Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 13

Upasara melepaskan pegangan tangan kanannya, dan mengubah tenaga dalamnya menjadi gelombang yang menghantam balik. Manmathaba tersenyum. Tubuhnya berdiri kukuh. Dorongan gelombang itu menyelinap, menggempur, akan tetapi seakan tak mempengaruhi belitan kekuatannya. Yang mencengkeram makin dalam.

“Bahaya!” Teriakan Puspamurti tenggelam dalam teriakan keras Manmathaba.

“Putus!”

Sentakan yang dahsyat disertai jungkir-balik ke atas membuat semua yang ada di balai Keraton tertahan geraknya. Bahkan Senopati Agung memalingkan wajahnya ke arah lain. Halayudha sendiri menggerung keras dan meloncat ke atas, memapaki Manmathaba.

Apa yang terjadi sesungguhnya memang pertarungan tenaga dalam yang luar biasa. Manmathaba merasa bisa menguasai Upasara dengan tenaga belitan. Dengan menyentakkan keras, ia berharap tangan kiri Upasara lepas dari bahunya. Atau sekurangnya seluruh otot dan uratnya putus. Itu yang diharapkan. Dan merasa berhasil. Hanya di luar dugaannya yang tertarik bukannya tangan Upasara melainkan sisa-sisa lengan baju! Yang terlepas dari bahu seolah dipotong secara sempurna.

Sebenarnya Upasara sudah merasa bahwa langkah awal yang dimulai keliru, ketika membiarkan dirinya dalam terkaman dan belitan lawan. Ternyata Manmathaba sangat menguasai tenaga membelit yang perkasa. Empasan gelombang tenaga dalamnya seperti terkuras, akan tetapi tak berhasil menembus atau menggoyahkan. Maka Upasara hanya berpikir mendorong tangannya ke depan, mendahului menyerang begitu belitannya mengendur.

Ini yang membuat Puspamurti berteriak bahaya. Karena siapa yang tenaganya lebih dulu mengenai sasaran, ia terbebas. Akan tetapi yang terlambat, akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Dan dilihat dari posisi serta belitan tangan, jelas Manmathaba bisa mencapai sasaran lebih dulu!

Akan tetapi ilmu Manmathaba ternyata tidak menyerang ke dalam, melainkan mencabut. Saat itulah Upasara kembali mengosongkan tenaganya secara sempurna. Sehingga Manmathaba hanya mampu menarik lengan baju!

Di tengah udara, Halayudha kembali mundur terkena sabetan tenaga Manmathaba. Senopati Agung maju setindak.

“Kamu tak apa-apa…?”

“Tidak, Senopati Agung… Hamba mohon, jangan terjadi pertumpahan darah lebih besar.”

Upasara menarik tangan kanannya, dan Baginda seperti terseret maju, ke arah perlindungan Senopati Agung dan prajurit kawalnya.

Pendeta Manmathaba meloloskan gelang emas di kakinya yang bersusun. “Luar biasa sekali. Ksatria mana dan siapa namamu?”

“Aku prajurit Keraton Singasari. Namaku yang rendah Upasara Wulung.”

“Tidak percuma nama besar itu. Tapi jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Hari ini kami semua sudah siap memusnahkan siapa yang menghalangi. Aku secara pribadi tertarik dengan ilmu silatmu. Akan tetapi agaknya kita tak mempunyai waktu banyak.”

“Pendeta Manmathaba, kamu salah perhitungan. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Keraton masih di bawah kebijaksanaan Baginda. Putra Mahkota akan memegang kekuasaan mulai besok ketika matahari terbit. Kamu tak bisa mempercepat jalannya matahari, tak bisa memacu kemauan Dewa.”

Puspamurti tertawa keras. “Kamu pandai dan hebat. Aku mulai suka kamu, Upasara.”

“Puspamurti, akan kita atur nantinya. Jangan ikutan pertarungan ini.”

Suara Senopati Agung keras dan berpengaruh. Ia sama sekali tak ingin melibatkan Puspamurti dalam pertarungan terbuka ini. Karena dengan melihat selintas adatnya yang aneh dan kemampuan ilmunya yang juga tak bisa dikatakan sembarangan, bisa sangat merepotkan. Akan tetapi justru kalimatnya keliru. Karena malah memancing kemarahan Puspamurti.

“Siapa yang bisa menghalangi aku? Tidak ada. Tidak juga Dewa. Manusia adalah mahamanusia. Baca Kidungan Pamungkas agar kamu tahu itu. Ladlahom"

Singanada meletakkan Gendhuk Tri di salah satu sudut. Ia melangkah ke depan dan siap terjun ke dalam gelanggang. “Aku tak ada urusan dengan Keraton. Manmathaba, kamu berikan obat pemusnah, dan aku akan meninggalkan tempat ini. Kalau tidak, mari kita mati bersama.”

Permaisuri Indreswari mengangkat tinggi tangannya. Telunjuknya menuding dan suaranya melengking. “Apakah kalian, para prajurit Keraton, sudah sedemikian kurang ajarnya sehingga tak mematuhi perintahku? Apakah aku tidak ada harganya lagi? Dengarkan, para prajurit semua! Dengarkan aku!”

Teriakannya seakan tak mendapat perhatian sama sekali. Tidak juga dari Senopati Agung yang tetap berdiri. Mendadak tubuh Permaisuri Indreswari terhuyung-huyung. Keringatnya bercucuran, napasnya tersengal-sengal.

“Pengkhianat ini telah meracuni Permaisuri!”

Teriakan Halayudha yang mengguntur mengubah situasi dengan cepat. Kini semua prajurit Keraton bersiaga. Menghunus senjata dan mengepung Manmathaba serta ketiga pendeta Syangka dan beberapa prajurit yang setia kepadanya.

Untuk kedua kalinya, Upasara memuji kecerdikan Halayudha. Tokoh yang satu ini memang luar biasa. Nalurinya sebagai prajurit, nalurinya untuk memenangkan dirinya tak ada yang lawan. Jelas bahwa di antara semua pembesar Keraton, hanya Permaisuri Indreswari yang tidak terpengaruh oleh pengaruh bubuk pagebluk. Kalau tindakannya sedikit ganjil, itu karena kemauannya. Semua dilakukan dalam keadaan sadar sepenuhnya.

Kalau sekarang tubuhnya bergoyang, itu terutama karena pukulan batin yang menyakitkan. Sebagai permaisuri yang diterima dan resmi menjadi ibu bagi Putra Mahkota, kekuasaannya sangat besar sekali. Bahkan bisa melampaui Baginda, dalam tugas sehari-hari. Sekarang untuk pertama kalinya, perintahnya tak ada yang mematuhi. Tidak satu pun!

Guncangan perasaan yang hebat ini hanya mungkin dirasakan oleh mereka yang terbiasa dengan kekuasaan, dengan kepatuhan mutlak yang selalu mengelilingi. Kekagetan yang lebih menyakitkan dari pukulan apa pun. Dengan cerdik, Halayudha memanfaatkan situasi dengan mengatakan bahwa Permaisuri Indreswari terkena pengaruh minuman beracun. Penjelasan seperti ini lebih mudah ditangkap oleh semua prajurit. Di sinilah keunggulan Halayudha.

Perang Tertunda
HALAYUDHA tak membiarkan kesempatan yang sudah berada di tangannya. Dengan gagah ia memandang sekeliling, maju setindak ke arah Pendeta Manmathaba.

“Pendeta dari negeri seberang, selama ini kamu dan semua anak buahmu mengabdi kepada Permaisuri Yang Mulia. Tak ada alasan untuk tidak mendengarkan perintahnya. Kalau kalian menghendaki pertarungan, sekarang ini juga darah akan tumpah semuanya. Kalau memang itu yang kalian kehendaki, anggukkan kepala, dan kita bertarung. Akan tetapi jika keinginan kalian menjaga Permaisuri serta Putra Mahkota yang sebentar fajar akan menduduki takhta, akan lain soalnya. Tinggal pilih, jangan ragu. Agar semuanya jelas, siapa berdiri di mana dan apa maksudnya. Ketahuilah, apa pun yang kalian inginkan, kami semua bisa melayani.”

Upasara menahan geretakan di rahangnya. Jalan pikirannya tak bisa menebak apa yang dimaksudkan Halayudha. Tak bisa mengetahui apa yang direncanakan. Justru dengan menyebut “agar semuanya jelas, siapa berdiri di mana dan apa maksudnya”, sikap Halayudha sendiri menjadi kabur.

Beberapa saat sebelumnya, dengan sangat jelas Halayudha mengajak Upasara dan Singanada bertarung menghadapi Manmathaba dan ketiga pembantunya. Bahkan sudah menggebrak. Lalu kemudian jadi berubah. Menawarkan perdamaian dengan cara yang tak merendahkan dirinya. Malah memberikan kesan gagah.

Kalau Upasara tak menangkap maksudnya, Singanada lebih lagi. Ia malah menjadi tidak mengerti harus bagaimana. Membela siapa dan melawan yang mana. Dua ksatria yang perkasa itu memang bukan tandingan bagi Halayudha untuk siasat semacam ini. Dengan sangat mudah, Halayudha bisa membalik sikapnya seperti membalik telapak tangannya sendiri.

Saat pertama, ia merasa perlu mengajak semua ksatria dan senopati berpihak ke arahnya karena ancaman Manmathaba. Saat berikutnya, ia menyadari bahwa ia bisa mengambil keuntungan lebih jika berada di antara keduanya. Dengan perhitungan, siapa pun yang bertarung akan habis-habisan, dan terlalu besar risikonya. Sementara hasil akhir juga tak terlalu menguntungkan bagi dirinya.

Kalau kelompok ksatria yang menang, cepat atau lambat ia akan menghadapi mereka. Cukup membuat segan karena di situ ada Upasara Wulung. Kalau kelompok pendeta Syangka yang keluar sebagai pemenang, posisinya di Keraton juga akan turut terguncang. Maka jalan keluar yang melesat dalam angannya ialah tidak keduanya, tapi bisa memperoleh semuanya. Dengan memakai titik permasalahan Permaisuri, Putra Mahkota, atau bahkan Baginda sendiri.

Maka nama itulah yang dibawa-bawa untuk mempengaruhi dan menahan. Dengan begitu posisinya tetap aman kalau nanti terjadi apa-apa, di samping ia telah berjasa menyelamatkan Permaisuri dan Putra Mahkota. Halayudha bisa berbuat cepat karena di dalam batok kepalanya telah terkumpul latar belakang masing-masing kelompok.

Kelompok ksatria dengan mudah bisa dipermainkan mengenai kesetiaan dan pengabdian kepada raja dan Keraton. Kelompok pendeta Syangka jelas lebih suka menanamkan pengaruhnya daripada harus bertarung. Maka pertanyaan Halayudha sangat tepat.

