Senopati Pamungkas Kedua Jilid 56 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 56

Dalam hati Nyai Demang memuji keterbukaan Gendhuk Tri dan ketegarannya dalam menghadapi persoalan. Dalam hati Nyai Demang setengah menyalahkan dirinya yang begitu mencurigai bahwa Gendhuk Tri hanya berpura-pura tidak mengetahui.

“Adimas tidak mengatakan apa persisnya. Kita bisa menduga sendiri.”

“Nyai, apakah itu berarti Kakang sebenarnya masih mencintai Permaisuri Rajapatni?”

“Ya, dan tak akan pernah hilang. Tapi kasunyatan berbicara lain.”

“Apakah sebenarnya Kakang pernah mencintai saya?”

“Ya, dan tak akan pernah hilang.”

“Apakah Kakang pernah mencintai Nyai?”

“Rasanya tidak. Mungkin di waktu muda, Adimas Upasara pernah tertarik kepada ibumu ini. Sangat mungkin sekali. Tetapi itu berbeda jauh dengan rasa katresnan yang bersemi pada Permaisuri Rajapatni atau dirimu.”

“Menurut Nyai, siapa yang paling dicintai Kakang?”

“Tak bisa dibandingkan, anakku. Dalam kitab pun selalu dituliskan lelaki bisa beristri, bisa mencintai lebih dari satu wanita. Kalau kita kaum wanita melakukan itu, hukuman bunuh tanpa perkara. Tanpa perlu ditanya, tanpa perlu diurus apa yang sesungguhnya terjadi di balik semua itu.”

Persembahan Raja Turkana
NYAI DEMANG merasa lega. Semua unek-unek nya telah ditumpahkan. Dan Gendhuk Tri sendiri menunjukkan sikap dewasa menerima kenyataan yang terjadi.

“Nyai, apakah Kakang akan bahagia?”

“Pasti. Kenapa kamu tanyakan itu?”

“Kakang memilih kembali ke Ratu Ayu, bukan karena Kakang menghendaki. Melainkan karena ingin melepaskan ketergantungan Permaisuri Rajapatni dan… dan…”

“Anakku, ada yang lebih penting dari urusan daya asmara. Berkali-kali terbukti, daya asmara bisa dimundurkan ke belakang. Bahagia dan bukan bahagia, bukan semata-mata dari ukuran daya asmara dalam arti memiliki atau tidak memiliki. Bagaimanapun, kamu harus membayangkan Adimas bahagia. Dengan begitu kamu juga akan bahagia. Adimas juga bahagia.”

“Terima kasih, Nyai. Rasanya saya lebih lega sekarang ini.”

“Itu yang saya harap. Alangkah bahagianya kita malam ini. Saya akan keramas seluruh tubuh, akan bersemadi, memanjatkan doa agung.”

“Kita lakukan bersama, Nyai.”

Keduanya melakukan bersama apa yang dikatakan. Hingga tengah malam, hingga dini. Baru selesai ketika fajar tiba. Bersama masuknya dayang yang mengatakan bahwa ada utusan datang. Nyai Demang segera melangkah ke luar untuk menemui. Gendhuk Tri mengikuti dari belakang. Ketika sampai di pendapa, Nyai Demang segera bersujud, melakukan sembah dengan sangat hormat. Gendhuk Tri melakukan hal yang sama. Meskipun dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan gadis ayu yang mengenakan pakaian kebesaran.

“Maafkan hamba, Tuan Putri, hamba tidak mengira Tuan Putri berkenan menginjakkan kaki kemari. Adalah suatu anugerah Dewa, Tuan Putri Tunggadewi berbesar hati mendatangi hamba yang rendah.”

Barulah Gendhuk Tri mengetahui bahwa yang datang adalah Putri Tunggadewi. Wajahnya, penampilannya, mengingatkan kepada Permaisuri Rajapatni. Lebih dari itu sepasang alisnya sangat indah.

“Nyai Demang, Bibi Jagattri, duduklah dengan tenang. Saya datang tidak sebagai tuan putri. Sebutan itu terlalu besar untuk saya. Saya kemari menyampaikan persembahan Raja Turkana, yang meminta saya menyerahkan hantaran untuk Nyai Demang serta Bibi Jagattri.”

Enam belas dayang yang menyertai membawa peti berukir sangat indah.

“Sembah nuwun, sangat terima kasih, Tuan Putri….”

Gendhuk Tri mengucapkan kata yang sama, sebelum menyambung dengan suara perlahan, “Kebesaran jiwa Putri Tunggadewi hanya mungkin karena titisan Dewi Uma dan Dewa Syiwa. Namun menjadi pertanyaan dalam hati saya, untuk apa Putri Tunggadewi, cucu utama Sri Baginda Raja, putri Sri Baginda, bersedia menjadi pengantar raja dari seberang, yang bahkan menurut kabar berita telah menculik Putri Tunggadewi.”

Sikap Gendhuk Tri tetap keras. Dalam nada suaranya terkandung kegemasan kenapa Putri Tunggadewi yang keturunan langsung Sri Baginda Raja Kertanegara, cucu Baginda, merendahkan diri sebagai pesuruh Raja Turkana, raja dari negeri seberang. Sikap keras Gendhuk Tri, menurut dugaan Nyai Demang, memang masih didorong oleh emosi yang besar terbawa nama Upasara. Tapi itu tak bisa sepenuhnya disalahkan, karena kini yang dipermasalahkan adalah harga diri Keraton!

“Saya tidak diculik oleh Ratu Ayu Turkana. Tidak oleh siapa-siapa. Selama ini saya selalu berada di Keraton, hanya dipindahkan tempatnya.”

Sesungguhnya inilah yang dibisikkan Permaisuri Praba Raga Karana yang membuat Raja Jayanegara murka besar. Sewaktu Raja menceritakan rasa asmaranya yang besar, ketika itu pula Praba membisikkan bahwa kalau benar begitu, kenapa Raja menyembunyikan dua putri Permaisuri Rajapatni!

Sambaran petir yang menggeledek, yang membuat Raja murka. Tak pernah diduganya bahwa Praba akan mengatakan hal semacam itu. Praba yang selama ini tergeletak tak bisa bergerak, tak bisa melakukan apa-apa, ternyata mengetahui rencananya. Yang Halayudha pun tak menduga! Yang tak diperhitungkan siapa pun! Raja merencanakan sendiri.

Kening Gendhuk Tri berkerut. “Kalau Raja sendiri yang menculik, maaf, yang menyembunyikan, kenapa perlu membunuh sekian banyak prajurit kawal khusus? Apakah Raja juga melakukan sendiri?”

“Saya tak mengerti soal itu, Bibi. Memang saya menyaksikan banyak yang terbunuh dan lebih banyak lagi yang terluka.” Suaranya ditandai dengan kepolosan yang jernih.

“Siapa yang melakukan itu, Tuan Putri?”

Sebenarnya Nyai Demang kurang setuju dengan tindakan dan cara Gendhuk Tri bertanya. Nadanya sangat kurang ajar. Akan tetapi kalimat Gendhuk Tri begitu cepat, tidak memberi ia kesempatan untuk ikut berbicara. Dan rasanya tidak mungkin memotong pembicaraan tanpa menyinggung hati keduanya.

“Saya tidak tahu.”

“Ksatria Keraton?”

“Rasanya bukan. Paman Upasara juga menanyakan hal itu. Saya belum pernah melihat dan mengenalnya, serta tidak tahu bahasa apa yang dikatakan.”

Kini Nyai Demang pun merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi di Keraton. Pesta yang akan dilakukan nanti, sekaligus merupakan pameran keunggulan Raja. Yang mempunyai dukungan tokoh yang sampai sekarang masih belum diketahui siapa orangnya. Ini mempunyai rangkaian yang jauh. Ini berarti kiriman Upasara juga mengandung pengertian adanya peringatan secara halus. Bahwa apa yang akan terjadi di Keraton pada puncak pesta penobatan Permaisuri Praba nanti, bisa menjadi sesuatu yang tak diperkirakan.

Gendhuk Tri pun menduga demikian. Karena bukan hanya satu kali hal itu terjadi. Sejak saat Raja menobatkan diri di bawah perlindungan Permaisuri Indreswari, pecah pula pertarungan yang mengerikan. Saat itu tokoh-tokoh yang diandalkan adalah pendeta dari Syangka yang mampu mempergunakan bubuk pagebluk.

Sangat mungkin sekali sekarang sudah dengan persiapan yang jauh lebih matang. Perhitungan Nyai Demang yang terakhir ini didasari kenyataan bahwa selama ini Raja memperlihatkan memiliki sesuatu yang kuat dan cermat dalam perhitungan. Walaupun kelihatannya serba tak menentu dan asal menunjukkan kekuasaan, namun rangkaian langkahnya bukan tanpa perhitungan. Bukannya tanpa tujuan.

Apalagi kalau gebrakannya sekarang ini jelas-jelas mengundang dan membuka siapa pun yang akan datang. Apalagi jika benar-benar kepergian Putri Tunggadewi juga bagian dari rencana Raja. Kalau tidak, bagaimana mungkin Raja membiarkan Putri Tunggadewi berjalan keluar dari dinding Keraton? Yang berarti mempunyai kemungkinan besar membuka mulut? Kalau benar begitu, Raja telah merencanakan perangkap lain. Sehingga pemunculan Putri Tunggadewi sengaja dilakukan. Rencana apa?

Otak Nyai Demang bekerja keras. Gendhuk Tri bahkan sampai mengerutkan keningnya. Kini tak ragu-ragu lagi menatap Putri Tunggadewi.

“Bagaimana hamba bisa yakin bahwa hamba sedang menghadapi Putri Tunggadewi?” Pertanyaan yang tepat.

Yang membuat Nyai Demang tergagap dengan sendirinya. Bukannya ia tidak yakin bahwa yang dihadapi sekarang ini adalah putri sekar kedaton yang kini paling banyak dibicarakan. Yang disembah sekarang ini memang Putri Tunggadewi. Tapi, seperti yang ditanyakan Gendhuk Tri, Putri Tunggadewi dalam “keadaan bagaimana”? Karena bukan tidak mungkin, sekarang ini sedang berada dalam pengaruh tertentu.

“Saya tak mengerti maksud Bibi Jagattri.”

“Saya mengerti kalau Tuan Putri tidak mengerti.” Kini Gendhuk Tri benar-benar mengubah cara bicaranya. Tidak lagi menyebut dirinya sebagai hamba, melainkan saya. “Apakah benar yang menyuruh Tuan Putri adalah Kakang Upasara Wulung?”

“Ya, Paman sendiri.”

