Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 87

Mada menjalani hari-hari sebagaimana biasa. Hanya sekarang lebih banyak waktu dihabiskan dengan berlatih diri. Ajaran Eyang Puspamurti yang dijejalkan habis-habisan, kini diurut dan dirunut satu per satu, dan dilatih dengan lebih saksama. Tak ada pergolakan terlihat di wajahnya.

Pun ketika diminta menghadiri latihan para prajurit pratama. Para prajurit pratama adalah tingkatan yang pertama. Prajurit yang paling pilihan, paling diandalkan. Tingkatan kedua, ketiga, keempat disebut sebagai prajurit dwitiya, tritiya, caturta, dan seterusnya. Mada mendapat kehormatan duduk di barisan depan.

Sewaktu latihan perang tanding dimulai, serombongan prajurit pratama mendadak menyerbu ke arah Mada. Prajurit yang berada paling depan menusukkan tombak, langsung ke arah perut Mada. Dua tusukan dari dua ujung tombak yang berbeda arahnya, tapi sama sasarannya. Mada mengeluarkan teriakan keras.

Kedua tangannya menyampok bersamaan, dan serentak dengan itu, dua penusuk terjengkang. Dua ujung tombak melukai perut Mada dan membuatnya mengucurkan darah, akan tetapi penyerangnya tak bergerak lagi. Mada bangkit dari duduknya. Tanpa memedulikan darah yang mengucur di tubuhnya, Mada menolong penusuknya. Dengan menghentikan perdarahan hebat, dan mengurutnya.

Bagi prajurit yang sedang latihan dan melakukan kesalahan, bahkan di antara sesama prajurit, bakal mendapat hukuman keras. Apalagi ini terjadi pada tamu yang menyaksikan. Akan tetapi Mada justru memperlihatkan sikap yang lain. Bahkan saat itu juga sowan kepada Patih Tilam.

“Hamba datang untuk meminta pengampunan bagi prajurit pratama Nala serta Naka. Mohon Patih yang mulia tidak menjatuhkan hukuman yang tidak memungkinkan mereka berdua memperbaiki kesalahannya.”

“Mereka jelas berniat jahat padamu, Mada.”

“Hamba mengetahui dari arah datangnya tombak. Hamba juga akan melakukan hal yang sama jika diperintahkan demikian.”

“Berani kamu mengatakan demikian padaku?”

“Hamba mengatakan yang bisa hamba haturkan. Prajurit pratama Nala dan Naka adalah prajurit yang sesungguhnya. Yang menjalankan tugas. Akan sangat sayang sekali kalau prajurit besar seperti ini harus dihilangkan untuk mengamankan. Karena yang tersisa di kelak kemudian hari hanyalah prajurit dasama, prajurit urutan kesepuluh.”

“Karena aku menganggap sebagai pelanggaran berat, aku tak mau menerimanya. Kalau kamu mau berjasa pada mereka berdua, terimalah sebagai prajuritmu."

Mada menyembah. “Dengan rasa syukur tak terhingga atas kebesaran Patih Tilam.”

Patih Tilam menatap Mada. “Usahaku menggagalkan ramalanmu sendiri, ternyata gagal pula. Kamu masih selamat. Masih hidup. Betul-betul luar biasa. Entah dengan menindih perasaan apa, kamu masih bisa bersikap tenang.”

“Hamba hanya menjalani nasib yang digariskan Dewa.”

“Tidak juga. Kamu mempunyai dasar yang lain. Satu hal, aku sebagai atasanmu yang resmi, dan kamu sebagai prajurit sejati, aku perintahkan untuk membawa Upasara Wulung kemari. Mati atau hidup. Dengan segenap kemampuanmu. Lakukan, Mada.”

Peran Perang
PATIH TILAM diam kaku. Mada menyembah. Sikapnya sama sekali tak berubah. Wajah dan penampilannya tak menyembunyikan pertanyaan, apalagi keraguan, sedikit pun. Inilah yang sejak pertama membuat Patih Tilam gamang. Gamang karena Mada menjalani dengan ketenangan yang wajar. Tak sedikit pun merasakan adanya sesuatu yang ganjil. Juga dari caranya menyembah yang tulus.

“Barangkali ini pertemuan kita terakhir, Mada. Barangkali kamu mendahului, atau aku yang lebih dulu menyelesaikan urusan jagat ini. Hanya perang besar yang menentukan yang mempercepat. Apakah seseorang menjadi orang besar atau menjadi mayat. Seharusnya aku tak mengatakan hal ini kepadamu. Tetapi aku tak bisa menahan diri. Sejak mendengar namamu, sejak melihat langsung dan berhubungan denganmu, perasaanku tak bisa ditahan lagi. Kamu bisa besar kepala, lebih besar dari sekarang ini, jika mendengar apa yang kukatakan. Barangkali itulah nasib baik yang memihak padamu. Mada, kamu tahu siapa aku sebenarnya?”

Mada menggeleng lembut.

“Dengan dasar kekuatan Ngrogoh Sukma Sejati kamu bisa mengetahui siapa aku yang sebenar-benarnya.”

“Hamba tak ingin menjajal.”

