Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 27

“Sebentar lagi bilik ini akan penuh diisi para dharmaputra yang selama ini diagungkan, akan tetapi tak mampu berbuat apa-apa selain menggerutu…”

Senopati Kuti terbatuk keras. Darah segar tersembur. Membasahi dada yang telanjang.

“Tenangkan dirimu, Senopati Kuti yang gagah berani. Tantra sudah melakukan. Berani melakukan. Itu yang lebih hebat. Dengan perhitungan yang sangat berani. Di saat Keraton sepi dari segala kekuatan, ia bergerak maju. Tak ada Mahapatih Nambi sekarang ini. Tak ada Halayudha. Tak ada pergolakan para ksatria. Bukankah itu sederhana sekali? Tapi justru yang sederhana ini tak kita mengerti.”

“Senopati… Tanca…”

“Saya bisa mengerti apa yang dilakukan Tantra. Tidak berarti setuju atau tidak. Kita lihat saja nanti. Hmmmmm, saya bisa mengerti kerisauan Senopati yang gagah berani. Dengan tindakan ini, Tantra mengguncang sendi-sendi yang kita bangun dengan susah payah. Rintisan yang kita lakukan secara perlahan jadi buyar karenanya. Tapi apa bedanya? Sekarang sudah berhasil. Senopati yang gagah berani, maafkan kalau saya banyak bicara sekali. Marilah kita kurangi ingsun kita, perasaan menang, perasaan sebagai senopati perang yang selalu menyelesaikan persoalan. Apakah ketidaksetujuan kita dengan tindakan Tantra karena kita iri, karena bukan kita yang melakukan?”

Senopati Kuti memuntahkan darah segar untuk kedua kalinya. Senopati Tanca memanggil penjaga, dan mengatakan bahwa sebaiknya diberikan perawatan. Kalau ia diberi izin, ia bisa meramu jejamuan. Ketika keleluasaan itu diberikan, Senopati Tanca menelan ludahnya dengan lega.

“Sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kamardikan yang diberikan ini. Rasanya dalam zaman mana pun, belum pernah ada kelonggaran yang begini sempurna.”

Senopati Tanca meminta bahan ramuan, dan ia menggilas sendiri serta meminumkan cairan secara paksa ke mulut Senopati Kuti.

“Saya mengobati, akan tetapi saya ingin bicara yang mungkin bisa melukai hati Senopati. Hmmm, bukankah lebih baik kita membantu Tantra? Bukankah Tantra perlu persiapan jika Mahapatih Nambi kembali nanti? Atau juga Halayudha? Bagaimana pendapatmu, Senopati?”

Senopati Kuti menggeleng berkali-kali. Cairan jamu yang sudah masuk ke mulut dimuntahkan kembali. “Tantra kraman kepada kita, meludahi kita, menginjak wajah kita dengan kaki yang kotor! Bukan memberontak kepada Raja.”

Senopati Tanca menjilat bibirnya. “Satu hal selalu akan saya ingat. Bahwa keraguan tak pernah memberikan hasil apa-apa… Juga kalau kita sendiri ragu menilai apa yang dilakukan oleh Tantra. Hmmm, Senopati yang gagah berani... Maaf, mulai sekarang ini kita memilih jalan sendiri-sendiri. Apa yang baik bagi Senopati, silakan lakukan. Apa yang baik bagi saya, akan saya lakukan. Kita bertujuh diikat oleh kebersamaan dalam peperangan. Tapi ternyata tidak dalam hati. Maaf, Senopati….”

Senopati Sumlirih
YANG paling terpana sebenarnya Halayudha. Sehingga rencana perjalanan ke Lumajang tak diteruskan. Begitu mendengar kabar perubahan yang terjadi di Keraton dengan naiknya Senopati Tantra sebagai pemegang kekuasaan sehari-hari, Halayudha memutuskan kembali secepatnya. Dalam perjalanan, Halayudha berusaha keras menenangkan hatinya. Beberapa kali ia mengucak-ngucak matanya, seakan meyakinkan diri bahwa apa yang didengarnya bukanlah mimpi yang berkepanjangan.

Ia yang bergulat terus-menerus di dalam Keraton tak pernah menyangka sama sekali bahwa dengan satu gerakan sederhana, Tantra bisa mengubah jalannya tata pemerintahan. Selama ini Halayudha menyiapkan diri dengan segala kemampuan akalnya untuk merayap naik atau setidaknya bisa bertahan. Dengan cara apa pun. Kalau perlu menjadikan dirinya sebagai keset atau pembersih alas kaki, dan memang benar-benar rata dengan tanah. Semua keinginan dan pandangannya diratakan hingga runduk benar.

Sebutan sebagai gedibal atau pembantu yang paling tidak berarti pun diterima dengan lapang dada. Hanya untuk mempertahankan dirinya dari gelombang perubahan naik dan turunnya pangkat serta derajat. Boleh dikatakan sepenuh kemampuan yang ada dikerahkan untuk itu. Tanpa menikmati hal-hal kecil yang bersifat duniawi. Sungguh tak masuk akal sama sekali. Bahwa ternyata hanya dengan satu langkah saja, Tantra berhasil merebut segalanya.

Sepanjang perjalanan kembali, Halayudha menghitung langkah apa yang akan diambil. Menghadap Tantra? Melaporkan hasil kunjungannya? Ada rasa risi untuk menemui senopati muda usia. Kalau yang naik Senopati Kuti atau Semi, Halayudha masih bisa menindih rasa sungkannya. Akan tetapi kalau yang disowani anak kemarin sore yang tak bisa menangkap kekang kudanya, itu soal harga diri. Akan tetapi jika ia tidak melapor, ia akan dimusuhi seluruh Keraton. Yang setia kepada Senopati Tantra.

Lagi pula kini dirinya secara resmi adalah utusan Raja, yang mengenakan cincin pemberian Raja. Halayudha terus berhitung. Yang juga masih menjadi teka-teki bagi Halayudha ialah bagaimana kelanjutan gerakan Tantra. Satu hal pasti: Tantra menunggu restu dari Baginda. Hal ini yang belum jelas benar. Apakah Baginda berkenan memegang takhta kembali atau tidak. Jika ada restu, tak menjadi masalah. Jika tidak, Keraton akan benar-benar menjadi karang abang, menjadi lautan api. Kembali berdarah. Halayudha merasa tak bisa menentukan sikap secepatnya. Kekayaan akalnya menjadi jungkir balik menghadapi Tantra.

"Jagat selalu memberi kesempatan kepada pandangan muda. Aneh sekali. Kenapa bisa terjadi perubahan seperti ini? Apa yang sesungguhnya dikehendaki Dewa?”

Situasi yang ada sekarang ini benar-benar di luar dugaan siapa pun. Rasanya para Dewa yang biasa-biasa bisa kaget. Dari mana Tantra menyandarkan kekuatannya? Kalau benar tak ada dukungan dari Tujuh Senopati Utama, ini bisa dipakai sebagai cara untuk membangkitkan pertentangan. Akan tetapi jalan pikiran itu terpupus dengan sendirinya. Memang ada pertentangan, akan tetapi tak bisa dipakai landasan buat memperkeruh suasana.

Dua dari Tujuh Senopati Utama sekarang berada di Keraton, akan tetapi dengan serta-merta Senopati Tantra mengumumkan sendiri, bahwa selama ini kedua senopati utama itu berada di Keraton atas kemauannya sendiri. Bahkan dikatakan bahwa keduanya, seperti juga senopati yang lain, tetap berhak atas derajat dan pangkat serta kehormatannya selama ini. Ruwet. Ruwet, justru karena sikap Senopati Tantra sangat lugas dan apa adanya.

“Semua bangsawan agung bisa kukenali kelemahannya. Bisa kuajak dan kuarahkan ke apa yang disukai secara diam-diam. Apa yang menjadi kesukaan Tantra, rasanya masih sulit ditebak. Kemudaannya menyingkirkan semua pamrih….”

Tak ada keinginan tertentu, pahala tertentu yang dikejar. Tidak juga mengenal harta benda, emas intan berlian. Bahkan sejak awal, Senopati Tantra menyebut-nyebut bahwa senopati yang berjiwa ksatria harus bisa menjaga diri dari godaan nafsu makan dan minum. Sebutan Senopati Sumlirih menjadi bahan pembicaraan yang umum. Senopati Tantra memelopori jatah makan secara ransum. Jatah makan yang berlebihan, upacara minum tuak buah kelapa, ditiadakan. Bahkan diperintahkan untuk tidak mengadakan perjamuan yang menghambur-hamburkan kekayaan secara tak perlu.

Ia sendiri memulai membagikan harta miliknya, yang mau tak mau segera diikuti oleh para bangsawan yang lain. Setiap hari ada saja bangsawan dan kerabat Keraton yang menyerahkan perhiasan serta harta simpanan untuk disumbangkan kepada rakyat. Yang juga mencengangkan adalah tindakan Senopati Tantra untuk membebaskan semua bandan, semua tawanan. Termasuk Pangeran Anom! Para pembesar dari negeri seberang seperti Pangeran Jenang juga diberi kebebasan penuh untuk kembali ke negerinya atau tetap berdiam diri di Keraton.

Agaknya Senopati Tantra berada dalam mimpi, begitu perhitungan Halayudha. Semua tindakannya hanya mencari nama yang harum. Upeti-upeti yang selama ini dikenakan untuk pasar, untuk binatang, serta-merta ditiadakan. Persediaan bahan makanan yang berada di lumbung Keraton dibongkar dan dibagikan kepada masyarakat.

Benar-benar berlebihan, menurut penilaian Halayudha. Akan tetapi nyatanya, gema dari tindakan Senopati Tantra segera mendapatkan dukungan yang lain. Bukan hanya lumbung Keraton yang sebagian isinya dibagi-bagikan, melainkan juga beberapa senjata yang selama ini menumpuk, diberikan kepada mereka yang berniat menjadi prajurit. Sehingga Halayudha harus memeras otaknya kalau ingin muncul ke permukaan. Muncul sebagai orang yang tak menyukai perubahan sekarang ini.

Karena kalau ia memilih memihak kepada Senopati Tantra, besar kemungkinannya ia tak akan mendapatkan apa-apa. Mengingat hubungan pribadi yang juga tidak baik, di samping Senopati Tantra sangat keras memegang teguh tata pemerintahan. Perhitungan yang masih ada, menyisakan kemungkinan hadirnya Mahapatih Nambi. Ia bisa memakai sebagai kekuatan utama. Biar bagaimanapun, Mahapatih Nambi masih mempunyai pengaruh yang sangat luas. Hanya saja, jawabannya masih teka-teki lama. Apakah Mahapatih akan memihak kepada Senopati Tantra atau sebaliknya?

