Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 84

Upasara Wulung mulai. Hanya dengan satu tarikan napas, kekuatannya bisa dipusatkan. Sesuatu yang terjadi dengan sendirinya berkat latihan dan pengalaman puluhan tahun. Demikian juga dengan Gendhuk Tri. Meskipun ilmunya tidak sedalam mereka berdua, Nyai Demang tetap bisa melakukan dengan cepat. Berbeda dengan Klobot yang matanya dipicing-picingkan rapat.

“Tenang saja. Jangan memaksa diri. Atur napas dengan baik. Tarik napas dalam, dalam sekali. Tahan. Salurkan lewat hidung ke atas, ke ubun-ubun, bawa ke belakang meniti tulang belakang. Kumpulkan di bawah pusar. Tahan sekuatnya. Baru kemudian entakkan. Sewaktu mengentakkan napas masih ditahan. Tak perlu dengan gerakan tangan. Bisa dengan gerakan perut. Perut dikembangkan ke depan. Hekg. Hekg. Setelah melontarkan, tarik napas, dan ulangi seperti tadi. Tak perlu menggerakkan tangan memukul, kaki menendang. Nanti akan tersalur dengan sendirinya ke arah mana pikiranmu menuntunnya, ke arah mana hatimu menghendaki. Pasrahkan dirimu. Serahkan dirimu. Jangan pedulikan sekitar. Tak ada krendi, tak ada Rama Wulung, tak ada Ibu Tri, Eyang Putri Nyai, tak ada siapa-siapa. Layangkan tubuh, hingga terasa mengambang.”

Klobot berusaha keras. Akan tetapi justru Cubluk yang bisa rumasuk, yang dadi. Tubuhnya lemas, pasrah, sehingga ketika Gendhuk Tri menyentuh sedikit saja, tubuh itu terguling. Tanpa dirasakan oleh Cubluk yang seolah tertidur lelap. Napasnya naik-turun, tangannya bergerak-gerak.

“Jangan ditahan. Biarkan gerakan tanganmu, kakimu, kepalamu, biarkan tenaga itu menguasai. Ikuti saja. Ikuti terus.”

Tubuh Cubluk yang terbaring lembut mulai bergerak. Tangannya bergerak bagai menari. Mengarah ke depan, ke atas kepala, ke bawah, membentuk gerakan menyembah.

Klobot yang tak bisa memusatkan pikiran jadi memperhatikan dengan mata terbengong. Buru-buru menutup kembali karena takut diketahui Nyai Demang. Hanya saja telinga tetap terbuka dan mendengarkan percakapan yang terjadi. Tak ada lagi konsentrasi dalam dirinya.

“Dadi, Kakang….”

“Cubluk lebih pasrah. Tidak seperti Klobot yang masih gelisah. Tenaga dalam Cubluk akan mengisi sendiri.”

Hanya kemudian disusul dengan helaan napas berat Nyai Demang. “Saya masih tak bisa mengerti. Kenapa seorang yang begitu suci, begitu murni, begitu polos seperti Cubluk bisa menderita bercak hitam yang mengerikan. Luar biasa sekali. Anak ini cerdas luar biasa. Sebelum kita selesai mengatakan, Cubluk telah melakukan. Jangan-jangan selama ini Cubluk telah mempelajari cara berlatih.”

“Rasanya tidak, Nyai. Tenaga dalamnya sangat murni. Itulah yang mencemaskan.”

Tanpa melanjutkan kalimatnya, Upasara merasa telah menjelaskan kepada Nyai Demang apa yang sesungguhnya bisa terjadi. Nyai Demang sangat mengerti, bahwa tenaga dalam yang murni dalam diri Cubluk bisa menjadi kekuatan besar, akan tetapi juga mengundang bahaya yang lebih besar. Sebab bercak hitam di tubuhnya bisa menjadi lebih ganas. Karena ada tenaga perlawanan.

Klobot tak bisa menangkap hal itu. Tak bisa menangkap bahwa tenaga dalam murni yang bersih adalah kekuatan yang hebat, jika kondisi tubuh yang melatih cukup kuat. Akan tetapi jika menderita penyakit atau keracunan, akan menjadi bahaya berlipat manakala kekuatan racun itu lebih ganas. Ini merupakan latihan dasar. Bagi Klobot hanya berarti bahwa dirinya dikalahkan Cubluk.

