Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 12

Hanya karena tidak biasa dengan pakaian kebesaran yang dikenakan, geraknya jadi serba tanggung. Kuatir kainnya sobek atau kotor, Upasara berjalan seperti biasa. Dalam bayangannya hanya ada satu tujuan. Mencari tempat yang aman untuk segera menukar pakaian. Menyimpan pakaian kebesaran, dan menggantinya dengan yang biasa dikenakan sehari-hari. Kembali menjadi Upasara Wulung. Seorang ksatria.

Tangan Upasara masih memegang, menelusuri pakaian itu dari atas hingga ke bawah. Kalau tidak mengenakan busana kanendran ini, semua yang dialami siang sampai dini hari ini pastilah impian. Betapa tidak. Bisa berdua bersama Gayatri. Bercerita banyak sekali. Mengantarkan dan masuk ke dalam kamar peraduan. Diterima dengan hangat oleh Permaisuri Tribhuana. Pengalaman yang tak pernah akan tertindih oleh pengalaman lain sampai tujuh turunan berikutnya.

Upasara terlelap dalam pikirannya sehingga tanpa sadar berpapasan dengan barisan prajurit. Sebelum sempat bereaksi, para prajurit menyembah hormat padanya. Upasara mengangguk dan berjalan menjauh. Walau merasa geli dan risi, Upasara tak bisa menanggalkan begitu saja. Celakanya, langkahnya yang asal-asalan justru membawanya ke tempat yang lebih banyak prajuritnya. Yang semuanya kembali membungkuk hormat.

“Dengan segala hormat, silakan masuk ke dalam, Gusti Pangeran…”

Barulah Upasara sadar bahwa yang dikenakannya adalah pakaian kebesaran yang biasa dipakai oleh para pangeran. Atau setingkat dengan Putra Mahkota..Karena tak bisa melepaskan diri, Upasara masuk. Mengikuti prajurit yang bertugas mengantarkan para tamu yang datang. Hatinya bercekat ketika dipersilakan duduk di barisan depan, pada kursi prada, kursi warna emas. Lebih bercekat lagi karena yang di sebelahnya ialah Pangeran Jenang, yang mengangguk hormat padanya.

“Adalah kehormatan besar berada di sebelah Pangeran Jenang,” kata Upasara perlahan.

“Kehormatan yang sama, Pangeran…” Pangeran Jenang tidak melanjutkan kalimatnya. Dalam hatinya juga bingung. Begitu banyak pangeran di tanah Jawa ini. Nyatanya begitu. Hampir semua pembesar datang.

Sebelum matahari bersinar sempurna. Agak di luar dugaan bahwa ada pasewakan agung yang diselenggarakan dini hari. Tapi Upasara tak banyak mengikuti. Pikirannya hanya bagaimana segera melepaskan diri dari kerumunan yang begini banyak, untuk menjelajah ke dalam Keraton mencari tahu di mana Singanada dan Gendhuk Tri tertawan.

Bersama dengan iringan genderang dan trompet serta gamelan panjang, semua yang hadir menunduk, menyembah. Putra Mahkota Bagus Kala Gemet memasuki ruangan. Dengan pakaian kebesaran serta mengenakan mahkota. Diiringi para senopati, dinaungi payung kebesaran.

“Hari ini, ingsun, Sri Sundarapandya Adiswara, pemegang tunggal kekuasaan Majapahit dan seisinya, memerintahkan para kawula untuk mendengarkan sabda ingsun. Bahwa mulai pagi tadi, ketika sang surya keluar dari peraduannya, Baginda Kertarajasa Jayawardhana menitiskan wahyu Keraton ke tangan ingsun. Unjuk kesetiaan ditandai dengan sembah kalian, semua hambaku, serta minum tuak beras bersama-sama…”

Para pelayan segera menghidangkan bumbung bambu yang berisi tuak beras, untuk ditenggak satu demi satu. Upasara berada di urutan depan untuk menerima pertama kali. “Tahan! Tuak beras itu sudah diracuni bubuk pagebluk!”

Singanada, teriak Upasara dalam hati. Kepalanya miring ke kiri, ke arah datangnya suara. Benar saja, di kejauhan tampak Maha Singanada sedang meloncat maju meninggalkan prajurit yang mengeroyoknya.

“Perintah Baginda Sundarapandya harap dipenuhi…” Kali ini Pendeta Resres yang berkata dengan perlahan tapi mengandung ancaman. Pendeta Wacak dan Taletekan juga melakukan gerakan yang sama. “Para pengacau akan sirna…”

“Omong kosong! Lihat diriku! Senopati Maha Singanada. Masih berdiri tegak, gagah, tak terluka sedikit pun. Bubuk pagebluk dari tanah Syangka tak lebih hanyalah bedak bagi pipi ledhek Keraton yang binal. Untuk ksatria macam aku, tak ada artinya. Tapi rencana perjamuan ini busuk.”

Tantangan Raja
SINGANADA melangkah dengan gagah, sesuai dengan pembawaannya. Rambutnya yang tergerai dibiarkan beriapan terkena angin malam. Matanya memandang nyalang. Siap menyabung nyawa.

Upasara tidak segera menemukan jalan keluar harus berbuat bagaimana. Menahan pemunculan Singanada sama juga dengan membuka kedoknya sendiri. Itu tak menjadi soal. Akan tetapi dengan begitu berarti perang tanding terbuka. Namun membiarkan Singanada menempuh bahaya sendirian juga bertentangan dengan jiwanya. Adalah sesuatu yang kurang diperhitungkan jika pada saat semacam ini Singanada muncul dan mengeluarkan tantangan.

Bahwa Singanada lama dan besar dalam perantauan bisa dimengerti dari sikapnya yang kurang mengenal tata krama. Akan tetapi sekali ini membangkitkan perlawanan seluruh Keraton. Tak mungkin Bagus Kala Gemet, yang merasa baru menerima wangsit untuk menduduki takhta, membiarkan kekurangajaran di depan matanya. Ketika tidak resmi diadakan upacara pemberian gelar dan ada senopati yang diduga tidak mau datang, tanpa ampun lagi disikat. Apalagi seperti sekarang ini.

Sekelebat Upasara juga melihat bahwa Singanada tak mempunyai jalan keluar yang lain. Ini berarti tak bisa terhindarkan lagi perang tanding yang tak seimbang. Pada saat begitu, Upasara tak bisa berdiam diri. Di luar dugaan Upasara, Bagus Kala Gemet mengangkat tangannya.

“Agaknya ada seekor hamba sahaya yang tidak diundang datang ke perjamuan. Sebagai raja, aku ingin mengetahui apa yang terjadi. Majulah, prajurit kecil. Apa maumu?”

Yang mendengar ucapannya melengak. Tak menyangka sama sekali bahwa Singanada akan ditanggapi. Dengan mengangkat satu tangan saja semua senopati dan Barisan Padatala bisa menyerang habis. Ini juga menunjukkan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi ingin menunjukkan sikap yang berbeda, sekaligus menjelaskan kekuasaannya.

“Kalau kamu kurang puas dengan pesta yang tak memperhitungkanmu, silakan bersembah di depanku. Dengan kebesaran hatiku, kuizinkan kamu menikmati hidangan Keraton. Kalau kamu mau menantang aku sebagai sesama ksatria, hari ini juga aku hadapi. “Kalau ada yang ingin kamu minta, katakan maumu!” Tantangan yang sama gagahnya.

Singanada sendiri kelihatan tak menduga akan adanya sergapan jawaban seperti itu. Jalan pikirannya yang sederhana tak menemukan alasan bahwa sebenarnya kehadirannya bukan tidak diperhitungkan. Yang menyebut dirinya Sri Sundarapandya Adiswara bisa memperhitungkan bahwa pada saat upacara akan muncul para pembangkang.

Meskipun sebenarnya yang lebih diperhitungkan adalah pemunculan Upasara Wulung, yang dianggap satu-satunya orang yang bisa mengganggu di kelak kemudian hari. Justru upacara ini selain untuk memperlihatkan siapa dirinya dan kekuasaannya juga untuk menyikat habis semua lawan atau yang dianggap tidak mengakui kebesarannya. Bahwa Singanada yang muncul, tak terlalu menjadi perhatian.

Dari kisikan para pendeta Syangka, keadaan tubuh Singanada saat ini tidak cukup kuat. Kalaupun bisa bebas dari pengaruh bubuk pagebluk, itu hanya sementara sifatnya. Kalau itu berarti harus melakukan pertarungan “sesama ksatria” juga tak terlalu membahayakan. Dalam soal siasat semacam ini, Upasara maupun Singanada tak berbeda jauh. Keduanya tidak melihat bahwa di balik ucapan-ucapan sudah tersedia jawaban yang direncanakan dengan cermat, dengan perhitungan yang matang.

“Aku menerima tantanganmu. Rajamu menerima tantangan. Katakan apa maumu!”

Singanada menggerung. “Kembalikan Gendhuk Tri!”

“Hanya itu? Kamu akan segera mendapatkannya…”

Gerakan dagu yang kecil membuat prajurit di sebelahnya mengangguk dan menyembah hormat sebelum melangkah ke dalam.

“Temui, ambil, dan bawa…”

Singanada tetap berdiri. “Aku ingin Gendhuk Tri dibawa kemari…”

“Itu berlebihan. Kamu mengganggu pesta ini, dan tak mempunyai jiwa ksatria sedikit pun .Takut diperdayai… Kamu berhadapan dengan Raja junjungan yang sabdanya didengarkan semua orang waras…”

Sejenak Singanada ragu.

“Datang dan temui Gendhuk Tri. Baginda telah memberi kesempatan yang bagus, anak muda…” Senopati Agung beringsut maju, menyembah sebelum berkata.

“Baik. Tapi kita masih akan saling bunuh, Senopati Agung…”

“Seusai pesta ini, tantanganmu tetap kuterima.”

Upasara menghela napas perlahan. Ia merasa bersyukur bahwa pertarungan besar bisa terhindar. Walau gagah perkasa, Singanada tak mungkin menghadapi sendirian. Entah kenapa, Upasara merasa dekat dengan Maha Singanada. Ada semacam jiwa ksatria yang gagah yang bergema sama dengan hatinya. Ada pengabdian sempurna kepada Keraton Singasari. Lebih dari itu semua, Upasara merasa bahwa kini Gendhuk Tri telah mempunyai pendamping yang tepat. Singanada mengangguk. Ia melangkah ke dalam, mengikuti para prajurit yang mendahului. Suasana kembali seperti sediakala.

