Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 69

Kalau benar ada yang dipasangkan oleh Dewa Yang Mahadewa bahwa Gayatri harus dengan Raden Sanggrama Wijaya agar keturunannya menjadi raja yang tak tertandingi di seluruh jagat, kekuatan dalam dirinya sejak semula sudah dipasangkan pula kepada Gendhuk Tri. Benarkah semua seperti itu?

Upasara menggeleng perlahan. Karena tidak mengetahui bahwa pada saat mengerahkan tenaga untuk memusnahkan racun dalam tubuh Gendhuk Tri, sudah terjadi semacam penolakan. Penolakan tenaga dalam yang berakibat seluruh tenaga dalam Upasara Wulung akan terkuras habis. Akan musnah tanpa sisa! Karena sesungguhnya, pada kejadian yang wajar, Upasara tak perlu terampas semua kemampuannya. Biar bagaimanapun, racun dalam tubuh Gendhuk Tri bisa terbasmi tanpa perlu pengorbanan sebesar itu.

“Adik Tri, Kakang menerima kekalahan ini. Semestinya sejak dulu Kakang menyadari telah mengalami…”

“Kekalahan atau kemenangan sesungguhnya hanya hati kita yang tak mau memberi arti lebih jujur. Kemenangan dan kekalahan asmara sesungguhnya tidak ada.”

Upasara tersenyum. “Saya berbicara tentang kita berdua. Bukan tentang Eyang Sepuh atau Eyang Putri Pulangsih.”

Imbang Asmara
GENDHUK TRI memandang Upasara dengan sorot mata mengasihi. Suatu perasaan yang selama ini tak pernah bisa dirasakan. Selama ini hatinya selalu memuja, mengagumi, mencela. Akan tetapi tak pernah mengasihi seperti sekarang ini.

“Ya, Kakang, saya berbicara tentang kita. Tentang Kakang Upasara dan saya.”

Upasara terbatuk. Kesadarannya terpukul. “Dasar batinku masih enggan menerima penolakanmu, Adik Tri. Bolehkah aku mengetahui apa yang menyebabkan Adik Tri tak menerima lamaran Kakang?”

“Apakah ada bedanya antara menerima dan tidak menerima? Selama ini hubungan kita baik-baik saja. Saya sudah bahagia dengan keadaan seperti ini. Saya tak mau lebih ruwet atau lebih buruk lagi.”

“Atau juga lebih baik dan lebih bahagia?”

“Kakang, saya merasa keadaan sekarang ini sudah imbang. Sudah selaras.”

“Hanya itu?”

“Rasanya iya.”

“Adik Tri, saya dilahirkan sebagai orang yang tinggi hati dan keras kepala. Sejak kecil saya dibesarkan di Ksatria Pingitan, tanpa mengenal tata krama bergaul sebagaimana lazimnya lelaki dan perempuan. Saya tumbuh sebagai lelaki yang besar kepala….”

“Saya tahu, Kakang. Saya merasakan.”

“Saya tak pernah berlutut memohon kepada orang lain.”

“Saya tahu, Kakang. Saya ikut mengalami.”

“Sekarang saya memohon. Saya memintamu, Adik Tri.”

“Kakang telah mengetahui jawaban saya.”

“Kenapa? Kenapa Adik Tri menolak?”

“Itu yang saya rasakan lebih bahagia, lebih baik bagi kita berdua, Kakang. Saya dibesarkan Bibi Jagaddhita yang tak kenal asmara. Saya mewarisi semua ilmu yang diciptakan Eyang Putri Pulangsih yang pegat asmara, yang patah hati. Saya menjadi satu dengan dunia semacam itu.”

“Kenapa ketika Maha Singanada melamarmu kamu menerima?”

“Saya merasa akan lebih baik kalau bisa bersamanya sebagai suami-istri. Dan perasaan itu tidak saya rasakan sekarang. Maaf, Kakang memaksa saya menjawab sejujurnya.”

“Saya tak habis mengerti. Menurut Adik Tri bagaimana hubungan kita selanjutnya?”

“Seperti sekarang ini.”

“Apakah mungkin, setelah saya melamar dan Adik Tri menolak?”

“Saya sendiri tidak tahu. Tapi rasanya bisa.”

Upasara menggeleng perlahan. “Ada yang berubah. Ada yang menjadi kikuk, kaku, dan akan terus berlanjut. Akan menjadi hubungan yang kurang enak. Saya bisa merasakan getaran yang dirasakan Eyang Sepuh, saya bisa merasakan kekakuan Eyang Putri Pulangsih, sehingga berkelanjutan dalam sikap batin menciptakan ilmunya. Yang kita warisi.”

Kali ini Gendhuk Tri yang terbatuk. “Kenapa Kakang menganggap kita berdua menanggung beban, menanggung karma dari hubungan Eyang Sepuh dengan Eyang Putri Pulangsih?”

“Eyang Sepuh yang sakti mandraguna, yang moksa, perlu turun kembali menyeimbangkan diri dengan Adik Tri. Eyang Sepuh juga merasakan hal yang sama. Paling tidak ragu bahwa jejak yang ditinggalkan membias ke kita.”

“Ya. Tetapi juga tidak.”

Upasara mengangguk. “Terima kasih, Adik Tri. Bagi saya sekarang jelas semuanya. Saya menghendaki kejelasan seperti ini, agar tak ada yang mengganjal lagi. Saya merasa kita berdua mempunyai daya asmara yang sama kuat tarik-menariknya. Saya tahu kita berdua sama-sama mau. Barangkali itulah halangannya. Saya menerimanya, Adik Tri. Saya merasa terjawab. Kita pernah bersama-sama dengan baik dan gembira, dan kita bisa berpisah dengan baik dan gembira.”

Gendhuk Tri menghela napas. Berat. “Kalau itu kemauan Kakang….”

Upasara tersenyum getir. “Adik Tri…”

“Ya, Kakang….”

“Bolehkah Kakang memberi nasihat?”

Gendhuk Tri merasa sedih. Betul yang dikatakan Upasara. Jarak itu terasa ada. Kekikukan, kekakuan itu ada dan menyakitkan. Sebelum ini, tak pernah mengutarakan sesuatu dengan “bolehkah” atau sejenis tata krama yang menandai ketidak-akraban.

“Kalau sikap Adik Tri seperti ini, Adik Tri tak akan pernah menemukan pasangan. Setiap kali akan mandek dalam pikiran, dalam rasa, dalam batin. Setiap kali keseimbangan itu terjadi tidak ketika kaki menginjak bumi.”

“Mungkin begitu, Kakang.”

“Rasanya pasti akan terulang seperti itu.”

“Seperti juga Kakang. Tak akan pernah bisa menerima keunggulan dan kekalahan asmara. Kakang selalu mencari keunggulan. Mencari pengakuan. Mencari-cari. Dan tak akan menemukan apa-apa.”

“Mungkin begitu, Adik Tri.”

“Rasanya pasti akan terulang seperti itu.”

“Inilah jalan yang kita pilih. Inilah jalan yang kita tapaki. Saya tahu ini sangat berat bagi Adik Tri. Juga bagi saya. Saya tidak tahu ini lebih baik atau sebaliknya, tetapi agaknya tak bisa lain.”

Kedua tangan Upasara mengusap wajah. Seakan berusaha menghapus semua yang pernah dilihat, dibaui, dirasa, didengar. Baru kemudian melihat sekeliling, dan tidak menemukan bayangan Nyai Demang serta Pangeran Hiang.

“Siapa tahu mereka sedang repot dengan hal yang sama seperti kita,” kata Gendhuk Tri berusaha mencairkan kekakuan.

“Ya, walau tidak sehebat kita.”

“Itulah rasa unggul Kakang. Merasa seolah Kakang selalu mengalami yang paling hebat, yang paling berat. Itulah sifat bumi.”

“Bukan. Itu sifat buruk saya. Dalam ajaran Kitab Bumi tak pernah disebut kata-kata itu. Tak pernah tersirat sedikit pun rasa unggul Eyang Sepuh. Tumbal sebagai sikap pasrah, bukan sebagai sikap unggul. Ini perjalanan sikap yang ganjil, Adik Tri. Ketika rumasuk dalam ajaran mahamanusia, dengan kemampuan ngrogoh sukma sejati, saya bisa melihat bahwa saya mempunyai dasar untuk keras kepala, untuk tinggi hati. Bukan dari Kitab Bumi.”

“Saya tidak…”

“Sudah. Penolakan Adik Tri adalah bagian dari itu.”

Gendhuk Tri menggeleng.

Upasara Wulung mengangguk. “Ya, Adik Tri. Sewaktu Pangeran Anom datang bersama dua pangeran lainnya dan menceritakan mengenai Halayudha, saya menemukan gema jawaban dari bukan pertanyaan. Itulah muara yang dicapai Halayudha dari sikapnya selama ini, dari penyelaman yang mendasar pada ajaran mahamanusia. Seperti saya sekarang ini. Seperti Adik Tri sekarang ini.”

“Apa yang dicapai Halayudha?”

“Apa yang dikehendaki.”

“Menjadi raja?”

“Menjadi raja.”

“Dan Kakang akan membiarkan saja?”

“Pertanyaan dibalik: Apa yang akan Adik Tri lakukan?”

“Bagi saya jelas, Kakang. Memeranginya.”

“Pun andai Adik tak bisa mengalahkannya?”

“Itu bukan pengandaian. Saya akan memerangi. Sebagaimana air mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengairi tanah yang kering. Tanpa memedulikan apakah ia akan habis atau kering.”

“Sekarang juga?”

“Sekarang juga.”

Batas Asmara
JAWABAN Gendhuk Tri mantap.

“Rasanya tak perlu lagi. Kecuali kalau Halayudha yang mencari kita. Dan barangkali bukan dalam waktu sekarang ini.” Upasara mengelus rambutnya. Mengelus dari ubun-ubun hingga ke ujung bawah, dan kemudian menggelung ketat.

Gendhuk Tri belum bisa menangkap sepenuhnya arah kalimat Upasara. Akan tetapi merasa bahwa untuk kesekian kalinya sukma sejati yang berbicara. Yang menerobos, meretas dalam lesatan yang melampaui keadaan raganya saat ini.

Bagi Upasara jelas tergambar, bagaimana kedudukan Halayudha saat ini. Keberadaannya dalam Keraton, bahkan tingkahnya bisa terlihat. Ini semua terjadi dengan sendirinya sewaktu gagasannya diarahkan untuk mengetahui keadaan Halayudha. Bukan sesuatu yang aneh kalau dirinya bisa mengetahui secara runtut. Juga keadaan jiwa Halayudha yang guncang.

