Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 41

“Pangeran Hiang, Pangeran keliru kalau mengartikan bahwa kami semua sama.”

“Adik Tri benar. Tetapi tetap tak terduga. Jiwa dan sikap kalian serba tak terduga. Saya katakan tadi, bisa menyimpan gunung meletus dalam senyuman. Bisa menyimpan badai sambil menunduk dan menyembah. Itu yang tidak kami miliki. Kalian bisa panas, mendendam ketika saya menyebut Raja Ardanari. Karena kalian merasa bahwa Sri Baginda Raja adalah segalanya. Padahal apakah Keraton kalian yang sesungguhnya? Sebuah bangunan tua, di tanah yang basah, di sungai yang airnya seperti air pancuran, bila dibandingkan dengan Keraton Tartar. Tartar adalah matahari, yang terbesar dan menerangi. Dan satu-satunya. Tartar adalah lautan, yang terbesar dan menyebar ke segala penjuru. Bukan sungai. Jagat dari ujung ke ujung takluk dan menyembah. Tartar adalah kemenangan. Kemenangan demi kemenangan.”

Setiap kali mengucapkan kata kemenangan, setiap kali pula Pangeran Hiang seperti menampilkan dirinya. Seperti menjadi ada.

“Ini sejarah yang maha panjang. Sejarah kemenangan. Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara memulai dari padang berdebu, mengalahkan 20.000 ksatria padang pasir. Tak ada satu pun yang berhasil menghalangi. Seluruh Mongolia, Tartar, serta tlatah yang berada di bawah kekuasaan Cina dikalahkan. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara menguasai jagat dengan kemenangan. Sejak masih timur sebagai senopati padang pasir Temujin, Eyang Agung mengumpulkan kemenangan. Juga ketika harus menyingkir Paman Agung Jamuka, sahabat sesama senopati. Karena hanya satu nilai yang bisa diraih, yaitu kemenangan. Siapa yang menghalangi kemenangan akan tersingkir. Keraton Tawu, pusat pemerintahan Cina yang selama usia jagat menguasai sekitarnya, dilipat habis. Kemenangan yang tiada tara. Eyang Agung Jengiz Khan adalah Penguasa Jagat Seisinya. Tlatah mana yang tak dikuasai, tak dikalahkan? Bahkan Samudra Adriatik, di luar tlatah tapel wates, batas dunia, dikuasai. Persia, Kwarem yang selalu ditutupi salju bisa dikuasai, ditaklukkan, dimenangi. Dari tanah yang kering di padang pasir hingga ke tanah yang ditutupi es. Dari ujung dunia yang satu sampai ujung dunia yang lain. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, sesungguhnyalah penguasa jagat. Tanpa tanding. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara adalah matahari. Tradisi kemenangan yang mengalir dalam darah Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang mampu meneruskan kemenangan. Demi kemenangan itu sendiri. Tradisi darah kemenangan tidak menetes dalam tubuh Paman Agung Mongke, yang disingkirkan Rama Prabu. Untuk kemenangan, Mongke atau Jamuka tak akan bisa menghalangi. Akan tersingkir. Adalah Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa yang mengganti raja-raja Tang, yang turun-temurun menguasai Keraton Tawu. Adalah Rama Prabu yang meneruskan tradisi kemenangan itu yang ditantang raja tanah Jawa.”

“Itulah hebat. Raja Kubilai Khan yang Perkasa ternyata tak mampu menundukkan Sri Baginda Raja. Lautan ternyata kalah oleh sungai. Mana sebenarnya yang hebat? Matahari atau tanah becek?”

“Siapa pun yang menang berhak menentukan kebenaran.” Gendhuk Tri mengangguk-angguk.

Semakin Pangeran Hiang mengulang, semakin Gendhuk Tri menyadari kenapa Pangeran Hiang mendewakan kemenangan sebagai satu-satunya nilai utama. Tradisi itu menetes dari buyut, eyang, dari ayahandanya yang bergelar Khan yang Perkasa. Yang lahir dan dibesarkan dalam pertarungan antara hidup dan mati, dan memperoleh kemenangan akhir.

Betapa kagoknya, ketika di tanah becek yang disebutkan muncul penghalang ke arah kemenangan yang sempurna. Sehingga perlu dikirim senopati demi senopati yang makin tak terkalahkan. Tapi, harus berakhir dengan keadaan sama. Bukan kemenangan. Gendhuk Tri mengusap wajahnya.

“Cukup puas mengeluarkan semua unek-unek? Cukup lega karena segala ganjalan telah dikeluarkan? Pangeran Hiang, di antara kita banyak perbedaan, tetapi ada tali nasib yang mempertemukan. Karena Pangeran Hiang memaksa mempertajam perbedaan, rasanya kami juga tak bisa menolak.”

“Tempat ini sangat layak. Tak ada siapa-siapa yang bakal menghentikan. Tak ada yang campur tangan. Pangeran Upasara dan Adik Tri mewakili Keraton Majapahit dan saya mewakili Keraton Yuan….”

“Baik. Tanpa harus diembel-embeli mewakili siapa. Tapi kalau Pangeran menganggap bisa mengalahkan kami berarti mengalahkan Keraton Majapahit, saya tak akan menghalangi. Agak susah dan tak ada gunanya mencoba mengajak bicara orang yang susah melihat dari tempat yang berbeda pijakannya. Silakan….”

Upasara gusar dalam hatinya melihat Gendhuk Tri menantang dan mempermainkan. Akan tetapi saat itu tak bisa berbuat suatu apa. Tidak bisa mencegah lagi. Upasara mengakui bahwa Pangeran Hiang mempunyai ilmu yang sudah di atas ilmu yang selama ini pernah dihadapi. Dari kemampuannya berkonsentrasi tinggi ketika mengapung sambil merangkul Putri Koreyea, caranya mengatur pernapasan, menunjukkan kelasnya yang di atas.

Namun itu tidak membuatnya gentar. Hanya memang terasa ada ganjalan dalam hal Putri Koreyea. Entah kenapa sejak mendengar desahan napas, apalagi melihat sendiri, Upasara tergetar hatinya. Tersayat. Ada penderitaan yang tergema ke dalam hatinya. Seperti saat-saat dirinya kehilangan tenaga dalam dan kemauan untuk hidup. Itu sebabnya dari tadi beberapa kali Upasara melirik ke arah Putri Koreyea.

Saat itu Pangeran Hiang juga melirik, dan mendadak tubuhnya terlipat, masuk ke bawah tubuh Putri Koreyea. Kedua tangannya menyelusup ke bawah pakaian. Upasara bergerak cepat. Tangan kanannya menebas udara. Gendhuk Tri yang mengayunkan selendangnya jadi tersentak. Tidak mengira bakal disentak dengan tenaga memutar balik yang begitu kuat. Selendangnya mengeluarkan suara keretekan, dan sobek menjadi berbagai cabikan. Sedangkan tangannya terputar ke belakang. Klak.

Upasara segera mendekat. “Maaf, Adik Tri….”

Gendhuk Tri meringis. Tangan kirinya yang bebas bergerak. Menyambar pipi. Plak. Berbekas. Lima jari. Gendhuk Tri yang kaget. Tak disangka bahwa Upasara akan membiarkan pipinya kena gampar begitu telak.

“Apa maksud Kakang? Pangeran Hiang telah menyatakan siap.”

“Maaf, Adik Tri….”

“Maaf, maaf! Saya jadinya yang harus minta maaf.” Gendhuk Tri kesal. Belakang telinganya digaruk-garuk. Tiba-tiba saja gerakannya terhenti. “Putri Koreyea meninggal…?” Tanda tanya di belakang kalimatnya seperti tak kedengaran.

Kandhat Kandhara
UPASARA paling kuatir, akan tetapi Gendhuk Tri yang lebih dulu bergerak. Tubuhnya mendekat. Tangannya menyentuh leher Putri Koreyea. Satu-satunya bagian yang membuka dan bisa disentuh, selain bagian wajah. Ujung jari Gendhuk Tri tak menemukan reaksi. Tak ada tanda-tanda.

Ada sisa rasa dingin, akan tetapi bukan dingin sekali. Inilah yang membuatnya heran. Sentuhan yang dilakukan Gendhuk Tri adalah sentuhan yang dikenal dengan pijet kandhara, pijatan di bagian leher. Bukan sembarang pijatan, karena di bagian leher, persis di bawah daun telinga bagian belakang, merupakan tempat yang penting untuk mengetahui adanya kekuatan hidup.

Detak yang lemah, tak beraturan, cepat bisa dirasakan dengan sentuhan ujung jari. Kalau upaya ini gagal, biasanya ditekan dengan ujung ibu jari. Itu pula yang dilakukan Gendhuk Tri. Tak ada reaksi. Tubuh Putri Koreyea seperti tak memiliki kekuatan hidup sama sekali. Tak ada detak, tak ada getaran.

“Mungkinkah kandhat kandhara?”

Upasara maju perlahan. Ujung ibu jarinya menyentuh, memancarkan tenaga murni. Apa yang dikatakan Gendhuk Tri sebenarnya bukan menyebutkan nama penyakit tertentu. Dengan mengatakan kandhat kandhara, Gendhuk Tri mengatakan bahwa nadi leher Putri Koreyea sedang dalam keadaan tidak bergerak, tidak bereaksi, tidak hidup. Sebutan ini dipakai untuk mengatakan, seseorang yang secara jasmaniahnya masih bisa disebut hidup, akan tetapi sebenarnya hanya menunda beberapa saat dari kematian yang sesungguhnya.

Pada saat itu nadi di leher mulai beristirahat, sebelum akhirnya beristirahat seterusnya. Upasara tak menyangkal perhitungan Gendhuk Tri. Dengan kata lain, seseorang yang kandhat kandhara seluruh tubuhnya sedang dalam ambang kematian. Pada saat seperti itu, semua pertolongan tak ada gunanya. Bahkan pengiriman tenaga dalam yang paling murni sekalipun tak akan berarti. Apalagi jenis pengobatan dengan ramuan rebusan.

Karena tubuh penderita tidak menjawab apa-apa. Tidak menolak, tidak menerima. Sedang dalam keadaan kandhat. Dengan perhitungan ini, sebenarnya Gendhuk Tri ingin mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pangeran Hiang sebenarnya upaya yang sia-sia. Terobosan tenaga dalam yang bagaimanapun tak bisa menembus masuk. Meskipun demikian, baik Gendhuk Tri maupun Upasara menyadari betul usaha Pangeran Hiang.

Sesuatu yang wajar, karena ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong. Walau secara akal pikiran itu tidak mungkin, tetapi hubungan batin membuat Pangeran Hiang mengerahkan tenaga dalamnya. Yang memang luar biasa. Seketika itu juga sekeliling tubuh Pangeran Hiang mengepul asap. Bergulung seakan menguap dari air yang dididihkan dengan cepat. Uap putih bergulung itu memang uap air. Hanya saja bukan berasal dari tubuh Pangeran Hiang.

