Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 90

Mada mengeraskan hatinya. Tak nanti ia membiarkan Naka di tengah gelanggang bahaya. Kangkam Galih di tangan kanan Halayudha bergerak naik. Pandangannya yang keras dan tajam menyapu sekeliling.

“Paduka Halayudha, hamba ada di sini…” Mada segera melompat keluar dari persembunyiannya. Mengambil tempat berjajar dengan Naka.

“Itu aku sudah tahu. Kamu mau melindungi temanmu yang kosong melompong ini. Jiwamu kadang ada baiknya. Tapi bukan kamu yang kutunggu. Bukan sebangsa cacing yang baru berlatih satu pukulan.”

Pedang Kematian
HALAYUDHA mengesankan garang, mendikte, dan sepenuhnya menguasai lapangan. “Aku sudah datang. Dengan pedang telanjang. Setiap kali Kangkam Galih tergenggam, setiap kali kematian yang setakar dengan bobotnya harus melayang. Aku telah datang. Aku tak mau ada yang main sembunyi. Cucuku yang bodoh saja berani menjadi lelaki. Aku telah datang. Untuk mendekatkan kematian dengan cara yang jantan. Perangkap apa pun, muslihat keji mana pun, mudah terbaca dengan gamblang. Aku telah datang.”

Mendadak terdengar suara halus dari dua arah yang berbeda. Dan suara kasar dari arah dekat.

“Klobot, kemari…”

Mada menoleh ke arah datangnya suara. Bisa menangkap bayangan tubuh Gendhuk Tri yang memasuki arena dengan langkah tenang. Sementara Nyai Demang tampak sedikit tergesa. Benar, kini telah muncul dua tokoh utama. Jagattri yang tenang, serta Nyai Demang yang tegang.

Sementara suara kasar tadi suara kaki Naka, yang agaknya tak bisa menahan diri. Mada merapat ke arah Naka, bersama dengan Nala. Ketiganya berusaha menyatu, walau sadar bahwa Halayudha atau juga yang lainnya seakan tak memperhitungkan kehadiran mereka sama sekali.

“Jangan saling bersuara. Jangan saling berkata. Tajamkan indria batin.” Mada berbisik lirih. Rahangnya menggembung karena tegang.

Sementara itu, sebaliknya dari mendekat, Klobot justru menjauh. Lebih mendekat ke arah Halayudha. Kalau saja pedang itu disabetkan secara sengaja, atau tidak sengaja!

“Siapa kamu sebenarnya? Apakah aku ini cucumu?”

“Telanjanglah, dan Ingsun akan tahu siapa dirimu. Buka pakaianmu.”

Kalimatnya tertuju ke arah Klobot, akan tetapi pandangan Halayudha masih terus menyapu sekeliling. Dalam satu tarikan napas yang sama, Halayudha menggertak keras. Pedangnya berkelebat, bersamaan dengan tubuhnya yang berputar kencang. Kesiuran angin membuat Mada menahan napas, dan mengeluarkan pujian kekaguman. Halayudha benar-benar sakti.

Dengan memecah perhatian masih bisa mengamati sekeliling dengan sangat tajam. Dengan satu sabetan pedang, mampu membuat yang bersembunyi dipaksa ke luar. Yaitu yang berada di balik bebatuan. Muncul bayangan tubuh Ngwang. Yang kakinya tidak menginjak tanah. Sementara kedua tangannya seperti memainkan tasbih. Bibirnya membeku, wajahnya membatu.

“Apa tidak malu, pendita dipaksa menggeliat seperti cacing disongkel dari persembunyiannya? Semua akan kupaksa keluar dari sarangnya yang busuk. Dan menempuh jalan kematian dengan Kangkam Galih, lewat tanganku. Semuanya. Mana Pangeran Kutung? Masih menunggu sambutan apa lagi? Mana Upasara Wulung? Masih menunggu saat-saat yang terakhir lagi? Biarlah hari ini aku sempurnakan pertarungan yang sesungguhnya. Tempat ini memang paling cocok. Aku bersumpah tak akan ada yang bisa lolos.”

Sekilas keadaan menyajikan pemandangan yang aneh. Halayudha berdiri gagah sambil mempermainkan Kangkam Galih sebagai pusat perhatian. Di bagian pinggir, Mada bersama Naka dan Nala bersiaga. Pada bagian yang lain lagi, Nyai Demang tampak sangat cemas, berusaha mendekat ke arah Klobot yang tampak puas bisa mempermainkan Nyai Demang. Dan pada bagian yang lain lagi, Ngwang berdiri mematung.

Sementara Gendhuk Tri mengencangkan ikatan selendangnya. Sikapnya tetap terjaga. “Apakah masih ada yang ditunggu?” Kalimat Gendhuk Tri seakan membantah ucapan Halayudha yang menganggap masih ada yang bersembunyi.

Mada bisa menangkap bahwa keduanya sedang mengadu ilmu pendengaran jarak jauh. Satu-satunya yang masih menahan diri hanyalah Ngwang.

Halayudha memandang Gendhuk Tri. Bibirnya mengguratkan kekaguman. “Jagattri, kuucapkan selamat. Tubuhmu sudah bersih dari bercak hitam. Sungguh hebat luar biasa kalian menemukan perpaduan tenaga tanah air. Aku harus membuktikan keunggulan tenaga kalian berdua. Aku harus membuktikan keunggulan jurus-jurus ciptaan Upasara Wulung. Benar-benar mengagumkan pertemuan kira sekarang ini. Kekuatan tenaga dalam yang selama ini tak dikenal, sekaligus jurus baru. Kalau yang dimainkan Klobot jelek dan besar kepala ini dijadikan ukuran, pendita busuk itu juga akan merasakan kehebatannya. Sekali lagi kuucapkan selamat. Tapi hari ini kita akan membuktikan siapa yang paling unggul.”

Tanpa mengubah nadanya, Halayudha menudingkan pedangnya ke arah Ngwang. “Kamu pendita busuk yang tak punya otak dan hati serta perasaan. Ada saatnya kamu bisa mempengaruhiku dengan ilmu sirepmu. Tapi kini, aku bisa memaksamu keluar dan tak akan memberi kesempatan untuk menghindar lagi. Aku sudah bersumpah untuk itu. Sekarang kita sudah berkumpul semua. Mau tunggu apa lagi? Siapa saja bisa mulai melawan siapa pun.”