Hal yang sama terjadi ketika Upasara mencoba memusatkan perhatian kepada Gayatri. Ketika daya asmaranya kepada Gendhuk Tri makin disadari, pikiran Upasara melesat ke arah Gayatri. Yang tampak dalam pandangan batinnya adalah seorang perempuan yang mengurai rambut sepanjang tubuh yang terbalut kain putih. Yang wajahnya cerah, sempurna, tak bergerak, tak menginjak tanah.

Upasara menjadi sangat lega. Menerima. Pasrah. Ikhlas. Pancaran yang sama dari batinnya. Itu sebabnya Upasara merasa tidak ada beban lagi ketika melamar Gendhuk Tri. Adalah di luar segala kemampuan daya sukmanya kalau kemudian ternyata Gendhuk Tri menggeleng.

Bagi Upasara penolakan itu menjadikan tanda tanya. Bukannya karena Upasara merasa tak ada kemungkinan semacam itu, melainkan karena tidak pernah menemukan alasan Gendhuk Tri untuk mengemohi. Adalah benar penilaian Gendhuk Tri bahwa selama ini dirinya tidak pernah merasa kalah, tidak pernah mengakui kegagalan. Sekarang Gendhuk Tri bisa membuktikan itu. Keunggulan dengan menyeimbangkan.

Kesunyian sesaat pecah oleh suara Nyai Demang yang wajahnya tampak sangat gembira. Berjalan bersama diiringi Pangeran Hiang. “Adimas Upasara, anakku Tri, tebak apa yang baru kami temukan?”

Gendhuk Tri menggeleng. Seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Nyai Demang seakan berubah menjadi gadis tanggung yang tersenyum malu-malu, yang terangkat oleh kegembiraan.

“Kami baru menemukan rangkaian jurus-jurus baru. Pangeran Hiang berhasil memecahkan langkah-langkah karawitan. Saya menamai Enam dan Tujuh Langkah Karawitan. Memakai irama dasar karawitan yang kita mainkan tadi ketika meloloskan diri. Pangeran Hiang, kenapa tidak diperlihatkan sekarang?”

Pangeran Hiang mengangguk malu-malu. Kemudian bersoja. Dan menunjukkan gerakan yang aneh. Kakinya bergerak perlahan, dalam batas-batas yang pendek, dengan irama yang mengalir. Dalam pandangan Gendhuk Tri, gerakan Pangeran Hiang sangat dikenali. Karena memakai irama karawitan atau gendhing yang sejak kecil akrab dengan kehidupan Gendhuk Tri sebagai calon penari Keraton. Meskipun masih kaku, Pangeran Hiang bisa menangkap inti iramanya. Inti irama yang akan diubah setiap enam atau tujuh langkah.

“Bukankah itu hebat? Aha, kalian berdua tak tertarik?”

“Bagus, sangat bagus,” jawab Gendhuk Tri cepat. “Saya tak pernah mengira bahwa langkah dalam tarian bisa seirama dengan pukulan dalam gendhing, dan disatukan sebagai jurus ilmu silat.”

“Kami sendiri juga tidak mengira,” jawab Nyai Demang tanpa memedulikan reaksi Upasara atau Pangeran Hiang. “Ketika Pangeran Hiang meminta saya memainkan langkah seirama gendhing, kami berdua menemukan ada tenaga yang bisa mengikuti gerakan ini.”

“Sangat bagus. Sangat bagus sebagai oleh-oleh ke negeri Tartar.” Suara Upasara Wulung membuat wajah Nyai Demang merah.

“Adimas Upasara, eh, Anakmas Upasara, dari mana kamu mengetahui kami akan ke negeri Tartar?”

“Karena saya juga ingin ke sana.”

Jawaban Upasara terdengar bagai sambaran geledek di telinga Gendhuk Tri. Akan tetapi wajahnya dan sikapnya berusaha tetap tenang. Memang sejak tadi Upasara telah mengisyaratkan akan adanya hubungan khusus yang terbangun antara Nyai Demang dan Pangeran Hiang. Gendhuk Tri pun bisa merasakan. Akan tetapi tak menduga bahwa prosesnya bisa begitu cepat. Nyai Demang begitu cepat menyetujui ajakan Pangeran Hiang. Pergi ke negeri Tartar! Lebih tak menduga lagi bahwa Upasara mengatakan kesediaannya untuk mengikuti perjalanan itu!

“Benar, kalian berdua akan ke sana?” Nyai Demang benar-benar terlontar ke langit kegembiraan.

Upasara mengangguk.

Gendhuk Tri menggeleng. “Saya belum tahu.”

Pangeran Hiang berdeham kecil. Matanya yang sipit dengan cepat menangkap sesuatu yang masih mengganjal. “Tartar atau bukan Tartar, hanya dibedakan dengan batas tempat yang kita namai sendiri. Sekarang atau nanti, hanya dibedakan dengan batas waktu yang kita buat sendiri. Untuk apa kita risaukan sekarang?”

“Pangeran memang bijak,” puji Upasara Wulung. “Saya perlu belajar banyak.”

“Pangeran Upasara terlalu merendah. Apalah artinya menemukan langkah-langkah yang sudah diciptakan para empu tari dan empu gendhing yang kesohor?”

Nyata sekali Pangeran Hiang berusaha membelokkan perhatian kepada jurus-jurus yang baru saja diciptakan. Dan bukan kepada masalah keberangkatan ke negeri Tartar. Akan tetapi Nyai Demang tidak terlalu pikun untuk mengetahui hal tersebut. Kalau biasanya berdiam diri, sekarang tak bisa menahan diri.

“Anakmas Upasara serta anakku Tri, kalian berdua sudah lebih dari dewasa. Sudah tahu dan mengerti segala apa yang berkaitan dengan jalan yang kalian pilih. Saya hanya meminta, janganlah ini memperburuk dan menghancurkan kalian berdua. Atau menghalangi apa yang ingin kalian lakukan. Saya meminta itu.”

“Baik, Nyai.”

“Baik, Ibu Nyai.”

Nyai Demang menepukkan tangannya. “Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Kalau kalian bertiga tidak berkeberatan, saya akan mengajak ke Perguruan Awan. Saya sudah kangen bertemu Jaghana…”

Gendhuk Tri mengangguk, akan tetapi… “Saya akan segera menyusul. Rasanya masih ada yang ingin saya lakukan.”

“Kamu ingin melakukan sendiri?”

“Ya, Pangeran Hiang.”

“Maaf, saya tak ingin mencampuri urusan pribadi.”

Nyai Demang mengentakkan kakinya karena kesal dengan dirinya. Kalau tadi mengusulkan pergi ke Perguruan Awan, semata-mata hanya sebagai alasan agar mereka bisa selalu bersama-sama. Tidak tahunya Gendhuk Tri justru memisahkan diri! Dasar masih tetap tolol, cela Nyai Demang pada dirinya. Bagaimana mungkin aku mengerti perasaan mereka yang jauh lebih muda?

Yang sedikit menghibur hati Nyai Demang hanyalah bahwa Upasara Wulung tampak wajar-wajar saja sikapnya. Mengangguk ketika Gendhuk Tri pamit, dan kemudian berjalan bersama Nyai Demang dan Pangeran Hiang. Wajar dalam artian tidak berusaha menghindari pembicaraan mengenai Gendhuk Tri, bahkan hanya hal itu yang dibicarakan. Ketangguhan yang sedikit-banyak mengagumkan Nyai Demang.

“Bagaimana mungkin Anakmas Upasara mengontrol perasaan semacam itu?”

“Tidak berusaha mengontrol, tidak berusaha membatasi. Itu yang saya rasakan. Saya berusaha hanyut, ngeli.”

“Anakmas, dengan kemampuan Anakmas ngrogoh sukma sejati, bukankah Anakmas bisa mengetahui apa yang dirasakan anakku?”

“Dalam batas-batas tertentu, ya.”

Pangeran Hiang mengerutkan keningnya. “Pangeran Upasara, ajaran mahamanusia yang tanpa batas itu akhirnya mengenai batas-batas juga? Sejauh saya tahu, bukankah apa yang tertulis dalam Kidung Paminggir menyingkirkan segala batas, menyapu segala tabu?”

“Agaknya memang demikian. Akan tetapi kita tidak tahu, apakah kebebasan mutlak yang dikidungkan Eyang Sepuh saat itu justru tatkala beliau sedang berada dalam keterbatasan batin.”

Upasara menceritakan bahwa ketika bercakap-cakap dengan Gendhuk Tri tadi, Eyang Sepuh hadir dan turut berbicara. Bagi Upasara Wulung, ini merupakan gugatan mendasar.

Tumbal Asmara
BAIK Nyai Demang maupun Pangeran Hiang merasa bahwa Upasara Wulung sudah menganggap mereka berdua sebagai sahabat sejati. Sebagai sesama saudara, karena tak ada lagi yang ditutupi, atau dirahasiakan. Lebih jauh Upasara menceritakan jalan pikirannya dengan pemunculan kembali Eyang Sepuh yang kali ini sungguh berbeda dengan dua pemunculan yang terdahulu.

Seperti diketahui, Upasara Wulung tak mengenal secara langsung, belum pernah berhadapan langsung dengan Eyang Sepuh. Di saat jaya-jayanya, di zaman Eyang Sepuh malang-melintang menguasai dunia persilatan, Upasara masih belum terjun ke dunia persilatan. Perkenalan pertama dengan Perguruan Awan selepas dari godokan dalam Ksatria Pingitan, juga tak mempertemukan, bahkan dengan bayangannya sekalipun.

Kabar mengenai Tamu dari Seberang yang mengundang seluruh tokoh persilatan ke Perguruan Awan, tetap tak bisa memaksa pemunculan Eyang Sepuh. Tak ada tokoh lain yang mengetahui di mana serta apa yang dilakukan Eyang Sepuh. Semua peristiwa menyebut kehadiran Eyang Sepuh, akan tetapi raganya tak pernah tampak.

Pemunculan yang pertama pun hanya suara. Itu saat para prajurit Keraton Singasari berhadapan langsung dengan pasukan Tartar, setelah menaklukkan penguasaan Raja Muda Gelang-Gelang. Pada waktu itu seperti ada bisikan, bahwa sesungguhnya Tamu dari Seberang itu bisa diartikan pasukan Tartar, yang bisa menjadi sarana mencapai tujuan. Itu antara lain dukungan kuat, Raden Sanggrama Wijaya mengambil risiko menghantam balik pasukan Tartar, menerjang hingga batas lautan. Tidak banyak yang mendengar bisikan itu, akan tetapi terasakan bahwa wangsit atau petunjuk itu berasal dari Eyang Sepuh.