Melainkan dari sekeliling tubuh Pangeran Hiang yang terkena desakan hawa panas. Itu pula sebabnya tanah di sekitar Pangeran Hiang berbaring menjadi kering. Terisap airnya dan menguap. Butir-butir air yang terkandung dalam tanah di sekitarnya habis terisap dan menguap. Dedaunan menjadi kering seketika. Bahkan pohon-pohon dalam jarak dua tombak mengering. Tenaga dalam yang melesak kuat. Kalau keadaan sekitarnya saja bisa diisap zat airnya, bisa diperhitungkan bagaimana kekuatan yang sesungguhnya. Itu bisa terjadi untuk beberapa saat.

Sehingga seluruh pepohonan menjadi layu, kering, mulai dari daun hingga akar! Sampai akhirnya berhenti sendiri. Ketika matahari sudah mulai condong ke arah barat. Pangeran Hiang tidak tampak lelah. Sebaliknya tetap segar seperti sebelumnya. Juga pakaiannya tidak menjadi kering. Pengaturan tenaga dalam yang bisa mengikuti kehendaknya.

“Apa yang saya lakukan sia-sia, Adik Tri?”

“Rasanya begitu, Pangeran. Tanpa pertolongan apa-apa, detak itu bisa kembali teraba. Karena kalau bisa diterobos, nadi di leher Putri Koreyea akan menimbulkan reaksi. Saya tak tahu apakah nadi kehidupan bangsa Tartar, Mongol, atau Koreyea berbeda dari manusia yang lain.”

“Apa yang kamu ketahui tentang kandhat kandhara, Adik Tri?”

Gendhuk Tri menggeleng. “Seperti yang Pangeran Hiang ketahui. Urat nadi di bawah telinga, di bagian leher, merupakan arus kehidupan yang terakhir. Detak ulu hati bisa berhenti, akan tetapi masih ada getaran di leher. Sejauh yang saya ketahui, detak di leher tidak terpengaruh oleh sesuatu di luar itu, tak mungkin bisa terkontrol. Seperti halnya detak jantung dan tarikan udara yang memompa rongga dada. Terjadi dengan sendirinya, pun kala kita lelap tertidur. Sejak kita bertemu, Pangeran Hiang selalu menghindar menjawab apakah Putri Koreyea terkena penyakit tertentu atau serangan tertentu. Kalau memang itu rahasia yang tak mau diungkapkan, ya pembicaraan pun tak banyak artinya. Kita menunggui kematian atau kehidupan kembali tanpa berbuat apa-apa. Seperti denyut leher itu. Akan tetapi kalau ada sebab-musababnya, barangkali kita bisa menemukan penangkalnya.”

“Saya mengerti maksud Adik Tri. Sepenuhnya.”

Gendhuk Tri tak tersinggung, meskipun setiap kali Pangeran Hiang seolah mengisyaratkan telah mengetahui, lebih banyak dan lebih baik dari apa yang diutarakan Gendhuk Tri. Gendhuk Tri menyadari bahwa kenyataan yang sesungguhnya memang begitu. Ditambah lagi pikiran Pangeran Hiang sedang gundah.

“Tubuh Putri Koreyea tak terkena racun, tak terkena serangan tenaga dalam. Tak ada apa-apanya. Masih segar bugar ketika bersama saya. Lalu tiba-tiba saja membeku kaku seperti sekarang ini. Sebuah pertanyaan kecil, yang berarti banyak.”

Tanpa diminta tanpa memberi isyarat sebelumnya, Pangeran Hiang berubah sikapnya. Menjadi lebih lembut, dan kemudian bercerita:

Pada mulanya Pangeran Sang Hiang tak mengerti segala sesuatu, kecuali padang pasir, tahi kuda, angin ribut yang bisa menimbuni manusia, dan mengubah gunung yang ada. Sepanjang ingatan Pangeran Sang Hiang, ia berada dalam perkemahan dari kulit binatang, hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Setiap harinya dilalui dengan memanah burung, naik kuda, berlatih ilmu silat dan ilmu gulat, menyantap daging mentah di alam terbuka.

Sampai pada usia belasan, barulah disadari bahwa dirinya berbeda dari semua pengembara dan penunggang kuda. Dirinya mendapat perlakuan yang istimewa. Sangat istimewa. Yang justru membuat kikuk, karena kini didampingi para pelayan, para dayang, dan boleh berdiam di mana saja. Saat itu Pangeran Hiang baru menyadari bahwa dirinya adalah putra mahkota, salah satu putra Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang sejak awal kelahirannya dididik dalam tradisi kehidupan bangsa Mongolia.

Seperti calon-calon putra mahkota lain yang disebar ke berbagai tempat di gurun. Setengah percaya setengah tidak, ketika ada undangan ke Keraton Tawu, Pangeran Hiang berangkat. Diterima dengan segala upaya kebesaran, mendapatkan ruangan yang sangat lebar dengan makanan dan minuman serta perempuan berlimpah. Saat itulah Pangeran Hiang untuk pertama kalinya berjumpa dengan ibunya. Seorang putri kaisar yang terakhir. Pangeran Hiang baru mengetahui kemudian. Tidak di saat pertemuan itu. Karena ibunya hanya memandang dari jauh, dan Pangeran Hiang diajari untuk ber-soja, memberi penghormatan.

“Beliau adalah salah satu permaisuri Kubilai Khan yang Perkasa, yang mendiami Puri Tawu, jauh sebelum kaisar lama menyerahkan takhta ke tangan Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara.”

Dari penuturan pengawalnya inilah Pangeran Hiang kemudian menyadari bahwa dalam tubuhnya mengalir darah keturunan dinasti Tang, bangsa Han yang halus lembut penuh tata krama. Dan juga mewarisi kekerasan dan nilai kemenangan dari tradisi Tartar.

Panggilan ke Keraton Tawu ini pula yang membuka matanya, bahwa para calon putra mahkota semua juga hadir. Untuk menunjukkan ketangkasan memanah burung yang berpasangan dan hanya mengenai seekor; menunggang kuda sambil melemparkan senjata, dengan berada di bawah perut kuda, menggelantung di antara kaki kuda; serta meremukkan tulang belakang lawan dalam bergulat.

Pangeran Hiang tak menemukan kesulitan sedikit pun. Malah boleh dikatakan paling berhasil di antara puluhan putra Kubilai Khan yang Perkasa. Yang lebih mencengangkan lagi ialah ketika menghadapi ujian ilmu surat, Pangeran Hiang memperlihatkan darah keturunan dari ibundanya. Dengan lancar Pangeran Hiang bisa membaca, menulis, dan hafal beberapa kitab utama.

Kodrat Keturunan
RAJA Kubilai Khan Yang Perkasa, yang menyaksikan semua ujian dari jauh, menyatakan kepuasannya. Dan memilih lima calon putra mahkota untuk dididik secara khusus di Keraton. Dengan guru-guru utama. Sejak saat itu pula Pangeran Hiang berdiam di Keraton Tawu dengan segala kebesarannya. Akan tetapi didikan keras padang pasir tak bisa diubah. Justru sebaliknya, Pangeran Hiang berlatih lebih keras, dan lebih giat lagi.

Kemampuannya kini berkembang bukan hanya memanah burung, naik kuda, dan meremukkan tulang belakang lawan tandingnya, akan tetapi juga bagaimana menggunakan tombak, pedang, pukulan tangan kosong, senjata rahasia. Terutama dari berbagai guru bangsa Han beserta para pendeta, Pangeran Hiang mendapat gemblengan secara khusus. Sesuatu yang memuaskan dahaganya akan ilmu silat. Sesuatu yang membanggakan guru-gurunya.

Tapi juga sesuatu yang diam-diam mengundang bahaya. Pangeran Hiang tidak segera menyadari, akan tetapi kemudian sekali bisa merasakan bahwa persaingan para calon putra mahkota memanas dan mengganas. Terutama dari kalangan para pengikutnya.

Sampai saat itu, setelah berada di Keraton beberapa tahun, Pangeran Hiang belum pernah mendapat izin untuk menghadap Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Ia diperkenankan menyebut Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, akan tetapi tetap belum ada perkenan untuk sowan. Kecuali kalau secara beramai-ramai, berada di tempat yang sangat jauh.

Masalah yang dihadapi Pangeran Hiang cukup gawat. Dalam tata cara pemilihan calon pewaris takhta, tak lebih hanya ada lima nama yang kuat. Pangeran Hiang merupakan pilihan yang terkuat. Yang memenuhi segala macam persyaratan. Hanya saja darah Han yang mengalir dalam tubuhnya dari ibundanya bisa menjadi penghalang. Sebab Pangeran Hiang tidak murni merupakan keturunan langsung dari darah yang menetes di padang pasir.

Sebagian darahnya adalah darah dari dinasti Tang. Yang bukan tidak mungkin suatu ketika nanti bisa menjadi lebih kuat dorongannya. Padahal dinasti Yuan yang akan ditegakkan oleh Raja Kubilai Khan yang Perkasa, menandai kebesaran darah Tartar.

Melalui guru-gurunya, baik dari bangsa Han maupun Mongol, Pangeran Hiang mencoba menemukan jawaban dari kegelisahan. Pertanyaan-pertanyaan yang berawal dari kecerdasannya mempelajari berbagai kitab mengenai kodrat, mengenai keturunan, mengenai asal-usul dirinya, tak pernah memperoleh jawaban yang memuaskan. Inilah keruwetan pertama yang dihadapi. Dan satu-satunya.

Di satu pihak dirinya diakui sebagai putra Tartar, akan tetapi di pihak lain juga tetap dianggap penerus dinasti Tang. Masalah itu demikian berat membebani dirinya, sehingga Pangeran Hiang merasa tidak tahan. Dengan sepenuh keberanian yang tersisa, Pangeran Hiang memutuskan menghadap Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Ini saja sudah menyalahi tata krama. Belum pernah ada putra yang berani mengajukan diri. Selama ini hanya menunggu kalau-kalau Raja berkenan menyebut namanya.

“Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, penguasa jagat seisinya dalam warisan kebesaran Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, hari ini hamba menghadap. Sebagai putra Rama Prabu Kubilai Khan Yang Perkasa, sebagai pengembara yang menghadap kepala suku. Perkenanlah hamba menyampaikan sembah….”

Pangeran Hiang menunduk, menyembah dengan menyentuhkan dahi ke lantai. Tak melihat dan mengetahui reaksi Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Hanya suaranya yang terdengar.

“Aku tahu semuanya, Hiang putraku. Kamu tinggal membuktikan diri, untuk memperoleh pengakuan dari tradisi yang besar. Tradisi kemenangan. Sebab Tartar hanya mengenal itu. Buktikan itu.”

Hanya itu. Tak ada yang lain. Sejak itu pula Pangeran Hiang berusaha keras membuktikan tradisi kemenangan yang menjadi bukti nyata keunggulan Tartar. Itu pula sebabnya Pangeran Hiang memilih berangkat ke Jepun. Suatu tindakan yang dinilai sangat nekat. Kelewat berbahaya. Utusan Raja Kubilai Khan yang Perkasa, dengan puluhan perahu yang bersenjata lengkap, sudah tiga kali dikirim. Ketiga-tiganya gagal. Bahkan utusan terakhir dengan armada perang lengkap, kandas secara mengenaskan. Di tengah laut.

