Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 42

“Pangeran telah membacanya?”

“Barangkali sebelum kalian berdua pernah mendengar namanya.”

Kali ini Gendhuk Tri tak merasa tersinggung. Cara berbicara Pangeran Hiang seolah menunjukkan sikap yang lebih tahu. Dan sebenarnya begitu. Tanpa merasa merendahkan orang lain.

“Rombongan tiga senopati membawa apa saja. Emas, permata, senjata, salinan kitab-kitab, contoh tanah, dan tumbuhan. Kami mempelajari, menyalin, dan menjajal. Adik Tri, sebelum rombongan pertama berangkat, pengertian kami mengenai tanah Jawa hanyalah bentuk berbeda dari keraton-keraton di Hindia. Tata krama, perundangan, jurus-jurus ilmu silat, tata pemerintahan, menunjukkan persamaan sebagian atau keseluruhan. Kalaupun ada yang berbeda, hanya sebagian kecil karena pengaruh dari tanah Syangka. Sumber yang sama dari tanah Hindia juga merambah masuk ke daratan Cina. Sehingga tak terlalu sulit untuk memahami. Akan tetapi, begitu membaca kitab-kitab yang ada terasa benar keganjilan dan perubahan itu. Bukan hanya kembangan, tetapi bahkan menyentuh dasar-dasarnya. Bukan hanya gerakan tangan lurus menjadi berkelit, melainkan juga cara mengatur pernapasan. Inilah aneh. Dan ketika saya menyaksikan bagaimana Upasara bisa mematahkan gerakan Barisan Api, saya merasa bahwa di balik yang diajarkan, yang ditulis lengkap dalam kitab-kitab itu, ada sesuatu yang tak bisa dituliskan, tak mampu dirumuskan. Apakah bukan begitu, Pangeran Upasara?”

“Pangeran Hiang bisa melihatnya. Saya yang berada di dalamnya tak bisa melihat karena tak berjarak.”

Pangeran Hiang menghela napas. “Selama ini saya keliru menilai kalian berdua. Keliru menilai diri saya.” Pangeran Hiang membungkuk, kedua tangannya terayun ke depan, wajahnya menyentuh tanah.

Kemenangan Asmara
PANGERAN HIANG melakukan berulang-ulang. Upasara menunggu sampai selesai kemudian merangkul.

“Pangeran tak perlu melakukan hal itu.”

“Pangeran tak perlu melarang saya.”

Sejak itu kekakuan menjadi cair. Baik Pangeran Hiang, Upasara, maupun Gendhuk Tri tidak menyimpan kekuatiran atau pertanyaan yang mengganjal. Sekurangnya untuk sementara keinginan untuk melanjutkan pertarungan tidak terlihat. Bagi Gendhuk Tri sebenarnya tak soal benar. Kalaupun harus menghadapi Pangeran Hiang, dirinya tak merasa gentar. Kalaupun harus bertarung karena urusan yang tak jelas sebabnya pada masa lampau, juga tak memberati hatinya.

Yang membuatnya mendadak gelisah adalah karena selalu bersama Upasara. Kakang Upasara yang diakui secara mendalam sebagai lelaki yang dipuja dan dikagumi. Sejak masih kanak-kanak dulu. Tak berubah. Meskipun Upasara mempunyai pilihan hati yang lain, bersanding dengan wanita lain. Malah bertambah. Meskipun bibirnya sendiri yang terbuka dan mengatakan bahwa hatinya telah memilih lelaki lain.

Tetapi tak bisa dipungkiri dentuman hatinya yang selalu bernyanyi, bersenandung bila berhadapan, berdekatan, ataupun saling pandang. Gendhuk Tri tak mampu menguasai diri sepenuhnya. Inilah saat-saat yang paling sulit bagi dirinya. Bermain sandiwara seolah hubungannya dengan Upasara adalah adik-kakak, dan untuk itu batinnya merintih. Tak bisa disembunyikan.

Karena Gendhuk Tri bisa melamun, bengong, dan jalan pikiran dengan apa yang dikatakan atau dilakukan bisa lain sama sekali. Yang membuat Gendhuk Tri lebih bingung adalah, Upasara sekarang ini bukannya tidak tahu apa yang dirasakan. Upasara mengetahui kegelisahan Gendhuk Tri. Lebih menghebat lagi perasaan Gendhuk Tri, karena sikap Upasara justru seolah menerima kegelisahan Gendhuk Tri sebagai kegelisahan yang wajar.

Gendhuk Tri berusaha mengalihkan perhatian. Dua malam ia meninggalkan tempat Putri Koreyea. Dengan alasan meneliti keadaan sekitar. Memang Gendhuk Tri mencoba mengetahui di mana mereka berada. Berusaha mengikuti Kali Brantas secara terbalik. Dalam perhitungannya, dirinya hanyut selama satu malam. Kalau kini mengurut kembali selama semalam, pastilah akan kembali ke tempat semula. Namun perhitungan keliru.

Sungai ini mempunyai beberapa kelokan, pecah dan bercabang. Dan tidak mudah bagi Gendhuk Tri meniti di pinggir. Karena kadang hanya berisi pepohonan, atau tebing yang sangat terjal. Setelah memutari terus, Gendhuk Tri makin sadar bahwa mereka berada di suatu pulau. Yang dikelilingi sungai. Yang temu gelang ke tempat semula.

“Ke mana saja, Adik Tri?”

Aih. Suara itu bernada rindu.

“Kita berada di suatu pulau, Kakang.”

“Pulau yang dikelilingi sungai.”

“Kakang sudah tahu?”

“Saya mengiringi di belakang.”

Wajah Gendhuk Tri memerah. Hidungnya berkembang. “Kenapa Kakang bertanya saya dari mana?”

Ganti kini Upasara yang merah wajahnya. Tapi pandangannya tetap tenang. “Adik Tri, kita sekarang ini bukan kanak-kanak lagi. Bukan remaja belia. Kita sudah tua. Barangkali sama tuanya ketika kita bertemu dengan Dewa Maut dulu.”

“Kakang yang tambah tua. Saya tidak.”

Upasara tersenyum. “Saya baru sadar tua kalau melihat usia. Sewaktu Pangeran Hiang menanyakan umur, saya ragu dan menghitung sampai empat puluh, lalu saya hentikan sendiri. Adik Tri, selama ini kita belum saling bercerita. Bagaimana keadaan Adik Tri?”

“Kakang ingin menanyakan Maha Singanada?”

“Ya. Sejak melihat pertama bersama Adik Tri, saya bersyukur.”

Gendhuk Tri tidak menjawab segera.

“Maha Singanada pantas sekali bersanding dengan Adik Tri. Dibandingkan Pangeran Anom.”

“Kakang ini sekarang aneh. Duluuuu, hanya memperhatikan satu orang. Sekarang hal yang kecil diperhatikan.”

“Sejak bersama Dewa Maut, saya banyak berpikir kembali mengenai perjalanan hidup saya. Kadang saya ingin menertawai.”

“Menyesali?”

“Tidak. Tak ada alasan untuk itu, Adik Tri. Meskipun saya menyadari ada bagian yang berubah. Hubungan Pangeran Hiang dengan Putri Koreyea aneh sekali, tetapi juga sangat nyata. Kemenangan asmara antara Pangeran Hiang dan Putri Koreyea adalah kemenangan atas segala rintangan. Tetapi juga sekaligus seperti yang ditanyakan Pangeran Hiang: Apa artinya kemenangan asmara seperti ini?”

“Kakang makin lucu.”

“Dewa Maut juga mengatakan itu.”

Gendhuk Tri menatap Upasara. “Kakang, maukah Kakang menjawab jujur apa yang akan saya tanyakan?”

“Ya.”

“Siapa yang paling Kakang cintai?”

Upasara tak menjawab. Lidahnya bergerak-gerak di balik bibirnya.

“Permaisuri Rajapatni?”

“Saya tak begitu mengenalnya.”

“Gayatri?”

“Saya memujanya. Wanita yang sempurna.”

Ganti Gendhuk Tri yang merasa tercekik. “Kenapa Kakang tak mau meraihnya, kalau Gayatri juga bersedia? Apakah Kakang takut kutukan Dewa? Takut mengganggu garis keturunan Uma dengan Siwa?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kakang belum siap menerima kebahagiaan yang begitu besar.” Inilah jawaban sebenarnya. Gayatri adalah wanita satu-satunya, yang sempurna dalam diri Upasara Wulung. Tak ada yang lainnya. Tak ada sisa di hatinya.

“Ratu Ayu Bawah Langit?”

“Apa maksud pertanyaan Adik? Bagaimana membandingkannya? Atau perasaan saya?”

“Kakang mencintai Ratu Ayu?”

“Rasanya iya.”

“Huh. Dasar lelaki. Gayatri mau, Ratu Ayu mau. Huh!”

Upasara mencoba menggandeng Gendhuk Tri. Tangan Gendhuk Tri mengibas.

“Kakang kena penyakit apa?”

Pertanyaan Gendhuk Tri kali ini memang karena merasa terkejut. Rasanya belum pernah Upasara bersikap aneh seperti sekarang ini.

“Dalam gua bawah tanah sewaktu bersama Dewa Maut, secara tidak beraturan saya mempelajari kitab-kitab yang diingat Dewa Maut. Ternyata apa yang dilakukan Dewa Maut merupakan kunci untuk memahami Kitab Bumi, Kidungan Para Raja, Kidung Pamungkas, maupun Kidung Paminggir. Tidak perlu dibedakan. Tidak perlu dipertentangkan siapa menulis kitab yang mana.”