Pemunculan yang kedua terjadi saat pertarungan mati-hidup di Trowulan. Ketika itu bahkan Eyang Sepuh terjun langsung ke gelanggang, turut terlibat dalam pertarungan. Meskipun yang terlihat hanya bayangan, kesiuran angin, atau kelebatan sosok. Baru kemudian menjadi jelas sewaktu Kiai Sambartaka mencurangi. Yang tampak hanyalah bayangan serba putih yang terluka. Jelas terlihat darah yang membasah.

Pemunculan yang lain terasakan, akan tetapi tidak secara langsung. Upasara Wulung merasakan kehadiran beliau ketika di Perguruan Awan tatkala Paman Jaghana mengangkatnya sebagai pemimpin perguruan itu. Saat itu Paman Jaghana mengucapkan syukur, karena petunjuk Eyang Sepuh-lah yang berlaku, sehingga Upasara Wulung menerima petunjuknya.

Pemunculan-pemunculan itu bagi Upasara Wulung mempunyai alasan yang sangat kuat. Ketika mempertimbangkan menggempur pasukan Tartar yang kuat dan menguasai, Eyang Sepuh membisikkan sesuatu yang memperkuat batin dan semangat perang. Saat yang paling kritis, karena yang dihadapi adalah pasukan Tartar yang menguasai jagat dan saat itu sedang merayakan pesta kemenangan menghancurkan penguasa di Keraton Singasari.

Pertarungan di Trowulan tidak kalah pentingnya. Saat itu berkumpul seluruh jago jagat yang datang karena undangan Eyang Sepuh lima puluh tahun yang lalu. Paman Sepuh Dodot Bintulu memerlukan datang meskipun sebenarnya sudah lama tidak muncul. Secara pribadi, Eyang Sepuh perlu muncul untuk memberikan pertanggungjawaban. Alasan kuat yang memaksa pemunculan beliau kembali kali ini bisa dimengerti Upasara Wulung.

Walaupun juga terasa sungguh janggal, kalau kemudian Eyang Sepuh yang sudah mencapai tingkat moksa muncul kembali hanya untuk menanyakan masalah asmara pada Gendhuk Tri. Ini gugatan mendasar bagi Upasara Wulung. Yang segera terlintas adalah berbagai pertanyaan: Apa arti pemunculan ini? Penyesalan yang tiada kunjung habis sikap Eyang Sepuh menolak Eyang Putri Pulangsih?

Sebab jika benar begitu, Delapan Jurus Penolak Bumi yang diciptakan itu tidak sepenuhnya benar. Tidak tulus, tidak mulus. Karena ilmu yang diciptakan berdasarkan sikap pasrah diri menjadi tumbal, kemudian ternyata disesali sendiri. Kalau cara berpikir ini benar, berarti selama ini Tumbal Bantala Parwa perlu dipahami dengan cara lain. Meskipun sudah menunjukkan kehebatannya, bukan tidak mungkin bukan itu sebenarnya yang seharusnya dimunculkan.

“Anakmas, suasana batin apa yang Anakmas maksudkan?”

“Maaf, Nyai. Saya teramat lancang mengatakan itu.”

“Pangeran Upasara, apakah tidak hormat jika kita mempersoalkan hal itu?”

“Saya tidak tahu. Rasanya sangat kurang menghormati Eyang Sepuh dengan mempertanyakan hal itu.”

Pangeran Hiang mengangguk mantap. “Saya bisa memahami. Menghormati leluhur, orang yang lebih tua, di mana pun kita berada. Juga di negeri asal saya. Akan tetapi saya berpikir lain, Pangeran Upasara. Maaf kalau saya lancang. Kalau tadi Pangeran Upasara mengatakan Eyang Sepuh memunculkan diri lewat bisikan, bukankah itu pertanda bahwa bagi Eyang Sepuh pribadi masih ada ganjalan? Bukankah akan lebih sempurna lagi jika Pangeran Upasara bisa memahami dan kemudian mengubahnya?”

Wajah Upasara berubah beku. Keras. Kaku.

“Maaf, kalau saya salah bicara.” Nyai Demang merapatkan kedua tangannya. “Pangeran Hiang tidak salah bicara, dan Anakmas Upasara tidak salah menerima. Rasa-rasanya kita harus melihat kembali dengan hati lebih bening, lebih bersih dan tenang, apa yang diajarkan Eyang Sepuh. Kalau tadi saya bertanya mengenai suasana batin Eyang Sepuh, karena sesungguhnya tadi terbersit suatu pertanyaan yang diucapkan Pangeran Hiang. Kenapa ajaran ngrogoh sukma yang tanpa batas itu justru macet pada wilayah tertentu? Dalam hal ini mencoba memahami daya asmara Gendhuk Tri. Apakah itu kamu rasakan ketika kamu mencoba memahami isi hati Permaisuri Rajapatni?”

Upasara menggeleng.

“Sekali lagi saya minta maaf, kalau ini menyinggung masalah pribadi.”

Upasara Wulung menggeleng lagi. “Jangan merasa sungkan, rikuh, untuk membicarakan hal ini, Pangeran Hiang.”

“Saya minta maaf karena dua hal. “Pertama, karena ini masalah pribadi Eyang Putri Pulangsih dan Eyang Sepuh, dan kedua, karena kemampuan saya memahami tidak sepenuhnya benar. Ketika saya berusaha memahami berbagai kitab pusaka di tanah Jawa ini, saya merasakan betapa sesungguhnya tumbal menjadi sikap yang terutama. Ini yang kemudian mendasari dan terlihat pada bagian akhir Kitab Bumi yang kesohor, yang kemudian dianggap sebagai Jalan Buddha yang paling murni. Siapa pun yang menciptakan, di tangan Eyang Sepuh-lah Kitab Bumi menemukan bentuknya. Beberapa saat setelah itu, Eyang Sepuh juga menciptakan Kidungan Paminggir, Kitab Paminggir yang menggegerkan. Sehingga Sri Baginda Raja loncat dari singgasana dan menciptakan Kidungan Para Raja, dan kemudian disempurnakan atau dipertemukan oleh Mpu Raganata dengan Kidungan Pamungkas.”

Nyai Demang mendengarkan tanpa berkedip. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuatnya gelisah. Cara bertutur Pangeran Hiang sangat jelas, jernih, memperlihatkan penguasaan yang tinggi. Ini yang tidak pernah diduga semula, bahwa Pangeran Hiang bisa menyelam sedalam itu. Ini yang membuatnya gelisah tanpa mengetahui dengan pasti apa sebabnya ia harus gelisah.

“Nyai Demang, Pangeran Upasara pasti lebih memahami. Bahwa jarak sikap batin pada Kitab Bumi sangat jauh berbeda dari Kitab Paminggir. Yang pertama berintikan penyerahan total, pasrah, kesediaan mengorbankan diri menjadi tumbal, sementara ajaran Kitab Paminggir justru bermuarakan pada ajaran mahamanusia.”

“Yang kembali dibumikan oleh Mpu Raganata dengan Kitab Pamungkas, kitab yang terakhir mengenai perbedaan pandang ini.”

“Benar, Nyai. Akan tetapi dari segi ajaran Eyang Sepuh, dari sikap batin Eyang Sepuh, kita menemukan dua inti yang berbeda. Atau bahkan berlawanan. Satu pihak mengajarkan menjadi tumbal. Pihak lain mengajarkan menjadi mahamanusia. Ini membingungkan saya. Kitab Paminggir lebih belakangan diciptakan, dan rasanya selama ini belum pernah ada penyesalan atau perbaikan dari Eyang Sepuh sendiri. Bahkan dengan mengundurkan diri dari segala kegiatan duniawi dan Keraton, membuktikan bahwa Eyang Sepuh tetap berpegang teguh pada Kitab Paminggir.”

Nyai Demang menebak-nebak. “Itu yang saya pertanyakan, Pangeran Hiang. Apakah ada suasana batin yang mempengaruhi Eyang Sepuh kala itu? Apakah itu bukan daya asmara yang masih belum terselesaikan terhadap diri Eyang Putri Pulangsih?”

Suasana hening.

Perangkap Asmara
SUASANA hening masih terus berlanjut hingga beberapa langkah. Semua terseret jalan pikiran masing-masing. Nyai Demang merasakan kegelisahannya. Pangeran Hiang menatap langit.

Upasara mengangguk. “Kalau Pangeran Hiang susah menerima mana yang lebih inti, tumbal atau mahamanusia, itulah kebesaran Eyang Sepuh. Itulah inti ajaran tanah Jawa yang susah dipahami dengan satu pengertian. Itulah daya asmara.”

“Apakah soal asmara sedemikian pentingnya?”

“Apakah tidak?” Nyai Demang balik bertanya.

“Saya kira tidak perlu menumbuhkan keruwetan seperti yang dialami Eyang Sepuh. Menurut pendapat saya, yang bisa salah, Eyang Sepuh justru terjebak di dalam lingkaran yang menjeratnya untuk mencapai tingkatan tertinggi. Itu kalau benar beliau perlu menampakkan diri kembali, setelah mencapai tingkat moksa. Maaf, saya mengatakan apa yang ada dalam pikiran tanpa menutupi.”

“Apakah Pangeran Hiang menilai asmara sebagai pelengkap belaka?”

“Tidak juga, Nyai Demang. Akan tetapi yang jelas tidak untuk membebani. Tidak untuk bertiarap dalam perangkap. Saya sangat sedih, sangat kecewa terhadap Putri Koreyea. Tetapi saya tak akan menenggelamkan diri dalam kepedihan itu. Tak ada gunanya untuk saya. Tak ada gunanya untuk Putri Koreyea. Saya tidak menyinggung perasaan Nyai, akan tetapi mencoba memberikan gambaran pandangan saya secara pribadi. Saya katakan secara pribadi karena pengalaman dan perjalanan hidup saya berbeda dari Nyai Demang maupun Pangeran Upasara. Saya dibesarkan dalam tradisi seperti itu. Seperti juga Barisan Api. Seperti juga Gemuka, yang memilih tidak melibatkan diri dengan daya asmara.”

“Pembicaraan yang menarik karena terbuka. Tapi rasanya tidak perlu diumbar sebanyak ini,” suara Nyai Demang sedikit meninggi.

Akhirnya mereka meneruskan perjalanan dengan berdiam. Juga ketika Pangeran Hiang memutuskan bermalam di rumah penduduk, hanya dijawab anggukan. Nyai Demang, yang merasa sedikit terganggu, hatinya masih bertanya-tanya. Kenapa agak mendadak Pangeran Hiang mengatakan itu? Namun Nyai Demang tak berpikir banyak. Kelelahan dan ketegangan sangat cepat menyeret tidurnya dalam kelelapan. Sampai dini hari.

