Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 55

Suara itu berasal dari pondok yang berjarak tiga rumah dari tempat yang didiami Nyai Demang.Bukan dari tempat yang terlalu jauh, bukan dari penembang yang menyembunyikan diri. Ternyata pula yang menembangkan adalah seorang lelaki yang punggungnya menghadap ke arah pintu, yang duduk bersila tak bergerak. Seakan tidak mendengar langkah kaki Nyai Demang maupun Gendhuk Tri.

Atau tengah tenggelam dalam tembangannya, karena mengulang lagi dari depan. Terutama tiga baris yang pertama, yang diulang kembali dua kali. Baru kemudian terbatuk. Menoleh ke belakang. Ki Dalang Memeling. Gendhuk Tri tak nyana bahwa yang menembangkan adalah Ki Dalang Memeling!

Pantas saja suaranya begitu enak didengar, begitu mengalun seperti meniti udara. Bukan hal yang berlebihan kalau Gendhuk Tri menduga suara Nyai Demang. Dan sebaliknya! Tapi Ki Dalang? Wajah tua yang berkerut.

“Kenapa kamu menangis?”

Gendhuk Tri mendekat. Duduk di sebelahnya. Bersila. Nyai Demang sedikit di belakang.

“Paman Dalang juga menangis.”

“Tidak. Ini hanya titik air masa lalu. Suara masa lalu. Saya selalu mendengar kembali suara masa lalu kalau akan mendalang. Kalian akan menonton permainan wayang?”

Gendhuk Tri mengangguk. “Lebih dari itu, saya ingin Paman Dalang menembang. Seperti tadi. Rasanya saya pernah mendengar tembangan itu.”

“Sangat mungkin. Setiap kali akan mendalang, saya menembang itu. Di Gua Kencana, di Kedung Dawa, kalian pernah mendengarkan.”

Memang itulah pertama kalinya Gendhuk Tri dan Nyai Demang berkenalan dengan nama Ki Dalang Memeling. Lebih dari itu, bahkan dalam adegan mendalang, Ki Dalang seolah menyelipkan percakapan yang seolah ditujukan kepada mereka berdua. Itu termasuk luar biasa. Apalagi Ki Dalang bisa memainkan wayang dengan cara luar biasa. Membuat wayang keluar sendiri dari kotak, berada di tengah penonton. Atau melayang ke balik layar. Namun…

“Paman Dalang, apakah tembangan itu merupakan tembangan wajib semua dalang sebelum manggung?”

“Saya tahu arah pertanyaan kalian. Sejak pertama saya melihat gerakanmu, saya mengenalmu. Saya mengajak bicara dengan kekuatan batin saya. Tetapi tak bunyi. Saya menembang, tapi kamu tak mendengar. Tetapi itu hanya soal waktu. Sekarang kamu bisa mendengar. Begitu panjang waktu yang dilalui untuk menjadi masa lalu. Seakan baru saja terjadi beberapa kejap yang lalu. Selendangmu masih warna-warni. Tanganmu masih menari seperti ketika merangkai gagang daun singkong sebagai kalung.”

“Paman mengenal Bibi Jagaddhita?”

“Nama bisa berubah. Tubuh bisa menjadi tua. Namun tembang masih selalu sama. Bibimu itu masih mendendangkan tembang dolanan itu?”

“Masih. Dan selalu, setiap kali akan bertarung.”

Ki Dalang Memeling mengelus kepala Gendhuk Tri. Menyentuh pundak Nyai Demang. Terasa kegenitan dan kejailan ketika mengelus dan menyentuh, akan tetapi Nyai Demang menganggap sebagai sesuatu yang lumrah. Gaya seorang dalang memang dekat dengan kegenitan.

“Barangkali itu kebetulan belaka. Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya mengenal si Bawuk. Kami bermain bersama, membuat sungai, membuat kalung, dan menyanyi. Saya tidak tahu apakah saya mencintainya, atau si Bawuk mencintai saya atau tidak. Kami masih terlalu kanak-kanak. Kami masih bermain bersama dengan telanjang. Kami membuat sungai dari air kencing. Tak ada yang istimewa. Seperti semua kanak-kanak mengalami. Yang istimewa, karena itu satu-satunya masa lalu yang selalu terdengar, yang masih mengiang, dan tidak terlalu keliru kalau dikenang. Atau muncul dengan sendirinya. Si Bawuk mengikuti panggilan Keraton, menjadi penari, sebelum akhirnya diam-diam dilatih Mpu Raganata, pendeta yang tiada tandingannya. Saya mendengar kemudian dari mulut yang lain, dari telinga yang lain. Barangkali si Bawuk adalah Jagaddhita. Barangkali juga yang lainnya. Terlalu banyak kemungkinan gadis lain menembangkan lagu dolanan yang menjadi milik semua anak. Saya mengenang dengan senang hati. Tanpa dendam, tanpa penyesalan, tanpa rasa ingin tahu. Berbeda dengan Senopati Agung Brahma yang mendengar masa lalu dengan gelisah.”

Nyai Demang berdeham kecil. Apakah Paman Dalang tidak pernah bertemu lagi dengan Bibi Jagaddhita untuk meyakinkan apakah Bibi adalah si Bawuk yang ketika bermain bersama Paman membuat sungai?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak, Paman?”

“Ya… tidak saja.”

Nyai Demang menjilat bibirnya. Suara Ki Dalang Memeling terasa sedikit mengganjal.

“Paman, Paman Dalang mengetahui si Bawuk teman main masa kanak-kanak diambil untuk nyuwita, untuk mengabdi ke Keraton, sebagai penari atau pesinden. Apakah tidak ada keinginan Paman untuk juga mengabdi ke Keraton?”

“Tidak.”

“Paman Dalang tidak ingin menjadi prajurit?”

“Tidak.”

“Apa yang Paman lakukan?”

“Saya menjadi dalang.”

Nyai Demang tertawa lebar. Baru kemudian tangannya menutupi mulutnya. Kepalanya menggeleng. “Paman… Paman... Paman mengatakan suara masa lalu tak membuat gelisah. Tapi kenapa Paman mendustai diri? Paman menjadi dalang bukan sejak kecil. Bahkan rasanya setelah cukup umur. Setelah menangkap kegelisahan dan tak bisa menghilangkan begitu saja. Paman berusaha menghilangkan ciri Paman. Berubah sebagai dalang.”

“Sama sekali tidak.”

“Paman mempunyai dasar-dasar ilmu silat Kitab Bumi yang resmi menjadi ajaran Keraton. Bukan Kitab Bumi yang dipelajari sebelum menjadi ajaran resmi. Itu hanya mungkin kalau Paman Dalang dulunya prajurit, senopati Keraton Singasari.”

Dalang Meniup Sukma
KI DALANG MEMELING menyingkirkan anglo, tempat perapian, yang dupanya telah mati. Beberapa kali Ki Dalang mencoba meniup, akan tetapi tak ada sisa bara sabut di dalamnya. Telapak tangannya membersihkan lantai kayu. Nyai Demang mengelus rambutnya. Gendhuk Tri menahan keinginannya untuk bertanya.

“Maaf, Paman Dalang…”

Suara Nyai Demang dipenuhi keharuan dan rasa bersalah. Ia sadar bahwa setiap kali membuka masa lalu seseorang, setiap kali pula ada bagian yang menyayat. Seakan ada luka lama yang kelihatannya telah kering terkoyak kembali. Nyai Demang sendiri mengalami dalam hidupnya. Nyai Demang bisa melihat jelas perbedaan antara Kitab Bumi yang menjadi ajaran resmi, dengan ketika masih dikenal sebagai Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Yang selintas seperti tak ada bedanya, kecuali penambahan Delapan Jurus Penolak Bumi.

Akan tetapi Nyai Demang termasuk salah satu dari yang sangat sedikit menekuni berbagai kitab. Kemampuan pujasastra dan penguasaan bahasa boleh dikatakan tidak ada tandingannya. Sehingga dengan jelas bisa membaca perbedaan antara Kitab Bumi sebelum dan sesudah dijadikan ajaran resmi Keraton. Dan itulah yang dikatakan. Itulah yang mengena.

Gendhuk Tri sendiri bisa merasakan arah pertanyaan Nyai Demang. Kalau benar dulunya Paman Dalang adalah teman kanak-kanak si Bawuk yang kemudian menjadi penari Keraton, pastilah Paman Dalang ini juga melakukan hal yang sama. Mengabdi ke Keraton. Sebagai prajurit, atau bahkan sebagai senopati. Hal yang sangat wajar, sangat biasa-biasa saja. Akan tetapi Paman Dalang justru menolak anggapan itu.

Ini yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati. Bertanya-tanya karena Ki Dalang Memeling seperti menunjukkan adanya pertentangan perasaan. Di satu pihak, mengatakan bahwa suara masa lampau tidak menimbulkan kegelisahan. Tetapi di lain pihak, ia menyembunyikan sesuatu. Di satu pihak ia membuka diri menceritakan si Bawuk, akan tetapi di lain pihak kemudian menutup dengan jawaban serba tidak.

“Paman Dalang…”

“Nyai Demang, pandanganmu tajam. Sangat tajam. Belum pernah ada yang mengatakan itu pada saya. Tetapi Nyai keliru…”

“Paman Dalang, kenapa Paman memilih menjadi dalang? Karena Paman ingin menghidupkan kembali masa lalu. Mengangkat kembali, meniupkan sukma ke kulit kerbau untuk digerakkan menjadi hidup kembali. Mengembalikan ajaran masa lalu. Kenapa Paman memilih itu? Jawabannya sangat jelas. Karena budaya wayang yang adiluhur, karena Paman ingin menghidupkan kembali apa yang Paman lakukan dengan Bibi Jagaddhita ketika masih bermain bersama. Membuat kalung dari tangkai daun singkong, membuat sungai dengan air kencing, ketika Paman mendalang di depan si Bawuk dengan rumput sebagai wayang.”

“Apakah Nyai termasuk yang menguasai ilmu Merogoh Sukma Sejati yang sekarang jadi bahan pembicaraan ramai itu?”

Pertanyaan Ki Dalang sekaligus menunjukkan pengakuan bahwa tebakan Nyai Demang sama sekali tidak meleset. Gendhuk Tri melirik Nyai Demang dengan pandangan tajam. Bukan tidak mungkin, mengingat Nyai Demang pernah menyebut hal itu. Nyai Demang meletakkan telapak tangannya di lantai.