Kemungkinan pertama yang dikuatirkan akan terjadi. Sebab, Senopati Tantra sejak awal mengatakan bahwa ia tak berniat memegang jabatan itu, dan tetap akan menolak. Ia tetap akan menjalankan tugasnya sebagai senopati. Berarti tempat utama tak diubah. Berarti Mahapatih Nambi malah bisa kembali memegang kekuasaan, karena keadaan menghendaki. Peluang yang lain ialah keadaan Raja Jayanegara.

Halayudha mulai menjalankan aksinya. Melalui para kerabat Keraton, Halayudha menyebarkan kabar bahwa Baginda tidak merestui apa yang dilakukan oleh Senopati Tantra. Bahkan para senopati utama yang menjadi atasan langsung juga mengutuk perbuatan Tantra. Sementara para pengikut Raja disulut dengan kabar bahwa sesungguhnya perlakuan yang dialami Raja sangat menyedihkan. Sama sekali tidak mengenal tata krama.

Akan tetapi ternyata tak ada gemanya. Kabar mengenai Senopati Utama bisa terbantah dengan mudah. Kabar mengenai Raja tidak diperlakukan. Dengan baik, ternyata juga tak menggoyang keadaan. Agaknya penduduk dan para senopati lebih terikat kepada Baginda. Ini berarti peluang. Dengan mempergunakan peluang dan nama besar Baginda, Halayudha bisa menyusun persiapan. Namun juga tak bisa secepatnya. Karena sejak semula tak ada penegasan resmi dari Simping! Halayudha memakai cara yang sederhana.

Mengembangkan kabar bahwa Tantra sebenarnya berada dalam pengaruh aji sirep sehingga tidak sadar apa yang dilakukan. Kalau tidak, tak mungkin melakukan hal-hal yang memalukan. Hal ini dikaitkan dengan keadaan di mana para pendeta Syangka pernah menebarkan racun bubuk pagebluk. Akan tetapi kembali tanpa gema. Karena memang tak terlihat tanda-tanda yang jelas bahwa Senopati Tantra kelihatan tidak sadar. Apakah dengan menyusupkan kabar mengenai tata susila?

Bisa akan tetapi kecil kemungkinannya berhasil memancing kemarahan. Kabar bahwa Senopati Tantra berniat mengawini Permaisuri Rajapatni atau putri-putri Keraton dianggap sesuatu yang lumrah. Seperti juga kalau ia menyebarkan kabar bahwa penguasa yang baru sedang membagikan harta untuk keluarganya sendiri. Hanya yang kecil-kecil yang dibagikan kepada masyarakat. Apakah benar tak ada peluang sama sekali?

Itu tidak mungkin. Hanya Halayudha yang mampu melihat kekurangan dari yang sudah sempurna. Selalu saja ada yang bisa dicuatkan ke atas sehingga menarik perhatian. Kali ini Halayudha tak mau kepalang tanggung. Yang kemudian membuat Halayudha berani mendongakkan kepala ialah ketika terbuka bahwa sesungguhnya Senopati Tantra masih merupakan keturunan Raja Jayakatwang.

“Kalau Senopati Tantra bersedia menjelaskan hubungan darah itu sejauh mana, rasa-rasanya tak akan menjadi kabar santer yang menyebar.”

Pengabdian Halayudha
APA yang ditiupkan Halayudha berhasil merobek pandangan masyarakat serta para prajurit. Biar bagaimanapun, nama Raja Jayakatwang telanjur diterima sebagai seorang yang berkhianat, nama yang tidak disukai dalam dongengan asal-usul Keraton. Kabar itu menjalar lebih cepat, karena selama ini memang tak ada yang mengetahui secara pasti asal-usul Senopati Tantra.

Perubahan sikap mendasar ini menjadi pijakan utama Halayudha untuk bergerak. Yang pertama ditemui ialah Pangeran Anom. Pilihan ini berdasarkan bahwa secara garis keturunan, Pangeran Anom yang sekarang ini menduduki peringkat atas.

“Pangeran adalah keturunan langsung senopati Singasari. Besar atau kecil, banyak atau sedikit, keluarga dekat Pangeran yang banyak menjadi korban saat pemberontakan Raja Muda Gelang-Gelang….”

“Paman Halayudha…”

“Saya mengerti sikap dan nurani Pangeran yang maha welas asih. Akan tetapi kini saatnya Pangeran berbuat sesuatu bagi Keraton. Tak ada lagi yang berhak mewarisi takhta ini selain Pangeran, setelah Raja Jayanegara. Kalau bukan Pangeran, siapa lagi yang akan melakukan?”

“Masalahnya…”

“Masalahnya Pangeran agar menunjukkan diri tidak menyukai apa yang dilakukan Senopati Tantra sekarang ini. Kalau memang para prajurit tidak mendengar suara Pangeran, berarti kita salah menilai…”

“Ini bukan masalah sederhana. Rasanya saya perlu waktu untuk memikirkannya.”

Halayudha tersenyum. Pada saat berikutnya ia mengumpulkan para prajurit untuk menebarkan kabar selanjutnya. Bahwa Pangeran Anom, putra Senopati Agung Brahma, menganggap apa yang dilakukan Senopati Tantra tidak betul, melanggar tata krama. Apa yang dilakukan sekarang ini tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Raja Jayakatwang.

Tidak menunggu sampai matahari tenggelam, alun-alun mulai dipenuhi masyarakat dan para prajurit. Baik yang datang untuk melihat apa yang terjadi, maupun yang sama sekali tidak tahu-menahu. Saat itulah Halayudha maju. Menuju pintu gerbang Keraton.

“Senopati Sumlirih, Senopati Tantra, keluarlah. Lihat dan hadapi sendiri, jawab pertanyaan yang mengganjal di hati kami semua ini.”

Tanpa menunggu tarikan napas berikutnya, Halayudha menggertak. “Kalau memang Senopati tak mau melangkah keluar, biarlah kami yang melangkah ke dalam!”

Sekali mengibaskan tangannya, Halayudha mendorong pintu utama. Menimbulkan suara bergesekan. Dari dalam, para prajurit dalam keadaan siaga menyambut, sementara Senopati Tantra berdiri gagah di tengah-tengah. Sesaat Halayudha terkesiap. Darahnya mengalir turun.

“Aku di sini, Halayudha….”

“Aku bisa melihatmu. Seperti aku melihat kakek moyangmu dahulu. Senopati Tantra, untuk apa kamu korbankan para prajurit yang tak berdosa ini? Untuk apa kamu ulangi sejarah yang hina itu? Bukankah selama ini kamu sudah mendapat perlindungan, dan darah keturunanmu tak pernah diungkit-ungkit? Jawablah, Senopati Tantra!”

“Aku telah menduga, kamulah yang akan muncul, yang akan mengobarkan api permusuhan. Halayudha, jangan kamu kira aku tidak memperhitungkan keunggulanmu. Dengan mempersiapkan prajurit sebanyak ini, kamu ingin menegakkan kepalamu, mendongak sebagai pengabdi Keraton yang paling setia.”

“Aku datang tidak untuk mencari pahala, tidak untuk menunjukkan pengabdian. Aku hanyalah prajurit yang bersenjatakan pengabdian. Sebagai sesama prajurit, mari kita selesaikan sendiri. Jangan libatkan darah prajurit lain, hanya untuk kepuasan pribadi.”

Gagah kalimat Halayudha. Di balik kata-katanya yang memperlihatkan kegagahannya, Halayudha bisa memperhitungkan bahwa kalau ia satu lawan satu menghadapi Senopati Tantra, rasanya tak akan banyak mengalami kesulitan. Darah muda Tantra terbakar. Tetapi dua prajurit di sisi kiri dan kanannya maju lebih dulu.

“Kalau menghendaki pertarungan satu lawan satu, untuk apa kamu bawa semua prajurit?”

“Siapa kamu?”

“Pengikut setia Keraton. Saya tak perlu nama untuk dikenang di belakang hari.”

Halayudha meneguk air ludahnya sendiri. Benar-benar tak diduga bahwa situasinya bisa berubah. Tadinya diperkirakan bahwa dengan bermodalkan asal-usul keturunan Tantra, ia berhasil menggebrak habis. Nyatanya memang begitu, dalam menggerakkan para prajurit. Tetapi sikap keras dan tegas pengikut Tantra membuyarkan gebrakan yang mendadak.

“Baik, baik sekali. Kalian mengaku sebagai pengabdi Keraton. Itu yang paling gampang. Tahukah kalian semua, siapa yang sekarang kalian junjung tinggi? Baginda? Jelas bukan, karena Baginda lebih suka berada di Simping daripada di tempat ini. Itu pertanda tak ada restu dari Baginda. Tak seorang utusan pun dikirim kemari. Tidak juga seekor keledai! Tahukah kalian mengenai hal itu? Marilah kita lihat sekitar kita. Siapa yang berada dalam Keraton sekarang? Raja Jayanegara yang tak bebas bergerak. Siapa yang kalian abdi? Di sini ada Pangeran Anom, yang tak perlu diragukan lagi bagaimana sikap luhur dan jiwanya. Pangeran Anom yang datang dan meminta penjelasan mengenai tata keadilan Keraton kepada Raja. Tetapi pada saat Senopati Tantra memegang kekuasaan, kenapa Pangeran Anom tak mau berpihak kepada kalian? Masalahnya sangat gamblang, jelas, dan sederhana. Karena tidak melihat bahwa Tantra yang sekarang kalian lindungi ini pantas untuk diikuti langkahnya. Tujuh keturunan nanti akan menyesali apa yang kalian lakukan sekarang ini.”

Suara Halayudha mengguntur bagai meneriakkan bumi sedang kiamat.

“Sebentar lagi Mahapatih Nambi akan datang. Lengkap dengan para prajurit dan senjata. Apakah harus ada pengorbanan darah lagi? Sesama kita yang mengabdi kepada Keraton? Kalian mungkin meragukanku. Tetapi bahkan keringatku belum kering dari perjalanan ke Lumajang.”

Gelegar suara Halayudha makin memenuhi ruangan. “Tantra, masih ada waktu bagimu untuk seleh gegaman, meletakkan senjata. Di sekitar ini banyak senopati yang lebih berhak menjalankan tata pemerintahan daripada kamu. Senopati itu bukan saya dan juga bukan kamu. Kita harus tahu di mana kaki kita bertekuk untuk bersila.”