Tenaga Murka
KLOBOT menjadi geram. Makin dipaksa memusatkan pikiran, makin terbakar rasa murkanya. Merasa sebal, mengkal, marah, nista, hina, malu, menjadi satu. Yang terbayang di depannya adalah Cubluk yang tak peduli dan sengaja tak mau belajar justru bisa rumasuk. Sementara dirinya yang memaksa keras malah buntu. Pengaruh kemurkaan terasa menggeletarkan seluruh urat tubuhnya. Tubuhnya gemetar, tangannya gemetar. Gerahamnya beradu, mengeluarkan bunyi ketika saling beradu.

“Klobot,” desisnya lirih. Nyai Demang waspada. Telunjuk jarinya mendorong dada Klobot. Hingga bergoyang. Nyai Demang mendorong lagi.

“Klobot!” Teriakan menyayat terdengar. Tubuh Klobot bergetar hebat bagai kerasukan, berdiri gemetar dengan kedua tangan terkepal. Dan mendesis keras. Menghantam!

Hahh! Hahh!

Berputar keras, menggeletar hingga akhirnya kehabisan napas karena tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, ketika Klobot membuka matanya dan terhuyung-huyung.

“Kamu juga bisa.”

“Bisa, Eyang?”

“Tenaga yang ada padamu ialah tenaga murka. Tenaga keras, tenaga kasar, tenaga sebagai kekuatan. Semakin kamu bisa memuntahkan kemurkaan, semakin bisa terjadi pengerahan tenaga. Untuk tahap pertama itu cukup bagus.”

“Benar, Rama Wulung?” tanya Klobot berusaha meyakinkan diri.

Upasara Wulung mengangguk.

“Itulah pengerahan,” kata Nyai Demang lembut. “Saya sengaja menotol dadamu untuk membangkitkan kemurkaanmu. Untuk memancing rasa marah yang hebat. Pada saat itulah tenaga itu terkerahkan dengan sendirinya. Itulah kekuatan, Klobot. Tapi itulah juga kelemahan. Karena semakin kamu dikuasai rasa marah, semakin murka, semakin lemah. Karena lawan dengan mudah akan menguasai dirimu. Tapi itu langkah berikutnya. Tak ada salahnya kamu menjajal lagi.”

“Marah lagi?”

“Ya, pusatkan pikiranmu. Undang tenaga murka. Bantulah dengan membayangkan sesuatu yang mengobarkan dendammu. Cubluk yang ternyata lebih sakti, lebih berhasil. Orang-orang yang menghancurkan rumah, orangtua, darah, Keraton.”

Tanpa diminta dua kali, tubuh Klobot menggeletar, suaranya menggerung keras. Kembali pukulan demi pukulan dilancarkan dengan keras.

“Kuasai diri, Klobot. Sewaktu mengentakkan pukulan, napas justru ditahan. Ketika menarik tangan, ketika itulah mengisap napas. Jaga agar tenaga di bawah pusar tak bocor. Kalau tidak begitu, kamu akan cepat lelah. Ya, terus gerakkan kaki dan tangan. Kaki kiri tak boleh melampaui kaki kanan. Tangan kiri juga tak boleh melebihi ayunan tangan kanan. Ada gerakan berhenti sejenak sebelum langkah berikutnya. Gerakannya seperti menyerempet saja.”

Hasilnya luar biasa. Klobot menjadi terkesima dengan sendirinya. Tenggelam dalam gerakan pukulan yang makin lama makin keras, makin cepat, dan makin ganas. Begitu berhenti sejenak karena tersadar, Klobot mengulang dari awal kembali. Nyai Demang juga menyertai membimbing dan memberi contoh.

Klobot menemukan kepuasan. Karena kemurkaannya secara penuh tersentak keluar, seperti menyambar apa yang ada di depannya. Pohon dan batu yang tegar menjadi sasarannya. Dengan teriakan keras, Klobot akan terus memukuli pepohonan hingga kulit pohon lenyek. Baru berhenti jika kelelahan. Keringatnya makin membasah. Napasnya makin tersengal.

“Istirahat dulu.”

“Yah… yah… Tetapi kenapa Cubluk begitu, Eyang Nyai?”

“Cubluk tidak memakai tenaga murka. Tenaga dalam yang muncul membimbingnya. Tangan yang bergerak itu bukan atas kemauannya sendiri. Digerakkan tenaga dalamnya. Tak berbeda dari tanganmu yang terkepal dan memukul.”

“Mana yang lebih sakti?”

“Dua-duanya sakti.”

“Siapa yang menang?”

Nyai Demang menghela napas. “Itulah dirimu. Kemenangan menjadi penting. Kekerasan menjadi yang utama. Tapi itu juga tidak keliru. Banyak cara, yang satu sama lain bisa berbeda. Agaknya kamu lebih cocok dengan kanuragan yang sebenarnya.”