“Saya tidak mendapat kesempatan mempelajari ilmu yang sedang kondang sekarang ini. Saya tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Namun rasanya bukan sesuatu yang luar biasa, Paman. Sewaktu kecil saya juga mempunyai teman bermain. Saya juga membuat dan dibuatkan rangkaian kalung dari tangkai daun singkong. Membuat sungai dengan air kencing, dan anak laki-laki selalu bisa membuat lebih bagus. Membuat ulat dari tangkai daun pepaya yang ditumpuk dari bagian atas. Membuat kupu-kupu dari daun jati kering. Menganyam rumput, membentuk tokoh wayang dan memainkan. Seperti yang Paman katakan, semua anak bermain dengan cara yang sama. Barangkali hanya Adik Jagattri ini yang tak sempat, karena masa kanak-kanaknya dihabiskan dalam pertarungan. Kami semua mengalami masa yang sama dengan Paman. Hanya bedanya, Paman mempunyai kenangan yang manis. Hanya bedanya Paman bisa terus memainkan wayang dengan sangat baik. Sangat baik setelah Paman tidak lagi menjadi senopati.”

“Senopati?”

“Dengan kekuatan dan kemampuan Paman yang begitu hebat, apakah mungkin Paman berhenti sebagai prajurit biasa-biasa saja? Dengan penguasaan ilmu silat itu saja akan menempatkan jabatan yang tinggi. Apalagi di saat Sri Baginda Raja, kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar.”

“Tidak, tidak. Kamu keliru, Nyai. Saya bukan senopati, bukan prajurit. Tak ada yang pernah mendengar nama saya.”

Gendhuk Tri mengangguk membenarkan. Selama ini memang tak pernah terdengar nama atau ciri-ciri yang mengarah kepada Ki Dalang Memeling. Tapi Nyai Demang melanjutkan, “Kalau Paman ingin bukti lain, saya akan mengutarakan. Kita kembali ke zaman kejayaan Keraton ketika Sri Baginda Raja mengatur langit dan bumi. Kebesaran yang tiada tara dengan peresmian ajaran ilmu silat, dengan niatan Sri Baginda Raja menguasai seluruh lautan dan gunung. Saat itu semua ksatria, semua senopati yang terbaik, yang disegani, yang mengabdi kepada Keraton, menyimpan kebanggaan untuk menyebarkan ajaran Sri Baginda Raja. Dengan cara diangkat sebagai senopati, dan dikirimkan ke tanah seberang. Hanya di zaman Sri Baginda Raja begitu banyak senopati yang tidak berawal dari pengabdian sebagai prajurit. Hanya di zaman Sri Baginda Raja terjadi begitu banyak pergeseran pangkat dan jabatan dalam tata pemerintahan Keraton.”

Gendhuk Tri mengakui kebenaran kata-kata Nyai Demang. Sepenuhnya. Karena mahagurunya, Mpu Raganata, termasuk mahapatih sakti yang harus merelakan jabatan dan pangkatnya untuk diduduki orang lain. Yang menyebabkan Mpu Raganata mengembara dan melatih beberapa penari Keraton. Termasuk Jagaddhita. Termasuk dirinya. Makanya Gendhuk Tri mengangguk mantap. Hanya belum bisa menebak arah kalimat Nyai Demang.

“Kalau ada sepuluh senopati, saat itu delapan di antaranya dikirim ke tanah seberang. Satu tetap berada di Keraton, dan satu menyingkir.”

“Kamu mau mengatakan saya termasuk yang menyingkir itu, Nyai?”

“Tidak,” sekarang Nyai Demang yang menyebut dengan mantap. “Paman Dalang justru termasuk yang dikirim ke tanah seberang.”

“Saya tak pernah mengenal tanah lain selain tanah Jawa ini. Tak pernah melihat, tak pernah menyentuh.”

Nyai Demang menyembah. “Sekali lagi saya minta maaf, Paman Dalang. Saya tidak bermaksud menyelam ke dalam masa lalu Paman yang sengaja disembunyikan. Tidak ingin mengaduk masa silam yang sepenuhnya menjadi rahasia Paman. Maaf, Paman Dalang. Hanya karena tadi Paman menceritakan Bibi Jagaddhita, menceritakan kehidupannya, kesimpulan itu terangkat dengan sendiri. Maaf, kami mohon maaf.”

“Nyai boleh meminta maaf karena keliru.”

Nyai Demang menarik udara keras. Hatinya menjadi geram. Pandangannya sedikit tajam ketika menatap Ki Dalang Memeling. “Paman memaksa saya untuk mengatakan apa yang sekarang ini saya rasakan. Bahwa Paman sengaja menembangkan lagu dolanan anak-anak itu untuk menarik kami datang kemari. Akan tetapi begitu kami datang, Paman menutup diri. Kalaupun Paman Dalang dulunya senopati seberang yang kemudian menyembunyikan diri dan mengubah diri menjadi dalang, itu sepenuhnya urusan Paman pribadi. Tapi Paman tak bisa mengatakan saya keliru.”

“Kenyataannya memang begitu.”

Gendhuk Tri sadar bahwa pembicaraan berkembang ke arah urat leher yang tertarik lebih kencang. Dan tak bisa ditarik kembali. Karena suara Nyai Demang meninggi ketika berkata, “Kenapa Paman Dalang menyebutkan nama Senopati Agung Brahma? Satu-satunya nama yang Paman katakan.”

“Karena Senopati Agung Brahma yang menyembunyikan diri sebab takut mendengar suara masa lalu. Dan selalu begitu sebelum akhirnya dikirim ke seberang.”

“Kenapa bukan yang lainnya? Puluhan senopati yang lain kembali ke Keraton. Dengan mengibarkan panji kemenangan, dengan menyimpan panji kekecewaan. Kenapa hanya Senopati Agung Brahma yang Paman Dalang sebutkan? Apakah bukan Paman Dalang yang menyebabkan Senopati Agung Brahma menyembunyikan diri selama ini?”

Pertemuan Balung Pisah
NYAI DEMANG merangkul Gendhuk Tri kencang. Mencium pipinya lekat sekali. “Jagattri, Dewa Yang Maha murah telah mempertemukanmu dengan mertuamu. Biarlah saya mewakili keluargamu untuk menerima lamaran Ki Dalang Memeling. Paman Dalang, kenapa tidak melakukan sekarang ini? Agar Adik Jagattri bisa melakukan sungkem pangabekti untuk menghormati mertua? Saya merasa kurang enak, sebagai besan bersikap kurang ajar seperti ini.”

Wajah Gendhuk Tri berubah. Pandangannya menunduk ketika bentrok dengan sorot mata Ki Dalang Memeling. Apakah benar Ki Dalang ini ayah Upasara Wulung? Bekas senopati seberang? Siapa lagi kalau bukan? Benarkah?

Sulit dipercaya. Kata-kata Nyai Demang sangat tiba-tiba. Menyabet beberapa pengertian yang mempunyai makna sangat luas. Pertama, menyebutkan dirinya sebagai wakil orangtua Gendhuk Tri, untuk menerima lamaran. Kedua, meminta dirinya untuk menghaturkan sembah pangabekti, sembah penghormatan sebagai menantu kepada mertua. Sehingga tidak menjadi kurang ajar karena selama ini hanya menyebutnya sebagai paman, dalam artian sebutan penghormatan untuk orang yang berusia lebih tua.

Meskipun nantinya tidak perlu mengubah panggilan Paman Dalang menjadi Bapa Dalang, akan tetapi nadanya berubah. Gendhuk Tri gemetar. Ia telah menyaksikan betapa ketika peti mati yang disangka berisi tulang Upasara dulu dicandikan, Ki Dalang Memeling yang paling sibuk. Paling prihatin. Terlibat dalam kegiatan emosi.

Apakah karena ia sudah mengetahui dan sudah merasa? Dari mana Nyai Demang tahu semua ini? Betulkah dari kekuatan Merogoh Sukma Sejati? Lamunan Gendhuk Tri buyar mendengar kalimat Ki Dalang.

“Nyai Demang, sungguh tidak pantas Nyai datang kemari. Sayalah orangtua yang kurang ajar, yang tak tahu diri. Seharusnya saya yang datang kepada Nyai, untuk menyampaikan lamaran anak lelaki saya. Yang ingin mempersunting putrimu, untuk bersama-sama menunggu jatuhnya embun di waktu pagi, menunggu jatuhnya hujan di sore hari. Kalau Nyai tidak berkeberatan, merelakan putrinya hidup bersama anak lelaki saya, berbantal bumi berselimut langit, menempuh perjalanan bersama sebagaimana warisan dan ajaran leluhur, perkenankanlah hari ini saya melamar anak gadis Nyai.”

Kalau tidak dalam suasana seperti sekarang ini, Gendhuk Tri pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Hati dan perasaannya menjadi sangat geli mendengarkan rangkaian kalimat Ki Dalang yang disampaikan dalam suasana begitu merunduk, dalam suara yang tak berbeda sedikit pun dengan mengidung. Tetapi Gendhuk Tri tak mungkin tertawa. Tersenyum pun tidak.

Wajah Nyai Demang berubah sangat serius. Jari-jarinya gemetar mengelus kain di lututnya yang tertekuk. Sungguh berbeda dengan ucapan sebelumnya. Yang masih disampaikan dengan nada gembira. Suara dan nada bicara Nyai Demang seakan berasal dari orang yang selama ini tak dikenal.

“Kisanak, Ki Dalang Memeling yang terhormat. Saya mendengar semua ucapan Kisanak. Dewa menjadi saksi. Langit dan bumi menjadi saksi. Perkawinan adalah kesucian utama. Tata tentrem masyarakat, Keraton, bersendikan tata krama dalam persatuan suami-istri membentuk keluarga. Seperti tertulis dalam kitab, seperti ajaran leluhur dan tradisi yang mulia. Kami hanya meneruskan nilai-nilai adiluhur untuk keagungan masyarakat dan Keraton. Hanya perlu Kisanak ketahui, kami adalah keluarga yang tidak punya apa-apa. Langit yang memayungi kami, bukan milik kami. Bumi yang kami injak, bukan bumi kami. Nyawa yang ada dalam tubuh kami, bukan milik kami. Kami hidup hanya dengan raga, yang menumpang kepada kebaikan Dewa serta Raja. Apakah Kisanak tidak menyesal nantinya memilih anak gadis kami, yang tak bisa bersisir, tak bisa menanak nasi, tak bisa apa-apa karena sangat bodoh. Kisanak, sebelum Kisanak mengajukan lamaran, apakah tidak sebaiknya Kisanak melihat sekitar? Begitu banyak anak gadis yang memiliki kelebihan. Agar Kisanak tidak menyesal di belakang hari.”