“Kalau memang menghendaki kebahagiaan dan ketenteraman Baginda, marilah kita lanjutkan upacara minum tuak. Bagi yang tidak suka akan perjamuan ini, atau mereka yang tersesat datang kemari, pintu masih tetap terbuka. Marilah kita isi sepenggal sisa rembulan ini dengan ketenteraman yang ada.”

Pengaruh kata-kata Halayudha terasakan seketika. Bahkan Senopati Agung memasukkan kembali keris ke sarungnya, yang segera diikuti oleh semua pengikutnya.

“Tunggu dulu! Aku tak mau pergi dari sini sebelum dua urusan selesai.” Singanada bertolak pinggang. "Pertama, aku minta pemusnah racun untuk Gendhuk Tri. Yang kedua, aku akan membunuh Senopati Agung.”

Halayudha tersenyum tipis.

“Aku juga. Aku tak mau pergi begitu saja sebelum ada Kidungan Pamungkas.” Kali ini Puspamurti melenggok ke depan.

“Anakmas ksatria gagah Maha Singanada, soal jampi pemusnah racun akan diberikan dengan sendirinya. Para pendeta ini selalu mengikuti Permaisuri Yang Mulia. Soal bunuh-membunuh karena masalah pribadi, kapan pun Anakmas bisa mencari dan menemui Senopati Agung Brahma. Beliau mempunyai nama besar, pangkat, dan kedudukan yang besar. Tak terlalu sulit mencarinya. Dan Mahamata Puspamurti, janji Yang Mulia Permaisuri belum pernah tak tertepati. Sekarang pun bisa diterima.”

Dengan cara yang halus, Halayudha memaksa Pendeta Manmathaba memberikan jampi pemusnah bubuk pagebluk, dan sekaligus memaksa Permaisuri memberikan kitab yang dikehendaki Puspamurti. Cara penyelesaian yang terbaik. Karena memakai nama besar Permaisuri Indreswari. Yang mau tidak mau harus dituruti. Apalagi Permaisuri Indreswari mengangguk perlahan. Pendeta Manmathaba mengedip, dan ketiga pendeta segera mengambil sesuatu dari balik lipatan kain yang membelit tubuhnya. Yang segera diangsurkan ke Maha Singanada.

“Aha, jadi mereka memang benar-benar busuk, berniat meracuni kita semua…”

Itu suara Gendhuk Tri. Yang dalam keadaan setengah sadar mengikuti jalannya pembicaraan. Tubuhnya lemas, duduk tersandar di tiang, akan tetapi sejak ditinggalkan Singanada, kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri berangsur pulih, meskipun masih sangat lemah. Akan tetapi lidahnya masih tajam. Membuka tajam semua mata yang dikuasai pandangan Halayudha. Dengan sepotong kalimat itu, Gendhuk Tri berhasil mengubah pandangan mengenai Pendeta Manmathaba. Dari seseorang yang memberikan pertolongan menjadi seseorang yang mengakui meracuni!

Semua telinga bisa mendengar apa yang dikatakan Gendhuk Tri, dan menangkap maksud di balik kata-kata tuduhan tidak langsung. Semua mata melihat sendiri bagaimana Pendeta Manmathaba menjadi beku wajahnya. Gendhuk Tri menggeleng.

“Kakang Singa, untuk apa Kakang mengemis jampi pada orang yang busuk. Aku lebih suka mati dengan cara ksatria.”

Maha Singanada memandang bingung. “Jadi buat apa jampi ini?”

“Buang saja.”

Upasara tahu bahwa Gendhuk Tri memang suka bicara melantur. Tapi Singanada mengikuti saja apa yang dikatakan. Jampi yang berada dalam buah yang dikeringkan itu dibanting ke bawah. Hancur berkeping.

“Gila,” Pendeta Resres mencoba meraup akan tetapi sia-sia. “Puluhan tahun diperlukan untuk meracik dan membuatnya, kamu buang begitu saja…”

“Gendhuk Tri tidak mau.”

“Sungguh biadab,” Pendeta Wacak menggeram keras. “Yang seperti inikah yang disebut ksatria?”

Gendhuk Tri malah tertawa lebar. Tubuhnya yang masih lemah bergoyang. “Sudahlah, kalian tak punya persediaan banyak. Kalau jampi pemusnah itu lenyap, kalian membutuhkan waktu lama. Sudahlah, anggap saja ini pelajaran pertama. Kakang Singanada, ayo kita keluar dari tempat ini.”

Singanada membalikkan tubuh seketika mendekati Gendhuk Tri.

“Boleh juga zaman percintaan sekarang ini. Sungguh tak tahu malu.”

Mendengar suara Puspamurti yang tajam, Gendhuk Tri hanya mengedipkan sebelah matanya. “Nenek yang kakek, untuk apa kamu merisaukan kami berdua? Kamu tak akan pernah mengerti. Baca saja kitab kidungan baik-baik, pelajari, yakini, dan kamu akan merasa menjadi yang paling hebat. Seperti semua yang ada di sini. Merasa yang paling berkuasa, merasa yang paling hebat ilmu silatnya, merasa paling mengabdi Keraton, merasa ada sesuatu yang luhur yang sedang dipertaruhkan. Padahal kalian semua tak ada bedanya dengan kami berdua.”

Bahwa kata-kata Gendhuk Tri meluncur dari kesadarannya yang tipis bisa dimengerti. Akan tetapi dengan cara bicara yang acak, justru bisa mengoyak sesuatu yang tersembunyi. Yang paling terkena adalah Upasara Wulung.

Kamukah Telapak Siladri?
HUBUNGAN Upasara dengan Gendhuk Tri sedikit-banyak susah dimengerti. Baik oleh Upasara sendiri maupun oleh Gendhuk Tri. Atau setidaknya, keduanya berusaha memperlihatkan sikap yang wajar. Hubungan yang pertama adalah hubungan antara kakak dan adiknya. Upasara mengenal Gendhuk Tri pertama kali semasa masih kanak-kanak, bisa dikatakan begitu. Semua tingkah dan polah Gendhuk Tri lebih menunjukkan kemanjaan seorang adik.

Bisa dimengerti, karena sejak kecil Gendhuk Tri tak mengenal kasih sayang seorang kakak, atau bahkan orangtua. Kalaupun ada orang tua yang mengasuh dan mendidiknya, seperti gurunya Jagaddhita, hubungannya lebih bersifat resmi. Maka kehadiran Upasara dalam hidup dan perkembangan ke arah kedewasaan, mempunyai arti yang mendalam. Perasaan menjadi kakak tak pernah lepas dari bayangan Upasara. Sikapnya yang selalu ingin melindungi, selalu mengayomi, tak berubah.

Bagi Gendhuk Tri sendiri, perasaan menganggap Upasara sebagai kakak sangat menyenangkan. Hanya karena ia wanita, perasaan yang tumbuh lebih halus bisa dimengerti. Setidaknya lebih dirasakan dibandingkan Upasara yang agaknya memang tak begitu mengenal hubungan emosional. Adalah perasaan seorang adik pula yang menyertai Gendhuk Tri ketika menyadari bahwa Upasara Wulung telah menyerahkan hatinya kepada Gayatri. Gendhuk Tri rela menerima hadirnya Gayatri dalam dunia Upasara.

Akan tetapi perasaan lain tak terbendung lagi sewaktu Upasara, dalam pandangan Gendhuk Tri, mulai dekat dengan Nyai Demang. Rasa cemburu tak bisa ditutupi. Perlahan perasaan cemburu, tersaingi, mulai membentuk. Ditutupi atau disamarkan, tetapi menyeruak ke permukaan pada saat-saat tertentu. Sama yang dihadapi Upasara sekarang ini. Ketika melihat Gendhuk Tri mulai menaruh perhatian kepada Maha Singanada. Ada perasaan tertentu yang tak bisa diterangkan dengan satu pengertian.

Itu sebabnya Upasara merasakan getaran yang aneh ketika Gendhuk Tri menyebutkan “Kakang”, akan tetapi sebutan itu tidak diperuntukkan bagi dirinya. Sebutan untuk lelaki yang lain. Ada semacam keangkuhan, atau tak bisa diartikan, untuk mengatakan bahwa hatinya cemburu. Rasa yang berkembang dalam diri Upasara justru rasa bersyukur, karena kini Gendhuk Tri sudah menemukan pasangan yang serasi. Bahkan kalau bukan baru saja bertemu Gayatri, Upasara tak sepenuhnya bisa menangkap makna dari hubungannya dengan Gendhuk Tri.

Pertemuannya dengan Gayatri membuat simpul-simpul perasaan yang selama ini terkunci erat membuka. Itu sebabnya Upasara merasa paling terpukul. Kalau saja ia juga menyadari bahwa Gendhuk Tri sengaja mengucapkan kata-kata “kami berdua” untuk memanaskan hati Upasara, dan sekaligus menyalurkan kejengkelannya! Akan tetapi Upasara tidak mampu menembus jalan pikiran Gendhuk Tri. Pun andai waktu dan kesempatan tidak seperti sekarang ini.

“Baik, mari kita sama-sama mati sebagai ksatria…”

Singanada mengangguk mantap. Tangannya menggandeng Gendhuk Tri dan melangkah bersama. Hanya empat langkah, karena kemudian Gendhuk Tri seperti berjalan limbung. Kakinya tak kuat menahan tubuh.

“Kenapa…” Upasara yang bergerak lebih dulu mendekat. Ketika tangannya mencekal tangan Gendhuk Tri, terasa sangat dingin dan mengeluarkan keringat yang lembap.

Sorot mata Gendhuk Tri menunjukkan kekaguman dan kebanggaan. “Kakang Upasara masih sempat memperhatikan saya?”

“Bagaimana rasanya?” Pertanyaan Upasara seperti menunjukkan kedunguan. Memang sebenarnya Upasara tak bisa menebak apa yang sesungguhnya dirasakan Gendhuk Tri. Tubuhnya begitu dingin dengan keringat yang melembap, akan tetapi getaran jalan darahnya deras.

“Letih, ringan, tapi tak apa. Bagaimana dengan istri Kakang?”

Upasara merah wajahnya. Menghela napas. “Ia baik-baik saja.”

“Jadi Kakang sudah ketemu?”

Upasara mengangguk.

“Syukurlah. Saya kuatir karena saya melihat Kangkam Galih ada di dalam Keraton.”

Upasara mendesis. Seketika ia menyadari bahwa pertanyaan yang diajukan Gendhuk Tri adalah menanyakan Ratu Ayu Azeri Baijani. Sedangkan ia menjawab mengenai Gayatri. Perubahan wajah Upasara membuat Gendhuk Tri menatap heran.

“Benar Kakang sudah bertemu?”

“Yang itu… yang itu… Hmmm, bagaimana pedang itu bisa ada di Keraton?”

Gendhuk Tri tak bisa menjawab. Tubuhnya melongsor jatuh. Hanya karena Singanada dan Upasara memegang dari sisi kanan dan kiri, tubuhnya tidak ambruk ke lantai. Pada saat itu seorang berpakaian kebangsawanan maju ke depan. Singanada mengangkat tangan kanannya bersiap menghalangi.

