Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 28

Raja tertawa, tapi kemudian bersungut. “Kalajengking berbisa itu dulu aku paling suka main-main. Kalau timbul keinginanku, ada saja prajurit yang kuminta memasukkan jarinya agar disengat. Kadang aku mengerti itu perbuatan yang gila-gilaan, tetapi aku menyukainya. Pernah aku menyuruh seorang prajurit membiarkan semut itu masuk ke mulutnya, dan aku memerintahkan agar ia tak menggigit atau menelan. Aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Praba menahan napasnya.

“Mereka mati. Menakutkan sekali wajahnya. Dan lucu.”

Raja mendekati Praba. Mengelus pipi, memegang daun telinga, menatap lekat. “Praba, aku selalu ingin tahu. Dan aku menjajalnya. Aku selalu menjalani apa yang kuingini. Itu sebabnya aku tak mengerti, kamu tak pernah sedikit pun menginginkan sesuatu. Menjadi permaisuri utama, kamu malah ragu. Di Keraton ini segala macam perhiasan dan emas bertumpuk. Ada bentuk dan besarnya seperti aslinya. Seperti patung bebek emas, atau patung ikan emas yang matanya dari batu permata. Tapi kamu tak sedikit pun tertarik. Jangan kata memiliki, keinginan untuk memegang saja tidak. Sewaktu semua itu kutunjukkan padamu, kau bersinar gembira. Hanya sesaat. Itu pun untuk tidak membuatku kecewa. Kadang aku tak mengerti. Apa sebenarnya yang kamu ingini dalam hidup ini? Apakah bisa seseorang yang hidup tidak mempunyai keinginan apa-apa?”

“Hamba telah menemukan apa yang hamba cari….”

“Aku?”

“Diri hamba sendiri.”

“Ooooo, kamu mencari dirimu sendiri, dan bisa menemukan? Begitu, Praba?”

“Nun inggih, Sinuwun…”

“Katakan, apa yang kamu temukan dalam dirimu itu?”

“Hamba ini. Seperti yang Sinuwun lihat.”

Raja berdeham kecil. Berhenti di arus sungai kecil yang sengaja dibuat. Mencelupkan kakinya ke dalam, sehingga sebagian kainnya basah. “Aku jarang mengerti kata-kata yang njlimet, yang pelik seperti itu. Kata-kata dalam kidungan yang hanya dimengerti oleh para pujangga. Seperti apa dirimu itu, Praba?”

“Seperti yang hamba cari. Seperti yang hamba inginkan. Hamba mengikuti suara hati, wisik, yang tak berbunyi, tapi kita bisa merasakan.”

“Apakah suara hatimu itu yang menyebabkan kamu tidak suka kalau Halayudha kuangkat menjadi mahapatih?” Praba ditarik ke dalam air. Basah hingga ke paha. “Kenapa?”

“Hamba tak mengerti. Tiba-tiba saja hamba merasa bahwa Senopati Halayudha yang sama sekali tidak hamba kenal asal-usulnya akan menyebarkan bibit keruwetan.”

“Aku tahu itu. Aku tahu segalanya. Tetapi ia tak akan menggangguku. Seujung rambut pun tidak.”

Sambil memperdengarkan tawa yang keras Raja kini mencelupkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Praba Raga Karana mengikuti, hingga kini seluruh tubuhnya, sampai dengan rambutnya yang digelung basah kuyup.

“Atau kamu rasa Halayudha akan mengikuti jejak Tantra?”

“Tidak, Sinuwun….”

“Lalu kenapa tidak suka?”

“Hamba tak mengerti. Suara hati tanpa bunyi.”

“Aku tanya begini bukan karena apa. Dua hari sebelum Tantra menguasai Keraton, kamu menceritakan mimpimu. Bahwa seorang prajurit yang bisa kamu sebutkan lengkap ciri-cirinya yang kemudian aku tahu itu adalah Tantra akan mengganggu hubungan kita. Waktu itu aku mendengarkan tanpa peduli. Akan tetapi setelah kejadian berlangsung, aku baru sadar bahwa suara hatimu ternyata benar adanya. Sangat tepat. Wooo-hoo, aku tak merasa apa-apa. Tak ada firasat, tak ada wangsit tak ada suara hati. Lalu di saat kita terkurung, kamu mengatakan bahwa lima hari lagi kita bisa jalan-jalan di taman ini. Nyatanya begitu. Sekarang aku mau tanya, apa kata suara hatimu mengenai Halayudha?”

“Hamba tak mendengar apa-apa. Hamba tak bisa memaksa diri.”

“Atau yang lainnya. Misalnya, misalnya… Ratu Ayu. Siapa yang akan mempersunting dia?”

“Sinuwun jangan mempermainkan hamba.”

“Tidak. Aku ingin mengetahui saja.”

“Ratu Ayu telah dimiliki Upasara.”

“Ya, tapi sekarang atau nanti?”

“Sama, Sinuwun….”

“Sama? Upasara yang sudah jadi tulang dan terpisah bisa memiliki Ratu Ayu?”

Wajah Praba Raga Karana kelihatan pucat. Napasnya bergelora. Dadanya naik-turun. Terlihat benar ketika Raja menarik kainnya, dan membiarkan hanyut.

“Apa betul Upasara telah meninggal, Sinuwun?”

Kini Raja yang mendadak melepaskan rangkulan. “Apa suara hatimu mengatakan Upasara masih hidup?”

“Begitulah yang hamba rasakan.”

Raja tertawa keras. Kini Praba Raga Karana dipeluk kencang. Rambutnya yang terurai, sebagian melambai seirama dengan arus air, memberikan bentuk sempurna dari tubuhnya yang jelas membayang dalam aliran air jernih. “Aku melihat sendiri ketika hukum poteng itu dilaksanakan. Ah, rasanya kamu juga ada. Dan setahuku, tak ada orang yang sudah dipotong tubuhnya bisa menjelma kembali. Tak ada. Praba, aku pernah mendengar ada seseorang yang bisa moksa. Hilang bersama seluruh raganya. Tapi apa seseorang yang telah tercerai anggota badannya bisa menjelma kembali, itu masih tak bisa kumengerti. Mungkin saja itu keistimewaan Dewa.”

Raja mengelus tubuh Praba Raga Karana. “Untuk apa kita membicarakan Upasara? Apa peduli kita?”

“Sinuwun yang menanyakan, dan hamba yang merasakan suara itu.”

“Suara tanpa bunyi? Haha… Tapi aku suka mendengar cerita semacam itu. Terutama darimu. Coba dengarkan suara hatimu, bagaimana caranya Upasara bisa hidup kembali?”

“Hamba tak mendengar apa-apa lagi….”

“Lagi macet apa? Itu juga lucu.”

Raja tertawa kembali. Puas. Tertumpah semuanya. Bersama derasnya air. Bersama empasan aliran. Terbuang, entah ke mana. Praba Raga Karana menyandarkan tubuhnya ke tebing. Membiarkan Raja yang kelelahan bersandar di tubuhnya, bagai anak kecil minta perlindungan. Membiarkan matahari membakar. Agak lama. Sampai Raja terbangun karena air memasuki hidung.

“Aku tak suka cara membuat sungai buatan ini. Lebih baik besok ditutup saja.”

Raja segera bergegas naik ke pinggir. Dari tubuhnya mengucur air sepanjang kakinya melangkah. Praba Raga Karana ditinggal sendirian. Tanpa busana. Tanpa apa-apa. Hanya suara hati, yang bergetar, yang tak menimbulkan bunyi, yang memberikan pertanda. Yang kadang bisa dimengerti seketika, kadang hanya perlambang atau gambaran tertentu. Suara hati yang mengisyaratkan sesuatu, seperti dulu, jauh sebelum Raja mengangkatnya dari kehidupan sebagai juru pijat.

Anak Kecil Mengunyah Cabe
RAJA JAYANEGARA seolah berlari melintasi Keraton. Tangannya dibiarkan terbuka lebar sehingga semua benda hiasan yang tersenggol sengaja jatuh dan pecah berantakan. Baik yang dibuat dari tanah liat, tembaga, maupun emas. Hiasan yang biasanya menjadi pajangan ditata apik, hasil seni ukir yang tinggi, jatuh dan ditendang ke segala penjuru.

Para prajurit kawal pribadi yang menjaga dari jarak kejauhan tak berani berbuat apa-apa, selain tetap menjaga. Bahkan ketika berada di dalam, payung kebesaran dicabut dan dilemparkan dengan keras ke arah atap!

“Hidup ini tak ada apa-apanya. Tak ada siapa-siapanya. Tidak kenapa-kenapa.”

Raja melangkah ke arah kaputren. Telunjuk dan suaranya menuding garang. “Kumpulkan semua putri Keraton dalam kamarku! Semuanya! Dalam kamar peraduanku! Siapa saja! Termasuk Tunggadewi dan Rajadewi!”

Dalam satu tarikan napas yang sama, tudingannya juga mengandung perintah tak terbantah. “Lepaskan semua buron yang ada di taman….”

Buron atau binatang buruan yang berada di taman adalah kumpulan binatang buas yang selama ini menjadi klangenan atau tempat Raja menghibur diri. Bisa dibayangkan bahwa prajurit yang mendapat perintah seperti ini sangat terkejut. Karena binatang buas itu akan sangat berbahaya jika dibebaskan begitu saja. Akan tetapi perintah adalah perintah. Perintah Raja adalah sabda tak terbantah. Dengan napas terengah-engah Raja menuju dapur, dan memerintahkan agar semua persediaan makanan yang ada dimasak dalam satu dandang yang sama.

“Lakukan, sekarang ini juga!”

Ketika seorang prajurit memberanikan diri menghadap dan menyampaikan bahwa Ibunda Permaisuri Indreswari berkenan sowan, Raja hanya mengangkat hidungnya tinggi-tinggi.

“Ingsun sudah tidak butuh menetek lagi. Air susu yang kuisap berbeda. Inilah air susu yang kubutuhkan sekarang ini. Dan aku tengah mengisapnya kuat-kuat.”