“Nyai, sebaliknya dari itu. Jauh dari itu. Saya lelaki yang tidak memiliki apa-apa. Orangtua yang hanya tua. Tak lebih, malah bisa kurang. Saya melamar anak gadis Nyai, tidak untuk membahagiakan. Tetapi mengajak bersama hidup dalam kekurangan. Nyai, saya memberanikan diri melamar dengan tukon yang tiada artinya.”

Ki Dalang mencabut kerisnya, dengan hormat mengangsurkan dengan kedua tangan. Nyai Demang mengangguk, menerima dengan hormat.

“Kisanak, saya terima tukon, saya terima mahar ini, semoga menjadi bibit kawit mengabdi kepada Keraton, kepada keluarga. Bisa mengangkat derajat dan pangkat keluarga, bisa membahagiakan leluhur yang melahirkan. Kisanak, saya terima pemberian ini.”

Nyai Demang memandang Gendhuk Tri. “Jagattri, anakku, kamu telah mendengar sendiri. Ibumu mewakili orangtuamu menerima lamaran Kisanak Dalang Memeling. Hubungan kamu berdua telah terjalin lama dan telah saling bisa menerima. Hubungan ini tak ada halangannya. Tak ada yang menghambat, tak ada yang menghalangi. Semuanya berjalan dengan baik dan benar, sesuai ajaran kitab, sesuai petunjuk Dewa. Kami duduk sama-sama, berada di jagat sama-sama, tak perlu ada perhitungan pratiloma dan perhitungan anuloma, tak ada lembu yang dikoloh atau dikendalikan. Kita semua bersyukur karena bisa menemukan kembali balung yang selama ini telah terpisah. Anakku, lakukanlah sembah bekti pada Rama Dalang, ramamu sendiri.”

Gendhuk Tri benar-benar tak bisa bernapas. Seluruh tubuhnya mandi keringat. Ia seperti larut dalam suasana yang mengisapnya. Apa yang diucapkan Nyai Demang yang menyebutkan sebagai ibunya, sangat menggetarkan hatinya. Selama ini Gendhuk Tri malang-melintang tanpa mengenal siapa ibunya. Dan kini, dalam suasana yang mistis, dirinya mempunyai ibu. Itu yang membuat napasnya sesak. Gendhuk Tri sadar apa yang terjadi. Mengetahui bahwa Nyai Demang dan Ki Dalang Memeling berusaha mendudukkan diri sebagai sesama, sebagai satu warna.

Sehingga tak perlu ada perhitungan dan pertimbangan pratiloma maupun pertimbangan anuloma. Bahkan lebih jauh lagi mengatakan mereka adalah keluarga yang sama, berasal dari balung yang sama. Pratiloma bisa diartikan menyungsang, melawan arus. Dalam artian wadak pengertian itu ialah menyisir rambut dari bawah ke atas. Ini sesuatu yang tidak biasanya. Dalam artian yang lebih jauh, pratiloma dipakai untuk sebutan bila warna pihak perempuan lebih tinggi, kedudukan, asal-usul pangkat, dan derajatnya melebihi pihak lelaki.

Perkawinan pratiloma tidak begitu dianjurkan, meskipun tidak dilarang. Namun ada semacam pengaman, agar perkawinan jenis ini tidak terjadi. Karena kalaupun terjadi hanya bisa diterima bila pihak keluarga perempuan menyetujuinya. Dalam keadaan seperti ini, pihak perempuan bisa diumpamakan lembu yang dikoloh, lembu yang dipasangi tali di hidungnya, sehingga bisa dituntun ke mana saja, atau menyerahkan diri kepada warna pihak suaminya.

Sedangkan anuloma tidak menjadi masalah besar. Karena dalam artian yang sebenarnya pun berarti menyisir rambut dari atas ke bawah, sebagaimana kelaziman yang berlaku. Kalaupun ada perbedaan warna, perbedaan kasta, anak keturunannya kelak akan mengikuti kasta ayahnya. Dalam hal ini, Nyai Demang tidak memperhitungkan asal-usul Gendhuk Tri. Suatu permintaan yang sangat besar artinya.

Bukan karena Nyai Demang tidak mengetahui bahwa keturunan Ki Dalang Memeling kemungkinan besar lebih tinggi kastanya, akan tetapi menganggapnya sebagai balung, sebagai tulang dari kerangka sendiri, dari tubuh yang sama. Yang kebetulan berpisah. Dan kini ditemukan kembali.

Kumpule balung pisah, artinya berkumpulnya kembali tulang terpisah, adalah istilah yang telah menjadi ucapan sehari-hari. Bukannya tanpa alasan, karena sesungguhnya mereka beranggapan bahwa semua berasal dari keturunan yang sama, kecuali raja. Semua masih dihubungkan sebagai sanak saudara, betapapun telah jauh hubungannya. Ini juga tidak berlebihan untuk menggambarkan pertemuannya dengan Ki Dalang Memeling.

Sungkem Menantu
GENDHUK TRI beringsut maju. Perlahan sekali. Dengan gemetar, wajahnya menunduk, menyembah lutut Ki Dalang Memeling yang tak bisa menahan air matanya.

“Anakku…”

Ketika Gendhuk Tri melakukan sembah yang sama kepada Nyai Demang, rangkulan dan tangis meledak bersamaan. Sebagai bagian dari upacara, lamaran telah terjadi. Dengan menerima tukon, dan membalas sungkem, berarti Gendhuk Tri serta Nyai Demang telah menerima lamaran secara utuh. Mulai saat itu juga Gendhuk Tri diperlakukan sebagai istri. Hak dan kewajibannya adalah hak dan kewajiban seorang istri, menantu Ki Dalang Memeling. Dan Ki Dalang bisa melarang apa yang akan dilakukan Gendhuk Tri melebihi Nyai Demang sendiri.

“Nyai Besan, terima kasih atas penerimaan ini….”

“Paman Besan jangan merasa sungkan. Tata krama yang teramat sederhana tidaklah mengurangi arti sama sekali. Walaupun kita belum tahu di mana anakku Maha Singanada.”

Hidung Gendhuk Tri membeku. Lehernya seperti menebal dari dalam. Uratnya kaku. Apakah ia tidak salah dengar? Nyai Demang menyebutkan nama Maha Singanada. Bukan Upasara Wulung. Gendhuk Tri terguncang bukan karena ia tidak menyukai atau tidak memilih Maha Singanada. Gendhuk Tri terguncang karena tadinya mengira bahwa Ki Dalang Memeling adalah ayahanda Upasara Wulung. Dari mana Nyai Demang mengetahui hal itu?

Dalam soal ilmu silat di antara yang menghuni Perguruan Awan, Nyai Demang boleh dikatakan paling rendah tingkatannya. Akan tetapi dalam menangkap dan membaca peristiwa kehidupan orang, boleh dikatakan paling unggul. Bukan kebetulan kalau sekarang ini bisa dipertemukan karena mereka sebenarnya masih mempunyai hubungan. Sekurangnya Ki Dalang Memeling mengenal Jagaddhita semasa kanak-kanak, dan kini putranya lelaki mendapatkan jodoh putri murid Jagaddhita. Boleh dikatakan mempertemukan balung yang selama ini tercerai.

Nyai Demang sedikit-banyak mengetahui, dan dengan pengalaman hidupnya bisa menyatukan sebagai bagian yang utuh. Meskipun selama ini tidak ada yang mengatakan secara terbuka. Maha Singanada tidak pernah menceritakan asal-usulnya. Hanya sedikit yang diketahui bahwa ia kembali bersama rombongan yang dikirim ke tanah Campa, ke Keraton Caban, bersama rombongan yang mengantarkan Dyah Tapasi, putri Sri Baginda Raja.

Kalau mengingat usianya yang masih muda, sangat tidak mungkin sekali Maha Singanada sudah menjadi prajurit saat itu. Kemungkinan yang paling besar adalah ia ikut ke negeri seberang sewaktu masih kecil. Tapi itu juga tidak masuk akal. Sepanjang yang diketahui, tak ada anak-anak yang ikut dikirim ke seberang. Kemungkinan yang ada, salah seorang senopati ada yang membawa istrinya yang sedang hamil, atau Maha Singanada lahir di seberang. Itu yang masuk akal.

Kalau benar begitu, kemungkinan lebih lanjut bisa dirunut. Karena dalam rombongan ke Campa, hanya putri Keraton, Dyah Tapasi, serta para dayang satu-satunya rombongan wanita. Itu dugaan Nyai Demang. Dugaan yang berikutnya tersusun ketika Nyai Demang sebagian mendengar sebagian mengetahui sendiri persengketaan antara Maha Singanada dan Senopati Agung Brahma.

Singanada yang bersikap ksatria hanya sekali menunjukkan perangai yang sulit ditebak. Langsung menantang Senopati Agung Brahma, dan permusuhan itu hanya diakhiri dengan kematian salah seorang. Dari perkenalan dan pembicaraan tidak langsung dengan Pangeran Anom selama ini, Nyai Demang mengetahui rahasia hati Senopati Agung Brahma yang dulunya secara diam-diam tergayut asmara dengan Dyah Tapasi.

Itu pula sebabnya Senopati Agung Brahma mau memunculkan diri setelah sekian lama mengurung diri. Hanya karena mengira bakal mendapat kabar mengenai Dyah Tapasi. Tak tahunya justru yang ditemui Maha Singanada. Yang menolak keras kenyataan bahwa dirinya adalah putra Dyah Tapasi.

Atau setidaknya tidak mau asal-usulnya diungkit atau diketahui orang lain. Tidak juga oleh Gendhuk Tri ketika hubungannya sudah lebih erat. Karena Maha Singanada tak ingin asal-usulnya yang ruwet dibicarakan orang. Maha Singanada lebih suka menyebutkan dirinya sebagai senopati Singasari, utusan Sri Baginda Raja.

Dalam pikiran Nyai Demang, tinggal menemukan siapa prajurit yang kebetulan menjadi lampiasan asmara Dyah Tapasi. Yang sebenarnya tidak menghendaki. Karena Dyah Tapasi hanya ingin meyakinkan bahwa dirinya menjauhi Senopati Agung Brahma bukan karena ingin menjadi permaisuri di Keraton Caban.