“Cepat masukkan ke tubuh Gendhuk Tri. Kalau tidak, ia akan ketagihan seumur hidupnya.”

Singanada mendehem. “Bagus. Kamu yang memberi obat saya. Tak sangka kamu ternyata pemilik telapak tangan Siladri. Tapi mana mungkin aku menerima budi baik tanpa mengenal nama? Siapa kamu sebenarnya? Kalau pangeran, siapa nama besarmu?”

Siladri segera menjejalkan sesuatu ke mulut Gendhuk Tri. Upasara memandang dengan hormat, lalu menyembah. Singanada ikut mengangguk.

“Rupanya inilah pengkhianat itu…” Kali ini yang bersuara adalah calon baginda. “Tidak kusangka, sanak saudaraku sendiri menjadi musuh dari balik selimut.” Suaranya mengandung ancaman, hukuman keras.

Tapi Singanada malah berkata keras, “Siapa pun dia, tolong katakan namanya. Biar saya bisa mengenang kebaikannya.”

Singanada benar-benar polos dan tak tahu situasi yang sedang terjadi. Bahwa calon baginda yang memerintah segalanya begitu murka, ditanggapi dengan tenang. Bahwa nama yang disebut oleh calon baginda ini di belakang hari akan mengalami bencana besar. Dan ia masih sanak saudara, masih mempunyai hubungan yang erat dengan calon baginda sendiri.

“Kakang Singanada, jangan membuat malu saya. Masa Kakang tidak mengenal nama Pangeran Janaka Rajendra?” Gendhuk Tri yang kembali sadar berlutut dan menghaturkan sembah.

Singanada ikutan dengan kaku. “Siapa dia?”

Wajahnya yang polos membuat Gendhuk Tri tersenyum. “Dia putra utama Senopati Agung Brahma yang mau kamu bunuh. Masih kurang jelas? Senopati Agung Brahma adalah kakak ipar Baginda, sekaligus kakak ipar Permaisuri yang sekarang berada di sini. Masih kurang jelas?”

“Aku bingung. Aku berjanji untuk membunuh Senopati Agung karena mulutnya lancang. Tapi anak lelakinya baik sekali. Jadi bagaimana? Aku tetap akan membunuh bapaknya, dan mengucapkan terima kasih padanya. Begitu saja. Kamu sudah baik?”

Ketika sebagian perhatian tertuju ke arah Gendhuk Tri dan Singanada serta Pangeran Janaka Rajendra, Barisan Padatala sudah bersiap dan mengurung. Sekali menggerakkan tangan, ketiganya sudah bisa meraih Singanada. Upasara mengibaskan tangannya. Pada saat yang bersamaan Manmathaba bergerak. Lebih cepat dari Upasara, dan lebih mengarah. Upasara berusaha menangkis, untuk kemudian maju selangkah ke sebelah kanan, mencari ruang yang lega.

Akan tetapi kali ini Manmathaba tidak memberi kesempatan sedikit pun. Menyadari bahwa Upasara cukup tangguh, Manmathaba mengerahkan seluruh kemampuannya. Tanpa memedulikan bahwa geseran angin pukulannya bisa melukai para prajurit yang lain. Gelang emas yang tersusun di kakinya berdering ketika tubuhnya membalik. Upasara menebas maju dengan tangan kosong. Kali ini rangkaian tenaga Kitab Bumi yang sudah mendarah daging tersalur sempurna. Gelombang tenaga yang mengisap, memutar, dihadapi dengan tenang. Tapi kali ini Upasara salah perhitungan.

Bandring Cluring
MANMATHABA mendesis, tubuhnya meluncur ke atas, dan seketika itu pula gelang emas di kaki kanan dan kiri meluncur cepat. Mendesing dengan suara keras. Bukan hanya itu. Ketiga pendeta Syangka membentuk Barisan Padatala, dan dengan bersamaan juga menggempur ke arah Upasara. Dengan berbagai pukulan sekaligus dan serangan gelang kaki seperti Manmathaba. Bedanya, ketiga pendeta Syangka ini menyerang secara diam-diam. Bahkan lemparan gelang dari ketiganya tidak memperdengarkan suara.

Upasara boleh hebat, akan tetapi tak memperhitungkan serangan seperti ini. Tidak juga yang lain. Karena sungguh tidak layak bagi seorang seperti Manmathaba menyerang dengan dibantu secara keroyokan. Barangkali dari sekian banyak orang, hanya Halayudha yang sedikit-banyak bisa menerjemahkan dalam hati kenapa Manmathaba melakukan keroyokan.

Tradisi kehidupan di Syangka sangat berat. Apalagi dalam kehidupan kesehari-hariannya selalu di bawah pamor para pendeta dan ksatria dari Hindia yang terkenal penuh tipu daya. Baik dari segi ilmu silat maupun cara mengatur tenaga dalam. Mungkin contoh yang tepat, akan tetapi Kiai Sambartaka menunjukkan ciri-ciri itu. Dalam situasi semacam itu, bisa dimengerti bahwa merebut kemenangan merupakan tujuan utama. Bukan mempersoalkan bagaimana cara menempuhnya.

Setidaknya dari cara pengeroyokan sekarang ini. Bagi Manmathaba kemenangan adalah yang utama. Dan ia, seperti juga ketika pendeta anak buahnya, menyadari bahwa Upasara yang paling kuat. Yang bisa lolos dari serangan bubuk pagebluk!

Upasara terkejut, akan tetapi dengan memutar kedua tangan melindungi tubuh, kakinya bergerak cepat. Meloncat ke tengah udara sebatas pinggang, dan menyelusup ke sela-sela udara yang tersisa dari gempuran gelang kaki. Bentrokan gelang kaki memekakkan telinga bagi yang mendengarkan. Tapi lebih dari itu semua, ternyata gelang kaki yang berbenturan itu pecah, dan arahnya tetap tertuju ke Upasara Wulung!

Terdengar seruan keras dari Puspamurti yang menggerakkan kipas besarnya. Akan tetapi jarak terlalu jauh, sehingga angin kesiuran yang dikeluarkan tidak bisa sempurna arahnya. Justru menambah bahaya! Karena pecahan gelang itu seperti tertuju ke arah yang lebih tak terduga, dengan tambahan dorongan tenaga yang dahsyat.

Bisa dibayangkan betapa hebatnya pecahan gelang yang jumlahnya puluhan disentakkan dengan tenaga besar. Satu saja bisa menancap akan lain ceritanya. Belum lagi kalau itu juga disusupi racun. Sesuatu yang sangat masuk akal mengingat pada hampir semua tubuh para pendeta tersembunyi hal-hal yang tak terduga.

Tubuh Upasara yang berada di tengah udara mendadak membeku, tangan kirinya terulur ke depan dan untuk pertama kalinya tangan kanannya mengikuti gerak kaki berputar. Matanya tertutup, akan tetapi mulutnya menyunggingkan semburan keras.

Halayudha menahan napas dalam-dalam. Apa yang diperlihatkan oleh Upasara adalah bagian dari ilmu mengatur napas dalam Kitab Bumi yang sangat dihapal. Yaitu berusaha memakai tenaga bumi secara penuh. Pada tingkat Upasara, pengerahan tenaga dalam itu bisa melalui mulut, tenaga dorongan tangan atau kaki, tetapi juga dari seluruh tubuh. Dari sembilan lubang atau lebih.

Cara ini memang kuat untuk menahan serangan, akan tetapi dengan begitu menempatkan Upasara pada posisi bertahan total. Embusan tenaga untuk memencongkan pecahan gelang, akan tetapi tidak untuk serangan berikut yang lain sifatnya. Bagi seorang pesilat yang tengah memainkan jurus bertahan, apalagi dengan tenaga bumi yang dipakai Upasara, akan sangat sulit sekali mengubahnya.

Tenaga itu tak bisa diperhalus atau diubah seperti tenaga yang berada dalam tangan atau kaki. Yang bisa diubah dari mencakar, meninju, mengelus, atau mengusap dalam seketika. Pengerahan tenaga bumi melalui sembilan lubang atau lebih, memerlukan pengerahan tenaga sepenuhnya. Sebab kalau tidak, hasilnya akan sia-sia. Dalam perhitungan Halayudha, bahkan di saat Upasara digempur dengan bubuk racun pagebluk, ia tidak menghindarkan diri dengan cara seperti ini. Seputar tubuh Upasara mengeluarkan udara tipis karena pengerahan tenaga dalam.

Gerincing pecahan gelang menimbulkan jeritan tertahan dari para prajurit yang terkena. Bahkan Senopati Agung Brahma perlu jumpalitan untuk menghindarkan diri. Dan serangan beruntun masih terus menyergap. Manmathaba tidak membiarkan begitu saja. Belitan tangannya mencengkeram Upasara yang seakan bergeming. Kalau tadinya bisa menghancurkan lengan baju Upasara, sekarang dengan perhitungan lain. Membelit ke tulang.

Tangan kiri Upasara bergerak ke samping bawah, bersamaan dengan tangan kanan yang tertarik ke atas. Kedua telapak tangannya membentuk kepalan tinju, berbeda dari biasanya yang selalu terbuka. Kaki kanan maju serong ke kiri, dan kaki kiri sedikit mundur. Sepasang tangan melawan dua tangan membelit, dan enam tangan menggempur sekaligus. Hasilnya mengejutkan. Baik bagi Upasara maupun lawan-lawannya.

Upasara merasa belitan di tangan kanannya membuat ngilu, sementara dua pukulan menerobos masuk ke dadanya dan menimbulkan rasa perih. Sementara Manmathaba tak menduga bahwa belitannya kali ini bisa dipatahkan dengan tenaga keras. Bahkan tenaga membalik yang keluar dari siku Upasara seperti mengentak ulu hatinya. Yang paling menderita adalah Pendeta Resres yang terkena agak telak. Masih untung tenaga yang lain menahan gempuran itu. Kalau tidak, Pendeta Resres tak akan bisa berdiri tegak tanpa memegangi dadanya.

Pendeta Taletekan melihat kesempatan untuk maju. Inilah kehebatan Barisan Padatala. Ketiganya bisa maju-mundur dan saling mengisi dengan cepat. Dengan mengetahui bahwa tenaga yang mengarah kepadanya paling bisa ditanggulangi, Pendeta Taletekan menerjang maju. Dua jarinya terjulur ke depan, siap mencukil mata Upasara. Pendeta Wacak memancing perhatian pengerahan tenaga ke arah serangan dada. Saat itu Manmathaba sudah bergerak maju.

“Lipat!”

