Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 40

Tapi ucapan Gendhuk Tri menikam tajam. Menggurat ke dalam, menoreh bagian yang tersembunyi. Sederhana cara mengucapkannya. Namun dengan kalimat yang kekanak-kanakan ini, Gendhuk Tri menyusupkan pertanyaan yang paling mendasar.

Dengan mempersoalkan Pangeran Hiang yang masih melindungi Putri Koreyea, berarti pangeran Hiang melihat adanya tata nilai yang lain. Berarti bukan hanya kemenangan atas Koreyea satu-satunya arti. Kalau tidak, untuk apa melindungi Putri Koreyea yang sedang gering?

Bahwa antara Pangeran Hiang dan Putri Koreyea ada hubungan asmara, Gendhuk Tri sudah mendengar dari cerita sebelumnya. Tetapi kenyataan yang dikemukakan meruntuhkan semua topangan pikiran Pangeran Hiang.

Terdengar helaan napas berat. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi kayu berderak. Dinding perahu di depan Upasara bergerak. Naik. Membuka. Upasara melakukan sembah penghormatan. Barisan Api menunduk seperti mencium lantai yang mulai panas.

Gendhuk Tri sendiri melongo. Matanya membelalak. Bibirnya membuka. Dinding perahu yang membuka itu tak jauh berbeda dari dinding di balik tempat penahanan Baginda dan para permaisuri. Bahkan lebih sempit lagi. Hanya bisa untuk berbaring satu orang. Tanpa bisa banyak bergerak. Di situlah Pangeran Hiang berada selama ini. Tanpa bergerak sama sekali. Berbaring di atas semacam kulit binatang. Sambil merangkul Putri Koreyea yang juga menggeletak di dadanya.

Ini yang membuat Gendhuk Tri membelalak dan melongo. Membelalak karena tak percaya apa yang dilihatnya. Melongo karena tak mengerti apa yang sesungguhnya sedang dihadapi. Gendhuk Tri merasakan bahwa kini seluruh tubuhnya panas terbakar. Rambutnya menjadi sangat kering dan terasa bagai bara.

Perjalanan Larung
BANYAK sebabnya kenapa Gendhuk Tri tertegun. Upasara Wulung pun memperlihatkan rasa heran, walau sekilas. Pangeran Sang Hiang, yang begitu didengungkan namanya, yang selama ini hanya didengar suara dan dikenal namanya, kini terlihat jelas. Sedang berbaring sambil memeluk Putri Koreyea dengan kencang. Erat sekali.

Di ruangan yang sangat sempit itu, Pangeran Hiang mengenakan pakaian longgar yang menutup seluruh tubuhnya. Bagian atasnya memakai lengan yang menggelembung, sedang bagian bawahnya membuka bagai mengenakan kain yang bersisa.

Matanya jernih, tajam menikam, berada di bawah sepasang alis yang tebal pendek. Mengilat seperti rambutnya yang tersanggul sangat rapi. Hanya cundhuk di gelung yang menyerupai taring naga yang membedakannya dari Barisan Api.

Sementara Putri Koreyea wajahnya bagai kapas. Bagai air cucian beras. Putih, pucat. Matanya berupa garis tipis, demikian juga alisnya. Pakaian yang dikenakan juga serba panjang dan berbunga-bunga, penuh sulaman dengan benang emas. Sekilas mengingatkan apa yang pernah dikenakan Ratu Ayu. Dalam ruangan yang begitu sempit, dengan pakaian lengkap yang begitu tebal, sambil berangkulan!

Tetapi segera Gendhuk Tri menyadari, bahwa Pangeran Hiang memeluk tidak sekadar memeluk. Akan tetapi telapak tangannya masuk ke perut, memberikan dorongan tenaga dalam ke tubuh Putri Koreyea, yang tergeletak pasrah, tak bergerak. Tidak juga udara yang berada di dekat hidungnya. Tarikan napasnya samar, lemah. Kalau tadi melihat Baginda dengan para permaisuri duduk rapat seolah beradu lutut saja Gendhuk Tri tak habis heran, apalagi sekarang ini.

“Pangeran, parahkah sakit Putri Koreyea?”

Pangeran Hiang tidak menjawab langsung. “Di sini ada beberapa karung kulit, yang berasal dari kulit beruang yang sudah dimasak. Kalian bisa masuk ke dalamnya, dan membiarkan hanyut di air bengawan kalau mau. Masih ada kesempatan. Kalian berdua mempunyai kebenaran, yang tidak ada hubungannya dengan kemenangan.”

Pangeran Hiang menggerakkan pundaknya. Kulit binatang yang ditiduri seperti digerakkan tangan yang halus, menutup tubuhnya dan tubuh Putri Koreyea, yang tetap tak bergerak, tak bereaksi. Kulit membungkus, sehingga tubuh Pangeran dan Putri seperti dalam karung. Salah satu Jalu mengulurkan karung yang sama kepada Upasara dan Gendhuk Tri.

“Kenakan. Sebentar lagi perahu akan meledak dan terbakar.”

Gendhuk Tri melongo lagi.

“Ada berapa karung kulit seperti ini?”

“Dua.”

“Kalian sendiri bagaimana?”

“Kami hidup di perahu dan selalu bersama perahu. Kenakan segera, seperti perintah Pangeran Sang Hiang, Khan yang Gagah….”

Gendhuk Tri ragu. Sejenak. Karung kulit itu begitu menempel ke tubuhnya seperti membungkus sendiri. Upasara juga masuk. Rapat sempurna. Ada perasaan jengah, malu, marah, tapi Gendhuk Tri tak bisa berbuat apa-apa. Karung telah menutup. Gelap. Hanya hidungnya yang bisa mengenali bau kulit binatang. Selebihnya tak tahu apa-apa. Tak bisa apa-apa. Itu pun tak lama. Terasa kemudian seperti guncangan yang besar, yang membalikkan tubuhnya. Disusul gemercik air di sekitarnya, dan kemudian bersamaan dengan itu disusul ledakan yang keras. Dalam kulit karung Gendhuk Tri tak bisa bergerak, tak bisa menggerakkan apa-apa.

“Celaka,” katanya perlahan. “Perahu benar-benar meledak.”

“Kita hanyut.”

"Kita hanyut, Kakang. Tapi bagaimana dengan Barisan Api?”

“Mereka akan tetap berada di perahu.”

Gendhuk Tri tak melanjutkan pertanyaan. Bukan karena tiba-tiba tubuhnya seperti berputar, kaki ke kepala dan kepala ke kaki, melainkan karena menjadi kikuk. Sangat kikuk. Tubuh Upasara seperti menempel di tubuhnya. Setiap kali Gendhuk Tri bergerak, yang terjadi adalah guncangan-guncangan, seolah karung kulit melesak lebih jauh ke bawah sungai.

“Atur pernapasan….” Suara Upasara perlahan.

Gendhuk Tri sadar, bahwa terkurung dalam karung kulit yang sangat mungkin sekali berada di tengah arus dan di tengah air, mulai terasa panas. Maka ajakan Upasara dituruti. Tubuhnya kaku tidak membuat gerakan sedikit pun. Pikirannya dipusatkan, menuju ke satu titik tertentu. Tarikan maupun embusan napasnya sangat perlahan dan lama jaraknya.

Upasara ternyata lebih bisa bertahan. Dengan cara itu, segera Gendhuk Tri merasakan bahwa karung kulit bisa bergerak sangat tenang. Perlahan terbawa mengikuti arus. Dan secara perlahan pula ke atas permukaan. Mengapung.

Perahu Siung Naga Bermahkota memang penuh peralatan yang serba menakjubkan. Selain berisi rangkaian senjata rahasia, bahan peledak yang guncangannya demikian keras, juga menyediakan dua karung kulit, yang bisa menjadi perahu penyelamat. Semua tadi memerlukan persiapan yang luar biasa rumit.

Seperti halnya karung kulit ini. Bentuknya tak berbeda dengan lembaran kulit binatang yang lain. Akan tetapi dalam waktu singkat bisa saling menempel, seolah disatukan dengan perekat telur yang sangat kuat. Dan bisa mengapung!

Kulit binatang ini bisa menjadi perahu, tetapi bisa juga menjadi semacam peti mati. Dengan menenangkan tubuh, mengatur pernapasan seirit mungkin, kulit yang menjadi larung, menjadi peti mati tak bergerak. Dengan mengikuti arus, kulit ini seperti dilarung, dilemparkan ke sungai, dan menjadi bagian sungai. Seperti benda yang lain, akan setengah mengapung.

Tak beda dengan kulit biasa yang tidak bermuatan. Perencanaan dan perhitungan yang masih mencengangkan bagi Gendhuk Tri. Betapa tidak. Kalau berada di dalam air, bagian atasnya akan menutup dengan sendirinya. Dengan demikian air tidak bisa masuk. Sedangkan bila muncul ke permukaan, udara bisa dihirup lebih leluasa.

Bagi Gendhuk Tri maupun Upasara tak terlalu sulit untuk menahan napas sementara jika kebetulan karung kulit berada di bawah permukaan. Yang terbayang oleh Gendhuk Tri, bagaimana Pangeran Hiang mengatur pernapasan dengan baik, kalau kenyataannya ia dibebani tubuh Putri Koreyea. Ini menjadi perhitungan Gendhuk Tri.

Justru karena ketika ia berusaha membuka karung kulit usahanya selalu gagal. Setiap kali tangannya bergerak ke atas, mendorong kulit, justru karungnya tenggelam. Setiap gerakan menyebabkan karung kulit tak bisa mengapung. Pikiran Gendhuk Tri sebenarnya sederhana. Kalaupun ia bisa lolos dari ledakan perahu yang menjadi hangus terbakar, ia bisa menepi dengan berenang. Dan tidak berdiam diri seperti ini.

Gendhuk Tri tidak menyadari bahwa nyawanya diselamatkan oleh karung kulit. Karena ketika kulit itu menutup, membungkus bagai karung, dengan perhitungan tertentu karung itu terlontar ke dalam air. Dalam keadaan tenggelam dan larut, ikut aliran sungai, tak bisa dikenali oleh prajurit-prajurit yang berjaga di kiri-kanan.