Ternyata prajurit yang menjadi sasaran asmara adalah Ki Dalang Memeling. Yang segera kembali ke tanah Jawa, bersembunyi di balik penampilannya sebagai dalang. Bisa dimengerti kalau selama ini gelap bagi orang luar. Peristiwa Dyah Tapasi tak mungkin dibicarakan karena menyangkut kesucian Keraton. Senopati Agung Brahma sendiri tak mengungkapkan, karena resminya dirinya adalah kakak ipar Raja.

Akan tetapi sebenarnya tidak terlalu gelap benar bagi pelaku peristiwa itu sendiri. Senopati Agung Brahma secara tidak langsung telah mengetahui siapa sebenarnya Maha Singanada. Ki Dalang Memeling demikian juga. Tanda-tanda, sikap, dan gaya mereka yang terlibat langsung sudah menduga-duga, sudah menemukan titik temu.

Sekarang Nyai Demang yang membuka. Ki Dalang Memeling tak mungkin menutupi lagi, meskipun berusaha keras menyembunyikan diri. Karena kini menyangkut urusan menantu! Sungguh tak bisa dimengerti kalau sekarang masih mengatakan “tidak” atau “bukan”.

Itu sebabnya ketika Nyai Demang meminta Gendhuk Tri melakukan sungkem, ia tak mengelak lagi. Kegagahan untuk menutupi diri terkelupas. Hal yang sangat bisa dimengerti Nyai Demang. Bahkan mungkin ia tak bisa menahan diri lebih lama kalau terlibat. Ki Dalang Memeling mengucap syukur.

“Silakan menikmati kamar ini, Nyai Besan. Kalau harinya sudah baik, kita tinggal menentukan saat.”

“Terima kasih, Paman Besan. Rasanya sudah terlalu lama kami mengganggu Paman Besan. Perkenankan kami pamit.”

Gendhuk Tri menyembah dengan hormat. Lalu kembali bersama Nyai Demang, diantar sampai pintu oleh Ki Dalang. Mereka berdua berjalan dalam diam.

“Anakku Jagattri, apakah ibumu melakukan kekeliruan?”

"Saya tak mengerti, Nyai…” Suara Gendhuk Tri masih terasa kikuk untuk memanggil Ibu.

“Apakah saya keliru menjodohkan pilihan hatimu?”

Gendhuk Tri menggeleng perlahan sekali. "Atau kamu masih berpikir nama yang lain? Anakku Jagattri, tukon yang kita terima masih bisa dikembalikan dengan pelipatan. Akan tetapi saya tak ingin melakukan itu. Saya berpikir merasa mendapat petunjuk Dewa, bahwa ini yang terbaik bagimu. Meskipun saya tahu, ada nama Adimas Upasara dalam hatimu. Ibu tahu sekali.”

Kasunyatan, Manis atau Pahit
NYAI DEMANG menggandeng tangan Gendhuk Tri yang terasa sangat dingin. “Kita adalah wanita. Dilahirkan dengan kodrat sebagai wanita, sangat berbeda dengan kodrat dilahirkan sebagai pria. Dalam kitab Kutara Manawa sekalipun tertulis jelas-jelas bahwa kita hanyalah pendamping, pembantu untuk tuhu, tulus dan setia kepada suami. Anakku, mungkin saya berbicara nyinyir mengenai usia, mengenai jodoh, mengenai kedudukan. Kamu tidak mengalami zaman di mana ibumu ini hidup. Kamu mengalami dan menjalani zaman sebagai ksatria, sebagai jago silat yang dianggap mempunyai kekecualian dalam tata masyarakat. Tetapi wanita tetap saja wanita. Yang langkahnya terhadang keleluasaan kain. Yang terikat setagen. Itulah kodrat. Itulah yang terjadi, betapapun kita menolak dan ingin benar mengubahnya. Setiap zaman mengalami kemajuan, mengalami perubahan yang mencengangkan. Akan tetapi kodrat wanita selalu menyertai, membatasi ataupun membahagiakan. Tinggal bagaimana kita menerima. Anakku Jagattri. Saya telah membaca semua kitab yang ada. Tidak banyak orang seperti ibumu ini. Tapi di semua kitab itu tak pernah dituliskan jelas kenapa wanita harus dikungkungi kodrat. Tak ada. Tak pernah ada. Akan tetapi, dengan kearifan wanita, kita bisa membaca ilmu kasunyatan, ilmu mengenai kenyataan sebenarnya, kenyataan yang setiap harinya kita alami. Itulah saat kamu menertawakan, karena menganggap saya menjadi tua dan…”

“Nyai, yang saya maksudkan Nyai menjadi bijaksana.”

Genggaman Nyai Demang mengerat. “Saya tahu, saya tahu. Saya mengerti maksudmu, tanpa kamu katakan. Kalau hari ini saya bercerita banyak, karena sebagai ibu dan anak, saya tak ingin ada yang mengganjal, tak ada yang perlu disembunyikan. Secara gaib Dewa mempertemukan kita sebelumnya, secara gaib pula kita menjadi ibu dan anak. Secara gaib, inilah kenyataan itu.”

Mereka kembali ke dalam, ke meja pendek yang telah rapi dengan minuman teh. Keduanya duduk bersila.

“Tadinya saya mengira Nyai mempergunakan kekuatan sukma sejati…”

“Ilmu yang dikatakan sangat luar biasa itu, yang mampu menerobos kenyataan, mampu berada di balik kewadakan ini, sebenarnya tak jauh berbeda dari kasunyatan juga. Adimas Upasara yang mengatakan ini.”

“Kakangmas Upasara?”

“Agar tuntas, saya akan menceritakan semuanya. Jangan diambil sarinya yang memperlemah jiwamu melihat kenyataan yang sesungguhnya. Bahwa dirimu adalah pendamping Maha Singanada.”

Gendhuk Tri mengangguk mantap.

“Saya baru menceritakan sekarang, agar kamu lega. Agar kamu lebih mantap menuju hari-harimu yang bahagia. Lama sekali saya mengharap suatu kali dikabulkan Dewa saya menjadi wanita yang normal. Yang wajar, yang mempunyai menantu. Yang bisa menimang cucu. Dewa Maha baik mengabulkan doa saya. Anakku, bukankah banyak alasan untuk mensyukuri kenyataan yang kita terima? Pahit atau manis, itulah yang membuat kita mensyukuri kehidupan ini. Aha, kamu tidak sabar mendengar bagian mengenai Adimas Upasara, bukan? Aha, di mana ada ibu dan anaknya bisa bercerita begini terbuka?”

Nyai Demang menuang air teh dari teko tanah ke dalam dua cangkir tanah yang mengilat karena pembakaran yang tinggi. Satu untuk dirinya. Satu untuk Gendhuk Tri. Yang menunggu sampai Nyai Demang meminum lebih dulu, baru kemudian ia mengikuti. Nyai Demang tersenyum melihat gaya Gendhuk Tri. Senyum bahagia. Senyum bahagia seorang ibu.

“Ketika mulai sembuh berkat rawatan Tabib Tanca, saya mendengar kemunculan Adimas Upasara. Saya bergembira karena ternyata Adimas masih selalu dalam lindungan Dewa. Saya tetap bergembira ketika Ratu Ayu Bawah Langit juga muncul dan menemui Adimas. Dan kemudian memutuskan datang berdua secara resmi, memenuhi undangan Raja. Kalau saya menemui, karena saya bahagia. Kalau tadi saya bercerita sepotong-sepotong padamu, karena saya bahagia, dan tidak ingin meng-goreh hatimu.”

“Apa yang Kakang lakukan selain mengangguk dan tersenyum seperti yang Nyai ceritakan?”

“Tak banyak. Tak banyak.”

“Karena waktu itu Ratu Ayu mendampingi?”

“Memang tak banyak. Adimas Upasara Wulung tampak lebih bijaksana, lebih tenang, lebih bercahaya pandangannya. Ia mengatakan gembira saya mau menemuinya. Adimas menerima sembah saya, seakan dirinya menempatkan diri sebagai Raja Turkana. Semua dilakukan dengan tenang, dengan kepastian. Setelah menceritakan mengenai Paman Jaghana, menanyakan dirimu, dan lain-lain, saya mengatakan bahwa sesungguhnya saya yang paling bahagia saat itu. Anakku, sesungguhnyalah ibumu mengatakan yang sebenarnya.”

Gendhuk Tri menunggu. Nyai Demang menambahkan gula aren ke dalam cangkirnya.

“Adimas Upasara mengatakan kurang-lebih begini, ‘Mbakyu Nyai, inilah kenyataan sesungguhnya yang membahagiakan. Saya sangat bahagia jika Mbakyu Nyai bisa bahagia. Seperti juga saya melakukan ini dengan bahagia, demi kebahagiaan yang kekal bagi Permaisuri Rajapatni, kebahagiaan yang kekal bagi Gendhuk Tri. Mbakyu Nyai, Permaisuri Rajapatni, Gendhuk Tri, selama ini telah begitu baik kepada saya, tetapi saya hanya menyusahkan pikiran mereka karena ketidakjelasan sikap saya. Kalau dengan ini mereka menjadi bahagia dan jelas, saya akan lebih bahagia lagi.’”

“Nyai, apakah Kakang menceritakan pengalaman di pulau terpencil?”

“Justru itu yang dikatakan pertama kali.”

“Apa yang dikatakan?”

“Kamu menjelaskan bahwa selama ini kamu telah mengikat janji dengan Maha Singanada. Mudah-mudahan benar begitu dan bukan sekadar memanaskan perasaannya saja.”

“Benar, Nyai.”

“Paling tidak, benar begitu pilihanmu dan sekaligus memanaskan hatinya.”

Cangkir di tangan Gendhuk Tri bergoyang. “Nyai, kenapa Kakang menyebut nama saya, nama Permaisuri Rajapatni?”

“Ah, bukan saatnya kita saling merahasiakan yang telah sama-sama kita ketahui.”

“Saya benar-benar tak mengerti. Kenapa saya dan…”

“Kamu ingin mendengar penjelasannya? Kamu ingin ibumu ini mengatakan apa yang sudah kamu katakan?”

Gendhuk Tri menggerung. “Saya benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengan Permaisuri Rajapatni. Kalau dengan saya, Kakang mungkin berpikir agar saya tak terganggu lagi dan bisa memilih Kakang Singanada.”

