Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 29

Akan tetapi begitu masuk membentuk gambaran mahkota menjadi macet kembali. Sesungguhnya inilah inti perbedaan. Perbedaan mendasar antara Kitab Paminggir dan Kitab Pamungkas!

Dalam ajaran Kitab Paminggir, mahamanusia itu tak mengenal batas. Bisa mencapai apa saja, tingkat yang mana pun. Termasuk mengenakan mahkota susun tujuh! Sedangkan dalam Kitab Pamungkas, mahamanusia itu mengenal batas. Tidak sampai mahkota susun tujuh. Hanya bentuk mahkota. Gambaran yang sama di bagian awal, tengah, sampai penutup. Tapi juga sekaligus berbeda di bagian akhir.

Ini yang kini dirasakan sepenuhnya oleh Puspamurti. Dirinya begitu yakin akan sifat mahamanusia yang tak mengenal batas. Yang bisa mengenakan tujuh mahkota bersusun. Sejak mengenal ajaran itu, Puspamurti sangat kagum dan luluh di dalamnya. Sekarang ini Truwilun menunjukkan sisi lain. Apakah betul selama ini yang dipelajari ilmu yang salah?

Kalau mendengar penjelasan Truwilun sejak awal, kitab-kitab itu sebetulnya berawal dari Eyang Sepuh setelah menyelesaikan maha karya Kitab Penolak Bumi. Hanya ketika masih bernama Kitab Paminggir, Sri Baginda Raja yang tadinya merestui berbalik mengecam habis.

Manusia dilahirkan untuk menjadi mahamanusia. Untuk menjadi apa saja. Hanya batasnya ialah menjadi raja. Karena raja adalah sesuatu yang tak bisa diduduki manusia biasa. Itu sebabnya Truwilun tidak menggambarkan mahkota susun tujuh. Masalah yang mendasar bagi Puspamurti ialah bahwa ia tak mampu membentuk.

Dalam hal ini baik Puspamurti maupun Truwilun seperti menyadari bahwa ini bukan pengaruh tenaga dalam semata-mata. Siapa yang lebih kuat tenaga dalamnya lebih bisa membentuk gambaran dari daun kering. Dalam hal ini keduanya menyadari bahwa bukan Puspamurti dan Truwilun yang menghendaki secara sendiri-sendiri. Melainkan kehendak mereka berdua.

Kedua tangan yang saling menempel tidak saling bertarung. Tidak saling menggempur tenaga dalam. Tidak menahan dan tidak menyerbu. Kedua telapak itu merupakan persatuan dua kekuatan yang lebur menjadi satu. Kehendak Puspamurti juga kehendak Truwilun. Saat Puspamurti menggerakkan sesuatu, seluruh tenaga berpusat padanya. Demikian juga sebaliknya.

Itu pula sebabnya dengan tidak saling melihat, keduanya bisa saling menirukan gerakan yang lain. Perpaduan yang aneh. Tapi bukan yang luar biasa bagi Puspamurti maupun Truwilun. Karena keduanya melatih sesuatu yang sama, yang dari cara pengaturan napas dan tenaga dalam, bisa dikatakan sama persis. Itu sebabnya begitu cepat keduanya bisa menyatu. Dan tenggelam, luluh, masuk, serta menyatu tanpa memedulikan waktu.

Matahari telah naik, dan kemudian turun kembali. Malam telah kembali ke ujung semula, tapi keduanya tetap bergeming sedikit pun dari posisi semula.

Perjalanan Matahari
ENTAH beberapa lama keduanya terus mengulang lagi dari awal. Entah berapa malam sudah dihabiskan tanpa beristirahat sedikit pun. Puspamurti seperti tak mau menyerah. Beberapa kali diulangi dari awal, dan selalu mentok setiap kali sampai ke gambaran mahkota susun tujuh.

Adakalanya keduanya melakukan gerakan yang sangat cepat sekali, perubahan yang mendadak. Adakalanya sangat perlahan sekali sehingga seluruh malam dihabiskan hanya untuk membentuk satu gambaran saja. Kemudian Puspamurti mengubah. Ia menggerakkan selembar daun kering. Menunggu. Truwilun juga menunggu, pada awalnya.

Kemudian menggerakkan satu lembar daun, merangkai apa yang telah tersusun. Melanjutkan apa yang telah dilakukan Puspamurti. Begitu seterusnya. Kembali keduanya membuat gerakan sangat cepat. Akan tetapi kembali terhenti sampai pada gambaran mahkota susun tujuh. Macet kembali.

Saat itulah secara bersamaan Puspamurti dan Truwilun melepaskan kedua tangan yang saling menempel. Kini di wajah keduanya tampak penyerahan, bahwa itulah yang mereka alami, kalaupun diulang kembali. Puspamurti lega karena kini sepenuhnya bisa menerima apa yang semula dikatakan Truwilun. Karena sewaktu membentuk gambaran secara bergantian, tak ada lagi perbedaan antara dirinya dan Truwilun.

Itu sebabnya Puspamurti menghentikan usahanya. Melepaskan tangannya dan membuka matanya. Apa yang dilihatnya membuatnya mendengus dan tertawa keras. Truwilun yang dilihatnya sekarang ini adalah seperti seonggok tumpukan daging. Bulat gemuk dengan kepala pelontos. Tak selembar pun rambut di kepala atau di pipi. Yang tetap hanyalah sorot matanya.

“Oo-o, kamu ini rupanya orang yang gendut, jelek, bagai batu tua.”

“Eyang juga begitu….”

“Eyang?” Puspamurti melonjak kaget. Mendadak tangannya mengelus ke pipi, ke hidung, mengusap bibir. Terasa banyak lekuk liku. Ketika melihat tangannya, seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Tangannya penuh dengan keriput! Begitu juga kakinya. Tangannya mencabut rambutnya yang putih! Sesungguhnya tak perlu. Tanpa mencabut pun bisa diketahui bahwa rambutnya telah putih seluruhnya. Karena gelungan di rambutnya yang memudar bisa dilihat jelas.

“Oo-o, rupanya aku ini sudah kakek-kakek….”

“Maafkan saya, Eyang….”

“O-oo, sungguh ajaib. Saya kembali menjadi tua. Tua bangka seperti kakek-kakek. Baguslah itu. Matahari selalu berjalan. Waktu selalu berjalan. Kita berada dalam gua, berada dalam Keraton, atau berada di langit, tak mengubah perjalanan itu. Bukan begitu, Truwilun?”

“Maaf, Eyang, saya bernama Jaghana….”

Puspamurti yang sudah berubah menjadi kakek-kakek tampak tak terlalu heran. “Saya ini tetap Puspamurti. O-oo, nama yang kurang pantas. Nama genit, nama yang dimuda-mudakan. Tapi dulu saya tak bisa menertawai seperti sekarang ini. Jaghana, banyak terima kasih atas pencerahanmu…”

“Saya yang mendapat kehormatan dari Eyang.”

Puspamurti merangkul Jaghana. Lalu berubah menjadi menepuk-nepuk pundak Jaghana. Seperti baru saja menyadari bahwa dirinya yang jauh lebih tua. “Jadi kamu benar-benar Jaghana?”

Jaghana mengangguk dalam.

“Rasanya tidak mungkin. Seharusnya kamu ini yang disebut Eyang Sepuh atau Baginda Raja Sri Kertanegara yang mulia. O-oo, setelah kita mengikuti perjalanan matahari, rasanya memang tak bisa bersembunyi lagi. Selamat, Jaghana. Dewa di langit ketujuh menerima baktimu. Menerima diriku. O-oo, siapa kira ada yang setara dengan Eyang Sepuh atau Baginda Raja?”

“Saya….”

“Kita berdua ini sudah sama-sama. O-oo, tak perlu beringsut. Tapi katakan pada saya, Jaghana… apa hubunganmu dengan Baginda Raja?”

“Saya hanyalah rakyat Singasari.”

“Ada hubungannya dengan Eyang Sepuh?”

“Saya salah seorang cantriknya yang tidak berbakat…”

Puspamurti mengangguk-angguk. “O-oo, sungguh hebat kelewat-lewat. Jagat Dewa Batara. Yang namanya Eyang Sepuh betul-betul diterima semua Dewa. Muridnya begini hebat. O-oo, o-oo…”

Sunyi sebentar. Udara segar terserap dari bumi. Puspamurti mengelus pakaiannya yang warna-warni yang kini tampak sangat tidak sesuai, juga ukurannya. "Jaghana, bagaimana kamu bisa mendapatkan pencerahan mengenai Kitab Paminggir dan Kitab Pamungkas?”

“Semata-mata petunjuk Dewa. Eyang lebih mengetahui mengenai hal ini.”

“O-oo, saya tak cukup tahu… Entahlah, Eyang Sepuh itu juga tak akan mengetahui ini. Tak akan percaya. Bukankah kalau percaya ia tak akan pergi meninggalkan keramaian ini? Bukankah begitu?”

Jaghana menunduk. Seluruh tubuhnya membuat gerakan menghormat yang tulus.

“O-oo, jangan rikuh, jangan sungkan, jangan merendah. Kita sama-sama, Jaghana. Memang saya mengenal langsung siapa Eyang Sepuh yang kesohor itu. Ia memang sudah hebat ketika saya masih menjadi putra Keraton. Sebagai senopati, saya mengenalnya. Saya lebih mengenal lagi dari cerita-cerita Mpu Raganata. Juga perselisihannya dengan Sri Baginda Raja. Bukan, bukan perselisihan. Mana ada di bawah langit ini yang berani berselisih dengan Sri Baginda Raja? Biarpun Eyang Sepuh itu sangat kurang ajar, ooo, dialah lelaki yang paling lelaki, yang paling kurang ajar, sombong dari ujung rambut hingga ke ujung bayangan tubuhnya, tapi ia memang hebat, ia sembada, pantas untuk itu. Seluruh jagat guncang oleh wibawanya. Bila ia muncul, awan pun menyisih. Kamu tak mengenal dirinya saat itu. Karena mungkin sekali kamu hanya mengenalnya sejak di Perguruan Awan.”

“Betul, Eyang….”