Senopati Tantra tergetar tubuhnya. Tangannya mencekal tombak erat-erat.

“Tantra, kamu ksatria yang gagah. Tapi bukan di situ tempatmu.”

Ayunan tombak yang keras dan cepat menyambut ucapan Halayudha. Merasa bisa memancing kemarahan lawan, Halayudha bersorak dalam hati. Ia tidak menghindar! Membiarkan tombak menusuk lambungnya yang terbuka. Senopati Tantra ragu. Ujung tombak yang sudah menyentuh kulit perut, tertahan. Inilah perhitungan cermat Halayudha!

“Kalau kamu puas dengan melenyapkanku, dan kemudian kembali ke jalan yang benar, aku rela melakukan itu semua. Demi ketenteraman dan pengurangan korban. Keraton memerlukan prajurit yang tangguh, seperti yang kamu bawa, seperti yang ada di sini ini.”

Pengaruh ucapan Halayudha yang ditunjang keberaniannya untuk menerima tusukan tombak, seketika mengubah suasana. Para prajurit yang mengawal Senopati Tantra mundur setindak. Senopati Tantra berdiri kaku. Pandangannya bias tak menentu.

“Masih ada waktu, Tantra… Maafkan aku….”

Dengan langkah biasa, Halayudha maju. Tangannya merangkul pundak Tantra, seolah kakak yang melindungi adiknya. Tanpa gerakan tertentu yang mengesankan sedang menyerang. Padahal itu yang dilakukan Halayudha. Mengumpulkan tenaga dalam di telapak tangan dan memainkan jurus Banjir Bandang Segara Asat!

Jasa Mahapatih
HALAYUDHA menunjukkan kelas yang sesungguhnya. Dengan caranya sendiri, ia berhasil menundukkan Senopati Tantra, tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Bahkan Senopati Tantra hanya bisa mendelik kuyu tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Dalam menepuk pundak Senopati Tantra, Halayudha menggunakan tenaga dalam Banjir Bandang Segara Asat. Ilmu yang menjadi andalan Paman Sepuh yang dulu pernah dikondangkan Ugrawe. Dalam memainkan tenaga dalam seperti itu, dibutuhkan kemampuan dan penguasaan yang tinggi.

Sebab menggempur lawan dengan jurus maut itu berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri. Karena jika lawan lebih unggul tenaga dalamnya, bisa-bisa Halayudha menjadi lumpuh karena tenaga dalamnya tersedot sepenuhnya. Sebaliknya jika unggul, lawanlah yang tersedot sepenuhnya. Untuk melancarkan serangan gawat ini, diperlukan persiapan yang matang dalam mengatur pernapasan. Halayudha seperti tidak melakukan itu, sehingga tak ada yang menyangka.

Padahal sebenarnya ketika berbicara sambil berjalan ke arah kanan dan kiri, ia tengah mengumpulkan tenaga dalam dan mengatur pernapasannya sesuai dengan ajaran yang ada. Tak ada yang memperhatikan, justru karena saat itu Halayudha tengah mengungkapkan peristiwa yang tak diduga bahwa Senopati Tantra masih merupakan keturunan Raja Jayakatwang.

Sesaat sebelum Halayudha menepuk, Senopati Tantra menyadari bahwa getaran tangan Halayudha berbeda. Ada tenaga dahsyat yang menggulung. Saat itulah Senopati Tantra mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menolak. Untuk melawan. Ini kesalahan fatal. Karena dengan adanya tenaga penolakan, tenaga yang ada menjadi terkuras karenanya. Justru jurus maut itu memerlukan lawan yang mengerahkan tenaganya!

Saat disadari, sudah terlambat. Senopati Tantra merasa tubuhnya terenyak, dan mendadak menjadi lemas seketika. Kalau saja sepuluh bagian tenaganya terkumpul semuanya, ia langsung habis. Andai itu yang terjadi, keculasan Halayudha bisa diketahui. Tapi, nyatanya tidak. Senopati Tantra hanya menjadi lunglai, tanpa tenaga sedikit pun. Sehingga kelihatan pasrah, menyerah ketika dirangkul dan dibimbing Halayudha. Seakan menyadari kesalahannya. Seakan mengakui kebenaran kata-kata Halayudha. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Sisa tenaga Senopati Tantra bergolak bagai letupan yang meledak-ledak.

“Bajingan maha busuk kamu, Halayudha…”

“Memang begitu, atau malah lebih busuk lagi,” bisik Halayudha perlahan di telinga Senopati Tantra.

“Terkutuk tujuh turunan…”

“Mungkin lebih. Sekarang ini biar matamu menerawang menyaksikan kebusukan ini semua….”

Cara mereka berdua berjalan sambil berbisik seolah memperlihatkan bahwa Halayudha masih tetap membujuk, menenangkan pikiran Senopati Tantra yang kalut. Dan kemudian terlihat pula bahwa Senopati Tantra menunduk, mengangguk-angguk. Padahal, Halayudha mengirimkan tenaga memijit yang sakitnya terasa di sekujur badan. Hanya saja Halayudha lebih dulu mematikan saraf ke arah bibir dan menguasai semua saraf. Sehingga kalau dipencet di bagian tertentu, anggota badannya bisa bergerak. Tak terlalu sulit membuat Senopati Tantra menjadi mengangguk-angguk. Dengan langkah gagah, Halayudha membimbing Senopati Tantra ke ruangan dalam, lalu mendudukkan. Ia sendiri kemudian kembali ke depan.

“Para prajurit Keraton yang gagah berani dan bersikap ksatria, mari kita letakkan gegaman. Kita sarungkan kembali keris, kita dongakkan tombak ke langit. Hari ini semua huru-hara kita anggap selesai. Tak ada pengampunan, karena tak ada yang dianggap bersalah. Kita harus bisa menunjukkan jiwa besar, memahami kekeliruan saudara kita sesama prajurit…”

Hampir secara bersamaan para prajurit mengangguk hormat. Halayudha segera membubarkan pertemuan. Ia sendiri kemudian masuk, menemui Raja, untuk mengembalikan cincin dan menceritakan bahwa keadaan sudah aman kembali. Bahwa Senopati Tantra dan para pengikutnya telah dibekuk. Tak ada halangan suatu apa. Raja Jayanegara menguap.

“Baguslah yang kamu lakukan, Halayudha….”

“Hamba hanya menjalankan tugas. Kebetulan saja Senopati Tantra bisa hamba tundukkan.”

“Aku sudah menduga, ini permainan anak kecil. Meskipun sempat juga bikin kaget. Bukan begitu, Praba?”

Praba Raga Karana mengangguk, menyembah dengan hormat.

“Tapi kita tak kekurangan apa-apa. Anak kecil yang ingin kondang memang biasa berbuat lucu. Bukan begitu, Praba?"

Praba Raga Karana kembali menyembah hormat.

“Aku tidak mengecilkan jasamu, Halayudha….”

“Maaf seribu maaf. Kalau hamba yang melakukan, itu betul-betul suatu kebetulan. Siapa pun, senopati mana pun, akan melakukan hal yang sama. Bahkan bisa lebih baik, kalau mereka mau.”

Raja yang sedang menikmati garukan di tengkuknya oleh para dayang jadi tegak. Tangannya mengibas, menyuruh para dayang berhenti melakukan tugasnya. Ringan nada suara Halayudha, akan tetapi berat maknanya. Dengan mengatakan “kalau mau”, berarti Halayudha mengisikkan selama ini tak ada yang berbuat seperti itu.

“Kenapa begitu, Halayudha?”

“Hamba kurang tahu, Sinuwun…”

“Atau kamu takut melaporkan padaku?”

“Raja maha mengetahui. Hamba takut kalau-kalau salah matur. Mohon maaf yang sebesar-besarnya…"

“Kuampuni kelancanganmu. Katakan apa yang kamu ketahui!”

“Hamba ini orang cubluk, orang yang rendah jalan pikirannya. Orang yang goblok dan tak tahu diri. Hanya yang hamba kuatirkan, kenapa selama ini tak ada yang berniat memulihkan kebesaran Raja. Senopati Tantra memang sakti, akan tetapi bukannya tak bisa dikalahkan. Apalagi ia berani berbuat sangat kurang ajar kepada Dewa. Ibarat kata, Senopati Tantra hanyalah anak kecil yang berani kencing berdiri di depan orang yang dihormati. Yang menjadi pertanyaan hamba, kenapa anak kecil ini berani berbuat seperti itu? Apakah bukan tidak mungkin ada yang mendalangi?”

“Masuk akal. Lalu?”

“Ini hamba kaitkan dengan peranan Senopati Tantra, yang selama ini menjadi bawahan resmi Tujuh Senopati Utama. Barangkali hanya kebetulan belaka, bahwa ketujuh dharmaputra ini merasa sebagai senopati unggulan Baginda, yang-bisa saja-merasa tersingkir dengan minggirnya Baginda ke Simping. Namun ini saja agaknya belum cukup kuat. Tujuh Senopati Utama, walaupun diperlakukan istimewa, tak mempunyai uluran tangan yang panjang dalam menggerakkan para prajurit. Ada yang lebih berkuasa lagi.”

“Kamu maksudkan Mahapatih Nambi?”

“Inggih…”

“Apakah ia mendalangi Tantra?”

“Sumpah mati, rasanya tidak mungkin. Hamba tak berani menduga sedurhaka itu. Hanya saja, selama ini hamba ditugaskan Baginda untuk memanggil kembali Mahapatih Nambi. Dan sedang berada di sana sewaktu kabar Senopati Tantra merebut kekuasaan Keraton. Apa yang hamba saksikan, Mahapatih Nambi hanya mengangguk, berdiam, dan membiarkan hamba kembali sendirian. Sampai saat ini Mahapatih Nambi tetap tak muncul. Duh, Raja. Hamba tak berani menduga yang bukan-bukan. Akan tetapi tersimpan pertanyaan, kenapa Mahapatih tidak segera memenuhi dawuh Raja yang memerintah? Tersimpan bersama gundukan pertanyaan lain yang muncul kemudian. Kenapa ketika Senopati Tantra memegang kekuasaan, tidak menyinggung nama Mahapatih sedikit pun, termasuk yang disingkirkan, mengingat jabatan Mahapatih praktis di tangannya? Kenapa tidak ada keberanian atau kebijakan untuk berbuat itu? Bahkan seolah tetap memberikan pangkat dan derajat yang sama?”

Kali ini Raja mengangguk. Kedua kakinya yang menginjak lantai bergerak-gerak, sengaja ataupun tidak. Bergetar. “Agaknya kamu pantas menjabat sebagai mahapatih. Jasamu dalam hal ini termasuk besar. Bukan begitu, Praba?”