Tak ada yang membantah. Tak ada yang menghalangi bayangan langkah kaki Raja. Bahkan Halayudha sendiri ketika mendengar kabar yang mengejutkan ini tak bisa segera memutuskan cara untuk bertindak. Bahwa seorang pemegang kekuasaan tertinggi bisa bertindak gila di luar jangkauan pikiran normal, itu sesuatu yang wajar. Halayudha mengalami masa-masa akhir Sri Baginda Raja, juga semasa Baginda yang boleh dikata gejolak yang berarti. Akan tetapi tetap bisa diterima. Tapi tidak seperti ini.

Dan celakanya bagi Halayudha, sekarang ini kejadian berlangsung saat posisinya sudah sedemikian menguntungkan. Di saat dirinya tinggal selangkah lagi menjadi mahapatih secara resmi. Sebenarnya ia bisa menunggangi peristiwa ini untuk keuntungannya. Namun, kalau benar-benar di luar jalan pikiran normal seperti sekarang ini, alih-alih pangkat dan derajatnya malah bisa berbalik.

Apalagi setelah diketahui bahwa Permaisuri Indreswari sendiri ditolak. Bahkan yang sebelumnya tak terbayangkan, telah terjadi. Raga Praba Karana ditinggalkan di taman, di sungai buatan, dalam keadaan tanpa busana. Tak ada yang berani menolong untuk memberi pakaian. Inilah hebat. Benar-benar jungkir-balik. Kepala menjadi kaki. Dan kaki menjadi tangan. Ini semua bukan karena pengaruh bubuk pagebluk atau apa. Sebelumnya sangat biasa sekali, lalu tiba-tiba saja berubah. Tudingan dan perintahnya makin keras.

Kini bahkan seluruh isi perabot Keraton dipindahkan. Kursi kebesaran diperintahkan untuk dipindahkan. Senjata-senjata yang mendapat tempat utama di kamar senthong, kamar tersendiri yang tak pernah disentuh orang lain, dibuka lebar-lebar pintunya. Hanya Mahamata Puspamurti yang tidak terpengaruh. Ia duduk di bawah pohon beringin, wajahnya menyimpulkan senyuman. Kipas kayu yang berukuran besar digerak-gerakkan, sehingga angin keras seakan menggerakkan pohon beringin hingga ke dahan-dahannya. Tokoh yang aneh dengan dandanan yang juga aneh ini seakan malah menikmati keributan yang tengah terjadi.

“Ya, memang begitu. Ladlahom, ladlahom, ada benarnya. Tak perlu ragu.”

Mendadak Raja yang tengah berada di dalam berlari ke luar, menuju ke arah Puspamurti. “Aku perintahkan tebang pohon ini, cabut semua akarnya!”

Puspamurti makin menyunggingkan senyuman. “Itu bagus. Apa lagi? Langit kamu turunkan? Tanah dan lantai Keraton dikeduk sehingga menjadi sungai? Atau semua prajurit kamu perintahkan memakan tanah? Boleh, boleh, aku senang. Ada teman. Mudah-mudahan kamu tak mengecewakan di belakang hari.”

Raja memandang kiri-kanan. “Tebang sekarang! Aku tak mau mendengar. Aku hanya mau memerintah.”

Para prajurit yang diperintah bergerak maju. Akan tetapi gerakan kipas Puspamurti membuat mereka tertahan. Angin deras menghalangi gerak maju mereka.

“Nenek tua…”

“Kenapa kamu bicara padaku? Ladlahom itu namanya. Seharusnya tidak.”

“Seharusnya kamu juga tidak bicara padaku.”

“Aku tidak bicara padamu. Tidak kepada beringin. Aku berbicara pada diriku sendiri. Mungkin juga tidak kepada diriku sendiri. Aku berbicara kepada mulutku. Mulutku adalah mulut manusia. Telingaku adalah telinga manusia. Semua sudah kumiliki sendiri. Seperti kamu. Ladlahom. Setelah Kebo Berune yang sia-sia, yang mengingkari sebagai mahamanusia, masih ada yang tersisa….”

“Kamu keliru….”

“Tak ada kekeliruan bagi mahamanusia.” Puspamurti menjawab sama cepatnya dengan nada suara Raja. “Meskipun aku bisa berkata bahwa kamu masih terlalu hijau untuk menyadari. Kamu seperti anak kecil yang mengunyah cabe rawit, melonjak-lonjak karena kepedasan. Tanpa menyadari….”

“Aku tidak butuh komentarmu.”

“Aku juga. Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Raja? Kamu kecewa apa sehingga melakukan ini semua? Untuk memperlihatkan kekuasaanmu? Untuk menghapus kekecewaanmu dari wanita yang kini kamu tinggalkan menggigil kedinginan? Aku tidak butuh jawabanmu. Tak perlu diterangkan, karena segalanya cukup terang. Sudah tertulis dengan jelas. Pada manusia terpilih, ia akan menjadi mahamanusia. Aku yang terpilih. Belakangan aku tahu ada Kebo Berune yang menguasai mati atas hidup, akan tetapi ternyata ia mengingkari. Sekarang ini kamu. Sejak kapan kamu mempelajari Kidungan Pamungkas?”

Raja mengerutkan kening.

“Sudah kusadari bahwa kamu anak-anak yang tak tahu pedasnya cabe rawit. Yang begini saja masih bingung. Ladlahom! Apa betul di seluruh jagat ini tak ada yang tahu ilmu pembebasan manusia yang begitu utuh? Apa betul cuma aku seorang yang bakal menjadi ahli waris satu-satunya yang terakhir?”

Suaranya yang mengandung pertanyaan sekaligus juga mengandung rintihan terbawa oleh angin yang berasal dari gerakan kipasnya. Para prajurit bersiap mengepung. Bahkan Halayudha turun tangan sendiri. Memimpin didepan.

“Harusnya tidak mungkin. Kalau seluruh jagat ini banyak manusia, mana mungkin hanya satu mahamanusia? Itu bertentangan dengan isi kitab. Tapi kalau yang ada anak kecil yang merasakan ujung cabe, apa ia bisa dimasukkan sebagai penganut ajaran ini? Hei, kalian semua, menyingkirlah! Aku masih ingin merasakan segarnya angin yang menggoyang daun.”

Puspamurti menggerakkan kipasnya. Perlahan, akan tetapi tenaga yang keluar jauh lebih keras dari semula. Empat prajurit tersentak mundur seketika. Bahkan Raja ikut terdorong.

“Tebas!”

Perintah Raja tak perlu diulang. Serentak dengan itu sepuluh prajurit menyerbu tanpa memedulikan bahaya. Halayudha yang berjalan terpincang, segera maju. Kedua tangannya membentuk silangan, sementara kedua kakinya menggeser maju. Dengan satu tarikan tangan kanan ke dalam, tangan kirinya menjotos ke luar.

Puspamurti hanya mengeluarkan suara dingin di hidung. “Main-main apa sungguh-sungguh?”

Pengejaran Mahamanusia
TENANG sekali Puspamurti menggerakkan kipasnya. Terulur ke depan dan seketika itu tenaga dalamnya membentur tenaga dalam Halayudha, yang segera mengubah dengan tenaga air. Menyedot keras, membetot dari dasar.

Halayudha bukan sembarang senopati. Ilmu yang diwarisi adalah ilmu-ilmu kelas satu. Apalagi sekarang ini sedang dilihat Raja, semangatnya makin menjadi-jadi. Sehingga Puspamurti tak bisa melayani duduk dengan tenang. Tubuhnya bergerak ke atas, membebaskan diri dari sedotan tenaga dalam Halayudha. Yang secara berturut-turut mencecar dari segala penjuru. Puspamurti mengeluarkan suara ladlahom pendek sebelum akhirnya memusatkan diri menghadapi gerakan-gerakan yang serba tak terduga.

Saat itu Halayudha sengaja memamerkan kelebihannya. Segala jenis jurus yang pernah diketahui, pernah dipelajari, dikeluarkan. Baik jurus-jurus pendek dari Jepun ataupun dari tanah Tartar, disambung dan dirangkai dengan ajaran dari Kitab Bumi maupun Kitab Air. Menakjubkan. Dalam sekejap tubuh Halayudha bisa gagah, tegak lurus kaku, di lain pihak bisa berubah seperti gerakan penari, lalu berubah lagi seperti air yang mengalir.

Padahal selama ini Puspamurti seperti tak pernah mengubah gerakannya. Kenyataannya memang begitu! Sejak semula Puspamurti memainkan satu jurus saja. Jurus yang dinamai Puspita Gatra, sesuatu yang berbunga di bagian ujung. Kipas gedenya bergerak, menekuk ke depan seperti menjadi berat tiba-tiba. Akan tetapi justru dengan gerakan yang selalu sama, gebrakan Halayudha menjadi pudar.

Satu-satunya yang memberi kesan bahwa Halayudha lebih unggul hanyalah bahwa dengan demikian Halayudha mampu mendesak Puspamurti meninggalkan pohon beringin. Bisa dituntun, bisa diarahkan ke tempat lain. Hingga ke gerbang luar.

Namun, sebenarnya yang merasa mati kutu ialah Halayudha. Sepuluh-dua puluh jurus ia berhasil mendesak, merangsek, dan membuat Puspamurti berloncatan, tetap saja tak bisa menundukkan. Setiap kali, pada saat yang sudah terjepit, masih sempat menghindar. Sambaran angin yang makin mendekat ke arah tubuh Puspamurti, tetap tak bisa menyentuh.

Tubuh Halayudha sudah sepenuhnya mandi keringat. Demikian juga terasakan bahwa perlahan napas Puspamurti telah memberat. Akan tetapi, seperti terulang kembali, pukulan Halayudha tak pernah bisa menyentuh. Halayudha mengganti dengan serangan berat. Bahkan dengan berani dijajalnya tenaga dalam penuh saat memainkan Banjir Bandang Segara Asat karena jengkel dan putus asa.

Akan tetapi justru ketika pengerahan tenaga sedang dilakukan, ujung kipas kayu lagi-lagi menekuk di depannya. Yang tak bisa tidak harus dienyahkan atau dihindari. Beberapa kali Halayudha mencoba memancing membarengi menyerang dengan risiko terkena kipas tapi juga bisa menerjang. Akan tetapi setiap kali hampir dilakukan, setiap kali seperti disadarkan bahwa kipas lawan jauh lebih dekat ke bagian tubuhnya yang berbahaya.

