Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 89

Pangeran Wengker mengelap keringat di jidatnya. Sambaran kilatan hati melihat bayangan Rajadewi membuat sukmanya seolah terbang ke langit tingkat tujuh. Akan tetapi tertarik melesak kembali ke bumi. Karena tak segera mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya bisa memperkirakan. Bahwa Upasara Wulung muncul pada saat yang tepat. Dan kemunculannya secara sengaja untuk menemui Senopati Tanca, yang disebut sebagai empu, sebutan kehormatan. Untuk mencari obat bagi Cubluk.

Akan tetapi agaknya Tabib Tanca serta Nyai Makacaru tak berhasil memahami penyakit Cubluk. Bahkan sempat terguncang hebat. Kalau Mpu Tanca serta Nyai Makacaru tak bisa mengobati, Dewa yang paling mumpuni sekalipun akan angkat tangan.

Alis Tunggadewi beradu. “Apakah ada lelara, penyakit, yang tak tersembuhkan? Rasanya kalau ada lelara pastilah ada tamba, obat penyembuhnya.” Suara Tunggadewi menghibur, menenteramkan.

Tapi tidak Mpu Tanca. Serta Nyai Makacaru. Keduanya boleh dikatakan menghabiskan seluruh usia, seluruh kemampuan, hanya untuk mendalami segala jenis jejamuan. Boleh dikatakan tak ada lelara yang tak bisa disembuhkan. Cepat atau lambat semua bisa diatasi. Bahkan ketika Praba Raga Karana terkena penyakit yang sangat aneh sekalipun, Mpu Tanca akhirnya bisa menemukan pangkalnya. Meskipun memang kemudian tidak berniat menyembuhkan.

Akan tetapi sekali ini lain. Sekali ini, ilmu dan kesaktiannya seperti mentok. Sewaktu Mpu Tanca serta Nyai Makacaru memusatkan seluruh kemampuannya, menyatukan seluruh ilmunya, ketika itu seperti terjadi benturan yang keras. Dap. Dap. Dap. Tiga kali, dan Nyai Makacaru melolong serta muntah. Karena kemampuannya dikalahkan. Tak berbeda jauh dari Mpu Tanca. Meskipun akibatnya berbeda. Pengerahan tenaga dan kemampuannya membuntu.

“Jiwa saya masih kotor, masih dipenuhi nafsu sehingga tak mampu.”

Kematian, Muara Dendam
MPU TANCA bersujud di kaki Upasara Wulung. Bersama dengan Nyai Makacaru.

“Jiwa kotor… Jiwa kotor….”

Tunggadewi menepuk lantai dengan lembut. “Sudahlah, Paman Senopati Tanca serta Nyai Makacaru. Kalau ada yang dipersalahkan, sayalah yang menjadi sumber segala dosa dan kotoran. Bukan Paman serta Bibi Nyai. Saya mengerti kenapa Paman serta Bibi berada di sini untuk menyabung nyawa. Karena ingin membalas kemurkaan Raja. Sehingga siapa pun yang mendekati kamar peraduan saya akan berhadapan dengan patrem serta maut. Jiwa yang kotor, sayalah sumbernya. Karena sayalah yang menjalani kehinaan yang tak terhingga.”

Suara Tunggadewi menggeletar. Tetesan air mata serta tarikan bibirnya ke bawah, nada yang parau, menerobos ke dalam kulit siapa pun yang mendengarnya.

“Maaf, Paman Upasara Wulung. Sayalah yang menjadi penyebab macetnya kesaktian Mpu Tanca.”

Upasara Wulung menggeleng lembut. “Tidak, Putri Ayu. Tidak. Ini semua kehendak Dewa yang membisiki saya yang bebal, berani menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Saya telah kualat, menerima murka atas kecongkakan batin saya.”

Perlahan Pangeran Angon bisa mengerti apa yang terjadi. Sewaktu dirinya bersama Pangeran Wengker masuk ke deretan kamar peraduan Putri Tunggadewi, Mpu Tanca serta Nyai Makacaru telah bersiaga. Entah sejak kapan. Barangkali sejak Raja kembali ke Keraton. Tujuannya hanya satu. Melampiaskan dendam kesumat kepada siapa pun yang berani mendekati kamar peraduan. Pun kalau itu Raja! Atau justru Raja tujuannya! Raja!

Dendam yang tak bisa dihilangkan. Dendam kesumat yang hanya akan diselesaikan dengan kematian. Kematian bagi korban atau kematian bagi dirinya sendiri. Entah sejak kapan, dengan cara yang sangat berbelit, Tanca serta istrinya bisa menyaru sebagai dayang, dan tetap bisa tugur di situ.

Lapisan dendam itulah yang menyebabkan Mpu Tanca tidak menjadi murni lagi. Demikian juga Nyai Makacaru. Sehingga tak mampu mengerti apa sebab penyakit Cubluk. Sebaliknya, baik Putri Tunggadewi maupun Putri Rajadewi, merasa bahwa dendam itu disebabkan oleh apa yang mereka lakoni berdua.

“Mohon ampun, Putri Mulia. Jiwa hamba yang kotor, bukan karena Putri. Putri tak bersalah.”

“Demikianlah sesungguhnya,” kata Nyai Makacaru perlahan.

Putri Tunggadewi menunduk. “Saya telah menyerahkan diri kepada Dewa Yang Mahadewa. Derita apa pun, pembalasan apa pun, akan saya sandang dengan ikhlas lahir-batin. Malam ini telah saya katakan semuanya. Malam ini sebagian beban itu akhirnya bisa saya utarakan. Berbahagialah yang mendengarkan, karena menjadi tempat saya mengakui segala yang kotor.”

Rajadewi tersandar lemas. Upasara Wulung merangkul Cubluk. “Maaf, Paman Mpu Tanca serta Nyai Makacaru. Saya telah mengganggu Paman dan Bibi. Saya telah membebani dengan persoalan yang seharusnya tidak perlu menjadi perhatian Paman. Saya memberanikan diri sowan karena saya tidak melihat titik terang di ujung terowongan yang pekat ini. Saya sedang mencari jalan.”

“Upasara Wulung, ksatria sejati. Jiwa yang luhur, jiwa yang jernih, akan menemukan jalan. Saya percaya, jalan itu akan diberikan Dewa. Kalau tidak, Dewa Yang Mahadewa sesungguhnya tak pernah ada.”

Perlahan kalimatnya, tapi menggelegar bagai sambaran seribu kilat secara bersamaan. Untuk seorang yang memuja Dewa Sang Pencipta, gugatan Mpu Tanca adalah gugatan terakhir yang bisa dilakukan.

“Ksatria gagah, saya hanya bisa meraba-raba. Kemurnian asmara yang setulusnya akan menindih bercak hitam yang berada dalam tubuh gadis kecil ini. Rasanya hanya itu yang bisa saya katakan.”

“Terima kasih atas petunjuk Mpu Tanca. Terima kasih, Nyai.” Upasara Wulung mengangguk.

