adalah murid si Gila Tuak yang bergelar Pendekar Mabuk! Sebab kulihat ciri-ciri bumbung tuakmu itulah yang jadi pembicaraan para tokoh di rimba persilatan!"

"Benar. Aku adalah murid si Gila Tuak dan Bidadari Jalang!" jawab Suto dengan tegas.

Lalu suara tua si Tongkat Bayi terdengar lagi, "Namamu dan kesaktianmu memang sedang jadi bahan pembicaraan para tokoh. Tapi aku tak peduli. Kalau kau halangi niatku mengambil bocah itu, kucabut nyawamu sekarang juga."

"Bukan kuasamu mencabut nyawa orang, Tongkat Bayi! Jangan bicara semudah itu!" ujar Tongkat Lumut yang bernada sepelekan ilmu si Tongkat Bayi.

"Diam mulutmu, Lumut Jamban!" hardik sang nenek. "Kalau kau merasa bisa kalahkan dia, majulah sana! Hadapi dia, biar kuhadapi si Gendeng Sekarat yang mau ikut campur urusan orang itu!"

Ki Gendeng Sekarat hanya tersenyum kecil, ia memang sudah mengenal keempat tokoh itu. Dia pula yang menjelaskan satu persatu tentang keempat tokoh itu kepada Pendekar Mabuk, sementara Angon Luwak selalu ada tak jauh darinya. Tengkorak Liar juga sangat kenal dengan Ki Gendeng Sekarat karena beberapa tahun yang lalu pernah terlibat bentrokan antara perguruannya dengan murid-murid Ki Gendeng Sekarat yang kala itu belum dibantai habis Siluman Tujuh Nyawa. Karenanya, Tengkorak Liar berseru seenaknya kepada Ki Gendeng Sekarat,

"Gendeng Sekarat! Serahkan bocah itu padaku dan akan kulupakan kekalahanku waktu itu! Tak kan kutuntut nyawamu untuk gantikan kematian istriku!"

Dari bawah pohon berjarak delapan langkah di belakang Suto Sinting, Ki Gendeng Sekarat berseru, "Kalahkan dulu Pendekar Mabuk, baru ambil anak ini! Siapa yang mampu kalahkan dia, berarti berhak memiliki anak ini! Karena aku tahu kalian mengincar Pedang Kayu Petir yang dimiliki bocah ini!"

"Memang!" sahut Tongkat Lumut. "Bocah itu licin seperti belut. Tapi aku melihatnya sendiri ia membawa-bawa Pedang Kayu Petir yang sekarang disimpannya entah di mana! Jika memang kehendakmu begitu, akulah orang pertama yang akan tumbangkan Pendekar Mabuk ini! Apa susahnya menumbangkan bocah kemarin sore yang masih ingusan ini?!"

"Biar aku dulu yang maju melawannya," kata Beruang Tebing dengan tenang, tapi wajahnya, sorotan matanya, melebihi es kutub utara dinginnya.

"Tidak bisa! Aku dulu yang hadapi bocah kencur itu!" sentak Tengkorak Liar sambil maju dua langkah.

Ki Gendeng Sekarat berseru, "Begini saja! Siapa yang menang dialah musuh kalian yang harus kalian tumbangkan untuk dapatkan bocah ini!"

"Baik. Aku setuju!" seru Tongkat Bayi. "Siapa pun yang menang melawan murid Gila Tuak, dialah yang harus ditumbangkan oleh penantang berikutnya!"

Rupanya keempat tokoh itu sama-sama melihat Angon Luwak memegang Pedang Kayu Petir. Mereka diam-diam ingin menangkap anak itu, tapi ingat kekuatan pedang yang dapat lumpuhkan semua ilmu, maka dicari kesempatan yang baik, menunggu bocah itu simpan pedangnya lalu baru disergap. Mereka lakukan hal itu di luar rencana, bahkan saling tidak tahu. Mereka saling mengetahui setelah Angon Luwak dikejar-kejar oleh Tengkorak Liar, lalu Tongkang Lumut, Beruang Tebing, dan terakhir yang muncul ikut mengejar adalah si Tongkat Bayi. Sedangkan Angon Luwak hanya andalkan kelincahan berlarinya, sehingga mereka sulit menangkap hidup-hidup. Tentu saja mereka tak mau lepaskan pukulan karena takut membuat bocah itu mati dan tak bisa dikorek keterangannya tentang pedang itu.

Tapi rupanya nasib mujur masih mengikuti Angon Luwak. Para pengejarnya terpaksa berhadapan dengan Pendekar Mabuk yang selalu dibangga-banggakan itu. Lebih gembira lagi setelah Angon Luwak bertemu dengan gurunya, rasa aman bocah itu lebih besar lagi karena ia pun mengagumi ilmu silat Ki Gendeng Sekarat.

Orang pertama yang menghadapi Suto Sinting adalah Tongkang Lumut yang bersenjata rencong terselip di depan perutnya. Yang lain mundur, memberikan tempat untuk pertarungan maut itu. Tongkang Lumut mulai buka kuda-kudanya, tapi Suto Sinting malahan menenggak tuaknya dengan seenaknya saja. Ketenangan itu sengaja dipamerkan Suto untuk membuat ciut nyali lawannya, sekalipun hanya sedikit saja kedutan nyali itu dialami oleh lawan, tapi punya sisi menguntungkan bagi Suto Sinting.

Tongkang Lumut rendahkan kakinya. Kedua tangan terangkat, yang kanan ada di atas kepala dengan bergetar pertanda tenaga dalam mulai disalurkan pada tangan tersebut. Tangan kirinya menghadang di depan dada. Menggenggam keras dan kuat sekali.

Slaaap...! Tiba-tiba Tongkang Lumut bagai menghilang dari hadapan Suto. Tahu-tahu dia sudah berpindah tempat di belakang Suto dalam jarak satu jangkauan tangan. Tentu saja punggung Pendekar Mabuk dijadikan sasaran tangan yang sudah berasap itu.

Menyadari hal itu, Suto Sinting cepat robohkan badan. Dua tangannya menapak di tanah dalam keadaan rendah, dua kakinya masuk di sela-sela langkah lawannya. Lalu secepat kilat, kedua kaki itu merentang dalam satu sentakan kuat. Wuuut...!

Prak...!

Kedua kaki Suto Sinting yang jatuh mirip orang mabuk berat itu berhasil menendang kedua kaki Tongkang Lumut. Akibatnya kaki Tongkang Lumut sama-sama merenggang dengan sentakan kuat bagaikan dirobek ke kanan dan ke kiri.

"Auhh...!" Tongkang Lumut mendelik, langsung pegangi 'Jimat Lelakinya' yang terasa robek itu. Ia memang masih sempat berdiri setelah kedua kaki tersentak lebar-lebar ke samping kanan-kiri, tapi tak mampu bertahan lama. Karena Suto Sinting berguling cepat satu kali, dan kakinya menjejak ke atas dalam keadaan masih berbaring di rumput.

Wuuut...! Deegh...!

Dada Tongkang Lumut jadi sasaran tendangan kaki Suto yang bertenaga dalam tinggi itu. Akibatnya tubuh Tongkang Lumut terpental bagai dilemparkan badai. Wuuus...! Bruuk...! Ia jatuh di semak-semak. Jatuhnya tak membuat parah, tapi tendangan itu membuat dadanya bagaikan pecah. Napasnya seakan terhenti seketika. Namun toh ia masih berusaha untuk bangkit walau dengan satu lutut, lalu lepaskan pukulan dari telapak tangan kanannya.

Wuuut...! Slaaap...!

Sinar biru sebesar jempol kakinya melesat lurus ke arah Suto Sinting. Panjang sinar yang hanya satu depa itu ditangkis dengan bumbung tuak. Traak! Sinar itu berbalik arah dengan lebih lebih cepat dan lebih besar. Tentu saja si pemilik pukulan maut itu amat terkejut, ia segera menghindar dengan satu lompatan dengan lutut. Wuuut...! Tapi terlambat, karena saat itu sinarnya lebih cepat menghantam tulang rusuk kirinya.

Jraab...!

Tubuh Tongkang Lumut kepulkan asap. Kulitnya mulai bergerak-gerak mengelupas. Sekalipun demikian, Tongkang Lumut tak mau segera lari, melainkan berusaha berdiri dengan sempoyongan dan segera cabut rencongnya. Seet! Dengan terhuyung-huyung ia hampiri Suto Sinting yang berdiri tegak itu. Dalam jarak empat langkah rencong itu dikibaskan ke depan bagai merobek udara dari kanan ke kiri. Wuuut...!

Suto rasakan ada gelombang panas yang mampu mendidihkan baja berkelebat ke arahnya. Tanpa sinar dan tanpa wujud apa pun. Pendekar Mabuk cepat tanggap. Itu adalah gelombang hawa sakti yang lepas dari rencong tersebut. Maka dengan cepat Suto Sinting sentakkan kaki dan melesatlah tubuhnya keatas.

Wuuut...!

Gelombang hawa panas itu menerabas tempat kosong, hampir saja kenai Tongkat Bayi kalau saja nenek itu tak segera ikut lompat ke atas seperti Suto. Sementara itu, sebelum tubuh bergerak turun, Suto Sinting lepaskan pukulan dari atas yang dinamakan 'Pukulan Gegana'. Dua jarinya dikibaskan ke depan dan keluarkan sinar kuning patah-patah yang langsung menghantam bagian bawah pundak kiri lawan.

Zraaab...! Sinar patah-patah itu bagaikan masuk dalam satu titik, membuat tubuh lawan terdorong mundur satu tindak, tapi untuk kemudian diam tak bergerak. Matanya menatap tajam ke arah depan. Kulit tubuhnya mulai kian terkelupas dengan sendirinya. Rambut rontok semua, demikian pula rambut alis dan kumis abu-abunya. Pakaiannya pun ternyata cepat berubah menjadi abu keputih-putihan. Pada akhirnya, Tongkat Lumut tumbang dalam keadaan tubuh kering tanpa darah setetes pun.

Melihat Tongkang Lumut tumbang dan menjadi sekering itu, mirip kayu bakar, si Tongkang Bayi segera berseru dengan suaranya yang cempreng, "Aku lawanmu berikutnya, Anak Ingusan!"

Wuuut...! Si Tongkat Bayi maju bagaikan masuk dalam arena. Suto Sinting berbalik arah dan pandangi mata si Tongkat Bayi yang buram itu. Batin Suto berkata, "Tak tega aku melawannya. Terlalu tua untuk kutandingi. Tapi... apa boleh buat kalau memang ini pilihan yang tak bisa dibatalkan lagi!"

Tongkat Bayi menunggungikan kepala tongkatnya dan menghentakkan ke tanah. Duuhg...! Seketika itu tubuh Pendekar Mabuk bagaikan terlempar terbang. Sepertinya ada tenaga yang amat besar menyodok keluar dari dalam tanah dan melemparkan tubuh Pendekar Mabuk. Tubuh yang terlempar tinggi itu hampir-hampir kehilangan keseimbangan. Oleh si Tongkat Bayi kesempatan itu digunakan untuk melemparkan tongkatnya dengan sentakan tenaga dalam yang tinggi.

Wuuus...! Tongkat pun melayang dengan cepat seperti laju kecepatan anak panah. Hampir saja mengenai kepala Pendekar Mabuk jika bumbung tuak tidak segera berkelebat di depan wajah dan tongkat berkepala tengkorak bayi itu menghantam bumbung tuak tersebut.

Blaaar...!

Gelombang ledakan menghentak sangat kuat membuat tubuh Pendekar Mabuk sebelum sempat mendarat sudah terlempar lagi bagaikan terbuang ke arah belakang. Wuuus...!

Brrukk...!

Benturan tersebut bukan saja hasilkan gelombang ledakan tinggi, namun juga kerliapan cahaya merah yang lebar dan menyilaukan. Tongkat itu sendiri pecah dan terpotong-potong tidak beraturan. Pandangan mata Suto Sinting menjadi gelap bagaikan menemui kebutaan. Ketika ia jatuh terpuruk dan mencoba untuk bangkit, ia tak melihat apa-apa kecuali kegelapan yang pekat. Tetapi bumbung tuak masih ada di tangannya, talinya masih melilit di telapak tangan kanan, sehingga Suto Sinting buru-buru menenggak tuaknya dua teguk. Glek, glek...!

Maka dalam beberapa kejap saja pandangan matanya sudah kembali seperti semula. Kesesakan dadanya mulai lancar, dan rasa sakit pada sekujur tubuh serta tulang-tulangnya yang merasa patah telah pulih segar seperti semula. "Edan! Kekuatannya begitu tinggi. Hampir saja aku celaka!" pikirnya sambil berdiri tegak memandang si Tongkat Bayi. Hatinya teperanjat melihat si Tongkat Bayi ternyata masih memegang tongkatnya.

"Bukankah tongkat itu tadi pecah bersama ledakan dahsyat itu? Tapi mengapa ternyata masih ada di tangan si nenek ganas itu? Hmm... jelas ini permainan ilmu sihirnya yang agaknya cukup tinggi!"

Pendekar Mabuk langkahkan kaki maju dekati lawan. Si Tongkat Bayi segera hadang langkah itu dengan melepaskan pukulan bersinar kuning panjang dan lurus dari sodokan tongkatnya ke depan. Wuuut...! Slaaap...! Sinar kuning lurus mengarah ke dada Suto Sinting.

Dengan cepat Suto Sinting segera sentakkan bumbung tuaknya sambil tubuhnya miring bagai orang mabuk yang menggeloyor. Tubuh yang miring itu akhirnya terbawa terbang oleh sodokan bumbungnya. Wuuueeess...! Sinar kuning itu membentur pangkal bumbung yang disodokkan ke depan. Blaaar...! Ledakan pun terjadi sedahsyat tadi. Tapi kali ini tubuh Suto Sinting masih tetap menembus asap ledakan dan akhirnya bumbung itu menghantam kepala tongkat. Duaar...!

Bersamaan dengan itu Suto Sinting liukkan badan ke depan dan bersalto pendek dan kakinya menendang wajah si nenek dengan kekuatan tenaga dalam penuh.

Dees...!

"Auuhg...!" terdengar pekikan pendek yang tertahan. Wajah si nenek tersentak amat kuat bersama-sama terbangnya tubuh ke belakang. Tubuh yang terlempar itu membentur sebatang pohon kering dan, kraaak...!

Brrruk...! Pohon itu patah di pertengahan batang, lalu roboh berdebum di bumi. Bersamaan dengan itu tubuh si Tongkat Bayi jatuh terpuruk, hidungnya mengucurkan darah, demikian pula lubang telinga dan mulutnya yang memuntahkan darah hitam kemerahan.

"Mati aku," pikir sang nenek. "Kepalaku retak, mataku bagaikan pecah. Ohh... berat! Berat sekali lukaku ini. Aku tak bisa memandang dengan jelas. Makin lama makin buram dan gelap. Aku harus segera keluar dari pertarungan ini untuk bikin perhitungan sendiri di lain waktu!"

Tak ada pilihan lain bagi si Tongkat Bayi. Ia segera melesat pergi tanpa tinggalkan pesan apa pun, karena kepalanya berderak-derak bagai ingin pecah ke berbagai penjuru. Wajahnya biru legam, pandangan matanya kian suram. Bahkan ketika ia berlari untuk tinggalkan tempat, sebatang pohon ditabraknya lagi.

Bruuss...!

"Mati lagi aku, Mak!" keluhnya sambil terpental dan jatuh ke belakang, lalu bangkit lagi dan larikan diri. Di seberang sana ia menabrak pohon lagi. Brus...!

"Mati juga akhirnya aku, Mak...!" ia bangkit lagi, lari lagi, dan menabrak pohon lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya Tongkat Bayi hilang dari pandangan mata Suto. Ki Gendeng Sekarat dan Angon Luwak tertawa melihat nasib si Tongkat Bayi yang melarikan diri.

Sementara itu Suto Sinting hanya tersenyum tipis, kemudian menenggak tuaknya lagi. Dan pada saat menenggak tuak itulah, Beruang Tebing tanpa berkata-kata langsung menyerang Suto dengan kedua tangan membentuk cakar. Kedua tangan berjari menyala merah bara itu dihantamkan ke dada Pendekar Mabuk, bersamaan dengan itu tubuhnya melompat cepat dan menerjang Suto Sinting.

Tetapi tiba-tiba sekelebat bayangan melintas didepannya. Weess...! Bayangan bagai angin badai itu mengejutkan Suto Sinting, juga Tengkorak Liar dan Ki Gendeng Sekarat. Karena kejap berikutnya, tubuh Beruang Tebing ternyata telah roboh, terpotong menjadi dua bagian di atas perutnya.

Bayang itu berhenti di sisi kanan Tengkorak Liar. Ternyata seorang perempuan yang diam di tempat dengan kuda-kuda kokoh, menggenggam pedang dengan kedua tangan. Pedang itu masih dalam keadaan miring ke samping karena habis ditebaskan. Darah yang melumuri pedang itu masih menetes satu persatu.

"Angin Betina!" gumam Suto Sinting merasa kaget dan kagum melihat kecepatan gerak pedang yang benar-benar menyerupai angin itu. Beruang Tebing yang baru saja mau bergerak tahu-tahu sudah roboh terpotong dua bagian. Tentu saja sejak saat itu Beruang Tebing enggan bernapas lagi karena nyawanya pergi entah ke mana.

"Istirahatlah, Suto! Biar kutangani sisanya yang satu ini!" kata Angin Betina sambil mata tajamnya berkesan liar itu menatap tajam ke arah ketua Perguruan Lambung Darah yang ternyata sudah mengenalnya pula.

"Angin Betina! Rupanya kau pun bermaksud ingin memiliki pedang pusaka itu! Hemm...! Apa kau mampu?!"

"Bagiku lebih berharga memiliki Pendekar Mabuk daripada pedang pusaka itu!"

"O, jadi kau membela Suto dengan pertaruhkan nyawamu untuk melawanku?!"

"Ya. Karena aku mencintai Suto!" jawabnya tegas, jelas, keras. Suto sendiri sampai tersipu malu seraya melirik sekejap ke arah Ki Gendeng Sekarat yang tersenyum-senyum.

"Bocah bodoh kau! Gurumu saja tak mampu kalahkan aku, apalagi kau yang hanya muridnya!" geram Tengkorak Liar.

"Mendiang Guru tidak mempunyai ilmu 'Pedang Bintang', tapi aku punya jurus itu dari seorang guru pedang tersohor: Ki Argapura alias si Penggal Jagat! Tentunya kau kenal, Tengkorak Liar!"

"Persetan dengan Argapura!" geram Tengkorak Liar. "Buktikan kehebatannya di depanku! Hiaaah...!"

Tengkorak Liar sentakkan kedua tangannya ke depan. Dua larik sinar merah yang melingkar-lingkar pada ujungnya bagaikan mata bor itu melesat ke arah Angin Betina. Kecepatannya amat tinggi, membahayakan sekali bagi Angin Betina. Dihindari akan terlambat, ditangkis akan telat. Untung Suto Sinting selalu siap siaga. Begitu sinar merah itu terlepas, sinar birunya pun keluar dari sentakan kedua tangan Suto. Claaap...! Jurus 'Tangan Guntur' yang biasanya membuat lawan hangus dan keropos itu menghantam sinar merahnya Tengkorak Liar.

Blegaaarrr...!

Dentumam itu menggelegar. Kedua sinar yang beradu pecah menjadi satu warna jingga dalam sekejap saja. Sentakan gelombang ledaknya menjungkirbalikkan Tengkorak Liar, karena ia tak menyangka akan ada yang mampu lebihi kecepatan gerak sinar merahnya. Angin Betina sendiri juga terjungkal ke belakang dengan jatuh berlutut dan setengah merangkak. Kepalanya yang berambut acak-acakan itu dikibaskan dua kali. Ia menghilangkan rasa pusing dan pandangan mata yang berkunang-kunang. Setelah itu bangkit bersamaan berdirinya Tengkorak Liar yang berwajah merah matang.

"Memang jahanam busuk kalian semua!" geram Tengkorak Liar sambil mencabut cambuk pendeknya yang hanya empat jengkal kurang itu. Cambuk itu segera dilecutkan di udara. Taaarrr...! Seberkas sinar biru melesat menuju ke tubuh Suto Sinting.

Bumbung tuak disilangkan dengan kedua tangan dan kakinya berlutut satu. Sinar biru berkerliap itu menghantam bumbung tuak. Duaar...! Ternyata sinar tersebut kembali ke arah semula dengan lebih besar lagi dan masuk melalui ujung cambuk pendek. Jraaab...!

"Aaahg...!" Tengkorak Liar memekik. Tangannya menjadi hangus seketika karena kekuatan dahsyat mengalir masuk melalui cambuknya.

Wuuusss...!

Kembali sekelebat bayangan melintas cepat menerjang Tengkorak Liar yang sedang sibuk menahan rasa sakit pada tangannya. Sekelebat bayangan itu tak lain adalah Angin Betina yang lancarkan jurus 'Pedang Bintang' dengan tebasan lima sisi yang bisa dilihat oleh mata orang biasa. Lima tebasan dalam sekelebatan itu telah membuat Tengkorak Liar tumbang berlumur darah. Salah satu luka terparahnya adalah bagian dada yang terbelah. Tentu saja nyawa pun segera minggat dan pertarungan pun berhenti saat itu juga.

"Angin Betina, kuakui cukup hebat ilmu pedangmu. Tapi seharusnya kau tak perlu ikut campur urusanku ini!" kata Suto Sinting sambil mendekati perempuan yang wajahnya masih tampak angker-angker cantik itu.

"Sudah kubilang, aku akan melindungimu karena aku suka padamu!" katanya terang-terangan.

Suto Sinting memberi tanggapan dengan senyum ramah yang amat menawan dan membuat hati Angin Betina berdenyut-denyut lagi. Mereka segera hampiri Ki Gendeng Sekarat dan Angon Luwak yang merasa puas menyaksikan tontonan hebat secara gratis. Wajah bocah itu berseri-seri saat memuji Suto.

"Hebat sekali kamu, Kang. Nenek ini juga hebat," tudingnya pada Angin Betina.

Si perempuan menggeram dongkol. "Nenek?! Gundulmu itu yang pantas dibilang nenek!"

Suto tertawa selintas, lalu berkata kepada Angon Luwak, "Kulihat kau bermain pedang-pedangan dengan Saladin dan..."

Angon Luwak kaget, "Aku... aku tak sengaja membunuh Saladin, Kang. Sumpah!"

"Saladin tidak mati!" kata Suto. "Aku telah berhasil obati lukanya itu. Cuma, aku ingin tahu di mana kau peroleh pedang-pedanganmu itu?"

"Di... di Telaga Jompo, Kang. Ketika aku duduk merenungimu karena kehilangan jejakmu, tiba-tiba pedang kayu itu muncul dari dalam telaga dan mengambang. Lalu kuambil dan kugunakan untuk bermain pedang-pedangan. Ak... aku tak menyangka kalau orang-orang setua lawan-lawanmu tadi juga masih kepingin mempunyai pedang-pedangan dari kayu, Kang."

Ki Gendeng Sekarat menyahut, "Itu bukan sekadar pedang dari kayu biasa, Angon Luwak! itu pedang pusaka bertenaga hebat. Sangat sakti."

"Benar kata gurumu, Angon Luwak," kata Suto. "Pedang itulah yang menjadi rebutan para tokoh berilmu tinggi. Pedang itulah yang dinamakan Pedang Kayu Petir. Kesaktiannya sudah kau lihat sendiri saat kau melukai Saladin."

Bocah itu terbengong melompong. Ki Gendeng Sekarat bertanya lagi, "Sekarang di mana pedang itu?"

"Pedang itu...," Angon Luwak berhenti bicara, memandang Suto, Ki Gendeng Sekarat, Angin Betina, dan kepada Suto lagi. Sepertinya ada keraguan yang membuatnya bingung untuk mengatakannya.

"Kau simpan di mana pedang itu?" desak Suto dengan nada pelan.

"Pedang itu... jatuh, Kang."

"Jatuh di mana?"

"Di sana... di tempat kau membuang asap Iblis Naga Pamungkas."

"Hahhh...?! Jadi...?!" Suto Sinting terbelalak kaget, ia segera menatap Ki Gendeng Sekarat yang tak mengerti maksud Angon Luwak. Suto jelaskan dengan suara lemah bagaikan kehilangan harapan.

"Pedang itu jatuh ke... Sumur Tembus Jagat!"

"Gila! Sumur itu tak ada dasarnya!" Ki Gendeng Sekarat pun menjadi tegang. Suto Sinting tarik napas dalam-dalam, sementara Angon Luwak tundukkan kepala dengan rasa takut dan bersalah.

Terdengar gumam Suto bagaikan diliputi kecemasan. "Lantas, bagaimana caranya aku menandingi Raja Tumbal nanti? Seruling Malaikatnya tak bisa dilawan kecuali dengan Pedang Kayu Petir itu."

Angin Betina memandang Suto, kemudian mendekatinya dan menepuk-nepuk pundak Suto. Apa artinya, Suto sendiri tak mengerti.

SELESAI

SERULING MALAIKAT (Dalam proses editing)

Pedang Kayu Petir

Serial Pendekar Mabuk
Pedang Kayu Petir
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
SELAMA tujuh hari tujuh malam negeri Muara Singa mengadakan pesta besar-besaran. Berbagai pertunjukan hiburan digelar dari alun-alun sampai ke pinggir pantai. Berbagai makanan lezat pun dibeberkan pada tenda- tenda hidangan. Siapa saja, tanpa terkecuali, boleh menikmati hidangan lezat itu tanpa dipungut biaya sedikit pun. Rakyat jelata selain bisa menikmati hidangan lezat yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh orang-orang istana, juga mendapat santunan berbagai pakaian, kain maupun keperluan dapur.

Pesta besar ini diadakan untuk menyambut kedatangan ratu baru yang memang berhak memiliki kekuaaaan di negeri Muara Singa. Ratu baru itu tak lain adalah Ratu Gusti Galuh Puspanagari. Dulu dikenal sebagai Palupi, si gadis gila, yang punya julukan lebih dikenal lagi sebagai si Tandu Terbang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tandu Terbang).

Tampuk pimpinan diserahkan kepadanya dari Purnama Laras, karena Purnama Laras merasa tidak memiliki hak atas negeri tersebut dikarenakan ia hanya seorang anak angkat sang Penguasa Muara Singa. Pesta besar itu pun atas saran Purnama Laras yang sama sekali tidak sakit hati ataupun sedih, namun justru, bangga dan gembira melepas jabatannya sebagai ratu di negeri itu.

Pendekar Mabuk, Suto Sinting, sengaja ditahan oleh Purnama Laras dan Palupi agar tidak meninggalkan Muara Singa selama pesta berlangsung. Pendekar Mabuk termasuk orang berjasa dalam pengembalian kekuasaan kepada Palupi. Tanpa munculnya Pendekar Mabuk pada waktu itu, Tandu Terbang sudah merencanakan akan membabat habis orang Muara Singa yang tidak mau akui dirinya sebagai alih waris negeri tersebut.

Tetapi agaknya orang dalam Tandu Terbang yang ternyata adalah Palupi itu, merasa terkesan oleh penampilan Suto dan ketampanannya, ia tak berani lakukan kekerasan di istana ketika berhadapan dengan Suto, dan akhirnya jalan damai pun bisa ditempuh.

Pada satu kesempatan, Purnama Laras yang dikenal sebagai wanita berbudi luhur dan berjiwa besar itu, sempat bicara empat mata dengan Pendekar Mabuk. Pada saat itu malam tiba dan mereka bicara di sudut taman. Harum bunga sedap malam menyebar di sekeliling mereka. Tetapi roncean bunga melati yang selalu segar dan menjadi penghias sanggul Purnama Laras lebih tajam tercium hidung Pendekar Mabuk yang bangir itu.

"Sudah cukup lama aku memendam hasrat ingin bertemu denganmu," kata perempuan berusia tiga puluh tahun itu. "Tetapi baru sekarang hasrat itu terpenuhi dalam keadaan aku sudah tidak menjadi ratu lagi."

"Apakah kau menyesal?"

"Sama sekali tidak," jawab Purnama Laras. "Justru aku bertekad melindungi Galuh untuk mempertahankan negeri ini. Aku sangat terharu jika ingat cerita hidupnya semasa kecil, dibuang oleh ibu angkatnya hanya karena tak suka menerima bayi yang dilahirkan dari madunya. Rasa ibaku ini terwujud dalam rasa kasihan, dan akhirnya timbul rasa sayangku kepada Galuh Puspanagari."

"Aku bangga dan kagum dengan sifatmu, Purnama Laras. Jarang kutemukan wanita sebijak dirimu," sanjung Pendekar Mabuk dengan mata memandang raut wajah ayu yang disinari cahaya obor di sudut taman itu. Yang dipandang hanya tersenyum dan tundukkan kepala merasa malu.

"Terlepas dari kedudukanku yang dulu dan sekarang, sesungguhnya keinginanku untuk bertemu denganmu punya alasan sendiri, Suto."

"Katakanlah urusanmu itu, Purnama Laras."

"Aku butuh seorang senopati. Aku banyak mendengar cerita tentang kesaktianmu dari mulut ke mulut, lalu aku ingin mengangkatmu sebagai senopati dalam kepemerintahan Muara Singa ini. Kami belum mempunyai senopati atau seorang panglima perang, itulah sebabnya aku pernah merencanakan mengundangmu sebagai tamu agung untuk membicarakan tawaran ini. Dalam benakku hanya ada dua pilihan, mengangkatmu sebagai panglima perang atau menemukan Pedang Kayu Petir."

Suto terkejut mendengar nama pedang itu disebutkan, ia ingat kembali bahwa pedang tersebut pernah disebut- sebutkan oleh Palupi yang sekarang menjabat sebagai ratu negeri Muara Singa itu. Tetapi sampai malam itu, Suto belum pernah bicara dengan Palupi secara sungguh-sungguh tentang Pedang Kayu Petir.

Dulu Suto pernah menyangka bahwa pedang yang disebut-sebut sebagai pedang pusaka maha sakti itu dimiliki oleh ratu Purnama Laras. Karena Palupi si gadis gila itu mengetahui tentang rahasia pedang tersebut, maka Ratu Purnama Laras mengerahkan orang-orangnya untuk menangkap Palupi dan membunuhnya, supaya rahasia pedang pusaka itu tidak bocor dari mulut si gadis gila. Tapi dugaan Suto itu ternyata meleset. Purnama Laras memang tidak tahu-menahu tentang pedang tersebut dan bahkan berminat untuk mendapatkannya.

"Mengapa kau mempunyai dua pemikiran seperti itu, Purnama Laras? Apa alasanmu ingin mengangkatku sebagai panglima perang atau memiliki Pedang Kayu Petir?" tanya Suto Sinting dengan rasa ingin tahu.