“Apa hubungannya dengan tindakan Kakang yang aneh?”

“Kitab Bumi, Kidungan Paminggir… apa lagi hubungannya kalau bukan Eyang Sepuh?”

“Kenapa Eyang Sepuh?”

“Eyang Putri Pulangsih. Menurut cerita, inti Kitab Penolak Bumi adalah penolakan Eyang Sepuh akan daya asmara. Barangkali benar adanya. Akan tetapi, bukankah kemudian Eyang Sepuh bisa menerima Eyang Putri Pulangsih? Adik Tri, Saya merasa bagian dari Eyang Sepuh, begitu melihat Adik Tri berloncatan di pinggiran bengawan yang mengingatkan akan Eyang Putri.”

Gendhuk Tri menghela napas berat. “Kakang sebaiknya kita mencoba membuat perahu. Tempat ini tidak terlalu baik untuk didiami lebih lama lagi.”

Raga Remuk
GENDHUK TRI melakukan apa yang dikatakan. Mengumpulkan kayu-kayu, menyusun, menyatukan dengan akar-akar pohon yang dipintal. Kalaupun berhenti sebentar, untuk mencari buah-buahan sekenanya atau memakan yang diambilkan Upasara. Hatinya makin gelisah. Ingin berdekatan dengan Upasara.

Akan tetapi begitu niatan itu mendapat sambutan, malah menjauh sendiri. Upasara sendiri kemudian menjauh. Hanya mengajak bercakap sekenanya. Lebih suka menunggui Pangeran Hiang yang kadang sehari-semalam menunggui Putri Koreyea yang tetap tak bergerak.

“Pangeran Upasara, katakanlah terus terang, di manakah dosa itu berada? Di manakah hukuman dan karma itu?”

“Tergantung dari jalan mana yang kita lewati, Pangeran Hiang.”

“Sebutkan jalan yang mana saja. Saya bertanya, menyalahkan, menggugat, mencaci kepada Dewa yang Maha dewa sebagai ganti doa. Akan tetapi hasilnya tak berbeda. Putri Koreyea tetap seperti sekarang ini. Katakan, Pangeran Upasara.”

“Saya ragu untuk mengutarakan. Kalau benar keteg, getar kehidupan, tak teraba dalam tubuh Putri Koreyea, bagaimana mungkin bisa bertahan sampai kini?”

“Semua terjadi tiba-tiba. Saya tak mau menceritakan sebelumnya. Namun toh tak ada bedanya juga. Dalam perjalanan di laut, Putri Koreyea mendadak mengatakan tubuhnya kurang enak. Lalu berbaring. Saya masih membayangkan kegembiraan. Bahwa rasa mual, kurang enak badan, selalu menyertai wanita yang sedang hamil. Tapi sejak itu saya tak berhasil membuatnya berjalan kembali. Ada saatnya terbuka matanya, meneteskan air mata, berbicara. Akan tetapi makin lama makin lemah.”

“Apa keluhannya selama ini?”

“Cahaya terlalu menyilaukan. Angin terlalu menyakitkan hidung. Suara terlalu bising. Bahkan tanpa gerakan di sampingnya pun, Putri tetap mengeluh. Itu sebabnya saya bertanya-tanya. Karma apa, kesalahan apa yang harus saya tebus? Pangeran Upasara, saya melakukan banyak kekeliruan dalam hidup. Banyak mengenal wanita, banyak mengalahkan lawan. Tapi yang melakukan saya. Bukan Putri. Kenapa harus terjadi padanya?”

Upasara berjalan di samping Pangeran Hiang menuju ke tempat Putri Koreyea. Duduk di sebelahnya.

“Gemuka mengatakan bahwa raga Putri remuk dari dalam. Tubuhnya tak mempunyai kekuatan lagi, sehingga udara pun menyakitkan gendang telinganya. Gesekan angin bisa menyakitkan gendang telinganya.”

“Saya kira begitu, Pangeran. Saya melihat tubuhnya amat sangat lemah.”

“Saya mengerti. Tapi apa sebabnya?”

“Pangeran Hiang bisa menebak nanti. Yang diperlukan adalah bagaimana mengobatinya.”

Pangeran Hiang menggeleng keras. “Pangeran Upasara. Di jagat ini saya mengerti segala jenis obat dan ramuan. Kotoran kuda pun bisa menjadi obat. Saya besar dan hidup dari tempat seperti itu. Jangan ajari saya tentang hal itu.”

“Ada satu ilmu yang secara tidak langsung dipelajari Dewa Maut. Ilmu mengenali seluruh kekuatan dari telapak kaki. Kalau Pangeran Hiang bisa mengingat, Dewa Maut melakukan itu untuk membebaskan Adik Tri, Paman Jaghana, dan Mpu Sina. Saya tidak tahu apakah Pangeran bersedia mencobanya.”

“Sama saja.”

“Dengan izin Pangeran saya akan mencoba.”

Pangeran Hiang mengangkat alisnya. “Pangeran Upasara mau menunjukkan lebih hebat dari saya? Lebih menang dari saya?”

Mata Upasara berkejap-kejap.

“Apa yang akan Pangeran lakukan?”

“Pertama kali mengetahui di mana yang tidak betul. Apakah betul raganya remuk?”

“Bahkan melihat kulit telapak kakinya pun tidak akan kuizinkan. Kecuali, kecuali kalau Pangeran Upasara bisa mengatakan dengan jelas, dan saya bisa menerima kalimat-kalimat itu.”

“Saya hanya ingin menjajal. Pangeran Hiang masih ingat pertanyaan yang belum terjawab: Kenapa saya bisa mematahkan serangan Barisan Api? Jawabannya adalah menjajal. Mencoba. Itulah laku.”

Kepala Pangeran Hiang sedikit miring. Menunggu.

“Pangeran Hiang, ada suatu kekuatan yang kita tidak pernah bisa mengetahui seluruhnya. Baik itu kekuatan raga maupun kekuatan sukma. Saya bisa mengetahui bahwa Barisan Api dididik sejak kecil. Kemudian menjadi jelas ketika Pangeran menerangkan bahwa tubuh mereka sengaja ditusuk dengan jarum di bagian tertentu untuk menyuntikkan ramuan tertentu atau penambahan kekuatan. Ditambah dengan latihan keras, pengekangan hawa nafsu, pematian indria yang lain, jadilah kekuatan yang luar biasa. Nyatanya begitu. Semua itu adalah usaha yang wadag, yang kasat mata. Bisa dilihat, bisa ditiru, bisa dilakukan siapa saja. Seperti juga kita melatih gerakan dalam ilmu silat. Otot, urat, pergelangan menjadi luwes. Menyatu dengan tenaga dalam. Akan tetapi pertanyaan kita adalah: Dari mana asalnya tenaga dalam itu sendiri? Bukankah ia sudah ada sebelum dilatih? Maaf kalau saya menggurui. Dengan memberi nama apa saja, apakah chi, apakah keteg, apakah alamiah, kekuatan Dewa, tetap tak menerangkan kenyataan, dari mana asalnya tenaga? Bagaimana mungkin tenaga itu berubah? Saya mencoba menerangkan mulai saat saya menghadapi Barisan Api. Tak sedikit pun tersedia jawaban sebelumnya. Bahkan bagaimana Barisan Api saya tak mengetahui. Ketika bertarung, dalam gebrakan pertama yang saya ketahui hanyalah bahwa kekuatan Barisan Api di luar perhitungan. Tenaga luar dan tenaga dalamnya sangat luar biasa. Apalagi ketika membentuk barisan di ruang yang sempit, telapak tangan yang bersinggungan bisa menambah lipat tenaga yang ada. Pikiran yang membersit pertama ialah mengupayakan agar Barisan Api tidak bersenggolan, tidak saling menyulut kekuatan. Akan tetapi ruangan untuk bertarung sempit. Kemungkinan untuk itu terlalu kecil ditiadakan. Saat itulah membersit dalam pikiran upaya untuk menangkap kekurangan. Rasanya tak ada. Barisan Api terlalu digdaya. Geraknya lugas, menyerang. Di sinilah bersitan itu menemukan bentuknya. Saya bisa segera menangkap bahwa gerakan Barisan Api sangat tertentu. Ada irama di mana yang satu mulai bergerak, yang lain menunggu. Sampai hitungan tertentu baru bergerak. Kalau perhitungan saya tidak salah, gerakan yang kedua sangat tergantung pada gerakan yang ada. Bisa gerakan Jalu pertama, bisa karena gerakan tubuh saya. Satu-satunya jalan bagi saya adalah mengupayakan gerakan saya seirama dengan gerakan Barisan Api. Yang mula-mula bergerak, menjadi bagian dari gerakan saya, untuk berada selangkah di depan. Sehingga yang pertama bergerak mengikuti saya. Dengan gerak berirama ini, kemungkinan mereka bersinggungan sangat kecil. Semakin saya berhati-hati dan tepat, semakin tak ada kemungkinan mereka bersinggungan. Kemudian dalam soal menggempur, saya memakai pukulan mematikan dan terkena. Dengan cara seperti itu, saya bisa sedikitnya mengurangi jumlah Barisan Api, sehingga kekuatan mereka tak bisa penuh. Saya tak mungkin menggebrak maju, karena tenaga saya hanya akan membangkitkan gerakan Barisan Api untuk bersinggungan dan berubah menjadi hebat. Saya juga tak akan menang melawan kesemuanya seketika. Karena kekuatan Barisan Api tak bisa ditandingi. Ternyata siasat itu berhasil.”

