Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 39

Seiring dengan rengengan atau gumam Dewa Maut, barisan kumbang menuju ke dalam kotak bekas penyimpanan senjata. Semuanya. Beriringan. Sempat membersit pertanyaan dalam hati Nyai Demang, apakah betul tembang dolanan itu sakti?

Jaghana-lah yang menangkap gelagat itu. Begitu Dewa Maut bergumam, Jaghana menangkap isyarat bahwa suara itu seperti dengingan kumbang. Seperti suara gesekan sayap kumbang. Itu sebabnya langsung menangkap kaki Dewa Maut. Untuk menyalurkan tenaga dalam. Yang membantu jangkauan desisan itu hingga jarak yang jauh, tanpa menjadi lebih keras. Jaghana-lah yang bisa menangkap bahwa Dewa Maut berusaha memanggil barisan kumbang ke arahnya. Ke arah kotak senjata!

Sesuatu yang bisa cepat dimengerti oleh Jaghana karena ia biasa hidup terus-menerus di tengah alam. Tak pernah meninggalkan Perguruan Awan. Sehingga bisa membedakan pergesekan sayap kumbang dari capung, kicau burung yang satu dari kicau burung yang lain. Bisa membedakan getaran daun yang gugur, karena sudah tua dan kuning atau sebab lain. Jaghana tahu, akan tetapi tak bisa melakukan.

Sebaliknya, Dewa Maut bisa menirukan persis kerisikan sayap kumbang ratu. Hal yang sangat mungkin, mengingat untuk beberapa saat lamanya Dewa Maut selalu bergumul secara langsung. Ketika memelihara lebah di gua bawah tanah Keraton. Dewa Maut bukan hanya dekat dengan segala jenis binatang. Tapi hidup bersama binatang, dengan cara binatang itu hidup.

Dewa Maut bukan hanya dekat dengan tumbuhan. Tapi hidup bersama tumbuhan, dengan cara tumbuhan. Sikap yang selalu dilakukan selama ini dengan pendekatan Ngrogoh Sukma Sejati, membuat tubuhnya menjadi sesuatu yang dikehendaki. Itu sebabnya barisan kumbang seperti tertelan ke dalam kotak. Adat dan kebiasaannya yang tak menentu yang menyebabkan ia seketika menembangkan it-pait-pait. Kotak senjata itu penuh.

“Kena. Kena semuanya.”

“Tutup.” Perintah Jaghana yang mendadak menyadarkan Dewa Maut.

“Apanya yang ditutup?”

“Kotak itu.”

“Kenapa?”

Jaghana meloncat dan segera menutup kotak kayu penyimpanan senjata. Lalu dengan satu loncatan membopongnya dan melemparkannya ke dalam bengawan. Membenamkan hingga tak kelihatan lagi. Baru kemudian menghela napas.

“Wah, apa yang Paman Jaghana lakukan? Kumbang itu bisa mati di dalam kotak yang terbenam.”

Jaghana merangkul Dewa Maut. “Terima kasih… Terima kasih.”

“Baiknya saya juga mengucapkan terima kasih. Tapi untuk apa, untuk siapa?” Dewa Maut merenung. “Kumbang itu mati. Padahal bahasanya sama dengan kumbang di gua. Atau di mana saja. Aku juga kumbang, tapi tak mengerti.”

Lenyapnya barisan kumbang menyebabkan Upasara dan Gendhuk Tri sendirian di atas perahu. Kalau tadi Upasara menggerakkan tangannya untuk mengusir, dan sedikit kerepotan, kini lega. Lapang. Terang.

“Ksatria gagah, pendekar budiman berilmu tinggi, kenapa tidak masuk dan minum teh bersama? Udara gerah dan air bengawan bergolak, tetapi bukankah selalu ada waktu untuk menikmati teh segar dan harum?”

Gendhuk Tri menelan ludahnya. “Akhirnya Pangeran Hiang bersuara. Kenapa Pangeran tidak keluar menjemput tetamu yang dipuji?”

Pangeran Tanding
UPASARA WULUNG merasa Gendhuk Tri masih seperti dulu. Mengumbar lidahnya bergerak. Bukankah Pangeran Hiang sudah mengundang? Bukankah itu berarti sebagian rencana semula kesampaian? Gendhuk Tri tahu apa yang dipikirkan Upasara. Tapi tidak berusaha menjelaskan. Karena Gendhuk Tri merasa apa yang dilakukan sudah memakai perhitungan. Bukan sekadar membuka mulut.

Gendhuk Tri sudah mengalami sendiri ketika meloncat masuk ke perahu dan masuk ke dalam jerat. Kalau diulangi lagi, bukankah apa yang dilakukan ini sia-sia? Kalau perahu ini menyimpan selaksa rahasia, sangat mungkin lagi masih ada selaksa perangkap yang lain.

“Maaf, saya tak bisa meninggalkan tempat. Tak ada lagi alat untuk membantu upacara penyambutan.” Suaranya anggun, mengandung wibawa yang segera terasakan.

Gendhuk Tri masih bimbang. Akan tetapi Upasara mengangguk perlahan, menunduk, menghaturkan sembah, lalu melangkah ke dalam. Melewati bangunan rumah yang menganga. Bibir Gendhuk Tri terkancing. Ia tahu kalau Upasara sudah bertekad, tak ada yang bisa menghalangi lagi. Tak ada yang bisa mengubah kemauannya. Tak ada pilihan lain. Ikut masuk. Dengan siaga penuh.

Upasara melangkah biasa di perahu bagian bawah. Lalu duduk bersila. Gendhuk Tri mengikuti gerakan Upasara dengan waspada. Tempat itu masih sama seperti ketika ia masuk ke dalam perangkap. Tak ada yang berubah. Ruangan serba kayu yang sempit.

“Terimalah salam dari kami, Upasara Wulung dan Gendhuk Tri wara Keraton Majapahit….”

“Tak ada kelirunya sedikit pun. Pangeran Upasara Wulung memang lelananging jagat yang sejati. Saya terima salam pambagya dari sesama Pangeran.”

Gendhuk Tri menajamkan pandangannya. Tak setitik pun bayangan di depannya. Tapi suaranya sangat jelas terdengar, meskipun diucapkan dengan lidah yang asing bagi penekanan kata-kata tertentu. Suara Pangeran Hiang! Tapi di mana?

Ruangan yang sempit ini tak mungkin bisa menyembunyikan Pangeran Hiang. Apalagi kalau bersama Putri Koreyea. Akan tetapi bahkan dengusan napasnya pun tak bisa diketahui asalnya. Hanya memang, Gendhuk Tri menangkap desiran suara yang memberat. Kadang terdengar, kadang tidak.

“Pangeran Sang Hiang dan Putri Koreyea, kami berdua telah datang. Memenuhi undangan Pangeran. Apakah Pangeran tidak ingin bertemu muka dengan sesama Pangeran?”

Suara Gendhuk Tri menjadi hilang nadanya ketika tangan kanan Upasara menyentuh lututnya. Lembut.

“Maafkan kami, Pangeran Hiang yang perkasa. Kami datang bukan pada saat yang tepat. Maaf, Pangeran Hiang. Maaf, Pangeran, kalau kedatangan kami mengganggu Tuan Putri.”

Meskipun tidak mengetahui secara pasti, Gendhuk Tri bukannya sama sekali tidak bisa menebak. Pikirannya berjalan dengan cepat. Bahwa tarikan napas yang berat, yang terdengar sesekali, adalah suara napas Putri Koreyea yang agaknya sedang menderita. Atau sedang mengalami sesuatu yang berat. Terdengar suara lembut. Desahan napas lembut. “Tidak apa, Pangeran Upasara. Saya yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menyambut dengan baik.”

Gendhuk Tri menangkap getaran napas berat di sebelah depan. Tepat di belakang tempat Barisan Api menyambutnya tadi. Upasara bisa mengetahui seketika, sedang dirinya baru beberapa saat kemudian. Tenaga dalam Upasara sudah melesat terlalu jauh. Bahkan dengan melangkah masuk pertama kali, seakan sudah mengetahui bahwa Putri Koreyea sedang menderita. Tapi mana mau Gendhuk Tri mengendalikan dirinya seperti Upasara? Dirinya baru beberapa saat lalu nyaris dijemput maut oleh pasukan yang diperintahkan Pangeran Hiang.

“Pangeran, apakah kamu mengaku kalah? Kalau benar begitu, kenapa tidak Pangeran lepaskan raja kami?”

Gigi Upasara beradu. “Adik Tri…”

“Kita datang tidak untuk menunjukkan tata krama.”

Terdengar suara helaan napas. “Raja tanah Jawa ada di depan mata. Silakan. Dengan satu janji. Pangeran Upasara bisa menyelesaikan sampai benar-benar rampung.”

Jidat Gendhuk Tri berkerut. Lebih berkerut lagi karena Upasara mengerti tawaran Pangeran Hiang. Karena kini tampak merenung. Dan juga menghela napas. Sangat dalam. Duduknya sedikit berubah. Dadanya tegak, akan tetapi kedua tangannya dilipat di dada.

“Pangeran Hiang memaksakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

“Tak ada pilihan lain, Pangeran Upasara.”

Kalau mengikuti adatnya, yang walaupun telah banyak berubah tidak lagi sebagai gadis cilik, Gendhuk Tri sudah akan melabrak. Tapi kini menjadi ragu. Meskipun terucap pula. “Apa maunya, Kakang?”