Selama ini tak ada prajurit atau senopati Tartar yang bisa menginjak tanah Jepun. Tapi tekad Pangeran Hiang tak bergoyang. Dirinya menyadari bahwa kelompok yang tidak menyukainya akan bersorak kegirangan dalam hati. Sebab pergi ke Jepun sama dengan bunuh diri. Berarti Pangeran Hiang akan lenyap dari pencalonan. Dirinya menyadari bahwa kelompok yang berpihak padanya meneriakkan kesedihan dalam hati.

Sebab dengan meninggalkan Keraton, kemungkinan untuk mengetahui keadaan sehari-hari makin berjarak. Sehingga kalau ada sesuatu yang perlu dan mendadak, Pangeran Hiang tidak masuk hitungan. Apa pun perhitungannya, Pangeran Hiang tetap akan berangkat.

Dengan restu Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang memberikan tiga puluh prajurit utama, yang kemudian disebut Barisan Api. Ini adalah prajurit utama yang sejak awal kelahirannya dididik secara khusus, dilatih ilmu silat, dilatih mengetahui segala sesuatu tentang pelayaran dan perahu. Yang lebih istimewa lagi sejak kanak-kanak tubuh mereka telah ditusuki dengan jarum khusus untuk melipatgandakan tenaga yang dimiliki.

Di seluruh Keraton, jumlah Barisan Api tidak mencapai seratus orang, karena memang merupakan pilihan dari segala pilihan. Mereka hanya mengenal satu perintah, dari Pangeran Hiang. Mereka hanya hidup di atas perahu, yang agaknya memang merupakan rencana sejak semula untuk menaklukkan wilayah yang selama ini tak mungkin ditundukkan. Dengan perlengkapan yang sangat sempurna. Pangeran Hiang berangkat menuju Jepun.

Perahunya yang ramping, tidak terlalu mencolok, bisa selamat mendarat. Dan dengan keberanian yang luar biasa, Pangeran Hiang menyatroni lawan. Masuk ke salah satu keraton dan menguasai. Menebas lawan yang ditantang maju. Melaju hingga ke keraton utama. Pulang kembali membawa pedang panjang dan pendek, dan segala harta benda, kitab pusaka. Untuk dipersembahkan kepada Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Yang menerima dalam upacara kebesaran, dan memuji keberhasilan Pangeran Hiang. Meskipun secara resmi Keraton Jepun tidak dikalahkan, akan tetapi pengakuan akan kebesaran Keraton Tartar sudah lebih dari cukup. Nama Pangeran Hiang melambung ke langit. Sejak saat itu Pangeran Sang Hiang diperkenankan memilih umbul-umbul sendiri sebagai tanda pengenalnya. Pangeran Hiang memilih simbol Siung Naga Bermahkota.

Pemakaian umbul-umbul tersendiri adalah pertanda yang luar biasa. Pertanda pengakuan yang secara resmi dilakukan oleh Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Secara tidak langsung memberikan isyarat bahwa sudah ada petunjuk kuat Pangeran Sang Hiang bakal menggantikan takhta. Pada saat itulah sebenarnya Pangeran Hiang bisa merintis karier di Keraton. Mendampingi Rama Prabu Kubilai Khan.

Akan tetapi Pangeran Sang Hiang memilih pengembaraan ke tanah Koreyea. Suatu wilayah yang masih asing, yang ilmu silatnya mempunyai sumber yang sama dengan dataran Cina dan Jepun, akan tetapi juga memperlihatkan perbedaan. Kembali perahu Siung Naga Bermahkota berlayar, dengan Barisan Api yang hanya berkurang empat orang.

Tanah Koreyea, di luar dugaan Pangeran Hiang sendiri, ternyata tak memberikan perlawanan yang berarti. Para pendekar Koreyea tidak setangguh yang diperkirakan. Dengan leluasa Pangeran Sang Hiang bisa berada dalam Keraton. Pada saat itu hatinya bagai disambar seratus geledek secara bersamaan, manakala melihat Putri Koreyea. Yang segera dipinang, dan dibawa ke Tartar. Bukan semata-mata sebagai tanda menyerah, meskipun utusan Keraton Koreyea menyediakan dua puluh kapal untuk mengangkut segala harta benda.

Pangeran Hiang memilih tetap di perahu bersama Barisan Api. Sambutan dari Rama Prabu Kubilai Khan juga tak dibayangkan. Kali ini bahkan diadakan upacara resmi, di mana Raja Kubilai Khan yang Perkasa merestui pilihan Pangeran Hiang. Dan menyerahkan bagian utama dari Keraton Tawu untuk didiami. Berarti tinggal selangkah lagi. Pengakuan para pembesar dan para pendeta Tartar mulai dirasakan. Pangeran Hiang menemukan dirinya sebagai penerus tradisi Tartar yang besar, sekaligus bisa berhubungan dengan bangsa Han tanpa membangkitkan permusuhan.

Tanah Becek yang Perkasa
KEMENANGAN, keberhasilan, sudah diperoleh. Pengakuan sudah diterima. Akan tetapi masih ada yang mengganjal hati Pangeran Sang Hiang. Kisah lama mengenai Keraton Singasari yang menantang perang, yang mampu menghancurkan para utusan Tartar. Walaupun rombongan pertama yang dikirimkan berhasil kembali dengan barang rampasan puluhan kapal, akan tetapi itu tidak berarti tanah Jawa menyatakan tunduk. Barang rampasan itu diperoleh dari merampas, bukan dari pemberian, sebagai upeti pengakuan kebesaran Keraton Tartar.

“Tanah lembap, becek, penuh dengan sungai kecil itu harus ditaklukkan. Kita tak pernah gagal merebut kemenangan. Kalau tidak satu kali, dua atau tiga kali.”

Keputusan ini lebih banyak mengundang kekuatiran. Terutama dari Gemuka, salah seorang senopatinya yang selama ini menemani perjalanan ke tanah Jepun dan tanah Koreyea.

“Aku bisa mengerti perasaanmu, Saudara Muda. Kalau kamu tidak berkeberatan, biarlah aku bersama Barisan Api yang berangkat.”

“Terima kasih, Saudara Tua Gemuka. Aku bisa mengerti perasaanmu.”

“Saudara Muda, dengar dulu apa yang kukatakan. Selama ini aku selalu mendampingimu. Baik di padang pasir yang keras anginnya, ataupun di tanah yang bercampur es. Baik dalam kesengsaraan, maupun dalam kemewahan Keraton. Aku tak pernah menghalangimu. Aku yang pertama menyatakan kesediaan berangkat ke Jepun dan Koreyea.”

“Saudara Tua, kita adalah anak-anak padang pasir yang sama.”

Bagi Pangeran Hiang, Gemuka adalah tetap Gemuka yang menemani masa kanak-kanaknya. Dalam tidur satu kemah, memburu kuda liar, atau terus-menerus berlatih ilmu silat. Gemuka adalah turunan langsung ketiga dari Jamuka, tokoh utama yang ikut membangun kebesaran Eyang Agung Jengiz Khan Yang Tiada Tara. Pada tubuh Gemuka mengalir seluruh tradisi kebesaran, keberanian, kejujuran yang wungkul, yang apa adanya, dari bangsa pengembara. Hanya karena Gemuka tidak dialiri darah Khan secara langsung, Gemuka tidak menjadi putra mahkota.

Akan tetapi selama ini diperlakukan sama. Apalagi Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa ingin menghapus permusuhan lama. Sehingga keturunan Jamuka mendapat tempat yang terhormat. Yang diwujudkan dengan pemberian tempat yang sesuai pada diri Gemuka. Seorang lelaki yang sesungguhnya. Yang memandang persahabatan, persaudaraan, lebih dari segala apa pun. Itu pula sebabnya mereka berdua masih memakai sebutan panggilan “Saudara Muda” dan “Saudara Tua”. Tanpa embel-embel Pangeran atau Senopati.

“Saudara Tua, apa keberatanmu kalau aku ke tanah Jawa?”

“Tanah yang tak bisa diperkirakan. Sejak Raja Kubilai Khan yang Perkasa mengirimkan utusan pertama telah gagal. Kalau lebih dari satu dan gagal, pasti ada sesuatu yang luar biasa. Dalam soal ilmu silat, kita tak perlu ragu. Dalam perlengkapan perahu serta Barisan Api, kita tahu bahwa tak ada yang mampu mengungguli. Akan tetapi perhitungan itu saja tidak cukup. Itu sebabnya, Saudara Muda tak perlu ke sana. Terlalu banyak yang dikorbankan kalau terjadi apa-apa.”

“Aku percaya, Saudara Tua akan melakukan untuk diriku.”

“Salah satu dari kita cukup, Saudara Muda.”

“Aku yang berangkat. Bagiku tanah becek itu menyimpan banyak pertanyaan. Semakin kupelajari sejarah yang terjadi, semakin tergugah hatiku. Di sana ada ksatria yang mengundang pendekar seluruh jagat untuk mengadu ilmu silat. Apakah sudah sedemikian damainya, sehingga diperlukan undangan pertarungan? Ajaran mana yang mampu berkembang di ujung sana?”

“Kita melakukan kesalahan kalau berangkat bersama.”

“Saudara Tua mau tinggal di Keraton?”

Jawabannya sudah diduga sebelumnya. Gemuka akan tetap menyertai. Bahkan demikian juga Putri Koreyea. Karena baginya hidup bersama suaminya adalah berada di sampingnya. Pangeran Hiang makin bertanya-tanya dalam hati, ketika menjelang keberangkatannya Ibunda mengunjunginya.

“Ibu ingin melihatmu, putraku Pangeran Sang Hiang. Barangkali ini perjumpaan yang terakhir. Karena perjalananmu kali ini adalah perjalanan yang jauh, dan usia Ibu sudah semakin tua. Putraku Pangeran Sang Hiang, Ibu tidak ingin memberati keberangkatanmu. Tetapi hati Ibu mengatakan bahwa kamu harus berhati-hati. Raja di tanah Jawa juga memiliki darah Han yang kamu miliki.”

Pangeran Hiang baru ingat sekarang ini, ketika menceritakan kembali. Bahwa apa yang menjadi suara batin ibundanya, menemukan kenyataan. Kekuatiran yang tak terucapkan. Kegelisahan batin wanita. Kegelisahan batin seorang ibu! Pangeran Hiang dan Gemuka menyiapkan segala sesuatu yang dianggap perlu untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul. Laporan-laporan dari para senopati diteliti dengan cermat. Tak ada satu pun rasanya yang terlewatkan. Pangeran Hiang merasa siap menghadapi. Tapi tidak demikian halnya dengan Gemuka.

“Saudara Muda, kita harus berpisah. Satu perahu bisa kandas, tetapi masih ada yang tersisa.”

“Saudara Tua akan memisahkan diri?”

