Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 86

Benar. Raja merasakan tangannya gemetar. Sentuhan dengan bumi membuat getaran yang kuat. Seakan memberikan sumber kekuatan. Selanjutnya tak terlalu sulit baginya untuk mengatur dengan tata aturan dalam dunia persilatan. Menunggu getaran hingga keras dan terkumpul, baru kemudian mengerahkan. Dan ternyata bisa berdiri. Meskipun masih sempoyongan. Dan pundaknya masih terasa sangat ngilu. Raja memandang kiri-kanan. Tak ada bayangan siapa-siapa.

“Maaf, Sinuwun, hamba tak berani menunjukkan diri. Mahapatih Halayudha masih ada di sekitar tempat ini.”

Raja menghela napas. Siapa gerangan yang menyebut dirinya hamba, dan memanggil Halayudha dengan sebutan Mahapatih, akan tetapi takut diketahui keberadaannya? Pertanyaan yang hanya berbunyi sesaat.

“Ingsun menunggumu di kamar peraduan. Karena kamu sudah bisa masuk kemari, pastilah tahu segala isinya. Kalau kamu takut bertemu Halayudha, akan Ingsun perintahkan untuk diusir selamanya.”

Tak ada jawaban. Tak ada suara. Raja masih bimbang ketika tiba-tiba merasa tubuhnya diseret ke tempat semula, dan pundaknya ditekan ke bawah. Hingga berlutut kembali seperti sebelumnya. Saat itu terdengar langkah Halayudha.

Pembalasan Pamungkas
HALAYUDHA muncul dan sedikit mengerutkan keningnya. “Bagaimana mungkin kamu bisa nebak bantala, menempelkan telapak tangan ke tanah? Siapa yang mengajarkan Kitab Bumi dengan cara seperti itu? Putaran tangan ke bumi, tanpa menyentuh, akan lebih sempurna. Tapi sudahlah. Sudah cukup pelajaran pertama hari ini. Kamu boleh merenungkan apa yang terjadi hari ini. Aku masih banyak urusan karena mestinya aku menemui seseorang, dan berjaga atas serangan orang lain. Yang susah kuingat namanya. Sudahlah. Sudah cukup.”

Telapak tangan Halayudha terulur. Lurus. Ketika telapak itu meninggi, tubuh Raja ikut terangkat. Hingga bisa berdiri. “Besok di tempat yang sama, pada waktu yang sama, aku akan mengajarkan hal yang lain. Sekarang aku mau jalan-jalan dulu. Barangkali kutemukan apa yang kucari tapi tidak kuketahui.”

Enteng sekali Halayudha meninggalkan Raja sendirian. Masih dengan menenteng Kangkam Galih. Ketika memasuki bangunan Keraton, ujung Kangkam Galih meninggalkan goresan dalam. Membelah batu keras. Selama Halayudha malang-melintang di Keraton, tak ada yang berani menghalangi atau menegur. Tidak juga Mahapatih Jabung Krewes yang berjaga bersama para prajurit kawal raja di tempat biasanya.

Mahapatih Jabung Krewes sama sekali tak merasa bahwa sesuatu yang sangat gawat tengah berlangsung. Yang juga tidak diketahui oleh Halayudha. Juga tidak disadari sepenuhnya oleh Raja. Karena kini yang memainkan peranan adalah Ngwang! Pendita terakhir yang merasa memikul seluruh tanggung jawab kebesaran Keraton Tartar yang selama ini selalu gagal menanamkan pengaruh di Tanah Jawa.

Sejak semula Ngawang telah menyiapkan dan menyerahkan sisa hidupnya untuk mempelajari segala sesuatu mengenai ilmu di tanah yang akan didatangi. Bahkan berhasil menciptakan jurus-jurus untuk mementahkan ajaran dalam Kitab Bumi.

Sebagai tokoh utama dan terakhir dari negerinya, Ngwang tak ingin mengulang kegagalan utusan sebelumnya. Terutama sekali, rombongan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Sang Hiang. Ketika Pangeran Putra Mahkota Tartar itu menjadi ragu, Ngwang yang menyembunyikan diri mengambil alih penyerangan.

Tidak berbeda jauh dari Gemuka, Ngwang pun berhitung tujuh kali sebelum melakukan sesuatu. Segala sesuatu diperhitungkan dengan amat sangat teliti. Apalagi setelah kegagalan usahanya dengan munculnya Halayudha yang menggenggam Kangkam Galih. Sejak itu otaknya berpikir tanpa henti.

Bahwa Tanah Jawa ini menyimpan kekuatan-kekuatan besar yang tak terkirakan, dengan memakai perhitungan apa saja. Begitu banyak tokoh sakti, begitu hebat medan yang dihadapi. Bahkan rasanya, dengan menundukkan raja saja tidak cukup untuk menaklukkan Tanah Jawa.

Ngwang mengumpulkan seluruh kemampuan untuk mengadakan pembalasan pamungkas, pembalasan terakhir. Yang diarah adalah Raja. Tidak dengan mengalahkan atau menculik, akan tetapi memakai sabda Raja untuk menyalurkan dendam seluruh kehormatan Tartar.

Itulah sebabnya Ngwang menyusup ke Keraton. Dan menunggu kesempatan cukup lama. Semua keinginan dan desakan hatinya disabarkan, agar bisa muncul pada saat yang diperlukan. Akhirnya hal itu terjadi. Saat Raja dipaksa berlutut oleh Halayudha. Ngwang bertindak. Menyelamatkan.

Akan tetapi tetap belum berani memunculkan dirinya. Karena kehadirannya sebagai orang manca bisa mempengaruhi kepercayaan Raja. Makanya tetap menahan diri. Hanya berbisik perlahan pada saat-saat tertentu. Ini membuahkan hasil, karena Raja mengikuti apa yang disarankan. Mengikuti apa yang diminta oleh Halayudha. Ini berarti langkah sangat penting. Karena dari sini, Ngwang ingin memakai tangan Halayudha, lewat pergulatan kebimbangan Raja!

Membuat Halayudha mengangkat senjata, dan akhirnya sebagai penyelesai masalah untuk menumpas Upasara Wulung. Dengan langkah ini, Ngwang bisa merampas dua hasil terbesar sekaligus. Mengalahkan ksatria lelananging jagat, gelar yang diincar para pendekar di seantero jagat, sekaligus membawa Raja. Dua kemenangan yang gilang gemilang. Kemungkinan untuk itu ada, dan tak boleh sedikit pun meleset.

