Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 04

JAGADDHITA bersorak. Upasara berhenti. Mengamati sekitar. Tak ada tanda-tanda gua di belakangnya. Karena memang tak ada bukit kecil.

"Pelan saja. Tekan bagian ujung rumput itu."

Upasara mengerahkan tenaganya. Bergeming.

"Pelan. Pelaaan saja."

Upasara menekan ke tanah. Perlahan ia salurkan tenaganya. Karena tak ada tanda batu-batuan atau pohon, ia menekan sekenanya. Mendadak, ada bagian tanah yang hancur. Seperti menjadi pasir. Makin lama makin lebar.

"Upasara, masuk."

"Yang lainnya?"

"Jangan pedulikan. Ayo masuk..."

Jagaddhita menggerung keras. Ia turun dari bopongan, dan mendorong Upasara masuk. Satu tangan menarik Gendhuk Tri dan mendorong ke arah lubang. Ia sendiri kemudian menjatuhkan dirinya. Upasara merasa tubuhnya terbang sedetik, lalu terguling dan terbanting-banting. Disusul pekik Gendhuk Tri, dan tubuh Jagaddhita sendiri.

Jagaddhita merangkak masuk lebih ke dalam gua, diikuti oleh Gendhuk Tri dan Upasara. Berjalan menelusuri terowongan tiga tindak, Jagaddhita seperti kejang. Dengan menggigit keras bibirnya, Jagaddhita berusaha terus merangkak. Rasa sakit dari pundaknya makin menyiksanya. Dengan menggertak semangatnya, Jagaddhita memaksakan diri sampai pada suatu cekungan. Tanpa bisa menahan dirinya lagi, Jagaddhita jatuh tertelungkup.

Gendhuk Tri menjerit sambil menggoyang tubuh Jagaddhita. Upasara memeriksa badan Jagaddhita yang ternyata makin panas. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Jagaddhita, bercampur dengan darah. Rambutnya yang putih sudah berubah lengket dengan darah yang membeku. Sementara itu sayup-sayup suara pertempuran masih terdengar. Sesekali jeritan menyayat di antara beradunya senjata. Jagaddhita berusaha duduk. Punggungnya bersandar ke dinding. Gendhuk Tri yang biasanya tak begitu peduli, kini pucat pasi.

"Wulung..." Suara Jagaddhita terdengar menggeram. "Teruslah menelusuri terowongan ini. Ikuti saja. Kira-kira waktu yang digunakan untuk menanak nasi, kau akan bisa keluar dari sini. Keluar dari desa ini. melewati sungai besar, kau akan segera menuju jalan utama menuju Keraton."

Jagaddhita meloloskan cincin di jarinya. "Meskipun kau orang Keraton dan bisa dengan enak keluar-masuk, bawalah cincin ini. Bagaimanapun keadaannya Keraton saat ini, dengan cincin ini kau bisa masuk ke sana. Tanda pengenal yang kau miliki bisa menjadi pembunuhmu bila saat ini Keraton dikuasai lawan. Cincin ini akan mengantarkan kau ke dalam."

Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih bingung. Dan kemudian, dengan satu gerak sangat cepat, tangan kanan Jagaddhita menampar pipinya sendiri. Plak. Keras sekali. Dari bibirnya mengalir darah segar.

"Mbakyu...," teriak Gendhuk Tri kaget.

Upasara Wulung membelalakkan matanya. Ia tak menyangka bahwa Jagaddhita akan menampar mulutnya sendiri hingga berdarah. Lalu tangan yang selesai untuk menampar dimasukkan ke mulut. Mencari-cari. Ketika keluar lagi, tangan itu ternyata memegang dua buah gigi. Masih basah oleh darah dan ludah.

"Temui Ingkang Sinuwun, Baginda Raja. Ingkang Sinuwun akan terpaksa menemuimu jika kau perlihatkan gigi ini. Dua buah gigi berlapis emas ini, dulu beliaulah yang menyarankannya. Wulung, apa kau jijik?"

Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih kacau.

"Segeralah berangkat. Apa pun juga yang terjadi, kau harus masuk Keraton, dan sowan Ingkang Sinuwun. Katakan kejadian ini. Wulung, berangkatlah sekarang."

Bibir Upasara bergetar keras. Ini benar-benar tak masuk dalam akalnya. Bagaimana mungkin seseorang mencabut giginya, dua buah, dengan paksa, sebagai tanda pengenal? Bagaimana mungkin seorang Baginda Raja yang demikian berkuasa dan besar pernah meminta seorang Jagaddhita untuk memasang gigi emas?

Pengalaman Upasara dalam soal asmara memang masih terlalu polos. Ia tak paham walau sekuku hitam soal liku-liku asmara. Bahwa Baginda Raja mempunyai selir sekian puluh, ia tahu persis. Bahwa Baginda adalah lelaki terpilih di antre semua wanita yang ada di Singasari, itu tak dibantahnya. Akan tetapi bahwa seorang yang begitu terhormat pernah menjalin asmara dengan cara ganjil, itu susah masuk di dalam pikirannya.

Jagaddhita menghela napas panjang. Tak mungkin dalam waktu sekejap ini menceritakan hubungan pribadinya dengan Baginda Raja. Mungkin juga ketika Jagaddhita meninggalkan Keraton, Upasara Wulung belum tahu banyak. Dan tak pernah mendengar cerita.

"Berangkatlah sekarang, Wulung."

"Tidak, Bibi... Saya tak mungkin meninggalkan Bibi sendirian di sini. Luka Bibi masih gawat, sementara setiap saat lawan bisa menyerbu ke dalam terowongan. Mana mungkin saya meninggalkan Bibi saat ini?"

"Wulung, kau ternyata sama tololnya dengan kerbau. Bikin malu keluarga Keraton saja. Dengar. Saat ini Keraton Singasari sedang dalam ancaman bahaya terbesar. Bahaya dari dalam. Kehinaan yang luar biasa sedang terjadi. Tuhan akan mengutuk sampai hari kiamat. Tetapi, sebelum kutukan itu datang, mungkin kita semua tak melihat Keraton lagi. Nah, selagi masih ada kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi bahaya, mengapa tidak kita usahakan? Wulung, jangan pikirkan keselamatan diriku. Aku sudah terlalu tua. Kalau sisa hidupku ini bisa menjadi darma bakti kepada Baginda Raja dan Keraton..."

Napas Jagaddhita tersengal-sengal. Rasa nyeri kambuh dengan hebatnya. Tetapi lebih daripada rasa nyeri di pundaknya, luka lama terobek kembali. Luka indah yang disembunyikan jauh di dalam hati sanubarinya. Ia hanyalah rakyat biasa. Ayahnya seorang abdi dalem bagian karawitan. Pada usia enam tahun, ia belajar menari. Pada usia delapan tahun, tepat sewindu, ia diizinkan belajar di dalam Keraton. Belajar menari. Saat itu Baginda Raja Kertanegara belum naik takhta. Akan tetapi secara tidak resmi telah memegang tampuk pemerintahan. Sebagai pangeran pati, putra mahkota, Kertanegara sangat memperhatikan masalah kesenian.

Sejak itulah secara resmi ia menjadi penari Keraton. Dengan nama resmi Jagaddhita. Ketika Baginda Raja berkenan mengambilnya sebagai selir kesayangan, Jagaddhita hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya: berbakti sepanjang hidupnya kepada yang telah memberi harga diri. Sejak itu pula Jagaddhita hanya berpikir satu hal: membahagiakan Baginda Raja. Dengan segala kemampuan dan pengobatan tradisional, Jagaddhita selalu menjaga agar tubuh dan penampilannya selalu sempurna, selalu membahagiakan Baginda Raja. Suatu malam yang sunyi, Baginda Raja bertanya kepadanya.

"Dhita, sekian lama kita berdua, aku tidak melihatmu hamil."

"Mohon ampun, Sinuwun. Ampunilah tindakan hamba yang cubluk yang kelewat bodoh ini. Hamba tak berhak menerima winih, benih, dari Ingkang Sinuwun."

"Kenapa, Dhita? Semua selirku ingin mendapatkan anak keturunanku. Kenapa kau tidak mau?"

"Hamba yang cubluk ini hanya berpikir dan menyerahkan segalanya demi kebahagiaan Sinuwun. Apa artinya kepentingan hamba pribadi. Maafkan, Sesembahan, bukannya hamba tidak berharap. Bidadari di surga pun berharap bisa menjadi penyambung keturunan Ingkang Sinuwun. Tetapi hamba cukup puas dan bahagia dunia-akhirat bisa membuat Sinuwun bahagia."

"Apa yang kau lakukan?"

"Maafkan hamba, Sinuwun,"

Baginda Raja mendengarkan penuturan Jagaddhita bahwa ia pergi kepada tukang pijat Keraton. Bahwa ia telah diurut sedemikian rupa sehingga tubuhnya tak mungkin bisa mengandung. Ini memang berbau seks, akan tetapi itulah yang dilakukan Jagaddhita, demi kepuasan orang yang paling dihormati.

"Ah! Kau tak usah berbuat seperti itu."

"Hukumlah hamba yang cubluk ini."

"Dhita, Dhita... kau benar-benar memberikan kebahagiaan dunia. Aku tak bakal bisa melupakanmu. Ratusan selir bergilir menanti perintahku, tetapi kau lain. Aku ingin kau menyimpan gigi emas di bagian belakang gigimu. Biarlah kita berdua saja yang tahu. Dhita, sebenarnya kau tak perlu berkorban seperti itu."

Itulah asal mulanya Jagaddhita melapisi giginya di bagian rahang dengan emas, Bisa dibayangkan betapa sakitnya ketika tadi Jagaddhita mencoba paksa mencopotnya. Namun semua ini dilakukan oleh Jagaddhita dengan segala kerelaan dan keikhlasan yang tulus.

Pemujaan Jagaddhita adalah pemujaan yang tulus ikhlas. Ia tidak berambisi apa-apa. Tidak juga sebagai selir terkasih. Atau bahkan berpikir untuk diangkat sebagai prameswari, permaisuri, yang kesekian. Tak setitik pun terpikir ke arah itu. Juga tidak setitik pun berpikir bahwa dengan itu ia bisa menyimpan harta benda. Ketika terjadi malapetaka di Keraton dengan diguntingnya rambutnya, Jagaddhita meninggalkan Keraton tanpa membawa bekal apa-apa. Kecuali cincin yang melekat di jarinya dan dua buah gigi emas yang tersembunyi.

Dalam manekung pada Tuhan, Jagaddhita menyerahkan dirinya. Tadinya ia berpikir untuk bunuh diri. Namun jiwa besar Baginda Raja menebas pikiran ke arah itu. Kalaupun ia bakal mati dengan telanjang dan berdiam diri, itu atas kehendak Tuhan, bukan keinginannya bunuh diri.

Jagaddhita memasuki hari keempat, membiarkan dirinya telanjang di tengah hutan. Antara pingsan dan sadar. Setelah melewati masa-masa dimanjakan di Keraton. secara tiba-tiba ia menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa makan, minum, atau istirahat. Tidak juga menghirup air hujan yang jatuh ke bibirnya. Ketika itulah ia melihat bayangan mendekat. Jagaddhita tak tahu apakah yang mendekat itu malaikat mau mengambil nyawanya, ataukah binatang buas mau memakan dagingnya, atau bayangan dalam mimpinya.

"Seumur hidup aku kenyang melihat wanita telanjang, tapi di tempat seperti ini sungguh tak pernah kuperkirakan." Bayangan itu ternyata manusia yang bisa berkata. "Nah, jika kau masih ingin terus telanjang tanpa malu, aku akan menikmati sampai puas."

Jagaddhita bergeming. Ia memang sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak tahu bahwa kemudian tubuhnya ambruk ke rumput. Dan dibiarkan semalaman, dan esoknya diberi makan buah-buahan.

"Nah, sebelum kau mati, ceritakan siapa namamu."

Jagaddhita menemukan dirinya terbaring dikarang, dalam suatu gua. Tubuhnya ditutupi daun-daunan.

"Saya tidak punya nama. Semua tak perlu."

"Ini baru menyenangkan. Kau patah hati karena suamimu kawin lagi? Atau anakmu kawin dengan orang yang tidak kau sukai? Suamimu jadi penjudi?"

Jagaddhita tak menjawab. Tak kuasa apa-apa, ketika lelaki yang berwajah tua itu memeras air jeruk dan menyuapinya. Lalu meninggalkan. Esoknya muncul lagi.

"Belum mati?"

"Kenapa Rama menolong saya?"

"Bagus, setiap kali aku bertanya, kau juga bertanya. Aku bertanya, aku butuh bertanya karena aku suka orang yang nglalu, orang yang berniat bunuh diri seperti kamu."

Lalu ditinggal pergi. Jagaddhita mulai memakai kain yang diberikan orang itu, yang selalu datang pada pagi hari.

"Bagus, sekarang kau mau cerita?"

"Siapa nama Rama?"

