Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 88

Merasa tak ada sesuatu yang harus dikerjakan. Tak ada sesuatu yang membuatnya gairah. Padahal alangkah menyenangkan semasa bergulat dengan Praba Raga Karana dulu itu. Masa-masa singkat penuh dengan guncangan perasaan. Kembali datar. Kembali ke Halayudha. Satu-satunya tokoh yang membuatnya berlutut, yang bisa diajak bicara. Yang sekarang ini pastilah sedang mencari Upasara Wulung.

Raja tak sabar menunggu. Segera memerintahkan agar disiapkan prajurit istimewa untuk mengawalnya. Keinginannya hanya satu. Mencari Halayudha. Karena hanya itulah yang bisa mengisi hidupnya yang datar.

“Siapkan semuanya. Ingsun ingin segera berangkat hari ini juga!”

Perintah yang mendadak bukan sesuatu yang istimewa. Memang demikianlah yang biasa dan bisa terjadi. Hanya saja kali ini Jabung Krewes merasa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Raja sehubungan dengan tugasnya mengawasi dan meneliti Tunggadewi serta Rajadewi.

“Ingsun tak mau mendengar.”

Asmara di Kaputren
PADAHAL kalau Raja meluangkan waktu dua tarikan napas lebih lama, kisah bisa berubah. Karena Jabung Krewes menemukan sesuatu yang berarti. Barangkali sesuatu yang untuk pertama kalinya bisa ditemukan dalam menjalankan tugas. Dengan cara yang sangat sederhana.

Sewaktu Raja memerintahkan memeriksa apa yang terjadi di kaputren, Jabung Krewes hanya memanggil ketiga menantunya. Dua menantu yang pertama segera menceritakan panjang-lebar bahwa selama ini kaputren menyimpan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Pergantian dayang-dayang yang melayani kaputren lebih sering dari biasanya. Jabung Krewes segera bertindak. Dua kali empat puluh dayang yang melayani Tunggadewi dan Rajadewi dikumpulkan. Diperiksa satu per satu dengan pengawasan langsung.

“Kalau kamu menceritakan yang sesungguhnya terjadi, akan menerima hadiah. Kalau berdusta, seluruh keluargamu yang masih hidup akan habis.”

Ancaman sederhana yang cukup keras. Tapi sedikitnya juga mengherankan Mahapatih Jabung Krewes. Para dayang yang sekian banyak jumlahnya, boleh dikatakan penyaringannya dilakukan oleh prajurit yang setia padanya. Atau bahkan juga dari tiga menantunya ikut menentukan langsung. Sehingga boleh dikatakan mereka semua adalah orang-orang sendiri. Toh demikian tak lebih dari lima dayang yang mengatakan bahwa selama ini memang sering ada barang hantaran dari luar. Yaitu dari Pangeran Anom Angon Kertawardhana dan Pangeran Muda Wengker.

Selebihnya memilih bungkam. Ini agak membingungkan Mahapatih Jabung Krewes. Kebungkaman ini bisa jadi karena kesetiaan yang dalam, meskipun bisa juga karena tidak mengetahui masalah sebenarnya. Akan tetapi apa pun yang menjadi alasan, cukup bagi Jabung Krewes untuk menindak 75 dayang yang ada. Semuanya dipecat, dan tidak diperkenankan mengabdi Keraton selama tujuh turunan. Bahkan mereka semua, tanpa kecuali, akan terus diperiksa, sehingga ditempatkan dalam suatu tempat tersendiri.

Langkah berikutnya sudah jelas. Malah hari itu pula Mahapatih memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. Secara tata krama Keraton, sebenarnya agak sulit bagi Mahapatih Jabung Krewes untuk berkuasa memanggil kedua pangeran anom. Karena meskipun dirinya sebagai mahapatih, para pangeran anom memiliki keistimewaan posisi dalam Keraton.

Mereka semuanya hanya bisa dipanggil oleh Raja. Akan tetapi karena sejak lama Raja menganggap tidak ada suatu yang istimewa bagi para pangeran anom, yang suatu saat bisa menjadi putra mahkota, Jabung Krewes berani bertindak. Memanggil Pangeran Angon serta Pangeran Wengker menghadap padanya. Sedikitnya ini menaikkan pamornya. Mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai mahapatih. Dan ternyata, keesokan harinya kedua pangeran anom telah menunggu di kepatihan.

“Agak kaget saya mendengar panggilan Mahapatih yang sangat mendadak.”

“Saya sendiri agak kaget mengetahui apa yang dilakukan Pangeran Anom. Selama ini rasanya semuanya sudah jelas bahwa apa yang disabdakan Raja harus dipatuhi tanpa kecuali oleh siapa pun, kecuali oleh Raja sendiri.” Mahapatih Jabung Krewes sengaja menekan Pangeran Wengker.

“Kesalahan apa yang kami lakukan, Mahapatih?”

“Berhubungan dengan putri sekar kedaton. Yang berarti melanggar sabda Raja.”

Wajah Pangeran Angon tetap tak berubah. Wajah Pangeran Wengker menjadi dingin.

“Atas nama Raja, saya akan melaporkan apa yang saya ketahui. Terserah kehendak dan kemurahan hati Raja.”

“Mahapatih…” Suara Pangeran Angon terdengar tetap lembut. “Rasa-rasanya kita semua tidak harus gegabah dalam hal yang menyangkut sabda Raja. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Mahapatih katakan.”

“Kalau Pangeran Angon ingin membela diri, tolong sampaikan langsung kepada Raja. Saya berpegang pada apa yang saya ketahui.” Mahapatih Jabung Krewes mendongak dan melemparkan senyum tipis.

“Apakah kita tidak bisa berbicara sebelum Mahapatih melaporkan kepada Raja?”

“Tergantung apa yang Pangeran tawarkan kepada saya.”

“Mahapatih, kami berdua hanya ingin bercerita mengenai suatu yang belum lama ini berlangsung di Keraton. Bahwa ketika terjadi keributan di mana Senopati Kuti menduduki Keraton, kami berdualah yang pertama kali berada di barisan terdepan. Ini agak berbeda dengan Mahapatih yang tetap berada di Keraton.”