Lolos dari tukikan tajam Halayudha. Dengan ledakan yang keras, perhatian mereka yang mengepung lebih terpecah lagi. Apalagi karena bagian-bagian perahu seakan hancur dan lepas melayang ke segala penjuru. Untuk beberapa saat perhatian mereka tertuju kepada ledakan perahu. Itulah yang sudah diperhitungkan. Kulit beruang yang dibuat sedemikian rupa sebagai perahu penyelamat!

Bahwa Barisan Api tidak ikut menyelamatkan, atau malah berusaha menyelamatkan diri lebih dulu, ada perhitungan lain. Yang kemudian nanti baru diketahui Gendhuk Tri. Yang terasakan sekarang hanyalah kejengkelan. Karena tak bisa membuka.

“Akan membuka sendiri, Adik Tri. Nanti di saat yang telah diatur.”

“Dari mana Kakang tahu?”

“Segala sesuatu telah diperhitungkan. Baik waktu, gerakan, maupun tempatnya. Kita tinggal mengikuti saja.”

Gendhuk Tri jadi makin gemas. Karena bercakap tadi, karung kulit itu jadi makin amblas ke bawah. Seakan menyentuh dasar sungai.

Perjalanan Kemenangan
TERPAKSA Gendhuk Tri berdiam diri. Kembali mengatur pernapasan. Meskipun kini mulai susah. Karena pikirannya bercabang-cabang. Memang sekarang ini bisa selamat, dan karung kulit ini nantinya akan membuka sendiri. Akan tetapi apa yang terjadi jika karung ini membuka sesudah berada di tengah laut?

Itu cara mati yang sia-sia. Lebih sengsara. Tapi toh tak ada pilihan lain. Upasara memang tidak memahami apa yang menjadi pikiran Gendhuk Tri. Baginya segalanya jelas dan bisa segera dimengerti. Kecuali jalan lamunan Gendhuk Tri. Memang tak bisa disalahkan.

Upasara Wulung maupun Gendhuk Tri pernah terkurung dalam gua bawah tanah Pintu Seribu, di kawasan Perguruan Awan. Benar-benar terkurung seperti sekarang ini. Akan tetapi saat itu Upasara segera bisa meloloskan diri dengan menelusuri terowongan, sambil merangkak dan menggangsir. Sementara Gendhuk Tri tertinggal.

Bersama gurunya yang meninggal, bersama mayat yang membusuk, yang kemudian mengeluarkan racun tubuh, dan bersarang dalam tubuh Gendhuk Tri untuk waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya bisa diusir oleh tenaga dalam Upasara Wulung hingga tenaga dalamnya terkuras habis. Itu semua baru pengalaman pertama. Dan bukan satu-satunya pengalaman.

Karena Gendhuk Tri pernah terkurung lagi dalam gua bawah tanah Keraton. Benar-benar terkurung hidup-hidup tanpa bisa bergerak. Hanya karena ia nekat mencakar kiri-kanan tanpa memedulikan berhasil atau tidak, Gendhuk Tri yang waktu itu bersama Naga Nareswara bisa lolos kembali. Pengalaman buruk yang membuatnya berkeringat, kalaupun hanya muncul dalam ulangan mimpi.

Kengerian itu tak terasakan oleh Upasara. Yang meskipun mengalami masa-masa gawat, akan tetapi berbeda dengan yang dialami Gendhuk Tri. Kalaupun ada yang sedikit menghibur hatinya, ialah kenyataan bahwa kalau sekarang ini mati, ada Upasara di dekatnya. Rapat. Akan tetapi cara berpikir seperti itu dihapuskan secepatnya.

Gendhuk Tri sadar, bahwa sesungguhnya ia telah menjatuhkan pilihan kepada orang lain. Kepada Maha Singanada. Tak nanti ia begitu saja meninggalkannya. Meskipun yang menjadi pilihan lain adalah ksatria yang memang sangat diharapkan.

Tidak segampang itu kesetiaan hati wanitanya luntur. Walau mungkin saat ia berbicara dengan Maha Singanada seperti biasa-biasa saja, akan tetapi saat itu Gendhuk Tri merasa berjanji. Dengan suara batinnya. Dengan suara hatinya yang tulus, ikhlas, rela sepenuhnya. Itu pula sebabnya Gendhuk Tri merasa perlu menjauh dari Pangeran Anom. Juga Upasara. Kakang Upasara.

Lama Gendhuk Tri bergulat dengan pikiran yang maju-mundur. Sehingga beberapa kali karung kulit tenggelam dan muncul kembali. Ketika akhirnya terdengar bunyi menggeretak, Gendhuk Tri mengetahui bahwa tautan itu lepas dengan sendirinya. Seperti yang diperhitungkan Upasara. Gendhuk Tri menggeliat. Satu tangan mengayuh ke samping, dan tubuhnya meluncur ke dalam bengawan. Barulah Gendhuk Tri sadar bahwa hari tengah berganti malam.

Air bengawan yang anehnya tetap terasa panas, membuat Gendhuk Tri bisa segera memilih arah untuk menepi. Meskipun bukan jago berenang, Gendhuk Tri bisa menuju ke tepi tanpa kesulitan. Demikian juga Upasara Wulung. Bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri melihat pemandangan yang aneh. Di bawah penerangan bulan yang samar atau bintang yang remang, terlihat tubuh Pangeran Hiang mengapung di sungai. Masih memeluk Putri Koreyea.

Seolah ketika karung kulit lepas, tubuhnya tetap seperti semula. Mengikuti arus. Perlahan sekali, akan tetapi menuju ke arah tepi. Tetap tak bergerak. Tanpa gerakan. Hingga tubuhnya merapat ke tepi, ke daratan yang dangkal. Tapi juga tak segera bergerak untuk berdiri atau bangun. Sebagian atau seluruh tubuhnya dan tubuh Putri Koreyea basah. Sesekali masih bergerak karena ombak bengawan.

“Sebentar lagi Pangeran bisa menepi dengan sendirinya. Sekarang mungkin belum, karena tenaga dan pikirannya masih terpusat pada Putri Koreyea.”

Gendhuk Tri mengangguk. Ia duduk bersila. Memanaskan tubuhnya untuk mengusir air yang membasahi kainnya, sehingga membuat lekukan tubuhnya makin tajam. “Kenapa begitu, Kakang…?”

“Saya tak mengetahui tepatnya. Hanya saja agaknya Putri Koreyea menderita penyakit yang berat, yang hanya bisa bertahan karena pengaruh tenaga dalam Pangeran Hiang. Kita tak bisa berbuat apa-apa, karena jika salah sedikit saja, barangkali bisa berakibat gawat.”

“Kalau begitu kita menunggu saja.” Suara Gendhuk Tri berubah lembut. “Terima kasih, Pangeran Hiang… Pangeran telah memberikan kulit yang menyelamatkan. Terima kasih.”

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan.

“Inilah perjalanan kemenangan. Dengan berada dalam karung kulit ini, Pangeran Hiang memilih jalan hidup….”

“Adik Tri…”

Gendhuk Tri memandang Upasara dengan sorot mata kesal. Aih. Itulah mata kanak-kanak yang polos, yang pernah cemburu, yang pernah panas membakar, yang tak bisa dilupakan Upasara. Upasara tersenyum. Gendhuk Tri memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Rasa-rasanya sudah lewat tengah malam.” Suara Gendhuk Tri lirih, mengalihkan perhatian.

“Ya, angin mulai bergerak ke arah sang surya….”

“Kalau benar begitu, timur berada di sana… Kakang, kira-kira kita ini ada di mana?”

Upasara memandang sekeliling. Lalu menggeleng. “Apa saja yang terjadi selama ini, Adik Tri?”

Gendhuk Tri berdiri. Menepiskan tanah dan pasir yang mengering di kainnya. “Kakang ini sekarang aneh. Pakai tanya apa kabar dan apa yang terjadi. Bagaimana dengan Kakang sendiri?”

Upasara menceritakan secara singkat apa yang dialami. Bagaimana hidup bersama dengan Dewa Maut. Gendhuk Tri juga menceritakan apa yang selama ini dialami. Terutama ketika bersama Nyai Demang, Ratu Ayu, dan Permaisuri Rajapatni berusaha memindahkan kerangka Upasara.

“Di mana Ratu Ayu berada?”

“Saya tak mengetahui,” jawab Gendhuk Tri datar. Terlihat sekali usaha untuk mengendalikan emosinya. “Kami berpisah begitu saja. Wajahnya kelihatan kurang bersemangat saat itu. Kakang belum bertemu lagi?”

“Belum.”

“Sama sekali belum?”

“Belum.”

“Kakang kangen?”

Upasara memandang ke arah bengawan. “Ya.”

Hati Gendhuk Tri seperti disodok. Nyeri. Tapi bibirnya tersenyum, meskipun makin pedih perasaannya. “Ratu Ayu juga selalu kangen sama Kakang.”

Upasara menunduk. “Selama bersama Dewa Maut, dalam waktu yang boleh dikatakan singkat, saya merasa banyak pertanyaan dalam diri saya. Antara lain bahwa selama ini saya sering mengecewakan banyak orang. Termasuk Ratu Ayu.”

“Terutama Ratu Ayu. Ia istri Kakang, dan selalu menyebut Kakang sebagai Raja Turkana.”

Upasara mengangguk. Membenarkan. Bagi Upasara tak lebih dari membenarkan ucapan Gendhuk Tri. Bagi Gendhuk Tri tak lebih dari rasa sakit untuk kesekian kalinya.

“Juga Permaisuri Rajapatni.”

“Ya.”

“Sudahlah, Kakang. Sebentar lagi Ratu Ayu Bawah Langit akan datang. Begitu mendengar kabar Kakang muncul, ia pasti akan mencari. Dan pasti akan menemukan, walau kini kita sudah berada di Tartar sekalipun.” Getir nadanya, pahit suaranya.