Raja memandang sekejap, lalu menatap lama. “Kenapa kamu berdiam diri? Tidak setuju Halayudha menjadi mahapatih? Ataukah dia lebih cocok tetap sebagai senopati?”

Praba Raga Karana menunduk.

“Hamba memang tidak pantas, Sinuwun. Karena biar bagaimanapun, Nambi masih menjabat mahapatih resmi…” Halayudha tak mau menunggu. Ia menawarkan diri dengan angka tertinggi!

Menjebol Pohon, Meratakan Tanah
SEKARANG saat yang paling tepat. Dalam kondisi dan situasi yang masih belum menentu, posisi dirinya menjadi sangat berarti. Kalau saja Praba Raga Karana mengangguk, selesailah semuanya! Sampailah ia ke tangga yang paling dikehendaki. Kedudukan paling tinggi yang bisa dikuasai. Tapi, demi segala Dewa, apa yang menyebabkan janda buruk rupa ini tak mau mengangguk? Halayudha tak mau menahan diri lagi. Itu sebabnya ia memajukan alasan, bahwa selama ini resminya yang menjabat mahapatih masih Mpu Nambi! Berarti yang ada harus dilepas lebih dulu.

“Aku tahu, tak usah kamu katakan, Halayudha!” Suara Raja sedikit berubah. Agak keras.

Halayudha menyembah.

“Apa susahnya mengambil kembali pangkat dan derajat yang kuberikan? Aku yang berkuasa. Ingsun pribadi yang memutuskan. Sekarang aku mau mendengar, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu menjadi mahapatih?”

“Hamba tak bisa berbuat apa-apa, selain kesetiaan dan pengabdian, seperti semua prajurit, seperti yang selama ini hamba lakukan….” Dengan suara lembut, terasa betul betapa Halayudha ingin menekankan jasanya menumpas Senopati Tantra dan mengembalikan takhta ke Raja. “Dan tugas utama prajurit, menjaga Keraton beserta isinya, melestarikan kewibawaan Raja, tanpa ada keraguan seujung rambut dibelah selaksa. Tak ada yang lain. Prajurit adalah abdi Keraton. Betapa mudah menumpas Senopati Tantra yang mbalela, yang memberontak. Tetapi betapa sesungguhnya tugas prajurit adalah mencegah sedini mungkin munculnya persemaian mengerikan semacam itu.”

“Dalam situasi sekarang ini apa yang akan kamu lakukan?”

“Agar bisa melihat lebih jelas, tanah harus diratakan. Agar pandangan tak terganggu. Barangkali dalam meratakan tanah, terpaksa menyingkirkan satu atau dua pohon. Satu atau dua pohon yang akarnya tertanam dalam pun harus direlakan. Demi ketenteraman, kesentosaan, dan demi tata tentrem kerta raharja…”

Raja mengangguk perlahan. Tangan kirinya mengelus pundak Praba Raga Karana. “Siapa pohon-pohon itu?”

“Pohon yang tertanam lebih dulu.”

“Baginda?”

Halayudha terbatuk. Seakan mewakili keheranan Raja.

“Kamu lancang sekali…”

“Hamba, Sinuwun, hamba lancang sekali…”

“Kamu tahu bahwa kelancanganmu bisa membuatku memerintahkan mulutmu disobek?”

“Hamba… Hamba yakin seyakin-yakinnya, atas nama Dewa Yang Maha Mengetahui dan Mahaagung, bahwa Baginda tak sedikit pun mempunyai pikiran yang lain. Bahkan sejak masih timur, Sinuwun telah dicalonkan sebagai putra mahkota. Akan tetapi, Baginda bisa disalahgunakan kebesaran dan kewibawaannya. Contoh yang paling jelas adalah Tujuh Senopati Utama. Para senopati utama ini, sebenarnya harus menjawab dalam hati, apakah mereka mengabdi kepada Baginda atau kepada Raja yang memerintah secara bijaksana? Hal ini bisa menjadi lebih keruh lagi, karena para putri Sri Baginda Raja masih menyimpan impian lama. Apalagi Permaisuri Rajapatni, yang masih percaya bahwa garis keturunannya langsung yang akan menjadi raja besar. Sangat mudah dimengerti, jika Permaisuri Rajapatni-lah satu-satunya yang diundang ke Keraton oleh Senopati Tantra untuk menjadi pengayom. Dalam hal ini, Baginda terlalu bermurah hati, dan disalahgunakan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Mereka yang hanya mau memperoleh keuntungan pribadi dengan menginjak mayat keluarga lain.”

Raja mendesis. Semua yang dikatakan Halayudha bisa diterima. Ada bukti nyata dari apa yang disebutkan. Padahal, Halayudha sengaja memakai kenyataan, dengan memutarbalikkan, sebagai bukti yang memperkuat siasatnya.

“Aku bisa menerima alasan yang kamu katakan. Tetapi mana mungkin aku menjebol pohon yang utama itu?”

“Bukan pohonnya, duh Raja. Tetapi pohon-pohon kecil yang selama ini berpura-pura berlindung di bawahnya.”

“Tujuh pohon itu yang dijebol?”

Halayudha menyembah hormat. “Mereka bisa dikucilkan. Bisa tetap menjadi senopati utama, akan tetapi tidak memegang garis komando secara langsung.”

“Itu jalan yang baik. Kamu tadi menyebutkan dua pohon, lalu siapa pohon yang satunya yang harus dijebol?”

“Pohon yang tumbuh di Lumajang.” Halayudha semakin tidak ragu-ragu melaksanakan niatnya. Kalau memang mau meratakan tanah, semuanya harus disingkirkan!

“Apa susahnya itu? Tetapi apa salahnya? Bukankah selama ini ia sudah menjalankan palapa sedang istirahat?”

“Pohon di Lumajang memang beristirahat. Tak ada apa-apanya. Akan tetapi Raja yang maha tahu dan bijak bisa melihat sendiri bahwa pohon itu bisa menjadi subur, bisa bersemai, dan menjadi pusat pohon-pohon sekitarnya, yang akhirnya menjadi hutan lebat yang bisa menghalangi pandangan. Apalagi kalau dilihat bahwa di Lumajang sudah terkumpul para ksatria dan pembentukan prajurit baru.”

Raja menekuk-nekuk buku jarinya. Lalu kembali tenang. Meremas pundak Praba Raga Karana. “Terasakan olehku bahwa kamu sudah menyiapkan diri menjadi mahapatih. Itu menimbulkan kecurigaan juga. Tapi dalam hal lain, aku setuju. Mulai sekarang juga, aku memerintahkan agar Tujuh Senopati Utama dicopot, dilucuti, semua tugas dan wewenang yang berhubungan dengan pemberian perintah kepada prajurit mana pun. Tak ada satu prajurit pun yang menerima perintah dari mereka. Mulai sekarang juga, Tujuh Senopati Utama tidak diperbolehkan berada di Simping. Mulai sekarang juga, semua prajurit yang mengawal Baginda di Simping diganti. Mulai sekarang juga, Mahapatih Nambi…”

Kalimat Raja tak selesai karena Praba Raga Karana menunduk rata dengan lantai.

“Akan kuputuskan nanti mengenai hal itu. Halayudha aku memerintahkan kamu menyampaikan hal ini.”

Halayudha menyembah hormat. Kemudian beringsut mundur. Saat itu juga memerintahkan juru tulis Keraton mencatat semua kalimat perintah Raja dan menyertakan cincin untuk segera menyampaikan kepada Tujuh Senopati Utama. Demikian juga perintah mengenai penggantian semua prajurit di Simping. Dan dengan diam-diam memerintahkan agar selalu mengawasi segala perubahan dalam masyarakat. Melaporkan segala perubahan dalam masyarakat. Melaporkan apa yang didengar dan dilihat.

Secara khusus, Halayudha juga memerintahkan agar melaporkan hal yang sama dari Lumajang. Ini yang masih mengganjal. Lumajang. Mahapatih Nambi! Dewa mana yang melindunginya, sehingga Praba Raga Karana yang tak tahu arah utara-selatan tata krama pemerintahan, bisa tidak setuju dengan pencopotannya? Padahal, kalau dilihat dari peluang dirinya untuk menduduki jabatan, justru Nambi yang harus disingkirkan lebih dulu!

Sekarang tinggal mengatur siasat, bagaimana cara yang aman dan selamat, tetapi mengenai sasaran. Yang paling mudah adalah mempengaruhi janda buruk rupa itu, pikir Halayudha. Tapi justru di sini susahnya. Wanita itu tak pernah berpisah dari Raja. Selalu menempel bagai daki. Jalan kedua, memancing Mahapatih Nambi. Ini juga tidak mudah. Mahapatih yang satu ini luar biasa setia dan selalu bisa berpikir secara jernih. Berarti tak bisa secara langsung.

Halayudha tersenyum-senyum. Ia memuji dirinya sendiri yang bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Ia yakin sekali ini rencananya akan berjalan dengan mulus. Cukup banyak senopati yang sekarang ini nasibnya sedang terombang-ambing. Antara terus memegang jabatan atau tersingkir. Jumlah yang kuatir cukup banyak. Mereka inilah yang akan dipakai. Itu hanya memerlukan satu kedipan mata untuk melaksanakannya.

Suara Hati, Suara Tanpa Bunyi
RAJA JAYANEGARA tidak memedulikan Halayudha. Kalaupun kemudian teringat, itu semata-mata karena menyangkut Praba Raga Karana. Sewaktu berada di taman yang sengaja dibangun untuk kesenangan Praba, Raja mengelilingi dari ujung ke ujung. Selama Keraton dalam penguasaan Senopati Tantra, Raja tak mempunyai kesempatan menengok. Baru sekarang ini bisa melihat taman yang dipenuhi sungai buatan, air mengalir dari bagian atas, tepat di bawah pepohonan.

Di bagian lain, tersimpan beberapa jenis binatang berbisa. Mulai dari ular, kalajengking, maupun semut sengat. Ketiga jenis binatang ini, sekali memagut bisa membinasakan manusia. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari, mengumpulkan, dan melatih pawangnya.

“Aku memeliharanya sejak kecil, Praba. Kamu suka?”

Praba mengangguk. Tak ada siapa-siapa di taman itu selain mereka berdua. Tidak juga burung-burung bebas, karena Raja paling tidak suka hal itu.

“Tidak suka, Praba?”

“Hamba menyukai apa yang Paduka sukai.”