Senyum Jabung Krewes makin melebar. “Pangeran keliru. Keliru besar kalau mengingatkan jasa Pangeran dalam usaha pengembalian Raja ke takhta setelah terlunta-lunta di pengasingan. Semua mengetahui, semua melihat sendiri, bahwa saya Mahapatih Jabung Krewes tidak berbuat apa-apa saat pemberontakan terjadi, dan juga saat penumpasan berlangsung. Saya tak mempunyai sumbangan apa-apa. Tetapi Pangeran juga masih melihat sekarang ini, bahwa saya masih tetap menjadi mahapatih. Tak ada yang lebih berjasa dalam pengembalian takhta selain prajurit kawal raja yang bernama Mada. Beserta dengan pengawal yang jumlahnya tak seberapa, Mada berhasil menghimpun dan menyatukan seluruh kekuatan. Mada. Tetapi Pangeran Wengker lebih mengetahui apa yang terjadi dengan Mada sekarang ini. Dikirim ke Daha, ke tempat kediaman Pangeran Wengker untuk mengabdi kepada Arya Tilam. Itu yang terjadi. Itulah kenyataannya. Tak ada artinya menggugat jasa yang telah diberikan. Tak ada artinya mempersoalkan yang dianggap tidak berjasa. Rasanya kita semua paham mengenai hal itu.”

Pangeran Wengker mengangguk dalam. “Apa yang Mahapatih kehendaki dari saya?”

Dada Mahapatih mengembang. Berisi kebanggaan. Terpompa kemenangan. Untuk pertama kalinya kembali bisa dirasakan keunggulannya sebagai mahapatih. Sebagai orang yang bisa membuat orang lain memandang hormat. Orang lain itu tak tanggung-tanggung: pangeran anom!

“Saya tak menginginkan apa-apa lagi. Sebagai mahapatih, saya telah memiliki semuanya. Sekarang saya tidak akan meminta apa-apa. Sampai saatnya nanti….”

“Saya akan selalu mengingat hal ini, Mahapatih.”

Inilah kemenangan utama Mahapatih Jabung Krewes. Ia merasa bisa menjerat dan mengikat erat kedua pangeran anom. Yang bukan tidak mungkin di belakang hari akan terpaksa membalas utang budi. Inilah kemenangan utama, karena Mahapatih tetap bisa melaporkan kepada Raja! Dengan demikian ada dua hasil besar yang diperoleh.

Ikatan utang budi dari Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, dan sekaligus menaikkan pamornya di mata Raja. Kalaupun kemudian Raja memutuskan untuk memberi hukuman, dirinya tak merasa kehilangan apa-apa. Nyatanya Raja tidak mempersoalkan sama sekali. Ini berarti satu jasa besar telah ditanam di Keraton Singasari dan Daha, tanpa berbuat suatu apa.

“Telah tiba saatnya saya memainkan peranan,” kata Jabung Krewes pada dirinya sendiri. “Walau barangkali tidak sehebat Halayudha, akan tetapi sebagai manusia mereka akan menghormatiku. Tinggal meneruskan. Telah tiba saatnya membalas dendam kepada yang selama ini meremehkanku.”

Semangat kemenangan merasuk dalam diri Jabung Krewes. Kini, dalam mengawal Raja ke Perguruan Awan, pikirannya bekerja. Menyusun langkah demi langkah untuk memastikan kekukuhan posisinya. Yang segera bisa ditekan adalah Putri Tunggadewi serta Rajadewi. Keduanya merupakan mutiara yang paling berharga, yang sekarang tidak mempunyai pelindung sama sekali. Padahal banyak hal bisa dilakukan untuk memperoleh pengaruh yang lebih luas.

Sekurangnya, selama ini masih banyak yang menaruh rasa hormat yang dalam dan tulus. Masih banyak pengikut setia yang bersedia mengorbankan apa saja bagi kedua putri tersebut. Apakah itu karena dasar berkembangnya daya asmara seperti yang dialami Pangeran Angon serta Pangeran Wengker, atau karena kesetiaan kepada darah keturunan Baginda, bagi Jabung Krewes tak ada bedanya.

“Sekarang saatnya,” desis Jabung Krewes dalam hati. Yang bisa membuatnya lebih bangga adalah karena sebentar lagi istrinya tak akan memandangnya sebelah mata lagi. Kehormatan dalam keluarga, yang selama ini tercampakkan, akan pulih kembali. Kebanggaan sebagai suami, seorang yang dihormati luar-dalam, menjadi sempurna.

Kecemasan di Pendakian
SEMANGAT yang menggelora dalam diri Mahapatih Jabung Krewes, di satu pihak mendatangkan gairah baru yang selama ini tenggelam dalam kemurungan. Akan tetapi di pihak lain juga mendatangkan kecemasan. Untuk pertama kalinya, Jabung Krewes kuatir jika dalam menjalankan tugas bersama kali ini gagal. Yang berarti usianya tidak panjang.

Sesuatu yang tadinya tak terpikirkan sama sekali. Sesuatu yang dulu dijalani begitu saja. Bahkan di saat pemberontakan Kuti, Jabung Krewes seleh gegaman, meletakkan senjata tanpa peduli bagaimana akhirnya. Tak ada semangat melawan. Atau bahkan bertahan. Kalau ada prahara yang bakal melindasnya, diterimanya tanpa menahan napas.

Kali ini justru berbeda. Sikapnya menjadi sangat hati-hati. Alasan yang bisa dimengerti, karena yang didatangi sekarang ini adalah “kedung naga, sarang harimau, kandang demit” yang kelewat gawat. Rasanya di seluruh jagat ini tak ada tempat yang menimbulkan kecemasan lebih berat dari Perguruan Awan.

Setelah Raja dengan terang-terangan menyabdakan bahwa Perguruan Awan-dengan Upasara Wulung dan semua penghuninya-adalah musuh Keraton, keadaannya bisa menjadi menakutkan. Dalam hal ilmu silat, Upasara Wulung belum ada tandingannya. Seluruh prajurit Keraton bergabung menjadi satu sekalipun, tak akan bisa melukai bayangannya. Bahwa Upasara tak akan mendahului menyerang, itu sedikit menenteramkan.

Akan tetapi kalau belum-belum Raja memerintahkan penghancuran, bukankah Upasara Wulung akan mempertahankan? Yang seperti ini sangat mungkin, mengingat Raja bisa mengganti perintah yang berbeda pada hari yang sama. Kecemasan yang tak bisa diusir, tak bisa ditutup-tutupi.

“Akhirnya kamu merasakan ketakutan itu, Jabung Krewes. Itu tandanya kamu sedang mendaki. Sedang menyongsong angin yang lebih besar, karena kamu merasa tinggi. Kamu sudah merasa ayub-ayuben, takut jatuh.”

“Raja sangat tepat melihat hamba.”

“Dalam banyak hal aku dikatakan tak tahu apa-apa, akan tetapi sesungguhnya aku mengerti lebih banyak dari yang diduga para Dewa. Jabung Krewes, apa yang kamu takutkan?”

Jabung Krewes terdiam sejenak.