Begitulah selama dua minggu, keduanya bertemu pada pagi hari untuk saling melontarkan pertanyaan. Minggu kedua, Jagaddhita melihat Rama sedang berlatih silat.

"Mari kuajari kau satu gerakan yang paling mustahil. Tapi setiap kali kau harus menceritakan dirimu."

"Rama, apa perlunya mempelajari gerakan itu? Tanpa dipelajari pun bisa."

Rama jadi berjingkrakan. "Kalau kau bisa menirukan gerakku, kuangkat kau jadi muridku. Bagaimana?

Begitu selesai bicara, Rama melihat takjub. Jagaddhita menirukan secara persis gerakan yang ditunjukkan Rama.

"Rama Guru, apakah gerakan saya salah?"

Rama Guru membelalak. "Dewa pun perlu belajar gerakan itu dua bulan. Bagaimana mungkin kau bisa menirukan dengan sekali lihat? Kau pasti mengakaliku! Tidak, aku tak mau dipanggil Rama Guru. Kecuali... kecuali kalau gerakan ini kautirukan dengan persis"

Rama Guru membuat gerakan, dimulai dengan dua gerakan tangan Yang satu menusuk ke depan, lalu ditarik ke belakang. Sebelum tarikan penuh, tangan sebelahnya menusuk ke depan, yang juga berbelok ke arah bawah, disusul dengan dua gerakan kaki sekaligus, seperti tangan bertepuk. Dengan meloncat hal itu bisa terjadi.

Hanya saja, ketika tubuhnya turun kembali, satu tangan menyangga tubuh sebelum menyentuh tanah, dan dua kakilah yang digunakan untuk menendang. Cara menendang ke depan dengan berbalik mirip gerakan tangan. Satu maju, ditarik, dan diganti kaki kedua yang arahnya berbelok, lalu disusul, atau lebih tepat diganti dengan tusukan tangan.

Belum selesai gerakan itu, Jagaddhita sudah bisa menirukan. Hanya saja ketika menjatuhkan diri dengan jungkir berbalik dan disangga dengan satu tangan, penyanganya tidak kuat. Sehingga tubuhnya terbanting ke rumput dan tangannya sakit sekali. Akan tetapi gerakan kakinya tetap sama. Gerakan susulan dengan tangan terganggu karena tangan Jagaddhita sangat sakit.

"Lhadalah... siapa suruh aku berjanji mengangkat murid segala?"

"Rama Guru yang berjanji, bukan saya."

"Katakan dari mana kau mengintip aku latihan?"

"Baru saja. Rama Guru sendiri yang mengajari."

Bagi Rama Guru ini tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin dengan sekali melihat bisa menirukan secara persis?

Sebenarnya bagi Jagaddhita tak ada yang aneh. Tak ada yang mustahil. Juga ketika ditunjukkan gerakan yang makin sulit, Jagaddhita bisa menirukan secara persis. Bahkan kemudian merangkaikan gerakan ke satu dengan gerakan kedua, dengan gerakan ketiga, dan seterusnya. Lalu menyambung dengan gerakan semula.

Memang tidak aneh bagi Jagaddhita. Sejak kecil ia mengenal tarian. Dan hidupnya semata-mata untuk berlatih gerakan menari. Dasar-dasar semua gerakan tangan dan kaki ia kuasai dengan baik. Berdasarkan ketajaman matanya, ia bisa menghafal dengan mudah. Kecuali gerakan-gerakan yang menurut ukurannya, tidak terlalu tepat. Seperti gerakan mengangkang atau gerakan mengangkat tangan lebih tinggi dari bahu. Gerakan semacam ini agak tabu untuk seorang wanita. Kurang susila.

Kalau seorang guru tari yang paling kenamaan mengajarkan ini pada Jagaddhita sebelum rambutnya dipotong, Jagaddhita lebih suka mati daripada berbuat tidak susila. Akan tetapi sekarang ini, pikiran susila atau tidak, mencerminkan kewanitaan atau tidak, bukan masalah lagi. Telanjang pun ia tak akan peduli lagi apakah ini memalukan atau tidak.

Demikianlah berminggu-minggu Rama Guru mengajari berbagai gerakan, dan Jagaddhita menirukan dengan sempurna.

"Kau bisa menirukan dengan baik, tapi tak ada gunanya. Kau tak punya tenaga sama sekali. Percuma saja."

"Kalau itu bisa dilatih, apa susahnya, Rama Guru?"

Sampai enam bulan purnama, Jagaddhita melatih pernapasan dan cara menghimpun tenaga. Rama Guru selalu datang dan pergi. Kadang melatih, kadang langsung mengajak bertempur. Namun selama itu tak pernah saling mengenal. Jagaddhita tak mengenal siapa yang mengajari dan Rama Guru juga tak mengenal siapa yang diajari. Dua tahun berlalu dengan cepat. Jagaddhita makin pesat. Ia lebih mantap dan lebih lama mengimbangi Rama Guru.

"Selama ini aku main panggil kau dan saya saja. Dengan apa kau kupanggil?"

"Saya bisa dipanggil dengan apa saja."

"Selama ini kau dipanggil apa?"

"Jagaddhita."

"Lhadalah... namamu terlalu bagus. Siapa yang memberi nama seperti itu?"

"Ingkang Sinuwun..."

Tak diduga tak dinyana, Rama Guru berteriak gusar dan langsung menghantam pohon asam. Belum puas dengan satu pukulan Rama Guru menyerang secara beruntun, dan kemudian menendangnya .hingga pohon itu rubuh mengeluarkan suara keras.

"Kau sebut nama itu, kubunuh kau!"

"Nama itu anugerah Ingkang Sinuwun. Kalau mau bunuh silakan, Rama Guru."

Jagaddhita tak menyangka bahwa Rama Guru benar-benar mengayunkan tangannya dan sebongkah batu jadi retak karenanya.

"Rama Guru, saya tak bisa menjawab yang lain."

"Ketahuilah bahwa raja itu tak perlu kau ucapkan. Apalagi dengan rasa hormat seperti itu. Ia..."

Kini ganti Jagaddhita yang murka. Ia sama sekali tak rela sesembahannya, priyagung yang paling dihormati dan dikagumi dipanggil "ia" begitu saja.

"Mulai hari ini Jagaddhita tak perlu berguru kepada Rama lagi. Kalau Rama mau mengambil semua ilmu yang ada, silakan."

"Kau goblok."

"Benar, Rama Guru."

"Kau edan."

"Benar, Rama Guru."

"Ia itu..."

Jagaddhita langsung menyerang. Tiga jurus cuma, ia sudah ditelikung. Tubuhnya dikempit dengan dua kaki Rama Guru yang sekaligus menginjaknya.

"Dhita, kau masih penasaran?"

"Panggilan itu hanya diucapkan Ingkang Sinuwun."

Rama Guru tertawa lucu. Lalu mengumandangkan nama "Dhita, Dhitaaaa" berulang kali hingga jemu. "Dhita, aku mau lihat kau bisa apa. Aku bisa berteriak, bisa memanggilmu seperti ia memanggilmu. Apa hebatnya rajamu itu?"

"Lalu apa hebatnya Rama Guru kalau cuma bisa menirukan?"

Rama Guru meludah ke tanah. Lalu bersuara pelan, seperti kepada dirinya sendiri, "Barangkali Penguasa Tunggal sedang mengujiku. Sekian lama aku meninggalkan Keraton, sekian lama aku membenci dan bersumpah tak mau mendengar suara menyebut namanya. Tak tahunya sekarang masih tetap harus kudengar sebutan raja dengan embel-embel yang memalukan. Dan orang yang menyebut itu memanggilku sebagai Rama Guru. Dunia tidak adil." Lalu Rama Guru pergi lama sekali.

Jagaddhita berlatih sendiri. Setengah tahun ia berlatih sendiri dengan segala ketekunannya. Semua waktu yang ada dihabiskan untuk terus-menerus berlatih. Jagaddhita memang tak memikirkan hal yang lain. Makan ia bisa mengambil buah-buahan, minum dan mandi tak menjadi soal. Pakaian pun selama masih ada yang dikenakan, sudah lebih dari cukup. Satu-satunya keinginannya: bisa merubuhkan pohon asam dan menghancurkan batu seperti yang dilakukan Rama Guru. Kalau ia sudah menguasai itu... bisa membalas dendam.

Rama Guru ternyata muncul lagi. Dan melihat ketekunan serta ketaatan Jagaddhita yang dahsyat. Hasratnya menyala-nyala. Sehingga ia melatih lagi, dan lebih bersungguh-sungguh. Hubungan antara guru dan murid yang sangat ganjil. Mereka berdua membicarakan banyak hal dengan akrab. Tapi kalau sudah membelok ke arah pembicaraan mengenai Baginda Raja dan atau ia, menemui jalan buntu. Dua-duanya tersinggung, dan pertempuran tak bisa dihindarkan.

Makin lama Jagaddhita makin bisa mengimbangi Rama Guru. Makin tahun makin lama bertahan, dan beberapa kali pula Jagaddhita mampu balas menyerang. Sesungguhnya ini cara belajar yang efektif. Karena ketika uji coba atau latihan, semua dipraktekkan dengan sungguh-sungguh. Jagaddhita bisa melukai lengan Rama Guru. Sebaliknya ia sendiri beberapa kali mengalami patah tulang. Atau bahkan muntah darah.

"Dan sekarang kau bisa membalas dendam. Berangkatlah. Siapa yang akan kau balas?"

Barulah Jagaddhita menerangkan asal-usulnya. Dan ia berangkat ke Keraton. dan kemudian kembali lagi tanpa hasil. Ia tak jadi membalas dendam.

"Tidak jadi?"

"Rama Guru, izinkanlah saya berbakti pada Rama Guru, kepada Keraton, kepada Baginda Raja...."

"Kau mau jadi prajurit?"

"Berbakti pada Keraton tidak selalu harus menjadi prajurit."

"Keraton? Negara? Selama rajamu itu yang memerintah, selama itu pula masih akan berantakan tak karuan."

"Rama, bukankah kewajiban kita untuk berbakti pada Raja Keraton, yang berarti berbakti pada negara? Baginda Raja sangat besar, sangat jembar, sangat luas pandangan Baginda Raja...."

"Aku tak mau berbicara soal itu lagi. Kau sudah gila. Tak bisa dibuat waras lagi. Pergilah. Kutunggu di sini setiap malam purnama di akhir tahun."

Begitulah Jagaddhita mulai berkelana. Mulai terjun dalam dunia persilatan. Sekali setahun ia kembali ke tempat semula untuk bertemu Rama Guru. Menceritakan pengalaman, melatih, bertempur, dan berakhir dengan hal yang sama. Bertahun-tahun kejadian itu terus berulang. Jagaddhita makin matang. Bukan hanya dalam penguasaan ilmu silat akan tetapi juga pengalaman hidup. Sampai suatu ketika Rama Guru membawa seorang anak kecil, yang dipanggil Gendhuk Tri.

"Ia bisa kau pakai untuk latihan. Ajari terus seperti aku mengajarimu. Dhita, dua tahun lagi pergilah ke Perguruan Awan. Di Sana akan ada Tamu dari Seberang. Kalau tamu itu benar datang, lihat apa yang terjadi. Laporkan kepadaku. Mulai hari ini aku akan sibuk sekali."

Itulah asal mulanya Jagaddhita datang ke Perguruan Awan. Dan sekarang, Jagaddhita merasa tak bisa menyanggupi semua perintah Rama Gurunya. Jagaddhita menghela napas.

"Wulung..."

Upasara masih ragu.

Sebentar lagi aku akan mati. Juga yang lainnya. Tetapi jika kau bisa memberitahukan ke Keraton bahwa Raja Gelang-Gelang akan kraman, akan mbalela, akan memberontak, dan akan berkhianat, rasanya masih ada artinya. Makin cepat makin baik. Kau masih tunggu apa lagi?"

"Bibi..."

"Kalau kau tak berangkat, aku akan mati dengan sedih sekali."

"Gendhuk Tri..."

Jagaddhita menggeleng. "Tidak. Kau jangan bawa dia. Perhatianku akan terpecah. Biarlah Gendhuk Tri di sini bersama aku. Kepada Rama Guru aku berjanji mengajari. Mungkin masih ada sisa beberapa saat. Sesuai dengan janjiku. Kalau Gendhuk Tri ikut bersamamu, ia akan memperlambat perjalananmu. Padahal kau tak boleh terlambat. Kalau pasukan Gelang-Gelang mencapai Keraton, sejarah Singasari akan lain."

Upasara Wulung berpikir sendiri. Cepat ia melaksanakan jalan pikirannya. Tangan kiri menarik Gendhuk Tri dan mulai merangkak ke luar. "Maafkan Bibi, Gendhuk Tri saya ajak..."

Tiga rangkakan. Gendhuk Tri menggigit tangan Upasara keras sekali. Dalam kagetnya Upasara melepaskan cekalannya.

"Siapa sudi ikut kamu?"

Benar-benar tak tahu bahaya, pikir Upasara. Ia berusaha menangkap Gendhuk Tri yang sulit menghindar karena terowongan sangat sempit.