“Itu sebaiknya. Kalau Saudara Muda gagal, masih ada saya.”

“Hati-hati, Saudara Tua.”

Gemuka merangkul Pangeran Hiang. Mereka berpelukan lama. Lama sekali. Ini untuk pertama kalinya Pangeran Hiang berpisah dengan Gemuka. Selama ini selalu bersama.

Di hilir Kali Brantas, Gemuka meloncat ke tepi dan melanjutkan perjalanannya. Perahu Siung Naga Bermahkota terus melaju. Sewaktu berhasil mendapatkan kabar di mana Baginda berada, rombongan segera menuju ke sasaran. Pertama yang didatangi adalah Gua Kencana, kemudian menuju ke Simping. Dalam satu serangan mendadak, Barisan Api bisa menghancur-ratakan lawan tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan kemudian bisa menawan Baginda dengan para permaisuri. Membawanya ke perahu. Menyimpan di tempat yang sempit. Dan menunggu waktu saat angin laut berbalik.

Pada waktu itulah pengejaran makin hebat, makin merapat. Akan tetapi sejauh itu Pangeran Hiang tak bergerak dari ruangan yang ditempati. Barisan Api bisa mematahkan semua perlawanan. Hingga munculnya Upasara Wulung. Sampai di sini Pangeran Hiang berhenti bercerita. Keringat yang menetes di jakunnya yang samar terlihat.

“Selebihnya Pangeran Upasara mengetahui apa yang terjadi. Sungguh tidak terduga bahwa Barisan Api bisa dirontokkan seketika. Ilmu yang luar biasa. Bolehkah saya mengetahui bagaimana pemecahannya?”

Gendhuk Tri yang menyahut tidak sabar, “Capek mendengarkan kisah Pangeran. Padahal Pangeran sama sekali tidak menyinggung penyakit Putri Koreyea.”

Pangeran Hiang memandang sekeliling. “Tanah yang becek, udara yang panas. Apakah itu perlu diutarakan?”

“Apakah bagi Pangeran lebih penting mengetahui bagaimana mematahkan serangan Barisan Api? Kenapa semua lelaki menganggap urusan wanita tidak penting dibandingkan ilmu silat?”

Banyak yang berubah dari Gendhuk Tri. Akan tetapi bukan nada bicaranya yang langsung bersuara dari bibirnya, tidak melalui indria yang lain.

“Bukan begitu, Adik Tri. Pembicaraan mengenai Barisan Api menarik. Karena selama ini belum pernah ada yang bisa mengalahkan sekaligus seperti sekarang ini. Tidak juga di Jepun atau Koreyea. Satu, dua, atau sepuluh bisa dikalahkan, akan tetapi tidak semudah Upasara menghadapi.”

“Baru tahu kehebatan tanah becek dan lembap ini?”

“Maaf, Adik Tri. Kalau saya menyebut tanah becek, karena dibandingkan dengan padang pasir tanah kelahiran saya, tanah di sini sangat lembek. Sekali lagi, maafkan.”

“Baik, baik. Sekali ini saya maafkan. Akan tetapi sekali lagi Pangeran menyebut tanah becek, saya tak akan memaafkan lagi.”

Pangeran Hiang tersenyum lebar. “Tanah yang menyenangkan, menenteramkan, dan membahagiakan. Hanya di tanah Jawa ini saya menemukan canda, menemukan senyuman, tetapi juga kekerasan ilmu yang sejati.”

Kisah Kitab-Kitab
UPASARA berdeham kecil. “Pangeran Hiang, saya akan menceritakan apa yang menjadi latar belakang budaya tanah Jawa, sebelum menjawab pertanyaan Pangeran….”

Gendhuk Tri ikut duduk.

“Berbeda dengan Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, raja sesembahan kami, Baginda Raja Sri Kertanegara, mempunyai darah keturunan yang berawal dari para raja di Jenggala dan Kediri, yang dulunya pernah bersatu dan berpisah. Baginda Raja Sri Kertanegara adalah raja yang mampu melihat gairah ombak samudra, mampu menangkap semilirnya angin gunung yang paling tinggi, akan tetapi tetap bisa menghargai derasnya bengawan. Adalah Sri Baginda Raja yang berkenan menyatukan seluruh aliran persilatan dalam kitab yang sama sebagai sumber. Babon kitab ilmu kanuragan. Kitab ini menjadi pijakan bagi perkembangan semua ilmu persilatan. Dengan begitu akan terhimpun cara-cara yang benar, yang berguna bagi pertumbuhan di kelak kemudian hari. Para ksatria yang waktu itu mengabdi kepada Sri Baginda Raja berupaya untuk menciptakan. Salah satunya yang kemudian kami sebut sebagai Paman Sepuh. Beliau berhasil menciptakan kitab yang disebut Kitab Bumi, yang memuat Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Dasar-dasar semua aliran dan ajaran disatukan, disarikan, agar bisa menjadi pegangan. Oleh tokoh seangkatan Paman Sepuh, yaitu Eyang Sepuh, kitab itu disempurnakan dengan tambahan Delapan Jurus Penolak Bumi, Tumbal Bantala Parwa. Hingga semuanya ada dua puluh jurus, yang tetap dinamai Kitab Bumi. Karena penyempurnaan dilakukan oleh Eyang Sepuh, kitab itu dianggap maha karya Eyang Sepuh. Sejak saat itu boleh dikatakan hanya ada satu babon untuk pengembangan, yaitu Kitab Bumi. Dua Belas Jurus Nujum Bintang menyatukan unsur-unsur bintang, irama alam dalam pengerahan tenaga dalam. Tanpa mengenali tata alam di mana ia berada, tak mungkin bisa menyelami Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Sedangkan Delapan Jurus Penolak Bumi merupakan penangkal jurus-jurus yang ada. Intinya adalah menjadikan diri sebagai tumbal, sebagai korban, sebagai penyerahan diri. Pada masa itu, Eyang Sepuh berani mengundang para jago silat di seluruh penjuru jagat. Untuk membuktikan ajaran ilmu silat mana yang sesungguhnya paling murni, paling unggul. Tantangan itu berlaku setiap lima puluh tahun sekali untuk menentukan ksatria mana yang pantas menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Pergolakan yang terutama terjadi sebenarnya bukan hanya di dunia perguruan silat atau di medan pertarungan, tapi juga di dalam dinding Keraton. Setelah Eyang Sepuh menciptakan atau menyempurnakan Kitab Bumi, Eyang Sepuh masih menurunkan satu kitab yang biasa dikidungkan, yang disebut Kidungan Paminggir. Inti sari ajaran Kidungan Paminggir tidak berkenan di hati Sri Baginda Raja. Sehingga Sri Baginda Raja menuliskan lanjutan kitab yang biasa ditulis para raja, yang bernama Kidungan Para Raja. Kalau dalam Kidungan Paminggir, Eyang Sepuh mengedepankan manusia yang bisa menjadi apa saja, Kidungan Para Raja menggariskan bahwa tidak semua manusia bisa menjadi raja. Sebab raja adalah pilihan Dewa Yang Maha dewa. Pada kurun waktu yang kurang-lebih sama, Mpu Raganata menyusun kitab yang diberi nama Kidung Pamungkas, kidung terakhir, yang menilik sifatnya merupakan penyatuan gagasan Eyang Sepuh maupun pandangan Sri Baginda Raja. Jadi selama ini di tanah Jawa ada kitab-kitab yang menjadi inti ajaran resmi. Yaitu Kitab Bumi, Kidung Paminggir, Kidungan Para Raja, serta Kidung Pamungkas. Pangeran Hiang, tentu saja banyak tokoh lain, banyak kitab lain, akan tetapi itulah yang kemudian menjadi induk segala kitab yang ada. Maaf, Pangeran Hiang, kalau saya menerangkan satu demi satu. Saya ingin menunjukkan bahwa Sri Baginda Raja bukan hanya Raja Ardanari, bukan hanya penyelenggara pesta pora, tetapi juga pilihan Dewa yang sangat tepat. Pada saat Kidungan Para Raja dituliskan, Sri Baginda Raja tidak melarang munculnya Kidungan Pamungkas, yang lebih menekankan peranan mahamanusia.”

Pangeran Hiang mengangguk-angguk. “Saya sangat mengerti. Di negeri saya banyak catatan mengenai tokoh sakti mandraguna yang bernama Mpu Raganata. Yang paling ditakuti dan perlu diperhitungkan. Sebab menurut catatan, Mpu Raganata mempunyai ilmu silat yang sakti, menduduki jabatan tertinggi di Keraton, dan satu-satunya yang berani menentang Sri Baginda Raja, meskipun untuk itu bisa digeser.”

“Tidak sepenuhnya tepat,” potong Gendhuk Tri. “Mpu Raganata adalah kakek guru saya. Beliau diperhitungkan berani, bukan karena menentang Sri Baginda Raja. Justru keberanian itu dimungkinkan oleh Sri Baginda Raja. Itu bedanya cara kami memandang dengan pandangan Pangeran Hiang. Sri Baginda Raja bisa menindak Mpu Raganata atau siapa saja, akan tetapi hal semacam itu tidak dilakukan. Bahkan mereka diberi kesempatan. Saya tak tahu apakah keraton lain mempunyai raja dengan jiwa seluas lautan dan sebijak Dewa seperti di tanah Jawa!”

“Saya makin mengerti, Adik Tri. Kalau saya mengatakan kekuatan gunung meletus yang tersimpan dalam senyuman, sekarang mendapatkan penjelasan dalam keterangan Pangeran Upasara. Benar perhitungan yang selama ini, bahwa IM dan YANG di tanah Jawa ini bukan pertentangan. Bahwa Kidungan Para Raja dengan Kidung Paminggir tidak bertentangan. Melainkan bagian yang sama. Demikian juga dengan Kidung Pamungkas bukan merupakan gabungan dari dua yang bertentangan, melainkan bagian yang sama. Itu sikap budaya yang tidak kami pahami. Itu yang menyebabkan kami gagal. Pada saat tiga senopati pertama datang ke tanah Jawa untuk menghukum Sri Baginda Raja, kalian menyambut dengan baik. Walaupun sekarang saya bisa mengerti sepenuhnya, ketika itu setiap pikiran dan lamunan yang merendahkan Sri Baginda Raja membuat siapa pun bersedia menjadi tumbal. Inilah yang saya maksudkan dengan kekuatan gunung meletus dalam senyuman. Saya mengetahui. Saya mempelajari. Saya mengalami sendiri. Adik Tri, Pangeran Upasara, dan para ksatria yang lain menyerbu ke dalam perahu Siung Naga Bermahkota, tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri. Karena Baginda ada di dalamnya. Bahwa selama ini Baginda pernah mengecewakan, dan akan mengecewakan lagi, itu urusan belakangan. Pun kalau Baginda itu bukan Baginda yang diabdi dulu. Kalau tidak salah, itulah ajaran yang ada dalam Kidung Pamungkas?”

JILID 40BUKU PERTAMAJILID 42

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 41

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 41

“Pangeran Hiang, Pangeran keliru kalau mengartikan bahwa kami semua sama.”