“Barangkali ini juga kesempatan terakhir bagimu untuk bisa menjelaskan hal itu. Aku juga tak tahu apa yang akan kutemui di Perguruan Awan. Tetapi rasa-rasanya ini perjalananku yang terakhir ke tempat itu.”

“Sembah bagi Raja. Hamba memang cemas. Pertama, karena menurut kabar pawarta Perguruan Awan sedang panas. Semua penghuninya menggeliat. Kedua, karena Raja meninggalkan Keraton.”

“Pikiranmu tak terlalu cethek, tak terlalu dangkal. Kenapa kalau aku meninggalkan Keraton?”

“Hamba masih was-was. Sekarang ini, para dharmaputra boleh dikatakan telah rata dengan tanah. Kalaupun tersisa, hanya Senopati Banyak yang tak berdaya, serta Senopati Tanca yang berdiam diri. Namun sesungguhnya bukan tidak mungkin akan ada yang memanfaatkan kekosongan Keraton.”

“Siapa mereka itu?”

“Mohon beribu ampun, Raja. Hamba barangkali keliru besar. Namun para pangeran anom bukan tidak mungkin telah menyusun rencana tersendiri, mengingat Raja Sesembahan sampai hari ini…”

Di dalam joli yang mengangkut Raja mengelus jakunnya. Mahapatih Jabung Krewes yang berkuda agak di sebelah belakang tidak berani memperhatikan, akan tetapi mengetahui bahwa Raja mempertimbangkan kalimatnya.

“Para pangeran anom? Siapa yang kamu maksudkan? Angon Kertawardhana? Wengker?”

“Maaf, Raja Sesembahan. Kedua pangeran anom, dari Daha dan Singasari, memang paling menonjol. Akan tetapi keempat pangeran anom yang lain sebenarnya mempunyai alasan darah keturunan yang sama.”

“Selama ini aku tidak mendengar mereka. Angon tak akan berani. Wengker apalagi.”

“Beribu ampun, Raja. Sewaktu Sri Baginda Raja yang Mulia diserang mendadak oleh Raja Muda Gelang-Gelang, juga karena tidak menduga akan datangnya pengkhianatan. Dengan kata lain, justru yang tak terduga yang bisa menjadi bahaya.”

“Apa lagi?”

“Di kaputren masih ada Putri Tunggadewi serta Rajadewi.”

“Aku sudah menguasai penuh. Hanya aku tak ingin takhta ini berlanjut dari keturunan langsung Sri Baginda Raja yang nyatanya masih selalu dipuja. Aku ingin darah keturunan itu menetes langsung dariku. Tak soal benar, Krewes. Tak soal benar. Para pangeran anom juga tidak. Terlalu mudah memecah mereka. Aku justru akan membuat satu gerakan yang membuyarkan mereka. Aku ingin mempermainkan nasib dan harapan mereka. Kalau salah satu dari mereka kuberi angin, akan terjadi pergeseran dengan sendirinya. Mereka akan bertengkar dengan sendirinya. Saling iri, saling lihat kiri-kanan, dan merasa tak puas. Menurut kamu siapa yang pantas, Krewes?”

“Hamba tak bisa menangkap kearifan Raja.”

“Bodoh. Ini hal yang gampang. Ada enam pangeran anom yang mempunyai harapan ingin bisa meneruskan takhta seandainya Ingsun ini tidak memiliki putra mahkota. Dari keenam ini, Angon kelihatan mendongak, meskipun malu-malu. Wengker akan selalu menjadi bayangannya. Masih ada empat. Di antara empat ini aku ingin memberi angin, Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka. Mengerti?”

“Hamba baru bisa menangkap sebagian kecil.”

“Siapa dari keempat pangeran anom yang paling bisa membuat iri?”

“Sumangga Ingkang Sinuwun….”

“Aku sudah menduga itu jawabanmu. Marma Mataun. Mataun punya sikap sesongaran, pandangan matanya mendelik meskipun dagunya menghadap ke bawah. Krewes, tugasmu hanyalah mengingatkan aku, agar aku suatu saat memanggil Mataun ke Keraton. Hanya Mataun sendiri.”

“Hamba akan mengingat-ingat.”

“Satu hal lagi, Krewes.” Mengapa tiba-tiba kamu mencemaskan kaputren?”

“Selama ini… selama ini, menurut perhitungan hamba, hanya kaputren yang tidak mempunyai kemungkinan bisa mendatangkan bahaya. Tetapi kini hamba merasakan getaran yang tidak enak dari sana. Maaf, Raja Sesembahan. Rasa-rasanya kedua putri sekar kedaton…”

“Kamu kira masih pantas mereka disebut bunga Keraton? Hgh! Hgh! Aku mengerti maksudmu, Krewes. Kamu mau mengatakan bahwa mereka berdua yang masih bisa disebut bunga Keraton itu tak sepenuhnya menerima kehadiranku. Bagiku sama saja. Sama. Hgh!!! Aku sudah meratakan dengan tanah. Segala kehormatan yang mereka miliki sudah tak ada lagi. Tak ada alasan untuk kuatir mengenai hal itu. Sejak masih kanak-kanak, aku sudah tahu hal itu. Sebelum mereka menjadi besar, aku telah menghancurkan. Hanya memang kamu harus memperhitungkan. Karena mereka berdua inilah yang sekarang bisa menghubungkan dengan Simping, tempat bekas Permaisuri Rajapatni bertapa. Yang akan tetap dianggap sesembahan, dianggap tokoh yang paling dihormati. Karena mereka berdua inilah yang sekarang bisa menghubungkan dengan Perguruan Awan. Krewes, aku tak akan menyisakan sedikit pun. Akan kupancing agar bekas Permaisuri Rajapatni berhenti dari tapanya, dan ikut cawe-cawe, ikut campur tangan urusan Keraton, sehingga aku mempunyai alasan untuk meratakan dengan tanah. Tak akan ada sisanya lagi. Sampai kapan pun. Cara memancing beliau tak terlalu sulit, kalau kamu memiliki sepersepuluh kemampuan Halayudha. Yang menjadi tanda tanya, kenapa kamu yang bodoh itu tidak memikirkan kemungkinan menggunakan dua putri itu untuk menjebak Upasara Wulung atau para ksatria yang lain. Bukankah ketika aku mengumumkan akan menikahi secara resmi timbul pergolakan? Kenapa tidak kita pakai cara itu saja? Aku yakin itu jaring yang tetap akan mengena!”

Tikaman di Kaputren
PERHITUNGAN Raja tak meleset sedikit pun. Karena di kaputren terjadi pergolakan yang tak menentukan kelangsungan kejayaan Raja di belakang hari. Andai saja saat itu Raja mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sayangnya, Mahapatih Jabung Krewes yang merasa mengetahui dan menggenggam rahasia, juga hanya mengetahui sepotong kecil.

