Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 16

Padmamuka juga tak mempunyai teman dekat karena tubuhnya yang ganjil. Jadilah mereka berdua sahabat yang tak saling meninggalkan. Meskipun banyak kabar yang tidak menyenangkan mengenai hubungan mereka, namun Dewa Maut dan Padmamuka tak peduli. Sampai suatu peristiwa membuat Padmamuka terkubur dalam Gua Lawang Sewu, dan racunnya pindah ke tubuh Gendhuk Tri. Sejak itu Dewa Maut selalu memanggil Gendhuk Tri dengan sebutan Tole, sebutan untuk anak laki-laki yang dulu merupakan panggilan Padmamuka. Hanya karena Dewa Maut hilang akalnya, hal ini tidak menjadi masalah. Gendhuk Tri malah dengan senang hati mempermainkan.

Namun persoalannya menjadi lain kalau itu dipakai sebagai bahan olok-olok oleh Nyai Demang. Padahal yang dikatakan Nyai Demang tak lebih menyakitkan daripada olok-olok Gendhuk Tri. Hanya Nyai Demang bisa menguasai kemarahannya. Sementara usia Gendhuk Tri masih dalam tahap usia semengit. Usia yang sangat peka bila dihubungkan dengan soal perjodohan. Maka Gendhuk Tri langsung menyerang.

"Dari dulu ilmunya tak tambah maju. Masih begitu-begitu saja."

Dua selendang Gendhuk Tri menyambar secara bersamaan. Selendang dari arah kiri dan kanan ini disusul dengan selendang kedua. Empat selendang menyambar atas-bawah, kiri-kanan. Nyai Demang tertawa dingin.

"Kasihan Mpu Raganata. Beliau mempunyai murid kesasar. Kalau jadi penari akan lebih baik. Meskipun sebagai penari tetap tak menarik hati laki-laki."

Dengan begitu keduanya terlibat dalam latihan yang sama-sama menguntungkan. Nyai Demang bisa mengatakan apa-apa yang diketahui, sementara Gendhuk Tri bisa berlatih keras.

"Ayo belajar baik-baik. Aku tak punya banyak waktu melayani kamu. Sebentar lagi saat bulan purnama aku akan memenuhi undangan."

Daya Asmara

KALAU Gendhuk Tri tak terpengaruh dengan ucapan "memenuhi undangan saat bulan purnama", Galih Kaliki jadi kelabakan.

"Undangan ke mana, Nyai?"

"Sayang kamu tak boleh ikut."

"Aku hanya bertanya."

"Tak boleh tahu."

"Kalau begitu, siapa yang mengundang?"

"Tak tahu malu!"

Gendhuk Tri yang berteriak saking jengkelnya. Sebagai gadis yang baru menanjak remaja, ia tak habis pikir bagaimana Galih Kaliki yang telah saling mengangkat saudara dengan Upasara Wulung bisa selalu dipermainkan oleh Nyai Demang. Kadang Gendhuk Tri sangat kasihan kepada Galih Kaliki dan ingin menolongnya, akan tetapi selalu terjadi salah paham.

"Katakan, Nyai, katakan. Aku mau melakukan apa saja asal kamu mengatakan. Aku berjanji tak akan ikut bersamamu."

"Baik. Kamu harus melatih Gendhuk kecil ini sebagai syaratnya."

"Baik, baik. Ke mana dan diundang siapa, Nyai?"

"Ke arah selatan diundang oleh setan."

Jelas bahwa Nyai Demang menjawab asal-asalan. Akan tetapi yang membuat Gendhuk Tri lebih jengkel ialah karena Galih Kaliki mengangguk-angguk. Puas seperti anak kecil dituruti permintaannya.

"Boleh bertanya lagi, Nyai?"

"Tidak."

"Nyai, aku..."

"Aku sudah bilang tidak."

"Ya, Nyai."

Karena kesal, Gendhuk Tri segera meninggalkan gelanggang. Kalau sudah begitu, Wilanda atau Jaghana yang akan menghibur. Kadang salah satu, kadang keduanya.

"Itulah daya asmara. Suatu kali kamu akan mengalami sendiri. Atau malah kamu sudah merasakan sekarang ini. Daya asmara memang menjadikan dunia ini aneh, tak bisa dimengerti. Sesungguhnya ini hanya salah satu godaan yang diciptakan Dewa yang Menguasai Jagat."

"Paman Jaghana juga mengalami daya asmara?"

"Sejak kecil saya dibesarkan di daerah ini. Daya asmara yang saya miliki ada-lah asmara alam. Mencintai tumbuhan dengan semua penghuni dan anginnya."

"Paman, apakah daya asmara itu yang menguasai Kakang Upasara?"

Jaghana nggragap. Sama sekali tak menduga ada pertanyaan yang membuatnya tersudut. "Kenapa tiba-tiba kamu tanyakan hal itu?"

"Karena Kakang Upasara seperti orang linglung. Seperti sikap Paman Galih Kaliki."

"Di mana linglungnya?"

"Paman tahu sendiri. Kita semua masih mempelajari ilmu silat, masih bercakap-cakap tentang hal itu ketika kemudian Kakang muncul lagi dan mengatakan tak ada gunanya menambah permusuhan. Itu dikatakan setelah mendengar kabar bahwa Gayatri diculik. Iya kan, Paman?"

Jaghana menunduk.

"Paman berjanji tak berdusta. Katakan, Paman."

"Saya tidak tahu apa yang terjadi di hati Upasara."

"Apakah Kakang Upasara masih mencintai Gayatri? Masih menyimpan daya asmara?"

"Saya tidak tahu, Gendhuk. Yang saya tahu Anakmas Upasara tidak mau menemui Permaisuri."

"Baik, baik. Kalau Kakang tidak mau menemui secara langsung, akan tetapi membebaskan, apakah itu bukan karena daya asmara? Itu yang saya ingin tahu." Gendhuk Tri cukup cerdas untuk memojokkan Jaghana.

"Rasanya saya makin tidak tahu. Kalau benar begitu, kamu juga tak perlu merasa sia-sia. Misalnya kamu terkena daya asmara Anakmas."

"Ngawur!" Gendhuk Tri berteriak mengguntur. Suaranya melengking, bercampur antara kejengkelan dan rasa malu.

Tetapi Jaghana justru menyadari bahwa apa yang ditanyakan Gendhuk Tri tadi beralasan. Daya asmara tidak mau bertemu dengan Permaisuri, senada nilainya dengan teriakan "ngawur".

"Kita sesama penghuni Perguruan Awan saling berjanji tidak mendustai dan menyembunyikan perasaan kita, Gendhuk."

"Saya mengatakan apa adanya, Paman."

"Betul begitu?"

"Kalau tidak, kenapa?" Hati Gendhuk Tri mulai goyah.

"Tidak ada apa-apa. Bagimu dan bagi Anakmas, tak ada halangan untuk terjalinnya daya asmara."

Gendhuk Tri menunduk. Lalu memandang ke arah lain. Menyembunyikan wajahnya yang menjadi merah. Pori-pori semua kulitnya mengembang, darahnya mengalir secara aneh sekali. Seakan berbenturan, tidak seperti biasanya. Dadanya jadi sesak.

"Tidak ada halangan karena tidak menyalahi kehendak alam."

"Tidak, Paman. Hati Kakang telah tertumpah kepada perempuan Keraton yang menjadi istri keempat Baginda."

Jaghana menghela napas. "Kamu salah mengerti."

Gendhuk Tri memandang Jaghana.

"Kamu salah mengerti tentang daya asmara, Gendhuk. Di dunia ini diciptakan daya asmara untuk mencintai manusia lain, untuk mencintai alam, untuk mencintai Dewa yang Maha Berdaya Asmara. Itulah sebabnya daya asmara adalah daya yang membuat bahagia. Seperti Galih Kaliki. Barangkali kamu menganggap kasihan, menganggap dipermainkan, akan tetapi itu semua tak mengurangi kebahagiaannya. Kalau Anakmas Upasara mempunyai daya asmara kepada Permaisuri atau sebaliknya, itu tak mengurangi kebahagiaan keduanya. Walau tidak bersanding. Jangan salah terima, anak manis. Pamanmu hanya ingin menjelaskan bahwa kalau kamu mempunyai daya asmara, kamu seharusnya bergembira. Bisa berbahagia. Contoh yang saya kemukakan tadi bukan betul-betul Anakmas mempunyai daya asmara dengan Permaisuri Gayatri dan atau sebaliknya."

Dengan penuh kebapakan Jaghana menenteramkan hati Gendhuk Tri. Cara pendekatan yang dengan jitu mendinginkan hati Gendhuk Tri yang mulai membara.

"Adalah janji kita ketika bersama di dalam Perguruan Awan, bahwa kita harus selalu bisa jujur, mengatakan apa adanya."

"Terima kasih, Paman. Tetapi jangan tanyakan daya asmara saya dengan Kakang."

"Tidak, kalau kamu tidak menghendaki."

Gendhuk Tri menghela napas. "Paman bisa menjelaskan mengenai daya asmara, apakah berarti Paman dulu pernah mempunyai kekasih?"

"Pamanmu sudah menjawab, anak manis. Daya asmara adalah daya yang seharusnya membuat bahagia. Menjadikan kita bahagia melihat kebahagiaan pada yang kita cintai. Kalau tetumbuhan dan isinya di Perguruan Awan ini bahagia, saya juga bahagia."

Gendhuk Tri mengangguk. "Mengenai hal itu saya tidak ragu, Paman."

"Lalu kenapa?"

"Paman selalu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Selalu berusaha menyenangkan. Apakah kata-kata Paman ini juga untuk menyenangkan dan menghibur belaka?"

"Anak manis, kamu tidak ingin mengatakan bahwa pamanmu yang gundul ini berlaku tidak jujur padamu?"

"Sama sekali tidak," Gendhuk Tri cepat memotong. "Mana mungkin saya meragukan Paman? Kakang Upasara saya ragukan, tetapi kalau Paman Jaghana, dalam mimpi pun saya tak berani."

Jaghana menepuk pundak Gendhuk Tri.

"Paman, kira-kira ke mana Nyai Demang pergi?"

Di depan Nyai Demang, Gendhuk Tri mungkin akan menyebut Kakangmbok, tetapi tidak ketika membicarakan.

"Itu urusannya sendiri."

"Ya, akan tetapi Kakang kelihatannya lebih banyak bicara kalau ada Nyai Demang."

Jaghana mengakui dalam hati.

"Jangan-jangan Kakang masih menyimpan daya asmara kepada nyai genit itu."

"Ah, semua wanita bisa kamu cemburui."

"Saya tidak cemburu!"

Gendhuk Tri sekali lagi tak bisa menyembunyikan desir aneh di pembuluh darahnya. Akan tetapi Jaghana sendiri bertanya-tanya dalam hati. Hanya tidak diutarakan seperti Galih Kaliki atau Gendhuk Tri. Bukan hanya karena kidungan Nyai Demang menghibur Upasara, akan tetapi terutama karena Nyai Demang memang perlu dikuatirkan. Pemujaan-nya kepada daya asmara yang berlebihan bisa menyeretnya ke dalam berbagai petualangan yang membahayakan. Apalagi kalau diketahui undangan itu berasal dari Keraton.

Sambutan Kemenangan

SEBELUM Nyai Demang datang ke Keraton, rombongan yang pertama kali datang adalah Mpu Nambi. Yang kemudian disusul oleh Adipati Lawe. Keduanya tidak menduga sama sekali bahwa ketika memasuki wilayah Keraton, para prajurit Keraton berjajar di pinggir jalan masuk. Bahkan terdengar bunyi genderang penyambutan, dan taburan bunga!

Adipati Lawe merasa risi dan jengah sendiri. Akan tetapi tak bisa lain, selain mempercepat langkah kudanya. Dan di halaman Keraton sambutan lebih meriah. Ada barisan penari yang membasuh kaki Adipati Lawe dan Mpu Nambi.

"Tongkring," kata Adipati Lawe lirih. "Apakah prajurit Keraton kurang pekerjaan sehingga setiap hari hanya latihan menghamburkan kekayaan negara?"

Adipati Lawe tak peduli kata-katanya membuat yang mendengar merah telinganya. Termasuk Senopati Halayudha yang selalu menyunggingkan senyuman di bibirnya dan di seluruh sikap penampilannya.

"Maafkan, kami hanya menjalankan dawuh Baginda. Namun menurut pendapat saya yang masih picik ini, sambutan kemenangan adalah wajar. Bagi Adipati Lawe, memenangkan perang atau menyelesaikan tugas di medan laga adalah hal biasa, tetapi bagi Keraton, ini adalah tiang-tiang yang membuat bangunan Keraton mencuat ke langit. Silakan beristirahat. Dalam satu-dua hari ini Baginda Raja berkenan menerima para pahlawan yang pulang dari medan perang."

Lembut kalimatnya, merdu suaranya, akan tetapi Mpu Nambi jadi bergidik. Pikirannya masih diliputi teka-teki ketika menuju tempat istirahat. Sebagai pimpinan telik sandi, Mpu Nambi sangat mengetahui seluk-beluk Keraton. Mengetahui dengan gamblang lalu lintas kekuasaan. Tahu dengan pasti di mana posisi Senopati Halayudha.

Senopati Halayudha, walau tidak membawahkan kelompok prajurit yang bisa digerakkan, akan tetapi sangat dekat hubungannya dengan Baginda Raja. Kalau Mpu Nambi ingin menghadap Baginda, selalu bertemu dengan Halayudha lebih dulu. Halayudha kemudian melapor ke Baginda Raja, dan menyampaikan berita apakah Baginda Raja berkenan menerima saat itu atau saat yang lain.

Sejauh ini Mpu Nambi mengetahui bahwa Halayudha tak memiliki ilmu silat yang tinggi. Salah satu ilmu andalannya ialah ilmu Bajak Perang, yang kemudian dipakai sebagai namanya. Hala berarti bajak, dan yudha bisa diartikan perang. Mpu Nambi tidak memperhitungkan ketinggian ilmu silat Halayudha, karena selama ini hampir tidak pernah melihatnya berlatih atau memamerkan kelihaiannya. Bahkan semasa penyerangan ke pasukan Tartar atau ketika menggempur Singasari, peranan Halayudha tak terlalu menonjol. Hanya karena posisinya selalu menjadi bayangan Baginda Raja, diam-diam Mpu Nambi memperhitungkan dan berhati-hati.

Berbeda dari Adipati Lawe yang sama sekali tak menganggap sebagai tokoh yang perlu diperhitungkan. Bagi Adipati Lawe, kejantanan atau keksatriaan seseorang dinilai dari kemampuan memainkan senjata, membuktikan ilmu silat. Senopati dinilai dari "kerasnya tulang, uletnya kulit", bukan dari senyum dan keramahan.

