Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 68

"Mana mungkin ada ilmu yang tidak Paduka ketahui?”

“Aneh sedikit. Getar nadi dan denyut kehidupanmu, dengus napasmu kedengarannya tidak mengikuti irama yang biasa. Apakah tenaga dalam mahamanusia sudah merasukimu? Apakah kamu sudah mengenal Ngrogoh Sukma Sejati?”

Mada sendiri tidak menyangka bahwa tubuhnya berbeda dari yang lainnya. Karena selama ini tak pernah menyadari. Tak ada yang mengatakan hal itu padanya. Bahkan Eyang Puspamurti juga tidak.

Halayudha menurunkannya perlahan. “Mada, katakan bagaimana caramu mengatur pernapasan?”

“Kekuatan bumi.”

“Itu aku tahu. Tapi kenapa tenagamu berhenti di bawah pusar? Bukankah kamu bisa menarik ke atas dan menjadikan tenaga pusar?”

“Paduka bisa melakukan, hamba hanyalah prajurit rucah, prajurit asor, prajurit jajar yang tiada arti.”

Apa yang dikatakan Mada sebenarnya apa adanya. Sebutan prajurit rucah, jajar, asor adalah pangkat dan derajatnya yang sesungguhnya. Prajurit yang pangkatnya paling rendah. Apa adanya karena sesungguhnya Mada memang prajurit yang belum memiliki pangkat. Ketika ditarik Senopati Jabung Krewes sebagai prajurit kawal Keraton, itu semua hanyalah tugas yang dijalankan. Bukan pangkat yang disandang.

“Apa bedanya kalau kamu prajurit rucah atau prajurit bhayangkara?”

“Tentu saja berbeda, Paduka lebih mengetahui. Prajurit bhayangkara mempunyai wewenang menjalankan tugas untuk langsung menjaga Raja. Sehingga hamba tak mungkin mengerahkan tenaga dalam…”

“Bagaimana mungkin mahamanusia terbatasi derajat dan pangkat?”

Pertanyaan ini agak sulit dijawab Halayudha. Yang pernah mempertengkarkan persoalan ini hanyalah Jaghana dan Eyang Puspamurti. Jaghana ketika memahami ajaran mahamanusia menemukan bahwa betapapun tak terbatasnya manusia, dalam soal derajat dan kepangkatan ada batasnya. Yaitu tidak bisa mencapai tingkat mahkota, tak bisa begitu saja menjadi raja.

Sementara Eyang Puspamurti murni berpegang pada ajaran mahamanusia dan betul-betul maha. Dalam pertarungan tenaga dalam yang terjadi, Eyang Puspamurti mengakui keunggulan pandangan dan sikap pendekatan Jaghana. Sehingga dengan sendirinya, ajarannya pun mengalami banyak perubahan. Halayudha tentu saja tak menangkap hal ini. Terutama juga karena kini sedang berada di puncak kekuasaan.

“Bagaimana kamu menerangkan hal ini?”

“Hamba tak ingin orang lain mendengar.”

Halayudha mengibaskan tangannya. “Kalian tak kuperlukan, minggat sajalah!”

Ketiga pangeran muda menyembah ke arah Raja Jayanegara, dan segera berlalu. Jabung Krewes berharap mereka bertiga benar-benar mencari dan menemui Upasara Wulung!

“Paduka sudah mengalami semua tata pangkat dan derajat di dalam Keraton. Pastilah Paduka bisa membedakan kekuatan yang ada dalam diri Paduka. Paduka pernah menjadi gandek tunggal, pernah menjadi nayaka, pernah menjabat sebagai panekar…”

Kali ini Jabung Krewes tidak bisa menduga. Apakah Mada sekadar mengulur waktu ataukah mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi bisa jadi dalam pengertian dua-duanya. Karena dengan mengulur waktu bisa memberi kesempatan bagi ketiga pangeran muda, sementara yang diucapkan Mada perlu direnungkan. Dengan menyebut gandek tunggal sebenarnya Mada sedang mempermainkan perasaan Halayudha.

Gandek adalah jabatan dalam tata kepangkatan Keraton, di mana pelakunya hanya mempunyai satu tugas yaitu menjalankan perintah raja. Untuk memanggil atau memberitahukan sesuatu. Dalam tata pemerintahan Keraton, yang menyandang gandek tidak pernah satu orang. Karena dikuatirkan kurang bisa mendengar sabda raja.

Tapi kenyataannya, Halayudha pernah menjabat itu sendirian. Halayudha tidak mempunyai bawahan untuk menyampaikan. Ia juga menjabat sebagai nayaka, atau menteri yang menjadi pembantu raja. Sekaligus juga menjabat panekar, menteri Keraton yang tidak mempunyai anak buah secara langsung. Menteri yang menjadi rerenggan, semacam hiasan karena tak membawahkan bagian tertentu.

“Apakah aku mempunyai perasaan yang berbeda?” Halayudha bertanya kepada dirinya sendiri. “Rasanya tidak.”

“Paduka telah melupakan.”

“Baik, kalau begitu. Mulai sekarang kamu kuangkat sebagai bhayangkara, sekaligus prajurit tamtama, prajurit pilihan dan memimpin prajurit jayengsekar. Kerahkan tenagamu.”

Mada mengumpulkan kekuatannya. Matanya tertutup, dan tangannya bergerak naik-turun. Satu tangan menengadah, satu tangan lagi terkulai di bawah. Ketika udara ditarik lewat hidungnya dan dikumpulkan di pusar, Halayudha segera bisa merasakan getarannya. Merangsang hawa panas.

Dengan pangkat sebagai bhayangkara atau kawal raja, kekuasaannya memang sangat tinggi. Pangkat bisa masih rendah, akan tetapi kekuasaannya langsung mendapat perintah dari raja. Dengan pangkat sebagai pemimpin jayengsekar, sekaligus berarti memimpin seluruh prajurit berkuda.

“Bagus, itu menarik. Mada, apakah kalau kuturunkan pangkatmu, tenagamu bisa macet?”

“Ajarannya begitu. Tetapi sebagai prajurit, hamba adalah pertapa di gunung api.”

Halayudha mengangguk-angguk. Jabung Krewes yakin kini bahwa Mada mengatakan sejujur-jujurnya. Tidak berusaha mengulur waktu atau menyesatkan pembicaraan. Jabung Krewes makin kagum mengakui kesetiaan Mada sebagai prajurit. Seluruh jiwa-raganya diabdikan untuk menjadi pengabdi Keraton. Ajaran yang sudah luluh, sudah mendarah daging dalam dirinya.

Dengan mengatakan bahwa “prajurit bertapa di gunung api”, Mada memakai perumpamaan yang selalu digunakan sebagai tugas dasar prajurit. Bahwa sesungguhnya prajurit itu mempunyai jiwa dan tanggung jawab lebih besar dari pertapa. Karena prajurit tidak bertapa di dalam gua yang sunyi. Melainkan di atas api. Eyang Puspamurti tidak kepalang tanggung menjejalkan ajaran dasar ini.

Derajat dan Pangkat
HALAYUDHA masih mengangguk-angguk. Hatinya terketuk suara Mada yang lirih tapi seolah menjenguk ke dalam kesadarannya. Sederhana kata-kata Mada, dengan penjelasan seadanya yang sudah dan mudah dimengerti, akan tetapi pada Halayudha mempunyai gema yang mengandung makna.

“Mada, aku tahu betul siapa kamu. Anak kampung yang berkelana, yang mencari guru, yang ingin menjadi prajurit. Bagaimana mungkin kamu bisa memperoleh ilmu sedemikian cepat?”

“Maaf, apakah arti cepat atau lambat bagi ilmu?”

“Bagus, bagus sekali. Kamu mengerti. Mada, kenapa aku mampu menguasai banyak ilmu sekaligus?”

“Karena Paduka mengalami semuanya. Paduka adalah mahapatih yang diangkat oleh Raja. Tangan kanan, pemegang roda pemerintahan sehari-hari. Paduka melakukan semua derajat dan pangkat mahapatih, baik sebagai nindyamantri, mantrimuka, mantringayun, warangkapraja, sebagai mantri utama, sebagai sarung keris bagi Raja. Paduka juga menjadi panekar, menteri yang hanya menjadi hiasan. Paduka mengalami derajat dan pangkat bupati, yang mempunyai sifat seorang raja, seorang pati. Paduka pernah sekaligus juga menjabat purohita. Sebagai pemegang jabatan wadana, camat tetapi juga guru di Keraton, sebagaimana pendekar utama dari Gelang-Gelang, Bapa Ugrawe. Paduka menjabat jeksa tapi sekaligus juga pengulu, dan juga jaga bela alias singanagara. Yang memegang keadilan, sekaligus ketua agama, tetapi juga sekaligus menjadi pelaksana hukuman, dengan tangan sendiri melaksanakan hukuman mati. Apakah Paduka masih menyangsikan bahwa ada yang tak bisa Paduka lakukan?”

Mata Halayudha berkejap-kejap. Bibirnya mengilat. Darah telah mengering dari bibir dan tubuhnya. “Apa bedanya derajat dengan pangkat?”

“Dalam hal ini atau hal lain, sama. Derajat atau drajat sama dengan pangkat. Dalam hal ini atau hal lain, bisa berbeda. Pangkat bisa menjulang ke angkasa atau nyungsep ke bumi, akan tetapi derajat bisa sama. Manusia memiliki derajat sejak lahir. Manusia memakai pangkat sejak lahir. Pangkat bisa hilang dan datang, tergantung derajat. Derajat bisa tinggi dan rendah, tak tergantung pangkat.”

“Siapa yang mengajarimu?”

“Hamba membaca petunjuk Eyang Puspamurti mengenai mahamanusia.”

“Siapa Eyang Puspamurti?”

Sampai di sini, Mada pun mengetahui bahwa jalan pikiran Halayudha tidak sepenuhnya beres. Kalau pertanyaan-pertanyaan sebelumnya menunjukkan seakan Halayudha baru sadar tentang pangkat dan perjalanannya, kini menunjukkan pikirannya tidak waras. Bagaimana mungkin Halayudha tak mengenali Eyang Puspamurti?

“Kamu ternyata masih cubluk, masih sangat bodoh. Kalau aku bertanya siapa Eyang Puspamurti, bukannya aku tak tahu ia manusia wandu, tidak lelaki tidak perempuan, yang menjadi gurumu. Aku bertanya siapa sesungguhnya dia.”

“Hamba tidak mengetahui. Rasanya hamba tidak pantas menyebutnya sebagai mahamanusia.”

Halayudha menggeleng. Berulang kali. Lalu kembali duduk di kursi kebesaran. Dengan masih menggeleng. “Tidak. Tidak. Itu pikiran tersesat. Itu kekeliruan. Eyang Puspamurti mempelajari kitab yang menceritakan mahamanusia, akan tetapi si tua itu tak mengerti dan tak mencapai. Tidak juga guruku, Paman Sepuh. Tidak juga Kebo Berune. Mereka ini tidak mempunyai derajat menjadi mahamanusia. Mereka justru orang-orang yang gagal, kalah, dan tertindih oleh gagasannya. Tidak. Tidak. Di seluruh jagat ini, anehnya, hanya ada tiga orang yang mampu menguasai ajaran itu. Sejak ajaran itu belum dilahirkan sekalipun. Sampai kapan pun. Mada, otakmu lebih tumpul dari lututku tapi masih lebih segar dibandingkan dengan orang lain di seisi ruangan ini. Ada kejujuran yang dungu, yang bisa membuatmu sebagai bagian dari mahamanusia. Itu kalau kamu mempunyai nasib baik dan aku memberi kesempatan. Barangkali memang manusia macam kamu ini yang membuat Jaghana atau Eyang Puspamurti tertarik karena gregetan, karena gemas melihat kedunguanmu betul-betul murni.”