“Baginda beserta keluarganya ada di ruangan sebelah kiri dan kanan. Semua dalam keadaan selamat. Hanya tinggal mengangkat satu papan, dan menyilakan keluar.”

“Bukan jebakan?” Gendhuk Tri merasa dirinya menjadi sangat tolol. Karena Upasara tidak menggubris pertanyaannya. Gendhuk Tri mengubahnya menjadi: “Apa lagi yang kita tunggu, Kakang?”

“Merampungkan.”

Gendhuk Tri hampir saja menanyakan: Merampungkan apa. Namun pertanyaan itu dilontarkan untuk dirinya sendiri. Dan dicoba dijawab. Rampung atau selesai, dalam satu pertarungan berarti kemenangan. Kemenangan dalam pertempuran hanya berarti satu. Mengalahkan atau menewaskan lawan. Arahnya pasti ke situ.

Karena secara telak Upasara telah memenangkan pertarungan melawan Barisan Api. Tetapi kenapa Pangeran Hiang menagih janji agar Upasara menghabisi? Tetapi, lebih kenapa, Upasara justru menjadi ragu?

“Pangeran Hiang…”

“Pangeran Upasara…”

“Maafkan…”

Gendhuk Tri makin terasa puyeng. Kalimat yang didengar makin tidak ketahuan arahnya. Baru disebutkan nama saja sudah dijawab. Dengan menyebutkan nama pula. Sebenarnya jalan pikiran Gendhuk Tri sudah tepat. Lebih lengkapnya ialah bahwa Pangeran Sang Hiang mengakui keunggulan Upasara Wulung. Karena kini tak bisa “menyambut”, sebab Putri Koreyea sedang menderita sesuatu. Tak ada pilihan lain, Pangeran Sang Hiang menerima kekalahan yang berarti kematian. Itu yang ditagih. Itu yang harus merupakan janji. Dan Upasara menjadi ragu.

Gendhuk Tri memang tak bisa menebak apa yang berkecamuk dalam hati Upasara. Yang jakunnya bergerak naik-turun menahan gejolak di dadanya. Bagi Upasara memang merupakan pilihan yang sulit. Memenangkan pertarungan dan membebaskan Baginda beserta para permaisuri adalah tujuannya. Akan tetapi tak pernah menduga bahwa Pangeran Hiang tidak ingin melanjutkan pertarungan sebagaimana layaknya sesama ksatria. Sesama pendekar. Karena istrinya sedang menderita.

Dan bagi ksatria sejati, apalagi seorang Pangeran Putra Mahkota, kehormatan besar yang menyebabkan lebih berharga dan lebih bermakna adalah menerima kematian. Yang memberatkan Upasara ialah: Jika kekalahan itu dalam suatu pertarungan, tak ada masalah yang mengganjal. Tapi ini urung, karena Putri Koreyea tengah menderita sakit. Upasara menutup matanya.

“Pangeran Upasara… Tugas mengabdi raja, mengabdi Keraton, lebih mulia dari semua keagungan. Kenapa harus ragu karena seseorang seperti saya yang justru menyebabkan malapetaka ini?”

Itu jawaban yang memantapkan tekad Gendhuk Tri. Tapi Upasara tak bergerak. Belum memutuskan apa-apa. Samar-samar Gendhuk Tri mendengar sorak-sorai di luar. Celaka, pikirnya. Celaka besar kalau ada perintah untuk menyerbu. Halayudha bisa mengambil keuntungan dari kekeruhan!

Senyum Samar Rajapatni
GENDHUK TRI mengambil keputusan. Sebelum terjadi perubahan yang tak bisa dikendalikan, Gendhuk Tri berdiri. Membelakangi arah dia datang. Tangannya merabai dinding kayu. Mengetuk-ngetuk. Mencari-cari kalau ada suara yang berbeda gemanya. Kalau benar begitu, berarti di belakang dinding itu ada ruangan. Dugaannya tak keliru.

Walaupun kelihatannya selintas seperti tatanan kayu, akan tetapi ada yang berongga. Gendhuk Tri merabai semua benda yang kelihatannya bisa menjadi alat untuk membuka dinding kayu itu. Jalan pikirannya sederhana, semua peralatan dalam perahu serba diatur oleh alat-alat. Nyatanya benar! Ketika menarik salah satu gantungan jala yang kelihatannya sengaja dipasang, bagian dinding kayu membuka. Membuka!

Sesaat Gendhuk Tri tak tahu apa yang harus dilakukan. Baru kemudian sadar bahwa yang duduk berimpitan di depannya adalah Baginda, beserta para permaisuri yang tak bisa tidak terpaksa beradu lutut. Tempat yang sangat sempit. Gendhuk Tri bersila. Menyembah.

“Ingkang Sinuwun keparenga…” Permintaannya agar Baginda meninggalkan tempat mendapat jawaban seketika.

Baginda segera berdiri. Agak terhuyung-huyung karena gerak langkahnya pincang. Pastilah karena selama beberapa hari darahnya tak bisa mengalir sempurna. Ini berbeda dari para permaisuri yang masih mengiringi langkah Baginda dengan menyembah.

“Mohon para permaisuri berkenan mengikuti Baginda….”

Tanpa diminta dua kali, Permaisuri Indreswari berjalan dengan berjongkok, mengikuti Baginda. Disusul Permaisuri Tribhuana, Permaisuri Mahadewi. Permaisuri Jayendradewi merangkapkan kedua tangan, mengucap syukur kepada Dewa Yang Maha murah sebelum mengusap wajahnya.

“Terima kasih tak terhingga….”

Kalimatnya tetap lirih, teratur nadanya, bersih, tanpa ada tekanan tertentu ketika mengucapkan. Melewati masa-masa yang mengerikan, berada dalam tempat yang sangat sempit, di antara orang yang disembah dan tak disukai, tidak membuat Permaisuri Jayendradewi berubah. Setitik pun tidak. Bahkan gelungan rambut dan warna kulitnya tak berubah. Semua tenggelam dalam ketabahan dan kekuatan batin yang luar biasa besarnya mengingat segala apa yang bergolak. Sikap yang sempurna dalam menerima dan menjalani kehidupan.

Permaisuri Rajapatni berjalan jongkok di belakangnya. Tatapan matanya menunduk, tangannya bergerak pelan, seirama dengan gerak kakinya yang melangkah beringsut. Gendhuk Tri tergetar. Sejak masih gadis kecil, Gendhuk Tri selalu mengawasi Permaisuri Rajapatni. Bahkan ketika selalu bersama-sama, secara tetap Gendhuk Tri mencuri pandang. Mencari jawaban, kelebihan apa yang tersimpan dalam tubuh Gayatri sehingga membuat Upasara Wulung tak pernah bisa mengalihkan perhatian.

Tubuh yang tak terlalu istimewa. Dibandingkan dengan permaisuri lain, atau putri Keraton yang lain. Mata, hidung, bibir, alis mata, telapak kaki, tak jauh berbeda. Gerakan tangan, kaki, tubuh, tak jauh berbeda. Kemben, kain, setagen, tak jauh berbeda. Apanya? Sikapnya?

Sikapnya tak jauh berbeda. Gendhuk Tri mengenal sangat baik ketika bisa bersama-sama untuk beberapa saat. Bahkan bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni diperhatikan. Apanya? Yang tak terlihat! Yang tak teraba. Barangkali itulah jawabannya. Karena sekarang ini Permaisuri Rajapatni menuju ke luar, menaiki tangga dengan tetap menunduk. Tidak melirik, tidak menoleh, tidak terganggu irama geraknya.

Hanya tadi, rasanya, ada senyuman. Senyuman samar yang menyiratkan kebahagiaan sejati. Senyuman? Samar? Ataukah hanya bentuk bibir yang memang begitu? Tidak. Gendhuk Tri merasakan sebagai senyuman kemenangan tanpa merendahkan siapa pun. Senyuman sebagai tanda rasa syukur. Memuliakan Dewa dan sesama.

Tidak berlebihan Gendhuk Tri menduga demikian. Senyuman yang samar dan sukar diartikan itu seolah berbahagia atas pemunculan Upasara Wulung. Seolah memberikan restu kepada Gendhuk Tri. Itu yang dirasakan Gendhuk Tri. Kilatan pikiran ke masa lalu melesat cepat. Gendhuk Tri sudah mencurigai ada sesuatu yang direncanakan Permaisuri Rajapatni. Apalagi kini ternyata Upasara muncul dalam keadaan tak kurang suatu apa.

Permaisuri Rajapatni sudah tahu sejak semula. Bahkan sudah memperbincangkan dengannya. Ketika itu seolah Permaisuri Rajapatni merelakan Upasara Wulung. Itu yang menyakitkan. Bagi Gendhuk Tri, Upasara adalah Kakang Upasara-nya! Bukan milik wanita mana pun. Bukan Ratu Ayu, Nyai Demang, apalagi Permaisuri Rajapatni!

Gendhuk Tri mendongkol. Berarti dulu dirinya dibohongi habis-habisan sewaktu menggali tulang-belulang Upasara. Berarti Permaisuri Rajapatni selalu merasa menang. Ataukah sekarang ini masih tetap menduga bahwa Upasara muncul menolong ke perahu karena di situ ada Permaisuri Rajapatni?