"Karena negeri ini sebenarnya dalam ancaman bahaya tokoh sakti yang ilmunya tak tertandingi oleh orang-orang Muara Singa. Tokoh sakti itu dapat dikalahkan dengan kesaktian Pendekar Mabuk, atau dengan menggunakan Pedang Kayu Petir sebagai pusaka pedang maha sakti. Sebab itu, dulu aku menyuruh para pengawalku untuk menangkap Palupi sebab ia sebut-sebutkan pedang tersebut. Aku ingin menangkap bukan dengan maksud jahat, melainkan ingin mengorek keterangan darinya tentang Pedang Kayu Petir itu."

Suto Sinting manggut-manggut, diam sebentar lalu mulai perdengarkan suaranya yang lembut itu, "Siapa tokoh sakti yang kau maksud sebagai pengancam bahaya negeri ini?"

"Raja Tumbal, penguasa Lumpur Maut."

"Raja Tumbal...? Bukankah dia yang membunuh adik Pendita Arak Merah, atau adik gurunya Palupi?"

"Aku tak mendengar soal itu. Yang kutahu, Raja Tumbal menghendaki negeri ini. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya lima purnama yang lalu, Raja Tumbal datang menemuiku dan ingin merebut Muara Singa, ia adalah kakak dari ibu angkatku; Raden Ayu Indriakara. Ia merasa bahwa negeri ini adalah negeri leluhurnya dan yang berhak menjadi penguasa adalah dirinya. Aku diberi waktu sampai tiga purnama untuk meninggalkan negeri ini, jika tidak maka semua penghuni istana akan dibantai habis olehnya dalam waktu sekejap. Dan aku percaya ia sanggup membantai kami dalam sekejap, karena ia memiliki pusaka yang bernama Seruling Malaikat."

Suto Sinting kerutkan dahi. "Seruling Malaikat? Aku baru mendengar nama pusaka itu. Apa kehebatannya sehingga kau tampaknya amat ketakutan dengan pusaka Seruling Malaikat itu?"

"Seruling Malaikat, menurut para tokoh tua, adalah sebuah seruling yang jika ditiup dengan sembarangan tanpa nada pun bisa membuat lawan yang dituju menjadi pecah raganya bila mendengar suara seruling tersebut. Konon, getaran seruling dapat menyatu dengan mata dan batin kita. Pada saat kita melihat musuh yang dituju oleh batin kita untuk dimusnahkan, maka getaran suara seruling tersebut mengirimkan gelombang tenaga dalam luar biasa besarnya hingga ketika masuk gendang telinga lawan dapat membuat raga lawan meledak."

Suara gumam Pendekar Mabuk sangat lirih, kepalanya terangguk-angguk sebagai tanda sangat bersungguh-sungguh mempercayai cerita tersebut. Hatinya menjadi tertarik untuk membicarakan tentang pusaka Seruling Malaikat itu. "Dari mana Raja Tumbal memperoleh pusaka sehebat itu?"

"Menurut cerita para tokoh tua, Seruling Malaikat dulu milik seorang dewa yang terusir dari kayangan dan menjelma menjadi seorang penggembala kerbau. Dewa itu bernama Bramujaya. Ia menjalani masa hukuman menjadi manusia dengan dibekali Seruling Malaikat. Hukumannya akan selesai jika menikahi seorang wanita yang berpenyakit kusta sangat parah. Tetapi sebelum hal itu terjadi, Bramujaya sudah berhasil dikalahkan oleh Siluman Tujuh Nyawa, ia mati dibunuh tokoh sesat itu. Tapi Siluman Tujuh Nyawa tidak tahu bahwa Bramujaya mempunyai pusaka sebuah seruling. Seruling itu ditemukan oleh petapa sakti yang bernama Begawan Demang Buwana"

"Siapa?!" Suto terpekik kaget, wajahnya menjadi tegang. "Begawan Demang Buwana?!"

"Benar. Kenapa kau tampak terkejut sekali?" Purnama Laras merasa heran.

"Hmm... ya, aku sangat terkejut, sebab ketika aku dalam perjalanan kemari bersama Dungu Dipo, kami sempat bermalam di pondok sang Begawan di dalam hutan di tepi sebuah telaga. Kami disambut baik oleh Eyang Begawan Demang Buwana. Bahkan kami sama-sama minum tuak sebagai penghormatan dan..."

Purnama Laras tertawa kecil sambil menepiskan tangan di depan wajah sebagai tanda meremehkan cerita Pendekar Mabuk. Tentu saja cerita itu tak jadi dilanjutkan oleh Suto. Pendekar tampan itu justru merasa heran melihat tawa wanita cantik yang lembut dan bersahaya itu.

"Mengapa kau menertawakan ceritaku?"

"Karena aku tahu kau sedang membual."

"Ini sungguh-sungguh terjadi," kata Suto agak ngotot.

"Aku tidak percaya," Purnama Laras gelengkan kepala sambil tersenyum. "Begawan Demang Buwana sudah wafat lima puluh tahun yang lalu. Ia meninggal dalam usia sekitar seratus tahun. Dan kematiannya itu disebabkan oleh perbuatan Siluman Tujuh Nyawa yang terlambat mendengar tentang pusaka Seruling Malaikat. Pada waktu itu, Seruling Malaikat sudah diturunkan kepada murid sang Begawan, dan terus turun-temurun sampai akhirnya ada kabar bahwa Seruling tersebut jatuh ke Sumur Tengah Samudera. Cara mengambilnya harus dengan lakukan semadi rendam. Dan Raja Tumbal telah lakukan semadi rendam hingga akhirnya berhasil memperoleh Seruling Malaikat. Jadi kalau kau bercerita bertemu dan bermalam di pondok Begawan Demang Buwana, itu adalah hal yang mustahil, apalagi hal itu terjadi belum lama ini. Tak akan ada tokoh tua yang mau percaya dengan pengakuanmu tadi, Suto."

Kini Suto Sinting termenung lama dengan dahi masih berkerut. Dalam hatinya berkata, "Jadi siapa orang yang kutemui bersama Dungu Dipo dalam hutan itu? Siapa orang yang memintaku meminum tuak dalam mangkok sebagian dan sisanya diminum olehnya itu?"

Senyum perempuan yang suka dengan bunga melati itu masih menampakkan rasa tidak percayanya kepada ucapan Suto tadi. Suto Sinting sangat penasaran jadinya. "Kalau kau tak percaya, kau bisa tanyakan sendiri kepada Dungu Dipo," kata Suto meyakinkan kata-katanya. "Kami bermalam di pondok itu dan dijamu dengan minuman tuak dalam mangkok."

"Kau berani bersumpah?"

"Sumpah apa pun aku berani, bahwa aku dan Dungu Dipo bertemu dengan Eyang Begawan Damang Buwana. Bahkan aku sempat bertanya tentang Padang Kayu Petir kepadanya, tapi beliau tak tahu di mana pedang itu berada. Juga ketika kutanyakan siapa orang dalam tandu merah itu, beliau hanya mengatakan, ada lapisan tenaga dalam yang tak bisa ditembus teropong indera keenamnya dan membuat tandu itu tak bisa diketahui siapa orang yang ada di dalamnya."

Kini ganti Purnama Laras yang tertegun bengong. Kejap berikutnya ia menggumam, "Aneh sekali. Jika benar begitu, berarti kau dan Dungu Dipo telah bertemu dengan jelmaan sang Begawan. Mungkin punya maksud tertentu, entah ingin menolongmu atau ingin sampaikan pesan padamu."

"Pesan...? Rasa-rasanya tak ada pesan apa-apa. Mungkin saja hanya ingin menolongku. Mungkin ada seseorang yang menyuruhnya menyediakan pondok untuk bermalam bagiku?" kata Suto seperti bicara pada diri sendiri, lalu dalam benaknya terbayang wajah Ratu Kartika Wangi sebagai orang yang menyuruh Begawan Demang Buwana untuk sediakan pondok baginya. Karena dalam pembicaraan kala itu, sang Begawan menyinggung-nyinggung nama Ratu Kartika Wangi, calon mertua Suto Sinting.

"Baiklah, kita lupakan dulu tentang pertemuanku dengan sang Begawan itu," kata Suto. "Sekarang bagaimana dengan Raja Tumbal?"

"Untuk mengalahkan Seruling Malaikat-nya kupikir aku harus menggunakan Pedang Kayu Petir kalau memang tak sanggup menandingi kesaktian pusaka tersebut. Persoalannya adalah, saat ini sudah hampir masuk purnama ketiga, berarti aku dan para pejabat di istana harus segera tinggalkan negeri ini. Raja Tumbal akan ganti menguasai negeri ini."

"Apakah kau sudah bicarakan kepada Palupi, termasuk tentang Pedang Kayu Petir yang saat menjadi orang gila disebut-sebutkan itu?"

"Aku belum berani membicarakan karena ia masih menikmati masa kegembiraan. Setelah pesta ini usai, aku akan membicarakannya."

Tak ingin mengganggu kebahagiaan dan kegembiraan yang sedang berlangsung pada diri seseorang, sungguh merupakan sikap yang baik dan patut dikagumi. Suto Sinting mengerti betul maksud hati Purnama Laras. Tetapi menurutnya, persoalan Raja Tumbal adalah persoalan yang tak bisa ditunda. Secepatnya harus dicari jalan keluarnya, mengingat Raja Tumbal memiliki pusaka Seruling Malaikat yang dapat menjadi alat pembantai bagi orang-orang Muara Singa.

"Apakah menurutmu dengan adanya Palupi menjadi ratu di negeri ini, Raja Tumbal merasa masih mampu mengungguli kekuatan yang ada di sini?" Tanya Suto kepada Purnama Laras seusai mereka lakukan santap malam bersama. Pertanyaan itu diucapkan secara berbisik.

Jawabannya pun cukup pelan, sehingga hanya Pendekar Mabuk sendirilah yang mendengarnya. "Kabarnya, suara Seruling Malaikat tak bisa ditangkal dengan ilmu dan kesaktian apa pun. Jadi sesakti-saktinya Galuh Puspanagari jika mendengar suara Seruling Malaikat ia akan hancur juga."

Jawaban itu cukup dipakai bahan pertimbangan bagi Suto. Pertimbangan itu akhirnya memperoleh keputusan bahwa ia harus bicara empat mata dengan Galuh Puspanagari yang lebih suka dipanggilnya Palupi itu. Pendekar Mabuk merasa perlu menjajaki ketinggian ilmu Palupi dalam menghadapi Seruling Malaikat nanti. Jika memang ternyata menurut kesimpulan Suto ilmu yang dimiliki Palupi tidak mempunyai kesanggupan untuk menghadapi Seruling Malaikat, maka ia harus memaksa Palupi untuk mengambil Pedang Kayu Petir.

Suto mempunyai dugaan bahwa Pedang Kayu Petir dimiliki oleh Palupi dan disimpan di suatu tempat. Pedang itu pasti dibungkus oleh tenaga pelapis yang sukar diteropong oleh kekuatan batin maupun mata indera keenam, seperti halnya tandu merahnya yang tak bisa ditembus oleh mata batin orang sakti, sehingga tak diketahui siapa penghuni tandu tersebut selama ini.

Hanya saja, Pendekar Mabuk merasa tak enak hati, karena Palupi bersedia bicara di dalam kamarnya, ia tak mau percakapannya didengar orang lain. Ia membawa Suto ke kamar tidurnya yang mewah dan megah serta kedap suara itu. Suto Sinting justru menjadi kikuk berada di tempat yang menimbulkan suasana hangat bagi hasrat cinta dua orang berlainan jenis itu.

"Kau pucat sekali," kata Palupi sambil tersenyum-senyum. "Jangan takut, aku sudah berjanji tidak akan memaksamu untuk memperkosaku seperti saat aku berpura-pura gila itu. Duduklah dengan tenang."

Suto Sinting geli sendiri membayangkan peristiwa lain.

"Karena itu jangan diresapi kenangan masa laluku, nanti hasratmu berontak dan menuntutku," kata Palupi masih bersikap sebagai teman, bukan sebagai ratu. Hanya kepada Suto saja ia tak bisa bersikap sebagai ratu yang mestinya penuh ketegasan dan wibawa, menjaga kharisma seperti Purnama Laras dulu.

"Tapi seandainya memang kau ingin menuntutku karena resapan kenangan itu, aku pun tak keberatan untuk memenuhi tuntutanmu," kata Palupi penuh arti yang amat dalam bagi perasaan seorang lelaki muda seperti Suto.

Tapi hal itu hanya ditanggapi oleh Suto dengan senyum menawan. Suto tak sadar, jika ia sering memamerkan senyumnya, berarti menambah gejolak gairah memberontak di dalam batin Palupi. Untung selama ini Palupi mampu menahan diri sehingga tidak berkesan sebagai wanita murahan.

"Baiklah, Suto... apa yang ingin kau bicarakan padaku? Pesta ini esok telah usai. Apakah itu berarti esok kau akan tinggalkan negeriku? Apakah tak bisa tinggal lebih lama lagi atau justru selama-lamanya saja?"

"Jawabannya tergantung pembicaraan kita nanti," kata Suto dengan tenang. Meski di dalam kamar tidur seorang ratu, namun bumbung tuak selalu dibawanya, sehingga sewaktu-waktu Suto tak segan-segan menenggak tuak dari bumbungnya. Padahal Palupi sudah siapkan sepoci tuak dan cangkirnya, tapi Suto hanya sesekali minum tuak dari cangkir itu. Ia merasa lebih mantap jika minum tuak dengan menenggak dan mengangkat bumbung bambunya. Suatu kebiasaan yang sudah menjadi kesukaan memang sulit ditinggalkan begitu saja.

"Apa yang ingin kubicarakan memang ada kaitannya dengan semasa kau menjadi gadis gila," kata Suto Sinting.

"Soal... soal perkosaan?"

"Bukan!" jawab Suto malu. "Pada waktu itu kau sebut-sebut Pedang Kayu Petir. Kau masih ingat, bahwa kau bilang telah sembunyikan Pedang Kayu Petir di sebuah gua di Bukit Tungkai?"

Palupi tersenyum dan manggut-manggut. Senyumnya itu sukar dipastikan artinya, bisa senyum malu, bisa senyum geli bisa juga senyum meremehkan. Tapi Suto tak peduli sehingga tetap ajukan tanya lagi pada Palupi,

"Benarkah pedang pusaka itu ada di salah sebuah gua di Bukit Tungkai?"

"Aku tidak tahu," jawab Palupi.

"Palupi, kita sama-sama butuhkan pedang itu. Aku juga butuh, kau juga nantinya akan butuh pedang itu. Tolong bicaralah jujur padaku."

"Aku benar-benar tidak tahu tentang pedang itu. Memang aku pernah dengar namanya, pernah dengar ceritanya, tapi aku tidak tahu di mana pedang itu."

"Mengapa kau waktu itu selalu menyebut-nyebutkan Pedang Kayu Petir?"

"Aku hanya memancing perhatian bagi orang-orang yang bernafsu memiliki pedang tersebut. Tentu saja bukan orang berilmu rendah yang menghendaki pedang itu, pasti orang berilmu tinggi. Lalu, aku bisa kenali orang-orang berilmu tinggi itu, dan bisa tahu apakah dia berpihak kepada Purnama Laras, atau berpihak kepada orang lain. Sasaran utamaku pada waktu itu adalah Purnama Laras dan orang-orangnya. Karena aku tak tahu hati Purnama Laras ternyata amat mulia. Jika aku ingin lakukan penyerangan, aku harus tahu siapa-siapa saja yang akan kuhadapi nantinya. Jadi kupancing mereka dengan berita adanya Pedang Kayu Petir pada diriku. Sebab aku tahu pedang itu pasti masih diminati oleh para tokoh sakti."

Napas Suto terhempas panjang sebagai penghilang kedongkolan, ia segera bertanya, "Lantas apa kesimpulanmu kala itu?"

"Ternyata Purnama Laras sangat berhasrat untuk memiliki pedang itu, juga dirimu kulihat sangat bernafsu untuk memilikinya, tapi tak kulihat kau ada di pihak Purnama Laras. Sementara tokoh lain yang berhasrat dengan pedang itu tak kulihat ada di pihak Purnama Laras. Jadi aku merasa akan berhadapan dengan Purnama Laras sendiri, tapi didukung oleh pihak lain yang berilmu tinggi. Bahkan aku tak sangka kalau Nyai Paras Murai ternyata ada di pihak Purnama Laras walau tak menghendaki pedang itu. Aku sangat menyesal sekali telah bertarung dengan Nyai Paras Murai yang ternyata justru orang pertama yang menyambut kelahiranku di muka bumi ini. Aku merasa berdosa dengan beliau. Tapi aku sudah meminta maaf berulang kali dan menganggap Nyai Paras Murai sebagai orangtua sendiri. Aku pun telah berdamai dengan Hantu Tari yang ternyata adalah saudara sepupuku sendiri, walau sepupu tiri."

Kamar tidur menjadi hening karena mulut Suto terbungkam dalam termenungnya. Matanya lurus ke satu sisi, sementara mata Palupi menatapi Suto tiada henti, penuh debar-debar keindahan dalam hatinya, penuh rasa kagum dan salut dengan sikap Suto. Batinnya mengatakan,

"Pendekar tampan ini biarpun punya wajah mampu melumpuhkan wanita hingga bertekuk lutut di hadapannya, namun ia sama sekali tidak mau berkurang ajar padaku. Sikapnya pun tak sombong, punya ketegasan dan kebijakan. Aku suka padanya. Sangat suka!"

Untuk memecah kesunyian, Palupi segera ajukan tanya kepada Suto dengan berpindah duduknya di samping kiri Suto. Ia mencoba mengusap pundak dan lengan Suto seraya berbisik, "Mengapa kau sangat berharap mendapatkan pedang yang sudah bertahun-tahun dinyatakan hilang?"

"Demi keselamatan negeri ini juga," jawab Suto dengan sikap duduk masih sedikit bungkuk, kedua sikunya bertumpu pada kedua paha. Ia bicara sambil menoleh ke arah Palupi dan tampak lebih gagah sikapnya seperti itu. Lengannya kelihatan lebih kekar, ketampanannya tampak lebih jantan lagi.

"Apa maksudmu berkata begitu?"

"Ada seorang musuh yang ingin menyerang negeri ini dan merebutnya, ia berilmu tinggi dan mempunyai pusaka yang hanya bisa ditandingi dengan Pedang Kayu Petir."

Palupi diam sesaat, tampak tenang. Tak kelihatan terkejut walaupun masih dipandangi Suto. Kejap berikut, Suto mendengar suara gadis itu berkata lembut, "Orang yang kau maksud itu adalah Raja Tumbal!"

Suto menegakkan sikap duduknya. "Dari mana kau tahu? Apakah Purnama Laras sudah menceritakan ancaman Raja Tumbal?"

"Belum. Tapi aku pernah menyadap pembicaraan Raja Tumbal dengan orang-orang kepercayaannya, itulah sebabnya aku memusuhi orang Lumpur Maut. Di samping ingin membalaskan kematian adik guruku, juga ingin melumpuhkan Raja Tumbal sebelum ia menguasai negeri Muara Singa ini. Jika memang Purnama Laras sudah mendapat kabar tentang niat Raja Tumbal, maka sekarang aku tahu mengapa Purnama Laras sangat bernafsu untuk memiliki Pedang Kayu Petir."

"Apakah kau sudah tahu bahwa Raja Tumbal mempunyai pusaka yang bernama Seruling Malaikat?"

"Sudah!" jawabnya tanpa senyum.

"Bagaimana menurutmu? Apakah perlu dihadapi dengan pedang pusaka itu atau cukup dengan ilmu dan kesaktianmu saja?"

Wajah gadis berjubah ungu itu tampak dingin. Matanya memandang lurus, menerawang tak tentu makna. Bibirnya terkatup, napasnya teratur lembut. Sesaat kemudian barulah ia bicara dengan mata masih memandang hampa. "Apakah kau bersedia membantuku?"

"Maksudmu?"

Ia menatap Suto, wajahnya penuh kesungguhan dalam bicara. "Aku tak akan sanggup melawannya, apalagi ia mempunyai pusaka Seruling Malaikat," ia berhenti sampai di situ, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sedih dan sulit dikatakannya.

Pendekar Mabuk menatap penuh perhatian dan bicara sangat pelan. "Mengapa begitu? Bukankah seorang Tandu Terbang adalah tokoh sakti yang cukup menggetarkan isi dunia?"

"Kesaktianku sebagian telah hilang jika aku menjadi ratu. Itu adalah perjanjian yang kubuat dengan guruku; Pendita Arak Merah. Aku tak bisa lagi menjelma sebagai Tandu Terbang, kekuatan tenaga dalamku juga tak setinggi semula. Kuperoleh kesaktian setinggi itu hanya untuk merebut hak warisku, yaitu negeri ini. Jika aku telah memiliki negeri ini, maka beberapa kesaktianku itu akan lenyap. Jadi pada waktu itu aku dihadapkan dengan dua pilihan; tetap berilmu tinggi sebagaimana yang dimiliki Tandu Terbang, atau menjadi seorang ratu yang adil dan bijaksana dengan kehilangan beberapa kesaktian. Aku memilih menjadi ratu karena memang aku harus mewarisi kekuasaan leluhurku. Dan jika aku menjadi ratu yang tidak adil dan bijaksana, maka kesaktianku akan berkurang lagi."

"Aneh...?!" gumam Suto Sinting sambil berkerut dahi dan manggut-manggut.

"Dalam keadaan seperti dulu, aku sanggup menumbangkan Raja Tumbal. Sayang tak pernah berhasil kutemui kecuali hanya begundalnya saja. Tapi dalam keadaan setelah menjadi ratu dengan penobatan resmi ini, aku merasa kalah ilmu dengan Raja Tumbal. Tapi... hanya kau yang tahu hal itu. Kumohon jangan sampai bocor kepada siapa pun."

Suto kian mengangguk-angguk. "Aku paham maksudmu."

"Jadi, dalam menghadapi Raja Tumbal nantinya aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kecuali aku bisa memiliki Pedang Kayu Petir, mungkin aku berani hadapi sendiri paman tiriku itu. Tanpa pedang tersebut, aku butuh berlindung di belakangmu, Suto. Maukah kau menjadi panglima perangku?" tanya Palupi yang membuat Suto bingung menjawabnya.

* * *

DUA
SEBENARNYA Suto tidak ingin mempunyai jabatan yang akan mengikat kebebasannya. Menjadi senopati atau panglima perang adalah pekerjaan yang menyita waktu. Banyak kesibukan yang harus dipersiapkan untuk menghadapi lawan, termasuk melatih bala tentaranya, mengatur siasat perang nantinya. Suto enggan melakukan hal-hal seperti itu. Tetapi dalam hatinya ia mempunyai suatu tekad untuk membantu Palupi menyelamatkan negeri Muara Singa, sebab ia tahu memang Palupi-lah pewaris negeri itu yang sebenarnya.

"Jika keadaan Palupi memang sudah demikian, berarti kemenangan akan ada di tangan Raja Tumbal. Seruling Malaikatnya bisa digunakan seenak pusarnya sendiri untuk membantai orang-orang Muara Singa. Kasihan Palupi, baru beberapa waktu memiliki hak warisnya sudah harus dirampas lagi oleh orang lain. Agaknya aku harus memihaknya dan memperkuat pertahanan negeri ini. Tapi aku harus tahu bagaimana cara melawan kekuatan Seruling Malaikat itu?"

Pendekar Mabuk segera membayangkan cara kerja pusaka Seruling Malaikat. Getaran maut akan tersalurkan melalui gelombang suara. Mengatasi gelombang suara tidak bisa seperti mengatasi sinar pukulan tenaga dalam yang bisa dilihat arah dan gerakannya. Apalagi gelombang suara itu mempunyai hubungan erat dengan mata dan batin. Raja Tumbal bisa saja menghancurkan lawannya dari jarak jauh asal masih bisa melihat sang lawan dan batinnya menghendaki kehancuran orang tersebut. Gelombang suara seruling dapat melesat masuk ke telinga lawan tanpa diketahui gerakan dan bentuknya.

"Repotnya lagi, gelombang suara itu bukan saja membuat gendang telinga pecah, melainkan raga pun bisa pecah dan hancur berkeping-keping. Berarti kekuatannya lebih tinggi dibanding jurus 'Siulan Peri' yang ada padaku. Jurusku itu hanya bisa memecahkan gendang telinga saja. Jika diadu dengan suara Seruling Malaikat, maka 'Siulan Peri'-ku akan kalah. Aku harus mencari tahu bagaimana melawan Seruling Malaikat, dan di mana letak kelemahan pusaka tersebut. Yang berbahaya adalah jika Raja Tumbal ada di suatu tempat yang tak kuketahui, tapi ia bisa melihatku dari tempat tersebut. Maka diriku pun akan hancur begitu Seruling Malaikat mulai ditiupnya."

Menurut perhitungan, bulan purnama akan tiba sebelas hari lagi. Apakah Raja Tumbal akan datang tepat pada saat bulan purnama tiba atau lebih beberapa hari dari saat purnama tiba? Bagi negeri Muara Singa sama saja, kehancuran akan segera tiba tepat malam purnama atau lewat dari itu. Karenanya persiapan menghadapi serangan orang-orang Lumpur Maut harus sudah disusun secara matang sejak sekarang.

"Aku akan menghadap guruku," kata Suto kepada Palupi yang didampingi oleh Purnama Laras, Nyai Paras Murai, Hantu Tari, Batu Sampang, dan Dungu Dipo. Suto menyambung kata-katanya, "Dalam waktu sesingkat ini, tak mungkin kita bisa dapatkan Pedang Kayu Petir yang belum diketahui di mana tempatnya. Yang kulakukan adalah mencari tahu di mana kelemahan Seruling Malaikat itu. Aku akan tanyakan kepada guruku tentang hal itu. Aku harus pergi selama empat atau lima hari."

Nyai Paras Murai yang kini dianggap keluarga Istana itu berkata, "Kurasa Gila Tuak juga tak tahu bagaimana cara mengalahkan gelombang suara. Seingatku, sejak dulu tak pernah ada lawan yang bisa kalahkan Seruling Malaikat."

Purnama Laras memotong, "Tapi mengapa Begawan Demang Buwana dapat dikalahkan oleh Siluman Tujuh Nyawa?"

"Karena Seruling Malaikat telah diturunkan kepada muridnya," jawab Nyai Paras Murai.

"Kabarnya, sekarang pun jika Siluman Tujuh Nyawa melawan Raja Tumbal ia akan mampu mengalahkannya, karena Siluman Tujuh Nyawa sudah kuasai ilmu yang bernama 'Redam Guntur', yaitu menutup semua lubang tubuhnya agar tidak bisa dimasuki suara apa pun."

"Apakah kita perlu minta bantuan kepada Siluman Tujuh Nyawa?" tanya Dungu Dipo yang ditanggapi dengan ketus oleh Hantu Tari,

"Kalau kau mau jadi pengikut sesatnya, silakan kau lari dan bergabung kepada Siluman Tujuh Nyawa!"

Dungu Dipo bersungut-sungut tak mau bicara lagi. Batu Sampang tetap diam memperhatikan tiap pembicaraan tersebut. Sedangkan Palupi sejak tadi berkerut dahi walau tetap berlagak tenang, namun sebenarnya bingung menghadapi lawannya nanti. Bahkan ketika Hantu Tari ajukan tanya kepada Palupi,

"Apakah kau tak sanggup menghadapinya dengan kesaktianmu?"

Suto tahu Palupi akan bingung menjawabnya, karena itu Suto lebih dulu berkata sebagai wakil Palupi dalam menjawab, "Seorang ratu tak baik jika turun tangan sendiri, kecuali keadaan sudah sangat terpaksa! Palupi memang akan turun tangan, tapi sebelum ia turun tangan tentunya kita lebih dulu menghadapi lawan tersebut. Yang kita bicarakan ini adalah seandainya kita hadapi Raja Tumbal, lantas dengan kekuatan apa kita harus melawannya. Kalau kita mengandalkan kekuatan dan kesaktian Palupi, lantas untuk apa kita diajak berunding di sini?"

Sebuah pembelaan telah dilakukan Suto. Palupi merasa sedang ditutupi kelemahannya. Rupanya Suto Sinting benar-benar menjaga rahasia kelemahan ilmu Palupi, sehingga pendekar tampan itu merasa harus berpikir dan berjuang sendiri mencari jalan keluar dari masalah yang masih buntu itu.

"Pembelaannya terhadapku cukup membuat hatiku semakin bangga padanya," pikir Palupi. "Tapi apakah pembelaan itu berarti awal tumbuhnya rasa cintanya pada diriku? Semoga saja begitu. Seandainya tidak begitu, aku pun tak boleh sakit hati, karena cinta bebas memilih dan tak baik dipaksakan. Aku hanya bisa berharap agar ia dekat dengan hatiku, jauh dari hati perempuan lain. Mulai sekarang harus kupahami bahwa tidak setiap harapan menjadi kenyataan. Jika harapan itu jauh dari kenyataan, aku tak boleh terlalu kecewa. Untuk membendung rasa kecewa agar tidak melukai hatiku, sebaiknya segalanya kuserahkan kepada garis kehidupanku saja. Biar sang nasib yang menentukan perjalanan kasihku."

Termenungnya Palupi membuat Suto curiga. Ketika yang lainnya meninggalkan tempat setelah Suto putuskan untuk menunggu kedatangannya pulang dari menghadap Gila Tuak, maka Suto pun berbisik kepada Palupi yang masih melamun itu, "Palupi...!" sentakan lembut mengguncang tubuh Palupi.

Sang Ratu tersipu malu, apalagi setelah Suto bertanya, "Apa yang kau lamunkan? Sepertinya bukan masalah yang sedang kita bicarakan. Kau melamunkan soal lain, Palupi!"

Palupi kian melebarkan senyumnya, namun ia menjawab dengan tegas, "Ya, memang soal lain. Soal kepergianmu nanti,"

"Maksudmu bagaimana?"

"Entahlah, tiba-tiba kubayangkan Istana mewah ini akan menjadi sepi tanpa dirimu, Suto!"

Suto ingin tertawa, ia bahkan menjawab dengan konyol, "Kalau mau ramai, bakar saja Istana ini. Pasti ramai!"

Palupi tertawa, tangannya mencubit lengan Suto. Hatinya berbunga indah, dan Suto mulai paham dengan gelagat itu. Maka ia segera berkata lebih bijak, "Jangan menggantungkan hidup pada seseorang. Gantungkanlah hidup pada dirimu sendiri dan seluruh manusia di muka bumi ini. Jika kau terlalu menggantungkan hidup pada seseorang, maka jiwamu akan mati pada saat orang itu pergi. Hidupnya jiwa tidak bisa bergantung pada satu jiwa saja. Itulah yang kumaksud 'hidup' dalam artian jiwa yang butuh semangat."

"Aku mengerti," jawab Palupi dengan senyum lebih wibawa lagi. "Aku harus mencoba menghidupkan jiwaku tanpa harus bergantung pada jiwamu."