Bagi Ngwang, mempersiapkan secara amat cermat merupakan syarat mutlak. Maka segala sesuatu direncanakan dengan cermat. Semua kemampuannya dikerahkan. Bukan hanya dalam ilmu silat. Ini yang akan dijajal. Yaitu memakai sangat atau saat yang tepat. Waktu menempati peranan yang sangat penting bagi Tanah Jawa. Itu semua diperoleh setelah sekian lama mempelajari adat Tanah Jawa.

Sekian lama mempelajari ajaran dari Tanah Jawa, Ngwang juga menemukan apa yang disebut sebagai pengapesan. Sesuatu yang berarti kesialan, atau titik terlemah. Seorang jago silat yang paling lihai sekalipun mempunyai pengapesan. Memiliki saat di mana seluruh kemampuannya berada pada titik terendah. Ini bisa diperhitungkan dari hari, waktu, sampai titik yang pas.

Sejauh yang diketahui, pada saat apes, seorang jago silat tak akan melakukan kegiatan yang berarti. Lebih suka bersemadi atau berdiam diri. Para jago silat sadar di mana kemampuannya berada dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan, atau malah bisa dikatakan mudah mencelakai diri. Dan setiap jago silat memiliki pengapesan.

Sebenarnya ini juga bukan sesuatu yang sama sekali baru bagi Ngwang. Dalam ajaran ilmu silat mana pun, selalu ada titik lemahnya. Kalau bisa mengetahui hal ini, kemenangan akan lebih mudah diraih. Bahkan ilmu silat yang diciptakan ini pun, berangkat dari melihat titik lemah ajaran Kitab Bumi. Kalau bisa masuk ke dalam titik lemah, meskipun satu titik, bisa menjadi pijakan untuk menguasai. Sangat itu datang setelah Ngwang berhasil membisiki Raja, dan Raja mengikuti perintahnya.

Ketika Halayudha sedang bersemadi seorang diri, Ngwang menumpahkan seluruh kesaktiannya dengan ajian sirepnya. Ajian yang bisa membuat orang lain terpengaruh. Sasarannya bukan langsung Halayudha, melainkan Raja. Yang mendatangi Halayudha ketika bersemadi. Ini merupakan salah satu keunggulan Ngwang yang tak bisa ditandingi oleh siapa pun di negerinya.

Bahkan tokoh sakti seperti Jaghana tak bisa mengendus. Bahkan Nyai Demang bisa disirep tanpa sadar. Hanya Upasara yang saat itu bisa melihat ada sesuatu yang kurang beres pada diri Pangeran Hiang. Hanya Upasara yang merasakan kehadiran Ngwang, meskipun tidak mengetahui dengan pasti di mana dan dalam bentuk apa kehadiran Ngwang. Kalau kemudian Nyai Demang mengetahui, itu terutama dari tanda-tanda yang bisa dibaca olehnya. Bukan dari penangkal sirep.

Kini saatnya! Raja Jayanegara berdiri di tempat yang agak jauh dari tempat bersila Halayudha. Suaranya parau. “Kemenangan segala kemenangan di tanganmu, Halayudha. Pedang sakti di tanganmu. Upasara hanya tinggal sejengkal di depanmu. Kenapa kamu tinggalkan?”

Antara sadar dan tidak, Halayudha mendengar lamat-lamat suara bisikan.

“Cari dia, Halayudha. Cari. Jangan berubah pendapat lagi. Jangan mendustai dirimu, bahwa Upasara bukan ksatria lelananging jagat. Kamu telah meraih semuanya, kecuali gelaran yang sangat kamu impikan. Sempurnakan dirimu, orang yang tak terkalahkan dalam segala hal. Kamulah kemenangan itu, kamulah mahamanusia yang sempurna. Di jagat ini dan jagat yang akan datang.” Ngwang terus berusaha mempengaruhi pikiran Halayudha melalui sosok Raja.

“Apa maumu?”

“Mengingatkan bahwa kemenangan sempurna bukan dalam angan-angan, tetapi bisa diwujudkan. Itulah inti ajaranmu.”

“Kamu tahu apa, Raja?”

“Aku tahu kamu masih ragu apakah kamu bisa mengungguli Upasara Wulung atau tidak. Kamu masih ragu melawan kekuatan utama, tenaga dalam Tanah air. Aku tahu bahkan berhadapan dengan Ngwang kamu jadi kecut. Padahal semuanya telah tergenggam. Dengan Kangkam Galih di tanganmu, kamu bisa melakukan semuanya. Sekarang saatnya.”

Mata Halayudha masih terpejam. “Mendekatlah, biar kutahu siapa kamu sebenarnya.”

Raja Jayanegara malah mundur. “Kamu tahu siapa Ingsun. Karena kamu telah memilihku untuk menerima ajaranmu.” Perlahan Raja menjauh. Meninggalkan Halayudha sendirian. Yang masih bertarung dalam semadinya.

Kebimbangan Tartar
NGWANG sudah menjauh sejak tadi. Sejak Halayudha mengendus dan meminta Raja mendekat. Karena kesadarannya yang tinggi menangkap getar yang tidak wajar. Ngwang tidak kuatir bahwa penyusupan sirepnya kurang berhasil. Periode yang paling sulit telah dilalui. Yaitu ketika mencoba meyakinkan Pangeran Sang Hiang! Itu semua terjadi ketika Pangeran Hiang sendirian, dan tidak memperhitungkan bahwa akhirnya Ngwang berani menampakkan diri. Ngwang bersoja hormat sekali.

“Aku tidak suka kehadiranmu.”

“Maaf, Putra Mahkota, pujaan dan harapan Keraton yang Menguasai Jagat Beserta isinya. Hamba menyadari bahwa Putra Mahkota selama ini tidak memandang hamba sebelah mata. Hamba pantas diperlakukan seperti itu. Lebih dari itu pun tetap pantas. Hamba menyusul bukan karena ingin memuaskan sang Pangeran. Itu akan selalu hamba jalani dengan rasa bahagia. Hamba…”

Wajah Pangeran Hiang berubah. Tangannya terkepal. Keras. “Jangan kamu sebut memuaskan diriku. Semua yang licik dan kotor telah kuhapus dari hidupku. Aku jijik bukan karena apa yang telah kamu lakukan. Melainkan apa yang kamu lakukan sekarang ini.”

Ngwang masih merunduk rata dengan tanah. Seperti menempel.