“Atau Ratu Ayu?”

“Bukan.”

“Atau atas permintaan Raja?”

“Ya, tetapi saya mau, dan Paman Upasara juga mengiyakan. Saya senang bisa bertemu dengan orang yang saya kenal namanya sejak kecil, yang bahkan malah pernah bermain dengan saya.”

Gendhuk Tri melengak.

Pesta, Puncak Pertarungan
IA sama sekali tak membayangkan akan menerima jawaban yang begitu jujur, tapi juga begitu membingungkan. Putri Tunggadewi bersedia mengantarkan hantaran karena kemauannya sendiri, karena perintah Raja, tetapi juga karena Upasara Wulung.

“Apa saya salah?”

“Tidak, Tuan Putri. Hamba rasa Tuan Putri melakukan sesuatu yang bijaksana, berbesar hati. Hanya siapa yang mulia mempunyai pikiran untuk mengantarkan barang-barang ini?”

Putri Tunggadewi seperti tak bisa menangkap kalimat Nyai Demang. Gendhuk Tri-lah yang bergerak. Kebutan selendangnya bergerak penuh tenaga dan sangat cepat. Enam belas dayang yang bersila sambil menyangga peti persembahan hantaran tak bergerak. Akan tetapi sepuluh peti terbuka tutupnya. Sekali bergerak, Gendhuk Tri bisa melihat isinya.

Ratna mutu manikam. Segala jenis perhiasan badani yang tak ternilai harganya. Demikian juga kotak-kotak yang lain ketika Gendhuk Tri mengebutkan selendangnya. Hanya pada salah satu kotak, ada secuil kain sutra tergulung. Dengan hati-hati Gendhuk Tri mengambil, membuka gulungan, dan membaca isinya.

Nyai Demang dan Adik Tri,

Kiranya persembahan tak seberapa ini bisa menyenangkan hati, sebagai pelengkap pada pesta Raja, puncak pertarungan yang Kakang ingin lihat bagaimana kemenangan Keraton yang kita bektii selama ini


Gendhuk Tri menyerahkan kepada Nyai Demang, kemudian bersila seperti sediakala. Menyembah. “Maafkan hamba, Tuan Putri. Hantaran kami terima dengan rasa syukur. Semoga Dewa melindungi Tuan Putri dan menyampaikan rasa terima kasih ini kepada Raja Turkana. Harap Tuan Putri berhati-hati selama dalam perjalanan.”

Nyai Demang menahan napas. Sampai rombongan Putri Tunggadewi berlalu. Barulah kemudian menanyakan kepada Gendhuk Tri. “Apa maksudmu, Jagattri?”

“Saya terlalu berprasangka yang bukan-bukan. Maaf, Nyai….”

“Sekarang saya yang berprasangka.”

“Nyai keliru. Ini memang dari Kakang Upasara Wulung. Kakang tidak ingin melihat kita datang sebagai orang ucul, orang yang tidak keruan, dan membuat puncak pesta menjadi kurang bercahaya.”

Nyai Demang makin tidak mengerti. Barulah ketika berada di ruangnya sendiri, Gendhuk Tri masuk sambil membawa dua dayang. Yang segera ditotok uratnya, diletakkan di pembaringan. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Gendhuk Tri menukar pakaiannya dengan pakaian dayang. Kemudian berjalan ke luar bersama Nyai Demang yang juga menyamar.

Lepas dari benteng Keraton, Gendhuk Tri terus menuju sisi barat, hingga ke tengah daerah yang masih lebat pepohonannya. Gendhuk Tri bahkan mengitari tempat sekitar untuk meyakinkan diri bahwa suasana cukup aman.

“Nyai, keadaan sangat gawat. Kita tak bisa bergerak secara leluasa. Semua dinding di sana dipasangi kuping dan mata. Banyak kejadian aneh yang rasanya tak masuk akal. Pertama, kemunculan Putri Tunggadewi. Yang rasanya kurang masuk akal menjadi pengantar kiriman Raja Turkana.”

“Jagattri, anakku, kamu pun akan mengenalnya. Yang kita temui tadi adalah Putri Tunggadewi, dan bukan orang lain. Percayalah.”

“Saya percaya, Nyai. Yang tidak saya percaya apakah benar Kakang Upasara yang menyuruh. Apakah yang ditemui Putri Tunggadewi benar-benar Kakang Upasara, atau seseorang yang menyaru sebagai Kakang Upasara. Karena banyak kejanggalan di sini. Seumur-umur rasanya Kakang Upasara tidak pernah menulis nawala, atau surat. Kedua, dari mana Kakang mengetahui saya bersama Nyai? Dari kemampuan Merogoh Sukma Sejati? Nanti dulu. Ketiga, hantaran permata itu tidak biasanya. Itu hanya berlaku di antara sesama raja atau bangsawan tingkat tinggi. Ini berarti ada yang berbuat sesuatu, di balik rencana sesuatu yang terlihat. Nyai mengerti?”

“Dengan mudah. Saya memujimu bahwa kamu bisa menunjukkan seolah tidak percaya, kemudian mempercayai. Tapi kalau benar begitu, Keraton sedang dalam bahaya.”

“Saya tidak pasti mengenai hal itu, Nyai. Yang jelas ada yang mempergunakan kepolosan Putri Tunggadewi untuk memainkan intrik.”

“Alangkah beraninya mereka memakai nama Adimas Upasara untuk menulis nawala.”

“Berarti…” Wajah Nyai Demang pias.

“Berarti gaya tulisan Kakang bisa ditiru dan dipalsukan. Kalau benar begitu, Kakang pun sekarang berada dalam bahaya. Atau sekurangnya tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Menjadi pertanyaan besar, siapa tokoh yang menculik Putri Tunggadewi, siapa tokoh yang menyaru sebagai Kakang ketika ditemui Putri Tunggadewi, dan apa di balik rencana ini semua?”

Nyai Demang menggigit bibirnya. “Sungguh luar biasa. Permainan yang sangat rumit. Kalau tidak dari semula saya bertemu denganmu, rasanya saya tak bisa percaya kamu tetap Gendhuk Tri yang dulu.”

Gendhuk Tri memiringkan kepalanya. Meyakinkan diri bahwa situasi sekitar tetap aman. “Nyai, perhitungan saya bisa benar bisa keliru. Yang Nyai temui barangkali bukan Kakang Upasara.”

“Tak mungkin. Mana mungkin saya begitu tolol? Mana mungkin ucapannya yang hanya mungkin diucapkan olehnya bisa ditiru?”

Wajah Gendhuk Tri mengeras. Matanya menyipit. Rahangnya kaku. “Saya mempunyai pertimbangan begitu. Belum jelas benar bagaimana dan apa, tetapi agaknya mengarah ke arah itu. Tapi kita lupakan itu dulu. Pertanyaannya siapa yang sedang memainkan peranan untuk puncak pesta nanti?”

“Hanya satu manusia yang bisa berhati busuk, Halayudha.”

Gendhuk Tri memainkan bibirnya. Tidak mengangguk mengiyakan. “Halayudha memang menjijikkan, akan tetapi permainan dengan menculik dua putri Permaisuri Rajapatni pasti tak akan dilakukannya. Tokoh yang disebut-sebut Putri Tunggadewi yang tak pernah dikenal dan tak dimengerti bahasanya, pastilah yang sekarang ikut memainkan peranan.”

“Kira-kira siapa dia?”

“Saya masih gelap.”

“Sejak Halayudha menjadi mahapatih, banyak sekali senopati yang bulunya sama dengannya berkumpul, sehingga susah ditebak. Akan tetapi mengingat ini perhitungan tingkat tinggi, rasa-rasanya bukan lagi tingkat para senopati. Raja tak akan begitu saja merestui atau turut terlibat secara langsung. Siapa yang tiba-tiba bisa begitu dekat dengan Raja?”

“Kiai Sambartaka?”

“Kiai Kiamat itu memang sakti dan licik, sehingga Eyang Sepuh pun bisa diakali. Akan tetapi rasanya Raja yang begitu memihak pendeta Syangka tak akan terpikat begitu saja.”

“Apa rencana Nyai?”

“Saya akan menemui Adimas. Untuk melihat kenyataan apa yang terjadi, guna melihat lebih jauh. Dengan membawa sebagian hantaran balik, rasanya telinga dan mata yang berada di tempat kita tak akan curiga lebih banyak.”

“Itu lebih baik, Nyai. Kita harus berbuat seolah-olah kita mencurigai sesuatu, dan itu kita tunjukkan, sementara yang kita curigai sebenarnya hal lain. Kita jadikan tempat ini sebagai tempat pertemuan. Di luar ini, kalaupun kita bertemu dan berbicara, adalah mengenai yang semu. Mengenai kemungkinan adanya pertarungan pada pesta puncak nanti. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, mulai saat ini kalau kita kemari dan kembali lagi tak perlu berbarengan.”

Kapiswara Kapila
USAHA Nyai Demang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang bergolak di Keraton seperti menemui ruangan kosong. Tak ada yang bisa ditemui, tak ada gema dari teriakannya. Ketika berusaha menemui Upasara dan Ratu Ayu di peristirahatan para raja amancanegara, raja dari seberang, tak menemui hasil.

Pagi hari ia datang dengan alasan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Upasara, yang menemui hanya penjaga. Yang mengatakan bahwa Upasara serta Ratu Ayu dipanggil menghadap Raja. Kalaupun Nyai Demang meninggalkan pesan, agar sekembalinya nanti dirinya dihubungi, sia-sia saja. Dua kali Nyai Demang berusaha menemui Pangeran Jenang, jawabannya sama saja. Sedang dipanggil Raja.

Ini menimbulkan tanda tanya. Juga ketika berusaha menuju kaputren dan mengatakan bahwa ada barang yang dibawa Putri Tunggadewi tertinggal, jawabannya sama. Barang bisa dititipkan untuk disampaikan, tetapi Putri Tunggadewi tak bisa menemui karena sedang dipanggil Raja. Nyai Demang tak bisa dihentikan dengan cara itu. Bahkan memakai cara itu untuk pendekatan.

Sekali lagi ia datang ke Keraton, dan mengatakan bahwa dirinya dipanggil menghadap Raja. Nyai Demang dibawa menghadap Senopati Jabung Krewes. Yang menemui dengan pandangan ramah, sumanak, bersahabat.

“Sungguh besar niat Nyai Demang yang kesohor untuk menemui Raja. Nyai, saya adalah senopati yang bertugas menyampaikan perintah Raja, dan selama ini tak ada nama yang disebutkan untuk diperkenankan menghadap.”