“Mari kita lanjutkan,” kata Putra Mahkota dengan penuh wibawa. “Kalau kalian ragu apakah tuak ini dicampuri bubuk pagebluk, biarlah aku yang mulai…”

Tangan kanan Putra Mahkota Bagus Kala Gemet meraup bumbung kayu dari tangan Upasara dan segera menenggak habis. Semua yang hadir mengikuti. Upasara sendiri mendapat ganti bumbung yang lain. Hanya saja keraguan masih ada. Maka ketika menenggak, dengan satu sentakan, bumbung yang isinya tumpah itu bisa kembali ke tempatnya ketika ditarik dari bibirnya.

Bukan karena apa. Upasara hanya sedikit gentar dengan bubuk pagebluk. Yang membuatnya berjaga-jaga justru karena seumur hidupnya ia tak biasa menenggak tuak. Dari jenis apa pun. Dalam hal semacam ini Ngabehi Pandu tak pernah memberi kelonggaran sedikit pun.

“Sekarang lebih jelas semuanya. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sebagai pewaris takhta yang ditunjuk dan dipilih Dewa Maha dewa, sekarang ini segala urusan Keraton di bawah pengetahuan dan izinku. Tak ada yang lain. Malam ini juga, Mahapatih Nambi diterima keinginannya untuk mengaso sementara dari tugas-tugas keprajuritan. Bagi yang ingin mengajukan permohonan yang sama, tak usah menunggu besok. Keadaan Keraton sekarang kuat dan sentosa. Dewa selalu memberkati. Kalau ada yang masih tetap bisa ditata dengan baik, ingsun pribadi yang akan menjelaskan. Ingsun yang bertanggung jawab. Tak ada yang lain…”

Suaranya keras dan bulat. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.

“Malam ini juga ingsun pribadi tidak berkeberatan bila Paman Senopati Agung dan seluruh keluarganya ingin meninggalkan Keraton yang mengibarkan panji Keraton ke tanah sabrang. Ingsun katakan di sini, malam ini, agar tidak ada lagi suara-suara di belakang hari yang mempertanyakan. Itu tak akan terjadi dalam tata pemerintahan yang sekarang.”

Upasara merasa seluruh ruangan sunyi, senyap. Seakan nyamuk pun takut mengganggu kebisingan. Untuk pertama kalinya selama mengabdi di Keraton baru sekarang ini Upasara mendengar sabda Raja yang dilontarkan secara terbuka, sebagaimana apa adanya. Tidak dibungkus dengan kata-kata yang mempunyai makna penghalus.

Penyingkiran Mahapatih Nambi sudah diduga, akan tetapi tidak secepat ini. Juga caranya mempersilakan Senopati Agung untuk segera meninggalkan Keraton. Tokoh yang begitu dihormati Baginda, diusir begitu saja. Gigi Upasara berderak menahan gusar. Pakaian kebesaran yang dikenakan terasa panas, pengap, dan membuat tak enak dipakai.

Raja Niratma
SENOPATI AGUNG menunduk. Bahunya gemetar menahan rasa gusar. Hanya dalam waktu beberapa kejap saja. Lalu melakukan sembah dengan hormat.

“Bila memang Baginda Muda berkenan, saya akan segera berangkat sebelum fajar tiba. Mohon doa restu Baginda Muda…”

Jawabannya hanyalah anggukan pendek. “Ini bagus, tetapi salah. Senopati Agung, bagaimana kamu menyebut dengan panggilan Baginda Muda? Apakah hatimu masih ragu mengakui sebagai Baginda Raja? Kenapa pakai sebutan Muda?”

Suara yang terdengar sangat kenes, manja, tanpa memedulikan tata krama karena menyebut begitu saja. Juga tak begitu terpengaruh dengan keadaan sekitar, di mana yang hadir hampir semua bangsawan dan pembesar. Meskipun suara itu terdengar jelas, tak ada yang berusaha melirik. Juga Upasara yang berada di deretan depan, karena kuatir menyinggung perasaan Raja Muda.

“Itu bagus tetapi salah. Senopati Agung, Baginda menyebut dirinya dengan ingsun, yang berarti aku yang besar, yang hebat. Bagaimana mungkin kamu bisa begitu sembrono terhadap keponakanmu sendiri? Tidak pantas kamu menyebutnya sebagai Raja Muda. Yang lebih pantas ialah Raja Niratma…”

Kali ini semua yang hadir menoleh tanpa kecuali ke arah datangnya suara. Kalau tadinya merasa bahwa Senopati Agung dipersalahkan, kini keadaan berbalik. Dengan mengatakan sebagai Raja Niratma sama juga menyebut sebagai raja yang tidak mempunyai jiwa! Bagaimana mungkin ada suara yang begitu kurang ajar? Siapa yang berani berkata semacam itu?

Lebih mengejutkan lagi karena suara itu berasal dari seorang yang tubuhnya tinggi-besar, akan tetapi wajahnya tampak aneh. Karena bagian alis dipoles lebih hitam dan melengkung, sementara rambutnya digelung seperti wanita. Dan kalau diperhatikan lebih jelas, tokoh yang seperti muncul secara tiba-tiba ini seakan tak menghiraukan semua mata yang memandang ke arahnya. Malah kemudian mengeluarkan kipas yang berukiran, untuk dikebut-kebutkan

Alis Upasara sedikit berkerut. Sekian lama ia malang-melintang di dunia persilatan, tak pernah menduga adanya seorang tokoh lelaki yang berdandan seperti wanita. Yang bisa masuk dalam daftar undangan, dan agaknya cukup mengetahui hubungan antara keponakan dan paman. Antara Baginda dan Senopati Agung.

Meskipun rada sembarangan, kalimatnya yang menyebut “raja tanpa jiwa” sangat tepat. Seorang keponakan yang berani mengusir pamannya, yang tak mungkin dilakukan oleh Baginda sendiri, apalagi namanya kalau bukan manusia tanpa jiwa?

“Kalau ingsun raja tanpa jiwa, kamu manusia macam apa?”

“Jangan marah. Baru akan menjabat jadi raja nanti saat matahari terbit, kok sekarang sudah marah-marah? Nanti kamu disebut Raja Momo…”

Benar-benar rada kelewatan tokoh yang satu ini. Momo bisa berarti marah, bisa pula berarti congkak. Tapi bisa pula berarti gila. Menghina secara terang-terangan semacam ini, benar-benar keterlaluan. Akan tetapi sampai sejauh ini tak ada prajurit kawal pribadi yang bergerak. Juga Barisan Padatala masih bersikap menunggu.

“Raja Momo, kamu menanyakan siapa diriku? Sungguh lucu. Pantas saja kamu tidak mengenalku. Ketika kamu masih menjadi air kencing, aku sudah mendiami keraton ini. Aku tahu kamar mana yang bau wangi dan mana yang bau apak. Apa betul di antara penggede di sini tak ada yang mengenalku?”

Pendeta Resres terbatuk perlahan. Dari hidungnya terdengar udara yang disedot keras. “Kakek tua, apa urusanmu datang kemari?”

“Ladlahom, seayu aku begini kamu panggil kakek tua? Aku bukan kakek dan aku belum tua. Kamu manusia mana? Pesuruh Raja Momo ini? Ladlahom, bagaimana kamu bisa dua kali menyebut dua kali salah?”

Pendeta Wacak mengulurkan tangannya, mendorong tubuh lelaki berpakaian wanita yang hanya menggerakkan kipasnya untuk menolak.

“Mana yang lainnya? Kenapa kalian tidak maju bersamaan saja?”

Sebagian yang hadir merasakan bau kipas yang wangi menusuk hidung. Bau kayu cendana yang menjadi sangat tajam. Bagi Upasara bukan hanya bau wangi yang menyengat, akan tetapi juga sentakan tenaga dalam yang sangat kuat. Dalam hati Upasara menduga-duga siapa gerangan tokoh yang ganjil ini. Gerakannya sangat terbatas, dan belum dikenali asal-usulnya. Pendeta Taletekan beringsut maju.

“Tadi kalian senopati yang diunggulkan dari tlatah Syangka itu? Tingkat gelang kaki kalian masih belum pantas untuk menjadi senopati perkasa. Rasa-rasanya kalian masih harus belajar banyak untuk tidak kurang ajar.”

Senopati Agung mendongak. “Apakah yang datang turun gunung ini Mahamata Puspamurti?”

“Ladlahom. Kamu masih mengenali siapa aku? Tolong katakan kepada orang Syangka yang kakinya bergelang ini agar menyingkir jauh-jauh dariku.”

Upasara sedikit heran. Sebutan mahamata adalah sebutan untuk seorang nenek. Padahal kini yang dihadapi jelas-jelas laki-laki walaupun berdandan sebagaimana wanita. Puspamurti berarti berbadan bunga, sementara yang dilihat tak keruan ujung-pangkalnya. Tetapi Upasara bisa menangkap penyebutan “turun gunung”. Berarti Puspamurti ini berasal dari perguruan di daerah pegunungan.

Sejauh Upasara bisa mengenali, ksatria yang berasal dari gunung yang turun ke gelanggang selama ini hanyalah Tiga Pengelana Gunung Semeru. Tiga ksatria yang pernah dikenal dengan ilmu memainkan gerakan kaki yang luar biasa-sesuatu yang menjadi tradisi kuat bagi mereka yang sumber ilmu silatnya dari pegunungan.

“Raja Muda, tuak yang kamu sajikan tak enak di tenggorokanku. Sungguh menyesal jauh-jauh aku datang hanya untuk minuman seperti ini. Campuran bubuk pagebluk yang disebut-sebut orang gila tadi juga terlalu kecil ukurannya…”

Bicaranya terdengar ngawur. Satu kejap mengusir para pendeta dari Syangka, di kejapan berikutnya membicarakan soal tuak.

“Tak apa. Tak apa. Ladlahom sekali. Kamu sebenarnya tampan, Raja Momo, hanya saja kamu ini agak membosankan.”

Tiga pendeta dari Syangka tak menunggu komando lagi. Setelah menyembah dengan gerakan cepat, ketiganya mengurung Puspamurti.