“Aku tahu. Karena aku yang lebih dulu nyandra, lebih dulu melihat dirimu. Meskipun aku tidak menguasai kekuatan sukma sejati seperti yang kamu latih selama ini, aku bisa melihat masa depan yang belum terjadi. Aku melihatmu besar seperti gajah. Aku melihatmu mulai menduduki kursi kepatihan di sini, dan mulai memanjangkan gading dan belalai. Semua bisa kulihat dengan jelas. Tanpa kabut. Apakah aku harus membencimu? Melenyapkanmu, agar ramalan yang kulihat tak terjadi? Mada, barangkali kamu berpikir seperti itu. Itu perkiraan sebelumnya. Nyatanya tidak. Kamu ternyata bukan bledug, atau anak gajah. Kamu sudah menjadi gajah yang sesungguhnya. Kamu tidak berpikir aku berusaha melenyapkan dan kamu melakukan perlawanan. Kamu mengikuti jalan. Sebagaimana kewajaran yang berlangsung. Ketika prajurit pratama Nala dan Naka menggempurmu dan berusaha membunuhmu, kamu menghadapi sebagaimana sikap sesama prajurit. Barangkali itulah nasib. Nasib baik. Seperti juga keberangkatanmu ke Perguruan Awan untuk menangkap Upasara Wulung dan membawa kemari. Barangkali justru ini akan menjadi jalan pencerahan bagimu. Mada, Aku hanyalah perantara. Yang melontarkan, meneruskan apa yang sudah dikehendaki alam dan Dewa Yang Maha Pencipta. Seperti seorang Durna yang menyuruh Bima mencari ilmu yang tak masuk akal dan nalar menuju tengah samudra, dan bergulat dengan naga. Di sana ia menemukan apa yang dicari. Siapa tahu itu perjalanan nasibmu juga.”

Patih Tilam mengambil napas sejenak. “Aku menjalankan apa yang menjadi kehendak Dewa. Barangkali Raja pun melakukan hal yang sama tanpa disadari. Sewaktu kamu bisa menyelamatkan takhta, seharusnya kamu memperoleh pangkat yang tinggi. Tapi justru tidak. Barangkali, itu juga jalan ke arah puncak pangkat dan derajatmu. Mada, semua ini kukatakan tanpa keinginan untuk membersihkan diri.”

Patih Tilam meninggalkan tempat, menuju sanggar semadinya, dan akan berkurung selama empat puluh hari empat puluh malam.

Mada tidak mengetahui. Karena pagi itu pula, langsung berangkat bersama Nala dan Naka. Tanpa banyak bicara. Kalaupun mereka berhenti di perjalanan, Mada hanya memberikan petunjuk mengenai cara menggunakan tombak, cara mengerahkan tenaga yang lebih memungkinkan keberhasilan.

“Pengerahan tenaga yang sesungguhnya bukan ketika kemurkaan itu datang. Bukan menggenggam lebih erat. Bukan menyatukan geraham. Itu malah mengurangi kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan yang inti harus kamu tumpahkan seluruhnya pada ujung tombak. Di situlah keberhasilan. Di situlah kemenangan.”

“Kakang Mada sangat bijak mengampuni kami berdua.”

“Saya tak bisa mengampuni kalian. Kalian yang bisa mengampuni diri kalian sendiri. Itu yang dikatakan Eyang Puspamurti. Kalau selama ini kamu merasa melakukan kesalahan atau tidak berguna bagi sesama, bagi Keraton, ada sisa waktu dalam hidupmu untuk menebusnya. Kesempatan itu datang di Perguruan Awan.”

“Ya, Kakang. Tapi benarkah kita akan menangkap Upasara Wulung?”

“Itulah perintah yang saya dengar.”

“Kakang Senopati…”

“Usia kita masih sepantaran. Jangan panggil aku dengan sebutan senopati, selama kita masih bisa saling menyebut nama Kakang Nala, Kakang Naka.”

Naka mengangguk terdiam. Nala mengangguk.

“Kakang Mada, hari-hari ini saya mendapatkan pelajaran yang mahal dan membuat saya merasa menjadi manusia yang mengenal akal budi. Banyak yang ingin saya tanyakan.”

“Banyak yang ingin saya jawab, Kakang Nala. Akan tetapi rasanya waktu kita masih sangat panjang untuk berbincang-bincang. Sampai usia tua, kita masih akan selalu bersama-sama.”

“Saya merasa sebaliknya,” suara Naka terdengar muram. “Nyawa tidak bisa diperpanjang dua kali.”

“Kepercayaan diri yang membuktikan itu. Sekarang kita sudah menginjak wilayah Perguruan Awan. Sebaiknya kita waspada.”

Meskipun mantap dan yakin, Mada memilih jalan berputar. Dengan melakukan gerakan baris pendem. Yaitu gerakan prajurit secara tersamar, menyatu dengan tumbuhan. Atau sekurangnya seolah terpendam dalam tanah. Nala mengakui kesabaran Mada. Yang bergerak dengan sangat hati-hati. Ia mendahului beberapa ratus tombak, dan setelah aman, barulah rombongan kedua menyusul, langsung ke depan seorang diri. Begitu aman, disusul dengan yang lainnya.

Walaupun geraknya sangat perlahan, akan tetapi mereka bisa mengetahui keadaan sekitar secara penuh. Dan bisa bersiaga. Seperti ketika mendengar langkah kaki yang mendekat. Mada tetap berada di dalam persembunyiannya. Meskipun yang dilihatnya hanyalah anak kecil yang berjalan sendirian.