Sewaktu rombongan Mpu Sora datang bersama Senopati Anabrang, sambutan kemenangan terulang kembali. Dan dengan senyum yang tegar, Halayudha menyambut dan kembali menceritakan bahwa ini semua kehendak Baginda, sebagai abdi ia hanya menjalankan perintah, dan meminta mereka beristirahat, karena Baginda Raja akan mengadakan pasewakan agung, atau pertemuan besar.

"Senopati Sora telah bekerja keras, maka biarlah saya yang mengantar Permaisuri Agung Rajapatni. Silakan, Senopati Sora, Senopati Renteng, beristirahat dengan tenang. Demikian juga Senopati Anabrang yang perkasa. Saya pribadi memohon maaf jika sambutan ini kurang menyenangkan. Ini tanggung jawab saya yang tidak becus meneruskan dawuh, perintah, Baginda."

Mpu Sora mengangguk. Bersama Mpu Renteng mereka berdua berpisah dengan Senopati Anabrang yang mendapat tempat istirahat yang berbeda.

"Telah banyak berubah Keraton ini, Kakang." Suara Mpu Renteng membuat Mpu Sora, yang tengah duduk bersila menikmati air putih seperti kebiasaannya selama ini, kembali mengangguk.

"Baginda Raja ingin berbuat baik. Membalas budi dan jasa prajuritnya. Semua mempunyai tugas dan wewenang."

"Kakang Sora, maafkan pikiran saya yang masih dangkal ini. Namun rasanya sambutan ini agak mengada-ada."

"Mungkin juga, biar Halayudha mempunyai sesuatu yang dilakukan. Mungkin juga tidak. Zaman ini bukan lagi zaman peperangan. Yang dulu tak mengenal sambutan kemenangan semacam ini."

"Mudah-mudahan begitu, Kakang Sora."

"Ada pikiran apa, Kakang Renteng?"

"Saya tak bisa mengurangi sifat buruk saya, selalu curiga. Saya mencium ada bau yang kurang enak. Bau yang kelewat wangi."

"Karena kita biasa mencium bau tanah dan darah selama ini. Tetapi saya juga merasa bahwa Keraton sekarang ditata dengan sangat apik."

"Bukan hanya itu, Kakang. Kenapa kita tak diizinkan membawa Permaisuri langsung ke dalam?"

Mpu Sora menggeleng. "Sudahlah, Kakang. Kita tidak usah terlalu memikirkan hal itu. Sekarang bukan zaman peperangan seperti dulu, sehingga kita mengurus sendiri semuanya. Sekarang tugas sudah dibagi-bagi."

"Berarti akan lebih banyak jalan yang harus dilewati."

"Berarti makin tertib, makin baik."

"Mudah-mudahan begitu."

Pertanyaan yang sama juga tergema dalam sudut hati Senopati Anabrang. Senopati yang pernah menjelajah samudra luas merasa bahwa mulai banyak tatanan yang membuatnya tidak enak. Selama berada dalam tempat peristirahatan, ada yang melayani. Prajurit-prajuritnya juga mendapat pelayanan yang sangat bagus. Ini berarti banyak tenaga yang dipekerjakan. Berarti banyak pengeluaran, sesuatu yang dulu tidak dikehendaki Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya upacara-upacara yang bersifat keagamaan yang dirayakan. Selebihnya, semua dana yang ada disalurkan untuk keprajuritan yang murni. Untuk latihan dan persenjataan.

Hal ini yang justru dipertontonkan oleh Adipati Lawe! Adipati yang tak sabaran ini melatih para prajuritnya di alun-alun depan gerbang Keraton. Dengan gagah perkasa Adipati Lawe berdiri di atas kuda hitamnya. Memacu mengelilingi alun-alun, sesekali meloncat ke tanah, mumbul ke atas, dan tetap hinggap kembali dengan enteng di punggung kudanya. Kadang dengan satu kaki, kadang dengan tubuh terbalik. Tangannya yang dipakai sebagai tumpuan. Para prajurit Tuban juga berlatih keras. Menyusun barisan menyerang, bertahan, mengepung. Adipati Lawe sendiri yang menjadi sasaran latihan. Dikeroyok secara beramai-ramai.

Tentu saja ini menjadi tontonan yang menyenangkan bagi masyarakat sekitar. Sorak-sorai terdengar mulai sore hingga malam hari. Sementara sorak-sorai kekaguman terdengar riuh, Mpu Sora justru merasa kuatir. Menguatirkan bahwa tindakan keponakannya ini seperti memasang layar lebar saat mengetahui bakal ada angin keras bertiup.

Halayudha sendiri sudah mengatakan bahwa Baginda akan mengadakan pasewakan agung. Pertemuan besar ini bisa dipastikan akan membicarakan mengenai jabatan mahapatih yang sampai saat ini masih tetap kosong, karena Upasara Wulung menolak secara halus. Yang dicemaskan oleh Mpu Sora ialah jika tindakan Adipati Lawe ditafsirkan sebagai demonstrasi keperwiraan agar dipilih menjadi mahapatih!

Dalam situasi yang serba menunggu, segala apa bisa terjadi! Padahal Mpu Sora yakin bahwa keponakannya ini tidak mempunyai ambisi dalam soal pangkat dan derajat, terutama untuk dirinya sendiri. Perkiraan Mpu Sora tidak terlalu meleset.

Senopati Anabrang merasa gusar. Justru karena Adipati Lawe dengan sengaja memamerkan kemampuannya bermain dengan dua pedang. Bukan dengan rantai senjata andalannya. Selama ini semua mengetahui bahwa permainan sepasang pedang adalah ciri utamanya.

"Kami mengetahui hal itu, Senopati Anabrang yang digdaya," kata Halayudha ketika menemui. "Akan tetapi saya tak bisa melarang atau meminta jangan memperlihatkan itu. Saya ini seorang abdi biasa. Pangkat senopati yang dianugerahkan Baginda, hanyalah pangkat kehormatan. Bukan karena saya benar-benar seorang senopati perang. Maafkan kalau selama menunggu ini ada peristiwa yang kurang menyenangkan. Saya tak bisa lain hanya menunggu dawuh Baginda. Hanya bisa menunggu. Namun kalau pelayanan selama istirahat ini kurang menyenangkan, itu tanggung jawab saya. Mohon diberitahu di mana kurangnya, Senopati."

Rerasan Dua Permaisuri

SEBENARNYA di kaputren, tempat para putri, juga terasakan suasana tak menentu. Sejak diiringkan oleh Senopati Halayudha, Permaisuri Rajapatni berdiam diri. Sediaan bunga tujuh rupa tujuh warna untuk mandi, segala ramuan untuk tubuh dan keramas, sama sekali tak disentuh. Permaisuri Rajapatni mandi seperti biasa, tanpa upacara seperti layaknya. Lalu duduk merenung di dekat ranjangnya. Duduk bersila, dengan pandangan menunduk tak mau bertegur sapa.

Padahal sebagaimana kebiasaan, seorang—apalagi—permaisuri selalu menjaga kondisi tubuhnya secara sempurna. Karena ia adalah permaisuri, dan sewaktu-waktu Baginda Raja bisa datang atau memanggilnya. Seorang permaisuri pasti sudah keramas sangat bersih, dengan bau tubuh yang harum. Sudah dalam keadaan paling prima menerima panggilan Baginda Raja untuk berbakti. Dengan keramas dan mandi bunga tujuh rupa tujuh warna, berarti menyiapkan diri kalau nanti memperoleh keturunan adalah keturunan yang terbaik. Yang siapa tahu akan menggantikan takhta Keraton.

Tata cara menjaga kondisi tubuh yang sempurna, dari ujung kuku hingga ujung rambut, sangat diajarkan sejak dini. Sejak seorang anak gadis boleh bertempat tinggal dalam Keraton. Apalagi ini jelas-jelas permaisuri resmi. Akan tetapi nyatanya, Permaisuri Rajapatni tidak memedulikan semua itu. Bahkan makanan dan minuman sama sekali tak disentuhnya. Seakan siap menerima segala kemurkaan Baginda. Dan atau disingkirkan oleh Baginda, karena tidak melayani dengan baik.

Kabar bahwa Permaisuri Rajapatni bertapa membisu membuat Permaisuri Tribhuana datang menjenguk. Hatinya terguncang sedikit melihat kenekatan adiknya yang bungsu. Apalagi ketika Gayatri sama sekali tak menoleh atau mendongak.

"Wanita bisa sedih dan bisa gembira, karena ia manusia seperti yang lainnya. Akan tetapi seorang putri, apalagi permaisuri, tidak pantas menunjukkan perasaan seperti itu. Itu adalah sifat wanita biasa."

Tribhuana adalah putri sulung Baginda Raja Sri Kertanegara, yang dipermaisurikan Baginda Raja Sri Kertarajasa sewaktu masih bernama Raden Sanggrama Wijaya. Berbeda dari adik-adiknya, Tribhuana dikenal sangat cerdas, mengenal intrik dan seluk-beluk Keraton, pandai berbicara sehingga digelari mahalalila. Bukan sekali-dua Baginda meminta pertimbangan masalah politis kepada Tribhuana. Caranya bertutur kata sangat menyenangkan didengar telinga dan hati. Lebih dari itu semua, pendekatan yang dilakukan sering tepat dan mengena.

"Wanita biasa bisa tertawa hingga kelihatan giginya. Bisa menangis hingga sembap matanya. Bisa sedih hingga kurus, bisa gembrot karena terlalu banyak tidur dan makan enak. Wanita yang begini bisa menjadi permaisuri. Tapi pasti bukan seorang putri yang luhur budinya, putri yang mewarisi darah Baginda Raja Sri Kertanegara."

Disinggung nama ayahanda yang sangat dihormati, hati Gayatri yang keras jadi luntur. Helaan napasnya menandakan menerima kedatangan Tribhuana. Menandakan mau membuka hatinya untuk rerasan, untuk bertukar rasa.

"Nimas Ayu Gayatri adikku, kenapa kamu memilih bersedih dengan cara membunuh diri seperti ini? Apakah kamu tak mau melihat mbakyumu ini lagi? Apakah nama agung ayah kita tak mempunyai arti lagi bagimu?"

"Mbakyu Ayu Tribhuana yang pandai bertutur kata, mengapa Mbakyu Ayu mengganggu saya?"

"Aduh, Nimas Ayu, untuk apa aku datang kalau hanya untuk mengganggumu? Bagiku lebih senang duduk berharap Baginda datang. Hatiku lebih berbunga mendengar kau berduka. Karena dengan demikian, berkuranglah sainganku. Karena, meskipun kamu adik kandungku, kamu juga seteru, sainganku, dalam merebut kasih sayang Baginda. Tetapi kita putri Singasari terakhir dan terbesar sepanjang masa. Tak pernah memikirkan kepentingan pribadi dengan menginjak penderitaan orang lain. Pun andai orang lain itu bukan darah bukan daging yang sama. Kita dilahirkan sebagai putri Singasari yang agung. Keraton yang menyebarkan umbul-umbul ke seluruh penjuru jagat. Kita ditakdirkan menjadi permaisuri Majapahit yang agung. Keraton yang sedang dibangun untuk ketenteraman jagat. Dari semua wanita yang ada, hanya kita berempatlah yang dipilih Dewa Mahaagung untuk mengemban tugas mulia ini."

"Semua yang Mbakyu Ayu katakan tak satu patah pun keliru. Namun Mbakyu Ayu tak tahu bahwa..."

Tribhuana memandang bahagia. "Aku tahu, Nimas Ayu. Aku bisa mengerti kekecewaan dan keinginanmu yang terpendam. Aku tahu ketika Baginda mengirimkanmu ke Perguruan Awan. Aku tahu apa yang kira-kira terjadi di sana sehingga kamu membisu. Aku bisa mengerti dan tidak menyalahkanmu. Tetapi aku tak bisa membenarkanmu jika kau tunjukkan perasaanmu dengan cara wanita biasa."

Gayatri menunduk. Duka masih memeluk. "Mbakyu Ayu tidak mengetahui bahwa adikmu ini sudah bertemu Kangmas Upasara. Sudah dibebaskan dari tangan seorang penculik durhaka. Akan tetapi Kangmas Upasara tak mau bertemu denganku. Tak mau mengucapkan sepatah kata, tak mau mendengarkan sepatah kata pun."

"Senopati Pamungkas itu memang lelaki sejati. Ia tahu menjaga diri. Menjaga dirimu, Nimas Ayu."

"Mbakyu Ayu..."

"Biarlah mbakyumu ini menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Upasara Wulung adalah lelaki sejati. Karena ia menang dalam memperebutkan daya asmara darimu. Upasara Wulung adalah lelaki sejati. Karena ia menang dalam pertarungan daya asmara dalam dirinya. Apa susahnya untuk bertemu, bercakap, dan bersenang denganmu? Tak ada yang menghalangi. Tak ada yang mengetahui. Tetapi justru di saat seperti itu, lelaki sejati tak mau menodai kesucianmu. Tak mau menyeretmu ke dalam kubangan yang hina. Ia memenangkan kesucian di atas keserakahan dan kehendak manusia biasa. Upasara Wulung meluhurkan derajat kewanitaanmu. Nimas Ayu, terus terang mbakyumu iri padamu. Kamu memiliki tempat di sudut hatimu bagi seorang lelaki sejati. Yang juga menyediakan sudut hatinya bagi dirimu. Bukankah itu sangat membahagiakan? Nimas Ayu, kita ini putri Singasari dan juga permaisuri Majapahit. Ada jalan yang telah dibuat oleh Dewa yang Maha arif jauh sebelum kita dilahirkan. Kita tinggal menjalani dengan cara yang terbaik, sesuai dengan kodrat kita."

"Kangmas Upasara menolak menemuiku."

"Itu yang paling luhur."

"Kangmas Upasara menolak berbicara."

"Itu yang paling mulia."

"Kangmas Upasara menderita dan kini bukan apa-apa lagi."

"Itu yang paling suci."

"Kangmas Upasara telah mati!" Suara Gayatri meninggi.

"Itu yang paling sakti. Karena itulah lelaki sejati. Lelananging jagat. Hanya lelaki sejati yang menganggap daya asmara adalah sesuatu yang suci, dan harus disucikan. Penderitaan dan kematian hanyalah salah satu bukti."

"Mbakyu Ayu, kalau Kangmas bisa membuktikan asmara suci dengan mengorbankan diri, menghancurkan semua ilmunya, dan mungkin sekarang sudah mati. Dan apa yang kulakukan sekarang ini? Berseri bagai matahari, bercahaya bagai bulan purnama, duduk di sisi singgasana sebagai permaisuri Raja. Hidup enak tak kurang suatu apa. Apa kata sukma Kakang Upasara di alam sana? Putri seperti apa diri ini? Putri Singasari yang mendustai asmaranya sendiri."

"Nimas Ayu..."

"Gendhuk Tri masih lebih berharga dariku."