Aba-aba melipat menggambarkan betapa yakinnya Manmathaba bahwa sekarang belitannya tak akan meleset lagi. Nyatanya begitu! Baru kemudian Halayudha menyadari bahwa tenaga belitan itu sangat erat mencekik. Siapa yang terkena, tak akan bisa meloloskan diri. Hanya jeritan mengaduh dan teriakan kencang. Lalu tubuh terjerembap ke bawah, seakan tak mempunyai tulang lagi. Benar-benar luar biasa. Benar-benar luar biasa dan mengerikan. Belitan yang memutuskan tenaga di dalam tubuh.

Manmathaba sendiri tergoyang-goyang mundur, seolah mencari napas karena baru saja mengerahkan seluruh tenaganya. Nyatanya begitu. Hanya saja ia tak menduga bahwa di kejauhan Upasara masih berdiri, meskipun kakinya agak limbung menjaga tubuhnya.

Singanada mengejapkan matanya. Baru sekarang menjadi jelas bahwa Pendeta Taletekan yang menjadi korban. Terbelit dua tangan Manmathaba yang merontokkan semua urat tubuh. Pada detik yang menentukan tadi, sewaktu Pendeta Taletekan maju, Upasara menggeser kakinya dengan sebat. Sekali seblak, kaki Pendeta Taletekan terguncang kuda-kudanya. Tubuhnya tersuruk maju pada saat Manmathaba seolah memeluk dirinya. Hebat, akan tetapi Upasara sendiri merasa kesakitan di dadanya. Pukulan Wacak sempat masuk mengenai tulang iganya. Puspamurti bergerak maju.

“Siapa kamu sebenarnya? Sejak kapan kamu gunakan Bandring Cluring itu?”

Dari nadanya terdengar antara rasa ingin tahu, kekaguman, sekaligus kengerian. Bisa dibayangkan kalau tokoh seperti Puspamurti sampai tergetar. Bisa dibayangkan senjata yang dikeluarkan oleh Manmathaba sekarang ini.

Jurus-Jurus Kebat Klewat
KALI ini Halayudha yang menyipitkan mata. Apa yang membuat Puspamurti mengeluarkan seruan keheranan tak sebanding dengan apa yang dilihat. Manmathaba hanya memegang seutas tali panjang yang berwarna putih lentur, dan di ujungnya ada benda bulat. Senjata yang disebut Bandring Cluring. Di tangan Manmathaba bandring itu berputar, mengeluarkan suara mendesing. Apa hebatnya?

Pertanyaan ini lebih merupakan pertanyaan untuk menemukan jawaban yang pas. Halayudha tahu betul bahwa Manmathaba bukan pendeta sembarangan. Ilmunya sudah dirasakan sendiri kehebatannya. Ditambah dengan tipu muslihat menggunakan bubuk beracun atau memecah gelang kaki, memang sulit disamai. Tapi itu karena kehebatan ilmu silatnya. Bukan andalan senjata yang ternyata hanya seutas tali yang diberi bandul ujungnya.

Pertanyaan ini lebih merupakan rasa ingin tahu untuk lebih waspada. Jelas Puspamurti tidak menyinggung sedikit pun jurus-jurus maut yang dikeluarkan Manmathaba. Tidak dengan ilmu belitan bagai gurita, tidak gelang kakinya yang menjadi senjata rahasia. Akan tetapi begitu mengeluarkan bandring, langsung mengeluarkan kekaguman.

“Apa istimewanya katapel buah duku itu?”

Itu suara Gendhuk Tri. Suara yang seperti bisa diduga, untuk mengejek lawan. Tetapi kentara juga suaranya bernada tawar. Atau dengan kata lain tersirat juga perasaan gentar. Apalagi setelah Singanada menghela napas dan menggeleng. Memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan penilaian Gendhuk Tri.

Kalau dilihat sekelebatan, apa yang dikatakan Gendhuk Tri tidak salah. Bandring memang tak lebih dari katapel, alat untuk melantingkan batu kecil yang biasa dipakai anak-anak menjepret burung. Bahkan di ujungnya ada bandul yang mirip batu. Cluring sendiri bisa diartikan buah duku, atau buah langsat. Tidak terlalu mengada-ada kalau Gendhuk Tri menyebutnya sebagai katapel duku.

Singanada merasa perlu bersikap lebih waspada. Caranya berdiri mendekat ke arah Upasara menunjukkan keinginan untuk setengah membantu. Sebab pengalamannya membuktikan bahwa Bandring Cluring adalah senjata yang sangat ganas. Sepanjang hidupnya Singanada hanya menjumpai dua tokoh yang menggunakan senjata tersebut. Ini yang kedua.

Tidak terlalu luar biasa kalau tali panjang yang menggelantung itu tidak dibuat dari otot manusia. Entah dengan cara bagaimana, otot manusia itu dipilin menjadi tali yang liat. Membayangkan itu saja sudah menimbulkan rasa jijik. Karena untuk bisa mendapatkan tali sepanjang badan manusia, entah dibutuhkan berapa puluh mayat yang dibelah tubuhnya untuk diambil otot-ototnya.

Singanada pernah diajari mengenai ilmu yang paling sesat selama ini. Yaitu suatu aliran yang menggunakan tubuh manusia sebagai bahan percobaan untuk memperdalam ilmu silat. Di antaranya yang menggunakan batok kepala serta otot tubuh sebagai latihan. Yang berarti perlu ratusan korban tak berdosa untuk percobaan dan berlatih.

Menurut kabar yang didengar, semua ksatria di seluruh jagat dianggap bukan manusia kalau melakukan latihan semacam itu, karena bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan. Tapi memang masih banyak yang secara diam-diam mempelajari. Hanya saja baru sekarang ini Singanada melihat ada tokoh yang dianggap sakti, ternyata justru memperdalam ilmu sesat tersebut.

Desingan bandring menjadi sangat cepat. Kesiuran angin berkelebat menyabet sana-sini. Dalam pandangan sekilas saja bisa diketahui bahwa bandring itu seakan bisa menjadi panjang dan tiba-tiba berubah menjadi pendek. Seperti otot manusia hidup. Ini salah satu bahayanya. Bandring menjadi bagian anggota tubuh. Bisa digerakkan sesukanya.

Sebenarnya Gendhuk Tri tak begitu kuatir bahwa Upasara bakal bisa menghadapi dengan baik. Selama ini telah terbukti, Upasara bisa menghadapi dan mengatasi berbagai senjata dan ilmu silat yang paling aneh. Terutama sejak pertarungan di Trowulan, Gendhuk Tri yakin bahwa tak ada tokoh yang bisa mengungguli Upasara. Karena nyatanya di atas tokoh seperti Kiai Sambartaka, Kama Kangkam, Naga Nareswara, Paman Sepuh bisa diungguli. Bahkan Eyang Sepuh tidak bisa bertahan sebagai pemenang utama.

Namun kondisinya sekarang ini lain. Sekarang Upasara tidak dalam kekuatan yang penuh. Setelah dikeroyok beramai-ramai, ia seperti terkena pukulan yang cukup menguatirkan.

“Kakang Singa bisa berbuat sesuatu…,” bisik Gendhuk Tri.

“Susah. Kalau aku ikutan maju, bisa-bisa malah membuat Upasara repot.”

“Kita maju bersama.”

“Kalau itu maumu, ayo…”

Gendhuk Tri masih ragu. Justru karena Singanada bersedia maju karena ajakan Gendhuk Tri. Bukan karena yakin bisa membantu atau berbuat sesuatu. Pada saat Gendhuk Tri masih bimbang, Manmathaba sudah bergerak maju. Bandring bergerak dalam putaran yang kencang dan mengurung Upasara dari arah kanan dan kiri. Dua bandring di kedua tangan berputar sangat keras.

Tiap kali menyentuh lantai menimbulkan suara sangat keras. Dan agaknya ini disengaja oleh Manmathaba, karena suara berisik, suara peletok-peletok yang keras sekali bagai irama tertentu yang memberi aba-aba kepada Resres dan Wacak untuk bergerak maju. Ketiganya secara langsung mengurung, menyerang seirama dengan suara ujung bandul yang mengenai lantai atau tiang atau apa saja.

Tok-tok-tok-tok-tok-tok-tok.

Trotok-tok.

Tok-tok… tok-tok-tok-tok-tok.

Upasara sendiri berdiri dengan gagah, kedua tangan terangkat di dada dengan tenaga penuh. Dengus napasnya menunjukkan ada beban berat yang diatasi. Begitu dua kali bandring menggunting dari dua sisi, Upasara meloncat tinggi, meraup senjata seadanya, dan menangkis. Segera terdengar peletokan lagi. Senjata di tangan Upasara terkutung. Karena tebasan tali bandring!

Inilah hebat. Hancurnya senjata di tangan Upasara karena tebasan tali. Karena digunting dengan tali bandring. Upasara sendiri menyadari bahwa ia terlambat memberikan perlawanan. Selama ini kepercayaan dirinya terlalu kuat hingga boleh dikata tak pernah memakai senjata andalan. Sungguh tak diperhitungkan bahwa ada tokoh seperti Manmathaba yang menggunakan keunggulan senjata untuk mengalahkannya.

Setiap kali Upasara berusaha mendesak maju, ujung bandul berputar di depan matanya, sehingga ia buru-buru meloncat minggir atau mundur. Sementara itu pula Wacak dan Resres makin merapat, menutup kemungkinan menghindar. Siapa pun yang menyaksikan jalannya pertarungan menghela napas. Merasa bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Tubuh yang terpotong-potong! Ini karena putaran dan desing bandring Manmathaba yang makin lama makin menggila, dan seperti tak bisa dihentikan.

Bagi Gendhuk Tri, ini pertarungan yang menggeletarkan sukmanya untuk kedua kalinya. Yang pertama di Trowulan. Akan tetapi saat itu pertarungan berlangsung dalam jarak pandang yang jauh dan yang dimainkan adalah kelihaian dalam menguasai tenaga dalam. Sehingga yang terlihat adalah gerak-gerak, kepulan asap. Berbeda dari sekarang ini. Yang jelas mana senjata dan bagaimana gerakan menggunting.

“Jurus-jurus dalam ilmu bandring disebut jurus Kebat Klewat, karena jurus ini kelewat cepat dan kelewat telengas. Tenaga yang disalurkan tak bisa ditarik kembali. Dan putaran itu makin lama makin cepat hingga akhirnya akan berhenti sendiri. Baik karena telah berhasil membunuh lawan atau yang bersangkutan kehabisan tenaga. Entah bagaimana Upasara bisa meloloskan diri. Mungkin kita akan mati juga sebelum bisa bertanya. Tapi karena kita mati sama-sama, rasanya aku rela juga, Kanyasukla…”

Gendhuk Tri tak menangkap getaran asmara yang terpancar dari kata-kata Singanada. Karena perhatiannya terserap sepenuhnya ke gelanggang pertarungan. Karena makin lama Upasara makin mundur setindak-dua tindak secara berurutan. Ini tandanya betul-betul terdesak.