Yang secara sengaja datang ke perahu. Gendhuk Tri merasa benar-benar panas. Segera bangkit, dan berputar untuk kemudian meloncat ke atas. Ke lantai perahu. Kesigapan dan keunggulannya masih menunjukkan penguasaan ilmu yang sulit ditandingi. Keberaniannya sudah terbukti. Akan tetapi dalam soal asmara, Gendhuk Tri tak berbeda dari wanita yang lain. Tak berbeda dari Permaisuri. Emosinya meninggi! Ada sesuatu yang meletup-letup dan ingin ditumpahkan dengan suara keras di depan Permaisuri.

Akan tetapi yang terdengar oleh telinganya ialah sorak-sorai. Gegap-gempita. Para prajurit kini sepenuhnya sudah membuat jembatan penghubung. Semuanya bersorak-sorai, setelah Baginda mengangguk perlahan. Lalu bergegas turun, dan dengan cepat sekali masuk ke tandu. Diiringi para permaisuri yang masuk ke tandu yang berbeda-beda.

Gendhuk Tri kesal. Kakinya hampir dibanting ketika sorak-sorai berubah menjadi teriakan beringas. Mata Gendhuk Tri membelalak. Tak disangka tak dinyana bahwa para prajurit mulai melepaskan anak panah berapi. Tertuju ke perahu.

“Musnahkan perahu!”

Teriakan keras, ganas, dan memerintahkan penyerbuan saat itu hanya mungkin berasal dari Halayudha. Inilah gila!

“Tahan!”

Seruan Gendhuk Tri tak ada gunanya. Karena desiran anak panah lebih banyak dari yang diduga. Beberapa menancap di dinding, di lantai, dan apinya perlahan mulai merembet. Kedua tangan Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya. Mengusir hujan anak panah berapi. Akan tetapi serbuan makin gencar. Diikuti lemparan tombak dan teriakan. Gendhuk Tri tak habis mengerti. Tak habis pikir.

Bagaimana mungkin Halayudha bisa memerintahkan penyerbuan ini? Bagaimana para prajurit seperti kesetanan dan tidak memedulikan keselamatan dirinya dan Upasara Wulung? Ksatria yang justru dengan gagah perkasa membebaskan Baginda, ketika yang lainnya tersuruk ke dalam bengawan? Jalan pikiran Gendhuk Tri dipenuhi kejengkelan berganda. Kejengkelan kepada Permaisuri karena masalah pribadi, dan kini merasa dikhianati secara terang-terangan. Cara yang menjijikkan.

Halayudha manusia sangat licik, licin, dan penuh tipu daya. Akan tetapi apa yang dilakukan sekarang ini benar-benar keterlaluan. Tambah lagi kejengkelan Gendhuk Tri karena agaknya tak ada yang berusaha menahan atau mencegah. Menyakitkan! Gendhuk Tri tak mampu bertahan karena dadanya bergetar keras. Tubuhnya membalik, masuk kembali ke perahu. Apa yang dilihatnya di dalam tak berubah. Upasara masih bersidekap dengan mata tertutup.

“Kakang… Kakang, perahu ini diserbu.”

Tak ada jawaban.

“Bangsat Halayudha itu…” Suaranya tak selesai. Dua batang panah memancarkan api masuk. Menancap di lantai.

Menangkap Ikan di Air Keruh
TEBAKAN Gendhuk Tri tak meleset. Memang Halayudha yang berdiri di belakang penyerbuan ini. Bahkan ia sendiri yang berada di depan. Sewaktu Barisan Api bisa dikalahkan, Halayudha merasa saatnya untuk bertindak. Ia mendekati Mahapatih Nambi, dan dengan suara lugas berkata dingin,

“Maaf, Mahapatih, Raja menghendaki Mahapatih beristirahat, seperti sebelumnya. Saya mendapat perintah untuk melanjutkan tugas Mahapatih.”

Halayudha tidak memperlihatkan wajah kikuk sedikit pun. Karena ia tahu memperhitungkan situasi. Sekarang bukan saatnya merendahkan diri. Sekarang bukan saat untuk menampilkan dirinya. Tanpa membuang waktu, Halayudha meloncat ke atas seekor kuda.

“Dengar, kalian para prajurit Keraton yang gagah berani. Hari ini saya, Senopati Halayudha, mendapat perintah langsung dari Raja Jayanegara untuk memegang komando penyerangan. Bagi yang sakit, diminta mengundurkan diri. Bagi yang lelah, diminta berada di belakang. Yang bersedia mati demi Raja, bersiap!”

Halayudha mengambil tombak panjang dan menggoyangkan. “Kita maju untuk membebaskan Baginda. Untuk menghancurkan lawan.”

Halayudha memerintahkan membuat rakit sambungan, memerintahkan barisan panah api dan semua prajurit mulai bergerak. Sebagian diminta mengamankan Mpu Sina, Dewa Maut, Jaghana, serta Nyai Demang. Perhitungan Halayudha mengatakan bahwa jika pun Baginda tak bisa diselamatkan, kini saatnya mengubur perahu Siung Naga Bermahkota. Tak ada cara lain. Dengan demikian semua keributan masa lalu akan ikut terkubur. Dengan demikian tak perlu merisaukan bagaimana Upasara nantinya.

Dengan mengatas namakan Raja, Halayudha tidak sembarangan saja. Ia mempunyai mandat untuk mengambil alih kepemimpinan Mahapatih. Persiapan menuju ke perahu menemukan sinar terang. Karena saat itu Baginda sedang berjalan keluar. Halayudha segera meloncat ke perahu, melakukan sembah, dan dengan cepat membopong Baginda. Lalu membawa ke tepi, ke dalam tandu yang telah disediakan. Demikian juga para permaisuri, langsung dikempit dan diloncatkan.

“Baginda dan para permaisuri telah selamat. Hancurkan perahu!”

Beberapa senopati bukannya tidak mengetahui bahwa Upasara Wulung serta Gendhuk Tri masih berada di dalam. Halayudha bukan tidak mengetahui keraguan ini.

“Di dalam masih banyak musuh yang berbahaya. Lebih berbahaya. Upasara telah berpesan, setelah meloloskan Baginda tak ada yang perlu ditunggu. Upasara pasti bisa meloloskan diri. Seraaaaang!”

Teriakan mengguntur itulah yang membuat seolah bengawan berubah menjadi lautan api. Persiapan yang sedemikian lama dan selalu tertahan, menemukan pelampiasannya. Gerakan tangan dan tubuh Gendhuk Tri tak banyak mengubah situasi, karena panah api telanjur dilepaskan. Halayudha tersenyum tipis. Kini saatnya ia tampil sepenuhnya. Tangannya bergerak dan genderang dibunyikan keras bertalu-talu. Halayudha memutar tubuh dan mendekat ke arah tandu Raja Jayanegara.

“Baginda telah diselamatkan atas kemurahan hati Raja. Hamba menunggu perintah selanjutnya.”

“Lakukan.”

“Mahapatih…”

“Lakukan.”

Halayudha menyembah ke arah tandu. “Kalau Raja berkenan untuk berada di tempat yang lebih menyenangkan, kami telah menyediakan.”

“Lakukan saja, Halayudha….”

Jalan makin lebar. Jalan menganga, terbuka. Langkahnya lebih leluasa. Inilah yang dinamakan “menangkap ikan di saat air keruh”. Mendapatkan sesuatu yang diinginkan di saat kekisruhan. Halayudha bisa memainkan cara “mendapatkan ikan tanpa mengeruhkan air”, akan tetapi bisa pula “menangkap ikan di saat air keruh”. Yang penting menemukan ikan. Dan sekarang inilah ikan itu berada dalam genggaman. Tak akan dilepaskan. Diyakinkan tak akan bergerak dari kedua tangannya. Dengan jalan memecah barisan menjadi tiga bagian.

Pertama, rombongan untuk mengawal Baginda dan para permaisuri menuju ke Simping. Dengan cara begini Halayudha menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi antara Baginda dan Raja. Walaupun resminya Baginda telah menyerahkan kekuasaan ke Raja, akan tetapi pamor dan wibawanya masih bergema dan terasakan. Bila Baginda kembali ke Keraton, tata aturan yang baru bukan tidak mungkin bakal keluar. Ini berarti bisa mengganggu ikan dalam genggaman Halayudha. Maka mengembalikan ke Simping merupakan jalan terbaik.

Kedua, rombongan untuk mengawal Mahapatih Nambi dan Mpu Sina kembali ke Lumajang. Dengan cara ini Halayudha menempatkan Mahapatih Nambi kembali ke posisi seperti sedang melakukan palapa karya, bebas tugas. Jelas sekali dalam keadaan seperti ini Mahapatih tak akan bisa berbuat apa-apa. Secara resmi tak mempunyai kekuasaan untuk memerintah para prajurit, kecuali yang menjadi anak buahnya langsung.

Dengan mengikutsertakan Mpu Sina, Halayudha menempatkan senopati tua yang disegani itu ke dalam barisan yang “tidak dikehendaki Raja”, sehingga makin jelas petanya. Bahwa Raja tetap tidak menyukai Mpu Sina. Tak ada lagi kesempatan untuk mencari pengaruh.

Ketiga, rombongan untuk mengantar Raja kembali ke Keraton. Dalam barisan dan upacara kebesaran seolah memenangkan pertempuran yang hebat. Ini perlu bagi Raja untuk mendapat kesan bahwa apa yang dilakukan berhasil dengan sempurna. Pesta pora akan dilakukan di Keraton. Dengan demikian, Halayudha bebas menentukan apa yang terjadi di bengawan. Bisa berbuat apa saja.