“Kita berlatih lagi, Eyang?”

“Kamu kira saya capek? Sampai napasmu putus, saya belum tentu mengeluarkan keringat.”

Klobot bukan hanya berlatih kosong, akan tetapi langsung menerjang Nyai Demang. Yang berdiri di depannya sebagai sasaran. Klobot meninju, memukul keras, bertubi-tubi ke arah perut Nyai Demang. Yang berdiri tegak di depannya. Anehnya, pukulan itu tak ada yang menyentuh kain Nyai Demang. Semakin kuat Klobot menggempur, semakin tertahan gerakannya. Sehingga rasa gusarnya makin membakar. Pengerahan tenaga yang makin keras pun hanya membuatnya terjengkang ke belakang. Terbanting keras.

“Tahu sekarang?”

“Eyang Nyai pakai ilmu apa?”

“Bukan ilmu apa-apa. Tenaga dalam. Pukulan kamu tak akan pernah bisa menyentuh kulit saya. Sedikit pun tak bisa. Yang menahan itu tenaga dalam yang saya miliki. Saya bisa menjatuhkanmu tanpa mengeluarkan tenaga. Tanpa menggerakkan tangan, kaki, atau yang lainnya. Paling-paling hanya entakan di perut, itu pun tak bisa kamu lihat. Tapi bisa kamu rasakan karena terjengkang.”

“Begitu, Eyang Nyai?”

“Ya. Kamu lihat Cubluk yang berbaring itu. Kamu pun tak akan bisa menyentuhnya. Coba saja.”

Klobot memusatkan kekuatannya. Dengan sekali loncat tubuhnya menerkam ke arah Cubluk yang terbaring, sementara tangannya masih membuat gerakan menari. Tubuh Klobot tersentak mundur. Mencoba bergerak maju. Memaksa. Merangsek. Kedua tangannya terulur dengan keras. Tapi gerakannya kaku. Tak bisa menyentuh bayangan tubuh Cubluk sedikit pun. Sampai kemudian terjengkang untuk kesekian kalinya. Terkapar. Napasnya memburu.

“Eyang Nyai, dadaku sakit.”

“Masih bagus tidak jebol. Kamu sudah melihat sendiri tenaga dalam yang bisa dilatih. Kekuatanmu dari tenaga murka, tak bisa maju. Karena itulah yang menghalangi dirimu. Kalau kamu tak punya niat apa-apa, polos saja, kamu akan bisa menyentuh Cubluk. Seperti tak ada yang menahan.”

Klobot menggerakkan tangannya. Ragu sejenak. Tangan itu terulur. Ke arah kaki Cubluk. Plek. Bisa memegang.

“Hah?”

“Kaget?”

“Saya tak mengerti, Eyang Nyai. Ini benar-benar membingungkan.”

Perlahan Nyai Demang menguraikan kembali apa yang dikatakan. Dengan berbagai contoh sederhana. Mengambil sehelai daun kering, dan mengatakan bahwa Klobot tak bisa mengangkat. Ketika Klobot menjajal dengan menggenggam dan mengangkat, tubuhnya tersungkur.

“Karena saya memberikan tenaga pada daun kering itu. Inilah yang dinamakan penyaluran tenaga dalam. Bisa kepada sesama manusia, bisa kepada benda mati seperti sehelai daun kering.”

Nyai Demang kembali dari mula menerangkan. Bahwa tenaga dalam yang dipindahkan ke daun kering, sangat berbeda sifatnya dengan tenaga yang dimiliki Cubluk. Tenaga penghalang dalam diri Cubluk berasal dari tubuhnya. Sementara daun kering itu diberi kekuatan oleh Nyai Demang.

“Apakah saya bisa memindahkan ke dalam daun kering?”

“Sama saja. Mengerahkan tenaga dalam di pusar atau di tangan atau di daun tak berbeda banyak. Hanya soal latihan belaka.”

“Saya ingin bisa sekarang, Eyang Nyai.”

Nyai Demang menggeleng.

“Saya akan cari kutu sebanyak mungkin. Saya akan pijati Eyang Nyai seluruh tubuh. Saya akan melakukan apa saja.”

Tenaga Murni
BERBEDA dengan Klobot yang jungkir-balik, pontang-panting, Cubluk masih terbaring. Gendhuk Tri bersila di sebelahnya, berbisik, “Apa yang kamu temukan, Cubluk?”

“Ngggh.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Bunga. Taman bunga, Ibu.”

“Kamu senang di situ?”

“Senang, Ibu. Ada mata air. Ada Ibu. Ada Rama. Ada Dewa.”