“Ia bukan lelaki yang tampan. Ia bukan lelaki yang menjalankan tata krama. Ia mengetahui itu, menyadari, dan bangga karena sikapnya. Tapi, lagi-lagi saya akan memujinya. Ia hebat. Sangat hebat, o-oo. Semua lelaki di jagat ini iri padanya. Termasuk Sri Baginda Raja. Ia pantas membuat orang iri. Pikirannya cemerlang. Gagasannya menciptakan jiwa ksatria secara menyeluruh bagi semua lelaki, membuahkan apa yang disebut Kitab Bumi. Apa nun juga kecaman bahwa ia hanya menuliskan apa yang diciptakan Paman Sepuh, sama sekali tak mengurangi keunggulannya. Karena bagian akhir, yang sangat cemerlang, diciptakannya. Jaghana, kamu boleh bangga menjadi muridnya…”

“Sesungguhnyalah…”

“Di seluruh jagat, di seluruh wilayah Keraton Singasari yang terdiri atas ratusan tokoh sakti dan mahasakti, karya ciptaannyalah yang terpilih. Dan memang paling unggul. Di saat berada di puncak kejayaan karena ilmu silatnya diakui, di saat ia bisa menikmati keunggulan yang tanpa tanding, di saat Baginda Raja memujinya, ia justru menciptakan Kitab Paminggir. Kembali jagat terguncang. Angin seperti berganti arah. Arus sungai seperti membalik. Gunung menjadi rata. Namanya kembali menjadi pocapan semua orang. Semua ksatria, semua tokoh sakti, semua pendeta, semua ksatria. Sedemikian gemilangnya karya ciptaannya, sehingga Sri Baginda Raja murka. Mengutuk. Walau diam-diam mengakui, dan mengubahnya. O-oo. O-oo. Betapa hebatnya, kemudian terbukti bahwa muridnya yang gundul seperti batu, menemukan persamaan dari apa yang diciptakan Eyang Sepuh dan apa yang diciptakan Sri Baginda Raja. O-oo. Segala apa serba menjila, serba luar biasa, jika menyebut Eyang Sepuh!”

Perguruan Tanpa Guru
EYANG PUSPAMURTI menggeleng, lalu disusul anggukan. “Ketika Eyang Sepuh kecewa akan keputusan Sri Baginda Raja, ia mengundurkan diri. Barangkali sebutan ini tidak sepenuhnya tepat. Ia tak pernah masuk menjadi prajurit, tidak juga menjadi abdi. Tak pernah. Ia memiliki keleluasaan untuk masuk dan keluar dari Keraton, lebih dari Mpu Raganata sendiri. Ia kemudian mendirikan Perguruan Awan. Jelas sekali masih tersisa dendam lama, atau pembangkangan. Bahwa semua anak didik Perguruan Awan tak diperkenankan menduduki jabatan apa pun. Kemudian malah dijadikan sikap perguruan yang tidak menganggap tata krama. Perguruan tanpa guru, tanpa murid, tanpa cara pengajaran yang lazim. Siapa sangka justru dengan caranya yang selalu kelihatan ngawur itu, ia justru melahirkan bibit yang sangat cemerlang seperti dirimu, seperti Upasara Wulung…”

“Eyang Puspamurti, saya cantrik yang paling tidak berbakat dan berdosa…”

“O-oo. Kenapa kamu berpikir begitu?”

Jaghana menghela napas. “Salah satu ajaran dalam Perguruan Awan ialah tidak mempunyai pamrih. Tidak mengharapkan balas jasa, tidak sesongaran, tidak mengunggulkan diri…”

“Lalu apa salahmu?”

“Saya telah berani menjajal… Sewaktu merenungi tanpa ujung tanpa pangkal, saya merasa ada baiknya berjalan-jalan di luar perguruan. Dan itu yang saya lakukan, Eyang.”

“Menjadi dukun ramal?”

“Melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan.”

“Dan karena kamu takut mengotori nama dan ajaran Perguruan Awan, kamu menumbuhkan rambut dan menyebut dirimu Truwilun?”

“Saya memang picik.”

Eyang Puspamurti menepuk pundak Jaghana sekali lagi. “Kamu bisa melihat sesuatu yang belum terjadi. Kamu bisa menolong orang lain, kenapa menyesali? Saya ini yang seharusnya menyesali diri. Sebagai ksatria, sebagai senopati, saya mengurung diri dan hanya memikirkan diri sendiri. Saya percaya, Jaghana, bahwa Eyang Sepuh itu juga akan menyukaimu, sebab dulunya ia juga begitu. Ia selalu tampil dengan gagasan yang aneh untuk orang lain. Ia menjungkirbalikkan tata aturan yang ada. Wajar sekarang kamu melangkah dengan cara yang sama. Pujian ini keluar dari hati yang tulus. Tahukah kamu betapa edannya Eyang Sepuh saat itu? Ia menantang semua ksatria di seluruh jagat raya ini untuk bertanding. Ia mengundang semua ksatria datang ke tanah Jawa untuk mengakui bahwa ia-lah lelananging jagat. Pikiran edan mana yang memungkinkan pertarungan setelah lima puluh tahun? Nyatanya, itu bisa terlaksana. Tidak perlu kamu sesali, Jaghana. Saya akan menyertaimu untuk itu. Hanya saja, tahu-tahu saya sudah terlalu tua.”

Untuk pertama kalinya Eyang Puspamurti seperti menahan kesal pada dirinya sendiri.

“Kalau saya sampai menyangka kamu Eyang Sepuh atau Sri Baginda, itu tandanya kamu sudah mencapai tingkat itu. Sebab rasanya, hanya Eyang Sepuh serta Sri Baginda Raja yang mampu memecahkan wewadi, rahasia, Kitab Pamungkas dan Kitab Paminggir. Nyatanya, kamu lebih hebat. Lebih bisa melihat persamaan dan perbedaan antara dua kitab itu. Jaghana, apakah itu berarti tak ada mahamanusia?”

“Sejauh saya tahu, tetap ada, Eyang.”

“Tapi tak bisa memakai mahkota susun tujuh?”

“Karena ada kodrat yang dimiliki raja yang tak dimiliki manusia. Karena ketenteraman raja perlu dijaga.”

“Meskipun rajanya seperti sekarang ini?”

Jaghana menunduk. “Justru pada saat seperti ini, Eyang. Di saat Sri Baginda Raja memegang takhta, tak akan ada pikiran yang sungsang bawana balik, pikiran yang membalikkan dunia, di mana orang seperti saya ingin menjadi raja. Di saat seperti sekarang atau nanti…”

“Luhur budimu, Jaghana. Kamu akan tetap mengabdi Raja?”

“Sebisa mungkin, Eyang.”

“O-oo. Dasar jiwa luhur itu yang dimiliki Eyang Sepuh. Eyang Sepuh telah mencapai tatanan mahamanusia karena ajaran luhurnya meresap dalam dirimu. Tanpa perlu seperti Kebo Berune. Tanpa mendirikan candi. O-oo. Jaghana, kenapa tak bisa memakai mahkota susun tujuh?”

“Karena…”

“Karena kodrat?”

“Karena bisa begitu tanpa mendudukinya.”

“Apakah akan ada seorang ksatria, seorang prajurit yang lebih sakti lebih perkasa dari rajanya, dan tidak mengganggu kewibawaan Raja?”

“Bisa begitu, Eyang.”

“Siapa yang bisa begitu? Upasara sudah tiada. Rasanya tinggal Halayudha.”

“Saya tidak melihatnya sekarang ini.”

“Pada kurun masa yang akan datang?”

“Bisa jadi, Eyang.”

“Raja yang mana?”

Jaghana menunduk makin dalam.

“Apakah saya masih hidup untuk melihat sendiri peristiwa itu?”

“Siapa yang mengetahui tentang kematian dan usia panjang atau pendek?”

“O-oo. Kamu benar tidak tahu atau tidak mau mengatakan? O-oo. Tak apa. Kadang saya masih tergoda untuk mengetahui. Untuk mempertahankan kemudaan sekian tahun. Untuk menunda usia. Tapi sewaktu tiba-tiba menjadi setua sekarang, ternyata tak ada yang perlu disesali. O-oo. O-oo. Satu kali saya bertemu dengan Eyang Sepuh setelah ia mendirikan Perguruan Awan. Ia mencari buah-buahan dari yang ditanam, mengenakan pakaian seadanya yang menempel di tubuhnya. Rambutnya putih, akan tetapi wajahnya segar. Ia tertawa melihat saya. Apa yang kamu cari? Obat untuk terus-menerus membuat rambutmu hitam, kulitmu kencang, kelelakianmu tetap, dan merasa unggul karena yang lain menjadi tua? Kecil sekali kamu ini. Saya tahu siapa dia, bagaimana caranya merontokkan kebanggaan seseorang. Saya tidak meladeni. Saya balik bertanya apa yang dia cari dengan sok gagah, sok suci mengasingkan diri? Saya juga sama kerdilnya dengan kamu. Di sini saya merasa lebih dari di Keraton. Di sini saya bisa menyempurnakan Kidungan Paminggir. Saya tahu kamu yang paling suka dengan kidungan itu. Apa maksudnya semua itu? Di sini saya bisa mengatakan bakal ada Tamu dari Seberang, seperti ketika Ken Arok yang mendadak bisa menjadi raja. Apakah kamu masih mendendam kepada Sri Baginda Raja? Saya harus menunjukkan kebesarannya dengan selalu menguji apa yang dilakukan. Seperti juga Sri Baginda Raja mengakui kebesaran dan kehebatan saya dengan melarang ajaran Kidungan Paminggir. Sri Baginda Raja ingin memberi penghargaan kepada saya dengan caranya yang bisa membuat saya bangga sepanjang masa. Waktu itu saya bilang ladlahom, kenapa masih ada yang selalu bisa tak terkirakan dari semua tindak-tanduknya. Sewaktu saya menanyakan apakah ilmu yang saya pelajari sudah rampung, sudah tuntas, Eyang Sepuh menjawab sambil berlalu, Kalau itu pertanyaanmu, batu yang saya ajari bisa menjawab. Jaghana… kamu bisa mengetahui sendiri betapa masih tetap tinggi kepalanya mendongak ke arah langit. Saya menggebrak, menyerang, menyergap, tapi Eyang Sepuh tak mau meladeni. Satu jurus saja kamu tak bisa menguasai, bagaimana mungkin melatih dengan berbagai jurus? Sejak itu saya hanya mematangkan satu jurus saja. Sejak itu saya tak pernah menemukan bayangannya. Tapi ia tetap benar. Kamu bisa menjawab pertanyaan yang kukandung selama puluhan tahun.”

Eyang Puspamurti menengadah ke langit.