JILID 54BUKU PERTAMAJILID 56

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 55

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 55

Suara itu berasal dari pondok yang berjarak tiga rumah dari tempat yang didiami Nyai Demang.Bukan dari tempat yang terlalu jauh, bukan dari penembang yang menyembunyikan diri. Ternyata pula yang menembangkan adalah seorang lelaki yang punggungnya menghadap ke arah pintu, yang duduk bersila tak bergerak. Seakan tidak mendengar langkah kaki Nyai Demang maupun Gendhuk Tri.

Atau tengah tenggelam dalam tembangannya, karena mengulang lagi dari depan. Terutama tiga baris yang pertama, yang diulang kembali dua kali. Baru kemudian terbatuk. Menoleh ke belakang. Ki Dalang Memeling. Gendhuk Tri tak nyana bahwa yang menembangkan adalah Ki Dalang Memeling!

Pantas saja suaranya begitu enak didengar, begitu mengalun seperti meniti udara. Bukan hal yang berlebihan kalau Gendhuk Tri menduga suara Nyai Demang. Dan sebaliknya! Tapi Ki Dalang? Wajah tua yang berkerut.

“Kenapa kamu menangis?”

Gendhuk Tri mendekat. Duduk di sebelahnya. Bersila. Nyai Demang sedikit di belakang.

“Paman Dalang juga menangis.”

“Tidak. Ini hanya titik air masa lalu. Suara masa lalu. Saya selalu mendengar kembali suara masa lalu kalau akan mendalang. Kalian akan menonton permainan wayang?”

Gendhuk Tri mengangguk. “Lebih dari itu, saya ingin Paman Dalang menembang. Seperti tadi. Rasanya saya pernah mendengar tembangan itu.”

“Sangat mungkin. Setiap kali akan mendalang, saya menembang itu. Di Gua Kencana, di Kedung Dawa, kalian pernah mendengarkan.”

Memang itulah pertama kalinya Gendhuk Tri dan Nyai Demang berkenalan dengan nama Ki Dalang Memeling. Lebih dari itu, bahkan dalam adegan mendalang, Ki Dalang seolah menyelipkan percakapan yang seolah ditujukan kepada mereka berdua. Itu termasuk luar biasa. Apalagi Ki Dalang bisa memainkan wayang dengan cara luar biasa. Membuat wayang keluar sendiri dari kotak, berada di tengah penonton. Atau melayang ke balik layar. Namun…

“Paman Dalang, apakah tembangan itu merupakan tembangan wajib semua dalang sebelum manggung?”

“Saya tahu arah pertanyaan kalian. Sejak pertama saya melihat gerakanmu, saya mengenalmu. Saya mengajak bicara dengan kekuatan batin saya. Tetapi tak bunyi. Saya menembang, tapi kamu tak mendengar. Tetapi itu hanya soal waktu. Sekarang kamu bisa mendengar. Begitu panjang waktu yang dilalui untuk menjadi masa lalu. Seakan baru saja terjadi beberapa kejap yang lalu. Selendangmu masih warna-warni. Tanganmu masih menari seperti ketika merangkai gagang daun singkong sebagai kalung.”

“Paman mengenal Bibi Jagaddhita?”

“Nama bisa berubah. Tubuh bisa menjadi tua. Namun tembang masih selalu sama. Bibimu itu masih mendendangkan tembang dolanan itu?”

“Masih. Dan selalu, setiap kali akan bertarung.”

Ki Dalang Memeling mengelus kepala Gendhuk Tri. Menyentuh pundak Nyai Demang. Terasa kegenitan dan kejailan ketika mengelus dan menyentuh, akan tetapi Nyai Demang menganggap sebagai sesuatu yang lumrah. Gaya seorang dalang memang dekat dengan kegenitan.

“Barangkali itu kebetulan belaka. Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya mengenal si Bawuk. Kami bermain bersama, membuat sungai, membuat kalung, dan menyanyi. Saya tidak tahu apakah saya mencintainya, atau si Bawuk mencintai saya atau tidak. Kami masih terlalu kanak-kanak. Kami masih bermain bersama dengan telanjang. Kami membuat sungai dari air kencing. Tak ada yang istimewa. Seperti semua kanak-kanak mengalami. Yang istimewa, karena itu satu-satunya masa lalu yang selalu terdengar, yang masih mengiang, dan tidak terlalu keliru kalau dikenang. Atau muncul dengan sendirinya. Si Bawuk mengikuti panggilan Keraton, menjadi penari, sebelum akhirnya diam-diam dilatih Mpu Raganata, pendeta yang tiada tandingannya. Saya mendengar kemudian dari mulut yang lain, dari telinga yang lain. Barangkali si Bawuk adalah Jagaddhita. Barangkali juga yang lainnya. Terlalu banyak kemungkinan gadis lain menembangkan lagu dolanan yang menjadi milik semua anak. Saya mengenang dengan senang hati. Tanpa dendam, tanpa penyesalan, tanpa rasa ingin tahu. Berbeda dengan Senopati Agung Brahma yang mendengar masa lalu dengan gelisah.”

Nyai Demang berdeham kecil. Apakah Paman Dalang tidak pernah bertemu lagi dengan Bibi Jagaddhita untuk meyakinkan apakah Bibi adalah si Bawuk yang ketika bermain bersama Paman membuat sungai?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak, Paman?”

“Ya… tidak saja.”

Nyai Demang menjilat bibirnya. Suara Ki Dalang Memeling terasa sedikit mengganjal.

“Paman, Paman Dalang mengetahui si Bawuk teman main masa kanak-kanak diambil untuk nyuwita, untuk mengabdi ke Keraton, sebagai penari atau pesinden. Apakah tidak ada keinginan Paman untuk juga mengabdi ke Keraton?”

“Tidak.”

“Paman Dalang tidak ingin menjadi prajurit?”

“Tidak.”

“Apa yang Paman lakukan?”

“Saya menjadi dalang.”

Nyai Demang tertawa lebar. Baru kemudian tangannya menutupi mulutnya. Kepalanya menggeleng. “Paman… Paman... Paman mengatakan suara masa lalu tak membuat gelisah. Tapi kenapa Paman mendustai diri? Paman menjadi dalang bukan sejak kecil. Bahkan rasanya setelah cukup umur. Setelah menangkap kegelisahan dan tak bisa menghilangkan begitu saja. Paman berusaha menghilangkan ciri Paman. Berubah sebagai dalang.”

“Sama sekali tidak.”

“Paman mempunyai dasar-dasar ilmu silat Kitab Bumi yang resmi menjadi ajaran Keraton. Bukan Kitab Bumi yang dipelajari sebelum menjadi ajaran resmi. Itu hanya mungkin kalau Paman Dalang dulunya prajurit, senopati Keraton Singasari.”

Dalang Meniup Sukma
KI DALANG MEMELING menyingkirkan anglo, tempat perapian, yang dupanya telah mati. Beberapa kali Ki Dalang mencoba meniup, akan tetapi tak ada sisa bara sabut di dalamnya. Telapak tangannya membersihkan lantai kayu. Nyai Demang mengelus rambutnya. Gendhuk Tri menahan keinginannya untuk bertanya.

“Maaf, Paman Dalang…”

Suara Nyai Demang dipenuhi keharuan dan rasa bersalah. Ia sadar bahwa setiap kali membuka masa lalu seseorang, setiap kali pula ada bagian yang menyayat. Seakan ada luka lama yang kelihatannya telah kering terkoyak kembali. Nyai Demang sendiri mengalami dalam hidupnya. Nyai Demang bisa melihat jelas perbedaan antara Kitab Bumi yang menjadi ajaran resmi, dengan ketika masih dikenal sebagai Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Yang selintas seperti tak ada bedanya, kecuali penambahan Delapan Jurus Penolak Bumi.

Akan tetapi Nyai Demang termasuk salah satu dari yang sangat sedikit menekuni berbagai kitab. Kemampuan pujasastra dan penguasaan bahasa boleh dikatakan tidak ada tandingannya. Sehingga dengan jelas bisa membaca perbedaan antara Kitab Bumi sebelum dan sesudah dijadikan ajaran resmi Keraton. Dan itulah yang dikatakan. Itulah yang mengena.

Gendhuk Tri sendiri bisa merasakan arah pertanyaan Nyai Demang. Kalau benar dulunya Paman Dalang adalah teman kanak-kanak si Bawuk yang kemudian menjadi penari Keraton, pastilah Paman Dalang ini juga melakukan hal yang sama. Mengabdi ke Keraton. Sebagai prajurit, atau bahkan sebagai senopati. Hal yang sangat wajar, sangat biasa-biasa saja. Akan tetapi Paman Dalang justru menolak anggapan itu.

Ini yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati. Bertanya-tanya karena Ki Dalang Memeling seperti menunjukkan adanya pertentangan perasaan. Di satu pihak, mengatakan bahwa suara masa lampau tidak menimbulkan kegelisahan. Tetapi di lain pihak, ia menyembunyikan sesuatu. Di satu pihak ia membuka diri menceritakan si Bawuk, akan tetapi di lain pihak kemudian menutup dengan jawaban serba tidak.

“Paman Dalang…”

“Nyai Demang, pandanganmu tajam. Sangat tajam. Belum pernah ada yang mengatakan itu pada saya. Tetapi Nyai keliru…”

“Paman Dalang, kenapa Paman memilih menjadi dalang? Karena Paman ingin menghidupkan kembali masa lalu. Mengangkat kembali, meniupkan sukma ke kulit kerbau untuk digerakkan menjadi hidup kembali. Mengembalikan ajaran masa lalu. Kenapa Paman memilih itu? Jawabannya sangat jelas. Karena budaya wayang yang adiluhur, karena Paman ingin menghidupkan kembali apa yang Paman lakukan dengan Bibi Jagaddhita ketika masih bermain bersama. Membuat kalung dari tangkai daun singkong, membuat sungai dengan air kencing, ketika Paman mendalang di depan si Bawuk dengan rumput sebagai wayang.”

“Apakah Nyai termasuk yang menguasai ilmu Merogoh Sukma Sejati yang sekarang jadi bahan pembicaraan ramai itu?”

Pertanyaan Ki Dalang sekaligus menunjukkan pengakuan bahwa tebakan Nyai Demang sama sekali tidak meleset. Gendhuk Tri melirik Nyai Demang dengan pandangan tajam. Bukan tidak mungkin, mengingat Nyai Demang pernah menyebut hal itu. Nyai Demang meletakkan telapak tangannya di lantai.