Halayudha menyandarkan punggungnya. Napasnya naik-turun perlahan. Pandangannya yang tajam berubah lunak, bersahabat, tetapi juga sekaligus bisa mematikan.

“Kamu telah membuat aku ingin berbicara. Tadi kukatakan, barangkali hanya ada tiga orang yang bisa memahami dan menjadi mahamanusia. Anehnya, orang yang pertama bukan Mpu Raganata yang menciptakan Kidungan Pamungkas. Juga bukan Sri Baginda Raja Kertanegara yang begitu dihormati dan disembah melebihi Dewa yang menciptakan Kidungan Para Raja. Justru ternyata orang itu pertama adalah Eyang Sepuh. Tokoh buruk yang bahkan bayangannya pun tak pernah dilihat orang. Ia sudah musnah entah sejak kapan, akan tetapi masih seakan berada di sini, dan mengalahkan serta menindih nama yang lain. Padahal justru Eyang Sepuh yang menciptakan Kidungan Paminggir yang edan-edanan. Kenapa bukan Mpu Raganata? Karena beliau yang mulia, yang lembut dan bijak bestari sebagai mahapatih, masih mengalami kematian di ujung senjata. Tragedi yang tak akan terpahami seumur hidup. Seorang mahapatih yang bijak, luhur, berpandangan seluas lautan setinggi gunung, yang mampu mengimbangi Sri Baginda Raja, yang sesungguhnyalah seorang warangka dalem, mahapatih yang paling hebat. Mpu Raganata yang paling setuju dengan tindakan Sri Baginda Raja disingkirkan, digeser pangkatnya. Tapi derajatnya tetap sebagai abdi Keraton. Titik darah dan napas penghabisan diberikan sepenuhnya kepada Keraton. Membela Sri Baginda Raja yang menyingkirkan, memberikan kehormatan utamanya sebagai prajurit, sebagai ksatria, dan terutama sebagai orang suci, yang mengamankan ajaran dalam Kidungan Para Raja, yang mengatakan bahwa mahamanusia tak akan mencapai takhta. Tapi Mpu Raganata gagal. Ia mati. Dengan tubuh bersimbah darah. Mati tak berbeda dengan prajurit atau kuda. Eyang Sepuh lebih unggul, lebih hebat, dan edannya juga lebih benar. Ajarannya yang utama ternyata yang benar, seperti yang ada dalam Kidungan Paminggir. Bahwa sesungguhnya orang-orang pinggiran, seperti kamu, yang tak punya pangkat dan keturunan, bisa naik ke jenjang yang paling tinggi. Eyang Sepuh dikenal luas sebagai pencipta Kitab Bumi. Padahal itu ciptaan guruku. Eyang Sepuh hanya menambahi bagian Tumbal Bantala Parwa yang delapan jurus itu. Tapi seluruh jagat dengan isinya, mulai dari Dewa, mulai dari Sri Baginda Raja hingga ke tanah seberang mengakui sebagai pencipta. Dan hanya Eyang Sepuh yang lenyap secara moksa, lenyap berikut badan wadaknya, tetapi masih selalu terasa kehadirannya. Siapa dua orang lagi? Yang kedua, sudah kamu jawab sendiri, Mada? Aku. Ingsun. Akulah mahamanusia yang sesungguhnya. Aku tidak moksa, aku ada, dengan duduk di singgasana ini, dengan mahkota tergeletak di ujung kakiku. Aku, Mada. Aku yang tak punya darah keturunan apa-apa dan bisa berada di atas takhta. Bisa membalik kodrat Dewa Yang Paling Dewa. Siapa orang yang ketiga? Kamu pasti menduga Upasara Wulung. Hmmm. Dengan senang hati aku mengakui. Dengan kemampuannya yang berawal dari ilmu yang bernama Banteng Ketaton Terluka, ia masuk ke ajaran Kitab Bumi yang sesungguhnya. Dengan penguasaan yang sempurna, ia menggebrak maju dan menjadikannya seorang, dan satu-satunya, yang bergelar lelananging jagat. Ia memiliki derajat, tetapi tak memiliki pangkat. Ia diangkat menjadi senopati pamungkas oleh Baginda sewaktu mengusir pasukan Tartar, tetapi ia tak pernah menikmati pangkat itu. Ia disodori pangkat dan derajat mahapatih, tetapi ia menolak menggunakan haknya. Penolakan yang berasal dari sumbernya, dari sikapnya sebagai tumbal. Sikap pasrah yang mendalam, yang menyebabkannya menguasai ngelmu yang disebut Ngrogoh Sukma Sejati. Eyang Puspamurti, Dewa Maut mampu mencicipi tapi tak akan seperti Upasara Wulung. Seperti juga semua ksatria bisa melatih, akan tetapi hanya Upasara Wulung yang menguasai secara lebih, secara unggul, yang benar. Aku pun mengakui berbeda dengannya dalam mengambil bentuk kesempurnaan mahamanusia, yaitu dengan menduduki takhta. Mada, kini kamu mengerti kenapa aku mengatakan ini semua dengan lega. Kami bertiga menjadi mahamanusia dengan muara yang berbeda. Eyang Sepuh moksa, Upasara Wulung hanya sukmanya yang dibuat moksa, sedangkan aku menjadi raja. Mada, kamu mengerti kini, bahwa Eyang Sepuh ataupun Upasara tak akan mengganggu gugat aku. Itu sebabnya ketiga pangeran kecil aku biarkan menemuinya. Mungkin mereka bertiga sedang kecewa dan tak mengerti. Aku bisa tertawa, di sini.”

Percakapan Asmara
APA yang dikatakan Halayudha sepenuhnya bisa dimengerti. Bukan hanya oleh Mada, melainkan juga Jabung Krewes, dan Raja. Uraian Halayudha tak terlalu sulit diterima. Bahwa kini, sesungguhnya, tak ada lagi yang mampu menghalangi atau mengubah apa yang telah dilakukan Halayudha. Semua orang bisa memperhitungkan bahwa lawan utama Halayudha hanya tinggal seorang yang bernama Upasara Wulung. Tapi semua orang tidak menyadari kemungkinan bahwa Upasara Wulung bisa menolak memerangi Halayudha.

Dalam perhitungan Jabung Krewes, ini berarti bahwa Halayudha masih cukup lama, sampai tak bisa diperkirakan, menduduki takhta dan mempermainkan derajat serta pangkat yang tak tertandingi dan terungguli. Kecuali dengan jalan kekerasan atau kelicikan. Tapi Jabung Krewes sendiri menyangsikan, apakah jalan seperti itu masih mungkin, mengingat Halayudha juga menguasai cara-cara seperti itu. Bahkan boleh dikatakan semua strategi dan perhitungan matang berasal darinya!

Satu-satunya harapan hanyalah Halayudha keliru menilai Upasara Wulung. Itu bukan tidak mungkin mengingat selama ini Upasara Wulung lebih memperlihatkan dirinya sebagai prajurit dan ksatria, yang lebih mendekati sifat Mpu Raganata dibandingkan sikap dan sifat Eyang Sepuh, yang memilih menyingkir dari Keraton dan berdiam di Perguruan Awan ataupun moksa! Betapapun kejam dan nista perlakuan Keraton selama ini kepada Upasara Wulung!

Tetapi ada perasaan samar bahwa apa yang diperhitungkan Halayudha lebih mendekati kebenaran dan kenyataan. Karena nyatanya sampai sekarang Upasara belum kelihatan bayangannya. Dan bukan sikap Upasara untuk berlindung dan mengintai keadaan. Juga kecil kemungkinannya ketiga pangeran muda tak bisa menemukan Upasara. Itu yang terlintas di benak Jabung Krewes. Juga Mada. Juga dalam pikiran Raja. Juga Halayudha. Sesungguhnya itulah yang terjadi!

Karena Pangeran Anom dengan sangat cepat segera bisa mengetahui di mana Upasara Wulung berada. Dengan kembali ke medan pertarungan, dan menelusuri bekas-bekas yang tersibak, Pangeran Anom lebih dulu sampai di tempat Upasara Wulung, Gendhuk Tri, Pangeran Hiang, maupun Nyai Demang. Apalagi keempatnya tidak meninggalkan tempat sejak berada di situ. Pangeran Anom seakan terbang dari punggung kuda, meninggalkan dua pangeran muda yang lain, begitu melihat bayangan Nyai Demang. Tanpa ragu sedikit pun, Pangeran Anom bersila di tanah, menghaturkan sembah.

“Nyai Demang, sungguh bahagia sekali bisa menjumpai Nyai. Izinkanlah saya menghadap Nyai dan Paman Upasara Wulung.”

Nyai Demang yang masih berdebat dengan batinnya mengenai lamaran Pangeran Hiang, mencoba tersenyum. Sedikit atau banyak, Nyai Demang mengetahui siapa sesungguhnya pangeran yang menaruh hati kepada Gendhuk Tri. Dalam keadaan biasa, Nyai Demang akan merasa heran kenapa Pangeran Anom merasa perlu bersila dan menyembah, akan tetapi sekarang ini karena pikirannya sedang kacau, sikap penghormatan itu tak terlalu dihiraukan.

“Kenapa Pangeran tidak menjumpai langsung?”

Pangeran Anom berdeham keras. Sejak tadi ia bukannya tidak melihat Upasara Wulung yang berada di tempat yang tak begitu jauh. Hanya saja hatinya merasa kurang enak, karena Upasara Wulung sedang berduaan dengan Gendhuk Tri. Kurang enak sekali. Pertama, karena merasa mengganggu mereka yang tengah berduaan. Kedua, dan ini yang sangat menggelisahkan, karena orang yang diganggu itu adalah Gendhuk Tri. Wanita yang berhasil membetot sukmanya, yang membuat daya asmara menggila bagai gelombang tinggi, tetapi sekaligus mengempas-kandaskan!

Bagi Pangeran Anom, Gendhuk Tri selalu menyisakan percakapan asmara yang tak ada selesainya! Sejak pertama mengenai rasa asmara! Adalah Gendhuk Tri pula yang menyebabkan Pangeran Anom meloncat dari perahu yang membawa kedua orangtuanya. Kembali ke tanah Jawa. Dengan segala risiko dan kehormatan yang dipertaruhkan. Untuk bisa bersama-sama mendampingi Gendhuk Tri. Meskipun kemudian Pangeran Anom sadar bahwa Gendhuk Tri menganggapnya tak lebih dari pangeran muda yang baik hati. Menganggapnya tak lebih dari adik.

Daya asmaranya tidak melemah karena penolakan halus itu. Juga tidak kala mengetahui bahwa Gendhuk Tri telah menentukan pilihan untuk mendampingi Maha Singanada. Daya asmara itu kandas dan cures habis ketika menyadari ada nama Upasara Wulung. Ada nama ksatria gagah yang sangat dihormati lahir-batin dalam hati wanita pujaannya. Seperti yang dilihatnya sekarang ini.