“Senopati Jabung Krewes, saya menerima panggilan yang sama dengan Raja Turkana, dengan Pangeran Jenang, dengan Putri Tunggadewi. Mungkinkah prajurit kawal pribadi keliru menyampaikan undangan?”

“Saya mendengar itu, Nyai. Akan tetapi sejauh ini belum ada yang dipanggil Raja.”

“Barangkali Raja men-dawuh-kan, memerintahkan, panggilan tidak melalui Senopati Jabung Krewes."

“Mungkin saja. Kenapa Nyai tidak berusaha menemui prajurit kawal dan menanyakan secara jelas?” Ada nada tulus dan mengatakan apa adanya.

“Barangkali lewat Mahapatih Halayudha.”

“Silakan Nyai menemuinya.”

“Terima kasih, Senopati Jabung Krewes. Senopati telah berlaku baik sekali.”

“Saya hanya menjalankan tugas, Nyai.”

“Maaf, Senopati. Agaknya tugas Senopati menjelang pesta puncak nanti sangat berat.”

“Bukankah itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyai?”

Nyai Demang memperoleh kesan bahwa Senopati Jabung Krewes, senopati yang mendapat tugas istimewa mendampingi Raja, juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres di Keraton. Ia juga mendengar bahwa ada kabar beberapa orang menghadap Raja. Akan tetapi sebagai petugas di bidang itu, Senopati Jabung Krewes tidak mengetahui. Namun itu tidak diutarakan dengan kata-kata. Rasa herannya ditutupi dengan sifat pengabdiannya.

Nyai Demang memutar langkah menuju kepatihan. Sekarang saatnya menemui Mahapatih Halayudha. Biar bagaimanapun, tak ada pilihan lain untuk tidak mencari tahu dari Halayudha. Akan tetapi jawaban dari para prajurit yang ditemui ternyata sama saja. Raja sedang memanggil Mahapatih. Bahkan dari Senopati Bango Tontong, orang kedua di kepatihan, jawabannya sama saja.

“Saya tahu Nyai mendapat undangan khusus dari Raja untuk menghadiri pesta puncak nanti. Itu sebabnya saya menghormati dan menjawab sebisanya. Meskipun Nyai kelihatan tidak puas.”

“Senopati Bango Tontong pasti mengetahui ketidakpuasan saya. Rasanya makin lama makin aneh.”

“Tak ada yang aneh, Nyai.”

“Dalam keadaan seperti ini, mestinya Senopati perlu menggalang kekuatan. Saya bisa menjadi salah seorang di antaranya.”

Nyai Demang membuka kartu. Membuka telapak tangannya, menawarkan diri untuk bekerja sama. Sesuatu yang tak akan dilakukan jika situasinya tidak penuh tanda tanya seperti sekarang ini.

“Dengan senang hati, Nyai. Tapi bagaimana kami bisa menerima uluran tangan Nyai, kalau kami tidak tahu mana yang kapila, mana yang kapisa, mana yang kapiswara, mana yang kapindra? Bukankah lebih baik kapineng kapirangu?”

Ini jawaban yang lebih jelas. Tapi juga tak menerangkan apa-apa. Selama ini beredar kabar bahwa Senopati Bango Tontong adalah senopati yang kelewat julig, pintar tapi membahayakan. Pintar, karena dalam waktu singkat menduduki posisi kunci yang menentukan sebagai pemimpin barisan penjaga ketertiban dan keamanan. Membahayakan, karena sulit diketahui pasti angin mana yang menggerakkan.

Sebagai orang kedua di kepatihan, Senopati Bango Tontong sekaligus merupakan orang kepercayaan Mahapatih Halayudha. Namun juga tak dipungkiri bahwa senopati berkaki panjang ini dengan sengaja dan terbuka mengumpulkan para ksatria yang tangguh untuk diajak bergabung dengannya, berada di payung kebesarannya. Caranya memilih prajurit yang langsung berada di bawah komandonya menunjukkan secara gamblang mengenai hal ini.

Dengan mengucapkan kata-kata itu, Senopati Bango Tontong mengakui bahwa sebenarnya di Keraton sedang berkembang sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dikuasai oleh satu atau dua tokoh. Apa pun jabatan dan pangkatnya. Dengan mengatakan susah membedakan antara kapisa, yang berarti merah tua mendekati cokelat warna batu bata, dengan kapila atau merah muda, berarti tipis sekali perbedaan antara kelompok yang mendukungnya dan kelompok yang tidak mendukungnya.

Lebih jelas lagi ketika mengatakan mana yang kapindra dan mana yang kapiswara. Dua-duanya mempunyai arti yang sama, yaitu raja kera. Dengan tersamar, Senopati Bango Tontong ingin mengatakan bahwa semuanya seakan ingin menjadi “raja kera”, menjadi raja kecil-kecilan, yang lagi-lagi susah dibedakan antara kelompok di mana ia bergabung. Dan jalan keluarnya adalah dengan kapineng, berdiam diri, dalam keadaan kapirangu atau bimbang. Dengan kata lain, karena sedang bimbang tak menentu, lebih baik berdiam diri untuk menanti situasi yang lebih terang.

Nyai Demang tak menduga bahwa Senopati Bango Tontong akan mengutarakan hal itu. Tadinya ia menyangka bahwa Senopati Jabung Krewes yang lebih mungkin untuk menjawab dan menjelaskan. Karena sebenarnya yang terjepit adalah posisinya. Kalau benar begitu, sekarang keadaan benar-benar tak menentu. Tak jelas siapa yang harus dipegang kata-katanya. Pada tingkat senopati, terjadi kekisruhan, keruwetan, dan masih terjadi tebak-menebak akan situasi yang sebenarnya. Nyai Demang menyampaikan pendapatnya ini di tempat pertemuan biasanya dengan Gendhuk Tri, yang juga mengalami hal yang sama.

“Biasanya kamu bisa berpikir cemerlang, Anak Jagattri.”

Gendhuk Tri menggeleng. “Justru sebaliknya, Nyai. Nyai-lah yang paling hafal dan mengenal liku-liku intrik di Keraton. Mengetahui hubungan satu dengan yang lainnya. Saya sama sekali buta mengenai tata krama hubungan para senopati, bahkan juga dengan para prajurit.”

“Sejauh saya tahu, Raja sengaja membiarkan suasana menjadi mengambang. Semua kegelisahan, semua kecemasan sedang dipancing untuk muncul ke permukaan, dan dengan demikian menjadi jelas, mana yang perlu diambil, perlu dibuang, atau didiamkan. Sekarang ini saja para senopati satu dengan lainnya memberikan keterangan yang berbeda. Tampil dengan kekuasaannya sendiri-sendiri.”

“Barangkali satu-satunya jalan adalah menerobos lewat Permaisuri Praba Raga Karana.”

“Saya mempunyai jalan pikiran yang sama. Saya melihat bahwa tinggal Permaisuri Praba yang konon menerima wahyu sukma sejati, yang bisa berkata dengan tenang dan wajar. Bisa berbuat, bertindak, tanpa dipengaruhi taktik tertentu. Meskipun agaknya kita juga harus bersiaga. Karena Permaisuri Praba Raga Karana sekarang ini bukan yang dulu. Yang lebih suka menjadi gendhak, lebih suka menjadi selir Raja dan tak perlu tampil sendiri. Namun, itu satu-satunya jalan. Dua hari lagi kita bertemu di sini, anakku.”

Akan tetapi ketika Nyai Demang datang dua hari kemudian, tak ada bayangan Gendhuk Tri. Yang ada hanya guratan di kulit pohon, yang berbunyi bahwa dirinya sedang dipanggil menghadap Raja. Itulah gila!

Panggilan Raja
BENAR-BENAR tak bisa dimengerti. Bagaimana mungkin Gendhuk Tri mengguratkan itu di pohon untuk memberitahukan bahwa dirinya tak bisa menemui karena dipanggil Raja. Karena kalau hanya soal itu, sebenarnya bisa dikatakan di rumah! Karena mereka toh selalu bersama. Sekuatir apa pun, rasanya kalau hanya menyampaikan isyarat itu tetap bisa dilakukan.

Yang tidak diketahui Nyai Demang adalah bahwa Gendhuk Tri yang datang lebih dulu telah membaca guratan itu dan segera berlalu. Gendhuk Tri sedikit lebih cerdik. Mengguratkan goresan di kulit pohon merupakan perbuatan yang sangat mencolok. Nyai Demang tak mungkin melakukan itu. Gendhuk Tri bisa melihat bahwa di situ tak ada petunjuk bahwa tulisan itu dibuat oleh Nyai Demang. Berarti memang pengguratnya sudah menyiapkan bahwa dengan sekali menulis, baik Nyai Demang maupun Gendhuk Tri akan sama-sama terkabari.

Dalam hati Gendhuk Tri menertawakan cara yang terlalu dungu untuk dikenali. Bukankah dengan cara itu ia bisa segera mengetahui kebenaran yang sesungguhnya? Karena dalam waktu singkat ia akan bertemu dengan Nyai Demang. Ataukah pengguratnya hanya ingin memperlihatkan bahwa ia mengetahui adanya pertemuan di situ? Diam-diam keringat dingin Gendhuk Tri merembes ke kulit tangannya. Ini luar biasa. Gerak-geriknya yang paling kecil pun telah diketahui. Tanpa jelas siapa yang mengetahuinya!

Lebih dari itu, Gendhuk Tri kuatir Nyai Demang bisa-bisa berada dalam bahaya. Kalau benar dugaannya bahwa guratan di pohon itu hanyalah jebakan belaka, berarti memang Nyai Demang yang akan diamankan. Atau dirinya! Berpikir begitu, Gendhuk Tri berusaha tenang. Bersikap wajar. Selesai membaca guratan di pohon, Gendhuk Tri segera kembali ke tempatnya. Sambil mengerahkan kemampuannya meneliti keadaan sekitar, kalau-kalau ada tarikan napas yang mencurigakan.

Tapi tak ada yang lain. Daun, pohon, cabang, seakan tak berubah. Tak menyembunyikan apa-apa. Gendhuk Tri sedikit mengambil jalan berputar. Begitu keluar dari pepohonan, ia berbalik dan mengawasi. Benar saja, saat itu Nyai Demang muncul, berkelebat menuju ke tempat pertemuan. Gendhuk Tri menunggu beberapa saat, mengamati apakah keadaan benar-benar aman. Baru kemudian menyusul secara mengendap-endap.