“Saya tidak mendapat kesempatan mempelajari ilmu yang sedang kondang sekarang ini. Saya tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Namun rasanya bukan sesuatu yang luar biasa, Paman. Sewaktu kecil saya juga mempunyai teman bermain. Saya juga membuat dan dibuatkan rangkaian kalung dari tangkai daun singkong. Membuat sungai dengan air kencing, dan anak laki-laki selalu bisa membuat lebih bagus. Membuat ulat dari tangkai daun pepaya yang ditumpuk dari bagian atas. Membuat kupu-kupu dari daun jati kering. Menganyam rumput, membentuk tokoh wayang dan memainkan. Seperti yang Paman katakan, semua anak bermain dengan cara yang sama. Barangkali hanya Adik Jagattri ini yang tak sempat, karena masa kanak-kanaknya dihabiskan dalam pertarungan. Kami semua mengalami masa yang sama dengan Paman. Hanya bedanya, Paman mempunyai kenangan yang manis. Hanya bedanya Paman bisa terus memainkan wayang dengan sangat baik. Sangat baik setelah Paman tidak lagi menjadi senopati.”

“Senopati?”

“Dengan kekuatan dan kemampuan Paman yang begitu hebat, apakah mungkin Paman berhenti sebagai prajurit biasa-biasa saja? Dengan penguasaan ilmu silat itu saja akan menempatkan jabatan yang tinggi. Apalagi di saat Sri Baginda Raja, kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar.”

“Tidak, tidak. Kamu keliru, Nyai. Saya bukan senopati, bukan prajurit. Tak ada yang pernah mendengar nama saya.”

Gendhuk Tri mengangguk membenarkan. Selama ini memang tak pernah terdengar nama atau ciri-ciri yang mengarah kepada Ki Dalang Memeling. Tapi Nyai Demang melanjutkan, “Kalau Paman ingin bukti lain, saya akan mengutarakan. Kita kembali ke zaman kejayaan Keraton ketika Sri Baginda Raja mengatur langit dan bumi. Kebesaran yang tiada tara dengan peresmian ajaran ilmu silat, dengan niatan Sri Baginda Raja menguasai seluruh lautan dan gunung. Saat itu semua ksatria, semua senopati yang terbaik, yang disegani, yang mengabdi kepada Keraton, menyimpan kebanggaan untuk menyebarkan ajaran Sri Baginda Raja. Dengan cara diangkat sebagai senopati, dan dikirimkan ke tanah seberang. Hanya di zaman Sri Baginda Raja begitu banyak senopati yang tidak berawal dari pengabdian sebagai prajurit. Hanya di zaman Sri Baginda Raja terjadi begitu banyak pergeseran pangkat dan jabatan dalam tata pemerintahan Keraton.”

Gendhuk Tri mengakui kebenaran kata-kata Nyai Demang. Sepenuhnya. Karena mahagurunya, Mpu Raganata, termasuk mahapatih sakti yang harus merelakan jabatan dan pangkatnya untuk diduduki orang lain. Yang menyebabkan Mpu Raganata mengembara dan melatih beberapa penari Keraton. Termasuk Jagaddhita. Termasuk dirinya. Makanya Gendhuk Tri mengangguk mantap. Hanya belum bisa menebak arah kalimat Nyai Demang.

“Kalau ada sepuluh senopati, saat itu delapan di antaranya dikirim ke tanah seberang. Satu tetap berada di Keraton, dan satu menyingkir.”

“Kamu mau mengatakan saya termasuk yang menyingkir itu, Nyai?”

“Tidak,” sekarang Nyai Demang yang menyebut dengan mantap. “Paman Dalang justru termasuk yang dikirim ke tanah seberang.”

“Saya tak pernah mengenal tanah lain selain tanah Jawa ini. Tak pernah melihat, tak pernah menyentuh.”

Nyai Demang menyembah. “Sekali lagi saya minta maaf, Paman Dalang. Saya tidak bermaksud menyelam ke dalam masa lalu Paman yang sengaja disembunyikan. Tidak ingin mengaduk masa silam yang sepenuhnya menjadi rahasia Paman. Maaf, Paman Dalang. Hanya karena tadi Paman menceritakan Bibi Jagaddhita, menceritakan kehidupannya, kesimpulan itu terangkat dengan sendiri. Maaf, kami mohon maaf.”

“Nyai boleh meminta maaf karena keliru.”

Nyai Demang menarik udara keras. Hatinya menjadi geram. Pandangannya sedikit tajam ketika menatap Ki Dalang Memeling. “Paman memaksa saya untuk mengatakan apa yang sekarang ini saya rasakan. Bahwa Paman sengaja menembangkan lagu dolanan anak-anak itu untuk menarik kami datang kemari. Akan tetapi begitu kami datang, Paman menutup diri. Kalaupun Paman Dalang dulunya senopati seberang yang kemudian menyembunyikan diri dan mengubah diri menjadi dalang, itu sepenuhnya urusan Paman pribadi. Tapi Paman tak bisa mengatakan saya keliru.”

“Kenyataannya memang begitu.”

Gendhuk Tri sadar bahwa pembicaraan berkembang ke arah urat leher yang tertarik lebih kencang. Dan tak bisa ditarik kembali. Karena suara Nyai Demang meninggi ketika berkata, “Kenapa Paman Dalang menyebutkan nama Senopati Agung Brahma? Satu-satunya nama yang Paman katakan.”

“Karena Senopati Agung Brahma yang menyembunyikan diri sebab takut mendengar suara masa lalu. Dan selalu begitu sebelum akhirnya dikirim ke seberang.”

“Kenapa bukan yang lainnya? Puluhan senopati yang lain kembali ke Keraton. Dengan mengibarkan panji kemenangan, dengan menyimpan panji kekecewaan. Kenapa hanya Senopati Agung Brahma yang Paman Dalang sebutkan? Apakah bukan Paman Dalang yang menyebabkan Senopati Agung Brahma menyembunyikan diri selama ini?”

Pertemuan Balung Pisah
NYAI DEMANG merangkul Gendhuk Tri kencang. Mencium pipinya lekat sekali. “Jagattri, Dewa Yang Maha murah telah mempertemukanmu dengan mertuamu. Biarlah saya mewakili keluargamu untuk menerima lamaran Ki Dalang Memeling. Paman Dalang, kenapa tidak melakukan sekarang ini? Agar Adik Jagattri bisa melakukan sungkem pangabekti untuk menghormati mertua? Saya merasa kurang enak, sebagai besan bersikap kurang ajar seperti ini.”

Wajah Gendhuk Tri berubah. Pandangannya menunduk ketika bentrok dengan sorot mata Ki Dalang Memeling. Apakah benar Ki Dalang ini ayah Upasara Wulung? Bekas senopati seberang? Siapa lagi kalau bukan? Benarkah?

Sulit dipercaya. Kata-kata Nyai Demang sangat tiba-tiba. Menyabet beberapa pengertian yang mempunyai makna sangat luas. Pertama, menyebutkan dirinya sebagai wakil orangtua Gendhuk Tri, untuk menerima lamaran. Kedua, meminta dirinya untuk menghaturkan sembah pangabekti, sembah penghormatan sebagai menantu kepada mertua. Sehingga tidak menjadi kurang ajar karena selama ini hanya menyebutnya sebagai paman, dalam artian sebutan penghormatan untuk orang yang berusia lebih tua.

Meskipun nantinya tidak perlu mengubah panggilan Paman Dalang menjadi Bapa Dalang, akan tetapi nadanya berubah. Gendhuk Tri gemetar. Ia telah menyaksikan betapa ketika peti mati yang disangka berisi tulang Upasara dulu dicandikan, Ki Dalang Memeling yang paling sibuk. Paling prihatin. Terlibat dalam kegiatan emosi.

Apakah karena ia sudah mengetahui dan sudah merasa? Dari mana Nyai Demang tahu semua ini? Betulkah dari kekuatan Merogoh Sukma Sejati? Lamunan Gendhuk Tri buyar mendengar kalimat Ki Dalang.

“Nyai Demang, sungguh tidak pantas Nyai datang kemari. Sayalah orangtua yang kurang ajar, yang tak tahu diri. Seharusnya saya yang datang kepada Nyai, untuk menyampaikan lamaran anak lelaki saya. Yang ingin mempersunting putrimu, untuk bersama-sama menunggu jatuhnya embun di waktu pagi, menunggu jatuhnya hujan di sore hari. Kalau Nyai tidak berkeberatan, merelakan putrinya hidup bersama anak lelaki saya, berbantal bumi berselimut langit, menempuh perjalanan bersama sebagaimana warisan dan ajaran leluhur, perkenankanlah hari ini saya melamar anak gadis Nyai.”

Kalau tidak dalam suasana seperti sekarang ini, Gendhuk Tri pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Hati dan perasaannya menjadi sangat geli mendengarkan rangkaian kalimat Ki Dalang yang disampaikan dalam suasana begitu merunduk, dalam suara yang tak berbeda sedikit pun dengan mengidung. Tetapi Gendhuk Tri tak mungkin tertawa. Tersenyum pun tidak.

Wajah Nyai Demang berubah sangat serius. Jari-jarinya gemetar mengelus kain di lututnya yang tertekuk. Sungguh berbeda dengan ucapan sebelumnya. Yang masih disampaikan dengan nada gembira. Suara dan nada bicara Nyai Demang seakan berasal dari orang yang selama ini tak dikenal.

“Kisanak, Ki Dalang Memeling yang terhormat. Saya mendengar semua ucapan Kisanak. Dewa menjadi saksi. Langit dan bumi menjadi saksi. Perkawinan adalah kesucian utama. Tata tentrem masyarakat, Keraton, bersendikan tata krama dalam persatuan suami-istri membentuk keluarga. Seperti tertulis dalam kitab, seperti ajaran leluhur dan tradisi yang mulia. Kami hanya meneruskan nilai-nilai adiluhur untuk keagungan masyarakat dan Keraton. Hanya perlu Kisanak ketahui, kami adalah keluarga yang tidak punya apa-apa. Langit yang memayungi kami, bukan milik kami. Bumi yang kami injak, bukan bumi kami. Nyawa yang ada dalam tubuh kami, bukan milik kami. Kami hidup hanya dengan raga, yang menumpang kepada kebaikan Dewa serta Raja. Apakah Kisanak tidak menyesal nantinya memilih anak gadis kami, yang tak bisa bersisir, tak bisa menanak nasi, tak bisa apa-apa karena sangat bodoh. Kisanak, sebelum Kisanak mengajukan lamaran, apakah tidak sebaiknya Kisanak melihat sekitar? Begitu banyak anak gadis yang memiliki kelebihan. Agar Kisanak tidak menyesal di belakang hari.”