Berbuat apa saja itu antara lain menenggelamkan perahu Siung Naga Bermahkota. Perintahnya hanya satu. Menghanguskan perahu. Menunggui terus sampai perahu itu menjadi abu. Dalam hati kecilnya, Halayudha merasa ngeri menghadapi Upasara Wulung. Beberapa kali berupaya melenyapkan, akan tetapi selalu gagal. Lebih dari itu, Upasara justru bisa muncul kembali dengan kekuatan yang lebih.

Kalau menghadapi Upasara yang dulu, Halayudha masih merasa mampu menemukan titik-titik di mana ia melakukan keunggulan. Banyak cara untuk mengakali ksatria gagah yang tak tahu lekuk-liku tipu muslihat. Akan tetapi kemampuan ilmu silatnya sekarang ini ternyata jauh melesat dari yang diperhitungkan. Perkiraannya meleset. Kematian Upasara karena hajaran dan tusukan yang menghancurkan pundak kirinya ternyata tak berpengaruh. Bahkan sebaliknya. Upasara bisa memainkan kedua tangannya secara leluasa. Kiri atau kanan sama saja.

Di samping itu tenaga dalamnya juga berkembang sangat luar biasa. Dalam pandangan Halayudha, rasa-rasanya ia tak mampu menandingi lagi. Tak ada yang mampu menandingi. Karena Barisan Api yang kokoh, ganas, dan kuat sekali, bisa ditaklukkan. Padahal Halayudha menjajal sendiri, satu lawan satu saja posisinya tidak jelas-jelas unggul. Tokoh setingkatan Eyang Puspamurti juga tak jauh berbeda dengan dirinya. Tingkatan Jaghana malah bisa dikalahkan. Ini bukti kuat bahwa Upasara jelas bisa mengungguli siapa saja.

Perhitungan Halayudha, dengan mengamankan bantuan yang mungkin ada, Upasara akan dibiarkan bertarung mati-matian dalam perahu. Pertarungan maut dengan Pangeran Sang Hiang. Dalam konsentrasi tinggi itulah perahunya dibakar. Tak terlalu sulit bagi Halayudha mengamankan Jaghana dan Nyai Demang yang kondisinya belum pulih. Eyang Puspamurti bisa segera diminta menjaga ketiga muridnya. Sedangkan Dewa Maut tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Itu sebabnya rencana Halayudha berjalan lancar.

Penyerangan dengan panah api bisa terus berlangsung. Api yang membakar kegelapan menjulang ke arah langit. Mengeluarkan bunyi gemeretak. Halayudha tetap berjaga di pinggir bengawan. Siapa tahu Upasara, Gendhuk Tri, Pangeran Hiang, Putri Koreyea, dan entah penghuni mana lagi, bisa meloloskan diri. Terjun ke bengawan. Itu yang dijagai.

Mereka bisa lolos dengan mudah kalau tidak sedang bertarung. Kalau pertarungan tingkat mengadu tenaga dalam, tak ada kesempatan bagi mereka semua untuk lolos. Mati bersama kayu. Menjadi abu. Sederhana caranya. Hebat hasilnya.

Percakapan Pangeran
GENDHUK TRI benar-benar bagai kebakaran seluruh bulu tubuhnya. Betapa tidak. Beberapa panah api mulai menancap di lantai bawah dan menyala. Beberapa anggota Barisan Api yang masih sadar dan bisa melarikan diri menyelusup ke bawah. Kok Upasara masih duduk bersila menghadapi dinding kayu! Tak bergerak, tak beringsut. Kalau sedang mengadu tenaga dalam atau bertarung, tak jadi soal. Tapi ini hanya duduk. Enam anggota Barisan Api juga duduk mengelilingi. Mengawasi.

“Kakang…”

“Pertanyaan dan ajakan yang bagus. Pangeran Upasara, kenapa tidak segera meninggalkan perahu?”

“Sebagai tetamu, saya masuk dan diundang untuk menikmati suguhan teh. Sebagai tetamu, kalau sekarang diusir saya akan segera pergi.”

“Bergegaslah.”

Upasara menyembah. Panas mulai terasa.

“Dengan satu permintaan….”

“Seratus permintaan akan saya kabulkan, kalau saya bisa melakukan saat ini.”

“Satu…”

“Katakan.”

“Kehidupan.”

“Kehidupan adalah segalanya.”

“Manusia menjadi manusia tatkala hidup.”

“Aaaahhh. Apa tidak cukup puas dengan kemenangan yang gilang-gemilang ini?”

“Pangeran Hiang telah berjanji.”

“Pangeran Upasara! Jangan paksakan kehinaan yang terburuk untuk saya telan.”

“Kalau itu memang kehinaan, biarkanlah kita bersama menelan. Kalau kemenangan adalah segalanya, seperti yang Pangeran Hiang katakan, berarti selama ini saya menempuh jalan yang keliru.”

Suasana hening. Tak ada yang bergerak. Barisan api tetap duduk bersila.

“Pangeran Upasara… Percakapan kita sia-sia. Kemenangan adalah segalanya. Kekuasaan ada di tangan pemenang. Kodrat dan wiradat, usaha, ditentukan dan berlaku untuk pemenang. Ilmu silat pada dasarnya mencari kemenangan. Siapa yang menjadi pemenang, dialah yang paling sakti. Siapa yang memegang kemenangan, ia menjadi paling benar. Kemenangan. Dan di jagat ini hanya ada satu pemenang. Hanya ada satu ksatria lelananging jagat. Tidak dua atau tiga. Yang lainnya adalah yang kalah. Kemenangan. Kunci dan penyelesaian. Pangeran Upasara, saya adalah cucu Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, Jengiz Khan, yang mulai hidup di gurun panas penuh debu dan kotoran kuda. Hanya kemenangan yang menyatukan, yang mengangkat menjadi pemimpin. Hanya dengan kemenangan yang gilang-gemilang bisa menguasai Keraton Cina. Saya adalah putra mahkota Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, yang melanjutkan kemenangan demi kemenangan di seluruh jagat. Rama Prabu Kubilai Khan tak akan bisa diakui dan menaklukkan keraton-keraton lain kalau tidak mencapai kemenangan. Saya adalah putra mahkota, yang berhak memakai umbul-umbul, bendera sendiri, dan saya memilih Siung Naga Bermahkota. Kenapa saya yang dianggap berhak mewarisi takhta, dan bukan ratusan putra mahkota yang lain, yang justru selalu berada di sekeliling Keraton? Karena saya mencapai kemenangan. Setelah Eyang Agung Khan, tak ada prajurit dan pendekar Tartar yang mampu menaklukkan Keraton Jepun. Puluhan kapal yang berlayar hancur ditelan ganasnya ombak, disabet samurai berpedang panjang. Rama Prabu Khan tak bisa memenangkan. Tetapi, dengan Barisan Api yang perkasa, bisa menginjakkan kaki ke tanah Jepun, dan menaklukkan. Saya pemenang. Demikian juga di Keraton Koreyea. Para pendekar yang ganas, yang kokoh dan telengas, yang mempunyai akar persilatan dataran Cina tapi berkembang sendiri, tak pernah bisa dikalahkan sebelumnya. Tetapi saya datang dan meraih kemenangan. Kemenangan. Kemenangan yang membuat Rama Prabu Khan memilih saya sebagai putra mahkota yang bakal menggantikan takhta jagat. Kemenangan. Kemenangan yang maha sempurna manakala tanah Jawa ini bisa ditaklukkan. Akan tetapi sejak utusan Rama Prabu Khan, Sri Baginda Raja Kertanegara berani mengirim balik utusan dan menyatakan perang. Menyatakan untuk merebut kemenangan. Utusan demi utusan datang ke tanah Jawa, tapi tanpa hasil. Seolah tanah yang selalu basah, sungai kecil, dan keraton tanah ini mengganggu kesempurnaan kemenangan Keraton Tartar. Tak ada wilayah yang tak tunduk, tidak bisa ditaklukkan, kecuali secuil tanah di sini. Kemenangan. Kemenangan, Pangeran Upasara. Kemenangan yang dikehendaki Sri Baginda Raja. Kemenangan yang menyebabkan saya datang ke tanah Jawa. Untuk membuktikan kemenangan. Karena kemenangan adalah segalanya. Kemenangan adalah kebenaran. Kemenangan adalah Dewa. Kemenangan adalah kekuatan. Kemenangan adalah kekuasaan. Kemenangan adalah kesahan hidup yang tanpa tanding."

Suara Pangeran Hiang bergema lama. Tak ada yang bergerak. Barisan Api juga diam. Gendhuk Tri merasa udara semakin panas, asap semakin tebal.

“Kemenangan. Itu satu-satunya nilai. Yang lainnya kalah. Mati. Tumpas. Hina.”

“Pangeran Hiang…”

“Tak perlu kata-kata itu. Pangeran Upasara telah memperoleh kemenangan.”

Upasara terdiam. Jakunnya tak bergerak. Kaku. Gendhuk Tri mengangkat alisnya, dan menurunkan cepat sekali.

“Kalau kemenangan berarti segalanya, kenapa Pangeran Hiang masih harus melindungi Putri Koreyea? Bukankah dengan memenangkan dan menundukkan Keraton Koreyea, semua tak mempunyai arti penting lagi?” Polos suaranya. Datar nadanya.