Mada maju setindak.

“Kamu juga boleh mulai, Mada. Siapa lawan yang kamu pilih? Maaf…” Bukan sekarang saatnya beradu pendapat. Sekarang saatnya melihat siapa yang lebih ulet kulitnya dan lebih keras tulangnya. Aku memang sudah lama ingin membuktikan siapa yang sebenarnya paling hebat. Tanpa pengaruh siapa pun, aku akan melakukan ini. Biar Ngwang juga mendengar.”

Sebenarnya yang paling kuatir adalah Nyai Demang. Was-was akan keselamatan Klobot. Maka begitu melihat Klobot keheranan melihat orang-orang yang tidak dikenal bermunculan, Nyai Demang meloncat menyambar tangan Klobot. Pada saat itulah pedang Kangkam Galih menyambar.

Pertarungan telah dimulai! Kangkam Galih telah berkelebat. Dan tak akan berhenti sebelum banjir darah hingga tetes terakhir! Pedang kematian telah menyodet. Gendhuk Tri gregetan, gemas, karena Nyai Demang yang menyulut lebih cepat. Meskipun yang kemudian terlintas adalah bahaya yang sangat besar.

Serentak dengan kesadarannya, kedua tangannya bergerak cepat. Mengirimkan pukulan jarak jauh sepenuh tenaga, berusaha mengesampingkan sabetan Halayudha. Sekurangnya membelokkan arah tebasan. Yang segera terasa ketika dilontarkan.

Halayudha sudah menduga bakal masuknya serangan, juga memperhitungkan bahwa yang menghalangi pertama kali adalah Gendhuk Tri. Ketajaman memperhitungkan hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi Halayudha sama sekali tak menganggap enteng. Karena lontaran tenaga jarak jauh Gendhuk Tri bagai sapuan gelombang, yang segera terasakan, sebelum kedua tangan Gendhuk Tri menyambar dalam dua jurusan. Menyelewengkan arah pedang dan sekaligus juga menjerat kaki.

Gendhuk Tri sudah berada pada tingkatan yang setakar dengan Halayudha. Pukulan jarak jauh yang dikirimkan memang terjadi dengan seketika dan terasakan, bersamaan dengan niat, niat untuk melindungi Nyai Demang. Halayudha menjadi lebih hati-hati lagi. Pertama, arah pedang menggeser. Kedua, kakinya susah digerakkan untuk membuat gerakan baru. Seakan dikunci. Tapi yang membuatnya lebih berhati-hati lagi, karena dengan demikian pertarungan yang sesungguhnya telah dibuka. Semua yang berada dalam gelanggang akan terlibat.

Tak mengherankan, ketika Halayudha merasa ada satu pukulan aneh lain yang menyambar. Aneh karena pukulan itu seperti membelah lewat sela-sela ayunan pedangnya. Ada tenaga yang menjepit dan mengarahkan seperti tenaga dorongan dari Gendhuk Tri. Mata Halayudha sedikit membelalak, karena tidak menduga datangnya pukulan itu! Tak menduga meskipun sudah memperkirakan.

Pukulan Tunggal Tartar
PERHITUNGAN Halayudha tajam menguliti. Tenaga dalamnya sangat unggul sehingga keberadaan Pangeran Hiang pun bisa dirasakan. Bahkan Ngwang sendiri tidak nglegewa, tidak menyadari bahwa Putra Utama Pangeran Sang Hiang akan muncul mendadak. Perhitungan dari sisi mana pun, Ngwang tidak akan berkesimpulan Pangeran Sang Hiang muncul saat itu, dan menolong Nyai Demang!

Menolong Nyai Demang! Bahwa Pangeran Hiang masih ada hubungan dengan Nyai Demang Ngwang sangat mengerti. Bahwa kemudian Pangeran Hiang bisa berpaling ke wanita lain, selain Putri Koreyea, Ngwang yang dulunya selalu intim dengan Pangeran Hiang, tetap bisa mengerti. Dan menerima. Akan tetapi setelah peristiwa di mana Pangeran Hiang terkena pengaruh sirepnya yang kuat, dan pemunculannya mengecewakan Pangeran Hiang sendiri, rasa-rasanya tak akan pernah punya nyali untuk tampil kembali.

Ngwang melupakan satu hal. Jiwa ksatria yang mengalir dan hidup dalam sukma Pangeran Hiang Jiwa ksatria yang sesungguhnya, yang pada akhirnya mampu menindih dan mengesampingkan kehadirannya sebagai putra mahkota Tartar. Sebagai orang yang datang untuk menaklukkan Tanah Jawa. Ngwang bisa menilai bahwa Pangeran Hiang, seperti jawara lain yang menginjak Tanah Jawa, akan menjadi luluh dan larut sebagai kata ganti pengkhianat. Kenyataannya bisa dinilai dari segi kesetiaan utama pada Keraton. Namun di atas semua itu, jiwa ksatria Pangeran Hiang tetap berbahaya. Memancar. Dalam diri Pangeran Hiang telah terjadi perubahan yang mendasar. Pertarungan batin yang melelahkan.

Sejak pertama kali muncul di Tanah Jawa, Pangeran Hiang mengalami berbagai peristiwa yang mengguncang akar-akar penilaian yang membentuk pribadinya. Kenyataan pertama ialah ketika berhasil menawan Baginda dan menyekapnya dalam kapal Siung Naga Bermahkota. Ketika seluruh prajurit dan para ksatria menyerbu tanpa memedulikan hubungan masa lalu dengan Keraton. Nilai kesetiaan dan kepatuhan kepada Keraton yang tiada taranya.

Peristiwa berikutnya, dengan pertemuan dan gugatan hati sesaat bersama Upasara Wulung serta Gendhuk Tri. Ketulusan jiwa ksatria mereka berdua, yang menemani, yang bersahabat justru di saat-saat Pangeran Hiang merasa menemukan titik buntu dengan penderitaan Putri Koreyea. Nilai kemanusiaan yang begitu bermakna. Sehingga tanpa ragu sedikit pun, Upasara Wulung dan dirinya saling mengangkat saudara.