Klobot! Ketika itu Klobot yang terpukul perasaannya karena sikap Nyai Demang yang dianggap sangat kasar, memilih meneruskan berjalan kian-kemari daripada kembali ke tempat semula. Melampiaskan kedongkolannya dengan memukul, menendang segala yang ditemui. Pepohonan menjadi korban pukulan dan tendangan. Sebagian roboh, sebagian rusak.

Mata Naka dan Nala membelalak. Seolah tak percaya bahwa anak sekecil itu bisa memukul pohon hingga tangannya amblas ke tengah. Mada makin menahan diri ketika ada bayangan meloncat masuk.

“Aha, kukira ada Mada di sini. Getarannya kurasakan benar. Tapi rupanya yang ada Mada kecil.”

Suara yang tak asing lagi. Suara Halayudha yang berdiri gagah sambil memanggul pedang hitam.

“Klobot!”

“Pukulanmu aneh. Siapa kamu, kunyuk buruk?”

“Klobot.”

“Dari mana kamu pelajari…”

Mendadak Klobot mengangkat tangan kanannya ke atas sampai batas telinga dan tangan kiri tertarik ke belakang. Muntahan jurus Kakang Kawah yang membuat Halayudha mengerutkan keningnya.

“Ini bagus. Aneh. Kenapa tenaga dalammu tidak langsung dikerahkan? Hei, ilmu apa yang kamu pelajari?”

Bahwa Halayudha sampai mengangkat kaki menghindar bisa menandai betapa ia menaruh perhatian besar pada apa yang dilakukan Klobot. Tenaga aneh yang bergulung, membentur, seolah menyadarkan Halayudha bahwa pengerahan tenaga dalam yang ganjil itu seperti sangat dikenalnya, tetapi juga berbeda dasarnya. Perbedaan dasar ini yang membuat semangat hidupnya tumbuh kembali seketika. Selama ini rasanya hampir menemui ilmu silat yang berbeda kembangannya, tetapi bukan sikap dasar.

“Itu bagus..Ayo, apa lagi?”

Lutut Kekuasaan
RAJA JAYANEGARA seakan bangun dari mimpi yang panjang sewaktu Halayudha meninggalkan Keraton. Mimpi yang kelewat panjang, yang tak pernah disadari secara penuh. Untuk pertama kali, telinganya mampu menangkap suara dari bibir yang lain. Selama ini telinganya seakan tidak ada gunanya. Kenyataan yang sederhana, namun membuat goresan yang dalam pada kesadaran batinnya. Padahal dimulainya dengan biasa-biasa sekali.

Saat dirinya mendekati dan melihat Halayudha yang kelihatan bingung, kelihatan kehilangan arah. Yang ternyata juga dialaminya. Kekuasaan yang tunggal, keunggulan di atas manusia mana pun di seluruh Keraton, justru membuatnya kosong, menyudutkan ke kesepian, dan menempatkan dalam bagian yang hampa. Dengan caranya sendiri, Halayudha memaksanya berlutut. Berlutut. Bersila.

Sesuatu yang sejak tahun-tahun terakhir ini tak pernah dilakukan. Tak ada isi Keraton yang dapat membuatnya bersila. Itu terjadi sejak Baginda menyingkir ke Simping. Dan dirinya secara penuh memegang kendali kekuasaan. Kalaupun ada, itu adalah Ibunda. Yang telah menyurutkan diri dan tak mempunyai pengaruh mendalam sejak dirinya mengangkat dan memilih Praba Raga Karana sebagai permaisuri. Dengan cara itu, dirinya telah memutuskan hubungan kehormatan yang selama ini berlangsung.

Tokoh lain adalah Senopati Agung Brahma. Yang kalau diperhitungkan urutan darah, lebih tua urutannya. Akan tetapi sudah sejak lama Senopati Agung Brahma berada di luar Tanah Jawa. Satu-satunya yang tersisa tinggal Permaisuri Rajapatni!

Ya, yang masih ada hanyalah Permaisuri Rajapatni yang kemudian sekali memilih bertapa di Simping. Penilaian Raja akan Permaisuri Rajapatni memang berbeda dari yang lainnya. Ada rasa enggan dan hormat yang dirasakan, sekaligus juga takut. Kedudukan Permaisuri Rajapatni termasuk paling istimewa sebagai permaisuri. Meskipun bukan permaisuri utama seperti ibundanya, Permaisuri Rajapatni diramalkan para Dewa bakal menurunkan raja terbesar di Tanah Jawa.

Itu salah satu ganjalan utama, yang akhirnya membuatnya memotong perhitungan para Dewa. Raja mengambil Putri Tunggadewi dan Rajadewi ke dalam kekuasaannya. Sehingga tak mungkin bisa meneruskan takhta, kalaupun ada kesempatan. Juga kemungkinan untuk mendapatkan pasangan sesama pangeran. Raja telah memutuskan untuk membiarkan ngurak, mati tua dengan sendirinya.

Ini semua pagar-pagar utama yang akan melanggengkan kekuasaannya. Seperti juga halnya tidak memberi kesempatan munculnya para pangeran anom ke atas permukaan. Tak akan pernah terdengar nama lain yang menonjol. Tak ada yang bisa dijadikan tempat berpaling. Walau sejenak. Tak ada orang kedua atau orang ketiga dalam Keraton. Lututnya tak pernah ditekuk untuk memberi penghormatan kepada orang lain.