Yaitu tentang Pangeran Anom Angon serta Pangeran Muda Wengker yang diam-diam menjalin hubungan dengan kaputren. Dengan mengganti para dayang, Jabung Krewes merasa sudah menguasai keadaan. Kesempatan inilah yang digunakan Pangeran Angon maupun Pangeran Wengker. Keduanya membulatkan tekad untuk menyusup ke dalam kaputren. Justru saat Raja jengkar, atau meninggalkan Keraton.

Bagi Jabung Krewes agak sulit membayangkan bagaimana amukan daya asmara sudah membakar hangus kesadaran kedua pangeran anom. Yang lebih memanaskan lagi ialah karena kedua pangeran anom merasa mendapat jawaban dari kedua putri. Kirimannya selama ini diterima dengan baik. Tidak ada tanda-tanda dikembalikan.

Berarti satu langkah utama telah dimenangkan. Maka keduanya memutuskan menemui secara langsung. Dengan menyamar sebagai prajurit kawal, keduanya menyusup masuk. Melewati kori butulan, pintu kecil, keduanya memasuki kaputren. Hanya dengan penerangan sinar rembulan, Pangeran Angon berjalan di depan. Pangeran Wengker mendampingi.

Para dayang utama telah disingkirkan dengan diam-diam. Hanya tinggal beberapa dayang yang memang ditugaskan mendampingi tak lebih dari satu tombak. Memasuki kamar kaputren, Pangeran Angon bersiaga. Itu yang menyelamatkan jiwanya. Karena dayang yang tugur berjaga sambil bersila di depan pintu, mendadak mengayunkan tangan dengan gerakan cepat sekali.

Wengker yang berada di belakang menusuk dengan tombak, apa pun sasaran yang bisa menahan serangan kedua. Pangeran Angon mengaduh sambil memegangi pundaknya. Sebaliknya, penyerang juga tak menduga kecepatan Pangeran Wengker bereaksi. Sehingga untuk beberapa kejap tertahan. Tapi hanya satu tarikan napas. Pada tarikan napas berikutnya, keempat bayangan saling tubruk dengan serangan mematikan.

Pangeran Angon dan Pangeran Wengker sadar bahwa yang menyerang tiba-tiba ternyata bukan dayang. Melainkan dua orang yang menyamar sebagai dayang. Yang jelas dua-duanya cukup berumur. Dan dua-duanya merupakan pasangan. Semuanya baru menjadi jelas, ketika ada satu bayangan yang masuk ke tengah dan mengibaskan tangan. Wengker, Angon, dan dua bayangan penyerang serta-merta terjungkal.

Tanpa bisa bangun lagi. Karena balung kodok, atau tulang ekor, menghantam lantai. Satu kibasan yang luar biasa. Penuh tenaga keras, kuat, tapi tidak dikerahkan untuk mematikan. Cukup untuk memusnahkan kekuatan sementara. Sebab benturan pada balung kodok, menyengat semua saraf yang ada.

“Ksatria sejati, angin apa yang menyertai ksatria sehingga datang ke kaputren?”

Bayangan itu menunduk hormat. Di pundaknya seperti terpanggul seseorang yang menggelendot lemas.

“Maaf, Mpu Tanca yang terhormat. Saya sama sekali tak berniat lancang masuk kaputren. Saya memang ingin sowan kepada Mpu serta Nyai Makacaru yang mulia.” Suaranya mantap, mendasar, dan enak di telinga.

Pangeran Angon sejenak lupa pundaknya yang perih. Matanya tak salah menangkap ksatria gagah yang dikagumi. Upasara Wulung yang digelari ksatria lelananging jagat, yang memperlihatkan keunggulan dalam pertarungan utama di depan Keraton. Luar biasa gagah dan berwibawa.

Pangeran Wengker juga merasakan getar kewibawaan yang sama. Hanya sedikit terganggu dengan teka-teki yang muncul secara tiba-tiba. Siapa anak kecil yang berada dalam gendongannya? Teka-teki kedua yang sama membingungkan ialah bahwa penyerangnya adalah Mpu Tanca serta istrinya, Nyai Makacaru. Bagaimana mungkin keduanya bersatu-padu menyerang seketika?

“Ksatria yang gagah, pujaan para ksatria. Apakah yang membuat saya yang tua, pikun, dan tak mengerti kiblat ini, masih cukup berharga untuk ditemui?”

Nyai Makacaru membuka setagennya, memberikan obat penawar agar diborehkan, diurapkan, ke luka Pangeran Angon. Pangeran Angon segera mengikuti apa yang diisyaratkan Nyai Makacaru. Pangeran Wengker masih bersila dalam keadaan siaga.

“Anak saya yang bernama Cubluk ini menderita suatu…” Upasara Wulung tidak melanjutkan kalimatnya.

Mpu Tanca menggeleng. Helaan napasnya menyayat. Matanya terpejam lama. Tangannya berusaha menyentuh tangan Cubluk yang kini terlelap dalam pangkuan Upasara Wulung. Nyai Makacaru memejamkan mata, bersemadi, dan melakukan hal yang sama. Memegangi nadi tangan Cubluk. Kemudian pindah ke kuku ibu jari kaki Cubluk. Disusul helaan napas yang berat. Dan teriakan lolongan yang panjang. Hingga seluruh kaputren seakan terbangun karenanya. Nyai Makacaru muntah hingga mata, telinga, dan hidungnya mengeluarkan air.

Mpu Tanca gemetar. Saat itu terdengar langkah kaki perlahan. Putri Tunggadewi melangkah keluar dari peraduannya. Disusul Rajadewi. Putri Tunggadewi tampak bisa segera menguasai diri, meskipun alis matanya sedikit terangkat naik. Meskipun sama sekali tak mengira bahwa di depan kamar peraduannya ada begitu banyak manusia yang tak dikenal. Bahkan akhirnya Putri Tunggadewi ikut bersila.

“Selamat datang, Paman Upasara….”

Upasara mengangguk pendek. Wajahnya masih membeku. Mpu Tanca masih tersengal-sengal napasnya. Baru kemudian mereda. Tubuhnya basah oleh keringat. Tangan dan suaranya gemetar hingga ke ulu hati.

“Dewa, kutuklah saya yang tak berguna ini. Saya tak bisa apa-apa.”

Nyai Makacaru bersandar lemas ke tiang. Pandangannya menerawang kosong.

“Maaf, Mpu Tanca serta Bibi Makacaru yang mulia… Saya hanya merepotkan.”