“Kembali ke pertanyaan semula. Dari mana kekuatan yang menangkap bahwa gerakan Barisan Api ini searah? Kekuatan dari mana?”

“Karena bisa terbaca, Pangeran. Siapa saja bisa membaca, tapi belum tentu bisa menemukan. Saya kebetulan bisa dua-duanya. Karena saya menjajal.”

Mangkara Kumuda
PANGERAN HIANG tetap menghalangi. “Saya tak memperbolehkan. Tak akan ada orang lain yang bisa menyentuh istri saya.”

“Pangeran Hiang masih curiga?”

“Ini bukan soal curiga. Saya tak akan mengizinkan.”

“Bagaimana kalau Adik Tri yang menjajal?”

Pangeran Hiang sejenak ragu.

“Tidak ada salahnya kita jajal, Pangeran.”

“Baik.”

Ternyata yang tidak mudah justru mengajak Gendhuk Tri. Ketika Upasara mengutarakan keinginannya untuk mencoba mengobati Putri Koreyea melalui Gendhuk Tri, yang diajak malah menggeleng.

“Untuk apa kita meributkan masalah yang tidak diperlukan oleh yang bersangkutan? Kakang mengira bisa menjadi Dewa karenanya? Kalau Pangeran Hiang tidak ikhlas, sampai kapan pun juga tak akan sembuh.”

“Adik…”

“Urusan saya sekarang adalah menyiapkan perahu untuk meninggalkan tempat ini.”

Gendhuk Tri bahkan tidak memedulikan Upasara maupun Pangeran Hiang. Ia lebih suka mengumpulkan kayu, menebas dengan kedua tangannya, mengikat dengan sulur-sulur pepohonan hingga merupakan rakit yang besar. Karung kulit bekas pembungkus tubuhnya dan Upasara sudah dijajal dan direntang-rentang. Tidak mau meladeni pembicaraan Upasara. Malah terjun ke tengah bengawan. Berusaha menyeberang ke tepi yang lain. Dua-tiga kali mencoba, akan tetapi selalu kandas.

“Adik Tri, hati-hati sedikit. Arus bengawan di bagian ini memutar deras. Itu sebabnya kita bisa terdampar di sini. Rasa-rasanya di sebelah selatan arah ini sudah dekat dengan Laut Kidul.”

Dengan gelagapan Gendhuk Tri mencoba kembali ke tepi. “Laut Kidul?”

“Campuran panas air menunjukkan hal itu. Saya kira Adik Tri sudah mengetahui ketika memutari pulau ini.”

“Celaka. Kalau benar begitu kita bakal terkurung di sini seumur-umur. Pantas saja di sini tak ada penghuni dan bekas-bekas hunian sama sekali.”

“Memang sepi. Tak ada perahu atau nelayan yang lewat.”

Mendadak Gendhuk Tri meloncat lagi ke dalam air. Menuju sedikit ke tengah. “Kakang, cepat loncat.”

“Kenapa?”

“Kita bisa menemukan mangkara kumuda di sini.”

Upasara meloncat ke tengah bengawan. Dan berendam, seperti juga Gendhuk Tri. Mangkara kumuda, atau udang teratai, adalah jenis udang yang berwarna seperti bunga seroja, putih. Mangkara atau udang jenis ini hanya bisa hidup di tempat yang arusnya berputar, terutama sekali sungai yang berada di mulut laut dengan ombak besar. Gendhuk Tri mengetahui lebih dalam mengenai hal ini dari penuturan Dewa Maut. Tokoh yang pernah dalam satu masa hidupnya hanya berada dalam perahu sepanjang Brantas!

Hanya saja selama ini Dewa Maut belum pernah menemukan udang seroja. Gendhuk Tri sendiri belum pernah melihat. Hanya mendengar penuturan bahwa udang itu besarnya bisa mencapai paha. Warna putihnya cepat sekali menarik perhatian, dibandingkan dengan udang besar yang biasanya selalu terdiri atas enam warna. Dengan mengeram dalam air, Gendhuk Tri berharap akan didatangi mangkara kumuda. Sebab begitulah cara yang pernah dikatakan Dewa Maut.

Tidak jauh berbeda dengan Gendhuk Tri, Upasara juga pernah mendengar tentang khasiat mangkara kumuda. Juga cara-cara menangkapnya. Akan tetapi karena binatang langka itu susah diburu, seperti juga jenis binatang atau buah langka yang lain, Upasara tak terlalu peduli.

“Rasa-rasanya iya. Selama kita di sini tak ada seekor ikan pun. Menurut cerita, ikan lain sangat takut kepada udang seroja.”

“Itulah, Kakang. Siapa tahu dengan cara ini kita bisa menolong Putri Koreyea.”

Upasara melengak. “Kenapa Adik mau menolongnya?”

“Saya mau menolong, seperti juga Kakang. Seperti juga Pangeran Hiang, saya tak mau Kakang menyentuh Putri Koreyea.”

Hampir saja terlontar pertanyaan kenapa. Tetapi Upasara bisa menahan diri. Ada kearifan yang menahan rasa ingin tahu lebih jelas alasan yang dikemukakan Gendhuk Tri.

“Sampai kapan kita berendam seperti ini?”

“Sampai udang itu datang.”

“Kalau ternyata tak ada.”

“Masih lebih baik daripada menunggui Putri tidur.”

Upasara mendeham keras. “Adik Tri, apakah Adik berpikir kakangmu ini sudah demikian buruk?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi Kakang tak pernah bisa mengelak kalau sudah berdekatan. Dengan Gayatri saja Kakang begitu terpesona. Bukan karena Gayatri hebat seperti bidadari. Hanya karena itulah wanita pertama yang begitu memperhatikan Kakang. Dengan Ratu Ayu, Kakang bahkan mengawini. Meskipun dalam sayembara murahan. Sekarang ini apa lagi. Saya bisa mengerti kalau Pangeran Hiang tak rela Kakang memegang-megang tubuhnya.”

“Adik Tri… Bagaimana bentuk udang itu?” Upasara mengalihkan pembicaraan.

“Ya seperti udang yang besar.”

“Apakah beracun, berbahaya, atau bagaimana?”

“Mana saya tahu? Bagaimana kalau Kakang bertanya kepada Dewa Maut lebih dulu?”

Kerenyahan suara Gendhuk Tri menandai keakraban yang juga kemanjaan sekaligus. Hanya dalam satu tarikan napas, Gendhuk Tri bisa berubah terbalik.

“Kenapa Kakang diam?”

“Jangan-jangan udang itu takut mendengar suara.”

“Atau sebaliknya. Kakang tahu bagaimana cara memanggil udang?”

“Memanggil udang?”

“Ya. Kalau kumbang bisa disuiti Dewa Maut, apa bedanya dengan binatang lain?”

yu Pangeran Hiang yang mendengarkan dari kejauhan tergugah pikirannya. Tentang kemungkinan mencari udang seroja. Tentang hubungan Upasara dengan Gendhuk Tri yang dianggap aneh, padahal dirinya sendiri dianggap sama anehnya. Inilah jagat yang tak akan pernah bisa dimengerti. Jagat tanah Jawa. Jagat ksatria yang mampu menyimpan dendam gunung meletus dalam senyuman. Ksatria yang tak bisa diperhitungkan sebelumnya. Seperti mencari kebetulan. Seperti bersandar kepada nasib. Tapi itu suatu usaha. Suatu yang disebut laku.

Apa yang baru saja dilakukan Gendhuk Tri menunjukkan hal itu. Pada saat mencoba meninggalkan pulau, saat itu pula seluruh kemampuannya berkembang ke arah itu. Menjajal menuju tepi, memperhitungkan aliran sungai. Dan tik. Meletikkan pikiran mengenai udang seroja. Pada saat sebelumnya tak pernah ada ingatan tentang udang seroja itu. Walaupun sudah lama berada di tempat ini, tak pernah menyebut sedikit pun. Tapi tik. Letikan yang bahkan, menurut Pangeran Upasara Wulung, tak disadari. Yang justru dipertanyakan. Kekuatan apa yang menyebabkan tik?

Tik. Cuma tik. itu yang menyebabkan Barisan Api bisa ditebak langkah dan geraknya serta sumber kekuatannya. Tik yang berikutnya yang menemukan cara untuk mengungguli. Inikah sumber kekuatan ksatria tanah Jawa? Pertanyaan itu menggoda Pangeran Hiang. Karena siapa pun dengan mudah akan menyadari bahwa Sri Baginda Raja berani menantang Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Dari segi perhitungan prajurit, kesiagaan perang, Keraton Singasari tak ada apa-apanya. Dengan cara apa pun akan tetap kalah. Akan tetapi toh Sri Baginda Raja tidak ragu sedikit pun menantang. Mengangkat senjata kepada keraton yang telah menguasai jagat seluruhnya. Yang dikuasai dengan cara kekerasan!

Memancing Itu Laku
APA yang terlihat di depan mata Pangeran Hiang membuka kedalaman pandangan untuk memahami manusia tanah Jawa. Manusia yang bisa tertawa, bisa bermain dalam hidupnya, tetapi ternyata mempunyai keuletan dan tak terkalahkan. Seperti sekarang ini. Upasara dan Gendhuk Tri yang berendam di pinggir bengawan sambil berbicara ke sana-kemari. Sesuatu yang dilakukan dengan wajah riang.