Sepuluh jurus kemudian Halayudha mengempos semangatnya. Hasilnya tetap sama. Tak bisa melukai atau meringkus! Bahwa dengan demikian Puspamurti makin sempoyongan, ternyata juga tidak membuatnya lebih gampang menekuk lawan. Halayudha bukan tokoh kepala batu yang dungu. Mengetahui bahwa dengan jurus tunggal Puspamurti tetap bisa menghindar, rasa ingin tahu dan berguru yang muncul mendesak.

“Hebat, hebat… Ini baru permainan silat yang luar biasa.” Puspamurti menghentikan gerakannya. Nyata sekali bahwa semua tenaga juga ikut terkuras.

“Saya perlu belajar dari Mahamata….”

“Kamu licik, maha licik. Cocok untuk ilmu ini. Tapi aku tak suka padamu.” Puspamurti membalik.

Halayudha terkesima. Tak nyana tak mimpi bahwa dirinya akan ditinggalkan begitu saja. Baru saja mereka berdua mengadu jiwa dalam pertarungan ketat, lalu tiba-tiba saja membalikkan tubuh.

“Suka atau tidak suka, apa bedanya bagi mahamanusia?”

“Ada. Aku mau pergi. Kejar aku kalau mau.”

Ini benar-benar kurang ajar. Tapi Halayudha sadar bahwa kalaupun ia kembali menyerang, akhirnya akan berulang sama. Ia bisa mendesak habis, akan tetapi tetap saja tak bisa mengalahkan.

“Apa hubungannya dengan Kitab Paminggir atau Pamungkas?”

Puspamurti membalik. Meludah. Lalu dengan gayanya yang genit berjalan meninggalkan. Goyangan tubuhnya masih tersisa meninggalkan bau harum. Halayudha masih berdiri tegak. Di kepalanya mendadak berkelebat beberapa rencana. Puspamurti tak memedulikan. Ia terus berjalan sampai di luar Keraton, lalu menuju ke arah pedusunan. Baru kemudian sekali berhenti, memainkan jurus-jurus kipasnya. Lalu menghela napas berat.

“Apa betul hanya aku titisan mahamanusia itu?”

Kembali dijajalnya jurus yang sama. Kipasnya dimainkan tangan kanan dan tangan kiri, diganti dengan kaki, dengan gigitan, lalu menghela napas kembali.

“Apa betul hanya aku?”

Anehnya, suara itu tergema kembali, dalam nada dan irama yang sama, hanya bunyinya berbeda.

“Apa betul di seluruh jagat ini semua tahu bahwa ada ilmu pembebasan manusia secara utuh? Apa betul semua sudah mewarisi secara sempurna?”

Puspamurti memandang ke arah datangnya suara. Ke arah pohon beringin liar, di mana di bawahnya ada bayangan tubuh tengah duduk bersila. “Ladlahom! Pasti kamu yang mengaku juru ramal Truwilun itu!”

Puspamurti berjalan sambil menyeret kipasnya menuju ke arah Truwilun yang duduk di tanah sambil mengumpulkan dedaunan. Daun-daun yang disusun berbaris-baris, sehingga seolah memberikan kesan gambar seberkas sinar.

“Ini bagus. Kamu menangkap. Juru ramal yang baik, tunjukkan…”

Sebelum kalimat Puspamurti selesai, daun-daun yang berbaris berubah menjadi gambar yang lain. Semacam gambar belalai gajah yang melengkung, mengisap lingkaran.

“Ini baru ladlahom. Aku sudah tahu kamu pasti salah satu manusia yang aneh. Ternyata sangat aneh. Truwilun, apa yang kamu bikin?”

Susunan daun di depan Truwilun berubah bentuknya. Tak lagi menyerupai belalai, melainkan bentuk kapas yang bersusun. Puspamurti berjongkok. Kipasnya bergerak. Susunan kapas berubah kembali menjadi belalai, mengisap lingkaran, yang oleh Puspamurti dibuat sedemikian rupa sehingga menggambarkan tengkorak. Truwilun menggeleng. Daun-daun kering itu berubah menjadi bentuk mahkota. Puspamurti menggeleng.

“Kamu tak mengerti, Truwilun. Tak ada mahkota.”

Puspamurti menggerakkan kipasnya. Angin menderu keras. Daun-daun kering di sekitarnya berpencaran ke segala penjuru bagai tersapu angin puyuh. Akan tetapi gambar daun yang dibuat Truwilun tetap tak berubah.

“Ladlahom! Kamu keliru. Mahamanusia itu bisa belalai yang mengisap ilmu apa saja, di mana saja, sampai habis.”

Truwilun mengangguk.

“Jadi tak ada batas mahkota.”

Truwilun menggeleng.

“Mari kita mulai dari awal….”

Truwilun mengangguk. Kini daun-daun kering berpencaran lagi. Oleh gerakan tangan dan kipas Puspamurti yang dikebut sehingga membentuk gambar belalai dan sinar, diubah kembali menjadi rentetan kapas, lalu tengkorak, lalu susunan seperti bintang, lalu berubah seperti belalai lagi. Setiap kali Truwilun mengubah, Puspamurti mengubahnya kembali, dan keduanya saling mengangguk. Bahkan saking gembiranya, beberapa kali Puspamurti memeluk tubuh Truwilun, mengusap dagu, dan mencium pipi.

Truwilun duduk bergeming. Hanya saja, ketika Truwilun membentuk gambar mahkota, perubahan tak ada lagi. Puspamurti sangat kesal sehingga memukulkan kipas kayunya dengan keras. Amblas ke tanah, menghancurkan dedaunan. Yang tetap membentuk simbol mahkota.

Riwayat Kitab-Kitab
PUSPAMURTI terbatuk keras. Ia berlutut, dan akhirnya berbaring di tanah. Mencium telapak kaki Truwilun yang mendadak ditarik.

“Apa selama ini aku salah?”

Truwilun menggeleng. Lalu menyusun kembali daun-daun yang kering. Malam telah turun. Kegelapan menyelimuti. Puspamurti masih terbaring. Hanya kali ini memandang ke arah langit yang kosong.

“Apakah mahamanusia itu terbatas?”

“Agaknya begitu.”

Akhirnya terdengar suara yang nadanya setengah ragu. “Selalu ada mahkota?”

Truwilun mengangguk samar.

“Sejak itu kamu menjadi peramal?”

Jawabannya adalah helaan napas. Ringan. Segar. “Puspamurti, kamu dan aku sama. Seumur hidupmu kamu habiskan bersembunyi di dalam Keraton, demikian juga aku. Seumur hidupku kuhabiskan di tengah hutan yang dinamai Perguruan Awan.”

“Aku sudah tahu tanpa kamu bilang…”

Suara Puspamurti terdengar dipenuhi rasa menunjukkan kehebatan. Sesuatu yang tidak biasanya. Karena selama ini seperti tak memedulikan apa saja.

“Kamu ini Eyang Sepuh?”

“Bukan.”

“Bagaimana kamu tahu ada mahkota? Bagaimana kamu tahu bahwa itu yang dimaksudkan adalah mahkota?”

Tak ada jawaban.

“Kamu Baginda Raja Sri Kertanegara?”

“Bukan. Aku Truwilun.”

Puspamurti terbatuk. Lalu duduk. “Tak bisa tidak. Kalau kamu bukan Eyang Sepuh, pasti kamu Sri Baginda Raja Kertanegara. Kalau tidak, bagaimana kamu bisa menemukan itu? Dengar baik-baik. Namaku Puspamurti. Aku pernah melihat yang namanya Eyang Sepuh. Juga pernah melihat Sri Baginda Raja. Aku mempelajari semuanya. Sejak masih digodok. Sejak ajaran Kitab Bumi belum dijadikan ajaran resmi. Aku telah mempelajari dengan baik. Aku hafal bagaimana bentuk penulisannya. Sampai dengan Kitab Paminggir, yang bagiku merupakan kitab dari segala kitab pembebasan yang pernah ada. Dengar baik-baik, Truwilun. Aku tahu Kitab Air. Aku tak tertarik. Tapi kitab mengenai mahamanusia aku tahu. Hanya ketika Sri Baginda Raja murka, aku menyembunyikan diri terus-menerus dan tetap mempelajari. Karena aku takut dimurkai Sri Baginda Raja, tetapi aku percaya kebenaran kitab itu.”

“Kalau begitu kenapa mencari Kidung Pamungkas?”

“Karena sama. Bukankah begitu?”

Truwilun tak menjawab. Hanya berdeham kecil.

“Truwilun, aku tak akan bilang ladlahom lagi. Aku akan menyegarkan ingatanmu kalau kamu ini Eyang Sepuh atau Sri Baginda Raja. Aku senopati yang paling lihai. Paling bisa memahami segala ilmu pada usia yang sangat muda. Mpu Raganata tahu siapa diriku. Aku tahu gagasan besar Sri Baginda Raja untuk menjadikan tanah Jawa sebagai tanah ksatria, dan hanya ada ksatria saja. Itu sebabnya diadakan penyatuan ajaran kanuragan. Yang dipilih adalah Kitab Bumi yang disodorkan Eyang Sepuh. Meskipun sebenarnya bagian depan disusun oleh ksatria yang lain. Akan tetapi tetap merupakan maha-karya Eyang Sepuh karena mampu menyusun bagian yang disebut Kitab Penolak Bumi. Kamu ingat? Aku bahkan sudah mempelajari. Bahkan bisa memainkan. Tapi semua itu tak ada artinya dibandingkan Kitab Paminggir, yang diciptakan Eyang Sepuh. Kalau kamu Eyang Sepuh, kamu tahu itu. Kalau kamu Sri Baginda Raja, kamu pasti ingat bahwa kamu tidak suka kitab itu. Kamu ingat? Kamu menyuruh menghancurkan. Tapi diam-diam kamu menyusun sendiri dan kamu namai dengan sebutan hebat, Kidungan Para Raja. Seolah membalikkan seluruh kebenaran yang ada dalam Kitab Paminggir. Kamu ingat?”

“Puspamurti, ada yang berbeda, ada yang sama. Memang pada awalnya yang dijadikan babon ilmu kanuragan resmi adalah Kitab Bumi. Kitab itu disusun oleh Paman Sepuh dan disempurnakan oleh Eyang Sepuh, terutama delapan jurus yang terakhir.”

“Nah, kamu ingat. Jadi kamu siapa? Eyang Sepuh atau Sri Baginda Raja?”