“Paman Upasara mau pergi ke mana?”

Gerak Upasara terhenti sejenak. “Kembali ke tempat asal.”

“Paman…” Tunggadewi mendekat. Menatap lekat. “Paman…”

Tangan kiri Upasara menepuk pundak Tunggadewi. Mengelus perlahan. “Terima kasih, Putri Ayu. Terima kasih.”

“Paman Upasara… Saya tak mengerti banyak mengenai penyakit atau apa. Akan tetapi saya bisa melakukan sesuatu yang bisa…”

“Terima kasih….” Jawaban Upasara disertai gelengan pendek. Punggung tangan Upasara menghapus air mata di sudut. “Putri Ayu benar. Tak ada lelara tanpa tamba. Itulah inti kehidupan, kemuliaan dan kesucian. Jangan mengecewakan dirimu sendiri, jangan mengecewakan yang menyucikan diri di Simping. Saya akan menjadi paman yang bahagia.”

Tunggadewi menggenggam tangan kiri Upasara Wulung. Melekatkan ke pipi, ke dagu, ke bibir. “Akan selalu saya ingat apa yang Paman katakan.”

Upasara mengangguk. “Putri Ayu Rajadewi, saya minta pamit.”

“Sumangga, Paman. Paman telah meniupkan roh kehidupan, sukma kehidupan.”

Upasara tersenyum tawar. “Mpu Tanca dan Bibi Makacaru, saya minta pamit.”

“Kami hanya bisa menyertakan doa, Ksatria Sejati. Semoga kami tak mengulang kekeliruan yang sama.” Terkesan jelas bahwa niatan Senopati Tanca dan Nyai Makacaru tak pernah bergeser.

Upasara Wulung berdiri. Menoleh kepada Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. “Pangeran Anom berdua, Pangeran telah mendengar semuanya. Seperti kata Putri Ayu, berbahagialah yang mendengar kesaksian ini. Kebesaran jiwa melebihi semuanya.” Upasara mengangguk. Menjauh.

"Paman…"

Tunggadewi dan Rajadewi masih meneriakkan nama Upasara Wulung dalam rintihan. Tapi bayangan Upasara Wulung telah lenyap. Tanpa bekas. Hanya beban gadis kecil yang menderita yang tertinggal. Agak lama semuanya terdiam. Agak lama sekali. Tak ada yang bergerak. Setelah bersemadi sesaat, Tunggadewi berdiri, diiringi Rajadewi. Tanpa menoleh. Tanpa mengucap.

Mpu Tanca menyembah hormat kepada Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. “Paduka Pangeran, berbahagialah.”

Pangeran Angon malah menyembah. Juga Pangeran Wengker.

“Saya akan berusaha memahami kebahagiaan tak terhingga ini.” Pangeran Angon menyembah kembali.

Bersamaan dengan Pangeran Wengker. Kemudian mengundurkan diri. Meninggalkan sepi. Yang mengisi hati masing-masing. Dengan jawaban dari segala kerinduan yang berdesakan selama ini. Bagi Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, lebih jelas terbaca. Walaupun Putri Tunggadewi dan Rajadewi tidak melirik atau berkata sepatah pun, ada isyarat kehadiran mereka berdua diterima. Ini yang membahagiakan.

Bagi Putri Tunggadewi serta Rajadewi, ini juga merupakan pelepasan pertama segala kegundahan dan kecemasan. Bagi Senopati Tanca, sebagai dharmaputra, berarti tak ada lagi jalan mundur bagi tekadnya. Meskipun dengan demikian pengorbanan terbesar yang menyiksa, tak bisa menyembuhkan Cubluk, akan terus dirasakan. Bagi Upasara Wulung?

Dan Pertarungan Semakin Dekat
KALAU saja Raja mengetahui semuanya, jalan yang ditempuh bisa berbeda. Sekurangnya bisa mengetahui bahwa dendam Senopati Tanca hanya akan bermuara pada kematian. Kalau saja Jabung Krewes lebih meneliti apa yang terjadi dengan kesediaan Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, akan lain lagi akhirnya.

Akan tetapi keduanya tidak berpaling ke belakang. Keduanya melangkah ke depan. Menuju Perguruan Awan dengan segala dorongan yang tidak disadari akan berhenti di mana. Karena puncak pergolakan sedang menuju ke satu titik yang sama, Perguruan Awan.

Upasara Wulung dengan Cubluk yang dalam keadaan mati-hidup, membulatkan tekad untuk menempuh usahanya sendiri. Tanpa bantuan sentuhan Permaisuri Rajapatni yang kini bertapa di Simping. Pun ketika kemungkinan itu dibuka oleh Putri Tunggadewi yang secara sangat bijak bisa menangkap jalan keselamatan itu.

Di Perguruan Awan sendiri, Gendhuk Tri memusatkan diri, bersemadi terus untuk kesembuhan Cubluk. Yang berarti selembar daun kering yang mengganggu akan dienyahkan segera. Di Perguruan Awan, saat ini juga ada Nyai Demang. Meskipun kini sepenuh perhatiannya tersedot oleh kehadiran Klobot, akan tetapi masih ada yang mengganjal. Persoalan utama yang belum selesai mengenai hubungannya dengan Pangeran Sang Hiang.

Hubungan yang selama ini tumbuh secara menggetarkan tiba-tiba berubah menjadi keberingasan yang tak bisa dimengerti, sehingga menjadi ganjalan. Bukankah sangat mungkin sekali Pangeran Hiang pun masih akan muncul?

Itu belum semuanya. Pendita Ngwang yang selama ini secara cermat merencanakan balas dendam Tartar, telah siap menunggu. Menunggu pertarungan yang akan menentukan perjalanan hidupnya. Menentukan kebesaran Tartar yang telah menaklukkan dunia.

Masih ditambah dengan Mada, serta Nala dan Naka. Prajurit Utama Mada yang mempelajari ajaran mahamanusia, yang pernah menjadi penyelamat Raja, kini datang dengan tugas untuk menangkap Upasara Wulung. Tugas yang paling mustahil. Tetapi sebagai prajurit akan dilakukan juga.

Lebih dari itu semua, Halayudha juga menuju Perguruan Awan. Mahapatih yang pernah menduduki singgasana, ksatria sakti mandraguna yang mampu menyerap berbagai sari pati ilmu di jagat ini menjadi tokoh yang mengerikan karena susah diterka adatnya. Mengerikan karena kini di tangannya tergenggam Kangkam Galih yang telah menewaskan jawara-jawara sejati tanpa pandang bulu.

Dengan perkiraan yang paling jauh pun, Jabung Krewes tetap tak bisa memperkirakan separuh dari kejadian yang sebenarnya. Hanya naluri kemanusiaan yang menyebabkan tanpa terasa bulu tubuhnya merinding. Dalam keadaan panas-dingin, rombongan terus melanjutkan perjalanan.