JILID 38BUKU PERTAMAJILID 40

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 39

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 39

Seiring dengan rengengan atau gumam Dewa Maut, barisan kumbang menuju ke dalam kotak bekas penyimpanan senjata. Semuanya. Beriringan. Sempat membersit pertanyaan dalam hati Nyai Demang, apakah betul tembang dolanan itu sakti?

Jaghana-lah yang menangkap gelagat itu. Begitu Dewa Maut bergumam, Jaghana menangkap isyarat bahwa suara itu seperti dengingan kumbang. Seperti suara gesekan sayap kumbang. Itu sebabnya langsung menangkap kaki Dewa Maut. Untuk menyalurkan tenaga dalam. Yang membantu jangkauan desisan itu hingga jarak yang jauh, tanpa menjadi lebih keras. Jaghana-lah yang bisa menangkap bahwa Dewa Maut berusaha memanggil barisan kumbang ke arahnya. Ke arah kotak senjata!

Sesuatu yang bisa cepat dimengerti oleh Jaghana karena ia biasa hidup terus-menerus di tengah alam. Tak pernah meninggalkan Perguruan Awan. Sehingga bisa membedakan pergesekan sayap kumbang dari capung, kicau burung yang satu dari kicau burung yang lain. Bisa membedakan getaran daun yang gugur, karena sudah tua dan kuning atau sebab lain. Jaghana tahu, akan tetapi tak bisa melakukan.

Sebaliknya, Dewa Maut bisa menirukan persis kerisikan sayap kumbang ratu. Hal yang sangat mungkin, mengingat untuk beberapa saat lamanya Dewa Maut selalu bergumul secara langsung. Ketika memelihara lebah di gua bawah tanah Keraton. Dewa Maut bukan hanya dekat dengan segala jenis binatang. Tapi hidup bersama binatang, dengan cara binatang itu hidup.

Dewa Maut bukan hanya dekat dengan tumbuhan. Tapi hidup bersama tumbuhan, dengan cara tumbuhan. Sikap yang selalu dilakukan selama ini dengan pendekatan Ngrogoh Sukma Sejati, membuat tubuhnya menjadi sesuatu yang dikehendaki. Itu sebabnya barisan kumbang seperti tertelan ke dalam kotak. Adat dan kebiasaannya yang tak menentu yang menyebabkan ia seketika menembangkan it-pait-pait. Kotak senjata itu penuh.

“Kena. Kena semuanya.”

“Tutup.” Perintah Jaghana yang mendadak menyadarkan Dewa Maut.

“Apanya yang ditutup?”

“Kotak itu.”

“Kenapa?”

Jaghana meloncat dan segera menutup kotak kayu penyimpanan senjata. Lalu dengan satu loncatan membopongnya dan melemparkannya ke dalam bengawan. Membenamkan hingga tak kelihatan lagi. Baru kemudian menghela napas.

“Wah, apa yang Paman Jaghana lakukan? Kumbang itu bisa mati di dalam kotak yang terbenam.”

Jaghana merangkul Dewa Maut. “Terima kasih… Terima kasih.”

“Baiknya saya juga mengucapkan terima kasih. Tapi untuk apa, untuk siapa?” Dewa Maut merenung. “Kumbang itu mati. Padahal bahasanya sama dengan kumbang di gua. Atau di mana saja. Aku juga kumbang, tapi tak mengerti.”

Lenyapnya barisan kumbang menyebabkan Upasara dan Gendhuk Tri sendirian di atas perahu. Kalau tadi Upasara menggerakkan tangannya untuk mengusir, dan sedikit kerepotan, kini lega. Lapang. Terang.

“Ksatria gagah, pendekar budiman berilmu tinggi, kenapa tidak masuk dan minum teh bersama? Udara gerah dan air bengawan bergolak, tetapi bukankah selalu ada waktu untuk menikmati teh segar dan harum?”

Gendhuk Tri menelan ludahnya. “Akhirnya Pangeran Hiang bersuara. Kenapa Pangeran tidak keluar menjemput tetamu yang dipuji?”

Pangeran Tanding
UPASARA WULUNG merasa Gendhuk Tri masih seperti dulu. Mengumbar lidahnya bergerak. Bukankah Pangeran Hiang sudah mengundang? Bukankah itu berarti sebagian rencana semula kesampaian? Gendhuk Tri tahu apa yang dipikirkan Upasara. Tapi tidak berusaha menjelaskan. Karena Gendhuk Tri merasa apa yang dilakukan sudah memakai perhitungan. Bukan sekadar membuka mulut.

Gendhuk Tri sudah mengalami sendiri ketika meloncat masuk ke perahu dan masuk ke dalam jerat. Kalau diulangi lagi, bukankah apa yang dilakukan ini sia-sia? Kalau perahu ini menyimpan selaksa rahasia, sangat mungkin lagi masih ada selaksa perangkap yang lain.

“Maaf, saya tak bisa meninggalkan tempat. Tak ada lagi alat untuk membantu upacara penyambutan.” Suaranya anggun, mengandung wibawa yang segera terasakan.

Gendhuk Tri masih bimbang. Akan tetapi Upasara mengangguk perlahan, menunduk, menghaturkan sembah, lalu melangkah ke dalam. Melewati bangunan rumah yang menganga. Bibir Gendhuk Tri terkancing. Ia tahu kalau Upasara sudah bertekad, tak ada yang bisa menghalangi lagi. Tak ada yang bisa mengubah kemauannya. Tak ada pilihan lain. Ikut masuk. Dengan siaga penuh.

Upasara melangkah biasa di perahu bagian bawah. Lalu duduk bersila. Gendhuk Tri mengikuti gerakan Upasara dengan waspada. Tempat itu masih sama seperti ketika ia masuk ke dalam perangkap. Tak ada yang berubah. Ruangan serba kayu yang sempit.

“Terimalah salam dari kami, Upasara Wulung dan Gendhuk Tri wara Keraton Majapahit….”

“Tak ada kelirunya sedikit pun. Pangeran Upasara Wulung memang lelananging jagat yang sejati. Saya terima salam pambagya dari sesama Pangeran.”

Gendhuk Tri menajamkan pandangannya. Tak setitik pun bayangan di depannya. Tapi suaranya sangat jelas terdengar, meskipun diucapkan dengan lidah yang asing bagi penekanan kata-kata tertentu. Suara Pangeran Hiang! Tapi di mana?

Ruangan yang sempit ini tak mungkin bisa menyembunyikan Pangeran Hiang. Apalagi kalau bersama Putri Koreyea. Akan tetapi bahkan dengusan napasnya pun tak bisa diketahui asalnya. Hanya memang, Gendhuk Tri menangkap desiran suara yang memberat. Kadang terdengar, kadang tidak.

“Pangeran Sang Hiang dan Putri Koreyea, kami berdua telah datang. Memenuhi undangan Pangeran. Apakah Pangeran tidak ingin bertemu muka dengan sesama Pangeran?”

Suara Gendhuk Tri menjadi hilang nadanya ketika tangan kanan Upasara menyentuh lututnya. Lembut.

“Maafkan kami, Pangeran Hiang yang perkasa. Kami datang bukan pada saat yang tepat. Maaf, Pangeran Hiang. Maaf, Pangeran, kalau kedatangan kami mengganggu Tuan Putri.”

Meskipun tidak mengetahui secara pasti, Gendhuk Tri bukannya sama sekali tidak bisa menebak. Pikirannya berjalan dengan cepat. Bahwa tarikan napas yang berat, yang terdengar sesekali, adalah suara napas Putri Koreyea yang agaknya sedang menderita. Atau sedang mengalami sesuatu yang berat. Terdengar suara lembut. Desahan napas lembut. “Tidak apa, Pangeran Upasara. Saya yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menyambut dengan baik.”

Gendhuk Tri menangkap getaran napas berat di sebelah depan. Tepat di belakang tempat Barisan Api menyambutnya tadi. Upasara bisa mengetahui seketika, sedang dirinya baru beberapa saat kemudian. Tenaga dalam Upasara sudah melesat terlalu jauh. Bahkan dengan melangkah masuk pertama kali, seakan sudah mengetahui bahwa Putri Koreyea sedang menderita. Tapi mana mau Gendhuk Tri mengendalikan dirinya seperti Upasara? Dirinya baru beberapa saat lalu nyaris dijemput maut oleh pasukan yang diperintahkan Pangeran Hiang.

“Pangeran, apakah kamu mengaku kalah? Kalau benar begitu, kenapa tidak Pangeran lepaskan raja kami?”

Gigi Upasara beradu. “Adik Tri…”

“Kita datang tidak untuk menunjukkan tata krama.”

Terdengar suara helaan napas. “Raja tanah Jawa ada di depan mata. Silakan. Dengan satu janji. Pangeran Upasara bisa menyelesaikan sampai benar-benar rampung.”

Jidat Gendhuk Tri berkerut. Lebih berkerut lagi karena Upasara mengerti tawaran Pangeran Hiang. Karena kini tampak merenung. Dan juga menghela napas. Sangat dalam. Duduknya sedikit berubah. Dadanya tegak, akan tetapi kedua tangannya dilipat di dada.

“Pangeran Hiang memaksakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

“Tak ada pilihan lain, Pangeran Upasara.”

Kalau mengikuti adatnya, yang walaupun telah banyak berubah tidak lagi sebagai gadis cilik, Gendhuk Tri sudah akan melabrak. Tapi kini menjadi ragu. Meskipun terucap pula. “Apa maunya, Kakang?”