Ilmu mengentengkan tubuhnya belum mencapai tingkat yang sempurna, akan tetapi Gendhuk Tri bisa bergerak gesit tanpa menabrak cabang atau ranting pepohonan. Paling hanya kesiuran angin. Tapi Gendhuk Tri kecele. Benar-benar kecolongan. Ketika sampai di tempat pertemuan, tak ada bayangan Nyai Demang. Padahal tadi jelas dilihat dengan mata kepala sendiri bahwa Nyai Demang menuju ke arah tempat pertemuan. Ia menyusul hanya selang beberapa saat.

Kalaupun ada kejadian tertentu, pastilah dirinya bisa mengetahui. Tak mungkin tanpa suara, tanpa sentuhan apa-apa. Itu luar biasa. Nyai Demang seolah ditelan bumi. Gendhuk Tri tak bisa lama-lama bersembunyi. Ia keluar dari persembunyian, mengitari keliling, kemudian meninggalkan tempat itu. Keluar dari hutan pepohonan. Gendhuk Tri merasa dirinya cerdik, akan tetapi ternyata telah selangkah kalah cerdik! Dari Halayudha!

Yang ketika Nyai Demang berdiri ragu, Halayudha segera menerkamnya. Benar-benar menerkam karena melayang dari pohon, menggulung Nyai Demang dengan tebaran kain yang dililitkan, dan kemudian meloncat kembali ke pohon. Bersembunyi di antara kelebatan daun. Yang tidak dilihat Gendhuk Tri. Karena tak menduga. Halayudha menunggu beberapa saat, sampai merasa bahwa Gendhuk Tri memang tak kembali lagi. Baru kemudian melayang turun sambil membawa tubuh Nyai Demang yang terbungkus kain.

“Nyai, jangan banyak bergerak, karena setiap kali bergerak hanya akan menambah rasa sakit yang tak terhingga. Jari saya yang kutung ini telah memencet nadi Nyai. Mulai sekarang, Nyai hanya akan mendengar apa yang saya katakan.”

Nyai Demang merasakan langsung kebenaran kata-kata Halayudha. Rasa sakit itu terutama sekali mendenyut di kepalanya. Bahkan tarikan napas yang sedikit keras, bisa membuat nyut-nyut di ubun-ubunnya makin menggigit. Sehingga hanya bisa pasrah. Menyerah dibopong Halayudha. Karena tertutup kain, Nyai Demang tak tahu dibawa ke mana. Hanya kemudian ia sadar dirinya berada di ruangan yang tertutup. Halayudha menusuk kaki Nyai Demang.

“Saya kurangi tekanan nadi otak Nyai. Hanya sebagian. Hanya sekadar untuk sedikit berpikir, bergerak, tapi tak bisa lebih. Apakah saya akan melepaskan semua atau sebaliknya, rasa-rasanya tergantung nasib.”

Nyai Demang mundur setindak. Pandangannya keras. “Halayudha, sejak menjadi mahapatih, kekejianmu makin bertambah.”

“Itu artinya saya menemukan kemajuan,” jawab Halayudha dingin. “Nyai, saya tak mempunyai waktu banyak untuk menjelaskan keterangan yang tak perlu. Saya hanya mengharapkan Nyai bersedia mengajari saya mengenai tata krama, tata bahasa, ucapan, dan huruf-huruf dari Tartar.”

“Dengan cara seperti ini? Halayudha, bagaimana kalau saya menolak?”

“Tidak apa. Nyai, Nyai tahu bahwa saya orang yang licik, yang berusaha memenangkan diri sendiri dengan cara mengalahkan lawan atau kawan. Saya tak mempunyai ikatan tata krama seperti kalian para ksatria. Saya mempunyai cara dan jalan sendiri. Sekarang saya ingin mempelajari segala sesuatu yang menyangkut Tartar. Itu harus terlaksana.”

Nyai Demang mengertakkan giginya. “Seumur hidup saya tidak pernah menemukan manusia sepertimu, Halayudha. Begitu gagah mengakui keculasan dan begitu yakin meneruskan langkah kehinaan.”

“Nyai tak akan menemukan sampai turunan yang kapan pun. Bukankah itu berarti saya hebat? Bukankah saya mampu memegang jabatan yang tak akan pernah diimpikan senopati mana pun? Bukankah hanya ada satu mahapatih di seluruh Keraton?”

“Kalau saya menolak?”

“Itu namanya nasib. Nasib bahwa saya harus mencari jalan agar Nyai pada akhirnya akan mengajari saya.”

“Kita coba saja, apakah usahamu berhasil.”

Halayudha tersenyum dingin. “Saya tahu siapa Nyai. Kalau saya paksa, akan sulit berhasil. Kalau saya telanjangi Nyai sekarang ini, saya cukur gundul semua bulu tubuh Nyai, belum tentu Nyai mau menyerah. Kalau saya tawari pangkat dan derajat, belum tentu berhasil. Kalau saya berikan kesempatan untuk keselamatan Upasara, belum tentu percaya. Kalau saya sampaikan ini demi keselamatan Keraton, masyarakat Majapahit, seluruhnya, Nyai belum tentu percaya saya melakukan tindakan mulia itu. Satu-satunya jalan adalah meminta kerelaan Nyai mengajari dengan benar.”

“Kalau saya menolak?”

“Saya bisa memaksa Nyai. Saya akan memaksa di luar kekuatan Nyai. Nyai Demang lebih mengetahui hal ini karena Nyai pernah ketitipan tubuh Kebo Berune. Di mana kuasa tenaga dalam Kebo Berune sepenuhnya menguasai Nyai, sehingga Nyai tanpa menyadari membawa mayat Kebo Berune ke mana-mana. Saya bisa memaksa dengan cara itu, tanpa menjadi mati lebih dulu. Nyai tahu persis hal itu.”

“Penguasaan macam apa, Halayudha?”

“Penguasaan kekuatan sukma sejati.”

“Ooo. Seperti yang kamu lakukan atas Putri Tunggadewi?”

“Nyai lebih tahu contoh nyata. Apakah Nyai masih ragu?”

Tiga Laku Utama
HALAYUDHA melihat Nyai Demang mengangkat alis dengan tenang. “Saya masih ragu. Kalau kamu bisa melakukan dengan cara itu, kenapa tidak begitu saja? Tanpa perlu tanya-jawab seperti ini? Halayudha, Mahapatih Halayudha yang terhormat, adalah bukan sifat dan kelakuanmu untuk memilih jalan damai seperti ini kalau ada cara lain.”

“Nyai benar. Saya bisa menggunakan kekuatan sukma sejati untuk memaksa Nyai Demang melakukan apa yang saya inginkan. Maaf, dalam hal ini mengajari tata krama budaya Tartar. Saya bisa mempengaruhi Nyai, seperti saya menghadirkan Putri Tunggadewi seolah ia utusan Upasara Wulung. Baiklah, saya katakan terus terang. Pertama, pastilah Nyai ingin mengetahui perihal Putri Tunggadewi. Kedua, kenapa saya mendadak keraya-raya, sangat berharap dan penuh keinginan mengetahui tata krama budaya Tartar. Ketiga, kenapa saya tidak langsung memaksa Nyai. Keempat, adalah kesimpulan yang akan Nyai peroleh. Saya akan menjelaskan seadanya, karena saya sadar berhadapan dengan seorang yang luas jangkauan pikirannya, bisa menemukan cepat kalau saya berusaha menyembunyikan sesuatu. Nyai Demang. Saya akan mulai dengan yang pertama. Putri Tunggadewi menjadi bahan pembicaraan utama ketika lolos dari kaputren. Seolah ada yang menculik. Tertuduh pertama adalah Ratu Ayu Bawah Langit yang bertindak atas nama Upasara Wulung. Terus terang saya setuju kesimpulan itu. Sekurangnya itu alasan yang masuk akal, dan Raja bisa menerima. Nyatanya begitu. Ternyata tidak sesederhana itu. Tunggadewi, maaf Nyai, Putri Tunggadewi murca, hilang dari kaputren bukan karena siapa-siapa, melainkan karena kehendak Raja sendiri. Raja Jayanegara tidak seperti yang diduga semua orang atau semua Dewa, memiliki keunggulan penguasaan atas Keraton. Raja Jayanegara bukan bayi yang dimahkotai, seperti kesan kita selama ini. Beliau mampu menghimpun, menyatukan, memecah, mengadu, sehingga dalam situasi yang gawat, semua tergantung pada telapak kakinya. Dalam persoalan Tunggadewi… Putri Tunggadewi, beliau memainkan kehebatannya. Saya, Mahapatih Utama dan satu-satunya, dibiarkan menggelepar, ketakutan, mengarang kabar, memperlihatkan ketotolan dengan mengatakan bahwa Putri Tunggadewi diculik Ratu Ayu. Dengan memunculkan lagi Tunggadewi, beliau ingin memperlihatkan kepada saya bahwa saya hanyalah alas kaki yang busuk dan tidak bisa dipercaya. Beliau sengaja memunculkan Tunggadewi untuk memperlihatkan kekuasaan, kebesarannya. Saya memilih jalan lain. Nyai boleh mengatakan ini pembelaan diri, ini balas dendam, atau apa saja. Saya menemui Tunggadewi dan berusaha mengetahui keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi Tunggadewi menolak dan mengurung diri dengan linangan air mata. Nyai mengetahui bahwa hilang dan munculnya Tunggadewi bukan semata-mata perbuatan untuk menyenangkan. Bukan permainan biasa. Di dalamnya terkandung niatan Raja untuk mempermalukan saya. Untuk mengatakan bahwa saya tidak ada artinya. Saya memilih cara lain untuk memukul balik. Dengan kemampuan menghimpun kekuatan sukma sejati, saya memaksa sukma Tunggadewi menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah apa yang diceritakan kepada Nyai dan Gendhuk Tri. Bahwa Raja yang menculik Tunggadewi. Bahwa ada perbuatan hina yang tengah terjadi. Karena saya tidak melihat kemungkinan untuk melawan langsung kepada Raja, saya memilih menampilkan Tunggadewi kepada Upasara Wulung. Tokoh sakti mandraguna yang disegani siapa pun. Akan tetapi usaha ini sia-sia. Upasara Wulung sama sekali tak mau menemui. Atau tak bisa ditemui. Jalan satu-satunya adalah memancing lewat Nyai dan Gendhuk Tri. Hanya kalian berdua yang akan didengar Upasara Wulung secara jernih. Itu sebabnya saya mengirimkan Tunggadewi, seolah utusan Upasara Wulung. Dengan harapan Nyai dan Gendhuk Tri curiga, lalu mencari tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Nyatanya begitu.”