Yang pertama mengendus kedatangan rombongan Raja adalah Pendita Ngwang. Yang makin tak bisa mengerti bagaimana memperkirakan manusia Tanah Jawa. Karena tak bisa masuk ke otaknya, bagaimana mungkin Raja malah datang ke Perguruan Awan. Ngwang memang ingin menyikat semuanya. Tapi tidak dengan cara seperti ini.

Karena kemunculan Raja dan rombongannya justru bisa mengacaukan rencananya, yaitu mengadu Halayudha dengan Upasara. Kalau perhatian mereka sempat terpecah, bagi Ngwang tetap susah untuk muncul sebagai pemenang. Maka Ngwang mengambil jalan pintas. Dengan ngleyang, Ngwang mencoba mempengaruhi Raja. Menyusupkan kemampuannya ke dalam joli, dan mengerahkan bau wangi sirep untuk membelokkan keinginan Raja.

“Sinuwun masih ingat hamba?”

“Ya.”

“Sebaiknya…”

“Tidak. Ingsun tak akan mundur. Hanya Ingsun yang bisa mengubah keinginan ingsun pribadi. Tidak yang lainnya.”

“Sinuwun…”

“Munculkan dirimu, jika kamu memang perkasa.”

Ngwang mengerahkan aji sirepnya. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijadikan kekuatan pamungkas dalam pertarungan akhir. Kekuatan tenaga dalam Ngwang merambat bersama menyebarnya bau wewangian. Raja yang tak cukup kuat tenaga dalamnya dengan cepat bisa dikuasai. Demikian juga Jabung Krewes serta para pengawal utama. Hanya dalam waktu singkat semuanya tak sadarkan diri.

Ngwang bermaksud menyingkirkan ke suatu persembunyian agar tak mengganggu dan menimbulkan kecurigaan, ketika bayangan Klobot menyeruak masuk. Klobot, bocah kecil ini tumbuh secara lain. Dalam usianya yang masih dini sudah mendapat pengajaran langsung mengenai ilmu yang untuk pertama kalinya diciptakan oleh Upasara Wulung. Dengan kemanjaan dari Nyai Demang, Klobot memiliki sifat-sifat yang aneh.

Seperti setiap kali dilakukan. Meninggalkan Nyai Demang diam-diam. Hanya agar nantinya dicari. Dan dalam keluyuran sendirian, Klobot terus-menerus memamerkan ilmunya. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih dari yang lainnya. Sesuatu yang selalu ingin dibuktikan bahwa dirinya lebih dari Cubluk. Kini Klobot menemukan permainan baru yang menarik. Melihat prajurit Keraton, melihat Jabung Krewes yang tertidur, dan melongok ke dalam joli.

“Aneh, semua seperti pernah saya kenal.”

“Mereka tertidur,” kata Ngwang dari persembunyiannya.

“Siapa kamu?”

“Teman mainmu.”

Klobot menggeleng. “Aku tak punya teman. Prajurit ini, joli itu, justru kukenal.”

“Karena mereka pulas, pasang saja di pohon. Kalau nanti bangun, mereka akan bingung.”

“Bagus juga.” Klobot tersenyum.

Tak terlalu sulit baginya menyeret para prajurit maupun Jabung Krewes. Dengan sekali loncat bisa membawa ke dahan yang tinggi. Dan meninggalkan tubuh mereka di situ. Namun ketika mendekat ke joli, tanpa sadar Klobot berlutut. Bersila. Menyembah. Dengan gemetar. Ada satu kilasan yang menghajar kesadarannya. Seakan joli itu, bayangan tubuh yang terpulas dalam joli itu, pernah disembah seperti sekarang ini. Sejak pertama kali mengenal, Klobot selalu menyembah rata dengan tanah.

Ngwang sendiri heran. Bagaimana anak gunung yang kelihatan liar itu bisa menyembah dan memahami tata krama Keraton. Akan tetapi Ngwang tak mau mengambil risiko. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya untuk meringankan tubuh yang memang merupakan keunggulannya, joli terangkat naik. Naik membubung, menyelinap ke dahan pohon yang paling tinggi. Klobot hanya merasakan tiupan angin, dan joli terangkat ke atas. Mata Klobot berkejap-kejap.

“Lupakan mainan itu. Masih banyak yang lain. Yang datang.” Pengindriaan jarak jauh Ngwang menangkap adanya langkah-langkah mendekat. Maka ia kembali ke persembunyiannya untuk menunggu waktu yang tepat.

Sebaliknya, Klobot masih menyembah. Pendengaran Ngwang tidak keliru sama sekali. Karena langkah kaki Nala dan Naka, yang paling lemah tenaga dalamnya, lebih dulu didengar. Baru kemudian bisa terbaca jelas ada langkah kaki lain. Langkah kaki Mada. Dan langkah lain. Yang ditunggu. Langkah kaki Halayudha! Inilah saat yang paling dinantikan.

Ngwang mengentak tenaga lewat perut dengan cara dikedutkan. Klobot bagai tersapu sepuluh tombak lebih. Hingga jungkir-balik. Karena kesal, Klobot membalas sekenanya. Akan tetapi tergenjot kembali dengan tenaga yang tak tampak. Hingga terlempar bergulingan. Semakin bernafsu membalas, semakin jauh terlempar. Klobot makin penasaran, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menemui Nyai Demang. Yang sebenarnya masih mendongkol, karena Klobot selalu sengaja melarikan diri.

“Eyang Putri Bibi Nyai, Eyang Putri Bibi Nyai… Ada Ingkang Rama Ingkang Sinuwun..?"

Nyai Demang terperangah. Lebih heran dibandingkan melihat Klobot tumbuh tanduknya.

Tamparan Kesadaran
KLOBOT sebenarnya lebih ganjil dari sekadar tumbuh tanduk. Karena tindakannya tidak keruan. Apa yang dialami baru saja seolah membongkar seluruh kandungan masa lampaunya, yang tidak dipahami benar. Yang seakan menyeruak dari bawah sadar, dari balik mimpi yang pernah ada. Kejadian dirinya terbanting-banting oleh orang yang tak diketahui juga pengalaman lain yang cukup mengagetkan jiwanya.

Namun saat itu Nyai Demang justru terjebak dalam pikirannya yang kusut. Karena memikirkan Klobot, juga Upasara Wulung dengan Cubluk. Teriakan yang mendadak, ucapan yang mengagetkan, membuat Nyai Demang gelagapan.

“Bagaimana mungkin mulutmu yang besar kasar itu semakin liar? Bagaimana mungkin kamu berani menyebut Sinuwun Raja, sebagai Ingkang Rama, Ayahanda? Rasa-rasanya mulutmu perlu diberi pelajaran.”

Tangan Nyai Demang bergerak perlahan. Sangat perlahan, seperti biasanya. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Klobot tidak mengelak. Plak. Nyai Demang dan Klobot sama-sama terkejut. Nyai Demang terkejut karena tidak menyangka Klobot menerima begitu saja tanpa mengelak. Klobot terkejut karena tak pernah menyangka orang yang paling dekat dengannya akan memperlakukan semacam itu.