“Percuma kalian bertiga datang ke tanah Jawa untuk memamerkan gelang kaki yang buruk itu. Kalau kalian mau mengandalkan ilmu silat, cara mengatur napas saja masih susah. Kalau mau mengandalkan bubuk pagebluk, yang bakal terkena lebih banyak. Mundur saja…”

Kipas bergerak. Dengan gerakan genit dan manja. Bau wangi kembali menyambar. Dan bersamaan dengan itu ketiga pendeta dari Syangka terdorong mundur satu tindak. Terdengar seruan tertahan. Apa yang dipamerkan Mahamata Puspamurti memang luar biasa. Juga dalam pandangan Upasara. Terutama bukan karena kekuatan yang besar,akan tetapi cara Puspamurti mengatur tenaga.

Empasan dari kipas kayu bisa menghantam bagian kaki. Yang disebut “bergelang buruk”. Bisa jadi memang itulah sasaran yang diarah. Karena Puspamurti melihat bahwa bagian kaki adalah bagian yang terlemah dari ketiga pendeta tersebut.

“Mana itu Kidungan Pamungkas yang dijanjikan? Raja Momo, mana ibumu?”

Boleh dikatakan hanya Upasara, selain yang bersangkutan, yang mengetahui bahwa kitab Kidungan Pamungkas diambil oleh Permaisuri Indreswari. Ternyata ada hubungannya dengan tokoh ganjil satu ini.

“Setiap kali ia berjanji mau memberikan lelaki muda yang gagah, tetapi tiap kali yang diberikan lelaki pengecut. Padahal di sini ada yang memenuhi seleraku.

“Anak muda, kamu pangeran dari mana?”

Upasara melengak. Sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan ditunjuk sebagai lelaki yang “memenuhi” selera.

Puspita Gatra
BAGI Upasara kekagetan dipilih oleh Mahamata Puspamurti bukan sesuatu yang luar biasa. Selama ini boleh dikatakan ia sangat akrab dengan Dewa Maut, yang sejak daya asmaranya tidak kesampaian lalu memutuskan hidup dengan seorang bocah lelaki. Upasara sangat mengenal ilmu tangkas telengas Dewa Maut. Akan tetapi jauh dalam hatinya, Upasara justru merasa welas, merasa simpati yang dalam atas penderitaan Dewa Maut. Yang berbeda hanyalah, Puspamurti dipanggil nenek karena berpakaian seperti kaum wanita.

“Mana itu permaisuri sipit… Kenapa ia tak pernah menceritakan ada lelaki begitu tampan penuh pesona… Ladlahom. Ladlahom…”

Pasti yang dimaksudkan adalah Permaisuri Indreswari. Berarti memang orang dalam. Upasara merasa bahwa Permaisuri Indreswari lebih dari yang diduganya, mampu membangkitkan kembali jago silat yang selama ini tidak muncul ke tengah gelanggang.

“Kalau hanya itu urusannya, hamba akan segera menghaturkan buat Bunga dari Segala Bunga…”

“Ah, Halayudha. Kamu juga lebih suka bicara. Kalau sudah tahu seleraku, kenapa perlu tunggu waktu…?”

“Segera sesudah pasewakan ini…”

Dari cara menghormatnya, semua yang hadir menyadari bahwa Puspamurti memang sering berhubungan dengan orang dalam. Bagi Upasara yang sedikit aneh hanyalah, kenapa Raja Muda tampak begitu kaget dengan pemunculan Puspamurti. Malah memberi kesan tidak mengenalnya. Upasara memang tak bisa segera menebak apa yang sesungguhnya terjadi di balik pemunculan para tokoh ini.

Yang diketahui hanyalah bahwa Raja Muda sudah mulai mengumpulkan ksatria yang mau bergabung dengannya. Di samping itu, secara diam-diam Permaisuri Indreswari juga menyusun kekuatan. Kalau tadinya diduga satu kubu, bukan tidak mungkin ada sesuatu yang lain. Apalagi kaitannya dengan permintaan akan Kidungan Pamungkas. Yang secara tergesa diambil oleh Permaisuri Indreswari.

“Senopati Halayudha salah tebak,” kata Upasara dengan suara sedikit diserakkan. “Yang diminta adalah Kidungan Pamungkas… yang telah diambil oleh Permaisuri Indreswari, akan tetapi sampai sekarang belum diserahkan…”

Puspamurti mengangguk. “Kamu benar… Siapa nama gurumu?”

Upasara tahu bahwa Halayudha mengetahui kehadirannya. Akan tetapi agaknya Halayudha sengaja menahan diri. Kejapan matanya bisa diketahui.

“Saya yang rendah hanyalah seorang raden yang mendapat kehormatan untuk sowan…”

“Ladlahom. Tak mungkin. Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku perlu kitab itu?”

“Gusti Permaisuri yang mengatakan. Dan mengambil kitab itu secara pribadi…”

Puspamurti mengejapkan matanya. “Suaramu jelek. Nafsuku jadi turun. Aku paling tidak suka suara yang jelek seperti suaramu, raden kecil yang memakai pakaian kebesaran. Tapi apa kamu tahu tentang kitab itu?”

“Kitab yang tidak berisikan ilmu kanuragan…”

“Salah.”

Upasara menggigit bibirnya bagian bawah karena geram. “Kitab tentang manusia…”

“Salah. Aku makin tidak suka padamu. Selain suaramu jelek, otakmu juga tumpul.” Puspamurti menggoyangkan kipas kayu di tangannya. “Berpuluh tahun Baginda Raja bisa merampungkan ratusan kitab yang tiada artinya. Hanya satu kitab yang benar-benar menyelamatkan manusia, di jagat dan di kelak kemudian hari. Itulah Kidungan Pamungkas! Kalian tak pernah tahu. Ladlahom...”

Kepalanya menggeleng. Mendadak kipasnya melengkung ke depan, menyambar ke arah hadirin yang mengelilingi. Terasa tusukan logam yang menyambar. Upasara menahan napas di dadanya, akan tetapi kemudian bersama dengan yang lain seperti terhuyung-huyung.

“Puspita Gatra…” Desis suara Halayudha membuat Upasara sadar.

Puspita Gatra adalah sebutan untuk sesuatu yang berbunga di bagian ujung. Itu adalah nama jurus yang baru saja dimainkan oleh Puspamurti. Sejauh Upasara bisa mengingat apa yang pernah diajarkan oleh gurunya ketika masih di ksatrian, ada beberapa nama perguruan yang mengembangkan sendiri ilmunya yang pantas dicatat dan perlu diingat, walau ajaran itu sendiri sudah tak ada lagi.

Saat itu Ngabehi Pandu hanya menyebutkan sekilas adanya ajaran yang menggunakan rangkaian bunga yang diperdalam. Tokoh terakhir yang muncul memamerkan ilmu jurus bunga sudah lama lewat dan tak muncul lagi. Siapa sangka kalau saat ini seperti bangkit kembali dari kubur.

“Kamu kenal jurus ini, Halayudha?”

“Begitu saja yang saya ketahui…”

“Ladlahom. Memang hanya satu jurus saja. Bunga tak akan berbunga dengan warna dan bentuk yang lain. Kalau sudah berbunga di ujung apa lagi yang diperlukan?”

Halayudha mengangguk pelan. Puspamurti menyeret kipasnya. Berjalan ke arah dalam. Dua prajurit yang mencoba menghalangi, atau menghadang di depannya, tersingkir seperti ditebas. Tak ada yang menghalangi. Kecuali Maha Singanada yang membopong Gendhuk Tri. Keduanya berpapasan. Akan tetapi dalam jarak dua tombak, tubuh Singanada seperti didorong dengan keras. Jalannya menjadi sempoyongan.

“Badut tua!”

Makian Singanada membuat Puspamurti menghentikan langkahnya. “Kamu memaki aku?”

“Jelas. Siapa lagi kalau bukan kamu yang pantas disebut badut tua?”

Kipas yang tadi diseret tiba-tiba saja terulur. Dan Singanada seperti kena tendang dadanya, terdorong ke belakang. Terdengar jeritan lirih. Gendhuk Tri yang terbopong lunglai mengeluarkan seruan kesakitan. Mau tak mau Upasara menggeser kakinya.

“Raden tanpa nama, kamu mau menjajal ilmuku?”

“Saya bergerak karena takut…”

“Suaramu jelek, otakmu tumpul, nyalimu juga cecurut. Tapi kenapa langkahmu tetap, dua tindak ke samping kanan? Kenapa tangan kirimu kamu turunkan?”

“Sok tahu. Kenapa di tanah Jawa ini kalau sudah tua menjadi pikun dan merasa paling tahu?” Singanada berdiri tegak. Siap menghadapi gempuran baru.

Akan tetapi kembali tubuhnya seperti disentakkan di belakang oleh tenaga yang besar. Sebelum menyadari apa yang terjadi, Gendhuk Tri yang berada dalam bopongannya terlepas. Meluncur ke bawah. Halayudha bergerak cepat. Tubuhnya yang memang berada dalam jarak dekat, bisa membungkuk, mengambil Gendhuk Tri sebelum menyentuh lantai. Lalu perlahan diangsurkan ke arah Upasara Wulung. Upasara bersikap tenang ketika menerima Gendhuk Tri, yang sebelum bisa dibopong sempurna, sudah direbut kembali oleh Singanada.

“Jangan sentuh. Ini milikku…”

Upasara mundur dua tindak. Kembali Puspamurti menggerakkan kipasnya. Kali ini untuk diletakkan di pundaknya yang bergerak-gerak.

“Halayudha, ilmumu boleh juga. Tapi raden kecil ini juga boleh. Harusnya kalian berdua menjadi mahapatih, pastilah Keraton akan aman dan kuat. Tak perlu orang yang kakinya bergelang. Mereka hanya main bubuk racun anak-anak…”

Halayudha mencoba menebak angin sedang bertiup ke arah mana. Bagaimana reaksi Baginda? Apakah membiarkan Puspamurti berbuat seenaknya ataukah perlu dihentikan segera? Akan tetapi ketika melirik, hatinya mencelos. Baginda tak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan tubuhnya seperti tak bisa berdiri dengan tegak. Kakinya bergoyang-goyang.

“Selamatkan Baginda!”

Halayudha mengangkat kedua tangannya, dan dengan cepat meloncat ke tengah ruangan. Memberi aba-aba para senopati untuk membentuk barisan yang mengelilingi Baginda. Kalau saja ada yang mengamati perubahan Halayudha, bisa mengeluarkan seruan kagum. Betapa tidak, kalau dengan enteng bisa meloncat seakan mata kakinya yang hancur tak ada pengaruhnya lagi!