Nyai Demang bukannya tidak menangkap gelagat yang ruwet dalam benak Pangeran Anom. Di satu pihak Pangeran Anom sangat menghormat dan kagum kepada Upasara Wulung, di lain pihak juga tak bisa sepenuhnya rela menerima keunggulan asmara Upasara Wulung. Nyai Demang mengetahui sampai titik dan koma perasaan Pangeran Anom. Tapi ia sendiri sedang tidak bisa segera mengambil sikap karena sedang gamang, seakan tak bisa berdiri tegak. Lamaran Pangeran Hiang sesuatu yang sama sekali tak disangka, sama sekali tak diperhitungkan, tetapi juga sesuatu yang membuatnya bahagia.

Bahagia yang menggeletarkan. Bahagia karena dirinya, sebagai wanita, masih ada yang menginginkan dengan tulus. Dan yang menginginkan itu adalah pangeran Tartar yang sekaligus juga putra mahkota. Menggeletarkan karena Nyai Demang tak menyangka masih harus mengalami kejadian seperti ini. Pada saat usianya sudah melewati senja. Yang dilakukan Nyai Demang hanya termangu. Seperti juga Pangeran Anom yang menunggu. Sehingga Pangeran Anom serta Pangeran Muda Wengker saling lirik dengan ragu.

Pangeran Anom menghela napas berat. Apa pun beban yang menghambat dan memberati, tekadnya dibulat-bulatkan. Menemui Upasara Wulung, demi keselamatan Keraton dan Raja. Benarkah demi Keraton dan Raja? Ataukah demi Gendhuk Tri? Itulah jangkar yang menghambat kaki Pangeran Anom bergerak. Karena yang terakhir ini tergema keras dalam hatinya. Sekali lagi dengan menggertakkan kemauan keras, dengan menahan napas, Pangeran Anom menyembah, lalu bangkit perlahan. Menuju ke dekat Upasara Wulung.

Yang saat itu masih berdiri termangu, dengan tangan terkepal keras. Seolah tak mau melepaskan sisa selendang Gendhuk Tri yang tergenggam dan lepas ditarik pemiliknya. Pangeran Anom serasa berjalan di awan. Menindak ke kiri, ke kanan, langkahnya tidak lurus. Hanya karena Gendhuk Tri memandang ke arahnya, Pangeran Anom bisa menelan ludahnya yang seakan menyumbat tenggorokannya. Tangannya sepenuhnya basah oleh keringat.

“Maaf, Adik Tri…”

Sebaliknya, Gendhuk Tri bersikap sangat wajar. Senyuman yang tersungging tetap lembut seperti biasanya. “Silakan, silakan….”

“Saya sengaja datang kemari untuk menemui Paman Upasara Wulung. Untuk meminta pertolongan. Sekaligus menemui Adik Tri, untuk mohon pamit, karena saya akan mengikuti Rama ke tanah seberang.” Kalimat Pangeran Anom tak keruan ujung-pangkalnya.

Tetapi Gendhuk Tri bersikap tetap wajar. “Sampaikan hormat saya kepada Senopati Agung Brahma, dan mohon maaf atas segala kelancangan saya selama ini…”

“Saya… saya… akan saya sampaikan.”

“Kenapa Pangeran ingin menemui Kakang Upasara?”

“Keraton… Raja, sedang berada dalam bahaya. Halayudha, Mahapatih Halayudha menguasai takhta dan menawan Raja…”

Nyai Demang memiringkan wajahnya. Pangeran Hiang menyipitkan matanya, kepalanya miring. Perbendaharaan kalimatnya cukup untuk menangkap maksud Pangeran Anom. Akan tetapi isinya sulit dipercaya, sehingga Pangeran Hiang merasa seakan salah dengar. Mencoba mendengarkan lebih jelas. Bahkan setelah melirik, meminta pertolongan Nyai Demang untuk menjelaskan. Upasara tetap tak bergerak. Hanya suaranya yang terdengar, bagai angin menyapu ombak.

“Apa yang ditempuh Halayudha telah sampai pada tujuannya. Halayudha sudah mencapai apa yang seharusnya dicapai, apa yang ingin dicapai.”

Pangeran Anom maju setindak. Bersila di tanah. Sehingga Gendhuk Tri merasa kurang enak. Ikut bersila. Menunggu. Upasara Wulung malah merangkapkan kedua tangannya di dada. Tak bergerak tak berpaling.

Kalah Asmara
PANGERAN ANOM masih menunggu. Seperti yang lainnya. Cukup lama. Yang terngiang hanyalah kalimat Upasara yang seakan diucapkan kembali.

“Apa yang ditempuh Halayudha telah sampai pada tujuannya. Halayudha sudah mencapai apa yang seharusnya dicapai. Apa yang ingin dicapai.”

Apakah ini jawaban? Apa arti sesungguhnya? Bahwa Halayudha telah mencapai keinginannya untuk merebut takhta, dan itu merupakan hal yang seharusnya terjadi? Apakah dengan demikian Upasara Wulung rela takhta dikenakan Halayudha?

Kalau itu jawaban Upasara, sia-sialah selama ini ia mengagumi. Hati Pangeran Anom menjadi sangat kecewa, bahkan seperti terluka dalam. Setelah menahan perasaannya beberapa saat, Pangeran Anom memadatkan udara dalam dadanya.

“Baiklah, kalau itu jalan yang Paman Upasara tempuh. Saya telah datang bersimpuh, memohon. Saya kecewa atas sikap Paman Upasara lahir-batin, luar-dalam. Tetapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa.” Pangeran Anom menyembah. Lalu berdiri.

“Adik Tri, sekali lagi saya mohon pamit. Sangat cerewet kedengarannya, akan tetapi saya ingin mengatakan sesuatu. Yang harus saya katakan, kalau saya tak ingin menyesal di belakang hari. Selama ini saya mengharapkan Adik Tri. Selama ini saya hanya akan mundur kalau ternyata pilihan Adik Tri adalah ksatria yang bernama Upasara Wulung. Akan tetapi hari ini saya mengatakan pilihan Adik Tri keliru. Saya mengatakan semua ini, sebab inilah akhir pertemuan kita. Saya akan kembali ke Keraton, menyelesaikan urusan. Mati atau hidup tak ada bedanya. Setelah itu, mayat atau hidup saya akan berada jauh dari tanah Jawa. Adik Tri, ini suara lelaki yang kalah. Kalah segalanya. Kalah kelelakian dan kalah asmara. Tetapi ini sesungguhnya suara yang murni. Karena sejak kecil, sejak lahir pertama ke jagat ini karena kekalahan asmara. Saya terbiasa dengan hidup seperti itu. Maaf, Adik Tri…”

Pangeran Anom mengangguk sekali lagi, dan segera berlalu. Diikuti kedua pangeran yang lain. Walau hatinya galau dan langkahnya kacau, tetapi tujuannya tetap. Kembali ke Keraton.

Pada saat itulah Gendhuk Tri meneteskan air matanya. Desakan kebuntuan dan ketidakjelasan selama ini hanya bisa terwujud dalam tetesan satu air mata. Pergolakan batin selama ini tetap menggeliat dalam batinnya, mengendap dan bergolak. Berulang kembali dengan pertanyaan sederhana. Hatinya begitu memuja Upasara Wulung, begitu lekat dan begitu berharap, akan tetapi di saat Upasara meminangnya, Gendhuk Tri justru menjawab dengan gelengan.

Setetes air mata. Air. Air yang menjadi kekuatan utama Eyang Putri Pulangsih ketika menuliskan Kitab Air. Eyang Putri Pulangsih yang menurut cerita begitu mengasihi Eyang Sepuh, yang mengorbankan segalanya bagi Eyang Sepuh, akan tetapi pada titik terakhir justru Eyang Sepuh mengemohi. Menolak. Air. Tetesan air mata inikah pertanda berlakunya hukum karma? Di mana dulu Eyang Sepuh menolak Eyang Putri Pulangsih. Dan kini, murid-murid kesayangannya membalikkan sejarah?

Tak ada alasan bagi Gendhuk Tri untuk menolak. Ia tak mempunyai beban apa pun untuk mewujudkan impiannya bersama dengan Kakang Upasara yang dikagumi sejak kecil. Yang dijadikan pedoman dalam hidupnya. Tak ada beban yang mengganjal lagi. Baik karena Maha Singanada telah beristirahat dengan tenang, ataupun beban kecemburuan. Bagi wanita mana pun, Upasara Wulung adalah pilihan utama. Sesungguhnya Upasara adalah lelananging jagat dalam pilihan. Bukan hanya sebagai ksatria tanpa tanding dalam persilatan, tetapi juga keunggulan dalam daya asmara.

Upasara memiliki, menyimpan, memancarkan daya asmara yang membuat impian menjadi berwarna indah, melambungkan daya cipta ke langit tingkat tujuh. Gendhuk Tri tidak mengingkari semuanya itu. Sedikit pun tidak. Bahkan itu semua telah dibuktikan Upasara Wulung, sejak keluar dari Ksatria Pingitan. Daya asmara pertama yang menyambarnya adalah pertemuan dengan daya asmara Gayatri, putri sekar kedaton, bunga Keraton Singasari. Putri yang menggetarkan dada setiap pangeran muda, yang memesona, yang juga dipilih oleh Raden Sanggrama Wijaya yang kemudian naik takhta.

Dalam soal daya asmara, Upasara Wulung telah memenangkan pertarungan dan persaingan batin. Adalah Upasara yang menolak, memilih jalan lain. Adalah Upasara yang unggul, karena dalam kisah cerita semacam ini, sangat tidak mungkin Upasara bisa berhubungan dengan putri raja, andai tidak ada sambutan darinya. Boleh dikatakan Upasara-lah yang dipinang, yang didekati, yang didatangi. Seperti juga dengan Ratu Ayu Bawah Langit, Azeri Baijani. Ratu Ayu dari tlatah Turkana yang bisa menggoyangkan perhatian Raja Jayanegara hingga mengikuti sayembara secara langsung, adalah Ratu Ayu yang menyembah di kaki Upasara Wulung. Yang memberikan kehormatan, jiwa-raga, kepada Upasara Wulung.

Sampai kejap terakhir, Upasara belum pernah kalah. Baik dalam medan laga ataupun dalam pertarungan asmara. Dua wanita yang paling didambakan, menyerah dan pasrah kepada Upasara. Akan tetapi, justru ketika Upasara mengutarakan rasa hatinya, Gendhuk Tri memalingkan wajah. Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati, kenapa penolakan itu ada dalam hatinya? Bukankah hati kecilnya, keinginannya yang besar, menghendaki?

“Apa yang kamu kehendaki, Gendhuk Tri? Apa yang kamu takutkan?” Suara lirih berbisik di tepi daun telinganya, di tepi pinggiran hatinya. Suara Eyang Putri Pulangsih? Suara hatinya sendiri?

“Kenapa, Gendhuk Tri?” Suara Upasara Wulung yang ngrogoh sukma?

“Apa yang kamu takutkan?”

“Tak ada.”

“Kenapa? Kecemburuan pada masa lampau?”

“Bukan.”

“Ketakutan pada masa lampaumu?”

“Bukan.”

“Lalu apakah tidak ada jawaban?"

“Ada. Apakah ada bedanya menerima Kakang Upasara Wulung sebagai suami? Apakah ada artinya menerima Kakang Upasara Wulung dan membuat diriku sebagai istri? Apakah ada arti dan bedanya dengan sekarang ini?”