“Nyai, sebaliknya dari itu. Jauh dari itu. Saya lelaki yang tidak memiliki apa-apa. Orangtua yang hanya tua. Tak lebih, malah bisa kurang. Saya melamar anak gadis Nyai, tidak untuk membahagiakan. Tetapi mengajak bersama hidup dalam kekurangan. Nyai, saya memberanikan diri melamar dengan tukon yang tiada artinya.”

Ki Dalang mencabut kerisnya, dengan hormat mengangsurkan dengan kedua tangan. Nyai Demang mengangguk, menerima dengan hormat.

“Kisanak, saya terima tukon, saya terima mahar ini, semoga menjadi bibit kawit mengabdi kepada Keraton, kepada keluarga. Bisa mengangkat derajat dan pangkat keluarga, bisa membahagiakan leluhur yang melahirkan. Kisanak, saya terima pemberian ini.”

Nyai Demang memandang Gendhuk Tri. “Jagattri, anakku, kamu telah mendengar sendiri. Ibumu mewakili orangtuamu menerima lamaran Kisanak Dalang Memeling. Hubungan kamu berdua telah terjalin lama dan telah saling bisa menerima. Hubungan ini tak ada halangannya. Tak ada yang menghambat, tak ada yang menghalangi. Semuanya berjalan dengan baik dan benar, sesuai ajaran kitab, sesuai petunjuk Dewa. Kami duduk sama-sama, berada di jagat sama-sama, tak perlu ada perhitungan pratiloma dan perhitungan anuloma, tak ada lembu yang dikoloh atau dikendalikan. Kita semua bersyukur karena bisa menemukan kembali balung yang selama ini telah terpisah. Anakku, lakukanlah sembah bekti pada Rama Dalang, ramamu sendiri.”

Gendhuk Tri benar-benar tak bisa bernapas. Seluruh tubuhnya mandi keringat. Ia seperti larut dalam suasana yang mengisapnya. Apa yang diucapkan Nyai Demang yang menyebutkan sebagai ibunya, sangat menggetarkan hatinya. Selama ini Gendhuk Tri malang-melintang tanpa mengenal siapa ibunya. Dan kini, dalam suasana yang mistis, dirinya mempunyai ibu. Itu yang membuat napasnya sesak. Gendhuk Tri sadar apa yang terjadi. Mengetahui bahwa Nyai Demang dan Ki Dalang Memeling berusaha mendudukkan diri sebagai sesama, sebagai satu warna.

Sehingga tak perlu ada perhitungan dan pertimbangan pratiloma maupun pertimbangan anuloma. Bahkan lebih jauh lagi mengatakan mereka adalah keluarga yang sama, berasal dari balung yang sama. Pratiloma bisa diartikan menyungsang, melawan arus. Dalam artian wadak pengertian itu ialah menyisir rambut dari bawah ke atas. Ini sesuatu yang tidak biasanya. Dalam artian yang lebih jauh, pratiloma dipakai untuk sebutan bila warna pihak perempuan lebih tinggi, kedudukan, asal-usul pangkat, dan derajatnya melebihi pihak lelaki.

Perkawinan pratiloma tidak begitu dianjurkan, meskipun tidak dilarang. Namun ada semacam pengaman, agar perkawinan jenis ini tidak terjadi. Karena kalaupun terjadi hanya bisa diterima bila pihak keluarga perempuan menyetujuinya. Dalam keadaan seperti ini, pihak perempuan bisa diumpamakan lembu yang dikoloh, lembu yang dipasangi tali di hidungnya, sehingga bisa dituntun ke mana saja, atau menyerahkan diri kepada warna pihak suaminya.

Sedangkan anuloma tidak menjadi masalah besar. Karena dalam artian yang sebenarnya pun berarti menyisir rambut dari atas ke bawah, sebagaimana kelaziman yang berlaku. Kalaupun ada perbedaan warna, perbedaan kasta, anak keturunannya kelak akan mengikuti kasta ayahnya. Dalam hal ini, Nyai Demang tidak memperhitungkan asal-usul Gendhuk Tri. Suatu permintaan yang sangat besar artinya.

Bukan karena Nyai Demang tidak mengetahui bahwa keturunan Ki Dalang Memeling kemungkinan besar lebih tinggi kastanya, akan tetapi menganggapnya sebagai balung, sebagai tulang dari kerangka sendiri, dari tubuh yang sama. Yang kebetulan berpisah. Dan kini ditemukan kembali.

Kumpule balung pisah, artinya berkumpulnya kembali tulang terpisah, adalah istilah yang telah menjadi ucapan sehari-hari. Bukannya tanpa alasan, karena sesungguhnya mereka beranggapan bahwa semua berasal dari keturunan yang sama, kecuali raja. Semua masih dihubungkan sebagai sanak saudara, betapapun telah jauh hubungannya. Ini juga tidak berlebihan untuk menggambarkan pertemuannya dengan Ki Dalang Memeling.

Sungkem Menantu
GENDHUK TRI beringsut maju. Perlahan sekali. Dengan gemetar, wajahnya menunduk, menyembah lutut Ki Dalang Memeling yang tak bisa menahan air matanya.

“Anakku…”

Ketika Gendhuk Tri melakukan sembah yang sama kepada Nyai Demang, rangkulan dan tangis meledak bersamaan. Sebagai bagian dari upacara, lamaran telah terjadi. Dengan menerima tukon, dan membalas sungkem, berarti Gendhuk Tri serta Nyai Demang telah menerima lamaran secara utuh. Mulai saat itu juga Gendhuk Tri diperlakukan sebagai istri. Hak dan kewajibannya adalah hak dan kewajiban seorang istri, menantu Ki Dalang Memeling. Dan Ki Dalang bisa melarang apa yang akan dilakukan Gendhuk Tri melebihi Nyai Demang sendiri.

“Nyai Besan, terima kasih atas penerimaan ini….”

“Paman Besan jangan merasa sungkan. Tata krama yang teramat sederhana tidaklah mengurangi arti sama sekali. Walaupun kita belum tahu di mana anakku Maha Singanada.”

Hidung Gendhuk Tri membeku. Lehernya seperti menebal dari dalam. Uratnya kaku. Apakah ia tidak salah dengar? Nyai Demang menyebutkan nama Maha Singanada. Bukan Upasara Wulung. Gendhuk Tri terguncang bukan karena ia tidak menyukai atau tidak memilih Maha Singanada. Gendhuk Tri terguncang karena tadinya mengira bahwa Ki Dalang Memeling adalah ayahanda Upasara Wulung. Dari mana Nyai Demang mengetahui hal itu?

Dalam soal ilmu silat di antara yang menghuni Perguruan Awan, Nyai Demang boleh dikatakan paling rendah tingkatannya. Akan tetapi dalam menangkap dan membaca peristiwa kehidupan orang, boleh dikatakan paling unggul. Bukan kebetulan kalau sekarang ini bisa dipertemukan karena mereka sebenarnya masih mempunyai hubungan. Sekurangnya Ki Dalang Memeling mengenal Jagaddhita semasa kanak-kanak, dan kini putranya lelaki mendapatkan jodoh putri murid Jagaddhita. Boleh dikatakan mempertemukan balung yang selama ini tercerai.

Nyai Demang sedikit-banyak mengetahui, dan dengan pengalaman hidupnya bisa menyatukan sebagai bagian yang utuh. Meskipun selama ini tidak ada yang mengatakan secara terbuka. Maha Singanada tidak pernah menceritakan asal-usulnya. Hanya sedikit yang diketahui bahwa ia kembali bersama rombongan yang dikirim ke tanah Campa, ke Keraton Caban, bersama rombongan yang mengantarkan Dyah Tapasi, putri Sri Baginda Raja.

Kalau mengingat usianya yang masih muda, sangat tidak mungkin sekali Maha Singanada sudah menjadi prajurit saat itu. Kemungkinan yang paling besar adalah ia ikut ke negeri seberang sewaktu masih kecil. Tapi itu juga tidak masuk akal. Sepanjang yang diketahui, tak ada anak-anak yang ikut dikirim ke seberang. Kemungkinan yang ada, salah seorang senopati ada yang membawa istrinya yang sedang hamil, atau Maha Singanada lahir di seberang. Itu yang masuk akal.

Kalau benar begitu, kemungkinan lebih lanjut bisa dirunut. Karena dalam rombongan ke Campa, hanya putri Keraton, Dyah Tapasi, serta para dayang satu-satunya rombongan wanita. Itu dugaan Nyai Demang. Dugaan yang berikutnya tersusun ketika Nyai Demang sebagian mendengar sebagian mengetahui sendiri persengketaan antara Maha Singanada dan Senopati Agung Brahma.

Singanada yang bersikap ksatria hanya sekali menunjukkan perangai yang sulit ditebak. Langsung menantang Senopati Agung Brahma, dan permusuhan itu hanya diakhiri dengan kematian salah seorang. Dari perkenalan dan pembicaraan tidak langsung dengan Pangeran Anom selama ini, Nyai Demang mengetahui rahasia hati Senopati Agung Brahma yang dulunya secara diam-diam tergayut asmara dengan Dyah Tapasi.

Itu pula sebabnya Senopati Agung Brahma mau memunculkan diri setelah sekian lama mengurung diri. Hanya karena mengira bakal mendapat kabar mengenai Dyah Tapasi. Tak tahunya justru yang ditemui Maha Singanada. Yang menolak keras kenyataan bahwa dirinya adalah putra Dyah Tapasi.

Atau setidaknya tidak mau asal-usulnya diungkit atau diketahui orang lain. Tidak juga oleh Gendhuk Tri ketika hubungannya sudah lebih erat. Karena Maha Singanada tak ingin asal-usulnya yang ruwet dibicarakan orang. Maha Singanada lebih suka menyebutkan dirinya sebagai senopati Singasari, utusan Sri Baginda Raja.

Dalam pikiran Nyai Demang, tinggal menemukan siapa prajurit yang kebetulan menjadi lampiasan asmara Dyah Tapasi. Yang sebenarnya tidak menghendaki. Karena Dyah Tapasi hanya ingin meyakinkan bahwa dirinya menjauhi Senopati Agung Brahma bukan karena ingin menjadi permaisuri di Keraton Caban.