“Bukan semuanya.”

“Tidak mungkin.”

“Saat itu Eyang Sepuh menciptakan kitab terakhir yang disebut Kitab Paminggir, atau karena isinya memang dalam bentuk kidungan, disebut Kidung Paminggir. Akan tetapi Sri Baginda Raja tidak berkenan, karena ajaran kidungan itu menjungkirbalikkan ketenteraman. Keraton bisa kacau-balau. Karena dalam ajaran itu tersirat bahwa setiap manusia bisa menjadi raja. Yang disusun Mpu Raganata sebagai perpaduan antara yang ditulis Baginda dan Eyang Sepuh. Itu sebabnya lahir Kitab Pamungkas. Kitab yang terakhir. Secara napas dan roh, Kitab Paminggir dan Kitab Para Raja, serta Kitab Pamungkas isinya sepenuhnya sama. Mengangkat derajat manusia. Bedanya pada tembangan Kidungan Para Raja, puncak kekuasaan manusia tak bisa sampai ke takhta, karena tidak semua manusia bisa menjadi raja. Yang bisa menjadi raja hanyalah raja karena pilihan Dewa.”

Puspamurti terbatuk keras. Tubuhnya bergoyang. “Baru sekarang aku tahu ada yang bisa mengatakan seperti itu. Karena tadinya hanya aku sendiri yang mengetahui bahwa Kitab Paminggir dan Kidungan Para Raja intinya sama persis, meskipun semua kata dan susunan berbeda. Persis sama, kecuali tentang mahkota.”

“Karena Sri Baginda Raja tidak menghendaki semua manusia bisa menjadi raja.”

“Jadi kamu Sri Baginda Raja?”

“Aku Truwilun.”

“Bagaimana mungkin seseorang seperti kamu bisa mendapat pencerahan untuk bisa menerangkan dengan gamblang, yang bahkan Sri Baginda Raja sendiri tak bisa? Yang bahkan Eyang Sepuh sendiri tak terang-terangan mengatakan begitu? Bukankah Eyang Sepuh menghilang musna karena lebih percaya bahwa Kitab Paminggir yang lebih hebat dan benar?”

“Eyang Sepuh moksa karena mengikuti pencerahan batin dari ilmu yang dipelajari. Akan tetapi Eyang Sepuh rasa-rasanya tak keberatan dengan Kitab Pamungkas, seperti yang dirumuskan Mpu Raganata.”

“Jadi kamu Eyang Sepuh? Atau malah Mpu Raganata?”

“Bukan. Aku Truwilun.”

“Aku pasti kini. Kamu pasti Eyang Sepuh, yang malu-malu menampakkan diri. Lalu menjadi Truwilun. Pasti begitu. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu mendapat pencerahan seperti ini? Eyang Sepuh sudah sampai di tingkat moksa. Tak perlu merepotkan seperti kita ini.”

“Tapi kamu ini searif Eyang Sepuh….”

Truwilun menghela napas. “Aku masih memerlukan pujian….” Suaranya mengandung penyesalan.

“Truwilun, kamu adalah Eyang Sepuh. Baik, aku mengakui itu. Mengakui kata-katamu. Aku akan tunduk dan menyerah sepenuhnya bahwa mahkota, bahwa takhta adalah batas akhir bagi yang tidak ditakdirkan menjadi raja. Sekarang mari tunjukkan di mana salahku.”

Puspamurti duduk bersila. Napasnya mendengus teratur. Truwilun juga melakukan gerakan yang sama. Bersila menutup mata. Kedua tangan saling menyatu. Lalu perlahan tangan kiri Truwilun dan Puspamurti saling melepas. Puspamurti yang menggerakkan tangan kirinya pertama kali, menarik daun-daun kering. Dalam gelap malam tetap tak terlihat, akan tetapi seperti bisa terbaca oleh keduanya, bahwa Puspamurti membuat daun-daun kering membentuk gambar gunung, dengan puncaknya menghadap ke arah Truwilun.

Truwilun menggerakkan tangannya. Gambaran gunung itu membalik. Ujungnya menghadap ke arah Puspamurti. Yang kemudian mengubahnya menjadi gambaran sungai. Truwilun, dengan mata tetap tertutup dan satu tangan menempel di telapak tangan Puspamurti, membalikkan arus ke arah Puspamurti. Dan sekaligus mengubah menjadi bentuk seperti hujan. Puspamurti melakukan gerakan yang sama. Hanya sekarang arah hujan ke Truwilun. Lalu mengubahnya kembali ke bentuk belalai.

Percakapan Diam
TAK ada suara. Tak ada tanda gerakan yang jelas. Hanya kadang tangan yang bergerak sangat lembut. Hanya kalau diperhatikan dengan jeli, gambar susunan daun itu yang setiap kali berubah. Kalau tadinya perubahan itu cepat sekali, sekarang justru sebaliknya Gerakannya sangat lambat. Setiap lembar daun seperti enggan berubah. Seperti ketika membentuk gambar belalai, Truwilun tak melakukan gerakan. Baru kemudian, kembali gambaran ujung belalai itu ditambahi tempurung.

Puspamurti mengangguk-angguk. Lalu membentuk gambaran yang sama dari susunan daun yang sama. Seolah anak kecil yang sangat bodoh dan berhati-hati menyusun, mengikuti yang telah dibuat Truwilun. Setelah itu ganti Truwilun yang mengangguk. Dan Puspamurti melanjutkan dengan bentuk tengkorak. Banyak sekali, berada di bagian bawah.

Truwilun mengangguk kembali. Lalu menirukan apa yang sudah dilakukan Puspamurti. Satu demi satu, daun-daun kering itu diteliti kembali, diletakkan dengan sangat hati-hati, seperti susunan semula. Keduanya seperti terbenam dalam perbincangan yang sangat mengasyikkan, menenggelamkan, dan mengalihkan dari keinginan atau pikiran yang lain. Sedemikian rumasuk, sedemikian masuk dan menyatu, sehingga tak lagi memperhatikan berapa lama sudah mereka menghabiskan waktu dengan cara berdiam diri saling menempelkan sebelah tangan.

Bisa dimengerti kalau Puspamurti tenggelam secara total. Selama ini Puspamurti tak pernah menemukan orang yang bisa diajak bicara, atau terlibat dalam masalah yang digeluti. Ada tokoh yang sempat menggetarkan perhatiannya karena sakti mandraguna. Tokoh muda yang bernama Upasara Wulung. Akan tetapi segera dirasakan bahwa Upasara Wulung lebih mendasarkan. Diri pada ajaran Kitab Bumi. Tak ada yang luar biasa dalam sikapnya, yang membuat Puspamurti merasa satu aliran.

Tokoh kedua yang dijumpai adalah Kebo Berune. Atau titisan kekuatan Kebo Berune. Saat itu Puspamurti merasa menemukan jawaban dari ilmu yang selama ini dipelajari. Bahwa mahamanusia mampu mengatasi kematian. Raga yang mati bisa dilanjutkan dalam raga yang lain. Mahamanusia yang mengatasi kematian!

Meskipun demikian, masih ada keraguan dalam diri Puspamurti. Apakah tingkat tertinggi hanya bisa dicapai dengan cara itu? Kalau ajaran Kitab Bumi bisa mencapai titik moksa yang dianggap luhur, apakah Kitab Pamungkas begitu sengsara dan hina, ditampilkan sebagai mayat hidup? Keraguan itu kemudian menemukan jawaban. Karena kemudian tubuh Kebo Berune pun hancur berkeping, membusuk dengan cepat.

Yang sempat menyelinap ke dalam pikirannya adalah Raja Jayanegara. Raja yang menjungkirbalikkan tata krama dan tata pemerintahan. Puspamurti merasa menemukan bagian yang hilang dari yang selama ini dipelajari. Bentuk perwujudan dari kemahamanusiaan. Tapi serta-merta kekecewaan menyertai. Karena Raja melakukan seperti tidak menyadari apa yang terjadi. Sedemikian sepinya hati Puspamurti sehingga ia merasa bahwa ia satu-satunya yang mengenal dan mempelajari ajaran mahamanusia. Sampai kemudian secara tidak sengaja bertemu dengan Truwilun. Tidak sengaja?

Rasanya tidak mungkin. Pertemuannya dengan Truwilun bukan karena tidak sengaja. Memang akan bertemu, karena ada panggilan yang sama. Ada getaran yang sama di antara sesama mahamanusia. Lebih mencengangkan lagi, Truwilun memberi jawaban bahwa ajaran dalam Kitab Paminggir telah diubah dengan batasan tertentu yang ada dalam Kitab Pamungkas!

Ini yang sedang dibuktikan. Siapa yang lebih unggul. Itulah yang sedang terjadi! Puspamurti melakukan dari awal, sesuai dengan yang dipelajari dari Kitab Pamungkas. Ketika ia membentuk gambaran belalai, ia menggambarkan keinginan menimba segala ilmu, segala kanuragan yang ada dalam raya ini. Belalai melambangkan penyedotan ilmu yang tiada habis. Dalam hal ini Truwilun setuju. Satu ajaran.

Dasar-dasar untuk mempelajari, untuk terjun kepada semua ilmu juga dikenal dalam Kitab Paminggir. Demikian juga tengkorak yang merupakan simbol musuh-musuh yang harus dibasmi. Dalam Kitab Pamungkas diajarkan jelas bahwa mahamanusia mempunyai kewajiban menyingkirkan kejahatan, musuh, tanpa mempertimbangkan hubungan pribadi. Kemenangan itu dibuktikan dengan membinasakan musuh sampai tinggal tengkorak.

Hanya ketika Truwilun membuat gambaran mahkota susun tujuh Puspamurti tak bisa mengikuti. Tak bisa mengikuti dalam arti seperti yang dibuat Truwilun. Gambar mahkota susun tujuh itu tidak memuncak di bagian atas. Beberapa kali Puspamurti berusaha mengubah, menambah di bagian ujung, akan tetapi tangannya tak kuasa. Semakin dipaksa, semakin terasa tangannya tak bisa menggerakkan daun. Sehingga akhirnya mengulang dari awal. Membuat gambaran belalai tempurung, tengkorak, hujan, gunung, sungai, pintu, yang bisa saling diikuti.