JILID 87BUKU PERTAMAJILID 89

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 88

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 88

Merasa tak ada sesuatu yang harus dikerjakan. Tak ada sesuatu yang membuatnya gairah. Padahal alangkah menyenangkan semasa bergulat dengan Praba Raga Karana dulu itu. Masa-masa singkat penuh dengan guncangan perasaan. Kembali datar. Kembali ke Halayudha. Satu-satunya tokoh yang membuatnya berlutut, yang bisa diajak bicara. Yang sekarang ini pastilah sedang mencari Upasara Wulung.

Raja tak sabar menunggu. Segera memerintahkan agar disiapkan prajurit istimewa untuk mengawalnya. Keinginannya hanya satu. Mencari Halayudha. Karena hanya itulah yang bisa mengisi hidupnya yang datar.

“Siapkan semuanya. Ingsun ingin segera berangkat hari ini juga!”

Perintah yang mendadak bukan sesuatu yang istimewa. Memang demikianlah yang biasa dan bisa terjadi. Hanya saja kali ini Jabung Krewes merasa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Raja sehubungan dengan tugasnya mengawasi dan meneliti Tunggadewi serta Rajadewi.

“Ingsun tak mau mendengar.”

Asmara di Kaputren
PADAHAL kalau Raja meluangkan waktu dua tarikan napas lebih lama, kisah bisa berubah. Karena Jabung Krewes menemukan sesuatu yang berarti. Barangkali sesuatu yang untuk pertama kalinya bisa ditemukan dalam menjalankan tugas. Dengan cara yang sangat sederhana.

Sewaktu Raja memerintahkan memeriksa apa yang terjadi di kaputren, Jabung Krewes hanya memanggil ketiga menantunya. Dua menantu yang pertama segera menceritakan panjang-lebar bahwa selama ini kaputren menyimpan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Pergantian dayang-dayang yang melayani kaputren lebih sering dari biasanya. Jabung Krewes segera bertindak. Dua kali empat puluh dayang yang melayani Tunggadewi dan Rajadewi dikumpulkan. Diperiksa satu per satu dengan pengawasan langsung.

“Kalau kamu menceritakan yang sesungguhnya terjadi, akan menerima hadiah. Kalau berdusta, seluruh keluargamu yang masih hidup akan habis.”

Ancaman sederhana yang cukup keras. Tapi sedikitnya juga mengherankan Mahapatih Jabung Krewes. Para dayang yang sekian banyak jumlahnya, boleh dikatakan penyaringannya dilakukan oleh prajurit yang setia padanya. Atau bahkan juga dari tiga menantunya ikut menentukan langsung. Sehingga boleh dikatakan mereka semua adalah orang-orang sendiri. Toh demikian tak lebih dari lima dayang yang mengatakan bahwa selama ini memang sering ada barang hantaran dari luar. Yaitu dari Pangeran Anom Angon Kertawardhana dan Pangeran Muda Wengker.

Selebihnya memilih bungkam. Ini agak membingungkan Mahapatih Jabung Krewes. Kebungkaman ini bisa jadi karena kesetiaan yang dalam, meskipun bisa juga karena tidak mengetahui masalah sebenarnya. Akan tetapi apa pun yang menjadi alasan, cukup bagi Jabung Krewes untuk menindak 75 dayang yang ada. Semuanya dipecat, dan tidak diperkenankan mengabdi Keraton selama tujuh turunan. Bahkan mereka semua, tanpa kecuali, akan terus diperiksa, sehingga ditempatkan dalam suatu tempat tersendiri.

Langkah berikutnya sudah jelas. Malah hari itu pula Mahapatih memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. Secara tata krama Keraton, sebenarnya agak sulit bagi Mahapatih Jabung Krewes untuk berkuasa memanggil kedua pangeran anom. Karena meskipun dirinya sebagai mahapatih, para pangeran anom memiliki keistimewaan posisi dalam Keraton.

Mereka semuanya hanya bisa dipanggil oleh Raja. Akan tetapi karena sejak lama Raja menganggap tidak ada suatu yang istimewa bagi para pangeran anom, yang suatu saat bisa menjadi putra mahkota, Jabung Krewes berani bertindak. Memanggil Pangeran Angon serta Pangeran Wengker menghadap padanya. Sedikitnya ini menaikkan pamornya. Mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai mahapatih. Dan ternyata, keesokan harinya kedua pangeran anom telah menunggu di kepatihan.

“Agak kaget saya mendengar panggilan Mahapatih yang sangat mendadak.”

“Saya sendiri agak kaget mengetahui apa yang dilakukan Pangeran Anom. Selama ini rasanya semuanya sudah jelas bahwa apa yang disabdakan Raja harus dipatuhi tanpa kecuali oleh siapa pun, kecuali oleh Raja sendiri.” Mahapatih Jabung Krewes sengaja menekan Pangeran Wengker.

“Kesalahan apa yang kami lakukan, Mahapatih?”

“Berhubungan dengan putri sekar kedaton. Yang berarti melanggar sabda Raja.”

Wajah Pangeran Angon tetap tak berubah. Wajah Pangeran Wengker menjadi dingin.

“Atas nama Raja, saya akan melaporkan apa yang saya ketahui. Terserah kehendak dan kemurahan hati Raja.”

“Mahapatih…” Suara Pangeran Angon terdengar tetap lembut. “Rasa-rasanya kita semua tidak harus gegabah dalam hal yang menyangkut sabda Raja. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Mahapatih katakan.”

“Kalau Pangeran Angon ingin membela diri, tolong sampaikan langsung kepada Raja. Saya berpegang pada apa yang saya ketahui.” Mahapatih Jabung Krewes mendongak dan melemparkan senyum tipis.

“Apakah kita tidak bisa berbicara sebelum Mahapatih melaporkan kepada Raja?”

“Tergantung apa yang Pangeran tawarkan kepada saya.”

“Mahapatih, kami berdua hanya ingin bercerita mengenai suatu yang belum lama ini berlangsung di Keraton. Bahwa ketika terjadi keributan di mana Senopati Kuti menduduki Keraton, kami berdualah yang pertama kali berada di barisan terdepan. Ini agak berbeda dengan Mahapatih yang tetap berada di Keraton.”