Ternyata prajurit yang menjadi sasaran asmara adalah Ki Dalang Memeling. Yang segera kembali ke tanah Jawa, bersembunyi di balik penampilannya sebagai dalang. Bisa dimengerti kalau selama ini gelap bagi orang luar. Peristiwa Dyah Tapasi tak mungkin dibicarakan karena menyangkut kesucian Keraton. Senopati Agung Brahma sendiri tak mengungkapkan, karena resminya dirinya adalah kakak ipar Raja.

Akan tetapi sebenarnya tidak terlalu gelap benar bagi pelaku peristiwa itu sendiri. Senopati Agung Brahma secara tidak langsung telah mengetahui siapa sebenarnya Maha Singanada. Ki Dalang Memeling demikian juga. Tanda-tanda, sikap, dan gaya mereka yang terlibat langsung sudah menduga-duga, sudah menemukan titik temu.

Sekarang Nyai Demang yang membuka. Ki Dalang Memeling tak mungkin menutupi lagi, meskipun berusaha keras menyembunyikan diri. Karena kini menyangkut urusan menantu! Sungguh tak bisa dimengerti kalau sekarang masih mengatakan “tidak” atau “bukan”.

Itu sebabnya ketika Nyai Demang meminta Gendhuk Tri melakukan sungkem, ia tak mengelak lagi. Kegagahan untuk menutupi diri terkelupas. Hal yang sangat bisa dimengerti Nyai Demang. Bahkan mungkin ia tak bisa menahan diri lebih lama kalau terlibat. Ki Dalang Memeling mengucap syukur.

“Silakan menikmati kamar ini, Nyai Besan. Kalau harinya sudah baik, kita tinggal menentukan saat.”

“Terima kasih, Paman Besan. Rasanya sudah terlalu lama kami mengganggu Paman Besan. Perkenankan kami pamit.”

Gendhuk Tri menyembah dengan hormat. Lalu kembali bersama Nyai Demang, diantar sampai pintu oleh Ki Dalang. Mereka berdua berjalan dalam diam.

“Anakku Jagattri, apakah ibumu melakukan kekeliruan?”

"Saya tak mengerti, Nyai…” Suara Gendhuk Tri masih terasa kikuk untuk memanggil Ibu.

“Apakah saya keliru menjodohkan pilihan hatimu?”

Gendhuk Tri menggeleng perlahan sekali. "Atau kamu masih berpikir nama yang lain? Anakku Jagattri, tukon yang kita terima masih bisa dikembalikan dengan pelipatan. Akan tetapi saya tak ingin melakukan itu. Saya berpikir merasa mendapat petunjuk Dewa, bahwa ini yang terbaik bagimu. Meskipun saya tahu, ada nama Adimas Upasara dalam hatimu. Ibu tahu sekali.”

Kasunyatan, Manis atau Pahit
NYAI DEMANG menggandeng tangan Gendhuk Tri yang terasa sangat dingin. “Kita adalah wanita. Dilahirkan dengan kodrat sebagai wanita, sangat berbeda dengan kodrat dilahirkan sebagai pria. Dalam kitab Kutara Manawa sekalipun tertulis jelas-jelas bahwa kita hanyalah pendamping, pembantu untuk tuhu, tulus dan setia kepada suami. Anakku, mungkin saya berbicara nyinyir mengenai usia, mengenai jodoh, mengenai kedudukan. Kamu tidak mengalami zaman di mana ibumu ini hidup. Kamu mengalami dan menjalani zaman sebagai ksatria, sebagai jago silat yang dianggap mempunyai kekecualian dalam tata masyarakat. Tetapi wanita tetap saja wanita. Yang langkahnya terhadang keleluasaan kain. Yang terikat setagen. Itulah kodrat. Itulah yang terjadi, betapapun kita menolak dan ingin benar mengubahnya. Setiap zaman mengalami kemajuan, mengalami perubahan yang mencengangkan. Akan tetapi kodrat wanita selalu menyertai, membatasi ataupun membahagiakan. Tinggal bagaimana kita menerima. Anakku Jagattri. Saya telah membaca semua kitab yang ada. Tidak banyak orang seperti ibumu ini. Tapi di semua kitab itu tak pernah dituliskan jelas kenapa wanita harus dikungkungi kodrat. Tak ada. Tak pernah ada. Akan tetapi, dengan kearifan wanita, kita bisa membaca ilmu kasunyatan, ilmu mengenai kenyataan sebenarnya, kenyataan yang setiap harinya kita alami. Itulah saat kamu menertawakan, karena menganggap saya menjadi tua dan…”

“Nyai, yang saya maksudkan Nyai menjadi bijaksana.”

Genggaman Nyai Demang mengerat. “Saya tahu, saya tahu. Saya mengerti maksudmu, tanpa kamu katakan. Kalau hari ini saya bercerita banyak, karena sebagai ibu dan anak, saya tak ingin ada yang mengganjal, tak ada yang perlu disembunyikan. Secara gaib Dewa mempertemukan kita sebelumnya, secara gaib pula kita menjadi ibu dan anak. Secara gaib, inilah kenyataan itu.”

Mereka kembali ke dalam, ke meja pendek yang telah rapi dengan minuman teh. Keduanya duduk bersila.

“Tadinya saya mengira Nyai mempergunakan kekuatan sukma sejati…”

“Ilmu yang dikatakan sangat luar biasa itu, yang mampu menerobos kenyataan, mampu berada di balik kewadakan ini, sebenarnya tak jauh berbeda dari kasunyatan juga. Adimas Upasara yang mengatakan ini.”

“Kakangmas Upasara?”

“Agar tuntas, saya akan menceritakan semuanya. Jangan diambil sarinya yang memperlemah jiwamu melihat kenyataan yang sesungguhnya. Bahwa dirimu adalah pendamping Maha Singanada.”

Gendhuk Tri mengangguk mantap.

“Saya baru menceritakan sekarang, agar kamu lega. Agar kamu lebih mantap menuju hari-harimu yang bahagia. Lama sekali saya mengharap suatu kali dikabulkan Dewa saya menjadi wanita yang normal. Yang wajar, yang mempunyai menantu. Yang bisa menimang cucu. Dewa Maha baik mengabulkan doa saya. Anakku, bukankah banyak alasan untuk mensyukuri kenyataan yang kita terima? Pahit atau manis, itulah yang membuat kita mensyukuri kehidupan ini. Aha, kamu tidak sabar mendengar bagian mengenai Adimas Upasara, bukan? Aha, di mana ada ibu dan anaknya bisa bercerita begini terbuka?”

Nyai Demang menuang air teh dari teko tanah ke dalam dua cangkir tanah yang mengilat karena pembakaran yang tinggi. Satu untuk dirinya. Satu untuk Gendhuk Tri. Yang menunggu sampai Nyai Demang meminum lebih dulu, baru kemudian ia mengikuti. Nyai Demang tersenyum melihat gaya Gendhuk Tri. Senyum bahagia. Senyum bahagia seorang ibu.

“Ketika mulai sembuh berkat rawatan Tabib Tanca, saya mendengar kemunculan Adimas Upasara. Saya bergembira karena ternyata Adimas masih selalu dalam lindungan Dewa. Saya tetap bergembira ketika Ratu Ayu Bawah Langit juga muncul dan menemui Adimas. Dan kemudian memutuskan datang berdua secara resmi, memenuhi undangan Raja. Kalau saya menemui, karena saya bahagia. Kalau tadi saya bercerita sepotong-sepotong padamu, karena saya bahagia, dan tidak ingin meng-goreh hatimu.”

“Apa yang Kakang lakukan selain mengangguk dan tersenyum seperti yang Nyai ceritakan?”

“Tak banyak. Tak banyak.”

“Karena waktu itu Ratu Ayu mendampingi?”

“Memang tak banyak. Adimas Upasara Wulung tampak lebih bijaksana, lebih tenang, lebih bercahaya pandangannya. Ia mengatakan gembira saya mau menemuinya. Adimas menerima sembah saya, seakan dirinya menempatkan diri sebagai Raja Turkana. Semua dilakukan dengan tenang, dengan kepastian. Setelah menceritakan mengenai Paman Jaghana, menanyakan dirimu, dan lain-lain, saya mengatakan bahwa sesungguhnya saya yang paling bahagia saat itu. Anakku, sesungguhnyalah ibumu mengatakan yang sebenarnya.”

Gendhuk Tri menunggu. Nyai Demang menambahkan gula aren ke dalam cangkirnya.

“Adimas Upasara mengatakan kurang-lebih begini, ‘Mbakyu Nyai, inilah kenyataan sesungguhnya yang membahagiakan. Saya sangat bahagia jika Mbakyu Nyai bisa bahagia. Seperti juga saya melakukan ini dengan bahagia, demi kebahagiaan yang kekal bagi Permaisuri Rajapatni, kebahagiaan yang kekal bagi Gendhuk Tri. Mbakyu Nyai, Permaisuri Rajapatni, Gendhuk Tri, selama ini telah begitu baik kepada saya, tetapi saya hanya menyusahkan pikiran mereka karena ketidakjelasan sikap saya. Kalau dengan ini mereka menjadi bahagia dan jelas, saya akan lebih bahagia lagi.’”

“Nyai, apakah Kakang menceritakan pengalaman di pulau terpencil?”

“Justru itu yang dikatakan pertama kali.”

“Apa yang dikatakan?”

“Kamu menjelaskan bahwa selama ini kamu telah mengikat janji dengan Maha Singanada. Mudah-mudahan benar begitu dan bukan sekadar memanaskan perasaannya saja.”

“Benar, Nyai.”

“Paling tidak, benar begitu pilihanmu dan sekaligus memanaskan hatinya.”

Cangkir di tangan Gendhuk Tri bergoyang. “Nyai, kenapa Kakang menyebut nama saya, nama Permaisuri Rajapatni?”

“Ah, bukan saatnya kita saling merahasiakan yang telah sama-sama kita ketahui.”

“Saya benar-benar tak mengerti. Kenapa saya dan…”

“Kamu ingin mendengar penjelasannya? Kamu ingin ibumu ini mengatakan apa yang sudah kamu katakan?”

Gendhuk Tri menggerung. “Saya benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengan Permaisuri Rajapatni. Kalau dengan saya, Kakang mungkin berpikir agar saya tak terganggu lagi dan bisa memilih Kakang Singanada.”

JILID 54BUKU PERTAMAJILID 56