JILID 27BUKU PERTAMAJILID 29

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 28

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 28

Raja tertawa, tapi kemudian bersungut. “Kalajengking berbisa itu dulu aku paling suka main-main. Kalau timbul keinginanku, ada saja prajurit yang kuminta memasukkan jarinya agar disengat. Kadang aku mengerti itu perbuatan yang gila-gilaan, tetapi aku menyukainya. Pernah aku menyuruh seorang prajurit membiarkan semut itu masuk ke mulutnya, dan aku memerintahkan agar ia tak menggigit atau menelan. Aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Praba menahan napasnya.

“Mereka mati. Menakutkan sekali wajahnya. Dan lucu.”

Raja mendekati Praba. Mengelus pipi, memegang daun telinga, menatap lekat. “Praba, aku selalu ingin tahu. Dan aku menjajalnya. Aku selalu menjalani apa yang kuingini. Itu sebabnya aku tak mengerti, kamu tak pernah sedikit pun menginginkan sesuatu. Menjadi permaisuri utama, kamu malah ragu. Di Keraton ini segala macam perhiasan dan emas bertumpuk. Ada bentuk dan besarnya seperti aslinya. Seperti patung bebek emas, atau patung ikan emas yang matanya dari batu permata. Tapi kamu tak sedikit pun tertarik. Jangan kata memiliki, keinginan untuk memegang saja tidak. Sewaktu semua itu kutunjukkan padamu, kau bersinar gembira. Hanya sesaat. Itu pun untuk tidak membuatku kecewa. Kadang aku tak mengerti. Apa sebenarnya yang kamu ingini dalam hidup ini? Apakah bisa seseorang yang hidup tidak mempunyai keinginan apa-apa?”

“Hamba telah menemukan apa yang hamba cari….”

“Aku?”

“Diri hamba sendiri.”

“Ooooo, kamu mencari dirimu sendiri, dan bisa menemukan? Begitu, Praba?”

“Nun inggih, Sinuwun…”

“Katakan, apa yang kamu temukan dalam dirimu itu?”

“Hamba ini. Seperti yang Sinuwun lihat.”

Raja berdeham kecil. Berhenti di arus sungai kecil yang sengaja dibuat. Mencelupkan kakinya ke dalam, sehingga sebagian kainnya basah. “Aku jarang mengerti kata-kata yang njlimet, yang pelik seperti itu. Kata-kata dalam kidungan yang hanya dimengerti oleh para pujangga. Seperti apa dirimu itu, Praba?”

“Seperti yang hamba cari. Seperti yang hamba inginkan. Hamba mengikuti suara hati, wisik, yang tak berbunyi, tapi kita bisa merasakan.”

“Apakah suara hatimu itu yang menyebabkan kamu tidak suka kalau Halayudha kuangkat menjadi mahapatih?” Praba ditarik ke dalam air. Basah hingga ke paha. “Kenapa?”

“Hamba tak mengerti. Tiba-tiba saja hamba merasa bahwa Senopati Halayudha yang sama sekali tidak hamba kenal asal-usulnya akan menyebarkan bibit keruwetan.”

“Aku tahu itu. Aku tahu segalanya. Tetapi ia tak akan menggangguku. Seujung rambut pun tidak.”

Sambil memperdengarkan tawa yang keras Raja kini mencelupkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Praba Raga Karana mengikuti, hingga kini seluruh tubuhnya, sampai dengan rambutnya yang digelung basah kuyup.

“Atau kamu rasa Halayudha akan mengikuti jejak Tantra?”

“Tidak, Sinuwun….”

“Lalu kenapa tidak suka?”

“Hamba tak mengerti. Suara hati tanpa bunyi.”

“Aku tanya begini bukan karena apa. Dua hari sebelum Tantra menguasai Keraton, kamu menceritakan mimpimu. Bahwa seorang prajurit yang bisa kamu sebutkan lengkap ciri-cirinya yang kemudian aku tahu itu adalah Tantra akan mengganggu hubungan kita. Waktu itu aku mendengarkan tanpa peduli. Akan tetapi setelah kejadian berlangsung, aku baru sadar bahwa suara hatimu ternyata benar adanya. Sangat tepat. Wooo-hoo, aku tak merasa apa-apa. Tak ada firasat, tak ada wangsit tak ada suara hati. Lalu di saat kita terkurung, kamu mengatakan bahwa lima hari lagi kita bisa jalan-jalan di taman ini. Nyatanya begitu. Sekarang aku mau tanya, apa kata suara hatimu mengenai Halayudha?”

“Hamba tak mendengar apa-apa. Hamba tak bisa memaksa diri.”

“Atau yang lainnya. Misalnya, misalnya… Ratu Ayu. Siapa yang akan mempersunting dia?”

“Sinuwun jangan mempermainkan hamba.”

“Tidak. Aku ingin mengetahui saja.”

“Ratu Ayu telah dimiliki Upasara.”

“Ya, tapi sekarang atau nanti?”

“Sama, Sinuwun….”

“Sama? Upasara yang sudah jadi tulang dan terpisah bisa memiliki Ratu Ayu?”

Wajah Praba Raga Karana kelihatan pucat. Napasnya bergelora. Dadanya naik-turun. Terlihat benar ketika Raja menarik kainnya, dan membiarkan hanyut.

“Apa betul Upasara telah meninggal, Sinuwun?”

Kini Raja yang mendadak melepaskan rangkulan. “Apa suara hatimu mengatakan Upasara masih hidup?”

“Begitulah yang hamba rasakan.”

Raja tertawa keras. Kini Praba Raga Karana dipeluk kencang. Rambutnya yang terurai, sebagian melambai seirama dengan arus air, memberikan bentuk sempurna dari tubuhnya yang jelas membayang dalam aliran air jernih. “Aku melihat sendiri ketika hukum poteng itu dilaksanakan. Ah, rasanya kamu juga ada. Dan setahuku, tak ada orang yang sudah dipotong tubuhnya bisa menjelma kembali. Tak ada. Praba, aku pernah mendengar ada seseorang yang bisa moksa. Hilang bersama seluruh raganya. Tapi apa seseorang yang telah tercerai anggota badannya bisa menjelma kembali, itu masih tak bisa kumengerti. Mungkin saja itu keistimewaan Dewa.”

Raja mengelus tubuh Praba Raga Karana. “Untuk apa kita membicarakan Upasara? Apa peduli kita?”

“Sinuwun yang menanyakan, dan hamba yang merasakan suara itu.”

“Suara tanpa bunyi? Haha… Tapi aku suka mendengar cerita semacam itu. Terutama darimu. Coba dengarkan suara hatimu, bagaimana caranya Upasara bisa hidup kembali?”

“Hamba tak mendengar apa-apa lagi….”

“Lagi macet apa? Itu juga lucu.”

Raja tertawa kembali. Puas. Tertumpah semuanya. Bersama derasnya air. Bersama empasan aliran. Terbuang, entah ke mana. Praba Raga Karana menyandarkan tubuhnya ke tebing. Membiarkan Raja yang kelelahan bersandar di tubuhnya, bagai anak kecil minta perlindungan. Membiarkan matahari membakar. Agak lama. Sampai Raja terbangun karena air memasuki hidung.

“Aku tak suka cara membuat sungai buatan ini. Lebih baik besok ditutup saja.”

Raja segera bergegas naik ke pinggir. Dari tubuhnya mengucur air sepanjang kakinya melangkah. Praba Raga Karana ditinggal sendirian. Tanpa busana. Tanpa apa-apa. Hanya suara hati, yang bergetar, yang tak menimbulkan bunyi, yang memberikan pertanda. Yang kadang bisa dimengerti seketika, kadang hanya perlambang atau gambaran tertentu. Suara hati yang mengisyaratkan sesuatu, seperti dulu, jauh sebelum Raja mengangkatnya dari kehidupan sebagai juru pijat.

Anak Kecil Mengunyah Cabe
RAJA JAYANEGARA seolah berlari melintasi Keraton. Tangannya dibiarkan terbuka lebar sehingga semua benda hiasan yang tersenggol sengaja jatuh dan pecah berantakan. Baik yang dibuat dari tanah liat, tembaga, maupun emas. Hiasan yang biasanya menjadi pajangan ditata apik, hasil seni ukir yang tinggi, jatuh dan ditendang ke segala penjuru.

Para prajurit kawal pribadi yang menjaga dari jarak kejauhan tak berani berbuat apa-apa, selain tetap menjaga. Bahkan ketika berada di dalam, payung kebesaran dicabut dan dilemparkan dengan keras ke arah atap!

“Hidup ini tak ada apa-apanya. Tak ada siapa-siapanya. Tidak kenapa-kenapa.”

Raja melangkah ke arah kaputren. Telunjuk dan suaranya menuding garang. “Kumpulkan semua putri Keraton dalam kamarku! Semuanya! Dalam kamar peraduanku! Siapa saja! Termasuk Tunggadewi dan Rajadewi!”

Dalam satu tarikan napas yang sama, tudingannya juga mengandung perintah tak terbantah. “Lepaskan semua buron yang ada di taman….”

Buron atau binatang buruan yang berada di taman adalah kumpulan binatang buas yang selama ini menjadi klangenan atau tempat Raja menghibur diri. Bisa dibayangkan bahwa prajurit yang mendapat perintah seperti ini sangat terkejut. Karena binatang buas itu akan sangat berbahaya jika dibebaskan begitu saja. Akan tetapi perintah adalah perintah. Perintah Raja adalah sabda tak terbantah. Dengan napas terengah-engah Raja menuju dapur, dan memerintahkan agar semua persediaan makanan yang ada dimasak dalam satu dandang yang sama.

“Lakukan, sekarang ini juga!”

Ketika seorang prajurit memberanikan diri menghadap dan menyampaikan bahwa Ibunda Permaisuri Indreswari berkenan sowan, Raja hanya mengangkat hidungnya tinggi-tinggi.

“Ingsun sudah tidak butuh menetek lagi. Air susu yang kuisap berbeda. Inilah air susu yang kubutuhkan sekarang ini. Dan aku tengah mengisapnya kuat-kuat.”