"Aku akan buka kainku kalau kau menarikku."

Gendhuk Tri bukan hanya sesumbar. Ia benar-benar mengangkat dan melepaskan kainnya. Tak ada jalan lain bagi Upasara selain memalingkan wajahnya. Begitu berpaling pantatnya ditendang Gendhuk Tri sambil tertawa mengikik. Dan Upasara tak punya pilihan selain terus merangkak maju.

Gua itu panjang dan gelap. Beberapa kali Upasara terantuk. Blangkonnya jatuh entah di mana. Kadang ia terpaksa benar-benar merayap seperti ular, kadang merangkak seperti anjing, kadang setengah laku ndodok, sikap hormat kalau mau sowan di Keraton. Upasara mengerahkan tenaganya. Kalau banyak orang mau mengorbankan diri untuk memberi laporan ke Keraton, untuk berbakti pada Keraton, kenapa ia harus ayal-ayalan? Secara jelas ia masih mendengar suara teriakan di mulut gua. Rasanya beberapa prajurit sudah memasuki gua.

Sebentar lagi pasti menemukan tempat Jagaddhita dan Gendhuk Tri. Dan kedua orang itu pasti akan berusaha menghambat jalan masuk. Upasara tidak mau mati percuma. Ada dendam yang bergelora dalam dadanya. Dendam pribadi dan dendam kepada Ugrawe serta pengkhianatan Jayakatwang. Desakan ini semua makin mengeras dalam diri Upasara.

Dan ia berjalan, merangkak, merayap makin cepat. Makin tidak memedulikan dirinya sendiri. Gua itu makin lama makin gelap. Seperti tak ada ujungnya. Upasara terus merayap, merangkak, berjalan. Tujuannya hanya satu. Ke arah depan. Barangkali akan ditemukan cahaya. Dan kemudian memacu tenaga sekuatnya untuk bisa lebih dulu sampai ke Keraton!

* * *


JAGADDHITA melepas kepergian Upasara dengan rasa bahagia. Terdengar helaan napasnya yang panjang, berat dan sangat melelahkan.

"Gendhuk Tri, apakah kau takut mati?" Suara Jagaddhita sangat perlahan. Rasa masih sakit muncul setiap kali ia mengerahkan sedikit tenaga. Akhirnya Jagaddhita bersandar ke dinding batu. Terasa tak tersisa lagi tenaganya. Kepalanya juga menyandar sepenuhnya.

"Gendhuk Tri. apa kau takut mati?"

Sinar mata polos Gendhuk Tri memantulkan cahaya. "Bagaimana aku tahu Mbakyu? Aku belum pernah mati."

"Sebentar lagi akan kau rasakan. Akan kita rasakan bersama. Bagaimana rasanya sekarang ini?"

"Aku sendiri tak tahu."

"Inilah yang dinamakan nasib. Inilah takdir. Kita hanya tinggal menjalaninya. Aku tidak mengenalmu, Tidak mengenal asal-usulmu. Tapi apakah penting kita saling bercerita kalau sebentar lagi mati? Sejak Rama Guru menyerahkanmu kepadaku, aku merasa kau bagian dari diriku. Aku menyukaimu. Perawan seperti kaulah yang diharapkan muncul di Keraton. Baginda Raja akan sangat bangga mempunyai rakyat sepertimu. Berani, ganas dan maju ke depan. Sayang sekarang ini keadaannya tidak memungkinkan Baginda Raja bertemu denganmu."

"Mbakyu kenapa selalu bercerita tentang kematian."

"Sebab itulah yang akan segera terjadi. Gua ini akan diketemukan. Jika bangsat Ugrawe itu menemukan, ia akan menyerbu masuk. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah membuat mati bersama. Setidaknya melukai seperti tadi. Tapi bangsat itu kelewat licik. Ia bisa menyuruh menimbuni lubang dan itu berarti kita terkubur hidup-hidup di sini."

"Kalau Kangmas Wulung bisa keluar dari sini, apa susahnya kita keluar? Segera setelah Mbakyu bisa menahan rasa sakit, kita melalui jalan yang dilewati Kangmas Wulung."

Dalam gelap Jagaddhita tersenyum. Ingin sekali tangannya mengelus kepala Gendhuk Tri. "Gua ini dinamakan Lawang Sewu, alias Pintu Seribu. Banyak sekali jalan masuk, banyak sekali jalan keluarnya. Akan tetapi jalan keluar yang sesungguhnya hanya satu. Yaitu yang dilalui. Setelah itu tak mungkin bisa dilalui lagi. Ini adalah gua yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya dipakai sekali saja."

"Aku belum pernah mendengar nama gua seaneh ini."

"Gua Lawang Sewu dahulu dipersiapkan olah Mpu Raganata yang kesohor. Untuk menjebak lawan yang akan menyerbu ke Keraton Singasari. Perguruan Awan ini sengaja dibangun di sini, karena sesungguhnya inilah benteng yang paling ketat di luar dinding Keraton. Eyang Sepuh sengaja mendirikan Perguruan Awan di sini bukannya tanpa perhitungan. Jika lawan akan menyerbu ke Singasari, pastilah akan melalui Perguruan Awan. Dan di sinilah akan terjadi perang habis-habisan. Ada dua kemungkinan. Perguruan Awan menang atau kalah. Jika menang, lawan bisa dihalau mundur dan tak akan menjadi persoalan. Jika lawan menang, para ksatria akan melarikan diri lewat Gua Lawang Sewu ini dengan harapan lawan akan mengejarnya. Dan lawan itu akan terkubur di sini. Karena setiap lorong yang baru saja dilewati, tanah-tanahnya akan berguguran menutup dengan sendirinya. Dan mereka tak mungkin bisa maju lagi. Ini akan dimulai di tengah gua. Sehingga pengejarnya tak akan bisa mundur lagi. Kalau kita tadi mengikuti Upasara Wulung, kita mungkin akan selamat. Tetapi itu percuma. Karena aku sudah tidak kuat lagi. Itulah sebabnya tadi kutanyakan apakah kau tidak takut mati."

"Lawang Sewu adalah perangkap yang dahsyat. Hebat sekali yang bernama Raganata itu."

"Hush... kau tidak boleh menyebut namanya begitu saja." Kalau Jagaddhita masih cukup tenaganya, mungkin ia akan langsung menempeleng Gendhuk Tri. Atau paling tidak akan menjewer hingga Gendhuk Tri kesakitan dan menyembah Mpu Raganata.

"Di dunia ini. yang mampu mengimbangi jiwa besar Baginda Raja, hanyalah Mpu Raganata. Kedua junjungan ini ibarat panglima perang dan saisnya. Akan tetapi, siapa nyana, jika sekarang bangsat Ugrawe memorak-porandakan semua rencana besar ini?"

"Mbakyu, aku belum mengerti. Kalau Lawang Sewu ini ciptaan yang terhormat Mpu Raganata, bagaimana mungkin Mbakyu bisa mengerti?"

"Meskipun aku sangat dekat dengan Baginda Raja, tak bakal Baginda Raja memberitahu soal ini."

"Dari mana Mbakyu mengetahui hal ini?"

"Dari Rama Guru."

"Rama Guru?" Suara kaget Gendhuk Tri membuat Jagaddhita juga kaget.

"Kenapa kau seperti kaget?"

"Siapa sebenarnya Rama Guru?"

"Astaga, kau tak mengenalnya?"

"Tidak."

"Bagaimana kau bisa diajak Rama Guru untuk dipertemukan denganku?"

Gendhuk Tri duduk bersila. Tangannya bermain dengan pasir tanah. "Aku berada di Keraton, ingin belajar menari. Akan tetapi kemudian diambil oleh Rama Guru. Dibawa berkeliling. Diajari ilmu silat, dan kemudian dipertemukan dengan Mbakyu. Lalu Mbakyu ajak berkelana, berlatih, dan menuju daerah ini."

"Hmmmmmmm, aku sudah menduga bahwa Rama Guru mempunyai hubungan yang erat dengan Keraton. Sangat erat. Tapi entahlah, hubungan apa. Rama Guru sendiri tak pernah bersedia menjelaskan. Pastilah hubungan antara dendam dan pemunah yang berlebihan. Hmmmmmmm, sungguh sulit diduga..."

"Sampai mati pun kita tak akan mengenali"

"Heh, Gendhuk Tri, kau juga tidak tahu siapa Rama Guru?"

Gendhuk Tri menggeleng.

"Bagaimana ia mengajakmu pergi?"

"Aku sudah bilang tadi. Mbakyu mendengarkan apa tidak?"

Dalam situasi yang kebat-kebit begini, Gendhuk Tri ternyata masih keras kepala.

"Aku sudah bilang mau belajar menari. Datang ke Keraton dan kemudian bertemu dengan Rama Guru dan ia ternyata mengajari aku ilmu silat. Lalu membawaku pergi."

"Kau tak tanya kenapa?"

"Rama Guru bilang, aku tak boleh jadi klangenan Baginda Raja."

Darah Jagaddhita berdesir keras. Klangenan adalah istilah yang diperhalus dari gendhak, atau penghibur. Agaknya Rama Guru kuatir kalau nanti Gendhuk Tri nasibnya sama dengan Jagaddhita!

"Aku bilang bahwa aku tak mau jadi klangenan. Aku mau jadi penari."

"Hush, kau tak boleh bicara seperti itu. Apa pun kehendak Baginda Raja, itu harus kita junjung tinggi. Kita ini punya darah dewa mana, sehingga harus berkata tidak kalau Baginda Raja menghendaki? Kalau..."

Suara Jagaddhita terhenti. Matanya menjadi buas. Dua buah bayangan menyuruk masuk. Gendhuk Tri bersiap untuk menghadapi. Tapi bayangan tubuh itu tak bereaksi apa-apa. Jatuh begitu saja. Sekilas Jagaddhita masih bisa mengenali bahwa bayangan yang dilemparkan ke dalam adalah Padmamuka dan Pu'un yang sudah menjadi mayat! Belum hilang kaget mereka berdua, suasana berubah menjadi gelap total. Terdengar teriakan dan hamburan tanah.

Gendhuk Tri merapat ke arah Jagaddhita. Jagaddhita memeluk lembut.

"Mereka mulai menimbuni mulut gua."

"Ya," suara Jagaddhita lembut.

"Mereka mengubur kita hidup-hidup dan dua bangkai ini."

"Kau takut mati?"

"Aku takut gelap."

"Kalau begitu kau harus bunuh diri. Agar tidak mengalami ketakutan. Kalau aku masih mempunyai tenaga simpanan, aku akan membunuhmu. Agar kau tak usah ketakutan. Tapi aku sendiri..."

Tubuh Jagaddhita bergoyang-goyang. Ketika akan berusaha duduk tadi rasa sakit kembali menggigit seluruh tubuhnya bagian belakang.

Gendhuk Tri merangkul Jagaddhita, lalu menyeret ke depan. Dalam gelap ia menyuruk maju beberapa tindak. "Apa yang harus kita lakukan, Mbakyu?"

"Suaramu gemetar. Sungguh sayang, kau harus mengalami ketakutan seperti ini sebelum mati."

"Siapa bilang aku takut mati? Aku takut gelap. Aku... aku... juga takut mayat."

"Hmmmmmmm, tapi bagaimana mungkin melenyapkan mayat itu? Apa kita harus memakannya? Itu satu-satunya jalan untuk menyambung hidup kita, sementara."

Gendhuk Tri bergidik. Mendadak ia lepaskan rangkulannya, dan Jagaddhita terbanting di tanah. "Kau sudah gila, Mbakyu. Mana mungkin kita makan mayat?"

"Habis, apa kita harus mati kelaparan dan ketakutan melihat mayat?"

"Pokoknya aku tak mau makan mayat. Paling tidak di sini ada ular atau kelabang atau tikus atau hewan tanah yang lain. Itu masih lebih nikmat dari mayat ini." Gendhuk Tri merangkak maju.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Mengubur mereka."

"Astaga. Benar-benar goblok. Kita sendiri sudah terkubur, untuk apa bersusah payah mengubur?"

"Sebentar lagi mayat itu berbau. Aku tak mau bau itu."

"Gendhuk Tri..."

Gendhuk Tri terhenti. "Hati-hati. Jangan sentuh dengan tanganmu. Mayat itu mengandung racun keras. Padmamuka adalah biangnya racun. Semua darah dan kulit pori-porinya beracun. Kau bisa mati karenanya."

"Mbakyu... Mbakyu...Tadi bilang kita bakal mati. Kalau mati kena racun atau kelaparan, apa bedanya?"

Meskipun demikian. Gendhuk Tri mengindahkan kalimat Jagaddhita. Ia menggali tanah sekitarnya dengan patrem. Sampai berkeringat dan tersengal-sengal. Semua dilakukan dalam gelap. Hanya berdasarkan perkiraan saja. Baru kemudian menggulingkan kedua tubuh itu ke dalam satu liang, dan kemudian menimbuni dengan tanah. Waktu yang digunakan untuk menggali dan menimbun kembali cukup lama. Sehingga Gendhuk Tri tersengal-sengal dan kehabisan tenaga.