Asmara Bersama, Asmara Penyatuan
UPASARA mengalihkan kepada kegiatan yang lain. Ia berjalan menuju ke pinggir, menerobos pohon-pohon. Daerah yang dikenal, walau belum pernah diinjak. Tanah yang dihafal, walau belum pernah disentuh. Tanah yang masih perawan, belum pernah tersentuh kaki dan tangan, belum pernah berbau keringat manusia. Pohon-pohon masih bergulat di atas dengan akrab, bergoyang seirama dengan alam. Waktu seperti berhenti. Hari seperti tak berganti.

Upasara menemukan satu tempat yang teduh, semacam gua yang sedikit menjorok ke dalam. Kemudian kembali ke pantai. Kulit yang tadi menjadi karung, disorongkan ke bawah tubuh Pangeran Hiang. Dengan sangat perlahan diangkat. Tanpa membuat gerakan kecil yang bisa mengganggu Pangeran Hiang serta Putri Koreyea yang tetap membeku.

Gendhuk Tri ternyata telah menata gua dengan beberapa daun kering yang ditumpuk. Bahkan kemudian ketika sinar matahari meraba pinggiran sungai dan dedaunan, Gendhuk Tri sudah menyediakan buah-buahan, menyediakan kayu kering untuk malam nanti. Sudah menjelajah ke sekitar. Tak menemukan bayangan siapa-siapa. Tidak juga bekas-bekasnya.

Ketika kembali, Gendhuk Tri menemukan Pangeran Hiang masih berbaring sambil merangkul Putri Koreyea. Gendhuk Tri duduk bersila di dekat Upasara. Pangeran Hiang membuka matanya. Memandang sekilas dengan sorot mata terima kasih.

“Apakah Pangeran Hiang harus selalu memindahkan tenaga dalam ke tubuh Putri Koreyea?”

“Itu yang saya lakukan, Adik Tri. Tubuhnya bisa mendadak menjadi dingin, kaku, tak bereaksi sama sekali. Nadinya hilang, napasnya tak bisa dirasa. Saat-saat seperti itu, saya hanya bisa mendekapnya, sampai keadaannya kembali biasa.”

“Penyakit apa yang diderita?”

Pangeran Hiang tidak segera menjawab. Memandang ke arah Upasara. “Pangeran Upasara, apa yang Pangeran katakan benar. Biar bagaimanapun, kehidupan selalu lebih berarti. Saya mempertahankan kehidupan. Tetapi apakah ada artinya? Apa yang saya dekap selama ini? Adik Tri, apa yang Adik katakan benar. Biar bagaimanapun, bukan kemenangan yang paling berarti. Bukan itu satu-satunya. Itu sebabnya saya merasa memiliki Putri Koreyea. Saya memiliki daya asmara. Tetapi apa ada artinya? Asmara macam apa yang saya rasakan? Bahagialah kalian pasangan yang menemukan arti sesungguhnya dari kemenangan, dan arti sesungguhnya dari daya asmara.”

“Maaf, Pangeran Hiang. Mungkin Pangeran Hiang keliru. Saya bukan kekasih Kakang Upasara. Hubungan kami berdua adalah hubungan kakak-adik. Kakang Upasara telah mempunyai kekasih sebelumnya, dan telah beristri Ratu Ayu Bawah Langit, yang mungkin Pangeran kenal. Saya sendiri… saya sendiri telah mempunyai calon.”

“Maaf, Adik Tri. Sekilas kalian berdua merupakan pasangan yang membuat saya iri. Setelah saya amati, keyakinan itu makin besar. Maafkan.”

Upasara menunduk. Dadanya bergetar. Ia merasa akrab dengan Pangeran Hiang. Akan tetapi Gendhuk Tri ternyata bisa lebih akrab lagi. Pada kalimat pertama sudah membuka masalah pribadi. Jauh dari pikiran Upasara, bahwa sebenarnya Gendhuk Tri masih jengkel dengan sikap Upasara mengenai Ratu Ayu dan atau Permaisuri Rajapatni. Meskipun yang dikatakan mengenai dirinya sendiri adalah hal yang sesungguhnya. Ya, sesungguhnya! teriak Gendhuk Tri dalam hati.

“Pangeran Upasara…”

“Maaf lagi,” potong Gendhuk Tri, “Kakang Upasara bukan pangeran. Kakang adalah senopati, atau pernah menjadi senopati. Seperti saya, tak mempunyai darah biru….”

“Saya keliru lagi? Saya hanya merasakan bahwa kalian adalah pasangan yang bahagia. Andai… Saya hanya merasa bahwa Upasara adalah pangeran, putra Sri Baginda Raja Kertanegara. Tak bisa lain. Darah biru, apalagi putra raja yang besar, tak bisa disembunyikan. Hal yang sangat mungkin sekali terjadi. Sri Baginda Raja Kertanegara adalah pemuja surga dunia. Bisa melakukan daya asmara bersama-sama dengan para prajurit, para senopati, para pendeta, bisa memakan apa saja yang lezat, bisa menggauli siapa saja, sebagai pertanda hubungan dengan Dewa. Penyatuan badani adalah penyatuan batin. Kalau dari sekian ratus olah asmara, kenapa tidak mungkin lahir seorang Upasara?”

Tengkuk Upasara merinding. Ini bukan pertama kali dirinya dikaitkan sebagai putra Sri Baginda Raja. Bukan itu yang menyebabkan tengkuknya dirambati kepekaan. Melainkan ucapan Pangeran Hiang yang dingin menyebut kebiasaan Sri Baginda Raja. Selama ini selalu menjadi pocapan, menjadi bahan pergunjingan, mengenai kebiasaan Sri Baginda Raja mengadakan pesta-pesta upacara keagamaan yang diyakini. Upacara Tantrik yang biasa diadakan dengan menenggak minuman keras, mabuk-mabukan berat, serta melampiaskan daya asmara secara bersama-sama.

Upasara mendengar semua itu, karena masa kecilnya berada di lingkungan Keraton. Saat itu hanya gurunya, Ngabehi Pandu, yang berusaha menjauhi. Biasanya pada saat pesta besar semacam itu, Ngabehi Pandu mengajaknya pergi menjauh, keluar dari Keraton. Selama itu Ngabehi Pandu tak pernah memberi komentar, dan Upasara juga tidak pernah menanyakan. Meskipun itu menjadi pengertian umum, karena Sri Baginda Raja tak pernah berusaha menutupi, akan tetapi rasanya tak ada yang mengungkit masalah itu, sebagai suatu kekeliruan. Tidak juga sekarang ini.

“Pangeran Hiang, saya kira pandangan Pangeran tidak sepenuhnya tepat.”

“Saya keliru lagi menilai? Apakah tidak boleh saya mengatakan bahwa Sri Baginda Raja Kertanegara mengadakan pesta asmara beramai-ramai, bersama-sama sekian puluh wanita dan para senopatinya? Saya hanya mengatakan, tidak menyalahkan atau mengutuk. Karena Sri Baginda Raja adalah tangan kanan yang dikodratkan oleh Dewa Yang Maha dewa.”

Upasara menggeleng. Wajahnya kaku. Gendhuk Tri meremas kedua tangannya.

“Bukan, Pangeran Hiang. Sri Baginda Raja melakukan itu karena keyakinan. Karena penyatuan dengan Dewa Yang Maha dewa bisa dicapai dengan laku asmara bersama dan makan enak…”

Untuk pertama kalinya bibir Pangeran Hiang tertarik. Seperti tersenyum. “Saya bisa mengerti. Sepenuhnya. Saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa Pangeran Upasara menjadi kaku uratnya. Saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa Sri Baginda Raja melakukan itu, karena dalam alam pengertiannya zaman di mana Sri Baginda bertakhta adalah zaman Kaliyuga, zaman keempat, zaman terakhir yang penuh dengan penderitaan, kekacauan, penyelewengan, keedanan, kebubrahan. Pengertian itu bukan hanya milik Sri Baginda Raja. Milik siapa pun juga yang memperhitungkan sesuai dengan penalaran datangnya Kaliyuga. Yang akan berakhir jika Sri Baginda Raja mampu menguasai dan mengalahkan kodrat zaman serba bencana. Saya paham hal itu, Pangeran Upasara. Saya pribadi tidak mengenal dan menyalahkan tata krama yang diyakini. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa tidak mempermasalahkan hal itu. Yang menjadi tantangan utama ialah karena Sri Baginda Raja tidak mau mengakui kebesaran takhta Tartar. Utusan perdamaian disingkirkan. Tantangan dinyalakan. Bendera perang dikelebatkan. Genderang perang ditabuh hingga memekakkan padang pasir. Lebih dari itu, Sri Baginda Raja malahan menyerang maju, menantang sampai ujung kaki Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Mata seluruh jagat membelalak, semua kepala mendongak ketika terang-terangan Sri Baginda Raja mengirimkan utusan ke Pamalayu, mengambil putri-putri, dan terutama ke tlatah Campa. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa merasa dituding dengan tombak di jidatnya. Diludahi wajahnya. Semua senopati Tartar bersumpah akan menumpas Keraton Singasari hingga rata dengan tanah dan air. Karena Keraton Campa adalah keraton yang paling dekat dengan Tartar yang berbeda di sebelah timur, yang selama diciptakan belum pernah melawan Tartar. Sejak keraton itu diciptakan! Sejak sebelum adanya tanah dan bumi! Sri Baginda Raja menyalakan api di bawah kaki perkemahan Tartar, dan membakar panas siapa pun yang mengenal jiwa Tartar.”

Raja Ardanari
SUARA Pangeran Hiang sedikit menggelora. Meskipun tubuhnya tetap berbaring. Meskipun tidak dibantu dengan gerakan anggota tubuh yang lain. Tapi tanpa itu pun Gendhuk Tri seperti di-selomot, disundut api, seluruh tubuhnya. Secara langsung kaitan Gendhuk Tri dengan Keraton boleh dikatakan tipis, setidaknya dibandingkan dengan Upasara Wulung. Akan tetapi itu tidak menghalangi batin dan lahiriah memuja Sri Baginda Raja secara murni. Bahkan riwayat hidupnya sendiri berada dalam kejadian itu.