Senyum Jabung Krewes makin melebar. “Pangeran keliru. Keliru besar kalau mengingatkan jasa Pangeran dalam usaha pengembalian Raja ke takhta setelah terlunta-lunta di pengasingan. Semua mengetahui, semua melihat sendiri, bahwa saya Mahapatih Jabung Krewes tidak berbuat apa-apa saat pemberontakan terjadi, dan juga saat penumpasan berlangsung. Saya tak mempunyai sumbangan apa-apa. Tetapi Pangeran juga masih melihat sekarang ini, bahwa saya masih tetap menjadi mahapatih. Tak ada yang lebih berjasa dalam pengembalian takhta selain prajurit kawal raja yang bernama Mada. Beserta dengan pengawal yang jumlahnya tak seberapa, Mada berhasil menghimpun dan menyatukan seluruh kekuatan. Mada. Tetapi Pangeran Wengker lebih mengetahui apa yang terjadi dengan Mada sekarang ini. Dikirim ke Daha, ke tempat kediaman Pangeran Wengker untuk mengabdi kepada Arya Tilam. Itu yang terjadi. Itulah kenyataannya. Tak ada artinya menggugat jasa yang telah diberikan. Tak ada artinya mempersoalkan yang dianggap tidak berjasa. Rasanya kita semua paham mengenai hal itu.”

Pangeran Wengker mengangguk dalam. “Apa yang Mahapatih kehendaki dari saya?”

Dada Mahapatih mengembang. Berisi kebanggaan. Terpompa kemenangan. Untuk pertama kalinya kembali bisa dirasakan keunggulannya sebagai mahapatih. Sebagai orang yang bisa membuat orang lain memandang hormat. Orang lain itu tak tanggung-tanggung: pangeran anom!

“Saya tak menginginkan apa-apa lagi. Sebagai mahapatih, saya telah memiliki semuanya. Sekarang saya tidak akan meminta apa-apa. Sampai saatnya nanti….”

“Saya akan selalu mengingat hal ini, Mahapatih.”

Inilah kemenangan utama Mahapatih Jabung Krewes. Ia merasa bisa menjerat dan mengikat erat kedua pangeran anom. Yang bukan tidak mungkin di belakang hari akan terpaksa membalas utang budi. Inilah kemenangan utama, karena Mahapatih tetap bisa melaporkan kepada Raja! Dengan demikian ada dua hasil besar yang diperoleh.

Ikatan utang budi dari Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, dan sekaligus menaikkan pamornya di mata Raja. Kalaupun kemudian Raja memutuskan untuk memberi hukuman, dirinya tak merasa kehilangan apa-apa. Nyatanya Raja tidak mempersoalkan sama sekali. Ini berarti satu jasa besar telah ditanam di Keraton Singasari dan Daha, tanpa berbuat suatu apa.

“Telah tiba saatnya saya memainkan peranan,” kata Jabung Krewes pada dirinya sendiri. “Walau barangkali tidak sehebat Halayudha, akan tetapi sebagai manusia mereka akan menghormatiku. Tinggal meneruskan. Telah tiba saatnya membalas dendam kepada yang selama ini meremehkanku.”

Semangat kemenangan merasuk dalam diri Jabung Krewes. Kini, dalam mengawal Raja ke Perguruan Awan, pikirannya bekerja. Menyusun langkah demi langkah untuk memastikan kekukuhan posisinya. Yang segera bisa ditekan adalah Putri Tunggadewi serta Rajadewi. Keduanya merupakan mutiara yang paling berharga, yang sekarang tidak mempunyai pelindung sama sekali. Padahal banyak hal bisa dilakukan untuk memperoleh pengaruh yang lebih luas.

Sekurangnya, selama ini masih banyak yang menaruh rasa hormat yang dalam dan tulus. Masih banyak pengikut setia yang bersedia mengorbankan apa saja bagi kedua putri tersebut. Apakah itu karena dasar berkembangnya daya asmara seperti yang dialami Pangeran Angon serta Pangeran Wengker, atau karena kesetiaan kepada darah keturunan Baginda, bagi Jabung Krewes tak ada bedanya.

“Sekarang saatnya,” desis Jabung Krewes dalam hati. Yang bisa membuatnya lebih bangga adalah karena sebentar lagi istrinya tak akan memandangnya sebelah mata lagi. Kehormatan dalam keluarga, yang selama ini tercampakkan, akan pulih kembali. Kebanggaan sebagai suami, seorang yang dihormati luar-dalam, menjadi sempurna.

Kecemasan di Pendakian
SEMANGAT yang menggelora dalam diri Mahapatih Jabung Krewes, di satu pihak mendatangkan gairah baru yang selama ini tenggelam dalam kemurungan. Akan tetapi di pihak lain juga mendatangkan kecemasan. Untuk pertama kalinya, Jabung Krewes kuatir jika dalam menjalankan tugas bersama kali ini gagal. Yang berarti usianya tidak panjang.

Sesuatu yang tadinya tak terpikirkan sama sekali. Sesuatu yang dulu dijalani begitu saja. Bahkan di saat pemberontakan Kuti, Jabung Krewes seleh gegaman, meletakkan senjata tanpa peduli bagaimana akhirnya. Tak ada semangat melawan. Atau bahkan bertahan. Kalau ada prahara yang bakal melindasnya, diterimanya tanpa menahan napas.

Kali ini justru berbeda. Sikapnya menjadi sangat hati-hati. Alasan yang bisa dimengerti, karena yang didatangi sekarang ini adalah “kedung naga, sarang harimau, kandang demit” yang kelewat gawat. Rasanya di seluruh jagat ini tak ada tempat yang menimbulkan kecemasan lebih berat dari Perguruan Awan.

Setelah Raja dengan terang-terangan menyabdakan bahwa Perguruan Awan-dengan Upasara Wulung dan semua penghuninya-adalah musuh Keraton, keadaannya bisa menjadi menakutkan. Dalam hal ilmu silat, Upasara Wulung belum ada tandingannya. Seluruh prajurit Keraton bergabung menjadi satu sekalipun, tak akan bisa melukai bayangannya. Bahwa Upasara tak akan mendahului menyerang, itu sedikit menenteramkan.

Akan tetapi kalau belum-belum Raja memerintahkan penghancuran, bukankah Upasara Wulung akan mempertahankan? Yang seperti ini sangat mungkin, mengingat Raja bisa mengganti perintah yang berbeda pada hari yang sama. Kecemasan yang tak bisa diusir, tak bisa ditutup-tutupi.

“Akhirnya kamu merasakan ketakutan itu, Jabung Krewes. Itu tandanya kamu sedang mendaki. Sedang menyongsong angin yang lebih besar, karena kamu merasa tinggi. Kamu sudah merasa ayub-ayuben, takut jatuh.”

“Raja sangat tepat melihat hamba.”

“Dalam banyak hal aku dikatakan tak tahu apa-apa, akan tetapi sesungguhnya aku mengerti lebih banyak dari yang diduga para Dewa. Jabung Krewes, apa yang kamu takutkan?”

Jabung Krewes terdiam sejenak.