"Aku yakin kau mampu, Palupi."

"Baiklah. Lalu..., kapan kau akan berangkat temui gurumu?"

"Sekarang juga!" jawab Suto dengan tegas.

"Perlu pendamping?"

"Tak perlu."

"Bawalah seekor kuda supaya lebih cepat sampai dan kembali kemari."

"Pada waktu kuda sampai di tempat guruku, aku sudah bisa kembali sampai di sini lagi. Kau mengerti maksudku?"

Palupi mengangguk kalem. "Artinya gerakanmu akan lebih cepat daripada gerakan seekor kuda pacu!"

Seekor kuda bagi Pendekar Mabuk merupakan perintang perjalanan saja. Ia akan dibuat lebih sibuk dengan membawa kuda daripada pergi sendirian. Setidaknya soal makan saja harus dipikirkan untuk sang kuda. Tapi jika pergi sendirian ia hanya memikirkan makan untuk perutnya saja. Karenanya Suto tak pernah mau membawa seekor kuda dalam bepergian ke mana saja, sebab ruang geraknya akan dibatasi oleh keberadaan kuda tersebut.

Perjalanan Suto terpaksa menyimpang arah karena mendengar denting suara pedang beradu. Rasa ingin tahu siapa yang bertarung dengan mengadu pedang membuat Pendekar Mabuk berlari menuju ke balik bukit gundul itu. Untuk menyingkat waktu, Suto Sinting membatalkan niatnya untuk mengitari bukit gundul yang tak seberapa tinggi, melainkan mendaki bukit itu dengan gerak silumannya yang secepat kilat itu.

Zlaaap...!

Seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun dengan pakaian hijau dirangkap jubah merah jambu, sedang berhadapan dengan perempuan usia sebaya dengan pakaian ketat warna hitam dan rambut acak-acakan berkesan liar. Wanita berpakaian hitam itu mempunyai gerakan yang sangat lincah dan cepat. Pedangnya bergagang hitam mampu berkelebat nyaris tak terlihat mata. Tapi wanita berjubah merah jambu itu pun mempunyai jurus pedang yang sering membuat lawan nyaris tertipu.

Suto Sinting sedikit terperanjat melihat wanita berjubah merah jambu sebab ia sangat kenal dengan wanita itu. Sebuah peristiwa terbayang dalam benak Pendekar Mabuk begitu melihat wanita yang menjadi anak Adipati Suralaya. Wanita itu tak lain adalah Delima Gusti, yang dulu pernah menolong Suto Sinting dalam keadaan terkena racun 'Lebah Setan' dari Dewa Sengat. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Cambuk Getar Bumi).

Sedangkan wanita berambut acak-acakan itu belum pernah dikenal Suto sama sekali, sehingga batin Suto bertanya-tanya; siapa wanita yang mempunyai jurus pedang cukup hebat itu? "Pakaiannya seperti dari karet. Ketat sekali dengan tubuhnya yang meliuk-liuk penuh tantangan bercumbu itu," pikir Suto. "Siapa sebenarnya perempuan berambut acak-acakan itu? Sebenarnya dia cantik, sayang tak mau merawat kecantikannya sehingga tak terlalu kelihatan menyolok. Hanya dadanya saja yang sangat menyolok karena besar dan sesak itu. Agaknya ia mempunyai jurus pedang yang cukup hebat, terbukti Delima Gusti berulang kali terdesak dan hampir terpenggal lehernya. Hmmm... kalau kubiarkan saja, Delima Gusti bisa mati di ujung pedang perempuan berkulit kuning langsat itu."

Pandangan mata Suto Sinting tersentak lebar ketika melihat perempuan itu berani lemparkan pedangnya ke dada Delima Gusti. Wuuut...! Pedang itu kenai tempat kosong karena Delima Gusti menghindar dengan lompatan ke samping.

Weess...!

Dan ternyata dengan sentakan tangan yang terjulur bergerak ke belakang, pedang bergagang hitam itu bisa kembali mundur dengan cepat.

Wuuut! Taab...!

Dalam sekejap pedang itu sudah kembali ke tangan pemiliknya. Jurus itu belum pernah dilihat oleh Suto Sinting. Tangan perempuan berpakaian hitam itu seperti mempunyai daya sedot yang mampu membuat pedangnya yang sudah melayang lurus menjadi kembali ke tempat semula. Tentu saja hal itu bisa dilakukan karena tenaga dalam yang tinggi dan sangat terkendali.

"Bahaya sekali jurus pedangnya itu," gumam Suto masih belum mau bertindak.

Tetapi di lain sisi, Delima Gusti pun lakukan jurus yang memukau, ia tak mau mundur setapak pun ketika lawannya maju menyerang. Pedangnya berkelebat cepat membuat tangkisan-tangkisan sambil mencuri kesempatan untuk merobek perut atau dada lawannya. Bahkan dalam satu keeempatan, Delima Gusti berhasil lemparkan pedangnya lurus ke depan, tapi tubuhnya segera melompat dan hinggap di pedang yang sedang melayang.

Wuuutt...!

Delima Gusti bagaikan terbang dengan berdiri di atas pedangnya yang datar. Ujung pedang diarahkan ke leher lawan. Bahkan ketika lawan menghindar ke kiri, Delima Guatl membelokkan arah terbangnya pedang, sehingga pedang itu mengejar lawan ke kiri juga.

Slaaap...!

Pedang menukik naik karena lawan lakukan lompatan ke atas. Arah pedang tertuju ke perut lawan. Kaki Delima Gusti seakan menjadi pengganti tangan yang hendak menghunjamkan pedang itu ke tubuh lawan. Kibasan pedang perempuan berpakaian hitam itu ditangkis dengan sentakan tenaga dalam yang keluar dari telapak tangan Delima Gusti, sehingga tangan yang hendak menebaskan pedang tersentak ke belakang, tak jadi maju ke depan. Tapi pedang di kaki Delima Gusti melesat naik dan berputar membuat Delima Gusti berjungkir balik di udara dengan kaki tetap menempel pada pedang. Untung saja perempuan yang menjadi lawannya cepat bersalto ke belakang, jika tidak perutnya akan jebol ditembus oleh pedang Delima Gusti.

"Ternyata jurus pedang Delima Gusti juga tidak bisa diremehkan?!" gumam Suto bicara sendiri. "Mungkin itulah yang dinamakan jurus 'Pedang Terbang'."

Karena keenakan nonton jurus pedang yang demikian hebat, Suto hampir saja lupa melerai pertarungan itu. Kesadarannya timbul ketika Delima Gusti terdesak di bawah pohon setelah menerima tendangan keras tepat di ulu hatinya dari wanita berambut acak-acakan itu.

Duuhg...! Wuuus...!

Delima Gusti terkapar di bawah pohon. Punggungnya tadi membentur batang pohon dengan keras. Darah keluar dari mulut Delima Gueti. Tapi ia masih berusaha untuk segera bangkit, walaupun dalam keadaan sempoyongan. Kelemahan itu tidak disia-siakan oleh lawannya. Lawan segera menerjang dengan pekik melengking penuh hasrat membunuh.

"Hiaaat...!"

Pedang bergerak cepat ke sekeliling tubuh, tak tahu akan menebas melalui sisi mana. Delima Gusti pasti tak mampu menangkis serangan itu. Maka, Suto Sinting segera kirimkan pukulan ringan namun cukup melumpuhkan. Jurus 'Jari Guntur' digunakan. Sentilan jarak jauh dari jari tangan kanannya melepaskan tenaga dalam tanpa sinar.

Tess...! Wuuut...!

Buuhg...! Pukulan tenaga dalam itu mengenai dada perempuan berpakaian ketat tereebut. Gerakan majunya terhenti seketika, tubuhnya melayang balik dengan terjungkir satu kali dan jatuh dalam jarak tiga tombak dari tempatnya melompatnya tadi. Ia terengah-engah dengan keadaan setengah merangkak. Dadanya dipegangi karena merasa sakit, merasa seperti dijejak dengan dua kaki kuda.

Delima Gusti merasa heran, namun cepat tanggap bahwa ada orang yang telah membantunya dari suatu tempat. Delima Gusti segera sapukan pandangan mata ke segala arah. Lalu temukan sosok seorang lelaki berdiri di atas bukit gundul. Dari bumbung tuak di pundak kanan, Delima Gusti segera mengenali bahwa lelaki di atas bukit itu tak lain adalah Suto Sinting. Maka ia pun mendesah di sela engahan napasnya,

"Suto...?!"

Keadaan seperti itu adalah kelengahan yang berbahaya bagi Delima Gusti. Perempuan berpakaian hitam ketat itu ternyata memanfaatkan kelengahan tersebut dengan melepaskan seberkas sinar yang disentakkan dari ujung jari tangan kiri. Claap...! Sinar merah terang berkelebat menuju Delima Gusti.

Suto Sinting yang mengetahui keadaan gawat itu segera menyentakkan jari tangannya juga setelah jari itu disentuhkan di dahi. Wuuut...! Suto bagaikan membuang sesuatu di ujung dua jarinya, lalu seberkas sinar ungu melesat melebihi kecepatan sinar merah perempuan berpakaian hitam itu. Zlaaap...! Sinar ungu itu tepat membentur sinar merah sebelum mencapai tubuh Delima Gusti. Benturan tersebut hadirkan gelombang panas yang meledak dan menghentak ke berbagai penjuru.

Blaaarr...!

Jurus 'Turangga Laga' telah menyelamatkan Delima Gusti dari ancaman maut sinar merah lawannya. Namun daya ledak yang menimbulkan gelombang panas menyentak kuat telah menerbangkan tubuh Delima Gusti hingga terpelanting tak tentu arah. Demikian pula lawannya, terpelanting membentur pohon menerabas semak belukar dan jatuh berdebum di balik semak. Suto Sinting segera turun dari atas bukit untuk menolong Delima Gusti.

"Su... Suto...!" Delima Gusti semakin parah, darah keluar dari mulut semakin banyak. Wajahnya sepucat mayat.

Suto Sinting segera menyangga kepala Delima Gusti, lalu meminumkan tuaknya. Dua teguk tuak masuk ke tubuh Delima Gusti. Suto Sinting segera letakkan kembali kepala Delima Gusti ke tanah. Karena pada waktu itu, perempuan berambut acak-acakan itu telah melompat keluar dari balik semak dan berseru dengan suara sedikit serak,

"Manusia licik! Siapa kau, hah?! Apa urusanmu sehingga berani mencampuri pertarunganku ini?!"

"Maaf, Nona. Aku hanya tidak menghendaki temanku ini mati di tanganmu!" kata Suto sedikit keras namun tidak menampakkan sinar bermusuhan.

"Dia harus mati!" sentaknya sambil menuding Delima Gusti pakai tangan kiri, sebab tangan kanannya masih pegangi pedang. "Kalau kau mau ikut dia ke alam baka, sekarang juga aku akan mengirimnya ke sana! Hiaaah...!"

Claaap...! Sentakan telapak tangan kiri yang kuat melepaskan selarik sinar kuning lurus besarnya seukuran gagang tombak. Suto Sinting segara menghadang sinar kuning itu dengan bumbung tuaknya. Dees...!

Wuuuk...! Sinar kuning itu berbalik arah, dua kali lebih besar dari aslinya dan dua kali lebih cepat dari gerakan semula.

"Edan!" pekik perempuan itu geram. Dia terkejut melihat sinar kuningnya berbalik arah. Ia segera sentakkan kaki dan, wwwut...! Tubuhnya melesat ke atas. Sinar kuning itu lewat di bawah kakinya. Namun ila tak tahu kalau jaraknya dekat dengan pohon. Maka ketika sinar kuning itu menghantam pohon, suara ledakan yang timbul menggelegar itu hasilkan gelombang panas yang menyentak ke berbagai arah.

Blegaaar...!

Tubuh perempuan itu tersentak ke depan dan jatuh tersungkur dengan keras. Wajahnya beradu dengan rumput. Dadanya yang membusung montok itu pun bagaikan dibantingkan ke tanah. Bung...!

"Eegh...!" suaranya tertahan karena hentakan itu. Kejap berikut terdengar suara erangan kecil, ia menggeliat dan bangkit pelan-pelan. Matanya memandang ganas walau berdirinya masih belum bisa tenang, limbung kekiri-kanan.

Suto Sinting sengaja dekati perempuan itu. "Maaf, itu seranganmu sendiri," katanya dengan lembut.

Walau matanya menatap tajam dan berkesan ganas, tapi hati perempuan itu berkata, "Tak pernah ada yang bisa membalikkan pukulan 'Lancang Kuning'-ku itu. Jika dia bisa berbuat seperti tadi, berarti ilmunya cukup tinggi. Uuh...! Punggungku terasa panas sekali. Kurasa ada bagian tubuh yang hangus. Tulang punggungku pun terasa retak. Aku butuh waktu untuk atasi luka dalamku ini. Hmmm... sayang sekali dia tampan, kalau tidak, sudah kulepaskan jarum pamungkasku ke arahnya sekarang juga. Sial!"

Suto Sinting berkata dengan lembut, senyumnya tipis memikat hati wanita. "Kalau kau tidak menyerangku, kau tidak akan celaka, Nona!"

"Jangan banyak mulut! Suatu saat kita pasti bertemu, dan akan kubalas kekalahanku ini!" Setelah berkata demikian, Suto Sinting melihat perempuan itu mundur tiga tindak, kemudian berbalik dan cepat pergi tinggalkan tempat. Gerakannya cukup cepat, karena dalam kejap berikutnya sudah tidak terdengar langkah dan gerakan larinya.

Delima Gusti menyusul Suto dengan badan masih sedikit lemas, tapi rasa sakit di bagian dada sudah hilang. Napasnya masih sedikit terengah-engah. "Seharusnya jangan kau biarkan dia melarikan diri!" kata Delima Gusti.

"Siapa dia sebenarnya?" mata Suto masih memandang ke arah kepergian perempuan tadi.

"Dia dikenal dengan nama Angin Betina. Murid Nini Pancungsari, tentunya kau masih ingat nama Nini Pancungsari!"

"Ya, aku ingat. Nini Pancungsari yang bekerja sama dengan Sri Maharatu untuk membunuh Bandar Hantu Malam, tapi akhirnya mati sebagai bahan percobaan pusaka Cambuk Getar Bumi di tangan Sri Maharatu."

"Benar. Dia berkelana mencari pembunuh gurunya." "Lalu, mengapa seharusnya tak kubiarkan melarikan diri?" "Dia mencarimu, mau membunuhmu, karena ada kabar yang mengatakan bahwa pembunuh gurunya adalah Suto Sinting."

"Mengapa terlibat bentrokan denganmu?"

"Karena... karena ketika kami sama-sama satu kedai, kudengar sesumbarnya yang memuakkan, yaitu akan memotong-motong tubuhmu menjadi delapan bagian. Aku tak rela kau mati di tangannya. Maka kuhadang dia di perjalanan dan kucoba untuk melumpuhkannya. Ternyata ia cukup tangguh. Tapi aku yakin tak ada sekuku hitamnya jika dibandingkan ilmumu."

"Berarti dia hanya tahu nama tanpa tahu rupa?"

"Kurasa begitu. Buktinya, dia justru pergi, padahal dia mencarimu. Dia tak tahu kalau yang dihadapi adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting!"

Tawa Suto pendek saja. Kalem, tak terpancing kemarahan, ia bahkan menenggak tuaknya beberapa teguk. Saat itu Delima Gusti berkata,

"Kau mau ke mana, Suto?"

"Menemui guruku untuk suatu keperluan. Kau sendiri mau ke mana?"

"Menemui Resi Wulung Gading, mau menanyakan ciri-ciri Pedang Kayu Petir."

Seketika itu juga Suto Sinting tersentak kaget, matanya cepat memandang tajam pada Delima Gusti, lalu dia ajukan tanya pada wanita cantik itu, "Kenapa kau ingin mengetahui ciri-ciri Pedang Kayu Petir?"

"Seseorang ingin melamarku dan memberiku mas kawin Pedang Kayu Petir!"

"Hah...?!" Suto terbelalak.

"Siapa orang itu?"

"Gandar Saka, dari Lumpur Maut!"

Suto makin terkejut. "Gandar Saka? Bukankah dia yang berjuluk Raja Tumbal?!"

* * *

TIGA
SUTO SINTING terpaksa menemani Delima Gusti dalam perjalanan ke Lembah Sunyi, untuk menemui Resi Wulung Gading. Hal itu dilakukan Suto demi memperoleh keterangan sejelas-jelasnya dari Delima Gusti tentang kebenaran kata-katanya itu. Sebab, hati Pendekar Mabuk kini diliputi kecemasan yang tersembunyi. Jika benar Pedang Kayu Petir akan dijadikan mas kawin bagi Raja Tumbal untuk melamar Delima Gusti, itu berarti Pedang Kayu Petir sudah ada di tangan Raja Tumbal. Semakin sulit menumbangkan orang yang telah memiliki pusaka Seruling Malaikat itu.

"Kabarnya memang begitu, Gandar Saka sudah berusia banyak, tapi ia masih awet muda karena memang mempunyai ilmu awet muda. Ia seperti lelaki berusia tiga puluhan," tutur Delima Gusti.

"Kau pernah bertemu dengannya?"

"Pernah, yaitu ketika ia selamatkan ayahku dari ancaman orang-orang Pulau Dadap. Waktu itu kami masih bermusuhan dengan Pulau Dadap. Setelah itu aku tak pernah bertemu lagi, karena aku jarang ada di kadipaten. Belakangan kudengar dia menemui Ayah dan melamarku dengan maskawin Pedang Kayu Petir."

"Lalu apa kata ayahmu?"

"Ayah tertarik dengan Pedang Kayu Petir itu. Kata Ayah, pedang itu sangat sakti, dapat lukai semua orang berilmu setinggi apa pun, karenanya pedang itu ditakuti oleh semua orang sakti dari golongan hitam maupun putih. Katanya pula, seluruh kekuatan lawan sesakti apa pun jika matanya sudah memandang Pedang Kayu Petir, maka kekuatan itu akan lumpuh tak akan bisa digunakan selama masih berada di sekitar pedang tersebut. Karenanya mudah digunakan membunuh tokoh yang ilmunya setinggi langit pun. Bahkan kabarnya pedang itu paling ditakuti oleh tokoh sesat terkenal, yaitu Siluman Tujuh Nyawa."

Sebagian keterangan sudah didengar Suto dari beberapa tokoh tua, termasuk Resi Wulung Gading. Tapi agaknya sang Adipati, ayah Delima Gusti itu lebih banyak mengetahui tentang pedang tersebut. Tak heran jika sang Adipati sangat tertarik untuk memiliki Pedang Kayu Petir.

"Apakah waktu Gandar Saka datang kepada ayahmu sudah membawa pedang tersebut?" tanya Suto bersifat menyelidik.

"Belum. Kurasa Gandar Saka tidak bodoh, membawa-bawa pedang pusaka tanpa jelas lamarannya diterima atau tidak. Salah-salah direbut orang di tengah jalan," jawab Delima Gusti.

"Menurutmu sendiri bagaimana? Apakah kau mau menikah dengan Gandar Saka?"

"Ayah hanya mengatakan, kesempatan mendapatkan pedang maha sakti itu hanya satu kali ini. Belum tentu tujuh turunan kita bisa punya kesempatan lagi. Jadi, Ayah sarankan padaku agar jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku didesak untuk menerima lamaran Gandar Saka, toh pedang itu nantinya akan menjadi milikku. Jadi kupikir-pikir, kuterima saja lamarannya demi dapatkan pedang itu. Sesakti apa pun si Gandar Saka, kalau pedang itu sudah ada di tanganku, aku bisa lepaskan diri dari tali perkawinan itu. Kalau dia melawan, aku punya senjata untuk melumpuhkannya!"

"Jadi kau tidak mencintainya?"

"Aku tahu orang Lumpur Maut itu busuk-busuk hatinya! Untuk apa aku jatuh cinta pada lelaki berhati busuk, kecuali untuk dapatkan pedang maha sakti!"

Terdengar suara tawa Suto pendek saja, seperti orang menggumam. Sambil tetap melangkah menuju Lembah Sunyi, hati Suto Sinting berkecamuk sendiri. "Cerdik juga otak perempuan ini. Rela menjadi istri Raja Tumbal hanya untuk dapatkan senjata sesakti itu. Tetapi apa jadinya jika ternyata pedang itu palsu? Padahal Delima Gusti sudah telanjur menjadi istri Raja Tumbal? Mau melawan tanpa pedang asli, jelas ia tak akan mampu mengalahkan Raja Tumbal. Bahaya juga kalau Delima Gusti tidak hati-hati. Dia bisa terjebak dalam lumpur mautnya Raja Tumbal!"

"Apakah kau keberatan kalau aku menerima lamaran Gandar Saka?" pancing Delima Gusti. "Kalau memang kau keberatan aku bersuamikan dia, kubatalkan niatku memperoleh pedang pusaka itu, asal aku dapat pangganti seorang suami yang serupa persis denganmu."

Suto Sinting tertawa pendek. "Agaknya perempuan ini menyimpan hati untukku tapi tak berani berterus terang," pikir Suto. "Terserah, itu haknya untuk jatuh cinta kepada siapa saja. Yang jelas aku tak boleh mengikatnya kalau aku tak siap membalas cintanya."

"Jawablah, Suto," Delima Gusti sengaja hentikan langkah. "Jawablah apakah kau keberatan aku menikah dengan Raja Tumbal?"

Suto tersenyum menawan. Lembut dan meneduhkan hati. "Yang membuatku kecewa kalau kau terjebak lumpurnya Raja Tumbal itu!"

"Maksudmu?"

"Pedang itu ternyata palsu, tapi kau sudah terikat tali perkawinan dengannya. Kau tak akan bisa memberontak. Kalau toh kau memberontak, kau akan kalah bertanding ilmu dengannya. Ingat, dia punya pusaka Seruling Malaikat!"

Delima Gusti tarik napas panjang-panjang, lalu melangkah lagi sambil berkata dengan pelan, "Itulah sebabnya perlu kutanyakan dulu kepada Resi Wulung Gading tentang ciri-ciri pedang tersebut. Bila perlu, akan kuminta Resi Wulung Gading datang pada saat penyerahan pedang dan memeriksanya."

Gagasan itu dianggap cukup bagus oleh Pendekar Mabuk. Tapi ia yakin, jika pedang itu asli, pasti akan direbut oleh Resi Wulung Gading, sebab Pedang Kayu Petir adalah pedang milik leluhurnya dan hanya sang Resi yang berhak memegang pedang tersebut. Sekalipun pedang tersebut sudah dinyatakan hilang puluhan tahun, tetapi sang Resi pasti tetap merasa harus merebutnya jika ia tahu di mana pedang itu berada.

Mereka tiba di padepokan sang Resi ketika matahari mulai bergeser ke barat. Cahayanya masih terang benderang. Kedatangan mereka disambut oleh dua murid sang Resi yang luput dari pembantaian Dampu Sabang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bandar Hantu Malam). Kedua orang itu adalah Dul dan Sukat.

"Guru tidak ada di tempat," kata Sukat.

"Ke mana beliau?"

"Pergi ke Jurang Lindu," jawab Dul.

"Ke Jurang Lindu?!" Suto berkerut dahi.

"Ya. Beliau ingin temui seorang tokoh sakti di sana bergelar si Gila Tuak!" kata Sukat tanpa menyadari bahwa yang diajak bicara adalah murid si Gila Tuak.

Hal itu membuat Delima Gusti memandangi ke arah Suto, sebab ia tahu bahwa Suto Sinting adalah murid si Gila Tuak. Tapi karena Suto berpikir beberapa saat, maka Delima Gusti pun segera ajukan tanya kepada Sukat. "Kapan beliau pulang kemari?"

"Menurut hitungan, hari ini Guru pulang. Mungkin sedikit sore baru tiba."

"Kalau begitu begini saja," kata Suto kepada Delima Gusti. "Kau tunggu sang Resi datang di sini, aku akan bergegas ke Jurang Lindu, siapa tahu kepulangan beliau ditunda. Aku akan ceritakan tentang dirimu yang ada di sini serta maksud dan tujuanmu mencari beliau."

"Baik. Aku setuju. Aku akan menunggumu juga walau sudah bertemu dengan sang Resi nanti. Jadi kuharap dari temui gurumu kau kembali ke sini dan kita pergi bersama. Mungkin ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan."

Sambil berlari menggunakan gerak siluman menuju Jurang Lindu, benak Suto selalu berkecamuk terutama tentang dua hal yang disangsikan. "Benarkah pedang itu sudah ada di tangan Raja Tumbal? Serela itukah ia memberikan pedang maha sakti itu hanya untuk mempersunting seorang wanita anak Adipati? Alangkah bodohnya Gandar Saka jika hal itu benar-benar terjadi."

Lalu pikiran Suto pun beralih pada kesangsian kedua, "Benarkah Delima Gusti ingin dilamar Gandar Saka dengan maskawin Pedang Kayu Petir? Jangan-jangan Delima Gusti hanya membual di depanku untuk memancing perasaanku, apakah mencintainya atau tidak? Alangkah beruntungnya Delima Gusti jika memang hal itu benar-benar terjadi."

Tepat menjelang petang, Suto Sinting tiba di kediaman gurunya; si Gila Tuak. Tetapi tempat itu ternyata kosong. Gila Tuak tak ada di tempat. Resi Wulung Gading juga tidak ada di tempat. Tak pernah ada tanda ke mana Gila Tuak pergi. Hal itu membuat Suto menjadi bingung sendiri.

"Kalau begitu aku harus pergi ke Lembah Badai untuk temui Bibi Guru Bidadari Jalang. Siapa tahu Guru ada di sana bersama ResiWulung Gading! Setidaknya aku bisa tanyakan kepada Bibi Guru tentang kelemahan Seruling Malaikat. Pasti Bibi Guru mengetahuinya, mungkin juga kenal dengan Raja Tumbal."

Zlaaap...! Dengan gunakan gerak siluman Suto menuju Lembah Badai. Lembah itu adalah satu-satunya lembah yang sering dilanda badai. Konon tak jauh dari pondok Bidadari Jalang terdapat pusaran angin yang mampu menyedot benda apa pun yang melintas di atasnya, itulah sebabnya lembah itu dinamakan Lembah Badai.

Sejak Bidadari Jalang mengasingkan diri di Lembah Badai, membersihkan diri dari tindakan sesatnya selama ini, ia tinggal di pondok itu bersama seorang pelayan wanita yang bernama Biyung Supi. Usianya sekitar empat puluh tahun. Konon seorang janda yang nyaris mati di tangan perampok, lalu diselamatkan oleh Bidadari Jalang dan akhirnya mengabdi di sana. Biyung Supi orang yang pendiam, rajin bekerja, dan taat pada perintah majikannya. Badannya kurus, rambutnya panjang tapi selalu digelung rapi. Kulitnya sawo matang. Sisa kecantikannya masih terlihat lewat kebangiran hidung dan keindahan bentuk mata serta bibirnya. Kegemarannya mengenakan kebaya hijau muda dengan kain batik warna coklat cerah. Perempuan itulah yang menyambut kedatangan Suto dan memberitahukan,

"Gusti Ayu Bidadari Jalang sedang pergi, Tuan Pendekar."

"Ke mana perginya, Biyung?"

"Secara pasti saya tidak tahu, Tuan Pendekar. Tetapi tadi Eyang Guru Gila Tuak dan Resi Wulung Gading menjemputnya. Mereka pergi bertiga. Kalau tak salah dengar, mereka akan hadiri pertemuan para tokoh tua yang akan membicarakan soal kemunculan Pedang Kayu Petir."

Pendekar Mabuk terperanjat sedikit, namun segera bersikap biasa kembali. "Kapan mereka akan pulang?"

"Saya tidak mendengar percakapan tentang kapan beliau pulang."

"Apakah kau juga tidak tahu di mana mereka berkumpul?"

"Tidak mendengar nama tempat disebutkan oleh beliau, Tuan Pendekar."

Petang mulai datang. Dengan hati sedikit kecewa karena tidak berhasil temui guru-gurunya, Suto pun kembali ke Lembah Sunyi, ia perlu bicarakan tentang pertemuan para tokoh tua itu kepada Delima Gusti. Siapa tahu perempuan cantik itu mengetahui adanya pertemuan tersebut dan bisa sebutkan tempatnya. Jika Suto tahu tempatnya, sudah pasti ia akan menyusul para gurunya ke tempat pertemuan itu. Sebab pembicaraan yang dibahas sangat menarik perhatiannya, yaitu tentang kemunculan Tedang Kayu Petir.

"Ternyata pedang itu memang benar-benar muncul lagi di permukaan bumi," pikir Suto dalam perjalanannya. "Terbukti para tokoh tua berkumpul untuk membicarakannya. Berarti apa yang dikatakan Delima Gusti itu benar, bahwa Pedang Kayu Petir ada di tangan Raja Tumbal dan akan dijadikan maskawin. Barangkali para tokoh tua mendengar pedang pusaka maha sakti itu akan dijadikan maskawin, sehingga hal itu perlu dibicarakan secara penuh perhatian. Mungkin tindakan itu dianggap penghinaan terhadap pusaka maha sakti, atau mereka berusaha selamatkan pedang itu dari tangan Raja Tumbal?"

Pendekar Mabuk hanya meraba kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan bisa dilakukan oleh para tokoh tua. Diam-diam dia mempunyai kecemasan walau kecil sekali. Kecemasan itu berupa bayangan kesaktian Raja Tumbal jika pedang maha sakti itu tak jadi diberikan kepada orangtua Delima Gusti. Menurut Suto, kesaktian Raja Tumbal akan semakin berlipat ganda; punya pedang maha sakti dan Seruling Malaikat. Siapa orangnya yang bisa mengalahkan dua pusaka dalam satu tangan itu?

Suto sempatkan diri berhenti sejenak, ia menenggak tuaknya. Ternyata tuak tinggal sedikit, ia harus mengisi bumbung itu dengan tuak yang baru. Ia tak mau kehabisan tuak di perjalanan. Gagasan yang terlintas adalah singgah di desa Pucangan, karena desa itulah yang terdekat dari tempatnya berhenti.

"Aku akan mampir ke kedainya Ki Rosowelas dan mengisi tuak di sana. Sekalian ingin melihat kabarnya Sundari, anak gadis Ki Rosowelas itu," pikir Suto sambil segera melesat ke arah desa Pucangan di kaki Gunung Keong Langit. Dari desa itu dapat ditempuh jalan menuju Lembah Sunyi lebih dekat lagi asal mau melintasi lereng Gunung Keong Langit, bekas persinggahan Bandar Hantu Malam yang bernama asli Ki Randu Papak itu.