“Apakah tidak ada bedanya?”

“Aku tidak melihat perbedaan itu.”

“Apakah perbedaan itu harus ada?”

“Tak tahu.”

“Apakah perbedaan itu harus memberi arti?”

“Entahlah.”

“Gendhuk Tri, sembahlah, menunduklah. Kamu pasti mengenaliku. Pasti tahu karena aku berada dalam dirimu.”

“Eyang Sepuh…”

“Bejujag.”

“Eyang Sepuh…”

Gendhuk Tri mendengar helaan napas yang berat. Seperti ada angin membeku, terjatuh dan menindih angin lain. Samar sekali tergetarkan bahwa bisikan di tepi daun telinga dan di pinggir hatinya lenyap kembali. Benarkah yang berbisik tadi Eyang Sepuh? Lalu apa maunya?

Kalau benar Eyang Sepuh yang mulia, yang paling terhormat, apakah Eyang Sepuh yang mampu moksa perlu turun kembali ke bumi untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan daya asmara? Kalau benar, apa hubungannya?

Gendhuk Tri menjawab dengan jalan pikirannya sendiri. Eyang Sepuh yang telah mencapai tingkat kasampurnan, tidak sepenuhnya sempurna jiwa-raga seperti yang diduga. Masih ada ganjalan untuk kembali ke bumi, walau hanya lewat bisikan. Walau hanya lewat sentuhan hati.

Eyang Sepuh membumi, bukan karena soal Upasara Wulung, bukan soal dirinya. Eyang Sepuh tumurun, turun kembali, karena masih ada ganjalan penyesalan dengan Eyang Putri Pulangsih! Eyang Sepuh, barangkali saja, mencoba rumasuk ke dalam dirinya, untuk mengetahui apakah penolakannya ini dikarenakan dirinya ketitisan Eyang Putri Pulangsih.

Gendhuk Tri merasa ini satu-satunya yang bisa dijelaskan pada dirinya sendiri. Karena itulah Eyang Sepuh menghela napas berat ketika dirinya menjawab dengan sebutan Eyang Sepuh, dan bukan Bejujag atau sebutan lain yang biasa digunakan Eyang Putri Pulangsih.

Rasa-rasanya inilah penjelasan yang masuk akal dan bisa diterima rasa yang dimiliki. Sebab Gendhuk Tri yakin sekali tak ada yang membisiki dirinya, tapi telinganya bisa mendengar jelas, hatinya menerima bisikan dengan jernih. Semuanya terjadi dalam kesadaran yang penuh. Bukan dalam mimpi. Bukan dalam lamunan. Karena dirinya sempat berpikir, bertanya-tanya siapa yang berbisik padanya.

Menang Asmara
KALAU benar begitu, inilah kehebatan lain yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahwa sesuatu yang tadinya sayup-sayup didengar sebagai dongengan, ternyata masih ada bekasnya. Ternyata penolakan asmara yang dilakukan Eyang Sepuh lebih dari lima puluh tahun yang lalu masih tergema hingga sekarang ini. Ternyata Eyang Sepuh masih risau, gelisah, karena apa yang dilakukan sekian puluh tahun lalu!

Betapa dahsyat. Betapa menyayat. Betapa tipis batas antara kemenangan dan kekalahan dalam soal asmara. Puluhan, atau ratusan tahun tak bisa menghapus guratan yang tak terlihat. Bahkan kematian juga tak mengurangi daya asmara. Eyang Kebo Berune yang telah berubah diri menjadi mayat hidup pun masih tergetar sukmanya ketika diberitahu bahwa yang dipegang adalah tengkorak Eyang Putri Pulangsih. Betapa nyata. Betapa tak bisa diterima. Oleh nalar, oleh akal, oleh rasa.

Gendhuk Tri bisa mengerti kalau dirinya dianggap titisan Eyang Putri Pulangsih. Secara tidak sadar dirinya mempelajari ajaran yang ada dalam Kitab Air. Tanpa diketahui, karena gurunya, Jagaddhita, tak pernah mengatakan suatu apa tentang hal ini. Bukan hal yang tidak mungkin Bibi Guru Jagaddhita juga tak pernah mengetahui semasa hidupnya, karena Mpu Raganata tak memberitahu.

Hal yang sama anehnya, karena Mpu Raganata memilih ajaran dari Kitab Air untuk diturunkan. Bukan yang berasal dari Kitab Bumi, bukan kidungan dari ciptaannya sendiri. Apakah ini juga bisa diterjemahkan karena Mpu Raganata juga memiliki dan menyimpan daya asmara bagi Eyang Putri Pulangsih seperti dongeng yang ada?

Sangat mungkin sekali. Karena pada tingkatan Mpu Raganata, bisa memilih mengajarkan ajaran yang mana saja. Bisa memilih kidungan yang mana saja untuk diturunkan. Dan ternyata ajaran dari Kitab Air! Barangkali inilah nasib. Guratan tangan yang membawa pada perjalanan hidupnya, yang terbawa tanpa diminta. Dirinya menjadi pewaris utama ajaran Kitab Air, dan menjadi penerus kandungan batin Eyang Putri Pulangsih.

Nasib yang sama pula dijalankan oleh Upasara Wulung. Yang berangkat dari ilmu Keraton, yang kemudian menemukan penjelmaan kekuatan utama ketika ajaran Kitab Bumi merasuk. Dan serentak menyeruak ke permukaan dunia persilatan ketika Upasara mampu menyelami bagian Tumbal Bumi. Upasara muncul sebagai ksatria gagah perkasa yang mampu malang-melintang, yang mampu mengungguli mereka yang juga mempelajari kitab yang sama.

Lebih dari yang lainnya, Upasara berhasil menyatu dengan sikap pasrah, sikap manumbal, menjadi tumbal, memilih bentuk pengorbanan. Sesuatu yang bibitnya terungkap ketika menghadapi Tiga Naga dari Tartar, ketika menyambung nyawa habis-habisan di benteng Keraton. Hanya dengan sikap menyediakan diri sebagai korban, Upasara bisa memukul balik lawan-lawannya yang justru saat itu telah unggul.

Akan tetapi keunggulan yang utama ialah ketika Upasara menerima itu sebagai kesadaran, sebagai sikap yang utuh, dan karena kebetulan terdesak. Dengan penyerahan diri secara total dan sekaligus ikhlas, Upasara Wulung berubah menjadi ksatria tanpa tanding, ksatria yang bergelar lelananging jagat. Satu-satunya gelar tertinggi dalam dunia persilatan.

Gendhuk Tri bisa men-candra, bisa mengamati dengan jelas apa yang terjadi pada Upasara Wulung, karena hal yang sama bisa dilihat untuk dirinya sendiri. Itu terasakan ketika terjadi pertarungan yang menentukan. Ketika Gemuka yang perkasa dan seolah tak bisa mati serta dikalahkan, Gendhuk Tri bisa menghadapi dengan ketenangan yang sempurna. Bisa mengalahkan Gemuka tanpa menggerakkan satu jurus pun!.Itu yang kini dirasakan Gendhuk Tri sebagai akibat langsung dari penyelaman ikhlas pada ajaran Kitab Air.

Upasara Wulung terdengar menghela napas. Seolah itulah helaan napas berat yang tadi dilakukan oleh Eyang Sepuh. Ketika Gendhuk Tri menatap, sekujur tubuh Upasara Wulung basah oleh keringat. Keringat yang benar-benar mengucur dari leher dan dadanya.

“Maafkan Kakang, Adik Tri…”

“Saya juga minta maaf, Kakang…”

“Saya terlalu keras kepala untuk menerima kekalahan. Seharusnya sejak semula saya sadar bahwa Adik Tri tidak mau menerima Kakang…”

“Kakang…”

“Sejak di pinggiran hutan. Sejak saya seharusnya sudah tak perlu melanjutkan perjalanan hidup.”

Gendhuk Tri mengelap jidatnya yang berkeringat. Juga lehernya yang basah. Dadanya yang merembeskan air keringat hingga berbekas. Pinggiran hutan. Atau tanpa menyebutkan pun, Gendhuk Tri mengetahui apa yang dimaksudkan Upasara Wulung. Meskipun sesungguhnya dalam hatinya masih bertanya-tanya, apakah kesimpulan yang diambil Upasara Wulung tidak mengada-ada.

Upasara merasa bahwa apa yang dikatakan adalah kejujuran dan ketulusan isi hatinya. Tidak untuk memperlihatkan atau membuat emosinya mendidih. Upasara baru melihat jelas apa yang dulu menjadi tanda tanya dalam hatinya. Apa yang dulu dilakukan begitu saja, seolah ada kekuatan yang mendorong untuk berbuat.

Saat di mana Gendhuk Tri terkena racun di sekujur tubuhnya, sehingga burung dan binatang menjauh, sehingga semua tubuh yang disentuh bisa menyalurkan racun. Ketika itulah Upasara Wulung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengusir racun dalam tubuh Gendhuk Tri. Dengan akibat yang jelas, tenaga dalamnya sendiri musnah!

Itu semua terjadi ketika Upasara Wulung merasa buntu dengan Kitab Bumi yang diselami secara habis-habisan. Ketika merasa tak menemukan kemajuan sedikit pun. Banyak hal sebenarnya bisa dilakukan saat itu. Tetapi pada kenyataannya, Upasara justru memindahkan tenaga dalamnya. Menghantam racun, mengeluarkan dan menggantikan dengan tenaga dalamnya. Sehingga setelah itu, Upasara Wulung tak ubahnya seperti kerangka berdaging yang tak mempunyai tenaga apa-apa.

Dorongan utama tersebut baru jelas saat ini bagi Upasara. Tenaga dalamnya yang menggelombang, yang berdesakan, menemukan tempat untuk menebus kesalahan yang dulu dilakukan Eyang Sepuh pada Eyang Putri Pulangsih! Saat itu Upasara hanya merasakan dorongan untuk berbuat suatu kebaikan bagi Gendhuk Tri. Seperti yang juga dilakukan di atas benteng Keraton saat membebaskan Gayatri.

Saat itu Upasara merasa tergetar untuk menyelamatkan Gayatri yang disandera di tempat itu. Dorongan itu begitu menggelora, dibakar daya asmara yang menggeliat, yang membakar dan menghanguskan. Barulah sekarang ini, setelah melewati masa puluhan tahun, Upasara menyadari bahwa itu semua dilakukan karena desakan, karena daya tarik tenaga dalam dan batin Gendhuk Tri!

Daya tarik yang belum sepenuhnya bisa dipahami, karena rasa dan kemampuan Upasara belum sampai ke tingkat sekarang ini. Hal yang sama, yang kemudian dialami ketika Upasara harus berpisah dari Permaisuri Rajapatni. Yang selama ini diakui begitu menghunjam dalam impian dan kesadarannya. Baginya, dulu dan sekarang, Permaisuri Rajapatni adalah Gayatri, adalah daya asmara yang sesungguhnya.

Dan sesungguhnya begitu, sampai kemudian Upasara merelakan secara pasrah ketika Permaisuri Rajapatni menyatakan diri akan melepas semua keduniawian dan bertapa. Benarkah semua begitu? Upasara mengangguk perlahan.

JILID 67BUKU PERTAMAJILID 69

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 68

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 68

"Mana mungkin ada ilmu yang tidak Paduka ketahui?”