Tak ada yang membantah. Tak ada yang menghalangi bayangan langkah kaki Raja. Bahkan Halayudha sendiri ketika mendengar kabar yang mengejutkan ini tak bisa segera memutuskan cara untuk bertindak. Bahwa seorang pemegang kekuasaan tertinggi bisa bertindak gila di luar jangkauan pikiran normal, itu sesuatu yang wajar. Halayudha mengalami masa-masa akhir Sri Baginda Raja, juga semasa Baginda yang boleh dikata gejolak yang berarti. Akan tetapi tetap bisa diterima. Tapi tidak seperti ini.

Dan celakanya bagi Halayudha, sekarang ini kejadian berlangsung saat posisinya sudah sedemikian menguntungkan. Di saat dirinya tinggal selangkah lagi menjadi mahapatih secara resmi. Sebenarnya ia bisa menunggangi peristiwa ini untuk keuntungannya. Namun, kalau benar-benar di luar jalan pikiran normal seperti sekarang ini, alih-alih pangkat dan derajatnya malah bisa berbalik.

Apalagi setelah diketahui bahwa Permaisuri Indreswari sendiri ditolak. Bahkan yang sebelumnya tak terbayangkan, telah terjadi. Raga Praba Karana ditinggalkan di taman, di sungai buatan, dalam keadaan tanpa busana. Tak ada yang berani menolong untuk memberi pakaian. Inilah hebat. Benar-benar jungkir-balik. Kepala menjadi kaki. Dan kaki menjadi tangan. Ini semua bukan karena pengaruh bubuk pagebluk atau apa. Sebelumnya sangat biasa sekali, lalu tiba-tiba saja berubah. Tudingan dan perintahnya makin keras.

Kini bahkan seluruh isi perabot Keraton dipindahkan. Kursi kebesaran diperintahkan untuk dipindahkan. Senjata-senjata yang mendapat tempat utama di kamar senthong, kamar tersendiri yang tak pernah disentuh orang lain, dibuka lebar-lebar pintunya. Hanya Mahamata Puspamurti yang tidak terpengaruh. Ia duduk di bawah pohon beringin, wajahnya menyimpulkan senyuman. Kipas kayu yang berukuran besar digerak-gerakkan, sehingga angin keras seakan menggerakkan pohon beringin hingga ke dahan-dahannya. Tokoh yang aneh dengan dandanan yang juga aneh ini seakan malah menikmati keributan yang tengah terjadi.

“Ya, memang begitu. Ladlahom, ladlahom, ada benarnya. Tak perlu ragu.”

Mendadak Raja yang tengah berada di dalam berlari ke luar, menuju ke arah Puspamurti. “Aku perintahkan tebang pohon ini, cabut semua akarnya!”

Puspamurti makin menyunggingkan senyuman. “Itu bagus. Apa lagi? Langit kamu turunkan? Tanah dan lantai Keraton dikeduk sehingga menjadi sungai? Atau semua prajurit kamu perintahkan memakan tanah? Boleh, boleh, aku senang. Ada teman. Mudah-mudahan kamu tak mengecewakan di belakang hari.”

Raja memandang kiri-kanan. “Tebang sekarang! Aku tak mau mendengar. Aku hanya mau memerintah.”

Para prajurit yang diperintah bergerak maju. Akan tetapi gerakan kipas Puspamurti membuat mereka tertahan. Angin deras menghalangi gerak maju mereka.

“Nenek tua…”

“Kenapa kamu bicara padaku? Ladlahom itu namanya. Seharusnya tidak.”

“Seharusnya kamu juga tidak bicara padaku.”

“Aku tidak bicara padamu. Tidak kepada beringin. Aku berbicara pada diriku sendiri. Mungkin juga tidak kepada diriku sendiri. Aku berbicara kepada mulutku. Mulutku adalah mulut manusia. Telingaku adalah telinga manusia. Semua sudah kumiliki sendiri. Seperti kamu. Ladlahom. Setelah Kebo Berune yang sia-sia, yang mengingkari sebagai mahamanusia, masih ada yang tersisa….”

“Kamu keliru….”

“Tak ada kekeliruan bagi mahamanusia.” Puspamurti menjawab sama cepatnya dengan nada suara Raja. “Meskipun aku bisa berkata bahwa kamu masih terlalu hijau untuk menyadari. Kamu seperti anak kecil yang mengunyah cabe rawit, melonjak-lonjak karena kepedasan. Tanpa menyadari….”

“Aku tidak butuh komentarmu.”

“Aku juga. Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Raja? Kamu kecewa apa sehingga melakukan ini semua? Untuk memperlihatkan kekuasaanmu? Untuk menghapus kekecewaanmu dari wanita yang kini kamu tinggalkan menggigil kedinginan? Aku tidak butuh jawabanmu. Tak perlu diterangkan, karena segalanya cukup terang. Sudah tertulis dengan jelas. Pada manusia terpilih, ia akan menjadi mahamanusia. Aku yang terpilih. Belakangan aku tahu ada Kebo Berune yang menguasai mati atas hidup, akan tetapi ternyata ia mengingkari. Sekarang ini kamu. Sejak kapan kamu mempelajari Kidungan Pamungkas?”

Raja mengerutkan kening.

“Sudah kusadari bahwa kamu anak-anak yang tak tahu pedasnya cabe rawit. Yang begini saja masih bingung. Ladlahom! Apa betul di seluruh jagat ini tak ada yang tahu ilmu pembebasan manusia yang begitu utuh? Apa betul cuma aku seorang yang bakal menjadi ahli waris satu-satunya yang terakhir?”

Suaranya yang mengandung pertanyaan sekaligus juga mengandung rintihan terbawa oleh angin yang berasal dari gerakan kipasnya. Para prajurit bersiap mengepung. Bahkan Halayudha turun tangan sendiri. Memimpin didepan.

“Harusnya tidak mungkin. Kalau seluruh jagat ini banyak manusia, mana mungkin hanya satu mahamanusia? Itu bertentangan dengan isi kitab. Tapi kalau yang ada anak kecil yang merasakan ujung cabe, apa ia bisa dimasukkan sebagai penganut ajaran ini? Hei, kalian semua, menyingkirlah! Aku masih ingin merasakan segarnya angin yang menggoyang daun.”

Puspamurti menggerakkan kipasnya. Perlahan, akan tetapi tenaga yang keluar jauh lebih keras dari semula. Empat prajurit tersentak mundur seketika. Bahkan Raja ikut terdorong.

“Tebas!”

Perintah Raja tak perlu diulang. Serentak dengan itu sepuluh prajurit menyerbu tanpa memedulikan bahaya. Halayudha yang berjalan terpincang, segera maju. Kedua tangannya membentuk silangan, sementara kedua kakinya menggeser maju. Dengan satu tarikan tangan kanan ke dalam, tangan kirinya menjotos ke luar.

Puspamurti hanya mengeluarkan suara dingin di hidung. “Main-main apa sungguh-sungguh?”

Pengejaran Mahamanusia
TENANG sekali Puspamurti menggerakkan kipasnya. Terulur ke depan dan seketika itu tenaga dalamnya membentur tenaga dalam Halayudha, yang segera mengubah dengan tenaga air. Menyedot keras, membetot dari dasar.

Halayudha bukan sembarang senopati. Ilmu yang diwarisi adalah ilmu-ilmu kelas satu. Apalagi sekarang ini sedang dilihat Raja, semangatnya makin menjadi-jadi. Sehingga Puspamurti tak bisa melayani duduk dengan tenang. Tubuhnya bergerak ke atas, membebaskan diri dari sedotan tenaga dalam Halayudha. Yang secara berturut-turut mencecar dari segala penjuru. Puspamurti mengeluarkan suara ladlahom pendek sebelum akhirnya memusatkan diri menghadapi gerakan-gerakan yang serba tak terduga.

Saat itu Halayudha sengaja memamerkan kelebihannya. Segala jenis jurus yang pernah diketahui, pernah dipelajari, dikeluarkan. Baik jurus-jurus pendek dari Jepun ataupun dari tanah Tartar, disambung dan dirangkai dengan ajaran dari Kitab Bumi maupun Kitab Air. Menakjubkan. Dalam sekejap tubuh Halayudha bisa gagah, tegak lurus kaku, di lain pihak bisa berubah seperti gerakan penari, lalu berubah lagi seperti air yang mengalir.

Padahal selama ini Puspamurti seperti tak pernah mengubah gerakannya. Kenyataannya memang begitu! Sejak semula Puspamurti memainkan satu jurus saja. Jurus yang dinamai Puspita Gatra, sesuatu yang berbunga di bagian ujung. Kipas gedenya bergerak, menekuk ke depan seperti menjadi berat tiba-tiba. Akan tetapi justru dengan gerakan yang selalu sama, gebrakan Halayudha menjadi pudar.

Satu-satunya yang memberi kesan bahwa Halayudha lebih unggul hanyalah bahwa dengan demikian Halayudha mampu mendesak Puspamurti meninggalkan pohon beringin. Bisa dituntun, bisa diarahkan ke tempat lain. Hingga ke gerbang luar.

Namun, sebenarnya yang merasa mati kutu ialah Halayudha. Sepuluh-dua puluh jurus ia berhasil mendesak, merangsek, dan membuat Puspamurti berloncatan, tetap saja tak bisa menundukkan. Setiap kali, pada saat yang sudah terjepit, masih sempat menghindar. Sambaran angin yang makin mendekat ke arah tubuh Puspamurti, tetap tak bisa menyentuh.

Tubuh Halayudha sudah sepenuhnya mandi keringat. Demikian juga terasakan bahwa perlahan napas Puspamurti telah memberat. Akan tetapi, seperti terulang kembali, pukulan Halayudha tak pernah bisa menyentuh. Halayudha mengganti dengan serangan berat. Bahkan dengan berani dijajalnya tenaga dalam penuh saat memainkan Banjir Bandang Segara Asat karena jengkel dan putus asa.

Akan tetapi justru ketika pengerahan tenaga sedang dilakukan, ujung kipas kayu lagi-lagi menekuk di depannya. Yang tak bisa tidak harus dienyahkan atau dihindari. Beberapa kali Halayudha mencoba memancing membarengi menyerang dengan risiko terkena kipas tapi juga bisa menerjang. Akan tetapi setiap kali hampir dilakukan, setiap kali seperti disadarkan bahwa kipas lawan jauh lebih dekat ke bagian tubuhnya yang berbahaya.