“Siapa pun yang membicarakan Eyang Sepuh, akan selalu berakhir dengan pujian. Tapi memang itulah kenyataannya. O-oo. Jaghana, karena kamu yang membuka jalan terang mata batin saya, mulai saat ini saya akan mengikuti ke mana kamu pergi, dan membantumu…”

Percakapan Dua Lelaki
JAGHANA tidak menduga bahwa telinganya akan mendengar kalimat seperti yang diucapkan Eyang Puspamurti. Jauh dalam hatinya sebenarnya Jaghana justru merasa bahwa Eyang Puspamurti sedikit-banyak telah meringankan beban hatinya. Kegundahan hatinya telah lama menjerat batin. Jaghana merasa menemukan jalan buntu. Dirinya boleh dikatakan sebagai pewaris Perguruan Awan.

Walau secara resmi kepemimpinannya di tangan Upasara Wulung, akan tetapi dirinyalah yang sehari-hari berada di Perguruan Awan. Dari alam yang serba tenteram, angin yang serba teratur, tumbuhan dan hewan-hewan yang serba rukun, kegelisahan batinnya terusik. Beberapa kali Jaghana berusaha menghilangkan dan menenggelamkan ke dalam semadi yang khusyuk. Akan tetapi tetap saja tak terusir. Sehingga akhirnya Jaghana memutuskan memanggil Wilanda, dan mengutarakan maksudnya.

“Saya akan meninggalkan tempat ini, Paman.”

“Dewa menyertai perjalanan…”

“Saya tahu Paman pernah meninggalkan tempat ini, dan tata krama yang masih ada dalam Perguruan bahwa yang pergi tak perlu kembali. Saya pamit. Karena saya tak bisa menahan godaan untuk melihat dunia.”

“Paman Jaghana, dari dulu sampai sekarang saya ini orang yang tak mempunyai arti apa-apa. Di Perguruan tak berguna, di jagat luar juga demikian. Apakah saya diperbolehkan mengikuti bayangan Paman Jaghana?”

“Kalau semua pergi, siapa yang berada di ketenteraman dan kebahagiaan alam ini?”

“Ketenteraman dan kebahagiaan ini pun kita bawa, Paman. Untuk disemaikan di tempat lain.”

Sejak saat itulah Jaghana melangkah keluar dari Perguruan Awan, diiringi Wilanda. Mereka berdua memakai kain penutup seperti penduduk yang lainnya. Di sepanjang perjalanan, Jaghana dan Wilanda membantu siapa saja atau apa saja yang ditemui. Sehingga mereka yang tertolong makin lama makin banyak, dan menyebutnya sebagai dukun, sebagai tukang ramal.

Jaghana menamakan dirinya Truwilun, karena merasa tak pantas memakai nama Jaghana. Walaupun sesungguhnya nama itu berarti pantat, akan tetapi nama itu mempunyai sangkut-paut dengan Perguruan Awan. Wilanda juga menyebut dirinya Cantrik, pembantu Truwilun. Apa saja mereka lakukan berdua. Di sawah, bisa berhenti sebentar membetulkan bajak, meluruskan bendungan, membangun rumah, mengobati orang sakit, mengalahkan para durjana.

Begitulah Jaghana dan Wilanda melakukan perjalanan. Berpindah dari satu desa ke desa yang lain, di mana mereka berdua bisa melakukan sesuatu. Dengan cara itu pula mereka berdua menghidupi dirinya. Tak ada sesuatu yang luar biasa selain membantu. Sampai suatu ketika keduanya dihadang lima pemuda. Usia mereka rata-rata sama, juga dandanan yang menunjukkan bahwa mereka terbiasa berada di sawah dan sungai.

“Bapa Truwilun, kami berlima ingin meminta pertolongan Bapa yang selalu mengabulkan pertolongan siapa saja. Nama saya Mada, ini keempat teman karib saya bernama Senggek, Genter, Kwowogen, dan Madana.”

Sejak Jaghana menelan ludahnya. Ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri kelima pemuda di depannya. Baik dari apa yang diperlihatkan ataupun apa yang dikatakan. Dengan menyebut nama-nama seperti Mada, Madana, Senggek, Genter, serta Kwowogen, mereka seperti tengah bermain-main. Mada bisa berarti air berahi atau air asmara. Madana bisa juga berarti dewa asmara, atau daya asmara. Sedangkan Senggek dan Genter, arti harfiahnya adalah galah panjang, tetapi dalam hal ini bisa berarti tanda kejantanan. Kwowogen lebih menegaskan lagi bahwa telah mencapai rasa puas yang memuakkan

“Apa yang bisa saya lakukan untuk kalian, anak muda?”

“Kami berlima ingin menjadi ksatria, ingin gagah perkasa, kondang, terkenal di seluruh penjuru, mempunyai pangkat dan derajat yang tinggi.”

“Keinginan yang baik, Mada.”

“Kalau kami kondang pasti akan menjadi baik. Kalau kami punya pangkat dan derajat pasti dikagumi dan dihormati, serta ditulis dalam kidungan. Bapa Truwilun selalu mengabulkan permintaan, sekarang kabulkanlah keinginan kami.”

“Baik, akan saya lakukan sejauh kemampuan saya. Tetapi karena permintaan kalian begitu banyak, sebutkan salah satu.”

“Kami ingin menjadi orang besar.”

Jaghana tersenyum. “Itu kamu sendiri, Mada. Bagaimana dengan kamu, Madana? Senggek, Genter, Kwowogen? Apakah kalian merasa terwakili oleh Mada?”

Keempat pemuda yang berada setengah langkah di belakang Mada saling pandang.

“Katakan ya atau tidak,” bentak Mada mendadak.

Keempatnya mengangguk.

“Besar sebagai apa, Mada?”

“Sebagai orang.”

“Kalau besar sebagai orang, apanya yang besar?”

“Tangan. Jotosan.”

“Baik, baik. Saya akan mengajari kalian sebisa saya.”

Wilanda masih sedikit bertanya-tanya dalam hati, akan tetapi Jaghana benar-benar melatih. Memberi petunjuk cara berlatih pernapasan, dua-tiga jurus, saat itu juga. Kelimanya mengikuti gerakan-gerakan dengan cepat. Senggek dan Genter menunjukkan bisa menguasai gerakan dengan gampang. Juga ketika Jaghana mulai memperlihatkan beberapa gerakan pukulan.

“Cukup? Kami berdua masih akan melanjutkan perjalanan, Mada.”

“Bagaimana mungkin kami bisa menjadi jago silat kalau hanya dua atau tiga jurus saja?”

“Bisa saja, asal dilatih terus.”

“Kenapa Bapa tidak melatih terus?”

“Ada yang lebih mendesak yang harus saya lakukan, Mada. Masih banyak yang sakit, yang gelisah. Ataukah kalian ingin saya terus bersama di sini, dan melupakan yang lain?”

Mada mengangguk. “Terima kasih, Bapa Truwilun. Silakan berangkat.”

Jaghana meneruskan perjalanan hingga ke desa lain. Meneruskan apa yang sudah dilakukan. Mengobati, mengurut, menasihati, dan memberikan pertolongan yang lain. Ketika itulah Mada kembali muncul di depannya.

“Bapa Truwilun, satu jurus berikutnya. Saya tak mau mengganggu Bapa terus-menerus, akan tetapi di saat senggang ini, apa salahnya mengajari lagi?”

Diam-diam Jaghana mengagumi tekad kelima pemuda tersebut. Karena mereka meneruskan perjalanan dengan cepat untuk mengejar dirinya. Jaghana lebih kagum lagi melihat bahwa kelimanya sudah bisa memainkan jurus-jurus yang diajarkan. Agaknya selama ini kelimanya berlatih sangat keras. Bahkan boleh disebut kelewat keras, karena kemudian Jaghana menemukan bekas-bekas jotosan hampir di sekujur tubuh kelima pemuda tersebut. Berarti mereka berlima telah berlatih keras.

Jaghana menurunkan jurus-jurus dasar yang berikutnya. Yang lebih ditekankan adalah cara melatih pernapasan. Murni seperti yang diperoleh dari Kitab Bumi. Sepanjang malam hingga fajar. Esoknya Jaghana meneruskan perjalanan. Sempat terusik ketika Wilanda mengatakan bahwa kelima pemuda pasti akan menyusul lagi.

“Dugaan Paman tepat. Mereka kelihatannya sangat besar keinginannya.”

“Siapa mereka ini? Dilihat dari usianya, sudah terlambat untuk mempelajari ilmu silat. Dasar-dasar yang mereka miliki masih kosong, kecuali Senggek yang agaknya pernah mengikuti ajaran suatu perguruan kecil.”

“Mereka semua ini bagian dari yang ketularan ajaran Kitab Bumi yang pernah disebarkan. Mereka semua ini bagian dari perjalanan kita.”

Jaghana tak bisa menyembunyikan bahwa batinnya seperti mendengar kisikan lembut. Bahwa kelima pemuda itu seperti menyimpan sesuatu yang bisa menemukan jalan keluar di belakang hari. Baru dalam tiga perjalanan berikutnya, setelah kelimanya selalu bisa mengejar, Jaghana mendengar lebih jelas. Bahwa kelimanya anak-cucu petani serta pencari ikan di Kali Brantas. Kelimanya kini tak mempunyai perahu dan tanah lagi, dan ingin menjadi senopati yang dikirim ke tanah seberang.

“Kami mendengar cerita bahwa senopati yang dikirim ke seberang menjadi gagah dan sakti. Raja pasti akan menunjuk kami, karena kini tak ada yang mau dikirim.”

Satu Jalan Utama
WILANDA diam-diam memperhatikan, bahwa dari kelima pemuda yang selalu mengikuti jejak terlihat jelas adanya satu tekad. Kalau salah satu dari kelimanya memutuskan atau mengatakan sesuatu, keempat yang lainnya mengikuti. Kebetulan beberapa kali Mada yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya. Ketika hal ini disampaikan kepada Jaghana, jawabannya adalah anggukan yang dalam.

“Mereka berlima tidak terlalu kosong. Bahkan boleh dikatakan telah mempunyai sumber sikap. Lebih dari itu semua, dari kelimanya terlihat jelas adanya satu jalan utama. Tak ada pilihan lain, kalau salah seorang sudah memutuskan sesuatu. Ketika Mada mengatakan ingin menjadi senopati, semuanya mengiya dan menerima dengan tulus. Juga ketika sebelumnya Mada mengatakan ingin menjadi ksatria gagah dan terkenal.”