"Nimas Ayu..."

"Nyai Demang yang sangat hina masih lebih bermakna."

"Nimas Ayu... Dengarlah dan lihatlah. Berkacalah dari apa yang dilakukan Upasara Wulung. Ia mengorbankan segalanya bagimu. Ia bisa menjadi mahapatih yang bisa berdekatan denganmu. Tetapi batinnya tersiksa. Lebih dari itu ia tak ingin menyiksa batinmu, Nimas Ayu. Maka itu sebabnya ia menghancurkan dirinya. Dengan harapan kamu bisa lebih bahagia."

"Nyatanya tidak."

"Karena kamu tidak mau memenuhi keinginan Upasara."

Gayatri tertegun.

"Keinginan Upasara ialah kamu menjadi bahagia. Tapi kamu menyia-nyiakannya. Sungguh sayang, Nimas Ayu."

Darma Bekti Permaisuri

BATIN Gayatri tergetar. Semua pembuluh tubuhnya gemetar. Apa yang dikatakan Tribhuana benar. Upasara mengorbankan semua ini agar tidak mengganggu kebahagiaannya! Gayatri ingin menjerit bahwa sebenarnya ia tidak seperti yang diduga Upasara.

"Nimas Ayu, apakah kalau kamu bertapa bisu seperti ini, Upasara akan sembuh kembali? Akan hidup kembali? Tidak, lelaki yang mengorbankan segalanya bagimu itu justru kecewa. Menyesal dan nelangsa. Sukmanya tak tenang di alam sana."

"Mbakyu Ayu, apakah yang Mbakyu katakan benar adanya?"

"Apa yang kusembunyikan darimu? Di sini kita hanya berdua. Sejak kecil kita selalu bersama. Kita berempat, termasuk Mahadewi dan Jayendradewi. Kita berempat mendapat gemblengan yang sama dari Baginda Raja Singasari yang agung tiada tara. Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu? Kalau ada yang kuharapkan, hanyalah kita bisa berbakti sebagai permaisuri. Karena itulah kodrat kita yang sesungguhnya. Nimas Ayu, banyak cobaan atas diri kita. Upasara hanyalah percikan buih dari gelombang yang mencoba kita, yang menguji darah Singasari yang menurunkan kita ini. Masih ada gelombang pasang yang lebih mengguncang. Nimas Ayu sudah tahu, bahwa kepulangan Senopati Anabrang sebagai utusan Baginda Raja Sri Kertanegara membawa dua putri ayu sebagai persembahan. Dara Jingga dan Dara Petak. Dyah Dara Jingga, yang tua, sejak semula tak membuat Baginda berkenan sehingga dinikahkan dengan Mauliwarma Dewa. Sedangkan Dyah Dara Petak yang berkulit putih bagai susu, diambil sebagai permaisuri oleh Baginda Raja. Diberi gelar Permaisuri Indreswari. Lebih dari semua itu, Indreswari mendapat anugerah sebagai istri tinuheng pura. Artinya menjadi permaisuri yang dipertua di Keraton! Menjadi permaisuri utama! Duh, Dewa! Nimas Ayu, bagimu semua ini tak menjadi soal benar apa artinya. Tetapi sadarilah bahwa Dewa yang Maha Pencoba sedang mencoba umatnya! Nimas Ayu, lihatlah mbakyumu ini. Putri Singasari yang cantik jelita, yang mengetahui tata cara Keraton, yang paling sulung. Nimas Ayu, apa kurangku? Kenapa Baginda Raja justru mempermaisurikan wanita yang berkulit seperti susu? Apa kurangnya sebagai putri Sri Baginda Kertanegara yang mewarisi takhta sebagai kehormatan paling tinggi kepada Raden Sanggrama Wijaya? Siapa yang memberi kehormatan tertinggi ini? Apakah Indreswari? Bukan. Tetapi aku, Tribhuana! Hatiku merintih. Batinku menggugat. Aku tidak menghalangi Baginda mengambil wanita mana pun. Karena raja adalah penguasa tunggal yang dikodratkan untuk memimpin dan menguasai. Akan tetapi menjadikan Indreswari sebagai stri tinuheng pura, itu sama dengan menamparku. Sama saja dengan mencampakkanku! Aku lebih menderita dari kamu, Nimas Ayu. Karena aku mengemban tugas suci sebagai putri tertua Singasari, yang berkewajiban meneruskan pemegang takhta dari darahku sendiri. Nimas Ayu, aku juga bisa berbuat seperti kamu! Tetapi apa jadinya kalau aku berbuat seperti itu. Di mana wajah dan kehormatanku bila bertemu Baginda Raja Singasari di alam baka nanti? Aku menyadari ini semua. Aku adalah permaisuri. Dan tugas pertama permaisuri sebagai darma bekti utama adalah mengabdi kepada raja. Apa pun yang dikehendaki seorang raja, itulah yang terbaik baginya. Aku menerima Indreswari sebagai permaisuri utama. Dengan senyum dan anggukan di kaki Baginda. Sebab inilah darma bekti yang bisa kupersembahkan. Sebab inilah yang terbaik harus kutunjukkan."

Suara Tribhuana merendah dan menghilang. Terdengar helaan napas panjang. Berulang.

"Maafkan aku, Mbakyu Ayu."

Tak segera terdengar jawaban. Udara bertiup lamban. Helaan napas pun tertahan.

"Nimas Ayu, kita harus mengalahkan perasaan-perasaan seperti ini. Besar atau kecil, perasaan ini tak ada artinya bagi seorang raja. Seorang raja adalah seorang penguasa yang kiblatnya jagat. Apalah artinya perasaan-perasaan kita dibandingkan dengan perasaan Baginda yang mendapat panggilan Dewa untuk memerintah rakyatnya. Seorang raja bisa menjadi besar kalau ada yang bersedia berdarma bekti pada kebesarannya. Kita harus bahagia bisa menjalankan tugas luhur ini."

"Mbakyu Ayu, sungguh aku ini manusia yang paling tak berguna. Sampah yang dibuang pun tetap tak berarti apa-apa."

"Kebesaran Baginda adalah segalanya."

"Ya."

"Kebesaran Baginda adalah kebesaran Keraton."

"Ya."

"Kebesaran Keraton adalah kebesaran manusia."

"Ya."

"Kebesaran manusia seluruh tanah ini ditentukan Baginda."

"Ya."

"Nimas Ayu, apakah kita masih ragu mengorbankan sesuatu bagi kebesaran dan keharuman nama Keraton?"

Gayatri menggeleng lembut.

"Nimas Ayu, keramaslah yang baik. Mandilah dengan air suci. Kamulah Dewi Uma yang diramal para pendeta meneruskan pemegang takhta kebesaran di kelak kemudian hari. Kamulah yang bakal meneruskan darah Singasari. Darah biru Singasari yang akan menerangi jagat. Darah biru yang agung karena berani mengorbankan kepentingan pribadi."

"Aku mengerti, Mbakyu Ayu."

"Siapkan tubuhmu, siagakan batinmu. Akan datang saat kemenangan, setelah kita mengalahkan keinginan kita yang remeh. Akan datang saat terang, setelah kita mengalahkan kegelapan. Kalau Dewa yang Maha asih akan mempertemukan kamu dengan Upasara suatu hari nanti, apa pun yang terjadi sekarang ini tak bisa mengubah takdir. Saat itu kamu telah siap. Akan tetapi sekarang ini tak ada yang lain yang bisa kamu pikirkan selain mengabdi, selain mempersembahkan darma bekti. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda?"

Gayatri terhibur. Merasa bisa memandang lebih terang dan tidak kabur. Melihat lebih jauh ke depan.

Malam itu Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni kembali. Bersedia keramas, membersihkan badan hingga sangat bersih. Berdandan sebagaimana layaknya seorang permaisuri. Tegar bersama kakaknya Mahadewi, yang selama ini dikenal sebagai wanita sempurna dalam mengolah tubuh. Tegar bersama kakaknya Jayendradewi atau Permaisuri Pradnyaparamita yang memancarkan cahaya luhur dan agung seorang wanita.

Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni dan juga Dewi Uma yang siap menerima Baginda Raja yang akan menjadi Dewa Syiwa. Petuah dari Tribhuana bagai membuka mata batin yang selama ini terkunci rapat. Daya asmara yang masih merupakan titik bara di hatinya tak akan berkurang maknanya kalau ia menjadi permaisuri yang tulus dan berbakti. Upasara Wulung telah tercatat dan tergores di hatinya. Tak akan pernah bisa dicuci bersih, tak akan pernah hilang, walau tidak terlihat di permukaan.

Apa yang dikatakan Tribhuana benar sekali. Di antara putri-putri Singasari, hanya kepadanyalah Baginda menunjukkan kasih sayang secara lebih. Bahkan pasti dengan sangat berat hati melepaskan pergi ke Perguruan Awan. Kalau mengikuti kehendak pribadi, Baginda tak akan melepaskan dirinya. Akan tetapi seperti dikatakan Tribhuana, seorang raja berpikir seribu kali lebih jauh, seribu kali lebih bijaksana. Bahkan permaisuri yang paling disayangi pun rela dilepaskan. Sejak malam itu, bagi Permaisuri Rajapatni, Baginda Raja yang memegang kebenaran. Pikirannya menyatu, dan membuatnya bahagia. Wajahnya bersinar kembali. Itu yang terlihat ketika menjemput Baginda.

Senopati Halayudha memberitahu bahwa Baginda minta dijemput. Maka Permaisuri Rajapatni datang ke kamar Baginda Raja dengan segala darma bekti yang dimiliki. Akan diserahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya untuk kebesaran Baginda. Sewaktu memasuki kamar pribadi yang luas, Permaisuri Rajapatni tetap bersinar wajahnya. Tak menunjukkan rasa herannya walau di tempat itu ada ketiga kakaknya, serta Permaisuri Indreswari. Biasanya, kalau Baginda Raja sedang sendirian. Atau kadang langsung mengunjungi ke kaputren.

Anak Kucing Tak Bakal Jadi Harimau

BAGINDA RAJA KERTARAJASA bangkit dari pelaminan. Sejenak disapunya dengan pandangan ringan kelima permaisurinya yang bersila menunduk di lantai. Lalu berjalan mengitari ruangan. Suaranya terdengar datar.

"Kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa kukumpulkan secara bersama di ruang ini. Sementara para senopati yang justru sedang menunggu-nunggu kubiarkan di luar. Aku tahu semua yang kalian pikirkan. Aku tahu semua yang para senopati pikirkan. Aku ingin memperlihatkan diri bahwa akulah sesungguhnya raja yang paling berkuasa. Yang bisa membuat mereka semua menunggu sampai tua dan loyo. Akulah yang berkuasa, dan tunggal. Tak bisa dipaksa dan dipermainkan siapa pun. Termasuk kalian semua."

Kelima permaisuri makin menunduk.

"Tak akan ada lagi yang berani membantah perintahku. Tak akan ada lagi yang menyangsikan bahwa akulah raja yang sesungguhnya. Yang ditunjuk dan direstui Dewa yang Maha Berkuasa. Tak akan ada yang ragu. Karena yang ragu akan musnah jadi debu. Apakah itu Upasara atau bahkan permaisuriku sendiri."

Gayatri menunduk. Telinganya seperti mendengar panah berdesing.

"Apa yang dibanggakan Upasara telah musnah. Apa yang dicari semua ksatria dan para pendeta ada di tanganku."

Baginda menunjukkan peti, dan membuka isinya.

"Inilah Kitab Bumi yang utuh. Berisi dua puluh kidungan yang selalu diperebutkan. Aku yang menguasai. Mulai hari ini secara resmi, semua sudah berada dalam genggamanku. Aku tahu selama ini terdengar banyak omongan yang tidak becus. Yang sengaja untuk memancing kemarahanku. Salah satunya kenapa aku tidak segera mengangkat mahapatih, yang menjadi tangan kananku. Mereka semua, juga kalian, tak bisa memaksaku."

Permaisuri Tribhuana merasakan bahwa justru di balik kata-kata yang gagah itu, Baginda sedang menenggelamkan rasa gelisah.

"Aku bisa menentukan siapa saja menjadi mahapatih. Bahkan kalian permaisuriku, kalau aku berkenan, bisa terjadi. Siapa pun tak ada yang bisa menghalangi. Aku mendengar suara-suara bahwa disebut nama-nama Nambi, Sora, Lawe, Kuti, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, Yuyu, dan entah siapa lagi. Dengan mata tertutup pun aku bisa memilih salah seorang di antara mereka. Atau yang lain sama sekali. Mereka adalah rakyat jelata. Yang tadinya hanya bisa membalik tanah menjadi sawah. Akulah yang mengangkat mereka dengan derajat dan pangkat. Memberikan kehormatan yang seumur hidup mereka tak pernah diperoleh. Mereka hanyalah cemeng dan bukan gogor. Sejak lahir sebagai cemeng besarnya tetap akan menjadi kucing. Sakti seperti apa pun, tetap seekor kucing. Tak akan bisa menjadi harimau. Hanya gogor yang bisa menjadi harimau. Akulah dulu gogor, anak harimau yang tetap tak bisa menjadi kucing. Inilah bedanya antara seorang raja dan bukan raja. Kelak kalian inilah yang akan melahirkan gogor, yang akan meneruskan takhta dan kebesaran Keraton ini. Bukan para senopati.”

Baginda menghela napas. “Bagaimana pendapatmu, Tribhuana?”

“Segala apa yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Kamu yang mengerti tentang tata Keraton tentu lebih mengerti bahwa seorang raja tidak perlu menanyai permaisurinya untuk masalah seperti ini. Tetapi aku bisa melakukan. Mahadewi, apa pendapatmu?”

“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Seekor anak kucing tetap berbeda dan tak akan menjadi anak harimau. Takdir dari Dewa yang Maha Penentu sejak dulu sudah membedakan itu. Bagaimana pendapatmu, Jayendradewi?”

“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Siapa yang pantas menjadi mahapatih menurut pendapatmu, Gayatri?”

Gayatri menghaturkan sembah, seperti kakak-kakaknya, sebelum menjawab pertanyaan Baginda. “Segala yang Baginda katakan, menjadi benar adanya.”

Sejenak Baginda terdiam. “Apa maksudmu?”

Gayatri menyembah lagi. “Seperti hamba haturkan, segala yang Baginda katakan atau isyaratkan, menjadi benar adanya.”

Baginda tersenyum. “Gayatri, kamu ini selalu menjadi lain. Putri Singasari yang paling jelita, tetapi juga paling keras kepala. Entah kenapa aku justru menyayangimu seperti aku menyayangi yang lain. Aku sudah mendengar semua laporan perjalanan ke Perguruan Awan. Sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Kenapa kamu katakan segala apa yang aku katakan akan menjadi benar? Kenapa tidak kau katakan bahwa yang aku katakan memang benar adanya?”