“Sebentar, Halayudha. Kalau Putri Tunggadewi tidak bertemu dengan Adimas Upasara, bagaimana mungkin ia berbicara seolah-olah…”

JILID 55BUKU PERTAMAJILID 57

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 56

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 56

Dalam hati Nyai Demang memuji keterbukaan Gendhuk Tri dan ketegarannya dalam menghadapi persoalan. Dalam hati Nyai Demang setengah menyalahkan dirinya yang begitu mencurigai bahwa Gendhuk Tri hanya berpura-pura tidak mengetahui.

“Adimas tidak mengatakan apa persisnya. Kita bisa menduga sendiri.”

“Nyai, apakah itu berarti Kakang sebenarnya masih mencintai Permaisuri Rajapatni?”

“Ya, dan tak akan pernah hilang. Tapi kasunyatan berbicara lain.”

“Apakah sebenarnya Kakang pernah mencintai saya?”

“Ya, dan tak akan pernah hilang.”

“Apakah Kakang pernah mencintai Nyai?”

“Rasanya tidak. Mungkin di waktu muda, Adimas Upasara pernah tertarik kepada ibumu ini. Sangat mungkin sekali. Tetapi itu berbeda jauh dengan rasa katresnan yang bersemi pada Permaisuri Rajapatni atau dirimu.”

“Menurut Nyai, siapa yang paling dicintai Kakang?”

“Tak bisa dibandingkan, anakku. Dalam kitab pun selalu dituliskan lelaki bisa beristri, bisa mencintai lebih dari satu wanita. Kalau kita kaum wanita melakukan itu, hukuman bunuh tanpa perkara. Tanpa perlu ditanya, tanpa perlu diurus apa yang sesungguhnya terjadi di balik semua itu.”

Persembahan Raja Turkana
NYAI DEMANG merasa lega. Semua unek-unek nya telah ditumpahkan. Dan Gendhuk Tri sendiri menunjukkan sikap dewasa menerima kenyataan yang terjadi.

“Nyai, apakah Kakang akan bahagia?”

“Pasti. Kenapa kamu tanyakan itu?”

“Kakang memilih kembali ke Ratu Ayu, bukan karena Kakang menghendaki. Melainkan karena ingin melepaskan ketergantungan Permaisuri Rajapatni dan… dan…”

“Anakku, ada yang lebih penting dari urusan daya asmara. Berkali-kali terbukti, daya asmara bisa dimundurkan ke belakang. Bahagia dan bukan bahagia, bukan semata-mata dari ukuran daya asmara dalam arti memiliki atau tidak memiliki. Bagaimanapun, kamu harus membayangkan Adimas bahagia. Dengan begitu kamu juga akan bahagia. Adimas juga bahagia.”

“Terima kasih, Nyai. Rasanya saya lebih lega sekarang ini.”

“Itu yang saya harap. Alangkah bahagianya kita malam ini. Saya akan keramas seluruh tubuh, akan bersemadi, memanjatkan doa agung.”

“Kita lakukan bersama, Nyai.”

Keduanya melakukan bersama apa yang dikatakan. Hingga tengah malam, hingga dini. Baru selesai ketika fajar tiba. Bersama masuknya dayang yang mengatakan bahwa ada utusan datang. Nyai Demang segera melangkah ke luar untuk menemui. Gendhuk Tri mengikuti dari belakang. Ketika sampai di pendapa, Nyai Demang segera bersujud, melakukan sembah dengan sangat hormat. Gendhuk Tri melakukan hal yang sama. Meskipun dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan gadis ayu yang mengenakan pakaian kebesaran.

“Maafkan hamba, Tuan Putri, hamba tidak mengira Tuan Putri berkenan menginjakkan kaki kemari. Adalah suatu anugerah Dewa, Tuan Putri Tunggadewi berbesar hati mendatangi hamba yang rendah.”

Barulah Gendhuk Tri mengetahui bahwa yang datang adalah Putri Tunggadewi. Wajahnya, penampilannya, mengingatkan kepada Permaisuri Rajapatni. Lebih dari itu sepasang alisnya sangat indah.

“Nyai Demang, Bibi Jagattri, duduklah dengan tenang. Saya datang tidak sebagai tuan putri. Sebutan itu terlalu besar untuk saya. Saya kemari menyampaikan persembahan Raja Turkana, yang meminta saya menyerahkan hantaran untuk Nyai Demang serta Bibi Jagattri.”

Enam belas dayang yang menyertai membawa peti berukir sangat indah.

“Sembah nuwun, sangat terima kasih, Tuan Putri….”

Gendhuk Tri mengucapkan kata yang sama, sebelum menyambung dengan suara perlahan, “Kebesaran jiwa Putri Tunggadewi hanya mungkin karena titisan Dewi Uma dan Dewa Syiwa. Namun menjadi pertanyaan dalam hati saya, untuk apa Putri Tunggadewi, cucu utama Sri Baginda Raja, putri Sri Baginda, bersedia menjadi pengantar raja dari seberang, yang bahkan menurut kabar berita telah menculik Putri Tunggadewi.”

Sikap Gendhuk Tri tetap keras. Dalam nada suaranya terkandung kegemasan kenapa Putri Tunggadewi yang keturunan langsung Sri Baginda Raja Kertanegara, cucu Baginda, merendahkan diri sebagai pesuruh Raja Turkana, raja dari negeri seberang. Sikap keras Gendhuk Tri, menurut dugaan Nyai Demang, memang masih didorong oleh emosi yang besar terbawa nama Upasara. Tapi itu tak bisa sepenuhnya disalahkan, karena kini yang dipermasalahkan adalah harga diri Keraton!

“Saya tidak diculik oleh Ratu Ayu Turkana. Tidak oleh siapa-siapa. Selama ini saya selalu berada di Keraton, hanya dipindahkan tempatnya.”

Sesungguhnya inilah yang dibisikkan Permaisuri Praba Raga Karana yang membuat Raja Jayanegara murka besar. Sewaktu Raja menceritakan rasa asmaranya yang besar, ketika itu pula Praba membisikkan bahwa kalau benar begitu, kenapa Raja menyembunyikan dua putri Permaisuri Rajapatni!

Sambaran petir yang menggeledek, yang membuat Raja murka. Tak pernah diduganya bahwa Praba akan mengatakan hal semacam itu. Praba yang selama ini tergeletak tak bisa bergerak, tak bisa melakukan apa-apa, ternyata mengetahui rencananya. Yang Halayudha pun tak menduga! Yang tak diperhitungkan siapa pun! Raja merencanakan sendiri.

Kening Gendhuk Tri berkerut. “Kalau Raja sendiri yang menculik, maaf, yang menyembunyikan, kenapa perlu membunuh sekian banyak prajurit kawal khusus? Apakah Raja juga melakukan sendiri?”

“Saya tak mengerti soal itu, Bibi. Memang saya menyaksikan banyak yang terbunuh dan lebih banyak lagi yang terluka.” Suaranya ditandai dengan kepolosan yang jernih.

“Siapa yang melakukan itu, Tuan Putri?”

Sebenarnya Nyai Demang kurang setuju dengan tindakan dan cara Gendhuk Tri bertanya. Nadanya sangat kurang ajar. Akan tetapi kalimat Gendhuk Tri begitu cepat, tidak memberi ia kesempatan untuk ikut berbicara. Dan rasanya tidak mungkin memotong pembicaraan tanpa menyinggung hati keduanya.

“Saya tidak tahu.”

“Ksatria Keraton?”

“Rasanya bukan. Paman Upasara juga menanyakan hal itu. Saya belum pernah melihat dan mengenalnya, serta tidak tahu bahasa apa yang dikatakan.”

Kini Nyai Demang pun merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi di Keraton. Pesta yang akan dilakukan nanti, sekaligus merupakan pameran keunggulan Raja. Yang mempunyai dukungan tokoh yang sampai sekarang masih belum diketahui siapa orangnya. Ini mempunyai rangkaian yang jauh. Ini berarti kiriman Upasara juga mengandung pengertian adanya peringatan secara halus. Bahwa apa yang akan terjadi di Keraton pada puncak pesta penobatan Permaisuri Praba nanti, bisa menjadi sesuatu yang tak diperkirakan.

Gendhuk Tri pun menduga demikian. Karena bukan hanya satu kali hal itu terjadi. Sejak saat Raja menobatkan diri di bawah perlindungan Permaisuri Indreswari, pecah pula pertarungan yang mengerikan. Saat itu tokoh-tokoh yang diandalkan adalah pendeta dari Syangka yang mampu mempergunakan bubuk pagebluk.

Sangat mungkin sekali sekarang sudah dengan persiapan yang jauh lebih matang. Perhitungan Nyai Demang yang terakhir ini didasari kenyataan bahwa selama ini Raja memperlihatkan memiliki sesuatu yang kuat dan cermat dalam perhitungan. Walaupun kelihatannya serba tak menentu dan asal menunjukkan kekuasaan, namun rangkaian langkahnya bukan tanpa perhitungan. Bukannya tanpa tujuan.

Apalagi kalau gebrakannya sekarang ini jelas-jelas mengundang dan membuka siapa pun yang akan datang. Apalagi jika benar-benar kepergian Putri Tunggadewi juga bagian dari rencana Raja. Kalau tidak, bagaimana mungkin Raja membiarkan Putri Tunggadewi berjalan keluar dari dinding Keraton? Yang berarti mempunyai kemungkinan besar membuka mulut? Kalau benar begitu, Raja telah merencanakan perangkap lain. Sehingga pemunculan Putri Tunggadewi sengaja dilakukan. Rencana apa?

Otak Nyai Demang bekerja keras. Gendhuk Tri bahkan sampai mengerutkan keningnya. Kini tak ragu-ragu lagi menatap Putri Tunggadewi.

“Bagaimana hamba bisa yakin bahwa hamba sedang menghadapi Putri Tunggadewi?” Pertanyaan yang tepat.

Yang membuat Nyai Demang tergagap dengan sendirinya. Bukannya ia tidak yakin bahwa yang dihadapi sekarang ini adalah putri sekar kedaton yang kini paling banyak dibicarakan. Yang disembah sekarang ini memang Putri Tunggadewi. Tapi, seperti yang ditanyakan Gendhuk Tri, Putri Tunggadewi dalam “keadaan bagaimana”? Karena bukan tidak mungkin, sekarang ini sedang berada dalam pengaruh tertentu.

“Saya tak mengerti maksud Bibi Jagattri.”

“Saya mengerti kalau Tuan Putri tidak mengerti.” Kini Gendhuk Tri benar-benar mengubah cara bicaranya. Tidak lagi menyebut dirinya sebagai hamba, melainkan saya. “Apakah benar yang menyuruh Tuan Putri adalah Kakang Upasara Wulung?”

“Ya, Paman sendiri.”

“Atau Ratu Ayu?”