JILID 26BUKU PERTAMAJILID 28

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 27

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 27

“Sebentar lagi bilik ini akan penuh diisi para dharmaputra yang selama ini diagungkan, akan tetapi tak mampu berbuat apa-apa selain menggerutu…”

Senopati Kuti terbatuk keras. Darah segar tersembur. Membasahi dada yang telanjang.

“Tenangkan dirimu, Senopati Kuti yang gagah berani. Tantra sudah melakukan. Berani melakukan. Itu yang lebih hebat. Dengan perhitungan yang sangat berani. Di saat Keraton sepi dari segala kekuatan, ia bergerak maju. Tak ada Mahapatih Nambi sekarang ini. Tak ada Halayudha. Tak ada pergolakan para ksatria. Bukankah itu sederhana sekali? Tapi justru yang sederhana ini tak kita mengerti.”

“Senopati… Tanca…”

“Saya bisa mengerti apa yang dilakukan Tantra. Tidak berarti setuju atau tidak. Kita lihat saja nanti. Hmmmmm, saya bisa mengerti kerisauan Senopati yang gagah berani. Dengan tindakan ini, Tantra mengguncang sendi-sendi yang kita bangun dengan susah payah. Rintisan yang kita lakukan secara perlahan jadi buyar karenanya. Tapi apa bedanya? Sekarang sudah berhasil. Senopati yang gagah berani, maafkan kalau saya banyak bicara sekali. Marilah kita kurangi ingsun kita, perasaan menang, perasaan sebagai senopati perang yang selalu menyelesaikan persoalan. Apakah ketidaksetujuan kita dengan tindakan Tantra karena kita iri, karena bukan kita yang melakukan?”

Senopati Kuti memuntahkan darah segar untuk kedua kalinya. Senopati Tanca memanggil penjaga, dan mengatakan bahwa sebaiknya diberikan perawatan. Kalau ia diberi izin, ia bisa meramu jejamuan. Ketika keleluasaan itu diberikan, Senopati Tanca menelan ludahnya dengan lega.

“Sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kamardikan yang diberikan ini. Rasanya dalam zaman mana pun, belum pernah ada kelonggaran yang begini sempurna.”

Senopati Tanca meminta bahan ramuan, dan ia menggilas sendiri serta meminumkan cairan secara paksa ke mulut Senopati Kuti.

“Saya mengobati, akan tetapi saya ingin bicara yang mungkin bisa melukai hati Senopati. Hmmm, bukankah lebih baik kita membantu Tantra? Bukankah Tantra perlu persiapan jika Mahapatih Nambi kembali nanti? Atau juga Halayudha? Bagaimana pendapatmu, Senopati?”

Senopati Kuti menggeleng berkali-kali. Cairan jamu yang sudah masuk ke mulut dimuntahkan kembali. “Tantra kraman kepada kita, meludahi kita, menginjak wajah kita dengan kaki yang kotor! Bukan memberontak kepada Raja.”

Senopati Tanca menjilat bibirnya. “Satu hal selalu akan saya ingat. Bahwa keraguan tak pernah memberikan hasil apa-apa… Juga kalau kita sendiri ragu menilai apa yang dilakukan oleh Tantra. Hmmm, Senopati yang gagah berani... Maaf, mulai sekarang ini kita memilih jalan sendiri-sendiri. Apa yang baik bagi Senopati, silakan lakukan. Apa yang baik bagi saya, akan saya lakukan. Kita bertujuh diikat oleh kebersamaan dalam peperangan. Tapi ternyata tidak dalam hati. Maaf, Senopati….”

Senopati Sumlirih
YANG paling terpana sebenarnya Halayudha. Sehingga rencana perjalanan ke Lumajang tak diteruskan. Begitu mendengar kabar perubahan yang terjadi di Keraton dengan naiknya Senopati Tantra sebagai pemegang kekuasaan sehari-hari, Halayudha memutuskan kembali secepatnya. Dalam perjalanan, Halayudha berusaha keras menenangkan hatinya. Beberapa kali ia mengucak-ngucak matanya, seakan meyakinkan diri bahwa apa yang didengarnya bukanlah mimpi yang berkepanjangan.

Ia yang bergulat terus-menerus di dalam Keraton tak pernah menyangka sama sekali bahwa dengan satu gerakan sederhana, Tantra bisa mengubah jalannya tata pemerintahan. Selama ini Halayudha menyiapkan diri dengan segala kemampuan akalnya untuk merayap naik atau setidaknya bisa bertahan. Dengan cara apa pun. Kalau perlu menjadikan dirinya sebagai keset atau pembersih alas kaki, dan memang benar-benar rata dengan tanah. Semua keinginan dan pandangannya diratakan hingga runduk benar.

Sebutan sebagai gedibal atau pembantu yang paling tidak berarti pun diterima dengan lapang dada. Hanya untuk mempertahankan dirinya dari gelombang perubahan naik dan turunnya pangkat serta derajat. Boleh dikatakan sepenuh kemampuan yang ada dikerahkan untuk itu. Tanpa menikmati hal-hal kecil yang bersifat duniawi. Sungguh tak masuk akal sama sekali. Bahwa ternyata hanya dengan satu langkah saja, Tantra berhasil merebut segalanya.

Sepanjang perjalanan kembali, Halayudha menghitung langkah apa yang akan diambil. Menghadap Tantra? Melaporkan hasil kunjungannya? Ada rasa risi untuk menemui senopati muda usia. Kalau yang naik Senopati Kuti atau Semi, Halayudha masih bisa menindih rasa sungkannya. Akan tetapi kalau yang disowani anak kemarin sore yang tak bisa menangkap kekang kudanya, itu soal harga diri. Akan tetapi jika ia tidak melapor, ia akan dimusuhi seluruh Keraton. Yang setia kepada Senopati Tantra.

Lagi pula kini dirinya secara resmi adalah utusan Raja, yang mengenakan cincin pemberian Raja. Halayudha terus berhitung. Yang juga masih menjadi teka-teki bagi Halayudha ialah bagaimana kelanjutan gerakan Tantra. Satu hal pasti: Tantra menunggu restu dari Baginda. Hal ini yang belum jelas benar. Apakah Baginda berkenan memegang takhta kembali atau tidak. Jika ada restu, tak menjadi masalah. Jika tidak, Keraton akan benar-benar menjadi karang abang, menjadi lautan api. Kembali berdarah. Halayudha merasa tak bisa menentukan sikap secepatnya. Kekayaan akalnya menjadi jungkir balik menghadapi Tantra.

"Jagat selalu memberi kesempatan kepada pandangan muda. Aneh sekali. Kenapa bisa terjadi perubahan seperti ini? Apa yang sesungguhnya dikehendaki Dewa?”

Situasi yang ada sekarang ini benar-benar di luar dugaan siapa pun. Rasanya para Dewa yang biasa-biasa bisa kaget. Dari mana Tantra menyandarkan kekuatannya? Kalau benar tak ada dukungan dari Tujuh Senopati Utama, ini bisa dipakai sebagai cara untuk membangkitkan pertentangan. Akan tetapi jalan pikiran itu terpupus dengan sendirinya. Memang ada pertentangan, akan tetapi tak bisa dipakai landasan buat memperkeruh suasana.

Dua dari Tujuh Senopati Utama sekarang berada di Keraton, akan tetapi dengan serta-merta Senopati Tantra mengumumkan sendiri, bahwa selama ini kedua senopati utama itu berada di Keraton atas kemauannya sendiri. Bahkan dikatakan bahwa keduanya, seperti juga senopati yang lain, tetap berhak atas derajat dan pangkat serta kehormatannya selama ini. Ruwet. Ruwet, justru karena sikap Senopati Tantra sangat lugas dan apa adanya.

“Semua bangsawan agung bisa kukenali kelemahannya. Bisa kuajak dan kuarahkan ke apa yang disukai secara diam-diam. Apa yang menjadi kesukaan Tantra, rasanya masih sulit ditebak. Kemudaannya menyingkirkan semua pamrih….”

Tak ada keinginan tertentu, pahala tertentu yang dikejar. Tidak juga mengenal harta benda, emas intan berlian. Bahkan sejak awal, Senopati Tantra menyebut-nyebut bahwa senopati yang berjiwa ksatria harus bisa menjaga diri dari godaan nafsu makan dan minum. Sebutan Senopati Sumlirih menjadi bahan pembicaraan yang umum. Senopati Tantra memelopori jatah makan secara ransum. Jatah makan yang berlebihan, upacara minum tuak buah kelapa, ditiadakan. Bahkan diperintahkan untuk tidak mengadakan perjamuan yang menghambur-hamburkan kekayaan secara tak perlu.

Ia sendiri memulai membagikan harta miliknya, yang mau tak mau segera diikuti oleh para bangsawan yang lain. Setiap hari ada saja bangsawan dan kerabat Keraton yang menyerahkan perhiasan serta harta simpanan untuk disumbangkan kepada rakyat. Yang juga mencengangkan adalah tindakan Senopati Tantra untuk membebaskan semua bandan, semua tawanan. Termasuk Pangeran Anom! Para pembesar dari negeri seberang seperti Pangeran Jenang juga diberi kebebasan penuh untuk kembali ke negerinya atau tetap berdiam diri di Keraton.

Agaknya Senopati Tantra berada dalam mimpi, begitu perhitungan Halayudha. Semua tindakannya hanya mencari nama yang harum. Upeti-upeti yang selama ini dikenakan untuk pasar, untuk binatang, serta-merta ditiadakan. Persediaan bahan makanan yang berada di lumbung Keraton dibongkar dan dibagikan kepada masyarakat.

Benar-benar berlebihan, menurut penilaian Halayudha. Akan tetapi nyatanya, gema dari tindakan Senopati Tantra segera mendapatkan dukungan yang lain. Bukan hanya lumbung Keraton yang sebagian isinya dibagi-bagikan, melainkan juga beberapa senjata yang selama ini menumpuk, diberikan kepada mereka yang berniat menjadi prajurit. Sehingga Halayudha harus memeras otaknya kalau ingin muncul ke permukaan. Muncul sebagai orang yang tak menyukai perubahan sekarang ini.

Karena kalau ia memilih memihak kepada Senopati Tantra, besar kemungkinannya ia tak akan mendapatkan apa-apa. Mengingat hubungan pribadi yang juga tidak baik, di samping Senopati Tantra sangat keras memegang teguh tata pemerintahan. Perhitungan yang masih ada, menyisakan kemungkinan hadirnya Mahapatih Nambi. Ia bisa memakai sebagai kekuatan utama. Biar bagaimanapun, Mahapatih Nambi masih mempunyai pengaruh yang sangat luas. Hanya saja, jawabannya masih teka-teki lama. Apakah Mahapatih akan memihak kepada Senopati Tantra atau sebaliknya?