Satu hal yang tak disangka-sangka terjadi di kedai Ki Rosowelas. Kedai masih buka, pembelinya cukup ramai karena salah satu warga desa ada yang punya hajat, mengawinkan anaknya dengan menanggap ronggeng. Rumah yang sedang punya hajat itu tidak seberapa jauh dari kedai Ki Rosowelas. Karenanya banyak pembeli yang hilir mudik ke kedai tersebut.

Suto Sinting sengaja muncul dari pintu dapur. Sundari berteriak kegirangan, lalu tanpa sungkan-sungkan memeluk Suto sebagai ungkapan rasa girangnya. Ki Rosowelas pun tampak gembira sekali menerima kedatangan Suto, bahkan sempat menceritakan keadaan Suto yang waktu itu ditemukan seperti orang gila. Suto mengerti maksud Ki Rosowelas, dan ia jadi malu membayangkan masa linglungnya karena terkena racun 'Lebah Setan' itu. Temu kangen itu terjadi di dapur, sehingga tidak mengganggu orang lain dan tidak terganggu oleh orang lain.

"Aku hanya ingin mengisi bumbung tuakku yang hampir kering, Sundari. Setelah itu aku harus pergi ke Lembah Sunyi."

"Mengapa buru-buru, Suto? Bermalamlah di sini saja! Besok baru teruskan perjalananmu," bujuk Sundari dengan penuh harap, karena gadis itu sebenarnya menyimpan cinta dan kekaguman terhadap Pendekar Mabuk.

Sambil mengisi tuak ke bumbung, Ki Rosowelas juga menyarankan agar bermalam di tempatnya. Bahkan Pak Tua itu tambahkan kata, "Mumpung ada tanggapan ronggeng semalam suntuk lho. Pasti seru dan sangat sayang kalau dilewatkan."

"Kapan-kapan saja aku bermalam lagi di sini, Ki.Sekarang aku punya urusan yang lebih penting daripada nonton ronggeng semalam suntuk," kata Suto. Ia menerima bumbungnya kembali setelah bumbung itu penuh tuak. "Ada makanan apa di depan,Ki?"

"Biasa... ketan, singkong rebus, ubi goreng, pisang goreng, jadah, dan... cobalah lihat sendiri sana," kata Ki Rosowelas yang sudah menganggap Suto seperti anak sendiri.

Diam-diam Sundari persiapkan kamar untuk bermalam Suto. Ia yakin dengan bujukan dan rengekan manjanya, Suto pasti akhirnya akan bermalam di kedainya itu. Setidaknya akan terpaksa bermalam jika kamar sudah disiapkan oleh Sundari.

Ketika Suto ingin mengambil makanan sebagai pengganjal perut, tiba-tiba matanya memandang ke arah bangku sudut. Di sana duduk seorang wanita berambut acak-acakan, mengenakan pakaian ketat warna hitam, wajahnya tampak angker walau sebenarnya cantik. Suto terkejut memandang wanita itu yang tak lain adalah Angin Betina, lawan Delima Gusti yang konon sedang mencari Suto untuk dibunuh.

Melihat si murid Nini Pancungsari itu duduk sendirian dalam keadaan sedang termenung, Suto Sinting pelan-pelan mendekatinya dengan senyum tipis telah mekar di bibirnya dan sepotong pisang goreng ada di tangannya. Wanita berwajah liar itu terkejut ketika sadar ada lelaki telah berdiri di depannya. Ia langsung pegang gagang pedang, namun segera batalkan niat mencabutnya setelah matanya menatap jelas-jelas siapa pemuda yang mendatanginya itu.

"Kampret busuk! Si tampan itu lagi yang muncul!" gumamnya dalam hati.

"Boleh aku duduk di bangku depanmu ini, Nona Cantik?"

Angin Betina diam saja, berkesan angkuh dan sinis. Tapi ketika Suto duduk di bangku depan mejanya, ia segera buang muka bagai tak ingin beradu pandang dengan Suto Sinting. Lagaknya itu membuat Suto kian melebarkan senyum geli.

"Untuk apa kau berada di desa ini, Angin Betina?"

Seet...! Wajah sangar itu berpaling memandang Suto. "Dari mana kau tahu namaku?!" ucapnya bernada ketus.

"Banyak hal yang kuketahui tentang dirimu. Sesungguhnya kau berhadapan dengan seorang peramal," kata Suto mulai membual dalam canda batinnya.

Mata Angin Betina terkesiap. "Apa saja yang kau tahu tentang diriku?"

"Kau sedang dilanda kemarahan yang tertunda, tapi juga menyimpan duka atas suatu musibah yang terpaksa harus kau hadapi."

Angin Betina tidak memberikan pendapat. Diam beberapa saat. Karena Suto pun diam agak lama dan mereka saling adu pandang, Angin Betina tak kuat menahan debar-debar di hatinya, maka ia alihkan perhatian hatinya dengan tanya,

"Apa lagi yang kau tahu?"

"Kau... sedang berkabung atas kematian gurumu."

Suto memandang dengan sengaja tak berkedip supaya kelihatan sedang meneropong mata dan membaca pikiran wanita itu. Si wanita mulai tertarik dan mendesak pertanyaan, "Kalau kau memang peramal, sebutkan nama guruku!"

"Hmmm... gurumu adalah Nini Pancungsari, orang berilmu tinggi yang punya dendam dengan tokoh sakti bernama Bandar Hantu Malam!"

Angin Betina mulai semakin tertarik dengan gerak mata yang sedikit melebar tanda terperanjat. Padahal semua keterangan itu sudah diperoleh Suto jauh sebelum ia bertemu dengan Angin Betina. "Apa kau tahu siapa pembunuh guruku?"

"Hmmm... ya, tahu! Tapi berbeda dengan alam pikiranmu."

"Jelaskan!"

"Gurumu bertarung melawan Bandar Hantu Malam, bekerja sama dengan Sri Maharatu. Mereka berhasil membunuh Bandar Hantu Malam, gurumu mengambil kalung pusaka Bandar Hantu Malam, sedangkan Sri Maharatu mengambil pusaka Cambuk Getar Bumi. Tapi Sri Maharatu orang kejam. Gurumu dipakai bahan percobaan kesaktian cambuk itu. Sri Maharatu melecutkan cambuknya dan gurumu pun mati. Sri Maharatu baru percaya bahwa cambuk itu adalah cambuk pusaka yang mempunyai kesaktian tinggi."

"Sri Maharatu...?!" gumamnya mulai berkerut dahi.

"Aslinya memang dia pembunuh gurumu. Tapi... sepertinya kau telah memperoleh berita yang salah. Kau pasti sangka orang lain yang membunuhnya."

"Memang benar. Tapi tahukah kau siapa orang yang kusangka membunuh guruku?"

"Menurut pikiranmu yang kubaca saat ini, kau menyangka Pendekar Mabuk yang bernama Suto Sinting itulah orang yang kau anggap membunuh gurumu."

Keheranan Angin Betina mulai terlihat jelas dari gumamnya, "Aneh! Tepat sekali!" sorot matanya pun mempunyai nada keheranan cukup dalam. "Aku ingat, kala itu Guru memang dihampiri oleh Sri Maharatu dari Pulau Dadap, dan mereka menyebut-nyebut cambuk pusaka yang bernama..."

"Cambuk Getar Bumi!"

"Ya. Tepat. Rupanya ini kelicikan Sri Maharatu?!"

"Benar. Tapi dia sekarang sudah tiada. Tewas terpotong-potong di depan tiga saksi, yaitu Delima Gusti, Resi Wulung Gading, dan Putri Kunang, adik tiri Sri Maharatu."

"Siapa yang membunuh Sri Maharatu?"

"Pendekar Mabuk, Suto Sinting."

Angin Betina nyata-nyata terkejut mendengar nama itu disebutkan sebagai pembunuh Sri Maharatu. Karena di dalam hatinya sudah mempunyai perubahan dendam, ia ingin mencari Sri Maharatu untuk membalas kematian gurunya. Namun ia sangat tak menyangka kalau Sri Maharatu justru telah mati di tangan orang yang pertama kali dicurigai membunuh gurunya.

"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?"

"Karena aku seorang peramal," jawab Suto dengan senyum tipis mengguncangkan hati Angin Betina.

Keketusan dan keangkuhannya mulai mengendor. Ia meneguk arak pesanannya dalam cangkir kecil. Matanya masih memandang Suto dengan kesan nakal. Senyumnya pun tipis punya arti jalang. Lalu ia berkata pelan, "Terlalu tampan kau untuk seorang peramal."

"Orang cantik sepertimu yang menjadi dukun bayi juga banyak," kata Suto.

Angin Betina lebarkan senyum, bernada geli mendengar kelakar Suto. "Kau sudah tahu namaku. Sekarang aku perlu tahu, siapa namamu?"

Suto diam sesaat mempertimbangkan jawabannya. Karena terlalu lama membungkam, Suto kembali didesak Angin Betina,

"Siapa namamu? Katakan saja. Aku tak pernah menghina nama sejelek apa pun!"

"Namaku... Pancawala!"

"Oh, nama yang bagus sekali," ucap Angin Betina dengan lirih.

Suto sengaja tak mau sebutkan namanya, takut kalau Angin Betina tidak mau percaya dengan ceritanya tadi. Ia bergegas tinggalkan Angin Betina sebentar karena Sundari lambaikan tangan kepadanya. Suto bergegas ke dapur dan mendengar Sundari berkata,

"Jangan dekati wanita itu! Dia sedang mencarimu untuk dibunuh!"

Ki Rosowelas menyahut, "Tidak apa-apa. Aku tadi sudah ceritakan banyak-banyak tentang dirimu. Saat kau masuk dapur tadi, ia bertanya padaku mengapa kelihatannya di dapur terjadi kegembiraan. Lalu kuceritakan secara singkat siapa dirimu. Apa yang kudengar dari orang-orang tentang keberhasilanmu membunuh Sri Maharatu yang mencuri cambuk pusakanya Bandar Hantu Malam juga kuceritakan dan..."

"Jadi dia dia sudah tahu namaku, Ki?"

"Sudah! Sudah tahu!" jawab Ki Rosowelas dengan bangga. "Malah dia merasa menyesal telah mengancam oang yang telah membalaskan kematian gurunya itu."

Suto Sinting tertegun bengong dan menjadi tak enak hati. Jika begitu maka bualannya tadi sia-sia. Suto jadi salah tingkah, namun segera punya niat meluruskan pengakuannya tadi. Ia segera temui Angin Betina lagi dan berkata dengan lagak kikuknya. "Hmmm... maaf, kurasa..."

"Aku besok akan pergi ke Bukit Lajang, apakah kau mau ikut Pancawala?"

"Hmmm... anu. namaku bukan Pancawala. Namaku Suto Sinting dan..."

"Ah, Pancawala!"

"Bukan kok. Namaku Suto Sinting! Aku tadi..."

"Sekali Pancawala tetap Pancawala. Jangan berubah-ubah!"

Suto mengendur, "Hmmm... iyalah. Pancawala juga boleh..."

Angin Betina tersenyum. "Aku mau ke Bukit Lajang, kau mau ikut?" ulangnya.

"Untuk apa ke sana?"

"Menyadap pembicaraan tokoh sakti yang sedang membicarakan tentang munculnya Pedang Kayu Petir."

"Hahh...?!" Suto terkejut, hal ini pun termasuk sesuatu yang tak disangka-sangka. Ternyata Angin Betina justru mengetahui di mana tempat pertemuan para tokoh sakti itu. Padahal Suto sedang berusaha mencari tahu dengan menghubungi Delima Gusti, itu pun belum terlaksana karena harus singgah di kedai tersebut. Agaknya tawaran itu tak bisa ditolak oleh Suto.

"Baiklah. Aku besok mau ikut denganmu ke Bukit Lajang."

"Kalau begitu, malam ini kau pasti setuju jika kita bermalam di sini!"

"Bermalam. Mak... maksudmu.... Eh, tapi di sini hanya ada satu kamar kosong!"

"Cukup untuk berdua, bukan?"

"Eh... tapi... tapi begini saja..."

"Kalau kau tak mau bermalam denganku, aku tak mau mengajakmu ke Bukit Lajang," kata Angin Betina.

Suto semakin bingung dan sulit bicara.

* * *

EMPAT
TiDUR bersama bagi Suto punya dua pengertian; memang benar-benar tidur, atau justru tidak bisa tidur. Jika memang benar-benar tidur, Suto tidak keberatan. Tapi jika ternyata justru tidak bisa tidur, itu yang repot. Suto tidak berani lakukan yang begituan, karena segala gerak-geriknya selalu dipantau oleh calon istrinya; Dyah Sariningrum. Suto Sinting tak mau kecewakan sang kekasih, ia juga tak ingin nodai cintanya yang seputih salju itu.

Angin Betina dibiarkan tidur di kamar yang dulu pernah disewa oleh Suto. Ia sendiri tidur di bangku panjang kedai. "Asal sekarang ia tidur, aku juga tidur, bukankah itu namanya juga tidur bersama? Cuma beda tempat," pikir Suto. Ia sudah persiapkan alasan untuk mengelak kekecewaan Angin Betina jika esok mereka sama-sama bangun dari tidurnya.

Ternyata ketika Suto Sinting bangun dari tidurnya di pagi hari, kamar tempat bermalam Angin Betina itu sudah kosong. Sundari memberitahukan bahwa Angin Betina sudah pergi meninggalkan tempat ketika ayam berkokok. Suto Sinting sempat tertegun di tempat. Dongkol hatinya karena merasa ditinggalkan.

"Sial! Dia benar-benar meninggalkan aku!" gerutu Suto Sinting. "Rupanya yang dikehendaki bukan tidur bersama tapi melek bersama. Ah, dasar perempuan. Kalau sudah ada maunya dan tidak dituruti sering bikin ulah yang menjengkelkan. Tapi sebaiknya kulacak kepergiannya. Pasti belum terlalu jauh."

Suto Sinting temui Sundari di dapur. "Apakah kau tahu saat ia pergi?"

"Ya. Aku sudah bangun kala itu."

"Ke mana arah kepergiannya?"

"Ke selatan," jawab Sundari sambil merasa heran. "Kenapa kau tanyakan? Apakah kau ingin menyusulnya? Susullah ke sana kalau kau ingin peluk dia!" Sundari bernada cemburu, tapi hanya ditanggapi dengan senyum geli oleh Suto.

"Arah selatan, Bukit Lajang?! Hmm...! Masa' iya aku tak bisa sampai di sana kalau sudah kudapatkan arahnya?" pikir Suto Sinting yang akhirnya segera pergi ke arah selatan. Untuk menyusul Angin Betina, Suto terpaksa gunakan gerak silumannya yang mampu berlari secepat angin, melebihi kecepatan anak panah lepas dari busurnya.

Apa yang dibicarakan oleh para tokoh tua mengenai pedang maha sakti itu sungguh membuat hati sangat penasaran. Setidaknya mereka juga akan bicara tentang Raja Tumbal. Suto ingin tahu tentang segala sesuatunya yang berhubungan dengan kesaktian Raja Tumbal, terutama Seruling Malaikat-nya. Tanpa mengetahui seluruh kekuatan Raja Tumbal, tak mungkin dapat diketahui kelemahan dan kekurangannya.

Hanya saja, menyusul Angin Betina tidak semudah menyusul terbang sang garuda. Sudah beberapa saat Suto Sinting lakukan perjalanan cepatnya ke arah selatan, tapi sosok Angin Betina tidak dilihatnya. Bahkan tiba-tiba Suto Sinting menyadari bahwa dirinya sudah berada di perbatasan sebuah desa yang pernah disinggahinya pula; desa Kukusan.

Desa itu adalah desa tempat tinggai mendiang Empu Sakya, si pemilik Keris Setan Kobra. Di desa itu pula Suto Sinting ingat tentang seorang bocah penggembala kambing yang akhirnya sempat berkelana mengikutinya, namun bocah itu merasa menjadi murid Ki Gendeng Sekarat karena mendapatkan satu ilmu dari si tukang tidur itu; ilmu 'Genggam Buana'. Bocah berusia sepuluh tahun itu tak lain adalah Angon Luwak, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keris Setan Kobra)

"Barangkali Angon Luwak bisa tunjukkan di mana letak Bukit Lajang itu," pikir Suto. "Tapi apakah anak itu ada di rumah? Hmm... seandainya tak ada, mungkin aku bisa minta bantuan keluarganya, atau kakaknya yang jualan legen dan pernah disangka sebagai diriku itu, Sabani!"

Rumah keluarga Angon Luwak akhirnya ditemukan setelah bertanya kepada salah satu penduduk desa. Seperti dugaannya, Suto Sinting berhasil temui Sabani, kakak Angon Luwak yang pekerjaannya jualan legen, yaitu air bunga kelapa yang bisa dibuat gula aren, sejenis gula merah, yang pada umumnya dibawa dalam tempat tabung bambu seperti tempat tuaknya Pendekar Mabuk selama ini.

Sabani tampak girang sekali melihat kedatangan Suto ke rumahnya, karena ia pernah ditolong dan diselamatkan oleh Pendekar Mabuk ketika terancam maut dari tangan orang-orang perguruan Lumbung Darah. "Wah, mimpi apa aku semalam, kok sekarang kedatangan tamu agung yang menjadi kebanggaan adikku. Selamat datang, Kang Pendekar!" sambut Sabani. Ia sedikit membungkuk sebagai tanda menghormat sopan kepada Suto Sinting.

Dengan keramahannya, Pendekar Mabuk menepuk-nepuk punggung Sabani. Basa-basi terjadi sesaat, karena jika terlalu lama bisa benar-benar basi. Suto Sinting segera menanyakan tentang Angon Luwak.

"Bocah itu sudah beberapa hari murung dan lesu karena kehilangan jejakmu, Kang. Baru sekitar dua-tiga hari ia menjadi ceria setelah sering diajak bermain perang-perangan oleh teman-temannya," kata Sabani.

"Di mana dia sekarang?"

"Kalau tak salah ada di tegalan, Kang. Kalau mau ketemu dia, biarlah kupanggilkan dulu. Kang Pendekar di sini saja," sambil Sabani bergegas pergi. Tapi lengannya segera dicekal Pendekar Mabuk hingga langkahnya tertahan.

"Biar kutemui saja di tegalan. Aku mau bikin kejutan untuknya."

Pendekar Mabuk segera bergegas ke tegalan atau ke ladang yang belum ditanami tanaman baru. Di sana bocah-bocah seusia Angon Luwak sedang bermain perang-perangan. Ada sekitar delapan anak yang bermain di sana. Angon Luwak pura-pura menjadi pendekar, sedangkan teman-temannya ada yang menjadi penjahat, ada yang berlagak menjadi guru sakti.

Mereka bertarung-tarungan menggunakan tombak dari pelepah pisang, ada yang pura-pura membawa kapak dari pelepah daun kering, ada yang membawa pedang-pedangan dari kayu, ada juga yang lemparkan senjata rahasia dari sabut dan tempurung kelapa. Mereka berciat-ciat ramai sekali, membuat Suto tertawa-tawa sendiri dari kejauhan. Suto sengaja biarkan mereka bermain dan hanya dipandangi dari bawah sebuah pohon berdaun rindang.

"Angon Luwak...," gumamnya. "Kangen juga aku padanya. Jiwa pendekar ada di dalam darahnya, ia memang butuh seorang guru untuk membimbing darah satrianya. Sayang sekali aku tak punya waktu, sehingga tak bisa ajarkan ilmu silatku kepada Angon Luwak. Aku suka kepada anak itu. Nakalnya adalah nakal sang ksatria yang tidak takut menentang bahaya," kecamuk Suto dalam hati sambil tersenyum-senyum.

"Gayanya sudah seperti seorang jago pedang saja," gumam Suto menertawakan gaya Angon Luwak yang belum punya jurus silat sedikit pun tapi sudah sok berlagak bisa silat. Pedang-pedangannya dimainkan asal tebas sana-sini membuat teman-temannya terpaksa mati walau belum sampai terkena pedang-pedangannya. Teriakan Angon Luwak melengking-lengking sambil lompat sana-sini dan akhirnya jatuh telentang sendiri karena salah satu temannya ada yang menyampar kakinya.

"Curang kamu, Din! Jangan sampar kaki, ah!" Angon Luwak menggerutu.

"Saladin benar, Wak! Main silat itu boleh sampar kaki."

"Sampar mulut juga boleh," kata Saladin.

"Ya, ya...! Bolehlah!" kata Angon Luwak, "Tapi aku belum kalah lho!"

"Mana bisa?! Pendekar kalau sudah jatuh ke tanah namanya sudah kalah!" seru teman di belakangnya.

"Tapi kan belum mati!" Angon Luwak ngotot.

"Harus mati! Sudah jatuh kok tidak mau mati? Kamu sudah jadi mayat!"

"Tapi aku tidak kena pusaka kok. Aku jatuhnya karena disampar kakinya!"

"Kamu jadi mayat jangan ngotot!" seru Saladin. "Kalau ngotot nanti liang kuburmu sempit lho!"

"Ah, tidak bisa! Tidak bisa! Aku masih gagah kok, belum kalah!" Angon Luwak masih tak mau dianggap kalah.

Teman-temannya membela Saladin, "Kamu sudah kalah! Sekarang pendekarnya ganti Saladin!"

"Tidak mau!"

"Kamu jadi penjahat sakti!"

"Tidak, tidak! Penjahat tidak ada yang sakti!" Angon Luwak cemberut.

"Wong sudah kalah kok marah!" kata Saladin.

"Terus maumu apa, hah?!" Angon Luwak menantang.

Saladin juga berani. "Terserah, maumu apa? Mau tarung denganku? Boleh!"

"Huhh... tak bacok kamu!" Angon Luwak berlagak mau menebaskan pedang-pedangannya.

Saladin maju dengan berani sambil busungkan dada. "Mau bacok aku? Silakan! Nih, bacok! Bacoklah dadaku! Nih...!"

Cras...! Angon Luwak membabatkan pedang-pedangannya. Teman-temannya terkejut seketika. "Lho... terluka?! Saladin terluka?!"

"Coba lihat! Wah, iya... dia benar-benar terluka!" kata yang lain.

Angon Luwak tertegun bengong. Suto Sinting pun jadi kaget bukan kepalang. Ternyata dada Saladin benar-benar terluka karena sabetan pedang-pedangannya Angon Luwak. Lukanya memanjang dari ketiak kiri ke pinggang kanan, luka itu menyala hijau berpendar-pendar seperti nyala kunang-kunang. Angon Luwak ketakutan. Lebih takut lagi setelah teman-temannya menjauh dan tubuh Saladin segera jatuh terkapar, kejang-kejang bagai ayam disembelih.

"Bagaimana ini, Wak?! Ku adukan kakaknya Saladin lho! Pokoknya kamu yang melukai Saladin!"

"Jangan! Jangan bilang siapa-siapa, Man!" Angon Luwak ketakutan.

Teman-temannya juga ketakutan dan lari berhamburan. Angon Luwak pun lama-lama ikut melarikan diri, karena tubuh Saladin memancarkan sinar hijau seperti sinar pada lukanya. Tubuh Saladin terlonjak-lonjak dengan sentakan keras, sehingga tubuh itu bisa bergeser sendiri ke sana-sini dalam keadaan terkapar.

"Celaka! Kenapa anak itu?!" pikir Suto dengan tegang.

Pada waktu itu, Angon Luwak masih belum larikan diri, masih mundur pelan-pelan dengan wajah tegang. Suto segera melesat menghampiri Saladin yang menurutnya dalam bahaya. Tapi gerakan Suto menjadi lamban. Langkahnya terasa berat. Jaraknya dengan Saladin yang sekitar lima belas langkah itu ditempuh dengan waktu lambat. Suto mencoba berlari menggunakan gerak silumannya, tapi yang bisa dilakukan berlari biasa. Bahkan ketika ia mencoba melompat untuk bersalto cepat supaya segera sampai di tempat Saladin, ternyata ia tak bisa bersalto lagi. Ia justru jatuh berdebam seperti pepaya matang.

"Aneh?! Kenapa aku tidak bisa melenting di udara dan tak mampu lakukan gerakan salto?!" pikirnya dengan heran.

Setelah Suto jatuh itulah, Angon Luwak ikut-ikutan larikan diri seperti teman-temannya. Tapi Angon Luwak lari ke arah hutan, karena takut kena marah kakaknya Saladin atau keluarganya bocah itu. Ia lari untuk bersembunyi sebab merasa telah membunuh Saladin. Kejutan-kejutan tubuh Saladin mulai melemah. Biasanya jika sudah begitu pertanda kematian akan tiba.

Suto Sinting sangat cemas melihat keadaan Saladin yang sekujur tubuhnya masih menyala hijau walau sudah mulai redup. "Benar-benar gawat anak ini! Dia mau mati!"

Suto Sinting cepat-cepat tenggak tuaknya, lalu tuak di mulut disemburkan ke tubuh Saladin. Itu yang dinamakan pengobatan 'Sembur Husada', yaitu cara mengobati luka dengan semburan tuak. Luka memang bisa sembuh cepat dan segera lenyap tanpa bekas, tetapi yang diobati akan lupa ingatannya kepada Suto. Seandainya sebelumnya Saladin sudah mengenal Suto, maka jika ia diobati dengan jurus 'Sembur Husada', setelah lukanya kering ia akan lupa siapa Suto dan merasa seperti belum pernah mengenal Suto, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tuak Setan).

'Sembur Husada' berani dilakukan oleh Pendekar Mabuk, sebab ia merasa seandainya Saladin lupa pada dirinya tak jadi soal, toh memang sebelumnya tak pernah mengenal Suto, jadi tak perlu mengembalikan ingatan bocah itu.

Brrwwesss...!

Tuak disemburkan. Biasanya cukup satu kali. Tapi agaknya kali ini Suto harus mengulangi sampai tiga kali semburan. Lalu, sinar hijau yang memancar dari tubuh Saladin itu padam. Perlahan-lahan dada Saladin yang basah tuak itu mulai bergerak-gerak. Luka memanjang menjadi mengatup kembali. Sinar hijau pada luka pun lama-lama hilang bersama lenyapnya luka yang mengoyak dada.

Saladin tampak mulai bisa bernapas. Erangannya lirih sekali, tapi matanya mulai berkedip-kedip membuka pelan. Suto Sinting membantu Saladin untuk bangun dan duduk. Napas Saladin terhempas lepas seperti merasakan kelegaan. Ia memandangi sekeliling dengan bingung, juga menatap Suto dengan heran.

"Teman-temanku pada ke mana tadi, Kang?"

"Pulang," jawab Suto juga masih menyimpan keheranan tersendiri.

Saladin bangkit, tengok sana-sini, menggerutu pelan, "Uuh... payah! Mereka tinggalkan aku karena tak ada yang mau akui kalau aku pantas jadi pendekar!" Saladin langkahkan kaki tiga tindak, lalu berhenti dan menengok ke arah Suto.

"Aku pulang, Kang!"

"Ya," jawab Suto dengan masih tertegun bengong, bagai terkesiap melihat Saladin sehat dan segera berlari pulang.

Tinggallah Pendekar Mabuk sendirian di tegalan itu dalam keadaan dikerumuni keheranan yang tiada tara. Keheranan itu meliputi masalah luka di dada Saladin, juga nyala sinar hijaunya, juga tentang dirinya yang tak bisa bersalto lagi, tak bisa gunakan gerak siluman, dan akhirnya Suto penasaran. Lalu ia coba kembali untuk gunakan gerak silumannya, berlari cepat melebihi kilat. Napasnya mulai ditahan didada, kaki pun menyentak pelan di tanah.

Deeg...! Wwweesas...!

Seet...! Suto berhenti dan kembali tertegun bengong menyadari bahwa dirinya sudah mampu bergerak secepat kilat seperti biasanya. Bahkan ketika dicobanya melenting di udara dan bersalto mundur dua kali, ternyata hal itu mampu dilakukan dengan baik, seperti biasanya pula.

"Luar biasa anehnya diriku hari ini?! Tadi tidak bisa bergerak cepat. Melompat pun jatuh. Tapi sekarang hal itu bisa kulakukan. Ada apa sebenarnya pada diriku? Sepertinya tadi aku kehilangan ilmuku, dan sekarang ilmuku sudah kembali lagi?! Hmmm... pasti ada orang usil di sekitar sini yang menggangguku! Aku ingin tahu siapa orangnya?"

Suto Sinting segera gunakan ilmu 'Lacak Jantung', mendengarkan detak jantung seseorang yang bersembunyi di sekitarnya. Tapi ternyata ia tidak mendengar detak jantung seseorang. Alam menjadi sepi, hanya angin yang mendesah pelan.

Zlaaap...! Zlaaap...! Zlaaap...!

Suto melesat ke sana-sini dengan gerak silumannya untuk mencari kemungkinan orang sakti bersembunyi disekitarnya. Karena ia menduga orang yang mengganggunya tadi mampu menghentikan detak jantung pada saat dilacak. Tetapi ternyata keadaan di sekitarnya sepi-sepi saja. Tak ada manusia di sana-sini.

"Apakah dia sudah pergi? Hmmm... pergi dengan anak itu! O, ya... ke mana si Angon Luwak tadi?" pikir Suto sambil tengok sana-sini. Maka ia pun segera melangkah kembali menuju rumah Angon Luwak, karena ia menyangka anak itu pulang ke rumah dan bersembunyi di kolong balai. Suto tersenyum membayangkan bocah itu sembunyi di kolong balai dalam keadaan ketakutan karena merasa baru saja membunuh teman sepermainan. Bayangan itu akhirnya membuat langkah Suto Sinting terhenti dengan sendirinya. Senyum hilang, kerutan dahi jadi tajam.

"Iya, ya... kenapa Saladin mengalami luka seaneh itu? Dia hampir saja mati. Padahal hanya terkena goresan ujung pedang-pedangan si Angon Luwak. Mengapa sampai bisa menyala hijau seperti kunang-kunang? Apakah Angon Luwak punya ilmu lain tanpa disadarinya? Setahuku, Angon Luwak hanya punya ilmu 'Genggam Buana' dari Ki Gendeng Sekarat. Ilmu itu tidak akan bisa membuat lawan menyala hijau seperti tadi. Hanya bisa meremukkan sesuatu yang digenggam dengan napas tertahan."

Langkah dilanjutkan tapi pelan-pelan, karena batin Pendekar Mabuk masih terus berkecamuk. "Kenapa Saladin bisa terluka separah itu? Padahal ia hanya ditebas dengan pedang-pedangan. Pedang itu dari kayu biasa. Sepertinya dari kayu randu karena warnanya putih dan tampaknya ringan dijinjing. Kayu itu juga kelihatan sudah lapuk, geripis pinggirannya. Gagangnya coklat, juga tampak sudah lapuk. Tak ada kehebatan apa-apa yang bisa diiihat dari pedang itu. Ah, sungguh mengherankan sekali, sepertinya tak masuk akal jika tubuh Saladin bisa terluka seaneh itu hanya ditebas dengan pedang-pedangan. Pasti Angon Luwak punya ilmu baru yang bisa membuatnya seperti memegang pedang asli."