Semua berjalan sebagaimana biasa, tidak pernah mengusik hatinya, kalau saja Halayudha tidak menyinggung soal keturunannya yang bakal lebih nista darinya. Keturunan? Menyerahkan kekuasaan? Apakah itu akan terjadi suatu ketika nanti?

Rasa-rasanya selama dirinya masih bisa memandang matahari, tak akan begitu saja menyerahkan kekuasaan tertinggi yang berada dalam genggamannya. Raja tak ingin mengalami seperti yang dialami Baginda, yang kemudian merasa tersisih, dan kedarang-darang, tersia-siakan, sampai di Simping. Kejadian seperti itu tak ingin diulangnya.

Itu pula sebabnya Raja tak begitu peduli ketika dirinya meninggalkan Keraton, dan Kuti untuk sementara berkuasa, seluruh kerabatnya tercerai-berai. Para selir, berikut putra-putranya, ikut lepas dari Keraton. Raja bahkan tak peduli apakah mereka ada yang kembali atau tidak. Tak pernah menghitung berapa jumlah mereka dan wajah mereka seperti apa. Semua toh sudah ada yang mengurusi, menghidupi, dan tak perlu benar dilihat.

Perdebatan dalam hati Raja bisa selalu dimenangkan sendiri. Selalu ada pembenaran kenapa berbuat ini dan itu. Hanya saja, satu-satunya orang yang mampu menggoyahkan pendapatnya memang Halayudha seorang. Mahapatih yang merasakan takhta dan menjadi linglung itu masih merupakan satu-satunya orang yang bisa berbicara dari sisi yang berbeda. Kalau ada nama lain, itu hanya Praba Raga Karana, pemijat yang diangkat sebagai permaisuri. Tidak ada yang lainnya.

Kini keduanya tak ada. Raja merasa sangat sepi dan bosan. Semua yang ditemui menyembah dan mengiyakan, seperti juga Mahapatih Jabung Krewes yang selalu mengatakan sumangga kersa Dalem. Terserah kehendak Raja.

“Krewes, apakah kamu tidak mempunyai pandangan, apa yang sebaiknya Ingsun lakukan untuk menikmati kegembiraan hidup ini?”

“Sumangga kersa Dalem, Ingkang Sinuwun. “Hamba akan melaksanakan sebaik-baiknya. Apakah Raja ingin berburu, membangun tamansari, atau menghendaki klangenan baru?”

“Ingsun muak dengan segala binatang buruan atau taman atau wanita yang begitu-begitu saja. Rasanya ada sesuatu yang bisa dilakukan.”

“Maaf, Sinuwun. Kalau menyangkut Keraton, yang menunggu sabda Raja tinggal nasib Senopati Banyak. Apakah harus menjalani hukuman tigas jangga, penggal kepala, atau yang Raja sabdakan.”

“Biar saja menunggu. Tak ada pikiran Ingsun mengurusi hal itu. Yang lain?”

“Maaf, Sinuwun. Hamba tak melihat ada yang perlu dilakukan. Semua, atas berkah Ingkang Sinuwun, lancar, baik, damai, dan sejahtera.”

“Atau ada yang harus Ingsun lakukan? Kamu tak akan berani mengatakan, Krewes. Meskipun kurasa sinar batinmu ingin menyebutkan mengenai kitab Kidungan Para Raja. Apakah tidak sebaiknya aku mulai menulis dalam kitab itu untuk kuwariskan kepada penerusku. Aku bahkan tak mengetahui kitab itu seperti apa, dan bagaimana menuliskannya. Sri Baginda Raja telah menuliskan panjang-lebar. Baginda pun telah menuliskan. Rasanya aku tinggal mengganti namanya saja. Kalau masih ada yang kupikirkan sekarang ini hanyalah sikap Tunggadewi dan Rajadewi. Ketika semua putri Keraton mengungsi dan berlarian serta tak ketahuan nasibnya, mereka berdua masih tetap berada dalam Keraton dan merasa aman. Apa yang menyebabkan keduanya begitu yakin bisa selamat?”

“Maaf, Sinuwun. Sejauh hamba tahu dari penuturan Senopati Banyak, kaputren utama memang tidak akan diganggu. Apa pun yang terjadi.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Merupakan kesepakatan para pemberontak.”

“Kalau begitu, mulai sekarang juga, kamu awasi dengan ketat. Segera laporkan atau ambil tindakan pengamanan kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Jangan-jangan mereka berdua mempunyai hubungan yang tidak kamu ketahui. Ini perlu. Sebab rasanya, atau seharusnya, tak ada lagi rasa hormat yang tersisa kepada Tunggadewi dan Rajadewi. Mereka berdua telah berada dalam kehinaan yang amat nista. Lakukan dengan hati-hati, Mahapatih. Karena keduanya keras kepala dan bisa menahankan semua penderitaan.”

“Sendika dawuh, Ingkang Sinuwun. Sekarang juga hamba akan melaksanakan.”

Disusul dengan sembah yang dalam, penghormatan yang rata dengan kaki, Mahapatih Jabung Krewes mengundurkan diri. Sesudah itu kembali sepi. Kosong seperti hati Raja.