“Aneh sedikit. Getar nadi dan denyut kehidupanmu, dengus napasmu kedengarannya tidak mengikuti irama yang biasa. Apakah tenaga dalam mahamanusia sudah merasukimu? Apakah kamu sudah mengenal Ngrogoh Sukma Sejati?”

Mada sendiri tidak menyangka bahwa tubuhnya berbeda dari yang lainnya. Karena selama ini tak pernah menyadari. Tak ada yang mengatakan hal itu padanya. Bahkan Eyang Puspamurti juga tidak.

Halayudha menurunkannya perlahan. “Mada, katakan bagaimana caramu mengatur pernapasan?”

“Kekuatan bumi.”

“Itu aku tahu. Tapi kenapa tenagamu berhenti di bawah pusar? Bukankah kamu bisa menarik ke atas dan menjadikan tenaga pusar?”

“Paduka bisa melakukan, hamba hanyalah prajurit rucah, prajurit asor, prajurit jajar yang tiada arti.”

Apa yang dikatakan Mada sebenarnya apa adanya. Sebutan prajurit rucah, jajar, asor adalah pangkat dan derajatnya yang sesungguhnya. Prajurit yang pangkatnya paling rendah. Apa adanya karena sesungguhnya Mada memang prajurit yang belum memiliki pangkat. Ketika ditarik Senopati Jabung Krewes sebagai prajurit kawal Keraton, itu semua hanyalah tugas yang dijalankan. Bukan pangkat yang disandang.

“Apa bedanya kalau kamu prajurit rucah atau prajurit bhayangkara?”

“Tentu saja berbeda, Paduka lebih mengetahui. Prajurit bhayangkara mempunyai wewenang menjalankan tugas untuk langsung menjaga Raja. Sehingga hamba tak mungkin mengerahkan tenaga dalam…”

“Bagaimana mungkin mahamanusia terbatasi derajat dan pangkat?”

Pertanyaan ini agak sulit dijawab Halayudha. Yang pernah mempertengkarkan persoalan ini hanyalah Jaghana dan Eyang Puspamurti. Jaghana ketika memahami ajaran mahamanusia menemukan bahwa betapapun tak terbatasnya manusia, dalam soal derajat dan kepangkatan ada batasnya. Yaitu tidak bisa mencapai tingkat mahkota, tak bisa begitu saja menjadi raja.

Sementara Eyang Puspamurti murni berpegang pada ajaran mahamanusia dan betul-betul maha. Dalam pertarungan tenaga dalam yang terjadi, Eyang Puspamurti mengakui keunggulan pandangan dan sikap pendekatan Jaghana. Sehingga dengan sendirinya, ajarannya pun mengalami banyak perubahan. Halayudha tentu saja tak menangkap hal ini. Terutama juga karena kini sedang berada di puncak kekuasaan.

“Bagaimana kamu menerangkan hal ini?”

“Hamba tak ingin orang lain mendengar.”

Halayudha mengibaskan tangannya. “Kalian tak kuperlukan, minggat sajalah!”

Ketiga pangeran muda menyembah ke arah Raja Jayanegara, dan segera berlalu. Jabung Krewes berharap mereka bertiga benar-benar mencari dan menemui Upasara Wulung!

“Paduka sudah mengalami semua tata pangkat dan derajat di dalam Keraton. Pastilah Paduka bisa membedakan kekuatan yang ada dalam diri Paduka. Paduka pernah menjadi gandek tunggal, pernah menjadi nayaka, pernah menjabat sebagai panekar…”

Kali ini Jabung Krewes tidak bisa menduga. Apakah Mada sekadar mengulur waktu ataukah mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi bisa jadi dalam pengertian dua-duanya. Karena dengan mengulur waktu bisa memberi kesempatan bagi ketiga pangeran muda, sementara yang diucapkan Mada perlu direnungkan. Dengan menyebut gandek tunggal sebenarnya Mada sedang mempermainkan perasaan Halayudha.

Gandek adalah jabatan dalam tata kepangkatan Keraton, di mana pelakunya hanya mempunyai satu tugas yaitu menjalankan perintah raja. Untuk memanggil atau memberitahukan sesuatu. Dalam tata pemerintahan Keraton, yang menyandang gandek tidak pernah satu orang. Karena dikuatirkan kurang bisa mendengar sabda raja.

Tapi kenyataannya, Halayudha pernah menjabat itu sendirian. Halayudha tidak mempunyai bawahan untuk menyampaikan. Ia juga menjabat sebagai nayaka, atau menteri yang menjadi pembantu raja. Sekaligus juga menjabat panekar, menteri Keraton yang tidak mempunyai anak buah secara langsung. Menteri yang menjadi rerenggan, semacam hiasan karena tak membawahkan bagian tertentu.

“Apakah aku mempunyai perasaan yang berbeda?” Halayudha bertanya kepada dirinya sendiri. “Rasanya tidak.”

“Paduka telah melupakan.”

“Baik, kalau begitu. Mulai sekarang kamu kuangkat sebagai bhayangkara, sekaligus prajurit tamtama, prajurit pilihan dan memimpin prajurit jayengsekar. Kerahkan tenagamu.”

Mada mengumpulkan kekuatannya. Matanya tertutup, dan tangannya bergerak naik-turun. Satu tangan menengadah, satu tangan lagi terkulai di bawah. Ketika udara ditarik lewat hidungnya dan dikumpulkan di pusar, Halayudha segera bisa merasakan getarannya. Merangsang hawa panas.

Dengan pangkat sebagai bhayangkara atau kawal raja, kekuasaannya memang sangat tinggi. Pangkat bisa masih rendah, akan tetapi kekuasaannya langsung mendapat perintah dari raja. Dengan pangkat sebagai pemimpin jayengsekar, sekaligus berarti memimpin seluruh prajurit berkuda.

“Bagus, itu menarik. Mada, apakah kalau kuturunkan pangkatmu, tenagamu bisa macet?”

“Ajarannya begitu. Tetapi sebagai prajurit, hamba adalah pertapa di gunung api.”

Halayudha mengangguk-angguk. Jabung Krewes yakin kini bahwa Mada mengatakan sejujur-jujurnya. Tidak berusaha mengulur waktu atau menyesatkan pembicaraan. Jabung Krewes makin kagum mengakui kesetiaan Mada sebagai prajurit. Seluruh jiwa-raganya diabdikan untuk menjadi pengabdi Keraton. Ajaran yang sudah luluh, sudah mendarah daging dalam dirinya.

Dengan mengatakan bahwa “prajurit bertapa di gunung api”, Mada memakai perumpamaan yang selalu digunakan sebagai tugas dasar prajurit. Bahwa sesungguhnya prajurit itu mempunyai jiwa dan tanggung jawab lebih besar dari pertapa. Karena prajurit tidak bertapa di dalam gua yang sunyi. Melainkan di atas api. Eyang Puspamurti tidak kepalang tanggung menjejalkan ajaran dasar ini.

Derajat dan Pangkat
HALAYUDHA masih mengangguk-angguk. Hatinya terketuk suara Mada yang lirih tapi seolah menjenguk ke dalam kesadarannya. Sederhana kata-kata Mada, dengan penjelasan seadanya yang sudah dan mudah dimengerti, akan tetapi pada Halayudha mempunyai gema yang mengandung makna.

“Mada, aku tahu betul siapa kamu. Anak kampung yang berkelana, yang mencari guru, yang ingin menjadi prajurit. Bagaimana mungkin kamu bisa memperoleh ilmu sedemikian cepat?”

“Maaf, apakah arti cepat atau lambat bagi ilmu?”

“Bagus, bagus sekali. Kamu mengerti. Mada, kenapa aku mampu menguasai banyak ilmu sekaligus?”

“Karena Paduka mengalami semuanya. Paduka adalah mahapatih yang diangkat oleh Raja. Tangan kanan, pemegang roda pemerintahan sehari-hari. Paduka melakukan semua derajat dan pangkat mahapatih, baik sebagai nindyamantri, mantrimuka, mantringayun, warangkapraja, sebagai mantri utama, sebagai sarung keris bagi Raja. Paduka juga menjadi panekar, menteri yang hanya menjadi hiasan. Paduka mengalami derajat dan pangkat bupati, yang mempunyai sifat seorang raja, seorang pati. Paduka pernah sekaligus juga menjabat purohita. Sebagai pemegang jabatan wadana, camat tetapi juga guru di Keraton, sebagaimana pendekar utama dari Gelang-Gelang, Bapa Ugrawe. Paduka menjabat jeksa tapi sekaligus juga pengulu, dan juga jaga bela alias singanagara. Yang memegang keadilan, sekaligus ketua agama, tetapi juga sekaligus menjadi pelaksana hukuman, dengan tangan sendiri melaksanakan hukuman mati. Apakah Paduka masih menyangsikan bahwa ada yang tak bisa Paduka lakukan?”

Mata Halayudha berkejap-kejap. Bibirnya mengilat. Darah telah mengering dari bibir dan tubuhnya. “Apa bedanya derajat dengan pangkat?”

“Dalam hal ini atau hal lain, sama. Derajat atau drajat sama dengan pangkat. Dalam hal ini atau hal lain, bisa berbeda. Pangkat bisa menjulang ke angkasa atau nyungsep ke bumi, akan tetapi derajat bisa sama. Manusia memiliki derajat sejak lahir. Manusia memakai pangkat sejak lahir. Pangkat bisa hilang dan datang, tergantung derajat. Derajat bisa tinggi dan rendah, tak tergantung pangkat.”

“Siapa yang mengajarimu?”

“Hamba membaca petunjuk Eyang Puspamurti mengenai mahamanusia.”

“Siapa Eyang Puspamurti?”

Sampai di sini, Mada pun mengetahui bahwa jalan pikiran Halayudha tidak sepenuhnya beres. Kalau pertanyaan-pertanyaan sebelumnya menunjukkan seakan Halayudha baru sadar tentang pangkat dan perjalanannya, kini menunjukkan pikirannya tidak waras. Bagaimana mungkin Halayudha tak mengenali Eyang Puspamurti?

“Kamu ternyata masih cubluk, masih sangat bodoh. Kalau aku bertanya siapa Eyang Puspamurti, bukannya aku tak tahu ia manusia wandu, tidak lelaki tidak perempuan, yang menjadi gurumu. Aku bertanya siapa sesungguhnya dia.”

“Hamba tidak mengetahui. Rasanya hamba tidak pantas menyebutnya sebagai mahamanusia.”

Halayudha menggeleng. Berulang kali. Lalu kembali duduk di kursi kebesaran. Dengan masih menggeleng. “Tidak. Tidak. Itu pikiran tersesat. Itu kekeliruan. Eyang Puspamurti mempelajari kitab yang menceritakan mahamanusia, akan tetapi si tua itu tak mengerti dan tak mencapai. Tidak juga guruku, Paman Sepuh. Tidak juga Kebo Berune. Mereka ini tidak mempunyai derajat menjadi mahamanusia. Mereka justru orang-orang yang gagal, kalah, dan tertindih oleh gagasannya. Tidak. Tidak. Di seluruh jagat ini, anehnya, hanya ada tiga orang yang mampu menguasai ajaran itu. Sejak ajaran itu belum dilahirkan sekalipun. Sampai kapan pun. Mada, otakmu lebih tumpul dari lututku tapi masih lebih segar dibandingkan dengan orang lain di seisi ruangan ini. Ada kejujuran yang dungu, yang bisa membuatmu sebagai bagian dari mahamanusia. Itu kalau kamu mempunyai nasib baik dan aku memberi kesempatan. Barangkali memang manusia macam kamu ini yang membuat Jaghana atau Eyang Puspamurti tertarik karena gregetan, karena gemas melihat kedunguanmu betul-betul murni.”