Tiba-tiba langkah Suto terhenti lagi. Dahi masih berkerut dan memandang dalam terawang keheranan. "Tunggu dulu!" katanya dalam hati. "Pedang itu dari kayu yang mudah patah. Bentuknya sangat sederhana, berkesan dibuat secara kasar. Kayu itu tampaknya lapuk dan memang geripis pinggirannya. Hmmm... lapuk? Lapuk berarti lama! Jangan-jangan... jangan-jangan pedang-pedangan itulah yang dinamakan Pedang Kayu Petir?!"

Wajah Pendekar Mabuk mulai menegang. Hati berdebar-debar. "Apa benar Pedang Kayu Petir seperti itu? Ah, terlalu mengada-ada! Bukan! itu bukan Pedang Kayu Petir, itu hanya pedang-pedangan milik seorang bocah yang dibuat secara kasar dan menirukan bentuk pedang biasa. Berarti ada tenaga sakti yang tersalur di pedang-pedangan itu. Entah dari tangan Angon Luwak atau dari kekuatan batin seseorang yang punya niat jahil? Sebaiknya kutemui Angon Luwak dan kuperiksa diri anak itu. Pedang-pedangannya pun perlu kuperiksa untuk meyakinkan bahwa pedang itu bukan pedang berisi tenaga dalam!"

Sampai di rumah Angon Luwak, Sabani justru merasa heran dan berkata, "Angon Luwak belum pulang, Kang Pendekarl Apakah di tegalan tak ada?"

"Ada. Tapi dia sudah berlari pulang bersama teman-temannya."

"Ah, belum! Sejak tadi aku belum lihat dia pulang, Kang?!"

"Coba cari di kolong balai, mungkin dia bersembunyi di sana atau di tempat yang pantas untuk bersembunyi."

"Bersembunyi?! Kenapa bersembunyi?! Apakah dia takut melihatmu, Kang?"

"Tidak. Hanya sekadar mau main-main denganku. Cobalah cari dulu...!" desak Suto yang akhirnya membuat Sabani terpaksa mencari adiknya di kolong balai, di belakang lemari, di dapur, bahkan di kandang ayam.

"Tidak ada, Kang Pendekar! Ibu saya juga bilang belum lihat dia pulang."

"Wah, ke mana anak itu, ya?" gumam Suto Sinting.

"Coba biar saya yang cari, Kang. Kang Pendekar diam di sini dulu."

Sabani sangat menghormati kedatangan Suto, sehingga tak segan-segan bergerak cepat ke rumah teman-teman adiknya. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan tangan hampa dan napas terengah-engah pertanda habis lari.

"Tidak ada, Kang! Semua rumah temannya sudah saya sambangi tapi Angon Luwak tidak ada di sana. Malah beberapa temannya bilang, Angon Luwak habis membunuh Saladin! Saya jadi takut, Kang!"

"Tidak. Angon Luwak tidak sejahat itu. Apakah kau tidak bertemu Saladin?"

"Bertemu! Lalu saya tanya, 'Apakah kau tadi dibunuh sama Angon Luwak?', dan Saladin bliang; 'tidak'. Lalu saya pikir, benar juga. Kalau dia sudah dibunuh pasti dia tidak bisa menjawab 'tidak'."

Suto Sinting tersenyum tipis, tertawa pendek dalam gumam. Lalu ia berkata, "Kalau begitu biar kucari sendiri anak itu. Mungkin dia bermain dihutan."

"Mungkin malah sedang nongkrong di Telaga Jompo, Kang."

"Telaga Jompo...?!" Suto berkerut dahi dengan heran.

"Telaga Jompo ada di atas bukit seberang itu. Hampir dekati puncaknya. Telaga Jompo adalah telaga yang bisasembuhkan orang lumpuh, Kang. Airnya sangat berkhasiat untuk penyembuhan. Beberapa hari yang lalu, kutemukan Angon Luwak duduk termenung di Telaga Jompo dengan sedih karena kehilangan jejakmu!"

"Apa benar dia ada di sana?" pikir Suto Sinting, lalu bergegas pergi ke Telaga Jompo.

* * *

LIMA
BUKIT itu bernama Bukit Kukusan, sama dengan nama desa di kakinya. Bukit tersebut berseberangan dengan bukit yang dulu digunakan mendiang Empu Sakya untuk larikan diri dari kejaran Iblis Naga Pamungkas. Bukit Kukusan mempunyai jenis tanaman jati dan cemara liar. Hutannya tak terlalu lebat, semaknya juga takterlalu rimbun, mudah untuk dilalui.

Ketinggian bukit itu tidak seberapa, artinya masih memungkinkan didaki oleh anak seusia Angon Luwak. Tetapi Pendekar Mabuk merasa baru kali itu mendengar ada telaga di bukit tersebut yang bisa sembuhkan orang lumpuh. Rasa penasaran Suto bukan terletak pada khasiat air telaga, melainkan kepada keanehan Angon Luwak. Rasa penasarannya itu begitu besar, sehingga Pendekar Mabuk merasa lebih penting mengejar Angon Luwak ketimbang mengejar Angin Betina ke Bukit Lajang.

Di dalam hati Suto, pada sisi hati yang terkecil, masih menyimpan dugaan tentang pedang-pedangan Angon Luwak yang diduga adalah Pedang Kayu Petir. Harapan kebenaran atas pedang itu memang sangat kecil, namun justru mengganggu ketenangan berpikir Pendekar Mabuk. Itulah sebabnya, Suto merasa perlu memeriksa pedang-pedangan tersebut walau sisi hati lainnya mengatakan;

"Pekerjaan yang gila dan bodoh! Sudah tahu pedang-pedangan untuk bermain anak kecil masih diharapkan sebagai Pedang Kayu Petir. Rasa-rasanya aku sudah tak waras lagi, terlalu tergila-gila dengan pedang maha sakti itu!"

Sekalipun sisi hati lainnya berkata begitu, kenyataannya Suto Sinting tidak mau hentikan langkah dan tetap maju menuju Telaga Jompo. Namun kejap berikut langkah itu terpaksa dihentikan. Kemunculan dua orang berpakaian seperti biksu membuat Suto Sinting terpaksa hentikan langkahnya. Dua orang yang secara tak sengaja berpapasan dengan Suto ternyata berasal dari arah atas bukit.

Mereka pun sama-sama hentikan langkah karena melihat sosok penampilan pemuda tampan menyandang bumbung tuak, pakaian baju coklat tanpa lengan, celana putih kusam dan rambut panjang selewat pundak tanpa ikat kepala. Ciri-ciri itulah yang membuat dua tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun ke atas itu juga hentikan langkah.

Wajah mereka wajah seorang paderi, atau layaknya seorang imam agung sebuah aliran kepercayaan. Kepala mereka gundul, sehingga raut wajah tenangnya terlihat dengan jelas. Tapi di balik ketenangan itu, Pendekar Mabuk temukan kegelisahan yang tersembunyi, dan kecurigaan yang sengaja ditutup dengan sikap wibawa kedua tokoh. Mereka mengenakan kain pembalut tubuh warna merah yang menyilang ke pundak kiri.

Tapi baju longgar yang dikenakan mereka berbeda warna, yang satu berwarna kuning, yang satu berwarna biru. Mereka sama-sama beralis tebal putih. Yang satu berkumis dan berjenggot putih, yang satunya tidak berkumis dan tidak berjenggot. Tubuh mereka sedikit gemuk, yang berkumis lebih gemuk dari yang tidak berkumis.

"Salam damai dari kami untukmu, Anak Muda. Kalau tak salah ciri-ciri yang kami lihat, kau adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting!" kata yang berpakaian biru.

"Benar, Eyang," jawab Suto sopan. "Kalau boleh saya tahu, siapakah Eyang berdua ini? Sebab saya baru sekarang melihatnya."

"Aku Pendeta Jantung Dewa dari Biara Genta," kata yang memakai baju biru tanpa kumis dan jenggot, matanya sedikit sipit. "Di sampingku ini adalah kakakku yang bernama Pendeta Mata Lima dari Biara Damai."

Orang yang diperkenalkan sebagai Pendeta Mata Uma itu diam saja, tak ada anggukan apa pun. Kesannya lebih kaku dari Pendeta Jantung Dewa. Bola matanya tak sesipit si Jantung Dewa, bahkan besar dan mempunyai pandangan tajam. Sekalipun demikian, Pendekar Mabuk tetap tunjukkan sikap hormat dengan anggukkan badan dan wajah penuh keramahan.

"Sangat kebetulan sekali kita bertemu di sini, Suto Sinting," kata si Jantung Dewa. "Sesungguhnya adalah hal yang paling sulit menemui Pendekar Mabuk yang sedang banyak dibicarakan oleh kalangan tokoh tua belakangan ini."

"Apakah Eyang berdua memang bermaksud menemui saya?"

"Tidak utama!" sahut Mata Lima.

Kata-kata selanjutnya diteruskan oleh si Jantung Dewa, "Yang paling utama adalah melacak benda pusaka itu."

"Benda pusaka apa maksudnya?"

Pendeta Mata Lima yang sebenarnya hanya punya dua mata, empat dengan mata kaki itu, segera menjawab dengan suaranya yang agak besar dan berwibawa, "Sebagai pendekar yang sedang kondang namanya, tentunya kau sudah mengerti pusaka yang kami maksudkan. Tak perlu lagi berlagak bodoh di depan kami. Kau punya pikiran dan angan-angan yang dipenuhi oleh pusaka itu."

"Pedang maha sakti itu, maksudnya?"

"Nah, kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri, Anak Muda!"

Tak ada gentar bagi Pendekar Mabuk menatap bola mata si baju kuning itu. Hatinya membatin, "Sepertinya dia punya maksud tertentu padaku yang kurang beres. Ada apa sebenarnya?"

Pendeta Jantung Dewa dari Biara Genta pun segera berkata, "Pendekar Mabuk, jika kau tahu di mana benda pusaka itu, tolong tunjukkan kepada kami, sebab kami sangat membutuhkannya untuk memerangi lawan yang ingin memporakporandakan biara kami berdua."

"Apa alasan Eyang menduga saya mengetahui benda tersebut?"

"Hasil pertemuan kami menyimpulkan bahwa benda itu ada di sebelah utara tempat kami berkumpul. Tongkat penunjuk milik Resi Wulung Gading mengarah ke utara. Getarannya sangat jelas, sehinga kami berlomba-lomba lari ke utara mengejar Pedang Kayu Petir itu. Secara kebetulan, kami berdua temukan kau ada di sini, menyongsong perjalanan kami. Sudah tentu kami yakin, bahwa kaulah orang yang mengetahui di mana benda pusaka itu berada."

"Eyang salah! Justru saya sedang kebingungan mencari benda tersebut," kata Suto sambil hatinya berucap untuk diri sendiri, "Berarti pertemuan para tokoh tua di Bukit Lajang telah usai. Apakah Angin Betina sempat hadiri pertemuan itu atau kecele, karena pertemuan sudah bubar pada saat ia sampai di Bukit Lajang?!"

"Jangan berpikir soal perempuan, Anak Muda," kata Pendeta Mata Lima secara tiba-tiba, membuat Suto Sinting terperanjat dan menjadi malu.

"Agaknya ia tahu kata hatiku dan bisa membaca jalan pikiranku," pikirnya.

Kemudian dengan sikap dibuat tenang, Pendekar Mabuk berkata kepada Pendeta Mata Uma, "Eyang Pendeta Mata Lima, saya kagum mengetahui Eyang dapat membaca pikiran saya. Barangkali itu salah satu kesaktian Eyang sebagai Pendeta Mata Lima, yang mampu memandang dengan mata batin tentang pikiran seseorang. Sayang sekali Eyang punya pandangan batin yang keliru dengan menyangka saya adalah orang yang mengetahui pedang maha sakti itu."

"Mataku juga dapat melihat apa yang kau lihat. Bola matamu menampakkan bayangan pedang maha sakti itu, berarti kau sudah melihat pedang tersebut."

Senyum disunggingkan selebar mungkin, namun tak mengurangi sikap sopannya. Suto merasa geli dengan tebakan tokoh tua yang kaku itu. "Eyang salah pandang!" kata Suto. "Benar-benar salah pandang. Sebab saya merasa belum pernah melihat pusaka tersebut."

"Jangan bertele-tele, Anak Muda!" Pendeta Mata Lima tampak mulai tak sabar. "Sekali lagi kuingatkan, kami benar-benar butuh pedang itu untuk memerangi orang seaat yang ingin memporakporandakan biara kami. Jadi tolong beritahukan kepada kami dimana benda itu berada. Jangan membuat kami harus memaksamu dengan kekeraaan. Karena demi selamatkan biara kami, jika sangat terpaksa kami tak segan-segan lakukan kekerasan."

"Hmm..., dia mulai mengancam! Sudah salah, ngotot lagi! Payah juga orang ini. Percuma jadi pendeta kalau masih suka ngotot terhadap kesalahannya," pikir Suto Sinting, lupa bahwa pikiran itu bisa dibaca lawannya. Tentu saja sang lawan tampakkan perubahan wajah yang makin nyata.

Pendeta Mata Lima mulai geletukkan giginya. Tasbih hitam dari bebatuan bening yang sebesar-besar melinjo itu mulai diremas-remasnya. Pendeta Jantung Dewa berkata masih dengan suara tenang, "Apa yang dikatakan kakakku itu memang benar, Pendekar Mabuk. Kami tak peduli kau adalah murid dari si Gila Tuak, tapi jika tak mau bantu kami dengan menunjukkan benda itu, kami akan tega memaksamu menggunakan kekerasan. Barangkali memang itulah jalan yang kau kehendaki. Kami maklum, karena darah pendekarmu masih muda, masih suka menguji ilmu seseorang."

"Sama sekali tidak!" bantah Suto dengan cepat. "Saya tidak menyukai kekerasan jika tidak dipaksa dan didesak. Saya mengatakan kebenaran diri saya. Tapi jika Eyang-eyang ini tidak mau percaya dan menganggap perlu gunakan kekerasan, dengan rendah hati saya terpaksa melayaninya!"

"Di matamu ada bayangan Pedang Kayu Petir!" sentak Pendeta Mata Lima. "Kau tak bisa bohongi pandangan mataku, Suto Sinting!"

"Saya katakan sekali lagi, pandangan Eyang salah!"

"Tidak, Suto!" sahut Pendeta Jantung Dewa dengan kalem. "Apa kata kakakku itu memang benar, karena aku sendiri melihat bayangan pedang ada di matamu, ditambah lagi bayangan seorang wanita berambut acak-acakan dan berpakaian hitam ketat dengan dada besar menggiurkan dan..."

"Ssst...! Yang itu jangan dijelaskan!" sentak si Mata Lima dengan geram.

"Maaf, semoga Sang Hyang Widi mengampuni ucapanku tadi," ucap Jantung Dewa dengan lirih penuh penyesalan.

Suto ingin berkecamuk lagi di dalam hatinya, tapi ia batalkan karena kecamuknya akan diketahui oleh Pendeta Mata Lima. Kini ia bahkan berkata dengan tegas dan lebih bersikap berani. "Eyang-eyang Pendeta, saya mohon maaf tidak bisa membantu maksud Eyang. Jadi, izinkan saya lewat tanpa ada sikap memaksa!"

"Tidak bisa!" si Mata Lima berkata dengan tegas juga. "Kami tak bisa lepaskan orang yang tahu tentang pedang itu! Dengan menyesal dan sangat terpaksa, aku harus tunjukkan padamu bahwa kami benar-benar membutuhkannya!"

"Apa maksud kata-katanya?" pikir Suto Sinting setelah mereka bertiga sama-sama diam. Tapi mata Suto segera melihat bahwa tasbih hitam yang ada di tangan Pendeta Mata Lima itu diremas-remas semakin kuat. Remasan itu kepulkan asap putih, dan tiba-tiba Suto Sinting rasakan perutnya bagai dipelintir sekuat tenaga, hingga akhirnya ia jatuh terbanting.

"Uuhg...!" Bruuk...! "Gila! Rupanya dia telah serang diriku dengan kekuatan batinnya melalui tasbih itu!" gerutu Suto dalam hati. Ia pun segera bangkit.

Namun baru saja ia ingin menegakkan badan, tiba-tiba Pendeta Mata Lima sabetkan tasbihnya ke udara. Zraak...! Bunyi gemeresak akibat sabetan tasbih berbatu hitam itu seperti terlepasnya ratusan jarum dari baskom lebar. Bunyi itu membuat Suto Sinting terpental ke belakang karena merasa dihempas oleh gelombang hawa panas yang amat besar. Bahkan Pendekar Mabuk sempat gelagapan dengan mata terpejam-pejam.

Bruuuk...!

"Edan! ilmu apa ini, aku seperti dilanda seribu kuda?!" gerutunya lagi di dalam hati. "Aku harus tunjukkan pembalasan supaya mereka tahu bahwa aku tidak bersalah." Dalam keadaan duduk, Suto Sinting segera sentilkan jarinya yang berarti jurus 'Jari Guntur' dilepaskan dari tempatnya. Tesss...!

Wuuud...!

Daahk...! Seperti batu menghantam papan, tubuh Pendeta Mata Lima masih berdiri tegak tak bergeming. Sedangkan Pendeta Jantung Dewa justru mundur dengan tenang, seakan menyerahkan perkara itu kepada kakaknya.

"Jurus 'Jari Guntur' tidak mempan untuknya! Luar biasa besar kekuatan orang tua itu?!" pikir Suto sambil berdiri lagi. Ia segera membuka tutup bumbung dan menenggak tuak beberapa teguk. Pada saat Suto mendongak untuk menenggak tuak, Pendeta Mata Lima segera lepaskan pukulan tasbihnya dengan kibasan memutar di atas kepala dan menyentakkan ke depan.

Crak...! Slaaap...!

Dari tasbih itu keluar sinar merah pijar sebesar bola bekel. Sinar merah itu melesat menghantam Suto Sinting. Tapi ekor mata Suto yang melihat kelebatan itu segera tanggap, ia merendahkan badan dengan berlutut satu kaki. Bumbung tuaknya segera ditegakkan dengan dipegang dua tangan. Tepat di depan wajahnya, bumbung tuak itu menghadang laju sinar merah. Akhirnya sinar itu membentur bumbung tuak.

Blaaar...!

Suatu keanehan terjadi. Sinar tidak membalik arah seperti biasanya, tapi meledak di tempat. Jika bukan ilmu yang tinggi, tak mungkin tak bisa dikembalikan. Hentakan daya ledak sinar merah tadi membuat Suto Sinting terjungkal ke belakang dengan sekujur tubuh terasa panas. Bahkan empat pohon di sekitarnya menjadi keriput. Kulit batangnya mengelupas keriting, daun-daunnya menguning dengan cepat. Bahkan ada yang langsung berwarna coklat kering. Tetapi Suto Sinting hanya mengalami raaa panas yang sekejap saja segera hilang tak berbekas.

Pendeta Mata Lima sendiri terpental dan menabrak adiknya yang berdiri di belakang. Jika tidak tentunya ia akan terlempar membentur pohon cemara di arah belakangnya. Akibat terpentalnya Pendeta Mata Uma yang tak diduga-duga itu, Pendeta Jantung Dewa roboh dan jatuh telentang tertindih tubuh kakaknya yang lebih gemuk darinya.

Buuhg...! Suaranya keras bagaikan sebongkah batu besar jatuh ke tanah. Pendeta Jantung Dewa terpekik dengan suara tertahan. "Heegh...!"

Mereka berdua sibuk menjaga keseimbangan dan buru-buru berdiri. Mereka sama-sama berpikir, harus cepat berdiri sebelum dilihat anak muda itu. Akibat terburu-buru ingin cepat berdiri lagi, mereka saling geret dan tindih, sehingga mirip orang berebut sesuatu yang membuat jatuh mereka justru lama. Suto Sinting sudah berdiri tegak dan memperhatikan mereka saling berebut kesempatan bangun. "Bocah itu tidak bisa dianggap enteng, Mata Lima!" kata Pendeta Jantung Dewa setelah keduanya sama-sama berdiri dan selesai saling gerutu.

"Sudah kuduga dia memang tangguh. Tapi tak kusangka setangguh ini, sehingga serangan tingkat tigaku membuatnya masih setegar itu!"

"Kalau begitu, biar kuhadapi dia. Jurus 'Jala Surga' bisa bikin dia jera dan mau membantu kita."

Si Jantung Dewa segera maju dua tindak. Wajahnya tetap kalem, matanya yang kecil menatap Suto berkesan dingin. Suaranya terdengar jelas tanpa tekanan kemarahan sedikit pun. "Kau boleh saja merasa bangga karena bisa bertahan menghadapi pukulan tingkat tiga dari kakakku, Suto. Tapi kau tak akan bisa bertahan melawan jurus 'Jala Surga'-ku ini, Nak!"

Sraaab...!

Tiba-tiba Pendeta Jantung Dewa sentakkan tangan kirinya dengan telapak tangan membentuk cakar elang. Dari telapak tangan itu melesat berlarik-larik sinar biru membentuk jala yang menyerupai benang laba-laba. Sinar-sinar biru itu melesat ke arah tubuh Suto Sinting dengan kecepatan tinggi, seakan tak mungkin bisa terhindari. Dan memang menurut pengakuan hati si Jantung Dewa, jurus 'Jala Surga'-nya selama ini tak pernah ada yang bisa menghindarinya. Namun ia tak tahu bahwa Suto punya gerak siluman yang mampu bergerak melebihi kecepatan anak panah.

Zlaaap...!

Tahu-tahu ia sudah pindah tempat di belakang Pendeta Mata Lima dalam jarak hanya empat langkah. Sedangkan sinar birunya Pendeta Jantung Dewa mengenai seonggok tanah keras. Jaaab...! Tanah keras itu merekah, dari rekahannya keluar asap putih dan cahaya sinar biru membara di dalamnya. Kejap berikutnya tanah itu kembali utuh, namun rumput-rumputnya rontok dan mengering kecoklatan.

"Mana dia tadi?" Pendeta Jantung Dewa mencari-cari Suto tanpa menengok kepada kakaknya.

Pendeta Mata Lima juga menengok ke sana-sini dan begitu menengok ke belakang terpekik kaget. "Hahhh...!"

Wajahnya lucu. Wajah tua berkumis dan berwibawa itu membelalakkan mata dan melebarkan mulut karena kaget. Bahkan tubuhnya sempat terlonjak satu tindak ke samping. Tapi wajah itu buru-buru dibuat tenang dan berwibawa, walau yang terlihat adalah wajah menahan rasa malu dan jengkel. Sedangkan Pendeta Jantung Dewa tetap tenang memandangi Suto yang tersenyum geli melihat kelucuan wajah Pendeta Mata Lima itu.

"Hebat sekali kau bisa hindari jurus 'Jala Surga'-ku," kata Pendeta Jantung Dewa sambil manggut-manggut. "Tapi dapatkah kau tetap bertahan dengan sabuk Telur Naga'-ku ini?! Hiaah...!"

Sreet...! Wuuut...!

Sabuk dari batu-batuan merah bening yang menyerupai rantai itu tahu-tahu dilepaskan dari pinggang dengan satu kali tarik. Sabuk itu menyabet ke arah Pendekar Mabuk. Memang tidak mengenai tubuh Suto, tapi lecutannya keluarkan sinar api merah yang mirip bunga api menggerombol dan menghantam ke arah dada Suto Sinting.

Bumbung tuak masih di tangan Suto, sehingga dengan cepatnya Suto sentakkan bumbung tuak ke depan dalam keadaan datar. Sodokan bumbung tuak itu keluarkan sinar kuning. Jurus 'Naga Sontok' menghantam bunga api dan menimbulkan ledakan dahsyat yang sempat mengguncangkan tanah, merontokkan bebatuan yang dalam posisi miring, menumbangkan tiga pohon jati berukuran sedang.

Zlaap...! Blegaaar...!

Tubuh kedua pendeta itu terjungkal bagaikan dilemparkan badai besar. Mereka berguling-guling berbeda arah. Hampir saja sebatang pohon yang roboh menindih perut Pendeta Mata Lima. Bruus...!

"Uuhg...!"

Pohon itu hanya menjatuhi kaki kanan Pendeta Mata Lima, sementara adiknya diam tak bergerak karena sebongkah batu besar menggelinding dan menggencet tubuh itu dengan pohon yang masih berdiri tegak. Hanya kakinya yang tampak bergerak-gerak kebingungan mencari panjatan untuk mendorong batu besar itu.

Pendekar Mabuk hanya terpental beberapa langkah dari tempatnya. Namun sempat meringis kesakitan karena pinggulnya bagai retak karena saat terlempar pinggul itu menghantam sebatang pohon cemara hingga daun-daun cemara berguguran. Suto Sinting masih bisa berdiri walau penuh gerutu karena harus singkirkan daun-daun cemara dari tubuhnya, ia lekas tenggak tuaknya untuk hilangkan rasa sakit di tulang pinggulnya.

"Hiaaaah...!"

Suto kaget mendengar suara teriakan besar. Ternyata Pendeta Mata Lima sentakkan kaki yang tertindih pohon itu. Sentakan kaki ke atas membuat batang pohon terlempar terbang ke arah belakang, lalu jatuh di semak-semak berjarak delapan langkah dari tempatnya. Sebuah kekuatan tenaga dalam yang besar telah dilepaskan Pendeta Mata Lima demi singkirkan batang pohon yang membuat tulang keringnya terasa patah itu.

"Hiaaah...!"

Suto kaget lagi mendengar suara sentakan keras. Disusul dengan suara gemuruh sekilas. Ternyata suara itu datang dari Pendeta Jantung Dewa yang berhasil pecahkan batu besar itu menjadi serpihan kecil. Dengan begitu tubuhnya yang tergencet batu dapat bebas walau tulang rusuknya masih terasa sakit, sepertinya ada yang patah.

"Kalau kulayani, bisa-bisa salah satu ada yang mati konyol," pikir Suto. "Sebaiknya kutinggal pergi menuju Telaga Jompo. Agaknya tak jauh lagi dari sini. Kalau memang mereka mengejar, akan kuajak bermain kucing-kucingan! Tak mungkin mereka bisa temukan aku."

Zlaaap...! Suto Sinting sentakkan kaki dan lenyap bagaikan ditelan bumi. Padahal ia berlari cepat melebihi kilat menuju ke puncak bukit.

Pendeta Mata Lima bisa lihat gerakan cepat itu karena ketajaman matanya, ia berseru kepada Pendeta Jantung Dewa, "Anak itu lari ke puncak! Kejar dia!"

Tanpa menunggu jawaban, Pendeta Mata Lima bergerak cepat hampir menyamai gerakan Suto Sinting. Adiknya menyusul dengan kecepatan sama. Jika mereka tidak berilmu tinggi, mustahil mereka mampu bergerak cepat dalam keadaan tulang kaki dan tulang rusuk terasa remuk. Mereka punya cara sendiri untuk hilangkan rasa sakit itu. Sayangnya gerakan mereka sengaja dipatahkan oleh pukulan seseorang yang menyerang dengan sinar putih keperakan. Dua sinar putih keperakan itu menghantam lambung mereka dan sulit dihindari atau ditangkis lagi.

Claap...! Des, des...!

"Aahg...!" keduanya sama-sama mengerang pendek, kemudian tumbang ke bumi. Serangan itu belum membuat mereka mati, namun cukup membuat mereka tak berdaya. Penyerangnya masih sembunyikan diri, memperhatikan keadaan mereka dari tempat yang amat terlindung.

* * *

ENAM
TELAGA Jompo terletak di tanah datar yang mendekati puncak bukit. Tanaman di sekelilingnya membuat rindang tempat itu. Berbatu-batu dan tidak begitu lebar. Airnya sedikit keruh berwarna kekuning- kuningan. Dilihat letaknya mendekati puncak bukit, sudah terbayang keanehan telaga yang ada di situ. Airnya yang kekuning-kuningan mempunyai kesan sebagai air yang punya khasiat penyembuhan. Entah mungkin bercampur belerang, atau endapan tanahnya yang mengandung obat, yang jelas sebuah danau ada di puncak bukit merupakan keajaiban tersendiri.

Pandangan Suto Sinting tertuju ke beberapa tempat di sekitar telaga. Ternyata tak ada seorang pun di sana. Angon Luwak tidak kelihatan, orang lain pun tak ada. Benar-benar tempat yang sunyi, tanpa kicau burung dan suara binatang apa pun kecuali desau angin.

"Luwaaak...!" seru Suto memanggil. "Angon Luwaaak...!"

Tak ada jawaban. 'Lacak Jantung' digunakan. Ternyata memang tak ada suara detak jantung siapa-siapa kecuali jantungnya sendiri. Akhirnya Suto Sinting duduk di salah satu tepi danau itu. Ia menenggak tuaknya beberapa teguk. Setelah itu hatinya membatin,

"Ke mana anak itu? Jika tak ada di sini, berarti dia berlari dan bersembunyi di tempat lain. Tapi di mana kira-kira? Haruskah kutanyakan kembali kepada Sabani, kakaknya? Ah, capek kalau harus bolak-balik kesana."

Sesaat kemudian di hati Pendekar Mabuk timbul kecemasan yang samar-samar. "Jangan-jangan dia terperosok di jurang sebelah timur tadi? Ah, mudah-mudahan tidak demikian. Biarlah kedua pendeta bodoh itu yang terperosok di jalanan tepi jurang timur itu. Kalau tidak terperosok pasti mereka sudah mengejar dan menemukanku di sini. Seandainya mereka menemukanku di sini dan menyerangku, apakah aku harus melumpuhkan mereka?"

Pikiran Suto sempat melayang-layang tak tentu arah. Tapi segera dikembalikan pada pokok persoalannya, ia masih merasa tak habis pikir, mengapa kedua pendeta itu yakin betul bahwa dirinya telah melihat pedang maha sakti?

"Apakah benar di mataku ada bayangan pedang maha sakti itu? Jangan-jangan mereka hanya cari gara-gara? Untuk apa dua orang itu menjadi pendeta di dua biara jika kerjanya cari gara-gara? Kurasa... tak mungkin. Pasti mereka memang punya kepentingan dengan pedang itu, hanya saja dugaan mereka terlalu mengada-ada. Eh, tapi... kata mereka, tongkat penunjuk arah milik Resi Wulung Gading mengarah kemari? Hmm... kalau begitu pusaka tersebut memang benar-benar muncul kembali dan ada di sekitar sini? Lho, tapi... menurut Delima Gusti, Pedang Kayu Petir itu ada di tangan Raja Tumbal dan akan diserahkan sebagai maskawinnya. Ah, yang benar yang mana kalau begini?"

Suto Sinting garuk-garuk kepala. Minum tuaknya lagi, dan melepaskan napas panjang sebagai tanda kelegaan dan kepuasan minum tuaknya.

"Sebaiknya aku ke Lembah Sunyi saja. Jika memang pertemuan para tokoh tua itu sudah usai, berarti Resi Wulung Gading sudah sampai di Lembah Sunyi. Pasti terjadi pembicaraan dengan Delima Gusti. Sebaiknya aku ikut dalam pembicaraan itu!"