“Satu jalan utama,” ulang Wilanda dengan suara hati-hati. “Menunjukkan mereka bisa maju dengan cepat. Kaki mereka berpijak ke bumi dengan dalam. Tak perlu ada keraguan sedikit pun dalam melakukan sesuatu. Mereka disuruh berlatih, dan terus berlatih tanpa kenal henti. Dengan memilih satu jalan utama, pemusatan pikiran dan kekuatan menjadi satu, sehingga tak ada cabang jalan yang lain.”

“Ada benarnya, Paman Wilanda. Ada untungnya.”

“Tetapi juga ada bahaya sikap semacam itu, Paman Jaghana.”

“Selalu begitu….”

“Saya mungkin keliru besar. Akan tetapi kalau sikap kelimanya menunjukkan kecenderungan itu, kenapa Paman tidak memberikan ilmu dari Kidungan Paminggir?”

Kalimat Wilanda menyentuh hati Jaghana. Karena apa yang dikatakan Wilanda sebelumnya telah tergema dalam diri Jaghana. Bersitan itu cukup menggelisahkan hati Jaghana-sesuatu yang justru tak akan terpikirkan oleh mereka yang menempuh “satu jalan utama”.

Apa yang berawal dari ajaran Kidungan Paminggir, pada dasarnya tidak jauh berbeda dari Kidungan Bumi. Dasar melatih pernapasan sama. Hanya jurus-jurus silatnya pada Kidungan Bumi lebih jelas terurai. Sedangkan pada Kidungan Paminggir dan atau Kidungan Pamungkas, tak disertakan sama sekali jurus-jurus yang harus dimainkan. Tak ada petunjuk tetap.

Perbedaan lain ialah bahwa dalam ajaran Kidungan Bumi, inti dasarnya ilmu pengajaran mengenai alam. Saling ketergantungan antara tenaga yang ada di dalam alam. Kekuatan tenaga kiri dengan sendirinya menggantungkan apa yang terjadi dengan tenaga sebelah kanan. Mengerahkan tenaga berputar berarti memperhatikan tenaga diam. Pukulan ke arah kiri-kanan, atas-bawah, samping, semuanya mempunyai kaitan. Bahkan perubahan jurus-jurusnya yang berjumlah dua belas mempunyai rangkaian.

Demikian juga halnya dalam pengerahan tenaga, memakai tenaga musim, tenaga alam. Di mana antara musim satu dan musim lain berbeda panjangnya. Yang membawa pengaruh kepada tenaga yang dikumpulkan. Semakin bisa memahami mangsa atau putaran musim dan letak bintang, semakin sempurna penguasaan dan pengaturan tenaga. Pada tingkat yang sudah terlatih, kemampuan itu bisa ditukar balik. Meloncat dari jurus pertama ke jurus ketiga, dan seterusnya.

Pada bagian yang disebut Penolak Bumi, rangkaian dan kaitan itu menjadi dasar utama. Karena selalu ada yang dikorbankan, yang dijadikan tumbal. Jurus itu tak bisa keluar sendiri, tanpa adanya serangan dari lawan, tanpa adanya sikap untuk menumbal, untuk berkorban. Dengan sendirinya, tahap demi tahap harus dilalui lebih dulu. Tanpa mempelajari Dua Belas Jurus Nujum Bintang, tak ada artinya memainkan Delapan Jurus Penolak Bumi. Karena tak akan bisa dicapai pengerahan tenaga seperti yang dikehendaki.

Selama ini, sejak Sri Baginda Raja mensabdakan untuk memasyarakatkan ajaran Kitab Bumi, bagian demi bagian, tahap demi tahap, itulah yang menjadi cara pengajaran di semua perguruan silat tanpa kecuali. Bahwa kemudian terkembang kembangan, atau variasi yang berbeda satu sama lain, sangat memungkinkan sekali. Karena dengan menyandarkan perhitungan kepada alam sekitar, pengaruh itu terasakan.

Seperti mereka yang mempelajari di puncak gunung, dengan sendirinya gerakan kaki lebih lincah, lebih mendapat perhatian utama. Berbagai perguruan di sebelah timur Keraton yang terbiasa menggunakan tenaga keras, juga berkembang secara lain. Penyesuaian ini terus berlangsung, dan masing-masing guru memberi titik berat yang berbeda. Jaghana menyadari hal itu.

Seperti juga halnya dengan Wilanda, yang sama-sama mengisap ilmu sama, akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya yang jauh berkembang. Sementara pada Upasara Wulung yang lebih murni dan diajarkan di Keraton, memperlihatkan kekukuhan kaki, karena memakai tenaga pinjaman dari benteng terluka. Hal ini jauh berbeda dari ajaran Kidungan Paminggir dan atau juga Kidungan Pamungkas.

Itu sebabnya Wilanda mengajukan usul dengan sangat hati-hati, dan disertai tanda tanya di bagian akhir kalimatnya. Itu sebabnya Jaghana tercenung agak lama. Inti dasar ajaran Kidungan Paminggir dan Kidungan Pamungkas adalah tidak tergantung pada alam, tidak tergantung pada letak bintang, tidak memperhatikan musim. Yang menjadi pusat perhatian adalah manusia. Musim berbuah, musim cengkerik, letak bintang, tak ada artinya sama sekali tanpa dikaitkan dengan manusia. Manusialah yang memberi arti apakah semua tadi mempunyai makna atau tidak.

Pergulatan itu sangat dirasakan oleh Jaghana. Justru karena ia pewaris Perguruan Awan. Dan sejak awal sudah langsung dihadapkan kepada ajaran Eyang Sepuh, yaitu Kidungan Bumi-yang lebih biasa disebut Kitab Bumi karena betul-betul ada kitabnya dengan Kidungan Paminggir-yang lebih dikenal karena dikidungkan dari mulut ke mulut, sejak secara resmi kitabnya dilarang. Bagi Jaghana ada arti yang lebih khusus lagi. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi, yang masuk ke Perguruan Awan, memaksanya berpikir lain.

Kalau selama ini hanya menekuni Kitab Bumi, ia merasa ada sesuatu yang kurang karena dihadapkan dengan kenyataan sehari-hari. Tumpahnya semua ksatria di seluruh jagat untuk menemui Tamu dari Seberang, yang berubah menjadi ajang pertarungan habis-habisan, menyadarkan bahwa ketenteraman alam tak bisa dilakukan sendirian. Perguruan Awan tak bisa menjadi tempat di mana alam berkembang sebagaimana kodratnya.

Kekuatan batin untuk menangkap gejala itu mulai mengusik Jaghana. Apalagi menjelang kedatangan para ksatria untuk menemui Tamu dari Seberang, Eyang Sepuh mulai menghilang. Sebagai murid tertua di Perguruan Awan, Jaghana sudah merasakan sebelumnya, ketika Eyang Sepuh secara khusus menemuinya. Sesuatu yang tak biasa di Perguruan Awan, di mana penghuni Perguruan Awan hanya bertemu secara tidak sengaja.

“Jaghana, aku tahu kegelisahanmu. Sebentar lagi akan banyak tamu datang. Sebentar lagi akan lebih banyak lagi tamu yang datang. Kamu bisa menyambut dengan baik, kalau mau. Perguruan Awan memang bukan tanah yang bisa diatur tersendiri. Tanah merdika, tanah yang bebas, rasanya memang tak pernah ada. Aku merasa kamu pantas menerima mereka. Temuilah mereka, Jaghana. Sambut mereka seperti selama ini. Tapi juga lihatlah apa mereka perlu kita sambut dengan kidungan, apa perlu mereka selalu kita sambut dengan kidungan kita selama ini. Suatu kali kamu akan memutuskan kidungan yang paling tepat.”

Itulah kata-kata terakhir dari Eyang Sepuh yang didengarnya secara langsung. Terakhir karena sejak itu Eyang Sepuh moksa dan tak berada di satu tempat dalam satu ketika. Sejak itulah Jaghana merasa sebagai orang yang ditunjuk untuk memelihara Perguruan Awan. Benar juga perhitungan Eyang Sepuh. Tak terlalu lama kemudian, rombongan para ksatria, para pejabat tinggi Keraton, berdatangan ke Perguruan Awan untuk menemui apa yang disebut sebagai Tamu dari Seberang.

Apa yang terjadi kemudian adalah pertarungan, karena mereka yang datang memaksa menemui Eyang Sepuh. Perguruan Awan yang tenteram, yang berirama alam, berubah. Jaghana masih bertahan, sampai para ksatria dan prajurit meninggalkan sisa-sisa darah dan korban. Jaghana terus bertahan bersama alam, ketika kemudian Upasara Wulung, Gendhuk Tri, Nyai Demang, Galih Kaliki, untuk sementara mendiami Perguruan Awan. Sebelum saat itu, melalui wangsit, Upasara Wulung ditunjuk Eyang Sepuh sebagai pemimpin Perguruan Awan.

Itulah permulaan kegelisahan Jaghana. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tak ada perasaan iri kenapa bukan dirinya yang ditunjuk sebagai pewaris utama yang meneruskan ajaran Perguruan Awan. Kenapa justru Upasara Wulung, yang secara resmi malah belum pernah hidup sebagaimana murid-murid Perguruan Awan? Apakah karena Upasara Wulung menguasai Kitab Bumi secara sempurna? Bisa ya, bisa tidak. Jawaban yang masih serba tanda tanya bagi Jaghana.

Percakapan Alam
JAGHANA merenung. Menggemakan, mengembalikan pertanyaan yang menjadi jawaban yang bertanya ulang. Kenapa Upasara? Apa maksud utama Eyang Sepuh? Pertanyaan itu makin membuatnya tak mempunyai pijakan, justru ketika itu Upasara Wulung memusnahkan semua ilmu yang dimiliki, karena menemukan jalan buntu. Baik dalam mempelajari ilmu silat maupun dalam kehidupan pribadi. Sehingga Upasara Wulung meninggalkan Perguruan Awan, berjalan tanpa tujuan. Kenapa Upasara Wulung menghancurkan ilmunya dan meninggalkan Perguruan Awan? Apa maksud utama Eyang Sepuh?

Peristiwa lain yang lebih mengguncang ialah pertemuan jago silat seluruh jagat di Trowulan. Bahwa itu semua merupakan pemenuhan janji Eyang Sepuh lima puluh tahun yang lalu, bisa dimengerti. Akan tetapi bahwa Eyang Sepuh harus mengejewantah, harus menunjukkan diri, merupakan tanda tanya besar bagi Jaghana.