“Dewa? Seperti apa?”

“Seperti Dewa, Ibu. Penuh kasih. Tersenyum. Gemuk. Tanpa rambut. Dewa, Ibu. Dewa. De…”

Suara Cubluk terhenti ketika tangan Gendhuk Tri mengelus lembut. Seakan tersadar dari lamunan, Cubluk terbangun. Matanya masih basah. Gendhuk Tri merangkul dan ganti membopong.

“Ke mana Dewa, Ibu?”

“Ia akan datang lagi.”

Upasara memalingkan wajahnya. Kemudian berjalan mengikuti Gendhuk Tri. Berdampingan, tanpa mengeluarkan suara. Klobot melihat dengan sorot mata penuh tanda tanya. Nyai Demang mendesis.

“Kamu nanti akan mengetahui sendiri. Perjalanan kekuatan tenaga murni yang menjadi inti Cubluk membawanya ke suatu wilayah yang menyenangkan. Sukmanya bisa leluasa bergerak. Hanya saja karena ada halangan bercak hitam, bisa membahayakan. Karena pengerahan tenaga yang tak dikuasainya hanya akan menghancurkan dirinya.”

Nyai Demang tak bisa menerangkan bahwa desisannya lebih dalam dari itu sebagai pertanda rasa getun, penyesalan yang dalam. Karena justru Cubluk yang begitu cerdas, begitu leluasa menggerakkan kekuatan sukma, terhalang. Sedikit saja keliru, benar-benar tak bisa tertolong lagi.

Inilah yang memberatkan Gendhuk Tri. Yang membuat hatinya risau tak menentu. Antara rasa bersalah yang membebani dan keinginan yang tak mampu menyembuhkan. Antara memberikan tenaga dalam dan kemungkinan bahaya yang lebih mengancam. Perasaan itu berat menekan.

Karena menjadi gugatan pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dirinya menjadi sumber penderitaan bagi seorang anak yang tak berdosa? Kesalahan apa yang dilakukan sehingga harus memikul beban seberat itu? Perenungan yang berkecamuk makin mengamuk dalam dirinya. Dewa? Atau itukah Paman Jaghana?

Paman Jaghana? Alangkah mulianya tokoh yang satu itu. Yang memilih jalan kebahagiaan dengan mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang lain. Yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Penyesalan Gendhuk Tri atas pilihan Jaghana bisa dipupus, bisa dihentikan, bahwa sesungguhnya itu memang dikehendaki Jaghana.

Sedangkan Cubluk, apakah Cubluk sadar apa yang dilakukan? Bisa jadi. Kalau begitu, kenapa anak sekecil ini bisa begitu murni jiwanya? Bisa tidak. Kalau begitu, kenapa dirinya begitu tega menyengsarakan jiwa yang murni?

“Sebentar lagi senja, Yayi?” Suara Upasara Wulung mencoba memecah sunyi.

“Sebentar lagi pagi lagi, Kakang. Entah Cubluk masih bisa menikmati atau tidak.”

“Yayi…”

"Saya tahu perasaan Kakang. Saya merasakan keinginan Kakang untuk melupakan sejenak apa yang terjadi. Tetapi Kakang sendiri mengetahui hal itu sama sekali tidak mungkin.”

“Yayi…”

“Kita tahu, sewaktu-waktu…” Tangis Gendhuk Tri tak bisa ditahan. Meledak. Tubuhnya bergoyangan.

Upasara Wulung memindahkan Cubluk ke pundaknya. Ke dalam gendongannya.

“Ibu menangis, Rama?”

“Ya. Karena sudah lama tidak menangis.”

“Saya takut mati, Rama.”

Upasara merangkul erat. Sudut matanya basah.

“Tadi saya tidak takut. Sekarang saya takut.”

“Rama dan Ibu akan selalu bersamamu. Jangan takut.”

“Saya tak mau mati, Ibu.”

“Tidak, ya… tidak….”

“Dewa itu baik ya, Ibu?”

“Sangat baik. Cubluk mau makan buah apa?”

Gendhuk Tri tersenyum. Sesaat saja Gendhuk Tri bisa mengubah tangis menjadi senyuman. Senyuman yang menenteramkan. Karena hanya Gendhuk Tri yang bisa merasakan persis bagaimana penderitaan Cubluk. Yang dalam keadaan biasa, seperti tak ada gangguan apa-apa. Tapi sedikit alpa saja, bisa menghabisi semuanya. Perhatian yang benar-benar menoreh ke hati, memakan kesadaran.