Kemungkinan pertama yang dikuatirkan akan terjadi. Sebab, Senopati Tantra sejak awal mengatakan bahwa ia tak berniat memegang jabatan itu, dan tetap akan menolak. Ia tetap akan menjalankan tugasnya sebagai senopati. Berarti tempat utama tak diubah. Berarti Mahapatih Nambi malah bisa kembali memegang kekuasaan, karena keadaan menghendaki. Peluang yang lain ialah keadaan Raja Jayanegara.

Halayudha mulai menjalankan aksinya. Melalui para kerabat Keraton, Halayudha menyebarkan kabar bahwa Baginda tidak merestui apa yang dilakukan oleh Senopati Tantra. Bahkan para senopati utama yang menjadi atasan langsung juga mengutuk perbuatan Tantra. Sementara para pengikut Raja disulut dengan kabar bahwa sesungguhnya perlakuan yang dialami Raja sangat menyedihkan. Sama sekali tidak mengenal tata krama.

Akan tetapi ternyata tak ada gemanya. Kabar mengenai Senopati Utama bisa terbantah dengan mudah. Kabar mengenai Raja tidak diperlakukan. Dengan baik, ternyata juga tak menggoyang keadaan. Agaknya penduduk dan para senopati lebih terikat kepada Baginda. Ini berarti peluang. Dengan mempergunakan peluang dan nama besar Baginda, Halayudha bisa menyusun persiapan. Namun juga tak bisa secepatnya. Karena sejak semula tak ada penegasan resmi dari Simping! Halayudha memakai cara yang sederhana.

Mengembangkan kabar bahwa Tantra sebenarnya berada dalam pengaruh aji sirep sehingga tidak sadar apa yang dilakukan. Kalau tidak, tak mungkin melakukan hal-hal yang memalukan. Hal ini dikaitkan dengan keadaan di mana para pendeta Syangka pernah menebarkan racun bubuk pagebluk. Akan tetapi kembali tanpa gema. Karena memang tak terlihat tanda-tanda yang jelas bahwa Senopati Tantra kelihatan tidak sadar. Apakah dengan menyusupkan kabar mengenai tata susila?

Bisa akan tetapi kecil kemungkinannya berhasil memancing kemarahan. Kabar bahwa Senopati Tantra berniat mengawini Permaisuri Rajapatni atau putri-putri Keraton dianggap sesuatu yang lumrah. Seperti juga kalau ia menyebarkan kabar bahwa penguasa yang baru sedang membagikan harta untuk keluarganya sendiri. Hanya yang kecil-kecil yang dibagikan kepada masyarakat. Apakah benar tak ada peluang sama sekali?

Itu tidak mungkin. Hanya Halayudha yang mampu melihat kekurangan dari yang sudah sempurna. Selalu saja ada yang bisa dicuatkan ke atas sehingga menarik perhatian. Kali ini Halayudha tak mau kepalang tanggung. Yang kemudian membuat Halayudha berani mendongakkan kepala ialah ketika terbuka bahwa sesungguhnya Senopati Tantra masih merupakan keturunan Raja Jayakatwang.

“Kalau Senopati Tantra bersedia menjelaskan hubungan darah itu sejauh mana, rasa-rasanya tak akan menjadi kabar santer yang menyebar.”

Pengabdian Halayudha
APA yang ditiupkan Halayudha berhasil merobek pandangan masyarakat serta para prajurit. Biar bagaimanapun, nama Raja Jayakatwang telanjur diterima sebagai seorang yang berkhianat, nama yang tidak disukai dalam dongengan asal-usul Keraton. Kabar itu menjalar lebih cepat, karena selama ini memang tak ada yang mengetahui secara pasti asal-usul Senopati Tantra.

Perubahan sikap mendasar ini menjadi pijakan utama Halayudha untuk bergerak. Yang pertama ditemui ialah Pangeran Anom. Pilihan ini berdasarkan bahwa secara garis keturunan, Pangeran Anom yang sekarang ini menduduki peringkat atas.

“Pangeran adalah keturunan langsung senopati Singasari. Besar atau kecil, banyak atau sedikit, keluarga dekat Pangeran yang banyak menjadi korban saat pemberontakan Raja Muda Gelang-Gelang….”

“Paman Halayudha…”

“Saya mengerti sikap dan nurani Pangeran yang maha welas asih. Akan tetapi kini saatnya Pangeran berbuat sesuatu bagi Keraton. Tak ada lagi yang berhak mewarisi takhta ini selain Pangeran, setelah Raja Jayanegara. Kalau bukan Pangeran, siapa lagi yang akan melakukan?”

“Masalahnya…”

“Masalahnya Pangeran agar menunjukkan diri tidak menyukai apa yang dilakukan Senopati Tantra sekarang ini. Kalau memang para prajurit tidak mendengar suara Pangeran, berarti kita salah menilai…”

“Ini bukan masalah sederhana. Rasanya saya perlu waktu untuk memikirkannya.”

Halayudha tersenyum. Pada saat berikutnya ia mengumpulkan para prajurit untuk menebarkan kabar selanjutnya. Bahwa Pangeran Anom, putra Senopati Agung Brahma, menganggap apa yang dilakukan Senopati Tantra tidak betul, melanggar tata krama. Apa yang dilakukan sekarang ini tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Raja Jayakatwang.

Tidak menunggu sampai matahari tenggelam, alun-alun mulai dipenuhi masyarakat dan para prajurit. Baik yang datang untuk melihat apa yang terjadi, maupun yang sama sekali tidak tahu-menahu. Saat itulah Halayudha maju. Menuju pintu gerbang Keraton.

“Senopati Sumlirih, Senopati Tantra, keluarlah. Lihat dan hadapi sendiri, jawab pertanyaan yang mengganjal di hati kami semua ini.”

Tanpa menunggu tarikan napas berikutnya, Halayudha menggertak. “Kalau memang Senopati tak mau melangkah keluar, biarlah kami yang melangkah ke dalam!”

Sekali mengibaskan tangannya, Halayudha mendorong pintu utama. Menimbulkan suara bergesekan. Dari dalam, para prajurit dalam keadaan siaga menyambut, sementara Senopati Tantra berdiri gagah di tengah-tengah. Sesaat Halayudha terkesiap. Darahnya mengalir turun.

“Aku di sini, Halayudha….”

“Aku bisa melihatmu. Seperti aku melihat kakek moyangmu dahulu. Senopati Tantra, untuk apa kamu korbankan para prajurit yang tak berdosa ini? Untuk apa kamu ulangi sejarah yang hina itu? Bukankah selama ini kamu sudah mendapat perlindungan, dan darah keturunanmu tak pernah diungkit-ungkit? Jawablah, Senopati Tantra!”

“Aku telah menduga, kamulah yang akan muncul, yang akan mengobarkan api permusuhan. Halayudha, jangan kamu kira aku tidak memperhitungkan keunggulanmu. Dengan mempersiapkan prajurit sebanyak ini, kamu ingin menegakkan kepalamu, mendongak sebagai pengabdi Keraton yang paling setia.”

“Aku datang tidak untuk mencari pahala, tidak untuk menunjukkan pengabdian. Aku hanyalah prajurit yang bersenjatakan pengabdian. Sebagai sesama prajurit, mari kita selesaikan sendiri. Jangan libatkan darah prajurit lain, hanya untuk kepuasan pribadi.”

Gagah kalimat Halayudha. Di balik kata-katanya yang memperlihatkan kegagahannya, Halayudha bisa memperhitungkan bahwa kalau ia satu lawan satu menghadapi Senopati Tantra, rasanya tak akan banyak mengalami kesulitan. Darah muda Tantra terbakar. Tetapi dua prajurit di sisi kiri dan kanannya maju lebih dulu.

“Kalau menghendaki pertarungan satu lawan satu, untuk apa kamu bawa semua prajurit?”

“Siapa kamu?”

“Pengikut setia Keraton. Saya tak perlu nama untuk dikenang di belakang hari.”

Halayudha meneguk air ludahnya sendiri. Benar-benar tak diduga bahwa situasinya bisa berubah. Tadinya diperkirakan bahwa dengan bermodalkan asal-usul keturunan Tantra, ia berhasil menggebrak habis. Nyatanya memang begitu, dalam menggerakkan para prajurit. Tetapi sikap keras dan tegas pengikut Tantra membuyarkan gebrakan yang mendadak.

“Baik, baik sekali. Kalian mengaku sebagai pengabdi Keraton. Itu yang paling gampang. Tahukah kalian semua, siapa yang sekarang kalian junjung tinggi? Baginda? Jelas bukan, karena Baginda lebih suka berada di Simping daripada di tempat ini. Itu pertanda tak ada restu dari Baginda. Tak seorang utusan pun dikirim kemari. Tidak juga seekor keledai! Tahukah kalian mengenai hal itu? Marilah kita lihat sekitar kita. Siapa yang berada dalam Keraton sekarang? Raja Jayanegara yang tak bebas bergerak. Siapa yang kalian abdi? Di sini ada Pangeran Anom, yang tak perlu diragukan lagi bagaimana sikap luhur dan jiwanya. Pangeran Anom yang datang dan meminta penjelasan mengenai tata keadilan Keraton kepada Raja. Tetapi pada saat Senopati Tantra memegang kekuasaan, kenapa Pangeran Anom tak mau berpihak kepada kalian? Masalahnya sangat gamblang, jelas, dan sederhana. Karena tidak melihat bahwa Tantra yang sekarang kalian lindungi ini pantas untuk diikuti langkahnya. Tujuh keturunan nanti akan menyesali apa yang kalian lakukan sekarang ini.”

Suara Halayudha mengguntur bagai meneriakkan bumi sedang kiamat.

“Sebentar lagi Mahapatih Nambi akan datang. Lengkap dengan para prajurit dan senjata. Apakah harus ada pengorbanan darah lagi? Sesama kita yang mengabdi kepada Keraton? Kalian mungkin meragukanku. Tetapi bahkan keringatku belum kering dari perjalanan ke Lumajang.”

Gelegar suara Halayudha makin memenuhi ruangan. “Tantra, masih ada waktu bagimu untuk seleh gegaman, meletakkan senjata. Di sekitar ini banyak senopati yang lebih berhak menjalankan tata pemerintahan daripada kamu. Senopati itu bukan saya dan juga bukan kamu. Kita harus tahu di mana kaki kita bertekuk untuk bersila.”

Senopati Tantra tergetar tubuhnya. Tangannya mencekal tombak erat-erat.