Peristiwa yang terjadi dengan tulus dari kehendak batin yang paling dalam itulah yang membuat Pangeran Hiang tak menghiraukan pemunculan Ngwang yang diam-diam memberikan tanda-tanda. Bahkan kemudian Pangeran Hiang merasa bersalah, karena menyembunyikan pertemuan ini dari Upasara. Sementara Upasara Wulung sendiri, tak berkurang rasa persaudaraannya meskipun terluka perasaannya.

Pangeran Hiang guncang. Bimbang. Antara tarikan Ngwang dan persaudaraan. Yang meruncing dengan kesalahpahaman kecil mengenai hubungan Nyai Demang dengan Jaghana. Ini menjadi berarti karena saat itu Pangeran Hiang sedang melepaskan ketergantungannya terhadap Ngwang. Yang kemudian dianggap menjadi jiwanya, menyisakan rasa bersalah yang menekan. Yang dalam bentuk lahiriah terjadi pada diri Putri Koreyea.

Pertarungan batin makin kalut karena Ngwang masih terus-menerus berusaha mempengaruhi dengan aji sirepnya yang sangat luar biasa keras. Akan tetapi sikap apa yang harus dipilih menjadi jelas sewaktu Nyai Demang berada dalam bahaya. Bahaya yang tidak disadari, bahaya yang dikarenakan ingin menyelamatkan seorang anak kecil. Itu sebabnya Pangeran Hiang langsung keluar dan menyamar. Mengeluarkan jurus yang dirasa aneh oleh Halayudha.

Pukulan Pangeran Hiang sebenarnya tidak terlalu aneh. Itu semata-mata karena pengerahan tenaga dalam yang dulu terbiasa tersalur dalam dua tangan, kini menderas lewat satu tangan. Sehingga yang terasa oleh Halayudha adalah pukulan tunggal, akan tetapi sekaligus bisa menjepit ujung pedangnya. Yang bisa memaksa Halayudha mundur selangkah. Baik karena tenaga dalam Pangeran Hiang yang sedikit berlawanan dengan pukulan yang biasa, maupun karena serangan Gendhuk Tri yang datang mendadak.

Keganjilan yang memaksa Halayudha menyimpan kembali serangan berikutnya, tak berarti tidak terpahami. Dengan sekali lirik, Halayudha mengetahui bahwa pukulan tunggal dari Tartar ini bisa berarti jepitan dan pukulan sekaligus. Dari satu tangan bisa mengalirkan dua kekuatan yang menyatu atau mendua.

Berarti dalam waktu yang sangat singkat, Pangeran Hiang berhasil mengatasi hambatan satu tangan yang kutung. Ini terlihat jelas, setelah menyelewengkan arah pedang Halayudha, dengan gerakan tenaga yang berasal dari tangan satu-satunya itu pula ia menarik kembali tubuh Nyai Demang. Yang melongo. Yang tak menyadari apa yang terjadi. Semuanya terjadi dalam kelebatan yang menghantam kesadarannya secara serentak.

Tarikan pada Klobot telah menyulut pertarungan yang sesungguhnya, menyeretnya ke dalam bahaya yang terbesar. Karena sabetan pedang Halayudha langsung menyambar. Hanya karena tertahan pukulan seketika dari Gendhuk Tri ada jeda waktu di mana Pangeran Hiang mengerahkan pukulan tunggal. Ini sambaran kesadaran yang lain lagi. Yang membuatnya terkesima.

Antara percaya dan berharap itu kenyataan yang sesungguhnya. Pangeran Hiang! Kalau Dewa Maut yang pernah berhubungan dengannya di dalam gua bawah tanah dulu itu bangkit dari kuburnya, Nyai Demang tak akan segentar sekarang ini. Pangeran Hiang! Yang menyelamatkan jiwanya.

“Om. Om. Om.” Ngwang mendesis bagai ular berbisa menyambar semua racun dari tubuhnya. Tubuhnya seperti bergoyangan, kakinya bergerak-gerak menyeimbangkan pergolakan batin, sementara tasbih di tangannya mengeluarkan bunyi karena saling beradu. Pergolakan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pergolakan dari sumber batin yang terdalam.

Pemunculan Pangeran Hiang merupakan pertanda bahwa hubungannya selama ini dengan dirinya telah putus. Bahwa akhirnya Pangeran Hiang memilih berada bersama para ksatria, dan meniadakan kemungkinan sebagai putra mahkota. Ini sebabnya kenapa ia sampai mengeluarkan seruan tiga kali berturut-turut.

Hanya Ngwang yang menyadari betapa sebagian usahanya telah gagal. Usaha seumur hidup untuk mempelajari dan menjatuhkan Tanah Jawa, persekutuan yang menyatu dengan Pangeran Hiang, tak ada bekasnya lagi. Kalau sebelumnya Pangeran Hiang masih ragu sehingga masih mau menemui, kini tak punya makna.

Menyakitkan. Itu yang membuat tubuhnya bergoyang, biji tasbihnya saling beradu. Karena batas penguasaan dirinya dilampaui kenyataan yang paling tak dibayangkan. Putusnya hubungan persaudaraan. Selesainya masa lalu.

Ini jauh lebih mengerikan dibandingkan mati dengan cara mengenaskan. Karena bagi Ngwang, dalam dirinya mengalir darah kesetiaan yang tiada tara dengan Keraton Tartar. Sebagai pendita, Ngwang adalah pendita yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Keraton Tartar. Yang mewujud dalam diri Pangeran Hiang. Yang akan ia layani apa pun yang diminta, tanpa perlu diucapkan.

Kini hubungan itu tak ada lagi. Tak ada kebanggaan yang dipamerkan di depan Pangeran Hiang, tak ada perasaan-perasaan yang menjadi perwujudan dirinya. Ngwang mendesis. Seolah menenggelamkan diri dalam situasi terkena sirep, sehingga mampu melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan pada suasana yang biasa. Tak ada jalan mundur. Melanjutkan ke arah kemenangan atau hancur seperti jawara-jawara Tartar sebelumnya. Tak ada pilihan lain.