"Nah, kini kalian berdua bisa beristirahat dengan tenang. Kalian pasti tak mengira aku telah menguburkan kalian dengan baik. Mudah-mudahan arwah kalian tahu cara berterima kasih dan menunjukkan pada kami jalan keluar. Setidaknya bangkai kalian tidak terlalu busuk dan mengganggu kami. Tapi tetap cukup busuk untuk mengundang ular tanah dan aku bisa menyantap."

"Gendhuk Tri..."

"Sudah selesai, Mbakyu..."

"Kau belum mati?"

"Hampir,"

"Tidak. Kita belum bakal mati. Lawang Sewu ini ternyata masih memungkinkan kira bernapas. Setidaknya..."

"Apa, Mbakyu?"

"Tidak. Dari mana kita bisa keluar?"

"Kalau kita bisa bertahan di sini. Kita bakal keluar dari pintu kita masuk tadi. Gua ini kan buntu di depan, tapi arah kita datang tadi kan masih terbuka. Hanya ditutup dari luar. Kalau kita bisa mengorek sedikit demi sedikit, kita bisa keluar."

"Mana mungkin Ugrawe meninggalkan begitu saja?"

"Ugrawe atau neneknya atau kakeknya, apa susahnya menghadapi. Kalau ia tak ada di situ justru aku yang akan mencarinya. Kupingnya yang sebelah akan kuputuskan juga."

Diam-diam Jagaddhita memuji ketabahan dan semangat tinggi Gendhuk Tri. Benar kau katanya tadi. Baginda Raja memerlukan perawan yang seperti ini, Kalau para wanita mampu berperan seperti Gendhuk Tri dan bukan sekadar puas menjadi selir. sejarah Keraton Singasari akan lain sekali. Tapi sayangnya, pikir Jagaddhita, mungkin saat berbakti itu sudah tak ada lagi.

"Awas sebelah kiri..." Suara Jagaddhita memperingatkan Gendhuk Tri. Walau ia terluka parah, kemampuannya mendengar desisan halus binatang masih sempurna.

"Ah, ular ini ternyata lebih cepat datangnya. Dagingnya bisa dimakan, darahnya bisa diminum."

Jagaddhita mendengar bunyi gerak cepat dan suara cekikikan. Sepertinya bisa menangkap hidup-hidup. Akan tetapi selebihnya tak bisa apa-apa. Jagaddhita ingin mengeluarkan suara, tetapi tenaganya telah musnah. Antara sadar dan tidak, dalam gelapnya gua yang pekat ia melihat warna-warni, seperti suasana upacara di Keraton.

"Sembah dalem..." Suara itu hanya terdengar dalam hati Jagaddhita. Ia sendiri terbaring lemah, tak bisa berbuat sesuatu. Warna-warna-warni-warni itu berubah menjadi senyuman Baginda Raja. Jagaddhita merasa aman, damai, tenteram, tenggelam....

* * *


PASAR BANYU URIP di desa Banyu Urip merupakan pasar yang terbesar di simpang jalan menuju Keraton Singasari. Setiap lima kali sehari, di hari pasaran, suasana menjadi sangat ramai. Sejak pagi-pagi, masyarakat sekitar berdatangan untuk menjadi penjual atau pembeli atau dua-duanya sekaligus. Meskipun disebut sebagai pasar dan paling ramai, keramaian itu sangat terbatas. Hanya ada dua bangunan dibuat dari bambu, beratapkan daun. Seperti juga bangunan-bangunan rumah yang ditemukan sepanjang jalan.

Pada hari kedua dalam perjalanan, Upasara Wulung menyaksikan masyarakat pedesaan hidup dalam keadaan tenteram dan damai. Sawah yang luas, hutan-hutan yang masih kelewat lebat, sepenuhnya memantulkan suasana alam. Sepi tapi damai. Sungguh berbeda dengan hiruk-pikuk Keraton. Dalam dua hari melakukan perjalanan, sejak keluar dari Lawang Sewu, Upasara hanya berjumpa beberapa kali dengan penduduk yang berjalan di jalan setapak. Suasana masyarakat belum ramai. Jalan setapak yang agak lebar pun tak banyak dilalui gerobak yang ditarik sapi. Kusir gerobak menegur ramah, dan menyilakan Upasara untuk ikut menumpang.

"Mari, Anakmas, beristirahatlah sebentar. Barangkali Anakmas ingin minum seteguk air tawar."

Upasara menatap wajah sais gerobak. Wajah yang jujur, polos, dengan pancaran kebahagiaan dan niat berbuat baik. Upasara menjadi tidak enak dalam hati. "Biarlah, Paman, hamba berjalan. Rasanya kaki hamba masih bisa meneruskan langkah."

"Ah, sungguh tak enak. Gerobak Paman memang tak pantas. Kenapa saya begini tolol menawarkan diri?"

"Maaf," Upasara menjadi kikuk. Dan ia naik ke gerobak. Dibagian depan. Dalam dua hari perjalanan, Upasara berubah banyak. Penampilannya tidak lagi mirip ksatria dari Keraton. Ia bertelanjang dada, seperti umumnya orang desa. Juga tidak mengenakan ikat kepala. Satu-satunya yang agak mewah hanyalah kain yang dikenakan. Meskipun sudah kotor, sobek di sana ini tapi masih memperlihatkan bahwa dulunya bukan kain yang murah. Namun secara keseluruhan, penampilan Upasara tak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Telapak kakinya juga mengesankan sudah pecah-pecah.

"Paman bernama Toikromo...."

"Maafkan hamba, Paman Toikromo. Seharusnya hamba memperkenalkan diri terlebih dulu. Maafkan hamba yang tak kenal sopan-santun. Upasara berusaha memberi hormat dengan menunjukkan ibu jari ke arah Toikromo, sambil menunduk. "Nama hamba Upa, berasal dari gunung. Hamba ingin nyuwita ke Keraton. Siapa tahu di sana membutuhkan tenaga pencari rumput...."

Upasara merasa kurang enak jika harus berbohong. Menghadapi wajah yang polos, hatinya terganggu. Maka ia menyebutkan bahwa namanya Upa. Upa juga berarti sebutir nasi. Nama yang biasa dipakai rakyat desa. Ia tidak mungkin menyebutkan nama lengkapnya, kecuali kalau ingin membangkitkan pertanyaan lainnya yang lebih jauh. Dengan menyebutkan ingin nyuwita, ingin mengabdi ke Keraton, hal ini mengurangi kecurigaan. Karena di zaman itu menjadi kelaziman utama mengabdi ke Keraton. Sedikit pemuda yang tertarik untuk melanjutkan hidup sebagai petani. Kalaupun menjadi petani, itu adalah petani Keraton, dan namanya nyuwita juga. Apakah pekerjaan yang dilakukan menjadi penari, pesinden, penabuh gamelan, pencari rumput untuk kuda, itu soal lain.

"Paman dulu juga ingin nyuwita tapi tak bisa diterima. Jadinya Paman bekerja sendirian, sebagai pengantar barang. Sekadar mencari sesuap nasi dan setetes air. Kalau mau ke Keraton, kita bisa sama-sama ke Pasar Banyu Urip."

"Terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba telah banyak merepotkan."

"Ah, jangan merasa begitu. Paman merasa gembira mempunyai teman. Tiga hari ini Paman berjalan sendirian. Hanya bercakap dengan Seta...."

Upasara tak bisa menyembunyikan rasa herannya. "Ini, sapi-sapi Paman...."

Upasara tersenyum. Dalam hatinya merasa heran juga. Mereka mempunyai nama sederhana untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. tetapi untuk nama binatang peliharaannya cukup bagus. "Pasar ramai sekali, Paman?"

"Ya, akhir-akhir ini. Selesai mengantarkan barang ini, Paman juga akan mengantarkan barang lainnya."

Upasara melirik ke bagian belakang. Tumpukan kotak-kotak kayu. Dilihat dari gerak dua ekor sapi yang berat. bisa diduga isinya sangat berat. Dan itu hanya mungkin jika di dalam kotak itu berisi... besi. Dan itu berarti senjata! "Diantar ke Gelang-Gelang, Paman?"

"Tidak. Paman dari Sana."

"Kemarin ini juga ada gerobak menuju ke sana."

"Ah, mungkin itu saudara Paman juga. Hanya kami yang mempunyai gerobak semacam ini. Lima-limanya dipakai semua. Ramai sekali. Belum pernah seramai ini. Kalau Anakmas gagal nyuwita, carilah Paman. Anakmas bisa bekerja pada Paman."

"Terima kasih, terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba akan segera sowan Paman."

"Paman juga punya anak gadis. Anakmas sudah kawin?"

Wajah Upasara merah. Menunduk gelisah. Perkelahian mati-hidup ia bisa menghadapi dengan tenang. Akan tetapi ditanya secara telak begini, apa yang bisa dilakukan? Ini benar-benar pembicaraan terbuka.

"Paman, orang seperti hamba siapa yang bersedia mengambil menantu?"

"Sama juga. Kalau sudah menjadi abdi dalem, siapa mau mempunyai mertua kusir gerobak?" Toikromo tertawa bergelak.

Gerobak itu mencapai Pasar Banyu Urip menjelang tengah hari. Upasara membantu menurunkan peti-peti. Meskipun Toikromo mengatakan tak usah. Benar dugaan Upasara bahwa tumpukan peti itu berisi tombak, keris, pedang, gada, serta perisai. Suatu persiapan yang besar-besaran. Dari Pasar Banyu Urip, peralatan itu akan diangkut oleh gerobak yang lain.

Sebenarnya di pasar ini Upasara berharap bisa membeli dua ekor kuda. Ia masih menyimpan gelang emas yang tadinya dipakai di kaki. Setidaknya itu bisa ditukarkan dengan dua ekor kuda yang bisa digebrak menuju Keraton. Makin cepat makin baik. Kalau mengandalkan kekuatan kaki, bisa-bisa sampai sepuluh hari belum sampai. Dulu saja ketika berangkat ke Perguruan Awan melalui jalan pintas, memakan waktu tiga hari tiga malam berkuda penuh. Namun harapan sia-sia. Tak ada bayangan seekor kuda atau kerbau atau sapi yang ditambat.

"Kenapa, Anakmas?"

"Biasanya ada kuda yang dijual."

"Biasanya memang ada. Sekarang belum sampai di sini sudah laku. Bahkan yang masih dalam kandungan sudah dipesan. Haha, Paman ini orang bodoh. Tapi semenjak Baginda Raja, yang menjadi sesembahan masyarakat, mengirim pasukan ke negeri seberang, masyarakat jadi makmur. Perang malahan membuat dagangan laku. Haha, Paman ini orang bodoh tidak mengerti apa-apa."

Memang, pikir Upasara. Kalau mengerti persoalan sebenarnya, tidak mungkin tertawa selepas ini. Paman Toikromo ini, seperti juga yang lain, mana mungkin memedulikan siapa yang membeli? Yang diketahui cuma satu. Pihak Keraton. Tapi apakah itu Keraton Singasari atau Gelang-Gelang ataupun yang lainnya, mana mereka memedulikan?

"Mungkin Anakmas akan bisa diterima menjadi prajurit."

"Pangestu Paman."

Toikromo bergerak lagi. Dua belas tumpukan peti bisa dipindahkan dalam waktu singkat. Biasanya memakan waktu sampai malam. Itu pun harus ditangani beberapa orang. Akan tetapi Upasara sanggup mengangkat sendirian. Kalaupun berdua dengan Toikromo, Toikromo seperti memegang papan yang enteng. Dua orang prajurit yang mengawasi, maju ke arah Toikromo.

"Anakmu cukup kuat, Pak Kromo."

Toikromo menghaturkan sembah. Upasara juga menghaturkan sembah. Dalam hatinya tersenyum geli. Mana mungkin ia harus menyembah prajurit biasa-biasa seperti ini? Senopati Suro pun memberi hormat lebih dulu!

"Hamba hanya kuat makan, Raden...." Upasara sengaja mengucapkan sebutan raden dengan keras. Tak peduli pantas disebut raden atau tidak, prajurit itu tersenyum lebar.

"Kami sedang mencari tenaga untuk mengangkut barang. Kalau kau bersedia, aku bisa mempekerjakanmu."

"Anak ini memang ingin nyuwita...."

"Asal tidak bertingkah."

"Maafkan hamba, Raden Prajurit...."

Toikromo berbisik, "Anakmas, ini peruntungan bagus. Siapa sangka kamu langsung diterima?"

"Semuanya karena pangestu Paman."

"Tapi jangan lupa, Paman masih ingin bermenantukanmu."

Prajurit itu mengeluarkan suara di hidung, sehingga Toikromo buru-buru terdiam tak bergerak. Malah suara napasnya pun tak terdengar.

"Tunggu di sini, malam nanti akan kujemput..."