Pendeta Manmathaba
REAKSI Halayudha sangat cepat. Nalurinya sebagai senopati, sebagai prajurit kawal Keraton yang setiap saat berada dalam lingkungan keamanan dan ketenteraman, bisa membaca cepat situasi yang buruk. Begitu melihat ada yang tidak wajar pada Baginda, seketika itu juga bereaksi. Dan menentukan langkah, mengambil keputusan. Inilah kelebihan Halayudha dari senopati mana pun. Pada saat semua serba bimbang, serba ragu dan menunggu, tanpa ayal lagi Halayudha muncul sebagai pemimpin. Mengambil alih komando.

Namun juga kalah cepat. Karena ketiga pendeta Syangka sudah menggulung diri, dan melindungi Baginda. Kini nampak jelas bahwa ketiga pendeta Syangka sejak semula telah menyiapkan diri. Bahkan beberapa prajurit langsung berada di bawah komando mereka. Siap menghadang ke arah Halayudha dan yang berdiri di belakangnya.

“Tak ada aba-aba perintah selain dari Baginda,” terdengar suara dingin. “Halayudha, mundur, sebelum kamu hancur…”

Upasara segera bisa melihat bahwa yang bersuara mempunyai wibawa besar. Karena ketiga pendeta Syangka pun segera mundur dan memberikan hormat yang dalam.

“Saya berdiri di sini atas nama Baginda dan Permaisuri, memerintahkan semua yang ada untuk memenuhi perintah, untuk mendengarkan sabda Baginda…”

Halayudha menyedot udara keras beberapa kali dari lubang hidungnya. Matanya tak berkedip ketika Permaisuri Indreswari muncul dan mengangguk ke arah pembicara.

“Semua kata dan perintah Pendeta Manmathaba adalah perintahku. Harap dipatuhi!”

Tanpa diperintah kedua kalinya, semua prajurit dan senopati segera menyembah dan meletakkan senjata. Hanya Halayudha yang tetap berdiri. Matanya melirik ke arah Upasara.

“Upasara, atas nama Keraton, aku mohon bantuanmu…” Lalu berpaling ke arah Pendeta Manmathaba. “Rupanya Bapa Pendeta selama ini menyembunyikan diri dan menyuruh ketiga muridnya menyebarkan bubuk racun. Sekarang, karena merasa perlu mempengaruhi takhta, menampakkan diri. Aku bukan anak kemarin sore, Manmathaba. Dengan menguasai Baginda yang terkena pengaruh minuman pagebluk-mu, kamu pikir kamu bisa menikam kami semua? Tak segampang itu. Di mana ada Manmathaba, di situ ada Manmathabaribu…”

Singanada mendesis. Ia tak begitu paham lekuk-liku Keraton yang penuh dengan intrik dan perebutan kekuasaan serta pengaruh. Ia tak begitu peduli. Namun sekali ini ia merasa bahwa situasinya sangat gawat. Munculnya Pendeta Manmathaba, sebagai pemimpin para pendeta dari tlatah Syangka, menjelaskan bahwa keinginan mereka untuk menanamkan pengaruh tidak akan berhenti begitu saja. Juga tidak menempuh jalan perlahan.

Dilihat dari sebutannya, Manmathaba disejajarkan dengan Dewa Kama. Yang merupakan Dewa segala Dewa bagi pendeta Syangka. Berarti juga penguasa paling tinggi di antara semua pendeta Syangka yang berada di tanah Jawa sekarang ini. Agaknya Halayudha juga mengetahui hal ini. Maka ia menyebutkan, “di mana ada Manmathaba, di situ ada Manmatharibu”. Gelaran Manmatharibu adalah gelaran musuh besar Dewa Kama, yang bisa juga diartikan Dewa Syiwa. Dua dewa yang selalu bertarung dipakai sebagai penjelasan oleh Halayudha untuk menentang.

Halayudha bukan hanya secara langsung menarik garis pemisah antara kawan dan lawan, antara Manmathaba dengan Manmatharibu, akan tetapi sekaligus memberi isi pertentangan. Bahwa sekarang ini baik Baginda maupun Permaisuri Indreswari berada dalam pengaruh bubuk pagebluk, yang antara lain disisipkan ke dalam tuak beras.

Upasara memuji Halayudha. Kelicikan dan cara berpikirnya serta bertindak yang serba rumit itu menemukan tempat yang pas di saat kritis. Dengan satu kalimat, secara jelas ia menarik semua yang setia kepada Baginda untuk bergabung dengannya. Hanya saja kali ini posisinya agak kurang menguntungkan. Karena Baginda baru saja menerima permintaan pengunduran diri Mahapatih Nambi. Namun perintah-perintah Baginda tak bisa ditarik begitu saja oleh orang lain, selain Baginda sendiri. Di saat begini, justru Baginda seperti berdiri mematung. Memandang sekitar tanpa bereaksi.

Upasara sendiri sudah merasa ada sesuatu yang tak beres. Hanya tidak menduga bahwa ramuan bubuk kecil yang dicampur dalam minuman masih mempunyai reaksi yang sangat keras. Sejak munculnya Puspamurti yang mengeluarkan kata-kata kasar, Upasara menyadari adanya reaksi lamban dari Baginda. Kalaupun Puspamurti sangat berhubungan erat dengan Permaisuri Indreswari, Baginda yang ini tak begitu saja menerima kata-kata kasar. Karena pribadinya, perasaan keakuannya, ingsun-nya, sangat pribadi. Upasara mengusap bibirnya.

Pada situasi yang menyangkut masalah Keraton, apalagi dengan masuknya kekuasaan dari Syangka, ia tak bisa berdiam diri. Ajakan Halayudha tergema sebagai panggilan kepada jiwa prajuritnya. Jiwa pengabdian kepada Keraton yang sedang berada dalam bahaya. Semua dendam atas perlakuan buruk dari Baginda selama ini surut dengan sendirinya. Pun melihat bahwa Gendhuk Tri masih lemas dan tak sadarkan diri. Matanya melirik ke arah Singanada, dan mengangguk. Singanada meloncat ke tengah. Kini Halayudha, Upasara Wulung dengan pakaian kebesaran pangeran, dan Singanada berdiri berjajar.

“Halayudha, apakah kamu menentang perintahku?”

“Duh, Gusti Permaisuri, seujung rambut dipecah seribu pun hamba tak punya niatan ke arah itu. Kalau hamba harus mundur, sekarang ini hamba ingin mundur dan masuk ke tanah. Hamba hanya mendengar sabda dari Baginda…”

Permaisuri Indreswari memandang putranya. “Anakku, raja yang dipatuhi, perintahkan Halayudha mundur…”

Baginda memandang kiri-kanan. Pandangan kosong. Tangannya mengilap karena keringat.

“Basmi para pemberontak…”

Manmathaba menggerakkan tangan. Ketiga pendeta Syangka segera bergerak menyerang Halayudha, yang dengan suara dingin menangkis gagah. Belum terjadi benturan, Pendeta Manmathaba mengibaskan tangannya. Halayudha mengeluarkan seruan keras, sambil berjumpalitan.

Upasara sendiri merasakan bahwa uluran tangan Manmathaba mengandung tenaga yang sangat kuat. Tenaga yang membelit. Seolah tangannya berubah menjadi empat atau delapan, yang secara serentak memeluk tubuh Halayudha di sembilan jalan udara. Bahwa Manmathaba lebih hebat ilmunya dari ketiga pendeta Syangka mudah diduga. Kepemimpinan memang didasarkan atas kemampuan ilmu silat. Akan tetapi bahwa jenis pukulannya jauh berbeda dari yang selama ini dikenal, itu termasuk luar biasa.

“Selamatkan Baginda…” Sambil jungkir-balik, Halayudha masih sempat memberi komando.

Seketika itu juga Senopati Agung dan pengikutnya bangkit mengangkat senjata. Tak bisa dicegah lagi. Kini terdiri atas dua pasukan yang siap bertarung.

Upasara bergerak cepat. Sewaktu Manmathaba menggempur Halayudha, ia segera menggeser kakinya. Tangannya terulur untuk menarik Baginda. Ketiga pendeta Syangka bergerak menghalangi dengan gerakan yang sama. Upasara mengerahkan tenaganya di tangan kiri, dengan memutar keras, ketiga pasang tangan yang menghadang disampok sekaligus. Membarengi dengan itu, satu langkah ke depan, tangan kanan Upasara menarik tubuh Baginda.

Manmathaba mengeluarkan pekikan keras. Dua tangannya terulur ke arah Upasara ketika tubuhnya melayang, meninggalkan Halayudha. Belitan kekuatan menjulur dari delapan penjuru, menjadi enam belas, 32, semuanya mencengkeram. Upasara mengegos dengan menggeliatkan tubuhnya. Telapak tangan kiri yang terbuka memapak ke depan. Manmathaba mengeluarkan ejekan di hidung. Tangan Upasara diterima. Bahkan digenggam dan siap dipelintir keras. Ini gawat. Dengan satu tangan menarik tubuh Baginda, perhatian Upasara terpecah. Apalagi ia tak akan mengorbankan Baginda.

Perang Terbuka
MANMATHABA selain sakti juga bisa menebak jalan pikiran Upasara. Dan mengetahui bagaimana menggunakan ilmunya. Dengan cengkeraman kuat tak nanti Upasara bisa meloloskan diri. Perhitungan yang matang. Hanya saja Upasara yang sekarang ini bukan Upasara yang bisa dikalahkan dalam satu-dua gebrakan. Mengetahui tangan kirinya seakan tenggelam dalam belitan tangan-tangan kuat, Upasara mengendurkan tenaganya. Sehingga Manmathaba seakan meremas kapas yang kosong. Menggenggam udara.

Tapi Manmathaba tidak menghiraukan itu. Bahkan tangannya seakan bisa memutari tangan Upasara. Membelit seakan akar tumbuhan yang liat. Pakaian kebesaran Upasara di bagian lengan hangus terbakar. Ini hebat. Pameran penggunaan tenaga dalam yang dilatih sempurna. Sehingga Puspamurti yang berada di kejauhan berteriak,

“Ladlahom! Manmathaba ini boleh juga.”

Upasara merasa tangannya bagai dibelit dan tenaganya diisap habis, sementara lengan bajunya hangus.