“Tantra, kamu ksatria yang gagah. Tapi bukan di situ tempatmu.”

Ayunan tombak yang keras dan cepat menyambut ucapan Halayudha. Merasa bisa memancing kemarahan lawan, Halayudha bersorak dalam hati. Ia tidak menghindar! Membiarkan tombak menusuk lambungnya yang terbuka. Senopati Tantra ragu. Ujung tombak yang sudah menyentuh kulit perut, tertahan. Inilah perhitungan cermat Halayudha!

“Kalau kamu puas dengan melenyapkanku, dan kemudian kembali ke jalan yang benar, aku rela melakukan itu semua. Demi ketenteraman dan pengurangan korban. Keraton memerlukan prajurit yang tangguh, seperti yang kamu bawa, seperti yang ada di sini ini.”

Pengaruh ucapan Halayudha yang ditunjang keberaniannya untuk menerima tusukan tombak, seketika mengubah suasana. Para prajurit yang mengawal Senopati Tantra mundur setindak. Senopati Tantra berdiri kaku. Pandangannya bias tak menentu.

“Masih ada waktu, Tantra… Maafkan aku….”

Dengan langkah biasa, Halayudha maju. Tangannya merangkul pundak Tantra, seolah kakak yang melindungi adiknya. Tanpa gerakan tertentu yang mengesankan sedang menyerang. Padahal itu yang dilakukan Halayudha. Mengumpulkan tenaga dalam di telapak tangan dan memainkan jurus Banjir Bandang Segara Asat!

Jasa Mahapatih
HALAYUDHA menunjukkan kelas yang sesungguhnya. Dengan caranya sendiri, ia berhasil menundukkan Senopati Tantra, tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Bahkan Senopati Tantra hanya bisa mendelik kuyu tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Dalam menepuk pundak Senopati Tantra, Halayudha menggunakan tenaga dalam Banjir Bandang Segara Asat. Ilmu yang menjadi andalan Paman Sepuh yang dulu pernah dikondangkan Ugrawe. Dalam memainkan tenaga dalam seperti itu, dibutuhkan kemampuan dan penguasaan yang tinggi.

Sebab menggempur lawan dengan jurus maut itu berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri. Karena jika lawan lebih unggul tenaga dalamnya, bisa-bisa Halayudha menjadi lumpuh karena tenaga dalamnya tersedot sepenuhnya. Sebaliknya jika unggul, lawanlah yang tersedot sepenuhnya. Untuk melancarkan serangan gawat ini, diperlukan persiapan yang matang dalam mengatur pernapasan. Halayudha seperti tidak melakukan itu, sehingga tak ada yang menyangka.

Padahal sebenarnya ketika berbicara sambil berjalan ke arah kanan dan kiri, ia tengah mengumpulkan tenaga dalam dan mengatur pernapasannya sesuai dengan ajaran yang ada. Tak ada yang memperhatikan, justru karena saat itu Halayudha tengah mengungkapkan peristiwa yang tak diduga bahwa Senopati Tantra masih merupakan keturunan Raja Jayakatwang.

Sesaat sebelum Halayudha menepuk, Senopati Tantra menyadari bahwa getaran tangan Halayudha berbeda. Ada tenaga dahsyat yang menggulung. Saat itulah Senopati Tantra mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menolak. Untuk melawan. Ini kesalahan fatal. Karena dengan adanya tenaga penolakan, tenaga yang ada menjadi terkuras karenanya. Justru jurus maut itu memerlukan lawan yang mengerahkan tenaganya!

Saat disadari, sudah terlambat. Senopati Tantra merasa tubuhnya terenyak, dan mendadak menjadi lemas seketika. Kalau saja sepuluh bagian tenaganya terkumpul semuanya, ia langsung habis. Andai itu yang terjadi, keculasan Halayudha bisa diketahui. Tapi, nyatanya tidak. Senopati Tantra hanya menjadi lunglai, tanpa tenaga sedikit pun. Sehingga kelihatan pasrah, menyerah ketika dirangkul dan dibimbing Halayudha. Seakan menyadari kesalahannya. Seakan mengakui kebenaran kata-kata Halayudha. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Sisa tenaga Senopati Tantra bergolak bagai letupan yang meledak-ledak.

“Bajingan maha busuk kamu, Halayudha…”

“Memang begitu, atau malah lebih busuk lagi,” bisik Halayudha perlahan di telinga Senopati Tantra.

“Terkutuk tujuh turunan…”

“Mungkin lebih. Sekarang ini biar matamu menerawang menyaksikan kebusukan ini semua….”

Cara mereka berdua berjalan sambil berbisik seolah memperlihatkan bahwa Halayudha masih tetap membujuk, menenangkan pikiran Senopati Tantra yang kalut. Dan kemudian terlihat pula bahwa Senopati Tantra menunduk, mengangguk-angguk. Padahal, Halayudha mengirimkan tenaga memijit yang sakitnya terasa di sekujur badan. Hanya saja Halayudha lebih dulu mematikan saraf ke arah bibir dan menguasai semua saraf. Sehingga kalau dipencet di bagian tertentu, anggota badannya bisa bergerak. Tak terlalu sulit membuat Senopati Tantra menjadi mengangguk-angguk. Dengan langkah gagah, Halayudha membimbing Senopati Tantra ke ruangan dalam, lalu mendudukkan. Ia sendiri kemudian kembali ke depan.

“Para prajurit Keraton yang gagah berani dan bersikap ksatria, mari kita letakkan gegaman. Kita sarungkan kembali keris, kita dongakkan tombak ke langit. Hari ini semua huru-hara kita anggap selesai. Tak ada pengampunan, karena tak ada yang dianggap bersalah. Kita harus bisa menunjukkan jiwa besar, memahami kekeliruan saudara kita sesama prajurit…”

Hampir secara bersamaan para prajurit mengangguk hormat. Halayudha segera membubarkan pertemuan. Ia sendiri kemudian masuk, menemui Raja, untuk mengembalikan cincin dan menceritakan bahwa keadaan sudah aman kembali. Bahwa Senopati Tantra dan para pengikutnya telah dibekuk. Tak ada halangan suatu apa. Raja Jayanegara menguap.

“Baguslah yang kamu lakukan, Halayudha….”

“Hamba hanya menjalankan tugas. Kebetulan saja Senopati Tantra bisa hamba tundukkan.”

“Aku sudah menduga, ini permainan anak kecil. Meskipun sempat juga bikin kaget. Bukan begitu, Praba?”

Praba Raga Karana mengangguk, menyembah dengan hormat.

“Tapi kita tak kekurangan apa-apa. Anak kecil yang ingin kondang memang biasa berbuat lucu. Bukan begitu, Praba?"

Praba Raga Karana kembali menyembah hormat.

“Aku tidak mengecilkan jasamu, Halayudha….”

“Maaf seribu maaf. Kalau hamba yang melakukan, itu betul-betul suatu kebetulan. Siapa pun, senopati mana pun, akan melakukan hal yang sama. Bahkan bisa lebih baik, kalau mereka mau.”

Raja yang sedang menikmati garukan di tengkuknya oleh para dayang jadi tegak. Tangannya mengibas, menyuruh para dayang berhenti melakukan tugasnya. Ringan nada suara Halayudha, akan tetapi berat maknanya. Dengan mengatakan “kalau mau”, berarti Halayudha mengisikkan selama ini tak ada yang berbuat seperti itu.

“Kenapa begitu, Halayudha?”

“Hamba kurang tahu, Sinuwun…”

“Atau kamu takut melaporkan padaku?”

“Raja maha mengetahui. Hamba takut kalau-kalau salah matur. Mohon maaf yang sebesar-besarnya…"

“Kuampuni kelancanganmu. Katakan apa yang kamu ketahui!”

“Hamba ini orang cubluk, orang yang rendah jalan pikirannya. Orang yang goblok dan tak tahu diri. Hanya yang hamba kuatirkan, kenapa selama ini tak ada yang berniat memulihkan kebesaran Raja. Senopati Tantra memang sakti, akan tetapi bukannya tak bisa dikalahkan. Apalagi ia berani berbuat sangat kurang ajar kepada Dewa. Ibarat kata, Senopati Tantra hanyalah anak kecil yang berani kencing berdiri di depan orang yang dihormati. Yang menjadi pertanyaan hamba, kenapa anak kecil ini berani berbuat seperti itu? Apakah bukan tidak mungkin ada yang mendalangi?”

“Masuk akal. Lalu?”

“Ini hamba kaitkan dengan peranan Senopati Tantra, yang selama ini menjadi bawahan resmi Tujuh Senopati Utama. Barangkali hanya kebetulan belaka, bahwa ketujuh dharmaputra ini merasa sebagai senopati unggulan Baginda, yang-bisa saja-merasa tersingkir dengan minggirnya Baginda ke Simping. Namun ini saja agaknya belum cukup kuat. Tujuh Senopati Utama, walaupun diperlakukan istimewa, tak mempunyai uluran tangan yang panjang dalam menggerakkan para prajurit. Ada yang lebih berkuasa lagi.”

“Kamu maksudkan Mahapatih Nambi?”

“Inggih…”

“Apakah ia mendalangi Tantra?”

“Sumpah mati, rasanya tidak mungkin. Hamba tak berani menduga sedurhaka itu. Hanya saja, selama ini hamba ditugaskan Baginda untuk memanggil kembali Mahapatih Nambi. Dan sedang berada di sana sewaktu kabar Senopati Tantra merebut kekuasaan Keraton. Apa yang hamba saksikan, Mahapatih Nambi hanya mengangguk, berdiam, dan membiarkan hamba kembali sendirian. Sampai saat ini Mahapatih Nambi tetap tak muncul. Duh, Raja. Hamba tak berani menduga yang bukan-bukan. Akan tetapi tersimpan pertanyaan, kenapa Mahapatih tidak segera memenuhi dawuh Raja yang memerintah? Tersimpan bersama gundukan pertanyaan lain yang muncul kemudian. Kenapa ketika Senopati Tantra memegang kekuasaan, tidak menyinggung nama Mahapatih sedikit pun, termasuk yang disingkirkan, mengingat jabatan Mahapatih praktis di tangannya? Kenapa tidak ada keberanian atau kebijakan untuk berbuat itu? Bahkan seolah tetap memberikan pangkat dan derajat yang sama?”

Kali ini Raja mengangguk. Kedua kakinya yang menginjak lantai bergerak-gerak, sengaja ataupun tidak. Bergetar. “Agaknya kamu pantas menjabat sebagai mahapatih. Jasamu dalam hal ini termasuk besar. Bukan begitu, Praba?”