JILID 86BUKU PERTAMAJILID 88

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 87

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 87

Mada menjalani hari-hari sebagaimana biasa. Hanya sekarang lebih banyak waktu dihabiskan dengan berlatih diri. Ajaran Eyang Puspamurti yang dijejalkan habis-habisan, kini diurut dan dirunut satu per satu, dan dilatih dengan lebih saksama. Tak ada pergolakan terlihat di wajahnya.

Pun ketika diminta menghadiri latihan para prajurit pratama. Para prajurit pratama adalah tingkatan yang pertama. Prajurit yang paling pilihan, paling diandalkan. Tingkatan kedua, ketiga, keempat disebut sebagai prajurit dwitiya, tritiya, caturta, dan seterusnya. Mada mendapat kehormatan duduk di barisan depan.

Sewaktu latihan perang tanding dimulai, serombongan prajurit pratama mendadak menyerbu ke arah Mada. Prajurit yang berada paling depan menusukkan tombak, langsung ke arah perut Mada. Dua tusukan dari dua ujung tombak yang berbeda arahnya, tapi sama sasarannya. Mada mengeluarkan teriakan keras.

Kedua tangannya menyampok bersamaan, dan serentak dengan itu, dua penusuk terjengkang. Dua ujung tombak melukai perut Mada dan membuatnya mengucurkan darah, akan tetapi penyerangnya tak bergerak lagi. Mada bangkit dari duduknya. Tanpa memedulikan darah yang mengucur di tubuhnya, Mada menolong penusuknya. Dengan menghentikan perdarahan hebat, dan mengurutnya.

Bagi prajurit yang sedang latihan dan melakukan kesalahan, bahkan di antara sesama prajurit, bakal mendapat hukuman keras. Apalagi ini terjadi pada tamu yang menyaksikan. Akan tetapi Mada justru memperlihatkan sikap yang lain. Bahkan saat itu juga sowan kepada Patih Tilam.

“Hamba datang untuk meminta pengampunan bagi prajurit pratama Nala serta Naka. Mohon Patih yang mulia tidak menjatuhkan hukuman yang tidak memungkinkan mereka berdua memperbaiki kesalahannya.”

“Mereka jelas berniat jahat padamu, Mada.”

“Hamba mengetahui dari arah datangnya tombak. Hamba juga akan melakukan hal yang sama jika diperintahkan demikian.”

“Berani kamu mengatakan demikian padaku?”

“Hamba mengatakan yang bisa hamba haturkan. Prajurit pratama Nala dan Naka adalah prajurit yang sesungguhnya. Yang menjalankan tugas. Akan sangat sayang sekali kalau prajurit besar seperti ini harus dihilangkan untuk mengamankan. Karena yang tersisa di kelak kemudian hari hanyalah prajurit dasama, prajurit urutan kesepuluh.”

“Karena aku menganggap sebagai pelanggaran berat, aku tak mau menerimanya. Kalau kamu mau berjasa pada mereka berdua, terimalah sebagai prajuritmu."

Mada menyembah. “Dengan rasa syukur tak terhingga atas kebesaran Patih Tilam.”

Patih Tilam menatap Mada. “Usahaku menggagalkan ramalanmu sendiri, ternyata gagal pula. Kamu masih selamat. Masih hidup. Betul-betul luar biasa. Entah dengan menindih perasaan apa, kamu masih bisa bersikap tenang.”

“Hamba hanya menjalani nasib yang digariskan Dewa.”

“Tidak juga. Kamu mempunyai dasar yang lain. Satu hal, aku sebagai atasanmu yang resmi, dan kamu sebagai prajurit sejati, aku perintahkan untuk membawa Upasara Wulung kemari. Mati atau hidup. Dengan segenap kemampuanmu. Lakukan, Mada.”

Peran Perang
PATIH TILAM diam kaku. Mada menyembah. Sikapnya sama sekali tak berubah. Wajah dan penampilannya tak menyembunyikan pertanyaan, apalagi keraguan, sedikit pun. Inilah yang sejak pertama membuat Patih Tilam gamang. Gamang karena Mada menjalani dengan ketenangan yang wajar. Tak sedikit pun merasakan adanya sesuatu yang ganjil. Juga dari caranya menyembah yang tulus.

“Barangkali ini pertemuan kita terakhir, Mada. Barangkali kamu mendahului, atau aku yang lebih dulu menyelesaikan urusan jagat ini. Hanya perang besar yang menentukan yang mempercepat. Apakah seseorang menjadi orang besar atau menjadi mayat. Seharusnya aku tak mengatakan hal ini kepadamu. Tetapi aku tak bisa menahan diri. Sejak mendengar namamu, sejak melihat langsung dan berhubungan denganmu, perasaanku tak bisa ditahan lagi. Kamu bisa besar kepala, lebih besar dari sekarang ini, jika mendengar apa yang kukatakan. Barangkali itulah nasib baik yang memihak padamu. Mada, kamu tahu siapa aku sebenarnya?”

Mada menggeleng lembut.

“Dengan dasar kekuatan Ngrogoh Sukma Sejati kamu bisa mengetahui siapa aku yang sebenar-benarnya.”

“Hamba tak ingin menjajal.”