Sepuluh jurus kemudian Halayudha mengempos semangatnya. Hasilnya tetap sama. Tak bisa melukai atau meringkus! Bahwa dengan demikian Puspamurti makin sempoyongan, ternyata juga tidak membuatnya lebih gampang menekuk lawan. Halayudha bukan tokoh kepala batu yang dungu. Mengetahui bahwa dengan jurus tunggal Puspamurti tetap bisa menghindar, rasa ingin tahu dan berguru yang muncul mendesak.

“Hebat, hebat… Ini baru permainan silat yang luar biasa.” Puspamurti menghentikan gerakannya. Nyata sekali bahwa semua tenaga juga ikut terkuras.

“Saya perlu belajar dari Mahamata….”

“Kamu licik, maha licik. Cocok untuk ilmu ini. Tapi aku tak suka padamu.” Puspamurti membalik.

Halayudha terkesima. Tak nyana tak mimpi bahwa dirinya akan ditinggalkan begitu saja. Baru saja mereka berdua mengadu jiwa dalam pertarungan ketat, lalu tiba-tiba saja membalikkan tubuh.

“Suka atau tidak suka, apa bedanya bagi mahamanusia?”

“Ada. Aku mau pergi. Kejar aku kalau mau.”

Ini benar-benar kurang ajar. Tapi Halayudha sadar bahwa kalaupun ia kembali menyerang, akhirnya akan berulang sama. Ia bisa mendesak habis, akan tetapi tetap saja tak bisa mengalahkan.

“Apa hubungannya dengan Kitab Paminggir atau Pamungkas?”

Puspamurti membalik. Meludah. Lalu dengan gayanya yang genit berjalan meninggalkan. Goyangan tubuhnya masih tersisa meninggalkan bau harum. Halayudha masih berdiri tegak. Di kepalanya mendadak berkelebat beberapa rencana. Puspamurti tak memedulikan. Ia terus berjalan sampai di luar Keraton, lalu menuju ke arah pedusunan. Baru kemudian sekali berhenti, memainkan jurus-jurus kipasnya. Lalu menghela napas berat.

“Apa betul hanya aku titisan mahamanusia itu?”

Kembali dijajalnya jurus yang sama. Kipasnya dimainkan tangan kanan dan tangan kiri, diganti dengan kaki, dengan gigitan, lalu menghela napas kembali.

“Apa betul hanya aku?”

Anehnya, suara itu tergema kembali, dalam nada dan irama yang sama, hanya bunyinya berbeda.

“Apa betul di seluruh jagat ini semua tahu bahwa ada ilmu pembebasan manusia secara utuh? Apa betul semua sudah mewarisi secara sempurna?”

Puspamurti memandang ke arah datangnya suara. Ke arah pohon beringin liar, di mana di bawahnya ada bayangan tubuh tengah duduk bersila. “Ladlahom! Pasti kamu yang mengaku juru ramal Truwilun itu!”

Puspamurti berjalan sambil menyeret kipasnya menuju ke arah Truwilun yang duduk di tanah sambil mengumpulkan dedaunan. Daun-daun yang disusun berbaris-baris, sehingga seolah memberikan kesan gambar seberkas sinar.

“Ini bagus. Kamu menangkap. Juru ramal yang baik, tunjukkan…”

Sebelum kalimat Puspamurti selesai, daun-daun yang berbaris berubah menjadi gambar yang lain. Semacam gambar belalai gajah yang melengkung, mengisap lingkaran.

“Ini baru ladlahom. Aku sudah tahu kamu pasti salah satu manusia yang aneh. Ternyata sangat aneh. Truwilun, apa yang kamu bikin?”

Susunan daun di depan Truwilun berubah bentuknya. Tak lagi menyerupai belalai, melainkan bentuk kapas yang bersusun. Puspamurti berjongkok. Kipasnya bergerak. Susunan kapas berubah kembali menjadi belalai, mengisap lingkaran, yang oleh Puspamurti dibuat sedemikian rupa sehingga menggambarkan tengkorak. Truwilun menggeleng. Daun-daun kering itu berubah menjadi bentuk mahkota. Puspamurti menggeleng.

“Kamu tak mengerti, Truwilun. Tak ada mahkota.”

Puspamurti menggerakkan kipasnya. Angin menderu keras. Daun-daun kering di sekitarnya berpencaran ke segala penjuru bagai tersapu angin puyuh. Akan tetapi gambar daun yang dibuat Truwilun tetap tak berubah.

“Ladlahom! Kamu keliru. Mahamanusia itu bisa belalai yang mengisap ilmu apa saja, di mana saja, sampai habis.”

Truwilun mengangguk.

“Jadi tak ada batas mahkota.”

Truwilun menggeleng.

“Mari kita mulai dari awal….”

Truwilun mengangguk. Kini daun-daun kering berpencaran lagi. Oleh gerakan tangan dan kipas Puspamurti yang dikebut sehingga membentuk gambar belalai dan sinar, diubah kembali menjadi rentetan kapas, lalu tengkorak, lalu susunan seperti bintang, lalu berubah seperti belalai lagi. Setiap kali Truwilun mengubah, Puspamurti mengubahnya kembali, dan keduanya saling mengangguk. Bahkan saking gembiranya, beberapa kali Puspamurti memeluk tubuh Truwilun, mengusap dagu, dan mencium pipi.

Truwilun duduk bergeming. Hanya saja, ketika Truwilun membentuk gambar mahkota, perubahan tak ada lagi. Puspamurti sangat kesal sehingga memukulkan kipas kayunya dengan keras. Amblas ke tanah, menghancurkan dedaunan. Yang tetap membentuk simbol mahkota.

Riwayat Kitab-Kitab
PUSPAMURTI terbatuk keras. Ia berlutut, dan akhirnya berbaring di tanah. Mencium telapak kaki Truwilun yang mendadak ditarik.

“Apa selama ini aku salah?”

Truwilun menggeleng. Lalu menyusun kembali daun-daun yang kering. Malam telah turun. Kegelapan menyelimuti. Puspamurti masih terbaring. Hanya kali ini memandang ke arah langit yang kosong.

“Apakah mahamanusia itu terbatas?”

“Agaknya begitu.”

Akhirnya terdengar suara yang nadanya setengah ragu. “Selalu ada mahkota?”

Truwilun mengangguk samar.

“Sejak itu kamu menjadi peramal?”

Jawabannya adalah helaan napas. Ringan. Segar. “Puspamurti, kamu dan aku sama. Seumur hidupmu kamu habiskan bersembunyi di dalam Keraton, demikian juga aku. Seumur hidupku kuhabiskan di tengah hutan yang dinamai Perguruan Awan.”

“Aku sudah tahu tanpa kamu bilang…”

Suara Puspamurti terdengar dipenuhi rasa menunjukkan kehebatan. Sesuatu yang tidak biasanya. Karena selama ini seperti tak memedulikan apa saja.

“Kamu ini Eyang Sepuh?”

“Bukan.”

“Bagaimana kamu tahu ada mahkota? Bagaimana kamu tahu bahwa itu yang dimaksudkan adalah mahkota?”

Tak ada jawaban.

“Kamu Baginda Raja Sri Kertanegara?”

“Bukan. Aku Truwilun.”

Puspamurti terbatuk. Lalu duduk. “Tak bisa tidak. Kalau kamu bukan Eyang Sepuh, pasti kamu Sri Baginda Raja Kertanegara. Kalau tidak, bagaimana kamu bisa menemukan itu? Dengar baik-baik. Namaku Puspamurti. Aku pernah melihat yang namanya Eyang Sepuh. Juga pernah melihat Sri Baginda Raja. Aku mempelajari semuanya. Sejak masih digodok. Sejak ajaran Kitab Bumi belum dijadikan ajaran resmi. Aku telah mempelajari dengan baik. Aku hafal bagaimana bentuk penulisannya. Sampai dengan Kitab Paminggir, yang bagiku merupakan kitab dari segala kitab pembebasan yang pernah ada. Dengar baik-baik, Truwilun. Aku tahu Kitab Air. Aku tak tertarik. Tapi kitab mengenai mahamanusia aku tahu. Hanya ketika Sri Baginda Raja murka, aku menyembunyikan diri terus-menerus dan tetap mempelajari. Karena aku takut dimurkai Sri Baginda Raja, tetapi aku percaya kebenaran kitab itu.”

“Kalau begitu kenapa mencari Kidung Pamungkas?”

“Karena sama. Bukankah begitu?”

Truwilun tak menjawab. Hanya berdeham kecil.

“Truwilun, aku tak akan bilang ladlahom lagi. Aku akan menyegarkan ingatanmu kalau kamu ini Eyang Sepuh atau Sri Baginda Raja. Aku senopati yang paling lihai. Paling bisa memahami segala ilmu pada usia yang sangat muda. Mpu Raganata tahu siapa diriku. Aku tahu gagasan besar Sri Baginda Raja untuk menjadikan tanah Jawa sebagai tanah ksatria, dan hanya ada ksatria saja. Itu sebabnya diadakan penyatuan ajaran kanuragan. Yang dipilih adalah Kitab Bumi yang disodorkan Eyang Sepuh. Meskipun sebenarnya bagian depan disusun oleh ksatria yang lain. Akan tetapi tetap merupakan maha-karya Eyang Sepuh karena mampu menyusun bagian yang disebut Kitab Penolak Bumi. Kamu ingat? Aku bahkan sudah mempelajari. Bahkan bisa memainkan. Tapi semua itu tak ada artinya dibandingkan Kitab Paminggir, yang diciptakan Eyang Sepuh. Kalau kamu Eyang Sepuh, kamu tahu itu. Kalau kamu Sri Baginda Raja, kamu pasti ingat bahwa kamu tidak suka kitab itu. Kamu ingat? Kamu menyuruh menghancurkan. Tapi diam-diam kamu menyusun sendiri dan kamu namai dengan sebutan hebat, Kidungan Para Raja. Seolah membalikkan seluruh kebenaran yang ada dalam Kitab Paminggir. Kamu ingat?”

“Puspamurti, ada yang berbeda, ada yang sama. Memang pada awalnya yang dijadikan babon ilmu kanuragan resmi adalah Kitab Bumi. Kitab itu disusun oleh Paman Sepuh dan disempurnakan oleh Eyang Sepuh, terutama delapan jurus yang terakhir.”

“Nah, kamu ingat. Jadi kamu siapa? Eyang Sepuh atau Sri Baginda Raja?”