Meskipun tenaga dalamnya tidak sekuat Upasara Wulung, jalan pikiran Nyai Demang lebih teliti. Ketika bangun, Nyai Demang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Karena betapapun lelahnya, tak nanti bisa begitu saja terlelap. Sehingga terbersit keraguan, adakah sebab lain yang mempengaruhi. Sewaktu mencoba pernapasannya, Nyai Demang tidak menemukan sesuatu yang luar biasa. Jalan napas, jalan darahnya normal, tak ada gangguan suatu apa.

Meskipun demikian, sikapnya menjadi waspada. Itu pula sebabnya ketika mencapai pinggiran Perguruan Awan, Nyai Demang memusatkan perhatian pada diri sendiri. Berbaring di bawah sebatang pohon, dan sekuat tenaga memusatkan kekuatannya. Sampai jauh malam tak terjadi sesuatu. Memang saat itu pikiran Nyai Demang masih terganggu. Baik karena mendengar pendapat Pangeran Hiang, maupun menduga-duga apa yang tengah terjadi dengan Gendhuk Tri.

Karena Nyai Demang mengetahui pasti bagaimana reaksi Gendhuk Tri menghadapi situasi yang tidak betul. Gendhuk Tri tak akan minggir. Halayudha sekalipun akan dihadapi. Dengan beban pikiran seperti itu, Nyai Demang heran akan ketidak-mampuannya menahan kantuk yang menyelinap. Makin dikuatkan tenaga dalamnya untuk melawan, makin terasa berat matanya. Antara sadar dan tidak, Nyai Demang menggenggam tangannya untuk meyakinkan kesadarannya. Hanya saja tubuhnya tak mampu menahan. Dalam perjalanan terlelap, Nyai Demang melihat tangan yang mengusap wajahnya.

Nyai Demang memberontak sekuat tenaga. Tapi kelelapan yang lebih kuasa menyeretnya. Ketika terbangun esok harinya, Nyai Demang menjajal tenaga dalamnya kembali. Tak ada sesuatu yang ganjil. Semuanya berjalan normal. Apakah yang dialami hanya mimpi? Rasanya tak mungkin. Tangan yang bergerak di depan wajahnya itu begitu jelas terlihat dan sentuhannya terasakan. Siapa yang melakukan?

Sebelum berangkat tidur, yang ada di dekatnya hanya Upasara Wulung yang tengah bersemadi. Bersebelahan dengan Pangeran Hiang yang juga melakukan hal yang sama. Hanya Pangeran Hiang memang bergerak-gerak, tangan dan kakinya seperti memainkan Enam atau Tujuh Langkah Karawitan. Jadi siapa yang melakukan?

Kalau tokoh lain, rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin tanpa diketahui Upasara maupun Pangeran Hiang. Kecuali kalau memang masih ada tokoh yang sangat sakti mandraguna, yang setingkat atau malah di atas Upasara. Rasanya tak ada lagi. Lagi pula kalau benar ada tokoh sesakti itu, apa maunya? Kenapa membuatnya terlelap? Nyai Demang menyimpan teka-teki dalam hatinya. Menyimpannya sendiri, meskipun Pangeran Hiang seperti bisa menerka apa yang terjadi.

“Kenapa, Nyai?”

“Tidak ada apa-apa, Pangeran Hiang. Kenapa Pangeran Hiang bertanya seperti itu?”

“Dua pagi ini Nyai menggerakkan tenaga dalam secara menyeluruh, seolah ada sesuatu yang sakit.”

“Ah, kenapa Pangeran Hiang begitu memperhatikan? Hanya pegal-pegal yang biasa terjadi pada wanita setua saya.”

Pangeran Hiang mengangkat alisnya. “Saya bisa membantu, bila Nyai tidak berkeberatan.”

“Dengan senang hati jika saya memerlukan Pangeran. Marilah kita bersiap. Rasanya kita harus bergegas agar sebelum matahari tenggelam sudah bertemu Paman Jaghana.”

Kalaupun dalam perjalanan terjadi percakapan, Upasara Wulung lebih banyak menjawab apa yang ditanyakan Pangeran Hiang. Terutama mengenai unsur-unsur irama dalam karawitan. Selebihnya berdiam, menghela napas.

“Anakmas…”

Pangeran Hiang mencekal tangan Nyai Demang. “Pangeran Upasara tengah memikirkan sesuatu yang besar baginya. Sesuatu yang bisa dirasakan oleh semua jago silat, oleh semua pendekar. Ada yang bergolak dalam batinnya dan menunggu saat yang tepat untuk diartikan.”

“Sesuatu…”

“Sesuatu yang juga saya rasakan selama ini, ketika irama karawitan itu merasuk ke dalam kesadaran. Barangkali saja Pangeran Upasara tengah menciptakan jurus-jurus yang luar biasa nantinya.”

Nyai Demang mengerutkan keningnya. “Pada saat seperti ini?”

“Justru pada saat seperti ini.”

“Dari mana Pangeran mempunyai dugaan seperti itu?”

“Saya juga merasakan, dan saya telah mengatakan. Ada dua pengertian mendasar yang sedang dipahami Pangeran Upasara. Pengertian tumbal dan pengertian mahamanusia. Dua pengertian yang berbeda, yang bertentangan. Pada daya asmara hal itu bisa diterangkan sebagai perbedaan yang tak terpahami. Siapa tahu dari dasar ini Pangeran Upasara bisa menciptakan sesuatu yang besar.”

Dari pembicaraan yang terjadi, Nyai Demang merasa bahwa Pangeran Hiang tidak menyembunyikan sesuatu. Mengatakan semuanya dengan jujur. Dan Nyai Demang bisa menerima. Bukankah Tumbal Bantala Parwa juga tercipta ketika Eyang Sepuh menolak Putri Pulangsih? Bukankah Kidungan Paminggir juga lahir ketika bibit-bibit pertentangan dengan Sri Baginda Raja meninggi?

Tapi entah kenapa Nyai Demang curiga pada Pangeran Hiang. Caranya melatih Langkah Karawitan sangat aneh. Beberapa kali diulang, beberapa kali dilakukan dengan tenaga yang cukup besar. Sehingga seakan meninggalkan bekas pada tanah yang diinjak atau pepohonan sekeliling. Apalagi itu dilakukan pada jarak-jarak tertentu. Dalam hal semacam ini, otak Nyai Demang bisa melejit cepat dari kemampuan ilmu silatnya.

Kecurigaannya makin kuat, karena bekas injakan kaki Pangeran Hiang seakan membentuk huruf yang bisa diartikan sebagai siung atau taring. Nyai Demang mengerahkan seluruh kemampuannya. Mempertajam pendengarannya, memperhatikan segala gerakan angin. Akan tetapi sampai di Perguruan Awan tak ada sesuatu yang aneh.

Upasara menghela napas. “Paman Jaghana, hari ini saya berkunjung kembali ke Perguruan Awan….”

Apa yang dilakukan Upasara Wulung sebenarnya hanya mengucapkan uluk salam, mengatakan kehadirannya. Karena belum tentu didengar Jaghana, yang tidak ketahuan pasti di mana ia berada.

Persiapan Telah Selesai
PANGERAN HIANG ikut bersoja.

“Perguruan Awan memang terbuka seperti ini, Pangeran. Barangkali kita memerlukan waktu untuk bisa bertemu Paman Jaghana atau yang lainnya.”

“Saya pernah mendengarnya, Nyai.”

“Barangkali sebaiknya kita sekarang berpencar, dan bisa saling memberi tanda jika bertemu Paman Jaghana.”

“Pastilah Paman Jaghana akan merasa mengetahui bahwa kita tiba di sini,” jawab Upasara tenang. “Lebih baik kita tunggu di sini.”

“Kalau begitu, saya akan mencari buah-buahan…”

Pangeran Hiang mengangguk. Nyai Demang segera bergerak cepat. Tubuhnya melayang, lenyap dari pandangan. Upasara duduk bersila, berhadapan dengan Pangeran Hiang.

“Pangeran Upasara,” kata Pangeran Hiang perlahan. “Katakan dengan jujur, apakah kata-kata saya terlalu kasar sehingga melukai perasaan Nyai Demang?”

“Saya tak sepenuhnya paham hati dan perasaan wanita, Pangeran.”

“Sejak saya mengatakan perihal daya asmara, Nyai Demang kelihatan banyak termenung.”

“Hal yang wajar. Itulah daya asmara.”

Pangeran Hiang tersenyum. Dadanya membusung. “Pangeran Upasara, nasib mempertemukan kita. Nasib menyatukan kita sebagai saudara. Berbagi pengalaman yang berat menguji kita berdua, akan tetapi tali persaudaraan kita tak goyah. Apakah saya tidak salah kalau tadi mengatakan Pangeran sedang memikirkan suatu jurus ilmu silat yang baru?”

Upasara tersenyum. Dagunya tertekuk. Mengangguk. “Tidak sepenuhnya langsung seperti itu. Barangkali bisa menjadi jurus-jurus ilmu, barangkali hanya menjadi beban pikiran. Kehadiran kembali Eyang Sepuh, bagi saya merupakan pertanyaan besar. Apa sebenarnya pencapaian moksa itu? Apa yang lebih dahsyat dari kekuatan moksa itu sendiri?”

“Daya asmara.”

Angin mendesis dari bibir Upasara. “Tepat sekali, Pangeran. Daya asmara itulah kekuatan yang lebih dahsyat. Hanya bagaimana memahaminya, agaknya pengetahuan saya masih sangat terbatas. Karena di satu pihak menjadi beban-seperti yang Pangeran katakan, seperti yang saya alami.”

“Maaf, Pangeran, saya makin tidak bisa memahami. Apakah itu berarti kekuatan yang menciptakan kesempurnaan atau malah menghancurkan?”

“Seperti juga semua tenaga dalam, bisa berarti kedua-duanya. Bisa menghancurkan dan bisa menguatkan.”

“Ini pembicaraan menarik, Pangeran. Dalam ilmu silat kita sama-sama mengenal unsur kekuatan bumi, air, api, angin, binatang, matahari, atau rembulan. Dasar kekuatan yang bertentangan, saling berbeda, saling mengalahkan. Sejauh yang saya tahu, kekuatan bumi yang dilahirkan Eyang Sepuh adalah segalanya.” Kalimat Pangeran Hiang terhenti karena reaksi Upasara Wulung.