BAGIAN 03CERSIL LAINNYABAGIAN 05

Senopati Pamungkas Bagian 04

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 04

JAGADDHITA bersorak. Upasara berhenti. Mengamati sekitar. Tak ada tanda-tanda gua di belakangnya. Karena memang tak ada bukit kecil.

"Pelan saja. Tekan bagian ujung rumput itu."

Upasara mengerahkan tenaganya. Bergeming.

"Pelan. Pelaaan saja."

Upasara menekan ke tanah. Perlahan ia salurkan tenaganya. Karena tak ada tanda batu-batuan atau pohon, ia menekan sekenanya. Mendadak, ada bagian tanah yang hancur. Seperti menjadi pasir. Makin lama makin lebar.

"Upasara, masuk."

"Yang lainnya?"

"Jangan pedulikan. Ayo masuk..."

Jagaddhita menggerung keras. Ia turun dari bopongan, dan mendorong Upasara masuk. Satu tangan menarik Gendhuk Tri dan mendorong ke arah lubang. Ia sendiri kemudian menjatuhkan dirinya. Upasara merasa tubuhnya terbang sedetik, lalu terguling dan terbanting-banting. Disusul pekik Gendhuk Tri, dan tubuh Jagaddhita sendiri.

Jagaddhita merangkak masuk lebih ke dalam gua, diikuti oleh Gendhuk Tri dan Upasara. Berjalan menelusuri terowongan tiga tindak, Jagaddhita seperti kejang. Dengan menggigit keras bibirnya, Jagaddhita berusaha terus merangkak. Rasa sakit dari pundaknya makin menyiksanya. Dengan menggertak semangatnya, Jagaddhita memaksakan diri sampai pada suatu cekungan. Tanpa bisa menahan dirinya lagi, Jagaddhita jatuh tertelungkup.

Gendhuk Tri menjerit sambil menggoyang tubuh Jagaddhita. Upasara memeriksa badan Jagaddhita yang ternyata makin panas. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Jagaddhita, bercampur dengan darah. Rambutnya yang putih sudah berubah lengket dengan darah yang membeku. Sementara itu sayup-sayup suara pertempuran masih terdengar. Sesekali jeritan menyayat di antara beradunya senjata. Jagaddhita berusaha duduk. Punggungnya bersandar ke dinding. Gendhuk Tri yang biasanya tak begitu peduli, kini pucat pasi.

"Wulung..." Suara Jagaddhita terdengar menggeram. "Teruslah menelusuri terowongan ini. Ikuti saja. Kira-kira waktu yang digunakan untuk menanak nasi, kau akan bisa keluar dari sini. Keluar dari desa ini. melewati sungai besar, kau akan segera menuju jalan utama menuju Keraton."

Jagaddhita meloloskan cincin di jarinya. "Meskipun kau orang Keraton dan bisa dengan enak keluar-masuk, bawalah cincin ini. Bagaimanapun keadaannya Keraton saat ini, dengan cincin ini kau bisa masuk ke sana. Tanda pengenal yang kau miliki bisa menjadi pembunuhmu bila saat ini Keraton dikuasai lawan. Cincin ini akan mengantarkan kau ke dalam."

Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih bingung. Dan kemudian, dengan satu gerak sangat cepat, tangan kanan Jagaddhita menampar pipinya sendiri. Plak. Keras sekali. Dari bibirnya mengalir darah segar.

"Mbakyu...," teriak Gendhuk Tri kaget.

Upasara Wulung membelalakkan matanya. Ia tak menyangka bahwa Jagaddhita akan menampar mulutnya sendiri hingga berdarah. Lalu tangan yang selesai untuk menampar dimasukkan ke mulut. Mencari-cari. Ketika keluar lagi, tangan itu ternyata memegang dua buah gigi. Masih basah oleh darah dan ludah.

"Temui Ingkang Sinuwun, Baginda Raja. Ingkang Sinuwun akan terpaksa menemuimu jika kau perlihatkan gigi ini. Dua buah gigi berlapis emas ini, dulu beliaulah yang menyarankannya. Wulung, apa kau jijik?"

Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih kacau.

"Segeralah berangkat. Apa pun juga yang terjadi, kau harus masuk Keraton, dan sowan Ingkang Sinuwun. Katakan kejadian ini. Wulung, berangkatlah sekarang."

Bibir Upasara bergetar keras. Ini benar-benar tak masuk dalam akalnya. Bagaimana mungkin seseorang mencabut giginya, dua buah, dengan paksa, sebagai tanda pengenal? Bagaimana mungkin seorang Baginda Raja yang demikian berkuasa dan besar pernah meminta seorang Jagaddhita untuk memasang gigi emas?

Pengalaman Upasara dalam soal asmara memang masih terlalu polos. Ia tak paham walau sekuku hitam soal liku-liku asmara. Bahwa Baginda Raja mempunyai selir sekian puluh, ia tahu persis. Bahwa Baginda adalah lelaki terpilih di antre semua wanita yang ada di Singasari, itu tak dibantahnya. Akan tetapi bahwa seorang yang begitu terhormat pernah menjalin asmara dengan cara ganjil, itu susah masuk di dalam pikirannya.

Jagaddhita menghela napas panjang. Tak mungkin dalam waktu sekejap ini menceritakan hubungan pribadinya dengan Baginda Raja. Mungkin juga ketika Jagaddhita meninggalkan Keraton, Upasara Wulung belum tahu banyak. Dan tak pernah mendengar cerita.

"Berangkatlah sekarang, Wulung."

"Tidak, Bibi... Saya tak mungkin meninggalkan Bibi sendirian di sini. Luka Bibi masih gawat, sementara setiap saat lawan bisa menyerbu ke dalam terowongan. Mana mungkin saya meninggalkan Bibi saat ini?"

"Wulung, kau ternyata sama tololnya dengan kerbau. Bikin malu keluarga Keraton saja. Dengar. Saat ini Keraton Singasari sedang dalam ancaman bahaya terbesar. Bahaya dari dalam. Kehinaan yang luar biasa sedang terjadi. Tuhan akan mengutuk sampai hari kiamat. Tetapi, sebelum kutukan itu datang, mungkin kita semua tak melihat Keraton lagi. Nah, selagi masih ada kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi bahaya, mengapa tidak kita usahakan? Wulung, jangan pikirkan keselamatan diriku. Aku sudah terlalu tua. Kalau sisa hidupku ini bisa menjadi darma bakti kepada Baginda Raja dan Keraton..."

Napas Jagaddhita tersengal-sengal. Rasa nyeri kambuh dengan hebatnya. Tetapi lebih daripada rasa nyeri di pundaknya, luka lama terobek kembali. Luka indah yang disembunyikan jauh di dalam hati sanubarinya. Ia hanyalah rakyat biasa. Ayahnya seorang abdi dalem bagian karawitan. Pada usia enam tahun, ia belajar menari. Pada usia delapan tahun, tepat sewindu, ia diizinkan belajar di dalam Keraton. Belajar menari. Saat itu Baginda Raja Kertanegara belum naik takhta. Akan tetapi secara tidak resmi telah memegang tampuk pemerintahan. Sebagai pangeran pati, putra mahkota, Kertanegara sangat memperhatikan masalah kesenian.

Sejak itulah secara resmi ia menjadi penari Keraton. Dengan nama resmi Jagaddhita. Ketika Baginda Raja berkenan mengambilnya sebagai selir kesayangan, Jagaddhita hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya: berbakti sepanjang hidupnya kepada yang telah memberi harga diri. Sejak itu pula Jagaddhita hanya berpikir satu hal: membahagiakan Baginda Raja. Dengan segala kemampuan dan pengobatan tradisional, Jagaddhita selalu menjaga agar tubuh dan penampilannya selalu sempurna, selalu membahagiakan Baginda Raja. Suatu malam yang sunyi, Baginda Raja bertanya kepadanya.

"Dhita, sekian lama kita berdua, aku tidak melihatmu hamil."

"Mohon ampun, Sinuwun. Ampunilah tindakan hamba yang cubluk yang kelewat bodoh ini. Hamba tak berhak menerima winih, benih, dari Ingkang Sinuwun."

"Kenapa, Dhita? Semua selirku ingin mendapatkan anak keturunanku. Kenapa kau tidak mau?"

"Hamba yang cubluk ini hanya berpikir dan menyerahkan segalanya demi kebahagiaan Sinuwun. Apa artinya kepentingan hamba pribadi. Maafkan, Sesembahan, bukannya hamba tidak berharap. Bidadari di surga pun berharap bisa menjadi penyambung keturunan Ingkang Sinuwun. Tetapi hamba cukup puas dan bahagia dunia-akhirat bisa membuat Sinuwun bahagia."

"Apa yang kau lakukan?"

"Maafkan hamba, Sinuwun,"

Baginda Raja mendengarkan penuturan Jagaddhita bahwa ia pergi kepada tukang pijat Keraton. Bahwa ia telah diurut sedemikian rupa sehingga tubuhnya tak mungkin bisa mengandung. Ini memang berbau seks, akan tetapi itulah yang dilakukan Jagaddhita, demi kepuasan orang yang paling dihormati.

"Ah! Kau tak usah berbuat seperti itu."

"Hukumlah hamba yang cubluk ini."

"Dhita, Dhita... kau benar-benar memberikan kebahagiaan dunia. Aku tak bakal bisa melupakanmu. Ratusan selir bergilir menanti perintahku, tetapi kau lain. Aku ingin kau menyimpan gigi emas di bagian belakang gigimu. Biarlah kita berdua saja yang tahu. Dhita, sebenarnya kau tak perlu berkorban seperti itu."

Itulah asal mulanya Jagaddhita melapisi giginya di bagian rahang dengan emas, Bisa dibayangkan betapa sakitnya ketika tadi Jagaddhita mencoba paksa mencopotnya. Namun semua ini dilakukan oleh Jagaddhita dengan segala kerelaan dan keikhlasan yang tulus.

Pemujaan Jagaddhita adalah pemujaan yang tulus ikhlas. Ia tidak berambisi apa-apa. Tidak juga sebagai selir terkasih. Atau bahkan berpikir untuk diangkat sebagai prameswari, permaisuri, yang kesekian. Tak setitik pun terpikir ke arah itu. Juga tidak setitik pun berpikir bahwa dengan itu ia bisa menyimpan harta benda. Ketika terjadi malapetaka di Keraton dengan diguntingnya rambutnya, Jagaddhita meninggalkan Keraton tanpa membawa bekal apa-apa. Kecuali cincin yang melekat di jarinya dan dua buah gigi emas yang tersembunyi.

Dalam manekung pada Tuhan, Jagaddhita menyerahkan dirinya. Tadinya ia berpikir untuk bunuh diri. Namun jiwa besar Baginda Raja menebas pikiran ke arah itu. Kalaupun ia bakal mati dengan telanjang dan berdiam diri, itu atas kehendak Tuhan, bukan keinginannya bunuh diri.

Jagaddhita memasuki hari keempat, membiarkan dirinya telanjang di tengah hutan. Antara pingsan dan sadar. Setelah melewati masa-masa dimanjakan di Keraton. secara tiba-tiba ia menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa makan, minum, atau istirahat. Tidak juga menghirup air hujan yang jatuh ke bibirnya. Ketika itulah ia melihat bayangan mendekat. Jagaddhita tak tahu apakah yang mendekat itu malaikat mau mengambil nyawanya, ataukah binatang buas mau memakan dagingnya, atau bayangan dalam mimpinya.

"Seumur hidup aku kenyang melihat wanita telanjang, tapi di tempat seperti ini sungguh tak pernah kuperkirakan." Bayangan itu ternyata manusia yang bisa berkata. "Nah, jika kau masih ingin terus telanjang tanpa malu, aku akan menikmati sampai puas."

Jagaddhita bergeming. Ia memang sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak tahu bahwa kemudian tubuhnya ambruk ke rumput. Dan dibiarkan semalaman, dan esoknya diberi makan buah-buahan.

"Nah, sebelum kau mati, ceritakan siapa namamu."

Jagaddhita menemukan dirinya terbaring dikarang, dalam suatu gua. Tubuhnya ditutupi daun-daunan.

"Saya tidak punya nama. Semua tak perlu."

"Ini baru menyenangkan. Kau patah hati karena suamimu kawin lagi? Atau anakmu kawin dengan orang yang tidak kau sukai? Suamimu jadi penjudi?"

Jagaddhita tak menjawab. Tak kuasa apa-apa, ketika lelaki yang berwajah tua itu memeras air jeruk dan menyuapinya. Lalu meninggalkan. Esoknya muncul lagi.

"Belum mati?"

"Kenapa Rama menolong saya?"

"Bagus, setiap kali aku bertanya, kau juga bertanya. Aku bertanya, aku butuh bertanya karena aku suka orang yang nglalu, orang yang berniat bunuh diri seperti kamu."

Lalu ditinggal pergi. Jagaddhita mulai memakai kain yang diberikan orang itu, yang selalu datang pada pagi hari.

"Bagus, sekarang kau mau cerita?"

"Siapa nama Rama?"