Sewaktu masih sangat kecil, dirinya telah dipersiapkan untuk dijadikan penghibur di Keraton. Tak berbeda jauh dari gurunya, Jagaddhita, yang akan mengalami nasib yang sama andai tidak bertemu dengan Mpu Raganata, yang mengubah perjalanan hidupnya menjadi ksatria. Jauh dalam dasar hati Gendhuk Tri, kalaupun ia kemudian menjadi bagian dari penghibur Keraton, ia tak akan pernah menyesali seumur hidupnya! Tak akan pernah! Karena semua itu demi Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang sekarang sedang digugat oleh Pangeran Hiang.

“Saya sendiri tak percaya. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa sendiri tak pernah mengerti, bahwa Sri Baginda Raja Kertanegara memakai gelaran Raja Ardanari. Gelaran yang justru dipajang, diagungkan, dalam nawala, surat kepada Rama Prabu.”

Buku-buku jari tangan Upasara berderak. Sebutan Raja Ardanari, raja yang arda, yang mempunyai nafsu asmara berlebihan, kepada nari, kaum wanita, adalah sebutan yang memanaskan darah keturunan Singasari. Karena diucapkan dengan nada mengejek oleh seorang pangeran dari Keraton Tartar. Yang menjadi musuh bebuyutan, musuh tujuh keturunan!

“Pangeran Upasara, Adik Tri, Saya pun terhina. Murka, dendam, terbakar dengan penghinaan Sri Baginda Raja yang menggunduli rambut yang bagi kami adalah kehormatan termulia juga memotong telinga utusan resmi Khan yang Perkasa. Sejak itu menjadi sumpah semua keturunan Khan, semua pendekar, untuk menaklukkan Keraton Singasari. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Utusan pertama, tiga senopati utama, bisa diusir kembali ke samudra. Datang kembali ke Keraton untuk mengabarkan kekalahan dan dihukum mati. Utusan terhormat Raja Segala Naga, ternyata juga tak ada kabar beritanya. Saya, Putra Mahkota, pewaris takhta yang sah, dengan Barisan Api dan perahu Siung Naga Bermahkota memutuskan untuk datang. Untuk menang. Tapi ini hasilnya.”

Darah Upasara menurun. Kini bisa lebih dimengerti kenapa Kubilai Khan yang Perkasa menganggap Baginda Raja sebagai musuh utama. Terutama karena Sri Baginda Raja berhasil mempengaruhi Keraton Campa untuk memberontak. Terutama karena menantang perang dengan cara yang menyinggung perasaan.

Tapi Gendhuk Tri justru masih menggelegak. “Pangeran Hiang, apa anehnya jika Sri Baginda Raja memakai gelaran Raja Ardanari?”

“Tak ada. Tak ada anehnya.”

“Kenapa Pangeran seperti meremehkan?”

“Karena kita berlawanan. Karena kita bertarung. Dalam saat gawat peperangan, kenapa justru gelaran Raja Ardanari yang dipakai?”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara keras dari hidungnya.

“Maaf, Adik Tri. Saya mengatakan apa adanya. Kenyataannya. Karena saya, seperti semua ksatria Tartar, hanya mengenal kenyataan yang sesungguhnya. Kami tidak bicara dengan bahasa dan tata krama yang lain. Kemenangan adalah kemenangan. Kekalahan berarti kekalahan. Maaf, Adik Tri.”

“Kalau berpikir seperti itu, Pangeran tak perlu minta maaf.” Suara Gendhuk Tri masih tinggi nadanya, alot wajahnya.

Matahari memang makin panas. Tangan Pangeran Hiang kembali menyelusup ke bawah pakaian Putri Koreyea. Menyentuh pusar. Lalu diam agak lama.

“Pangeran Hiang…,” Upasara membuka pembicaraan dengan perlahan. “Adalah nasib kita berempat berada di tempat yang sementara ini. Kita dipertemukan di sini, karena nasib dan karena kita menghendakinya. Di sini kita bisa melanjutkan pertarungan hingga titik napas penghabisan. Bisa bantah kawruh, menguji pengetahuan dan pengalaman, seperti yang kita lakukan sekarang ini. Manakah yang menurut Pangeran paling baik?”

“Yang paling baik adalah kemenangan.”

Gendhuk Tri menepuk tangannya. “Kita bisa menentukan sekarang.”

Pangeran Hiang mengangguk,

Upasara menggeleng. “Tidak sekarang ini, selama Putri Koreyea masih gering."

Gendhuk tri mengangguk. Upasara, dan juga dirinya, tak nanti mengambil keuntungan di saat lawan kurang bersiaga. Sebaliknya, Pangeran Hiang malahan mengangguk.

“Kemenangan adalah kemenangan. Apakah lawan bersiaga atau tidak, tak jadi urusan. Yang utama bagaimana meraih kemenangan. Pangeran Upasara dan Adik Tri, jangan bersikap lain. Saya tahu bahwa mundurnya tiga senopati Tartar, juga karena belum siap. Ketika prajurit Tartar baru saja menggempur Keraton Singasari untuk membinasakan Raja Jayakatwang, Baginda kalian memukul kami. Tak ada bedanya. Itulah kemenangan.”

Telinga Upasara merah. Ucapan Pangeran Hiang seperti bergetah. Dada Gendhuk Tri gerah. Pertarungan berdarah dengan senopati Tartar saat itu, Sih-pi, Kau Hsing, Ike Meese, adalah pertarungan secara ksatria. Di dinding benteng Keraton yang terbakar. Para senopati bertarung secara ksatria, termasuk Upasara Wulung yang menjadi Senopati Pamungkas, penyelesai. Akan tetapi memang serangan ke arah itu boleh dikata sangat tiba-tiba.

“Kalian berdua belum tentu merebut kemenangan dari saya.”

Ini tantangan. Upasara menggeleng. Lalu menunduk.

“Saya tergetar melihat penderitaan Putri Koreyea. Saya tak ingin memerangi hati saya sendiri. Penderitaan yang belum pernah saya duga. Pangeran Hiang, apakah pada saat menyerang, detak darah Putri Koreyea tak teraba?”

Pangeran Hiang memandang ke arah dinding gua. “Memang tidak. Tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Sebelum kita saling berebut kemenangan, saya ingin menyampaikan rasa hormat yang tulus atas kekaguman saya. Kalian adalah bangsa yang unggul. Keraton yang menjulang ke langit, menyelusup ke bulan karena tak pernah terduga, bahkan oleh para Dewa.”

Gendhuk Tri mengerutkan keningnya. Tak sepenuhnya memahami apa yang dikatakan Pangeran Hiang. Sewaktu melirik ke arah Upasara, tampaknya Upasara juga sama.

“Apa maksud Pangeran Hiang sebenarnya?”

“Maafkan tata ucapan saya yang tak mampu menemukan pilihan kata yang tepat. Kalian semua yang berada di tanah Jawa ini adalah bangsa yang mampu menyimpan kekuatan gunung meletus menjadi senyuman menunduk dan kesabaran. Saya kembali membicarakan Sri Baginda Raja Kertanegara, yang mengandung arti Raja yang Menguasai Jagat, Raja yang Memerintah Jagat. Betapa gagah, betapa jantan, betapa perkasa. Tapi justru pada saat menantang perang, menyebut dirinya sebagai Raja yang Bernafsu Asmara Berlebihan pada Wanita. Inilah aneh. Dalam alam pikiran kami. Kalau rajanya mampu luwes, mampu menekuk kenyataan, mengubah kenyataan, mampu menjungkirbalikkan tata krama keunggulan di medan perang dengan nafsu asmara, bukankah itu mengandung pengertian yang berbeda tajam, tapi bisa berarti sama. Ada im, ada yang. Bisa im, bisa yang, pada saat yang sama. Itu sebabnya tiga senopati kami terkecoh, menyerang sasaran yang keliru, dan bisa didepak ke laut. Demikian juga Naga Nareswara yang membawa mandat resmi, sampai di sini tergeser perhatiannya hingga mendahulukan keinginannya menjadi ksatria lelananging jagat. Sehingga tujuan utama tidak berhasil. Saya mempelajari itu semua. Makanya sejak pertama kali perahu menyentuh tlatah Jawa, saya hanya mau membawa Baginda, dan bukan urusan yang lain. Saya tak mau memedulikan apa pun yang terjadi.”

Tartar itu Matahari, Lautan…
PANGERAN HIANG duduk bersila. “Tujuan saya hanya satu. Membawa Baginda ke Tartar. Sebagai tanda nyata kemenangan. Urusan-urusan yang lain tidak saya pedulikan, karena akan menghalangi dan bisa menggagalkan tugas ini. Karena saya sadar, semua godaan bisa terjadi di tanah Jawa yang tanahnya lembap bagai lumpur ini. Saya menghindari pertarungan ksatria, saya tak meladeni tantangan. Sekarang pun, ketika Pangeran Upasara menanyakan kesehatan Putri Koreyea, saya berhati-hati. Apakah ini bukan perwujudan siasat kalian yang tak bisa saya duga. Juga ketika di perahu. Kalian menanyakan tentang hal yang sama. Ketika Pangeran Upasara mendebat masalah kemenangan. Ketika Adik Tri menanyakan asmara dalam kemenangan. Saya berjaga-jaga.”

“Begitu picikkah Pangeran Hiang?”

“Ya, agar bisa menang.”

“Hmmmmm.”

“Nyatanya saya terpengaruh. Kalau ini bagian dari siasat, saya telah masuk perangkap. Itu sebabnya saya mengatakan pujian, sebelum akhirnya entah bagaimana.”