“Aku tahu. Karena aku yang lebih dulu nyandra, lebih dulu melihat dirimu. Meskipun aku tidak menguasai kekuatan sukma sejati seperti yang kamu latih selama ini, aku bisa melihat masa depan yang belum terjadi. Aku melihatmu besar seperti gajah. Aku melihatmu mulai menduduki kursi kepatihan di sini, dan mulai memanjangkan gading dan belalai. Semua bisa kulihat dengan jelas. Tanpa kabut. Apakah aku harus membencimu? Melenyapkanmu, agar ramalan yang kulihat tak terjadi? Mada, barangkali kamu berpikir seperti itu. Itu perkiraan sebelumnya. Nyatanya tidak. Kamu ternyata bukan bledug, atau anak gajah. Kamu sudah menjadi gajah yang sesungguhnya. Kamu tidak berpikir aku berusaha melenyapkan dan kamu melakukan perlawanan. Kamu mengikuti jalan. Sebagaimana kewajaran yang berlangsung. Ketika prajurit pratama Nala dan Naka menggempurmu dan berusaha membunuhmu, kamu menghadapi sebagaimana sikap sesama prajurit. Barangkali itulah nasib. Nasib baik. Seperti juga keberangkatanmu ke Perguruan Awan untuk menangkap Upasara Wulung dan membawa kemari. Barangkali justru ini akan menjadi jalan pencerahan bagimu. Mada, Aku hanyalah perantara. Yang melontarkan, meneruskan apa yang sudah dikehendaki alam dan Dewa Yang Maha Pencipta. Seperti seorang Durna yang menyuruh Bima mencari ilmu yang tak masuk akal dan nalar menuju tengah samudra, dan bergulat dengan naga. Di sana ia menemukan apa yang dicari. Siapa tahu itu perjalanan nasibmu juga.”

Patih Tilam mengambil napas sejenak. “Aku menjalankan apa yang menjadi kehendak Dewa. Barangkali Raja pun melakukan hal yang sama tanpa disadari. Sewaktu kamu bisa menyelamatkan takhta, seharusnya kamu memperoleh pangkat yang tinggi. Tapi justru tidak. Barangkali, itu juga jalan ke arah puncak pangkat dan derajatmu. Mada, semua ini kukatakan tanpa keinginan untuk membersihkan diri.”

Patih Tilam meninggalkan tempat, menuju sanggar semadinya, dan akan berkurung selama empat puluh hari empat puluh malam.

Mada tidak mengetahui. Karena pagi itu pula, langsung berangkat bersama Nala dan Naka. Tanpa banyak bicara. Kalaupun mereka berhenti di perjalanan, Mada hanya memberikan petunjuk mengenai cara menggunakan tombak, cara mengerahkan tenaga yang lebih memungkinkan keberhasilan.

“Pengerahan tenaga yang sesungguhnya bukan ketika kemurkaan itu datang. Bukan menggenggam lebih erat. Bukan menyatukan geraham. Itu malah mengurangi kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan yang inti harus kamu tumpahkan seluruhnya pada ujung tombak. Di situlah keberhasilan. Di situlah kemenangan.”

“Kakang Mada sangat bijak mengampuni kami berdua.”

“Saya tak bisa mengampuni kalian. Kalian yang bisa mengampuni diri kalian sendiri. Itu yang dikatakan Eyang Puspamurti. Kalau selama ini kamu merasa melakukan kesalahan atau tidak berguna bagi sesama, bagi Keraton, ada sisa waktu dalam hidupmu untuk menebusnya. Kesempatan itu datang di Perguruan Awan.”

“Ya, Kakang. Tapi benarkah kita akan menangkap Upasara Wulung?”

“Itulah perintah yang saya dengar.”

“Kakang Senopati…”

“Usia kita masih sepantaran. Jangan panggil aku dengan sebutan senopati, selama kita masih bisa saling menyebut nama Kakang Nala, Kakang Naka.”

Naka mengangguk terdiam. Nala mengangguk.

“Kakang Mada, hari-hari ini saya mendapatkan pelajaran yang mahal dan membuat saya merasa menjadi manusia yang mengenal akal budi. Banyak yang ingin saya tanyakan.”

“Banyak yang ingin saya jawab, Kakang Nala. Akan tetapi rasanya waktu kita masih sangat panjang untuk berbincang-bincang. Sampai usia tua, kita masih akan selalu bersama-sama.”

“Saya merasa sebaliknya,” suara Naka terdengar muram. “Nyawa tidak bisa diperpanjang dua kali.”

“Kepercayaan diri yang membuktikan itu. Sekarang kita sudah menginjak wilayah Perguruan Awan. Sebaiknya kita waspada.”

Meskipun mantap dan yakin, Mada memilih jalan berputar. Dengan melakukan gerakan baris pendem. Yaitu gerakan prajurit secara tersamar, menyatu dengan tumbuhan. Atau sekurangnya seolah terpendam dalam tanah. Nala mengakui kesabaran Mada. Yang bergerak dengan sangat hati-hati. Ia mendahului beberapa ratus tombak, dan setelah aman, barulah rombongan kedua menyusul, langsung ke depan seorang diri. Begitu aman, disusul dengan yang lainnya.

Walaupun geraknya sangat perlahan, akan tetapi mereka bisa mengetahui keadaan sekitar secara penuh. Dan bisa bersiaga. Seperti ketika mendengar langkah kaki yang mendekat. Mada tetap berada di dalam persembunyiannya. Meskipun yang dilihatnya hanyalah anak kecil yang berjalan sendirian.