“Kakang tahu tidak bahwa Kakang itu sebenarnya sangat tolol?”

“Tahu.”

“Dalam hal apa?”

“Kalau saya tahu tolol dalam hal apa, namanya bukan tolol.”

“Kakang boleh mengaku menguasai Kitab Bumi. Boleh menjadi ksatria tanpa tanding. Boleh memecahkan rahasia Barisan Api. Tapi sekarang ini sangat dungu. Apa yang Kakang lakukan? Berada di bengawan dan menunggu udang….”

“Di mana tololnya?”

“Apa mungkin udang seroja yang kita cari tiba-tiba mau mendatangi kita dan menyerahkan tubuhnya? Udang saja pastilah tidak setolol Kakang!”

“Lalu?”

“Kita harus menjebak. Udang atau binatang apa pun, tak mungkin mau menyerahkan dirinya begitu saja. Dengan cara itu kemungkinan kita mendapatkan lebih besar.”

“Dengan apa kita menjebak?”

“Kita tak punya apa-apa, tapi rasanya masih ada kulit beruang. Salah satu bisa kita pergunakan.”

Perhitungan Gendhuk Tri adalah: bau kulit itu bisa merangsang udang untuk datang. Pertanyaannya: selama ini tidak terpengaruh sama sekali. Jawabannya: kulit itu dijadikan kulit kembali. Bagian-bagian yang telah digosok hingga mengilat dihilangkan. Atau sekurangnya dihilangkan. Itu yang dilakukan kemudian. Dan dengan kukunya Upasara menyobeki lembaran itu hingga menjadi tali yang panjang ketika disambung. Dengan cara itu lebih memancing kedatangan udang. Itulah yang kemudian dilakukan.

Keduanya bukan hanya berendam setengah badan, akan tetapi berusaha lebih ke tengah. Bukan pekerjaan yang mudah, karena pusaran air sangat keras. Beberapa kali Upasara mencoba berada di pusaran. Mencoba mengerahkan tenaga dalamnya melawan pusaran air. Tenaga dalamnya yang kuat membuat kuda-kudanya sangat kokoh. Akan tetapi itu hanya sebatas kakinya bisa bertahan. Jika mencoba masuk ke bagian yang lebih dalam, pijakan itu tidak menemukan kekuatan sehebat kalau menginjak. Dengan kaki menendang-nendang air, tubuh Upasara beberapa kali terseret putaran.

Ini berbeda dengan Gendhuk Tri yang agaknya bisa menyesuaikan diri dengan gerakan air. Tubuhnya kemudian bisa menyatu. Mengikuti arus, berputar kembali, tenggelam, untuk kemudian muncul. Tali kulit selalu bergerak. Upasara tak mau menyerah begitu saja. Ia menuju ke tengah. Tubuhnya amblas ke bawah, ke dasar bengawan. Dengan kaki berpijak, Upasara tak terseret arus. Akan tetapi dengan berbuat begitu ia tak bisa bernapas. Hingga perlu sesekali muncul ke permukaan. Untuk menghirup udara segar. Dan menenggelamkan tubuhnya lagi.

Setiap kali Upasara muncul, Gendhuk Tri menyambut dengan senyum ejekan. Karena Gendhuk Tri bisa bergerak leluasa. Gendhuk Tri hanya menyelam sementara, untuk melihat sekelilingnya. Apakah udang seroja yang belum pernah dilihat itu ada di sekitarnya. Usahanya mulai berhasil. Beberapa jenis ikan tertentu mulai mendekat, karena bau kulit yang sangat merangsang. Beberapa kali muncul, Gendhuk Tri heran karena tidak melihat Upasara. Jangan-jangan…

“Kakang…” Gendhuk Tri menyelam, berenang ke arah Upasara. Menyelam sampai dasar!

Ternyata Upasara berdiri gagah di bawah. Melawan arus dengan membuka kedua tangannya, kakinya melengkung. Samar-samar terlihat tali kulit digerak-gerakkan. Gendhuk Tri bisa mengikuti akan tetapi tak bisa bertahan lama seperti Upasara. Kalau Gendhuk Tri sekali lagi memuji pengaturan napas Upasara, tidak terlalu berlebihan. Yang selalu dikagumi dari kakangnya ini adalah kemampuannya yang cepat untuk mengatasi masalah. Begitu susah berenang, Upasara mengerahkan kemampuannya mengatur napas. Dengan tetap berada di dasar bengawan. Itu pula yang sejak pertama diperhatikan Pangeran Hiang.

Gendhuk Tri yang melenggok, berenang ke sana-kemari, menyelam dan muncul lagi. Wajahnya kelihatan benar-benar bersemangat. Demikian juga Upasara. Sesekali muncul ke permukaan air, dengan mengembuskan napas keras, mengisap, dan kemudian tenggelam lagi. Semangat. Kegembiraan. Permainan. Tujuan. Semuanya bisa menyatu. Antara memburu tujuan menangkap udang seroja, dan bermain di air yang menimbulkan kegembiraan serta semangat setelah sekian lama berada di pulau tanpa jelas apa yang dilakukan. Inikah yang disebut laku? Seperti yang disebut berulang kali dalam berbagai kitab. Inikah yang disebut menjajal?

Seperti yang dikatakan Upasara. Inilah usaha. Seperti yang disimpulkan. Laku itu usaha, tetapi sekaligus juga cara, yang sudah menyatu dalam perilaku. Memancing udang adalah bagian dari laku. Berendam di dasar sungai adalah bagian dari laku. Bisa berarti melatih tenaga dalam, melatih kesabaran, membuka pikiran, menyatu dengan alam, mencari dirinya sendiri.

Selama bersama Gendhuk Tri dan Upasara beberapa hari, Pangeran Hiang menyaksikan sendiri bahwa keduanya tidak secara khusus berlatih ilmu silat atau mengatur pernapasan. Tak pernah ditemui hal itu. Akan tetapi, ternyata itu semua dilakukan bersama dalam kegiatan sehari-hari. Ketika Gendhuk Tri mengumpulkan kayu untuk rakit, ketika berkeliling, ketika Upasara menorehkan kukunya ke kulit beruang yang keras dan liat. Barangkali inilah sumber tenaga ksatria tanah Jawa yang sesungguhnya. Yang pada beberapa orang tertentu bisa mencapai puncak penguasaan diri. Sehingga mampu menghadapi serangan apa pun!

Pangeran Hiang bisa melihat lebih jelas, karena ia berasal dari tradisi yang berbeda. Melihat bahwa pengaruh dari tanah Hindia dan Syangka, seperti yang kemudian dibuktikan sendiri, tak mengubah seluruhnya. Masih tetap ada sesuatu yang milik mereka sendiri. Gerakan ilmu silat mereka, dasarnya sama dengan apa yang dipelajari di negerinya. Yang diajarkan dengan susah payah untuk mengambil tenaga dari sedotan hidung, dibawa ke atas ke tempurung kepala, dan diturunkan lewat rangkaian tulang belakang, sebelum akhirnya terkumpul di pusar. Sama semuanya. Hanya saja hasilnya berbeda.

Karena tenaga yang kemudian bisa dimuntahkan, ternyata bisa berasal dari tenaga pusar yang dipusatkan, atau juga berasal dari sumber lain. Yang agaknya ini merupakan bentuk perwujudan diri mereka dalam pencapaian. Pangeran Hiang seperti mengoreksi dirinya. Semakin jauh dirinya tenggelam meneliti dan terlibat, semakin terseret pula. Terseret dan tenggelam dalam tata krama yang ada pada Gendhuk Tri maupun Upasara.

Kini makin disadari bahwa kalahnya Naga Nareswara, Raja Segala Naga, pada titik tertentu karena berusaha masuk dan memahami ilmu dari tanah Jawa. Pada saat itu, akan selalu bisa diungguli oleh mereka yang memang berada di situ, yang setiap saat dalam hidupnya memang begitu. Atau dengan kalimat yang sederhana, ketika Naga Nareswara berusaha memakai pendekatan yang digunakan Upasara, ia akan selalu bisa dikalahkan. Karena pendekatan Upasara memang sudah menyatu dengan hidupnya!

Titik pijak ini pula yang pada awalnya sudah menyesatkan Naga Nareswara yang mengubah kedatangannya sebagai pendeta menjadi sebagai jago silat. Hingga datang ke pertarungan yang menurut cerita diadakan setiap lima puluh tahun sekali. Sehebat apa pun, kalau mengikuti gaya permainan yang menjadi sikap hidup bangsa lain, sulit menemukan keunggulan. Hanya saja, Pangeran Hiang sepenuhnya sadar, sewaktu ia memakai pendekatan yang sama sekali berbeda, ternyata juga tak bisa merebut kemenangan.

Laku Itu Prasaja
DALAM hati, Pangeran Hiang mengagumi betapa Saudara Tua Gemuka jauh hari sudah melihat kemungkinan yang bisa muncul. Adalah Gemuka yang pertama kali mengatakan ketidaksetujuan untuk berangkat. Gemuka berkeberatan Pangeran Hiang pergi ke tanah Jawa. Bukan karena dengan demikian kemungkinan menduduki takhta jadi jauh, akan tetapi pertama-tama karena ada yang tak bisa diperhitungkan, walaupun dengan saksama dicoba diteliti.

JILID 41BUKU PERTAMAJILID 43

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 42

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 42

“Pangeran telah membacanya?”