Masih menggeletar suaranya, bagai lengkingan binatang buruan yang masuk jebakan. Pangeran… Pangeran Hiang berdiri tegak, tidak menoleh, tidak melirik. Tapi dagunya seperti membuat gerakan anggukan pendek. Satu lengan baju yang gedombrongan menjuntai kosong. Bergerak oleh desakan angin.

“Pangeran Sang Hiang…” Hanya itu yang bisa diucapkan. Selebihnya terkunci dalam tenggorokan.

Putus Tali Kandungan
NGWANG masih tergetar hebat. Dari tenggorokan dan hidung keluar bunyi yang memualkan, menjijikkan. Bunyi seperti menarik hidung yang tertahan, bunyi sepuluh ekor babi yang digorok. Desisan bibirnya makin cepat. Dan mencapai puncaknya ketika menyemprotkan sesuatu. Meluncur. Tubuh Ngwang turun. Rata dengan tanah. Lalu naik kembali. Seperti semula. Wajahnya sangat dingin.

“Tali kandungan telah diputus. Dunia perut berbeda dengan dunia mulut. Tali kandungan telah ditebas. Tak ada maaf, tak ada penyesalan, tak ada balas. Tali kandungan telah tak menalikan. Kehidupan sekarang dan kematian yang diharapkan. Tali kandungan, tujuh keturunan.”

Kalimat Ngwang mbrengengeng, mendesah antara terdengar, sebagai japa mantra atau doa, dan gerutuan. Hanya Pangeran Hiang serta Nyai Demang yang bisa menangkap kata-kata Ngwang. Akan tetapi, siapa pun yang melihat dan mendengar, mengetahui putusnya hubungan yang selama ini saling mengikat antara Pendita Ngwang dan Pangeran Hiang. Bahwa putusnya tali hubungan itu sampai berlanjut pada kehidupan sesudah kematian, pada tujuh turunan, menyangatkan apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

Bahwa saat Ngwang memuntahkan masa lalunya begitu berpengaruh, terlihat jelas dari semburan yang dimuntahkan begitu kental, serta tubuhnya yang turun hingga rata dengan tanah. Namun sebagai jawara utama, sebagai tokoh yang sangat diunggulkan, penguasaan diri Ngwang tetap kuat. Bisa berdiri tenang kembali di atas tanah. Tubuhnya tegak. Tasbihnya tak lagi beradu.

Sebenarnya pergolakan yang sama juga terasakan oleh Pangeran Hiang. Hanya karena kekuatan batinnya lebih mantap, sikapnya tak banyak terpengaruh. Hanya wajahnya makin dingin membeku, tak mengisyaratkan satu perasaan pun. Semua kejadian berlangsung sangat cepat. Renungan dan pertimbangan dalam hati saling berkelebat.

Nyai Demang sendiri belum sepenuhnya bisa menangkap perubahan sikap Pangeran Hiang. Sorot matanya menjadi suram dan cemas melihat sikap Pangeran Hiang yang membatu. Mada mundur selangkah. Nala mengikuti. Demikian juga Naka.

Klobot meleletkan lidah. Baginya ini merupakan pemandangan yang sangat menarik. Ngwang yang tidak menginjak tanah, seorang yang disebut Pangeran berdiri teguh dengan satu lengan baju kosong melambai.

“Semua telah muncul. Mana Upasara Wulung? Apakah ksatria lelananging jagat ingin menemukan kemenangan terakhir dengan curang? Percuma gelaran yang begitu menggetarkan jagat kalau ternyata akan berlindung di balik dalih hanya akan bertarung dalam pertarungan lima puluh tahun. Cara busuk untuk mengamankan gelarnya. Tapi tak akan tahan lama. Sekarang saatnya untuk dibuktikan. Aha, Jagattri, kamu sudah pantas berada dalam gelanggang. Pangeran Hiang, kamu pun tak terlalu buruk dengan sepotong tangan yang tersisa. Kita telah mulai. Bersiaplah!”

Meskipun seperti memberi aba-aba, Halayudha bergerak lebih cepat. Sabetan pedangnya lebih dulu menyambar sebelum separuh kalimatnya selesai. Torehan angin tajam menyambar dengan tenaga penuh ke arah Gendhuk Tri, dan dilanjutkan dengan tusukan ke arah Pangeran Hiang. Keduanya berada di tempat yang berjauhan. Akan tetapi Halayudha bisa menyerang dengan satu gerakan. Bagi Halayudha melibatkan semua ke dalam pertarungan lebih menguntungkan dibandingkan jika main satu lawan satu.

Dalam keadaan yang paling genting, Halayudha masih bisa memanfaatkan keunggulannya. Bukan hanya dalam pengertian memecah-belah kekuatan yang bisa menyatu, melainkan dengan semua melawan semua, Halayudha memperoleh dua keuntungan. Yang pertama, ilmunya memang terdiri atas berbagai aliran yang bisa dikuasai dengan baik. Semakin serabutan jalannya pertarungan, semakin menjadi kembangan yang dikuasai.

Yang kedua, dalam pertarungan semua lawan semua, imbangan kekuatan akan terbagi. Jika dirinya menyatroni satu lawan yang terdesak, berarti lebih cepat bisa melenyapkan lawan. Toh tak akan ada yang menyesali kalau Halayudha bersikap demikian. Tak akan ada yang menyalahkan bersikap demikian. Tak akan ada yang menyalahkan mengambil keuntungan dengan mengeroyok. Walau sebenarnya Halayudha tak peduli sebutan apa yang dilekatkan pada dirinya.

Jurus pertama sudah langsung menyeret Gendhuk Tri dan Pangeran Hiang. Gerakan Kangkam Galih yang menyambar, menorehkan dua jurus yang berbeda. Bisa dibayangkan betapa kuatnya, kalau kesiuran sabetan itu saja bisa membuat sebatang dahan yang cukup besar terpotong. Dan bisa membeset kulit Nala. Jauh jaraknya, tapi irisan anginnya saja sanggup melukai kulit! Bisa dibayangkan kalau berada dalam jangkauan tikaman.