“Adik Tri benar. Tetapi tetap tak terduga. Jiwa dan sikap kalian serba tak terduga. Saya katakan tadi, bisa menyimpan gunung meletus dalam senyuman. Bisa menyimpan badai sambil menunduk dan menyembah. Itu yang tidak kami miliki. Kalian bisa panas, mendendam ketika saya menyebut Raja Ardanari. Karena kalian merasa bahwa Sri Baginda Raja adalah segalanya. Padahal apakah Keraton kalian yang sesungguhnya? Sebuah bangunan tua, di tanah yang basah, di sungai yang airnya seperti air pancuran, bila dibandingkan dengan Keraton Tartar. Tartar adalah matahari, yang terbesar dan menerangi. Dan satu-satunya. Tartar adalah lautan, yang terbesar dan menyebar ke segala penjuru. Bukan sungai. Jagat dari ujung ke ujung takluk dan menyembah. Tartar adalah kemenangan. Kemenangan demi kemenangan.”

Setiap kali mengucapkan kata kemenangan, setiap kali pula Pangeran Hiang seperti menampilkan dirinya. Seperti menjadi ada.

“Ini sejarah yang maha panjang. Sejarah kemenangan. Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara memulai dari padang berdebu, mengalahkan 20.000 ksatria padang pasir. Tak ada satu pun yang berhasil menghalangi. Seluruh Mongolia, Tartar, serta tlatah yang berada di bawah kekuasaan Cina dikalahkan. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara menguasai jagat dengan kemenangan. Sejak masih timur sebagai senopati padang pasir Temujin, Eyang Agung mengumpulkan kemenangan. Juga ketika harus menyingkir Paman Agung Jamuka, sahabat sesama senopati. Karena hanya satu nilai yang bisa diraih, yaitu kemenangan. Siapa yang menghalangi kemenangan akan tersingkir. Keraton Tawu, pusat pemerintahan Cina yang selama usia jagat menguasai sekitarnya, dilipat habis. Kemenangan yang tiada tara. Eyang Agung Jengiz Khan adalah Penguasa Jagat Seisinya. Tlatah mana yang tak dikuasai, tak dikalahkan? Bahkan Samudra Adriatik, di luar tlatah tapel wates, batas dunia, dikuasai. Persia, Kwarem yang selalu ditutupi salju bisa dikuasai, ditaklukkan, dimenangi. Dari tanah yang kering di padang pasir hingga ke tanah yang ditutupi es. Dari ujung dunia yang satu sampai ujung dunia yang lain. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, sesungguhnyalah penguasa jagat. Tanpa tanding. Eyang Agung Khan yang Tiada Tara adalah matahari. Tradisi kemenangan yang mengalir dalam darah Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang mampu meneruskan kemenangan. Demi kemenangan itu sendiri. Tradisi darah kemenangan tidak menetes dalam tubuh Paman Agung Mongke, yang disingkirkan Rama Prabu. Untuk kemenangan, Mongke atau Jamuka tak akan bisa menghalangi. Akan tersingkir. Adalah Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa yang mengganti raja-raja Tang, yang turun-temurun menguasai Keraton Tawu. Adalah Rama Prabu yang meneruskan tradisi kemenangan itu yang ditantang raja tanah Jawa.”

“Itulah hebat. Raja Kubilai Khan yang Perkasa ternyata tak mampu menundukkan Sri Baginda Raja. Lautan ternyata kalah oleh sungai. Mana sebenarnya yang hebat? Matahari atau tanah becek?”

“Siapa pun yang menang berhak menentukan kebenaran.” Gendhuk Tri mengangguk-angguk.

Semakin Pangeran Hiang mengulang, semakin Gendhuk Tri menyadari kenapa Pangeran Hiang mendewakan kemenangan sebagai satu-satunya nilai utama. Tradisi itu menetes dari buyut, eyang, dari ayahandanya yang bergelar Khan yang Perkasa. Yang lahir dan dibesarkan dalam pertarungan antara hidup dan mati, dan memperoleh kemenangan akhir.

Betapa kagoknya, ketika di tanah becek yang disebutkan muncul penghalang ke arah kemenangan yang sempurna. Sehingga perlu dikirim senopati demi senopati yang makin tak terkalahkan. Tapi, harus berakhir dengan keadaan sama. Bukan kemenangan. Gendhuk Tri mengusap wajahnya.

“Cukup puas mengeluarkan semua unek-unek? Cukup lega karena segala ganjalan telah dikeluarkan? Pangeran Hiang, di antara kita banyak perbedaan, tetapi ada tali nasib yang mempertemukan. Karena Pangeran Hiang memaksa mempertajam perbedaan, rasanya kami juga tak bisa menolak.”

“Tempat ini sangat layak. Tak ada siapa-siapa yang bakal menghentikan. Tak ada yang campur tangan. Pangeran Upasara dan Adik Tri mewakili Keraton Majapahit dan saya mewakili Keraton Yuan….”

“Baik. Tanpa harus diembel-embeli mewakili siapa. Tapi kalau Pangeran menganggap bisa mengalahkan kami berarti mengalahkan Keraton Majapahit, saya tak akan menghalangi. Agak susah dan tak ada gunanya mencoba mengajak bicara orang yang susah melihat dari tempat yang berbeda pijakannya. Silakan….”

Upasara gusar dalam hatinya melihat Gendhuk Tri menantang dan mempermainkan. Akan tetapi saat itu tak bisa berbuat suatu apa. Tidak bisa mencegah lagi. Upasara mengakui bahwa Pangeran Hiang mempunyai ilmu yang sudah di atas ilmu yang selama ini pernah dihadapi. Dari kemampuannya berkonsentrasi tinggi ketika mengapung sambil merangkul Putri Koreyea, caranya mengatur pernapasan, menunjukkan kelasnya yang di atas.

Namun itu tidak membuatnya gentar. Hanya memang terasa ada ganjalan dalam hal Putri Koreyea. Entah kenapa sejak mendengar desahan napas, apalagi melihat sendiri, Upasara tergetar hatinya. Tersayat. Ada penderitaan yang tergema ke dalam hatinya. Seperti saat-saat dirinya kehilangan tenaga dalam dan kemauan untuk hidup. Itu sebabnya dari tadi beberapa kali Upasara melirik ke arah Putri Koreyea.

Saat itu Pangeran Hiang juga melirik, dan mendadak tubuhnya terlipat, masuk ke bawah tubuh Putri Koreyea. Kedua tangannya menyelusup ke bawah pakaian. Upasara bergerak cepat. Tangan kanannya menebas udara. Gendhuk Tri yang mengayunkan selendangnya jadi tersentak. Tidak mengira bakal disentak dengan tenaga memutar balik yang begitu kuat. Selendangnya mengeluarkan suara keretekan, dan sobek menjadi berbagai cabikan. Sedangkan tangannya terputar ke belakang. Klak.

Upasara segera mendekat. “Maaf, Adik Tri….”

Gendhuk Tri meringis. Tangan kirinya yang bebas bergerak. Menyambar pipi. Plak. Berbekas. Lima jari. Gendhuk Tri yang kaget. Tak disangka bahwa Upasara akan membiarkan pipinya kena gampar begitu telak.

“Apa maksud Kakang? Pangeran Hiang telah menyatakan siap.”

“Maaf, Adik Tri….”

“Maaf, maaf! Saya jadinya yang harus minta maaf.” Gendhuk Tri kesal. Belakang telinganya digaruk-garuk. Tiba-tiba saja gerakannya terhenti. “Putri Koreyea meninggal…?” Tanda tanya di belakang kalimatnya seperti tak kedengaran.

Kandhat Kandhara
UPASARA paling kuatir, akan tetapi Gendhuk Tri yang lebih dulu bergerak. Tubuhnya mendekat. Tangannya menyentuh leher Putri Koreyea. Satu-satunya bagian yang membuka dan bisa disentuh, selain bagian wajah. Ujung jari Gendhuk Tri tak menemukan reaksi. Tak ada tanda-tanda.

Ada sisa rasa dingin, akan tetapi bukan dingin sekali. Inilah yang membuatnya heran. Sentuhan yang dilakukan Gendhuk Tri adalah sentuhan yang dikenal dengan pijet kandhara, pijatan di bagian leher. Bukan sembarang pijatan, karena di bagian leher, persis di bawah daun telinga bagian belakang, merupakan tempat yang penting untuk mengetahui adanya kekuatan hidup.

Detak yang lemah, tak beraturan, cepat bisa dirasakan dengan sentuhan ujung jari. Kalau upaya ini gagal, biasanya ditekan dengan ujung ibu jari. Itu pula yang dilakukan Gendhuk Tri. Tak ada reaksi. Tubuh Putri Koreyea seperti tak memiliki kekuatan hidup sama sekali. Tak ada detak, tak ada getaran.

“Mungkinkah kandhat kandhara?”

Upasara maju perlahan. Ujung ibu jarinya menyentuh, memancarkan tenaga murni. Apa yang dikatakan Gendhuk Tri sebenarnya bukan menyebutkan nama penyakit tertentu. Dengan mengatakan kandhat kandhara, Gendhuk Tri mengatakan bahwa nadi leher Putri Koreyea sedang dalam keadaan tidak bergerak, tidak bereaksi, tidak hidup. Sebutan ini dipakai untuk mengatakan, seseorang yang secara jasmaniahnya masih bisa disebut hidup, akan tetapi sebenarnya hanya menunda beberapa saat dari kematian yang sesungguhnya.

Pada saat itu nadi di leher mulai beristirahat, sebelum akhirnya beristirahat seterusnya. Upasara tak menyangkal perhitungan Gendhuk Tri. Dengan kata lain, seseorang yang kandhat kandhara seluruh tubuhnya sedang dalam ambang kematian. Pada saat seperti itu, semua pertolongan tak ada gunanya. Bahkan pengiriman tenaga dalam yang paling murni sekalipun tak akan berarti. Apalagi jenis pengobatan dengan ramuan rebusan.

Karena tubuh penderita tidak menjawab apa-apa. Tidak menolak, tidak menerima. Sedang dalam keadaan kandhat. Dengan perhitungan ini, sebenarnya Gendhuk Tri ingin mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pangeran Hiang sebenarnya upaya yang sia-sia. Terobosan tenaga dalam yang bagaimanapun tak bisa menembus masuk. Meskipun demikian, baik Gendhuk Tri maupun Upasara menyadari betul usaha Pangeran Hiang.

Sesuatu yang wajar, karena ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong. Walau secara akal pikiran itu tidak mungkin, tetapi hubungan batin membuat Pangeran Hiang mengerahkan tenaga dalamnya. Yang memang luar biasa. Seketika itu juga sekeliling tubuh Pangeran Hiang mengepul asap. Bergulung seakan menguap dari air yang dididihkan dengan cepat. Uap putih bergulung itu memang uap air. Hanya saja bukan berasal dari tubuh Pangeran Hiang.