JILID 83BUKU PERTAMAJILID 85

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 84

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 84

Upasara Wulung mulai. Hanya dengan satu tarikan napas, kekuatannya bisa dipusatkan. Sesuatu yang terjadi dengan sendirinya berkat latihan dan pengalaman puluhan tahun. Demikian juga dengan Gendhuk Tri. Meskipun ilmunya tidak sedalam mereka berdua, Nyai Demang tetap bisa melakukan dengan cepat. Berbeda dengan Klobot yang matanya dipicing-picingkan rapat.

“Tenang saja. Jangan memaksa diri. Atur napas dengan baik. Tarik napas dalam, dalam sekali. Tahan. Salurkan lewat hidung ke atas, ke ubun-ubun, bawa ke belakang meniti tulang belakang. Kumpulkan di bawah pusar. Tahan sekuatnya. Baru kemudian entakkan. Sewaktu mengentakkan napas masih ditahan. Tak perlu dengan gerakan tangan. Bisa dengan gerakan perut. Perut dikembangkan ke depan. Hekg. Hekg. Setelah melontarkan, tarik napas, dan ulangi seperti tadi. Tak perlu menggerakkan tangan memukul, kaki menendang. Nanti akan tersalur dengan sendirinya ke arah mana pikiranmu menuntunnya, ke arah mana hatimu menghendaki. Pasrahkan dirimu. Serahkan dirimu. Jangan pedulikan sekitar. Tak ada krendi, tak ada Rama Wulung, tak ada Ibu Tri, Eyang Putri Nyai, tak ada siapa-siapa. Layangkan tubuh, hingga terasa mengambang.”

Klobot berusaha keras. Akan tetapi justru Cubluk yang bisa rumasuk, yang dadi. Tubuhnya lemas, pasrah, sehingga ketika Gendhuk Tri menyentuh sedikit saja, tubuh itu terguling. Tanpa dirasakan oleh Cubluk yang seolah tertidur lelap. Napasnya naik-turun, tangannya bergerak-gerak.

“Jangan ditahan. Biarkan gerakan tanganmu, kakimu, kepalamu, biarkan tenaga itu menguasai. Ikuti saja. Ikuti terus.”

Tubuh Cubluk yang terbaring lembut mulai bergerak. Tangannya bergerak bagai menari. Mengarah ke depan, ke atas kepala, ke bawah, membentuk gerakan menyembah.

Klobot yang tak bisa memusatkan pikiran jadi memperhatikan dengan mata terbengong. Buru-buru menutup kembali karena takut diketahui Nyai Demang. Hanya saja telinga tetap terbuka dan mendengarkan percakapan yang terjadi. Tak ada lagi konsentrasi dalam dirinya.

“Dadi, Kakang….”

“Cubluk lebih pasrah. Tidak seperti Klobot yang masih gelisah. Tenaga dalam Cubluk akan mengisi sendiri.”

Hanya kemudian disusul dengan helaan napas berat Nyai Demang. “Saya masih tak bisa mengerti. Kenapa seorang yang begitu suci, begitu murni, begitu polos seperti Cubluk bisa menderita bercak hitam yang mengerikan. Luar biasa sekali. Anak ini cerdas luar biasa. Sebelum kita selesai mengatakan, Cubluk telah melakukan. Jangan-jangan selama ini Cubluk telah mempelajari cara berlatih.”

“Rasanya tidak, Nyai. Tenaga dalamnya sangat murni. Itulah yang mencemaskan.”

Tanpa melanjutkan kalimatnya, Upasara merasa telah menjelaskan kepada Nyai Demang apa yang sesungguhnya bisa terjadi. Nyai Demang sangat mengerti, bahwa tenaga dalam yang murni dalam diri Cubluk bisa menjadi kekuatan besar, akan tetapi juga mengundang bahaya yang lebih besar. Sebab bercak hitam di tubuhnya bisa menjadi lebih ganas. Karena ada tenaga perlawanan.

Klobot tak bisa menangkap hal itu. Tak bisa menangkap bahwa tenaga dalam murni yang bersih adalah kekuatan yang hebat, jika kondisi tubuh yang melatih cukup kuat. Akan tetapi jika menderita penyakit atau keracunan, akan menjadi bahaya berlipat manakala kekuatan racun itu lebih ganas. Ini merupakan latihan dasar. Bagi Klobot hanya berarti bahwa dirinya dikalahkan Cubluk.