JILID 39BUKU PERTAMAJILID 41

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 40

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 40

Tapi ucapan Gendhuk Tri menikam tajam. Menggurat ke dalam, menoreh bagian yang tersembunyi. Sederhana cara mengucapkannya. Namun dengan kalimat yang kekanak-kanakan ini, Gendhuk Tri menyusupkan pertanyaan yang paling mendasar.

Dengan mempersoalkan Pangeran Hiang yang masih melindungi Putri Koreyea, berarti pangeran Hiang melihat adanya tata nilai yang lain. Berarti bukan hanya kemenangan atas Koreyea satu-satunya arti. Kalau tidak, untuk apa melindungi Putri Koreyea yang sedang gering?

Bahwa antara Pangeran Hiang dan Putri Koreyea ada hubungan asmara, Gendhuk Tri sudah mendengar dari cerita sebelumnya. Tetapi kenyataan yang dikemukakan meruntuhkan semua topangan pikiran Pangeran Hiang.

Terdengar helaan napas berat. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi kayu berderak. Dinding perahu di depan Upasara bergerak. Naik. Membuka. Upasara melakukan sembah penghormatan. Barisan Api menunduk seperti mencium lantai yang mulai panas.

Gendhuk Tri sendiri melongo. Matanya membelalak. Bibirnya membuka. Dinding perahu yang membuka itu tak jauh berbeda dari dinding di balik tempat penahanan Baginda dan para permaisuri. Bahkan lebih sempit lagi. Hanya bisa untuk berbaring satu orang. Tanpa bisa banyak bergerak. Di situlah Pangeran Hiang berada selama ini. Tanpa bergerak sama sekali. Berbaring di atas semacam kulit binatang. Sambil merangkul Putri Koreyea yang juga menggeletak di dadanya.

Ini yang membuat Gendhuk Tri membelalak dan melongo. Membelalak karena tak percaya apa yang dilihatnya. Melongo karena tak mengerti apa yang sesungguhnya sedang dihadapi. Gendhuk Tri merasakan bahwa kini seluruh tubuhnya panas terbakar. Rambutnya menjadi sangat kering dan terasa bagai bara.

Perjalanan Larung
BANYAK sebabnya kenapa Gendhuk Tri tertegun. Upasara Wulung pun memperlihatkan rasa heran, walau sekilas. Pangeran Sang Hiang, yang begitu didengungkan namanya, yang selama ini hanya didengar suara dan dikenal namanya, kini terlihat jelas. Sedang berbaring sambil memeluk Putri Koreyea dengan kencang. Erat sekali.

Di ruangan yang sangat sempit itu, Pangeran Hiang mengenakan pakaian longgar yang menutup seluruh tubuhnya. Bagian atasnya memakai lengan yang menggelembung, sedang bagian bawahnya membuka bagai mengenakan kain yang bersisa.

Matanya jernih, tajam menikam, berada di bawah sepasang alis yang tebal pendek. Mengilat seperti rambutnya yang tersanggul sangat rapi. Hanya cundhuk di gelung yang menyerupai taring naga yang membedakannya dari Barisan Api.

Sementara Putri Koreyea wajahnya bagai kapas. Bagai air cucian beras. Putih, pucat. Matanya berupa garis tipis, demikian juga alisnya. Pakaian yang dikenakan juga serba panjang dan berbunga-bunga, penuh sulaman dengan benang emas. Sekilas mengingatkan apa yang pernah dikenakan Ratu Ayu. Dalam ruangan yang begitu sempit, dengan pakaian lengkap yang begitu tebal, sambil berangkulan!

Tetapi segera Gendhuk Tri menyadari, bahwa Pangeran Hiang memeluk tidak sekadar memeluk. Akan tetapi telapak tangannya masuk ke perut, memberikan dorongan tenaga dalam ke tubuh Putri Koreyea, yang tergeletak pasrah, tak bergerak. Tidak juga udara yang berada di dekat hidungnya. Tarikan napasnya samar, lemah. Kalau tadi melihat Baginda dengan para permaisuri duduk rapat seolah beradu lutut saja Gendhuk Tri tak habis heran, apalagi sekarang ini.

“Pangeran, parahkah sakit Putri Koreyea?”

Pangeran Hiang tidak menjawab langsung. “Di sini ada beberapa karung kulit, yang berasal dari kulit beruang yang sudah dimasak. Kalian bisa masuk ke dalamnya, dan membiarkan hanyut di air bengawan kalau mau. Masih ada kesempatan. Kalian berdua mempunyai kebenaran, yang tidak ada hubungannya dengan kemenangan.”

Pangeran Hiang menggerakkan pundaknya. Kulit binatang yang ditiduri seperti digerakkan tangan yang halus, menutup tubuhnya dan tubuh Putri Koreyea, yang tetap tak bergerak, tak bereaksi. Kulit membungkus, sehingga tubuh Pangeran dan Putri seperti dalam karung. Salah satu Jalu mengulurkan karung yang sama kepada Upasara dan Gendhuk Tri.

“Kenakan. Sebentar lagi perahu akan meledak dan terbakar.”

Gendhuk Tri melongo lagi.

“Ada berapa karung kulit seperti ini?”

“Dua.”

“Kalian sendiri bagaimana?”

“Kami hidup di perahu dan selalu bersama perahu. Kenakan segera, seperti perintah Pangeran Sang Hiang, Khan yang Gagah….”

Gendhuk Tri ragu. Sejenak. Karung kulit itu begitu menempel ke tubuhnya seperti membungkus sendiri. Upasara juga masuk. Rapat sempurna. Ada perasaan jengah, malu, marah, tapi Gendhuk Tri tak bisa berbuat apa-apa. Karung telah menutup. Gelap. Hanya hidungnya yang bisa mengenali bau kulit binatang. Selebihnya tak tahu apa-apa. Tak bisa apa-apa. Itu pun tak lama. Terasa kemudian seperti guncangan yang besar, yang membalikkan tubuhnya. Disusul gemercik air di sekitarnya, dan kemudian bersamaan dengan itu disusul ledakan yang keras. Dalam kulit karung Gendhuk Tri tak bisa bergerak, tak bisa menggerakkan apa-apa.

“Celaka,” katanya perlahan. “Perahu benar-benar meledak.”

“Kita hanyut.”

"Kita hanyut, Kakang. Tapi bagaimana dengan Barisan Api?”

“Mereka akan tetap berada di perahu.”

Gendhuk Tri tak melanjutkan pertanyaan. Bukan karena tiba-tiba tubuhnya seperti berputar, kaki ke kepala dan kepala ke kaki, melainkan karena menjadi kikuk. Sangat kikuk. Tubuh Upasara seperti menempel di tubuhnya. Setiap kali Gendhuk Tri bergerak, yang terjadi adalah guncangan-guncangan, seolah karung kulit melesak lebih jauh ke bawah sungai.

“Atur pernapasan….” Suara Upasara perlahan.

Gendhuk Tri sadar, bahwa terkurung dalam karung kulit yang sangat mungkin sekali berada di tengah arus dan di tengah air, mulai terasa panas. Maka ajakan Upasara dituruti. Tubuhnya kaku tidak membuat gerakan sedikit pun. Pikirannya dipusatkan, menuju ke satu titik tertentu. Tarikan maupun embusan napasnya sangat perlahan dan lama jaraknya.

Upasara ternyata lebih bisa bertahan. Dengan cara itu, segera Gendhuk Tri merasakan bahwa karung kulit bisa bergerak sangat tenang. Perlahan terbawa mengikuti arus. Dan secara perlahan pula ke atas permukaan. Mengapung.

Perahu Siung Naga Bermahkota memang penuh peralatan yang serba menakjubkan. Selain berisi rangkaian senjata rahasia, bahan peledak yang guncangannya demikian keras, juga menyediakan dua karung kulit, yang bisa menjadi perahu penyelamat. Semua tadi memerlukan persiapan yang luar biasa rumit.

Seperti halnya karung kulit ini. Bentuknya tak berbeda dengan lembaran kulit binatang yang lain. Akan tetapi dalam waktu singkat bisa saling menempel, seolah disatukan dengan perekat telur yang sangat kuat. Dan bisa mengapung!

Kulit binatang ini bisa menjadi perahu, tetapi bisa juga menjadi semacam peti mati. Dengan menenangkan tubuh, mengatur pernapasan seirit mungkin, kulit yang menjadi larung, menjadi peti mati tak bergerak. Dengan mengikuti arus, kulit ini seperti dilarung, dilemparkan ke sungai, dan menjadi bagian sungai. Seperti benda yang lain, akan setengah mengapung.

Tak beda dengan kulit biasa yang tidak bermuatan. Perencanaan dan perhitungan yang masih mencengangkan bagi Gendhuk Tri. Betapa tidak. Kalau berada di dalam air, bagian atasnya akan menutup dengan sendirinya. Dengan demikian air tidak bisa masuk. Sedangkan bila muncul ke permukaan, udara bisa dihirup lebih leluasa.

Bagi Gendhuk Tri maupun Upasara tak terlalu sulit untuk menahan napas sementara jika kebetulan karung kulit berada di bawah permukaan. Yang terbayang oleh Gendhuk Tri, bagaimana Pangeran Hiang mengatur pernapasan dengan baik, kalau kenyataannya ia dibebani tubuh Putri Koreyea. Ini menjadi perhitungan Gendhuk Tri.

Justru karena ketika ia berusaha membuka karung kulit usahanya selalu gagal. Setiap kali tangannya bergerak ke atas, mendorong kulit, justru karungnya tenggelam. Setiap gerakan menyebabkan karung kulit tak bisa mengapung. Pikiran Gendhuk Tri sebenarnya sederhana. Kalaupun ia bisa lolos dari ledakan perahu yang menjadi hangus terbakar, ia bisa menepi dengan berenang. Dan tidak berdiam diri seperti ini.

Gendhuk Tri tidak menyadari bahwa nyawanya diselamatkan oleh karung kulit. Karena ketika kulit itu menutup, membungkus bagai karung, dengan perhitungan tertentu karung itu terlontar ke dalam air. Dalam keadaan tenggelam dan larut, ikut aliran sungai, tak bisa dikenali oleh prajurit-prajurit yang berjaga di kiri-kanan.