Gayatri menunduk. Makin menunduk. “Kalau Baginda sumber kebenaran, segala apa akan menjadi benar.”

“Ah, kamu pun menyangsikan.”

Gayatri menyembah. “Sama sekali tidak mungkin, Baginda.”

Baginda memandang Permaisuri Indreswari. “Apa yang akan kau katakan, Indreswari?”

“Baginda, hamba menunggu dawuh Baginda.”

“Kamu benar, Indreswari. Meskipun secara resmi kamu telah menjadi permaisuri utama, hari ini aku bersabda, bahwa putramu kelak yang menjadi putra mahkota. Putusan ini berlaku sampai aku mencabut kembali. Halayudha, catat semua ini.”

Senopati Halayudha, yang berada di luar ruangan, menyembah hormat. Lalu Baginda Raja melambaikan tangannya. Kembali ke peraduannya. Kelima permaisuri melakukan sembah hormat, lalu berjongkok keluar dari ruangan. Tanpa suara, seakan kesepuluh kaki berkain itu tak menginjak lantai.

“Halayudha!”

Yang dipanggil segera menghadap dengan berjongkok, melakukan sembah, dan menunggu.

“Kamu selalu tahu apa yang terjadi di ruang ini. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Siapa di antara senopatiku yang pantas menduduki kursi mahapatih?”

Halayudha menyembah lagi. Tubuhnya makin dalam membungkuk. “Kalau hamba seratus kali lebih pintar, tetap tak akan bisa menjawab pertanyaan Baginda. Anak kucing kecil tak akan bisa menilai anak kucing yang lain.”

“Bagaimana kalau Nambi?”

Halayudha menyembah hormat. “Tiada putusan yang lebih tepat dari yang Baginda katakan.”

“Apa alasanmu?”

“Pertama, Mpu Nambi sangat setia kepada Baginda. Kedua, jasanya di saat peperangan tak diragukan lagi. Ketiga, Mpu Nambi adalah senopati yang juga memimpin prajurit telik sandi. Keempat, rasanya tidak ada yang bisa menandingi Mpu Nambi dalam melaksanakan kehendak Baginda. Kelima, Baginda telah mengatakan sendiri. Sabda seorang raja adalah rahmat dan anugerah. Keenam…”

“Jarang aku menemui seseorang yang begitu tulus memuji orang lain.”

“Sesungguhnya hamba hanya mengatakan apa adanya, Baginda. Sama sekali jauh dari keinginan memuji yang memang tidak hamba miliki.”

“Baik kalau begitu. Segera umumkan pasewakan agung. Aku tak ingin hal ini tertunda lebih lama.”

“Dua hari lagi adalah hari yang sangat baik, karena saat itu bulan purnama, saat Baginda dilahirkan untuk memimpin Keraton yang makin agung ini.”

“Baik kalau begitu. Ada yang mau kamu katakan?”

Halayudha seperti mau mencium lantai ketika menghaturkan sembah. “Duh, Baginda Raja sesembahan semua makhluk hidup di sepanjang lautan hingga ke puncak gunung, hamba hanya ingin menghaturkan bahwa Nyai Demang telah datang.”

Baginda Raja mengangguk pelan. Itu merupakan isyarat bagi Halayudha untuk menyembah lagi, dan merasa kalimatnya berkenan.

“Nyai Demang bisa nembang kidungan dengan sangat baik, Baginda. Itu yang pertama. Yang kedua, Nyai Demang tak mungkin dipercaya jika mengatakan bahwa ia dipanggil menghadap Baginda.”

“Kamu pintar, Halayudha.”

“Mudah-mudahan pujian Baginda diperkenankan Dewa Agung sekuku hitamnya.”

Baginda menarik napas. “Soal kidungan Kitab Bumi tak peduli. Tapi aku ingin tahu wanita seperti apa Nyai Demang itu. Apa benar seperti yang diceritakan orang selama ini.”

Nyai Demang di Kamar Peraduan

HALAYUDHA menyembah sekali lalu mundur dengan tetap jalan berjongkok. Tak lama kemudian pintu terbuka kembali.

Baginda Raja melihat sesosok bayangan yang masuk, diiringi oleh Halayudha. Dalam hati Baginda memuji cara kerja Halayudha yang sangat rapi. Ternyata Nyai Demang telah berada di sekitar Keraton. Di depan pintu peraduan. Tanpa menimbulkan kecurigaan, karena diberi pakaian seperti prajurit lelaki. Rambut Nyai Demang yang ikal dan lebat baru kelihatan ketika ikat kepala dibuka. Dadanya yang montok tertutup kemben yang padat, memperlihatkan kemontokan yang terjaga dan terawat.

Sekilas Baginda bisa mengetahui bahwa tubuh Nyai Demang memang sangat sempurna, dan sekaligus menggoda. Sebagai seorang yang banyak mengenal wanita, Baginda tak bisa menutupi kekagumannya. Bahkan sampai tidak tahu Halayudha sudah menyembah dan berlalu.

Nyai Demang menyembah sekali, lalu berdiri. “Baginda tidak mengharapkan saya akan menunduk dan berlutut di kaki Baginda dan kemudian diperkenankan memijati kaki sambil membersihkan kuku. Atau wanita seperti itu yang Baginda harapkan?”

Baginda tersenyum lebar. Setelah resmi menjadi raja, Baginda terpaksa muncul dalam berbagai penampilan yang resmi dan sangat ketat dengan tata upacara. Bahkan menghadapi permaisurinya sendiri, rasa hormat itu tak berkurang sedikit pun. Sekali ini lain! Sekali ini ada seorang wanita yang begitu menyembah, langsung berdiri menantang. Bukan sembarang wanita. Tapi Nyai Demang.

Yang seluruh tubuhnya penuh, padat, dan berisi. Baru sekarang Baginda memperhatikan bahwa sesungguhnya Nyai Demang sangat menawan, kalau dihubungkan dengan asmara badani. Mulai dari bentuk alisnya yang lebat, matanya yang galak, hidung melengkung ke depan dan mendenguskan berahi, serta terutama sekali sunggingan bibirnya seakan menunjukkan bahwa bibir itu tahu segalanya.

Nyai Demang bukan hanya menyadari kelebihan tubuhnya, akan tetapi juga menunjukkan mengetahui bagaimana mempergunakan kelebihan ini! Caranya berdiri menantang menunjukkan itu. Walau tubuhnya tertutup rapat oleh kain, akan tetapi jelas menunjukkan apa di balik yang ditutupi.

“Tidak, Nyai. Aku menyukai caramu.”

“Pasti sudah lama Baginda tidak bertemu wanita seperti saya. Yang berani menantang sorot mata Paduka. Yang berdiri di depan Baginda dengan kedua tangan terkembang. Malam ini Baginda akan menemukan kenyataan dari segala impian yang paling liar sekalipun.”

“Oho, kamu tahu apa yang dikehendaki seorang lelaki.”

“Saya dibesarkan dan mengenal dunia dengan cara itu.”

“Apa benar yang dikatakan orang selama ini, bahwa Nyai Demang mampu membuat surga di langit muncul di bumi?”

“Baginda akan segera membuktikan sendiri. Malam ini kamar terkunci, tak akan ada yang mengganggu. Tak ada yang mengusik. Baginda bisa memuaskan seluruh hasrat badani secara tuntas. Demikian juga saya.”

“Aha, kamu ingin mengelap keringat Raja junjunganmu?”

“Di mana Baginda menghendaki? Di ranjang pelaminan, di lantai ini? Dengan cara apa Baginda minta dilayani? Apa yang ingin saya bersihkan? Keringat? Atau tulang sumsum?”

Baginda agak kaget mendengar ucapan Nyai Demang. Ini bukan liar. Ini kasar.

Nyai Demang tertawa. “Baginda, malam ini saya ada alasan untuk membalas semua dendam yang ada. Bersiaplah.”

Baginda meloncat dari ranjang.

“Ambil senjata trisula yang menjadi andalan. Akan saya buktikan apakah Baginda masih bisa bermain silat atau tenggelam dalam pelukan wanita dan makanan enak.”

“Nyai Demang, lancang mulutmu.”

“Akan lebih lancang lagi tanganku ini. Ketahuilah, bahwa semua ini aku lakukan karena kamu terlalu menghina wanita. Baginda kira aku ini wanita macam apa sehingga bisa memerintahkan memanggil dan menyuruh melayani? Aku mengenal banyak lelaki, tetapi ini yang paling kasar. Yang tak punya perasaan sama sekali. Untuk ini aku akan mencekik batang leher Baginda di mana pun adanya! Yang kedua, pembalasan dendam karena Baginda telah menyebabkan Adimas Upasara Wulung, ksatria tulen yang berbakti pada Keraton, menjadi cacat seumur hidup. Untuk ini akan kubalas dengan membuat Baginda sama malu dan hinanya. Akan kuperlihatkan pada semua penduduk dengan menenteng Baginda dalam keadaan tanpa busana. Bersiaplah, Baginda. Saya bisa melaksanakan lebih baik selama Baginda mencumbu. Akan tetapi saya tak ingin mengambil keuntungan dari cara seperti itu. Saya yang Baginda anggap wanita rendahan, masih mempunyai jiwa ksatria untuk menantang secara perwira.”

Baginda tak menduga, tak menyana.

“Kalaupun terjadi gedubrakan di ruangan ini, Halayudha tak akan masuk. Ia menduga kita berdua terlibat asmara badani.”

“Tunggu, aku belum lagi bicara.”

“Aku tak butuh kata-kata yang selalu dianggap benar.”

Nyai Demang meloncat tinggi, tangan kanan terjulur ke arah leher Baginda, yang segera menghindar. Meleset tangan kanan, tangan kiri ganti membetot ke arah bawah, disertai gerakan kedua seolah menyapit pinggang untuk dilipat habis. Hebat gerakan Nyai Demang yang dibakar amarah. Dengan membalikkan tubuh secara cepat, terlihat kegesitan yang masih unggul. Bahkan kain, yang kelihatan membelenggu, ternyata tidak menghalangi gerakannya.

Tak ada jalan lain bagi Baginda selain meloncat mundur. Meloncati ranjang. Justru itu yang diharapkan Nyai Demang. Begitu lawan bergerak mundur, Nyai Demang meloncat ke tengah ranjang, menotol kakinya untuk setengah terbang. Di angkasa, kedua kaki Nyai Demang menendang wajah Baginda! Hanya Nyai Demang yang bisa melakukan itu. Hanya Nyai Demang yang tega berbuat dengan gerakan tendangan ke wajah rajanya!

Kalau tadi Baginda mengagumi kaki dan betis Nyai Demang, kini merasa kehormatannya seperti dibedaki dengan lumpur. Baginda menggerung keras. Dua tangan melindungi kepala, dan sekaligus menangkap kaki Nyai Demang. Satu kaki terbetot dan bisa dipuntir, tapi kaki yang lain, persis bagian tungkai, mengancam bibir Baginda. Tak ada cara lain, selain melepaskan cekalan dan mundur lagi. Kesiuran kaki beberapa jari di depan wajah membuat Baginda jengah, marah, dan terhina!

“Inikah jurus Kemenangan Gemilang?”

Nyai Demang bukan saja berhasil memojokkan Baginda yang berdiri di lantai sementara Nyai Demang sendiri bertolak pinggang di atas ranjang. Tetapi juga memojokkan Baginda dengan kata-kata hinaan. Apa yang dikatakan Nyai Demang tentang jurus Kemenangan Gemilang adalah unsur rajasa, yang artinya mengubah suasana gelap menjadi terang-benderang akibat kemenangan yang gemilang. Seperti diketahui unsur rajasa ini sekaligus menjadi nama gelar Baginda sewaktu dinobatkan menjadi raja.

“Mana lagi, ayo tunjukkan padaku Kemenangan Lahir-Batin yang kau andalkan.”

Nyai Demang memancing dengan gerakan menyerang bagian bawah tubuh Baginda. Karena ia berada di atas ranjang, gerakan ini dengan sendirinya dibarengi dengan menjatuhkan dirinya. Baginda tak bisa mundur lebih jauh, terpaksa menangkis dengan kedua tangannya. Kalau mungkin meloncati tubuh Nyai Demang untuk bisa menyelamatkan diri.

Nyai Demang sangat cerdik memaksa Baginda mengeluarkan unsur kerta, yang berarti memperbaiki kehidupan, mengubah kekacauan menjadi ketertiban, yang dikatakan oleh Nyai Demang dengan sebutan Kemenangan Lahir-Batin. Kehebatan Nyai Demang terutama sekali karena dengan sangat ringan bisa memaksa lawan mengeluarkan jurus-jurus seperti yang dikatakan.

Hal ini sebenarnya bukan karena Nyai Demang menguasai dengan sempurna jurus-jurus andalan dalam ilmu Kerta Rajasa Jaya Wardhana. Nyai Demang sebenarnya lebih menguasai secara teori. Dan itu memang kelebihannya yang sulit ditandingi. Karena kemampuannya menangkap bahasa dan daya ingatnya memang luar biasa.

Meleset dari cengkeraman, Nyai Demang malah tertawa gembira, tubuhnya bergulung di lantai, berputar, dan begitu kakinya menjejak dinding, tubuh itu meluncur di bawah ranjang, mencoba menangkap kaki Baginda.

“Mana Kemenangan Sempurna yang kamu andalkan?”

Sekali lagi Baginda dipaksa untuk mengeluarkan unsur jaya, atau kemenangan dalam pertempuran. Karena diserang dari bawah, sekali lagi tubuhnya terpaksa melayang ke atas. Ini berarti masuk perangkap Nyai Demang. Jurus berikutnya sudah didikte dan disiapkan! Bahaya.

Aji Sirep Laron

PERANGKAP Nyai Demang sungguh maut! Baginda bukannya tak mengetahui, tetapi tak bisa berbuat banyak selain memang melayang ke atas. Hanya saja unsur jaya biasa dimainkan memakai senjata trisula muka, alias tombak berujung tiga. Berarti kekuatan untuk menopang loncatan ke atas bertumpu pada tombak. Baginda agak kikuk karena justru tak memegang senjata andalannya. Kaki kiri yang dipakai untuk menjejak, hanya seperempat tenaga! Karena tiga perempat kekuatan dipinjam dari entakan trisula muka! Dengan demikian loncatannya tak bisa tinggi.

Dengan begitu, Nyai Demang bisa memaksa jurus dari unsur wardhana, jurus yang paling lembut, karena berintikan kesejahteraan. Saat itulah Nyai Demang siap untuk menghancurkan Baginda. Menangkap kaki, dan bisa menekuk. Dan selanjutnya, sejarah bisa menjadi lain sama sekali! Seorang raja yang berkuasa dipecundangi Nyai Demang dalam kamar peraduan...