JILID 68BUKU PERTAMAJILID 70

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 69

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 69

Kalau benar ada yang dipasangkan oleh Dewa Yang Mahadewa bahwa Gayatri harus dengan Raden Sanggrama Wijaya agar keturunannya menjadi raja yang tak tertandingi di seluruh jagat, kekuatan dalam dirinya sejak semula sudah dipasangkan pula kepada Gendhuk Tri. Benarkah semua seperti itu?

Upasara menggeleng perlahan. Karena tidak mengetahui bahwa pada saat mengerahkan tenaga untuk memusnahkan racun dalam tubuh Gendhuk Tri, sudah terjadi semacam penolakan. Penolakan tenaga dalam yang berakibat seluruh tenaga dalam Upasara Wulung akan terkuras habis. Akan musnah tanpa sisa! Karena sesungguhnya, pada kejadian yang wajar, Upasara tak perlu terampas semua kemampuannya. Biar bagaimanapun, racun dalam tubuh Gendhuk Tri bisa terbasmi tanpa perlu pengorbanan sebesar itu.

“Adik Tri, Kakang menerima kekalahan ini. Semestinya sejak dulu Kakang menyadari telah mengalami…”

“Kekalahan atau kemenangan sesungguhnya hanya hati kita yang tak mau memberi arti lebih jujur. Kemenangan dan kekalahan asmara sesungguhnya tidak ada.”

Upasara tersenyum. “Saya berbicara tentang kita berdua. Bukan tentang Eyang Sepuh atau Eyang Putri Pulangsih.”

Imbang Asmara
GENDHUK TRI memandang Upasara dengan sorot mata mengasihi. Suatu perasaan yang selama ini tak pernah bisa dirasakan. Selama ini hatinya selalu memuja, mengagumi, mencela. Akan tetapi tak pernah mengasihi seperti sekarang ini.

“Ya, Kakang, saya berbicara tentang kita. Tentang Kakang Upasara dan saya.”

Upasara terbatuk. Kesadarannya terpukul. “Dasar batinku masih enggan menerima penolakanmu, Adik Tri. Bolehkah aku mengetahui apa yang menyebabkan Adik Tri tak menerima lamaran Kakang?”

“Apakah ada bedanya antara menerima dan tidak menerima? Selama ini hubungan kita baik-baik saja. Saya sudah bahagia dengan keadaan seperti ini. Saya tak mau lebih ruwet atau lebih buruk lagi.”

“Atau juga lebih baik dan lebih bahagia?”

“Kakang, saya merasa keadaan sekarang ini sudah imbang. Sudah selaras.”

“Hanya itu?”

“Rasanya iya.”

“Adik Tri, saya dilahirkan sebagai orang yang tinggi hati dan keras kepala. Sejak kecil saya dibesarkan di Ksatria Pingitan, tanpa mengenal tata krama bergaul sebagaimana lazimnya lelaki dan perempuan. Saya tumbuh sebagai lelaki yang besar kepala….”

“Saya tahu, Kakang. Saya merasakan.”

“Saya tak pernah berlutut memohon kepada orang lain.”

“Saya tahu, Kakang. Saya ikut mengalami.”

“Sekarang saya memohon. Saya memintamu, Adik Tri.”

“Kakang telah mengetahui jawaban saya.”

“Kenapa? Kenapa Adik Tri menolak?”

“Itu yang saya rasakan lebih bahagia, lebih baik bagi kita berdua, Kakang. Saya dibesarkan Bibi Jagaddhita yang tak kenal asmara. Saya mewarisi semua ilmu yang diciptakan Eyang Putri Pulangsih yang pegat asmara, yang patah hati. Saya menjadi satu dengan dunia semacam itu.”

“Kenapa ketika Maha Singanada melamarmu kamu menerima?”

“Saya merasa akan lebih baik kalau bisa bersamanya sebagai suami-istri. Dan perasaan itu tidak saya rasakan sekarang. Maaf, Kakang memaksa saya menjawab sejujurnya.”

“Saya tak habis mengerti. Menurut Adik Tri bagaimana hubungan kita selanjutnya?”

“Seperti sekarang ini.”

“Apakah mungkin, setelah saya melamar dan Adik Tri menolak?”

“Saya sendiri tidak tahu. Tapi rasanya bisa.”

Upasara menggeleng perlahan. “Ada yang berubah. Ada yang menjadi kikuk, kaku, dan akan terus berlanjut. Akan menjadi hubungan yang kurang enak. Saya bisa merasakan getaran yang dirasakan Eyang Sepuh, saya bisa merasakan kekakuan Eyang Putri Pulangsih, sehingga berkelanjutan dalam sikap batin menciptakan ilmunya. Yang kita warisi.”

Kali ini Gendhuk Tri yang terbatuk. “Kenapa Kakang menganggap kita berdua menanggung beban, menanggung karma dari hubungan Eyang Sepuh dengan Eyang Putri Pulangsih?”

“Eyang Sepuh yang sakti mandraguna, yang moksa, perlu turun kembali menyeimbangkan diri dengan Adik Tri. Eyang Sepuh juga merasakan hal yang sama. Paling tidak ragu bahwa jejak yang ditinggalkan membias ke kita.”

“Ya. Tetapi juga tidak.”

Upasara mengangguk. “Terima kasih, Adik Tri. Bagi saya sekarang jelas semuanya. Saya menghendaki kejelasan seperti ini, agar tak ada yang mengganjal lagi. Saya merasa kita berdua mempunyai daya asmara yang sama kuat tarik-menariknya. Saya tahu kita berdua sama-sama mau. Barangkali itulah halangannya. Saya menerimanya, Adik Tri. Saya merasa terjawab. Kita pernah bersama-sama dengan baik dan gembira, dan kita bisa berpisah dengan baik dan gembira.”

Gendhuk Tri menghela napas. Berat. “Kalau itu kemauan Kakang….”

Upasara tersenyum getir. “Adik Tri…”

“Ya, Kakang….”

“Bolehkah Kakang memberi nasihat?”

Gendhuk Tri merasa sedih. Betul yang dikatakan Upasara. Jarak itu terasa ada. Kekikukan, kekakuan itu ada dan menyakitkan. Sebelum ini, tak pernah mengutarakan sesuatu dengan “bolehkah” atau sejenis tata krama yang menandai ketidak-akraban.

“Kalau sikap Adik Tri seperti ini, Adik Tri tak akan pernah menemukan pasangan. Setiap kali akan mandek dalam pikiran, dalam rasa, dalam batin. Setiap kali keseimbangan itu terjadi tidak ketika kaki menginjak bumi.”

“Mungkin begitu, Kakang.”

“Rasanya pasti akan terulang seperti itu.”

“Seperti juga Kakang. Tak akan pernah bisa menerima keunggulan dan kekalahan asmara. Kakang selalu mencari keunggulan. Mencari pengakuan. Mencari-cari. Dan tak akan menemukan apa-apa.”

“Mungkin begitu, Adik Tri.”

“Rasanya pasti akan terulang seperti itu.”

“Inilah jalan yang kita pilih. Inilah jalan yang kita tapaki. Saya tahu ini sangat berat bagi Adik Tri. Juga bagi saya. Saya tidak tahu ini lebih baik atau sebaliknya, tetapi agaknya tak bisa lain.”

Kedua tangan Upasara mengusap wajah. Seakan berusaha menghapus semua yang pernah dilihat, dibaui, dirasa, didengar. Baru kemudian melihat sekeliling, dan tidak menemukan bayangan Nyai Demang serta Pangeran Hiang.

“Siapa tahu mereka sedang repot dengan hal yang sama seperti kita,” kata Gendhuk Tri berusaha mencairkan kekakuan.

“Ya, walau tidak sehebat kita.”

“Itulah rasa unggul Kakang. Merasa seolah Kakang selalu mengalami yang paling hebat, yang paling berat. Itulah sifat bumi.”

“Bukan. Itu sifat buruk saya. Dalam ajaran Kitab Bumi tak pernah disebut kata-kata itu. Tak pernah tersirat sedikit pun rasa unggul Eyang Sepuh. Tumbal sebagai sikap pasrah, bukan sebagai sikap unggul. Ini perjalanan sikap yang ganjil, Adik Tri. Ketika rumasuk dalam ajaran mahamanusia, dengan kemampuan ngrogoh sukma sejati, saya bisa melihat bahwa saya mempunyai dasar untuk keras kepala, untuk tinggi hati. Bukan dari Kitab Bumi.”

“Saya tidak…”

“Sudah. Penolakan Adik Tri adalah bagian dari itu.”

Gendhuk Tri menggeleng.

Upasara Wulung mengangguk. “Ya, Adik Tri. Sewaktu Pangeran Anom datang bersama dua pangeran lainnya dan menceritakan mengenai Halayudha, saya menemukan gema jawaban dari bukan pertanyaan. Itulah muara yang dicapai Halayudha dari sikapnya selama ini, dari penyelaman yang mendasar pada ajaran mahamanusia. Seperti saya sekarang ini. Seperti Adik Tri sekarang ini.”

“Apa yang dicapai Halayudha?”

“Apa yang dikehendaki.”

“Menjadi raja?”

“Menjadi raja.”

“Dan Kakang akan membiarkan saja?”

“Pertanyaan dibalik: Apa yang akan Adik Tri lakukan?”

“Bagi saya jelas, Kakang. Memeranginya.”

“Pun andai Adik tak bisa mengalahkannya?”

“Itu bukan pengandaian. Saya akan memerangi. Sebagaimana air mengalir ke tempat yang lebih rendah, mengairi tanah yang kering. Tanpa memedulikan apakah ia akan habis atau kering.”

“Sekarang juga?”

“Sekarang juga.”

Batas Asmara
JAWABAN Gendhuk Tri mantap.

“Rasanya tak perlu lagi. Kecuali kalau Halayudha yang mencari kita. Dan barangkali bukan dalam waktu sekarang ini.” Upasara mengelus rambutnya. Mengelus dari ubun-ubun hingga ke ujung bawah, dan kemudian menggelung ketat.

Gendhuk Tri belum bisa menangkap sepenuhnya arah kalimat Upasara. Akan tetapi merasa bahwa untuk kesekian kalinya sukma sejati yang berbicara. Yang menerobos, meretas dalam lesatan yang melampaui keadaan raganya saat ini.

Bagi Upasara jelas tergambar, bagaimana kedudukan Halayudha saat ini. Keberadaannya dalam Keraton, bahkan tingkahnya bisa terlihat. Ini semua terjadi dengan sendirinya sewaktu gagasannya diarahkan untuk mengetahui keadaan Halayudha. Bukan sesuatu yang aneh kalau dirinya bisa mengetahui secara runtut. Juga keadaan jiwa Halayudha yang guncang.