Tenaga Murka
KLOBOT menjadi geram. Makin dipaksa memusatkan pikiran, makin terbakar rasa murkanya. Merasa sebal, mengkal, marah, nista, hina, malu, menjadi satu. Yang terbayang di depannya adalah Cubluk yang tak peduli dan sengaja tak mau belajar justru bisa rumasuk. Sementara dirinya yang memaksa keras malah buntu. Pengaruh kemurkaan terasa menggeletarkan seluruh urat tubuhnya. Tubuhnya gemetar, tangannya gemetar. Gerahamnya beradu, mengeluarkan bunyi ketika saling beradu.

“Klobot,” desisnya lirih. Nyai Demang waspada. Telunjuk jarinya mendorong dada Klobot. Hingga bergoyang. Nyai Demang mendorong lagi.

“Klobot!” Teriakan menyayat terdengar. Tubuh Klobot bergetar hebat bagai kerasukan, berdiri gemetar dengan kedua tangan terkepal. Dan mendesis keras. Menghantam!

Hahh! Hahh!

Berputar keras, menggeletar hingga akhirnya kehabisan napas karena tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, ketika Klobot membuka matanya dan terhuyung-huyung.

“Kamu juga bisa.”

“Bisa, Eyang?”

“Tenaga yang ada padamu ialah tenaga murka. Tenaga keras, tenaga kasar, tenaga sebagai kekuatan. Semakin kamu bisa memuntahkan kemurkaan, semakin bisa terjadi pengerahan tenaga. Untuk tahap pertama itu cukup bagus.”

“Benar, Rama Wulung?” tanya Klobot berusaha meyakinkan diri.

Upasara Wulung mengangguk.

“Itulah pengerahan,” kata Nyai Demang lembut. “Saya sengaja menotol dadamu untuk membangkitkan kemurkaanmu. Untuk memancing rasa marah yang hebat. Pada saat itulah tenaga itu terkerahkan dengan sendirinya. Itulah kekuatan, Klobot. Tapi itulah juga kelemahan. Karena semakin kamu dikuasai rasa marah, semakin murka, semakin lemah. Karena lawan dengan mudah akan menguasai dirimu. Tapi itu langkah berikutnya. Tak ada salahnya kamu menjajal lagi.”

“Marah lagi?”

“Ya, pusatkan pikiranmu. Undang tenaga murka. Bantulah dengan membayangkan sesuatu yang mengobarkan dendammu. Cubluk yang ternyata lebih sakti, lebih berhasil. Orang-orang yang menghancurkan rumah, orangtua, darah, Keraton.”

Tanpa diminta dua kali, tubuh Klobot menggeletar, suaranya menggerung keras. Kembali pukulan demi pukulan dilancarkan dengan keras.

“Kuasai diri, Klobot. Sewaktu mengentakkan pukulan, napas justru ditahan. Ketika menarik tangan, ketika itulah mengisap napas. Jaga agar tenaga di bawah pusar tak bocor. Kalau tidak begitu, kamu akan cepat lelah. Ya, terus gerakkan kaki dan tangan. Kaki kiri tak boleh melampaui kaki kanan. Tangan kiri juga tak boleh melebihi ayunan tangan kanan. Ada gerakan berhenti sejenak sebelum langkah berikutnya. Gerakannya seperti menyerempet saja.”

Hasilnya luar biasa. Klobot menjadi terkesima dengan sendirinya. Tenggelam dalam gerakan pukulan yang makin lama makin keras, makin cepat, dan makin ganas. Begitu berhenti sejenak karena tersadar, Klobot mengulang dari awal kembali. Nyai Demang juga menyertai membimbing dan memberi contoh.

Klobot menemukan kepuasan. Karena kemurkaannya secara penuh tersentak keluar, seperti menyambar apa yang ada di depannya. Pohon dan batu yang tegar menjadi sasarannya. Dengan teriakan keras, Klobot akan terus memukuli pepohonan hingga kulit pohon lenyek. Baru berhenti jika kelelahan. Keringatnya makin membasah. Napasnya makin tersengal.

“Istirahat dulu.”

“Yah… yah… Tetapi kenapa Cubluk begitu, Eyang Nyai?”

“Cubluk tidak memakai tenaga murka. Tenaga dalam yang muncul membimbingnya. Tangan yang bergerak itu bukan atas kemauannya sendiri. Digerakkan tenaga dalamnya. Tak berbeda dari tanganmu yang terkepal dan memukul.”

“Mana yang lebih sakti?”

“Dua-duanya sakti.”

“Siapa yang menang?”

Nyai Demang menghela napas. “Itulah dirimu. Kemenangan menjadi penting. Kekerasan menjadi yang utama. Tapi itu juga tidak keliru. Banyak cara, yang satu sama lain bisa berbeda. Agaknya kamu lebih cocok dengan kanuragan yang sebenarnya.”