Klobot! Ketika itu Klobot yang terpukul perasaannya karena sikap Nyai Demang yang dianggap sangat kasar, memilih meneruskan berjalan kian-kemari daripada kembali ke tempat semula. Melampiaskan kedongkolannya dengan memukul, menendang segala yang ditemui. Pepohonan menjadi korban pukulan dan tendangan. Sebagian roboh, sebagian rusak.

Mata Naka dan Nala membelalak. Seolah tak percaya bahwa anak sekecil itu bisa memukul pohon hingga tangannya amblas ke tengah. Mada makin menahan diri ketika ada bayangan meloncat masuk.

“Aha, kukira ada Mada di sini. Getarannya kurasakan benar. Tapi rupanya yang ada Mada kecil.”

Suara yang tak asing lagi. Suara Halayudha yang berdiri gagah sambil memanggul pedang hitam.

“Klobot!”

“Pukulanmu aneh. Siapa kamu, kunyuk buruk?”

“Klobot.”

“Dari mana kamu pelajari…”

Mendadak Klobot mengangkat tangan kanannya ke atas sampai batas telinga dan tangan kiri tertarik ke belakang. Muntahan jurus Kakang Kawah yang membuat Halayudha mengerutkan keningnya.

“Ini bagus. Aneh. Kenapa tenaga dalammu tidak langsung dikerahkan? Hei, ilmu apa yang kamu pelajari?”

Bahwa Halayudha sampai mengangkat kaki menghindar bisa menandai betapa ia menaruh perhatian besar pada apa yang dilakukan Klobot. Tenaga aneh yang bergulung, membentur, seolah menyadarkan Halayudha bahwa pengerahan tenaga dalam yang ganjil itu seperti sangat dikenalnya, tetapi juga berbeda dasarnya. Perbedaan dasar ini yang membuat semangat hidupnya tumbuh kembali seketika. Selama ini rasanya hampir menemui ilmu silat yang berbeda kembangannya, tetapi bukan sikap dasar.

“Itu bagus..Ayo, apa lagi?”

Lutut Kekuasaan
RAJA JAYANEGARA seakan bangun dari mimpi yang panjang sewaktu Halayudha meninggalkan Keraton. Mimpi yang kelewat panjang, yang tak pernah disadari secara penuh. Untuk pertama kali, telinganya mampu menangkap suara dari bibir yang lain. Selama ini telinganya seakan tidak ada gunanya. Kenyataan yang sederhana, namun membuat goresan yang dalam pada kesadaran batinnya. Padahal dimulainya dengan biasa-biasa sekali.

Saat dirinya mendekati dan melihat Halayudha yang kelihatan bingung, kelihatan kehilangan arah. Yang ternyata juga dialaminya. Kekuasaan yang tunggal, keunggulan di atas manusia mana pun di seluruh Keraton, justru membuatnya kosong, menyudutkan ke kesepian, dan menempatkan dalam bagian yang hampa. Dengan caranya sendiri, Halayudha memaksanya berlutut. Berlutut. Bersila.

Sesuatu yang sejak tahun-tahun terakhir ini tak pernah dilakukan. Tak ada isi Keraton yang dapat membuatnya bersila. Itu terjadi sejak Baginda menyingkir ke Simping. Dan dirinya secara penuh memegang kendali kekuasaan. Kalaupun ada, itu adalah Ibunda. Yang telah menyurutkan diri dan tak mempunyai pengaruh mendalam sejak dirinya mengangkat dan memilih Praba Raga Karana sebagai permaisuri. Dengan cara itu, dirinya telah memutuskan hubungan kehormatan yang selama ini berlangsung.

Tokoh lain adalah Senopati Agung Brahma. Yang kalau diperhitungkan urutan darah, lebih tua urutannya. Akan tetapi sudah sejak lama Senopati Agung Brahma berada di luar Tanah Jawa. Satu-satunya yang tersisa tinggal Permaisuri Rajapatni!

Ya, yang masih ada hanyalah Permaisuri Rajapatni yang kemudian sekali memilih bertapa di Simping. Penilaian Raja akan Permaisuri Rajapatni memang berbeda dari yang lainnya. Ada rasa enggan dan hormat yang dirasakan, sekaligus juga takut. Kedudukan Permaisuri Rajapatni termasuk paling istimewa sebagai permaisuri. Meskipun bukan permaisuri utama seperti ibundanya, Permaisuri Rajapatni diramalkan para Dewa bakal menurunkan raja terbesar di Tanah Jawa.

Itu salah satu ganjalan utama, yang akhirnya membuatnya memotong perhitungan para Dewa. Raja mengambil Putri Tunggadewi dan Rajadewi ke dalam kekuasaannya. Sehingga tak mungkin bisa meneruskan takhta, kalaupun ada kesempatan. Juga kemungkinan untuk mendapatkan pasangan sesama pangeran. Raja telah memutuskan untuk membiarkan ngurak, mati tua dengan sendirinya.

Ini semua pagar-pagar utama yang akan melanggengkan kekuasaannya. Seperti juga halnya tidak memberi kesempatan munculnya para pangeran anom ke atas permukaan. Tak akan pernah terdengar nama lain yang menonjol. Tak ada yang bisa dijadikan tempat berpaling. Walau sejenak. Tak ada orang kedua atau orang ketiga dalam Keraton. Lututnya tak pernah ditekuk untuk memberi penghormatan kepada orang lain.