Lolos dari tukikan tajam Halayudha. Dengan ledakan yang keras, perhatian mereka yang mengepung lebih terpecah lagi. Apalagi karena bagian-bagian perahu seakan hancur dan lepas melayang ke segala penjuru. Untuk beberapa saat perhatian mereka tertuju kepada ledakan perahu. Itulah yang sudah diperhitungkan. Kulit beruang yang dibuat sedemikian rupa sebagai perahu penyelamat!

Bahwa Barisan Api tidak ikut menyelamatkan, atau malah berusaha menyelamatkan diri lebih dulu, ada perhitungan lain. Yang kemudian nanti baru diketahui Gendhuk Tri. Yang terasakan sekarang hanyalah kejengkelan. Karena tak bisa membuka.

“Akan membuka sendiri, Adik Tri. Nanti di saat yang telah diatur.”

“Dari mana Kakang tahu?”

“Segala sesuatu telah diperhitungkan. Baik waktu, gerakan, maupun tempatnya. Kita tinggal mengikuti saja.”

Gendhuk Tri jadi makin gemas. Karena bercakap tadi, karung kulit itu jadi makin amblas ke bawah. Seakan menyentuh dasar sungai.

Perjalanan Kemenangan
TERPAKSA Gendhuk Tri berdiam diri. Kembali mengatur pernapasan. Meskipun kini mulai susah. Karena pikirannya bercabang-cabang. Memang sekarang ini bisa selamat, dan karung kulit ini nantinya akan membuka sendiri. Akan tetapi apa yang terjadi jika karung ini membuka sesudah berada di tengah laut?

Itu cara mati yang sia-sia. Lebih sengsara. Tapi toh tak ada pilihan lain. Upasara memang tidak memahami apa yang menjadi pikiran Gendhuk Tri. Baginya segalanya jelas dan bisa segera dimengerti. Kecuali jalan lamunan Gendhuk Tri. Memang tak bisa disalahkan.

Upasara Wulung maupun Gendhuk Tri pernah terkurung dalam gua bawah tanah Pintu Seribu, di kawasan Perguruan Awan. Benar-benar terkurung seperti sekarang ini. Akan tetapi saat itu Upasara segera bisa meloloskan diri dengan menelusuri terowongan, sambil merangkak dan menggangsir. Sementara Gendhuk Tri tertinggal.

Bersama gurunya yang meninggal, bersama mayat yang membusuk, yang kemudian mengeluarkan racun tubuh, dan bersarang dalam tubuh Gendhuk Tri untuk waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya bisa diusir oleh tenaga dalam Upasara Wulung hingga tenaga dalamnya terkuras habis. Itu semua baru pengalaman pertama. Dan bukan satu-satunya pengalaman.

Karena Gendhuk Tri pernah terkurung lagi dalam gua bawah tanah Keraton. Benar-benar terkurung hidup-hidup tanpa bisa bergerak. Hanya karena ia nekat mencakar kiri-kanan tanpa memedulikan berhasil atau tidak, Gendhuk Tri yang waktu itu bersama Naga Nareswara bisa lolos kembali. Pengalaman buruk yang membuatnya berkeringat, kalaupun hanya muncul dalam ulangan mimpi.

Kengerian itu tak terasakan oleh Upasara. Yang meskipun mengalami masa-masa gawat, akan tetapi berbeda dengan yang dialami Gendhuk Tri. Kalaupun ada yang sedikit menghibur hatinya, ialah kenyataan bahwa kalau sekarang ini mati, ada Upasara di dekatnya. Rapat. Akan tetapi cara berpikir seperti itu dihapuskan secepatnya.

Gendhuk Tri sadar, bahwa sesungguhnya ia telah menjatuhkan pilihan kepada orang lain. Kepada Maha Singanada. Tak nanti ia begitu saja meninggalkannya. Meskipun yang menjadi pilihan lain adalah ksatria yang memang sangat diharapkan.

Tidak segampang itu kesetiaan hati wanitanya luntur. Walau mungkin saat ia berbicara dengan Maha Singanada seperti biasa-biasa saja, akan tetapi saat itu Gendhuk Tri merasa berjanji. Dengan suara batinnya. Dengan suara hatinya yang tulus, ikhlas, rela sepenuhnya. Itu pula sebabnya Gendhuk Tri merasa perlu menjauh dari Pangeran Anom. Juga Upasara. Kakang Upasara.

Lama Gendhuk Tri bergulat dengan pikiran yang maju-mundur. Sehingga beberapa kali karung kulit tenggelam dan muncul kembali. Ketika akhirnya terdengar bunyi menggeretak, Gendhuk Tri mengetahui bahwa tautan itu lepas dengan sendirinya. Seperti yang diperhitungkan Upasara. Gendhuk Tri menggeliat. Satu tangan mengayuh ke samping, dan tubuhnya meluncur ke dalam bengawan. Barulah Gendhuk Tri sadar bahwa hari tengah berganti malam.

Air bengawan yang anehnya tetap terasa panas, membuat Gendhuk Tri bisa segera memilih arah untuk menepi. Meskipun bukan jago berenang, Gendhuk Tri bisa menuju ke tepi tanpa kesulitan. Demikian juga Upasara Wulung. Bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri melihat pemandangan yang aneh. Di bawah penerangan bulan yang samar atau bintang yang remang, terlihat tubuh Pangeran Hiang mengapung di sungai. Masih memeluk Putri Koreyea.

Seolah ketika karung kulit lepas, tubuhnya tetap seperti semula. Mengikuti arus. Perlahan sekali, akan tetapi menuju ke arah tepi. Tetap tak bergerak. Tanpa gerakan. Hingga tubuhnya merapat ke tepi, ke daratan yang dangkal. Tapi juga tak segera bergerak untuk berdiri atau bangun. Sebagian atau seluruh tubuhnya dan tubuh Putri Koreyea basah. Sesekali masih bergerak karena ombak bengawan.

“Sebentar lagi Pangeran bisa menepi dengan sendirinya. Sekarang mungkin belum, karena tenaga dan pikirannya masih terpusat pada Putri Koreyea.”

Gendhuk Tri mengangguk. Ia duduk bersila. Memanaskan tubuhnya untuk mengusir air yang membasahi kainnya, sehingga membuat lekukan tubuhnya makin tajam. “Kenapa begitu, Kakang…?”

“Saya tak mengetahui tepatnya. Hanya saja agaknya Putri Koreyea menderita penyakit yang berat, yang hanya bisa bertahan karena pengaruh tenaga dalam Pangeran Hiang. Kita tak bisa berbuat apa-apa, karena jika salah sedikit saja, barangkali bisa berakibat gawat.”

“Kalau begitu kita menunggu saja.” Suara Gendhuk Tri berubah lembut. “Terima kasih, Pangeran Hiang… Pangeran telah memberikan kulit yang menyelamatkan. Terima kasih.”

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan.

“Inilah perjalanan kemenangan. Dengan berada dalam karung kulit ini, Pangeran Hiang memilih jalan hidup….”

“Adik Tri…”

Gendhuk Tri memandang Upasara dengan sorot mata kesal. Aih. Itulah mata kanak-kanak yang polos, yang pernah cemburu, yang pernah panas membakar, yang tak bisa dilupakan Upasara. Upasara tersenyum. Gendhuk Tri memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Rasa-rasanya sudah lewat tengah malam.” Suara Gendhuk Tri lirih, mengalihkan perhatian.

“Ya, angin mulai bergerak ke arah sang surya….”

“Kalau benar begitu, timur berada di sana… Kakang, kira-kira kita ini ada di mana?”

Upasara memandang sekeliling. Lalu menggeleng. “Apa saja yang terjadi selama ini, Adik Tri?”

Gendhuk Tri berdiri. Menepiskan tanah dan pasir yang mengering di kainnya. “Kakang ini sekarang aneh. Pakai tanya apa kabar dan apa yang terjadi. Bagaimana dengan Kakang sendiri?”

Upasara menceritakan secara singkat apa yang dialami. Bagaimana hidup bersama dengan Dewa Maut. Gendhuk Tri juga menceritakan apa yang selama ini dialami. Terutama ketika bersama Nyai Demang, Ratu Ayu, dan Permaisuri Rajapatni berusaha memindahkan kerangka Upasara.

“Di mana Ratu Ayu berada?”

“Saya tak mengetahui,” jawab Gendhuk Tri datar. Terlihat sekali usaha untuk mengendalikan emosinya. “Kami berpisah begitu saja. Wajahnya kelihatan kurang bersemangat saat itu. Kakang belum bertemu lagi?”

“Belum.”

“Sama sekali belum?”

“Belum.”

“Kakang kangen?”

Upasara memandang ke arah bengawan. “Ya.”

Hati Gendhuk Tri seperti disodok. Nyeri. Tapi bibirnya tersenyum, meskipun makin pedih perasaannya. “Ratu Ayu juga selalu kangen sama Kakang.”

Upasara menunduk. “Selama bersama Dewa Maut, dalam waktu yang boleh dikatakan singkat, saya merasa banyak pertanyaan dalam diri saya. Antara lain bahwa selama ini saya sering mengecewakan banyak orang. Termasuk Ratu Ayu.”

“Terutama Ratu Ayu. Ia istri Kakang, dan selalu menyebut Kakang sebagai Raja Turkana.”

Upasara mengangguk. Membenarkan. Bagi Upasara tak lebih dari membenarkan ucapan Gendhuk Tri. Bagi Gendhuk Tri tak lebih dari rasa sakit untuk kesekian kalinya.

“Juga Permaisuri Rajapatni.”

“Ya.”

“Sudahlah, Kakang. Sebentar lagi Ratu Ayu Bawah Langit akan datang. Begitu mendengar kabar Kakang muncul, ia pasti akan mencari. Dan pasti akan menemukan, walau kini kita sudah berada di Tartar sekalipun.” Getir nadanya, pahit suaranya.