JILID 89BUKU PERTAMAJILID 91

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 90

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 90

Mada mengeraskan hatinya. Tak nanti ia membiarkan Naka di tengah gelanggang bahaya. Kangkam Galih di tangan kanan Halayudha bergerak naik. Pandangannya yang keras dan tajam menyapu sekeliling.

“Paduka Halayudha, hamba ada di sini…” Mada segera melompat keluar dari persembunyiannya. Mengambil tempat berjajar dengan Naka.

“Itu aku sudah tahu. Kamu mau melindungi temanmu yang kosong melompong ini. Jiwamu kadang ada baiknya. Tapi bukan kamu yang kutunggu. Bukan sebangsa cacing yang baru berlatih satu pukulan.”

Pedang Kematian
HALAYUDHA mengesankan garang, mendikte, dan sepenuhnya menguasai lapangan. “Aku sudah datang. Dengan pedang telanjang. Setiap kali Kangkam Galih tergenggam, setiap kali kematian yang setakar dengan bobotnya harus melayang. Aku telah datang. Aku tak mau ada yang main sembunyi. Cucuku yang bodoh saja berani menjadi lelaki. Aku telah datang. Untuk mendekatkan kematian dengan cara yang jantan. Perangkap apa pun, muslihat keji mana pun, mudah terbaca dengan gamblang. Aku telah datang.”

Mendadak terdengar suara halus dari dua arah yang berbeda. Dan suara kasar dari arah dekat.

“Klobot, kemari…”

Mada menoleh ke arah datangnya suara. Bisa menangkap bayangan tubuh Gendhuk Tri yang memasuki arena dengan langkah tenang. Sementara Nyai Demang tampak sedikit tergesa. Benar, kini telah muncul dua tokoh utama. Jagattri yang tenang, serta Nyai Demang yang tegang.

Sementara suara kasar tadi suara kaki Naka, yang agaknya tak bisa menahan diri. Mada merapat ke arah Naka, bersama dengan Nala. Ketiganya berusaha menyatu, walau sadar bahwa Halayudha atau juga yang lainnya seakan tak memperhitungkan kehadiran mereka sama sekali.

“Jangan saling bersuara. Jangan saling berkata. Tajamkan indria batin.” Mada berbisik lirih. Rahangnya menggembung karena tegang.

Sementara itu, sebaliknya dari mendekat, Klobot justru menjauh. Lebih mendekat ke arah Halayudha. Kalau saja pedang itu disabetkan secara sengaja, atau tidak sengaja!

“Siapa kamu sebenarnya? Apakah aku ini cucumu?”

“Telanjanglah, dan Ingsun akan tahu siapa dirimu. Buka pakaianmu.”

Kalimatnya tertuju ke arah Klobot, akan tetapi pandangan Halayudha masih terus menyapu sekeliling. Dalam satu tarikan napas yang sama, Halayudha menggertak keras. Pedangnya berkelebat, bersamaan dengan tubuhnya yang berputar kencang. Kesiuran angin membuat Mada menahan napas, dan mengeluarkan pujian kekaguman. Halayudha benar-benar sakti.

Dengan memecah perhatian masih bisa mengamati sekeliling dengan sangat tajam. Dengan satu sabetan pedang, mampu membuat yang bersembunyi dipaksa ke luar. Yaitu yang berada di balik bebatuan. Muncul bayangan tubuh Ngwang. Yang kakinya tidak menginjak tanah. Sementara kedua tangannya seperti memainkan tasbih. Bibirnya membeku, wajahnya membatu.

“Apa tidak malu, pendita dipaksa menggeliat seperti cacing disongkel dari persembunyiannya? Semua akan kupaksa keluar dari sarangnya yang busuk. Dan menempuh jalan kematian dengan Kangkam Galih, lewat tanganku. Semuanya. Mana Pangeran Kutung? Masih menunggu sambutan apa lagi? Mana Upasara Wulung? Masih menunggu saat-saat yang terakhir lagi? Biarlah hari ini aku sempurnakan pertarungan yang sesungguhnya. Tempat ini memang paling cocok. Aku bersumpah tak akan ada yang bisa lolos.”

Sekilas keadaan menyajikan pemandangan yang aneh. Halayudha berdiri gagah sambil mempermainkan Kangkam Galih sebagai pusat perhatian. Di bagian pinggir, Mada bersama Naka dan Nala bersiaga. Pada bagian yang lain lagi, Nyai Demang tampak sangat cemas, berusaha mendekat ke arah Klobot yang tampak puas bisa mempermainkan Nyai Demang. Dan pada bagian yang lain lagi, Ngwang berdiri mematung.

Sementara Gendhuk Tri mengencangkan ikatan selendangnya. Sikapnya tetap terjaga. “Apakah masih ada yang ditunggu?” Kalimat Gendhuk Tri seakan membantah ucapan Halayudha yang menganggap masih ada yang bersembunyi.

Mada bisa menangkap bahwa keduanya sedang mengadu ilmu pendengaran jarak jauh. Satu-satunya yang masih menahan diri hanyalah Ngwang.

Halayudha memandang Gendhuk Tri. Bibirnya mengguratkan kekaguman. “Jagattri, kuucapkan selamat. Tubuhmu sudah bersih dari bercak hitam. Sungguh hebat luar biasa kalian menemukan perpaduan tenaga tanah air. Aku harus membuktikan keunggulan tenaga kalian berdua. Aku harus membuktikan keunggulan jurus-jurus ciptaan Upasara Wulung. Benar-benar mengagumkan pertemuan kira sekarang ini. Kekuatan tenaga dalam yang selama ini tak dikenal, sekaligus jurus baru. Kalau yang dimainkan Klobot jelek dan besar kepala ini dijadikan ukuran, pendita busuk itu juga akan merasakan kehebatannya. Sekali lagi kuucapkan selamat. Tapi hari ini kita akan membuktikan siapa yang paling unggul.”

Tanpa mengubah nadanya, Halayudha menudingkan pedangnya ke arah Ngwang. “Kamu pendita busuk yang tak punya otak dan hati serta perasaan. Ada saatnya kamu bisa mempengaruhiku dengan ilmu sirepmu. Tapi kini, aku bisa memaksamu keluar dan tak akan memberi kesempatan untuk menghindar lagi. Aku sudah bersumpah untuk itu. Sekarang kita sudah berkumpul semua. Mau tunggu apa lagi? Siapa saja bisa mulai melawan siapa pun.”