Hal yang sama terjadi ketika Upasara mencoba memusatkan perhatian kepada Gayatri. Ketika daya asmaranya kepada Gendhuk Tri makin disadari, pikiran Upasara melesat ke arah Gayatri. Yang tampak dalam pandangan batinnya adalah seorang perempuan yang mengurai rambut sepanjang tubuh yang terbalut kain putih. Yang wajahnya cerah, sempurna, tak bergerak, tak menginjak tanah.

Upasara menjadi sangat lega. Menerima. Pasrah. Ikhlas. Pancaran yang sama dari batinnya. Itu sebabnya Upasara merasa tidak ada beban lagi ketika melamar Gendhuk Tri. Adalah di luar segala kemampuan daya sukmanya kalau kemudian ternyata Gendhuk Tri menggeleng.

Bagi Upasara penolakan itu menjadikan tanda tanya. Bukannya karena Upasara merasa tak ada kemungkinan semacam itu, melainkan karena tidak pernah menemukan alasan Gendhuk Tri untuk mengemohi. Adalah benar penilaian Gendhuk Tri bahwa selama ini dirinya tidak pernah merasa kalah, tidak pernah mengakui kegagalan. Sekarang Gendhuk Tri bisa membuktikan itu. Keunggulan dengan menyeimbangkan.

Kesunyian sesaat pecah oleh suara Nyai Demang yang wajahnya tampak sangat gembira. Berjalan bersama diiringi Pangeran Hiang. “Adimas Upasara, anakku Tri, tebak apa yang baru kami temukan?”

Gendhuk Tri menggeleng. Seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Nyai Demang seakan berubah menjadi gadis tanggung yang tersenyum malu-malu, yang terangkat oleh kegembiraan.

“Kami baru menemukan rangkaian jurus-jurus baru. Pangeran Hiang berhasil memecahkan langkah-langkah karawitan. Saya menamai Enam dan Tujuh Langkah Karawitan. Memakai irama dasar karawitan yang kita mainkan tadi ketika meloloskan diri. Pangeran Hiang, kenapa tidak diperlihatkan sekarang?”

Pangeran Hiang mengangguk malu-malu. Kemudian bersoja. Dan menunjukkan gerakan yang aneh. Kakinya bergerak perlahan, dalam batas-batas yang pendek, dengan irama yang mengalir. Dalam pandangan Gendhuk Tri, gerakan Pangeran Hiang sangat dikenali. Karena memakai irama karawitan atau gendhing yang sejak kecil akrab dengan kehidupan Gendhuk Tri sebagai calon penari Keraton. Meskipun masih kaku, Pangeran Hiang bisa menangkap inti iramanya. Inti irama yang akan diubah setiap enam atau tujuh langkah.

“Bukankah itu hebat? Aha, kalian berdua tak tertarik?”

“Bagus, sangat bagus,” jawab Gendhuk Tri cepat. “Saya tak pernah mengira bahwa langkah dalam tarian bisa seirama dengan pukulan dalam gendhing, dan disatukan sebagai jurus ilmu silat.”

“Kami sendiri juga tidak mengira,” jawab Nyai Demang tanpa memedulikan reaksi Upasara atau Pangeran Hiang. “Ketika Pangeran Hiang meminta saya memainkan langkah seirama gendhing, kami berdua menemukan ada tenaga yang bisa mengikuti gerakan ini.”

“Sangat bagus. Sangat bagus sebagai oleh-oleh ke negeri Tartar.” Suara Upasara Wulung membuat wajah Nyai Demang merah.

“Adimas Upasara, eh, Anakmas Upasara, dari mana kamu mengetahui kami akan ke negeri Tartar?”

“Karena saya juga ingin ke sana.”

Jawaban Upasara terdengar bagai sambaran geledek di telinga Gendhuk Tri. Akan tetapi wajahnya dan sikapnya berusaha tetap tenang. Memang sejak tadi Upasara telah mengisyaratkan akan adanya hubungan khusus yang terbangun antara Nyai Demang dan Pangeran Hiang. Gendhuk Tri pun bisa merasakan. Akan tetapi tak menduga bahwa prosesnya bisa begitu cepat. Nyai Demang begitu cepat menyetujui ajakan Pangeran Hiang. Pergi ke negeri Tartar! Lebih tak menduga lagi bahwa Upasara mengatakan kesediaannya untuk mengikuti perjalanan itu!

“Benar, kalian berdua akan ke sana?” Nyai Demang benar-benar terlontar ke langit kegembiraan.

Upasara mengangguk.

Gendhuk Tri menggeleng. “Saya belum tahu.”

Pangeran Hiang berdeham kecil. Matanya yang sipit dengan cepat menangkap sesuatu yang masih mengganjal. “Tartar atau bukan Tartar, hanya dibedakan dengan batas tempat yang kita namai sendiri. Sekarang atau nanti, hanya dibedakan dengan batas waktu yang kita buat sendiri. Untuk apa kita risaukan sekarang?”

“Pangeran memang bijak,” puji Upasara Wulung. “Saya perlu belajar banyak.”

“Pangeran Upasara terlalu merendah. Apalah artinya menemukan langkah-langkah yang sudah diciptakan para empu tari dan empu gendhing yang kesohor?”

Nyata sekali Pangeran Hiang berusaha membelokkan perhatian kepada jurus-jurus yang baru saja diciptakan. Dan bukan kepada masalah keberangkatan ke negeri Tartar. Akan tetapi Nyai Demang tidak terlalu pikun untuk mengetahui hal tersebut. Kalau biasanya berdiam diri, sekarang tak bisa menahan diri.

“Anakmas Upasara serta anakku Tri, kalian berdua sudah lebih dari dewasa. Sudah tahu dan mengerti segala apa yang berkaitan dengan jalan yang kalian pilih. Saya hanya meminta, janganlah ini memperburuk dan menghancurkan kalian berdua. Atau menghalangi apa yang ingin kalian lakukan. Saya meminta itu.”

“Baik, Nyai.”

“Baik, Ibu Nyai.”

Nyai Demang menepukkan tangannya. “Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Kalau kalian bertiga tidak berkeberatan, saya akan mengajak ke Perguruan Awan. Saya sudah kangen bertemu Jaghana…”

Gendhuk Tri mengangguk, akan tetapi… “Saya akan segera menyusul. Rasanya masih ada yang ingin saya lakukan.”

“Kamu ingin melakukan sendiri?”

“Ya, Pangeran Hiang.”

“Maaf, saya tak ingin mencampuri urusan pribadi.”

Nyai Demang mengentakkan kakinya karena kesal dengan dirinya. Kalau tadi mengusulkan pergi ke Perguruan Awan, semata-mata hanya sebagai alasan agar mereka bisa selalu bersama-sama. Tidak tahunya Gendhuk Tri justru memisahkan diri! Dasar masih tetap tolol, cela Nyai Demang pada dirinya. Bagaimana mungkin aku mengerti perasaan mereka yang jauh lebih muda?

Yang sedikit menghibur hati Nyai Demang hanyalah bahwa Upasara Wulung tampak wajar-wajar saja sikapnya. Mengangguk ketika Gendhuk Tri pamit, dan kemudian berjalan bersama Nyai Demang dan Pangeran Hiang. Wajar dalam artian tidak berusaha menghindari pembicaraan mengenai Gendhuk Tri, bahkan hanya hal itu yang dibicarakan. Ketangguhan yang sedikit-banyak mengagumkan Nyai Demang.

“Bagaimana mungkin Anakmas Upasara mengontrol perasaan semacam itu?”

“Tidak berusaha mengontrol, tidak berusaha membatasi. Itu yang saya rasakan. Saya berusaha hanyut, ngeli.”

“Anakmas, dengan kemampuan Anakmas ngrogoh sukma sejati, bukankah Anakmas bisa mengetahui apa yang dirasakan anakku?”

“Dalam batas-batas tertentu, ya.”

Pangeran Hiang mengerutkan keningnya. “Pangeran Upasara, ajaran mahamanusia yang tanpa batas itu akhirnya mengenai batas-batas juga? Sejauh saya tahu, bukankah apa yang tertulis dalam Kidung Paminggir menyingkirkan segala batas, menyapu segala tabu?”

“Agaknya memang demikian. Akan tetapi kita tidak tahu, apakah kebebasan mutlak yang dikidungkan Eyang Sepuh saat itu justru tatkala beliau sedang berada dalam keterbatasan batin.”

Upasara menceritakan bahwa ketika bercakap-cakap dengan Gendhuk Tri tadi, Eyang Sepuh hadir dan turut berbicara. Bagi Upasara Wulung, ini merupakan gugatan mendasar.

Tumbal Asmara
BAIK Nyai Demang maupun Pangeran Hiang merasa bahwa Upasara Wulung sudah menganggap mereka berdua sebagai sahabat sejati. Sebagai sesama saudara, karena tak ada lagi yang ditutupi, atau dirahasiakan. Lebih jauh Upasara menceritakan jalan pikirannya dengan pemunculan kembali Eyang Sepuh yang kali ini sungguh berbeda dengan dua pemunculan yang terdahulu.

Seperti diketahui, Upasara Wulung tak mengenal secara langsung, belum pernah berhadapan langsung dengan Eyang Sepuh. Di saat jaya-jayanya, di zaman Eyang Sepuh malang-melintang menguasai dunia persilatan, Upasara masih belum terjun ke dunia persilatan. Perkenalan pertama dengan Perguruan Awan selepas dari godokan dalam Ksatria Pingitan, juga tak mempertemukan, bahkan dengan bayangannya sekalipun.

Kabar mengenai Tamu dari Seberang yang mengundang seluruh tokoh persilatan ke Perguruan Awan, tetap tak bisa memaksa pemunculan Eyang Sepuh. Tak ada tokoh lain yang mengetahui di mana serta apa yang dilakukan Eyang Sepuh. Semua peristiwa menyebut kehadiran Eyang Sepuh, akan tetapi raganya tak pernah tampak.

Pemunculan yang pertama pun hanya suara. Itu saat para prajurit Keraton Singasari berhadapan langsung dengan pasukan Tartar, setelah menaklukkan penguasaan Raja Muda Gelang-Gelang. Pada waktu itu seperti ada bisikan, bahwa sesungguhnya Tamu dari Seberang itu bisa diartikan pasukan Tartar, yang bisa menjadi sarana mencapai tujuan. Itu antara lain dukungan kuat, Raden Sanggrama Wijaya mengambil risiko menghantam balik pasukan Tartar, menerjang hingga batas lautan. Tidak banyak yang mendengar bisikan itu, akan tetapi terasakan bahwa wangsit atau petunjuk itu berasal dari Eyang Sepuh.