“Baginda beserta keluarganya ada di ruangan sebelah kiri dan kanan. Semua dalam keadaan selamat. Hanya tinggal mengangkat satu papan, dan menyilakan keluar.”

“Bukan jebakan?” Gendhuk Tri merasa dirinya menjadi sangat tolol. Karena Upasara tidak menggubris pertanyaannya. Gendhuk Tri mengubahnya menjadi: “Apa lagi yang kita tunggu, Kakang?”

“Merampungkan.”

Gendhuk Tri hampir saja menanyakan: Merampungkan apa. Namun pertanyaan itu dilontarkan untuk dirinya sendiri. Dan dicoba dijawab. Rampung atau selesai, dalam satu pertarungan berarti kemenangan. Kemenangan dalam pertempuran hanya berarti satu. Mengalahkan atau menewaskan lawan. Arahnya pasti ke situ.

Karena secara telak Upasara telah memenangkan pertarungan melawan Barisan Api. Tetapi kenapa Pangeran Hiang menagih janji agar Upasara menghabisi? Tetapi, lebih kenapa, Upasara justru menjadi ragu?

“Pangeran Hiang…”

“Pangeran Upasara…”

“Maafkan…”

Gendhuk Tri makin terasa puyeng. Kalimat yang didengar makin tidak ketahuan arahnya. Baru disebutkan nama saja sudah dijawab. Dengan menyebutkan nama pula. Sebenarnya jalan pikiran Gendhuk Tri sudah tepat. Lebih lengkapnya ialah bahwa Pangeran Sang Hiang mengakui keunggulan Upasara Wulung. Karena kini tak bisa “menyambut”, sebab Putri Koreyea sedang menderita sesuatu. Tak ada pilihan lain, Pangeran Sang Hiang menerima kekalahan yang berarti kematian. Itu yang ditagih. Itu yang harus merupakan janji. Dan Upasara menjadi ragu.

Gendhuk Tri memang tak bisa menebak apa yang berkecamuk dalam hati Upasara. Yang jakunnya bergerak naik-turun menahan gejolak di dadanya. Bagi Upasara memang merupakan pilihan yang sulit. Memenangkan pertarungan dan membebaskan Baginda beserta para permaisuri adalah tujuannya. Akan tetapi tak pernah menduga bahwa Pangeran Hiang tidak ingin melanjutkan pertarungan sebagaimana layaknya sesama ksatria. Sesama pendekar. Karena istrinya sedang menderita.

Dan bagi ksatria sejati, apalagi seorang Pangeran Putra Mahkota, kehormatan besar yang menyebabkan lebih berharga dan lebih bermakna adalah menerima kematian. Yang memberatkan Upasara ialah: Jika kekalahan itu dalam suatu pertarungan, tak ada masalah yang mengganjal. Tapi ini urung, karena Putri Koreyea tengah menderita sakit. Upasara menutup matanya.

“Pangeran Upasara… Tugas mengabdi raja, mengabdi Keraton, lebih mulia dari semua keagungan. Kenapa harus ragu karena seseorang seperti saya yang justru menyebabkan malapetaka ini?”

Itu jawaban yang memantapkan tekad Gendhuk Tri. Tapi Upasara tak bergerak. Belum memutuskan apa-apa. Samar-samar Gendhuk Tri mendengar sorak-sorai di luar. Celaka, pikirnya. Celaka besar kalau ada perintah untuk menyerbu. Halayudha bisa mengambil keuntungan dari kekeruhan!

Senyum Samar Rajapatni
GENDHUK TRI mengambil keputusan. Sebelum terjadi perubahan yang tak bisa dikendalikan, Gendhuk Tri berdiri. Membelakangi arah dia datang. Tangannya merabai dinding kayu. Mengetuk-ngetuk. Mencari-cari kalau ada suara yang berbeda gemanya. Kalau benar begitu, berarti di belakang dinding itu ada ruangan. Dugaannya tak keliru.

Walaupun kelihatannya selintas seperti tatanan kayu, akan tetapi ada yang berongga. Gendhuk Tri merabai semua benda yang kelihatannya bisa menjadi alat untuk membuka dinding kayu itu. Jalan pikirannya sederhana, semua peralatan dalam perahu serba diatur oleh alat-alat. Nyatanya benar! Ketika menarik salah satu gantungan jala yang kelihatannya sengaja dipasang, bagian dinding kayu membuka. Membuka!

Sesaat Gendhuk Tri tak tahu apa yang harus dilakukan. Baru kemudian sadar bahwa yang duduk berimpitan di depannya adalah Baginda, beserta para permaisuri yang tak bisa tidak terpaksa beradu lutut. Tempat yang sangat sempit. Gendhuk Tri bersila. Menyembah.

“Ingkang Sinuwun keparenga…” Permintaannya agar Baginda meninggalkan tempat mendapat jawaban seketika.

Baginda segera berdiri. Agak terhuyung-huyung karena gerak langkahnya pincang. Pastilah karena selama beberapa hari darahnya tak bisa mengalir sempurna. Ini berbeda dari para permaisuri yang masih mengiringi langkah Baginda dengan menyembah.

“Mohon para permaisuri berkenan mengikuti Baginda….”

Tanpa diminta dua kali, Permaisuri Indreswari berjalan dengan berjongkok, mengikuti Baginda. Disusul Permaisuri Tribhuana, Permaisuri Mahadewi. Permaisuri Jayendradewi merangkapkan kedua tangan, mengucap syukur kepada Dewa Yang Maha murah sebelum mengusap wajahnya.

“Terima kasih tak terhingga….”

Kalimatnya tetap lirih, teratur nadanya, bersih, tanpa ada tekanan tertentu ketika mengucapkan. Melewati masa-masa yang mengerikan, berada dalam tempat yang sangat sempit, di antara orang yang disembah dan tak disukai, tidak membuat Permaisuri Jayendradewi berubah. Setitik pun tidak. Bahkan gelungan rambut dan warna kulitnya tak berubah. Semua tenggelam dalam ketabahan dan kekuatan batin yang luar biasa besarnya mengingat segala apa yang bergolak. Sikap yang sempurna dalam menerima dan menjalani kehidupan.

Permaisuri Rajapatni berjalan jongkok di belakangnya. Tatapan matanya menunduk, tangannya bergerak pelan, seirama dengan gerak kakinya yang melangkah beringsut. Gendhuk Tri tergetar. Sejak masih gadis kecil, Gendhuk Tri selalu mengawasi Permaisuri Rajapatni. Bahkan ketika selalu bersama-sama, secara tetap Gendhuk Tri mencuri pandang. Mencari jawaban, kelebihan apa yang tersimpan dalam tubuh Gayatri sehingga membuat Upasara Wulung tak pernah bisa mengalihkan perhatian.

Tubuh yang tak terlalu istimewa. Dibandingkan dengan permaisuri lain, atau putri Keraton yang lain. Mata, hidung, bibir, alis mata, telapak kaki, tak jauh berbeda. Gerakan tangan, kaki, tubuh, tak jauh berbeda. Kemben, kain, setagen, tak jauh berbeda. Apanya? Sikapnya?

Sikapnya tak jauh berbeda. Gendhuk Tri mengenal sangat baik ketika bisa bersama-sama untuk beberapa saat. Bahkan bayangan tubuh Permaisuri Rajapatni diperhatikan. Apanya? Yang tak terlihat! Yang tak teraba. Barangkali itulah jawabannya. Karena sekarang ini Permaisuri Rajapatni menuju ke luar, menaiki tangga dengan tetap menunduk. Tidak melirik, tidak menoleh, tidak terganggu irama geraknya.

Hanya tadi, rasanya, ada senyuman. Senyuman samar yang menyiratkan kebahagiaan sejati. Senyuman? Samar? Ataukah hanya bentuk bibir yang memang begitu? Tidak. Gendhuk Tri merasakan sebagai senyuman kemenangan tanpa merendahkan siapa pun. Senyuman sebagai tanda rasa syukur. Memuliakan Dewa dan sesama.

Tidak berlebihan Gendhuk Tri menduga demikian. Senyuman yang samar dan sukar diartikan itu seolah berbahagia atas pemunculan Upasara Wulung. Seolah memberikan restu kepada Gendhuk Tri. Itu yang dirasakan Gendhuk Tri. Kilatan pikiran ke masa lalu melesat cepat. Gendhuk Tri sudah mencurigai ada sesuatu yang direncanakan Permaisuri Rajapatni. Apalagi kini ternyata Upasara muncul dalam keadaan tak kurang suatu apa.

Permaisuri Rajapatni sudah tahu sejak semula. Bahkan sudah memperbincangkan dengannya. Ketika itu seolah Permaisuri Rajapatni merelakan Upasara Wulung. Itu yang menyakitkan. Bagi Gendhuk Tri, Upasara adalah Kakang Upasara-nya! Bukan milik wanita mana pun. Bukan Ratu Ayu, Nyai Demang, apalagi Permaisuri Rajapatni!

Gendhuk Tri mendongkol. Berarti dulu dirinya dibohongi habis-habisan sewaktu menggali tulang-belulang Upasara. Berarti Permaisuri Rajapatni selalu merasa menang. Ataukah sekarang ini masih tetap menduga bahwa Upasara muncul menolong ke perahu karena di situ ada Permaisuri Rajapatni?