“Bukan.”

“Atau atas permintaan Raja?”

“Ya, tetapi saya mau, dan Paman Upasara juga mengiyakan. Saya senang bisa bertemu dengan orang yang saya kenal namanya sejak kecil, yang bahkan malah pernah bermain dengan saya.”

Gendhuk Tri melengak.

Pesta, Puncak Pertarungan
IA sama sekali tak membayangkan akan menerima jawaban yang begitu jujur, tapi juga begitu membingungkan. Putri Tunggadewi bersedia mengantarkan hantaran karena kemauannya sendiri, karena perintah Raja, tetapi juga karena Upasara Wulung.

“Apa saya salah?”

“Tidak, Tuan Putri. Hamba rasa Tuan Putri melakukan sesuatu yang bijaksana, berbesar hati. Hanya siapa yang mulia mempunyai pikiran untuk mengantarkan barang-barang ini?”

Putri Tunggadewi seperti tak bisa menangkap kalimat Nyai Demang. Gendhuk Tri-lah yang bergerak. Kebutan selendangnya bergerak penuh tenaga dan sangat cepat. Enam belas dayang yang bersila sambil menyangga peti persembahan hantaran tak bergerak. Akan tetapi sepuluh peti terbuka tutupnya. Sekali bergerak, Gendhuk Tri bisa melihat isinya.

Ratna mutu manikam. Segala jenis perhiasan badani yang tak ternilai harganya. Demikian juga kotak-kotak yang lain ketika Gendhuk Tri mengebutkan selendangnya. Hanya pada salah satu kotak, ada secuil kain sutra tergulung. Dengan hati-hati Gendhuk Tri mengambil, membuka gulungan, dan membaca isinya.

Nyai Demang dan Adik Tri,

Kiranya persembahan tak seberapa ini bisa menyenangkan hati, sebagai pelengkap pada pesta Raja, puncak pertarungan yang Kakang ingin lihat bagaimana kemenangan Keraton yang kita bektii selama ini


Gendhuk Tri menyerahkan kepada Nyai Demang, kemudian bersila seperti sediakala. Menyembah. “Maafkan hamba, Tuan Putri. Hantaran kami terima dengan rasa syukur. Semoga Dewa melindungi Tuan Putri dan menyampaikan rasa terima kasih ini kepada Raja Turkana. Harap Tuan Putri berhati-hati selama dalam perjalanan.”

Nyai Demang menahan napas. Sampai rombongan Putri Tunggadewi berlalu. Barulah kemudian menanyakan kepada Gendhuk Tri. “Apa maksudmu, Jagattri?”

“Saya terlalu berprasangka yang bukan-bukan. Maaf, Nyai….”

“Sekarang saya yang berprasangka.”

“Nyai keliru. Ini memang dari Kakang Upasara Wulung. Kakang tidak ingin melihat kita datang sebagai orang ucul, orang yang tidak keruan, dan membuat puncak pesta menjadi kurang bercahaya.”

Nyai Demang makin tidak mengerti. Barulah ketika berada di ruangnya sendiri, Gendhuk Tri masuk sambil membawa dua dayang. Yang segera ditotok uratnya, diletakkan di pembaringan. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Gendhuk Tri menukar pakaiannya dengan pakaian dayang. Kemudian berjalan ke luar bersama Nyai Demang yang juga menyamar.

Lepas dari benteng Keraton, Gendhuk Tri terus menuju sisi barat, hingga ke tengah daerah yang masih lebat pepohonannya. Gendhuk Tri bahkan mengitari tempat sekitar untuk meyakinkan diri bahwa suasana cukup aman.

“Nyai, keadaan sangat gawat. Kita tak bisa bergerak secara leluasa. Semua dinding di sana dipasangi kuping dan mata. Banyak kejadian aneh yang rasanya tak masuk akal. Pertama, kemunculan Putri Tunggadewi. Yang rasanya kurang masuk akal menjadi pengantar kiriman Raja Turkana.”

“Jagattri, anakku, kamu pun akan mengenalnya. Yang kita temui tadi adalah Putri Tunggadewi, dan bukan orang lain. Percayalah.”

“Saya percaya, Nyai. Yang tidak saya percaya apakah benar Kakang Upasara yang menyuruh. Apakah yang ditemui Putri Tunggadewi benar-benar Kakang Upasara, atau seseorang yang menyaru sebagai Kakang Upasara. Karena banyak kejanggalan di sini. Seumur-umur rasanya Kakang Upasara tidak pernah menulis nawala, atau surat. Kedua, dari mana Kakang mengetahui saya bersama Nyai? Dari kemampuan Merogoh Sukma Sejati? Nanti dulu. Ketiga, hantaran permata itu tidak biasanya. Itu hanya berlaku di antara sesama raja atau bangsawan tingkat tinggi. Ini berarti ada yang berbuat sesuatu, di balik rencana sesuatu yang terlihat. Nyai mengerti?”

“Dengan mudah. Saya memujimu bahwa kamu bisa menunjukkan seolah tidak percaya, kemudian mempercayai. Tapi kalau benar begitu, Keraton sedang dalam bahaya.”

“Saya tidak pasti mengenai hal itu, Nyai. Yang jelas ada yang mempergunakan kepolosan Putri Tunggadewi untuk memainkan intrik.”

“Alangkah beraninya mereka memakai nama Adimas Upasara untuk menulis nawala.”

“Berarti…” Wajah Nyai Demang pias.

“Berarti gaya tulisan Kakang bisa ditiru dan dipalsukan. Kalau benar begitu, Kakang pun sekarang berada dalam bahaya. Atau sekurangnya tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Menjadi pertanyaan besar, siapa tokoh yang menculik Putri Tunggadewi, siapa tokoh yang menyaru sebagai Kakang ketika ditemui Putri Tunggadewi, dan apa di balik rencana ini semua?”

Nyai Demang menggigit bibirnya. “Sungguh luar biasa. Permainan yang sangat rumit. Kalau tidak dari semula saya bertemu denganmu, rasanya saya tak bisa percaya kamu tetap Gendhuk Tri yang dulu.”

Gendhuk Tri memiringkan kepalanya. Meyakinkan diri bahwa situasi sekitar tetap aman. “Nyai, perhitungan saya bisa benar bisa keliru. Yang Nyai temui barangkali bukan Kakang Upasara.”

“Tak mungkin. Mana mungkin saya begitu tolol? Mana mungkin ucapannya yang hanya mungkin diucapkan olehnya bisa ditiru?”

Wajah Gendhuk Tri mengeras. Matanya menyipit. Rahangnya kaku. “Saya mempunyai pertimbangan begitu. Belum jelas benar bagaimana dan apa, tetapi agaknya mengarah ke arah itu. Tapi kita lupakan itu dulu. Pertanyaannya siapa yang sedang memainkan peranan untuk puncak pesta nanti?”

“Hanya satu manusia yang bisa berhati busuk, Halayudha.”

Gendhuk Tri memainkan bibirnya. Tidak mengangguk mengiyakan. “Halayudha memang menjijikkan, akan tetapi permainan dengan menculik dua putri Permaisuri Rajapatni pasti tak akan dilakukannya. Tokoh yang disebut-sebut Putri Tunggadewi yang tak pernah dikenal dan tak dimengerti bahasanya, pastilah yang sekarang ikut memainkan peranan.”

“Kira-kira siapa dia?”

“Saya masih gelap.”

“Sejak Halayudha menjadi mahapatih, banyak sekali senopati yang bulunya sama dengannya berkumpul, sehingga susah ditebak. Akan tetapi mengingat ini perhitungan tingkat tinggi, rasa-rasanya bukan lagi tingkat para senopati. Raja tak akan begitu saja merestui atau turut terlibat secara langsung. Siapa yang tiba-tiba bisa begitu dekat dengan Raja?”

“Kiai Sambartaka?”

“Kiai Kiamat itu memang sakti dan licik, sehingga Eyang Sepuh pun bisa diakali. Akan tetapi rasanya Raja yang begitu memihak pendeta Syangka tak akan terpikat begitu saja.”

“Apa rencana Nyai?”

“Saya akan menemui Adimas. Untuk melihat kenyataan apa yang terjadi, guna melihat lebih jauh. Dengan membawa sebagian hantaran balik, rasanya telinga dan mata yang berada di tempat kita tak akan curiga lebih banyak.”

“Itu lebih baik, Nyai. Kita harus berbuat seolah-olah kita mencurigai sesuatu, dan itu kita tunjukkan, sementara yang kita curigai sebenarnya hal lain. Kita jadikan tempat ini sebagai tempat pertemuan. Di luar ini, kalaupun kita bertemu dan berbicara, adalah mengenai yang semu. Mengenai kemungkinan adanya pertarungan pada pesta puncak nanti. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, mulai saat ini kalau kita kemari dan kembali lagi tak perlu berbarengan.”

Kapiswara Kapila
USAHA Nyai Demang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang bergolak di Keraton seperti menemui ruangan kosong. Tak ada yang bisa ditemui, tak ada gema dari teriakannya. Ketika berusaha menemui Upasara dan Ratu Ayu di peristirahatan para raja amancanegara, raja dari seberang, tak menemui hasil.

Pagi hari ia datang dengan alasan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Upasara, yang menemui hanya penjaga. Yang mengatakan bahwa Upasara serta Ratu Ayu dipanggil menghadap Raja. Kalaupun Nyai Demang meninggalkan pesan, agar sekembalinya nanti dirinya dihubungi, sia-sia saja. Dua kali Nyai Demang berusaha menemui Pangeran Jenang, jawabannya sama saja. Sedang dipanggil Raja.

Ini menimbulkan tanda tanya. Juga ketika berusaha menuju kaputren dan mengatakan bahwa ada barang yang dibawa Putri Tunggadewi tertinggal, jawabannya sama. Barang bisa dititipkan untuk disampaikan, tetapi Putri Tunggadewi tak bisa menemui karena sedang dipanggil Raja. Nyai Demang tak bisa dihentikan dengan cara itu. Bahkan memakai cara itu untuk pendekatan.

Sekali lagi ia datang ke Keraton, dan mengatakan bahwa dirinya dipanggil menghadap Raja. Nyai Demang dibawa menghadap Senopati Jabung Krewes. Yang menemui dengan pandangan ramah, sumanak, bersahabat.

“Sungguh besar niat Nyai Demang yang kesohor untuk menemui Raja. Nyai, saya adalah senopati yang bertugas menyampaikan perintah Raja, dan selama ini tak ada nama yang disebutkan untuk diperkenankan menghadap.”