Pemunculan yang kedua terjadi saat pertarungan mati-hidup di Trowulan. Ketika itu bahkan Eyang Sepuh terjun langsung ke gelanggang, turut terlibat dalam pertarungan. Meskipun yang terlihat hanya bayangan, kesiuran angin, atau kelebatan sosok. Baru kemudian menjadi jelas sewaktu Kiai Sambartaka mencurangi. Yang tampak hanyalah bayangan serba putih yang terluka. Jelas terlihat darah yang membasah.

Pemunculan yang lain terasakan, akan tetapi tidak secara langsung. Upasara Wulung merasakan kehadiran beliau ketika di Perguruan Awan tatkala Paman Jaghana mengangkatnya sebagai pemimpin perguruan itu. Saat itu Paman Jaghana mengucapkan syukur, karena petunjuk Eyang Sepuh-lah yang berlaku, sehingga Upasara Wulung menerima petunjuknya.

Pemunculan-pemunculan itu bagi Upasara Wulung mempunyai alasan yang sangat kuat. Ketika mempertimbangkan menggempur pasukan Tartar yang kuat dan menguasai, Eyang Sepuh membisikkan sesuatu yang memperkuat batin dan semangat perang. Saat yang paling kritis, karena yang dihadapi adalah pasukan Tartar yang menguasai jagat dan saat itu sedang merayakan pesta kemenangan menghancurkan penguasa di Keraton Singasari.

Pertarungan di Trowulan tidak kalah pentingnya. Saat itu berkumpul seluruh jago jagat yang datang karena undangan Eyang Sepuh lima puluh tahun yang lalu. Paman Sepuh Dodot Bintulu memerlukan datang meskipun sebenarnya sudah lama tidak muncul. Secara pribadi, Eyang Sepuh perlu muncul untuk memberikan pertanggungjawaban. Alasan kuat yang memaksa pemunculan beliau kembali kali ini bisa dimengerti Upasara Wulung.

Walaupun juga terasa sungguh janggal, kalau kemudian Eyang Sepuh yang sudah mencapai tingkat moksa muncul kembali hanya untuk menanyakan masalah asmara pada Gendhuk Tri. Ini gugatan mendasar bagi Upasara Wulung. Yang segera terlintas adalah berbagai pertanyaan: Apa arti pemunculan ini? Penyesalan yang tiada kunjung habis sikap Eyang Sepuh menolak Eyang Putri Pulangsih?

Sebab jika benar begitu, Delapan Jurus Penolak Bumi yang diciptakan itu tidak sepenuhnya benar. Tidak tulus, tidak mulus. Karena ilmu yang diciptakan berdasarkan sikap pasrah diri menjadi tumbal, kemudian ternyata disesali sendiri. Kalau cara berpikir ini benar, berarti selama ini Tumbal Bantala Parwa perlu dipahami dengan cara lain. Meskipun sudah menunjukkan kehebatannya, bukan tidak mungkin bukan itu sebenarnya yang seharusnya dimunculkan.

“Anakmas, suasana batin apa yang Anakmas maksudkan?”

“Maaf, Nyai. Saya teramat lancang mengatakan itu.”

“Pangeran Upasara, apakah tidak hormat jika kita mempersoalkan hal itu?”

“Saya tidak tahu. Rasanya sangat kurang menghormati Eyang Sepuh dengan mempertanyakan hal itu.”

Pangeran Hiang mengangguk mantap. “Saya bisa memahami. Menghormati leluhur, orang yang lebih tua, di mana pun kita berada. Juga di negeri asal saya. Akan tetapi saya berpikir lain, Pangeran Upasara. Maaf kalau saya lancang. Kalau tadi Pangeran Upasara mengatakan Eyang Sepuh memunculkan diri lewat bisikan, bukankah itu pertanda bahwa bagi Eyang Sepuh pribadi masih ada ganjalan? Bukankah akan lebih sempurna lagi jika Pangeran Upasara bisa memahami dan kemudian mengubahnya?”

Wajah Upasara berubah beku. Keras. Kaku.

“Maaf, kalau saya salah bicara.” Nyai Demang merapatkan kedua tangannya. “Pangeran Hiang tidak salah bicara, dan Anakmas Upasara tidak salah menerima. Rasa-rasanya kita harus melihat kembali dengan hati lebih bening, lebih bersih dan tenang, apa yang diajarkan Eyang Sepuh. Kalau tadi saya bertanya mengenai suasana batin Eyang Sepuh, karena sesungguhnya tadi terbersit suatu pertanyaan yang diucapkan Pangeran Hiang. Kenapa ajaran ngrogoh sukma yang tanpa batas itu justru macet pada wilayah tertentu? Dalam hal ini mencoba memahami daya asmara Gendhuk Tri. Apakah itu kamu rasakan ketika kamu mencoba memahami isi hati Permaisuri Rajapatni?”

Upasara menggeleng.

“Sekali lagi saya minta maaf, kalau ini menyinggung masalah pribadi.”

Upasara Wulung menggeleng lagi. “Jangan merasa sungkan, rikuh, untuk membicarakan hal ini, Pangeran Hiang.”

“Saya minta maaf karena dua hal. “Pertama, karena ini masalah pribadi Eyang Putri Pulangsih dan Eyang Sepuh, dan kedua, karena kemampuan saya memahami tidak sepenuhnya benar. Ketika saya berusaha memahami berbagai kitab pusaka di tanah Jawa ini, saya merasakan betapa sesungguhnya tumbal menjadi sikap yang terutama. Ini yang kemudian mendasari dan terlihat pada bagian akhir Kitab Bumi yang kesohor, yang kemudian dianggap sebagai Jalan Buddha yang paling murni. Siapa pun yang menciptakan, di tangan Eyang Sepuh-lah Kitab Bumi menemukan bentuknya. Beberapa saat setelah itu, Eyang Sepuh juga menciptakan Kidungan Paminggir, Kitab Paminggir yang menggegerkan. Sehingga Sri Baginda Raja loncat dari singgasana dan menciptakan Kidungan Para Raja, dan kemudian disempurnakan atau dipertemukan oleh Mpu Raganata dengan Kidungan Pamungkas.”

Nyai Demang mendengarkan tanpa berkedip. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuatnya gelisah. Cara bertutur Pangeran Hiang sangat jelas, jernih, memperlihatkan penguasaan yang tinggi. Ini yang tidak pernah diduga semula, bahwa Pangeran Hiang bisa menyelam sedalam itu. Ini yang membuatnya gelisah tanpa mengetahui dengan pasti apa sebabnya ia harus gelisah.

“Nyai Demang, Pangeran Upasara pasti lebih memahami. Bahwa jarak sikap batin pada Kitab Bumi sangat jauh berbeda dari Kitab Paminggir. Yang pertama berintikan penyerahan total, pasrah, kesediaan mengorbankan diri menjadi tumbal, sementara ajaran Kitab Paminggir justru bermuarakan pada ajaran mahamanusia.”

“Yang kembali dibumikan oleh Mpu Raganata dengan Kitab Pamungkas, kitab yang terakhir mengenai perbedaan pandang ini.”

“Benar, Nyai. Akan tetapi dari segi ajaran Eyang Sepuh, dari sikap batin Eyang Sepuh, kita menemukan dua inti yang berbeda. Atau bahkan berlawanan. Satu pihak mengajarkan menjadi tumbal. Pihak lain mengajarkan menjadi mahamanusia. Ini membingungkan saya. Kitab Paminggir lebih belakangan diciptakan, dan rasanya selama ini belum pernah ada penyesalan atau perbaikan dari Eyang Sepuh sendiri. Bahkan dengan mengundurkan diri dari segala kegiatan duniawi dan Keraton, membuktikan bahwa Eyang Sepuh tetap berpegang teguh pada Kitab Paminggir.”

Nyai Demang menebak-nebak. “Itu yang saya pertanyakan, Pangeran Hiang. Apakah ada suasana batin yang mempengaruhi Eyang Sepuh kala itu? Apakah itu bukan daya asmara yang masih belum terselesaikan terhadap diri Eyang Putri Pulangsih?”

Suasana hening.

Perangkap Asmara
SUASANA hening masih terus berlanjut hingga beberapa langkah. Semua terseret jalan pikiran masing-masing. Nyai Demang merasakan kegelisahannya. Pangeran Hiang menatap langit.

Upasara mengangguk. “Kalau Pangeran Hiang susah menerima mana yang lebih inti, tumbal atau mahamanusia, itulah kebesaran Eyang Sepuh. Itulah inti ajaran tanah Jawa yang susah dipahami dengan satu pengertian. Itulah daya asmara.”

“Apakah soal asmara sedemikian pentingnya?”

“Apakah tidak?” Nyai Demang balik bertanya.

“Saya kira tidak perlu menumbuhkan keruwetan seperti yang dialami Eyang Sepuh. Menurut pendapat saya, yang bisa salah, Eyang Sepuh justru terjebak di dalam lingkaran yang menjeratnya untuk mencapai tingkatan tertinggi. Itu kalau benar beliau perlu menampakkan diri kembali, setelah mencapai tingkat moksa. Maaf, saya mengatakan apa yang ada dalam pikiran tanpa menutupi.”

“Apakah Pangeran Hiang menilai asmara sebagai pelengkap belaka?”

“Tidak juga, Nyai Demang. Akan tetapi yang jelas tidak untuk membebani. Tidak untuk bertiarap dalam perangkap. Saya sangat sedih, sangat kecewa terhadap Putri Koreyea. Tetapi saya tak akan menenggelamkan diri dalam kepedihan itu. Tak ada gunanya untuk saya. Tak ada gunanya untuk Putri Koreyea. Saya tidak menyinggung perasaan Nyai, akan tetapi mencoba memberikan gambaran pandangan saya secara pribadi. Saya katakan secara pribadi karena pengalaman dan perjalanan hidup saya berbeda dari Nyai Demang maupun Pangeran Upasara. Saya dibesarkan dalam tradisi seperti itu. Seperti juga Barisan Api. Seperti juga Gemuka, yang memilih tidak melibatkan diri dengan daya asmara.”

“Pembicaraan yang menarik karena terbuka. Tapi rasanya tidak perlu diumbar sebanyak ini,” suara Nyai Demang sedikit meninggi.

Akhirnya mereka meneruskan perjalanan dengan berdiam. Juga ketika Pangeran Hiang memutuskan bermalam di rumah penduduk, hanya dijawab anggukan. Nyai Demang, yang merasa sedikit terganggu, hatinya masih bertanya-tanya. Kenapa agak mendadak Pangeran Hiang mengatakan itu? Namun Nyai Demang tak berpikir banyak. Kelelahan dan ketegangan sangat cepat menyeret tidurnya dalam kelelapan. Sampai dini hari.