Begitu banyak yang ingin disampaikan kepada orang yang dianggap paling menyayangi, akan tetapi kandas oleh kenyataan yang begitu menyakitkan. Klobot berbalik dan segera melarikan diri. Sebaliknya, Nyai Demang menahan diri untuk tidak segera mengejar. Kuatir Klobot akan semakin manja. Meskipun hatinya menyesal juga.

Namun sebenarnya yang membenam dalam pikiran Nyai Demang adalah cara Klobot mengucapkan Ingkang Rama Ingkang Sinuwun. Cara penyebutan yang tidak wajar dilakukan anak sekecil itu, kalau belum pernah mendengar sebelumnya. Apalagi jika dikaitkan dengan asal-usul Klobot serta Cubluk yang masih menimbulkan tanda tanya. Juga diri kedua anak itu.

Yang saat pertama seperti tak bisa berbicara, tetapi ketika terbongkar kembali kenangannya, seperti memiliki perbendaharaan tata krama yang tidak biasa diajarkan di kalangan rakyat biasa. Hanya saja memang Nyai Demang tak menduga dan tak menyangka bahwa saat itu ada rombongan yang dipimpin langsung oleh Raja. Bahkan kalau Klobot bercerita secara baik-baik dan perlahan, Nyai Demang tetap akan menggeleng.

Klobot yang sedang jengkel inilah yang dilihat Mada dari persembunyiannya. Sementara itu Halayudha kemudian muncul dan terjadi pertarungan kecil-kecilan. Karena Klobot mengira Halayudha inilah yang tadi membuatnya terbuang dan terbanting-banting!

Sehingga tanpa sadar jurus-jurus yang pernah diajarkan Upasara Wulung terpancing keluar. Ketiga jurus yang diciptakan Upasara Wulung dilakukan dengan berulang. Beberapa kali Halayudha menghindar, beberapa kali seolah menerima pukulan dan jatuh bergulingan. Sehingga Klobot makin bersemangat menghajar. Menumpahkan segala kejengkelan. Apalagi kini merasa di atas angin.

Mada sangat mengetahui bahwa dengan cara ini Halayudha justru menyerap semuanya. Dengan menerima risiko pukulan, yang walaupun cukup keras tapi tak membuat bulu tubuhnya bergeser, Halayudha mampu menangkap kekuatan yang bisa berlipat ganda andai digerakkan dengan tenaga penuh. Sungguh suatu kesia-siaan. Upasara menciptakan dengan sepenuh hati, melalui perjalanan dan pergolakan yang panjang, akan tetapi dalam waktu singkat bisa diketahui Halayudha.

“Aduh, aduh, ampun. Ampun!”

Halayudha terus bergulingan, menjatuhkan diri setiap terkena pukulan dan tendangan. Klobot yang polos tak mengetahui bahwa kini tak ada yang tersisa lagi padanya.

“Masa dari tadi hanya itu yang diulang?”

“Klobot.”

“Sebutan itu tak penting bagi saya. Hei, kenapa matamu memicing-micing seperti itu?”

Klobot menggigit bibirnya. Matanya menyipit. Dadanya naik-turun.

“Gendheng. Gila. Edan. Apa maksudmu? Kamu mengenaliku? Matamu mengenaliku. Apa iya sekecil ini kamu mengenaliku sebagai raja?”

“Dusta. Klobot. Kamu bukan Rama Ingkang Sinuwun”

Bagi Halayudha ini sesuatu yang punya makna lain. Dirinya memang mencapai gelar Ingkang Sinuwun, dan benar-benar disembah. Tapi imbuhan rama di depannya membuat terguncang. Seperti diketahui, Halayudha tak mengenal siapa anaknya, atau tak yakin ia mempunyai anak atau tidak. Tenggala Seta yang dikatakan Mada sebagai anaknya, menggores ke dalam kekuatan batinnya. Sehingga mempercepat linglungnya. Kini, tiba-tiba saja ada anak kecil yang menggugat ia bukan rama-nya.

“Jangan-jangan kamu cucuku?”

Halayudha dipermainkan perasaannya sendiri. Yang terentang tak keruan juntrungannya. Yang tidak jelas pokok pijakannya. Namun tidak sepenuhnya mengada-ada. Karena bisa saja anak kecil yang meneriakkan Klobot ini putra Tenggala Seta! Berpikir begitu, Halayudha menggerakkan tangannya.

“Mari sini aku lihat, apakah plananganmu-burungmu berwarna putih.”

Klobot menampik keras. Tubuhnya bergulingan. Dan menyentak, dengan guntingan kaki. Halayudha mendengus. Dengan sangat mudah bisa menghindari sabetan kaki kecil. Namun gerakannya terganggu, karena Halayudha tak ingin Kangkam Galih melukai. Mendadak Halayudha menghentikan gerakannya. Kangkam Galih-nya ditudingkan ke suatu tempat.

“Keluar!”

Mada bercekat. Ia mengetahui bahwa Halayudha mempunyai ilmu yang tinggi. Bahkan sejak muncul tadi, ucapannya “merasa ada Mada di sini”, menunjukkan ketajaman rasa. Bercekat karena menuding ke arah persembunyian Naka. Yang meloncat ke luar dengan gugup, serta berusaha segera memasang kuda-kuda. Klobot menyingkir dan berdiri dengan aman.

“Bukan kamu. Yang menyuruhmu keluar yang kutunggu. Kalau tidak mau keluar, biarlah aku yang memaksa.”

Kini Mada sepenuhnya sadar. Bahwa ada tokoh lain yang berada di sekitar tempat ini. Tokoh yang diam-diam mendorong Naka ke tengah. Tokoh yang tidak diketahui Mada. Tapi Mada bisa segera memperhitungkan. Bahwa yang masih tersisa selama ini tinggal tokoh-tokoh Perguruan Awan serta Pangeran Hiang dan Pendita Ngwang. Yang pertama jelas tidak mungkin. Berarti yang kedua.

“Kamu, kamu pendusta yang menjijikkan.”

“Tutup dulu mulutmu, cucuku.”

“Klobot.”

“Jangan berteriak seperti itu. Kamu hanya mengganggu keasyikan yang ditunggu. Percuma kamu menjadi cucu Halayudha yang sakti, kalau berguru kepada Upasara dengan jurus yang hanya sebegitu. Akulah gurumu yang sejati. Akan kubuktikan sekarang ini. Bilang sama Upasara Wulung, Ingsun sudah datang. Kita kembali ke pertarungan yang sesungguhnya, karena tetamu lain sudah datang.”

Naka celingukan. Memang tadi tanpa disadari ada yang mendorongnya ke luar. Sehingga gerakannya menjadi tidak keruan. Kemudian bisa memantapkan diri dan memasang kuda-kuda. Walau sepenuhnya sadar tak tahu harus berbuat apa dengan ilmu tak seberapa yang ia miliki. Jangan kata Halayudha, bahkan melawan Klobot pun barangkali ia belum tentu bisa mengungguli!