JILID 11BUKU PERTAMAJILID 13

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 12

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 12

Hanya karena tidak biasa dengan pakaian kebesaran yang dikenakan, geraknya jadi serba tanggung. Kuatir kainnya sobek atau kotor, Upasara berjalan seperti biasa. Dalam bayangannya hanya ada satu tujuan. Mencari tempat yang aman untuk segera menukar pakaian. Menyimpan pakaian kebesaran, dan menggantinya dengan yang biasa dikenakan sehari-hari. Kembali menjadi Upasara Wulung. Seorang ksatria.

Tangan Upasara masih memegang, menelusuri pakaian itu dari atas hingga ke bawah. Kalau tidak mengenakan busana kanendran ini, semua yang dialami siang sampai dini hari ini pastilah impian. Betapa tidak. Bisa berdua bersama Gayatri. Bercerita banyak sekali. Mengantarkan dan masuk ke dalam kamar peraduan. Diterima dengan hangat oleh Permaisuri Tribhuana. Pengalaman yang tak pernah akan tertindih oleh pengalaman lain sampai tujuh turunan berikutnya.

Upasara terlelap dalam pikirannya sehingga tanpa sadar berpapasan dengan barisan prajurit. Sebelum sempat bereaksi, para prajurit menyembah hormat padanya. Upasara mengangguk dan berjalan menjauh. Walau merasa geli dan risi, Upasara tak bisa menanggalkan begitu saja. Celakanya, langkahnya yang asal-asalan justru membawanya ke tempat yang lebih banyak prajuritnya. Yang semuanya kembali membungkuk hormat.

“Dengan segala hormat, silakan masuk ke dalam, Gusti Pangeran…”

Barulah Upasara sadar bahwa yang dikenakannya adalah pakaian kebesaran yang biasa dipakai oleh para pangeran. Atau setingkat dengan Putra Mahkota..Karena tak bisa melepaskan diri, Upasara masuk. Mengikuti prajurit yang bertugas mengantarkan para tamu yang datang. Hatinya bercekat ketika dipersilakan duduk di barisan depan, pada kursi prada, kursi warna emas. Lebih bercekat lagi karena yang di sebelahnya ialah Pangeran Jenang, yang mengangguk hormat padanya.

“Adalah kehormatan besar berada di sebelah Pangeran Jenang,” kata Upasara perlahan.

“Kehormatan yang sama, Pangeran…” Pangeran Jenang tidak melanjutkan kalimatnya. Dalam hatinya juga bingung. Begitu banyak pangeran di tanah Jawa ini. Nyatanya begitu. Hampir semua pembesar datang.

Sebelum matahari bersinar sempurna. Agak di luar dugaan bahwa ada pasewakan agung yang diselenggarakan dini hari. Tapi Upasara tak banyak mengikuti. Pikirannya hanya bagaimana segera melepaskan diri dari kerumunan yang begini banyak, untuk menjelajah ke dalam Keraton mencari tahu di mana Singanada dan Gendhuk Tri tertawan.

Bersama dengan iringan genderang dan trompet serta gamelan panjang, semua yang hadir menunduk, menyembah. Putra Mahkota Bagus Kala Gemet memasuki ruangan. Dengan pakaian kebesaran serta mengenakan mahkota. Diiringi para senopati, dinaungi payung kebesaran.

“Hari ini, ingsun, Sri Sundarapandya Adiswara, pemegang tunggal kekuasaan Majapahit dan seisinya, memerintahkan para kawula untuk mendengarkan sabda ingsun. Bahwa mulai pagi tadi, ketika sang surya keluar dari peraduannya, Baginda Kertarajasa Jayawardhana menitiskan wahyu Keraton ke tangan ingsun. Unjuk kesetiaan ditandai dengan sembah kalian, semua hambaku, serta minum tuak beras bersama-sama…”

Para pelayan segera menghidangkan bumbung bambu yang berisi tuak beras, untuk ditenggak satu demi satu. Upasara berada di urutan depan untuk menerima pertama kali. “Tahan! Tuak beras itu sudah diracuni bubuk pagebluk!”

Singanada, teriak Upasara dalam hati. Kepalanya miring ke kiri, ke arah datangnya suara. Benar saja, di kejauhan tampak Maha Singanada sedang meloncat maju meninggalkan prajurit yang mengeroyoknya.

“Perintah Baginda Sundarapandya harap dipenuhi…” Kali ini Pendeta Resres yang berkata dengan perlahan tapi mengandung ancaman. Pendeta Wacak dan Taletekan juga melakukan gerakan yang sama. “Para pengacau akan sirna…”

“Omong kosong! Lihat diriku! Senopati Maha Singanada. Masih berdiri tegak, gagah, tak terluka sedikit pun. Bubuk pagebluk dari tanah Syangka tak lebih hanyalah bedak bagi pipi ledhek Keraton yang binal. Untuk ksatria macam aku, tak ada artinya. Tapi rencana perjamuan ini busuk.”

Tantangan Raja
SINGANADA melangkah dengan gagah, sesuai dengan pembawaannya. Rambutnya yang tergerai dibiarkan beriapan terkena angin malam. Matanya memandang nyalang. Siap menyabung nyawa.

Upasara tidak segera menemukan jalan keluar harus berbuat bagaimana. Menahan pemunculan Singanada sama juga dengan membuka kedoknya sendiri. Itu tak menjadi soal. Akan tetapi dengan begitu berarti perang tanding terbuka. Namun membiarkan Singanada menempuh bahaya sendirian juga bertentangan dengan jiwanya. Adalah sesuatu yang kurang diperhitungkan jika pada saat semacam ini Singanada muncul dan mengeluarkan tantangan.

Bahwa Singanada lama dan besar dalam perantauan bisa dimengerti dari sikapnya yang kurang mengenal tata krama. Akan tetapi sekali ini membangkitkan perlawanan seluruh Keraton. Tak mungkin Bagus Kala Gemet, yang merasa baru menerima wangsit untuk menduduki takhta, membiarkan kekurangajaran di depan matanya. Ketika tidak resmi diadakan upacara pemberian gelar dan ada senopati yang diduga tidak mau datang, tanpa ampun lagi disikat. Apalagi seperti sekarang ini.

Sekelebat Upasara juga melihat bahwa Singanada tak mempunyai jalan keluar yang lain. Ini berarti tak bisa terhindarkan lagi perang tanding yang tak seimbang. Pada saat begitu, Upasara tak bisa berdiam diri. Di luar dugaan Upasara, Bagus Kala Gemet mengangkat tangannya.

“Agaknya ada seekor hamba sahaya yang tidak diundang datang ke perjamuan. Sebagai raja, aku ingin mengetahui apa yang terjadi. Majulah, prajurit kecil. Apa maumu?”

Yang mendengar ucapannya melengak. Tak menyangka sama sekali bahwa Singanada akan ditanggapi. Dengan mengangkat satu tangan saja semua senopati dan Barisan Padatala bisa menyerang habis. Ini juga menunjukkan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi ingin menunjukkan sikap yang berbeda, sekaligus menjelaskan kekuasaannya.

“Kalau kamu kurang puas dengan pesta yang tak memperhitungkanmu, silakan bersembah di depanku. Dengan kebesaran hatiku, kuizinkan kamu menikmati hidangan Keraton. Kalau kamu mau menantang aku sebagai sesama ksatria, hari ini juga aku hadapi. “Kalau ada yang ingin kamu minta, katakan maumu!” Tantangan yang sama gagahnya.

Singanada sendiri kelihatan tak menduga akan adanya sergapan jawaban seperti itu. Jalan pikirannya yang sederhana tak menemukan alasan bahwa sebenarnya kehadirannya bukan tidak diperhitungkan. Yang menyebut dirinya Sri Sundarapandya Adiswara bisa memperhitungkan bahwa pada saat upacara akan muncul para pembangkang.

Meskipun sebenarnya yang lebih diperhitungkan adalah pemunculan Upasara Wulung, yang dianggap satu-satunya orang yang bisa mengganggu di kelak kemudian hari. Justru upacara ini selain untuk memperlihatkan siapa dirinya dan kekuasaannya juga untuk menyikat habis semua lawan atau yang dianggap tidak mengakui kebesarannya. Bahwa Singanada yang muncul, tak terlalu menjadi perhatian.

Dari kisikan para pendeta Syangka, keadaan tubuh Singanada saat ini tidak cukup kuat. Kalaupun bisa bebas dari pengaruh bubuk pagebluk, itu hanya sementara sifatnya. Kalau itu berarti harus melakukan pertarungan “sesama ksatria” juga tak terlalu membahayakan. Dalam soal siasat semacam ini, Upasara maupun Singanada tak berbeda jauh. Keduanya tidak melihat bahwa di balik ucapan-ucapan sudah tersedia jawaban yang direncanakan dengan cermat, dengan perhitungan yang matang.

“Aku menerima tantanganmu. Rajamu menerima tantangan. Katakan apa maumu!”

Singanada menggerung. “Kembalikan Gendhuk Tri!”

“Hanya itu? Kamu akan segera mendapatkannya…”

Gerakan dagu yang kecil membuat prajurit di sebelahnya mengangguk dan menyembah hormat sebelum melangkah ke dalam.

“Temui, ambil, dan bawa…”

Singanada tetap berdiri. “Aku ingin Gendhuk Tri dibawa kemari…”

“Itu berlebihan. Kamu mengganggu pesta ini, dan tak mempunyai jiwa ksatria sedikit pun .Takut diperdayai… Kamu berhadapan dengan Raja junjungan yang sabdanya didengarkan semua orang waras…”

Sejenak Singanada ragu.

“Datang dan temui Gendhuk Tri. Baginda telah memberi kesempatan yang bagus, anak muda…” Senopati Agung beringsut maju, menyembah sebelum berkata.

“Baik. Tapi kita masih akan saling bunuh, Senopati Agung…”

“Seusai pesta ini, tantanganmu tetap kuterima.”

Upasara menghela napas perlahan. Ia merasa bersyukur bahwa pertarungan besar bisa terhindar. Walau gagah perkasa, Singanada tak mungkin menghadapi sendirian. Entah kenapa, Upasara merasa dekat dengan Maha Singanada. Ada semacam jiwa ksatria yang gagah yang bergema sama dengan hatinya. Ada pengabdian sempurna kepada Keraton Singasari. Lebih dari itu semua, Upasara merasa bahwa kini Gendhuk Tri telah mempunyai pendamping yang tepat. Singanada mengangguk. Ia melangkah ke dalam, mengikuti para prajurit yang mendahului. Suasana kembali seperti sediakala.