Baru saja Suto Sinting berdiri, tiba-tiba di samping kirinya telah muncul sesosok tubuh yang tak asing lagi baginya. Perempuan cantik berkesan liar dengan rambut acak-acakan. Siapa lagi kalau bukan Angin Betina yang kecewa karena gagal membujuk Suto untuk tidur bersamanya.

"Hai, Tampan...!" sapa Angin Betina dengan mata tajam menantang cumbuan. Tangan kirinya menggenggam pedang bersarung. Kapan saja siap dicabutnya.

"Dari mana kau tahu aku ada di sini?"

"Aku tidak tahu kau ada di bukit ini. Tapi aku sempat lihat dirimu diserang pendeta kakak-beradik itu." Angin Betina mendekat.

Suto diam di tempat sambil matanya perhatikan ke arah kaki kiri Angin Betina yang ditumpangkan di atas sebuah batu setinggi satu betis. Kaki yang kanan tetap menapak di tanah, tangan kirinya yang memegang pedang bertolak pinggang. Sungguh suatu sikap yang menantang kemesraan dipamerkan dengan tonjolan dadanya yang benar-benar membuat lelaki bisa sesak napas.

"Kusangka kau mati digempur mereka berdua, ternyata kebalikannya."

"Apakah kau mengenal mereka?"

"Cukup kenal, karena perguruanku tak jauh dari Biara Genta," jawab Angin Betina dengan senyum tipis dan mata memandang mesra.

"Kau juga bertemu dengan mereka saat menuju kemari?"

"Ya. Tapi mereka sempat kurobohkan dengan jurus 'Mustika Perak' yang sukar ditandingi itu."

"Maksudmu, kau membunuh mereka?"

"Tidak. Hanya sekadar melumpuhkan mereka agar tak mengejarmu sampai sini," ia bersikap acuh tak acuh sebentar, memandang arah kedatangannya dan kembali menatap Suto Sinting.

"Mengapa tak kau bunuh saja mereka itu?" pancing Suto.

"Aku punya niat lain. Aku ingin berguru dengan salah satu dari mereka."

"Mengapa? Apa keistimewaan mereka, sehingga kau ingin berguru pada mereka?"

"Mereka punya Kitab Lorong Zaman. Aku ingin mempelajarinya."

Suto Sinting berkerut, berjalan dekati Angin Betina hingga dalam jarak dua langkah di depan perempuan itu baru berhenti. "Apa itu Kitab Lorong Zaman?" tanya Suto bersuara lirih.

"Ilmu yang membuat kita bisa melompat dari zaman sekarang ke zaman yang lalu, atau zaman akan datang."

Kerutan di dahi menghilang, berganti senyum geli yang disertai pandangan tertuju ke arah air telaga. Senyum itu berkesan meremehkan, sehingga Angin Betina terpaksa ngotot agar ucapannya dipercaya.

"Mereka benar-benar punya kitab tersebut! Guruku dulu pernah mau mencurinya, tapi selalu gagal. Sekarang aku akan berguru kepada mereka sampai dapatkan ilmu-ilmu yang ada dalam Kitab Lorong Zaman itu. Selama ini, hanya mereka berdua yang bisa mental ke zaman lalu atau zaman mendatang seperti orang lakukan tamasya saja."

Tawa yang terdengar dari Suto seperti gumam terputus-putus. Tetapi hati Angin Betina berkata, "Aku suka dengan tawanya. Gila! Ada yang berdenyut-denyut di bagian tubuhku begitu mendengar tawanya."

Sesaat kemudian, Suto Sinting memandang ke arah Angin Betina dan berkata, "Kalau memang benar mereka punya Kitab Lorong Zaman, dan kalau benar kau ingin jadi muridnya, berarti kau harus menjadi seperti mereka. Artinya, harus berjalan di jalur yang benar. Menjadi bagian dari tokoh aliran putih. Sebab aku yakin sebenarnya mereka adalah tokoh sakti dari aliran putih. Hanya karena sedang hadapi masalah bahaya, maka mereka paksa aku untuk tunjukkan benda itu. Kurasakan mereka sangat terpaksa melakukannya demi selamatkan biara mereka."

"Tak keberatan bagiku untuk masuk ke aliran putih, sebab selama ini naluriku kupaksakan untuk mengikuti aliran hitam dari guruku; mendiang Nini Pancungsari. Dan... aku tahu bahaya yang mereka hadapi. Sayang sekali aku tak akan mampu menolong mereka."

"Apa bahaya itu?"

"Mereka terancam oleh orang-orang Lumpur Maut."

Suto berkerut dahi secepatnya. "Raja Tumbal, maksudmu?"

"Ya. Raja Tumbal bermaksud menaklukkan kedua biara itu, sebab kedua biara itu dianggap perguruan yang berbahaya jika sampai bersatu. Selama ini kedua biara itu tidak bisa bersatu karena ada perbedaan pendapat mengenai aliran kepercayaan mereka. Ancaman dari Raja Tumbal itulah yang membuat mereka harus bisa mendapatkan Pedang Kayu Petir, sebab mereka tahu bahwa Raja Tumbal telah memiliki pusaka Seruling Malaikat."

"Bukankah Pedang Kayu Petir sudah ada di tangan Raja Tumbal?"

Angin Betina gelengkan kepala dengan tenang. "Tidak mungkin, sebab jika Raja Tumbal sudah memiliki pedang yang asli, tentunya kedua biara sudah diserangnya, negeri Muara Singa sudah direbutnya, dan negeri-negeri lain sudah ditumbangkannya. Sampai sekarang Raja Tumbal belum mau bergerak, sebab ia punya firasat munculnya pedang maha sakti itu. Ia harus mencarinya lebih dulu agar tak menjadi penghalang gerakan makarnya nanti."

Suto diam dan manggut-manggut. "Agaknya kau cukup banyak mengetahui tentang Raja Tumbal."

"Guru pernah menugaskanku untuk menyusup ke sana guna mencuri Seruling Malaikat-nya. Tapi sebelum niat itu terlaksana, sudah kudengar kabar tentang kematian Guru, sehingga aku pun meninggalkan Lumpur Maut!" jawab Angin Betina jujur tapi tegas.

"Perempuan itu jujur sekali," pikir Suto. "Sepertinya dia tak pernah merasa takut sedikit pun dengan kejujurannya. Tak punya malu dengan kesalahannya, ia berani menghadapi akibat apa pun dari semua tindakannya, bahkan ia tampak sebagai orang yang siap dikecam oleh siapa pun. Sikap itu sebenarnya sangat baik. Seandainya dia benar-benar telah masuk sebagai tokoh beraliran putih, sikap itu pasti lebih membantunya dalam merebut simpati dari para tokoh tua!"

Pendekar Mabuk kini tahu apa yang ada pada Raja Tumbal. Kabar tentang Pedang Kayu Petir di tangan Raja Tumbal hanya sebuah kebohongan semata. Jelas bahwa Raja Tumbal sengaja memancing minat sang Adipati dengan janji mas kawin pedang pusaka hanya untuk merebut perhatian sang Adipati dan dapat mengawini Delima Gusti. Berarti Delima Gusti akan tertipu mentah-mentah oleh siasat Raja Tumbal. Hal ini harus dicegah, dan Suto harus beberkan kepada sahabatnya itu; Delima Gusti. Tetapi sebelumnya, Suto perlu tanyakan sesuatu kepada Angin Betina yang mengaku pernah menyamar sebagai anggota Lumpur Maut.

"Apakah kau tahu kehebatan Seruling Malaikat?"

"Sangat tahu. Sebab aku pernah lihat sendiri Raja Tumbal membantai lawan-lawannya dengan Seruling Malaikat itu."

"Dan kau tahu kelemahannya?"

Angin Betina diam sebentar. Matanya yang jeli itu memandang permukaan air telaga sebentar, lalu beralih ke wajah Suto Sinting sambil menjawab, "Tidak. Aku tidak tahu kelemahannya. Dan kurasa... tak ada kelemahan pada pusaka itu, sebab dihancurkan pun tak bisa."

"Dihancurkan pun tak bisa?!" gumam Suto sambil manggut-manggut. Satu lagi kekuatan Seruling itu diketahuinya. Paling tidak jika nantinya ia harus berhadapan dengan Raja Tumbal, maka ia tidak akan mencoba menghancurkan Seruling itu, agar tidak buang-buang waktu dan tenaga.

"Kurasa hanya bisa dikalahkan dengan Pedang Kayu Petir yang sudah kau temukan itu, Suto."

Tentu saja Pendekar Mabuk terkejut mendengar kata-kata Angin Betina yang diperdengarkan secara tiba-tiba itu. Dengan cepat mata yang semula memandang ke tempat lain, kini menatap mata jeli si rambut amburadul itu. "Kau sangka aku telah mendapatkan pedang maha sakti itu?"

"Apa yang dikatakan kedua pendeta tadi kudengar jelas dari tempat persembunyianku. Sengaja aku mengikuti langkah mereka dari kejauhan ketika kulihat mereka meninggalkan Bukit Lajang. Aku memang terlambat tiba di sana. Mereka telah bubar. Tapi percakapan kedua pendeta itu akan kujadikan sumber beritaku mengenai hasil pertemuan para tokoh sakti tersebut. Dan kudengar dengan jelas bahwa pedang itu ada di arah bukit ini, atau wilayah sekitarnya. Aku juga mendengar mereka melihat bayangan pedang ada di bola matamu. Itu benar. Sebab setahuku, mereka bisa melihat apa yang pernah dilihat seseorang sebelum lewat tengah malam."

"Aku tidak tertarik untuk mempercayai kata-kata itu."

"Karena kau belum tahu persis siapa mereka," sergah Angin Betina sambil turunkan kakinya yang nangkring di atas batu itu. Bahkan ia sengaja dekati Suto kurang dari satu langkah. Beradu pandang dengan tegar, berkata dengan suara bisik yang memiliki nada tegas. "Kau memang pernah melihat pedang itu. Kau pasti merahasiakannya!"

"Percakapan ini semakin tidak menarik bagiku, sebab aku makin tak tahu harus bilang apa padamu jika kebenaranku kau sanggah, Angin Betina!"

"Aku tidak bermaksud merebutnya. Percayalah, aku hanya bermaksud membantumu menjaga pedang itu asal kau jujur padaku!"

"Maaf, kejujuranku sudah kau remehkan. Tak ada lagi kejujuran. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa lagi, Angin Betina!"

"Tunggu...!"

Wuuut...!

Tangan perempuan itu cepat sekali mencekal lengan Suto yang keras dan kekar itu. Suto Sinting tak jadi bergerak. Wajahnya kembali menatap dalam jarak sangat dekat. Angin Betina berkata lirih, "Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."

"Tentang apa?"

"Kau tampan!"

Pegangan tangan dilepaskan, seakan Angin Betina sudah tak keberatan jika terpaksa ditinggal pergi Pendekar Mabuk. Tapi si Pendekar Mabuk sendiri justru diam bagaikan terpaku di tempat. Ucapan itu pelan, penuh kesungguhan dalam mengungkapkan penilaian hatinya. Diamnya Suto dimanfaatkan oleh Angin Betina untuk berkata lagi,

"Aku suka padamu, dan berjanji akan melindungimu!"

"Berani sekali kau berkata begitu padaku. Apakah kau tak merasa malu, sebagai perempuan menyatakan isi hatimu di depanku?"

"Aku lebih malu jika kau yang menyatakan rasa suka padaku lebih dulu!"

"Aneh!" Suto Sinting tertawa, tapi tiba-tiba Angin Betina menyentak lirih,

"Jangan tertawa!"

"Kenapa? Aku tertawa pakai mulutku sendiri?!"

"Tawamu makin memancing gairahku," jawabnya dalam desah yang menggiring khayalan kepada sebentuk kehangatan.

Suto Sinting hanya tersenyum, matanya sempat melirik nakal ke dada Angin Betina. Perempuan itu pun berkata lirih lagi,

"Jangan hanya melirik kalau kau berani! Lakukanlah! Tunjukkan keberanianmu sebagai seorang lelaki yang mestinya mampu tundukkan wanita sepertiku!"

Suto kian lebarkan senyum dan menggeleng. "Tidak. Anggap saja aku pengecut untuk urusan ini! Selamat tinggal!"

Zlaaap...! Weesss...!

Suto Sinting segera pergi, tak mau memperpanjang percakapan dan pertemuan dengan Angin Betina. Hati kecilnya mulai tergelitik. Darah asmaranya mulai terbakar. Suto takut tak mampu menahan tuntutan batinnya yang ingin memegang dada itu, sekadar mengukur seberapa kebesarannya.

"Melawan nafsu lebih sulit daripada melawan Siluman Tujuh Nyawa. Daripada aku mati berdiri dengan kaku, lebih baik kutinggalkan saja si penggoda yang pemberani itu!" pikirnya dalam perjalanan kilatnya menuju Lembah Sunyi, ia tak tahu bahwa Angin Betina mengikuti dari belakang dengan gerakannya yang juga menyerupai angin badai, sehingga ia berjuluk Angin Betina.

Sampai di pondok Resi Wulung Gading, ternyata Suto Sinting sudah tidak bertemu dengan Delima Gusti. Menurut Sukat, Delima Gusti pergi ke Jurang Lindu mencari Suto. Ia berangkat tadi pagi, setelah ayam berkokok karena gembira melihat matahari lagi.

"Apakah Resi Wulung Gading sudah tiba ditempat?"

"Sudah," jawab Sukat. "Guru sedang murung, sekarang duduk sendirian di taman belakang. Mari kuantar menemui Guru."

Memang benar apa kata Sukat, wajah sang tokoh tua keponakan dari Nini Galih, gurunya Bidadari Jalang itu sedang murung. Tapi ketika ia mengetahui kedatangan Suto Sinting, kemurungan tersebut segera ditekan dalam-dalam dan disembunyikan di belakang paru-parunya. Wajah tenang dan berkharisma kembali terlihat nyata.

"Menyesai sekali Delima Gusti pergi selang beberapa saat sebelum aku pulang dari Bukit Lajang," kata Resi Wulung Gading. "Pasti anak itu punya masalah yang ingin dibicarakan denganku. Kudengar dari Dul, kau yang mengantarnya."

"Benar. Memang saya yang mengantarnya kemari...," lalu Suto menceritakan masalah yang dihadapi Delima Gusti.

Cerita itu membuat Resi Wulung Gading tersenyum tipis sekali. "Tidak. Pusaka itu tidak ada di tangan Raja Tumbal," katanya sambil melangkah, tongkatnya berwarna hitam kecoklatan itu digunakan sebagai penopang tubuh pada saat berjalan pelan. Suto Sinting menyertainya dari samping. Mereka mengelilingi taman yang tidak terlalu luas namun ditata rapi oleh Sukat.

"Pedang itu masih tetap tidak bisa diteropong di mana letaknya. Tapi tongkatku ini sejak tadi menunjuk ke arah kedatanganmu. Aku yakin pusaka itu ada di utara. Dan aku yakin, kau sudah melihat pusaka itu."

Suto Sinting diam, tapi batinnya menggumam heran, "Mengapa Resi Wulung Gading berpendapat seperti kedua pendeta itu? Aku lagi yang jadi sasarannya. Padahal aku merasa tidak pernah melihat pedang sesakti itu. Andai kukatakan yang sebenarnya, apakah Resi Wulung Gading mau percaya?"

Langkah sang Resi terhenti, ia sengaja memandang Suto dan berkata, "Mengapa pedang itu tidak kau ambil?"

"Resi, sesungguhnya apa yang terjadi pada diri saya, sehingga Pendeta Jantung Dewa dan Pendeta Mata Lima juga berpendapat seperti itu? Padahal saya merasa belum pernah melihat pedang pusaka itu."

Resi Wulung Gading tertegun sejenak, setelah itu berkata, "Jantung Dewa dan Mata Lima menduga hal yang sama denganku? Berarti benarlah dugaanku, karena Mata Lima bisa melihat bayangan yang ada di mata seseorang, demikian pula adiknya; si Jantung Dewa. Cuma...," Resi Wulung Gading diam sebentar. Langkahnya diteruskan dengan pelan-pelan. "Apakah menurutmu kedua pendeta itu menghendaki pedang tersebut?"

"Benar, Resi!"

"Bahaya!" gumam Resi Wulung Gading. "Mereka bisa membawa lari pedang itu ke masa akan datang di saat aku telah tiada. Mereka punya ilmu 'Tembus Waktu' yang tidak dimiliki orang lain."

"Mereka memerlukan pedang itu untuk melawan Raja Tumbal, sebab biara mereka terancam oleh Raja Tumbal, Resi."

"Hmmm...!" Resi Wulung Gading manggut-manggut. "Kalau begitu mereka tidak bermaksud jahat. Mereka hanya membutuhkan keamanan dan keselamatan, baik keselamatan jiwa maupun keselamatan biara mereka! Mengapa tak kau bantu, Suto?"

"Bagaimana saya harus membantu, saya tidak punya pedang itu, Resi! Raja Tumbal punya Seruling Malaikat yang dapat menghancurkan raga saya dari kejauhan, atau dari tempat yang tersembunyi."

Langkah sang Resi terhenti lagi. "Percayalah, apa yang dikatakan mereka itu benar. Mata Lima memang sedikit galak, tapi hatinya baik. Kau pasti sudah melihat pedang itu."

Suto Sinting tarik napas. "Baiklah kalau anggapan itu memang benar. Tapi tolong jelaskan seperti apa ciri-ciri pedang itu, Resi Wulung Gading?"

"Pedang itu bergagang coklat kusam, seperti mau keropos. Mata pedangnya terbuat dari kayu warna putih kusam, seperti lapuk. Tepiannya geripis, dan... pokoknya bentuknya tidak menarik. Semua terbuat dari kayu sederhana dan kasar. Seperti pedang buat mainan anak-anak!"

Seketika itu pula Suto terperanjat kaget. "Angon Luwak...?!" gumamnya dalam hati, karena yang terbayang di otaknya adalah pedang yang dipakai perang-perangan oleh Angon Luwak. Pedang itulah Pedang Kayu Petir. Suto gemetar dan berdebar-debar sambil bertanya dalam hati, "Di mana anak itu berada sekarang?!"

* * *

TUJUH
RESI Wulung Gading mengatakan, bahwa Seruling Malaikat tidak mempunyai kelemahan. Satu-satunya cara menghadapi Seruling Malaikat adalah, "Jangan beri kesempatan Raja Tumbal meniup Seruling itu!"

Pendekar Mabuk punya kesimpulan, "Harus menyerang lebih dulu sebelum diserang. Karena jika Raja Tumbal diserang lebih dulu, maka ia tidak punya persiapan untuk meniup serulingnya. Syukur bisa membuat dia tidak punya kesempatan untuk mengambil pusaka itu!"

Itu berarti Suto Sinting harus lakukan penyerangan mendadak ke Lumpur Maut. Padahal ia tidak mengetahui di mana wilayah Lumpur Maut. Maka, hatinya pun membatin, "Aku harus minta bantuan Angin Betina! Di mana perempuan itu sekarang?"

Pendekar Mabuk dihadapkan pada beberapa persoalan yang memusingkan kepala. Pertama, ia harus mencari di mana Angon Luwak, agar Pedang Kayu Petir yang ada di tangan anak itu tidak jatuh ke tangan orang sesat. Kedua, ia harus temukan Delima Gusti dan memberi tahu tentang siasat Raja Tumbal yang ingin memperistrinya dengan maskawin Pedang Kayu Petir palsu. Sebab Suto yakin, jika sampai Raja Tumbal serahkan sebuah pedang yang menurutnya adalah Pedang Kayu Petir, maka pedang tersebut adalah pedang palsu.

Selain itu Suto Sinting juga harus segera temukan Angin Betina. Perempuan itulah yang bisa membawanya ke Lumpur Maut, dan perempuan itulah yang akan digunakan sebagai pancingan. Sebab Suto percaya bahwa Angin Betina pasti benar-benar pernah menyusup ke Lumpur Maut, karena ia tahu banyak tentang rencana-rencana Raja Tumbal. Kekuatan Angin Betina pun dapat dimanfaatkan untuk menggempur kekuatan Raja Tumbal.

Jika usaha itu berhasil, Raja Tumbal berhasil ditumbangkan, maka negeri Muara Singa akan bebas dari ancaman maut penguasa Lumpur Maut. Di samping itu Biara Damai dan Biara Genta juga akan terbebas dari ancaman kehancuran tangan keji Raja Tumbal. Tetapi agaknya kedua Pendeta kakak-beradik itu terpaksa harus berhadapan dengan utusan Lumpur Maut sebelum berhasil mendengar rencana Pendekar Mabuk.

Karena Raja Tumbal diam-diam mengikuti perkembangan gejolak dunia persilatan yang meributkan kemunculan pedang maha sakti itu. Orang yang diutus itu bukan lagi Ki Wirogo, yang kini justru telah dibunuh oleh Raja Tumbal sendiri karena gagal melawan Tandu Terbang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tandu Terbang).

Orang yang diutus Raja Tumbal kali ini mempunyai tingkat ilmu yang lebih tinggi dari Ki Wirogo. Tentu saja nyawa tetap menjadi jaminan bagi keberhasilan tugas. Rajang Lebong dan Pangkas Caling adalah dua orang Lumpur Maut kepercayaan Raja Tumbal. Mereka berdua mempunyai ilmu 'Ludah Iblis', sebuah ilmu yang membuat mereka sulit dibunuh. Jika salah satu mati, yang satunya lagi meludahi mayat temannya itu, maka sang mayat akan bangkit dan hidup kembali. Hanya mereka berdua yang menekuni ilmu 'Ludah Iblis', sehingga dari sekian banyak anak buah Raja Tumbal, hanya merekalah yang memiliki ilmu tersebut.

Biasanya mereka ditempatkan di kanan-kiri Raja Tumbal sebagai orang kepercayaannya. Tapi kali ini agaknya Raja Tumbal merelakan mereka pergi dari sampingnya demi mendapatkan Pedang Kayu Petir itu. Tugas Rajang Lebong dan Pangkas Caling adalah mencari tahu di mana Pedang Kayu Petir itu berada. Jika memungkinkan untuk merebut dan membawa pulang Pedang Kayu Petir, mereka akan diberi wilayah kekuasaan sendiri. Setidaknya mereka mengetahui siapa pemegang Pedang Kayu Petir sekarang, sehingga Raja Tumbal bisa menghadapinya dengan siasatnya sendiri dan tentu saja menggunakan Seruling Malaikat-nya.

Tapi jika mereka gagal membawa pulang Pedang Kayu Petir dan tidak mengetahui siapa pemiliknya, tugas ketiga bagi mereka adalah bunuh diri dengan cara sendiri-sendiri. Mereka berdua berhasil menyadap pembicaraan para tokoh di Bukit Lajang, sehingga mereka tahu ke mana harus bergerak, yaitu ke arah utara. Dalam perjalanan menuju utara itulah mereka berpapasan dengan dua pendeta dari Biara Damai dan Biara Genta.

Pada waktu itu, Pendeta Mata Lima dan Pendeta Jantung Dewa baru saja selesai sembuhkan diri akibat serangan sinar perak yang tak diketahui pemiliknya. Mereka tak tahu bahwa pemiliknya adalah Angin Betina. Mereka hanya berlari menuju ke puncak bukit, melintasi Telaga Jompo, sampai menuruni bukit dari puncaknya. Jalan itu adalah jalan yang mereka tempuh semula saat datang dari arah Bukit Lajang.

Melihat kedua pendeta itu tampak terburu-buru, Rajang Lebong segera hentikan langkah, tangan kanannya direntangkan sedikit yang berarti menyuruh Pangkas Caling berhenti pula.

"Ada apa?" tanya Pangkas Caling yang berbadan kurus, berpakaian hijau dengan wajah layak dikatakan runcing karena dagunya lancip.

"Jantung Dewa dan Mata Lima baru saja dari bukit itu! Mereka tampak tergesa-gesa. Ada apa kira-kira?"

"Hmmm...!" Pangkas Caling mengusap-usap kumisnya yang panjang melengkung ke bawah. Lalu berkata dengan suara mirip orang menggumam, "Pasti mereka sudah dapatkan keterangan tentang di mana pedang pusaka itu dan siapa pemegangnya! Pasti mereka sedang mengejar si pemilik pedang itu!"

Rajang Lebong yang berpakaian merah, berikat kepala merah dengan rambut botak depan dan sisanya panjang lewat pundak itu segera berkata, "Hadang mereka! Paksa supaya buka mulut!"

Wuss, wuus...!

Keduanya segera berkelebat menghadang langkah kedua pendeta itu. Sapaan kedua utusan Lumpur Maut yang pertama kali adalah melesatnya selarik sinar kuning ke arah punggung Pendeta Jantung Dewa. Claaap...! Tetapi Pendeta Jantung Dewa ternyata mempunyai gerak naluri yang cukup peka, karena dalam keadaan penuh waspada. Tak mau kecolongan lagi seperti tadi.

"Awas...!" serunya sambil jejakkan kaki dan tubuhnya melenting di udara.

Wuuus...!

Pendeta Mata Lima mendengar seruan itu tanpa banyak tanya lagi, sentakkan kakinya dan, wuuut...! Wuk, wuuk...! Bersalto di udara dua kali masih merupakan kelincahan yang dimiliki orang setua dia.

Kini keduanya sudah kembali mendarat di tanah dan langsung menghadang lawannya, tak pedulikan sinar kuning tadi kenai pohon itu langsung kering dari pucuk sampai akarnya.

"Rajang Lebong dan Pangkas Caling, mau apa kalian menyerang kami!" tegur Pendeta Jantung Dewa dengan kalem.

Senyum Pangkas Caling diperlihatkan kesinisannya, tapi bagi Pendeta Jantung Dewa, yang dipamerkan adalah dua gigi taring yang sedikit lebih panjang dari barisan gigi lainnya. Pangkas Caling menyeringai mirip hantu tersipu malu. Sekalipun yang menyeringai Pangkas Caling, tapi yang bicara adalah Rajang Lebong yang punya badan agak gemuk, bersenjata golok lengkung terselip di depan perutnya. Beda dengan Pangkas Caling yang bersenjata parang panjang di pinggang kirinya.

"Kulihat kalian berdua tadi ada di Bukit Lajang!"

"Memang benar!" jawab Pendeta Jantung Dewa. Tegas dan jujur.

"Tentunya kalian telah berhasil peroleh keterangan tentang pedang pusaka itu. Terbukti kalian berbalik arah dan sangat terburu-buru."

"Jika benar, mau apa kalian?" sahut Pendeta Mata Lima. Ia bersikap lebih tegas lagi, dan sikapnya langsung menentang tanpa basa-basi.

"Beri tahu kami, di mana pedang itu dan siapa pemegangnya yang sekarang!" Pangkas Caling segera menyambar percakapan sebelum Rajang Lebong bicara.

"Kami hanya melihat bayangan pedang itu saja," kata Pendeta Jantung Dewa. "Kami tak tahu persis di mana pedang itu dan siapa sekarang yang memiiikinya!"

"Apakah aku harus memaksa mulut kalian agar bicara?!" ujar Rajang Lebong dengan nada sinis.

Pendeta Mata Lima tak sabar dan berkata sinis juga, "Apakah kalian mampu?"

"Rajang Lebong!" sentak Pangkas Caling, "Kita disepelekan! Hajar dia!"

Wuuut...! Craaak...!

Pendeta Mata Lima mendahului gerakan Rajang Lebong yang sudah siap-siap lakukan serangan. Pendeta Mata Lima kibaskan tasbihnya ke depan dan memerciklah bunga api warna hijau terang yang langsung menerjang tubuh Rajang Lebong. Tetapi tangan Pangkas Caling cepat-cepat menyentak ke depan dan menghembuslah angin badai kecil yang berkecepatan tinggi.

Wuuussss...!

Cahaya hijau yang memercik-mercik itu menyingkir arah dan terhempas badai dari tangan Pangkas Caling. Sinar itu menghantam gugusan batu. Praak...! Gugusan batu hancur menjadi butiran-butiran sebesar biji pepaya. Seperti biasa, jika terjadi pertarungan, Pendeta Jantung Dewa menyingkir lebih dulu. Seakan memberikan kesempatan kepada kakaknya untuk menangani lawan mereka dan mempercayakan perlawanan kepada sang kakak. Pendeta Jantung Dewa diam di bawah pohon dengan tenang, memperhatikan kakaknya menghadapi kedua utusan Lumpur Maut itu.

"Kalian memang pendeta yang bodoh! Kalian pikir usia kalian masih mampu melampau batas dua tahun lagi? Tidak! Usia kalian tinggal sejengkal. Untuk apa kalian paksakan diri melawan kami? Lebih baik kalian katakan di mana pedang itu daripada kami percepat kematian kalian berdua!" kata Rajang Lebong.

"Jangan banyak bicara! Buktikan saja kemampuanmu."

"Keparat! Benar-benar orang tua tak bisa diberi ampun kau! Heaaah..!"

Rajang Lebong segera melompat sambil cabut golok lengkungnya. Wees...! Golok ditebaskan ke wajah Pendeta Mata Lima. Tapi orang yang mau ditebas wajahnya lompat mundur satu kali. Suuut...! Jauhnya bisa empat langkah. Lalu dari mata kirinya melesat sinar biru lima larik kecil-kecil seperti benang.

Slaaap...! Jraab...!

Lima sinar itu menghantam tubuh Rajang Lebong. Melesatnya lima sinar biru adalah sesuatu yang sangat tidak diduga-duga, sehingga Rajang Lebong sempat terkejut. Namun belum selesai rasa kagetnya ia sudah harus terjungkal ke belakang dan jatuh di depan kaki Pangkas Caling.

Bruuuhk...!

"Uuhhgg...! Rajang Lebong mengerang. Matanya yang lebar mendelik. Tubuhnya menjadi merah matang. Demikian pula wajahnya. Alisnya lenyap terbakar, demikian pula rambut belakangnya. Tinggal sisa bagian belakang, itu pun menjadi keriting bagai disambar petir. Tubuh itu mengejang sesaat, untuk kemudian terkulai lemas dengan napas terhempas. Tapi selanjutnya Rajang Lebong bagai orang malas bernapas karena nyawanya melayang meninggalkan raga.

"Bangsat kau, Mata Lima!" geram Pangkas Caling dengan mata melebar penuh amukan dendam. Sebelum ia lakukan serangan balasan, lebih dulu mayat Rajang Lebong itu diludahi satu kali. "Cuih...!"

Plok! Ludah menempel di wajah mayat. Segera Pangkas Caling melompat tak seberapa jauh. Maju ke depan dengan kedua tangan yang saling merapat segera disentakkan membuka ke kanan-kiri.

"Heaah...!"