JILID 12BUKU PERTAMAJILID 14

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 13

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 13

Upasara melepaskan pegangan tangan kanannya, dan mengubah tenaga dalamnya menjadi gelombang yang menghantam balik. Manmathaba tersenyum. Tubuhnya berdiri kukuh. Dorongan gelombang itu menyelinap, menggempur, akan tetapi seakan tak mempengaruhi belitan kekuatannya. Yang mencengkeram makin dalam.

“Bahaya!” Teriakan Puspamurti tenggelam dalam teriakan keras Manmathaba.

“Putus!”

Sentakan yang dahsyat disertai jungkir-balik ke atas membuat semua yang ada di balai Keraton tertahan geraknya. Bahkan Senopati Agung memalingkan wajahnya ke arah lain. Halayudha sendiri menggerung keras dan meloncat ke atas, memapaki Manmathaba.

Apa yang terjadi sesungguhnya memang pertarungan tenaga dalam yang luar biasa. Manmathaba merasa bisa menguasai Upasara dengan tenaga belitan. Dengan menyentakkan keras, ia berharap tangan kiri Upasara lepas dari bahunya. Atau sekurangnya seluruh otot dan uratnya putus. Itu yang diharapkan. Dan merasa berhasil. Hanya di luar dugaannya yang tertarik bukannya tangan Upasara melainkan sisa-sisa lengan baju! Yang terlepas dari bahu seolah dipotong secara sempurna.

Sebenarnya Upasara sudah merasa bahwa langkah awal yang dimulai keliru, ketika membiarkan dirinya dalam terkaman dan belitan lawan. Ternyata Manmathaba sangat menguasai tenaga membelit yang perkasa. Empasan gelombang tenaga dalamnya seperti terkuras, akan tetapi tak berhasil menembus atau menggoyahkan. Maka Upasara hanya berpikir mendorong tangannya ke depan, mendahului menyerang begitu belitannya mengendur.

Ini yang membuat Puspamurti berteriak bahaya. Karena siapa yang tenaganya lebih dulu mengenai sasaran, ia terbebas. Akan tetapi yang terlambat, akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Dan dilihat dari posisi serta belitan tangan, jelas Manmathaba bisa mencapai sasaran lebih dulu!

Akan tetapi ilmu Manmathaba ternyata tidak menyerang ke dalam, melainkan mencabut. Saat itulah Upasara kembali mengosongkan tenaganya secara sempurna. Sehingga Manmathaba hanya mampu menarik lengan baju!

Di tengah udara, Halayudha kembali mundur terkena sabetan tenaga Manmathaba. Senopati Agung maju setindak.

“Kamu tak apa-apa…?”

“Tidak, Senopati Agung… Hamba mohon, jangan terjadi pertumpahan darah lebih besar.”

Upasara menarik tangan kanannya, dan Baginda seperti terseret maju, ke arah perlindungan Senopati Agung dan prajurit kawalnya.

Pendeta Manmathaba meloloskan gelang emas di kakinya yang bersusun. “Luar biasa sekali. Ksatria mana dan siapa namamu?”

“Aku prajurit Keraton Singasari. Namaku yang rendah Upasara Wulung.”

“Tidak percuma nama besar itu. Tapi jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Hari ini kami semua sudah siap memusnahkan siapa yang menghalangi. Aku secara pribadi tertarik dengan ilmu silatmu. Akan tetapi agaknya kita tak mempunyai waktu banyak.”

“Pendeta Manmathaba, kamu salah perhitungan. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Keraton masih di bawah kebijaksanaan Baginda. Putra Mahkota akan memegang kekuasaan mulai besok ketika matahari terbit. Kamu tak bisa mempercepat jalannya matahari, tak bisa memacu kemauan Dewa.”

Puspamurti tertawa keras. “Kamu pandai dan hebat. Aku mulai suka kamu, Upasara.”

“Puspamurti, akan kita atur nantinya. Jangan ikutan pertarungan ini.”

Suara Senopati Agung keras dan berpengaruh. Ia sama sekali tak ingin melibatkan Puspamurti dalam pertarungan terbuka ini. Karena dengan melihat selintas adatnya yang aneh dan kemampuan ilmunya yang juga tak bisa dikatakan sembarangan, bisa sangat merepotkan. Akan tetapi justru kalimatnya keliru. Karena malah memancing kemarahan Puspamurti.

“Siapa yang bisa menghalangi aku? Tidak ada. Tidak juga Dewa. Manusia adalah mahamanusia. Baca Kidungan Pamungkas agar kamu tahu itu. Ladlahom"

Singanada meletakkan Gendhuk Tri di salah satu sudut. Ia melangkah ke depan dan siap terjun ke dalam gelanggang. “Aku tak ada urusan dengan Keraton. Manmathaba, kamu berikan obat pemusnah, dan aku akan meninggalkan tempat ini. Kalau tidak, mari kita mati bersama.”

Permaisuri Indreswari mengangkat tinggi tangannya. Telunjuknya menuding dan suaranya melengking. “Apakah kalian, para prajurit Keraton, sudah sedemikian kurang ajarnya sehingga tak mematuhi perintahku? Apakah aku tidak ada harganya lagi? Dengarkan, para prajurit semua! Dengarkan aku!”

Teriakannya seakan tak mendapat perhatian sama sekali. Tidak juga dari Senopati Agung yang tetap berdiri. Mendadak tubuh Permaisuri Indreswari terhuyung-huyung. Keringatnya bercucuran, napasnya tersengal-sengal.

“Pengkhianat ini telah meracuni Permaisuri!”

Teriakan Halayudha yang mengguntur mengubah situasi dengan cepat. Kini semua prajurit Keraton bersiaga. Menghunus senjata dan mengepung Manmathaba serta ketiga pendeta Syangka dan beberapa prajurit yang setia kepadanya.

Untuk kedua kalinya, Upasara memuji kecerdikan Halayudha. Tokoh yang satu ini memang luar biasa. Nalurinya sebagai prajurit, nalurinya untuk memenangkan dirinya tak ada yang lawan. Jelas bahwa di antara semua pembesar Keraton, hanya Permaisuri Indreswari yang tidak terpengaruh oleh pengaruh bubuk pagebluk. Kalau tindakannya sedikit ganjil, itu karena kemauannya. Semua dilakukan dalam keadaan sadar sepenuhnya.

Kalau sekarang tubuhnya bergoyang, itu terutama karena pukulan batin yang menyakitkan. Sebagai permaisuri yang diterima dan resmi menjadi ibu bagi Putra Mahkota, kekuasaannya sangat besar sekali. Bahkan bisa melampaui Baginda, dalam tugas sehari-hari. Sekarang untuk pertama kalinya, perintahnya tak ada yang mematuhi. Tidak satu pun!

Guncangan perasaan yang hebat ini hanya mungkin dirasakan oleh mereka yang terbiasa dengan kekuasaan, dengan kepatuhan mutlak yang selalu mengelilingi. Kekagetan yang lebih menyakitkan dari pukulan apa pun. Dengan cerdik, Halayudha memanfaatkan situasi dengan mengatakan bahwa Permaisuri Indreswari terkena pengaruh minuman beracun. Penjelasan seperti ini lebih mudah ditangkap oleh semua prajurit. Di sinilah keunggulan Halayudha.

Perang Tertunda
HALAYUDHA tak membiarkan kesempatan yang sudah berada di tangannya. Dengan gagah ia memandang sekeliling, maju setindak ke arah Pendeta Manmathaba.

“Pendeta dari negeri seberang, selama ini kamu dan semua anak buahmu mengabdi kepada Permaisuri Yang Mulia. Tak ada alasan untuk tidak mendengarkan perintahnya. Kalau kalian menghendaki pertarungan, sekarang ini juga darah akan tumpah semuanya. Kalau memang itu yang kalian kehendaki, anggukkan kepala, dan kita bertarung. Akan tetapi jika keinginan kalian menjaga Permaisuri serta Putra Mahkota yang sebentar fajar akan menduduki takhta, akan lain soalnya. Tinggal pilih, jangan ragu. Agar semuanya jelas, siapa berdiri di mana dan apa maksudnya. Ketahuilah, apa pun yang kalian inginkan, kami semua bisa melayani.”

Upasara menahan geretakan di rahangnya. Jalan pikirannya tak bisa menebak apa yang dimaksudkan Halayudha. Tak bisa mengetahui apa yang direncanakan. Justru dengan menyebut “agar semuanya jelas, siapa berdiri di mana dan apa maksudnya”, sikap Halayudha sendiri menjadi kabur.

Beberapa saat sebelumnya, dengan sangat jelas Halayudha mengajak Upasara dan Singanada bertarung menghadapi Manmathaba dan ketiga pembantunya. Bahkan sudah menggebrak. Lalu kemudian jadi berubah. Menawarkan perdamaian dengan cara yang tak merendahkan dirinya. Malah memberikan kesan gagah.

Kalau Upasara tak menangkap maksudnya, Singanada lebih lagi. Ia malah menjadi tidak mengerti harus bagaimana. Membela siapa dan melawan yang mana. Dua ksatria yang perkasa itu memang bukan tandingan bagi Halayudha untuk siasat semacam ini. Dengan sangat mudah, Halayudha bisa membalik sikapnya seperti membalik telapak tangannya sendiri.

Saat pertama, ia merasa perlu mengajak semua ksatria dan senopati berpihak ke arahnya karena ancaman Manmathaba. Saat berikutnya, ia menyadari bahwa ia bisa mengambil keuntungan lebih jika berada di antara keduanya. Dengan perhitungan, siapa pun yang bertarung akan habis-habisan, dan terlalu besar risikonya. Sementara hasil akhir juga tak terlalu menguntungkan bagi dirinya.

Kalau kelompok ksatria yang menang, cepat atau lambat ia akan menghadapi mereka. Cukup membuat segan karena di situ ada Upasara Wulung. Kalau kelompok pendeta Syangka yang keluar sebagai pemenang, posisinya di Keraton juga akan turut terguncang. Maka jalan keluar yang melesat dalam angannya ialah tidak keduanya, tapi bisa memperoleh semuanya. Dengan memakai titik permasalahan Permaisuri, Putra Mahkota, atau bahkan Baginda sendiri.

Maka nama itulah yang dibawa-bawa untuk mempengaruhi dan menahan. Dengan begitu posisinya tetap aman kalau nanti terjadi apa-apa, di samping ia telah berjasa menyelamatkan Permaisuri dan Putra Mahkota. Halayudha bisa berbuat cepat karena di dalam batok kepalanya telah terkumpul latar belakang masing-masing kelompok.

Kelompok ksatria dengan mudah bisa dipermainkan mengenai kesetiaan dan pengabdian kepada raja dan Keraton. Kelompok pendeta Syangka jelas lebih suka menanamkan pengaruhnya daripada harus bertarung. Maka pertanyaan Halayudha sangat tepat.