“Mari kita lanjutkan,” kata Putra Mahkota dengan penuh wibawa. “Kalau kalian ragu apakah tuak ini dicampuri bubuk pagebluk, biarlah aku yang mulai…”

Tangan kanan Putra Mahkota Bagus Kala Gemet meraup bumbung kayu dari tangan Upasara dan segera menenggak habis. Semua yang hadir mengikuti. Upasara sendiri mendapat ganti bumbung yang lain. Hanya saja keraguan masih ada. Maka ketika menenggak, dengan satu sentakan, bumbung yang isinya tumpah itu bisa kembali ke tempatnya ketika ditarik dari bibirnya.

Bukan karena apa. Upasara hanya sedikit gentar dengan bubuk pagebluk. Yang membuatnya berjaga-jaga justru karena seumur hidupnya ia tak biasa menenggak tuak. Dari jenis apa pun. Dalam hal semacam ini Ngabehi Pandu tak pernah memberi kelonggaran sedikit pun.

“Sekarang lebih jelas semuanya. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sebagai pewaris takhta yang ditunjuk dan dipilih Dewa Maha dewa, sekarang ini segala urusan Keraton di bawah pengetahuan dan izinku. Tak ada yang lain. Malam ini juga, Mahapatih Nambi diterima keinginannya untuk mengaso sementara dari tugas-tugas keprajuritan. Bagi yang ingin mengajukan permohonan yang sama, tak usah menunggu besok. Keadaan Keraton sekarang kuat dan sentosa. Dewa selalu memberkati. Kalau ada yang masih tetap bisa ditata dengan baik, ingsun pribadi yang akan menjelaskan. Ingsun yang bertanggung jawab. Tak ada yang lain…”

Suaranya keras dan bulat. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan.

“Malam ini juga ingsun pribadi tidak berkeberatan bila Paman Senopati Agung dan seluruh keluarganya ingin meninggalkan Keraton yang mengibarkan panji Keraton ke tanah sabrang. Ingsun katakan di sini, malam ini, agar tidak ada lagi suara-suara di belakang hari yang mempertanyakan. Itu tak akan terjadi dalam tata pemerintahan yang sekarang.”

Upasara merasa seluruh ruangan sunyi, senyap. Seakan nyamuk pun takut mengganggu kebisingan. Untuk pertama kalinya selama mengabdi di Keraton baru sekarang ini Upasara mendengar sabda Raja yang dilontarkan secara terbuka, sebagaimana apa adanya. Tidak dibungkus dengan kata-kata yang mempunyai makna penghalus.

Penyingkiran Mahapatih Nambi sudah diduga, akan tetapi tidak secepat ini. Juga caranya mempersilakan Senopati Agung untuk segera meninggalkan Keraton. Tokoh yang begitu dihormati Baginda, diusir begitu saja. Gigi Upasara berderak menahan gusar. Pakaian kebesaran yang dikenakan terasa panas, pengap, dan membuat tak enak dipakai.

Raja Niratma
SENOPATI AGUNG menunduk. Bahunya gemetar menahan rasa gusar. Hanya dalam waktu beberapa kejap saja. Lalu melakukan sembah dengan hormat.

“Bila memang Baginda Muda berkenan, saya akan segera berangkat sebelum fajar tiba. Mohon doa restu Baginda Muda…”

Jawabannya hanyalah anggukan pendek. “Ini bagus, tetapi salah. Senopati Agung, bagaimana kamu menyebut dengan panggilan Baginda Muda? Apakah hatimu masih ragu mengakui sebagai Baginda Raja? Kenapa pakai sebutan Muda?”

Suara yang terdengar sangat kenes, manja, tanpa memedulikan tata krama karena menyebut begitu saja. Juga tak begitu terpengaruh dengan keadaan sekitar, di mana yang hadir hampir semua bangsawan dan pembesar. Meskipun suara itu terdengar jelas, tak ada yang berusaha melirik. Juga Upasara yang berada di deretan depan, karena kuatir menyinggung perasaan Raja Muda.

“Itu bagus tetapi salah. Senopati Agung, Baginda menyebut dirinya dengan ingsun, yang berarti aku yang besar, yang hebat. Bagaimana mungkin kamu bisa begitu sembrono terhadap keponakanmu sendiri? Tidak pantas kamu menyebutnya sebagai Raja Muda. Yang lebih pantas ialah Raja Niratma…”

Kali ini semua yang hadir menoleh tanpa kecuali ke arah datangnya suara. Kalau tadinya merasa bahwa Senopati Agung dipersalahkan, kini keadaan berbalik. Dengan mengatakan sebagai Raja Niratma sama juga menyebut sebagai raja yang tidak mempunyai jiwa! Bagaimana mungkin ada suara yang begitu kurang ajar? Siapa yang berani berkata semacam itu?

Lebih mengejutkan lagi karena suara itu berasal dari seorang yang tubuhnya tinggi-besar, akan tetapi wajahnya tampak aneh. Karena bagian alis dipoles lebih hitam dan melengkung, sementara rambutnya digelung seperti wanita. Dan kalau diperhatikan lebih jelas, tokoh yang seperti muncul secara tiba-tiba ini seakan tak menghiraukan semua mata yang memandang ke arahnya. Malah kemudian mengeluarkan kipas yang berukiran, untuk dikebut-kebutkan

Alis Upasara sedikit berkerut. Sekian lama ia malang-melintang di dunia persilatan, tak pernah menduga adanya seorang tokoh lelaki yang berdandan seperti wanita. Yang bisa masuk dalam daftar undangan, dan agaknya cukup mengetahui hubungan antara keponakan dan paman. Antara Baginda dan Senopati Agung.

Meskipun rada sembarangan, kalimatnya yang menyebut “raja tanpa jiwa” sangat tepat. Seorang keponakan yang berani mengusir pamannya, yang tak mungkin dilakukan oleh Baginda sendiri, apalagi namanya kalau bukan manusia tanpa jiwa?

“Kalau ingsun raja tanpa jiwa, kamu manusia macam apa?”

“Jangan marah. Baru akan menjabat jadi raja nanti saat matahari terbit, kok sekarang sudah marah-marah? Nanti kamu disebut Raja Momo…”

Benar-benar rada kelewatan tokoh yang satu ini. Momo bisa berarti marah, bisa pula berarti congkak. Tapi bisa pula berarti gila. Menghina secara terang-terangan semacam ini, benar-benar keterlaluan. Akan tetapi sampai sejauh ini tak ada prajurit kawal pribadi yang bergerak. Juga Barisan Padatala masih bersikap menunggu.

“Raja Momo, kamu menanyakan siapa diriku? Sungguh lucu. Pantas saja kamu tidak mengenalku. Ketika kamu masih menjadi air kencing, aku sudah mendiami keraton ini. Aku tahu kamar mana yang bau wangi dan mana yang bau apak. Apa betul di antara penggede di sini tak ada yang mengenalku?”

Pendeta Resres terbatuk perlahan. Dari hidungnya terdengar udara yang disedot keras. “Kakek tua, apa urusanmu datang kemari?”

“Ladlahom, seayu aku begini kamu panggil kakek tua? Aku bukan kakek dan aku belum tua. Kamu manusia mana? Pesuruh Raja Momo ini? Ladlahom, bagaimana kamu bisa dua kali menyebut dua kali salah?”

Pendeta Wacak mengulurkan tangannya, mendorong tubuh lelaki berpakaian wanita yang hanya menggerakkan kipasnya untuk menolak.

“Mana yang lainnya? Kenapa kalian tidak maju bersamaan saja?”

Sebagian yang hadir merasakan bau kipas yang wangi menusuk hidung. Bau kayu cendana yang menjadi sangat tajam. Bagi Upasara bukan hanya bau wangi yang menyengat, akan tetapi juga sentakan tenaga dalam yang sangat kuat. Dalam hati Upasara menduga-duga siapa gerangan tokoh yang ganjil ini. Gerakannya sangat terbatas, dan belum dikenali asal-usulnya. Pendeta Taletekan beringsut maju.

“Tadi kalian senopati yang diunggulkan dari tlatah Syangka itu? Tingkat gelang kaki kalian masih belum pantas untuk menjadi senopati perkasa. Rasa-rasanya kalian masih harus belajar banyak untuk tidak kurang ajar.”

Senopati Agung mendongak. “Apakah yang datang turun gunung ini Mahamata Puspamurti?”

“Ladlahom. Kamu masih mengenali siapa aku? Tolong katakan kepada orang Syangka yang kakinya bergelang ini agar menyingkir jauh-jauh dariku.”

Upasara sedikit heran. Sebutan mahamata adalah sebutan untuk seorang nenek. Padahal kini yang dihadapi jelas-jelas laki-laki walaupun berdandan sebagaimana wanita. Puspamurti berarti berbadan bunga, sementara yang dilihat tak keruan ujung-pangkalnya. Tetapi Upasara bisa menangkap penyebutan “turun gunung”. Berarti Puspamurti ini berasal dari perguruan di daerah pegunungan.

Sejauh Upasara bisa mengenali, ksatria yang berasal dari gunung yang turun ke gelanggang selama ini hanyalah Tiga Pengelana Gunung Semeru. Tiga ksatria yang pernah dikenal dengan ilmu memainkan gerakan kaki yang luar biasa-sesuatu yang menjadi tradisi kuat bagi mereka yang sumber ilmu silatnya dari pegunungan.

“Raja Muda, tuak yang kamu sajikan tak enak di tenggorokanku. Sungguh menyesal jauh-jauh aku datang hanya untuk minuman seperti ini. Campuran bubuk pagebluk yang disebut-sebut orang gila tadi juga terlalu kecil ukurannya…”

Bicaranya terdengar ngawur. Satu kejap mengusir para pendeta dari Syangka, di kejapan berikutnya membicarakan soal tuak.

“Tak apa. Tak apa. Ladlahom sekali. Kamu sebenarnya tampan, Raja Momo, hanya saja kamu ini agak membosankan.”

Tiga pendeta dari Syangka tak menunggu komando lagi. Setelah menyembah dengan gerakan cepat, ketiganya mengurung Puspamurti.