Begitulah selama dua minggu, keduanya bertemu pada pagi hari untuk saling melontarkan pertanyaan. Minggu kedua, Jagaddhita melihat Rama sedang berlatih silat.

"Mari kuajari kau satu gerakan yang paling mustahil. Tapi setiap kali kau harus menceritakan dirimu."

"Rama, apa perlunya mempelajari gerakan itu? Tanpa dipelajari pun bisa."

Rama jadi berjingkrakan. "Kalau kau bisa menirukan gerakku, kuangkat kau jadi muridku. Bagaimana?

Begitu selesai bicara, Rama melihat takjub. Jagaddhita menirukan secara persis gerakan yang ditunjukkan Rama.

"Rama Guru, apakah gerakan saya salah?"

Rama Guru membelalak. "Dewa pun perlu belajar gerakan itu dua bulan. Bagaimana mungkin kau bisa menirukan dengan sekali lihat? Kau pasti mengakaliku! Tidak, aku tak mau dipanggil Rama Guru. Kecuali... kecuali kalau gerakan ini kautirukan dengan persis"

Rama Guru membuat gerakan, dimulai dengan dua gerakan tangan Yang satu menusuk ke depan, lalu ditarik ke belakang. Sebelum tarikan penuh, tangan sebelahnya menusuk ke depan, yang juga berbelok ke arah bawah, disusul dengan dua gerakan kaki sekaligus, seperti tangan bertepuk. Dengan meloncat hal itu bisa terjadi.

Hanya saja, ketika tubuhnya turun kembali, satu tangan menyangga tubuh sebelum menyentuh tanah, dan dua kakilah yang digunakan untuk menendang. Cara menendang ke depan dengan berbalik mirip gerakan tangan. Satu maju, ditarik, dan diganti kaki kedua yang arahnya berbelok, lalu disusul, atau lebih tepat diganti dengan tusukan tangan.

Belum selesai gerakan itu, Jagaddhita sudah bisa menirukan. Hanya saja ketika menjatuhkan diri dengan jungkir berbalik dan disangga dengan satu tangan, penyanganya tidak kuat. Sehingga tubuhnya terbanting ke rumput dan tangannya sakit sekali. Akan tetapi gerakan kakinya tetap sama. Gerakan susulan dengan tangan terganggu karena tangan Jagaddhita sangat sakit.

"Lhadalah... siapa suruh aku berjanji mengangkat murid segala?"

"Rama Guru yang berjanji, bukan saya."

"Katakan dari mana kau mengintip aku latihan?"

"Baru saja. Rama Guru sendiri yang mengajari."

Bagi Rama Guru ini tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin dengan sekali melihat bisa menirukan secara persis?

Sebenarnya bagi Jagaddhita tak ada yang aneh. Tak ada yang mustahil. Juga ketika ditunjukkan gerakan yang makin sulit, Jagaddhita bisa menirukan secara persis. Bahkan kemudian merangkaikan gerakan ke satu dengan gerakan kedua, dengan gerakan ketiga, dan seterusnya. Lalu menyambung dengan gerakan semula.

Memang tidak aneh bagi Jagaddhita. Sejak kecil ia mengenal tarian. Dan hidupnya semata-mata untuk berlatih gerakan menari. Dasar-dasar semua gerakan tangan dan kaki ia kuasai dengan baik. Berdasarkan ketajaman matanya, ia bisa menghafal dengan mudah. Kecuali gerakan-gerakan yang menurut ukurannya, tidak terlalu tepat. Seperti gerakan mengangkang atau gerakan mengangkat tangan lebih tinggi dari bahu. Gerakan semacam ini agak tabu untuk seorang wanita. Kurang susila.

Kalau seorang guru tari yang paling kenamaan mengajarkan ini pada Jagaddhita sebelum rambutnya dipotong, Jagaddhita lebih suka mati daripada berbuat tidak susila. Akan tetapi sekarang ini, pikiran susila atau tidak, mencerminkan kewanitaan atau tidak, bukan masalah lagi. Telanjang pun ia tak akan peduli lagi apakah ini memalukan atau tidak.

Demikianlah berminggu-minggu Rama Guru mengajari berbagai gerakan, dan Jagaddhita menirukan dengan sempurna.

"Kau bisa menirukan dengan baik, tapi tak ada gunanya. Kau tak punya tenaga sama sekali. Percuma saja."

"Kalau itu bisa dilatih, apa susahnya, Rama Guru?"

Sampai enam bulan purnama, Jagaddhita melatih pernapasan dan cara menghimpun tenaga. Rama Guru selalu datang dan pergi. Kadang melatih, kadang langsung mengajak bertempur. Namun selama itu tak pernah saling mengenal. Jagaddhita tak mengenal siapa yang mengajari dan Rama Guru juga tak mengenal siapa yang diajari. Dua tahun berlalu dengan cepat. Jagaddhita makin pesat. Ia lebih mantap dan lebih lama mengimbangi Rama Guru.

"Selama ini aku main panggil kau dan saya saja. Dengan apa kau kupanggil?"

"Saya bisa dipanggil dengan apa saja."

"Selama ini kau dipanggil apa?"

"Jagaddhita."

"Lhadalah... namamu terlalu bagus. Siapa yang memberi nama seperti itu?"

"Ingkang Sinuwun..."

Tak diduga tak dinyana, Rama Guru berteriak gusar dan langsung menghantam pohon asam. Belum puas dengan satu pukulan Rama Guru menyerang secara beruntun, dan kemudian menendangnya .hingga pohon itu rubuh mengeluarkan suara keras.

"Kau sebut nama itu, kubunuh kau!"

"Nama itu anugerah Ingkang Sinuwun. Kalau mau bunuh silakan, Rama Guru."

Jagaddhita tak menyangka bahwa Rama Guru benar-benar mengayunkan tangannya dan sebongkah batu jadi retak karenanya.

"Rama Guru, saya tak bisa menjawab yang lain."

"Ketahuilah bahwa raja itu tak perlu kau ucapkan. Apalagi dengan rasa hormat seperti itu. Ia..."

Kini ganti Jagaddhita yang murka. Ia sama sekali tak rela sesembahannya, priyagung yang paling dihormati dan dikagumi dipanggil "ia" begitu saja.

"Mulai hari ini Jagaddhita tak perlu berguru kepada Rama lagi. Kalau Rama mau mengambil semua ilmu yang ada, silakan."

"Kau goblok."

"Benar, Rama Guru."

"Kau edan."

"Benar, Rama Guru."

"Ia itu..."

Jagaddhita langsung menyerang. Tiga jurus cuma, ia sudah ditelikung. Tubuhnya dikempit dengan dua kaki Rama Guru yang sekaligus menginjaknya.

"Dhita, kau masih penasaran?"

"Panggilan itu hanya diucapkan Ingkang Sinuwun."

Rama Guru tertawa lucu. Lalu mengumandangkan nama "Dhita, Dhitaaaa" berulang kali hingga jemu. "Dhita, aku mau lihat kau bisa apa. Aku bisa berteriak, bisa memanggilmu seperti ia memanggilmu. Apa hebatnya rajamu itu?"

"Lalu apa hebatnya Rama Guru kalau cuma bisa menirukan?"

Rama Guru meludah ke tanah. Lalu bersuara pelan, seperti kepada dirinya sendiri, "Barangkali Penguasa Tunggal sedang mengujiku. Sekian lama aku meninggalkan Keraton, sekian lama aku membenci dan bersumpah tak mau mendengar suara menyebut namanya. Tak tahunya sekarang masih tetap harus kudengar sebutan raja dengan embel-embel yang memalukan. Dan orang yang menyebut itu memanggilku sebagai Rama Guru. Dunia tidak adil." Lalu Rama Guru pergi lama sekali.

Jagaddhita berlatih sendiri. Setengah tahun ia berlatih sendiri dengan segala ketekunannya. Semua waktu yang ada dihabiskan untuk terus-menerus berlatih. Jagaddhita memang tak memikirkan hal yang lain. Makan ia bisa mengambil buah-buahan, minum dan mandi tak menjadi soal. Pakaian pun selama masih ada yang dikenakan, sudah lebih dari cukup. Satu-satunya keinginannya: bisa merubuhkan pohon asam dan menghancurkan batu seperti yang dilakukan Rama Guru. Kalau ia sudah menguasai itu... bisa membalas dendam.

Rama Guru ternyata muncul lagi. Dan melihat ketekunan serta ketaatan Jagaddhita yang dahsyat. Hasratnya menyala-nyala. Sehingga ia melatih lagi, dan lebih bersungguh-sungguh. Hubungan antara guru dan murid yang sangat ganjil. Mereka berdua membicarakan banyak hal dengan akrab. Tapi kalau sudah membelok ke arah pembicaraan mengenai Baginda Raja dan atau ia, menemui jalan buntu. Dua-duanya tersinggung, dan pertempuran tak bisa dihindarkan.

Makin lama Jagaddhita makin bisa mengimbangi Rama Guru. Makin tahun makin lama bertahan, dan beberapa kali pula Jagaddhita mampu balas menyerang. Sesungguhnya ini cara belajar yang efektif. Karena ketika uji coba atau latihan, semua dipraktekkan dengan sungguh-sungguh. Jagaddhita bisa melukai lengan Rama Guru. Sebaliknya ia sendiri beberapa kali mengalami patah tulang. Atau bahkan muntah darah.

"Dan sekarang kau bisa membalas dendam. Berangkatlah. Siapa yang akan kau balas?"

Barulah Jagaddhita menerangkan asal-usulnya. Dan ia berangkat ke Keraton. dan kemudian kembali lagi tanpa hasil. Ia tak jadi membalas dendam.

"Tidak jadi?"

"Rama Guru, izinkanlah saya berbakti pada Rama Guru, kepada Keraton, kepada Baginda Raja...."

"Kau mau jadi prajurit?"

"Berbakti pada Keraton tidak selalu harus menjadi prajurit."

"Keraton? Negara? Selama rajamu itu yang memerintah, selama itu pula masih akan berantakan tak karuan."

"Rama, bukankah kewajiban kita untuk berbakti pada Raja Keraton, yang berarti berbakti pada negara? Baginda Raja sangat besar, sangat jembar, sangat luas pandangan Baginda Raja...."

"Aku tak mau berbicara soal itu lagi. Kau sudah gila. Tak bisa dibuat waras lagi. Pergilah. Kutunggu di sini setiap malam purnama di akhir tahun."

Begitulah Jagaddhita mulai berkelana. Mulai terjun dalam dunia persilatan. Sekali setahun ia kembali ke tempat semula untuk bertemu Rama Guru. Menceritakan pengalaman, melatih, bertempur, dan berakhir dengan hal yang sama. Bertahun-tahun kejadian itu terus berulang. Jagaddhita makin matang. Bukan hanya dalam penguasaan ilmu silat akan tetapi juga pengalaman hidup. Sampai suatu ketika Rama Guru membawa seorang anak kecil, yang dipanggil Gendhuk Tri.

"Ia bisa kau pakai untuk latihan. Ajari terus seperti aku mengajarimu. Dhita, dua tahun lagi pergilah ke Perguruan Awan. Di Sana akan ada Tamu dari Seberang. Kalau tamu itu benar datang, lihat apa yang terjadi. Laporkan kepadaku. Mulai hari ini aku akan sibuk sekali."

Itulah asal mulanya Jagaddhita datang ke Perguruan Awan. Dan sekarang, Jagaddhita merasa tak bisa menyanggupi semua perintah Rama Gurunya. Jagaddhita menghela napas.

"Wulung..."

Upasara masih ragu.

Sebentar lagi aku akan mati. Juga yang lainnya. Tetapi jika kau bisa memberitahukan ke Keraton bahwa Raja Gelang-Gelang akan kraman, akan mbalela, akan memberontak, dan akan berkhianat, rasanya masih ada artinya. Makin cepat makin baik. Kau masih tunggu apa lagi?"

"Bibi..."

"Kalau kau tak berangkat, aku akan mati dengan sedih sekali."

"Gendhuk Tri..."

Jagaddhita menggeleng. "Tidak. Kau jangan bawa dia. Perhatianku akan terpecah. Biarlah Gendhuk Tri di sini bersama aku. Kepada Rama Guru aku berjanji mengajari. Mungkin masih ada sisa beberapa saat. Sesuai dengan janjiku. Kalau Gendhuk Tri ikut bersamamu, ia akan memperlambat perjalananmu. Padahal kau tak boleh terlambat. Kalau pasukan Gelang-Gelang mencapai Keraton, sejarah Singasari akan lain."

Upasara Wulung berpikir sendiri. Cepat ia melaksanakan jalan pikirannya. Tangan kiri menarik Gendhuk Tri dan mulai merangkak ke luar. "Maafkan Bibi, Gendhuk Tri saya ajak..."

Tiga rangkakan. Gendhuk Tri menggigit tangan Upasara keras sekali. Dalam kagetnya Upasara melepaskan cekalannya.

"Siapa sudi ikut kamu?"

Benar-benar tak tahu bahaya, pikir Upasara. Ia berusaha menangkap Gendhuk Tri yang sulit menghindar karena terowongan sangat sempit.