“Kalau memang menghendaki kebahagiaan dan ketenteraman Baginda, marilah kita lanjutkan upacara minum tuak. Bagi yang tidak suka akan perjamuan ini, atau mereka yang tersesat datang kemari, pintu masih tetap terbuka. Marilah kita isi sepenggal sisa rembulan ini dengan ketenteraman yang ada.”

Pengaruh kata-kata Halayudha terasakan seketika. Bahkan Senopati Agung memasukkan kembali keris ke sarungnya, yang segera diikuti oleh semua pengikutnya.

“Tunggu dulu! Aku tak mau pergi dari sini sebelum dua urusan selesai.” Singanada bertolak pinggang. "Pertama, aku minta pemusnah racun untuk Gendhuk Tri. Yang kedua, aku akan membunuh Senopati Agung.”

Halayudha tersenyum tipis.

“Aku juga. Aku tak mau pergi begitu saja sebelum ada Kidungan Pamungkas.” Kali ini Puspamurti melenggok ke depan.

“Anakmas ksatria gagah Maha Singanada, soal jampi pemusnah racun akan diberikan dengan sendirinya. Para pendeta ini selalu mengikuti Permaisuri Yang Mulia. Soal bunuh-membunuh karena masalah pribadi, kapan pun Anakmas bisa mencari dan menemui Senopati Agung Brahma. Beliau mempunyai nama besar, pangkat, dan kedudukan yang besar. Tak terlalu sulit mencarinya. Dan Mahamata Puspamurti, janji Yang Mulia Permaisuri belum pernah tak tertepati. Sekarang pun bisa diterima.”

Dengan cara yang halus, Halayudha memaksa Pendeta Manmathaba memberikan jampi pemusnah bubuk pagebluk, dan sekaligus memaksa Permaisuri memberikan kitab yang dikehendaki Puspamurti. Cara penyelesaian yang terbaik. Karena memakai nama besar Permaisuri Indreswari. Yang mau tidak mau harus dituruti. Apalagi Permaisuri Indreswari mengangguk perlahan. Pendeta Manmathaba mengedip, dan ketiga pendeta segera mengambil sesuatu dari balik lipatan kain yang membelit tubuhnya. Yang segera diangsurkan ke Maha Singanada.

“Aha, jadi mereka memang benar-benar busuk, berniat meracuni kita semua…”

Itu suara Gendhuk Tri. Yang dalam keadaan setengah sadar mengikuti jalannya pembicaraan. Tubuhnya lemas, duduk tersandar di tiang, akan tetapi sejak ditinggalkan Singanada, kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri berangsur pulih, meskipun masih sangat lemah. Akan tetapi lidahnya masih tajam. Membuka tajam semua mata yang dikuasai pandangan Halayudha. Dengan sepotong kalimat itu, Gendhuk Tri berhasil mengubah pandangan mengenai Pendeta Manmathaba. Dari seseorang yang memberikan pertolongan menjadi seseorang yang mengakui meracuni!

Semua telinga bisa mendengar apa yang dikatakan Gendhuk Tri, dan menangkap maksud di balik kata-kata tuduhan tidak langsung. Semua mata melihat sendiri bagaimana Pendeta Manmathaba menjadi beku wajahnya. Gendhuk Tri menggeleng.

“Kakang Singa, untuk apa Kakang mengemis jampi pada orang yang busuk. Aku lebih suka mati dengan cara ksatria.”

Maha Singanada memandang bingung. “Jadi buat apa jampi ini?”

“Buang saja.”

Upasara tahu bahwa Gendhuk Tri memang suka bicara melantur. Tapi Singanada mengikuti saja apa yang dikatakan. Jampi yang berada dalam buah yang dikeringkan itu dibanting ke bawah. Hancur berkeping.

“Gila,” Pendeta Resres mencoba meraup akan tetapi sia-sia. “Puluhan tahun diperlukan untuk meracik dan membuatnya, kamu buang begitu saja…”

“Gendhuk Tri tidak mau.”

“Sungguh biadab,” Pendeta Wacak menggeram keras. “Yang seperti inikah yang disebut ksatria?”

Gendhuk Tri malah tertawa lebar. Tubuhnya yang masih lemah bergoyang. “Sudahlah, kalian tak punya persediaan banyak. Kalau jampi pemusnah itu lenyap, kalian membutuhkan waktu lama. Sudahlah, anggap saja ini pelajaran pertama. Kakang Singanada, ayo kita keluar dari tempat ini.”

Singanada membalikkan tubuh seketika mendekati Gendhuk Tri.

“Boleh juga zaman percintaan sekarang ini. Sungguh tak tahu malu.”

Mendengar suara Puspamurti yang tajam, Gendhuk Tri hanya mengedipkan sebelah matanya. “Nenek yang kakek, untuk apa kamu merisaukan kami berdua? Kamu tak akan pernah mengerti. Baca saja kitab kidungan baik-baik, pelajari, yakini, dan kamu akan merasa menjadi yang paling hebat. Seperti semua yang ada di sini. Merasa yang paling berkuasa, merasa yang paling hebat ilmu silatnya, merasa paling mengabdi Keraton, merasa ada sesuatu yang luhur yang sedang dipertaruhkan. Padahal kalian semua tak ada bedanya dengan kami berdua.”

Bahwa kata-kata Gendhuk Tri meluncur dari kesadarannya yang tipis bisa dimengerti. Akan tetapi dengan cara bicara yang acak, justru bisa mengoyak sesuatu yang tersembunyi. Yang paling terkena adalah Upasara Wulung.

Kamukah Telapak Siladri?
HUBUNGAN Upasara dengan Gendhuk Tri sedikit-banyak susah dimengerti. Baik oleh Upasara sendiri maupun oleh Gendhuk Tri. Atau setidaknya, keduanya berusaha memperlihatkan sikap yang wajar. Hubungan yang pertama adalah hubungan antara kakak dan adiknya. Upasara mengenal Gendhuk Tri pertama kali semasa masih kanak-kanak, bisa dikatakan begitu. Semua tingkah dan polah Gendhuk Tri lebih menunjukkan kemanjaan seorang adik.

Bisa dimengerti, karena sejak kecil Gendhuk Tri tak mengenal kasih sayang seorang kakak, atau bahkan orangtua. Kalaupun ada orang tua yang mengasuh dan mendidiknya, seperti gurunya Jagaddhita, hubungannya lebih bersifat resmi. Maka kehadiran Upasara dalam hidup dan perkembangan ke arah kedewasaan, mempunyai arti yang mendalam. Perasaan menjadi kakak tak pernah lepas dari bayangan Upasara. Sikapnya yang selalu ingin melindungi, selalu mengayomi, tak berubah.

Bagi Gendhuk Tri sendiri, perasaan menganggap Upasara sebagai kakak sangat menyenangkan. Hanya karena ia wanita, perasaan yang tumbuh lebih halus bisa dimengerti. Setidaknya lebih dirasakan dibandingkan Upasara yang agaknya memang tak begitu mengenal hubungan emosional. Adalah perasaan seorang adik pula yang menyertai Gendhuk Tri ketika menyadari bahwa Upasara Wulung telah menyerahkan hatinya kepada Gayatri. Gendhuk Tri rela menerima hadirnya Gayatri dalam dunia Upasara.

Akan tetapi perasaan lain tak terbendung lagi sewaktu Upasara, dalam pandangan Gendhuk Tri, mulai dekat dengan Nyai Demang. Rasa cemburu tak bisa ditutupi. Perlahan perasaan cemburu, tersaingi, mulai membentuk. Ditutupi atau disamarkan, tetapi menyeruak ke permukaan pada saat-saat tertentu. Sama yang dihadapi Upasara sekarang ini. Ketika melihat Gendhuk Tri mulai menaruh perhatian kepada Maha Singanada. Ada perasaan tertentu yang tak bisa diterangkan dengan satu pengertian.

Itu sebabnya Upasara merasakan getaran yang aneh ketika Gendhuk Tri menyebutkan “Kakang”, akan tetapi sebutan itu tidak diperuntukkan bagi dirinya. Sebutan untuk lelaki yang lain. Ada semacam keangkuhan, atau tak bisa diartikan, untuk mengatakan bahwa hatinya cemburu. Rasa yang berkembang dalam diri Upasara justru rasa bersyukur, karena kini Gendhuk Tri sudah menemukan pasangan yang serasi. Bahkan kalau bukan baru saja bertemu Gayatri, Upasara tak sepenuhnya bisa menangkap makna dari hubungannya dengan Gendhuk Tri.

Pertemuannya dengan Gayatri membuat simpul-simpul perasaan yang selama ini terkunci erat membuka. Itu sebabnya Upasara merasa paling terpukul. Kalau saja ia juga menyadari bahwa Gendhuk Tri sengaja mengucapkan kata-kata “kami berdua” untuk memanaskan hati Upasara, dan sekaligus menyalurkan kejengkelannya! Akan tetapi Upasara tidak mampu menembus jalan pikiran Gendhuk Tri. Pun andai waktu dan kesempatan tidak seperti sekarang ini.

“Baik, mari kita sama-sama mati sebagai ksatria…”

Singanada mengangguk mantap. Tangannya menggandeng Gendhuk Tri dan melangkah bersama. Hanya empat langkah, karena kemudian Gendhuk Tri seperti berjalan limbung. Kakinya tak kuat menahan tubuh.

“Kenapa…” Upasara yang bergerak lebih dulu mendekat. Ketika tangannya mencekal tangan Gendhuk Tri, terasa sangat dingin dan mengeluarkan keringat yang lembap.

Sorot mata Gendhuk Tri menunjukkan kekaguman dan kebanggaan. “Kakang Upasara masih sempat memperhatikan saya?”

“Bagaimana rasanya?” Pertanyaan Upasara seperti menunjukkan kedunguan. Memang sebenarnya Upasara tak bisa menebak apa yang sesungguhnya dirasakan Gendhuk Tri. Tubuhnya begitu dingin dengan keringat yang melembap, akan tetapi getaran jalan darahnya deras.

“Letih, ringan, tapi tak apa. Bagaimana dengan istri Kakang?”

Upasara merah wajahnya. Menghela napas. “Ia baik-baik saja.”

“Jadi Kakang sudah ketemu?”

Upasara mengangguk.

“Syukurlah. Saya kuatir karena saya melihat Kangkam Galih ada di dalam Keraton.”

Upasara mendesis. Seketika ia menyadari bahwa pertanyaan yang diajukan Gendhuk Tri adalah menanyakan Ratu Ayu Azeri Baijani. Sedangkan ia menjawab mengenai Gayatri. Perubahan wajah Upasara membuat Gendhuk Tri menatap heran.

“Benar Kakang sudah bertemu?”

“Yang itu… yang itu… Hmmm, bagaimana pedang itu bisa ada di Keraton?”