“Bukan semuanya.”

“Tidak mungkin.”

“Saat itu Eyang Sepuh menciptakan kitab terakhir yang disebut Kitab Paminggir, atau karena isinya memang dalam bentuk kidungan, disebut Kidung Paminggir. Akan tetapi Sri Baginda Raja tidak berkenan, karena ajaran kidungan itu menjungkirbalikkan ketenteraman. Keraton bisa kacau-balau. Karena dalam ajaran itu tersirat bahwa setiap manusia bisa menjadi raja. Yang disusun Mpu Raganata sebagai perpaduan antara yang ditulis Baginda dan Eyang Sepuh. Itu sebabnya lahir Kitab Pamungkas. Kitab yang terakhir. Secara napas dan roh, Kitab Paminggir dan Kitab Para Raja, serta Kitab Pamungkas isinya sepenuhnya sama. Mengangkat derajat manusia. Bedanya pada tembangan Kidungan Para Raja, puncak kekuasaan manusia tak bisa sampai ke takhta, karena tidak semua manusia bisa menjadi raja. Yang bisa menjadi raja hanyalah raja karena pilihan Dewa.”

Puspamurti terbatuk keras. Tubuhnya bergoyang. “Baru sekarang aku tahu ada yang bisa mengatakan seperti itu. Karena tadinya hanya aku sendiri yang mengetahui bahwa Kitab Paminggir dan Kidungan Para Raja intinya sama persis, meskipun semua kata dan susunan berbeda. Persis sama, kecuali tentang mahkota.”

“Karena Sri Baginda Raja tidak menghendaki semua manusia bisa menjadi raja.”

“Jadi kamu Sri Baginda Raja?”

“Aku Truwilun.”

“Bagaimana mungkin seseorang seperti kamu bisa mendapat pencerahan untuk bisa menerangkan dengan gamblang, yang bahkan Sri Baginda Raja sendiri tak bisa? Yang bahkan Eyang Sepuh sendiri tak terang-terangan mengatakan begitu? Bukankah Eyang Sepuh menghilang musna karena lebih percaya bahwa Kitab Paminggir yang lebih hebat dan benar?”

“Eyang Sepuh moksa karena mengikuti pencerahan batin dari ilmu yang dipelajari. Akan tetapi Eyang Sepuh rasa-rasanya tak keberatan dengan Kitab Pamungkas, seperti yang dirumuskan Mpu Raganata.”

“Jadi kamu Eyang Sepuh? Atau malah Mpu Raganata?”

“Bukan. Aku Truwilun.”

“Aku pasti kini. Kamu pasti Eyang Sepuh, yang malu-malu menampakkan diri. Lalu menjadi Truwilun. Pasti begitu. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu mendapat pencerahan seperti ini? Eyang Sepuh sudah sampai di tingkat moksa. Tak perlu merepotkan seperti kita ini.”

“Tapi kamu ini searif Eyang Sepuh….”

Truwilun menghela napas. “Aku masih memerlukan pujian….” Suaranya mengandung penyesalan.

“Truwilun, kamu adalah Eyang Sepuh. Baik, aku mengakui itu. Mengakui kata-katamu. Aku akan tunduk dan menyerah sepenuhnya bahwa mahkota, bahwa takhta adalah batas akhir bagi yang tidak ditakdirkan menjadi raja. Sekarang mari tunjukkan di mana salahku.”

Puspamurti duduk bersila. Napasnya mendengus teratur. Truwilun juga melakukan gerakan yang sama. Bersila menutup mata. Kedua tangan saling menyatu. Lalu perlahan tangan kiri Truwilun dan Puspamurti saling melepas. Puspamurti yang menggerakkan tangan kirinya pertama kali, menarik daun-daun kering. Dalam gelap malam tetap tak terlihat, akan tetapi seperti bisa terbaca oleh keduanya, bahwa Puspamurti membuat daun-daun kering membentuk gambar gunung, dengan puncaknya menghadap ke arah Truwilun.

Truwilun menggerakkan tangannya. Gambaran gunung itu membalik. Ujungnya menghadap ke arah Puspamurti. Yang kemudian mengubahnya menjadi gambaran sungai. Truwilun, dengan mata tetap tertutup dan satu tangan menempel di telapak tangan Puspamurti, membalikkan arus ke arah Puspamurti. Dan sekaligus mengubah menjadi bentuk seperti hujan. Puspamurti melakukan gerakan yang sama. Hanya sekarang arah hujan ke Truwilun. Lalu mengubahnya kembali ke bentuk belalai.

Percakapan Diam
TAK ada suara. Tak ada tanda gerakan yang jelas. Hanya kadang tangan yang bergerak sangat lembut. Hanya kalau diperhatikan dengan jeli, gambar susunan daun itu yang setiap kali berubah. Kalau tadinya perubahan itu cepat sekali, sekarang justru sebaliknya Gerakannya sangat lambat. Setiap lembar daun seperti enggan berubah. Seperti ketika membentuk gambar belalai, Truwilun tak melakukan gerakan. Baru kemudian, kembali gambaran ujung belalai itu ditambahi tempurung.

Puspamurti mengangguk-angguk. Lalu membentuk gambaran yang sama dari susunan daun yang sama. Seolah anak kecil yang sangat bodoh dan berhati-hati menyusun, mengikuti yang telah dibuat Truwilun. Setelah itu ganti Truwilun yang mengangguk. Dan Puspamurti melanjutkan dengan bentuk tengkorak. Banyak sekali, berada di bagian bawah.

Truwilun mengangguk kembali. Lalu menirukan apa yang sudah dilakukan Puspamurti. Satu demi satu, daun-daun kering itu diteliti kembali, diletakkan dengan sangat hati-hati, seperti susunan semula. Keduanya seperti terbenam dalam perbincangan yang sangat mengasyikkan, menenggelamkan, dan mengalihkan dari keinginan atau pikiran yang lain. Sedemikian rumasuk, sedemikian masuk dan menyatu, sehingga tak lagi memperhatikan berapa lama sudah mereka menghabiskan waktu dengan cara berdiam diri saling menempelkan sebelah tangan.

Bisa dimengerti kalau Puspamurti tenggelam secara total. Selama ini Puspamurti tak pernah menemukan orang yang bisa diajak bicara, atau terlibat dalam masalah yang digeluti. Ada tokoh yang sempat menggetarkan perhatiannya karena sakti mandraguna. Tokoh muda yang bernama Upasara Wulung. Akan tetapi segera dirasakan bahwa Upasara Wulung lebih mendasarkan. Diri pada ajaran Kitab Bumi. Tak ada yang luar biasa dalam sikapnya, yang membuat Puspamurti merasa satu aliran.

Tokoh kedua yang dijumpai adalah Kebo Berune. Atau titisan kekuatan Kebo Berune. Saat itu Puspamurti merasa menemukan jawaban dari ilmu yang selama ini dipelajari. Bahwa mahamanusia mampu mengatasi kematian. Raga yang mati bisa dilanjutkan dalam raga yang lain. Mahamanusia yang mengatasi kematian!

Meskipun demikian, masih ada keraguan dalam diri Puspamurti. Apakah tingkat tertinggi hanya bisa dicapai dengan cara itu? Kalau ajaran Kitab Bumi bisa mencapai titik moksa yang dianggap luhur, apakah Kitab Pamungkas begitu sengsara dan hina, ditampilkan sebagai mayat hidup? Keraguan itu kemudian menemukan jawaban. Karena kemudian tubuh Kebo Berune pun hancur berkeping, membusuk dengan cepat.

Yang sempat menyelinap ke dalam pikirannya adalah Raja Jayanegara. Raja yang menjungkirbalikkan tata krama dan tata pemerintahan. Puspamurti merasa menemukan bagian yang hilang dari yang selama ini dipelajari. Bentuk perwujudan dari kemahamanusiaan. Tapi serta-merta kekecewaan menyertai. Karena Raja melakukan seperti tidak menyadari apa yang terjadi. Sedemikian sepinya hati Puspamurti sehingga ia merasa bahwa ia satu-satunya yang mengenal dan mempelajari ajaran mahamanusia. Sampai kemudian secara tidak sengaja bertemu dengan Truwilun. Tidak sengaja?

Rasanya tidak mungkin. Pertemuannya dengan Truwilun bukan karena tidak sengaja. Memang akan bertemu, karena ada panggilan yang sama. Ada getaran yang sama di antara sesama mahamanusia. Lebih mencengangkan lagi, Truwilun memberi jawaban bahwa ajaran dalam Kitab Paminggir telah diubah dengan batasan tertentu yang ada dalam Kitab Pamungkas!

Ini yang sedang dibuktikan. Siapa yang lebih unggul. Itulah yang sedang terjadi! Puspamurti melakukan dari awal, sesuai dengan yang dipelajari dari Kitab Pamungkas. Ketika ia membentuk gambaran belalai, ia menggambarkan keinginan menimba segala ilmu, segala kanuragan yang ada dalam raya ini. Belalai melambangkan penyedotan ilmu yang tiada habis. Dalam hal ini Truwilun setuju. Satu ajaran.

Dasar-dasar untuk mempelajari, untuk terjun kepada semua ilmu juga dikenal dalam Kitab Paminggir. Demikian juga tengkorak yang merupakan simbol musuh-musuh yang harus dibasmi. Dalam Kitab Pamungkas diajarkan jelas bahwa mahamanusia mempunyai kewajiban menyingkirkan kejahatan, musuh, tanpa mempertimbangkan hubungan pribadi. Kemenangan itu dibuktikan dengan membinasakan musuh sampai tinggal tengkorak.

Hanya ketika Truwilun membuat gambaran mahkota susun tujuh Puspamurti tak bisa mengikuti. Tak bisa mengikuti dalam arti seperti yang dibuat Truwilun. Gambar mahkota susun tujuh itu tidak memuncak di bagian atas. Beberapa kali Puspamurti berusaha mengubah, menambah di bagian ujung, akan tetapi tangannya tak kuasa. Semakin dipaksa, semakin terasa tangannya tak bisa menggerakkan daun. Sehingga akhirnya mengulang dari awal. Membuat gambaran belalai tempurung, tengkorak, hujan, gunung, sungai, pintu, yang bisa saling diikuti.

JILID 27BUKU PERTAMAJILID 29