Halayudha menyandarkan punggungnya. Napasnya naik-turun perlahan. Pandangannya yang tajam berubah lunak, bersahabat, tetapi juga sekaligus bisa mematikan.

“Kamu telah membuat aku ingin berbicara. Tadi kukatakan, barangkali hanya ada tiga orang yang bisa memahami dan menjadi mahamanusia. Anehnya, orang yang pertama bukan Mpu Raganata yang menciptakan Kidungan Pamungkas. Juga bukan Sri Baginda Raja Kertanegara yang begitu dihormati dan disembah melebihi Dewa yang menciptakan Kidungan Para Raja. Justru ternyata orang itu pertama adalah Eyang Sepuh. Tokoh buruk yang bahkan bayangannya pun tak pernah dilihat orang. Ia sudah musnah entah sejak kapan, akan tetapi masih seakan berada di sini, dan mengalahkan serta menindih nama yang lain. Padahal justru Eyang Sepuh yang menciptakan Kidungan Paminggir yang edan-edanan. Kenapa bukan Mpu Raganata? Karena beliau yang mulia, yang lembut dan bijak bestari sebagai mahapatih, masih mengalami kematian di ujung senjata. Tragedi yang tak akan terpahami seumur hidup. Seorang mahapatih yang bijak, luhur, berpandangan seluas lautan setinggi gunung, yang mampu mengimbangi Sri Baginda Raja, yang sesungguhnyalah seorang warangka dalem, mahapatih yang paling hebat. Mpu Raganata yang paling setuju dengan tindakan Sri Baginda Raja disingkirkan, digeser pangkatnya. Tapi derajatnya tetap sebagai abdi Keraton. Titik darah dan napas penghabisan diberikan sepenuhnya kepada Keraton. Membela Sri Baginda Raja yang menyingkirkan, memberikan kehormatan utamanya sebagai prajurit, sebagai ksatria, dan terutama sebagai orang suci, yang mengamankan ajaran dalam Kidungan Para Raja, yang mengatakan bahwa mahamanusia tak akan mencapai takhta. Tapi Mpu Raganata gagal. Ia mati. Dengan tubuh bersimbah darah. Mati tak berbeda dengan prajurit atau kuda. Eyang Sepuh lebih unggul, lebih hebat, dan edannya juga lebih benar. Ajarannya yang utama ternyata yang benar, seperti yang ada dalam Kidungan Paminggir. Bahwa sesungguhnya orang-orang pinggiran, seperti kamu, yang tak punya pangkat dan keturunan, bisa naik ke jenjang yang paling tinggi. Eyang Sepuh dikenal luas sebagai pencipta Kitab Bumi. Padahal itu ciptaan guruku. Eyang Sepuh hanya menambahi bagian Tumbal Bantala Parwa yang delapan jurus itu. Tapi seluruh jagat dengan isinya, mulai dari Dewa, mulai dari Sri Baginda Raja hingga ke tanah seberang mengakui sebagai pencipta. Dan hanya Eyang Sepuh yang lenyap secara moksa, lenyap berikut badan wadaknya, tetapi masih selalu terasa kehadirannya. Siapa dua orang lagi? Yang kedua, sudah kamu jawab sendiri, Mada? Aku. Ingsun. Akulah mahamanusia yang sesungguhnya. Aku tidak moksa, aku ada, dengan duduk di singgasana ini, dengan mahkota tergeletak di ujung kakiku. Aku, Mada. Aku yang tak punya darah keturunan apa-apa dan bisa berada di atas takhta. Bisa membalik kodrat Dewa Yang Paling Dewa. Siapa orang yang ketiga? Kamu pasti menduga Upasara Wulung. Hmmm. Dengan senang hati aku mengakui. Dengan kemampuannya yang berawal dari ilmu yang bernama Banteng Ketaton Terluka, ia masuk ke ajaran Kitab Bumi yang sesungguhnya. Dengan penguasaan yang sempurna, ia menggebrak maju dan menjadikannya seorang, dan satu-satunya, yang bergelar lelananging jagat. Ia memiliki derajat, tetapi tak memiliki pangkat. Ia diangkat menjadi senopati pamungkas oleh Baginda sewaktu mengusir pasukan Tartar, tetapi ia tak pernah menikmati pangkat itu. Ia disodori pangkat dan derajat mahapatih, tetapi ia menolak menggunakan haknya. Penolakan yang berasal dari sumbernya, dari sikapnya sebagai tumbal. Sikap pasrah yang mendalam, yang menyebabkannya menguasai ngelmu yang disebut Ngrogoh Sukma Sejati. Eyang Puspamurti, Dewa Maut mampu mencicipi tapi tak akan seperti Upasara Wulung. Seperti juga semua ksatria bisa melatih, akan tetapi hanya Upasara Wulung yang menguasai secara lebih, secara unggul, yang benar. Aku pun mengakui berbeda dengannya dalam mengambil bentuk kesempurnaan mahamanusia, yaitu dengan menduduki takhta. Mada, kini kamu mengerti kenapa aku mengatakan ini semua dengan lega. Kami bertiga menjadi mahamanusia dengan muara yang berbeda. Eyang Sepuh moksa, Upasara Wulung hanya sukmanya yang dibuat moksa, sedangkan aku menjadi raja. Mada, kamu mengerti kini, bahwa Eyang Sepuh ataupun Upasara tak akan mengganggu gugat aku. Itu sebabnya ketiga pangeran kecil aku biarkan menemuinya. Mungkin mereka bertiga sedang kecewa dan tak mengerti. Aku bisa tertawa, di sini.”

Percakapan Asmara
APA yang dikatakan Halayudha sepenuhnya bisa dimengerti. Bukan hanya oleh Mada, melainkan juga Jabung Krewes, dan Raja. Uraian Halayudha tak terlalu sulit diterima. Bahwa kini, sesungguhnya, tak ada lagi yang mampu menghalangi atau mengubah apa yang telah dilakukan Halayudha. Semua orang bisa memperhitungkan bahwa lawan utama Halayudha hanya tinggal seorang yang bernama Upasara Wulung. Tapi semua orang tidak menyadari kemungkinan bahwa Upasara Wulung bisa menolak memerangi Halayudha.

Dalam perhitungan Jabung Krewes, ini berarti bahwa Halayudha masih cukup lama, sampai tak bisa diperkirakan, menduduki takhta dan mempermainkan derajat serta pangkat yang tak tertandingi dan terungguli. Kecuali dengan jalan kekerasan atau kelicikan. Tapi Jabung Krewes sendiri menyangsikan, apakah jalan seperti itu masih mungkin, mengingat Halayudha juga menguasai cara-cara seperti itu. Bahkan boleh dikatakan semua strategi dan perhitungan matang berasal darinya!

Satu-satunya harapan hanyalah Halayudha keliru menilai Upasara Wulung. Itu bukan tidak mungkin mengingat selama ini Upasara Wulung lebih memperlihatkan dirinya sebagai prajurit dan ksatria, yang lebih mendekati sifat Mpu Raganata dibandingkan sikap dan sifat Eyang Sepuh, yang memilih menyingkir dari Keraton dan berdiam di Perguruan Awan ataupun moksa! Betapapun kejam dan nista perlakuan Keraton selama ini kepada Upasara Wulung!

Tetapi ada perasaan samar bahwa apa yang diperhitungkan Halayudha lebih mendekati kebenaran dan kenyataan. Karena nyatanya sampai sekarang Upasara belum kelihatan bayangannya. Dan bukan sikap Upasara untuk berlindung dan mengintai keadaan. Juga kecil kemungkinannya ketiga pangeran muda tak bisa menemukan Upasara. Itu yang terlintas di benak Jabung Krewes. Juga Mada. Juga dalam pikiran Raja. Juga Halayudha. Sesungguhnya itulah yang terjadi!

Karena Pangeran Anom dengan sangat cepat segera bisa mengetahui di mana Upasara Wulung berada. Dengan kembali ke medan pertarungan, dan menelusuri bekas-bekas yang tersibak, Pangeran Anom lebih dulu sampai di tempat Upasara Wulung, Gendhuk Tri, Pangeran Hiang, maupun Nyai Demang. Apalagi keempatnya tidak meninggalkan tempat sejak berada di situ. Pangeran Anom seakan terbang dari punggung kuda, meninggalkan dua pangeran muda yang lain, begitu melihat bayangan Nyai Demang. Tanpa ragu sedikit pun, Pangeran Anom bersila di tanah, menghaturkan sembah.

“Nyai Demang, sungguh bahagia sekali bisa menjumpai Nyai. Izinkanlah saya menghadap Nyai dan Paman Upasara Wulung.”

Nyai Demang yang masih berdebat dengan batinnya mengenai lamaran Pangeran Hiang, mencoba tersenyum. Sedikit atau banyak, Nyai Demang mengetahui siapa sesungguhnya pangeran yang menaruh hati kepada Gendhuk Tri. Dalam keadaan biasa, Nyai Demang akan merasa heran kenapa Pangeran Anom merasa perlu bersila dan menyembah, akan tetapi sekarang ini karena pikirannya sedang kacau, sikap penghormatan itu tak terlalu dihiraukan.

“Kenapa Pangeran tidak menjumpai langsung?”

Pangeran Anom berdeham keras. Sejak tadi ia bukannya tidak melihat Upasara Wulung yang berada di tempat yang tak begitu jauh. Hanya saja hatinya merasa kurang enak, karena Upasara Wulung sedang berduaan dengan Gendhuk Tri. Kurang enak sekali. Pertama, karena merasa mengganggu mereka yang tengah berduaan. Kedua, dan ini yang sangat menggelisahkan, karena orang yang diganggu itu adalah Gendhuk Tri. Wanita yang berhasil membetot sukmanya, yang membuat daya asmara menggila bagai gelombang tinggi, tetapi sekaligus mengempas-kandaskan!

Bagi Pangeran Anom, Gendhuk Tri selalu menyisakan percakapan asmara yang tak ada selesainya! Sejak pertama mengenai rasa asmara! Adalah Gendhuk Tri pula yang menyebabkan Pangeran Anom meloncat dari perahu yang membawa kedua orangtuanya. Kembali ke tanah Jawa. Dengan segala risiko dan kehormatan yang dipertaruhkan. Untuk bisa bersama-sama mendampingi Gendhuk Tri. Meskipun kemudian Pangeran Anom sadar bahwa Gendhuk Tri menganggapnya tak lebih dari pangeran muda yang baik hati. Menganggapnya tak lebih dari adik.

Daya asmaranya tidak melemah karena penolakan halus itu. Juga tidak kala mengetahui bahwa Gendhuk Tri telah menentukan pilihan untuk mendampingi Maha Singanada. Daya asmara itu kandas dan cures habis ketika menyadari ada nama Upasara Wulung. Ada nama ksatria gagah yang sangat dihormati lahir-batin dalam hati wanita pujaannya. Seperti yang dilihatnya sekarang ini.