“Kamu tak mengetahui nilai yang lebih utama dari kemenangan. Nilai yang lebih berarti dari hubungan kita berdua. Yaitu nilai warisan leluhur kita sendiri, persahabatan. Persaudaraan. Aku telah mengangkat saudara dengan Pangeran Upasara Wulung, dan tak akan pernah ada pemutusan persaudaraan sampai kehidupan yang akan datang. Rasa seperti ini mempunyai makna yang belum pernah tersentuh oleh indriaku selama di Tartar.”

“Bunuhlah hamba, Pangeran…”

“Kembalilah. Aku tak membutuhkanmu lagi.” Tangan Pangeran Hiang mengibas.

Ngwang masih tetap bertiarap. “Bunuhlah hamba.” Ngwang meloncat maju, menubruk kaki Pangeran Hiang yang bergeser menghindar.

“Aku tak mau mengotori tanganku dengan membunuhmu.”

“Pangeran…”

Ngwang melakukan sesuatu yang tak terbayangkan oleh Pangeran Hiang. Pendita yang selama ini bersoja, menyembah, berlutut, menerjang ke arahnya. Dengan satu gerakan sangat cepat dan tak terduga. Dari segi ilmu silat, tak nanti Pangeran Hiang bisa dibekuk begitu saja. Tapi Ngwang mempergunakan kesempatan dengan caranya sendiri. Justru karena Pangeran Hiang tak menduga orang seperti dirinya yang bahkan mendongak saja tak berani-bakal membekuknya! Dan berhasil. Mata Pangeran melotot.

“Pangeran, akan saya lakukan apa yang menjadi dendam Tartar. Kalau ada yang bimbang, tidak boleh menghapus seluruhnya. Masih ada yang harus kita teruskan sejak Tartar yang Paling Agung menghendaki Tanah Jawa.”

Ngwang mengerahkan kemampuan ilmu sirepnya. Yang dilakukan dengan kasar, karena tak mampu mendekati dengan cara yang halus. Jalan pikiran Pangeran Hiang dikuasai dengan bebauan harum yang menjadi andalannya. Itulah saat Ngwang mulai muncul ke permukaan dan menampakkan diri. Memakai pakaian Pangeran Hiang, dan langsung menggebrak untuk menyandera Raja.

Semuanya hampir saja berhasil. Kalau saja Halayudha tidak menerobos dengan ketajaman dan kelicikannya. Kalau saja Mada tidak memperdaya. Kalau saja Upasara Wulung muncul. Kalau saja… Semua mengharuskan Ngwang memutar langkah dari awal. Sekarang melalui Raja, untuk mengadu Halayudha dengan Upasara Wulung!

Semua dilakukan dengan sangat halus. Karena Halayudha bisa curiga akan sesuatu yang terasa berbeda. Dalam keadaan kena sirep sekalipun, Halayudha masih akan mengangkat pedangnya jika menemukan bayangan Ngwang. Ini berarti tinggal langkah-langkah berikutnya. Apakah Halayudha benar-benar mencari Upasara Wulung, atau tidak. Pilihan Ngwang, lebih baik berangkat ke Perguruan Awan, dan menanti saat-saat yang sangat menentukan.

Sebenarnya Halayudha tetap tak bisa dipengaruhi begitu saja. Bahkan Raja Jayanegara tak akan mudah diterima. Hanya saja memang kesadaran Halayudha sudah melenceng banyak. Pengaruh ajaran mahamanusia yang bertubi-tubi telah menenggelamkan sebagian akal sehatnya menjadi berbalik-balik. Menyebabkan Halayudha tak bisa melihat berbagai pilihan jalan yang akan ditempuh, seperti keunggulannya di masa sebelumnya.

Kalau saja ada Mada yang selama ini bisa diajak bicara atau ada yang bisa diperhitungkan layak didengar suaranya, akan lain soalnya. Akan tetapi saat itu Mada sudah sampai di Daha. Dan segera menghadap Patih Tilam untuk menyampaikan apa yang diperintahkan Raja. Patih Tilam menerima Mada sendirian, dengan wajah yang membeku, suara kaku menahan gejolak perasaan yang menggelegak.

“Aku tahu perasaanmu, Mada. Aku sangat tahu betapa kamu tak bisa menerima ini semua. Saat ini kalaupun aku membunuhmu, tak ada yang akan mengusut. Raja sesembahan pun sudah menyerahkan nyawamu padaku. Aku berhak atas mati-hidupmu, Mada.”

“Demikianlah sesungguhnya.”

“Kamu akan segera merasakan.”

Mada menyembah.

“Sengaja semua ini kukatakan agar kamu bisa merasakan hal yang paling perih, paling menyakitkan, dan bisa kamu nikmati perlahan-lahan. Aku memberi waktu padamu untuk merasakan semua kehinaan yang terdalam, sebelum aku melenyapkanmu. Nikmatilah, Mada.”

Mada menunggu.

Patih Tilam tersenyum. “Pembalasan dendam, pelampiasan segala kutukan, dan akhirnya akan kubuktikan bahwa ramalan kebesaran dirimu di masa yang akan datang, ada di tanganku.”

Patih Tilam kembali tersenyum. Lalu meninggalkan ruangan. Mada masih terus menunggu. Sampai kemudian masuk beberapa prajurit dan meminta Mada mengikuti. Diiringkan para prajurit Mada menuju rumah yang disediakan sebagai tempat kediamannya. Dalam perjalanan, Mada telah menyiapkan batinnya untuk menerima perlakuan yang paling keji sekalipun. Kalaupun ia diperintahkan membuat sungai, membuang kotoran, menyapu halaman, semua akan dijalani.

Akan tetapi Patih Tilam ternyata tidak melakukan itu. Justru sebaliknya. Di tempat yang disediakan untuknya, Mada mendapat sambutan yang megah. Para prajurit kawal menyembah hormat, delapan dayang-dayang siap melayani. Segala kehormatan dan kebesaran ditujukan padanya. Bukan hanya itu saja. Keesokan harinya dalam pertemuan para prajurit utama, Patih Tilam menceritakan betapa prajurit Mada diangkat menjadi senopati oleh Raja.

Dan sebagai prajurit bisa dijadikan suri tauladan karena pengabdiannya yang besar. Seorang diri Mada mampu menyelamatkan Raja, dan bahkan menggalang persatuan untuk menghancurkan Senopati Kuti beserta seluruh pengikutnya tanpa kecuali.

“Adalah suatu kehormatan besar jika Keraton Tua ini menjadi tempat persinggahan prajurit kawal Keraton yang besar jasanya. Adalah kemurahan Raja yang tiada tara menempatkan pengawal pribadi di tempat ini. Mada, terimalah penghormatan kami semua.”