“Barangkali sebelum kalian berdua pernah mendengar namanya.”

Kali ini Gendhuk Tri tak merasa tersinggung. Cara berbicara Pangeran Hiang seolah menunjukkan sikap yang lebih tahu. Dan sebenarnya begitu. Tanpa merasa merendahkan orang lain.

“Rombongan tiga senopati membawa apa saja. Emas, permata, senjata, salinan kitab-kitab, contoh tanah, dan tumbuhan. Kami mempelajari, menyalin, dan menjajal. Adik Tri, sebelum rombongan pertama berangkat, pengertian kami mengenai tanah Jawa hanyalah bentuk berbeda dari keraton-keraton di Hindia. Tata krama, perundangan, jurus-jurus ilmu silat, tata pemerintahan, menunjukkan persamaan sebagian atau keseluruhan. Kalaupun ada yang berbeda, hanya sebagian kecil karena pengaruh dari tanah Syangka. Sumber yang sama dari tanah Hindia juga merambah masuk ke daratan Cina. Sehingga tak terlalu sulit untuk memahami. Akan tetapi, begitu membaca kitab-kitab yang ada terasa benar keganjilan dan perubahan itu. Bukan hanya kembangan, tetapi bahkan menyentuh dasar-dasarnya. Bukan hanya gerakan tangan lurus menjadi berkelit, melainkan juga cara mengatur pernapasan. Inilah aneh. Dan ketika saya menyaksikan bagaimana Upasara bisa mematahkan gerakan Barisan Api, saya merasa bahwa di balik yang diajarkan, yang ditulis lengkap dalam kitab-kitab itu, ada sesuatu yang tak bisa dituliskan, tak mampu dirumuskan. Apakah bukan begitu, Pangeran Upasara?”

“Pangeran Hiang bisa melihatnya. Saya yang berada di dalamnya tak bisa melihat karena tak berjarak.”

Pangeran Hiang menghela napas. “Selama ini saya keliru menilai kalian berdua. Keliru menilai diri saya.” Pangeran Hiang membungkuk, kedua tangannya terayun ke depan, wajahnya menyentuh tanah.

Kemenangan Asmara
PANGERAN HIANG melakukan berulang-ulang. Upasara menunggu sampai selesai kemudian merangkul.

“Pangeran tak perlu melakukan hal itu.”

“Pangeran tak perlu melarang saya.”

Sejak itu kekakuan menjadi cair. Baik Pangeran Hiang, Upasara, maupun Gendhuk Tri tidak menyimpan kekuatiran atau pertanyaan yang mengganjal. Sekurangnya untuk sementara keinginan untuk melanjutkan pertarungan tidak terlihat. Bagi Gendhuk Tri sebenarnya tak soal benar. Kalaupun harus menghadapi Pangeran Hiang, dirinya tak merasa gentar. Kalaupun harus bertarung karena urusan yang tak jelas sebabnya pada masa lampau, juga tak memberati hatinya.

Yang membuatnya mendadak gelisah adalah karena selalu bersama Upasara. Kakang Upasara yang diakui secara mendalam sebagai lelaki yang dipuja dan dikagumi. Sejak masih kanak-kanak dulu. Tak berubah. Meskipun Upasara mempunyai pilihan hati yang lain, bersanding dengan wanita lain. Malah bertambah. Meskipun bibirnya sendiri yang terbuka dan mengatakan bahwa hatinya telah memilih lelaki lain.

Tetapi tak bisa dipungkiri dentuman hatinya yang selalu bernyanyi, bersenandung bila berhadapan, berdekatan, ataupun saling pandang. Gendhuk Tri tak mampu menguasai diri sepenuhnya. Inilah saat-saat yang paling sulit bagi dirinya. Bermain sandiwara seolah hubungannya dengan Upasara adalah adik-kakak, dan untuk itu batinnya merintih. Tak bisa disembunyikan.

Karena Gendhuk Tri bisa melamun, bengong, dan jalan pikiran dengan apa yang dikatakan atau dilakukan bisa lain sama sekali. Yang membuat Gendhuk Tri lebih bingung adalah, Upasara sekarang ini bukannya tidak tahu apa yang dirasakan. Upasara mengetahui kegelisahan Gendhuk Tri. Lebih menghebat lagi perasaan Gendhuk Tri, karena sikap Upasara justru seolah menerima kegelisahan Gendhuk Tri sebagai kegelisahan yang wajar.

Gendhuk Tri berusaha mengalihkan perhatian. Dua malam ia meninggalkan tempat Putri Koreyea. Dengan alasan meneliti keadaan sekitar. Memang Gendhuk Tri mencoba mengetahui di mana mereka berada. Berusaha mengikuti Kali Brantas secara terbalik. Dalam perhitungannya, dirinya hanyut selama satu malam. Kalau kini mengurut kembali selama semalam, pastilah akan kembali ke tempat semula. Namun perhitungan keliru.

Sungai ini mempunyai beberapa kelokan, pecah dan bercabang. Dan tidak mudah bagi Gendhuk Tri meniti di pinggir. Karena kadang hanya berisi pepohonan, atau tebing yang sangat terjal. Setelah memutari terus, Gendhuk Tri makin sadar bahwa mereka berada di suatu pulau. Yang dikelilingi sungai. Yang temu gelang ke tempat semula.

“Ke mana saja, Adik Tri?”

Aih. Suara itu bernada rindu.

“Kita berada di suatu pulau, Kakang.”

“Pulau yang dikelilingi sungai.”

“Kakang sudah tahu?”

“Saya mengiringi di belakang.”

Wajah Gendhuk Tri memerah. Hidungnya berkembang. “Kenapa Kakang bertanya saya dari mana?”

Ganti kini Upasara yang merah wajahnya. Tapi pandangannya tetap tenang. “Adik Tri, kita sekarang ini bukan kanak-kanak lagi. Bukan remaja belia. Kita sudah tua. Barangkali sama tuanya ketika kita bertemu dengan Dewa Maut dulu.”

“Kakang yang tambah tua. Saya tidak.”

Upasara tersenyum. “Saya baru sadar tua kalau melihat usia. Sewaktu Pangeran Hiang menanyakan umur, saya ragu dan menghitung sampai empat puluh, lalu saya hentikan sendiri. Adik Tri, selama ini kita belum saling bercerita. Bagaimana keadaan Adik Tri?”

“Kakang ingin menanyakan Maha Singanada?”

“Ya. Sejak melihat pertama bersama Adik Tri, saya bersyukur.”

Gendhuk Tri tidak menjawab segera.

“Maha Singanada pantas sekali bersanding dengan Adik Tri. Dibandingkan Pangeran Anom.”

“Kakang ini sekarang aneh. Duluuuu, hanya memperhatikan satu orang. Sekarang hal yang kecil diperhatikan.”

“Sejak bersama Dewa Maut, saya banyak berpikir kembali mengenai perjalanan hidup saya. Kadang saya ingin menertawai.”

“Menyesali?”

“Tidak. Tak ada alasan untuk itu, Adik Tri. Meskipun saya menyadari ada bagian yang berubah. Hubungan Pangeran Hiang dengan Putri Koreyea aneh sekali, tetapi juga sangat nyata. Kemenangan asmara antara Pangeran Hiang dan Putri Koreyea adalah kemenangan atas segala rintangan. Tetapi juga sekaligus seperti yang ditanyakan Pangeran Hiang: Apa artinya kemenangan asmara seperti ini?”

“Kakang makin lucu.”

“Dewa Maut juga mengatakan itu.”

Gendhuk Tri menatap Upasara. “Kakang, maukah Kakang menjawab jujur apa yang akan saya tanyakan?”

“Ya.”

“Siapa yang paling Kakang cintai?”

Upasara tak menjawab. Lidahnya bergerak-gerak di balik bibirnya.

“Permaisuri Rajapatni?”

“Saya tak begitu mengenalnya.”

“Gayatri?”

“Saya memujanya. Wanita yang sempurna.”

Ganti Gendhuk Tri yang merasa tercekik. “Kenapa Kakang tak mau meraihnya, kalau Gayatri juga bersedia? Apakah Kakang takut kutukan Dewa? Takut mengganggu garis keturunan Uma dengan Siwa?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kakang belum siap menerima kebahagiaan yang begitu besar.” Inilah jawaban sebenarnya. Gayatri adalah wanita satu-satunya, yang sempurna dalam diri Upasara Wulung. Tak ada yang lainnya. Tak ada sisa di hatinya.

“Ratu Ayu Bawah Langit?”

“Apa maksud pertanyaan Adik? Bagaimana membandingkannya? Atau perasaan saya?”

“Kakang mencintai Ratu Ayu?”

“Rasanya iya.”

“Huh. Dasar lelaki. Gayatri mau, Ratu Ayu mau. Huh!”

Upasara mencoba menggandeng Gendhuk Tri. Tangan Gendhuk Tri mengibas.

“Kakang kena penyakit apa?”

Pertanyaan Gendhuk Tri kali ini memang karena merasa terkejut. Rasanya belum pernah Upasara bersikap aneh seperti sekarang ini.

“Dalam gua bawah tanah sewaktu bersama Dewa Maut, secara tidak beraturan saya mempelajari kitab-kitab yang diingat Dewa Maut. Ternyata apa yang dilakukan Dewa Maut merupakan kunci untuk memahami Kitab Bumi, Kidungan Para Raja, Kidung Pamungkas, maupun Kidung Paminggir. Tidak perlu dibedakan. Tidak perlu dipertentangkan siapa menulis kitab yang mana.”