Yang secara sengaja datang ke perahu. Gendhuk Tri merasa benar-benar panas. Segera bangkit, dan berputar untuk kemudian meloncat ke atas. Ke lantai perahu. Kesigapan dan keunggulannya masih menunjukkan penguasaan ilmu yang sulit ditandingi. Keberaniannya sudah terbukti. Akan tetapi dalam soal asmara, Gendhuk Tri tak berbeda dari wanita yang lain. Tak berbeda dari Permaisuri. Emosinya meninggi! Ada sesuatu yang meletup-letup dan ingin ditumpahkan dengan suara keras di depan Permaisuri.

Akan tetapi yang terdengar oleh telinganya ialah sorak-sorai. Gegap-gempita. Para prajurit kini sepenuhnya sudah membuat jembatan penghubung. Semuanya bersorak-sorai, setelah Baginda mengangguk perlahan. Lalu bergegas turun, dan dengan cepat sekali masuk ke tandu. Diiringi para permaisuri yang masuk ke tandu yang berbeda-beda.

Gendhuk Tri kesal. Kakinya hampir dibanting ketika sorak-sorai berubah menjadi teriakan beringas. Mata Gendhuk Tri membelalak. Tak disangka tak dinyana bahwa para prajurit mulai melepaskan anak panah berapi. Tertuju ke perahu.

“Musnahkan perahu!”

Teriakan keras, ganas, dan memerintahkan penyerbuan saat itu hanya mungkin berasal dari Halayudha. Inilah gila!

“Tahan!”

Seruan Gendhuk Tri tak ada gunanya. Karena desiran anak panah lebih banyak dari yang diduga. Beberapa menancap di dinding, di lantai, dan apinya perlahan mulai merembet. Kedua tangan Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya. Mengusir hujan anak panah berapi. Akan tetapi serbuan makin gencar. Diikuti lemparan tombak dan teriakan. Gendhuk Tri tak habis mengerti. Tak habis pikir.

Bagaimana mungkin Halayudha bisa memerintahkan penyerbuan ini? Bagaimana para prajurit seperti kesetanan dan tidak memedulikan keselamatan dirinya dan Upasara Wulung? Ksatria yang justru dengan gagah perkasa membebaskan Baginda, ketika yang lainnya tersuruk ke dalam bengawan? Jalan pikiran Gendhuk Tri dipenuhi kejengkelan berganda. Kejengkelan kepada Permaisuri karena masalah pribadi, dan kini merasa dikhianati secara terang-terangan. Cara yang menjijikkan.

Halayudha manusia sangat licik, licin, dan penuh tipu daya. Akan tetapi apa yang dilakukan sekarang ini benar-benar keterlaluan. Tambah lagi kejengkelan Gendhuk Tri karena agaknya tak ada yang berusaha menahan atau mencegah. Menyakitkan! Gendhuk Tri tak mampu bertahan karena dadanya bergetar keras. Tubuhnya membalik, masuk kembali ke perahu. Apa yang dilihatnya di dalam tak berubah. Upasara masih bersidekap dengan mata tertutup.

“Kakang… Kakang, perahu ini diserbu.”

Tak ada jawaban.

“Bangsat Halayudha itu…” Suaranya tak selesai. Dua batang panah memancarkan api masuk. Menancap di lantai.

Menangkap Ikan di Air Keruh
TEBAKAN Gendhuk Tri tak meleset. Memang Halayudha yang berdiri di belakang penyerbuan ini. Bahkan ia sendiri yang berada di depan. Sewaktu Barisan Api bisa dikalahkan, Halayudha merasa saatnya untuk bertindak. Ia mendekati Mahapatih Nambi, dan dengan suara lugas berkata dingin,

“Maaf, Mahapatih, Raja menghendaki Mahapatih beristirahat, seperti sebelumnya. Saya mendapat perintah untuk melanjutkan tugas Mahapatih.”

Halayudha tidak memperlihatkan wajah kikuk sedikit pun. Karena ia tahu memperhitungkan situasi. Sekarang bukan saatnya merendahkan diri. Sekarang bukan saat untuk menampilkan dirinya. Tanpa membuang waktu, Halayudha meloncat ke atas seekor kuda.

“Dengar, kalian para prajurit Keraton yang gagah berani. Hari ini saya, Senopati Halayudha, mendapat perintah langsung dari Raja Jayanegara untuk memegang komando penyerangan. Bagi yang sakit, diminta mengundurkan diri. Bagi yang lelah, diminta berada di belakang. Yang bersedia mati demi Raja, bersiap!”

Halayudha mengambil tombak panjang dan menggoyangkan. “Kita maju untuk membebaskan Baginda. Untuk menghancurkan lawan.”

Halayudha memerintahkan membuat rakit sambungan, memerintahkan barisan panah api dan semua prajurit mulai bergerak. Sebagian diminta mengamankan Mpu Sina, Dewa Maut, Jaghana, serta Nyai Demang. Perhitungan Halayudha mengatakan bahwa jika pun Baginda tak bisa diselamatkan, kini saatnya mengubur perahu Siung Naga Bermahkota. Tak ada cara lain. Dengan demikian semua keributan masa lalu akan ikut terkubur. Dengan demikian tak perlu merisaukan bagaimana Upasara nantinya.

Dengan mengatas namakan Raja, Halayudha tidak sembarangan saja. Ia mempunyai mandat untuk mengambil alih kepemimpinan Mahapatih. Persiapan menuju ke perahu menemukan sinar terang. Karena saat itu Baginda sedang berjalan keluar. Halayudha segera meloncat ke perahu, melakukan sembah, dan dengan cepat membopong Baginda. Lalu membawa ke tepi, ke dalam tandu yang telah disediakan. Demikian juga para permaisuri, langsung dikempit dan diloncatkan.

“Baginda dan para permaisuri telah selamat. Hancurkan perahu!”

Beberapa senopati bukannya tidak mengetahui bahwa Upasara Wulung serta Gendhuk Tri masih berada di dalam. Halayudha bukan tidak mengetahui keraguan ini.

“Di dalam masih banyak musuh yang berbahaya. Lebih berbahaya. Upasara telah berpesan, setelah meloloskan Baginda tak ada yang perlu ditunggu. Upasara pasti bisa meloloskan diri. Seraaaaang!”

Teriakan mengguntur itulah yang membuat seolah bengawan berubah menjadi lautan api. Persiapan yang sedemikian lama dan selalu tertahan, menemukan pelampiasannya. Gerakan tangan dan tubuh Gendhuk Tri tak banyak mengubah situasi, karena panah api telanjur dilepaskan. Halayudha tersenyum tipis. Kini saatnya ia tampil sepenuhnya. Tangannya bergerak dan genderang dibunyikan keras bertalu-talu. Halayudha memutar tubuh dan mendekat ke arah tandu Raja Jayanegara.

“Baginda telah diselamatkan atas kemurahan hati Raja. Hamba menunggu perintah selanjutnya.”

“Lakukan.”

“Mahapatih…”

“Lakukan.”

Halayudha menyembah ke arah tandu. “Kalau Raja berkenan untuk berada di tempat yang lebih menyenangkan, kami telah menyediakan.”

“Lakukan saja, Halayudha….”

Jalan makin lebar. Jalan menganga, terbuka. Langkahnya lebih leluasa. Inilah yang dinamakan “menangkap ikan di saat air keruh”. Mendapatkan sesuatu yang diinginkan di saat kekisruhan. Halayudha bisa memainkan cara “mendapatkan ikan tanpa mengeruhkan air”, akan tetapi bisa pula “menangkap ikan di saat air keruh”. Yang penting menemukan ikan. Dan sekarang inilah ikan itu berada dalam genggaman. Tak akan dilepaskan. Diyakinkan tak akan bergerak dari kedua tangannya. Dengan jalan memecah barisan menjadi tiga bagian.

Pertama, rombongan untuk mengawal Baginda dan para permaisuri menuju ke Simping. Dengan cara begini Halayudha menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi antara Baginda dan Raja. Walaupun resminya Baginda telah menyerahkan kekuasaan ke Raja, akan tetapi pamor dan wibawanya masih bergema dan terasakan. Bila Baginda kembali ke Keraton, tata aturan yang baru bukan tidak mungkin bakal keluar. Ini berarti bisa mengganggu ikan dalam genggaman Halayudha. Maka mengembalikan ke Simping merupakan jalan terbaik.

Kedua, rombongan untuk mengawal Mahapatih Nambi dan Mpu Sina kembali ke Lumajang. Dengan cara ini Halayudha menempatkan Mahapatih Nambi kembali ke posisi seperti sedang melakukan palapa karya, bebas tugas. Jelas sekali dalam keadaan seperti ini Mahapatih tak akan bisa berbuat apa-apa. Secara resmi tak mempunyai kekuasaan untuk memerintah para prajurit, kecuali yang menjadi anak buahnya langsung.

Dengan mengikutsertakan Mpu Sina, Halayudha menempatkan senopati tua yang disegani itu ke dalam barisan yang “tidak dikehendaki Raja”, sehingga makin jelas petanya. Bahwa Raja tetap tidak menyukai Mpu Sina. Tak ada lagi kesempatan untuk mencari pengaruh.

Ketiga, rombongan untuk mengantar Raja kembali ke Keraton. Dalam barisan dan upacara kebesaran seolah memenangkan pertempuran yang hebat. Ini perlu bagi Raja untuk mendapat kesan bahwa apa yang dilakukan berhasil dengan sempurna. Pesta pora akan dilakukan di Keraton. Dengan demikian, Halayudha bebas menentukan apa yang terjadi di bengawan. Bisa berbuat apa saja.