Raja memandang sekejap, lalu menatap lama. “Kenapa kamu berdiam diri? Tidak setuju Halayudha menjadi mahapatih? Ataukah dia lebih cocok tetap sebagai senopati?”

Praba Raga Karana menunduk.

“Hamba memang tidak pantas, Sinuwun. Karena biar bagaimanapun, Nambi masih menjabat mahapatih resmi…” Halayudha tak mau menunggu. Ia menawarkan diri dengan angka tertinggi!

Menjebol Pohon, Meratakan Tanah
SEKARANG saat yang paling tepat. Dalam kondisi dan situasi yang masih belum menentu, posisi dirinya menjadi sangat berarti. Kalau saja Praba Raga Karana mengangguk, selesailah semuanya! Sampailah ia ke tangga yang paling dikehendaki. Kedudukan paling tinggi yang bisa dikuasai. Tapi, demi segala Dewa, apa yang menyebabkan janda buruk rupa ini tak mau mengangguk? Halayudha tak mau menahan diri lagi. Itu sebabnya ia memajukan alasan, bahwa selama ini resminya yang menjabat mahapatih masih Mpu Nambi! Berarti yang ada harus dilepas lebih dulu.

“Aku tahu, tak usah kamu katakan, Halayudha!” Suara Raja sedikit berubah. Agak keras.

Halayudha menyembah.

“Apa susahnya mengambil kembali pangkat dan derajat yang kuberikan? Aku yang berkuasa. Ingsun pribadi yang memutuskan. Sekarang aku mau mendengar, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu menjadi mahapatih?”

“Hamba tak bisa berbuat apa-apa, selain kesetiaan dan pengabdian, seperti semua prajurit, seperti yang selama ini hamba lakukan….” Dengan suara lembut, terasa betul betapa Halayudha ingin menekankan jasanya menumpas Senopati Tantra dan mengembalikan takhta ke Raja. “Dan tugas utama prajurit, menjaga Keraton beserta isinya, melestarikan kewibawaan Raja, tanpa ada keraguan seujung rambut dibelah selaksa. Tak ada yang lain. Prajurit adalah abdi Keraton. Betapa mudah menumpas Senopati Tantra yang mbalela, yang memberontak. Tetapi betapa sesungguhnya tugas prajurit adalah mencegah sedini mungkin munculnya persemaian mengerikan semacam itu.”

“Dalam situasi sekarang ini apa yang akan kamu lakukan?”

“Agar bisa melihat lebih jelas, tanah harus diratakan. Agar pandangan tak terganggu. Barangkali dalam meratakan tanah, terpaksa menyingkirkan satu atau dua pohon. Satu atau dua pohon yang akarnya tertanam dalam pun harus direlakan. Demi ketenteraman, kesentosaan, dan demi tata tentrem kerta raharja…”

Raja mengangguk perlahan. Tangan kirinya mengelus pundak Praba Raga Karana. “Siapa pohon-pohon itu?”

“Pohon yang tertanam lebih dulu.”

“Baginda?”

Halayudha terbatuk. Seakan mewakili keheranan Raja.

“Kamu lancang sekali…”

“Hamba, Sinuwun, hamba lancang sekali…”

“Kamu tahu bahwa kelancanganmu bisa membuatku memerintahkan mulutmu disobek?”

“Hamba… Hamba yakin seyakin-yakinnya, atas nama Dewa Yang Maha Mengetahui dan Mahaagung, bahwa Baginda tak sedikit pun mempunyai pikiran yang lain. Bahkan sejak masih timur, Sinuwun telah dicalonkan sebagai putra mahkota. Akan tetapi, Baginda bisa disalahgunakan kebesaran dan kewibawaannya. Contoh yang paling jelas adalah Tujuh Senopati Utama. Para senopati utama ini, sebenarnya harus menjawab dalam hati, apakah mereka mengabdi kepada Baginda atau kepada Raja yang memerintah secara bijaksana? Hal ini bisa menjadi lebih keruh lagi, karena para putri Sri Baginda Raja masih menyimpan impian lama. Apalagi Permaisuri Rajapatni, yang masih percaya bahwa garis keturunannya langsung yang akan menjadi raja besar. Sangat mudah dimengerti, jika Permaisuri Rajapatni-lah satu-satunya yang diundang ke Keraton oleh Senopati Tantra untuk menjadi pengayom. Dalam hal ini, Baginda terlalu bermurah hati, dan disalahgunakan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Mereka yang hanya mau memperoleh keuntungan pribadi dengan menginjak mayat keluarga lain.”

Raja mendesis. Semua yang dikatakan Halayudha bisa diterima. Ada bukti nyata dari apa yang disebutkan. Padahal, Halayudha sengaja memakai kenyataan, dengan memutarbalikkan, sebagai bukti yang memperkuat siasatnya.

“Aku bisa menerima alasan yang kamu katakan. Tetapi mana mungkin aku menjebol pohon yang utama itu?”

“Bukan pohonnya, duh Raja. Tetapi pohon-pohon kecil yang selama ini berpura-pura berlindung di bawahnya.”

“Tujuh pohon itu yang dijebol?”

Halayudha menyembah hormat. “Mereka bisa dikucilkan. Bisa tetap menjadi senopati utama, akan tetapi tidak memegang garis komando secara langsung.”

“Itu jalan yang baik. Kamu tadi menyebutkan dua pohon, lalu siapa pohon yang satunya yang harus dijebol?”

“Pohon yang tumbuh di Lumajang.” Halayudha semakin tidak ragu-ragu melaksanakan niatnya. Kalau memang mau meratakan tanah, semuanya harus disingkirkan!

“Apa susahnya itu? Tetapi apa salahnya? Bukankah selama ini ia sudah menjalankan palapa sedang istirahat?”

“Pohon di Lumajang memang beristirahat. Tak ada apa-apanya. Akan tetapi Raja yang maha tahu dan bijak bisa melihat sendiri bahwa pohon itu bisa menjadi subur, bisa bersemai, dan menjadi pusat pohon-pohon sekitarnya, yang akhirnya menjadi hutan lebat yang bisa menghalangi pandangan. Apalagi kalau dilihat bahwa di Lumajang sudah terkumpul para ksatria dan pembentukan prajurit baru.”

Raja menekuk-nekuk buku jarinya. Lalu kembali tenang. Meremas pundak Praba Raga Karana. “Terasakan olehku bahwa kamu sudah menyiapkan diri menjadi mahapatih. Itu menimbulkan kecurigaan juga. Tapi dalam hal lain, aku setuju. Mulai sekarang juga, aku memerintahkan agar Tujuh Senopati Utama dicopot, dilucuti, semua tugas dan wewenang yang berhubungan dengan pemberian perintah kepada prajurit mana pun. Tak ada satu prajurit pun yang menerima perintah dari mereka. Mulai sekarang juga, Tujuh Senopati Utama tidak diperbolehkan berada di Simping. Mulai sekarang juga, semua prajurit yang mengawal Baginda di Simping diganti. Mulai sekarang juga, Mahapatih Nambi…”

Kalimat Raja tak selesai karena Praba Raga Karana menunduk rata dengan lantai.

“Akan kuputuskan nanti mengenai hal itu. Halayudha aku memerintahkan kamu menyampaikan hal ini.”

Halayudha menyembah hormat. Kemudian beringsut mundur. Saat itu juga memerintahkan juru tulis Keraton mencatat semua kalimat perintah Raja dan menyertakan cincin untuk segera menyampaikan kepada Tujuh Senopati Utama. Demikian juga perintah mengenai penggantian semua prajurit di Simping. Dan dengan diam-diam memerintahkan agar selalu mengawasi segala perubahan dalam masyarakat. Melaporkan segala perubahan dalam masyarakat. Melaporkan apa yang didengar dan dilihat.

Secara khusus, Halayudha juga memerintahkan agar melaporkan hal yang sama dari Lumajang. Ini yang masih mengganjal. Lumajang. Mahapatih Nambi! Dewa mana yang melindunginya, sehingga Praba Raga Karana yang tak tahu arah utara-selatan tata krama pemerintahan, bisa tidak setuju dengan pencopotannya? Padahal, kalau dilihat dari peluang dirinya untuk menduduki jabatan, justru Nambi yang harus disingkirkan lebih dulu!

Sekarang tinggal mengatur siasat, bagaimana cara yang aman dan selamat, tetapi mengenai sasaran. Yang paling mudah adalah mempengaruhi janda buruk rupa itu, pikir Halayudha. Tapi justru di sini susahnya. Wanita itu tak pernah berpisah dari Raja. Selalu menempel bagai daki. Jalan kedua, memancing Mahapatih Nambi. Ini juga tidak mudah. Mahapatih yang satu ini luar biasa setia dan selalu bisa berpikir secara jernih. Berarti tak bisa secara langsung.

Halayudha tersenyum-senyum. Ia memuji dirinya sendiri yang bisa mencari jalan keluar yang terbaik. Ia yakin sekali ini rencananya akan berjalan dengan mulus. Cukup banyak senopati yang sekarang ini nasibnya sedang terombang-ambing. Antara terus memegang jabatan atau tersingkir. Jumlah yang kuatir cukup banyak. Mereka inilah yang akan dipakai. Itu hanya memerlukan satu kedipan mata untuk melaksanakannya.

Suara Hati, Suara Tanpa Bunyi
RAJA JAYANEGARA tidak memedulikan Halayudha. Kalaupun kemudian teringat, itu semata-mata karena menyangkut Praba Raga Karana. Sewaktu berada di taman yang sengaja dibangun untuk kesenangan Praba, Raja mengelilingi dari ujung ke ujung. Selama Keraton dalam penguasaan Senopati Tantra, Raja tak mempunyai kesempatan menengok. Baru sekarang ini bisa melihat taman yang dipenuhi sungai buatan, air mengalir dari bagian atas, tepat di bawah pepohonan.

Di bagian lain, tersimpan beberapa jenis binatang berbisa. Mulai dari ular, kalajengking, maupun semut sengat. Ketiga jenis binatang ini, sekali memagut bisa membinasakan manusia. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari, mengumpulkan, dan melatih pawangnya.

“Aku memeliharanya sejak kecil, Praba. Kamu suka?”

Praba mengangguk. Tak ada siapa-siapa di taman itu selain mereka berdua. Tidak juga burung-burung bebas, karena Raja paling tidak suka hal itu.

“Tidak suka, Praba?”

“Hamba menyukai apa yang Paduka sukai.”

JILID 26BUKU PERTAMAJILID 28