“Percuma kalian bertiga datang ke tanah Jawa untuk memamerkan gelang kaki yang buruk itu. Kalau kalian mau mengandalkan ilmu silat, cara mengatur napas saja masih susah. Kalau mau mengandalkan bubuk pagebluk, yang bakal terkena lebih banyak. Mundur saja…”

Kipas bergerak. Dengan gerakan genit dan manja. Bau wangi kembali menyambar. Dan bersamaan dengan itu ketiga pendeta dari Syangka terdorong mundur satu tindak. Terdengar seruan tertahan. Apa yang dipamerkan Mahamata Puspamurti memang luar biasa. Juga dalam pandangan Upasara. Terutama bukan karena kekuatan yang besar,akan tetapi cara Puspamurti mengatur tenaga.

Empasan dari kipas kayu bisa menghantam bagian kaki. Yang disebut “bergelang buruk”. Bisa jadi memang itulah sasaran yang diarah. Karena Puspamurti melihat bahwa bagian kaki adalah bagian yang terlemah dari ketiga pendeta tersebut.

“Mana itu Kidungan Pamungkas yang dijanjikan? Raja Momo, mana ibumu?”

Boleh dikatakan hanya Upasara, selain yang bersangkutan, yang mengetahui bahwa kitab Kidungan Pamungkas diambil oleh Permaisuri Indreswari. Ternyata ada hubungannya dengan tokoh ganjil satu ini.

“Setiap kali ia berjanji mau memberikan lelaki muda yang gagah, tetapi tiap kali yang diberikan lelaki pengecut. Padahal di sini ada yang memenuhi seleraku.

“Anak muda, kamu pangeran dari mana?”

Upasara melengak. Sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan ditunjuk sebagai lelaki yang “memenuhi” selera.

Puspita Gatra
BAGI Upasara kekagetan dipilih oleh Mahamata Puspamurti bukan sesuatu yang luar biasa. Selama ini boleh dikatakan ia sangat akrab dengan Dewa Maut, yang sejak daya asmaranya tidak kesampaian lalu memutuskan hidup dengan seorang bocah lelaki. Upasara sangat mengenal ilmu tangkas telengas Dewa Maut. Akan tetapi jauh dalam hatinya, Upasara justru merasa welas, merasa simpati yang dalam atas penderitaan Dewa Maut. Yang berbeda hanyalah, Puspamurti dipanggil nenek karena berpakaian seperti kaum wanita.

“Mana itu permaisuri sipit… Kenapa ia tak pernah menceritakan ada lelaki begitu tampan penuh pesona… Ladlahom. Ladlahom…”

Pasti yang dimaksudkan adalah Permaisuri Indreswari. Berarti memang orang dalam. Upasara merasa bahwa Permaisuri Indreswari lebih dari yang diduganya, mampu membangkitkan kembali jago silat yang selama ini tidak muncul ke tengah gelanggang.

“Kalau hanya itu urusannya, hamba akan segera menghaturkan buat Bunga dari Segala Bunga…”

“Ah, Halayudha. Kamu juga lebih suka bicara. Kalau sudah tahu seleraku, kenapa perlu tunggu waktu…?”

“Segera sesudah pasewakan ini…”

Dari cara menghormatnya, semua yang hadir menyadari bahwa Puspamurti memang sering berhubungan dengan orang dalam. Bagi Upasara yang sedikit aneh hanyalah, kenapa Raja Muda tampak begitu kaget dengan pemunculan Puspamurti. Malah memberi kesan tidak mengenalnya. Upasara memang tak bisa segera menebak apa yang sesungguhnya terjadi di balik pemunculan para tokoh ini.

Yang diketahui hanyalah bahwa Raja Muda sudah mulai mengumpulkan ksatria yang mau bergabung dengannya. Di samping itu, secara diam-diam Permaisuri Indreswari juga menyusun kekuatan. Kalau tadinya diduga satu kubu, bukan tidak mungkin ada sesuatu yang lain. Apalagi kaitannya dengan permintaan akan Kidungan Pamungkas. Yang secara tergesa diambil oleh Permaisuri Indreswari.

“Senopati Halayudha salah tebak,” kata Upasara dengan suara sedikit diserakkan. “Yang diminta adalah Kidungan Pamungkas… yang telah diambil oleh Permaisuri Indreswari, akan tetapi sampai sekarang belum diserahkan…”

Puspamurti mengangguk. “Kamu benar… Siapa nama gurumu?”

Upasara tahu bahwa Halayudha mengetahui kehadirannya. Akan tetapi agaknya Halayudha sengaja menahan diri. Kejapan matanya bisa diketahui.

“Saya yang rendah hanyalah seorang raden yang mendapat kehormatan untuk sowan…”

“Ladlahom. Tak mungkin. Bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku perlu kitab itu?”

“Gusti Permaisuri yang mengatakan. Dan mengambil kitab itu secara pribadi…”

Puspamurti mengejapkan matanya. “Suaramu jelek. Nafsuku jadi turun. Aku paling tidak suka suara yang jelek seperti suaramu, raden kecil yang memakai pakaian kebesaran. Tapi apa kamu tahu tentang kitab itu?”

“Kitab yang tidak berisikan ilmu kanuragan…”

“Salah.”

Upasara menggigit bibirnya bagian bawah karena geram. “Kitab tentang manusia…”

“Salah. Aku makin tidak suka padamu. Selain suaramu jelek, otakmu juga tumpul.” Puspamurti menggoyangkan kipas kayu di tangannya. “Berpuluh tahun Baginda Raja bisa merampungkan ratusan kitab yang tiada artinya. Hanya satu kitab yang benar-benar menyelamatkan manusia, di jagat dan di kelak kemudian hari. Itulah Kidungan Pamungkas! Kalian tak pernah tahu. Ladlahom...”

Kepalanya menggeleng. Mendadak kipasnya melengkung ke depan, menyambar ke arah hadirin yang mengelilingi. Terasa tusukan logam yang menyambar. Upasara menahan napas di dadanya, akan tetapi kemudian bersama dengan yang lain seperti terhuyung-huyung.

“Puspita Gatra…” Desis suara Halayudha membuat Upasara sadar.

Puspita Gatra adalah sebutan untuk sesuatu yang berbunga di bagian ujung. Itu adalah nama jurus yang baru saja dimainkan oleh Puspamurti. Sejauh Upasara bisa mengingat apa yang pernah diajarkan oleh gurunya ketika masih di ksatrian, ada beberapa nama perguruan yang mengembangkan sendiri ilmunya yang pantas dicatat dan perlu diingat, walau ajaran itu sendiri sudah tak ada lagi.

Saat itu Ngabehi Pandu hanya menyebutkan sekilas adanya ajaran yang menggunakan rangkaian bunga yang diperdalam. Tokoh terakhir yang muncul memamerkan ilmu jurus bunga sudah lama lewat dan tak muncul lagi. Siapa sangka kalau saat ini seperti bangkit kembali dari kubur.

“Kamu kenal jurus ini, Halayudha?”

“Begitu saja yang saya ketahui…”

“Ladlahom. Memang hanya satu jurus saja. Bunga tak akan berbunga dengan warna dan bentuk yang lain. Kalau sudah berbunga di ujung apa lagi yang diperlukan?”

Halayudha mengangguk pelan. Puspamurti menyeret kipasnya. Berjalan ke arah dalam. Dua prajurit yang mencoba menghalangi, atau menghadang di depannya, tersingkir seperti ditebas. Tak ada yang menghalangi. Kecuali Maha Singanada yang membopong Gendhuk Tri. Keduanya berpapasan. Akan tetapi dalam jarak dua tombak, tubuh Singanada seperti didorong dengan keras. Jalannya menjadi sempoyongan.

“Badut tua!”

Makian Singanada membuat Puspamurti menghentikan langkahnya. “Kamu memaki aku?”

“Jelas. Siapa lagi kalau bukan kamu yang pantas disebut badut tua?”

Kipas yang tadi diseret tiba-tiba saja terulur. Dan Singanada seperti kena tendang dadanya, terdorong ke belakang. Terdengar jeritan lirih. Gendhuk Tri yang terbopong lunglai mengeluarkan seruan kesakitan. Mau tak mau Upasara menggeser kakinya.

“Raden tanpa nama, kamu mau menjajal ilmuku?”

“Saya bergerak karena takut…”

“Suaramu jelek, otakmu tumpul, nyalimu juga cecurut. Tapi kenapa langkahmu tetap, dua tindak ke samping kanan? Kenapa tangan kirimu kamu turunkan?”

“Sok tahu. Kenapa di tanah Jawa ini kalau sudah tua menjadi pikun dan merasa paling tahu?” Singanada berdiri tegak. Siap menghadapi gempuran baru.

Akan tetapi kembali tubuhnya seperti disentakkan di belakang oleh tenaga yang besar. Sebelum menyadari apa yang terjadi, Gendhuk Tri yang berada dalam bopongannya terlepas. Meluncur ke bawah. Halayudha bergerak cepat. Tubuhnya yang memang berada dalam jarak dekat, bisa membungkuk, mengambil Gendhuk Tri sebelum menyentuh lantai. Lalu perlahan diangsurkan ke arah Upasara Wulung. Upasara bersikap tenang ketika menerima Gendhuk Tri, yang sebelum bisa dibopong sempurna, sudah direbut kembali oleh Singanada.

“Jangan sentuh. Ini milikku…”

Upasara mundur dua tindak. Kembali Puspamurti menggerakkan kipasnya. Kali ini untuk diletakkan di pundaknya yang bergerak-gerak.

“Halayudha, ilmumu boleh juga. Tapi raden kecil ini juga boleh. Harusnya kalian berdua menjadi mahapatih, pastilah Keraton akan aman dan kuat. Tak perlu orang yang kakinya bergelang. Mereka hanya main bubuk racun anak-anak…”

Halayudha mencoba menebak angin sedang bertiup ke arah mana. Bagaimana reaksi Baginda? Apakah membiarkan Puspamurti berbuat seenaknya ataukah perlu dihentikan segera? Akan tetapi ketika melirik, hatinya mencelos. Baginda tak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan tubuhnya seperti tak bisa berdiri dengan tegak. Kakinya bergoyang-goyang.

“Selamatkan Baginda!”

Halayudha mengangkat kedua tangannya, dan dengan cepat meloncat ke tengah ruangan. Memberi aba-aba para senopati untuk membentuk barisan yang mengelilingi Baginda. Kalau saja ada yang mengamati perubahan Halayudha, bisa mengeluarkan seruan kagum. Betapa tidak, kalau dengan enteng bisa meloncat seakan mata kakinya yang hancur tak ada pengaruhnya lagi!