BAGIAN 15CERSIL LAINNYABAGIAN 17

Senopati Pamungkas Bagian 16

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 16

Padmamuka juga tak mempunyai teman dekat karena tubuhnya yang ganjil. Jadilah mereka berdua sahabat yang tak saling meninggalkan. Meskipun banyak kabar yang tidak menyenangkan mengenai hubungan mereka, namun Dewa Maut dan Padmamuka tak peduli. Sampai suatu peristiwa membuat Padmamuka terkubur dalam Gua Lawang Sewu, dan racunnya pindah ke tubuh Gendhuk Tri. Sejak itu Dewa Maut selalu memanggil Gendhuk Tri dengan sebutan Tole, sebutan untuk anak laki-laki yang dulu merupakan panggilan Padmamuka. Hanya karena Dewa Maut hilang akalnya, hal ini tidak menjadi masalah. Gendhuk Tri malah dengan senang hati mempermainkan.

Namun persoalannya menjadi lain kalau itu dipakai sebagai bahan olok-olok oleh Nyai Demang. Padahal yang dikatakan Nyai Demang tak lebih menyakitkan daripada olok-olok Gendhuk Tri. Hanya Nyai Demang bisa menguasai kemarahannya. Sementara usia Gendhuk Tri masih dalam tahap usia semengit. Usia yang sangat peka bila dihubungkan dengan soal perjodohan. Maka Gendhuk Tri langsung menyerang.

"Dari dulu ilmunya tak tambah maju. Masih begitu-begitu saja."

Dua selendang Gendhuk Tri menyambar secara bersamaan. Selendang dari arah kiri dan kanan ini disusul dengan selendang kedua. Empat selendang menyambar atas-bawah, kiri-kanan. Nyai Demang tertawa dingin.

"Kasihan Mpu Raganata. Beliau mempunyai murid kesasar. Kalau jadi penari akan lebih baik. Meskipun sebagai penari tetap tak menarik hati laki-laki."

Dengan begitu keduanya terlibat dalam latihan yang sama-sama menguntungkan. Nyai Demang bisa mengatakan apa-apa yang diketahui, sementara Gendhuk Tri bisa berlatih keras.

"Ayo belajar baik-baik. Aku tak punya banyak waktu melayani kamu. Sebentar lagi saat bulan purnama aku akan memenuhi undangan."

Daya Asmara

KALAU Gendhuk Tri tak terpengaruh dengan ucapan "memenuhi undangan saat bulan purnama", Galih Kaliki jadi kelabakan.

"Undangan ke mana, Nyai?"

"Sayang kamu tak boleh ikut."

"Aku hanya bertanya."

"Tak boleh tahu."

"Kalau begitu, siapa yang mengundang?"

"Tak tahu malu!"

Gendhuk Tri yang berteriak saking jengkelnya. Sebagai gadis yang baru menanjak remaja, ia tak habis pikir bagaimana Galih Kaliki yang telah saling mengangkat saudara dengan Upasara Wulung bisa selalu dipermainkan oleh Nyai Demang. Kadang Gendhuk Tri sangat kasihan kepada Galih Kaliki dan ingin menolongnya, akan tetapi selalu terjadi salah paham.

"Katakan, Nyai, katakan. Aku mau melakukan apa saja asal kamu mengatakan. Aku berjanji tak akan ikut bersamamu."

"Baik. Kamu harus melatih Gendhuk kecil ini sebagai syaratnya."

"Baik, baik. Ke mana dan diundang siapa, Nyai?"

"Ke arah selatan diundang oleh setan."

Jelas bahwa Nyai Demang menjawab asal-asalan. Akan tetapi yang membuat Gendhuk Tri lebih jengkel ialah karena Galih Kaliki mengangguk-angguk. Puas seperti anak kecil dituruti permintaannya.

"Boleh bertanya lagi, Nyai?"

"Tidak."

"Nyai, aku..."

"Aku sudah bilang tidak."

"Ya, Nyai."

Karena kesal, Gendhuk Tri segera meninggalkan gelanggang. Kalau sudah begitu, Wilanda atau Jaghana yang akan menghibur. Kadang salah satu, kadang keduanya.

"Itulah daya asmara. Suatu kali kamu akan mengalami sendiri. Atau malah kamu sudah merasakan sekarang ini. Daya asmara memang menjadikan dunia ini aneh, tak bisa dimengerti. Sesungguhnya ini hanya salah satu godaan yang diciptakan Dewa yang Menguasai Jagat."

"Paman Jaghana juga mengalami daya asmara?"

"Sejak kecil saya dibesarkan di daerah ini. Daya asmara yang saya miliki ada-lah asmara alam. Mencintai tumbuhan dengan semua penghuni dan anginnya."

"Paman, apakah daya asmara itu yang menguasai Kakang Upasara?"

Jaghana nggragap. Sama sekali tak menduga ada pertanyaan yang membuatnya tersudut. "Kenapa tiba-tiba kamu tanyakan hal itu?"

"Karena Kakang Upasara seperti orang linglung. Seperti sikap Paman Galih Kaliki."

"Di mana linglungnya?"

"Paman tahu sendiri. Kita semua masih mempelajari ilmu silat, masih bercakap-cakap tentang hal itu ketika kemudian Kakang muncul lagi dan mengatakan tak ada gunanya menambah permusuhan. Itu dikatakan setelah mendengar kabar bahwa Gayatri diculik. Iya kan, Paman?"

Jaghana menunduk.

"Paman berjanji tak berdusta. Katakan, Paman."

"Saya tidak tahu apa yang terjadi di hati Upasara."

"Apakah Kakang Upasara masih mencintai Gayatri? Masih menyimpan daya asmara?"

"Saya tidak tahu, Gendhuk. Yang saya tahu Anakmas Upasara tidak mau menemui Permaisuri."

"Baik, baik. Kalau Kakang tidak mau menemui secara langsung, akan tetapi membebaskan, apakah itu bukan karena daya asmara? Itu yang saya ingin tahu." Gendhuk Tri cukup cerdas untuk memojokkan Jaghana.

"Rasanya saya makin tidak tahu. Kalau benar begitu, kamu juga tak perlu merasa sia-sia. Misalnya kamu terkena daya asmara Anakmas."

"Ngawur!" Gendhuk Tri berteriak mengguntur. Suaranya melengking, bercampur antara kejengkelan dan rasa malu.

Tetapi Jaghana justru menyadari bahwa apa yang ditanyakan Gendhuk Tri tadi beralasan. Daya asmara tidak mau bertemu dengan Permaisuri, senada nilainya dengan teriakan "ngawur".

"Kita sesama penghuni Perguruan Awan saling berjanji tidak mendustai dan menyembunyikan perasaan kita, Gendhuk."

"Saya mengatakan apa adanya, Paman."

"Betul begitu?"

"Kalau tidak, kenapa?" Hati Gendhuk Tri mulai goyah.

"Tidak ada apa-apa. Bagimu dan bagi Anakmas, tak ada halangan untuk terjalinnya daya asmara."

Gendhuk Tri menunduk. Lalu memandang ke arah lain. Menyembunyikan wajahnya yang menjadi merah. Pori-pori semua kulitnya mengembang, darahnya mengalir secara aneh sekali. Seakan berbenturan, tidak seperti biasanya. Dadanya jadi sesak.

"Tidak ada halangan karena tidak menyalahi kehendak alam."

"Tidak, Paman. Hati Kakang telah tertumpah kepada perempuan Keraton yang menjadi istri keempat Baginda."

Jaghana menghela napas. "Kamu salah mengerti."

Gendhuk Tri memandang Jaghana.

"Kamu salah mengerti tentang daya asmara, Gendhuk. Di dunia ini diciptakan daya asmara untuk mencintai manusia lain, untuk mencintai alam, untuk mencintai Dewa yang Maha Berdaya Asmara. Itulah sebabnya daya asmara adalah daya yang membuat bahagia. Seperti Galih Kaliki. Barangkali kamu menganggap kasihan, menganggap dipermainkan, akan tetapi itu semua tak mengurangi kebahagiaannya. Kalau Anakmas Upasara mempunyai daya asmara kepada Permaisuri atau sebaliknya, itu tak mengurangi kebahagiaan keduanya. Walau tidak bersanding. Jangan salah terima, anak manis. Pamanmu hanya ingin menjelaskan bahwa kalau kamu mempunyai daya asmara, kamu seharusnya bergembira. Bisa berbahagia. Contoh yang saya kemukakan tadi bukan betul-betul Anakmas mempunyai daya asmara dengan Permaisuri Gayatri dan atau sebaliknya."

Dengan penuh kebapakan Jaghana menenteramkan hati Gendhuk Tri. Cara pendekatan yang dengan jitu mendinginkan hati Gendhuk Tri yang mulai membara.

"Adalah janji kita ketika bersama di dalam Perguruan Awan, bahwa kita harus selalu bisa jujur, mengatakan apa adanya."

"Terima kasih, Paman. Tetapi jangan tanyakan daya asmara saya dengan Kakang."

"Tidak, kalau kamu tidak menghendaki."

Gendhuk Tri menghela napas. "Paman bisa menjelaskan mengenai daya asmara, apakah berarti Paman dulu pernah mempunyai kekasih?"

"Pamanmu sudah menjawab, anak manis. Daya asmara adalah daya yang seharusnya membuat bahagia. Menjadikan kita bahagia melihat kebahagiaan pada yang kita cintai. Kalau tetumbuhan dan isinya di Perguruan Awan ini bahagia, saya juga bahagia."

Gendhuk Tri mengangguk. "Mengenai hal itu saya tidak ragu, Paman."

"Lalu kenapa?"

"Paman selalu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Selalu berusaha menyenangkan. Apakah kata-kata Paman ini juga untuk menyenangkan dan menghibur belaka?"

"Anak manis, kamu tidak ingin mengatakan bahwa pamanmu yang gundul ini berlaku tidak jujur padamu?"

"Sama sekali tidak," Gendhuk Tri cepat memotong. "Mana mungkin saya meragukan Paman? Kakang Upasara saya ragukan, tetapi kalau Paman Jaghana, dalam mimpi pun saya tak berani."

Jaghana menepuk pundak Gendhuk Tri.

"Paman, kira-kira ke mana Nyai Demang pergi?"

Di depan Nyai Demang, Gendhuk Tri mungkin akan menyebut Kakangmbok, tetapi tidak ketika membicarakan.

"Itu urusannya sendiri."

"Ya, akan tetapi Kakang kelihatannya lebih banyak bicara kalau ada Nyai Demang."

Jaghana mengakui dalam hati.

"Jangan-jangan Kakang masih menyimpan daya asmara kepada nyai genit itu."

"Ah, semua wanita bisa kamu cemburui."

"Saya tidak cemburu!"

Gendhuk Tri sekali lagi tak bisa menyembunyikan desir aneh di pembuluh darahnya. Akan tetapi Jaghana sendiri bertanya-tanya dalam hati. Hanya tidak diutarakan seperti Galih Kaliki atau Gendhuk Tri. Bukan hanya karena kidungan Nyai Demang menghibur Upasara, akan tetapi terutama karena Nyai Demang memang perlu dikuatirkan. Pemujaan-nya kepada daya asmara yang berlebihan bisa menyeretnya ke dalam berbagai petualangan yang membahayakan. Apalagi kalau diketahui undangan itu berasal dari Keraton.

Sambutan Kemenangan

SEBELUM Nyai Demang datang ke Keraton, rombongan yang pertama kali datang adalah Mpu Nambi. Yang kemudian disusul oleh Adipati Lawe. Keduanya tidak menduga sama sekali bahwa ketika memasuki wilayah Keraton, para prajurit Keraton berjajar di pinggir jalan masuk. Bahkan terdengar bunyi genderang penyambutan, dan taburan bunga!

Adipati Lawe merasa risi dan jengah sendiri. Akan tetapi tak bisa lain, selain mempercepat langkah kudanya. Dan di halaman Keraton sambutan lebih meriah. Ada barisan penari yang membasuh kaki Adipati Lawe dan Mpu Nambi.

"Tongkring," kata Adipati Lawe lirih. "Apakah prajurit Keraton kurang pekerjaan sehingga setiap hari hanya latihan menghamburkan kekayaan negara?"

Adipati Lawe tak peduli kata-katanya membuat yang mendengar merah telinganya. Termasuk Senopati Halayudha yang selalu menyunggingkan senyuman di bibirnya dan di seluruh sikap penampilannya.

"Maafkan, kami hanya menjalankan dawuh Baginda. Namun menurut pendapat saya yang masih picik ini, sambutan kemenangan adalah wajar. Bagi Adipati Lawe, memenangkan perang atau menyelesaikan tugas di medan laga adalah hal biasa, tetapi bagi Keraton, ini adalah tiang-tiang yang membuat bangunan Keraton mencuat ke langit. Silakan beristirahat. Dalam satu-dua hari ini Baginda Raja berkenan menerima para pahlawan yang pulang dari medan perang."

Lembut kalimatnya, merdu suaranya, akan tetapi Mpu Nambi jadi bergidik. Pikirannya masih diliputi teka-teki ketika menuju tempat istirahat. Sebagai pimpinan telik sandi, Mpu Nambi sangat mengetahui seluk-beluk Keraton. Mengetahui dengan gamblang lalu lintas kekuasaan. Tahu dengan pasti di mana posisi Senopati Halayudha.

Senopati Halayudha, walau tidak membawahkan kelompok prajurit yang bisa digerakkan, akan tetapi sangat dekat hubungannya dengan Baginda Raja. Kalau Mpu Nambi ingin menghadap Baginda, selalu bertemu dengan Halayudha lebih dulu. Halayudha kemudian melapor ke Baginda Raja, dan menyampaikan berita apakah Baginda Raja berkenan menerima saat itu atau saat yang lain.

Sejauh ini Mpu Nambi mengetahui bahwa Halayudha tak memiliki ilmu silat yang tinggi. Salah satu ilmu andalannya ialah ilmu Bajak Perang, yang kemudian dipakai sebagai namanya. Hala berarti bajak, dan yudha bisa diartikan perang. Mpu Nambi tidak memperhitungkan ketinggian ilmu silat Halayudha, karena selama ini hampir tidak pernah melihatnya berlatih atau memamerkan kelihaiannya. Bahkan semasa penyerangan ke pasukan Tartar atau ketika menggempur Singasari, peranan Halayudha tak terlalu menonjol. Hanya karena posisinya selalu menjadi bayangan Baginda Raja, diam-diam Mpu Nambi memperhitungkan dan berhati-hati.

Berbeda dari Adipati Lawe yang sama sekali tak menganggap sebagai tokoh yang perlu diperhitungkan. Bagi Adipati Lawe, kejantanan atau keksatriaan seseorang dinilai dari kemampuan memainkan senjata, membuktikan ilmu silat. Senopati dinilai dari "kerasnya tulang, uletnya kulit", bukan dari senyum dan keramahan.