Mada maju setindak.

“Kamu juga boleh mulai, Mada. Siapa lawan yang kamu pilih? Maaf…” Bukan sekarang saatnya beradu pendapat. Sekarang saatnya melihat siapa yang lebih ulet kulitnya dan lebih keras tulangnya. Aku memang sudah lama ingin membuktikan siapa yang sebenarnya paling hebat. Tanpa pengaruh siapa pun, aku akan melakukan ini. Biar Ngwang juga mendengar.”

Sebenarnya yang paling kuatir adalah Nyai Demang. Was-was akan keselamatan Klobot. Maka begitu melihat Klobot keheranan melihat orang-orang yang tidak dikenal bermunculan, Nyai Demang meloncat menyambar tangan Klobot. Pada saat itulah pedang Kangkam Galih menyambar.

Pertarungan telah dimulai! Kangkam Galih telah berkelebat. Dan tak akan berhenti sebelum banjir darah hingga tetes terakhir! Pedang kematian telah menyodet. Gendhuk Tri gregetan, gemas, karena Nyai Demang yang menyulut lebih cepat. Meskipun yang kemudian terlintas adalah bahaya yang sangat besar.

Serentak dengan kesadarannya, kedua tangannya bergerak cepat. Mengirimkan pukulan jarak jauh sepenuh tenaga, berusaha mengesampingkan sabetan Halayudha. Sekurangnya membelokkan arah tebasan. Yang segera terasa ketika dilontarkan.

Halayudha sudah menduga bakal masuknya serangan, juga memperhitungkan bahwa yang menghalangi pertama kali adalah Gendhuk Tri. Ketajaman memperhitungkan hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi Halayudha sama sekali tak menganggap enteng. Karena lontaran tenaga jarak jauh Gendhuk Tri bagai sapuan gelombang, yang segera terasakan, sebelum kedua tangan Gendhuk Tri menyambar dalam dua jurusan. Menyelewengkan arah pedang dan sekaligus juga menjerat kaki.

Gendhuk Tri sudah berada pada tingkatan yang setakar dengan Halayudha. Pukulan jarak jauh yang dikirimkan memang terjadi dengan seketika dan terasakan, bersamaan dengan niat, niat untuk melindungi Nyai Demang. Halayudha menjadi lebih hati-hati lagi. Pertama, arah pedang menggeser. Kedua, kakinya susah digerakkan untuk membuat gerakan baru. Seakan dikunci. Tapi yang membuatnya lebih berhati-hati lagi, karena dengan demikian pertarungan yang sesungguhnya telah dibuka. Semua yang berada dalam gelanggang akan terlibat.

Tak mengherankan, ketika Halayudha merasa ada satu pukulan aneh lain yang menyambar. Aneh karena pukulan itu seperti membelah lewat sela-sela ayunan pedangnya. Ada tenaga yang menjepit dan mengarahkan seperti tenaga dorongan dari Gendhuk Tri. Mata Halayudha sedikit membelalak, karena tidak menduga datangnya pukulan itu! Tak menduga meskipun sudah memperkirakan.

Pukulan Tunggal Tartar
PERHITUNGAN Halayudha tajam menguliti. Tenaga dalamnya sangat unggul sehingga keberadaan Pangeran Hiang pun bisa dirasakan. Bahkan Ngwang sendiri tidak nglegewa, tidak menyadari bahwa Putra Utama Pangeran Sang Hiang akan muncul mendadak. Perhitungan dari sisi mana pun, Ngwang tidak akan berkesimpulan Pangeran Sang Hiang muncul saat itu, dan menolong Nyai Demang!

Menolong Nyai Demang! Bahwa Pangeran Hiang masih ada hubungan dengan Nyai Demang Ngwang sangat mengerti. Bahwa kemudian Pangeran Hiang bisa berpaling ke wanita lain, selain Putri Koreyea, Ngwang yang dulunya selalu intim dengan Pangeran Hiang, tetap bisa mengerti. Dan menerima. Akan tetapi setelah peristiwa di mana Pangeran Hiang terkena pengaruh sirepnya yang kuat, dan pemunculannya mengecewakan Pangeran Hiang sendiri, rasa-rasanya tak akan pernah punya nyali untuk tampil kembali.

Ngwang melupakan satu hal. Jiwa ksatria yang mengalir dan hidup dalam sukma Pangeran Hiang Jiwa ksatria yang sesungguhnya, yang pada akhirnya mampu menindih dan mengesampingkan kehadirannya sebagai putra mahkota Tartar. Sebagai orang yang datang untuk menaklukkan Tanah Jawa. Ngwang bisa menilai bahwa Pangeran Hiang, seperti jawara lain yang menginjak Tanah Jawa, akan menjadi luluh dan larut sebagai kata ganti pengkhianat. Kenyataannya bisa dinilai dari segi kesetiaan utama pada Keraton. Namun di atas semua itu, jiwa ksatria Pangeran Hiang tetap berbahaya. Memancar. Dalam diri Pangeran Hiang telah terjadi perubahan yang mendasar. Pertarungan batin yang melelahkan.

Sejak pertama kali muncul di Tanah Jawa, Pangeran Hiang mengalami berbagai peristiwa yang mengguncang akar-akar penilaian yang membentuk pribadinya. Kenyataan pertama ialah ketika berhasil menawan Baginda dan menyekapnya dalam kapal Siung Naga Bermahkota. Ketika seluruh prajurit dan para ksatria menyerbu tanpa memedulikan hubungan masa lalu dengan Keraton. Nilai kesetiaan dan kepatuhan kepada Keraton yang tiada taranya.

Peristiwa berikutnya, dengan pertemuan dan gugatan hati sesaat bersama Upasara Wulung serta Gendhuk Tri. Ketulusan jiwa ksatria mereka berdua, yang menemani, yang bersahabat justru di saat-saat Pangeran Hiang merasa menemukan titik buntu dengan penderitaan Putri Koreyea. Nilai kemanusiaan yang begitu bermakna. Sehingga tanpa ragu sedikit pun, Upasara Wulung dan dirinya saling mengangkat saudara.