JILID 88BUKU PERTAMAJILID 90

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 89

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 89

Pangeran Wengker mengelap keringat di jidatnya. Sambaran kilatan hati melihat bayangan Rajadewi membuat sukmanya seolah terbang ke langit tingkat tujuh. Akan tetapi tertarik melesak kembali ke bumi. Karena tak segera mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya bisa memperkirakan. Bahwa Upasara Wulung muncul pada saat yang tepat. Dan kemunculannya secara sengaja untuk menemui Senopati Tanca, yang disebut sebagai empu, sebutan kehormatan. Untuk mencari obat bagi Cubluk.

Akan tetapi agaknya Tabib Tanca serta Nyai Makacaru tak berhasil memahami penyakit Cubluk. Bahkan sempat terguncang hebat. Kalau Mpu Tanca serta Nyai Makacaru tak bisa mengobati, Dewa yang paling mumpuni sekalipun akan angkat tangan.

Alis Tunggadewi beradu. “Apakah ada lelara, penyakit, yang tak tersembuhkan? Rasanya kalau ada lelara pastilah ada tamba, obat penyembuhnya.” Suara Tunggadewi menghibur, menenteramkan.

Tapi tidak Mpu Tanca. Serta Nyai Makacaru. Keduanya boleh dikatakan menghabiskan seluruh usia, seluruh kemampuan, hanya untuk mendalami segala jenis jejamuan. Boleh dikatakan tak ada lelara yang tak bisa disembuhkan. Cepat atau lambat semua bisa diatasi. Bahkan ketika Praba Raga Karana terkena penyakit yang sangat aneh sekalipun, Mpu Tanca akhirnya bisa menemukan pangkalnya. Meskipun memang kemudian tidak berniat menyembuhkan.

Akan tetapi sekali ini lain. Sekali ini, ilmu dan kesaktiannya seperti mentok. Sewaktu Mpu Tanca serta Nyai Makacaru memusatkan seluruh kemampuannya, menyatukan seluruh ilmunya, ketika itu seperti terjadi benturan yang keras. Dap. Dap. Dap. Tiga kali, dan Nyai Makacaru melolong serta muntah. Karena kemampuannya dikalahkan. Tak berbeda jauh dari Mpu Tanca. Meskipun akibatnya berbeda. Pengerahan tenaga dan kemampuannya membuntu.

“Jiwa saya masih kotor, masih dipenuhi nafsu sehingga tak mampu.”

Kematian, Muara Dendam
MPU TANCA bersujud di kaki Upasara Wulung. Bersama dengan Nyai Makacaru.

“Jiwa kotor… Jiwa kotor….”

Tunggadewi menepuk lantai dengan lembut. “Sudahlah, Paman Senopati Tanca serta Nyai Makacaru. Kalau ada yang dipersalahkan, sayalah yang menjadi sumber segala dosa dan kotoran. Bukan Paman serta Bibi Nyai. Saya mengerti kenapa Paman serta Bibi berada di sini untuk menyabung nyawa. Karena ingin membalas kemurkaan Raja. Sehingga siapa pun yang mendekati kamar peraduan saya akan berhadapan dengan patrem serta maut. Jiwa yang kotor, sayalah sumbernya. Karena sayalah yang menjalani kehinaan yang tak terhingga.”

Suara Tunggadewi menggeletar. Tetesan air mata serta tarikan bibirnya ke bawah, nada yang parau, menerobos ke dalam kulit siapa pun yang mendengarnya.

“Maaf, Paman Upasara Wulung. Sayalah yang menjadi penyebab macetnya kesaktian Mpu Tanca.”

Upasara Wulung menggeleng lembut. “Tidak, Putri Ayu. Tidak. Ini semua kehendak Dewa yang membisiki saya yang bebal, berani menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Saya telah kualat, menerima murka atas kecongkakan batin saya.”

Perlahan Pangeran Angon bisa mengerti apa yang terjadi. Sewaktu dirinya bersama Pangeran Wengker masuk ke deretan kamar peraduan Putri Tunggadewi, Mpu Tanca serta Nyai Makacaru telah bersiaga. Entah sejak kapan. Barangkali sejak Raja kembali ke Keraton. Tujuannya hanya satu. Melampiaskan dendam kesumat kepada siapa pun yang berani mendekati kamar peraduan. Pun kalau itu Raja! Atau justru Raja tujuannya! Raja!

Dendam yang tak bisa dihilangkan. Dendam kesumat yang hanya akan diselesaikan dengan kematian. Kematian bagi korban atau kematian bagi dirinya sendiri. Entah sejak kapan, dengan cara yang sangat berbelit, Tanca serta istrinya bisa menyaru sebagai dayang, dan tetap bisa tugur di situ.

Lapisan dendam itulah yang menyebabkan Mpu Tanca tidak menjadi murni lagi. Demikian juga Nyai Makacaru. Sehingga tak mampu mengerti apa sebab penyakit Cubluk. Sebaliknya, baik Putri Tunggadewi maupun Putri Rajadewi, merasa bahwa dendam itu disebabkan oleh apa yang mereka lakoni berdua.

“Mohon ampun, Putri Mulia. Jiwa hamba yang kotor, bukan karena Putri. Putri tak bersalah.”

“Demikianlah sesungguhnya,” kata Nyai Makacaru perlahan.

Putri Tunggadewi menunduk. “Saya telah menyerahkan diri kepada Dewa Yang Mahadewa. Derita apa pun, pembalasan apa pun, akan saya sandang dengan ikhlas lahir-batin. Malam ini telah saya katakan semuanya. Malam ini sebagian beban itu akhirnya bisa saya utarakan. Berbahagialah yang mendengarkan, karena menjadi tempat saya mengakui segala yang kotor.”

Rajadewi tersandar lemas. Upasara Wulung merangkul Cubluk. “Maaf, Paman Mpu Tanca serta Nyai Makacaru. Saya telah mengganggu Paman dan Bibi. Saya telah membebani dengan persoalan yang seharusnya tidak perlu menjadi perhatian Paman. Saya memberanikan diri sowan karena saya tidak melihat titik terang di ujung terowongan yang pekat ini. Saya sedang mencari jalan.”

“Upasara Wulung, ksatria sejati. Jiwa yang luhur, jiwa yang jernih, akan menemukan jalan. Saya percaya, jalan itu akan diberikan Dewa. Kalau tidak, Dewa Yang Mahadewa sesungguhnya tak pernah ada.”

Perlahan kalimatnya, tapi menggelegar bagai sambaran seribu kilat secara bersamaan. Untuk seorang yang memuja Dewa Sang Pencipta, gugatan Mpu Tanca adalah gugatan terakhir yang bisa dilakukan.

“Ksatria gagah, saya hanya bisa meraba-raba. Kemurnian asmara yang setulusnya akan menindih bercak hitam yang berada dalam tubuh gadis kecil ini. Rasanya hanya itu yang bisa saya katakan.”

“Terima kasih atas petunjuk Mpu Tanca. Terima kasih, Nyai.” Upasara Wulung mengangguk.

“Paman Upasara mau pergi ke mana?”