Sewaktu rombongan Mpu Sora datang bersama Senopati Anabrang, sambutan kemenangan terulang kembali. Dan dengan senyum yang tegar, Halayudha menyambut dan kembali menceritakan bahwa ini semua kehendak Baginda, sebagai abdi ia hanya menjalankan perintah, dan meminta mereka beristirahat, karena Baginda Raja akan mengadakan pasewakan agung, atau pertemuan besar.

"Senopati Sora telah bekerja keras, maka biarlah saya yang mengantar Permaisuri Agung Rajapatni. Silakan, Senopati Sora, Senopati Renteng, beristirahat dengan tenang. Demikian juga Senopati Anabrang yang perkasa. Saya pribadi memohon maaf jika sambutan ini kurang menyenangkan. Ini tanggung jawab saya yang tidak becus meneruskan dawuh, perintah, Baginda."

Mpu Sora mengangguk. Bersama Mpu Renteng mereka berdua berpisah dengan Senopati Anabrang yang mendapat tempat istirahat yang berbeda.

"Telah banyak berubah Keraton ini, Kakang." Suara Mpu Renteng membuat Mpu Sora, yang tengah duduk bersila menikmati air putih seperti kebiasaannya selama ini, kembali mengangguk.

"Baginda Raja ingin berbuat baik. Membalas budi dan jasa prajuritnya. Semua mempunyai tugas dan wewenang."

"Kakang Sora, maafkan pikiran saya yang masih dangkal ini. Namun rasanya sambutan ini agak mengada-ada."

"Mungkin juga, biar Halayudha mempunyai sesuatu yang dilakukan. Mungkin juga tidak. Zaman ini bukan lagi zaman peperangan. Yang dulu tak mengenal sambutan kemenangan semacam ini."

"Mudah-mudahan begitu, Kakang Sora."

"Ada pikiran apa, Kakang Renteng?"

"Saya tak bisa mengurangi sifat buruk saya, selalu curiga. Saya mencium ada bau yang kurang enak. Bau yang kelewat wangi."

"Karena kita biasa mencium bau tanah dan darah selama ini. Tetapi saya juga merasa bahwa Keraton sekarang ditata dengan sangat apik."

"Bukan hanya itu, Kakang. Kenapa kita tak diizinkan membawa Permaisuri langsung ke dalam?"

Mpu Sora menggeleng. "Sudahlah, Kakang. Kita tidak usah terlalu memikirkan hal itu. Sekarang bukan zaman peperangan seperti dulu, sehingga kita mengurus sendiri semuanya. Sekarang tugas sudah dibagi-bagi."

"Berarti akan lebih banyak jalan yang harus dilewati."

"Berarti makin tertib, makin baik."

"Mudah-mudahan begitu."

Pertanyaan yang sama juga tergema dalam sudut hati Senopati Anabrang. Senopati yang pernah menjelajah samudra luas merasa bahwa mulai banyak tatanan yang membuatnya tidak enak. Selama berada dalam tempat peristirahatan, ada yang melayani. Prajurit-prajuritnya juga mendapat pelayanan yang sangat bagus. Ini berarti banyak tenaga yang dipekerjakan. Berarti banyak pengeluaran, sesuatu yang dulu tidak dikehendaki Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya upacara-upacara yang bersifat keagamaan yang dirayakan. Selebihnya, semua dana yang ada disalurkan untuk keprajuritan yang murni. Untuk latihan dan persenjataan.

Hal ini yang justru dipertontonkan oleh Adipati Lawe! Adipati yang tak sabaran ini melatih para prajuritnya di alun-alun depan gerbang Keraton. Dengan gagah perkasa Adipati Lawe berdiri di atas kuda hitamnya. Memacu mengelilingi alun-alun, sesekali meloncat ke tanah, mumbul ke atas, dan tetap hinggap kembali dengan enteng di punggung kudanya. Kadang dengan satu kaki, kadang dengan tubuh terbalik. Tangannya yang dipakai sebagai tumpuan. Para prajurit Tuban juga berlatih keras. Menyusun barisan menyerang, bertahan, mengepung. Adipati Lawe sendiri yang menjadi sasaran latihan. Dikeroyok secara beramai-ramai.

Tentu saja ini menjadi tontonan yang menyenangkan bagi masyarakat sekitar. Sorak-sorai terdengar mulai sore hingga malam hari. Sementara sorak-sorai kekaguman terdengar riuh, Mpu Sora justru merasa kuatir. Menguatirkan bahwa tindakan keponakannya ini seperti memasang layar lebar saat mengetahui bakal ada angin keras bertiup.

Halayudha sendiri sudah mengatakan bahwa Baginda akan mengadakan pasewakan agung. Pertemuan besar ini bisa dipastikan akan membicarakan mengenai jabatan mahapatih yang sampai saat ini masih tetap kosong, karena Upasara Wulung menolak secara halus. Yang dicemaskan oleh Mpu Sora ialah jika tindakan Adipati Lawe ditafsirkan sebagai demonstrasi keperwiraan agar dipilih menjadi mahapatih!

Dalam situasi yang serba menunggu, segala apa bisa terjadi! Padahal Mpu Sora yakin bahwa keponakannya ini tidak mempunyai ambisi dalam soal pangkat dan derajat, terutama untuk dirinya sendiri. Perkiraan Mpu Sora tidak terlalu meleset.

Senopati Anabrang merasa gusar. Justru karena Adipati Lawe dengan sengaja memamerkan kemampuannya bermain dengan dua pedang. Bukan dengan rantai senjata andalannya. Selama ini semua mengetahui bahwa permainan sepasang pedang adalah ciri utamanya.

"Kami mengetahui hal itu, Senopati Anabrang yang digdaya," kata Halayudha ketika menemui. "Akan tetapi saya tak bisa melarang atau meminta jangan memperlihatkan itu. Saya ini seorang abdi biasa. Pangkat senopati yang dianugerahkan Baginda, hanyalah pangkat kehormatan. Bukan karena saya benar-benar seorang senopati perang. Maafkan kalau selama menunggu ini ada peristiwa yang kurang menyenangkan. Saya tak bisa lain hanya menunggu dawuh Baginda. Hanya bisa menunggu. Namun kalau pelayanan selama istirahat ini kurang menyenangkan, itu tanggung jawab saya. Mohon diberitahu di mana kurangnya, Senopati."

Rerasan Dua Permaisuri

SEBENARNYA di kaputren, tempat para putri, juga terasakan suasana tak menentu. Sejak diiringkan oleh Senopati Halayudha, Permaisuri Rajapatni berdiam diri. Sediaan bunga tujuh rupa tujuh warna untuk mandi, segala ramuan untuk tubuh dan keramas, sama sekali tak disentuh. Permaisuri Rajapatni mandi seperti biasa, tanpa upacara seperti layaknya. Lalu duduk merenung di dekat ranjangnya. Duduk bersila, dengan pandangan menunduk tak mau bertegur sapa.

Padahal sebagaimana kebiasaan, seorang—apalagi—permaisuri selalu menjaga kondisi tubuhnya secara sempurna. Karena ia adalah permaisuri, dan sewaktu-waktu Baginda Raja bisa datang atau memanggilnya. Seorang permaisuri pasti sudah keramas sangat bersih, dengan bau tubuh yang harum. Sudah dalam keadaan paling prima menerima panggilan Baginda Raja untuk berbakti. Dengan keramas dan mandi bunga tujuh rupa tujuh warna, berarti menyiapkan diri kalau nanti memperoleh keturunan adalah keturunan yang terbaik. Yang siapa tahu akan menggantikan takhta Keraton.

Tata cara menjaga kondisi tubuh yang sempurna, dari ujung kuku hingga ujung rambut, sangat diajarkan sejak dini. Sejak seorang anak gadis boleh bertempat tinggal dalam Keraton. Apalagi ini jelas-jelas permaisuri resmi. Akan tetapi nyatanya, Permaisuri Rajapatni tidak memedulikan semua itu. Bahkan makanan dan minuman sama sekali tak disentuhnya. Seakan siap menerima segala kemurkaan Baginda. Dan atau disingkirkan oleh Baginda, karena tidak melayani dengan baik.

Kabar bahwa Permaisuri Rajapatni bertapa membisu membuat Permaisuri Tribhuana datang menjenguk. Hatinya terguncang sedikit melihat kenekatan adiknya yang bungsu. Apalagi ketika Gayatri sama sekali tak menoleh atau mendongak.

"Wanita bisa sedih dan bisa gembira, karena ia manusia seperti yang lainnya. Akan tetapi seorang putri, apalagi permaisuri, tidak pantas menunjukkan perasaan seperti itu. Itu adalah sifat wanita biasa."

Tribhuana adalah putri sulung Baginda Raja Sri Kertanegara, yang dipermaisurikan Baginda Raja Sri Kertarajasa sewaktu masih bernama Raden Sanggrama Wijaya. Berbeda dari adik-adiknya, Tribhuana dikenal sangat cerdas, mengenal intrik dan seluk-beluk Keraton, pandai berbicara sehingga digelari mahalalila. Bukan sekali-dua Baginda meminta pertimbangan masalah politis kepada Tribhuana. Caranya bertutur kata sangat menyenangkan didengar telinga dan hati. Lebih dari itu semua, pendekatan yang dilakukan sering tepat dan mengena.

"Wanita biasa bisa tertawa hingga kelihatan giginya. Bisa menangis hingga sembap matanya. Bisa sedih hingga kurus, bisa gembrot karena terlalu banyak tidur dan makan enak. Wanita yang begini bisa menjadi permaisuri. Tapi pasti bukan seorang putri yang luhur budinya, putri yang mewarisi darah Baginda Raja Sri Kertanegara."

Disinggung nama ayahanda yang sangat dihormati, hati Gayatri yang keras jadi luntur. Helaan napasnya menandakan menerima kedatangan Tribhuana. Menandakan mau membuka hatinya untuk rerasan, untuk bertukar rasa.

"Nimas Ayu Gayatri adikku, kenapa kamu memilih bersedih dengan cara membunuh diri seperti ini? Apakah kamu tak mau melihat mbakyumu ini lagi? Apakah nama agung ayah kita tak mempunyai arti lagi bagimu?"

"Mbakyu Ayu Tribhuana yang pandai bertutur kata, mengapa Mbakyu Ayu mengganggu saya?"

"Aduh, Nimas Ayu, untuk apa aku datang kalau hanya untuk mengganggumu? Bagiku lebih senang duduk berharap Baginda datang. Hatiku lebih berbunga mendengar kau berduka. Karena dengan demikian, berkuranglah sainganku. Karena, meskipun kamu adik kandungku, kamu juga seteru, sainganku, dalam merebut kasih sayang Baginda. Tetapi kita putri Singasari terakhir dan terbesar sepanjang masa. Tak pernah memikirkan kepentingan pribadi dengan menginjak penderitaan orang lain. Pun andai orang lain itu bukan darah bukan daging yang sama. Kita dilahirkan sebagai putri Singasari yang agung. Keraton yang menyebarkan umbul-umbul ke seluruh penjuru jagat. Kita ditakdirkan menjadi permaisuri Majapahit yang agung. Keraton yang sedang dibangun untuk ketenteraman jagat. Dari semua wanita yang ada, hanya kita berempatlah yang dipilih Dewa Mahaagung untuk mengemban tugas mulia ini."

"Semua yang Mbakyu Ayu katakan tak satu patah pun keliru. Namun Mbakyu Ayu tak tahu bahwa..."

Tribhuana memandang bahagia. "Aku tahu, Nimas Ayu. Aku bisa mengerti kekecewaan dan keinginanmu yang terpendam. Aku tahu ketika Baginda mengirimkanmu ke Perguruan Awan. Aku tahu apa yang kira-kira terjadi di sana sehingga kamu membisu. Aku bisa mengerti dan tidak menyalahkanmu. Tetapi aku tak bisa membenarkanmu jika kau tunjukkan perasaanmu dengan cara wanita biasa."

Gayatri menunduk. Duka masih memeluk. "Mbakyu Ayu tidak mengetahui bahwa adikmu ini sudah bertemu Kangmas Upasara. Sudah dibebaskan dari tangan seorang penculik durhaka. Akan tetapi Kangmas Upasara tak mau bertemu denganku. Tak mau mengucapkan sepatah kata, tak mau mendengarkan sepatah kata pun."

"Senopati Pamungkas itu memang lelaki sejati. Ia tahu menjaga diri. Menjaga dirimu, Nimas Ayu."

"Mbakyu Ayu..."

"Biarlah mbakyumu ini menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Upasara Wulung adalah lelaki sejati. Karena ia menang dalam memperebutkan daya asmara darimu. Upasara Wulung adalah lelaki sejati. Karena ia menang dalam pertarungan daya asmara dalam dirinya. Apa susahnya untuk bertemu, bercakap, dan bersenang denganmu? Tak ada yang menghalangi. Tak ada yang mengetahui. Tetapi justru di saat seperti itu, lelaki sejati tak mau menodai kesucianmu. Tak mau menyeretmu ke dalam kubangan yang hina. Ia memenangkan kesucian di atas keserakahan dan kehendak manusia biasa. Upasara Wulung meluhurkan derajat kewanitaanmu. Nimas Ayu, terus terang mbakyumu iri padamu. Kamu memiliki tempat di sudut hatimu bagi seorang lelaki sejati. Yang juga menyediakan sudut hatinya bagi dirimu. Bukankah itu sangat membahagiakan? Nimas Ayu, kita ini putri Singasari dan juga permaisuri Majapahit. Ada jalan yang telah dibuat oleh Dewa yang Maha arif jauh sebelum kita dilahirkan. Kita tinggal menjalani dengan cara yang terbaik, sesuai dengan kodrat kita."

"Kangmas Upasara menolak menemuiku."

"Itu yang paling luhur."

"Kangmas Upasara menolak berbicara."

"Itu yang paling mulia."

"Kangmas Upasara menderita dan kini bukan apa-apa lagi."

"Itu yang paling suci."

"Kangmas Upasara telah mati!" Suara Gayatri meninggi.

"Itu yang paling sakti. Karena itulah lelaki sejati. Lelananging jagat. Hanya lelaki sejati yang menganggap daya asmara adalah sesuatu yang suci, dan harus disucikan. Penderitaan dan kematian hanyalah salah satu bukti."

"Mbakyu Ayu, kalau Kangmas bisa membuktikan asmara suci dengan mengorbankan diri, menghancurkan semua ilmunya, dan mungkin sekarang sudah mati. Dan apa yang kulakukan sekarang ini? Berseri bagai matahari, bercahaya bagai bulan purnama, duduk di sisi singgasana sebagai permaisuri Raja. Hidup enak tak kurang suatu apa. Apa kata sukma Kakang Upasara di alam sana? Putri seperti apa diri ini? Putri Singasari yang mendustai asmaranya sendiri."

"Nimas Ayu..."