Melainkan dari sekeliling tubuh Pangeran Hiang yang terkena desakan hawa panas. Itu pula sebabnya tanah di sekitar Pangeran Hiang berbaring menjadi kering. Terisap airnya dan menguap. Butir-butir air yang terkandung dalam tanah di sekitarnya habis terisap dan menguap. Dedaunan menjadi kering seketika. Bahkan pohon-pohon dalam jarak dua tombak mengering. Tenaga dalam yang melesak kuat. Kalau keadaan sekitarnya saja bisa diisap zat airnya, bisa diperhitungkan bagaimana kekuatan yang sesungguhnya. Itu bisa terjadi untuk beberapa saat.

Sehingga seluruh pepohonan menjadi layu, kering, mulai dari daun hingga akar! Sampai akhirnya berhenti sendiri. Ketika matahari sudah mulai condong ke arah barat. Pangeran Hiang tidak tampak lelah. Sebaliknya tetap segar seperti sebelumnya. Juga pakaiannya tidak menjadi kering. Pengaturan tenaga dalam yang bisa mengikuti kehendaknya.

“Apa yang saya lakukan sia-sia, Adik Tri?”

“Rasanya begitu, Pangeran. Tanpa pertolongan apa-apa, detak itu bisa kembali teraba. Karena kalau bisa diterobos, nadi di leher Putri Koreyea akan menimbulkan reaksi. Saya tak tahu apakah nadi kehidupan bangsa Tartar, Mongol, atau Koreyea berbeda dari manusia yang lain.”

“Apa yang kamu ketahui tentang kandhat kandhara, Adik Tri?”

Gendhuk Tri menggeleng. “Seperti yang Pangeran Hiang ketahui. Urat nadi di bawah telinga, di bagian leher, merupakan arus kehidupan yang terakhir. Detak ulu hati bisa berhenti, akan tetapi masih ada getaran di leher. Sejauh yang saya ketahui, detak di leher tidak terpengaruh oleh sesuatu di luar itu, tak mungkin bisa terkontrol. Seperti halnya detak jantung dan tarikan udara yang memompa rongga dada. Terjadi dengan sendirinya, pun kala kita lelap tertidur. Sejak kita bertemu, Pangeran Hiang selalu menghindar menjawab apakah Putri Koreyea terkena penyakit tertentu atau serangan tertentu. Kalau memang itu rahasia yang tak mau diungkapkan, ya pembicaraan pun tak banyak artinya. Kita menunggui kematian atau kehidupan kembali tanpa berbuat apa-apa. Seperti denyut leher itu. Akan tetapi kalau ada sebab-musababnya, barangkali kita bisa menemukan penangkalnya.”

“Saya mengerti maksud Adik Tri. Sepenuhnya.”

Gendhuk Tri tak tersinggung, meskipun setiap kali Pangeran Hiang seolah mengisyaratkan telah mengetahui, lebih banyak dan lebih baik dari apa yang diutarakan Gendhuk Tri. Gendhuk Tri menyadari bahwa kenyataan yang sesungguhnya memang begitu. Ditambah lagi pikiran Pangeran Hiang sedang gundah.

“Tubuh Putri Koreyea tak terkena racun, tak terkena serangan tenaga dalam. Tak ada apa-apanya. Masih segar bugar ketika bersama saya. Lalu tiba-tiba saja membeku kaku seperti sekarang ini. Sebuah pertanyaan kecil, yang berarti banyak.”

Tanpa diminta tanpa memberi isyarat sebelumnya, Pangeran Hiang berubah sikapnya. Menjadi lebih lembut, dan kemudian bercerita:

Pada mulanya Pangeran Sang Hiang tak mengerti segala sesuatu, kecuali padang pasir, tahi kuda, angin ribut yang bisa menimbuni manusia, dan mengubah gunung yang ada. Sepanjang ingatan Pangeran Sang Hiang, ia berada dalam perkemahan dari kulit binatang, hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Setiap harinya dilalui dengan memanah burung, naik kuda, berlatih ilmu silat dan ilmu gulat, menyantap daging mentah di alam terbuka.

Sampai pada usia belasan, barulah disadari bahwa dirinya berbeda dari semua pengembara dan penunggang kuda. Dirinya mendapat perlakuan yang istimewa. Sangat istimewa. Yang justru membuat kikuk, karena kini didampingi para pelayan, para dayang, dan boleh berdiam di mana saja. Saat itu Pangeran Hiang baru menyadari bahwa dirinya adalah putra mahkota, salah satu putra Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang sejak awal kelahirannya dididik dalam tradisi kehidupan bangsa Mongolia.

Seperti calon-calon putra mahkota lain yang disebar ke berbagai tempat di gurun. Setengah percaya setengah tidak, ketika ada undangan ke Keraton Tawu, Pangeran Hiang berangkat. Diterima dengan segala upaya kebesaran, mendapatkan ruangan yang sangat lebar dengan makanan dan minuman serta perempuan berlimpah. Saat itulah Pangeran Hiang untuk pertama kalinya berjumpa dengan ibunya. Seorang putri kaisar yang terakhir. Pangeran Hiang baru mengetahui kemudian. Tidak di saat pertemuan itu. Karena ibunya hanya memandang dari jauh, dan Pangeran Hiang diajari untuk ber-soja, memberi penghormatan.

“Beliau adalah salah satu permaisuri Kubilai Khan yang Perkasa, yang mendiami Puri Tawu, jauh sebelum kaisar lama menyerahkan takhta ke tangan Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara.”

Dari penuturan pengawalnya inilah Pangeran Hiang kemudian menyadari bahwa dalam tubuhnya mengalir darah keturunan dinasti Tang, bangsa Han yang halus lembut penuh tata krama. Dan juga mewarisi kekerasan dan nilai kemenangan dari tradisi Tartar.

Panggilan ke Keraton Tawu ini pula yang membuka matanya, bahwa para calon putra mahkota semua juga hadir. Untuk menunjukkan ketangkasan memanah burung yang berpasangan dan hanya mengenai seekor; menunggang kuda sambil melemparkan senjata, dengan berada di bawah perut kuda, menggelantung di antara kaki kuda; serta meremukkan tulang belakang lawan dalam bergulat.

Pangeran Hiang tak menemukan kesulitan sedikit pun. Malah boleh dikatakan paling berhasil di antara puluhan putra Kubilai Khan yang Perkasa. Yang lebih mencengangkan lagi ialah ketika menghadapi ujian ilmu surat, Pangeran Hiang memperlihatkan darah keturunan dari ibundanya. Dengan lancar Pangeran Hiang bisa membaca, menulis, dan hafal beberapa kitab utama.

Kodrat Keturunan
RAJA Kubilai Khan Yang Perkasa, yang menyaksikan semua ujian dari jauh, menyatakan kepuasannya. Dan memilih lima calon putra mahkota untuk dididik secara khusus di Keraton. Dengan guru-guru utama. Sejak saat itu pula Pangeran Hiang berdiam di Keraton Tawu dengan segala kebesarannya. Akan tetapi didikan keras padang pasir tak bisa diubah. Justru sebaliknya, Pangeran Hiang berlatih lebih keras, dan lebih giat lagi.

Kemampuannya kini berkembang bukan hanya memanah burung, naik kuda, dan meremukkan tulang belakang lawan tandingnya, akan tetapi juga bagaimana menggunakan tombak, pedang, pukulan tangan kosong, senjata rahasia. Terutama dari berbagai guru bangsa Han beserta para pendeta, Pangeran Hiang mendapat gemblengan secara khusus. Sesuatu yang memuaskan dahaganya akan ilmu silat. Sesuatu yang membanggakan guru-gurunya.

Tapi juga sesuatu yang diam-diam mengundang bahaya. Pangeran Hiang tidak segera menyadari, akan tetapi kemudian sekali bisa merasakan bahwa persaingan para calon putra mahkota memanas dan mengganas. Terutama dari kalangan para pengikutnya.

Sampai saat itu, setelah berada di Keraton beberapa tahun, Pangeran Hiang belum pernah mendapat izin untuk menghadap Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Ia diperkenankan menyebut Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, akan tetapi tetap belum ada perkenan untuk sowan. Kecuali kalau secara beramai-ramai, berada di tempat yang sangat jauh.

Masalah yang dihadapi Pangeran Hiang cukup gawat. Dalam tata cara pemilihan calon pewaris takhta, tak lebih hanya ada lima nama yang kuat. Pangeran Hiang merupakan pilihan yang terkuat. Yang memenuhi segala macam persyaratan. Hanya saja darah Han yang mengalir dalam tubuhnya dari ibundanya bisa menjadi penghalang. Sebab Pangeran Hiang tidak murni merupakan keturunan langsung dari darah yang menetes di padang pasir.

Sebagian darahnya adalah darah dari dinasti Tang. Yang bukan tidak mungkin suatu ketika nanti bisa menjadi lebih kuat dorongannya. Padahal dinasti Yuan yang akan ditegakkan oleh Raja Kubilai Khan yang Perkasa, menandai kebesaran darah Tartar.

Melalui guru-gurunya, baik dari bangsa Han maupun Mongol, Pangeran Hiang mencoba menemukan jawaban dari kegelisahan. Pertanyaan-pertanyaan yang berawal dari kecerdasannya mempelajari berbagai kitab mengenai kodrat, mengenai keturunan, mengenai asal-usul dirinya, tak pernah memperoleh jawaban yang memuaskan. Inilah keruwetan pertama yang dihadapi. Dan satu-satunya.

Di satu pihak dirinya diakui sebagai putra Tartar, akan tetapi di pihak lain juga tetap dianggap penerus dinasti Tang. Masalah itu demikian berat membebani dirinya, sehingga Pangeran Hiang merasa tidak tahan. Dengan sepenuh keberanian yang tersisa, Pangeran Hiang memutuskan menghadap Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Ini saja sudah menyalahi tata krama. Belum pernah ada putra yang berani mengajukan diri. Selama ini hanya menunggu kalau-kalau Raja berkenan menyebut namanya.

“Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, penguasa jagat seisinya dalam warisan kebesaran Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, hari ini hamba menghadap. Sebagai putra Rama Prabu Kubilai Khan Yang Perkasa, sebagai pengembara yang menghadap kepala suku. Perkenanlah hamba menyampaikan sembah….”

Pangeran Hiang menunduk, menyembah dengan menyentuhkan dahi ke lantai. Tak melihat dan mengetahui reaksi Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Hanya suaranya yang terdengar.

“Aku tahu semuanya, Hiang putraku. Kamu tinggal membuktikan diri, untuk memperoleh pengakuan dari tradisi yang besar. Tradisi kemenangan. Sebab Tartar hanya mengenal itu. Buktikan itu.”

Hanya itu. Tak ada yang lain. Sejak itu pula Pangeran Hiang berusaha keras membuktikan tradisi kemenangan yang menjadi bukti nyata keunggulan Tartar. Itu pula sebabnya Pangeran Hiang memilih berangkat ke Jepun. Suatu tindakan yang dinilai sangat nekat. Kelewat berbahaya. Utusan Raja Kubilai Khan yang Perkasa, dengan puluhan perahu yang bersenjata lengkap, sudah tiga kali dikirim. Ketiga-tiganya gagal. Bahkan utusan terakhir dengan armada perang lengkap, kandas secara mengenaskan. Di tengah laut.