“Kita berlatih lagi, Eyang?”

“Kamu kira saya capek? Sampai napasmu putus, saya belum tentu mengeluarkan keringat.”

Klobot bukan hanya berlatih kosong, akan tetapi langsung menerjang Nyai Demang. Yang berdiri di depannya sebagai sasaran. Klobot meninju, memukul keras, bertubi-tubi ke arah perut Nyai Demang. Yang berdiri tegak di depannya. Anehnya, pukulan itu tak ada yang menyentuh kain Nyai Demang. Semakin kuat Klobot menggempur, semakin tertahan gerakannya. Sehingga rasa gusarnya makin membakar. Pengerahan tenaga yang makin keras pun hanya membuatnya terjengkang ke belakang. Terbanting keras.

“Tahu sekarang?”

“Eyang Nyai pakai ilmu apa?”

“Bukan ilmu apa-apa. Tenaga dalam. Pukulan kamu tak akan pernah bisa menyentuh kulit saya. Sedikit pun tak bisa. Yang menahan itu tenaga dalam yang saya miliki. Saya bisa menjatuhkanmu tanpa mengeluarkan tenaga. Tanpa menggerakkan tangan, kaki, atau yang lainnya. Paling-paling hanya entakan di perut, itu pun tak bisa kamu lihat. Tapi bisa kamu rasakan karena terjengkang.”

“Begitu, Eyang Nyai?”

“Ya. Kamu lihat Cubluk yang berbaring itu. Kamu pun tak akan bisa menyentuhnya. Coba saja.”

Klobot memusatkan kekuatannya. Dengan sekali loncat tubuhnya menerkam ke arah Cubluk yang terbaring, sementara tangannya masih membuat gerakan menari. Tubuh Klobot tersentak mundur. Mencoba bergerak maju. Memaksa. Merangsek. Kedua tangannya terulur dengan keras. Tapi gerakannya kaku. Tak bisa menyentuh bayangan tubuh Cubluk sedikit pun. Sampai kemudian terjengkang untuk kesekian kalinya. Terkapar. Napasnya memburu.

“Eyang Nyai, dadaku sakit.”

“Masih bagus tidak jebol. Kamu sudah melihat sendiri tenaga dalam yang bisa dilatih. Kekuatanmu dari tenaga murka, tak bisa maju. Karena itulah yang menghalangi dirimu. Kalau kamu tak punya niat apa-apa, polos saja, kamu akan bisa menyentuh Cubluk. Seperti tak ada yang menahan.”

Klobot menggerakkan tangannya. Ragu sejenak. Tangan itu terulur. Ke arah kaki Cubluk. Plek. Bisa memegang.

“Hah?”

“Kaget?”

“Saya tak mengerti, Eyang Nyai. Ini benar-benar membingungkan.”

Perlahan Nyai Demang menguraikan kembali apa yang dikatakan. Dengan berbagai contoh sederhana. Mengambil sehelai daun kering, dan mengatakan bahwa Klobot tak bisa mengangkat. Ketika Klobot menjajal dengan menggenggam dan mengangkat, tubuhnya tersungkur.

“Karena saya memberikan tenaga pada daun kering itu. Inilah yang dinamakan penyaluran tenaga dalam. Bisa kepada sesama manusia, bisa kepada benda mati seperti sehelai daun kering.”

Nyai Demang kembali dari mula menerangkan. Bahwa tenaga dalam yang dipindahkan ke daun kering, sangat berbeda sifatnya dengan tenaga yang dimiliki Cubluk. Tenaga penghalang dalam diri Cubluk berasal dari tubuhnya. Sementara daun kering itu diberi kekuatan oleh Nyai Demang.

“Apakah saya bisa memindahkan ke dalam daun kering?”

“Sama saja. Mengerahkan tenaga dalam di pusar atau di tangan atau di daun tak berbeda banyak. Hanya soal latihan belaka.”

“Saya ingin bisa sekarang, Eyang Nyai.”

Nyai Demang menggeleng.

“Saya akan cari kutu sebanyak mungkin. Saya akan pijati Eyang Nyai seluruh tubuh. Saya akan melakukan apa saja.”

Tenaga Murni
BERBEDA dengan Klobot yang jungkir-balik, pontang-panting, Cubluk masih terbaring. Gendhuk Tri bersila di sebelahnya, berbisik, “Apa yang kamu temukan, Cubluk?”

“Ngggh.”

“Apa yang kamu lihat?”

“Bunga. Taman bunga, Ibu.”

“Kamu senang di situ?”

“Senang, Ibu. Ada mata air. Ada Ibu. Ada Rama. Ada Dewa.”