Asmara Bersama, Asmara Penyatuan
UPASARA mengalihkan kepada kegiatan yang lain. Ia berjalan menuju ke pinggir, menerobos pohon-pohon. Daerah yang dikenal, walau belum pernah diinjak. Tanah yang dihafal, walau belum pernah disentuh. Tanah yang masih perawan, belum pernah tersentuh kaki dan tangan, belum pernah berbau keringat manusia. Pohon-pohon masih bergulat di atas dengan akrab, bergoyang seirama dengan alam. Waktu seperti berhenti. Hari seperti tak berganti.

Upasara menemukan satu tempat yang teduh, semacam gua yang sedikit menjorok ke dalam. Kemudian kembali ke pantai. Kulit yang tadi menjadi karung, disorongkan ke bawah tubuh Pangeran Hiang. Dengan sangat perlahan diangkat. Tanpa membuat gerakan kecil yang bisa mengganggu Pangeran Hiang serta Putri Koreyea yang tetap membeku.

Gendhuk Tri ternyata telah menata gua dengan beberapa daun kering yang ditumpuk. Bahkan kemudian ketika sinar matahari meraba pinggiran sungai dan dedaunan, Gendhuk Tri sudah menyediakan buah-buahan, menyediakan kayu kering untuk malam nanti. Sudah menjelajah ke sekitar. Tak menemukan bayangan siapa-siapa. Tidak juga bekas-bekasnya.

Ketika kembali, Gendhuk Tri menemukan Pangeran Hiang masih berbaring sambil merangkul Putri Koreyea. Gendhuk Tri duduk bersila di dekat Upasara. Pangeran Hiang membuka matanya. Memandang sekilas dengan sorot mata terima kasih.

“Apakah Pangeran Hiang harus selalu memindahkan tenaga dalam ke tubuh Putri Koreyea?”

“Itu yang saya lakukan, Adik Tri. Tubuhnya bisa mendadak menjadi dingin, kaku, tak bereaksi sama sekali. Nadinya hilang, napasnya tak bisa dirasa. Saat-saat seperti itu, saya hanya bisa mendekapnya, sampai keadaannya kembali biasa.”

“Penyakit apa yang diderita?”

Pangeran Hiang tidak segera menjawab. Memandang ke arah Upasara. “Pangeran Upasara, apa yang Pangeran katakan benar. Biar bagaimanapun, kehidupan selalu lebih berarti. Saya mempertahankan kehidupan. Tetapi apakah ada artinya? Apa yang saya dekap selama ini? Adik Tri, apa yang Adik katakan benar. Biar bagaimanapun, bukan kemenangan yang paling berarti. Bukan itu satu-satunya. Itu sebabnya saya merasa memiliki Putri Koreyea. Saya memiliki daya asmara. Tetapi apa ada artinya? Asmara macam apa yang saya rasakan? Bahagialah kalian pasangan yang menemukan arti sesungguhnya dari kemenangan, dan arti sesungguhnya dari daya asmara.”

“Maaf, Pangeran Hiang. Mungkin Pangeran Hiang keliru. Saya bukan kekasih Kakang Upasara. Hubungan kami berdua adalah hubungan kakak-adik. Kakang Upasara telah mempunyai kekasih sebelumnya, dan telah beristri Ratu Ayu Bawah Langit, yang mungkin Pangeran kenal. Saya sendiri… saya sendiri telah mempunyai calon.”

“Maaf, Adik Tri. Sekilas kalian berdua merupakan pasangan yang membuat saya iri. Setelah saya amati, keyakinan itu makin besar. Maafkan.”

Upasara menunduk. Dadanya bergetar. Ia merasa akrab dengan Pangeran Hiang. Akan tetapi Gendhuk Tri ternyata bisa lebih akrab lagi. Pada kalimat pertama sudah membuka masalah pribadi. Jauh dari pikiran Upasara, bahwa sebenarnya Gendhuk Tri masih jengkel dengan sikap Upasara mengenai Ratu Ayu dan atau Permaisuri Rajapatni. Meskipun yang dikatakan mengenai dirinya sendiri adalah hal yang sesungguhnya. Ya, sesungguhnya! teriak Gendhuk Tri dalam hati.

“Pangeran Upasara…”

“Maaf lagi,” potong Gendhuk Tri, “Kakang Upasara bukan pangeran. Kakang adalah senopati, atau pernah menjadi senopati. Seperti saya, tak mempunyai darah biru….”

“Saya keliru lagi? Saya hanya merasakan bahwa kalian adalah pasangan yang bahagia. Andai… Saya hanya merasa bahwa Upasara adalah pangeran, putra Sri Baginda Raja Kertanegara. Tak bisa lain. Darah biru, apalagi putra raja yang besar, tak bisa disembunyikan. Hal yang sangat mungkin sekali terjadi. Sri Baginda Raja Kertanegara adalah pemuja surga dunia. Bisa melakukan daya asmara bersama-sama dengan para prajurit, para senopati, para pendeta, bisa memakan apa saja yang lezat, bisa menggauli siapa saja, sebagai pertanda hubungan dengan Dewa. Penyatuan badani adalah penyatuan batin. Kalau dari sekian ratus olah asmara, kenapa tidak mungkin lahir seorang Upasara?”

Tengkuk Upasara merinding. Ini bukan pertama kali dirinya dikaitkan sebagai putra Sri Baginda Raja. Bukan itu yang menyebabkan tengkuknya dirambati kepekaan. Melainkan ucapan Pangeran Hiang yang dingin menyebut kebiasaan Sri Baginda Raja. Selama ini selalu menjadi pocapan, menjadi bahan pergunjingan, mengenai kebiasaan Sri Baginda Raja mengadakan pesta-pesta upacara keagamaan yang diyakini. Upacara Tantrik yang biasa diadakan dengan menenggak minuman keras, mabuk-mabukan berat, serta melampiaskan daya asmara secara bersama-sama.

Upasara mendengar semua itu, karena masa kecilnya berada di lingkungan Keraton. Saat itu hanya gurunya, Ngabehi Pandu, yang berusaha menjauhi. Biasanya pada saat pesta besar semacam itu, Ngabehi Pandu mengajaknya pergi menjauh, keluar dari Keraton. Selama itu Ngabehi Pandu tak pernah memberi komentar, dan Upasara juga tidak pernah menanyakan. Meskipun itu menjadi pengertian umum, karena Sri Baginda Raja tak pernah berusaha menutupi, akan tetapi rasanya tak ada yang mengungkit masalah itu, sebagai suatu kekeliruan. Tidak juga sekarang ini.

“Pangeran Hiang, saya kira pandangan Pangeran tidak sepenuhnya tepat.”

“Saya keliru lagi menilai? Apakah tidak boleh saya mengatakan bahwa Sri Baginda Raja Kertanegara mengadakan pesta asmara beramai-ramai, bersama-sama sekian puluh wanita dan para senopatinya? Saya hanya mengatakan, tidak menyalahkan atau mengutuk. Karena Sri Baginda Raja adalah tangan kanan yang dikodratkan oleh Dewa Yang Maha dewa.”

Upasara menggeleng. Wajahnya kaku. Gendhuk Tri meremas kedua tangannya.

“Bukan, Pangeran Hiang. Sri Baginda Raja melakukan itu karena keyakinan. Karena penyatuan dengan Dewa Yang Maha dewa bisa dicapai dengan laku asmara bersama dan makan enak…”

Untuk pertama kalinya bibir Pangeran Hiang tertarik. Seperti tersenyum. “Saya bisa mengerti. Sepenuhnya. Saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa Pangeran Upasara menjadi kaku uratnya. Saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa Sri Baginda Raja melakukan itu, karena dalam alam pengertiannya zaman di mana Sri Baginda bertakhta adalah zaman Kaliyuga, zaman keempat, zaman terakhir yang penuh dengan penderitaan, kekacauan, penyelewengan, keedanan, kebubrahan. Pengertian itu bukan hanya milik Sri Baginda Raja. Milik siapa pun juga yang memperhitungkan sesuai dengan penalaran datangnya Kaliyuga. Yang akan berakhir jika Sri Baginda Raja mampu menguasai dan mengalahkan kodrat zaman serba bencana. Saya paham hal itu, Pangeran Upasara. Saya pribadi tidak mengenal dan menyalahkan tata krama yang diyakini. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa tidak mempermasalahkan hal itu. Yang menjadi tantangan utama ialah karena Sri Baginda Raja tidak mau mengakui kebesaran takhta Tartar. Utusan perdamaian disingkirkan. Tantangan dinyalakan. Bendera perang dikelebatkan. Genderang perang ditabuh hingga memekakkan padang pasir. Lebih dari itu, Sri Baginda Raja malahan menyerang maju, menantang sampai ujung kaki Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa. Mata seluruh jagat membelalak, semua kepala mendongak ketika terang-terangan Sri Baginda Raja mengirimkan utusan ke Pamalayu, mengambil putri-putri, dan terutama ke tlatah Campa. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa merasa dituding dengan tombak di jidatnya. Diludahi wajahnya. Semua senopati Tartar bersumpah akan menumpas Keraton Singasari hingga rata dengan tanah dan air. Karena Keraton Campa adalah keraton yang paling dekat dengan Tartar yang berbeda di sebelah timur, yang selama diciptakan belum pernah melawan Tartar. Sejak keraton itu diciptakan! Sejak sebelum adanya tanah dan bumi! Sri Baginda Raja menyalakan api di bawah kaki perkemahan Tartar, dan membakar panas siapa pun yang mengenal jiwa Tartar.”

Raja Ardanari
SUARA Pangeran Hiang sedikit menggelora. Meskipun tubuhnya tetap berbaring. Meskipun tidak dibantu dengan gerakan anggota tubuh yang lain. Tapi tanpa itu pun Gendhuk Tri seperti di-selomot, disundut api, seluruh tubuhnya. Secara langsung kaitan Gendhuk Tri dengan Keraton boleh dikatakan tipis, setidaknya dibandingkan dengan Upasara Wulung. Akan tetapi itu tidak menghalangi batin dan lahiriah memuja Sri Baginda Raja secara murni. Bahkan riwayat hidupnya sendiri berada dalam kejadian itu.