Mada mengangguk lembut. Buru-buru menyusuli dengan menyembah.

“Semua pintu di Keraton Tua ini terbuka untukmu.”

Benar-benar mencengangkan. Semua pintu terbuka untuk Mada dalam artian sebenarnya. Mada diperbolehkan menghadap saat pertemuan besar. Diizinkan masuk ke kapustakan, kaputren, tanpa perlu minta izin lebih dulu. Bahkan lebih dari itu semua, Pangeran Muda Wengker sendiri berkenan menerima pada pertemuan agung yang akan datang.

Sementara perlakuan sehari-hari sangat istimewa. Segala apa yang dikehendaki Mada, selama bisa diwujudkan akan segera dipenuhi. Baik untuk kesenangan pribadi maupun hal-hal yang lainnya. Di hari kelima, Patih Tilam mendatangi Mada, dan meminta semua prajurit menyingkir. Sehingga tinggal mereka berdua. Seperti ketika pertama kali Mada datang menghadap.

“Ada yang akan kau sampaikan padaku, Mada?”

“Rasa syukur yang dalam.”

Prajurit Utama Nala dan Naka
JAWABAN MADA tetap tenang. Seperti juga sikap secara keseluruhan. Tak ada sedikit pun rasa gentar atau takut.

“Adakah hatimu bertanya-tanya kenapa semua ini kulakukan padamu?”

“Hamba akan menerima.”

“Tanpa bertanya, kenapa aku tidak segera menghukummu?”

“Hamba menjalani apa yang Patih sabdakan.”

“Baik. Sekarang aku mau kamu menjawab dengan jujur. Kalau kamu menjadi aku, kira-kira apa yang menjadi alasanku?”

Sejenak Mada berdiam diri. Baru kemudian berkata perlahan. “Kalau hamba sebagai Patih berbuat ini, pertimbangannya tidak lain dan tidak bukan karena inilah yang terbaik.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Hamba mempunyai pilihan-pilihan. Pertama membalas sakit hati dengan cara menindas atau mempermalukan. Itu sangat biasa. Pilihan kedua lebih bijaksana, yaitu dengan menenggelamkan diri dalam kemewahan duniawi sehingga hamba akan tenggelam dalam kenistaan duniawi, dengan segala pesta-pora dan tak tahu diri. Sebagai contoh manusia yang tak mengetahui dan melihat asal-usulnya, dan melakukan aji mumpung, mempergunakan semua kesempatan selagi berkuasa dan bisa. Pilihan ketiga, saya harus diperhitungkan dengan cermat sebagai kaca benggala, sebagai cermin. Karena Raja yang telah diselamatkan, telah dikembalikan ke takhtanya, bisa membuang begitu saja seumpama daun kering. Itu bisa terjadi pada siapa pun, senopati mana pun, tanpa dasar pertimbangan kebijakan yang berarti. Masih pilihan ketiga, saya masih bisa dipakai tenaganya, sewaktu-waktu dibutuhkan. Dasar pertimbangan yang ketiga adalah bahwa sesungguhnya Raja tidak menjadi pusat sesembahan yang utama. Karena sabdanya tidak mencerminkan penguasa jagat dan pilihan Dewa. Kalau semua membela Raja, karena tidak suka menerima senopati mana pun merebut takhta. Pilihan keempat, saya dicurigai kenapa saya dikirim ke Daha. Bukan pengasingan yang lain. Apakah bukan karena Raja masih menaruh prasangka atas kesetiaan Pangeran Muda Wengker? Bukankah selama Raja meninggalkan Keraton, kesetiaan Pangeran Muda Wengker serta Pangeran Anom Angon Kertawardhana tidak terlihat sepenuhnya? Dalam pilihan keempat ini terkandung kemungkinan saya diutus kemari untuk meneliti, menyelidiki sejauh mana kesetiaan itu masih ada. Bahwa pilihan kemari sebagai sumber kecurigaan, dan bukan ke Keraton Tua Singasari, di luar kemampuan hamba untuk memperkirakan.”

Patih Tilam menghapus bibirnya dengan punggung tangan. “Menurut pendapatmu, pilihan mana yang paling tepat?”

“Semua pilihan tepat. Karena tidak hanya satu alasan.”

Patih Tilam menghapus bibirnya dengan punggung tangan untuk kedua kalinya. “Kenapa semua alasan tepat, Mada?”

“Apa yang terjadi di Keraton, bisa terjadi di Keraton Tua atau di mana saja.Paduka Patih Tilam lebih mengetahui dari hamba. Paduka bisa melihat jauh ke depan, kepada kejadian yang belum datang. Sebagai penasihat rohani pangeran kanoman, Paduka bisa merasa terancam derajat dan pangkat Paduka dengan kehadiran saya di sini. Kalau tidak keliru, Paduka Patih melihat bahwa hamba ini di kelak kemudian hari akan bisa menjadi ganjalan utama yang sangat berarti bagi Patih Tilam.”

“Aku hargai sepenuhnya kejujuranmu. Ternyata aku keliru menangkap sikapmu yang kuanggap kurang ajar.”

Mada tidak memperlihatkan bahwa dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang bisa membuat Patih Tilam murka. Mada hanya mengatakan apa yang diketahui. Menjawab apa yang ditanyakan sejauh bisa dijawab. Dan tidak menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan hatinya.

“Yang menetes dari sumbernya. Ajaran mahamanusia yang kamu cerna langsung sungguh luar biasa. Sekarang katakan lagi, Mada, apakah ramalanku tentang dirimu bisa terjadi?”

“Semua penglihatan jauh bisa melihat apa yang akan terjadi. Hanya saja, kapan ramalan menjadi kenyataan, tidak menjadi perhitungan ketika meramalkan.”

“Baik. Kalau begitu kita sama-sama menunggu, apa yang akan terjadi. Apakah kamu bisa lolos dengan baik, sesuai dengan kepercayaan yang membuat tak ketakutan, atau memang harus menjalani apa yang seharusnya kamu alami. Kemungkinannya sama besar, Mada. Bagiku ini juga ujian besar. Selama ini aku dikenal sebagai peramal, tapi juga disepelekan. Sebagian priyagung pembesar Keraton menganggap Patih Wangkong lebih tepat karena berguru langsung dari ajaran Mpu Raganata. Entah mana yang tepat. Meskipun sekarang ini aku lebih suka keliru.”

Mada menyembah. Sampai Patih Tilam meninggalkan begitu saja.