“Senopati Jabung Krewes, saya menerima panggilan yang sama dengan Raja Turkana, dengan Pangeran Jenang, dengan Putri Tunggadewi. Mungkinkah prajurit kawal pribadi keliru menyampaikan undangan?”

“Saya mendengar itu, Nyai. Akan tetapi sejauh ini belum ada yang dipanggil Raja.”

“Barangkali Raja men-dawuh-kan, memerintahkan, panggilan tidak melalui Senopati Jabung Krewes."

“Mungkin saja. Kenapa Nyai tidak berusaha menemui prajurit kawal dan menanyakan secara jelas?” Ada nada tulus dan mengatakan apa adanya.

“Barangkali lewat Mahapatih Halayudha.”

“Silakan Nyai menemuinya.”

“Terima kasih, Senopati Jabung Krewes. Senopati telah berlaku baik sekali.”

“Saya hanya menjalankan tugas, Nyai.”

“Maaf, Senopati. Agaknya tugas Senopati menjelang pesta puncak nanti sangat berat.”

“Bukankah itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyai?”

Nyai Demang memperoleh kesan bahwa Senopati Jabung Krewes, senopati yang mendapat tugas istimewa mendampingi Raja, juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres di Keraton. Ia juga mendengar bahwa ada kabar beberapa orang menghadap Raja. Akan tetapi sebagai petugas di bidang itu, Senopati Jabung Krewes tidak mengetahui. Namun itu tidak diutarakan dengan kata-kata. Rasa herannya ditutupi dengan sifat pengabdiannya.

Nyai Demang memutar langkah menuju kepatihan. Sekarang saatnya menemui Mahapatih Halayudha. Biar bagaimanapun, tak ada pilihan lain untuk tidak mencari tahu dari Halayudha. Akan tetapi jawaban dari para prajurit yang ditemui ternyata sama saja. Raja sedang memanggil Mahapatih. Bahkan dari Senopati Bango Tontong, orang kedua di kepatihan, jawabannya sama saja.

“Saya tahu Nyai mendapat undangan khusus dari Raja untuk menghadiri pesta puncak nanti. Itu sebabnya saya menghormati dan menjawab sebisanya. Meskipun Nyai kelihatan tidak puas.”

“Senopati Bango Tontong pasti mengetahui ketidakpuasan saya. Rasanya makin lama makin aneh.”

“Tak ada yang aneh, Nyai.”

“Dalam keadaan seperti ini, mestinya Senopati perlu menggalang kekuatan. Saya bisa menjadi salah seorang di antaranya.”

Nyai Demang membuka kartu. Membuka telapak tangannya, menawarkan diri untuk bekerja sama. Sesuatu yang tak akan dilakukan jika situasinya tidak penuh tanda tanya seperti sekarang ini.

“Dengan senang hati, Nyai. Tapi bagaimana kami bisa menerima uluran tangan Nyai, kalau kami tidak tahu mana yang kapila, mana yang kapisa, mana yang kapiswara, mana yang kapindra? Bukankah lebih baik kapineng kapirangu?”

Ini jawaban yang lebih jelas. Tapi juga tak menerangkan apa-apa. Selama ini beredar kabar bahwa Senopati Bango Tontong adalah senopati yang kelewat julig, pintar tapi membahayakan. Pintar, karena dalam waktu singkat menduduki posisi kunci yang menentukan sebagai pemimpin barisan penjaga ketertiban dan keamanan. Membahayakan, karena sulit diketahui pasti angin mana yang menggerakkan.

Sebagai orang kedua di kepatihan, Senopati Bango Tontong sekaligus merupakan orang kepercayaan Mahapatih Halayudha. Namun juga tak dipungkiri bahwa senopati berkaki panjang ini dengan sengaja dan terbuka mengumpulkan para ksatria yang tangguh untuk diajak bergabung dengannya, berada di payung kebesarannya. Caranya memilih prajurit yang langsung berada di bawah komandonya menunjukkan secara gamblang mengenai hal ini.

Dengan mengucapkan kata-kata itu, Senopati Bango Tontong mengakui bahwa sebenarnya di Keraton sedang berkembang sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dikuasai oleh satu atau dua tokoh. Apa pun jabatan dan pangkatnya. Dengan mengatakan susah membedakan antara kapisa, yang berarti merah tua mendekati cokelat warna batu bata, dengan kapila atau merah muda, berarti tipis sekali perbedaan antara kelompok yang mendukungnya dan kelompok yang tidak mendukungnya.

Lebih jelas lagi ketika mengatakan mana yang kapindra dan mana yang kapiswara. Dua-duanya mempunyai arti yang sama, yaitu raja kera. Dengan tersamar, Senopati Bango Tontong ingin mengatakan bahwa semuanya seakan ingin menjadi “raja kera”, menjadi raja kecil-kecilan, yang lagi-lagi susah dibedakan antara kelompok di mana ia bergabung. Dan jalan keluarnya adalah dengan kapineng, berdiam diri, dalam keadaan kapirangu atau bimbang. Dengan kata lain, karena sedang bimbang tak menentu, lebih baik berdiam diri untuk menanti situasi yang lebih terang.

Nyai Demang tak menduga bahwa Senopati Bango Tontong akan mengutarakan hal itu. Tadinya ia menyangka bahwa Senopati Jabung Krewes yang lebih mungkin untuk menjawab dan menjelaskan. Karena sebenarnya yang terjepit adalah posisinya. Kalau benar begitu, sekarang keadaan benar-benar tak menentu. Tak jelas siapa yang harus dipegang kata-katanya. Pada tingkat senopati, terjadi kekisruhan, keruwetan, dan masih terjadi tebak-menebak akan situasi yang sebenarnya. Nyai Demang menyampaikan pendapatnya ini di tempat pertemuan biasanya dengan Gendhuk Tri, yang juga mengalami hal yang sama.

“Biasanya kamu bisa berpikir cemerlang, Anak Jagattri.”

Gendhuk Tri menggeleng. “Justru sebaliknya, Nyai. Nyai-lah yang paling hafal dan mengenal liku-liku intrik di Keraton. Mengetahui hubungan satu dengan yang lainnya. Saya sama sekali buta mengenai tata krama hubungan para senopati, bahkan juga dengan para prajurit.”

“Sejauh saya tahu, Raja sengaja membiarkan suasana menjadi mengambang. Semua kegelisahan, semua kecemasan sedang dipancing untuk muncul ke permukaan, dan dengan demikian menjadi jelas, mana yang perlu diambil, perlu dibuang, atau didiamkan. Sekarang ini saja para senopati satu dengan lainnya memberikan keterangan yang berbeda. Tampil dengan kekuasaannya sendiri-sendiri.”

“Barangkali satu-satunya jalan adalah menerobos lewat Permaisuri Praba Raga Karana.”

“Saya mempunyai jalan pikiran yang sama. Saya melihat bahwa tinggal Permaisuri Praba yang konon menerima wahyu sukma sejati, yang bisa berkata dengan tenang dan wajar. Bisa berbuat, bertindak, tanpa dipengaruhi taktik tertentu. Meskipun agaknya kita juga harus bersiaga. Karena Permaisuri Praba Raga Karana sekarang ini bukan yang dulu. Yang lebih suka menjadi gendhak, lebih suka menjadi selir Raja dan tak perlu tampil sendiri. Namun, itu satu-satunya jalan. Dua hari lagi kita bertemu di sini, anakku.”

Akan tetapi ketika Nyai Demang datang dua hari kemudian, tak ada bayangan Gendhuk Tri. Yang ada hanya guratan di kulit pohon, yang berbunyi bahwa dirinya sedang dipanggil menghadap Raja. Itulah gila!

Panggilan Raja
BENAR-BENAR tak bisa dimengerti. Bagaimana mungkin Gendhuk Tri mengguratkan itu di pohon untuk memberitahukan bahwa dirinya tak bisa menemui karena dipanggil Raja. Karena kalau hanya soal itu, sebenarnya bisa dikatakan di rumah! Karena mereka toh selalu bersama. Sekuatir apa pun, rasanya kalau hanya menyampaikan isyarat itu tetap bisa dilakukan.

Yang tidak diketahui Nyai Demang adalah bahwa Gendhuk Tri yang datang lebih dulu telah membaca guratan itu dan segera berlalu. Gendhuk Tri sedikit lebih cerdik. Mengguratkan goresan di kulit pohon merupakan perbuatan yang sangat mencolok. Nyai Demang tak mungkin melakukan itu. Gendhuk Tri bisa melihat bahwa di situ tak ada petunjuk bahwa tulisan itu dibuat oleh Nyai Demang. Berarti memang pengguratnya sudah menyiapkan bahwa dengan sekali menulis, baik Nyai Demang maupun Gendhuk Tri akan sama-sama terkabari.

Dalam hati Gendhuk Tri menertawakan cara yang terlalu dungu untuk dikenali. Bukankah dengan cara itu ia bisa segera mengetahui kebenaran yang sesungguhnya? Karena dalam waktu singkat ia akan bertemu dengan Nyai Demang. Ataukah pengguratnya hanya ingin memperlihatkan bahwa ia mengetahui adanya pertemuan di situ? Diam-diam keringat dingin Gendhuk Tri merembes ke kulit tangannya. Ini luar biasa. Gerak-geriknya yang paling kecil pun telah diketahui. Tanpa jelas siapa yang mengetahuinya!

Lebih dari itu, Gendhuk Tri kuatir Nyai Demang bisa-bisa berada dalam bahaya. Kalau benar dugaannya bahwa guratan di pohon itu hanyalah jebakan belaka, berarti memang Nyai Demang yang akan diamankan. Atau dirinya! Berpikir begitu, Gendhuk Tri berusaha tenang. Bersikap wajar. Selesai membaca guratan di pohon, Gendhuk Tri segera kembali ke tempatnya. Sambil mengerahkan kemampuannya meneliti keadaan sekitar, kalau-kalau ada tarikan napas yang mencurigakan.

Tapi tak ada yang lain. Daun, pohon, cabang, seakan tak berubah. Tak menyembunyikan apa-apa. Gendhuk Tri sedikit mengambil jalan berputar. Begitu keluar dari pepohonan, ia berbalik dan mengawasi. Benar saja, saat itu Nyai Demang muncul, berkelebat menuju ke tempat pertemuan. Gendhuk Tri menunggu beberapa saat, mengamati apakah keadaan benar-benar aman. Baru kemudian menyusul secara mengendap-endap.