Selama ini tak ada prajurit atau senopati Tartar yang bisa menginjak tanah Jepun. Tapi tekad Pangeran Hiang tak bergoyang. Dirinya menyadari bahwa kelompok yang tidak menyukainya akan bersorak kegirangan dalam hati. Sebab pergi ke Jepun sama dengan bunuh diri. Berarti Pangeran Hiang akan lenyap dari pencalonan. Dirinya menyadari bahwa kelompok yang berpihak padanya meneriakkan kesedihan dalam hati.

Sebab dengan meninggalkan Keraton, kemungkinan untuk mengetahui keadaan sehari-hari makin berjarak. Sehingga kalau ada sesuatu yang perlu dan mendadak, Pangeran Hiang tidak masuk hitungan. Apa pun perhitungannya, Pangeran Hiang tetap akan berangkat.

Dengan restu Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Yang memberikan tiga puluh prajurit utama, yang kemudian disebut Barisan Api. Ini adalah prajurit utama yang sejak awal kelahirannya dididik secara khusus, dilatih ilmu silat, dilatih mengetahui segala sesuatu tentang pelayaran dan perahu. Yang lebih istimewa lagi sejak kanak-kanak tubuh mereka telah ditusuki dengan jarum khusus untuk melipatgandakan tenaga yang dimiliki.

Di seluruh Keraton, jumlah Barisan Api tidak mencapai seratus orang, karena memang merupakan pilihan dari segala pilihan. Mereka hanya mengenal satu perintah, dari Pangeran Hiang. Mereka hanya hidup di atas perahu, yang agaknya memang merupakan rencana sejak semula untuk menaklukkan wilayah yang selama ini tak mungkin ditundukkan. Dengan perlengkapan yang sangat sempurna. Pangeran Hiang berangkat menuju Jepun.

Perahunya yang ramping, tidak terlalu mencolok, bisa selamat mendarat. Dan dengan keberanian yang luar biasa, Pangeran Hiang menyatroni lawan. Masuk ke salah satu keraton dan menguasai. Menebas lawan yang ditantang maju. Melaju hingga ke keraton utama. Pulang kembali membawa pedang panjang dan pendek, dan segala harta benda, kitab pusaka. Untuk dipersembahkan kepada Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa.

Yang menerima dalam upacara kebesaran, dan memuji keberhasilan Pangeran Hiang. Meskipun secara resmi Keraton Jepun tidak dikalahkan, akan tetapi pengakuan akan kebesaran Keraton Tartar sudah lebih dari cukup. Nama Pangeran Hiang melambung ke langit. Sejak saat itu Pangeran Sang Hiang diperkenankan memilih umbul-umbul sendiri sebagai tanda pengenalnya. Pangeran Hiang memilih simbol Siung Naga Bermahkota.

Pemakaian umbul-umbul tersendiri adalah pertanda yang luar biasa. Pertanda pengakuan yang secara resmi dilakukan oleh Raja Kubilai Khan yang Perkasa. Secara tidak langsung memberikan isyarat bahwa sudah ada petunjuk kuat Pangeran Sang Hiang bakal menggantikan takhta. Pada saat itulah sebenarnya Pangeran Hiang bisa merintis karier di Keraton. Mendampingi Rama Prabu Kubilai Khan.

Akan tetapi Pangeran Sang Hiang memilih pengembaraan ke tanah Koreyea. Suatu wilayah yang masih asing, yang ilmu silatnya mempunyai sumber yang sama dengan dataran Cina dan Jepun, akan tetapi juga memperlihatkan perbedaan. Kembali perahu Siung Naga Bermahkota berlayar, dengan Barisan Api yang hanya berkurang empat orang.

Tanah Koreyea, di luar dugaan Pangeran Hiang sendiri, ternyata tak memberikan perlawanan yang berarti. Para pendekar Koreyea tidak setangguh yang diperkirakan. Dengan leluasa Pangeran Sang Hiang bisa berada dalam Keraton. Pada saat itu hatinya bagai disambar seratus geledek secara bersamaan, manakala melihat Putri Koreyea. Yang segera dipinang, dan dibawa ke Tartar. Bukan semata-mata sebagai tanda menyerah, meskipun utusan Keraton Koreyea menyediakan dua puluh kapal untuk mengangkut segala harta benda.

Pangeran Hiang memilih tetap di perahu bersama Barisan Api. Sambutan dari Rama Prabu Kubilai Khan juga tak dibayangkan. Kali ini bahkan diadakan upacara resmi, di mana Raja Kubilai Khan yang Perkasa merestui pilihan Pangeran Hiang. Dan menyerahkan bagian utama dari Keraton Tawu untuk didiami. Berarti tinggal selangkah lagi. Pengakuan para pembesar dan para pendeta Tartar mulai dirasakan. Pangeran Hiang menemukan dirinya sebagai penerus tradisi Tartar yang besar, sekaligus bisa berhubungan dengan bangsa Han tanpa membangkitkan permusuhan.

Tanah Becek yang Perkasa
KEMENANGAN, keberhasilan, sudah diperoleh. Pengakuan sudah diterima. Akan tetapi masih ada yang mengganjal hati Pangeran Sang Hiang. Kisah lama mengenai Keraton Singasari yang menantang perang, yang mampu menghancurkan para utusan Tartar. Walaupun rombongan pertama yang dikirimkan berhasil kembali dengan barang rampasan puluhan kapal, akan tetapi itu tidak berarti tanah Jawa menyatakan tunduk. Barang rampasan itu diperoleh dari merampas, bukan dari pemberian, sebagai upeti pengakuan kebesaran Keraton Tartar.

“Tanah lembap, becek, penuh dengan sungai kecil itu harus ditaklukkan. Kita tak pernah gagal merebut kemenangan. Kalau tidak satu kali, dua atau tiga kali.”

Keputusan ini lebih banyak mengundang kekuatiran. Terutama dari Gemuka, salah seorang senopatinya yang selama ini menemani perjalanan ke tanah Jepun dan tanah Koreyea.

“Aku bisa mengerti perasaanmu, Saudara Muda. Kalau kamu tidak berkeberatan, biarlah aku bersama Barisan Api yang berangkat.”

“Terima kasih, Saudara Tua Gemuka. Aku bisa mengerti perasaanmu.”

“Saudara Muda, dengar dulu apa yang kukatakan. Selama ini aku selalu mendampingimu. Baik di padang pasir yang keras anginnya, ataupun di tanah yang bercampur es. Baik dalam kesengsaraan, maupun dalam kemewahan Keraton. Aku tak pernah menghalangimu. Aku yang pertama menyatakan kesediaan berangkat ke Jepun dan Koreyea.”

“Saudara Tua, kita adalah anak-anak padang pasir yang sama.”

Bagi Pangeran Hiang, Gemuka adalah tetap Gemuka yang menemani masa kanak-kanaknya. Dalam tidur satu kemah, memburu kuda liar, atau terus-menerus berlatih ilmu silat. Gemuka adalah turunan langsung ketiga dari Jamuka, tokoh utama yang ikut membangun kebesaran Eyang Agung Jengiz Khan Yang Tiada Tara. Pada tubuh Gemuka mengalir seluruh tradisi kebesaran, keberanian, kejujuran yang wungkul, yang apa adanya, dari bangsa pengembara. Hanya karena Gemuka tidak dialiri darah Khan secara langsung, Gemuka tidak menjadi putra mahkota.

Akan tetapi selama ini diperlakukan sama. Apalagi Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa ingin menghapus permusuhan lama. Sehingga keturunan Jamuka mendapat tempat yang terhormat. Yang diwujudkan dengan pemberian tempat yang sesuai pada diri Gemuka. Seorang lelaki yang sesungguhnya. Yang memandang persahabatan, persaudaraan, lebih dari segala apa pun. Itu pula sebabnya mereka berdua masih memakai sebutan panggilan “Saudara Muda” dan “Saudara Tua”. Tanpa embel-embel Pangeran atau Senopati.

“Saudara Tua, apa keberatanmu kalau aku ke tanah Jawa?”

“Tanah yang tak bisa diperkirakan. Sejak Raja Kubilai Khan yang Perkasa mengirimkan utusan pertama telah gagal. Kalau lebih dari satu dan gagal, pasti ada sesuatu yang luar biasa. Dalam soal ilmu silat, kita tak perlu ragu. Dalam perlengkapan perahu serta Barisan Api, kita tahu bahwa tak ada yang mampu mengungguli. Akan tetapi perhitungan itu saja tidak cukup. Itu sebabnya, Saudara Muda tak perlu ke sana. Terlalu banyak yang dikorbankan kalau terjadi apa-apa.”

“Aku percaya, Saudara Tua akan melakukan untuk diriku.”

“Salah satu dari kita cukup, Saudara Muda.”

“Aku yang berangkat. Bagiku tanah becek itu menyimpan banyak pertanyaan. Semakin kupelajari sejarah yang terjadi, semakin tergugah hatiku. Di sana ada ksatria yang mengundang pendekar seluruh jagat untuk mengadu ilmu silat. Apakah sudah sedemikian damainya, sehingga diperlukan undangan pertarungan? Ajaran mana yang mampu berkembang di ujung sana?”

“Kita melakukan kesalahan kalau berangkat bersama.”

“Saudara Tua mau tinggal di Keraton?”

Jawabannya sudah diduga sebelumnya. Gemuka akan tetap menyertai. Bahkan demikian juga Putri Koreyea. Karena baginya hidup bersama suaminya adalah berada di sampingnya. Pangeran Hiang makin bertanya-tanya dalam hati, ketika menjelang keberangkatannya Ibunda mengunjunginya.

“Ibu ingin melihatmu, putraku Pangeran Sang Hiang. Barangkali ini perjumpaan yang terakhir. Karena perjalananmu kali ini adalah perjalanan yang jauh, dan usia Ibu sudah semakin tua. Putraku Pangeran Sang Hiang, Ibu tidak ingin memberati keberangkatanmu. Tetapi hati Ibu mengatakan bahwa kamu harus berhati-hati. Raja di tanah Jawa juga memiliki darah Han yang kamu miliki.”

Pangeran Hiang baru ingat sekarang ini, ketika menceritakan kembali. Bahwa apa yang menjadi suara batin ibundanya, menemukan kenyataan. Kekuatiran yang tak terucapkan. Kegelisahan batin wanita. Kegelisahan batin seorang ibu! Pangeran Hiang dan Gemuka menyiapkan segala sesuatu yang dianggap perlu untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul. Laporan-laporan dari para senopati diteliti dengan cermat. Tak ada satu pun rasanya yang terlewatkan. Pangeran Hiang merasa siap menghadapi. Tapi tidak demikian halnya dengan Gemuka.

“Saudara Muda, kita harus berpisah. Satu perahu bisa kandas, tetapi masih ada yang tersisa.”

“Saudara Tua akan memisahkan diri?”