Nyai Demang bukannya tidak menangkap gelagat yang ruwet dalam benak Pangeran Anom. Di satu pihak Pangeran Anom sangat menghormat dan kagum kepada Upasara Wulung, di lain pihak juga tak bisa sepenuhnya rela menerima keunggulan asmara Upasara Wulung. Nyai Demang mengetahui sampai titik dan koma perasaan Pangeran Anom. Tapi ia sendiri sedang tidak bisa segera mengambil sikap karena sedang gamang, seakan tak bisa berdiri tegak. Lamaran Pangeran Hiang sesuatu yang sama sekali tak disangka, sama sekali tak diperhitungkan, tetapi juga sesuatu yang membuatnya bahagia.

Bahagia yang menggeletarkan. Bahagia karena dirinya, sebagai wanita, masih ada yang menginginkan dengan tulus. Dan yang menginginkan itu adalah pangeran Tartar yang sekaligus juga putra mahkota. Menggeletarkan karena Nyai Demang tak menyangka masih harus mengalami kejadian seperti ini. Pada saat usianya sudah melewati senja. Yang dilakukan Nyai Demang hanya termangu. Seperti juga Pangeran Anom yang menunggu. Sehingga Pangeran Anom serta Pangeran Muda Wengker saling lirik dengan ragu.

Pangeran Anom menghela napas berat. Apa pun beban yang menghambat dan memberati, tekadnya dibulat-bulatkan. Menemui Upasara Wulung, demi keselamatan Keraton dan Raja. Benarkah demi Keraton dan Raja? Ataukah demi Gendhuk Tri? Itulah jangkar yang menghambat kaki Pangeran Anom bergerak. Karena yang terakhir ini tergema keras dalam hatinya. Sekali lagi dengan menggertakkan kemauan keras, dengan menahan napas, Pangeran Anom menyembah, lalu bangkit perlahan. Menuju ke dekat Upasara Wulung.

Yang saat itu masih berdiri termangu, dengan tangan terkepal keras. Seolah tak mau melepaskan sisa selendang Gendhuk Tri yang tergenggam dan lepas ditarik pemiliknya. Pangeran Anom serasa berjalan di awan. Menindak ke kiri, ke kanan, langkahnya tidak lurus. Hanya karena Gendhuk Tri memandang ke arahnya, Pangeran Anom bisa menelan ludahnya yang seakan menyumbat tenggorokannya. Tangannya sepenuhnya basah oleh keringat.

“Maaf, Adik Tri…”

Sebaliknya, Gendhuk Tri bersikap sangat wajar. Senyuman yang tersungging tetap lembut seperti biasanya. “Silakan, silakan….”

“Saya sengaja datang kemari untuk menemui Paman Upasara Wulung. Untuk meminta pertolongan. Sekaligus menemui Adik Tri, untuk mohon pamit, karena saya akan mengikuti Rama ke tanah seberang.” Kalimat Pangeran Anom tak keruan ujung-pangkalnya.

Tetapi Gendhuk Tri bersikap tetap wajar. “Sampaikan hormat saya kepada Senopati Agung Brahma, dan mohon maaf atas segala kelancangan saya selama ini…”

“Saya… saya… akan saya sampaikan.”

“Kenapa Pangeran ingin menemui Kakang Upasara?”

“Keraton… Raja, sedang berada dalam bahaya. Halayudha, Mahapatih Halayudha menguasai takhta dan menawan Raja…”

Nyai Demang memiringkan wajahnya. Pangeran Hiang menyipitkan matanya, kepalanya miring. Perbendaharaan kalimatnya cukup untuk menangkap maksud Pangeran Anom. Akan tetapi isinya sulit dipercaya, sehingga Pangeran Hiang merasa seakan salah dengar. Mencoba mendengarkan lebih jelas. Bahkan setelah melirik, meminta pertolongan Nyai Demang untuk menjelaskan. Upasara tetap tak bergerak. Hanya suaranya yang terdengar, bagai angin menyapu ombak.

“Apa yang ditempuh Halayudha telah sampai pada tujuannya. Halayudha sudah mencapai apa yang seharusnya dicapai, apa yang ingin dicapai.”

Pangeran Anom maju setindak. Bersila di tanah. Sehingga Gendhuk Tri merasa kurang enak. Ikut bersila. Menunggu. Upasara Wulung malah merangkapkan kedua tangannya di dada. Tak bergerak tak berpaling.

Kalah Asmara
PANGERAN ANOM masih menunggu. Seperti yang lainnya. Cukup lama. Yang terngiang hanyalah kalimat Upasara yang seakan diucapkan kembali.

“Apa yang ditempuh Halayudha telah sampai pada tujuannya. Halayudha sudah mencapai apa yang seharusnya dicapai. Apa yang ingin dicapai.”

Apakah ini jawaban? Apa arti sesungguhnya? Bahwa Halayudha telah mencapai keinginannya untuk merebut takhta, dan itu merupakan hal yang seharusnya terjadi? Apakah dengan demikian Upasara Wulung rela takhta dikenakan Halayudha?

Kalau itu jawaban Upasara, sia-sialah selama ini ia mengagumi. Hati Pangeran Anom menjadi sangat kecewa, bahkan seperti terluka dalam. Setelah menahan perasaannya beberapa saat, Pangeran Anom memadatkan udara dalam dadanya.

“Baiklah, kalau itu jalan yang Paman Upasara tempuh. Saya telah datang bersimpuh, memohon. Saya kecewa atas sikap Paman Upasara lahir-batin, luar-dalam. Tetapi saya tidak menyalahkan siapa-siapa.” Pangeran Anom menyembah. Lalu berdiri.

“Adik Tri, sekali lagi saya mohon pamit. Sangat cerewet kedengarannya, akan tetapi saya ingin mengatakan sesuatu. Yang harus saya katakan, kalau saya tak ingin menyesal di belakang hari. Selama ini saya mengharapkan Adik Tri. Selama ini saya hanya akan mundur kalau ternyata pilihan Adik Tri adalah ksatria yang bernama Upasara Wulung. Akan tetapi hari ini saya mengatakan pilihan Adik Tri keliru. Saya mengatakan semua ini, sebab inilah akhir pertemuan kita. Saya akan kembali ke Keraton, menyelesaikan urusan. Mati atau hidup tak ada bedanya. Setelah itu, mayat atau hidup saya akan berada jauh dari tanah Jawa. Adik Tri, ini suara lelaki yang kalah. Kalah segalanya. Kalah kelelakian dan kalah asmara. Tetapi ini sesungguhnya suara yang murni. Karena sejak kecil, sejak lahir pertama ke jagat ini karena kekalahan asmara. Saya terbiasa dengan hidup seperti itu. Maaf, Adik Tri…”

Pangeran Anom mengangguk sekali lagi, dan segera berlalu. Diikuti kedua pangeran yang lain. Walau hatinya galau dan langkahnya kacau, tetapi tujuannya tetap. Kembali ke Keraton.

Pada saat itulah Gendhuk Tri meneteskan air matanya. Desakan kebuntuan dan ketidakjelasan selama ini hanya bisa terwujud dalam tetesan satu air mata. Pergolakan batin selama ini tetap menggeliat dalam batinnya, mengendap dan bergolak. Berulang kembali dengan pertanyaan sederhana. Hatinya begitu memuja Upasara Wulung, begitu lekat dan begitu berharap, akan tetapi di saat Upasara meminangnya, Gendhuk Tri justru menjawab dengan gelengan.

Setetes air mata. Air. Air yang menjadi kekuatan utama Eyang Putri Pulangsih ketika menuliskan Kitab Air. Eyang Putri Pulangsih yang menurut cerita begitu mengasihi Eyang Sepuh, yang mengorbankan segalanya bagi Eyang Sepuh, akan tetapi pada titik terakhir justru Eyang Sepuh mengemohi. Menolak. Air. Tetesan air mata inikah pertanda berlakunya hukum karma? Di mana dulu Eyang Sepuh menolak Eyang Putri Pulangsih. Dan kini, murid-murid kesayangannya membalikkan sejarah?

Tak ada alasan bagi Gendhuk Tri untuk menolak. Ia tak mempunyai beban apa pun untuk mewujudkan impiannya bersama dengan Kakang Upasara yang dikagumi sejak kecil. Yang dijadikan pedoman dalam hidupnya. Tak ada beban yang mengganjal lagi. Baik karena Maha Singanada telah beristirahat dengan tenang, ataupun beban kecemburuan. Bagi wanita mana pun, Upasara Wulung adalah pilihan utama. Sesungguhnya Upasara adalah lelananging jagat dalam pilihan. Bukan hanya sebagai ksatria tanpa tanding dalam persilatan, tetapi juga keunggulan dalam daya asmara.

Upasara memiliki, menyimpan, memancarkan daya asmara yang membuat impian menjadi berwarna indah, melambungkan daya cipta ke langit tingkat tujuh. Gendhuk Tri tidak mengingkari semuanya itu. Sedikit pun tidak. Bahkan itu semua telah dibuktikan Upasara Wulung, sejak keluar dari Ksatria Pingitan. Daya asmara pertama yang menyambarnya adalah pertemuan dengan daya asmara Gayatri, putri sekar kedaton, bunga Keraton Singasari. Putri yang menggetarkan dada setiap pangeran muda, yang memesona, yang juga dipilih oleh Raden Sanggrama Wijaya yang kemudian naik takhta.

Dalam soal daya asmara, Upasara Wulung telah memenangkan pertarungan dan persaingan batin. Adalah Upasara yang menolak, memilih jalan lain. Adalah Upasara yang unggul, karena dalam kisah cerita semacam ini, sangat tidak mungkin Upasara bisa berhubungan dengan putri raja, andai tidak ada sambutan darinya. Boleh dikatakan Upasara-lah yang dipinang, yang didekati, yang didatangi. Seperti juga dengan Ratu Ayu Bawah Langit, Azeri Baijani. Ratu Ayu dari tlatah Turkana yang bisa menggoyangkan perhatian Raja Jayanegara hingga mengikuti sayembara secara langsung, adalah Ratu Ayu yang menyembah di kaki Upasara Wulung. Yang memberikan kehormatan, jiwa-raga, kepada Upasara Wulung.

Sampai kejap terakhir, Upasara belum pernah kalah. Baik dalam medan laga ataupun dalam pertarungan asmara. Dua wanita yang paling didambakan, menyerah dan pasrah kepada Upasara. Akan tetapi, justru ketika Upasara mengutarakan rasa hatinya, Gendhuk Tri memalingkan wajah. Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati, kenapa penolakan itu ada dalam hatinya? Bukankah hati kecilnya, keinginannya yang besar, menghendaki?

“Apa yang kamu kehendaki, Gendhuk Tri? Apa yang kamu takutkan?” Suara lirih berbisik di tepi daun telinganya, di tepi pinggiran hatinya. Suara Eyang Putri Pulangsih? Suara hatinya sendiri?

“Kenapa, Gendhuk Tri?” Suara Upasara Wulung yang ngrogoh sukma?

“Apa yang kamu takutkan?”

“Tak ada.”

“Kenapa? Kecemburuan pada masa lampau?”

“Bukan.”

“Ketakutan pada masa lampaumu?”

“Bukan.”

“Lalu apakah tidak ada jawaban?"