"Aku akan buka kainku kalau kau menarikku."

Gendhuk Tri bukan hanya sesumbar. Ia benar-benar mengangkat dan melepaskan kainnya. Tak ada jalan lain bagi Upasara selain memalingkan wajahnya. Begitu berpaling pantatnya ditendang Gendhuk Tri sambil tertawa mengikik. Dan Upasara tak punya pilihan selain terus merangkak maju.

Gua itu panjang dan gelap. Beberapa kali Upasara terantuk. Blangkonnya jatuh entah di mana. Kadang ia terpaksa benar-benar merayap seperti ular, kadang merangkak seperti anjing, kadang setengah laku ndodok, sikap hormat kalau mau sowan di Keraton. Upasara mengerahkan tenaganya. Kalau banyak orang mau mengorbankan diri untuk memberi laporan ke Keraton, untuk berbakti pada Keraton, kenapa ia harus ayal-ayalan? Secara jelas ia masih mendengar suara teriakan di mulut gua. Rasanya beberapa prajurit sudah memasuki gua.

Sebentar lagi pasti menemukan tempat Jagaddhita dan Gendhuk Tri. Dan kedua orang itu pasti akan berusaha menghambat jalan masuk. Upasara tidak mau mati percuma. Ada dendam yang bergelora dalam dadanya. Dendam pribadi dan dendam kepada Ugrawe serta pengkhianatan Jayakatwang. Desakan ini semua makin mengeras dalam diri Upasara.

Dan ia berjalan, merangkak, merayap makin cepat. Makin tidak memedulikan dirinya sendiri. Gua itu makin lama makin gelap. Seperti tak ada ujungnya. Upasara terus merayap, merangkak, berjalan. Tujuannya hanya satu. Ke arah depan. Barangkali akan ditemukan cahaya. Dan kemudian memacu tenaga sekuatnya untuk bisa lebih dulu sampai ke Keraton!

* * *


JAGADDHITA melepas kepergian Upasara dengan rasa bahagia. Terdengar helaan napasnya yang panjang, berat dan sangat melelahkan.

"Gendhuk Tri, apakah kau takut mati?" Suara Jagaddhita sangat perlahan. Rasa masih sakit muncul setiap kali ia mengerahkan sedikit tenaga. Akhirnya Jagaddhita bersandar ke dinding batu. Terasa tak tersisa lagi tenaganya. Kepalanya juga menyandar sepenuhnya.

"Gendhuk Tri. apa kau takut mati?"

Sinar mata polos Gendhuk Tri memantulkan cahaya. "Bagaimana aku tahu Mbakyu? Aku belum pernah mati."

"Sebentar lagi akan kau rasakan. Akan kita rasakan bersama. Bagaimana rasanya sekarang ini?"

"Aku sendiri tak tahu."

"Inilah yang dinamakan nasib. Inilah takdir. Kita hanya tinggal menjalaninya. Aku tidak mengenalmu, Tidak mengenal asal-usulmu. Tapi apakah penting kita saling bercerita kalau sebentar lagi mati? Sejak Rama Guru menyerahkanmu kepadaku, aku merasa kau bagian dari diriku. Aku menyukaimu. Perawan seperti kaulah yang diharapkan muncul di Keraton. Baginda Raja akan sangat bangga mempunyai rakyat sepertimu. Berani, ganas dan maju ke depan. Sayang sekarang ini keadaannya tidak memungkinkan Baginda Raja bertemu denganmu."

"Mbakyu kenapa selalu bercerita tentang kematian."

"Sebab itulah yang akan segera terjadi. Gua ini akan diketemukan. Jika bangsat Ugrawe itu menemukan, ia akan menyerbu masuk. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah membuat mati bersama. Setidaknya melukai seperti tadi. Tapi bangsat itu kelewat licik. Ia bisa menyuruh menimbuni lubang dan itu berarti kita terkubur hidup-hidup di sini."

"Kalau Kangmas Wulung bisa keluar dari sini, apa susahnya kita keluar? Segera setelah Mbakyu bisa menahan rasa sakit, kita melalui jalan yang dilewati Kangmas Wulung."

Dalam gelap Jagaddhita tersenyum. Ingin sekali tangannya mengelus kepala Gendhuk Tri. "Gua ini dinamakan Lawang Sewu, alias Pintu Seribu. Banyak sekali jalan masuk, banyak sekali jalan keluarnya. Akan tetapi jalan keluar yang sesungguhnya hanya satu. Yaitu yang dilalui. Setelah itu tak mungkin bisa dilalui lagi. Ini adalah gua yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya dipakai sekali saja."

"Aku belum pernah mendengar nama gua seaneh ini."

"Gua Lawang Sewu dahulu dipersiapkan olah Mpu Raganata yang kesohor. Untuk menjebak lawan yang akan menyerbu ke Keraton Singasari. Perguruan Awan ini sengaja dibangun di sini, karena sesungguhnya inilah benteng yang paling ketat di luar dinding Keraton. Eyang Sepuh sengaja mendirikan Perguruan Awan di sini bukannya tanpa perhitungan. Jika lawan akan menyerbu ke Singasari, pastilah akan melalui Perguruan Awan. Dan di sinilah akan terjadi perang habis-habisan. Ada dua kemungkinan. Perguruan Awan menang atau kalah. Jika menang, lawan bisa dihalau mundur dan tak akan menjadi persoalan. Jika lawan menang, para ksatria akan melarikan diri lewat Gua Lawang Sewu ini dengan harapan lawan akan mengejarnya. Dan lawan itu akan terkubur di sini. Karena setiap lorong yang baru saja dilewati, tanah-tanahnya akan berguguran menutup dengan sendirinya. Dan mereka tak mungkin bisa maju lagi. Ini akan dimulai di tengah gua. Sehingga pengejarnya tak akan bisa mundur lagi. Kalau kita tadi mengikuti Upasara Wulung, kita mungkin akan selamat. Tetapi itu percuma. Karena aku sudah tidak kuat lagi. Itulah sebabnya tadi kutanyakan apakah kau tidak takut mati."

"Lawang Sewu adalah perangkap yang dahsyat. Hebat sekali yang bernama Raganata itu."

"Hush... kau tidak boleh menyebut namanya begitu saja." Kalau Jagaddhita masih cukup tenaganya, mungkin ia akan langsung menempeleng Gendhuk Tri. Atau paling tidak akan menjewer hingga Gendhuk Tri kesakitan dan menyembah Mpu Raganata.

"Di dunia ini. yang mampu mengimbangi jiwa besar Baginda Raja, hanyalah Mpu Raganata. Kedua junjungan ini ibarat panglima perang dan saisnya. Akan tetapi, siapa nyana, jika sekarang bangsat Ugrawe memorak-porandakan semua rencana besar ini?"

"Mbakyu, aku belum mengerti. Kalau Lawang Sewu ini ciptaan yang terhormat Mpu Raganata, bagaimana mungkin Mbakyu bisa mengerti?"

"Meskipun aku sangat dekat dengan Baginda Raja, tak bakal Baginda Raja memberitahu soal ini."

"Dari mana Mbakyu mengetahui hal ini?"

"Dari Rama Guru."

"Rama Guru?" Suara kaget Gendhuk Tri membuat Jagaddhita juga kaget.

"Kenapa kau seperti kaget?"

"Siapa sebenarnya Rama Guru?"

"Astaga, kau tak mengenalnya?"

"Tidak."

"Bagaimana kau bisa diajak Rama Guru untuk dipertemukan denganku?"

Gendhuk Tri duduk bersila. Tangannya bermain dengan pasir tanah. "Aku berada di Keraton, ingin belajar menari. Akan tetapi kemudian diambil oleh Rama Guru. Dibawa berkeliling. Diajari ilmu silat, dan kemudian dipertemukan dengan Mbakyu. Lalu Mbakyu ajak berkelana, berlatih, dan menuju daerah ini."

"Hmmmmmmm, aku sudah menduga bahwa Rama Guru mempunyai hubungan yang erat dengan Keraton. Sangat erat. Tapi entahlah, hubungan apa. Rama Guru sendiri tak pernah bersedia menjelaskan. Pastilah hubungan antara dendam dan pemunah yang berlebihan. Hmmmmmmm, sungguh sulit diduga..."

"Sampai mati pun kita tak akan mengenali"

"Heh, Gendhuk Tri, kau juga tidak tahu siapa Rama Guru?"

Gendhuk Tri menggeleng.

"Bagaimana ia mengajakmu pergi?"

"Aku sudah bilang tadi. Mbakyu mendengarkan apa tidak?"

Dalam situasi yang kebat-kebit begini, Gendhuk Tri ternyata masih keras kepala.

"Aku sudah bilang mau belajar menari. Datang ke Keraton dan kemudian bertemu dengan Rama Guru dan ia ternyata mengajari aku ilmu silat. Lalu membawaku pergi."

"Kau tak tanya kenapa?"

"Rama Guru bilang, aku tak boleh jadi klangenan Baginda Raja."

Darah Jagaddhita berdesir keras. Klangenan adalah istilah yang diperhalus dari gendhak, atau penghibur. Agaknya Rama Guru kuatir kalau nanti Gendhuk Tri nasibnya sama dengan Jagaddhita!

"Aku bilang bahwa aku tak mau jadi klangenan. Aku mau jadi penari."

"Hush, kau tak boleh bicara seperti itu. Apa pun kehendak Baginda Raja, itu harus kita junjung tinggi. Kita ini punya darah dewa mana, sehingga harus berkata tidak kalau Baginda Raja menghendaki? Kalau..."

Suara Jagaddhita terhenti. Matanya menjadi buas. Dua buah bayangan menyuruk masuk. Gendhuk Tri bersiap untuk menghadapi. Tapi bayangan tubuh itu tak bereaksi apa-apa. Jatuh begitu saja. Sekilas Jagaddhita masih bisa mengenali bahwa bayangan yang dilemparkan ke dalam adalah Padmamuka dan Pu'un yang sudah menjadi mayat! Belum hilang kaget mereka berdua, suasana berubah menjadi gelap total. Terdengar teriakan dan hamburan tanah.

Gendhuk Tri merapat ke arah Jagaddhita. Jagaddhita memeluk lembut.

"Mereka mulai menimbuni mulut gua."

"Ya," suara Jagaddhita lembut.

"Mereka mengubur kita hidup-hidup dan dua bangkai ini."

"Kau takut mati?"

"Aku takut gelap."

"Kalau begitu kau harus bunuh diri. Agar tidak mengalami ketakutan. Kalau aku masih mempunyai tenaga simpanan, aku akan membunuhmu. Agar kau tak usah ketakutan. Tapi aku sendiri..."

Tubuh Jagaddhita bergoyang-goyang. Ketika akan berusaha duduk tadi rasa sakit kembali menggigit seluruh tubuhnya bagian belakang.

Gendhuk Tri merangkul Jagaddhita, lalu menyeret ke depan. Dalam gelap ia menyuruk maju beberapa tindak. "Apa yang harus kita lakukan, Mbakyu?"

"Suaramu gemetar. Sungguh sayang, kau harus mengalami ketakutan seperti ini sebelum mati."

"Siapa bilang aku takut mati? Aku takut gelap. Aku... aku... juga takut mayat."

"Hmmmmmmm, tapi bagaimana mungkin melenyapkan mayat itu? Apa kita harus memakannya? Itu satu-satunya jalan untuk menyambung hidup kita, sementara."

Gendhuk Tri bergidik. Mendadak ia lepaskan rangkulannya, dan Jagaddhita terbanting di tanah. "Kau sudah gila, Mbakyu. Mana mungkin kita makan mayat?"

"Habis, apa kita harus mati kelaparan dan ketakutan melihat mayat?"

"Pokoknya aku tak mau makan mayat. Paling tidak di sini ada ular atau kelabang atau tikus atau hewan tanah yang lain. Itu masih lebih nikmat dari mayat ini." Gendhuk Tri merangkak maju.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Mengubur mereka."

"Astaga. Benar-benar goblok. Kita sendiri sudah terkubur, untuk apa bersusah payah mengubur?"

"Sebentar lagi mayat itu berbau. Aku tak mau bau itu."

"Gendhuk Tri..."

Gendhuk Tri terhenti. "Hati-hati. Jangan sentuh dengan tanganmu. Mayat itu mengandung racun keras. Padmamuka adalah biangnya racun. Semua darah dan kulit pori-porinya beracun. Kau bisa mati karenanya."

"Mbakyu... Mbakyu...Tadi bilang kita bakal mati. Kalau mati kena racun atau kelaparan, apa bedanya?"

Meskipun demikian. Gendhuk Tri mengindahkan kalimat Jagaddhita. Ia menggali tanah sekitarnya dengan patrem. Sampai berkeringat dan tersengal-sengal. Semua dilakukan dalam gelap. Hanya berdasarkan perkiraan saja. Baru kemudian menggulingkan kedua tubuh itu ke dalam satu liang, dan kemudian menimbuni dengan tanah. Waktu yang digunakan untuk menggali dan menimbun kembali cukup lama. Sehingga Gendhuk Tri tersengal-sengal dan kehabisan tenaga.