“Apa hubungannya dengan tindakan Kakang yang aneh?”

“Kitab Bumi, Kidungan Paminggir… apa lagi hubungannya kalau bukan Eyang Sepuh?”

“Kenapa Eyang Sepuh?”

“Eyang Putri Pulangsih. Menurut cerita, inti Kitab Penolak Bumi adalah penolakan Eyang Sepuh akan daya asmara. Barangkali benar adanya. Akan tetapi, bukankah kemudian Eyang Sepuh bisa menerima Eyang Putri Pulangsih? Adik Tri, Saya merasa bagian dari Eyang Sepuh, begitu melihat Adik Tri berloncatan di pinggiran bengawan yang mengingatkan akan Eyang Putri.”

Gendhuk Tri menghela napas berat. “Kakang sebaiknya kita mencoba membuat perahu. Tempat ini tidak terlalu baik untuk didiami lebih lama lagi.”

Raga Remuk
GENDHUK TRI melakukan apa yang dikatakan. Mengumpulkan kayu-kayu, menyusun, menyatukan dengan akar-akar pohon yang dipintal. Kalaupun berhenti sebentar, untuk mencari buah-buahan sekenanya atau memakan yang diambilkan Upasara. Hatinya makin gelisah. Ingin berdekatan dengan Upasara.

Akan tetapi begitu niatan itu mendapat sambutan, malah menjauh sendiri. Upasara sendiri kemudian menjauh. Hanya mengajak bercakap sekenanya. Lebih suka menunggui Pangeran Hiang yang kadang sehari-semalam menunggui Putri Koreyea yang tetap tak bergerak.

“Pangeran Upasara, katakanlah terus terang, di manakah dosa itu berada? Di manakah hukuman dan karma itu?”

“Tergantung dari jalan mana yang kita lewati, Pangeran Hiang.”

“Sebutkan jalan yang mana saja. Saya bertanya, menyalahkan, menggugat, mencaci kepada Dewa yang Maha dewa sebagai ganti doa. Akan tetapi hasilnya tak berbeda. Putri Koreyea tetap seperti sekarang ini. Katakan, Pangeran Upasara.”

“Saya ragu untuk mengutarakan. Kalau benar keteg, getar kehidupan, tak teraba dalam tubuh Putri Koreyea, bagaimana mungkin bisa bertahan sampai kini?”

“Semua terjadi tiba-tiba. Saya tak mau menceritakan sebelumnya. Namun toh tak ada bedanya juga. Dalam perjalanan di laut, Putri Koreyea mendadak mengatakan tubuhnya kurang enak. Lalu berbaring. Saya masih membayangkan kegembiraan. Bahwa rasa mual, kurang enak badan, selalu menyertai wanita yang sedang hamil. Tapi sejak itu saya tak berhasil membuatnya berjalan kembali. Ada saatnya terbuka matanya, meneteskan air mata, berbicara. Akan tetapi makin lama makin lemah.”

“Apa keluhannya selama ini?”

“Cahaya terlalu menyilaukan. Angin terlalu menyakitkan hidung. Suara terlalu bising. Bahkan tanpa gerakan di sampingnya pun, Putri tetap mengeluh. Itu sebabnya saya bertanya-tanya. Karma apa, kesalahan apa yang harus saya tebus? Pangeran Upasara, saya melakukan banyak kekeliruan dalam hidup. Banyak mengenal wanita, banyak mengalahkan lawan. Tapi yang melakukan saya. Bukan Putri. Kenapa harus terjadi padanya?”

Upasara berjalan di samping Pangeran Hiang menuju ke tempat Putri Koreyea. Duduk di sebelahnya.

“Gemuka mengatakan bahwa raga Putri remuk dari dalam. Tubuhnya tak mempunyai kekuatan lagi, sehingga udara pun menyakitkan gendang telinganya. Gesekan angin bisa menyakitkan gendang telinganya.”

“Saya kira begitu, Pangeran. Saya melihat tubuhnya amat sangat lemah.”

“Saya mengerti. Tapi apa sebabnya?”

“Pangeran Hiang bisa menebak nanti. Yang diperlukan adalah bagaimana mengobatinya.”

Pangeran Hiang menggeleng keras. “Pangeran Upasara. Di jagat ini saya mengerti segala jenis obat dan ramuan. Kotoran kuda pun bisa menjadi obat. Saya besar dan hidup dari tempat seperti itu. Jangan ajari saya tentang hal itu.”

“Ada satu ilmu yang secara tidak langsung dipelajari Dewa Maut. Ilmu mengenali seluruh kekuatan dari telapak kaki. Kalau Pangeran Hiang bisa mengingat, Dewa Maut melakukan itu untuk membebaskan Adik Tri, Paman Jaghana, dan Mpu Sina. Saya tidak tahu apakah Pangeran bersedia mencobanya.”

“Sama saja.”

“Dengan izin Pangeran saya akan mencoba.”

Pangeran Hiang mengangkat alisnya. “Pangeran Upasara mau menunjukkan lebih hebat dari saya? Lebih menang dari saya?”

Mata Upasara berkejap-kejap.

“Apa yang akan Pangeran lakukan?”

“Pertama kali mengetahui di mana yang tidak betul. Apakah betul raganya remuk?”

“Bahkan melihat kulit telapak kakinya pun tidak akan kuizinkan. Kecuali, kecuali kalau Pangeran Upasara bisa mengatakan dengan jelas, dan saya bisa menerima kalimat-kalimat itu.”

“Saya hanya ingin menjajal. Pangeran Hiang masih ingat pertanyaan yang belum terjawab: Kenapa saya bisa mematahkan serangan Barisan Api? Jawabannya adalah menjajal. Mencoba. Itulah laku.”

Kepala Pangeran Hiang sedikit miring. Menunggu.

“Pangeran Hiang, ada suatu kekuatan yang kita tidak pernah bisa mengetahui seluruhnya. Baik itu kekuatan raga maupun kekuatan sukma. Saya bisa mengetahui bahwa Barisan Api dididik sejak kecil. Kemudian menjadi jelas ketika Pangeran menerangkan bahwa tubuh mereka sengaja ditusuk dengan jarum di bagian tertentu untuk menyuntikkan ramuan tertentu atau penambahan kekuatan. Ditambah dengan latihan keras, pengekangan hawa nafsu, pematian indria yang lain, jadilah kekuatan yang luar biasa. Nyatanya begitu. Semua itu adalah usaha yang wadag, yang kasat mata. Bisa dilihat, bisa ditiru, bisa dilakukan siapa saja. Seperti juga kita melatih gerakan dalam ilmu silat. Otot, urat, pergelangan menjadi luwes. Menyatu dengan tenaga dalam. Akan tetapi pertanyaan kita adalah: Dari mana asalnya tenaga dalam itu sendiri? Bukankah ia sudah ada sebelum dilatih? Maaf kalau saya menggurui. Dengan memberi nama apa saja, apakah chi, apakah keteg, apakah alamiah, kekuatan Dewa, tetap tak menerangkan kenyataan, dari mana asalnya tenaga? Bagaimana mungkin tenaga itu berubah? Saya mencoba menerangkan mulai saat saya menghadapi Barisan Api. Tak sedikit pun tersedia jawaban sebelumnya. Bahkan bagaimana Barisan Api saya tak mengetahui. Ketika bertarung, dalam gebrakan pertama yang saya ketahui hanyalah bahwa kekuatan Barisan Api di luar perhitungan. Tenaga luar dan tenaga dalamnya sangat luar biasa. Apalagi ketika membentuk barisan di ruang yang sempit, telapak tangan yang bersinggungan bisa menambah lipat tenaga yang ada. Pikiran yang membersit pertama ialah mengupayakan agar Barisan Api tidak bersenggolan, tidak saling menyulut kekuatan. Akan tetapi ruangan untuk bertarung sempit. Kemungkinan untuk itu terlalu kecil ditiadakan. Saat itulah membersit dalam pikiran upaya untuk menangkap kekurangan. Rasanya tak ada. Barisan Api terlalu digdaya. Geraknya lugas, menyerang. Di sinilah bersitan itu menemukan bentuknya. Saya bisa segera menangkap bahwa gerakan Barisan Api sangat tertentu. Ada irama di mana yang satu mulai bergerak, yang lain menunggu. Sampai hitungan tertentu baru bergerak. Kalau perhitungan saya tidak salah, gerakan yang kedua sangat tergantung pada gerakan yang ada. Bisa gerakan Jalu pertama, bisa karena gerakan tubuh saya. Satu-satunya jalan bagi saya adalah mengupayakan gerakan saya seirama dengan gerakan Barisan Api. Yang mula-mula bergerak, menjadi bagian dari gerakan saya, untuk berada selangkah di depan. Sehingga yang pertama bergerak mengikuti saya. Dengan gerak berirama ini, kemungkinan mereka bersinggungan sangat kecil. Semakin saya berhati-hati dan tepat, semakin tak ada kemungkinan mereka bersinggungan. Kemudian dalam soal menggempur, saya memakai pukulan mematikan dan terkena. Dengan cara seperti itu, saya bisa sedikitnya mengurangi jumlah Barisan Api, sehingga kekuatan mereka tak bisa penuh. Saya tak mungkin menggebrak maju, karena tenaga saya hanya akan membangkitkan gerakan Barisan Api untuk bersinggungan dan berubah menjadi hebat. Saya juga tak akan menang melawan kesemuanya seketika. Karena kekuatan Barisan Api tak bisa ditandingi. Ternyata siasat itu berhasil.”