Gerak Upasara terhenti sejenak. “Kembali ke tempat asal.”

“Paman…” Tunggadewi mendekat. Menatap lekat. “Paman…”

Tangan kiri Upasara menepuk pundak Tunggadewi. Mengelus perlahan. “Terima kasih, Putri Ayu. Terima kasih.”

“Paman Upasara… Saya tak mengerti banyak mengenai penyakit atau apa. Akan tetapi saya bisa melakukan sesuatu yang bisa…”

“Terima kasih….” Jawaban Upasara disertai gelengan pendek. Punggung tangan Upasara menghapus air mata di sudut. “Putri Ayu benar. Tak ada lelara tanpa tamba. Itulah inti kehidupan, kemuliaan dan kesucian. Jangan mengecewakan dirimu sendiri, jangan mengecewakan yang menyucikan diri di Simping. Saya akan menjadi paman yang bahagia.”

Tunggadewi menggenggam tangan kiri Upasara Wulung. Melekatkan ke pipi, ke dagu, ke bibir. “Akan selalu saya ingat apa yang Paman katakan.”

Upasara mengangguk. “Putri Ayu Rajadewi, saya minta pamit.”

“Sumangga, Paman. Paman telah meniupkan roh kehidupan, sukma kehidupan.”

Upasara tersenyum tawar. “Mpu Tanca dan Bibi Makacaru, saya minta pamit.”

“Kami hanya bisa menyertakan doa, Ksatria Sejati. Semoga kami tak mengulang kekeliruan yang sama.” Terkesan jelas bahwa niatan Senopati Tanca dan Nyai Makacaru tak pernah bergeser.

Upasara Wulung berdiri. Menoleh kepada Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. “Pangeran Anom berdua, Pangeran telah mendengar semuanya. Seperti kata Putri Ayu, berbahagialah yang mendengar kesaksian ini. Kebesaran jiwa melebihi semuanya.” Upasara mengangguk. Menjauh.

"Paman…"

Tunggadewi dan Rajadewi masih meneriakkan nama Upasara Wulung dalam rintihan. Tapi bayangan Upasara Wulung telah lenyap. Tanpa bekas. Hanya beban gadis kecil yang menderita yang tertinggal. Agak lama semuanya terdiam. Agak lama sekali. Tak ada yang bergerak. Setelah bersemadi sesaat, Tunggadewi berdiri, diiringi Rajadewi. Tanpa menoleh. Tanpa mengucap.

Mpu Tanca menyembah hormat kepada Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. “Paduka Pangeran, berbahagialah.”

Pangeran Angon malah menyembah. Juga Pangeran Wengker.

“Saya akan berusaha memahami kebahagiaan tak terhingga ini.” Pangeran Angon menyembah kembali.

Bersamaan dengan Pangeran Wengker. Kemudian mengundurkan diri. Meninggalkan sepi. Yang mengisi hati masing-masing. Dengan jawaban dari segala kerinduan yang berdesakan selama ini. Bagi Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, lebih jelas terbaca. Walaupun Putri Tunggadewi dan Rajadewi tidak melirik atau berkata sepatah pun, ada isyarat kehadiran mereka berdua diterima. Ini yang membahagiakan.

Bagi Putri Tunggadewi serta Rajadewi, ini juga merupakan pelepasan pertama segala kegundahan dan kecemasan. Bagi Senopati Tanca, sebagai dharmaputra, berarti tak ada lagi jalan mundur bagi tekadnya. Meskipun dengan demikian pengorbanan terbesar yang menyiksa, tak bisa menyembuhkan Cubluk, akan terus dirasakan. Bagi Upasara Wulung?

Dan Pertarungan Semakin Dekat
KALAU saja Raja mengetahui semuanya, jalan yang ditempuh bisa berbeda. Sekurangnya bisa mengetahui bahwa dendam Senopati Tanca hanya akan bermuara pada kematian. Kalau saja Jabung Krewes lebih meneliti apa yang terjadi dengan kesediaan Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, akan lain lagi akhirnya.

Akan tetapi keduanya tidak berpaling ke belakang. Keduanya melangkah ke depan. Menuju Perguruan Awan dengan segala dorongan yang tidak disadari akan berhenti di mana. Karena puncak pergolakan sedang menuju ke satu titik yang sama, Perguruan Awan.

Upasara Wulung dengan Cubluk yang dalam keadaan mati-hidup, membulatkan tekad untuk menempuh usahanya sendiri. Tanpa bantuan sentuhan Permaisuri Rajapatni yang kini bertapa di Simping. Pun ketika kemungkinan itu dibuka oleh Putri Tunggadewi yang secara sangat bijak bisa menangkap jalan keselamatan itu.

Di Perguruan Awan sendiri, Gendhuk Tri memusatkan diri, bersemadi terus untuk kesembuhan Cubluk. Yang berarti selembar daun kering yang mengganggu akan dienyahkan segera. Di Perguruan Awan, saat ini juga ada Nyai Demang. Meskipun kini sepenuh perhatiannya tersedot oleh kehadiran Klobot, akan tetapi masih ada yang mengganjal. Persoalan utama yang belum selesai mengenai hubungannya dengan Pangeran Sang Hiang.

Hubungan yang selama ini tumbuh secara menggetarkan tiba-tiba berubah menjadi keberingasan yang tak bisa dimengerti, sehingga menjadi ganjalan. Bukankah sangat mungkin sekali Pangeran Hiang pun masih akan muncul?

Itu belum semuanya. Pendita Ngwang yang selama ini secara cermat merencanakan balas dendam Tartar, telah siap menunggu. Menunggu pertarungan yang akan menentukan perjalanan hidupnya. Menentukan kebesaran Tartar yang telah menaklukkan dunia.

Masih ditambah dengan Mada, serta Nala dan Naka. Prajurit Utama Mada yang mempelajari ajaran mahamanusia, yang pernah menjadi penyelamat Raja, kini datang dengan tugas untuk menangkap Upasara Wulung. Tugas yang paling mustahil. Tetapi sebagai prajurit akan dilakukan juga.

Lebih dari itu semua, Halayudha juga menuju Perguruan Awan. Mahapatih yang pernah menduduki singgasana, ksatria sakti mandraguna yang mampu menyerap berbagai sari pati ilmu di jagat ini menjadi tokoh yang mengerikan karena susah diterka adatnya. Mengerikan karena kini di tangannya tergenggam Kangkam Galih yang telah menewaskan jawara-jawara sejati tanpa pandang bulu.

Dengan perkiraan yang paling jauh pun, Jabung Krewes tetap tak bisa memperkirakan separuh dari kejadian yang sebenarnya. Hanya naluri kemanusiaan yang menyebabkan tanpa terasa bulu tubuhnya merinding. Dalam keadaan panas-dingin, rombongan terus melanjutkan perjalanan.