JILID 85BUKU PERTAMAJILID 87

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 86

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 86

Benar. Raja merasakan tangannya gemetar. Sentuhan dengan bumi membuat getaran yang kuat. Seakan memberikan sumber kekuatan. Selanjutnya tak terlalu sulit baginya untuk mengatur dengan tata aturan dalam dunia persilatan. Menunggu getaran hingga keras dan terkumpul, baru kemudian mengerahkan. Dan ternyata bisa berdiri. Meskipun masih sempoyongan. Dan pundaknya masih terasa sangat ngilu. Raja memandang kiri-kanan. Tak ada bayangan siapa-siapa.

“Maaf, Sinuwun, hamba tak berani menunjukkan diri. Mahapatih Halayudha masih ada di sekitar tempat ini.”

Raja menghela napas. Siapa gerangan yang menyebut dirinya hamba, dan memanggil Halayudha dengan sebutan Mahapatih, akan tetapi takut diketahui keberadaannya? Pertanyaan yang hanya berbunyi sesaat.

“Ingsun menunggumu di kamar peraduan. Karena kamu sudah bisa masuk kemari, pastilah tahu segala isinya. Kalau kamu takut bertemu Halayudha, akan Ingsun perintahkan untuk diusir selamanya.”

Tak ada jawaban. Tak ada suara. Raja masih bimbang ketika tiba-tiba merasa tubuhnya diseret ke tempat semula, dan pundaknya ditekan ke bawah. Hingga berlutut kembali seperti sebelumnya. Saat itu terdengar langkah Halayudha.

Pembalasan Pamungkas
HALAYUDHA muncul dan sedikit mengerutkan keningnya. “Bagaimana mungkin kamu bisa nebak bantala, menempelkan telapak tangan ke tanah? Siapa yang mengajarkan Kitab Bumi dengan cara seperti itu? Putaran tangan ke bumi, tanpa menyentuh, akan lebih sempurna. Tapi sudahlah. Sudah cukup pelajaran pertama hari ini. Kamu boleh merenungkan apa yang terjadi hari ini. Aku masih banyak urusan karena mestinya aku menemui seseorang, dan berjaga atas serangan orang lain. Yang susah kuingat namanya. Sudahlah. Sudah cukup.”

Telapak tangan Halayudha terulur. Lurus. Ketika telapak itu meninggi, tubuh Raja ikut terangkat. Hingga bisa berdiri. “Besok di tempat yang sama, pada waktu yang sama, aku akan mengajarkan hal yang lain. Sekarang aku mau jalan-jalan dulu. Barangkali kutemukan apa yang kucari tapi tidak kuketahui.”

Enteng sekali Halayudha meninggalkan Raja sendirian. Masih dengan menenteng Kangkam Galih. Ketika memasuki bangunan Keraton, ujung Kangkam Galih meninggalkan goresan dalam. Membelah batu keras. Selama Halayudha malang-melintang di Keraton, tak ada yang berani menghalangi atau menegur. Tidak juga Mahapatih Jabung Krewes yang berjaga bersama para prajurit kawal raja di tempat biasanya.

Mahapatih Jabung Krewes sama sekali tak merasa bahwa sesuatu yang sangat gawat tengah berlangsung. Yang juga tidak diketahui oleh Halayudha. Juga tidak disadari sepenuhnya oleh Raja. Karena kini yang memainkan peranan adalah Ngwang! Pendita terakhir yang merasa memikul seluruh tanggung jawab kebesaran Keraton Tartar yang selama ini selalu gagal menanamkan pengaruh di Tanah Jawa.

Sejak semula Ngawang telah menyiapkan dan menyerahkan sisa hidupnya untuk mempelajari segala sesuatu mengenai ilmu di tanah yang akan didatangi. Bahkan berhasil menciptakan jurus-jurus untuk mementahkan ajaran dalam Kitab Bumi.

Sebagai tokoh utama dan terakhir dari negerinya, Ngwang tak ingin mengulang kegagalan utusan sebelumnya. Terutama sekali, rombongan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Sang Hiang. Ketika Pangeran Putra Mahkota Tartar itu menjadi ragu, Ngwang yang menyembunyikan diri mengambil alih penyerangan.

Tidak berbeda jauh dari Gemuka, Ngwang pun berhitung tujuh kali sebelum melakukan sesuatu. Segala sesuatu diperhitungkan dengan amat sangat teliti. Apalagi setelah kegagalan usahanya dengan munculnya Halayudha yang menggenggam Kangkam Galih. Sejak itu otaknya berpikir tanpa henti.

Bahwa Tanah Jawa ini menyimpan kekuatan-kekuatan besar yang tak terkirakan, dengan memakai perhitungan apa saja. Begitu banyak tokoh sakti, begitu hebat medan yang dihadapi. Bahkan rasanya, dengan menundukkan raja saja tidak cukup untuk menaklukkan Tanah Jawa.

Ngwang mengumpulkan seluruh kemampuan untuk mengadakan pembalasan pamungkas, pembalasan terakhir. Yang diarah adalah Raja. Tidak dengan mengalahkan atau menculik, akan tetapi memakai sabda Raja untuk menyalurkan dendam seluruh kehormatan Tartar.

Itulah sebabnya Ngwang menyusup ke Keraton. Dan menunggu kesempatan cukup lama. Semua keinginan dan desakan hatinya disabarkan, agar bisa muncul pada saat yang diperlukan. Akhirnya hal itu terjadi. Saat Raja dipaksa berlutut oleh Halayudha. Ngwang bertindak. Menyelamatkan.

Akan tetapi tetap belum berani memunculkan dirinya. Karena kehadirannya sebagai orang manca bisa mempengaruhi kepercayaan Raja. Makanya tetap menahan diri. Hanya berbisik perlahan pada saat-saat tertentu. Ini membuahkan hasil, karena Raja mengikuti apa yang disarankan. Mengikuti apa yang diminta oleh Halayudha. Ini berarti langkah sangat penting. Karena dari sini, Ngwang ingin memakai tangan Halayudha, lewat pergulatan kebimbangan Raja!

Membuat Halayudha mengangkat senjata, dan akhirnya sebagai penyelesai masalah untuk menumpas Upasara Wulung. Dengan langkah ini, Ngwang bisa merampas dua hasil terbesar sekaligus. Mengalahkan ksatria lelananging jagat, gelar yang diincar para pendekar di seantero jagat, sekaligus membawa Raja. Dua kemenangan yang gilang gemilang. Kemungkinan untuk itu ada, dan tak boleh sedikit pun meleset.