“Kembali ke pertanyaan semula. Dari mana kekuatan yang menangkap bahwa gerakan Barisan Api ini searah? Kekuatan dari mana?”

“Karena bisa terbaca, Pangeran. Siapa saja bisa membaca, tapi belum tentu bisa menemukan. Saya kebetulan bisa dua-duanya. Karena saya menjajal.”

Mangkara Kumuda
PANGERAN HIANG tetap menghalangi. “Saya tak memperbolehkan. Tak akan ada orang lain yang bisa menyentuh istri saya.”

“Pangeran Hiang masih curiga?”

“Ini bukan soal curiga. Saya tak akan mengizinkan.”

“Bagaimana kalau Adik Tri yang menjajal?”

Pangeran Hiang sejenak ragu.

“Tidak ada salahnya kita jajal, Pangeran.”

“Baik.”

Ternyata yang tidak mudah justru mengajak Gendhuk Tri. Ketika Upasara mengutarakan keinginannya untuk mencoba mengobati Putri Koreyea melalui Gendhuk Tri, yang diajak malah menggeleng.

“Untuk apa kita meributkan masalah yang tidak diperlukan oleh yang bersangkutan? Kakang mengira bisa menjadi Dewa karenanya? Kalau Pangeran Hiang tidak ikhlas, sampai kapan pun juga tak akan sembuh.”

“Adik…”

“Urusan saya sekarang adalah menyiapkan perahu untuk meninggalkan tempat ini.”

Gendhuk Tri bahkan tidak memedulikan Upasara maupun Pangeran Hiang. Ia lebih suka mengumpulkan kayu, menebas dengan kedua tangannya, mengikat dengan sulur-sulur pepohonan hingga merupakan rakit yang besar. Karung kulit bekas pembungkus tubuhnya dan Upasara sudah dijajal dan direntang-rentang. Tidak mau meladeni pembicaraan Upasara. Malah terjun ke tengah bengawan. Berusaha menyeberang ke tepi yang lain. Dua-tiga kali mencoba, akan tetapi selalu kandas.

“Adik Tri, hati-hati sedikit. Arus bengawan di bagian ini memutar deras. Itu sebabnya kita bisa terdampar di sini. Rasa-rasanya di sebelah selatan arah ini sudah dekat dengan Laut Kidul.”

Dengan gelagapan Gendhuk Tri mencoba kembali ke tepi. “Laut Kidul?”

“Campuran panas air menunjukkan hal itu. Saya kira Adik Tri sudah mengetahui ketika memutari pulau ini.”

“Celaka. Kalau benar begitu kita bakal terkurung di sini seumur-umur. Pantas saja di sini tak ada penghuni dan bekas-bekas hunian sama sekali.”

“Memang sepi. Tak ada perahu atau nelayan yang lewat.”

Mendadak Gendhuk Tri meloncat lagi ke dalam air. Menuju sedikit ke tengah. “Kakang, cepat loncat.”

“Kenapa?”

“Kita bisa menemukan mangkara kumuda di sini.”

Upasara meloncat ke tengah bengawan. Dan berendam, seperti juga Gendhuk Tri. Mangkara kumuda, atau udang teratai, adalah jenis udang yang berwarna seperti bunga seroja, putih. Mangkara atau udang jenis ini hanya bisa hidup di tempat yang arusnya berputar, terutama sekali sungai yang berada di mulut laut dengan ombak besar. Gendhuk Tri mengetahui lebih dalam mengenai hal ini dari penuturan Dewa Maut. Tokoh yang pernah dalam satu masa hidupnya hanya berada dalam perahu sepanjang Brantas!

Hanya saja selama ini Dewa Maut belum pernah menemukan udang seroja. Gendhuk Tri sendiri belum pernah melihat. Hanya mendengar penuturan bahwa udang itu besarnya bisa mencapai paha. Warna putihnya cepat sekali menarik perhatian, dibandingkan dengan udang besar yang biasanya selalu terdiri atas enam warna. Dengan mengeram dalam air, Gendhuk Tri berharap akan didatangi mangkara kumuda. Sebab begitulah cara yang pernah dikatakan Dewa Maut.

Tidak jauh berbeda dengan Gendhuk Tri, Upasara juga pernah mendengar tentang khasiat mangkara kumuda. Juga cara-cara menangkapnya. Akan tetapi karena binatang langka itu susah diburu, seperti juga jenis binatang atau buah langka yang lain, Upasara tak terlalu peduli.

“Rasa-rasanya iya. Selama kita di sini tak ada seekor ikan pun. Menurut cerita, ikan lain sangat takut kepada udang seroja.”

“Itulah, Kakang. Siapa tahu dengan cara ini kita bisa menolong Putri Koreyea.”

Upasara melengak. “Kenapa Adik mau menolongnya?”

“Saya mau menolong, seperti juga Kakang. Seperti juga Pangeran Hiang, saya tak mau Kakang menyentuh Putri Koreyea.”

Hampir saja terlontar pertanyaan kenapa. Tetapi Upasara bisa menahan diri. Ada kearifan yang menahan rasa ingin tahu lebih jelas alasan yang dikemukakan Gendhuk Tri.

“Sampai kapan kita berendam seperti ini?”

“Sampai udang itu datang.”

“Kalau ternyata tak ada.”

“Masih lebih baik daripada menunggui Putri tidur.”

Upasara mendeham keras. “Adik Tri, apakah Adik berpikir kakangmu ini sudah demikian buruk?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi Kakang tak pernah bisa mengelak kalau sudah berdekatan. Dengan Gayatri saja Kakang begitu terpesona. Bukan karena Gayatri hebat seperti bidadari. Hanya karena itulah wanita pertama yang begitu memperhatikan Kakang. Dengan Ratu Ayu, Kakang bahkan mengawini. Meskipun dalam sayembara murahan. Sekarang ini apa lagi. Saya bisa mengerti kalau Pangeran Hiang tak rela Kakang memegang-megang tubuhnya.”

“Adik Tri… Bagaimana bentuk udang itu?” Upasara mengalihkan pembicaraan.

“Ya seperti udang yang besar.”

“Apakah beracun, berbahaya, atau bagaimana?”

“Mana saya tahu? Bagaimana kalau Kakang bertanya kepada Dewa Maut lebih dulu?”

Kerenyahan suara Gendhuk Tri menandai keakraban yang juga kemanjaan sekaligus. Hanya dalam satu tarikan napas, Gendhuk Tri bisa berubah terbalik.

“Kenapa Kakang diam?”

“Jangan-jangan udang itu takut mendengar suara.”

“Atau sebaliknya. Kakang tahu bagaimana cara memanggil udang?”

“Memanggil udang?”

“Ya. Kalau kumbang bisa disuiti Dewa Maut, apa bedanya dengan binatang lain?”

yu Pangeran Hiang yang mendengarkan dari kejauhan tergugah pikirannya. Tentang kemungkinan mencari udang seroja. Tentang hubungan Upasara dengan Gendhuk Tri yang dianggap aneh, padahal dirinya sendiri dianggap sama anehnya. Inilah jagat yang tak akan pernah bisa dimengerti. Jagat tanah Jawa. Jagat ksatria yang mampu menyimpan dendam gunung meletus dalam senyuman. Ksatria yang tak bisa diperhitungkan sebelumnya. Seperti mencari kebetulan. Seperti bersandar kepada nasib. Tapi itu suatu usaha. Suatu yang disebut laku.

Apa yang baru saja dilakukan Gendhuk Tri menunjukkan hal itu. Pada saat mencoba meninggalkan pulau, saat itu pula seluruh kemampuannya berkembang ke arah itu. Menjajal menuju tepi, memperhitungkan aliran sungai. Dan tik. Meletikkan pikiran mengenai udang seroja. Pada saat sebelumnya tak pernah ada ingatan tentang udang seroja itu. Walaupun sudah lama berada di tempat ini, tak pernah menyebut sedikit pun. Tapi tik. Letikan yang bahkan, menurut Pangeran Upasara Wulung, tak disadari. Yang justru dipertanyakan. Kekuatan apa yang menyebabkan tik?

Tik. Cuma tik. itu yang menyebabkan Barisan Api bisa ditebak langkah dan geraknya serta sumber kekuatannya. Tik yang berikutnya yang menemukan cara untuk mengungguli. Inikah sumber kekuatan ksatria tanah Jawa? Pertanyaan itu menggoda Pangeran Hiang. Karena siapa pun dengan mudah akan menyadari bahwa Sri Baginda Raja berani menantang Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Dari segi perhitungan prajurit, kesiagaan perang, Keraton Singasari tak ada apa-apanya. Dengan cara apa pun akan tetap kalah. Akan tetapi toh Sri Baginda Raja tidak ragu sedikit pun menantang. Mengangkat senjata kepada keraton yang telah menguasai jagat seluruhnya. Yang dikuasai dengan cara kekerasan!

Memancing Itu Laku
APA yang terlihat di depan mata Pangeran Hiang membuka kedalaman pandangan untuk memahami manusia tanah Jawa. Manusia yang bisa tertawa, bisa bermain dalam hidupnya, tetapi ternyata mempunyai keuletan dan tak terkalahkan. Seperti sekarang ini. Upasara dan Gendhuk Tri yang berendam di pinggir bengawan sambil berbicara ke sana-kemari. Sesuatu yang dilakukan dengan wajah riang.