Semua berjalan sebagaimana biasa, tidak pernah mengusik hatinya, kalau saja Halayudha tidak menyinggung soal keturunannya yang bakal lebih nista darinya. Keturunan? Menyerahkan kekuasaan? Apakah itu akan terjadi suatu ketika nanti?

Rasa-rasanya selama dirinya masih bisa memandang matahari, tak akan begitu saja menyerahkan kekuasaan tertinggi yang berada dalam genggamannya. Raja tak ingin mengalami seperti yang dialami Baginda, yang kemudian merasa tersisih, dan kedarang-darang, tersia-siakan, sampai di Simping. Kejadian seperti itu tak ingin diulangnya.

Itu pula sebabnya Raja tak begitu peduli ketika dirinya meninggalkan Keraton, dan Kuti untuk sementara berkuasa, seluruh kerabatnya tercerai-berai. Para selir, berikut putra-putranya, ikut lepas dari Keraton. Raja bahkan tak peduli apakah mereka ada yang kembali atau tidak. Tak pernah menghitung berapa jumlah mereka dan wajah mereka seperti apa. Semua toh sudah ada yang mengurusi, menghidupi, dan tak perlu benar dilihat.

Perdebatan dalam hati Raja bisa selalu dimenangkan sendiri. Selalu ada pembenaran kenapa berbuat ini dan itu. Hanya saja, satu-satunya orang yang mampu menggoyahkan pendapatnya memang Halayudha seorang. Mahapatih yang merasakan takhta dan menjadi linglung itu masih merupakan satu-satunya orang yang bisa berbicara dari sisi yang berbeda. Kalau ada nama lain, itu hanya Praba Raga Karana, pemijat yang diangkat sebagai permaisuri. Tidak ada yang lainnya.

Kini keduanya tak ada. Raja merasa sangat sepi dan bosan. Semua yang ditemui menyembah dan mengiyakan, seperti juga Mahapatih Jabung Krewes yang selalu mengatakan sumangga kersa Dalem. Terserah kehendak Raja.

“Krewes, apakah kamu tidak mempunyai pandangan, apa yang sebaiknya Ingsun lakukan untuk menikmati kegembiraan hidup ini?”

“Sumangga kersa Dalem, Ingkang Sinuwun. “Hamba akan melaksanakan sebaik-baiknya. Apakah Raja ingin berburu, membangun tamansari, atau menghendaki klangenan baru?”

“Ingsun muak dengan segala binatang buruan atau taman atau wanita yang begitu-begitu saja. Rasanya ada sesuatu yang bisa dilakukan.”

“Maaf, Sinuwun. Kalau menyangkut Keraton, yang menunggu sabda Raja tinggal nasib Senopati Banyak. Apakah harus menjalani hukuman tigas jangga, penggal kepala, atau yang Raja sabdakan.”

“Biar saja menunggu. Tak ada pikiran Ingsun mengurusi hal itu. Yang lain?”

“Maaf, Sinuwun. Hamba tak melihat ada yang perlu dilakukan. Semua, atas berkah Ingkang Sinuwun, lancar, baik, damai, dan sejahtera.”

“Atau ada yang harus Ingsun lakukan? Kamu tak akan berani mengatakan, Krewes. Meskipun kurasa sinar batinmu ingin menyebutkan mengenai kitab Kidungan Para Raja. Apakah tidak sebaiknya aku mulai menulis dalam kitab itu untuk kuwariskan kepada penerusku. Aku bahkan tak mengetahui kitab itu seperti apa, dan bagaimana menuliskannya. Sri Baginda Raja telah menuliskan panjang-lebar. Baginda pun telah menuliskan. Rasanya aku tinggal mengganti namanya saja. Kalau masih ada yang kupikirkan sekarang ini hanyalah sikap Tunggadewi dan Rajadewi. Ketika semua putri Keraton mengungsi dan berlarian serta tak ketahuan nasibnya, mereka berdua masih tetap berada dalam Keraton dan merasa aman. Apa yang menyebabkan keduanya begitu yakin bisa selamat?”

“Maaf, Sinuwun. Sejauh hamba tahu dari penuturan Senopati Banyak, kaputren utama memang tidak akan diganggu. Apa pun yang terjadi.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Merupakan kesepakatan para pemberontak.”

“Kalau begitu, mulai sekarang juga, kamu awasi dengan ketat. Segera laporkan atau ambil tindakan pengamanan kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Jangan-jangan mereka berdua mempunyai hubungan yang tidak kamu ketahui. Ini perlu. Sebab rasanya, atau seharusnya, tak ada lagi rasa hormat yang tersisa kepada Tunggadewi dan Rajadewi. Mereka berdua telah berada dalam kehinaan yang amat nista. Lakukan dengan hati-hati, Mahapatih. Karena keduanya keras kepala dan bisa menahankan semua penderitaan.”

“Sendika dawuh, Ingkang Sinuwun. Sekarang juga hamba akan melaksanakan.”

Disusul dengan sembah yang dalam, penghormatan yang rata dengan kaki, Mahapatih Jabung Krewes mengundurkan diri. Sesudah itu kembali sepi. Kosong seperti hati Raja.

JILID 86BUKU PERTAMAJILID 88