Gendhuk Tri tak bisa menjawab. Tubuhnya melongsor jatuh. Hanya karena Singanada dan Upasara memegang dari sisi kanan dan kiri, tubuhnya tidak ambruk ke lantai. Pada saat itu seorang berpakaian kebangsawanan maju ke depan. Singanada mengangkat tangan kanannya bersiap menghalangi.

“Cepat masukkan ke tubuh Gendhuk Tri. Kalau tidak, ia akan ketagihan seumur hidupnya.”

Singanada mendehem. “Bagus. Kamu yang memberi obat saya. Tak sangka kamu ternyata pemilik telapak tangan Siladri. Tapi mana mungkin aku menerima budi baik tanpa mengenal nama? Siapa kamu sebenarnya? Kalau pangeran, siapa nama besarmu?”

Siladri segera menjejalkan sesuatu ke mulut Gendhuk Tri. Upasara memandang dengan hormat, lalu menyembah. Singanada ikut mengangguk.

“Rupanya inilah pengkhianat itu…” Kali ini yang bersuara adalah calon baginda. “Tidak kusangka, sanak saudaraku sendiri menjadi musuh dari balik selimut.” Suaranya mengandung ancaman, hukuman keras.

Tapi Singanada malah berkata keras, “Siapa pun dia, tolong katakan namanya. Biar saya bisa mengenang kebaikannya.”

Singanada benar-benar polos dan tak tahu situasi yang sedang terjadi. Bahwa calon baginda yang memerintah segalanya begitu murka, ditanggapi dengan tenang. Bahwa nama yang disebut oleh calon baginda ini di belakang hari akan mengalami bencana besar. Dan ia masih sanak saudara, masih mempunyai hubungan yang erat dengan calon baginda sendiri.

“Kakang Singanada, jangan membuat malu saya. Masa Kakang tidak mengenal nama Pangeran Janaka Rajendra?” Gendhuk Tri yang kembali sadar berlutut dan menghaturkan sembah.

Singanada ikutan dengan kaku. “Siapa dia?”

Wajahnya yang polos membuat Gendhuk Tri tersenyum. “Dia putra utama Senopati Agung Brahma yang mau kamu bunuh. Masih kurang jelas? Senopati Agung Brahma adalah kakak ipar Baginda, sekaligus kakak ipar Permaisuri yang sekarang berada di sini. Masih kurang jelas?”

“Aku bingung. Aku berjanji untuk membunuh Senopati Agung karena mulutnya lancang. Tapi anak lelakinya baik sekali. Jadi bagaimana? Aku tetap akan membunuh bapaknya, dan mengucapkan terima kasih padanya. Begitu saja. Kamu sudah baik?”

Ketika sebagian perhatian tertuju ke arah Gendhuk Tri dan Singanada serta Pangeran Janaka Rajendra, Barisan Padatala sudah bersiap dan mengurung. Sekali menggerakkan tangan, ketiganya sudah bisa meraih Singanada. Upasara mengibaskan tangannya. Pada saat yang bersamaan Manmathaba bergerak. Lebih cepat dari Upasara, dan lebih mengarah. Upasara berusaha menangkis, untuk kemudian maju selangkah ke sebelah kanan, mencari ruang yang lega.

Akan tetapi kali ini Manmathaba tidak memberi kesempatan sedikit pun. Menyadari bahwa Upasara cukup tangguh, Manmathaba mengerahkan seluruh kemampuannya. Tanpa memedulikan bahwa geseran angin pukulannya bisa melukai para prajurit yang lain. Gelang emas yang tersusun di kakinya berdering ketika tubuhnya membalik. Upasara menebas maju dengan tangan kosong. Kali ini rangkaian tenaga Kitab Bumi yang sudah mendarah daging tersalur sempurna. Gelombang tenaga yang mengisap, memutar, dihadapi dengan tenang. Tapi kali ini Upasara salah perhitungan.

Bandring Cluring
MANMATHABA mendesis, tubuhnya meluncur ke atas, dan seketika itu pula gelang emas di kaki kanan dan kiri meluncur cepat. Mendesing dengan suara keras. Bukan hanya itu. Ketiga pendeta Syangka membentuk Barisan Padatala, dan dengan bersamaan juga menggempur ke arah Upasara. Dengan berbagai pukulan sekaligus dan serangan gelang kaki seperti Manmathaba. Bedanya, ketiga pendeta Syangka ini menyerang secara diam-diam. Bahkan lemparan gelang dari ketiganya tidak memperdengarkan suara.

Upasara boleh hebat, akan tetapi tak memperhitungkan serangan seperti ini. Tidak juga yang lain. Karena sungguh tidak layak bagi seorang seperti Manmathaba menyerang dengan dibantu secara keroyokan. Barangkali dari sekian banyak orang, hanya Halayudha yang sedikit-banyak bisa menerjemahkan dalam hati kenapa Manmathaba melakukan keroyokan.

Tradisi kehidupan di Syangka sangat berat. Apalagi dalam kehidupan kesehari-hariannya selalu di bawah pamor para pendeta dan ksatria dari Hindia yang terkenal penuh tipu daya. Baik dari segi ilmu silat maupun cara mengatur tenaga dalam. Mungkin contoh yang tepat, akan tetapi Kiai Sambartaka menunjukkan ciri-ciri itu. Dalam situasi semacam itu, bisa dimengerti bahwa merebut kemenangan merupakan tujuan utama. Bukan mempersoalkan bagaimana cara menempuhnya.

Setidaknya dari cara pengeroyokan sekarang ini. Bagi Manmathaba kemenangan adalah yang utama. Dan ia, seperti juga ketika pendeta anak buahnya, menyadari bahwa Upasara yang paling kuat. Yang bisa lolos dari serangan bubuk pagebluk!

Upasara terkejut, akan tetapi dengan memutar kedua tangan melindungi tubuh, kakinya bergerak cepat. Meloncat ke tengah udara sebatas pinggang, dan menyelusup ke sela-sela udara yang tersisa dari gempuran gelang kaki. Bentrokan gelang kaki memekakkan telinga bagi yang mendengarkan. Tapi lebih dari itu semua, ternyata gelang kaki yang berbenturan itu pecah, dan arahnya tetap tertuju ke Upasara Wulung!

Terdengar seruan keras dari Puspamurti yang menggerakkan kipas besarnya. Akan tetapi jarak terlalu jauh, sehingga angin kesiuran yang dikeluarkan tidak bisa sempurna arahnya. Justru menambah bahaya! Karena pecahan gelang itu seperti tertuju ke arah yang lebih tak terduga, dengan tambahan dorongan tenaga yang dahsyat.

Bisa dibayangkan betapa hebatnya pecahan gelang yang jumlahnya puluhan disentakkan dengan tenaga besar. Satu saja bisa menancap akan lain ceritanya. Belum lagi kalau itu juga disusupi racun. Sesuatu yang sangat masuk akal mengingat pada hampir semua tubuh para pendeta tersembunyi hal-hal yang tak terduga.

Tubuh Upasara yang berada di tengah udara mendadak membeku, tangan kirinya terulur ke depan dan untuk pertama kalinya tangan kanannya mengikuti gerak kaki berputar. Matanya tertutup, akan tetapi mulutnya menyunggingkan semburan keras.

Halayudha menahan napas dalam-dalam. Apa yang diperlihatkan oleh Upasara adalah bagian dari ilmu mengatur napas dalam Kitab Bumi yang sangat dihapal. Yaitu berusaha memakai tenaga bumi secara penuh. Pada tingkat Upasara, pengerahan tenaga dalam itu bisa melalui mulut, tenaga dorongan tangan atau kaki, tetapi juga dari seluruh tubuh. Dari sembilan lubang atau lebih.

Cara ini memang kuat untuk menahan serangan, akan tetapi dengan begitu menempatkan Upasara pada posisi bertahan total. Embusan tenaga untuk memencongkan pecahan gelang, akan tetapi tidak untuk serangan berikut yang lain sifatnya. Bagi seorang pesilat yang tengah memainkan jurus bertahan, apalagi dengan tenaga bumi yang dipakai Upasara, akan sangat sulit sekali mengubahnya.

Tenaga itu tak bisa diperhalus atau diubah seperti tenaga yang berada dalam tangan atau kaki. Yang bisa diubah dari mencakar, meninju, mengelus, atau mengusap dalam seketika. Pengerahan tenaga bumi melalui sembilan lubang atau lebih, memerlukan pengerahan tenaga sepenuhnya. Sebab kalau tidak, hasilnya akan sia-sia. Dalam perhitungan Halayudha, bahkan di saat Upasara digempur dengan bubuk racun pagebluk, ia tidak menghindarkan diri dengan cara seperti ini. Seputar tubuh Upasara mengeluarkan udara tipis karena pengerahan tenaga dalam.

Gerincing pecahan gelang menimbulkan jeritan tertahan dari para prajurit yang terkena. Bahkan Senopati Agung Brahma perlu jumpalitan untuk menghindarkan diri. Dan serangan beruntun masih terus menyergap. Manmathaba tidak membiarkan begitu saja. Belitan tangannya mencengkeram Upasara yang seakan bergeming. Kalau tadinya bisa menghancurkan lengan baju Upasara, sekarang dengan perhitungan lain. Membelit ke tulang.

Tangan kiri Upasara bergerak ke samping bawah, bersamaan dengan tangan kanan yang tertarik ke atas. Kedua telapak tangannya membentuk kepalan tinju, berbeda dari biasanya yang selalu terbuka. Kaki kanan maju serong ke kiri, dan kaki kiri sedikit mundur. Sepasang tangan melawan dua tangan membelit, dan enam tangan menggempur sekaligus. Hasilnya mengejutkan. Baik bagi Upasara maupun lawan-lawannya.

Upasara merasa belitan di tangan kanannya membuat ngilu, sementara dua pukulan menerobos masuk ke dadanya dan menimbulkan rasa perih. Sementara Manmathaba tak menduga bahwa belitannya kali ini bisa dipatahkan dengan tenaga keras. Bahkan tenaga membalik yang keluar dari siku Upasara seperti mengentak ulu hatinya. Yang paling menderita adalah Pendeta Resres yang terkena agak telak. Masih untung tenaga yang lain menahan gempuran itu. Kalau tidak, Pendeta Resres tak akan bisa berdiri tegak tanpa memegangi dadanya.

Pendeta Taletekan melihat kesempatan untuk maju. Inilah kehebatan Barisan Padatala. Ketiganya bisa maju-mundur dan saling mengisi dengan cepat. Dengan mengetahui bahwa tenaga yang mengarah kepadanya paling bisa ditanggulangi, Pendeta Taletekan menerjang maju. Dua jarinya terjulur ke depan, siap mencukil mata Upasara. Pendeta Wacak memancing perhatian pengerahan tenaga ke arah serangan dada. Saat itu Manmathaba sudah bergerak maju.

“Lipat!”