Yang pertama mengendus kedatangan rombongan Raja adalah Pendita Ngwang. Yang makin tak bisa mengerti bagaimana memperkirakan manusia Tanah Jawa. Karena tak bisa masuk ke otaknya, bagaimana mungkin Raja malah datang ke Perguruan Awan. Ngwang memang ingin menyikat semuanya. Tapi tidak dengan cara seperti ini.

Karena kemunculan Raja dan rombongannya justru bisa mengacaukan rencananya, yaitu mengadu Halayudha dengan Upasara. Kalau perhatian mereka sempat terpecah, bagi Ngwang tetap susah untuk muncul sebagai pemenang. Maka Ngwang mengambil jalan pintas. Dengan ngleyang, Ngwang mencoba mempengaruhi Raja. Menyusupkan kemampuannya ke dalam joli, dan mengerahkan bau wangi sirep untuk membelokkan keinginan Raja.

“Sinuwun masih ingat hamba?”

“Ya.”

“Sebaiknya…”

“Tidak. Ingsun tak akan mundur. Hanya Ingsun yang bisa mengubah keinginan ingsun pribadi. Tidak yang lainnya.”

“Sinuwun…”

“Munculkan dirimu, jika kamu memang perkasa.”

Ngwang mengerahkan aji sirepnya. Sesuatu yang sebenarnya ingin dijadikan kekuatan pamungkas dalam pertarungan akhir. Kekuatan tenaga dalam Ngwang merambat bersama menyebarnya bau wewangian. Raja yang tak cukup kuat tenaga dalamnya dengan cepat bisa dikuasai. Demikian juga Jabung Krewes serta para pengawal utama. Hanya dalam waktu singkat semuanya tak sadarkan diri.

Ngwang bermaksud menyingkirkan ke suatu persembunyian agar tak mengganggu dan menimbulkan kecurigaan, ketika bayangan Klobot menyeruak masuk. Klobot, bocah kecil ini tumbuh secara lain. Dalam usianya yang masih dini sudah mendapat pengajaran langsung mengenai ilmu yang untuk pertama kalinya diciptakan oleh Upasara Wulung. Dengan kemanjaan dari Nyai Demang, Klobot memiliki sifat-sifat yang aneh.

Seperti setiap kali dilakukan. Meninggalkan Nyai Demang diam-diam. Hanya agar nantinya dicari. Dan dalam keluyuran sendirian, Klobot terus-menerus memamerkan ilmunya. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih dari yang lainnya. Sesuatu yang selalu ingin dibuktikan bahwa dirinya lebih dari Cubluk. Kini Klobot menemukan permainan baru yang menarik. Melihat prajurit Keraton, melihat Jabung Krewes yang tertidur, dan melongok ke dalam joli.

“Aneh, semua seperti pernah saya kenal.”

“Mereka tertidur,” kata Ngwang dari persembunyiannya.

“Siapa kamu?”

“Teman mainmu.”

Klobot menggeleng. “Aku tak punya teman. Prajurit ini, joli itu, justru kukenal.”

“Karena mereka pulas, pasang saja di pohon. Kalau nanti bangun, mereka akan bingung.”

“Bagus juga.” Klobot tersenyum.

Tak terlalu sulit baginya menyeret para prajurit maupun Jabung Krewes. Dengan sekali loncat bisa membawa ke dahan yang tinggi. Dan meninggalkan tubuh mereka di situ. Namun ketika mendekat ke joli, tanpa sadar Klobot berlutut. Bersila. Menyembah. Dengan gemetar. Ada satu kilasan yang menghajar kesadarannya. Seakan joli itu, bayangan tubuh yang terpulas dalam joli itu, pernah disembah seperti sekarang ini. Sejak pertama kali mengenal, Klobot selalu menyembah rata dengan tanah.

Ngwang sendiri heran. Bagaimana anak gunung yang kelihatan liar itu bisa menyembah dan memahami tata krama Keraton. Akan tetapi Ngwang tak mau mengambil risiko. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya untuk meringankan tubuh yang memang merupakan keunggulannya, joli terangkat naik. Naik membubung, menyelinap ke dahan pohon yang paling tinggi. Klobot hanya merasakan tiupan angin, dan joli terangkat ke atas. Mata Klobot berkejap-kejap.

“Lupakan mainan itu. Masih banyak yang lain. Yang datang.” Pengindriaan jarak jauh Ngwang menangkap adanya langkah-langkah mendekat. Maka ia kembali ke persembunyiannya untuk menunggu waktu yang tepat.

Sebaliknya, Klobot masih menyembah. Pendengaran Ngwang tidak keliru sama sekali. Karena langkah kaki Nala dan Naka, yang paling lemah tenaga dalamnya, lebih dulu didengar. Baru kemudian bisa terbaca jelas ada langkah kaki lain. Langkah kaki Mada. Dan langkah lain. Yang ditunggu. Langkah kaki Halayudha! Inilah saat yang paling dinantikan.

Ngwang mengentak tenaga lewat perut dengan cara dikedutkan. Klobot bagai tersapu sepuluh tombak lebih. Hingga jungkir-balik. Karena kesal, Klobot membalas sekenanya. Akan tetapi tergenjot kembali dengan tenaga yang tak tampak. Hingga terlempar bergulingan. Semakin bernafsu membalas, semakin jauh terlempar. Klobot makin penasaran, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menemui Nyai Demang. Yang sebenarnya masih mendongkol, karena Klobot selalu sengaja melarikan diri.

“Eyang Putri Bibi Nyai, Eyang Putri Bibi Nyai… Ada Ingkang Rama Ingkang Sinuwun..?"

Nyai Demang terperangah. Lebih heran dibandingkan melihat Klobot tumbuh tanduknya.

Tamparan Kesadaran
KLOBOT sebenarnya lebih ganjil dari sekadar tumbuh tanduk. Karena tindakannya tidak keruan. Apa yang dialami baru saja seolah membongkar seluruh kandungan masa lampaunya, yang tidak dipahami benar. Yang seakan menyeruak dari bawah sadar, dari balik mimpi yang pernah ada. Kejadian dirinya terbanting-banting oleh orang yang tak diketahui juga pengalaman lain yang cukup mengagetkan jiwanya.

Namun saat itu Nyai Demang justru terjebak dalam pikirannya yang kusut. Karena memikirkan Klobot, juga Upasara Wulung dengan Cubluk. Teriakan yang mendadak, ucapan yang mengagetkan, membuat Nyai Demang gelagapan.

“Bagaimana mungkin mulutmu yang besar kasar itu semakin liar? Bagaimana mungkin kamu berani menyebut Sinuwun Raja, sebagai Ingkang Rama, Ayahanda? Rasa-rasanya mulutmu perlu diberi pelajaran.”

Tangan Nyai Demang bergerak perlahan. Sangat perlahan, seperti biasanya. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Klobot tidak mengelak. Plak. Nyai Demang dan Klobot sama-sama terkejut. Nyai Demang terkejut karena tidak menyangka Klobot menerima begitu saja tanpa mengelak. Klobot terkejut karena tak pernah menyangka orang yang paling dekat dengannya akan memperlakukan semacam itu.