Berbuat apa saja itu antara lain menenggelamkan perahu Siung Naga Bermahkota. Perintahnya hanya satu. Menghanguskan perahu. Menunggui terus sampai perahu itu menjadi abu. Dalam hati kecilnya, Halayudha merasa ngeri menghadapi Upasara Wulung. Beberapa kali berupaya melenyapkan, akan tetapi selalu gagal. Lebih dari itu, Upasara justru bisa muncul kembali dengan kekuatan yang lebih.

Kalau menghadapi Upasara yang dulu, Halayudha masih merasa mampu menemukan titik-titik di mana ia melakukan keunggulan. Banyak cara untuk mengakali ksatria gagah yang tak tahu lekuk-liku tipu muslihat. Akan tetapi kemampuan ilmu silatnya sekarang ini ternyata jauh melesat dari yang diperhitungkan. Perkiraannya meleset. Kematian Upasara karena hajaran dan tusukan yang menghancurkan pundak kirinya ternyata tak berpengaruh. Bahkan sebaliknya. Upasara bisa memainkan kedua tangannya secara leluasa. Kiri atau kanan sama saja.

Di samping itu tenaga dalamnya juga berkembang sangat luar biasa. Dalam pandangan Halayudha, rasa-rasanya ia tak mampu menandingi lagi. Tak ada yang mampu menandingi. Karena Barisan Api yang kokoh, ganas, dan kuat sekali, bisa ditaklukkan. Padahal Halayudha menjajal sendiri, satu lawan satu saja posisinya tidak jelas-jelas unggul. Tokoh setingkatan Eyang Puspamurti juga tak jauh berbeda dengan dirinya. Tingkatan Jaghana malah bisa dikalahkan. Ini bukti kuat bahwa Upasara jelas bisa mengungguli siapa saja.

Perhitungan Halayudha, dengan mengamankan bantuan yang mungkin ada, Upasara akan dibiarkan bertarung mati-matian dalam perahu. Pertarungan maut dengan Pangeran Sang Hiang. Dalam konsentrasi tinggi itulah perahunya dibakar. Tak terlalu sulit bagi Halayudha mengamankan Jaghana dan Nyai Demang yang kondisinya belum pulih. Eyang Puspamurti bisa segera diminta menjaga ketiga muridnya. Sedangkan Dewa Maut tak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Itu sebabnya rencana Halayudha berjalan lancar.

Penyerangan dengan panah api bisa terus berlangsung. Api yang membakar kegelapan menjulang ke arah langit. Mengeluarkan bunyi gemeretak. Halayudha tetap berjaga di pinggir bengawan. Siapa tahu Upasara, Gendhuk Tri, Pangeran Hiang, Putri Koreyea, dan entah penghuni mana lagi, bisa meloloskan diri. Terjun ke bengawan. Itu yang dijagai.

Mereka bisa lolos dengan mudah kalau tidak sedang bertarung. Kalau pertarungan tingkat mengadu tenaga dalam, tak ada kesempatan bagi mereka semua untuk lolos. Mati bersama kayu. Menjadi abu. Sederhana caranya. Hebat hasilnya.

Percakapan Pangeran
GENDHUK TRI benar-benar bagai kebakaran seluruh bulu tubuhnya. Betapa tidak. Beberapa panah api mulai menancap di lantai bawah dan menyala. Beberapa anggota Barisan Api yang masih sadar dan bisa melarikan diri menyelusup ke bawah. Kok Upasara masih duduk bersila menghadapi dinding kayu! Tak bergerak, tak beringsut. Kalau sedang mengadu tenaga dalam atau bertarung, tak jadi soal. Tapi ini hanya duduk. Enam anggota Barisan Api juga duduk mengelilingi. Mengawasi.

“Kakang…”

“Pertanyaan dan ajakan yang bagus. Pangeran Upasara, kenapa tidak segera meninggalkan perahu?”

“Sebagai tetamu, saya masuk dan diundang untuk menikmati suguhan teh. Sebagai tetamu, kalau sekarang diusir saya akan segera pergi.”

“Bergegaslah.”

Upasara menyembah. Panas mulai terasa.

“Dengan satu permintaan….”

“Seratus permintaan akan saya kabulkan, kalau saya bisa melakukan saat ini.”

“Satu…”

“Katakan.”

“Kehidupan.”

“Kehidupan adalah segalanya.”

“Manusia menjadi manusia tatkala hidup.”

“Aaaahhh. Apa tidak cukup puas dengan kemenangan yang gilang-gemilang ini?”

“Pangeran Hiang telah berjanji.”

“Pangeran Upasara! Jangan paksakan kehinaan yang terburuk untuk saya telan.”

“Kalau itu memang kehinaan, biarkanlah kita bersama menelan. Kalau kemenangan adalah segalanya, seperti yang Pangeran Hiang katakan, berarti selama ini saya menempuh jalan yang keliru.”

Suasana hening. Tak ada yang bergerak. Barisan api tetap duduk bersila.

“Pangeran Upasara… Percakapan kita sia-sia. Kemenangan adalah segalanya. Kekuasaan ada di tangan pemenang. Kodrat dan wiradat, usaha, ditentukan dan berlaku untuk pemenang. Ilmu silat pada dasarnya mencari kemenangan. Siapa yang menjadi pemenang, dialah yang paling sakti. Siapa yang memegang kemenangan, ia menjadi paling benar. Kemenangan. Dan di jagat ini hanya ada satu pemenang. Hanya ada satu ksatria lelananging jagat. Tidak dua atau tiga. Yang lainnya adalah yang kalah. Kemenangan. Kunci dan penyelesaian. Pangeran Upasara, saya adalah cucu Eyang Agung Khan yang Tiada Tara, Jengiz Khan, yang mulai hidup di gurun panas penuh debu dan kotoran kuda. Hanya kemenangan yang menyatukan, yang mengangkat menjadi pemimpin. Hanya dengan kemenangan yang gilang-gemilang bisa menguasai Keraton Cina. Saya adalah putra mahkota Rama Prabu Kubilai Khan yang Perkasa, yang melanjutkan kemenangan demi kemenangan di seluruh jagat. Rama Prabu Kubilai Khan tak akan bisa diakui dan menaklukkan keraton-keraton lain kalau tidak mencapai kemenangan. Saya adalah putra mahkota, yang berhak memakai umbul-umbul, bendera sendiri, dan saya memilih Siung Naga Bermahkota. Kenapa saya yang dianggap berhak mewarisi takhta, dan bukan ratusan putra mahkota yang lain, yang justru selalu berada di sekeliling Keraton? Karena saya mencapai kemenangan. Setelah Eyang Agung Khan, tak ada prajurit dan pendekar Tartar yang mampu menaklukkan Keraton Jepun. Puluhan kapal yang berlayar hancur ditelan ganasnya ombak, disabet samurai berpedang panjang. Rama Prabu Khan tak bisa memenangkan. Tetapi, dengan Barisan Api yang perkasa, bisa menginjakkan kaki ke tanah Jepun, dan menaklukkan. Saya pemenang. Demikian juga di Keraton Koreyea. Para pendekar yang ganas, yang kokoh dan telengas, yang mempunyai akar persilatan dataran Cina tapi berkembang sendiri, tak pernah bisa dikalahkan sebelumnya. Tetapi saya datang dan meraih kemenangan. Kemenangan. Kemenangan yang membuat Rama Prabu Khan memilih saya sebagai putra mahkota yang bakal menggantikan takhta jagat. Kemenangan. Kemenangan yang maha sempurna manakala tanah Jawa ini bisa ditaklukkan. Akan tetapi sejak utusan Rama Prabu Khan, Sri Baginda Raja Kertanegara berani mengirim balik utusan dan menyatakan perang. Menyatakan untuk merebut kemenangan. Utusan demi utusan datang ke tanah Jawa, tapi tanpa hasil. Seolah tanah yang selalu basah, sungai kecil, dan keraton tanah ini mengganggu kesempurnaan kemenangan Keraton Tartar. Tak ada wilayah yang tak tunduk, tidak bisa ditaklukkan, kecuali secuil tanah di sini. Kemenangan. Kemenangan, Pangeran Upasara. Kemenangan yang dikehendaki Sri Baginda Raja. Kemenangan yang menyebabkan saya datang ke tanah Jawa. Untuk membuktikan kemenangan. Karena kemenangan adalah segalanya. Kemenangan adalah kebenaran. Kemenangan adalah Dewa. Kemenangan adalah kekuatan. Kemenangan adalah kekuasaan. Kemenangan adalah kesahan hidup yang tanpa tanding."

Suara Pangeran Hiang bergema lama. Tak ada yang bergerak. Barisan Api juga diam. Gendhuk Tri merasa udara semakin panas, asap semakin tebal.

“Kemenangan. Itu satu-satunya nilai. Yang lainnya kalah. Mati. Tumpas. Hina.”

“Pangeran Hiang…”

“Tak perlu kata-kata itu. Pangeran Upasara telah memperoleh kemenangan.”

Upasara terdiam. Jakunnya tak bergerak. Kaku. Gendhuk Tri mengangkat alisnya, dan menurunkan cepat sekali.

“Kalau kemenangan berarti segalanya, kenapa Pangeran Hiang masih harus melindungi Putri Koreyea? Bukankah dengan memenangkan dan menundukkan Keraton Koreyea, semua tak mempunyai arti penting lagi?” Polos suaranya. Datar nadanya.

JILID 38BUKU PERTAMAJILID 40