Sewaktu masih sangat kecil, dirinya telah dipersiapkan untuk dijadikan penghibur di Keraton. Tak berbeda jauh dari gurunya, Jagaddhita, yang akan mengalami nasib yang sama andai tidak bertemu dengan Mpu Raganata, yang mengubah perjalanan hidupnya menjadi ksatria. Jauh dalam dasar hati Gendhuk Tri, kalaupun ia kemudian menjadi bagian dari penghibur Keraton, ia tak akan pernah menyesali seumur hidupnya! Tak akan pernah! Karena semua itu demi Sri Baginda Raja Kertanegara. Yang sekarang sedang digugat oleh Pangeran Hiang.

“Saya sendiri tak percaya. Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa sendiri tak pernah mengerti, bahwa Sri Baginda Raja Kertanegara memakai gelaran Raja Ardanari. Gelaran yang justru dipajang, diagungkan, dalam nawala, surat kepada Rama Prabu.”

Buku-buku jari tangan Upasara berderak. Sebutan Raja Ardanari, raja yang arda, yang mempunyai nafsu asmara berlebihan, kepada nari, kaum wanita, adalah sebutan yang memanaskan darah keturunan Singasari. Karena diucapkan dengan nada mengejek oleh seorang pangeran dari Keraton Tartar. Yang menjadi musuh bebuyutan, musuh tujuh keturunan!

“Pangeran Upasara, Adik Tri, Saya pun terhina. Murka, dendam, terbakar dengan penghinaan Sri Baginda Raja yang menggunduli rambut yang bagi kami adalah kehormatan termulia juga memotong telinga utusan resmi Khan yang Perkasa. Sejak itu menjadi sumpah semua keturunan Khan, semua pendekar, untuk menaklukkan Keraton Singasari. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Utusan pertama, tiga senopati utama, bisa diusir kembali ke samudra. Datang kembali ke Keraton untuk mengabarkan kekalahan dan dihukum mati. Utusan terhormat Raja Segala Naga, ternyata juga tak ada kabar beritanya. Saya, Putra Mahkota, pewaris takhta yang sah, dengan Barisan Api dan perahu Siung Naga Bermahkota memutuskan untuk datang. Untuk menang. Tapi ini hasilnya.”

Darah Upasara menurun. Kini bisa lebih dimengerti kenapa Kubilai Khan yang Perkasa menganggap Baginda Raja sebagai musuh utama. Terutama karena Sri Baginda Raja berhasil mempengaruhi Keraton Campa untuk memberontak. Terutama karena menantang perang dengan cara yang menyinggung perasaan.

Tapi Gendhuk Tri justru masih menggelegak. “Pangeran Hiang, apa anehnya jika Sri Baginda Raja memakai gelaran Raja Ardanari?”

“Tak ada. Tak ada anehnya.”

“Kenapa Pangeran seperti meremehkan?”

“Karena kita berlawanan. Karena kita bertarung. Dalam saat gawat peperangan, kenapa justru gelaran Raja Ardanari yang dipakai?”

Gendhuk Tri mengeluarkan suara keras dari hidungnya.

“Maaf, Adik Tri. Saya mengatakan apa adanya. Kenyataannya. Karena saya, seperti semua ksatria Tartar, hanya mengenal kenyataan yang sesungguhnya. Kami tidak bicara dengan bahasa dan tata krama yang lain. Kemenangan adalah kemenangan. Kekalahan berarti kekalahan. Maaf, Adik Tri.”

“Kalau berpikir seperti itu, Pangeran tak perlu minta maaf.” Suara Gendhuk Tri masih tinggi nadanya, alot wajahnya.

Matahari memang makin panas. Tangan Pangeran Hiang kembali menyelusup ke bawah pakaian Putri Koreyea. Menyentuh pusar. Lalu diam agak lama.

“Pangeran Hiang…,” Upasara membuka pembicaraan dengan perlahan. “Adalah nasib kita berempat berada di tempat yang sementara ini. Kita dipertemukan di sini, karena nasib dan karena kita menghendakinya. Di sini kita bisa melanjutkan pertarungan hingga titik napas penghabisan. Bisa bantah kawruh, menguji pengetahuan dan pengalaman, seperti yang kita lakukan sekarang ini. Manakah yang menurut Pangeran paling baik?”

“Yang paling baik adalah kemenangan.”

Gendhuk Tri menepuk tangannya. “Kita bisa menentukan sekarang.”

Pangeran Hiang mengangguk,

Upasara menggeleng. “Tidak sekarang ini, selama Putri Koreyea masih gering."

Gendhuk tri mengangguk. Upasara, dan juga dirinya, tak nanti mengambil keuntungan di saat lawan kurang bersiaga. Sebaliknya, Pangeran Hiang malahan mengangguk.

“Kemenangan adalah kemenangan. Apakah lawan bersiaga atau tidak, tak jadi urusan. Yang utama bagaimana meraih kemenangan. Pangeran Upasara dan Adik Tri, jangan bersikap lain. Saya tahu bahwa mundurnya tiga senopati Tartar, juga karena belum siap. Ketika prajurit Tartar baru saja menggempur Keraton Singasari untuk membinasakan Raja Jayakatwang, Baginda kalian memukul kami. Tak ada bedanya. Itulah kemenangan.”

Telinga Upasara merah. Ucapan Pangeran Hiang seperti bergetah. Dada Gendhuk Tri gerah. Pertarungan berdarah dengan senopati Tartar saat itu, Sih-pi, Kau Hsing, Ike Meese, adalah pertarungan secara ksatria. Di dinding benteng Keraton yang terbakar. Para senopati bertarung secara ksatria, termasuk Upasara Wulung yang menjadi Senopati Pamungkas, penyelesai. Akan tetapi memang serangan ke arah itu boleh dikata sangat tiba-tiba.

“Kalian berdua belum tentu merebut kemenangan dari saya.”

Ini tantangan. Upasara menggeleng. Lalu menunduk.

“Saya tergetar melihat penderitaan Putri Koreyea. Saya tak ingin memerangi hati saya sendiri. Penderitaan yang belum pernah saya duga. Pangeran Hiang, apakah pada saat menyerang, detak darah Putri Koreyea tak teraba?”

Pangeran Hiang memandang ke arah dinding gua. “Memang tidak. Tapi ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Sebelum kita saling berebut kemenangan, saya ingin menyampaikan rasa hormat yang tulus atas kekaguman saya. Kalian adalah bangsa yang unggul. Keraton yang menjulang ke langit, menyelusup ke bulan karena tak pernah terduga, bahkan oleh para Dewa.”

Gendhuk Tri mengerutkan keningnya. Tak sepenuhnya memahami apa yang dikatakan Pangeran Hiang. Sewaktu melirik ke arah Upasara, tampaknya Upasara juga sama.

“Apa maksud Pangeran Hiang sebenarnya?”

“Maafkan tata ucapan saya yang tak mampu menemukan pilihan kata yang tepat. Kalian semua yang berada di tanah Jawa ini adalah bangsa yang mampu menyimpan kekuatan gunung meletus menjadi senyuman menunduk dan kesabaran. Saya kembali membicarakan Sri Baginda Raja Kertanegara, yang mengandung arti Raja yang Menguasai Jagat, Raja yang Memerintah Jagat. Betapa gagah, betapa jantan, betapa perkasa. Tapi justru pada saat menantang perang, menyebut dirinya sebagai Raja yang Bernafsu Asmara Berlebihan pada Wanita. Inilah aneh. Dalam alam pikiran kami. Kalau rajanya mampu luwes, mampu menekuk kenyataan, mengubah kenyataan, mampu menjungkirbalikkan tata krama keunggulan di medan perang dengan nafsu asmara, bukankah itu mengandung pengertian yang berbeda tajam, tapi bisa berarti sama. Ada im, ada yang. Bisa im, bisa yang, pada saat yang sama. Itu sebabnya tiga senopati kami terkecoh, menyerang sasaran yang keliru, dan bisa didepak ke laut. Demikian juga Naga Nareswara yang membawa mandat resmi, sampai di sini tergeser perhatiannya hingga mendahulukan keinginannya menjadi ksatria lelananging jagat. Sehingga tujuan utama tidak berhasil. Saya mempelajari itu semua. Makanya sejak pertama kali perahu menyentuh tlatah Jawa, saya hanya mau membawa Baginda, dan bukan urusan yang lain. Saya tak mau memedulikan apa pun yang terjadi.”

Tartar itu Matahari, Lautan…
PANGERAN HIANG duduk bersila. “Tujuan saya hanya satu. Membawa Baginda ke Tartar. Sebagai tanda nyata kemenangan. Urusan-urusan yang lain tidak saya pedulikan, karena akan menghalangi dan bisa menggagalkan tugas ini. Karena saya sadar, semua godaan bisa terjadi di tanah Jawa yang tanahnya lembap bagai lumpur ini. Saya menghindari pertarungan ksatria, saya tak meladeni tantangan. Sekarang pun, ketika Pangeran Upasara menanyakan kesehatan Putri Koreyea, saya berhati-hati. Apakah ini bukan perwujudan siasat kalian yang tak bisa saya duga. Juga ketika di perahu. Kalian menanyakan tentang hal yang sama. Ketika Pangeran Upasara mendebat masalah kemenangan. Ketika Adik Tri menanyakan asmara dalam kemenangan. Saya berjaga-jaga.”

“Begitu picikkah Pangeran Hiang?”

“Ya, agar bisa menang.”

“Hmmmmm.”

“Nyatanya saya terpengaruh. Kalau ini bagian dari siasat, saya telah masuk perangkap. Itu sebabnya saya mengatakan pujian, sebelum akhirnya entah bagaimana.”

JILID 39BUKU PERTAMAJILID 41