Begitu banyak yang ingin disampaikan kepada orang yang dianggap paling menyayangi, akan tetapi kandas oleh kenyataan yang begitu menyakitkan. Klobot berbalik dan segera melarikan diri. Sebaliknya, Nyai Demang menahan diri untuk tidak segera mengejar. Kuatir Klobot akan semakin manja. Meskipun hatinya menyesal juga.

Namun sebenarnya yang membenam dalam pikiran Nyai Demang adalah cara Klobot mengucapkan Ingkang Rama Ingkang Sinuwun. Cara penyebutan yang tidak wajar dilakukan anak sekecil itu, kalau belum pernah mendengar sebelumnya. Apalagi jika dikaitkan dengan asal-usul Klobot serta Cubluk yang masih menimbulkan tanda tanya. Juga diri kedua anak itu.

Yang saat pertama seperti tak bisa berbicara, tetapi ketika terbongkar kembali kenangannya, seperti memiliki perbendaharaan tata krama yang tidak biasa diajarkan di kalangan rakyat biasa. Hanya saja memang Nyai Demang tak menduga dan tak menyangka bahwa saat itu ada rombongan yang dipimpin langsung oleh Raja. Bahkan kalau Klobot bercerita secara baik-baik dan perlahan, Nyai Demang tetap akan menggeleng.

Klobot yang sedang jengkel inilah yang dilihat Mada dari persembunyiannya. Sementara itu Halayudha kemudian muncul dan terjadi pertarungan kecil-kecilan. Karena Klobot mengira Halayudha inilah yang tadi membuatnya terbuang dan terbanting-banting!

Sehingga tanpa sadar jurus-jurus yang pernah diajarkan Upasara Wulung terpancing keluar. Ketiga jurus yang diciptakan Upasara Wulung dilakukan dengan berulang. Beberapa kali Halayudha menghindar, beberapa kali seolah menerima pukulan dan jatuh bergulingan. Sehingga Klobot makin bersemangat menghajar. Menumpahkan segala kejengkelan. Apalagi kini merasa di atas angin.

Mada sangat mengetahui bahwa dengan cara ini Halayudha justru menyerap semuanya. Dengan menerima risiko pukulan, yang walaupun cukup keras tapi tak membuat bulu tubuhnya bergeser, Halayudha mampu menangkap kekuatan yang bisa berlipat ganda andai digerakkan dengan tenaga penuh. Sungguh suatu kesia-siaan. Upasara menciptakan dengan sepenuh hati, melalui perjalanan dan pergolakan yang panjang, akan tetapi dalam waktu singkat bisa diketahui Halayudha.

“Aduh, aduh, ampun. Ampun!”

Halayudha terus bergulingan, menjatuhkan diri setiap terkena pukulan dan tendangan. Klobot yang polos tak mengetahui bahwa kini tak ada yang tersisa lagi padanya.

“Masa dari tadi hanya itu yang diulang?”

“Klobot.”

“Sebutan itu tak penting bagi saya. Hei, kenapa matamu memicing-micing seperti itu?”

Klobot menggigit bibirnya. Matanya menyipit. Dadanya naik-turun.

“Gendheng. Gila. Edan. Apa maksudmu? Kamu mengenaliku? Matamu mengenaliku. Apa iya sekecil ini kamu mengenaliku sebagai raja?”

“Dusta. Klobot. Kamu bukan Rama Ingkang Sinuwun”

Bagi Halayudha ini sesuatu yang punya makna lain. Dirinya memang mencapai gelar Ingkang Sinuwun, dan benar-benar disembah. Tapi imbuhan rama di depannya membuat terguncang. Seperti diketahui, Halayudha tak mengenal siapa anaknya, atau tak yakin ia mempunyai anak atau tidak. Tenggala Seta yang dikatakan Mada sebagai anaknya, menggores ke dalam kekuatan batinnya. Sehingga mempercepat linglungnya. Kini, tiba-tiba saja ada anak kecil yang menggugat ia bukan rama-nya.

“Jangan-jangan kamu cucuku?”

Halayudha dipermainkan perasaannya sendiri. Yang terentang tak keruan juntrungannya. Yang tidak jelas pokok pijakannya. Namun tidak sepenuhnya mengada-ada. Karena bisa saja anak kecil yang meneriakkan Klobot ini putra Tenggala Seta! Berpikir begitu, Halayudha menggerakkan tangannya.

“Mari sini aku lihat, apakah plananganmu-burungmu berwarna putih.”

Klobot menampik keras. Tubuhnya bergulingan. Dan menyentak, dengan guntingan kaki. Halayudha mendengus. Dengan sangat mudah bisa menghindari sabetan kaki kecil. Namun gerakannya terganggu, karena Halayudha tak ingin Kangkam Galih melukai. Mendadak Halayudha menghentikan gerakannya. Kangkam Galih-nya ditudingkan ke suatu tempat.

“Keluar!”

Mada bercekat. Ia mengetahui bahwa Halayudha mempunyai ilmu yang tinggi. Bahkan sejak muncul tadi, ucapannya “merasa ada Mada di sini”, menunjukkan ketajaman rasa. Bercekat karena menuding ke arah persembunyian Naka. Yang meloncat ke luar dengan gugup, serta berusaha segera memasang kuda-kuda. Klobot menyingkir dan berdiri dengan aman.

“Bukan kamu. Yang menyuruhmu keluar yang kutunggu. Kalau tidak mau keluar, biarlah aku yang memaksa.”

Kini Mada sepenuhnya sadar. Bahwa ada tokoh lain yang berada di sekitar tempat ini. Tokoh yang diam-diam mendorong Naka ke tengah. Tokoh yang tidak diketahui Mada. Tapi Mada bisa segera memperhitungkan. Bahwa yang masih tersisa selama ini tinggal tokoh-tokoh Perguruan Awan serta Pangeran Hiang dan Pendita Ngwang. Yang pertama jelas tidak mungkin. Berarti yang kedua.

“Kamu, kamu pendusta yang menjijikkan.”

“Tutup dulu mulutmu, cucuku.”

“Klobot.”

“Jangan berteriak seperti itu. Kamu hanya mengganggu keasyikan yang ditunggu. Percuma kamu menjadi cucu Halayudha yang sakti, kalau berguru kepada Upasara dengan jurus yang hanya sebegitu. Akulah gurumu yang sejati. Akan kubuktikan sekarang ini. Bilang sama Upasara Wulung, Ingsun sudah datang. Kita kembali ke pertarungan yang sesungguhnya, karena tetamu lain sudah datang.”

Naka celingukan. Memang tadi tanpa disadari ada yang mendorongnya ke luar. Sehingga gerakannya menjadi tidak keruan. Kemudian bisa memantapkan diri dan memasang kuda-kuda. Walau sepenuhnya sadar tak tahu harus berbuat apa dengan ilmu tak seberapa yang ia miliki. Jangan kata Halayudha, bahkan melawan Klobot pun barangkali ia belum tentu bisa mengungguli!

JILID 88BUKU PERTAMAJILID 90