"Nah, kini kalian berdua bisa beristirahat dengan tenang. Kalian pasti tak mengira aku telah menguburkan kalian dengan baik. Mudah-mudahan arwah kalian tahu cara berterima kasih dan menunjukkan pada kami jalan keluar. Setidaknya bangkai kalian tidak terlalu busuk dan mengganggu kami. Tapi tetap cukup busuk untuk mengundang ular tanah dan aku bisa menyantap."

"Gendhuk Tri..."

"Sudah selesai, Mbakyu..."

"Kau belum mati?"

"Hampir,"

"Tidak. Kita belum bakal mati. Lawang Sewu ini ternyata masih memungkinkan kira bernapas. Setidaknya..."

"Apa, Mbakyu?"

"Tidak. Dari mana kita bisa keluar?"

"Kalau kita bisa bertahan di sini. Kita bakal keluar dari pintu kita masuk tadi. Gua ini kan buntu di depan, tapi arah kita datang tadi kan masih terbuka. Hanya ditutup dari luar. Kalau kita bisa mengorek sedikit demi sedikit, kita bisa keluar."

"Mana mungkin Ugrawe meninggalkan begitu saja?"

"Ugrawe atau neneknya atau kakeknya, apa susahnya menghadapi. Kalau ia tak ada di situ justru aku yang akan mencarinya. Kupingnya yang sebelah akan kuputuskan juga."

Diam-diam Jagaddhita memuji ketabahan dan semangat tinggi Gendhuk Tri. Benar kau katanya tadi. Baginda Raja memerlukan perawan yang seperti ini, Kalau para wanita mampu berperan seperti Gendhuk Tri dan bukan sekadar puas menjadi selir. sejarah Keraton Singasari akan lain sekali. Tapi sayangnya, pikir Jagaddhita, mungkin saat berbakti itu sudah tak ada lagi.

"Awas sebelah kiri..." Suara Jagaddhita memperingatkan Gendhuk Tri. Walau ia terluka parah, kemampuannya mendengar desisan halus binatang masih sempurna.

"Ah, ular ini ternyata lebih cepat datangnya. Dagingnya bisa dimakan, darahnya bisa diminum."

Jagaddhita mendengar bunyi gerak cepat dan suara cekikikan. Sepertinya bisa menangkap hidup-hidup. Akan tetapi selebihnya tak bisa apa-apa. Jagaddhita ingin mengeluarkan suara, tetapi tenaganya telah musnah. Antara sadar dan tidak, dalam gelapnya gua yang pekat ia melihat warna-warni, seperti suasana upacara di Keraton.

"Sembah dalem..." Suara itu hanya terdengar dalam hati Jagaddhita. Ia sendiri terbaring lemah, tak bisa berbuat sesuatu. Warna-warna-warni-warni itu berubah menjadi senyuman Baginda Raja. Jagaddhita merasa aman, damai, tenteram, tenggelam....

* * *


PASAR BANYU URIP di desa Banyu Urip merupakan pasar yang terbesar di simpang jalan menuju Keraton Singasari. Setiap lima kali sehari, di hari pasaran, suasana menjadi sangat ramai. Sejak pagi-pagi, masyarakat sekitar berdatangan untuk menjadi penjual atau pembeli atau dua-duanya sekaligus. Meskipun disebut sebagai pasar dan paling ramai, keramaian itu sangat terbatas. Hanya ada dua bangunan dibuat dari bambu, beratapkan daun. Seperti juga bangunan-bangunan rumah yang ditemukan sepanjang jalan.

Pada hari kedua dalam perjalanan, Upasara Wulung menyaksikan masyarakat pedesaan hidup dalam keadaan tenteram dan damai. Sawah yang luas, hutan-hutan yang masih kelewat lebat, sepenuhnya memantulkan suasana alam. Sepi tapi damai. Sungguh berbeda dengan hiruk-pikuk Keraton. Dalam dua hari melakukan perjalanan, sejak keluar dari Lawang Sewu, Upasara hanya berjumpa beberapa kali dengan penduduk yang berjalan di jalan setapak. Suasana masyarakat belum ramai. Jalan setapak yang agak lebar pun tak banyak dilalui gerobak yang ditarik sapi. Kusir gerobak menegur ramah, dan menyilakan Upasara untuk ikut menumpang.

"Mari, Anakmas, beristirahatlah sebentar. Barangkali Anakmas ingin minum seteguk air tawar."

Upasara menatap wajah sais gerobak. Wajah yang jujur, polos, dengan pancaran kebahagiaan dan niat berbuat baik. Upasara menjadi tidak enak dalam hati. "Biarlah, Paman, hamba berjalan. Rasanya kaki hamba masih bisa meneruskan langkah."

"Ah, sungguh tak enak. Gerobak Paman memang tak pantas. Kenapa saya begini tolol menawarkan diri?"

"Maaf," Upasara menjadi kikuk. Dan ia naik ke gerobak. Dibagian depan. Dalam dua hari perjalanan, Upasara berubah banyak. Penampilannya tidak lagi mirip ksatria dari Keraton. Ia bertelanjang dada, seperti umumnya orang desa. Juga tidak mengenakan ikat kepala. Satu-satunya yang agak mewah hanyalah kain yang dikenakan. Meskipun sudah kotor, sobek di sana ini tapi masih memperlihatkan bahwa dulunya bukan kain yang murah. Namun secara keseluruhan, penampilan Upasara tak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Telapak kakinya juga mengesankan sudah pecah-pecah.

"Paman bernama Toikromo...."

"Maafkan hamba, Paman Toikromo. Seharusnya hamba memperkenalkan diri terlebih dulu. Maafkan hamba yang tak kenal sopan-santun. Upasara berusaha memberi hormat dengan menunjukkan ibu jari ke arah Toikromo, sambil menunduk. "Nama hamba Upa, berasal dari gunung. Hamba ingin nyuwita ke Keraton. Siapa tahu di sana membutuhkan tenaga pencari rumput...."

Upasara merasa kurang enak jika harus berbohong. Menghadapi wajah yang polos, hatinya terganggu. Maka ia menyebutkan bahwa namanya Upa. Upa juga berarti sebutir nasi. Nama yang biasa dipakai rakyat desa. Ia tidak mungkin menyebutkan nama lengkapnya, kecuali kalau ingin membangkitkan pertanyaan lainnya yang lebih jauh. Dengan menyebutkan ingin nyuwita, ingin mengabdi ke Keraton, hal ini mengurangi kecurigaan. Karena di zaman itu menjadi kelaziman utama mengabdi ke Keraton. Sedikit pemuda yang tertarik untuk melanjutkan hidup sebagai petani. Kalaupun menjadi petani, itu adalah petani Keraton, dan namanya nyuwita juga. Apakah pekerjaan yang dilakukan menjadi penari, pesinden, penabuh gamelan, pencari rumput untuk kuda, itu soal lain.

"Paman dulu juga ingin nyuwita tapi tak bisa diterima. Jadinya Paman bekerja sendirian, sebagai pengantar barang. Sekadar mencari sesuap nasi dan setetes air. Kalau mau ke Keraton, kita bisa sama-sama ke Pasar Banyu Urip."

"Terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba telah banyak merepotkan."

"Ah, jangan merasa begitu. Paman merasa gembira mempunyai teman. Tiga hari ini Paman berjalan sendirian. Hanya bercakap dengan Seta...."

Upasara tak bisa menyembunyikan rasa herannya. "Ini, sapi-sapi Paman...."

Upasara tersenyum. Dalam hatinya merasa heran juga. Mereka mempunyai nama sederhana untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. tetapi untuk nama binatang peliharaannya cukup bagus. "Pasar ramai sekali, Paman?"

"Ya, akhir-akhir ini. Selesai mengantarkan barang ini, Paman juga akan mengantarkan barang lainnya."

Upasara melirik ke bagian belakang. Tumpukan kotak-kotak kayu. Dilihat dari gerak dua ekor sapi yang berat. bisa diduga isinya sangat berat. Dan itu hanya mungkin jika di dalam kotak itu berisi... besi. Dan itu berarti senjata! "Diantar ke Gelang-Gelang, Paman?"

"Tidak. Paman dari Sana."

"Kemarin ini juga ada gerobak menuju ke sana."

"Ah, mungkin itu saudara Paman juga. Hanya kami yang mempunyai gerobak semacam ini. Lima-limanya dipakai semua. Ramai sekali. Belum pernah seramai ini. Kalau Anakmas gagal nyuwita, carilah Paman. Anakmas bisa bekerja pada Paman."

"Terima kasih, terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba akan segera sowan Paman."

"Paman juga punya anak gadis. Anakmas sudah kawin?"

Wajah Upasara merah. Menunduk gelisah. Perkelahian mati-hidup ia bisa menghadapi dengan tenang. Akan tetapi ditanya secara telak begini, apa yang bisa dilakukan? Ini benar-benar pembicaraan terbuka.

"Paman, orang seperti hamba siapa yang bersedia mengambil menantu?"

"Sama juga. Kalau sudah menjadi abdi dalem, siapa mau mempunyai mertua kusir gerobak?" Toikromo tertawa bergelak.

Gerobak itu mencapai Pasar Banyu Urip menjelang tengah hari. Upasara membantu menurunkan peti-peti. Meskipun Toikromo mengatakan tak usah. Benar dugaan Upasara bahwa tumpukan peti itu berisi tombak, keris, pedang, gada, serta perisai. Suatu persiapan yang besar-besaran. Dari Pasar Banyu Urip, peralatan itu akan diangkut oleh gerobak yang lain.

Sebenarnya di pasar ini Upasara berharap bisa membeli dua ekor kuda. Ia masih menyimpan gelang emas yang tadinya dipakai di kaki. Setidaknya itu bisa ditukarkan dengan dua ekor kuda yang bisa digebrak menuju Keraton. Makin cepat makin baik. Kalau mengandalkan kekuatan kaki, bisa-bisa sampai sepuluh hari belum sampai. Dulu saja ketika berangkat ke Perguruan Awan melalui jalan pintas, memakan waktu tiga hari tiga malam berkuda penuh. Namun harapan sia-sia. Tak ada bayangan seekor kuda atau kerbau atau sapi yang ditambat.

"Kenapa, Anakmas?"

"Biasanya ada kuda yang dijual."

"Biasanya memang ada. Sekarang belum sampai di sini sudah laku. Bahkan yang masih dalam kandungan sudah dipesan. Haha, Paman ini orang bodoh. Tapi semenjak Baginda Raja, yang menjadi sesembahan masyarakat, mengirim pasukan ke negeri seberang, masyarakat jadi makmur. Perang malahan membuat dagangan laku. Haha, Paman ini orang bodoh tidak mengerti apa-apa."

Memang, pikir Upasara. Kalau mengerti persoalan sebenarnya, tidak mungkin tertawa selepas ini. Paman Toikromo ini, seperti juga yang lain, mana mungkin memedulikan siapa yang membeli? Yang diketahui cuma satu. Pihak Keraton. Tapi apakah itu Keraton Singasari atau Gelang-Gelang ataupun yang lainnya, mana mereka memedulikan?

"Mungkin Anakmas akan bisa diterima menjadi prajurit."

"Pangestu Paman."

Toikromo bergerak lagi. Dua belas tumpukan peti bisa dipindahkan dalam waktu singkat. Biasanya memakan waktu sampai malam. Itu pun harus ditangani beberapa orang. Akan tetapi Upasara sanggup mengangkat sendirian. Kalaupun berdua dengan Toikromo, Toikromo seperti memegang papan yang enteng. Dua orang prajurit yang mengawasi, maju ke arah Toikromo.

"Anakmu cukup kuat, Pak Kromo."

Toikromo menghaturkan sembah. Upasara juga menghaturkan sembah. Dalam hatinya tersenyum geli. Mana mungkin ia harus menyembah prajurit biasa-biasa seperti ini? Senopati Suro pun memberi hormat lebih dulu!

"Hamba hanya kuat makan, Raden...." Upasara sengaja mengucapkan sebutan raden dengan keras. Tak peduli pantas disebut raden atau tidak, prajurit itu tersenyum lebar.

"Kami sedang mencari tenaga untuk mengangkut barang. Kalau kau bersedia, aku bisa mempekerjakanmu."

"Anak ini memang ingin nyuwita...."

"Asal tidak bertingkah."

"Maafkan hamba, Raden Prajurit...."

Toikromo berbisik, "Anakmas, ini peruntungan bagus. Siapa sangka kamu langsung diterima?"

"Semuanya karena pangestu Paman."

"Tapi jangan lupa, Paman masih ingin bermenantukanmu."

Prajurit itu mengeluarkan suara di hidung, sehingga Toikromo buru-buru terdiam tak bergerak. Malah suara napasnya pun tak terdengar.

"Tunggu di sini, malam nanti akan kujemput..."


BAGIAN 03CERSIL LAINNYABAGIAN 05