JILID 28BUKU PERTAMAJILID 30

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 29

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 29

Akan tetapi begitu masuk membentuk gambaran mahkota menjadi macet kembali. Sesungguhnya inilah inti perbedaan. Perbedaan mendasar antara Kitab Paminggir dan Kitab Pamungkas!

Dalam ajaran Kitab Paminggir, mahamanusia itu tak mengenal batas. Bisa mencapai apa saja, tingkat yang mana pun. Termasuk mengenakan mahkota susun tujuh! Sedangkan dalam Kitab Pamungkas, mahamanusia itu mengenal batas. Tidak sampai mahkota susun tujuh. Hanya bentuk mahkota. Gambaran yang sama di bagian awal, tengah, sampai penutup. Tapi juga sekaligus berbeda di bagian akhir.

Ini yang kini dirasakan sepenuhnya oleh Puspamurti. Dirinya begitu yakin akan sifat mahamanusia yang tak mengenal batas. Yang bisa mengenakan tujuh mahkota bersusun. Sejak mengenal ajaran itu, Puspamurti sangat kagum dan luluh di dalamnya. Sekarang ini Truwilun menunjukkan sisi lain. Apakah betul selama ini yang dipelajari ilmu yang salah?

Kalau mendengar penjelasan Truwilun sejak awal, kitab-kitab itu sebetulnya berawal dari Eyang Sepuh setelah menyelesaikan maha karya Kitab Penolak Bumi. Hanya ketika masih bernama Kitab Paminggir, Sri Baginda Raja yang tadinya merestui berbalik mengecam habis.

Manusia dilahirkan untuk menjadi mahamanusia. Untuk menjadi apa saja. Hanya batasnya ialah menjadi raja. Karena raja adalah sesuatu yang tak bisa diduduki manusia biasa. Itu sebabnya Truwilun tidak menggambarkan mahkota susun tujuh. Masalah yang mendasar bagi Puspamurti ialah bahwa ia tak mampu membentuk.

Dalam hal ini baik Puspamurti maupun Truwilun seperti menyadari bahwa ini bukan pengaruh tenaga dalam semata-mata. Siapa yang lebih kuat tenaga dalamnya lebih bisa membentuk gambaran dari daun kering. Dalam hal ini keduanya menyadari bahwa bukan Puspamurti dan Truwilun yang menghendaki secara sendiri-sendiri. Melainkan kehendak mereka berdua.

Kedua tangan yang saling menempel tidak saling bertarung. Tidak saling menggempur tenaga dalam. Tidak menahan dan tidak menyerbu. Kedua telapak itu merupakan persatuan dua kekuatan yang lebur menjadi satu. Kehendak Puspamurti juga kehendak Truwilun. Saat Puspamurti menggerakkan sesuatu, seluruh tenaga berpusat padanya. Demikian juga sebaliknya.

Itu pula sebabnya dengan tidak saling melihat, keduanya bisa saling menirukan gerakan yang lain. Perpaduan yang aneh. Tapi bukan yang luar biasa bagi Puspamurti maupun Truwilun. Karena keduanya melatih sesuatu yang sama, yang dari cara pengaturan napas dan tenaga dalam, bisa dikatakan sama persis. Itu sebabnya begitu cepat keduanya bisa menyatu. Dan tenggelam, luluh, masuk, serta menyatu tanpa memedulikan waktu.

Matahari telah naik, dan kemudian turun kembali. Malam telah kembali ke ujung semula, tapi keduanya tetap bergeming sedikit pun dari posisi semula.

Perjalanan Matahari
ENTAH beberapa lama keduanya terus mengulang lagi dari awal. Entah berapa malam sudah dihabiskan tanpa beristirahat sedikit pun. Puspamurti seperti tak mau menyerah. Beberapa kali diulangi dari awal, dan selalu mentok setiap kali sampai ke gambaran mahkota susun tujuh.

Adakalanya keduanya melakukan gerakan yang sangat cepat sekali, perubahan yang mendadak. Adakalanya sangat perlahan sekali sehingga seluruh malam dihabiskan hanya untuk membentuk satu gambaran saja. Kemudian Puspamurti mengubah. Ia menggerakkan selembar daun kering. Menunggu. Truwilun juga menunggu, pada awalnya.

Kemudian menggerakkan satu lembar daun, merangkai apa yang telah tersusun. Melanjutkan apa yang telah dilakukan Puspamurti. Begitu seterusnya. Kembali keduanya membuat gerakan sangat cepat. Akan tetapi kembali terhenti sampai pada gambaran mahkota susun tujuh. Macet kembali.

Saat itulah secara bersamaan Puspamurti dan Truwilun melepaskan kedua tangan yang saling menempel. Kini di wajah keduanya tampak penyerahan, bahwa itulah yang mereka alami, kalaupun diulang kembali. Puspamurti lega karena kini sepenuhnya bisa menerima apa yang semula dikatakan Truwilun. Karena sewaktu membentuk gambaran secara bergantian, tak ada lagi perbedaan antara dirinya dan Truwilun.

Itu sebabnya Puspamurti menghentikan usahanya. Melepaskan tangannya dan membuka matanya. Apa yang dilihatnya membuatnya mendengus dan tertawa keras. Truwilun yang dilihatnya sekarang ini adalah seperti seonggok tumpukan daging. Bulat gemuk dengan kepala pelontos. Tak selembar pun rambut di kepala atau di pipi. Yang tetap hanyalah sorot matanya.

“Oo-o, kamu ini rupanya orang yang gendut, jelek, bagai batu tua.”

“Eyang juga begitu….”

“Eyang?” Puspamurti melonjak kaget. Mendadak tangannya mengelus ke pipi, ke hidung, mengusap bibir. Terasa banyak lekuk liku. Ketika melihat tangannya, seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Tangannya penuh dengan keriput! Begitu juga kakinya. Tangannya mencabut rambutnya yang putih! Sesungguhnya tak perlu. Tanpa mencabut pun bisa diketahui bahwa rambutnya telah putih seluruhnya. Karena gelungan di rambutnya yang memudar bisa dilihat jelas.

“Oo-o, rupanya aku ini sudah kakek-kakek….”

“Maafkan saya, Eyang….”

“O-oo, sungguh ajaib. Saya kembali menjadi tua. Tua bangka seperti kakek-kakek. Baguslah itu. Matahari selalu berjalan. Waktu selalu berjalan. Kita berada dalam gua, berada dalam Keraton, atau berada di langit, tak mengubah perjalanan itu. Bukan begitu, Truwilun?”

“Maaf, Eyang, saya bernama Jaghana….”

Puspamurti yang sudah berubah menjadi kakek-kakek tampak tak terlalu heran. “Saya ini tetap Puspamurti. O-oo, nama yang kurang pantas. Nama genit, nama yang dimuda-mudakan. Tapi dulu saya tak bisa menertawai seperti sekarang ini. Jaghana, banyak terima kasih atas pencerahanmu…”

“Saya yang mendapat kehormatan dari Eyang.”

Puspamurti merangkul Jaghana. Lalu berubah menjadi menepuk-nepuk pundak Jaghana. Seperti baru saja menyadari bahwa dirinya yang jauh lebih tua. “Jadi kamu benar-benar Jaghana?”

Jaghana mengangguk dalam.

“Rasanya tidak mungkin. Seharusnya kamu ini yang disebut Eyang Sepuh atau Baginda Raja Sri Kertanegara yang mulia. O-oo, setelah kita mengikuti perjalanan matahari, rasanya memang tak bisa bersembunyi lagi. Selamat, Jaghana. Dewa di langit ketujuh menerima baktimu. Menerima diriku. O-oo, siapa kira ada yang setara dengan Eyang Sepuh atau Baginda Raja?”

“Saya….”

“Kita berdua ini sudah sama-sama. O-oo, tak perlu beringsut. Tapi katakan pada saya, Jaghana… apa hubunganmu dengan Baginda Raja?”

“Saya hanyalah rakyat Singasari.”

“Ada hubungannya dengan Eyang Sepuh?”

“Saya salah seorang cantriknya yang tidak berbakat…”

Puspamurti mengangguk-angguk. “O-oo, sungguh hebat kelewat-lewat. Jagat Dewa Batara. Yang namanya Eyang Sepuh betul-betul diterima semua Dewa. Muridnya begini hebat. O-oo, o-oo…”

Sunyi sebentar. Udara segar terserap dari bumi. Puspamurti mengelus pakaiannya yang warna-warni yang kini tampak sangat tidak sesuai, juga ukurannya. "Jaghana, bagaimana kamu bisa mendapatkan pencerahan mengenai Kitab Paminggir dan Kitab Pamungkas?”

“Semata-mata petunjuk Dewa. Eyang lebih mengetahui mengenai hal ini.”

“O-oo, saya tak cukup tahu… Entahlah, Eyang Sepuh itu juga tak akan mengetahui ini. Tak akan percaya. Bukankah kalau percaya ia tak akan pergi meninggalkan keramaian ini? Bukankah begitu?”

Jaghana menunduk. Seluruh tubuhnya membuat gerakan menghormat yang tulus.

“O-oo, jangan rikuh, jangan sungkan, jangan merendah. Kita sama-sama, Jaghana. Memang saya mengenal langsung siapa Eyang Sepuh yang kesohor itu. Ia memang sudah hebat ketika saya masih menjadi putra Keraton. Sebagai senopati, saya mengenalnya. Saya lebih mengenal lagi dari cerita-cerita Mpu Raganata. Juga perselisihannya dengan Sri Baginda Raja. Bukan, bukan perselisihan. Mana ada di bawah langit ini yang berani berselisih dengan Sri Baginda Raja? Biarpun Eyang Sepuh itu sangat kurang ajar, ooo, dialah lelaki yang paling lelaki, yang paling kurang ajar, sombong dari ujung rambut hingga ke ujung bayangan tubuhnya, tapi ia memang hebat, ia sembada, pantas untuk itu. Seluruh jagat guncang oleh wibawanya. Bila ia muncul, awan pun menyisih. Kamu tak mengenal dirinya saat itu. Karena mungkin sekali kamu hanya mengenalnya sejak di Perguruan Awan.”

“Betul, Eyang….”