"Gendhuk Tri masih lebih berharga dariku."

"Nimas Ayu..."

"Nyai Demang yang sangat hina masih lebih bermakna."

"Nimas Ayu... Dengarlah dan lihatlah. Berkacalah dari apa yang dilakukan Upasara Wulung. Ia mengorbankan segalanya bagimu. Ia bisa menjadi mahapatih yang bisa berdekatan denganmu. Tetapi batinnya tersiksa. Lebih dari itu ia tak ingin menyiksa batinmu, Nimas Ayu. Maka itu sebabnya ia menghancurkan dirinya. Dengan harapan kamu bisa lebih bahagia."

"Nyatanya tidak."

"Karena kamu tidak mau memenuhi keinginan Upasara."

Gayatri tertegun.

"Keinginan Upasara ialah kamu menjadi bahagia. Tapi kamu menyia-nyiakannya. Sungguh sayang, Nimas Ayu."

Darma Bekti Permaisuri

BATIN Gayatri tergetar. Semua pembuluh tubuhnya gemetar. Apa yang dikatakan Tribhuana benar. Upasara mengorbankan semua ini agar tidak mengganggu kebahagiaannya! Gayatri ingin menjerit bahwa sebenarnya ia tidak seperti yang diduga Upasara.

"Nimas Ayu, apakah kalau kamu bertapa bisu seperti ini, Upasara akan sembuh kembali? Akan hidup kembali? Tidak, lelaki yang mengorbankan segalanya bagimu itu justru kecewa. Menyesal dan nelangsa. Sukmanya tak tenang di alam sana."

"Mbakyu Ayu, apakah yang Mbakyu katakan benar adanya?"

"Apa yang kusembunyikan darimu? Di sini kita hanya berdua. Sejak kecil kita selalu bersama. Kita berempat, termasuk Mahadewi dan Jayendradewi. Kita berempat mendapat gemblengan yang sama dari Baginda Raja Singasari yang agung tiada tara. Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu? Kalau ada yang kuharapkan, hanyalah kita bisa berbakti sebagai permaisuri. Karena itulah kodrat kita yang sesungguhnya. Nimas Ayu, banyak cobaan atas diri kita. Upasara hanyalah percikan buih dari gelombang yang mencoba kita, yang menguji darah Singasari yang menurunkan kita ini. Masih ada gelombang pasang yang lebih mengguncang. Nimas Ayu sudah tahu, bahwa kepulangan Senopati Anabrang sebagai utusan Baginda Raja Sri Kertanegara membawa dua putri ayu sebagai persembahan. Dara Jingga dan Dara Petak. Dyah Dara Jingga, yang tua, sejak semula tak membuat Baginda berkenan sehingga dinikahkan dengan Mauliwarma Dewa. Sedangkan Dyah Dara Petak yang berkulit putih bagai susu, diambil sebagai permaisuri oleh Baginda Raja. Diberi gelar Permaisuri Indreswari. Lebih dari semua itu, Indreswari mendapat anugerah sebagai istri tinuheng pura. Artinya menjadi permaisuri yang dipertua di Keraton! Menjadi permaisuri utama! Duh, Dewa! Nimas Ayu, bagimu semua ini tak menjadi soal benar apa artinya. Tetapi sadarilah bahwa Dewa yang Maha Pencoba sedang mencoba umatnya! Nimas Ayu, lihatlah mbakyumu ini. Putri Singasari yang cantik jelita, yang mengetahui tata cara Keraton, yang paling sulung. Nimas Ayu, apa kurangku? Kenapa Baginda Raja justru mempermaisurikan wanita yang berkulit seperti susu? Apa kurangnya sebagai putri Sri Baginda Kertanegara yang mewarisi takhta sebagai kehormatan paling tinggi kepada Raden Sanggrama Wijaya? Siapa yang memberi kehormatan tertinggi ini? Apakah Indreswari? Bukan. Tetapi aku, Tribhuana! Hatiku merintih. Batinku menggugat. Aku tidak menghalangi Baginda mengambil wanita mana pun. Karena raja adalah penguasa tunggal yang dikodratkan untuk memimpin dan menguasai. Akan tetapi menjadikan Indreswari sebagai stri tinuheng pura, itu sama dengan menamparku. Sama saja dengan mencampakkanku! Aku lebih menderita dari kamu, Nimas Ayu. Karena aku mengemban tugas suci sebagai putri tertua Singasari, yang berkewajiban meneruskan pemegang takhta dari darahku sendiri. Nimas Ayu, aku juga bisa berbuat seperti kamu! Tetapi apa jadinya kalau aku berbuat seperti itu. Di mana wajah dan kehormatanku bila bertemu Baginda Raja Singasari di alam baka nanti? Aku menyadari ini semua. Aku adalah permaisuri. Dan tugas pertama permaisuri sebagai darma bekti utama adalah mengabdi kepada raja. Apa pun yang dikehendaki seorang raja, itulah yang terbaik baginya. Aku menerima Indreswari sebagai permaisuri utama. Dengan senyum dan anggukan di kaki Baginda. Sebab inilah darma bekti yang bisa kupersembahkan. Sebab inilah yang terbaik harus kutunjukkan."

Suara Tribhuana merendah dan menghilang. Terdengar helaan napas panjang. Berulang.

"Maafkan aku, Mbakyu Ayu."

Tak segera terdengar jawaban. Udara bertiup lamban. Helaan napas pun tertahan.

"Nimas Ayu, kita harus mengalahkan perasaan-perasaan seperti ini. Besar atau kecil, perasaan ini tak ada artinya bagi seorang raja. Seorang raja adalah seorang penguasa yang kiblatnya jagat. Apalah artinya perasaan-perasaan kita dibandingkan dengan perasaan Baginda yang mendapat panggilan Dewa untuk memerintah rakyatnya. Seorang raja bisa menjadi besar kalau ada yang bersedia berdarma bekti pada kebesarannya. Kita harus bahagia bisa menjalankan tugas luhur ini."

"Mbakyu Ayu, sungguh aku ini manusia yang paling tak berguna. Sampah yang dibuang pun tetap tak berarti apa-apa."

"Kebesaran Baginda adalah segalanya."

"Ya."

"Kebesaran Baginda adalah kebesaran Keraton."

"Ya."

"Kebesaran Keraton adalah kebesaran manusia."

"Ya."

"Kebesaran manusia seluruh tanah ini ditentukan Baginda."

"Ya."

"Nimas Ayu, apakah kita masih ragu mengorbankan sesuatu bagi kebesaran dan keharuman nama Keraton?"

Gayatri menggeleng lembut.

"Nimas Ayu, keramaslah yang baik. Mandilah dengan air suci. Kamulah Dewi Uma yang diramal para pendeta meneruskan pemegang takhta kebesaran di kelak kemudian hari. Kamulah yang bakal meneruskan darah Singasari. Darah biru Singasari yang akan menerangi jagat. Darah biru yang agung karena berani mengorbankan kepentingan pribadi."

"Aku mengerti, Mbakyu Ayu."

"Siapkan tubuhmu, siagakan batinmu. Akan datang saat kemenangan, setelah kita mengalahkan keinginan kita yang remeh. Akan datang saat terang, setelah kita mengalahkan kegelapan. Kalau Dewa yang Maha asih akan mempertemukan kamu dengan Upasara suatu hari nanti, apa pun yang terjadi sekarang ini tak bisa mengubah takdir. Saat itu kamu telah siap. Akan tetapi sekarang ini tak ada yang lain yang bisa kamu pikirkan selain mengabdi, selain mempersembahkan darma bekti. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda?"

Gayatri terhibur. Merasa bisa memandang lebih terang dan tidak kabur. Melihat lebih jauh ke depan.

Malam itu Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni kembali. Bersedia keramas, membersihkan badan hingga sangat bersih. Berdandan sebagaimana layaknya seorang permaisuri. Tegar bersama kakaknya Mahadewi, yang selama ini dikenal sebagai wanita sempurna dalam mengolah tubuh. Tegar bersama kakaknya Jayendradewi atau Permaisuri Pradnyaparamita yang memancarkan cahaya luhur dan agung seorang wanita.

Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni dan juga Dewi Uma yang siap menerima Baginda Raja yang akan menjadi Dewa Syiwa. Petuah dari Tribhuana bagai membuka mata batin yang selama ini terkunci rapat. Daya asmara yang masih merupakan titik bara di hatinya tak akan berkurang maknanya kalau ia menjadi permaisuri yang tulus dan berbakti. Upasara Wulung telah tercatat dan tergores di hatinya. Tak akan pernah bisa dicuci bersih, tak akan pernah hilang, walau tidak terlihat di permukaan.

Apa yang dikatakan Tribhuana benar sekali. Di antara putri-putri Singasari, hanya kepadanyalah Baginda menunjukkan kasih sayang secara lebih. Bahkan pasti dengan sangat berat hati melepaskan pergi ke Perguruan Awan. Kalau mengikuti kehendak pribadi, Baginda tak akan melepaskan dirinya. Akan tetapi seperti dikatakan Tribhuana, seorang raja berpikir seribu kali lebih jauh, seribu kali lebih bijaksana. Bahkan permaisuri yang paling disayangi pun rela dilepaskan. Sejak malam itu, bagi Permaisuri Rajapatni, Baginda Raja yang memegang kebenaran. Pikirannya menyatu, dan membuatnya bahagia. Wajahnya bersinar kembali. Itu yang terlihat ketika menjemput Baginda.

Senopati Halayudha memberitahu bahwa Baginda minta dijemput. Maka Permaisuri Rajapatni datang ke kamar Baginda Raja dengan segala darma bekti yang dimiliki. Akan diserahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya untuk kebesaran Baginda. Sewaktu memasuki kamar pribadi yang luas, Permaisuri Rajapatni tetap bersinar wajahnya. Tak menunjukkan rasa herannya walau di tempat itu ada ketiga kakaknya, serta Permaisuri Indreswari. Biasanya, kalau Baginda Raja sedang sendirian. Atau kadang langsung mengunjungi ke kaputren.

Anak Kucing Tak Bakal Jadi Harimau

BAGINDA RAJA KERTARAJASA bangkit dari pelaminan. Sejenak disapunya dengan pandangan ringan kelima permaisurinya yang bersila menunduk di lantai. Lalu berjalan mengitari ruangan. Suaranya terdengar datar.

"Kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa kukumpulkan secara bersama di ruang ini. Sementara para senopati yang justru sedang menunggu-nunggu kubiarkan di luar. Aku tahu semua yang kalian pikirkan. Aku tahu semua yang para senopati pikirkan. Aku ingin memperlihatkan diri bahwa akulah sesungguhnya raja yang paling berkuasa. Yang bisa membuat mereka semua menunggu sampai tua dan loyo. Akulah yang berkuasa, dan tunggal. Tak bisa dipaksa dan dipermainkan siapa pun. Termasuk kalian semua."

Kelima permaisuri makin menunduk.

"Tak akan ada lagi yang berani membantah perintahku. Tak akan ada lagi yang menyangsikan bahwa akulah raja yang sesungguhnya. Yang ditunjuk dan direstui Dewa yang Maha Berkuasa. Tak akan ada yang ragu. Karena yang ragu akan musnah jadi debu. Apakah itu Upasara atau bahkan permaisuriku sendiri."

Gayatri menunduk. Telinganya seperti mendengar panah berdesing.

"Apa yang dibanggakan Upasara telah musnah. Apa yang dicari semua ksatria dan para pendeta ada di tanganku."

Baginda menunjukkan peti, dan membuka isinya.

"Inilah Kitab Bumi yang utuh. Berisi dua puluh kidungan yang selalu diperebutkan. Aku yang menguasai. Mulai hari ini secara resmi, semua sudah berada dalam genggamanku. Aku tahu selama ini terdengar banyak omongan yang tidak becus. Yang sengaja untuk memancing kemarahanku. Salah satunya kenapa aku tidak segera mengangkat mahapatih, yang menjadi tangan kananku. Mereka semua, juga kalian, tak bisa memaksaku."

Permaisuri Tribhuana merasakan bahwa justru di balik kata-kata yang gagah itu, Baginda sedang menenggelamkan rasa gelisah.

"Aku bisa menentukan siapa saja menjadi mahapatih. Bahkan kalian permaisuriku, kalau aku berkenan, bisa terjadi. Siapa pun tak ada yang bisa menghalangi. Aku mendengar suara-suara bahwa disebut nama-nama Nambi, Sora, Lawe, Kuti, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, Yuyu, dan entah siapa lagi. Dengan mata tertutup pun aku bisa memilih salah seorang di antara mereka. Atau yang lain sama sekali. Mereka adalah rakyat jelata. Yang tadinya hanya bisa membalik tanah menjadi sawah. Akulah yang mengangkat mereka dengan derajat dan pangkat. Memberikan kehormatan yang seumur hidup mereka tak pernah diperoleh. Mereka hanyalah cemeng dan bukan gogor. Sejak lahir sebagai cemeng besarnya tetap akan menjadi kucing. Sakti seperti apa pun, tetap seekor kucing. Tak akan bisa menjadi harimau. Hanya gogor yang bisa menjadi harimau. Akulah dulu gogor, anak harimau yang tetap tak bisa menjadi kucing. Inilah bedanya antara seorang raja dan bukan raja. Kelak kalian inilah yang akan melahirkan gogor, yang akan meneruskan takhta dan kebesaran Keraton ini. Bukan para senopati.”

Baginda menghela napas. “Bagaimana pendapatmu, Tribhuana?”

“Segala apa yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Kamu yang mengerti tentang tata Keraton tentu lebih mengerti bahwa seorang raja tidak perlu menanyai permaisurinya untuk masalah seperti ini. Tetapi aku bisa melakukan. Mahadewi, apa pendapatmu?”

“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Seekor anak kucing tetap berbeda dan tak akan menjadi anak harimau. Takdir dari Dewa yang Maha Penentu sejak dulu sudah membedakan itu. Bagaimana pendapatmu, Jayendradewi?”

“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Siapa yang pantas menjadi mahapatih menurut pendapatmu, Gayatri?”

Gayatri menghaturkan sembah, seperti kakak-kakaknya, sebelum menjawab pertanyaan Baginda. “Segala yang Baginda katakan, menjadi benar adanya.”

Sejenak Baginda terdiam. “Apa maksudmu?”

Gayatri menyembah lagi. “Seperti hamba haturkan, segala yang Baginda katakan atau isyaratkan, menjadi benar adanya.”

Baginda tersenyum. “Gayatri, kamu ini selalu menjadi lain. Putri Singasari yang paling jelita, tetapi juga paling keras kepala. Entah kenapa aku justru menyayangimu seperti aku menyayangi yang lain. Aku sudah mendengar semua laporan perjalanan ke Perguruan Awan. Sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Kenapa kamu katakan segala apa yang aku katakan akan menjadi benar? Kenapa tidak kau katakan bahwa yang aku katakan memang benar adanya?”