Bagi Ngwang, mempersiapkan secara amat cermat merupakan syarat mutlak. Maka segala sesuatu direncanakan dengan cermat. Semua kemampuannya dikerahkan. Bukan hanya dalam ilmu silat. Ini yang akan dijajal. Yaitu memakai sangat atau saat yang tepat. Waktu menempati peranan yang sangat penting bagi Tanah Jawa. Itu semua diperoleh setelah sekian lama mempelajari adat Tanah Jawa.

Sekian lama mempelajari ajaran dari Tanah Jawa, Ngwang juga menemukan apa yang disebut sebagai pengapesan. Sesuatu yang berarti kesialan, atau titik terlemah. Seorang jago silat yang paling lihai sekalipun mempunyai pengapesan. Memiliki saat di mana seluruh kemampuannya berada pada titik terendah. Ini bisa diperhitungkan dari hari, waktu, sampai titik yang pas.

Sejauh yang diketahui, pada saat apes, seorang jago silat tak akan melakukan kegiatan yang berarti. Lebih suka bersemadi atau berdiam diri. Para jago silat sadar di mana kemampuannya berada dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan, atau malah bisa dikatakan mudah mencelakai diri. Dan setiap jago silat memiliki pengapesan.

Sebenarnya ini juga bukan sesuatu yang sama sekali baru bagi Ngwang. Dalam ajaran ilmu silat mana pun, selalu ada titik lemahnya. Kalau bisa mengetahui hal ini, kemenangan akan lebih mudah diraih. Bahkan ilmu silat yang diciptakan ini pun, berangkat dari melihat titik lemah ajaran Kitab Bumi. Kalau bisa masuk ke dalam titik lemah, meskipun satu titik, bisa menjadi pijakan untuk menguasai. Sangat itu datang setelah Ngwang berhasil membisiki Raja, dan Raja mengikuti perintahnya.

Ketika Halayudha sedang bersemadi seorang diri, Ngwang menumpahkan seluruh kesaktiannya dengan ajian sirepnya. Ajian yang bisa membuat orang lain terpengaruh. Sasarannya bukan langsung Halayudha, melainkan Raja. Yang mendatangi Halayudha ketika bersemadi. Ini merupakan salah satu keunggulan Ngwang yang tak bisa ditandingi oleh siapa pun di negerinya.

Bahkan tokoh sakti seperti Jaghana tak bisa mengendus. Bahkan Nyai Demang bisa disirep tanpa sadar. Hanya Upasara yang saat itu bisa melihat ada sesuatu yang kurang beres pada diri Pangeran Hiang. Hanya Upasara yang merasakan kehadiran Ngwang, meskipun tidak mengetahui dengan pasti di mana dan dalam bentuk apa kehadiran Ngwang. Kalau kemudian Nyai Demang mengetahui, itu terutama dari tanda-tanda yang bisa dibaca olehnya. Bukan dari penangkal sirep.

Kini saatnya! Raja Jayanegara berdiri di tempat yang agak jauh dari tempat bersila Halayudha. Suaranya parau. “Kemenangan segala kemenangan di tanganmu, Halayudha. Pedang sakti di tanganmu. Upasara hanya tinggal sejengkal di depanmu. Kenapa kamu tinggalkan?”

Antara sadar dan tidak, Halayudha mendengar lamat-lamat suara bisikan.

“Cari dia, Halayudha. Cari. Jangan berubah pendapat lagi. Jangan mendustai dirimu, bahwa Upasara bukan ksatria lelananging jagat. Kamu telah meraih semuanya, kecuali gelaran yang sangat kamu impikan. Sempurnakan dirimu, orang yang tak terkalahkan dalam segala hal. Kamulah kemenangan itu, kamulah mahamanusia yang sempurna. Di jagat ini dan jagat yang akan datang.” Ngwang terus berusaha mempengaruhi pikiran Halayudha melalui sosok Raja.

“Apa maumu?”

“Mengingatkan bahwa kemenangan sempurna bukan dalam angan-angan, tetapi bisa diwujudkan. Itulah inti ajaranmu.”

“Kamu tahu apa, Raja?”

“Aku tahu kamu masih ragu apakah kamu bisa mengungguli Upasara Wulung atau tidak. Kamu masih ragu melawan kekuatan utama, tenaga dalam Tanah air. Aku tahu bahkan berhadapan dengan Ngwang kamu jadi kecut. Padahal semuanya telah tergenggam. Dengan Kangkam Galih di tanganmu, kamu bisa melakukan semuanya. Sekarang saatnya.”

Mata Halayudha masih terpejam. “Mendekatlah, biar kutahu siapa kamu sebenarnya.”

Raja Jayanegara malah mundur. “Kamu tahu siapa Ingsun. Karena kamu telah memilihku untuk menerima ajaranmu.” Perlahan Raja menjauh. Meninggalkan Halayudha sendirian. Yang masih bertarung dalam semadinya.

Kebimbangan Tartar
NGWANG sudah menjauh sejak tadi. Sejak Halayudha mengendus dan meminta Raja mendekat. Karena kesadarannya yang tinggi menangkap getar yang tidak wajar. Ngwang tidak kuatir bahwa penyusupan sirepnya kurang berhasil. Periode yang paling sulit telah dilalui. Yaitu ketika mencoba meyakinkan Pangeran Sang Hiang! Itu semua terjadi ketika Pangeran Hiang sendirian, dan tidak memperhitungkan bahwa akhirnya Ngwang berani menampakkan diri. Ngwang bersoja hormat sekali.

“Aku tidak suka kehadiranmu.”

“Maaf, Putra Mahkota, pujaan dan harapan Keraton yang Menguasai Jagat Beserta isinya. Hamba menyadari bahwa Putra Mahkota selama ini tidak memandang hamba sebelah mata. Hamba pantas diperlakukan seperti itu. Lebih dari itu pun tetap pantas. Hamba menyusul bukan karena ingin memuaskan sang Pangeran. Itu akan selalu hamba jalani dengan rasa bahagia. Hamba…”

Wajah Pangeran Hiang berubah. Tangannya terkepal. Keras. “Jangan kamu sebut memuaskan diriku. Semua yang licik dan kotor telah kuhapus dari hidupku. Aku jijik bukan karena apa yang telah kamu lakukan. Melainkan apa yang kamu lakukan sekarang ini.”

Ngwang masih merunduk rata dengan tanah. Seperti menempel.