Ilmu mengentengkan tubuhnya belum mencapai tingkat yang sempurna, akan tetapi Gendhuk Tri bisa bergerak gesit tanpa menabrak cabang atau ranting pepohonan. Paling hanya kesiuran angin. Tapi Gendhuk Tri kecele. Benar-benar kecolongan. Ketika sampai di tempat pertemuan, tak ada bayangan Nyai Demang. Padahal tadi jelas dilihat dengan mata kepala sendiri bahwa Nyai Demang menuju ke arah tempat pertemuan. Ia menyusul hanya selang beberapa saat.

Kalaupun ada kejadian tertentu, pastilah dirinya bisa mengetahui. Tak mungkin tanpa suara, tanpa sentuhan apa-apa. Itu luar biasa. Nyai Demang seolah ditelan bumi. Gendhuk Tri tak bisa lama-lama bersembunyi. Ia keluar dari persembunyian, mengitari keliling, kemudian meninggalkan tempat itu. Keluar dari hutan pepohonan. Gendhuk Tri merasa dirinya cerdik, akan tetapi ternyata telah selangkah kalah cerdik! Dari Halayudha!

Yang ketika Nyai Demang berdiri ragu, Halayudha segera menerkamnya. Benar-benar menerkam karena melayang dari pohon, menggulung Nyai Demang dengan tebaran kain yang dililitkan, dan kemudian meloncat kembali ke pohon. Bersembunyi di antara kelebatan daun. Yang tidak dilihat Gendhuk Tri. Karena tak menduga. Halayudha menunggu beberapa saat, sampai merasa bahwa Gendhuk Tri memang tak kembali lagi. Baru kemudian melayang turun sambil membawa tubuh Nyai Demang yang terbungkus kain.

“Nyai, jangan banyak bergerak, karena setiap kali bergerak hanya akan menambah rasa sakit yang tak terhingga. Jari saya yang kutung ini telah memencet nadi Nyai. Mulai sekarang, Nyai hanya akan mendengar apa yang saya katakan.”

Nyai Demang merasakan langsung kebenaran kata-kata Halayudha. Rasa sakit itu terutama sekali mendenyut di kepalanya. Bahkan tarikan napas yang sedikit keras, bisa membuat nyut-nyut di ubun-ubunnya makin menggigit. Sehingga hanya bisa pasrah. Menyerah dibopong Halayudha. Karena tertutup kain, Nyai Demang tak tahu dibawa ke mana. Hanya kemudian ia sadar dirinya berada di ruangan yang tertutup. Halayudha menusuk kaki Nyai Demang.

“Saya kurangi tekanan nadi otak Nyai. Hanya sebagian. Hanya sekadar untuk sedikit berpikir, bergerak, tapi tak bisa lebih. Apakah saya akan melepaskan semua atau sebaliknya, rasa-rasanya tergantung nasib.”

Nyai Demang mundur setindak. Pandangannya keras. “Halayudha, sejak menjadi mahapatih, kekejianmu makin bertambah.”

“Itu artinya saya menemukan kemajuan,” jawab Halayudha dingin. “Nyai, saya tak mempunyai waktu banyak untuk menjelaskan keterangan yang tak perlu. Saya hanya mengharapkan Nyai bersedia mengajari saya mengenai tata krama, tata bahasa, ucapan, dan huruf-huruf dari Tartar.”

“Dengan cara seperti ini? Halayudha, bagaimana kalau saya menolak?”

“Tidak apa. Nyai, Nyai tahu bahwa saya orang yang licik, yang berusaha memenangkan diri sendiri dengan cara mengalahkan lawan atau kawan. Saya tak mempunyai ikatan tata krama seperti kalian para ksatria. Saya mempunyai cara dan jalan sendiri. Sekarang saya ingin mempelajari segala sesuatu yang menyangkut Tartar. Itu harus terlaksana.”

Nyai Demang mengertakkan giginya. “Seumur hidup saya tidak pernah menemukan manusia sepertimu, Halayudha. Begitu gagah mengakui keculasan dan begitu yakin meneruskan langkah kehinaan.”

“Nyai tak akan menemukan sampai turunan yang kapan pun. Bukankah itu berarti saya hebat? Bukankah saya mampu memegang jabatan yang tak akan pernah diimpikan senopati mana pun? Bukankah hanya ada satu mahapatih di seluruh Keraton?”

“Kalau saya menolak?”

“Itu namanya nasib. Nasib bahwa saya harus mencari jalan agar Nyai pada akhirnya akan mengajari saya.”

“Kita coba saja, apakah usahamu berhasil.”

Halayudha tersenyum dingin. “Saya tahu siapa Nyai. Kalau saya paksa, akan sulit berhasil. Kalau saya telanjangi Nyai sekarang ini, saya cukur gundul semua bulu tubuh Nyai, belum tentu Nyai mau menyerah. Kalau saya tawari pangkat dan derajat, belum tentu berhasil. Kalau saya berikan kesempatan untuk keselamatan Upasara, belum tentu percaya. Kalau saya sampaikan ini demi keselamatan Keraton, masyarakat Majapahit, seluruhnya, Nyai belum tentu percaya saya melakukan tindakan mulia itu. Satu-satunya jalan adalah meminta kerelaan Nyai mengajari dengan benar.”

“Kalau saya menolak?”

“Saya bisa memaksa Nyai. Saya akan memaksa di luar kekuatan Nyai. Nyai Demang lebih mengetahui hal ini karena Nyai pernah ketitipan tubuh Kebo Berune. Di mana kuasa tenaga dalam Kebo Berune sepenuhnya menguasai Nyai, sehingga Nyai tanpa menyadari membawa mayat Kebo Berune ke mana-mana. Saya bisa memaksa dengan cara itu, tanpa menjadi mati lebih dulu. Nyai tahu persis hal itu.”

“Penguasaan macam apa, Halayudha?”

“Penguasaan kekuatan sukma sejati.”

“Ooo. Seperti yang kamu lakukan atas Putri Tunggadewi?”

“Nyai lebih tahu contoh nyata. Apakah Nyai masih ragu?”

Tiga Laku Utama
HALAYUDHA melihat Nyai Demang mengangkat alis dengan tenang. “Saya masih ragu. Kalau kamu bisa melakukan dengan cara itu, kenapa tidak begitu saja? Tanpa perlu tanya-jawab seperti ini? Halayudha, Mahapatih Halayudha yang terhormat, adalah bukan sifat dan kelakuanmu untuk memilih jalan damai seperti ini kalau ada cara lain.”

“Nyai benar. Saya bisa menggunakan kekuatan sukma sejati untuk memaksa Nyai Demang melakukan apa yang saya inginkan. Maaf, dalam hal ini mengajari tata krama budaya Tartar. Saya bisa mempengaruhi Nyai, seperti saya menghadirkan Putri Tunggadewi seolah ia utusan Upasara Wulung. Baiklah, saya katakan terus terang. Pertama, pastilah Nyai ingin mengetahui perihal Putri Tunggadewi. Kedua, kenapa saya mendadak keraya-raya, sangat berharap dan penuh keinginan mengetahui tata krama budaya Tartar. Ketiga, kenapa saya tidak langsung memaksa Nyai. Keempat, adalah kesimpulan yang akan Nyai peroleh. Saya akan menjelaskan seadanya, karena saya sadar berhadapan dengan seorang yang luas jangkauan pikirannya, bisa menemukan cepat kalau saya berusaha menyembunyikan sesuatu. Nyai Demang. Saya akan mulai dengan yang pertama. Putri Tunggadewi menjadi bahan pembicaraan utama ketika lolos dari kaputren. Seolah ada yang menculik. Tertuduh pertama adalah Ratu Ayu Bawah Langit yang bertindak atas nama Upasara Wulung. Terus terang saya setuju kesimpulan itu. Sekurangnya itu alasan yang masuk akal, dan Raja bisa menerima. Nyatanya begitu. Ternyata tidak sesederhana itu. Tunggadewi, maaf Nyai, Putri Tunggadewi murca, hilang dari kaputren bukan karena siapa-siapa, melainkan karena kehendak Raja sendiri. Raja Jayanegara tidak seperti yang diduga semua orang atau semua Dewa, memiliki keunggulan penguasaan atas Keraton. Raja Jayanegara bukan bayi yang dimahkotai, seperti kesan kita selama ini. Beliau mampu menghimpun, menyatukan, memecah, mengadu, sehingga dalam situasi yang gawat, semua tergantung pada telapak kakinya. Dalam persoalan Tunggadewi… Putri Tunggadewi, beliau memainkan kehebatannya. Saya, Mahapatih Utama dan satu-satunya, dibiarkan menggelepar, ketakutan, mengarang kabar, memperlihatkan ketotolan dengan mengatakan bahwa Putri Tunggadewi diculik Ratu Ayu. Dengan memunculkan lagi Tunggadewi, beliau ingin memperlihatkan kepada saya bahwa saya hanyalah alas kaki yang busuk dan tidak bisa dipercaya. Beliau sengaja memunculkan Tunggadewi untuk memperlihatkan kekuasaan, kebesarannya. Saya memilih jalan lain. Nyai boleh mengatakan ini pembelaan diri, ini balas dendam, atau apa saja. Saya menemui Tunggadewi dan berusaha mengetahui keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi Tunggadewi menolak dan mengurung diri dengan linangan air mata. Nyai mengetahui bahwa hilang dan munculnya Tunggadewi bukan semata-mata perbuatan untuk menyenangkan. Bukan permainan biasa. Di dalamnya terkandung niatan Raja untuk mempermalukan saya. Untuk mengatakan bahwa saya tidak ada artinya. Saya memilih cara lain untuk memukul balik. Dengan kemampuan menghimpun kekuatan sukma sejati, saya memaksa sukma Tunggadewi menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah apa yang diceritakan kepada Nyai dan Gendhuk Tri. Bahwa Raja yang menculik Tunggadewi. Bahwa ada perbuatan hina yang tengah terjadi. Karena saya tidak melihat kemungkinan untuk melawan langsung kepada Raja, saya memilih menampilkan Tunggadewi kepada Upasara Wulung. Tokoh sakti mandraguna yang disegani siapa pun. Akan tetapi usaha ini sia-sia. Upasara Wulung sama sekali tak mau menemui. Atau tak bisa ditemui. Jalan satu-satunya adalah memancing lewat Nyai dan Gendhuk Tri. Hanya kalian berdua yang akan didengar Upasara Wulung secara jernih. Itu sebabnya saya mengirimkan Tunggadewi, seolah utusan Upasara Wulung. Dengan harapan Nyai dan Gendhuk Tri curiga, lalu mencari tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Nyatanya begitu.”

“Sebentar, Halayudha. Kalau Putri Tunggadewi tidak bertemu dengan Adimas Upasara, bagaimana mungkin ia berbicara seolah-olah…”

JILID 55BUKU PERTAMAJILID 57