Peristiwa yang terjadi dengan tulus dari kehendak batin yang paling dalam itulah yang membuat Pangeran Hiang tak menghiraukan pemunculan Ngwang yang diam-diam memberikan tanda-tanda. Bahkan kemudian Pangeran Hiang merasa bersalah, karena menyembunyikan pertemuan ini dari Upasara. Sementara Upasara Wulung sendiri, tak berkurang rasa persaudaraannya meskipun terluka perasaannya.

Pangeran Hiang guncang. Bimbang. Antara tarikan Ngwang dan persaudaraan. Yang meruncing dengan kesalahpahaman kecil mengenai hubungan Nyai Demang dengan Jaghana. Ini menjadi berarti karena saat itu Pangeran Hiang sedang melepaskan ketergantungannya terhadap Ngwang. Yang kemudian dianggap menjadi jiwanya, menyisakan rasa bersalah yang menekan. Yang dalam bentuk lahiriah terjadi pada diri Putri Koreyea.

Pertarungan batin makin kalut karena Ngwang masih terus-menerus berusaha mempengaruhi dengan aji sirepnya yang sangat luar biasa keras. Akan tetapi sikap apa yang harus dipilih menjadi jelas sewaktu Nyai Demang berada dalam bahaya. Bahaya yang tidak disadari, bahaya yang dikarenakan ingin menyelamatkan seorang anak kecil. Itu sebabnya Pangeran Hiang langsung keluar dan menyamar. Mengeluarkan jurus yang dirasa aneh oleh Halayudha.

Pukulan Pangeran Hiang sebenarnya tidak terlalu aneh. Itu semata-mata karena pengerahan tenaga dalam yang dulu terbiasa tersalur dalam dua tangan, kini menderas lewat satu tangan. Sehingga yang terasa oleh Halayudha adalah pukulan tunggal, akan tetapi sekaligus bisa menjepit ujung pedangnya. Yang bisa memaksa Halayudha mundur selangkah. Baik karena tenaga dalam Pangeran Hiang yang sedikit berlawanan dengan pukulan yang biasa, maupun karena serangan Gendhuk Tri yang datang mendadak.

Keganjilan yang memaksa Halayudha menyimpan kembali serangan berikutnya, tak berarti tidak terpahami. Dengan sekali lirik, Halayudha mengetahui bahwa pukulan tunggal dari Tartar ini bisa berarti jepitan dan pukulan sekaligus. Dari satu tangan bisa mengalirkan dua kekuatan yang menyatu atau mendua.

Berarti dalam waktu yang sangat singkat, Pangeran Hiang berhasil mengatasi hambatan satu tangan yang kutung. Ini terlihat jelas, setelah menyelewengkan arah pedang Halayudha, dengan gerakan tenaga yang berasal dari tangan satu-satunya itu pula ia menarik kembali tubuh Nyai Demang. Yang melongo. Yang tak menyadari apa yang terjadi. Semuanya terjadi dalam kelebatan yang menghantam kesadarannya secara serentak.

Tarikan pada Klobot telah menyulut pertarungan yang sesungguhnya, menyeretnya ke dalam bahaya yang terbesar. Karena sabetan pedang Halayudha langsung menyambar. Hanya karena tertahan pukulan seketika dari Gendhuk Tri ada jeda waktu di mana Pangeran Hiang mengerahkan pukulan tunggal. Ini sambaran kesadaran yang lain lagi. Yang membuatnya terkesima.

Antara percaya dan berharap itu kenyataan yang sesungguhnya. Pangeran Hiang! Kalau Dewa Maut yang pernah berhubungan dengannya di dalam gua bawah tanah dulu itu bangkit dari kuburnya, Nyai Demang tak akan segentar sekarang ini. Pangeran Hiang! Yang menyelamatkan jiwanya.

“Om. Om. Om.” Ngwang mendesis bagai ular berbisa menyambar semua racun dari tubuhnya. Tubuhnya seperti bergoyangan, kakinya bergerak-gerak menyeimbangkan pergolakan batin, sementara tasbih di tangannya mengeluarkan bunyi karena saling beradu. Pergolakan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pergolakan dari sumber batin yang terdalam.

Pemunculan Pangeran Hiang merupakan pertanda bahwa hubungannya selama ini dengan dirinya telah putus. Bahwa akhirnya Pangeran Hiang memilih berada bersama para ksatria, dan meniadakan kemungkinan sebagai putra mahkota. Ini sebabnya kenapa ia sampai mengeluarkan seruan tiga kali berturut-turut.

Hanya Ngwang yang menyadari betapa sebagian usahanya telah gagal. Usaha seumur hidup untuk mempelajari dan menjatuhkan Tanah Jawa, persekutuan yang menyatu dengan Pangeran Hiang, tak ada bekasnya lagi. Kalau sebelumnya Pangeran Hiang masih ragu sehingga masih mau menemui, kini tak punya makna.

Menyakitkan. Itu yang membuat tubuhnya bergoyang, biji tasbihnya saling beradu. Karena batas penguasaan dirinya dilampaui kenyataan yang paling tak dibayangkan. Putusnya hubungan persaudaraan. Selesainya masa lalu.

Ini jauh lebih mengerikan dibandingkan mati dengan cara mengenaskan. Karena bagi Ngwang, dalam dirinya mengalir darah kesetiaan yang tiada tara dengan Keraton Tartar. Sebagai pendita, Ngwang adalah pendita yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Keraton Tartar. Yang mewujud dalam diri Pangeran Hiang. Yang akan ia layani apa pun yang diminta, tanpa perlu diucapkan.

Kini hubungan itu tak ada lagi. Tak ada kebanggaan yang dipamerkan di depan Pangeran Hiang, tak ada perasaan-perasaan yang menjadi perwujudan dirinya. Ngwang mendesis. Seolah menenggelamkan diri dalam situasi terkena sirep, sehingga mampu melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan pada suasana yang biasa. Tak ada jalan mundur. Melanjutkan ke arah kemenangan atau hancur seperti jawara-jawara Tartar sebelumnya. Tak ada pilihan lain.