Dari dada kurus Pangkas Caling melesat sinar lebar warna merah terang. Sinar itu menyembur ke arah Pendeta Mata Lima sampai merangkup ke tempat berdirinya Pendeta Jantung Dewa. Plaaass...!

Seketika itu pula dua pendeta lepaskan jurus pukulan yang sama tanpa berunding lebih dulu. Tangan kiri mereka terangkat ke atas dan tangan kanan mereka menghentak ke kiri bagaikan mendorong sesuatu dari kanan ke kiri.

Wuuut...!

Secara bersamaan pula dari lengan kanan mereka melesat sinar lebar pula berwarna hijau bening. Wuuus...! Kedua sinar hijau bening itu menghantam sinar merahnya Pangkas Caling, dan akibatnya sungguh dahsyat. Kedua sinar itu pecah dan timbulkan ledakan besar.

Bleeng...!

Gemanya memenuhi hutan lereng bukit. Tanah yang dipijak mereka berguncang. Bukit itu bagaikan gunung yang akan meletus. Lebih dari lima pohon tumbang. Batu-batu yang ada di atas berhamburan bergulir saling kejar-kejaran. Gemuruh suara yang timbul bagaikan suara langit mau roboh. Angin datang, berhembus menyerupai badai. Awan di angkasa yang semula terang menjadi gelap. Menggumpal hitam dan bergulung- gulung. Karena benturan dua jenis sinar itu tadi menyebarkan asap hitam yang membumbung tinggi bagaikan mendung tanpa petir.

Tubuh Pangkas Caling tak kelihatan setelah terjadi kilatan cahaya terang warna ungu akibat benturan tadi. Tubuh kedua pendeta itu terjungkal lima langkah dari jarak tempat berdiri mereka tadi. Hidung mereka sama-sama keluarkan darah, dan wajah mereka sama-sama menjadi pucat. Mereka sendiri tak sangka kalau akan terjadi ledakan sedahsyat itu.

"Jantung Dewa, apakah kita masih hidup atau sudah di nirwana?"

"Kukira kita masih ada di bumi, Mata Lima," jawab Pendeta Jantung Dewa dengan suara berat dan napas sesak.

Getaran bumi terhenti, angin membadai hilang. Gemuruh bebatuan yang longsor bersama tanahnya pun tinggal sisanya. Kedua pendeta itu sudah tegak berdiri walau sesak napasnya belum teratasi. Tapi pandangan mata para orang tua itu sudah cukup terang untuk memandang alam sekitarnya.

Pada waktu itu, keadaan Rajang Lebong yang sudah mati ternyata bisa bernapas dan bangkit lagi. Sebab sebelum Pangkas Caling menyerang, terlebih dulu meludahi wajah Rajang Lebong. Tetapi ia menjadi bingung melihat keadaan sekeliling yang rusak bagai dilanda kiamat setempat. Lebih bingung lagi ia mencari- cari di mana Pangkas Caling berada.

Bagi kedua pendeta tua itu, kebangkitan Raja Lebong dari kematian bukan sesuatu yang aneh. Sebab mereka berdua sudah mengetahui kekuatan ilmu mereka. Tapi bagi sepasang mata yang mengintai dari kejauhan dan ikut terkena percikan tanah saat terjadi ledakan dahsyat tadi, sungguh heran melihat Rajang Lebong bangkit kembali.

"Pangkas Caling...!" seru Rajang Lebong dengan terbungkuk-bungkuk karena masih sempoyongan. "Pangkas Caling, di mana kau?!"

"Di sini...!" seru sebuah suara dari arah timur. Bukan hanya Rajang Lebong yang berpaling ke timur, melainkan kedua pendeta dan sepasang mata pengintai itu juga memandang ke arah timur.

Rajang Lebong kaget melihat keadaan Pangkas Caling yang hanya kelihatan kepalanya saja, sekujur tubuhnya terkubur tanah longsor. Kepala itu berwajah kotor penuh tanah, nyaris tak dapat dikenali sebagai kepala manusia, karena mirip dengan kelapa kering yang terkelupas sabutnya secara acak-acakan.

"Maling kuntet!" geram Rajang Lebong. "Kenapa kau diam saja di situ?! Lekas bangun! Lawan kita masih tegar!" sambil Rajang Lebong bergegas menghampiri Pangkas Caling. Begitu ia mendekat, Pangkas Caling yang jengkel karena dikecam itu segera meludah.

Cuih...! Plok!

"Monyet!" sentak Rajang Lebong memaki sambil mengusap wajahnya yang kena ludah lagi itu. "Aku sudah hidup. Tak perlu kau ludahi lagi!"

"Aku tahu! Tapi kau jangan mengecamku! Cepat bantu aku keluar dari timbunan tanah longsor ini!" sentak Pangkas Caling. Matanya mau mendelik tapi buru-buru berkedip-kedip karena tanah di alisnya rontok dan masuk kemata.

Sementara Rajang Lebong membongkar timbunan tanah untuk keluarkan tubuh Pangkas Caling, di sisi lain Pendeta Mata Lima berkata kepada adiknya,

"Kita serang mereka saat begitu biar mati bersama. Jika mereka mati bersama maka tak ada yang bisa saling meludahi!"

"Tentu saja, sebab tak pernah ada mayat yang bisa saling meludahi. Tapi itu licik namanya. Beri kesempatan mereka bangkit dan berhadapan kembali dengan kita! Seandainya mereka harus mati bersama, biarlah mati secara ksatria, dan kita menang pun dengan hormat!"

Rajang Lebong menarik tubuh Pangkas Caling. Bruuus...! Tubuh itu terangkat ke atas dan berhasil keluar dari timbunan tanah. Tetapi keduanya sama-sama kaget, matanya memandang ke bawah. Ternyata kaki kiri Pangkas Caling terpotong sebatas lutut. Pangkas Caling menyeringai memandangi Rajang Lebong, antara menahan sakit, marah, dan sedih.

Rajang Lebong salah pengertian dan berkata, "Jangan tersenyum!"

"Matamu itu yang tersenyum!" makinya dengan kasar. "Lihat... kakiku ketinggalan di dalam sana!" Pangkas Caling ingin menangis.

Rajang Lebong bingung. "Mau diambil percuma juga, nyambungnya bagaimana?!" ucapnya pelan dan hati-hati.

"Balas! Buntungi kepala dua pendeta itu! Balas...!" teriaknya dengan marah bercampur sedih.

"Heaaat..!" Rajang Lebong berlari dengan geram kemarahan terpancing. Tab, tab, tab...! ia melompat dengan gerakan jungkir balik yang cepat. Jleeg! Tiba di depan kedua pendeta itu dengan napas terengah-engah. Golok lengkungnya ketinggalan di tempat timbunan tanah yang mengubur tubuh Pangkas Caling. Tapi hal itu tidak jadi masalah buat Rajang Lebong. Niatnya membalaskan kebuntungan kaki temannya sangat besar, sehingga dengan geram ia berkata,

"Sudah saatnya kaki dibalas kepala! Heaaat...!" Rajang Lebong keluarkan sinar dari kedua telapak tangan yang selesai digosokkan dan disentakkan ke depan. Sinar biru itu melesat terputus-putus bagaikan senjata yang dilepaskan dari tempatnya. Clap, clap, clap, clap...!

Duaaar! Blaar! Daaar..! Taar...! Blaar...!

Sinar biru itu terus-terusan keluar dari telapak tangan Rajang Lebong. Pemiliknya bersalto ke sana-sini, melompat kian kemari. Kedua pendeta itu dihujani sinar biru yang bagaikan peluru tanpa ada habisnya. Teriakan Rajang Lebong bagai orang kesurupan yang mengamuk ganas.

"Heaaat...! Hiaaah..! Heeeaaah..!"

Clap, clap, clap...! Gerakan memutari kedua pendeta membuat Rajang Lebong sulit diserang balik. Bahkan sinar biru yang berbenturan dengan sinar sinar dari kedua pendeta itu hanya hasilkan ledakan-ledakan yang tak mampu membuat tubuh Rajang Lebong terpental.

Jraab...! Dees...!

Dua sinar biru itu akhirnya berhasil kenai punggung Pendeta Jantung Dewa, dan mengenai pinggang Pendeta Mata Lima. Keduanya sama-sama jatuh dengan tubuh mengejang dan menjadi hitam. Tetapi agaknya Rajang Lebong belum puas. Lebih-lebih Pangkas Caling berseru dari tempatnya yang agak jauh,

"Hancurkan! Jadikan mereka debu dengan jurus 'Pasir Neraka'! Cepaaat...!"

Tetapi tiba-tiba sekelebat sinar hijau dari telapak tangan sang pengintai melesat lebih dulu sebelum Rajang Lebong lepaskan jurus 'Pasir Neraka' andalannya.

Zlaaap...! Sinar hijau yang dinamakan jurus 'Pecah Raga' itu tepat kedai dada Rajang Lebong. Deeub...!

Blaaarrr...!

Apa yang terjadi sungguh tak diduga-duga oleh Pangkas Caling. Tubuh Rajang Lebong hancur. Pecah menjadi serpihan-serpihan daging dan tulang yang menyebar ke mana-mana. Bahkan darahnya sendiri tak bisa terkumpulkan. Ada yang membasahi batu, pohon, daun, ilalang, dan ke mana saja tak jelas bentuknya, hanya warna merah yang membuat alam sekitarnya bagai berbunga indah. Sedangkan Pangkas Caling gemetar antara takut dan memendam murka, ia sempat berkata pada dirinya sendiri,

"Kalau begini matinya, bagaimana aku bisa meludahi Rajang Lebong? Apanya yang harus kuludahi?! Celaka! Ada orang yang membantu kedua pendeta itu! Ilmunya pasti lebih tinggi! Sebaiknya aku harus lekas-lekas kabur saja!"

Pangkas Caling larikan diri dengan satu kaki. Sedikit lambat, tapi termasuk cepat bagi orang awam. Sentakan kakinya mengayunkan tubuh dengan ringan bagaikan terbang. Wuus...! Wuuuus...! Wuuus...! Dalam beberapa waktu saja ia sudah tidak kelihatan.

Sang pengintai segera muncul. Gerakannya sangat cepat. Zlaaap...! Tahu-tahu ia sudah berada di samping dua pendeta yang masih sekarat dalam keadaan tubuh hangus tapi pakaian tidak terbakar sedikit pun. Pengintai itu tak lain adalah Pendekar Mabuk, Suto Sinting, yang bertujuan menemui Sabani, kakak Angon Luwak melalui bukit itu seperti perjalanan saat menuju Lembah Sunyi.

"Agaknya masih bisa kutolong. Mereka masih punya napas!" kemudian Suto Sinting segera meminumkan tuaknya ke mulut kedua pendeta itu dengan sedikit susah payah karena kedua pendeta itu bergigi rapat, menggigit kuat menahan rasa sakit yang luar biasa.

Setelah keduanya berhasil diminumi tuak, beberapa saat kemudian kulit yang hangus terbakar itu mulai pudar, kian lama kian kembali ke warna aslinya. Napas mereka pun mulai teratur. Tapi badan mereka masih lemah. Mereka didudukkan oleh Suto Sinting.

Kedua pendeta itu terkejut setelah menyadari orang yang menolongnya adalah Suto Sinting, yaitu orang yang sedang dikejar-kejar untuk didesak agar memberitahukan letak benda pusaka itu. Mereka jadi tertegun beberapa saat memandangi Pendekar Mabuk. Hati mereka gundah karena bingung harus bersikap bagaimana terhadap Suto Sinting.

Akhirnya Pendeta Jantung Dewa berkata, "Terima kasih atas pertolonganmu. Sempat kulihat sinar hijaumu kenai dada Rajang Lebong dan pecahlah raga orang itu. Tapi ketahuilah, ini sebuah kesempatan emas bagi Raja Tumbal untuk menyerang biara kami dengan alasan pembalasan terhadap kematian Rajang Lebong!"

"Jangan takut, saya akan membantu memperkuat biara!" kata Suto Sinting.

"Apakah kau akan serang Raja Tumbal dengan pedang pusaka itu?"

"Ya. Tapi aku harus cari pedang itu dulu. Eyang! Aku tahu siapa yang membawa pedang itu. Dan aku tak sadar kalau aku telah melihat pedang pusaka itu!"

Pendeta Mata Lima berusaha bangkit dengan pelan-pelan. Ia berhasil berdiri tegak setelah dibantu oleh Suto Sinting. "Sebaiknya katakan pada kami siapa yang membawa pedang itu!" kata Pendeta Mata Lima. "Jangan bikin persoalan lagi dengan kami, Suto Sinting."

Suto Sinting tarik napas menahan rasa jengkel. Pendeta Jantung Dewa pun bangkit berdiri dan berkata kepada kakaknya, "Dia sudah selamatkan jiwa kita! Mengapa kau masih mendesaknya dengan cara seperti itu, Mata Lima?!"

"Karena kita butuh pedang itu!"

"Serahkan saja semuanya pada Pendekar Mabuk, tentunya dia tidak akan tinggal diam melihat orang sesat ingin hancurkan kita!"

"Bagaimana kalau dia ingkar janji setelah dapatkan pedang itu?"

"Kalau dia mau ingkar janji, dia tidak akan mau tolong kita saat ini!"

Akhirnya sang kakak mengalah dan tarik napas dalam-dalam. "Baiklah, kuserahkan kepadamu tentang keganasan Raja Tumbal itu!" katanya kepada Suto. "Tetapi izinkan kami membantumu mencari pedang itu, supaya jika kau temui kesulitan kami bisa membantu."

"Eyang berdua sebaiknya beristirahat saja. Biar aku yang mencarinya!" Suto tetap bicara dengan ramah.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan bernada mengejek. Plok, plok, plok, plok, plok, plok...! Lalu sesosok tubuh muncul dari balik pohon yang tumbuh miring dan hampir roboh akibat amukan badai tadi. Kedua pendeta itu dan Suto Sinting segera memandang kemunculan tokoh sakti yang sudah mereka kenal sebelumnya. Mereka sedikit terkejut karena ternyata tokoh itu hadir pula di bukit tersebut, seakan ingin ikut campur urusan Suto dan dua pendeta.

* * *

DELAPAN
TOKOH yang baru muncul itu berpakaian serba merah, sabuknya hitam. Di sabuknya itu terselip kipas putih. Rambutnya putih, sedikit ikal. Ia mengenakan ikat kepala warna hitam. Kumis dan jenggotnya tak begitu banyak, tapi berwarna putih rata. Usianya sekitar tujuh puluh tahun. Kulitnya agak hitam dengan badan sedikit gemuk. Ketika berjalan mendekati Suto dan dua pendeta itu, kepalanya terkulai miring, matanya terpejam. Tak ada gambaran apa pun di wajahnya itu, sebab ia dalam keadaan sedang tidur.

Siapa lagi yang bisa tidur sambil lompat sana-sini kalau bukan Ki Gendeng Sekarat, bekas pelayannya si Gila Tuak. Pendeta Jantung Dewa dan kakaknya tidak heran melihat Ki Gendeng Sekarat berjalan dalam keadaan tidur, sebab mereka sudah lama mengetahui ketinggian ilmu Ki Gendeng Sekarat.

"Apa maksudmu bertepuk tangan, Gendeng Sekarat?" tegur Pendeta Mata Lima.

Dengan suara parau karena dalam keadaan tidur, Ki Gendeng Sekarat menjawab, "Aku memuji kehebatan Gusti Manggala-ku ini!" seraya tangannya menuding Suto dengan lemas. "Masih muda, tapi justru akan menjadi pelindung kalian yang sudah tua dan berilmu tinggi!"

"Jaga bicaramu agar jangan menyinggung perasaanku, Gendeng Sekarat!" hardik Pendeta Mata Lima.

Ki Gendeng Sekarat tertawa pendek, seperti orang mengigau, ia menepuk pundak Suto dan berkata, "Pendeta yang satu ini memang cepat panas hati dan mudah tersinggung!"

"Ki Gendeng Sekarat, apa maksud Ki Gendeng Sekarat datang menemuiku di sini? Apakah ada utusan dari Puri Gerbang Surgawi?"

Mendengar nama Puri Gerbang Surgawi disebutkan, kedua pendeta itu tetap tenang. Sebab mereka tahu, bahwa Suto Sinting adalah orang Puri Gerbang Surgawi. Noda merah di kening Suto sudah dilihat sejak awal jumpa. Semestinya mereka merasa sungkan, karena mereka tahu siapa penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi baik yang di alam gaib maupun yang di alam nyata, yaitu di Pulau Serindu. Tapi karena terpaksa sekali, demi pedang pusaka itu, maka kedua pendeta tersebut melupakan tentang siapa Suto sebenarnya.

Ki Gendeng Sekarat menjawab pertanyaan Suto tadi, "Aku datang bukan karena tugas dari calon istrimu; Dyah Sariningrum. Aku datang karena aku dengar ribut-ribut tentang Pedang Kayu Petir yang sudah puluhan tahun dianggap lenyap tak berbekas itu. Tentunya kepergianku atas seizin Ratu Gusti Mahkota Sejati, ya calon istrimu itu."

Pendeta Mata Lima berkata, "Apakah kau juga ingin memiliki pedang pusaka itu, Gendeng Sekarat?"

"Pedang itu milik Resi Wulung Gading," jawab Ki Gendeng Sekarat sambil bersandar di pohon samping Suto supaya tidurnya enak. Tapi ia tetap bicara walau masih tertidur. "Untuk apa aku memiliki pusaka yang bukan hak ku? Kalau aku punya keperluan dengan pusaka itu, lebih baik aku meminta izin kepada yang memilikinya, dan meminjam dengan kerelaan hati si pemilik. Tidak dengan mencari dan merebut sendiri pedang itu!".

Pendeta Jantung Dewa yang kalem itu menatap kakaknya. Mereka tahu sedang disindir. Tapi mereka memang mengakui kesalahan langkah mereka, sehingga Pendeta Mata Lima hanya tarik napas memendam penyesalan.

Ki Gendeng Sekarat sedikit melorot sandarannya. Dengkurnya terdengar pelan sekali. Sepertinya ia tak ingin bicara lagi dan lelap dalam mimpi. Namun ketika Suto Sinting buka mulut untuk ucapkan kata, Ki Gendeng Sekarat buru-buru berkata,

"Wulung Gading adalah temanku. Aku tahu persis bahwa pusaka itu adalah pusaka leluhurnya. Gunanya untuk membantai keangkaramurkaan yang sulit dimusnahkan. Wulung Gading persiapkan pedang itu untuk melawan Siluman Tujuh Nyawa. Tapi pedang itu tahu-tahu lenyap secara gaib, dan sejak itu kami pun tak mau membicarakannya lagi."

Ki Gendeng Sekarat makin melorot, akhirnya duduk di rumput dan bersandar santai dengan kaki melonjor kepala kian miring ke kiri, sedikit agak ke depan. Dengkurnya terdengar lirih sekali.

"Tapi...," Suto mau bicara dipotong lagi oleh suara Ki Gendeng Sekarat,

"Tapi sekarang kudengar pedang maha sakti itu muncul lagi. Entah siapa yang menemukannya, yang jelas kemunculan pedang itu punya makna sendiri bagi kehidupan orang banyak. Bukan bagi kepentingan pribadi."

"Sejak tadi kau menyindir kami terus!" sambar Pendeta Mata Lima. "Apa maksudmu sebenarnya, Gendeng Sekarat?!"

"Maksudku, mengingatkan kalian. Yah, namanya saja sudah pada tua-tua begitu, maklum kalau lupa dan kami yang muda perlu mengingatkan," jawabnya dengan nada seenaknya walau masih bersuara parau. "Kalau kalian ingin menggunakan pedang itu, pinjamlah kepada Wulung Gading. Minta izin dulu kepada pemiliknya! Setidaknya jika memang kalian berhasil menumbangkan lawan dengan pedang itu, tidak akan timbul salah pengertian di pihak Wulung Gading!"

"Saranmu itu memang benar," kata Pendeta Jantung Dewa. "Kami salah langkah karena keadaan panik. Tapi kami akan segera ke Lembah Sunyi sekarang juga untuk bicara dengan Wulung Gading!"

Kemudian Pendeta Jantung Dewa bicara kepada kakaknya, "Kita berangkat sekarang saja. Biarkan masalah pencarian pedang itu kita percayakan kepada Pendekar Mabuk!"

"Dan urusan kita dengan Raja Tumbal?"

"Kutangani secepatnya, Eyang!" sahut Suto Sinting.

"Baiklah!" akhirnya Pendeta Mata Lima menyetujui rencana adiknya. Mereka pun segera pergi setelah Suto berkata,

"Begitu pedang itu kudapatkan, sudah tentu kuberikan dulu kepada Resi Wulung Gading. Atas seizin beliau aku berani gunakan pedang itu!"

"Semoga kita bertemu di Lembah Sunyi, Anak Muda!" kata Pendeta Jantung Dewa.

Setelah kedua pendeta itu pergi, Suto berkata kepada Ki Gendeng Sekarat, "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Ki. Sangat rahasia sekali. Karena itu, aku butuh tempat aman yang tak tersadap oleh telinga siapa saja."

"Mudah saja, Gusti Manggala!" kata Ki Gendeng Sekarat dengan sebutan terhormat kepada Suto, karena kedudukan Suto lebih tinggi darinya jika mereka berada di negeri Puri Gerbang Surgawi.

Ki Gendeng Sekarat segera keraskan dua jari tangannya. Dua jari tangan itu disentakkan ke langit. Wuuut...! Melesatlah sinar hijau memercik-mercik seperti kumpulan kembang api. Sinar itu melesat di udara tak seberapa tinggi, hanya sekitar lima jengkal dari kepala mereka. Sinar itu memecah, menjadi lebar dan akhirnya bergerak turun dalam bentuk kabut putih. Wuuuss...! Kabut itu membungkus sekeliling mereka berdua. Kejap berikut kabut itu lenyap. Kedua tubuh mereka pun lenyap. Tak terlihat oleh mata siapapun.

"Kita lenyap dari pandang mata siapa pun, Gusti Manggala. Suara kita pun tak akan didengar oleh siapa pun walau orang itu berilmu tinggi."

Suto memandangi alam sekeliling dengan kagum, sebab dalam pandangannya alam sekeliling bercahaya hijau semua. Mulut Suto pun menggumam heran. "Luar biasa! Hebat sekali! Ilmu apa namanya, Ki?"

"Namanya ilmu... jurus 'Surya Kasmaran'."

"Aneh sekali namanya itu?"

"Jurus ini untuk menutupi kita jika sewaktu-waktu kita ingin bermesraan dengan kekasih."

Gelak tawa Suto terlepas tak terlalu panjang. "Agaknya jurus ini adalah jurus baru. Aku baru sekarang tahu kau memiliki ilmu ini, Ki!"

"Memang jurus baru! Calon istrimu itulah yang menghadiahkan jurus ini padaku sebagai hadiah kesetiaanku yang menjadi penghubung antara kau dan dia!"

"Menakjubkan sekali! Aku akan minta jurus ini darinya jika aku pulang nanti."

"Itu urusan nanti. Sekarang bicaralah dulu hal yang ingin kau bicarakan!"

"Soal Pedang Kayu Petir itu, Ki!"

"Apa yang ingin kau ketahui? Kesaktiannya?"

"Ya. Pertama-tama aku ingin tahu sejelas-jelasnya tentang kesaktian Pedang Kayu Petir itu."

Ki Gendeng Sekarat menguap setelah tubuhnya bagaikan tersentak kaget, ia juga menggeliat dengan tangan direntangkan. Satu tangan yang merentang keatas nyaris kenai pipi Suto kalau Suto tak segera undurkan kepala.

"Hati-hati, Ki...!"

"Lain kali kalau ada orang menggeliat jangan disampingnya!" gerutunya. Ki Gendeng Sekarat mengusap wajahnya. Tampaknya ia telah selesai tidur dan puas menikmati kenyenyakannya. Pandangan matanya terasa segar. Tapi segera berkerut dahi. "Lho... kok semuanya serba hijau?"

"Kau yang bikin semuanya jadi hijau dengan jurus barumu itu!"

"O, iya!" ia manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala. "Hmm... kau tanya apa tadi? Oh, kesaktian pedang itu?!"

"Benar, Ki. Aku ingin tahu semuanya yang ada pada pedang itu."

"Pedang itu sebenarnya roh dari Eyang Agung Ciptamangkurat!"

"Siapa itu Eyang Agung Ciptamangkurat?"

"Kakeknya... hmmm... kakeknya manusia tanpa pusar yang menjelma menjadi pohon bambu dan bambu itu menjadi bumbung tuakmu yang sekarang. Aku tak berani sebutkan namanya, karena jika namanya kusebutkan akan terjadi hujan badai dan hujan petir!"

Pendekar Mabuk manggut-manggut, ia mengerti maksud Ki Gendeng Sekarat, bahwa Pedang Kayu Petir adalah jelmaan kakeknya Wijayasura, manusia tanpa pusar, guru dari Purbapati dan Nini Galih, kakek gurunya si Gila Tuak. Padahal Suto sendiri adalah bocah tanpa pusar juga, sehingga seluruh ilmu Wijayasura mengalir dengan sendirinya ke tubuh Suto walau melalui si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Nama Wijayasura memang tak boleh disebut sembarangan karena bisa datangkan hujan petir dan badai, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pedang Guntur Biru, Bocah Tanpa Pusar, dan Pusaka Tombak Maut)

"Terus letak keampuhannya, Ki?"

"Orang sesakti apa pun bisa dilukai oleh pedang itu. Sebab siapa pun orangnya, jika melihat pedang itu, maka seluruh kesaktiannya lenyap seketika dan menjadi orang polos tanpa ilmu secuil pun. Tapi jika ia jauh dari pedang itu dan tidak melihatnya, maka kesaktian orang tersebut muncul kembali seperti sediakala."

Suto kembali manggut-manggut, lalu terbayang saat ia melihat Angon Luwak bermain pedang-pedangan bersama Saladin dan teman-teman lainnya. Saat itu, Suto ingin menolong Saladin yang terluka, tapi gerakannya menjadi lamban, ia tak bisa gunakan gerak siluman, bahkan untuk bersalto pun tak mampu, malah jatuh tersungkur memalukan. Rupanya saat itu ilmu Suto hilang seketika karena melihat Pedang Kayu Petir. Buktinya setelah Angon Luwak lari ketakutan karena menyangka dirinya telah membunuh Saladin, Suto mampu lakukan gerakan bersalto dan gerak silumannya pun bisa digunakan kembali sebagai mana mestinya.

Ki Gendeng Sekarat berkata lagi, "Menurut cerita Wulung Gading, pedang itu jika digoreskan ke kulit tubuh manusia, maka lukanya akan menyala hijau pendar-pendar, si korban kejang-kejang, tubuhnya menjadi hijau berpijar-pijar, sesaat kemudian sinar itu lenyap bersama hilangnya nyawa korban."

"Persis," gumam Suto sambil membayangkan keadaan Saladin.

"Jika pedang itu disentakkan ke langit, keluar puluhan petir berpencar ke segala arah dari ujung pedang. Langit menjadi merah menggelegar bagaikan mau pecah. Jika dilangit ada bulan dan pedang itu disentakkan ke arah rembulan, maka rembulan akan menjadi semerah saga. Jika disentakkan ke arah matahari, maka matahari akan redupkan sinarnya dan tampak merah sehari penuh."

"Luar biasa...?!" Suto penuh kekaguman dalam decaknya.

"Pedang itu dari kayu biasa. Sepertinya kayu rapuh. Tapi itulah kayu petir. Tanaman kayu petir sudah tidak tumbuh lagi dimasa sekarang. Sekalipun dari kayu, tapi pedang itu tak bisa patah. Pedang itu sangat enteng, baunya wangi cendana campur pandan. Bisa untuk memotong baja setebal apa pun. Jika ditebangkan pada satu pohon, maka dua-tiga pohon dikanan-kirinya ikut terpotong dengan sendirinya. Pedang itu tanpa sarung pedang. Konon, para leluhur Wulung Gading membungkusnya dengan sarung pedang dari kain biasa."

"Pantas para tokoh di rimba persilatan menginginkan pedang itu?!" kata Suto bagai bicara sendiri.

"Satu lagi keistimewaan pedang itu, jika ditusukkan keluar sinar ungu dari ujungnya. Sinar itu bisa menembus empat atau lima pohon sekaligus! Jadi kalau ditusukkan ke tubuh lawan harus hati-hati. Bisa-bisa mengenai teman sendiri yang kebetulan ada dalam satu arah tusukan dengan lawan."

Gumam lirih Suto memanjang dengan kepala manggut-manggut. Kini kelihatannya Ki Gendeng Sekarat mulai memperhatikan segala sikap Suto yang tadi terjadi saat ia menceritakan kehebatan pedang maha sakti itu. Ki Gendeng Sekarat bertanya pada pemuda tanpa pusar itu, "Tadi kudengar kau mengatakan 'persis', maksudnya persis bagaimana?"

"Aku melihat pedang itu ada di tangan muridmu."

Ki Gendeng Sekarat kerutkan dahi, pandangi Suto penuh curiga dan keheranan. "Aku tak punya murid. Semua muridku sudah mati ketika Pulau Mayat diobrak-abrik oleh Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa!"

Suto tersenyum. "Kau mempunyai murid baru yang hanya mempunyai satu ilmu, yaitu ilmu 'Genggam Buana'. Apakah kau sudah tak ingat lagi?"

Segera raut wajah Ki Gendeng Sekarat berubah tegang. "Maksudmu... maksudmu pedang itu ada di tangan Angon Luwak, bocah penggembala kambing itu?"

"Benar!" lalu Suto Sinting pun ceritakan kembali tentang apa yang dilihatnya saat Angon Luwak bermain perang-perangan dengan Saladin dan yang lainnya. Ki Gendeng Sekarat jadi terbengong-bengong dengan mulut melompong. Dalam hatinya timbul kesangsian antara percaya dan tidak. Tapi Suto Sinting mencoba meyakinkan Ki Gendeng Sekarat, sehingga orang bermata agak sipit karena kebanyakan tidur itu berkata,

"Kalau begitu Angon Luwak pasti dalam bahaya. Sebab pada umumnya, para tokoh tua mengenali ciri-ciri pedang tersebut. Pasti mereka berusaha merebutnya dari Angon Luwak."

"Justru aku sampai di sini karena sedang mencari Angon Luwak!"

"Kalau benar begitu," kata Ki Gendeng Sekarat serius sekali. "Aku akan menarik bocah itu agar datang kemari."

"Caranya bagaimana, Ki?"

"Menarik ilmu 'Genggam Buana' yang ada padanya. Kekuatan batinku masih tetap bertalian dengan ilmu 'Genggam Buana'. Jika kekuatan batinku menariknya, maka bocah itu akan melangkah sendiri kemari tanpa disadarinya!"

"Bagus!" Suto menyambar dengan cepat dan penuh semangat. "Lakukan sekarang juga, Ki!"

"Tapi kita harus keluar dulu dari lapisan jurus 'Surya Kasmaran' ini!"