“Ia bukan lelaki yang tampan. Ia bukan lelaki yang menjalankan tata krama. Ia mengetahui itu, menyadari, dan bangga karena sikapnya. Tapi, lagi-lagi saya akan memujinya. Ia hebat. Sangat hebat, o-oo. Semua lelaki di jagat ini iri padanya. Termasuk Sri Baginda Raja. Ia pantas membuat orang iri. Pikirannya cemerlang. Gagasannya menciptakan jiwa ksatria secara menyeluruh bagi semua lelaki, membuahkan apa yang disebut Kitab Bumi. Apa nun juga kecaman bahwa ia hanya menuliskan apa yang diciptakan Paman Sepuh, sama sekali tak mengurangi keunggulannya. Karena bagian akhir, yang sangat cemerlang, diciptakannya. Jaghana, kamu boleh bangga menjadi muridnya…”

“Sesungguhnyalah…”

“Di seluruh jagat, di seluruh wilayah Keraton Singasari yang terdiri atas ratusan tokoh sakti dan mahasakti, karya ciptaannyalah yang terpilih. Dan memang paling unggul. Di saat berada di puncak kejayaan karena ilmu silatnya diakui, di saat ia bisa menikmati keunggulan yang tanpa tanding, di saat Baginda Raja memujinya, ia justru menciptakan Kitab Paminggir. Kembali jagat terguncang. Angin seperti berganti arah. Arus sungai seperti membalik. Gunung menjadi rata. Namanya kembali menjadi pocapan semua orang. Semua ksatria, semua tokoh sakti, semua pendeta, semua ksatria. Sedemikian gemilangnya karya ciptaannya, sehingga Sri Baginda Raja murka. Mengutuk. Walau diam-diam mengakui, dan mengubahnya. O-oo. O-oo. Betapa hebatnya, kemudian terbukti bahwa muridnya yang gundul seperti batu, menemukan persamaan dari apa yang diciptakan Eyang Sepuh dan apa yang diciptakan Sri Baginda Raja. O-oo. Segala apa serba menjila, serba luar biasa, jika menyebut Eyang Sepuh!”

Perguruan Tanpa Guru
EYANG PUSPAMURTI menggeleng, lalu disusul anggukan. “Ketika Eyang Sepuh kecewa akan keputusan Sri Baginda Raja, ia mengundurkan diri. Barangkali sebutan ini tidak sepenuhnya tepat. Ia tak pernah masuk menjadi prajurit, tidak juga menjadi abdi. Tak pernah. Ia memiliki keleluasaan untuk masuk dan keluar dari Keraton, lebih dari Mpu Raganata sendiri. Ia kemudian mendirikan Perguruan Awan. Jelas sekali masih tersisa dendam lama, atau pembangkangan. Bahwa semua anak didik Perguruan Awan tak diperkenankan menduduki jabatan apa pun. Kemudian malah dijadikan sikap perguruan yang tidak menganggap tata krama. Perguruan tanpa guru, tanpa murid, tanpa cara pengajaran yang lazim. Siapa sangka justru dengan caranya yang selalu kelihatan ngawur itu, ia justru melahirkan bibit yang sangat cemerlang seperti dirimu, seperti Upasara Wulung…”

“Eyang Puspamurti, saya cantrik yang paling tidak berbakat dan berdosa…”

“O-oo. Kenapa kamu berpikir begitu?”

Jaghana menghela napas. “Salah satu ajaran dalam Perguruan Awan ialah tidak mempunyai pamrih. Tidak mengharapkan balas jasa, tidak sesongaran, tidak mengunggulkan diri…”

“Lalu apa salahmu?”

“Saya telah berani menjajal… Sewaktu merenungi tanpa ujung tanpa pangkal, saya merasa ada baiknya berjalan-jalan di luar perguruan. Dan itu yang saya lakukan, Eyang.”

“Menjadi dukun ramal?”

“Melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan.”

“Dan karena kamu takut mengotori nama dan ajaran Perguruan Awan, kamu menumbuhkan rambut dan menyebut dirimu Truwilun?”

“Saya memang picik.”

Eyang Puspamurti menepuk pundak Jaghana sekali lagi. “Kamu bisa melihat sesuatu yang belum terjadi. Kamu bisa menolong orang lain, kenapa menyesali? Saya ini yang seharusnya menyesali diri. Sebagai ksatria, sebagai senopati, saya mengurung diri dan hanya memikirkan diri sendiri. Saya percaya, Jaghana, bahwa Eyang Sepuh itu juga akan menyukaimu, sebab dulunya ia juga begitu. Ia selalu tampil dengan gagasan yang aneh untuk orang lain. Ia menjungkirbalikkan tata aturan yang ada. Wajar sekarang kamu melangkah dengan cara yang sama. Pujian ini keluar dari hati yang tulus. Tahukah kamu betapa edannya Eyang Sepuh saat itu? Ia menantang semua ksatria di seluruh jagat raya ini untuk bertanding. Ia mengundang semua ksatria datang ke tanah Jawa untuk mengakui bahwa ia-lah lelananging jagat. Pikiran edan mana yang memungkinkan pertarungan setelah lima puluh tahun? Nyatanya, itu bisa terlaksana. Tidak perlu kamu sesali, Jaghana. Saya akan menyertaimu untuk itu. Hanya saja, tahu-tahu saya sudah terlalu tua.”

Untuk pertama kalinya Eyang Puspamurti seperti menahan kesal pada dirinya sendiri.

“Kalau saya sampai menyangka kamu Eyang Sepuh atau Sri Baginda, itu tandanya kamu sudah mencapai tingkat itu. Sebab rasanya, hanya Eyang Sepuh serta Sri Baginda Raja yang mampu memecahkan wewadi, rahasia, Kitab Pamungkas dan Kitab Paminggir. Nyatanya, kamu lebih hebat. Lebih bisa melihat persamaan dan perbedaan antara dua kitab itu. Jaghana, apakah itu berarti tak ada mahamanusia?”

“Sejauh saya tahu, tetap ada, Eyang.”

“Tapi tak bisa memakai mahkota susun tujuh?”

“Karena ada kodrat yang dimiliki raja yang tak dimiliki manusia. Karena ketenteraman raja perlu dijaga.”

“Meskipun rajanya seperti sekarang ini?”

Jaghana menunduk. “Justru pada saat seperti ini, Eyang. Di saat Sri Baginda Raja memegang takhta, tak akan ada pikiran yang sungsang bawana balik, pikiran yang membalikkan dunia, di mana orang seperti saya ingin menjadi raja. Di saat seperti sekarang atau nanti…”

“Luhur budimu, Jaghana. Kamu akan tetap mengabdi Raja?”

“Sebisa mungkin, Eyang.”

“O-oo. Dasar jiwa luhur itu yang dimiliki Eyang Sepuh. Eyang Sepuh telah mencapai tatanan mahamanusia karena ajaran luhurnya meresap dalam dirimu. Tanpa perlu seperti Kebo Berune. Tanpa mendirikan candi. O-oo. Jaghana, kenapa tak bisa memakai mahkota susun tujuh?”

“Karena…”

“Karena kodrat?”

“Karena bisa begitu tanpa mendudukinya.”

“Apakah akan ada seorang ksatria, seorang prajurit yang lebih sakti lebih perkasa dari rajanya, dan tidak mengganggu kewibawaan Raja?”

“Bisa begitu, Eyang.”

“Siapa yang bisa begitu? Upasara sudah tiada. Rasanya tinggal Halayudha.”

“Saya tidak melihatnya sekarang ini.”

“Pada kurun masa yang akan datang?”

“Bisa jadi, Eyang.”

“Raja yang mana?”

Jaghana menunduk makin dalam.

“Apakah saya masih hidup untuk melihat sendiri peristiwa itu?”

“Siapa yang mengetahui tentang kematian dan usia panjang atau pendek?”

“O-oo. Kamu benar tidak tahu atau tidak mau mengatakan? O-oo. Tak apa. Kadang saya masih tergoda untuk mengetahui. Untuk mempertahankan kemudaan sekian tahun. Untuk menunda usia. Tapi sewaktu tiba-tiba menjadi setua sekarang, ternyata tak ada yang perlu disesali. O-oo. O-oo. Satu kali saya bertemu dengan Eyang Sepuh setelah ia mendirikan Perguruan Awan. Ia mencari buah-buahan dari yang ditanam, mengenakan pakaian seadanya yang menempel di tubuhnya. Rambutnya putih, akan tetapi wajahnya segar. Ia tertawa melihat saya. Apa yang kamu cari? Obat untuk terus-menerus membuat rambutmu hitam, kulitmu kencang, kelelakianmu tetap, dan merasa unggul karena yang lain menjadi tua? Kecil sekali kamu ini. Saya tahu siapa dia, bagaimana caranya merontokkan kebanggaan seseorang. Saya tidak meladeni. Saya balik bertanya apa yang dia cari dengan sok gagah, sok suci mengasingkan diri? Saya juga sama kerdilnya dengan kamu. Di sini saya merasa lebih dari di Keraton. Di sini saya bisa menyempurnakan Kidungan Paminggir. Saya tahu kamu yang paling suka dengan kidungan itu. Apa maksudnya semua itu? Di sini saya bisa mengatakan bakal ada Tamu dari Seberang, seperti ketika Ken Arok yang mendadak bisa menjadi raja. Apakah kamu masih mendendam kepada Sri Baginda Raja? Saya harus menunjukkan kebesarannya dengan selalu menguji apa yang dilakukan. Seperti juga Sri Baginda Raja mengakui kebesaran dan kehebatan saya dengan melarang ajaran Kidungan Paminggir. Sri Baginda Raja ingin memberi penghargaan kepada saya dengan caranya yang bisa membuat saya bangga sepanjang masa. Waktu itu saya bilang ladlahom, kenapa masih ada yang selalu bisa tak terkirakan dari semua tindak-tanduknya. Sewaktu saya menanyakan apakah ilmu yang saya pelajari sudah rampung, sudah tuntas, Eyang Sepuh menjawab sambil berlalu, Kalau itu pertanyaanmu, batu yang saya ajari bisa menjawab. Jaghana… kamu bisa mengetahui sendiri betapa masih tetap tinggi kepalanya mendongak ke arah langit. Saya menggebrak, menyerang, menyergap, tapi Eyang Sepuh tak mau meladeni. Satu jurus saja kamu tak bisa menguasai, bagaimana mungkin melatih dengan berbagai jurus? Sejak itu saya hanya mematangkan satu jurus saja. Sejak itu saya tak pernah menemukan bayangannya. Tapi ia tetap benar. Kamu bisa menjawab pertanyaan yang kukandung selama puluhan tahun.”

Eyang Puspamurti menengadah ke langit.