“Barangkali ini juga kesempatan terakhir bagimu untuk bisa menjelaskan hal itu. Aku juga tak tahu apa yang akan kutemui di Perguruan Awan. Tetapi rasa-rasanya ini perjalananku yang terakhir ke tempat itu.”

“Sembah bagi Raja. Hamba memang cemas. Pertama, karena menurut kabar pawarta Perguruan Awan sedang panas. Semua penghuninya menggeliat. Kedua, karena Raja meninggalkan Keraton.”

“Pikiranmu tak terlalu cethek, tak terlalu dangkal. Kenapa kalau aku meninggalkan Keraton?”

“Hamba masih was-was. Sekarang ini, para dharmaputra boleh dikatakan telah rata dengan tanah. Kalaupun tersisa, hanya Senopati Banyak yang tak berdaya, serta Senopati Tanca yang berdiam diri. Namun sesungguhnya bukan tidak mungkin akan ada yang memanfaatkan kekosongan Keraton.”

“Siapa mereka itu?”

“Mohon beribu ampun, Raja. Hamba barangkali keliru besar. Namun para pangeran anom bukan tidak mungkin telah menyusun rencana tersendiri, mengingat Raja Sesembahan sampai hari ini…”

Di dalam joli yang mengangkut Raja mengelus jakunnya. Mahapatih Jabung Krewes yang berkuda agak di sebelah belakang tidak berani memperhatikan, akan tetapi mengetahui bahwa Raja mempertimbangkan kalimatnya.

“Para pangeran anom? Siapa yang kamu maksudkan? Angon Kertawardhana? Wengker?”

“Maaf, Raja Sesembahan. Kedua pangeran anom, dari Daha dan Singasari, memang paling menonjol. Akan tetapi keempat pangeran anom yang lain sebenarnya mempunyai alasan darah keturunan yang sama.”

“Selama ini aku tidak mendengar mereka. Angon tak akan berani. Wengker apalagi.”

“Beribu ampun, Raja. Sewaktu Sri Baginda Raja yang Mulia diserang mendadak oleh Raja Muda Gelang-Gelang, juga karena tidak menduga akan datangnya pengkhianatan. Dengan kata lain, justru yang tak terduga yang bisa menjadi bahaya.”

“Apa lagi?”

“Di kaputren masih ada Putri Tunggadewi serta Rajadewi.”

“Aku sudah menguasai penuh. Hanya aku tak ingin takhta ini berlanjut dari keturunan langsung Sri Baginda Raja yang nyatanya masih selalu dipuja. Aku ingin darah keturunan itu menetes langsung dariku. Tak soal benar, Krewes. Tak soal benar. Para pangeran anom juga tidak. Terlalu mudah memecah mereka. Aku justru akan membuat satu gerakan yang membuyarkan mereka. Aku ingin mempermainkan nasib dan harapan mereka. Kalau salah satu dari mereka kuberi angin, akan terjadi pergeseran dengan sendirinya. Mereka akan bertengkar dengan sendirinya. Saling iri, saling lihat kiri-kanan, dan merasa tak puas. Menurut kamu siapa yang pantas, Krewes?”

“Hamba tak bisa menangkap kearifan Raja.”

“Bodoh. Ini hal yang gampang. Ada enam pangeran anom yang mempunyai harapan ingin bisa meneruskan takhta seandainya Ingsun ini tidak memiliki putra mahkota. Dari keenam ini, Angon kelihatan mendongak, meskipun malu-malu. Wengker akan selalu menjadi bayangannya. Masih ada empat. Di antara empat ini aku ingin memberi angin, Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka. Mengerti?”

“Hamba baru bisa menangkap sebagian kecil.”

“Siapa dari keempat pangeran anom yang paling bisa membuat iri?”

“Sumangga Ingkang Sinuwun….”

“Aku sudah menduga itu jawabanmu. Marma Mataun. Mataun punya sikap sesongaran, pandangan matanya mendelik meskipun dagunya menghadap ke bawah. Krewes, tugasmu hanyalah mengingatkan aku, agar aku suatu saat memanggil Mataun ke Keraton. Hanya Mataun sendiri.”

“Hamba akan mengingat-ingat.”

“Satu hal lagi, Krewes.” Mengapa tiba-tiba kamu mencemaskan kaputren?”

“Selama ini… selama ini, menurut perhitungan hamba, hanya kaputren yang tidak mempunyai kemungkinan bisa mendatangkan bahaya. Tetapi kini hamba merasakan getaran yang tidak enak dari sana. Maaf, Raja Sesembahan. Rasa-rasanya kedua putri sekar kedaton…”

“Kamu kira masih pantas mereka disebut bunga Keraton? Hgh! Hgh! Aku mengerti maksudmu, Krewes. Kamu mau mengatakan bahwa mereka berdua yang masih bisa disebut bunga Keraton itu tak sepenuhnya menerima kehadiranku. Bagiku sama saja. Sama. Hgh!!! Aku sudah meratakan dengan tanah. Segala kehormatan yang mereka miliki sudah tak ada lagi. Tak ada alasan untuk kuatir mengenai hal itu. Sejak masih kanak-kanak, aku sudah tahu hal itu. Sebelum mereka menjadi besar, aku telah menghancurkan. Hanya memang kamu harus memperhitungkan. Karena mereka berdua inilah yang sekarang bisa menghubungkan dengan Simping, tempat bekas Permaisuri Rajapatni bertapa. Yang akan tetap dianggap sesembahan, dianggap tokoh yang paling dihormati. Karena mereka berdua inilah yang sekarang bisa menghubungkan dengan Perguruan Awan. Krewes, aku tak akan menyisakan sedikit pun. Akan kupancing agar bekas Permaisuri Rajapatni berhenti dari tapanya, dan ikut cawe-cawe, ikut campur tangan urusan Keraton, sehingga aku mempunyai alasan untuk meratakan dengan tanah. Tak akan ada sisanya lagi. Sampai kapan pun. Cara memancing beliau tak terlalu sulit, kalau kamu memiliki sepersepuluh kemampuan Halayudha. Yang menjadi tanda tanya, kenapa kamu yang bodoh itu tidak memikirkan kemungkinan menggunakan dua putri itu untuk menjebak Upasara Wulung atau para ksatria yang lain. Bukankah ketika aku mengumumkan akan menikahi secara resmi timbul pergolakan? Kenapa tidak kita pakai cara itu saja? Aku yakin itu jaring yang tetap akan mengena!”

Tikaman di Kaputren
PERHITUNGAN Raja tak meleset sedikit pun. Karena di kaputren terjadi pergolakan yang tak menentukan kelangsungan kejayaan Raja di belakang hari. Andai saja saat itu Raja mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sayangnya, Mahapatih Jabung Krewes yang merasa mengetahui dan menggenggam rahasia, juga hanya mengetahui sepotong kecil.