“Itu sebaiknya. Kalau Saudara Muda gagal, masih ada saya.”

“Hati-hati, Saudara Tua.”

Gemuka merangkul Pangeran Hiang. Mereka berpelukan lama. Lama sekali. Ini untuk pertama kalinya Pangeran Hiang berpisah dengan Gemuka. Selama ini selalu bersama.

Di hilir Kali Brantas, Gemuka meloncat ke tepi dan melanjutkan perjalanannya. Perahu Siung Naga Bermahkota terus melaju. Sewaktu berhasil mendapatkan kabar di mana Baginda berada, rombongan segera menuju ke sasaran. Pertama yang didatangi adalah Gua Kencana, kemudian menuju ke Simping. Dalam satu serangan mendadak, Barisan Api bisa menghancur-ratakan lawan tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan kemudian bisa menawan Baginda dengan para permaisuri. Membawanya ke perahu. Menyimpan di tempat yang sempit. Dan menunggu waktu saat angin laut berbalik.

Pada waktu itulah pengejaran makin hebat, makin merapat. Akan tetapi sejauh itu Pangeran Hiang tak bergerak dari ruangan yang ditempati. Barisan Api bisa mematahkan semua perlawanan. Hingga munculnya Upasara Wulung. Sampai di sini Pangeran Hiang berhenti bercerita. Keringat yang menetes di jakunnya yang samar terlihat.

“Selebihnya Pangeran Upasara mengetahui apa yang terjadi. Sungguh tidak terduga bahwa Barisan Api bisa dirontokkan seketika. Ilmu yang luar biasa. Bolehkah saya mengetahui bagaimana pemecahannya?”

Gendhuk Tri yang menyahut tidak sabar, “Capek mendengarkan kisah Pangeran. Padahal Pangeran sama sekali tidak menyinggung penyakit Putri Koreyea.”

Pangeran Hiang memandang sekeliling. “Tanah yang becek, udara yang panas. Apakah itu perlu diutarakan?”

“Apakah bagi Pangeran lebih penting mengetahui bagaimana mematahkan serangan Barisan Api? Kenapa semua lelaki menganggap urusan wanita tidak penting dibandingkan ilmu silat?”

Banyak yang berubah dari Gendhuk Tri. Akan tetapi bukan nada bicaranya yang langsung bersuara dari bibirnya, tidak melalui indria yang lain.

“Bukan begitu, Adik Tri. Pembicaraan mengenai Barisan Api menarik. Karena selama ini belum pernah ada yang bisa mengalahkan sekaligus seperti sekarang ini. Tidak juga di Jepun atau Koreyea. Satu, dua, atau sepuluh bisa dikalahkan, akan tetapi tidak semudah Upasara menghadapi.”

“Baru tahu kehebatan tanah becek dan lembap ini?”

“Maaf, Adik Tri. Kalau saya menyebut tanah becek, karena dibandingkan dengan padang pasir tanah kelahiran saya, tanah di sini sangat lembek. Sekali lagi, maafkan.”

“Baik, baik. Sekali ini saya maafkan. Akan tetapi sekali lagi Pangeran menyebut tanah becek, saya tak akan memaafkan lagi.”

Pangeran Hiang tersenyum lebar. “Tanah yang menyenangkan, menenteramkan, dan membahagiakan. Hanya di tanah Jawa ini saya menemukan canda, menemukan senyuman, tetapi juga kekerasan ilmu yang sejati.”

Kisah Kitab-Kitab
UPASARA berdeham kecil. “Pangeran Hiang, saya akan menceritakan apa yang menjadi latar belakang budaya tanah Jawa, sebelum menjawab pertanyaan Pangeran….”

Gendhuk Tri ikut duduk.

“Berbeda dengan Eyang Agung Jengiz Khan yang Tiada Tara, raja sesembahan kami, Baginda Raja Sri Kertanegara, mempunyai darah keturunan yang berawal dari para raja di Jenggala dan Kediri, yang dulunya pernah bersatu dan berpisah. Baginda Raja Sri Kertanegara adalah raja yang mampu melihat gairah ombak samudra, mampu menangkap semilirnya angin gunung yang paling tinggi, akan tetapi tetap bisa menghargai derasnya bengawan. Adalah Sri Baginda Raja yang berkenan menyatukan seluruh aliran persilatan dalam kitab yang sama sebagai sumber. Babon kitab ilmu kanuragan. Kitab ini menjadi pijakan bagi perkembangan semua ilmu persilatan. Dengan begitu akan terhimpun cara-cara yang benar, yang berguna bagi pertumbuhan di kelak kemudian hari. Para ksatria yang waktu itu mengabdi kepada Sri Baginda Raja berupaya untuk menciptakan. Salah satunya yang kemudian kami sebut sebagai Paman Sepuh. Beliau berhasil menciptakan kitab yang disebut Kitab Bumi, yang memuat Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Dasar-dasar semua aliran dan ajaran disatukan, disarikan, agar bisa menjadi pegangan. Oleh tokoh seangkatan Paman Sepuh, yaitu Eyang Sepuh, kitab itu disempurnakan dengan tambahan Delapan Jurus Penolak Bumi, Tumbal Bantala Parwa. Hingga semuanya ada dua puluh jurus, yang tetap dinamai Kitab Bumi. Karena penyempurnaan dilakukan oleh Eyang Sepuh, kitab itu dianggap maha karya Eyang Sepuh. Sejak saat itu boleh dikatakan hanya ada satu babon untuk pengembangan, yaitu Kitab Bumi. Dua Belas Jurus Nujum Bintang menyatukan unsur-unsur bintang, irama alam dalam pengerahan tenaga dalam. Tanpa mengenali tata alam di mana ia berada, tak mungkin bisa menyelami Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Sedangkan Delapan Jurus Penolak Bumi merupakan penangkal jurus-jurus yang ada. Intinya adalah menjadikan diri sebagai tumbal, sebagai korban, sebagai penyerahan diri. Pada masa itu, Eyang Sepuh berani mengundang para jago silat di seluruh penjuru jagat. Untuk membuktikan ajaran ilmu silat mana yang sesungguhnya paling murni, paling unggul. Tantangan itu berlaku setiap lima puluh tahun sekali untuk menentukan ksatria mana yang pantas menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Pergolakan yang terutama terjadi sebenarnya bukan hanya di dunia perguruan silat atau di medan pertarungan, tapi juga di dalam dinding Keraton. Setelah Eyang Sepuh menciptakan atau menyempurnakan Kitab Bumi, Eyang Sepuh masih menurunkan satu kitab yang biasa dikidungkan, yang disebut Kidungan Paminggir. Inti sari ajaran Kidungan Paminggir tidak berkenan di hati Sri Baginda Raja. Sehingga Sri Baginda Raja menuliskan lanjutan kitab yang biasa ditulis para raja, yang bernama Kidungan Para Raja. Kalau dalam Kidungan Paminggir, Eyang Sepuh mengedepankan manusia yang bisa menjadi apa saja, Kidungan Para Raja menggariskan bahwa tidak semua manusia bisa menjadi raja. Sebab raja adalah pilihan Dewa Yang Maha dewa. Pada kurun waktu yang kurang-lebih sama, Mpu Raganata menyusun kitab yang diberi nama Kidung Pamungkas, kidung terakhir, yang menilik sifatnya merupakan penyatuan gagasan Eyang Sepuh maupun pandangan Sri Baginda Raja. Jadi selama ini di tanah Jawa ada kitab-kitab yang menjadi inti ajaran resmi. Yaitu Kitab Bumi, Kidung Paminggir, Kidungan Para Raja, serta Kidung Pamungkas. Pangeran Hiang, tentu saja banyak tokoh lain, banyak kitab lain, akan tetapi itulah yang kemudian menjadi induk segala kitab yang ada. Maaf, Pangeran Hiang, kalau saya menerangkan satu demi satu. Saya ingin menunjukkan bahwa Sri Baginda Raja bukan hanya Raja Ardanari, bukan hanya penyelenggara pesta pora, tetapi juga pilihan Dewa yang sangat tepat. Pada saat Kidungan Para Raja dituliskan, Sri Baginda Raja tidak melarang munculnya Kidungan Pamungkas, yang lebih menekankan peranan mahamanusia.”

Pangeran Hiang mengangguk-angguk. “Saya sangat mengerti. Di negeri saya banyak catatan mengenai tokoh sakti mandraguna yang bernama Mpu Raganata. Yang paling ditakuti dan perlu diperhitungkan. Sebab menurut catatan, Mpu Raganata mempunyai ilmu silat yang sakti, menduduki jabatan tertinggi di Keraton, dan satu-satunya yang berani menentang Sri Baginda Raja, meskipun untuk itu bisa digeser.”

“Tidak sepenuhnya tepat,” potong Gendhuk Tri. “Mpu Raganata adalah kakek guru saya. Beliau diperhitungkan berani, bukan karena menentang Sri Baginda Raja. Justru keberanian itu dimungkinkan oleh Sri Baginda Raja. Itu bedanya cara kami memandang dengan pandangan Pangeran Hiang. Sri Baginda Raja bisa menindak Mpu Raganata atau siapa saja, akan tetapi hal semacam itu tidak dilakukan. Bahkan mereka diberi kesempatan. Saya tak tahu apakah keraton lain mempunyai raja dengan jiwa seluas lautan dan sebijak Dewa seperti di tanah Jawa!”

“Saya makin mengerti, Adik Tri. Kalau saya mengatakan kekuatan gunung meletus yang tersimpan dalam senyuman, sekarang mendapatkan penjelasan dalam keterangan Pangeran Upasara. Benar perhitungan yang selama ini, bahwa IM dan YANG di tanah Jawa ini bukan pertentangan. Bahwa Kidungan Para Raja dengan Kidung Paminggir tidak bertentangan. Melainkan bagian yang sama. Demikian juga dengan Kidung Pamungkas bukan merupakan gabungan dari dua yang bertentangan, melainkan bagian yang sama. Itu sikap budaya yang tidak kami pahami. Itu yang menyebabkan kami gagal. Pada saat tiga senopati pertama datang ke tanah Jawa untuk menghukum Sri Baginda Raja, kalian menyambut dengan baik. Walaupun sekarang saya bisa mengerti sepenuhnya, ketika itu setiap pikiran dan lamunan yang merendahkan Sri Baginda Raja membuat siapa pun bersedia menjadi tumbal. Inilah yang saya maksudkan dengan kekuatan gunung meletus dalam senyuman. Saya mengetahui. Saya mempelajari. Saya mengalami sendiri. Adik Tri, Pangeran Upasara, dan para ksatria yang lain menyerbu ke dalam perahu Siung Naga Bermahkota, tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri. Karena Baginda ada di dalamnya. Bahwa selama ini Baginda pernah mengecewakan, dan akan mengecewakan lagi, itu urusan belakangan. Pun kalau Baginda itu bukan Baginda yang diabdi dulu. Kalau tidak salah, itulah ajaran yang ada dalam Kidung Pamungkas?”

JILID 40BUKU PERTAMAJILID 42