“Siapa pun yang membicarakan Eyang Sepuh, akan selalu berakhir dengan pujian. Tapi memang itulah kenyataannya. O-oo. Jaghana, karena kamu yang membuka jalan terang mata batin saya, mulai saat ini saya akan mengikuti ke mana kamu pergi, dan membantumu…”

Percakapan Dua Lelaki
JAGHANA tidak menduga bahwa telinganya akan mendengar kalimat seperti yang diucapkan Eyang Puspamurti. Jauh dalam hatinya sebenarnya Jaghana justru merasa bahwa Eyang Puspamurti sedikit-banyak telah meringankan beban hatinya. Kegundahan hatinya telah lama menjerat batin. Jaghana merasa menemukan jalan buntu. Dirinya boleh dikatakan sebagai pewaris Perguruan Awan.

Walau secara resmi kepemimpinannya di tangan Upasara Wulung, akan tetapi dirinyalah yang sehari-hari berada di Perguruan Awan. Dari alam yang serba tenteram, angin yang serba teratur, tumbuhan dan hewan-hewan yang serba rukun, kegelisahan batinnya terusik. Beberapa kali Jaghana berusaha menghilangkan dan menenggelamkan ke dalam semadi yang khusyuk. Akan tetapi tetap saja tak terusir. Sehingga akhirnya Jaghana memutuskan memanggil Wilanda, dan mengutarakan maksudnya.

“Saya akan meninggalkan tempat ini, Paman.”

“Dewa menyertai perjalanan…”

“Saya tahu Paman pernah meninggalkan tempat ini, dan tata krama yang masih ada dalam Perguruan bahwa yang pergi tak perlu kembali. Saya pamit. Karena saya tak bisa menahan godaan untuk melihat dunia.”

“Paman Jaghana, dari dulu sampai sekarang saya ini orang yang tak mempunyai arti apa-apa. Di Perguruan tak berguna, di jagat luar juga demikian. Apakah saya diperbolehkan mengikuti bayangan Paman Jaghana?”

“Kalau semua pergi, siapa yang berada di ketenteraman dan kebahagiaan alam ini?”

“Ketenteraman dan kebahagiaan ini pun kita bawa, Paman. Untuk disemaikan di tempat lain.”

Sejak saat itulah Jaghana melangkah keluar dari Perguruan Awan, diiringi Wilanda. Mereka berdua memakai kain penutup seperti penduduk yang lainnya. Di sepanjang perjalanan, Jaghana dan Wilanda membantu siapa saja atau apa saja yang ditemui. Sehingga mereka yang tertolong makin lama makin banyak, dan menyebutnya sebagai dukun, sebagai tukang ramal.

Jaghana menamakan dirinya Truwilun, karena merasa tak pantas memakai nama Jaghana. Walaupun sesungguhnya nama itu berarti pantat, akan tetapi nama itu mempunyai sangkut-paut dengan Perguruan Awan. Wilanda juga menyebut dirinya Cantrik, pembantu Truwilun. Apa saja mereka lakukan berdua. Di sawah, bisa berhenti sebentar membetulkan bajak, meluruskan bendungan, membangun rumah, mengobati orang sakit, mengalahkan para durjana.

Begitulah Jaghana dan Wilanda melakukan perjalanan. Berpindah dari satu desa ke desa yang lain, di mana mereka berdua bisa melakukan sesuatu. Dengan cara itu pula mereka berdua menghidupi dirinya. Tak ada sesuatu yang luar biasa selain membantu. Sampai suatu ketika keduanya dihadang lima pemuda. Usia mereka rata-rata sama, juga dandanan yang menunjukkan bahwa mereka terbiasa berada di sawah dan sungai.

“Bapa Truwilun, kami berlima ingin meminta pertolongan Bapa yang selalu mengabulkan pertolongan siapa saja. Nama saya Mada, ini keempat teman karib saya bernama Senggek, Genter, Kwowogen, dan Madana.”

Sejak Jaghana menelan ludahnya. Ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri kelima pemuda di depannya. Baik dari apa yang diperlihatkan ataupun apa yang dikatakan. Dengan menyebut nama-nama seperti Mada, Madana, Senggek, Genter, serta Kwowogen, mereka seperti tengah bermain-main. Mada bisa berarti air berahi atau air asmara. Madana bisa juga berarti dewa asmara, atau daya asmara. Sedangkan Senggek dan Genter, arti harfiahnya adalah galah panjang, tetapi dalam hal ini bisa berarti tanda kejantanan. Kwowogen lebih menegaskan lagi bahwa telah mencapai rasa puas yang memuakkan

“Apa yang bisa saya lakukan untuk kalian, anak muda?”

“Kami berlima ingin menjadi ksatria, ingin gagah perkasa, kondang, terkenal di seluruh penjuru, mempunyai pangkat dan derajat yang tinggi.”

“Keinginan yang baik, Mada.”

“Kalau kami kondang pasti akan menjadi baik. Kalau kami punya pangkat dan derajat pasti dikagumi dan dihormati, serta ditulis dalam kidungan. Bapa Truwilun selalu mengabulkan permintaan, sekarang kabulkanlah keinginan kami.”

“Baik, akan saya lakukan sejauh kemampuan saya. Tetapi karena permintaan kalian begitu banyak, sebutkan salah satu.”

“Kami ingin menjadi orang besar.”

Jaghana tersenyum. “Itu kamu sendiri, Mada. Bagaimana dengan kamu, Madana? Senggek, Genter, Kwowogen? Apakah kalian merasa terwakili oleh Mada?”

Keempat pemuda yang berada setengah langkah di belakang Mada saling pandang.

“Katakan ya atau tidak,” bentak Mada mendadak.

Keempatnya mengangguk.

“Besar sebagai apa, Mada?”

“Sebagai orang.”

“Kalau besar sebagai orang, apanya yang besar?”

“Tangan. Jotosan.”

“Baik, baik. Saya akan mengajari kalian sebisa saya.”

Wilanda masih sedikit bertanya-tanya dalam hati, akan tetapi Jaghana benar-benar melatih. Memberi petunjuk cara berlatih pernapasan, dua-tiga jurus, saat itu juga. Kelimanya mengikuti gerakan-gerakan dengan cepat. Senggek dan Genter menunjukkan bisa menguasai gerakan dengan gampang. Juga ketika Jaghana mulai memperlihatkan beberapa gerakan pukulan.

“Cukup? Kami berdua masih akan melanjutkan perjalanan, Mada.”

“Bagaimana mungkin kami bisa menjadi jago silat kalau hanya dua atau tiga jurus saja?”

“Bisa saja, asal dilatih terus.”

“Kenapa Bapa tidak melatih terus?”

“Ada yang lebih mendesak yang harus saya lakukan, Mada. Masih banyak yang sakit, yang gelisah. Ataukah kalian ingin saya terus bersama di sini, dan melupakan yang lain?”

Mada mengangguk. “Terima kasih, Bapa Truwilun. Silakan berangkat.”

Jaghana meneruskan perjalanan hingga ke desa lain. Meneruskan apa yang sudah dilakukan. Mengobati, mengurut, menasihati, dan memberikan pertolongan yang lain. Ketika itulah Mada kembali muncul di depannya.

“Bapa Truwilun, satu jurus berikutnya. Saya tak mau mengganggu Bapa terus-menerus, akan tetapi di saat senggang ini, apa salahnya mengajari lagi?”

Diam-diam Jaghana mengagumi tekad kelima pemuda tersebut. Karena mereka meneruskan perjalanan dengan cepat untuk mengejar dirinya. Jaghana lebih kagum lagi melihat bahwa kelimanya sudah bisa memainkan jurus-jurus yang diajarkan. Agaknya selama ini kelimanya berlatih sangat keras. Bahkan boleh disebut kelewat keras, karena kemudian Jaghana menemukan bekas-bekas jotosan hampir di sekujur tubuh kelima pemuda tersebut. Berarti mereka berlima telah berlatih keras.

Jaghana menurunkan jurus-jurus dasar yang berikutnya. Yang lebih ditekankan adalah cara melatih pernapasan. Murni seperti yang diperoleh dari Kitab Bumi. Sepanjang malam hingga fajar. Esoknya Jaghana meneruskan perjalanan. Sempat terusik ketika Wilanda mengatakan bahwa kelima pemuda pasti akan menyusul lagi.

“Dugaan Paman tepat. Mereka kelihatannya sangat besar keinginannya.”

“Siapa mereka ini? Dilihat dari usianya, sudah terlambat untuk mempelajari ilmu silat. Dasar-dasar yang mereka miliki masih kosong, kecuali Senggek yang agaknya pernah mengikuti ajaran suatu perguruan kecil.”

“Mereka semua ini bagian dari yang ketularan ajaran Kitab Bumi yang pernah disebarkan. Mereka semua ini bagian dari perjalanan kita.”

Jaghana tak bisa menyembunyikan bahwa batinnya seperti mendengar kisikan lembut. Bahwa kelima pemuda itu seperti menyimpan sesuatu yang bisa menemukan jalan keluar di belakang hari. Baru dalam tiga perjalanan berikutnya, setelah kelimanya selalu bisa mengejar, Jaghana mendengar lebih jelas. Bahwa kelimanya anak-cucu petani serta pencari ikan di Kali Brantas. Kelimanya kini tak mempunyai perahu dan tanah lagi, dan ingin menjadi senopati yang dikirim ke tanah seberang.

“Kami mendengar cerita bahwa senopati yang dikirim ke seberang menjadi gagah dan sakti. Raja pasti akan menunjuk kami, karena kini tak ada yang mau dikirim.”

Satu Jalan Utama
WILANDA diam-diam memperhatikan, bahwa dari kelima pemuda yang selalu mengikuti jejak terlihat jelas adanya satu tekad. Kalau salah satu dari kelimanya memutuskan atau mengatakan sesuatu, keempat yang lainnya mengikuti. Kebetulan beberapa kali Mada yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya. Ketika hal ini disampaikan kepada Jaghana, jawabannya adalah anggukan yang dalam.

“Mereka berlima tidak terlalu kosong. Bahkan boleh dikatakan telah mempunyai sumber sikap. Lebih dari itu semua, dari kelimanya terlihat jelas adanya satu jalan utama. Tak ada pilihan lain, kalau salah seorang sudah memutuskan sesuatu. Ketika Mada mengatakan ingin menjadi senopati, semuanya mengiya dan menerima dengan tulus. Juga ketika sebelumnya Mada mengatakan ingin menjadi ksatria gagah dan terkenal.”