Meskipun tenaga dalamnya tidak sekuat Upasara Wulung, jalan pikiran Nyai Demang lebih teliti. Ketika bangun, Nyai Demang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Karena betapapun lelahnya, tak nanti bisa begitu saja terlelap. Sehingga terbersit keraguan, adakah sebab lain yang mempengaruhi. Sewaktu mencoba pernapasannya, Nyai Demang tidak menemukan sesuatu yang luar biasa. Jalan napas, jalan darahnya normal, tak ada gangguan suatu apa.

Meskipun demikian, sikapnya menjadi waspada. Itu pula sebabnya ketika mencapai pinggiran Perguruan Awan, Nyai Demang memusatkan perhatian pada diri sendiri. Berbaring di bawah sebatang pohon, dan sekuat tenaga memusatkan kekuatannya. Sampai jauh malam tak terjadi sesuatu. Memang saat itu pikiran Nyai Demang masih terganggu. Baik karena mendengar pendapat Pangeran Hiang, maupun menduga-duga apa yang tengah terjadi dengan Gendhuk Tri.

Karena Nyai Demang mengetahui pasti bagaimana reaksi Gendhuk Tri menghadapi situasi yang tidak betul. Gendhuk Tri tak akan minggir. Halayudha sekalipun akan dihadapi. Dengan beban pikiran seperti itu, Nyai Demang heran akan ketidak-mampuannya menahan kantuk yang menyelinap. Makin dikuatkan tenaga dalamnya untuk melawan, makin terasa berat matanya. Antara sadar dan tidak, Nyai Demang menggenggam tangannya untuk meyakinkan kesadarannya. Hanya saja tubuhnya tak mampu menahan. Dalam perjalanan terlelap, Nyai Demang melihat tangan yang mengusap wajahnya.

Nyai Demang memberontak sekuat tenaga. Tapi kelelapan yang lebih kuasa menyeretnya. Ketika terbangun esok harinya, Nyai Demang menjajal tenaga dalamnya kembali. Tak ada sesuatu yang ganjil. Semuanya berjalan normal. Apakah yang dialami hanya mimpi? Rasanya tak mungkin. Tangan yang bergerak di depan wajahnya itu begitu jelas terlihat dan sentuhannya terasakan. Siapa yang melakukan?

Sebelum berangkat tidur, yang ada di dekatnya hanya Upasara Wulung yang tengah bersemadi. Bersebelahan dengan Pangeran Hiang yang juga melakukan hal yang sama. Hanya Pangeran Hiang memang bergerak-gerak, tangan dan kakinya seperti memainkan Enam atau Tujuh Langkah Karawitan. Jadi siapa yang melakukan?

Kalau tokoh lain, rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin tanpa diketahui Upasara maupun Pangeran Hiang. Kecuali kalau memang masih ada tokoh yang sangat sakti mandraguna, yang setingkat atau malah di atas Upasara. Rasanya tak ada lagi. Lagi pula kalau benar ada tokoh sesakti itu, apa maunya? Kenapa membuatnya terlelap? Nyai Demang menyimpan teka-teki dalam hatinya. Menyimpannya sendiri, meskipun Pangeran Hiang seperti bisa menerka apa yang terjadi.

“Kenapa, Nyai?”

“Tidak ada apa-apa, Pangeran Hiang. Kenapa Pangeran Hiang bertanya seperti itu?”

“Dua pagi ini Nyai menggerakkan tenaga dalam secara menyeluruh, seolah ada sesuatu yang sakit.”

“Ah, kenapa Pangeran Hiang begitu memperhatikan? Hanya pegal-pegal yang biasa terjadi pada wanita setua saya.”

Pangeran Hiang mengangkat alisnya. “Saya bisa membantu, bila Nyai tidak berkeberatan.”

“Dengan senang hati jika saya memerlukan Pangeran. Marilah kita bersiap. Rasanya kita harus bergegas agar sebelum matahari tenggelam sudah bertemu Paman Jaghana.”

Kalaupun dalam perjalanan terjadi percakapan, Upasara Wulung lebih banyak menjawab apa yang ditanyakan Pangeran Hiang. Terutama mengenai unsur-unsur irama dalam karawitan. Selebihnya berdiam, menghela napas.

“Anakmas…”

Pangeran Hiang mencekal tangan Nyai Demang. “Pangeran Upasara tengah memikirkan sesuatu yang besar baginya. Sesuatu yang bisa dirasakan oleh semua jago silat, oleh semua pendekar. Ada yang bergolak dalam batinnya dan menunggu saat yang tepat untuk diartikan.”

“Sesuatu…”

“Sesuatu yang juga saya rasakan selama ini, ketika irama karawitan itu merasuk ke dalam kesadaran. Barangkali saja Pangeran Upasara tengah menciptakan jurus-jurus yang luar biasa nantinya.”

Nyai Demang mengerutkan keningnya. “Pada saat seperti ini?”

“Justru pada saat seperti ini.”

“Dari mana Pangeran mempunyai dugaan seperti itu?”

“Saya juga merasakan, dan saya telah mengatakan. Ada dua pengertian mendasar yang sedang dipahami Pangeran Upasara. Pengertian tumbal dan pengertian mahamanusia. Dua pengertian yang berbeda, yang bertentangan. Pada daya asmara hal itu bisa diterangkan sebagai perbedaan yang tak terpahami. Siapa tahu dari dasar ini Pangeran Upasara bisa menciptakan sesuatu yang besar.”

Dari pembicaraan yang terjadi, Nyai Demang merasa bahwa Pangeran Hiang tidak menyembunyikan sesuatu. Mengatakan semuanya dengan jujur. Dan Nyai Demang bisa menerima. Bukankah Tumbal Bantala Parwa juga tercipta ketika Eyang Sepuh menolak Putri Pulangsih? Bukankah Kidungan Paminggir juga lahir ketika bibit-bibit pertentangan dengan Sri Baginda Raja meninggi?

Tapi entah kenapa Nyai Demang curiga pada Pangeran Hiang. Caranya melatih Langkah Karawitan sangat aneh. Beberapa kali diulang, beberapa kali dilakukan dengan tenaga yang cukup besar. Sehingga seakan meninggalkan bekas pada tanah yang diinjak atau pepohonan sekeliling. Apalagi itu dilakukan pada jarak-jarak tertentu. Dalam hal semacam ini, otak Nyai Demang bisa melejit cepat dari kemampuan ilmu silatnya.

Kecurigaannya makin kuat, karena bekas injakan kaki Pangeran Hiang seakan membentuk huruf yang bisa diartikan sebagai siung atau taring. Nyai Demang mengerahkan seluruh kemampuannya. Mempertajam pendengarannya, memperhatikan segala gerakan angin. Akan tetapi sampai di Perguruan Awan tak ada sesuatu yang aneh.

Upasara menghela napas. “Paman Jaghana, hari ini saya berkunjung kembali ke Perguruan Awan….”

Apa yang dilakukan Upasara Wulung sebenarnya hanya mengucapkan uluk salam, mengatakan kehadirannya. Karena belum tentu didengar Jaghana, yang tidak ketahuan pasti di mana ia berada.

Persiapan Telah Selesai
PANGERAN HIANG ikut bersoja.

“Perguruan Awan memang terbuka seperti ini, Pangeran. Barangkali kita memerlukan waktu untuk bisa bertemu Paman Jaghana atau yang lainnya.”

“Saya pernah mendengarnya, Nyai.”

“Barangkali sebaiknya kita sekarang berpencar, dan bisa saling memberi tanda jika bertemu Paman Jaghana.”

“Pastilah Paman Jaghana akan merasa mengetahui bahwa kita tiba di sini,” jawab Upasara tenang. “Lebih baik kita tunggu di sini.”

“Kalau begitu, saya akan mencari buah-buahan…”

Pangeran Hiang mengangguk. Nyai Demang segera bergerak cepat. Tubuhnya melayang, lenyap dari pandangan. Upasara duduk bersila, berhadapan dengan Pangeran Hiang.

“Pangeran Upasara,” kata Pangeran Hiang perlahan. “Katakan dengan jujur, apakah kata-kata saya terlalu kasar sehingga melukai perasaan Nyai Demang?”

“Saya tak sepenuhnya paham hati dan perasaan wanita, Pangeran.”

“Sejak saya mengatakan perihal daya asmara, Nyai Demang kelihatan banyak termenung.”

“Hal yang wajar. Itulah daya asmara.”

Pangeran Hiang tersenyum. Dadanya membusung. “Pangeran Upasara, nasib mempertemukan kita. Nasib menyatukan kita sebagai saudara. Berbagi pengalaman yang berat menguji kita berdua, akan tetapi tali persaudaraan kita tak goyah. Apakah saya tidak salah kalau tadi mengatakan Pangeran sedang memikirkan suatu jurus ilmu silat yang baru?”

Upasara tersenyum. Dagunya tertekuk. Mengangguk. “Tidak sepenuhnya langsung seperti itu. Barangkali bisa menjadi jurus-jurus ilmu, barangkali hanya menjadi beban pikiran. Kehadiran kembali Eyang Sepuh, bagi saya merupakan pertanyaan besar. Apa sebenarnya pencapaian moksa itu? Apa yang lebih dahsyat dari kekuatan moksa itu sendiri?”

“Daya asmara.”

Angin mendesis dari bibir Upasara. “Tepat sekali, Pangeran. Daya asmara itulah kekuatan yang lebih dahsyat. Hanya bagaimana memahaminya, agaknya pengetahuan saya masih sangat terbatas. Karena di satu pihak menjadi beban-seperti yang Pangeran katakan, seperti yang saya alami.”

“Maaf, Pangeran, saya makin tidak bisa memahami. Apakah itu berarti kekuatan yang menciptakan kesempurnaan atau malah menghancurkan?”

“Seperti juga semua tenaga dalam, bisa berarti kedua-duanya. Bisa menghancurkan dan bisa menguatkan.”

“Ini pembicaraan menarik, Pangeran. Dalam ilmu silat kita sama-sama mengenal unsur kekuatan bumi, air, api, angin, binatang, matahari, atau rembulan. Dasar kekuatan yang bertentangan, saling berbeda, saling mengalahkan. Sejauh yang saya tahu, kekuatan bumi yang dilahirkan Eyang Sepuh adalah segalanya.” Kalimat Pangeran Hiang terhenti karena reaksi Upasara Wulung.

JILID 68BUKU PERTAMAJILID 70