Masih menggeletar suaranya, bagai lengkingan binatang buruan yang masuk jebakan. Pangeran… Pangeran Hiang berdiri tegak, tidak menoleh, tidak melirik. Tapi dagunya seperti membuat gerakan anggukan pendek. Satu lengan baju yang gedombrongan menjuntai kosong. Bergerak oleh desakan angin.

“Pangeran Sang Hiang…” Hanya itu yang bisa diucapkan. Selebihnya terkunci dalam tenggorokan.

Putus Tali Kandungan
NGWANG masih tergetar hebat. Dari tenggorokan dan hidung keluar bunyi yang memualkan, menjijikkan. Bunyi seperti menarik hidung yang tertahan, bunyi sepuluh ekor babi yang digorok. Desisan bibirnya makin cepat. Dan mencapai puncaknya ketika menyemprotkan sesuatu. Meluncur. Tubuh Ngwang turun. Rata dengan tanah. Lalu naik kembali. Seperti semula. Wajahnya sangat dingin.

“Tali kandungan telah diputus. Dunia perut berbeda dengan dunia mulut. Tali kandungan telah ditebas. Tak ada maaf, tak ada penyesalan, tak ada balas. Tali kandungan telah tak menalikan. Kehidupan sekarang dan kematian yang diharapkan. Tali kandungan, tujuh keturunan.”

Kalimat Ngwang mbrengengeng, mendesah antara terdengar, sebagai japa mantra atau doa, dan gerutuan. Hanya Pangeran Hiang serta Nyai Demang yang bisa menangkap kata-kata Ngwang. Akan tetapi, siapa pun yang melihat dan mendengar, mengetahui putusnya hubungan yang selama ini saling mengikat antara Pendita Ngwang dan Pangeran Hiang. Bahwa putusnya tali hubungan itu sampai berlanjut pada kehidupan sesudah kematian, pada tujuh turunan, menyangatkan apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

Bahwa saat Ngwang memuntahkan masa lalunya begitu berpengaruh, terlihat jelas dari semburan yang dimuntahkan begitu kental, serta tubuhnya yang turun hingga rata dengan tanah. Namun sebagai jawara utama, sebagai tokoh yang sangat diunggulkan, penguasaan diri Ngwang tetap kuat. Bisa berdiri tenang kembali di atas tanah. Tubuhnya tegak. Tasbihnya tak lagi beradu.

Sebenarnya pergolakan yang sama juga terasakan oleh Pangeran Hiang. Hanya karena kekuatan batinnya lebih mantap, sikapnya tak banyak terpengaruh. Hanya wajahnya makin dingin membeku, tak mengisyaratkan satu perasaan pun. Semua kejadian berlangsung sangat cepat. Renungan dan pertimbangan dalam hati saling berkelebat.

Nyai Demang sendiri belum sepenuhnya bisa menangkap perubahan sikap Pangeran Hiang. Sorot matanya menjadi suram dan cemas melihat sikap Pangeran Hiang yang membatu. Mada mundur selangkah. Nala mengikuti. Demikian juga Naka.

Klobot meleletkan lidah. Baginya ini merupakan pemandangan yang sangat menarik. Ngwang yang tidak menginjak tanah, seorang yang disebut Pangeran berdiri teguh dengan satu lengan baju kosong melambai.

“Semua telah muncul. Mana Upasara Wulung? Apakah ksatria lelananging jagat ingin menemukan kemenangan terakhir dengan curang? Percuma gelaran yang begitu menggetarkan jagat kalau ternyata akan berlindung di balik dalih hanya akan bertarung dalam pertarungan lima puluh tahun. Cara busuk untuk mengamankan gelarnya. Tapi tak akan tahan lama. Sekarang saatnya untuk dibuktikan. Aha, Jagattri, kamu sudah pantas berada dalam gelanggang. Pangeran Hiang, kamu pun tak terlalu buruk dengan sepotong tangan yang tersisa. Kita telah mulai. Bersiaplah!”

Meskipun seperti memberi aba-aba, Halayudha bergerak lebih cepat. Sabetan pedangnya lebih dulu menyambar sebelum separuh kalimatnya selesai. Torehan angin tajam menyambar dengan tenaga penuh ke arah Gendhuk Tri, dan dilanjutkan dengan tusukan ke arah Pangeran Hiang. Keduanya berada di tempat yang berjauhan. Akan tetapi Halayudha bisa menyerang dengan satu gerakan. Bagi Halayudha melibatkan semua ke dalam pertarungan lebih menguntungkan dibandingkan jika main satu lawan satu.

Dalam keadaan yang paling genting, Halayudha masih bisa memanfaatkan keunggulannya. Bukan hanya dalam pengertian memecah-belah kekuatan yang bisa menyatu, melainkan dengan semua melawan semua, Halayudha memperoleh dua keuntungan. Yang pertama, ilmunya memang terdiri atas berbagai aliran yang bisa dikuasai dengan baik. Semakin serabutan jalannya pertarungan, semakin menjadi kembangan yang dikuasai.

Yang kedua, dalam pertarungan semua lawan semua, imbangan kekuatan akan terbagi. Jika dirinya menyatroni satu lawan yang terdesak, berarti lebih cepat bisa melenyapkan lawan. Toh tak akan ada yang menyesali kalau Halayudha bersikap demikian. Tak akan ada yang menyalahkan bersikap demikian. Tak akan ada yang menyalahkan mengambil keuntungan dengan mengeroyok. Walau sebenarnya Halayudha tak peduli sebutan apa yang dilekatkan pada dirinya.

Jurus pertama sudah langsung menyeret Gendhuk Tri dan Pangeran Hiang. Gerakan Kangkam Galih yang menyambar, menorehkan dua jurus yang berbeda. Bisa dibayangkan betapa kuatnya, kalau kesiuran sabetan itu saja bisa membuat sebatang dahan yang cukup besar terpotong. Dan bisa membeset kulit Nala. Jauh jaraknya, tapi irisan anginnya saja sanggup melukai kulit! Bisa dibayangkan kalau berada dalam jangkauan tikaman.

JILID 89BUKU PERTAMAJILID 91