“Kamu tak mengetahui nilai yang lebih utama dari kemenangan. Nilai yang lebih berarti dari hubungan kita berdua. Yaitu nilai warisan leluhur kita sendiri, persahabatan. Persaudaraan. Aku telah mengangkat saudara dengan Pangeran Upasara Wulung, dan tak akan pernah ada pemutusan persaudaraan sampai kehidupan yang akan datang. Rasa seperti ini mempunyai makna yang belum pernah tersentuh oleh indriaku selama di Tartar.”

“Bunuhlah hamba, Pangeran…”

“Kembalilah. Aku tak membutuhkanmu lagi.” Tangan Pangeran Hiang mengibas.

Ngwang masih tetap bertiarap. “Bunuhlah hamba.” Ngwang meloncat maju, menubruk kaki Pangeran Hiang yang bergeser menghindar.

“Aku tak mau mengotori tanganku dengan membunuhmu.”

“Pangeran…”

Ngwang melakukan sesuatu yang tak terbayangkan oleh Pangeran Hiang. Pendita yang selama ini bersoja, menyembah, berlutut, menerjang ke arahnya. Dengan satu gerakan sangat cepat dan tak terduga. Dari segi ilmu silat, tak nanti Pangeran Hiang bisa dibekuk begitu saja. Tapi Ngwang mempergunakan kesempatan dengan caranya sendiri. Justru karena Pangeran Hiang tak menduga orang seperti dirinya yang bahkan mendongak saja tak berani-bakal membekuknya! Dan berhasil. Mata Pangeran melotot.

“Pangeran, akan saya lakukan apa yang menjadi dendam Tartar. Kalau ada yang bimbang, tidak boleh menghapus seluruhnya. Masih ada yang harus kita teruskan sejak Tartar yang Paling Agung menghendaki Tanah Jawa.”

Ngwang mengerahkan kemampuan ilmu sirepnya. Yang dilakukan dengan kasar, karena tak mampu mendekati dengan cara yang halus. Jalan pikiran Pangeran Hiang dikuasai dengan bebauan harum yang menjadi andalannya. Itulah saat Ngwang mulai muncul ke permukaan dan menampakkan diri. Memakai pakaian Pangeran Hiang, dan langsung menggebrak untuk menyandera Raja.

Semuanya hampir saja berhasil. Kalau saja Halayudha tidak menerobos dengan ketajaman dan kelicikannya. Kalau saja Mada tidak memperdaya. Kalau saja Upasara Wulung muncul. Kalau saja… Semua mengharuskan Ngwang memutar langkah dari awal. Sekarang melalui Raja, untuk mengadu Halayudha dengan Upasara Wulung!

Semua dilakukan dengan sangat halus. Karena Halayudha bisa curiga akan sesuatu yang terasa berbeda. Dalam keadaan kena sirep sekalipun, Halayudha masih akan mengangkat pedangnya jika menemukan bayangan Ngwang. Ini berarti tinggal langkah-langkah berikutnya. Apakah Halayudha benar-benar mencari Upasara Wulung, atau tidak. Pilihan Ngwang, lebih baik berangkat ke Perguruan Awan, dan menanti saat-saat yang sangat menentukan.

Sebenarnya Halayudha tetap tak bisa dipengaruhi begitu saja. Bahkan Raja Jayanegara tak akan mudah diterima. Hanya saja memang kesadaran Halayudha sudah melenceng banyak. Pengaruh ajaran mahamanusia yang bertubi-tubi telah menenggelamkan sebagian akal sehatnya menjadi berbalik-balik. Menyebabkan Halayudha tak bisa melihat berbagai pilihan jalan yang akan ditempuh, seperti keunggulannya di masa sebelumnya.

Kalau saja ada Mada yang selama ini bisa diajak bicara atau ada yang bisa diperhitungkan layak didengar suaranya, akan lain soalnya. Akan tetapi saat itu Mada sudah sampai di Daha. Dan segera menghadap Patih Tilam untuk menyampaikan apa yang diperintahkan Raja. Patih Tilam menerima Mada sendirian, dengan wajah yang membeku, suara kaku menahan gejolak perasaan yang menggelegak.

“Aku tahu perasaanmu, Mada. Aku sangat tahu betapa kamu tak bisa menerima ini semua. Saat ini kalaupun aku membunuhmu, tak ada yang akan mengusut. Raja sesembahan pun sudah menyerahkan nyawamu padaku. Aku berhak atas mati-hidupmu, Mada.”

“Demikianlah sesungguhnya.”

“Kamu akan segera merasakan.”

Mada menyembah.

“Sengaja semua ini kukatakan agar kamu bisa merasakan hal yang paling perih, paling menyakitkan, dan bisa kamu nikmati perlahan-lahan. Aku memberi waktu padamu untuk merasakan semua kehinaan yang terdalam, sebelum aku melenyapkanmu. Nikmatilah, Mada.”

Mada menunggu.

Patih Tilam tersenyum. “Pembalasan dendam, pelampiasan segala kutukan, dan akhirnya akan kubuktikan bahwa ramalan kebesaran dirimu di masa yang akan datang, ada di tanganku.”

Patih Tilam kembali tersenyum. Lalu meninggalkan ruangan. Mada masih terus menunggu. Sampai kemudian masuk beberapa prajurit dan meminta Mada mengikuti. Diiringkan para prajurit Mada menuju rumah yang disediakan sebagai tempat kediamannya. Dalam perjalanan, Mada telah menyiapkan batinnya untuk menerima perlakuan yang paling keji sekalipun. Kalaupun ia diperintahkan membuat sungai, membuang kotoran, menyapu halaman, semua akan dijalani.

Akan tetapi Patih Tilam ternyata tidak melakukan itu. Justru sebaliknya. Di tempat yang disediakan untuknya, Mada mendapat sambutan yang megah. Para prajurit kawal menyembah hormat, delapan dayang-dayang siap melayani. Segala kehormatan dan kebesaran ditujukan padanya. Bukan hanya itu saja. Keesokan harinya dalam pertemuan para prajurit utama, Patih Tilam menceritakan betapa prajurit Mada diangkat menjadi senopati oleh Raja.

Dan sebagai prajurit bisa dijadikan suri tauladan karena pengabdiannya yang besar. Seorang diri Mada mampu menyelamatkan Raja, dan bahkan menggalang persatuan untuk menghancurkan Senopati Kuti beserta seluruh pengikutnya tanpa kecuali.

“Adalah suatu kehormatan besar jika Keraton Tua ini menjadi tempat persinggahan prajurit kawal Keraton yang besar jasanya. Adalah kemurahan Raja yang tiada tara menempatkan pengawal pribadi di tempat ini. Mada, terimalah penghormatan kami semua.”