Yaitu tentang Pangeran Anom Angon serta Pangeran Muda Wengker yang diam-diam menjalin hubungan dengan kaputren. Dengan mengganti para dayang, Jabung Krewes merasa sudah menguasai keadaan. Kesempatan inilah yang digunakan Pangeran Angon maupun Pangeran Wengker. Keduanya membulatkan tekad untuk menyusup ke dalam kaputren. Justru saat Raja jengkar, atau meninggalkan Keraton.

Bagi Jabung Krewes agak sulit membayangkan bagaimana amukan daya asmara sudah membakar hangus kesadaran kedua pangeran anom. Yang lebih memanaskan lagi ialah karena kedua pangeran anom merasa mendapat jawaban dari kedua putri. Kirimannya selama ini diterima dengan baik. Tidak ada tanda-tanda dikembalikan.

Berarti satu langkah utama telah dimenangkan. Maka keduanya memutuskan menemui secara langsung. Dengan menyamar sebagai prajurit kawal, keduanya menyusup masuk. Melewati kori butulan, pintu kecil, keduanya memasuki kaputren. Hanya dengan penerangan sinar rembulan, Pangeran Angon berjalan di depan. Pangeran Wengker mendampingi.

Para dayang utama telah disingkirkan dengan diam-diam. Hanya tinggal beberapa dayang yang memang ditugaskan mendampingi tak lebih dari satu tombak. Memasuki kamar kaputren, Pangeran Angon bersiaga. Itu yang menyelamatkan jiwanya. Karena dayang yang tugur berjaga sambil bersila di depan pintu, mendadak mengayunkan tangan dengan gerakan cepat sekali.

Wengker yang berada di belakang menusuk dengan tombak, apa pun sasaran yang bisa menahan serangan kedua. Pangeran Angon mengaduh sambil memegangi pundaknya. Sebaliknya, penyerang juga tak menduga kecepatan Pangeran Wengker bereaksi. Sehingga untuk beberapa kejap tertahan. Tapi hanya satu tarikan napas. Pada tarikan napas berikutnya, keempat bayangan saling tubruk dengan serangan mematikan.

Pangeran Angon dan Pangeran Wengker sadar bahwa yang menyerang tiba-tiba ternyata bukan dayang. Melainkan dua orang yang menyamar sebagai dayang. Yang jelas dua-duanya cukup berumur. Dan dua-duanya merupakan pasangan. Semuanya baru menjadi jelas, ketika ada satu bayangan yang masuk ke tengah dan mengibaskan tangan. Wengker, Angon, dan dua bayangan penyerang serta-merta terjungkal.

Tanpa bisa bangun lagi. Karena balung kodok, atau tulang ekor, menghantam lantai. Satu kibasan yang luar biasa. Penuh tenaga keras, kuat, tapi tidak dikerahkan untuk mematikan. Cukup untuk memusnahkan kekuatan sementara. Sebab benturan pada balung kodok, menyengat semua saraf yang ada.

“Ksatria sejati, angin apa yang menyertai ksatria sehingga datang ke kaputren?”

Bayangan itu menunduk hormat. Di pundaknya seperti terpanggul seseorang yang menggelendot lemas.

“Maaf, Mpu Tanca yang terhormat. Saya sama sekali tak berniat lancang masuk kaputren. Saya memang ingin sowan kepada Mpu serta Nyai Makacaru yang mulia.” Suaranya mantap, mendasar, dan enak di telinga.

Pangeran Angon sejenak lupa pundaknya yang perih. Matanya tak salah menangkap ksatria gagah yang dikagumi. Upasara Wulung yang digelari ksatria lelananging jagat, yang memperlihatkan keunggulan dalam pertarungan utama di depan Keraton. Luar biasa gagah dan berwibawa.

Pangeran Wengker juga merasakan getar kewibawaan yang sama. Hanya sedikit terganggu dengan teka-teki yang muncul secara tiba-tiba. Siapa anak kecil yang berada dalam gendongannya? Teka-teki kedua yang sama membingungkan ialah bahwa penyerangnya adalah Mpu Tanca serta istrinya, Nyai Makacaru. Bagaimana mungkin keduanya bersatu-padu menyerang seketika?

“Ksatria yang gagah, pujaan para ksatria. Apakah yang membuat saya yang tua, pikun, dan tak mengerti kiblat ini, masih cukup berharga untuk ditemui?”

Nyai Makacaru membuka setagennya, memberikan obat penawar agar diborehkan, diurapkan, ke luka Pangeran Angon. Pangeran Angon segera mengikuti apa yang diisyaratkan Nyai Makacaru. Pangeran Wengker masih bersila dalam keadaan siaga.

“Anak saya yang bernama Cubluk ini menderita suatu…” Upasara Wulung tidak melanjutkan kalimatnya.

Mpu Tanca menggeleng. Helaan napasnya menyayat. Matanya terpejam lama. Tangannya berusaha menyentuh tangan Cubluk yang kini terlelap dalam pangkuan Upasara Wulung. Nyai Makacaru memejamkan mata, bersemadi, dan melakukan hal yang sama. Memegangi nadi tangan Cubluk. Kemudian pindah ke kuku ibu jari kaki Cubluk. Disusul helaan napas yang berat. Dan teriakan lolongan yang panjang. Hingga seluruh kaputren seakan terbangun karenanya. Nyai Makacaru muntah hingga mata, telinga, dan hidungnya mengeluarkan air.

Mpu Tanca gemetar. Saat itu terdengar langkah kaki perlahan. Putri Tunggadewi melangkah keluar dari peraduannya. Disusul Rajadewi. Putri Tunggadewi tampak bisa segera menguasai diri, meskipun alis matanya sedikit terangkat naik. Meskipun sama sekali tak mengira bahwa di depan kamar peraduannya ada begitu banyak manusia yang tak dikenal. Bahkan akhirnya Putri Tunggadewi ikut bersila.

“Selamat datang, Paman Upasara….”

Upasara mengangguk pendek. Wajahnya masih membeku. Mpu Tanca masih tersengal-sengal napasnya. Baru kemudian mereda. Tubuhnya basah oleh keringat. Tangan dan suaranya gemetar hingga ke ulu hati.

“Dewa, kutuklah saya yang tak berguna ini. Saya tak bisa apa-apa.”

Nyai Makacaru bersandar lemas ke tiang. Pandangannya menerawang kosong.

“Maaf, Mpu Tanca serta Bibi Makacaru yang mulia… Saya hanya merepotkan.”

JILID 87BUKU PERTAMAJILID 89