“Ada. Apakah ada bedanya menerima Kakang Upasara Wulung sebagai suami? Apakah ada artinya menerima Kakang Upasara Wulung dan membuat diriku sebagai istri? Apakah ada arti dan bedanya dengan sekarang ini?”

“Apakah tidak ada bedanya?”

“Aku tidak melihat perbedaan itu.”

“Apakah perbedaan itu harus ada?”

“Tak tahu.”

“Apakah perbedaan itu harus memberi arti?”

“Entahlah.”

“Gendhuk Tri, sembahlah, menunduklah. Kamu pasti mengenaliku. Pasti tahu karena aku berada dalam dirimu.”

“Eyang Sepuh…”

“Bejujag.”

“Eyang Sepuh…”

Gendhuk Tri mendengar helaan napas yang berat. Seperti ada angin membeku, terjatuh dan menindih angin lain. Samar sekali tergetarkan bahwa bisikan di tepi daun telinga dan di pinggir hatinya lenyap kembali. Benarkah yang berbisik tadi Eyang Sepuh? Lalu apa maunya?

Kalau benar Eyang Sepuh yang mulia, yang paling terhormat, apakah Eyang Sepuh yang mampu moksa perlu turun kembali ke bumi untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan daya asmara? Kalau benar, apa hubungannya?

Gendhuk Tri menjawab dengan jalan pikirannya sendiri. Eyang Sepuh yang telah mencapai tingkat kasampurnan, tidak sepenuhnya sempurna jiwa-raga seperti yang diduga. Masih ada ganjalan untuk kembali ke bumi, walau hanya lewat bisikan. Walau hanya lewat sentuhan hati.

Eyang Sepuh membumi, bukan karena soal Upasara Wulung, bukan soal dirinya. Eyang Sepuh tumurun, turun kembali, karena masih ada ganjalan penyesalan dengan Eyang Putri Pulangsih! Eyang Sepuh, barangkali saja, mencoba rumasuk ke dalam dirinya, untuk mengetahui apakah penolakannya ini dikarenakan dirinya ketitisan Eyang Putri Pulangsih.

Gendhuk Tri merasa ini satu-satunya yang bisa dijelaskan pada dirinya sendiri. Karena itulah Eyang Sepuh menghela napas berat ketika dirinya menjawab dengan sebutan Eyang Sepuh, dan bukan Bejujag atau sebutan lain yang biasa digunakan Eyang Putri Pulangsih.

Rasa-rasanya inilah penjelasan yang masuk akal dan bisa diterima rasa yang dimiliki. Sebab Gendhuk Tri yakin sekali tak ada yang membisiki dirinya, tapi telinganya bisa mendengar jelas, hatinya menerima bisikan dengan jernih. Semuanya terjadi dalam kesadaran yang penuh. Bukan dalam mimpi. Bukan dalam lamunan. Karena dirinya sempat berpikir, bertanya-tanya siapa yang berbisik padanya.

Menang Asmara
KALAU benar begitu, inilah kehebatan lain yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahwa sesuatu yang tadinya sayup-sayup didengar sebagai dongengan, ternyata masih ada bekasnya. Ternyata penolakan asmara yang dilakukan Eyang Sepuh lebih dari lima puluh tahun yang lalu masih tergema hingga sekarang ini. Ternyata Eyang Sepuh masih risau, gelisah, karena apa yang dilakukan sekian puluh tahun lalu!

Betapa dahsyat. Betapa menyayat. Betapa tipis batas antara kemenangan dan kekalahan dalam soal asmara. Puluhan, atau ratusan tahun tak bisa menghapus guratan yang tak terlihat. Bahkan kematian juga tak mengurangi daya asmara. Eyang Kebo Berune yang telah berubah diri menjadi mayat hidup pun masih tergetar sukmanya ketika diberitahu bahwa yang dipegang adalah tengkorak Eyang Putri Pulangsih. Betapa nyata. Betapa tak bisa diterima. Oleh nalar, oleh akal, oleh rasa.

Gendhuk Tri bisa mengerti kalau dirinya dianggap titisan Eyang Putri Pulangsih. Secara tidak sadar dirinya mempelajari ajaran yang ada dalam Kitab Air. Tanpa diketahui, karena gurunya, Jagaddhita, tak pernah mengatakan suatu apa tentang hal ini. Bukan hal yang tidak mungkin Bibi Guru Jagaddhita juga tak pernah mengetahui semasa hidupnya, karena Mpu Raganata tak memberitahu.

Hal yang sama anehnya, karena Mpu Raganata memilih ajaran dari Kitab Air untuk diturunkan. Bukan yang berasal dari Kitab Bumi, bukan kidungan dari ciptaannya sendiri. Apakah ini juga bisa diterjemahkan karena Mpu Raganata juga memiliki dan menyimpan daya asmara bagi Eyang Putri Pulangsih seperti dongeng yang ada?

Sangat mungkin sekali. Karena pada tingkatan Mpu Raganata, bisa memilih mengajarkan ajaran yang mana saja. Bisa memilih kidungan yang mana saja untuk diturunkan. Dan ternyata ajaran dari Kitab Air! Barangkali inilah nasib. Guratan tangan yang membawa pada perjalanan hidupnya, yang terbawa tanpa diminta. Dirinya menjadi pewaris utama ajaran Kitab Air, dan menjadi penerus kandungan batin Eyang Putri Pulangsih.

Nasib yang sama pula dijalankan oleh Upasara Wulung. Yang berangkat dari ilmu Keraton, yang kemudian menemukan penjelmaan kekuatan utama ketika ajaran Kitab Bumi merasuk. Dan serentak menyeruak ke permukaan dunia persilatan ketika Upasara mampu menyelami bagian Tumbal Bumi. Upasara muncul sebagai ksatria gagah perkasa yang mampu malang-melintang, yang mampu mengungguli mereka yang juga mempelajari kitab yang sama.

Lebih dari yang lainnya, Upasara berhasil menyatu dengan sikap pasrah, sikap manumbal, menjadi tumbal, memilih bentuk pengorbanan. Sesuatu yang bibitnya terungkap ketika menghadapi Tiga Naga dari Tartar, ketika menyambung nyawa habis-habisan di benteng Keraton. Hanya dengan sikap menyediakan diri sebagai korban, Upasara bisa memukul balik lawan-lawannya yang justru saat itu telah unggul.

Akan tetapi keunggulan yang utama ialah ketika Upasara menerima itu sebagai kesadaran, sebagai sikap yang utuh, dan karena kebetulan terdesak. Dengan penyerahan diri secara total dan sekaligus ikhlas, Upasara Wulung berubah menjadi ksatria tanpa tanding, ksatria yang bergelar lelananging jagat. Satu-satunya gelar tertinggi dalam dunia persilatan.

Gendhuk Tri bisa men-candra, bisa mengamati dengan jelas apa yang terjadi pada Upasara Wulung, karena hal yang sama bisa dilihat untuk dirinya sendiri. Itu terasakan ketika terjadi pertarungan yang menentukan. Ketika Gemuka yang perkasa dan seolah tak bisa mati serta dikalahkan, Gendhuk Tri bisa menghadapi dengan ketenangan yang sempurna. Bisa mengalahkan Gemuka tanpa menggerakkan satu jurus pun!.Itu yang kini dirasakan Gendhuk Tri sebagai akibat langsung dari penyelaman ikhlas pada ajaran Kitab Air.

Upasara Wulung terdengar menghela napas. Seolah itulah helaan napas berat yang tadi dilakukan oleh Eyang Sepuh. Ketika Gendhuk Tri menatap, sekujur tubuh Upasara Wulung basah oleh keringat. Keringat yang benar-benar mengucur dari leher dan dadanya.

“Maafkan Kakang, Adik Tri…”

“Saya juga minta maaf, Kakang…”

“Saya terlalu keras kepala untuk menerima kekalahan. Seharusnya sejak semula saya sadar bahwa Adik Tri tidak mau menerima Kakang…”

“Kakang…”

“Sejak di pinggiran hutan. Sejak saya seharusnya sudah tak perlu melanjutkan perjalanan hidup.”

Gendhuk Tri mengelap jidatnya yang berkeringat. Juga lehernya yang basah. Dadanya yang merembeskan air keringat hingga berbekas. Pinggiran hutan. Atau tanpa menyebutkan pun, Gendhuk Tri mengetahui apa yang dimaksudkan Upasara Wulung. Meskipun sesungguhnya dalam hatinya masih bertanya-tanya, apakah kesimpulan yang diambil Upasara Wulung tidak mengada-ada.

Upasara merasa bahwa apa yang dikatakan adalah kejujuran dan ketulusan isi hatinya. Tidak untuk memperlihatkan atau membuat emosinya mendidih. Upasara baru melihat jelas apa yang dulu menjadi tanda tanya dalam hatinya. Apa yang dulu dilakukan begitu saja, seolah ada kekuatan yang mendorong untuk berbuat.

Saat di mana Gendhuk Tri terkena racun di sekujur tubuhnya, sehingga burung dan binatang menjauh, sehingga semua tubuh yang disentuh bisa menyalurkan racun. Ketika itulah Upasara Wulung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengusir racun dalam tubuh Gendhuk Tri. Dengan akibat yang jelas, tenaga dalamnya sendiri musnah!

Itu semua terjadi ketika Upasara Wulung merasa buntu dengan Kitab Bumi yang diselami secara habis-habisan. Ketika merasa tak menemukan kemajuan sedikit pun. Banyak hal sebenarnya bisa dilakukan saat itu. Tetapi pada kenyataannya, Upasara justru memindahkan tenaga dalamnya. Menghantam racun, mengeluarkan dan menggantikan dengan tenaga dalamnya. Sehingga setelah itu, Upasara Wulung tak ubahnya seperti kerangka berdaging yang tak mempunyai tenaga apa-apa.

Dorongan utama tersebut baru jelas saat ini bagi Upasara. Tenaga dalamnya yang menggelombang, yang berdesakan, menemukan tempat untuk menebus kesalahan yang dulu dilakukan Eyang Sepuh pada Eyang Putri Pulangsih! Saat itu Upasara hanya merasakan dorongan untuk berbuat suatu kebaikan bagi Gendhuk Tri. Seperti yang juga dilakukan di atas benteng Keraton saat membebaskan Gayatri.

Saat itu Upasara merasa tergetar untuk menyelamatkan Gayatri yang disandera di tempat itu. Dorongan itu begitu menggelora, dibakar daya asmara yang menggeliat, yang membakar dan menghanguskan. Barulah sekarang ini, setelah melewati masa puluhan tahun, Upasara menyadari bahwa itu semua dilakukan karena desakan, karena daya tarik tenaga dalam dan batin Gendhuk Tri!

Daya tarik yang belum sepenuhnya bisa dipahami, karena rasa dan kemampuan Upasara belum sampai ke tingkat sekarang ini. Hal yang sama, yang kemudian dialami ketika Upasara harus berpisah dari Permaisuri Rajapatni. Yang selama ini diakui begitu menghunjam dalam impian dan kesadarannya. Baginya, dulu dan sekarang, Permaisuri Rajapatni adalah Gayatri, adalah daya asmara yang sesungguhnya.

Dan sesungguhnya begitu, sampai kemudian Upasara merelakan secara pasrah ketika Permaisuri Rajapatni menyatakan diri akan melepas semua keduniawian dan bertapa. Benarkah semua begitu? Upasara mengangguk perlahan.

JILID 67BUKU PERTAMAJILID 69