“Kakang tahu tidak bahwa Kakang itu sebenarnya sangat tolol?”

“Tahu.”

“Dalam hal apa?”

“Kalau saya tahu tolol dalam hal apa, namanya bukan tolol.”

“Kakang boleh mengaku menguasai Kitab Bumi. Boleh menjadi ksatria tanpa tanding. Boleh memecahkan rahasia Barisan Api. Tapi sekarang ini sangat dungu. Apa yang Kakang lakukan? Berada di bengawan dan menunggu udang….”

“Di mana tololnya?”

“Apa mungkin udang seroja yang kita cari tiba-tiba mau mendatangi kita dan menyerahkan tubuhnya? Udang saja pastilah tidak setolol Kakang!”

“Lalu?”

“Kita harus menjebak. Udang atau binatang apa pun, tak mungkin mau menyerahkan dirinya begitu saja. Dengan cara itu kemungkinan kita mendapatkan lebih besar.”

“Dengan apa kita menjebak?”

“Kita tak punya apa-apa, tapi rasanya masih ada kulit beruang. Salah satu bisa kita pergunakan.”

Perhitungan Gendhuk Tri adalah: bau kulit itu bisa merangsang udang untuk datang. Pertanyaannya: selama ini tidak terpengaruh sama sekali. Jawabannya: kulit itu dijadikan kulit kembali. Bagian-bagian yang telah digosok hingga mengilat dihilangkan. Atau sekurangnya dihilangkan. Itu yang dilakukan kemudian. Dan dengan kukunya Upasara menyobeki lembaran itu hingga menjadi tali yang panjang ketika disambung. Dengan cara itu lebih memancing kedatangan udang. Itulah yang kemudian dilakukan.

Keduanya bukan hanya berendam setengah badan, akan tetapi berusaha lebih ke tengah. Bukan pekerjaan yang mudah, karena pusaran air sangat keras. Beberapa kali Upasara mencoba berada di pusaran. Mencoba mengerahkan tenaga dalamnya melawan pusaran air. Tenaga dalamnya yang kuat membuat kuda-kudanya sangat kokoh. Akan tetapi itu hanya sebatas kakinya bisa bertahan. Jika mencoba masuk ke bagian yang lebih dalam, pijakan itu tidak menemukan kekuatan sehebat kalau menginjak. Dengan kaki menendang-nendang air, tubuh Upasara beberapa kali terseret putaran.

Ini berbeda dengan Gendhuk Tri yang agaknya bisa menyesuaikan diri dengan gerakan air. Tubuhnya kemudian bisa menyatu. Mengikuti arus, berputar kembali, tenggelam, untuk kemudian muncul. Tali kulit selalu bergerak. Upasara tak mau menyerah begitu saja. Ia menuju ke tengah. Tubuhnya amblas ke bawah, ke dasar bengawan. Dengan kaki berpijak, Upasara tak terseret arus. Akan tetapi dengan berbuat begitu ia tak bisa bernapas. Hingga perlu sesekali muncul ke permukaan. Untuk menghirup udara segar. Dan menenggelamkan tubuhnya lagi.

Setiap kali Upasara muncul, Gendhuk Tri menyambut dengan senyum ejekan. Karena Gendhuk Tri bisa bergerak leluasa. Gendhuk Tri hanya menyelam sementara, untuk melihat sekelilingnya. Apakah udang seroja yang belum pernah dilihat itu ada di sekitarnya. Usahanya mulai berhasil. Beberapa jenis ikan tertentu mulai mendekat, karena bau kulit yang sangat merangsang. Beberapa kali muncul, Gendhuk Tri heran karena tidak melihat Upasara. Jangan-jangan…

“Kakang…” Gendhuk Tri menyelam, berenang ke arah Upasara. Menyelam sampai dasar!

Ternyata Upasara berdiri gagah di bawah. Melawan arus dengan membuka kedua tangannya, kakinya melengkung. Samar-samar terlihat tali kulit digerak-gerakkan. Gendhuk Tri bisa mengikuti akan tetapi tak bisa bertahan lama seperti Upasara. Kalau Gendhuk Tri sekali lagi memuji pengaturan napas Upasara, tidak terlalu berlebihan. Yang selalu dikagumi dari kakangnya ini adalah kemampuannya yang cepat untuk mengatasi masalah. Begitu susah berenang, Upasara mengerahkan kemampuannya mengatur napas. Dengan tetap berada di dasar bengawan. Itu pula yang sejak pertama diperhatikan Pangeran Hiang.

Gendhuk Tri yang melenggok, berenang ke sana-kemari, menyelam dan muncul lagi. Wajahnya kelihatan benar-benar bersemangat. Demikian juga Upasara. Sesekali muncul ke permukaan air, dengan mengembuskan napas keras, mengisap, dan kemudian tenggelam lagi. Semangat. Kegembiraan. Permainan. Tujuan. Semuanya bisa menyatu. Antara memburu tujuan menangkap udang seroja, dan bermain di air yang menimbulkan kegembiraan serta semangat setelah sekian lama berada di pulau tanpa jelas apa yang dilakukan. Inikah yang disebut laku? Seperti yang disebut berulang kali dalam berbagai kitab. Inikah yang disebut menjajal?

Seperti yang dikatakan Upasara. Inilah usaha. Seperti yang disimpulkan. Laku itu usaha, tetapi sekaligus juga cara, yang sudah menyatu dalam perilaku. Memancing udang adalah bagian dari laku. Berendam di dasar sungai adalah bagian dari laku. Bisa berarti melatih tenaga dalam, melatih kesabaran, membuka pikiran, menyatu dengan alam, mencari dirinya sendiri.

Selama bersama Gendhuk Tri dan Upasara beberapa hari, Pangeran Hiang menyaksikan sendiri bahwa keduanya tidak secara khusus berlatih ilmu silat atau mengatur pernapasan. Tak pernah ditemui hal itu. Akan tetapi, ternyata itu semua dilakukan bersama dalam kegiatan sehari-hari. Ketika Gendhuk Tri mengumpulkan kayu untuk rakit, ketika berkeliling, ketika Upasara menorehkan kukunya ke kulit beruang yang keras dan liat. Barangkali inilah sumber tenaga ksatria tanah Jawa yang sesungguhnya. Yang pada beberapa orang tertentu bisa mencapai puncak penguasaan diri. Sehingga mampu menghadapi serangan apa pun!

Pangeran Hiang bisa melihat lebih jelas, karena ia berasal dari tradisi yang berbeda. Melihat bahwa pengaruh dari tanah Hindia dan Syangka, seperti yang kemudian dibuktikan sendiri, tak mengubah seluruhnya. Masih tetap ada sesuatu yang milik mereka sendiri. Gerakan ilmu silat mereka, dasarnya sama dengan apa yang dipelajari di negerinya. Yang diajarkan dengan susah payah untuk mengambil tenaga dari sedotan hidung, dibawa ke atas ke tempurung kepala, dan diturunkan lewat rangkaian tulang belakang, sebelum akhirnya terkumpul di pusar. Sama semuanya. Hanya saja hasilnya berbeda.

Karena tenaga yang kemudian bisa dimuntahkan, ternyata bisa berasal dari tenaga pusar yang dipusatkan, atau juga berasal dari sumber lain. Yang agaknya ini merupakan bentuk perwujudan diri mereka dalam pencapaian. Pangeran Hiang seperti mengoreksi dirinya. Semakin jauh dirinya tenggelam meneliti dan terlibat, semakin terseret pula. Terseret dan tenggelam dalam tata krama yang ada pada Gendhuk Tri maupun Upasara.

Kini makin disadari bahwa kalahnya Naga Nareswara, Raja Segala Naga, pada titik tertentu karena berusaha masuk dan memahami ilmu dari tanah Jawa. Pada saat itu, akan selalu bisa diungguli oleh mereka yang memang berada di situ, yang setiap saat dalam hidupnya memang begitu. Atau dengan kalimat yang sederhana, ketika Naga Nareswara berusaha memakai pendekatan yang digunakan Upasara, ia akan selalu bisa dikalahkan. Karena pendekatan Upasara memang sudah menyatu dengan hidupnya!

Titik pijak ini pula yang pada awalnya sudah menyesatkan Naga Nareswara yang mengubah kedatangannya sebagai pendeta menjadi sebagai jago silat. Hingga datang ke pertarungan yang menurut cerita diadakan setiap lima puluh tahun sekali. Sehebat apa pun, kalau mengikuti gaya permainan yang menjadi sikap hidup bangsa lain, sulit menemukan keunggulan. Hanya saja, Pangeran Hiang sepenuhnya sadar, sewaktu ia memakai pendekatan yang sama sekali berbeda, ternyata juga tak bisa merebut kemenangan.

Laku Itu Prasaja
DALAM hati, Pangeran Hiang mengagumi betapa Saudara Tua Gemuka jauh hari sudah melihat kemungkinan yang bisa muncul. Adalah Gemuka yang pertama kali mengatakan ketidaksetujuan untuk berangkat. Gemuka berkeberatan Pangeran Hiang pergi ke tanah Jawa. Bukan karena dengan demikian kemungkinan menduduki takhta jadi jauh, akan tetapi pertama-tama karena ada yang tak bisa diperhitungkan, walaupun dengan saksama dicoba diteliti.

JILID 41BUKU PERTAMAJILID 43