“Satu jalan utama,” ulang Wilanda dengan suara hati-hati. “Menunjukkan mereka bisa maju dengan cepat. Kaki mereka berpijak ke bumi dengan dalam. Tak perlu ada keraguan sedikit pun dalam melakukan sesuatu. Mereka disuruh berlatih, dan terus berlatih tanpa kenal henti. Dengan memilih satu jalan utama, pemusatan pikiran dan kekuatan menjadi satu, sehingga tak ada cabang jalan yang lain.”

“Ada benarnya, Paman Wilanda. Ada untungnya.”

“Tetapi juga ada bahaya sikap semacam itu, Paman Jaghana.”

“Selalu begitu….”

“Saya mungkin keliru besar. Akan tetapi kalau sikap kelimanya menunjukkan kecenderungan itu, kenapa Paman tidak memberikan ilmu dari Kidungan Paminggir?”

Kalimat Wilanda menyentuh hati Jaghana. Karena apa yang dikatakan Wilanda sebelumnya telah tergema dalam diri Jaghana. Bersitan itu cukup menggelisahkan hati Jaghana-sesuatu yang justru tak akan terpikirkan oleh mereka yang menempuh “satu jalan utama”.

Apa yang berawal dari ajaran Kidungan Paminggir, pada dasarnya tidak jauh berbeda dari Kidungan Bumi. Dasar melatih pernapasan sama. Hanya jurus-jurus silatnya pada Kidungan Bumi lebih jelas terurai. Sedangkan pada Kidungan Paminggir dan atau Kidungan Pamungkas, tak disertakan sama sekali jurus-jurus yang harus dimainkan. Tak ada petunjuk tetap.

Perbedaan lain ialah bahwa dalam ajaran Kidungan Bumi, inti dasarnya ilmu pengajaran mengenai alam. Saling ketergantungan antara tenaga yang ada di dalam alam. Kekuatan tenaga kiri dengan sendirinya menggantungkan apa yang terjadi dengan tenaga sebelah kanan. Mengerahkan tenaga berputar berarti memperhatikan tenaga diam. Pukulan ke arah kiri-kanan, atas-bawah, samping, semuanya mempunyai kaitan. Bahkan perubahan jurus-jurusnya yang berjumlah dua belas mempunyai rangkaian.

Demikian juga halnya dalam pengerahan tenaga, memakai tenaga musim, tenaga alam. Di mana antara musim satu dan musim lain berbeda panjangnya. Yang membawa pengaruh kepada tenaga yang dikumpulkan. Semakin bisa memahami mangsa atau putaran musim dan letak bintang, semakin sempurna penguasaan dan pengaturan tenaga. Pada tingkat yang sudah terlatih, kemampuan itu bisa ditukar balik. Meloncat dari jurus pertama ke jurus ketiga, dan seterusnya.

Pada bagian yang disebut Penolak Bumi, rangkaian dan kaitan itu menjadi dasar utama. Karena selalu ada yang dikorbankan, yang dijadikan tumbal. Jurus itu tak bisa keluar sendiri, tanpa adanya serangan dari lawan, tanpa adanya sikap untuk menumbal, untuk berkorban. Dengan sendirinya, tahap demi tahap harus dilalui lebih dulu. Tanpa mempelajari Dua Belas Jurus Nujum Bintang, tak ada artinya memainkan Delapan Jurus Penolak Bumi. Karena tak akan bisa dicapai pengerahan tenaga seperti yang dikehendaki.

Selama ini, sejak Sri Baginda Raja mensabdakan untuk memasyarakatkan ajaran Kitab Bumi, bagian demi bagian, tahap demi tahap, itulah yang menjadi cara pengajaran di semua perguruan silat tanpa kecuali. Bahwa kemudian terkembang kembangan, atau variasi yang berbeda satu sama lain, sangat memungkinkan sekali. Karena dengan menyandarkan perhitungan kepada alam sekitar, pengaruh itu terasakan.

Seperti mereka yang mempelajari di puncak gunung, dengan sendirinya gerakan kaki lebih lincah, lebih mendapat perhatian utama. Berbagai perguruan di sebelah timur Keraton yang terbiasa menggunakan tenaga keras, juga berkembang secara lain. Penyesuaian ini terus berlangsung, dan masing-masing guru memberi titik berat yang berbeda. Jaghana menyadari hal itu.

Seperti juga halnya dengan Wilanda, yang sama-sama mengisap ilmu sama, akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya yang jauh berkembang. Sementara pada Upasara Wulung yang lebih murni dan diajarkan di Keraton, memperlihatkan kekukuhan kaki, karena memakai tenaga pinjaman dari benteng terluka. Hal ini jauh berbeda dari ajaran Kidungan Paminggir dan atau juga Kidungan Pamungkas.

Itu sebabnya Wilanda mengajukan usul dengan sangat hati-hati, dan disertai tanda tanya di bagian akhir kalimatnya. Itu sebabnya Jaghana tercenung agak lama. Inti dasar ajaran Kidungan Paminggir dan Kidungan Pamungkas adalah tidak tergantung pada alam, tidak tergantung pada letak bintang, tidak memperhatikan musim. Yang menjadi pusat perhatian adalah manusia. Musim berbuah, musim cengkerik, letak bintang, tak ada artinya sama sekali tanpa dikaitkan dengan manusia. Manusialah yang memberi arti apakah semua tadi mempunyai makna atau tidak.

Pergulatan itu sangat dirasakan oleh Jaghana. Justru karena ia pewaris Perguruan Awan. Dan sejak awal sudah langsung dihadapkan kepada ajaran Eyang Sepuh, yaitu Kidungan Bumi-yang lebih biasa disebut Kitab Bumi karena betul-betul ada kitabnya dengan Kidungan Paminggir-yang lebih dikenal karena dikidungkan dari mulut ke mulut, sejak secara resmi kitabnya dilarang. Bagi Jaghana ada arti yang lebih khusus lagi. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi, yang masuk ke Perguruan Awan, memaksanya berpikir lain.

Kalau selama ini hanya menekuni Kitab Bumi, ia merasa ada sesuatu yang kurang karena dihadapkan dengan kenyataan sehari-hari. Tumpahnya semua ksatria di seluruh jagat untuk menemui Tamu dari Seberang, yang berubah menjadi ajang pertarungan habis-habisan, menyadarkan bahwa ketenteraman alam tak bisa dilakukan sendirian. Perguruan Awan tak bisa menjadi tempat di mana alam berkembang sebagaimana kodratnya.

Kekuatan batin untuk menangkap gejala itu mulai mengusik Jaghana. Apalagi menjelang kedatangan para ksatria untuk menemui Tamu dari Seberang, Eyang Sepuh mulai menghilang. Sebagai murid tertua di Perguruan Awan, Jaghana sudah merasakan sebelumnya, ketika Eyang Sepuh secara khusus menemuinya. Sesuatu yang tak biasa di Perguruan Awan, di mana penghuni Perguruan Awan hanya bertemu secara tidak sengaja.

“Jaghana, aku tahu kegelisahanmu. Sebentar lagi akan banyak tamu datang. Sebentar lagi akan lebih banyak lagi tamu yang datang. Kamu bisa menyambut dengan baik, kalau mau. Perguruan Awan memang bukan tanah yang bisa diatur tersendiri. Tanah merdika, tanah yang bebas, rasanya memang tak pernah ada. Aku merasa kamu pantas menerima mereka. Temuilah mereka, Jaghana. Sambut mereka seperti selama ini. Tapi juga lihatlah apa mereka perlu kita sambut dengan kidungan, apa perlu mereka selalu kita sambut dengan kidungan kita selama ini. Suatu kali kamu akan memutuskan kidungan yang paling tepat.”

Itulah kata-kata terakhir dari Eyang Sepuh yang didengarnya secara langsung. Terakhir karena sejak itu Eyang Sepuh moksa dan tak berada di satu tempat dalam satu ketika. Sejak itulah Jaghana merasa sebagai orang yang ditunjuk untuk memelihara Perguruan Awan. Benar juga perhitungan Eyang Sepuh. Tak terlalu lama kemudian, rombongan para ksatria, para pejabat tinggi Keraton, berdatangan ke Perguruan Awan untuk menemui apa yang disebut sebagai Tamu dari Seberang.

Apa yang terjadi kemudian adalah pertarungan, karena mereka yang datang memaksa menemui Eyang Sepuh. Perguruan Awan yang tenteram, yang berirama alam, berubah. Jaghana masih bertahan, sampai para ksatria dan prajurit meninggalkan sisa-sisa darah dan korban. Jaghana terus bertahan bersama alam, ketika kemudian Upasara Wulung, Gendhuk Tri, Nyai Demang, Galih Kaliki, untuk sementara mendiami Perguruan Awan. Sebelum saat itu, melalui wangsit, Upasara Wulung ditunjuk Eyang Sepuh sebagai pemimpin Perguruan Awan.

Itulah permulaan kegelisahan Jaghana. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tak ada perasaan iri kenapa bukan dirinya yang ditunjuk sebagai pewaris utama yang meneruskan ajaran Perguruan Awan. Kenapa justru Upasara Wulung, yang secara resmi malah belum pernah hidup sebagaimana murid-murid Perguruan Awan? Apakah karena Upasara Wulung menguasai Kitab Bumi secara sempurna? Bisa ya, bisa tidak. Jawaban yang masih serba tanda tanya bagi Jaghana.

Percakapan Alam
JAGHANA merenung. Menggemakan, mengembalikan pertanyaan yang menjadi jawaban yang bertanya ulang. Kenapa Upasara? Apa maksud utama Eyang Sepuh? Pertanyaan itu makin membuatnya tak mempunyai pijakan, justru ketika itu Upasara Wulung memusnahkan semua ilmu yang dimiliki, karena menemukan jalan buntu. Baik dalam mempelajari ilmu silat maupun dalam kehidupan pribadi. Sehingga Upasara Wulung meninggalkan Perguruan Awan, berjalan tanpa tujuan. Kenapa Upasara Wulung menghancurkan ilmunya dan meninggalkan Perguruan Awan? Apa maksud utama Eyang Sepuh?

Peristiwa lain yang lebih mengguncang ialah pertemuan jago silat seluruh jagat di Trowulan. Bahwa itu semua merupakan pemenuhan janji Eyang Sepuh lima puluh tahun yang lalu, bisa dimengerti. Akan tetapi bahwa Eyang Sepuh harus mengejewantah, harus menunjukkan diri, merupakan tanda tanya besar bagi Jaghana.

JILID 28BUKU PERTAMAJILID 30