Mada mengangguk lembut. Buru-buru menyusuli dengan menyembah.

“Semua pintu di Keraton Tua ini terbuka untukmu.”

Benar-benar mencengangkan. Semua pintu terbuka untuk Mada dalam artian sebenarnya. Mada diperbolehkan menghadap saat pertemuan besar. Diizinkan masuk ke kapustakan, kaputren, tanpa perlu minta izin lebih dulu. Bahkan lebih dari itu semua, Pangeran Muda Wengker sendiri berkenan menerima pada pertemuan agung yang akan datang.

Sementara perlakuan sehari-hari sangat istimewa. Segala apa yang dikehendaki Mada, selama bisa diwujudkan akan segera dipenuhi. Baik untuk kesenangan pribadi maupun hal-hal yang lainnya. Di hari kelima, Patih Tilam mendatangi Mada, dan meminta semua prajurit menyingkir. Sehingga tinggal mereka berdua. Seperti ketika pertama kali Mada datang menghadap.

“Ada yang akan kau sampaikan padaku, Mada?”

“Rasa syukur yang dalam.”

Prajurit Utama Nala dan Naka
JAWABAN MADA tetap tenang. Seperti juga sikap secara keseluruhan. Tak ada sedikit pun rasa gentar atau takut.

“Adakah hatimu bertanya-tanya kenapa semua ini kulakukan padamu?”

“Hamba akan menerima.”

“Tanpa bertanya, kenapa aku tidak segera menghukummu?”

“Hamba menjalani apa yang Patih sabdakan.”

“Baik. Sekarang aku mau kamu menjawab dengan jujur. Kalau kamu menjadi aku, kira-kira apa yang menjadi alasanku?”

Sejenak Mada berdiam diri. Baru kemudian berkata perlahan. “Kalau hamba sebagai Patih berbuat ini, pertimbangannya tidak lain dan tidak bukan karena inilah yang terbaik.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Hamba mempunyai pilihan-pilihan. Pertama membalas sakit hati dengan cara menindas atau mempermalukan. Itu sangat biasa. Pilihan kedua lebih bijaksana, yaitu dengan menenggelamkan diri dalam kemewahan duniawi sehingga hamba akan tenggelam dalam kenistaan duniawi, dengan segala pesta-pora dan tak tahu diri. Sebagai contoh manusia yang tak mengetahui dan melihat asal-usulnya, dan melakukan aji mumpung, mempergunakan semua kesempatan selagi berkuasa dan bisa. Pilihan ketiga, saya harus diperhitungkan dengan cermat sebagai kaca benggala, sebagai cermin. Karena Raja yang telah diselamatkan, telah dikembalikan ke takhtanya, bisa membuang begitu saja seumpama daun kering. Itu bisa terjadi pada siapa pun, senopati mana pun, tanpa dasar pertimbangan kebijakan yang berarti. Masih pilihan ketiga, saya masih bisa dipakai tenaganya, sewaktu-waktu dibutuhkan. Dasar pertimbangan yang ketiga adalah bahwa sesungguhnya Raja tidak menjadi pusat sesembahan yang utama. Karena sabdanya tidak mencerminkan penguasa jagat dan pilihan Dewa. Kalau semua membela Raja, karena tidak suka menerima senopati mana pun merebut takhta. Pilihan keempat, saya dicurigai kenapa saya dikirim ke Daha. Bukan pengasingan yang lain. Apakah bukan karena Raja masih menaruh prasangka atas kesetiaan Pangeran Muda Wengker? Bukankah selama Raja meninggalkan Keraton, kesetiaan Pangeran Muda Wengker serta Pangeran Anom Angon Kertawardhana tidak terlihat sepenuhnya? Dalam pilihan keempat ini terkandung kemungkinan saya diutus kemari untuk meneliti, menyelidiki sejauh mana kesetiaan itu masih ada. Bahwa pilihan kemari sebagai sumber kecurigaan, dan bukan ke Keraton Tua Singasari, di luar kemampuan hamba untuk memperkirakan.”

Patih Tilam menghapus bibirnya dengan punggung tangan. “Menurut pendapatmu, pilihan mana yang paling tepat?”

“Semua pilihan tepat. Karena tidak hanya satu alasan.”

Patih Tilam menghapus bibirnya dengan punggung tangan untuk kedua kalinya. “Kenapa semua alasan tepat, Mada?”

“Apa yang terjadi di Keraton, bisa terjadi di Keraton Tua atau di mana saja.Paduka Patih Tilam lebih mengetahui dari hamba. Paduka bisa melihat jauh ke depan, kepada kejadian yang belum datang. Sebagai penasihat rohani pangeran kanoman, Paduka bisa merasa terancam derajat dan pangkat Paduka dengan kehadiran saya di sini. Kalau tidak keliru, Paduka Patih melihat bahwa hamba ini di kelak kemudian hari akan bisa menjadi ganjalan utama yang sangat berarti bagi Patih Tilam.”

“Aku hargai sepenuhnya kejujuranmu. Ternyata aku keliru menangkap sikapmu yang kuanggap kurang ajar.”

Mada tidak memperlihatkan bahwa dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang bisa membuat Patih Tilam murka. Mada hanya mengatakan apa yang diketahui. Menjawab apa yang ditanyakan sejauh bisa dijawab. Dan tidak menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan hatinya.

“Yang menetes dari sumbernya. Ajaran mahamanusia yang kamu cerna langsung sungguh luar biasa. Sekarang katakan lagi, Mada, apakah ramalanku tentang dirimu bisa terjadi?”

“Semua penglihatan jauh bisa melihat apa yang akan terjadi. Hanya saja, kapan ramalan menjadi kenyataan, tidak menjadi perhitungan ketika meramalkan.”

“Baik. Kalau begitu kita sama-sama menunggu, apa yang akan terjadi. Apakah kamu bisa lolos dengan baik, sesuai dengan kepercayaan yang membuat tak ketakutan, atau memang harus menjalani apa yang seharusnya kamu alami. Kemungkinannya sama besar, Mada. Bagiku ini juga ujian besar. Selama ini aku dikenal sebagai peramal, tapi juga disepelekan. Sebagian priyagung pembesar Keraton menganggap Patih Wangkong lebih tepat karena berguru langsung dari ajaran Mpu Raganata. Entah mana yang tepat. Meskipun sekarang ini aku lebih suka keliru.”

Mada menyembah. Sampai Patih Tilam meninggalkan begitu saja.

JILID 85BUKU PERTAMAJILID 87