“Dewa? Seperti apa?”

“Seperti Dewa, Ibu. Penuh kasih. Tersenyum. Gemuk. Tanpa rambut. Dewa, Ibu. Dewa. De…”

Suara Cubluk terhenti ketika tangan Gendhuk Tri mengelus lembut. Seakan tersadar dari lamunan, Cubluk terbangun. Matanya masih basah. Gendhuk Tri merangkul dan ganti membopong.

“Ke mana Dewa, Ibu?”

“Ia akan datang lagi.”

Upasara memalingkan wajahnya. Kemudian berjalan mengikuti Gendhuk Tri. Berdampingan, tanpa mengeluarkan suara. Klobot melihat dengan sorot mata penuh tanda tanya. Nyai Demang mendesis.

“Kamu nanti akan mengetahui sendiri. Perjalanan kekuatan tenaga murni yang menjadi inti Cubluk membawanya ke suatu wilayah yang menyenangkan. Sukmanya bisa leluasa bergerak. Hanya saja karena ada halangan bercak hitam, bisa membahayakan. Karena pengerahan tenaga yang tak dikuasainya hanya akan menghancurkan dirinya.”

Nyai Demang tak bisa menerangkan bahwa desisannya lebih dalam dari itu sebagai pertanda rasa getun, penyesalan yang dalam. Karena justru Cubluk yang begitu cerdas, begitu leluasa menggerakkan kekuatan sukma, terhalang. Sedikit saja keliru, benar-benar tak bisa tertolong lagi.

Inilah yang memberatkan Gendhuk Tri. Yang membuat hatinya risau tak menentu. Antara rasa bersalah yang membebani dan keinginan yang tak mampu menyembuhkan. Antara memberikan tenaga dalam dan kemungkinan bahaya yang lebih mengancam. Perasaan itu berat menekan.

Karena menjadi gugatan pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dirinya menjadi sumber penderitaan bagi seorang anak yang tak berdosa? Kesalahan apa yang dilakukan sehingga harus memikul beban seberat itu? Perenungan yang berkecamuk makin mengamuk dalam dirinya. Dewa? Atau itukah Paman Jaghana?

Paman Jaghana? Alangkah mulianya tokoh yang satu itu. Yang memilih jalan kebahagiaan dengan mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang lain. Yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Penyesalan Gendhuk Tri atas pilihan Jaghana bisa dipupus, bisa dihentikan, bahwa sesungguhnya itu memang dikehendaki Jaghana.

Sedangkan Cubluk, apakah Cubluk sadar apa yang dilakukan? Bisa jadi. Kalau begitu, kenapa anak sekecil ini bisa begitu murni jiwanya? Bisa tidak. Kalau begitu, kenapa dirinya begitu tega menyengsarakan jiwa yang murni?

“Sebentar lagi senja, Yayi?” Suara Upasara Wulung mencoba memecah sunyi.

“Sebentar lagi pagi lagi, Kakang. Entah Cubluk masih bisa menikmati atau tidak.”

“Yayi…”

"Saya tahu perasaan Kakang. Saya merasakan keinginan Kakang untuk melupakan sejenak apa yang terjadi. Tetapi Kakang sendiri mengetahui hal itu sama sekali tidak mungkin.”

“Yayi…”

“Kita tahu, sewaktu-waktu…” Tangis Gendhuk Tri tak bisa ditahan. Meledak. Tubuhnya bergoyangan.

Upasara Wulung memindahkan Cubluk ke pundaknya. Ke dalam gendongannya.

“Ibu menangis, Rama?”

“Ya. Karena sudah lama tidak menangis.”

“Saya takut mati, Rama.”

Upasara merangkul erat. Sudut matanya basah.

“Tadi saya tidak takut. Sekarang saya takut.”

“Rama dan Ibu akan selalu bersamamu. Jangan takut.”

“Saya tak mau mati, Ibu.”

“Tidak, ya… tidak….”

“Dewa itu baik ya, Ibu?”

“Sangat baik. Cubluk mau makan buah apa?”

Gendhuk Tri tersenyum. Sesaat saja Gendhuk Tri bisa mengubah tangis menjadi senyuman. Senyuman yang menenteramkan. Karena hanya Gendhuk Tri yang bisa merasakan persis bagaimana penderitaan Cubluk. Yang dalam keadaan biasa, seperti tak ada gangguan apa-apa. Tapi sedikit alpa saja, bisa menghabisi semuanya. Perhatian yang benar-benar menoreh ke hati, memakan kesadaran.

JILID 83BUKU PERTAMAJILID 85