Suto hanya angkat bahu pertanda tidak keberatan. Ki Gendeng Sekarat sentakkan dua jarinya ke langit. Jari itu menjadi merah memercik-mercik seperti bunga api. Sinar merah yang mengumpul itu naik lima jengkal di atas kepala mereka, kemudian turun berbentuk asap yang menyebar membungkus diri mereka. Asap lenyap dan mereka berdua dalam keadaan wujud kembali, bisa dilihat dan didengar orang lain. Pandangan mata Suto pun sudah tidak serba hijau lagi. Seperti biasa saja. Itu pertanda mereka sudah keluar dari pengaruh jurus 'Surya Kasmaran' yang dikagumi Suto Sinting.

"Aku akan lakukan semadi beberapa saat," kata Ki Gendeng Sekarat. "Tolong jaga aku, jangan sampai ada yang mengganggu keheningan batinku!"

"Ada baiknya kalau kita di bawah pohon sana, Ki. Letaknya lebih tersembunyi!" kata Suto sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

"Baik. Kita ke sana!"

Di bawah pohon yang tak menjadi korban angin badai pertarungan tadi, Ki Gendeng Sekarat bersila di rerumputan. Kedua tangannya siap-siap untuk saling merapat di dada. Namun baru saja tangan digerakkan, Suto Sinting segera terkejut memandang ke arah lereng bukit lebih tinggi lagi.

"Tunggu, Ki! Bukankah bocah yang berlari-lari itu Angon Luwak?!"

Ki Gendeng Sekarat cepat berdiri. Matanya sedikit mengecil. Pandangannya tertuju ke arah lereng di mana seorang bocah sedang berlari menuruni bukit. "Benar! itu dia anaknya!"

Suto tampak ceria. Bahkan tak sadar menepuk-nepuk pundak Ki Gendeng Sekarat sambil berkata, "Hebat sekali ilmumu, Ki. Baru duduk bersila saja sudah bisa panggil anak itu!"

"Ini hanya kebetulan saja! Aku belum memulai semadiku!" Ki Gendeng Sekarat bersungut-sungut.

"Hei, lihat...! Ternyata dia dikejar seseorang, Ki!" kata Suto tegang.

"Ya. Ada yang mengejarnya. Bukan seseorang, tapi... lihat di seberang sana, ada yang ingin menghadang Angon Luwak."

"Hmmm... benar! Satu, dua, tiga... empat! Sepertinya empat orang yang mengejarnya, Ki!"

"Kurang ajar! Tak kuizinkan siapa pun menyentuh muridku itu!" Ki Gendeng Sekarat bergegas pergi untuk menolong Angon Luwak, tapi tangannya segera dicekal oleh Suto Sinting.

"Tunggu sebentar! Kau lindungi bocah itu, aku akan hadapi mereka!"

"Baik! Kita bergerak sekarang!"

Suto Sinting segera berlari sambil berseru, "Luwak...! Angon Luwak...!"

Bocah itu berhenti, memandang ke arah Suto, lalu berseru sambil berlari ke arah Suto Sinting. "Kaaang...! Tolong, Kang...! Guruuu...!"

Wuuut...! Ki Gendeng Sekarat berkelebat cepat, lalu menyambar bocah itu. Wuus...! Dibawanya salto bocah itu dan mereka telah tiba di bawah pohon yang mau dipakai untuk bersemadi tadi.

Sementara itu, Suto Sinting berdiri tegak, menenggak tuak sebentar, lalu siap hadapi empat orang pengejar itu. Dilihat dari penampilannya yang berwajah dingin, mereka jelas tokoh sakti dari berbagai penjuru. Dilihat dari ketuaan usianya, mereka tentunya para guru dari beberapa perguruan.

* * *

SEMBILAN
JUBAH hitam berambut putih panjang terurai sebatas punggung adalah tokoh sakti dari Nusa Garong. Biar badannya kurus, wajahnya bengis, matanya cekung, tapi kesaktiannya tak diragukan lagi. Ia dikenal sebagai ketua perguruan aliran hitam, yaitu Perguruan Lumbung Darah. Namanya cukup dikenal di kalangan aliran sesat sebagai Tengkorak Liar.

Anak buahnya pernah berhadapan dengan Suto Sinting ketika Suto selamatkan Sabani, kakak Angon Luwak dalam peristiwa Keris Setan Kobra. Orang kurus bersenjata cambuk pendek warna merah itu berdiri tepat berhadapan dengan Suto. Usianya diperkirakan sama dengan orang yang berpakaian serba hijau, sampai ikat kepalanya juga hijau, sabuknya hijau, gagang rencongnya hijau dan pakaian dalamnya hijau lebih tua dari jubah lengan panjangnya. Orang itu dikenal dengan nama Tongkang Lumut, dari Perguruan Tambak Wesi. Dalam usia sekitar delapan puluh tahun ke atas ia masih mempunyai mata tajam dan rambut serta kumisnya abu-abu. Badannya masih tegap, walau tak seberapa gemuk.

Orang ketiga adalah seorang perempuan tua berusia sekitar sembilan puluh tahun, sedikit bungkuk, peot, keriput. Rambutnya putih rata. Jubahnya biru tua dengan pakaian dalam hitam. Membawa tongkat yang ujungnya berbentuk kepala bayi. Dia penguasa Teluk Dukun, yang menghasilkan banyak dukun santet kelas berat. Namanya dikenal di rimba persilatan sebagai tokoh sesat berjuluk si Tongkat Bayi.

Sedangkan orang keempat seusia dengan Ki Gendeng Sekarat. Termasuk lelaki berbadan tegap walau tak berarti gemuk. Berambut abu-abu dibungkus kain merah. Pakaiannya coklat muda, tapi jubahnya hijau tua. Tenang, tapi dingin. Konon ia penguasa Hutan Cadas berjuluk Beruang Tebing.

"Kalau tak salah penglihatanku," kata si Tongkat Bayi, "Kau adalah murid si Gila Tuak yang bergelar Pendekar Mabuk! Sebab kulihat ciri-ciri bumbung tuakmu itulah yang jadi pembicaraan para tokoh di rimba persilatan!"

"Benar. Aku adalah murid si Gila Tuak dan Bidadari Jalang!" jawab Suto dengan tegas.

Lalu suara tua si Tongkat Bayi terdengar lagi, "Namamu dan kesaktianmu memang sedang jadi bahan pembicaraan para tokoh. Tapi aku tak peduli. Kalau kau halangi niatku mengambil bocah itu, kucabut nyawamu sekarang juga."

"Bukan kuasamu mencabut nyawa orang, Tongkat Bayi! Jangan bicara semudah itu!" ujar Tongkat Lumut yang bernada sepelekan ilmu si Tongkat Bayi.

"Diam mulutmu, Lumut Jamban!" hardik sang nenek. "Kalau kau merasa bisa kalahkan dia, majulah sana! Hadapi dia, biar kuhadapi si Gendeng Sekarat yang mau ikut campur urusan orang itu!"

Ki Gendeng Sekarat hanya tersenyum kecil, ia memang sudah mengenal keempat tokoh itu. Dia pula yang menjelaskan satu persatu tentang keempat tokoh itu kepada Pendekar Mabuk, sementara Angon Luwak selalu ada tak jauh darinya. Tengkorak Liar juga sangat kenal dengan Ki Gendeng Sekarat karena beberapa tahun yang lalu pernah terlibat bentrokan antara perguruannya dengan murid-murid Ki Gendeng Sekarat yang kala itu belum dibantai habis Siluman Tujuh Nyawa. Karenanya, Tengkorak Liar berseru seenaknya kepada Ki Gendeng Sekarat,

"Gendeng Sekarat! Serahkan bocah itu padaku dan akan kulupakan kekalahanku waktu itu! Tak kan kutuntut nyawamu untuk gantikan kematian istriku!"

Dari bawah pohon berjarak delapan langkah di belakang Suto Sinting, Ki Gendeng Sekarat berseru, "Kalahkan dulu Pendekar Mabuk, baru ambil anak ini! Siapa yang mampu kalahkan dia, berarti berhak memiliki anak ini! Karena aku tahu kalian mengincar Pedang Kayu Petir yang dimiliki bocah ini!"

"Memang!" sahut Tongkat Lumut. "Bocah itu licin seperti belut. Tapi aku melihatnya sendiri ia membawa-bawa Pedang Kayu Petir yang sekarang disimpannya entah di mana! Jika memang kehendakmu begitu, akulah orang pertama yang akan tumbangkan Pendekar Mabuk ini! Apa susahnya menumbangkan bocah kemarin sore yang masih ingusan ini?!"

"Biar aku dulu yang maju melawannya," kata Beruang Tebing dengan tenang, tapi wajahnya, sorotan matanya, melebihi es kutub utara dinginnya.

"Tidak bisa! Aku dulu yang hadapi bocah kencur itu!" sentak Tengkorak Liar sambil maju dua langkah.

Ki Gendeng Sekarat berseru, "Begini saja! Siapa yang menang dialah musuh kalian yang harus kalian tumbangkan untuk dapatkan bocah ini!"

"Baik. Aku setuju!" seru Tongkat Bayi. "Siapa pun yang menang melawan murid Gila Tuak, dialah yang harus ditumbangkan oleh penantang berikutnya!"

Rupanya keempat tokoh itu sama-sama melihat Angon Luwak memegang Pedang Kayu Petir. Mereka diam-diam ingin menangkap anak itu, tapi ingat kekuatan pedang yang dapat lumpuhkan semua ilmu, maka dicari kesempatan yang baik, menunggu bocah itu simpan pedangnya lalu baru disergap. Mereka lakukan hal itu di luar rencana, bahkan saling tidak tahu. Mereka saling mengetahui setelah Angon Luwak dikejar-kejar oleh Tengkorak Liar, lalu Tongkang Lumut, Beruang Tebing, dan terakhir yang muncul ikut mengejar adalah si Tongkat Bayi. Sedangkan Angon Luwak hanya andalkan kelincahan berlarinya, sehingga mereka sulit menangkap hidup-hidup. Tentu saja mereka tak mau lepaskan pukulan karena takut membuat bocah itu mati dan tak bisa dikorek keterangannya tentang pedang itu.

Tapi rupanya nasib mujur masih mengikuti Angon Luwak. Para pengejarnya terpaksa berhadapan dengan Pendekar Mabuk yang selalu dibangga-banggakan itu. Lebih gembira lagi setelah Angon Luwak bertemu dengan gurunya, rasa aman bocah itu lebih besar lagi karena ia pun mengagumi ilmu silat Ki Gendeng Sekarat.

Orang pertama yang menghadapi Suto Sinting adalah Tongkang Lumut yang bersenjata rencong terselip di depan perutnya. Yang lain mundur, memberikan tempat untuk pertarungan maut itu. Tongkang Lumut mulai buka kuda-kudanya, tapi Suto Sinting malahan menenggak tuaknya dengan seenaknya saja. Ketenangan itu sengaja dipamerkan Suto untuk membuat ciut nyali lawannya, sekalipun hanya sedikit saja kedutan nyali itu dialami oleh lawan, tapi punya sisi menguntungkan bagi Suto Sinting.

Tongkang Lumut rendahkan kakinya. Kedua tangan terangkat, yang kanan ada di atas kepala dengan bergetar pertanda tenaga dalam mulai disalurkan pada tangan tersebut. Tangan kirinya menghadang di depan dada. Menggenggam keras dan kuat sekali.

Slaaap...! Tiba-tiba Tongkang Lumut bagai menghilang dari hadapan Suto. Tahu-tahu dia sudah berpindah tempat di belakang Suto dalam jarak satu jangkauan tangan. Tentu saja punggung Pendekar Mabuk dijadikan sasaran tangan yang sudah berasap itu.

Menyadari hal itu, Suto Sinting cepat robohkan badan. Dua tangannya menapak di tanah dalam keadaan rendah, dua kakinya masuk di sela-sela langkah lawannya. Lalu secepat kilat, kedua kaki itu merentang dalam satu sentakan kuat. Wuuut...!

Prak...!

Kedua kaki Suto Sinting yang jatuh mirip orang mabuk berat itu berhasil menendang kedua kaki Tongkang Lumut. Akibatnya kaki Tongkang Lumut sama-sama merenggang dengan sentakan kuat bagaikan dirobek ke kanan dan ke kiri.

"Auhh...!" Tongkang Lumut mendelik, langsung pegangi 'Jimat Lelakinya' yang terasa robek itu. Ia memang masih sempat berdiri setelah kedua kaki tersentak lebar-lebar ke samping kanan-kiri, tapi tak mampu bertahan lama. Karena Suto Sinting berguling cepat satu kali, dan kakinya menjejak ke atas dalam keadaan masih berbaring di rumput.

Wuuut...! Deegh...!

Dada Tongkang Lumut jadi sasaran tendangan kaki Suto yang bertenaga dalam tinggi itu. Akibatnya tubuh Tongkang Lumut terpental bagai dilemparkan badai. Wuuus...! Bruuk...! Ia jatuh di semak-semak. Jatuhnya tak membuat parah, tapi tendangan itu membuat dadanya bagaikan pecah. Napasnya seakan terhenti seketika. Namun toh ia masih berusaha untuk bangkit walau dengan satu lutut, lalu lepaskan pukulan dari telapak tangan kanannya.

Wuuut...! Slaaap...!

Sinar biru sebesar jempol kakinya melesat lurus ke arah Suto Sinting. Panjang sinar yang hanya satu depa itu ditangkis dengan bumbung tuak. Traak! Sinar itu berbalik arah dengan lebih lebih cepat dan lebih besar. Tentu saja si pemilik pukulan maut itu amat terkejut, ia segera menghindar dengan satu lompatan dengan lutut. Wuuut...! Tapi terlambat, karena saat itu sinarnya lebih cepat menghantam tulang rusuk kirinya.

Jraab...!

Tubuh Tongkang Lumut kepulkan asap. Kulitnya mulai bergerak-gerak mengelupas. Sekalipun demikian, Tongkang Lumut tak mau segera lari, melainkan berusaha berdiri dengan sempoyongan dan segera cabut rencongnya. Seet! Dengan terhuyung-huyung ia hampiri Suto Sinting yang berdiri tegak itu. Dalam jarak empat langkah rencong itu dikibaskan ke depan bagai merobek udara dari kanan ke kiri. Wuuut...!

Suto rasakan ada gelombang panas yang mampu mendidihkan baja berkelebat ke arahnya. Tanpa sinar dan tanpa wujud apa pun. Pendekar Mabuk cepat tanggap. Itu adalah gelombang hawa sakti yang lepas dari rencong tersebut. Maka dengan cepat Suto Sinting sentakkan kaki dan melesatlah tubuhnya keatas.

Wuuut...!

Gelombang hawa panas itu menerabas tempat kosong, hampir saja kenai Tongkat Bayi kalau saja nenek itu tak segera ikut lompat ke atas seperti Suto. Sementara itu, sebelum tubuh bergerak turun, Suto Sinting lepaskan pukulan dari atas yang dinamakan 'Pukulan Gegana'. Dua jarinya dikibaskan ke depan dan keluarkan sinar kuning patah-patah yang langsung menghantam bagian bawah pundak kiri lawan.

Zraaab...! Sinar patah-patah itu bagaikan masuk dalam satu titik, membuat tubuh lawan terdorong mundur satu tindak, tapi untuk kemudian diam tak bergerak. Matanya menatap tajam ke arah depan. Kulit tubuhnya mulai kian terkelupas dengan sendirinya. Rambut rontok semua, demikian pula rambut alis dan kumis abu-abunya. Pakaiannya pun ternyata cepat berubah menjadi abu keputih-putihan. Pada akhirnya, Tongkat Lumut tumbang dalam keadaan tubuh kering tanpa darah setetes pun.

Melihat Tongkang Lumut tumbang dan menjadi sekering itu, mirip kayu bakar, si Tongkang Bayi segera berseru dengan suaranya yang cempreng, "Aku lawanmu berikutnya, Anak Ingusan!"

Wuuut...! Si Tongkat Bayi maju bagaikan masuk dalam arena. Suto Sinting berbalik arah dan pandangi mata si Tongkat Bayi yang buram itu. Batin Suto berkata, "Tak tega aku melawannya. Terlalu tua untuk kutandingi. Tapi... apa boleh buat kalau memang ini pilihan yang tak bisa dibatalkan lagi!"

Tongkat Bayi menunggungikan kepala tongkatnya dan menghentakkan ke tanah. Duuhg...! Seketika itu tubuh Pendekar Mabuk bagaikan terlempar terbang. Sepertinya ada tenaga yang amat besar menyodok keluar dari dalam tanah dan melemparkan tubuh Pendekar Mabuk. Tubuh yang terlempar tinggi itu hampir-hampir kehilangan keseimbangan. Oleh si Tongkat Bayi kesempatan itu digunakan untuk melemparkan tongkatnya dengan sentakan tenaga dalam yang tinggi.

Wuuus...! Tongkat pun melayang dengan cepat seperti laju kecepatan anak panah. Hampir saja mengenai kepala Pendekar Mabuk jika bumbung tuak tidak segera berkelebat di depan wajah dan tongkat berkepala tengkorak bayi itu menghantam bumbung tuak tersebut.

Blaaar...!

Gelombang ledakan menghentak sangat kuat membuat tubuh Pendekar Mabuk sebelum sempat mendarat sudah terlempar lagi bagaikan terbuang ke arah belakang. Wuuus...!

Brrukk...!

Benturan tersebut bukan saja hasilkan gelombang ledakan tinggi, namun juga kerliapan cahaya merah yang lebar dan menyilaukan. Tongkat itu sendiri pecah dan terpotong-potong tidak beraturan. Pandangan mata Suto Sinting menjadi gelap bagaikan menemui kebutaan. Ketika ia jatuh terpuruk dan mencoba untuk bangkit, ia tak melihat apa-apa kecuali kegelapan yang pekat. Tetapi bumbung tuak masih ada di tangannya, talinya masih melilit di telapak tangan kanan, sehingga Suto Sinting buru-buru menenggak tuaknya dua teguk. Glek, glek...!

Maka dalam beberapa kejap saja pandangan matanya sudah kembali seperti semula. Kesesakan dadanya mulai lancar, dan rasa sakit pada sekujur tubuh serta tulang-tulangnya yang merasa patah telah pulih segar seperti semula. "Edan! Kekuatannya begitu tinggi. Hampir saja aku celaka!" pikirnya sambil berdiri tegak memandang si Tongkat Bayi. Hatinya teperanjat melihat si Tongkat Bayi ternyata masih memegang tongkatnya.

"Bukankah tongkat itu tadi pecah bersama ledakan dahsyat itu? Tapi mengapa ternyata masih ada di tangan si nenek ganas itu? Hmm... jelas ini permainan ilmu sihirnya yang agaknya cukup tinggi!"

Pendekar Mabuk langkahkan kaki maju dekati lawan. Si Tongkat Bayi segera hadang langkah itu dengan melepaskan pukulan bersinar kuning panjang dan lurus dari sodokan tongkatnya ke depan. Wuuut...! Slaaap...! Sinar kuning lurus mengarah ke dada Suto Sinting.

Dengan cepat Suto Sinting segera sentakkan bumbung tuaknya sambil tubuhnya miring bagai orang mabuk yang menggeloyor. Tubuh yang miring itu akhirnya terbawa terbang oleh sodokan bumbungnya. Wuuueeess...! Sinar kuning itu membentur pangkal bumbung yang disodokkan ke depan. Blaaar...! Ledakan pun terjadi sedahsyat tadi. Tapi kali ini tubuh Suto Sinting masih tetap menembus asap ledakan dan akhirnya bumbung itu menghantam kepala tongkat. Duaar...!

Bersamaan dengan itu Suto Sinting liukkan badan ke depan dan bersalto pendek dan kakinya menendang wajah si nenek dengan kekuatan tenaga dalam penuh.

Dees...!

"Auuhg...!" terdengar pekikan pendek yang tertahan. Wajah si nenek tersentak amat kuat bersama-sama terbangnya tubuh ke belakang. Tubuh yang terlempar itu membentur sebatang pohon kering dan, kraaak...!

Brrruk...! Pohon itu patah di pertengahan batang, lalu roboh berdebum di bumi. Bersamaan dengan itu tubuh si Tongkat Bayi jatuh terpuruk, hidungnya mengucurkan darah, demikian pula lubang telinga dan mulutnya yang memuntahkan darah hitam kemerahan.

"Mati aku," pikir sang nenek. "Kepalaku retak, mataku bagaikan pecah. Ohh... berat! Berat sekali lukaku ini. Aku tak bisa memandang dengan jelas. Makin lama makin buram dan gelap. Aku harus segera keluar dari pertarungan ini untuk bikin perhitungan sendiri di lain waktu!"

Tak ada pilihan lain bagi si Tongkat Bayi. Ia segera melesat pergi tanpa tinggalkan pesan apa pun, karena kepalanya berderak-derak bagai ingin pecah ke berbagai penjuru. Wajahnya biru legam, pandangan matanya kian suram. Bahkan ketika ia berlari untuk tinggalkan tempat, sebatang pohon ditabraknya lagi.

Bruuss...!

"Mati lagi aku, Mak!" keluhnya sambil terpental dan jatuh ke belakang, lalu bangkit lagi dan larikan diri. Di seberang sana ia menabrak pohon lagi. Brus...!

"Mati juga akhirnya aku, Mak...!" ia bangkit lagi, lari lagi, dan menabrak pohon lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya Tongkat Bayi hilang dari pandangan mata Suto. Ki Gendeng Sekarat dan Angon Luwak tertawa melihat nasib si Tongkat Bayi yang melarikan diri.

Sementara itu Suto Sinting hanya tersenyum tipis, kemudian menenggak tuaknya lagi. Dan pada saat menenggak tuak itulah, Beruang Tebing tanpa berkata-kata langsung menyerang Suto dengan kedua tangan membentuk cakar. Kedua tangan berjari menyala merah bara itu dihantamkan ke dada Pendekar Mabuk, bersamaan dengan itu tubuhnya melompat cepat dan menerjang Suto Sinting.

Tetapi tiba-tiba sekelebat bayangan melintas didepannya. Weess...! Bayangan bagai angin badai itu mengejutkan Suto Sinting, juga Tengkorak Liar dan Ki Gendeng Sekarat. Karena kejap berikutnya, tubuh Beruang Tebing ternyata telah roboh, terpotong menjadi dua bagian di atas perutnya.

Bayang itu berhenti di sisi kanan Tengkorak Liar. Ternyata seorang perempuan yang diam di tempat dengan kuda-kuda kokoh, menggenggam pedang dengan kedua tangan. Pedang itu masih dalam keadaan miring ke samping karena habis ditebaskan. Darah yang melumuri pedang itu masih menetes satu persatu.

"Angin Betina!" gumam Suto Sinting merasa kaget dan kagum melihat kecepatan gerak pedang yang benar-benar menyerupai angin itu. Beruang Tebing yang baru saja mau bergerak tahu-tahu sudah roboh terpotong dua bagian. Tentu saja sejak saat itu Beruang Tebing enggan bernapas lagi karena nyawanya pergi entah ke mana.

"Istirahatlah, Suto! Biar kutangani sisanya yang satu ini!" kata Angin Betina sambil mata tajamnya berkesan liar itu menatap tajam ke arah ketua Perguruan Lambung Darah yang ternyata sudah mengenalnya pula.

"Angin Betina! Rupanya kau pun bermaksud ingin memiliki pedang pusaka itu! Hemm...! Apa kau mampu?!"

"Bagiku lebih berharga memiliki Pendekar Mabuk daripada pedang pusaka itu!"

"O, jadi kau membela Suto dengan pertaruhkan nyawamu untuk melawanku?!"

"Ya. Karena aku mencintai Suto!" jawabnya tegas, jelas, keras. Suto sendiri sampai tersipu malu seraya melirik sekejap ke arah Ki Gendeng Sekarat yang tersenyum-senyum.

"Bocah bodoh kau! Gurumu saja tak mampu kalahkan aku, apalagi kau yang hanya muridnya!" geram Tengkorak Liar.

"Mendiang Guru tidak mempunyai ilmu 'Pedang Bintang', tapi aku punya jurus itu dari seorang guru pedang tersohor: Ki Argapura alias si Penggal Jagat! Tentunya kau kenal, Tengkorak Liar!"

"Persetan dengan Argapura!" geram Tengkorak Liar. "Buktikan kehebatannya di depanku! Hiaaah...!"

Tengkorak Liar sentakkan kedua tangannya ke depan. Dua larik sinar merah yang melingkar-lingkar pada ujungnya bagaikan mata bor itu melesat ke arah Angin Betina. Kecepatannya amat tinggi, membahayakan sekali bagi Angin Betina. Dihindari akan terlambat, ditangkis akan telat. Untung Suto Sinting selalu siap siaga. Begitu sinar merah itu terlepas, sinar birunya pun keluar dari sentakan kedua tangan Suto. Claaap...! Jurus 'Tangan Guntur' yang biasanya membuat lawan hangus dan keropos itu menghantam sinar merahnya Tengkorak Liar.

Blegaaarrr...!

Dentumam itu menggelegar. Kedua sinar yang beradu pecah menjadi satu warna jingga dalam sekejap saja. Sentakan gelombang ledaknya menjungkirbalikkan Tengkorak Liar, karena ia tak menyangka akan ada yang mampu lebihi kecepatan gerak sinar merahnya. Angin Betina sendiri juga terjungkal ke belakang dengan jatuh berlutut dan setengah merangkak. Kepalanya yang berambut acak-acakan itu dikibaskan dua kali. Ia menghilangkan rasa pusing dan pandangan mata yang berkunang-kunang. Setelah itu bangkit bersamaan berdirinya Tengkorak Liar yang berwajah merah matang.

"Memang jahanam busuk kalian semua!" geram Tengkorak Liar sambil mencabut cambuk pendeknya yang hanya empat jengkal kurang itu. Cambuk itu segera dilecutkan di udara. Taaarrr...! Seberkas sinar biru melesat menuju ke tubuh Suto Sinting.

Bumbung tuak disilangkan dengan kedua tangan dan kakinya berlutut satu. Sinar biru berkerliap itu menghantam bumbung tuak. Duaar...! Ternyata sinar tersebut kembali ke arah semula dengan lebih besar lagi dan masuk melalui ujung cambuk pendek. Jraaab...!

"Aaahg...!" Tengkorak Liar memekik. Tangannya menjadi hangus seketika karena kekuatan dahsyat mengalir masuk melalui cambuknya.

Wuuusss...!

Kembali sekelebat bayangan melintas cepat menerjang Tengkorak Liar yang sedang sibuk menahan rasa sakit pada tangannya. Sekelebat bayangan itu tak lain adalah Angin Betina yang lancarkan jurus 'Pedang Bintang' dengan tebasan lima sisi yang bisa dilihat oleh mata orang biasa. Lima tebasan dalam sekelebatan itu telah membuat Tengkorak Liar tumbang berlumur darah. Salah satu luka terparahnya adalah bagian dada yang terbelah. Tentu saja nyawa pun segera minggat dan pertarungan pun berhenti saat itu juga.

"Angin Betina, kuakui cukup hebat ilmu pedangmu. Tapi seharusnya kau tak perlu ikut campur urusanku ini!" kata Suto Sinting sambil mendekati perempuan yang wajahnya masih tampak angker-angker cantik itu.

"Sudah kubilang, aku akan melindungimu karena aku suka padamu!" katanya terang-terangan.

Suto Sinting memberi tanggapan dengan senyum ramah yang amat menawan dan membuat hati Angin Betina berdenyut-denyut lagi. Mereka segera hampiri Ki Gendeng Sekarat dan Angon Luwak yang merasa puas menyaksikan tontonan hebat secara gratis. Wajah bocah itu berseri-seri saat memuji Suto.

"Hebat sekali kamu, Kang. Nenek ini juga hebat," tudingnya pada Angin Betina.

Si perempuan menggeram dongkol. "Nenek?! Gundulmu itu yang pantas dibilang nenek!"

Suto tertawa selintas, lalu berkata kepada Angon Luwak, "Kulihat kau bermain pedang-pedangan dengan Saladin dan..."

Angon Luwak kaget, "Aku... aku tak sengaja membunuh Saladin, Kang. Sumpah!"

"Saladin tidak mati!" kata Suto. "Aku telah berhasil obati lukanya itu. Cuma, aku ingin tahu di mana kau peroleh pedang-pedanganmu itu?"

"Di... di Telaga Jompo, Kang. Ketika aku duduk merenungimu karena kehilangan jejakmu, tiba-tiba pedang kayu itu muncul dari dalam telaga dan mengambang. Lalu kuambil dan kugunakan untuk bermain pedang-pedangan. Ak... aku tak menyangka kalau orang-orang setua lawan-lawanmu tadi juga masih kepingin mempunyai pedang-pedangan dari kayu, Kang."

Ki Gendeng Sekarat menyahut, "Itu bukan sekadar pedang dari kayu biasa, Angon Luwak! itu pedang pusaka bertenaga hebat. Sangat sakti."

"Benar kata gurumu, Angon Luwak," kata Suto. "Pedang itulah yang menjadi rebutan para tokoh berilmu tinggi. Pedang itulah yang dinamakan Pedang Kayu Petir. Kesaktiannya sudah kau lihat sendiri saat kau melukai Saladin."

Bocah itu terbengong melompong. Ki Gendeng Sekarat bertanya lagi, "Sekarang di mana pedang itu?"

"Pedang itu...," Angon Luwak berhenti bicara, memandang Suto, Ki Gendeng Sekarat, Angin Betina, dan kepada Suto lagi. Sepertinya ada keraguan yang membuatnya bingung untuk mengatakannya.

"Kau simpan di mana pedang itu?" desak Suto dengan nada pelan.

"Pedang itu... jatuh, Kang."

"Jatuh di mana?"

"Di sana... di tempat kau membuang asap Iblis Naga Pamungkas."

"Hahhh...?! Jadi...?!" Suto Sinting terbelalak kaget, ia segera menatap Ki Gendeng Sekarat yang tak mengerti maksud Angon Luwak. Suto jelaskan dengan suara lemah bagaikan kehilangan harapan.

"Pedang itu jatuh ke... Sumur Tembus Jagat!"

"Gila! Sumur itu tak ada dasarnya!" Ki Gendeng Sekarat pun menjadi tegang. Suto Sinting tarik napas dalam-dalam, sementara Angon Luwak tundukkan kepala dengan rasa takut dan bersalah.

Terdengar gumam Suto bagaikan diliputi kecemasan. "Lantas, bagaimana caranya aku menandingi Raja Tumbal nanti? Seruling Malaikatnya tak bisa dilawan kecuali dengan Pedang Kayu Petir itu."

Angin Betina memandang Suto, kemudian mendekatinya dan menepuk-nepuk pundak Suto. Apa artinya, Suto sendiri tak mengerti.

SELESAI

SERULING MALAIKAT (Dalam proses editing)