Gayatri menunduk. Makin menunduk. “Kalau Baginda sumber kebenaran, segala apa akan menjadi benar.”

“Ah, kamu pun menyangsikan.”

Gayatri menyembah. “Sama sekali tidak mungkin, Baginda.”

Baginda memandang Permaisuri Indreswari. “Apa yang akan kau katakan, Indreswari?”

“Baginda, hamba menunggu dawuh Baginda.”

“Kamu benar, Indreswari. Meskipun secara resmi kamu telah menjadi permaisuri utama, hari ini aku bersabda, bahwa putramu kelak yang menjadi putra mahkota. Putusan ini berlaku sampai aku mencabut kembali. Halayudha, catat semua ini.”

Senopati Halayudha, yang berada di luar ruangan, menyembah hormat. Lalu Baginda Raja melambaikan tangannya. Kembali ke peraduannya. Kelima permaisuri melakukan sembah hormat, lalu berjongkok keluar dari ruangan. Tanpa suara, seakan kesepuluh kaki berkain itu tak menginjak lantai.

“Halayudha!”

Yang dipanggil segera menghadap dengan berjongkok, melakukan sembah, dan menunggu.

“Kamu selalu tahu apa yang terjadi di ruang ini. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Siapa di antara senopatiku yang pantas menduduki kursi mahapatih?”

Halayudha menyembah lagi. Tubuhnya makin dalam membungkuk. “Kalau hamba seratus kali lebih pintar, tetap tak akan bisa menjawab pertanyaan Baginda. Anak kucing kecil tak akan bisa menilai anak kucing yang lain.”

“Bagaimana kalau Nambi?”

Halayudha menyembah hormat. “Tiada putusan yang lebih tepat dari yang Baginda katakan.”

“Apa alasanmu?”

“Pertama, Mpu Nambi sangat setia kepada Baginda. Kedua, jasanya di saat peperangan tak diragukan lagi. Ketiga, Mpu Nambi adalah senopati yang juga memimpin prajurit telik sandi. Keempat, rasanya tidak ada yang bisa menandingi Mpu Nambi dalam melaksanakan kehendak Baginda. Kelima, Baginda telah mengatakan sendiri. Sabda seorang raja adalah rahmat dan anugerah. Keenam…”

“Jarang aku menemui seseorang yang begitu tulus memuji orang lain.”

“Sesungguhnya hamba hanya mengatakan apa adanya, Baginda. Sama sekali jauh dari keinginan memuji yang memang tidak hamba miliki.”

“Baik kalau begitu. Segera umumkan pasewakan agung. Aku tak ingin hal ini tertunda lebih lama.”

“Dua hari lagi adalah hari yang sangat baik, karena saat itu bulan purnama, saat Baginda dilahirkan untuk memimpin Keraton yang makin agung ini.”

“Baik kalau begitu. Ada yang mau kamu katakan?”

Halayudha seperti mau mencium lantai ketika menghaturkan sembah. “Duh, Baginda Raja sesembahan semua makhluk hidup di sepanjang lautan hingga ke puncak gunung, hamba hanya ingin menghaturkan bahwa Nyai Demang telah datang.”

Baginda Raja mengangguk pelan. Itu merupakan isyarat bagi Halayudha untuk menyembah lagi, dan merasa kalimatnya berkenan.

“Nyai Demang bisa nembang kidungan dengan sangat baik, Baginda. Itu yang pertama. Yang kedua, Nyai Demang tak mungkin dipercaya jika mengatakan bahwa ia dipanggil menghadap Baginda.”

“Kamu pintar, Halayudha.”

“Mudah-mudahan pujian Baginda diperkenankan Dewa Agung sekuku hitamnya.”

Baginda menarik napas. “Soal kidungan Kitab Bumi tak peduli. Tapi aku ingin tahu wanita seperti apa Nyai Demang itu. Apa benar seperti yang diceritakan orang selama ini.”

Nyai Demang di Kamar Peraduan

HALAYUDHA menyembah sekali lalu mundur dengan tetap jalan berjongkok. Tak lama kemudian pintu terbuka kembali.

Baginda Raja melihat sesosok bayangan yang masuk, diiringi oleh Halayudha. Dalam hati Baginda memuji cara kerja Halayudha yang sangat rapi. Ternyata Nyai Demang telah berada di sekitar Keraton. Di depan pintu peraduan. Tanpa menimbulkan kecurigaan, karena diberi pakaian seperti prajurit lelaki. Rambut Nyai Demang yang ikal dan lebat baru kelihatan ketika ikat kepala dibuka. Dadanya yang montok tertutup kemben yang padat, memperlihatkan kemontokan yang terjaga dan terawat.

Sekilas Baginda bisa mengetahui bahwa tubuh Nyai Demang memang sangat sempurna, dan sekaligus menggoda. Sebagai seorang yang banyak mengenal wanita, Baginda tak bisa menutupi kekagumannya. Bahkan sampai tidak tahu Halayudha sudah menyembah dan berlalu.

Nyai Demang menyembah sekali, lalu berdiri. “Baginda tidak mengharapkan saya akan menunduk dan berlutut di kaki Baginda dan kemudian diperkenankan memijati kaki sambil membersihkan kuku. Atau wanita seperti itu yang Baginda harapkan?”

Baginda tersenyum lebar. Setelah resmi menjadi raja, Baginda terpaksa muncul dalam berbagai penampilan yang resmi dan sangat ketat dengan tata upacara. Bahkan menghadapi permaisurinya sendiri, rasa hormat itu tak berkurang sedikit pun. Sekali ini lain! Sekali ini ada seorang wanita yang begitu menyembah, langsung berdiri menantang. Bukan sembarang wanita. Tapi Nyai Demang.

Yang seluruh tubuhnya penuh, padat, dan berisi. Baru sekarang Baginda memperhatikan bahwa sesungguhnya Nyai Demang sangat menawan, kalau dihubungkan dengan asmara badani. Mulai dari bentuk alisnya yang lebat, matanya yang galak, hidung melengkung ke depan dan mendenguskan berahi, serta terutama sekali sunggingan bibirnya seakan menunjukkan bahwa bibir itu tahu segalanya.

Nyai Demang bukan hanya menyadari kelebihan tubuhnya, akan tetapi juga menunjukkan mengetahui bagaimana mempergunakan kelebihan ini! Caranya berdiri menantang menunjukkan itu. Walau tubuhnya tertutup rapat oleh kain, akan tetapi jelas menunjukkan apa di balik yang ditutupi.

“Tidak, Nyai. Aku menyukai caramu.”

“Pasti sudah lama Baginda tidak bertemu wanita seperti saya. Yang berani menantang sorot mata Paduka. Yang berdiri di depan Baginda dengan kedua tangan terkembang. Malam ini Baginda akan menemukan kenyataan dari segala impian yang paling liar sekalipun.”

“Oho, kamu tahu apa yang dikehendaki seorang lelaki.”

“Saya dibesarkan dan mengenal dunia dengan cara itu.”

“Apa benar yang dikatakan orang selama ini, bahwa Nyai Demang mampu membuat surga di langit muncul di bumi?”

“Baginda akan segera membuktikan sendiri. Malam ini kamar terkunci, tak akan ada yang mengganggu. Tak ada yang mengusik. Baginda bisa memuaskan seluruh hasrat badani secara tuntas. Demikian juga saya.”

“Aha, kamu ingin mengelap keringat Raja junjunganmu?”

“Di mana Baginda menghendaki? Di ranjang pelaminan, di lantai ini? Dengan cara apa Baginda minta dilayani? Apa yang ingin saya bersihkan? Keringat? Atau tulang sumsum?”

Baginda agak kaget mendengar ucapan Nyai Demang. Ini bukan liar. Ini kasar.

Nyai Demang tertawa. “Baginda, malam ini saya ada alasan untuk membalas semua dendam yang ada. Bersiaplah.”

Baginda meloncat dari ranjang.

“Ambil senjata trisula yang menjadi andalan. Akan saya buktikan apakah Baginda masih bisa bermain silat atau tenggelam dalam pelukan wanita dan makanan enak.”

“Nyai Demang, lancang mulutmu.”

“Akan lebih lancang lagi tanganku ini. Ketahuilah, bahwa semua ini aku lakukan karena kamu terlalu menghina wanita. Baginda kira aku ini wanita macam apa sehingga bisa memerintahkan memanggil dan menyuruh melayani? Aku mengenal banyak lelaki, tetapi ini yang paling kasar. Yang tak punya perasaan sama sekali. Untuk ini aku akan mencekik batang leher Baginda di mana pun adanya! Yang kedua, pembalasan dendam karena Baginda telah menyebabkan Adimas Upasara Wulung, ksatria tulen yang berbakti pada Keraton, menjadi cacat seumur hidup. Untuk ini akan kubalas dengan membuat Baginda sama malu dan hinanya. Akan kuperlihatkan pada semua penduduk dengan menenteng Baginda dalam keadaan tanpa busana. Bersiaplah, Baginda. Saya bisa melaksanakan lebih baik selama Baginda mencumbu. Akan tetapi saya tak ingin mengambil keuntungan dari cara seperti itu. Saya yang Baginda anggap wanita rendahan, masih mempunyai jiwa ksatria untuk menantang secara perwira.”

Baginda tak menduga, tak menyana.

“Kalaupun terjadi gedubrakan di ruangan ini, Halayudha tak akan masuk. Ia menduga kita berdua terlibat asmara badani.”

“Tunggu, aku belum lagi bicara.”

“Aku tak butuh kata-kata yang selalu dianggap benar.”

Nyai Demang meloncat tinggi, tangan kanan terjulur ke arah leher Baginda, yang segera menghindar. Meleset tangan kanan, tangan kiri ganti membetot ke arah bawah, disertai gerakan kedua seolah menyapit pinggang untuk dilipat habis. Hebat gerakan Nyai Demang yang dibakar amarah. Dengan membalikkan tubuh secara cepat, terlihat kegesitan yang masih unggul. Bahkan kain, yang kelihatan membelenggu, ternyata tidak menghalangi gerakannya.

Tak ada jalan lain bagi Baginda selain meloncat mundur. Meloncati ranjang. Justru itu yang diharapkan Nyai Demang. Begitu lawan bergerak mundur, Nyai Demang meloncat ke tengah ranjang, menotol kakinya untuk setengah terbang. Di angkasa, kedua kaki Nyai Demang menendang wajah Baginda! Hanya Nyai Demang yang bisa melakukan itu. Hanya Nyai Demang yang tega berbuat dengan gerakan tendangan ke wajah rajanya!

Kalau tadi Baginda mengagumi kaki dan betis Nyai Demang, kini merasa kehormatannya seperti dibedaki dengan lumpur. Baginda menggerung keras. Dua tangan melindungi kepala, dan sekaligus menangkap kaki Nyai Demang. Satu kaki terbetot dan bisa dipuntir, tapi kaki yang lain, persis bagian tungkai, mengancam bibir Baginda. Tak ada cara lain, selain melepaskan cekalan dan mundur lagi. Kesiuran kaki beberapa jari di depan wajah membuat Baginda jengah, marah, dan terhina!

“Inikah jurus Kemenangan Gemilang?”

Nyai Demang bukan saja berhasil memojokkan Baginda yang berdiri di lantai sementara Nyai Demang sendiri bertolak pinggang di atas ranjang. Tetapi juga memojokkan Baginda dengan kata-kata hinaan. Apa yang dikatakan Nyai Demang tentang jurus Kemenangan Gemilang adalah unsur rajasa, yang artinya mengubah suasana gelap menjadi terang-benderang akibat kemenangan yang gemilang. Seperti diketahui unsur rajasa ini sekaligus menjadi nama gelar Baginda sewaktu dinobatkan menjadi raja.

“Mana lagi, ayo tunjukkan padaku Kemenangan Lahir-Batin yang kau andalkan.”

Nyai Demang memancing dengan gerakan menyerang bagian bawah tubuh Baginda. Karena ia berada di atas ranjang, gerakan ini dengan sendirinya dibarengi dengan menjatuhkan dirinya. Baginda tak bisa mundur lebih jauh, terpaksa menangkis dengan kedua tangannya. Kalau mungkin meloncati tubuh Nyai Demang untuk bisa menyelamatkan diri.

Nyai Demang sangat cerdik memaksa Baginda mengeluarkan unsur kerta, yang berarti memperbaiki kehidupan, mengubah kekacauan menjadi ketertiban, yang dikatakan oleh Nyai Demang dengan sebutan Kemenangan Lahir-Batin. Kehebatan Nyai Demang terutama sekali karena dengan sangat ringan bisa memaksa lawan mengeluarkan jurus-jurus seperti yang dikatakan.

Hal ini sebenarnya bukan karena Nyai Demang menguasai dengan sempurna jurus-jurus andalan dalam ilmu Kerta Rajasa Jaya Wardhana. Nyai Demang sebenarnya lebih menguasai secara teori. Dan itu memang kelebihannya yang sulit ditandingi. Karena kemampuannya menangkap bahasa dan daya ingatnya memang luar biasa.

Meleset dari cengkeraman, Nyai Demang malah tertawa gembira, tubuhnya bergulung di lantai, berputar, dan begitu kakinya menjejak dinding, tubuh itu meluncur di bawah ranjang, mencoba menangkap kaki Baginda.

“Mana Kemenangan Sempurna yang kamu andalkan?”

Sekali lagi Baginda dipaksa untuk mengeluarkan unsur jaya, atau kemenangan dalam pertempuran. Karena diserang dari bawah, sekali lagi tubuhnya terpaksa melayang ke atas. Ini berarti masuk perangkap Nyai Demang. Jurus berikutnya sudah didikte dan disiapkan! Bahaya.

Aji Sirep Laron

PERANGKAP Nyai Demang sungguh maut! Baginda bukannya tak mengetahui, tetapi tak bisa berbuat banyak selain memang melayang ke atas. Hanya saja unsur jaya biasa dimainkan memakai senjata trisula muka, alias tombak berujung tiga. Berarti kekuatan untuk menopang loncatan ke atas bertumpu pada tombak. Baginda agak kikuk karena justru tak memegang senjata andalannya. Kaki kiri yang dipakai untuk menjejak, hanya seperempat tenaga! Karena tiga perempat kekuatan dipinjam dari entakan trisula muka! Dengan demikian loncatannya tak bisa tinggi.

Dengan begitu, Nyai Demang bisa memaksa jurus dari unsur wardhana, jurus yang paling lembut, karena berintikan kesejahteraan. Saat itulah Nyai Demang siap untuk menghancurkan Baginda. Menangkap kaki, dan bisa menekuk. Dan selanjutnya, sejarah bisa menjadi lain sama sekali! Seorang raja yang berkuasa dipecundangi Nyai Demang dalam kamar peraduan...

BAGIAN 15CERSIL LAINNYABAGIAN 17