Pendeta Manmathaba
REAKSI Halayudha sangat cepat. Nalurinya sebagai senopati, sebagai prajurit kawal Keraton yang setiap saat berada dalam lingkungan keamanan dan ketenteraman, bisa membaca cepat situasi yang buruk. Begitu melihat ada yang tidak wajar pada Baginda, seketika itu juga bereaksi. Dan menentukan langkah, mengambil keputusan. Inilah kelebihan Halayudha dari senopati mana pun. Pada saat semua serba bimbang, serba ragu dan menunggu, tanpa ayal lagi Halayudha muncul sebagai pemimpin. Mengambil alih komando.

Namun juga kalah cepat. Karena ketiga pendeta Syangka sudah menggulung diri, dan melindungi Baginda. Kini nampak jelas bahwa ketiga pendeta Syangka sejak semula telah menyiapkan diri. Bahkan beberapa prajurit langsung berada di bawah komando mereka. Siap menghadang ke arah Halayudha dan yang berdiri di belakangnya.

“Tak ada aba-aba perintah selain dari Baginda,” terdengar suara dingin. “Halayudha, mundur, sebelum kamu hancur…”

Upasara segera bisa melihat bahwa yang bersuara mempunyai wibawa besar. Karena ketiga pendeta Syangka pun segera mundur dan memberikan hormat yang dalam.

“Saya berdiri di sini atas nama Baginda dan Permaisuri, memerintahkan semua yang ada untuk memenuhi perintah, untuk mendengarkan sabda Baginda…”

Halayudha menyedot udara keras beberapa kali dari lubang hidungnya. Matanya tak berkedip ketika Permaisuri Indreswari muncul dan mengangguk ke arah pembicara.

“Semua kata dan perintah Pendeta Manmathaba adalah perintahku. Harap dipatuhi!”

Tanpa diperintah kedua kalinya, semua prajurit dan senopati segera menyembah dan meletakkan senjata. Hanya Halayudha yang tetap berdiri. Matanya melirik ke arah Upasara.

“Upasara, atas nama Keraton, aku mohon bantuanmu…” Lalu berpaling ke arah Pendeta Manmathaba. “Rupanya Bapa Pendeta selama ini menyembunyikan diri dan menyuruh ketiga muridnya menyebarkan bubuk racun. Sekarang, karena merasa perlu mempengaruhi takhta, menampakkan diri. Aku bukan anak kemarin sore, Manmathaba. Dengan menguasai Baginda yang terkena pengaruh minuman pagebluk-mu, kamu pikir kamu bisa menikam kami semua? Tak segampang itu. Di mana ada Manmathaba, di situ ada Manmathabaribu…”

Singanada mendesis. Ia tak begitu paham lekuk-liku Keraton yang penuh dengan intrik dan perebutan kekuasaan serta pengaruh. Ia tak begitu peduli. Namun sekali ini ia merasa bahwa situasinya sangat gawat. Munculnya Pendeta Manmathaba, sebagai pemimpin para pendeta dari tlatah Syangka, menjelaskan bahwa keinginan mereka untuk menanamkan pengaruh tidak akan berhenti begitu saja. Juga tidak menempuh jalan perlahan.

Dilihat dari sebutannya, Manmathaba disejajarkan dengan Dewa Kama. Yang merupakan Dewa segala Dewa bagi pendeta Syangka. Berarti juga penguasa paling tinggi di antara semua pendeta Syangka yang berada di tanah Jawa sekarang ini. Agaknya Halayudha juga mengetahui hal ini. Maka ia menyebutkan, “di mana ada Manmathaba, di situ ada Manmatharibu”. Gelaran Manmatharibu adalah gelaran musuh besar Dewa Kama, yang bisa juga diartikan Dewa Syiwa. Dua dewa yang selalu bertarung dipakai sebagai penjelasan oleh Halayudha untuk menentang.

Halayudha bukan hanya secara langsung menarik garis pemisah antara kawan dan lawan, antara Manmathaba dengan Manmatharibu, akan tetapi sekaligus memberi isi pertentangan. Bahwa sekarang ini baik Baginda maupun Permaisuri Indreswari berada dalam pengaruh bubuk pagebluk, yang antara lain disisipkan ke dalam tuak beras.

Upasara memuji Halayudha. Kelicikan dan cara berpikirnya serta bertindak yang serba rumit itu menemukan tempat yang pas di saat kritis. Dengan satu kalimat, secara jelas ia menarik semua yang setia kepada Baginda untuk bergabung dengannya. Hanya saja kali ini posisinya agak kurang menguntungkan. Karena Baginda baru saja menerima permintaan pengunduran diri Mahapatih Nambi. Namun perintah-perintah Baginda tak bisa ditarik begitu saja oleh orang lain, selain Baginda sendiri. Di saat begini, justru Baginda seperti berdiri mematung. Memandang sekitar tanpa bereaksi.

Upasara sendiri sudah merasa ada sesuatu yang tak beres. Hanya tidak menduga bahwa ramuan bubuk kecil yang dicampur dalam minuman masih mempunyai reaksi yang sangat keras. Sejak munculnya Puspamurti yang mengeluarkan kata-kata kasar, Upasara menyadari adanya reaksi lamban dari Baginda. Kalaupun Puspamurti sangat berhubungan erat dengan Permaisuri Indreswari, Baginda yang ini tak begitu saja menerima kata-kata kasar. Karena pribadinya, perasaan keakuannya, ingsun-nya, sangat pribadi. Upasara mengusap bibirnya.

Pada situasi yang menyangkut masalah Keraton, apalagi dengan masuknya kekuasaan dari Syangka, ia tak bisa berdiam diri. Ajakan Halayudha tergema sebagai panggilan kepada jiwa prajuritnya. Jiwa pengabdian kepada Keraton yang sedang berada dalam bahaya. Semua dendam atas perlakuan buruk dari Baginda selama ini surut dengan sendirinya. Pun melihat bahwa Gendhuk Tri masih lemas dan tak sadarkan diri. Matanya melirik ke arah Singanada, dan mengangguk. Singanada meloncat ke tengah. Kini Halayudha, Upasara Wulung dengan pakaian kebesaran pangeran, dan Singanada berdiri berjajar.

“Halayudha, apakah kamu menentang perintahku?”

“Duh, Gusti Permaisuri, seujung rambut dipecah seribu pun hamba tak punya niatan ke arah itu. Kalau hamba harus mundur, sekarang ini hamba ingin mundur dan masuk ke tanah. Hamba hanya mendengar sabda dari Baginda…”

Permaisuri Indreswari memandang putranya. “Anakku, raja yang dipatuhi, perintahkan Halayudha mundur…”

Baginda memandang kiri-kanan. Pandangan kosong. Tangannya mengilap karena keringat.

“Basmi para pemberontak…”

Manmathaba menggerakkan tangan. Ketiga pendeta Syangka segera bergerak menyerang Halayudha, yang dengan suara dingin menangkis gagah. Belum terjadi benturan, Pendeta Manmathaba mengibaskan tangannya. Halayudha mengeluarkan seruan keras, sambil berjumpalitan.

Upasara sendiri merasakan bahwa uluran tangan Manmathaba mengandung tenaga yang sangat kuat. Tenaga yang membelit. Seolah tangannya berubah menjadi empat atau delapan, yang secara serentak memeluk tubuh Halayudha di sembilan jalan udara. Bahwa Manmathaba lebih hebat ilmunya dari ketiga pendeta Syangka mudah diduga. Kepemimpinan memang didasarkan atas kemampuan ilmu silat. Akan tetapi bahwa jenis pukulannya jauh berbeda dari yang selama ini dikenal, itu termasuk luar biasa.

“Selamatkan Baginda…” Sambil jungkir-balik, Halayudha masih sempat memberi komando.

Seketika itu juga Senopati Agung dan pengikutnya bangkit mengangkat senjata. Tak bisa dicegah lagi. Kini terdiri atas dua pasukan yang siap bertarung.

Upasara bergerak cepat. Sewaktu Manmathaba menggempur Halayudha, ia segera menggeser kakinya. Tangannya terulur untuk menarik Baginda. Ketiga pendeta Syangka bergerak menghalangi dengan gerakan yang sama. Upasara mengerahkan tenaganya di tangan kiri, dengan memutar keras, ketiga pasang tangan yang menghadang disampok sekaligus. Membarengi dengan itu, satu langkah ke depan, tangan kanan Upasara menarik tubuh Baginda.

Manmathaba mengeluarkan pekikan keras. Dua tangannya terulur ke arah Upasara ketika tubuhnya melayang, meninggalkan Halayudha. Belitan kekuatan menjulur dari delapan penjuru, menjadi enam belas, 32, semuanya mencengkeram. Upasara mengegos dengan menggeliatkan tubuhnya. Telapak tangan kiri yang terbuka memapak ke depan. Manmathaba mengeluarkan ejekan di hidung. Tangan Upasara diterima. Bahkan digenggam dan siap dipelintir keras. Ini gawat. Dengan satu tangan menarik tubuh Baginda, perhatian Upasara terpecah. Apalagi ia tak akan mengorbankan Baginda.

Perang Terbuka
MANMATHABA selain sakti juga bisa menebak jalan pikiran Upasara. Dan mengetahui bagaimana menggunakan ilmunya. Dengan cengkeraman kuat tak nanti Upasara bisa meloloskan diri. Perhitungan yang matang. Hanya saja Upasara yang sekarang ini bukan Upasara yang bisa dikalahkan dalam satu-dua gebrakan. Mengetahui tangan kirinya seakan tenggelam dalam belitan tangan-tangan kuat, Upasara mengendurkan tenaganya. Sehingga Manmathaba seakan meremas kapas yang kosong. Menggenggam udara.

Tapi Manmathaba tidak menghiraukan itu. Bahkan tangannya seakan bisa memutari tangan Upasara. Membelit seakan akar tumbuhan yang liat. Pakaian kebesaran Upasara di bagian lengan hangus terbakar. Ini hebat. Pameran penggunaan tenaga dalam yang dilatih sempurna. Sehingga Puspamurti yang berada di kejauhan berteriak,

“Ladlahom! Manmathaba ini boleh juga.”

Upasara merasa tangannya bagai dibelit dan tenaganya diisap habis, sementara lengan bajunya hangus.

JILID 11BUKU PERTAMAJILID 13