Aba-aba melipat menggambarkan betapa yakinnya Manmathaba bahwa sekarang belitannya tak akan meleset lagi. Nyatanya begitu! Baru kemudian Halayudha menyadari bahwa tenaga belitan itu sangat erat mencekik. Siapa yang terkena, tak akan bisa meloloskan diri. Hanya jeritan mengaduh dan teriakan kencang. Lalu tubuh terjerembap ke bawah, seakan tak mempunyai tulang lagi. Benar-benar luar biasa. Benar-benar luar biasa dan mengerikan. Belitan yang memutuskan tenaga di dalam tubuh.

Manmathaba sendiri tergoyang-goyang mundur, seolah mencari napas karena baru saja mengerahkan seluruh tenaganya. Nyatanya begitu. Hanya saja ia tak menduga bahwa di kejauhan Upasara masih berdiri, meskipun kakinya agak limbung menjaga tubuhnya.

Singanada mengejapkan matanya. Baru sekarang menjadi jelas bahwa Pendeta Taletekan yang menjadi korban. Terbelit dua tangan Manmathaba yang merontokkan semua urat tubuh. Pada detik yang menentukan tadi, sewaktu Pendeta Taletekan maju, Upasara menggeser kakinya dengan sebat. Sekali seblak, kaki Pendeta Taletekan terguncang kuda-kudanya. Tubuhnya tersuruk maju pada saat Manmathaba seolah memeluk dirinya. Hebat, akan tetapi Upasara sendiri merasa kesakitan di dadanya. Pukulan Wacak sempat masuk mengenai tulang iganya. Puspamurti bergerak maju.

“Siapa kamu sebenarnya? Sejak kapan kamu gunakan Bandring Cluring itu?”

Dari nadanya terdengar antara rasa ingin tahu, kekaguman, sekaligus kengerian. Bisa dibayangkan kalau tokoh seperti Puspamurti sampai tergetar. Bisa dibayangkan senjata yang dikeluarkan oleh Manmathaba sekarang ini.

Jurus-Jurus Kebat Klewat
KALI ini Halayudha yang menyipitkan mata. Apa yang membuat Puspamurti mengeluarkan seruan keheranan tak sebanding dengan apa yang dilihat. Manmathaba hanya memegang seutas tali panjang yang berwarna putih lentur, dan di ujungnya ada benda bulat. Senjata yang disebut Bandring Cluring. Di tangan Manmathaba bandring itu berputar, mengeluarkan suara mendesing. Apa hebatnya?

Pertanyaan ini lebih merupakan pertanyaan untuk menemukan jawaban yang pas. Halayudha tahu betul bahwa Manmathaba bukan pendeta sembarangan. Ilmunya sudah dirasakan sendiri kehebatannya. Ditambah dengan tipu muslihat menggunakan bubuk beracun atau memecah gelang kaki, memang sulit disamai. Tapi itu karena kehebatan ilmu silatnya. Bukan andalan senjata yang ternyata hanya seutas tali yang diberi bandul ujungnya.

Pertanyaan ini lebih merupakan rasa ingin tahu untuk lebih waspada. Jelas Puspamurti tidak menyinggung sedikit pun jurus-jurus maut yang dikeluarkan Manmathaba. Tidak dengan ilmu belitan bagai gurita, tidak gelang kakinya yang menjadi senjata rahasia. Akan tetapi begitu mengeluarkan bandring, langsung mengeluarkan kekaguman.

“Apa istimewanya katapel buah duku itu?”

Itu suara Gendhuk Tri. Suara yang seperti bisa diduga, untuk mengejek lawan. Tetapi kentara juga suaranya bernada tawar. Atau dengan kata lain tersirat juga perasaan gentar. Apalagi setelah Singanada menghela napas dan menggeleng. Memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan penilaian Gendhuk Tri.

Kalau dilihat sekelebatan, apa yang dikatakan Gendhuk Tri tidak salah. Bandring memang tak lebih dari katapel, alat untuk melantingkan batu kecil yang biasa dipakai anak-anak menjepret burung. Bahkan di ujungnya ada bandul yang mirip batu. Cluring sendiri bisa diartikan buah duku, atau buah langsat. Tidak terlalu mengada-ada kalau Gendhuk Tri menyebutnya sebagai katapel duku.

Singanada merasa perlu bersikap lebih waspada. Caranya berdiri mendekat ke arah Upasara menunjukkan keinginan untuk setengah membantu. Sebab pengalamannya membuktikan bahwa Bandring Cluring adalah senjata yang sangat ganas. Sepanjang hidupnya Singanada hanya menjumpai dua tokoh yang menggunakan senjata tersebut. Ini yang kedua.

Tidak terlalu luar biasa kalau tali panjang yang menggelantung itu tidak dibuat dari otot manusia. Entah dengan cara bagaimana, otot manusia itu dipilin menjadi tali yang liat. Membayangkan itu saja sudah menimbulkan rasa jijik. Karena untuk bisa mendapatkan tali sepanjang badan manusia, entah dibutuhkan berapa puluh mayat yang dibelah tubuhnya untuk diambil otot-ototnya.

Singanada pernah diajari mengenai ilmu yang paling sesat selama ini. Yaitu suatu aliran yang menggunakan tubuh manusia sebagai bahan percobaan untuk memperdalam ilmu silat. Di antaranya yang menggunakan batok kepala serta otot tubuh sebagai latihan. Yang berarti perlu ratusan korban tak berdosa untuk percobaan dan berlatih.

Menurut kabar yang didengar, semua ksatria di seluruh jagat dianggap bukan manusia kalau melakukan latihan semacam itu, karena bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan. Tapi memang masih banyak yang secara diam-diam mempelajari. Hanya saja baru sekarang ini Singanada melihat ada tokoh yang dianggap sakti, ternyata justru memperdalam ilmu sesat tersebut.

Desingan bandring menjadi sangat cepat. Kesiuran angin berkelebat menyabet sana-sini. Dalam pandangan sekilas saja bisa diketahui bahwa bandring itu seakan bisa menjadi panjang dan tiba-tiba berubah menjadi pendek. Seperti otot manusia hidup. Ini salah satu bahayanya. Bandring menjadi bagian anggota tubuh. Bisa digerakkan sesukanya.

Sebenarnya Gendhuk Tri tak begitu kuatir bahwa Upasara bakal bisa menghadapi dengan baik. Selama ini telah terbukti, Upasara bisa menghadapi dan mengatasi berbagai senjata dan ilmu silat yang paling aneh. Terutama sejak pertarungan di Trowulan, Gendhuk Tri yakin bahwa tak ada tokoh yang bisa mengungguli Upasara. Karena nyatanya di atas tokoh seperti Kiai Sambartaka, Kama Kangkam, Naga Nareswara, Paman Sepuh bisa diungguli. Bahkan Eyang Sepuh tidak bisa bertahan sebagai pemenang utama.

Namun kondisinya sekarang ini lain. Sekarang Upasara tidak dalam kekuatan yang penuh. Setelah dikeroyok beramai-ramai, ia seperti terkena pukulan yang cukup menguatirkan.

“Kakang Singa bisa berbuat sesuatu…,” bisik Gendhuk Tri.

“Susah. Kalau aku ikutan maju, bisa-bisa malah membuat Upasara repot.”

“Kita maju bersama.”

“Kalau itu maumu, ayo…”

Gendhuk Tri masih ragu. Justru karena Singanada bersedia maju karena ajakan Gendhuk Tri. Bukan karena yakin bisa membantu atau berbuat sesuatu. Pada saat Gendhuk Tri masih bimbang, Manmathaba sudah bergerak maju. Bandring bergerak dalam putaran yang kencang dan mengurung Upasara dari arah kanan dan kiri. Dua bandring di kedua tangan berputar sangat keras.

Tiap kali menyentuh lantai menimbulkan suara sangat keras. Dan agaknya ini disengaja oleh Manmathaba, karena suara berisik, suara peletok-peletok yang keras sekali bagai irama tertentu yang memberi aba-aba kepada Resres dan Wacak untuk bergerak maju. Ketiganya secara langsung mengurung, menyerang seirama dengan suara ujung bandul yang mengenai lantai atau tiang atau apa saja.

Tok-tok-tok-tok-tok-tok-tok.

Trotok-tok.

Tok-tok… tok-tok-tok-tok-tok.

Upasara sendiri berdiri dengan gagah, kedua tangan terangkat di dada dengan tenaga penuh. Dengus napasnya menunjukkan ada beban berat yang diatasi. Begitu dua kali bandring menggunting dari dua sisi, Upasara meloncat tinggi, meraup senjata seadanya, dan menangkis. Segera terdengar peletokan lagi. Senjata di tangan Upasara terkutung. Karena tebasan tali bandring!

Inilah hebat. Hancurnya senjata di tangan Upasara karena tebasan tali. Karena digunting dengan tali bandring. Upasara sendiri menyadari bahwa ia terlambat memberikan perlawanan. Selama ini kepercayaan dirinya terlalu kuat hingga boleh dikata tak pernah memakai senjata andalan. Sungguh tak diperhitungkan bahwa ada tokoh seperti Manmathaba yang menggunakan keunggulan senjata untuk mengalahkannya.

Setiap kali Upasara berusaha mendesak maju, ujung bandul berputar di depan matanya, sehingga ia buru-buru meloncat minggir atau mundur. Sementara itu pula Wacak dan Resres makin merapat, menutup kemungkinan menghindar. Siapa pun yang menyaksikan jalannya pertarungan menghela napas. Merasa bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Tubuh yang terpotong-potong! Ini karena putaran dan desing bandring Manmathaba yang makin lama makin menggila, dan seperti tak bisa dihentikan.

Bagi Gendhuk Tri, ini pertarungan yang menggeletarkan sukmanya untuk kedua kalinya. Yang pertama di Trowulan. Akan tetapi saat itu pertarungan berlangsung dalam jarak pandang yang jauh dan yang dimainkan adalah kelihaian dalam menguasai tenaga dalam. Sehingga yang terlihat adalah gerak-gerak, kepulan asap. Berbeda dari sekarang ini. Yang jelas mana senjata dan bagaimana gerakan menggunting.

“Jurus-jurus dalam ilmu bandring disebut jurus Kebat Klewat, karena jurus ini kelewat cepat dan kelewat telengas. Tenaga yang disalurkan tak bisa ditarik kembali. Dan putaran itu makin lama makin cepat hingga akhirnya akan berhenti sendiri. Baik karena telah berhasil membunuh lawan atau yang bersangkutan kehabisan tenaga. Entah bagaimana Upasara bisa meloloskan diri. Mungkin kita akan mati juga sebelum bisa bertanya. Tapi karena kita mati sama-sama, rasanya aku rela juga, Kanyasukla…”

Gendhuk Tri tak menangkap getaran asmara yang terpancar dari kata-kata Singanada. Karena perhatiannya terserap sepenuhnya ke gelanggang pertarungan. Karena makin lama Upasara makin mundur setindak-dua tindak secara berurutan. Ini tandanya betul-betul terdesak.

JILID 12BUKU PERTAMAJILID 14